Bekerja Dalam Islam Islam memandang bahwa bekerja merupakan satu kewajiban bagi setiap insan.

Karena dengan bekerja, seseorang akan memperoleh penghasilan yang dapat memenuhi kebutuhan hidup dirinya dan juga keluarganya serta dapat memberikan maslahat bagi masyarakat di sekitarnya. Oleh karenanya Islam bahkan mengkategorikan bekerja sebagai ibadah, yang diperintahkan oleh Allah SWT : “Dan katakanlah: "Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mu'min akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) Yang Mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan". Selain sebagai satu kewajiban, Islam juga memberikan penghargaan yang sangat mulia bagi para pemeluknya yang dengan ikhlas bekerja mengharapkan keridhaan Allah SWT. Penghargaan tersebut adalah sebagaimana dalam riwayat-riwayat hadits berikut : • Akan diampuni dosa-dosanya oleh Allah SWT

Dari Ibnu Abbas ra berkata, Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda, 'Barang siapa yang merasakan keletihan pada sore hari, karena pekerjaan yang dilakukan oleh kedua tangannya, maka ia dapatkan dosanya diampuni oleh Allah SWT pada sore hari tersebut." (HR. Imam Tabrani, dalam Al-Mu'jam AlAusath VII/ 289)

َ ‫من أ َمسى كال ّ من ع َمل ي َد ِه أ َمسى مغْفوْرا ل َه رواه الطبراني‬ َ ْ ِ َ ْ ْ َ ُ ً ُ َ ِ َ ْ ِ

Dihapuskan dosa-dosa tertentu yang tidak dapat dihapuskan dengan shalat, puasa dan shadaqah.

‫إ ِن من الذ ّن ُوْب ل َذ ُن ُوْبا، ل َ ت ُك َفرها الصلةُ وَل َ الصيا َم وَل َ ال ْحج وَل َ ال ْعُمرة، قال وَما ت ُك َفرها يا‬ َ ُ ّ َ َ ُ ّ ُ َ ً ُ ّ َ َ َ ُ َ ْ ّ ِ َ ِ ّ ْ ‫رسوْل الله؟ قا َل ال ْهُموْم فِي ط َل َب ال‬ َ َ ُ َ ‫ِ معِي ْشة رواه الطبراني‬ ِ َ ِ ُ ُ َ ْ
Dari Abu Hurairah ra berkata, bahwa Rasulullah SAW bersabda, 'Sesungguhnya diantara dosa-dosa itu terdapat suatu dosa yang tidak dapat diampuni dengan shalat, puasa, haji dan juga umrah." Sahabat bertanya, "Apa yang bisa menghapuskannya wahai Rasulullah?". Beliau menjawab, "Semangat dalam mencari rizki". (HR. Thabrani, dalam Al-Mu'jam Al-Ausath I/38) • Mendapatkan cinta Allah SWT

Dari Ibnu Umar ra bersabda, 'Sesungguhnya Allah SWT mencintai seorang mu'min yang bekerja dengan giat". (HR. Imam Tabrani, dalam Al-Mu'jam Al-Aushth VII/380) : • Terhindar dari azab neraka

‫إ ِن الله ي ُحب ال ْمؤ ْمن ال ْمحت َرِف رواه الطبراني‬ َ ْ ُ َ ِ ُ ّ ِ َ ّ

Dalam sebuah riwayat dikemukakan, "Pada suatu saat, Saad bin Muadz Al-Anshari berkisah bahwa ketika Nabi Muhammad SAW baru kembali dari Perang Tabuk, beliau melihat tangan Sa'ad yang melepuh, kulitnya gosong kehitam-hitaman karena diterpa sengatan matahari. Rasulullah bertanya, 'Kenapa tanganmu?' Saad menjawab, 'Karena aku mengolah tanah dengan cangkul ini untuk mencari nafkah keluarga yang menjadi tanggunganku." Kemudian Rasulullah SAW mengambil tangan Saad dan menciumnya seraya berkata, 'Inilah tangan yang tidak akan pernah disentuh oleh api neraka'" (HR. Tabrani)

Bekerja mencari nafkah digolongkan dalam fi sabililah

maupun secara duniawi dari Allah SWT yang akan dimintai pertanggung jawaban atas pekerjaan yang dilakukannya. infak dan shodaqah. Para sahabat lalu berkata. seperti etika dalam berbicara. Ini merupakan hal dan landasan terpenting bagi seorang yang bekerja. Dalam sebuah hadits. 'Jika ia bekerja untuk mengidupi anak-anaknya yang masih kecil." (HR. Implementasi jujur dan amanah dalam bekerja diantaranya adalah dengan tidak mengambil sesuatu yang bukan menjadi haknya. makan dan minum sesuai dengan tuntunan Islam. Karena selain mendapatkan penghasilan untuk kehidupan dunianya. seperti zakat. 4. 3. berpakaian. Bahkan akhlak atau etika ini merupakan ciri kesempurnaan iman seorang mu'min. Menjaga etika sebagai seorang muslim. Dalam hadits riwayat Imam Turmudzi : Dari Abu Said Al-Khudri ra. Etika Bekerja Dalam Islam Dalam mewujudkan nilai-nilai ibadah dalam bekerja yang dilakukan oleh setiap insan. beliau berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda. baik secara duniawi dari atasannya atau pemilik usaha." (HR. itu adalah fi sabilillah. bahwa hanya dengan bekerjalah ia dapat menunaikan kewajiban-kewajiban Islam yang lainnya. Bekerja juga harus memperhatikan adab dan etika sebagai seroang muslim. "Orang mu'min yang paling sempurna imannya adalah mereka yang paling baik akhlaknya. dan sebagainya. "Sesungguhnya Allah SWT mencintai seorang hamba yang apabila ia bekerja. dia itqan (baca . maka itu adalah fi sabilillah. "Pebisnis yang jujur lagi dipercaya (anamah) akan bersama para nabi. tidak menunda-nunda pekerjaan. minum. bersikap yang bijak. Diantara adab dan etika bekerja dalam Islam adalah : 1.. Thabrani) Riwayat-riwayat di atas sudah lebih dari cukup bagi seorang mu'min untuk menjadi motivator dalam bekerja. bergaul. tidak mengabaikan pekerjaan. Implementasi dari keikhlasan dalam bekerja adalah itqon (baca . shiddiqin dan syuhada'. Ia pun mengetahui. ia juga mendapatkan beribu kebaikan untuk kehidupannya di akhirat kelak. sehingga nilai-nilai luhur tersebut tidak hilang sirna sia-sia. yang memiliki visi untuk merealisasikan syariat Allah di muka bumi ini. Dalam sebuah hadits Rasulullah SAW mengatakan. Orang itu sedang bekerja dengan sangat giat dan tangkas.Dari Ka'ab bin Umrah berkata. menyelesaikan apa yang sudah menjadi kewajibannya secara tuntas. Etika lain dari bekerja dalam Islam adalah jujur dan amanah.' Lalu Rasulullah bersabda. dan sebagainya.. Dan dalam bekerja. Karena pada hakekatnya pekerjaan yang dilakukannya tersebut merupakan amanah. Jujur dan amanah. seorang mu'min dituntut untuk bertutur kata yang sopan. Bekerja dengan ikhlas karena Allah SWT. tidak curang. diperlukan adab dan etika yang membingkainya. makan. bahwa bekerja adalah kewejiban dari Allah yang harus dilakukan oleh setiap hamba. rapat. (HR. adalah bagian yang tidak terpisahkan dari esensi bekerja itu sendiri yang merupakan ibadah kepada Allah SWT. Rasulullah SAW memberikan janji bagi orang yang jujur dan amanah akan masuk ke dalam surga bersama para shiddiqin dan syuhada'. itu adalah fi sabilillah. Oleh karenanya seorang muslim yang baik adalah yang bekerja dengan penuh kesungguhan dan ketekunan. Itqon. obyektif dalam menilai. berhadapan dengan customer dengan baik. alangkah baiknya. terlebih-lebih bekerja di Lembaga Keuangan Syariah. Ia sadar. berhadapan dengan customer. bahwa Rasulullah SAW bersabda. Thabrani). riwayat Aisyah ra. tekun dan sungguh-sungguh dalam bekerja. menegur. dan jika ia bekerja untuk kepentingan dirinya sendiri agar tidak meminta-minta. "Ada seseorang yang berjalan melalui tempat Rasulullah SAW. 2. Ia faham bahwa memberikan nafkah kepada diri dan keluarga adalah kewajiban dari Allah. menyempurnakan) pekerjaannya. Jika ia bekerja untuk membela kedua orang tuanya yang sudah lanjut usia. Artinya ketika bekerja. Sehingga ia selalu memulai aktivitas pekerjaannya dengan dzikir kepada Allah. Turmudzi). profesional) dalam pekerjaannya. rapat juga dengan sikap yang terpuji dan sebagainya yang menunjukkan jatidirinya sebagai seorang yang beriman. 'Ya Rasulullah. Ia sadar bahwa kehadiran tepat pada waktunya. andaikata bekerja seperti dia dapat digolongkan fi sabilillah. niatan utamanya adalah karena Allah SWT. Bahkan dalam hadits yang lain Rasulullah SAW .

maka ia terjerumus pada yang diharamkan. Rasulullah SAW sendiri mengemukakan tentang hal yang bersifat prefentif agar tidak merusak ukhuwah Islamiyah di kalangan kaum muslimin. Menghindari syubhat Dalam bekerja terkadang seseorang dihadapkan dengan adanya syubhat atau sesuatu yang meragukan dan samar antara kehalalan dengan keharamannya. Ranjau-Ranjau Berbahaya Dalam Dunia Kerja Dunia kerja adalah dunia yang terkadang dikotori oleh ambisi-ambisi negatif manusia. "Halal itu jelas dan haram itu jelas. kitapun harus mewaspadai ranjau-ranjau berbahaya dalam dunia kerja serta berusaha untuk menghindarinya semaksimal mungkin. Berikut adalah diantara beberapa sifat-sifat buruk dalam dunia kerja yang perlu dihindari dan diwaspadai: 1. ketamakan. su'udzon dsb. segala cara digunakan. jilat atas dan sikut kiri kanan." Sifat ini sangat berbahaya. Dalam sebuah hadits Rasulullah SAW bersabda. Allah SWT berfirman. kendaraan. bahkan (yang sangat pribadipun direlakan). Karena dampak negatif dari ranjau-ranjau ini sangat besar. harta. Tidak melanggar prinsip syariah ini dapat dibagi menjadi beberapa hal. background dan pola pandangnya sangat berbeda telah memberikan contoh sangat positif bagi kita." (HR. Dan syubhat semacam ini dapat berasal dari internal maupun eksternal. ikhtilat antara laki-laki dengan perempuan. (Na'udzu billah min dzalik). jika kamu mau. Aspek lain yang juga sangat penting diperhatikan adalah masalah ukhuwah islamiyah antara sesama muslim. yang sering digambarkan oleh para ulama dengan ungkapan "senang melihat orang susah. Beliau mengemukakan. Aspek lain dalam etika bekerja dalam Islam adalah tidak boleh melanggar prinsip-prinsip syariah dalam pekerjaan yang dilakukannya. seperti memporduksi barang yang haram. Salah seorang sahabat Anshar bahkan mengatakan kepada Muhajirin. Kedua dari sisi penunjang yang tidak terkait langsung dengan pekerjaan. riba. Jangan sampai dalam bekerja atau berusaha melahirkan perpecahan di tengah-tengah kaum muslimin. disamping kita perlu untuk menghiasi diri dengan sifat-sifat yang baik dalam bekerja.menggambarkan bahwa terdapat dua sifat yang tidak mungkin terkumpul dalam diri seorang mu'min. "Hai orang-orang yang beriman.. Turmudzi) 5. dan diantara keduanya ada perkara-perkara yang syubhat.Hasad (Dengki) Hasad atau dengki adalah suatu sifat. diantaranya dapat memusnahkan seluruh pahala amal shaleh kita. Muslim) 7.. karena akan "menghilangkan" pahala amal shaleh kita dalam bekerja. membuat fitnah dalam persaingan dsb." (QS. Karena dalam dunia kerja. yaitu istri. Atau seperti bekerja sama dengan pihak-pihak yang secara umum diketahui kedzliman atau pelanggarannya terhadap syariah. Hal ini terjadi lantaran ukhuwah antara mereka yang demikian kokohnya. Muslim). dsb. rumah. 6. yaitu ukhuwah islamiyah. Karena masalah pekerjaan atau bisnis yang menghasilkan uang. yaitu bakhil dan akhlak yang buruk. Seperti unsur-unsur pemberian dari pihak luar. Tidak melanggar prinsip-prinsip syariah. Maka barang siapa yang terjerumus dalam perkara yang syubhat. risywah dsb. menyebarluaskan kefasadan (seperti pornografi dan permusuhan). Oleh karena itulah. keserakahan. Sehingga sering kita mendengar istilah. taatlah kepada Allah dan taatlal kepada Rasul-Nya dan janganlah kalian membatalkan amal perbuatan/ pekerjaan kalian. saling curiga. Pelanggaran-pelanggaran terhadap prinsip syariah. seperti tidak menutup aurat. selain mengakibatkan dosa dan menjadi tidak berkahnya harta. (HR. Dan tidak jarang untuk mencapai tujuan tersebut. Pertama dari sisi dzat atau substansi dari pekerjaannya.Dalam sebuah hadits Rasulullah SAW bersabda : ّ َ ّ ُ ‫ع َن أ َبي هُري ْرةَ أ َن الن ّب ِي صلى الل ّه ع َل َي ْه وَسل ّم قال إ ِياك ُم وال ْحسد َ فَإ ِن ال ْحسد َ ي َأ ْك ُل ال ْحسنات‬ ِ َ َ َ ِ ّ ّ َ َ َ َ َ ْ ّ َ َ َ َ ُ ِ ْ َ َ َ ‫ك َما تأ ْك ُل النار ال ْحط َب أ‬ ْ ‫َ و قال ال‬ َ ْ ‫َ عُشب رواه أبو داود‬ َ ْ َ ُ ّ ُ َ َ . yang terdapat indikasi adanya satu kepentingan terntentu. karakter. Kaum Anshar dan Muhajirin yang secara sifat. umumnya manusia memiliki tujuan utama hanya untuk mencari materi. akan sangat sensitif bagi palakunya. 47 : 33). kita diminta hati-hati dalam kesyubhatan ini. Oleh karenanya. saya akan bagi dua seluruh kekayaan saya. keinginan menang sendiri. tentu akan merenggangkan juga ukhuwah Islamiyah diantara mereka. Karena jika terjadi kontradiktif dari hadits di atas.. "Dan janganlah kalian menjual barang yang sudah dijual kepada saudara kalian" (HR. injak bawah. dan susah melihat orang senang. Menjaga ukhuwah Islamiyah. juga dapat menghilangkan pahala amal shaleh kita dalam bekerja.

kemudian menjadikan kita bersu'udzon atau berprasangka buruk kepada saudara kita sesama muslim. paling profesional. hingga mereka berbaikan. khususnya ketika ia mendapatkan reward yang lebih baik dari kita. dan janganlah kalian saling mementingkan diri sendiri. maka pada hari itu akan diampuni dosa setiap hamba yang tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu apapun. Dalam sebuah riwayat Rasulullah SAW bersabda "Tidak akan pernah masuk ke dalam surga seseorang yang di dalam hatinya terdapat satu biji sawi sifat kesombongan" (HR.Sombong Di sisi lain.Berprasangka Buruk Sifat inipun tidak kalah negatifnya.bahwa Rasulullah SAW bersabda. atau sama-sama ingin mendapatkan proyek tertentu. bahwasanya Rasulullah SAW bersabda. Jika sifat permusuhan merasuk dalam jiwa kita. Abu Daud) 2. Kita harus mewaspadai sifat ini. “Pintu-pintu surga dibuka pada hari senin dan kamis.Dalam sebuah hadits rasulullah bersabda : ّ َ ِ َ ُ َ ّ ‫ع َن أ َبي هُري ْرةَ أ َن رسول الل ّه صلى الل ّه ع َل َي ْه وَسل ّم قال إ ِياك ُم والظ ّن فَإ ِن الظ ّن أ َك ْذ َب‬ ُ ّ ُ ِ ْ ّ ّ َ ْ ّ َ َ َ َ ِ َ َ َ َ َ َ َ َ ِ ِ َ ُ َ‫ال ْحديث وَل ت َحسسوا وَل ت َجسسوا وَل ت َنافَسوا وَل ت َحاسدوا وَل ت َباغ َضوا وَل ت َداب َروا و‬ ‫كونوا‬ ُ َ ُ َ ُ َ َ ُ ُ ّ َ ُ ّ َ ُ َ ّ ‫عباد َ الل‬ ‫ه إ ِخوانا رواه مسلم‬ ً َ ْ ِ َ ِ .Dari Abu Hurairah ra berkata.Dalam hadits lain Rasulullah SAW bersabda : Dari Abu Hurairah ra berkata. lalu saling bermusuhan. memiliki gaji yang besar. Muslim). di samping juga bahwa sifat ini merupakan pintu gerbang ke sifat negatif lainnya. ketika orang yang sama-sama memiliki ambisi dunia berkompetisi untuk mendapatkan satu jabatan tertentu. “Jauhilah oleh kalian sifat hasad (iri hati). sesungguhnya Rasulullah SAW bersabda. Muslim) 4. yang bekerja dalam satu atap bersama kita. kemudian saling fitnah. Di samping itu.Namimah (mengadu domba) Indahnya dunia terkadang membutakan mata. maka dikatakan kepada para malaikat. (HR. Karena ambisi tertentu atau hal tertentu.Saling bermusuhan Tidak jarang. “Jauhilah oleh kalian prasangka buruk. atau ingin mendapatkan "kesan baik" di mata atasan. 3. tidak jarang menjerumuskan manusia untuk saling fitnah dan adu domba. Dan janganlah kalian mencari-cari berita kesalahan orang lain. karena sesungguhnya hasad itu dapat memakan kebaikan sebagaimana api melalap kayu bakar. dan janganlah kalian mencari-cari kesalahan orang lain. dan jangan lah kalian saling memusuhi dan jadilah kalian hamba-hamba Allah yang bersudara. paling penting kedudukan dan posisinya di kantor. “Tangguhkan dua orang ini sampai mereka berbaikan. dan tidak berusaha kita hilangkan. Sifat ini teramat sangat berbahaya. Merasa paling pintar. karena dapat menjadikan pelakunya diharamkan masuk ke dalam surga (na'udzu billah min dzalik). dan janganlah kalian saling marah. yaitu bahwa amal shalehnya akan "dipending" oleh Allah SWT. karena akan merusak tatanan ukhuwah dalam dunia kerja.Dalam sebuah hadits Rasulullah SAW bersabda : ّ َ ِ َ ُ َ ّ ‫ع َن أ َبي هُري ْرةَ أ َن رسول الل ّه صلى الل ّه ع َل َي ْه وَسل ّم قال ت ُفت َح أ َب ْواب ال ْجن ّة ي َوْم الث ْن َي ْن وَي َوْم‬ ِ َ ِ َ ُ َ ُ ْ َ َ َ َ ِ َ ُ ِ ْ َ َ ِ َ ‫ال ْخميس فَيغْفر ل ِك ُل ع َبد ل يشرك بالل ّه شيئا إل رجل كانت بينه وبين أ‬ ُ‫ّ ْ ٍ َ ُ ْ ِ ُ ِ ِ َ ْ ً ِ ّ َ ُ ً َ َ ْ َ ْ َ ُ َ َ ْ َ خيه شحناء فَي ُقال‬ َ ِ ِ َ ُ َ ْ ِ َ ُ َ ُ ِ ‫أ َن ْظ ِروا هَذ َي ْن حتى ي َصط َل ِحا أ َن ْظ ِروا هَذ َي ْن حتى ي َصط َل ِحا أ َن ْظ ِروا هَذ َي ْن حتى ي َصط َل ِحا رواه‬ ّ َ ِ ّ َ ِ ّ َ ِ َ َ َ ْ ْ ْ ُ ُ ُ ‫مسلم‬ Dari Abu Hurairah ra berkata. Muslim). maka akibatnya juga sangat fatal. meraih kedudukan tinggi. sifat sangat dimurkai oleh Allah serta dibenci Rasulullah SAW. Keingingan mencapai sesuatu. Sifat ini perlu dihindari karena merupakan sifat yang dilarang oleh Allah & Rasulullah SAW. 5. Sifat ini pun sangat berbahaya. karena ini merupakan sifatnya syaitan yang kemudian menjadikan mereka dilaknat oleh Allah SWT serta dijadikan makhluk paling hina diseluruh jagad raya ini. kecuali seseorang yang sedang bermusuhan dengan saudaranya sesama muslim.” (HR. terkadang kita yang mendapatkan presetasi sering terjebak pada satu bentuk kearogansian yang mengakibatkan pada sifat kesombongan. (HR. karena sesungguhnya prasangka buruk itu adalah sedusta-dustanya perkataan. dsb. saling tuduh. dan janganlah kalian saling dengki.

dapat menggugah kita untuk menjauhi segala ranjau-ranjau berbahaya lainnya khususnya dalam kehidupan dunia kerja. “Tidak akan masuk surga sesroang yang suka mengadu domba. Rikza Maulan.” HR Bukhari Muslim) Masih banyak sesungguhnya sifat-sifat lain yang perlu dihindari. Namun setidaknya kelima ranjau berbahaya tadi.Ag Label: Muamalat A'lam Bis Shawab ّ َ ِ ً ُ َ ّ ُ َ ُ َ ُ ِ َ ُ َ ُ َ َ َ ِ َ ّ ‫ع َن حذ َي ْفة أ َن ّه ب َل َغَه أ َن رجل ي َن ُم ال ْحديث فَقال حذ َي ْفة سمعْت رسول الل ّه صلى الل ّه ع َل َي ْه‬ ِ ُ ُ َ َ ُ ْ َ ُ ُ َ َ ُ ُ ‫وَسل ّم ي َقول ل ي َد ْخل ال ْجن ّة ن َمام‬ َ َ ٌ ّ 0 Comments: 1.Dari Hudzaifah ra berkata bahwa Rasulullah SAW bersbada. Jadi.. Wallahu By. M. hiasi dengan sifatsifat positif dan songsonglah hari esok dengan penuh kegemilangan serta keridhaan dari Allah SWT. Post a Comment Posting Lebih BaruPosting LamaBeranda Subscribe to: Poskan Komentar (Atom) . Lc. sekarang bekerjalah dengan niat ikhlas.

minimal kembali kepada pertimbangan akal sehat yang didukung secara nurani yang sejuk. tetapi berkualitas. Suatu keterampilan yang sudah dimiliki dapat saja hilang. mengangkat harga diri. seorang muslim tidak perlu bingung atau ragu dalam memilih suatu pekerjaan. Jika tidak diketahui adanya pesan khusus dari agama. Ash-Shalah (Baik dan Bermanfaat) Islam hanya memerintahkan atau menganjurkan pekerjaan yang baik dan bermanfaat bagi kemanusiaan. Dengan makna pertama ini. Al-Itqan (Kemantapan atau perfectness) Kualitas kerja yang itqan atau perfect merupakan sifat pekerjaan Tuhan (baca: Rabbani). Pekerjaan yang standar adalah pekerjaan yang bermanfaat bagi individu dan masyarakat. Konsep itqan memberikan penilaian lebih terhadap hasil pekerjaan yang sedikit atau terbatas. Dengan tertanamnya kesadaran ini. yakni mencapai standar ideal secara teknis. Dengan prosedur ini. Untuk itu.Al-Qur’an menanamkan kesadaran bahwa dengan bekerja berarti kita merealisasikan fungsi kehambaan kita kepada Allah. Al Qur’an menggandengkan iman dengan amal soleh sebanyak 77 kali. Pesan yang dikandungnya ialah agar setiap muslim mempunyai komitmen terhadap dirinya untuk berbuat yang terbaik dalam segala hal yang ia kerjakan. lebihlebih jika dilakukan melalui media shalat meminta petunjuk (istikharah). agar setiap pekerjaan mampu memberi nilai tambah dan mengangkat derajat manusia baik secara individu maupun kelompok. kemudian menjadi kualitas pekerjaan yang islami (an-Naml: 88). Rahmat Allah telah dijanjikan bagi setiap orang yang bekerja secara itqan. dan memberi manfaat kepada sesama. maka pengertian ihsan sama dengan ‘itqan’. maka perangkat kualitas etik kerja yang Islami harus diperhatikan. Karena itu. secara material dan moral-spiritual. Islam mewajibkan umatnya agar terus menambah atau mengembangkan ilmunya dan tetap berlatih. Dalam konteks ini. tetapi kurang bermutu (al-Baqarah: 263). 3. daripada output yang banyak. tiada waktu tanpa amal. diperlukan dukungan pengetahuan dan skill yang optimal. bahkan kepada makhluk lain.’ Adapun agar nilai ibadahnya tidak luntur. Tolok ukurnya adalah pesan syariah yang semata-mata merupakan rahmat bagi manusia. dan berkonsultasi kepada orang yang lebih tahu. 1. meningkatkan taraf hidup. Jika hal ini pun tidak dilakukan. ihsan berarti ‘yang terbaik’ dari yang dapat dilakukan. Al-Ihsan (Melakukan yang Terbaik atau Lebih Baik Lagi) Kualitas ihsan mempunyai dua makna dan memberikan dua pesan. yaitu sebagai berikut. Berikut ini adalah kualitas etik kerja yang terpenting untuk dihayati. “Dan masing-masing orang memperoleh derajat-derajat (seimbang) dengan apa yang dikerjakannya.” (al-An’am: 132) Ini adalah pesan iman yang membawa manusia kepada orientasi nilai dan kualitas. . Semboyangnya adalah “tiada waktu tanpa kerja. dan menempuh jalan menuju ridha-Nya. akibat meninggalkan latihan. Pertama. padahal manfaatnya besar untuk masyarakat. maka seseorang harus memperhatikan pengakuan umum bahwa sesuatu itu bermanfaat. seorang muslim atau muslimah akan berusaha mengisi setiap ruang dan waktunya hanya dengan aktivitas yang berguna. 2. melepas atau menterlantarkan ketrampilan tersebut termasuk perbuatan dosa.

Akan tetapi. Adalah suatu kerugian jika prestasi kerja hari ini menurun dari hari kemarin. ia mengungguli score kebajikan yang diraih saudaranya. Tinggal peran manusia sendiri dalam memobilisasi serta mendaya gunakannya secara optimal. Bermujahadah atau bekerja dengan semangat jihad (ruhul jihad) menjadi kewajiban setiap muslim dalam rangka tawakkal sebelum menyerahkan (tafwidh) hasil akhirnya pada keputusan Allah (Ali Imran: 159. Sebab. Ada perintah “fastabiqul khairat” (maka. Dapat juga diartikan sebagai mobilisasi serta optimalisasi sumber daya. Dengan demikian. hatta ketika membalas keburukan orang lain (Fusshilat :34. dalam rangka melaksanakan apa yang Allah ridhai. Al-Qur’an meletakkan kulaitas mujahadah dalam bekerja pada konteks manfaatnya. ihsan mempunyai makna ‘lebih baik’ dari prestasi atau kualitas pekerjaan sebelumnya. 4. Mujahadah dalam maknanya yang luas seperti yang didefinisikan oleh Ulama adalah ”istifragh ma fil wus’i”. (Ali Imran: 142. yakni mengerahkan segenap daya dan kemampuan yang ada dalam merealisasikan setiap pekerjaan yang baik.Kedua. alMaidah: 35. Begitu pula perintah “wasari’u ilaa magfirain min Rabbikum wajannah” `bersegeralah lamu sekalian menuju ampunan Rabbmu dan surga` Jalannya adalah melalui kekuatan infaq. Semua ini menyuratkan dan menyiratkan etos persaingan dalam kualitas kerja. dan karenanya. Makna ini memberi pesan peningkatan yang terus-menerus. al-Hajj: 77. dan sumber daya lainnya. Oleh karena dasar semangat dalam kompetisi islami adalah ketaatan kepada Allah dan ibadah serta amal shalih. dan bersegera bertaubat kepada Allah (Ali Imran 133-135). dan agar nilai guna dari hasil kerjanya semakin bertambah. sehingga orang yang lebih banyak membantu dimungkinkan amalnya lebih banyak serta lebih baik. 5. pengalaman. yaitu kebaikan dalam garis horizontal dan ketaqwaan dalam garis vertikal (al-Maidah: 3). dan an Naml: 125) Semangat kerja yang ihsan ini akan dimiliki manakala seseorang bekerja dengan semangat ibadah. pemberian maaf. Al-Mujahadah (Kerja Keras dan Optimal) Dalam banyak ayatnya. Mencermati Nilai Waktu . Tanafus dan Ta’awun (Berkompetisi dan Tolong-menolong) Al-Qur’an dalam beberapa ayatnya menyerukan persaingan dalam kualitas amal solih. waktu. maka wajah persaingan itu tidaklah seram. Bahkan. obyek kompetisi dan kooperasi tidak berbeda. saling mengalahkan atau mengorbankan. sebagaimana dinyatakan dalam sebuah hadits Nabi saw. sebab yang paling mulia dalam pandangan Allah adalah insan yang paling taqwa (al Hujurat: 13). Dinyatakan pula dalam konteks persaingan dan ketaqwaan. dan al-Ankabut: 69). untuk saling membantu (ta’awun). al-Furqan: 25. Hud: 133). Kita dapati pula dalam ungkapan “tanafus” untuk menjadi hamba yang gemar berbuat kebajikan. sesungguhnya Allah SWT telah menyediakan fasilitas segala sumber daya yang diperlukan melalui hukum ‘taskhir’. pengendalian emosi. 6. berlomba-lombalah kamu sekalian dalam kebaikan) (al-Baqarah: 108). Keharusan berbuat yang lebih baik juga berlaku ketika seorang muslim membalas jasa atau kebaikan orang lain. idealnya ia tetap berbuat yang lebih baik. sehingga berhak mendapatkan surga. dan dengan kesadaran bahwa dirinya sedang dilihat oleh Allah SWT. yakni menundukkan seluruh isi langit dan bumi untuk manusia (Ibrahim: 32-33). seiring dengan bertambahnya pengetahuan. yaitu untuk kebaikan manusia sendiri. Pesan persaingan ini kita dapati dalam beberapa ungkapan Qur’ani yang bersifat “amar” atau perintah. berbuat kebajikan. tempat segala kenikmatan (al-Muthaffifin: 22-26).

Ketahuilah. Setiap orang akan mempertanggung jawabkan usianya yang tidak lain adalah rangkaian dari waktu. karena pekerjaanmu akan menumpuk. terpulang kepada manusia itu sendiri: apakah mau melaksanakannya atau tidak. Mengutip al-Qardhawi dalam bukunya “Qimatul waqti fil Islam”: waktu adalah hidup itu sendiri. Hal ini dilakukan dengan cara mengisinya dengan amal solih.” (Kitab al-Amwal.Keuntungan atau pun kerugian manusia banyak ditentukan oleh sikapnya terhadap waktu. sikap ingkar adalah cenderung mengutuk waktu dan menyia-nyiakannya. Waktu adalah sumpah Allah dalam beberapa ayat kitab suci-Nya yang mengaitkannya dengan nasib baik atau buruk yang akan menimpa manusia. yang berarti menghilangkan kesempatan. sekaligus waktu itu pun merupakan amanat yang tidak boleh disia-siakan. sehingga kamu tidak tahu lagi mana yang harus dikerjakan. Sebaliknya. maka jangan sekalikali engkau sia-siakan. Oleh karena itu. akibat tingkah lakunya sendiri. sesungguhnya kekuatan itu terletak pada prestasi kerja. Jika kita melihat mengenai kaitan waktu dan prestasi kerja. sebagaimana dituturkan oleh Abu Ubaid. 10) . sehingga tidak punya kesempatan untuk memperbaiki kekeliruan. Namun. ”Amma ba’du. janganlah engkau tangguhkan pekerjaan hari ini hingga esok. Kemudian. maka ada baiknya dikutip petikan surat Khalifah Umar bin Khatthab kepada Gubernur Abu Musa al-Asy’ari ra. dan akhirnya semua terbengkalai. sedetik pun dari waktumu untuk hal-hal yang tidak berfaidah. Sikap imani adalah sikap yang menghargai waktu sebagai karunia Ilahi yang wajib disyukuri. seperti gemar menangguhkan atau mengukur waktu. Sikap negatif terhadap waktu niscaya membawa kerugian. kemudian ia mengkambing hitamkan waktu saat ia merugi. Semua macam pekerjaan ubudiyah (ibadah vertikal) telah ditentukan waktunya dan disesuaikan dengan kesibukan dalam hidup ini.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful