P. 1
Pengelolaan Proyek Konstruksi Yang Green

Pengelolaan Proyek Konstruksi Yang Green

|Views: 425|Likes:
Published by Wulfram I. Ervianto

Dipresentasikan Dalam Seminar Nasional Teknik Sipil ke V Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya, 11 Pebruari 2009

Dipresentasikan Dalam Seminar Nasional Teknik Sipil ke V Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya, 11 Pebruari 2009

More info:

Categories:Types, Research, Science
Published by: Wulfram I. Ervianto on Nov 09, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

09/17/2013

pdf

text

original

PENGELOLAAN PROYEK KONSTRUKSI YANG “GREEN”

Wulfram I. Ervianto1
1

Dosen Jurusan Teknik Sipil, Universitas Atma Jaya Yogyakarta, Kampus UAJY Jl.Babarsari No. 44 Yogyakarta 55281, Telp 0274-487711, email: ervianto@mail.uajy.ac.id

Pembangunan terus dilakukan untuk menambah luasan bangunan guna memenuhi kebutuhan manusia dalam menjalankan aktifitasnya. Perubahan status tapak yang semula berupa lahan terbuka menjadi berbagai jenis bangunan terus dilakukan melalui mekanisme yang telah ditetapkan oleh pemerintah. Perkembangan ilmu dan teknologi dalam mengelola pembangunan terus berjalan seiring dengan tuntutan klien diantaranya adalah aspek waktu, mutu dan biaya. Berbagai metoda pengelolaan pembangunan yang ada mengandung banyak aspek negatif dan positif bergantung pada tujuan dipilihnya metoda tersebut. Saat ini kiranya kurang tepat jika pengelolaan pembangunan mengabaikan aspek lingkungan yang kecenderungannya semakin tidak seimbang. Dalam tulisan ini akan dipaparkan pemahaman tentang pengelolaan pembangunan didasarkan pertimbangan lingkungan. Sebagai sumber inspirasi dan penggalian informasi didasarkan pada referensi, hasil penelitian, majalah ilmiah populer dan sumber lainnya yang berorientasi pada membangun yang ramah lingkungan, menggunakan jaringan internet. Dari hasil penelaahan berbagai sumber dapat di simpulkan bahwa model pengelolaan yang bersifat konvensional kurang sesuai dengan konsep membangun yang ramah lingkungan sehingga perlu ditambahkan faktor lain yang dapat mendekatkan dengan konsep membangun yang “green”. Sedangkan model pengelolaan proyek konstruksi yang lebih berpotensi dapat diaplikasikan adalah rancang bangun (design-build delivery system) dengan modifikasi sesuai dengan karakter bangunan “green”. Dengan konsep membangun yang “green” tentunya akan diperoleh kualitas bangunan yang superior, tidak hanya ramah lingkungan, namun juga kualitas disain dan konstruksinya.

Kata kunci: pengelolaan proyek, konvensional vs “green”

1. PENDAHULUAN
Perkembangan ilmu dan teknologi dalam pembangunan mengalami kemajuan yang pesat, hal ini ditandai dengan semakin singkat waktu yang dibutuhkan dalam membangun berbagai fasilitas bangunan. Tanpa mengesampingkan aspek mutu bangunan, capaian batasan biaya pelaksanaan pembangunanpun jarang dilampaui. Kondisi ini tak lepas dari ketersediaan sumberdaya yang kompeten, baik tenaga ahli maupun peralatan yang dibutuhkan selama proses pembangunan. Pola-pola pengelolaan proyekpun mengalami perubahan yang cukup signifikan jika dibandingkan dua dekade yang lalu, dimana pengelola proyek sebagian besar masih menggunakan pola-pola pengelolaan konvensional. Saat ini, telah berkembang berbagai cara pengelolaan yang variatif dan diyakini lebih baik dalam berbagai aspek jika dibandingkan dengan pola konvensional.

C-195

Wulfram I. Ervianto

Perkembangan konsep dalam perencanaan bangunan dalam beberapa tahun terakhir ini sedikit demi sedikit mengalami perubahan dalam hal cara pandangnya. Perubahan ini disikapi dikarenakan maraknya bencana disepanjang tahun, pada musim kemarau bencana kekeringan muncul dan pada musim hujan bencana banjir datang. Beberapa aspek yang dicurigai sebagai penyebabnya adalah terjadinya ketidakseimbangan alam yang kemungkinan disebabkan oleh aktifitas manusia dalam menyediakan berbagai fasilitas dalam bentuk bangunan fisik. Cara pandang seperti tersebut diatas dimana perancang mengesampingkan aspek lingkungan dikenal dengan cara konvensional. Sedangkan cara pandang yang mengedepankan menjaga lingkungan agar tetap lestari disebut dengan perencanaan “green”. “Mengapa dalam membangun sebaiknya fokus pada “green” ?. Sebuah pertanyaan yang harus direspon oleh pengelola pembangunan. Akhir-akhir ini, akibat aktifitas manusia telah dirasakan oleh seluruh makhluk hidup dimuka bumi ini ditandai dengan suhu global yang meningkat, krisis energi, timbulnya bencana yang diyakini disebabkan oleh ketidakstabilan lingkungan sebagai akibat dari kegiatan pembangunan. Pada kenyataannya, membangun sebuah bangunan tidak dapat mengabaikan faktor lingkungan, pembangunan yang berorientasi pada bangunan “green” dipercaya dapat mengurangi pengaruh negatif terhadap lingkungan. Berbagai pihak yang terlibat dalam pengelolaan proyek sudah sepantasnya mempertimbangkan faktor lingkungan dalam pengambilan keputusan. Dengan mengimplementasikan konsep ini, pemilik bangunan dapat merasakan langsung manfaat dari kepemilikan bangunan “green” dibandingkan dengan konvensional, yaitu: (1) rendahnya biaya operasional, sebagai akibat efisiensi dalam pemanfaatan energi dan air.; (2) lebih nyaman, dikarenakan suhu dan kelembaban ruang terjaga; (3) pembangun wajib memberikan perhatian dalam hal pemilihan material yang relatif sedikit mengandung bahan kimia; (4) sistem sirkulasi udara yang mampu menciptakan lingkungan dalam ruang yang sehat; (5) mudah dan murah dalam penggantian berbagai komponen bangunan; (6) biaya perawatan dan perbaikan yang relatif rendah. Agar tercapainya berbagai manfaat dari bangunan “green” pembangun harus dapat memenuhi hasil kerjanya sesuai dengan rancangan bangunan “green”. Faktor penting lainnya adalah pemilik bangunan dituntut mampu mengoperasikan seluruh fasilitasnya sesuai dengan standard operational procedure.

2. KAJIAN PUSTAKA
Siklus Hidup Proyek Konstruksi Dalam perkara disain, salah satu harapan perencana dalam merancang bangunan adalah kelak bangunan yang dihasilkan mampu berfungsi dengan baik sesuai dengan besaran yang telah ditetapkan. Setiap proyek konstruksi selalu dibutuhkan pihak bertugas sebagai perencana bangunan, yaitu sebuah tim umumnya terdiri dari berbagai disiplin ilmu, dimana satu sama lain saling bekerjasama untuk menghasilkan karya terbaik dari sistem sebuah bangunan. Berbagai hal yang dipertimbangkan oleh perencana diantaranya adalah penetapan sistem yang akan diterapkan dalam sebuah bangunan, pemilihan jenis material yang digunakan dengan mempertimbangkan umur material yang juga akan mempengaruhi umur bangunan secara keseluruhan.

C-196

Pengelolaan Proyek Konstruksi yang “Green”

Tahap dalam siklus hidup sebuah proyek konstruksi pada umumnya mengikuti pola sebagai berikut: studi kelayakan, perencanaan, pengadaan, pelaksanaan dan operasional. Pada setiap tahap mempunyai tujuan yang berbeda-beda dengan tingkat akurasi yang tidak sama, misal pada kegiatan estimasi biaya sebuah proyek pada tahap studi kelayakan akan berbeda dengan tahap perencanaan, tahap pengadaan, tahap pelaksanaan dan tahap operasional.

Gambar 1 : Siklus hidup dipandang sebagai sistem

Sistem Pengelolaan Konvensional Pada umumnya pengelolaan proyek diawali dengan proses perencanaan yang dilakukan oleh perencana. Arsitek mengawali proses perencanaan dengan produk yang dihasilkan berupa gambar rencana, dilengkapi dengan spesifikasi bahan yang akan digunakan. Proses berikutnya adalah menetapkan dimensi struktur bangunan yang dilakukan oleh konstruktor. Pada saat yang bersamaan disiplin ilmu lain juga melakukan perencanaan sesuai dengan keahlian masing-masing, misal : mekanikal elektrikal, plumbing dan lainnya. Setelah seluruh proses perencanaan diselesaikan maka akan dilanjutkan dengan proses berikutnya yaitu pengadaan kontraktor, diikuti dengan pengadaan subkontraktor dan pemasok berbagai jenis kebutuhan material. Dengan adanya berbagai pihak yang berperan dalam proyek sekaligus berjalannya proses konstruksi, pada akhirnya bangunan tersebut dimanfaatkan oleh penggunanya. Sistem Pengelolaan “Green” Bangunan “Green” hanya akan terjadi manakala dipersyaratkan dalam dokumen kontrak. Kontraktor dalam membangun sebuah bangunan terfokus pada pemenuhan apa yang dipersyaratkan dalam rencana proyek dan spesifikasi, dalam hal ini kontraktor lebih bersifat pasif. Posisi kontraktor dalam sistem pengelolaan proyek menjadi sangat tidak menguntungkan untuk menjadi pihak yang aktif dalam mewujudkan bangunan “green”. Kontraktor mempunyai tanggung jawab sosial dalam menjalankan profesinya seharusnya berpartisipasi aktif dalam mewujudkan bangunan “green” yang berdasar pada (Glavinich T.E., 2008) : (1) pengguna jasa mensyaratkan penyedia jasa/pemasok berorientasi terhadap lingkungan dan menyediakan semua material dan jasa yang ramah terhadap lingkungan, termasuk didalamnya kontraktor yang proaktif terhadap lingkungan.; (2) kontraktor yang ada di lapangan termasuk seluruh karyawannya mempunyai komitmen terhadap lingkungan dan mengutamakan cara bekerja yang ramah terhadap lingkungan, sehingga mampu memberikan kontribusi dalam mencari solusi bukan menjadi sumber masalah; (3) Kontraktor bertanggung jawab atas pemenuhan undang-undang lingkungan dan regulasi yang ditetapkan; (4) meningkatnya overhead cost sebagai usaha untuk pemenuhan undang-

C-197

Wulfram I. Ervianto

undang tentang lingkungan serta regulasi yang ditetapkan dengan cara mengalihkan risiko kepada pihak ketiga/pihak asuransi; (5) meningkatnya kepedulian masyarakat terhadap lingkungan akan menyebabkan pemerintah menetapkan regulasi yang semakin ketat terhadap seluruh industri termasuk jasa konstruksi yang tidak proaktif terhadap lingkungan. Definisi bangunan “Green” Bangunan “Green” dapat didefinisikan (Glavinich T.E., 2008) : Green construction is a planning and managing a construction project in accordance with the contract document in order to minimize the impact of the construction process on the environment. Dalam definisi tersebut menempatkan kontraktor untuk berperan proaktif peduli terhadap lingkungan, serta selalu meningkatkan efisiensi dalam proses konstruksi, konservasi energi, efisiensi pemanfaatan air, dan sumberdaya lainnya selama masa konstruksi serta meminimalisasi material sisa konstruksi. Tujuan dari sustainable construction adalah (Conceil International du Batiment,1994): “ creating and operating a healty build environment based on resource efficiency and ecological design” “Green Construction” Tanpa “Green Design” Jika pemilik proyek menghendaki bangunan ramah lingkungan, maka sejak tahap awal tim perencana bangunan sudah harus mengimplementasikan konsep bangunan “green” dalam perencanaannya. Terlepas apakah kontraktor terlibat dalam proses perencanaan atau tidak tetapi tujuan utamanya adalah merealisasikan bangunan sesuai dengan keinginan pemilik proyek dalam batasan waktu dan biaya. Keahlian kontraktor adalah: (1) merencanakan pelaksanaan dan pengaturan selama proses konstruksi termasuk proses pengadaan material, tenaga kerja dan peralatan dalam usaha menyelesaikan seluruh pekerjaan, terlepas dikerjakan sendiri atau oleh pihak ketiga (pekerjaan khusus). Kontraktor tetap harus bertanggung jawab selama proses konstruksi berlangsung dan bertindak proaktif peduli terhadap lingkungan dan tetap berorientasi pada bangunan “green” tanpa melihat perencanaan yang “green” atau tidak. Kontraktor “Green” Menjadi kontraktor “green” dalam menjalankan profesinya harus ditumbuhkan dan ditanamkan menjadi bagian dalam budaya perusahaan. Fokus dari kontraktor “green” tidak hanya terkonsentrasi pada kegiatan di lapangan dalam merealisasikan fisik bangunan saja, namun juga ditumbuhkan dalam lingkungan kantor, misalnya melakukan recycled kertas bekas fotocopy, penggunaan lampu hemat energi, penggunaan sensor, penggunaan alat perkantoran hemat energi. Termasuk dalam pemilihan kendaraanpun tetap berorientasi pada konsumsi energi jika hendak menjadi kontraktor “green”. Delivery System Dalam Proyek Konstruksi Pada saat ini, telah digunakan berbagai cara pengelolaan proyek konstruksi diantaranya adalah : (a) metoda kontrak umum; (b) metoda kontrak terpisah; (c) metoda kontak rancang bangun; (d) metoda swakelola; dan (e) metoda manajemen konstruksi. Masing-masing sistem tersebut mempunyai karakteristik yang berbeda-

C-198

Pengelolaan Proyek Konstruksi yang “Green”

beda. Metoda kontrak umum dan terpisah adalah dua metoda yang pada prisnsipnya adalah sama, yaitu pemilik proyek mengadakan kontrak dengan pihak kontraktor umum atau dengan beberapa kontraktor spesialis. Metoda rancang-bangun, pemilik mengadakan kontrak dengan perusahaan yang mempunyai kemampuan merencanakan dan membangun. Metoda swakelola, seluruh proses dalam perencanaan dan pelaksanaan dikerjakan sendiri oleh pemilik proyek dan tidak terjadi kontrak. Metoda manajemen konstruksi, pemilik proyek mengadakan kontrak dengan konsultan manajemen konstruksi dan selanjutnya konsultan ini yang menggantikan posisi pemilik proyek. Tahapan proyek “green” Sistem pengelolaan proyek yang berorientasi “green” akan berbeda dengan proyek pada umumnya, perbedaan terjadi pada proses perencanaan dan konstruksi dan tim proyek harus menyadari perbedaan ini. Setelah aspek pembiayaan proyek disetujui oleh pemilik proyek maka proses selanjutnya seperti gambar 2 berikut (Kibert C.J., 2008) :
Setting priorities for the green building project Selection of the team project Implementing and Integrated Design Process (IDP)

Conduct charrette to obtain input for the project from the wide variety of parties

Final commisioning and handover to the owner

Construction of the building

Execution of the design process

Sumber : Charle J. Kibert, 2008

Gambar 2 : Tahap eksekusi proyek “green” building

Setting priorities, ketika keputusan telah ditetapkan untuk membangun bangunan “green ”, maka pemilik proyek harus menetapkan prioritas utama yang hendak dicapai, misalnya lebih diutamakan dalam konservasi energi dibandingkan pemanfaatan air. Salah satu pertimbangan dalam penetapan prioritas ini ditentukan oleh daerah/lokasi tempat dimana bangunan akan dibangun. Selection of the team project, melakukan seleksi tim proyek yang didasarkan pada kualifikasi yang ditetapkan oleh pemilik proyek, diantaranya adalah kualifikasi dari arsitek, disain interior, arsitek landscape, konstruktor, mekanikal dan elektrikal dimana semua pihak bekerja bersama dalam proses perencanaan. Selain itu, juga dipaparkan tentang bangunan “green” yang diinginkan oleh pemilik proyek. Integrated design process (IDP), agar terbentuk kerjasama yang baik dalam tim proyek maka dibutuhkan interaksi dan komunikasi dari berbagai pihak yang terlibat didalamnya. Mengingat konsep “green” ini relatif baru dalam industri jasa kontruksi maka diharapkan semua pihak dalam tim proyek untuk dapat memahami tujuan utamanya yaitu: efisiensi, keberlanjutan, sertifikasi, bangunan sehat. Pemahaman tersebut mencakup tiga hal utama yaitu: pertama, dapat memenuhi tujuan utamanya untuk memberikan informasi tentang proyek yang sesungguhnya diinginkan; kedua,

C-199

Wulfram I. Ervianto

membiasakan dengan apa yang menjadi prioritas utama dari pemilik proyek untuk mencapai bangunan “green”; ketiga, memberi kesempatan kepada tim proyek dalam menyelesaikan program yang akan dijalankan untuk mencapai bangunan “green”. Dalam rancangan konvensional, setiap pihak akan memulai pekerjaannya sesuai dengan kerangka waktu masing-masing, berbeda dengan rancangan “green” semua pihak berkewajiban memberi masukan sepanjang proses perencanaan. Perbedaan yang signifikan antara kedua konsep tersebut terletak pada tahap IDP. Input from the wide variety of parties, tahap ini merupakan tahap konsolidasi dari berbagai pihak, diantaranya dari tim proyek, pemilik, pengguna dan pihak lain yang ikut berkontribusi dari proyek ini. Execution of the design process, sesuai dengan pentahapan disain, pengembangan disain, dokumen proyek, dokumen bangunan “green” guna mendapatkan sertifikasi, yang dibuat dalam IDP. Construction of the building, pada tahap ini kontraktor berkewajiban mengimplementasikan bangunan “green”, meminimalisasi gangguan di lokasi pekerjaan, melindungi hewan dan tumbuhan, meminimalisasi sisa pembangunan dan sebisanya mendaur ulang, menjamin bangunan yang dihasilkan cukup sehat, melakukan dokumentasi pada tahap konstruksi untuk bangunan “green”. Final commissioning and handover to the owner, tahap ini proyek dipindah tangankan kepada pemilik proyek untuk selanjutnya dimanfaatkan. Berbeda dengan Kibert, C.J., US Green Building Council, 1996 mengemukakan tahapan dalam eksekusi bangunan “green” adalah sebagai berikut:

Gambar 3 : Tahap eksekusi proyek “green” building

Tahap pre-design mencakup kegiatan: (a) develop green vision, (b) establish project goals and green design criteria, (c) set priorities, (d) develop building program, (e) establish budget, (f) assemble green team, (g) develop partnering strategies, (h) develop project schedule, (i) review laws and standard, (j) conduct research. Tahap design mencakup kegiatan: (a) schematic design teridiri dari (1) confirm green design criteria, (2) develop green solution, (3) test green solution, (4) select green solution, (5) check cost; (b) design development terdiri dari (1) refine green solution, (2) develop, test, select green solution, (3) check cost; (c) construction document terdiri dari (1) document green materials and system, (2) check cost. Tahap bid mencakup kegiatan: (a) clarify green solution, (b) establish cost, (c) sign contract. Tahap construction mencakup kegiatan: (a) review substitution and submitalls for green product, (b) review materials test data, (c) build project, (d) commision the system, terdiri dari (1) testing, (2) operation and maintenance manual, (3) training.

C-200

Pengelolaan Proyek Konstruksi yang “Green”

Tahap occupancy mencakup kegiatan: (a) re-commision the system, (b) perform maintenance, (c) conduct post occupancy evaluation. Berdasarkan pentahapan tersebut diatas nampak jelas bahwa proses pengelolaan proyek “green” sangat berbeda dengan pengelolaan proyek konvensional, demikian juga tim proyek yang dibentuk seperti gambar 4.
PROJECT OWNER
Public Agency Private Entity

PROJECT USER
Tenant

GOVERMENTAL AGENCIES
Code Enforcement

BUILDING MANAGER
Building Operator Building maintenance

PRIVATE AUTHORITIES
Utility Companies

Consultant

Architects or Engineers

Construction Manager

Testing Agencies

Contractor

Sub-consultant

Sub-contractor

Suppliers

Testing Laboratory

Gambar 4 : Tim proyek bangunan “green”

3. METODOLOGI Untuk mendapatkan sistem pengelolaan yang berpotensi diterapkan dalam pengelolaan bangunan “green” dilakukan pengkajian secara mendalam terhadap semua delivery system seperti pada tabel 1.
Tabel 1 : Komparasi berbagai delivery system vs karakter bangunan “green”.
Kontrak Terpisah Rancang Bangun Kontrak Umum Aspek Penting Dalam Bangunan “green” Manajemen Konstruksi Memungkinkan Metoda Swakelola Memungkinkan

Setting priorities Penetapan prioritas Tidak bangunan “green” memungkinkan Selection of the team project

Tidak memungkinkan

Memungkinkan

C-201

Wulfram I. Ervianto

Kontrak Terpisah

Rancang Bangun

Kontrak Umum

Aspek Penting Dalam Bangunan “green” Terjadinya kontrak

Kontrak antara pemilik proyek dengan penyedia jasa terjadi setelah dokumen proyek lengkap.

Kontrak antara pemilik proyek dengan penyedia jasa terjadi setelah dokumen proyek lengkap.

Kontrak terjadi setelah pemilik proyek mempunyai Kerangka Acuan Kerja (TOR)

Tidak terjadi kontrak

Kontrak dengan MK terjadi sejak pemilik proyek mempunyai ide untuk membangun, sedangkan dengan penyedia jasa setelah dokumen proyek lengkap Memungkinkan

Integrated design process Interaksi antar Tidak pihak memungkinkan

Tidak memungkinkan

Memungkinkan karena perencana dengan pelaksana dalam satu perusahaan Memungkinkan karena perencana dengan pelaksana dalam satu perusahaan Kontribusi

Memungkinkan karena pengguna jasa dan penyedia jasa dalam satu organisasi

Input from the wide variety of parties Tidak Interaksi semua Tidak pihak sejak ide memungkinkan, memungkinkan, karena hingga konstruksi karena penyedia jasa penyedia jasa belum terlibat belum terlibat pada tahap pada tahap awal. awal. Execution of the design process Pengembangan Tidak Tidak disain dan berkontribusi berkontribusi pembuatan dokumen Construction of the building Kontribusi pada Ya, sejauh Ya, sejauh “green” kontraktor kontraktor memahami memahami konsep “green” konsep “green” Final commissioning and handover to the owner Memungkinkan Memungkinkan Pembuatan

Memungkinkan

Tidak memungkinkan, karena penyedia jasa belum terbentuk pada tahap ide. Tidak berkontribusi

Kontribusi

Ya, sejauh kontraktor memahami konsep “green” Memungkinkan

Ya, sejauh pelaksana memahami konsep “green” Memungkinkan

Ya, sejauh kontraktor memahami konsep “green” Memungkinkan

dokumen operasi dan pemeliharaan

4. HASIL DAN DISKUSI Dari tabel 1 dapat dilihat bahwa beberapa delivery sistem yang berpotensi diaplikasikan dalam bangunan “green” adalah: (1) metoda rancang bangun; (2) metoda swakelola; (3) metoda manajemen konstruksi. Metoda rancang bangun, hampir semua aspek kegiatan dalam bangunan “green” dapat diakomodasi oleh metoda ini. Keterlibatan perencana/pelaksana dimulai sejak terjadinya kontrak yaitu setelah pengguna jasa memformulasi bangunan “green” kedalam dokumen Kerangka Acuan Kerja. Berdasarkan dokumen tersebut perencana/pelaksana dapat menjalankan kewajiban sebagai profesinya untuk merealisasikan bangunan “green”. Perencana/pelaksana dalam metoda ini berada

C-202

Manajemen Konstruksi

Metoda Swakelola

Pengelolaan Proyek Konstruksi yang “Green”

dalam satu payung perusahaan mempunyai posibilitas yang tinggi untuk berinteraksi antara ranah perencanaan dan pelaksanaan. Hal ini merupakan salah satu faktor kunci dalam mengimplementasikan konsep bangunan “green”, seperti tahap IDP yang dikemukakan oleh Charle J. Kibert, 2008. Berbeda dengan US Green Building Council, 1996, dikemukakan bahwa tiap pihak dalam siklus hidup proyek dapat berdiri berdiri sendiri namun disyaratkan tetap memberikan kontribusi dalam setiap pentahapan bangunan “green”. Hal ini akan sedikit merepotkan manakala perencana telah ditetapkan namun pelaksana belum ditetapkan, sehingga kecil posibilitas terjadinya interaksi antar keduanya. Metoda swakelola, dalam metoda ini tidak terjadi kontrak antara pengguna jasa dengan penyedia jasa. Metoda ini tepat diterapkan untuk proyek yang bersifat sederhana dan tingkat kesulitannya tidak tinggi. Karakter metoda ini adalah semua pihak berada dalam satu payung organisasi sehingga posibilitasnya cukup tinggi dalam merealisasikan bangunan “green”. Persyaratan utama yang perlu dipenuhi adalah tersedianya tenaga ahli yang kompeten dalam berbagai disiplin ilmu. Metoda Manajemen Konstruksi, berbeda dengan dua metoda terdahulu, metoda ini lebih difokuskan adanya pihak yang mempunyai kewajiban utama mengelola seluruh proses dalam sebuah proyek. Manajemen konstruksi merupakan representasi dari pengguna jasa yang didasarkan pada hubungan kontraktual. Sukses dan tidaknya sebuah proyek sangat ditentukan oleh tingkat kepakaran konsultan manajemen konstruksi. Sedangkan proses selanjutnya dapat mengikuti satu dari berbagai delivery system yang ada.

5. KESIMPULAN
Berdasarkan paparan dari tiga delivery system yang berpotensi untuk diimplementasikan dalam bangunan “green”, dapat disimpulkan bahwa sistem yang dianggap baik untuk mengelola proyek bangunan “green” adalah rancang bangun namun dilakukan penyesuaian agar terjadi sinkronisasi dengan konsep bangunan “green”. Tidak menutup kemungkinan penggabungan antara sistim rancang-bangun dengan manajemen konstruksi dirasakan menghasikan kinerja yang baik. Bentuk struktur keterkaitan satu sama lain dalam menghasilkan bangunan “green” seperti pada gambar 5.

C-203

Wulfram I. Ervianto

PROJECT OWNER
Public Agency Private Entity

CONSTRUCTION MANAGEMENT

PROJECT USER
Tenant

GOVERMENTAL AGENCIES
Code Enforcement

BUILDING MANAGER
Building Operator Building maintenance

PRIVATE AUTHORITIES
Utility Companies

DESIGN-BUILD Architects Sub-consultant Contractor Sub-contractor Suppliers Testing Laboratory

Testing Agencies

Gambar 5 : Kombinasi Manajemen Konstruksi dengan Rancang Bangun

6. DAFTAR PUSTAKA
1. Glavinich T.E. (2008) Contractors Guide to Green Building Construction : Management, Project Delivery, Documentation, and Risk Reduction. John Wiley. 2. Kibert C.J. (2008) Sustainable Construction. New Jersey: John Wiley & Sons, Inc.Hoboken. 3. US Green Building Council (1996) Sustainable Building Technical Manual. Public Technolgy Inc.

C-204

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->