P. 1
Jurnal Hukum Justissica Volume 5 | Juni 2011

Jurnal Hukum Justissica Volume 5 | Juni 2011

|Views: 495|Likes:
Published by Spetriniv Gulag
Buku ini berisi tentang kumpulan artikel ilmiah tentang hukum.
Buku ini berisi tentang kumpulan artikel ilmiah tentang hukum.

More info:

Categories:Types, Research, Law
Published by: Spetriniv Gulag on Nov 09, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

12/19/2012

pdf

text

original

Redaksi

Pelindung Dekan Fakultas Hukum UMS Penasihat Kuswardani S.H., M.Hum. Badan Kehormatan Pers Mahasiswa Fakultas Hukum UMS Pemimpin Redaksi Astama Izqi Winata Redaktur Eksekutif Fuad Hasan P. Salman Penyunting Mashita Dewi Arini, Bias Lazuardi Sadeli Kontributor Anggo Art, Cahyo, Indah, Araka, Dito, Panji Alih Bahasa Aulia Indah Purnamasari, S.Pd. Desain Sampul dan Halaman Jafar Sodiq Assegaf *** Penerbit Lembaga Pers Mahasiswa Justissica Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Surakarta Jl.Ahmad Yani, Tromol Pos 1 Pabelan Kartasura e-mail: lpmjusticssica@ymail.com

Pemimpin Umum Jafar Sodiq Assegaf Sekretaris Umum Arif Tri Cahyono Pemimpin Perusahaan Doni Aprian Nugroho

Jurnal Hukum Justisssica | Vol. 5 | Juni 2011

1

Daftar Isi
Pertimbangan Hakim dalam Menetapkan Dapat Diterimanya Conservatoir Beslag Sebagai Pelaksanaan Eksekusi Riil atas Sengketa Tanah (Studi Kasus Di Pengadilan Negeri Magetan) - Oleh: Ayunning Tyas Nilasari, S.H. –

Hal. 3 – 23
Kesadaran Hukum Pemilik Kos dalam Pembayaran Pajak Penghasilan atas Rumah KosKosan (Studi Kasus di Desa Gonilan, Kecamatan Kartasura) - Oleh: Sulistyawati Antariksih, Jafar Sodiq, Selvia Artha Diva –

Hal. 24 – 33
Perubahan Sosial Peran Gender di Keraton Surakarta dan Implikasinya terhadap Masyarakat Surakarta - Oleh: Agustin Dwi Ria Mahardika, Retno Eko Mardani, Nurrahman Sukiman –

Hal. 34 – 43
Fungsi Kode Etik Profesi bagi Profesi Hukum - Oleh: Kuswardani, S.H., M.Hum. –

Hal. 44 – 57
Prinsip Keadilan, Kepastian Hukum, Dan Kemanfaatan dalam Penegakan Hukum Pidana - Oleh: Muchamad Iksan, S.H., M.H. –

Hal. 58 – 80

2

Jurnal Hukum Justisssica | Vol. 5 | Juni 2011

Pertimbangan Hakim dalam Menetapkan Dapat Diterimanya Conservatoir Beslag Sebagai PelaksanaanEksekusi Riil atas Sengketa Tanah
(Studi Kasus Di Pengadilan Negeri Magetan)
(Oleh: Ayunning Tyas Nilasari, S.H.)

C

Abstraksi

onfiscation is preparation action to guarantee for implementing a civil sentence. By confiscation, debtor or confiscated people lost their authority to have control over the commodity that is as legal dispute object. Therefore, every action of debtor in alienating or moving of confiscated commodity is illegal.Conservatoir Beslag positioning (confiscation of collateral) has purpose that commodity, while civil cross-examination process, which is as legal dispute object and held by accused, is intact until there is a sentence from District Court of Justice that has permanent legal power, especially related with confiscation, they can do properly. Requirements of collateral confiscation happen are regulated in article 227 HIR.Struggle of litigant is not stop in Conservatoir Beslag (confiscation of collateral) application. Confiscation of collateral is stated as legal and worth by judge in his sentence automatically after a sentence by chairman of District Court have had permanent legal power and pronounced a litigant in winning the suit. Therefore, the next process is application of implementing a sentence (execution).In conducting this study, the researcher uses sociological normative approach which is used to analyze the relation between regulation of legislation and its realization. In collecting data, she uses interview method as primary data source. While the secondary data sources are based on the law principle, books and some documents of the District Court of Magetan which deal with the study.Conservatoir Beslag application and its suit are not always granted by Judge. Judge is free to accept or not toward confiscation of collateral application based on particular judgment. Conservatoir Beslag, which is supplicated in order to guarantee the existence and the wholeness of commodity, is protected while crossexamination process. It is stated by Judge as legal and worth in his command automatically when litigant’s suit about legal action over immovable property dispute is acceded. Thus, the commodity can be real executed by emptied or wreck the building on that commodity and give over to litigant when a sentence has permanent legal power.

Keyword(s): Judgment of Judge, Conservatoir Beslag, Land Dispute
Jurnal Hukum Justisssica | Vol. 5 | Juni 2011

3

Pendahuluan
Indonesia merupakan salah satu Negara di dunia yang menjunjung tinggi hukum, dalam tindakannya harus selalu didasarkan pada hukum atau peraturan – peraturan yang memang diciptakan untuk mengatur suatu tatanan di dalam pemerintahan, termasuk juga warga negaranya dalam tindakan harus selalu didasarkan pada hukum atau peraturan – peraturan yang memang dicipktakan untuk itu. Segala tingkah laku yang diperbuat warga masyarakat dan aparat pemerintah Indonesia haruslah berpedoman pada hukum dan ketentuan yang berlaku, untuk itu di dalam memperlakukan seluruh warganya pemerintah akan selalu berbuat adil, adil dalam hal ini adalah semua warganya memperoleh hak – haknya, seimbang dengan kewajiban yang telah dilaksanakan. Tidak diperkenankan seseorang mengurangi dan menguasai hak – hak orang lain tanpa terlebih dahulu melakukan kewajiban tertentu. Sengketa terjadi apabila seseorang menguasai atau mengurangi hak orang lain yang berkaitan dengan mempertahankan hak yang bersangkutan. Dalam hal itu adakalanya para pihak di dalam menyelesaikannya dengan cara kekeluargaan (perdamaian) akan tetapi tidak jarang dari para pihak yang bersangkutan tersebut menyelesaikan perkaranya ke Pengadilan Negeri untuk diselesaikan. Pihak Pengadilan ini dengan segala pertimbangan yang ada berusaha menjatuhkan putusan yang seadil – adilnya atau paling tidak mendekati rasa keadilan itu sendiri. Pada umumnya suatu penyelesaian perkara diawali dengan penggunaan Pengadilan Negeri sebagai salah satu lembaga yang mengupayakan keadilan bagi masyarakat pada tingkat pertama. Membuat putusan yang adil dan memuaskan para pihak tidaklah mudah, hakim harus mempertimbangkan serta memperhatikan segala sesuatu secara matang. Dalam suatu perkara perdata yang diawali dengan suatu gugatan (ada juga yang diawali dengan permohonan) selalu berkaitan dengan barang pada umumnya sehingga dalam mempertimbangkan proses yang dipergunakan hakim cukup lama. Adakalanya selama proses pemeriksaan perkara yang bersangkutan berlangsung, salah satu pihak (pada umumnya penggugat) mengajukan permohonan Conservatoir Beslag (sita jaminan) dengan pertimbangan – pertimbangan tertentu, antara lain bahwa barang – barang yang menjadi obyek sengketa yang pada saat itu masih dikuasai oleh tergugat agar tidak dipindah tangankan kepada orang lain atau pihak lain. Conservatoir Beslag tidak hanya diterapkan dalam perkara utang – piutang saja tetapi dalam praktik, penerapannya diperluas meliputi sengketa tuntutan ganti rugi maupun juga dapat dalam sengketa milik. Permohonan Conservatoir Beslag selalu dikabulkan, hal ini sesuai dengan pendapat Adi 1 Andojo Soetjipto bahwa ― Hakim selalu mengabulkan Conservatoir Beslag―. Kemungkian tersebut memang logis karena hakim ingin mengetahui kebenaran materiil secara tegas akan menunjukkan siapa yang berhak atas barang sengketa dan berapa bagian yang harus diberikan. Conservatoir Beslag dapat dikenakan kepada barang bergerak milik debitur, barang tetap milik debitur dan barang bergerak milik debitur yang ada ditangan orang lain.
1

Adi Andojo Soecjipto, Conservatoir Beslag Dan Berbagai Masalahnya, Bina Justitia No.1, November 1974.Hal 4.
Jurnal Hukum Justisssica | Vol. 5 | Juni 2011

4

Penggugat akan merasa sangat dirugikan apabila obyek sengketa telah dijual, disamping penggugat akan dirugikan dengan hal-hal yang memungkinkan dilakukan tergugat atas barang – barang obyek sengketa. Perbuatan tergugat tersebut juga dapat menjadi penyebab terhambatnya perwujudan keadilan yang diupayakan oleh Hakim Pengadilan Negeri. Menurut pendapat Sudikno Mertokusumo dalam bukunya Hukum Acara Perdata Indonesia, yang berkaitan dengan Conservatoir Beslag dinyatakan sebagai berikut ― Penyitaan ini merupakan tindakan persiapan untuk menjamin dapat dilaksanakannya putusan perdata. Barang-barang yang disita untuk kepentingan kreditur (penggugat) dibekukan, ini berarti bahwa barang-barang itu disimpan (diconserveer) untuk jaminan dan tidak boleh dialihkan atau dijual (pasal 197 ayat 9, 199 HIR, 214 Rbg).2 Peletakan Conservatoir Beslag bertujuan agar selama proses pemeriksaan perkara perdata dilakukan barang yang menjadi obyek sengketa dan selama ini dikuasai oleh pihak tergugat tetap utuh, sampai adanya putusan dari Majelis Hakim Pengadilan Negeri yang mempunyai kekuatan hukum yang tetap, terutama yang berkaitan dengan penyitaan barang, yang bersangkutan akan tetap dapat melaksanakan sebagai mana mestinya. Perihal syarat – syarat untuk dapat diletakkannya sita jaminan telah diatur dalam pasal 227 HIR. Dari ketentuan pasal 227 HIR tersebut mengandung makna bahwa untuk mengajukan sita jaminan haruslah ada dugaan yang beralasan bahwa seseorang yang berhutang selama belum dijatuhkan putusan oleh hakim atau selama putusan belum dijalankan mencari akal untuk menggelapkan atau melarikan barangnya. Apabila penggugat tidak mempunyai bukti kuat bahwa kekhawatiran tergugat akan mengasingkan barang – barangnya, maka sita jaminan tidak 3 dilakukan. Oleh karena itu, debitur atau tersita harus didengarkan keterangannya guna mengetahui kebenaran dugaan tersebut. Hal ini sesuai dengan sebagaimana diharuskan dalam pasal 227 ayat (2) HIR, yang menyebutkan bahwa : Maka orang yang berhutang harus dipanggil atas perintah ketua, akan menghadap persidangan itu juga. Dengan demikian, bagi pihak tersita sebelumnya harus sudah dipanggil ke persidangan untuk didengar keterangannya mengenai kekhawatiran dari pihak penggugat atas dugaan pihak tergugat akan mengasingkan barang – barang yang dijadikan sebagai obyek sengketa, sebelum sita jaminan dikabulkan. Syarat tersebut ditetapkan sebagai salah satu usaha untuk mencegah penyalahgunaan kewenangan hakim di dalam persidangan agar tidak dilaksanakan sita jaminan secara serampangan, yang akhirnya hanya merupakan tindakan yang sia – sia dan tidak mengenai sasaran (vexatoir). Penyitaan merupakan tindakan persiapan untuk menjamin dapat dilaksanakannya suatu putusan perdata, dengan adanya penyitaan maka debitur atau tersita kehilangan wewenangnya untuk menguasai barang yang dijadikan sebagai obyek sengketa, dengan demikian tindakan – tindakan debitur untuk mengasingkan atau mengalihkan barang – barang yang disita adalah tidak sah.
2 3

Soedikno Mertokusumo, Hukum Acara Perdata Indonesia,Yogyakarta : Liberty .2002.Hal 83. M.A, 15 April 1972 No. 121 K/Sip/1971, Yurisprudensi, Jawa Barat 1969-1972, hal.130
Jurnal Hukum Justisssica | Vol. 5 | Juni 2011

5

Dalam praktek peradilan, wewenang hakim untuk memeriksa debitur atau tersita boleh dikatakan tidak pernah digunakan. Pihak hakim bebas untuk menerima atau tidak terhadap permohonan sita jaminan, maka tersita harus sudah dipanggil menghadap ke persidangan untuk didengar keterangannya berkaitan dengan pelaksanaan sita jaminan yang tidak mengenai sasaran, misal: ternyata obyeknya bukan barang milik debitur atau tersita. Bila terjadi hal demikian, maka jelaslah bahwa sita jaminan telah diletakkan secara salah sehingga haruslah diangkat dan tentunya hal ini tidak hanya merugikan pemohon sita jaminan akibat hukum dari penyitaan tersebut. Maka hendaknya hakim harus dapat menetukan perlu tidaknya atas penyitaan barang – barang apa saja serta memperhatikan benar kepentingan kedua belah pihak dan bukan kepentingan pemohon atau termohon saja, dan selalu berpegang teguh pada ketentuan – ketentuan yang diatur di dalam pasal 227 (2) HIR sebagai dasar hukum untuk dapat diletakkannya sita jaminan. Dalam praktek peradilan, diharapkan sekali bahwa pelaksanaan sita jaminan dapat berjalan dengan relevan dan berpedoman pada dasar hukum formilnya yang diatur dalam HIR. Tentunya peraturan – peraturan yang terdapat dalam HIR telah mengandung makna yang menjamin rasa keadilan dan kepastian hukum. Hakim dalam mengambil keputusan diharapkan pula mempertimbangkan hal – hal yang tidak merugikan kedua belah pihak serta bertindak adil. Perjuangan dari penggugat tidak berhenti sampai disitu saja, setelah putusan dari Ketua Pengadilan Negeri sudah mempunyai kekuatan hukum yang tetap dan gugatan dimenangkan oleh penggugat secara otomatis sita jaminan pun dinyatakan sah dan berharga oleh hakim dalam amar putusannya maka proses selanjutnya adalah permohonan pelaksanaan putusan (eksekusi). Pelaksanaan putusan (eksekusi) memerlukan bantuan dari pihak yang dikalahkan, artinya pihak yang bersangkutan harus dengan sukarela melaksanakan putusan itu. Melaksanakan putusan berarti bersedia memenuhi kewajiban untuk berprestasi yang dibebankan oleh Hakim lewat putusannya. Pihak yang kalah tidak mau atau lalai melaksanakan putusan hakim, pihak yang menang dapat mengajukan permohonan kepada Ketua Pengadilan Negeri yang memutus perkara itu baik secara lisan maupun tulisan, supaya putusan dilaksanakan. Untuk itu ketua menyuruh memanggil pihak yang kalah serta memperingatkan supaya ia melaksanakan putusan itu selambat – lambatnya dalam tempo delapan hari (pasal 196 H.I.R – 207 Rbg). Apabila pihak tergugat tidak hadir memenuhi panggilan peringatan tanpa alasan yang sah, atau setelah masa peringatan dilampaui tetap tidak menjalankan pemenuhan putusan yang dihukumkan kepadanya, sejak saat itu Ketua Pengadilan Negeri secara ex – officio mengeluarkan ― surat penetapan ― yang berisi ― perintah ― kepada panitera atau juru sita untuk menjalankan eksekusi pengosongan atau pembongkaran hal ini sesuai dengan tata cara eksekusi riil yang dirumuskan dalam pasal 1033 Rv. Sasaran hubungan hukum yang hendak dipenuhi sesuai dengan amar atau dictum putusan, yaitu melakukan suatu ―tindakan nyata― atau ―tindakan riil―, eksekusi semacam ini disebut

6

Jurnal Hukum Justisssica | Vol. 5 | Juni 2011

―eksekusi riil―. Salah satu bentuk eksekusi riil ialah pengosongan, bahkan menurut pengamatan 4 dan pengalaman, eksekusi riil yang paling banyak frekuensinya ialah ―pengosongan― . Dalam hal mengenai permohonan Conservatoir Beslag yang diajukan penggugat bersamaan dengan gugatannya tidak selalu dapat dikabulkan oleh hakim, hakim bebas untuk menerima atau tidak terhadap permohonan sita jamianan tersebut berdasarkan pertimbangan – pertimbangan tertentu. Jadi apabila gugatan penggugat tentang sengketa milik atas barang tidak bergerak dikabulkan, secara otomatis Conservatoir Beslag yang dimohonkan agar untuk menjamin keutuhan dan keberadaan barang sehingga terpelihara selama proses pemeriksaan berlangsung dinyatakan sah dan berharga oleh hakim dalam amar putusannya. Maka dengan demikian pada saat putusan telah berkekuatan hukum tetap, barang tersebut dapat dieksekusi riil dengan jalan mengosongkan atau membongkar bangunan yang ada di atasnya serta sekaligus menyerahkan kepada penggugat.

4

M.Yahya Harahap, S.H.,Ruang Lingkup Permasalahan Eksekusi Bidang Perdata,Jakarta : Sinar Grafika .2006.Hal 23.
Jurnal Hukum Justisssica | Vol. 5 | Juni 2011

7

Pembahasan
A. Pengertian Pertimbangan Hakim Pertimbangan atau yang sering disebut juga considerans merupakan dasar dari pada putusan. Pertimbangan dalam putusan perdata dibagi dua yaitu pertimbangan tentang duduk perkara atau peristiwanya dan pertimbangan tentang hukumnya. Hakim sebagai tempat pelarian terakhir bagi para pencari keadilan dianggap bijaksana dan tahu akan hukum, bahkan menjadi tempat bertanya segala macam soal bagi rakyat, dari padanya diharapkan pertimbangan sebagai orang yang tinggi pengetahuannya dan martabatnya serta wibawanya. Diharapkan dari hakim sebagai orang yang bijaksana, aktif dalam pemecahan masalah. Hakim dalam mengadili suatu perkara terutama yang dipentingkan adalah fakta atau peristiwanya dan bukan hukumnya. Peraturan hukumnya hanyalah alat, sedangkan yang bersifat 5 menentukan adalah peristiwanya. Untuk dapat menyelesaikan suatu perkara hakim harus mengetahui secara obyektif duduk perkara yang sebenarnya sebagai dasar keputusannya. Peristiwa yang sebenarnya akan diketahui melalui pembuktian, setelah hakim menganggap terbukti peristiwa yang menjadi sengketa maka hakim harus menentukan peraturan hukum apakah yang menguasai sengketa antara kedua belah pihak. Hakim harus menemukan hukumnya dan harus mengkwalisir 6 peristiwa yang telah dianggapnya terbukti. Semua putusan pengadilan harus memuat alasan-alasan putusan yang dijadikan dasar untuk mengadili. Alasan-alasan atau argumentasi itu dimaksudkan sebagai pertanggung-jawaban hakim dari pada putusannya terhadap masyarakat, sehingga oleh karenanya putusan mempunyai nilai obyektif. Hakim dianggap tahu akan hukumnya, soal menemukan hukumnya adalah urusan hakim dan bukan urusannya kedua belah pihak. Oleh karena itu hakim dalam mempertimbangkan putusannya yang wajib karena jabatnnya melengkapi alasan-alasan hukum yang tidak dikemukakan oleh para pihak. Alasan – alasan atau keterangan – keterangan yang diperoleh dari para pihak yang bersengketa juga digunakan hakim sebagai dasar pertimbangan dalam menetapkan suatu hal yang dimohonkan oleh salah satu pihak, misalnya penggugat mengajukan permohonan sita jaminan dalam gugatannya. Menurut kamus inggis ― Oxford Dictionary Of Law ― pertimbangan hakim adalah “ Judgment: A decision made by a court in .respect of the ma~ter bef~re it. Judgments may be interim (interlocutory), deciding a particular Issue pnor to the trial of the case; or final, finally disposing of the case. They may be in personam, imposing a personal liability

5 6

Sudikno Mertokusumo, Hukum Acara Perdata,Edisi ketiga, Yogyakarta: Liberty.1988. hal.158 Ibid,hal.159
Jurnal Hukum Justisssica | Vol. 5 | Juni 2011

8

on a party (e.g. to pay damages); or in rem, determining some issue of right, status, or property binding people generally.”7 Berdasarkan pengertian pertimbangan hakim dalam― Oxford Dictionary Of Law ― dapat diartikan bahwa pertimbangan hakim adalah keputusan yang dibuat di ruang sidang di pengadilan untuk menghormati hakim yang mungkin memberikan keterangan-keterangan mempertimbangkan bagian-bagian isu untuk mencoba meneliti kasus, finalnya memberikan keputusan kasus. Mungkin memberikan keterangan personal untuk membayar bagian dari kerusakan dalam hal ini mempertimbangkan isu, hak, status atau sesuai yang dipunyai orang itu. Atau dapat juga diartikan pertimbangan hakim adalah sebagai proses dalam penjatuhan putusan dengan mengkonfrontir/menganulir fakta dan peristiwa hukum, berdasarkan hukum formil dan materiil didukung dengan argumentasi rasional dan keyakinan hakim sehingga menjadi alasan yang kuat dalam diktumnya.

B. Pengertian Conservatoir Beslag ( Sita Jaminan ) Pengertian Sita Jaminan diatur dalam ketentuan perundang-undangan dalam pasal 227 ayat (1) HIR yang berbunyi sebagai berikut : Jika ada persangkaan yang beralasan, bahwa seseorang yang berutang selagi belum dijatuhkan keputusan Hakim atasnya atau selagi putusan yang mengalahkannya belum dapat dijalankan mencari akal akan menggelapkan atau membawa barangnya baik yang tidak tetap maupun yang tetap dengan maksud akan menjauhkan barang itu dari penagih hutang, maka atas surat permintaan dari orang yang berkepentingan Ketua Pengadilan Negeri dapat memberi perintah supaya disita barang itu. Untuk menjaga hak orang yang memasukkan permintaan itu, dan kepada peminta harusdiberitahukan akan menghadap persidangan Pengadilan Negeri yang pertama sesudah itu untuk menunjukkan dan menguatkan gugatannya. Berdasarkan ketentuan Pasal 227 ayat (1) HIR ini banyak dari para sarjana bermaksud memahami makna dari sita jaminan yang sesuai dengan Undang-Undang. Adapun pengertian Sita Jaminan yang dikemukakan oleh para sarjana, antara lain sebagai berikut : 1. Prof. Sudikno Mertokusumo, SH, menyatakan bahwa : Sita Conservatoir ini merupakan tindakan persiapan dari pihak penggugat dalam bentuk permohonan kepada Ketua Pengadilan Negeri untuk menjamin dapat dilaksanakannya putusan perdata dengan menguangkan atau menjual barang debitur yang disita guna memenuhi tuntutan penggugat.8 Retnowulan Sutantio, S.H. dan Iskandar Oeripkartawinata, S.H.

2.

7 8

Elizabeth A.Martin, Oxford Dictionary Of Law, New York: Oxford University Pers .2002.,hal.271 Sudikno Mertokusumo, Op. Cit. Hal.65
Jurnal Hukum Justisssica | Vol. 5 | Juni 2011

9

Sita jaminan mengandung arti bahwa untuk menjamin pelasanaan suatu putusan di kemudian hari, barang-barang milik tergugat baik yang bergerak maupun yang tidak bergerak selama proses berlangsung, terlebih dahulu disita atau dengan lain perkataan bahwa barang – barang tersebut lalu tidak dapat dialikan, diperjual belikan, atau dengan jalan lain dipindah tangankan kepada orang lain. 9 3. M. Yahya Harahap, S.H. M. Yahya Harahap memberikan pengertian sita jaminan dengan mengambil makna yang terkandung dalam lembaga sita jaminan, adapun pengertian dari sita jaminan tersebut adalah sebagai berikut : a. Sita sebagai tindakan hukum eksepsional Adalah sita jaminan yang merupakan tindakan hukum yang diambil pengadilan, dimana mendahului pemeriksaan pokok perkara atau mendahului putusan. Letak eksepsional tersebut tersirat pada ketentuan pasal 227 HIR, yakni sebelum putusan dijatuhkan kepada tergugat atau sebelum putusan yang menghukumnya belum mempunyai kekuatan hukum yang tetap, tergugat telah dihukum dan dinyatakan bersalah dengan jalan menyita harta kekayaan. b. Sita sebagai tindakan perampasan Hakekatnya sita jaminan merupakan perintah perampasan atas harta sengketa atau harta kekayaan tergugat.

Berdasarkan uraian diatas, mengambil contoh sita sebagai tindakan hukum eksepsional yang sering terjadi adalah apabila terjadi gugatan di Pengadilan Negeri, penggugat memohon kepada 10 Ketua Pengadilan Negeri untuk diadakan sita jaminan terhadap barang-barang milik tergugat. Jika permohonan tersebut dikabulkan, maka seolah-olah tergugat telah dinyatakan bersalah padahal putusan belum dijatuhkan. Dengan sendirinya hal ini akan menimbulkan berbagai dampak yang harus dipikul oleh tergugat, antara lain dari segi kejiwaan dimana akan menempatkan tergugat dalam suasana dan posisi keresahan dan kehilangan harga diri, selain itu kepercayaan masyarakat kepada tergugat akan semakin berkurang. Berdasarkan atas sita sebagai tindakan perampasan atas perintah Hakim, makna kata perampasan itu sendiri jangan diartikan secara sempit dan bersifat mutlak. Apabila hal tersebut diartikan secara sempit dan mutlak, akan menimbulkan penyalahgunaan lembaga Conservatoir Beslag ( lembaga sita jaminan ). Arti dari perampasan tersebut diatas merupakan sita jaminan yang semata-mata hanya sebagi jaminan yang artinya untuk menjamain gugatan penggugat, agar gugatan itu tidak hampa, selain itu juga hak milik atas benda sitaan tetap milik tergugat dalam artian meskipun barang tersebut tetap disita atas perintah hakim, hak milik atas barang tersebut tetap berada di penguasaan benda sitaan tetap dipegang tergugat.

9

Retnowulan Sutantio dan Iskandar Oeripkartawinata. Hukum Acara Perdata Dalam Teori dan Praktek. Bandung : Alumni. 1997. Hal. 91 10 M. Yahya Harahap, Permasalahan dan penerapan conservatoir beslag, Jakarta: Sinar Grafika.1987. Hal 57

10

Jurnal Hukum Justisssica | Vol. 5 | Juni 2011

Bentuk tata cara pengajuan permohonan sita jaminan yang diajukan dalam surat gugatan seperti inilah yang sering atau lazim dijumpai, dimana penggugat mengajukan permohonan sita jaminan atau Conservatoir Beslag secara tertulis dalam surat gugatan, sekaligus bersamaan dengan pengajuan gugatan pokok. Pengajuan permohonan sita jaminan dalam bentuk ini tidak dipisahkan dengan dalil gugat atau gugatan pokok keduanya bersatu dalam surat gugatan sekaligus. Mengingat fungsinya untuk menjamin hak, maka permohonan sita jamina atau conservatoir selalu berkaitan dengan pokok perkara, sehingga tidak mungkin suatu permohonan sita jaminan merupakan tuntutan hak yang berdiri sendiri. Hanya dalam hal ini ada beberapa kemungkinan sita jaminan diajukan bersama-sama dengan pokok perkara atau dijaukan terpisah dari pokok perkara. Lazimnya permohonan siat jaminan itu diajukan sebelum dijatuhkan putusan dan kebanyakan disatukan dalam gugatan. Tetapi tidak jarang terjadi bahwa selagi perkaranya diperiksa oleh Pengadilan Negeri ternyata ada usaha-usaha dari tergugat untuk menjual barangnya. Adapun pihak – pihak yang terlibat dalam perkara peletakan sita jaminan antara lain sebagai berikut: 1. Pemohon Pemohon adalah pihak yang merasa kepentingannya dirugikan oleh pihak termohon dan memohon kepada Pengadilan Negeri untuk mengadakan penyitaan atas benda yang disengketakan guna menghindari pengambil alihan hak atas benda tersebut sebelum ada putusan dari pengadilan yang berkekuatan hukum tetap. Dalam perkara sita jaminan, pemohon meminta kepada Ketua Pengadilan Negeri untuk diletakkan sita jaminan atas barang-barang termohon baik barang bergerak mapun tidak bergerak (tetap) karena dikhawatirkan termohon akan mengalihkan, menjual dan memindah tangankan barangbarang tersebut kepada orang lain. Pengajuan permintaan sita jaminan ini dilakukan oleh pemohon dalam bentuk surat permohonan. Termohon / tersita Termohon/tersita adalah pihak yang dimohon menyerahkan barang yang disengketakan dan dikenai beban penyitaan. Hal ini dilakukan atas permintaan dari pemohon, yang bertujuan guna menjamin pelaksanaan putusan dikemudian hari. 3. Hakim Hakim adalah pihak yang dapat menetapkan dan mengabulkan permohonan sita jaminan. Dalam hal penyitaan, hakim berwenang menyita barang terperkara atau harta milik termohon berdasarkan pasal 227 HIR jo pasal 197 HIR. Dari ketentuan pasal tersebut, hakim bebas untuk mengabulkan atau menolak permohonan sita jaminan. Dalam hal ini, hakim dapat memerintahkan kepada Panitera untuk melaksanakan sita jaminan. Alasan hakim mengabulkan permohonan sita jaminan adalah permohonan sita jaminan diajukan dengan berdasarkan alasan-alasan yang logis disertai bukti-bukti yang kuat yang mendukung untuk dilaksanakanya suatu penyitaan. 4. Panitera/Jurusita
Jurnal Hukum Justisssica | Vol. 5 | Juni 2011

2.

11

Panitera/Jurusita adalah pihak yang langsung terjun kelapangan guna melaksanakan penyitaan terhadap barang-barang termohon/ tersita. Panitera/Jurusita dapat melaksanakan penyitaan terlebih dahulu harus mendapat perintah atau surat penetapan penyitaan dari hakim. Kewenangan panitera dalam melakukan penyitaan secara analogi diatur dalam ketentuan pasal 197 ayat 2 dan ayat 3 HIR, yang berbunyi sebagai berikut: Ayat 2 : Ayat 3 : Penyitaan dijalankan oleh panitera pengadilan negri Apabila panitera berhalangan karena pekerjaan jabatanya atau oleh sebab lain,maka ia digantikan oleh seorang yang cakap atau yang dapat dipercaya, yang untuk itu ditunjuk oleh ketua atau atas permohonan panitera oleh kepala daerah dalam hal penunjukan yang menurut tersebut tadi ketu berkuasa pula, menurut keadaan bilamana perlu diimbanginya. Untuk menghemat biaya berhubung dengan jauhnya tempat penyitaan itu harus dilakukan.

Apabila panitera berhalangan, maka ketua akan menunjuk orang lain sebagai penggantinya ( dalam praktek biasanya pegawai pengadilan sendiri) yang cakap dan dapat menyimpan rahasia jabatan dan telah sebagai wakil dari juru sita, yang menunjukanya tanpa harus melalui surat perintah yang telah ada oleh hakim yang berwenang atau yang bersangkutan. Panitera pengadilan negeri dalam melaksanakan sita jamian dibantu oleh 2 orang saksi, dan untuk sahnya seorang saksi dalam hal itu, maka harus memenuhi syarat-syarat: a. b. c. d. Sudah dewasa atau cukup umur Cakap dalam bertindak Berkelakuan baik Dapat dipercaya dan dapat menyimpan rahasia jabatan

C. Pengertian Eksekusi Riil Pelaksanaa putusan pengadilan yang menghukum seseorang untuk mengosongkan benda tetap merupakan penghukuman yang berbentuk nyata, eksekusi ini sering disebut Eksekusi Riil yaitu merupakan pelaksanaan prestasi yang dibebankan kepada debitur oleh putusan hakim secara langsung. Eksekusi riil ini merupakan pelaksanaan putusan yang menuju kepada hasil yang sama 11 seperti apabila dilaksanakan secara sukarela oleh pihak yang bersangkutan. Penghukuman yang berbentuk eksekusi riil misalnya yang berupa menyerahkan sesuatu barang, mengosongkan sebidang tanah atau rumah, melakukan suatu perbuatan tertentu, dan menghentikan suatu perbuatan atau keadaan. Subekti membatasi pengertian eksekusi riil yaitu pada eksekusi atau 12 pelaksanaaan putusan terhadap dictum putusan yang tidak berupa pembayaran sejumlah uang. Sasaran hubungan hukum yang hendak dipenuhi sesuai dengan amar atau dictum putusan, yaitu melaksanakan suatu ―tindakan nyata― atau ―tindakan riil― eksekusi semacam ini disebut
11 12

Sudikno Mertokusumo, Op.Cit, hal.210. Subekti, Hukum Acara Perdata, Bandung: Binacipta.1977. hal.129
Jurnal Hukum Justisssica | Vol. 5 | Juni 2011

12

Eksekusi Riil. Eksekusi riil tidak diatur secara terinci dalam undang-undang, salah satu alasan kenapa tidak diatur secara terinci karena pada dasarnya secara teoritis cara dan proses eksekusi riil sangat mudah dan sederhana tidak diperlukan prosedur dan formalitas yang rumit . Menjalankan eksekusi riil merupakan tindakan nyata dan langsung melaksanakan apa yang dihukumkan dalam amar putusan. Misalnya amarnya menghukum tergugat mengosongkan tanah terperkara, pelaksanaannya langsung secara nyata mengeluarkan tergugat dari tanah dan pada saat yang bersamaan menyerahkan penguasaan tanah yang dikosongkan kepada penggugat ( pihak yang menang perkara ). Pada eksekusi riil ketua pengadilan negeri cukup mengeluarkan surat penetapan yang memerintahkan eksekusi. Dengan penetapan itu, panitera atau juru sita pergi ke lapangan melaksanakan penyerahan atau pembongkaran secara nyata. Dengan penyerahan atau pembongkaran, eksekusi sudah sempurna dan dianggap selesai. Tidak satu pasal pun dalam HIR atau RBG yang khusus membicarakan eksekusi riil. Jika dibandingkan dengan hukum acara perdata yang berlaku dulu bagi golongan Eropa, yakni Reglement of de Rechtsvordering dijumpai pasal yang mengatur eksekusi riil. Dirumuskan dalam pasal 1033 Rv, yang bunyinya dapat disadur: ―Kalau putusan hakim menghukum (memerintahkan pengosongan barang yang tidak bergerak, dan putusan itu tidak dijalankan (secara sukarela) oleh pihak yang kalah (tergugat), Ketua Pengadilan mengeluarkan surat perintah kepada juru sita untuk melaksanakan pengosongan atas barang tersebut. Pengosongan itu meliputi diri orang yang dihukum (dikalahkan), keluarganya serta seluruh barang-barangnya. Dan pelaksanaan pengosongan dapat dilakukan dengan bantuan kekuatan umum (polisi dan jika perlu bantuan militer).‖ HIR dan RBg mengenal eksekusi riil semacam ini dalam penjualan lelang yaitu dalam pasal 200 ayat (11) HIR atau Pasal 218 ayat (2) RBg yang dalam pasal-pasal tersebut terdapat suatu asas hukum : 1. Penjualan lelang atas barang yang dieksekusi merupakan satu kesatuan yang tidak terpisah dengan pengosongan barang yang dilelang; 2. Oleh karena penjualan lelang eksekusi merupakan kesatuan yang tidak terpisah dengan pengosongan barang yang dilelang, hukum memberi wewenang kepada pengadilan (Ketua Pengadilan Negeri) untuk menjalankan pelaksanaan pengosongan barang yang dilelang untuk diserahkan kepada pembeli lelang apabila pihak yang kena lelang (terlelang) tidak mau mengosongkannya secara sukarela. Kalau diperhatikan penjualan lelang yang diatur dalam pasal 200 ayat (11) HIR atau pasal 218 ayat (2) RBg dengan cara eksekusi riil yang diatur dalam pasal 1033 Rv hampir tidak ada perbedaan. Rincian tata cara eksekusi riil yang mengikuti penjualan lelang yang diatur pada pasal 200 ayat (11) HIR atau pasal 218 ayat (2) RBg sama persis dengan ketentuan pasal 1033 Rv. Tata cara yang diatur dalam pasal – pasal dimaksud sudah dianggap sebagai aturan formil menjalankan eksekusi riil tentang pengosongan, pembongkaran, maupun melakukan atau tidak melakukan sesuatu.
Jurnal Hukum Justisssica | Vol. 5 | Juni 2011

13

Pada umumnya eksekusi riil adalah upaya hukum yang mengikuti persengketaan ―hak milik ― atau persengketaan hubungan hukum yang didasarkan atas perjanjian jual beli, sewa menyewa, atau perjanjian melaksanakan suatu perbuatan. Eksekusi riil hanya mungkin terjadi dan diterapkan berdasarkan putusan pengadilan yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap, bersifat dijalankan lebih dulu, dan berbentuk akta perdamaian di sidang pengadilan. D. Fungsi Conservatoir Beslag Fungsi utama Conservatoir Beslag adalah untuk menjamin hak penggugat sebagai pemohon dilakukannya Conservatoir Beslag, hak – hak tersebut antara lain : Terlindunginya kepentingan penggugat dari itikad buruk tergugat yang ingin menggelapkan atau mengasingkan obyek yang disengketakan selama proses persidangan berlangsung, sehingga pada saat putusan berkekuatan hukum tetap gugatan tidak hampa (illusionir). 2. Dengan adanya penyitaan melalui perintah pengadilan, secara hukum harta kekayaan tergugat berada dan ditempatkan di bawah penjagaan dan pengawasan pengadilan, sampai ada perintah pengangkatan atau pencabutan sita. 3. Memberi jaminan kepastian bagi penggugat, obyek eksekusi yang sudah pasti apabila putusan berkekuatan hukum tetap. 4. Terjamin perlindungan yang kuat bagi penggugat atas terpenuhinya pelaksanaan putusan pengadilan pada saat eksekusi dijalankan. E. Pelaksanaan Conservatoir Beslag Perihal syarat – syarat untuk dapat dilaksanakan sita jaminan diatur dalam pasal 227 ayat (2) HIR, yang mengatakan bahwa : Maka orang yang berhutang harus dipanggil atas perintah Ketua, akan menghadap persidangan itu juga. Dari ketentuan pasal 227 ayat (2) HIR tersebut terkandung maksud bahwa dalam hal ada gugatan yang dalam diktumnya memohon sita jaminan atau dalam hal ada permohonan sita jaminan secara terpisah dari pokok perkara, maka khusus terhadap permohonan sita jaminan tersebut hakim harus mengadakan pemerikasaan dalam sidang yang dihadiri oleh pihak tergugat/tersita dan penggugat untuk segera mengetahui ada atau tidaknya syarat-syarat yang dibenarkan menurut hukum, untuk dapat dikabulkanya suatu permohonan sita jaminan. Syaratsyarat yang dibenarkan menurut hukum untuk dapat dikabulkanya suatu permohonan sita jaminan, yaitu harus ada persangkaan yang beralasan bahwa si tergugat/tersita mencari akal akan menggelapkan atau melarikan barang miliknya dengan maksud akan menjauhkan dari penagih hutang yang dalam hal ini adalah penggugat, sebelum dijatuhkan putusan hakim atasnya atau selagi putusan yang mengalahkannya belum dapat dijalankan. Apabila didalam pemeriksaan atau persidangan terbukti bahwa tergugat/tersita berusaha mengalihkan atau melarikan barang miliknya, dengan maksud menjauhkan dari penagih hutang (penggugat) maka permohonan sita jaminan dikabulkan. 1.

14

Jurnal Hukum Justisssica | Vol. 5 | Juni 2011

Latar belakang adanya pasal 227 ayat (2) HIR tersebut adalah menghindari penyalah gunaan terhadap tindakan sewenang-wenang dari pemohon yang menyebabkan terjadinya penyitaan yang tidak sesuai dengan fungsi dan tujuan sita jaminan. Menurut Surat Edaran Mahkamah Agung Nomor 5 Tahun 1975 dalam butir 1-c menetukan bahwa agar dalam surat permohonan sita jaminan dan surat ketetapan yang mengabulkan permohonan sita jaminan tersebut harus disebutkan alas an-alasan apa yang menyebabkan sita jaminan dimohonkan dan dikabulkan, yang berarti bahwa sebelum dikeluarkan surat ketetapan yang mengabulkan permohonan sita jaminan harus diadakan penelitian terlebih dahulu tentang ada tidaknya alasan yang dikemukakan pemohon. Hal ini juga dilatarbelakangi oleh usaha preventif agar hakim tidak begitu mudah mengabulkan adanya tuntutan sita jaminan. Termohon harus dipanggil mengingat bahwa hakim memerlukan keterangan dari pihak termohon tentang tindakan dan kedudukannya terhadap barang yang akan dibebani sita jaminan. Mengenai hal ini, Sudikno Mertokusumo memberikan alasan bahwa, syarat adanya dugaan ini tidak hanya sekedar dicantumkan begitu saja, akan tetapi merupakan suatu usaha untuk mencegah penyalahgunaan agar tidak diadakan penyitaan secara serampangan, yang akhirnya hanya merupakan tindakan yang sia-sia saja yang tidak mengenai sasaran. Syarat adanya dugaan/persangkaan yang beralasan ini tercantum dalam pasal 227 ayat (1) HIR dan memang ada keterkaitan antara pasal tersebut dengan ayat kedua. Dengan diketahui ada tidaknya alas an yang dikemukakan oleh pemohon, maka dapat ditentukan diterima atau tidaknya suatu permohonan sita jaminan. Menurut Yurisprudensi Mahkamah Agung tanggal 15 April 1972 Nomor 1121 K/Sip/1971, apabila pemohon tidak mempunyai bukti yang kuat tentang adanya kekhawatiran bahwa termohon akan mengasingkan barang-barangnya maka permohonan sita jaminan tidak akan diterima. Sita jaminan baru akan dilaksanakan setelah permohonan sita jaminan diajukan dengan berdasarkan alasan-alasan, alasan mana yang kemudian diterima oleh hakim (ketua sidang), selanjutnya diadakan pelaksanaan penyitaan terhadap barang-barang milik tergugat seperti yang dimaksud dalam surat permohonan, oleh panitera atau penggantinya, yaitu sebagai berikut : 1. 2. 3. Panitera pengadilan negeri/penggantinya terlebih dahulu harus mendapatkan perintah dan surat penetapan dari hakim, yaitu berupa perintah untuk melaksanakan penyitaan. Kemudian panitera atau penggantinya bersama dengan camat atau kepala desa disertai saksi menuju ke tempat dimana barang yang hendak diletakkan sita tersebut berada. Dengan menunjukkan surat perintah, dengan disertai camat atau kepala desa, bahkan kalau perlu turut hadir pula dari Polri, Koramil dan Muspika setempat maka panitera/penggantinya memberitahukan akan maksud kedatangannya kepada termohon (tersita). Dalam melaksanakan penyitaan, panitera/penggantinya dengan dibantu oleh 2 orang saksi, dengan mencantumkan nama, pekerjaan, tempat tinggal saksi dalam berita acara penyitaan yang kemudian ditandatangani oleh kedua belah pihak. Setelah pelaksanaan penyitaan selesai dilakukan, dibuatkanlah berita acara penyitaan oleh panitera atau penggantinya. Menyatakan sita sah dan berharga.
Jurnal Hukum Justisssica | Vol. 5 | Juni 2011

4.

5. 6.

15

F. Hubungan Conservatoir Beslag dengan Eksekusi Riil Penggugat sangat berkepentingan bahwa gugatannya dikabulkan. Oleh karena itu ia berkepentingan pula bahwa sekiranya gugatannya dikabulkan atau ia dimenangkan, terjamin haknya atau dapat dijamin bahwa putusannya dapat dilaksanakan. Sebab ada kemungkinan bahwa pihak lawan atau tergugat selama sidang berjalan mengalihkan harta kekayaannya kepada orang lain, sehingga apabila kemudian gugatan pengggugat dikabulkan oleh pengadilan, putusan pengadilan tersebut tidak dapat dilaksanakan disebabkan tergugat tidak mempunyai harta kekayaan lagi atau obyek yang disengketakan tidak ada lagi. Untuk kepentingan penggugat agar terjamin haknya sekiranya gugatan dikabulkan nanti, undang-undang menyediakan upaya untuk menjamin hak tersebut, yaitu dengan penyitaan. Penyitaan merupakan tindakan persiapan untuk menjamin dapat dilaksanakannya suatu putusan perdata, dengan adanya penyitaan maka debitur atau tersita kehilangan wewenangnya untuk menguasai barang yang dijadikan sebagai obyek sengketa, dengan demikian tindakan – tindakan debitur untuk mengasingkan atau mengalihkan barang – barang yang disita adalah tidak sah. Peletakan Conservatoir Beslag yang bertujuan agar selama proses pemeriksaan perkara perdata dilakukan barang yang menjadi obyek sengketa dan selama ini dikuasai oleh pihak tergugat tetap utuh, sampai adanya putusan dari Majelis Hakim Pengadilan Negeri yang mempunyai kekuatan hukum yang tetap, terutama yang berkaitan dengan penyitaan barang, yang bersangkutan akan tetap dapat melaksanakan sebagai mana mestinya. Dalam hal ini apabila gugatan penggugat tentang sengketa milik atas barang tidak bergerak dikabulkan, secara otomatis Conservatoir Beslag yang dimohonkan agar untuk menjamin keutuhan dan keberadaan barang sehingga terpelihara selama proses pemeriksaan berlangsung dinyatakan sah dan berharga oleh hakim dalam amar putusannya. Dengan adanya Conservatoir Beslag tersebut, barang yang nantinya akan dieksekusi riil masih tetap ada dan jelas keberadaannya dapat diartikan obyek eksekusi sudah pasti. Pada saat permohonan sita diajukan, penggugat harus menjelaskan dan menunjukkan identitas barang yang hendak disita. Menjelaskan letak, jenis, ukuran dan batas-batasnya. Atas permohonan itu, pengadilan melalui juru sita memeriksa dan meneliti kebenaran identitas barang pada saat penyitaan dilakukan. Bertitik tolak dari permohonan dan pelaksanaan sita, sejak semula sudah diketahui dan pasti obyek barang yang disita. Lebih lanjut, hal ini langsung memberi kepastian atas obyek eksekusi apabila putusan telah berkekuatan hukum tetap. Kemenangan penggugat secara langsung dijamin dengan pasti oleh barang sitaan. Tidak dibutuhkan lagi waktu untuk mencari dan mengetahui dimana harta kekayaan tergugat berada. Barang sitaan langsung mempunyai makna dan nilai materi atas kemenangan penggugat, karena didukung oleh harta kekayaan tergugat yang sudah ditempatkan di bawah penjagaan dan pengawasan pengadilan terhitung sejak sita diletakkan. Kepastian obyek eksekusi atas barang sitaan semakin sempurna sesuai dengan penegasan MA yang menyatakan, kalau putusan telah berkekuatan hukum tetap maka barang yang disita

16

Jurnal Hukum Justisssica | Vol. 5 | Juni 2011

demi hukum langsung menjadi sita eksekusi. Dengan demikian barang yang disita dapat langsung diserahkan kepada pihak penggugat, jika perkara yang terjadi mengenai sengketa milik. Pengadilan (Hakim) dengan putusannya menetapkan hubungan-hubungan hukum yang harus berlaku antara kedua belah pihak yang bersengketa. Apabila sudah diperoleh putusan yang berkekuatan hukum tetap, maka hubungan hukum tersebut telah ditetapkan untuk selama-lamanya dan oleh karenanya sudah tidak dapat diubah lagi. Pembuat undang-undang menghendaki bahwa putusan pengadilan yang sudah tidak dapat diubah lagi itu, agar ditaati atau dilaksanakan secara sukarela oleh para pihak yang bersengketa. Tujuan para pihak yang bersengketa menyerahkan perkaranya kepada pengadilan adalah tidak hanya untuk menyelesaikan perkara mereka secara tuntas dengan putusan yang adil saja, tetapi juga bagaimana keadilan yang didapatkan tersebut benar – benar dapat diwujudkan secara nyata, tidak hanya menang di atas kertas. Putusan tidak ada gunanya jika tidak dapat dilaksanakan. Penggugat akan merasa sangat dirugikan apabila obyek sengketa telah dijual, disamping penggugat akan dirugikan dengan hal-hal yang memungkinkan dilakukan tergugat atas barangbarang obyek sengketa. Perbuatan tergugat tersebut juga dapat menjadi penyebab terhambat dilaksanakannya suatu eksekusi. Dalam eksekusi riil jika barang yang hendak dieksekusi tidak ada lagi, baik karena hancur atau berpindah secara sah dengan alas hak yang sah tidak mungkin eksekusi riil dapat dijalankan. Menurut Yahya Harahap pengertian mengenai harta kekayaan tereksekusi tidak ada, harus ditafsirkan secara luas. Tidak boleh ditafsirkan secara sempit, oleh karena itu yang termasuk dalam jangkauan pengertian mengenai harta tereksekusi tidak ada lagi, yaitu secara mutlak harta kekayaan tereksekusi tidak ada, dalam artian harta kekayaannya sudah habis bisa disebabkan karena telah habis terjual sebelum eksekusi dijalankan atau oleh karena bencana alam; penafsiran kedua tentang pengertian tidak adanya harta kekayaan tereksekusi yaitu ketidakmampuan pemohon eksekusi menunjukkan dimana dan apa barang yang hendak dieksekusi; dan penafsiran 14 yang ketiga yaitu juru sita tidak menemukan secara jelas barang yang ditunjuk. Penggugat yang mengajukan gugatan ke Pengadilan Negeri tentunya bermaksud memulihkan kembali hak perdatanya yang telah dirugikan oleh tergugat. Oleh karena itu tidak hanya mengharapkan agar segala tuntutanya dapat dikabulkan, akan tetapi juga mengharapkan putusan pengadilan yang mengabulkan tuntutannya dapat dilaksanakan. Putusan tidak ada gunanya jika tidak dapat dilaksanakan, sebab dengan pelaksanaan putusan pengadilan inilah hak perdata pihak penggugat yang telah dirugikan oleh tergugat dapat dipulihkan secara nyata yaitu dengan terlaksananya eksekusi riil tersebut.

13

13 14

M. Yahya Harapan,S.H. Hukum Acara Perdata,Jakarta : Sinar Grafika, 2005,hal.287 M. Yahya Harahap, Ruang Lingkup Permasalahan Eksekusi Bidang Perdata,Jakarta:Sinar Grafika.2007.hal.335
Jurnal Hukum Justisssica | Vol. 5 | Juni 2011

17

G. Pertimbangan Hakim Dalam Menetapkan Conservatoir Beslag Terhadap Eksekusi Riil Atas Sengketa Tanah Permohonan penyitaan dari penggugat memang tidak selalu dikabulkan, kecuali permohonan itu benar-benar beralasan menurut hukum. Pihak hakim bebas untuk menerima atau tidak terhadap permohonan sita jaminan, maka tersita harus sudah dipanggil menghadap ke persidangan untuk didengar keterangannya berkaitan dengan pelaksanaan sita jaminan tersebut. Hakim harus dapat menentukan perlu tidaknya atas penyitaan barang – barang apa saja serta memperhatikan benar kepentingan kedua belah pihak dan bukan kepentingan pemohon atau termohon saja, dan selalu berpegang teguh pada ketentuan – ketentuan yang diatur di dalam pasal 227 (2) HIR sebagai dasar hukum untuk dapat diletakkannya sita jaminan. Perihal syarat – syarat untuk dapat diletakkannya sita jaminan yang diatur dalam pasal 227 HIR mengandung makna bahwa untuk mengajukan sita jaminan haruslah ada dugaan yang beralasan bahwa seseorang yang berhutang selama belum dijatuhkan putusan oleh hakim atau selama putusan belum dijalankan mencari akal untuk menggelapkan atau melarikan barangnya. Apabila penggugat tidak mempunyai bukti kuat bahwa kekhawatiran tergugat akan mengasingkan 15 barang – barangnya, maka sita jaminan tidak dilakukan. Oleh karena itu, debitur atau tersita harus didengarkan keterangannya guna mengetahui kebenaran dugaan tersebut. Hal ini sesuai dengan sebagaimana diharuskan dalam pasal 227 ayat (2) HIR, yang menyebutkan bahwa : Maka orang yang berhutang harus dipanggil atas perintah ketua, akan menghadap persidangan itu juga. Dengan demikian, bagi pihak tersita sebelumnya harus sudah dipanggil ke persidangan untuk didengar keterangannya mengenai kekhawatiran dari pihak penggugat atas dugaan pihak tergugat akan mengasingkan barang – barang yang dijadikan sebagai obyek sengketa, sebelum sita jaminan dikabulkan. Syarat tersebut ditetapkan sebagai salah satu usaha untuk mencegah penyalahgunaan kewenangan hakim di dalam persidangan agar tidak dilaksanakan sita jaminan secara serampangan, yang akhirnya hanya merupakan tindakan yang sia – sia dan tidak mengenai sasaran (vexatoir). Apabila hakim mengabulkan gugatan penggugat sekaligus permohonan sita jaminan atas dasar pertimbangan – pertimbangan tertentu yang memang dirasa perlu untuk dilakukannya sita jaminan maka Conservatoir Beslag secara otomatis dinyatakan sah dan berharga oleh hakim dalam amar putusannya. Hal ini sangat memudahkan atau melancarkannya pelaksaan eksekusi nantinya, karena dengan diletakkannya Conservatoir Beslag sebelumnya apa yang menjadi obyek eksekusi sudah pasti sehingga pada saat putusan telah berkekuatan hukum tetap barang tersebut segera dapat dieksekusi riil dengan jalan mengosongkan atau membongkar bangunan yang ada di atasnya serta sekaligus menyerahkan kepada penggugat. Salah satu bentuk eksekusi riil ialah pengosongan, eksekusi pengosongan biasanya didasarkan atas dalil atau posita hak milik. Penggugat mendalilkan tanah terperkara yang dikuasai tergugat adalah hak miliknya. Keberadaan tergugat di atas tanah terperkara berdasarkan perbuatan melawan hukum. Oleh karena itu penggugat menuntut dalam petitum gugatan, agar tergugat
15

M.A, 15 April 1972 No. 121 K/Sip/1971,Loc.Cit.
Jurnal Hukum Justisssica | Vol. 5 | Juni 2011

18

dihukum meninggalkan dan mengosongkan tanah terperkara. Jika gugatan dikabulkan dan putusan memuat amar penghukuman pengosongan, berarti tergugat mesti keluar meninggalkan barang terperkara dalam keadaaan kosong. Pengosongan dapat dijalankan tergugat secara sukarela, namun apabila tidak mau menjalankan secara sukarela dengan sendirinya dapat diperintahkan eksekusi pengosongan secara paksa, dan jika perlu dengan bantuan kekuatan umum ( polisi atau militer).

Jurnal Hukum Justisssica | Vol. 5 | Juni 2011

19

Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan terhadap suatu data yang telah penulis peroleh dari Pengadilan Negeri Magetan, maka penulis dapat mengambil kesimpulan sebagai berikut : 1. Pertimbangan hakim dalam menetapkan Conservatoir Beslag atas sengketa tanah Dalam penetapan No.27/Pdt.G/2000/PN.Mgt antara Kasri sebagai penggugat melawan Atmo Wadjiran sebagai tergugat mengenai sengketa milik, atas permohonan Conservatoir Beslag yang diajukan penggugat berdasarkan subyektifitas hakim, hakim mengabulkan permohonan Conservatoir Beslag tersebut dengan menerapkan beberapa pertimbangan antara lain: a. Adanya permohonan Sita Jaminan (Conservatoir Beslag) secara tertulis dari penggugat yang diajukan kepada Majelis Hakim Pengadilan Negeri agar obyek sengketa berupa Sebidang tanah pekarangan terdaftar dalam patok D huruf C No.130 persil 48 Klas D II luas 1.220 M2 atas nama Kasri, terletak di desa Blaran, Kecamatan Karangmojo, Kabupaten Magetan (Tanah sengketa) beserta Satu buah rumah bangunan kampung yang berdiri diatas tanah sengketa tersebut diatas diletakkan sita jaminan terlebih dahulu agar obyek sengketa tidak dialihkan atau dijual oleh tergugat. Berdasarkan surat permohonan Sita Jaminan (Conservatoir Beslag) yang diajukan Penggugat secara tertulis tersebut, Penggugat memang benarbenar merasa obyek sengketa tersebut adalah miliknya atas pemberian ibu angkatnya sebelum meninggal dunia dan atas penguasaan tergugat atas obyek sengketa tersebut setelah ibu angkatnya sekaligus istri Tergugat meninggal dunia, Penggugat merasa dirugikan karena kehilangan haknya. Sebelumnya Penggugat sudah sering meminta tanah sengketa beserta 1 (buah) bangunan rumah tersebut kepada tergugat dengan secara baik-baik, akan tetapi Tergugat selalu tidak menghiraukan sama sekali. Bahkan lama kelamaan tingkah laku dan gerak-gerik Tergugat kepada Penggugat tidak baik, mungkin Tergugat punya tujuan tertentu dan sampai akhirnya Penggugat mengajukan gugatan dan mengajukan permohonan sita jaminan (Conservatoir Beslag) kepada Majelis Hakim Pengadilan Negeri Magetan. Setelah mendengar keterangan Penggugat, bukti P1, P2,P3,P4,P5,P5,P6,P7 dan keterangan saksi-saksi yang diajukan Penggugat Majelis hakim Pengadilan Magetan berpendapat bahwa terdapat cukup alasan akan permohonan Penggugat atas sita jaminan (Conservatoir Beslag) tersebut sehingga alasan bisa diterima dan Majelis Hakim Pengadilan Negeri Magetan mengabulkan permohonan Penggugat tentang sita jaminan atas obyek sengketa tersebut diatas dan mengeluarkan surat perintah kepada juru sita untuk melaksanakan sita jaminan. b. Adanya kekhawatiran dan mempunyai sangkaan yang cukup beralasan bahwa pihak Tergugat akan memindah tangankan tanah sengketa tersebut untuk menghindarkan diri dari gugatan Penggugat sebelum perkara diputus dan

20

Jurnal Hukum Justisssica | Vol. 5 | Juni 2011

mempunyai kekuatan hukum tetap. Dan setelah majelis mendengar jawabmenjawab dan mendengar keterangan dari saksi-saksi berpendapat bahwa terdapat cukup alasan akan permohonan Penggugat tersebut sehingga alasan tersebut dapat diterima. c. Setelah diadakan penyelidikan mengenai status dan kepemilikan dari benda itu oleh Jurusita Pengadilan Negeri Magetan, barang yang dikenakan Conservatoir Beslag tersebut yaitu Sebidang tanah pekarangan terdaftar dalam patok D huruf C No.130 persil 48 Klas D II luas 1.220 M2 atas nama Kasri, terletak di desa Blaran, Kecamatan Karangmojo, Kabupaten Magetan (Tanah sengketa) beserta Satu buah rumah bangunan kampung yang berdiri diatas tanah sengketa tersebut adalah benda milik tergugat dan benda tersebut bukan benda sengketa pada perkara lain atau benda yang telah menjadi jaminan pihak lain. Oleh karena itu hakim mengabulkan permohonan sita jaminan yang telah diajukan oleh pihak Penggugat.

Berdasarkan pertimbangan Hakim Pengadilan Negeri Magetan tersebut diatas dalam mengabulkan permohonan Coservatoir Beslag kurang tepat karena pertama, permohonan sita yang dimohonkan adalah sita Revindicatoir Beslag karena barang yang disengketakan adalah milik sah Penggugat terbukti atas serfikat tanah atas nama Penggugat telah terdaftar dalam Buku C Desa No.130 Persil No.48 Klas D II Luas 1.220 M2 atas nama Kasri (Penggugat) serta yang membayar pajak atas tanah dan bangunan yang disengketakan tersebut adalah Penggugat. Kedua,

2.

Pelaksanaan Eksekusi riil atas sengketa tanah setelah putusan mempunyai kekuatan hukum tetap. Berdasarkan Berita Acara Penyitaan Jaminan (Concervatoir Beslag) No:27/BA.Pdt.G/2000/PN.Mgt telah dilakukan penyitaan oleh Panitera Pengadilan Negeri Magetan dengan disaksikan oleh dua orang saksi atas barang-barang tergugat yang tersengketa yaitu : Sebidang tanah pekarangan terdaftar dalam petok D Huruf C No.130 Persil 48 Klas D II luas 1.220 m2 atas nama KASRI, terletak di Desa Blaran, Kecamatan Karangmojo, Kabupaten Magetan (Tanah Sengketa) beserta satu buah rumah bangunan Kampung yang berdiri diatas tanah sengketa tersebut diatas. Berdasarkan putusan No.27/Pdt.G./2000/P.N.Mgt. yang telah berkekuatan hukum tetap yang dimenangkan oleh Penggugat. Disini Tergugat sebagai pihak yang kalah harus mau melaksanakan isi amar putusan tersebut secara suka rela. Karena ternyata Tergugat tidak mau melaksanakan putusan secara sukarela sampai telah melewati masa peringatan selama delapan hari. Penggugat segera mengajukan Permohonan Pelaksanaan Eksekusi kepada Ketua Pengadilan Negeri Magetan. Ketua Pengadilan Negeri Magetan secara ex officio mengeluarkan surat penetapan Eksekusi Pengosongan tanah dan rumah No.27/Pdt.G/2000/PN.Mgt yang
Jurnal Hukum Justisssica | Vol. 5 | Juni 2011

21

berisi perintah kepada panitera atau jurusita untuk menjalankan eksekusi pengosongan dan penyerahan atas obyek sengketa yang telah disita sebelumnya tersebut diatas. Berdasarkan Berita Acara Eksekusi Pengosongan Tanah Dan Rumah No.27/P.dt.G/2000/P.N.Mgt. Wakil Panitera Pengadilan Negeri Magetan selaku Eksekutor dengan disaksikan dua orang Pegawai Pengadilan Negeri Magetan, MUSPIKA Kecamatan Barat Kabupaten Magetan, Kepala Desa Blaran Kecamatan Barat Kabupaten Magetan dengan dibantu pula oleh aparat keamanan dari anggota Polres Magetan, Polsek Barat dan Koramil Barat lalu secara paksa melaksanakan Eksekusi pengosongan dan penyerahan terhadap tanah sengketa dan bangunan tersebut diatas sesuai dengan bunyi putusan Pengadilan Negeri Magetan tanggal 12 April 2001 No.27/Pdt.G/2000/PN.Mgt dengan menancapkan patok-patok pembatas pada tanah dan bangunan tersebut diatas. Obyek sengketa/tanah dan rumah sengketa telah selesai di eksekusi (pengosongan) guna memenuhi bunyi putusan Pengadilan tersebut diatas maka wakil panitera Pengadilan Negeri Magetan yang disaksikan oleh dua orang saksi serta Aparat MUSPIKA Kecamatan Barat menyatakan bahwa tanah beserta bangunan rumah diatasnya telah selesai eksekusinya.

22

Jurnal Hukum Justisssica | Vol. 5 | Juni 2011

Daftar Pustaka
 Adi Andojo Soecjipto. (1974). Conservatoir Beslag Dan Berbagai Masalahnya, Bina Justitia No.1.  Elizabeth A.Martin. (2002). Oxford Dictionary Of Law. New York: Oxford University Pers.  M. Yahya Harapan,S.H. (2005). Hukum Acara Perdata. Jakarta : Sinar Grafika.  M. Yahya Harahap. (1987). Permasalahan dan penerapan Conservatoir Beslag. Jakarta: Sinar Grafika.

 M.Yahya Harahap, S.H. (2006). Ruang Lingkup Permasalahan Eksekusi Bidang Perdata.
Jakarta : Sinar Grafika .  Retnowulan Sutantio dan Iskandar Oeripkartawinata. (1997). Hukum Acara Perdata Dalam Teori dan Praktek. Bandung : Alumni.  Soedikno Mertokusumo. (2002). Hukum Acara Perdata Indonesia.Yogyakarta : Liberty .  Subekti. (1977). Hukum Acara Perdata. Bandung: Binacipta.  Sudikno Mertokusumo. (1988). Hukum Acara Perdata. Edisi ketiga. Yogyakarta: Liberty.  M.A, 15 April 1972 No. 121 K/Sip/1971, Yurisprudensi, Jawa Barat 1969-1972.

----

----

Jurnal Hukum Justisssica | Vol. 5 | Juni 2011

23

Kesadaran Hukum Pemilik Kos dalam Pembayaran Pajak Penghasilan atas Rumah Kos-Kosan
(Studi Kasus Di Desa Gonilan, Kecamatan Kartasura)
(Oleh: Sulistyawati Antariksih, Jafar Sodiq, Selvia Artha Diva)

Abstract
ax is an obligatory contribution to state that owed by personal as law subject or corporate body. Based on regulations, tax has a power to force. Tax obligation and citizen at once do not have a right to get direct repayment. Tax income is used for state necessity and totally for citizen prosperity. It puts into APBN (national budget) by state, while regional tax income will be allocated to APBD (regional budget). One of the tax obligation object is earnings. In Regulation no.36 of year 2008 about Earnings Tax, entrepreneur is one of tax obligation object. Here, boarding house owners can be classified as entrepreneur because they get income from renting out their boarding house. In Regional Regulation of Sukoharjo no.3 of year 2003 about Hotel, it regulates specifically about boarding house taxes. In that Regional Regulation, there are ambiguity of tax obligation object. Article 2 states that tax is subjected toward services, while Article 5 clearly mentions that tax obligation is hotel entrepreneur or inn owner. It is one of being obstacles of execution. Moreover, lack of awareness of apparatus in upholds the law and lack of awareness of boarding house owner are significant problem of boarding house tax legal remedy.

T

Keyword(s): Law Awareness, Tax

24

Jurnal Hukum Justisssica | Vol. 5 | Juni 2011

Pendahuluan
Menurut Prof. Dr. H. Rochmat Soemitro S.H., pajak adalah iuran rakyat kepada kas negara berdasarkan undang-undang yang dapat dipaksakan dengan tiada mendapat jasa timbal (kontra prestasi) yang langsung dapat ditunjukkan dan yang digunakan untuk membayar pengeluaran umum. Definisi tersebut kemudian dikoreksinya yang berbunyi sebagai berikut: Pajak adalah peralihan kekayaan dari pihak rakyat kepada Kas Negara untuk membiayai pengeluaran rutin dan surplusnya digunakan untuk public saving yang merupakan sumber utama untuk membiayai public investment.16 Prof. Dr. MJH. Smeeth mendefinisikan pajak sebagai prestasi pemerintahan yang terutang melalui norma – norma umum, dan yang dapat dipaksakan, tanpa adanya kontra prestasi yang dapat ditunjukan dalam hal individu, maksudnya adalah membiayai pengeluaran pemerintah.17 Menurut Pasal 1 Undang – Undang No. 28 Tahun 2007 tentang Ketentuan Umum Dan Tata Cara Perpajakan, yang dimaksud dengan pajak adalah kontribusi wajib kepada negara yang terutang oleh orang pribadi atau badan yang bersifat memaksa berdasarkan Undang Undang, dengan tidak mendapat timbal balik secara langsung dan digunakan untuk keperluan negara bagi sebesar-besarnya kemakmuran rakyat. Dalam Undang-Undang No. 36 tahun 2008 tentang pajak penghasilan yang dimaksud dengan pajak penghasilan adalah pungutan yang dikenakan terhadap subjek pajak berkenaan dengan penghasilan yang diterima atau diperoleh selama satu tahun pajak. Sedangkan yang dimaksud dengan objek dari pajak penghasilan yang dijelaskan oleh pasal 4 dalam Undang-Undang No. 36 tahun 2008 adalah penghasilan, yaitu setiap tambahan kemampuan ekonomis yang diterima atau diperoleh Wajib Pajak, baik yang berasal dari Indonesia maupun dari luar Indonesia, yang dapat dipakai untuk konsumsi atau untuk menambah kekayaan Wajib Pajak yang bersangkutan, dengan nama dan dalam bentuk apa pun. Dari isi Pasal 4 tersebut diatas maka dapat dilihat bahwa semua penghasilan yang sah secara hukum akan dikenakan pajak apabila telah melampaui batas penghasilan tidak kena pajak. Keanekaragaman mata pencaharian memperlebar cakupan pengertian tentang penghasilan. Pengertian tersebut yang akhirnya menambah luas pengertian tentang pajak penghasilan. Salah satunya adalah penghasilan melalui rumah kos. Meski tidak diatur secara khusus lewat undang – undang pajak, dalam beberapa daerah terdapat pengaturan mengenai rumah kos tersebut. Salah satunya adalah di daerah Sukoharjo. Yang dimaksud dengan rumah kos atau indekos menurut PERDA Kabupaten Sukoharjo Nomor 3 Tahun 2003 penjelasan umum dari Pasal 3 ayat (2) adalah rumah tempat menumpang tinggal dengan membayar dalam jangka waktu tertentu. Melihat dari bentuk usaha dari rumah kos, wajar jika rumah kos termasuk dalam obyek yang dapat dikenai pajak.

16 17

Rachmad Soemitro. 2002. Pengantar Hukum Pajak. Jakarta:Ghalia Indonesia. Hal. 1 H. Bohari. 1995. Pengantar Hukum Pajak. Jakarta: P.T. Raja Grafindo Persada. Hal. 20
Jurnal Hukum Justisssica | Vol. 5 | Juni 2011

25

Di Kabupaten Sukoharjo terdapat Perda yang mengatur tentang pajak rumah indekos atau rumah kos. Aturan tersebut dapat ditemui dalam Perda Kabupaten Sukoharjo No.3 Tahun 2003 tentang Pajak Hotel. Ruang lingkup pengaturan Perda tersebut adalah pelayanan yang disediakan dalam jasa penginapan utamanya hotel. Dalam pasal 3 ayat 2 rumah kos yang dalam Perda tersebut dikenal dengan istilah rumah indekos adalah salah satu obyek yang dikenai pajak. Jika berbicara mengenai pajak, maka perlu diketahui pula apa yang dimaksud subyek yang dapat dikenai pajak. Subyek yang dapat dikenai pajak dikenal dengan istilah wajib pajak. Pengertian Wajib Pajak berdasarkan Undang Undang Nomor 28 Tahun 2007 Tentang Ketentuan Umum Dan Tata Cara Perpajakan No. 2, Wajib Pajak adalah orang pribadi atau badan, meliputi pembayar pajak, pemotong pajak, dan pemungut pajak, yang mempunyai hak dan kewajiban perpajakan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan. Jadi wajib pajak menuju kepada subyek yang wajib melakukan pembayaran pajak. Wajib pajak dalam pajak penghasilan terbagi menjadi dua, yakni Badan Hukum dan Pengusaha sebagai pribadi. Meski terdapat aturan yang cukup jelas, pelaksanaan peraturan, kesadaran wajib pajak dan pemaknaan subyek pajak rumah kos masih terasa menjadi hal yang menarik untuk dikaji lebih dalam. Utamanya dalam hal kesadaran hukum. Kesadaran hukum menurut Sunaryati Hartono berarti berbicara dalam masalah budaya, khususnya pada nilai-nilai sosial dan budaya hukum bangsa. Menurut Paul Scholten dalam Sudikno Mertokusumo bahwa 18kesadaran hukum adalah kesadaran yang ada pada setiap manusia tentang apa hukum itu atau apa seharusnya hukum itu, suatu kategori tertentu dari hidup kejiwaan kita dengan mana kita membedakan antara hukum dan tidak hukum (onrecht), antara yang seyogyanya dilakukan dan tidak seyogyanya dilakukan 19. Selanjutnya Paul Scholten mengungkapkan sebagai berikut: Kesadaran tentang apa hukum itu berarti kesadaran bahwa hukum itu merupakan perlindungan kepentingan manusia. Pendapat Soekanto dan Mustafa Abdullah 20bahwa kesadaran hukum merupakan suatu penilaian terhadap apa yang dianggap sebagai hukum yang baik dan/atau hukum yang tidak baik. Penilaian terhadap hukum tersebut didasarkan pada tujuannya, yaitu apakah hukum tadi adil atau tidak adil, oleh karena keadilan yang diharapkan oleh warga masyarakat. Permasalahan kesadaran hukum timbul di dalam kerangka mencari dasar sahnya hukum yang merupakan konsekuensi dari masalah yang timbul di dalam penerapan tata hukum atau hukum positif. Jadi pada dasarnya kesadaran hukum berkutat pada nilai lahiriyah dari seorang subyek hukum untuk mewujudkan kewajiban dan bertanggung jawab atas kewajiban tersebut. Perwujudan dari hal tersebut adalah esensi dari sadar hukum. Dalam arti sempit, orang disebut sadar hukum adalah ketika mereka menaati Undang – Undang, mengamalkan dan mempertanggungjawabkan perbuatanya berdasarkan Undang –

18

Sudikno Mertokusumo, 2009, Mentaati Hukum dengan Mentaati Asas dan Sistem Hukum, http://sudiknoartikel.blogspot.com, diunduh pada 1 November 2009 pukul 13.30. 19 Ibid 20 Sukanto dan Mustafa Abdullah. 1980. Sosiologi Hukum dalam Masyarakat. Jakarta: C.V. Rajawali. Hal. 210

26

Jurnal Hukum Justisssica | Vol. 5 | Juni 2011

Undang. Secara lebih luas, orang dikatakan sadar hukum adalah ketika seseorang tersebut menghormati nilai – nilai kesusilaan dalam kehidupan yang serba majemuk. Variabel yang menarik dan ruang lingkup dari permasalahan tersebut, melatarbelakangi peneliti untuk mengkaji lebih dalam permasalahan tentang kesadaran hukum pemilik kos dalam membayar pajak penghasilan atas rumah kos yang disewakan.

Jurnal Hukum Justisssica | Vol. 5 | Juni 2011

27

Pembahasan
1. Kriteria Wajib Pajak Pada Usaha Rumah Kos
Ketika berbicara mengenai kesadaran hukum maka hal pertama yang perlu diketahui adalah siapakah obyek yang akan dituju untuk dilakukan pengujian terhadap fenomena sosial tersebut. Dalam hal pajak rumah kos, perlu diketahui pula siapakah wajib pajak dan sejauh manakah ketentuan itu dapat dipaksakan oleh peraturan perundangan. Termuat dalam Perda Kabupaten Sukoharjo Nomor 3 Tahun 2003 tentang Pajak Hotel, pajak rumah kos termasuk dalam pajak daerah. Artinya kewajiban pengelolaanya diserahkan kepada daerah. Dikawasan Sukoharjo, dengan ditetapkanya Perda ini maka pajak rumah kos tidak dapat dikategorikan sebagai pajak pertambahan nilai, pajak penghasilan ataupun jenis pajak lainya. Terlepas dari Perda tersebut, maka rumah kos sejatinya tidak termasuk dalam jenis pajak apapun. Dengan asumsi bahwa variabel dalam pajak rumah kos adalah pelayanan atau penyediaan tempat bukan hasil usaha. Jadi obyeknya bukanlah penghasilan dari pemilik kos oleh karenanya harus ada pembedaan yang tegas. Variabel dari pajak rumah kos sendiri secara normatif dikecualikan oleh pajak pertambahan nilai. 21Jadi dari praktek yang berkembang di masyarakat pemilik kos hanya disebut sebagai wajib pajak untuk Pajak Bumi dan Bangunan atas bangunan yang dimilikinya, tidak ada kewajiban untuk membayar pajak pada jenis lain. Pada persspektif lain, perlu diketahui bahwa wajib pajak dalam Undang – Undang tentang Pajak Penghasilan adalah pengusaha. Dalam pasal 17 Undang – Undang Nomor 28 Tahun 2007, Pengusaha adalah orang pribadi atau badan dalam bentuk apa pun yang dalam kegiatan usaha atau pekerjaannya menghasilkan barang, mengimpor barang, mengekspor barang, melakukan usaha perdagangan, memanfaatkan barang tidak berwujud dari luar daerah pabean, melakukan usaha jasa, atau memanfaatkan jasa dari luar daerah pabean. Pengusaha hotel atau penginapan adalah perorangan atau badan yang menyelenggarakan usaha hotel atau penginapan untuk dan atas namanya sendiri atau untuk dan atas nama pihak lain yang menjadi tanggungannya. (PERDA Kabupaten Sukoharjo Nomor 3 Tahun 2003 tentang Pajak Hotel). Pada prinsip ini, dapat diartikan bahwa pemilik kos termasuk pengusaha yang wajib pajak. Namun harus ada pembatasan kepada pengertian tersebut. Harus ada pembeda antara orang yang menyewakan rumah atau kamarnya dengan orang yang menyewakan tempat khusus untuk usaha seperti rumah kos. Contoh kedua termasuk dalam pengusaha. Jadi pajak yang akan dikenakan pun harus terjadi pembatasan. Wajib pajak seperti yang termaktub dalam UU No. 28 tahun 2007 adalah pengusaha, dalam arti orang yang mendirikan suatu usaha tertentu untuk meraih keuntungan. Pemilik kos dapat dikategorikan dalam dua hal. Pertama pengusaha kos dan kedua hanya sebagai pemilik rumah yang menyerahkan hak pakai kamarnya kepada seseorang dengan maksud memperoleh keuntungan.

21

Pajak.go.id. Diunduh pada hari Senin, 21 Februari 2011 Pukul 12.34.
Jurnal Hukum Justisssica | Vol. 5 | Juni 2011

28

Dalam Perda Sukoharjo No. 3 tahun 2003 pembatasan tersebut jelas terlihat. Pada pasal 3 ayat 2 huruf a rumah kos atau dalam Perda tersebut dinamai rumah indekos yang wajib pajak hanya rumah indekos dengan kamar lebih dari 10 kamar, artinya pemilik rumah kos yang hanya memiliki kamar kurang dari 10 tidak dikenai pajak. Asumsi yang diterapkan pada Perda tersebut menurut peneliti adalah hasil dari pembatasan pengertian pengusaha yang wajib pajak. Jadi bila disederhanakan menjadi seperti ini; pajak penghasilan dikenakan oleh pengusaha, dalam hal rumah kos yang memiliki kamar (yang disewakan) kurang dari 10 pemilik bukan termasuk pengusaha. Pengertian tersebut dikenai dengan asumsi bahwa usaha rumah kos tersebut bukan dilakukan secara khusus sebagai kegiatan usaha melainkan hanya meminjamkan sebagian kecil dari rumahnya. Jadi dalam kasus ini pemilik kos yang memiliki kamar kurang dari 10 hanya wajib membayar pajak bumi dan bangunan sebagai perwujudan wajib pajak pada bangunan dan tanah yang dimiliki, bukan rumah kos sebagai lahan usaha (penghasilan). Meski terdapat pengaturan yang jelas pada regulasi tersebut namun terdapat ambiguitas makna. Disebutkan dalam pasal 2 Perda no.3 tahun 2003 bahwa dengan nama Pajak Hotel dipungut pajak atas setiap pelayanan di hotel atau penginapan. Menurut penafsiran dari para pemilik kos, pajak rumah kos dikenai oleh pemilik kos. Obyek utamanya adalah penghasilan dari rumah kos tersebut. Pemahaman seperti ini sebetulnya keliru. Dari pasal tersebut dapat ditafsirkan bahwa pengenaan pajak tidak ditujukan kepada pemilik kos, namun kepada penyewa kos. Alasan utamanya adalah penyebutan kata pelayanan dan atas nama Pajak Hotel (penginapan). Hal ini berarti pemilik kos hanya mengatasnamakan pembayaran tersebut bukan sebagai obyek wajib pajak. Kata pelayanan dapat diartikan bahwa negara mengambil alih fungsi kepemilikan pelayanan kos (melalui pajak). Hal ini dapat dimengerti ketika pajak rumah penginapan tersebut masuk dalam ranah regulasi Pajak Hotel. Jika dianalogikan kepada pajak pertambahan nilai, maka pajak rumah kos tersebut dikenai kepada pelayanan berupa pemberian hak pakai dari pemberi kamar (pemilik rumah kos) kepada penyewa rumah kos. Oleh karena itu dalam kasus pajak rumah kos yang menjadi subyek pajak dalam pajak rumah kos tersebut bukan penghasilan dari pengusaha tetapi pelayanan yang diterima oleh penyewa tempat kos tersebut. Hal ini dikuatkan oleh pasal 6 Perda tersebut. Dalam pasal 6 disebutkan dasar pengenaan pajak adalah pembayaran yang dilakukan kepada hotel atau penginapan. Penyebutan kata pembayaran dapat ditafsirkan bahwa wajib pajak adalah pembayar (kreditur). Dalam hal ini yang disebut kreditur dari rumah kos adalah orang yang menyewa kamar dalam rumah kos tersebut. Pemahaman seperti ini penting guna penghitungan besaran pajak yang akan dibayar kepada daerah (mengingat pajak tersebut masuk dalam pajak daerah. Dalam pasal 5 Perda tersebut, wajib pajak adalah pengusaha penginapan. Maka dari peraturang tersebut dapat disimpulkan bahwa pemilik kos bertanggung jawab kepada pemerintah daerah untuk menghimpun dana pajak yang dikenai kepada penyewa rumah kos.
Jurnal Hukum Justisssica | Vol. 5 | Juni 2011

29

2. Kesadaran Pemilik Kos dalam Membayar Pajak
Target lokasi yang menjadi sasaran kami untuk melakukan penelitian ialah di Desa Gonilan Kecamatan Kartasura Kabupaten Sukoharjo yang memiliki kurang lebih 90 rumah yang dijadikan usaha kos-kosan. Para pemilik kos di daerah tersebut hampir seluruhnya tidak membayar pajak kos-kosan. Padahal kamar kos yang disewakan telah memenuhi kriteria untuk dikenai pajak atas rumah kos yang disewakannya, yakni 10 (sepuluh) kamar bahkan lebih. Tak hanya itu, penghasilan yang diperoleh pun setiap tahunnya cukup besar, dengan pendapatan minimal Rp. 1.000.000,- (satu juta rupiah) per kamar dan pendapatan maksimal Rp. 4.000.000,- (empat juta rupiah) per kamar. Dari adanya fakta tersebut seharusnya pemilik kos wajib dikenai pajak atas rumah kos yang disewakannya, sebagaimana yang diatur dalam Perda Sukoharjo No. 3 Tahun 2003 tentang pajak Hotel (penginapan). Meski terdapat pengaturan yang gamblang dalam beberapa regulasi baik regulasi pemerintah pusat maupun daerah, namun hal tersebut tidak lantas mendapat tanggapan dari masyarakat. Faktanya dilapangan pengertian mengenai pajak rumah kos ini tidak banyak diketahui pemilik rumah kos. Lemahnya sosialisasi serta penegakan hukum membuat warga semakin melupakan pajak rumah kos. Setidaknya hal tersebut yang ditemui dilapangan. Dari penelitian yang kami lakukan, peneliti menemukan lebih dari 80% pemilik kos tidak tau mengenai pajak rumah kos. Sisanya ada yang mengetahui secara rinci dan ada yang hanya tau sekilas saja. Terbukti dari hasil penyebaran angket yang peneliti lakukan, banyak pemilik kos yang memiliki lebih dari 10 kamar yang disewakan dengan penarikan pembayaran per tahun dengan tarif harga minimal Rp. 1.000.000,- per kamar dan maksimal diatas Rp. 4.000.000,- per kamar dan tidak membayar pajak. Adapun pemilik kos yang mengaku telah membayar pajak, namun hanya pajak penghasilan dan PBB (Pajak Bumi dan Bangunan) saja, belum termasuk pajak rumah kos. Meski begitu, faktanya dilapangan pemilik kos rata – rata tidak mengetahui atau belum mengetahui secara pasti tentang pajak rumah kos. Bahkan hanya 4% dari respnden yang kami temui mengetahui secara detail regulasi tersebut. Berikut kami sajikan data yang kami peroleh dari tabel 1 dibawah. Tabel 1: Pengetahuan Pemilik tentang Pajak Kos No Pengetahuan Pemilik Kos Jawaban Responden Jumlah Prosentase Mengetahui tentang regulasi secara detail, besaran kewajiban dan prosedurnya. Keterangan

1

Mengetahui

1

4%

30

Jurnal Hukum Justisssica | Vol. 5 | Juni 2011

2

Pernah Mendengar

9

36 %

Mengetahui tentang peraturan tersebut tetapi tidak detail. Belum mengetahui sama sekali mengenai peraturan tersebut.

3

Belum pernah mendengar tentang perat tersebut

15

60 %

Dari data yang kami dapat terdapat 100% pemilik rumah kos belum membayar pajak. Alasan yang dikemukakan sekitar pada masalah kurangnya pengetahuan akan pajak rumah kos dan pelaksanaan atau eksekusi dari pembayaran kos tersebut oleh pemerintah. Jika tidak ada penagihan, maka tidak ada pembayaran. Prosedur pembayaran yang rumit membuat pemilik kos enggan membayar pajak tersebut. Delapan dari dua puluh lima pemilik rumah kos mengakui belum membayar pajak karena tidak ada petugas pajak yang menagih. 15 (lima belas) diantaranya mengaku belum mengetahui tentang pajak rumah kos tersebut. Sementara sisanya sebetulnya telah mengetahui regulasi tersebut tetapi karena mereka tidak termasuk kriteria wajib pajak maka mereka mengakui tidak perlu membayar. Jumlah pendapatan per-tahun yang didapatkan pemilik kos dari hasil penyewaan kamarnya itu masih pendapatan kotor belum dikurangi dengan tagihan-tagihan lain seperti pembayaran listrik dan air setiap bulannya serta belum lagi bila ada kerusakan fasilitas kamar yang mana semua itu ditanggung oleh pemilik kos. Hal tersebut sangat membebani pemilik kos karena merasa adanya pajak berganda yang dibebani kepadanya.

Jurnal Hukum Justisssica | Vol. 5 | Juni 2011

31

Kesimpulan
1. Pemilik rumah kos di daerah Sukoharjo dapat dikenai wajib pajak dengan memenuhi kriteria: rumah kos digunakan sebagai tempat usaha secara khusus. 2. Perda Sukoharjo No.3 Tahun 2003 tentang Pajak Hotel mengharuskan Pemilik Kos yang memiliki Rumah Kos dengan kamar lebih dari 10 untuk wajib pajak sebesar 5% dari pembayaran. 3. Pajak rumah kos dikenakan untuk pelayanan terhadap rumah kos, bukan dari penghasilan yang didapatkan melalui rumah kos. Jadi pemilik kos mempunyai kewajiban pembayaran pajak dengan pemotongan atau penambahan nominal pembayaran sejumlah 5% dari jumlah pembayaran dari penyewa rumah kos. 4. Kesadaran hukum pemilik kos Desa Gonilan Kecamatan Kartasura Kabupaten Sukoharjo rendah. Hal ini dibuktikan dengan tidak ada satupun pemilik kos yang membayar pajak rumah kos. 5. Pemilik kos dalam kaitanya dengan wajib pajak tersebut terkendala dengan kurangnya sosialisasi terhadap peraturan yang terkait dan nihilnya pengawasan serta penarikan pajak dari pemerintah daerah.

32

Jurnal Hukum Justisssica | Vol. 5 | Juni 2011

Daftar Pustaka
    H. Bohari. 1995. Pengantar Hukum Pajak. Jakarta: P.T. Raja Grafindo Persada. M. Muslich. 1993. Metode Kuantitatif. Jakarta: Lembaga Penerbit Fakultas Ekonomi UI. Rachmad Soemitro. 2002. Pengantar Hukum Pajak. Jakarta:Ghalia Indonesia. Sukanto dan Mustafa Abdullah. 1980. Sosiologi Hukum dalam Masyarakat. Jakarta: C.V. Rajawali.  Sudikno Mertokusumo, 2009, Mentaati Hukum dengan Mentaati Asas dan Sistem Hukum, http://sudiknoartikel.blogspot.com, diunduh pada 1 November 2009 pukul 13.30.  Pajak.go.id. Diunduh pada hari Senin, 21 Februari 2011 Pukul 12.34.

----

----

Jurnal Hukum Justisssica | Vol. 5 | Juni 2011

33

Perubahan Sosial Peran Gender di Keraton Surakarta dan Implikasinya terhadap Masyarakat Surakarta
(Oleh: Agustin Dwi Ria Mahardika, Retno Eko Mardani, Nurrahman Sukiman)

he differences of role that differentiate between men and women cause unfairness and discrimination. It makes some oppression toward others because of assumption that one side has higher level than others. In Javanese culture, many terms put women in lower layer position than men. Surakarta Palace idolizes Javanese culture. It is protector and keeper of Javanese culture identity, especially in Surakarta. There is a problem then. How does culture which discriminate women? Certain stereotypes are labeled toward women and have become a way of life as if impossible to be changed. Because of this importance and crucial problem, so that discussion in identifying social changes of gender role in palace environment needs to be done in order to analyze how far it happens. It will result how the changes implicated toward society surround palace in public and individual daily activities. These research findings will become a reference and improve people’s knowledge. Therefore, it is needed details explanation and comprehensive description about changes of gender role in patriarchal Javanese tradition which is followed by Surakarta Palace.

T

Abstract

Keyword(s): Women Role, Cultural Tradition, Surakarta Palace, Society

34

Jurnal Hukum Justisssica | Vol. 5 | Juni 2011

Pendahuluan
I. Latar Belakang Perempuan dan laki-laki pada dasarnya berbeda secara alamiah. Perbedaan itu merupakan kodrat yang dibawa sejak lahir dan tidak dapat dipertukarkan. Perbedaan tersebut oleh masyarakat pada umumya dikonstruksikan menjadi sebuah stereotipe antara laki dan perempuan sehingga menimbulkan asumsi dalam budaya masyarakat bahwa seorang laki – laki dan perempuan dianggap berbeda, perempuan diharapkan memiliki sifat lemah lembut, keibuan, penurut dan, emosional. Sementara itu, laki-laki diharapkan kuat, rasional, jantan dan perkasa. Perbedaanperbedaan antara perempuan dan laki-laki yang timbul dari anggapan atau harapan dalam budaya masyarakat yang cenderung membedakan dalam hal perilaku, mentalitas dan karakteristik emosional atau lebih dikenal dengan istilah ― Gender ―. Adanya suatu perbedaan peran perempuan dan laki-laki tersebut pada akhirnya menimbulkan suatu ketidakadilan, kesenjangan dengan adanya salah satu pihak yang di anggap lebih tinggi derajatnya sehingga menimbulkan penekanan-penekanan serta penindasan terhadap pihak lain. Laki-laki memiliki derajat yang tinggi karena dianggap kuat, rasional dan jantan. Sementara itu, perempuandianggap sebagai pihak yang mudah ditekan, penurut serta mudah di tindas karena perempuan bersifat lemah-lembut. Dalam budaya Jawa, banyak istilah-istilah yang mendudukkan posisi perempuan lebih rendah daripada laki-laki. Dan istilah-istilah itu sudah tertanam dalam hati masyarakat, sehingga dimaklumi dan diterima begitu saja. Contoh, dalam istilah Jawa ada yang menyebutkan bahwa istri sebagai kanca wingking, artinya teman belakang, sebagai teman dalam mengelola urusan rumah tangga, khususnya urusan anak, memasak, mencuci dan lain-lain. Ada lagi istilah lain suwarga nunut neraka katut. Istilah itu juga diperuntukkan bagi para istri, bahwa suami adalah yang menentukan istri akan masuk surga atau neraka. Kalau suami masuk surga, berarti istri juga akan masuk surga, tetapi kalau suami masuk neraka, walaupun istri berhak untuk masuk surga karena amal perbuatan yang baik, tetapi tidak berhak bagi istri untuk masuk surga karena harus katut atau mengikuti suami masuk neraka. Ada lagi istilah yang lebih merendahkan lagi bagi para istri, yaitu bahwa seorang istri harus bisa manak, macak, masak dan berapa kata yang berawal ‗m‘ yang lain lagi. Bahwa seorang istri itu harus bisa memberikan keturunan, harus selalu berdandan untuk suaminya dan harus bisa memasak untuk suaminya. Istilah lain yang melekat pada diri seorang perempuan atau istri yakni dapur, pupur, kasur, sumur dan mungkin masih ada akhiran ―ur-ur‖ yang lain yang bisa diteruskan untuk dilekatkan pada perempuan. Citra, peran dan status sebagai perempuan, telah diciptakan oleh budaya. Citra bagi seorang perempuan seperti yang diidealkan oleh budaya, antaralain, lemah lembut, penurut, tidak membantah, tidak boleh ―melebihi‖laki-laki. Peran yang diidealkan seperti pengelola rumah tangga, sebagai pendukung karir suami, istri yang penurut dan ibu yang mrantasi. Citra yang dibuat untuk laki-laki antara lain, ―serba tahu‖, sebagai panutan harus ―lebih‖dari perempuan, rasional, agresif. Peran laki-laki yang ideal adalah sebagai

Jurnal Hukum Justisssica | Vol. 5 | Juni 2011

35

pencari nafkah keluarga, pelindung, ―mengayomi‖, sedangkan status idealnya adalah kepala keluarga22. Budaya Jawa yang demikian pada saat ini telah tidak sesuai dengan kebijakan-kebijakan pemerintah yang justru ingin meningkatkan kualitas hidup perempuan baik dalam aspek public maupun domistik, berarti adanya perbedaan kepentingan antara keraton disatu pihak dengan pemerintah di pihak. Kebijakan-kebijakan pemerintah tersebut antara lain seperti antara lain UU Nomor 7 Tahun 1984 tentang Konvensi Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi terhadap Wanita, INPRES No. 9 Tahun 2000 tentang Pengarasutamaan Gender atau PUG, UU No. 12 Tahun 2005 tentang Pengesahan Konvenan Internasional tentang Hak-hak Ekonomi, Sosial, dan Budaya.

II. Rumusan Masalah 1. 2. Bagaimanakah perubahan sosial peran gender yang terjadi di Keraton Surakarta? Bagaimana implikasi perubahan sosial peran gender tersebut terhadap masyarakat?

III.Tujuan Penelitian Tujuan yang ingin dicapai dari progam penelitian ini adalah sebagai berikut: 1. 2. Untuk mengetahui dan mendiskripsikan adanya perubahan sosial peran gender yang terjadi dalam lingkungan kraton Surakarta. Untuk mendeskripsikan dan menjelaskan implikasi perubahan sosial peran gender tersebut terhadap masyarakat.

IV. Metode Penelitian 1. Pendekatan dan Jenis Penelitian Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif23, maksudnya penelitian ini mengkaji tentang fenomena sosial yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari yang menjadi masalah dan menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis maupun lisan dari orang-orang dan perilaku yang diamati. Disamping itu, penelitian ini menggunakan perspektif gender, maksudnya perspektif penelitian ini memperhatikan pula relasi laki-laki dan perempuan wilayah domestic dan publik. Jenis penelitian yang digunakan adalah diskriptif-analitis. Deskriptif maksudnya peneliti akan mendiskripsikan perubahan sosial peran gender yang terjadi di keraton Surakarta dan implikasinya kepada masyarakat. Analitis maksudnya peneliti akan mengkaji dan/atau membahas

22

Raharjo, Yulfira. (1995). Gender dan Pembangunan. Puslitbang Kependudukan dan Ketenagakerjaan. Jakarta LIPI (PPT-LIPI) 23 Moleong, Lexy J. (1993). Metodologi Penelitian Kulitatif. Bandung: Rosda Karya.

36

Jurnal Hukum Justisssica | Vol. 5 | Juni 2011

data yang telah diperoleh dari lapangan dengan menggunakan dasar analisis kebijakan-kebijakan pemerintah yang berkaitan dengan gender dan teori perubahan sosial. 2. Lokasi Penelitian Penelitian ini dilakukan di Keraton Surakarta. Adapun alasan penulis memilih lokasi tersebut adalah keraton merupakan pusat kebudayaan dan keraton mempunyai tugas untuk menjaga pelestarian budaya (dalam hal ini budaya Jawa). 3. Sumber Data Data penelitian ini meliputi data primer dan sekunder, yakni sebagai berikut : a. Data Primer, diperoleh dari hasil wawancara (interview) dan observasi langsung terhadap kehidupan sehari – hari keluarga keraton. b. Data Sekunder, diperoleh dari hasil kajian literature, jurnal ilmiah dan dokumentasi peraturan perundangan yang relevan dengan masalah yang diteliti. 4. Teknik Pengumpulan Data a. Studi Kepustakaan, untuk menggali data sekunder dengan melakukan kajian terhadap berbagai literature, jurnal dan dokumen perundangan yang relevan dengan masalah yang diteliti. b. Wawancara, untuk menggali data primer. Wawancara dilakukan peneliti kepada keluarga keraton baik laki – laki maupun perempuan dan masyarakat Surakarta khususnya mereka yang tinggal atau mengetahui tentang keraton baik dari aspek tata aturan maupun budayanya. Point – point untuk wawancara kepada keluarga keraton antara lain :  Peran perempuan dan laki – laki dari keluarga keraton  Akses, kontrol dan partisipasi yang dimiliki oleh perempuan dan laki – laki keluarga keraton  Point – point untuk wawancara dengan masyarakat antara lain:  Peran perempuan dan peran laki – laki yang diberikan oleh keluarga informan  Akses, kontrol dan partisipasi yang dimiliki oleh perempuan dan laki – laki keluarga informan  Apakah ada perubahan peran, kontrol, akses dan partisipasi antara perempuan laki – laki  Apakah perubahan ini sebagai dampak adanya perubahan peran, kontrol, akses partispasi antara perempuan dan laki – laki kerabat keraton. dari

dari dan dan

c. Observasi dilakukan oleh peneliti juga untuk menggali data primer terutama mengenai kegiatan sehari - hari yang dilakukan oleh keluarga keraton laki – laki dan perempuan. 5. Metode Analisis data. Dalam metode analisis data yang akan digunakan, penulis menggunakan metode analisis data kualitatif yang dilakukan dengan cara mengumpulkan data-data yang diperoleh dan kemudian dihubungkan dengan literature yang ada atau teori-teori perubahan social dan juga memperhatikan
Jurnal Hukum Justisssica | Vol. 5 | Juni 2011

37

pola relasi laki-laki dan perempuan dalam wilayah public dan domestik yang berhubungan dengan masalah yang akan diteliti. 6. Pemeriksaaan Keabsahan Data. Pemeriksaan Keabsahan data dengan menggunakan teknik pemeriksaan dengan tringulasi data, yaitu teknik pemeriksaan keabsahan data yang memanfaatkan sesuatu yang lain diluar data itu untuk keperluan pengecekan atau sebagai pembanding terhadap data itu. Dan teknik tringulasi yang digunakan ialah pemeriksaan melalui sumber, metode, penyidik.24

24

Moleong, Lexy J. (1993). Metodologi Penelitian Kulitatif. Bandung: Rosda Karya.
Jurnal Hukum Justisssica | Vol. 5 | Juni 2011

38

Pembahasan
I. Deskripsi Kehidupan Keraton Surakarta. Keraton Surakarta sebagai pemangku tahta adat jawa harus beradaptasi atau dapat menyesuaikan diri dengan peraturan pemerintah karena keraton tidak lagi memiliki otorisasi sebagaimana di ungkapkan di atas bahwa keraton hanya sebagai pemangku adat jawa maka segala aturan yang di buat oleh keraton tidak boleh bertentangan dengan peraturan pemerintah republik Indonesia yang berlaku. Sehingga terhadap setiap UU maupun kebijakan yang dikeluarkan pemerintah republik indonesia, otokrasi kraton tersebut harus mengikutinya termasuk dalam kebijakan pemerintah yang menjadi pokok pembahasan penelitian ini yaitu Undang-Undang Nomor 7 tahun 1984 tentang konvensi penghapusan segala bentuk dikriminasi terhadap wanita, INPRES Nomor 9 tahun 2000 tentang Pengarusutamaan Gender (PUG). Kehidupan Keraton di era modern ini banyak mengalami perubahan-perubahan, baik di dalam keraton maupun diluar Keraton (masyarakat). Bahkan sekarang perempuan di dalam keraton sebagai obyek yang di lindungi oleh peraturan pemerintah seperti UU No.7 tahun 1984 tentang konvensi penghapusan segala bentuk dikriminasi terhadap wanita, INPRES No.9 tahn 2000 tentang Pengarusutamaan Gender (PUG) sudah berkembang seperti masyarakat pada umumnya, dalam artian perempuan di keraton juga berkiprah di luar seperti masyarakat pada umumnya dan di lindungi oleh aturan pemerintah, misalnya kesamaan dalam memilih pendidikan antara laki-laki dan perempuan yang telah di beri hak yang sama bahkan ketika berkarier pun mereka diberi hak yang sama bahkan dalam memilih jodoh mereka di beri keluasan untuk menentukan jodohnya sendiri meski harus tetap memperhatikan bibit, bebet dan bobotnya. Sehingga Keraton pada era ini dapat dikatakan mengikuti zamannya (nut ing zamane).

II. Deskripsi peran perempuan dalam periodesasi Keraton Surakarta. Pada zaman Paku Buwana X dan Paku Buwana XI yaitu masa kejayaan kesunanan keraton Surakarta, keraton memiliki kekuasaan yang kuat baik dalam bidang politik maupun ekonominya sehingga seorang raja yang memiliki kewenagan secara mutlak mempunyai pengaruh besar terhadap masyarakat. Putri-putri pada masa itu di sengker (dikurung) dan masing-masing memiliki ruang tersendiri yang di jaga ketat oleh polisi wanita, wilayah para putri itu disebut dengan sanasa keputrian yang khusus untuk para para putri dan istri-istri raja. Pada jaman PB X penghuni sasana keputrian ini sangat banyak ±500 orang, sehingga di dalam sasana keputrian itu terdapat pasar yang penjualnya berasal dari luar, karena pada waktu itu putri-putri di sengker (dikurung), sehingga sama sekali tidak keluar dari keraton. Pada era Paku Buwana XII sudah banyak terjadi perubahan dalam struktur keraton termasuk peran wanita di dalam keraton. Paku Buwana XII di juluki sebagai sinuwun hamardiko yang artinya raja yang bertahta pada zaman kemerdekaan dan dengan aturan yang bebas. Karena pada masa ini keraton sudah tidak dalam bentuk kesunanan sepenuhnya, maka kekuasaan raja tak seperti masa kesunanan keraton Surakarta pada masa Paku Buwana X. Sehingga dalam segi kekuasaan politik dan ekonomi keraton Surakarta tidak sekuat dahulu. Hal ini berdampak terhadap
Jurnal Hukum Justisssica | Vol. 5 | Juni 2011

39

putra dan putri raja, yang akhirnya banyak memilih keluar keraton untuk mencari ilmu ataupun penghidupan yang lebih baik. Namun seperti yang di ungkapkan di atas, bahwa pada massa PB XII telah ada sekolah tingkat SD dan SMP yang di khususkan untuk keluarga bangsawan keraton yaitu permadi siwi dan kesatrian. Dari sini lah di mulai adanya kesamaan pendidikan antara putri dan putra keraton meskipun sekolah itu di pisahkan antara permadi siwi khusus putri dan kesatrian khusus laki-laki. Ketika putra dan putri PB XII naik ke tingkat SMA mereka bebas menentukan SMA yang ingin di masukinya (umum). Pada masa kepemimpinan Pakubuwana XIII ini di pimpin oleh dua raja yaitu Gusti Hangabehi dan Gusti Tejowulan dan keduanya mengklaim berhak atas tahta raja tersebut. Inilah yang juga menjadi salah satu penyebab keraton Surakarta mengalami perubahan yang signifikan. Karena ketidak stabilan kondisi di dalam keraton tersebut. Sehingga penghuni di dalam keraton pun semakin berkurang karena telah banyak putra dan putri keraton yang memilih untuk keluar terutama dari keluarga yang kontra terhadap pemilihan PB XIII. Menurut informan yang terpercaya bahwa keturunan yang sedarah dengan Gusti Hangabehi inilah yang masih bertahan di dalam keraton (penghuni keraton) sedangkan keturunan yang sedarah dengan Gusti Tejowulan memilih untuk keluar keraton, sedangkan para istri dan anak-anak yang lain dari PB XII dulu tidak di ketahui keberadaannya. Kejadian ini menyebabkan sasana keputrian sepi penghuni karena di tinggalkan oleh para istri raja dan putri-putrinya, hanya tinggal satu orang yang tinggal di sasana keputrian yaitu Gusti Retno Dumilah beliau kembali ke sasana keputrian karena sudah di tinggalkan suaminya sehingga ia boleh kembali tinggal di keraton.

III.Deskripsi perubahan sosial gender yang terjadi di keraton Surakarta. Pada zaman Paku Buwana X dan Paku Buwana XI, puteri-puteri pada masa itu di sengker (dikurung) dan masing-masing memiliki ruang tersendiri yang di jaga ketat oleh polisi wanita, wilayah para puteri itu disebut dengan sasana keputrian yang khusus untuk para putri dan istri-istri raja. Pada zaman Paku Buwana X penghuni sasana keputrian ini sangat banyak ±500 orang, sehingga di dalam sasana keputrian itu terdapat pasar yang penjualnya berasal dari luar, karena pada waktu itu putri-putri di sengker (dikurung), sehingga sama sekali tidak keluar dari keraton. Putri-putri pada masa itu memiliki peran yang berbeda dengan para putera raja. Seorang pria berhak memilih jalan untuk pendidikan dan juga peranan di luar keraton, akan tetapi kondisi yang berlainan di alami oleh puteri-puteri raja. Karena pada masa itu seorang putri hanya sebagai sekar kedaton (pajangan/hiasan), maka peran putri tersebut tak lebih hanya mendampingi sang raja, sehingga timbul istilah bahwa seorang putri harus dapat macak (tampil cantik), manak (memberi keturunan) dan masak (melakukan pekerjaan keputrian) untuk suaminya. Namun pada masa pertengahan PB XII perempuan dan laki-laki mendapat pendidikan yang sama namun di bedakan tempat sekolah antara putera dan puterinya. Tak sedikit diantara putera dan puteri raja yang di titipkan kepada sanak saudara untuk menempuh pendidikan hingga jenjang tinggi. Dan tak sedikit pula yang masih tetap tinggal di dalam keraton dan mengabdi kepada keraton. Serta keluarnya puteri keraton dan ikut sertanya putri keraton dalam menduduki peran publik sebagai tokoh politik atau orang berpengaruh di negeri ini membuktikan bahwa telah sejalan dengan harapan yang terkandung dalam Undang-Undang Nomor 7 tahun 1984 tentang

40

Jurnal Hukum Justisssica | Vol. 5 | Juni 2011

konvensi penghapusan segala bentuk dikriminasi terhadap wanita dan INPRES Nomor 9 tahun 2000 tentang Pengarusutamaan Gender (PUG),meskipun belum sepenuhnya sebagaimana tujuan dari konvensi dan INPRES itu, karena dalam perempuan dalam keraton hak-haknya masih dibatasi sebagai contoh hak untuk mewarisi harta pusaka tertentu seperti keris yang mempunyai kekuatan magis.

IV. Implikasi perubahan sosial peran gender di keraton Surakarta terhadap masyarakat sekitar. Perubahan peran gender dalam masyarakat sekitar keraton Surakarta berimplikasi positif dalam kehidupan masyarakat keraton. Adanya pemberdayaan perempuan dan pengakuan persamaan hak antara perempuan dan laki-laki, sehingga masyarakatnya pun lebih maju dalam pola berfikir maupun dalam hal keterampilan dalam mensejahterakan kehidupan mereka. Selain itu, menjadi motivasi tersendiri yaitu kini tidak ada sekat antara keluarga bangsawan keraton dengan masyarakat biasa, karena para bangsawan keraton kini hidup bersama dengan masyarakat biasa dan berbaur menjadi satu. Bahkan tak sedikit putra dan putri keraton yang menikah dengan masyarakat biasa (bukan dari kalangan bangsawan) dan kemudian terjadi pengangkatan menjadi bangsawan. Dengan melihat perubahan pola kehidupan keraton yang sangat signifikan, hal ini berdampak pada pandangan masyarakat yang masih memposisikan keraton sebagai pemangku adat jawa bahwa perubahan tersebut akan mempengaruhi pola pikir masyarakat sekitarnya dalam kehidupannya, yang lebih menyamaratakan kedudukan perempuan dalam segala aktivitas sosial. Sehingga hal ini akan berdampak pada kehidupan ekonomi masyarakat pada umumnya, karena laki-laki dan perempuan dapat melakukan peran yang sama. Realitas sekarang bahwa kehidupan warga sekitar keraton Surakarta lebih menunjukan persamaan hak dan kewajiban dalam kegiatannya sehari-hari. Misalnya, dapat penulis contohkan penjual mie ayam yang berada di lingkungan keraton adalah sepasang suami-isteri. Mereka melakukan aktivitasnya tersebut setiap hari untuk memenuhi kebutuhannya. Dan ada juga penjual es dawet yang berada di samping alun-alun utara keraton adalah seorang perempuan agak tua. Beliau tiap hari berjualan di sekitar keraton tanpa merasa malu sebagai perempuan. Dan masih banyak lagi peran-peran yang di lakukan perempuan dalam kehidupan sosialnya. Dengan demikian, bahwa dengan melihat fakta-fakta ini ternyata persamaan gender yang terjadi di keraton dapat berdampak kepada warga sekitarnya.

Jurnal Hukum Justisssica | Vol. 5 | Juni 2011

41

Kesimpulan
Dari uraian dan penjelasan yang telah peneliti deskripsikan di atas, maka peneliti menyimpulkan bahwa: 1. Terjadi perubahan sosial peran gender pada tata budaya Jawa patriarki yang di anut oleh keraton Surakarta,yaitu di mulai pada masa raja Paku Buwana XII tepatnya pada era kemerdekaan. Dan perubahan tersebut terus berkembang sampai sekarang yaitu pada masa Paku Buwana XIII. 2. Keraton Surakarta Hadiningrat kini sebagai penjaga budaya jawa yang berfungsi untuk menjaga simbol-simbol budaya jawa tersebut yang bersifat konkrit. Karena kesunanan Surakarta telah kehilangan kekuasaan politik dan ekonomi, maka kekuaasaannya tidak seperti pada masa sebelum kemerdekaan. Sehingga terjadinya perubahan-perubahan dalam keraton dan budaya Jawa, di karenakan keraton lebih terbuka dalam menerima budaya yang berkembang pada masyarakat luas.

42

Jurnal Hukum Justisssica | Vol. 5 | Juni 2011

Daftar Pustaka
 Abdullah, Irawan.(1997). Sangkan Paran Gender. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.  Bhasin, Kamala. (1996). Menggugat Partiarki, Yogyakarta:Bentang Budaya.  Fakih, Mansour. (1996). Analisis Gender dan Transformasi Sosial. Yogyakarta:Pustaka Pelajar.  Hermawati, Tanti. Budaya Jawa dan Kesetaraan Gender. Jurnal Komunikasi Massa. Volume 1 No.1/Juli 2007, dalam http://www.perpustakaan.uns.ac.id/jurnal/upload_file/15-fullteks.doc.  Mc Donald, Mandy (dkk). (1999). Gender dan Perubahan Organisasi (Menjembatani Kesenjangan antara Kebijakan dan Praktik. Jakarta: INSIST Press.  Moleong, Lexy J. (1993). Metodologi Penelitian Kulitatif. Bandung: Rosda Karya.  Mosse, Julia Cleves. (2002). Gender & Pembangunan. Yogyakarta:RIFKA ANNISA Women‘s Crisis Centre Bekerjasama dengan Pustaka Pelajar  Raharjo, Yulfira. (1995). Gender dan Pembangunan. Puslitbang Kependudukan dan Ketenagakerjaan. Jakarta LIPI (PPT-LIPI)  Silawati, Hartian, (2006) Pengarusutamaan Gender Dimulai dari Mana? dalam Jurnal Perempuan. No. 50 Tahun 2006.  Undang – Undang No.7 Tahun 1984 tentang Konvensi Penghapusan Segala Bentuk Dikriminasi Terhadap Wanita

----

----

Jurnal Hukum Justisssica | Vol. 5 | Juni 2011

43

Fungsi Kode Etik Profesi bagi Profesi Hukum
(Oleh :Kuswardani, S.H., M.Hum)

thics and moral have similar concept because they contain education about good and bad. In other word, it is an education about right or wrong. Ethics is based on moral value which is so called as human nature. According to science perspective, ethics types consist of normative ethics, descriptive ethics, and conceptual ethics. Furthermore, there are two functions of ethics. They are as standard of evaluative norms and as normative rules of behaviors. The legal profession is an honorable profession. Thus, there are particular characteristics which mark off with the other profession. They are intellectual character, qualification standard, be conferred permit by state, give swear in public, community service and community award, and finally there is an organization of profession. Another profession does not have the characteristic, but it is required to responsible toward his occupation and its result.In carrying his job, a legal professional should not give a positive law only, but code of conduct also. Code of conduct is similar with a law, although it is put up by self-organization. Therefore, code of conduct has similar function with a law. Firstly, code of conduct is as tool of behavior control; secondly, it is as tool to stave off government interference; and thirdly, it is as tool to make something clearer if the legal profession deals with ethics problems.

E

Abstract

Keyword(s): Legal Profession, Code of Conduct

44

Jurnal Hukum Justisssica | Vol. 5 | Juni 2011

Pendahuluan
Manusia pada hakikatnya adalah makhluk ciptaan Tuhan yang berbeda dengan makhluk lain karena karakteristik tertentu yaitu dengan adanya akal sehingga mereka bisa menciptakan kebudayaan baik bersifat materill maupun immaterial. Konsekwensi sebagai makhluk berbudaya mereka memiliki kepentingan atau kebutuhan25, dalam pemenuhan kebutuhan agar tidak terjadi perbenturan ada nilai dasar sebagai pedoman. Nilai dasar ini merupakan suatu nilai yang telah dipilih oleh manusia (masyarakat) sebagai landasan bagi nilai instrumental (yaitu konkretisasi dari nilai dasar) untuk diwujudkan sebagai kenyataan dan bersifat tetap. Selanjutnya dijelaskan oleh Sidarta 26bahwa nilai dasar itu berhubungan dengan nilai – nilai objektif, positif, intrinsic dan transenden. Nilai objektif adalah kualitas (perbuatan) 27 yang dilihat berdasarkan kondisi sebenarnya. Nilai positif adalah nilai yang bermanfaat bagi kepentingan manusia, misalnya nilai kebaikan, nilai keindahan dan sebagainya. Nilai intrinsik adalah kualitas suatu objek (perbuatan) terlepas dari akibat dari perbuatan (baik atau buruk), sedangkan nilai transenden adalah nilai yang melampaui batas – batas pengalaman dan pengethuan manusia, misalnya nilai – nilai ketuhanan. Nilai dasar sebagaimana di atas dikonkretisasi menjadi norma dan norma diharapkan dapat menuntun sikap dan perilaku manusia. Norma ini dapat dibedakan dalam berbagai jenis, secara umum dibedakan antara norma sosial (yaitu norma kesusilaan, norma kesopanan, norma hukum) dan norma agama. Pembagian Lain dari Norma 28disebutkan bahwa norma dikategorikan dalam norma yang beraspek pribadi dan yang beraspek antar pribadi. Norma yang beraspek pribadi adalah norma yang berasal dari dalam diri manusia yang ditujukan untuk mengatur sikap batin manusia dengan tujuan untuk penyempurnaan umat manusia agar menjadi baik, sehingga norma ini bersifat otonom. Norma antar pribadi adalah norma yang berasal dari luar diri manusia (bisa jadi berasal dari masyarakat atau mereka yang mempunyai kekuasaan), sehingga norma ini bersifat heteronom. Norma ini ditujukan untuk mengatur proses sosial antar individu agar kehidupan masyarakat menjadi tertib, aman dan sejahtera. Norma kesopanan dan norma hukum merupakan norma kehidupan antar pribadi, sedangkan norma agama dan norma kesusilaan termasuk jenis norma dalam kehidupan pribadi. Selain norma yang telah disebutkan sering kita mendengar adanya norma moral, norma ini dalam praktiknya seringkali disamakan dengan dengan norma kesusilaan.
25

Kebutuhan manusia menurut teori Abraham Maslow disebut five hierarchy of needs meliputi (1) Kebutuhan – kebutuhan yang bersifat fisiologis (physiological needs) yi kebut untuk mempertahankan hidupnya secara fisik. (2) Kebutuhan akan rasa aman (safety needs), yaitu kemanan jiwa maupun keamanan hak milik termasuk harta kekayaan. (3) Kebutuhan cinta memiliki dan dimiliki (belonginessand love needs) (4) Kebutuhan penghargaan (esteem needs) (5) Kebutuhan actualisasi diri (self actualization needs). Manusia akan memenuhi kebutuhan pada tingkat selanjutnya apabila kebutuhan pada tingkat sebelumnya merasa telah terpenuhi. Lihat Alex Sobur, 2003, Psikhologi Umum, Bandung:Pustaka Setia 26 Sidharta. (2006). Moralitas Profesi Hukum: Suatu Tawaran Kerangka Berpikir. Bandung: PT.Refika Aditama. Hal.31 27 Dalam makalah ini yang dimaksud dengan perbuatan adalah perbuatan manusiawi bukan perbuatan manusia 28 Ibid.
Jurnal Hukum Justisssica | Vol. 5 | Juni 2011

45

Norma hukum dalam bentuk konkritnya berupa peraturan perundangan merupakan norma sosial yang bercirikan khusus, yaitu adanya perintah (gebod) yaitu suatu kewajiban umum untuk melakukan sesuatu, dan larangan (verbod) merupakan kewajiban untuk tidak melakukan sesuatu. Selain ciri tersebut ada ciri lain yang juga menempel pada norma hukum yaitu dispensasi dan ijin. Dispensasi adalah penyimpangan yang membolehkan untuk tidak melakukan sesuatu yang diperintah, sedangkan ijin itu merupakan penyimpangan yang berupa pembolehan untuk melakukan sesuatu dengan dipenuhinya persyaratan tertentu. Ciri – ciri tersebut dimiliki pula oleh kode etik profesi, karena kode etik profesi merupakan suatu aturan hukum meskipun dalam arti yang tidak sebenarnya, karena kode etik tersebut dibuat oleh individu – individu yang tergabung dalam organisasi profesi dan disetujui berdasarkan kesepakatan. Austin menjelaskan bahwa suatu aturan hukum dapat dikelompokan dalam dua bagian, (1) hukum dari Tuhan untuk manusia (law set by God to men / the divine laws) dan (2) hukum yang dibuat oleh manusia (law set by men to men / human laws) yang terdiri dari: Hukum yang sebenarnya ini merupakan hukum yang dibuat penguasa (hukum positif) dan hukum yang disusun oleh manusia secara individu untuk melaksanakan hak – hak yang diberikan kepadanya (perjanjian), sehingga di dalamnya terdapat 4 unsur yaitu perintah (command), kewajiban (duty), sanksi (sanction), kedaulatan (sovereignity) b. Hukum yang tidak sebenarnya yaitu hukum yang tidak dibuat oleh penguasa sehingga tidak memenuhi persyaratan sebagai hukum. Selain perbedaan sebagaimana yang telah dipaparkan pada alinea sebelumnya, dari aspek substansi kode etik bisa dikatakan memiliki kesamaan karena keduanya mengandung pesan – pesan moral baik secara tersurat maupun tersirat. Pesan moral bersumber pada nilai – nilai moral yaitu suatu nilai yang berisi tentang ajaran baik buruknya suatu perbuatan atau sikap. Liliana 29 menjelaskan bahwa moral bersumber pada nilai moral yaitu nilai yang bersumber pada kodrat manusia. Sidarta 30menjelaskan bahwa moral atau nilai moral mempunyai dua fungsi yaitu pertama sebagai standart normative evaluative (normative standards of evaluation) maksudnya bahwa nilai moral digunakan oleh individu atau masyarakat untuk melakukan penilaian terhadap perilaku dan/atau sikap dari seseorang. Fungsi kedua sebagai aturan normative perilaku (normative rules of conduct). Norma hukum pun mempunyai fungsi demikian yaitu untuk menilai apakah perbuatan yang dilakukan sesuai dengan yang diatur dalam aturan itu disamping juga sebagai patokan /pedoman berperilaku dalam kehidupan social. Nilai moral atau sering disebut dengan moral saja pada dasarnya sering disamakan dengan etika, karena secara etimologis keduanya mempunyai arti yang sama. Moral berasal dari bahasa Latin, bentuk tunggal kata ‗moral‘ yaitu mos, bentuk jamaknya yaitu mores yang masing-masing mempunyai arti yang sama yaitu kebiasaan atau adat. Kata etika berasal dari bahasa Yunani yaitu dari kata ethos artinya adat kebiasaan dan kata ethikos artinya perasaan batin atau kecenderungan batin yang mendorong manusia dalam perilakunya. Etika dari perspektif ilmu pengetahuan artinya sama dengan filsafat moral yaitu ilmu yang membahas atau menyelidiki tentang perilaku disamping itu juga mengarahkan atau menghubungkan penggunaan akal budi individual dengan objektivitas hukum untuk menentukan kebenaran atau kesalahan dari perilaku terhadap orang lain.
29 30

a.

Tedjosaputra, Liliana. (2000). Etika Profesi dan Profesi Hukum. Semarang: CV Aneka Ilmu. Op.Cit.
Jurnal Hukum Justisssica | Vol. 5 | Juni 2011

46

Kode etik profesi yang menurut Austin sebagai aturan hukum dalam arti yang tidak sebenarnya sebagaimana dijelaskan di atas sebenarnya merupakan bagian dari etika (profesi), karena substansinya lebih menekankan pada pesan moral. Oleh karena itu pembicaraan tentang kode etik profesi (hukum) tidak dapat dilepaskan dari etika (profesi), karena etika sebagai dasar bagi suatu organisasi profesi untuk memformulasikan kode etiknya.

Jurnal Hukum Justisssica | Vol. 5 | Juni 2011

47

Pembahasan
I. RUANG LINGKUP ETIKA Pengertian etika secara etimilogis telah dipaparkan dalam subbab pendahuluan, maka dibawah ini akan dicoba untuk dipaparkan pengertian etika dari beberapa filosuf. Salah satu pengertian etika yang seringkali menjadi acuan dalam berbagai literature adalah pengertian etika yang dikemukakan oleh Bertens31 sebagai berikut: 1. Ilmu tentang apa yang baik dan apa yang buruk tentang hak dan kewajiban moral (akhlak); 2. Kumpulan asas atau nilai yang berkenaan dengan akhlak; 3. Nilai mengenai benar dan salah yang dianut suatu golongan atau masyarakat. Berdasarkan pengertian dari Bertens etika dapat diartikan dalam dua arti yaitu pertama, etika sebagai system nilai dalam arti etika sebagai kumpulan asas dan nilai mengenai benar dan salah yang dianut suatu golongan atau masyarakat. Kedua, etika sebagai cabang dari filsafat moral yaitu ilmu tentang apa yang baik dan buruk berkenaan dengan hak dan kewajiban. Etika dari perspektif ilmu pengetahuan dapat dikaji dari aspek deskriptif disebut etika deskriptif, dari aspek normative disebut etika normative dan dari aspek konseptual disebut etika konseptual. Etika normative adalah norma – norma standart moral yang diharapkan dapat mempengaruhi perilaku, kebijakan dan keputusan individu sebagai anggota masyarakat. Apabila dihubungkan dengan masyarakat profesi maka etika normative ini adalah norma standart yang memberikan arah, pandangan yang jelas bagi anggota organisasi profesi dalam berperilaku (termasuk dalam pengambilan kebijakan dan/atau keputusan) yang telah disepakati bersama dalam bentuk kodek etik profesi. Etika deskriptif adalah deskripsi dari sebuah norma standart moral tentang baik dan buruk yang ada dalam sebuah kebudayaan atau subkultur masyarakat/individu tertentu. Oleh karena itu mengkaji etika secara deskriptif berarti melakukan pengumpulan fakta – fakta yang terjadi di masyarakat yang berkaitan dengan perilaku individu dan nilai moral yang ada tanpa melakukan penilaian apakah perilaku tersebut benar atau salah. Etika konseptual adalah pengkajian etika yang diarahkan untuk penjernihan konsep – konsep dasar dari nilai moral. Sistematika menurut Sidarta 32agak berbeda yaitu etika deskriptif, etika normative dan metaetika disebut pula sebagai metaetika yang pada dasarnya hampir sama dengan etika konseptual, karena metaetika ini lebih berorientasi pada analisis konsep – konsep dasar moral seperti misalnya analisis tentang konsep keadilan, konsep baik. Etika yang di dalamnya berisi norma moral kualitasnya ditentukan oleh unsur – unsur pokok yaitu kebebasan, tanggungjawab dan suara hati. Selanjutnya dapat dijelaskan disini bahwa manusia adalah makhluk yang bebas, meskipun kebebasan manusia itu masih dalam lingkup kekuasaan Allah SWT, maksudnya manusia bebas bertindak dalam batas – batas yang digariskan oleh Allah selain itu juga bebas mengembangkan potensi diri sesuai dengan kehendaknya dan kemampuan yang diberikan oleh Allah melalui akal pikirannya, disamping itu dibatasi pula hak – hak individu lain. Kebebasan manusia dapat dibedakan menjadi dua yaitu kebebasan social dan kebebesan

31 32

Ibid. Ibid.
Jurnal Hukum Justisssica | Vol. 5 | Juni 2011

48

eksistensial33. Kebebasan social adalah kebebasan yang diterima dari orang lain, sehingga kebebasan ini bersifat heteronom da nada batasan – batasanya yang berupa (1) pembatasan fisik yakni adanya paksaan dari orang lain secara fisik; (2) pembatasan rokhani (psikhis) yaitu tekanan batin yang diberikan oleh orang lain; (3) perintah dan larangan. Hal ini bisa datang dari orang tua (perintah dan larangan orang tua), datang dari atasan atau datang dari organisasi profesinya. Kebebasan eksistensial yaitu kebebasan dalam arti kemampuan kita untuk menentukan tindakan kita sendiri, dan kebebasan ini berakar dalam kebebasan rohani manusia yaitu dalam penguasaan terhadap batin, pikiran dan kehendaknya. Kebebasan rohani. Kebebasan eksistensial bisa diwujudkan dalam tindakan/perilaku individu jika tidak dihalangi oleh individu/orang lain. Konsekwensi dari adanya kebebasan dalam sebuah perilaku mengharuskan manusia harus bertanggungjawab terhadap apa yang telah dikerjakannya. Namun demikian tidak semua perilaku dari individu bisa dimintakan pertanggungjawaban, selama perilaku dilakukan tanpa adanya kebebasan seseorang untuk memilih antara ya dan tidak. Hal ini sebagaimana dikemukakan oleh Poespoprodjo34, bahwa suatu perbuatan bisa menempel pertanggunganjawab ditentukan oleh 3 hal yaitu: a. Perbuatan itu sendiri atau apa yang telah dikerjakan oleh seseorang itu; Perbuatan yang dikerjakan itu mendapat persetujuan oleh diri manusia itu sendiri dengan kata lain perbuatan tersebut dikehendaki oleh kehendak manusia. b. Motif atau mengapa pelaku melakukan perbuatan seperti itu; Dalam hal ini bahwa pelaku mengarahkan perbuatan/perilakunya kepada suatu tujuan tertentu dan tujuan itu dengan sadar dikehendaki bisa diwujudkan. c. Keadaan atau bagaimana, siapa, dimana, kapan, dengan apa dan sebagainya pelaku mengerjakan perbuatan itu. Keadaan dapat mempengaruhi suatu perbuatan sehingga membuat perbuatan tersebut mempunyai jenis moral yang berbeda, yang dalam istilah hukum keadaan itu bisa memperberat atau memperingan sanksi yang dijatuhkan kepada si pelaku. Tanggungjwab disini memiliki arti yang lebih luas baik tanggungjawab moral maupun tanggungjwab secara hukum, pertanggungjawaban demikian sering disebut dengan akuntabilitas (accountability), yaitu suatu tindakan memberi penjelasan yang dapat dibenarkan secara moral ataupun secara hukum. Tindakan yang merupakan bentuk penjelasan ini jika tidak bisa dibenarkan oleh nilai – nilai moral dan hukum maka pelaku melakukan kesalahan moral dan kesalahan hukum, dan perlu dipahami individu yang melakukan kesalahan moral belum tentu melakukan kesalahan hukum, karena seringkali kesalahan demikian tidak diformulasikan dalam aturan perundangan. Suara hati atau disebut pula hati nurani, dalam bahasa Belanda disebut geweten, dalam bahasa Inggris disebut conscience. Aquinas35 menjelaskan bahwa hati nurani adalah suara Tuhan, sehingga tidak mungkin keliru, dengan demikian dapat dikatakan bahwa hati nurani identic dengan kebenaran. Kenyataan yang sering dialami oleh manusia suara hati / hati nurani bisa jadi
33

Darmodiharjo, Darji, dan Sidarta. (2002). Pokok – Pokok Filsafat Hukum Indonesia: Apa dan Bagaimana Filsafat Hukum Indonesia. Jakarta:Gramedia Pustaka Utama. 34 Poespoprodjo, W. (1985). Filsafat Moral: Kesusilaan dalam Teori dan Praktik. Bandung: Remadja Karya. 35 Sidharta. (2006). Moralitas Profesi Hukum: Suatu Tawaran Kerangka Berpikir. Bandung: PT.Refika Aditama.
Jurnal Hukum Justisssica | Vol. 5 | Juni 2011

49

melakukan kesalahan yang disebabkan manusia yang bersangkutan tidak mempunyai pengertian secara penuh tentang masalah yang dialami dan kemudian disuarakan oleh hati nuraninya. Poepoprodjo36 pada penjelasan lebih lanjut menerangkan bahwa hati nurani adalah keputusan praktis akal budi yang mengatakan suatu perbuatan individual adalah baik dan harus dikerjakan atau suatu perbuatan itu buruk maka harus dihindari. Oleh karena itu sebagai keputusan praktis akal budi maka ada 3 hal yang tercakup dalam hati nurani yaitu: a. Intelek melalui akal pikiran individu sebagai kemampuan yang membentuk keputusan – keputusan tentang perbuatan – perbuatan individual yang benar dan salah. b. Proses pemikiran yang ditempuh intelek guna mencapai keputusan; c. Keputusan yang merupakan kesimpulan dari proses pemikiran dengan akal pikiran itu. Hati nurani sebagai keputusan akal budi praktis ini memiliki fungsi sebagai antecedent conscience dan consequent conscience. Antecedent conscience fungsi hati nurani dalam bentuk kerja memerintah atau melarang terhadap sesuatu perbuatan dan juga meyakinkan atau mengijinkan terhadap suatu perbuatan atau suatu masalah yang sedang dihadapi. Consequent conscience merupakan fungsi hati nurani dalam bentuk kerja sebagai hakim atas perbuatan kita yang telah lalu atau sebagai sumber rasa sesal atau sebagai sumber pembenaran terhadap perbuatan yang telah dilakukan. Berdasarkan uraian itu hati nurani bisa juga melakukan keselahan apabila dalam proses pemikiran ini pelaku tidak mempunyai pengertian secara sempurna tentang masalah yang dihadapi. Adapun suara hati itu ada beberapa macam yaitu hati nurani saksama adalah hati nurani yang benar dalam membuat keputusan, maksudnya sesuatu yang telah diputuskan baik itu benar – benar baik dan sesuatu yang diputuskan salah itu benar – benar salah atau jelek. Jadi hati nurani saksama ini menjelaskan kebenaran objektif. Kedua, hati nurani pasti yaitu keputusan akal budi yang dibuat berdasarkan intelek itu berupa keputusan yang pasti tidak ragu – ragu, meskipun keputusan ini bukan berupa kebenran objektif, kebenaran putusan itu bersifat subjektif. Dua jenis hati nurani bisa terjadi dalam kehidupan nyata diri seorang individu pada saat seseorang menemui suatu masalah yang individu tersebut tidak mempunyai pengetahuan tentang hal itu sehingga tidak bisa memiliki pengertian secara sempurna. Akhirnya dalam membuat keputusan itu hanya didasarkan pada pertimbangan – pertimbangan diri pribadi maka kebenaran yang dicapai dalam putusan itu bersifat subjektif. Etika yang memiliki tiga unsur sebagaimana diuraikan di atas memiliki fungsi pertama, sebagai sarana untuk memperoleh orientasi kritis manakala berhadapan dengan pelbagai moralitas yang membingungkan. Pluralisme moral yang terjadi dalam kehidupan masyarakat saat ini karena arus globalisasi dan atau kecanggihan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi seringkali menimbulkan pandangan tentang moral yang saling bertentangan dan saling mengklaim bahwa pandangan moral mereka yang benar. Hal ini bisa menimbulkan kebingungan bagi manusia disinilah etika membantu dengan pemikiran kritis dan rasionalnya untuk menentukan pilihan nilai moral yang tepat untuk menjalin kehidupan bersama. Kedua, etika berfungsi untuk membantu membedakan antara apa yang hakiki (harus demikian) dan apa yang boleh berubah. Ketiga, fungsi etika adalah menyadarkan manusia akan tanggungjawabnya sebagai manusia dalam kehidupan bersama, maksudnya sikap manusia dalam melakukan proses social tidak hanya didasarkan pada pertimbangan ekonomis (untung – rugi) sebagaimana dalam dunia perdagangan, tetapi harus
36

Op.Cit.
Jurnal Hukum Justisssica | Vol. 5 | Juni 2011

50

ditentukan oleh martabat manusia sebagai manusia yaitu sebagai insan ciptaan Tuhan dan sebagai makhluk yang berakal budi. Insan ciptaan Tuhan yang berakal budi harus bisa menggunakan akal pikirannya untuk berpikir mengkesampingkan ego kepentingan pribadinya dan berpikir untuk kebaikan dan kebahagian umat manusia dalam kehidupan sosial. II. PROFESI HUKUM Profesi dalam pembicaraan sehari – hari sering disamakan dengan pekerjaan yang secara konseptual profesi berbeda dengan pekerjaan, karena profesi itu merupakan suatu pekerjaan yang memiliki karakteristik tertentu. Brandeis37 menyebutkan ciri – ciri sebuah profesi adalah sebagai berikut: a. Karakter intelektual --- penyandang profesi harus memiliki pengetahuan yang diperoleh melalui pendidikan dan dijelaskan oleh Brandeis penyandang profesi itu harus selalu mengikuti perkembangan ilmu pengetauan di bidangnya, sehingga pengetahuan yang dimilikinya tidak hanya terbatas pada pengetahuan yang dimiliki ketika dalam proses pendidikan. b. Standar kualifikasi --- adanya ketentuan – ketentuan baku yang minimal harus ditempuh oleh penyandang profesi dalam menjalani pekerjaannya yang biasanya ini ditetapkan oleh organisasi profesi itu sendiri. c. Pengabdian masyarakat --- penyandang profesi harus tetap menjaga integritasnya dengan selalu mengabdikan dirinya untuk kepentingan masyarakat dengan berpegang pada prinsip jujur dan adil serta tidak mengkomersialkan pekerjaannya itu. d. Penghargaan masyarakat – penghargaan tidak diukur dari aspek materi tetapi penghargaan lebih bersifat pada sikap hormat masyarakat terhadap profesi yang bersangkutan. Hal ini sangat tergantung pada citra yang dibentuk oleh korps profesi itu sendiri. e. Organisasi profesi --- organisasi profesi merupakan tempat atau wadah suatu profesi tertentu untuk berdiskusi mengenai permasalah yang dihadapi disamping sebagai tempat dimana hak – hak profesi itu mendapat perlindungan. Soetandyo38 (2002:317) mengungkapkan bahwa profesi pada hakikatnya adalah suatu lapangan pekerjaan (okupasi) yang berkualifikasi dan menuntut syarat keahlian yang tinggi pada para pengemban dan pelaksananya. Adapun kriteria okupasi dapat disebut profesi sebagai berikut: a. Adannya kualifikasi yang tinggi. Profesi hanya bisa dimiliki oleh individu yang telah menempuh pendidikan dan pelatihan teknis secara mahir dan berkelanjutan. Selain itu dalam profesi tersebut ada pengembangan pranata dan lembaga yang menetapkan standart keahlian yang diperlukan guna efektivitas dari jasa profesi yang diberikan dan sekaligus menilai kemampuan – kemampuan individu agar kualitas pelayanan bisa memenuhi standart yang ditentukan.

37

Darmodiharjo, Darji, dan Sidarta. (2002). Pokok – Pokok Filsafat Hukum Indonesia: Apa dan Bagaimana Filsafat Hukum Indonesia. Jakarta:Gramedia Pustaka Utama. 38 Wignjosoebroto, Soetandyo. (2002). Hukum: Paradigma, Metode dan Dinamika Masalahnya. Jakarta: Elsam (Lembaga Studi dan Advokasi Masyarakat) dan Huma (Hukum Berbasis Masyarakat dan Ekologi). Hal. 317.
Jurnal Hukum Justisssica | Vol. 5 | Juni 2011

51

Keahlian yang dimiliki selalu berkembang dan dikembangkan sesuai dengan tuntutan dan kebutuhan masyarakat, sehingga keahlian yang dimiliki oleh penyandang profesi adalah keahlian yang dinamis dan progresif c. Profesi selalu mengembangkan pranata dan lembaga untuk mengontrol agar keahliannya didayagunakan secara bertanggungjawab, bertolak dari itikad pengabdian yang tulus dan tak berpamrih dan jasa pelayanan yang diberikan itu ditujukan untuk kemslahatan umat. Pandangan lain tentang karakteristik dari suatu profesi dikemukakan oleh Daryl Koehn 39 professional adalah : a. Mendapat ijin dari Negara untuk melakukan suatu tindakan tertentu; b. Menjadi anggota organisasi profesi yang mempunyai hak yang sama dalam hal hak suara untuk menyebarluaskan standart profesi dan hak saling mendisiplinkan standart profesi apabila terjadi pelanggaran; c. Mempunyai pengetahuan atau kecakapan yang bersifat ―esoteric‖ maksudnya kecakapan dan pengetauan yang hanya dimengerti dan dipahami oleh orang – orang yang telah menempuh pendidikan di bidangnya; d. Memiliki otonomi dalam menjalankan pekerjaan; e. Mengucapkan sumpah janji dimuka umum untuk memberikan bantuan kepada mereka yang membutuhkan sehingga berkonsekwensi pada tanggungjawab atas pelayanan yang diberikan kepada klien. Persyaratan yang terakhir itu merupakan persyaratan yang tidak bisa ditingggalkan karena dengan mengucapkan janji public tersebut professional memiliki landasan otoritas moral dalam memberikan bantuan kepada klien sehingga adanya kepercayaan masyarakat kepadanya. Hal ini disebabkan dengan mengucapkan janji ini berkonsekwensi pada keharusan seseorang yang telah berjanji itu agar membuat usaha yang berlandaskan pada kehendak baik untuk secara pribadi membantu orang/klien yang datang kepadanya dan yang tidak dapat mereka bantu diusahakan untuk mendapatkan bantuan di tempat lain. Jadi janji publik ini juga memberikan kepercayaan kaum professional untuk dapat mendelegasikan kewenangan kepada teman sejawatnya yang dipandang lebih mampu untuk memberikan bantuan kepada yang membutuhkan itu. Daryl Koehn40 menjelaskan bahwa kepercayaan masyarakat kepada kaum professional itu dapat dibangun oleh masing – masing individu professional dalam korpsnya melalui cara – cara sebagai berikut: a. Para professional harus membuat kepentingan klien menjadi kepentingan mereka, komitmen demikian ini sebenarnya berpijak pada hakikat dari kepercayaan bahwa kepercayaan diberikan kepada seseorang itu karena adanya harapan dari pemberi kepercayaan bahwa yang bersangkutan bisa melaksanakan kepercayaannya atau bertindak untuk kebaikan diri pemberi kepercayaan. b. Kesediaan yang bersifat terbuka untuk bertindak melaksanakan apa yang dikuasakan kepada mereka oleh pemberi kuasa. Kesungguhan kesedian secara terbuka ini bisa ditunjukkan dengan melakukan pertolongan pertama apa yang bisa dilakukan untuk menangani masalah yang dihadapi klien. Contoh memberikan konsultasi arahan - arahan
39

b.

Koehn, Daryl. (2000). The Ground of Professional Ethics, alih bahasa Agus M. Hardjana. Landasan Etika Profesi. Yogyakarta: Kanisius. 40 Ibid. Hal.36

52

Jurnal Hukum Justisssica | Vol. 5 | Juni 2011

tentang apa yang harus diperbuat oleh yang bersangkutan terhadap masalah yang dihadapi itu c. Mempunyai kompetensi artinya professional itu harus memiliki kewenangan untuk mengambil tindakan / putusan mengenai permasalahan klien yang disodorkan kepadanya. d. Profesional harus bisa menuntut pertanggunganjawab dan disiplin diri dari klien, maksudnya bahwa profesi dapat meminta kepada klien untuk memberikan informasi secara benar dan dengan disertai bukti – bukti yang dimiliki. Magnis suseno 41 menjelaskan bahwa profesi pada dasarnya dibagi profesi secara umum dan profesi yang luhur. Dua jenis profesi ini memiliki prinsip yang berbeda, untuk profesi yang pertama adalah (1) prinsip agar menjalankan profesinya secara bertanggungjawab baik yang berkaitan dengan terhadap pekerjaannya maupun terhadap hasil dari apa yang telah dikerjakan. (2) hormat terhadap hak – hak orang lain. Profesi yang kedua penyandang profesi harus berpegang pada prinsip (1) mendahulukan kepentingan orang yang dibantu; (2) mengabdi pada tuntutan luhur profesi --- diperlukan adanya sikap pengabdian yang tinggi. Berdasar pada penjelasan profesi menurut Magnis Suseno profesi hukum merupakan profesi yang terhormat, oleh karena itu karakteristik yang telah disebutkan oleh Brandeis di atas ada didalamnya dengan berbagai tambahannya yaitu perlu adanya ijin dari Negara dan mengucapkan janji public atau sumpah. Pembidangan profesi hukum yang lain dikemukakan oleh Sidarta42 istilah yang digunakan adalah penstudi hukum yang dibagi menjadi penstudi hukum eksternal system hukum dan penstudi hukum internal system hukum. Penstudi yang pertama orang yang mengkaji hukum dengan pendekatan di luar hukum seperti mengkaji hukum dengan menggunakan pendekatan sosiologis, antropologis dan filsafat, psikhologis dan yang lain. Penstudi yang kedua masih bisa dibedakan antara pengemban hukum praktis dan pengemban hukum teoritis. Perbedaan antara keduanya bertitik tolak pada hukum positif untuk pengemban hukum praktis pengkajian terhadap hukum bertitik tolak pada hukum positif sedangkan pengembang hukum teoritis ini mengkaji hukum dengan menggunakan pendekatan normative – praktis, pendekatan ilmuah – positif teoritis dan pendekatan abstrak spekulatif dan evaluatif. III. FUNGSI KODE ETIK PROFESI HUKUM Salah satu karakteristik profesi adalah keterikatan individu dalam organisasi profesi yang ini berkonsekwensi pada pentaatan individu pada norma – norma profesi yang telah disepakati bersama. Norma profesi atau kode etik profesi penting bagi pemegang profesi Karena ini memberikan arah moral bagi suatu profesi dan sekaligus juga menjamin mutu moral profesi di mata masyarakat. Kode etik profesi (hukum) merupakan bagian dari etika yang berdasar prinsip dasar moral yang meliputi prinsip sikap baik, prinsip keadilan dan prinsi hormat terhadap diri sendiri, prinsip tanggungjawab, dan prinsip otonomi. Kesemua prinsip itu harus tertanam pada diri setiap profesi. Prinsip sikap baik ini dalam konkritnya dapat diwujudkan pada saat berhubungan dengan orang lain tidak memandang orang lain sejauh orang lain itu membawa keuntungan atau memberi keuntungan / bermanfaat bagi dirinya. Prinsip keadilan ini mengungkapkan kewajiban untuk
41

Darmodiharjo, Darji, dan Sidarta. (2002). Pokok – Pokok Filsafat Hukum Indonesia: Apa dan Bagaimana Filsafat Hukum Indonesia. Jakarta:Gramedia Pustaka Utama. Hal.276 42 Op.Cit. Hal.121
Jurnal Hukum Justisssica | Vol. 5 | Juni 2011

53

memberikan pelayanan yang sama terhadap semua orang lain yang berada dalam situasi yang sama dan untuk menghormati hak semua pihak yang bersangkutan. Hal ini mengingat akan hakikat keadilan bahwa adil adalah memberikan hak kepada seseorang sesuai dengan proporsinya. Prinsip hormat terhadap diri sendiri memiliki maksud seorang profesi dituntut agar tidak membiarkan dirinya dipaksa untuk melakukan atau menyerahkan sesuatu yang tidak wajar menurut norma social dan norma agama. Selain itu seorang profesi juga dituntut tidak membiarkan dirinya terlantar. Prinsip tanggungjawab bahwa profesi harus bertanggungjawab untuk melaksanakan apa yang telah disanggupi antara dirinya dengan klien disamping ada tuntutan kepada profesi terhadap akibat – akibat yang ditumbulkn dari pekerjaan. Prinsip otonomi merupakan suatu tuntutan dari profesi tentang kebebasan dalam menjalankan profesinya secara bertanggungjawab. Selain kebebasan dalam hal prinsip otonomi mengandung pula tuntutan keberanian dalam mengungkapkan kebenaran. Kode etik profesi yang merupakan norma moral yang telah disepakati oleh para anggota profesi dalam organisasi yang bersangkutan, secara umum mempunyai fungsi sebagai berikut : a. Kode etik yang bersubstansi norma moral berfungsi identic dengan fungsi utama hukum yaitu sebagai sarana control social, maksudnya kode etik ini memberikan pedoman moral kepada para anggotanya dalam berperilaku. Jadi dalam hal ini ada harapan – harapan dari organisasi agar para anggota berperilaku sesuai dengan nilai – nilai moral yang telah disepakati. b. Sebagai sarana untuk mencegah atau campur tangan yang dilakukan oleh pemerintah atau nasyarakat. Konflik antara pengaturan hukum dengan keinginan anggota profesi bisa terjadi, oleh karena itu kode etik disni bisa sebagai arah kompas bagaimana profesi harus bersikap terhadap masalah tersebut. c. Sebagai pengemban patokan kehendak yang lebih tinggi, Karena kode etik ini merupakan kristalisasi dari hal – hal yang biasanya dianggap baik dan benar menurut pendapat umum atau masyarakat berarti perilaku yang sesuai dengan kode etik profesi merupakan suatu perilaku yang dianggap benar serta berdasar pada prosedur yang benar pula Kode etik yang bersifat normative ethic dalam penegakannya berbeda dengan aturan hukum meskipun fungsi utamanya adalah sama, pentaatan terhadap kode etik profesi sangat tergantung pada diri individu anggotanya, yaitu dimilikinya disiplin diri oleh para anggota profesi. Hal ini bisa dibangun melalui kesadaran diri atas suatu keyakinan bahwa profesi yang diemban merupakan panggilan luhur untuk melayani kepercayaan masyarakat tentang keadilan hukum. Namun demikian perlu ada metode – metode tertentu agar kode etik profesi tersebut dapat berlaku efektif baik dilakukan oleh organisasi maupun oleh pemerintah dalam rangka membantu tegaknya kode etik profesi antara lain : a. Kode etik profesi harus dibuat oleh organisasi yang bersangkutan atas dasar kesepakatan para anggotanya sehingga merupakan self regulation (pengaturan diri); b. Adanya pengawasan yang dilakukan oleh organisasi profesi yang bersangkutan atau oleh lembaga tersendiri yang dibentuk oleh organisasi profesi itu dan berfungsi untuk mengawasi perilaku para anggota profesi apakah sesuai dengan norma kode etik profesi ataukah tidak. c. Upaya lain yang dilakukan pemerintah dengan ditetapkan aturan disiplin yang berlaku bagi masing – masing profesi. Hukum displin merupakan serangkaian norma yang bertujuan untuk membina, menegakan disiplin dan memeilihara tata tertib kehidupan

54

Jurnal Hukum Justisssica | Vol. 5 | Juni 2011

anggota profesi dengan berdasar pada aturan hukum positif maupun kode etik profesi. Sebagai contoh adalah dengan disahkannya Peraturan Pemerintah No. 2 Tahun 2003 tentang Peraturan Disiplin Anggota Kepolisian Negara Republik Indonesia. Peraturan Pemerintah No. 30 Tahun 1980 Tentang Peraturan Displin Pegawai Negeri Sipil.

Jurnal Hukum Justisssica | Vol. 5 | Juni 2011

55

Penutup
Profesi hukum sebagaimana profesi yang lain memiliki kaidah – kaidah moral yang harus ditaati oleh para penyandang profesi hukum itu selain mereka dituntut pula untuk mentaati kaidah social yang berlaku. Penegakan kaidah moral dalam sebuah kode etik profesi harus diusahakan sendiri oleh organisasi profesinya. Oleh karena itu kode etik profesi hukum bisa berfungsi sebagai control perilaku anggota, patokan kehendak yang lebih tinggi dan mencegah campur tangan pihak pemerintah dan masyarakat secara efektif tergantung sepenuhnya pada organisasi profesi hukum itu sendiri. Sehubungan dengan itu perlu adanya upaya nyata dan tegas dari organisasi profesi untuk melakukan penegakan. Hal ini bisa diupayakan melalui menindak tegas terhadap anggota profesi yang melanggar tanpa adanya diskriminasi, disamping juga memberdayakan peraturan disiplin yang telah disahkan oleh pemerintah.

56

Jurnal Hukum Justisssica | Vol. 5 | Juni 2011

Daftar Pustaka
       Darmodiharjo, Darji, dan Sidarta. (2002). Pokok – Pokok Filsafat Hukum Indonesia: Apa dan Bagaimana Filsafat Hukum Indonesia. Jakarta:Gramedia Pustaka Utama. Koehn, Daryl. (2000). The Ground of Professional Ethics, alih bahasa Agus M. Hardjana. Landasan Etika Profesi. Yogyakarta: Kanisius. Poespoprodjo, W. (1985). Filsafat Moral: Kesusilaan dalam Teori dan Praktik. Bandung: Remadja Karya. Sidharta. (2006). Moralitas Profesi Hukum: Suatu Tawaran Kerangka Berpikir. Bandung: PT.Refika Aditama. Sobur, Alex. (2003). Psikhologi Umum. Bandung: Pustaka Setia. Tedjosaputra, Liliana. (2000). Etika Profesi dan Profesi Hukum. Semarang: CV Aneka Ilmu. Wignjosoebroto, Soetandyo. (2002). Hukum: Paradigma, Metode dan Dinamika Masalahnya. Jakarta: Elsam (Lembaga Studi dan Advokasi Masyarakat) dan Huma (Hukum Berbasis Masyarakat dan Ekologi).

----

----

Jurnal Hukum Justisssica | Vol. 5 | Juni 2011

57

Prinsip Keadilan, Kepastian Hukum, Dan Kemanfaatan dalam Penegakan Hukum Pidana
(Oleh: Muchamad Iksan, S.H., M.H.)

Abstract

L

aw enforcement should pay attention to several aspects. They are legal security (rechtsicherheid), benefit (zweckmmassigkeit), and justice (gerechtigkeit). Criminal law enforcement is done by mechanism of criminal justice system. It is begun by preliminary investigation (police research and investigation), prosecution, habeas corpus, and execution. Law enforcement is influenced by statutory factor, infrastructure and legal remedy, law enforcer apparatus, society, and law culture. Law enforcer apparatus is the most important factors because it makes law in book into law in action. Beside as governmental agencies, he has an authority to do discretion in order to achieve legal objective. Therefore, the implementation of criminal justice should obey the accountability and sustainability of official criminal justice system individually and institutionally.

Keyword(s):

Justice, Benefit, Legal Security, Criminal Law Enforcement, Criminal Justice System

58

Jurnal Hukum Justisssica | Vol. 5 | Juni 2011

I. PENEGAKAN HUKUM PIDANA Menurut Satjipto Rahardjo, penegakan hukum mengatur suatu usaha untuk mewujudkan ideide dan konsep-konsep menjadi kenyataan. Penegakan hukum adalah suatu proses untuk mewujudkan keinginan-keinginan hukum menjadi kenyataan. Yang disebut sebagai keinginankeinginan hukum di sini tidak lain adalah pikiran-pikiran badan pembuat undang-undang yang dirumuskan dalam peraturan–peraturan hukum itu. Pembicaraan mengenai proses penegakan hukum ini menjangkau pula sampai kepada pembuatan hukum. Perumusan pikiran pembuat undang-undang (hukum) yang dituangkan dalam peraturan hukum akan turut menentukan bagaimana penegakan hukum itu dijalankan. 43 Jadi tidak bisa dipisahkan begitu saja antara penegakan hukum dan pembuatan hukum. Upaya penegakan hukum memberikan arti adanya upaya untuk menjaga agar keberadaan hukum yang diakui di dalam suatu masyarakat dapat tetap ditegakkan. Upaya tersebut pada dasarnya harus menjamin agar setiap warga negara mematuhi hukum yang berlaku di dalam masyarakat yang bersangkutan. Ini, menurut Rudi Hartono, sejalan dengan asas restitution in integurm,44 bahwa keseimbangan dalam masyarakat yang telah terganggu (karena tidak dilaksanakan atau dilanggarnya suatu aturan hukum) harus dipulihkan ke keadaan semula, untuk tujuan menciptakan suasana yang teratur, tertib, damai, dan aman, yang merupakan jaminan bagi kelangsungan hidup manusia. Hukum mengatur dan menguasai manusia dalam kehidupan bersama, maka tata hukum bertitik tolak pada penghormatan dan perlindungan manusia. Oleh karena itu agar kepentingan manusia (justiabelen) terlindungi, sesuai dengan adagium ―fiat justitia et pereat mundus”, hukum harus ditegakan walaupun langit runtuh, baik dalam keadaan normal atau damai, atau pada saat terjadi pelanggaran hukum. Akan tetapi harus diingat, bahwa dalam penegakan hukum, haruslah disesuaikan dengan cita hukum bangsa yang bersangkutan. Artinya, penegakan hukum tersebut haruslah disesuaikan dengan falsafah, pandangan hidup, kaidah, dan prinsip yang dianut oleh masyarakat yang bersangkutan, sehingga akan sesuai dengan kesadaran hukum yang mereka miliki. Untuk itu penegakan hukum haruslah disesuaikan dengan nilai-nilai yang dan dijunjung tinggi oleh masyarakat, yang bagi masyarakat Indonesia nilai-nilai tersebut, antara lain nilai ketuhanan, keadilan, kebersamaan, kedamaian, ketertiban, kemodernan musyawarah, perlindungan hak-hak asasi, dan sebagainya. Tentunya sebagai negara yang menganut sistem hukum Eropa Kontinental, sedapat mungkin nilai-nilai tersebut dinyatakan dalam bentuk undang-undang, termasuk dalam hal nilai dan kaidah penegakan hukumnya. 45 Wayne La Favre mengemukakan bahwa, penegakan hukum sebagai suatu proses, pada hakikatnya merupakan penerapan diskresi yang bersangkutan dengan pembuat keputusan yang
43

44

45

Satjipto Rahardjo. (1993). Masalah Penegakan Hukum Suatu Tinjauan Sosiologis. Jakarta: Badan Pembinaan Hukum Nasional Departemen Kehakiman. Hal. 116. Rudi Hartono. (2003). Kewenangan Kepolisian Menurut KUHAP dalam Perspektif HAM. Makalah Semiloka: KUHAP dan Jalan Menuju Fair Trial ―Victim Protection‖. LBH Yogyakarta. 24 Juli 2003. Hal. 1. Munir Fuady. (2003). Aliran Hukum Kritis, Paradigma Ketidakberdayaan Hukum. Bandung: Citra Aditya Bakti. Hal. 58-59.
Jurnal Hukum Justisssica | Vol. 5 | Juni 2011

59

tidak secara ketat diatur oleh kaidah hukum, akan tetapi mempunyai unsur penilaian pribadi. 46 Atas dasar tersebut, bahwa gangguan terhadap penegakan hukum mungkin terjadi apabila ada ketidakserasian antara nilai kaidah dan pola perilaku. Gangguan tersebut terjadi apabila terjadi ketidakserasian antara nilai-nilai yang berpasangan yang menjelma di dalam kaidah-kaidah yang bersimpang siur dan pada perilaku tidak terarah yang mengganggu kedamaian pergaulan hidup.47

II. FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PENEGAKAN HUKUM Penegakan hukum bukanlah merupakan suatu kegiatan yang berdiri sendiri, melainkan mempunyai hubungan timbal balik yang erat dengan masyarakatnya. Oleh karena itu dalam membicarakan masalah ini sebaiknya tidak mengabaikan pembicaraan mengenai stuktur masyarakat yang ada di belakangnya. Penegakan hukum dalam suatu masyarakat mempunyai kecenderungan-kecenderungannya sendiri yang disebabkan oleh struktur masyarakatnya. Struktur masyarakat ini memberikan pengaruh, baik berupa penyediaan sarana sosial yang memungkinkan penegakan hukum itu dijalankan, maupun memberikan hambatan-hambatan yang menyebabkan ia tidak dapat dijalankan atau kurang dapat dijalankan secara optimal. 48 Jadi masalah pokok dalam penegakan hukum sebenarnya terletak pada faktor-faktor yang mungkin mempengaruhinya. Faktor-faktor tersebut mempunyai arti yang netral, sehingga dampak positif atau negatifnya terletak pada isi faktor-faktor tersebut. Faktor-faktor tersebut adalah sebagai berikut: 1) Faktor hukumnya sendiri; 2) Faktor penegak hukum; 3) Faktor sarana atau fasilitas yang mendukung penegakan hukum; 4) Faktor masyarakat; dan 5) Faktor kebudayaan. 49

III. KEPASTIAN HUKUM, KEMANFAATAN, DAN KEADILAN DALAM PENEGAKAN HUKUM Sementara itu, menurut Satjipto Rahardjo, yang juga diikuti Sudikno Mertokusumo,50 dalam penegakan hukum pada hakikatnya mengandung tiga unsur yang harus selalu diperhatikan, yaitu: 1) kepastian hukum (rechtsicherheid); 2) kemanfaatan (zweckmmassigkeit); dan 3) keadilan (gerechtigkeit). Masyarakat mengharapkan adanya kepastian hukum, karena dengan adanya kepastian hukum masyarakat akan lebih tertib, merupakan perlindungan secara yustisiabel terhadap tindakan sewenang-wenang, sehingga seseorang akan mendapatkan sesuatu dalam keadaan tertentu. Sebaliknya masyarakat mengharapkan adanya manfaat dalam pelaksanaan dan penegakan hukum, maka jangan sampai justru karena pelaksanaan atau penegakan hukum justru menimbulkan keresahan dalam masyarakat. Masyarakat juga sangat berkepentingan bahwa dalam
46

Soerjono Soekanto, 2002. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Penegakan Hukum, Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada. Hal.4 47 Ibid, hal. 4 48 Satjipto Rahardjo. Op Cit. Hal. 30. 49 Soerjono Soekanto. Op Cit. Hal. 5. 50 Sudikno Mertokusumo. (1999). Mengenal Hukum Suatu Pengantar. Yogyakarta: Liberty. Hal. 134.

60

Jurnal Hukum Justisssica | Vol. 5 | Juni 2011

pelaksanaan atau penegakan hukum memperhatikan unsur keadilan, walaupun hukum tidak identik dengan keadilan, karena hukum bersifat umum yang mengikat setiap orang atau bersifat menyamaratakan, sedangkan keadilan bersifat subyektif, individualistik, dan tidak menyamaratakan. Oleh karena urgensi dari ketiga unsur penegakkan hukum tersebut, maka seyogyanya dalam melaksanakan atau menegakan hukum dapat ada kompromi antar ketiga unsur tersebut, karena kalau hanya memperhatikan satu unsur, maka ada salah satu atau dua unsur yang dikorbankan, sehingga ketiga unsur itu harus proporsional seimbang. Akan tetapi membuat keseimbangan ketiga unsur itu, baik dalam ranah normatif (kebijakan legislatif/formulatif) maupun praktik / implementatif tidaklah mudah, karenanya harus diperjuangkan.51 Dari uraian di atas menjadi semakin jelas, bahwa dalam konteks sistem peradilan pidana, maka ruang lingkup penegakan hukum pidana sudah dimulai sejak perumusan peraturan perundang-undangan oleh lembaga legislatif (kebijakan legislatif) di bidang hukum pidana --baik hukum pidana materiil maupun formil--, pelaksanaan perundang-undangan itu di masyarakat, maupun langkah atau tindakan yang diambil atau seharusnya diambil oleh aparat penegak hukum pidana (Official Criminal Juctice System) seperti polisi, jaksa penuntut umum, hakim, dan penasehat hukum, manakala di masyarakat terjadi tindak pidana atau pelanggaran terhadap hukum pidana yang ada.

IV. PENEGAKAN HUKUM MELALUI MEKANISME SISTEM PERADILAN PIDANA (CRIMINAL JUSTICE SYSTEM) Istilah sistem peradilan pidana (SPP) atau ―Criminal Justice System‖ menunjukkan mekanisme kerja dalam penanggulangan kejahatan dengan mempergunakan dasar ―pendekatan sistem‖.52 Mardjono Reksodipoetro mengatakan, sistem peradilan pidana adalah sistem pengendalian kejahatan yang terdiri dari lembaga-lembaga kepolisian, kejaksaan, pengadilan dan pemasyarakatan terpidana. Dimana tujuan diadakannya sistem tersebut adalah: 1) Mencegah masyarakat menjadi korban kejahatan; 2) Menyelesaikan kasus kejahatan yang terjadi sehingga masyarakat puas bahwa keadilan telah ditegakkan dan yang bersalah dipidana; dan 3) Mengusahakan agar mereka yang pernah melakukan kejahatan tidak mengulangi lagi kejahatannya.53 Sedangkan menutut Remington dan Ohlin: 54 ―Criminal Justice System dapat diartikan sebagai pemakaian pendekatan sistem terhadap mekanisme administrasi peradilan pidana. Sebagai suatu sistem, peradilan pidana merupakan hasil interaksi antara peraturan perundang-undangan, praktik administrasi dan sikap atau
51 52

Ibid. Hal. 145. Romli Atmasasmita. (1996). Sistem Peradilan Pidana, Perspektif Eksistensialisme dan Abolisionisme. Jakarta: Bina Cipta. Hal. 14. 53 Mardjono Reksodipoetro. (1993). Sistem Peradilan Pidana Indonsia, Melihat pada Kejahatan dan Penegakan Hukum dalam Batas-batas Toleransi. Pidato Pengukuhan Penerimaan Jabatan Guru Besar Tetap dalam Ilmu Hukum pada Fakultas Hukum Universitas Indonesia. Jakarta. Hal. 1. Lihat pula: Indriyanto Seno Adji. 1998. Penyiksaan dan HAM Dalam Perspektif KUHAP. Jakarta: Pustaka Sinar Harapan. Hal. 2. 54 Anthon F. Susanto. Op-Cit. Hal. 74.
Jurnal Hukum Justisssica | Vol. 5 | Juni 2011

61

tingkah laku sosial. Pengertian sistem itu sendiri mengandung implikasi suatu proses interaksi yang dipersiapkan secara rasional dan dengan cara efisien untuk memberikan hasil tertentu dengan segala keterbatasannya‖. Keempat komponen sistem peradilan pidana (kepolisian, kejaksaan, pengadilan dan lembaga pemasyarakatan), yang oleh Bagir Manan ditambah dengan komponen advokat dan masyarakat atau individu pencari atau yang mewakili pencari keadilan, diharapkan dapat bekerja sama dan dapat membentuk suatu integrated criminal justice system.55 Apabila keterpaduan dalam bekerjanya sistem tidak dilakukan, diperkirakan akan terdapat tiga kerugian, yaitu: 56 1) Kesukaran dalam menilai sendiri keberhasilan atau kegagalan masing-masing instansi, sehubungan dengan tugas mereka bersama; 2) Kesulitan dalam memecahkan sendiri masalah-masalah pokok di setiap instansi (sebagai sub sistem dari sistem peradilan pidana); 3) Dikarenakan tanggung jawab setiap instansi sering kurang jelas terbagi, maka setiap instansi tidak terlalu memperhatikan efektifitas menyeluruh dari sistem peradilan pidana. Sebagaimana dikutip Romli Atmasasmita, 57 Hagan membedakan pengertian antara ―criminal justice process‖ dan “criminal justice system”. Yang pertama adalah setiap tahap dari suatu putusan yang menghadapkan seorang tersangka ke dalam proses yang membawanya pada penentuan pidana. Sedangkan yang kedua adalah interkoneksi antar keputusan dari setiap instansi yang terlibat dalam proses peradilan pidana. M. Yahya Harahap menyatakan, sistem peradilan pidana yang digariskan KUHAP merupakan sistem terpadu (integrated criminal justice system) yang diletakkan di atas landasan prinsip ―diferensiasi fungsional” di antara aparat penegak hukum sesuai dengan ―tahap proses kewenangan‖ yang diberikan undang-undang kepada masing-masing. Berdasarkan kerangka landasan dimaksud, maka aktifitas pelaksanaan criminal justice system merupakan ―fungsi gabungan‖ (collection of function) dari: legislator; polisi; jaksa; pengadilan; dan penjara; serta badan-badan yang berkaitan, baik yang ada di lingkungan pemerintahan atau di luar.

55

Bagir Manan. (2005). Sistem Peradilan Berwibawa (Suatu Pencarian). Yogyakarta: FH UII Press. Hal.35. Lihat juga Ronny Hanitijo Soemitro dalam Satjipto Rahardjo (Penyunting). 1981. Hukum Dalam Perspektif Sosial. Bandung: Alumni. Hal. 49 yang menyatakan bahwa ―apa yang dinamakan The Criminal Justice System sudah dimulai sejak perundang-undangan yang menjadi dasar penyelenggaraan hukum pidana itu diundangkan‖. (Ini berarti, menurut pendapat beliau, badan legislasi (DPR dan Presiden) termasuk bagian dari Official Criminal Justice System dalam arti luas--penulis). 56 Anthon F. Susanto. Op-Cit. Hal 84-85. 57 Romli Atmasasmita. Op-Cit. Hal. 16-17.

62

Jurnal Hukum Justisssica | Vol. 5 | Juni 2011

Dengan demikian, kegiatan sistem peradilan pidana (SPP) didukung oleh empat fungsi utama, yaitu: 58 a. Fungsi Pembuatan Undang-Undang (Law Making Function). Dalam pelaksanaan fungsi ini diharapkan dihasilkan perundang-undangan yang tidak kaku (not rigid), tapi fleksibel (flexible) yang bersifat cukup akomodatif terhadap kondisikondisi ―perubahan sosial‖ (enough to accommodate changing social conditions); b. Fungsi Penegakan Hukum (Law Enforcement Function) Tujuan obyektif fungsi ini ditinjau dari pendekatan ―tata tertib sosial‖ (social order): 1) Penegakan hukum ―secara aktual‖ (the actual enforcement law) meliputi tindakan: a) Penyelidikan – penyidikan (investigation); b) Penangkapan (arrest) – penahanan (detention); c) Persidangan pengadilan (trial); dan d) Pemidanaan (punishment) – pemenjaraan guna memperbaiki tingkah laku. 2) Efek ―preventif‖ (preventif effect) Fungsi penegakan hukum diharapkan mencegah orang melakukan tindak pidana. Bahkan kehadiran dan eksistensi polisi di tengah kehidupan masyarakat dimaksudkan sebagai ―upaya prevensi‖ yang memiliki daya cegah (detterent effort) anggota masyarakat melakukan tindak pidana. 3) Fungsi Pemeriksaan Persidangan Pengadilan (Function of Adjudication). Fungsi ini merupakan sub-fungsi dari kerangka penegakan hukum yang dilaksanakan oleh Jaksa PU dan hakim serta pejabat pengadilan yang terkait. Melalui fungsi inilah ditentukan: a) kesalahan terdakwa (the determination of guilt); 2) Penjatuhan hukuman (the imposition of punishment). 4) Fungsi Memperbaiki Terpidana (The Function of Correction) Fungsi ini meliputi ―aktivitas‖ Lembaga Pemasyarakatan, Pelayanan Sosial terkait, dan Lembaga Kesehatan Mental. Tujuan umum semua lembaga yang berhubungan dengan penghukuman dan pemenjaraan terpidana adalah ―merehabilitasi‖ pelaku pidana (to rehabilitate the offender) agar dapat kembali menjalani ―kehidupan normal‖ dan ―produktif‖ (return to a normal and productive live). Akan tetapi walaupun KUHAP sudah memberikan garis batas tugas dan wewenang antar sesama lembaga penegak hukum, fragmentasi sistem peradilan pidana masih sering kali terjadi dan dapat mengganggu dan menghambat proses acara pidana yang mengacu prinsip dan asas sederhana, cepat, dan biaya ringan. Dalam konteks ini kehadiran hukum pidana formil yang diharapkan dapat menjadi gerakan dan aktivitas dari institusi hukum yang bernama pengadilan yang di dalamnya terdapat proses yang integratif dalam rangka menanggulangi dan menindak kejahatan, akan sangat sulit diwujudkan, terlebih dalam era dan masa yang penuh dengan
58

M.Yahya Harahap. (2002). Pembahasan Permasalahan,dan Penerapan KUHAP, Penyidikan dan Penuntutan. Jakarta: PT Sinar Grafika. Hal. 90-91.
Jurnal Hukum Justisssica | Vol. 5 | Juni 2011

63

pergumulan ideologi yang variatif, yang masing-masing mempunyai agenda sendiri-sendiri. Fragmentasi dalam sistem peradilan pidana, memang merupakan fenomena global yang dalam banyak negara disebut ―disturbing issue” dalam konteks penegakan hukum dan jaminan supremasi hukum. Hal ini bisa terjadi disebabkan oleh karena pandangan terhadap sistem peradilan pidana yang tidak menyentuh aspek filosofisnya. 59 Padahal sesungguhnya, sistem peradilan pidana sangat berbeda dengan sistem-sistem lainnya, sekalipun itu adalah sistem integral dari hukum yang lain.

V.

AKUNTABILITAS DAN SUSTAINABILITAS INDIVIDUAL DAN KELEMBAGAAN PENEGAK HUKUM

Dalam penyelenggaraan sistem peradilan pidana, tidak saja diperlukan jajaran aparatur penegak hukum yang profesional, cakap, jujur, dan bijaksana. Lebih dari itu, dalam penyelenggaraan peradilan pidana harus memperhatikan akuntabilitas dan sustainabilitas individual jajaran official criminal justice system, maupun kelembagaannya. Barda Nawawi Arief, dalam sebuah seminar mengenai Sistem Peradilan menyatakan sebagai berikut: ―Akuntabilitas tidak hanya terkait dengan tanggung jawab individual, tetapi juga institusional. Tanggung jawab individual menuntut adanya kematangan integritas moral dan hati nurani para pihak yang terlibat dalam penyelenggaraan/proses peradilan. Tanggung jawab institusional menuntut adanya manajemen / administrasi peradilan yang baik untuk menunjang pembangunan yang berkelanjutan (sustainable development)‖. 60 Dalam konggres PBB ke 9 tahun 1995 di Kairo mengenai ―Prevention of Crime and the Treatment of Offenders”, ada resolusi tentang ―Criminal Justice Management in the context of accountability of public administration and sustainable development”. Resolusi itu antara lain berisi himbauan kepada negara-negara anggota, organisasi antar pemerintah, dan organisasi professional non pemerintah, agar dalam program-program pengembangan yang berkaitan dengan manajemen peradilan pidana, mempertimbangkan masalah ―accountability and sustainability‖. Resolusi itu antara lain didasarkan pada pemikiran/pertimbangan sebagai berikut: 1. 2. 3. Penyelenggara atau administrator peradilan (pidana) bertanggung jawab bagi terselenggaranya peradilan (pidana) yang efisien dan manusiawi. Manajemen peradilan (pidana) merupakan bagian dari administrasi publik yang bertanggung jawab pada masyarakat luas. Penyelenggaraan peradilan (pidana) harus merupakan bagian dari kebijakan pembangunan sumber daya yang berkelanjutan (a policy of sustainable development of resources), termasuk ―ensuring juctice” dan “the savety of citizens”. 61

59 60

Ibid. Hal. 52-56. Barda Nawawi Arief. (1999). Kebijakan Pengembangan Peradilan. Makalah Seminar Nasional: Reformasi Sistem Peradilan (Dalam Menanggulangi Mafia Peradilan di Indonesia). Fakultas Hukum UNDIP Semarang. 6 Maret 1999. Hal. 3. 61 Ibid. Hal. 3-4. Lihat pula dalam Anton F. Susanto. Op-Cit. Hal 90-91.

64

Jurnal Hukum Justisssica | Vol. 5 | Juni 2011

Dalam dokumen kongres tersebut (A/CONF. 169/6) dijelaskan, bahwa merupakan hal yang penting bagi semua aspek dari penyelenggaraan sistem peradilan (pidana) untuk sejauh mungkin bertanggung jawab agar sistem peradilan mendapat kepercayaan dan respek masyarakat (to gain public trus and respect), baik secara nasional maupun internasional. Agar mendapatkan kepercayaan dan respek dari masyarakat, maka sistem peradilan harus terbuka dan transparan (must be open and transparent), sebagai lawan dari sistem yang bersifat rahasia, samar, dan tidak responsif ( secretive, vague, and unresponsive). Selanjutnya ditegaskan pula bahwa akuntabilitas sistem peradilan (pidana) merupakan bagian dari konsep pemerintah yang baik (accountability of the criminal justice system is part of the concept of good governance). Implementasi dari konsep demikian, pada gilirannya, menjamin keberhasilan masyarakat dalam mencapai tujuannya secara berkelanjutan. Penyelenggaraan acara pidana (khususnya untuk tindak pidana umum) didasarkan pada Undang-undang No. 8 tahun 1981 tentang Hukum Acara Pidana, yang populer dengan sebutan KUHAP, UU Kekuasaan Kehakiman62, dan peraturan perundang-undangan lainnya sebagai pelengkap. KUHAP dan UU Kekuasaan Kehakiman itu memuat asas-asas63 yang harus diwujudkan dalam penyelenggaraan acara pidana, khususnya oleh jajaran aparat penegak hukum (official criminal justice system). Asas-asas dimaksud antara lain: 64 a) Peradilan cepat, sederhana, dan biaya ringan; b) Presumption of innocence (Praduga tak bersalah); c) Oportunitas; d) Pemeriksaan terbuka untuk umum; e) Semua orang diperlakukan sama di depan hakim; f) Tersangka/terdakwa berhak mendapatkan bantuan hukum; g) Akusatoir; dan h) Pemeriksaan oleh hakim secara langsung dan lisan. Dengan penyebutan berbeda, Yahya Harahap, mengemukakan landasan asas atau prinsip sebagai dasar patokan hukum yang melandasi KUHAP dalam penegakan hukum, yang merupakan tonggak pedoman bagi instansi jajaran penegak hukum dalam menerapkan pasal-pasal KUHAP, juga berlaku bagi setiap anggota masyarakat yang terlibat dan berkepentingan atas pelaksanaan tindakan yang menyangkut KUHAP. Landasan asas atau prinsip itu antara lain: 65 a. Asas Legalitas; b. Asas Keseimbangan; c. Asas Praduga tak bersalah; d. Prinsip Pembatasan
62

UU No. 14 Tahun 1970 tentang Ketentuan-ketentuan Pokok Kekuasaan Kehakiman (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1970 Nomor 74, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 2951) sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 35 Tahun 1999 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 14 Tahun 1970 tentang Ketentuan-ketentuan Pokok Kekuasaan Kehakiman (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1999 Nomor 147, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3879) dan terakhir diganti dengan UU No. 4 Tahun 2004 tentang Kekuasaan Kehakiman. 63 Lihat Bambang Poernomo. Op. Cit. Hal. 46. “Asas-asas hukum bermakna ungkapan hukum yang bersifat umum, pada sebagaian berasal dari kesadaran hukum serta keyakinan kesusilaan atau etis kelompok manusia dan pada sebagaian yang lain berasal dari dasar pemikiran di balik peraturan perundangundangan serta yurisprudensi”. 64 Andi Hamzah. (1985). Perlindungan Hak-Hak Asasi Manusia dalam KUHAP. Jakarta: Binacipta. Hal 1328. 65 M. Mahya Harahap. (2001). Pembahasan Permasalahan dan Penerapan KUHAP : Penyidikan dan Penuntutan. Edisi ke-dua. Jakarta: Sinar Grafika. Hal. 35-57.
Jurnal Hukum Justisssica | Vol. 5 | Juni 2011

65

penahanan; e. Asas Ganti rugi dan rehabilitasi; f. Penggabungan pidana dengan tuntutan ganti rugi; g. Asas Unifikasi; h. Prinsip Diferensiasi fungsional; i. Prinsip Saling koordinasi; j. Asas Peradilan sederhana, cepat, dan biaya ringan; dan k. Prinsip Peradilan terbuka untuk umum. Sebagaimana telah diuraikan di atas, bahwa sistem peradilan pidana melibatkan (struktur hukum) antara lain Penyelidik dan Penyidik (POLRI dan PPNS), Jaksa Penuntut Umum, Hakim (PN – PT – MA), Pejabat Lembaga Pemasyarakatan, Penasehat Hukum (Advokat), 66 di samping masih melibatkan saksi, pelapor bukan saksi, dan (saksi) ahli. Berikut ini akan dipaparkan tahapan-tahapan penyelesaian perkara pidana (khususnya pada tindak pidana umum) dan instansi yang terlibat di dalamnya (official criminal justice system).

VI. PENYELIDIKAN DAN PENYIDIKAN Tahap paling awal dari proses penyelesaian perkara pidana adalah penyelidikan. Menurut Pasal 1 butir ke 5 KUHAP: “Penyelidikan adalah serangkaian tindakan penyelidik untuk mencari dan menemukan suatu peristiwa yang diduga sebagai tindak pidana guna menentukan dapat atau tidaknya dilakukan penyidikan menurut cara yang di atur dalam undang-undang ini‖. Penyelidikan itu sendiri dilaksanakan oleh Penyelidik, yang oleh Pasal 1 butir ke 4 KUHAP diberikan definisi sebagai: “Penyelidik adalah pejabat polisi negara Republik Indonesia yang diberi wewenang oleh undang-undang ini untuk melakukan penyelidikan”. Bahkan ditegaskan dalam Pasal 4 KUHAP bahwa: ―Penyelidik adalah setiap pejabat polisi negara Republik Indonesia”. Jadi menurut KUHAP, penyelidik itu hanya polisi Republik Indonesia, tidak ada istansi lain yang diberi kewenangan untuk melakukan penyidikan. Hal ini berbeda dengan penyidikan, yang kecuali diberikan kewenangan itu kepada POLRI, juga kepada Pejabat Pegawai Negeri Sipil tertentu (PPNS). Ditetapkannya seluruh anggota POLRI sebagai penyelidik didasarkan atas pemikiran bahwa, wilayah Indonesia yang sedemikian luas dengan keadaan geografis banyak yang sulit dijangkau transportasi dan sarana komunikasi, membutuhkan penyelidik yang sangat banyak untuk mengcover penyelidikan tindak pidana yang terjadi secara ideal, maka setiap anggota POLRI diberi kewenangan menjadi penyelidik. Itupun masih terasa kurang jumlahnya, sehingga masih banyak tindak pidana yang terjadi di masyarakat tidak diketahui –dengan demikian juga tidak ditindaklanjuti-- oleh aparat penyelidik. Adapun wewenang penyelidik sebagaimana diatur dalam Pasal 5 KUHAP adalah sebagai berikut: 1. Penyelidik sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 : a. Karena kewajibannya mempunyai wewenang :

66

Dalam UU No. 18 tahun 2003 tentang Advokat, dikatakan bahwa Advokat adalah bagian dari aparat penegak hukum.
Jurnal Hukum Justisssica | Vol. 5 | Juni 2011

66

1) Menerima laporan atau pengaduan dari seorang tentang adanya tindak pidana; 2) Mencari keterangan dan barang bukti; 3) Menyuruh berhenti seorang yang dicurigai dan menanyakan serta memeriksa tanda pengenal diri; 4) Mengadakan tindakan lain menurut hukum yang bertanggung-jawab. b. Atas perintah penyidik dapat melakukan tindakan berupa: 1) 2) 3) 4) 2. Penangkapan, penahanan; larangan meninggalkan tempat, penggeledahan dan

Pemeriksaan dan penyitaan surat; Mengambil sidik jari dan memotret seorang; Membawa dan menghadapkan seorang pada penyidik.

Penyelidik membuat dan menyampaikan laporan hasil pelaksanaan tindakan sebagaimana tersebut pada ayat (1) huruf a dan huruf b kepada penyidik.

Ketentuan Pasal 4 di atas sebenarnya agak janggal, karena kalau penyidikan saja --yang merupakan tahapan lanjutan dari penyelidikan—dilakukan oleh Penyidik POLRI atau PPNS, mengapa penyelidikannya hanya diberikan kepada POLRI saja. Sedangkan filosofi yang melatar belakangi ketentuan tentang pejabat penyidik PPNS ini, karena untuk tindak pidana tertentu, PPNS dipandang lebih mengetahui seluk beluk tindak pidana itu. Terjadinya tindak pidana yang terjadi di lingkungan birokrasi tertentu biasanya diketahui oleh aparat birokrasi di lingkungan itu dahulu, baru aparat dari luar birokrasi itu. Sesuai dengan pepatah: ―Yang paling tahu masakan dalam sebuah keluarga adalah anggota keluarga itu‖, bukan tetangga. Dari Pasal 5 ayat (1) huruf a KUHAP diketahui bahwa kewenangan penyelidik (asli, yang bukan atas dasar pelimpahan wewenang dari penyidik) sebenarnya sangat terbatas, antara lain: 1. menerima laporan atau pengaduan dari seorang tentang adanya tindak pidana; 2. mencari keterangan dan barang bukti; 3. menyuruh berhenti seorang yang dicurigai dan menanyakan serta memeriksa tanda pengenal diri; dan 4. mengadakan tindakan lain menurut hukum yang bertanggung-jawab. Kewenangan penyelidik tersebut bisa dipahami sebagai ruang lingkup penyelidikan. Apabila memperhatikan ruang lingkup penyelidikan di atas, dapat diketahui bahwa kewenangan itu belum banyak (belum terlalu dalam) bersinggungan dengan hak asasi manusia. Sehingga dapat dipahami kalaupun kewenangan melaksanakan penyelidikan itu diberikan kepada setiap anggota POLRI, dari yang berpangkat paling rendah (dengan pendidikan minim, termasuk pengetahuan tentang HAM) sampai yang berpangkat paling tinggi (Jenderal Polisi). Akan tetapi harus dipahami bahwa peranan penyelidik sangatlah penting dalam kerangka penyelenggaraan sistem peradilan pidana, karena penyelidik itulah yang pertama-tama menentukan apakah suatu perbuatan yang dilaporkan atau diadukan kepadanya, atau yang ia
Jurnal Hukum Justisssica | Vol. 5 | Juni 2011

67

ketahui atau ia alami sendiri itu merupakan tindak pidana atau bukan. Apabila dipandang oleh penyelidik sebagai tindak pidana, barulah selanjutnya dilimpahkan kepada penyidik untuk dilakukan penyidikan. Jadi pada hakekatnya (secara materiil) penyidik itu sudah ―melaksanakan fungsi hakim‖, yaitu menentukan apakah perbuatan itu merupakan tindak pidana atau bukan. Dalam konteks ini pengetahuan, wawasan, kebijaksanaan, dan profesionalisme aparat penyelidik jadi sangat menentukan ―nasib‖ perkara itu selanjutnya. Hal itu juga berkaitan dengan perlindungan HAM, khususnya HAM-nya tersangka dan saksi, baik korban maupun bukan. Jadi, kuantitas dan kualitas anggota POLRI 67 sebagai penyelidik sangat menentukan kualitas dan kuantitas penegakan hukum pidana. Semakin banyak anggota POLRI sebagai penyelidik, akan semakin banyak tindak pidana yang terjadi di masyarakat dapat ter-cover oleh tugas penyelidik. Demikian pula semakin berkualitas penyelidik POLRI, maka akan semakin bijak dalam ―melaksanakan fungsi hakim‖ pada lavel pertama dalam rangkaian penyelesaian perkara pidana, sebagaimana telah diuraikan sebelumnya. Dalam kaitan fungsi polisi ini, John Baldwin dan A. Keith Bottomley sebagaimana dikutip Sunarto, DM menyatakan bahwa, kedudukan POLRI dalam proses peradilan pidana berperan sebagai penjaga pintu gerbang atau as a gate keepers, yaitu melalui kekuasaan yang ada (police discretion) ia merupakan awal mula proses pidana. Polisi berwenang menentukan siapa yang patut disidik, ditangkap, dan ditahan. 68 Selain di dalam KUHAP sebagaimana di atas, tugas dan kewenangan POLRI secara umum juga diatur dalam UU No. 2 Tahun 2002 tentang Kepolisian Negara Republik Indonesia. Pasal 13 menyebutkan bahwa :69 ―Tugas pokok Kepolisian Negara Republik Indonesia adalah : a. memelihara keamanan dan ketertiban masyarakat;b. menegakan hukum; dan c. memberikan perlindungan, pengayoman, dan pelayanan kepada masyarakat.‖ Tugas pokok Kepolisian seperti yang disebutkan dalam Pasal 13 di atas di dalamnya terdapat 3 (tiga) komponen utama yang merupakan satu kesatuan utuh. Komponen tugas pokok Kepolisian tersebut meliputi:

67

Antonius Sujata. (2000). Reformasi Dalam Penegakan Hukum. Jakarta: Jambatan. Hal. 212. mengatakan: “Untuk melaksanakan tugas dan fungsi POLRI, dibutuhkan Polri yang profesional dan ditunjang aspekaspek yang menuju independensi polisi, yaitu: 1. Integritas pelaksana, berupa kemampuan dan kemauan untuk menerapkan nilai-nilai etika, nilai baikburuk serta nurani dalam mengemban tugasnya; 2. Profesionalisme, berupa ketrampilan serta loyalitas dalam menerapkan nilai-nilai kebenaran, baik procedural maupun substansial, berdasarkan peraturan perundangan ataupun kepatutan; 3. Public accountability; 4. Pengawasan struktural dan horisontal; 5. Kewenangan yang tidak mutlak; 6. Transparansi; 7. Equality before the law; 8. Tindakan tegas terbadap penyimpangan dalam rangka pencegahan”. 68 Sunarto DM. Alternatif Meminimalisasi Pelanggaran HAM dalam Penegakan Hukum Pidana. dalam Muladi (Edt.). (2005). Op-Cit. Hal. 142. 69 Republik Indonesia. (2002). Undang-Undang Republik Indonesia No. 2 Tahun 2002 tentang Kepolisian Negara Republik Indonesia

68

Jurnal Hukum Justisssica | Vol. 5 | Juni 2011

a.

Memelihara keamanan dan ketertiban masyarakat Tugas pokok ini dimaksudkan adalah penciptaan atau pengkoordinasian dan pemeliharaan akan rasa aman yang merupakan kebutuhan hakiki, serta suasana dan perilaku tertib dalam masyarakat. Tugas ini memunculkan fungsi yang titik beratnya pencegahan (preventive function).

b. Menegakan hukum Tugas pokok yang kedua ini titik beratnya pada kegiatan-kegiatan penindakan untuk menjamin tegaknya hukum, dengan pemaksaan-pemaksaan untuk memperoleh ketaatan pada hukum. Tugas ini memunculkan fungsi yang titik beratnya pemberantasan terhadap pelanggaran hukum (represive function). c. Memberikan perlindungan, pengawasan, dan pelayanan kepada masyarakat. Tugas pokok yang ketiga ini berkaitan dengan rasa damai, nyaman, dan tentram bagi masyarakat yang merupakan bentuk pelayanan sebagai salah satu fungsi POLRI. Selengkapnya tugas Kepolisian diatur dalam Pasal 14. Sedangkan wewenangnya diatur dalam Pasal 15 Undang-undang No. 2 Tahun 2002 Tentang Kepolisian Negara Republik Indonesia. Berkaitan dengan tugas di bidang proses pidana, Wewenang Kepolisian Negara R.I., diatur dalam Pasal 16 ayat (1) dan (2). Ketentuan Pasal 16 ayat (2) di atas berkaitan dengan pelaksanaan wewenang diskresi kepolisian.70 Fungsi, tugas, dan wewenang kepolisian di atas terbagi menjadi tugas dan wewenang yang bersifat umum untuk semua anggota kepolisian, juga tugas dan wewenang yang bersifat khusus bagi penyelidik POLRI, maupun penyidik POLRI. Apabila dari hasil penyelidikan diketahui bahwa perbuatan itu termasuk tindak pidana, maka kemudian ditingkatkan ke tahap penyidikan. Menurut Pasal 1 butir ke-2: ―Penyidikan adalah serangkaian tindakan penyidik dalam hal dan menurut cara yang diatur dalam undang-undang ini (KUHAP –pen.) untuk mencari serta mengumpulkan bukti yang dengan bukti itu membuat terang tentang tindak pidana yang terjadi dan guna menemukan tersangkanya”. Sedangkan pejabat yang diberi kewenangan oleh undang-undang untuk melakukan penyidikan adalah ―Penyidik‖ dan ―Penyidik Pembantu‖. Pasal 1 butir 1 KUHAP memberikan definisi: ―Penyidik adalah pejabat polisi negara Republik Indonesia atau pejabat pegawai negeri sipil tertentu yang diberi wewenang khusus oleh undang-undang untuk melakukan penyidikan”.71 Penyidikan pada pokoknya adalah
70

M. Faal. (1991). Penyaringan Perkara Pidana oleh Polisi (Diskresi Kepolisian). Jakarta: PT. Pradnya Paramita. Hal. 15-16. Mengutip pendapat Thomas J. Aaron yang menyatakan bahwa ―Discretion is power authority conferred by law to action on the basic of judgment or conscience, and its use is more an idea of morals than law” (diskresi adalah suatu kekuasaan atau wewenang yang dilakukan berdasarkan hukum atas pertimbangan atau keyakinannya yang lebih menekankan pertimbangan moral daripada pertimbangan hukum). 71 Pasal 6 KUHAP juga mengatur bahwa, (1) Penyidik adalah : a. pejabat polisi negara Republik Indonesia; b. pejabat pegawai negeri sipil tertentu yang diberi wewenang khusus oleh undang-undang.
Jurnal Hukum Justisssica | Vol. 5 | Juni 2011

69

kegiatan mencari dan mengumpulkan barang bukti untuk membuat terang suatu tindak pidana dan dapat menemukan tersangkanya. Walaupun ruang lingkup penyidikan tidak secara khusus diatur, akan tetapi dengan diaturnya wewenang penyidik, maka itulah ruang lingkup penyidikan. Wewenang penyidik diatur dalam Pasal 7 dan 8 KUHAP, yang berbunyi: Pasal 7: (1) Penyidik sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 ayat (1) huruf a karenakewajibannya mempunyai wewenang : a. menerima laporan atau pengaduan dari seorang tentang adanya tindak pidana;

b. melakukan tindakan pertama pada saat di tempat kejadian; c. menyuruh berhenti seorang tersangka dan memeriksa tanda pengenal diri tersangka;

d. melakukan penangkapan, penahanan, penggeledahan dan penyitaan; e. f. g. h. i. j. melakukan pemeriksaan dan penyitaan surat; mengambil sidik jari dan memotret seorang; memanggil orang untuk didengar dan diperiksa sebagai tersangka atau saksi; mendatangkan orang ahli yang diperlukan dalam hubungannya dengan pemeriksaan perkara; mengadakan penghentian penyidikan; mengadakan tindakan lain menurut hukum yang bertanggung jawab.

(2) Penyidik sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 ayat (1) huruf b mempunyai wewenang sesuai dengan undang-undang yang menjadi dasar hukumnya masing-masing dan dalam pelaksanaan tugasnya berada di bawah koordinasi dan pengawasan penyidik tersebut dalam Pasal 6 ayat (1) huruf a. (3) Dalam melakukan tugasnya sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dan ayat (2), penyidik wajib menjunjung tinggi hukum yang berlaku. Pasal 8 : (1) Penyidik membuat berita acara tentang pelaksanaan tindakan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 75 dengan tidak mengurangi ketentuan lain dalam undang-undang ini. (2) Penyidik menyerahkan berkas perkara kepada penuntut umum. (3) Penyerahan berkas perkara sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) dilakukan: a. pada tahap pertama penyidik hanya menyerahkan berkas perkara;

(2) Syarat kepangkatan pejabat sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) akan diatur lebih lanjut dalam peraturan pemerintah.

70

Jurnal Hukum Justisssica | Vol. 5 | Juni 2011

b.

dalam hal penyidikan sudah dianggap selesai, penyidik menyerahkan tanggung jawab atas tersangka dan barang bukti kepada penuntut umum.

Sedangkan Penyidik Pembantu, menurut Pasal 11, mempunyai wewenang yang sama dengan wewenang Penyidik seperti tersebut dalam Pasal 7 ayat (1), kecuali mengenai penahanan yang wajib diberikan dengan pelimpahan wewenang dari penyidik. Dalam melaksanakan wewenangnya, menurut Pasal 12, Penyidik pembantu membuat berita acara dan menyerahkan berkas perkara kepada penyidik, kecuali perkara dengan acara pemeriksaan singkat yang dapat langsung diserahkan kepada penuntut umum. Apabila mencermati wewenang Penyidik dan penyidik pembantu, betapa luasnya wewenang itu, dan sebagian besar dari kewenangan itu sudah langsung bersinggungan dengan pembatasan atau perampasan hak-hak asasi manusia (HAM), 72 khususnya HAM-nya tersangka, saksi, maupun (saksi) ahli. Sebut saja misalnya, tindakan penangkapan, penahanan, penggeledahan, penyitaan, pemeriksaan dan penyitaan surat, pemanggilan dan pemeriksaan tersangka, saksi, dan ahli, dan lain sebagainya. Pada fase penyidikan inilah yang paling potensial terjadinya pelanggaran hak asasi manusia (HAM), baik bagi tersangka, saksi, pelapor (non saksi), maupun (saksi) ahli. Bentuk pelanggaran HAM yang sering terjadi adalah kekerasan fisik dan psikis (intimidasi), pemerasan, dan lain sebagainya. Untuk meminimalisasi hal ini, maka kepada tersangka/terdakwa diberikan seperangkat hak yang secara eksplisit diatur dalam Pasal 50 sampai 68 KUHAP. Hak-hak itu antara lain: 73 1. 2. 3. 4. 5. 6. Hak tersangka untuk segera mendapat pemeriksaan oleh penyidik, dan selanjutnya dilimpahkan ke pengadilan (Pasal 50 KUHAP); Berhak diberitahukan dengan jelas dan dengan bahasa yang dimengerti olehnya tentang apa yang disangkakan kepadanya (Pasal 51 KUHAP); Berhak memberi keterangan secara bebas. Maksudnya, ‖bebas dari rasa takut, paksaan dan tekanan‖ (Pasal 52 KUHAP); Berhak mendapatkan bantuan juru bahasa dan penterjemah, apabila tersangka tidak paham bahasa Indonesia (Pasal 53 KUHAP); Berhak mendapat bantuan hukum (Pasal 54 KUHAP); Berhak secara bebas memiliki penasehat hukum (Pasal 55 KUHAP);

72

Republik Indonesia. (1999). Undang-Undang Tentang Pengadilan Hak Asasi Manusia 2000 & UndangUndang HAM 1999. Bandung: Citra Umbara. Halaman 4. “Hak Asasi Manusia adalah seperangkat hak yang melekat pada hakikat keberadaaan manusia sebagai makhluk Tuhan Yang Maha Esa dan merupakan anugerah-Nya yang wajib dihormati, dijunjung tinggi dan dilindungi oleh negara hukum, pemerintahan, dan setiap orang demi kehormatan serta perlindungan harkat dan martabat manusia” (Pasal 1 UU No. 39 Tahun 1999 Tentang Hak Asasi Manusia). 73 M.Yahya Harahap. (2002). Op-Cit. Hal. 321 – 327.
Jurnal Hukum Justisssica | Vol. 5 | Juni 2011

71

7.

Dalam hal tersangka disangka melakukan tindak pidana yang diancam dengan pidana mati atau ancaman lima belas tahun atau lebih, atau bagi mereka yang tidak mampu yang diancam dengan pidana lima tahun atau lebih yang tidak mempunyai penasehat hukum sendiri, pejabat yang bersangkutan pada semua tingkat pemeriksaan dalam proses peradilan pidana wajib menunjuk penasehat hukum baagi mereka (Pasal 56 ayat 1 KUHAP); Hak tersangka atau terdakwa berada dalam penahanan: a) Berhak menghubungi penasehat hukum.

8.

b) Jika tersangka warga negara asing dia berhak menghubungi dan berbicara dengan perwakilan negaranya dalam menghadapi jalannya proses pemeriksaan (Pasal 57 KUHAP). c) Berhak menghubungi dan menerima kunjungan dokter pribadinya untuk kepentingan kesehatan baik yang ada hubungannya dengan proses perkara maupun tidak (Pasal 58 KUHAP).

d) Berhak untuk diberitahukan permasalahannya kepada keluarganya, orang serumah, orang lain yang dibutuhkan dan orang yang hendak memberi bantuan hukum (Pasal 59 KUHAP). e) Berhak menghubungi dan menerima kunjungan keluarga atau orang lain guna mendapatkan jaminan penangguhan panahanan atau bantuan hukum (Pasal 60 KUHAP). Berhak secara langsung atau dengan perantaraan penasehat hukumnya menghubungi dan menerima kunjungan sanak keluarga baik untuk kepentingan perkaranya, keluarga, atau pekerjaanya (Pasal 61 KUHAP).

f)

g) Berhak atas surat menyurat yang sifatnya bebas, yaitu tidak boleh diperiksa penyidik, penuntut umum, hakim, atau pejabat rutan kecuali cukup alasan untuk menjaga surat menyurat tersebut disalah gunakan. Jika demikian pejabat yang bersangkutan dapat memeriksa surat tersebut dengan pemberitahuan kepada tersangka yang kemudian dikirimkan kembali kepada alamat si pengirim setelah dibubuhi cap yang berbunyi telah di tilik (Pasal 62 KUHAP). h) Berhak menerima kunjungan rohaniawan (Pasal 63 KUHAP). 9. Berhak mengajukan saksi dan saksi ahli (Pasal 65 KUHAP).

10. Tidak dibebani kewajiban pembuktian (Pasal 66 KUHAP). 11. Hak untuk menuntut ganti rugi dan rehabilitasi (Pasal 68, 95, 96 dan 97 KUHAP)‖. Kalau hak tersangka/terdakwa sudah secara luas dijamin oleh KUHAP, lain lagi dengan korban, saksi, juga (saksi) ahli, yang masih luput dari perhatian pemberian hak-hak sebagai bentuk perlindungan hukum secara memadai.

72

Jurnal Hukum Justisssica | Vol. 5 | Juni 2011

VII. PENUNTUTAN Apabila hasil penyidikan yang dilimpahkan oleh penyidik sudah lengkap, maka proses penyelesaian perkara pidana itu masuk ke fase penuntutan oleh Jaksa Penuntut Umum. Menurut Pasal 1 butir 7 KUHAP: ‖Penuntutan adalah tindakan penuntut umum untuk melimpahkan perkara pidana ke pengadilan negeri yang berwenang dalam hal dan menurut cara yang diatur dalam undangundang ini dengan permintaan supaya diperiksa dan diputus oleh hakim di sidang pengadilan‖. Sedangkan Penuntut umum adalah: ―jaksa yang diberi wewenang oleh undang-undang ini untuk melakukan penuntutan dan melaksanakan penetapan hakim‖ (Pasal 1 butir 6 b KUHAP). Pasal 1 butir 6.a memberikan pengertian: ―Jaksa adalah pejabat yang diberi wewenang oleh undang-undang ini untuk bertindak sebagai penuntut umum serta melaksanakan putusan pengadilan yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap‖. Berkaitan dengan tugas penuntutan ini, KUHAP mengaturnya antara lain dalam BAB XV PENUNTUTAN, mulai Pasal 137 sampai Pasal 144. Kecuali diatur dalam KUHAP sebagaimana di atas, tugas dan wewenang kejaksaan secara garis besar meliputi 3 (tiga) bidang yaitu: bidang pidana, bidang perdata dan tata usaha negara, dan bidang ketertiban dan ketentraman umum. Tugas pokok Kejaksaan Republik Indonesia dimaksud diatur dalam Pasal 30 sampai Pasal 34 Undang-undang No. 16 Tahun 2004 Tentang Kejaksaan Republik Indonesia. Menurut Pasal 284 ayat (2) KUHAP, Kejaksaan juga berwenang melakukan penyidikan beberapa tindak pidana khusus, seperti misalnya tindak pidana ekonomi dan tindak pidana korupsi.74 Ketentuan ini merupakan penyimpangan dari prinsip umum pemisahan kewenangan antar intansi penegak hukum yang dianut oleh KUHAP. Pada fase ini, tugas utama jaksa penuntut umum adalah membuat surat dakwaan berdasarkan berkas penyidikan yang diterima dari penyidik, jadi sudah tidak melakukan pemeriksaan terhadap tersangka maupun saksi. Walaupun demikian jaksa penuntut umum tetap memiliki tanggung jawab atas tersangka, barang bukti, bahkan dalam batas-batas tertentu saksi dan ahli. Dalam konteks inilah perlindungan hukum terhadap saksi dalam fase penuntutan diperlukan. Apabila Penuntut Umum telah selesai membuat surat dakwaan, maka kemudian dilimpahkan ke pengadilan negeri. Ini berarti perkara ini sudah masuk ke fase atau tahap berikutnya.

74

R. M. Surachman. (1995). Jaksa di Berbagai Negara: Peranan dan kedudukannya, Jakarta: Sinar Grafika, Hal. 32.
Jurnal Hukum Justisssica | Vol. 5 | Juni 2011

73

VIII.

PEMERIKSAAN DI MUKA SIDANG PENGADILAN

Dalam hal pemeriksaan perkara di muka sidang pengadilan negeri, KUHAP menentukan dan membedakan 3 (tiga) acara pemeriksaan sebagai berikut: 75 1)Pemeriksaan dengan acara singkat (Pasal 203-204); 2) Pemeriksaan dengan acara cepat (Pasal 205-216); 3) Pemeriksaan dengan acara biasa (Pasal 152-182). Pembedaan acara pemeriksaan sebagaimana di atas didasarkan pada kualitas kasus atau bobot perkara, dan berimplikasi pada sistem dan mekanisme pemeriksaan yang berbeda. Perkaraperkara yang diperiksa dengan acara singkat adalah perkara-perkara kejahatan atau pelanggaran yang bukan tindak pidana ringan (diancam dengan pidana atau kurungan maksimum tiga bulan atau denda maksimum Rp. 7.500,-) dan bukan perkara pelanggaran lalu lintas jalan yang menurut jaksa penuntut umum pembuktian dan penerapan hukumnya mudah dan sifatnya sederhana. Pada umumnya pemeriksaan dengan acara singkat ini berlangsung antara 3 sampai empat kali persidangan. Sedangkan perkara perkara-perkara tindak pidana ringan (diancam dengan pidana atau kurungan maksimum tiga bulan atau denda maksimum Rp. 7.500,-) dan perkara pelanggaran lalu lintas jalan, diperiksa dengan acara cepat. Pemeriksaan dengan acara ini sangat simple/sederhana sehingga biasanya hanya dalam satu sesi/kali persidangan. Sedangkan pemeriksaan dengan acara biasa diterapkan terhadap selain perkara-perkara yang diperiksa dengan acara singkat dan cepat, yaitu perkara yang menurut jaksa penuntut umum pembuktian dan penerapan hukumnya sulit dan menarik perhatian masyarakat. Pemeriksaan acara biasa ini cukup rumit dan prosedural, yang diatur dalam sebagian besar pasal yang mengatur tentang acara pemeriksaan (Pasal 152-182 KUHAP). Walaupun dalam hampir semua perkara pidana melibatkan saksi dalam fase pemeriksaan sidang pengadilan, akan tetapi yang harus mendapat perhatian lebih adalah saksi dalam perkaraperkara yang diperiksa dengan acara biasa, yang nota bene merupakan perkara berat, dibandingkan dengan yang diperiksa dengan acara cepat atau singkat. Pemeriksaan di sidang pengadilan dipimpin oleh hakim yaitu pejabat yang melakukan kekuasaan kehakiman sebagaimana diatur dalam undang-undang. Tugas hakim adalah menegakkan hukum dan keadilan berdasarkan Pancasila, sehingga putusannya mencerminkan rasa keadilan rakyat Indonesia. Tugas hakim dalam rangka penegakan hukum yaitu memeriksa, mengadili, dan memutus suatu perkara yang diajukan kepadanya oleh jaksa penuntut umum atau oleh penyidik dalam acara cepat. Dalam menjalankan tugasnya, hakim mempunyai kewajiban yang antara lain diatur dalam Pasal 28 Undang-undang No. 4 Tahun 2004 tentang Kekuasaan Kehakiman, sebagai berikut: (1) Hakim wajib menggali, mengikuti dan memahami nilai-nilai hukum dan rasa keadilan yang hidup dalam masyarakat.

75

Lihat juga dalam Adami Chazawi. (2006). Kemahiran dan Ketrampilan Praktik Hukum Pidana. Malang: Bayumedia. Hal. 133-149.
Jurnal Hukum Justisssica | Vol. 5 | Juni 2011

74

(2) Dalam mempertimbangkan berat ringannya pidana hakim wajib mempertimbangkan pula sifat yang baik dan jahat dari terdakwa. Putusan pengadilan akan dijatuhkan setelah melalui serangkaian proses yang panjang (dalam acara pemeriksaan biasa), yang secara garis besar dengan urutan sebagai berikut: Penerimaan berkas perkara dari Penuntut Umum (Kejaksaan) dan pencatatan dalam buku register perkara sekaligus pemberian nomor perkara, penunjukan majelis hakim (PMH), penetapan hari sidang pertama oleh (majelis) hakim (PHS), persidangan pertama, pembacaan surat dakwaan, eksepsi (kalau ada) putusan atas eksepsi, pembuktian (pemeriksaan saksi, ahli, surat, terdakwa, barang bukti), requisitoir (tuntutan pidana) oleh Penuntut Umum, pledoi (pembelaan) oleh terdakwa atau penasehat hukumnya, replik dan duplik, musyawarah majelis hakim (bersifat rahasia), dan pembacaan putusan. Sampai tahapan inipun belum pasti berakhir, karena tersedia jalur upaya hukum baik banding ke Pengadilan Tinggi dan atau kasasi ke Mahkamah Agung. Bahkan apabila dipenuhi syarat-syarat tertentu masih tersedia jalur upaya hukum luar biasa yaitu peninjauan kembali (PK) dan kasasi demi kepentingan hukum. Di luar itu masih ada upaya hukum lain yaitu Permohonan Grasi kepada Presiden. Apabila terhadap suatu putusan tidak ada lagi jalan untuk diajukan upaya hukum (biasa), barulah putusan itu dikatakan memiliki kekuatan hukum tetap (in krach van gewijsde), yang berarti sudah dapat dilaksanakan (eksekusi). Secara keseluruhan, tahap pemeriksaan sidang pengadilan ini diatur KUHAP pada: Pasal 1 angka 8-11, Pasal 26-29, 77-94, 98-100, 145-283. Fase Pemeriksaan sidang pengadilan ini adalah fase yang paling krusial, karena pada fase inilah keadilan dan kepastian hukum itu diwujudkan dalam praktek. Pengadilan dianggap sebagai benteng terakhir para pencari keadilan, baik itu bagi jaksa penuntut umum, terdakwa, korban, maupun masyarakat luas. Fase ini digawangi oleh aparat penegak hukum seperti jaksa penuntut umum, hakim dan advokat yang disebut-sebut sebagai profesi yang mulia (nobile officium). 76 Akan tetapi sangat disayangkan, bahwa lembaga peradilan yang seharusnya merupakan lembaga yang terhormat dan berwibawa, pada kenyataannya telah menjadi lembaga yang sangat korup. Judicial Corruption Dalam catatan Daniel Kaufmann tentang Bureaucratic and Judiciary Bribery tahun 1998, dikatakan bahwa salah satu bentuk korupsi yang populer di masyarakat adalah korupsi di lembagalembaga peradilan atau lebih dikenal dengan Judicial Corruption. Tingkat korupsi di peradilan Indonesia adalah yang paling tinggi di antara negara-negara ukrania, Venezuela, Rusia, Kolombia, Mesir, Yordania, Turki, Malaysia, Brunei, Afrika Selatan, singapura, dan lain-lain.77 Hasil survei nasional tentang korupsi yang dilakukan oleh Partnership for Governance Reform pada tahun

76

Munir Fuady. (2005). Prosesi Mulia (Etika Profesi bagi Hakim, Jaksa, Advokat, Notaris, Kurator, dan Pengurus). Bandung: Citra Aditya Bakti. Hal.1. 77 ICW dan BCW. (2003). Peradilan Dagelan. Jakarta: ICW-BCW. Hal.xi
Jurnal Hukum Justisssica | Vol. 5 | Juni 2011

75

2002 juga menempatkan lembaga peradilan di peringkat lembaga terkorup menurut persepsi masyarakat. 78 Rekomendasi para pakar hukum Center For the Independence of Judges and Lawyers (CIJL) pada konferensi dua tahunan (17-22 September 2000) di Amsterdam menyatakan bahwa judicial corruption terjadi karena tindakan-tindakan yang menyebabkan ketidakmandirian lembaga peradilan dan institusi hukum (polisi, jaksa, advokat, dan hakim). Khususnya kalau hakim atau pengadilan mencari atau menerima berbagai macam keuntungan atau janji berdasarkan penyalahgunaan kekuasaan kehakiman atau perbuatan lainnya, seperti suap, pemalsuan, penghilangan data atau berkas pengadilan, perubahan dengan sengaja berkas pengadilan, pemanfaatan kepentingan umum untuk kepentingan pribadi, sikap tunduk pada campur tangan luar dalam memutus perkara karena adanya tekanan, ancaman, nepotisme, conflict of interest, favoritisme, kompromi dengan pembela (advokat), pertimbangan keliru dalam mutasi dan promosi serta pensiun. Prasangka menghambat proses pengadilan, dan tunduk kepada kemauan pemerintah dan partai politik.79 Akibat adanya praktek judicial corruption itu, maka sudah dapat dipastikan sebagian besar – kalau tidak boleh dikatakan seluruhnya—produk lembaga peradilan tidak mencerminkan rasa keadilan dan kepastian hukum, karena disinyalir ada ―main mata‖ di antara aparat penegak hukum dengan pihak pencari keadilan. Permainan semacam ini akan memperburuk bahkan mempercepat proses pembusukan lembaga peradilan, yang pada gilirannya akan menumbuhkan sikap antipati kepercayaan masyarakat –termasuk saksi—kepada lembaga peradilan. Akhirnya, peran serta masyarakat dalam penegakan hukum pidana (dengan antara lain menjadi saksi dan atau pelapor) akan semakin rendah.

IX. EKSAMINASI PUTUSAN PENGADILAN Berkaitan dengan merosotnya wibawa pengadilan dan maraknya judicial corruption di masyarakat, belakangan ini telah lahir suatu gerakan sosial dalam bentuk eksaminasi80 yang
78

Ibid. Penelitian ICW tahun 2001 di beberapa daerah di Indonesia (Jakarta, Medan, Makassar, Samarinda, dan Yogyakarta) berhasil membuktikan betapa suburnya praktek Judicial Corruption di lingkungan peradilan. Lihat juga: Humphrey R. Djemat dan Darwin Aritonang (Asosiasi Advokat Indonesia). Korupsi di Mahkamah Agung. Majalah Ombudsman. Edisi No. 7/Th. VI/Okt-Nov 2005. Hal. 7. 79 Ibid. Hal.xii-xiii. 80 Istilah eksaminasi berasal dari bahasa Inggris yaitu examination yang berarti ujian atau pemeriksaan. Apabila dihubungkan dengan konteks eksaminasi terhadap produk peradilan, maka eksaminasi berarti melakukan pengujian atau pemeriksaan terhadap produk-produk peradilan. Tujuan eksaminasi secara umum adalah melakukan pengawasan terhadap produk-produk peradilan yang dihasilkan oleh aparat peradilan. Pengawasan ini dilakukan dengan asumsi bahwa banyak produk peradilan yang menyimpang baik secara materiil maupun formil, sehingga perlu kajian tersendiri terhadap produk peradilan yang dihasilkan.Juga karena maraknya judicial corruption dan pengawasan yang ada di setiap lembaga (internal control) tidak berfungsi dengan baik Sedangkan tujuan spesifiknya adalah untuk menguji apakah suatu pertimbangan putusan peradilan sudah sesuai dengan kaidah penerapan hukum yang baik dan benar berdasarkan ilmu pengetahuan hukum, dan apakah sudah sesuai dengan hukum formil dan hukum materiil,

76

Jurnal Hukum Justisssica | Vol. 5 | Juni 2011

ditujukan terhadap produk-produk peradilan yang dihasilkan oleh aparat-aparat peradilan (dakwaan, tuntutan, putusan pengadilan, dan sebagainya), khususnya produk peradilan yang dinilai menyimpang. Tidak hanya eksaminasi --yang bersifat partikelir—saja yang keberadaannya dimaksudkan untuk mengawasi produk peradilan, sekarang sudah dibentuk Komisi Yudisial sebagaimana telah diamanatkan oleh Pasal 24 B ayat (1) UUD 1945, bahwa Komisi Yudisial adalah ―lembaga yang bersifat mandiri dan berwenang mengusulkan pengangkatan hakim agung dan mempunyai wewenang lain dalam rangka menjaga dan menegakkan kehormatan, keluhuran martabat, serta perilaku hakim‖. 81

X.

PELAKSANAAN PUTUSAN PENGADILAN (EKSEKUSI)

Pada dasarnya, putusan pengadilan harus dilaksanakan (eksekusi) 82 apabila putusan itu telah memperoleh kekuatan hukum tetap, akan tetapi dalam perkara tertentu dimungkinkan adanya pengecualian. Artinya, walaupun putusannya belum mempunyai kepastian hukum tetap, sudah dapat dilaksanakan terlebih dahulu. Ketentuan yang mengatur tentang eksekusi ini antara lain Pasal 270 sampai 276 KUHAP. Pasal 270 KUHAP menyatakan: ―pelaksanaan putusan pengadilan yang telah mempunyai kekuatan hukum tetap dilakukan oleh jaksa, yang untuk itu panitera mengirimkan salinan surat putusan kepadanya.” Untuk menjamin bahwa putusan pengadilan yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap (inkrach van gewijsde) dilaksanakan sebagaimana mestinya oleh jaksa, maka diangkatlah hakim pengawas dan pengamat di setiap pengadilan negeri. 83 Tentang keberadaan dan fungsi hakim pengawas dan pengamat ini telah diatur lebih lanjut dalam Pasal 277 sampai 283 KUHAP.

serta prinsip-prinsip legal justice, moral justice dan social justice. Lihat dalam: ICW dan BCW. Op-cit. Hal. vii-viii. Tentang bagaimana eksaminasi itu dilaksanakan, lihat: Wasingatu Zakiayah, Emerson Yuntho, dan Aris Purnomo. (2003). Panduan Eksaminasi Publik. Jaklarta: ICW – USAID – The Asia Foundation. Lihat juga: (2003). Eksaminasi Pubik Perkara yayasan Pendidikan Kerja Sama (YPKS). Jakarta: ICWICM- The Asia Foundation.. 81 Dalam UU No. 22 tahun 2004 tentang Komisi Yudisial, kewenangan melakukan pengawasan perilaku hakim diatur dalam Pasal 20 meliputi : 1) menerima laporan masyarakat; 2) meminta laporan secara berkala badan peradilan tentang perilaku hakim; 3) melakukan pemeriksaan; 4) memanggil dan meminta keterangan dari hakim yang diduga melanggar kode etik; dan 5) membuat laporan hasil pemeriksaan yang berupa rekomendasi dan disampaikan kepada Mahkamah Agung dan/atau Mahkamah Konstitusi, serta tindakannya disampaikan kepada Presiden dan DPR. Rekomendasi dimaksud bersifat mengikat dan isinya usul penjatuhan sanksi berupa: teguran tertulis; pemberhentian sementara; atau pemberhentian. Lihat: Firmansyah Arifin. 2006. Pemerintahan dan Warga Negara. Dalam buku Panduan Bantuan Hukum di Indonesia, Edisi 2006. Jakarta : YLBHI – PSHK. Hal. 340-341. 82 J.C.T. Simorangkir, Erwin T. Rudy, Prasetyo J.T. (1980). Kamus Hukum. Jakarta: Aksara Baru. Hal. 52. ―Eksekusi adalah pelaksanaan dari putusan pengadilan”. 83 Lihat Pasal 277 KUHAP yang berbunyi:
Jurnal Hukum Justisssica | Vol. 5 | Juni 2011

77

XI. PERANSERTA MASYARAKAT DALAM PENEGAKAN HUKUM PIDANA Secara konseptual, peran serta masyarakat dapat dilihat dari berbagai bentuk dan pandangan. Dari segi kualitas dapat dilihat dalam bentuk sebagai berikut: 84 a) Peran serta sebagai kebijaksanaan; b) Peran serta sebagai strategi; c) Peran serta sebagai komunikasi; d) Peran serta sebagai media pemecahan publik; e) Peran serta sebagai terapi sosial. Sementara itu Lothar Gundling mengemukakan beberapa dasar bagi peran serta masyarakat sebagai berikut:85 a. Memberi informasi kepada pemerintah; b. Meningkatkan kesediaan masyarakat untuk menerima keputusan; c. Membantu perlindungan hukum; c. Mendemokrasikan pengambilan keputusan. Dalam konteks penegakan hukum pidana, dengan mendasarkan pada pandangan Lothar Gundling di atas, maka (anggota ) masyarakat sudah dapat berperanserta dalam penegakan hukum pidana, sejak saat perumusan atau formulasi gagasan atau ide dalam bidang hukum pidana dengan memberikan masukan-masukan pada saat undang-undang itu akan ditetapkan, dengan mendorong lembaga legislatif agar menenpuh cara-cara yang demokratis dalam pengambilan keputusan, turut aktif mensosialisasikan kebijakan legislaitif yang telah diambil agar masyarakat menerima kebijakan tersebut, ikut mengawasi berlakunya kebijakan legislatif itu dalam masyarakat, mendorong dilakukannya usaha-usaha penegakan hukum terhadap para pelanggar, misalnya dengan menjadi saksi dalam perkara tersebut. Peran masyarakat dalam penegakan hukum pidana sangatlah besar, hal ini dikarenakan sistem peradilan pidana berlangsung melalui tiga komponen dasar sistem, yaitu substansi, merupakan hasil atau produk sistem (KUHP, KUHAP, dll), struktur, yaitu lembaga-lembaga dalam sistem hukum yang terdiri dari Kepolisian, Kejaksaan, Pengadilan, Advokat/penasehat hukum, dan Lembaga Pemasyarakatan, dan kultur yaitu bagaimana sistem itu akan diberdayakan. Jadi kultur merupakan penggerak atau bensin dari sistem peradilan pidana. Pada sub sistem terakhir inilah peranan anggota masyarakat menjadi sangat penting dalam penegakan hukum pidana. Kultur masyarakat akan menentukan tingkat peranserta masyarakat dapat berpartisipasi dalam penegakan hukum pidana, khususnya untuk kesediannya menjadi saksi dalam proses peradilan pidana.

1)Pada setiap pengadilan harus ada hakim yang diberi tugas khusus untuk membantu ketua dalam melakukan pengawasan dan pengamatan terhadap putusan pengadilan yang menjatuhkan pidana perampasan kemerdekaan. 2)Hakim sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) yang disebut hakim pengawas dan pengamat, ditunjuk oleh ketua pengadilan untuk paling lama dua tahun. 84 Koesnadi Hardjasoemantri. (1991). Hukum Tata Lingkungan. Yogyakarta: Gajah Mada University Press. Hal. 60. 85 Ibid, Hal. 132.

78

Jurnal Hukum Justisssica | Vol. 5 | Juni 2011

Daftar Pustaka
 Arifin, Firmansyah. (2006). Pemerintahan dan Warga Negara. Dalam buku Panduan Bantuan Hukum di Indonesia, Edisi 2006. Jakarta : YLBHI – PSHK.  Andi, Hamzah. (1985). Perlindungan Hak-Hak Asasi Manusia dalam KUHAP. Jakarta: Binacipta.  Atmasasmita, Romli. (1996). Sistem Peradilan Pidana, Perspektif Eksistensialisme dan Abolisionisme. Jakarta: Bina Cipta.  Chazawi, Adami. (2006). Kemahiran dan Ketrampilan Praktik Hukum Pidana. Malang: Bayumedia.  DM, Sunarto. (2005). Alternatif Meminimalisasi Pelanggaran HAM dalam Penegakan Hukum Pidana. dalam Muladi (Edt.).  Faal, M.. (1991). Penyaringan Perkara Pidana oleh Polisi (Diskresi Kepolisian). Jakarta: PT. Pradnya Paramita.  Fuady, Munir. (2003). Aliran Hukum Kritis, Paradigma Ketidakberdayaan Hukum. Bandung: Citra Aditya Bakti.  Susanto, Anthon. (2004). Wajah Peradilan Kita. Bandung: PT.Refika Aditama.  Hartono, Rudi. (2003). Kewenangan Kepolisian Menurut KUHAP dalam Perspektif HAM. Makalah Semiloka: KUHAP dan Jalan Menuju Fair Trial “Victim Protection”. LBH Yogyakarta. 24 Juli 2003.  Hanitijo Soemitro, Ronny dalam Satjipto Rahardjo (Penyunting). (1981). Hukum Dalam Perspektif Sosial. Bandung: Alumni.  Hardjasoemantri, Koesnadi. (1991). Hukum Tata Lingkungan. Yogyakarta: Gajah Mada University Press.  Harahap, M.Yahya. (2002). Pembahasan Permasalahan,dan Penerapan KUHAP, Penyidikan dan Penuntutan. Jakarta: PT Sinar Grafika.  ICW dan BCW. (2003). Peradilan Dagelan. Jakarta: ICW-BCW.  Munir Fuady. (2005). Prosesi Mulia (Etika Profesi bagi Hakim, Jaksa, Advokat, Notaris, Kurator, dan Pengurus). Bandung: Citra Aditya Bakti.  Mertokusumo, Sudikno. (1999). Mengenal Hukum Suatu Pengantar. Yogyakarta: Liberty.  Manan, Bagir. (2005). Sistem Peradilan Berwibawa (Suatu Pencarian). Yogyakarta: FH UII Press.  Nawawi Arief, Barda. (1999). Kebijakan Pengembangan Peradilan. Makalah Seminar Nasional: Reformasi Sistem Peradilan (Dalam Menanggulangi Mafia Peradilan di Indonesia). Fakultas Hukum UNDIP Semarang. 6 Maret 1999.  Rahardjo, Satjipto. (1993). Masalah Penegakan Hukum Suatu Tinjauan Sosiologis. Jakarta: Badan Pembinaan Hukum Nasional Departemen Kehakiman.  Seno Adji, Indriyanto. (1998). Penyiksaan dan HAM Dalam Perspektif KUHAP. Jakarta: Pustaka Sinar Harapan.  Soekanto, Soerjono. (2002). Faktor-faktor yang Mempengaruhi Penegakan Hukum. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.  Sujata, Antonius. (2000). Reformasi Dalam Penegakan Hukum. Jakarta: Jambatan.  Surachman, R. M.. (1995). Jaksa di Berbagai Negara: Peranan dan kedudukannya. Jakarta: Sinar Grafika.
Jurnal Hukum Justisssica | Vol. 5 | Juni 2011

79

 Zakiayah Wasingatu, Emerson Yuntho, dan Aris Purnomo. (2003). Panduan Eksaminasi Publik. Jakarta: ICW – USAID – The Asia Foundation.  Simorangkir, J.C.T., Erwin T. Rudy, Prasetyo J.T. (1980). Kamus Hukum. Jakarta: Aksara Baru.  Reksodipoetro, Mardjono. (1993). Sistem Peradilan Pidana Indonsia, Melihat pada Kejahatan dan Penegakan Hukum dalam Batas-batas Toleransi. Pidato Pengukuhan Penerimaan Jabatan Guru Besar Tetap dalam Ilmu Hukum pada Fakultas Hukum Universitas Indonesia. Jakarta.  Djemat R, Humphrey dan Darwin Aritonang (Asosiasi Advokat Indonesia). Korupsi di Mahkamah Agung. Majalah Ombudsman. Edisi No. 7/Th. VI/Okt-Nov 2005.  Undang-Undang Republik Indonesia No. 2 Tahun 2002 tentang Kepolisian Negara Republik Indonesia

----

----

80

Jurnal Hukum Justisssica | Vol. 5 | Juni 2011

Profil Penulis
Ayunning Tyas Nilasari, S.H. Lulusan Strata 1 Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Surakarta. Nila adalah eksPemimpin Perusahaan Lembaga Pers Mahasiswa Justissica Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Surakarta. Sulistyawati Antariksih Mahasiswi angkatan 2008 Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Surakarta. Saat ini aktif sebagai anggota Dewan Perwakilan Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Surakarta. Sulistyawati adalah mantan Menteri Kesejahteraan Mahasiswa Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Surakarta. Jafar Sodiq Mahasiswa angkatan 2008 Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Surakarta. Kini aktif sebagai Pemimpin Umum Lembaga Pers Mahasiswa Justissica Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Surakarta. Eks- Koordinator Mentoring Al – Islam dan Kemuhammadiyahan Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Surakarta 2009/2010. Selvia Artha Diva Mahasiswi Angkatan 2010 Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Surakarta. Saat ini aktif sebagai anggota Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Surakarta. Agustin Dwi Ria Mahardika Mahasiswi angkatan 2009 Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Surakarta. Kini aktif sebagai Ketua Bidang Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Komisariat Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Surakarta. Retno Eko Mardani Mahasiswi angkatan 2009 Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Surakarta. Kini aktif sebagai Pengurus Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Komisariat Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Surakarta. Nurrahman Sukiman Mahasiswa angkatan 2007 Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Surakarta. Kini aktif sebagai Koordinator Mentoring Al – Islam dan Kemuhammadiyahan Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Surakarta. Nurahman adalah mantan Sekertaris Umum Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Komisariat Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Surakarta. Kuswardani, S.H., M.Hum. Dosen Fakultas Hukum bidang Ilmu Sosial dan Pidana. Saat ini juga menjabat sebagai Wakil Dekan III (Bagian Kemahasiswaan) Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Surakarta.
Jurnal Hukum Justisssica | Vol. 5 | Juni 2011

81

Muchamad Iksan, S.H. M.H. Dosen Fakultas Hukum bidang Pidana. Saat ini juga menjabat sebagai Dekan Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Surakarta.

----

----

82

Jurnal Hukum Justisssica | Vol. 5 | Juni 2011

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->