BAB I PENDAHULUAN Al-Qur'an dan hadits Nabi Muhammad saw. diyakini oleh umat Islam sebagai sumber pokok ajaran Islam. Seluruh ayat yang terhimpun dalam mushhaf al-Qur'an tidak dipermasalahkan oleh umat Islam dalam periwayatannya sehingga kajian yang dilakukan oleh umat Islam terhadap al-Qur'an adalah terkait dengan kandungan dan aplikasinya, serta yang berhubungan dengannya.1 Lain halnya dengan hadits Nabi, yang dikaji tidak hanya kandungan dan aplikasi petunjuknya, serta yang berhubungan dengannya saja, melainkan juga periwayatannya. Kajian terhadap hadits ini, selanjutnya, seringkali dikenal sebagai naqd al-hadits (kritik hadits). Kritik hadits pada dasarnya bertujuan untuk menguji dan manganalisis secara kritis apakah fakta sejarah kehaditsan itu dapat dibuktikan, termasuk komposisi kalimat yang terekspos dalam ungkapan matan. Hasjim Abbas. Kritik Matan Hadis: Versi Muhaddisin dan Fuqaha. (Yogyakarta: Teras. 2004), Cet. Ke-1, hlm.iii. 1 1 BAB II PEMBAHASAN PERIODE PENGEMBANGAN MATAN HADIST A. Pengertian Matan Hadist Kata dasar matn dalam bahasa Arab berarti "punggung jalan" atau "bagian tanah yang keras dan menonjol ke atas." Apabila dirangkai menjadi matn al-hadits, menurut al-Thiby, seperti yang dinukil al-Dumainy, adalah: "Kata-kata hadits yang dengannya terbentuk makna-makna."2 Definisi ini sejalan dengan pandangan Ibn al-Atsir al-Jazari, bahwa setiap matan hadits tersusun atas elemen lafal (teks) dan elemen makna (konsep). Dengan demikian, komposisi ungkapan matan hadits pada hakikatnya adalah pencerminan konsep idea yang intinya dirumuskan berbentuk teks. Susunan kalimat dalam matan hadits berfungsi sebagai sarana perumus konsep keagamaan versi hadits. Teks matan disebut juga nashsh alhadits atau nash al-riwayah. Tata letak matan dalam struktur utuh penyajian hadits senantiasa jatuh setelah ujung terakhir sanad. Kebijakan peletakan itu menunjuk fungsi sanad sebagai pengantar data mengenai sejarah transfer informasi hadits dari nara sumbernya. B. Perkembangan Matan Hadits Untuk kepentingan penelitian terhadap hadits, ulama hadits menetapkan lima syarat yang harus dipenuhi oleh suatu hadits; sanad-nya bersambung (muttashil), periwayatnya adil (‘adl), dhabith, tidak terdapat kejanggalan (syudzudz), dan tidak Suryadi. Metode Kontemporer Memahami Hadis Nabi: Perspektif Muhammad al-Ghazali dan Yusup al-Qaradhawi. (Yogyakarta: Teras, 2008), Cet. Ke-1, hlm. 14. 2 2 terdapat cacat (‘illah).3 Tiga syarat pertama berkaitan dengan sanad, dan dua syarat terakhir, di samping berkaitan dengan sanad, juga berkenaan dengan matan. Mayoritas ulama hadits menyepakati lima hal tersebut sebagai syarat yang harus dipenuhi dalam menetapkan ke-shahih-an sebuah hadits4. 1. Periode Masa Sahabat Secara historis, sesungguhnya kritik atau seleksi (matan) hadis dalam arti upaya untuk membedakan antara yang benar dan yang salah telah ada dan dimulai pada masa Nabi masih hidup meskipun dalam bentuk yang sederhana Pada periode sahabat menurut pengamatan Al-Hakim (w. 405 h. )dan al-Dzahabi (w. 748 h) adalah Abu Bakar al-Shiddiq (w. 13 h) sebagai tokoh perintis pemberlakuan uji kebenara pemberlakuan hadits. Motif utama penerapan kritik hadits adalah dalam rangka melindungi agar tidak terjadi kedustaan dengan mengatasnamakan Rasulullah Saw. Motif seperti itu terungkap pada pernyataan Umar Ibn Khatab kepada Abu Musa al-Az'ari: "Saya sesungguhnya tidak mencurigai kamu, akan tetapi saya khawatir orang (dengan seenaknya) memperkatakan sesuatu atas nama Rasulullah Saw. Kaidah Kritik lebih tertuju pada uji kebenaran bahwa Rasulullah benar-benar menginformasikan hadits tersebut. Namun apabila ada seorang sahabat yang meriwayatkan hadits dengan kalimat yang berbeda namun semakna (Syahid al-Hadits) maka cara yang dilakukan cukup meminta agar sahabat periwayat hadits berhasil mendatangkan sahabat lain (sebagai 3 Abdullah Affandi, Kritik dan Matan Hadist, Diakses pada tanggal 10 Oktober 2011 melalui situs : http://sukasqh.multiply.com/journal/item/2/Kritik_Matan_Hadits_Tradisi_Muhad ditsin 4 Alfatih Suryadilaga. Aplikasi Penelitian Hadis: Dari Teks ke Konteks. (Yogyakarta: Teras. 2009), Cet. Ke- 1, hlm. 2. 3 riwayat pendukung) yang memberikan kebenaran atas hadits Nabawi berkesan yang ia beritakan. akan Langkah metodologis tidak tersebut bersedia seakan kalangan sahabat menerima informasi hadits kecuali dibuktikan minimal oleh dua orang yang sama-sama menerima hadits tersebut dari Rasulullah Saw.5 2. Periode Tabi'in Pada periode pasca sahabat, mulai ditandai dengan penyebaran hadis yang semakin banyak dan meluas, dan banyak bermunculan (matan-matan)} hadis palsu (maudu’). Menanggapi keadaan seperti itu, bangkitlah para ulama untuk melakukan kritik atau seleksi guna menentukan hadis-hadis yang benarbenar berasal dari Nabi. Integritas keagamaan pembawa berita hadits mulai diteliti sejak terjadi fitnah, yakni peristiwa terbunuhnya Usman bin Affan yang berlanjut dengan kejadian-kejadianlain sesudahnya. Fitnah tersebut melahirkan berbagai pertentangan yang tajam di antara umat Islam, sehingga keutuhan umat islam menjadi terpecah. Pemuka aliran sekterian itu memanfaatkan institusi hadits sebagai propaganda dan upaya membentuk umat dengan cara membuat hadits-hadits palsu. Fakta pemalsuan itu membangkitkan kesadaran Muhaditsin untuk melembagakan sanad sebagai alat kontrol periwayatan hadits sekaligus mencermati kecenderungan sikap keagamaan dan politik orang per-orang yang menjadi mata rantai riwayat itu. Dalam rangka mengimbangi pelembagaan sanad maka lahirlah kegiatan Jar wa-ta'dil. Kegiatan Jarh wata'dil menurut 5 pengamatan al-Dzahabi (w. 784 h) telah Jo sans, Kritik MatanHadis, Diakses pada tanggal, 10 oktober 2011 melalui situs : http://sanstri.blogspot.com/2009/04/kritik-matan-hadits.html 4 melibatkan 715 kritikus. Data itu cukup mengisyaratkan bahwa penalsuan hadits tak terbendung dan berlangsung dalam waktu yang lama (21 generasi) serta bertempat di banyak daerah. Sekalipun Kritik sanad telah memperoleh perhatian yang besar di kalangan muhaddits generasi tabi'in, bukan berarti tradisi kritik matan di hentikan, bahkan penerapan metode mu'aradhah (pencocokan) semakin diperluas jangkauannya. Sebagai bukti ketika Kuraib (seoarang murid Ibnu Abbas) membawa hadits tentang pembetulan posisi berdiri Abdullah bin Abbas berada di samping Nabi Saw saat makmum shalat malam di kediaman Maimunah, menurut penuturan Imam Muslim bin alHajaj (w 261 h) dalam al-Tamyiz telah di upayakan uji kebenaran redaksi matanya dengan melibatkan empat orang murid kuraib dan sembilan murid hadits Ibnu Abbas yang seangkatan masa belajarnya dengan kuraib. Dari cara Mu'aradhah itu diperoleh kepastian bahwa Nabi Saw memposisikan sikap berdiri Ibnu Abbas selaku makmum tunggal di samping kanan badan Nabi Saw. Dengan hasil akhir seperti itu, ungkapan matan yang melalui Yazid bin Ali Zinad dari khuraib dinyatakan lemah (maghlub). Demikian pula kritik asal makna (konsep ajaran) yang dikandung matan hadits makin berfariasi kaedah yang di terapkan. Perkembangan Kritik Matan Hadits bergerak melalui spesialisasi keilmuan dan kecenderungan pemikir hadits. Ulama hadits yang menekuni keahlian bahasa mencermati dan memperbandingkan bahasa (gaya bahasa) teks matan hadits yang bersifat Qauliy dengan ukuran bahasa tutur Nabi Saw dalam komunikasi sehari-hari yang dikenal sanggat fasih. Ulama Hadits denga spesialisasi pendalaman konsep doktrinal memperbandingkanya dengan konsep kandungan 5 sesama hadits (sunah) dan dengan al-Quran. Kritik oleh muhadits yang membidangi akidah dan mutakalimin terfokus pada haditshadits bermateri sifat-sifat Allah dan materi alam gaib dengan kaedah menyikapi gejala kemuskilan. Kritikus hadits generasi mutakhir sibuk merespon sikap keragu-raguan ajaran hadits dalam memahami dinamika dan ilmu mengoperasionalkan pengetahuan dan berhubung teknologi serta kecenderungan bersikap kritis umat masa kini. C. Tolak Ukur Kritik Matan Dalam penelitian terhadap matan hadits, tolak ukur yang digunakan muhadditsin untuk menentukan bahwa suatu matan hadits tersebut maqbul (diterima) atau mardud (ditolak) adalah tidak seragam. Al-Khathib al-Baghdady misalnya, beliau menjelaskan bahwa matan hadits yang maqbul haruslah: 1) tidak bertentangan dengan akal sehat, 2) tidak bertentangan dengan hukum al-Qur'an yang telah muhkam, 3) tidak bertentangan dengan hadits mutawatir, 4) tidak bertentangan dengan amalan yang telah menjadi dengan kesepakatan dalil yang ulama sudah salaf, pasti, 5) 6) tidak tidak bertentangan bertentangan dengan hadits ahad yang kualitas kesahihannya lebih kuat. Menurut Syuhudi Ismail, tolak ukur yang disampaikan al-Khathib tersebut tampaknya masih tumpang tindih. Selain itu, masih ada tolak ukur penting yang tidak disebutkan, misalnya tentang susunan bahasa dan fakta sejarah. Menurut Shalah al-Din al-Adlabi, pokok-pokok tolak ukur penelitian matan hadits ada empat macam, yakni: 1) tidak bertentangan dengan petunjuk al-Qur'an, 2) tidak bertentangan dengan hadits yang kualitasnya lebih kuat, 3) tidak bertentangan 6 dengan akal sehat, indera dan sejarah, 4) susunan pernyataannya menunjukkan ciri-ciri sabda kenabian. D. Metode Apresiatif Untuk mendeteksi Matan Hadits Dilihat dari objek kritiknya, model kritik teks/matan hadis Nabi dapat dibagi menjadi dua macam : 1. Metode Kritik Matan Hadits prakodifikasi. Dari berbagai teknik dalam kritik matan hadis periode ini secara umum dapat dikategorikan Di memakai antara metode perbandingan (comparative). teknik-teknik perbandingan yang tercatat pernah dipraktikkan adalah dengan teknik sebagai berikut: Membandingkan matan hadis dengan ayat al-Qur’an yang berkaitan. - Membandingkan (matan-matan) hadis dalam dokumen tertulis dengan hadis-hadis yang disampaikan dari hafalan. Perbandingan antara pernyataan dari seorang periwayat yang disampaikan pada waktu yang berlainan. Membandingkan hadis-hadis dari beberapa murid yang mereka terima dari satu guru. Melakukan rujuk silang antara satu periwayat dengan periwayat lainnya. 2. Metode kritik matan hadis pasca kodifikasi. Seperti halnya kritik matan hadis pra kodifikasi, untuk kritik matan pasca kodifikasi pun metode perbandingan tetap masih dominan dan relevan, hanya saja teknik-tekniknya perlu disesuaikan sebagaimana telah disinggung sebelumnya. Secara rinci, dapat diuraikan bahwa teknik kritik matan pada fase ini, 7 termasuk zaman sekarang, dapat dilakukan antara lain dengan teknik sebagai berikut: - Membandingkan matan-matan hadis dengan ayat al-Qur’an yang terkait atau memiliki kedekatan susunan redaksi. Membandingkan antara matan-matan hadis. BAB III PENUTUP Kesimpulan Yang disebut dengan matan hadits ialah pembicaraan (kalam) atau materi berita yang diover oleh beberapa sanad, baik pembicaraan itu berasal dari sabda Rasulullah saw., sahabat, ataupun tabi'in; baik isi pembicaraan itu tentang perbuatan Nabi maupun perbuatan sahabat yang tidak disanggah oleh Nabi. Untuk kepentingan penelitian terhadap hadits, ulama hadits menetapkan lima syarat yang harus dipenuhi oleh suatu hadits; sanad-nya bersambung (muttashil), periwayatnya adil (‘adl), dhabith, tidak terdapat kejanggalan (syudzudz), dan tidak terdapat cacat (‘illah). Secara historis, sesungguhnya kritik atau seleksi (matan) hadis dalam arti upaya untuk membedakan antara yang benar dan yang salah telah ada dan dimulai pada masa Nabi masih hidup meskipun dalam bentuk yang sederhana Kaidah Kritik lebih tertuju pada uji kebenaran bahwa Rasulullah benar-benar menginformasikan hadits tersebut Pada periode pasca sahabat, mulai ditandai dengan penyebaran hadis yang semakin banyak dan meluas, dan banyak bermunculan (matan-matan)} hadis palsu (maudu’). Menanggapi keadaan seperti itu, bangkitlah para ulama untuk melakukan kritik atau 8 seleksi guna menentukan hadis-hadis yang benar-benar berasal dari Nabi. pokok-pokok tolak ukur penelitian matan hadits ada empat macam, yakni: 1) tidak bertentangan dengan petunjuk alQur'an, 2) tidak bertentangan dengan hadits yang kualitasnya lebih kuat, 3) tidak bertentangan dengan akal sehat, indera dan sejarah, 4) susunan pernyataannya menunjukkan ciri-ciri sabda kenabian. DAFTAR PUSTAKA Abbas, Hasjim, 2004, Kritik Matan Hadis: Versi Muhaddisin dan Fuqaha, Yogyakarta: Tera Suryadi, 2008, Metode Kontemporer Memahami Hadis Nabi: Perspektif Muhammad al-Ghazali dan Yusup al-Qaradhawi. Yogyakarta: Teras Suryadilaga, Alfatih, 2009, Aplikasi Penelitian Hadis: Dari Teks ke Konteks. Yogyakarta: Teras Tengku, As Shiddieqy, Muhammad Hasbi, Prof., DR., “Sejarah dan Pengantar Ilmu Hadis”. Semarang : PT. Pustaka Rizki Putra, 1992. Yuslem, Nawir, DR., MA. “Ilmu Hadis”. Jakarta : PT. Mutiara Sumber Widya, 1998. Supatra, Munzier, Drs., MA. “Ilmu Hadis”. Jakarta : PT. Raja Grafindo Persada. 2008 http://sukasqh.multiply.com/journal/item/2/Kritik_Matan_Hadits_T radisi_Muhadditsin http://sanstri.blogspot.com/2009/04/kritik-matan-hadits.html 9 10
Sign up to vote on this title
UsefulNot useful