P. 1
an Dan Macam Model - Model Pembelajaran

an Dan Macam Model - Model Pembelajaran

|Views: 4,118|Likes:
Published by Andy Junior

More info:

Published by: Andy Junior on Nov 09, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

04/03/2013

pdf

text

original

Sections

  • 1.1 LATAR BELAKANG
  • 1.2RUMUSAN MASALAH
  • 1.3TUJUAN
  • 2.1.PENGERTIAN PENDEKATAN, STRATEGI, METODE, TEKNIK DAN MODEL PEMBELAJARAN
  • 2.2.1.1. Model Pembelajaran Mandiri
  • 2.2.2.1.Model pembelajaran menggunakan Metode Eksperimen
  • 2.2.3Pendekatan Lingkungan
  • 2.2.4Pendekatan Tematik (Thematic Approach)
  • 2.2.5Pendekatan Sains, Tekhnologi dan Masyarakat
  • 2.2.6Pendekatan Konstektual
  • 2.2.7Pendekatan Kontruktivisme
  • 2.2.8.1. Direct instruction ( pengajaran langsung)
  • 2.2.9.1KONSEP DASAR PEMBELAJARAN KOOPERATIF
  • 2.2.9.2KARAKTERISTIK MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF
  • 2.2.9.3PROSEDUR PEMBELAJARAN KOOPERATIF
  • 2.2.9.4.1Model Pembelajaran Jigsaw
  • 2.2.9.4.2Investigasi Kelompok (Group Investigation)
  • 2.2.9.4.3Model Student Teams Achievement Division (STAD)
  • 2.2.9.4.4Model Make a Match (Membuat Pasangan)
  • 2.2.9.4.5Model TGT (Teams Games Tournaments)
  • 2.2.9.4.6Model Role Playing
  • 2.2.9.4.7Metode Think Pair and Share
  • 3.Pendekatan Deduktif – Induktif a.Pendekatan Deduktif

BAB I PENDAHULUAN 1.

1 LATAR BELAKANG Dalam rangka mewujudkan tatanan pendidikan yang mandiri dan berkualitas sebagai mana diatur dalam UU No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, perlu dilakukan berbagai upaya strategis dan integral yang menunjang penyelenggaraan pendidikan kesempatan memperoleh pendidikan yang berkualitas berlaku untuk semua, mulai dari usia dini sampai jenjang

pendidikan yang tinggi, tanpa ada diskriminasi. Hal ini sejalan dengan pernyataan Salamanca tentang pendidikan inklusif, yaitu tanpa partisipasi aktif dari semua pihak, tentunya sulit mewujudkan hasil pendidikan yang berkualitas. Oleh karena itu upaya peningkatan kualitas harus dilakukan. Kurikulum adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai isi dan bahan pembelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan belajar mengajar. Kita semua tahu bahwa mulai tahun Ajaran 2006-2007 di Indonesia telah diberlakukan kurikulum baru yaitu kurikulum 2006 atau Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). Dengan diberlakukan KTSP ini secara bertahap, membuktikan bahwa dunia pendidikan di Indonesia telah mengalami pergantian. Pengembangan kurikulum ini tentu saja perlu di imbangi dengan pengembangan perangkat kerja lainnya, sehingga tercipta suasana pembelajaran yang kondusif. Untuk itu guru harus dapat mengambil keputusan yang tepat ketika peserta didik belum dapat membentuk kompetensi dasar seperti yang di inginkan,

1

untuk itu guru harus memiliki kemampuan mengembangkan model - model pembelajaran yang efektif, sehingga hasil pembelajaran dapat di tingkatkan. Pendidikan di sekolah terlalu menjejali otak anak dengan berbagai bahan ajar yang harus dihafal, pendidikan kita tidak diarahkan untuk membangun dan mengembangkan karakter serta potensi yang dimiliki, dengan kata lain, proses pendidikan kita tidak pernah diarahkan maslah hidup, serta tidak diarahkan untuk membentuk manusia yang kreatif dan inovatif. Salah satu masalah yang dihadapi dunia pendidikan kita adalah masalah lemahnya proses pembelajaran. Dalam proses pembelajaran, anak kurang didorong untuk mengembangkan kemampuan berpikir. Proses pembelajaran di dalam kelas diarahkan kepada kemampuan anak untuk menghafal informasi ; otak anak dipaksa untuk mengingat dan menimbun berbagai informasi tanpa dituntut untuk memahami informasi yang diingatnya itu untuk menghubungkannya dengan kehidupan sehari – hari. Akibatnya ketika anak didik kita lulus dari sekolah, mereka pintar secara teoritis, tetapi mereka miskin aplikasi. Menyampaikan bahan pelajaran berarti melaksanakan beberapa kegiatan, tetapi kegiatan itu tidak ada gunanya jika tidak mengarah pada tujuan tertentu. Artinya seorang pengajar harus mempunyai tujuan dalam kegiatan pengajarannya, karena itu setiap pengajar menginginkan pengajarannya diterima sejelas – jelasnya oleh para peserta didiknya. Menurut Sagala (2010:173) Untuk mengerti suatu hal dalam diri seseorang terjadi suatu proses yang disebut sebagai proses belajar melalui model – model mengajar yang sesuai dengan;kebutuhan proses belajar itu dengan baik, pengajar harus mengetahui bagaimana model dan proses

2

pembelajaran itu berlangsung. Selama ini metode yang sangat dominan digunakan dalam proses belajar mengajar adalah ceramah dan pemberian tugas. Sangat jarang dijumpai guru menggunakan model pembelajaran yang aktif dan kreatif. Teori perkembangan mental Piaget yang biasa juga disebut teori perkembangan intelektual atau teori perkembangan kognitif bahwa setiap tahap perkembangan intelektual dilengkapi dengan ciri – ciri tertentu dalam mengkonstruksi ilmu pengetahuan, (Ahmadi, dkk, 2011:42-43). Dalam proses pembelajaran dikenal beberapa istilah yang memiliki kemiripan makna, sehingga seringkali orang merasa bingung untuk

membedakannya. Istilah-istilah tersebut adalah: (1) pendekatan pembelajaran, (2) strategi pembelajaran, (3) metode pembelajaran; (4) teknik pembelajaran; (5) taktik pembelajaran; dan (6) model pembelajaran (Sudrajat:17.10)

1.2

RUMUSAN MASALAH

Berdasarkan latar belakang diatas, maka penulis merumuskan masalah sebagai berikut: 1. Apakah definisi dari pendekatan pembelajaran, strategi pembelajaran, metode pembelajaran, teknik pembelajaran dan model pembelajaran? 2. 3. Apa sajakah macam-macam pendekatan pembelajaran itu? Apa sajakah macam-macam model pembelajaran itu?

3

Untuk mengetahui macam-macam model-model pembelajaran.1. pembelajaran. teknik pembelajaran dan model Untuk mengetahui macam-macam pendekatan pembelajaran. strategi pembelajaran. metode pembelajaran.3 TUJUAN Berdasarkan atas pokok permasalahan diatas . Untuk mengetahui pengertian pendekatan pembelajaran. 3. 4 . 2. maka tujuan penelitian ini adalah sebagai berikut: 1.

yang merujuk pada pandangan tentang terjadinya suatu proses yang sifatnya masih sangat umum. or series of activities designed to achieves a particular educational goal (rencana. Strategi pembelajaran merupakan rencana tindakan (rangkaian kegiatan) termasuk penggunaan metode dan pemanfaatan berbagai sumber daya/kekuatan dalam pembelajaran. atau serangkaian kegiatan yang dirancang untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu) (J. Oleh karenanya strategi dan metode pembelajaran yang digunakan dapat bersumber atau tergantung dari pendekatan tertentu.1.BAB II PEMBAHASAN 2. Kemp (dalam Sanjaya:2006:126) menjelaskan bahwa strategi pembelajaran adalah suatu kegiatan pembelajaran yang harus dikerjakan guru dan siswa agar tujuan pembelajaran dapat dicapai secara efektif dan efisien. (4) Teknik pembelajran. (2) strategi pembelajaran. Senada dengan pendapat diatas. Strategi disusun untuk mencapai tujuan tertentu. Jadi. TEKNIK DAN MODEL PEMBELAJARAN. 5 . (3) metode pembelajran. Istilah-istilah tersebut adalah: (1) Pendekatan pembelajaran. dengan demikian strategi pembelajaran dapat diartikan sebagai perencanaan yang berisi tentang rangkaian kegiatan yang didesain untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu. Dalam dunia pendidikan. Artinya. PENGERTIAN PENDEKATAN. menginspirasi. danmelatari metode pembelajaran dengan cakupan teoritis tertentu. (5) Taktik pembelajaran. Dalam proses pembelajaran dikenal beberapa istilah yang memiliki kemiripan makna. METODE. method. David dalam Sanjaya 2006:126). R. Dick and Carey juga menyebutkan bahwa strategi pembelajaran itu adalah suatu set materi dan prosedur pembelajaran yang digunakan secara bersama – sama untuk menimbulkan hasil belajar pada siswa. STRATEGI. Istilah pendekatan merujuk kepada pandangan tentang terjadinya suatu proses yang sifatnya masih sangat umum. strategi diartikan sebagai a plan. didalamnya mewadai. metode. dan (6) Model pembelajaran. menguatkan. Pendekatan pembelajaran dapat diartikan sebagai titik tolak atau sudut pandang kita terhadap proses pembelajaran.

(7) brainstorming. Oleh karenanya. 6 . Strategi pembelajaran sifatnya masih konseptual dan untuk mengimplementasikannya digunakan metode pembelajaran. Dengan kata lain. sebelum menentukan strategi. Oleh sebab itu. (3) diskusi.arah dari semua keputusan penyusunan strategi adalah pencapaian tujuan. metode/prosedur dan teknik pembelajaran merupakan bagian dari strategi pembelajaran. untuk melaksanakan strategi ekspositori bisa digunakan metode ceramah sekaligus metode tanya jawab atau bahkan diskusi dengan memanfaatkan sumber daya yang tersedia termasuk menggunakan media pembelajaran. sebab tujuan adalah rohnya dalam implementasi suatu strategi. (4) simulasi. Sedangkan Metode pembelajaran didefinisikan sebagai cara yang digunakan guru. strategi berbeda dengan metode. tetapi mereka menggunakan teknik yang berbeda. strategi merupakan “a plan of operation achieving something” sedangkan metode adalah “a way in achieving something” (Wina Senjaya (2008). pemanfaatan berbagai fasilitas dan sumber belajar semuanya diarahkan dalam upaya pencapaian tujuan. (2) demonstrasi. diantaranya: (1) ceramah. (8) debat. sedangkan teknik adalah cara yang digunakan. (9) simposium. Terdapat beberapa metode pembelajaran yang dapat digunakan untuk mengimplementasikan strategi pembelajaran. Misalnya. Dengan perkataan lain. penyusunan langkah – langkah pembelajaran. (6) pengalaman lapangan. sedangkan metode adalah cara yang dapat digunakan melaksanakan strategi. Sedangkan menurut beberapa ahli yang telah diuraikan terdahulu bahwa strategi pembelajaran harus mengandung penjelasan arti yang lebih luas dari metode dan teknik. yang bersifat implementasi. Artinya. metode yang dipilih oleh masing – masing guru adalah sama. Metode pembelajaran lebih bersifat prosedural. Dengan demikian. (5) laboratorium. Strategi menunjuk pada sebuah perencanaan untuk mencapai sesuatu. dan sebagainya. yaitu berisi tahapan tertentu. perlu dirumuskan tujuan yang jelas yang dapat diukur keberhasilannya. yang dalam menjalankan fungsinya merupakan alat untuk mencapai tujuan pembelajaran.

alat. dengan penggunaan metode diskusi. Pemilihan tersebut dilakukan dengan mempertimbangkan situasi dan kondisi. metode dan teknik pembelajaran sudah terangkai menjadi satu kesatuan yang utuh maka terbentuklah apa yang disebut dengan model pembelajaran. strategi. Jadi. atau pendekatan yang dilakukan oleh seorang guru untuk mencapai tujuan pembelajaran. Selanjutnya metode pembelajaran dijabarkan ke dalam teknik dan gaya pembelajaran. model pembelajaran merupakan bungkus atau bingkai dari penerapan suatu pendekatan. Demikian pula. teknik pembelajaran dapat diartikan sebagai cara yang dilakukan seseorang dalam mengimplementasikan suatu metode secara spesifik. sumber belajar. perlu digunakan teknik yang berbeda pada kelas yang siswanya tergolong aktif dengan kelas yang siswanya tergolong pasif. yang tentunya secara teknis akan berbeda dengan penggunaan metode ceramah pada kelas yang jumlah siswanya terbatas. Misalkan. Dengan kata lain. penggunaan metode ceramah pada kelas dengan jumlah siswa yang relatif banyak membutuhkan teknik tersendiri. guru pun dapat berganti-ganti teknik meskipun dalam koridor metode yang sama.Strategi pembelajaran adalah cara – cara yang akan digunakan oleh pengajar untuk memilih kegiatan belajar yang akan digunakan selama proses pembelajaran. 2007:2) menyatakan bahwa Teknik pembelajaran seringkali disamakan artinya dengan metode pembelajaran. Dalam hal ini. kebutuhan dan karakteristik peserta didik yang dihadapi dalam rangka mencapai tujuan pembelajaran tertentu. atau media yang digunakan oleh guru untuk mengarahkan kegiatan peserta didik ke arah tujuan yang ingin dicapai Apabila antara pendekatan. model pembelajaran pada dasarnya merupakan bentuk pembelajaran yang tergambar dari awal sampai akhir yang disajikan secara khas oleh guru. Pada berbagai situasi proses pembelajaran seringkali digunakan berbagai istilah yang pada dasarnya dimaksudkan untuk menjelaskan cara. dan 7 . atau teknik sering digunakan secara bergantian. Dengan demikian. walaupun pada dasarnya istilah – istilah tersebut memiliki perbedaan satu dengan yang lain. tahapan. metode. Gerlach dan Ely dalam (Hamzah. Istilah strategi. metode. Teknik adalah jalan.

2011: 8) mengemukakan bahwa model pembelajaran adalah kerangka konseptual yang melukiskan prosedur yang sistematik dalam mengorganisasikan pengalaman belajar untuk mencapai tujuan belajar tertentu. kurikulum. pendekatan kontekstual.buku. film. 2.1. dan berfungsi sebagai pedoman bagi para perancang pembelajaran dan para pengajar dalam merencanakan aktivitas belajar mengajar. 2. Selanjutnya Joyce menyatakan bahwa setiap model pembelajaran mengarahkan kita ke dalam mendesain pembelajaran untuk membantu peserta didik sedemikian rupa sehingga tujuan pembelajaran tercapai. dkk. Hal ini penting terutama untuk menciptakan iklim pembelajaran yang kondusif dan menyenangkan. (Mulyasa 2008:9596). MACAM-MACAM PEMBELAJARAN Menjadi guru kreatif.teknik pembelajaran. komputer. Cara guru melakukan suatu kegiatan pembelajaran mungkin memerlukan pendekatan dan metode yang berbeda dengan pembelajaran lainnya. dan pendekatan tematik. kompetensi menunjuk kepada perbuatan (performance) yang bersifat PENDEKATAN BESERTA MODEL 8 . dkk. dan lain – lain (Joyce dalam Ahmadi. Sedikitnya terdapat lima pendekatan pembelajaran yang perlu dipahami guru untuk dapat mengajar dengan baik yaitu : Pendekatan kompetensi. pendekatan lingkungan.2. PENDEKATAN KOMPETENSI Mulyasa (2008:96) mengatakan bahwa ”Kompetensi menunjuk kepada kemampuan melaksanakan sesuatu yang diperoleh melalui pembelajaran dan latihan.2. dan menyenangkan dituntut untuk memiliki kemampuan mengembangkan pendekatan dan memilih metode pembelajaran yang efektif (Mulyasa 2008:95). 2011:8). profesional. Model pembelajaran adalah suatu perencanaan atau suatu pola yang digunakan sebagai pedoman dalam merencanakan pembelajaran di kelas atau pembelajaran dalam tutorial dan untuk menentukan perangkat – perangkat pembelajaran termasuk di dalamnya buku. dkk (dalam Ahmadi. pendekatan keterampilan proses. Adapun Soekamto.

attitudes. adanya pergeseran dari pembelajaran kelompok ke arah pembelajaran individual. Implikasi terhadap pembelajaran adalah sebagai berikut.dalam pembelajaran perlu diberikan waktu yang cukup. Pertama. sikap. Pertama. Kedua. pengembangan konsep belajar tuntas (master learning) atau belajar sebagai penguasaan (learning for mastery) adalah suatu falsafah tentang pembelajaran yang mengatakan bahwa dengan sistem pembelajaran yang tepat semua peserta didik akan dapat belajar dengan hasil yang baik dari seluruh bahan yang diberikan. Terdapat tiga landasan teoritis yang mendasari pendidikan berdasarkan pendekatan kompetensi. Kompetensi selalu dilandasi oleh rasionalitas yang dilakukan dengan penuh kesadaran “mengapa” dan “bagaimana” perbuatan tersebut dilakukan. an approach to instruction that aims to teach each student the basic knowledge. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa kompetensi merupakan indikator yang menunjuk kepada perbuatan yang bisa diamati. bukan secara kelompok. keterampilan. Ketiga. and values essential to competence” (Pendidikan berbasis kompetensi. perlu diupayakan lingkungan belajar yang kondusif. terutama dalam penyelesaian tugas/praktek pembelajaran agar setiap peserta didik dapat mengerjakan tugas belajar dengan baik. Dalam hal ini misalnya tugas diberikan secara individu. pendekatan untuk instruksi yang bertujuan untuk mengajar setiap siswa pengetahuan dasar. pembelajaran perlu lebih menekankan pada pembelajaran individual meskipun dilaksanakan secara klasikal. dan sikap serta tahap – tahap pelaksanaannya secara utuh. dalam pembelajaran perlu diperhatikan perbedaan peserta didik. Landasan teoritis ketiga bagi perkembangan pendidikan berdasarkan kompetensi adalah usaha penyusunan kembali definisi bakat. dan sebagai konsep yang mencakup aspek aspek pengetahuan. nilai. ketrampilan. Apabila waktu yang tersedia di sekolah tidak mencukupi. dan nilai-nilai penting untuk kompetensi). Kedua. Kay (1997) mengemukakan bahwa ”Competency based education. 9 . skill. dengan metode dan media yang bervariasi yang memungkinkan setiap peserta didik mengikuti kegiatan belajar dengan tenang dan menyenangkan.rasional dan memenuhi spesifikasi tertentu dalam proses belajar”.

Belajar mandiri bukan merupakan usaha untuk mengasingkan peserta didik dari teman belajarnya dan dari guru/instrukturnya.berilah kebebasan kepada peserta didik untuk menyelesaikan tugas – tugas yang diberikan di luar kelas. Model pembelajaran yang dipakai dalam pendekatan kompetensi yaitu : 2.1. Model Pembelajaran Mandiri • Konsep Belajar dan Pembelajaran Mandiri Kemandirian dalam belajar ini menurut Wedemeyer (dalam Rusman 2011:353) perlu diberikan kepada peserta didik supaya mereka mempunyai tanggung jawab dalam mengatur dan mendisiplinkan dirinya dan dalam mengembangkan kemampuan belajar atas kemampuan sendiri. yaitu menetapkan kompetensi yang ingin dicapai. karena dapat menadi mitra dalam belajar bersama dan berdiskusi. pelaksanaan. pembimbing.yakni perencanaan. peserta didik seringkali lebih mudah atau lebih berani bertanya kepada teman daripada kepada guru/instruktur. dan evaluasi. Ashan (1981) mengemukakan tiga hal yang perlu diperhatikan.teman sangat penting. teman atau orang lain dalam belajar. Dalam kaitannya dengan pengembangan pembelajaran berdasarkan pendekatan kompetensi. dan evaluasi pembelajaran. Sejalan dengan uraian diatas Sukmadinata (1983) mengemukakan tiga tahap yang dilakukan guru dalam proses pembelajaran. mengembangkan strategi untuk mencapai kompetensi.2. Belajar mandiri bukan berarti balajar sendiri (Panen. Teman dalam proses belajar mandiri itu sangat penting. 10 . Kalau menghadapi kesulitan. sehingga pada akhirnya peserta didik tidak tergantung pada guru/pendidik. 1997). Hal yang terpenting dalam proses belajar mandiri ialah peningkatan kemampuan dan ketrampilan peserta didik dalam proses belajar tanpa bantuan orang lain. Evaluasi dilakukan untuk menggambarkan perilaku hasil belajar (behavioral outcomes) dengan respon peserta didik yang dapat diberikan berdasarkan apa yang diperoleh dari belajar.1.

yaitu suatu paket progam yang disusun dalam bentuk satuan tertentu dan didesain semakin rupa guna kepentingan belajar siswa.• Kemandirian Peserta Didik dan Keberhasilan Tingkat kemandirian peserta didik berkaitan erat dengan pemilihan program: 1.Namun.pertanyaan bingkai lain.hampir sama dengan modul. yaitu paket progam pembelajaran individual.kunci lembar kerja. Digital Content berbasis web.Satu paket modul biasanya memiliki komponen petunjuk guru.lembar kegiatan siswa. 3.dan cara mempelajarinya. 2.dan kunci lembaran tes 2.2 Pendekatan Keterampilan Proses 11 .Perbedaanya dengan modul. yaitu bahan pembelajaran online dalam bentuk pembelajaran individual yang dapat diakses oleh siswa.memilih isi pelajaran.lembar tes. Apakah memilih program yang kesempatannya untuk berdialog Program yang kurang memberikan kesempatan berdialog dan tinggi dan kurang terstruktur sangat terstruktur.Bahkan peserta didik juga diberi kesempatan untuk ikut menentukan cara dan kriteria evaluasinya. Modul.dalam praktik tidak seluruh kemandirian itu diterapkan.Satu bingkai biasanya berisi informasi yang merupakan bahan pembelajaran. 2.2.lembar kerja siswa. Bahan Pembelajaran Berprogam.baik dalam bentuk tugas pembelajaran mandiri maupun sumber-sumber belajar lainya yang dikemas dalam bentuk digital content • Kesimpulan Model pembelajaran mandiri yang diterapkan secara penuh memberi kesempatan kepada peserta didik untuk ikut berperan dalam menentukan tujuan. • Bahan Belajar Mandiri Jenis-jenis bahan belajar mandiri di antaranya adalah : 1.Bahan Pembelajaran Berprogam ini disusun dalam topik-topik kecil untuk setiap bingkai atau halamanya.

termasuk di antaranya keterlibatan fisik. untuk mencapai suatu tujuan”. Kemampuan menggunakan dan menerapkan konsep yang telah dikuasai dalam suatu situasi baru h. mengkomunikasikan. Indikator-indikator kemampuan pendekatan keterampilan proses antara lain : mengidentifikasi. dan dalam situasi yang normal. Kemampuan menafsirkan hasil identifikasi dan klasifikasi e. 12 . menyimpulkan. Kemampuan menggunakan alat dan bahan untuk memperoleh pengalaman secara langsung f. Dalam pengertian tersebut. tugas guru adalah memberikan kemudahan kepada peserta didik dengan menciptakan lingkungan yang kondusif agar semua peserta didik dapat berkembang secara optimal. mental. Kemampuan menyajikan suatu hasil pengamatan dan atau hasil penelitian Pendekatan keterampilan proses bertolak dari suatu pandangan bahwa setiap peserta didik memiliki potensi yang berbeda. dan sikap. aktivitas dan kreativitas peserta ddik dalam memperoleh pengetahuan. keterampilan. dan sosial peserta didik dalam proses pembelajaran. Kemampuan mengidentifikasi dan mengklasifikasi hasil pengamatan d.Mulyasa (2008:99) mengemukakan bahwa ”Pendekatan keterampilan proses merupakan pendekatan pembelajaran yang menekankan pada proses belajar. mencari hubungan. Kemampuan merencanakan suatu kegiatan penelitian g. Kemampuan melakukan pengamatan c. nilai. menafsirkan. mengamati. dan mengekspresikan diri dalam suatu kegiatan untuk menghasilkan suatu karya. mengklasifikasi. mereka dapat mengembangkan potensinya secara optimal. Oleh karena itu. serta menerapkannya dalam kehidupan sehari – hari. mengukur. menerapkan. menghitung. Kemampuan – kemampuan yang menunjukkan keterlibatan peserta didik dalam kegiatan pembelajaran tersebut dapat dilihat melalui partisipasi dalam kegiatan pembelajaran berikut : a. Kemampuan bertanya b.

keadaan atau proses tertentu.1. Dalam proses pembelajaran siswa diberi kesempatan untuk mengalami sendiri atau melakukan sendiri. membuktikan dan menarik kesimpulan sendiri tentang suatu objek. mengikuti proses.2. menganalisis. Kebaikan-kebaikan eksperimen: • • • • • Dapat membuat siswa lebih percaya atas kebenaran atau kesimpulan berdasarkan hasil percobaan sendiri Dapat mengembangkan sikap untuk mengadakan studi eksplorasi tentang sains. suatu sikap ilmuwan. Eksperimen dapat dilakukan pada laboratorium atau diluar laboratorium. khususnya berkaitan dengan ketelitian dan kecermatan sehingga tidak terjadi kekeliruan dan kesalahan dalam memaknai kegiatan eksperimen tersebut.Pembelajaran berdasarkan pendekatan keterampilan proses perlu memperhatikan hal – hal sebagai berikut : • • • • 2. Memperkaya pengalaman dengan hal-hal yang bersifat objektif dan realistis. Keaktifan peserta didik didorong oleh kemauan untuk belajar Pendayagunaan potensi yang dimiliki peserta didik Suasana kelas Bimbingan dan motivasi guru Model pembelajaran menggunakan Metode Eksperimen Sagala ( 2010: 220) mengemukakan bahwa Eksperimen adalah percobaan untuk membuktikan suatu pertanyaan atau hipotesis tertentu. Siswa belajar dengan mengalami atau mengamati sendiri suatu proses atau kejadian. teknologi. Mengembangkan sikap berpikir ilmiah Kelemahan-kelemahan eksperimen: Model pembelajaran yang dipakai dalam pendekatan keterampilan proses yaitu 13 . mengamati suatu objek.2. Peran guru dalam pembelajaran eksperimen sangat penting.

tema yang berkaitan dengan pertanian akan memberikan makna yang lebih mendalam bagi para peserta didik. Demikian halnya dilingkungan pantai. Pemilihan tema seyogyanya ditentukan oleh kebutuhan lingkungan peserta didik misalnya di lingkungan petani. Belajar dengan pendekatan lingkungan berarti peserta didik mendapatkan pengetahuan dan pemahaman dengan cara mengamati sendiri apa – apa yang ada di lingkungan sekolah. Isi dan prosedur disusun hingga mempunyai makna dan ada hubungannya antara peserta didik dengan lingkungannya. Dalam pendekatan lingkungan. baik lingkungan rumah maupun di lingkungan sekolah. Pendekatan Lingkungan Menurut Mulyasa (2008:101) Pendekatan lingkungan merupakan suatu pendekatan pembelajaran yang berusaha untuk meningkatkan keterlibatan peserta didik melalui pendayagunaan lingkungan sebagai sumber belajar. Pengetahuan yang diberikan harus memberi jalan keluar bagi peserta didik dalam menanggapi lingkungannya. tema tentang kehidupan pantai akan sangat menarik minat dan perhatian peserta didik. fasilitas peralatan.2. Setiap eksperimen tidak selalu memberikan hasil yang diharapkan.• • • 2. Pendekatan ini berasumsi bahwa kegiatan pembelajaran akan menarik perhatian peserta didik jika apa yang dipelajari berhubungan dengan kehidupan dan berfaidah bagi lingkungannya. pelajaran disusun sekitar hubungan dan faidah lingkungan.3 Pelaksanaan pembelajaran eksperimen sering memerlukan berbagai fasilitas peralatan dan bahan yang tidak mudah diperoleh dan murah. Sangat menuntut penguasaan pengembangan materi. Dalam pada itu peserta didik dapat menanyakan sesuatu yang ingin diketahui kepada orang lain di lingkungan mereka yang dianggap tahu tentang masalah yang dihadapi. Pembelajaran berdasarkan pendekatan lingkungan dapat dilakukan dengan dua cara : 14 .

Prinsip-prinsip J. sehingga dimungkinkan anak akan lebih menghargai. Mengacu pada konsep pendidikan alam sekitar Tirtarahardja dan Sula (dalam Sagala. sehingga anak menaruh perhatian yang spontan terhadap segala sesuatu yang dibebrikan kepadanya asal itu didasarkan atas dan diambil dari alam sekitar.Ligthart (1859-1916) di Belanda dengan “Het Volle Leven” (kehidupan senyatanya). mencintai dan melestarikan lingkungan alam sekitar sebagai sumber kehidupannya. Model Pembelajaran Alam Sekitar Perintis model pembelajaran ini adalah Fr. Finger (1808-1888) diJerman dengan “heimatkunde” (pengajaran alam sekitar). Guru sebagai pemandu pembelajaran dapat memilih lingkungan dan menentukan cara – cara yang tepat untuk mendayagunakannya dalam kegiatan pembelajaran.a. seperti nara sumber. dan lain – lain. 2010:180) berpendapat bahwa beberapa tahun terakhir telah ditetapkan adanya materi pelajaran muatan lokal dalam kurikulum. Dalam model pembelajaran ini alam sekitar sebagai fundamental pendidikan dan pengajaran memberikan dasar emosional. sesungguhnya harus mendasarkan pada pengajaran 15 .1. Membawa sumber – sumber dari lingkungan ke sekolah (kelas) untuk kepentingan pembelajaran. termasuk penggunaan alam sekitar. c. dan J. Hal ini bisa dilakukan denga metode karyawisata. b. Membawa peserta didik ke lingkungan untuk kepentingan pembelajaran. bisa juga sumber tiruan seperti model dan gambar. metode pemberian tugas.3. Model pembelajaran yang dipakai dalam pendekatan lingkungan yaitu: 2. Dengan kurikulum muatan lokal tersebut diharapkan anak semakin dekat dengan alam sekitar dan masyarakat. Pengajaran selanjutnya. Sumber tersebut bisa sumber asli.2.Ligthart (1859-1916) di Belanda dengan “Het Volle Leven” (kehidupan senyatanya) • • Anak harus mengetahui bendanya terlebih daluhu sebelum mendengar namanya.

Pendekatan tematik bertujuan : a. Menyesuaikan pembelajaran dengan perbedaan peserta didik. terutama di Taman Kanak – Kanak dan Raudhatul Athfal (TK dan RA). 16 . Pendekatan tematik merupakan pendekatan pembelajaran untuk mengadakan hubungan yang erat dan serasi antara berbagai aspek yang mempengaruhi peserta didik dalam proses belajar. c. 2. Peralatan yang diperlukan untuk pelaksanaan pendekatan tematik harus tersedia. baik lingkungan sekolah maupun berupa pinjaman dari luar. Perlunya pendekatan tematik pada pembelajaran yang mempunyai korelasi tinggi ialah kenyataan bahwa ”Dunia nyata” itu menujukkan adanya keterpaduan dan bahwa peserta didik ternyata lebih baik bila belajar menghubung – huungkan berbagai faktor yang ada. Guru harus mempunyai kemampuan untuk mengembangkan program pembelajaran tematis pada jadwal yang telah ditentukan. Memperbaiki dan mengatasi kelemahan – kelemahan yang terdapat pada metode mengajar hafalan.4 Pendekatan Tematik (Thematic Approach) Menurut Mulyasa (2008: 104) Pendekatan Tematik (Thematic Approach) salah satu pendekatan pembelajaran yag digunakan dalam merupakan implementasi kurikulum 2004. Oleh karena itu pendekatan tematik sering juga disebut pendekatan terpadu (integrated).2. serta pada kelas rendah di Sekolah Dasar dan Madrasah Ibtidayah (SD dan MI). Pelaksanaan pendekatan tematik secara optimal perlu ditunjang oleh kondisi sekolah sebagai berikut : a. Guru mesti berpartisipasi dalam sebuah tim serta mempunyai tanggung jawab untuk menyukseskan tujuan tim b.• Harus diadakan perjalanan memasuki hidup senyatanya. c. agar siswa paham akan hubungan antara bermacam-macam lapangan dalam hidupnya. b. Membentuk pribadi yang harmonis dan sanggup bertindak dalam menghadapi berbagai situasi yang memerluka keterampilan pribadi.

dan 3 adalah pembelajaran yang dikemas dalam bentuk tema-tema (Rusman.1.. 17 . 2. 2011: 249). Tema-tema yang bisa dikembangkan di kelas awal Sekolah Dasar mengacu kepada prinsip-prinsip sebagai berikut: 1. Latar Belakang Pembelajaran Tematik Berdasarkan paduan KTSP.2. 3. Pelaksanaan pendekatan tematik harus ada dalam struktur sekolah. Model Pembelajaran Tematik Dalam kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) model pembelajaran untuk anak tingkat Sekolah dasar kelas rendah. Dapat pula dilaksanakan beberapa orang guru secara kolektif. dari hal yang kongkret menuju yang abstrak. 2. Dimulai dari hal-hal yang mudah menuju yang sulit.4. jadi semua bahan ajar menjadi tanggung jawabnya. yaitu kelas 1. Tema yang dipilih hendaknya diangkat dari lingkungan kehidupan peserta didik. 2. Pengalaman mengembangkan tema dalam kurikulum mengembangkan tema dalam kurikulum disesuaikan dengan mata pelajaran yang akan dikembangkan. Model pembelajaran yang dipakai dalam pendekatan Tematik sama dengan judulnya yaitu : 2. semangat kerjasama. Tema meupakan wadah atau wahana untuk mengenal konsep materi kepada anak didik secara menyeluruh. sehingga guru dapat menggunakan berbagai sarana sekolah yang diperlukan. pengelolaan kegiatan pembelajaran pada kelas awal Sekolah Dasar dalam mata pelajaran dan kegiatan belajar pembiasaan dilakukan dengan menggunakan model pembelajaran tematik dan diorganbisasikan sepenuhnya oleh sekolah / madrasah. Pendekatan tematik dapat dilaksanakan oleh seorang guru.4. dan mengadakan koordinasi yang baik di antara mereka. agar pembelajaran menjadi hidup dan tidak kaku. dari hal yang sederhana menuju yang kompleks.d. namun harus dilandasi dengan kelancaran komunikasi.1. Dimulai dari lingkungan yang terdekat dari lingkungan anak (expending community approach).1.

dan kerumitan dalam kehidupan. 18 . siswa akan memahami konsep-konsep yang mereka pelajari melalui pengalaman langsung dan menghubungkannya dengan konsep lain yang telah dipahaminya. 3. Dalam pelaksanaannya.2. Kompetensi-kompetensi yang dikembangkan dalam KTSP diarahkan untuk memberikan keterampilan dan keahlian bertahan hidup dalam kondisi yang penuh dengan berbagai perubahan. Dikatakan bermakna karena dalam pembelajaran tematik. Kuruikulum ini ditunjukkan untuk menciptakan lulusan yang kompeten dan cerdas dalam membangun integritas social. serta membudidayakan dan memwujudkan karakter nasional. operasional yang berbasis kompetensi sebagai hasil refleksi.4. Kompetensi dasar dapat dikembangkan lebih baik dengan mengaitkan mata pelajaran lain dengan pengalaman pribadi siswa. akan tetapi juga keterkaitannya dengan konsepkonsep dari mata pelajaran lainnya.. Tujuan dari adanya tema ini bukan hanya untuk menguasai konsep-konsep dalam suatu mata pelajaran.1. ketidak pastian . pemikiran dan pengkajian yang mendalam dari kurikulum yang telah berlaku beserta pelaksanaannya. 2. 1983). pendekatan pembelajaran tematik ini bertolak dari suatu tema yang dipilih dan dikembangkan oleh guru bersama siswa dengan memperhatikan keterkaitannya dengan isi mata pelajaran. Tema adalah pokok pikiran atau gagasan pokok yang menjadi pokok pembicaraan ( Poerwadarminta. 2. Dengan adanya tema ini akan memberikan banyak keuntungan. Pengertian Pembelajaran Tematik Menurut Rusman (2011: 254) Model pembelajaran tematik adalah model pembelajaran terpadu yang menggunakan pendekatan tematik yang melibatkan beberapa mata pelajaran untuk memberikan pengalaman bermakna kepada siswa. Pemahaman terhadap materi m\pembelajaran lebih mendalam dan berkesan. 4. Dalam kurikulum ini diharapakan dapat membantu mempersisapkan peserta didik menghadapi tantangan-tantangan di masa depan.KTSP merupakan kurikulum. Siswa mudah memusatkan perhatian pada suatu tema tertentu. persaingan. Siswa dapat mempelajari pengetahuan dan pengembangan berbagai kompetensi dasar antar mata pelajaran dalam tema yang sama. di antaranya: 1.

23 Tahun 2002 tentang perlindungan anak dinyatakan bahwa setiap anak berhak memperoleh pendidikan dan pengajaran dalam rangka pengembangan pribadinya dan tingkat kecerdasannya sesuai dengan minat dan bakatnya (pasal 9). 2. Aliran Humanisme melihat siswa dari segi keunikan/ kekhasannya. suasana alamiah dan memperhatikan pengalaman siswa. • • Aliran Konstruktivisme melihat pengalaman langsung siswa sebagai kunci dalam pembelajaran. dan motivasi yang dimilikinya.3.1. Pesikologi perkembangan diperlukan terutama dalam menentukan isi/materi pembelajaran tematik yang diberikan kepada siswa agar tingkat kelulusan dan kedalamannya sesuai dengan tahap perkembangan peserta didik. Landasan Yuridis berkaitan dengan berbagai kebijakan atau peraturan yang mendukung pelaksanaan pembelajaran tematik di sekolah dasar. Karakteristik Model Pembelajaran Tematik Sebagai suatu model pembelajaran di Sekolah Dasar. kemunculan pembelajaran tematik sangat dipengaruhi oleh tiga aliran filsafat berikut: • Aliran progresivisme memandang proses pembelajaran perlu ditekankan pada pembentukan kreativitas.4. Landasan Pesikologis terutama berkaitan dengan psikologi perkembangan peserta didik dan pesikologi belajar. pemberian sejumlah kegiatan. 2. siswa dapat lebih merasakan manfaat dan makna belajar karena materi disajikan dalam konteks tema yang jelas. sedangkan guru lebih banyak berperan sebagai fasilitator.4. pembelajaran tematik memiliki karakteristik-karakteristik sebagai berikut : • Berpusat pada siswa Hal ini sesuai dengan pendekatan beajar modern yang lebih banyak menempatkan siswa sebagai subjek belajar.1. • Memberikan pengalaman langsung 19 . Dalam UU No.4.5.. Landasan Pembelajaran Tematik Secara filosofis . potensi .

Tidak semua mata pelajaran harus dipadukan 2. • Pemisahan mata pelajaran tidak begitu jelas Dalam pembelajaran tematik pemisahan antar mata pelajaran menjadi tidak begitu jelas. Hal ini daperlukan untuk membantu siswa dalam memecahkan masalah-masalah yang dihadapi dalam kehidupan sehari-hari. 4. • Menggunakan prinsip belajar sambil bernain dan menyenangkan. Kompetensi dasar yang tidak diintegrasikan dibelajarkan secara mandiri.5.Dengan pengalaman langsung ini.4. Rambu-rambu Pembelajaran Tematik Dalam pelaksanaan pembelajaran tematik yang harus diperhatikan guru adalah sebagai berikut. siswa dihadapkan pada sesuatu yang nyata (konkret) sebagai dasar untuk memahami hal-hal yang lebih abstrak. • Hasil pembelajaran sesuai dengan minat dan kebutuhan siswa Siswa diberi kesempatan untuk mengoptimalkan potensi yang dimilikinya sesuai dengan minat dan kebutuhan siswa. • Menyajikan konsep dari berbagai mata pelajaran Pembelajaran tematik menyajikan konsep dari berbagai mata pelajaran dalam suatu proses pembelajaran. 1. Kompetentensi dasar yang tidak dapat dipadukan. 2.1. • Bersifat fleksibel Guru dapat mengaitkan bahan ajar dari suatu mata pelajarandengan mata pelajaran yang lainnya. Fokus pembelajaran diarahkan pada pembahasan tematema yang paling dekat berkaitan dengan kehidupan siswa. Dimungkinkan terjadi penggabungan kompetensi dasar lintas semester 3. 20 . jangan dipaksakan untuk dipadukan. bahkan mengaitkannya dengan kehidupan siswa dan keadaan lingkungan di mana sekolah dan siswa berada. kompetensi dasar yang tidak tercakup pada tema tertentu harus tetap diajarkan baik melalui tema lain maupun disajikan secara tersendiri. Dengan demikian. siswa dapat memahami konsep-konsep tersebut secara utuh.

6. yaitu pada mata pelajaran pendidikan Agama. Dalam merancang pembelajaran tematik di Sekolah Dasar bisa dilakukan dengan dua cara. dilanjutkan dengan mengidentifikasi dan memetakan kompetensi dasar pada mata pelajaran yang diperkirakan relevan dengan tematema tersebut. Tema-tema yang dipilih disesuaikan dengan karakteristik siswa. yaitu : • Menetapkan Mata Pelajaran yang akan Dipadukan • Mempelajari Kompetensi dasar dan Indikator dari Mata Pelajaran yang akan Dipadukan 21 . dan berhitung serta penanaman nilai-nilai moral. Pendidikan Jasmani. 6.7. dan III Sekolah Dasar. 2. menulis. dan Olahraga 2. dimulai dengan mengidentifikasi kompetensi dasar dari beberapa mata pelajaran yang memiliki hubungan. Alur atau langkah-langkah dalam mengembangkan rencana pelaksanaan pembelajaran tematik meliputi tujuh tahap. dengan demikian. lingkungan. Implementasi Pembelajaran Tematik Keberhasilan pembelajaran tematik dipengaruhi oleh seberapa jauh pembelajaran tersebut direncanakan sesuai dengan kondisi dan potensi siswa. Ruang Lingkup Pembelajaran Tematik Ruang lingkup pengembangan pembelajaran tematik meliputi seluruh mata pelajaran pada kelas I. II.5. dan daerah setempat. Bahasa Indonesia.1. dilanjutkan dengan penetapan tema pemersatu. Kegiatan pembelajaran ditekankan pada kemampuan membaca. Matematika.minat. Ilmu Pengetahuan Sosial.4. Pertama. Seni Budaya dan ketrampilan.1. dimulai dengan menetapkan terlebih dahulu tema-tema tertentu yang akan di ajarkan. Kedua.4. tema-tema pemersatu tersebut ditentukan setelah mempelajari kompetensi dasar dan indikator yang terdapat pada masing-masing mata pelajaran. Ilmu Pengetahuan Alam. pendidikan Kewarganegaraan.

ac. STM dipandang sebagai proses pembelajaran yang senantiasa sesuai dengan konteks pengalaman manusia. Dengan mengutip dari NSTA (National Science Teachers Association).• Memilih dan Menetapkan Tema/Topik Pemersatu • Membuat Matriks atau Bagan Hubungan Kompetensi Dasar dan Tema/Topik Pemersatu. education must integrate acrossdisciplines (sebuah pendekatan antar disiplin yang mencerminkan realisasi luas bahwa dalam rangka memenuhi peningkatan permintaan masyarakat teknis.5 Pendekatan Sains. Antara lain : 2. menggunakan konsep dan proses sains dalam kehidupan sehari-hari. diakses 30-03-2011:18. pendidikan harus mengintegrasikan seluruh disiplin ilmu).30 ). Dalam pendekatan ini siswa diajak untuk meningkatakan kreativitas. Hal ini berarti bahwa pemahaman kita terhadap hubungan antara sistem politik.2. tradisi masyarakat dan bagaimana pengaruh sains dan teknologi 22 . pembelajaran dengan pendekatan STM haruslah diselenggarakan dengan cara mengintegrasikan berbagai disiplin (ilmu) dalam rangka memahami berbagai hubungan yang terjadi di antara sains. Sedangkan National Science Teachers Association (NSTA) (1990 :1) memandang STM sebagai the teaching and learning of science in the context of human experience.Definisi lain tentang STM dikemukakan oleh PENN STATE (2006:1) bahwa STM merupakan an inter disciplinary approach which reflects the widespread realization that in order to meet the increasing demands of a technical society.diakses 30-03-2011:19.id.papantulisku. teknologi dan masyarakat.com. Dengan demikian.uns. • Menyusun Silabus Pembelajaran Tematik • Penyusunan Rencana Pembelajaran Tematik Adapun tambahan beberapa macam pendekatan pembelajaran yang digunakan pada kegiatan belajar mengajar Menurut Idaha riyanti (http://idahariyanti.student.fkip. Tekhnologi dan Masyarakat Yager (dalam http://www. sikap ilmiah.46) mendefinisikan STS (Science Technology Society) atau IPA Teknologi Masyarakat sebagai belajar dan mengajar mengenai IPA/teknologi dalam konteks pengalaman manusia.

sikap. Pandangan tersebut senada dengan pendapat NC State University (2006:1).50) memberikan ciri-ciri khas pembelajaran dengan model STS sebagai berikut : 1. nilai. Sebenarnya dalam pembelajaran dengan menggunakan pendekatan STM ini tercakup juga adanya pemecahan masalah. tetapi masalah itu lebih ditekankan pada masalah yang ditemukan sehari – hari.papantulisku. dan bagaimana situasi sosial mempengaruhi perkembangan sains dan teknologi. values. and how such factors shape science and technology (bidang disciplinery antar studi yang berusaha untuk mengeksplorasi memahami banyak cara dan teknologi yang scinence membentuk budaya. 2000) menunjukan bahwa pembelajaran sains dengan menggunakan pendekatan STM mempunyai beberapa perbedaan jika dibandingkan dengan cara biasa. kreativitas. 23 .wordpress. STM dengan demikian adalah sebuah pendekatan yang dimaksudkan untuk mengetahui bagaimana sains dan teknologi masuk dan merubah proses-proses sosial di masyarakat. and institution. dan institusi. menggunakan sumber-sumber setempat (nara sumber dan bahan bahan) untuk memperoleh informasi yang dapat digunakan dalam pemecahan masalah. yang dalam pemecahannya menggunakan langkah – langkah (http://smacepiring. 2. Diakses 30-03-2011: 18.terhadap hubungan-hubungan tersebut menjadi bagian yang penting dalam pengembangan pembelajaran di era sekarang ini. Perbedaan tersebut ada pada aspek : kaitan dan aplikasi bahan pelajaran. dan bagaimana faktor-faktor seperti bentuk ilmu pengetahuan dan teknologi). Melalui pendekatan STM ini guru dianggap sebagai fasilitator dan informasi yang diterima siswa akan lebih lama diingat. peserta didik mengidentifikasi masalah-masalah yang ada di daerahnya dan dampaknya. Hasil penelitian dari National Science Teacher Association (NSTA) (dalam Poedjiadi. diakses 30-03-2011:17. bahwa STM merupakan an interdisciplinery field of study that seeks to explore a understand the many ways that scinence and technology shape culture.com.31).com. dan konsep pengetahuan. proses. Yager (dalam http://www.

et.al. et.dan menilai konsep-konsep yang dijadikan rujukan. dan penciptaan. sebagai perwujudan otonomi setiap individu dalam proses belajar. dan 5.59) mengemukakan bahwa pembelajaran ipa dan teknologi diperlukan agar konsisten dengan cara-cara para ahli dalam melakukan penyelidikan yang bersifat ilmiah dan teknologi.3. b. Model pembelajaran IPA dan teknologi yang berorientasi pada konstrukstivisme dengan model STS yang diajukan oleh Horsley. agar dapat digunakan oleh peserta didik dalam mencari solusi terhadap masalahnya. mengajukan penjelasan dan solusi yang masih tentatif. Horsley. Model pembelajaran IPA dan teknologi melibatkan peserta didik dalam kegiatan-kegiatan penyelidikan. menelusuri kembali konsep-konsep. d. (dalam http://www. penekanan pada keterampilan proses IPA. invitasi.papantulisku. c. Carin (1997:74).com. 24 . penemuan. pengajuan penjelasan dan solusi. dan Yager (1992:15) meliputi empat tahap. yaitu tahap: a. mengkonstruksi makna yang mereka temukan. pengambilan tindakan. Diakses 30-03-2011: 18. keterlibatan peserta didik secara aktif dalam mencari informasi yang dapat diterapkan untuk memecahkan masalah. (1990:59).al. 4. eksplorasi.

(1990:59) Gambar 3. Sumber: Carin1997:74 dan Horsley.3 berikut ini. (1990:59). peran Guru sangat 25 . Selanjutnya peserta didik merumuskan masalah yang akan dicari jawabannya dengan tetap mengaitkan kepada topik yang dibahas. dan Yager (1992:15) tersebut diilustrasikan seperti pada Gambar 3.Sintaks pembelajaran IPA dengan model STS menurut Carin (1997:74). Horsley et.3 Bagan sintaks Pembelajaran IPA dan teknologi dengan model STS • Invitasi Pada tahap ini guru merangsang peserta didik mengingat atau menampilkan kejadian-kejadian yang ditemui baik dari media cetak maupun media elektronik yang berkaitan dengan topik yang merupakan hasil observasi.al.

Kegiatan yang dilakukan peserta didik dapat mengacu kepada LKS yang telah ada untuk topik tersebut atau dapat juga mengembangkan sendiri berdasarkan LKS yang telah ada atau membuat LKS yang baru. dan menentukan beberapa solusi. Peran Guru hendaknya dapat menghaluskan atau meluruskan konsep peserta didik yang keliru. nara sumber. Kegiatan peserta didik pada tahap ini di antaranya dapat berupa iuran pendapat. dan mendiskusikan pemecahan masalah. bereksperimen. Kegiatan peserta didik dapat berlangsung di dalam kelas. • Penjelasan dan Solusi Pada tahap ini peserta didik diajak untuk mengkomunikasikan gagasan yang diperoleh dari analisis informasi yang didapat. Guru dan peserta didik mengidentifikasi bersama mengenai masalah atau pertanyaan dan jawaban sementara yang paling mungkin dilakukan dengan mempertimbangkan keadaan lingkungan dan alokasi waktu pembelajaran serta topik. mendesain model. atau di luar sekolah yang diperkirakan memungkinkan dilakukan oleh peserta didik. majalah. menyusun suatu model penjelasan (baru). mencari informasi. Guru membimbing peserta didik untuk memadukan konsep yang dihasilkannya dengan konsep yang dianut oleh para ahli IPA. Hasil yang diperoleh peserta didik hendaknya berupa suatu hasil analisis dari data yang diperoleh. instansi terkait. mengobservasi fenomena khusus. meninjau dan mendiskusikan solusi yang diperoleh. bisa berupa LKS yang telah ada atau menyiapkan LKS yang baru. koran. halaman sekolah. atau melakukan percobaan). lingkungan. • Eksplorasi Pada tahap ini kegiatan yang dilakukan peserta didik merupakan upaya untuk mencari jawaban atau menguji jawaban sementara yang telah dibuat dengan mencari data dari berbagai sumber informasi (buku. • Penentuan tindakan Pada tahap ini peserta didik diajak untuk membuat suatu keputusan dengan mempertimbangkan penguasaan konsep IPA dan keterampilan yang dimiliki 26 .diperlukan untuk menghaluskan rumusan masalah yang diajukan peserta didik dan mengacu kepada sumber belajar.

dan mengajukan pertanyaan baru.untuk berbagai gagasan dengan lingkungan. mengingat.20). Dalam kelas kontekstual. penyajian ilmu pengetahuan. tidak hanya sekedar mengetahui. penerapan pengetahuan dan keterampilan. atau dalam kedudukan peserta didik sebagai pribadi atau sebagai anggota masyarakat. tetapi diajak untuk mengaitkan aspek-aspek yang benarbenar terjadi dalam kehidupan mereka sehari-hari. Dengan demikian proses pembelajaran lebih diutamakan daripada hasil belajar. Pengambilan tindakan ini di antaranya dapat berupa kegiatan pengambilan keputusan.id).com.6 Pendekatan Konstektual Pendekatan konstekstual berlatar belakang bahwa siswa belajar lebih bermakna dengan melalui kegiatan mengalami sendiri dalam lingkungan alamiah. dan lingkungan masyarakat luas. 2001: 8). maka siswa dapat diarahkan kepada pemikiran agar tidak hanya berkonsentrasi dalam pembelajaran di lingkungan kelas saja. Guru lebih banyak berurusan dengan strategi daripada 27 . Borko dan Putnam mengemukakan bahwa dalam pembelajaran kontekstual. 2. dan memahami. keterampilan.contextual. (http://smacepiring. sehingga guru dituntut untuk merencanakan strategi pembelajaran yang variatif dengan prinsip membelajarkan – memberdayakan siswa. Pemahaman. bukan mengajar siswa. Dengan memilih konteks secara tepat. yang akan gagal dalam membekali siswa untuk memecahkan masalah dalam kehidupannya. masa depan mereka. guru memilih konteks pembelajaran yang tepat bagi siswa dengan cara mengaitkan pembelajaran dengan kehidupan nyata dan lingkungan di mana anak hidup dan berada serta dengan budaya yang berlaku dalam masyarakatnya (http. membagi informasi dan gagasan.2. dan juga mengadakan pendekatan dengan berbagai unsur untuk meminimalkan dampak negatif suatu hal atau yang merupakan tindakan positif suatu masyarakat.org. tugas guru adalah membantu siswa dalam mencapai tujuannya. Diakses 30-03-2011:20.//www. nilai dan sikap yang ada dalam materi dikaitkan dengan apa yang dipelajari dalam kelas dan dengan kehidupan sehari-hari (Dirjen Dikdasmen.wordpress. Peserta didik juga diharapkan merumuskan pertanyaan lanjutan dengan ditemukannya suatu penjelasan terhadap fenomena alam (konsep IPA). Pembelajaran tidak hanya berorientasi target penguasaan materi.

menemukan sesuatu yang baru bagi kelas yang dapat berupa pengetahuan. Pembelajaran kontekstual merupakan usaha untuk membuat sisiwa aktif dalam memompa kemampuan diri. dan 7) Authentic Assessment. 2) inquiry. dalam Joyce-Well (2000:172) menyatakan bahwa pendekatan kontekstual melibatkan siswa dalam masalah yang sebenarnya dalam penelitian dengan menghadapkan anak didik pada bidang penelitian. Melalui model pembelajaran kontekstual. akan tetapi lebih ditekankan pada upaya memfasilitasi siswa untuk mencari kemampuan bisa hidup (life skill) dari apa yang dipelajarinya. 3) Questioning. membantu mereka mengidentifikasi masalah yang konseptual atau metodologis dalam bidang penelitian dan mengajak mereka untuk merancang cara dalam mengatasi masalah. 6) reflection.3. tetapi juga untuk mengembangkan sikap. Lebih lanjut Schaible. Model pembelajaran yang dipakai dalam pendekatan konstektual yaitu : 2. 4) learning community. Ciri khas CTL ditandai oleh tujuh omponen utama yaitu 1).Johnson (dalam Rusman.Klopher. misalnya melalui pembelajaran kooperatif. keterampilan dari hasil “menemukan sendiri” dan bukan dari “apa kata guru. nilai. Penggunaan pembelajaran kontekstual memiliki potensi tidak hanya untuk mengembangkan ranah pengetahuan dan keterampilan proses. serta kreativitas siswa dalam memecahkan masalah yang terkait dengan kehidupan mereka sehari-hari melalui interaksi dengan sesama teman.Guru bertugas mengelola kelas sebagai sebuah tim yang bekerja bersama untuk merumuskan. 201:187) mengatakan pembelajaran Kontekstual adalah sebuah sistem yang merangsang otak untuk menyusun polapola yang mewujudkan makna.memberi informasi. sebab siswa berusaha mempelajari konsep sekaligus menerapkan dan mengaitkan dengan dunia nyata. 2002:6). sehingga juga mengembangkan ketrampilan sosial (social skills) (Dirjen Dikmenum. dan Raghven.8 Model Kontekstual (Contextual Teaching and learning) Elaine B. 5) modelling. Contructivism. 28 . mengajar bukan transformasi pengetahuan dari guru kepada siswa dengan menghapal sejumlah konsep-konsep yang sepertinya terlepas dari kehidupan nyata.

Manusia harus membangun pengetahuan itu memberi makna melalui pengalaman yang nyata. tetapi merupakan hasil menemukan sendiri. Pemodelan (modeling) 29 . oleh karena itu bertanya merupakan strategi utama dalam CTL. menyegarkan kembali pengetahuan yang telah dimiliki siswa. 4). seperangkat fakta-fakta. Pengalaman akan dirasakan memiliki makna apabila secara langsung maupun tidak langsung berhubungan dengan pengalaman sehari-hari yang dialami oleh para siswa itu sendiri. Dengan bertanya maka: 1) dapat menggali informasi. dan 7). 5). 3). 3) membangkitkan respon siswa. Melalui penerapan bertanya pembelajaran akan lebih hidup. Konstruktivisme. 5). Masyarakat Belajar (learning community) Maksudnya adalah membiasakan siswa untuk melakukan kerjasama dan memanfaatkan sumber belajar dari teman-teman belajarnya. Membangkitkan lebih banyak lagi pertanyaan siswa. Menemukan (inquiry) Menemukan merupakan inti dari CTL melalui upaya menemukan akan memberikan penegasan bahwa pengetahuan dan ketrampilan serta kemampuankemampuan lain yang diperlukan bukan merupakan hasil dari mengingat. 6). 4) mengetahui sejauh mana pengetahuan siswa. akan mendorong proses dan hasil pembelajaran yang lebih luas dan mendalam. Pengetahuan dibangun oleh manusia sedikit demi sedikit yang hasilnya diperluas melalui konteks yang terbatas.Adapun tujuh prinsip pembelajaran kontekstual yang harus dikembangkan guru yitu: 1). Mengetahui hal-hal yang diketahui siswa. Bertanya (questioning) Pengetahuan yang dimiliki seseorang selalu bermula dari bertanya. 2). maka saat itu pula kita atau siswa mendapatkan pengalaman yang lebih banyak dari komunitas lain. Ketika kita dan siswa dibiasakan untuk memberikan pengalaman yang luas kepada orang lain. 2) mengecek pemahaman siswa.

telah berdampak pada keterbatasan kemampuan guru. Melalui model baru terjadi atau baru saja CTL pengalaman belajar bukan hanya terjadi dan dimiliki ketika seseorang siswa berada dalam kelas. 2. 6). 7). Penilaian Sebenarnya (Authentic Assessment) Tahap terakhir adalah melakukan penilaian. Brunner dan Brand 1966).2. Oleh karena itu tahap pembuatan model dapat dijadikan alternatif untuk mengembangkan pembelajaran agar dapat membantu mengatasi keterbatasan yang dimiliki guru. dan Nik Aziz (1999) kelebihan teori konstruktivisme ialah pelajar berpeluang membina pengetahuan secara aktif melalui proses saling pengaruh antara pembelajaran terdahulu dengan 30 . Dewey (1938) dan Ausubel (1963).Perkembangan ilmu pengetahan dan teknologi.2005). rumitnya permasalahan hidup yang dihadapi serta tuntutan siswa yang semakin berkembang dan beraneka ragam. Refleksi (reflection) Refleksi adalah cara berfikir tentang apa yang dipelajari. Penilaian adalah proses pengumpulan berbagai data dan informasi yang bisa memberikan gambaran atau petunjuk terhadap pengalaman belajar siswa. McBrien Brandt (1997). Karena dengan segala kelebihan dan keterbatasan yang dimiliki oleh guru akan mengalami hambatan untuk memberikan pelayanan sesuai dengan keinginan dan kebutuhan siswa yang cukup heterogen.7 Pendekatan Kontruktivisme Kontruktivisme merupakan landasan berfikir pendekatan kontekstual. Menurut Caprio (1994). Piaget (1970). Yaitu bahwa pendekatan dibangun oleh manusia sedikit demi sedikit yang hasilnya diperluas melalui konteks yang terbatas dan tidak dengan tiba-tiba (Suwarna. akan tetapi jauh lebih penting dari itu bagaimana membawa pengalaman belajar tersebut keluar kelas yaitu pada saat ia dituntut untuk menanggapi dan memecahkan permasalahan nyata dalam kehidupan sehari-hari. Oleh karen itu maka kini guru bukan lagi satu-satunya sumber belajar bagi siswa.

konsep-konsep yang ada pada seseorang boleh berubah selaras dengan pengalaman baru yang dialaminya dan ini dikenali sebagai penalaran atau tuning. Kajian Caprio (1994). Dalam proses ini.7. Nor Aini (2002). Perkaitan ini dibina sendiri oleh pelajar. Model kontruktivis 31 . dan Lieu (1997) turut membuktikan bahwa pendekatan konstruktivisme dapat membantu pelajar untuk mendapatkan pemahaman dan pencapaian yang lebih tinggi dan signifikan. Pendekatan konstruktivisme sangat penting dalam proses pembelajaran kerana belajar digalakkan membina konsep sendiri dengan menghubung kaitkan perkara yang dipelajari dengan pengetahuan yang sedia ada pada mereka. 1999) membuktikan kumpulan pelajar yang diajar menggunakan pendekatan konstruktivisme telah mendapat pencapaian yang lebih tinggi dan signifikan berbanding kumpulan pelajar yang diajar menggunakan pendekatan tradisional. Menurut Gagne. disebut dalam Sushkin. Pembelajaran terdahulu dikaitkan dengan pembelajaran terbaru. Van Drie dan Van Boxtel (2003). Selain itu.pembelajaran terbaru. konsep-konsep yang dibina pada struktur kognitif seorang akan berkembang dan berubah apabila ia mendapat pengetahuan atau pengalaman baru. Kajian Sharan dan Sachar (1992. Rumelhart dan Norman (1978) menjelaskan seseorang akan dapat membina konsep dalam struktur kognitifnya dengan menghubungkan pengetahuan baru dengan pengetahuan yang sedia ada padanya dan proses ini dikenali sebagai accretion. dan Yekovich (1993) konsep baru juga boleh dibina dengan menggabungkan konsep-konsep yang sedia ada pada seseorang dan ini dikenali sebagai parcing. yaitu berdasarkan pengetahuan yang ada padanya. pelajar dapat meningkatkan pemahaman mereka tentang sesuatu perkara.2. Curtis (1998). Yekovich.1. Seseorang juga boleh membina konsep-konsep dalam struktur kognitifnya dengan menggunakan analogi. Model pembelajaran yang digunakan dalam pendekatan Kontruktivisme yaitu 2. Menurut teori konstruktivisme.

dan siswa mencoba menajwab pertanyaan-pertanyaan atau memecahkan masalah-masalah mereka. Menjadi sadar bagaimana seorang menghasilkan efek. Hal tersebut akan menjadikan siswa termotivasi dalam berfikir. Walupun penalaran tidak dapat diajarkan secara 32 . Bukan dengan cara belajar kata-kata namun para siswa menjadi lebih berpikir mengenai alam nyata.Model kontruktivisme yang dikemukankan Piaget memberi arahan pada guru untuk membangkitkan kemampuan berpikir anak dalam belajar. Memperhatikan empat cara berbuat terhadap benda-benda. oleh karena itu hanya akan dapat berkembang bila siiwa itu terlibat langsung dalam pembelajaran. Berbuat terhadap benda-benda untuk menghasilkan suatu efek yang diinginkan 3. d. dan melihat bagaiman benda-benda itu bereaksi. Menciptakan pertanyaan. para siswa hendaknya mempunyai kebebasan untuk mengikuti perhatian mereka sendiri. 1. Menyiapkan benda-benda nyata untuk digunakan siswa. Memperkenalkan kegiatan Kegiatan-kegiatan itu mungkin menarik bagi siswa tetapi jangan dipaksakan pada mereka. Misal: untuk mengetahui apakah sebuah bola yang dibuat dari tanah liat dapat terapung ditanah. Dengan maksud: 1) adanya pengetahuan fisik diperoleh dengan berbuat pada benda-benda. b. pertukaran gagasan-gasan tidak dapat dihindari untuk perkembangan penalaran. 2). matematika kenyataan. c. Menjelaskan. adapun halhal yang perlu diperhatikan adalah: a. 4. masalah dan pemecahannya Dewasa ini para pendiidk dianjurkan menciptakan masalah-masalah dan pengajuan pertanyaan-pertanyaan. siswa harus bekerja dengan benda-benda . Saling berinteraksi Menurut piaget. e. bahwa inilah satu-satunya cara mereka belajar logika. Melihat bagaimana benda-benda bereaksi 2. anak harus berbuat sesuai pada benda-benda itu.

oleh karena itu guru hendaknya dapat membangkitkan gagasan untuk melatih dan mengembangkan kemampuan berpikr siswa. kerap kali kata-kata dan istilah teknis merintangi berpikir. tetapi perkembanganya dapat distimulasi oleh teman-teman setingkatnya.8. Hindari istilah teknis dan tekankan berpikir Hasil penelitian mengungkapkan bahwa bahasa dapat memperjelas dan memperkaya gagasan-gagasan bila para siswa sudah tingkat perkembangan yang tinggi. Siswa dipandang sebagai objek yang menerima apa yang diberikan guru.2. Tetapi.langsung. menerangkan suatu konsep. Dalam menerapkan pengetahuan atau keterampilan yang akan dilatihkan kepada sisswa secara 33 . karena guru lebih aktif memberikan informasi. mendemosntrasikan ketrampilan dalam memperoleh pola.8. Guru yang kreatif biasanya dalam memberikan informasi dan penjelasan kepada siswa menggunakan alat bantu seperti gambar. Alasanya anak-anak memperoleh pengetahuan dengan cara-cara yang berbeda dari cara orang dewasa. Model pembelajaran yang dipakai dalam pendekatan ekspositori yaitu : 2.1. bagan grafik. f. PENDEKATAN EKSPOSITORI Pendekatan ini bertolak dari pandangan bahwa tingkah laku kelas dan penyebaran pengetahuan dikontrol dan ditemukan oleh guru. Komunikasi yang digunakan dalam interaksinya dengan siswa menggunakan komunikasi satu arah. Hakekat menurut pandangan ini adalah menyampaikan ilmu pengetahuan kepada siswa.2. g. 2. Pendekatan ekspositori menempatkan guru sebagai pusat pengajaran. Memperkenalkan kembali materi kegiatan. Direct instruction ( pengajaran langsung) model pengajaran langsung guru harus mendemontrasikan Suatu model pengajaran yang sebenarnya bersifat teacher center. dan lain-lain. memberi contoh soal dan guru memberi kesempatan siswa untuk bertanya.

langkah demi langkah. 3. mempersiapkan siswa untuk belajar. dan resitasi (tanya jawab)yang terencana. 5. Guru menyampaikan tujuan. Guru mmempersiapakan kesempatan melakukan pelatihan lanjutan. • Langkah –langkah pengajaran langsung 1. dengan perhatian khusus padqa penerapan kepada situasi lebih kompleks dak kehidupan sehari-hari.yaitu pengetahuan tentang sesuatu (dapat di ungkapakan dengan kata-kata). Guru mendemonstrasikan keterampilan yang benar. Ini berarti pembelajaran tidak bersifat otoriter. dan tanpa 34 . 2. yaitu pengetahuan tentang bagaimana melakukan sesuatu. misalnya bagaimana cara menggunakan neraca lengan dan bagaimana melakukan eksperimen. Karena dalam pembelajaran peran guru sangat dominan. • Landasan Teoritik Model pengajaran langsung bertumpu pada prinsip-prinsip psikologi perilaku dan teori belajar sosial khususnya tentang pemodelan • Tujuan Hasil belajar siswa Sebagian besar tugas guru ialah membantu siswa memperoleh pengetahuan prosedural. maka guru dituntut agar dapat menjadi seorang model yang menarik bagi siswa. model ini terutama berpusat pada guru. Guru juga membantu siswa untuk memahami pengetahuan deklaratif. Meskipun tujuan pembelajaran dapat direncanakan bersama oleh guru dan siswa. Guru merencanakan dan memberi bimbingan pelatihan awal. mendengarkan. Sistem pengelolaan pembelajaran yang dilakukan oleh guru harus menjamin terjadinya keterlibatan siswa terutama melalui: memperhatikan. Guru mengecek apakah siswa telah berhasil melakukan tugas dengan baik. atau menyajikan informasi tahap demi tahap. memberi umpan balik. dingin. informasi latar belakang pelajaran pentingnya pelajaran ini. 4.

Ini berarti lingkungan berorientasi pada tugas dan memberi harapan tinggi agar siswa mencapai hasil belajar dengan baik.humor. 35 .

Dalam teori konstruktivisme ini lebih mengutamakan pada pembelajaran siswa yang dihadapkan masalah – masalah kompleks untuk dicari solusinya. guru lebih berperan sebagai fasilitator yang berfungsi sebagai jembatan penghubung ke arah pemahaman yang lebih tinggi. selanjutnya menemukan bagian – bagian yang lebih sederhana atau keterampilan yang diharapkan. 2010:201). dengan catatan siswa sendiri. Dalam model pembelajaran kooperatif ini. Pada dasarnya pendekatan teori konstruktivisme dalam belajar adalah suatu pendekatan dimana siswa harus secara individual menemukan dan menstraformasikan informasi yang kompleks. ini merupakan kesempatan bagi siswa untuk menemukan dan menerapkan ide – ide mereka sendiri. dan memberikan dorongan untuk dapat mengoptimalkan dan membangkitkan potensi siswa. Menurut Slavin (dalam Rusman. belajar adalah tindakan kreatif 36 . Siswa mempunyai kesempatan untuk mendapatkan pengalaman langsung dalam menerapkan ide – ide mereka. sehingga terjadi perubahan konseptual. pembelajaran kooperatif menggalakkan siswa berinteraksi secara aktif dan positif dalam kelompok. 2010:201). Guru tidak hanya memberikan pengetahuan pada siswa. pendidikan hendaknya mampu mengondisikan. Ini membolehkan pertukaran ide dan pemeriksaan ide sendiri dalam suasana yang tidak terancam. Menurut pandangan Piaget dan Vigotsky adanya hakikat sosial dari sebuah proses belajar dan juga tentang penggunaan kelompok – kelompok belajar dengan kemampuan anggotanya yang beragam. sehingga akan menjamin terjadinya dinamika di dalam proses pembelajaran. menumbuhkan aktivitas serta daya cipta (Kreativitas). sesuai dengan falsafah konstruktivisme.2. Berdasarkan penelitian Piaget yang pertama dikemukakan bahwa pengetahuan itu dibangun dalam pikiran anak (Ratna dalam Rusman. Oleh karena itu. tetapi juga harus membangun pengetahuan dalam pikirannya.9 PENDEKATAN KOOPERATIF Teori yang melandasi pembelajaran kooperatif adalah teori konstruktivisme.2. Dengan demikian. Piaget menekankan bahwa belajar adalah sebuah proses aktif dan pengetahuan disusun di dalam pikiran siswa.

dimana konsep dan kesan dibentuk dengan memikirkan objek dan bereaksi pada peristiwa tersebut. Di samping aktivitas dan kreativitas yang diharapkan dalam sebuah proses pembelajaran dituntut interaksi yang seimbang, interaksi yang dimaksudkan adalah adanya interaksi atau komunikasi antara guru dengan siswa, siswa dengan siswa, dan siswa dengan guru. Dalam proses belajar diharapkan adanya komunikasi banyak arah yang memungkinkan akan terjadinya aktivitas dan kreativitas yang diharapkan. Berkaitan dengan karya Vigotsky dan penjelasan Piaget, para konstruktivis menekankan pentingnya interaksi dengan teman sebaya, melalui pembentukan kelompok belajar. Dengan kelompok belajar memberikan kesempatan kepada siswa secara aktif dan kesempatan untuk mengungkapkan sesuatu yang dipikirkan siswa kepada teman akan membantunya untuk melihat sesuatu dengan lebih jelas bahkan melihat ketidaksesuaian pandangan mereka sendiri. 2.2.9.1 KONSEP DASAR PEMBELAJARAN KOOPERATIF Pembelajaran kooperatif (Cooperatif learning) merupakan bentuk pembelajaran dengan cara siswa belajar dan bekerja dalam kelompok – kelompok kecil secara kolaboratif yang anggotanya terdiri dari empat sampai enam orang dengan struktur kelompok yang bersifat heterogen. Dalam pembelajaran ini akan tercipta sebuah interaksi yang lebih luas, yaitu interaksi dan komunikasi yang dilakukan antara guru dengan siswa, siswa dengan siswa, dan siswa dengan guru (multi way traffic comunication). Pembelajaran kooperatif adalah strategi pembelajaran yang melibatkan partisipasi siswa dalam satu kelompok kecil untuk saling berinteraksi (Nurulhayati dalam Rusman, 2010:203). Dalam sistem belajar yang kooperatif, siswa belajar bekerja sama dengan anggota lainnya. Dalam model ini siswa memiliki dua tanggung jawab, yaitu mereka belajar untuk dirinya sendiri dan membantu sesama anggota kelompok untuk belajar. Siswa belajar bersama dalam sebuah kelompok kecil dan mereka dapat melakukannya seorang diri.

37

Tom V. Savage (1987:217) mengemukakan bahwa cooperatif learning adalah suatu pendekatan yang menekankan kerja sama dalam kelompok. Pembelajaran kooperatif tidak sama dengan sekadar belajar dalam kelompok. Ada unsur dasar pembelajaran kooperatif yang membedakan dengan pembelajaran kelompok yang dilakukan asal – asalan. Dalam pembelajaran kooperatif proses pembelajaran tidak harus belajar dari guru kepada siswa. Siswa dapat saling membelajarkan sesama siswa lainnya. Pembelajaran oleh rekan sebaya (peerteaching) lebih efektif daripada pembelajaran oleh guru. Cooperatif Learning adalah teknik pengelompokkan yang didalamnya siswa bekerja terarah pada tujuan belajar bersama dalam kelompok kecil yang umumnya terdiri dari 4 – 5 orang. Belajar Cooperatif adalah pemanfaatan kelompok kecil dalam pembelajaran yang memungkinkan siswa bekerja bersama untuk memaksimalkan belajar mereka dan anggota lainnya dalam kelompok tersebut (Johnson dalam Rusman, 2010:204) Strategi pembelajaran kooperatif merupakan serangkaian kegiatan pembelajaran yang dilakukan oleh siswa di dalam kelompok, untuk mencapai tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan. Terdapat 4 hal penting dalam strategi pembelajaran kooperatif, yakni : (1) adanya peserta didik dalam kelompok, (2) adanya aturan main dalam kelompok, (3) adanya upaya belajar dalam kelompok, (4) adanya kompetensi yang harus dicapai oleh kelompok. Berkenaan dengan pengelompokan siswa dapat ditentukan berdasarkan atas : (1) minat dan bakat siswa, (2) latar belakang kemampuan siswa, (3) perpaduan antara minat dan bakat siswa dan latar kemampuan siswa. Model pembelajaran kooperatif merupakan model pembelajaran yang banyak digunakan dan menjadi perhatian serta dianjurkan oleh para ahli pendidikan. Hal ini dikarenakan berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan Slavin (dalam Rusman, 2010:205-206) dinyatakan bahwa : (1) penggunaan pembelajaran kooperatif dapat meningkatkan prestasi belajar siswa dan sekaligus dapat meningkatkan hubungan sosial, menumbuhkan sikap toleransi, dan menghargai pendapat orang lain, (2) pembelajaran kooperatif dapat memenuhi kebutuhan siswa dalam berpikir kritis, memecahkan masalah, dan

38

mengintegrasikan pengetahuan dengan pengalaman. Dengan alasan tersebut, strategi pembelajaran kooperatif diharapkan mampu meningkatkan kualitas pembelajaran. Ada dua komponen pembelajaran kooperatif, yakni : (1) Cooperative test atau tugas kerja sama dan (2) Cooperative incentive structure, atau struktur intensif kerja sama. Tugas kerja sama berkenaan dengan suatu hal yang menyebabkan anggota kelompok kerja sama dalam menyelesaikan tugas yang telah diberikan. Sedangkan struktur intensif kerja sama merupakan sesuatu hal yang membangkitkan motivasi siswa untuk melakukan kerja sama dalam rangka mencapai tujuan kelompok tersebut. Dalam pembelajaran kooperatif adanya upaya peningkatan prestasi belajar siswa (student achievement) dampak penyerta, yaitu sikap toleransi dan mengahrgai pendapat orang lain. Pembelajaran kooperatif akan efektif digunakan apabila : (1) guru menekankan pentingnya usaha bersama disamping usaha secara individual, (2) guru menghendaki pemerataan perolehan hasil dalam belajar, (3) guru ingin menanamkan tutor sebaya atau belajar melalui teman sendiri, (4) guru menhendaki adanya pemerataan partisipasi aktif siswa, (5) guru menghendaki kemampuan siswa dalam memecahkan berabagai permasalahan (Sanjaya dalam Rusman, 2010:206). 2.2.9.2 KARAKTERISTIK MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF Pembelajaran kooperatif berbeda dengan strategi pembelajaran yang lain. Perbedaan tersebut dapat dilihat dari proses pembelajaran yang lebih menekankan pada proses kerja sama dalam kelompok. Tujuan yang ingin dicapai tidak hanya kemampuan akademik dalam pengertian penguasaan materi pelajaran, tetapi juga adanya unsur kerja sama untuk penguasaan materi tersebut. Adanya kerja sama inilah yang menjadi ciri khas dari cooperative learning. Karakteristik atau ciri – ciri pembelajaran kooperatif dapat dijelaskan sebagai berikut :

39

Penilaian : penilaian dalam pembelajaran kooperatif bisa dilakukan melalui tes atau kuis. pembelajaran kooperatif tidak akan mencapai hasil yang optimal. Tim merupakan tempat untuk mencapai tujuan. siswa bekerja dlam kelompok yang telah dibentuk sebelumnya.9. Oleh karena itu. Tujuan utama tahap ini adalah pemahaman siswa terhadap pokok materi pelajaran.3 PROSEDUR PEMBELAJARAN KOOPERATIF Prosedur atau langkah – langkah pembelajaran kooperatif pada prinsipnya terdiri atas empat tahap. Setiap anggota tim harus saling membantu untuk mencapai tujuan pemebelajaran. siswa perlu didorong untuk mau dan sanggup berinteraksi dan berkomunikasi dengan anggota lain dalam rangka mencapai tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan 2.1. Belajar Kelompok : tahap ini dilakukan setelah guru memberikan penjelasan materi. 2. 3. Keterampilan bekerja sama Kemampuan bekerja sama itu dipraktikan melalui aktivitas dalam kegiatan pembelajaran secara berkelompok. Tanpa kerja sama yang baik. Dengan demikian. Pembelajaran secara tim Pembelajaran kooperatif adalah pembelajaran dilakukan secara tim. 4. 2. 40 . (b) fungsi manajemen sebagai organisasi. (c) fungsi manajemen sebagai kontrol 3. oleh karenanya prinsip kebersamaan atau kerja sama perlu ditekankan dalam pembelajaran kooperatif. Didasarkan pada manajemen kooperatif Manajemen kooperatif mempunyai tiga fungsi yaitu : (a) fungsi manajemen sebagai perencanaan pelaksanaan. Kemauan untuk bekerja sama Keberhasilan pembelajaran kooperatif ditentukan oleh keberhasilan secara kelompok. Penjelasan Materi : tahap ini merupakan tahap penyampaian pokok – pokok materi pelajaran sebelum siswa belajar dalam kelompok. tim harus mampu membuat setiap siswa belajar.2. yaitu sebagai berikut : 1.

3. 4. tetapi mereka juga harus siap memberikan dan mengajarkan materi tersebut kepada kelompoknya. kemudian menjelaskan materi kepada rekan kelompoknya 41 .4.1 Model Pembelajaran Jigsaw Jigsaw adalah tipe pembelajaran kooperatif yang dikembangkan oleh Elliot Aronson’s.2. langkah-langkah penerapan model pembelajaran Jigsaw dalam matematika. Menurut Arends (1997). “Model Pembelajaran Jigsaw adalah model pembelajaran kooperatif yang menitikberatkan pada kerja kelmpok siswa dalam bentuk kelompok kecil “ Rusman (2011:218). jenis – jenis model tersebut adalah sebagai berikut : 2. Model pembelajaran ini didesain untuk meningkatkan rasa tanggung jawab siswa terhadap pembelajarannya sendiri dan juga pembelajaran orang lain. kelompok ahli menyebar dan kembali ke kelompok masing-masing.4. teknis penerapan tipe pembelajaran ini maju mundur seperti gergaji.9.4 MODEL – MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF Adapun beberapa variasi jenis model dalam pembelajaran kooperatif. Menurut Lie (dalam Rusman (2011:218) “Pembelajaran Kooperatif model Jigsaw ini merupakan model belajar kooperatif dengan cara siswa belajar dalam kelompok kecil yang terdiri dari empat sampai enam orang secara heterogen dan siswa bekerja sama ketergantungan positif dan bertanggung jawab secara mandiri” Sesuai dengan namanya. walaupun prinsip dasar dari pembelajaran kooperatif ini tidak berubah.2. 2. Pengakuan Tim : penetapan tim yang dianggap paling menonjol atau tim paling berprestasi untuk kemudian diberikan penghargaan atau hadiah. wakil ini disebut dengan kelompok ahli Kelompok ahli berdiskusi untuk membahas topik yang diberikan dan saling membantu untuk menguasai topik tersebut Setelah memahami materi. Membentuk kelompok heterogen yang beranggotakan 4 – 6 orang Masing-masing kelompok mengirimkan satu orang wakil mereka untuk membahas topik.9. Siswa tidak hanya mempelajari materi yang diberikan. 2. yaitu: 1.

karena sudah ada kelompok ahli yang bertugas menjelaskan materi kepada rekan-rekannya Pemerataan penguasaan materi dapat dicapai dalam waktu yang lebih singkat Metode pembelajaran ini dapat melatih siswa untuk lebih aktif dalam berbicara dan berpendapat. Untuk mengantisipasi hal ini guru harus memilih tenaga ahli secara tepat. Kemudian baru mengajukan pertanyaan apabila tidak mengerti. Dalam penerapannya sering dijumpai beberapa permasalahan/kekurangan yaitu : 1. Untuk mengantisipasi hal ini guru harus pandai menciptakan suasana kelas yang menggairahkan agar siswa yang cerdas tertantang untuk mengikuti jalannya diskusi. 2. Siswa yang memiliki kemampuan membaca dan berpikir rendah akan mengalami kesulitan untuk menjelaskan materi apabila ditunjuk sebagai tenaga ahli. Bila dibandingkan dengan metode pembelajaran tradisional. kemudian memonitor kinerja mereka dalam menjelaskan materi. Guru memberikan tes individual pada akhir pembelajaran tentang materi yang telah didiskusikan Kunci pembelajaran ini adalah interpedensi setiap siswa terhadap anggota kelompok untuk memberikan informasi yang diperlukan dengan tujuan agar dapat mengerjakan tes dengan baik. 3. model pembelajaran Jigsaw memiliki beberapa kelebihan yaitu: 1. agar materi dapat tersampaikan secara akurat. Siswa yang cerdas cenderung merasa bosan. Siswa yang aktif akan lebih mendominasi diskusi. 6. Siswa yang tidak terbiasa berkompetisi akan kesulitan untuk mengikuti proses pembelajaran. 3. dan cenderung mengontrol jalannya diskusi.5. 2. Untuk mengantisipasi masalah ini guru harus benar-benar memperhatikan jalannya diskusi. Guru harus menekankan agar para anggota kelompok menyimak terlebih dahulu penjelasan dari tenaga ahli. 42 . Mempermudah pekerjaan guru dalam mengajar. 4.

menumbuhkan jiwa sosial. Manfaat menggunakan model pembelajaran Group Investigation: 1. Implementasi stategi belajar Group Investigation meliputi: 1.2 Investigasi Kelompok (Group Investigation) Strategi belajar Group Investigation dikembangkan oleh Shlomo Sharan dan Yael Sharan di Universitas Tel Aviv. 2. dan membuat kesimpulan). Belajar kooperatif dengan teknik Group Investigation sangat cocok untuk bidang kajian yang memerlukan kegiatan studi proyek terintegrasi (Slavin. untuk berbagi dan saling tukar informasi temuan mereka.2. 3. Mengidentifikasi topik dan mengorganisasikan siswa ke dalam kelompok. pengalaman-pengalaman siswa. 2011:221) yang mengarah pada kegiatan penelitian. Komponen emosional lebih penting daripada intelektual. Untuk meningkatkan peluang keberhasilan dalam memcahkan masalah. Melaksanakan investigasi ( siswa mencari informasi. analisis. Selanjutnya. dan kemudian membuat atau menghasilkan laporan kelompok. 6. para sisiwa berbagi informasi terhadap topik yang dikerjakan. Dengan adanya pembagian tugas dan tanggungjawab. tiap kelompok bebas memilih subtopic dari keseluruhan unit materi (pokok bahasan) yang akan diajarkan. dalam Rusman. Mempresentasikan laporan. 4. dan sintesis informasi dalam upaya untuk memecahkan suatau masalah. Evaluasi. menganalisis data. kerja yang telah dilakukan. 2. anak-anak belajar bertanggungjawab. 5. pengorganisasian kelas dengan menggunakan Secara umum perencanaan teknik kooperatif Group Investigation adalah kelompok dibentuk oleh sisiwa itu sendiri dengan beranggotakan 2 – 6 anak. setiap kelompok mempresentasikan atau memamerkan laporannya kepada seluruh kelas. 3. Menyiapkan laporan akhir.9. Pengembangan kreativitas siswa. Guru bersama siswa merencanakan tugas-tugas belajar. yang tak rasional lebih penting dari pada yang rasional. 43 .4. 4. misal. Israel. 1995a.2.

siswa dibagi menjadi kelompok beranggotakan empat orang yang beragam kemampuan.2.2. masing-masing kelompok terdiri dari 4–6 orang dengan prestasi yang bervariasi. Guru menjelaskan bahwa tugas utama kelompok adalah membantu anggota untuk menguasai materi dan mempersiapkan quiz serta setiap anggota hendaknya berusaha untuk memperoleh nilai yang baik karena prestasi individu akan berpengaruh besar terhadap kelompok. Metode Student Teams Achievement Division (STAD) tepat digunakan untuk mengajarkan materi-materi Matematika. Bahasa Inggris.Pembagian kelompok diatur berdasarkan skor awal. Akhirnya semua sisiwa menjalani kuis perseorangan tentang materi tersebut.9. IPA. jenis kelamin dan sukunya. IPS. Penyajian materi dilakukan secara klasikal. Guru mempersiapkan materi berikut perangkat pengajaran termasuk lembar kerja peserta didik dan soal quiz serta menentukan metode pembelajaran dan penyajian materi pada awal pembelajaran. • Tahap Penyajian Materi Sebelum pembelajaran. Guru memperhatikan hal-hal sebagai berikut: 44 .3 Model Student Teams Achievement Division (STAD) Model ini dikembangkan oleh Robert Slavin dan teman-temannya di Universitas John Hopkin Menurut Slavin (dalam Rusman: 2007) Dalam Student Teams Achievement Division (STAD). Guru memberikan suatu pelajaran dan sisiwa-siswa didalam kelompok memastikan bahwa semua anggota kelompok itu bias menguasai pelajaran tersebut. dan pada saat itu mereka tidak boleh saling membnatu satu sma lain. jenis kelamin dan ras yang berbeda.4. Guru menginformasikan kepada peserta didik tujuan yang hendak dicapai dan prasyarat yang harus dimiliki. Pembelajaran Kooperatif Tipe STAD Secara garis besar tahap-tahap kooperatif tipe STAD dapat dijelaskan sebagai berikut: • Tahap persiapan Pada tahap ini. Dalam menyajikan materi pelajaran.

dalam suasana menyenangkan (Rusman. Hasil tes digunakan sebagai nilai perkembangan individu dan untuk perolehan skor kelompok • Tahap perhitungan skor perkembangan individu Skor perkembangan individu dihitung berdasarkan selisih perolehan tes sebelumnya (skor awal) dengan tes akhir. 45 . Salah satu keunggulan teknik ini adalah siswa mencari pasangan sambil belajar mengenai konsep atau topik. Berdasarkan skor awal. • Tahap kegiatan kelompok Dalam tahap ini peserta didik mempelajari materi dan mengerjakan tugas- tugas yang diberikan Guru dalam LKS.  menekankan kepada peserta didik bahwa belajar adalah memahami makna bukan hafalan  mengontrol pemahaman peserta didik sesering mungkin  memberikan penjelasan tentang benar atau salahnya jawaban dari suatu pertanyaan. 2.4.2. Setelah peserta didik memahami permasalahan. Peran Guru dalam tahap ini sebagai fasilitator dan motivator kegiatan tiap kelompok • Tahap pelaksanaan tes individu Setelah materi dipelajari dan dibahas secara berkelompok.9. Setiap anggota kelompok bertanggung jawab atas kelompoknya. 2011:223).4 Model Make a Match (Membuat Pasangan). Metode ini dikembangkan oleh Lorna Curran (1994). mengembangkan materi pelajaran sesuai dengan apa yang akan dipelajari peserta didik dalam kelompok. setiap peserta didik memiliki kesempatan yang sama untuk memberikan sumbangan skor maksimal bagi kelompoknya berdasarkan skor tes yang diperolehnya. Dalam kegiatan kelompok peserta didik saling membantu dan berbagi tugas. selanjutnya beralih pada materi berikutnya. peserta didik diberi tes dengan tujuan untuk mengetahui sejauh mana keberhasilan yang telah dicapainya. Metode Make a Match (membuat pasangan) merupakan salah satu jenis dari metode dalam pembelajaran kooperatif.

5. Setelah babak kartu dikocok lagi agar tiap siswa mendapat karu yang berbeda dari sebelumnya. 4. Turnamen harus memungkinkan semua siswa dari semua tingkat kemampuan (kepandaian) untuk menyumbangkan poin bagi kelompoknya. Permainan yang dikemas dalam 46 . Langkah-langkah: 1. Siswa mencari pasangan yang mempunyai kartu yang cocok dengan kartunya (kartu soal/kartu jawaban).5 Model TGT (Teams Games Tournaments) Menurut Saco (dalam Rusman.9. dalam suasana yang menyenangkan. dan soal yang lebih mudah untuk anak yang kurang pintar. dalam TGT siswa memainkan permainan dengan anggota-anggota tim lain untuk memperoleh skor bagi tim mereka masing-masing. Setiap siswa mendapat kartu dan mimikirkan jawaban atau soal dari kartu yang dipegang. Kesimpulan.4. Permainan dapat disusun guru dalam bentuk kuis berupa pertanyaan-pertanyaan yang berkaitan dengan materi pelajaran. demikian seterusnya. 3. 2. Prinsipnya. Siswa yang dapat mencocokkan kartu sebelum batas waktu diberi point. Tiap siswa misalnya akan mengambil sebuah kartu yang diberi angka tadi dan berusaha untuk menjawab pertanyaan yang sesuai dengan angka tersebut. Guru menyiapkan beberapa kartu yang berisi bebrapa konsep/topik yang cocok untuk sesi review (satu sisi kartu berupa kartu soal dan sis sebaliknya berupa kartu jawabnnya) 2.2.Keunggulannya adalah siswa mencari pasangan sambil belajar mengenai suatu konsep atau topik. Hal ini dimaksudkan agar semua anak mempunyai kemungkinan memberi skor bagi kelompoknya. 2011:224). soal sulit untuk anak pintar. Kadang-kadang dapat juga diselingi dengan pertanyaan yang berkaitan dengan kelompok (identitas kelompok mereka). Permaianan dalam TGT dapat berupa pertanyaan-pertanyaan yang ditulis pada kartu-kartu yang diberi angka. 6.

membaca soal sekaligus menjawab. Penantang 1 setuju. Dalam kerja kelompok guru memberikan LKS kepada tiap kelompok. penantang 2 : penantang 1. Games tournament. 2011:225) pembelajaran kooperatif tipe TGT terdiri dari lima langkah tahapan yaitu: tahap penyajian kelas (class precentation).bentuk turnamen ini dapat berperan sebagai penilaian alternatif atau dapat pula sebagai review materi pembelajaran. e. Penghargaan kelompok. jika tidak setuju. terbesar 3 menjadi penantang 2. Menurut Slavin (dalam Rusman. dan penghargaan kelompok (team recognition). Tugas yang diberikan dikerjakan bersama-sama dengan anggota kelompoknya. maka anggota kelompok yang lain bertanggung jawab untuk memberikan jawaban atau menjelaskan. belajar dalam kelompok (teams). Setiap pemain mengambil satu kartu poin c. dan terkecil menjadi reader 2. Siswa bekerja dalam kelompok-kelompok kecil. tidak setuju atau pas terhadap jawaban reader 1. Cara turnamen a. b.Adapun cirri-ciri TGT sebagai berikut: a. permainan (games). jenis kelamin dan suku atau ras yang berbeda. Apabila ada dari anggota kelompok yang lain tidak mengerti dengan tugas yang diberikan. Reader 2 juga sebagai penantang 3 dan bertugas membuka kunci jawaban dan memberikan kartu poin kepada pemain yang jawabanya benar. Salah satu siswa mengocok kartu poin dan diletakkan di atas meja turnamen b. Reader 1 mengocok kartu poin dan mengambil salah satu lalu disesuaikan dengan karu soal. TGT adalah salah satu tipe pembelajaran kooperatif yang menempatkan sisiwa dalam kelompok-kelompok belajar yang beranggotakan 5 sampai 6 orang sisiwa yang mempunyai kemampuan. f. pertandingan (tournament). c. Jika jawaban reader dan penantang betul semua maka reader 1 berkesempatan 47 . d. jawab yang lain dengan alasan. terbesar 2 menjadi penantang 1. Siswa yang mendapat kartu terbesar 1 menjadi reader 1.

2.  Waktu yang dihabiskan untuk diskusi oleh siswa cukup banyak.mendapat kartu poin. Posisi kartu poin berputar sesuai jarum jam.9. sehingga terjadi perubahan posisi reader1 menjadi reader2.sikap. Kelebihan TGT  Lebih meningkatkan pencurahan waktu untuk tugas  Mengedepankan penerimaan terhadap perbedaan individu  Dengan waktu yang sedikit dapat menguasai materi secara mendalam  Proses belajar bmengajar berlangsung dengan keaktifan dari siswa  Mendidik siswa untuk berlatih bersosialisasi dengan orang lain  Motifasi belajar lebih tinggi  Hasil belajar lebih baik Kelemahan TGT  Sulitnya pengelompokan siswa yang mempunyai kemampuan heterogen dari segi akademis. reader 2 menjadi penantang 2. 2. Permainan dilanjutkan sampai kartu soal terjawab semua.6 Model Role Playing Model Role Playing disebut juga sosio drama. penantang 2 menjadi penantang 1. mencatat jumlah kartu yang diperoleh masing-masing-masing pemain pada teamnya. dalam proses pembelajaran diharapkan para guru dan siswa memperoleh penghayatan nilai-nilai dan perasaan-perasaan. dengan bermain peran diharapkan siswa terampil atau menghayati dalam berbagai figur khayalan atau figure sesungguhnya dalam berbagai situasi. dan penantang 1 menjadi reader1. tetapi jika salah. g.4. h. i. kartu poin di kembalikan dan ditaruh dipaling bawah. role playing termasuk permainan pendidikan yang dapat dipakai untuk menjelaskan peranan. tingkah laku dan 48 . dalam metode ini dapat melibatkan aspek-aspek kognitif dan aspek afektif atas tokoh yang mereka perankan.  Masih adanya siswa berkemampuan tinggi kurang terbiasa dan sulit memberikan penjelasan kepada siswa lainnya. Reader 1 pada soal terakhir.

2. Sebagai penyalur ketegangan atau pelepas dan perasaan-perasaan.7 Metode Think Pair and Share Metode ini dikembangkan oleh Frank Lyman dan kawan-kawannya dari Universitas Maryland dan mampu mengubah asumsi bahwa metode resitasi dan diskusi perlu diselenggarakan dalam setting kelompok kelas secara keseluruhan. Memanggil para siswa yang sudah di tunjuk untuk melakukan skenario yang sudah dipersiapkan. b. Guru menyusun atau menyiapkan sekenario yang akan ditampilkan.4. masing-masing siswa diberikan kertas sebagai lembar kerja untuk membahas. 8. Setelah selesai di pentaskan. Tujuan dan manfaat Role Playing menurut Shaftel a. 7. Untuk mempelajari indra dan rasa siswa terhadap sesuatu. 4. Evaluasi. Sebagai alat pendiagnosa keadaan kemampuan siswa. Agar memahami apa yang menjadi sebab dari sesuatu serta bagaimana akibatnya.9. Masing-masing siswa duduk di kelompoknya. 2. c.nilai-nilai dengan tujuan menghayati perasaan. 6. 49 . 11. 3. 5. 1. Guru memberikan kesimpulan secara umum. d. masing-masing sambil memperhatikan mengamati skenario yang sedang di peragakan. Guru membentuk kelompok siswa yang anggotannya 5 orang. Masing-masing kelompok menyampaikan hasil kesimpulannya. Memberikan penjelasan tentang kompetensi yang ingin dicapai. 9. Langkah-langkah metode Role Playing 10. Agar menghayati sesuatu kejadian atau hal yang sebenarnya dalam realitas hidup. Penutup. sudut pandang dan cara berfikir orang lain. Menunjuk beberapa siswa untuk mempelajari skenario dua hari sebelum kegiatan belajar mengajar.2. e.

Biasanya guru mengizinkan tidak lebih dari 4 atau 5 menit untuk berpasangan. 2. Lyman dan kawan-kawannya. Siswa dikelompokkan kedalam empat atau lima orang secara heterogen. Langkah 2 – Bepasangan (Pairing): Selanjutnya guru meminta kepada siswa untuk berpasangan dan mendiskusikan mengenai apa yang telah dipikirkan. guru meminta kepada para siswa untuk menyadari secara lebih serius mengenai apa yang telah dijelaskan oleh guru atau apa yang telah dibaca. Interaksi selama periode ini dapat menghasilkan jawaban bersama jika suatu pertanyaan telah diajukan atau penyampaian ide bersama jika suatu soal khusus telah diidentifikasi. Menggunakan langkah-langkah sebagai berikut: 1. si B mengerjakan unit 5. Langkah 3 – Berbagi (Sharing): Pada akhir ini guru meminta pasangan- pasangan tersebut untuk berbagi atau bekerja sama dengan kelas secara keseluruhan mengenai apa yang telah mereka bicarakan. Setiap siswa mengerjakan unit-unit program matematika sesuai dengan kemampuan masing-masing. para siswa mengikuti rangkaian kegiatan yang 50 . Sebagai contoh. Artinya. dalam suatu tim bisa saja si A mngerjakan unit 2.Metode Think-Pair-Share memberikan kepada para siswa untuk berpikir dan merespons serta saling bantu satu sama lain. 3. seorang guru baru saja menyelesaikan suatu sajian pendek atau para siswa telah selesai membaca suatu tugas. Selanjutnya. Model ini dirancang untuk menggabungkan insentif motivasional dari penghargaan kelompok dengan program pembelajaran individual yang cocok dengan tingkatan yang dimiliki oleh siswa. Langah 1 – Berpikir (Thinking): Guru mengajukan pertanyaan atau isu yang terkait dengan pelajaran dan siswa diberi waktu satu menit untuk berpikir sendiri mengenai jawaban atau isu tersebut. Guru tersebut memilih metode Think-Pair-Share daripada metode Tanya jawab untuk kelompok secara keseluruhan (whole-group question and answer). sehingga seperempat atau separo dari pasangan-pasangan tersebut memperoleh kesempatan untuk melapor. Pada langkah ini akan menjadi efektif jika guru berkeliling kelas dari pasangan yang satu ke pasangan yang lain.

51 . mengerjakan lembar kerja. saling bertukar lembar jawaban dan memeriksa pekerjaan temannya. Anggota tim bertanggung jawab meyakinkan bahwa temannya telah siap mengikuti final tes. Baik tanggung jawab individual dan penghargaan kelompok ada di dalam Think Pair Share ini. Jika seorang siswa berhasil mencapai atau melampaui skor 80. dia mengikuti final tes. Setiap minggu guru menjumlahkan banyaknya unit yang telah diselesaikan oleh semua anggota tim dan memberikan sertifikat atau penghargaan lainnya kepada tim yang memenuhi kriteria berdasarkan jumlah final tes yang berhasil dilampau.teratur. Anggota tim bekerja secara berpasangan. memeriksa apakah dia telah menguasai keterampilan dan mengikuti tes. mulai dari membaca lembar pembelajaran.

kecerdasan. 52 . pengendalian diri. guna menciptakan pembelajaran PAKEM (Partisipatif. Sehingga peningkatan mutu pendidikan nasional menjadi harga mati. kompetensi kepribadian. strategi. serta ketrampilan yang diperlukan dirinya. bangsa dan Negara.1 KESIMPULAN Guru sebagai tenaga profesional dituntut untuk memiliki kompetensi paedagogik. Pembelajaran yang berorientasi pada penguasaan materi terbukti berhasil dalam kompetisi mengingat jangka pendek tetapi gagal dalam membekali anak memecahkan persoalan dalam kehidupan jangka panjang. Akan tetapi upaya peningkatan kemampuan terus menerus (continuous improvement) merupakan syarat yang tidak perlu ditawar-tawar lagi Ada kecenderungan dewasa ini untuk kembali pada pemikiran bahwa anak akan belajar lebih baik jika lingkungan diciptakan alamiah. oleh karena itu guru semakin dituntut untuk menggunakan model pembelajaran yang dapat menarik minat dan motivasi siswa. Belajar akan lebih bermakna jika anak mengalami apa yang dipelajarinya. Pendekatan. kompetensi profesional. metode. akhlak mulia. kepribadian. Aktif. bukan mengetahuinya. Efektif dan Menyenangkan) yang selanjutnya untuk mewujudkan makna pendidikan nasional yakni usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan. masyarakat. dan kompetensi sosial. teknik dan model-model pembelajaran perlu dipahami dan diterapkan oleh para pendidik.BAB III PENUTUP 3. Upaya untuk menguasai keempat kompetensi itu melalui pendidikan formal hanyalah merupakan syarat mutlak bagi guru. Kreatif.

untuk itu kami sebagai pendidik dan calon pendidik menyusun makalah ini dalam rangak menambah pengetahuan.kami.makalah.ini.harapkan.2. untuk itu saran dan kritik dari pembaca demi kesempurnaan. Dalam penulisan makalah ini penulis tentu terdapat kekuarangan dan kelebihan. 53 . SARAN Masa depan generasi penerus bangsa sebagian ada ditangan para pendidik.3.

Efektif. Kreatif. Prestasi Pustakaraya Mulyasa. http://smacepiring. (2011). Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses Pendidikan.DAFTAR RUJUKAN Ahmadi. Bandung: PT.fkip. Enco.wordpress.wordpress.com/2010/04/model-pembelajarn-ipa teknologi_5715. (2009). http://idahariyanti. Konsep dan Makna Pembelajaran. Syaiful.id/files/2009/12/SBM-TGL-7. Model-model Pembelajaran Mengembangkan Profesionalisme Guru. Paikem Gembrot Mengembangkan Pembelajaran Aktif. Inovatif.student. Jakarta: Kencana Prenada Media Group Rusman. Alvabeta Sanjaya Wina. (2008). (2011). http://www.uns.docx.ac. Hasil dari Modul Workshop Rencana Program dan Implementasi Life Skill SMA Jawa Timur.doc 2004.com/2008/02/19/pendekatan-dan-metode-pembelajaran/. dkk. Menyenangkan. Menjadi Guru Profesional. Iif Khoiru.html http://imamahmadi. Jawa Timur. Bandung: CV.com/2010/04/23/model-pembelajaran/ 54 . Jakarta: PT Raja Grafindo. Jakarta: PT. Gembira dan Berbobot. Remaja Rosdakarya Sagala.papantulisku. (2010).

Tri Pujianto 2. Munip A. Adi Kurniawan 3. Sri Rahayu.BAB IV : Pertanyaan Kelompok Lain Hari/tanggal Presentasi a. 16 April 2011 Moderator : Zeria Penanya 2. Yusuf 3. Penyempurna : 1.Pd.M. Nunik Ekowati d. Penyanggah e. Nur Sholihah : Dra. Yusuf Praktekkan salah satu model pembelajaran yang saudara bahas untuk mata pelajaran Matematika! 3. PERTANYAAN 1.Pd. S.. : 1. Nunik 55 . Nur Affandi 2. : Rabu. JAWAB 1. Rahayu Bagaimanakah Teknik mengajarkan tematik secara utuh? A. Munip Bagaimanakah cara mengoptimalkan model pembeajaran dalam suatu kelas yang karakteristiknya unik? 2. Penjawab : 1. b. Rahayu c.

Nunik Ekowati Guru membingbing anak yang kemapuannya masih kurang. apabila ada siswa yang melanggar aturan tersebut. Sanggahan a. aturan tersebut berasal dari siswa itu sendiri. agar mereka mendapatkan kemampuan yang sama. maka guru mengingatkan dan meminta anak untuk mematuhinya. selain itu guru dapat melakukan pengajaran tambahan pada anak tersebut. tetapi tidak mengabaikan anak yang berkemampuan sedang dan tinggi. Tambahan Bu Yayuk Menurut bu Yayuk solusi yang tepat adalah menggunakan modul. Fandi Mempraktekkan model kontruktivistik dalam menemukan luas jajaran genjang dari penurunan persegi panjang Adi mempraktekkan model Talking Stik 3. b. 2. Adi Mengacu pada implementasi pembelajaran Tematik.Cara mengoptimalkan pembelajaran dalam suatu kelas yang karakteristiknya unik adalah dengan menggunakan model apapun guru harus menyampaikan aturan-aturan diawal pembelajaran. bisa dengan menambah jam belajar (15 menit) atau memberi PR. bagaimana caranya. Tri Pujianto Biasanya anak-anak mempunyai kemampuan berpikir yang berbeda. Dalam merancang pembelajaran tematik di Sekolah Dasar bisa dilakukan dengan dua cara: 56 .

Kedua. Nunik Ekowati Apabila seorang guru paham dengan cara berpikir anak usia kelas 1.2. 3 yakni pemikirannya masih global belum bisa dipisah-pisah. Di Indonesia tema ditentukan oleh guru. Sanggahan. Tetapi di luar negeri. dan selanjutnya guru menambahkan materi yang menunjang tema-tema yang ada pada buku tersebut. siswa hanya pengikut/pelaksana. a. dilanjutkan dengan mengidentifikasi dan memetakan kompetensi dasar pada mata pelajaran yang diperkirakan relevan dengan tema-tema tersebut.3 menggunakan pembelajaran tematik. Nur Sahalihah Pada kenyataanya tematik disekolah belum dilaksanakan secara utuh.Pertama. tema ditentukan oleh anak. 2. tema-tema pemersatu tersebut ditentukan setelah mempelajari kompetensi dasar dan indikator yang terdapat pada masing-masing mata pelajaran. jadi guru bisa belajar dan mengajar dari buku tersebut. Saat ini telah tersedia buku-buku pelajaran (buku paket) Tematik. Tambahan dari Bu Yayuk. dilanjutkan dengan penetapan tema pemersatu. dimulai dengan mengidentifikasi kompetensi dasar dari beberapa mata pelajaran yang memiliki hubungan. tentu guru akan banyak-banyak belajar serta berusaha menerapkan pembelajaran tematik secara utuh. Misal: anak-anak ditelevisi melihat berita tentang banjir atau bencana alam? selanjutnya guru menyampaikan tema umum yakni lingkungan dan sub tema gejala alam. dengan demikian. Idealnya kelas 1. bagaimana agar guru dapat melakukan pembelajaran tematik secara utuh? b. Dalam pelaksanaannya sebelum mengajar guru menstimulasi anak tentang tema yang akan dibahas. dimulai dengan menetapkan terlebih dahulu tema-tema tertentu yang akan di ajarkan. Tematik ada 2 macam yakni tematik terpadu dan temaik tidak terpadu 57 .

mereka harus rajin untuk berkumpul bersama guru mata pelajaran lain untuk menyusun jaring laba-laba (spider web). 6) juga bisa menggunakan tematik tetapi bisanya terkendala pada guru. guru harus menyusun jaring laba-laba (spider web) yang mana disana terdapat tema umum.Dalam pembelajaran terpadu. sub tema dan indikator-indikator. 5. Pada kelas tinggi (4. 58 . karen guru kelas tinggi adalah guru mata pelajaran.

tidak hanya sekedar mengetahui. antara lain : 1. sehingga guru dituntut untuk merencanakan strategi pembelajaran yang variatif dengan prinsip membelajarkan – memberdayakan siswa. keterampilan.//www. Pendekatan Kontekstual Pendekatan konstekstual berlatar belakang bahwa siswa belajar lebih bermakna dengan melalui kegiatan mengalami sendiri dalam lingkungan alamiah.contextual.ac. dan memahami.doc) MACAM – MACAM PENDEKATAN PEMBELAJARAN Ada beberapa macam pendekatan pembelajaran yang digunakan pada kegiatan belajar mengajar. maka siswa dapat diarahkan kepada pemikiranagar tidak hanya berkonsentrasi dalam 59 .BAB V : Lampiran data dari Internet Lampiran I Data dari : (http://idahariyanti. mengingat. Pemahaman. guru memilih konteks pembelajaran yang tepat bagi siswa dengan cara mengaitkan pembelajaran dengan kehidupan nyata dan lingkungan di mana anak hidup dan berada serta dengan budaya yang berlaku dalam masyarakatnya (http.wordpress.docx.org. 2001: 8). Dengan demikian proses pembelajaran lebih diutamakan daripada hasil belajar. Pembelajaran tidak hanya berorientasi target penguasaan materi.com/2008/02/19/pendekatan-danmetode-pembelajaran/).fkip.student. nilai dan sikap yang ada dalam materi dikaitkan dengan apa yang dipelajari dalam kelas dan dengan kehidupan sehari-hari (Dirjen Dikdasmen. yang akan gagal dalam membekali siswa untuk memecahkan masalah dalam kehidupannya.id).uns. bukan mengajar siswa(http://smacepiring.id/files/2009/12/SBM-TGL7. Borko dan Putnam mengemukakan bahwa dalam pembelajaran kontekstual. Dengan memilih konteks secara tepat. penyajian ilmu pengetahuan.

menemukan sesuatu yang baru bagi kelas yang dapat berupa pengetahuan. tugas guru adalah membantu siswa dalam mencapai tujuannya. dan lingkungan masyarakat luas. keterampilan dari hasil “menemukan sendiri” dan bukan dari “apa kata guru. 2. Yaitu bahwa pendekatan dibangun oleh manusia sedikit demi 60 .Guru bertugas mengelola kelas sebagai sebuah tim yang bekerja bersama untuk merumuskan. sehingga juga mengembangkan ketrampilan sosial (social skills) (Dirjen Dikmenum. membantu mereka mengidentifikasi masalah yang konseptual atau metodologis dalam bidang penelitian dan mengajak mereka untuk merancang cara dalam mengatasi masalah. 2002:6). tetapi juga untuk mengembangkan sikap. serta kreativitas siswa dalam memecahkan masalah yang terkait dengan kehidupan mereka sehari-hari melalui interaksi dengan sesama teman.pembelajaran di lingkungan kelas saja. tetapi diajak untuk mengaitkan aspek-aspek yang benar-benar terjadi dalam kehidupan mereka sehari-hari. Guru lebih banyak berurusan dengan strategi daripada memberi informasi. dan Raghven. misalnya melalui pembelajaran kooperatif. Klopher. nilai. Lebih lanjut Schaible. dalam Joyce-Well (2000:172) menyatakan bahwa pendekatan kontekstual melibatkan siswa dalam masalah yang sebenarnya dalam penelitian dengan menghadapkan anak didik pada bidang penelitian. Pendekatan Konstruktivisme Kontruktivisme merupakan landasan berfikir pendekatan kontekstual. masa depan mereka. Penggunaan pembelajaran kontekstual memiliki potensi tidak hanya untuk mengembangkan ranah pengetahuan dan keterampilan proses. Dalam kelas kontekstual.

Seseorang juga boleh membina konsepkonsep dalam struktur kognitifnya dengan menggunakan analogi. Perkaitan ini dibina sendiri oleh pelajar. Pembelajaran terdahulu dikaitkan dengan pembelajaran terbaru. Brunner dan Brand 1966). Menurut teori konstruktivisme. Dewey (1938) dan Ausubel (1963). Yekovich. iaitu berdasarkan pengetahuan yang ada padanya. Pendekatan konstruktivisme sangat penting dalam proses pembelajaran kerana belajar digalakkan membina konsep sendiri dengan menghubungkaitkan perkara yang dipelajari dengan pengetahuan yang sedia ada pada mereka. Menurut Gagne. Rumelhart dan Norman (1978) menjelaskan seseorang akan dapat membina konsep dalam struktur kognitifnya dengan menghubungkan pengetahuan baru dengan pengetahuan yang sedia ada padanya dan proses ini dikenali sebagai accretion. Piaget (1970). Kajian Sharan dan Sachar (1992. konsep-konsep yang ada pada seseorang boleh berubah selaras dengan pengalaman baru yang dialaminya dan ini dikenali sebagai penalaan atau tuning.2005). dan Nik Aziz (1999) kelebihan teori konstruktivisme ialah pelajar berpeluang membina pengetahuan secara aktif melalui proses saling pengaruh antara pembelajaran terdahulu dengan pembelajaran terbaru. Menurut Caprio (1994). konsep-konsep yang dibina pada struktur kognitif seorang akan berkembang dan berubah apabila ia mendapat pengetahuan atau pengalaman baru. disebut dalam Sushkin. Dalam proses ini. 1999) membuktikan kumpulan pelajar yang diajar menggunakan pendekatan konstruktivisme telah mendapat pencapaian yang lebih tinggi dan 61 . pelajar dapat meningkatkan pemahaman mereka tentang sesuatu perkara. Selain itu. McBrien Brandt (1997). dan Yekovich (1993) konsep baru juga boleh dibina dengan menggabungkan konsep-konsep yang sedia ada pada seseorang dan ini dikenali sebagai parcing.sedikit yang hasilnya diperluas melalui konteks yang terbatas dan tidak dengan tiba-tiba(Suwarna.

Prince dan Felder (2006) menyatakan pembelajaran tradisional adalah pembelajaran dengan pendekatan deduktif. b.signifikan berbanding kumpulan pelajar yang diajar menggunakan pendekatan tradisional. Pendekatan Deduktif – Induktif a. Pendekatan Induktif Ciri uatama pendekatan induktif dalam pengolahan informasi adalah menggunakan data untuk membangun konsep atau untuk memperoleh pengertian. Temuannya adalah: ”All new learning involves transfer of information based on previous learning”. Nor Aini (2002). definisi dan istilah-istilah pada bagian awal pembelajaran. Van Drie dan Van Boxtel (2003). Pembelajaran dengan pendekatan deduktif menekankan pada guru mentransfer informasi atau pengetahuan. Curtis (1998). 2006) melakukan penelitian dibidang psikologi dan neurologi. memulai dengan teoriteori dan meningkat ke penerapan teori. dan kurang atau tidak mengkaitkan dengan pengalaman mereka.2005). Pendekatan deduktif dilandasi oleh suatu pemikiran bahwa proses pembelajaran akan berlangsung dengan baik bila siswa telah mengetahui wilayah persoalannya dan konsep dasarnya(Suwarna. menyajikan teori-teori dan rumus dengan sedikit memperhatikan pengetahuan utama mahasiswa. Di bidang sain dan teknik dijumpai upaya mencoba pembelajaran dan topik baru yang menyajikan kerangka pengetahuan. 3. Bransford (dalam Prince dan Felder. dan Lieu (1997) turut membuktikan bahawa pendekatan konstruktivisme dapat membantu pelajar untuk mendapatkan pemahaman dan pencapaian yang lebih tinggi dan signifikan. Kajian Caprio (1994). Data yang digunakan mungkin merupakan data primer atau dapat pula berupa kasus-kasus nyata yang terjadi dilingkungan. Pendekatan Deduktif Pendekatan deduktif ditandai dengan pemaparan konsep. 62 .

Major (2006) berpendapat bahwa pembelajaran dengan pendekatan induktif efektif untuk mengajarkan konsep atau generalisasi. pembelajaran berbasis masalah. Beberapa contoh pembelajaran dengan pendekatan induktif misalnya pembelajaran inkuiri. Siswa melakukan sejumlah pengamatan yang kemudian membangun dalam suatu konsep atau geralisasi. dan prosedur-prosedur berdasar pengamatan siswa sendiri. aturan-aturan. tetapi sampai pada abstraksi tersebut setelah mengamati dan menganalisis apa yang diamati. pembelajaran berbasis proyek. Pola pikir deduktif secara sederhana dapat dikatakan pemikiran “yang berpangkal dari hal yang bersifat umum diterapkan atau diarahkan kepada 63 . atau memberi masalah konstekstual. dan pembelajaran penemuan. Pada prinsipnya matematika bersifat deduktif. pembelajaran berbasis kasus. Alternatif pendekatan pembelajaran lainnya selain dengan pembelajaran pendekatan deduktif adalah dengan pendekatan induktif . Matematika sebagai “ilmu” hanya diterima pola pikir deduktif. Dikembangkan melalui kekuatan argumen logika. Pembelajaran dengan pendekatan induktif dimulai dengan melakukan pengamati terhadap hal-hal khusus dan menginterpretasikannya. Pembelajaran diawali dengan memberikan contoh-contoh atau kasus khusus menuju konsep atau generalisasi. Kemp (1994: 90) menyatakan ada dua kategori yang dapat dipakai dalam membahas materi pembelajaran yaitu metode induktif dan deduktif. menganalisis kasus.artinya semua pembelajaran baru melibatkan transfer informasi berbasis pembelajaran sebelumnya. dan (2) memberi contoh. Major (2006) menyatakan dalam pembelajaran dengan pendekatan deduktif dimulai dengan menyajikan generalisasi atau konsep. Siswa tidak harus memiliki pengetahuan utama berupa abstraksi. siswa dibimbing memahami konsep. Dalam fase pendekatan induktif-deduktif ini siswa diminta memecahkan soal atau masalah. dan beberapa tugas mirip contoh dikerjakan siswa dengan maksud untuk menguji pemahaman siswa tentang definisi yang disampaikan. Contoh urutan pembelajaran: (1) definisi disampaikan.

Pendekatan Proses Pada pendekatan proses. ada dua hal mendasar yang harus selalu dipegang pada setiap proses yang berlangsung dalam pendidikan.wordpress. Dalam proses pembelajaran tersebut penguasaan konsep dan subkonsep yang menjadi fokus. pola pikir deduktif. menafsirkan. berhipotesa. pribadi Pertama. proses bagi mengalami. (http://smacepiring.hal yang bersifat khusus” Soedjadi (2000: 16). Pendekatan Konsep Pembelajaran dengan menggunakan pendekatan konsep berarti siswa dibimbing memahami suatu bahasan melalui pemahaman konsep yang terkandung di dalamnya.com/2008/02/19/pendekatan-dan- 64 .blogspot.com/2008/02/19/pendekatan-danmetode-pembelajaran/). Dalam pendekatan proses. Penggunaan pendekatan proses menuntut keterlibatan langsung siswa dalam kegiatan belajar. Pendidikan harus sungguh menjadi suatu pengalaman konsep. tujuan utama pembelajaran adalah mengembangkan kemampuan siswa dalam keterampilan proses seperti mengamati. b. dan mengkomunikasikan. (http://rochmad-unnes. merencanakan.html) 4. Pendekatan Konsep dan Proses a.com/2008/01/penggunaan-pola-pikirinduktif-deduktif. Dengan beberapa metode siswa dibimbing untuk memahami metode-pembelajaran/). atau keduanya digunakan secara bergantian. Pendekatan keterampilan proses digunakan dan dikembangkan sejak kurikulum 1984. Dalam kegiatan memecahkan masalah siswa dapat terlibat berpikir dengan dengan menggunakan pola pikir induktif.wordpress. (http://smacepiring.

peserta didik.com/group/sd-islam/message/1907). bahwa STM merupakan an interdisciplinery field of study that dalam dialaminya bagian integral dari diri peserta didik. pendidikan mengejawantah dalam diri peserta didik setiap proses pendidikan yang (http://groups. tradisi masyarakat dan bagaimana pengaruh sains dan teknologi terhadap hubungan-hubungan tersebut menjadi bagian yang penting dalampengembangan pembelajaran di era sekarang ini. teknologi dan masyarakat. education must integrate acrossdisciplines. pembelajaran dengan pendekatan STMharuslah diselenggarakan dengan cara mengintegrasikan berbagaidisiplin (ilmu) dalam rangka memahami berbagai hubungan yangterjadi di antara sains. bukan lagi potongan-potongan 65 . Dalam pendekatan ini siswa diajak untuk meningkatakan kreativitas. STM dipandang sebagai proses pembelajaran yang senantiasa sesuai dengan konteks pengalaman manusia. Tekhnologi dan Masyarakat National Science Teachers Association (NSTA) (1990 : 1)memandang STM sebagai the teaching and learning of science in thecontext of human experience. maka pendidikan akan menjadi pengalaman yang disodorkan untuk diterima. Dengan proses mengalami. Hal ini berarti bahwa pemahaman kita terhadap hubungan antara sistem politik. sikap ilmiah. Dengan demikian. Dengan demikian. 5.yahoo. Pandangan tersebut senada dengan pendapat NC State University (2006: 1). Pendekatan Sains. menggunakan konsep dan proses sains dalam kehidupan sehari-hari. yang sebenarnya bukan miliknya sendiri.Definisi lain tentang STM dikemukakan oleh PENN STATE(2006:1) bahwa STM merupakan an interdisciplinary approach whichreflects the widespread realization that in order to meet the increasingdemands of a technical society.

Ausubel. Ilmu Sejarah: Teori dan amalan dalam pengajaran A dan pembelajaran Sejarah. yang dalam pemecahannya menggunakan langkah – langkah (ilmiahhttp://smacepiring. Anwar. 30–31 Oktober.wordpress. Sebenarnya dalam pembelajaran dengan menggunakan pendekatan STM ini tercakup juga adanya pemecahan masalah. Kertas kerja yang dibentangkan dalam Simposium Sejarah. Perbedaan tersebut ada pada aspek : kaitan dan aplikasi bahan pelajaran. Hasil penelitian dari National Science Teacher Association ( NSTA ) ( dalam Poedjiadi. and how such factors shape science and technology. dan bagaimana situasi sosial mempengaruhi perkembangan sains dan teknologi. P. STM dengandemikian adalah sebuah pendekatan yang dimaksudkan untuk mengetahui bagaimana sains dan teknologi masuk dan merubah proses-proses sosial di masyarakat. Kuala Lumpur. Universiti Malaya. 66 . tetapi masalah itu lebih ditekankan pada masalah yang ditemukan sehari – hari. Pendidikan Kecakapan Hidup (Life Skill Education).seeks to explore a understand the many ways that scinence and technology shape culture. (2004). 2000 ) menunjukan bahwa pembelajaran sains dengan menggunakan pendekatan STM mempunyai beberapa perbedaan jika dibandingkan dengan cara biasa. and institution. D. Sumber : Abdul Rahim Rashid. values. dan konsep pengetahuan. (1963). (1998). proses. Melalui pendekatan STM ini guru dianggap sebagai fasilitator dan informasi yang diterima siswa akan lebih lama diingat. New York: A Grune & Stratton Inc.com/2008/02/19/pendekatan-danmetode-pembelajaran/). sikap. kreativitas. Bandung: Penerbit Alfabeta. The psychology of meaningful verbal learning.

Ilmu Alamiah Dasar. Yogyakarta: PPM IKIP Yogyakarta. responsibility and reform in science education.com/2008/02/19/pendekatan-dan-metodepembelajaran/) (http.yahoo.B Mangunwijaya.wordpress. 12. R.com/2008/02/19/pendekatan-dan-metodepembelajaran/). Supriyadi. Bandung: Remaja Rosda Karya Lee. (2000).com/group/sd-islam/message/1907). W. Vol. 2000.. http:/www.wordpress. (1999). Jakarta: Depdiknas. dan Life Skills di SMU. IOWA State University. Pendidikan Berbasis Realitas Sosial. (2004). B Science Educator. 2.org.contextual.com/2008/02/19/pendekatan-dan-metodepembelajaran/ (http://groups. Introduction & F. Pengembangan Pelaksanaan Broad-Based Education. Incorporating Developmentally Appropriate Learning Opportunities to Assess Impact of Life Skill Development.aitech. Lifeskills4kids.html) (http://smacepiring. Leadership.ac. HighBased Education. (2001). The Internet TESL Journal. Firdaus M Yunus. (2003). Kwuang-wu. Yogyakarta: 67 .com/2008/01/penggunaan-pola-pikir-induktifdeduktif. Buku Pegangan Perkuliahan Teknologi Pengajaran Fisika. Paulo freire-Y.com Suhandoyo (1993).id) (http://rochmad-unnes. kdavis@LifeSkills4Kids. Ngalim Purwanto.Bybee. Upaya Meningkatkan Kualitas Sumber Daya Manusia Melalui Interaksi Positif dengan Lingkungan. (1993).1–9.Q.wordpress. December 2000. (ilmiahhttp://smacepiring. English Teachers’ Barriers to the Use of Computer assisted Language Learning. Depdiknas. Psikologi Pendidikan.//www. 2002.blogspot. (2002). Yogyakarta: Logung Pustaka (http://smacepiring.A. Yogyakarta: Jurdik Fisika FMIPA UNY Suyoso. VI.jp/~iteslj/ (Frequently Asked Questions). No.

Becoming a Secondary school science Teacher. (1986). Life Skills. Prospek Penerapan Pendekatan Sains-TeknologiMasyarakat (STM) dalam pembelajaran Kimia di Kalimantan Selatan.caseylifeskills. www.org Rusmansyah. Utah State Board of Education. London: Merill Publishing Company.(2000).Trowbidge dan Byebee. 68 . (2001).

4. Sementara itu. Istilahistilah tersebut adalah: (1) pendekatan pembelajaran. (3) metode pembelajaran. menguatkan. Menetapkan spesifikasi dan kualifikasi tujuan pembelajaran yakni perubahan profil perilaku dan pribadi peserta didik. 2010 — imamahmadi oleh: Akhmad Sudrajat Dalam proses pembelajaran dikenal beberapa istilah yang memiliki kemiripan makna.wordpress. Pendekatan pembelajaran dapat diartikan sebagai titik tolak atau sudut pandang kita terhadap proses pembelajaran. Dilihat dari pendekatannya. yang merujuk pada pandangan tentang terjadinya suatu proses yang sifatnya masih sangat umum. (4) teknik pembelajaran. Menetapkan norma-norma dan batas minimum ukuran keberhasilan atau kriteria dan ukuran baku keberhasilan. Dari pendekatan pembelajaran yang telah ditetapkan selanjutnya diturunkan ke dalam strategi pembelajaran. Berikut ini akan dipaparkan istilah-istilah tersebut. dengan harapan dapat memberikan kejelasaan tentang penggunaan istilah tersebut. Mengidentifikasi dan menetapkan spesifikasi dan kualifikasi hasil (out put) dan sasaran (target) yang harus dicapai. dengan mempertimbangkan aspirasi dan selera masyarakat yang memerlukannya. Newman dan Logan (Abin Syamsuddin Makmun. 2008) mengemukakan bahwa strategi pembelajaran adalah suatu kegiatan pembelajaran yang harus dikerjakan guru dan siswa agar tujuan pembelajaran dapat dicapai secara efektif dan efisien.com/2010/04/23/model-pembelajaran/ Model Pembelajaran April 23. dan (6) model pembelajaran. 3. Mempertimbangkan dan menetapkan tolok ukur (criteria) dan patokan ukuran (standard) untuk mengukur dan menilai taraf keberhasilan (achievement) usaha. keempat unsur tersebut adalah: 1. yaitu : 1. yaitu: (1) pendekatan pembelajaran yang berorientasi atau berpusat pada siswa (student centered approach) dan (2) pendekatan pembelajaran yang berorientasi atau berpusat pada guru (teacher centered approach). (5) taktik pembelajaran. 3. Jika kita terapkan dalam konteks pembelajaran. Mempertimbangkan dan memilih sistem pendekatan pembelajaran yang dipandang paling efektif. 69 . Mempertimbangkan dan memilih jalan pendekatan utama (basic way) yang paling efektif untuk mencapai sasaran. Kemp (Wina Senjaya. Mempertimbangkan dan menetapkan langkah-langkah atau prosedur. sehingga seringkali orang merasa bingung untuk membedakannya. di dalamnya mewadahi. Mempertimbangkan dan menetapkan langkah-langkah (steps) yang akan dtempuh sejak titik awal sampai dengan sasaran. dan melatari metode pembelajaran dengan cakupan teoretis tertentu. pembelajaran terdapat dua jenis pendekatan. metode dan teknik pembelajaran. (2) strategi pembelajaran. 2003) mengemukakan empat unsur strategi dari setiap usaha. 4. 2. 2.Lampiran II http://imamahmadi. menginsiprasi.

Jadi. (2) demonstrasi. (6) pengalaman lapangan. sesuai dengan kemampuan. (8) debat. model pembelajaran pada dasarnya merupakan bentuk pembelajaran yang tergambar dari awal sampai akhir yang disajikan secara khas oleh guru. Jadi. tetapi mungkin akan sangat berbeda dalam taktik yang digunakannya. Strategi pembelajaran sifatnya masih konseptual dan untuk mengimplementasikannya digunakan berbagai metode pembelajaran tertentu. penggunaan metode ceramah pada kelas dengan jumlah siswa yang relatif banyak membutuhkan teknik tersendiri. dan sebagainya. Dengan kata lain. Selanjutnya metode pembelajaran dijabarkan ke dalam teknik dan gaya pembelajaran. sementara yang satunya lagi kurang memiliki sense of humor. (7) brainstorming. (9) simposium. (5) laboratorium. Terdapat beberapa metode pembelajaran yang dapat digunakan untuk mengimplementasikan strategi pembelajaran. Dalam hal ini. pengalaman dan tipe kepribadian dari guru yang bersangkutan. pembelajaran akan menjadi sebuah ilmu sekalkigus juga seni (kiat) Apabila antara pendekatan. yang tentunya secara teknis akan berbeda dengan penggunaan metode ceramah pada kelas yang jumlah siswanya terbatas. (3) diskusi. Misalkan. (4) simulasi. strategi merupakan “a plan of operation achieving something” sedangkan metode adalah “a way in achieving something” (Wina Senjaya (2008). Dalam taktik ini. perlu digunakan teknik yang berbeda pada kelas yang siswanya tergolong aktif dengan kelas yang siswanya tergolong pasif. Ditinjau dari cara penyajian dan cara pengolahannya. Wina Senjaya (2008) menyebutkan bahwa dalam strategi pembelajaran terkandung makna perencanaan. strategi pembelajaran dapat dibedakan antara strategi pembelajaran induktif dan strategi pembelajaran deduktif.Selanjutnya. bahwa strategi pada dasarnya masih bersifat konseptual tentang keputusan-keputusan yang akan diambil dalam suatu pelaksanaan pembelajaran. metode. Dengan demikian. Artinya. yaitu: (1) exposition-discovery learning dan (2) group-individual learning (Rowntree dalam Wina Senjaya. yang satu cenderung banyak diselingi dengan humor karena memang dia memiliki sense of humor yang tinggi. Dilihat dari strateginya. Dalam gaya pembelajaran akan tampak keunikan atau kekhasan dari masing-masing guru. terdapat dua orang sama-sama menggunakan metode ceramah. teknik dan bahkan taktik pembelajaran sudah terangkai menjadi satu kesatuan yang utuh maka terbentuklah apa yang disebut dengan model pembelajaran. diantaranya: (1) ceramah. Sementara taktik pembelajaran merupakan gaya seseorang dalam melaksanakan metode atau teknik pembelajaran tertentu yang sifatnya individual. strategi. tetapi lebih banyak menggunakan alat bantu elektronik karena dia memang sangat menguasai bidang itu. pembelajaran dapat dikelompokkan ke dalam dua bagian pula. guru pun dapat berganti-ganti teknik meskipun dalam koridor metode yang sama. dengan mengutip pemikiran J. Demikian pula. 2008). Dalam penyajiannya. Dengan kata lain. Misalkan. teknik pembelajaran dapat diatikan sebagai cara yang dilakukan seseorang dalam mengimplementasikan suatu metode secara spesifik. R David. model pembelajaran 70 . metode pembelajaran dapat diartikan sebagai cara yang digunakan untuk mengimplementasikan rencana yang sudah disusun dalam bentuk kegiatan nyata dan praktis untuk mencapai tujuan pembelajaran. dengan penggunaan metode diskusi.

Untuk lebih jelasnya.merupakan bungkus atau bingkai dari penerapan suatu pendekatan. dan sebagainya). dalam proses pembelajaran dikenal juga istilah desain pembelajaran. Berdasarkan uraian di atas. 1990) mengetengahkan 4 (empat) kelompok model pembelajaran. strategi membicarakan tentang berbagai kemungkinan tipe atau jenis rumah yang hendak dibangun (rumah joglo. setelah ditetapkan tipe rumah yang akan dibangun. rumah gadang. masing-masing akan menampilkan kesan dan pesan yang berbeda dan unik. Jika strategi pembelajaran lebih berkenaan dengan pola umum dan prosedur umum aktivitas pembelajaran. sebagaimana diisyaratkan dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan. dan teknik pembelajaran. (3) model personal-humanistik. Jika dianalogikan dengan pembuatan rumah. para guru atau calon guru saat ini banyak ditawari dengan aneka 71 . seorang guru dituntut dapat memahami dan memliki keterampilan yang memadai dalam mengembangkan berbagai model pembelajaran yang efektif. Kendati demikian. Berkenaan dengan model pembelajaran. sedangkan desain pembelajaran lebih menunjuk kepada cara-cara merencanakan suatu sistem lingkungan belajar tertentu setelah ditetapkan strategi pembelajaran tertentu. Benyamin Surasega. yaitu: (1) model interaksi sosial. Mencermati upaya reformasi pembelajaran yang sedang dikembangkan di Indonesia. mulai dari tahap awal sampai dengan tahap akhir. posisi hierarkis dari masing-masing istilah tersebut. dan (4) model modifikasi tingkah laku. (2) model pengolahan informasi. maupun kriteria penyelesaiannya. Bruce Joyce dan Marsha Weil (Dedi Supriawan dan A. Sedangkan desain adalah menetapkan cetak biru (blue print) rumah yang akan dibangun beserta bahan-bahan yang diperlukan dan urutan-urutan langkah konstruksinya. kiranya dapat divisualisasikan sebagai berikut: Di luar istilah-istilah tersebut. seringkali penggunaan istilah model pembelajaran tersebut diidentikkan dengan strategi pembelajaran. bahwa untuk dapat melaksanakan tugasnya secara profesional. metode. rumah modern. kreatif dan menyenangkan.

yang kadang-kadang untuk kepentingan penelitian (penelitian akademik maupun penelitian tindakan) sangat sulit menermukan sumber-sumber literarturnya. 72 . maka pada dasarnya guru pun dapat secara kreatif mencobakan dan mengembangkan model pembelajaran tersendiri yang khas.pilihan model pembelajaran. sehingga pada gilirannya akan muncul model-model pembelajaran versi guru yang bersangkutan. Namun. yang tentunya semakin memperkaya khazanah model pembelajaran yang telah ada. jika para guru (calon guru) telah dapat memahami konsep atau teori dasar pembelajaran yang merujuk pada proses (beserta konsep dan teori) pembelajaran sebagaimana dikemukakan di atas. sesuai dengan kondisi nyata di tempat kerja masing-masing.

dan penciptaan. dan Yager (1992:15) meliputi empat tahap.Lampiran III http://www. yaitu tahap: a. penemuan.dan menilai konsepkonsep yang dijadikan rujukan. peserta didik mengidentifikasi masalah-masalah yang ada di daerahnya dan dampaknya. 73 .al. menelusuri kembali konsep-konsep.com/2010/04/model-pembelajarn-ipa teknologi_5715. agar dapat digunakan oleh peserta didik dalam mencari solusi terhadap masalahnya.al. pengambilan tindakan. (1990:59). pengajuan penjelasan dan solusi. (1990:59) mengemukakan bahwa pembelajaran ipa dan teknologi diperlukan agar konsisten dengan cara-cara para ahli dalam melakukan penyelidikan yang bersifat ilmiah dan teknologi.papantulisku. 3. keterlibatan peserta didik secara aktif dalam mencari informasi yang dapat diterapkan untuk memecahkan masalah. PEMBELAJARAN AKTIF. d. c.3 berikut ini. b. eksplorasi.al. mengajukan penjelasan dan solusi yang masih tentatif. penekanan pada keterampilan proses IPA. Horsley. dan Yager (1992:15) tersebut diilustrasikan seperti pada Gambar 3. 4. et. menggunakan sumber-sumber setempat (nara sumber dan bahanbahan) untuk memperoleh informasi yang dapat digunakan dalam pemecahan masalah. Carin (1997:74). EFEKTIF DAN MENYENANGKAN Sintaks pembelajaran IPA dengan model STS menurut Carin (1997:74). Model pembelajaran IPA dan teknologi melibatkan peserta didik dalam kegiatan-kegiatan penyelidikan. KREATIF. invitasi.html Yager (1992:20) mendefinisikan STS (Science Technology Society) atau IPA Teknologi Masyarakat sebagai belajar dan mengajar mengenai IPA/teknologi dalam konteks pengalaman manusia. (1990:59). Horsley et. 2. Dengan mengutip dari NSTA (National Science Teachers Association) Yager memberikan ciri-ciri khas pembelajaran dengan model STS sebagai berikut : 1. Model pembelajaran IPA dan teknologi yang berorientasi pada konstrukstivisme dengan model STS yang diajukan oleh Horsley. et. sebagai perwujudan otonomi setiap individu dalam proses belajar. mengkonstruksi makna yang mereka temukan. dan 5.

atau melakukan percobaan).3 Bagan sintaks Pembelajaran IPA dan teknologi dengan model STS Invitasi Pada tahap ini guru merangsang peserta didik mengingat atau menampilkan kejadian-kejadian yang ditemui baik dari media cetak maupun media elektronik yang berkaitan dengan topik yang merupakan hasil observasi. Kegiatan peserta didik 74 . Kegiatan peserta didik dapat berlangsung di dalam kelas. Kegiatan yang dilakukan peserta didik dapat mengacu kepada LKS yang telah ada untuk topik tersebut atau dapat juga mengembangkan sendiri berdasarkan LKS yang telah ada atau membuat LKS yang baru. nara sumber.Sumber: Carin1997:74 dan Horsley. koran. bisa berupa LKS yang telah ada atau menyiapkan LKS yang baru. Guru dan peserta didik mengidentifikasi bersama mengenai masalah atau pertanyaan dan jawaban sementara yang paling mungkin dilakukan dengan mempertimbangkan keadaan lingkungan dan alokasi waktu pembelajaran serta topik. atau di luar sekolah yang diperkirakan memungkinkan dilakukan oleh peserta didik. (1990:59) Gambar 3. halaman sekolah. Eksplorasi Pada tahap ini kegiatan yang dilakukan peserta didik merupakan upaya untuk mencari jawaban atau menguji jawaban sementara yang telah dibuat dengan mencari data dari berbagai sumber informasi (buku. majalah. lingkungan. Hasil yang diperoleh peserta didik hendaknya berupa suatu hasil analisis dari data yang diperoleh. instansi terkait. Selanjutnya peserta didik merumuskan masalah yang akan dicari jawabannya dengan tetap mengaitkan kepada topik yang dibahas. peran Guru sangat diperlukan untuk menghaluskan rumusan masalah yang diajukan peserta didik dan mengacu kepada sumber belajar.

menginterpretasikan data. dan sikap. Domain proses Domain ini menekankan pada bagaimana proses memperoleh pengetahuan yang dilakukan oleh para saintis. Domain ini meliputi proses-proses yang sering disebut keterampilan proses IPA. atau dalam kedudukan peserta didik sebagai pribadi atau sebagai anggota masyarakat. dan melaksanakan eksperimen. prinsip. merumuskan hipotesis. dan mendiskusikan pemecahan masalah. EFEKTIF DAN Penentuan Tindakan Pada tahap ini peserta didik diajak untuk membuat suatu keputusan dengan mempertimbangkan penguasaan konsep IPA dan keterampilan yang dimiliki untuk berbagai gagasan dengan lingkungan. Penjelasan dan Solusi Pada tahap ini peserta didik diajak untuk mengkomunikasikan gagasan yang diperoleh dari analisis informasi yang didapat. menginfer. dan juga mengadakan pendekatan dengan berbagai unsur untuk meminimalkan dampak negatif suatu hal atau yang merupakan tindakan positif suatu masyarakat. Peran Guru hendaknya dapat menghaluskan atau meluruskan konsep peserta didik yang keliru. Domain ini meliputi faktafakta. Domain-domain itu meliputi domain konsep.BELAJARAN AKTIF. mengkomunikasikan. proses. memprediksi. Domain konsep Domain konsep memfokuskan pada muatan IPAnya. penerapan pengetahuan dan keterampilan. mendesain model. membagi informasi dan gagasan. dan menentukan beberapa solusi.EATIF.pada tahap ini di antaranya dapat berupa iur pendapat. Guru membimbing peserta didik untuk memadukan konsep yang dihasilkannya dengan konsep yang dianut oleh para ahli IPA. Yager et al untuk membantu Guru-Guru dalam mengajarkan IPA untuk mencapai lima tujuan utama. aplikasi. yaitu sebagai berikut: mengamati. mencari informasi. Peserta didik juga diharapkan merumuskan pertanyaan lanjutan dengan ditemukannya suatu penjelasan terhadap fenomena alam (konsep IPA). kreativitas. teori-teori dan hukum-hukum. mengukur. mengobservasi fenomena khusus. EFEKTIF DA Domain Aplikasi Domain ini menekankan pada penerapan konsep-konsep dan keterampilan keterampilan dalam memecahkan masalah sehari-hari. memberi definisi operasional. Model pembelajaran STS ini telah dikembangkan oleh Robert E. penjelasan-penjelasan. misalnya menggunakan proses-proses ilmiah dalam memecahkan masalah yang terjadi dalam kehidupan 75 . Pengambilan tindakan ini di antaranya dapat berupa kegiatan pengambilan keputusan.dan mengajukan pertanyaan baru. meninjau dan mendiskusikan solusi yang diperoleh. mengklasifikasi. Tujuan-tujuan itu dikarakteristikkan sebagai "domain". menyusun suatu model penjelasan (baru). mengenali variabel. KREATIF. bereksperimen.

kreasi fisik. yaitu tantangan terhadap imajinasi. 76 . Dalam konteks ini. kelas IPA. dan evaluasi. (melihat adanya tantangan). program IPA. serta yang tidak kalah pentingnya adalah sikap positif terhadap diri sendiri. dan gaya hidup yang didasarkan atas pengetahuan/konsepkonsep IPA. dan Guru IPA. kreativitas terdiri atas empat langkah. kegunaan belajar IPA. gizi. memahami dan menilai laporan media massa mengenai pengembangan pengetahuan. Domain Sikap Domain ini meliputi pengembangan sikap-sikap positif terhadap IPA pada umumnya. Domain kreativitas Domain kreativitas terdiri atas interaksi yang komplek dari keterampilanketerampilan dan proses –proses mental. inkubasi.sehari-hari. pengambilan keputusan yang berhubungan dengan kesehatan pribadi.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->