Bekerja Dalam Islam Islam memandang bahwa bekerja merupakan satu kewajiban bagi setiap insan.

Karena dengan bekerja, seseorang akan memperoleh penghasilan yang dapat memenuhi kebutuhan hidup dirinya dan juga keluarganya serta dapat memberikan maslahat bagi masyarakat di sekitarnya. Oleh karenanya Islam bahkan mengkategorikan bekerja sebagai ibadah, yang diperintahkan oleh Allah SWT : “Dan katakanlah: "Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mu'min akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) Yang Mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan". Selain sebagai satu kewajiban, Islam juga memberikan penghargaan yang sangat mulia bagi para pemeluknya yang dengan ikhlas bekerja mengharapkan keridhaan Allah SWT. Penghargaan tersebut adalah sebagaimana dalam riwayat-riwayat hadits berikut : • Akan diampuni dosa-dosanya oleh Allah SWT

Dari Ibnu Abbas ra berkata, Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda, 'Barang siapa yang merasakan keletihan pada sore hari, karena pekerjaan yang dilakukan oleh kedua tangannya, maka ia dapatkan dosanya diampuni oleh Allah SWT pada sore hari tersebut." (HR. Imam Tabrani, dalam Al-Mu'jam AlAusath VII/ 289)

َ ‫من أ َمسى كال ّ من ع َمل ي َد ِه أ َمسى مغْفوْرا ل َه رواه الطبراني‬ َ ْ ِ َ ْ ْ َ ُ ً ُ َ ِ َ ْ ِ

Dihapuskan dosa-dosa tertentu yang tidak dapat dihapuskan dengan shalat, puasa dan shadaqah.

‫إ ِن من الذ ّن ُوْب ل َذ ُن ُوْبا، ل َ ت ُك َفرها الصلةُ وَل َ الصيا َم وَل َ ال ْحج وَل َ ال ْعُمرة، قال وَما ت ُك َفرها يا‬ َ ُ ّ َ َ ُ ّ ُ َ ً ُ ّ َ َ َ ُ َ ْ ّ ِ َ ِ ّ ْ ‫رسوْل الله؟ قا َل ال ْهُموْم فِي ط َل َب ال‬ َ َ ُ َ ‫ِ معِي ْشة رواه الطبراني‬ ِ َ ِ ُ ُ َ ْ
Dari Abu Hurairah ra berkata, bahwa Rasulullah SAW bersabda, 'Sesungguhnya diantara dosa-dosa itu terdapat suatu dosa yang tidak dapat diampuni dengan shalat, puasa, haji dan juga umrah." Sahabat bertanya, "Apa yang bisa menghapuskannya wahai Rasulullah?". Beliau menjawab, "Semangat dalam mencari rizki". (HR. Thabrani, dalam Al-Mu'jam Al-Ausath I/38) • Mendapatkan cinta Allah SWT

Dari Ibnu Umar ra bersabda, 'Sesungguhnya Allah SWT mencintai seorang mu'min yang bekerja dengan giat". (HR. Imam Tabrani, dalam Al-Mu'jam Al-Aushth VII/380) : • Terhindar dari azab neraka

‫إ ِن الله ي ُحب ال ْمؤ ْمن ال ْمحت َرِف رواه الطبراني‬ َ ْ ُ َ ِ ُ ّ ِ َ ّ

Dalam sebuah riwayat dikemukakan, "Pada suatu saat, Saad bin Muadz Al-Anshari berkisah bahwa ketika Nabi Muhammad SAW baru kembali dari Perang Tabuk, beliau melihat tangan Sa'ad yang melepuh, kulitnya gosong kehitam-hitaman karena diterpa sengatan matahari. Rasulullah bertanya, 'Kenapa tanganmu?' Saad menjawab, 'Karena aku mengolah tanah dengan cangkul ini untuk mencari nafkah keluarga yang menjadi tanggunganku." Kemudian Rasulullah SAW mengambil tangan Saad dan menciumnya seraya berkata, 'Inilah tangan yang tidak akan pernah disentuh oleh api neraka'" (HR. Tabrani)

Bekerja mencari nafkah digolongkan dalam fi sabililah

bahwa bekerja adalah kewejiban dari Allah yang harus dilakukan oleh setiap hamba. Ini merupakan hal dan landasan terpenting bagi seorang yang bekerja. Ia pun mengetahui. makan. "Sesungguhnya Allah SWT mencintai seorang hamba yang apabila ia bekerja. Etika Bekerja Dalam Islam Dalam mewujudkan nilai-nilai ibadah dalam bekerja yang dilakukan oleh setiap insan. Bahkan akhlak atau etika ini merupakan ciri kesempurnaan iman seorang mu'min. "Pebisnis yang jujur lagi dipercaya (anamah) akan bersama para nabi. itu adalah fi sabilillah. Thabrani). Diantara adab dan etika bekerja dalam Islam adalah : 1. yang memiliki visi untuk merealisasikan syariat Allah di muka bumi ini. Jika ia bekerja untuk membela kedua orang tuanya yang sudah lanjut usia.. dia itqan (baca . maka itu adalah fi sabilillah. rapat." (HR. beliau berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda. Itqon. dan sebagainya. Para sahabat lalu berkata. obyektif dalam menilai. berhadapan dengan customer. Artinya ketika bekerja. 3. Dalam sebuah hadits.Dari Ka'ab bin Umrah berkata. bergaul. Bekerja juga harus memperhatikan adab dan etika sebagai seroang muslim. rapat juga dengan sikap yang terpuji dan sebagainya yang menunjukkan jatidirinya sebagai seorang yang beriman. diperlukan adab dan etika yang membingkainya. Thabrani) Riwayat-riwayat di atas sudah lebih dari cukup bagi seorang mu'min untuk menjadi motivator dalam bekerja. berhadapan dengan customer dengan baik. seperti zakat. minum. "Orang mu'min yang paling sempurna imannya adalah mereka yang paling baik akhlaknya. Menjaga etika sebagai seorang muslim. Karena selain mendapatkan penghasilan untuk kehidupan dunianya. alangkah baiknya. sehingga nilai-nilai luhur tersebut tidak hilang sirna sia-sia. 2. Turmudzi). terlebih-lebih bekerja di Lembaga Keuangan Syariah. menyempurnakan) pekerjaannya. bahwa hanya dengan bekerjalah ia dapat menunaikan kewajiban-kewajiban Islam yang lainnya. maupun secara duniawi dari Allah SWT yang akan dimintai pertanggung jawaban atas pekerjaan yang dilakukannya. tidak menunda-nunda pekerjaan. makan dan minum sesuai dengan tuntunan Islam. bahwa Rasulullah SAW bersabda. Etika lain dari bekerja dalam Islam adalah jujur dan amanah. berpakaian. "Ada seseorang yang berjalan melalui tempat Rasulullah SAW. dan sebagainya. (HR.' Lalu Rasulullah bersabda. Implementasi dari keikhlasan dalam bekerja adalah itqon (baca . baik secara duniawi dari atasannya atau pemilik usaha. andaikata bekerja seperti dia dapat digolongkan fi sabilillah. niatan utamanya adalah karena Allah SWT. Ia sadar. Rasulullah SAW memberikan janji bagi orang yang jujur dan amanah akan masuk ke dalam surga bersama para shiddiqin dan syuhada'. dan jika ia bekerja untuk kepentingan dirinya sendiri agar tidak meminta-minta. adalah bagian yang tidak terpisahkan dari esensi bekerja itu sendiri yang merupakan ibadah kepada Allah SWT. tidak curang. seorang mu'min dituntut untuk bertutur kata yang sopan. 'Jika ia bekerja untuk mengidupi anak-anaknya yang masih kecil. 4. ia juga mendapatkan beribu kebaikan untuk kehidupannya di akhirat kelak. infak dan shodaqah. Ia faham bahwa memberikan nafkah kepada diri dan keluarga adalah kewajiban dari Allah. shiddiqin dan syuhada'." (HR. Bahkan dalam hadits yang lain Rasulullah SAW . profesional) dalam pekerjaannya. Jujur dan amanah. Bekerja dengan ikhlas karena Allah SWT. Dan dalam bekerja. seperti etika dalam berbicara.. Dalam sebuah hadits Rasulullah SAW mengatakan. itu adalah fi sabilillah. Dalam hadits riwayat Imam Turmudzi : Dari Abu Said Al-Khudri ra. Orang itu sedang bekerja dengan sangat giat dan tangkas. menyelesaikan apa yang sudah menjadi kewajibannya secara tuntas. Karena pada hakekatnya pekerjaan yang dilakukannya tersebut merupakan amanah. Implementasi jujur dan amanah dalam bekerja diantaranya adalah dengan tidak mengambil sesuatu yang bukan menjadi haknya. tekun dan sungguh-sungguh dalam bekerja. riwayat Aisyah ra. tidak mengabaikan pekerjaan. bersikap yang bijak. Oleh karenanya seorang muslim yang baik adalah yang bekerja dengan penuh kesungguhan dan ketekunan. Ia sadar bahwa kehadiran tepat pada waktunya. Sehingga ia selalu memulai aktivitas pekerjaannya dengan dzikir kepada Allah. 'Ya Rasulullah. menegur.

yaitu bakhil dan akhlak yang buruk. Seperti unsur-unsur pemberian dari pihak luar. Karena dampak negatif dari ranjau-ranjau ini sangat besar. umumnya manusia memiliki tujuan utama hanya untuk mencari materi.. kita diminta hati-hati dalam kesyubhatan ini. "Dan janganlah kalian menjual barang yang sudah dijual kepada saudara kalian" (HR. kendaraan. Rasulullah SAW sendiri mengemukakan tentang hal yang bersifat prefentif agar tidak merusak ukhuwah Islamiyah di kalangan kaum muslimin. ketamakan. yang sering digambarkan oleh para ulama dengan ungkapan "senang melihat orang susah. menyebarluaskan kefasadan (seperti pornografi dan permusuhan). Aspek lain dalam etika bekerja dalam Islam adalah tidak boleh melanggar prinsip-prinsip syariah dalam pekerjaan yang dilakukannya. Turmudzi) 5. yaitu istri. maka ia terjerumus pada yang diharamkan. Tidak melanggar prinsip syariah ini dapat dibagi menjadi beberapa hal. Atau seperti bekerja sama dengan pihak-pihak yang secara umum diketahui kedzliman atau pelanggarannya terhadap syariah. Berikut adalah diantara beberapa sifat-sifat buruk dalam dunia kerja yang perlu dihindari dan diwaspadai: 1. risywah dsb. Muslim) 7. Menjaga ukhuwah Islamiyah. Beliau mengemukakan. riba. Dalam sebuah hadits Rasulullah SAW bersabda.. membuat fitnah dalam persaingan dsb. 6. taatlah kepada Allah dan taatlal kepada Rasul-Nya dan janganlah kalian membatalkan amal perbuatan/ pekerjaan kalian. Allah SWT berfirman. saling curiga. Ranjau-Ranjau Berbahaya Dalam Dunia Kerja Dunia kerja adalah dunia yang terkadang dikotori oleh ambisi-ambisi negatif manusia." Sifat ini sangat berbahaya. Kedua dari sisi penunjang yang tidak terkait langsung dengan pekerjaan.Dalam sebuah hadits Rasulullah SAW bersabda : ّ َ ّ ُ ‫ع َن أ َبي هُري ْرةَ أ َن الن ّب ِي صلى الل ّه ع َل َي ْه وَسل ّم قال إ ِياك ُم وال ْحسد َ فَإ ِن ال ْحسد َ ي َأ ْك ُل ال ْحسنات‬ ِ َ َ َ ِ ّ ّ َ َ َ َ َ ْ ّ َ َ َ َ ُ ِ ْ َ َ َ ‫ك َما تأ ْك ُل النار ال ْحط َب أ‬ ْ ‫َ و قال ال‬ َ ْ ‫َ عُشب رواه أبو داود‬ َ ْ َ ُ ّ ُ َ َ . dan diantara keduanya ada perkara-perkara yang syubhat. karena akan "menghilangkan" pahala amal shaleh kita dalam bekerja.menggambarkan bahwa terdapat dua sifat yang tidak mungkin terkumpul dalam diri seorang mu'min. (HR. kitapun harus mewaspadai ranjau-ranjau berbahaya dalam dunia kerja serta berusaha untuk menghindarinya semaksimal mungkin. Kaum Anshar dan Muhajirin yang secara sifat. Salah seorang sahabat Anshar bahkan mengatakan kepada Muhajirin. Karena jika terjadi kontradiktif dari hadits di atas. background dan pola pandangnya sangat berbeda telah memberikan contoh sangat positif bagi kita. harta. Pelanggaran-pelanggaran terhadap prinsip syariah. 47 : 33). seperti memporduksi barang yang haram." (HR. rumah. Oleh karena itulah. juga dapat menghilangkan pahala amal shaleh kita dalam bekerja. akan sangat sensitif bagi palakunya. Jangan sampai dalam bekerja atau berusaha melahirkan perpecahan di tengah-tengah kaum muslimin. su'udzon dsb. karakter. ikhtilat antara laki-laki dengan perempuan. "Hai orang-orang yang beriman." (QS. segala cara digunakan. Aspek lain yang juga sangat penting diperhatikan adalah masalah ukhuwah islamiyah antara sesama muslim. saya akan bagi dua seluruh kekayaan saya. dsb. keinginan menang sendiri. jilat atas dan sikut kiri kanan. Sehingga sering kita mendengar istilah. selain mengakibatkan dosa dan menjadi tidak berkahnya harta. Dan syubhat semacam ini dapat berasal dari internal maupun eksternal. yaitu ukhuwah islamiyah. Oleh karenanya. bahkan (yang sangat pribadipun direlakan). keserakahan..Hasad (Dengki) Hasad atau dengki adalah suatu sifat. Pertama dari sisi dzat atau substansi dari pekerjaannya. Dan tidak jarang untuk mencapai tujuan tersebut. dan susah melihat orang senang. disamping kita perlu untuk menghiasi diri dengan sifat-sifat yang baik dalam bekerja. tentu akan merenggangkan juga ukhuwah Islamiyah diantara mereka. "Halal itu jelas dan haram itu jelas. jika kamu mau. Menghindari syubhat Dalam bekerja terkadang seseorang dihadapkan dengan adanya syubhat atau sesuatu yang meragukan dan samar antara kehalalan dengan keharamannya. Karena masalah pekerjaan atau bisnis yang menghasilkan uang. Hal ini terjadi lantaran ukhuwah antara mereka yang demikian kokohnya. (Na'udzu billah min dzalik). yang terdapat indikasi adanya satu kepentingan terntentu. seperti tidak menutup aurat. Muslim). diantaranya dapat memusnahkan seluruh pahala amal shaleh kita. Tidak melanggar prinsip-prinsip syariah. injak bawah. Maka barang siapa yang terjerumus dalam perkara yang syubhat. Karena dalam dunia kerja.

Dalam sebuah riwayat Rasulullah SAW bersabda "Tidak akan pernah masuk ke dalam surga seseorang yang di dalam hatinya terdapat satu biji sawi sifat kesombongan" (HR.Sombong Di sisi lain. dan janganlah kalian saling mementingkan diri sendiri. ketika orang yang sama-sama memiliki ambisi dunia berkompetisi untuk mendapatkan satu jabatan tertentu. Karena ambisi tertentu atau hal tertentu. karena akan merusak tatanan ukhuwah dalam dunia kerja. dan janganlah kalian saling dengki. Abu Daud) 2. “Jauhilah oleh kalian sifat hasad (iri hati).bahwa Rasulullah SAW bersabda. atau sama-sama ingin mendapatkan proyek tertentu. di samping juga bahwa sifat ini merupakan pintu gerbang ke sifat negatif lainnya. atau ingin mendapatkan "kesan baik" di mata atasan. Merasa paling pintar. yang bekerja dalam satu atap bersama kita. kemudian menjadikan kita bersu'udzon atau berprasangka buruk kepada saudara kita sesama muslim. karena ini merupakan sifatnya syaitan yang kemudian menjadikan mereka dilaknat oleh Allah SWT serta dijadikan makhluk paling hina diseluruh jagad raya ini. Kita harus mewaspadai sifat ini. memiliki gaji yang besar. maka pada hari itu akan diampuni dosa setiap hamba yang tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu apapun.Dalam hadits lain Rasulullah SAW bersabda : Dari Abu Hurairah ra berkata.” (HR. saling tuduh. Muslim) 4.Namimah (mengadu domba) Indahnya dunia terkadang membutakan mata. “Tangguhkan dua orang ini sampai mereka berbaikan. Sifat ini pun sangat berbahaya. Muslim). “Pintu-pintu surga dibuka pada hari senin dan kamis. bahwasanya Rasulullah SAW bersabda. meraih kedudukan tinggi. hingga mereka berbaikan. kemudian saling fitnah. maka akibatnya juga sangat fatal. maka dikatakan kepada para malaikat. dan jangan lah kalian saling memusuhi dan jadilah kalian hamba-hamba Allah yang bersudara. karena dapat menjadikan pelakunya diharamkan masuk ke dalam surga (na'udzu billah min dzalik). dsb. Keingingan mencapai sesuatu.Dari Abu Hurairah ra berkata. sifat sangat dimurkai oleh Allah serta dibenci Rasulullah SAW. Muslim).Dalam sebuah hadits Rasulullah SAW bersabda : ّ َ ِ َ ُ َ ّ ‫ع َن أ َبي هُري ْرةَ أ َن رسول الل ّه صلى الل ّه ع َل َي ْه وَسل ّم قال ت ُفت َح أ َب ْواب ال ْجن ّة ي َوْم الث ْن َي ْن وَي َوْم‬ ِ َ ِ َ ُ َ ُ ْ َ َ َ َ ِ َ ُ ِ ْ َ َ ِ َ ‫ال ْخميس فَيغْفر ل ِك ُل ع َبد ل يشرك بالل ّه شيئا إل رجل كانت بينه وبين أ‬ ُ‫ّ ْ ٍ َ ُ ْ ِ ُ ِ ِ َ ْ ً ِ ّ َ ُ ً َ َ ْ َ ْ َ ُ َ َ ْ َ خيه شحناء فَي ُقال‬ َ ِ ِ َ ُ َ ْ ِ َ ُ َ ُ ِ ‫أ َن ْظ ِروا هَذ َي ْن حتى ي َصط َل ِحا أ َن ْظ ِروا هَذ َي ْن حتى ي َصط َل ِحا أ َن ْظ ِروا هَذ َي ْن حتى ي َصط َل ِحا رواه‬ ّ َ ِ ّ َ ِ ّ َ ِ َ َ َ ْ ْ ْ ُ ُ ُ ‫مسلم‬ Dari Abu Hurairah ra berkata.Saling bermusuhan Tidak jarang. 5. paling profesional. Jika sifat permusuhan merasuk dalam jiwa kita. karena sesungguhnya prasangka buruk itu adalah sedusta-dustanya perkataan. yaitu bahwa amal shalehnya akan "dipending" oleh Allah SWT. tidak jarang menjerumuskan manusia untuk saling fitnah dan adu domba. Sifat ini teramat sangat berbahaya. lalu saling bermusuhan. (HR. terkadang kita yang mendapatkan presetasi sering terjebak pada satu bentuk kearogansian yang mengakibatkan pada sifat kesombongan. dan tidak berusaha kita hilangkan. kecuali seseorang yang sedang bermusuhan dengan saudaranya sesama muslim. Dan janganlah kalian mencari-cari berita kesalahan orang lain. dan janganlah kalian saling marah. (HR.Berprasangka Buruk Sifat inipun tidak kalah negatifnya. “Jauhilah oleh kalian prasangka buruk. karena sesungguhnya hasad itu dapat memakan kebaikan sebagaimana api melalap kayu bakar. Sifat ini perlu dihindari karena merupakan sifat yang dilarang oleh Allah & Rasulullah SAW. khususnya ketika ia mendapatkan reward yang lebih baik dari kita. sesungguhnya Rasulullah SAW bersabda. paling penting kedudukan dan posisinya di kantor. dan janganlah kalian mencari-cari kesalahan orang lain.Dalam sebuah hadits rasulullah bersabda : ّ َ ِ َ ُ َ ّ ‫ع َن أ َبي هُري ْرةَ أ َن رسول الل ّه صلى الل ّه ع َل َي ْه وَسل ّم قال إ ِياك ُم والظ ّن فَإ ِن الظ ّن أ َك ْذ َب‬ ُ ّ ُ ِ ْ ّ ّ َ ْ ّ َ َ َ َ ِ َ َ َ َ َ َ َ َ ِ ِ َ ُ َ‫ال ْحديث وَل ت َحسسوا وَل ت َجسسوا وَل ت َنافَسوا وَل ت َحاسدوا وَل ت َباغ َضوا وَل ت َداب َروا و‬ ‫كونوا‬ ُ َ ُ َ ُ َ َ ُ ُ ّ َ ُ ّ َ ُ َ ّ ‫عباد َ الل‬ ‫ه إ ِخوانا رواه مسلم‬ ً َ ْ ِ َ ِ . 3. Di samping itu.

Jadi. hiasi dengan sifatsifat positif dan songsonglah hari esok dengan penuh kegemilangan serta keridhaan dari Allah SWT. M.” HR Bukhari Muslim) Masih banyak sesungguhnya sifat-sifat lain yang perlu dihindari. sekarang bekerjalah dengan niat ikhlas. Namun setidaknya kelima ranjau berbahaya tadi. Post a Comment Posting Lebih BaruPosting LamaBeranda Subscribe to: Poskan Komentar (Atom) . Lc.. Wallahu By.Ag Label: Muamalat A'lam Bis Shawab ّ َ ِ ً ُ َ ّ ُ َ ُ َ ُ ِ َ ُ َ ُ َ َ َ ِ َ ّ ‫ع َن حذ َي ْفة أ َن ّه ب َل َغَه أ َن رجل ي َن ُم ال ْحديث فَقال حذ َي ْفة سمعْت رسول الل ّه صلى الل ّه ع َل َي ْه‬ ِ ُ ُ َ َ ُ ْ َ ُ ُ َ َ ُ ُ ‫وَسل ّم ي َقول ل ي َد ْخل ال ْجن ّة ن َمام‬ َ َ ٌ ّ 0 Comments: 1. dapat menggugah kita untuk menjauhi segala ranjau-ranjau berbahaya lainnya khususnya dalam kehidupan dunia kerja.Dari Hudzaifah ra berkata bahwa Rasulullah SAW bersbada. “Tidak akan masuk surga sesroang yang suka mengadu domba. Rikza Maulan.

tetapi kurang bermutu (al-Baqarah: 263). dan berkonsultasi kepada orang yang lebih tahu.” (al-An’am: 132) Ini adalah pesan iman yang membawa manusia kepada orientasi nilai dan kualitas. Suatu keterampilan yang sudah dimiliki dapat saja hilang. seorang muslim atau muslimah akan berusaha mengisi setiap ruang dan waktunya hanya dengan aktivitas yang berguna. tetapi berkualitas. Al-Itqan (Kemantapan atau perfectness) Kualitas kerja yang itqan atau perfect merupakan sifat pekerjaan Tuhan (baca: Rabbani). maka pengertian ihsan sama dengan ‘itqan’. Dalam konteks ini. Konsep itqan memberikan penilaian lebih terhadap hasil pekerjaan yang sedikit atau terbatas. agar setiap pekerjaan mampu memberi nilai tambah dan mengangkat derajat manusia baik secara individu maupun kelompok. 2. diperlukan dukungan pengetahuan dan skill yang optimal. Jika hal ini pun tidak dilakukan. Semboyangnya adalah “tiada waktu tanpa kerja. Pekerjaan yang standar adalah pekerjaan yang bermanfaat bagi individu dan masyarakat. bahkan kepada makhluk lain. mengangkat harga diri. maka seseorang harus memperhatikan pengakuan umum bahwa sesuatu itu bermanfaat. kemudian menjadi kualitas pekerjaan yang islami (an-Naml: 88). dan menempuh jalan menuju ridha-Nya. 3. seorang muslim tidak perlu bingung atau ragu dalam memilih suatu pekerjaan. minimal kembali kepada pertimbangan akal sehat yang didukung secara nurani yang sejuk. lebihlebih jika dilakukan melalui media shalat meminta petunjuk (istikharah). yakni mencapai standar ideal secara teknis. yaitu sebagai berikut. padahal manfaatnya besar untuk masyarakat. Karena itu. Dengan makna pertama ini. 1. Berikut ini adalah kualitas etik kerja yang terpenting untuk dihayati. Ash-Shalah (Baik dan Bermanfaat) Islam hanya memerintahkan atau menganjurkan pekerjaan yang baik dan bermanfaat bagi kemanusiaan. akibat meninggalkan latihan. . Rahmat Allah telah dijanjikan bagi setiap orang yang bekerja secara itqan. tiada waktu tanpa amal. “Dan masing-masing orang memperoleh derajat-derajat (seimbang) dengan apa yang dikerjakannya. maka perangkat kualitas etik kerja yang Islami harus diperhatikan. Al Qur’an menggandengkan iman dengan amal soleh sebanyak 77 kali.Al-Qur’an menanamkan kesadaran bahwa dengan bekerja berarti kita merealisasikan fungsi kehambaan kita kepada Allah. secara material dan moral-spiritual. Dengan prosedur ini. Tolok ukurnya adalah pesan syariah yang semata-mata merupakan rahmat bagi manusia. Untuk itu. daripada output yang banyak. Islam mewajibkan umatnya agar terus menambah atau mengembangkan ilmunya dan tetap berlatih. Pesan yang dikandungnya ialah agar setiap muslim mempunyai komitmen terhadap dirinya untuk berbuat yang terbaik dalam segala hal yang ia kerjakan. ihsan berarti ‘yang terbaik’ dari yang dapat dilakukan. Al-Ihsan (Melakukan yang Terbaik atau Lebih Baik Lagi) Kualitas ihsan mempunyai dua makna dan memberikan dua pesan. dan memberi manfaat kepada sesama. meningkatkan taraf hidup. Pertama. Jika tidak diketahui adanya pesan khusus dari agama.’ Adapun agar nilai ibadahnya tidak luntur. melepas atau menterlantarkan ketrampilan tersebut termasuk perbuatan dosa. Dengan tertanamnya kesadaran ini.

dan bersegera bertaubat kepada Allah (Ali Imran 133-135). dan an Naml: 125) Semangat kerja yang ihsan ini akan dimiliki manakala seseorang bekerja dengan semangat ibadah. sebab yang paling mulia dalam pandangan Allah adalah insan yang paling taqwa (al Hujurat: 13). dan sumber daya lainnya. 5. sehingga orang yang lebih banyak membantu dimungkinkan amalnya lebih banyak serta lebih baik. sebagaimana dinyatakan dalam sebuah hadits Nabi saw. obyek kompetisi dan kooperasi tidak berbeda. pengendalian emosi. waktu. dalam rangka melaksanakan apa yang Allah ridhai. Bermujahadah atau bekerja dengan semangat jihad (ruhul jihad) menjadi kewajiban setiap muslim dalam rangka tawakkal sebelum menyerahkan (tafwidh) hasil akhirnya pada keputusan Allah (Ali Imran: 159. Adalah suatu kerugian jika prestasi kerja hari ini menurun dari hari kemarin. Hud: 133). al-Furqan: 25. dan al-Ankabut: 69). dan dengan kesadaran bahwa dirinya sedang dilihat oleh Allah SWT. Tinggal peran manusia sendiri dalam memobilisasi serta mendaya gunakannya secara optimal. Pesan persaingan ini kita dapati dalam beberapa ungkapan Qur’ani yang bersifat “amar” atau perintah. Makna ini memberi pesan peningkatan yang terus-menerus. Dengan demikian. yaitu untuk kebaikan manusia sendiri. pengalaman. (Ali Imran: 142. Al-Mujahadah (Kerja Keras dan Optimal) Dalam banyak ayatnya. Dapat juga diartikan sebagai mobilisasi serta optimalisasi sumber daya. idealnya ia tetap berbuat yang lebih baik. saling mengalahkan atau mengorbankan. sehingga berhak mendapatkan surga. berlomba-lombalah kamu sekalian dalam kebaikan) (al-Baqarah: 108). Kita dapati pula dalam ungkapan “tanafus” untuk menjadi hamba yang gemar berbuat kebajikan. Semua ini menyuratkan dan menyiratkan etos persaingan dalam kualitas kerja. Mencermati Nilai Waktu . Ada perintah “fastabiqul khairat” (maka. Al-Qur’an meletakkan kulaitas mujahadah dalam bekerja pada konteks manfaatnya. Bahkan. dan agar nilai guna dari hasil kerjanya semakin bertambah. 4. Dinyatakan pula dalam konteks persaingan dan ketaqwaan. yaitu kebaikan dalam garis horizontal dan ketaqwaan dalam garis vertikal (al-Maidah: 3). 6. hatta ketika membalas keburukan orang lain (Fusshilat :34.Kedua. Begitu pula perintah “wasari’u ilaa magfirain min Rabbikum wajannah” `bersegeralah lamu sekalian menuju ampunan Rabbmu dan surga` Jalannya adalah melalui kekuatan infaq. untuk saling membantu (ta’awun). Mujahadah dalam maknanya yang luas seperti yang didefinisikan oleh Ulama adalah ”istifragh ma fil wus’i”. yakni mengerahkan segenap daya dan kemampuan yang ada dalam merealisasikan setiap pekerjaan yang baik. maka wajah persaingan itu tidaklah seram. pemberian maaf. Akan tetapi. dan karenanya. sesungguhnya Allah SWT telah menyediakan fasilitas segala sumber daya yang diperlukan melalui hukum ‘taskhir’. seiring dengan bertambahnya pengetahuan. ihsan mempunyai makna ‘lebih baik’ dari prestasi atau kualitas pekerjaan sebelumnya. Oleh karena dasar semangat dalam kompetisi islami adalah ketaatan kepada Allah dan ibadah serta amal shalih. Keharusan berbuat yang lebih baik juga berlaku ketika seorang muslim membalas jasa atau kebaikan orang lain. Sebab. tempat segala kenikmatan (al-Muthaffifin: 22-26). yakni menundukkan seluruh isi langit dan bumi untuk manusia (Ibrahim: 32-33). Tanafus dan Ta’awun (Berkompetisi dan Tolong-menolong) Al-Qur’an dalam beberapa ayatnya menyerukan persaingan dalam kualitas amal solih. al-Hajj: 77. ia mengungguli score kebajikan yang diraih saudaranya. alMaidah: 35. berbuat kebajikan.

Sikap imani adalah sikap yang menghargai waktu sebagai karunia Ilahi yang wajib disyukuri. terpulang kepada manusia itu sendiri: apakah mau melaksanakannya atau tidak.Keuntungan atau pun kerugian manusia banyak ditentukan oleh sikapnya terhadap waktu. Namun. sesungguhnya kekuatan itu terletak pada prestasi kerja. yang berarti menghilangkan kesempatan. Sebaliknya. dan akhirnya semua terbengkalai. sedetik pun dari waktumu untuk hal-hal yang tidak berfaidah. Sikap negatif terhadap waktu niscaya membawa kerugian. sehingga kamu tidak tahu lagi mana yang harus dikerjakan. karena pekerjaanmu akan menumpuk. kemudian ia mengkambing hitamkan waktu saat ia merugi. akibat tingkah lakunya sendiri. Setiap orang akan mempertanggung jawabkan usianya yang tidak lain adalah rangkaian dari waktu. Semua macam pekerjaan ubudiyah (ibadah vertikal) telah ditentukan waktunya dan disesuaikan dengan kesibukan dalam hidup ini. maka ada baiknya dikutip petikan surat Khalifah Umar bin Khatthab kepada Gubernur Abu Musa al-Asy’ari ra. Mengutip al-Qardhawi dalam bukunya “Qimatul waqti fil Islam”: waktu adalah hidup itu sendiri. Oleh karena itu. Kemudian. maka jangan sekalikali engkau sia-siakan. 10) . sikap ingkar adalah cenderung mengutuk waktu dan menyia-nyiakannya. Hal ini dilakukan dengan cara mengisinya dengan amal solih. sehingga tidak punya kesempatan untuk memperbaiki kekeliruan. ”Amma ba’du. sebagaimana dituturkan oleh Abu Ubaid. seperti gemar menangguhkan atau mengukur waktu.” (Kitab al-Amwal. Jika kita melihat mengenai kaitan waktu dan prestasi kerja. Waktu adalah sumpah Allah dalam beberapa ayat kitab suci-Nya yang mengaitkannya dengan nasib baik atau buruk yang akan menimpa manusia. sekaligus waktu itu pun merupakan amanat yang tidak boleh disia-siakan. janganlah engkau tangguhkan pekerjaan hari ini hingga esok. Ketahuilah.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful