1 BAB I PENDAHULUAN

I.1. Latar Belakang Seperti negara-negara lain di dunia, Indonesia juga mengalami pasang surut dalam perkembangan dan proses penegakan Hak Asasi Manusia (HAM). Proses penegakan HAM di Indonesia mengalami perkembangan yang jauh lebih baik dari awal kemerdekaan hingga saat ini. Hal ini tidak lepas dari adanya kesadaran dari masyarakat Indonesia itu sendiri, dan adanya tekanan, serta opini masyarakat internasional tentang pentingnya penegakan HAM. Sejak indonesia merdeka, sesungguhnya telah memberikan pengakuan dan perlindungan HAM bagi warga negaranya, jauh sebelum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mencetuskan Universal Declaration of Human Rights (Pernyataan sedunia hak-hak asasi manusia). Pengakuan dan perlindungan HAM bagi warga negara Indonesia tersebut diabadikan dalam konstitusi negara yaitu dalam Undang-Undang Dasar 1945, yang merupakan piagam HAM bagi bangsa Indonesia. Landasan Hukum Penegakan HAM di Indonesia, yaitu : a. Landasan idiil (Pancasila) sila ke-2: “Kemanusiaan yang adil dan beradab”. Landasan idiil merupakan landasan filosofis dan moral bagi bangsa indonesia untuk senantiasa memberikan penghormatan, pengakuan dan perlindungan terhadap HAM; b. Landasan konstitusional (UUD 1945) yakni : Pembukaan UUD 1945 alinea ke-1 dan ke-4; Pasal 27, Pasal 28, Pasal 28 A sampai Pasal 28 J, Pasal 29, Pasal 30, Pasal 31, Pasal 32, Pasal 33, dan Pasal 34 UUD 1945; c. Landasan operasional, yakni landasan pelaksanaan bagi penegakan HAM di Indonesia yang meliputi aturan-aturan pelaksana, seperti:

Berdasarkan Bab I. Undangundang ini mengatur pelaksanaan proses pengadilan bagi para pelaku kejahatan kemanusiaan. Kepres No. Ketentuan Umum. UU No. hukum dan pemerintah. dijunjung tinggi dan dilindungi oleh Negara. dan menjadi tonggak sejarah dalam proses penegakkan hak asasi manusia di Indonesia. menegakkan dan menyebarluaskan pemahaman tentang HAM. 26 Tahun 2000 tentang Pengadilan Hak Asasi Manusia. juga berisikan sanksisanksi bagi para pelaku pelanggaran HAM. yang dimaksud dengan Hak Asasi Manusia adalah seperangkat hak yang melekat pada hakikat dan keberadaan manusia sebagai makhluk Tuhan Yang Maha Esa dan merupakan anugerah-Nya yang wajib dihormati. XVII/MPR/1998 tentang Hak Asasi Manusia. Ketetapan ini menugaskan kepada lembaga-lembaga negara dan seluruh aparatur pemerintahan untuk menghormati. 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia sebagai undang-undang yang menjadi landasan pelaksana yang sangat penting dalam upaya penekan HAM di Indonesia. Undang-undang ini selain berisi tentang aturan-aturan dalam penghormatan dan perlindungan HAM.2 TAP MPR No. namun pelanggaran dan pelecehan terhadap hak asasi manusia masih tetap terjadi di dalam masyarakat. baik oleh aparatur penegak hukum ataupun oleh masyarakat itu sendiri. Pasal 1 (ayat 1) UU Nomor 39 Tahun 1999 tentang HAM. 50 Tahun 1993 tentang pembentukan Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (KOMNAS HAM). Komisi ini dibentuk dengan tujuan untuk meningkatkan perlindungan terhadap hak asasi manusia. Banyak kasus pelanggaran dan pelecehan hak asasi manusia yang terjadi karena tidak dipahaminya aturan-aturan yang ada. UU Nomor 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia merupakan undang-undang yang menjadi landasan pelaksanaan HAM di Indonesia. dan setiap orang demi kehormatan serta perlindungan harkat dan martabat manusia. Meskipun telah banyak produk hukum dibuat untuk memberikan perlindungan terhadap hak asasi manusia. UU No.1 1 .

Salah satunya adalah penyerangan terhadap komunitas Jamaah Ahmadiyah Indonesia (JAI) di beberapa tempat yang berdampak pada kekerasan terhadap perempuan kelompok minoritas tersebut sebagai bukti belum tegasnya penegakkan HAM di Indonesia. 4. hak anak. 2007). 2. 7. hal.2 Abdullah Yazid et. 5. 39 Tahun 1999 antara lain : 1. hingga penurunan kesehatan. kemajuan ini juga diikuti dengan kemunduran yang bersifat paradoks..al. 2 . sehingga kehilangan hak-hak publiknya. 53. Namun. 3. gerakan perempuan Indonesia juga mengalami kemajuan sejak Era Reformasi. mereka juga terkucilkan dari masyarakat.. hak wanita.3 Jenis-jenis HAM yang diatur oleh UU No. hak atas kesejahteraan. ed. dan 9. menerima kekerasan seksual. Demokrasi dan Hak Asasi Manusia. 6. hak berkeluarga dan melanjutkan keturunan. hak atas kebebasan pribadi. hak memperoleh keadilan. Perempuan Ahmadiyah sering kali mendapat cemooh. Salah satu jenis Hak Asasi Manusia yang akan dibahas pada bab-bab selanjutnya adalah hak berkeluarga dan melanjutkan keturunan. Seiring berkembangnya penegakkan HAM. Timbulnya berbagai bentuk kelembagaan dan perangkat hukum yang melindungi hak-hak perempuan dan upaya membebaskan perempuan dari tindak kekerasan (seperti Komnas Perempuan) juga disertai dengan fakta bahwa marjinalisasi dan kekerasan perempuan pun terjadi hingga saat ini. hak memperoleh rasa aman. Selain itu. hak mengembangkan diri. (Malang: Program Sekolah Demokrasi PLA CID’S AVERROES dan KID. gangguan jiwa karena tekanan ekonomi. 8. hak untuk hidup. Kondisi ini terjadi ketika komunitas mereka diserang warga anti-Ahmadiyah.

2. yang bertentangan dengan konstitusi Indonesia sebagaimana telah dijelaskan di atas. yaitu pelanggaran hak untuk berkeluarga dan melanjutkan keturunan.2. Tujuan Khusus I. baik nasional maupun internasional.1.3. perempuan penganut Ahmadiyah dipersulit dalam urusan pelayanan publik.3. www. Seperti saat mengurus akta pernikahan karena agama Islam yang mereka anut tidak diakui. Bagaimana pemenuhan hak berkeluarga dan melanjutkan keturunan di Indonesia khususnya bagi perempuan Ahmadiyah? I.2.2.2.1. I.3.com . I. I.tempointeraktif. karena dianggap minoritas dan menyimpang. Bagaimana upaya para pihak dalam memenuhi hak berkeluarga dan melanjutkan keturunan khususnya bagi perempuan Ahmadiyah? I. Tujuan Umum Untuk memaparkan mengenai pemenuhan hak berkeluarga dan melanjutkan keturunan yang dikaitkan dengan instrumen hukum. Inilah salah satu bentuk pelanggaran HAM.3. Pokok Permasalahan Adapun pokok permasalahan dari makalah ini adalah sebagai berikut : I. Untuk mengetahui bagaimana upaya para pihak dalam pemenuhan hak berkeluarga dan melanjutkan keturunan khususnya bagi perempuan Ahmadiyah.2. Untuk mengetahui bagaimana pemenuhan hak berkeluarga dan melanjutkan keturunan khususnya bagi perempuan Ahmadiyah.1.3. Tujuan I.4 Tidak hanya itu.2.2.

Sistematika Penulisan BAB I PENDAHULUAN : BAB II ISI : Latar belakang Pokok permasalahan Tujuan Sistematika penulisan Hak untuk Berkeluarga dalam Instrumen Internasional dan Instumen Nasional Hal-hal yang Bertentangan dengan Hak untuk Berkeluarga dan Melanjutkan Keturunan BAB III PENUTUP : Kasus Perempuan Ahmadiyah Kesimpulan Saran BAB II ISI .4.5 I.

Perkawinan hanya dapat dilaksanaka berdasarkan persetujuan yang bebas dan penuh dari kedua calon mempelai. Hak Berkeluarga dan Melanjutkan Keturunan. Modul Instrumen HAM Nasional : Hak untuk Hidup.1. . 2004). Keluarga adalah kesatuan alamiah dan mendasar dari masyarakat dan berhak atas perlindungan oleh masyarakat dan negara. kebangsaan. dan berhak dilindungi oleh masyarakat dan Negara. Berkeluarga dan melanjutkan keturunan merupakan hak setiap orang yang sangat penting dan dasar. hak setiap orang untuk berkeluarga dan melanjutkan keturunan telah dijamin melalui berbagai perumusan yang dimuat. Hak untuk Berkeluarga dalam Instrumen Internasional dan Instrumen Nasional Instrumen internasional melalui Pasal 16 Deklarasi Universal Hak-Hak Asasi Manusia (DUHAM) menyatakan bahwa : 1. hal. 3. serta Hak Mengembangkan Diri. II. 3. dan Desiree Zuraida. 2. Tidak ada satupun perkawinan yang dapat dilakukan tanpa persetujuan yang bebas dan penuh dari para pihak yang hendak menikah.3 Selain itu. 3 Sriyanto. Untuk itulah manusia hidup berpasangan.19-20. Hak laki-laki dan perempuan dalam usia perkawinan untuk menikah dan membentuk keluarga harus diakui. Oleh karena itu. 2. berhak untuk menikah dengan syarat. baik dalam instrumen internasional maupun instrumen nasional. Keluarga adalah kesatuan masyarakat yang alamiah serta mendasar. Direktorat Jenderal Perlindungan HAM. dan melanjutkan keturunannya. Laki-laki dan perempuan dewasa tapa dibatasi oleh ras.6 Manusia diciptakan oleh Tuhan YME berupa laki-laki dan perempuan sebagai makhluk sosial yang tidak dapat hidup sendiri. kewarganegaraan atau agama. Kovenan Internasional tentang Hak Sipil dan Politik (ICCPR) dalam masalah perkawinan melalui Pasal 23 juga merumuskan : 1. (Departemen Hukum dan HAM RI. membentuk suatu keluarga.

TLN No. hal. Dari ketentuan Pasal 10 di atas. khususnya Pasal 2. terlihat adanya perumusan yang menjamin hak untuk berkeluarga dan melanjutkan keturunan bersamaan dengan sahnya suatu perkawinan untuk membentuk suatu keluarga yang dimaksud. . instrumen nasional yaitu hukum Nasional Indonesia. 39 Tahun 1999. Mengingat akan pentingnya hak tersebut. UU Perkawinan. LN No. Negara pihak dalam Kovenan ini harus mengambil langkah-langkah yang memadai untuk menjamin persamaan hak dan tanggung jawab pasangan suami istri tentang perkawinan.3886. yang berbunyi :7 4 Ibid. UU No. Kovenan Internasional tentang Hak-Hak Ekonomi. 2. (2) Perkawinan yang sah hanya dapat berlangsung atas kehendak bebas calon suami dan clon istri yang bersangkutan. 10. UU No. 6 Indonesia. 20 5 Ibid.3019.5 Tidak hanya instrumen internasional saja yang menjamin hak untuk berkeluarga dan melanjutkan keturunan. 7 Indonesia.4 Selanjutnya. sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. ps.. dan pada saat berakhirnya perkawinan.1 Tahun 1974. 1 Tahun 1974. selama perkawinan.7 4. Sahnya suatu perkawinan dapat ditentukan dari pengaturan yang terdapat pada UU Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan. LN No. dan Budaya (ICESCR) melalui Pasal 10 menegaskan kembali mengenai perkawinan itu dengan antara lain merumuskan bahwa perkawinan harus dilangsungkan berdasarkan persetujuan yang sukarela dari calon mempelai. TLN No. Sosial. juga menjamin hak tersebut kepada warga negaranya. Hal ini terdapat dalam Pasal 10 UU Nomor 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia yang menyebutkan bahwa : 6 (1) Setiap orang berhak membentuk suatu keluarga dan melanjutkan keturunan melalui perkawinan yang sah. Dalam hal berakhirnya perkawianan harus dibuat ketentuan yang diperlukan untuk melindungi anak-anak. 165 Tahun 1999. UU Hak Asasi Manusia. ps.

Hukum Perkawinan Indonesia. (2) Negara menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk memeluk agamanya masing-masing dan untuk beribadat menurut agama dan keperayaannya itu. warga negara pun berhak bebas dari perlakuan diskriminatif atas dasar apapun dan berhak mendapatkan perlindungan terhadap perlakuan yang bersifat diskriminatif itu. Pasal 28 I ayat (2). suatu akta resmi yang juga dimuat dalam daftar pencatatan. Dengan kata lain tidak akan ada suatu istilah ‘perkawinan’ atau ‘pernikahan’ yang pelaksanaannya dilakukan di luar hukum agama dan kepercayaan dari kedua calon mempelai. Perkawinan berdasarkan agama dan kepercayaannya tersebut juga diatur secara tegas dalam konstitusi Indonesia bahwasannya.8 (1) Perkawinan adalah sah. serta mencegah halhal yang tidak diinginkan yang mungkin timbul dari pihak lain. maka suatu perkawinan harus mutlak dilakukan menurut hukum agama dan kepercayaan dari kedua calon mempelai. hal. 29. Oleh karena itu. pencatatan perkawinan bukanlah syarat mutlak mengenai sah atau tidaknya suatu perkawinan. 9 Indonesia.9 (1) Negara berdasarkan atas ke-Tuhanan Yang Maha Esa. setiap warga negara berhak atas kebebasan meyakini kepercayaan. Wantjik Saleh.8 Dalam penjelasan Pasal 2 ayat (2) disebutkan bahwa pencatatan tiap-tiap perkawinan adalah sama halnya dengan pencatatan peristiwa-peristiwa penting dalam kehidupan seseorang misalnya kelahiran. (2) Tiap-tiap perkawinan dicatat menurur peraturan perundang-undangan yang berlaku. Undang – Undang Dasar 1945. Apabila ketentuan tersebut dilanggar maka perkawinan itu dianggap tidak sah. 8 K. (Jakarta: Ghalia Indonesia. 1976). Dari ketentuan mengenai sahnya secara hukum suatu perkawinan yang harus dilakukan berdasarkan atas hukum masing-masing agama dan kepercayaannya tersebut. ps. dan para pihak mendapat hak-hak yang timbul dari perkawinan. . dan sikap sesuai dengan hati nuraninya. kematian yang dinyatakan dalam surat-surat keterangan. terbukti (akta otentik).16. menyatakan pikiran. apabila dilakukan menurut hukum masingmasing agamanya dan kepercayaannya itu. Kemudian. Cetakan ke-4. melainkan hanya bertujuan agar perkawinan itu menajdi jelas. dalam Pasal 28 konstitusi Indonesia disebutkan bahwa : Pasal 28 E ayat (2).

dua.9 Pasal 28 D ayat (4). dan akan memeliharanya dari godaan syahwat. Karena sesungguhnya perkawinan itu akan memejamkan mata terhadap orang yan tidak halal dilihatnya. barangsuapa yang mampu di antara kamu serta berkeinginan hendak kawin. Pasal 28 J ayat (1). karena dengan puasa hawa napsunya terhadap perempuan akan berkurang” Nabi Muhammad SAW sebagaimana ditulis oleh H.” Kemudian dalam Riwayat jama’ah ahli hadis disebutkan bahwa : “Hai pemuda-pemuda. maka sesungguhnya mereka akan mendatangkan harta (rezeki) bagi kamu” Begitu juga dalam Agama Kristen dan Katolik. hendaklah dia kawin. penuhilah bumi ini dan ditaklukkanlah”. atau empat. Dan barangsiapa yang tidak mampu kawin hendaklah dia puasa. Kitab Injil Perjanjian Baru juga menyebutkan bahwa perkawinan merupakan hubungan lahir dan batin yang sah antara seorang pria dan seorang wanita. . jika kiranya kamu takut tidak akan berlaku adil di antara mereka itu. hendaklah kawini seorang saja. terdapat anjuran bagi setiap manusia dewasa untuk membangun keluarga dan mempunyai keturunan. mengenai perkawinan disebutkan dalam Alkitab surat Kejadian 1 ayat (28) yang tertulis : Allah memberkati mereka lalu Allah berfirman kepada mereka. tiga. ia pun berhak atas status kewarganegaraan. wajib menghormati hak asasi manusia orang lain dalam tertib kehidupan bermasyarakat. • Tinjauan Perkawinan Melalui Keagamaan Dalam beberapa kitab keagamaan. Suleman Rasjid bersabda : “Kawinilah olehmu kaum wanita itu. berbangsa dan bernegara. Al Qur’an Surat An-Nisa’ ayat (3) menyatakan bahwa : “Maka bolehlah kamu menikahi perempuan yang kamu pandang baik untuk kamu. “Beranak cuculah dan bertambah banyak.

26. 3. . Homoseksual dan Lesbian Hak berkeluarga sebagaimana dimaksud dalam instrumen internasional. Keluarga yang dimaksud adalah antara seorang pria dan wanita.10 II.11 Namun. Sebagaimana telah disebutkan di atas. 2. Hal-hal yang Bertentangan dengan Hak untuk Berkeluarga dan Melanjutkan Keturunan 1.Op.cit. 11 Sriyanto. serta ayat-ayat agama dan kepercayaannya itu.. serta ayat-ayat yang terdapat dalam kitab Agama tidak termasuk di dalamnya perkawinan sesama jenis yang disebut sebagai homoseksual dan lesbian. Poligami Di Indonesia. berbeda dengan apa yang terjadi di lapangan..9. Namun. instrumen nasional. Sampai saat ini masih banyak kontroversi mengenai hal tersebut. Seperti di Denmark yang disebut Regristered Partnership. Konvensi tentang Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi bagi Perempuan yang menyatakan bahwa baik perempuan dan laki-laki memiliki hak dan kewajiban yang sama baik dalam perkawinan maupun setelah terjadinya perceraian. 10 Undang-Undang Perkawinan. instrumen nasional. Op. adanya desakan kelompok mengklaim bahwa homoseksual dan lesbian juga merupakan hak dasar mereka dan menginginkan negara untuk memberikan penguatan (pengesahan) atas hubungan sesama jenis tersebut.2. di Indonesia sendiri belum ada ketentuan yang menyatakan bahwa hubungan sesama jenis tersebut dapat disahkan melalui perkawinan. dan konstitusi Negara Indonesia.cit. ps. hal. Hak untuk bercerai Adanya hak untuk berkeluarga berlawanan dengan adanya hak untuk bercerai. poligami diizinkan dengan persyaratan sebagaimana tercantum dalam Pasal 3 ayat (2) UU Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan :10 (2) Pengadilan dapat memberi izin kepada seorang suami untuk beristri lebih dari seorang apabila dikehendaki oleh pihak-pihak yang bersangkutan. dan konstitusi. hak untuk berkeluarga dan melanjutkan keturunan yang termuat dalam instrumen internasional.

amnesty. ekonomi.1. akan hak-hak asasi manusia dan kebebasan dasar di bidang politik.org/en/library/asset/ASA21/013/2010/en/3913399f-5984-4e4c-97c9b9d928d4c0be/asa210132010in. kurang tersosialisasinya secara luas berbagai Undang-Undang yang melindungi hakhak perempuan untuk bebas dari kekerasan. budaya. Kasus Perempuan Ahmadiyah Konvensi tentang Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi Terhadap Perempuan (CEDAW) mendefinisikan istilah “diskriminasi terhadap perempuan” sebagai pembedaan.11 Pada kenyataannya. khusunya perempuan. 4. dengan mengabaikan status perkawinan mereka. dan 5.13 Dengan meratifikasi 12 http://www. Terjadinya hal ini dimungkinkan karena hal-hal sebagai berikut : 1. 3. sipil atau bidang lain apa pun. perolehan atau pelaksanaan oleh perempuan. sosial. lemahnya penegakan hukum yang berakibat pada lemahnya peran negara. sampai saat ini masih ditemukan. banyak kesenjangan yang terjadi sehingga kekerasan dan marjinalisasi terhadap warga negara kelompok minoritas. dominannya politisasi identitas sosial dan abainya sebagian masyarakat pada konstitusi negara yang menjamin keragaman atau kebhinekaan.3. belum terbatinkannya (internalisasi) Undang-Undang Dasar 1945 yang menjadi landasan konstitusi kita pada cara berpikir dan berprilaku masyarakat. membiarkan para milisi sipil yang melakukan tindak kekerasan sebagai wujud dari lemahnya penegakan hukum dan lemahnya peran negara. 2.pdf 13 CEDAW. pengesampingan atau pelarangan apa pun yang dibuat atas dasar jenis kelamin yang mempunyai akibat atau tujuan mengurangi atau meniadakan pengakuan.12 II. . ps. atas suatu dasar persamaan lelaki dan perempuan.

Laporan ini akan diteruskan ke Presiden. salah satunya hak perempuan untuk berkeluarga dan melanjutkan ketururunan. menghapus semua undangundang diskriminatif dan mengesahkan undang-undang yang tepat yang melarang adanya diskriminasi terhadap perempuan. .2.12 CEDAW. Perempuan Ahmadiyah mengalami pelanggaran-pelanggaran HAM. negara artinya berkomitmen untuk menjalankan serangkaian cara-cara guna mengakhiri diskriminasi terhadap perempuan dalam semua bentuk. termasuk:  Memasukkan prinsip kesetaraan lelaki dan perempuan dalam sistem hukum mereka. Komnas Perempuan merasa sangat perlu menindaklanjuti pengaduan tersebut. Pada perempuan Ahmadiyah ditemukan fakta diskriminasi berlapis dalam berbagai bentuk. ps. Dalam pemantauan tersebut Komnas Perempuan menemukan bahwa perempuan Ahmadiyah mengalami diskriminasi berlapis.  Membentuk pengadilan dan lembaga umum lainnya guna memastikan adanya perlindungan efektif terhadap perempuan dari diskriminasi. organisasi atau perusahaan14 Pada bulan September tahun 2005. Pelapor Khusus PBB dan elemen-elemen terkait. Di Lombok Tengah. baik karena mereka perempuan. yaitu untuk melakukan pemantauan dan pencarian fakta tentang pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM) perempuan dan menciptakan kondisi yang kondusif bagi pemenuhan hak-hak perempuan di Indonesia. Salah satu tindak lanjut tersebut adalah pemantauan HAM terhadap kondisi perempuan Ahmadiyah di Cianjur dan Nusa Tenggara Barat (NTB) pada bulan Mei – Agustus tahun 2006. salah satunya hak untuk berkeluarga dan melanjutkan keturunan. dan  Memastikan penghapusan semua tindakan diskriminasi terhadap perempuan oleh orang-orang. Terjadinya pelanggaran hak untuk berkeluarga dan melanjutkan keturunan terlihat dari 2 (dua) kasus di bawah ini : 1. perwakilan komunitas Ahmadiyah melakukan pengaduan yang direspon oleh Komnas Perempuan. mereka juga anggota kelompok minoritas yang sedang menjadi sasaran penyerangan. pasangan suami istri dianggap berzina ketika 14 CEDAW. Oleh sebab itu.

pada tanggal 9 Juni 2008 Pemerintah mengeluarkan SKByang ditandatangani Menteri Dalam Negeri. juga mengeluarkan pernyataan bersama tentang pelarangan kegiatan Komunitas Ahmadiyah di wilayah tersebut. Isi maupun dampak dari kebijakan-kebijakan ini melanggar hak-hak asasi perempuan. Puncaknya. anak dan komunitas Ahmadiyah. 8 di tingkat nasional dan 15 di tingkat lokal. Tercatat Kabupaten Kuningan. Jawa Barat pada tanggal 20 Juli 2005. Komnas Perempuan mencatat 23 produk kebijakan yang dikeluarkan oleh lembagalembaga Negara dan Pemerintahan. mengeluarkan Surat Keputusan Bersama (SKB) pelarangan aliran/ajaran komunitas Ahmadiyah Indonesia wilayah Kabupaten Kuningan yang ditandatangani oleh MUSPIDA. dan anak yang dilahirkan dicap sebagai anak haram. anak dan komunitas Ahmadiyah sebagai manusia dan sebagai Warga Negara Indonesia. dan Jaksa Agung bernomor KEP033/A/JA/6/2008 Tentang Peringatan dan Perintah kepada Penganut. Pimpinan DPRD. di antaranya hak atas . Menteri Agama. Dari pantauan Komnas Perempuan saat penyerangan terhadap komunitas Ahmadiyah berlangsung ditemukan banyak pelanggaran Hak Asasi Manusia. pro kontra munculnya SKB ini terus berlanjut. Gugatan ini dilakukan oleh pihak KUA Praya yang telah menikahkan mereka. Komnas Perempuan menegaskan bahwa komunitas Ahmadiyah secara keseluruhan adalah korban pelanggaran HAM yang mencakup pelanggaran terhadap hak atas kebebasan beragama yang berkaitan dengan hak untuk berkeluarga dan melanjutkan keturunan. Jawa Barat pada 3 November 2002. Akibat kejadian ini. dan anaknya dipandang sebagai anak haram. Saat tulisan ini dibuat. MUI. Anggota dan/atau Aggota Pengurus Jemaat Ahmadiyah Indonesia (JAI) dan Warga Masyarakat. 2.13 melakukan hubungan seksual lantaran perempuan yang dinikahi seorang Ahmadiyah. keluarga merasa yang membuat perempuan mengalami stres. yang menjadi acuan bagi masyarakat untuk melakukan tindakan-tindakan kekerasan dan diskriminasi terhadap perempuan. Terdapat kesaksian seorang ibu tentang anak perempuannya yang menikah dengan Muslim yang bukan Ahmadiyah dianggap tidak sah. Beberapa SKB kemudian muncul di sejumlah daerah lain seperti di Garut dan Sukabumi. dan pimpinan pondok pesantren dan ormas Islam Kabupaten Kuningan. Selain itu di Kabupaten Bogor. dipandang zina.

bahwasanya semua pemuka agama menyepakati pelaksanaan kerjasama dalam ”Memaknai Keadilan bagi Perempuan Korban Kekerasan dalam Perspektif Agama”. Mengembangkan kerjasama dengan institusi agama untuk berpihak pada pemenuhan keadilan bagi perempuan korban.html? id=3775&isa=Category&op=show_printer_friendly .id/metadot/indexf206. dan hak atas perlindungan yang juga telah menjadi riuh bangsa yang tertuang dalam UUD 1945 pasal 28D ayat (1).web. Pertemuan yang dilaksanakan pada tanggal 23 November 2007 adalah bentuk perhatian khusus untuk membangun keterlibatan dengan para pemimpin agama. Komnas Perempuan mendesak agar Pemerintah memberikan penegasan yang efektif tentang hak atas kebebasan beragama bagi setiap anggota komunitas Ahmadiyah. hak untuk bebas dari penyiksaan dan perlakuan yang tidak manusiawi (pasal 28G ayat (2) UUD 1945).trabas.or.14 kebebasan beragama yang telah menjadi amanat UUD 1945 Pasal 28 E ayat (1). Komnas Perempuan menganggap bahwa peran lembaga agama sangat besar pengaruhnya terhadap penghapusan kekerasan terhadap perempuan.id/old/demo08. Adapun tujuan-tujuan yang ingin dicapai. diantaranya : . Atas dasar fakta-fakta di atas. sebagaimana dijamin dalam UUD 1945 bagi seluruh warga negara Indonesia. Pertemuan Teolog dan Pendamping Perempuan Koban Kekerasan dalam memaknai keadilan bagi perempuan korban yang berkiblat pada perspektif agama merupakan satu sejarah baru bagi Komnas Perempuan.komnasperempuan. 15 http://www.Membangun konsep bersama tentang keadilan bagi perempuan korban kekerasan. termasuk kaum perempuan dan anak-anak Ahmadiyah. Pertemuan yang berlangsung selama empat jam menghasilkan kesepakatan bersama. dan mengambil langkah nyata untuk mencabut semua produk kebijakan negara terkait komunitas Ahmadiyah yang bertentangan dengan UU 1945.15 • Upaya-upaya Pemenuhan Hak untuk Berkeluarga dan Melanjutkan Keturunan terhadap Perempuan Ahmadiyah 1.

Jika terus dibiarkan. Langkah itu adalah menyadarkan masyarakat akan pentingnya pencatatan perkawinan.or. tapi juga dengan memadukan konsep yang ada di beberapa negara Eropa. terutama soal pencatatan perkawinan. Sebagai ajang untuk pembelajaran bersama dan berbagi pengalaman dan pengetahuan di kalangan internal lembaga. Membangun konsep dan mekanisme alternative untuk penyelesaian kasus di dalam masyarakat yang melindungi hak-hak korban.15 Mengidentifikasi peluang pemenuhan keadilan bagi perempuan korban dalam komunitas agama dan budaya. Sistem yang berlaku di negara Eropa dinilai mempunyai pola yang lebih moderat dan dapat menjawab kebutuhan Komnas Perempuan dalam melakukan langkah kongkret. Komnas Perempuan merasa perlu melakukan riset tidak hanya dengan menggunakan perspektif negara-negara berpenduduk Islam saja. Diskusi yang berdurasi tiga jam ini. untuk pertama kalinya digelar pada Juni 2007 dengan tema “Perkawinan tidak Tercatat.id . akan sangat mungkin perkawinan tidak tercatat dijadikan ruang eksploitasi perdagangan perempuan.komnasperempuan.” Tema ini dipilih berdasarkan banyaknya temuan tentang ketidakjelasan sikap pemerintah terhadap berbagai isu yang sedang marak di masyarakat. Oleh karena itu.16 16 www. Komnas Perempuan mengadakan ajang diskusi yang diberi nama Forum Belajar Internal (FBI). 2.

hak wanita. Berkeluarga dalam hal ini berarti terikat . Hal ini secara tegas diatur dalam Pasal 10 UU Nomor 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia. Terdapat 8 jenis HAM yang diatur oleh UU Nomor. antara lain: hak untuk hidup.Kesimpulan Setiap manusia memiliki hak yang melekat padanya sejak lahir atau yang dikenal dengan Hak Asasi Manusia (HAM). hak atas kesejahteraan. dan hak anak. hak berkeluarga dan melanjutkan keturunan. termasuk hak untuk berkeluarga dan melanjutkan keturunan. 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia. hak memperoleh rasa aman. hak memperoleh keadilan. Setiap Warga Negara Indonesia berhak atas hak-haknya.16 BAB III PENUTUP III.1. hak atas kebebasan pribadi. hak mengembangkan diri.

Pemerintah harus lebih tegas dalam penegakkan HAM. melainkan menjalankan agama sesuai dengan apa yang mereka yakini.Saran Adapun saran yang dapat diberikan menghadapi permasalahan ini adalah : 1. dan berhak mendapat pengesahan atas perkawinan yang mereka lakukan. khususnya perempuan Ahmadiyah. karena mereka bukanlah atheis (tidak beragama). maka seharusnya tidak ada pengecualian bagi kaum minoritas seperti yang terjadi pada perempuan Ahmadiyah. agar mereka memiliki hak dan kedudukan yang sama di mata hukum.17 perkawinan yang sah segaimana diatur dalam Pasal 3 UU Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan. yang merupakan dasar bahwa setiap orang berhak untuk berkeluarga dan melanjutkan keturunan. Untuk pemerintah : Pemerintah dapat mempertegas sikapnya dalam menghadapi kaum minoritas.2. Sesuai dengan ketentuan Pasal tersebut. perkawinan yang sah adalah perkawinan berdasarkan agama dan kepercayaan para pihak. Konstitusi Indonesia juga memberikan kebebasan dalam menjalankan agama sesuai dengan kepercayaan dan keyakinannya itu. Pemerintah dapat memberikan sanksi bagi mereka yang melakukan kekerasan dan pengucilan terhadap perempuan Ahmadiyah. Dengan tidak terpenuhinya hak perempuan Ahmadiyah untuk berkeluarga dan melanjutkan keturunannya. Berdasarkan ketiga hal tersebut. seperti yang terjadi di Lombok Tengah. Mereka menjalankan agama sesuai dengan apa yang mereka yakini. termasuk juga melanggar konstitusi Indonesia. maka sama saja dengan melanggar ketentuan-ketentuan yang tercantum dalam peraturan perundang-undangan. Pemerintah seharusnya melegalkan perkawinan yang dilakukan perempuan Ahmadiyah. III. .

khususnya untuk menjalankan agama sesuai dengan apa yang diyakininya.3 Tahun 2008 Nomor:KEP-033/A/JA/6/2008. SKB tersebut tidak sesuai dengan konstitusi dan seperangkat peraturan mengenai pengegakkan HAM.18 Pemerintah seharusnya mencabut SKB Ahmadiyah No. . khususnya perempuan Ahmadiyah. Nomor:199 Tahun 2008. Untuk masyarakat : Masyarakat diharapkan dapat menghilangkan segala bentuk diskriminasi terhadap kaum minoritas. 2. dengan tidak melakukan kekerasan dan pengucilan terhadap mereka. sahnya perkawinan menurut hukum agamanya. dan hak untuk berkeluarga dan melanjutkan keturunan bagi perempuan Ahmadiyah.