P. 1
Inklusivitas Beragama

Inklusivitas Beragama

|Views: 499|Likes:
Published by shecutesib9835

More info:

Published by: shecutesib9835 on Nov 10, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

12/14/2012

pdf

text

original

Inklusivitas Beragama, Klaim Keselamatan, dan Millat Ibrahim Tafsir atas Ayat 2:120 Oleh Himawan Pridityo* Barangkali

tidak ada ayat Quran yang begitu populer dalam persoalan hubungan antar umat beragama melebihi ayat 2:120. Ayat ini, yang sering kita dengar di setiap khutbah yang berhubungan dengan penjajahan atas bangsa Palestina, hingga konflik-konflik horizontal antara Islam-Kristen di tanah air, seakan menjadi argumen utama yang direproduksi terus menerus untuk membenarkan kepercayaan sekelompok orang bahwa umat beragama lain selalu menaruh rasa benci, dan curiga kepada umat Muslim dan senantiasa mempengaruhi mereka untuk meninggalkan ajaran Islam yang luhur dan lurus. Barangkali tidak ada ayat Quran yang begitu populer dalam persoalan hubungan antar umat beragama melebihi ayat 2:120. Ayat ini, yang sering kita dengar di setiap khutbah yang berhubungan dengan penjajahan atas bangsa Palestina, hingga konflik-konflik horizontal antara Islam-Kristen di tanah air, seakan menjadi argumen utama yang direproduksi terus menerus untuk membenarkan kepercayaan sekelompok orang bahwa umat beragama lain selalu menaruh rasa benci, dan curiga kepada umat Muslim dan senantiasa mempengaruhi mereka untuk meninggalkan ajaran Islam yang luhur dan lurus. Sayangnya pretensi buruk ini sering diterima begitu saja tanpa kritik, dan menjadi raison d’etre bagi sejumlah pelaku tindak kekerasan yang mengatasnamakan agama. Bahwa apa yang mereka lakukan merupakan sebuah pernyataan resmi Islam, dan dengan begitu segala bentuk negativitas mendapatkan justifikasinya. Tentu, saya tidak menampik fakta bahwa terdapat banyak luka sejarah yang melatarbelakangi hubungan antar ketiga agama Abrahamik ini. Namun bukan berarti pembacaan atas ayat tersebut harus dilakukan berdasarkan beban sejarah yang tidak mengenakkan itu, karena jika kita teliti lebih lanjut, masih banyak ayat-ayat Quran yang justru menyuburkan rasa saling percaya dan toleran dengan umat beragama lainnya macam 5:82 dan 5:44. Jika demikian, dengan cara apa semestinya kita menafsirkan ayat tersebut? Struktur pembacaan Sebagaimana permasalahan lainnya dalam penafsiran ayat-ayat Quran, akar utama dari pemahaman yang keliru atas ayat 2:120 adalah bagaimana kita membaca ayat tersebut. Mereka yang menerima teori mengenai kebencian, biasanya membaca ayat ini secara terpisah dari lingkungan ayat tempat ia berada, atau lebih parah, hanya membaca frase pertama dari ayat kita ini dan mengabaikan dua frase terakhir yang membentuk kesatuan ide, atau lebih tepat petunjuk bagi pengungkapan makna yang hendak disampaikan. Cara pembacaan seperti ini bisa kita gambarkan dengan notasi [120] atau 1[120]. Pembacaan satu frase ini, jelas sangat tidak memadai untuk digunakan sebagai cara memahami ayat Quran. Kita membutuhkan model pembacaan yang jauh lebih konfrehensif, untuk mengerti maksudnya. Salah satu fakta tekstual yang tidak bisa kita abaikan dari ayat 2:120 adalah, keberadaan kata penghubung di awal kalimat, wa. Hal ini secara logis menandakan bahwa ayat tersebut merupakan bagian dari sebuah paragraf yang memiliki kesatuan tema yang lebih kuat, dan bukan tema tersendiri yang terpisah begitu saja dari rangkaian ayat yang mendahului atau datang sesudahnya. Ayat yang paling mungkin menjadi pendahulu dari ayat ini jelas ayat 119. Ayat tersebut memiliki 2 frase, dengan frase pertama sebagai pembuka, sedang frase berikutnya sebagai penjelas.

Meski demikian, jika kedua ayat ini digabungkan menjadi satu kalimat utuh, kita akan melihat paduan komposisi kalimat yang tidak seimbang, karena penekanannya yang sangat berlebih pada karakter Ahli Kitab sebagaimana diwakili oleh seluruh frase yang terdapat di ayat 120. Hal ini menunjukkan bahwa makna kalimat [119,120] bergantung pada kalimat lain yang menjadi bagian dari narasi yang jauh lebih luas. Yang saya maksud adalah, bahwa ayat-ayat yang berada pada rentang 2:104 hingga 2:141 saling terhubung satu sama lain, sehingga untuk menafsirkan makna ayat [119,120] mau tidak mau kita harus menempatkannya kedalam konteks rangkaian 37 ayat tersebut. Untuk itu saya akan memecah [119,120] kedalam 5 bagian sesuai dengan jumlah frase yang membangunnya dan membuat sebuah daftar indeks ayat yang berkorelasi dengannya. 1[119] Kami mengutusmu dengan Haqq sebagai pembawa kabar gembira dan pemberi peringatan 2[119] dan kamu tidak akan ditanya tentang penghuni neraka. 1[120] dan tidak akan pernah rela umat Yahudi dan Kristen kepadamu hingga kamu mengikuti millat mereka. 2[120] Katakanlah, sesungguhnya petunjuk Allah adalah Petunjuk. 3[120] Dan seandainya kamu mengikuti ahwa mereka, setelah datang padamu al-‘ilm, maka kamu tidak akan mendapat perlindungan dan pertolongan dari Allah. Pada bagian pertama, frase 1[119] yang menjadi frase pembuka menerangkan kepada kita tentang misi Nabi SAW, yakni sebagai pembawa kabar baik dan pemberi peringatan. Term ini memperkuat pernyataan di 2:104 untuk tidak mendebat wahyu yang diterima oleh beliau. Perdebatan soal wahyu bagi Quran jelas akan membuat umat Islam kehilangan anchor untuk mengetahui mana yang benar dan mana yang salah, padahal mereka tidak akan dimintai pertanggungjawaban apapun dengan apa yang dikerjakan oleh umat-umat sebelumnya. Oleh karena itu, kenapa harus membandingkan wahyu yang diterima Nabi SAW dengan ajaran-ajaran dua agama sebelumnya, Yahudi dan Kristen. Term dimintai pertanggungjawaban, tus`al, yang menjadi tema utama dari frase 2[119] muncul beberapa kali di rangkaian ayat-ayat ini. Yang pertama hadir di ayat yg sama, 2:119 dan merujuk kepada perilaku penganut Yahudi dan Kristen yang kafir. Oleh Quran, mereka digambarkan sebagai penghuni neraka, ashhabul Jahim. Adapun dua term lainnya, muncul di dua ayat berbeda, 2:141 dan 134, dan secara definitif merujuk kepada Ibrahim dan anak cucunya, yang dalam tradisi Judeo-Kristen dikenal sebagai para patriark. Para patriark ini menempati posisi yang khusus dalam konsep keberagamaan Quran. Mereka digambarkan sebagai para hanif, yang menganut agama, millat, yang lebih murni dari Yahudi dan Kristen. Kemurnian millat para patriark inilah yang membuat Quran membedakan posisi mereka dari agama Yahudi dan Kristen. Bagi Quran, para patriark bukanlah Yahudi apalagi Kristen, mereka merupakan entitas berbeda, yang tidak serupa dengan keduanya. Hal inilah yang membuat umat Yahudi dan Kristen tidak pernah rela dengan definisi Quran tersebut. Dalam frase 1[120] kita menemukan term tardha ‘anka, merujuk kepada misi kenabian Muhammad SAW yang tertera secara implisit di frase 1[119]. Membawa kembali kepada pengulangan tema di 2:104, ketika para sahabat mengalami kebingungan akibat informasi yang berbeda soal agama yang mereka dapatkan dari komunitas Yahudi di Madinah. Karena ada beberapa ajaran Islam yang tidak dapat didamaikan begitu saja dengan ajaran Yahudi dan Kristen, maka umat Islam pun diperintahkan untuk mengikuti ajaran agamanya saja. Bagaimana pun kebenaran hanya milik Tuhan dan Dialah yang akan menilai perbuatan semua manusia di akhirat kelak. Tema ini menjadi ide utama dari frase 2[120]. Secara semantik ia

berkorelasi dengan ayat 2:115 yang menggambarkan relativitas kebenaran dalam satu rumpun agama Abrahamik, sekaligus memperkuat teologi lakum dinukum wa liy al-din, yang juga tertera secara simbolik di ayat 2:139 dan menjadi tema sentral Islam dalam berhubungan dengan penganut agama-agama serumpun. Namun alasan paling utama mengapa Quran mengambil posisi yang berseberangan dengan tradisi Judeo-Kristen adalah, karena para penganut kedua agama ini telah mengikuti hawa mereka dalam beragama. Kata hawa yang lebih tepat diartikan sebagai spekulasi dalam soal agama, dirinci pengertiannya oleh Quran kedalam: Perilaku ra’ina umat Yahudi yang berujung pada kekafiran dan kedengkian (108); eksklusivitas keselamatan di akhirat (111); perilaku merendahkan dan mengkafirkan satu dengan lainnya (113); penolakan terhadap kebebasan beragama(114); Trinitas (116); serta antropomorfisme atas Tuhan (118). Keenam jenis hawa inilah yang menjadi tema utama dari frase 3[128] yang diakhiri dengan pernyataan jika Nabi SAW melakukan hal serupa, maka beliau tidak akan mendapatkan perlindungan dan pertolongan dari Allah. Narasi Besar Dari survey singkat atas ayat 2: 120 tadi kita menuju kepada tema utama yang membangun narasi besar ayat 2:104-141. Narasi ayat-ayat ini dibuka dengan perintah kepada umat Islam agar tidak berkata, ra’ina, kepada Nabi SAW berkenaan dengan wahyu yang diturunkan kepadanya, dan disarankan untuk menunjukkan sikap lain: lihatlah kami, dan dengarkan apa yang dikatakan Tuhan kepada Nabi SAW, unzhurna wa isma’u (2:104). Kata ra’ina yang berasal dari akar kata r ’ y, menggembala, setidaknya termaktub dua kali dalam Quran, ayat lain yang mencantumkan kata ini adalah 4:46. Keduanya merujuk secara definitif kepada perilaku Bani Israil yang membangkang kepada rasul dan nabi mereka. Tabari dalam tafsirnya, memberikan beberapa makna dari Ra’ina, diantaranya: bertolak belakang, khilaf, dan perilaku demokratis, isma minna wa nasma’ minka—dengarlah pendapat kami maka kami akan mendengarkan pendapatmu. Larangan mengatakan ra’ina kepada Nabi SAW terkait dengan sejumlah keputusan agama yang sedikit demi sedikit mulai berpaling dari semangat Judeo-Kristen, seperti perubahan waktu shalat yang berevolusi menjadi shalat lima waktu, hingga perubahan arah kiblat dari Jerussalem ke Makkah. Perubahan aturan-aturan agama ini dijelaskan dengan rendah hati di ayat 106, yang menjelaskan bahwa Tuhan memberikan yang lebih baik kepada umat Islam atas aturan-aturan agama, ayat, yang telah di hapus, mansukh. Perubahan-perubahan yang terjadi dalam aturan agama, bagi sebagian orang tentu memunculkan tanda tanya besar. Apa sebenarnya yang diinginkan oleh Tuhan dengan perubahan tradisi keagamaan ini? Namun efek yang paling utama dari rasa penasaran yang berlebihan bukanlah diskusi segar yang saling mencerahkan, melainkan tumbuhnya rasa sangsi atas kebenaran agama. Di ayat 108, Quran memberikan analogi Musa yang tidak kuasa menghadapi kritik, pertanyaan, dan permintaan Bani Israil kepadanya. Bahkan meski semua permintaan kritis itu dapat dijawab dengan tuntas, tetap saja sebagian besar dari mereka berpaling dari ajaran yang ia sampaikan. Hal serupa juga dialami Nabi SAW yang juga mendapat kritik pedas atas aturanaturan agama yang ia terima. Pada titik ini umat Islam dihadapkan pada dua otoritas yang saling bersaing, otoritas agama Judeo-Kristen yang lebih mapan dan mayoritas, serta otoritas agama yang diterima oleh Muhammad SAW melalui wahyu yang masih belia dan minoritas. Sementara Islam tidak menolak kebenaran yang ada dalam tradisi Judeo-Kristen, di lain pihak terdapat beberapa aturan dalam Islam yang bertentangan dengan ajaran kedua agama tersebut. Menghadapi masalah pelik ini, Quran kemudian memberikan sebuah solusi keagamaan yang inklusif dan pluralis. Di ayat 115 secara metaforik dijelaskan bahwa kepunyaan Allah-lah Timur dan Barat, dan kemanapun seseorang menghadap, maka akan ditemukan Wajah Tuhan di sana. Metafora Timur dan Barat di ayat tersebut secara tidak langsung merujuk kepada polaritas tradisi keagamaan yang mungkin terjadi antara Islam dan Judeo-Kristen. Penekanan bahwa ada banyak wajah Tuhan di berbagai penjuru mata angin, menyiratkan keberadaan banyak jalan untuk menuju Tuhan. Jalan-jalan yang banyak inilah yang digunakan oleh berbagai tradisi keagamaan untuk berlomba-lomba dalam kebaikan. Implikasi utama dari pluralitas jalan kebenaran ini adalah, tidak satupun tradisi yang mampu mengklaim bahwa dirinyalah yang paling berhak atas surga. Tema utama ini kita temukan ekspresinya di ayat 111 serta 113, dan kembali diulang pada ayat 135, menjelaskan eksklusivitas kebenaran yang dibawa oleh tradisi JudeoKristen. Meskipun jalan Tuhan itu banyak, tapi bukan berarti semua ajaran yang terdapat di setiap jalan direstui oleh Tuhan. Ajaran yang sama sekali tidak direstui Tuhan adalah ajaran yang menurut Quran muncul berlandaskan hawa para pengikutnya sebagaimana telah kita bahas sebelumnya. Millat Ibrahim Apabila tradisi Judeo-Kristen tidak benar-benar layak untuk dijadikan pedoman bagi keberagamaan tiga agama Abrahamik ini, lalu tradisi keagamaan apakah yang ditawarkan oleh Quran sebagai titik temu keberagamaan Yahudi, Kristen dan Islam? Jawabnya adalah, tradisi agama yang dipelopori oleh Ibrahim, yang dalam bahasa Quran dinamakan sebagai millat Ibrahim. Kata millat dalam Quran memiliki makna yang mirip dengan kata din, keduanya secara sederhana merujuk pada satu makna yang sama, agama. Dari 15 kata millat dalam Quran, setengah diantaranya selalu merujuk kepada nama Ibrahim. Sisanya, dengan merata merujuk kepada agama Yahudi, Kristen, dan pagan Arab. Millat Ibrahim dalam Quran dikenal juga dengan kata hanif. Kata ini, yang secara sederhana berarti condong, mayl, dan sering digunakan oleh masyarakat Arab pra-Islam untuk merujuk kepada pola peribadatan yang hanya menyembah satu Tuhan yang dilawankan oleh kultur politeis yang menjadi pola keberagamaan utama masyarakat Arab pada saat itu. Dalam tradisi Judeo-Kristen, sosok Ibrahim dan anak cucunya, asbath, hanya menempati fungsi biologis sebagai keluarga yang darinya bangsa Israel berasal. Fungsi teologis yang dibawa Ibrahim hampir tidak dikenal oleh masyarakat Yahudi dan Kristen. Berkenaan hal ini, kedudukan Musa bagi agama Yahudi, dan Isa bagi agama Kristen jauh lebih sentral. Problem teologis yang muncul kemudian, apakah Ibrahim dan anak cucunya itu dapat disebut sebagai orang beriman ataukah tidak, karena ia tidak pernah menjalankan perintah Taurat, juga tidak percaya bahwa Isa adalah juru selamat (pada kasus Islam, ia tidak pernah bersaksi bahwa Muhammad SAW adalah rasul Allah)? Pemecahan atas persoalan ini adalah penetapan Ibrahim dan asbath sebagai orang-orang beriman. Keberimanan Ibrahim dan anak cucunya yang dalam perspektif ketiga agama tidak sempurna justru memberikan implikasi teologis yang sangat besar. Apa yang ia tunjukkan dengan kepasrahannya dalam menyembah Tuhan, ketulusannya dalam berdoa, dan concern yang ia berikan kepada keturunananya, sebagaimana terbaca dalam 2:124-133 menjadi model utama dalam beragama yang patut ditauladani oleh para penganut ketiga agama serumpun ini. Dengan indah Quran menggambarkan orang-orang yang hendak meniru perilaku Ibrahim tersebut (entah ia seorang Yahudi, Kristen maupun Muslim) sebagai mereka yang telah dimurnikan jiwanya, terpilih di dunia, dan di akhirat mereka termasuk orang-orang yang shalih (2:130). Kesimpulan

Model pembacaan kontekstual sebagaimana saya demonstrasikan dalam tulisan ini menunjukkan bahwa ayat 2:120 bukanlah sebuah ayat permusuhan dan kebencian sebagaimana dipahami oleh banyak pihak, melainkan sebuah petunjuk untuk bersikap yang benar dalam pluralisme beragama. Ketika setiap tradisi agama berkeras kepala dengan kebenaran yang ia bawa, maka tidak ada jalan lain bagi umat Islam selain berpegang teguh pada ajaran agamanya sendiri. Karena bagaimanapun juga, setiap agama telah mengambil cara tersendiri yang berbeda satu sama lain dalam usahanya menuju Tuhan. * Alumnus Aqidah Filsafat UIN Syarif Hidayatullah Jakarta 28/09/2011 | Kolom, | # Komentar Komentar Masuk (20) (Tampil maks. 5 komentar terakhir, descending) go to hell bagi siapa yg tdk mau menyebut kristen sbg kafir Posted by yanto on 11/05 at 09:29 AM rasional itu bagus, akan tpi lhata prmslhan. kanb tlh jls dnytakan dlm al qur’an 2:120, bhwa itu mmang bnar adanya. itu adalah realita yg sgt nyta, Posted by iqbal on 10/22 at 08:46 PM Firman Tuhan ( Alquran ) ayat 2:120 jelas jelas nyata dan terbukti, bahwa paham yahudi dan paham nashoro ( Kristen ) dan ditambah lagi Jaringan Islam Liberal, nyata nyata tidak suka kalo Umat Islam,mempercayai kitab sucinya. Allah maha mengetahui apa yang ada dalam hati kalian wahai manusia. Yang membuat ayat tersebut adalah Tuhan yang menciptakan manusia termasuk ulil, itupun kalo ulil merasa jadi manusia. Dengan adanya JIL sudah menjadi bukti bahwa ayat tersebut benar adanya. Ayat 2:120 menunjukan paham yahudi dan nashoro akan bermunculan untuk menggiring umat islam agar ragu dan tidak percaya kepada Alquran dan Alhadis, dan mengikuti paham mereka. Posted by sukanda on 10/18 at 01:36 PM tuhan ingkar janji ..... ????? how could it be ?????? http://xucinxgaronx.wordpress.com/2010/02/22/tuhan-ingkar-janji/ Posted by XucinXgaronX on 10/15 at 11:51 AM Para nabi yang disebutkan adalah orang yang sudah lama meninggal dunia,tapi masih di panut panut oleh kaum fanatik,apa sich yang bisa diperbuat bagi orang yang sudah meninggal ?? Posted by KI HAJAR PRAKOSO on 10/14 at 01:28 PM islam adalah agama penyempurna…jika mereka mau mengikutinya dipersilakan dengan damai dan jika mereka tidak mau mengikutinya laknat allah swt akan datang…namun, kita sebagai umat islam tidaklah pantas memaksakan kepahaman kita kepada mereka apalagi menghakimi mereka dengan kalimat “kafir” karena kalimat itu hanyalah allah swt yang berhak untuk mengutarakannya…. terima kasih atas tulisan ini, semoga diskusi-diskusi mengenai tafsir qur’an semakin banyak dan berbobot sehingga kita sadar akan keberadaan kita di dunia ini… #1. Dikirim oleh aliem pada 28/09 04:04 PM Islam adalah hanya tunduk & pasrah kepada Allah swt saja.Di luar Islam tunduk & pasrah kepada selain Allah swt: Kafir. #2. Dikirim oleh Adib Rofiudin pada 28/09 09:13 PM

Good point, namun memang susah karena masih banyak orang mengaku Islam yang memang selalu ingin sok cari muka sama Gusti Allah dan sekaligus juga selalu curiga pada penganut agama2 lain, ketimbang berbuat sesuatu yang lebih berguna bagi kemaslahatan makhluk di bumi ini. Saya rindu agar banyak orang Islam yang berbuat baik tanpa bawa2 agama. Misalnya penggiat lingkungan hidup, sain, sosial, politik yang bermartabat, dll. Bukan jadi ustad/dai/habib yang hanya menjadi tontonan bukan tuntunan apalagi menjadi pelopor kekerasan.Kami rindu orang seperti Hamka, Cokroaminoto, Wahid Hasyim, Romo Mangun, dll #3. Dikirim oleh nurcahaya pada 29/09 10:42 AM 1[127] Kami mengutusmu dengan Haqq sebagai pembawa kabar gembira dan pemberi peringatan 2[127] dan kamu tidak akan ditanya tentang penghuni neraka. 1[128] dan tidak akan pernah rela umat Yahudi dan Kristen kepadamu hingga kamu mengikuti millat mereka. 2[128] Katakanlah, sesungguhnya petunjuk Allah adalah Petunjuk. 3[128] Dan seandainya kamu mengikuti ahwa mereka, setelah datang padamu al-‘ilm, maka kamu tidak akan mendapat perlindungan dan pertolongan dari Allah. Pada bagian pertama, frase 1[127] yang menjadi frase pembuka menerangkan Menurut hemat saya dan telah dicek dengan Al Quran yang saya miliki, ternyata yang tertulis di atas salah penempatan ayat. Seharusnya [127] menjadi [119], begitu juga [128] seharusnya [120]. Karena kesalhan redaksi ini akan sulit memaknai tulisan / artikel ini. Salam #4. Dikirim oleh m. ismet ismail pada 30/09 09:45 PM Jangan menafsirkan Al Qur’an menurut hawa nafsu, apalagi mencoba merevisi ayat al Quran. #5. Dikirim oleh Jaringan Islam Murni pada 30/09 10:15 PM mohon tlisannya tu revisi lagi. Menyampaikan gagasan yg begitu sensitif jangn pake salah ketik, pa lg berulang ulang. . . Bisa membiaskan pemahaman n esensi tlisan anda jua g teridentifikasi. Makash #6. Dikirim oleh prapto pada 02/10 09:46 AM Kenapa tidak ditelusuri saja bagaimana dulu Nabi menafsirkan ayat tersebut, bagaimana para sahabat memahami tafsir yang diajarkan oleh Nabi, bagaimana tabiin memahami tafsir yang diajarkan oleh Sahabat, dst dst dst s/d sekarang. Permasalahannya adalah tinggal diverifikasi mana transmisi yang benar dan mana yang salah. Simpel! Karena Islam memang mudah. Baru +- 14 abad lho dari jaman nabi. Bukan waktu yang lama. Bandingkan dgn ide-ide para filosof yg jauh lebih lama tapi ditelan mentah2 meskipun tanpa melalui proses verifikasi, contoh: Plato (427-348 SM) Sokrates (469-399 SM). Mana yang lebih baik tafsiran Nabi yang shahih (yang sudah melalui tahapan verifikasi yang ketat) ataukah tafsiran ngelantur penulis? #7. Dikirim oleh Lutfi pada 03/10 08:19 AM Singkat, tapi pesannya cukup jelas. Saya mengutip statement berikut untuk saya share pengalaman saya: “Problem teologis yang muncul kemudian, apakah Ibrahim dan anak cucunya itu dapat disebut sebagai orang beriman ataukah tidak, karena ia tidak pernah menjalankan perintah Taurat, juga tidak percaya bahwa Isa adalah juru selamat (pada kasus Islam, ia tidak pernah bersaksi bahwa Muhammad SAW adalah rasul Allah)?” Pertanyaan ini cukup mendidik dan membuat para penganut agama untuk semakin memahami agama dan tujuan agama. Dulu saya pernah berdiskusi di salah satu media online dang pernah mengklaim bahwa nabi Adam itu beragama Islam. Pemahaman dan klaim-klaim seperti ini akan sangat tolol menurut saya. Agama yang kita agung-agungkan tapi maksud Tuhan tidak pernah kita pikirkan, akhirnya hidup dan jiwa kita kosong tanpa makna. Mungkin ada statement dari saya, yang mungkin konyol juga bagi yang fanatik dengan ketololan. Bagi saya: “Tuhan itu terlalu kreatif apabila merencanakan hanya satu agama di dunia ini”. Ada juga statement mirip iklan kecap dari pemuka-pemuka agama yang menyebut bahwa Agamanyalah yang paling benar dan paling updatae. #8. Dikirim oleh Utusan pada 04/10 11:25 AM @aliem: Penyempurna? Penyempurna apa? Statementnya masih terbuka. Kalau penyempurna kehidupan anda ya pastilah itu karena memang hakikat agama seperti itu. Ateis juga akan menganggap keyakinannya sebagai penyempurna kehidupannya. Kita harus bisa menghargai proses hidup kita dan bagaimana hasilnya. Kita mengkalim agama kita penyempurna tapi hasil kerja, etika, moral, output bangsa ini sangat buruk.

Lihat tuh Jepang! Maju, aman dan bila mereka kena musibah dapat bangkit segera. Mereka mempunyai semangat hidup dan ruh yang hidup sebbagaimana Tuhan yang hidup selamanya. Manusia beragama di Indonesia ini terlalu banyak yang koar-koar kebenaran dan paling benar tapi apa-apa yang benar tidak tau dan bagaimana melakukan dengan benar tidak ngerti. Itukah yang dituntut Tuhan dan Allahmu dalam kitab sucimu? #9. Dikirim oleh Utusan pada 05/10 03:19 PM Terimakasih kepada M. Ismet atas koreksinya. Memang seharusnya disana tertulis 1[119] hingga 3[120], dan bukan 127 atau 128. Akan saya kabarkan ke redaktur untuk merevisinya. Tentang bagaimana para penafsir lain menafsirkan ayat tersebut, dapat dibaca secara online di situs ini: http://www.altafsir.com/. Saya hanya berusaha menafsirkan ayat tersebut menurut kapasitas berpikir saya. Jika ada yang baik ambilah, jika tidak ada, tinggalkan saja. Wa Allah A’lam bi al-shawwab. #10. Dikirim oleh Himawan Pridityo pada 07/10 08:59 AM Paham dan praktik beragama secara inklusif merupakan ikhtiar penting menuju tolerasni baik secara internal muslim maupun dengan umat beragama lainnya. Salut kepada islamlib.com yg terus beruapaya menyebarkan paham keberislaman yg ramah dan tentu saja: inklusif. #11. Dikirim oleh Insan Setia Nugraha pada 08/10 05:52 PM Ibrahim adalah tokoh sentral kedua setelah Muhammad. Bacaan do’a untuk Ibrahim di tiap sholat, perayaan Idul Adha, dan ibadah Haji menegaskan betapa pentingnya Ibrahim dalam Islam. Apakah pesan terpenting yang diangkat Islam dalam sosok Ibrahim? Berserah diri total, kepatuhan total bahkan bila itu berarti pengabaian terhadap nurani dan nalar. Apakah itu yang diharapkan dari orang yang beriman? Islam Anti Nalar. Benarkah? #12. Dikirim oleh Judhianto pada 09/10 02:52 PM Adanya agama , adanya tuhan itu semua kerena keberadaan manusia , pahami ini saudaraku . dan kita harus hidup damai , damai dihati damai dibumi . #13. Dikirim oleh Mbarep pada 09/10 07:27 PM Maha Benar Allah, kafir Yahudi dan kafir Kristen tidak akan pernah menyukai umat Islam. Buat penulis, kami umat Islam tidak butuh tafsir yang rumit untuk kalimat sejelas ini. Dan telah amat banyak fakta yang membuktikannya: perang salib, penghinaan Paus Benediktus atas Nabi yang mulia, kartun keji yang mencela Nabi, kerusuhan Ambon, dll. Telah ditetapkan laknat Allah atas Kafir Yahudi dan kafir Kristen sampai hari kiamat. Pasti dan pasti kedua golongan kafir itu kelak akan disiksa di dalam neraka, abadi, selama-lamanya. Tidak akan ada kematian yang mengakhiri penderitaan mereka. FYI, siksa neraka yang paling ringan: seorang penduduk neraka hendak mengenakan sandal. Sebelum kaki masuk sandal, otaknya sudah hancur. Bagaimana pula siksa terberat yang disiapkan bagi orang-orang kafir? Wahai kafir, kejarlah dan nikmatilah dunia ini sepuas-puasnya sebelum kematian menjemput. Karena tiada lagi bagian untuk kalian di hari kemudian, kecuali siksa yang amat pedih tiada akhir. Demikianlah, karena telah datang kepada kalian pemberi peringatan (Nabi dan Rasul) namun kalian berpaling dengan sombong! #14. Dikirim oleh Ibnu Lahm pada 11/10 08:34 PM lalu, coba anda jelaskan tentang yg dialami oleh muslim di palestina ???? #15. Dikirim oleh herlina pada 12/10 08:40 PM Para nabi yang disebutkan adalah orang yang sudah lama meninggal dunia,tapi masih di panut panut oleh kaum fanatik,apa sich yang bisa diperbuat bagi orang yang sudah meninggal ?? #16. Dikirim oleh KI HAJAR PRAKOSO pada 14/10 01:28 PM tuhan ingkar janji ..... ????? how could it be ?????? http://xucinxgaronx.wordpress.com/2010/02/22/tuhan-ingkar-janji/ #17. Dikirim oleh XucinXgaronX pada 15/10 11:51 AM

Firman Tuhan ( Alquran ) ayat 2:120 jelas jelas nyata dan terbukti, bahwa paham yahudi dan paham nashoro ( Kristen ) dan ditambah lagi Jaringan Islam Liberal, nyata nyata tidak suka kalo Umat Islam,mempercayai kitab sucinya. Allah maha mengetahui apa yang ada dalam hati kalian wahai manusia. Yang membuat ayat tersebut adalah Tuhan yang menciptakan manusia termasuk ulil, itupun kalo ulil merasa jadi manusia. Dengan adanya JIL sudah menjadi bukti bahwa ayat tersebut benar adanya. Ayat 2:120 menunjukan paham yahudi dan nashoro akan bermunculan untuk menggiring umat islam agar ragu dan tidak percaya kepada Alquran dan Alhadis, dan mengikuti paham mereka. #18. Dikirim oleh sukanda pada 18/10 01:36 PM rasional itu bagus, akan tpi lhata prmslhan. kanb tlh jls dnytakan dlm al qur’an 2:120, bhwa itu mmang bnar adanya. itu adalah realita yg sgt nyta, #19. Dikirim oleh iqbal pada 22/10 08:46 PM go to hell bagi siapa yg tdk mau menyebut kristen sbg kafir islam adalah agama penyempurna…jika mereka mau mengikutinya dipersilakan dengan damai dan jika mereka tidak mau mengikutinya laknat allah swt akan datang…namun, kita sebagai umat islam tidaklah pantas memaksakan kepahaman kita kepada mereka apalagi menghakimi mereka dengan kalimat “kafir” karena kalimat itu hanyalah allah swt yang berhak untuk mengutarakannya…. terima kasih atas tulisan ini, semoga diskusi-diskusi mengenai tafsir qur’an semakin banyak dan berbobot sehingga kita sadar akan keberadaan kita di dunia ini… #1. Dikirim oleh aliem pada 28/09 04:04 PM Islam adalah hanya tunduk & pasrah kepada Allah swt saja.Di luar Islam tunduk & pasrah kepada selain Allah swt: Kafir. #2. Dikirim oleh Adib Rofiudin pada 28/09 09:13 PM Good point, namun memang susah karena masih banyak orang mengaku Islam yang memang selalu ingin sok cari muka sama Gusti Allah dan sekaligus juga selalu curiga pada penganut agama2 lain, ketimbang berbuat sesuatu yang lebih berguna bagi kemaslahatan makhluk di bumi ini. Saya rindu agar banyak orang Islam yang berbuat baik tanpa bawa2 agama. Misalnya penggiat lingkungan hidup, sain, sosial, politik yang bermartabat, dll. Bukan jadi ustad/dai/habib yang hanya menjadi tontonan bukan tuntunan apalagi menjadi pelopor kekerasan.Kami rindu orang seperti Hamka, Cokroaminoto, Wahid Hasyim, Romo Mangun, dll #3. Dikirim oleh nurcahaya pada 29/09 10:42 AM 1[127] Kami mengutusmu dengan Haqq sebagai pembawa kabar gembira dan pemberi peringatan 2[127] dan kamu tidak akan ditanya tentang penghuni neraka. 1[128] dan tidak akan pernah rela umat Yahudi dan Kristen kepadamu hingga kamu mengikuti millat mereka. 2[128] Katakanlah, sesungguhnya petunjuk Allah adalah Petunjuk. 3[128] Dan seandainya kamu mengikuti ahwa mereka, setelah datang padamu al-‘ilm, maka kamu tidak akan mendapat perlindungan dan pertolongan dari Allah. Pada bagian pertama, frase 1[127] yang menjadi frase pembuka menerangkan Menurut hemat saya dan telah dicek dengan Al Quran yang saya miliki, ternyata yang tertulis di atas salah penempatan ayat. Seharusnya [127] menjadi [119], begitu juga [128] seharusnya [120]. Karena kesalhan redaksi ini akan sulit memaknai tulisan / artikel ini. Salam #4. Dikirim oleh m. ismet ismail pada 30/09 09:45 PM Jangan menafsirkan Al Qur’an menurut hawa nafsu, apalagi mencoba merevisi ayat al Quran. #5. Dikirim oleh Jaringan Islam Murni pada 30/09 10:15 PM mohon tlisannya tu revisi lagi. Menyampaikan gagasan yg begitu sensitif jangn pake salah ketik, pa lg berulang ulang. . . Bisa membiaskan pemahaman n esensi tlisan anda jua g teridentifikasi. Makash

#6. Dikirim oleh prapto pada 02/10 09:46 AM Kenapa tidak ditelusuri saja bagaimana dulu Nabi menafsirkan ayat tersebut, bagaimana para sahabat memahami tafsir yang diajarkan oleh Nabi, bagaimana tabiin memahami tafsir yang diajarkan oleh Sahabat, dst dst dst s/d sekarang. Permasalahannya adalah tinggal diverifikasi mana transmisi yang benar dan mana yang salah. Simpel! Karena Islam memang mudah. Baru +- 14 abad lho dari jaman nabi. Bukan waktu yang lama. Bandingkan dgn ide-ide para filosof yg jauh lebih lama tapi ditelan mentah2 meskipun tanpa melalui proses verifikasi, contoh: Plato (427-348 SM) Sokrates (469-399 SM). Mana yang lebih baik tafsiran Nabi yang shahih (yang sudah melalui tahapan verifikasi yang ketat) ataukah tafsiran ngelantur penulis? #7. Dikirim oleh Lutfi pada 03/10 08:19 AM Singkat, tapi pesannya cukup jelas. Saya mengutip statement berikut untuk saya share pengalaman saya: “Problem teologis yang muncul kemudian, apakah Ibrahim dan anak cucunya itu dapat disebut sebagai orang beriman ataukah tidak, karena ia tidak pernah menjalankan perintah Taurat, juga tidak percaya bahwa Isa adalah juru selamat (pada kasus Islam, ia tidak pernah bersaksi bahwa Muhammad SAW adalah rasul Allah)?” Pertanyaan ini cukup mendidik dan membuat para penganut agama untuk semakin memahami agama dan tujuan agama. Dulu saya pernah berdiskusi di salah satu media online dang pernah mengklaim bahwa nabi Adam itu beragama Islam. Pemahaman dan klaim-klaim seperti ini akan sangat tolol menurut saya. Agama yang kita agung-agungkan tapi maksud Tuhan tidak pernah kita pikirkan, akhirnya hidup dan jiwa kita kosong tanpa makna. Mungkin ada statement dari saya, yang mungkin konyol juga bagi yang fanatik dengan ketololan. Bagi saya: “Tuhan itu terlalu kreatif apabila merencanakan hanya satu agama di dunia ini”. Ada juga statement mirip iklan kecap dari pemuka-pemuka agama yang menyebut bahwa Agamanyalah yang paling benar dan paling updatae. #8. Dikirim oleh Utusan pada 04/10 11:25 AM @aliem: Penyempurna? Penyempurna apa? Statementnya masih terbuka. Kalau penyempurna kehidupan anda ya pastilah itu karena memang hakikat agama seperti itu. Ateis juga akan menganggap keyakinannya sebagai penyempurna kehidupannya. Kita harus bisa menghargai proses hidup kita dan bagaimana hasilnya. Kita mengkalim agama kita penyempurna tapi hasil kerja, etika, moral, output bangsa ini sangat buruk. Lihat tuh Jepang! Maju, aman dan bila mereka kena musibah dapat bangkit segera. Mereka mempunyai semangat hidup dan ruh yang hidup sebbagaimana Tuhan yang hidup selamanya. Manusia beragama di Indonesia ini terlalu banyak yang koar-koar kebenaran dan paling benar tapi apa-apa yang benar tidak tau dan bagaimana melakukan dengan benar tidak ngerti. Itukah yang dituntut Tuhan dan Allahmu dalam kitab sucimu? #9. Dikirim oleh Utusan pada 05/10 03:19 PM Terimakasih kepada M. Ismet atas koreksinya. Memang seharusnya disana tertulis 1[119] hingga 3[120], dan bukan 127 atau 128. Akan saya kabarkan ke redaktur untuk merevisinya. Tentang bagaimana para penafsir lain menafsirkan ayat tersebut, dapat dibaca secara online di situs ini: http://www.altafsir.com/. Saya hanya berusaha menafsirkan ayat tersebut menurut kapasitas berpikir saya. Jika ada yang baik ambilah, jika tidak ada, tinggalkan saja. Wa Allah A’lam bi al-shawwab. #10. Dikirim oleh Himawan Pridityo pada 07/10 08:59 AM Paham dan praktik beragama secara inklusif merupakan ikhtiar penting menuju tolerasni baik secara internal muslim maupun dengan umat beragama lainnya. Salut kepada islamlib.com yg terus beruapaya menyebarkan paham keberislaman yg ramah dan tentu saja: inklusif. #11. Dikirim oleh Insan Setia Nugraha pada 08/10 05:52 PM Ibrahim adalah tokoh sentral kedua setelah Muhammad. Bacaan do’a untuk Ibrahim di tiap sholat, perayaan Idul Adha, dan ibadah Haji menegaskan betapa pentingnya Ibrahim dalam Islam. Apakah pesan terpenting yang diangkat Islam dalam sosok Ibrahim? Berserah diri total, kepatuhan total bahkan bila itu berarti pengabaian terhadap nurani dan nalar. Apakah itu yang diharapkan dari orang yang beriman? Islam Anti Nalar. Benarkah? #12. Dikirim oleh Judhianto pada 09/10 02:52 PM Adanya agama , adanya tuhan itu semua kerena keberadaan manusia , pahami ini saudaraku . dan kita harus hidup damai , damai dihati damai dibumi .

#13. Dikirim oleh Mbarep pada 09/10 07:27 PM Maha Benar Allah, kafir Yahudi dan kafir Kristen tidak akan pernah menyukai umat Islam. Buat penulis, kami umat Islam tidak butuh tafsir yang rumit untuk kalimat sejelas ini. Dan telah amat banyak fakta yang membuktikannya: perang salib, penghinaan Paus Benediktus atas Nabi yang mulia, kartun keji yang mencela Nabi, kerusuhan Ambon, dll. Telah ditetapkan laknat Allah atas Kafir Yahudi dan kafir Kristen sampai hari kiamat. Pasti dan pasti kedua golongan kafir itu kelak akan disiksa di dalam neraka, abadi, selama-lamanya. Tidak akan ada kematian yang mengakhiri penderitaan mereka. FYI, siksa neraka yang paling ringan: seorang penduduk neraka hendak mengenakan sandal. Sebelum kaki masuk sandal, otaknya sudah hancur. Bagaimana pula siksa terberat yang disiapkan bagi orang-orang kafir? Wahai kafir, kejarlah dan nikmatilah dunia ini sepuas-puasnya sebelum kematian menjemput. Karena tiada lagi bagian untuk kalian di hari kemudian, kecuali siksa yang amat pedih tiada akhir. Demikianlah, karena telah datang kepada kalian pemberi peringatan (Nabi dan Rasul) namun kalian berpaling dengan sombong! #14. Dikirim oleh Ibnu Lahm pada 11/10 08:34 PM lalu, coba anda jelaskan tentang yg dialami oleh muslim di palestina ???? #15. Dikirim oleh herlina pada 12/10 08:40 PM Para nabi yang disebutkan adalah orang yang sudah lama meninggal dunia,tapi masih di panut panut oleh kaum fanatik,apa sich yang bisa diperbuat bagi orang yang sudah meninggal ?? #16. Dikirim oleh KI HAJAR PRAKOSO pada 14/10 01:28 PM tuhan ingkar janji ..... ????? how could it be ?????? http://xucinxgaronx.wordpress.com/2010/02/22/tuhan-ingkar-janji/ #17. Dikirim oleh XucinXgaronX pada 15/10 11:51 AM Firman Tuhan ( Alquran ) ayat 2:120 jelas jelas nyata dan terbukti, bahwa paham yahudi dan paham nashoro ( Kristen ) dan ditambah lagi Jaringan Islam Liberal, nyata nyata tidak suka kalo Umat Islam,mempercayai kitab sucinya. Allah maha mengetahui apa yang ada dalam hati kalian wahai manusia. Yang membuat ayat tersebut adalah Tuhan yang menciptakan manusia termasuk ulil, itupun kalo ulil merasa jadi manusia. Dengan adanya JIL sudah menjadi bukti bahwa ayat tersebut benar adanya. Ayat 2:120 menunjukan paham yahudi dan nashoro akan bermunculan untuk menggiring umat islam agar ragu dan tidak percaya kepada Alquran dan Alhadis, dan mengikuti paham mereka. #18. Dikirim oleh sukanda pada 18/10 01:36 PM rasional itu bagus, akan tpi lhata prmslhan. kanb tlh jls dnytakan dlm al qur’an 2:120, bhwa itu mmang bnar adanya. itu adalah realita yg sgt nyta, #19. Dikirim oleh iqbal pada 22/10 08:46 PM go to hell bagi siapa yg tdk mau menyebut kristen sbg kafir Terorisme lahir dari budaya kekerasan yang “terpelihara”. Kita bisa melihatnya dari tawuran antar kampung dan bukan karena film Hollywood. Salah satu cara pengajaran agama adalah melalui indoktrinasi. Harus diakui bahwa sebagaian besar cara belajar agama di negara kita masih demikian, bukan mengajarkan contoh atau kesadaran. Output dari model pengajaran ini adalah formalisme simbolis dan bukan kesadaran intrinsik. Anak anak muda itu adalah korban dari orang tua yang menyerahkan sepenuhnya kepada guru ngajinya atau kepada lingkungan. Lembaga agama dianggap sarana ampuh untuk mencegah kenakalan dan kerusakan moral. Cara ini dianggap efisien oleh para orang tua, karena mereka tidak perlu susah payah untuk mendidik anaknya. Seringkali hasilnya akan berlawanan dengan yang mereka harapkan. Artinya para orang tua harus memberikan contoh dan teladan yang baik, para pejabat dan agamawan harus memberikan contoh hidup yang sederhana dan bersahaja. Sehingga anak anak muda muda tidak perlu berlari mencari solusi hidup melalui jalan pintas diantaranya melakukan “kekerasan yang terlegitimasi hukum hukum agama”. Anak anak harus diajarkan nilai dan esensi bukan simbol dan formalitas. Anak anak harus diajarkan iqra’ , tafakur atau berfikir disertai teladan orang tua dan agamawan. Bukan menghapal ratusan ayat yang tidak mengerti maksudnya. Berfikir akan membuat seseorang akan bertindak penuh dengan kesadaran bukan sekedar reaktif. Konflik global yang menghadapkan Islam radikal dan barat hanyalah bersifat virtual bagi kita, musuh nyata kita adalah kemiskinan, kebodohan, pengangguran dan kesejanangan pendapatan. #1. Dikirim oleh abu jasmine pada 03/05 07:19 PM

kebencian timbul jika terdapat sesuatu atau keadaan tertentu yg menurut pertimbangan akal sehat bersifat merusak dan melawan sifat fitrah akal sehat itu sendiri. misalnya, jika akal sehat membenarkan keberadaan Tuhan itu pasti adanya, maka akal sehat akan membenci siapapun yg mengatakan keberadaan Tuhan itu hanya mitos. demikian juga jika ada orang yg mengatakan bahwa perkara-perkara ghaib pun hanya cerita dongengan belaka. dengan keadaan demikian sebenarnya siapapun harus jeli,cermat dan adil dalam menilai apa sebenarnya yg menjadi sebab terjadinya keadaan benci-membenci itu. Jika Allah Ta’ala membenci bahkan mengutuk iblis yg membangkang saat diperintah untuk sujud kepada Nabi Adam As maka manusia yg berakal sehat pasti juga akan membenci bahkan melaknat jika terdapat manusia yg berkarakter layaknya iblis. dengan kata lain setiap perbuatan kita harus diniatkan karena Allah semata, demikian pula membencipun juga hendaknya seperti itu. Sekarang jika ada yg bertanya bagaimana menghilangkan kebencian itu? maka kita harus mencari apa sebenarnya sumber kebencian itu, mencari sesuatu yg menjadi sumber kontroversi di tengah-tengah ummat. jika dikatakan pemahaman keagamaan yg menjadi akar masalahnya, maka kita harus menentukan tolok ukur atau penimbang, mana yg disebut dengan perbedaan pemahaman dan mana yg disebut sebagai penyimpangan pemahaman (karena bisa saja orang tidak sadar jika ia telah menyimpang dan menyebut dirinya sedang dalam keadaan berbeda). Namun tolok ukurnya tidak dapat ditentukan secara sepihak, apalagi hanya didasarkan kepada sesuatu yg bersifat rekaan, atau sesuatu yg berasal dari hasil spekulasi manusia,(siapapun orangnya), sebab jika hal demikian dipaksakan maka bukan penyelesaian masalah yg akan dihasilkan, melainkan segera akan timbul masalahmasalah baru lagi yang ujung-ujungnya akan menjadi sumber kebencian baru, dan tidak akan pernah selesai-selesai. Demikian pula dengan wacana radikalisasi dan deradikalisasi. jika radikalisasi dilawan dengan liberalisme cq pluralisme, maka sama saja keadaannya karena melawan satu jenis keradikalan dengan keradikalan jenis lainnya. Kemudian terdapat suatu kontradiksi, jika tindakan radikalisasi diartikan sebagai tindakan penolakan secara kritis segala sesuatu yg berbau barat, termasuk kultur dan ideologinya, dan deradikalisasi dimaknai sebagai upaya pemaksaan penerimaan segala sesuatu yg berbau barat secara taken for granted, saya kira ini langkah mundur dan sekali lagi hanya akan menimbulkan kontroversi-kontroversi lanjutan. satu langkah bijaksana saya kira, jika semua pihak menahan diri agar tidak terus berpolemik dan terus bersilang pendapat terhadap persoalan-persoalan yg selama ini menjadi sumber kontroversi. upaya deradikalisasi paling baik saya kira jika dimulai dari diri sendiri. sebab hal demikian akan memberikan energi positive kepada pihak lain. dan akhlak mulia seorang intelek saya kira lebih penting saat ini untuk ditonjolkan. #2. Dikirim oleh elroy pada 03/05 09:33 PM he.. aman? mas.. korupsi merajalela.. kemisikinan, pengangguran mendorong radikalisasi…. Politik uang… Dana Parpol.. Bank century.. rekening gendut.. rekayasa hukum.. tebang pilih.. mafia hukum… mafia pajak… dst (..Sampe kapan mas Ulil betah di parpol… di luar aja, mas.. Lebih enteng.. lebih bebas.. lebih cerdas..) #3. Dikirim oleh widodo pada 04/05 09:49 AM he.. Aman?, mas.. Pengangguran, kemiskinan, salah urus.. mendorong radikalisasi.. Poltik uang, dana parpol, korupsi, rekening gendut, rekayasa hukum, mafia pajak.. dst. Sampe kapan Mas Ulil betah? enakan di luar, mas.. lebih cerdas.. lebih enteng.. lebih jujur.. #4. Dikirim oleh abu tukmah pada 04/05 10:17 AM imbalance, adalah kata kunci dari semakin maraknya radikalisme. Kita lihat disekitar kita, terjadi ketidak seimbangan, yang kaya semakin kaya, yang miskin semakin miskin. Laporan Kompas seminggu ini (Ekspedisi Citarum) betul betul membuat kita semakin prihatin. Setiap pembelajaran atau indoktrinasi yang radikal, akan semakin subur kalau adanya ketidak seimbangan (terutama ketidak seimbangan ekonomi, hukum dan lain lain). Harusnya negara mencari jalan keluar, tidak hanya memberantas pelaku teror (ini juga penting), tetapi yang lebih penting, adalah bagaimana mensejahterakan rakyat, membuat rakyat tahu hukum, dan hukum bisa adil, dst dst. #5. Dikirim oleh Yanto pada 04/05 02:20 PM Radikalisme pada dasarnya muncul dari pikiran diri kita sendiri yang merasa selalu lebih hebat dari yang lain. Cara berpikir yang demikian kemudian dikombinasikan atau dibungkus dengan ajaran-ajaran atau dogma-dogma dalam agama, jadilah kita berpikir sempit bahwa yang benar adalah agama yang kuanut. Sebenarnya tidak salah jika kita menganggap bahwa yang paling benar adalah agama yang dipeluk, asalkan ini untuk diri kita sendiri, bukan untuk menilai agama yang lain. Dengan kata lain, bahwa agama yang paling cocok dengan aku adalah agama yang sekarang aku peluk. Dengan cara berpikir demikian ini diterapkan pada orang lain yang tidak sama agamanya dengan kita, dengan cara pandang bahwa si-A memang merasa paling cocok jika memeluk agama B. Dengan demikian tidak ada lagi ada agama yang merasa paling benar bahkan bisa menganggap agama lain salah dengan sudut pandang pikiran kita. Ini yang selama ini terjadi pada radikalisme, merasa diri paling suci dan paling benar, dan orang lain pasti salah. Kasus banyaknya anak muda sekarang yang mempunyai kecenderungan radikal, menurut hemat saya adalah kesalahan para orangtua. Seharusnya orangtua mengajarkan kepada anak sejak kecil untuk bisa menghargai orang lain. Anaknya diajarkan membenci adalah perbuatan yang salah. Menghina adalah perbuatan yang salah. Dan ini terus menerus dilakukan. Tetapi yang sekarang terjadi adalah mayoritas orangtua sudah merasa mendidik anaknya dengan benar jika sudah menyekolahkan anaknya. Bagi yang kaya ditambah dengan mendatangkan guru agama ke rumah. Padahal seharusnya setiap orangtua sadar bahwa tugas orangtua adalah membuat si anak berakhlak baik dan berilmu atau berpendidikan baik. Pendidikan bisa dilakukan dengan cara menyekolahkan anak. Tetapi untuk membuat anak yang berakhlak baik, orangtua harus berperan langsung dengan mengajarkan dan memberi contoh. Tidak cukup hanya dengan mendatangkan guru agama atau belajar ke rumah guru agama. Jangan menyerahkan seluruh proses pendidikan anak termasuk pendidikan moral pada lembaga pendidikan. Lembaga pendidikan formal harus dikembalikan kepada fungsi utamanya yaitu membuat anak berilmu, bukan menjadikan anak berakhlak. Masalah Akhlak atau moral harus dikembalikan lagi sebagai tugas dari orangtua. Karena anak yang mempunyai fondasi moral yang baik, yaitu bisa menghargai orang lain, tidak akan mudah untuk tergelincir kepada radikalisme karena anak sudah punya filter sendiri. #6. Dikirim oleh Putra Pertiwi pada 04/05 03:41 PM Mas ulil, saya sebenarnya sangat menghargai ide2 mas ulil selama ini. Pikiran2 mas ulil bisa menjadi perspektif lain dr pemahaman2 ttg islam yg ada selama ini. Terlepas dr kontroversi dr pemikiran mas ulil dan rekan2 jil lain. Tapi sama dg keadaan2 lain, ‘berlebihan’ justru akan merusak apa yg sedang diperjuangkan. Kebencian pd mas ulil dan jil, bukan krn faham2 pluralisme, liberalisme dan sekularisme itu sendiri, tp lbh karena mengusungnya sangat berlebihan, tdk arif melihat kondisi. Gegabahnya jil sedikit banyak menumbuhkan kebencian dan radikalisasi dikalangan umat, bom buku unt mas ulil adalah contoh nyata. Emansipasi, perjuangan hak dan peran wanita dlm islam memang sangat relevan, tp mengamini wanita menjadi imam sholat adalah sangat keterlaluan. Perlindungan pd hak2 minoritas sangat bs diterima, tp menganggap semua agama adalah jalan menuju Tuhan, termasuk agama dunia, sangat ditentang, termasuk oleh agama minoritas itu sendiri. Mas ulil dan rekan2 jil yg lain, sungguh akan sangat bagus apabila pemikiran2 anda dikemukakan dg penuh kearifan, jangan terlalu banyak kontroversi dg faham2 ‘yg bs dianggap sesat’ unt menghindari pertentangan dan kebencian. Mungkin sejarah perjuangan wali songo bs menjadi acuan. Kita setuju, terorisme, radikalisme perlu kita bendung, tp kadang2 kita sendiri yg memberi amunisinya.

#7. Dikirim oleh farhan pada 04/05 09:21 PM Assalamu’alaikum wrwb Orang2 tua kita berkata:kalau ingin menjadi seorang yang saleh,belajarlah kepada ulama2,kalau ingin menjadi pencuri belajarlah kepada guru pencuri.Demikian bukan? Kenapa Amerika,negara2 Barat dan Japan,Korea Selatan dan Singapore sukses menciptakan masarakat yang damai-sejahtera dan harmoni dlm berbeda beda? 1.Pertama krn pemerintah benar2 menjamin warganya dari setiap perbuatan kekerasan.Law Inforcement. 2. Kedua undang2 menjamin setiap keyakinan agama dan tidak beragama. 3.Ketiga ada undang2 anti diskriminasi atas nama;suku,agama, gender,umur dan disbility. Kalau undang2 ini di terapkan di Indonesia yg pliuralistic ini,insya ALLAH akan tercapai masarakat yang damai-dan hidup harmoni. 4.Lempat hendaklah undang2 Penodaan agama segera di cabut.sebab sumber kekerasan agama datang dari undang2 ini. 5. Kelima semua kitab2 pelajaran agama yang mengjarakan kebencian kpd umat lain harus di haramkan.Pemerintahan saudi telah melarang kitab2 pelajaran agama yang membenci agama lain. 6. Kenam,sebagaimana Uli Abshara jelaskan perlunya semua element2 termasuk elit agama (MUI) tidak lagi mengharamkan keyakinan agama yang berbeda dgn mereka. Kalau MUI sendiri tidak mengajarkan toleransi kepada perbedaan2 dlm menafsirkan ayat2 ALLAH,selama itu pulalah akan terjadi konflik2 dlm masarakat Indonesia. 7. Pemerintah dan agama (mesdjid,geraja) haruslah terpisah. Pemerintah tidak ikut2 dgn masalaha agama ,tapi harus bertindak netral dan melindungi semua agama beribadah. Selama ini MUI dan Menag ikut2 campur masalah ajaran2 sesat atau tafsiran Al Quran. Tafsiran yg berbeda dgn depag adalah palsu.Ini adalah berbahaya dan ini adalah akar dari konflik2 agama. Semoga bermanfaat.Salam

#8. Dikirim oleh alatif pada 05/05 06:48 AM Negara dlm hal ini diwakili pemerintah seharusnya mampu mengatasi akar masalah radikalisme yaitu keadilan & kesejahteraan. Rakyat tidak mempermasalahkan apapun bentuk negara,karena dalam Al Qur’an pun tidak disebutkan adanya negara Islam,yang penting bagi rakyat adalah terpenuhinya rasa keadilan & kesejahteraan hidup mereka. Anda( Ulil) adalah bagian dari pendukung pemerintah,kenapa Anda tidak memberi masukan kepada Kepala Negara yang juga Ketua Dewan Pembina? Buat apa posisi Anda sekarang jika tidak mempunyai manfaat bagi rakyat,kebetulan juga Anda menantu salah satu ulama terkenal,insyaALLAH Bp. SBY mendengarkan #9. Dikirim oleh satmata pada 05/05 06:22 PM saya stuju dengan mas farhan, saya menghargai statement dari bang ulil & rekan2 jil. saya juga tidak stuju dengan kekerasan yang slama ini terjadi di indo. tapi saya juga tdak stuju jika seolah2 pengajaran pesantren dijadikan kambing hitam. memang di pesantren diajarkan jihad dkk. tapi para ustadz di pesantren tdk pernah berfatwa bahwa memerangi kafir di indo itu adl jihad. saya juga sangat tidak stuju jika pendidikan akhlaq disekolah itu tidak perlu, saya pikir ini statement yang sangat tidak rasional. alasannya tentu krena sekolahlah tempat yang paling strategis untuk menciptakan karakter seseorang disamping pengayaan ilmu, tapi bukan berarti hanya sekolahlah tempat untuk mendidik karakter. selain itu saya juga tidak stuju jika pluralisme itu dibawa ke dalam msalah agama, karena agama itu masalah kyakinan. jadi cukuplah pluralisme dalam bidang sekularitas saja. karena jika kita menganggap bahwa semua agama itu adalah benar, mnurut saya itu pandangan yang “sembrono”. karena jika kita (muslim) tdak myakini bahwa hanya islam agama yang benar, lalu apa gnanya kita memeluk islam dan mngaku muslim???? mungkin bisa dipikirkan kembali #10. Dikirim oleh muhavi sewusangangatoswolu pada 05/05 09:42 PM ranah keyakinan setiap pemeluk agama tidak bisa disamakan pasti ada perbedaan. ketika kita bicara pluralisme yang tepat adalah objek sudut pandang yg jelas seperti adat, warna kulit, beda bahasa. Nah klo keyakinan menuju tuhan disamakan dari sudut pandang mana…??, toleransinya dimana ??. Tetapi yg hrus kita sikapi adalah jangan ada paksaan. Fitarah itu ada bersifat umum, tetapi yg khusus tentu orang2 yg dalam ilmu agamanya dan kuat amalannya. kata dan perbuatan itu akan naik kelangit. dan yg menilai adalah Allah.Sebuah pemikiran hanya bermain main pada ruanglingkup objek yang nyata saja, yang tidak nyata dia akan mengeluarkan kata Lahaulawalakuawataillabilla…degn ungkapan yg tulus. ( Apalah artinya sebuah pemikiran saudara)

#11. Dikirim oleh alfarizal pada 06/05 12:56 AM maju terus mas ulil dkk. saya rasa mas ulil dan teman2 jil memiliki pemahaman tersendiri tentang apa itu ‘berlebihan’ dsb. #12. Dikirim oleh khoirul anam pada 06/05 10:54 AM kekerasan yg timbul bukan karena islam (bukan JIL) tidak toleran, tapi karena islam tertindas itu reaksi yg wajar. coba bandingkan dengan kekalahan islam di spanyol, seluruh umat islam wajib pindah agama ke nasrani klo tidak penggal, apakah ini yg namanya toleran, tapi ketika islam masih berkuasa di spanyol umat nasrani, yahudi, hidup berdampingan. mas ulil ingat penaklukan mekkah? #13. Dikirim oleh DONI pada 06/05 12:55 PM Kenapa pemerintah RI terkesan “memelihara” paham/aliran sesat menyesatkan seperti Ahmadiyah, LDII, NII, JIL, dsb, sih…? Jangan2 pemerintah memang “ada main” dg paham/aliran tsb demi mempertahankan kekuasaannya & membendung syariat Islam secara kaffah tegak di muka bumi ini, ya…? #14. Dikirim oleh Ahmad Din pada 06/05 02:28 PM Masing-masing insan pasti punya sisi radikal dalam memperjuangkan keberhasilan kepentingan sampai ke akar-akarnya sesuai dengan potensi kompetensi masing-masing. Ada yang radikalnya dalam bentuk hanya getaran dalam hati, perasan pikiran yang brilian, ada juga yang berkoar-koran dalam ucapan yang membara, ada pula yang melakukannya dalam bentuk tindakan dari yang paling sopan moderat sampai dengan kekerasan. Tindakan radikal pada umumnya berkaitan dengan aksi pembalasan atas perbuatan yang pernah menimpa dan dipandang mengganggu kepentingan, atas nama apa pun, semuanya bisa dijadikan kendaraan! hm ... #15. Dikirim oleh man Atek pada 06/05 03:12 PM Jalan terus jil, menurutku kita tidak bisa melihat masa lalu yang kelam untuk wacana dendam dengan alasan apapun apalagi alasan moral keagamaan, tetapi sebagai pelajaran berharga untuk mendorong pluralisme, Bhineka tunggal ika, dan penghargaan pada hak azasi dan martabat manusia, basmi radikalisme dan kita dorong pluralisme Indonesia yang bermartabat sebagai bangsa besar. #16. Dikirim oleh Eko Prasetyo pada 07/05 04:47 AM ass wr wb mas ulil dan tema-teman semua yang sedang belajar hidup dg berproses, bersosialisasi,berfilosof, beredukasi, berpolitisi, berspekulasi, berkreasi, dan ber..ber yang lain. ditengah retorika maka pegangan yang paling kuat adalah tali Allah karna itu lah yang menghubungkan kita dengan Allah adalah Al quran karna kata-kataNya yang jujur & benar dan itu mencakup kitab-kitab yang lain sebelumnya. yang jelas karna umat masih bingung mencari figur. maka figur nya kalau boleh muhammad sebelum kita sepakati sharing kita. wasalam. gg #17. Dikirim oleh gedhek giri pada 07/05 01:35 PM Komentar Ahmad Din agak kurang nyambung ya? Bagi aku kekerasan dlm bentuk apapun tidak diperbolehkan. Sudah saatnya pemerintah beserta para ulama membuatkan langkah2 konkrit untuk menyelamatkan generasi penerus bangsa ini dari paham2 yg radikal. Kegiatan Rohis disekolah2 dan LDK dikampus2 disinyalir menjadi ladang empuk bagi mereka untuk menyebarkan paham2nya. #18. Dikirim oleh zaelani pada 07/05 06:08 PM Islam rahmatan lil alamin adalah toleransi kalian. #19. Dikirim oleh Adib Rofiudin pada 07/05 08:50 PM @alatif apa relevansi ungkapan kata-kata orang tua tersebut dengan poin-poin yang anda berikan? nyatanya liberalisasi yang dilakukan oleh negara-negara barat tidaklah membawa kebaikan bagi moral rakyatnya ternyata anda tidak secerdas yang saya kira….beljarlah dengan ulama islam jangan dengan ulama ngaku islam tobatlah ulil uliiiil.. #21. Dikirim oleh bece pada 08/05 07:44 PM Saya tidak ingin menggunakan istilah teroris, radikal, atau fundamentalis. Mereka adalah Muslim, saudara kita yang menafsirkan Islam, atau Quran Dan Hadist yang berbeda dengan saudara2dari NU, Muhammadiyah atau JIL. Terutama dalam menafsirkan pengertian Jihad sehingga menimbulkan tindakan2 radikal seperti anti agama lain terutama Kristen Dan Yahudi,

anti JIL, melakukan pengrusakan, sampai pengeboman. Tindakan radikal juga terjadi pada orang Kristen. Sdr Ulil yang belajar di Amerika tentu merasakan bahwa disana ada kelompok Fundamentalis Kristen yang menyebarkan paham anti Dan kebencian terhadap Islam. Serangan terhadap Irak, Afganistan didorong oleh kelopmpok Kristen fundamentalis, disamping motif ekonomi untuk menguasai sumber minyak. Saya masih tidak percaya bahwa Osama bin Ladin mampu merencanakan dan melaksanakan peristiwa 911. Bagaimana membajak 4 pesawat sekaligus oleh sekitar 30-40 orang tanpa bocor informasi. Bagaimana pesawat bisa terbang ke WTC tanpa diketahui oleh radar dan sistem keamanan Amerika. Cukup waktu buat Amerika untuk menembak jatuh pesawat sebum sampai tujuan. Bagaimana dua pesawat yang menabrak WTC ditengah bangunan yang merupakan titik lemah Dari bangunan bertingkat. Kemudian bangunan ambruk seperi bangunan tua yang dirobohkan dengan dinamit. Kenapa tidak satu orang Yahudi yang jadi korban, padahal Ada ratusan yang kerja disana. Tapi pandangan umum Al Qaidah yang melakukan. Kembali kepada saudara2 Muslim yang menafsirkan Jihad dengan cara berbeda adalah dengan penyebar luasan pengertian Jihad yang menurut kita paling benar, melalui tulisan2, ceramah/khutbah baik di masjid, TV, atau berdiskusi Dan debat terbuka untuk beradu argumen dalam penafsiran ayat ayat yang berhubungan dengan Jihad. Kita yakin Islam itu agama damai, menuju keselamatan dunia Dan akhirat, agama rahmatan lil alamin. Itu perlu ditunjukan oleh Amal Dan tindakan, bukan hanya retorika. #22. Dikirim oleh Holiluddin pada 09/05 04:06 AM Saya masih ingat ketika berbincang-bincang dengan seorang imigran uk asal somalia. Pembicaraan mengalir sampai masalah ekstrimisme dan bajak laut yang terjadi di negaranya. Namun secara tegas ia menolak istilah ekstrimis, karena dalam pemahamannya mereka juga adalah sesama muslim yang taat. Dan menuduh pihak barat membesar2kan istilah ekstrimis untuk mendiskreditkan muslim. Ini juga sejalan dengan pemikiran Sdr. Holiluddin yang mengamini hal ini sebagai penafsiran yg berbeda dari Quran dan hadist yang terlihat sah. Namun tidak kah masih ingat dalam peristiwa pemboman mesjid di cirebon? Masihkah bisa bersembunyi dibalik perbedaan penafsiran ketika seorang muslim melakukan tindakan tidak terpuji terhadap rumah ibadahnya sendiri? Ataukah masih mencoba menyalahkan pihak lain dengan tuduhan2 konspirasi? Sang pelaku bahkan dengan lantang meng-kafirkan orantua sendiri yang dianggap berseberangan. Di nigeria hal serupa pun terjadi, di mana orang2 yang beda tafsir ini tega menghabisi para ulama yang menyuarakan anti-kekerasan. Dan tidak terhitung peristiwa bom bunuh diri di Irak dan Pakistan yang menyasar saudara-saudara sendiri. Jika hal ini tidak ditangani seawal mungkin, bukan mustahil negara ini akan mengalami nasib yang lebih parah, di mana kelompok satu dengan yang lain akan saling mengkafirkan dan bertukar bom. Salam. #23. Dikirim oleh v.raymontt pada 10/05 01:35 AM

Pada saat bom berkekuatan besar diledakkan di kawasan Legian, Kuta pada tahun 2002 juga muncul tuduhan bahwa pelakunya adalah Mossad atau C.I.A. tetapi pihak yang mendapatkan citra buruk adalah umat Islam. Tuduhan itu sedikit atau banyak dilandasi oleh teori konspirasi. Namun, kemudian setelah pihak kepolisian mengumpulkan berbagai bukti secara cermat, ternyata para pelakunya adalah saudara-saudara kita sendiri. Mereka meyakini bahwa apa yang dilakukan itu adalah perwujudan perjuangan jihad melawan kekuatan kafir yang dipelopori oleh Amerika Serikat, Australia, Inggris,dan Israel. Bahkan, pada saat TV-One menayangkan acara debat yang kemudian menyinggung contoh kasus semacam itu, ada salah satu pihak yang menyatakan bahwa seandainya dalam kejadian itu terdapat pihak yang tidak mengetahui apa-apa menjadi korban, ia akan termasuk pihak yang kematiannya tergolong mati sahid. Terlepas dari inti artikel ini, entah disebut out of topic atau out of context,bagi saya negara Indonesia dengan segala kekurangannya adalah tempat yang sangat nyaman untuk hidup. Termasuk pula untuk kehidupan religius. Pihak-pihak yang menyetujui tahlilan dan Yaasinan boleh eksis. Sementara, kalangan yang berpendapat bahwa “Untuk masuk neraka kita tidak perlu berbuat maksiyat. Tetapi, kita cukup melaksanakan tahlilan dan Yaasinan.” juga boleh hidup. #24. Dikirim oleh Muly De La Vega pada 11/05 12:01 PM @Yth. Mas Ulil dan kawan2 JIL Saya rasa yang kita perlukan adalah lebih dari sekedar “jihad intelektual” karena intelektualitas itu sendiri masih dalam kerangka konsep,konsep yang masih terikat dengan dualitas ,konsep yang menempatkan MIND sebagai panglima , seperti dikotomi antara benar-salah,atas-bawah,suci-kotor,bahagia-sedih dan seterusnya. Mengutip orang bijak yang sudah sampai menemukan KEBENARAN bahwa untuk mencapai Tuhan kita harus melampaui dualitas, maka salah satu jalan menuju kepadaNYA adalah mencoba melakukan “jihad spiritualitas”,dengan meniti jalan tersebut memungkinkan kita untuk melampaui dualitas, melampaui “mind” dan membebaskan kita dari budak “mind”. Saya sendiri masih berkutat dan terus terjebak dan bahkan masih menjadi budak mind,mudah2an tidak demikian halnya dengan Mas Ulil dan teman2 lainnya di JIL,namun saya yakin meskipun anda semua masih berkutat dengan MIND tetapi jika melihat kontribusi pemikiran2 yang telah kawan2 perjuangkan selama ini menurut hemat saya bekal untuk melakukan lompatan” jihad spiritualitas” sudah lebih dari cukup. Pada akhirnya nanti mungkin label2 seperti Islam Moderat,Islam Liberal akan anda tinggalkan,karena keberadaan anda sendiri tidak akan cukup dibatasi oleh sekat2 apapun.Amin

#25. Dikirim oleh dewayanto pada 17/05 05:24 PM Jangan samakan pluralitas dan plurarisme,berbeda bapak,kita menghormati pluraritas krn memang dari ALLOH S.W.T,tapi jangan samakan semua agama sama dengan tuhan yg sm.kalo bapak mengaku sbg pengikut nabi Muhammad sbg contoh,bagaimana urusan pluralitas beliau sangat toleransi tapi kalo urusan plurarisme tauhid,ibadah beliau sangat tegas dan keras,hidup cm sebentar bpk 30thn..50thn..bahkan 100thn,kita pasti menghadapnya.pertanyaan pertama di alam kehidupan sana…man robbuka…siapa tuhanmu..klo memang agama semua benar dengan seribu tuhan yg bnr pula..BUAT APA PERTANYAAN INI DI ajukan.Buat bpk ulil siahkan anda berbuat..berfikir..bertindak sesuka hati anda..tapi ingatlah di suatu hari yg pasti akan datang..anda akan di mintai tanggung jawab..bukan polisi..bukan presiden ..apalagi ulama..tapi ROBBUL JALIL yg MAHA HEBAT AABNYA..klo ga percaya…kita akan buktikan setelah mati nanti..SAYA SIAPPP.. #26. Dikirim oleh bahihaqi pada 27/05 03:18 PM Jejak kekerasan oleh orang2 yg mengaku berjalan di jalan Alloh mencapai 17.200 kejadian sejak 9/11 sampai sekarang (29/05/11). Termasuk banyak kejadian yg berlokasi di tanah air. Sampai kapan para pelaku kekerasan ini akan terus dibiarkan atas nama ‘sodara yg penafsirannya berbeda’? Pencuri adalah pencuri, pembunuh adalah pembunuh, dan teroris adalah teroris. Tp kenapa ketika seseorang berseru ‘Allahuakhbar’ menjadi berbeda di mata sebagian komentator di sini? Padahal jelas2 (katanya) mendukung Islam sebagai agama yang damai.

#27. Dikirim oleh v.raymontt pada 29/05 07:44 PM Seorang muslim yang sejati dan taat pada tuhannya, menurut saya adalah melaksanakan sholat 5 wkt dan apabila merasa ada kesulitan ia melapor pada tuhannya misal dgn sholat tahajjud. selalu mencari sumber kebenaran dari Alqur`an dan hadits-baru kemudian hal-hal yang normatif yang berlaku umum dlm masyarakat. berbuat baik ke sesama, dan berani mencegah kemungkaran serta memelihara rukun islam yang lainnya. #28. Dikirim oleh rudismk pada 29/05 08:17 PM seorang muslim yang baik dan taat pada tuhannya, menurut saya adalah mereka yang sholat 5 wkt dan apabila terasa ada kesulitan dia melapor pada tuhannya misal dgn cara tahajjud.selalu menjadikan Alqur`an dan Hadits sebagai sumber kebenaran, baru kemudian norma-norma yang berlaku umum di masyarakat, memelihara rukun islam yang lainnya dan berbuat baik ke sesama, serta berani mencegah yang mungkar dan siap membela kebenaran menurut islam sebagai agama yang diyakininya berasal dari Allah Swt, sang pencipta Alam Semesta. #29. Dikirim oleh rudismk pada 29/05 08:33 PM konsep jihad intelektual yang disodorkan oleh Ulil adalah upaya mengembalikan kembali pemahaman yang lurus tentang Islam dan Jihad utk membendung pemikiran yang sedang dihegemonikan oleh JIL itu sendiri. Saya dan umat islam yang lurus lainnya percaya, kita dan juga kalian JIL…kita akan sama-sama menyaksikan tegaknya Islam dengan semangat jihad yang ikhlas krn Alloh SWT. #30. Dikirim oleh amru pada 18/06 07:51 PM Asslm, bang. Berkembangnya radikalisme agama di Indonesia adalah suatu kenyataan sosio-historis dalam negara majemuk, tetapi juga bisa menjadi ancaman bagi masa depan bangsa yang mendambakan keamanan dan kedamaian. Ada hubungan yang paralel antara radikalisme agama dan aksi kekerasan. Karena secara teoretis, radikalisme muncul dalam bentuk aksi penolakan, perlawanan, dan keinginan untuk mengubah sesuai dengan doktrin agamanya. Fenomena itu selain menggelisahkan banyak pihak, juga mendorong orang untuk mencari jawaban, faktorfaktor penyebab munculnya radikalisme agama tersebut. Adakah kaitan antara kurangnya rasa nasionalisme dan kondisi kebobrokan bangsa saat ini sebagai factor penyebab munculnya radikalisme? Apakah radikalisme sebagai factor penyebab munculnya terorisme? Jawaban pertanyaan ini, akan dpt menangkis sisi buruk dari radikalisme tsb. Wassalam #31. Dikirim oleh Supriyatno pada 04/07 02:13 PM Menahan Laju Negara Islam Indonesia Oleh Abdul Moqsith Ghazali Dimuat di Media Indonesia, 2 Mei 2011 ..... terang perbedaan kapasitas intelektual antara Kartosuwirjo di satu pihak dan Maududi-Sayyid Quthb di pihak lain. Kartosoewirjo tak mengkriya karya-karya intelektual yang menjelaskan landasan pokok dan kerangka konsepstual NII. Sejauh pengetahuan saya, Kartosoewirjo tak mensistematisasikan pemikiran politiknya dalam buku utuh. Ketiadan rujukan ideologis dari sang proklamator NII ini menyebabkan para pelanjut gerakan NII seperti ayam kehilangan induk. Tak ada tokoh kedua apalagi ketiga yang berperan penting setelah Kartosoewirjo laksana Sayyid Quthb setelah Hasan al-Banna. Kartosoewirjo memiliki kesamaan dengan Hasan al-Banna, Sayyid Quthb, dan Maududi hanya dalam proses kematiannya. Mereka mati karena dibunuh. Pada tanggal 12 Pebruari 1949, Hasan al-Banna dibunuh oleh oleh polisi rahasia Mesir. Pada tahun 1966, Sayyid Quthb dibunuh dengan tuduhan makar terhadap pemerintah Mesir. Hal yang sama dialami Kartosoewrijo. Pengadilan Mahadper, 16 Agustur l962, memutuskan bahwa Kartosoewirjo telah makar terhadap NKRI. Atas dasar itu, Kartosoewirjo dihukum mati. NII (Negara Islam Indonesia) membuat ulah. Ia makin agresif merekrut anggota baru. Beberapa mahasiswa di Malang, Yogyakarta, Lampung, dan Jakarta dinyatakan hilang, diculik aparatur NII. Para mahasiswa dan pelajar Islam yang minim pemahaman keislamannya ditarik masuk ke dalam NII. Melalui media massa, kita disuguhi informasi perihal proses indoktrinasi dan ideologisasi kepada anggota baru NII. Setelah dibai’at sebagai anggota, mereka pun disebar ke masyarakat untuk mencari dana. Para mantan anggota NII yang diwawancara televisi mengisahkan tentang seringnya menipu orang tua untuk memperoleh dana. Mereka diwajibkan membayar iuran bulanan untuk mengisi lumbung keuangan NII. Kondisi ini menimbulkan keprihatinan dan kerisauan di kalangan masyarakat. Banyak orang tua histeris karena anak-anak mereka masuk NII. Orang tua tak hanya merugi secara material karena tertipu, melainkan juga defisit secara immaterial karena anak-anak yang menjadi tumpuan harapan mereka terancam putus sekolah atau kuliah. Anak-anak mereka yang bersekolah di sejumlah perguruan tinggi seperti UI, UGM, UIN, dan lain-lain ternyata jatuh pada pola pengasuhan yang keliru, NII. Apa hendak dikata, anak-anak itu tak fokus pada kuliah, tapi pada NII. Prestasi akademik mereka menurun drastis, sementara NII yang mereka perjuangkan tak realistis. Dikisahkan, ketika menjadi anggota NII, mereka tak hanya diminta melepaskan diri secara ideologis dari jenis keislaman mainstream di Indonesia, melainkan juga memisahkan diri secara politis dari Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Jika orang Islam non-NII dianggap murtad dan kafir, maka NKRI dengan Pancasila dan UUD 1945nya dianggap negara sekuler yang harus dijauhi. “Indonesia adalah negara kafir yang bertentangan dengan konsep negara dalam Islam”, tandas mereka. Bagi mereka, tak ada cara lain untuk memperbaiki sejumlah “penyimpangan” itu kecuali dengan menjadikan al-Qur’an dan Hadits Sahih sebagai hukum tertinggi negara, dan NII (Negara Islam Indonesia) sebagai bingkai kenegaraannya. Kartosoewirjo dan NII

NII tak bisa dipisahkan dari Sekarmadji Maridjan (SM) Kartosoewirjo. Ia yang memproklmasikan berdirinya Negara Islam Indonesia (NII), pada 7 Agustus 1949/ 12 Syawal 1368 H, di Tasikmalaya Jawa Barat. Kartosoewirjo menghendaki berdirinya NII berdasarkan al-Qur’an, bukan NKRI yang berasaskan Pancasila. NII dalam proklamasinya menegaskan bahwa hukum yang berlaku adalah hukum Islam. Dalam Qanun Asasy NII disebut, “NII adalah negara karunia Allah Subhanahu wa Ta’ala kepada bangsa Indonesia. Sifat negara itu jumhuriyah (republik) dengan sistem pemerintahan federal”. Namun, tak terlampau jelas apa argumen ‘aqli (rasional) dan naqli (normatif-doktrinal) dari negara republik dengan sistem federal tersebut. Kita tak menemukan elaborasi spesifik dari Kartosoewirjo berdasarkan perspektif al-Qur’an dan Hadits mengenai negara republik itu. Ini penting dijelaskan. Sebab, semua pelajar Islam tahu, negara Madinah yang didirikan Nabi Muhammad bukan negara republik. Bahkan, menurut Muhammad Husain Haikal (1888-1956), Nabi Muhammad tak pernah menentukan dasar sistem pemerintahan yang detail. Apalagi, menurut Ali Abdur Raziq (1888-1966 M.), Nabi Muhammad adalah seorang nabi, dan bukan kepala negara. Begitu juga, sama problematisnya ketika disebut hukum Islam dalam NII. Pertanyaannya adalah; jenis hukum Islam seperti apa yang hendak diterapkan NII. Ini tak pernah kita temukan jawabnya dari NII. Misalnya, apa yang disebut hukum Islam dan bagaimana batas-batasnya. Bagaimana cara memahami ayat-ayat hukum dalam al-Qur’an. Kita tak pernah mendapatkan keterangan dari NII mengenai detail-detail hukum dalam al-Qur’an dan Hadits. Ketidakjelasan konsep dan argumen NII ini bisa dipahami karena, salah satunya, Kartosoewirjo sendiri tak dikenal sebagai pemikir politik Islam. Ia tak memiliki landasan ideologi yang kuat. Kartosoewirjo tak kesohor sebagai ulama sebagaimana KH Hasyim Asy’ari, KH Ahmad Dahlan, H. Agus Salim, dan lain-lain. Ada yang berpendapat, Kartosoewirjo memiliki pengetahuan keislaman yang minim. Ia hanya belajar Islam secara otodidak. Menurut sebagian pengamat, ilmu keislaman Soekarno relatif lebih baik ketimbang Kartosoewirjo. Dengan kondisi ilmu keislaman seperti ini, ia tak akan memiliki argumen teologis yang cukup untuk melawan gempuran tokoh-tokoh Islam lain yang menolak NII. Tak pelak lagi, NII dapat dengan mudah bisa dipatahkan, secara politis dan intelektual. Inilah sebabnya kenapa NII tak pernah besar, seperti pernah besarnya Ikhwan al-Muslimin di Mesir. Ikhwan al-Muslimin memiliki tokoh intelektual seperti Hasan al-Banna (1906-1949) dan Sayyid Quthb (1906-1966 M.). Abul A’la al-Maududi (1903-1970) yang mengkampanyekan berdirinya negara Islam adalah tokoh dan pemikir politik Islam yang disegani. Tokoh-tokoh ini memiliki sejumlah buku monumental yang menjadi referensi utama para pendukung negara Islam. Quthb misalnya menulis buku, mulai dari soal sistem politik Islam seperti al-‘Adalah alIjtima’iyah fi al-Islam (Keadilan Sosial dalam Islam) hingga tafsir al-Qur’an Fi Zhilal al-Qur’an (Dalam Bayangan al-Qur’an). Sedangkan Maududi dikenal sebagai orator ulung dan penulis yang produktif terutama di bidang pemikiran politik Islam. Ia menulis buku, di antaranya, “Teori Politik Islam”, “Hukum Islam dan Cara pelaksanaannya”, “Prinsip-Prinsip Dasar bagi Negara Islam”, Hak-Hak Golongan Dzimmi dalam Negara Islam”, “Kodifikasi Konstitusi Islam”. Dari sini terang perbedaan kapasitas intelektual antara Kartosuwirjo di satu pihak dan Maududi-Sayyid Quthb di pihak lain. Kartosoewirjo tak mengkriya karya-karya intelektual yang menjelaskan landasan pokok dan kerangka konsepstual NII. Sejauh pengetahuan saya, Kartosoewirjo tak mensistematisasikan pemikiran politiknya dalam buku utuh. Ketiadan rujukan ideologis dari sang proklamator NII ini menyebabkan para pelanjut gerakan NII seperti ayam kehilangan induk. Tak ada tokoh kedua apalagi ketiga yang berperan penting setelah Kartosoewirjo laksana Sayyid Quthb setelah Hasan al-Banna. Kartosoewirjo memiliki kesamaan dengan Hasan al-Banna, Sayyid Quthb, dan Maududi hanya dalam proses kematiannya. Mereka mati karena dibunuh. Pada tanggal 12 Pebruari 1949, Hasan al-Banna dibunuh oleh oleh polisi rahasia Mesir. Pada tahun 1966, Sayyid Quthb dibunuh dengan tuduhan makar terhadap pemerintah Mesir. Hal yang sama dialami Kartosoewrijo. Pengadilan Mahadper, 16 Agustur l962, memutuskan bahwa Kartosoewirjo telah makar terhadap NKRI. Atas dasar itu, Kartosoewirjo dihukum mati. Tawaran Solusi Semenjak dideklarasikannya hingga sekarang, NII kian kehilangan relevansi. Alih-alih mendapatkan dukungan dari umat Islam, NII justru menuai sejumlah kritik dan kecaman. NII gagal mendapatkan dukungan dan simpati umat Islam Indonesia. Bahkan, karena ulah dan tindakannya akhir-akhir ini, keberadaan NII dianggap telah meresahkan masyarakat dan umat Islam. Perilaku para anggota NII dalam menjalankan agenda politik ekonominya tak mencerminkan akhlak Islam yang kuat. Kesukaan anggota NII yang menghalalkan segala cara untuk memperoleh uang jelas bertentangan dengan nilai-nilai Islam. Dengan demikian, menurut sebagai tokoh Islam, mereka sebenarnya tak pantas mengatasnamakan Islam. Dalam konteks itu, saya mengusulkan beberapa cara untuk mengatasi soal NII. Pertama, jika terkait dengan soal penipuan, maka tindaklah para pelakunya melalui hukum pidana yang berlaku. Hukum harus tegak terhadap mereka, sekalipun mereka menipu dengan alasan al-Qur’an dan al-Hadits. Namun, aparat penegak hukum mesti bisa membedakan; mana yang menjadi korban NII dan mana yang menjadi aparatur NII yang menyuruh bawahannya untuk menipu. DSaya kira, para mahasiswa yang ditarik NII untuk mengumpulkan uang adalah korban belaka dari NII. Mereka bukan aktor utama. Kedua, jika berhubungan dengan ideologi keislaman NII, maka organisasi-organisasi Islam besar seperti NU, Muhammadiyah, dan MUI perlu bahu-membahu untuk mendakwahkan jenis keislaman yang cocok dan sesuai dengan konteks keindonesiaan. Umat Islam Indonesia tak perlu merasa sebagai anak tiri di hadapan ibu kandungnya sendiri, negara Republik Indonesia. Sebab, sekalipun Indonesia tak menjadi negara Islam, terlampau banyak keistimewaan yang dimiliki umat Islam Indonesia. Sejumlah produk perundangan yang menunjukkan keistimewaan itu sudah banyak dikeluarkan negara Indonesia, misalnya UU Peradilan Agama, UU Zakat, UU Haji, dan lain-lain. Ketiga, pemerintah RI juga harus bisa menahan laju NII. NII potensial menggerogoti persendiaan negara republik Indonesia. Pemerintah tak boleh memandang sepele dan remeh terhadap gerakan NII. Pemerintah harus bergerak ke level bawah, misalnya melalui perubahan kurikulum pendidikan agama di lembaga-lembaga pendidikan di Indonesia mulai dari tingkat bawah hingga perguruan tinggi. Semenjak dini anak-anak di sekolah perlu diajarkan perihal bagaimana kedudukan agama (Islam) dalam konteks negara Indonesia, kenapa Indonesia menjadi negara Pancasila dan bukan negara Islam. Itulah beberapa tawaran solusi yang bisa diajukan agar gerakan NII tak makin melebar dan meluas ke seantero Indonesia.[] 03/05/2011 | Klipping, | # Komentar

Komentar Masuk (17) (Tampil maks. 5 komentar terakhir, descending) Buat Putra Pertiwi.. Allah sendirilah yang memvonis kafir bagi orang-orang yang menyatakan Yesus adalah tuhan. Seorang muslim wajib setuju 100 persen tanpa ragu sedikit pun dengan vonis Allah ini. Bukankah Anda termasuk orang yang menyakan Yesus adalah tuhan? Maka anda kafir, wahai Putra Pertiwi. Anda kafir! Kasihan deh kamu! Posted by Ibnu Lahm on 06/23 at 08:00 PM Ingatkah anda dengan klompok2 orang2 bolek yaitu; Kluk-kluk-klan? Mereka ini adalah berideology Supremacy suatu keyakinan bahwa race orang2 putihlah yang race yg terbaik.selain dari mereka adalah manusia2 yang akan merusak bibit2 orang2 putih dan harus dimusnahkan. Begitu pula klompok2 Islam Garis Keras yang ingin mendirikan atau menegakan Syariat Islam di bumi ini Karena satu satunya agama yang diredhoi oleh ALLAH. Selain dari merekka adalah keyakinan2 yang sesat dan musuh2 ALLAH dan harus di musnahkan. Itulah yg terjadi sekarang ini di dunia. ALLAH berfirman Hati hati dgn Srigala berbulu domba. hati2 dgn ulama2 yang bersorban,berjabang dan berjenggot dgn simbolisnya—pembela Islam—penegakan syariat Islam,tentara2 ALLAH dll. Mereka menggunakan nama2 Islam tapi sesunguhnya mereka bukan orang2 Islam. Hati hati,jangan lihat bajunya tapi lihat perbuatan2nya. Posted by alatif on 05/14 at 08:40 AM Jangan saling menjatuhkan..,saling koreksi diri dengan al kitab yang diturunkan Allah SWT melalui nabi&rasul;-Nya…, Terima Kasih. Posted by Hanif Al Ftah on 05/13 at 04:20 PM yg perlu d islamkan adalah warganya bukan negaranya Posted by sugi on 05/13 at 12:33 PM luar biasa anda abdul m. ghazali????semoga Allah SWT MELAKNAT Anda !!!!Amiinnn Posted by cobrok on 05/10 at 10:05 PM Tolong jelaskan persamaan maupun perbedaan antara jaringan terorisme dengan NII bahkan Alzaytun sendiri? #1. Dikirim oleh M. Fachrur Riza pada 03/05 07:02 PM Assalamualaikum. Katanya nih, .....nabi Adam, Hawa, dan setan dikeluarkan dari sorga. Seharusnya manusia bersiteru dengan setanlah. Tapi dalam kenyataannya perseteruan itu terjadi antara manusia dengan manusia, mungkin manusia malaekat dengan manusia setan lah. Menjadi pertanyaan adalah kenapa hal ini terjadi, mungkin mereka belajar dari sumber yang tidak benar. Memang sebenarnya kebenaran itu selalu menyesuaikan dengan periode jaman, seperti kebenaran nabi Ibrihim, diplesetkan oleh para konconya setelah beliau meninggal, demikian pula nabi Musa mengajarkan kebenaran yang disesuaikan dengan periode jamannya, juga disini sejarah terulang, ajaran beliau dirubah menjadi kebenaran yang menguntungkan pihaknya, coba kalau kejadian itu tidak ada, tidakkah kita ini akan hidup rukun. Selanjutnya sama pada periode nabi Isa, dan diikuti dengan periode nabi kita Muhammad. Saat periode sekarang kebenarannya dikacaukan agar sesuai dengan keinginan politik mereka. Weleh weelleehhh kumaha

nya, selalu terjadi dikotomi, hanya orang yang asih dan waspodo lah yang dapat memilahmilah kebenaran untuk melangkah maju didalam kehidupannya. Tulunglah kawankawan, hentikanlah berpolitik dengan mengadudomba antar penganut agama, mari bersatu dalam NKRI kan sudah terwadahi dengan Pancasilanya, please jangan mengkafirkan orang lain yang tidak sepaham dengan sangat mudahnya. Jadilah pemimpin yang eling dan waspada, berpikirlah jernih dengan membaca dan membaca sejarah. Wassalam H. Bebey #2. Dikirim oleh H. Bebey pada 04/05 08:54 AM Assalamu’alaikum wrwb dari pemgamatan saya selama ini, klompok2 yang ingin mengahancurkan NKRI atau pancasila atau Bhineka tunggal Ika adalah klompok2 Islam garis Keras dan komunis. Kedua klompok2 ini mempunyai strategy yang sama.Klompok2 Islam garis Keras mengatas namakan Islam.sedangkan klompok2 Komunis mengatas namakan socialis atau anti kapitalis. Kedua klompok2 ini menyebarkan kebencian kpd Amerika Kedua klompok2 ini akan subur cepat kalau ekonomi rakayat susah,Mereka dgn mudah merecruit anak2 muda yang putus sekolahnya di Universitas2 atau anak2 tamatan seklah menengah yg tidak bisa melanjutkan ke universitas atau pemuda2 yang tidak bisa mendapatkan kerja setelah tamat sekolah. Pemuda2 ini dgn mudah di RECRUIT oleh mereka dgn janji2 yang muluk dll. KUNCINYA adalah memperbanyak lapangan kerja bagi anak2 muda yang tamat sekolah agar jangan di tarik oleh klompok2 Radikal. salam. #3. Dikirim oleh alatif pada 05/05 07:02 AM Yang harus diwaspadai pula adalah upaya menjadikan isu NII sebagai tarik ulur kebutuhan politik.Kelompok kelompok yang tersingkir dapat saja menyatakan dirinya sebagai NII sebagai bargain politik. Atau menjadi simpatisan NII. Jika tidak ditindak tegas akan menjelma menjadi organisasi “normal"baik terang terangan atau menyusup ke kelompok garis keras atau radikal. Lebih parah lagi kalau ada petinggi negara atau intelejen yang berminat menjadi bagian, atau mengambil bagian kepentingan politik.Dalam iklim demokrasi tugas negara akan semakin berat karena negara tidak bisa melarang rakyatnya untuk berserikat dan berkumpul. Negara juga harus adil untuk memberikan peluang pemikiran lain seperti sosialisme, liberalisme, Islam, kejawen, nasionalisme dll atau non mainstream lainnya untuk tetap tumbuh sebagai penyeimbang. #4. Dikirim oleh ahmad basri pada 05/05 11:28 AM Orang2 dari aliran sesat menyesatkan seperti Ahmadiyah, LDII, NII, dsb sudah banyak yg insyaf & kembali pada Islam yg tidak ada embel2nya, yg murni! Bahkan orang2 kafir Nasrani, baik yg awam maupun “ulama”-nya (pendeta/pastur) tidak sedikit yg jadi muallaf (masuk Islam). Tapi anehnya kenapa orang2 JIL setahu saya kok belum ada yang tobat, ya? Bahkan makin kesini kok nampak kian kesetanan aja, deh… Saking besarnya dana yang digelontorkan oleh pihak sponsor ‘kali, ya…? Hahaha…! Na’udzubillahi mindzalik…!!! #5. Dikirim oleh Ahmad Din pada 06/05 02:40 PM Kartosuwiryo memang bukan ahli agama tapi ia adalah tokoh yg merintis gagasan NII. Selebihnya, para kader NII pun kebanyakan mempergunakan gagasan2 negara islam dari tokoh2 Ikhwanul Muslimin tersebut dalam berdakwah untuk memperkuat argumennya ttg “pentingnya” NII. Bagi saya, harus diperjelas pula, dan dibedakan, (penganut) NII yg bersifat konseptual dan lembaga. Lembaga2 semacam FPI yg tak kalah berbahayanya tidak berakar dari lembaga NII Kartosuwiryo tapi secara konseptual ia secara tdk langsung mengamini gagasan negara Islam melalui gerakan2 penegakkan syariat Islamnya (bkn syariat islam yg lain). Kalau berbicara akar (radix) persoalan, mungkin hal2 yg perlu dilakukan olah ormas2 Islam yg besar seperti NU dan Muhammadiyah adalah mulai lagi membicarakan lg konsep negara dalam Islam. Menafsir kembali ayat2 yg khas dipakai oleh para penganut NII (scr konseptual maupun lembaga) serta mengenalkan ayat2 lain yg menjadi kepentingan islam di dunia ini. Bentuknya bisa jadi berupa buku panduan yg memuat ttg tanya-jawab ttg Islam dan negara misalnya, yg disebarkan ke institusi2 pendidikan (ah sebenarnya dg membaca “Islamku, Islam Anda, dan Islam Kita”-nya Gus Dur, persoalan2 tsb sedikit banyak terjawab). #6. Dikirim oleh Imam ule pada 06/05 05:39 PM komentar tuk alatif: tampakny latif prlu blajar ttg berita politik dan kapitalisme deh. Trjadiny kmiskinan ini,ulah kapitalis me, latiiif. Menurut UNESCO, 1,3 mliar manusia hdup dg pndapatn dbawah 2 dolar/hari. Kalo dbwah 1dolar/hari mncapai 900Juta. 80% sluruh hasil dunia ini trsedot d negara maju. kkayaan 1 org ada yg lebih 500Triliun. Itu semua,ulah kapitalisme, oh latiif. Bgitu juga,org benci dg amerika krena tndaknny tu yg agresor. Mnurut USAID, amerika planggar ham terbesar n trberat. Jd,pantas ia dbenci. Oh,latiif,prbanyaklah mmbaca!

#7. Dikirim oleh manaf pada 07/05 03:19 AM @ untuk Sdr Ahmad Din. Sepertinya Anda (Ahmad Din) sudah memegang kunci surga ya, sehingga sudah bisa memberikan tiket kepada siapa saja yang anda kehendaki. Kata “sesat” itu kan menjadi relatif bung… Anda juga bisa di “sesatkan” oleh kelompok lain atau paham lain. Hanya kacamata anda saja yang memiliki definisi tentang sesat menyesatkan. Asal tahu saja…, jika Tuhan itu berbeda-beda, maka bumi ini tidak akan tercipta. Mungkin saja bumi ini akan diisi oleh orang2 yang Tuhan maui…, sedangkan Tuhan yang lain juga berbuat yang sama. Jangan2 dulu, kini dan esok akan ada perseteruan antar Tuhan. Coba anda tanyai kepada Agama Konghucu, siapa yang menciptakan bumi dan seisinya? pasti adalah Tuhan menurut versinya, dan tanyakan pula kepada penganut agama2 lainnya. Pasti jawabannya sama. Nah ketika anda mengklaim hanya Tuhan andalah yang menciptakannya, maka agama lain juga berhak mengklaim yang sama bukan?. So? kenapa anda jadi repot sendiri ya? Mau ingkar atau percaya, mau menjadi mu’alaf atau justru murtad, saya rasa bukan anda yang akan menentukan mana surga dan mana neraka untuk mereka. #8. Dikirim oleh bersahaja pada 07/05 04:58 PM Ingat kalimat yang indah: Tegakkan Daulah Islam dalam hati kalian,niscaya Islam akan tegak di negeri-negeri kalian. #9. Dikirim oleh Adib Rofiudin pada 07/05 08:48 PM meragukan intlektualitas Kartosuwirjo?? heh mas, jangan asal ngomong, Kartosuwirjo itu pernah sekolah di STOVIA, murid langsungnya HOS Tjokroaminoto bareng ama Soekarno #10. Dikirim oleh Yeremia pada 08/05 08:22 PM Kata teman saya yang PNS : “kalau sudah jadi penguasa atau memerintah, sudah nggak ada bedanya antara pejabat politik (menteri/Gubernur/bupati/walikota) dan pejabat karir dari partai agama dengan kader dari partai lain. Yg dikerjakan soal krbijakan/program/kegiatan/anggaran -> permasalahan dunia nyata, hampir tidak ada hubungannya sama sekali dengan urusan agama. Sebaliknya kalau urusan KKN malah yang dari partai islam paling tidak profesional, hanya memilih pejabat/pegawai baru dari kelompoknya sendiri, walau agamanya sama kalau bukan dari kelompoknya no way !!!. Soal koruspi, ehem…............ soal etika/moral moral, wah dari berita media sudah cukup kita tahu. Pada akhirnya kalau gagal mengelola manajemen pemerintahan yang rusak malah nama agama. Coba lihat saja Pakistan, Afganistan, negara-negara arab. Bacalah buku sejarah, bagaimana kiprah khilafah islam di masa lali. Jadi kalau masih bicara partai islam, negara islam, khilfah islam, itu semua hanya angan-angan kosong, mimpi, ilusi, utopia, fatamorgana dan entah apa lagi. Jadi yang harus ditindak bukan cuma NII, tapi ya nereka yang memperjuangkan khilifah, itu sudah bibit-bibit makar, bagaimana Pemerintah ini, kalau perlu partai berasas agama dibubarkan saja. Saya juga ingin berjihad dan masuk surga, tapi kalau bicara partai dan pemerintahan, itu mah bohong. JANGAN KAU JUAL AYAT-AYAT TUHAN DENGAN HARGA YANG MURAH !!!! #11. Dikirim oleh Teguh suseno pada 10/05 09:55 AM Untuk Sdr. Ahmad Din. Jujur saya heran mengapa saudara mudah sekali memberi penilaian kepada kelompok atau agama lain. Mudah sekali ada mengeluarkan kata sesat. Bahkan kepada agama Nasrani anda mudah sekali bilang sebagai kafir. Pertanyaan saya kepada anda, apakah anda percaya adanya Tuhan atau tidak? Kalau anda percaya, pertanyaannya saya selanjutnya, apakah anda lebih berkuasa daripada Tuhan. Kenapa saya bertanya seperti ini? Jawabannya adalah anda sudah begitu yakinnya dengan kebenaran yang anda yakini dan menganggap yang ada di luar kebenaran yang anda yakini adalah salah atau sesat. Anda harus tahu lebih dulu apa itu ajaran Yesus sebelum anda memberikan penilaian. Jangan hanya berdasar satu atau dua ayat yang ada dalam kitab suci anda, sudah mampu memberi penilaian. Saya ingin memberikan informasi kepada anda bahwa inti dari ajaran Yesus adalah dua, yaitu : 1. Cintailah Allah Bapamu dengan sekenap hati, segenap jiwa dan melebihi segala sesuatu. 2. Cintailah sesamu manusia seperti kamu menciptai dirinya sendiri. Dari sini, saya ingin bertanya lagi pada anda, apakah ajaran ini salah? Kalau anda anggap salah, apa yang salah? Apakah karena Yesus tidak memperbolehkan umatNya menyakiti hati orang lain, lalu ajaranNya dianggap salah. Atau karena Yesus sangat amat melarang membunuh sesama manusia, lalu anda anggap ajarannya salah dan orang yang mengikuti ajaran tersebut adalah kafir. Tolong anda jawab pertanyaan saya ini. Terima kasih. #12. Dikirim oleh Putra Pertiwi pada 10/05 12:54 PM luar biasa anda abdul m. ghazali????semoga Allah SWT MELAKNAT Anda !!!!Amiinnn #13. Dikirim oleh cobrok pada 10/05 10:05 PM yg perlu d islamkan adalah warganya bukan negaranya #14. Dikirim oleh sugi pada 13/05 12:33 PM Jangan saling menjatuhkan..,saling koreksi diri dengan al kitab yang diturunkan Allah SWT melalui nabi&rasul;-Nya…, Terima Kasih. #15. Dikirim oleh Hanif Al Ftah pada 13/05 04:20 PM

Ingatkah anda dengan klompok2 orang2 bolek yaitu; Kluk-kluk-klan? Mereka ini adalah berideology Supremacy suatu keyakinan bahwa race orang2 putihlah yang race yg terbaik.selain dari mereka adalah manusia2 yang akan merusak bibit2 orang2 putih dan harus dimusnahkan. Begitu pula klompok2 Islam Garis Keras yang ingin mendirikan atau menegakan Syariat Islam di bumi ini Karena satu satunya agama yang diredhoi oleh ALLAH. Selain dari merekka adalah keyakinan2 yang sesat dan musuh2 ALLAH dan harus di musnahkan. Itulah yg terjadi sekarang ini di dunia. ALLAH berfirman Hati hati dgn Srigala berbulu domba. hati2 dgn ulama2 yang bersorban,berjabang dan berjenggot dgn simbolisnya—pembela Islam—penegakan syariat Islam,tentara2 ALLAH dll. Mereka menggunakan nama2 Islam tapi sesunguhnya mereka bukan orang2 Islam. Hati hati,jangan lihat bajunya tapi lihat perbuatan2nya. #16. Dikirim oleh alatif pada 14/05 08:40 AM Buat Putra Pertiwi.. Allah sendirilah yang memvonis kafir bagi orang-orang yang menyatakan Yesus adalah tuhan. Seorang muslim wajib setuju 100 persen tanpa ragu sedikit pun dengan vonis Allah ini. Bukankah Anda termasuk orang yang menyakan Yesus adalah tuhan? Maka anda kafir, wahai Putra Pertiwi. Anda kafir! Kasihan deh kamu! Argumen Islam untuk Kebebasan Oleh Saidiman Ahmad Sebelumnya dimuat di Koran Tempo, 15 April 2011 Dalam konteks hukum positif, Konstitusi, hak azasi manusia, dan akal sehat jelas tidak pernah bisa dibenarkan seorang warga melakukan kekerasan kepada orang lain apalagi dengan hanya alasan agama. Persoalannya, para pelaku kekerasan merasa tidak perlu menggunakan hukum positif, Konstitusi, HAM dan akal sehat dalam aksi brutalnya. Mereka menganggap legitimasi agama jauh lebih kuat dan mengatasi argumen apapun. Pertanyaan yang mesti terus-menerus diajukan adalah apakah para pelaku kekerasan ini benar-benar memiliki argumen agama, dalam hal ini Islam? Debat yang muncul seputar keberadaan sekte Islam Ahmadiyah memasuki babak baru menyusul perlakukan kekerasan yang mereka alami. Kampanye anti-Ahmadiyah yang begitu massif semakin menyudutkan kelompok yang memang marjinal ini. Betapapun kuat argumen bahwa Ahmadiyah hanyalah sekte di dalam Islam, tapi kenyataan bahwa banyak orang yang berpikiran lain tidak bisa diabaikan. Persoalannya, anggapan bahwa Ahmadiyah berada di luar Islam inilah yang dijadikan dalih bagi sekelompok orang untuk terus-menerus menganggu, meneror, bahkan membunuh anggota Ahmadiyah. Dalam konteks hukum positif, Konstitusi, hak azasi manusia, dan akal sehat jelas tidak pernah bisa dibenarkan seorang warga melakukan kekerasan kepada orang lain apalagi dengan hanya alasan agama. Persoalannya, para pelaku kekerasan merasa tidak perlu menggunakan hukum positif, Konstitusi, HAM dan akal sehat dalam aksi brutalnya. Mereka menganggap legitimasi agama jauh lebih kuat dan mengatasi argumen apapun. Pertanyaan yang mesti terus-menerus diajukan adalah apakah para pelaku kekerasan ini benar-benar memiliki argumen agama, dalam hal ini Islam? Mari kita ambil “murtad/ridda” sebagai bentuk pembangkan terbesar dalam beragama. Murtad (apostasy) jauh lebih serius daripada sesat atau menyimpang (heresy). Sesat atau menyimpang adalah kondisi di mana seseorang menolak satu atau beberapa doktrin tertentu dalam agama. Sementara murtad menolak keseluruhan doktrin atau tidak lagi menjadikan seluruh doktrin dalam sikap dan perilaku beragama. Tidak ada satupun ayat dalam al-Qur’an yang mengisyaratkan hukuman bagi pelaku murtad. Yang ditekankan oleh al-Qur’an justru adalah prinsip-prinsip kebebasan beragama. Ayat la ikraha fi al-din secara jelas menegaskan bahwa tidak ada paksaan dalam beragama. Ayat ini mengisyaratkan kebebasan dalam beberapa jenjang. Pertama, tidak ada paksaan bagi orang yang akan memeluk agama tertentu maupun meninggalkan agama tersebut. Di masa-masa awal pembentukan Islam, kasus “keluar-masuk” Islam begitu banyak. Ini fenomena umum bagi setiap agama baru. Kalau belum apa-apa mereka yang memutuskan untuk keluar setelah ia menyatakan diri masuk Islam dihukum, maka bisa dibayangkan bahwa agama ini tidak akan memeroleh banyak pengikut. Yang terjadi adalah bahwa dalam waktu singkat Islam tersebar luas karena didasari prinsip kebebasan beragama.

Kedua, ayat “tidak ada paksaan dalam beragama” juga mengisyaratkan kebebasan berkelompok. Jika pada level agama saja al-Qur’an sudah memberi jaminan kebebasan, maka apalagi pada level yang lebih kecil, yakni kelompok-kelompok dalam satu agama. Tidak ada paksaan dalam beragama juga berarti tidak ada paksaan untuk menganut mazhab tertentu atau meninggalkannya. Ketiga, ayat kebebasan beragama juga menunjukkan bahwa Islam menjamin kebebasan tafsir. Sekali lagi, jika pada level agama saja kebebasan dijamin, apalagi pada level tafsir. Debat mengenai Ahmadiyah adalah debat di seputar tafsir doktrin agama. Di dalam Islam dikenal doktrin mengenai akan datangnya Isa al-Masih dan Imam Mahdi di akhir zaman. Kebanyakan kelompok Islam masih menanti kedatangan juru selamat itu, tapi kelompok Ahmadiyah menyatakan mereka sudah datang dalam satu tubuh, yakni Mirza Ghulam Ahmad. Jika yang satu masih menunggu, yang lain sudah bertemu. Semua ini adalah debat tafsir. Al-Qur’an memberi jaminan tegas mengenai debat tafsir semacam ini. Jaminan kebebasan itulah yang menjadikan Islam begitu kaya dengan khazanah tafsir al-Qur’an. Proses penafsiran ini terus berlangsung hingga sekarang. Indonesia beruntung memiliki salah satu penafsir terkemuka, yakni Prof. Quraisy Shihab, yang telah menerbitkan berjilid-jilid buku tafsir yang ia beri judul “Al-Mishbah.”

Ketiadaan doktrin hukuman bagi pelaku murtad pada Al-Qur’an secara konsisten dikonfirmasi oleh hadits. Memang ada sejumlah hadits yang mendukung pemberian hukuman bagi pelaku murtad, tapi menurut Dr. Mohammad Omar Farooq, semua hadits itu lemah dan memiliki banyak masalah dalam hal validitas. Dan tidak ada satupun hadits yang membolehkan hukuman bagi pelaku murtad semata-mata karena murtad. Dalam Shahih al-Bukhari (buku hadits yang paling otoritatif) justru dikemukakan kisah tentang seorang muallaf Badui yang datang kepada Nabi dan meminta Nabi membatalkan syahadatnya. Tiga kali ia datang kepada Nabi dengan permintaan yang sama, tiga kali pula Nabi mengabaikannya. Sampai orang itu kemudian meninggalkan Madinah, Nabi tetap tidak melakukan apa-apa dan tidak pernah ada berita bahwa Nabi mengeluarkan ancaman hukuman bagi orang yang mengaku murtad itu. Tentu saja ada pengalaman di mana penguasa Islam menyerang kelompok murtad, misalnya yang dilakukan oleh Abu Bakar al-Shiddiq kepada kelompok Musailamah. Musailama dikabarkan mengaku sebagai Nabi. Peristiwa inilah dan sebuah hadits lemah “man baddala dinahu faqtuluh” (bunuhlah orang yang mengganti agamanya) yang oleh kalangan Islam radikal digunakan sebagai dasar bagi penyerangan terhadap mereka yang dianggap murtad, termasuk Ahmadiyah. Secara gegabah mereka bahkan mengklaim bahwa menghukum orang murtad adalah hasil ijma’ atau kesepakatan mayoritas ulama. Menurut Mohammad Omar Farooq, sejak zaman klasik Islam sampai sekarang tidak pernah ada kesepakatan ulama untuk menghukum pelaku murtad. Tafsiran yang berkembang secara luas di kalangan ulama terkemuka mengenai peristiwa penyerangan terhadap kelompok Musailamah bukan didasarkan semata-mata karena Musailamah murtad atau mendaku sebagai Nabi, tapi karena dia mencoba melakukan pembangkangan politik. Para ulama justru memandang bahwa murtad pada dirinya sendiri tidak bisa dihukum, ia menjadi bermasalah ketika perilaku murtad diikuti oleh tindakan makar. Omar Farooq menceritakan sebuah kisah pada masa Umar bin Abdul Azis. Ada sejumlah orang yang menyatakan diri keluar dari Islam. Peristiwa ini kemudian dilaporkan oleh Maimun bin Mahram (seorang gubernur) kepada Umar. Umar memerintahkan untuk membebaskan mereka dan menuntut mereka membayar pajak sebagaimana warga negara pada umumnya. Sufyan ats-tsauri (amirul mukminin fi al-hadits/raja para ahli hadits) dan Ibrahim Al-Nakha’i (tabi’in) sepakat melarang penghalalan darah orang murtad. Bagi mereka, pintu tobat selalu terbuka. Ketimbang menghalalkan darah, lebih baik mengajak mereka. Sementara Syamsuddin al-Sarakhsi (ahli hukum Islam terkemuka dari mazhab Hanafi) menyatakan bahwa betul murtad atau ingkar iman adalah pelanggaran yang sangat serius, tapi itu urusan antara seorang manusia dengan Tuhan, dan hukumannya ditunda sampai hari pembalasan (akhirat). Syeikh Mahmud Syaltut (mantan Imam Besar al-Azhar) memiliki pandangan senada: ingkar iman adalah dosa. Dalam Quran, hukuman bagi pendosa, menurut Syaltut, hanya di akhirat. Syeikh Gamal al-Banna (adik Hasan al-Banna) secara lebih tegas menyatakan: “tidak ada hukuman bagi pelaku murtad atau ingkar iman. Kebebasan berpikir adalah tulang punggung Islam.” Baik secara nalar biasa, Konstitusi, hukum, HAM, doktrin utama agama Islam, maupun kesepakatan ulama secara tegas dan lugas mendukung kebebasan beragama, kebebasan berpindah agama, kebebasan bergabung dengan kelompok-kelompok dalam satu agama, dan kebebasan menafsir agama. Iman adalah urusan manusia dengan Tuhan. Jika demikian, kita patut bertanya, atas dasar apa sebenarnya para pelaku kekerasan itu melakukan aksinya? Atas dasar apa jemaat Ahmadiyah dikejar-kejar, diteror, dan dibunuh? Akal sehat dan agama jelas tidak berada pada pihak pembunuh dan teroris. [] 15/04/2011 | Klipping, | # Komentar Komentar Masuk (25) (Tampil maks. 5 komentar terakhir, descending) tidak ada yang aku temukan kumpulan manusia yang akalnya rusak, dan hatinya kronis ketimbang kumpulan JIL, jamaah protestan liberal, mereka bekerja tidak ya? kalo dikantor peraturan atasan ditentang terus kira2 bertahan tidak di tempat kerja? lalu bagaimana peraturan Allah selalu di tentang dan di gelincirkan serta diselewengkan? akal mereka benar2 rusak, hati mereka benar2 pesakitan, setiap golongan merasa paling benar dan yang lain salah seperti halnya extrimis tidak mereka merasa benar walau JIL berkali-kali menyinggung mereka yang ada hanya rasa benci extrimis kepada JIL, sama saat JIL dinasehati atau di singgung, kumpulan dinatang ini tidak akan sadar karena mereka merasa apa yang mereka anut adalah benar, itulah jiwa orang-orang pesakitan yang akalnya rusak, namun biarkanlah mereka menjalani peran dibumi ini sebagaimana anjing dan babi serta binatang melata lainnya menjalani hidup, kelak mereka akan diminta pertanggungjawaban karena mereka manusia yang diberi akal untuk berfikir, Posted by ali on 05/29 at 01:00 PM

Astaghfirullah… baca artikel disini ini bikin saya banyak bertanya2. Duhai para penulis, sejak kapan kita menghukum orang yang murtad?kalau anda berpendapat bahwa ahmadiyah dihakimi massa karena itu, berarti anda benar2 mengakui kalau mereka murtad? apa sebenarnya agama anda? bukankah dalam islam itu “tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah Rasulullah” adalah harga mati??ketika ahmadiyah menyatakan bahwa mirza ghulam ahmad -orang yang asal usulnya juga diragukan itu- adalah Rasul atau nabi, sedangkan Muhammad Rasulullah menyatakan beliau

adalah penutup nabi, maka apa yang ada di pikiran anda? mau percaya yang mana anda, ucapan ahmadiyah atau Rasulullah? masih berfikir ini sekte? Muhammad Rasulullah, rasul terakhir, adalah harga mati bagi umat islam. Kalau gak mengakui hal itu, Mending GAK Usah ngaku2 islam deh ya… Posted by Maria on 05/14 at 11:05 PM @DAMAI SELALU Salam sejahterah kembali buat anda. Alangkah indahnya dunia ini seandainya semua umat yang beragama dan yang tidak beragama sekalipun mempunyai pandangan sikap yang toleran seperti anda. Sayapun juga meyakini bahwa jalan menuju Tuhan adalah sebanyak kepala manusia yang ada di dunia dan tidak dibatasi oleh sekat2 agama.Agama hanya sekedar alat untuk mencapai tujuan, dan merupakan salah satu anak tangga untuk mencapai anak tangga lainnya yang lebih tinggi hingga mencapai kesempurnaan…. Salam persahabatan dan perdamaian kembali saya ucapkan bagi anda dan keluarga dan umat Hindu pada umumnya. Dengan kerendahan hati,ijinkan saya mengahiri dengan ucapan Wassalamualaikum Wr,Wb. Posted by dewayanto on 05/08 at 12:39 PM Agama tidak membenarkan tindakan kekerasan, paksaan dan lain-lain. Jd klu ada yg melakukan pemaksaan dan tindak kekerasan atas nama agama, itu karena ada kepentingan lain di luar agama. Tuhan dalam Islam adalah Esa, itulah ajaran tauhid itulah Tuhan semua makhluk yg ada di alam semesta ini, yang banyak bukan Tuhan, yg bermacam2 bukan Tuhan, tapi yg banyak dan bermacam-macam itu adalah persepsi manusia tentang Tuhan… tks Posted by Ichal on 04/22 at 04:03 PM Kekerasan bukan ciri dari umat Islam. Al-Qur’an mengajarkan kita untuk hidup damai dan saling mengasihi (jika masing2 pribadi mendalami isi Al-Qur’an pasti akan terwujud). Saya tidak yakin yang melakukan kekerasan itu sudah menjalankan shalat dengan benar, karena kalau mereka sudah menjalankan shalat dengan benar tidak mungkin akan melakukan kekerasan seperti itu. Jangan2 mereka pada waktu shalat hanya bisa melafazkan bacaan shalat tanpa bisa mengerti makna dari bacaan shalat tersebut.. Posted by Islam KTP on 04/21 at 10:31 PM Pertanyaan yang mesti terus-menerus diajukan adalah apakah para pelaku kekerasan ini benar-benar memiliki argumen agama, dalam hal ini Islam? Jawabannya adalah YES,bagi klompok2 Islam garis Keras. Mereka dlm menegakan amar makruf nahi mungkar,tidak segan2 untuk membunuh manusia. Mereka merujuk kepada sebuah hadits Palsu Muslim Bukhari seperti berikut ini.

Klling Honor. Pada akhir zaman akan muncul sekelolmpok orang yang berusia muda dan jelekbudi pekertinya. Mereka berkata kata dengan mengunakan firman ALLAH, padahal mereka telah keluar dari islam seperti melesetnya anak panah dari busurnya. Dimanapun kalian menjumpai mereka,maka bunuhlah mereka. Karena sesungguhnya orang yang membunuh mereka akan mendapatkan pahala di hari kiamat"HR Bukhari. Hadist inilah yang membuat anak2 muda frustrasi ingin melakukan suicide di tempat2 keramaian . http://twitter.com/#!/tasusayumi

#1. Dikirim oleh alatif pada 16/04 06:16 AM Salam sejahtera seluaruh saudaraku sesama umat beragama Saya suka membaca rubik ini dan hampir setiap hari saya mengikuti dan membuka web islam liberal. Walaupun saya non muslim (saya orang Bali yang beragama hindu), tapi ulasan-ulasan yang dikemukakan oleh teman-teman di JIL sangat menyentuh perasaan saya. Pesan perdamaian dan semangat toleransi yang diusung JIL sangat cocok dan harus diterapkan di Indonesia yang multi etnis dan multi agama. Tanpa bermaksud menggurui, di dalam kitab suci kami ada 2 sloka (sloka sama dengan ayat) yang artinya kurang lebih sbb :

” Sesungguhnya Brahman (Tuhan) itu hanya satu, tapi orang bijaksana menyebutnya dengan banyak nama” ” Siapapun yang hendak menuju tempatku (Tuhan) akan aku terima, ada yang datang dengan nyanyian, ada yang datang dengan persembahan, semuanya akan aku terima dengan senang hati” Sloka-sloka tersebut sangat menjiwai kami sebagai orang hindu sehingga sampai saat ini (semoga berlangsung seterusnya) hampir tidak ada atau jarang terjadi konflik-konflik berbau sektarianisme di Bali. Malah yang banyak terjadi adalah keributan sesama orang Bali karena masalah adat. Menurut pendapat saya kita harus menonjolkan dan mencari simpul-simpul persamaan antar agama, bukannya menonjolkan perbedaan dan lalu merasa paling benar sendiri, kemudian dengan justifikasi agama seenaknya menyerang pihak yang berbeda keyakinan. Saya sama sekali tidak melihat manfaat yang akan diperoleh dengan melakukan tindakan kekerasan atas nama agama. Saya pernah mengobrol dengan seorang imigran dari Afganisthan yang tertangkap ketika hendak menuju Australia dan ditahan di Kantor Imigrasi di NTT. Bersama rombongannya dia bercerita betapa mereka sudah muak dengan perang sektarianisme di negaranya yang tiada henti, dan akhirnya mereka memutuskan meninggalkan negara kelahirannya tersebut. yang dia tahu perang sektarianisme di negaranya sudah berlangsung puluhan tahun, bahkan mungkin ratusan tahun karena alm. kakeknya menceritakan bahwa perang sektarianisme di Afghanistan sudah berlangsung sangat lama, bahkan kakeknya lahir ditengah-tengan kondisi peperangan tsb. jauh sebelum Uni Soviet menjajah negara tsb. Semoga kedamaian dan ketentraman akan selalu hadir di tengah-tengah kita. Salam hangat penuh persahabatan dan perdamaian dari kami umat Hindu di Bali. #2. Dikirim oleh Damai Selalu pada 16/04 07:30 AM argumen pertama saya kira gak nyambung.benar bahwa Islam toleran dg agama lain, bahkan toleransi nya lebih ril dari agama lain, tapi dengan ahmadiyyah bukan perbedaan agama tapi penyelewengan agama. kalo saja ahmadiyyah mengaku agama di luar islam, tentu kita toleran, tapi ini kan tidak. kalo semua orang berhak memahami islam dengan pemahamannya masing-masing, maka kalo kita analogikan bolehkah kita menambah pancasila menjadi 6 pasal karena kita memiliki pemahaman lain ? bolehkah kita menambah warna bendera merah putih karena pemahaman kita merasa tidak cukup dengan merah putih ? di dalam islam jelas nabi terakhir adalah Muhammad SAW, sama dengan jelasnya 5 pasal pancasila. sehingga gambaran ahmadiyyah sama dengan warga indonesia menambah sila dalam pancasila bahkan ahmadiyyah ini lebih serius karena melawan ketetapan umat sedunia. kalo anda JIL membela ahmadiyyah, apakah anda juga setuju dengan orang yang menambah pancasila ? #3. Dikirim oleh dawud pada 16/04 08:49 AM Ok saya setuju bahwa kalian sesat, oh ya kunjungi situs2 tandingan kami ya: http://www.globalmuslim.web.id/ http://www.al-khilafah.co.cc/ Alhamdulillah, setelah saya buat ditahun 2010 dan didukung dg beberapa Group FB yang anggotanya lebih dari 100 ribu,..situs kami semakin hari traficnya makin mantab, ini menandakan kesadaran kaum muslimin akan Islam kaffah,..dan kalin JIL sesat sebentar lagi kehilangan Muka dan baliklah ke negeri asal kalian yaitu Neraka,...Islam Will Dominate The world #4. Dikirim oleh tan saliman pada 16/04 09:42 AM My OK okay that you leading astray, tut visits our sites yeses: http://www. globalmuslim. web. id / http://www. al khilafah. co. cc / Thank God, after I make at year 2010 and supported with severally FB’s Group that its member is more than 100 thousand,.. our sites gets traficnya’s day gets OK, this denote moslem clan consciousness will kaffah’s Islam,.. and you JIL leading astray momentarily lose countenance and turns back to your origin country which is Hell,... Islam Will Dominate The world #5. Dikirim oleh tan saliman pada 16/04 09:44 AM kebebasan ada batasnya..sebebas2nya manusia masih dalam lingkup aturan yang diberikan oleh ALLAH SWT..manusia tidak bisa bebas dari HUKUM,,tapi bebas melaksanakan hak dan kewajibannya..dan manusia tidak bisa seenaknya merubah hukum ALLAH yang telah di tetapkan dalam ALQUR’AN dan Hadist dalam ISLAM..Membela HAK ASASI MANUSIA itu ditegakan bukan berarti MEMBELA manusia untuk MERUSAK AJARAN ISLAM YANG ADA, orang kafir adalah HINA tapi yang lebih HINA lagi adalah Orang muslim yang menyelewengkan ajaran islam dan menodai kesuciannya… #6. Dikirim oleh fahmi pada 16/04 01:38 PM Agar Selamat Dari Murka Allah dan Label Sesat Oleh: Abdullah al-Mustofa Allah swt. berfirman:

‫اهدنــــا الصراط المستقيم‬ َ َِ ُ َ َ ّ َِ “Tunjukilah Kami jalan yang lurus.” (QS. Al-Fatihah [1]:6) Sudahkah doa memohon petunjuk di atas -yang mana telah sering dan banyak anda ucapkan- berpengaruh pada diri dan kehidupan anda? Apa pengaruhnya terhadap diri dan kehidupan anda? Bagaimanakah kualitas pengaruhnya? Apakah do’a tersebut telah efektif membentengi diri anda dari serangan virus-virus aliran, paham dan pemikiran sesat? Jika telah terinfeksi, apakah do’a tersebut efektif menghilangkan virus-virus tersebut? Jika jawaban dari semua pertanyaan tersebut adalah belum, tidak atau masih sedikit pengaruhnya, anda mesti mempertanyakan keimanan anda lalu menginstall ulang iman anda. Bagaimana caranya? Setiap Muslim setiap hari minimal membaca do’a memohon petunjuk tersebut di atas sebanyak jumlah rakaat shalat wajib yakni tujuh belas kali. Berapa jumlahnya sejak pertama kali menjalankan shalat ketika mencapai usia baligh hingga saat ini? Tinggal dikalikan. Jumlahnya akan mencapai ratusan ribu. Seseorang Muslim yang katakanlah mencapai usia baligh di usia 15 tahun dan telah berumur 60 tahun minimal telah memanjatkan do’a tersebut 275.400 kali (17x360x(60-15)). Namun apakah do’a yang telah dipanjatkan sebanyak itu telah efektif? Hanya Allah swt Yang Maha Tahu. Namun sebagai manusia kita tetap bisa berusaha mengukur keefektifan doa tersebut dari tanda-tanda yang nampak secara lahiriahnya. Bagaimana cara mengukurnya? Dapatkan e-booknya gratis di sini: http://www.speedyshare.com/files/27643386/Agar_Selamat_dari_Murka_Allah_dan_Label_Sesat.pdf Daftar Isi: 1. Pendahuluan 2. Keutamaan Do’a Memohon Petunjuk Kepada Jalan Yang Lurus 3. Hikmah Diwajibkannya Membaca Al-Fatihah Dalam Setiap Shalat 4. Apakah Jalan Yang Lurus Itu? 5. Syarat-Syarat Terkabulnya Do’a Memohon Petunjuk Ke Jalan Yang Lurus 6. Cara Mengetahui Keefektifan Do’a Memohon Petunjuk 7. Kesimpulan dan Ajakan Smg mencerahkan dan bermanfaat #7. Dikirim oleh Mustofa pada 17/04 01:07 PM saya bukan hanya setuju dengan paparan yang dikemukakan kang saidiman ahmad melainkan sangat setuju, sejatinya kalau memang kita tidak mau mengakui kebebasan yang diberikan tuhan, cukuplah kita berdiam diri tidak mengusik kebebasan orang lain. aliran - aliran yang muncul dalam islam kenapa harus diusik biarlah mereka berkembang ataupun musna dengan sendirinya, kok malah jadi aneh manusia menghakimi manusia. #8. Dikirim oleh Hassan pada 17/04 06:00 PM kalau kita uji dengan al qur an dan alhadish di makamah syariah.sebagaimana kita uji undang undang di makamah konstitusi.dapat disimpulkan bahwa jaringan islam liberal itu sesat dan sangat menyesatkan dan menguntungkan orang kafir dan orang munafik dengan adanya islam liberal tersebut.saya yakin kalau nanti imam mahdi turun pasti akan di perangi jil itu….. Allahuakbar #9. Dikirim oleh hafidh maksum pada 17/04 09:38 PM saya sungguh berharap masalah ahmadiyah bisa diselesaikan dengan dakwah, hikmah, sabar dan ikhlas. Kekerasan sama sekali tdk akan membuat aliran2 sempalan spt ahmadiyah bs dihentikan, sejarah islam sdh membuktikannya, yg ada malah wajah islam menjadi sangat buram. Betapa indahnya apabila umat islam bs menyelesaikan aliran sempalan ini dg damai. Ahmadiyah tdk diterima di masyarakat bukan karena pengikutnya dibunuhi, rumahnya dibakar, tapi karena islam bs menjadi pembimbing agar para pengikut ahmadiyah kembali pd ajaran yg benar. Semua itu memang butuh perjuangan dan kesabaran, tapi memang itukan tugas kita, bukan membakar apalagi membunuh. #10. Dikirim oleh farhan pada 17/04 10:47 PM Firman Allah: “tiap-tiap kelompok merasa bangga dg apa yg ada pd dirinya”. #11. Dikirim oleh kd'javu pada 18/04 06:43 AM islam agama amal. ukuran kebaikan muslim di dunia adalah amalnya. amal duniawinya baik maka dia diangap baik, bila tidak berarti sebaliknya. urusan niatnya baik atau tidak, siapa yang bisa mengurusnya selain Dia Yang Mahasegala. itu pula sebabnya ajaran islam lebih banyak menyuruh berbuat baik daripada berniat baik.

kalau ada yang berniat baik dengan amal yang tidak baik siapa yang mau percaya. kalau ada yang berniat memperjuangkan islam dengan cara-cara preman maka yang akan menjadi pengikutnya preman juga. bila ada yang setuju dengan tindakan premanisme terhadap ahmadiyah maka tinggal menunggu waktu kapan dia menjadi preman juga. kelak jangan kaget kalau muncul aliran khawarij baru dalam sejarah islam kontemporer. “ISLAM PREMAN”. networknya JIP (Jaringan Islam Preman). kalau ada yang setuju dengan tindakan premanisme atas nama islam maka jangan ragu-ragu untuk menyatakan dirinya sebagai anggota JIP (Jaringan Islam Preman) untuk menandingi JIL. terakhir hati-hati yang nulis ini punya gejala kejiwaan premanopat karena stress melihat preman berkuasa di mana-mana. mulai dari pemimpin umat sampai aparatur negara. Mengapa indonesiaku menjadi ‘premania’? #12. Dikirim oleh khairuddin pada 18/04 09:01 AM Dalam sejarah yang tercatat hukum Allah ada tertulis pada kitab Musa / Taurat tetapi juga hukum Allah tertulis pada keindahan alam semesta dan didasar hati manusia tapi sayang banyak fikiran manusia yang memanipulasi hukum Allah. #13. Dikirim oleh sidiq pada 18/04 02:32 PM Saya setuju dengan catatan ini. Sedikit usul, sambil membiasakan semua pihak tidak menjustice pendapatnya adalah yang paling benar, bagaimana kalau catatan ini diberi judul “Argumen Muslim Untuk kebebasan”? Saya kira, penulis bisa menangkap maksud harapan saya ini. Terimakasih… #14. Dikirim oleh zulfan syahansyah pada 18/04 03:26 PM Pasti ada maksudnya kenapa Nabi juga tidak melakukaan kekerasan terhadap mereka yang menyimpang. Mestinya juga allah sudah memusnahkan mereka meski mereka dianggap sesat. Berbeda dengan hewan manusia punya pikiran bebas, pikiran sendiri sampai sekarang tak bisa dilihat secara virtual, palagi hati manusia. belajar agama harus menyeluruh dan tidak setengah setengah agar tidak terjebak kepada kefanatikan yang dangkal. Kelompok kelompok radikal memahami Islam secara setengah setengah, karena mereka punya agenda kekuasaan. agama dianggap sebagai jalan paling ampuh untuk mendapatkan kekuasaan, dengan cara mengajarkan hal hal instan, formal, bukan substansi dan esensi. Nabi lebih mengajarkan esensi dan substansi, ini mengapa Islam bisa dirasakan manfaatnya, bisa melahirkan ilmuwan yang mendunia. Islam yang kasar dan keras hanya akan melahirkan konflik, kebodohan, dan balas dendam sejarah yang berkepanjangan. tidak semua ekspansi atas nama islam dimasa lalu direstui nabi dan dapat dibenarkan. Islam adalah rahmat bagi dunia.umat islam mengalami kebodohan dan kemiskinan karena tidak meningkatkan ilmu pengetahuan…‘seandainya pakistas tidak memisahkan diri menjadi negara Islam, maka sebagian besar penduduk India akan menjadi muslim”.. #15. Dikirim oleh abu jasmine pada 18/04 03:38 PM Saya ingin membuat kisah spt ini : Ada Seorang dermawan yg sangat kaya raya datang ke sebuah desa petani, dia melihat 3 orang petani yg lg bersedih tdk bisa bertani krn kehabisan modal. Si hartawan merasa iba kmdn ia berkata kpd mereka ” Akan saya berikan pinjaman kepada kalian masing2 1 jt, silahkan buat bertani supaya kalian tdk susah lg. 5 thn lg kalian hrs datang kerumahku mengembalikan pinjaman itu, sekalian agar aku tahu apa kalian berhasil apa tdk. Yg berhasil akan aku tambah.” Si hartawan sengaja tdk memberikan dana itu langsung, tp brp pinjaman agar pr petani semangat bekerja demi bisa mengembalikannya, padahal uang 3 jt bg dia gak ada apa2nya. Pd tahun pertama para petani bekerja keras mengolah sawahnya, hsl yg didapat sangat memuaskan. Pada thn kedua terjadi perubahan iklim yg membuat hasil panen merosot tajam. Tahun ketiga terjadi kemarau panjang. Petani A tetap konsisten bertani, petani B beralih menjadi pedagang, sedangkan petani C menggunakan modal itu untuk berjudi. Petani A sangat marah, dia menganggap B dan C telah melenceng dr perintah yg jelas2 menyuruh untuk bertani, sedangkan B dan C beranggapan yg penting bisa mengembalikan sebab bertani sdh tdk bisa menghasilkan lg krn kemarau. Dari cerita ini kita bs membayangkan siapa yg akan dipuji oleh hartawan itu. Si petani A yg bodoh saya ibaratkan orang2 fundamentalis yg hanya menjalankan perintah tersurat tanpa mau melihat jiwa dr perintah itu. Petani C ibarat orang2 yg menganut kebebasan yg kebablasan dengan resiko yg sangat tinggi, saya contohkan rekan2 di JIL. Untuk itu saya mohon kpd bang ulil dan rekan2, janganlah anda membawa kebebasan dlm memahami agama scr berlebihan..saya hormati pendapat2 anda, tp dg cara berlebihan anda cuma akan mendapat pertentangan dan kebencian. Marilah..dengan ikhlas dan hanya karena Allah kt bangun budaya berpikir dan berpendapat yg santun, penuh rahmat, jauh dr kekerasan untuk kemajuan umat. Semoga Allah melindungi kita. #16. Dikirim oleh farhan pada 18/04 09:05 PM kalo aku mah tidak mo ikutan bertumpah-tumpahan darah. tidak mau menjadi bagian pembenaran ramalan (kekhawatiran) malaikat kala Tuhan berencana mengorbitkan sang khalifah di atas bumi. boleh jadi malaikat berseloroh,“nah betul kan kata gue”, begitu melihat makin maraknya manusia saling mencecerkan darah. #17. Dikirim oleh muhnan rais pada 19/04 05:50 AM Didalam tulisan diatas disebutkan bahwa tidak akan dihukum orang pindah agama, karena orang bebas memilih agamanya. Itu benar sekali. Andaikata Ulil Abshar Abdalla hari ini pindah agama menganut agama lain, silahkan, tidak akan ada yang akan tersinggung, marah, mengancam dll. Tapi jangan sekali-kali menodai agama (Islam). Maka hal itu akan mendapat tentangan yang kuat dari umat islam. Ahmadiyah termasuk organisasi yang menodai Islam. #18. Dikirim oleh muhammad sjarief pada 19/04 11:14 AM Keluar/pindah dari Agama Islam adalah Murtad,ingat aku,ya!

#19. Dikirim oleh Adib Rofiudin pada 20/04 02:09 PM saya belum mengomentari yang lain . sy komentar logo yg anda bawa. dg nama tuhan .... semua agama. betulkah yg anda tulis begitu. Memang Allah adalah tuhannya semua. termasuk nyamuk. tp sy kembali bertanya apakah itu niat yang anda tulis ? atau ada maksud lain. kl anda mksd untuk mendiskriditkan Islam segeralah taubat. Kekerasan bukan ciri dari umat Islam. Al-Qur’an mengajarkan kita untuk hidup damai dan saling mengasihi (jika masing2 pribadi mendalami isi Al-Qur’an pasti akan terwujud). Saya tidak yakin yang melakukan kekerasan itu sudah menjalankan shalat dengan benar, karena kalau mereka sudah menjalankan shalat dengan benar tidak mungkin akan melakukan kekerasan seperti itu. Jangan2 mereka pada waktu shalat hanya bisa melafazkan bacaan shalat tanpa bisa mengerti makna dari bacaan shalat tersebut.. #21. Dikirim oleh Islam KTP pada 21/04 10:31 PM Agama tidak membenarkan tindakan kekerasan, paksaan dan lain-lain. Jd klu ada yg melakukan pemaksaan dan tindak kekerasan atas nama agama, itu karena ada kepentingan lain di luar agama. Tuhan dalam Islam adalah Esa, itulah ajaran tauhid itulah Tuhan semua makhluk yg ada di alam semesta ini, yang banyak bukan Tuhan, yg bermacam2 bukan Tuhan, tapi yg banyak dan bermacam-macam itu adalah persepsi manusia tentang Tuhan… tks #22. Dikirim oleh Ichal pada 22/04 04:03 PM @DAMAI SELALU Salam sejahterah kembali buat anda. Alangkah indahnya dunia ini seandainya semua umat yang beragama dan yang tidak beragama sekalipun mempunyai pandangan sikap yang toleran seperti anda. Sayapun juga meyakini bahwa jalan menuju Tuhan adalah sebanyak kepala manusia yang ada di dunia dan tidak dibatasi oleh sekat2 agama.Agama hanya sekedar alat untuk mencapai tujuan, dan merupakan salah satu anak tangga untuk mencapai anak tangga lainnya yang lebih tinggi hingga mencapai kesempurnaan…. Salam persahabatan dan perdamaian kembali saya ucapkan bagi anda dan keluarga dan umat Hindu pada umumnya. Dengan kerendahan hati,ijinkan saya mengahiri dengan ucapan Wassalamualaikum Wr,Wb. #23. Dikirim oleh dewayanto pada 08/05 12:39 PM

Astaghfirullah… baca artikel disini ini bikin saya banyak bertanya2. Duhai para penulis, sejak kapan kita menghukum orang yang murtad?kalau anda berpendapat bahwa ahmadiyah dihakimi massa karena itu, berarti anda benar2 mengakui kalau mereka murtad? apa sebenarnya agama anda? bukankah dalam islam itu “tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah Rasulullah” adalah harga mati??ketika ahmadiyah menyatakan bahwa mirza ghulam ahmad -orang yang asal usulnya juga diragukan itu- adalah Rasul atau nabi, sedangkan Muhammad Rasulullah menyatakan beliau adalah penutup nabi, maka apa yang ada di pikiran anda? mau percaya yang mana anda, ucapan ahmadiyah atau Rasulullah? masih berfikir ini sekte? Muhammad Rasulullah, rasul terakhir, adalah harga mati bagi umat islam. Kalau gak mengakui hal itu, Mending GAK Usah ngaku2 islam deh ya… #24. Dikirim oleh Maria pada 14/05 11:05 PM tidak ada yang aku temukan kumpulan manusia yang akalnya rusak, dan hatinya kronis ketimbang kumpulan JIL, jamaah protestan liberal, mereka bekerja tidak ya? kalo dikantor peraturan atasan ditentang terus kira2 bertahan tidak di tempat kerja? lalu bagaimana peraturan Allah selalu di tentang dan di gelincirkan serta diselewengkan? akal mereka benar2 rusak, hati mereka benar2 pesakitan, setiap golongan merasa paling benar dan yang lain salah seperti halnya extrimis tidak mereka merasa benar walau JIL berkali-kali menyinggung mereka yang ada hanya rasa benci extrimis kepada JIL, sama saat JIL dinasehati atau di singgung, kumpulan dinatang ini tidak akan sadar karena mereka merasa apa yang mereka anut adalah benar, itulah jiwa orang-orang pesakitan yang akalnya rusak, namun biarkanlah mereka menjalani peran dibumi ini sebagaimana anjing dan babi serta binatang melata lainnya menjalani hidup, kelak mereka akan diminta pertanggungjawaban karena mereka manusia yang diberi akal untuk berfikir, Kritik atas Nalar Pelarangan Ahmadiyah Oleh Saidiman Ahmad Sebelumnya dimuat di Koran Tempo, 10 Maret 2011 Aktivitas seperti salat, berdoa, berdakwah, bakti sosial, rapat, mengaji, pendidikan, dan lain-lain pada dirinya tidak mengandung masalah. Hampir semua warga di Indonesia melakukan kegiatan semacam itu. Kenapa kegiatan-kegiatan itu menjadi terlarang hanya karena yang melakukannya adalah orang yang memiliki keyakinan yang bukan arus utama? Kalau bolehtidaknya sebuah kegiatan didasarkan pada keyakinan pelaku, mestinya mencuri, membunuh, dan tindak kejahatan lain boleh, asalkan dilakukan oleh mereka yang memiliki keyakinan yang dianut mayoritas warga. Kalau dasarnya keyakinan, mestinya yang dilarang pada Ahmadiyah adalah keyakinan. Tapi bagaimana melarang keyakinan yang bersemayam di lubuk hati? Rasa-rasanya negara belum memiliki penjara spiritual untuk menahan hati yang sesat. Pasca-pembunuhan terhadap tiga warga Ahmadiyah di Cikeusik, Banten, muncul gejala yang sangat memprihatinkan. Memang Presiden Susilo Bambang Yudhoyono merespons cepat dengan memberi perintah agar mencari jalan legal untuk membubarkan organisasi yang sering membuat kekisruhan. Yang menarik, beberapa daerah justru merespons perintah Presiden itu

dengan mengeluarkan peraturan pembekuan kegiatan Jemaat Ahmadiyah. Pemerintah daerah Pandeglang mengeluarkan larangan bagi anggota Ahmadiyah melakukan kegiatannya. Pemda Jawa Timur mengeluarkan perintah yang melarang semua kegiatan Ahmadiyah di Jawa Timur. Di Banjarmasin, pemerintah bahkan melarang penggunaan masjid Ahmadiyah. Adapun di Jawa Barat, gubernur mengeluarkan perintah pembekuan kegiatan Ahmadiyah. Memang perintah Presiden yang dikeluarkan dalam perayaan Hari Pers Nasional di Kupang itu tidak langsung menyebutkan organisasi yang hendak dicarikan jalan pembubarannya. Sehingga perintah ini dengan cepat dimanfaatkan oleh kelompok-kelompok anti-Ahmadiyah untuk mengarahkan perintah pembubaran justru kepada Ahmadiyah, bukan kepada pelaku kekerasan. Menteri Hukum dan Has Asasi Manusia Patrialis Akbar malah lebih banyak membahas LSM-LSM ketimbang organisasi-organisasi kemasyarakatan pelaku kekerasan. Demikian pula Menteri Agama Suryadharma Ali, dia justru lebih banyak membahas bagaimana mencari solusi bagi Ahmadiyah ketimbang mencari jalan bagi pembubaran Ormas pelaku kekerasan. Pelarangan Ahmadiyah di sejumlah daerah menjadi sangat berbahaya justru karena baru saja Ahmadiyah mengalami penganiayaan di luar batas kemanusiaan. Buah dari penganiayaan bukan mengkriminalkan pelaku, melainkan malah lebih menyudutkan korban. * Sebenarnya model penyelesaian masalah dengan melipatgandakan beban korban bukan baru pertama terjadi. Hal seperti ini juga terjadi pada peristiwa berdarah 1 Juni 2008. Saat itu massa Aliansi Kebangsaan untuk Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan (AKKBB) diserang oleh massa Laskar Pembela Islam (LPI) milik Front Pembela Islam (FPI). Buah dari kekerasan yang dialami oleh AKKBB justru adalah dikeluarkannya Surat Keputusan Bersama (SKB) Dua Menteri dan Jaksa Agung tentang pelarangan aktivitas Ahmadiyah. Viktimisasi korban adalah cara penyelesaian masalah yang sungguh tidak beradab. Peraturan daerah dan SKB Dua Menteri yang melarang aktivitas Ahmadiyah membawa pesan yang sangat kuat bahwa, jika Anda menginginkan suatu kelompok dilarang, lakukanlah kekerasan terhadapnya. Para pengusul kebijakan pelarangan Ahmadiyah berpegang pada pendapat bahwa kekerasan terjadi karena suatu sebab. Mereka menganggap bahwa penyebab kekerasan adalah korban kekerasan itu sendiri. Dengan demikian, yang pertama-tama harus dipersalahkan adalah korban. Bagaimana mungkin menyalahkan korban pencurian dan penjarahan? Bukankah semua pencuri dan perampok seharusnya ditangkap dan bukan malah sibuk menyalahkan korban? Dalam hal Ahmadiyah, logika bahwa kelompok ini mengundang kekerasan hanya karena mereka memiliki keyakinan yang berbeda dengan kebanyakan orang sungguh tidak bisa diterima. Kalau Ahmadiyah mengundang kekerasan karena mereka berbeda, seharusnya Ahmadiyah juga memiliki legitimasi yang sama untuk menyerang siapa saja yang berbeda dengan mereka. Kalau Ahmadiyah boleh dilarang karena mengundang kekerasan atas keberbedaan mereka, kenapa pemerintah tidak melarang juga kegiatan orang-orang yang berbeda dengan Ahmadiyah? Bukankah mereka juga mengundang kekerasan dari Ahmadiyah atas keberbedaan mereka dengan Ahmadiyah? Kalau dengan alasan perbedaan keyakinan agama pemerintah bisa melarang aktivitas suatu kelompok, maka bukankah sebaiknya pemerintah melarang semua kegiatan agama, karena mereka semua saling berbeda dan saling mengancam? Mengatakan bahwa keyakinan agama mayoritas terancam oleh minoritas Ahmadiyah sangatlah tidak masuk akal. Bukankah yang seharusnya terancam adalah minoritas? Dengan segala sumber daya, mayoritas jauh lebih punya kekuatan untuk mengancam kelompok minoritas ketimbang sebaliknya. Kalau pelarangan didasarkan pada logika ancaman terhadap agama, maka seharusnya pemerintah melarang aktivitas kelompok mayoritas, karena merekalah yang paling mungkin memberi ancaman terhadap kelompok-kelompok yang lebih kecil. Dalam hal keyakinan agama, pemerintah sama sekali tidak punya hak untuk menyatakan suatu kelompok lebih benar daripada yang lain. Iman atau keyakinan adalah sesuatu yang sangat subyektif. Kebenaran iman adalah kebenaran subyektif. Ia benar sejauh ia diyakini benar. Bagi mereka yang meyakininya, iman akan menjadi kebenaran absolut. Tapi bagi orang-orang lain yang tidak yakin, ia tidak bermakna apa-apa. Melarang kegiatan Ahmadiyah karena Ahmadiyah memiliki keyakinan yang berbeda juga sangat problematis. Ada lompatan pemikiran dalam larangan tersebut. Masalah, kalaupun itu benar, pada Ahmadiyah adalah keyakinan, bukan pada aktivitas. Aktivitas seperti salat, berdoa, berdakwah, bakti sosial, rapat, mengaji, pendidikan, dan lain-lain pada dirinya tidak mengandung masalah. Hampir semua warga di Indonesia melakukan kegiatan semacam itu. Kenapa kegiatan-kegiatan itu menjadi terlarang hanya karena yang melakukannya adalah orang yang memiliki keyakinan yang bukan arus utama? Kalau boleh-tidaknya sebuah kegiatan didasarkan pada keyakinan pelaku, mestinya mencuri, membunuh, dan tindak kejahatan lain boleh, asalkan dilakukan oleh mereka yang memiliki keyakinan yang dianut mayoritas warga. Kalau dasarnya keyakinan, mestinya yang dilarang pada Ahmadiyah adalah keyakinan. Tapi bagaimana melarang keyakinan yang bersemayam di lubuk hati? Rasa-rasanya negara belum memiliki penjara spiritual untuk menahan hati yang sesat. * Dalam konteks dakwah, melarang aktivitas Ahmadiyah adalah bentuk ketidakadilan. Semua jenis penafsiran dan keyakinan agama semestinya berkontestasi secara sehat untuk meraih dukungan. Membatasi ruang gerak sebuah kelompok yang memiliki corak pemahaman keagamaan tertentu sama dengan menghalangi seorang peserta lomba lari dalam sebuah perlombaan. Bagaimana menentukan bahwa peserta yang mencapai garis finish lebih awal adalah pelari tercepat, sementara ada satu peserta yang dilarang berlari? Jika kita percaya bahwa iman yang paling benar akan bertahan, maka apa gunanya melarang iman yang dianggap salah? Negara tidak punya kepentingan untuk menjaga iman tertentu, betapapun dominannya. Kalau sekelompok orang merasa imannya terdesak oleh iman orang lain, jangan timpakan beban kesalahan kepada negara. Tanyakan kepada diri sendiri. [] 10/03/2011 | Klipping, | # Komentar

Komentar Masuk (132) (Tampil maks. 5 komentar terakhir, descending) Dasar manusia sesat… udah jelas salah ngak mau ngaku….............. Engkau salah satu orang yang merugi dan takafur di dunia…............ Posted by yudi on 08/04 at 05:18 PM mengapa anda memeluk islam kalau ragu akan kebenaranya.lebih baik anda diluar islam,agar kami enak memeranginya. Posted by blo'on on 04/23 at 11:22 PM Saya sependapat dgn artikel ini. Pemikiran yg jenius. Kekerasan gak boleh dilakukan dgn alasan apapun. Posted by wahyu dwiantoro on 04/13 at 05:56 PM termasuk dalam aqidah Islam yang sangat jelas adalah bahwa Nabi Muhammad SAW adalah Nabi dan Rosul pungkasan, ketika ada segolongan yang meyakini hal yang berlawanan dengan aqidah yang sudah jelas ini maka timbul gejolak di masyarakat, maka disitu peranan pemerintah diharapkan ada untuk menyelesaikan, ibarat sebuah hukum, maka ia bersifat hitam putih, pemerintah perlu mengambil sikap tegas agar tidak terjadi kekacauan lebih lanjut,walaupun keyakinan tidak bisa dihilangkan tetapi organisasi bisa dibubarkan oleh pemerintah dengan berlandaskan dengan hukum pula, hak asasi manusia tidak boleh melanggar hak asasi orang lain dan komunitas lain Posted by nasir on 04/12 at 09:28 AM Dlm masalah ahmadiyah ada soal 1.internal (urusan kaum muslim sndiri). Entah prbedaan faham teologi,sol pol,kmsyrakatan dll. 2.ekstrnal ( urusan kaum muslim dgn non muslim ). Dalam urusan kaum muslim, ada yg namanya etika n norma brnegara n brmasyarakat.Trlepas dari kajian teologis,isme n faham, apakah pndirian orgnisasi ahamadiyah sesuai dgn etika islam n norma islam dlm brnegara n brmasyarakat. Saya pribadi brpndapat, orang2 ahmadiyah n para pndukungnya bknlah orang yg bisa brsikap bijaksana. Posted by Saif Bahar on 04/11 at 11:08 AM kebenaran absolute tetap absolute, keyakinan memang kurang tepat apabila sebuah negara mengaturnya, yang penting sesama individu tidak saling menyakiti satu sama lain, mestinya saling menghargai, tepo seliro, menjaga moralitas yang bajik, toh tuhan menciptakan manusia dengan segala keperbedaanya untuk di hormati. kalau kita tidak bisa menghargai perbedaan, tentunya kita tidak menghargai keberadaan tuhan. jika lebih ekstrim, saya mengungkapkan: “kalau tuhan memang berkuasa atas segala-galanya, mengapa tuhan tidak menciptakan manusia dengan satu keyakinan, sehingga tidak timbul kebencian diantara hambanya?” #1. Dikirim oleh k4tam pada 10/03 08:58 PM KARENA AHMADIYAH ADALAH BUKAN ISLAM TAPI MENISTAKAN ISLAM YG SUCI DENGAN DOKTRIN SESATNYA INI BUKAN MASALAH HAM TAPI MASALAH AQIDAH DASAR JADI BAGI KAUM LIBERAL PAKE OTAK PEMBERIAN DARI ALLAH , MASA AGAMA ALLAH YG MENCIPTAKAN KALIAN DINISTAKAN KALIAN MALAH MENDUKUNG AHMADIYAH….???KAN LUCU ANDA HIDUP KRN ALLAH BUKAN AHMADIYAH….JADI YG BERHAK DIBELA YA ISLAM YG MULIA BUKAN AHMADIYAH… #2. Dikirim oleh anak bangsa pada 11/03 12:28 AM penodaan agama yg ada, kalau disebarluaskan tentu akan membuat keresahan. apa gunanya diijinkan organisasinya. yg mau merusak agama islaam sajalah yg senang adanya perusakan islaam dan pemeluk2nya. siapa yg mau ada keributan terus?

#3. Dikirim oleh mz arifin pada 11/03 06:30 AM saya sangat sedih dengan orang JIL…ga bisa2 apa udah banyak kritik…hehehe… hey orang2 JIL…berani ga ngomong terang2an bahwa perintah banyak korupsi..bisa ga bantas korupsi…bisa ga bikin hidup lebih hidup..bisa ga bikin umat kalo ber Haji murah…jgn ngomong agama lo..kalo kaga ngerti ga…bisa ga bikin peduduk indonesia makmur…sekali lagi jangan bicara agama kalo ga bisa..bubarin neh JIL…gw saranin seh lo harus pada banyak belajar lg..hehehe…salam dari pengikut Rasullah SAW.. #4. Dikirim oleh manusia pada 11/03 02:12 PM Saya menyayangkan sikap dan tindakan beberapa orang, lebih2 mereka beragama Islam yg dalam bersikap dan tindakannya tak mencerminkan “Akhlaqul Karimah” (innama bu’istu liutammima makarimal akhlaq). Padahal Akhlaq inilah sebenarnya karakteristik umat Islam sehingga berbeda dg umat lainnya. Ahmadiyah yg sekecil itu dibombardir tanpa perikemanusiaan, padahal mereka juga umat yg punya hati dan pikiran untuk bisa disadarkan dan dimungkinkan untuk diberi hidayah oleh Allah. Sesungguhnya apapun tindakan mereka yg tak setuju dg Ahmadiyah tak kan mampu memberi hidayah tanpa seijin Allah. Tetapi hanyalah kerusakan saja yg ada. Bukankah Nabi pernah ditegor Allah krn dirinya tak menerima atas paman yg selalu membelanya dalam perjuangan tapi tak bisa masuk Islam. Lebih2 mereka yg jelas2 sudah merusak kepada yg membela Islam meskipun ‘tak Islam’, apakah mereka merasa aman atas teguran dari Allah. Marilah kita kembali ke Akhlaq Rasulullah #5. Dikirim oleh Zainul Qudsi pada 12/03 08:13 AM Setahu saya, pendiri ahmadyah yaitu mirza ghulam ahmad mengaku dirinya nabi isa yg turun ke bumi pada akhir jaman (sesuai keyakinan umat muslim nabi isa akan turun lagi di akhir jaman). Tetapi sampai mirza meninggal, kiamat tidak terjadi. Jadi kenapa klaim mirza dan ahmadiyahnya masih dihiraukan di waktu kemudian, bahkan sampai sekarang. Saya mengira-ngira saja, mungkin pihak kolonialis menggunakan isu ahmadiyah untuk strategi ‘divide & conquer’ pada saat2 itu (abad 18/19) krn kaum muslim memberikan perlawanan dan sulit ditundukkan secara politik, walaupun secara ekonomi dan militer berhasil ditaklukan (terutama di kawasan Asia & Afrika). #6. Dikirim oleh Irwan pada 12/03 09:31 AM tulisan yang mencerahkan. logika yang runut (sistematis). kriminalisasi korban bukanlah kejadian pertama di negeri ini. pelaku bebas karena dipersepsikan sebagai korban. Anda mengembalikan jarum pada arah yang semestinya. terima kasih bung Saidiman #7. Dikirim oleh parwanto pada 12/03 11:33 AM SAKIT SEKALI AGAMA DINISTAKAN, SEHARUSNYA MEREKA SADAR, MEREKA BOLEH MEMBERI NAMA AGAMA BARU, TIDAK MENISTAKAN AGAMA LAIN, PEMERINTAH BERHAK MEMBUBARKAN ORGANISASI MEREKA, SAYA KIRA AHMADIAH SADAR, SEBELUM ADA YANG MEMFATWAKAN DARAH ORANG MURTAD ITU HALAL, WALLAHU ‘ALAM #8. Dikirim oleh marwan pada 12/03 02:38 PM astagfirulloohal adziim,.. demi alloh, demi rosululloh, demi islam saya sangat tidak setuju dengan pandangan saudara “Saidiman Ahmad”,.. yaa akhi, muslimin muslimaat jangan takut pada kritisi islam yang suci,.. alloh lah yang akan membantu kita,.. kita berjihad di jalan alloh, jangan nodai islam,.. #9. Dikirim oleh ilyas pada 12/03 03:05 PM saya bukan orang jil dan saya juga bukan pengikut ahmadiyah. tapi alhamdulillah, saya bisa memahami jalan pikiran orang yang berbeda dengan saya. seandainya orang-orang yang berseberangan dengan ahmadiyah dapat menyatakan bahwa hadits tentang bakal turunnya nabi isa dan imam mahdi adalah palsu, selesailah sudah. sebab klaim-klaim yang menyatakan bahwa seseorang sebagai nabi isa atau imam mahdi yang dijanjikan batal demi syar’i. #10. Dikirim oleh muhnan rais pada 12/03 04:42 PM saya sangat sependapat dengan artikel ini, sejatinya kita harus saling menghormati, tak bisa kita memaksakan orang untuk seagama dengan kita, toh belemtentu agama yang dianut kebanyakan orang yang pasti benar 100% bisa jadi orang- orang ahmadiah lah sang penghuni surga sejati. #11. Dikirim oleh hassan pada 12/03 08:44 PM

Saya salut dengan JIL, khususnya perpektif yang mewarnai kiprahnya. Ada sebuah tawaran nilai dan paradigma yang lebih terbuka dan menghargai manusia sebagai manusia, tanpa pengotak-kotakkan. Secara pribadi saya sendiri prihatin dengan berbagai hal yang menimpa Ahmadiyah. Mengapa perbedaan ditanggapi dengan cara kekerasan dan penurunan martabab kemanusiaan. Sebagai manusia yang hidup di era modern, ada jalan yang lebih untuk menyelesaikan sebuah perbedaan pendapat. Bukankah jalur dialog bisa diusahakan untuk saling membangun pengertian, pemahaman, dan cara pandang? E. Levinas, seorang filsuf keturunan Yahudi dengan latar belakang hidup zaman nazi, memiliki pandangan bahwa manusia adalah “yang lain”. Artinya, setiap pribadi manusia tidak dapat disamaratakan secara semena-mena dengan penghakiman pandangan pihak tertentu. Manusia yang beradab adalah manusia yang mampu menerima perbedaan, berusaha menjalin percakapan yang membangun, dan menghargai manusia sebagai manusia. Lantas, apakah jalan terbaik untuk sebuah kelompok bernama Ahmadiyah? Kekerasankah atau sebuah dialog dalam nuansa yang lebih baik, meski harus duduk berlama-lama saling berpendapat. #12. Dikirim oleh pietdolle pada 12/03 08:47 PM saya suka ngeri lihat komen nya si mayoritas yg mengaku paling benar paling suci dan seolah menjadi representasi kepanjangtangan tuhan dan nabinya,,, sebenarnaya semangat membela agama dengan hawa nafsu ini ataukah ada yang salah dengan agama-agama samawi ini??? #13. Dikirim oleh hady amartha siwi pada 12/03 10:37 PM Akar kekerasan terhadap Ahdiyah atau keyakinan lain adalah kekuasaan yang disamarkan melalui agama disertai dengan kebodohan umat yang tidak mau belajar dan mengembangkan nalarnya. Pemimpin agama takut kehilangan status sosial. Pimpinan daerah takut kehilangan perhatian dengan mencari simpati umat. Di Jatim, tempat lahir dan hidupnya bermacam macam aliran, mazhab dan kelompok agama selama ini aman aman saja, keresahan justru muncul karena ulah pemerintah yang tidak bisa melindungi warganya dari kekerasan. Karena selama ini memang pemerintah gagal diberbagai hal seperti menjamin rasa aman, kemiskinan dll.Solusinya tingkatkan pendidikan masyarkat dan ekonomi umat.Untuk JIL teruskan perjuangan, jangan takut. Hanya Allah patut untuk ditakuti. #14. Dikirim oleh abujasmine pada 13/03 02:10 PM hehehe,saya kurng setuju dgn ulasan yg ada dan juga tdk stju dgn comntr teman2,,,,,klau kita berfkir lebh kritis mka kita bsa menykapi hal yg ada dgn santai bkan mlh adu argumen tanpa ujung gt lho,,,,,,, #15. Dikirim oleh haydar pada 13/03 04:00 PM di zamannya orang yg telah membunuh khalifah Umar ibn Khotob merasa telah jihad fi sabilillah, begitu pula kelompok yang telah membunuh Utsman ibn Afan, Ali ibn Abi Thalib, Husain (cucu Rasulullah) mereka merasa telah melakukan jihad fi sabilillah karena telah berhasil membunuh/membinasakan orang yang dianggap telah menistakan agama. di zamannya pula imam Ahmad ibn Hambal dikafirkan dan diracun begitu pula dg imam Syafii dinyatakan kafir di jamannya oleh mayoritas pada masa itu. di Indonesia Syeh siti Jenar dikafirkan oleh mayoritas dan dibunuh. itu semua terjadi masa lalu dan kini kita mengagumi dan mengelu-elukan pemikiran dan kiprahnya. akankah hal ini pula yg terjadi pada Ahmadiyah di kemudian hari ? wallahu ‘alam bisawab. lakukanlah yg kita yakini dg baik, Nabi kita melarang mengkafirkan siapapun yg mengaku Muslim. dan untuk komunitas Ahmadiyah sebaiknya introsfeksi pula mengapa selama ini theologi dan aktivitas Anda menjadi bulan-bulanan. salam perdamaian #16. Dikirim oleh Muslim Toleran pada 13/03 10:16 PM Mari kita perbandingkan dgn klompok2 Islam garis keras Brotherhood Amerika. http://www.youtube.com/watch?v=saSuhbybyok&feature=related http://www.youtube.com/watch?v=E1Dxi5-H9nE&feature=related #17. Dikirim oleh alatif pada 14/03 02:28 AM Pak Saidiman/redaksi islib, bagaimana bila bendera Indonesia, merah putih, saya ganti bendera bajak laut yg bergambar tengkorak dan berwarna hitam? dan disaat yang sama saya masih ingin diakui sbg WNI? Atau bagaimana bila saya tambahkan lambang negara garuda dg kepala monyet?? sementara saya tetap ingin memiliki KTP Indonesia dan paspor Indonesia dg gambar kepala monyet di sampulnya?? Bolehkah sikap saya tersebut? Mohon dijawab pertayaan saya diatas. Terimakasih #18. Dikirim oleh Prasetyo pada 14/03 03:36 AM

jika ijma ulama berani menyatakan bahwa hadits2 yang berkenaan dengan akan turunnya nabi isa as dan imam mahdi adalah palsu maka semua kericuhan bakal beres. setiap orang yang mengklaim dirinya sebagai nabi isa dan atau imam mahdi batal demi syar’i. gitu aja kok repot. #19. Dikirim oleh roni pada 14/03 10:08 AM Kebebasan untuk beribadah dan berdakwah untuk komunitas sendiri sangat kita hargai. Tetapi menjadi meresahkan dan berakhir dengan pelarangan apabila melakukannya diluar itu. Saya sangat prihatin dengan pernyataan (pembacaan)yang agak parsial terhadap keadaaan yang terjadi dari Pak Saidiman.Bukankah kita tahu bersama bahwa “komunitas” tersebut telah melakukan dakwah diluar mereka dan menyebabkan keresahan kepada mereka yang telah mempunyai keyakinan sendiri. Jadi kita harus jujur dulu kepada diri sendiri baru kemudian menjadi orang yang tercerahkan untuk menjadi Muslim yang “Liberal” Allah dan Nabi tidak pernah memerintahkan membunuh dan merusak kecuali dalam keadaan betul/benar perang fisik. Sebagai tauladan ia mengajarkan cara yang baik dan tidak pernah memaksakan kehendak. Ini yang membuat Islam besar dihormati bukan ditakuti. Kemudian ada beberapa “pemimpin Islam” yang menggunakan kekerasan , pasti itu bukan perintah Rosullulah. Bahkan ketika Nabi dilempar batu dia mendoakan, si pelempar. Kenapa kita tidak pernah belajar dari nilai yang ditanamkan Allah pada Rosullulah, tetapi malah suka membakar amarah dan hawa nafsu? itu karena sebagaian umat Islam tidak mau belajar mendengar dan merenung kebesaran Allah dan sunah Rosul.Semoga Allah mengampuni tindakan para menganiaya dan pembunuh anggota Ahmadiyah dan memberi ke petunjuk yang lurus. #21. Dikirim oleh abu jasmine pada 14/03 08:47 PM kekerasan thd ahmadiyah harus dilihat juga dari pelbagai sudut, seperti: politik, pertahanan dan keamanan. konflik horizontal hrs dihindari. kl sy jadi kapolda or pangdam, sy akan minta gubernur utk melarang aktivitas ahmadiyah—bkn keyakinannya. soalnya jk ada konflik horizontal, jelas posisi sy akan terancam. sdg utk kasus HKBP, perlu dijawab pertanyaan ini: “mengapa hanya kasus HKBP di wilayah tersebut yg berkonflik, sedang tempat lain tdk?” temukan dan analisis causa, jgn langsung menghakimi effect. bernalar dgn benar memang harus dilatih… #22. Dikirim oleh rizky pada 15/03 10:02 AM aww…saya terus trg anti ahmadiyah,ttp saya jg anti kekerasan, saya malah curiga kekerasan itu di setting mmg utk menampakkan Ahmadiyah sbg minoritas tertindas.Bersyukurlah saudara2 yg sdh mendapat hidayah Islam, iman dan ihsan yg sesuai dgn aqidah salafus sholeh. Utk teman ahmadiyah segerah sadar bahwa aqidah saudara sdh melenceng, Mirza sendiri meninggalnya juga akibat Mubahalah (perang do’a….kata ahmadiyah) yg selama ini jadi senjata orang ahmadiyah…dia mati terkena karena kolera beberapa hari setelah mubahalah. Bahkan lamaranya kepada seorang jamaahnya pun jg ditolak. Dia terbiasa hidup mewah dgn uang upeti yg dikirim dari jama’ahnya secara rutin. Kasus terbaru Pemimpin ahmadiyah pusat tdk berani menemui Ahmad Hariadi (ustad ahmadiyah yg sdh bertobat)....kaset CDnya banyak beredar . Jadi keyakinan apalagi yg saudara pertahankan. #23. Dikirim oleh than must pada 15/03 11:10 AM anda bilang “keyakinan yang bukan arus utama”? Dua kalimah syahadat anda bilang “keyakinan yang bukan arus utama”? otak anda dmn? jk itu bkn arus utama, lalu apa itu Islam mnurut anda, ber’Tuhan berhala? apa anda jg trmasuk pnghina Islam? anda mngambil logika “mencuri” dikaitkan dgn keyakinan, skali lg otak anda dmn? salat, berdoa, berdakwah, erat hubungannya dgn keyakinan, apa anda pikir mencuri, membunuh jg krn keyakinan? mohon penjelasannya jk memang anda org pintar yg bs mncerahkan pikirn sy yg bodoh. #24. Dikirim oleh IwingMusic pada 15/03 06:06 PM Semoga ALLAH SWT memberikan kebaikkan kepada kita semua. Semoga kita menjadi ummat kebanggaan rasulullah Muhammad SAW. #25. Dikirim oleh Banjir Iqbal pada 15/03 07:27 PM Luar biasa analisa penulis ini, sungguh pintar tapi picik. Keyakinan itu ada dasarnya bro, bukan karena menurut ‘aku’ benar. Masalah penafsiran? Anda aja pingin faham liberal itu diterima kok. Kalau dikatakan mainstream ingin diterima ya itu sangat wajar. #26. Dikirim oleh Arief pada 15/03 07:47 PM Saya sangat setuju jika kebebasan harus tetap bertumbuh didalam menafsirkan segala bentuk keyakinan masing masing pemeluknya . yang sudah jelas jika kita mati bukan penafsiran atau keyakinan yang ditanya , melainkan pertobatan,pengamalan dan banyak kebajikan serta hubungan dengan doa2 kita kepada sang pencipta khalik . itu yang ditanya. terimakasih semoga indonesia tetap maju dan damai dalam keragaman beragama. bravo untuk JIL #27. Dikirim oleh abu mutolik pada 15/03 08:34 PM klw ga ngerti permasalahan jgn asal ngomong….......kamu orang smua bodoh tapi sok pinter dlm agama…..km kasih perumpamaan dgn mencuri membunuh dll…substansinya beda brow…..gua cuma bisa ketawa baca artikel anda…..betapa bodohnya ini orang…wkwkwkwkwkwkwkwkwkwkwkwkwkwkwkwkwkwkwkwkwkwkwkwkwkwkwkwkwkwkwk….....lu pantes ngobrolnya sama pantat monyet…..mungkin lebih pintar monyet dibanding kamu…........ #28. Dikirim oleh pndekar pembela kebenaran pada 15/03 09:02 PM

Rasa ‘malu’ itu ada karena diajarkan sejak kecil. Tanpa itu doktrin ‘malu’ kita semua akan bertelanjang. Dan jika kita semua bertelanjang, maka yang menggunakan baju adalah yg perlu merasa malu. Orang cina tidak mengenal ‘dosa’ karena memang tidak diajarkan di negaranya. Komunis adalah buruk krn itu yg kita dengar saat kita dibangku sekolah (Tp jgn salah, saat itu semua yg berbau orde baru adalah agung. Salah satu kekuatan doktrin masa itu). Sehingga cukup miris mendengar seorang anak kecil Irak yg kebingungan apakah saat besar nanti harus membunuh sahabatnya yg non-muslim, krn itu yg diajarkan di sekolahnya (BBC). Selama ini pula kita mendengar kata Tuhan, Allah, Surga, Neraka, dosa, dan telah merasuk dan bahkan meracuni sebagian dari kita. Sebagian merasa membela ‘kata2’ itu adalah perbuatan yang mulia dengan imbalan surga. Sedemikian hebatnya sampai mampu melepas nyawa diri dan orang lain untuk kemuliaan itu. Orang Jepang dulu pun hobi ber-harakiri. Melepas doktrin adalah sesulit kita melepas rasa ‘malu’ yg saat ini rasanya tak mungkin. Apakah itu berarti Tuhan dan Allah hanya isapan jempol? Menurut ribuan orang yg pernah mati suri (yg diwawancara untuk salah satu penelitian), banyak yg merasa melihat kehidupan setelah kematian dan bertemu Tuhan. Namun tak terdengar satupun pertanyaan dari Tuhan atau malaikat yg menanyakan ttng agama. Tp perbuatan baik apa yg telah anda lakukan selama hidup? Itu yg ternyata lbh penting. Ah, jangan2 ini hanya kebohongan science yg tidak kompatibel dengan ajaran agama manapun. Tp ingat, galileo pun dulu dihujat oleh pemuka2 agama atas gagasannya mengenai bumi yang bundar. Ingat 1+1=2 adalah kesepakatan, dan bukan kebenaran mutlak. Sesuatu yg juga didoktrinkan ke kita. Tp perbuatan baik adalah sesuatu yg nyata, bahkan pada orang2 yg anda percaya sebagai MUSUH agama anda. #29. Dikirim oleh v.raymontt pada 15/03 09:45 PM Coba kita berpikir simple saja, Allah itu muaha besar dan sanggup melakukan apa saja - Kita semua tau Dialah yang menciptakan bumi dan segala isinya, kita manusia cuma debu di alam semesta ciptaan Nya. Sekali dihembuskan oleh sang Pencipta kita hilang ditelan bumi. Dan Allah yang maha dahsyat dan besarnya, apakah ya jika Allah di satu tempat muaha tinggi langsung menghembuskan dan mencabut nyawa2 orang yang tidak sepaham dengan NYA? apakah ya Dia langsung mencabut para jamaah yang di cikeusik dengan seketika, yang dianggap sesat….apakah Allah mampu, o ya tentu sangat sangat mampu, jika Dia mau. Sayangnya jawabannya tangan manusialah yang buru2 membunuh. Mulut manusia lah yang buru2 menghakimi dan bahkan menentukan siapa harus masuk neraka siapa masuk surga….sekali lagi apakah kita sedemikian punya otoritas seperti itu? sedangkan Allah saja tidak serta merta menghakimi dan mencabut nyawa orang2 yang dianggap mayoritas sesat. Allah sang penyayang pastilah memberi kesempatan pada manusia. Pertanyaannya apakah Allah perlu kita bela? dan kita wakili untuk mencabut nyawa seseorang ? dan saat melakukan caican makian dan sumpah serapah serta menyiksa kelompok lain… siapakah yang disenangkan, ya apa betul Allah akan gembira ? tentu tidak, jika mau Ia sangat - sangat mampu mencabut dan menghempaskan mereka….atau semata hanya emosi dan amarah kita yang terpuaskan? Seberapa ngotot kita mengenai ajaran kita, sampai sikut kanan kiri tidak menentukan kedewasaan dan seseorang dalam beragama, apalagi tingkat kesucian. Namun seberapa ajaran itu tertanam di hati yang adem dan otak yang rasional, sehingga ajaran agamanya sampai bisa dirasakan keademannya oleh orang lain…itu yang namanya dewasa dan suci, tanpa ia harus memakai atribut agama dan baju agamawi apapun kemana2. Bersyukur masih ada yang adem dan semoga bertambah banyak untuk menetralkan panas dalam - nya bangsa ini. #30. Dikirim oleh Roby Irawan pada 15/03 10:03 PM Ahmadiyah dilarang bukan karena minoritas dan bukan karena perbedan tapi karena kesesatannya.jadi anda jangan asal menuduh.jika anda katakan karena perbedaan dilarang sungguh tidak berdasar. #31. Dikirim oleh Erwin pada 15/03 10:23 PM Di zaman Rasulullah dan sahabat nabi pun sudah ada kelompok minoritas seperti ahmadiyyah dan jg JIL ini,sehingga buat saya ini tdk mengherankan lagi,kaum mu’tazilah atau jabariah contohnya, khusus buat JIL yg berkehidupan agamanya terlalu mendewa2kan akal manusia yg terbatas. sehingga lama2 kelamaan agama menjadi kemasan yg simple dan praktis mengikuti zaman yg moderen..akhirnya ALLAH sang penciptapun kehilangan kewibawaannya di mata sorang kaum berorientasi kyk JIL ini. wallahualam #32. Dikirim oleh isya anshory harmaj pada 15/03 10:40 PM Di zaman Rasulullah dan para sahabat nabi pun sudah ada kelompok minoritas seperti ahmadiyyah dan jg JIL ini,sehingga buat saya ini tdk mengherankan lagi,kaum mu’tazilah atau jabariah contohnya, khusus buat JIL yg berkehidupan agamanya terlalu mendewa2kan akal manusia yg terbatas. sehingga lama2 kelamaan agama menjadi kemasan yg simple dan praktis mengikuti zaman yg moderen..akhirnya ALLAH sang penciptapun kehilangan kewibawaannya di mata sorang kaum berorientasi kyk JIL ini. wallahualam #33. Dikirim oleh isya anshory harmaj pada 15/03 10:47 PM ketika seorang wanita diperkosa, pemerkosa yang ditangkap polisi menjawab ” salahnya wanita itu kenapa pakai rok pendek sehingga merangsang nasfu birahiku?” ya kuperkosalah dia. padahal wanita itu hakulyakin akan aman keluar dengan rok pendek. itulah yang terjadi di negara ini, logika berpikir masih rendah, hanya nafsu yang mencuat walaupun mengaku beragama. menjadi beragama belum cukup membuat menjadi manusia utuh. jalan masih panjang, agamawan sejati akan membawa umatnya menjadi beradab bukan biadab seperti hewan pemangsa. #34. Dikirim oleh tokomulyono pada 15/03 11:47 PM @prasetyo kl ktp sy diganti monyet ya nggak mau, tp kl ktp anda mau diganti ya monggo ... Analoginya agak aneh :D #35. Dikirim oleh Rdft pada 15/03 11:48 PM

Segala puji bagi Allah, Tuhan segala agama. Seorang saleh pernah berkata, “jalan kita berbeda-beda, sementara kecantikan dan keagungan-Mu itu satu. Semua jalan menuju pada-Mu.” Segala puji bagi Allah, Tuhan segala jalan. #36. Dikirim oleh harwan pada 15/03 11:52 PM TAWON TERMASUK HEWAN YANG BERBAHAYA TAPI BILA TIDAK MENGUSIK MEREKA, MAKA MEREKA AKAN RILEK & SANTAI AJA. NAMUN BILA MEREKA ITU DIGANGGU MAKA TUNGGULAH KEMARAHANNYA. IYA MEMANG KAN ? SEBAB RASA2NYA KG’ ADA DIDUNIA INI YG TDK BERPERI LAKU DEMIKIAN, APALAGI KITA INI ADALAH MANUSIA #37. Dikirim oleh AHUD AWJ pada 16/03 12:37 AM JIL sebetulnya kelompok orang dengan pemikiran Yahudi tapi berbungkus Islam.. simak saja baik-baik.. pemikiran mereka hanya memutarbalikkan akidah Islam untuk membuat orang tidak menjadi muslim yang kaffah.. cara Yahudi mereka ini sangat terbaca.. bodoh saja mengikuti pemikiran para yahudi berbulu domba ini. #38. Dikirim oleh VHS pada 16/03 06:29 AM Masalah Ahmadiyah dan JIL adalah sama2 masalah perut. Knp demikian? Krn dua2nya sama2 dapet makan dari Barat, shg mrk mati2an saling membela sebab bila ahmadiyah bubar, bukan tidak mungkin JIL selanjutnya yg dibubarkan. Jadi ibarat satu bangunan, maka jika salah satu tiangnya runtuh maka yg lain ikut runtuh, begitu juga analoginya dgn aliran2 sesat, shg tidak mengherankan kalo mrk saling dukungmendukung. JIL dan Ahmadiyah ini kalo ga gini ga bakalan dapet duit dari Barat, kalo ga dapet duit ya makannya dari mana??? hehehehe…. Kasihan ya…., org yg cari makan dgn mengorbankan agamanya :( #39. Dikirim oleh Ogut pada 16/03 06:53 AM Assalamu’alaikum… Pertama yang harus disadari adalah bahwa Indonesia bukan negara agama, didirikan oleh para pendahulu yang Bhinneka Tunggal Ika. Bentuknya negara Hukum dalam bingkai Filsafat Pancasila. UUD’45 yang disepakati bersama sebagai konstitusi sangat jelas menyatakan bahwa negara melindungi dan membebaskan warga negara dalam memeluk agama dan menjalankannya sesuai dengan kepercayaan masing-masing dst….. kamus apalagi yang dapat membenarkan tindakan melarang seseorang untuk menjalankan agamanya…. Pada hakikatnya mereka yang melarang beribadah, melakukan pengrusakan, intimidasi, pembunuhan dan jenis kegiatan lain yang membuat sesorang atau kelompok tertentu menjadi tertekan itulah yang sedang merusak konstitusi. Kewajiban negara melindungi segenap… sekali lagi seluruh warga negara Indonesia. Sikap tegas terhadap para pelaku inilah yang sekarang sedang ditunggu oleh masyarakat banyak… bukan pembiaran dan bahkan terlibat dalam melanggar konstitusi. Marilah kita saling berpelukan dalam menyelesaikan masalah ini, bukan saling mencurigai dan menyerang…. Tuhan memberikan kita banyak cinta dalam diri kita.

pantaskah seorang manusia, yang bukan nabi, dan juga tidak luput dari dosa mengkafir-kafirkan seorang yang mengaku Muslim…........ ancaman Islam buka berasal dari luar, tapi dari dalam sendiri…..........Indonesia berdasarkan pada Pancasila dan UUd ‘45, itu tidak diragukan lagi,,,,,,,taat kepada pemerintah (selama itu tidak merugikan pihak manapun) adalah wajib…......pansila sila ke 2 jelas menyatakan kemanusiaan yang adil dan beradab,,,,,,,,,,,,salah satu komentar di atas telah menyebutkan siapa itu manusia yang beradab…....... indonesia juga telah memilih jalan demokrasi,,,,,,,,,,mengutip pendapat gus Dur: “jika kita bangsa Indonesia telah memilih demokrasi, maka implikasinya adalah tidak ada lagi diskriminasi”, tapi kenyataannya, kelompok yang mengatakan dirinya sedang membela agama Islam justru telah menodai semangat demokrasi bangsa ini,,,,,,,,,,,apakah islam selemah itu sampai-sampai harus dibela dengan mengangkat senjata…...? apakah hati nurani orang Islam telah tercerabut, sehingga tak menghiraukan lagi substansi dari Islam itu sendiri,,,,apakah akal orang Islam saat ini telah digadaikan, sehingga akal bukan lagi menjadi identitas utama seorang manusia yang beradab…...............saya bukan orang yang paling benar,,,,,,,karena ada pepatah yang mengatakan,,,,,,“tidak ada satupun manusia (setelah wafatnya nabi Muhammad) yang bisa mengatakan dirinya paling benar”,,,,,,,,dan praktis, hal tersebut juga berlaku “tidak ada satu Muslim pun yang berhak mengatakan dirinya yang paling islami, dan mengetakan Islam orang itu adalah islam sesat”..................wallaahu a’lamu #41. Dikirim oleh zacky pada 16/03 10:32 AM KALO INGIN KEKERASAN SELALU ADA, PELIHARA SAJA AHMADIYAH…! INDONESIA BUKAN NEGARA ISLAM TAPI JUGA BUKAN NEGARA SETAN…!! #42. Dikirim oleh Roiko_Masako 500 perak pada 16/03 10:32 AM subhanallah.. mari gunakan mata, fikiran, dan hati kita untuk beribadah kepada Allah.. antum (JIL dkk) orang-orang berilmu tapi tidak menempatkan ilmunya untuk menegakkan agama Allah. Silahkan tegakkan logika anda sepuas-puasnya…! Iqra bismirobbika… #43. Dikirim oleh dai pada 16/03 10:42 AM

subhanallah.. mari gunakan mata, fikiran, dan hati kita untuk beribadah kepada Allah.. antum (JIL dkk) orang-orang berilmu tapi tidak menempatkan ilmunya untuk menegakkan agama Allah. Silahkan tegakkan logika anda sepuas-puasnya…! Kita lihat saja nanti! Iqra bismirobbika… #44. Dikirim oleh dai pada 16/03 10:45 AM Hanya tertawa yang aku bisa, selalu menyatakan diri kasih tapi semu, selalu menyatakan damai namun suka kekerasan, menyatakan adil tapi suka mengadili sendiri. Jangan pernah kamu membela Tuhan-mu, apakah kamu sudah kuat untuk membela Dia ??? kalo sudah kuat berarti Dia lebih lemah dari kamu, padahal kamu selalu datang meminta tolong pada-Nya. Jangan memaksakan apa yang kamu anggap benar dihadapanmu kepada orang lain karena perbedaan cara pikir itu salah satu kelebihan kita dari binatang. Doakan mereka yang diluarmu bukan menghancurkan mereka mengatasnamakan agama, karena kamu sendiri berarti melecehkan agama itu sendiri, tapi gak tau kalo memang agama itu mengajarkan hal tersebut. karena setau aku agama itu berarti Tidak Kacau Balau, bila kacau apakah bisa dianggap agama ? #45. Dikirim oleh Manusia Khilaf pada 16/03 10:52 AM kalo mau jadi islam ya jadi aja orang islam, esensi islam adalah Tuhan Allah itu ESA!dan takutlah kepada Allah! cintalah kepada Allah! dah itu aja titik! menyikapi doktrin lain2 yang bersifat dogmatis otak yang harus berperan, kalau anda benar2 ingin membela kebenaran islam. keimanan itu hanya untuk hal yg bersifat transenden, seperti masalah keTuhanan! diluar masalah keilahian, anda sudah dibekali OTAK dan nurani yang seharusnya bisa membedakan suatu doktin itu benar atau salah! #46. Dikirim oleh nurul murtad karepmuwez pada 16/03 10:52 AM Sebagai warganegara Republik Indonesia, saya sudah persimis bahwa kekerasan terhadap minoritas di negeri ini bisa dicegah, karena tidak akan ada yang mau mencegahnya. Para pengamat dan tokoh agama yang peduli terhadap keberagaman, tidak punya alat untuk mencegahnya. Yang bisa mereka lakukan adalah mengimbau kepada negara, dalam hal ini kepada aparat keamanan untuk melakukan perlindungan terhadap kaum minoritas. Apa yang terjadi sekarang? Justru aparat keamanan lah yang melakukan tindakan anarkis kepada kaum minoritas. Contoh yang terang benderang adalah KASUS GEREJA GKI di Perumahan Taman Yasmin, Kota Bogor. Walikota Bogor mencabut IMB yang telah dikeluarkan oleh Walikota sebelumnya. Kemudian digugat oleh GKI Taman Yasmin. Walikota Bogor kalah dan sampai PK juga kalah. Apa yang terjadi kemudian? Walikota Bogor memerintahkan kepada Satpol PP untuk menyegel Gedung Gereja yang disengketakan. Bahkan Polisi sekarang juga ikut-2 an menyegel. Hukum sudah tidak berlaku lagi di negeri kita ini. Apa yang masih diharapkan. Kasus ini sudah melalui jalur yang benar dan sesuai dengan negara kita yaitu NEGARA HUKUM. Tetapi ketika pengadilan sudah memutuskan, keputusannya dilecehkan begitu saja oleh Walikota dan aparatnya serta KEPOLISIAN. Celakanya lagi, Presiden hanya diam seribu bahasa, padahal Kepolisian dibawah Presiden. Mungkin sudah saatnya untuk dipikirkan solusi paling akhir, yaitu NEGARA INI DPECAH MENJADI DUA, yaitu untuk yang beragama Islam dan untuk yang beragama lain. Solusi ini harus dipikirkan untuk dilakukan karena sudah tidak ada lagi solusi yang lain. Mumpung belum terjadi konflik horisontal yang lebih parah dari yang terjadi Di MALUKU. #47. Dikirim oleh Putra Pertiwi pada 16/03 11:43 AM bung saidiman, anda tentu percaya dengan doktrin yang tetap dan yang berubah di dalam agama; alias yang tsawabit dan yang mutahawwil/mutaghayirat. kalau masih ragu, baca tulisan mas ulil tentang hal ini. anda juga jangan pura2 tidak tahu; bukankah keyakinan ahmadiyyah itu sudah bermain-main dalam level yang tsawabit; dan bukankah dengan memporak-porandakan yang tsawabit itu sama saja mengacak-acak agama? bacalah kembali tulisan anda, apakah yang anda tulis itu sudah sesuai dengan hati nurani anda, wahai bung saidiman yang baik salam dari pelosok desa, abu khansa #48. Dikirim oleh abu khansa pada 16/03 11:56 AM Assalammualaikum, wrb. kita mungkin tdk mau klo rumah kita di nodai oleh anak kita,pst kita memarahi anak kita, bahkan mungkin akan ada sebagian orang tua yang akan pakain kekerasan, apakah kita akan membiarkan aqidah umat islam pada umumnya, dihasut oleh sebagian umat yang mengaku islam,wahai jemaat ahmadyah kalian adalah saudara kami, insaflah dari kekeliruan selama ini,Allah senantiasa mengapuni hambanya. #49. Dikirim oleh misbah pada 16/03 12:38 PM anti kekerasan harus gan… Islam adalah agama yg selamat..ga da paksaan didalamnya…tul gaK??? Firman Alloh lho ntu gan.. Tpi ya kalo ada yg sesat n lagi bingung ma akidahnya ya jangan dibela n dianggap bener donk,gimana se..mending ikut sadarin mereka (pengikut ahmadiyah) ntu bahwa mereka melenceng dari akidah Islam..sekalian dakwah gan..trmasuk ibadah jg..bukannya itu tujuan hidup manusia gan??(QS. Adz-Dzariyat ayat 56 dan QS. Al-Bayyinah ayat 5) gimana seh JIL ini???kebalik-bolak… #50. Dikirim oleh aanzuhdi pada 16/03 12:49 PM

Saya tetap meyakini hanya orang-orang yang baik (apapun agama dan keyakinannya) yang dapat bertahan dan membuat dunia dan akhirat menjadi tempat yang menyenangkan untuk di huni. #51. Dikirim oleh seruni pada 16/03 01:13 PM setelah cukup lama membaca artikel di web JIL, saya melihat JIL banyak mengkritisi tindakan atau pendapat umat Islam ? mengapa jarang mengkritisi tindakan atau kebijakan suatu negara atau pemerintah yang merugikan umat Islam ? bahkan tidak sedikit yang fobia pada Islam .ada apa ya ??? apa ada udang di balik bakwan he..he…he… #52. Dikirim oleh Mulyadi pada 16/03 01:29 PM Namanya Bukan JIL kalau gak jadi Provokator #53. Dikirim oleh bondan pada 16/03 03:49 PM nalar yang anda pakai untuk menganalisa justru terkesan payah dan ambburadul bung…. #54. Dikirim oleh Husaini pada 16/03 04:27 PM nalar yang anda pakai untuk mengkritik itu justeu amat payah dan amburadul bung…. #55. Dikirim oleh Husaini pada 16/03 04:43 PM sodara2 santai saja lah. ngapain ahmadiyah diributin? buat yang merasa ilmu agamanya lebih, tolong lah muncul di TV, ajak pemuka ahmadiyah berdiskusi, adakan sosialisasi tentang kekekeliruan dan ke-anehan ajaran ahmadiyah. kalau soal kekerasan, belum tentu itu bukan rekayasa kan? buat kalian yang JIL, apa nggak ada kerjaan laen untuk dikerjakan dan dipikirkan? atau memang otak kalian nggak sanggup mikirin yang lain, makanya mikirin agama terus jadi pingin yah… modif lah dikit biar tambah bagus gitu? kami paham kok latar belakang kalian yang seperti bos kalian oom ulil anak IAIN, LIPIA dan sejenisnya, yang tidak lulus UMPTN dan malas mikir yang rumit2 dan menggantungkan rezeki dari agama. jadi tolong banyak2 berpikir sebelum menulis. oke… #56. Dikirim oleh Teguh pada 16/03 04:43 PM Yg seharusnya dilarang oleh pemerintah mmg bukan keyakinan tapi PENODAAN AGAMA. Islam adalah islam, jgnlah kreatif dgn menciptakan nabi baru. Ciptakanlah agama baru selain islam jika ingin mempunyai nabi baru. #57. Dikirim oleh adi pada 16/03 06:47 PM Membaca komentar2 di atas, terutama yang anti Ahmadiyah, saya baru mengerti mengapa Dunia Islam itu tidak maju, dan bahkan terbelakang. Ternyata kncinya di pikiran. Pikiran yang tidak maju dan tidak terbuka. Kalau Arab Saudi dianggap sebagai negara ddengan keyakinan agama yang paling benar, harusnya sudah jadi negara yang sempurna. Buktinya ? #58. Dikirim oleh Yutas pada 16/03 07:09 PM Kenapa Harus membuat masyarakat resah dengan opini-opini anda, anda sendiri tahu kesesatan ahmadiah tapi anda melindunginya demi dollar dan sengaja meberikan komentar beda dengan ummat Islam sejati . saya memang masih awam dengan agama Islam tetapi saya prihatin dengan pendapat anda , tampak sekali senang ketika melihat Islam lecehkan #59. Dikirim oleh shaldin pada 16/03 07:26 PM assalamu’alaikum wr. wb saya koq nggak maksud inti dari masalahnya ya…. .dalam islah sudah jelas disebutkan nabi terakhir adalaH Muhammad SAW… tapi koq ahmadiyah yang sudah jelas2 sesat masih dibela…. okelah jika kita memang menghendaki tidak adanya kekerasan,,, tapi toh jika nasehat di anggap angin lalu, perintah dilanggar, ya pemerintah berhak membekukan…. dari pada menimbulkan kecemasan di masyarakat… trus satu lagi jika ahmadiyah mengatakan hak asasi manusia sebagai landasannya… tolonglah jangan mengatas namakan islam ,sungguh itu perbuatan yang salah….karena bisa mempengaruhi banyak orang yang mungkin pengetahuannya kurang terjerumus ke dalam lubang kesesatan….. ..saya jadi ingat cerita waktu pengajian sesungguhnya islam rusak oleh umat islam sendiri…. .gimana nggak rusak syariah2 islam yang sudah jelas peraturannya dibolak, balik , apalagi sekarang ada yang nyebutin semua agama sama saja karena Tuhan yang di sembah hanya 1…. padahal sudah jelas islam memiliki Tuhan Yng Maha Esa yaitu Allah SWT, umat kristen menyembah Isa Al masih, Dan agama lain lain pula,,,, ,,dan dalam keyakinan masing2 orang jg sudah berbeda…. ,dan saya juga pernah baca Tentang dalil yang menyebutkan bahwa Allah SWT tidak mau disamakan dengan Isa putra maryam, jd sudah jelas anggapan seperti itu (pluralisme) sangat bertentangan…..

assalamu’alaikum wr.wb Kapan orang2 jil bisa toubat, mudah2an pemikiran2 yang menyesatkan tidak terbawa sampai mati #61. Dikirim oleh Eko eko pada 16/03 10:10 PM Saidiman Ahmad, mau jadi aktivis, tpi koq pemikirannya dengkul bener mas, anak TK juga tau gak akan pernah ada penjara spiritual, inilah orang yang menjual harkat dan martabat bangsa, inilah pribadi musang berbulu domba #62. Dikirim oleh andrian panca sakti pada 16/03 11:09 PM saya lagi cari tau tentang JIL sejak kasus pengeboman. saya malas baca artikel diatas. saya cuma ingin tau JIL ini pro ahmadiyah atau kontra ahmadiyah? setuju nggak kalo ahmadiyah dibubarkan karena sudah melenceng dari Islam. mana ada nabi ke 26. kalo JIL mendukung eksistensi ahmadiyah, maka saya tidak memihak JIL dan saya bersyukur ada yg berusaha membom si ulil. solusinya ahmadiyah harus melepaskan atribut islam karna islam tidak mengakui ajaran ahmadiyah, jika tidak maka ahmadiyah harus bubar. harga mati. ahmadiyah nggak perlu bersembunyi dibalik isu HAM. pelaku penistaan agama haruslah ditumpas! #63. Dikirim oleh wenger pada 17/03 12:43 AM jika ijma ulama berani menyatakan bahwa hadits2 yang berkenaan dengan akan turunnya nabi isa as dan imam mahdi adalah palsu maka semua kericuhan bakal beres. setiap orang yang mengklaim dirinya sebagai nabi isa dan atau imam mahdi batal demi syar’i. gitu aja kok repot. #19. Dikirim oleh roni pada 14/03 10:08 AM Inilah antek JIL, mana mungkin ulama bearani memalsukan hadis yang sahih. Paling yg melakukan hal tersebut orang yg berfaham liberalisme/fluralisme/theosofi yg tak lain antek zionisme.Jangankan (contoh) hanya mengganti Asalamu’alaikum dengan selamat pagi atau menghalalkan yg diharamkan alQuran seperti menikahkan wanita muslimah dengan lelaki kafir. Bahkan AlQuran pun idterjemahkan semau sendiri… Jadi bagi yg mendukung ahmadiyah seperti liberalisme/fluralisme/theosofi ini percuma saja diberikan dalil apapun karena mereka anti sariat islam. Gitu aja kok repeot…. #64. Dikirim oleh Wayan pada 17/03 08:12 AM Salam Perdamaian Gue terus terang nggak habis pikir dengan kelakuan saudara-saudara kita. Hanya karena keyakinan berbeda mereka saling bunuh dan masing-masing mengaku jihad. Gue sich berpikirnya sederhana saja : 1. Gue sama sekali tidak resah kalau ahmadiyah meyakini ada nabi setelah nabi muhamad 2. Menurut gue biarin aja tuh ahmadiyah kalau memang sesat dimasukin neraka, peduli amat. Ngapain diributin 3. Orang-orang bule di barat sono pada sibuk melakukan riset di bidang medis, ruang angkasa, mikrobiologi, komputer dll. Pantesan negara mereka jadi maju dan selalu menjadi number one, sementara aktifitas kita dari dulu cuma segitu aja sibuk saling menyesatkan dan mengkafirkan pihak lain. Lihat di arab sana, untung tanah mereka mengandung minyak bumi, kalau tidak paling kerjaan mereka jadi teroris dan sibuk menghajar kelompk lainnya. 4 gue memang bukan ahmadiyah tapi gue yakin, yang sibuk menyerang dan membunuh orang-orang ahmadiyah nggak bakalan deh loe dapat surga, mana ada pembunuh masuk surga !!! Goblok loe #65. Dikirim oleh Mirza gulam Ahmad pada 17/03 10:09 AM pengantar ente salah brow..reaksi umat bukan karena yang melakukan kebaikan adalah orang yang berbeda arus. tapi karena mengklaim Muslim tapi dengan Nabi berbeda dan kita yang berlainan. So ente ga usah “CAPER” so membela ahmadiyah…biar dapet sumbangan ...lucu hahahahah #66. Dikirim oleh tsabit pada 17/03 10:52 AM ISLAM ya ISLAM, orangnya disebut MUSLIM atau MUSLIMAH… ga ada ISLAM LIBERAL , ISLAM KIRI ataupun ISLAM Kanan.. kembalikan ke ISLAM yang sesungguhnya.. Wallahu a’lam bisshowaab. #67. Dikirim oleh RISNUH pada 17/03 10:53 AM solusinya gampang : 1.Deklarasikan ahmadiyah sebagai sebuah agama tersendiri, kemudian lepaskan seluruh atribut dan simbol keislaman (kreatif sendiri donk, jangan pake punya orang lain, emangnya situ mau istrinya gua pake tiap malam dengan dalih HAM…hahaha, enak di gua ga enak di lho) 2.Secara sadar dan sukarela Ahmadiyah membubarkan diri,(karena lho tau bahwa lho sudah masuk rumah/ wilayah orang lain tanpa izin, kmdian lho ambil semua barang yg ada di

dalamnya…kemudian lho bilang ini hak gua,..ini milik gua,...dasar pencuri ...maaf, pak saidiman apa boleh kita ngambil punya orang lain atas dasar HAM..? kl boleh sy mo ambil istri bapak aja deh..hehehe. maaf yach…koment nya aga nyeleneh. #68. Dikirim oleh KINDW pada 17/03 11:14 AM tenang aj bang yang ngatain JIL tuh cm orang awam….klo berani dateng ke utan kayu…kita berdebat atas dasar keilmuan bukan kebencian…...lagian kan tak pantas singa meladeni anjing….hidup JIL…..hari ini kami dihina tapi esok lihatlah ajaran kami dipakai ditiap musola…. #69. Dikirim oleh rumi pada 17/03 11:38 AM Aneh juga. Islam sudah jelas apa yang seperti nabi Muhammad sampaikan. dan aturannya sudah jelas. kenapa ada Islam yang aturannya dari yang lain? saya setuju dengan JIL untuk masalah kebebasan beragama. ahmadiah atau umat non-muslim untuk ber-ibadah di persilahkan. tapi jangan sampai menyesatkaan. ibadah boleh, penyesatan tidak di perbolehkan. saya juga tidak suka kekerasan. tapi kalau ada orang ahmadiyah yang dengan sengaja mendakwahkan ke keluarga saya tentang ajarannya saya akan tolak. tapi bila ia memaksa. secara terpaksa saya akan gunakan kekerasan. bukan untuk membunuh tapi hanya untuk mengusir. #70. Dikirim oleh Ali pada 17/03 12:03 PM Selain anti kekerasan saya juga anti kepalsuan. Tindakan kekerasan atas Ahmadiyah tidak bisa dibenarkan demikian juga dengan pemalsuan agama yang dilakukan oleh Ahmadiyah. Di internet sering dipasarkan jam tangan replika merk terkenal, yaitu arloji yang diberi merk sama dengan merk arloji ternama padahal sesungguhnya bukan produksi pemegang merk tersebut. Ini adalah bentuk pemalsuan. Demikian juga halnya Ahmadiyah ia memproklamirkan diri sebagai orang Islam dan bertindak seolah orang Islam padahal sesungguhnya yang dianut bukan agama Islam. Mengapa Ahmadiyah sepertinya sangat suka berkedok menjadi orang Islam apakah mereka merasa tidak aman jika mengaku sebagai seorang Ahmadi? Padahal jika berterus terang bahwa agamanya adalah Ahmadiyah dengan kitab suci Tadzkirah dan nabi Mirza Ghulam Ahmad. Kemudian ajukan diri ke pemerintah RI agar diakui sebagai salah satu agama yang sah di Indonesia. #71. Dikirim oleh Pokijan pada 17/03 01:31 PM Sebaiknya kita mengupas dari mana munculnya kekerasan terhadap orang-orang yang mempunyai agama atau keyakinan lain yang sering terjadi di kalangan kita. Saya betul-betul kaget bahwa ternyata mayoritas orang yang memberi reaksi diatas ini seolah-olah membela kekerasan yang terjadi. Bagi saya itu merupakan bukti bahwa mayoritas orang islam di Indonesia sesunguhnya tidak bisa menghormati orang dengan agama atau keyakinan lain. Saya ingin bertanya kepada semua orang yang telah mengkritik tulisan Saidiman Ahmad: Seadanya anda berada di suatu tempat di mana mayoritas mempunyai agama atau keyakinan lain, apakah anda siap menghadapi tindakan kekerasan seperti yang dialami kaum Ahmadiyah di Indonesia? Pertanyaan ini tidak perlu dijawab dan kesimpulan cuman satu: kebebesan agama atau keyakinan merupakan suatu hak yang tidak bisa ditawarkan dan kekerasan atau diskriminasi merupakan suatu kejahatan, apapun golongan, agama atau keyakinan pelakunya! #72. Dikirim oleh Adam Sumitro pada 17/03 01:56 PM tenang aj bang yang ngatain JIL tuh cm orang awam….klo berani dateng ke utan kayu…kita berdebat atas dasar keilmuan bukan kebencian…...lagian kan tak pantas singa meladeni anjing….hidup JIL…..hari ini kami dihina tapi esok lihatlah ajaran kami dipakai ditiap musola…. #40. Dikirim oleh rumi pada 17/03 11:38 AM Ilmu dari hongkong? yang ada hawa nafsu. Mana mungkin orang berilmu mengatakan ibadah haji bisa dilakukan di selain bulan julhijah? Mana mungkin orang berilmu berani menyatakan lelaki kafir halal mengawini wanita muslimah yang jelas diharamkan AlQuran. Atau mengatakan vodca dengan kadar 16% alkohol mungkin di rusia halal karena udaranya dingin..Jadi kl mengaku cendikiawan muslim liat dulu darimana kuliahnya, kl lulusan amrik yg zionis pasti jagonya ilmu duniawi bukan ilmu agama islam atau memang mengerti agama tapi pemahaman yg sekuler.. #73. Dikirim oleh Mirza pada 17/03 03:36 PM Dalam banyak hal kita sering mengingkari nilai ajaran agama kita sendiri. Tanyakan pada diri: sendiri apakah kita merasa paling Islam, apakah kita merasa Muhammad adalah manusia yang paling kita cintai, apakah Muhammad menyuruh para sahabat untuk membunuh yahudi atau nasrani karena keyakinannya, ataukah justru Beliau menyuruh kita untuk berlomba-lomba dalam kebaikan agar orang menjadi Islam bukan karena takut tapi karena tersentuh kemuliaan akhlaknya… Ajaklah mereka berbicara… ajaklah mereka berdialog… Luruskan pemahaman yang keliru .... sambil kita bersabar dan berserah karena Allah lah yang paling berhak menghakimi #74. Dikirim oleh Joko S. pada 17/03 04:05 PM

AHMADIYAH ??? Apa itu ?? Oh agama yang dibikin-bikin oleh seorang penyusup kolonialis Inggris bernama Mirza Ghulam Ahmad Laknatullah itu? Yang melarang umat Islam pada saat itu di India untuk melawan kolonialisme Inggris ?? Yang ngaku2 jadi nabi terakhir tapi matinya lagi boker karena kolera?? Ih, menjijikkan sekali cara seorang nabi wafatnya?? Terus masih ada yang percaya gitu sama ajarannya ?? Wah.. bodoh-bodoh sekali manusia2 yang jadi pengikutnya. Apa gak pernah baca kajian2 yang benar tentang Islam gitu ? Astaghfirullahal Adziem. #75. Dikirim oleh Saidiman Sablenk pada 17/03 05:25 PM damailah…. besok mau cari nafkah… mudah-mudahan besok lebih damai lagi… Amin Ya Alloh #76. Dikirim oleh emon pada 17/03 08:30 PM pendapat muhnan rais,abujasmine,roni dll ini adalah gambaran dari anak muda sekarang yang mendasarkan agama dari pemikiran akal manusia yang terbatas semacam jil.hadis nabi ttg turunnya imam mahdi atau nabi Isa AS adalah benar, namun kapan terjadinya hanya Alloh yang tahu.benarkah si mirza gulam itu adalah imam mahdi, yang pasti tidak karena dia telah mampus dan dia adalah bentukan penjajah inggris yang menjual agama demi kepentingan dirinya sendiri. @ Zainul Qudsi dan pendapat sejenisnya, sangat naif membandingkan ahmadiyah dengan paman nabi, paman nabi itu kafir tapi tidak memerangi islam, nabi sebagai keluarga pantas berdo’a kepada Alloh agar diberi hidayah islam. ahmadiyah? mereka mengaku islam tapi merusak aqidah islam dengan mengacak-acak syariat yang dibawa nabi Muhammad SAW. @ Prasetyo : analog yang ampuh dan pastinya pemerintah juga gak akan bisa jawab. bagus. #77. Dikirim oleh papa w pada 17/03 10:18 PM hanya satu kata yang seharusnya dibubarkan adalah JIL. #78. Dikirim oleh cecep pada 18/03 12:04 AM islam tidak mengajarkan kekerasan, dan “saya rasa” agama lain pun demikian (kita semua setujukan dengan yan ini kan?) lalu masalahnya, kembali kepada manusianya. satu sisi ahmadi tidak tau diri dan satu sisi “beberapa orang dari penganut islam” tidak dapat menahan diri. solusinya, ya saling tau diri lah. kalo ahmadi ingin mendapat perlindungan hukum, jadilah agama baru biar kebebasan mereka dalam beragama terjamin. karena aqidah kan sangat sensitif ketika ketika terjadi pendoliman aqidah oleh orang orang yang mengaku islam (ahmadi) ya panaslah jadinya. dan buat “beberapa gelintir orang islam” juga tau dirilah, islam tidak mengajarkan kekerasan. #79. Dikirim oleh aridheva pada 18/03 02:11 AM kayaknya orang2 JIL ini pintar banget dalam berfalsafah dan mempermainkan kata2…. saking pinternya jadi sombong dengan tidak mau menyertakan Kalamullah ataupun Sunnah2 yang shahih. Sepertinya kita kembali dulu memperdalam akidah agama, ketimbang pendapat2 yang ngarang sendiri. Dunia ini kan cuma bagian dari akhirat, sedangkan akhirat adalah kekal. (kayaknya orang JIL gak percaya ini ya) hati2 dengan jebakan orang Kafir ! Adapun orang-orang yang kafir, sebagian mereka menjadi pelindung bagi sebagian yang lain. Jika kamu (hai para muslimin) tidak melaksanakan apa yang telah diperintahkan Allah itu[625], niscaya akan terjadi kekacauan di muka bumi dan kerusakan yang besar. [625]. Yang dimaksud dengan apa yang telah diperintahkan Allah itu: keharusan adanya persaudaraan yang teguh antara kaum muslimin. (Q,S 8:73) #80. Dikirim oleh Adji Dwipa pada 18/03 06:06 AM kenapa mesti takut….? saya kurang setuju kalau ada orang motifnya membela agama, memangnya agamanya lemah? tidak berdaya? kalau memang yakin agamanya benar, kenapa harus dibela? memang siapakah anda sehingga bisa membela agama? yang benar Tuhanlah yang akan membela kita, bukan kita yg membela agama…..Kita itu manusia yg lemah tidak ada apaapanya dibanding Tuhan, kalau kita yakin agama kita dari Tuhan, kenapa kita suka sewot? seolah-olah kita mau membela Tuhan….manusia yg bodoh…kasihan… #81. Dikirim oleh Rohmi pada 18/03 09:32 AM akan selalu ada sekelompok manusia yang membela islam…berlombalah membela islam dihadapan Alloh,,kalian boleh mengaku “saya membela islam”,,,kita lihat siapa sebenarnya yang membela..JIL-kah, FPI, ato AHMADIYAH,,,tapi saya tdk setuju AQIDAH MEREKA (AHMADIYAH),,nah karena AQIDAH mereka adalah benalu dalam islam shg bahaya bagi kebanyakan kita,,maka selayaknya kita membela diri,,,membela diri tdk harus kontak fisik,,tapi bila perlu,,maka… #82. Dikirim oleh ony lombok pada 18/03 08:51 PM

salam sejahtera buat ms ulil absor bin k.h Abdullah Rifa’i , mbk inez, billy. saya sering merenung di tempat K.H Muhammadun bin K.Aly Murtado, simbah berkata"ikilah “putuku sing bakal nuruni aku, au kamaa qool. #83. Dikirim oleh mambaul ulum pada 18/03 08:53 PM Saya sangat sedih bukan karena ramainya aksi menuntut pembubaran ahmadiyah.. Tp yang saya sedihkan adalah adanya kelompok seperti JIL yang mengaku beragama Islam tetapi selalu bertentangan dan bersebrangan dengan saudara muslim yang memperjuangkan tentang aqidah Islam… Entah apa maksud dan tujuannya dari JIL ini??? #84. Dikirim oleh Dani pada 18/03 10:53 PM Salut buat para anggota JIL. Ajaran AHMADIAH mengkategorikan semua non-anggotanya termasuk para anggota JIL sebagai penghuni neraka. tapi mereka masih bersedia untuk membelanya habis habisan. tapi sy juga tidak heran…..dimana mana syaitan itu adalah wali bagi syaitan yang lain. semoga Allah memberi mereka dan kita Hidayah,,,,hanya memang hidayah juga butuh usaha…hidayah akan susah datang kalu nyantrinya aja di Amerika. #85. Dikirim oleh b2 pada 18/03 11:48 PM saya kasihan sekali dengan manusia-manusia yang sangat picik dan sangat terkotak-kotak pikirannya, menghalalkan segala cara dengan dalih syi’ar. pernah terpikir tidak bahwa agama dan kepecayaan lain punya SYI’AR juga??? pernah terpikir tidak klo mereka juga MENGHALALKAN SEGALA CARA? apa jadinya DUNIA ini (bukan hanya ENDONESIA)??? terus klo begitu, mau apa kita? apa kembali ke jaman kegelapan dimana semua berperang dengan dalih agama??? pernah terpikir tidak kenapa TUHAN menciptakan manusia berbeda-beda dan ber suku-suku dan berbangasa-bangsa? coba nalar dan renungkan dulu itu semua, barulah anda bisa NGEBACOT disini… salam untuk JIL, maju terus pantang mundur… peace on earth #86. Dikirim oleh minority pada 19/03 09:20 AM hai jil,,,pemikiran dan rasionalitas yang anda semua keluarkan belum tentu benar di hadapan Allah s.w.t,ingatlah anda semua dan termasuk saya hanyalah seorang mahluk yg sejatinya tidak akan pernah bisa pemikiran mahluk bisa menyamai atas aturan yang telah Allah dan nabi buat,maka bertobatlah dan ikutilah apa yg telah Allah gariskan dengan mengikuti segala per’aturannya,jinakanlah pikiran liar anda kalau memang masih ingin di sebut dan mengaku umat islam… #87. Dikirim oleh doni pada 19/03 10:31 AM yang belum ngerti jangan asal bunyi, apakah anda2 semua sudah mengetahui bgm Islam dan bgm ahmadiyah ?? kalau anda pelajari dengan baik pasti anda menemukan hal2 yang mendasar yang bertentangan satu sama lain. inilah masalahnya ahmadiyah mengaku Islam namun hal2 pokok dalam Islam di selewengkan seperti Kenabian dan kitab suci. #88. Dikirim oleh j4jihad pada 19/03 11:15 AM Saya Mah mau nanya aja sama Orang-orang JIL yang katanya Intelek ini : Kalian Masih Menjalankan Shalat 5 Waktu Gak ????? Klo Masih Menjalankan Shalat 5 Waktu Dengan Khusyu , Pasti Yang Namanya JIL Itu Gak Akan Ada…................Ingat JIL akan adanya Skaratul Maut…..Mau Bawa apa ente ke Akhirat….............??? #89. Dikirim oleh GOBEL pada 19/03 11:47 AM Ajaran Ahmadiyah tidak terbuka spt ajaran Kristen atau agama2 lain. Selama ini ajaran yg terbuka yang sang at ditentang oleh Islam mainstream adalah pengakuan adanya Nabi stlh Nabi Muhammad. Yaitu Mirza Gulam Ahmad. Seberapa jauh kenabiannya. Apk membawa syariah tambahan, ayat tambahan atau hadis tambahan . Apa itu Tazkirah, yang katanya wahyu yang diturunkan kepada MGA. Selama ini isi Tazkirah tertutup hanya untuk kalangan Ahmadiyah. Tdk bisa ditemukan di toko buku atau Internet . Sehingga sulit untuk membadingkan dengan ajaran Islam mainstream.Kita juga tdk jelas bgm syahadatnya, termasuk syahadat dalam syalat, apk juga menyebutkan Mirza Gulam Ahmad. Yang dpt dilakukan oleh golongan awam Islam mainstream adalah dari pernyataan2 Tokoh/Ulama Islam mainstream sendiri. Demikian juga dare LSM pembela / pendukung Ahmadiyah, apk mereka mengerti bahwa perbedaan Ahmadiyahbdgn Islam mainstream adalah berbeda dengan perbedaan 4 madhab, perbedaan dgn golongan Syiah, berbeda dgn golongan Wahabi. Golongan2 tersebut oleh Islam Internasional masih diakui bagian dare Islam, walaupun Syiah juga dilating di Malaysia, tetapi tidak di Indonesia. Yang berikutnya adalah pertanyaan apakah yang menyebabkan orang tertarik ke Ahmadiyah. Apakah Islam Ahmadiyah menganggap merekalah Islam yg benar, sedangkan yg lain juga dianggap sesat. Kalau alasannya ini tidak salah juga bila Islam mainstream menggap mereka sesat. Atau Ada day tarik financial. Seperti diberitakan bahwa Suparman, anggauta Ahmadiyah di Cikeusik, rut in mendapatkan Dana dare Ahmadiyah Jakarta. Atau Ada alasan 2 lain. Selama ini tdk terbuka, maka masalah Ahmadiyah tdk akan terselesaikan. #90. Dikirim oleh Holiluddin pada 19/03 03:42 PM Kayanya anda lupa dan tidak bisa membedakan (saya katakan lupa karena saya yakin, mustahil anda tidak tau ini, cuma saya ingatkan lagi) antara hablum min an naas dan hablum min Allah, hubungan dengan manusia Rasulullah saw banyak mencontohkan dan menganjurkan al, hormati tetangga, kunjungi org sakit, bahkan ketika beliau diludahi oleh seorang Yahudi, beliau hanya tersenyum dst dst banyak deh pokoknya, surely you know better than me, tapi hubungan dengan Allah, asyhadu an-laa ilaaha illallaah, wa asyhadu anna muhammadan rasuulullaah. Disebut Muhammad bukan Mirza G Ahmad. Kenapa kita larang?? Lha wong salah koq kita biarkan ya dosa kita, kita ngga mau klo sdr kita tersesat kan….ya tapi itulah, kalu belum diberi petunjuk Allah memang susah..harusnya JIL ikut menasihati mereka…koq malah membela, koq malah ikut menyuarakan pluralisme, kebebasan beragama..lihat QS 61:9,QS 48:28, QS 9:33…semoga bermanfaat..Amiin

#91. Dikirim oleh Soren Dorery pada 19/03 03:44 PM JIL, kumpulan orang2 ngaku ISLAM tapi benci ISLAM aneh, penjual agama demi segenggam dunia, kasihan…., dilihat dari orang-orangnya sih kelihatannya pintar-pintar dengan gelar2 akademi yang mentereng, sayang kepintarannya menjerumuskanya pada SESAT dan MENYESATKAN. #92. Dikirim oleh Mitro pada 19/03 07:31 PM Ada satu analogi yang cocok untuk hubungan ahmadiyah dengan Islam : Ada marga bernama “Sicantik”. Marga ini terkenal dengan kebaikannya. Beberapa saat datang orang mengaku bernama lengkap : Hasan Sicantik Marga Goblok. Orang2 bermarga “Sicantik” resah dan murka, menyuruhnya orang tersebut membuang embel2 “Marga Goblok” atau malah mengganti kata “Sicantik” dengan nama lain. Karena tidak dituruti, terjadilah kerusuhan. Kepala desa yang bodoh, bingung memutuskan, apakah ini penghinaan marga atau hak kebebasan setiap orang menamakan dirinya…...

#93. Dikirim oleh nurasadullah pada 19/03 11:10 PM OTAK LIBERAL ORANG JIL SUDAH DIAMBANG BATAS KESABARAN KITA,..ASTAGFIRULLOH #94. Dikirim oleh khusna pada 19/03 11:57 PM jaman abubakar ada perang terhadap orang-orang yang tidak mau membayar zakat.maka saya juga setuju dengan perang terhadap ahmadiyah.i am muslim fundamentalisme. #95. Dikirim oleh hidayat pada 20/03 07:34 AM JIL adalah golongan orang yang tidak punya pedoman dalam hidup…padahal pedoman itu telah diberikan oleh Allah SWT melalui para rasulnya…JIL adalah hasil pencucian otak dari paham liberal yang dibawakan pada ajaran agama…padahal paham liberal hnya bisa digunakan dalam hub sesama manusia utk urusan dunia…jika ada saudara kita yg menyimpang dari ajaran islam, adalah tugas kita utk menasehatinya,demikan juga sebaliknya, bukan mencari pembenaran dengan paham liberal dan kebebasan yang tidak menentu…JIL adalah pemikiran yang tak tentu arah…. Yang paling berbahaya adalah bhw JIL adalah Racun,duri dalam daging,musuh dalam selimut yang menggerogoti umat islam dari dalam secara perlahan dgn tujuan suatu saat nanti umat islam mjd tak tentu arah,hidup dalam kebebasan tanpa aturan dan masing2 mencari pembenaran sendiri…Ya Allah, sungguh luar biasa ujian umat islam pada akhir zaman, Racun itu berasal dari JIL…kebebasan tanpa pedoman = kehancuran.. #96. Dikirim oleh dodi pada 20/03 10:42 AM Syarat utama berIslam adalah kejujuran kepada Allah. Agama Islam bukan hanya teks teks Quran tetapi juga harus memahami maknanya. Allah menentukan takdir seseorang sesuai kehendaknya. Jika Allah tidak menyukai Ahmadiyah pasti sudah dibinasakan sejak dulu.Yang perlu kita takuti adalah hawa nafsu kita yang halus maupun kasar. Jika kita memahami Qur’an berdasarkan periode penurunannya, maka sekarang sudah tidak ada lagi perang, tetapi perang melawan hawa nafsu. Nafsu untuk berbuat kekerasan, memperkaya diri dan kekuasaan, apalagi berlindung dibalik nama agama. Tidak semua perang setelah Nabi wafat bisa dibenarkan karena bukan perintah Nabi. Ahmadiyah adalah sebagian dari intepretasi Islam yang berbeda , yang lain juga banyak. La wong diantara satu aliran, satu darah atau satu jamaah saja bisa berbeda. Carilah ilmu, dari mana saja jika ingin menemukan kebenaran Al Qur an. Jangan mencari dari organisasi yang tumbuh karena kekuasaan, kemapanan, memakai simbol Islam dan orang orang yang mendukung kekerasan. Karena ia jelas menentang perintah Allah dan RosulNya. Orang munafik selalu ingin tampak Islam di mata orang lain. Jika kita termasuk manusia yang berpikir(tafakur)maka dalam beragama/berIslam kita harus disertai dengan perenungan yang mendalam. Jika diri anda takut diri anda atau orang akan menyimpang, berarti anda meragukan Allah karena Allah memberikan petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki. Sekali lagi ..bacalah dengan nama Tuhanmu yang menciptakanmu dari segumpal darah. #97. Dikirim oleh abujasmine pada 20/03 07:37 PM Islam selalu merujuk ke Kebenaran bukan Pembenaran. Saudaraku? konsul lah anda ke ahli Tafsir. #98. Dikirim oleh Taufik pada 20/03 10:04 PM OOOIII…SEMUANYA SALAAAAH…...!!!! JIL SALAH, yg nulis comment SALAH….... Yg BENER cuma guwe…. Itu juga barangkali….he..he… #99. Dikirim oleh Dul Kam pada 21/03 09:56 AM

Sebelumnya dimuat di Koran Tempo, 10 Maret 2011 Aktivitas seperti salat, berdoa, berdakwah, bakti sosial, rapat, mengaji, pendidikan, dan lain-lain pada dirinya tidak mengandung masalah. kalau saya boleh menafsirkan secara bebas, maka aktivitas seperti salat, berarti bukan salat donk. heran deh ketika umat islam di perancis dilarang pake jilbab, tak ada respons dari JIL. padahal jelas bahwa pake jilbab adalah keyakinan, dan di perancis itu bukan arus utama. tapi giliran di indonesia ada perkara kecil yang bukan arus utama dibela mati matian. #100. Dikirim oleh Arsyad pada 21/03 10:14 AM kebenaran yang udah baku di otak atik. giliran orang korupsi, mafia pajak, dan kejahatan lainnya yang berbau uang, jelas itu melawan arus utama tak ada sedikitpun respons dari JIL. mbok iyao kebaikan yang sudah mapan jangan diotak atik, silahkan ngotak atik yang korupsi, mafia hukum mafia pajak dan segala penyimpangan yang merugika rakyat banyak #101. Dikirim oleh Arsyad pada 21/03 10:17 AM Dalam bernegara ada beberapa prinsip yang tidak boleh dilanggar, contohya presiden Indonesia itu satu, jadi kalo di Menado ada yg mengaku presiden dan diakui oleh warga sekitarnya dan “DIBIARKAN"maka akan muncul orang-orang berikutnya yg mengaku presiden dan diakui pula oleh sekitarnya, apa yang akan terjadi, hancurnya negeri Indonesia ini, untuk menghindarinya dan mencegah penyebarluasannya sudah seharusnya pihak keamanan menangkap orang yg mengaku presiden tsb, islam punya prinsip yang dipegang dan diajarkan Rasul SAW dan dipegang teguh oleh kalangan sahabat, tabiin dan tabiittabiin dan para salafussalihin sesudahnya bahwa Muhammad SAW itu penutup para nabi dan nabi Isa AS yg akan datang itu bukanlah nabi yang baru yang dilahirkan kembali akan tetapi nabi yang sudah diturunkan sebelumnya dan dia tidak membawa syariat baru artinya dia ikut syariat yg sudah ada yaitu islam, kalau ahmadiyah itu dibiarkan akan ada ahmadiyah-ahmadiyah baru dengan nabi-nabi baru pula tetapi ajaran mereka ikut kepada islam, itukan suatu kekacauan dalam agama yg harus segera diselesaikan, islam itu ibarat sebuah rumah dengan pekarangannya yg sudah bersertifikat tiba-tiba ahmadiyah ada didalam pekarangan itu mendirikan rumah, pemilik rumah sudah melaporkan kepada penguasa tetapi tidak ada tindakan nyata, jika seandainya pemilik rumah marah dan kesal hingga terjadi keributan dan yang dipenjarakan adalah sipemilik rumah dan sipencaplok tanah dibiarkan bahkan dilindungi oleh hukum/HAM, tentunya sipemilik rumah akan semakin kecewa dan pasti sipemilik rumah akan terus menuntut keadilan dengan cara apapun karena penguasa tidak mengambil tindakan apa-apa, di Indonesia seorang polisi yang salah tembak misalnya mengenai jemaat Ahmadiyah dikatakan oleh media-media terutama media barat sebagai “Pembantaian Sesama Umat Beragama” tetapi tentara Israel membantai rakyat palestina dikatakan rakyat palestina sebagai teroris dan tentara israel tidak salah menembakinya, ada sebagian yg menyalahkannya tapi berpura-pura tidak tahu, pelanggaran Ham dan pengertian Ham seakan telah dikaburkan, sesungguhnya siapa yang telah melanggar Ham, sebagai muslim saya hanya bisa bilang Subhanallah, maha suci Allah, dialah yang suci dari segalanya. #102. Dikirim oleh Sopyan Sauri pada 21/03 11:01 AM untuk ogut, gua termasuk yg ngarepin jil dan ahmadiah bubar,tapi kok ngga bubar buba,jangan jangan justru ini yang dapet ridlo Alloh swt ? ah pusing #103. Dikirim oleh hasan pada 21/03 03:47 PM Saya ingin bertanya pada saudara2 dari Islam mayoritas: perhatikan ilustrasi berikut ini, misalnya anda terkena bencana atau musibah gunung merapi, rumah anda hancur, harta benda anda musnah, lalu ada seorang anggota Ahmadiyah menolong anda pada saat anda menderita, kemudian anggota ahmadiyah itu memberikan bantuan materiil dan bantuan moril yang limpah kepada anda (notabene anda tidak tahu kalau yg membantu anda itu adalah seorang anggota Ahmadiyah), nah tak lama kemudian anda mendengar kabar bahwa orang Ahmadiyah yg menolong anda itu mati dianiaya dan dibunuh dengan cara biadab, apakah anda setuju dengan pembunuhan itu hanya karena anda tahu bahwa dia seorang Ahmadiyah yang notabene dicap sesat oleh kelompok mayoritas? ataukah anda akan berbelas kasihan terhadap orang itu tidak soal dia beragama Ahmadiyah atau ateis sekalipun atas dasar prinsip kemanusiaan yg beradab? Maksud saya begini, berbuatan kebaikan adalah tindakan manusiawi yang merupakan ciri dari manusia beradab terhadap hubungan horisontal antara umat manusia, tidak soal apa agama orang itu. Sedangkan urusan ibadah dan agama adalah merupakan konteks vertikal antara manusia dengan Tuhannya. Harus ditarik benang merah antara kedua entity itu. Biarkan Akhirat yg kelak akan membuktikan mana yg benar dan mana yg sesat. #104. Dikirim oleh Truthfull pada 21/03 04:00 PM Konon di Syurga Nanti itu tidak ada orang yang berselisih…, Hati-Hatilah Hai para Orang yang masih suka berselisih…apapun alasan nya…! jangan-jangan kalian nanti bukan termasuk Penghuni Syurga…!!! HaHaHaHaHah… Berbuat Baiklah sekemampuan anda, dan ga usah peduli tentang urusan keyakinan orang lain..! Jika Menurut anda Orang Lain tersesat atau akan menyesatkan, anda sendiri kan gak akan ikut Sesat…???? ( Kecuali anda seorang yang tidak mempunyai keyakinan ) (Sesungguhnya semua Urusan akan dikembalikan kepada Tuhan..) beres kan..!? #105. Dikirim oleh Yudi Permadi pada 21/03 09:22 PM Apapun yg anda buat dngn pemikiran-pemikiran anda yang jenius utk menafsirkan al-qur’an dan al-hadist itu adalah hak anda,namun pda dasarnya yang mulia disisi Allah adalah orang yang bertaqwa #106. Dikirim oleh Herman pada 22/03 09:31 AM

peristiwa kekerasan thd Ahmadiyah dg pandangan Ahmadiyah sesuatu yg terpisah. tak ada sekelompok org pun yg membenarkan tindakan kekerasan, tolong jg dicampur adukan. setingkat negara saja memiliki kesepakatan. PKI tdk boleh berdiri di Indonesia.Apk salah jika masyarakat Indonesia memiliki sikap spt itu? Kelompok2 kiri pasti tdk setuju. Begitupun kelompok2 yg tak mau terikat kesepakatan ummat mayoritas tdk akan setuju dg menganggap Ahmadiyah tidak boleh menggandoli Islam, termasuk JIL dan kelompok2 liberal lainnya. #107. Dikirim oleh Lucas Al hawariy pada 22/03 05:57 PM hidup damai aja lah, belum tentu juga sampeyan begini begitu nantinya masuk surga #108. Dikirim oleh damai pada 23/03 01:19 PM Boleh ikutan komentar ? #109. Dikirim oleh Saif Bahar pada 24/03 12:21 AM Ribut2 kan karena kita memang kurang bijak. #110. Dikirim oleh Saif Bahar pada 24/03 12:25 AM kapan neh jil membela Islam? jadi boleh saya ngaku Islam tapi percaya ada kitab lain selain Al Qur’an dan nabi lain setelah Nabi Muhammad SAW? kebebasan beragama itu bukan berarti bebas mengacak2 pakem suatu Agama #111. Dikirim oleh budhi pada 24/03 07:22 AM Saya setuju dgn pndpat dari sdr sopyan sauri post 102…. Pakai nama ahmadiyah saja tanpa islam kan beres..menjdi agama slain islam mgkin solusi trbaik… Cari lokasi kosong,urus srtifikatnya,dirikan bgunan disitu…masalah pasti beres. Saya pribadi meyakini ahmadiyah sbgai salah 1 agama2 di luar islam. #112. Dikirim oleh Saif.Bahar pada 24/03 12:51 PM Saya pernah mengunjungi situs Ahmadiah dan saya paham tentang dasar keyakinan mereka, yaitu iman kepada Allah swt dan yakin bahwa Muhammad adalah utusan Allah . akan tetapi Aqidah mereka di kotori dengan kepercayaan lain yang memposisikan Rosul Muhammad sebagai Nabi dan Rosul terakhir. dalam penegakan amal ma’ruf nahi munkar memang kerap banyak golongan atau kelompok yang belum mengerti dengan seksama. yg di lakukan terhadap sekte ahmadiah adalah salah (masa lebih terpicu oleh provokasi2 yg tidak jelas) dalam hal keyakinan mendasar mereka benar, jadi mari kita tindak sebagai mana mestinya melakukan saudara yang tersesat. anda ingin kekerasa.? maka marilah kita perangi orang2 yang jelas2 menentang eksistensi islam di muka bumi dengan keringat dan darah dan semata2 mengharap ridho Allah swt..!!

ingat saudara seiman dan islam. musuh Allah yg nyata adalah orang atau kaum yang mengatas namakan islam itu sendiri tapi mereka enggan di atur oleh aturan islam itu sendiri, termasuk diri kita yang merasa keberatan dengan hukum Al-Qur’an… kalau kita merasa tidak mampu untuk menegakan hukumnya, cukuplah dengan mendukung perjuangannya bukan menetang atau seakan ingin memperbaharui islam itu sendiri (islam Berasal dari Al-Qur’an dan islam punya aturan hukum yg jelas dan sempurna). wallahualam bisawab….. #113. Dikirim oleh Jundulloh pada 25/03 09:12 AM dalam kasus Ahmadiyah, bagi saya sebenarnya tidak pernah ada penistaan. yang terjadi adalah perbedaan pemahaman yang memunculkan perbedaan keyakinan. kalau ada yang merasa ternistakan, adalah umat yang berbeda pemahaman dan keyakinan tersebut. saya yakin, ISLAM tak membutuhkan pembelaan umatnya yang barangkali malah bisa salah memahami ISLAM.

dan lebh yakin lagi ALLAH SWT tak meminta bantuan pada umatnya sebab sabdaNya adalah benar. tak akan pernah berubah meski sabdaNya dikacaukan oleh umat yang barangkali tak memahami wahyuNya. dan yang lebih penting lagi, ALLAH SWT tak selemah yang kita angankan sehingga meminta pembelaan kita. maaf .. bagi saya diturunkannya wahyu (agama) adalah untuk kepentingan manusia. bukan kepentingan ALLAH SWT. maka lihatlah, semua perintahNya hanya untuk menyelamatkan manusia baik di dunia maupun akhirat. semua berpusat pada manusia. lalu mengapa kita harus saling cakar berebut benar lantaran perbedaan keyakinan yang belum tentu kita pun benar, meski kita yakin kita paling benar? kenapa pula kita hsrus saling cakar untuk sesuatu yang sama-sama kita tidak bisa menjamin mana yang paling benar. hanya ALLAH SWT yang bisa nenberi janinan itu. saya khawatir nanti spesies manusia bisa punah lantaran saling bunuh berebut benar keyakinan. setanlah yang bakal tertawa lebar melohat betapa bodonya umatNya. #114. Dikirim oleh matahari pada 25/03 12:59 PM jangan buat kontroversi, kl mau terkenal pkai jalur normal aja. krn model pemikiran begini sudah kuno. dan orang-orang kontroversial kl diekspos media massa malah diuntungkan. lebih baik cuekin aja. #115. Dikirim oleh ahmad pada 25/03 08:29 PM Membela ahmadiyah bukan berarti membenarkan keyakinannya. Kenapa ini sulit sekali dimengerti? Keyakinan adalah hak mutlak seseorang yang tidak boleh dikurangi, dibatasi, atau di halang-halangi oleh siapapun untuk alasan apapun. Ini standard internasional, juga hukum Indonesia. Jadi, kalau orang ahmadi mengimani ada nabi lain setelah Nabi Muhammad, itu sepenuhnya hak mereka, lengkap dengan konsekuensi kebenaran ataupun kesesatan atas apa yang diyakininya. Menurut saya, orang/negara tidak berhak memvonis siapa benar siapa sesat dalam keyakinan. Itu ekslusif domain Tuhan. #116. Dikirim oleh ari rasha pada 29/03 10:39 PM stiap umat bragama ingin da kemurnian suatu agama klo ahmadiah tu udah ngotorin agama islam bro #117. Dikirim oleh doddy pada 30/03 11:17 AM 2 opsi : 1. Ahmadiyah mendirikan agama baru maka kami akan bertoleransi dengan anda… seperti agama2 yg lain di Indonesia (etc: Kristen, Hindu, Budha dll) 2. Ahmadiyah tetap seperti sekarang ini…maaf bila kami mempertahnkan aqidah kami dan menyadarkan anda bila langkah anda keliru… #118. Dikirim oleh maskun pada 30/03 03:06 PM Kita hidup dalam masyarakat dan negara. Dalam brnegara n bermasyarakat tentu ada aturan main mulai dari falsafah,etik,norma n hukum. Falsafah apa ? Etika macam apa ? Norma n hukum yg bgmana ? Kalau kita mau meniru barat dgn semua falsafah,etika,norma,hukum…., apakah kondisi geografis, sjarah kultur pranata masyarakat kita mendukung sistem hidup barat tsb ? Menurut etika timur saja tentu tdk pantas lah bikin ribut dgn mendirikan aliran islam yg brbeda dgn yg lbh dulu ada..n itu bkn brarti bragama islam scara internal menolak prbaikan n koreksi diri… Apakah para pndukung kebebasan itu bisa memahami “perasaan” mayoritas muslim yg keyakinannya lbh dulu ada di ind ? Atau skalian saja bongkar habis sistem brnegara n brmasyarakat kita n menjdi antek2 barat… #119. Dikirim oleh Saif Bahar pada 30/03 10:16 PM Sebenar sudah jelas ahmadiyah itu murtad menurut agama islam, habis mau bilang apalagi. mau bukti : Allah swt berfirman: Maka kecelakaan besarlah bagi orang-orang yang menulis Al-Kitab dengan tangan mereka sendiri lalu dikataknnya: Ini dari Allah, (dengan maksud) untuk memperoleh keuntungan yang

sedikit dengan perbuatan itu. Maka kecelakaanlah bagi mereka, akibat dari apa yang ditulis oleh tangan mereka sendiri, dan kecelakaan besarlah bagi mereka akibat dari apa yang mereka kerjakan. (Q.S. Al-Baqarah 79) #120. Dikirim oleh ika pada 30/03 11:42 PM mengajak orang berbuat baik adalah hal yang baik dengan memegang prinsip apapun karena kebaikan bisa di ajarkan oleh siapapun.tapi manakala berbicara ttg prinsip/aqidah ini yang tidak ada ruang untuk berbeda pendapat sebab aturannya sdh jelas,kalau ahmadiyah mau berdakwah lewat islam ya harus pakai jalur islam yang sebenarnya.bukan mencampur adukkan dengan ajaran lain,jika maunya begitu pakai aja nama lain,agama ahamdiyah misalnya…......... #121. Dikirim oleh amad pada 31/03 10:11 AM Mari bedakan antara masalah akidah dengan masalah hukum eksistensi Ahmadiyah. Akidah boleh berbeda, itulah HAMM, Hak Asasi Manusia Mutlak. Soal akidah ahmadiyah yang berbeda, itu urusan dia sama Tuhan, tidak boleh dipidana, tidak boleh dihujat. Soal hukum eksistensi ahmadi adalah mereka diduga menistakan Islam, benar bukan? Anda yang merasa dinistakan oleh ajaran ahmadiyah seharusnya melakukan upaya hukum, boleh upaya pidana boleh perdata, buktikan bahwa ahmadi malanggar hukum. Biar lembaga yudikatif yang menentukan. #122. Dikirim oleh ari rasha pada 31/03 10:15 PM beginilah pemikiran orang-orang sekuler,lebih meninggikan standard internasional yg buatan manusia dari pada standard islam yg menjadi ketetapan Tuhan,sungguh kasian… kemudian ditambah syariat islam dikalahkan oleh isu HAM yang pengertiannya dan penerapannya sangat absurd #123. Dikirim oleh rifki pada 01/04 09:22 PM saudara saidiman ahmad tidak kompeten untuk menilai masalah ini,jadi lain kali gak usah bikin artikel lagi, jil itu sama sesatnya dengan ahmadiah #124. Dikirim oleh arie pada 02/04 11:25 AM yg mnganggap ahmadiyah sesat berarti telah mnjdikan drinya Tuhan baru, krn cm Tuhan Sang Pemilik hidup yg brhak mnghakimi mahluk hidupnya. kalian mrs dri kalian Tuhan?? shingga mnganggap umat lain/kelompok yg beda sesat?? agama n rosul kalian membolehkan merusak n membunuh atas nama agama n Tuhn??? agama kalian agama perusak, pembunuh…!!! agama kalian agama kekerasan, agama perang, agama darah….!!! #125. Dikirim oleh chaerudin pada 04/04 04:47 PM Agama hanyalah produk buatan manusia. Gitu aja koq repot. Apa iya Sang Pencipta menganut agama tertentu? Dengan demikian akankah Dia menjadi tidak adil pada mereka yang tidak menganut agamanya? Sehingga mereka yang tidak percaya akan selalu mendapatkan sial dan derita? Gunakan akal sehat, jangan terbuai dongeng2 yang terlalu memuliakan diri sendiri dengan menistakan mereka yang berbeda. #126. Dikirim oleh v.raymontt pada 07/04 10:22 AM pak saidiman yg terhormit…......anda manusia jil yg selalu membolak balikan kebenaran islam…. kalo yg kita dibacarakan adalah keyakinan.. islam mempunyai dua landasan untuk dijadikan pedoman kepada manusia dalam menjalankan kehidupan yaitu al-quran & al-hadist kalo semua umat menjalankan pedoman tersebut insya Allah tidak ada kebodohan di dunia ini…... @yutas….keyakinan yg mereka anut mengajarkan mereka untuk menuju kebaikan….. #127. Dikirim oleh said pada 11/04 10:46 AM Dlm masalah ahmadiyah ada soal 1.internal (urusan kaum muslim sndiri). Entah prbedaan faham teologi,sol pol,kmsyrakatan dll. 2.ekstrnal ( urusan kaum muslim dgn non muslim ). Dalam urusan kaum muslim, ada yg namanya etika n norma brnegara n brmasyarakat.Trlepas dari kajian teologis,isme n faham, apakah pndirian orgnisasi ahamadiyah sesuai dgn etika islam n norma islam dlm brnegara n brmasyarakat. Saya pribadi brpndapat, orang2 ahmadiyah n para pndukungnya bknlah orang yg bisa brsikap bijaksana.

#128. Dikirim oleh Saif Bahar pada 11/04 11:08 AM termasuk dalam aqidah Islam yang sangat jelas adalah bahwa Nabi Muhammad SAW adalah Nabi dan Rosul pungkasan, ketika ada segolongan yang meyakini hal yang berlawanan dengan aqidah yang sudah jelas ini maka timbul gejolak di masyarakat, maka disitu peranan pemerintah diharapkan ada untuk menyelesaikan, ibarat sebuah hukum, maka ia bersifat hitam putih, pemerintah perlu mengambil sikap tegas agar tidak terjadi kekacauan lebih lanjut,walaupun keyakinan tidak bisa dihilangkan tetapi organisasi bisa dibubarkan oleh pemerintah dengan berlandaskan dengan hukum pula, hak asasi manusia tidak boleh melanggar hak asasi orang lain dan komunitas lain #129. Dikirim oleh nasir pada 12/04 09:28 AM Saya sependapat dgn artikel ini. Pemikiran yg jenius. Kekerasan gak boleh dilakukan dgn alasan apapun. #130. Dikirim oleh wahyu dwiantoro pada 13/04 05:56 PM mengapa anda memeluk islam kalau ragu akan kebenaranya.lebih baik anda diluar islam,agar kami enak memeranginya. #131. Dikirim oleh blo'on pada 23/04 11:22 PM Dasar manusia sesat… udah jelas salah ngak mau ngaku….............. Engkau salah satu orang yang merugi dan takafur di dunia…............ Nabi Palsu, Sikap Nabi, dan Ahmadiyah Oleh Akhmad Sahal* Artikel ini sebelumnya dimuat di Koran Tempo, 16 Februari 2011 Lepas dari itu, kalau kita tinjau dari sudut doktrin dan sejarah Islam pun, pemakaian kerangka “perang melawan pemurtadan” untuk menyikapi Ahmadiyah sejatinya sama sekali tak berdasar. Patut diingat, sebutan “perang melawan kemurtadan” bukanlah kreasi Abu Bakr sendiri melainkan penamaan belakangan dari para sejarawan Muslim. Disebut demikian barangkali karena yang diperangi saat itu memang arus pemurtadan yang terkait dengan muculnya sejumlah nabi palsu. Dan gerakan nabi palsu pada masa itu berjalin berkelindan dengan upaya menggembosi kedaulatan kekhalifahan. Penolakan membayar zakat bukan hanya pelanggaran terhadap rukun Islam, melainkan juga sebentuk aksi makar. Pada tahun kesepuluh Hijriyah, Nabi Muhammad SAW menerima surat dari seseorang yang mengaku jadi nabi. Namanya Musailamah bin Habib, petinggi Bani Hanifah, salah satu suku Arab yang menguasai hampir seluruh kawasan Yamamah (sekarang sekitar al-Riyad). Dalam suratnya Musailamah berujar: “Dari Musailamah, utusan Allah, untuk Muhammad, utusan Allah. Saya adalah partner anda dalam kenabian. Separuh bumi semestinya menjadi wilayah kekuasaanku, dan separuhnya yang lain kekuasaanmu…” Seperti dituturkan ahli tafsir dan sejarawan Muslim terkemuka pada abad ketiga Hijriyah, Imam Ibn Jarir Al-Tabari (838-923), dalam kitabnya Tarikh al-Rusul wa al-Muluk (Sejarah Para Rasul dan Raja) atau yang dikenal dengan Tarikh Al-Tabari, Musailamah bukanlah sosok yang sepenuhnya asing bagi Nabi. Beberapa bulan sebelum berkirim surat, Musailamah ikut dalam delegasi dari Yamamah yang menemui beliau di Madinah dan bersaksi atas ke-Rasul-annya. Delegasi inilah yang kemudian membawa Islam ke wilayah asal mereka dan membangun masjid di sana. Menerima surat dari Musailamah yang mengaku nabi, Rasul tidak lantas memaksanya untuk menyatakan diri keluar dari Islam dan mendirikan agama baru. Apalagi memeranginya. Padahal gampang saja kalau beliau mau, karena saat itu kekuatan kaum Muslim di Madinah nyaris tak tertandingi. Makkah saja, yang tadinya menjadi markas para musuh bebuyutan Nabi, jatuh ke pelukan Islam. Yang dilakukan Rasul hanyalah mengirim surat balasan ke Musailamah: “Dengan Nama Allah Yang Maha Pemurah dan Pengasih. Dari Muhammad, utusan Allah, ke Musailamah sang pendusta (Al Kazzab). Bumi seluruhnya milik Allah. Allah menganugerahkannya kepada hambaNya yang Dia kehendaki. Keselamatan hanyalah bagi mereka yang berada di jalan yang lurus.” Rasul menempuh dakwah dengan cara persuasi dan bukan cara kekerasan. Musailamah memang dikutuk sebagai al Kazzab, tapi keberadaannya tidak dimusnahkan.

Namun setelah Nabi wafat ceritanya jadi lain. Umat Islam yang masih shocked karena ditinggal pemimpinnya berada dalam ancaman disintegrasi. Sejumlah suku Arab menyatakan memisahkan diri dari komunitas Islam di bawah pimipinan khalifah pertama, Abu Bakr Al-Shiddiq. Sebagian dari mereka mengangkat nabi baru sebagai pemimpin untuk kelompok mereka sendiri. Musailamah dan sejumlah nabi palsu lain seperti al-Aswad dari Yaman dan Tulaikhah bin Khuwailid dari Bani As’ad menyatakan menolak membayar zakat, suatu tindakan yang pada masa itu melambangkan pembangkangan terhadap pemerintah pusat di Madinah. Abu Bakr lalu melancarkan ekspedisi militer untuk menumpas gerakan pemurtadan oleh para nabi palsu tersebut, yang menurutnya telah merongrong kedaulatan khalifah dan membahayakan kesatuan umat. Perang Abu Bakr ini dikenal sebagai “perang melawan kemurtadan (hurub al ridda).” Tampaknya, “Perang melawan kemurtadan” inilah yang diadopsi begitu saja oleh para pelaku kekerasan terhadap Ahmadiyah tanpa disertai dengan pemahaman yang mumpuni terhadap duduk perkaranya. Penyerangan brutal di Banten minggu lalu yang menewaskan tiga warga Ahmadi tersebut secara luas memang telah dikecam bahkan oleh banyak kalangan muslim sendiri, entah dengan alasan menodai citra Islam yang damai, merusak kerukunan beragama, atau melanggar hak asasi kaum minoritas. Tapi bagi para pelaku penyerangan dan yang membenarkannya seperti FPI, apa yang mereka lakukan semata-mata demi membela Islam dari noda pemurtadan. Jamaah Ahmadiyah dianggap telah murtad karena mengakui Mirza Ghulam Ahmad sebagai nabi, dan karena itu mesti dikeluarkan secara paksa dari Islam. Ironisnya, MUI, Menteri Agama dan pihak-pihak yang mengaku tidak menyetujui anarkisme terhadap Ahmadiyah tapi terus memaksa agar Ahmadiyah menjadi agama baru di luar Islam sebenarnya juga memakai pendekatan “perang melawan kemurtadan” secara gegabah. Dalam hal ini, perbedaan antara MUI dan Menteri Agama dengan kaum penyerang Ahmadiyah hanya terletak dalam hal metode, tapi tidak dalam tujuan. Saya sebut ironis karena majelis ulama yang berlabel “Indonesia” di belakang ternyata merubuhkan prinsip kebhinnekaan Indonesia. Ironis

karena seorang menteri yang merupakan hasil pemilu demokratis ternyata mempunyai pandangan yang melenceng dari konstitusi demokratis yang menjamin hak setiap warga menjalankan agama sesuai dengan keyakinannya. Yang paling ironis, presiden SBY membiarkan saja semua itu terjadi. Lepas dari itu, kalau kita tinjau dari sudut doktrin dan sejarah Islam pun, pemakaian kerangka “perang melawan pemurtadan” untuk menyikapi Ahmadiyah sejatinya sama sekali tak berdasar. Patut diingat, sebutan “perang melawan kemurtadan” bukanlah kreasi Abu Bakr sendiri melainkan penamaan belakangan dari para sejarawan Muslim. Disebut demikian barangkali karena yang diperangi saat itu memang arus pemurtadan yang terkait dengan muculnya sejumlah nabi palsu. Dan gerakan nabi palsu pada masa itu berjalin berkelindan dengan upaya menggembosi kedaulatan kekhalifahan. Penolakan membayar zakat bukan hanya pelanggaran terhadap rukun Islam, melainkan juga sebentuk aksi makar. Ini karena, berbeda dengan ibadah sholat yang hanya melulu menyangkut hubungan hamba dan Khaliqnya, urusan zakat berkaitan dengan negara. Tambahan pula, para nabi palsu tesebut juga membangun kekuatan militernya sendiri. Musailamah, misalnya, menggalang tidak kurang 40 ribu pasukan untuk melawan pasukan muslim dalam perang Yamamah, sampai-sampai armada muslim di bawah Khalid bin Walid sempat kewalahan pada awalnya. Karena itu, perang Abu Bakr melawan kemurtadan mesti dibaca sebagai sebuah tindakan yang lebih bersifat politis ketimbang teologis, yakni berhubungan dengan penumpasan terhadap kelompok pemberontak. Karena itu, “perang melawan kemurtadan” versi khalifah Abu Bakr tidak bisa begitu saja diterapkan dalam konteks Indonesia sekarang. Taruhlah memang jamaah Ahmadiyah telah murtad karena mempercayai Mirza Ghulam Ahmad sebagai nabi. Tapi bukankah sejauh ini mereka belum pernah membangun kekuatan militer untuk merongrong umat Islam dan pemerintahan yang sah seperti Musailamah pada masa khalifah Abu Bakr? Bukankah sejauh ini warga Ahmadiyah hanya menuntut untuk diberi ruang menjalankan ibadah sesuai dengan kayakinannya? Kalau memang begitu, apakah tidak keliru kalau mereka diperlakukan seperti para pemberontak? Dalam ilmu qawa’id al fiqh ada diktum yang berbunyi: “hukum berporos pada iIllat (ratio legis) dalam hal keberlakuan dan ketidakberlakuannya” (al hukmu yaduru ma’a al ‘illati wujudan wa adaman). Hukum Islam bukanlah seperangkat aturan baku yang beku yang lahir dari suatu ruang kosong, melainkan senantiasa bertolak dari adanya illat atau alasan hukum tertentu yang mendasarinya. Logikanya, kalau illatnya hilang, maka hukum tersebut menjadi tidak berlaku lagi. Dan kalau illatnya muncul lagi, hukum tadi berlaku lagi. Ditinjau dari perspektif kaidah fiqh di atas, gerakan pemurtadan oleh para nabi palsu pada masa Abu Bakr memang wajib diperangi karena saat itu kemurtadan identik dengan pemberontakan yang mengancam kedaulatan khalifah dan integrasi umat. Adapun kalau sekedar murtad saja tanpa dibarengi pemberontakan, hukum yang berlaku tentu tidak sama. Pada titik inilah kita bisa mengacu pada peristiwa korespondensi antara Nabi Muhammad dengan Musailamah seperti saya paparkan di awal tulisan. Di sinilah pemahaman tentang metodologi hukum Islam mutlak diperlukan dalam melihat pokok soalnya. Tanpa pengetahuan yang mumpuni tentang metodologi hukum Islam, keputusan dan yang muncul dan tindakan yang diambil mungkin saja tampak sesuasi dengan ajaran syari’at, tapi bisa jadi esensinya bertentangan dengan maqashid al- syari’ah (tujuan-tujuan syari’at) yang lebih bersifat universal, seperti perlindungan terhadap hak-hak dasar manusia. Lagipula, satu-satunya dalil Al-Qur’an tentang kemurtadan sama sekali tidak menyerukan kaum Muslim untuk memerangi kaum murtad semata-mata karena kemurtadannya. Simaklah Surat Ali Imran ayat 90: “Sesungguhnya mereka yang menjadi kafir setelah iman mereka, lalu bertambah-tambah dalam kekafirannya, maka Allah tidak akan menerima taubat mereka; Dan mereka adalah orang-orang yang tersesat.” Ayat ini tidak menyinggung tentang perlunya menggunakan cara-cara kekerasan dan paksaan terhadap si murtad, karena Tuhanlah yang akan menjadi hakim atas perbuatannya di akhirat nanti. Dalam kerangka Qur’ani semacam inilah kita bisa mengerti kenapa Nabi tidak menghukum Musailamah yang tanpa tedeng aling-aling mengaku nabi. Bukan karena beliau mendiamkannya— toh Nabi melabelinya dengan gelar “Al Kazzab.” Menurut saya, nabi bersikap seperti itu karena dalam Al-Qur’an, hukuman terhadap si murtad memang sepenuhnya menjadi hak prerogatif Allah SWT. Nabi Muhammad hanyalah seorang manusia biasa yang bertugas menyampaikan risalah Ilahi. Beliau bukan Tuhan yang turun ke bumi. Itulah mengapa Al-Qur’an menegaskan tidak ada paksaan dalam agama. Kalau Nabi saja demikian sikapnya, alangkah lancangnya FPI, MUI, dan Menteri Agama yang merasa punya hak untuk mengambil alih wewenang Tuhan untuk mendaulat diri mereka sebagai hakim atas orang-orang yang dianggap murtad seperti terlihat dalam sikap mereka terhadap jama’ah Ahmadiyah. Di sinilah saya kira umat Islam mesti memilih dalam bersikap, mau mengikuti cara-cara FPI, MUI, dan Menteri Agama, atau meneladani sikap Rasulullah. *Kader NU, kandidat PhD Universitas Pennsylvania

09/03/2011 | Klipping, | # JIL lucu y, dia trus aj blang hrus mnghargai hak asasi orng lain, tp jlas2 hak asasi Islm diinjek2 mlah ngbela mreka yg nginjek2 hak asasi Islam. dah gtu pling pinter memutar blikan fakta. Posted by jmw on 04/12 at 09:19 AM Sudah jelas” Bahwa Al-Mahdi itu akan datang dari keturunan nya Nabi Muhammad Saaw. sendiri (Zuriyah) yaitu cucu"nya, jadi kalo mau jg zuriyah nya yg bakal banyak ngaku almahdi tp ini kan gak pernah ad, jadi kalian pengikut ahmadiya dan JIL itu bodoh banget.. Posted by reza alatas on 04/04 at 08:37 PM APAPun alasannya, Ahmadiyah bukan ISLAM…........silahkan ahmadiyah cari agama sndiri… jgn salahkan umat Islam kalo berlaku kasar,,,,krna Ahmadiyah msh mengatsnamakan islam… Posted by erwin wijaya on 03/23 at 09:52 AM

Tidak ada yg salah pada tulisan artikel di atas tp penulis mengajak untuk lebih berfikir obyektif, tdk terlihat itu membela ahmadiyah atau apapun, yg saya tangkap adalah seperti ajakan “mari meletakkan sesuatu masalah pada posisi yg sebenarnya”. Jadi ketika permasalahan itu jelas asal usulnya, posisinya, besar kecilnya baru dicari solusinya, jelas itu cara berfikir dan bertindak yg lebih Islami, bukan dengan cara asal hantam karena BERBEDA (sikap yg seperti ini lebih kearah bar-bar seperti eropa pd zaman viking, arab pada zaman jahil, amerika pd zaman koboi). ISLAM muncul untuk mendobrak sikap2 BURUK semacam itu. Tetapi kenyataanya lain, negri ini yg mayoritasnya Islam tapi sikap mayoritas seperti koboi, viking atau jahil bahkaan kadang mereka justru bangga dgn sikap spt ini, jelas ini salah kaprah. Dari pemimpin hingga rakyat yg paling bawah mentalitasnya jauh dari mentalitas Islam. Para pemimpin berebut kekuasaan dan kekayaan dengan SERAKAH dan RAKUS seperti yg dimisalkan dlm Qur’an seperti MONYET dan BABI, Rakyatnyapun tak ketinggalan tertular penyakit monyet dan babi mereka. Mari, kaum muda negri ini jangan tiru mental jahil. Posted by LEONG on 03/22 at 08:10 AM insiden ini adalah salah satu bukti bahwa SBY adalah pemimpin pemerintahan yang “pembohong”. harusnya sebagai presiden, SBY musti ambil sikap yang tegas dan mengedepankan demokrasi dalam penyelesaian ahmadiyah ini, bukan yang mengatasnamakan pemerintahan RI dan yang mengatasnamakan ‘ulama’ RI justru melakukan kebohongan terhadap Republik Indonesia yang dari awal berdirinya Negeri ini telah dikonsep oleh para pendirinya sebagai negara yang demokratis, menghargai nilai-nilai pluralisme dan menjunjung tinggi hak-hak azasi manusia. #1. Dikirim oleh ahmad syakur pada 10/03 01:15 AM Saya setuju dg argumen kang sahal, tetapi masalahnya tidak sesederhana sebagaimana dialami pada masa nabi. kompleksitas persoalan dan kekhawatiran yang dirasakan oleh kelompok FPI dan simpatisannya, MUI dan umat yang merasa diwakilinya, atau bahkan menteri Agama perlu ditanggapi juga sebagaimana menanggapi perasaan dan kekhawatiran yang dihadapi kelompok minoritas. memang harus ada ketegasan dari penguasa. tegas terhadap kekerasan, juga tegas terhadap penyebab kekerasan tersebut. #2. Dikirim oleh mustahdi pada 10/03 08:22 AM mantab, inilah sejatinya islam #3. Dikirim oleh ubaidillah pada 10/03 08:29 AM

Benar sekali jika kita mengaku sebagai makhluk ciptaan Allah sudah sepatutnya saling mengasihi bukan saling hujat atau membunuh merasa keyakinannya yang paling benar .Yang berhak menghakimi dan menyatakan manusia itu sesat adalah Allah karena keyakinan manusia kepada Allah hanya manusia dan Allah sendiri itu yang tahu meskipun tata cara ibadah yang dilakukan berbeda . Perdebatan dan pertentangan yang mempermasalahkan keyakinan seseorang sampai menyatakan dan menghakimi seseorang yang berbeda keyakinan adalah sesat/kafir atau murtad sesungguhnya yang menghakimi itu yang sesat/kafir atau murtad, mengapa demikian karena hak penghakiman ada di Ajja wa Jalla . kami mendukung JIL yang bisa berpikir jernih dan terbuka untuk memahami apa yang tersirat dari dalil-dalil dalam ajaran Islam. Kami butuh orang-orang seperti kalian untuk menyampaikan kebenaran tanpa rasa gentar dan takut hanya pada Ajja wa jalla #4. Dikirim oleh mknr pada 10/03 08:52 AM

Benar sekali jika kita mengaku sebagai makhluk ciptaan Allah sudah sepatutnya saling mengasihi bukan saling hujat atau membunuh merasa keyakinannya yang paling benar .Yang berhak menghakimi dan menyatakan manusia itu sesat adalah Allah karena keyakinan manusia kepada Allah hanya manusia dan Allah sendiri itu yang tahu meskipun tata cara ibadah yang dilakukan berbeda . #5. Dikirim oleh mknr pada 10/03 08:55 AM Perdebatan dan pertentangan yang mempermasalahkan keyakinan seseorang sampai menyatakan dan menghakimi seseorang yang berbeda keyakinan adalah sesat/kafir atau murtad sesungguhnya yang menghakimi itu yang sesat/kafir atau murtad, mengapa demikian karena hak penghakiman ada di Ajja wa Jalla . kami mendukung JIL yang bisa berpikir jernih dan terbuka untuk memahami apa yang tersirat dari dalil-dalil dalam ajaran Islam. Kami butuh orang-orang seperti kalian untuk menyampaikan kebenaran tanpa rasa gentar dan takut hanya pada Ajja wa jalla #6. Dikirim oleh mknr pada 10/03 08:56 AM Benar, Tak seorang pun berhak memerangi kemurtadan seseorang. Jangan sekali kali mengambil sesuatu yang itu adalah menjadi hak Tuhan. #7. Dikirim oleh joko maulana pada 10/03 10:30 AM leres,org2 jawa spt sdg “katungkul mungkul sami bengkarak mring masjid agung,gunggung anggubel sarengat”..alias mabuk syari’at, intoksikasi wahabisme,syari’at overdosis… #8. Dikirim oleh bhre wirosobho pada 10/03 01:50 PM Semua hak Allah siapa yang menollak Allah ..?

bila bismillah letakan Namabesar selain Allah, billah bismillahirrahmanirrrahiem maka Dengan menanggalkan nama selain Allah, dengan menanggalkan permusuhan dan pertikaian masuki Ruang asma Allah yang Wujudnya lebihdekat dari adi manusia sendiri lalu berbuatlah welas asih tanpa pertikaian ... #9. Dikirim oleh Akhmad pada 10/03 05:59 PM fakta sejarah memang perlu dikuak agar kita bisa berfikir secara jernih. hanya saja para pihak yang sudah terlanjur alergi terhadap jil pasti mencibir. sepatutnya ambilah kebenaran dari manapun sumbernya, sekalipun dari pihak yang berseberangan. #10. Dikirim oleh muhnan rais pada 10/03 07:07 PM murtad yg di maksud dalam sejarah nabi sama nggak nih dengan murtad yg masih ngaku islam tapi nyeleweng dari nilai dasar islam itu sendiri. kalau hari ini ente mulim, besok ente murtad krn ente nggak yakin ama islam, ya….lakum dinukum walyadin aja deh…, tapi kalau kasusnya, contoh: gw agama hindu tapi ngaku tuhan gw yesus, trus buat organisasi dan nyebarin keyakinan gw yg kaya gitu…benar nggak tuh? #11. Dikirim oleh jenar pada 11/03 03:36 AM Assalamualaikum Jarang orang yang berpikir jernih pada masa kini, semua pendapat yang diungkapkan oleh Akhmad Sahal itu didasarkan dari pemahaman yang benar dan kritis. Politikus dari dulu sampai sekarang melakukan orasi didasarkan pada UUD (ujungujungnya duit)dengan berbagai cara melakukan pembohongan terhadap masyarakat yang memang hasanah pengetahuannya sangat minim. Yaa Allah berilah kami kekuatan, kesabaran dalam menunggu jangjiMU bagi siksa orang pembohong dimuka bumi ini. Wassalam H.Bebey #12. Dikirim oleh H. Bebey pada 11/03 07:25 AM Kalau untuk FPI dan MUI, saya tidak bisa komentar. Tapi untuk menteri agama, sebagai representasi negara (dan pembantu kepala negara/pemerintahan) maka menteri agama memegang mandat kekuasaan sebagai pelaksana kedaulatan negara atas wilayah dan seluruh rakyat indonesia. Suka atau tidak suka kepada substansinya, siapapun harus mematuhi penguasa krn penguasa indonesia skrg telah terpilih melalui proses yg (sangat) demokratis. Singkatnya menteri agama , menurut pendapat saya tidak lancang thd Nabi, tetapi bahkan telah melaksanan mandat dari Nabi sebagai ‘ulil amri’ di wilayah indonesia, untuk menjaga kemurnian aqidah dari kerusakan (yg akan menyesatkan anak, cucu, dan keturunan saya kelak dan menyebabkan siksa akhirat) ,naudzubillah… #13. Dikirim oleh Irwan pada 12/03 09:52 AM ada perbedaan mendasar antara pemeerintahan Abu Bkr dengan Indonesia hari ini…Abu Bakar memiliki kekuasaan penuh dalam masalah agama dan politik secara sekaligus sedangkan di negara kita itu tidak ada…sehingag abu bakar bisa mengambil tindakan politik langsung berhubungan dengan masalah agama, dan didukung penuh masyarakat tanpa ada kecurigaan ini itu pada Khalifah. kemudian kondisi sosio-kultural juga berbeda. jadi penerapan ‘illat yang disebutkan di Indonesia bisa jadi sangat relatif dan interpretable. itupun jika ‘illatnya tepat seperti yang diungkapkan…bagaimana dengan alasan Abu Bakar yang disebut dalam Kitab nailul Awthar….“Sungguh Aku akan perangi siapa yang memisah-misahkan shalat dan zakat”..???? #14. Dikirim oleh Abrar pada 12/03 10:57 AM Bung Akhmad Sahal, saya sependapat dengan anda. Semoga tidak ada orang, pejabat negara atau organisasi manapun yang bertindak seperti Tuhan. Hanya Tuhan yang benar. #15. Dikirim oleh parwanto pada 12/03 11:54 AM Assalaamualaikum.. Berabad-abad lalu kita dah dinasehati Rasulullah bahwa Islam akan terpecah jd beberapa golongan, apapun golongan kita, hanya Allah yg Maha Tau benar ato tidak, karna kita hanya manusia, tawakkal aja pd Allah & mari kita saling tolong menolong dlm memperbaiki hidup bangsa ini, “capek dehhh kalo ngurusin hal2 yg sebenarnya bukan domain kita” hehe.. Wassalaam.. #16. Dikirim oleh Oeliel_Amrie pada 12/03 06:31 PM wah menarik juga tuch,,,menrt saya perlu ada telaah ulang sblum jauh kesejarah,,,,,, #17. Dikirim oleh haydar pada 13/03 03:55 PM

Kalau kita merujuk kpd kitab2 sejarah perjuangan Khalifah2,maka kita akan melenceng dari ajaran Islam yg murni.Karena Khalifah2 setelah rasul wafat masing2 ingin berkuasa menggantikan Nabi. Karena tidak lagi mengikuti al Quran,tapi nafsu maka terjadilah pembunuhan2 atas nama agama. Kalau kita merujuk kpd Al Quran, tidak ada perintah dr ALLAH utk membunuh Nabi2 palsu atau orang2 Murtad. DALILNYA. Sesungguhnya orang orang yang memecah belah agamanya dan mereka terpecah menjadi beberapa golongan, tidak ada sedikitpun tanggung jawabmu terhadapat mereka. Sesungguhnya urusan mereka hanya lah terserah kepada Allah, kemudian Allah akan memberitahukan kepada mereka apa yang telah mereka perbuat.QS.6:159. MURTAD Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang rasul, sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa orang rasul [3]. Apakah jika dia wafat atau dibunuh kamu berbalik ke belakang [murtad]? Barangsiapa yang berbalik ke belakang(murtad), maka ia tidak dapat mendatangkan mudharat kepada Allah sedikitpun; dan Allah akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur. QS 3:(144) . Jelaslah bagi kita ulama2 Wahabi Radikal ini tidak lagi merujuk kpd AL Quran,tapi kpd Fatwa2 ulama2 Radikal. #18. Dikirim oleh alatif pada 14/03 02:24 AM kalangan yang menentang jil bukan hanya sekedar “alergi” tanpa dasar,pemikiran-pemikiran yang dikeluarkan oleh gerakan ini sangat nampak menggunakan argumen-argumen yang dipaksakan demi mendukung pemikiran mereka,sebagai contoh dalam tulisan akhmad sahal ini yang mencoba untuk memberikan sudut pandang lain mengenai penyikapan tentang nabi palsu padahal kalau kita baca kisah-kisah yang dicontohkan oleh akhmad sahal ini tidak secara jujur diceritakan dengan apa adanya sehingga kita yang orang-orang awam ini menganggap bahwa sikap MUI dan depag adalah salah,saran saya silahkan dibaca tulisan tanggapan atas artikel akhmad sahal ini yang ditulis oleh syamsudin arif supaya kita tidak terjebak dengan pemikiranpemikiran jil yang ternyata hanya mengambil sepotong-sepotong kisah zaman dulu wallahu a’lam #19. Dikirim oleh rifki pada 14/03 09:03 AM Kita manusia ini adalah khalifah Allah di muka bumi, dgn tugas : membebaskan umat manusia dari rasa takut (demokrasi)dan rasa lapar (kesejateraan sosial). Pemahaman thd negara Indonesia dan pemerintahnya jangan dibuat rumit, pemerintah Indonesia mempunyai mandat penuh Allah dan RasulNya. Buktinya : dasar negara Indonesia - Ketuhanan YME. Terjemahan Tuhan YME dlm bhs Inggris - The One and Only True God, atau dlm bhs Arab - ALLAH. Krn itu berat tanggung jawab jadi presiden dan menteri, dan memang seharusnya begitu. #21. Dikirim oleh Irwan pada 14/03 12:55 PM @rifki Namanya cerita sejarah bisa versi macam2 tergantung latar belakang penulis dan lain sebagainya, karena toh tidak ada cerita sejarah yang kebenarannya dapat diverifikasi 100%, apalagi cerita agama. Jika anda liat di situs faithfreedom international, pendirinya Dr Ali Sina intinya selalu menyatakan bahwa semakin dia memperdalam Islam semakin dia yakin bawa keluar dari Islam adalah jalan keselamatan, dengan berbagai alasan sejarah dan pemahaman atas isi Al Qur’an. Demikian juga Sdr Sahal, intinya ingin menceritakan bahwa setiap perbedaan tidak harus diselesaikan dgn kekerasan dgn merujuk pada sejarah Nabi. Bahwasanya Sdr Syamsudin Arif punya versi lain ya monggo saja, toh dasarnya sejarah juga, baik yg tertulis di Qur’an dan hadist, maupun sejarah tertulis lainnya.Sama halnya juga di tempat saya kerja maupun di lingkungan sekitar rumah saya, berita di situs Hidayatullah juga dianggap kurang layak untuk dipercaya. Mereka lebih percaya kpd Kompas atau Detik. Tapi satu yg harus diperhatikan bahwa melakukan tindakan anarkhis dgn alasan untuk membela kebenaran sementara pihak korban tidak melakukan tindakan serupa merupakan tindakan yang konyol. #22. Dikirim oleh nu pada 15/03 08:51 AM Ternyata masyarakat kita lebih cenderung yakin terhadap yg disampaikan oleh nabi2 palsu. Nabi menyampaikan kedamaian sedangkan nabi palsu bukan berdakwah tapi menghasud, ironisnya nabi palsu jaman Rosulullah adalah penentang Nabi, yg sekarang justru merasa mengikuti ajaran nabi. Pendapatnya tidak bisa ditentang, beda pandangan langsung alergi.jangankan aparat negara sekalipun mandul menghadapi mereka #23. Dikirim oleh dizal pada 15/03 07:05 PM di situs hidayatullah saya coba clip ini : 1. “Kepada dua orang suruhan Musaylamah yang membawa surat itu Rasulullah berkata: “Seandainya boleh membunuh utusan (diplomat), niscaya sudah kupenggal kepala kalian berdua (ama w-Allahi law-la anna r-rusul la tuqtalu, la-dharabtu a‘naqakuma)!” 2. sabda Rasulullah yang diriwayatkan Imam an-Nasa’i: “Siapa yang menukar agamanya maka bunuhlah dia (man baddala dinahu fa-uqtuluhu).” Maka tatkala Mu‘adz ibn Jabal berkunjung ke kediaman Abu Musa al-Asy‘ari di Yaman dan melihat seorang Yahudi diikat lantaran masuk Islam tetapi kemudian keluar lagi (murtad), beliau berkata: “Aku tidak akan duduk sebelum orang ini dieksekusi. Demikianlah ketentuan Allah dan RasulNya (la ajlisu hatta yuqtala, qadha’Allahi wa rasulihi).”

kok kontradiktif ya. Sifat asli Nabi yg mana yg benar? apa ceritanya yg di pelintir? abu Musa malah bicara bahwa itu Ketentuan Allah dan RasulNya?? kok sy lebih percaya sifat nabi yg no.1 ya. tidak gegabah untuk mengambil nyawa manusia cipt Allah yg lain, meskipun berbeda keyakinan.

#24. Dikirim oleh dhani pada 15/03 09:03 PM Sya saya tdk sependapt&bahkan; saya menentang&memusuhi; semua pemikiran JIL yg sesat mnyesatkan,,,Bahkan dedengkot JIL anaknya mau menikah sama org YAHUDI AS dia ttp meminta calon mnntunya itu harus masuk islam terlbh dahulu ,,berarti dia mati seperti matinya orang munafik ,,,..&yg; terbaru mungkin ulil abshar msh diberi kesempatan untuk bertobat ke jalan yg benar bukan jalan,JIL karena JIL laksana penyakit tumor ganas dalam tubuh agama islam ....saya setuju bila ulil abshar dibunuh, #25. Dikirim oleh kamal pada 16/03 05:34 AM intinya saya setuju sama mas sahal. jangan ada kekerasan apapun itu alasannya. masalah iman biarlah Tuhan sendiri yang menyelesaikan. Kita tak punya hak untuk menghukum Buat pak menteri agama, jangan gampang ambil keputusan, tanggungjawab anda bukan semata kepada manusia tetapi kepada Allah SWT. Kalau sampai salah ambil keputusan maka resiko tanggung sendiri. Berbuatlah sebagaimana layaknya seorang muslim yang benar. Thanks. #26. Dikirim oleh cintadamai pada 16/03 11:56 AM @nu anda mengatakan “Demikian juga Sdr Sahal, intinya ingin menceritakan bahwa setiap perbedaan tidak harus diselesaikan dgn kekerasan dgn merujuk pada sejarah Nabi”.Justru ini yang saya permasalahkan mengenai pemikiran JIL tentang sejarah Nabi,tulisan akhmad sahal ingin mencoba memberikan bahwa penyikapan Rasulullah atas nabi palsu tidak memakai “kekerasan”,dicontohkan kisah musaylamah dalam tulisannya dengan rujukan Imam at-Thabari,Tarikh ar-Rusul wa l-Muluk. kemudian dalam tulisan syamsudin arif mengisahkan hal yg sama dengan rujukan yang sama dan jika kita baca juga tulisan syamsudin arif,ternyata beliau menceritakan lebih lengkap dan detail dan ternyata kisah musaylamah tersebut tidak hanya sebatas dengan apa yg ditulis oleh akhmad sahal dan juga penyikapan Rasulullah terhadap musaylamah pun tidak hanya sebatas dari apa yg ditulis oleh akhmad sahal disinilah letak permasalahan mengenai sejarah yang banyak ditulis oleh para aktivis JIL,mereka hanya mengambil cerita yang sepotong-sepotong untuk mendukung pemikiran mereka,ini adalah langkah yang memberikan efek yang sangat berbahaya bagi kaum muslim yang awam seperti kita,kita akan terjebak dengan opini cerita sejarah yang ternyata diambil hanya sepotngsepotong kalau memang akhmad sahal menceritakan sejarah tersebut dengan apa adanya dan memang penyikapan nabi Muhammad seperti apa yang diceritakan,saya pasti akan terima pandangan tersebut.Wallahu a’lam #27. Dikirim oleh rifki pada 16/03 01:24 PM @nu kalau anda alergi untuk membuka situs hidayatullah tersebut dengan penilaian anda tersebut,berikut saya berikan link lain untuk tulisan syamsudin arif http://insistnet.com/index.php?option=com_content&view=article&id=228:menyikapi-nabi-palsu-dan-ahmadiyah-1-&catid=27:mengenal-ahmadiyah&Itemid=28 #28. Dikirim oleh rifki pada 16/03 01:29 PM Kalau mo bicara agama, lihat amalan orang tsb. Terutama Sholatnya,bila orang tersebut laki2 sholat subuh dan Sholat Isaknya di rumah dipastikan orang tersebut MUNAFIK, apalagi ga sholat. DARI TULISAN DAN POLA PIKIRANNYA BISA KITA KETAHUI KUALITAS IMAN DAN AMALAN ORANG TERSEBUT. BIASANYA UJUNG-UJUNGNYA DUIT, HANYA MIKIRIN PERUT, ISI PERUT DAN DI BAWAH PERUT, BISA DIBUKTIKAN…............ #29. Dikirim oleh agung pada 16/03 06:00 PM Wahai…Para Ahli Ibadah… Bgaimanakah ku jelaskan pada anak cucuku… tentang semua ini….salah menurut siapa..benar menurut siapa… Baru saja hati ingin kuatkan iman dan perdalam Ini kali tergores dengan perbedaan paham.. cara berfikir..atau sejarah yang terpenggall..

atau sok tahu..siapa…. Semoga ...pertanyaan di alam kubur..akan menentukan cara kita menjawabnya… #30. Dikirim oleh Hamba Allah pada 16/03 07:19 PM Sebenernya gampang kok mas akhmad Kalau JIL tidak setuju dengan solusi kekerasan, its ok, nggak masalah Tapi, lebih bagus kalau wacana itu dibuktikan dengan tindakan nyata, sebuah teladan, sehingga tidak sekedar menjadi polemik Misalnya JIL langsung turun ke ahmadiyah, mendakwahi mereka, ... untuk kembali ke pemahaman islam yang sebenernya Bisakah ??? #31. Dikirim oleh kapten pada 17/03 05:31 PM Saya tidak sependapat dengan pihak2 yang memerangi Ahmadiyah, secara fisik maupun psikis. walaupun saya bukan pengikut Ahmadiyah. Menurut saya, sebuah keyakinan tidak dapat dipaksakan kepada seseorang. Dan sebagai manusia, bukan kapasitas kita menilai baik-buruk, salah-benar, terhadap sesuatu. Biarlah yang maha berhak yang menilai. Tugas kita sebagai manusia adalah menjaga keharmonisan di dunia. Yang tidak sependapat dengan kita tak seharusnya kita hardik seolah-kita yang paling benar.. Bukankah kebenaran itu hanya milik Tuhan. dan Tuhan sudah melarang kita untuk menjadi manusia yang merasa paling benar. Ingat.. dalam setiap perbuatan kita selalu memulai dengan basmalah.. Dengan nama Allah yang MAHA PENGASIH dan MAHA PENYAYANG… Akuilah.. sebagian besar dari kita telah MENUHANKAN AGAMA dan MEMBERHALAKAN ALLAH… #32. Dikirim oleh Chandra Gunawan pada 17/03 05:45 PM Obral Otak Pada 30 tahun yang akan datang, teknologi rekayasa genetika sudah demikian berkembangnya, sehingga cangkok otak sudah dapat dilaksanakan dengan mudah. Oleh karena itu banyak otak yang diawetkan menunggu pasien yang membutuhkan. Di suatu bank/toko donor otak dijual otak dari berbagai negara di dunia. Dibawah ini adalah daftar harga otak berdasarkan negara asal. Asal Otak Harga USA free/obral/sale Inggris Rp. 1.000.000,Jerman Rp. 900.000,Jepang Rp. 100.000,... ... Indonesia Rp. 1.000.000.000,Melihat daftar harga yang semacam itu, seorang turis yang masuk toko tersebut menjadi heran, terus dia bertanya kepada yang empunya toko “Pak, ... maaf pak kelihatannya daftar harga anda itu salah dan terbalik” Yang punya toko: “Oh ... tidak bung, harga otak tersebut memang betul, ... otak yang termurah adalah otak USA dan Jepang karena sering digunakan jadi sudah rongsokan, ... kalau anda membutuhkan otak, yang terbaik adalah otak Indonesia, karena masih orisinil, belum pernah dipakai selama hidup ...” Guyonan diatas cocok untuk orang yang bisanya cuma memaki-maki doang…. #33. Dikirim oleh roni pada 17/03 07:51 PM hahahaha, silahkanlah anda sesama ISLAM berantem, kami senang melihatnya, dari situ akan terlihat kualitas orang/grup/krlompok mana yang paling baik dan tentunya pemahaman agamanya masing-masing. kami sebagai kaum minoritas SUDAH BIASA di ZOLIMI, itu sudah menjadi santapan kami sehari hari dan kami kebal karenya, dan jangan salah, dengan setiap hari menyantap KEZOLIMAN mayoritas, kami makin tahu seluk beluk anda untuk kami tekuk suatu hari nanti. pernah lihat balon berisi air? dimana airnya? coba anda tekan terus sampai pecah. sekarang dimana airnya?? coba pahami dulu analogi tersebut…. #34. Dikirim oleh sali pada 19/03 09:30 AM yang menjadi pertanyaan kalau ada nabi setelah nabi muhammad, knp ajarannya itu mengutip/mengobok-ngobok/merubah kitap alquran yang sudah menjadi kitab umat islam, seharusnya nabi yang muncul itu membawa ajarannya berdasarkan kitab sucinya apakah kitab kamasutra atau yang lainnya coba renungkan bagaimana reakasi umat hindu,budha,kristen, konguchu atau yang lainnya jika kitab mereka diubah oleh orang yang mengaku nabi semua agama sama mengajarkan kebaikan Tuhan pun satu setiap agama punya 1 tuhan yang mereka sembah

#35. Dikirim oleh roh sejati pada 19/03 10:00 AM @nu: Menyitir apa yg anda komentari terhadap rifki, adalah sah saja merujuk pendapat yg berbeda terutama dalam penyampaian sejarah. rifki hanya berusaha memberi pandangan lain yg punya referensi jelas terhadap suatu masalah. Saya tidak mengerti tujuan mengutip faithfreedom international untuk apa? Apa yg hendak anda utarakan dengan “lingkungan” yg jelas menolak Islam apapun “dalih"nya? Apa hubungannya perbedaan kredensial kompas/detik dengan Hidayatullah di lingkungan “sekitar” anda? Apakah anda hendak mengatakan lingkungan sekitar anda lebih di"atas”? Analisa dengan argumen yg “hampir masuk akal” bukan berarti benar. Apa bedanya penyelewengan dan pembangkangan pihak “lain” dengan segala alasannya dan tindakan “anarkis”? Apakah kalau tidak masuk berita artinya mereka “tidak melakukan tindakan serupa”? #36. Dikirim oleh anton pada 19/03 11:30 AM Sebaiknya anda jangan mengambil sepotong cerita dan membuang yang lain hanya untuk membela ahmadiyah secara membabi buta. Karena dengan demikian, anda sama saja menyembunyikan kebenaran dan menyesatkan umat Islam. Takutlah kepada Allah ! Kepada para pembaca silakan mencari kronologi dan sejarah yang sebenarnya. Komentar saya cuma satu : Apa yang dilakukan oleh Abu Bakar adalah amanah Rasulullah. #37. Dikirim oleh nurasadullah pada 19/03 10:56 PM Di republik ini pemimpinnya udah bertindah melebih Nabinya sendiri,..ckckckc,.. #38. Dikirim oleh hitamputih pada 20/03 12:53 PM

Tidak ada yg salah pada tulisan artikel di atas tp penulis mengajak untuk lebih berfikir obyektif, tdk terlihat itu membela ahmadiyah atau apapun, yg saya tangkap adalah seperti ajakan “mari meletakkan sesuatu masalah pada posisi yg sebenarnya”. Jadi ketika permasalahan itu jelas asal usulnya, posisinya, besar kecilnya baru dicari solusinya, jelas itu cara berfikir dan bertindak yg lebih Islami, bukan dengan cara asal hantam karena BERBEDA (sikap yg seperti ini lebih kearah bar-bar seperti eropa pd zaman viking, arab pada zaman jahil, amerika pd zaman koboi). ISLAM muncul untuk mendobrak sikap2 BURUK semacam itu. Tetapi kenyataanya lain, negri ini yg mayoritasnya Islam tapi sikap mayoritas seperti koboi, viking atau jahil bahkaan kadang mereka justru bangga dgn sikap spt ini, jelas ini salah kaprah. Dari pemimpin hingga rakyat yg paling bawah mentalitasnya jauh dari mentalitas Islam. Para pemimpin berebut kekuasaan dan kekayaan dengan SERAKAH dan RAKUS seperti yg dimisalkan dlm Qur’an seperti MONYET dan BABI, Rakyatnyapun tak ketinggalan tertular penyakit monyet dan babi mereka. Mari, kaum muda negri ini jangan tiru mental jahil. #39. Dikirim oleh LEONG pada 22/03 08:10 AM APAPun alasannya, Ahmadiyah bukan ISLAM…........silahkan ahmadiyah cari agama sndiri… jgn salahkan umat Islam kalo berlaku kasar,,,,krna Ahmadiyah msh mengatsnamakan islam… #40. Dikirim oleh erwin wijaya pada 23/03 09:52 AM Sudah jelas” Bahwa Al-Mahdi itu akan datang dari keturunan nya Nabi Muhammad Saaw. sendiri (Zuriyah) yaitu cucu"nya, jadi kalo mau jg zuriyah nya yg bakal banyak ngaku almahdi tp ini kan gak pernah ad, jadi kalian pengikut ahmadiya dan JIL itu bodoh banget.. #41. Dikirim oleh reza alatas pada 04/04 08:37 PM JIL lucu y, dia trus aj blang hrus mnghargai hak asasi orng lain, tp jlas2 hak asasi Islm diinjek2 mlah ngbela mreka yg nginjek2 hak asasi Islam. dah gtu pling pinter memutar blikan fakta. #42. Dikirim oleh jmw pada 12/04 09:19 AM Tanggapan untuk Akhmad Sahal Share |

Menyikapi ‘Nabi Palsu’ dan Ahmadiyah (1) Senin, 28 Februari 2011 Oleh: Dr Syamsuddin Arif TAHUN kesepuluh Hijriah atau 632 Masehi merupakan tahun krisis. Dua orang ‘nabi gadungan’ muncul hampir bersamaan. Bukan secara kebetulan. Tetapi lantaran terbuka kesempatan apabila tersiar berita bahwa Rasulullah jatuh sakit. Maka di negeri Yaman, seorang bernama al-Aswad ibn Ka‘b al-‘Unsi pun memproklamirkan diri sebagai nabi. Lewat pelbagai atraksi seperti menyuruh keledainya bersujud –tentu sesudah dilatihnya, al-Aswad sempat mendapat sejumlah pengikut di Najran dan Sanaa. Ia juga mengklaim didatangi oleh dua malaikat, satu bernama Sahiq, dan satu lagi bernama Syahiq, dengan wahyu berbunyi: “Wal mayisati maysa, wad darisati darsa, yahijjuna ushaba wa furada.” Lantas bagaimana sikap pemerintah kala itu? Gubernur Khalid ibn Sa‘id langsung mengusirnya dari Sanaa. Kemudian Rasulullah mengirim detasemen khusus untuk menumpasnya. Misi tersebut berhasil, meski berita tewasnya nabi palsu itu baru sampai ke Madinah kira-kira dua minggu setelah Rasulullah wafat (Lihat:Imam at-Thabari,Tarikh ar-Rusul wa l-Muluk, 3:185-187). Musaylamah ibn Habib adalah orang kedua yang mengklaim dirinya nabi.Sebelumnya ia pernah menyertai rombongan sukunya, Bani Hanifah, yang baru masuk Islam, datang ke Madinah untuk menghadap Rasulullah. Ketika pamit, mereka memberitahu Rasulullah bahwa ada seorang anggota yang tidak ikut masuk tetapi menunggu di luar menjaga unta dan barang-barang bawaan mereka, yaitu Musaylamah. “Dia itu tidak lebih buruk dari kalian,” ujar Rasulullah seraya menyuruh mereka supaya memberikan hadiah yang sama kepadanya. Nah, sabda Rasulullah itulah yang dijadikan modal oleh Musaylamah untuk mengaku dirinya nabi di kemudian hari.

Tiba di Yamamah, kampung halamannya, Musaylamah berlagak dapat wahyu lantas bersajak: “Laqad an‘am Allah ‘ala l-hubla, akhraja minha nasmatan tas‘a, min bayni shifaq wa hasya.” Ia lalu menghalalkan minuman keras (khamr), hubungan seks tanpa nikah (zina) dan sebagainya. Kejadian ini dilaporkan oleh sejarawan Ibn Sa‘d dalam Thabaqat, 1:273 dan Imam at-Thabari dalam Tarikh, 3:138. Ketika mendengar kondisi kesehatan Rasulullah terus memburuk, Musaylamah semakin berani menyuarakan klaimnya. Ditulisnya sepucuk surat kepada Rasulullah supaya wilayah kenabian dibagi dua saja, separuh untuk nabi orang Quraysh dan separuhnya lagi untuk nabi orang Yamamah –yaitu dirinya. Rasulullah jelas menolak permintaan tersebut dan menjuluki Musaylamah ‘si pembohong’ (al-Kadzdzab). Kepada dua orang suruhan Musaylamah yang membawa surat itu Rasulullah berkata: “Seandainya boleh membunuh utusan (diplomat), niscaya sudah kupenggal kepala kalian berdua (ama w-Allahi law-la anna r-rusul la tuqtalu, la-dharabtu a‘naqakuma)!” Peristiwa ini dituturkan oleh Imam at-Thabari, (Tarikh jilid 3, hlm.146). Musaylamah dan para pengikutnya berhasil ditumpas habis oleh pasukan kaum Muslimin yang dipimpin Khalid ibn al-Walid tidak lama sesudah Rasulullah wafat (Lihat:al-Baladzuri, Futuh 1:104-106) Imam at-Thabari memberikan catatan penting yang terjemah Inggrisnya berbunyi: “It is said that the pretension of Musaylamah and of those who falsely alleged prophethood during the time of the Prophet [Muhammad saw] actually took place after the Prophet had returned from his ‘Farewell Pilgrimage’ and during the illness in which he died. … When the Prophet returned to Medina after performing the Final Pilgrimage, he began to have a complaint of illness. As travel was allowed, the news of the Prophet’s illness spread, so both al-Aswad and Musaylamah leapt at [the opportunity and claimed prophethood for themselves], the former in the Yemen and the latter in al-Yamamah, and their news reached the Prophet. After the Prophet had recovered, Thulayhah leapt at [the opportunity and claimed prophethood] in the land of the Banu Asad. Then in Muharram the Prophet complained of the pain from which he died.” (The History of al-Tabari, vol. IX – the Last Years of the Prophet, trans. with notes by Ismail K. Poonawala, New York 1990, hlm.107-108 = teks Arabnya dalam kitab Tarikh jilid 3, hlm.146147). Kemunculan dua orang nabi gadungan itu sebenarnya sudah diisyaratkan kepada Rasulullah. Dalam sebuah riwayat disebutkan pernah suatu kali Rasulullah bermimpi melihat dua gelang emas diletakkan di atas telapak tangannya. Lama-kelamaan dua gelang emas itu tampak semakin membesar. Kemudian beliau mendengar suara berkata: ‘Tiuplah mereka!’Maka dengan satu tiupan dua gelang emas itupun sirna.‘Aku takwilkan mimpi tersebut sebagai dua orang penipu yang mengapit keberadaanku, yaitu penguasa Sanaa dan pemimpin Yamamah.’Demikian diceritakan Imam al-Bukhari sebagaimana dikutip oleh Ibn Katsir dalam kitab al-Bidayah wa n-Nihayah, juz 5, hlm.45-46. Orang ketiga yang mengaku dirinya nabi ialah Thulayhah ibn Khuwaylid al-Asadi. Seperti halnya Musaylamah, ia pun awalnya seorang muslim, tetapi kemudian murtad dan menabikan diri. Rasulullah mengirim Dhirar ibn al-Azwar untuk memerangi nabi gadungan itu, namun belum berhasil sampai wafatnya. Di kemudian hari, tatkala sudah dikepung oleh pasukan Muslim, Thulayhah masih berlagak mendapat wahyu. “Telah datang Jibril kepadaku dan berbisik: (inna laka raha ka-rahahu, wa yawma la tansahu),” serunya. Sadar bahwa ia dan pengikutnya tak mungkin menang, Thulayhah pun akhirnya menyerah. Setelah ditangkap dan dibawa menghadap Khalifah Abu Bakr ra, ia pun bertobat dan kembali kepada Islam. Thulayhah tewas dalam sebuah pertempuran di Nahawand (Lihat: Imam at-Thabari, Tarikh, 3:186 dan Ibn al-Atsir, Usud al-Ghabah 3:95). Masih di zaman Khalifah Abu Bakar, muncul di wilayah Oman seorang nabi palsu bernama Dzut-Taj Laqith ibn Malik al-Azdi. Terhadapnya Khalifah Abu Bakr ra bertindak tegas. Satu divisi tentara dikirim untuk membasmi aliran sesat itu dan membekuk kepalanya (Lihat Ibn Katsir, al-Bidayah wa n-Nihayah, 6:329). Lalu pada zaman pemerintahan Abdul Malik ibn Marwan, seorang bernama al-Harits ibn Sa‘id mengaku nabi. Mereka yang terpukau oleh aksi-aksi anehnya lalu ikut dan berbai‘at setia kepadanya. Namun berita mengenainya sampai juga kepada Khalifah. Maka diutuslah beberapa orang untuk meringkusnya. Setelah beberapa lama buron di kawasan Baitul Maqdis, Yerusalem, nabi gadungan itu akhirnya berhasil ditangkap. Ia kemudian dibawa menghadap Khalifah di Damaskus dan disuruh bertobat tetapi bersikukuh menolak. Al-Harits akhirnya dijatuhi hukuman mati dan disalib (Lihat: Ibn ‘Asakir, Tahdzib Tarikh Dimasyq, 3:442-5). */bersambung Penulis pakar orientalis dari International Islamic University (IIU), Malaysia dan peneliti INSISTS. Tulisan ini diturunkan untuk menanggapi tulisan Akhmad Sahal berjudul, "Nabi Palsu, Sikap Nabi, dan Ahmadiyah" di Tempointeraktif, Rabu, 16 Februari 2011 Foto: ilustrasi

Red: Cholis Akbar

Son Haman , Senin, 28 Februari 2011 Kita perlu penulis Islam yang pemikir dan inetelej seperti ini, untuk membendung pemikir pemikir liberal yang rutin berkampanye di media media liberal dan sekuler Yamin , Senin, 28 Februari 2011 Dari penjelasan tulisan Ustd Arif di atas berarti sudah sangat jelas, bahwa kalangan liberal sebangsa Ahmad Sahal hanyalah pencomot sejati, plagiator handal dalam memahami sejarah dan tidak pernah mau mencantumkan hasil comotannya secara utuh, sebagaimana koaran dia di TEMPO itu. Menyedihkan, katanya (dia mengakuinya sendiri, ditulis dengan PD banget kayaknya) seorang kandidat PhD (S3) tapi ternyata kualitasnya, Naudzubillah, hanya seujung kuku. Sahal hanyalah satu dari sekian banyak contoh pemikir liberal yang sebenarnya sama sekali dangkal pemahamannya. Cuma karena dapat duit, ya, mereka mau saja mengatakan/menulis apa yang dimau "tuannya" Yosep , Senin, 28 Februari 2011 Bukan hanya dangkal ilmunya, tapi memang sama sekali tidak ada gagasan yang benar benar baru dari mereka ini. Kelebihan mereka hanya pintar dan lihai sekali dalam mencomot pendapat orientalis pendahulunya, jadi tampak mereka seolah olah seperti intelektual beneran. Saya kalo baca tulisannya Novroantoni Kahar, Ulil, Sumanto, dll, sering kali membuat saya bersedih dan tertawa, inikah yang disebut intelektual? Menulis yang sok intelek/pemikir, tapi isinya hanya paparan ide yang sangat akrobatik, sama sekali tidak ada gagasan yang orisinil. Kita patut bersedih. Sudah liberal, jahil lagi. Seperti kata Pak Yamin, kita patut mengucapkan naudzubillah! Sudiro , Senin, 28 Februari 2011 Kisah-kisah nabi palsu sejak zaman Rosullullah SAW sudah sering diceritakan oleh kiai-kiai salafiyah, namun gaungnya sudah tertutup oleh kenikmatan dunia, bahkan kiai dunia. kok kita gak mau meniru yang benar seperti di atas ya... he...he.... Budhi , Selasa, 01 Maret 2011 Pemerintah iki piye? Membela sing Mayoritas ae ra wani, apalagi membela sing minoritas, kek kek kek Matkarto , Kamis, 03 Maret 2011 Tulisan yang penuh kebencian, jauh dari klaim damai yg suka disebut umat Islam. Tulisan ini cuma mengajak umat Islam menjadi penuh kekerasan. Azein , Kamis, 03 Maret 2011 Komentar Matkarto penuh dengan kebodohan, jauh dari paparan ilmu yang suka disebut kaum berpengetahuan. Komentar Matkarto ini cuma mengajak umat Islam menjadi penuh kejahilan dan kelalaian. Beni Sutrisno , Jum'at, 04 Maret 2011 Percakapan Matkarto dan Azein.. percakapan dua orang yang sama2 muslim.. Indahnya..... Mencerminkan sangat keluhuran Islam.. Faye , Sabtu, 05 Maret 2011 Jangan terjebak iklan semiotis antikekerasan yang maknanya sudah dikorup dude.. Yes kita keras, tapi ksatria dan terhormat bung. Tanggapan untuk Akhmad Sahal Taufiq , Sabtu, 05 Maret 2011 Tumpas ganyang benar benar keras dan dingin Aradea Markatin , Senin, 07 Maret 2011 Jadikanlah diri kita baik dan sholeh terlebih dahulu maka baru kita bisa menilai dan memperbaiki orang lain... Shadow Uchiha , Kamis, 10 Maret 2011 @Mukarto Kalau ada orang masuk lalu tinggal tanap izin di rumah Anda, bahkan mengklaim bahwa dialah pemilik sah dari rumah Anda, apa yang Anda lakukan? Diam saja sambil "bertoleransi" dan membiarkan orang tersebut petantang petenteng di rumah Anda? Jika Anda melawan dan mengusir orang kurang ajar tersebut, apakah tindakkan Anda adalah "kekerasan", "intoleran", dan "penuh dengan kebencian"?????? Apalagi ada orang yang memakai seragam kenabian setelah Muhammad saw sang penutup para nabi dan Rasul, pantaslah umat Islam, atau tepatnya pemerintah Islam bertindak tegas dan keras terhadap orang kurang ajar tersebut Share | Menyikapi ‘Nabi Palsu’ dan Ahmadiyah (2)

Share | KOMENTAR

Selasa, 01 Maret 2011

DALAM tulisan pertama Dr Syamsuddin Arif, telah menjelaskan bagaimana ‘tahun krisis’ pada tahun kesepuluh Hijriah (632 Masehi) ditandai dengan munculnya ‘nabi gadungan’. Di antara mereka adalah al-Aswad ibn Ka‘b al-‘Unsi dan Musaylamah. Dijelaskan pula, bagaimana Khalifah Abu Bakr ra Ariefdinejed , Sabtu, 12 Maret 2011 bertindak sangat tegas. Beliau Matkarto@Dlm ajaran agama manapun, Pembelaan thd Agama dlm hal penodaan dan pelecehan adalah kewajiban setiap pemeluknya,bahkan dengan taruhan nyawa sekalipun.. Kami cinta damai,tapi kami juga tidak rela akidah agama kami diacak2,dijejali dengan faham2 asing yg bertentangan dngn bahkan mengirim satu divisi tentara untuk membasmi aliran sesat itu. Di inti ajaran Islam..karena kecintaankami thd Allah SWT dan Rasulullah SAW melebihi kecintaan terhadap segala sesuatu bahkan diri kami bawah ini adalah tulisan sendiri,maka bila terjadi Penodaan dan penghinaan terhadap Islam,kami wajib membelanya dgn jiwa kami.. hal itu tdk ada hubungannya dgn kelanjutannya. toleransi antar umat beragama. *** Falah , Ahad, 13 Maret 2011 yeah...provokasi terus umat ini agar berbuat anarkis, agar terbentuk image bahwa Islam itu agama brutal..... Adjie , Ahad, 13 Maret 2011 ada 2 hal/sisi yang diperdebatkan. Bagi saya semuanya adalah pilihan. Salah dan benar berujung pada hukum dunia, namun kebenaran/kesalahan spiritualitas tidak bisa ditempatkan didunia. Jalan Tengah , Senin, 14 Maret 2011 Ini tanggapan dari Akhmad Sahal: http://mendarasislam.blogspot.com/2011/03/nabi-palsu-sikap-nabi-dan-ahmadiyah.html?spref=fb Bagi saya, ada beberapa kebenaran dari tulisan Dr Arif ini. Tetapi juga ada beberapa kebenaran dari tulisan Akhmad Sahal. Kedua tulisan itu membuat saya harus Ada beberapa poin yang dapat kita petik dari fakta dan data historis di atas. Pertama, nabi-nabi palsu baru muncul pada tahun terakhir

menjelang Rasulullah wafat dan setelahnya. Yakni tatkala Umat Islam diliputi kegalauan apabila Rasulullah mulai sakit-sakitan dan akhirnya meninggal dunia pada tahun itu juga. Kemudian menyusul kekecohan singkat seputar suksesi kepemimpinan hingga terpilihnya Abu Bakr sebagai Khalifah. Kedua, gerakan nabi-nabi gadungan itu tidak semua dan tidak melulu berkelindan dengan upaya menggembosi kedaulatan Rasulullah dan Khalifah sesudahnya. Kalaupun betul Musaylamah menggalang kekuatan militer untuk melawan pasukan Muslim, maka hal itu dikarenakan ambisi politik pribadinya. Musaylamah keliru menyangka Rasulullah memperjuangkan Islam demi kekuasaan. Musaylamah tidak mengerti kalau hakikatnya justru sebaliknya: Rasulullah menggunakan politik untuk kepentingan agama, bukan seperti dirinya yang menggunakan agama untuk politik. Sebab itulah Musaylamah kemudian mengaku nabi dengan harapan mendapat dukungan politik dari penduduk Yamamah. Jadi bagi Rasulullah dan para Khalifahnya, memerangi kemurtadan adalah aksi yang lebih bersifat teologis (melawan kebatilan) ketimbang politik (menumpas pemberontakan). Maka nabi-nabi palsu yang tidak membangun kekuatan militer –semisal al-Aswad, Thulayhah dan Laqith– pun diperangi juga. Ketiga, ada yang lugu bertanya: mengapa setelah menerima surat dari Musaylamah yang mengaku nabi, Rasulullah tidak lantas menyuruhnya keluar dari Islam dan mendirikan agama baru? Tentu saja tidak, sebab dengan menabikan dirinya maka Musaylamah sudah otomatis keluar dari Islam dan bikin agama sendiri. Ini sama dengan bertanya: mengapa Allah tidak menyuruh Iblis keluar dari iman dan mendirikan agama baru? Lha wong Iblis itu dengan aksi membangkang dan sikap angkuhnya itu sudah otomatis keluar dari iman alias kafir dan mempelopori gerakan ingkar Tuhan ingkar Nabi. Faktanya cukup jelas bagaimana Rasulullah menyikapi para nabi palsu. Beliau tidak hanya mengirim surat balasan seperti: “Dengan Nama Allah Yang Maha Pemurah dan Pengasih. Dari Muhammad Rasulullah, kepada Musaylamah ‘sipenipu’. Keselamatan bagi mereka yang mengikuti petunjuk. Bumi ini seluruhnya milik Allah yang diberikannya kepada hamba-Nya yang Dia kehendaki. Namun akhirnya bagi orang-orang yang bertakwa. ”Tetapi juga mengirim pasukan khusus untuk menghentikan sepak-terjang nabi gadungan dan para pengikutnya. Disamping menempuh jalan dakwah secara diplomatik dan persuasif, beliau juga melancarkan aksi ofensif dan defensif sesuai situasi dan kondisi. Dalam hal ini patut kita simak lagi firman Allah dalam al-Qur’an: “Sesungguhnya hukuman bagimereka yang memerangi Allah dan Rasul-Nya dan membikin kerusakan di muka bumi adalah dihukum mati atau disalib, atau dipotong tangan dan kaki mereka dengan bertimbal balik , atau diusir dari negeri (tempat kediamannya). Yang demikian itu merupakan suatu perendahan kepada mereka di dunia, dan di akhirat kelak mereka akan mendapat siksa yang hebat. Kecuali orang-orang yang bertaubat (di antara mereka) sebelum kamu dapat menguasai (menangkap) mereka, maka (janganlah mereka dihukum). Ketahuilah bahwa Allah itu Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (al-Ma’idah’:33-34). Maka ahli-ahli hukum Islam yang disebut fuqaha sepakat bahwa orang yang murtad (keluar dari Islam) mesti dijatuhi hukuman mati. Ini dikukuhkan oleh sabda Rasulullah yang diriwayatkan Imam an-Nasa’i: “Siapa yang menukar agamanya maka bunuhlah dia (man baddala dinahu fa-uqtuluhu).” Maka tatkala Mu‘adz ibn Jabal berkunjung ke kediaman Abu Musa al-Asy‘ari di Yaman dan melihat seorang Yahudi diikat lantaran masuk Islam tetapi kemudian keluar lagi (murtad), beliau berkata: “Aku tidak akan duduk sebelum orang ini dieksekusi. Demikianlah ketentuan Allah dan RasulNya (la ajlisu hatta yuqtala, qadha’Allahi wa rasulihi).” Pendapat ini yang dipegang antara lain oleh Imam at-Thahawi dan sebagian ulama salaf. Sementara mayoritas ahli fiqih empat mazhab menyatakan perlunya kesempatan terakhir diberikan kepada yang si murtad untuk bertaubat dalam tempo maksimal tiga hari. Dasarnya adalah kebijakan Sayyidina ‘Umar ibn al-Khaththab dan Sayyidina ‘Ali ibn Abi Thalib dalam menangani kasus murtad (Lihat: Ibn Hajar al-‘Asqalani, Fath al-Bari, juz 12, hlm.268-272 dan Imam an-Nawawi, Syarh Shahih Muslim, juz 1, hlm 207). Ditinjau dari perspektif kaidah fiqh “mencegah kerusakanadalah lebih diutamakan daripada mencari keuntungan” (dar’ al-mafasid muqaddam‘ala jalb al-mashalih). Gerakan pemurtadan yang dipimpin para nabi palsu pada zaman Rasulullah dan Khalifah Abu Bakr memang niscaya diperangi, karena saat itu kemurtadan bukan sekadar oposisi politik atau identik dengan pemberontakan yang merongrong kedaulatan pemerintah, tetapi juga merupakan makar untuk merobohkan bangunan ajaran Islam. Membiarkan kemurtadan merajalela –walau atas nama hak asasi manusia– jelas lebih besar mafsadatnya ketimbang maslahatnya. Dan fitnah dalam arti pelecehan agama dan penggusuran hukum-hukum Allah dipandang lebih besar kejahatannya daripada pembunuhan. Di sinilah pemahaman tentang metodologi hukum Islam mutlak diperlukan dalam menangani pengikut nabi gadungan. Tegasnya ulama Tanpa pengetahuan yang mumpuni tentang metodologi hukum Islam, pembelaan terhadap aliran-aliran sesat yang merusak mungkin saja tampak indah dari kacamata hak asasi manusia (HAM), tapi bisa jadi esensinya bertentangan dengan maqashid as- syari‘ah (tujuan-tujuan syariat) yang lebih bersifat universal. Dalam hal ini ditetapkan, prioritas kemaslahatan yang paling tinggi adalah preservasi agama (hifzhud-din), sebagaimana ditegaskan oleh Imam as-Syathibi (dalam kitab al-Muwafaqat 2:8-10), Imam al-Ghazali (dalam kitab al-Mustashfa 1:287), dan Ibn Qudamah (dalam kitab Rawdhat an-Nazhir, 1:414). Kemaslahatan agama ini berada diatas kemaslahatan nyawa dan harta-benda sekalipun. Makanya, al-Qur’an mewajibkan jihad dengan harta dan nyawa untuk membela agama. Jikalau Jakarta diserang oleh Singapura misalnya, maka umat Islam harus turun berperang meski itu nanti menyebabkan hilangnya nyawa. Jadi nyawapun kadang harus dikorbankan demi membela kemaslahatan tertinggi, yaitu kemaslahatan agama. Nah, kalau Rasulullah, para Khalifah dan Sahabatnya serta ulama salaf saja begitu jelas dan tegas sikapnya terhadap nabi-nabi gadungan, alangkah lancangnya kaum liberal yang mengaku kader ormas Islam merasa punya hak veto untuk menggugat dengan mendaulat diri mereka sebagai orang-orang yang paling paham mengenai Syari‘at Islam seperti terlihat dari sikap mereka membela jemaah Ahmadiyah. Di sinilah saya kira umat Islam mesti memilih dalam bersikap, mau mengikuti opini kaum liberal yang keliru atau meneladani sikap Rasulullah dan para pewarisnya. Wallahu a‘lam. Penulis pakar orientalis dari International Islamic University (IIU), Malaysia dan peneliti INSISTS. Tulisan ini diturunkan untuk menanggapi tulisan Akhmad Sahal berjudul, "Nabi Palsu, Sikap Nabi, dan Ahmadiyah" di Tempointeraktif, Rabu, 16 Februari 2011 Red: Cholis Akbar Share | KOMENTAR

Dulmungin , Selasa, 01 Maret 2011 Mantap Suratap! wahai pemuda Muslim, belajarlah yang rajin. Ikutilah jejak Dr Syamsuddin Arif dan hidayatullah.com. Kita bisa berjuang "membela" Islam secara elegan melalui ilmu dan media. Jayalah hidayatullah.com!!!! Erwin , Selasa, 01 Maret 2011 Mohon dapatnya tulisan Dr. Syamsuddin Arif ini dapat diposting ke Tempo dan Kompas. Karena kedua media cetak ini yang paling banyak dan dilakukan secara reguler menurunkan tulisan kelompok sepilis Vidjaz , Selasa, 01 Maret 2011 Tulisan Dr. Syamsuddin Arif ini memang luar biasa, seperti...tesss...tesss...tesss...langsung mengenai sasaran, tajam dan tak terbantahkan...!! Terimakasih untuk pencerahannya ust... >Dulmungin: SIAP...!! ^_^ Deni Alham , Selasa, 01 Maret 2011 Masya Allah, sangat mencerahkan sekali tulisan ini. Kita butuh intelektual muslim yang handal seperti ini. orang sepeti Ahmad sahal kan sama sekali tidak berisi. Logikanya melompat lompat, sama sekali tidak ada nilai yang bisa disebut sebagai sebuah orisinalitas intelektual yang dia lahirkan sendiri. Semua cuma cerdiknya cara mencomot si Sahal yang kandidat S3 itu (malu maluin euy..) Azein , Kamis, 03 Maret 2011 sepertinya energi akhmad sahal habis tuk mikirin ahmadiyah, akhirnya dia susah tidur karena otaknya penuh dengan..krotaak..krotak,,..krotak,,, (mikir gimana caranya agar ahmadiyah bisa diterima umat islam)..

Pranamuda , Rabu, 16 Maret 2011 Masya Allah, bersikap rendah hatilah wahai saudara Kaum Muslim. Hidayah adalah karunia Allah SWT. semata. Bayangkan kalau kita lahir di tengah keluarga Ahmadiyah, atau Kristen, Buda, Yahudi, atau yang lain, apakah kita akan menjadi Muslim? Hanya Allah SWT Yang Mahatahu. Semua yang hadir di bumi ini milik Allah dan atas kehendak-Nya semata. Jangan aniaya terhadap mereka. Kaum Ahmadiyah tentu tidak beribadah hanya untuk menodai Islam. Mereka pun ingin beribadah kepada Allah SWT melalui keyakinannya. Rangga , Rabu, 16 Maret 2011 saya setuju ma erwin,, coba jangan d HIDAYATULLAh aj,,tulisan ini.,,klo bisa,,d publikasikan k media masa,,terutama TEMPO n KOMPAS..agar berimbang tentang paparan yg sebenarax,,yg selama ini d kuasai oleh kelompok LIberal..

Stop Wawancara Pemuka Agama Jelaskan Bencana Media massa hendaknya tidak mewawancarai pemuka agama untuk menjelaskan fenomena bencana alam. Penjelasan pemuka agama yang cenderung menyebut bencana alam akibat kutukan Tuhan akan menimbulkan kekacauan. VHRMedia.com, 5 November 2010 VHRmedia, Jakarta - Media massa hendaknya tidak mewawancarai pemuka agama untuk menjelaskan fenomena bencana alam. Penjelasan pemuka agama yang cenderung menyebut bencana alam akibat kutukan Tuhan akan menimbulkan kekacauan. Hal itu mengemuka dalam diskusi ”Politisasi Bencana”, di Jakarta, Jumat (5/11). Wartawan salah satu televisi swasta, Andi Budiman, mengatakan tugas wartawan menggali penjelasan ilmiah terkait bencana alam. ”Sudah saatnya wartawan pergi ke ahli geologi untuk mengedukasi masyarakat,” katanya. Ketua Pusat Pengembangan Strategi dan Kebijakan Partai Demokrat, Ulil Abshar Abdalla, berharap informasi mengenai gempa disampaikan dengan cara tidak berlebihan. Hal ini untuk menghindari kepanikan masyarakat. ”Peringatan bencana seharusnya disampaikan dengan wajar, tanpa ada kepanikan,” ujarnya. Anggota DPR Budiman Sudjatmiko mengusulkan adanya politik anggaran untuk dana bencana alam. Dana bencana akan dikucurkan ke pemerintah daerah untuk siaga bencana. ”Bencana 80% terjadi di desa. Kalau ada dana siaga, berarti bisa cepat dialokasikan,” katanya. Budiman juga mengusulkan dibentuk pusat penelitian harta kekayaan korban bencana. Dia menyebut contoh, rekening nasabah yang tewas saat tsunami Aceh hingga kini tidak jelas keberadaannya. ”Itu jumlahnya triliunan rupiah,” ujarnya. (E1) 05/11/2010 | Klipping, | # Komentar

Komentar Masuk (22) (Tampil maks. 5 komentar terakhir, descending) kalau mau di adzab, lebih mungkin terjadi semenjak dulu di jakarta saja, tempat berkumpulnya pejabat korup. #20. Dikirim oleh Pangesti Sejahtera pada 06/12 12:21 AM…..Jawab; Gara-gara Jakarta itulah timbulny bencana itu, sebentarlagi jakartanya, kecuali ada perubahan kearah pembetulan moral. Posted by joko santoso on 02/23 at 04:26 PM Mendengar ocehan orang2 yang elergik dengan Quran sangat menyakitkan. mereka tolah semua berita Quran yang jelas terbukti bekasnya seperti kaum LIth dan lainnya, padahal dalam bible pun tertulis sama. jadi biarlah mereka berhayal mengikut hawa nafsu mereka. Posted by joko santoso on 02/23 at 04:22 PM sudah jelas semua komentar yg “pro” pendapat bahwa bencana alam itu berkaitan dengan adzab adalah ASAL. pendapat itu sangat menyakiti korban2 tsunami di atjeh, korban letusan gunung di merapi dll. kalau mau di adzab, lebih mungkin terjadi semenjak dulu di jakarta saja, tempat berkumpulnya pejabat korup. Posted by Pangesti Sejahtera on 12/06 at 12:21 AM dalam sistem hukum ketatanegaraan, kita mengenal UUD 1945,yang kemudian diterjemahkan dan diperjelas dengan Kepres,Permen,PP. dsb., yang kesemuanya berlandaskan dan didasari oleh pesan UUD. Begitu pula dalam Islam,Allah swt. menurunkan Al-qur`an sebagai petunjuk yang universal pada umatnya.so, keuniversalan kandungan Al-qur`an ini sangat memerlukan “perangkat-perangkat” keilmuan yang lebih spesifik lagi sebagai wahana untuk memahami dan mendekati pada kandungannya. Perlu diingat bahwa Al-qur`an bukanlah ilmu, melainkan sumber ilmu, Al-quran bukanlah saint, melainkan sumbernya. Hal ini perlu dipertegas mengingat banyak kalangan yang salah dalam memposisikannya. Implikasinya, salah besar dan hanya orang yang kurang berfikirlah yang berpandangan bahwa orang yang menggunakan pendekatan saintis dan beberapa pendekatan ilmiah lainnya -dalam menyikapi fenomena alam- dikatan sebagai muslim yang tidak ber -“Al-qur`an”-, bahkan sebagai orang yang menafikan Al-qur`an. Sedangkan mereka yang hanya mampu menyitir beberapa ayat Al-qur`an untuk menjustifikasi pendapatnya -tanpa mengetahui fenomena alam yang sesungguhnya- dianggap mahluk yang paling qur`ani. Falyataammal!............ Posted by akang on 12/03 at 10:10 AM Al Quran memang petunjuk dari Allah untuk seluruh umat manusia, dan menurut hemat saya hanya Muhammad SAW yang bisa dengansempurna menjalankannya. Setelah Beliau wafat, semua muslim/muslimah tetap menggunakan Al Quran sebagai petunjuk namun dengan berbagai macam penafsiran. Dengan demikian, yang terpenting dalam hidup ini janganlah berbuat dholim, janganlah memaksakan kehendak, janganlah merasa yang paling benar. PEMUKA AGAMA (ARTIS AGAMA TIDAK TAHU APA-APA BERKENAAN FENOMENA BENCANA….JANGAN MEMBUAT SUATU TAKHAYUL ATAS NAMA AGAMA…..MEREKA HANYA MENINJAU DARI KACAMATA PEMAHAMAN AGAMA YANG SUNGGUH KELIRU..MEREKA TIDAK CUKUP MEMILIKI ILMU YANG BERBASIS SAINS…..JK HAL INI DIBIARKAN TERUS MENERUS MK TUNGGULAH AZAB TUHAN YANG SESUNGGUHNYA,,,MAAF AGAK SEDIKIT KESAL KARENA SAYA SEORANG INTELEKTUAL AGAMA BERBASIS SAINS (FISIKA) #1. Dikirim oleh rumi pada 06/11 02:08 PM biasanya dasar yang dirujuk oleh Muslim berkenaan dengan bencana ialah dhahara al-fasad fi al-barr wa al-bahr bimaa kasabat aydinnas, telah muncul kerusakan di daratan dan lautan karena sebab ulah tangan manusia. Teks dalil ini benar adanya, tetapi kebanyakan digunakan pada konteks yang tidak tepat, seperti untuk menjustifikasi terjadinya bencana alam seperti tsunami dan gunung meletus adalah diakibatkan oleh kejahatan kemanusiaan. Padahal bencana fitnah yang memangsa korban tidak pandang bulu itu adalah taqdir Tuhan melalui hukum alam. Perlu dipahami, bahwa bencana alam bukanlah kerusakan (al-fasad). Justru tsunami dan gunug yang meletup adalah awal bagi keadaan yang lebih baik dari sebelumnya. Karena dalam konteks ini, kerusakan sistem sebenarnya telah wujud sebelum bencana alam itu berlaku, yaitu di dalam perut gunung dan di dasar lautan. Oleh karena itu, bencana alam tidak ada kaitannya dengan perilaku manusia di atasnya, karena bukan ulah tangan mereka (kasabat aydinnas) penyebab bencana,tetapi hukum alam, sunnatullah, taqdir Tuhan berlaku untuk memperbaiki kehidupan makhluknya. #2. Dikirim oleh Kang Bejo pada 07/11 04:23 AM

Saya lebih suka dengan apa yang di katakan bpk quraisy sihab dlm twitternya, bahwa apayang terjadi sekarang bisa saja menjadi cobaan ato azab ato fenomena alam (sunnatullah) kewajiban kita adalah introspeksi. #3. Dikirim oleh Ipank pada 07/11 10:30 PM utk sdr. rumi, mudah-mudahan Allah SWT, mengampuni segala kesombongan anda. #4. Dikirim oleh Rudy pada 08/11 04:15 AM Bencana alam yang sekarang sedang melanda negeri pertiwi yaitu gempa yang akhirnya melahirkan tsunami dan meletusnya gunung api harus dibaca sebagai kegiatan alam yang wajar untuk mencapai keseimbangan baru alam tersebut. Gempa disebabkan oleh gesekan antar lempeng bumi (baik mendatar maupun menunjam satu sama lain. Sementara gunung api disebabkan oleh keluarnya magma dari dalam bumi melalui lubang yang ada dalam gunung api tersebut. Gesekan antar lempeng yang bergerak tersebut (kecepatan gerak hanya sekitar 5-7 cm/tahun) menghasilkan akumulasi energi karena gerak lempeng tersebut sebenarnya tidak mulus bergerak terus tetapi di banyak bagian akan tertahan geraknya. Karena tertahan inilah, kita tahu berat dari lempeng tersebut jutaan ton, maka eneri yang terakumulasi juga sangat besar. Kita bayangkan kalau kita saling dorong dengan media ditengahnya misalnya kayu. Kita saling dorong terus dengan kekuatan penuh. Nah apa yang terjadi ketika kayu tiba-2 patah. Maka kita akan terhentak hebat. Demikianlah terjadi gempa bumi. Ada hentakan yang maha hebat karena tiba-tiba daerah yang tertahan tadi sudah tidak mampu menahan gerakan lempeng, dan akhirnya energi yang terakumulasi akan terlepas dan merambat di lapisan tanah. Rambatan enegri ini akan menjadi gelombang dalam lapisan tanah, dan akhirnya terjadilah getaran tanah. Demikian juga letusan gunung api. Keluarnya magma dari sumbernya terhambat oleh sumbatan di permukaan lubang (dalam bahasa vulkaniknya disebut kepundan). Karena magma ini mendorong terus kepundan, maka akan ada tekanan magma dalam lubang aliran magma yang sangat tinggi. Nah ketika kepundan atau daerah sekitar kepundan tidak mampu lagi menahan tekanan tersebut, maka akan terjadi lubang “kecil” di sekitar kepundan. Karena magma tekanannya luar biasa tinggi, makan dari lubang itu lah akan terjadi semburan magma. Ini lah yang disebut letusan gunung berapi. Lalu kenapa kejadian alam yang “biasa” ini kita sebut sebagai bencana? Ini karena akibat dari peristiwa alam tersebut merugikan kita yang tinggal di sekitar daerah terjadinya peristiwa alam tersebut. Coba kalau dalam radius 50 km dari gunung merapi tidak ada penghuninya, maka kita ngga akan menyebutnya sebagai bencana karena ngga ada korban. ini lah tinjaun ilmiah dari kedua peristiwa alam yang sekarang sedang kita alami dan telah banyak menelan korban jiwa saudara-saudara kita. #5. Dikirim oleh Putra Pertiwi pada 08/11 06:36 AM Tidak sedikit para pemuka agama yang megaitkan antara moral bangsa dengan bencana alam sebagai “kemarahan Tuhan”.Menurut saya itu pembodohan umat yang yang yg luar biasa.Seakan-akan tangan Tuhan langsung bersentuhan dengan dimensi alam (materi),tanpa melalui proses logika keilmuan.Akibatnya bangsa kita akan selalu bodhoh atau goblok (jawa), karena dikit2 bencsna itu ujian Tuhan….kasihan sekali. #6. Dikirim oleh Dewa xl pada 08/11 11:10 AM Tulisan diatas sangat bagus memberikan pencerahan bagi mereka yang senantiasa menggunakan akal dan logiknya. Yang kurang pantas adalah judulnya yang cenderung merendahkan pemuka agama dan terkesan menyombongkan diri dari penulisnya. #7. Dikirim oleh solma pada 08/11 08:12 PM sungguh suatu kemunduran berpikir bila mengkaitkan agama dgn bencana alam, sungguh idiot pula yg mengkaitkan bencana alam dengan azab. mereka(pemuka agama)melampaui batasnya dgn menjelaskan suatu fenomena alam dgn kelakukan manusianya. kalau mau diazab tentunya ada negara/bangsa yg lebih pantas menerima spt israel dan amrik, tp mengapa kalau utk israel dan amrik ngawur yg diazab malah palestina yg dari 1948 terusir dati tanah airnya?, apakah pemuka agama bs menjelaskan?, ada yg bs menjelaskan yaitu kalau di palestina itu bangsa palestina sdg menghadapi ujian bukan azab. ini sama ngawurnya, sok tau, bahwa kapan azab kapan ujian seperti bs membaca “pikiran” Allah. Lebih baik pemuka agama memecahkan masalah2 yg relevan saja spt: mengapa banyak orang yg pergi berhaji berkali2 (malah koruptor jg pergi haji utk “cuci” dosa), sementara banyak kemiskinan? apakah perputaran uang yg puluhan trilyun setiap musim haji tdk lbh baik utk pemberdayaan umat? jd yg boleh berhaji adalah yg belum pernah, sdgkan yg sdh berkali2 haji dan umroh dilarang atau dipajak yg tinggi utk pengentasan umat #8. Dikirim oleh Pangesti Sejahtera pada 11/11 02:43 AM ulama mang sok tahu, sainnya cupet, shg gak mampu jawab gejala alam sprti gempa n tsunami, jawabannya selalu menyalahkan orang lain, sukanya nyalahin komunitas lain padahal ulah ulama slama ini juga ikut mberi andil terjadinya bencana, kekacauan di negeri ini, mereka ini justru ga punya empati, hrusnya para ulama pada introspeksi #9. Dikirim oleh koyongene pada 11/11 07:49 AM lebih baik lah dibandingkan dengan manusia yang duduk bareng dengan ulil absar abdalla di demokrat yang mengatakan bahwa tsunami merupakan reksiko orang yang tinggal dipesisir pantai… #10. Dikirim oleh anak kandung sejarah pada 12/11 01:34 PM

Ya, tentu aja orang2 JIL (Jaringan Iblis Linglung) itu pada hakikatnya kan sdh tdk percaya lg dg agama (Islam)... Jd, tolong media massa jgn mewancarai pr tokoh Islam deh, tp kalau tokoh2 dari kaum kafir Nasrani dsb bolehlah. Karena JIL ini kan mmg sekutu mereka & yg menyeponsori jaringan ini jg mereka, kan? Mempelajari Islam kemana-mana sampai dpt beasiswa sgl, tujuannya hanya satu, merusaknya! Na’udzubillah min dzalik…! #11. Dikirim oleh Ahmad Din pada 15/11 03:02 PM komentar dari ahmad din tdk substansial isinya krn tdk bs berargumen selain menghina golongan lain, inikah yg namanya berakal dalam beragama?, atau inikah syahwat emosi dari agama yg menjauhkan akal sehatnya? mmg semua gagal mengkait2kan bencana alam dgn azab, ujian atau cobaan, lihatlah negara2 skandinavia yg standar hidupnya tinggi, walau menurut standar agama layak saja mendapatkan azab krn perilaku free sex disana tp knp bencana malah menimpa negara indonesia?, jwbnya krn mmg tanah air kita rentan oleh bencana alam akibat pertemuan lempeng bumi dan masuk jalur sabuk gunung berapi. #12. Dikirim oleh Pangesti Sejahtera pada 19/11 12:57 PM hehehhehehe.. terjawab sudah pertanyaan saya yang sejak dulu saya pikirkan.. “kenapa indonesia banyak korupsi dan orang miskin”.. sebelum membaca tulisan ini.. jawaban saya adalah ini takdir dan cobaan dari Tuhan.. ternyata jawaban saya salah.. jawabannya datang sendiri dari Ahlinya.. Indonesia banyak korupsi dan orang miskin karena salah urus oleh orang2 yang merasa ahli dalam mengurus bangsa/orang.. Dan juga ternyata terjawab juga siapa “Ulil” sebenarnya.. dia bukan ahli agama.. karena berani menjawab dan memberikan alasan tentang kenapa terjadi bencana di Indonesia.. (penulis baru belajar baca Alquran) #13. Dikirim oleh hamba Allah pada 20/11 11:48 AM assalamualaikum wr wb pak Ahmad Din…saya hanya mau tanya APAKAH ISLAM ANDA SUDAH PALING BETUL ? wassalammualikum wrwb #14. Dikirim oleh iyan gillan pada 21/11 11:15 AM senang saya membaca komentar2 nya.. Sangat menghibur.. Saya pikir kalau kita tetap terpaku pada teks2 lama, islam tidak akan maju2..bebaskanlah otak kalian untuk berfikir dan maju. Kemajuan islam dunia saya fikir akan terjadi di indonesia, bukan dari tanah arab sendiri. Pemaknaan kembali islam yang sebenarnya dan modern akan terjadi di indonesia. Ini berkaitan dengan munculnya cendekiawan yang demokrat dan liberal. Islam arab terlalu subyektif dan tendensius dalam pemaknaannya. Bahkan boleh dibilang egois dan mau menang sendiri. God bless indonesia #15. Dikirim oleh ahmadi pada 22/11 03:18 AM Jika kita beragama, maka dalam menyikapi berbagai kejadian semisal bencana, musibah dan segala macam bentuk kejadian di muka bumi, maka sangat sulit untuk lepas total dari sudut pandang agama, namun kendatipun demikian bukan berarti bahwa semuanya mesti direduksi pada argumentasi agama ansich, dalam artian pandangan agama yang hanya berdasarkan pemahaman literal semata terhadap teks-teks “sakral” agama.Perilaku semacam itu hanya akan menciptakan tafsir-tafsir kebenaran yang parsial dan tidak syumul. Dengan adanya ajaran untuk melaksanakan ajaran Islam yang kafah, maka dalam konteks menyikapi berbagai musibah dan bencana yang terjadi akhir-akhir ini, selayaknyalah bagi mereka yang dianggap sebagai “ulama” untuk memahami dan mendalami terlebih dahulu teori-teori saint yang relevan berkenaan dengan bencana tersebut. Jika mereka belum mampu memiliki pandangan yang komprehensif, maka sebaiknya bagi mereka adalah ” fal yaskut”!..... #16. Dikirim oleh akang pada 23/11 02:06 PM sepeda motor honda mengeluarkan produknya pasti dengan abuku petunjuk cara perawatan dan penggunaanya. begitupula ALLAH membuat manusia tentu saja berikut buku petunjuknya yaitu AL-Qur’an agar manusia tidak tersesat, jadi kalo kita berfikir Al-qur’an hanya untuk orang arab dan hanya belaku di arab tempo doeloe berarti anda sudah mengingkari kebenaran Al-Qur’an. Allah SWT menciptakan Al-qur’an untuk petunjuk manusia pasti competible dari zaman apapun A-Qur’an itu di gunaklan, kalo Al-Qur’an sudah di anggap ga competible dengan zaman sekarang berarti ALLAH salah perhitungan dong??? Rasanya Sangat tidak mungkin Allah SWT salah perhitungan. Allah menceritakan kaum samud, kaum Ad dan kaum kaum lainya yang di tenggelamkan oleh Allah ke dalam bumi di karenakan kekafiran dan dosa dosa yang mereka perbuat adalah bohong dong? mungin yang benar secara rasio adalah semua kaum di atas di tenggelamkan oleh Allah karena memang bencana geologi aja dan bnecana alam bukan karena kekafiran mereka. kalo gitu pemikiranya berarti anda berfikir Al-qur’an itu salah dan salah pula yang membuatnya. duh istigfar saudara….... alqur’an itu petunjuk bagi manusia yang cocok di gunakan di mana saja dan pada zaman apa saja al-qur’an itu digunakan.

#17. Dikirim oleh ade Suryaman pada 02/12 03:55 PM Al Quran memang petunjuk dari Allah untuk seluruh umat manusia, dan menurut hemat saya hanya Muhammad SAW yang bisa dengansempurna menjalankannya. Setelah Beliau wafat, semua muslim/muslimah tetap menggunakan Al Quran sebagai petunjuk namun dengan berbagai macam penafsiran. Dengan demikian, yang terpenting dalam hidup ini janganlah berbuat dholim, janganlah memaksakan kehendak, janganlah merasa yang paling benar. #18. Dikirim oleh iyan gillan pada 03/12 08:47 AM dalam sistem hukum ketatanegaraan, kita mengenal UUD 1945,yang kemudian diterjemahkan dan diperjelas dengan Kepres,Permen,PP. dsb., yang kesemuanya berlandaskan dan didasari oleh pesan UUD. Begitu pula dalam Islam,Allah swt. menurunkan Al-qur`an sebagai petunjuk yang universal pada umatnya.so, keuniversalan kandungan Al-qur`an ini sangat memerlukan “perangkat-perangkat” keilmuan yang lebih spesifik lagi sebagai wahana untuk memahami dan mendekati pada kandungannya. Perlu diingat bahwa Al-qur`an bukanlah ilmu, melainkan sumber ilmu, Al-quran bukanlah saint, melainkan sumbernya. Hal ini perlu dipertegas mengingat banyak kalangan yang salah dalam memposisikannya. Implikasinya, salah besar dan hanya orang yang kurang berfikirlah yang berpandangan bahwa orang yang menggunakan pendekatan saintis dan beberapa pendekatan ilmiah lainnya -dalam menyikapi fenomena alam- dikatan sebagai muslim yang tidak ber -“Al-qur`an”-, bahkan sebagai orang yang menafikan Al-qur`an. Sedangkan mereka yang hanya mampu menyitir beberapa ayat Al-qur`an untuk menjustifikasi pendapatnya -tanpa mengetahui fenomena alam yang sesungguhnya- dianggap mahluk yang paling qur`ani. Falyataammal!............ #19. Dikirim oleh akang pada 03/12 10:10 AM sudah jelas semua komentar yg “pro” pendapat bahwa bencana alam itu berkaitan dengan adzab adalah ASAL. pendapat itu sangat menyakiti korban2 tsunami di atjeh, korban letusan gunung di merapi dll. kalau mau di adzab, lebih mungkin terjadi semenjak dulu di jakarta saja, tempat berkumpulnya pejabat korup. #20. Dikirim oleh Pangesti Sejahtera pada 06/12 12:21 AM

Mendengar ocehan orang2 yang elergik dengan Quran sangat menyakitkan. mereka tolah semua berita Quran yang jelas terbukti bekasnya seperti kaum LIth dan lainnya, padahal dalam bible pun tertulis sama. jadi biarlah mereka berhayal mengikut hawa nafsu mereka. #21. Dikirim oleh joko santoso pada 23/02 04:22 PM kalau mau di adzab, lebih mungkin terjadi semenjak dulu di jakarta saja, tempat berkumpulnya pejabat korup. #20. Dikirim oleh Pangesti Sejahtera pada 06/12 12:21 AM…..Jawab; Gara-gara Jakarta itulah timbulny bencana itu, sebentarlagi jakartanya, kecuali ada perubahan kearah pembetulan moral. #22. Dikirim oleh joko santoso pada 23/02 04:26 PM Jangan Kaitkan Bencana dengan Azab Ulil Abshar-abdalla, tokoh Jaringan Islam Liberal, mengatakan, komentar mengenai azab Tuhan yang keluar dari mulut beberapa pejabat disebabkan karena penafsiran yang salah mengenai isi kitab suci. Sriwijaya Post, 5 November 2010 Komentar beberapa politikus dan pejabat yang mengaitkan beberapa bencana dengan nilai-nilai agama dianggap kurang pantas. Komentar ini dianggap cenderung menuduh para korban bencana sebagai orang yang berdosa dan pantas mendapatkan hukuman dari Tuhan. Ulil Abshar-abdalla, tokoh Jaringan Islam Liberal, mengatakan, komentar mengenai azab Tuhan yang keluar dari mulut beberapa pejabat disebabkan karena penafsiran yang salah mengenai isi kitab suci.

“Ada semacam template di kitab suci tentang bencana. Misalnya, ada cerita saat manusia membangkang kepada Tuhan kemudian Tuhan menghancurkan seluruh muka bumi. Nah, waktu sekarang ada bencana, para tokoh ini langsung mengambil template itu. Menurut saya, jangan dihubung-hubungkan, ini proses alam saja,” ujarnya dalam diskusi “Politisasi Bencana” yang digelar oleh Serikat Jaringan untuk Keberagaman (Sejuk) di Jakarta, Jumat (5/11/2010). Korban bencana yang saat ini sudah menderita, menurut Ulil, tersakiti karena komentar para pejabat yang menganggap mereka terkena azab Tuhan. “Apa salah Yogyakarta, di sana ada keraton, Muhamadiyah, pesantren juga banyak. Masyarakat Yogya sangat beragama, tetapi dibilang kena azab Tuhan. Ini, kan menyakiti para korban. Mereka sudah tertimpa bencana malah dituduh menerima azab pula,” tegasnya. Politikus PDI-P, Budiman Sudjatmiko, yang juga menjadi pembicara dalam diskusi itu, berharap agar masyarakat termasuk pejabat melihat suatu bencana dengan rasio. Menurutnya, bencana hanya merupakan proses alam, tidak berhubungan dengan azab Tuhan. “Ini hanya proses yang dialami bumi saja, seperti manusia yang tumbuh, kena sakit kepala atau flu. Hanya seperti itu saja. Maka jadikan manusia sebagai subyek bencana, bukan obyek yang berdosa kemudian diazabkan,” ungkapnya. 05/11/2010 | Klipping, | # Komentar Komentar Masuk (28) (Tampil maks. 5 komentar terakhir, descending) Ya bencana ada dong hubungannya denag Tuhan, itukan kehendak Tuhan juga, persoalan bahaw yang ditimpa itu adalah yang berdosa ya biasa aja, kalo bencana datangkan yang tidk berdosa juga kena, jadi ya Semuanya kehendak Tuha… dong Posted by Awakudin on 03/24 at 11:49 AM mau murka atau tdk,,,,yg jelas telah terjadi,,,,wong tuhan itu kan maha multy komplex,,,,,Dia perbendaharaan yng trsmbunyi,,,Saya pemilik toko,,aneka barang yg saya jual : sabun,cat,emas,roko,tahu,jengkol,racun tikus,ubi jalar, semua milik saya kan??? bedanya apa racun tikus n emas? kan cuma penempatanya saja kan yg berbeda? emas saya simpan di etalase lngkap dg tralis ...ubi jalar cukup saya taruh di keranjang ,,,di lantai,,tpi kalo ada yg mncuri ubi saya ,,,kan ttp saya akan kehilangan kan! Saya maha multy komplex,,,,,, Posted by hady amartha siwi on 03/04 at 02:43 AM jil>>jelas ketauan arahnya hehehehehe dasar si bibir jelek amerika kamu punya kan? negara indonesia negara Pancasila bukan negara ekuler Posted by setan iblis on 02/21 at 09:44 AM saya beriman rendah aj ah…, biar ujiannya entheng, ato sekalian tidak beriman biar tidak diuji. Posted by koyongene on 01/17 at 04:02 AM Bencana jaman sekarang bukanlah AZAB.Karena umat Muhammad SAW apabila melakukan dosa tidak akan langsung diazab. Bencana adalah UJIAN. Semakin tinggi iman seseorang maka akan semakin berat ujiannya, karena Allah SWT tidak akan menguji hambaNYa di luar kemampuannya. Ass, dulu jaman nabi Muhammad pun pernah suatu saat ada gempa bumi di madinah….lalu, nabi meletakan tangannya ke tanah dan berujar pada bumi, bahwa ini belum saatnya…sembari mengingatkan bahwa Allah sedang menegur kalian… Apalagi sekarang!!! dimana perilaku agama sudah banyak menyimpang…Allah bukan saja menegur orang di lokasi bencana tetapi juga para pemimpin dan masyarakat lainnya….semua orang yang mengaku beragama dan Indonesia sudah hrs introspeksi #1. Dikirim oleh bimo pada 05/11 10:35 AM Kalau memang Tuhan mau mengazab, kenapa dia azab orang pulau di Mentawai yang lugu? Kenapa dia azab penduduk dusun di kaki gunung yang tidak tahu apa2?

Tuhan macam apa yang bahkan tidak bisa menentukan mana yang harus dia azab, dan mana yang tak perlu dia azab? #2. Dikirim oleh Anak Beelzebul pada 05/11 01:11 PM setiap musibah yang menimpa ummat muslim merupakan akibat dari tangannya sendiri #3. Dikirim oleh muhammad athar pada 06/11 08:43 AM beberapa hari setelah Padang dilanda gempa setahun yang lalu, saya menerima sms dari seorang ustadz. dikatakannya bahwa peristiwa itu cocok dengan alquran dengan menyebut surat dan ayat sesuai dengan waktu kejadian. Ayat itu melukiskan kemurkaan tuhan terhadap kaum yang ingkar dan durhaka. langsung saya balas bahwa masyarakat sumbar terkenal sangat religius betapa mereka akan sakit bila tahu dan membaca sms tersebut. saya katakan sama ustadz, justru yang layak mendapat azab adalah jakarta karena disanalah biangnya segala kemaksiatan. perlu dicatat, bumi adalah mahluk, tidak abadi alias fana. berarti berlaku sunnatullah. semakin tua semakin aus/rusak. konon umur bumi sudah 4,6 milyard tahun. meski manusia merawatnya dengan sebaik-baiknya tetap tidak bisa dihindari yang namanya gunung meletus, gempa bumi, puting beliung dan semacamnya. eksploitasi manusia tanpa batas hanya mempercepat terjadinya bencana. kalangan agamawan hendaknya berlaku arif, jangan kebablasan menyimpulkan sesuatu! #4. Dikirim oleh roni pada 06/11 09:00 AM Dikutip dari sumber tertentu : Ada sebuah masjid yang megah tanpa penangkal petir di puncak kubahnya, di sebelahnya ada casino atau tempat perjudian yang tidak kalah besarnya namun dilengkapi penangkal petir di atapnya. Bangunan manakah di antara keduanya yang selamat dari sambaran petir ? #5. Dikirim oleh M. ARCHAM UBAIDILLAH pada 06/11 09:18 AM dalm kyakinan kita bhwa azab dari tuhan itu sngat bnyak d antarax brupa bencana alam. saya jd ingat tragedi sunami yg menimpa aceh dulu. klu ada org yg berpikiran bhwa bencana terjadi karena tuhan benci pada org yg dtimpa bencana tsb. berarti orang2 aceh itu d murkai tuhan dong, padahal dsana mayoritas muslim. mnurut saya gampang sih, qita kmbalikan pd diri kita sendiri, toh qta yg bs mnilai slma ini kita salah apa gak. gt loooh.. #6. Dikirim oleh halimi mz pada 06/11 11:31 AM Sdr. Bimo lah yang harus melakukan instrospeksi berdasarkan tulisan Sdr. Anak Beelzebul dan Sdr. roni diatas. Saya setuju dengan Sdr. Beelzebub dan Sdr. roni. Memang harus ada reformasi total tentang cara memahami agama dan citra Allah…..bimo memahami Allah sebagai Pendendam Yang Maha kuasa. Pendapat bimo tidak sahih dan tidak rasional. Juga tidak berdasarkan iman yang benar. Tidak mungkin Allah begitu kejam mendendam kepada manusia ciptaan-Nya. Pendapat bimo langsung terbantahkan oleh pendapat Sdr. Anak Beelzebub dan Sdr. roni #7. Dikirim oleh Anton Isdarianto pada 06/11 01:58 PM JIL kerjaannya selalu mau nyentrik.. udah basi. Bagi kaum muslimin, Petunjuk Allah Azza wa Jalla dalam menjalani kehidupan dunia ini adalah Al-Qur’an dan Sunnah yang sahih dari Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Maka dengan ini kami mengajak kepada seluruhnya: Marilah kita bertaubat kepada Allah dan kembali kepada petunjukNya. Jangan mau selalu nyentrik deh.. atau loe bakal menemui akhirat dengan penyesalan yang tiada berguna lagi. Maka bertaubatlah… #8. Dikirim oleh said pada 07/11 01:13 AM

biasanya dasar yang dirujuk oleh Muslim berkenaan dengan bencana ialah dhahara al-fasad fi al-barr wa al-bahr bimaa kasabat aydinnas, “telah muncul kerusakan di daratan dan lautan karena sebab ulah tangan manusia”. Teks dalil ini benar adanya, tetapi kebanyakan digunakan pada konteks yang tidak tepat, misalnya untuk menjustifikasi terjadinya bencana alam seperti tsunami dan gunung meletus adalah diakibatkan oleh kejahatan kemanusiaan. Padahal bencana fitnah yang memangsa korban tidak pandang bulu itu adalah taqdir Tuhan melalui hukum alam. Perlu dipahami, bahwa bencana alam bukanlah kerusakan (al-fasad). Justru tsunami dan gunug yang meletup adalah akhir dari kerusakan dan awal bagi keadaan yang lebih baik dari sebelumnya. Karena dalam konteks ini, kerusakan sistem sebenarnya telah wujud sebelum bencana alam itu berlaku, yaitu di dalam perut gunung dan di dasar lautan. Oleh karena itu, bencana alam tidak ada kaitannya dengan perilaku manusia di atasnya, karena bukan ulah tangan mereka (kasabat aydinnas) sebagai penyebabnya, tetapi hukum alam, sunnatullah, taqdir Tuhan berlaku sebagai sebab untuk memperbaiki kehidupan makhluknya. #9. Dikirim oleh Kang Bejo pada 07/11 04:34 AM #ARCHAM UBAIDILLAH >>

Ada sebuah masjid yang megah tanpa penangkal petir di puncak kubahnya, di sebelahnya ada casino atau tempat perjudian yang tidak kalah besarnya namun dilengkapi penangkal petir di atapnya. Bangunan manakah di antara keduanya yang selamat dari sambaran petir ? >> menurut ilmu fisika yang saya pelajari, yang akan kena petir adalah bangunan yang dibangun perilaku yang buruk, yaitu tidak memasang bangunan dengan dengan ilmu yang benar. #10. Dikirim oleh Aswandi pada 07/11 10:52 AM Kita harus memahami antara musibah dan Azab : di dalam Al-qur’an Allah menerangkan bahwa mushibah itu datang dari Allah kepada manusia bukan dikarenakan dosanya, melainkan Allah ingin menguji iman mereka dan untuk mengangkat derajatnya apabila mereka sabar menerima mushibah tersebut. Mushibah kadangkala berupa kelaparan, kematian, kekeringan, ketakutan dsb. Azab datang dari Allah dikarenakan perilaku manusia tersebut. contoh : Banjir merupakan bencana/azab dikarenakan manusia menebang pohon sembarangan, kecelakaan lalu lintas diakibatkan ketelodoran petugasnya dll. wallohu a’lam #11. Dikirim oleh Muzanni Lubis pada 08/11 03:57 AM “mengaitkan bencana dengan azab”.. dari zaman purba sampai sekarang masih digunakan manusia untuk menjelaskan terjadinya bencana.. seharusnya perkembangan teknologi dan pemaknaan akan Tuhan berkembang dengan seimbang sehingga penjelesan seperti itu tidak laku lagi.. Bencana yang terjadi mungkin sudah waktunya terjadi (tudak ada kejadian di luar kehendak Tuhan).. yang penting bagaimana kita bisa saling membantu dan menguatkan menghadapi bencana itu.. #12. Dikirim oleh athena pada 10/11 09:16 AM ulil benar sekali, jgnlah mengkaitkan bencana alam dgn azab, krn apa?, krn akan gagal oleh hukum logika : mengapa bangsa yahudi tdk diazab oleh kelakuannya menjajah palestina?, kok malah palestina yg diazab?, ada yg berdalih, kalau palestina itu bangsa yg sdg diuji, bukan diazab. inilah bukti tdk konsistennya mereka yg mengkaitkan bencana dgn kelakuan manusia. jd lebih baik pemuka agama mengeliminir takhyul dan mengedepankan logika, bahwa sesoleh apapun kelakuan manusia indonesia, sepanjang hidup di jalur lempeng bumi yg bergerak dan jalur sabuk api vulkanik-maka akan selalu terjadi gempa bumi dan letusan gunung api. #13. Dikirim oleh Pangesti Sejahtera pada 11/11 02:51 AM ulama memang tak pernah mampu menjelaskan secara ilmiah. ilmunya gak nutut. manusia merujuk agama karena belum ada ilmu pengetahuan, karena skarang ilmu pengetahuan dan teknologi sudah canggih mampu menjawab gejala alam itu, maka ulama akan ditinggalkan #14. Dikirim oleh koyongene pada 11/11 04:07 AM Adalah pendapat yang naif dan picik kalau mengkaitkan bencana alam di mentawai dan merapi dengan agama atau kemurkaan Tuhan. Kedua peristiwa tersebut adalah fenomena alam biasa yang sangat mudah dijelaskan. Kedua bencana alam tersebut berkaitan erat dengan lempeng australia yang menunjam di bawah lempeng euro-asia di sebelah utaranya. Nah kebetulan sekali lokasi pertemuan kedua lempeng ada di samudera Indonesia di sebelah selatan P. Sumatera, Jawa, Bali, Nusatenggara dan berakhir di selatan Kepulauan Maluku. Dengan kondisi ini bagian selatan pulau-pulau di atas adalah daerah yang rawan bencana, khususnya gempa bumi. Nah kalau kebetulan daerahnya dekat denan gunung api maka ada tambahan ancaman bencana alam yaitu letusan gunung berapi. Kita menyebut bencana sebenarnya adalah persepsi kita sebagai manusia. Kalau ditinjau dari sisi alam, itu adalah peristiwa biasa dimana alam mencari dan mencapai keseimbanan baru karena adanya gesekan antara kedua lempeng tersebut. Kenapa bagi manusia menjadi bencana? Jawabannya mudah, karena ada manusia yang menjadi korban. Coba kalau daerah rawan bencana tersebut dikosongkan dari hunian manusia, maka tidak akan ada korban ketika ada peristiwa gempa dan atau gunung meletus. Sederhana sekali kan penjelasannya. Tidak ada yang aneh, oleh karena itu kita juga tidak boleh berpikir yang aneh-aneh. Kalau ada yang mencoba mendekati peristiwa meletusnya Merapi dari sisi kepercayaan sebagian orang jawa tentang ada misteri di balik Merapi, ya kita hormati saja cara pandang yang seperti itu. Kenapa, kita juga tidak bisa sepenuhnya tahu apa yang ada di sekitar gunung Merapi. Bisa jadi ada penunggunya yang berupa makhluk halus. Siapa tahu? Karena dari sisi agama pun, makhluk halus itu ada. Nah karena kita tidak bisa melihat keberadaan makhluk tersebut, ada kemungkinan juga kan mereka menghuni sekitar merapi, meskipun secara ilmiah meletusnya gunung merapi bisa dijelaskan. Tapi penjelasan ilmiah juga tidak bisa detail sekali karena pristiwa meletusnya gunung memang sebuah peristiwa alam yang unpredictable. Ini realitas yang tidak bisa dibantah, maka akhirnya melahirkan cara pandang yang mistis. Hanya kalau kita serta merta mengatakan bahwa bencana alam tersebut karena kemurkaan Tuhan, kita sama saja menuding bahwa orang-orang yang menjadi korban bencana tersebut adalah

orang-orang yang mempunyai kesalahan yang kelewat besar kepada Tuhan sehingga Tuhan Murka. Dan juga secara ngga langsung kita menuding bahwa Tuhan adalah sosok pendendam dan pemarah. Ini pendangan yang jauh dari sifat Tuhan yang penuh cinta kasih. #15. Dikirim oleh Putra Pertiwi pada 11/11 06:54 AM inna lillahi wa inna ilahi rojiuun, semua milik ALLAH jadi gak perlu banyak komentar2, istighfar yang banyak & mohon ampun serta kembali ke jalan yang di ridhoi, (insya ALLAH dibalik musibah ada Rachmat bg yg istiqomah dan sabar dg cobaan nya). #16. Dikirim oleh KYBSA pada 12/11 09:00 AM

bencana dan azab bisa terjadi di mana saja! untuk itu sebagai orang Islam harus meyakininya dengan sepenuh hati. karena kita hanyalah manusia, segala sesuatu Tuhan yang menentukan, kita hanya bisa berusaha dan berupaya! ambilah hikmah dari bencana dan azab, itu peringatan dari Allah agar kita senantiasa ingat kepada-Nya dan terus beriman dan bertakwa! #17. Dikirim oleh Torik Hanifan pada 12/11 06:56 PM Memprihatinkan orang yang alergi mengaitkan musibah dengan kehendak ALLAH..mengatakan bahwa hal itu biasa..bisa dijelaskan secara ilmiah..dll Alam yang berkuasa atau ALLAH? Kenapa frekwensi gempa lebih kerap dan masiv tiap dekade nya? Klo dibiarkan, orang2 yg senang mendangkalkan aqidah akan bilang “banjir Nuh kehendak alam,bencana kaum sodom dan gomorah kehendak alam,terbelahnya lautan adalah kehendak alam..”,mungkin bung putra pertiwi bisa jadi pelopornya utk menuliskan hal2 spt itu, bukan begitu bung? Saya setuju dengan saran Torik Hanifan, istighfar, ambil hikmah,supaya anda menjadi org yg bertakwa #18. Dikirim oleh endy pada 14/11 05:14 PM tuhan yang murka dan menghukum adalah pemikiran yang terburu-buru. murka memiliki unsur emosi, sesuatu yang saya pikir tidak dimiliki olehNya. #19. Dikirim oleh rizqi pada 16/11 06:20 AM dulu waktu aku masih kecil aku sering diberi tahu oleh kiyai bahwa 1. ” setiap orang pasti diberi cobaan untuk meningkatkan ketakwaan atau keimanannya” 2. ” setiap orang yang berdosa pasti akan mendapatkan azab didunia ini yang sepadan dengan dosa yang mereka lakukan.” yang menjadi pertanyaan : apakah mungkin kita sebagai manusia biasa bisa mengetahui apakah bencana yang menimpa ini adalah suatu azab atau ujian yang dapat meningkatkan keimanan kita? azab maupun cobaan tidak memiliki parameter yang jelas sehingga tak pantas kiranya kita sok tahu tentang alasannya. dan mungkin hanya yang maha tahulah yang mengetahuinya. Tentang mesjid yang tidak pakai alat pengkal petir dan tampat maksiat yang pakai penangkal petir. Meurut saya, keduanya bisa tersambar petir. Tempat maksiat walaupun sudah dilindungi teknologi setinggi apapun tidak menutup kemungkinan bahwa Allah bisa menghancurkan tempat itu karena kemaksiatannya. Sebagai contoh begitu banyak ummat terdahulu yang memiliki teknologi tinggi pada jamannya dihancur leburkan karena kesombongannya. Sedangkan mesjid yang tidak dipasang penangkal petir bisa juga terkena petir karna Allah telah memerintahkan kita untuk berfikir dan tidak berbuat bodoh. Umat Islam bukan umat jahiliyah. Rasulullah mengatakan agar menambatkan unta terlebih dahulu baru bertawakal. #21. Dikirim oleh deden pada 19/11 12:07 AM betul, kalau yg ngomong bencana alam itu adzab dari Allah pastilah orang itu sok tau. kadang heran, bencana alam nya sama, tapi ada yg bisa ngomong bahwa itu adzab, padahal saya yakin sekali meskipun seluruh penduduk indonesia super sholeh: gempa, tsunami dan gunung meletus TETAP akan terjadi.

#22. Dikirim oleh Pangesti Sejahtera pada 06/12 12:26 AM Tuhan saya yakini tidak berperan didalam musibah dan bencana yang sedang dialami umatnya. Saya meyakini adanya hukum sebab dan akibat dan semua makluk akan mengikuti hukum tersebut,termasuk hukum alam dan karma Artinya segala sesuatu yang kita peroleh entah suka atau duka itu adalah hasil dari perbuatan kita sendiri entah perbuatan dimasa kita hidup didunia saat ini atau dimasa kehidupan kita sebelumnya dan sekaligus merupakan sarana bagi evolusi batin menjadi suci jika kita meyikapi musibah dan bencana dengan sabar dan tawakal, dan itu artinya REINKARNASI. Kita tahu Al’Quran itu multi tafsir.Beberapa indikasi adanya Reinkarnasi ada di Q.2:28 dan Q 3 :27.dan beberapa belas ayat lainnya yang mendukung adanya reinkarnasi. Selama kita tidak mengabsolut kan tafsir AlQuran maka diskusi tentang hal ini mungkin patut diketengahkan diantara kita, dengan adanya hukum sebab dan akibat maka pertanyaan tentang dimana keadilan Tuhan bagi bayi-bayi yang meninggal di suatu bencana, atau orang yang dilahirkan dlam kondisi cacat,atau orang yang hidupnya soleh namun hidupnya selalu susah dapat terjawab. #23. Dikirim oleh dewayanto pada 18/12 06:25 AM Meninjau Ulang SKB Rumah Ibadah Oleh Luthfi Assyaukanie Yang membuat miris, aturan SKB itu dipakai untuk membenarkan, bukan hanya pelarangan pendirian gereja, juga pelarangan ibadah. Jemaat HKBP berkali-kali diusir dan diteriaki ketika mereka hendak menjalankan ibadah di sebuah lahan kosong yang mereka miliki. Masyarakat kita tiba-tiba menjadi brutal. Sebagian mengambil inisiatif yang salah dengan menusuk dan melakukan kekerasan kepada pendeta dan pemimpin gereja. Artikel ini sebelumnya dimuat di Harian Jurnal Nasional, 17 September 2010

MESKI polisi telah menetapkan tersangka penusukan dan pemukulan terhadap pendeta HKBP Bekasi, isu pendirian rumah ibadah masih terus bergulir. Banyak yang meyakini, akar persoalan dari kasus di Bekasi beberapa hari lalu tak bisa diatasi hanya dengan menangkap para pelaku kekerasan itu. Namun, harus mencari akar persoalan sesungguhnya yang memicu ketegangan antarumat beragama ini. Sebagian berpendapat, akar masalah ada pada jemaat HKBP yang tidak tunduk pada Surat Keputusan Bersama (SKB, atau kadang disebut Surat Peraturan Bersama, SPB No 8 dan 9/2006) tentang pendirian rumah ibadah. Sebagian lain justru menyalahkan SKB yang nyata-nyata telah menghalang-halangi orang untuk membangun rumah ibadah. Tidak ada habisnya jika kita menanggapi debat kusir siapa yang salah dalam kasus ini. Setiap orang punya argumen dan masing-masing berusaha membela sudut pandangnya. Harus diakui, niat membuat SKB pastilah baik dan dilandasi semangat ingin mewujudkan harmoni di kalangan umat beragama. Namun, harus diakui juga SKB ini menyimpan masalah serius yang justru merusak tujuan awal pembuatan surat keputusan itu. Beberapa pasal di dalam SKB itu cukup baik, tapi beberapa pasal lain, jelas-jelas bermasalah. Membiarkan terus pasal-pasal yang bermasalah sama dengan membiarkan potensi konflik yang bakal terjadi. Pasal bermasalah itu sebetulnya sudah dipersoalkan sejak lama dan dikritik para sarjana dan aktivis hak asasi sejak masih berbentuk draf. Entah mengapa, kritik-kritik itu seperti ditelan bumi. Aturan-aturan yang memicu potensi konflik, seperti Pasal 13 dan 14 (alasan dan syarat pendirian rumah ibadah), tetap dilestarikan. Sepintas, aturan dari pasal-pasal itu kelihatan fair, sesungguhnya ia bersifat diskriminatif, bukan hanya bagi minoritas non-Muslim, juga bagi kaum Muslim sendiri. Aturan yang mengharuskan persetujuan meminta paling sedikit 60 tanda tangan warga setempat hanya menyusahkan pemohon yang ingin mendirikan tempat ibadah. Di tengah masyarakat yang sehat, meminta 100 atau 1.000 tanda tangan mungkin bukan persoalan besar. Namun, di tengah masyarakat yang diliputi kecurigaan, prasangka, dan kebencian, jangankan 60, meminta lima tanda tangan saja pasti akan sangat sulit. Itu yang terjadi dalam beberapa kasus permohonan izin pendirian gereja. Dan itu persis yang terjadi dengan kasus pendirian gereja HKBP di Bekasi. Karena tidak ada masyarakat setempat yang memberikan restu, permohonan izin pembangunan gereja di daerah itu tak pernah bisa diwujudkan, meski proses permohonan sudah diusahakan lebih dari 10 tahun. Yang membuat miris, aturan SKB itu dipakai untuk membenarkan, bukan hanya pelarangan pendirian gereja, juga pelarangan ibadah. Jemaat HKBP berkali-kali diusir dan diteriaki ketika mereka hendak menjalankan ibadah di sebuah lahan kosong yang mereka miliki. Masyarakat kita tiba-tiba menjadi brutal. Sebagian mengambil inisiatif yang salah dengan menusuk dan melakukan kekerasan kepada pendeta dan pemimpin gereja. Siapa yang harus disalahkan? Orang yang mau beribadah? Atau SKB yang memicu sebagian orang untuk melakukan tindak kekerasan? Memang mudah sekali menyalahkan korban (blaming the victim) seperti yang dilakukan beberapa tokoh Islam menyangkut kasus penusukan pendeta di Bekasi. Sikap ini bukan hanya tidak arif, juga tidak menyelesaikan masalah. Masalah utama adalah hak-hak mendirikan dan menjalankan ibadah, bukan siapa yang salah dan siapa yang benar. Dalam kasus Bekasi, yang dirugikan adalah saudara-saudara Kristen, di daerah-daerah lain saat kaum Muslim menjadi minoritas (seperti di Bali dan Manado), boleh jadi yang dirugikan kaum Muslim. Sebagaimana kaum Kristen, kaum Muslim juga mempunyai hak mendirikan rumah ibadah. Sebuah aturan tak boleh dibangun berlandaskan diskriminasi. Jika ada tokoh Islam berargumen, kaum Muslim bisa menerima SKB, termasuk menerima diskriminasi di wilayah-wilayah di mana mereka bukan mayoritas, pasti ada yang keliru dengan cara berpikir seperti ini. Beribadah adalah hak asasi setiap orang yang tak bisa ditawar-tawar (non-derogable). Kasus kekerasan yang terjadi di Bekasi mungkin bukan yang terakhir. Ia akan terulang lagi di tempat lain jika akar persoalan tidak ditangani secara serius. Apersoalan itu adalah surat keputusan bersama yang diskriminatif itu.

Ketua Mahkamah Konstitusi, Mahfud MD, sudah memberikan pernyataan SKB itu bermasalah dan perlu ditinjau ulang. Hanya beberapa tokoh Islam dari Majelis Ulama Indonesia (MUI) dan Partai Keadilan Sejahtera (PKS) yang masih terus berusaha membela. Saya tidak tahu apa alasan mereka membela aturan yang merugikan umat beragama itu. Kita tunggu ketegasan pemerintah mencabut atau merevisi SKB bermasalah itu sebelum kasus-kasus serupa terulang lagi. 23/09/2010 | Klipping, | # Komentar Komentar Masuk (43) (Tampil maks. 5 komentar terakhir, descending) ga perlu depat kusir….perlu di tinjau ulang demi keadilan bersama.. Posted by teambgn on 06/15 at 11:46 AM Suka atau tidak suka Islam maupun Kristen adalah saudara dan sedarah. Tuhan yang kita sembah adalah sama. Justru sebaiknya kaum mayoritas melindungi atau tempat mengadu dari kaum minoritas. Keluarga saya dari berbagai agama dan kita saling menghormati dan kita damai-damai saja. Saya heran kenapa untuk ijin gereja susah sekali akan tetapi kita lihat sekeliling dilingkungan kita klenteng ada dimana-mana… Jadi sekali lagi sadar atau tidak suka atau tidak suka kita sudara dan sedarah Posted by dig on 10/31 at 03:57 PM Untuk saudara rimang & qfly pernyataan yang baik dr saudara rimang, kita memang tidak boleh menyamakan setiap daerah mengenai perkembangan penganut setiap agama karena itu akan menjadi tidak valid, maka seharusnya kaum minoritas tidak sepatutnya menuduh kaum mayoritas seperti itu, saya menyampaikan data dalam lingkup se-indonesia berdasarkan klaim mereka yang mengacu pada fakta mereka sebagai minoritas dalam lingkup se-indonesia, kalau kita lihat per daerah kaum minoritas tersebut menjadi tidak minoritas di daerah timur indonesia justru kaum mayoritas lah yang menjadi minoritas disana dan begitu juga sebaliknya pada daerah lain. pernyataan dari saudara qfly,saya tidak berbeda pendapat terhadap yang anda sampaikan kalau kita di akhirat nanti akan dihisab secara individu dan mempertanggung jawabkannya secara individu pula akan tetapi pernyataan anda mengenai keyakinan adalah produk individu bisa menjadi ambigu,kalau yang anda maksud dari produk individu itu dalam hal penghisaban saya setuju akan tetapi kalau anda tarik kepada agama hanya urusan privat itu yang menjadi permasalahan karena Islam tidak hanya mengajarkan urusan privat namun urusan publik pun termasuk didalamnya. mengenai pernyataan saya “sudah sangat mencukupi”,anda sepertinya tidak menyimak mengapa saya mengatakan hal tersebut atau lupa?kalau memang begitu saya ingatkan kembali pada awalnya adalah anda yang telah mengatakan bahwa masjid “kelebihan” dalam merespon komentar saya sehingga saya kemudian memberikan argumen kembali dengan data yg lebih lengkap,berdasarkan data itu kita sama-sama bisa melihat kalau anda mengatakan masjid sudah “kelebihan” maka saya tambahkan kembali bahwa rumah ibadah kaum minoritas “lebih dari kelebihan”.Wallahu A’lam Posted by rifki akbar on 10/26 at 09:43 AM “saya rasa masalah sebenarnya adalah aturan dalam kristen sendiri. setiap jemaat gereja wajib nyumbang 10% dari penghasilan untuk gereja yg dikelola oleh pendeta bukan untuk umatnya. karena itu tak ada pendeta mau berbagi gereja dengan pendeta lain, alhasil setiap satu pendeta harus bangun satu gereja itulah yg jadi masalah. beda dengan islam bisa masuk jadi jamaah dimesjid mana aja. Seandainya peraturan itu tidak wajib dan jemaat gereja bisa masuk ke gereja mana aja persoalan pasti nggak ada kan satu agama masa tiap pendeta penjelasan beda tentang agamanya” anda tentu tidak mengerti apa yang anda bicarakan…... Posted by dio on 10/23 at 05:23 AM saya rasa masalah sebenarnya adalah aturan dalam kristen sendiri. setiap jemaat gereja wajib nyumbang 10% dari penghasilan untuk gereja yg dikelola oleh pendeta bukan untuk umatnya. karena itu tak ada pendeta mau berbagi gereja dengan pendeta lain, alhasil setiap satu pendeta harus bangun satu gereja itulah yg jadi masalah. beda dengan islam bisa masuk jadi jamaah dimesjid mana aja. Seandainya peraturan itu tidak wajib dan jemaat gereja bisa masuk ke gereja mana aja persoalan pasti nggak ada kan satu agama masa tiap pendeta penjelasan beda tentang agamanya ibadah adalah haq setiap ummat, tapi harus tertib dan sesuia dengan aturan, jgn selalu jdikn ibadah sebagai tameng, kalaulah ada orang yang menagatakan merusak aqidah ummat merupakan ibadah yg ia yakini, apakah ibadah sprti ini di biarkan, harus atura yang merapikan itu semua, buat gereja silakan aja tp ttp sesuai aturan. jgn buat gereja di suatu tempat yg jamaahnya tak ada di tempat tersebut, gerejanya ada tp ummatnya ntah dari mana aja, bukan ummat di sekitar gereja tsb, ni kan aneh, apa maksudnya. #1. Dikirim oleh Muhammad Taufiq pada 23/09 04:30 PM

Memang sudah sepatutnya SKB dijadikan UU, agar warga minoritas tahu diri dengan keberadaannya. kalau memang taat aturan , kenapa HKBP tidak mengikuti prosedur yang ada. KTP warga sekitar aja dimanipulasi. kalau memang mau mendirikan sebuah gereja ya silahkan tetapi jangan mendirikan gereja tetapi jemaahnya bukan berasal dari warga sekitar..JIL seharusnya mengerti itu.. #2. Dikirim oleh Abu Jasmine pada 24/09 03:25 AM poin terpenting ialah seperti yang anda tulis dalam opini diatas; yaitu harus ada tanda tangan 60 orang. dan anda sendiri mengatakan bahwa hal itu tidak sulit kecuali jika masyarakat sekitar diliputi kecurigaan, prasangka, dan kebencian, jangankan 60, meminta lima tanda tangan saja pasti akan sangat sulit. oleh karena itu maka pendirian tempat ibadah di tengah masyarakat itu sebaiknya tidak dilakukan, jika dipaksakan maka sepetti yang telah terjadi; berupa tindakan kriminal. hal ini perlu dicatat karena kebebasan kita terbatas oleh kebebasan orang lain. jadi menurut saya tidak ada masalah terhadap SKB tersebut. #3. Dikirim oleh bakar pada 24/09 04:06 PM skb 3 menteri sy kira sudah pas dan ainul ahsan, krn pendirian tempat ibadah bagi siapapun umat beragama hrs ada ketentuan dan peraturan yang ada, contoh yg dipermasalahkan oleh JIL pasal 13 dan 14 ttg permohonan persetujuan yg hrs ditanda tangani oleh sekurangnya 60 orang, maksudnya pendirian tempat ibadah biar g ngawur, klo JIL su’udlon (buruk sangka) dan tidak mau tanda tangan berarti JIL berpendapat orang yg mau mendirikan tempat ibadah itu orang asing yg tidak dikenal oleh JIL dan lingkungannya dan tidak jelas arah dan tujuan peribadatannya, klo sudah seperti itu berarti ada masalah dan hrs dimusyawarahkan bersama. Artinya orang yg bermaksud mendirikan tempat ibadah tidak boleh seenak udelnya mendirikan bangunan ibadah di wilayah (komunitas) orang lain tanpa diijini oleh komunitas tersebut. Bayangkan klo tidak ada peraturan, orang berduit seenak udelnya borong tanah dan mndirikan tempat ibadah seluasluasnya tanpa memperdulikan dampak aqidah masyarakat setempat. Contoh di Bali yg mayoritas Hindu dimana-mana ada pure, orang Islam tidak mungkin seenak udelnya mendirikan Masjid atau madrasah di sekitar pure, lagian yg mau ke Masjid siapa yg mau sekolah siapa orang yg beragama Islam cuman 1 doang yaitu yg pingin mendirikan Masjid atau madrasah, lain klo disekitar itu ada komunitas Islam dan berinteraksi sosial dengan warga Hindu secara baik tingkat toleran tinggi, tidak ada su’udlon diantaranya, baru bisa dan mafhum berdasarkan SKB 3 MENTERI. GITU JELASSSSS #4. Dikirim oleh bedon pada 24/09 07:06 PM Memang benar SKB tsb akan menimbulkan masalah di beberapa tempat. Baik masalah terhadap non muslim maupun terhadap muslim itu sendiri. Contoh bila muslim akan mendirikan mesjid didaerah yg mayoritas non muslim kalau berdasarkan SKB tersebut pasti akan sulit utk mendapatkan 60 tanda tangan. Akan tetapi kenyataan yg kita lihat, banyak mesjid yg berdiri didaerah mayoritas non muslim meskipun jumlah umatnya sedikit di daerah/tempat tersebut. Hal ini bisa dilihat berdirinya mesjid megah dipinggir danau toba yg sdh jelas mayoritas disana adalah non muslim,daerah Papua, NTT, Manado, Bali dll. Karena apa? Memang benar, kalau masyarakat kita penuh dengan kebencian, penuh curiga dan prasangka buruk secara pasti ijin dari masyarakat setempat yg mayoritas tidak didapatkan. Akan tetapi non muslim dapat menerima muslim dengan tangan terbuka dan tanpa curiga, benci serta tanpa prasangka buruk memberikan ijin utk mendirikan mesjid didaerah non muslim. Itulah wujud cinta kasih dan perdamaian… toleransi. #5. Dikirim oleh anton pada 24/09 10:32 PM Tulisan anda tidak konsisten, di depan anda tulis percuma saja berdebat kusir antara dua pendapat tentang siapa yang salah. Tetapi sisa tulisan anda habis-habisan membela satu pihak. Hanya menampilkan alasan dari satu sisi saja. Anda ini aktivis HAM atau penasihat hukum HKBP? tidak henti-hentinya menyuarakan HAM pilihan dan pesanan sponsor anda. Kalau dilihat permasalahan kan ada di kedua belah pihak yang sama-sama kesulitan di daerah yang notabene minoritas? SKB sudah oke,karena semua pemuka agama sudah duduk satu meja dan sepakat. Sekarang tinggal sosialisasi dan ketegasan aparat pemerintah dan itu yang kita kawal Ayolah sedikit “fair” kalau memberikan pandangan.. jangan kelihatan sekali membela satu kepentingan diatas yang lain atas nama HAM #6. Dikirim oleh tommy pada 25/09 07:32 AM wah kalo gitu mesjid yang akan di bangun di Bali, Kupang, singkawang, dan manado perlu juga dilakukan seperti itu.. ide bagus niy.. Memang kok.. mesjid2 yang dibangun disitu banyak yang perlu dipertanyakan ijinnya juga tuh.. gw berani jamin ga ada yg lengkap n ada tanda tangan warga juga… yeahh, liat aja… -peace#7. Dikirim oleh pluralis pada 25/09 05:48 PM kamu harus adil dlm menyikapi skb 2 mentri ini, orang islampun kesulitan membangun masjid di Papua & kamu tdk berucap apa 2x #8. Dikirim oleh Abdurrahman isa pada 26/09 01:27 AM

saya kristen dan bingung, emang kalau kita beribadah meresahkan ? apanya yang meresahkan, greja kita tertutup dan tidak brisik, tidak sadarkah kalau Masjid pakai speaker keras2 mengganggu lingkungan ? #9. Dikirim oleh harry pada 26/09 02:00 AM Walaupun ada penetang pendirian IC di ground ZERO oleh segolongan umat Kristen Fundamentalis,namun setiap agama di jamin oleh pemerintah untuk mendirikan tempat2 ibadahnya dgn merdeka. Demikian konsitusi Sistem pemerintahan amerika dimana semua warga negara dijamin hak2nya dan merdeka beragama dan mendirikan tempat2 ibadahnya didalam propertinya. Semoga pemerintahan Indonesia juga dapat mengikuti undang2 pendirian tempat2 ibadah, tidak ada larangan2 oleh golongan2 Majoritas.. http://latifabdul.multiply.com/ #10. Dikirim oleh alatif pada 26/09 02:04 AM Mengapa banyak ummat sebuah gereja di berbagai lokasi Jakarta bukan berasal dari daerah setempat? Karena di daerah mereka tidak ada gereja, sehingga mereka harus mencari dan beribadah ke daerah lain untuk beribadah. Ini yang sering kali tidak diketahui banyak orang dan dijadikan alasan penolakan tempat ibadah di daerah yang mayoritas muslim. Dan juga dalam kekristenan ada banyak organisasi gerejawi (bukan sekte) dan masing2 mempunyai gereja sendiri. Ini juga yang membuat gereja terlihat beragam dan terlihat berbeda2 sebagai wadah mereka beroganisasi secara agama dalam gereja masing2. #11. Dikirim oleh ARTESI pada 26/09 10:19 AM Akar permasalahannya adalah kalangan minoritas di sana tidak instropeksi diri, memaksakan diri.sadari bahwa umat muslim juga memiliki hak. Jangan paksakan kehendak dengan dalih pluralis,demokrasi.Lihatlah akar dari konflik Ambon.muslim di tindas.Perlakuan tidak adil. #12. Dikirim oleh HANIF pada 26/09 01:38 PM Wah kayaknya kita belum cukup berbesar hati dan ikhlas kalau negara ini memiliki kebhinekaan dan pluralitas, karena rupanya perbedaan pendapat adalah kejahatan dan keberagaman adalah haram, bahkan merah tidak boleh berjajar dengan hijau, bagaimana bisa melihat indahnya pelangi….. Amarah dan kekerasan menjadi halal untuk memisahkan yang kafir dan najis dengan yang merasa diri paling….... Yuk kita belajar berkomunikasi tanpa kekerasan, kecuali kalai itu sudah mengalir dalam darah sejak lahir, .... hanya ALLAH yang tahu….... amin. #13. Dikirim oleh lukito indro basuki pada 26/09 03:31 PM Bung Lutfi, sebelum berkata dan menyalahkan sebuah peraturan atau regulasi yang ada coba anda telisik dulu siapa yang membuat keputusan tersebut dan untuk kebaikan siapa. Penusukan tidak boleh dimasukan dalam masalah ini, itu murni kriminal. Apakah peraturan yang sudah berjalan mendampingi pluralisme agama di Indonesia harus disalahkan dan dijadikan kambing hitam hanya karena satu masalah ini. #14. Dikirim oleh K F Abdul Aziz pada 26/09 03:38 PM Seandainya saja kita mengerti akan kebebasan beragama, komentar2 diatas tentu nggak perlu. Karena alasan orang mendirikan tempat ibadah dengan tujuan untuk berkumpul dan memuji Tuhan, lihat saja betapa banyak nya mesjid atau mushola dalam suatu lingkungan dan pada saat azan rame-rame bersuara lewat pengeras suara, nggak ada yg marah2 tuh santai aja karena terbiasa dan kita menyadari itu hak warga muslim yg sedang beribadah, itu yg rekan2 muslim nggak menyadarinya dan cenderung egois… #15. Dikirim oleh ragilpoetra pada 26/09 03:40 PM Menurut saya, ada sebagian dari anggota masyarakat kita yang sangat menginginkan agar negara ini dapat menjadi negara Islam seperti kebanyakan negara di Timur Tengah, dimana Bibel dan Gereja bisa dianggap haram dan najis seperi di Arab Saudi dan akhir2 ini di Iran, Pakistan dan Afghanistan, Menurut saya, itu sah-sah saja, asal jangan pemaksaan kehendak. Yang jelas di Depok, Tangerang, Bogor dan Bekasi serta Prop. Banten dan Jawa Barat hal ini sudah menjadi agenda utama dari kelompok ini. Kelompok ini jelas ada bahkan sampai pada tingkat pemimpin nasional. Seperti saya katakan, itu SAH SAH SAJA. Cuma kalau ngga kesampaian, jangan jadi bringas dan ambil 1000 alasan untuk melakukan kekerasan. Barang saiapa yang setuju dengan SKB 2 Menteri, itu dia orangnya. Hanya perlu diingat: Gereja pasti tidak pernah merubahah keyakinan anda semua, jadi jangan takut dengan gereja, kecuali memang takut kepada orang2 yang memberikan dana-dana siluman dari negara timur tengah. #16. Dikirim oleh Bindu pada 26/09 05:10 PM Saya hanya mencoba memberikan bahan renungan sebagai berikut : 1. SKB adalah kesepakatan minimal dalam pendirian rumah ibadah agar tidak terjadi friksi antar masyarakat dalam proses pendirian rumah ibadah tersebut. Apakah penulis ingin agar friksi itu terjadi dengan mencoba menghapus SKB tersebut?

2. Akar masalah di Ciketing adalah sekelompok orang memaksakan kehendak mendirikan rumah ibadah di lokasi yang tidak ada satu pun umat Kristen di sana dengan melakukan berbagai manipulasi agar mendapat persetujuan sebab warga di sekitar tidak merasa dimintakan persetujuannya. Bila tidak ada warga Kristen di sana, untuk siapa Gereja itu didirikan? Pasti untuk warga Kristen di tempat lain. 3. Akar masalah yang lain adalah sekelompok orang melakukan unjuk kekuatan ibadah Kristen di lokasi yang tidak ada warga Kristen di sana. Dengan melakukan pawai sebelum dan sesudah ibadat serta dibackingi oleh seorang oknum polisi. #17. Dikirim oleh Suharto pada 27/09 03:38 AM SKB memang perlu, dijadika UU lebih baik. Tetapi kita perlu instrospeksi terhadap ketakutan terhadap kristenisasi adalah berbeda dengan ketakutan kristen/barat terhadap islamisasi. Sejarah membuktikan bahwa terjadinya islam yang murtad bukan karena keyakinan, tetapi karena kemiskinan. Tetapi orang kristen yang masuk islam adalah karena keyakinan. Ini terjadi baik di Indonesia ataupun dibarat. Oleh karena itu untuk menghindarkan kristenisasi kita perlu memberantas kemiskinan umat islam, tokoh2 islam memberikan contoh yang baik, dan jangan korupsi. Biar seribu gereja didirikan, dengan kondisi diatas , kristenisasi tidak akan berhasil. #18. Dikirim oleh Holiluddin pada 27/09 03:43 AM (1) Saya seorang muslim (yg insya allah ta’at), merasa sangat malu dan atas nama muslim yg lain, saya memberanikan diri meminta ma’af kepada umat kristiani atas kebodohan dan kesewenang2an saudara-saudara saya yang ada di Ciketing Bekasi, percayalah tidak ada satu ajaranpun dalam islam dan prakteknya di jaman nabi dan sahabat2 yang melarang orang berbeda iman beribadah atau mendirikan rumah ibadah, tanyakan pada mereka di qur’an surat apa, ayat berapa atau di kitab hadist yg mana ada larangan seperti itu ? (2)seperti yg pernah saya komentari di artikel yg lain, berbeda dengan masjid, yang sifatnya terbuka, siapa saja boleh ibadah disitu,yg NU, yg Muhammdiyah atau yang lainnya. Gereja kristen (yg prostestan) sifatnya tidak seperti itu, jamaatnya berdasarkan kelompok tertentu, ada Pasundan, Batak (yg ini jg bermacam2), Jawi, Toraja dan kelompok2 yg lain, boleh dikatakan jamaat mereka terdaftar. Nah mereka ini tempat tinggalnya tersebar secara luas di suatu Kabupaten/Kota atau bahkan dari lintas Kab/kota. Jadi sangat tidak mungkin mereka mengumpulkan tanda tangan dalam jumlah tertentu untuk memperoleh izin dari kalangan mereka sendiri, tanpa kemurahan hati kita yg muslim. Seharusnya memang Pemda menyediakan kawasan peribadatan dalam tata ruang kota, biar nanti umat yang membeli, syukur2 gratis (kalau tidak salah di Brebes ada kawasan peribadatan seperti itu. (3) bah, kalau MUI dan PKS jangan diharapkan deh,MUI sibuk berbisnis sertipikat halal dan pesanan fatwa, kalau PKS mereka memang maunya bikin negara islam, jangankan yg berbeda agama, yg sama2 muslim kalau tidak masuk kelompok politik mereka, kalau bisa juga ditendang. #19. Dikirim oleh Teguhsuseno pada 27/09 06:01 AM Memang sulit untuk meyakinkan bahwa SKB pendirian rumah ibadah tersebut diskriminasi. Memang betul ketika ada penyusunan draf untuk merevisi SKB yang sebelumnya ada kesepakatan yan akhirnya menjadi SKB yang sekarang. Masalahnya adalah, apakah kesepakatan tersebut adalah benar-benar ikhlas. Sebenarnya kalau kita mau masuk jauh ke dalam ketika penyusunan draf perubahan, akhirnya kita bisa menyimpulkan bahwa persetujuan tersebut bukan karena keikhlasan tetapi agar SKB lama yang benar-benar sangat amat diskriminatif berubah menjadi yang lebih lunak meskipun tetap saja diskriminatif. Karena, kalau kalangan kristen, katholik, tetap ngotot pada prinsipnya, maka tidak akan pernah tercapai kata kompromi dan itu artinya yang berlaku adalah SKB lama. Keterpaksaan ini harus dilakukan karena tidak mungkin ada seorang presiden yang akan berani SKB tersebut meskipun SKB itu dibuat oleh dua menteri yang notabene-nya adalah bawahan presiden. Dari sini akhirnya yang ditakutkan tetap terjadi bahwa pendirian gereja akan sangat sulit. Kita ngga usah lagi mengingkari kenyatan ini. Saya sebagai anak bangsa ini, ijinkan untuk memberi usulan yang sangat ekstrim, yaitu bagi saja NKRI ini menjadi dua bagian, yaitu satu bagian yang pasti akan lebih besar wilayahnya adalah khusus untuk yang beragama Islam, sementara bagian yang lain untuk yang beragama selain Islam dengan cara melakukan referendum. Adakan referendum untuk minta persetujuan warganegara NKRI. Kalau rakyat Indonesia setuju, tinggal bagaimana membaginya. Tetapi kalau ternyata mayoritas rakyat Indonesia tidak setuju, maka yang memperjuangkan adanya diskriminasi terhadap rumah ibadah dan berdirinya negara Indonesia yang berdasarkan agama Islam, ya secara sprotif harus keluar dari negara NKRI. Saya pikir ini cukup fair agar masalah SKB ini tidak terus berlarut-larut dan menambah jumlah korban diskriminasi dari hari ke hari. masalah ini memang pelik, mengumpulkan tanda tangan internal sangat gampang, tapi mengumpulkan tanda tangan eksternal (ummat agama lain) amatlah mustahil bahkan ini ladang bisnis yg lumayan. sebenarnya kalau mau jujur semuanya, ini menyangkut toleransi yg rendah dari pihak yg mayoritas. Pada saat Ramadhan, betapa gaduhnya parade membangunkan di tengah malam mulai jam 0200 dinihari dgn “terpaksa” dibiarkan oleh yg minoritas krn apa?, krn tdk bisa protes akibat hal ini sudah puluhan tahun dijadikan kebiasaan. yg mengherankan sweeping terhadap yg hendak beribadah merupakan tindakan memalukan akan tetapi dgn mudah dilupakan seolah2 bukan hal yg serius. Apakah tdk lebih mendesak utk sweeping thd mereka yg mau pergi ke tempat hiburan?, Apakah beribadah bagi penganut agama minoritas lebih hina daripada pergi ke tempat hiburan/maksiat? #21. Dikirim oleh Pangesti Sejahtera pada 27/09 03:53 PM aturan yg memnyatakan bhw jika hendak mendirikan tpt ibadah hrs dgn sepersetujuan masy sekitar (min 60 org), sbtlnya tdk salah,...hanya saja…perlu ditambahkan…“jika ada masy yg tdk setuju, maka HARUS JELAS ALASANNYA, dan alasan tsbt TIDAK BOLEH atas dasar KEPT PRIBADI ATAU GOLONGAN dan tidak boleh berkaitan dengan SARA”. coba ini diterapkan..pasti gak akan kacau…!! #22. Dikirim oleh Debby pada 27/09 04:28 PM Setuju SKB dicabut karena menimbulkan banyak masalah. Untuk Gereja katolik, satu gereja untuk satu paroki tetapi umatnya menyebar melampaui batas administrasi pemerintahan. Ini yang kurang dipahami oleh pembuat SKB. Perlu dibedakan juga antara gereja kristen dg gereja katolik. Bravo bung Luthfi #23. Dikirim oleh Nugroho SBM pada 28/09 02:38 AM

Jika teman-teman muslim kuat imannya kenapa takut? Biarkan mereka dirikan gereja di tengah-tengah mayoritas muslim. Setelahnya ajaklah mereka diskusi. Siapa tahu mereka beroleh hidayah dan semua jadi mualaf. Gerejanya disulap jadi masjid. Wow, sudah dapat pahala dapat aset lagi. Dengan demikian tidak ada yang menjadikan agama sebagai dalih untuk membenarkan tindak kekerasan. #24. Dikirim oleh roni pada 28/09 02:39 PM Bagaimana kita sebagai manusia dapat menilai keikhlasan seseorang, sedangkan jauh di lubuk hati ingin memperjuangkan kepentingan golongan sebesar-besarnya. Coba anda renungkan, umat islam sudah saya yakin dengan ikhlas dan berbesar hati mau merevisi SKB lama yang menurut anda sangat diskriminatif jadi lebih lunak. Tetapi anda masih kurang juga.. Jadi maunya apa? Sudah jelas ada proses musyawarah dan hasilnya ditandatangani ya tolong diikuti. Ga usah jauh-jauh bikin referendum, saya usul anda-anda saja yang tidak mau ikut aturan pindah ke pulau terpencil dan bikin aturan sendiri disana pasti ga ada yang protes #25. Dikirim oleh Tommy pada 28/09 05:54 PM umat minoritas di Indonesia ini jangan di kasih hati berlebihan, sebab mereka bisa makin lama makin membuat kita mayoritas terpijak, seperti jamaah HKBP bekasi, sudah di toleransi beribadah di rumah warga, eh kok tingkah laku jamaahnya tidak mencerminkan akklak yang baik. Gimana ni JIL. #26. Dikirim oleh abdullah faqih pada 28/09 06:36 PM beginilah caranya umat minoritas itu memanfaatkan momentum untuk menjatuhkan Islam,yang katanya kebebasan mereka direnggut oleh kaum mayoritas dan kemudian ditambah lagi oknum-oknum yang dengan membawa bendera HAM menghakimi agama ini,sungguh sangat disayangkan padahal kalau kita mau jujur dengan data yang dikeluarkan oleh depag masalah ini sebetulnya sudah dapat terpatahkan karena tuduhan dari yang katanya kaum minoritas itu mereka tidak bisa mendirikan rumah ibadah tidak lah benar,data dari depag menunjukkan bahwa perkembangan rumah ibadah selama 20 tahun terakhir adalah mesjid hanya naik 64,22 persen sementara rumah ibadah kristen protestan 131,38 persen dan katholik 152,8 persen #27. Dikirim oleh rifki akbar pada 30/09 10:04 AM untuk saudara rifki akbar: menggunakan laju pertumbuhan jumlah tempat ibadat bisa tidak tepat untuk argumentasi. Contoh matematika biasa: jika jumlah awal adalah 1 unit kemudian bertambah jadi 2 unit maka dalam prosentase angka pertambahannya adalah 100 persen; suatu jumlah yg kelihatannya besar. Bandingkan jika angka awal misalnya 100 unit bertambah menjadi 120 maka pertambahannya menjadi 20 persen yg relatif lebih kecil dari 100 persen. #28. Dikirim oleh Nugroho SBM pada 30/09 01:52 PM yang buat skb itu agamanya apa sih kok dak takut sama ajaran agamanya. masa ada agama yang mengajarkan pemaksaan terhadap agama #29. Dikirim oleh md sugeng pada 03/10 07:56 AM Saya tinggal di Bali, dimana warga muslim MINORITAS, tapi yang saya saksikan disini mereka bebas mendirikan masjid, bahkan tempatnya selalu(sebagian besar) strategis seperti sebelahnya POLDA BALI, dalam lokasi markas BRIMOB POLDA BALI. bayangkan seandainya masyarakat bali juga berbuat sama seperti mereka di jawa. apa jadinya ibadah saudara2 muslim. saya harap pemerintah pakai logika. jangan menerapkan aturan berdasarkan kecurigaan berlebih. padahal FAKTA, tidak pernah kita dengar saudara2 nasrani bikin onar, merusak rumah ibadah,merusak diskotek dengan alasan agamis. kenapa harus resah dengan pendirian gereja #30. Dikirim oleh john Kastanya pada 03/10 02:40 PM apakh dgn data dr depag itu kmudian qta memberangus kekbabasan bribadah atw brkeyakiana org lain??,,sy kira logika brfikir yg sngat picik… Lantas klw memang bnar data dr depag itu, bukannya qta jg bisa mlihat umat qta sndiri “mmfungsikannya” hanya d saat 2 hr IDUL sj. 2 hr IDUL yg bnar2 mnunjukkan qta memang kekurangan mesjid!!!, selebihnya itu sprtinya qta klebihan dech.. #31. Dikirim oleh qfly pada 03/10 06:31 PM Assalamualakum Wr.Wb. Kepada nugroho SBM yang baik,memang benar argumen yang saya lontarkan tidaklah tepat jika yang menjadi data dasarnya adalah contoh yang anda berikan,sekarang mari kita lihat data real nya saja dari jumlah penduduk pada agama tertentu dan jumlah pertumbuhan rumah ibadah dari agama tersebut.Seperti argumen awal saya mengenai pertumbuhan rumah ibadah menurut data depag adalah mesjid naik 62,22 persen dari jumlah 392.044 buah menjadi 643.834 buah kemudian gereja protestan naik 131,38 persen dari jumlah 18.977 buah menjadi 43.909 buah dan untuk gereja katholik naik 152,8 persen dari jumlah 4.934 buah menjadi 12.473 buah.Nah,sekarang menurut data dari depag mengenai jumlah penduduk yang menganut agama tertentu adalah umat islam berjumlah 206.873.780 orang atau 86,1 persen dari seluruh penduduk indonesia yang berjumlah 240.271.522 orang,umat kristen protestan berjumlah 20.903.622 orang atau 8,7 persen dan umat kristen katholik 7.208.145 orang atau 3 persen.Jika kita perbandingkan jumlah penganut agama tertentu dengan rumah ibadahnya maka perkembangan umat islam sebesar 321,31 persen,umat kristen protestan 476,06 persen dan umat kristen katholik 577,89 persen.jadi seperti yang saya katakan di postingan awal tuduhan dari kaum minoritas tersebut tetap terbantahkan dan data itu bukan bermaksud untuk memberangus kebebasan beribadah umat beragama akan tetapi untuk membantahkan tuduhan dari kaum minoritas yang menganggap dirinya terhalang oleh kaum mayoritas kemudian kalau kita menganggap bahwa jumlah mesjid yang ada sekarang sudah kelebihan berarti kalau kita lihat dari data depag itu sepertinya rumah ibadah umat lain jauh lebih kelebihan deh hehehehe.Wallahu A’lam

#32. Dikirim oleh rifki akbar pada 04/10 12:00 PM SKB adlh produk dr negara, prsoalan keyakinan adlh produk (bc;urusan) individu. Fungsi negara hnya menjamin kebebsan dr msing2 individu warga ngaranya utk bribadah. Pemrintah trmasuk kita yg bangga dgn klaim mayoritas tdk brhak utk mncapuri prsoalan tata pribadatan yg lbih khusus dr umat yg lain, trmasuk jumlah t4 ibadahnya yg sring brkorelasi dgn keyakinan (bc;aliran) umat itu. Sy brkyakinan (sprt yg prnah sy ktakan sblumnya) bahwa mesjid mungkin sdh brlebihan, jk kita lihat dr fungsinya. Krn sharusnya kita mngisi msjid2 itu 5X shari, tp realitasnya brbda (slain krn kmudahn ajran kita yg mmbolehkan dmn sj shg yg kbanyakn “mungkin” hnya drumah). Hal ini tdk bs kita samakn dgn umat lain yg pst mmiliki tatacara yg brbeda. Sikap2 sbagian umat kita (lwt kkerasannya), pmrintah (lwt regulasinya) sangat mnunjukkan ktidak prcayaan diri sbg umat yg briman. Krn sikap2 itu hnya mnunjukkan ktdkpercayaan diri ats keyakinan yg diyakini.. Skali lg, bribadah atw brkyakinan dr stp org hakikatnya adlah mnunjukkan hubungan dirinya scra personal dgn pnciptanya, tnpa ada prantara dr siapapn trmasuk pmrintah lewat SKB, aplg data dr depag itu. #33. Dikirim oleh qflyairputih pada 08/10 06:10 AM Saudara qfly yang baik,justru karena seperti yang anda katakan bahwa tdk bisa dsamakan tata cara beribadah setiap agama berbeda jadi jumlah dari rumah ibadah umat minoritas tersebut sudah sangat mencukupi untuk mereka melakukan ibadah,dengan demikian jangan lah mereka menuduh hal yang tidak-tidak kepada umat Islam kalau umat mayoritas ini telah menghalang2i umat minoritas tersebut,inilah poin saya dalam argumentasi saya diatas. kemudian kalau anda mengatakan bahwa persoalan keyakinan adalah produk individu,menurut saya harus anda jelaskan kembali keyakinan yang mana,karena kalau Islam yang anda tuduhkan sepertinya anda perlu mengkaji ulang kembali.Wallahu A’lam #34. Dikirim oleh rifki akbar pada 11/10 07:26 AM Bang Rifki Akbar,anda masih ada yang kurang argumennya,yaitu seharusnya data yang dikemukakan mengenai perkembangan rumah ibadat bukan disandingkan dgn jumlah penganut,tetapi harus disandingkan dgn perkembangan penganutnya juga serta dihitungnya harus berdasarkan satu daerah supaya lebih fair,jangan mengambil data depag yg se Indonesia.SKB mengatur tata cara perdirian/membangun rumah ibadat(masji,gereja,pura,klenteng)nah,pertanyaan saya,bolehkah umat kristen beribadat dirumah sendiri seperti umat muslim sholat dirumahnya tanpa meminta ijin dari lingkungan setempat?.Dan dlm SKB tercantum,seandainya ada umat satu agama sudah memenuhi quota yg 90,tapi ternyata tidak diijinkan oleh lingkungan,maka pemerintah daerah wajib memfasilitasinya untuk mendirikan rumah ibadat dan syarat 60 tanda tangan dengan sendirinya gugur kewajibannya.Silahkan baca SKB nya #35. Dikirim oleh rangga rimang pada 11/10 05:02 PM jangan mengatakan bahwa yang melakukan penusukan adlh org kita, krn nt gak tau sp plkkunya. mmg btul ibadah adlh haq stiap manusia, tpi masuk akal gak mendirikan gereja di lingkungan muslim yang gak ada umat kristianinya, #36. Dikirim oleh aas pada 12/10 01:18 AM Utk sahabat rifki. Manusia di akhirat nanti d hisab scara individu, bahkn d gambarkan scara jlas dlm surat Yasin bahwa yg mnjadi saksi adalah sluruh tubuh qta slain mulut. Itu contoh kongkrit kyakinan sbg urusan individu. Atw saudara rifki sudah memiliki SKB atw PERTU (PERaturan TUhan) yg baru dr Tuhan bhw dihisab nanti scar kolektif??, mohon dibagikn SKB atw PERTU itu klw ada supaya sy bisa belajar lg sbgmna prmintaan anda ...Dn sy myakini umat2 yg lain pun sama dalam mmpertanggugjwbkn amal prbuatannya tdk scra kolektif. Justification dgn indikator yg tdk jelas telah sahabat rifki lakukan ketika mengatakan “sudh sngat mncukupi” mnyangkut rumah ibadah. Sikap2 apologetik seprti itu sdh sharusnya dihilangkan, krna tdk akn prnah mnyelesaikan persoaln malah smakin mmprburuk keadaan. Yg ingin sya tkankan dsini skli lg bhw; fungsi pemerintah adlah sbatas mnjamin ketenangan stp individu (tnpa melihat latar belakangnya)utk bs bribdah. Klwpun ada aturan2 yg dbuat, aturan2 trsbut adlh aturan2 yg brlandaskan atas nelai keadilan. #37. Dikirim oleh qflyairputih pada 12/10 03:09 AM Sekali lagi, saya kristen, di desa saya, bapak saya yang kristen jadi panitia pembangunan Masjid, bahkan om saya yang kristen jadi Ketua panitia pembanguna Masjid .... kalau gak percaya bisa email ke saya ...... kalau mau itung2an, boleh dong sebagai minoritas, kita menyampaikan lapora karena perbuatan gak menyenangkan, soalnya terganggu dengan suara speaker tempat ibadah ..... ini negara mau di bawa kemana ? #38. Dikirim oleh Harry pada 14/10 11:40 AM saya rasa masalah sebenarnya adalah aturan dalam kristen sendiri. setiap jemaat gereja wajib nyumbang 10% dari penghasilan untuk gereja yg dikelola oleh pendeta bukan untuk umatnya. karena itu tak ada pendeta mau berbagi gereja dengan pendeta lain, alhasil setiap satu pendeta harus bangun satu gereja itulah yg jadi masalah. beda dengan islam bisa masuk jadi jamaah dimesjid mana aja. Seandainya peraturan itu tidak wajib dan jemaat gereja bisa masuk ke gereja mana aja persoalan pasti nggak ada kan satu agama masa tiap pendeta penjelasan beda tentang agamanya #39. Dikirim oleh raida pada 17/10 12:51 PM

“saya rasa masalah sebenarnya adalah aturan dalam kristen sendiri. setiap jemaat gereja wajib nyumbang 10% dari penghasilan untuk gereja yg dikelola oleh pendeta bukan untuk umatnya. karena itu tak ada pendeta mau berbagi gereja dengan pendeta lain, alhasil setiap satu pendeta harus bangun satu gereja itulah yg jadi masalah. beda dengan islam bisa masuk jadi jamaah dimesjid mana aja. Seandainya peraturan itu tidak wajib dan jemaat gereja bisa masuk ke gereja mana aja persoalan pasti nggak ada kan satu agama masa tiap pendeta penjelasan beda tentang agamanya” anda tentu tidak mengerti apa yang anda bicarakan…... Untuk saudara rimang & qfly pernyataan yang baik dr saudara rimang, kita memang tidak boleh menyamakan setiap daerah mengenai perkembangan penganut setiap agama karena itu akan menjadi tidak valid, maka seharusnya kaum minoritas tidak sepatutnya menuduh kaum mayoritas seperti itu, saya menyampaikan data dalam lingkup se-indonesia berdasarkan klaim mereka yang mengacu pada fakta mereka sebagai minoritas dalam lingkup se-indonesia, kalau kita lihat per daerah kaum minoritas tersebut menjadi tidak minoritas di daerah timur indonesia justru kaum mayoritas lah yang menjadi minoritas disana dan begitu juga sebaliknya pada daerah lain. pernyataan dari saudara qfly,saya tidak berbeda pendapat terhadap yang anda sampaikan kalau kita di akhirat nanti akan dihisab secara individu dan mempertanggung jawabkannya secara individu pula akan tetapi pernyataan anda mengenai keyakinan adalah produk individu bisa menjadi ambigu,kalau yang anda maksud dari produk individu itu dalam hal penghisaban saya setuju akan tetapi kalau anda tarik kepada agama hanya urusan privat itu yang menjadi permasalahan karena Islam tidak hanya mengajarkan urusan privat namun urusan publik pun termasuk didalamnya. mengenai pernyataan saya “sudah sangat mencukupi”,anda sepertinya tidak menyimak mengapa saya mengatakan hal tersebut atau lupa?kalau memang begitu saya ingatkan kembali pada awalnya adalah anda yang telah mengatakan bahwa masjid “kelebihan” dalam merespon komentar saya sehingga saya kemudian memberikan argumen kembali dengan data yg lebih lengkap,berdasarkan data itu kita sama-sama bisa melihat kalau anda mengatakan masjid sudah “kelebihan” maka saya tambahkan kembali bahwa rumah ibadah kaum minoritas “lebih dari kelebihan”.Wallahu A’lam #41. Dikirim oleh rifki akbar pada 26/10 09:43 AM Suka atau tidak suka Islam maupun Kristen adalah saudara dan sedarah. Tuhan yang kita sembah adalah sama. Justru sebaiknya kaum mayoritas melindungi atau tempat mengadu dari kaum minoritas. Keluarga saya dari berbagai agama dan kita saling menghormati dan kita damai-damai saja. Saya heran kenapa untuk ijin gereja susah sekali akan tetapi kita lihat sekeliling dilingkungan kita klenteng ada dimana-mana… Jadi sekali lagi sadar atau tidak suka atau tidak suka kita sudara dan sedarah #42. Dikirim oleh dig pada 31/10 03:57 PM ga perlu depat kusir….perlu di tinjau ulang demi keadilan bersama.. Menunggu Komitmen Pluralisme PKS Oleh Saidiman Ahmad Penggalangan massa untuk menentang sebuah negara di belahan dunia yang jauh tampak tidak lazim dilakukan sebuah partai politik yang nota bene sedang memegang kekuasaan. Bukankah akan lebih efektif memanfaatkan kekuasaan yang ada di tangan untuk melakukan lobi-lobi internasional? Nyatanya, maksimalisasi kekuatan politik PKS untuk mendukung kemerdekaan Palestina tidak cukup serius. Artikel ini telah dimuat sebelumnya di Koran Tempo, Jumat 25 Juni 2010 Keputusan Partai Keadilan Sejahtera (PKS) untuk menjadi lebih terbuka dan pluralis patut dihargai. Ini membuktikan bahwa realisme politik juga terjadi di tubuh partai yang sangat Islamis sekalipun. Kita patut terus mendorong PKS tetap berada di jalur keterbukaan dan pluralisme itu. Upaya untuk mendorong PKS terus melanjutkan visi pluralismenya penting mengingat partai ini adalah partai Islam yang sangat kental dengan perjuangan agenda-agenda Islamis. Agendaagenda Islamis yang sejauh ini diperjuangkan tampak cukup berbeda dengan visi pluralisme yang sekarang coba dibangun. Sejak awal pendiriannya, ketika masih bernama Partai Keadilan, partai ini menjadi partai garda depan yang menghendaki penerapan syariat Islam. Tahun 1999, partai ini mendukung sepenuhnya Piagam Madinah. Piagam Madinah adalah konstitusi yang mendasari pemerintahan Nabi Muhammad di Madinah. Isi Piagam ini memang memberi ruang kebebasan bagi nonMuslim dalam pemerintahan Muslim. Tapi Piagam ini tampak kurang relevan dalam konteks Indonesia yang dibangun bersama oleh banyak sekali unsur. Bagaimanapun, Piagam Madinah adalah identik dengan salah satu kelompok masyarakat. Tahun 2005, PKS adalah partai yang paling getol memperjuangkan pengesahan Undang-undang Pornografi (awalnya bernama UU Anti-Pornografi dan Pornoaksi). Undang-undang ini melukai rasa solidaritas dengan kelompok-kelompok tertentu dalam masyarakat yang memiliki definisi berbeda dalam hal pakaian dan aturan pornografi. UU ini diskriminatif karena secara langsung mengandaikan kebudayaan suatu kelompok sebagai porno dan harus dilarang. UU Pornografi juga potensial menghambat kreativitas kesenian Indonesia. Segera setelah UU ini disahkan, pemerintah Jawa Barat langsung menyebut tari Jaipong sebagai porno yang karenanya harus dibatasi bentuk gerakannya. Pemerintah Kota Bekasi (salah satu basis massa PKS), juga membongkar patung Tiga Mojang di pintu gerbang Perumahan Harapan Indah.

Patung bergambar tiga perempuan itu dianggap tak pantas berada di sebuah kota dengan penduduk mayoritas Muslim. Padahal, patung itu adalah satu dari sangat sedikit karya seni patung di kota-kota besar di Indonesia. Sebetulnya PKS sudah sejak tahun 2004 mendeklarasikan diri sebagai partai terbuka. Pada kampanye Pemilu 2004, PKS mengusung slogan “bersih dan peduli.” Pada tataran retorika, PKS seolah hendak menjaga jarak dari kesan sektarian Islamis. Menjelang Pemilu 2009, PKS bahkan mendaku sebagai partai pluralis. Di beberapa daerah berbasis massa non-Muslim, PKS merekrut kader non-Muslim dan berhasil mendudukkan mereka di kursi Dewan Perwakilan Rakyat Daerah. Namun begitu, sebuah partai menjadi terbuka dan pluralis tidak diukur berdasarkan ucapan dan pernyataan para elit semata. Sejumlah fakta pilihan politik harus mencerminkan sikap itu di lapangan. Membaca PKS pun tidak cukup hanya melihat perilaku elitnya. Tidak seperti partai-partai lain, PKS lahir dari sebuah gerakan sosial Islamis. PKS adalah kelanjutan dari gerakan Islamis yang telah ada sejak awal 1980-an, pasca Revolusi Iran. Gerakan yang muncul pada era Soeharto ini pada mulanya adalah gerakan bawah tanah. Mereka tidak leluasa bergerak di bawah pemerintahan otoriter yang berjarak dengan gerakan Islamis. Pada masa itu, Tarbiyah (embrio PK/PKS) barulah berupa gerakan dakwah. Mereka bergerak di kampus-kampus sekuler. Ketika Orde Baru mulai mendekati gerakan Islam dengan mendirikan Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI), Tarbiyah juga semakin leluasa muncul ke permukaan dalam bentuk gerakan yang lebih terorganisir. Mereka membuat organisasi Forum Silaturrahmi Lembaga Dakwah Kampus (FSLDK). Di akhir kekuasaan Orde Baru, gerakan ini semakin radikal dan politis. Jika pada awalnya Tarbiyah hanya bergerak dalam bidang religiositas, maka pada masa itu mereka sudah mulai berbicara tentang negara. Pada masa itulah aktivis-aktivis Tarbiyah membentuk Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI). Sejarah kemudian mencatat, KAMMI bersama sejumlah organisasi mahasiswa lainnya, menjadi motor penggerak Reformasi yang menjatuhkan Soeharto. Terbukanya struktur kesempatan politik (political opportunity structure) pasca runtuhnya Orde Baru dimanfaatkan para aktivis Tarbiyah untuk benar-benar bermetamorfosis dari gerakan dakwah menjadi partai politik. Mereka mendirikan Partai Keadilan dan menjadi peserta Pemilu 1999. Kini partai itu menjadi partai pemenang keempat dalam Pemilu 2009 dan telah dua periode berada dalam koalisi pemerintah. Burhanuddin Muhtadi (2010) menyebut PKS sebagai partai gerakan. Karena itu, karakter gerakan yang melekat pada partai ini menyebabkan PKS tak bisa dibaca berdasarkan pengakuan elitnya saja. Aspek gerakan sosial seperti demonstrasi massal harus menjadi salah satu fokus perhatian. Betul bahwa pada tataran elit, PKS tampak seperti telah membuka diri dan menjadi partai pluralis. Tetapi pada aspek gerakan, partai ini tampak belum beranjak dari posisi semula. Muhtadi mencatat bahwa hampir semua demonstrasi PKS berisi agenda-agenda Islamis. Mereka menggerakkan demonstrasi-demonstrasi besar untuk mendukung RUU Pornografi. Partai ini juga tercatat sangat getol melakukan demonstrasi anti-Israel. Pada setiap perayaan ulang tahun partai, PKS selalu melakukan penggalangan massa menentang Israel. Penggalangan massa untuk menentang sebuah negara di belahan dunia yang jauh tampak tidak lazim dilakukan sebuah partai politik yang nota bene sedang memegang kekuasaan. Bukankah akan lebih efektif memanfaatkan kekuasaan yang ada di tangan untuk melakukan lobi-lobi internasional? Nyatanya, maksimalisasi kekuatan politik PKS untuk mendukung kemerdekaan Palestina tidak cukup serius. Dengan begitu, gerakan massif kader-kader PKS untuk mendukung kemerdekaan Palestina adalah bagian dari bentuk karakter Islamis semata. Fakta bahwa kader-kader PKS tidak memberi respon terhadap tragedi-tragedi kemanusiaan lain seperti yang menimpa Tibet dan kelompok Ahmadiyah di Pakistan adalah pertanda bahwa dukungan terhadap kemerdekaan Palestina hanyalah buah dari agenda Islamis yang mereka perjuangkan. Sektarianisme itu masih sangat kuat melekat. Untuk menjadi partai terbuka dan pluralis, PKS tidak cukup merangkai kata-kata. Kita berharap PKS memberi bukti, bukan sekedar janji. Di samping rakyat Palestina, rakyat Tibet, Ahmadiyah Pakistan, masyarakat Papua, jemaah Ahmadiyah dan kelompok-kelompok minoritas lain di Indonesia juga korban kesewenang-wenangan yang patut diperhatikan. Selain rakyat Palestina, mereka juga mesti dibela. Seorang pluralis tidak akan membiarkan UU diskriminatif tentang Pornografi lolos dan disahkan DPR. Seorang pluralis tidak akan membiarkan UU yang hanya memberi ruang hidup bagi enam agama, sembari mengabaikan hak-hak hidup ratusan agama dan kepercayaan yang ada di masyarakat kita yang majemuk ini. 25/06/2010 | Klipping, | # Komentar Komentar Masuk (44) (Tampil maks. 5 komentar terakhir, descending)

Bagi anda yg tidak percaya pluralis - demokrasi (biasanya krn menentang negara pengusungnya - barat), silahkan pikirkan jika negara2 tersebut menerapkan hukum rimba yg semena2 membantai minoritas. Tentunya Sodara2 muslim di sana akan digencet habis. Nyatanya? Saya saksikan sendiri mesjid bisa tumbuh disana (tentunya tanpa corong pengeras suara). Itu yang namanya pluralis, demokratis. Pemerintah AS sendiri berusaha memberi dukungan pembangunan mesjid di lokasi 9/11. Sayangnya rasa hormat tuan rumah tidak serta merta dibalas dgn terima kasih oleh para pendatang ini, sehingga mulai ada gesekan2 sosial. Yah, namanya tamu di mana2 klo kurang sopan santun ya pasti bikin gerah. Sedangkan di Indonesia? Bangsa sendiri aja dibantai krn dianggap tidak sejalur dgn arus utama. Dan pemerintah cuma cengir2. Posted by v.raymontt on 04/09 at 09:40 AM Bagi yang merasa agamanya paling benar, silahkan renungkan arti kalimat ‘Maha Kuasa’. Karena itu artinya Dia berada di atas SEGALANYA: Di atas segala bangsa, golongan, maupun AGAMA. Jikapun ada persepsi bahwa agama saya yg paling benar di JalanNya, dan yg lainlah yang tersesat, tidakkah Ia mampu mengirimkan bencana HANYA pada yg tersesat? Toh bencana datang silih berganti tanpa pandang bulu. Renungkan kembali pemikiran2 anda yg menjurus diskriminasi, karena berpotensi mengkotak2an bangsa sendiri dalam bencana setingkat ‘Apartheid’. Tentunya jika anda masih bisa ‘berpikir’. Salam.

Posted by v.raymontt on 04/09 at 09:28 AM Untuk sdr. hermawan oktar : Kalimat anda “Dalam Islam sangat jelas, manusia diberi kekuasaan untuk menghakimi dengan standar Kitab yang dibawa para Nabi dan Rasul”, perlu saya tanggapi berikut ini : Bahwa Indonesia sbg sebuah negara berdaulat, tidak memakai standar kitab suci agama manapun untuk sumber hukumnya. Indonesia adalah bukan negara agama, bukan pula negara Islam, dan memiliki sumber hukum sendiri yang sesuai dengan kondisi sosial-kemasyarakatan bangsa Indonesia. Sumber hukum di Negara Kesatuan Republik Indonesia adalah UUD 1945 dan UU lainnya yang disusun bersama oleh PEMERINTAH dengan DPR, yang tak boleh bertentangan dengan UUD 1945. Maka jelaslah, bahwa setiap warganegara Indonesia wajib tunduk dan patuh kepada seluruh pasal dan ayat-ayat dalam UUD 1945. Perumpamaan yang anda pakai yang ditujukan kepada saya, “apakah anda tidak beraksi ketika ada orang yang mengaku-ngaku keluarga anda, tapi berperilaku tidak sesuai dengan apa yang anda tahu dalam keluarga anda?”. Perumpamaan anda ini terlihat logis, namun maaf, saya menilainya itu adalah perumpamaan yang sempit/dangkal. Lha tentu saja dong, saya beraksi (atau lebih tepatnya be-reaksi). Tapi reaksi saya tentu saja tidak dengan menghakimi sendiri, apalagi menggebugi orang tsb. Perumpamaan anda diatas, sdr hermawan, adalah masuk dalam ranah hukum sipil (hukum antar-manusia). Sedang Ahmadiyah itu sesuatu yang lain, sesuatu iman-keyakinan kepada Zat Yang Maha Tinggi. Maka biarkanlah DIA sendiri yang menghakimi atas sesat-tidaknya Ahmadiyah itu. Penghakiman dalam kasus seperti ini, tak selayaknya dilakukan oleh manusia. Negara juga tak boleh menghakimi iman-kepercayaan rakyatnya. Karena domain negara bukanlah mengurusi soal iman rakyatnya tsb. Tugas Negara adalah wajib mengurusi hal-ikhwal kesejahteraan rakyatnya dan martabat serta keamanan Negara. Itupun tak bisa ditangani dengan baik oleh Negara. Sedang soal iman-kepercayaan, adalah 100% urusan pribadi manusia dengan Sang Khalik. Posted by Anton Isdarianto on 08/17 at 09:56 AM Jangan main nilai aja akhi…..untuk antum yg komentarnya agak2 menyerang pks coba tabayun ke dpc2nya pks. untuk antum yg nulis….coba bedah Al-Qur’an dengan “keimanan” jangan dengan “logika”....akhifillah PKS itu hanya sebuah wajiah bagi para aktivis gerakan dakwah yang berada di indonesia….masih lebih baik mereka ( PKS ) yang punya kontribusi dalam kehidupan bermasyarakat ini…...semoga Allah memberikan hidayah bagi kita semua. untuk PKS jangan menyerah…kalau kalian punya niat yang benar pastilah Allah yg akan mengangkat derajat kalian untuk menjadi yang memimpin negeri ini…Allahu Akbar….... Posted by albanna on 08/14 at 05:25 AM Bagi JIL kata pluralis berarti “Semua Agama Sama”, sementara dalam kontek Islam Pluralis adalah menghargai keberagaman dengan batasan “Bagimu agamamu, bagiku aganmaku, Aku tidak menyembah yg kau sembah dan seterusnya…” untuk saudara Anton, Tuhan memberi pelajaran dan hukum kepada manusia agar dunia ini tidak kacau balau. Dalam Islam sangat Jelas, manusia diberi kekuasaan untuk menghakimi dengan standar Kitab yg dibawa para Nabi dan Rasul. Apakah anda tidak beraksi ketika ada orang yang mengaku-ngaku keluarga anda tapi berperilaku tidak sesuai dengan apa yang anda tahu dalam keluarga anda?. Setidaknya anda akan mengatakan, silahkan anda berprilaku demikian tetapi janganlah mengaku-ngaku keluarga anda bukan? Bagus lah kalo bgt, tinggal tunggu kenyataannya. Realita masyarakat Indonesia adalah prural dan tenggang rasa, kalo gak prural agama yang ada mungkin Hindu atau Budha. Namun partai politik biasanya ya cuma cari untung sendiri. Liat saja Taufik Kimas yg beda pendapat sama bu Mega demi bisa terus berada di lingkaran kekuasaan walaupun beda orientasi politik. Orang politik maunya untung melulu. #1. Dikirim oleh nurcahaya pada 25/06 04:16 AM PKS adalah contoh paling shahih bagaimana sebaiknya umat Islam menyikapi perbedaan, bisa bersikap toleran dan terbuka dengan umat lain tapi tidak menggadaikan hal-hal yang prinsip,santun dalam perilaku dan akhlak, membantu sesama yang tertimpa musibah, tegas terhadap kekafiran!. #2. Dikirim oleh Acmellouddine pada 25/06 05:03 AM Hehehe ... sepertinya ada yang berharap mendapat teman se ideologis ... Jangan banyak berharap lah ... jangan-jangan malah anda-anda yang nanti akan dirangkul mereka demi tujuan politik. Sepertinya sih anda-anda malah akan ditawari untuk duduk di jajaran pengurus PKS ... nah saya yakin anda-anda akan lebih tertarik ke PKS daripada ke Demokrat yang sudah seideologi .. coba nanti kita lihat apakah TUG OF WAR anda dan PKS akan menghasilkan apa… apa anda-anda yang tertarik atau mereka yang tertarik dalam pengaruh mereka. Let’s wait and see #3. Dikirim oleh megung pada 25/06 06:21 AM PKS tidak akan bisa menjadi partai yang inklusif selama mereka tetap setia dengan ideologi partainya yang eksklusif. Sikap terbuka yang mereka tunjukkan menjelang Pemilu 2014 hanya merupakan strategi politik yang ditujukan untuk memperbesar perolehan suara kelak. Mendeklarasikan diri sebagai partai terbuka tanpa didahului perubahan ideologi yang telah ada hanya merupakan make-up untuk tampil di panggung Pemilu nanti. Bagi saya, tidak ada yang berubah dalam diri PKS. Sosok sama, baju sama. Hanya bedak dan gincu saja yang mereka ganti.

#4. Dikirim oleh firdaus agung pada 25/06 09:41 AM Sebagai pengikut “ISLAM YES PARTAI ISLAM NO” saya justru curiga jika pluralis yang ditawarkan PKS hanyalah taktik semata. Jauh lebih baik jika agama tidak dijadikan komoditas politik. Begitu banyak ketidaknyamanan muncul atas nama kekuatan politik agama yang akibatnya malah merusak citra agama yang sebetulnya suci. Bravo sekularisme! #5. Dikirim oleh Sulaeman pada 25/06 01:23 PM PKS elitenya = pluralis,..massanya = ( barangkali ) islamis,...ga nyambung,..kasihan deh #6. Dikirim oleh YADI pada 26/06 02:18 AM Mungkin kalau PKS jadi nomer satu, Palestina seolah-olah akan menjadi propinsi ke 38 RI yg mendapat jatah dibahas resmi dan mendapat anggaran dpr. Soal TKI yg disiksa dan diperas di LN, masalah korupsi, masalah premanisme, masalah tibet, masalah papua, masalah pengungsi timtim, masalah penindasan ahmadiyah oleh preman FPI & MUI; itu sih gak penting, gak perlu didemo. #7. Dikirim oleh Harun pada 26/06 02:23 AM “Padahal, patung itu adalah satu dari sangat sedikit karya seni patung di kota-kota besar di Indonesia….” Lho, bukankah karya seni patung ciptaan manusia, sedangkan aturan agama ciptaan Allah. Kenapa harus menentang ciptaan Allah demi ciptaan manusia? Itukah pluralisme yg diagung2kan? PKS ternyata ngk punya komitmen yang kuat, saya kecewa berat…... #8. Dikirim oleh raiya pada 28/06 03:34 AM Sulit untuk membayangkan PKS akan secara jujur berubah ke arah partai terbuka dan pluralis. Kalau mereka berani melakukan ini maka resikonya akan ditinggalkan banyak pendukungnya yang mendukung secara penuh hal-hal yang mereka anggap islamis. Gerakan dan pandangan yang menginginkan negara indonesia menjadi negara yang berfalsafah islam harus diakui hidup di masyarakat kita. Ada yang benar-benar yakin akan tercapai tetapi ada juga yang ikut-ikutan dan kalau diajak diskusi soal seperti apa negara islam yang cocok dengan indonesia, mereka akan bingung menjawabnya. Jawaban yang muncul akhirnya ya itu tadi sesuai dengan Piagam Madinah. Sudah pasti jawabannya seperti ini. Demo yang sering mereka lakukan sebenarnya hanya untuk memanfaatkan moment tersebut untuk terus memelihara kemunculan baik di tengah masyarakat maupun di berita-berita di media masa. Misalnya kalau memang benar ingin mendukung palestina merdeka secara penuh, bikinlah kajian yang komprehensif dan menghadirkan pakar-pakar yang mendalami masalah timur tengah khususnya hubungan antara israel-palestina. Dengan kajian ini, sodorkan ke pemerintah indonesia untuk melakukan lobi-lobi international khususnya AS dan negara-negara eropa. Jangan hanya demo-2 aja. #9. Dikirim oleh Terto pada 28/06 07:54 AM Dulu saya mengidolakan PKS sebagai kekuatan Islam yang riil dan dapat dipercaya sehingga saya mati2an mendukung dalam beberapa pemilu. Namun kini ketika PKS berubah wujud menjadi Partai Kebangkitan Sekuler, saya tegas menolak PKS lagi. Kini, tiada PKS lagi di hati, karena mereka sudah ingkar janji. Bukan istiqomah yang mereka lakukan, tapi rayuan Demokrasi sampah yang mereka harapkan… Inna lillahi wa inna ilaihi raajiun….. Good bye PKS…. I hate demo crazy… #10. Dikirim oleh fauzi rachman pada 28/06 01:21 PM Kalau PKS masih melakukan perbuatan2 diskriminasi kpd golongan2 lain seperti Ahmadiyah,Liberal, anti Amerika,anti isreal,serta mendukung Syariat islam di aceh, mendukung golongan Islam Hamas (fundamentalis )dari pada abbas….sesungguhnya PKS hanya bermain politik dgn umat non Islam…Salah satu sisi menerima non Islam satu sisi lain masih diskriminasi dgn Ahmadiyah, syiah,liberal dll Mari kita saksikan permainan PKS salam #11. Dikirim oleh alatif pada 28/06 05:12 PM PKS, apapun komentar Anda-anda, akan terus maju menegakkan kalimtullah, menegakkan kebenaran, keadilan dan kesejahteraan di Indonesia. Allahuakbar!!!! #12. Dikirim oleh komit Islam pada 29/06 07:55 AM Tentunya bagi ummat islam yang berakal-budi tidak serta merta terbawa arus pemikiran JIL. Tentang tujuan sebenarnya PKS membuka diri itu apa? Pluralis ataukah Nasionalis? Jadi patut juga kita pertanyakan maksud dan tujuan dari pihak yang mengkomentari perubahan PKS tsb. apa? SKSD (sok kenal sok dekat) ??? #13. Dikirim oleh Ben Chuldun pada 29/06 09:37 AM

Jangan hanya retorika, ngaku pluralis, tapi diam aja kalau ada FPI main hakim sendiri seolah2 wakil mulaikat, ahmadiyah dihajar tapi anda membisu, gereja dibakar juga tidak ada pembelaan pada hal itu tempat nyembah ke Tuhan juga, budaya lokal hilang juga cuek, malah budaya asing masuk dibiarkan. Mana bisa sesering dulu kita bisa lihat ibu2 kita anggun karena pakai pakaian nasional bersanggul dan berkebaya. Rakyat sendiri ditindas koruptor anda gak peduli, tapi kalo bangsa lain sengsara, sampe demo ngerahkan ribuan masa sambil bawa2 bendera bangsa lain. Kalo sudah jadi parpol ga usah ikut2an demo, kan sudah punya suara di parlemen. Demo itu punya mahasiswa, buruh, rakyat miskin dan lainnya yang ga punya partai. Ada anggota parlemen ngaku bersih tapi masih nipu (konco2nya belain lagi). Apakah masih Ngaku bahasa satu bahasa Indonesia? Kalo iya, tolong nama2 jalan, nama2 instansi yang menyertakan bahasa asing diingatkan, apalagi ada ormas yang berbendara bertulisan bahasa asing dibiarkan aja, harusnya suruh ganti pake bahasa indonesia. Niscaya kata dan perbuatannya sama (tidak omdo) saya akan ikut…. pasti #14. Dikirim oleh pramono pada 29/06 04:58 PM Kalau benar2 mau pluralis jangan hanya dimulut saja. Buktikan dengan tindakan, lindungi minoritas, Ahmadiyah yang diuber2 tolong dibela, FPI yg bertindak anarkis tolong disadarkan, patung2 karya seni jangan dihancurin, mendirikan tempat ibadah kenapa harus dipersulit, jangan over acting membela bangsa lain sampe2 mengerahkan ribuat umat dg bawa2 bendera bangsa lain seolah bukan hidup di Indonesia, bela dong rakyat miskin berantas itu koruptor. Seharusnya parpol tdk perlu demo (kayak kampanye aja) seharusnya perjuangkan lewat DPR. Demo itu milik mahasiswa, NGO, buruh, rakyat miskin yg semuanya ga punya wakil di parlemen. Tolong etika ini diperhatikan, rakyat mencatat. Kalau mau jadi pluralis sepertinya harus banyak belajar sama ide2 dan ajaran Dus Dur (alm) #15. Dikirim oleh jojokarambol pada 30/06 02:51 AM wah, terlanjur patah arang sama PKS. Masak waktu pemilu belum apa-apa sudah menyiratkan bisa ‘warna’ apa saja. Jangan-jangan, kalau suatu hari Islam ngak jadi mayoritas, maka ‘arah’ partainya jadi beda.Bukan berarti harus ‘keras’, tapi paling tidak tunjukkan konsistensi donk. Namun to be fair, partai bernuansa islam yang lain pun seperti itu. Apakah berarti sebaiknya agama dan politik jangan dicampur? #16. Dikirim oleh gugus komenan pada 01/07 06:51 PM penulis artikel ini kurang memahami arti pluralis dan pluralisme. pluralis sudah menjadi hakekat islam mengakui dan menghormati keberadaanpaham lainnya, tetapi tidak mengakui kebenarannya (ini pandangan pks) sementara pluralisme adalah paham yang mengakui kebenaran semua agama. harapan saya para pemikir pluralisme di indonesia meng apresiasi pandangan2 pks untuk perbaikan bangsa yang tertuang dalam buku tebal platformnya ini bukti nyata pemikiran dan ide pks yang diinspirasi oleh ajaran islam. #17. Dikirim oleh didi pada 02/07 09:08 AM Sebaiknya jgn membawa agama sbg dasar ideologi politik. Dunia politik sangat kotor, penuh intrik, kemunafikan bahkan mengabaikan moral untuk mencapai tujuan. Kalau semua hal buruk tersebut dilakukan partai berideologi agama bukankah secara tidak langsung memberikan gambaran seperti itulah kira-kiranya agama yang kita jadikan dasar ideologi partai. Mungkin akan lebih baik menjadikan MORAL sebagai dasar ideologi politik sehingga kita tidak merendahkan agama. Di dunia banyak manusia tidak beragama tetapi mereka lebih bermoral dari manusia yang mengaku beragama . Tidak beragama bukan berarti tidak percaya kepada Tuhan, mereka tidak mau terikat dengan merk-merk agama.Kalau memang AGAMA lebih tinggi kelasnya daripada MORAL mengapa bangsa kita yang mengaku sangat BERAGAMA masuk kategori/kelompok NEGARA TERKORUP di DUNIA, kategori BANGSA BAR-BAR karena kasus Mei 98, pelanggar HAK ASASI bagi umat beragama MINORITAS. Kita mencantumkan KETUHANAN YANG MAHA ESA sebagai DASAR NEGARA ...NOMOR 1 di dalam 5 Sila lainnya… tetapi tingkah laku kita tidak menggambarkan demikian. Apalah arti sebuah merk agama tanpa MORAL di dalamnya.???? Apakah Tuhan lebih mementingkan kita memeluk sebuah merk agama ketimbang MORAL ..? Bukankah kita sering mendengar kata-kata ” harus berdasarkan agama ” ...apakah agama yang kita peluk tidak berMORAL atau kita sbg pemeluknya yang tidak ber MORAL…Kalau kita yang tidak ber MORAL sebaiknya jangan membawa bawa agama sbg tameng karena kita menjatuhkan agama yang kita anut bukan..? #18. Dikirim oleh BenFV pada 03/07 07:56 PM wah wah sy setuju budaya lokal dikembangkan yang positifnya.budaya asing perlu kita usir,yang dapt merusak karakter bangsa yang luhur,jadi demokrasi dan sekulerisme kudu kita perjuangkan sampai titik darah penghabisan untuk hengkang dari negeri ini. #19. Dikirim oleh badido pada 05/07 01:47 AM gue setuju ..partai politik di indonesia yg notabene berbasis islam kaya PKS ..terlalu jauh tuk mikirin itu..nyari untung dngan kejadian di belahan dunia..semuanya hanya tuk populeritas belaka.. saya sangat bangga dengan adanya PKS yang memang selalu konsisten antara ucapan dgn perbuatan. sesuai dengan moto bersih dan peduli, PKS telah banyak berbuat tuk kemajuan bangsa indonesia tercinta. semoga ALLAH SWT senantiasa melindungi dan meridhoi perjuanganmu PKS, kami selalu mendukungmu. #21. Dikirim oleh zakir pada 05/07 03:15 PM Paham pluaralism bukan berarti semua agama itu adalah semua benar…..tapi walaupun demikian sebagai seorang muslim wajib menghormati keyakinan yang berbeda dgn kita walaupun itu budha dan orang2 musryik asalkan saja mereka tdk melakukan kekerasan. Apakah PKS menghormati semua keyakinan walaupun tidak benar menurut PKS….menurut ALLAH al Quran.seperti orang2 musyrik,anti Tuhan,Ahmadiyah, Syiah sufi dll Kalau PKS hanya menghormati agama2 yg besar saja tapi mengharamkan keyakinan minoritas,artinya PKS bias, tidak menegakan kebenaran dan diskriminasi. Salam #22. Dikirim oleh alatif pada 06/07 12:25 AM

Syukurlah, akhirnya PKS menyadari bahwa pluralisme adalah realitas sosial yang tidak bisa ditolak. Adalah penting untuk berproses dan menyadari bahwa manusia hidup ditengah tengah kemajemukan dan saling memperjuangkan kepentingan bersama yaitu keadilan dan kesejahteraan , bukan ideologi/agama yang tidak kasat mata dan susah diukur kebenarannya. Keadilan dan kesejahteraan ajaran agama yang tujuan utamanya adalah membahagiakan umat manusia, siapapun dia, darimanapun dia berasal, apapun agamanya.salam #23. Dikirim oleh abujasmine pada 09/07 09:08 AM @ bang BenFV , Islam itu berpolitik bang! kalau anda bilang politik itu kotor, pemerintahlah yang mengotori politik, DEMOKRASIlah yang membuat politik sekarang lebih pantas jadi sampah,, baca dong tentang kebersihan politik Islam. #24. Dikirim oleh Dar'es pada 10/07 11:05 AM sebuah gerakan yang ingin mengantarkan manusia pada derajat yang tinggi di hadapan Tuhannya, maka harus terpenuhi 4 syarat = 1. dia adalah gerakan politik yang memiliki ide2/pemikiran yang bersih, terkristal dan suci sesuai kaca mata Tuhan memandangnya. Artinya perubahan waktu dan tuntutan zaman tidak akan menjadikan ide/pemikiran gerakan berubah-rubah alias tidak konsisten. 2. dia memiliki langkah pasti untuk bisa mewujudkan ide/pemikirannya yang langkah itu diadopsi dari langkah-langkah yang diridhoi oleh Tuhannya.karena Tak mungkin Tuhan memerintahkan sesuatu tapi tidak ada contoh praktisnya. Artinya gak perlu ngarang langkah atau bahkan ngambil langkah dari jalan yang Tuhan tidak suka. 3. ikatan orang-orang didalamnya harus ikatan yang penuh kesadaran dan paham benar mulai dari ide/pemikiranya dan langkah yang harus ditempuh gerakan tersebut. artinya mau elite politiknya atau grassrootnya semua sama kalo ngomong dan kerja politiknya. 4. orang-orang dalam gerakan tersebut kudu ikhlas bahwa perjuangannya murni tuk meraih tujuan. gak serong kanan kiri karena tuntutan keadaan dan jaman. Nah apa PKS memenuhi kriteria di atas? jika tidak,bisa dipastikan PKS tidak akan bertahan lama dan tidak akan bisa menjadi gerakan yang meraih kemulian dunia dan akhirat. huallahu`alam. #25. Dikirim oleh jeng ren pada 15/07 10:20 AM Pluralisme sama Pluralitas beda bukan? Nah PKS itu mengakui adanya pluralitas,kalau JIL jelas berhaluan PLURALISME! Untuk saudara MEGUNG, anda tipe orang yang putus asa dari politik! #26. Dikirim oleh Islam Murni pada 20/07 01:12 AM Partai terbuka?sudah siap dimasuki kutu loncat?kita lihat saja apakah ada partai terbuka yg minim koruptor seperti pks sebelumnya?apa nanti gak jadi partai seperti yg dari ormas keagamaan tapi byk koruptornya,gontok gontokan jauh dari kedamaian?duh..negriku ..kok bisa yg katanya partainya kyai kok seperti it…malu aku..apalagi mantan menag kok bs kena kasus uang..pusii..ng!! #27. Dikirim oleh A.gun pada 20/07 12:11 PM ya..gitu deh, partai politik…apapun namanya ya politik..tidak ada kawan yang abadi yang ada ya kepentingan yang abadi..dulu benci gak ketulungan sekarang di mabuk kepayang sama yang plural-plural… #28. Dikirim oleh nasrudin pada 21/07 06:14 AM PKS menghargai Plularitas (bahwa Indonesia beragam suku, agama, ras dan antar golongan)...Tidak ada satupun statemen dalam Munas PKS bahwa PKS menganut plularisme (sesuai dgn definisi yg dipahami JIL dkk bahwa agama sami mawon benarnya, semua agama kaya kecap masing2 no 1,semua agama masuk sorga)...Plularitas adalah realitas lapangan dan sesuatu yang halal. sedangkan plularisme adalah haram sesuai fatwa MUI,dan tidak sesuai dengan Alqur’an dan Sunnah yang sudah di kritik sekalipun…. #29. Dikirim oleh Salman Wahid pada 21/07 08:50 AM Halaah… diskusinya malah semakin jauh, sibuk cari beda antara plural, pluralis, pluralisme, dll. Repot amat, intinya orang emang pada maunya ribut terus. Kalo mengakui Pancasila sebagai dasar negara, mestinya gak usah ribut2. Banyak hal lain yang perlu dikerjakan bro. #30. Dikirim oleh nurcahaya pada 23/07 04:18 AM PKS hanya merupakan salah satu jama’ah dakwah dan politik islam sbgai kumpulan manusia bisa saja salah tetapi ideologi yang dibawa PKS yaitu Islam adalah benar,Islam mengakui pluralitas adanya keyakinan yang berbeda bkn plutalisme bahwa semua keyakinan yang berbeda itu sama.Komitmen PKS thd Islam tdk berubah,Islam adalah ideologi.Keterbukaan PKS thd wakil rakyat atau keanggotaan Non muslim karena mereka mewakili wilayah dimana mayoritas non muslim dimana mungkin seorang muslim pun tiada,masalah ini harusnya semua kader mengetahui.Kami akan tetap komitmen memilih PKS walau pilihan yang buruk karena dia adalah pilihan yang paling ringan keburukannya dari yang terburuk #31. Dikirim oleh derry pada 29/07 05:24 AM kata siapa islam tidak menerima perbedaan..“bagimu agamamu, bagiku agamaku”..sudah jelas..begitu jg ada kafir harbi & kafir dzimmi..tidak ada masalah..PKS???no comment deh..mreka sdh berubah, & terbius dg hiruk pikuk kekuasaan yg menggoda..

#32. Dikirim oleh dans pada 02/08 06:24 AM pks adalah salah satu representasi ummat islam indonesia yang patut di apresiasi. lihatlah pks punya tangan di bidang keuangan dengan berbagai bmtnya, laz, punya tangan dalam perbaikan pendidikan nasional dengan sekolah2 islam terpadunya, berperan dalam bidang sosial dengan kepeduliannya pada berbagai bencana, dll hal yang sering diserang dari pks adalah berdakwah di ranah politik, karena memang ini agenda yang tidak lazim, lihatlah nu yang harus membentuk pkb, muhammadiyah yang membentuk pan, perti, al washliyah yang harus berfusi di ppp. atau gerakan islam lain semacam salafi, hizbut tahrir, jama’ah tablig yang mengharamkan partai politik. maka ketika tarbiyah melebarkan sayap dakwahnya di ranah politik ( karena di mata pks ekonomi, sosial, budaya, hankam, politik dll semua adalah ladang dakwah ) dengan mendirikan pks banyak yang mencibir, dakwah kok di panggung politik ! katanya. saat munas kemarin ketika pks menegaskan untuk menggarap semua elemen bangsa pada dasarnya itu berangkat dari paham lama, bhwa ideologi pks berbasis pluralitas ( mengakui keragaman sebagai sunnatullah ) bukan pluralisme sebagaimana yang diusung jil. pks adalah entitas yang mandiri dengan wacana2 yang dibangunnya, agenda2 yang disusunnya, dan program2 yang dijalankannya.pks adalah benih kebaikan indonesia yang masih sedikit dipahami oleh ummat islam pada umumnya. #33. Dikirim oleh pak Syam pada 04/08 03:20 AM PKS sudah keluar dari platform partai Islam, karena sudah melenceng jauh dari ajaran Islam. Islam melarang non Islam memimpin Islam, kenapa PKS mempersilakan di daerah tertentu non muslim memimpin PKS, apa tidak ada muslim di daerah tersebut yang bisa memimpin PKS? PKS sudah sama saja dengan partai sekuler lainnya. PKS mengaku partai Islam tapi dalam kenyataannya sudah sama saja dengan partai sekuler. Partai Islam di Indonesia tinggal satu yaitu Partai Persatuan Pembangunan (PPP) #34. Dikirim oleh Ilman pada 07/08 10:27 AM PKS terkesan banyak siasat. Terlalu banyak kontradiksi. Pernyataan begini, bla, bla, bla…..lha, kenyataannya, koq begitu….... #35. Dikirim oleh Anton Isdarianto pada 09/08 03:47 PM Banyak umat Islam yang tidak sektarian dan berusaha lepas dari pemikiran sektarian. Islam sangat mengakui keberagaman tetapi tidak “Cengeng” dengan minta-minta pengakuan bahwa semua agama sama supaya diakui dan ditemani oleh orang diluar Islam. Masalah Palestina adalah masalah perampokan wilayah dimana sekelompok orang mendirikan negara dengan merampok tanah dan hak2 penduduk palestina, Sementara Ahmadiah adalah sekelompok sekte yang mengaku mempunyai kitab dan nabi khusus yg jelas2 bertentangan dengan ajaran murni Islam. Ahmadiyah bisa hidup di manapun selama mereka menyatakan bahwa mereka adalah sebuah agama yg terlepas dari Islam. Mari kita pikir dengan akal sehat. Jika ada seseorang atau sekelompok orang mengaku2 sebagai pengikut JIL dan mengatakan bahwa dalam JIL dibolehkan berzina dengan siapa saja, maka pengikut JIL yg lain yg berakal sehat (waras) tentu akan marah, karena JIL tidak pernah mengajarkan hal demikian bukan? Pada kondisi yang sama Ahmadiyah akan bisa diakui dan diperlakukan adil jika dia melepaskan diri dari embel-embel Islam selama masih berprinsip bahwa Mirzha Ghulam Ahmad adalah nabi dan memiliki wahyu selain Al-Quran, dengan memproklamirkan agama baru atau melebur dengan JIL misalnya atau sama2 membentuk agama bersama misalkan agama “Pluralis”. Kenapa tidak, bukankah menurut anda semua Agama adalah sama dimata Tuhan? #36. Dikirim oleh oktar hermawan pada 11/08 12:14 AM Komitmen Pluralisme PKS, saya khawatir, itu hanya merupakan siyasah aja….PKS sbg kekuatan politik, menjalankan jurus-jurus politik yang disesuaikan dengan kondisi ruang dan waktu. Tak ada yang namanya hitam-putih dalam politik, termasuk politik PKS. Saya percaya, komitmen pluralisme tsb bukan komitmen yang permanen karena tak ada dalam Visi-Misi PKS…..Siyasah doang. #37. Dikirim oleh Anton Isdarianto pada 11/08 04:18 AM Lha, soal Ahmadiyah itu, singkatnya, biarkan Allah sendiri yang menghakimi mereka, kelompok Ahmadiyah itu, kalo mereka memang sesat. Saya pikir Sang Hyang Maha Kuasa & Maha Perkasa tsb tak memerlukan bantuan & pembelaan manusia untuk menghukum, merusak dan menggebugi pemeluk Ahmadiyah. Anda yang berfikir bahwa dengan menggebugi Ahmadiyah maka anda artikan sebagai membantu Allah, saya fikir anda telah mengecilken arti Allah Yang Maha Kuasa lagi Perkasa. #38. Dikirim oleh Anton Isdarianto pada 12/08 04:40 AM ass…kalo mau bicarain PKS mari kita diskusikan dengan orng2 yang ada d PKS jangan menilai dari luar yang belum tentu itu benar…. #39. Dikirim oleh nurcholis pada 13/08 10:02 AM Bagi JIL kata pluralis berarti “Semua Agama Sama”, sementara dalam kontek Islam Pluralis adalah menghargai keberagaman dengan batasan “Bagimu agamamu, bagiku aganmaku, Aku tidak menyembah yg kau sembah dan seterusnya…” untuk saudara Anton, Tuhan memberi pelajaran dan hukum kepada manusia agar dunia ini tidak kacau balau. Dalam Islam sangat Jelas, manusia diberi kekuasaan untuk menghakimi dengan standar Kitab yg dibawa para Nabi dan Rasul. Apakah anda tidak beraksi ketika ada orang yang mengaku-ngaku keluarga anda tapi berperilaku tidak sesuai dengan apa yang anda tahu dalam keluarga anda?. Setidaknya anda akan mengatakan, silahkan anda berprilaku demikian tetapi janganlah mengaku-ngaku keluarga anda bukan? #40. Dikirim oleh hermawan Oktar pada 13/08 10:43 AM

saya sangat bangga dengan adanya PKS yang memang selalu konsisten antara ucapan dgn perbuatan. sesuai dengan moto bersih dan peduli, PKS telah banyak berbuat tuk kemajuan bangsa indonesia tercinta. semoga ALLAH SWT senantiasa melindungi dan meridhoi perjuanganmu PKS, kami selalu mendukungmu. #21. Dikirim oleh zakir pada 05/07 03:15 PM Paham pluaralism bukan berarti semua agama itu adalah semua benar…..tapi walaupun demikian sebagai seorang muslim wajib menghormati keyakinan yang berbeda dgn kita walaupun itu budha dan orang2 musryik asalkan saja mereka tdk melakukan kekerasan. Apakah PKS menghormati semua keyakinan walaupun tidak benar menurut PKS….menurut ALLAH al Quran.seperti orang2 musyrik,anti Tuhan,Ahmadiyah, Syiah sufi dll Kalau PKS hanya menghormati agama2 yg besar saja tapi mengharamkan keyakinan minoritas,artinya PKS bias, tidak menegakan kebenaran dan diskriminasi. Salam #22. Dikirim oleh alatif pada 06/07 12:25 AM Syukurlah, akhirnya PKS menyadari bahwa pluralisme adalah realitas sosial yang tidak bisa ditolak. Adalah penting untuk berproses dan menyadari bahwa manusia hidup ditengah tengah kemajemukan dan saling memperjuangkan kepentingan bersama yaitu keadilan dan kesejahteraan , bukan ideologi/agama yang tidak kasat mata dan susah diukur kebenarannya. Keadilan dan kesejahteraan ajaran agama yang tujuan utamanya adalah membahagiakan umat manusia, siapapun dia, darimanapun dia berasal, apapun agamanya.salam #23. Dikirim oleh abujasmine pada 09/07 09:08 AM @ bang BenFV , Islam itu berpolitik bang! kalau anda bilang politik itu kotor, pemerintahlah yang mengotori politik, DEMOKRASIlah yang membuat politik sekarang lebih pantas jadi sampah,, baca dong tentang kebersihan politik Islam. #24. Dikirim oleh Dar'es pada 10/07 11:05 AM sebuah gerakan yang ingin mengantarkan manusia pada derajat yang tinggi di hadapan Tuhannya, maka harus terpenuhi 4 syarat = 1. dia adalah gerakan politik yang memiliki ide2/pemikiran yang bersih, terkristal dan suci sesuai kaca mata Tuhan memandangnya. Artinya perubahan waktu dan tuntutan zaman tidak akan menjadikan ide/pemikiran gerakan berubah-rubah alias tidak konsisten. 2. dia memiliki langkah pasti untuk bisa mewujudkan ide/pemikirannya yang langkah itu diadopsi dari langkah-langkah yang diridhoi oleh Tuhannya.karena Tak mungkin Tuhan memerintahkan sesuatu tapi tidak ada contoh praktisnya. Artinya gak perlu ngarang langkah atau bahkan ngambil langkah dari jalan yang Tuhan tidak suka. 3. ikatan orang-orang didalamnya harus ikatan yang penuh kesadaran dan paham benar mulai dari ide/pemikiranya dan langkah yang harus ditempuh gerakan tersebut. artinya mau elite politiknya atau grassrootnya semua sama kalo ngomong dan kerja politiknya. 4. orang-orang dalam gerakan tersebut kudu ikhlas bahwa perjuangannya murni tuk meraih tujuan. gak serong kanan kiri karena tuntutan keadaan dan jaman. Nah apa PKS memenuhi kriteria di atas? jika tidak,bisa dipastikan PKS tidak akan bertahan lama dan tidak akan bisa menjadi gerakan yang meraih kemulian dunia dan akhirat. huallahu`alam. #25. Dikirim oleh jeng ren pada 15/07 10:20 AM Pluralisme sama Pluralitas beda bukan? Nah PKS itu mengakui adanya pluralitas,kalau JIL jelas berhaluan PLURALISME! Untuk saudara MEGUNG, anda tipe orang yang putus asa dari politik! #26. Dikirim oleh Islam Murni pada 20/07 01:12 AM Partai terbuka?sudah siap dimasuki kutu loncat?kita lihat saja apakah ada partai terbuka yg minim koruptor seperti pks sebelumnya?apa nanti gak jadi partai seperti yg dari ormas keagamaan tapi byk koruptornya,gontok gontokan jauh dari kedamaian?duh..negriku ..kok bisa yg katanya partainya kyai kok seperti it…malu aku..apalagi mantan menag kok bs kena kasus uang..pusii..ng!! #27. Dikirim oleh A.gun pada 20/07 12:11 PM ya..gitu deh, partai politik…apapun namanya ya politik..tidak ada kawan yang abadi yang ada ya kepentingan yang abadi..dulu benci gak ketulungan sekarang di mabuk kepayang sama yang plural-plural… #28. Dikirim oleh nasrudin pada 21/07 06:14 AM PKS menghargai Plularitas (bahwa Indonesia beragam suku, agama, ras dan antar golongan)...Tidak ada satupun statemen dalam Munas PKS bahwa PKS menganut plularisme (sesuai dgn definisi yg dipahami JIL dkk bahwa agama sami mawon benarnya, semua agama kaya kecap masing2 no 1,semua agama masuk sorga)...Plularitas adalah realitas lapangan dan sesuatu yang halal. sedangkan plularisme adalah haram sesuai fatwa MUI,dan tidak sesuai dengan Alqur’an dan Sunnah yang sudah di kritik sekalipun…. #29. Dikirim oleh Salman Wahid pada 21/07 08:50 AM Halaah… diskusinya malah semakin jauh, sibuk cari beda antara plural, pluralis, pluralisme, dll. Repot amat, intinya orang emang pada maunya ribut terus. Kalo mengakui Pancasila sebagai dasar negara, mestinya gak usah ribut2. Banyak hal lain yang perlu dikerjakan bro.

#30. Dikirim oleh nurcahaya pada 23/07 04:18 AM PKS hanya merupakan salah satu jama’ah dakwah dan politik islam sbgai kumpulan manusia bisa saja salah tetapi ideologi yang dibawa PKS yaitu Islam adalah benar,Islam mengakui pluralitas adanya keyakinan yang berbeda bkn plutalisme bahwa semua keyakinan yang berbeda itu sama.Komitmen PKS thd Islam tdk berubah,Islam adalah ideologi.Keterbukaan PKS thd wakil rakyat atau keanggotaan Non muslim karena mereka mewakili wilayah dimana mayoritas non muslim dimana mungkin seorang muslim pun tiada,masalah ini harusnya semua kader mengetahui.Kami akan tetap komitmen memilih PKS walau pilihan yang buruk karena dia adalah pilihan yang paling ringan keburukannya dari yang terburuk #31. Dikirim oleh derry pada 29/07 05:24 AM kata siapa islam tidak menerima perbedaan..“bagimu agamamu, bagiku agamaku”..sudah jelas..begitu jg ada kafir harbi & kafir dzimmi..tidak ada masalah..PKS???no comment deh..mreka sdh berubah, & terbius dg hiruk pikuk kekuasaan yg menggoda.. #32. Dikirim oleh dans pada 02/08 06:24 AM pks adalah salah satu representasi ummat islam indonesia yang patut di apresiasi. lihatlah pks punya tangan di bidang keuangan dengan berbagai bmtnya, laz, punya tangan dalam perbaikan pendidikan nasional dengan sekolah2 islam terpadunya, berperan dalam bidang sosial dengan kepeduliannya pada berbagai bencana, dll hal yang sering diserang dari pks adalah berdakwah di ranah politik, karena memang ini agenda yang tidak lazim, lihatlah nu yang harus membentuk pkb, muhammadiyah yang membentuk pan, perti, al washliyah yang harus berfusi di ppp. atau gerakan islam lain semacam salafi, hizbut tahrir, jama’ah tablig yang mengharamkan partai politik. maka ketika tarbiyah melebarkan sayap dakwahnya di ranah politik ( karena di mata pks ekonomi, sosial, budaya, hankam, politik dll semua adalah ladang dakwah ) dengan mendirikan pks banyak yang mencibir, dakwah kok di panggung politik ! katanya. saat munas kemarin ketika pks menegaskan untuk menggarap semua elemen bangsa pada dasarnya itu berangkat dari paham lama, bhwa ideologi pks berbasis pluralitas ( mengakui keragaman sebagai sunnatullah ) bukan pluralisme sebagaimana yang diusung jil. pks adalah entitas yang mandiri dengan wacana2 yang dibangunnya, agenda2 yang disusunnya, dan program2 yang dijalankannya.pks adalah benih kebaikan indonesia yang masih sedikit dipahami oleh ummat islam pada umumnya. #33. Dikirim oleh pak Syam pada 04/08 03:20 AM PKS sudah keluar dari platform partai Islam, karena sudah melenceng jauh dari ajaran Islam. Islam melarang non Islam memimpin Islam, kenapa PKS mempersilakan di daerah tertentu non muslim memimpin PKS, apa tidak ada muslim di daerah tersebut yang bisa memimpin PKS? PKS sudah sama saja dengan partai sekuler lainnya. PKS mengaku partai Islam tapi dalam kenyataannya sudah sama saja dengan partai sekuler. Partai Islam di Indonesia tinggal satu yaitu Partai Persatuan Pembangunan (PPP) #34. Dikirim oleh Ilman pada 07/08 10:27 AM PKS terkesan banyak siasat. Terlalu banyak kontradiksi. Pernyataan begini, bla, bla, bla…..lha, kenyataannya, koq begitu….... #35. Dikirim oleh Anton Isdarianto pada 09/08 03:47 PM Banyak umat Islam yang tidak sektarian dan berusaha lepas dari pemikiran sektarian. Islam sangat mengakui keberagaman tetapi tidak “Cengeng” dengan minta-minta pengakuan bahwa semua agama sama supaya diakui dan ditemani oleh orang diluar Islam. Masalah Palestina adalah masalah perampokan wilayah dimana sekelompok orang mendirikan negara dengan merampok tanah dan hak2 penduduk palestina, Sementara Ahmadiah adalah sekelompok sekte yang mengaku mempunyai kitab dan nabi khusus yg jelas2 bertentangan dengan ajaran murni Islam. Ahmadiyah bisa hidup di manapun selama mereka menyatakan bahwa mereka adalah sebuah agama yg terlepas dari Islam. Mari kita pikir dengan akal sehat. Jika ada seseorang atau sekelompok orang mengaku2 sebagai pengikut JIL dan mengatakan bahwa dalam JIL dibolehkan berzina dengan siapa saja, maka pengikut JIL yg lain yg berakal sehat (waras) tentu akan marah, karena JIL tidak pernah mengajarkan hal demikian bukan? Pada kondisi yang sama Ahmadiyah akan bisa diakui dan diperlakukan adil jika dia melepaskan diri dari embel-embel Islam selama masih berprinsip bahwa Mirzha Ghulam Ahmad adalah nabi dan memiliki wahyu selain Al-Quran, dengan memproklamirkan agama baru atau melebur dengan JIL misalnya atau sama2 membentuk agama bersama misalkan agama “Pluralis”. Kenapa tidak, bukankah menurut anda semua Agama adalah sama dimata Tuhan? #36. Dikirim oleh oktar hermawan pada 11/08 12:14 AM Komitmen Pluralisme PKS, saya khawatir, itu hanya merupakan siyasah aja….PKS sbg kekuatan politik, menjalankan jurus-jurus politik yang disesuaikan dengan kondisi ruang dan waktu. Tak ada yang namanya hitam-putih dalam politik, termasuk politik PKS. Saya percaya, komitmen pluralisme tsb bukan komitmen yang permanen karena tak ada dalam Visi-Misi PKS…..Siyasah doang. #37. Dikirim oleh Anton Isdarianto pada 11/08 04:18 AM Lha, soal Ahmadiyah itu, singkatnya, biarkan Allah sendiri yang menghakimi mereka, kelompok Ahmadiyah itu, kalo mereka memang sesat. Saya pikir Sang Hyang Maha Kuasa & Maha Perkasa tsb tak memerlukan bantuan & pembelaan manusia untuk menghukum, merusak dan menggebugi pemeluk Ahmadiyah. Anda yang berfikir bahwa dengan menggebugi Ahmadiyah maka anda artikan sebagai membantu Allah, saya fikir anda telah mengecilken arti Allah Yang Maha Kuasa lagi Perkasa. #38. Dikirim oleh Anton Isdarianto pada 12/08 04:40 AM ass…kalo mau bicarain PKS mari kita diskusikan dengan orng2 yang ada d PKS jangan menilai dari luar yang belum tentu itu benar….

#39. Dikirim oleh nurcholis pada 13/08 10:02 AM Bagi JIL kata pluralis berarti “Semua Agama Sama”, sementara dalam kontek Islam Pluralis adalah menghargai keberagaman dengan batasan “Bagimu agamamu, bagiku aganmaku, Aku tidak menyembah yg kau sembah dan seterusnya…” untuk saudara Anton, Tuhan memberi pelajaran dan hukum kepada manusia agar dunia ini tidak kacau balau. Dalam Islam sangat Jelas, manusia diberi kekuasaan untuk menghakimi dengan standar Kitab yg dibawa para Nabi dan Rasul. Apakah anda tidak beraksi ketika ada orang yang mengaku-ngaku keluarga anda tapi berperilaku tidak sesuai dengan apa yang anda tahu dalam keluarga anda?. Setidaknya anda akan mengatakan, silahkan anda berprilaku demikian tetapi janganlah mengaku-ngaku keluarga anda bukan? #40. Dikirim oleh hermawan Oktar pada 13/08 10:43 AM Jangan main nilai aja akhi…..untuk antum yg komentarnya agak2 menyerang pks coba tabayun ke dpc2nya pks. untuk antum yg nulis….coba bedah Al-Qur’an dengan “keimanan” jangan dengan “logika”....akhifillah PKS itu hanya sebuah wajiah bagi para aktivis gerakan dakwah yang berada di indonesia….masih lebih baik mereka ( PKS ) yang punya kontribusi dalam kehidupan bermasyarakat ini…...semoga Allah memberikan hidayah bagi kita semua. untuk PKS jangan menyerah…kalau kalian punya niat yang benar pastilah Allah yg akan mengangkat derajat kalian untuk menjadi yang memimpin negeri ini…Allahu Akbar….... #41. Dikirim oleh albanna pada 14/08 05:25 AM Untuk sdr. hermawan oktar : Kalimat anda “Dalam Islam sangat jelas, manusia diberi kekuasaan untuk menghakimi dengan standar Kitab yang dibawa para Nabi dan Rasul”, perlu saya tanggapi berikut ini : Bahwa Indonesia sbg sebuah negara berdaulat, tidak memakai standar kitab suci agama manapun untuk sumber hukumnya. Indonesia adalah bukan negara agama, bukan pula negara Islam, dan memiliki sumber hukum sendiri yang sesuai dengan kondisi sosial-kemasyarakatan bangsa Indonesia. Sumber hukum di Negara Kesatuan Republik Indonesia adalah UUD 1945 dan UU lainnya yang disusun bersama oleh PEMERINTAH dengan DPR, yang tak boleh bertentangan dengan UUD 1945. Maka jelaslah, bahwa setiap warganegara Indonesia wajib tunduk dan patuh kepada seluruh pasal dan ayat-ayat dalam UUD 1945. Perumpamaan yang anda pakai yang ditujukan kepada saya, “apakah anda tidak beraksi ketika ada orang yang mengaku-ngaku keluarga anda, tapi berperilaku tidak sesuai dengan apa yang anda tahu dalam keluarga anda?”. Perumpamaan anda ini terlihat logis, namun maaf, saya menilainya itu adalah perumpamaan yang sempit/dangkal. Lha tentu saja dong, saya beraksi (atau lebih tepatnya be-reaksi). Tapi reaksi saya tentu saja tidak dengan menghakimi sendiri, apalagi menggebugi orang tsb. Perumpamaan anda diatas, sdr hermawan, adalah masuk dalam ranah hukum sipil (hukum antar-manusia). Sedang Ahmadiyah itu sesuatu yang lain, sesuatu iman-keyakinan kepada Zat Yang Maha Tinggi. Maka biarkanlah DIA sendiri yang menghakimi atas sesat-tidaknya Ahmadiyah itu. Penghakiman dalam kasus seperti ini, tak selayaknya dilakukan oleh manusia. Negara juga tak boleh menghakimi iman-kepercayaan rakyatnya. Karena domain negara bukanlah mengurusi soal iman rakyatnya tsb. Tugas Negara adalah wajib mengurusi hal-ikhwal kesejahteraan rakyatnya dan martabat serta keamanan Negara. Itupun tak bisa ditangani dengan baik oleh Negara. Sedang soal iman-kepercayaan, adalah 100% urusan pribadi manusia dengan Sang Khalik. #42. Dikirim oleh Anton Isdarianto pada 17/08 09:56 AM Bagi yang merasa agamanya paling benar, silahkan renungkan arti kalimat ‘Maha Kuasa’. Karena itu artinya Dia berada di atas SEGALANYA: Di atas segala bangsa, golongan, maupun AGAMA. Jikapun ada persepsi bahwa agama saya yg paling benar di JalanNya, dan yg lainlah yang tersesat, tidakkah Ia mampu mengirimkan bencana HANYA pada yg tersesat? Toh bencana datang silih berganti tanpa pandang bulu. Renungkan kembali pemikiran2 anda yg menjurus diskriminasi, karena berpotensi mengkotak2an bangsa sendiri dalam bencana setingkat ‘Apartheid’. Tentunya jika anda masih bisa ‘berpikir’. Salam. #43. Dikirim oleh v.raymontt pada 09/04 09:28 AM

Bagi anda yg tidak percaya pluralis - demokrasi (biasanya krn menentang negara pengusungnya - barat), silahkan pikirkan jika negara2 tersebut menerapkan hukum rimba yg semena2 membantai minoritas. Tentunya Sodara2 muslim di sana akan digencet habis. Nyatanya? Saya saksikan sendiri mesjid bisa tumbuh disana (tentunya tanpa corong pengeras suara). Itu yang namanya pluralis, demokratis. Pemerintah AS sendiri berusaha memberi dukungan pembangunan mesjid di lokasi 9/11. Sayangnya rasa hormat tuan rumah tidak serta merta dibalas dgn terima kasih oleh para pendatang ini, sehingga mulai ada gesekan2 sosial. Yah, namanya tamu di mana2 klo kurang sopan santun ya pasti bikin gerah. Sedangkan di Indonesia? Bangsa sendiri aja dibantai krn dianggap tidak sejalur dgn arus utama. Dan pemerintah cuma cengir2. UU Penodaan Agama dan Kebebasan Hakiki Oleh Saidiman Ahmad Kebebasan terjadi bukan karena setiap orang bebas melakukan apapun yang ia inginkan, melainkan sejauhmana orang dibebaskan dari represi dan tindakan semena-mena orang lain. Dengan begitu, kita bisa menyatakan bahwa kebebasan untuk melakukan hal seenaknya adalah kebebasan semu atau bukan bentuk kebebasan sama sekali. Kondisi di mana orang tidak direpresi dan diperlakukan secara semena-menalah yang merupakan kebebasan hakiki.

Artikel ini sbeelumnya dimuat di Sinar Harapan, 22 Maret 2010 Persoalan kebebasan mengemuka pada Sidang Mahkamah Konstitusi (MK) yang membahas Judicial Review UU No. 1/PNPS/1965 tentang Pencegahan Penyalahgunaan dan/atau Penodaan Agama, 4 Februari 2009. Menteri Agama Suryadarma Ali dan Menteri Hukum dan HAM Patrialis Akbar pada sidang tersebut menyatakan bahwa negara menjamin kebebasan, tetapi kebebasan yang ada batasnya dan bukan bebas sebebas-bebasnya. Oleh karena itu, menurut keduanya, UU penodaan agama mutlak diperlukan untuk membatasi kebebasan. Kedua pembantu presiden tersebut bersikukuh bahwa negara hukum justru memberi penegasan bahwa kebebasan harus dibatasi. Dalam instrumen hukum internasional yang telah diratifikasi oleh Indonesia, seperti Kovenan Internasional tentang Hak-hak Sipil dan Politik, disebutkan bahwa pembatasan harus dilakukan berdasarkan lima hal, yakni ketertiban publik (public order), kesehatan publik (public Health), moral publik (public morals), keamanan publik (public safety) dan menjaga hak dasar orang lain. Berdasarkan instrumen ini, para pendukung UU penodaan agama berpendapat bahwa penodaan agama dalam bentuk penafsiran bebas harus dilarang karena merusak ketertiban publik. Di samping bahwa definisi mengenai ketertiban publik patut dipertanyakan, mengingat banyak sekali kasus inisiatif untuk melakukan kekerasan terhadap orang atau kelompok lain berdasarkan argumen ketertiban publik, alangkah baiknya jika kita mencoba melakukan analisa terhadap definisi kebebasan yang selama ini dianut oleh banyak orang. Kebebasan adalah kata yang boleh jadi sangat ambigu. Kebebasan memang memberi ruang bagi manusia untuk berekspresi dan berinovasi. Adanya ruang kebebasan ekspresi dan inovasi telah menjadikan manusia semakin maju berkali lipat dibanding masa-masa ketika manusia terbelenggu oleh sistem dunia yang menindas. Tetapi pada saat yang sama, kata kebebasan juga bisa dipakai oleh kaum anarkis. Seseorang yang melakukan aksi kekerasan adalah bentuk pendobrakan hukum dan norma sosial. Dengan demikian, pelaku kekerasan seolah-olah tidak peduli dan membebaskan diri dari hukum dan norma sehingga ia merasa berhak melakukan apa saja semaunya. Kondisi dan mental semacam ini bisa juga merupakan ekspresi kebebasan. Dua contoh di atas bertolak belakang satu dengan yang lainnya. Contoh pertama menunjukkan bagaimana kebebasan dipakai untuk membangun dunia. Sementara contoh kedua menunjukkan bagaimana kebebasan justru dipakai untuk menghancurkan kehidupan. Namun begitu, jika kita jeli maka akan tampak bahwa contoh kedua sebenarnya tidak mencerminkan kondisi sosial yang bebas. Ketika seseorang boleh melukai dan menganiaya orang lain secara semena-mena, lalu tidak ada perlindungan terhadap korban aniaya, maka dengan mudah kita mengatakan bahwa tidak ada kebebasan di sana, yang terjadi justru adalah pembelengguan dan perampasan hak. Kebebasan terjadi bukan karena setiap orang bebas melakukan apapun yang ia inginkan, melainkan sejauhmana orang dibebaskan dari represi dan tindakan semenamena orang lain. Dengan begitu, kita bisa menyatakan bahwa kebebasan untuk melakukan hal seenaknya adalah kebebasan semu atau bukan bentuk kebebasan sama sekali. Kondisi di mana orang tidak direpresi dan diperlakukan secara semena-menalah yang merupakan kebebasan hakiki. Isaiah Berlin dengan sangat cerdas mengemukakan dua bentuk kebebasan: kebebasan untuk (freedom to atau positive freedom) dan kebebasan dari (freedom from atau negative freedom). Yang pertama adalah kebebasan semu dan yang kedua adalah kebebasan hakiki. Ketika Presiden Amerika Serikat, George W. Bush, mengumumkan perang ke Iraq dan Afganistan, dia menyatakan bahwa perang itu adalah untuk menegakkan kebebasan. Ya, AS saat itu sedang mengekspresikan kebebasan untuk melakukan apa saja. Tetapi jangan lupa ekspresi kebebasannya justru justru dengan menyerbu, membunuh, dan merampas hak hidup orang lain. Kita tidak akan gegabah menyatakan bahwa kondisi semacam itu adalah kebebasan, melainkan penindasan. Dengan demikian, pernyataan Menag dan Menkumham yang menolak kebebasan yang sebebas-bebasnya sangat problematis. Kebebasan hakiki, yaitu bebas dari tindakan semena-mena orang lain, justru harus diberikan seluas-luasnya. Kesemena-menaan adalah sesuatu yang tercela dan sangat tidak sesuai dengan harkat dan martabat manusia modern. Kebebasan menghendaki adanya kondisi di mana setiap orang bebas dari paksaan untuk memeluk agama, beribadah, berpikir, dan menjalani kehidupan. Secuil pun kebebasan semacam ini tidak boleh dirampas oleh pihak manapun.

Dengan definisi seperti ini, maka bisa dipastikan bahwa harmoni sosial dan budaya bukan hanya tidak terusik, melainkan dirayakan. Friedrich A. Hayek menjelaskan bahwa prinsip kebebasan justru membuka ruang bagi segala pikiran, ekspresi, dan keyakinan yang hidup di masyarakat. Sebenarnya, tidak ada manusia yang benar-benar mengetahui apa yang sedang hidup dan potensial hidup di masyarakat, sebab kita manusia penuh dengan keterbatasan. Pada posisi ketidaktahuan semacam ini, yang lebih arif dilakukan bukanlah memaksakan satu pendapat, melainkan membuka ruang kebebasan. Ruang kebebasan adalah pernyataan rendah diri sebagai manusia bahwa hidup ini begitu kompleks dan tidak bisa diselesaikan hanya dengan memaksakan kehendak. Maka sangat tepat ketika Martin Heidegger menyatakan bahwa kebenaran mewahyukan dirinya di dalam kebebasan. Jika betul bahwa pemerintah, melalui Menag dan Menkumham, menginginkan kehidupan bangsa yang damai dan bebas dari kesemena-menaan, seharusnya yang dilakukan adalah menolak seluruh instrumen yang bisa mengganggu kondisi semacam itu. Tidak bisa dibenarkan satu kelompok masyarakat, atas nama apapun, memaksa orang lain untuk menganut agama dan kepercayaan tertentu. Tidak bisa dibenarkan bahwa orang diusir hanya karena ia meyakini sesuatu yang berbeda dengan keyakinan masyarakat umum. Tidak bisa dibenarkan negara membatasi pilihan agama terhadap warga. Dan tidak bisa dibenarkan bahwa sebuah negara dengan kekayaan budaya dan agama yang luar biasa melakukan fusi agama menjadi hanya enam, padahal beratus agama lain hidup dan menjadi bagian dari sejarah bangsa. [] Ya begitulah, kita emang harus hidup dgn kemunafikan. Tapi kadang juga ada untungnya. Salah satu saudara saya adalah penganut kejawen tapi di KTP di tulis Islam biar gak repot, toh mereka tetap bisa menikmati kekejawenan itu, yg penting gak dipermasalahkan. Sehari-hari ikut Saptodarmo. Dia bilang ngapain repot2. Beberapa teman saya yg non muslim juga pada punya dua KTP yang satu Islam, kata mereka biar gampang urusan yg nyangkut hal2 sensitifm, atau bahkan untuk kawin lagi, jadi gak usah ribut2 dgn para fundamentalis kalo ada laki2 non-muslim kawin ama perempuan muslim. Seharusnya pengikut Ahamdiyah juga begitu aja. KTP Islam tapi buat perkumpulan yg namanya jgn berbau Ahmadiahan, misalnya pengajian Rasul Ahmad atau apalah yg penting gak bikin ribut dan aman2. Masyarakta kita emang senangnya begitu. Yang penting kelihatan santri, soal di belakang dia koruptor itu nomor dua. #1. Dikirim oleh nurcahaya pada 31/03 05:45 AM UU ini masih perlu diIndonesia untuk ketertiban publik. Ketika UU ini dihapus, maka tidak ada yang mengatur mereka yang kerjaannya suka menghujat keyakinan seseorang.

UU ini bukan untuk mengekang keberagaman kita, melainkan untuk menjaga harmonisasinya. Jika ada yg melakukan kekerasan dengan dalih menghina agama, maka harus diproses seperti yg sukses dilakukan JIL dkk. Kekerasan yang dilakukan kelompok2 tertentu bukan alasan untuk mencabut UU ini. #2. Dikirim oleh karet pada 01/04 07:34 AM Manusia hidup di beri kebebasan untuk memilih…memilih apapun yang dikehendaki dengan segala resiko yang melekat pada setiap pilihan…tidak beragama bahkan tidak mengakui adanya tuhanpun itu adalah hak manusia…tetapi ketika kita secara sadar mengakui untuk tunduk pada satu keyakinan yang didalamnya termuat aturan-aturan yang telah di akui oleh kelompok tersebut, maka dengan sendirinya kita harus menerima apapun aturan itu tanpa syarat…itu adalah konsekwensi logis dari pilihan…sungguh sangat tidak logis kita mengaku atas suatu kayakinan tetapi kita mencoba untuk mengutak atik yang sudah ada demi kepentingan kita atas nama progresifitas, moderenisasi, hak asasi atau apapun itu..Mengapa kita sebagai intelektual tidak segera berfikir realistis untuk menciptakan sesuatu yang baru sesuai dengan apa yang kita pikirkan tanpa harus merusak atau mengubah apa yang sudah ada sebelumnya…kalau kita cerdas, intelek dan berfikiran maju, kita ciptakan saja satu tataran norma kehidupan baru yang kita kehendaki tanpa harus menjiplak baik sebagian maupun keseluruan dari norma-norma hidup yang sudah ada…jadi kita tidak perlu lagi membuat satu justifikasi apapun terhadap apa yang sudah ada meskipun itu menurut kita tidak sesuai dengan kaidah-kaidah kebebasan yang kita percayai…Dapat dimaklumi saat ini bahwa tindakan kekerasan yang dilakukan satu kelompok terhadap kelompok lain karena tidak menyadari bahwa kita atas nama apapun tidak bisa begitu saja melakukan sesuatu dengan mengabaikan hak-hak orang lain untuk mempertahankan apa yang dianggapnya benar, sama seperti kita memprotes jika apa yang kita anggap benar di salahkan orang lain.. #3. Dikirim oleh Mujahid pada 01/04 11:11 AM Undang2 penodaan agama harus di cabut,agar terjadi masarakat yang damai-harmony dlm masarakat pluralis. Our Future society is free society and all elements of oppression, cruelty, and force will be destroyed. and justice for all citizen and there is no discrimination based on religion,race,gender and natioan. peace http://bertaqwa.multiply.com/ #4. Dikirim oleh alatif pada 05/04 01:11 AM liberal berarti bebas, kebebasan, membebaskan. sebebarnya teori kebebasan tidak selamanya memberi sebuah solusi tentang apa itu ketertiban publik (public order), kesehatan publik (public Health), moral publik (public morals), keamanan publik (public safety) dan menjaga hak dasar orang lain, dan kebebasan sendiri dalam prakteknya banyak sekali pembatasan-pembatasan, penggunaan nama liberal baik itu secara harfiah maupun secara kontekstual sebenarnya sudah tidak cocok dengan idealisme yang di perjuangkan oleh jil itu sendiri,lebih tepat kata-katanya di rubah menjadi islam rahmatan lil alamin atau apa lah, apa yang di perjuangkan oleh jil tidak sama persih dengan harfiah liberal itu sendiri seperti apa yang saya baca dari artikel yang ada, kalau kita melihat liberlaisme, liberalisme di negara barat sesungguhnya berbeda secara kultur. dan kebanyakan orang menganggap dan melihat bahwa liberalisme adalah westernisasi itu sendiri, di mana lengakap dengan embel-embel western atau kebaratan, walaupun oran jil mengartikan secara berbeda namun anggapan orang bahwa jil adalah bentukan dari westernisasi itu sendiri. islam dengan beragam embel-embel dari liberal sampai fundamentalis adalah sebuah bentuk lama dari apa yang dinamakan dengan islam simbolism, saya teringat seperti apa yang telah dilakaukan oleh barat pada negri ini tempo dulu dimana simbolisme di manfaatkan oleh barat untuk melakukan politik devide et impera, dan simbolisme menjadi alat yang ampuh untuk itu. embel-embel atau simbolism dalam islam menjadi kontra produktif selam ini,...................... #5. Dikirim oleh ipang pada 06/04 07:09 PM Waduh..gimana yaa klo cara berpikir ini dianalogikan ke ajaran akhir jelas menodai ajaran pendahulunya, lantaran jauh menyimpang dan malah salah paham. Apa si pendahulu boleh minta uu diberlakukan juga pada doktrin yang egosentris ini tersebut? Apa ini gak cara berpikir dan bertindak yang nyeleneh lantaran mau menang sendiri! #6. Dikirim oleh b.teguh pada 07/04 05:45 AM Bahkan diperlukan kebebasan untuk tidak beragama, sehingga jika seseorang tidak beragama namun bermoral/ berperilaku baik dan memberi kontribusi besar kepada masyarakat melalui karyanya maka ia lebih berarti daripada orang beragama yang tidak memberi kontribusi berarti bagi masy bahkan memaksakan kehendak dan keyakinan/agamanya. Sayangnya di negara kita hal ini tidak mungkin, sehingga semua warga negara tampak berlomba2 memamerkan keimanan mereka… sungguh semakin menyesakkan rasanya tinggal disini… #7. Dikirim oleh tira pada 09/04 11:09 AM Saya berpendapat kebebasan kita eksprsikan berdasarkan nilai-cultural. berbicara kebebasan konteksnya pada manusia yang mempunyai cakrawala berpikir yang logis. sesuatu diskusi kebebasan harus nyambung, berdasarkan intelektual manusianya itu sendiri. kita tidak bisa memandang sesuatu kebebasan berdasarkan kajian yang tanggung. dialam manusia modern, arti kebebasan tidak kebablasan, masing-masing orang mempunyai pandangan yang berbeda dengan tentunya deidasari pemikiran yang positif. Indonesia kalau kita kembali kesejarah, agama yang berkembang di kita merupakan agama tamu, agama yang disebarkan melalui para pedangang, untuk islam, zending utk nastani. sedangan ghindu di indonesia serta animisme sebagai agama yang paling tua, dan lebih dulu muncul. jadi agama adalah ibara pakaian yang menutupi tubuh kita dari terpaan alam, maupun menutupi kehormatan. marilah kita jadikan diri kita menjadi warga terhormat, kita hidup saling menghormati satu sama lain, bukan mengakui!!. jadi kebebasan itu penuh dengan nilai2 historis yang kuat untuk saling menghormati. saya yakin dengan kita menghormati orang lain, batasan kebebasan akan terbentuk dengan sendirinya/ #8. Dikirim oleh tubagus pada 11/04 02:50 PM

UU penodaan agama tetap diperlukan mas…daripada terjadi chaos karena agama yang sudah baku di acak2 hanya demi sebuah alasan HAM..kan buat yang merasa dilecehkan ntar ngamuk jadi payah, inikan negara demokarasi tapi demokarasi pancasila yang berkeTuhanan, bukan demokrasi sekuler…kalo hanya ngomong demi HAM!!!...,HAMnya ini versi mana??? kalo versi barat sudah tentu ga matching sebab versi barat hanya nguntungi diri dan golongan aja….. wes…manut budaya timur wae mas…hehehe #9. Dikirim oleh dadan pada 25/04 03:54 PM

KEBEBASAN. kebebasan yang bagaimana?? kadang orang salah menafsirkan arti KEBEBASAN. orang banyak menanggapi kebebasan dengan kebabalasan.!! kebebasan beragama, tentunya sepanjang manusianya itu sendiri, meyakini bahawa tuhan itu ada, bahwa tuhan itu maha pencipta. kita sebagagai manusia yang dilahirkan atas izin tuhan, tentunya berkewajiban mengagungkan namanya. keyakinan seseorang tidak untuk dipaksakan, itu semua urusan individu manusia itu sendiri dengan tuhan. Kebebasan bergama jangan salah tafsir sebagai pengakuan bahwa islam mengakui agama mereka. kita jangan terjebak dengan kalimat itu. kita penganut islam tentunya meyakini tuhan itu esa!! siapa ? ya hanya ALLAH SWT.tunggal. tidak bisa diganggu gugat. ” Agamamu, agamamu, agamaku, agamaku. sudah jelas kalimat sederhana mempunyai arti yang luas dunia akhirat. sepanjang keyakinan lain tidak menggaggu, atau menodai sucinya kitab kita, melecehkan agama kita, janganlah kita mengganggu keyakinan orang lain, kecuali kalau memang merkekan talh merusak keberadaan islam di indonesia patut kita tangkal, dengan apa?? jawabannya da pada diri anda sekalian. #10. Dikirim oleh tubagus pada 04/05 02:31 PM saya tidak melihat dalil agama yang dikemukakan penulis dalam artikel diatas. saya sendiri orang awam dalam urusan agama, tapi saya yakin dalam ajaran islam pasti ada jawaban soal kebebasan. ketika seseorang telah mengucapkan kalimah syahadat, maka dia seharusnya tidak melihat kebenaran lain selain alquran dan sunah nabi. orang islam yang berusaha berakhlak sesuai tuntunan nabi, tidak perlu pusing2 menganalisa satu kata “kebebasan”. di indonesia, menjadi tugas negara adalah memberikan perlindungan kepada orang-orang seperti yang saya sebut tadi, agar tidak tidak diusik dan dinodai keyakinannya. bagaimana negara akan menjalankan tanggungjawabnya kalau tidak ada undang-undang yang mengatur soal itu? #11. Dikirim oleh samsudin umar pada 12/05 05:17 AM “Tidak bisa dibenarkan satu kelompok masyarakat, atas nama apapun, memaksa orang lain untuk menganut agama dan kepercayaan tertentu. Tidak bisa dibenarkan bahwa orang diusir hanya karena ia meyakini sesuatu yang berbeda dengan keyakinan masyarakat umum. Tidak bisa dibenarkan negara membatasi pilihan agama terhadap warga. Dan tidak bisa dibenarkan bahwa sebuah negara dengan kekayaan budaya dan agama yang luar biasa melakukan fusi agama menjadi hanya enam, padahal beratus agama lain hidup dan menjadi bagian dari sejarah bangsa”. tidak bisa di benarkan kawan2 JIL yang mengusung misi kebebasan,tapi tidak membebaskan orang lain untuk memaknai agamanya sendiri, tidak bisa di benarkan kawan2 JIL memaksakan para pemangku konstitusi untuk mengikuti kehendak kalian semua,,,jangan hanya bisa menyalakan,tapi anda sendiri tidak benar…. #12. Dikirim oleh supianto pada 17/07 04:32 AM saya tidak melihat dalil agama yang dikemukakan penulis dalam artikel diatas. saya sendiri orang awam dalam urusan agama, tapi saya yakin dalam ajaran islam pasti ada jawaban soal kebebasan. ketika seseorang telah mengucapkan kalimah syahadat, maka dia seharusnya tidak melihat kebenaran lain selain alquran dan sunah nabi. selain itu, dimana letak posisi presiden yang seharusnya mererai pertentangan antara satu aliran dengan aliran agama lain ??? apakah presiden tidak mampu melerai itu semua ??? jikalau benar, MENDINGAN TURUN AJA DARI JABATANYA !! Kapan Muhammad SAW Lahir? Oleh Abd. Moqsith Ghazali Begitu tinggi kedudukan Muhammad di hadapan umat Islam, maka momen-momen penting dalam kehidupannya selalu dikenang, dirayakan, dan diperingati. Mulai dari kelahirannya, pengangkatannya sebagai nabi, pendakian spiritualnya yang tak tepermanai berupa isra’-mi`raj hingga migrasinya dari Mekah ke Madinah. Berbeda dengan kematian yang merupakan pertanda kesementaraan manusia dan juga keterbatasan seorang nabi, maka kelahiran Nabi Muhammad dianggap sebagai pertanda kehidupan baru, perubahan sosial. Nabi Muhammad SAW adalah pusat keteladanan. Segala ucapan dan tindakannya menjadi rujukan umat Islam, dulu dan sekarang. Haditsnya menjadi sumber hukum (mashdar al-hukm) kedua setelah Alquran. Begitu tinggi kedudukan Muhammad di hadapan umat Islam, maka momen-momen penting dalam kehidupannya selalu dikenang, dirayakan, dan diperingati. Mulai dari kelahirannya, pengangkatannya sebagai nabi, pendakian spiritualnya yang tak tepermanai berupa isra’-mi`raj hingga migrasinya dari Mekah ke Madinah. Berbeda dengan kematian yang merupakan pertanda kesementaraan manusia dan juga keterbatasan seorang nabi, maka kelahiran Nabi Muhammad dianggap sebagai pertanda kehidupan baru, perubahan sosial. Itu sebabnya, jika waktu kelahirannya dirayakan, maka saat kematiannya tidak. Perihal kelahirannya, sebagian umat Islam percaya bahwa Nabi Muhammad lahir pada Senin pagi menjelang subuh, 12 Rabiul Awal Tahun Gajah (`am al-fil). Disebut begitu karena bertepatan dengan tahun penyerangan “Pasukan Gajah” pimpinan Abrahah (Gubernur Abisinia) ke Kabah. Namun, dengan merujuk pada buku-buku sejarah, kita akan mengerti bahwa tak ada kepastian tentang jam, hari, tanggal dan bulan kelahiran Muhammad SAW. Dalam al-Bidayah wa alNihayah (Juz II, 260-267), Ibnu Katsir menjelaskan keanekaragaman pandangan para ulama tentang kelahiran Nabi. Husain Haikal juga menjelaskan pluralitas pendapat tersebut dalam Hayat Muhammad (hlm. 102). Mengenai tahun kelahirannya misalnya terdapat beberapa pendapat. Menurut Ibnu Abbas, Muhammad lahir pada Tahun Gajah itu. Yang lain berpendapat, kelahirannya lima belas tahun sebelum peritiwa penyerangan Kabah itu. Ada yang memperkirakan beberapa hari (satu bulan, empat puluh hari, lima puluh hari), beberapa bulan, bahkan beberapa tahun setelah Tahun Gajah. Menurut Abi Ja`far al-Baqir, Muhammad lahir 55 hari setelah peristiwa pasukan bergajah itu. Yang lain menghitung sepuluh tahun, dua puluh tiga tahun, tiga puluh tahun hingga tujuh puluh tahun setelah Tahun Gajah. Abu Zakaria al-Ajalani berpendapat, Muhammad lahir empat puluh tahun setelah Tahun Gajah. Begitu juga tentang bulan dan tanggal kelahirannya. Sebagian ulama berpendapat, Muhammad lahir pada bulan Rabiul Awal. Yang lain berpendapat, bulan Muharram, Safar, Rajab. Ibnu Abdil Birri mengutip pendapat al-Zubair ibn Bikar bahwa Nabi Muhammad lahir pada tanggal 12 Ramadan. Sementara tanggal kelahirannya diperkirakan sebagian ulama jatuh pada tanggal 2, 9, 17 Rabiul Awal. Ibnu Hazm berpendapat, kelahiran Muhammad jatuh pada 8 Rabiul Awal. Ibnu Ishaq berpendapat pada tanggal 12 Rabiul Awal. Ulama pun berbeda pendapat, tentang

waktu kelahirannya; siang atau malam. Satu ulama berpendapat siang, yang lain mengatakan malam. Begitu juga dengan hari kelahirannya. Ada yang berpendapat Senin. Yang lain berpendapat Jumat. Seorang sahabat Nabi, Ibnu Abbas, berpendapat bahwa Nabi Muhammad lahir pada hari Senin, 18 Rabiul Awal. Artikel ini hendak menegaskan bahwa di kalangan ulama Islam klasik sendiri tak ada konsensus (ijma`) tentang waktu kelahiran Nabi Muhammad. Ini terjadi karena tak ada tradisi pencatatan waktu kelahiran seorang bayi saat itu. Baik ibunda maupun kakek Nabi tak mencatat kelahiran anak atau cucunya itu sehingga wajar kalau terjadi kesimpangsiuran waktu kelahiran Muhammad. Jelas, ketepatan dan kepersisan tanggal kelahiran seorang tokoh sekian ribu tahun lalu tak mudah ditunaikan. Tak ada kepastian tentang waktu kelahiran Nabi Isa, Nabi Musa, apalagi Nabi Ibrahim lalu Nabi Adam. Semua tanggal dan tahun kelahiran mereka ditentukan kemudian, berdasar asumsi dan prakiraan dan akhirnya membentuk keimanan. Lalu siapa sesungguhnya yang lahir di Mekah pada Senin 12 Rabiul Awal 1500 tahun lalu itu? Kita tak tahu. Namun, karena di Indonesia sudah mentradisi, secara sosio-kultural saya tetap perlu mengucapkan selamat memperingati Maulid Nabi Muhammad 12 Rabiul Awal 1430 H. [] “Namun, karena di Indonesia sudah mentradisi, secara sosio-kultural saya tetap perlu mengucapkan selamat memperingati Maulid Nabi Muhammad 12 Rabiul Awal 1430 H.”

MEMPERINGATI HARI KELAHIRAN RASULULLAH SAW ADALAH BID’AH, DAN MEMBERI UCAPAN SELAMAT ATAU BENTUK PERAYAAN LAINNYA ADALAH KEBIASAAN KAUM KAFIR !! INGAT SEMUA BID’AH ADALAH SESAT DAN SEMUA YANG SESAT TEMPATNYA DI NERAKA !!!! #1. Dikirim oleh Hamba Allah pada 10/03 01:43 PM Happy Birthday to Our Prophet; Muhammad Saw #2. Dikirim oleh Ade Maulana Dliya pada 11/03 01:43 AM juga ikut mengucapkan slmt meperingati maulid Nabi Muhammad saw. Semoga kita dpt menjadikan beliau sbg teladan #3. Dikirim oleh geboi pada 11/03 04:19 AM memang tidak perlu dirayakan kok mas Moqsith…apalagi menghormati beliau saw dengan rusuh rebutan berkah makanan… #4. Dikirim oleh mohamad ishaq pada 11/03 05:47 AM Bagi saya tahun kelahiran seseorang tidak menjadi begitu penting pada saat muncul berbagai versi tentang kelahirannya. Yang paling penting adalah keteladanan beliau sebagai rasullullah, ditengah semakin maraknya prilaku prilaku jahiliah, korupsi, manipulasi, dan kebejatan moral lainnya yang dipertontonkan secara kasat mata dan vulgar oleh manusia-manusia yang hidup dibumi pancasila ini. #5. Dikirim oleh Taufik Iskandar pada 11/03 07:52 AM Pada jaman sekarang saja masih banyak orang yang tidak tahu tanggal lahirnya dengan pasti, apalagi jaman dulu. Kalau kelahiran Nabi Muhammad tidak diketahui dengan pasti, ada yang bilang juga kelahiran Nabi Isa bukan tanggal 25 Desember yg selalu dirayakan sbg kelahiran Yesus. Hal itu bisa kita maklumi. Kita tidak perlu bertengkar, bercerai berai, saling mencemooh harena hal tersebut. Yang paling penting bagaimana kita mengimani apa yang kita percayai, jadi kalaupun kita merayakan atau memperingati gunakan moment ini untuk mempertebal keimanan kita bukan sekedar acara rutin yang tiada arti. Anto http://idrabasusenodewo.blog.mediaindonesia.com #6. Dikirim oleh anto pada 11/03 12:05 PM itulah kehebatan islam, yang tidak mengistimewakan kelahiran nabi muhammad saw sebagai sesuatu yang harus disakralkan, seperti halnya kelahiran nabi isa - yang disebut oleh saudara kita dari kaum nasrani ‘yesus’ - sehingga harus diperingati sedemikian rupa meriahnya di mana-mana sehingga menjadi sangat berlebihan. padahal kepastian tanggal kelahiran yesus pun belum tentu pasti. karenanya jauh-jauh sebagian ulama mencoba untuk menjadikan kelahiran nabi muhammad saw bukan sebagai peringatan yang berlebihan, selain untuk mengintrospeksi diri dengan melihat kelahiran beliau sebagai titik nol untuk mencontoh keteladanan kehidupan beliau sesudahnya hingga beliau wafat. keteladanan beliau sebagai rasul, nabi dan sebagai seorang manusia biasa benar-benar komplit, sehingga bisa applicable dengan perikehidupan di sepanjang masa. beliau dilahirkan, dibesarkan, didewasakan, dan dimatikan dengan penuh nilai-nilai sebagai manusia yang utuh. kebesaran beliau, tidak perlu dirayakan secara berlebihan, dan alhamdulillah tidak ada pengkultusan beliau yang mengarah pada ‘pe-NUHAN-an’. #7. Dikirim oleh budi wiratno pada 11/03 01:05 PM Tidak begitu penting kapan, dimana, dan hari apa Nabi Muhammad SAW di dzahirkan ke muka bumi ini. Sebab, tidak ada satupun sejarah masa lampau yg steril dari perselisihan ahli sejarah dalam hal ketepatan waktunya. Jika masa Nabi Muhammad, yg merupakan masa yg paling dekat dg kita di banding dg Nabi-Nabi lainnya saja belum terungkap kepastiannya sampai hari ini, apatah lagi dg Nabi-Nabi sebelum beliau. Biarlah itu semua tetap menjadi misteri gelap sejarah, yg manusia tidak perlu mempertikaikannya sampai mengeraskan urat leher dan menggemeretakkan gigi.

Sejarah hidup para Nabi memang akan selalu menarik untuk di perbincangkan sampai kapanpun, di sebabkan nilai-nilai luhur yg di bawa mereka bagi perbaikan hidup umat manusia. Kita tidak bisa membayangkan, betapa amannya dunia ini dari segala tindak kriminal, jika seluruh manusia mau mencontoh ketegasan ala Musa AS, betapa damai dunia ini jika seluruh manusia mau mencontoh kasih tulus Yesus Al-Masih, dan, betapa pertikaian adalah sesuatu yg tidak perlu ada, jika semua manusia mau meneladani moral Muhammad yg begitu toleran terhadap segala perbedaan. Sayangnya, karakter dunia yg begitu carut wa marut, yang di tingkahi pula dg nyanyian setan, tidak selalu membawa manusia pada jalan mulus yg di inginkan oleh para Nabi itu. Jadi, tetaplah dendam kesumat, kriminalitas, pertikaian, saling hujat, peperangan, saling membunuh dan blo blo blo akan tetap mewarnai perjalanan dunia ini sampai kapanpun. Saya pribadi merasa beruntung, masih bisa menghirup udara segar ajaran para Nabi itu. walaupun sedikit, di jiwa saya masih terselip ketegasan ala Musa, di dada saya masih tersimpan kasih tulus Yesus Al-Masih, dan di hati serta fikiran saya masih terpatri toleransi ala Muhammad SAW. #8. Dikirim oleh Fatur rafael pada 11/03 03:35 PM tanggal lahir itu nggak penting, apakah anda percaya dengan tanggal lahir anda? padahal anda sendiri mendapatkan tanggal lahir dari ayah ibu anda. Anda sendiri saat lahir belum bisa lihat kalender.Jadi untuk apa ucapan selamat ultah, selamat maulid? #9. Dikirim oleh ariek singgih pada 11/03 05:25 PM Memperingati maulid nabi memang bid’ah. Tp bid’ah kan ada 2 macam. Bid’ad yg boleh & tdk boleh. Bid’ad yg boleh contohnya: (kira2) memakai kaca mata, ngenet, dll. Masalahnya memperingati maulid nabi itu masuk bid’ah mana. Disini terjadi khilafiyah. #10. Dikirim oleh geboi pada 12/03 02:45 AM Saya kira kita tidak perlu tahu kapan pastinya beliau lahir. Yang harus kita ketahui pasti adalah untuk apa beliau dilahirkan. Teladan, panutan, contoh hidup. Contohlah belau mudah-mudahn akan selamat. Kapan ulang tahunnya tidak penting. Keteladanan beliau. Pahami Al-qur’an dengan baik. Amalkan dfengan menteladani beliau nabi pungkasan dan akhir jaman (Muhammad SAW.) #11. Dikirim oleh widada pada 12/03 06:08 AM Dalam Islam memperingati kelahiran Nabi Muhammad SAW bukanlah suatu kewajiban peribadatan sebagaimana hari raya Idul Fitri dan Idul Adha yang tanggalnya sudah ditentukan. Akan menjadi masalah jika penetapan waktu kedua hari raya tsb yang tidak pasti atau “dikarang-karang”. Saran saya, alangkah bijaknya jika penulis membahas dan mengabarkan risalah otentik yang dibawa Nabi Muhammad SAW, dan tidak meliberalkannya. #12. Dikirim oleh dietje pada 13/03 09:12 AM saya berpendapat bahwa kebiasaan manusia memperingati hari kelahiran dan kematian adalah bukan ibadah tetapi itu hanyalah budaya manusia. contoh Maulid Nabi, itu adalah budaya bukan ibadah karena Nabi tidak pernah Ultah. tentang tanggal Nabipun tidak pernah beri tahu karena hal itu tidak penting, sebagaimana di Quran tidak pernah ada info tentang Ultahnya Nabi Adan hingga Nabi Muhammad. Bukti bahwa Ultah adalah budaya adalah Natal, tgl 25 desember, ini pun adalah budaya, Yesus Kristis tidak pernah Ultah juga. 25 Desember pun juga bukan kelahiran Yesus Kristus, namu 25 desember adalah Ultahnya Dewa Matahari Romawi. Para Muris mulia Yesus Kristus sudah memberi KODE bahwa Yesus Kristus lahir pada bulan Maret. Buktinya adalah Octa adalah berarti Delapan dan Deca berarti sepuluh. Nah oleh Romawi diubah menjadi Octa berarti sepuluh dan Deca berarti dua belas, sehingga sekarangpun bulan October adalah bukan kesepuluh dan december bulan ke 12. Ini contoh kesalahan tanggal lahir Yesus Kristus. Padahal 12 muris Yesus sudah memberi CODE, seharusnya Yesus berULTAH pada bulan maret. Nah kesalahan Maulid Nabi menjadi tidak masalah karena memang Maulid bukan Ibadah, sedangkan NATAL itu ibadah, sayang Natal bukan bulan maret sayang Natal di bulan Desember #13. Dikirim oleh isa pada 13/03 12:10 PM Heran deh ? Jelas bahwa tema yang diangkat Kapan Muhammad SAW lahir ? Kenapa ada yang komentar tentang Nabi Isa atau Jesus Christ… Kafir dan yang lain2… ???? Karena makna kelahiran semua pada intinya adalah sama…Yaitu mengingatkan kita untuk lahir kembali seperti waktu kita bayi dimana kita masih suci & tidak berdosa… artinya mari kita bertobat… Sedih di negeri ini masih banyak saudara2 kita yang berpikiran sempit & negatif…yang bisa mengatakan “anda kaum kafir, anda penghuni neraka” bukan kita.. tapi hanya Allah yang pantas memutuskan nanti.. #14. Dikirim oleh Dian pada 14/03 07:39 AM Milad-un-Nabi is a Bid’ah. Remembering and cherishing our beloved Nabi saw should not in any way compromising with the Unity of God.

Please see Khilafatul Masih’s Friday Sermon on the subject: http://alislam.org/archives/friday/FSS20090313-EN.html #15. Dikirim oleh Irenaeus Ahmad pada 14/03 02:40 PM Karena itu perlunya desakralisasi pada hal2 keduniaan.Orang Amerika bisa sampe bulan padahal mereka tidak merayakan Maulid dsb.Sekularisasi yes! sekularisme no! #16. Dikirim oleh Taufan pada 16/03 08:00 AM Subhanallah..ramai org memperdebatkan ttg kelahiran dan hukum perayaan maulid nabi muhammad saw..bhkan dgn seenak udelnya dewek mgtkn mrykan maulid itu bid’ah,dgn dalih yg kuno ” kullu bid’atin dholalah,wa kullu dholalatin fi annar “..saya cuma menyayangkan hal semacam ini di ungkapkan,tnpa mmhami scra mendalam exitensi dari dalil itu sndiri..saran sya bagi yg msh memperdebatkan mslh ini,lebih byk lagi untuk belajar&baca;,dan ingatlah sllu firman Allah ” wama utitum minal ‘ilmi illa qolila ” mnusia ga brhak untuk menjudge,hanya Allah lah yg berhak atas itu smua..Allah yahdikum. #17. Dikirim oleh Umat nabi Muhammad pada 16/03 03:27 PM Ada dua hal yang agak masygul membaca tulisan Saudaraku Abdul Moqsith ini. Pertama, sebagai dosen UIN—kata Goenawan Mohammad di Mono—, tentunya mengetahui bahwa peringatan maulid Nabi itu bid’ah, dan itu sesat. Dia menulis “...saya tetap perlu mengucapkan selamat memperingati Maulid Nabi Muhammad 12 Rabiul Awal 1430 H.” Saudaraku, saya ingatkan karena Allah, bahwa Saudaraku perlu segera taubat. Tapi, bila peringatan maulid nabi itu ada dasar hadistnya, tolong paparkan. Atas nama budaya pun, tidak bisa dibenarkan, mengagungkan nabinya dengan cara yang tidak dicontohkan. Jadi, praktek ini harus dihentikan. Kedua, tadinya saya berharap Saudaraku ini menjelaskan kapan peringatan ini mulai dirayakan ummat Islam, jadi kajian historis ilmiah. Misalnya saya pernah mendengar—konon katanya gagasan peringatan itu terjadi saat perang salib, Salahuddin Al-Ayyubi, menggugah semangat perang dengan cara mengingatkan kelahiran Nabi—(tolong koreksi, bila ini khilaf). Yang pasti, saya belum pernah menjumpai suatu hadist pun dari Rasulullah tentang peringatan maulid. Jadi, sebagai “kiyainya” kaum liberal, sangat penting bila dapat meluruskan mana yang sunnah, mana yang bukan. Bukan malah mengaburkan-nya. Takutlah hisab di akhirat nanti. Tentang bid’ah, pendapat yang mengatakan bahwa ada bid’ah hasanah dan bid’ah dhalaalah. Ini penting untuk dicermati. Setahu saya, bid’ah itu adalah dalam hal syari’at agama. Dan untuk itu semua bid’ah itu sesat. Karena agama telah disempurnakan oleh Allah saat haji wada’ dengan turunnya ayat “al-yauma akmaltu lakum diinakum, waatmamtu lakumul Islaama diina”. Jadi, siapa yang menambah-nambah agama itu adalah sesat, dan sesat itu masuk neraka. Sabda Rasul, “..kalian sehasta demi sehasta akan mengikuti ummat sebelum-mu, yakni Yahudi dan Nasrani”, termasuk bila ummat Islam memperingati hari lahir nabi, bagaikan “natalan”. #18. Dikirim oleh isoelaiman pada 17/03 02:07 AM apresiatif banget’s kejian forum ini selalu bernuansa penyegaran. mari kita bersama mengembalikan persepsi budaya yang salah kaprah apalgi tidak seseuai dengan tuntutan syari’at kejalan yang sesungguhnya. dengan cara mengevaluasi dan mempertanyakan kembali eksistensi sebuah konsensus kebenaran yang masih kuat. #19. Dikirim oleh Marlaf Sucipto pada 17/03 05:28 AM @ budi wiratno dan isa Kog serem banget. Aku jadi nggak ngerti! Yang dibahasa Ultanya Nabi Muhamad - eh malah semprotin umat Kristiani. Mau tanggal 25 kek, tanggal 1 kek emangnya ada hubungan apa dengan kamu? Lagian Natal itu tidak hanya memperingati hari kelahiran Yesus, koq. Lebih daripada itu. Jadi saran gue sih, sebaiknya belajar lebih banya tentang Natal sebelum membuat komentar yang tidak perlu. Jadilah orang yang tak gampang sirik terhadap orang lain. entar kelihatan seberapa dalam agamamu. tema lebih menarik tentu saja bukan mempermasalahkan kapan kelahiran nabi beserta perayaannya, tetapi sejauh mana kemudian keteladanan nabi itu teraplikasi dalam kehidupan kita. Tentu saja dalam koridor syariat yang benar. Karena ukuran kita sebagai orang-orang yang mengaku pengikut beliau bukan pada pengetahuan tentang kapan kelahiran beliau melainkan berapa banyak perilaku kita sesuai dengan arahan dan contoh beliau. mari perbanyak melakukan sunnah Rasulullah saw. #21. Dikirim oleh abinehanafi pada 17/03 09:29 AM kita sudah tertipu dengan adanya ceremonmial keagaamaan yang notabene itu tidak ada gunanya bagi tuhan. Tuhan menurunkan rasulnya hanya untuk memberikan suritauladan bagi umat di dunia tak ada pengecualian. sehingga dalam kehidupan sehari- hari lebih terjamin untuk di akhirat. maka dari itu apapun cerita para peneliti tentang kehadiran pembawa wahyu kita harus meneliti apa isi dari wahyu tersebut. #22. Dikirim oleh salman nasution pada 19/03 06:14 AM Kata maulid akan membuat alergi sebagian muslim dan membuat kebahagiaan bg sebagian muslim yg lain. Kalo pgn tahu banyak tentang perihal perayaan/peringatan kelahiran nabi saw semuanya bnyk dituangkan dibuku yg bertuliskan arab alias kitab oleh2 penulis atau sarjana2 islam dahulu yg karya nya bnyk menjadi rujukan bg umat islam dewasa ini..

Kalo cuma bc dr buku2 yg ada di indonesia rasanya krg lengkap,shingga pengetahuan kita msh sempit dan mudah menyalahkan/membenarkan org lain. Merci… #23. Dikirim oleh Maulana pada 19/03 08:58 AM “Namun, karena di Indonesia sudah mentradisi, secara sosio-kultural saya tetap perlu mengucapkan selamat memperingati Maulid Nabi Muhammad 12 Rabiul Awal 1430 H” yang pasti mas Abd Muqsith sudah menjalankan sunnah Nabi SAW di sini, yaitu mengedepankan etika. bukankah Nabi SAW bersabda “sesungguhnya aku di utus tak lain untuk menyempurnakan Ahklak (etika)”??. bukankah greeting bagian dari salaam?? bukankah Nabi juga bersabda “layangkanlah salaam (greeting), jalinlah tali persaudaraan, berilah makan org yg membutuhkan, maka kalian akan masuk sorga dengan tentram”?? gak usah teriak2 Bid’ah, toh mas Abd Muqsith jg sudah menjelaskan bahwa peringatan Maulid itu tradisi masyarakat kita secara sosio-cultural. lha kok tradisi masyarakat diteriakin Bid’ah? bukankah yang dicap Bid’ah hanya bilamana berkaitan dgn ibadah mahdah?? bagaimana mau menjunjung syari’at Nabi SAW kalo mengabaikan Inti Pengutusan Nabi itu sendiri. Wallahu al-muafiq ilaa aqwami thoriiq. #24. Dikirim oleh Ali pada 19/03 11:49 AM saya kira hari lahir tidaklah menjadi soal untuk diperdebatkan, yang penting kita berusaha mencontoh perilaku beliau, dan karena ini sudah mentradisi ya dibiarkan saja, mau bid ‘ah ataupun tidak toh ini tradisi yang baik, sebuah penghormatan untuk Muhammad SAw….. #25. Dikirim oleh dias ikhsan pada 19/03 05:09 PM Tulisan Abd. Moqzith Gazali, meletakkan pemahaman kritis sosio kultur. Perlu diketahui, dalam tradisi Timur Tengah, (maaf komentar jadi saya tidak mencari referensinya..) ikhwal kelahiran bukan merupakan tradisi yang diperingati secara khusus bandingkan dengan barat kelahiran merupakan hal yang special. di Timur Tengah dan sekitarnya kematian justru menjadi peringatan yang di prioritaskan (maaf kalau salah) sehingga berkaitan dengan tulisan di atas, sebagai peringatan miladnya para nabi, memang tidak ada inskripsi dan sumber lainnya yang mencantumkan tanggal kelahiran karena memang saat itu tidak menjadi keharusan. (Ingat di Jawa dulu mbah-mbah saya kelahiran hanya ditulis di belakang pintu- begitu rumah dibongkar lupa tanggal berapa…) yang penting menurut saya bukan tanggalnya… namun makna pada kelahirannya.. nabi Ibrahim pernah ada, Nabi Muhammad juga lahir, nabi Isa demikian juga yang bisa dipahami dalam bentuk suri tauladan, dan keimanannya, bukan perdebatannya, beliau-beliu adalah hanif-hanif yang mengubah dunia. Setuju???? Jadi kita cukup dengan mengatakan Maha Benar Allah yang menciptakan para junjungan mulia untuk kita. #26. Dikirim oleh bayu kusumo pada 21/03 05:14 AM Bang Soelaiman ana mhn ma’af nih, kalau Bang sulaiman bilang memperingati hari lahir Nabi Muhammad SAW. itu BID’AH, kalau kita mengikuti bid’ah melihat dizaman modern ini kita gak bisa Ibadah dong!!!, kenapa saya bilang gak bisa Ibadah, pada zaman Nabi pernah Nabi menganjurkan pengikutnya sholat memakai celana, sedangkan orang2 sekarang shalat memakai celana gak ada yg bilang bid’ah. kedua pernah Nabi Muhammad menganjurkan Pengikutnya pada saat sholat tidak memakai peci, sedangkan orng2 sekrng tdk memakai peci gak ada yg bilang bid’ah. dan ini hanya contoh kecil aja artinya kalau kita mengikuti bid’ah semua orang pasti gak ada yg bisa ibadah dgn lebih banyak lagi. menurut saya gak usah kita membahas yg tidak menyimpang, lebih baik kita membahas orang meyatakn Islam tetapi Tuhannya Bukan Allah, Nabinya bukan Nabi Muhammad & kitabnya bukan Al-Qur an. trims. #27. Dikirim oleh yudi pada 21/03 07:08 AM Sungguh menarik tema tentang kelahiran Nabi Muhammad SAW, tetapi saya ingin mengingatkan saja, katakanlah kelahiran Nabi merupakan kesimpang siuran sejarah, sebab pencatatan tanggal dan waktu saat itu masih belum menjadi kepentingan yang mendasar. Tetapi yang perlu digarisbawahi adalah : Bahwa problem umat Islam bukan cuma sekedar seputar kelahiran Nabi saja, melainkan bagaiman mengimplementasikan ajaran-ajaran beliau dalam kehidupan sehari-hari..? itu yang menurut saya adalah penting untuk dilakukan. Yang kedua, bahwa kelahiran Nabi Muhammad SAW saya pikir bukanlah suatu kejadian yang ‘luar biasa’ sebab proses kelahiran Rasulullah SAW-pun mengikuti orang kebanyakan, lain halnya dengan lahirnya Nabi Isa AS yang tanpa bapak itu, atau ‘kelahiran’ Nabi Adam AS yang tanpa bapak dan tanpa ibu. Tetapi sebagao seorang muslim, moment kelahiran Nabi bukan melulu hanya berkutat pada ketepatan tanggal, atau proses kelahiran ‘yang biasa’ itu, melainkan kepada sebuah ” kabar pencerahan” bagi seluruh Umat Manusia, sebagaimana yang telah dijanjikan dalam berbagai kitab-kitab suci sebelumnya..itu saja lain tidak #28. Dikirim oleh Imam Mahdi pada 21/03 08:08 AM Saya dhuafa pemahaman ilmu agama. Tapi, bagi saya, memperingati maulid Nabi merupakan keindahan: mengenang perjuangannya dan melanjutkan pesannya. Saya kira—tidak terlalu produktif—memastikan tanggalnya. bagi saya, memperingati maulid Nabi adalah menunjukkan cinta kita pada Beliau. Meneladani dan berharap syafaat ketika hari pengadilan tiba. Terlepas urusan bid’ah…bukankah isi maulid dilakukan sesuai ajaran Nabi…pengajian dan dakwah merekatkan ukhuwah Islamiyah. Dan, kita tidak pernah mengkultuskan Nabi hingga menjadi Tuhan seperti di Kristiani misalnya. Dengan begitu, sungguh indah merayakan dan mengenang Nabi. #29. Dikirim oleh Mihradi pada 23/03 02:52 PM

Ass.Wr.Wb. Awalnya penulis membuat kabur masalah kelahiran NAbi Muhammad SAW yg notabene sudah diketahui oleh semua kalangan Umat Islam, jangan-jangan lama kelamaan “siPenulis” meragukan kehadirannya Nabi Muhammad SAW sebagai Pembawa Risalah Islam ini atau agama Islam itu sendiri…? Sudahlah kita tidak usah meragukan apa-apa yg ada pada diri Nabi Muhammad SAW yang pasti kebenarannya krn memang beliau dijamin ALLAH SWT dan dijaga akan perbuatannya dari dosa-dosa, sekian. Wassalaam #30. Dikirim oleh Uchon pada 25/03 12:39 PM Memahami Islam secara benar dan utuh sesungguhnya tidaklah sulit. Tidak dibebankan manusia dengan kewajiban2 melainkan sebatas kemampuannya. Islam datang membawa kemudahan bukan memberatkan ataupun mempersulit kehidupan manusia, walaupun memang kita tidak boleh ‘menggampang-gampangkan’nya/menyepelekan nya. Kalau memang mempersoalkan perlu maulid atau tidak dengan tujuan agar Nabi Muhammad tidak dikultuskan seperti Nabi dalam agama lain saya sepakat dan perlu diapresiasikan. Maka menurut saya untuk memahami al Islam secara utuh dan kaffah adalah dengan ‘membaca’ al Quran dan sunah dengan hati yang bersih dari tujuan dan kepentingan tertentu. Wallahualam. #31. Dikirim oleh djineman_rowoh pada 27/03 09:00 AM Saudaraku Yudi. Meneladani Nabi Muhammad itu harus sesuai dengan syariat yang disampaikan Nabi. Istilah bid’ah itu berlaku dalam syariat Islam. Coba baca Al-Qur’an (misalnya Tafsir Ibnu Katsier) dan As-Sunnah (misalnya Al-Lu’lu’u wal Marjan, Sahih Bukhari dan Muslim), mana ada Nabi Muhammad memperingati hari lahirnya. Juga para sahabat. Misalnya Abubakar atau Umar, gak bakalan ketemu bahwa keduanya memperingati hari lahir. Soal pakaian dalam sholat, ketentuan agama adalah menutup ‘aurat, bagi laki-laki mulai pusar sampai lutut. Soal bentuknya, agama tidak menentukan. Bisa celana, pakai peci. Jadi, bila kita sekarang pakai celana, itu tidak dikategorikan bid’ah. Karena ketentuan syariat telah kita penuhi, yaitu menutup aurat. Kenapa, saya serius soal maulid? Pertama, pertanggungjawaban kita kepada Allah di akhirat nanti, saat hisab (Yaumud diin). Ini maulid tidak disyari’atkan, kenapa kalian lakukan? Apa jawab kita Saudara Yudi? Lalu, bila kita tahu hadist Nabi mengatakan ini bid’ah dan setiap bid’ah itu adalah masuk neraka. Lalu, apa hadist seperti ini kita abaikan saja? Bila begitu, berarti kita tidak meneladani, tapi mengotori dengan cara menambah. Bila begitu, apa syariat yang disampaikan Nabi Muhammad itu kurang sempurna? Beranikah kita mengatakan itu? Bagi pelaku atau penyelenggara maulid, sama dengan mengatakan bahwa syariat yang disampaikan Nabi itu belum sempurna, makanya perlu ditambah dengan peringatan maulid. Astaghfirullaahal ‘adziem. Kedua, Nabi bersabda, bahwa kita sejengkal demi sejengkal, sehasta demi sehasta akan mengikuti jejak ummat sebelum kita, yakni Kaum Yahudi dan Nasrani. Bahkan, bila mereeka masuk ke lubang biawak pun, niscaya kalian memasukinya. A’udzubillahi min dzalik! Dan itu berarti sesat dan dimurkai Allah. Kecuali bila kita tetap berpegang teguh Al-Qur’an dan As-Sunnah. Peringatan hari ulang tahun itu tradisi Nasrani, natalan. Kenapa kita harus ikuti jalan sesat itu? Ketiga, mengamalkan syari’at Islam itu, tidak sama dengan menuruti nafsu dan akal. Seperti dikatakan oleh Saudara Mihradi, bahwa memperingati maulid itu keindahan, ukhuwah Islamiah. Itu akal, nafsu. Indah menurut siapa? Ketaatan menurut syariat itu, adalah apa yang disyariatkan dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah, Titik. Tidak ada kompromi dalam hal ini. Kreasi sebagus apa pun, bila tidak disyariatkan, adalah batal. Keempat, Allah berfirman. “Katakanlah; bila kalian mencintai Allah, ikutilah aku (Muhammad Rasulullah), maka Allah akan mencintai kalian.” Bila kita peringati maulid nabi, itu sama dengan mengatakan bahwa itu dicontohkan Nabi. Padahal tidak. Itu sama dengan berbohong atas nama nabi. Orang yang begitu perilakunya, tempatnya di api neraka. Kita harus membersihkan diri dari hal-hal yang mengotori agama ini. Jadi, masalahnya tidak sepele, tapi serius. #32. Dikirim oleh isoelaiman pada 27/03 10:35 AM Heran saya..!! membaca comment yg masuk.,memperingati Maulid Nabi saja dibikin ribet..!!,bagi saya tdk penting kita harus tahu kapan Nabi lahir secara pasti,tapi lewat peringatan ini apakah menambah kualitas iman kita kepada-Nya?.Saya tdk habis pikir..kenapa memperingati Maulid Nabi dianggap bid’ah..?? saya kira mengikuti teladan Nabi/sunah Rasul kita harus arif/bisa me-milah2 mana yg masih relevan utk kita terapkan pada masa kini dan mana yg harus kita tinggalkan krn sudah tidak sesuai/kadaluarsa.Kita tdk bisa menerapkan semuanya dlm konteks jaman sekarang yg serba modern.Mengomentari masalah bid’ah(dari sdr isoelaiman) anda arogan sekali berkata bahwa tdk ada kompromi dlm menerapkan syariat kalau tdk lewat Alquran+As-sunnah.Ingat bung..!!Nabi sendiri pernah mengatakan ‘‘tuntutlah ilmu sampai ke negeri Cina’’ artinya KEBENARAN itu ada dimana-mana..!!! dan bukan monopoli Islam SAJA..!!!. Komentar anda menunjukkan bahwa anda seperti katak dalam tempurung..,yang tdk tahu betapa luasnya dunia ciptaan Allah.kalau anda konsisten dg prinsip anda yakini bahwa segala sesuatu yg tdk ada dlm Al-quran+As-sunah itu bid’ah..Bagaimana dh komputer yg anda pakai yg notabene buatan org barat(yg menurut anda kafir..??)Bahkan segala teknologi yg kita nikmati sekarang ini(listrik,mobil,telpon,Tv dll) ditemukan oleh orang yg bukan beragama islam..?& dijaman Nabi belum ada,apakah ini semua juga termasuk bid’ah??? Anda opurtunis sekali ( kalau tdk mau dibilang munafik..!!) Disisi lain menolak segala sesuatu yg tdk ada dlm Al-quran & As-sunah,tapi diam2 menikmati/menggunakan teknologi buatan barat. Orang2 spt anda inilah yg membuat islam menjadi agama yg terbelakang/ketinggalan jaman karena menolak segala sesuatu yg baru. Pendapat saya pribadi, dari awal adalah tdk masalah kalau kita memperingati Maulid Nabi sepanjang dpt meningkatkan kualitas keimanan & mengenang serta meneladani Rasulullah yang bagi saya Beliau adalah seorang pluralis tulen,yg tdk mem-beda2kan muslim & non muslim.Inilah hikmah yg harus kita ambil dlm memperingati kelahiran Nabi Alangkah baiknya memperingati Maulid Nabi dg pemahaman seperti ini,daripada kita ikut pengajian/majelis taklim yg isi khutbahnya sibuk menghujat agama / kepercayaan lain. #33. Dikirim oleh Adhyatma pada 05/04 09:11 AM Tersebut di dalam kitab I’anathuth Tholibin oleh Sayyidisy-Syaikh Abu Bakar Syatha ad-Dimyathi:Telah berkata Imam Hasan al-Bashri (Wafat 116H, pernah bertemu dengan lebihkurang 100 orang shahabat): “Aku kasih jika ada bagiku seumpama gunung Uhud emas untuk kunafkahkan atas pembacaan mawlidKata-kata ulama ini juga boleh didapati didalam kitab an-Nafahatul Miskiyyah fi fadhilathi qiraati maulidi khairil bariyyah karangan asy-Shaikh Muhammad bin Abdullah as-Suhaimi dan juga terjemahannya yang bertajuk Hembusan Kasturi oleh Fadhilatul Ustaz Taha as-Suhaimi. Selain itu bagi menjawab tohmahan mereka kononnya ulamak silam mencerca sambutan ini, kita bawakan kata-kata yang jelas dari tiga ulamak yang kehebatan mereka diakui semua. ar-Rasul”. Telah berkata Shaikh Junaid al-Baghdadi (wafat 297H): “Sesiapa yang hadir mawlid ar-Rasul dan membesarkan kadar baginda, maka telah berjayalah dia dengan iman”. • Firman Allah : “(Isa berkata dari dalam perut ibunya) Salam sejahtera atasku, di hari kelahiranku, dan hari aku wafat, dan hari aku dibangkitkan” (QS Maryam 33) • Firman Allah : “Salam Sejahtera dari kami (untuk Yahya as) dihari kelahirannya, dan hari wafatnya dan hari ia dibangkitkan” (QS Maryam 15)

• Rasul saw lahir dengan keadaan sudah dikhitan (Almustadrak ala shahihain hadits no.4177) • Berkata Utsman bin Abil Ash Asstaqafiy dari ibunya yg menjadi pembantunya Aminah ra bunda Nabi saw, ketika Bunda Nabi saw mulai saat saat melahirkan, ia (ibu utsman) melihat bintang bintang mendekat hingga ia takut berjatuhan diatas kepalanya, lalu ia melihat cahaya terang benderang keluar dari Bunda Nabi saw hingga membuat terang benderangnya kamar dan rumah (Fathul Bari Almasyhur juz 6 hal 583) • Ketika Rasul saw lahir kemuka bumi beliau langsung bersujud (Sirah Ibn Hisyam) • Riwayat shahih oleh Ibn Hibban dan Hakim bahwa Ibunda Nabi saw saat melahirkan Nabi saw melihat cahaya yg terang benderang hingga pandangannya menembus dan melihat Istana Istana Romawi (Fathul Bari Almasyhur juz 6 hal 583) • Malam kelahiran Rasul saw itu runtuh singgasana Kaisar Kisra, dan runtuh pula 14 buah jendela besar di Istana Kisra, dan Padamnya Api di Kekaisaran Persia yg 1000 tahun tak pernah padam. (Fathul Bari Almasyhur juz 6 hal 583) Kenapa kejadian kejadian ini dimunculkan oleh Allah swt?, kejadian kejadian besar ini muncul menandakan kelahiran Nabi saw, dan Allah swt telah merayakan kelahiran Muhammad Rasulullah saw di Alam ini, sebagaimana Dia swt telah pula membuat salam sejahtera pada kelahiran Nabi nabi sebelumnya. Rasulullah saw memuliakan hari kelahiran beliau saw Ketika beliau saw ditanya mengenai puasa di hari senin, beliau saw menjawab : “Itu adalah hari kelahiranku, dan hari aku dibangkitkan” (Shahih Muslim hadits no.1162). #34. Dikirim oleh tjasman al haj pada 06/04 08:35 AM Your Majesty Muhammad SAW, kita anggap sebagai siapa? sebagai failasuf atau sufi tentunya beliau tidak ingin diketahui identitasnya apalagi kelahirannya, sebagai penyair tentu beliau hanya ingin mengungkapkan pemikirannya atau sebagai Nabi dan utusan Allah, beliau hanya ingin menyampaikan kebajikan kepada umat manusia agar mengikuti apa yang diperintahkan dan apa yang dilarang oleh Allah SWT. yang terpenting adalah apa yang ingin disampaikan oleh beliau, tergantung kita anggap siapa, beliau? #35. Dikirim oleh realyan pada 07/04 04:41 AM menurut saya tradisi maulid harus tetap ada guna mengingatkan kita akan keteladanan Rasulullan SAW sang revolusioner dunia yang menorehkan sejarah berabad abad lamanya. namun sayangnya paradigma masyarakat kita tentang ritual maulid sulit dirubah, mereka masih menganggap ritual maulid adalah ajang untuk mencari sesuap nasi. hal inipun tidak lain dikarenakan kondisi negara kita yang sangat susah sehingga mereka harus rela berdesak-desakan di acara maulid untuk mendapatkan sesuap nasi dan seteguk air. #36. Dikirim oleh izzu pada 07/04 07:41 AM bagaimanapun juga, atas nama sejarah SANG NABI, perlu bagi kita mencari dan mendiskusikan, dengan semangat ilmiah dan kebebasan, persoalan mengenai kemungkinan hari, tanggal, bulan dan tahun kelahiran nabi SAW yang paling mungkin (valid). karena bahkan dengan memaparkan begitu banyaknya perbedaan pendapat para sarjana islam lama mengenai hal ini sudah merupakan sebuah cara yang sangat baik untuk menunjukkan bahwa ISLAM, dalam apa yang kita ketahui saat ini, tak pernah hanya berwajah tunggal. #37. Dikirim oleh abu hasyim pada 12/04 01:35 PM Assalammualaikum ww…,Ya Nabi Salam alaikaa..Ya Rassul Salam Alaikaa..Ya…Salam…Masya Allah…semoga yang ada di forum ini…mendapat syafa’at dari Baginda..Nabi besar Muhammad Saw..dan mendapat Hidayah dari Allah Swt…dan petunjukNya ke Jalan yang benar dan Di Ridhoi…...Amin #38. Dikirim oleh RAIHAN pada 13/04 03:56 PM setelah membaca tulisan ini timbul pertanyaan, jadi yg benar mana ya? tanggal berapa Beliau lahir? misal kalau sudah tau yang benar. Lalu untuk apa ya? ... mohon petunjuk ... #39. Dikirim oleh ivan pada 15/04 11:36 PM kalau emang demikian adanya, terus apa slahnya memperingati maulid nabi pada tanggal 12 rabiul awal, tu kan juga termasuk dari pengamalan ikhtilaf, karena saya yakin ketetapan itu bukan berdasar akal ngaur dari ulama kita. #40. Dikirim oleh tirmidzi pada 18/04 07:31 AM apapun yang diperdebatkan oleh kaum muslimin pada umunya, bentuk bentuk keragaman cara pandang tentang nabi, namun yang harus diperhatikan bahwa segala sesuatu yang datang dari nabi harus di teladani dan di ikuti agar kita mendapat yafa’at dariNya kelak di hari kiamat #41. Dikirim oleh emsaleh_PAC IPNU Grujugan pada 20/04 10:27 AM Maaf Kawan kawan,yang paling penting bertanya saja pada diri masing2, “UNTUK APA KITA DI LAHIRKAN KE DUNIA??” Apakah untuk memperdebatkan Kelahiran Nabi??. Peace ah. #42. Dikirim oleh D C pada 22/04 01:28 PM

Bagi saya tentang kepastian kelahiran seseorang sangatlah penting, apalagi seorang tokoh besar seperti Muhammad saw. dari kelahirannya kita dapat banyak mngambil pelajaran dan memberi keputusan tentang sesuatu. #43. Dikirim oleh yamin pada 23/04 07:30 AM bukan kah di surat al quran sudah di beri tahu bahwa tahun kelahiranya beliau pada tahun gajah,,mengapa masih blum ada kepastian #44. Dikirim oleh nasrudin pada 23/04 12:01 PM kalo tidak ada rasulullah,tidak akan ada al quran jadi memperingati maulid nabi dan merayakan maulid nabi itu tidak mengapa…hanya orang yang tidakmengerti agama saja yang mengatakan itu bidah #45. Dikirim oleh kurin pada 23/04 12:04 PM Klo saya tidak pernah memperingati hari kelahiran nabi manapun…karena tidak penting! Yg penting bagaimana kita mengimplementasikan perbuatan kita sesuai dengan yg ada dalam kitab2 yg dibawa oleh mereka baik torah, injell dan quran. Saya bukan umatnya musa, isa atau muhamad tp umatnya tuhan. Peace #46. Dikirim oleh suga pada 24/04 03:06 AM Agaknya bagi kita umat islam tidak perlu mempersoalakan kapan Nabi Muhammad Saw lahir itu lahir.Selain hanya sekedar menghabiskan energi jga melelahkan pikiran.Gunanya tidah ada. #47. Dikirim oleh Nirafdi pada 25/04 07:12 PM saya kira kapan lahirnya nabi Muhammad Saw itu tidaklah penting.Yang lebih penting sebenarnya adalah bagaimana ajaran yang dibawa eleh Rasulullah itu dapat diamalkan dengan sungguh sungguh. Sehingga setiap nafas kehidupan itu disandarkan pada alquran dan Hadits,yang merupakan sumber pokok ajaran dari Islam itu sendiri. Saya merasa umat islam yang ada di Indonesia ini lebih mengutamakan simbolisasi islam dari pada makna islam itu sendiri.Cobalah renungkan betapa banyak disekitar kita orang-orang mendengungkan kalimat-kalimat suci dan pujian-pujian ke pada Allah Swt tampa dia mengerti apa yang diucapkannya. #48. Dikirim oleh Nirafdi pada 26/04 02:58 AM

Kelahiran Rasulullah SAW sudah sangat jelas adalah suatu RAHMAT dari Allah untuk kita yang sesungguhnya bukan hanya umat muslim saja, tetapi manusia. kalau sudah disebut manusia berarti seluruhnya yang merasa manusia. Karena kelahirannya merupakan rahmat bagi alam semesta dan kelahirannya merupakan hari ketentuan Allah (hari Allah), maka kita sebagai hamba Allah yang mana nama Nabi Muhammad SAW senantiasa disandingkan dengan nama Allah wajib bersyukur dan memperingatinya. Apabila kita tidak mau bergembira, mengingat, dan bersyukur atas kelahirannya, maka patutlah kita disebut orang yang TIDAK BERTERIMA KASIH atau orang yang TIDAK BERSYUKUR atas RAHMAT ALLAH ! Rasulullah SAW memang tidak pernah merayakan ultahnya secara besar-besaran, akan tetapi beliau senantiada bersyukur atas kelahirannya dengan berpuasa setiap hari Senin.Abu Lahab (paman beliau) adalah seorang penghuni neraka hingga hari ini (krn Abu Lahab membantah dengan ajaran beliau), akan tetapi setiap hari Senin siksa Abu Lahab diringankan sehingga Abu Lahab dapat merasakan nikmatnya air untuk diminum yang keluar dari jari jemarinya krn pada saat Rasulullah SAW dilahirkan Abu Lahab merasa bahagia dan senang atas kelahiran beliau, sehingga budaknya dibebaskan (krn yang membawa khabar adalah budaknya), itu hanya merasa senang atas kelahiran beliau sehingga turunlah Surat Tabbat. Jadi menurut saya org yang menyepelekan kelahiran beliau adalah orang yang picik, pelit, mendit, kikir, bakhil. Jelasnya tidak pernah berterima kasih dan bersyukur atas RAHAMAT ALLAH SWT. #49. Dikirim oleh Surya pada 28/04 05:44 AM Agaknya, kita perlu memperbaiki cara kita beragama. Terbukti, dalam pro dan kontra tentang maulid Nabi, dasar argumentasi kurang dapat dipertanggungjawabkan di dunia dan di akhirat. Pertama, Allah berfirman, “Inkuntum tuhibbunallaha fattabi’uunii, yuhbibkumullaahu wayaghfirlakum dzunuubakum”. Apabila kalian mencintai Allah, maka ikutilah aku (aku disini berarti Muhammad Rasulullah, yakni As-Sunnah), maka (bila kalian mengikuti Muhammad Rasulullah)Allah akan mencintai kalian dan mengampuni dosa-dosa kalian”. Rasulullah bersabda, “..waintamassaktum bihimaa, tantadhilluu, kitabullah wasunnatii”. Apabila kalian berpegang teguh keduanya, maka kalian tiada akan sesat, kitabullah (A-Qur’an) dan sunnahku (Al-Hadist). Nah, sebagai kaum muslimin, kita wajib menyampaikan nasehat yang haq dan dengan penuh kesabaran (watawashau bil haq watawashau bish shobr). Untuk itu, perlu ummat Islam mengetahui, bahwa sejak Nabi Muhammad SAW masih hidup, beliau tidak pernah memperingati hari kelahirannya, baik secara sederhana maupun secara beramai-ramai. Bila memang peringatan hari lahir itu penting dan disyari’atkan, pasti Rasulullah melakukannya. Jadi, memperingati hari lahir Nabi, sama dengan mengamalkan sesuatu yang tidak diperintahkan. Demikian pula pada masa sahabat, tak seorang pun yang mengamalkannya. Itulah kepatuhan para sahabat Rasulullah, para tabi’in dan para tabit tabi’iin. Bila kita melakukannya, berarti itu bid’ah, menambah urusan agama, dan tiap bid’ah itu sesat, dan tiap sesat itu masuk neraka. Rasulullah beersabda, “Kalian akan mengikuti jejak ummat sebelum kalian (baca Yahudi dan Nasrani) sesejengkal demi, sejengkal hingga bila mereka itu masuk lubang biawak-pun, niscaya kalian mengikutinya”. Sabda Rasulullah ini, kemudian terbukti, dan dalam hal peringatan maulid, terbukti setelah 300 tahun. Peringatan hari ulang tahun itu kebiasaan kaum Nasrani, berupa peringatan natalan, hari lahir Yesus. Dalam sejarah, peringatan itu baru dilakukan pada 300 tahun setelah hijrah. Inilah mulai bid’ah itu. Dalam Kitab Shahihain disebutkan, nanti di akhirat, ada segolongan kaum yang sepertinya ummat Muhammad, maka Nabi berseru “ummatii, ummatii”. Kemudian diserukan pada beliau, “Muhammad, kamu tidak mengetahui apa yang mereka amalkan sepeninggalmu”. Hadist ini mengisyaratkan agar ummat Islam berhati-hati dalam mengamalkan ajaran Islam. Jangan sekali-sekali mengamalkan yang tidak dicontohkan oleh Muhammad Rasulullah. Karena implikasi dari ajaran ini adalah di akhirat nanti. Jadi, agama itu sebagai ajaran, selesai saat diwahyukan ayat terakhir,—seusai haji wada’—“al-yauma akmaltu lakum diinakum, ...dst”.

Adapun kalimat seperti yang saudaraku tulis, yakni Surya, yang menulis: “Jadi menurut saya org yang menyepelekan kelahiran beliau adalah orang yang picik, pelit, mendit, kikir, bakhil. Jelasnya tidak pernah berterima kasih dan bersyukur atas RAHAMAT ALLAH SWT.” Pendapat seperti ini, hanya didasarkan pada akal semata. Maksudnya tidak didasarkan pada Hadist Sahih. Jadi, tidak dapat dipertanggungjawabkan dunia dan akhirat. Maksudnya, apabila Saudara Surya mengajak orang lain untuk mengamalkan peringatan maulid Nabi, apakah dia berani bertanggungjawab akibatnya didepan Allah nanti di Hari Kiamat? Hari Kiamat itu “yaumud dien” dan yang merajai di hari itu adalah Allah SWT. Maka, kalimatnya di Surah Al-Fatichah, “Maaliki yaumid dien”, yang Merajai di Hari Agama. Oleh karena itu, dalam mengamalkan ajaran agama Islam, saya lebih memilih yang dapat dipertanggungjawabkan di dunia dan di akhirat, yakni berdasar Al-Qur’an dan As-Sunnah. Namun demikian, apabila Saudaraku Kaum Muslimin ada yang mengetahui dalilnya dari hadist Rasulullah, tolong disampaikan dalam media ini. Namun, apabila akal-akalan saja, tidak usah disebutkan, bisa menyesatkan. Orang yang menyesatkan akan menanggung dosanya di hari akhirat. Astaghfirullaahal ‘adhiem. #50. Dikirim oleh isoelaiman pada 28/04 08:29 AM 12 Robiul Awal 53 s.H (sebelum hijriah) yang bertepatan pada tgl 22 April 571 M adalah jatuh pada hari Rabu (Pon). Padahal hari lahir beliau yang diyakini selama ini adalah hari Senin. Jadi tepatnya hari kelahiran beliau adalah bertepatan dengan hari Senin (Legi), tgl 10 Robiul Awal 53 s.H yang bertepatan dengan tgl 20 April 571 M. Kalau tgl wafat beliau memang hari Senin (Legi) tgl 12 Robiul Awal 10 H atau 17 Juni 631 M. Jadi usia beliau adalah 63 th menurut perhitungan kalender hijriah atau 60 th menurut perhitungan kalender masehi. Menurut saya penetapan tgl hari lahir nabi tsb ditentukan dikemudian hari jauh setelah tgl lahirnya karena ketika lahirnya Muhammad belum menjadi orang yang banyak dikenal beda ketika wafatnya. Sehingga ketika hari wafatnya banyak orang yang mengenang bahkan mencatatnya dan kemudian orang menyama2kan tgl wafatnya dengan tgl lahirnya, ya tentu saja akan menjadi tidak tepat. #51. Dikirim oleh immx pada 01/05 10:40 AM JANGAN ASAL NGOMONG BID’AH SITU TAHU TIDAK ARTINYA, JANGAN MUNAFIK SITU MAEN INTERNET JUGA BISA BID’AH. SOK YAKIN YANG MASUK SURGA…............. #52. Dikirim oleh Syech pada 03/05 01:15 PM masih banyak masalah yang lebih besar lagi berkenaan dengna kemaslahatan bangsa, bukankah banyak tokoh-tokoh yang toh hari,tanggal dan tahun kelahirannya masih diperselisihkan ? kenapa kita musti menyita banyak waktu untuk urusan yang kurang urgen #53. Dikirim oleh kang hari pada 05/05 09:42 AM bid’ah ya, tapi bid’ah hasanah (yang baik).the point is “Dalam setiap acara peringatan hari lahir nabi itu kita selalu mendapat tausiah agama, membuka ladang amal bagi umat untuk bersadaqah, serta menambah wawasan tentang sejarah hidup nabi. sehingga kita bisa mengambil ibrah (pelajaran) darinya. jadi pembahasan sejarah nabi itu ya penting juga, tapi harus berdasarkan fakta-fakta sejarah, oral histori,dsb. yang tentunya setelah dikritisi dulu sumbernya, baik intern maupun extern. #54. Dikirim oleh dede setiawan pada 06/05 07:43 AM Islam adalah rahmat. Neraka adalah tempat terakhir bagi orang2 yang tak mau menerima rahmatNya. Kelahiran memang merupakan berkah. Sah-sah saja bagi seseorang untuk memperingati hari lahirnya. Tapi ketika kita berbicara tentang orang nomor satu di alam ini, tidaklah bisa kita perlakukan seenaknya. Harus ada dasarnya. So, karena di Al Qur’an tidak ada perintahnya maka janganlah kita lakukan bila ingin merealisasikan ajaran Islam secara kaffah. #55. Dikirim oleh Edwinvai pada 07/05 04:56 AM ULTAH NABI MUHAMMAD? Why not? bagi saya, secara pribadi tidaklah menjadi permasalahan jika peringatan nabi itu diraayakan? yang penting janganlah dianggap bahwa maulid nabi merupakan suatu bentuk ibadah yang akan mendatangkan pahala. karena sampai saat inipun belum ditemuin tuh hadits yang menyatakan bahwa nabi Muhammad sendiri memperingati kelahiraannya.kalau memang nabi pernah memperingati kelahirannya sendiri bisa-bisa umatnya semua ikut-ikutan tuh! So tekankan dalam diri kita dan berikan pemahaman kepada orang lain bahwa maulid Nabi bukanlah ibadah! yang jelas dengan peringatan itu mudah-mudahan akhlak Nabi bisa diteladani sama kita-kita! Ga ada yang salah kan #56. Dikirim oleh ahmad widianto pada 09/05 06:26 AM bagi penganut agama islam yang mutlaq ikutilah apa yang telah diwasiatkan oleh nabi Muhammad S,A,W,kepada kita.KAMU TIDAK AKAN SESAT BUAT SELAMA-LAMANYA jikalau kamu berpegan teguh dengan apa yang kutinggalkan kepada kamu.IAITU AL-QURAN DAN SUNNAH….... seandainya kita mengikut akal semata2 untuk membuat sesuatu nescaya kita akan menemui kecelakaan,kerana akal itu dipengaruhi oleh nafsu yang buas dengan keinginan.sungguh sayang sekali ilmu tinggi tetapi digunakan kepada yang salah.tidakkah kita takut dengan kermukaan ALLAH S,W,T…... #57. Dikirim oleh saya pada 10/05 01:06 PM

Benar bhw ada khilafiah ttg wkt klahiran Kanjeng Nabi Muhammad. Bnr pula bhw tdk ada dalil qoth’i ttg perayaan maulid. Mungkin bnr juga bhw perayaan maulid bkn ibadah. Yg nyata bnar adalah bhw dlm maulid ada sholawat, sodaqoh, tausiah bilhaq, syukur & ta’dzim ats Rosul. Dan tentu bnr bhw itu semua adalah ibadah. Kalo utk ultah parpol ato almamater kita rela buang uang, wkt, tenaga, sebegitunya! Masak maulid Nabi jd berita yg cukup ditulis d pojok koran? Please dech! #58. Dikirim oleh Abdun.Mufsid.Abshara pada 15/05 09:12 PM Rasululloh SAW adalah makhluq Alloh yang paling sempurna diantara makhluq Alloh yang lainya . dan tidak akan ada diciptakan makhluq yang lainnya kecuali karena menyambut kehadiran sang pemimpin seluruh makhluq di muka bumi ini . #59. Dikirim oleh Muhammad Izzuddin pada 21/05 02:46 PM ada artikel yang saya tulis di www.kapulu.wordpress.com tentang analisa kelahiran nabi muhammad pada ayat alquran. Assalamualaikum ww. Wis..sudahlah…buat apa kelahiran Nabi Muhammad yang diributkan, bagi yang mau merayakannya mari kita hargai,yang ngga mau ya ngga usah ributlah…Banyak Bid’ah besar yang jaman Nabi Muhammad ngga ada. Naik Mobil Mewah - Mersi, itu juga bid’ah…Internet juga bid’ah…so what gitu loh. Mari saling menghargai, lakukanlah ibadah yang sesuai dengan keyakinan kita masing2. Kalau diskusi tentang Muhammad, jangan didiskusi malasah Natal, Yesus..? melenceng. Agama Islam ngga bisa disamakan dengan Agama lainnya. juga ngga bisa disamasamakan, jangan dicampur adukan. Wassalamualaikum ww. #61. Dikirim oleh kamal pada 14/06 04:36 PM sederhananya, mau pendapat (baca:teori) ABCDE dll ampe muluk2, yg penting prakteknya sehari2. yuk kita laksanakan bareng2. klo gue trus trang masih lum spurna. gue orang yang g pinter2 amat (malah cenderung bodo kalee. malah dulu sempet buta hurup.hehee). seperti bunyi hadist “islam terpecah menjadi 72 golongan, cuma 1 yg lulus masuk surga, ahlu sunah wal jamaah”.(eh.. bener gitu ya bunyina??kok jd lupa2 ingat). yaitu mereka yang mempraktekan, bukan sekedar berteori. #62. Dikirim oleh heri pada 19/06 07:56 PM kalau ga ada tanggal pasti kpn beliau dilahirkan, ya sudahlah.,.,.,apalagi kelahiran yang diperbincangkan hanyalah seputar kelahiran fisik bukan kelahiran ruh Muhammad itu sendiri.

thanx #63. Dikirim oleh Tatang pada 22/06 12:08 PM Alloh tuhan kami yang Esa!! Rosululloh teladan kami!!! ISLAM ADALAH SATU!!!! mari bersatu padu umat islam!! mari kita kembali kepada Al-Qur’an dan Al-hadits yang shohih!! #64. Dikirim oleh iyan pada 29/06 03:34 AM peringatan maulud nabi diadakan supaya kita bisa mengambil tauladan dr kehidupan Rasullulah SAW.Apa salahnya?karena kita hidup dizaman rusak dengan peringatan itu kita punya tokoh yg bisa kita contoh perilakunya.Yg berpendapat peringatan itu bidah sy anggap pikirannya sempit.sok pintar agama tapi terlalu dangkal pengetauan agamanya. #65. Dikirim oleh agus triwibowo pada 06/07 06:05 AM Kapan Muhammad SAW Lahir? 12 rajab kapan yesus kristus lahir? .... kapan sidharta gautama lahir? .... #66. Dikirim oleh gege pada 10/07 04:05 AM Maen internet dll bukan ibadah jadi ga msk bidah sah-sah aje boss,tenang sekarang serahkan pada Allah swt.

#67. Dikirim oleh Lufham pada 16/07 03:50 PM mau tgl brp aja gak masalah, yg ptg apa qt jadi pengikutnya beneran apa gak, kayak: iman, ibadah n akhlak hidup harian… sami’na wa atho’na (bukan sami’na wa ‘ashoina) #68. Dikirim oleh endut pada 21/07 08:42 AM kpn lhrnya nabi Muhammad, ngk jd mslh, jng iri dng umat nasrani yg mrayakan klahiran Isa Al masih pd 25 desember, nabi Isa tdk merasa drinya d rayakan, seandainya Nabi isa ad d bumi maka seluruh umat nasrani bakal d jewer telinganya oleh nabi Isa. #69. Dikirim oleh Ady nugrohn pada 26/07 03:29 AM Allah hanya satu, Agama yang diridoi cuma satu, Pemimpin juga harus satu, Sekarang siapa pimpinan (imam) Islam supaya bumi ini indah dimata-Nya ? #70. Dikirim oleh merizon pada 29/09 07:41 AM klo org islam tentu akan melihat qur’an dan hadist-hadist shahih… #71. Dikirim oleh udin pada 15/10 03:47 AM Masak seh kumpul sesama muslim, silaturahmi sambil dengerin pembacaan ayat suci Al-qur’an, Dengerin ceramah agama n dilengkapi do’a Gag boleh..? Ga semua masyarakat Indonesia pinter Agama and rajin baca buku loh!! salah satu akses bagi mereka memperdalam pengetahuan agama ya lewat Maulid itu.. Jangan anggap maulid sebagai ibadah karena maulid memang bukan ibadah!! tapi kalau tujuan kita baik insya Allah akan dihitung bernilai ibadah oleh Allah.. #72. Dikirim oleh Belanda Depok pada 23/10 05:05 AM Muhammad yang sungguh luar biasa. Kekasih pilihan Allah, Tuhan semesta alam. Pemimpin manusia. Segala raja dari penjuru dunia takluk dengan akhlaknya. Kekayaan dunia Allah tawarkan baginya, tapi taqwa dan cinta kepada Tuhannya adalah segalanya. Berpesta ria memperingati hari kelahiran adalah tindakan bodoh. Suatu hal yang tidak pernah dicontohkan oleh Nabi SAW. #73. Dikirim oleh Lusimin pada 06/01 11:42 AM ingin sekali saya bukukan semua komentar diatas, sayang data mengenai beberapa penulis ada yang tak jelas, dan ternyata ketidakjelasan bukan cuma ada hari ini, bermula dari kelahiran sang Nabi saw ketidakjelasan adalah bagian dari kita, dari semua komentar yang ada mungkin hanya beberapa yang positif berfikir untuk berusaha mencari kejelasan mengenai hal itu, dan the rest of adalah mereka yang bersibuk dengan bid’ah, kebiasaan kafir, kelahiran fisik dan segala ungkapan yang cuma tunjukan bahwa ” al Islami mahjubbun bil muslimin ” adalah benar adanya. #74. Dikirim oleh Iwan CH pada 09/01 11:50 PM muhammad adalah kekasih yang dipilih tuhan untuk menunjukan para umatnya kejalan yang benar..dialah yang membawa umatnya dari jaman kejahiliaan ke jaman yang terang menerang sperti sekarang ini…dialah seorang nabi yang baik budi pekertinya petunjuk bagi orang2 yang bertaqwa..mengajarkan hal2 yang baik dan mengajak umatnya untuk beribadah ke jalan allah swt… #75. Dikirim oleh tuunnn pada 17/02 01:33 PM Kalau saya sih gak pusing. Karena dalam peringatan Maulid Nabi SAW yang dilakukan adalah ceramah siraman rohani mengenai kisah kehidupan Rasulullah SAW dan silaturahmi. Dan saya tidak pernah menganggap itu ibadah ritual. Mengenai asal usulnya peringatan ini, saya sependapat dengan saudara isoelaiman, bahwa hal itu berawal dari sayembara yang diadakan oleh Sultan Salahuddin Al Ayubi untuk menggelorakan kembali semangat pasukan muslim yang mengalami kekalahan dalam perang salib. Itu dilakukan setelah Sultan Salahuddin mengamati bahwa pasukan Salib di jaman itu setiap selesai merayakan Natal, semangatnya kembali menggelora, dan memenangkan pertempuran. Singkat cerita, setelah diadakan sayembara, pemenangnya adalah seorang muslim berkebangsaan Perancis bernama Albarzanc (tolong dikoreksi penulisannya). Buku kumpulan pujian terhadap Rasulullah SAW yang ditulisnya dibahasa Indonesia-kan menjadi Barzanji. Jadi tujuan awalnya itu bukan untuk ibadah, tetapi lebih pada pengingatan kembali akan teladan kehidupan Rasulullah SAW, sebagai bagian dari strategi agar semangat pasukan muslim tidak kendor dalam pertempuran di jaman itu. Peperangan itu adalah akibat persaingan politik antar bangsa waktu itu yang oleh segelintir orang yang tidak toleran diperalat dan dijadikan perseteruan antar umat beragama. Bahkan sampai sekarang masih ada yang mengikuti pendapat tersebut. Di kalangan muslim ada yang beranggapan bahwa setiap yang dari barat pasti adalah musuh dan di kalangan bangsa barat ada yang beranggapan bahwa setiap yang dari Islam musti dicurigai. Saya gak ngerti dengan orang yang bilang perayaan maulid itu bid’ah dalam artian penyelewengan ibadah. Apa sih maunya? Penyelewengannya di mana? Saya ngerti bid’ah itu berarti sesuatu hal yang baru, hal yang diadakan kemudian. Katanya sholat tarawih 23 raka’at baru ada di jaman Khalifah Umar bin Khattab. Itu sesuatu yang baru. Musabaqah tilawatil qur’an itu juga sesuatu yang baru. Juga mushaf Utsmani adalah sesuatu yang baru. Tetapi ini kan tidak dikategorikan bid’ah dhalalah. Dan bukankah ketika akan dibuatnya mushaf Utsmani, juru tulis Rasulullah SAW sempat menolak karena menganggapnya hal yang tidak pernah dilakukan oleh Rasulullah SAW? Kenapa hal-hal tersebut tidak dikategorikan sebagai penyelewengan? Katanya karena itu tergolong bid’ah hasanah. Dan orang-orang yang tidak melakukan sholat tarawih 23 raka’at tidak pernah menghina orang-orang yang melakukannya. Yang tidak setuju dengan musabaqoh tilawatil qur’an juga tidak pernah menghina para qori dan penyelenggaranya. Lalu mengapa dalam hal maulid ada penghinaan semacam kata bid’ah itu (dalam artian

penyelewengan?) Apa karena phobia terhadap perayaan kelahiran yang dianggap berasal dari budaya barat? Bagaimana kalau peringatan itu diubah menjadi sekedar ceramah tentang sirah nabawiyah tanpa embel-embel perayaan hari kelahiran dan juga waktunya pun tidak mesti bulan rabiul awwal? Apa masih tetap bid’ah? Kalau misalnya ada yang melakukan ceramah, menceritakan kisah sirah nabawiyah, apakah itu bid’ah? Bukankah isi kitab Barzanji itu, yang sering dibaca (di perkotaan sekarang sudah jarang disertakan) ketika peringatan maulid adalah puisi pujian terhadap Rasulullah SAW? Saran saya kepada yang mengatakan itu bid’ah, lebih baik adalah bukan asal bilang bid’ah. Tetapi beri penjelasan yang baik dan mencerahkan, bukan bernada mencemoohkan dan merendahkan yang merayakannya. Mana akhlak yang dicontohkan Rasulullah SAW dalam berdakwah? Bukankah lebih baik menganjurkan masyarakat untuk mengkaji sirah nabawiyah setiap saat jika ada kesempatan tanpa harus menunggu bulan Rabiul Awwal? Selain itu, isi kitab Barzanji sebaiknya diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia agar masyarakat yang gak ngerti bahasa Arab juga mengerti isinya. Bukankah kita dianjurkan untuk berdakwah dengan cara yang baik? Mohon jangan hanya bisa bilang bid’ah sekedar mengekor dari ketuanya/gurunya/ustadznya yang mengatakan itu bid’ah tanpa pernah tanya apa solusi dari hal semacam ini dan menjelaskan dengan baik kepada yang awam. Lebih baik diam, karena setiap tingkah laku anda jangan sampai menimbulkan citra jelek terhadap agama Islam. Hal yang baik jika disampaikan dengan cara yang buruk, akan ikut menjadi buruk. Ibarat pepatah, karena nila setitik rusak susu sebelanga; jangan sampai karena segelintir orang yang menyampaikan ajaran Islam dengan cara yang tidak baik, maka ajaran yang baik ini menjadi tercemar namanya. Marilah berdakwah dengan baik sesuai dengan akhlak Rasulullah SAW. #76. Dikirim oleh muhammad hakim pada 25/02 05:52 PM ya tuhan ijinkan q untuk bisa berziarah ke rumah yang pernah dibangun oleh kekasihmu #77. Dikirim oleh alehudin al-lomboki pada 28/02 05:50 AM Muhamad saw adlh pemimpin para nabi.Ia adalah manusia, tp tdk seperti sifat manusia pd umumnya. Akhlaknya adlh al quran. Oleh sbb itu Sejarah hidupnya perlu dikaji secara benar.Agar bs dijadikan ibrah/pelajaran dlm menapaki hidup ini.Mencintai dan Mengagungkannya suatu keharusan. “Barang siapa yg mencintaiku maka ia akan bersamaku d surga.[al-Hadist] #78. Dikirim oleh Al-weezra pada 19/03 08:15 AM Don’t you know that it is the best time to get the <a >credit loans</a>, which can help you. #79. Dikirim oleh RosannaRamos20 pada 04/09 07:56 PM Ah perbincangan yang tidak bermutu. Bandingkan agama islam di Arab (Saudi) dengan Indonesia. Kelihatannya Islam di Indonesia lebih Islam dari Arab Saudi. Kalau kalian percaya Islam dan Quran, percayalah seperti penganutnya di Arab (Saudi), karena bahasa Quran seperti sudah bahasa mereka. Di Indonesia Islam sudah tercemar karena Do’i atau penceramah atau Kiayi yang ngawur, yang banyak ajarannya yang tidak cocok dengan ajaran Islam sesungguhnya. Bagaimana ada yang protes ?, kalau kalian tidak mempercayai agama Islam yang di Arab sana, ya sudah bikin agama tersendiri dan jangan bawa bawa embel ember Islam. Sebagai contoh Jemaah Liberal (tanpa Islam), Jemaah Ahmadiah (tanpa Islam), dan lain lain. Bagaimana bang Ulil ? Khadijah Tak Berpuasa Ramadan Oleh Abdul Moqsith Ghazali Dari kupasan itu kita tahu bahwa sejumlah Sahabat Nabi banyak yang meninggal dunia tanpa menjalankan puasa Ramadan. Khadijah binti Khuwailid, isteri Nabi Muhammad, pun tak pernah menjalankan puasa Ramadan. Bahkan, Khadijah juga tak sempat menjalankan shalat lima waktu, juga zakat, karena semuanya disyariatkan ketika yang bersangkutan sudah meninggal dunia. Sebagian besar agama mengenal tradisi puasa atau pantang. Ada banyak ragam puasa yang diperkenalkan agama-agama. Dalam al-Qur’an (Mariam [19]: 26) disebut bahwa Bunda Maria (Siti Mariam) bernazar puasa untuk tak bicara dengan manusia manapun. “Inni nadzartu li al-rahman shawma fa lan ukallima al-yawma insiya” (Sesungguhnya aku telah bernazar berpuasa untuk Tuhan Yang Maha Pemurah, maka aku tidak akan berbicara dengan seorang manusiapun pada hari ini). Puasa juga bisa dalam bentuk tak melakukan hubungan seksual. Jika umat Islam pantang melakukan kontak seksual pada siang bulan Ramadan, maka para Romo dan Pastur Katolik berpuasa dari hubungan seksual sepanjang hayat atau selama yang bersangkutan masih menjadi pastur. Bentuk-bentuk puasa kian banyak dijumpai jika kita memperhatikan adat dan tradisi. Ada puasa dengan tidak makan dan minum selama tiga hari tiga malam. Sebagian masyarakat juga mengenal tradisi pantang memakan “yang bernyawa”, seperti hewan, ikan, dan lainnya. Sebagaimana agama lain, Islam pun mensyariatkan puasa. Bentuknya adalah dengan tak makan-minum dan menahan hubungan seksual di siang hari. Dalam periode Mekah, umat Islam menjalankan puasa tiga hari dalam setiap bulan plus puasa Asyura. Dalam Shahih Bukhari (hadits ke-1893) disebutkan bahwa masyarakat Arab pra-Islam sudah biasa melakukan puasa Asyura. Orang-orang Yahudi saat itu juga berpuasa pada hari Asyura, karena hari itu diyakini sebagai hari diselamatkannya Nabi Musa dari kejaran dan ancaman bunuh Fir’aun. Begitu Islam datang, Nabi Muhammad memerintahkan umat Islam untuk puasa Asyura. (Al-Qurthubi, al-Jami’ li Ahkam al-Qur’an, Jilid I, hlm. 660).

Dengan demikian, ibadah puasa sebetulnya didasarkan pada syari’at sebelum Islam (syar’u man qablana). Al-Qur’an (al-Baqarah [2]: 183) menyebutkan, “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kalian berpuasa sebagaimana diwajibkan atas umat sebelum kalian, supaya kalian bertakwa”. Sejumlah referensi menjelaskan bahwa Islam dalam fase Mekah tak mengenal puasa Ramadan. Puasa baru disyariatkan dalam periode Madinah. Menurut al-Juzairi, puasa Ramadan diundangkan tanggal 10 Sya’ban tahun kedua Hijriyah, atau 1,5 tahun setelah hijrah (Abdurrahman al-Juzairi, al-Fiqh ‘ala al-Madzahib al-Arba’ah, Juz I, hlm. 416). Menurut Syatha alDimyathi dalam I’anah al-Thalibin (Juz II, hlm. 215), selama 10 tahun tinggal di Madinah, Rasulullah SAW menjalankan puasa Ramadan hanya sembilan kali. Satu tahun pertama di Madinah, puasa Ramadan belum disyariatkan. Pada tahun itu, Nabi Muhammad dan umat Islam masih menjalankan puasa Asyura, melanjutkan kebiasaan puasa Asyura selama 13 tahun di Mekah. Dengan demikian, selama 14 tahun, Islam berjalan tanpa puasa Ramadan. Dari kupasan itu kita tahu bahwa sejumlah Sahabat Nabi banyak yang meninggal dunia tanpa menjalankan puasa Ramadan. Khadijah binti Khuwailid, isteri Nabi Muhammad, pun tak pernah menjalankan puasa Ramadan. Bahkan, Khadijah juga tak sempat menjalankan shalat lima waktu, juga zakat, karena semuanya disyariatkan ketika yang bersangkutan sudah meninggal dunia. Namun, kita tak perlu panik dan masygul. Khadijah tetap akan masuk surga walau tanpa shalat, tanpa zakat, dan tanpa puasa Ramadan. Tuhan Khadijah (tentu Tuhan kita semua) adalah Tuhan inklusif yang akan memasukkan hamba-hamba-Nya yang beriman dan beramal saleh seperti Khadijah ke dalam surga. Wallahu A’lam bi al-Shawab. 05/08/2010 | Editorial, | # Komentar Komentar Masuk (50) (Tampil maks. 5 komentar terakhir, descending) Hahahaha… Ya iyalah… Shalat 5 waktu turun setelah Khadijah meninggal. Kalo shaum Ramadhan juga setelah di Madinah… Hahahaha GJ lu… :p

Namanya juga Jaringan Islam yang Lebay…!!!

Bangga banget sih… Geli dah gua… hahaha Posted by Eka YN on 08/02 at 09:56 AM Bilang aja kalo cak dul moqsith pengen ga puasa, gpp kok. Ponakan saya hingga sekarang ada juga yang belum puasa. Posted by stankoviç on 08/02 at 09:36 AM buat P’ Moqshit en de geng, jika menurut anda semua agama itu(selain islam) benar dan akan masuk syurga, maka jika anda seorang muslim saya men-changelenge anda untuk segera meninggalkan agama islam dan beralih ke agama lain yang menurut anda semuanya benar, saya men-challange anda untuk membuktikan teori2 anda, karena teori tanpa praktek adalah omong kosong, bagaimana beranikah anda ? Posted by abdillah on 02/22 at 12:56 PM Dalam hal agama (keyakinan) kok minta bukti, paling2 ya kata orang, kata buku, kata kyai, kata ulama dsb. Hanya saja karena terdapatnya banyak sumber yang membahas suatu permasalahan, maka diperlukan logika dan setiap orang (tanpa dibatasi)diberi kebebasan untuk menafsirkan. Jadi kisah2 dalam agama manapun tidak akan bisa dibuktikan, sehingga hanya ada 2 kemungkinan yaitu bisa benar dan bisa salah. Jadi, tinggal yakin atau tidak. Tapi perlu diingat, bahwa antara yang yakin dan tidak yakin tidak boleh dibenturkan karena hanya akan mendatangkan malapetaka saja. Posted by Sampurna on 12/18 at 08:18 PM Secara sosial atau sejarah pasti ada penjelasan, agama yang dianut oleh Rasullah sebelum diberi nama Islam, yang juga merupakan revisi, penyempurnaan atau kembali ke ajaran Ibrahim. Beberapa sejarahwan mengatakan bahwa Kristen Nestorian adalah agama yang dianut Rasullah.Tentu saja wajar kalau Katijah belum berpuasa. Kembali kepada hakekat puasa mungkin perlu dikembangan puasa sebagai dimensi sosial, toleransi,humanisme karena pengetahuan manusia semakin luas, batas batas hubungan manusia juga semakin luas. Ketika umat Islam menjadi besar dan kuat sekarang ini maka tantangan kita menahan diri dari sikap arogan terhadap mereka yang tidak berpuasa . Jika dahulu ada slogan “hormati orang berpuasa, sekarang slogannya adalah menghormati orang yang tidak berpuasa.Puasa hanyalah untuk Allah dan bukan dipersembahkan kepada manusia, ia bersifat pribadi, privat , rahasia dan tersembunyi dari siapapun. #1. Dikirim oleh abujasmine pada 08/08 12:36 PM kutipan ayat2 yg memuat ucapan siti maryam apakah tdk salah, mengapa beliau bicara bahasa arab?, bukankan siti maryam orang yahudi/bani israel?, sejak kapan bani israel bicara dgn sesama yahudi dgn bhs arab?

#2. Dikirim oleh Pangesti Sejahtera pada 08/08 07:49 PM Cerita awalnya sudah bagus, tetapi kesimpulannya seperti tidak runtut dengan cerita awalnya. Kalau solat, puasa dll itu belum disyariatkan ya tidak ada kewajiban untuk melaksanakannya. Dalam editorial ini Mas Moqsit seakan menyatakan bahwa kaum Muslimin tidak solat pun tidak apa-apa walaupun sudah disyariatkan. #3. Dikirim oleh Kunrat Wirasubrata pada 09/08 05:04 AM Iya, saya mau bertanya satu saja tentang dimensi sosial berpuasa. Kenapa berdasarkan pengalaman, di banyak daerah orang-orang yang berpuasa itu minta dihormati oleh orang lain yang tak berpuasa dan memaksa tutup warung-warung makan yang buka selama bulan puasa? Bukankah orang-orang yang tak berpuasa itu mungkin saja bukan muslim yang mungkin lagi berdinas ke daerah tsb? Sedangkan warung-warung makan yang buka itu adalah karena mereka sedang mencari nafkah hidupnya? kebanyakan warung yang digerebeg itu adalah warung-warung sederhana. Dimanakah jadinya letak dimensi sosial puasa? #4. Dikirim oleh Anton Isdarianto pada 09/08 03:35 PM Kesimpulan tulisan ini perlu diperjelas supaya tidak ditafsirkan oleh orang awam bahwa umat Islampun tidak perlu sholat dan puasa untuk bisa masuk surga, kendatipun hal tersebut sudah disyariatkan. #5. Dikirim oleh abu nailah pada 10/08 01:42 AM Pak Muqsith, so what? #6. Dikirim oleh irman pada 10/08 03:32 AM tidak sempat = tidak mau?

*agar para pembaca lebih cerdas #7. Dikirim oleh mahasiswa pada 10/08 06:47 AM Mayoritas Ummat ini masih tergolong Awwam,,,kalau mau ya jelaskan Puasa seutuh ajaran Islam,,biar kita punya peran buat pelaksanaan PUASA yang Kaffah menurut islam. BRAVO KANG MUQSITH from Mahad ‘Aly Miftahul Huda #8. Dikirim oleh dodo pada 10/08 07:55 AM Pesan moralnya apa? #9. Dikirim oleh abu raihan pada 10/08 11:01 AM saya mengaji tulisan ini, namun seolah ada beberapa ide awal dari penulis bisa dimasukkan ke pembaca, walaupun pada kenyataanya substansinya sangatlah melebar. contoh masalah kaidah dalam “usul fiqh” yang dibawa penulis “syar’u man qablana”, mungkin masih butuh penjabaran, terimakasih. #10. Dikirim oleh husen pada 11/08 05:11 AM mungkin point-nya adalah, kalau belum disyariatkan memang tidak wajib dilakukan tapi kalau sudah disyariatkan ya harus dilaksanakan, begitu ya pak moqsith? #11. Dikirim oleh fery pada 11/08 12:16 PM assalamualaikum, kalo Allah memasukkan khadijah ke surga ya karena beliau beriman kepada Allah dan soal beliau tidak berpuasa itu kan terjadi karena pada masa beliau belum ada perintah puasa. jika sudah ada perintah puasa niscaya beliau akan menjalankannya. emang soal masuk surga atau neraka itu hak perogratif Allah, contohnya soal kisah pelacur yg memberi makan anjing, tapi itu kan dalm situasi khusus. tapi ya org yg dapat perlakuan khusus itu yg bagaimana? kan ada aturannya. beda kan antara PERINTAH BELUM TURUN dengan TIDAK MAU MENJALANKAN? assalam #12. Dikirim oleh sri pada 14/08 07:19 AM hehehe….repot amat yang nulis ini ya,saya awam aja ah..biar lebih semangat,sholat yuk…jangan lupa puasanya,oh ya zakatnya jangan ketinggalan terus nabung aja buat ibadah haji ke mekkah, kali nyampai umurnya kalo gak ya tabungannya bisa diterusin anak cucu… hehehe, gitu aja kok repot.

#13. Dikirim oleh icam pada 14/08 07:30 PM kalau belum disyariatkan ya tdk dilaksanakan to ya…kalau dah disyariatkan ya baru djalankan. Knp ngomongin Khadijah tak berpuasa? Kalau itu dianggap suatu hal yang tdk baik dari dirinya, bukankah kita tak boleh membicarakan ttg sahabat kecuali yang baik-baik saja? dan sebetulnya itu jga tdk buruk karna memang blum disyari’atkan #14. Dikirim oleh Nizar pada 16/08 08:54 AM Melucu atau apa anda ini ?, anda berharap pembaca luput pada kata2 akhir, dan hanya membaca bahwa khadijah dan sahabat “tidak pernah” melaksanakan puasa ?. astaghfirullah…, bertobat lah kalian semua kaum sipilis ! #15. Dikirim oleh Fauzan pada 18/08 07:07 PM Kalau memang belum di syariatkan memang tidak wajib dilakukan, yang salah ketika sudah disyariatkan tetapi tidak di jalankan. Sepertinya tulisan ini tendensius sekali terhadap Khadijah dan para sahabat, tapi saya justru geli membacanya. Moqsith mungkin sedang kehabisan ide. #16. Dikirim oleh Nast pada 19/08 04:06 AM Sudah..kalau antum ga puasa juga ga pa-pa kan dosa tanggung sendiri..kalau saya mah puasa meskipun antum mengeluarkan jurus siapapun ga puasa..ini perintah ALLAH.. #17. Dikirim oleh Amal pada 19/08 09:28 AM “Khadijah tetap akan masuk surga walau tanpa shalat, tanpa zakat, dan tanpa puasa Ramadan” Tujuan dari tulisam Moqsith Ghazali ini satu : yaitu mencari dalil yang mengabsahkan orang yang tidak puasa. Sekaligus ingin memaparkan bahwa orang yang tidak pusas bisa masuk surga, seolah-olah yang menentukan masuk tidaknya orang adalah Moqsith Ghazali. ...Sayang umat sudah terlalu cerdas untuk diakali oleh kajian liberal yang makin nggak laku semacam ini. #18. Dikirim oleh kholinyok pada 19/08 03:13 PM Bingung baca tulisan diatas, maunya apa ya, mau bikin dalil bahwa tidak puasa, tidak sholat dan tidak berzakat itu tidak apa-apa dan bisa masuk sorga, tuh contohnya siti khodijah dan banyak sahabat nabi…....sebuah dalil yang sangat rapuh. Kok tulisan kayak gene bisa lolos dan dimuat di situs ini. #19. Dikirim oleh tjingkolang pada 19/08 03:53 PM Buatlah semau anda karena anda memang terpaksa harus menulis perkara yang berbeda dengan arus utama aturan agama biar anda dianggap punya nyali oleh orientalis sono sebab punya keberanian berbeda dalam urusan agama ini.Apakah maksud anda mengatakan Khadijah tak puasa?apakah biar dianggap puasa itu suatu perkara yang tidak penting sehingga tak melakukannya tidak dianggap berdosa?Kalau saya suruh anda membaca al-Quran dan Hadids tentang puasa ini, tentu hanya sia-sia saja karena otak anda tidak lagi percaya kepada keduanya.Padahal masalah puasa baik hukum yang berkaitan dengannya disebutkan di sana.Yang benar aja, Pak?Jangan anda bermain-main dengan agama ini. Jangan anda menjadikan agama ini hanya sebagai akrobat ilmiah.Mungkin nanti orang seperti anda juga akan menulis sesuatu yang isinya menggugat Tuhan?Biar kelihatan keren dan berani. Kira2 begitu, ya.Seperti Sumanto al-qurtuby itu yang melegitimasi pelacuran hanya sebatas “daging”.“apa beda telinga dengan zakar karena sama2 daging?katanya dalam sebuah buku.lanjutnya,“kalau dosen boleh cari makan dengan mulutnya, pendakwah boleh cari makan dengan mulutnya, kenapa orang yang ingin menghidupi anak-anaknya tak beleh menggunakan vaginanya untuk melacur cari makan?”.Nampaknya dia menulis spt ini biar kelihatan berani, kali. okelah, silahkan bermain-main dengan agama ini!konsekwensinya tentu anda tahu sendiri. Pasti sang penulis adalah orang yg memiliki waktu luang yang sangat banyak…tulisan2nya sering ga jelas,seperti yang kejar tayang asal ada tulisan yg dibikin hehehe #21. Dikirim oleh Rama Shiddiq pada 20/08 09:42 AM dari sekian bnyk puasa terdahulu yg disyariatkan tuhan bagi umat trdahulu, cuman “puasa”-nya islam yang baik…. sya umat ini hanya menjadikan puasa untuk berfoya - foya saat berbuka, memindahkan jam makan tapi nol makna… padahal puasa yg diinginkan adalah puasa yang berefek sosial… kalo cuman merasakan susahnya menjadi si miskin dan si fakir… cuman cukup sehari saja puasa… mgkn itu yang dikatakan nabi : berpuasa hanya mendapatkan lapar dan haus… duhai…. #22. Dikirim oleh Hdn pada 21/08 01:55 PM

jujur ya mas, saat membaca tulisan ini saya nyaris tidak percaya, opini semacam ini keluar dari mulut sang doktor UIN syarif hidayatullah, syar’u man qoblana aja tidak paham…. gimana bisa tidak mewajibkan shalat, puasa…... alah mas-mas….. kalau ngga mau puasa ya mbok jangan di buat sok ilmiah lah, kalau mau sesat koq mengajak-ajak orang ayo kawan2… kita menjadi muslim yang taat dengan melaksanakan puasa, rajin berjamaah di masjid dan membayar zakat…. #23. Dikirim oleh rijal pada 22/08 01:37 PM dimana beratnya puasa???sedangkan nabi sendiri berkata puasa lebih berat dari perang badar!! #24. Dikirim oleh padepokan pada 22/08 04:12 PM aneh kenapa tidak puasa, sholat dan tidak zakatnya yang ditekankan…pake tetap masuk surga pula ditekankan apa maksudnya?? berarti kita ga perlu sholat, zakat, dan puasa teteap masuk surga?? org yg aneh yg cuma dibayar organisasi barat….demi uang rela menjuual agama sndiri… #25. Dikirim oleh hardy pada 25/08 12:34 AM nabi muhammad hanya mengajarkn islam,bkan islam jama’ah,islam hanif ataupun islam LIBERAL semua i2 sesat,jd kembalilah anda pda ajaran nabi muhammad yg bersumber dg qur’an dan hadist…yaitu ISLAM, Kl anda tdak percy dngn islam ato tdak puas,silakn anda bt agama sendiri tp jngn membawa nama/embel2 ISLAM d ajaran setan kalian #26. Dikirim oleh ykbal malmsteen pada 25/08 03:02 AM Tulisan diatas hanya satu ulasan dari mahluk tuhan yang berakal, dan tidak ada makud buruk, kalo kita juga gunakan akal dalam mencermatinya. Puasa hanya salasatu jalan untuk mencapai taq’wa,seluruh isi al Qur’an merupakan petunjuk untuk mengapainya. #27. Dikirim oleh Abdul Rahim Saleh pada 01/09 03:02 AM haha…, Rempong yang nulis ini, pake otak gak buat judulnya, katanya orang2 berakar, eh…, berakal, #28. Dikirim oleh TheRF pada 01/09 11:54 AM Apa sih tujuan tulisan ini ? judulnya seram tapi isinya tidak berbobot, orang yang tidak sekolah pun tahu bahwa kalau tidak disuruh mengerjakan sesuatu oleh bossnya maka tidak wajib mengerjakannya, so apa manfaatnya tulisan ini ??? apakah ini awal dari tulisan selanjutnya yang akan mulai menyatakan bahwa tanpa puasa juga akan masuk surga? insya Allah tidak yaaa,tolong dibuat tulisan yang lebih berbobot #29. Dikirim oleh syahrial panggabean pada 02/09 05:44 AM Komentar Saya : “Sebuah esai yang dangkal & pragmatis” #30. Dikirim oleh Lars Ulrich pada 02/09 10:21 AM Khadijah Tak berpuasa ramadan, Nabi Muhammad Berpuasa ramadan #31. Dikirim oleh Toriq pada 03/09 03:43 PM Ada beberapa sahabat yang wafat sebelum disyariatkan ibadah puasa ramadhan,So What?, what the points of this article?. Keponakan saya yang kelas satu SD juga tahu. #32. Dikirim oleh Minulyo pada 03/09 04:04 PM artikel ini maksudnya adalah sebuah pancingan untuk bilang bahwa, orang yg tdk menjalankan syariat pun bisa masuk surga, asal menyembah tuhannya. kenapa tdk bilang langsung, krn penulis menyerahkan kpd pembaca untuk mengambil kesimpulan. saya bukan liberal, tp sya tidak menghujat orang liberal dengan cacian seperti komentar2 diatas. diskusi yg sehat lbih seru dan enligtning dr pd caci maki.

#33. Dikirim oleh Waskito pada 11/09 09:10 AM setelah sistem negara kita yang mayoritas beragama muslim menggunakan sistem demokrasi, yang notabene merupakan produk gagal dinegeri penggagas’y sendiri.. setelah perekonomian di negara kita didominasi oleh non pribumi, dan sumber daya alam yang ada dibumi kita, tetapi bukan milik kita… sekarang satu2’y hal yang masih kita punya, kita jaga, dan kita pelihara.. AQIDAH, masih akan di distorsi jg oleh kebudayan2 keparat zionis israil yang dibungkus dengan kemasan menarik berslogan pluralisme dan sekularisme,.. dan yang sangat disayangkan.. mereka mengatasnamakan islam untuk menyebarkan budaya yang bertentangan dengan aqidah itu sendiri.. Duhai Tuhan.. Inikah tanda-tandaMU tentang akhir Zaman..?? #34. Dikirim oleh phyxius pada 19/09 03:51 AM Itu sih orang2 yang sok alim, tapi cuma bisa ngomong saja kalau pas tiba ada kewajiban apalagi PUASA dia tidak mampu untuk menjalankannya.. makannya dia punya banyak dalil.. #35. Dikirim oleh eet pada 24/09 03:23 PM so… maksudnye, semua agama ga ad bedanye? Tuhan cuma nilai perbuatan baik aj? gitu ye??? Wahh… cakep nih!! Ijtihad baru ye?? Nabi mane nih? Pasti Nabi(sa-bisa) lu aje kalee! #36. Dikirim oleh aldy pada 09/10 06:43 AM semua orang juga tau, klu orang uda meninggal ga perlu puasa…. #37. Dikirim oleh mbahtoban pada 18/10 11:40 AM baca dalil anda akhirnya membuat saya makin mencintai Allah swt sebagai pemilik hidup ini dan selalu memohon dan berdoa agar kita umat islam semakin dikuatkan ukuwah dan imannya… kita tetap menjalankan sholat 5 waktu, puasa di bln ramdhan,membayar zakat serta haji jika mampu…itu saja yg perintahkan Allah….jgn tergiur dan termakan dalil2 yg kurang akurat..terimakasih…i luv islam i luv Allah swt dan nabi Muhammad SAW #38. Dikirim oleh novianty paraz pada 01/11 06:11 AM Xixixixiiii, kalo gak mau puasa, bilang aja coi, jgn bawa2 Siti Khadijah r.a. Tega2nya ente… #39. Dikirim oleh ibnusugharbi pada 04/11 10:07 PM Ayat Al Qur’an yang mewajibkan puasa sudah jelas menerangkan syariat puasa sudah ada dalam islam,yang berbeda kaifiahnya saja. Saya yakin Khdijah ra. berpuasa sesuai dengan syariat yg ada saat itu…cuman tulisan ini jadi rancu dengan kesimpulan yang kurang arif…Surga hak preogratif Allah, yang pasti apa yang sudah diwajibkan harus dilaksanakan ...karena sejatinya kitalah yang benar-benar butuh kewajiban tersebut .... Allah Maha Mengetahui apa-apa yang ada didalam pikiran manusia, sesungguhnya Islam adalah agama yang memberi peringatan kepada umat manusia, dan sesungguhnya neraka itu sangat panas… dunia sudah semakin tua, dan sudah saatnya kita menjalankan perintah-Nya sesuai dengan tuntunan Al Qur’an dan Hadist, apa yang bisa kita sombongkan di dunia ini, semua milik Allah… manusia, hewan, malaikat, iblis dan jin hanya ciptaan-Nya, Allah menilai ciptaannya berdasarkan kebaikan yang ada dalam perintah-Nya, kita bisa menjadi ‘tuhan’ di dunia, dengan segala macam pemikiran ‘keegoisan’ kita sendiri, tapi ingat kebenaran hakiki hanya milik Allah, mari kita semua mohon ampunan-Nya.. semoga pintu ampunan masih terbuka untuk kita…. #41. Dikirim oleh Muallaf pada 18/11 07:37 PM hihihi lucu :D satu pertanyaan saya : adakah BUKTI khadijah gak puasa? #42. Dikirim oleh dian pada 19/11 09:21 AM Ketahuilah, ajaran islam mengutip dari yahudi, yahudi mengutip dari Mesir Kuno, mengambil dari Peradaban SUNDA, ketika Gunung KRAKATAU sudah meletus 11 Ribu Tahun Yg Lalu !! #43. Dikirim oleh SoeDADANG pada 19/11 09:37 AM

ya iya laaa risallah belum turun waktu beliau wafat, setelahnya hukum2nya sudah jelas dan dosa bagi mereka yang dengan sengaja menginggalkan yang wajib. siksa Allah adalah pedih sila boleh tunggu. #44. Dikirim oleh muse pada 19/11 09:37 AM yang jelas, sholat sdh disyariatkan sblm nabi Hijrah kemadinah. namun pensyariatannya melalui sunah nabi. dengan dalil, setelah nabi kembali dari isro’ mi’roj, nabi dan siti khodijah serta Ali, mereka sholat berjamaah dirumah Nabi. #45. Dikirim oleh wandie123 pada 09/12 09:37 AM Akhmad Ikhsanuddin #46. Dikirim oleh wandie123 pada 09/12 09:47 AM Dalam hal agama (keyakinan) kok minta bukti, paling2 ya kata orang, kata buku, kata kyai, kata ulama dsb. Hanya saja karena terdapatnya banyak sumber yang membahas suatu permasalahan, maka diperlukan logika dan setiap orang (tanpa dibatasi)diberi kebebasan untuk menafsirkan. Jadi kisah2 dalam agama manapun tidak akan bisa dibuktikan, sehingga hanya ada 2 kemungkinan yaitu bisa benar dan bisa salah. Jadi, tinggal yakin atau tidak. Tapi perlu diingat, bahwa antara yang yakin dan tidak yakin tidak boleh dibenturkan karena hanya akan mendatangkan malapetaka saja. #47. Dikirim oleh Sampurna pada 18/12 08:18 PM buat P’ Moqshit en de geng, jika menurut anda semua agama itu(selain islam) benar dan akan masuk syurga, maka jika anda seorang muslim saya men-changelenge anda untuk segera meninggalkan agama islam dan beralih ke agama lain yang menurut anda semuanya benar, saya men-challange anda untuk membuktikan teori2 anda, karena teori tanpa praktek adalah omong kosong, bagaimana beranikah anda ? #48. Dikirim oleh abdillah pada 22/02 12:56 PM Bilang aja kalo cak dul moqsith pengen ga puasa, gpp kok. Ponakan saya hingga sekarang ada juga yang belum puasa. #49. Dikirim oleh stankoviç pada 02/08 09:36 AM Hahahaha… Ya iyalah… Shalat 5 waktu turun setelah Khadijah meninggal. Kalo shaum Ramadhan juga setelah di Madinah… Hahahaha GJ lu… :p

Namanya juga Jaringan Islam yang Lebay…!!!

Bangga banget sih… Geli dah gua… hahaha Waktu Isra-Mikraj Nabi Muhammad Oleh Abdul Moqsith Ghazali Demikian jauhnya jarak perjalanan ini, maka Aisyah (isteri Nabi) dan Muawiyah berpendapat bahwa Isra-Mikraj merupakan perjalanan ruhani dan bukan perjalanan fisik-jasmani. Menurut Aisyah, ruh Nabi Muhammad bergerak membelah semesta untuk berjumpa dengan Tuhan, sementara tubuhnya bersemayam di bumi. Pendapat ini ditolak jumhur ulama yang mengatakan bahwa Isra-Mikraj melibatkan jasmani-ruhani Nabi Muhammad secara sekaligus.

Isra-Mikraj adalah peritiwa spiritual yang dialami Nabi Muhammad. Ia dipahami sebagai perjalanan Nabi dari Masjidil Haram di Mekah ke Masjidil Aqsha di Jerusalem, dan terus membubung menembus dinginnya langit menuju sebuah pucuk yang disebut Sidratul Muntaha. Alkisah, ketika Rasulullah sedang tidur malam bersama para sahabatnya di Masjidil Haram tiba-tiba Jibril datang membangunkan dan membawanya untuk Isra-Mikraj. Thabathaba’i (Tafsir al-Mizan, Jilid XIII, hlm. 22) menyebut bahwa di antara Sahabat yang sedang bersama Nabi saat itu adalah Hamzah ibn Abdul Muththalib, Ja’far ibn Abi Thalib, dan Ali ibn Abi Thalib. Namun, sebuah riwayat seperti dikutip Fakhr al-Din al-Razi dalam Mafatih al-Ghaib (Jilid X, Juz XX, hlm. 148) menyatakan bahwa Isra-Mikraj tak dimulai dari dalam Masjidil Haram, melainkan dari rumah Ummu Hani binti Abi Thalib. Yang lain lagi mengatakan bahwa start Isra-Mikraj adalah sebuah ruangan dalam rumah Abu Thalib. Sejumlah literatur Islam menyebutkan bahwa Isra-Mikraj ditempuh hanya dalam satu malam. Perjalanan panjang ini dimulai habis isya’ dan rampung begitu fajar menyingsing. Demikian jauhnya jarak perjalanan ini, maka Aisyah (isteri Nabi) dan Muawiyah berpendapat bahwa Isra-Mikraj merupakan perjalanan ruhani dan bukan perjalanan fisik-jasmani. Menurut Aisyah, ruh Nabi Muhammad bergerak membelah semesta untuk berjumpa dengan Tuhan, sementara tubuhnya bersemayam di bumi. Pendapat ini ditolak jumhur ulama yang mengatakan bahwa IsraMikraj melibatkan jasmani-ruhani Nabi Muhammad secara sekaligus. Tentu pendapat jumhur ulama ini tak mudah dikunyah akal sehat dan tak bisa dijelaskan secara saintifik. Bagaimana mungkin benda material seperti tubuh manusia bisa berjalan lebih cepat dari gerak cahaya. Menurut teori Einstein, jika ada benda berjalan secepat cahaya, maka benda itu akan terurai dan hancur menjadi energi. Lalu jumhur ulama berkata, bahwa Isra-Mikraj bukan untuk difalsifikasi, melainkan untuk diimani.

Pertanyannya, kapan peristiwa Isra-Mikraj ini terjadi? Beberapa buku tarikh menjelaskan sejumlah riwayat berbeda perihal peristiwa itu. Pertama, ulama yang berpendapat bahwa peristiwa itu terjadi pada (diperkirakan hari Jum’at) 27 Rajab. Inilah pandangan paling populer di kalangan umat Islam. Namun, sebagian yang lain berkata bahwa Isra’-Mikraj terjadi di awal (bukan di akhir) bulan Rajab. Kedua, menurut al-Harbi, sebagaimana dikutip al-Qurthubi dalam al-Jami’ li Ahkam al-Qur’an (Jilid V, hlm. 551), Isra-Mikraj terjadi pada 27 Rabi’ul Awwal. Itu juga yang dikatakan al-Zuhri dan Urwah. Ibnu Abbas berpendapat bahwa Isra-Mikraj terjadi pada hari Senin, 12 Rabiul Awwal. Sebab, pada hari, tanggal dan bulan itulah Rasullah dilahirkan, diangkat menjadi nabi, di-Isra-Mikraj-kan, hijrah ke Madinah, dan meninggal dunia. Ketiga, al-Sudi berpendapat bahwa Isra-Mikraj terjadi pada bulan Dzul Qa’dah. (Ibnu Katsir, al-Bidayah wa al-Nihayah, Juz III, hlm. 155). Bukan hanya bulan yang diperselisihkan, melainkan juga tahun dari peristiwa itu. Ada yang berpendapat bahwa Isra-Mikraj terjadi satu tahun sebelum Rasulullah hijrah ke Madinah. Yang lain berkata bahwa Isra-Mikraj diperkirakan terjadi 18 bulan sebelum peristiwa hijrah. Sementara yang lain lagi berkesimpulan bahwa Isra-Mikraj terjadi ketika Khadijah masih hidup. Menurut Yunus ibn Bukair, pasca Isra-Mikraj, Khadijah masih sempat melaksanakan shalat. Ini karena Isra-Mikraj terjadi pada tahun kelima dari kenabian, beberapa bulan sebelum Khadijah meninggal dunia. Bahkan, seperti dikutip Thabathabai (hlm. 30), Ibnu Abbas berkata bahwa Isra-Mikraj terjadi pada tahun kedua dari kenabian. Intinya, ada beragam pendapat. Yang satu berkata tahun ketiga kenabian. Yang lain mengatakan tahun kelima kenabian; tahun keenam kenabian; 10 tahun 3 bulan dari kenabian; 12 tahun dari kenabian; 1 tahun 5 bulan sebelum hijrah; 1 tahun 3 bulan sebelum hijrah; 6 bulan sebelum hijrah. Kenapa perselisihan seperti ini terjadi? Satu, ketika Isra-Mikraj terjadi tak ada orang yang mencatat dan mendokumentasikannya secara persis. Rasulullah pun dikisahkan tak bisa membaca dan menulis. Soal hari, tanggal, bulan, dan tahun peristiwa Isra-Mikraj di atas sepenuhnya didasarkan pada ingatan para Sahabat, dan bukan pada data rekaman-tertulis yang otentik. Dua, penyusunan kalender Islam pada saat Isra-Mikraj itu belum terumuskan. Dengan demikian, semua soal di sekitar Isra-Mikraj serba tak pasti, misterius, dan tak mudah diverifikasi. Bagi sebagian besar umat Islam, hanya satu yang pasti; bahwa Isra-Mikraj nyata terjadi dan dari situ shalat disyariatkan. Tentang bagaimana terjadinya dan kapan berlangsungnya, para ulama dan sejarawan tak melahirkan sebuah konsensus. Wallahu A’lam Bis Shawab.

22/07/2010 | Editorial, | # Komentar Komentar Masuk (25) (Tampil maks. 5 komentar terakhir, descending) Abubakar malah mendapatkan gelar shadiqin dg membenarkan kejadian tsb. kita sebagai umat selanjutnya yg gak bertemu dg ke duanya menyangsikan kejadian tsb. jika percaya seperti Abubakrinishshidiq bisa lebih legowo, akal dan tehnologi gak nyampai. Yang terpenting samikna wa’athakna gak usah mikir ini itu. Ini adalah keimanan. Jika dipikirkan alam semesta ini tercipta fii sittatii ayyamin… jika hanya isro mikroj lebih mudah bagi Allah. Alimul ghaibi washshadah…coba lihat / baca tubuh kita sendiri..ada otak untuk memerintah organ tubuh yg manual, yg otomatis jantung, paru, ginjal, gak pernah terpikir bagi kita. Subhanallah walhamdulillah wala ilahaillahhu wallahu akbar.Jika dibayangkan ayat kursi..itulah kekuasaan Allah..umat islam sepeninggal rosullulah berbeda pendapat melulu…yg jadi orang berfikir adalah memilih surga atau neraka..Profesor akan mengalami kesulitan untuk hal ini..wassalam.. Posted by susilo on 08/05 at 12:17 AM Ini semua akibat dari mengabaikan sunnah dan mengagungkan bid’ah. Yang tidak penting dianggap ibadah, yang ibadah di lalaikan dan dianggap ibadah.Allah swt,melalui para Nabinya sudah menjelaskan dengan sejelas-jelasnya tentang agama ini. Ibadah tidak perlu campuran-campuran tradisi dan adat-istiadat, sehingga akan merusak ibadah itu sendiri. Kalaulah penting tanggal isra’ dan mikraj ini tentu Rasulullah dan para sahabat tidak akan lupa memperingatinya dan mencatat tanggalnya, berhubung hal ini tidak penting maka Rasulullah dan para sahabat mengabaikannya. Al-Qur’an hanya mencerikankan terntang israk mikrajnya saja, sebgaia tanda2 sebahagian kekuasaanya, dalam rangka menyemput perintah sholat. Sunnah ini lah yang diabaikan oleh ummat islam. Sunnah terbesar yang menentulan sekaligus perbedaan seorang muslim dengan kafir adalah masalah sholat. Letak kemulian kita dihadapan Allah hanya dngan sholat. Wallahu"alam bishshawab. Posted by asyura MH bin Musthafa on 07/08 at 02:21 PM bagaiman mungkin jibril berbentuk materi( tranformasi berbentuk manusia), padahal ia terbuat dari cahaya, (sumber dari sahih muslih dan al buhari). tolong jelaskan Posted by aris on 05/19 at 08:45 PM Dalam menjustifikasi kisah Isra Mi’raj ada yg berdasarkan sains, bahwa kecepatan yg luar biasa (jarak Masjid al Haram, via Masjid Al Aqsha langsung ke al Mustawa dan kembali ke Makkah) dalam waktu kurang dari setengah malam adalah hal yg tidak mustahil. Kalau zaman sekarang,zaman teknologi canggih, memang betul atau dapat diterima. Sekali lagi,itu terjadi karena kecepatan dg teknologi (teknos: alat, logos: Ilmu) canggih. Bila mencari dalil yg mirip: boleh lihat QS55:33 (“Wahai masyarakat jinn dan manusia,bila kalian sanggup melintasi penjuru langit dan bumi, (silahkan) lintasi. Kalian tidak akan mampu melintasinya kecuali dengan KEKUATAN”.) Sulthaan=teknologi. Bila hal tsb (berkecepatan tinggi)dilaksanakan oleh jiwa dan raga Rasulullah adalah hal yg mustahil. Kisah seperti ini identik dgn cerita Mahabharata atau Israiliyyat. Maka mejustifikasi kisah Isra-Mi’raj lewat pandangan sains adalah akalakalan (bukan akal yg benar). Demikian pula, pembenaran itu berdasarkan ayat populer, Kalau Allah menghendaki adanya sesuatu, cukup mengatakan: “KUN FAYAKUN” (Terdapat pada 8 ayat dlm Al Quran, a.l. QS2:117, QS3:47,QS3:59,QS16:40 dst) Kun fayakuunu, jangan diartikan : “Jadilah (engkau) maka terjadi (atau langsung ada)”. Kalau seperti itu yg dimaksud, maka ayat akan berbunyi:“KUN, FAKAANA” (silahkan kaji ulang kata FA YAKUUNU dan kata FA KAANA). Jadi maksud ayat ini menggambarkan Kemahamampuan Allah.Karenanya, kata FAYAKUUNU berarti maka dia (sesuatu yg diingini Allah) akan melalui proses sehingga kemudian eksis (ada). Ihwa ayat pada QS17:1, sama sekali tidak menyentuh apa yg dikisahkan oleh (di antaranya): Anas bin Malik, Malik bin Sha’sha’ah ataupun Abu Dzar Al Ghifari. Maukah Anda membuktikan bahwa Al Quran sama sekali tidak merekomendasi kisah Isra-Mi’raj ?!

Posted by Mustafa Adnani on 10/05 at 04:41 PM Sepertinya tulisan dan pandangan pak Abdul Muqsith Ghazali ttg Isra Mikraj akan mengarah kepada pendapat saya, yakni kisah Isra Mikraj adalah muncul dari pemikiran klenik atau takhayul. Makanya ketika ‘Aisyah mengomentari soal Isra Mikraj bahwa peristiwa itu peristiwa ruhani, memang tepat. Kalau bukan peristiwa ruhani, tentulah sulit kita mempercai turunnya wahyu kpd Rasulullah. Kemudian bila kita lebih meluas dlm membaca hadits yg menyangkut peristiwa tsb., tertulis dlm kitab At Tawhid sbb: “...Qaala: fahbith bismillahi, Qaala: wastayqadha wa huwa filmasjidil haraam”. Artinya:...kata Jibril:“Turunlah engkau (Muhammad) dengan nama Allah”. Kata Anas (perawi hadits tsb):“Dan ia (Nabi) sadar (bangun), bahwa beliau tengah berada di Masjidil Haram. Jumhur ulama berpendapat, melalui penelusuran ayat, bahwa kata “abdihi” *QS17:1) selalu gabungan jiwa dan raga. Kia akan menjawab dg pertanyaan,:Adakah manusia hidup itu, antara jiwa dan raganya terpisah?. Seseorang dikatakan hidup bila bertaut (menyatu) antara raga (fisik) dan jiwa (nafas). Fakta Al Quran menyebutkan dlm QS17:93, di antaranya disebutkan bahwa kafir Kuraisy meminta agar Muhammad NAIK KE LANGIT, DAN MEREKA TIDAK AKAN PERCAYA TTG KENAIKAN ITU, BILA (DARI LANGIT)MUHAMMAD TIDAK MEMBAWA KITAB UNTUK MEREKA BACA RAME-RAME. Dan talah Allah jawab, “Katakanlah (Muhammad): Mahasuci Tuhanku, bukankah aku ini hanysa manusia yng mendapat perintah (menyampaikan wahyu)?.” Nanti saya sambung. Posted by Mustafa Adnani on 09/03 at 06:44 AM Kalau Alloh mau apapun bisa terjadi meskipun akal (karena keterbatasannya) menolak. #1. Dikirim oleh Abu Hanif pada 23/07 06:33 AM Untuk memahami perjalanan antarwaktu, kita ibaratkan ada alam dua dimensi berbentuk bidang “U” besar. Sebut saja makhluk di alam itu serupa semut. Semut tersebut untuk berpindah dari ujung “U” yang satu ke ujung yang lain harus menempuh jarak yang jauh.. Kita yang hidup di ruang tiga dimensi dengan mudahnya mengangkat semut tersebut dari satu ujung ke ujung lainnya. Mengajak semut tersebut keluar dari dimensi dua menuju dimensi tiga. Jaraknya jelas lebih pendek. Demikianlah analogi sederhana perjalanan antardimensi. Mekanismenya di luar kemampuan sains, tetapi Allah telah memperjalankan hamba-Nya, Rasulullah SAW bersama Jibril yang memang berada di luar dimensi rlebih tinggi dari dimensi ruang-waktu. Logika sains seperti itu hanya untuk menunjukkan bahwa Isra’ Mi’raj dengan jasadnya (bukan sekadar dengan ruh) bukan hal yang mustahil. Bersama Jibril Rasulullah SAW keluar dari dimensi ruang-waktu yang membatasi pola pikir manusia pada jarak dan waktu. Sedangkan waktu dalam dimensi ruang waktu tidak mungkin berjalan mundur. Dengan keluar dimensi ruang-waktu Rasulullah tidak lagi terikat oleh jarak dan waktu. Dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha dapat dilakukan sekejap, sementara Rasulullah masih bisa mengamati kafilah dalam perjalanannya dan tetap bisa merasakan fenonema fisik dimensi ruang-waktu, seperti minum susu yang ditawarkan Jibril. Rasulullah pun dapat berdialog dengan para Nabi karena tidak ada lagi batasan waktu. Rasulullah pun mendapat gambaran surga dan neraka yang juga bukan fenomena ruang-waktu kita, sehingga tidak mungkin dijelaskan secara tepat di mana dan kapan adanya. Langit pada kisha Isra’ Mi’raj pun bukan langit fisik seperti “tujuh langit” dalam ungkapan Al-Quran. QS 17:1 dan QS 53:13-18 yang menceritakan sekilas tentang Isra’ dan Mi’raj tidak menyebutkan tujuh langit. Sebutan langit pertama sampai ke tujuh pada kisah Isra’ dan Mi’raj hanya da dalam hadits dan yang menggambarkan perjalanan yang tidak lazim menurut kebiasaan manusia, tetapi diyakini benar terjadi. Dimensi ruang waktu tidak lagi membatasi. Setelah Isra’ dari Masjid Haram ke Masjidil Aqsha, Rasulullah mi’raj ke langit. Di langit pertama sampai langit ke tujuh Rasulullah bertemu dengan para Nabi. Di langit pertama bertemu Nabi Adam. Di Langit kedua bertemu Nabi Isa dan Nabi Yahya. Di langit ke tiga ada Nabi Yusuf. Nabi Idris dijumpai di langit ke empat. Lalu Nabi SAW bertemu dengan Nabi Harun di langit ke lima, Nabi Musa di langit ke enam, dan Nabi Ibrahim di langit ketujuh. Jelas pertemuan dengan para Nabi itu bukan di planet-planet tertentu di langit, karena para Nabi yang telah wafat tidaklah berada di planet-palnet tertentu. Sidratul Muntaha pun bukan suatu tempat dan saat yang keberadaannya dalam dimensi ruang-waktu. Keyakinan adanya dimensi lain di alam juga didasari pada keyakinan adanya Jin dan Malaikat yang berada di luar dimensi ruang-waktu. Dua jenis makhluk Allah itu tidak dibatasi ruang sehingg dengan mudahnya pergi ke mana pun dan tidak dibatasi waktu sehingga tidak ada kematian bagi mereka, kecuali dengan ketentuan Allah. Kalau mengikuti analogi makhluk di dimensi dua tersebut di atas, kita yang hidup di dimensi ruang dimensi tiga bisa melihat tingkah laku makhluk serupa semut tersebut, tetapi makhluk itu tidak mengetahui keberadaan kita karena di luar dimensinya. Demikian juga halnya manusia tidak mengetahui keberadaan Jin dan Malaikat, walau kita tahu mereka ada di alam (dimensi) mereka dan mampu mengetahui gerak-gerik kita. Kisah isra’ mi’raj tidak dapat dianalisis dengan teori relativitas dengan anggapan Rasulullah berjalan dengan kecepatan cahaya dengan buraq. Bila kita gunakan teori relativitas fenomena yang terjadi justru kebalikannya. Menurut teori relativitas, pada kerangka yang bergerak dengan kecepatan mendekati cahaya, waktunya yang tercatat di jam menjadi lebih lambat. Artinya, orang yang berjalan mendekati kecepatan cahaya akan merasa lebih muda dan waktu yang dialaminya lebih singkat dibandingkan dengan orang yang ditinggalkannya. Oleh karenannya kita mengenal “paradox anak kembar” (twin paradox) pada teori relativitas, saudara kembar yang merantau dengan kecepatan mendekati cahaya akan mendapati saudaranya yang ditinggalkan lebih tua dari dirinya menurut rekaman waktu yang dibawanya. Yang dialami Rasulullah SAW, justru kebalikannya. Rasulullah meengalami perjalanan waktu sangat panjang sehingga bertemu dengan para Nabi dan berbagai peristiwa lainnya, sedangkan para sahabat yang ditinggalkannya hanya merasakan waktu satu malam. Logika sains untuk menggambarkan perjalanan Rasulullah SAW sebagai perjalanan antardimensi hanyalah upaya untuk menjelaskan bahwa isra’ dan mi’raj benar adanya dan dilakukan dengan fisik, bukan sekadar mimpi atau perjalanan dengan ruh. Perjalanan antardimensi oleh manusia biasa memang belum memungkinkan secara eksperimen, tetapi konsep dimensi fisik yang lebih dari sekadar dimensi ruang-waktu dikenal dalam sains. #2. Dikirim oleh acim pada 23/07 10:52 AM Semestinya JIL berlapang dada untuk mengkaji ulang kisah isra-mi;raj sebagaimana yang kita kenal dari hadits yang telah distempel paling shahih, sekalipun kisah isra-mikraj itu hanya sebagai perjalanan ruhani Rasulullah kata lain dari mimpi atau ilusi. Melalui buku KH Munawar Khalil, tercatat dalam Kitab At Tauhid, kitab shahih Bukhari, penghujung atau akhir dari kisah hadits isra-mi’raj tersebut tertulis kalimat: .... Qaala: fahbith bismillaah, qaala: wastayqadha wa huwa filmasjidil haraam (=... Jibril berkata:“Turunlah engkau (Muhammad) dengan nama Allah”. Kata Anas:“Dan ia(Nabi) sadar (bangun)bahwa ia (sedang) berada di Masjidil Haram”. Al Quran telah banyak menyajikan informasi tentang kehidupan di dunia yang serba realistis, nyata, konkrit. Salah satu informasi yang nyata adalah manusia akan berhadapan dengan kematian (Al Akhirah, yaumul aakhir, yaumul Qiyaamah, Assaa’ah dll.) Untuk itu, Allah menjelaskan kepada kita pada alam kematian itu ada kehidupan. Dan hidup dalam dunia lain ini, yang buminya, langitnya (termasuk matahari, bulan dan bintang-gemintangnya) bukan yang sekarang ini (QS14:48). Pada gilirannya, kalimat amana bilyaumil akhir (yaumul Qiyamah atau alAkhirah) disingkat dengan istilah “yu-minuuna bilghaib”. Namun ketika sampai ke tangan manusia istilah ghaib jadi bias.Apakah dalam pengertian terminologi atau harfiah, sebagaimana yang kita kenal sekarang ini.Dari sekian banyak jumlah pembiasan, istilah yu-minuuna bil ghaib ini, dialamatkan kepada kisah yang diriwayatkan oleh sahabat Abu Dzar Ghafari, Malik bin Sha’-sha-‘ah dan Anas bin Malik, yang setelah melewati bebarapa orang(generasi) sampailah ketangan Bukhari dan Muslim, itulah kisah Isra Mikraj, yang sama sekali kisah itu tidak disinggung dalam Al Qur-an. Para mufassir hanya menyeret-nyeret bahwa kisah isra itu adalah wahyu, dengan cara mengikut sertakan beberapa ayat (QS53:1-18, QS17:1 dan QS17:60)ke dalamnya. Mari kita berfikir lebih ilmiah, ketimbang mengimani dengan taklid. Mampukah kita membuktikan bahwa kisah Isra mikraj itu adalah wahyu?. Apa perlunya mencari hikmah dari kisah yang fiktif. Hikmah akan diperoleh dari kisah yang konkret atau pasti, sebgaimana, yakni kisah-kisah dari Al Quran atau alhadits yang tidak paradox dengan Al Quran

#3. Dikirim oleh Mustafa Adnani pada 25/07 04:09 AM Sebagai muslim yang memandang kepada hal-hal yang sifatnya essensial dan bukannya simbolisasi, tentunya masalah apakah isra’ mi’raj itu sebagai perjalanan ruhani atau sekaligus perjalanan jasmani, tentu bukan hal yang perlu kita risaukan. Sama seperti halnya dengan kejadian nabi musa membelah lautan atau banjir air bah pada nabi nuh, yang berjalan di luar nalar manusia, tentunya kisah itu dibuat untuk mempertebal keimanan manusia, terlepas kejadian itu benar2 terjadi ataukah hanya metafora. Maka sikap kita sebagai muslim yang berpandangan pada substansi, tentunya kita mengimani apa yang telah diperintahkan Allah kepada Rasulnya, yakni sholat, sebagai bentuk aktifitas ritual dari agama islam, sekaligus memahami substansi dari sholat itu sendiri agar tidak menjadi sekedar gerakan-gerakan fisik yang menyehatkan. #4. Dikirim oleh M. ARCHAM UBAIDILLAH pada 26/07 11:36 AM Please jangan campur adukan rasionalitas dalam hal2 tersebut,kemampuan manusia ibarat tidak lebih besar dari buih samudera…. bila Ia berkehendak..“popS!!!” buih hilang tak berbekas. #5. Dikirim oleh tio pada 27/07 08:50 AM matur sembah nuwun mas acim.. alhamdulillah sementra ini saya punya penjelasan yang bisa saya terima secara logika…dulu saya sempat bertanya.. apakah neraka itu mulai sekarang sudah beroperasi (meminjam istilah mesin).. sedangkan kiamat belum ada.. dan semua orang sudah dihisab…setahu saya hisab akan dilakukan setelah kiamat ketika semua mahluk dikumpulkan di padang masyhar… tapi ketika mendengar cerita isra misraj.. rasul sudah diperkenalkan mengenai siksa kubur oleh jibril…waktu itu saya sempat kebingungan.. ini yang mana yang bener… saya sempat berpikir kalau memang begitu adanya.. berarti yang ditunjukkan oleh jibril kepada rasul adalah sebuah gambaran masa depan…yang kemudian oleh mas acim di perkuat mengenai dimensi waktu..wawlahualam bi sowab…salam satu jiwa #6. Dikirim oleh dki pada 27/07 08:49 PM Bagi kami/saya yang awam adalah hal aneh jika meragukan pendapat bahwa Muhammad SAW menjalani Isa-Mikraj secara lengkap jiwa dan raganya. Sama artinya meragukan kekuasaan Yang Maha Kuasa Allah SWT. 14 abad yang lalu pendapat seperti itu bisa dimaklumi, tapi dizaman kini dimana manusia dengan raganya menggunakan teknologi sudah mampu menjelajah ruang yang bukan habitatnya yakni Ruang Angkasa pendapat tersebut bahkan telah meragukan kemanusiaan itu sendiri sebagai khalifah di bumi. Walaupun teknologi manusia masih amatsangat-ultra kecil dibandingkan kekuasaan Allh SWT namun sudah dapat menjadi bukti bahwa ‘raga’ sudah dapat ‘dibawa’ menjelajah ke alam semesta yang jauh dari tempatnya hidup dengan raganya tersebut. Saat saya SMP di kampung dulu, seorang guru pernah mengatakan bahwa manusia sampai dibulan itu bohong dan kafir jika percaya hal seperti itu. Kesimpulannya untuk memahami Isra-Mikraj seorang muslim juga harus dibekali pengetahuan tentang tehnologi dan alam semesta secara baik dan benar- tak perlu ahli- sehingga cakrawala fikirnya luas dan dapat memandang dari sudut-sudut yang berbeda sebagai pembanding. #7. Dikirim oleh Elzhivago pada 28/07 05:54 AM memang susah untuk dipercaya, namun dengan kebesaran iman yang kuat, maka semua akan terjawab.. #8. Dikirim oleh Reza pada 28/07 10:20 AM Nabi muhammad ingin menentukan cara ibadah agama Islam yg di hadirkan oleh buah pemikiran keilahian dlm dirinya, maka dari itu dia melihat konsep cara ibadah Yahudi, Nasarani yg ada di jerussalem (di kenal dg perjalanan ke baitul maqdish palestina)., dg cara ibadah penduduk makkah di ka`bah (di kenal perjalanan awal dr makkah), hadirlah konsep cara ibadah SHOLAT 5 Waktu., selanjutnya di mantapkan dg bathinnya (yg di kenal dg perjalanan langit). <maaf menurut pemahaman sepihak saya, dlm merasionalkan perjalanan Isra-Mikraj> #9. Dikirim oleh Plato Diningrat pada 28/07 03:53 PM

I am an Ahmadi Muslim. Just to show how Islamic Ahmadis are in regards to how intimate we are in understanding the Life of our most beloved Prophet Hadhrat Muhammad saw Below are the video of Ahmadiyya’s Khalifatul Masih IV who were responding to a question regarding its point of view on the subject. http://il.youtube.com/watch?v=w8Za7-hDmMs&feature=related Ours is basically in concordance with Hadhrat Aisyah’s PoV; neither of the two events were physical, but Rasullulah was in a dream state. For more detailed Ahmadiyya’s analyses on the same, please review this reading: http://www.al-islam.org/al-miraj/ FYI, in general, tafseers by Ahmadiyya on any physical events as foretold in the Qur’an and the Hadists have always been trying comprehend them in concordance with Allah’s Own Physical Laws.

#10. Dikirim oleh Irenaeus Ahmad pada 29/07 05:21 PM Ini konsep fisikanya harus diperbaiki, massa memang dapat berubah menjadi energi menurut rumusan Einstein yang sangat terkenal itu, namun ini harus dipahami dalam kerangka ekivalensi massa energi, jadi bila kita merujuk pada rumusan Eintein, energipun dapat berubah menjadi massa. lagipula kecepatan cahaya bukanlah suatu entitas mutlak, dalam artian tidak ada lagi yang dapat melampauinya, kajian fisika teoritis mengenal apa yang disebut realitas interlokal, tanpa memandang kerangka ruang waktu, sistem-sistem dapat terhubung secara instan. Seharusnya bagi saya, orang-orang yang konon katanya logikanya selalu di depan dalam mengambil keputusan, perjalanan fisik dan ruhani yang sangat jauh jaraknya dalam waktu yang sekejap bukanlah hal yang mustahil bila dilihat dari sudut pandang sains (rasio dan logikanya sangat tinggi. Hal itu juga sudah sering dikupas oleh para ilmuwan-ilmuwan terkemuka. #11. Dikirim oleh Nurcahyadi pada 01/08 10:41 AM kehidupan dunia adalah kehidupan dalam alam subyektif dan obyektif, kehidupan dalam alam ruh dan alam material,maka kita seringkali memisah-misahkan antara kedua kutub tersebut. kajian tentang kedua kutub tersebut selalu terpaku pada empirisme dan positivisme. Isra’ Mi’raj merupakan kejadian dan fenomena yang berdiri diatas kedua kaki obyektif dan subyektif, ruh dan jasad…maka seringkali beberapa orang memandang dalam kutub yang berbeda maka akan menjadikan tafsir yang berbeda….oleh karena itu apabila kita tetap terkungkung dalam paradigma empiris dan positivis, maka kita tidak akan mendapatkan kesimpulan apa-apa selagi tidak ada orang lain selain Nabi yang dapat melakukan Isro mi’roj sebagaimana Nabi… Oleh karena itu, kita harus mulai berani lari dari kungkungan itu, dengan mecoba menguraikan dari sisi loncatan pemikiran, sebagaimana yang disampaikan oleh Einstin lewat postulatnya mengenai hubungan energi dan materi. Oleh karena itu, dengan berguru dengan Einstein maka kita cobalah untuk melakukan sintesis tentang postulat keterhubungan ruh dan materi, obyektif dan subyektif Isra’ Mi’raj yang dilakukan oleh Nabi… #12. Dikirim oleh fashihullisan pada 06/08 10:17 AM Kisah isra mi’raj adalah penanda bagi orang yang berpikir. apakah manusia di abad 6-7 M bisa membayangkan bahwa manusia di abad 19-20 M mampu terbang dengan kecepatan suara dengan pesawat yang dikendarainya???? Tentu tidak kan, wong di jawa aja masih mukul-mukul batu untuk buat candi kok.pasti mereka ketawa dan bilang gila atau nggak masuk akal jika di ceritakan kalau manusia bisa terbang dengan kecepatan cahaya. pasti saya yakin pasti akan ada pertanyaan apakah tubuh manusia mampu tahan??dll Nah muhammad terbang dengan kecepatan cahaya pada peristiwa isra miraj??? adakah yang aneh..saya rasa tidak..kemajuan teknologi mungkin abad 30-35 M, bisa jadi sudah mampu menciptakan material yang tahan terhadap gesekan udara akibat pergerakan 300.000 km/detik (kecepatan cahaya) bersama dengan teknologi roket yang mampu membuat kecepatan suara. Intinya cuma buat material yang tepat + teknologi roket kecepatan suara untuk sebuah pesawat kecepatan cahaya. Kalau manusia ada didalamnya, ya ngk apa2 toh…kan yang bergesekan dengan udara pada kecepatan cahaya adalah body pesawat. Islam adalah agama dengan banyak penanda teknologi termasuk peristiwa isra miraj ini. Coba banyangkan, muhammad masuk dalam pesawat bersama jibril terus terbang dengan kecepatan cahaya ke palestina dan ke langit…apa yang aneh..masuk akal kok..Allah SWT adalah sumber semua teknologi,jadi tidak ada keraguan pun terhadap peristiwa terbangnya fisik muhammad pada peristiwa isra miraj jika kita berpikir terbuka. #13. Dikirim oleh riko pada 10/08 11:18 AM Saya hampir yakin bahwa, isra mi’raj dapat didekati dengan teori paling maju dari fisika modern, tidak lain adalah : relativitas yang dicetuskan idenya oleh si yahudi Einstein. mari kita bicara tentang konsep ruang dan waktunya einstein. Bagi einstein satu-satunya realitas di dunia ini yang tidak dapat dilanggar adalah: kecepatan cahaya. Bila kecepatan cahaya terlampaui, maka tidak akan ada lagi hukum fisika. sekarang mari tengok kitab suci kita, Quran. berapa kali dan di ayat mana saja Allah berfirman tentang cahaya? cukup banyak. Bahkan ada surat yang dinamai An Nuur (cahaya). Perhatikan pula ayat-ayat yang secara puitis menggambarkan “matahari yang bersinar dan bulan yang bercahaya”, dan “cahaya di atas cahaya”. Allah telah memberi semacam “clue” bahwa ada sesuatu dibalik cahaya. Nabi Muhammad menaiki “bouraq” naik ke langit berjumpa Tuhan, dan melihat surga dan neraka. Penjelasannya, seseorang (sebagai sebuah partikel) dipercepat/diakselerasi kecepatannya oleh mesin akselerator partikel (seperti yang dimiliki CERN Eropa tapi “bouraq” tentunya jauh lebih sophisticated). Nah, bouraq inilah yang Jibril bawa untuk mengakselerasi nabi, mendekati kecepatan cahaya. semakin cepat beliau bergerak, dia mendapati ruang di sekelilingnya berubah. itu bukan ruang dan waktu di sekeliling Nabi yang berubah, namun Nabi sendiri yang mengalami percepatan partikel. ruang waktu dunia berjalan normal -detik demi detik-, namun Nabi bergerak lebih cepat sehingga akhirnya beliau “melompat” jauh ke masa depan. Hal ini identik dengan paradoks anak kembar (twin paradox). Jika anda bergerak lebih cepat dari siapapun maka anda akan awet muda sementara orang-orang disekitar anda bertambah tua. Untuk bergerak lebih cepat tidak musti pergi ke galaksi lain naik roket yang luar biasa cepat. Cukup anda masuk di alat pemercepat partikel maka anda akan bergerak jauh lebih cepat. Namun demikian, agar tetap hidup, perlu treatment yang menyediakan lingkungan sehingga tetap mendukung kehidupan, jadi pengandaian ini agak mengesampingkan efek biologis seperti kepala pening, perut mual mau muntah saat sedang naik bus dan lewat banyak belokan atau sejenisnya. Einstein dengan setengah bergurau pernah mengatakan: “anda akan awet muda kalau anda sering bergerak”. Nah, orang yang diam saja dan jarang bergerak akan cepat tua. maka sering-seringlah hard exercise, olahraga teratur, jogging setiap hari, main bola, berlari-lari, apapun pokoknya bergerak aktif. Ketika berjumpa Tuhan, saya berpendapat hal ini tidak dapat dijelaskan dengan teori relativitas. barangkali perlu Einstein baru dengan teori relativitas jilid II untuk menjelaskannya. Telah kita pahami bersama bahwa Tuhan dalam konsep akidah kita tidak terikat ruang dan waktu dimensi dua, tiga, empat, lima atau berapapun. Sementara teori relativitasnya einstein ini berusaha menangkap dan membungkus dimensi keempat (yang nampaknya gagal dibuktikan oleh einstein sendiri, sampai ahli matematika seperti Minkowski pun tak urung mengajukan hipotesis teoritis tentang “keberadaan” dimensi keempat. Hingga hari ini tak ada fisikawan eksperimental yang mampu membuktikan secara empiris wujud dimensi keempat. seperti apa bentuknya, baunya atau rasanya?). Teori relativitas setidak-tidaknya dapat menjelaskan saat Nabi melihat surga dan neraka. Itulah masa depan, dimana Nabi telah sampai di masa depan itu. jika kita asumsikan akhirat itu linear dengan ruang dan waktu. maka waktu dan tempat akhirat itu dimasa depan, betul begitu? Nah, yang beliau lihat di balai-balai surga sedang bertelekan bantal hijau (deskripsi Quran) itu bisa jadi si A dari negara B yang masih hidup detik ini. demikian juga ketika beliau melihat perempuan-perempuan (banyak penghuni neraka adalah perempuan) sedang disiksa itu adalah perempuan bernama X, dari negara Y yang juga hari ini masih hidup. Keadaan manusia-manusia di surga dan neraka dari Nabi adam (manusia pertama) sampai manusia akhir zaman disaksikan oleh Nabi. Beberapa manusia yang hidup di zaman sekarang ini (barangkali bung Moqsith atau saudara-saudara pembaca artikel ini) disaksikan keadaannya oleh Nabi di surgakah atau di neraka pada saat mi’raj berlangsung. Kalau kita bicara anah panah waktu yang linier, maka Nabi menyaksikannya pada abad ke-6 M. Nabi telah melihat kesudahan takdir manusia-

manusia dari zaman dahulu kala sampai manusia terakhir sebelum apocalypse yang meluluh lantakkan alam semesta terjadi. Hal ini konvergen dengan ayat yang menyatakan: “tinta-tinta telah mengering”. Takdir telah selesai ditulis. Kesimpulannya: isra mi’raj adalah perjalanan Nabi Muhammad ke masa depan. #14. Dikirim oleh Mas heri pada 10/08 02:52 PM Pak abd muqsith, anda menjelaskan pendapat aisyah dan muawiyah tapi anda tidak menjelaskan pendapat jumhur. padahal kalau kita ingin mengkaji bisa saja pendapat aisyah benar dan pendapat jumhur yang salah atau bisa saja sebaliknya, atau bisa saja kedua-duanya benar atau bisa saja kedua-duanya salah. kalau kita ingin mengkaji. jangan sampai karena Einsten mengatakan ini tidak masuk akal, lalu kita memutuskan bahwa pendapat jumhur salah. #15. Dikirim oleh wawan pada 10/08 09:08 PM seoarang ahli kebatinan, baik itu islam, hindu, budha atau siapapun yang telah mampu sampai memecah raga, rohnya bisa berjalan samapi kelangit ke tujuh, tapi raganya tidak bisa dia ajak tuk berjalan2 sampai kesana. Lalu sebgaian dari mereka mengklaim bahwa untuk sampai kelangit ke7, tidak mungkin jasadnya ikut serta. Mereka lupa bahwa manusia itu kemapuannya bertingkat2. Seorang anak kelas 1 sd ketika dihadapkan dengan pelajar fisika untuk program S2 akan berkata bahwa tidak akan mungkin ada orang yg bisa mengerjakan soal seperti ini. #16. Dikirim oleh ark pada 14/08 08:15 AM Tak melulu semua yang ada di dunia ini memerlukan pembuktian ilmiah dan logika-logika. Bukankah kita percaya jika Allah SWT “Mengatakan” Jadi, maka akan Jadilah. Jangan samakan pemikiran-pemikiran, keinginan serta kemampuan Pencipta disamakan dengan makhluk ciptaan-Nya. Sedangkan ilmu manusia walau ditulis dengan tinta sebanyak lautan tidak ada apa2nya dengan ilmu yang dimiliki Allah SWT. Mohon koreksinya. Terimakasih. #17. Dikirim oleh Deka pada 24/08 08:05 AM tidak akan pernah habis waktu kita untuk membicarakan kebesaran Alloh swt bersama rasullullah muhammad saw…Alhamdulillah kita termasuk orang yg percaya/iman pada peristiwa isra’ mi’raj tsb. Allohu Akbar #18. Dikirim oleh joxzin jogja pada 29/08 05:40 PM

Saya setuju dgn komentar M RCHAM UBAIDILLAH pada 26/7 @ 4.36 pm. Saya tidak pernah risau oleh ceritera/kisah/hadits manapun yg ad di tengah-tengah kita.Namun ketika nalar kita bekerja dan selalu mengikuti alur wahyu/Al Qur-an, kita diperkenankan memilih mana yg hak dan mana yg bathil. Bila kita telah mendalami hadits, harus dipahami bahwa pernah terjadi seleksi hadits oleh tokoh-tokoh hadits (a.l Imam Bukhari dan Imam Muslim), lantaran ada hadits yg patut (shahih, hasan)dan yg tak ptut (dha’if/pseudo), apakah lantaran ihwal periwayatan, personaliti perawi, matan (artikulasi)ataupun kandungan (isi) hadits tsb. Itulah alasan saya selalu berhati-hati thd hadits yg berbau Israiliyyat ataupun Jahiliy. Pengamatan kpd Al Quran yg kental, akan mampu memilih setiap informasi keagamaan (hadits, fatwa ataupun pendapat ‘ulama). Mengimani setiap kredo agama tidaklah harus secara membabi-buta, namun harus ilmiah. Tidak mengimani beberapa hadits, bukanlah secara otomatis berkelompok pada sebutan “inkarus sunnah”. Lagi pula kisah Isra-Mik’raj tidak termasuk rukum Iman ataupun rukun Islam. Tolok ukur keimanan adalah meyakini kebenaran Al Quran, tanpa satu katapun diabaikan. Al Quran adalah wahyu Allah yg dituturkan oleh lisan bersih Muhammad Al Mustafa Rasulullah SAW,bahkan tentang prosesi wahyu jauh lebih hebat ketimbang kisah Isra-Mi’raj.Sedangkan Al hadits adalah pemberitaan tentang Rasulullah yg diangkat dari para shahabat, yg kemudian disebar luaskan oleh para pengikutnya (tabi’in, tab’inattabi’in) dan seterusnya hingga sampai kepada kita sekarang. Yg diperlukan oleh para peyakin Isra-Mikraj,adalah sejauh mana bahwa Al Quran tidak merekomendasi kisah seperti itu.Mari kita buktikan. #19. Dikirim oleh Mustafa Adnani pada 01/09 07:54 PM Untuk komentar Abu Hanif, pada 23/7 @ 11.33 am Berbicara “kalau” (Law (Arab)=andaikata, bilamana,jika + lau) berarti tidak ada kepastian. Berbeda dengan “Laqod” yg pasti terjadinya. Bandingkan FirmanNya dalam QS10:99,“Dan kalau Tuhanmu menghendaki, tentulah beriman siapapa saja (semua manusia) di muka bumi ini seluruhnya. Maka apakah engkau (Muhammad)akan memaksa orang, sehingga mereka beriman (semua)?”.Jawaban Rasulullah pasti “tidak (akan memaksa)”. Dan kenyataannya/faktanya/buktinya, jelas bahwa sedikit sekali orang yg beriman, bersyukur dan menyadari. Qaliilan maa tasykuruun, Qalilan maa tadzakkaruun. Jadi kalau bicara kalau Allah mau, berarti belum tentu Allah mau.Jadi iman yg kuat harus mengetahui mana yg Allah mau, dan mana yg tidak mau. Sepertinya tulisan dan pandangan pak Abdul Muqsith Ghazali ttg Isra Mikraj akan mengarah kepada pendapat saya, yakni kisah Isra Mikraj adalah muncul dari pemikiran klenik atau takhayul. Makanya ketika ‘Aisyah mengomentari soal Isra Mikraj bahwa peristiwa itu peristiwa ruhani, memang tepat. Kalau bukan peristiwa ruhani, tentulah sulit kita mempercai turunnya wahyu kpd Rasulullah. Kemudian bila kita lebih meluas dlm membaca hadits yg menyangkut peristiwa tsb., tertulis dlm kitab At Tawhid sbb: “...Qaala: fahbith bismillahi, Qaala: wastayqadha wa huwa filmasjidil haraam”. Artinya:...kata Jibril:“Turunlah engkau (Muhammad) dengan nama Allah”. Kata Anas (perawi hadits tsb):“Dan ia (Nabi) sadar (bangun), bahwa beliau tengah berada di Masjidil Haram. Jumhur ulama berpendapat, melalui penelusuran ayat, bahwa kata “abdihi” *QS17:1) selalu gabungan jiwa dan raga. Kia akan menjawab dg pertanyaan,:Adakah manusia hidup itu, antara jiwa dan raganya terpisah?. Seseorang dikatakan hidup bila bertaut (menyatu) antara raga (fisik) dan jiwa (nafas). Fakta Al Quran menyebutkan dlm QS17:93, di antaranya disebutkan bahwa kafir Kuraisy meminta agar Muhammad NAIK KE LANGIT, DAN MEREKA TIDAK AKAN PERCAYA TTG KENAIKAN ITU, BILA (DARI LANGIT)MUHAMMAD TIDAK MEMBAWA KITAB UNTUK MEREKA BACA RAME-RAME. Dan talah Allah jawab, “Katakanlah (Muhammad): Mahasuci Tuhanku, bukankah aku ini hanysa manusia yng mendapat perintah (menyampaikan wahyu)?.” Nanti saya sambung.

#21. Dikirim oleh Mustafa Adnani pada 03/09 06:44 AM Dalam menjustifikasi kisah Isra Mi’raj ada yg berdasarkan sains, bahwa kecepatan yg luar biasa (jarak Masjid al Haram, via Masjid Al Aqsha langsung ke al Mustawa dan kembali ke Makkah) dalam waktu kurang dari setengah malam adalah hal yg tidak mustahil. Kalau zaman sekarang,zaman teknologi canggih, memang betul atau dapat diterima. Sekali lagi,itu terjadi karena kecepatan dg teknologi (teknos: alat, logos: Ilmu) canggih. Bila mencari dalil yg mirip: boleh lihat QS55:33 (“Wahai masyarakat jinn dan manusia,bila kalian sanggup melintasi penjuru langit dan bumi, (silahkan) lintasi. Kalian tidak akan mampu melintasinya kecuali dengan KEKUATAN”.) Sulthaan=teknologi. Bila hal tsb (berkecepatan tinggi)dilaksanakan oleh jiwa dan raga Rasulullah adalah hal yg mustahil. Kisah seperti ini identik dgn cerita Mahabharata atau Israiliyyat. Maka mejustifikasi kisah Isra-Mi’raj lewat pandangan sains adalah akalakalan (bukan akal yg benar). Demikian pula, pembenaran itu berdasarkan ayat populer, Kalau Allah menghendaki adanya sesuatu, cukup mengatakan: “KUN FAYAKUN” (Terdapat pada 8 ayat dlm Al Quran, a.l. QS2:117, QS3:47,QS3:59,QS16:40 dst) Kun fayakuunu, jangan diartikan : “Jadilah (engkau) maka terjadi (atau langsung ada)”. Kalau seperti itu yg dimaksud, maka ayat akan berbunyi:“KUN, FAKAANA” (silahkan kaji ulang kata FA YAKUUNU dan kata FA KAANA). Jadi maksud ayat ini menggambarkan Kemahamampuan Allah.Karenanya, kata FAYAKUUNU berarti maka dia (sesuatu yg diingini Allah) akan melalui proses sehingga kemudian eksis (ada). Ihwa ayat pada QS17:1, sama sekali tidak menyentuh apa yg dikisahkan oleh (di antaranya): Anas bin Malik, Malik bin Sha’sha’ah ataupun Abu Dzar Al Ghifari. Maukah Anda membuktikan bahwa Al Quran sama sekali tidak merekomendasi kisah Isra-Mi’raj ?! #22. Dikirim oleh Mustafa Adnani pada 05/10 04:41 PM bagaiman mungkin jibril berbentuk materi( tranformasi berbentuk manusia), padahal ia terbuat dari cahaya, (sumber dari sahih muslih dan al buhari). tolong jelaskan #23. Dikirim oleh aris pada 19/05 08:45 PM Ini semua akibat dari mengabaikan sunnah dan mengagungkan bid’ah. Yang tidak penting dianggap ibadah, yang ibadah di lalaikan dan dianggap ibadah.Allah swt,melalui para Nabinya sudah menjelaskan dengan sejelas-jelasnya tentang agama ini. Ibadah tidak perlu campuran-campuran tradisi dan adat-istiadat, sehingga akan merusak ibadah itu sendiri. Kalaulah penting tanggal isra’ dan mikraj ini tentu Rasulullah dan para sahabat tidak akan lupa memperingatinya dan mencatat tanggalnya, berhubung hal ini tidak penting maka Rasulullah dan para sahabat mengabaikannya. Al-Qur’an hanya mencerikankan terntang israk mikrajnya saja, sebgaia tanda2 sebahagian kekuasaanya, dalam rangka menyemput perintah sholat. Sunnah ini lah yang diabaikan oleh ummat islam. Sunnah terbesar yang menentulan sekaligus perbedaan seorang muslim dengan kafir adalah masalah sholat. Letak kemulian kita dihadapan Allah hanya dngan sholat. Wallahu"alam bishshawab. #24. Dikirim oleh asyura MH bin Musthafa pada 08/07 02:21 PM Abubakar malah mendapatkan gelar shadiqin dg membenarkan kejadian tsb. kita sebagai umat selanjutnya yg gak bertemu dg ke duanya menyangsikan kejadian tsb. jika percaya seperti Abubakrinishshidiq bisa lebih legowo, akal dan tehnologi gak nyampai. Yang terpenting samikna wa’athakna gak usah mikir ini itu. Ini adalah keimanan. Jika dipikirkan alam semesta ini tercipta fii sittatii ayyamin… jika hanya isro mikroj lebih mudah bagi Allah. Alimul ghaibi washshadah…coba lihat / baca tubuh kita sendiri..ada otak untuk memerintah organ tubuh yg manual, yg otomatis jantung, paru, ginjal, gak pernah terpikir bagi kita. Subhanallah walhamdulillah wala ilahaillahhu wallahu akbar.Jika dibayangkan ayat kursi..itulah kekuasaan Allah..umat islam sepeninggal rosullulah berbeda pendapat melulu…yg jadi orang berfikir adalah memilih surga atau neraka..Profesor akan mengalami kesulitan untuk hal ini..wassalam.. Editorial, 01/04/2010 Sejumlah Paradoks dalam Pidato Hasyim Muzadi Oleh Abdul Moqsith Ghazali Hasyim juga menolak sekularisme. Padahal, dalam waktu yang sama, dia juga menjelaskan penerimaan NU terhadap Pancasila, UUD 1945, dan negara bangsa Indonesia. Artinya, Indonesia ini bukan negara agama (Islam) melainkan negara Pancasila. Semua produk perundang-undangan di negeri ini tak diacukan pada argumen agama (Islam), melainkan pada UUD 1945. Tampaknya Hasyim tidak cukup mengerti apa yang disangkalnya, sekularisme-sekularisasi. Tak sedikit peserta muktamar NU ke-32 di Makassar yang terkesima dengan pidato pertanggung-jawaban Hasyim Muzadi, Ketua Umum PBNU 2004-2009, Kamis 24 Maret 2010. Namun, banyak juga yang mempertanyakan dan mempersoalkannya. Menurut kelompok kedua ini, dalam pidato tersebut ada sejumlah pernyataan Hasyim yang paradoks, bertentangan satu dengan yang lain. Bahkan juga terkesan simplistis. Beberapa hal berikut yang digugat kelompok kedua tersebut, persis beberapa menit setelah Hasyim Muzadi berpidato. Pertama, Hasyim mengeluhkan anak-anak muda NU yang sangat tergantung sama lembaga funding Barat. Ini, menurut Hasyim, menyebabkan anak-anak muda itu tidak independen dalam berfikir dan bertindak. Padahal, dalam waktu yang sama, dalam pidatonya dia berkata bahwa PBNU melalui kepemimpinannya mendapatkan suntikan dana dari lembaga-lembaga donor, bukan hanya dari Timur Tengah melainkan juga dari Barat, seperti USAID, Patnership, dan lain-lain. Kelompok kontra-Hasyim itu mempertanyakan, kalau Hasyim bisa dan boleh menerima dana dari lembaga donor, mengapa anak mudanya tidak boleh. Kalau PBNU halal mendapat dana dari Barat, kenapa PP Fatayat NU menjadi haram menerimanya, misalnya. Ini unfair. Bahkan, teman-teman muda NU di Jaringan Islam Liberal (JIL) menjelaskan bahwa lima tahun terakhir tak ada dana dari lembaga donor dari Amerika Serikat dan Australia yang mengalir ke rekening JIL. Ulil Abshar-Abdalla (pendiri JIL dan kandidat Ketum PBNU dalam muktamar itu) menjelaskan beasiswa dirinya studi di Harvard University AS diperoleh dari seorang pengusaha di lingkungan keluarga Kerajaan Arab Saudi, bukan dari Amerika Serikat apalagi Yahudi. Informasi ini mengagetkan peserta Muktamar NU. Alih-alih menjauhi Ulil seperti kerap dipidatokan Hasyim di pelbagai forum dan kesempatan, terlampau banyak pengurus cabang NU yang simpati dengan Ulil. Anak-anak muda NU itu mengibaratkan Hasyim Muzadi sedang menepuk air di dulang, kepercik muka sendiri. Kedua, Hasyim juga menolak sekularisme. Padahal, dalam waktu yang sama, dia juga menjelaskan penerimaan NU terhadap Pancasila, UUD 1945, dan negara bangsa Indonesia. Artinya, Indonesia ini bukan negara agama (Islam) melainkan negara Pancasila. Semua produk perundang-undangan di negeri ini tak diacukan pada argumen agama (Islam), melainkan pada UUD

1945. Tampaknya Hasyim tidak cukup mengerti apa yang disangkalnya, sekularisme-sekularisasi. Dia tak tahu jenis-jenis sekularisasi. Ada model Perancis, Kanada, Amerika Serikat, Indonesia, dan lain-lain. Himbauan mereka, tunggal; Hasyim perlu belajar banyak teori-teori sekularisasi dan sekularisme. Ketiga, Hasyim pun mengkritik sangat lantang pemikiran liberal Islam yang tumbuh subur di kalangan anak muda NU. Liberalisme dianggap menyimpang dari ajaran Ahlus Sunnah Waljamaah a la Nahdlatul Ulama. Sementara, dalam waktu yang bersamaan, dia melaksanakan pikiran-pikiran liberal Islam itu misalnya ketika dirinya menjadi cawapres dari Capres Megawati, dalam pemilu 2004. Terang benderang dalam buku-buku Sunni dijelaskan larangan bagi perempuan untuk menjadi hakim (qadli) apalagi menjadi kepala negara (al-mam ala’zham). Apakah kita bisa mempertanyakan ke-aswaja-an Hasyim Muzadi, kata mereka tandas. Keempat, dia berkata bahwa politik NU adalah politik keumatan dan bukan politik kekuasaan. Padahal, dalam waktu yang sama, cukup kerap Hasyim Muzadi terlibat dalam permainan politik untuk sebuah kekuasaan. Tak bisa ditutupi, Hasyim bermain dalam sejumlah Pilkada; pemilihan Gubernur juga pemilihan Bupati. Hasyim pun menjadikan NU sebagai salah satu mesin politik ketika dirinya maju sebagai cawapres. Antara kata dan perbuatan, demikian kelompok kontra Hasyim itu, jauh panggang dari api. Akhirnya mereka menyimpulkan bahwa Hasyim Muzadi gagal menjalankan pelaksanaan Khittah 1926 yang diamanatkan pada dirinya. Inilah beberapa poin keberatan yang saya dengar dari kelompok kontra-Hasyim. Kalau ada waktu, saya juga akan melaporkan alasan peserta muktamar yang mengelu-elukan Hasyim Muzadi. Insyaallah. 01/04/2010 | Editorial, | # Komentar Komentar Masuk (20) (Tampil maks. 5 komentar terakhir, descending) Islam & Indonesia tidak bisa dipisahkan! Unsur2 dasar Islam tertuang dalam Pancasila & UUD 1945 ,tapi tidak dalam UU/KUHP(yang justru bertentangan dengan jiwa Pancasila & UUD 1945) yang menguntungkan sejumlah kelompok/perorangan. Cintalah kepada ALLAH! kalau tidak bisa,Takutlah kepada-NYA ketika akan berbuat jahat/buruk! Hidup didunia adalah sementara, akherat adalah kekal,ketika kalian mati yang dibawa hanya amal baik & kain kafan semata Posted by satmata on 04/22 at 08:48 AM Mana tulisan yang anda janjikan…dari mereka yang sependapat dengan Pidato HM. Kok tidak balance cover nya. Mana kejujuran ilmiahnya Posted by Dono on 10/04 at 04:01 PM Saya tidak habis pikir dengan JIL, katanya menerima perbedaan pendapat tapi tetap nyinyir dengan pendapat orang lain. Posted by Dono on 10/04 at 03:54 PM menurut saya sah sah aja pendapat/pernyataan HM….kn kt jil negara ini negara demokrasi,jd y g usahlah d besar2kan….knpjil selalu mengkritisi orang2 islam yg tdk sependapat dg jil,ktnya jil penganut pluralisme…jd y slhkn urus jil mu dan kt islam yg biasa2 y urus sendiri….tidak usah sok benar jil..ktnya kebenaran hy milik tuhan…trms Posted by ade on 08/17 at 07:56 AM Saya Tetap menginginkan Indonesia yang Sekuler, Maju di Bidang Ekonomi dan Kuat di Militer. Agama dipisahkan dari Negara, yang berlaku hanya Hukum Aktif, MUI dibubarkan….Kebanyakan Orang NU di Daerah menjadikan NU sebagai Tunggangan Politik,...Sekolah2 Negeri tetap mengikuti Peraturan Nasional, kecuali Sekolah atau Organisasi yg kelola Swasta Bebas, Mau Ke Arab Araban atau Kebarat baratan terserah, yg mau mendirikan Negara yg tidak Sesuai dgn Kepribadian Bangsa, Pergi aja ke Gurun Sahara sana…..... Ketika tokoh2 muda NU diberi tempat di NU saya mulai bersimpati dengan NU dan merasa menjadi orang NU, tapi semenjak ulil di depak dari bursa pemilihan calon ketua NU, saya merasa berseberangan dengan NU. Semoga ulil cs tetap konsisten dengan ide2 dan perjuangannya, mudah2an bisa menggantikan ketokohan Gus Dur. Tapi di kepengurusan NU masih ada tokoh yg saya suka yaitu Masdar, gak tau sekarang beliau ikut didepak gak? #1. Dikirim oleh prasodjokusumodiputro pada 01/04 05:50 AM cak hasyim itu memang lebih menonjol politisinya daripada kyainya, sehingga berbagai langkahnya lebih banyak berbau politik (kepentingan pribadinya). Islam rahmatan lil alamin yang digagasnya, itu tidak keluar secara tulus dan ilmiah, tetapi lebih banyak bobot politiknya. karenanya perumusan gagasan itu saya yakin lebih banyak dirumuskan oleh “gank nya” cak hasyim sendiri daripada orang-orang PB. Nah dari sisi inilah, cak hasyim dapat dikatakan konsisten, yaitu konsisten untuk kepentingan politik dirinya. Kalau dia melarang anak-anak muda menerima bantuan dari Barat, sementara dia sendiri menerima, nah itu adalah bukti caak hasyim itu konsisten dengan politik pribadinya. termasuk soal sekulerisme wa ala alihi wa ashabihi. #2. Dikirim oleh muhammad nuh pada 01/04 02:44 PM

Hidup liberalisme, pluralisme, bunga di taman itu akan indah jika berwarna-warni. Lb 0813-6866-9876. #3. Dikirim oleh liby pada 02/04 10:33 PM Hasyim Muzadi memang banyak jasanya, antara lain menjadikan pengurus muda NU gila jabatan, miskin perubahan. Semua itu ditutupi dengan program-proram mencusuar yang tak ada manfaatnya langsung bagi ummat NU,tugas utama pak Agil sekarang adalah mencerdaskan generasi muda NU, urusin semua jenjang pendidikannya, ekonominya dan kesehatannya, jauhi budaya politik makelar yang akan menjerumuskan ummat NU ke jurang keterpurukan. #4. Dikirim oleh Abdurrahman Chudlori pada 04/04 06:32 AM Saya bukan muslim, tapi saya suka dengan NU yang menghormati budaya. Melihat pertarungan tokoh2 NU, yang tua pasti tidak mudah dan tidak mau berubah begitu saja. Apa lagi sekarang kecenderungannya adalah “seolah-olah” agama begitu penting dan berperan. Dalam kenyataannya bangsa kita hidup morat-marit. Soal ekonomi dan hukum yang tidak jelas sudah mau berpindah pada urusan agama yang bersifat pribadi. #5. Dikirim oleh mang uu pada 04/04 06:55 AM Untuk konsisten dalam inkonsistensi adalah sangat mudah, untuk konsisten dengan nilai seperti memegang bara di tangan…Wahai Sahabat, belajarlah dari sejarah…jangan pernah percaya dg kharisma…, jangan! #6. Dikirim oleh Ulil Hidayat pada 04/04 08:54 AM Pada kesempatan ini tulisan Mas Moqsith saya pikir tidak lagi seperti biasanya yang sarat telaah pemikiran yang segar. Masalah sekularisme-sekularisasi versi pemahaman Kyai Hasyim tak patut disalahkan wong itu interpretasi beliau. Lebih cantik jika didiskusikan lebih lanjut tentang sekularisme-sekularisasi tersebut jika Anda kurang sepakat. Sebuah organisasi yang besar seperti NU ini sarat dinamika internal, yang semua itu merupakan domain politik praktis. Ketika Mas Ulil tak terpilih sebagai Ketua Tanfidziah NU, pasti ada juga yang kecewa walaupun sedikit kuantitasnya. Tapi inilah politik praktis dalam berorganisasi (karena suara mayoritas). Dibutuhkan kedewasaan memang sebagai bagian dari pematangan dalam berorganisasi. Saya tetap saja rindu kepada aktifitas dakwah kawan-kawan di JIL secara kultural ke bawah. Tenang sajalah, masih banyak yang membutuhkan percikan-percikan ide-ide segar kawan-kawan muda JIL, selain di tataran elit NU. #7. Dikirim oleh Satriwan Salim pada 04/04 02:25 PM Dalam sepemahaman saya, sila pertama adalah ketuhanan yang maha esa, yang berarti kita menjalankan sesuatu berdasarkan iman kita terhadap tuhan. Jika beragama islam, maka kita melakukan segalanya dengan dasar ajaran islam, begitu juga untuk agama lain. Jika dalam pemahamannya dalam islam itu tidak ada sekularisme, maka dia akan menolak sekularisme. Jadi menurut saya, mendasarkan organisasi pada Pancasila “sambil” menolak sekularisme bukanlah Paradoks. Tapi memang poin-poin yang lain merupakan paradoks. #8. Dikirim oleh Mufti pada 06/04 09:50 AM Saya bukan orang NU bukan pula “Liberalwan”. Saya hanya seorang pemerhati dinamika NU sebagai sebuah organisasi besar dan mengakar di republik ini. Secara jujur dan rendah hati saya berkesimpulan bahwa khittah NU tidak akan mungkin bisa mengakomodir pemikiran2 yang tidak satu rel dengan cita2 “founding-father”. Karena mereka2 itu adalah sosok2 yang Insya Allah ikhlas & lurus dalam berIslam serta peduli terhadap dinamika masyarakat Indonesia yang nota bene memiliki pola pikir yang simpel dan tidak njelimet apalagi berzig-zag ria dalam berargumen (sangat jauh, saya kira). Hemat Saya, bung Abdul Moqsith Ghazali perlu juga mencermati secara arif dan komprehensif, dalam artian tidak secara parsial. Bahwasannya, sekelompok yang disebut kontra dengan Pak Hasyim Muzadi itu berapa persen sih dari jumlah pengurus NU yang ada, apalagi bila diukur dengan jumlah NU-wan & NU wati se Indonesia Raya (dan dimanapun berada). Saya pikir, beda pendapat boleh saja, namun perlu juga proporsional. Apakah yang kontra itu cukup mampu mengimbangi trend yang ada atau hanya sebatas wacana kecil saja. Terimakasih, Wassalam. #9. Dikirim oleh mang Ute pada 06/04 01:11 PM Tulisan ini cukup fair untuk melihat seorang tokoh NU di mana kalangan akar rumput menganggapnya sebagai sosok/tokoh yang “absen dosa”. Bukan hendak mengolok-olok atau mencari kejelekan seseorang, tapi ini sangat penting terkait dengan masa depan NU secara kelembagaan #10. Dikirim oleh Abd. Rahman Syaukani pada 07/04 02:57 PM saya pribadi berpikir tidak ada pertentangan konseptual antara pancasila dengan islam. #11. Dikirim oleh riki pada 18/04 04:00 PM

saya kira penting pidato seorang KH.Hasyim muzadi harus dikritisi,saya sangat setuju apa yg dikatakan shbt muqsit ghozali biar publik tahu bahwa apa yg dikatakan dan dilakukannya selama memimpin NU ternyata banyak sekali paradoks yg di buatnya.saya tidak mengerti sekulerisasi yg dikembangkan beliau. di satu sisi dia suka menentang faham sekulerisasi yg di wacanakan generasi muda NU,tpi dia sendiri melakukannya.dimana2 dia mengatakan NU tidak berpolitik tpi dia sendiri melakukannya, politik ya politik atau mungkin politik Nu bagi orang lain haram mungkin baginya halal,Pragmatisme dan sipat petronasi sangat melekat pada dirinya,NU mengalami kemunduran wibawa di mata publik,fitnah terjadi di amana2,pemikiran anak muda NU dan perkembangan politik, tidak pernah di respon olehnya.seolah-olah tak ada satupun di NU yg muncul selain dia,penghancuran selalu dihembuskan secara halus melalui kekuasaannya.namun semua itu sebagian bisa berjalan tapi sebaiagn lagi tidak.Hasiyim muzadi harus memahami sekarang ini,bahwa apa yg dia lakukan dulu ternyata menimbulkan kebencian dimana-mana,kesadaran seorang hasyim Muzadi sy kira belum terlambat, dia hrs bisa menjawab apa yg berkembanng setelah dia lengser. kita tunggu babak berikutnya….. #12. Dikirim oleh ardani muhammad pada 21/04 02:46 PM dimanapun, kapanpun dan apapun yg terjadi sy hrp JIL bs ttp eksis #13. Dikirim oleh Atr pada 23/04 02:07 PM PENGAMATAN SY, gara2 tawaduk dg yg tua,yg muda g dpt2 jabatan.YG TUA KADANG SAMPEK PIKUN MSH PEGANG JABATN,stlh tak sbr buat kelompok sendiri atau kabur kekelompok lain,ujung2nya fatwa,kafir,halal darahnya,atu balas dendam bg yg dkt dg kekuasaan atau pnya jabatan,ini sering sy dngar utk JIL klu mmng pnya hub dkt dg NU dlm tubuh NU beragam manusia ada yg moderat ada yg msh kolot,bahkan ada jg yg garis keras.jadilah penyatu pd para NAHDLIYYIN YG MULTI RAS DN PARTAI INI.jgn smpai ngemplang pala para kyai!!!(paranormal raden haryo damar,medan) #14. Dikirim oleh RADEN HARYO DAMAR pada 08/07 03:59 PM tidak ada yg salah dgn pernyataan HM ,krn mmg sejak kembali ke khittah thn 1984 penerimaan NU thd Pancasila sdh final, jd negara RI yg merdeka sejak 1945 mengadopsi sistem yg khas, bukan negara agama jg bukan negara sekuler, tidak ada paradox disini krn yg terpenting adalah bagaimana keluhuran nilai2 agama dpt dihayati dan dijalankan oleh pemeluknya masing2, apa artinya negara agama apabila didalamnya yg terjadi adalah penghancuran nilai2 agama dalam seluruh aspek kehidupan sehari2, contohnya: sebutkan model negara agama (Islam) yg dapat dijadikan acuan? #15. Dikirim oleh KOPET pada 30/07 03:40 PM Saya Tetap menginginkan Indonesia yang Sekuler, Maju di Bidang Ekonomi dan Kuat di Militer. Agama dipisahkan dari Negara, yang berlaku hanya Hukum Aktif, MUI dibubarkan….Kebanyakan Orang NU di Daerah menjadikan NU sebagai Tunggangan Politik,...Sekolah2 Negeri tetap mengikuti Peraturan Nasional, kecuali Sekolah atau Organisasi yg kelola Swasta Bebas, Mau Ke Arab Araban atau Kebarat baratan terserah, yg mau mendirikan Negara yg tidak Sesuai dgn Kepribadian Bangsa, Pergi aja ke Gurun Sahara sana…..... #16. Dikirim oleh brodin pada 04/08 01:59 AM menurut saya sah sah aja pendapat/pernyataan HM….kn kt jil negara ini negara demokrasi,jd y g usahlah d besar2kan….knpjil selalu mengkritisi orang2 islam yg tdk sependapat dg jil,ktnya jil penganut pluralisme…jd y slhkn urus jil mu dan kt islam yg biasa2 y urus sendiri….tidak usah sok benar jil..ktnya kebenaran hy milik tuhan…trms #17. Dikirim oleh ade pada 17/08 07:56 AM Saya tidak habis pikir dengan JIL, katanya menerima perbedaan pendapat tapi tetap nyinyir dengan pendapat orang lain. #18. Dikirim oleh Dono pada 04/10 03:54 PM Mana tulisan yang anda janjikan…dari mereka yang sependapat dengan Pidato HM. Kok tidak balance cover nya. Mana kejujuran ilmiahnya #19. Dikirim oleh Dono pada 04/10 04:01 PM Islam & Indonesia tidak bisa dipisahkan! Unsur2 dasar Islam tertuang dalam Pancasila & UUD 1945 ,tapi tidak dalam UU/KUHP(yang justru bertentangan dengan jiwa Pancasila & UUD 1945) yang menguntungkan sejumlah kelompok/perorangan. Cintalah kepada ALLAH! kalau tidak bisa,Takutlah kepada-NYA ketika akan berbuat jahat/buruk! Hidup didunia adalah sementara, akherat adalah kekal,ketika kalian mati yang dibawa hanya amal baik & kain kafan semata Editorial, 22/12/2008 Lia Aminuddin dan Problem Penghapusan Agama Oleh Abd Moqsith Ghazali

Dengan demikian, agama baru tak boleh bersikap angkuh dengan menganulir ajaran agama sebelumnya yang telah menjadi keyakinan para pengikutnya sejak lama. Seperti halnya Lia yang tak boleh sewenang-wenang menghapus agama Islam, maka begitu juga ulama Islam tak boleh memvonis secara sepihak terhadap agama yang tumbuh sebelumnya. Injil tak bisa diadili dengan menggunakan Alquran, misalnya, karena konteks yang melatari kehadiran dua kitab suci itu jelas berbeda. Lia Aminuddin mendirikan agama baru. Ia tak memulainya dari nol. Lia meracik agamanya dengan sejumlah ajaran dari agama lain. Sebagiannya diambilkan dari Alquran, dan sebagian yang lain dari Injil dan Taurat. Ia mengkompilasi Islam, Kristen, dan Yahudi dalam satu chapter. Ia pun menggunakan nama-nama mitis yang lazim dipakai agama-agama Timur Tengah tersebut seperti Jibril, Ruhul Kudus, Bunda Maria, Yesus Kristus, dan sebagainya. Ia bertutur, sejumlah ayat Alquran turun kembali ke haribaannya. Ia menyerap dan meratifikasi ayat-ayat dalam Injil. Dengan merujuk pada Alkitab surat Wahyu 12: 1 misalnya, Lia mengaku sebagai reinkarnasi Bunda Maria. Ia pun mengutip ayat dalam Veda dan dalam Dhammapada untuk mengukuhkan eksistensinya. Dalam periode ini, ia seakan hendak menegaskan bahwa apa yang dibawanya bukan sesuatu yang baru. Ia dan ajarannya merupakan kelanjutan logis dari ajaran para nabi dan pendiri agama sebelumnya. Sampai di situ, Lia tak terlampau kontroversial. Karena hampir semua nabi terutama pada saat awal kehadirannya memiliki klaim sama. Yesus pernah berkata, “janganlah kamu menyangka bahwa Aku datang untuk meniadakan hukum Taurat atau kitab para nabi. Aku datang bukan untuk meniadakannya melainkan untuk menggenapinya”. (Perjanjian Baru, Matius 5: 17). Nabi Muhammad pernah diperintah mengikuti agama Ibrahim. Allah berfirman, “Kemudian Kami wahyukan kepadamu: ikutilah agama Ibrahim seorang yang hanif. Dia tak termasuk orang-orang Musyrik”. (QS, al-Nahl [16]: 123). Itu sebabnya Muhammad SAW tak menganggap dirinya sebagai yang pertama. Allah berfirman, “katakanlah, “aku bukanlah yang pertama di antara rasulrasul” (qul ma kuntu bid`an min al-rusul). (QS, al-Ahqaf [46]: 9). Ungkapan serupa juga dikemukakan Lia Aminuddin ketika pertama kali memperkenalkan kenabian dirinya ke publik. Namun, dalam perkembangan berikutnya Lia mengajukan klaim lain. Ia tak mendaku sebagai nabi dan reinkarnasi Bunda Maria lagi. Lia menyebut dirinya Jibril Ruhul Kudus, malaikat yang dikenal karena kesabarannya bolak-balik mengantar wahyu Allah kepada para nabi dan rasul. Ia berkata, “aku, Ruhul Kudus pun telah sampai pula pada saatnya dapat menjelma menjadi manusia sempurna di tengah masyarakat. Aku selalu ada sebagaimana Lia Eden yang tak pernah berpisah denganku sesaatpun. ….Sebagaimana Lia Eden itu terfungsikan sebagai jasadku, karena pada dirinyalah berada ruhku yang mapan. ..Aku menjelma secara fisik dengan sempurna demi menyatakan Kerajaan Tuhan”. (Surat Ruhul Kudus 7-8). Bagi saya, pengakuan Lia ini bukan hanya tak biasa, melainkan juga tak punya preseden. Tak pernah ada orang yang mengaku sebagai (jelmaan) Jibril. Paling jauh orang-orang dalam rumpun agama semitik seperti Islam menganggap diri sebagai sufi, wali, nabi, dan imam mahdi. Tak lebih dari itu. Mengaku wali saja cukup kontroversial apalagi mengaku nabi dan penubuhan Jibril. Sebagai Jibril Ruhul Kudus, telah dua tahun lalu Lia memaklumatkan penghapusan agama-agama. Ia berkata, “Aku bersumpah dengan terpaksa menghapuskan semua agama-agama demi mengadili dan demi membakukan Keadilan-Ku. Dan kuhapuskan semua agama-agama demi perdamaian dan kemudahan jalan menuju surga-Ku”. (Sumpah Tuhan Yang Maha Kuasa, 18). Ia juga berkata, “Dan apabila Aku sudah menghapus agama Islam setahun yang lalu, walau tak bergaung karena tak diberitakan sehingga tak menjadi perhatian umum, tapi itu telah terlaksana sebagai Ketetapan Hukum-Ku. Demikianlah Kuperlihatkan kenaasan nasib umat Islam sedunia setelahnya”. (Sumpah Tuhan Yang Maha Kuasa, 18). Pernyataannya tentang penghapusan Islam ini telah memantik pro dan kontra di kalangan umat Islam. Sejumlah ulama mengajukan keberatan. Mereka menganggap Lia dan jemaatnya telah melakukan penodaan agama sehingga pantas diadili. Bagaimana penghapusan agama lama oleh agama baru ini? Apakah itu unik pada agama rintisan Lia? Pertama, agama baru biasanya menghapuskan sebagian ajaran agama lama dan menerima sebagian yang lain. Islam mengabrogasi sebagian syari`at agama Yahudi yang dipandang tak relevan. Tapi, juga menerima sebagian yang lain yang dinilai cocok dengan konteks zaman. Islam pernah menetapkan hukum rajam dan qishash sebagaimana Yahudi mengundangkannya. Karena itu, dalam ushul fikih disebutkan bahwa syari`at sebelum Islam (syar`u man qablana) merupakan salah satu sumber hukum Islam. Lia pun mengenal istilah pengakuan dan penebusan dosa sebagaimana kerap dilakukan umat Kristiani. Model penghapusan dan akomodasi parsial seperti ini telah banyak terjadi dan orang mudah memaklumi. Kedua, agama baru selalu membawa semangat penyegaran dan peremajaan. Islam misalnya dianggap sebagai edisi revisi dari agama Tuhan yang diselewengkan (tahrif) dan dipalsukan oleh umat Kristiani dan Yahudi. Sebagian mufasir mengartikan orang-orang termurka (al-maghdlub `alaihim) dan tersesat (al-zhallin) dalam Alquran surat al-Fatihah sebagai orang Yahudi dan Nashrani. Kehadiran Islam diharapkan bisa memulihkan integritas agama yang hancur di tangan para pemeluk agama Yahudi dan Nashrani. Lia juga sama. Ia memandang umat Islam dan Kristiani Indonesia telah melanggar kodrat agama sebagai tangga menuju Tuhan. Islam telah menjadi tujuan padahal ia hanya sarana untuk mencapai Tuhan. Agama telah menjadi ajang konflik dan perebutan kekuasaan. Dengan argumen itu, Lia membakar “lumbung” dan bukan menjerat “tikus”. Tindakan Lia ini mengejutkan. Tapi orang yang belajar teologi dan sejarah agama-agama tahu; sikap Lia terhadap agama sebelumnya ini agak mirip dengan sikap Kristen terhadap Yahudi serta sikap Islam terhadap Kristen dan Yahudi. Jika dahulu sebagian umat Yahudi dan Kristiani tersinggung dengan pandangan Islam yang hendak menaskh sebagian ajaran Yahudi dan Kristen, maka hal yang sama sekarang dialami sebagian ulama Islam. Mereka marah atas arogansi Lia Aminuddin yang tidak hanya menghapuskan sebagian ajaran Islam, melainkan justeru membubarkan agama Islam sendiri. Seperti otoritas Yahudi juga Romawi yang terguncang dengan kehadiran Yesus hingga ia disalibkan, maka ulama Islam Indonesia mulai geram dengan kehadiran Lia. Kemarahan orang Yahudi tak terkendalikan hingga menuduh Bunda Maria sebagai penzina dan Yesus adalah anak haram jadah. Kini kemarahan orang Islam tak tertahan hingga Lia Aminuddin nyaris dihakimi massa. Melalui penjelasan itu, ingin saya katakan; Pertama, agama tidak melulu soal ajaran tapi juga soal keyakinan. Dengan demikian, agama baru tak boleh bersikap angkuh dengan menganulir ajaran agama sebelumnya yang telah menjadi keyakinan para pengikutnya sejak lama. Seperti halnya Lia yang tak boleh sewenang-wenang menghapus agama Islam, maka begitu juga ulama Islam tak boleh memvonis secara sepihak terhadap agama yang tumbuh sebelumnya. Injil tak bisa diadili dengan menggunakan Alquran, misalnya, karena konteks yang melatari kehadiran dua kitab suci itu jelas berbeda. Kedua, penghapusan agama lama oleh agama baru tak produktif bagi terciptanya tata kehidupan damai. Sikap seperti ini hanya akan memercikkan api perseteruan. Umat yang satu tak akan rela sekiranya agama yang diyakininya dengan sepenuh hati dievaluasi dan direndahkan begitu rupa oleh umat lain yang datang belakangan. Kolonialisasi agama seperti ini perlu segera diakhiri agar tak menimbulkan ketegangan antar-umat beragama. Ketiga, khusus bagi umat Islam yang kini agamanya telah dihapuskan oleh Lia Aminuddin, kita tak perlu bertindak emosional. Umat Islam mesti menunjukkan bukan hanya kepada komunitas Lia Aminuddin di Jalan Mahoni No. 30 Jakarta Pusat, tapi juga kepada dunia perihal ajaran-ajaran dasar Islam yang masih relevan dan berguna buat sebesar-besarnya kemaslahatan manusia. Sebab, ketinggian dan martabat sebuah agama bukan hanya ditentukan oleh asal-usulnya yang diklaim dari langit, melainkan juga dari dampak kemalahatan yang ditimbulkannya ketika di bumi. Tak banyak gunanya ajaran agama yang dianggap dari Jibril ketika hanya berisi ancaman dan caci maki kepada yang lain.[] 22/12/2008 | Editorial, | #

Komentar Komentar Masuk (97) (Tampil maks. 5 komentar terakhir, descending) Semua perseteruan ini akan berakhir jika semua ummat memurnikan agama masing-masing atau waktu berakhir.. Posted by Cahyo Gio on 02/25 at 05:06 AM

“Wahyu” didapatkan Lia saya kira setelah ia melakukan proses pencarian yang luar biasa sehingga akhirnya “tuhan” memberinya pemahaman seperti itu termasuk cara menyebarkan ismenya. Mungkin itu “lebih baik” bagi dia dari pada sekedar ikut-ikutan seperti mayoritas orang yang terkondisikan untuk malas atau bahkan tidak sempat berpikir. Semua ajaran para utusan-Nya tampak pernah mengalami kegemilangan kesuksesan baik sebagai konsep intelektual menyejarah tak terbantahkan maupun sebagai bukti kasih-Nya yang teraplikasi dalam kehidupan manusia, suatu kehidupan yang damai sejahtera, kehidupan penuh berkah, pengkabulan dari doa semoga semuanya bahagia. Hari ini semua ajaran agama, baik itu Islam, Kristen, maupun Yahudi, tampaknya tinggal deret-deret huruf di atas kertas dan jejalin pemahaman yang rumit di dalam masing-masing pikiran pemeluknya. Ummat Islam misalnya, sangat sibuk dengan wacana dan perdebatan tiada henti tentang ajaran-ajaran Muhammad Rasulullah dan para ulama pendahulunya. Mayoritas dari wacana itu, baik yang sudah dianggap final atau belum, khususnya dalam soal aplikasi petunjuk kehidupan praktis tidak pernah membumi. Dan apa pun alasannya, Islam hari ini tak ubahnya seperti macan ompong yang bahkan tidak punya cakar. tinggal auman garing tersisa. Cita-cita rahmatan lil alamin hanya isapan jempol ketika mengurus diri sendiri saja sudah tidak mampu. Impian ya’lu wala yu’la ‘alaih hanya mimpi di siang bolong, ummat Islam sedang kalah dan terus kalah. Apalagi idealitas ummatan wasaton, menjadi ummat yang menjadi wasit dunia, penegak keadilan di bumi hanya menjadi bualan kosong, sebab untuk merukunkan diri sesama ummat Muhammad saja sudah keteteran dan diam-diam menikmati perang dingin di tubuh ummat Islam sendiri. Islam, Kristen dan Yahudi yang diajarkan para Nabi-Nya hanya menjadi anjuran dan nasehat yang dikemas untuk memperkaya pemberi nasehat dan even organizernya. Tidak terbukti, ajaranajaran itu kini menuju ke idealitas kehidupan ilahiah. Kondisi ini membuat sebagian orang pesimis, dan bahkan mungkin muak. Tampaknya sudah menjadi keniscaan sejarah bila para pencari muncul dengan “wahyu” barunya, menggagas perubahan ke arah yang lebih baik dan fundamental. Posted by mustofa on 10/11 at 09:15 AM modus semua nabi sama:yang udah2 pd menyimpang jd dia perlu meluruskan/menyempurnakan.jadi ini cuma masalah menang/kalah aja,bukan benar/salah.pelajari lg perjuangan nabimu jd ente bs obyektif. Posted by banish on 06/08 at 12:17 PM As salamualaikum, Lia Aminuddin (mudah-mudahan Allah memberi petunjuk), aliran yang jelas mengada-ada, ada yang namanya titisan Nabi Muhammad Saw, itu jelas tidak mungkin, mari bersama-sama kembali ke ajaran Islam yang benar Posted by arema singa islam on 04/13 at 04:04 PM sebelum tugas kenabian seorang nabi berakhir, beliau pasti akan menubuatkan kehadiran nabi penerusnya. sedangkan lia aminudin cs tidak ada sangkut pautnya sama sekali dengan tugas kenabian, dan tidak pernah disebutkan dalam kitab2 terdahulu jadi dia tidak berhak menghapus agama. Posted by Romadhani on 03/28 at 02:55 PM Bung Ghazali Awalnya melihat judul editorial anda, sangat menarik dan simpatik. Perkiraan saya anda akan menyidang ‘agama’ Lia ini versi JIL, ini baru ok, karena yang dibela semua agama yang telah lama eksis di tanah air ini. Namun lagi-lagi, seperti biasanya, penonton harus dikecewakan karena ujung-ujungnya adalah Islam lagi yang anda ‘sikat’ dengan meminjam kasus fenomenal Tante Lia ini. Anda menyamakan Islam dengan ‘agama’ Lia dalam hal penghapusan thd agama-agama sebelumnya. Tolong jujur sedikit Bung, baca Al-Qur’an baik-baik, tak ada ayat yang secara deklaratoris berbunyi seperti ‘wahyu’ Tante Lia itu memberangus agama-agama sebelumnya, yang ada malah ayat lakum diinukum waliyadiin (surah alkaafirunn), yang memberi hak hidup terhadap agama-agama lain. Yang mengherankan, kenapa anda malah membela keyakinan yang menganiyaya (baca: ‘agama’ Lia)daripada keyakinan yang teraniyaya (baca: Islam)??? Mari berkaca pada kehidupan normal keseharian sesuai public decency Bung!!

#1. Dikirim oleh alar pada 22/12 08:09 AM “maka begitu juga ulama Islam tak boleh memvonis secara sepihak terhadap agama yang tumbuh sebelumnya. Injil tak bisa diadili dengan menggunakan Alquran” saya sependapat dengan kutipan pernyataan bapak diatas. harap bapak juga katakan kutipan tersebut diatas kepada para misionaris nasrani yang bergerak memurtadkan umat muslim dan agama lain di kabupaten2 dengan kedok misi kemusiaan. sehingga kita “SALING” toleransi. #2. Dikirim oleh Moon Child pada 22/12 08:24 AM Bagi saya, tak penting menanggapi apa yang telah dikatakan oleh Lia ‘Edan’ Aminudin tersebut. Buat apa menanggapi kalimat dari orang se-Edan itu yang tidak jelas asal usulnya. Hanya buang-buang energi umat yang kini sedang ghirah dengan penerapan Khilafah Islamiah dan Syariah demi kemajuan Islam dan umatnya tersebut. Tidak perlu mengutip segala perkataan Si Edan tersebut seperti mengutip ayat-ayat suci, toh siapa dia? Dan kita tak merasa Islam telah dihapus oleh siapapun, karena siapa sih Si Edan itu? Nggak penting. Dan tempat si Edan itu bukan di LP harusnya di RSJS (Rumah Sakit Jiwa Sekaliii). Yang penting tegaknya Daulah Khilafah. Allahu Akbar !!! #3. Dikirim oleh Rachman Fauzi pada 22/12 08:50 AM Sesungguhnya orang yang selalu bercengkrama dengan seekor gajah pasti akan mengetahui seluk beluk dan keutuhan fenomena gajah….dia tidak akan terpalingkan barang secuilpun tentang segala sesuatu yang berkenaan dengan gajah…. beda halnya dengan orang (berfaham reduksionisme) yang hanya tahu tentang gajah dari dongengan…cerita….gambar….rekaman video… atau tulisan-tulisan tentang gajah. Holisme adalah suatu faham antiteses dari reduksionisme yang dapat dinisbatkan kepada orang yang berpandangan utuh tentang segala sesuatu….seperti dimitsalkan dengan gajah maka fenomena holistik dari gajah hanya dapat diketahui dan difahami oleh orang yang selalu bercengkrama dengan gajah setiap waktu…. Nah demikian pula dengan agama….maka fenomena holistik tentang agama hanya dapat difahami oleh orang yang mengkaji…memahami…mengamalkan dan menyebarkan dan aktivitas2 lainnya yang berkaitan dengan ajaran agama tersebut. Keuntungan bagi seseorang yang berpandangan holistik (holisme) adalah dia dapat membedakan mana yang benar2 asli dan palsu…. taruhlah orang yang selalu bercengkrama dengan gajah ...tiba2 dalam suatu kesempatan dia disodori gading gajah dan yang menyodorinya tersebut mengklaim bahwa gading itu adalah gajah… Orang tersebut pasti akan terpingkal-pingkal walaupun seseorang yang menyodorkan gading gajah tersebut terus berkeyakinan penuh bahwa itulah benar2 “gajah” menurut pandangannya….. Nah terkait dengan fenomena Lia Aminudin….dialah orang seibarat yang menyodorkan gading gajah kemudian meyimpulkannya bahwa itulah gajah….. so pasti orang yang tidak pernah atau jarang bercengkrama dengan gajah “bisa” mempercayainya bahwa itulah benar2 “gajah”. Bolehlah bahwa fenomena kenabian selalu diawali dengan fenomena ghuroba (orang2 yang dianggap aneh)... tetapi fenomena ghuroba adalah suatu proses awal yang kemudian diikuti dengan pembumian suatu “agama” yang bersifat universal dan diterima oleh kesatuan nalar-pikirmistis-trandensius tanpa paksaan dan rekayasa sama sekali. Bukan hanya sekedar dibandingkan secara terpilah-pilah dan serampangan…. Lia aminudin sekarang dianggap ghuroba… maka secepat kilat orang reduksionist mengkonklusikan dia akan membumikan agama baru atau pembaharu…. kalau diterima oleh orang yang tidak atau kurang bercengkrama dengan agama… maka besar kemungkinan fenomena ghuroba dari Lia aminudin akan ditelan mentah2 sebagai proses awal lahirnya agama baru atau pembaharu agama “usang”....... pendek kata kenapa fenomena nabi palsu…atau lia aminudin menjadi perhatian khalayak???.... suatu faktor penentunya adalah faham reduktionisme telah benar-benar dijadikan sebagai akar tumbuhnya masyarakat modern…. sehingga kebanyakan ummat dijaman ini tidak sensitif lagi untuk dapat membedakan mana sesuatu yang “asli” dan mana yang “palsu”..... Kabayan sendiri saat ini terpingkal-pingkal ketika lia aminudin meyodorkan gading…. kemudian lia aminudin menyatakannya bahwa itulah gajah yang “benar-benar” gajah….. tak ada yang akan terpengaruh dengan semua ke-PD-an lia aminudin tersebut…. selain orang-orang reduksionist….atau istilah awamnya KEBLINGER….. #4. Dikirim oleh kabayanist pada 22/12 10:39 AM Menurutku Lia Aminuddin tidak usah ditanggapi sungguh2. Biarkan burung berkicau, kita tetap minum kopi dan melahap pisang goreng dengan nikmat. Justru kalau kita terlalu serius menanggapinya, atau kita menembak burung tsb, Lia akan menjadi seperti Yesus: melegenda sebagai martir. (Komentar ini pun sebetulnya tidak perlu dibuat) #5. Dikirim oleh Asep Sofyan pada 22/12 02:57 PM walau bagaimanapun sejarah telah mencatat 14.000 kepalsuan data bible, apakah anda tidak tau sejarah ketuhanan yesus kristus? kapan yesus jadi tuhan? apakah agama masehi yang dibawa isa almasih seperti sekarang ini? kenapa muncul aliran protestanis yang dipelopori oleh martin luther? kenapa muncul aliran ortodok di mesir yang ajarannya berbeda dengan kristen di indonesia? ayolah mulai berfikir secara aqli dan qalbi, buka mata lebar2, kan anda sendiri yang mengatakan kembali ke aqal, aqal yang manakah yang anda gunakan? aqal tempe kah? atau tahu kah? atau aqal yang sehat? #6. Dikirim oleh Muhammad Ridwan Al-Jufrie pada 22/12 03:59 PM Saya pikir tidak perlu terlalu mengancam dan merasa terancam dalam kasus ibu Lia Aminuddin, karena perkembangan Islam dan agama-agama yang lain telah mencapai pada keyakinan dan kemampanan tersendiri oleh masing-masing umat serta keagamaan itu sendiri sebagai satu sistem. Kalau ketidakpuasaan dari Ibu Lia dan pengikutnya terhadap agama yang ada serta menyampaikan itu dalam pewahyuan dan publikasi yang terbatas—besar ketika diadukan salah satu pemuka agama dan masuk berita media—sebenarnya perlu dipahami keberadaan mereka. Keinginan untuk meyakini sesuatu adalah hak bahkan menyatakan iman kepada orang lain adalah hak, apabila kita memahami ini, maka pernyataan iman seseorang terhadap orang lain dapat dipandang sebagai satu tawaran atau alternatif. Untuk itu yang ditawari—apalagi ini suatu keyakinan—tidaklah mudah untuk menerima begitu saja suatu keyakinan orang lain, karena faktor keyakinan pribadi itu sendiri, sehingga dia bisa menolak karena tidak sesuai dengna nalar keyakinannya, sehingga tidaklah perlu tersinggung dan membawa ini pada hukum formal. Menyeret kewenangan negara untuk hal-hal yang privat sebenarnya memboroskan waktu dan membawa kita pada pencerminan seberapa besar keyakinan iman kita terhadap Tuhan Yang Maha Esa. Mari kita melihat halini sebagai satu gejela di masyarakat yang merasa perlu pembaruan secara pribadi saja.

#7. Dikirim oleh Agustinus Telaumbanua pada 23/12 05:56 AM apapun yang anda katakan saya pikir tidak akan ada pengaruhnya dengan ajaran lia eden apalagi islam. bahkan tak menyentuh pagar keduanya apalagi masuk kedalamnya. saudara muqsith penjelasan anda telihat agar loyo tidak seperti biasanya. kalau mau menghantam itu yang tegas dong. saya melihat tulisan anda itu laksana seorang pemuda yang memegang pedang yang tajam namun tangannya menggigil terus karena ketakutan; tidak tahu harus diayunkan kemana pedang itu dengan benar (masih penuh ragu-ragu). malau saya katakan anda tidak yakin dengan islam/ lia eden 100 persen, tidak juga atau mau saya katakan anda yakin dengan islam 100/lia eden persen tidak juga menurut saya dalam setiap tulisan anda, saya selalu melihat kegigilan dan keraguan anda yang seolah-olah tak bisa disembunyikan bagi “mata” yang dapat melihat. anda teperangkan dalam jebakan keraguan yang tak berujung dan seolah-olah sulit keluar dari sana. semoga doa saya ini dimakzulkan oleh TYME Amin #8. Dikirim oleh akrom pada 23/12 10:35 AM Lia aminuddin sebetulnya cuma setingkat dengan dukun perempuan yg ada di kampung saya, seorang perempuan yg tdak mengerti apapun tentang masalah agama tapi jika ada yg memasuki tubuhnya dia jadi terlihat begitu pandai. Menurut pengakuannya kadang yg masuk adalah arwah wali songo, kadang tuan Abdulqadir jilani, kadang Muhammad SAW, kadang Jibril as si roh kudus itu bahkan yg lebih fantastis adalah kadang Tuhan yg memasuki dirinya. Dia bisa berbicara dg suara, dialek dan bahasa yg berbeda, bisa menerangkan tafsir quran seluas2nya dan macam2 keanehan lagi. Begitu pula yg terjadi dg Lia edenudin, menurut salah seorang mantan pengikutnya Lia sebetulnya tidak mengerti apa2 masalah agama tp jika dirinya sedang extase dan kemasukan arwah, entah itu mengaku jibril atau siapa, Lia mendadak jadi mengerti banyak hal dan bisa menafsiri Alquran. jadi Saya lebih suka menganggap Lia hanya sebagai dukun yg tersesat jalan yg semakin lama semakin tersesat dan perlu segera di selamatkan. Terlalu besar jika membandingkan apa yg di lakukan Lia adalah seperti apa yg telah di lakukan yesus terhadap agama yahudi, dan apa yg telah di lakukan Muhammad SAW terhadap agama kristian. sebab apa yg telah di lakukan ke 2 orang itu telah berhasil merubah sebuah peradaban ke arah yg lebih baik sementara apa yg telah di lakukan Lia hanya menambah keruh suasana Indonesia saja di tengah kekeruhan yg begitu panjang mewarnai negeri ini. #9. Dikirim oleh Fatur rafael pada 23/12 11:52 AM Assalamualaikum. Bpk Abd Moqsith G, anda begitu bijak mengulas masalah keyakinan ibu Lia. Apa yang bpk ungkapkan, semua dapat disimak dari buku sejarah, cuma tidak semua orang mengerti dan mau tahu, dan dapat menyajikan seperti apa yang saya baca, yang dikemukakan bapak itu. Alangkah baiknya, apa bila tulisan itu dikirimkan ke media, seperti tempo, kompas, ataupun yang lain, sehingga masyarakat bisa baca, bukan hanya JIL saja. Wassalam H.Bebey #10. Dikirim oleh H. Bebey08 pada 24/12 02:59 AM Repot amat sih ngurusin Lia yg “maybe looks crazy”. Mau bubarin agama kek atau bubarin Partai Golkar dan PDIP biarin aje.Nggak usah repot2 #11. Dikirim oleh Nurcahaya pada 24/12 04:16 AM Pembaca yang beriman, Kecendrungan membenarkan agama sendiri dan menyalahkan agama lain pernah kualami pada masa mudaku. Ketika itu saya selalu percaya bahwa agamaku adalah agama yang paling benar dan agama lain adalah agama yang salah atau menyesatkan. Saya bahkan terkadang terpikir bahwa mereka yang tidak seagama dengan saya akan masuk neraka. Tentu saja semua penilaian ini berdasarkan kacamata kedangkalan pemahaman saya terhadap agama secara umum, khususnya agama saya. Saya lalu mencoba untuk belajar agama lain, berdialog dengan orang lain baik yang sama agama maupun yang berbeda agama. Saya juga sering melakukan monolog dengan nurani saya. Dalam hal ini terjadi dialog antara akal saya dan nurani saya sendiri. Dari pengalaman-pengalaman ini saya berusaha keluar dari agama dan kepercayaan saya dan melihat semua agama dan kepercayaan dari luar, baik agama saya dan agama-agama lain. Dalam posisi ini saya menemukan bahwa agama hanyalah ALAT untuk mencapai TUJUAN dan bukan merupakan TUJUAN. Jadi agama dalam hal ini merupakan JALAN menuju ke SURGA. Jadi tidak hanya satu jalan melainkan banyak jalan. Saya menjadi yakin bahwa setiap agama mempunyai tujuan yang sama yaitu menciptakan kemaslahatan Umat manusia dan alam semestanya serta memuliakan Yang Maha Esa. Jadi sepantasnya umat beragama melihat sesama umat baik yang beragama berbeda maupun yang beragama sama merupakan mitra dalam usaha untuk mencapai tujuan di atas. Tak ada gunanya menyalahkan agama lain. Karena kita selalu cendrung menggunakan ajaran agama kita untuk menghakimi agama orang lain. Menurut saya orang yang selalu menyalahkan agama lain atau selalu mencurigaikan umat agama lain adalah orang-orang yang belum menyerap sari murni dari ajaran agamanya. Mungkin pengetahuan keagamaannya tinggi - menghafal semua ayat-ayat kitab suci - selalu berdoa tetapi jiwanya belum menyelami kedalaman samudra inti ajaran agamanya sehingga selalu takut tergoda oleh orang lain. Imannya bisa goyah hanya karena kehadirang agama lain dan bahkan merasa terancam karena orang atau dia akan lari dari agamanya sendiri. Orang yang hidupnya penuh curigai-takut dan dengki adalah orang yang hidupnya masih jauh dari SURGA alias KEBAHAGIAN.

Hila #12. Dikirim oleh Hila pada 24/12 08:58 AM Adalah hak Lia untuk mengklaim ajarannya sebagai yang paling benar dan yang lain salah, seperti hak orang lain untuk mengatakan Lia SALAH dan punya dia yang benar. Karena Lia sangat minoritas dan mengancam mayoritas, maka ia pasti tidak berdaya diserang secara hukum, maupun fisik. Islam juga akan terancam di Amerika kalau ajarannya mulai mengancam masyarakat mayoritas di sana. Namun masalah keyakinan tidak bisa disederhanakan. Tidak ada keyakinan bagi mereka yang setengah-setengah. Karena itu sebagai keyakinan Islam harus menyatakan dia yang paling benar, atau dia yang meluruskan agama lain yang mulai melenceng. Kita penganut Islam percaya bahwa ajaran Rasulullah Muhammad SAW adalah BENAR dan datangnya dari ALLAH SWT, tuhan jagat raya kita. Ini agama terakhir, dan alhamdulillah tidak pernah ada agama besar ( agama yang diyakini oleh miliaran manusia) lagi setelah ISLAM. Inilah sebuah bukti kongkrit dan sebagai fakta sejarah yang tak terbantahkan sampai saat ini. #13. Dikirim oleh Ali Salim pada 24/12 10:24 AM Bapak Moqsith yang saya hormati, Saya mencoba memahami terhadap tulisan anda tentang Lia Aminuddin tersebut. Saya cukup sependapat dengan tulisan anda di atas,, walaupun masih banyak hal2 lain yang memerlukan analisa lebih rinci tentang pendapat anda. Namun,yang membuat saya tertarik dengan kalimat anda “agama baru tak boleh bersikap angkuh dengan menganulir ajaran agama sebelumnya yang telah menjadi keyakinan para pengikutnya sejak lama”... yang penting tidak membuat agama baru lain atau agama lama lainnya, tidak merasa dilecehkan,pokoknya,,, toleransi dan berjuang terus membawa kenyamanan dan keadilan bagi semua. yang penting adem-adem saja, & mau belajar untuk bisa hidup saling bermanfaat.. #14. Dikirim oleh Afi pada 24/12 05:10 PM Assalamu Alaikum w.w. Untuk mempertahankan keyakinan tentu seseorang akan seperti sedang bela-diri, waspada menghadapi gerak tipu lawan-lawan yang akan menggoyahkan kuda-kuda. Tetapi Lia Eden itu tidak sedang bela-diri, dia malah menjadi pihak yang sangat agresip, main sikut tendang ke-segala arah. Ini suatu fenomena kenekatan yang harus dipelajari. #15. Dikirim oleh usuprat pada 24/12 09:30 PM Sdr Ghazali Mungkin anda lupa bahwa dunia ini sudah padat dengan AGAMA2 yg biasanya muncul dibeberapa negara yg sedang berkembang, baik itu ekonominya atau akal manuasianya.Cukup sudah, manusia tidak perlu agama baru lagi ( sayang akalnya koq cuma mikirin agama baru ), alangkah lebih baik dan bermanfaat jika kemampuan meng ANALISA dan hasil jerih payah belajar anda, digunakan untuk berdakwah yg lebih arif dan berguna untuk semua masyarakat. Sangat setuju dengan Rahman Fauzy, Lia perlu periksa kondisi jiwanya. #16. Dikirim oleh H.Jufri pada 25/12 12:41 AM Golden Rule : “Apa yang kamu tidak suka orang lain berbuat terhadap dirimu, jangan lakukan terhadap orang lain” Laksanakan perintah ini, maka dunia akan damai tentram. Kalau tidak mau dihina, jangan menghina Kalau tidak mau dipukul, jangan memukul Kalau tidak mau ajarannya dihina dan dicari-cari kesalahannya, jangan menghina dan cari-cari kesalahan ajaran orang lain. dst dst dst. Salam damai sejatera. #17. Dikirim oleh Budiman pada 25/12 03:56 AM @Hila Saya sangat setuju dan sependapat dengan ulasannya saudara Hila. Sikap menganggap agamanya sendiri yang paling benar dan menganggap agama orang lain adalah salah dan perlu diluruskan adalah sikap yang sangat berbahaya. Terlebih lagi yang dipakai sebagai alat untuk “meluruskan” tersebut adalah ayat-ayat yang ada di kitab suci agamanya sendiri. Hasilnya dijamin kacau dan amburadul, karena bagaimana mungkin orang yang agama dan keyakinanya berbeda dipaksa mengakui kebenaran versi agama dan kitab suci agama lain. Mengenai Lia Eden, saya bingung ngapain sich orang kayak gitu diurusin, sampai-sampai dituduh melakukan penistaan agama. Menurut pendapat saya biarin saja orang-orang macam si Lia Eden, semakin diekspos dia akan semakin populer dan jangan-jangan nanti pengikutnya bertambah. Saya kebetulan tinggal di tengah-tengah lingkungan yang sangat heterogen, dari tetangga yang islam alirannya bermacam-macam, bahkan ada LDII. Dari Nasrani juga banyak. Hindu juga banyak dan juga saya lihat mereka aktif dalam beberapa aliran. Kenyataannya kami selama ini baik-baik

saja. Ketika kami arisan kami sempat mendiskusikan masalah Lia Eden, semua kompak berbicara, mengurus orang macam Lia Eden hanya menghabiskan tenaga dan waktu sia-sia. Saya punya pertanyaan sederhana, kenapa hal-hal semacam ini di Indonesia masih layak sebagai bahan dagangan berita? Di negara-negara maju hal-hal beginian sudah nggak layak jual lagi di Media. Sudah nggak ada nilai beritanya. Kita aja yang nervous berlebihan, kalau toh nanti Lia CS masuk neraka akibat ulahnya, ya itu resiko mereka. Gitu aja kok repot!!! (Minjam istilahnya Gus Dur) #18. Dikirim oleh Damai pada 26/12 04:26 AM Ya, saya lagi menunggu lakon berikutnya. Mestinya polisi yang menangkap Lia Eden sudah kena kutukan karena menangkap Jibril bahkan titisan Tuhan. Atau penjara itu hangus karena telah memenjarakan Tuhan atau jibril di dalammnya. Betapa pengikutnya tidak logis dan meenjahiliyahkan dirinya. Dan ada pula intelektual ikut membingungkan umat dengan membela Lia dengan teori relatifisme kebenarannya. Dasar dunia memang sudah tua sehingga semua jadi sableng. Logika sederhana dibuat-buat rumit dengan analisa seakan-akan sangat ilmiah untuk mememberi ruang kebenaran pada sesuatu yang sudah najis kebenarannya. #19. Dikirim oleh irsad pada 26/12 12:51 PM Saya “menyukai” ide-ide Lia Eden yang mengulang sejarah dengan membuat pola yang sama dengan nabi Muhammad ketika pertama kali mengajarkan Islam. Mungkin pengulangan ini dianggap sebagian orang merupakan kebijakan murni dari Lia Edenpadahal hal tersebut mutlak inisiatif keterputusasaan LE, meskipun ia hanya mengambil itu sebagai “yurisprudensi” agama. Saya merasa kalau Lia Eden sebenarnya bersikap kritis terhadap pola pikiran dan perilaku sebagian dari Umat Islam yang bersikap konservatif dan berbuat ekstrim terhadap umat lain, keputusasaan ini lah dimanifestasikan dalam upaya penghapusan agama Islam, yang menurut saya merupakan sikap menghapuskan islam dari dirinya sendiri bukan dari esensi umat. saya sepakat dengan dengan Bp Moqhsith bahwa esensi umat tidak perlu menyikapi hal ini secara serius, ini adalah upaya publikasi dengan membuat kontroversi agar diperhatikan idenya, ide yang cemerlang kadang kalah dengan ide yang mentereng secara sosial. semakin kita membahas kontroversi ini, kita hanya membahas ambisi orang ini, semakin kita menjadikannya narsis terhadap dogmanya Ali Salim, Memang kepercayaan tidak bisa disederhanakan sperti katamu itu. Dan jika kita percaya yang paling BENAR secara tidak langsung kita menyatakan yang lain kurang benar. Lalu bagaimana dengan “Agamamu adalah agammu dan agamaku adalah agamaku”? Menurut saya pernyataan di atas mau mengingatkan kepada pemeluk agama Islam bahwa menurut kamu agamamu benar dan menurut saya agamaku benar. Dengan kata lain Islam mengakui agama lain sebagaimana adanya. Tidak membeda-bedakan agama yang satu kurang benar - agama yang lain benar dan hanya satu agama yang paling benar. Semua agama benar adanya. (Dulu saya pernah menyatakan agama saya yang paling benar padahal yang ingin saya katakan adalah agama saya yang paling sesuai dengan diri saya. Saya menduga bahwa setiap orang merasa bahwa agamanya paling sesusuai dengan dirinya tetapi sering secara tak sadar menyatakannya dengan yang paling benar). Jika kita dari Jakarta mau pergi ke Surabaya; kita bisa naik kereta api, naik bis, naik pesawat terbang dan naik mobil. Walaupun ada yang lebih lebih cepat karena teknologynya lebih moderen tetapi toh akhirnya sampai ke Surabaya juga. Nah Agama juga seprti kendaraan; dia hanyalah ALAT/KENDARAAN untuk membawa kita ke Surga. Apapun kendaraannya pasti sampai di Surga juga, jika kita benar-benar mengikuti rambu lalulintas dengan baik dan benar selama perjalanan kita itu. Ternyata yang TERPENTING dalam perjalan adalah mengikuti rambu lalu lintas bukan jenis kendaraannya. Karena apapun kendaraanya jikat kita tidak taat peraturan lalulintas maka kita akan tergelincir dan tidak sampai ke Surabaya. Selain itu dalam perjalanan kita ke Surabaya ini juga terdapat banyak kendaraan yang mereknya sama tetapi jenisnya berbeda dan ada berbagaimacam kendaraan yang lain sehingga kita harus mampu memberi kesempatan yang sama kepada semua kendaraan untuk berjalan secara tertib bersama-sama ke Surabaya. Jika yang satu mau menang sendiri maka akan menimbulkan kemacetan lalu lintas sebagaimana yang sering kita saksikan di kota-kota besar di Indopnesia. Nah! Sama juga dengan agama. Jika semua orang menjalankan agamanya dengan baik dan memberi kesempatan kepada orang lain untuk menjalankan agamanya dengan baik, saya yakin kita semua bisa mencapai tujuan yaitu SURGA (atau dengan kata lain mencapai KEBAHAGIAN lahir dan batin). HIla #21. Dikirim oleh Hila pada 27/12 12:06 AM Sepakat dengan catatan pada bait terakhir kang Moqhsit bahwa kita umat Agama Islam yang telah di"enyahkan” keberadaanya oleh Lia sang “Ruhul Kudus” itu tidak perlu bersikap terlalu menggubris, apalagi bertindak anarkis. Umat Islam hemat saya lebih baik menfokuskan diri pada pengembangan masyarakat, pengentasan kemiskinan, kebodohan dan kerja-kerja sosial lainya, jika itu dilakukan maka umat dengan sendirinya akan memahami dan sekaligus, kita tidak perlu khawatir saudara-saudara kita akan “kepincut"oleh ajaran Lia Sang “Ruhul Kudus itu”. Inilah kritik buat elit-elit ulama,yang duduk di NU, Muhamadiyah, atau lainya, tunjukan bahwa kita yang dibawah ini, yang senantiasa khawatir adanya penggusuran karena itulah satusatunya penopang hidup kami, dan tempat berteduh kami, yang sehari-hari hanya mampu makan sebatas untuk hidup, yang tidak mampu mengakses pendidikan dengan bebas (karena pendidikan hari ini masih milik orang-orang berduit, apalagi dengan adanya rencana BHP)adalah salah satu prioritas program kerja. Betapa menyedihkan, ketika kami-kami yang miskin papa ini hanya sebatas atas nama, sebatas komoditi diseminar-seminar, hanya “Terangkat” diforum-forum kemanusiaan yang diselenggarakan, akan tetapi sesungguhnya pada tataran nyata kami masih tetap sama? MISKIN, PAPA DAN TERPINGGIRKAN. Kalau demikian adanya, adakah masih terdapat alasan bagi kami untuk berbangga dengan Islam yang konon (Di)hadir sebagai pembebas kaum Mustad’ifien ini??? #22. Dikirim oleh Miftahuddin Musthafa pada 27/12 05:16 AM Salam untuk Saudara Musqsith Saya perhatikan, Anda ingin menegaskan ajaran Lia Eden sebagai agama baru yang datang setelah agama-agama sebelumnya, termasuk Islam, maka dari itu harus diterima sekaligus disambut. Anda pula ingin menyamakan posisi ajaran Lia sebagaimana Islam lahir belakangan seteleh Kristen dan Yahudi.

Komentar ini hanya ingin menanggapi tulisan Anda [atau para pembaca yang lain]. 1. Sejak kapan ajaran lia eden disebut sebagai Agama? Sampai saat ini, ajaran Lia hanya terdiri dari kompilasi kitab suci-kitab suci yang ada dengan argumentasi-argumentasi teologis yang ‘ngaco’! 2. Anda mengatakan, bahwa agama tidak melulu ajaran tapi soal keyakinan. Apakah statemen anda, juga, membenarkan ketidakjujuran, rekayasa, kebohongan, dsb prilaku-prilaku menipu yang harus diyakini oleh manusia? Maka saya hanya ingin menambahkan bahwa, selain ‘ajaran’ dan ‘keyakinan’ [sebagaimana yang anda katakan], KEOTENTIKAN SEBUAH AJARAN DAN KEYAKINAN-pun harus dikedepankan dan diuji seberapa jauh validitasnya. Ini penting agar umat manusia tahu dan mengerti, mana yang agama DUSTA dan mana yang agama JUJUR [saya menghindari kata ‘agama benar’, karena anda pasti risih mendengarnya]. Andaikan saja dua agama sebelum Islam itu masih terjaga keotentikan dan keakuratannya, mungkin akan lain alur ceritanya! 3. Apa yang anda maksud dengan “kolonialisasi agama”? Sepertinya anda mengarahkan istilah tersebut kepada agama anda sendiri [kalau anda masih beragama Islam], ini ahistoris namanya, sebenranya siapakah koloni-koloni itu? Islam hanya merespon, menjawab, memberikan reaksi atas aksi-aksi biadab yang dilakukan sebelumnya. Saya kira anda perlu lebih BERPIKIR ADIL! Wallahu a’lam Wassalam #23. Dikirim oleh irmansulaimanism pada 27/12 08:55 AM 1. Lia Aminuddin katanya mendapat wahyu, berarti Allah masih hidup dengan menurunkan wahyunya, sesuai Thaha (20) ayat 114,115, Al A’rad (13) ayat 39. 2. Ulama berkeyakinan setelah Muhammad saw. wahyu tidak turun lagi, berarti “ulama” telah menjadi Tuhan selain Allah, sesuai At Taubah (9) ayat 31. 3. Bagi mereka yang mengerti apa yang diturunkan kepada Lia Aminuddin, secara ilmu, adalah mengacu kepada: Ali Imran (3) ayat 19,81,82,83,85, Al Maidah (5) ayat 3, Al Hajj (22) ayat 78, Al Baqarah (2) ayat 208, An Nashr (110) ayat 1,2,3: Allah akan menyempurnakan agama disisi Allah adalah Islam sejak dahulu Adam sampai hari ini menjadi Agama Allah; disebabkan sesuai ramalah nabi Muhammad saw. umatnya akan terpecah menjadi 73 firqah (Ar Ruum (2) ayat 32), Nasrani 72 firqah sesuai Yudas 1:18,19,20,21, Yahudi 71 firqah sesuai Al Mu’minuun (23) ayat 53,54, semuanya masuk neraka perpecahan agama sesuai ilmu setan Al Baqarah (2) ayat 36, kecuali yang mengikuti niat Allah menciptakan sorga umat yang satu (di-Agama Allah) sesuai An Nahl (16) ayat 93; yang tidak mau disesatkan Allah, yang mau diberinya petunjuk. 4. Ajal umat Islam sesuai Al A’raaf (7) ayat 34,35 atau kiamat yaitu habis gelap terbitlah terang benderang ilmu pengetahuan agama memenuhi Al Qiyamah (75) ayat 6-15, Al Baqarah (2) ayat 257. 5. Al A’raaf (7) ayat 52,53: Allah akan menurunkan Hari Takwil Kebenaran Kitab yang wajib ditunggu-tunggu akan tetapi dilupakan oleh umat manusia, sebagai ilmu pengetahuan kiamat, dan pelajaran agama akan mulai dari titik nol kembali. 6. Thaha (20) ayat 114,115: Allah akan menyempurnakan pewahyuan Al Quran, dan dianjurkan Allah agar “manusia berdo’a ilmu pengetahuan agama awal millennium ke-3 masehi”. 7. Al Mujaadilah (58) ayat 6,18,22: Allah akan membangkitkan semua manusia dengan ilmu pengetahuan agama yang berpihak hanya kepada Allah saja, takwa bersahadat tauhid sesuai Az Zumar (39) ayat 45, dan meninggalkan shahadatain sifat arbaban/kultus/menuhankan nabi sesuai Ali Imran (3) ayat 80, dan arbaban kepada “ulama” selain Allah sesuai At Taubah (9) ayat 31. 8. Banyak lagi argumentasi yang dapat dikemukakan dengan pengertian Hari-Hari Allah sesuai Ibrahim (14) ayat 5, Al Jaatsiyah (45) ayat 14 sebanyak 400 ayat. 9. Agama Allah, tempat semua agama-agama masuk berbondong-bondong kedalamnya dan mencapai kemenangan dengan pertolongan Allah awal millennium ke-3 masehi sesuai maksud An Nashr (110) ayat 1,2,3. 10: Inilah ilmu yang diturunkan wahyunya kepada Lia Aminuddin, hanya saja tidak dijelaskan secara hujjah Allah, hujjah nabi Muhammad saw. dan hujjah kitab suci-Nya tersebut diatas. 11. Inilah pamahaman kami terhadap apa yang diturunkan jibril Allah kepada Lia Aminuddin. 12. Bagi mereka yang tidak mengerti ILMU ALLAH silahkan saja berpendapai seperti apa kepada Lia Aminuddin, kami tidak memaksa memenuhi dalil Allah sesuai Al Kahfi (18) ayat 29: Yang mau beriman silahkan dan yang mau kafirpun silahkan, tidak ada paksaan dalam agama sesuai Al Baqarah (2) ayat 256 ? Salamun ‘alaikum daiman fi yaumiddin, Soegana Gandakoesoema, Pembaharu Persepsi Tunggal Agama millennium ke-3 masehi. #24. Dikirim oleh Soegana Gandakoesoema, Pembaharu Persepsi Tunggal pada 28/12 12:17 AM tidak adalagi agama yang benar selain ISLAM dan TIDAK ADA LAGI ROSUL setelah MUHAMMAD SAW DAN dalam sejarah tidak ada agama yang bisa tumbuh besar selain agama ISLAM karena memang ISLAM agama yang paling benar dan tidak boleh setengah setengah ( harus penuh ) kalau kita percaya pada ISLAM dan ROSULULLAH MUHAMMAD SAW. AMIN ! #25. Dikirim oleh pramujiono pada 29/12 11:23 AM Lia Amunudin hanyalah korban dari tipuan iblis yang pengaruhnya sangat sedikit terhadap umat yang lebih berbahaya adalah pengaruh orang-orang yang mengaku beragama dan pemimpin agama tapi hanya sibuk menghiasi singgasana duniawinya saja. Kiyai sibuk memperbanyak pengikut. Ustadz sebuk berceramah dengan nilai nominal yang tinggi. Pelajar sibuk dengan nilai-nilai ulangan. Karyawan sibuk dengan naik pangkat dan golongan. agama hanyalah tinggal agama. Sahlat, puasa dan selesai. Sementara Musuh-musuh agama terutama islam terus menghancurkan islam dengan kekerasan yang sangat nyata seperti Predator dan monster besar Amerika, Inggris, Israil, Australia dll

wassalam

terimakasih #26. Dikirim oleh myrazano pada 30/12 02:57 PM hemm kenapa yah banyak orang indonesia ini belum dewasa seperti islam2 di negara lain, sebenarnya yg di dimaksudkan diatas kita tidak boleh menghakimi dlm hal negatif keyakinan org lain itu bukan masalah benar atau tidak atau setuju atau tidak btw kenapa jg ya suka menghakimi agama kristen yah, selagi tidak berbuat kriminal nga masalah kan ? daripada teriak2 islam dimana mana tapi koropsi,suka fitnah,bohong,menyakiti org lain dll, btw iman itu di hati bung !!! dan nga mudah blg situ yg paling benar karna kita percaya akan keyakinan kita masing2.. terima aja perbedaan buat sebagai keindahan. inget lho org kristen juga banyak py kontrubusi positif bwt republik ini dan mgkn jg banyak yg “makan” dr org2 kristen juga, jgn mau menang sendiri dong bung menghina hina keyakinan org lain. kami yakin kristen itu menganut kasih dan kita ini bersaudara, dan alangkah indahnya kalau bersama sama membangun kesejahtraan bangsa drpd buat konflik yg nga penting ..... krn yg terprnting peradilan kita di akhirat .. tul nga ??? salam sejahtra .... #27. Dikirim oleh Raya pada 30/12 09:21 PM Betul sekali mas Moqsith!! Selama ini kemacetan dialog antar iman itu karena masing-masing pihak ingin agar “mengupas” agama lain dengan menggunakan “pisau” kitab suci sendiri! Orang Islam “mengupas” Kristen dengan “pisau” Alquran, sedangkan orang Kristen “mengupas” Islam dengan menggunakan “pisau” Alkitab, ya jelas “meleset” jauh alias ndak nyambung! menurut saya, SETIAP AGAMA terdiri dari 3 bagian utama, yaitu: DOGMA, DOKTRIN DAN PRAKSIS. Kalimat syahadat dalam Islam adalah DOGMA, demikian juga SYAHADAT IMAN dalam Kristen! Menurut saya, dialog atau diskusi antar iman itu HANYA BISA DALAM TATARAN PRAKSIS ATAU IMPLEMENTASI AJARAN AGAMA SAJA! DOKTRIN masih mungkin didiskusikan, walaupun tidak seluruhnya, tetapi DOGMA TIDAK MUNGKIN DAN TIDAK BISA DIDISKUSIKAN DENGAN CARA APAPUN! #28. Dikirim oleh donny pada 31/12 03:24 AM @hilla Anda berpersepsi bahwa pemikiran anda benar. Kami yang beragamapun berpersepsi sama. Jadi pada dasarnya anda tidak usah mengungkit-ungkit agama kami dan memberi tahu kami!! Kalau anda tidak setuju, kami juga tidak setuju dengan paham anda!! Saya sebagai orang islam merasa bahwa islam lah agama yang benar karena sesuai dengan akal dan logika. Islam tidak hanya sebagai alat untuk menuju surga tapi Jalan Hidup. Jadi anda tidak usah berkoar-koar, karena anda tidak merasakan masuk langsung ke dalam islam secara utuh!! #29. Dikirim oleh bayu pada 31/12 03:28 AM Assalamu alaikum terima kasih atas infonya saya tertarik dari diskusi ini.Tetapi itu semua kembali dari Iman dan tauhid kita, dan perlu juga diketahui Islam adalah agama terakhir yang yang diridho oleh Allah swt.dan saya anggap Lia Eden bukan membuat Agama tetapi ajaran dari Lia Eden adalah sebuah Sektesekte. Saudaraku saya mau kasih masukan bagaimana buat dong diskusi tentang Syiah dimata JIL. Sukran… waalaikum salam wr’wb #30. Dikirim oleh Arief pada 31/12 04:15 AM Abdul g Waahh… ternyata ke surga gampang sekali, kaya pergi ke surabaya tinggal memilih kendaraan yang di sukai. Udah nyampe deh… emang nya surga milik kakek Luu.. #31. Dikirim oleh abdul g pada 31/12 05:26 AM SeORANG MUSLIM SEJATI PASTI AKAN MENGATAKAN BAHWA HANYA ISLAMLAH AGAMA YANG PALING BENAR, DEMIKIAN JUGA DENGAN PEMELUK AGAMA LAIN PASTI AKAN MENGATAKAN YANG SAMA TENTANG AGAMANYA. DAN YANG PALING MENGHERANKAN ADL ORANG YANG MENGATAKAN BAHWA SEMUA AGAMA ADALAH BENAR DARI SEGI TAUHID MAUPUN AJARANNYA, SEDANGKAN KITA BERPRINSIP TUHAN ESA. KEPADA PARA LIBERALIS, SAYA INGIN MENANYAKAN KEPADA ANDA: APAKAH ANDA SUDAH SIAP JIKA SUATU SAAT NANTI DALAM KELUARGA ANDA ADA ANAK ANDA YANG MEMELUK AGAMA A, ADA AGAMA B, AGAMA A KAWIN SAMA AGAMA B DAN AKHIRNYA LAHIRLAH KETURUNAN YANG ATHEIS KARENA BINGUNG? DAN BUKANKAH KALO ANDA MELARANGNYA BERARTI ANDA MELANGGAR AZAZ LIBERALISME DAN JUGA MELANGGAR HAM KEBEBASAN BERAGAMA??? TOLONG DIJAWAB, BOLEH KE EMAIL SAYA #32. Dikirim oleh yap pada 31/12 08:00 PM Bayu yang baik. Anda tidak perlu melarang sdr Hila untuk berhenti berkoar2.Silahkan saja menolak pendapatnya, pemahamannya, itu hak anda tetapi biarlah ia berpendapat, salahkah dia apabila pemahamannya tidak cocok dengan pemahaman anda? Berikan dia kebebasan untuk memahami kebenaran dari sudut pandang yang dilihatnya.

Agama hanya alat untuk mencapai tujuan, tapi janganlah kita terjebak dengan hanya mengagung2kan “alat” tsb sehingga melupakan tujuan,bahkan secara tidak sadar kita telah memberhalakan agama itu sendiri.Kalau anda mengajak berlogika “perbedaan2 yang anda lihat membuktikan bahwa anda belum merasakan KeberadaanNya ada dimana2. #33. Dikirim oleh wiro pada 01/01 12:57 PM LIA eden saya kira tidak perlu ditanggapi serius. kebetulan saya pernah kerja di panti laras. pernyataan-pernyataan LIA itu banyak di panti laras. Tidak hanya ngaku Jibril. bahakan saya menemui seorang klien yang mengaku ALLAH. dia minta uang saya mau mencipatkan mobil katanya. dan masih banyak lagi. coba temen-temen psikolog bisa menjelaskan apa yang dialami LIA ini. tapi say heran ada temen kuliah saya jadi apa gak tau tuh si Abdurahman. waktu kuliah dia sanagt aktif dan berani mendobrak Sudomo zaman orba. tapi pemikiran kritisnya malah jadi pengikut LIA Eden. semoga Allah memberi hidayah kepada mereka. amin #34. Dikirim oleh miftahul huda pada 01/01 01:57 PM Mas Ghazali & Teman2 yang dikasihi Tuhan, memperbincangkan tentang TUHAN via agama tetap akan terus bergulir seiring dengan pengembaraan manusia di dunia ini, karena hakiki kita tuk mencoba menggapai misteri hidup ini. Ijinkan saya ikut ngomong, bahwa : 1. TUHAN pastilah Maha Sempurna, tidaklah butuh lagi untuk dibela, diklaim atau milik sebagian manusia, namun Maha Kuasa..!! 2. Agama adalah manifestasi manusia untuk menjamin kedekatan atau pro-TUHAN 3. Kebenaran sejati hanyalah TUHAN yang memiliki 4. Hal yang pasti bahwa jikalau kita berbuat positif, mulia, saling menghormati, toleransi dan apapun agamanya, maka TUHAN akan berkenan Fenomena TUHAN, agama dan kebenaran sejati tak akan berakhir selama kehidupan manusia masih ada karena misteri TUHAN itu sendiri. Mohon maaf bila tidak berkenan. GBU #35. Dikirim oleh codho pada 01/01 02:31 PM Assalamu’alaikum Wr.Wb. Lia Aminudin adalah salah satu contoh dari sekian banyak contoh manusia-manusia yang tidak pernah merasa puas dengan framework iman yang telah ditetapkan.Namun demikian dibalik fenomena ini, membuktikan bahwa telah terjadi kegagalan dakwah secara parsial sehingga umat menjadi bingung yang berujung pada penciptaan kreasi framework iman yang subjektif individual.Lia tidak bisa disalahkan secara sepihak, tapi juga harus disalahkan para pendakwah yang kebanyakan kita ketahui bukan memberikan pencerahan kepada umat melainkan malah membuat umat terus meraba-raba apa dan bagaimana sebenarnya menjadi insan kamil itu ?.Mudah-mudahan apa yang terjadi dengan Lia Aminudin dapat memberi pelajaran bagi kita semua, khususnya para pendakwah, agar berhati-hati dalam merajut iman umat.Dakwah yang baik adalah ketika Allah, Rasululullah, dan Kitabullah semakim populer di hati umat, bukan si pendakwahnya ..........Wassalam

#36. Dikirim oleh ferry pada 01/01 04:57 PM wah…gagasan yang cerdas sekali. saya setuju dengan pendapat penulis bahwa memang terdapat copy paste dan hubungan yang tidak bisa dilepaskan antara agama sekarang dan agama di masa lampau. tapi kalau masalah agama yang dibawa lia, gmana ya????sepertinya tidak komplit gitu lho….masak manusia yang tidak ada tanda-tanda memiliki suatu kelebihan, eeee malah nyelonong ngaku nabi..emang predikat nabi diberikan oleh sapa Ya??? #37. Dikirim oleh Tirmidzi pada 02/01 03:47 AM Posisi Lia Sebagai pembawa agama baru dapat dibenarkan tetapi posisi lia sebagai penghapus agama kayaknya tidak begitu menarik #38. Dikirim oleh abaz Zahrotien pada 03/01 11:11 AM Bayu dan abdul g, Yang saya tulis sebelumnya adalah pendapat pribadi saya. Saya tidak mengatakan pendapat saya yang paling benar dan pendapat yang lain tidak benar.Dan yang terpenting adalah tulisan itu tidak hanya dialamatkan kepada orang Islam melaikan untuk semua orang (baik Islam dan non Islam). Maaf jika Bayu menginterpretasikan demikian. Bayu menulis: “Saya sebagai orang islam merasa bahwa islam lah agama yang benar karena sesuai dengan akal dan logika. Islam tidak hanya sebagai alat untuk menuju surga tapi Jalan Hidup.” Menurut interpretasi saya terhadap pernyataan Anda di atas, saya berpendapat bahwa Anda secara tidak sadar mendukung apa yang saya tulis sebelumnya. “......Islam tidak hanya jalan untuk masuk ke sugar tetapi Jalan Hidup”. Kalau boleh saya bertanya: apa yang Anda maksudkan dengan Jalan Hidup? Manusia dilahirkan ke dunia dalam keadaan yang berbeda antara satu dengan yang lain, baik perbedaan genetik maupun perbedaan sosial budaya. Karena itu dalam berinteraksi manusia selalu berpedoman kepada berbagai nilai yang melekat dalam cara hidup bermasyarakat. Salah satu contoh sederhana dari nilai-nilai itu adalah NILAI KEBERSIHAN (fisik). Orang Islam diwajibkan untuk mencuci badannya sebelum bersembayang sedangkan orang Kristen tidak diwajibkan. Tetapi orang tahu bahwa Kebersihan adalah salah satu nilai yang dijunjung tinggi

oleh setiap manusia sehingga jika orang Kristen biasanya mendi/mencuci badan sebelum pergi ke gereja. Saya pikir sama juga dengan orang Hindu, Budha dll; mereka biasanya mencuci badan sebelum pergi ke rumah ibadatnya. Dalam kehidupan sekuler juga sama. Orang selalu mandi/cuci badan jika mau pergi ke pesta, melayat orang yang meninggal dunia, bahkan pergi berbelanja. Dari contoh ini, saya ingin mengatakan bahwa semua orang menganut nilai KEBERSIHAN yang sama tetapi berbeda dalam mewujudkannya. Inilah yang saya maksudkan dengan ALAT/CARA. Alat/cara boleh berbeda tetapi tujuannya adalah untuk mencapai kebersihan (fisik) sebagaimana kata orang pintar: Badan yang bersih memberi akan menjamin raga yang sehat. Jadi jalan hidup untuk mencapai kebersihan itu berbeda tetapi pada akhirnya sampai pada tujuan yang sama yaitu “KEBERSIHAN” Bayu menulis: “Jadi anda tidak usah berkoar-koar, karena anda tidak merasakan masuk langsung ke dalam islam secara utuh!!” Saya tidak bermaksud untuk berkoar-koar kepada orang Islam karena saya bukan Orang Islam. Dan memang benar seperti Anda katakan, saya tidak akan mengerti Islam secarah utuh karena saya bukan beragama Islam. Sama halnya juga orang yang suka mengkritiki kepercayaan/agama orang lain dengan memakai pisau analisa alkitab kepercayaannya/agamanya. Karena acuan awalnya sudah sangat berbeda. Jika saya mengatakan Agama saya yang paling benar berdasarkan alkitab saya maka secara tidak langsung saya mau mengatakan agama lain kurang benar alias sesat padahal saya tidak tahu agama lain utuh. Dari mana saya tahu agama lain tidak benar? Apa alat ukurnya? KARENA ITU SAYA SELALU MENGATAKAN BAHWA SEMUA AGAMA DAN KEPERCAYAAN ADALAH BENAR ADANYA. Perbedaan Agama tidak menjadi masalah bagi saya. Yang terpenting adalah BAGAIMANA ORANG mewjudkan ajaran agamanya untuk kemaslahatan UMAT MANUSIA DAN ALAM SEMESTA. Saya akan sangat menghormati orang yang menjalankan agamanya dengan baik, tidak hanya dalam ritual tetapi terutama mengaplikasikan ajaran agamanya dalam kehidupannya sehari-hari. Karena saya yakin bahwa orang semacam itu akan mewartakan kebahagian kepada sesamanya. Yang bisa diartikan MEMBUMIKAN SURGA kepada sesama manusia yang lain. SEPATAH saran buat Abdul G; jangan hanya mengambil makna apa yang tertulis tetapi yang lebih penting adalah apa yang tersirat. Jika tidak demikian Anda bisa tersesar dalam perjalanan ke Surga. Hila #39. Dikirim oleh hila pada 04/01 08:31 AM Mungkin akan lebih bijak jika kita menyikapi masalah Lia Eden ini sebagai “kebebasan” haknya sebagai manusia dalam proses “mencari”. Sebagai manusia cerdas, saya kira Lia Eden adalah figur yang cukup kritis dalam mengikuti logika berfikirnya sendiri. Mungkin dia telah melakukan suatu pencarian terhadap nilai-nilai panutan untuk suatu kumunitas yang namanya agama. Ternyata dia tidak menumukan simbol-simbol figur yang katanya tokoh/elit agama yang dapat dia jadikan parameter arti dan cerminan keagungan yang dianutnya. Akhirnya dia mencoba untuk mengekspresikan nilai yang dia yakini sendiri tentang keagungan/nilai kemurnian sesuatu yang “baik”. #41. Dikirim oleh hma.djasoerah pada 04/01 04:20 PM Kesurupan Jin yang mengaku Rohul Kudus sebab pemahaman tentang al qur’anpun salah sebab di Al - maidah ayat 3 ... disebutkan : Telah Ku Ridhai islam sebagai agamamu ” artinya Islam telah ditetapkan Allah sebagai agama .. koq dirubah ..maaf pa jibrilnya sudah tua dan pikun bukan kah wahyu atau firman Allah pada surat tersebut beliu sendiri yang menyampaikan .... atau dmata Lia eden atau rohul Kudis..? itu Tuhan itu tidak memiliki 99 nama #42. Dikirim oleh herman efendy pada 04/01 05:29 PM Assalamu’laikum Marilah kita renungkan surah Al Fatihah, khususnya bagian yang berbunyi Ihdinas Shirotol Mustaqim.Pertanyaannya adalah kenapa surah ini harus dibaca berulang kali, paling tidak dalam lima waktu sholat utama ?.Terkait dengan ayat di atas mungkin akan muncul dibenak seorang muslim pertanyaan berikut : Bukankah seorang muslim berarti “otomatis” sudah berada di jalan yang lurus ? Untuk apa lagi memohon agar ditunjukkan di jalan yang lurus ?. Benar bahwa secara harfiah mungkin akan terlihat seorang Muslim berada di jalan yang lurus. Tapi siapakah yang menjamin bahwa dia SELALU berada di jalan yang lurus di masa depan ?. Nah disinilah letak urgensinya kita selalu harus membaca dan meresapkan surah Al fatihah di tiap sholat yang kita lakukan, khususnya ayat di atas.Kita memohon kepada ALLAH agar keberadaan kita di jalan lurus sekarang ,juga tetap adanya secara kontinu di masa depan yang dekat ( 1 menit, 1 jam, 1 hari dst )maupun masa depan yang jauh (sampai kita mati nantinya ).Bukankah kita tak pernah tahu apakah antara waktu subuh dan zuhur kita masih menjadi seorang muslim atau tidak ?. Begitu juga antara waktu zuhur dan waktu ashar dan seterusnya.Apa yang terjadi dengan Lia Aminudin adalah bukti kongkrit bahwa tidak ada jaminan bahwa menjadi seorang muslim tidak akan tersesat kecuali yang bersangkutan menyadari betapa lemah dan rapuhnya iman jika tidak selalu taqarrub dan zikir kepada ALLAH yang dapat membolak-balikkan hati manusia….Wassalam #43. Dikirim oleh ferry pada 06/01 06:12 AM beda laku kenapa gagu? beda iman kenapa meradang? Tuhan saja memerintakan untuk berbeda.

cukup, akal dan hati untuk peduli. tak usah badan kalian hancurkan. #44. Dikirim oleh ozhieth pada 06/01 07:20 AM saya sendiri berkeyakinan tidak ada aliran sesat,jadi saya sepakat dengan anda.tidak semestinya lia aminudin menghapus agama yang sudah ada sebelumnya. akan tetapi juga umat islam tidak seharusnya sepihak menghakimi lia aminudin… yang pasti yang tahu bahwa kita sesat adalah siapa yang kita tuju… jika kita gak nyampe ya..kita sesat. jika kita nyampe… ya gak sesat. perkara kita lewat jalan mana???itu urusan pribadi masing-masing… #45. Dikirim oleh dhofier pada 09/01 09:37 PM Selama agama atau ajaran apapun yang dibentuk tidak melakukan hal-2 yang melanggar nilai-nilai kemanusian, saya rasa sah-sah saja, kecuali si Lia Eden mengajarkan atau mencontohkan hal-2 yang aneh misal mengajarkan untuk membunuh orang yang berbeda dengan dia,mengawini anak kecil dll. Yahudi mengklaim agamanya yang benar,nasrani juga begitu,demikian juga islam. Nasrani muncul yahudi mengatakan Yesus sudah menghujat Allah karena menyamakan dirinya dengan Tuhan, Islam muncul mengklaim Muhammad nabi terakhir dan agama yang terdahulu sudah dimanipulasi, lalu bagaimana kalau dibalik, yahudi mengklaim kalau nasrani dan islam menyontek agama mereka,kok nabi-nabi mereka dimasukkan dalam kitab orang nasrani dan islam maka kalau tidak ada kesadaran bahwa agama itu adalah hak asasi setiap orang(terserah mau dibilang yahudi itu laknatulah,yesus bukan Tuhan,Muhammad bukan nabi terakhir) akibatnya akan terjadi perang agama,masing-masing mengklaim dirinya paling benar. Tunjukkanlah kebenaran agama dengan perbuatan,berlomba-lombalah berbuat kebaikan,bukan kutuk-mengutuk,bunuh-membunuh #46. Dikirim oleh sadarlah pada 10/01 08:34 PM Assallamuallaikum. Keyakinan beragama adalah sesuatu yang bersifat pribadi dan tidak dapat dipaksakan. Toh, tidak ada paksaan dalam beragama. Kita tidak dapat dan tidak perlu memaksa orang lain untuk ikut keyakinan kita, bahkan untuk sekedar menyalahkan agama orang lain pun tidak perlu. Tidak ada gunanya. Cukuplah agama kita untuk kita. Yang benar ( Bukan yang paling benar ) adalah agama kita(titik.)Tidak ada urusan kita dengan yang lain. Yang mengherankan saya adalah meraka2 yang (katanya) terpelajar dan pintar yang kemudian sibuk mengurusi keyakinan orang lain. Ada yang menyalahkan tapi ada pula yang membenarkan semua agama. Keblinger. Bagimu agamamu, Bagiku agamaku. #47. Dikirim oleh anton zia pada 16/01 01:33 AM Dear rekan semua, Sebaik nya kita melakukan intropeksi diri ke dalam tidak ada kecuali agama apaun yang kita anut. Muncul nya banyak aliran aliran Sperti Lia, dlsb tak lepas dari kekurangan kita atau “para pemuka agama” dalam menjelaskan pemahaman pemahaman tentang agama masing masing Kristen, Hindu, Islam dan Budha. Seandainya para pemuka agama tersebut bisa memberikan pengertian dan pemahaman yang mumpuni sehingga umat nya betul betul memegang teguh akan keyakinannya saya yakin aliran aliran seperti Lia dlsb tidak akan mendapat tempat dalam keimanan kita. Jadi tidak perlu kita membrangus mereka, biarkan mereka ter brangus dengan sendirinya karena kuatnya kesadaran kita dalam ber Agama. Dan maaf apabila ada yang mengatakan kalau Allah mempunyai 99 nama itu hanya kiasan, kalau Nama Allah hanya 99 terlalu amat sangat sedikit karena masih bisa dihitung dan menjadikan Allah tidak Maha. Saya kira nama Allah tidak akan bisa kita hitung atau kita jabarkan dengan kata kata karena Ke Maha an dari Allah. Sesuatu yang bisa kita definisikan berarti tidak Maha. #48. Dikirim oleh sadakeling pada 17/01 04:48 AM Kepada Bung Sadarlah: Masalah lia eden adalah bukan masalah kebebasan berkeyakinan dsb, namun ajarannya lia eden mengusik agama yang sudah ada dan sudah resmi diakui negara. Ajaran lia eden meminta untuk membubarkan agama Islam. Saya tahu dalam komentar anda bermaksud"menyerang” agama tertentu, sebaiknya ada lebih banyak membaca literatur agama tersebut secara benar dan dari sumber yang benar. Hal ini agar anda mendapatkan informasi yang benar tentang agam tersebut sehingga kita dapat menciptakan suasana yang kondusif dan damai. #49. Dikirim oleh dietje pada 19/01 02:39 AM Bagaimanapun ajaran si lia itu ga dibenarkan.. tapi kenapa ya justru orang-orang yang rata-rata berpendidikan tinggi malah menjadi pengikutnya program cuci otak seperti apa ya yang di jalalankan si lia

#50. Dikirim oleh Leonhart pada 22/01 08:15 AM ajaran yang dibawa oleh lia ed.. bukanlah agama baru.. jadi pernyataan “agama baru” rasanya kurang tepat dan umat islam yang terbuka mata hatinya akan melihat dengan jelas mana yang benar dan salah..islam adalah agama yang terakhir sampai akhir zaman.. tak perlu diperdebatkan. #51. Dikirim oleh east pada 22/01 09:49 AM klo Lia Eden ini dibiarkan maka suatu saat nanti akan muncul ajaran2 sesat sejenisnya. Bgmn sikap Islam thd ajaran tsb? Memang selama ini Islam lah yg paling “keras” thd masalah ini, hal ini menunjukkan kepedulian dan kepercayaan umat Islam itu sendiri dgn agama mereka. Utk umat2 agama lain yg diam atau malah mendukung itu hak mereka, toh ajaran mereka juga dulunya begitu….“muncul atas prasangka2/ keragu-raguan”. bisa dimaklumi kok. Selama Lia dkk tidak memakai atribut dan mengusik agama Islam, tentunya umat Islam tidak akan “keras” pd ajaran tsb. pikiran umat Islam thd ajaran lainnya sangat mudah kok. Analoginya : “KLO SI A BANGUN RUMAH DITANAH KOSONG DISAMPING RUMAH SI B ITU DIPERBOLEHKAN, NAH SEKARANG BGMN DENGAN SI A MAU BANGUN RUMAH TAPI DIDALAM RUMAH SI B APALAGI DENGAN CARA MENGHACURKAN RUMAH SI B? TENTUNYA SI B TIDAK AKAN DIAM AJA KAN??” #52. Dikirim oleh sipank pada 23/01 10:48 AM Kepada Dietje, Menyerang agama yang mana, kalau ada agama yang melakukan seperti yang saya tulis,maka agama tersebut memang layak untuk dilarang keberadaannya. Saya tidak perlu membaca literatur apapun karena membunuh orang karena berbeda,atau menikahi seorang anak kecil bagi saya tetap adalah suatu ajaran yang konyol. Bagi saya selama suatu ajaran tidak merugikan orang lain ya sah-sah saja. #53. Dikirim oleh sadarlah pada 23/01 08:00 PM Agama Islam sudah sempurna..jangan diperdebatkan..jangan dibanding-bandingkan..jalankan perintah Illahi semampu yang kita lakukan..jauhi larangan semampu yang kita kerjakan ..begitu pula pengertian dan tafsirnya..jangan dipaksakan dengan kemampuan otak dan akal pikiran yang terbatas… semua makhluk termasuk manusia akan selamat dunia dan akhirat dikarenakan jika mendapat hidayah “NYA”..kesadaran akan luasnya Ilmu dan Rahasia Illahi yang mengharuskan kita sadar bahwa manusia adalah makhluk yang terbatas..hanya manusia2 pilihan yang diberikan kemampuan “lebih” dikarenakan kesadaran akan ketergantungan pada Illahi.. bukan dikarenakan “kepintaran” yang notabene baru di diperoleh..entah dari bisikan.. entah dari lembaga pendidikan dan ingatlah bahwa setan dan iblis selalu berdaya upaya mencari pengikut2nya dengan berbagai cara termasuk ..bisikan2 yang juga notabene mengaku-ngaku “kebenaran”..jadilah manusia yang sederhana.. mudah2an Allah mencintai kita #54. Dikirim oleh east pada 27/01 05:33 AM yang namanya memvonis ya pasti sepihak dong pak,kalo yang satu memvonis yang lain,itu namanya saling memvonis.salam buat saudaraku semua karena kita hidup di dunia yang sama. #55. Dikirim oleh adi pada 27/01 06:41 PM (Pusing) Sejak Kapan… Sejak kapan Yesus = Tuhan dan Sejak kapan Allah Swt = Tuhan ada yang bisa membantu penjelasannya secara BENAR ? #56. Dikirim oleh anton pada 29/01 09:31 AM Apa benar Agama itu ibarat Mobil, Kereta, Pesawat? Jangan-jangan ada juga agama yang sama denga bombom car, atau mobil-mobilan di atas becak yang suka dinaiki anak-anak. Ketika Agama = Mobil, Kereta, Pesawat (moda tranportasi) kita bisa bilang, semua agama tujuannya sama, tetapi lika-liku dan manualnya berbeda. Ketika Agama = Mobil, Kereta, Bombom car, mobil-2an di atas becak. maka di sini tidak semua agama punya tujuan yang sama (dan pasti manualnya berbeda). Ada yang nyampe tujuan, ada yang hanya sukanya tubruk-menubruk dengan yang lain, ada juga yang hanya bermimpi, karena diam di tempat tapi di ayun-ayun So, tinggal bagaimana kita memaknai semua “agama” yang ada.

#57. Dikirim oleh anton pada 29/01 09:43 AM @ Bayu @ Hilla Bung Bayu mau bilang sama Hilla : Islam adalah paling benar, kamu hilla (agamanya) salah (walaupun hilla merasa paling benar) kalo begitu Hilla, kita perang aja, saling meniadakan dari muka bumi ini. (kayakanya begitu pesan bayu yang saya tangkap). Padahal pesan dari tulisan dari bung Mosqith adalah : Semua orang punya pendapat (agama) dirinya yang paling benar. Dengan segala nalar dan batin yang membuat kita masing-masing merasa paling benar (agamanya). Nah, dengan fakta bahwa setiap orang punya keyakinan yang paling benar dan tidak bisa di ganggu gugat, Makanya tulisan ini mengajak agar kita tidak kebakaran jenggot dan hati. Point-nya adalah : jangan ada keyakinan yang dibelenggu oleh keyakinan yang lain. Kalo soal saling menyampaikan (agama) dirinya yang paling baik, atau menyatakan (agama) orang lain tidak baik, ya itulah arti “Agamamu agamamu, Agamaku Agamaku”. Persoalannya tinggal bagaimana cara menyampaikannya agar santun dan bagaimana menangkapnya agar jangan jadi orang (agama) yang reaktif tanpa introspeksi. Persoalannya bukan pada materi (Tuhan, Dogma, dll) apa yang sedang di debatkan. Begitu Sodara-sodara #58. Dikirim oleh anton pada 29/01 10:13 AM Bung sadarlah, mungkin ini ajaran porno yang bisa anda komentari : http://groups.google.com/group/soc.culture.malaysia/browse_thread/thread/24042890483b322f Ini ajaran pembunuhan karena berbeda keyakinan yang tertulis dalam suatu kitab suci, tolong dikomentari : 13:6. Apabila saudaramu laki-laki, anak ibumu, atau anakmu laki-laki atau anakmu perempuan atau isterimu sendiri atau sahabat karibmu membujuk engkau diam-diam, katanya: Mari kita berbakti kepada allah lain yang tidak dikenal olehmu ataupun oleh nenek moyangmu, 13:7 salah satu allah bangsa-bangsa sekelilingmu, baik yang dekat kepadamu maupun yang jauh dari padamu, dari ujung bumi ke ujung bumi, 13:8 maka janganlah engkau mengalah kepadanya dan janganlah mendengarkan dia. Janganlah engkau merasa sayang kepadanya, janganlah mengasihani dia dan janganlah menutupi salahnya, 13:9 tetapi bunuhlah dia! Pertama-tama tanganmu sendirilah yang bergerak untuk membunuh dia, kemudian seluruh rakyat. (Ulangan 13:6-9). Lia Eden “berfatwa” untuk membubarkan agama yang sudah ada di Indonesia. Membaca literatur mungkin lebih baik, sebelum menuduh tanpa dasar. Tidak ada ajaran supaya menikahi anak kecil, tahukah anda bahwa umur identik dengan waktu, menurut science (Albert Enstein) waktu adalah relatif. Umur manusia dan kedewasaan manusia pada waktu dahulu tidak bisa disamakan dengan sekarang #59. Dikirim oleh dietje pada 29/01 11:46 AM Apa yang dilakukan ulama adalah benar. Karena itu adalah sudah merupakan kewajiban para ulama untuk membimbing umatnya ke Jalan yang benar. Sedang untuk Bu Lia Eden yang perlu dilakukan adalah bertobat. Memang saya bisa sadari tentang Bu Lia. Karena siapa saja yang mencoba menyingkap tabir ilahiah. 3 hal akan muncul : 1. Merasa Messiah. 2. Gila 3. Labil emosinya dan akhirnya sembuh/tambah sakit. Dan phenomena ini bukan hanya terjadi pada Bu Lia. tapi sudah banyak manusia yang mengaku nabi karena memeras otak/logika. Hingga sampai batas maksimum untuk mencari hakikat kebenaran “sejati”. Akhirnya tidak akan ada yang diketemukan selain merasa mendapat “wahyu” dan obsesi membuat agama baru. Dan mereka pun tak mendapatkan sesuatu kecuali berputar dalam filsafat yang tak ada ujung pangkalnya. karena itu untuk seorang muslim, Muhammad adalah “seal of Prophet”. dan Al-qur’an adalah jawaban untuk memecahkan semua problematika kehidupan.

#60. Dikirim oleh Dani pada 30/01 05:27 PM Buat Anton ? Semoga ini membantu, 1. Siapakah hakikatnya Tuhan itu? Aku tak tahu, Tapi Allah tahu. 2. Siapakah Allah itu ? Aku tak tahu, Tapi Allah tahu. 3. Apakah pernyataan itu benar ? Aku tak tahu, tapi Allah tahu dia yang Maha benar. 4. apakah 1 +1 = 2. Aku tak tahu, tapi allah tahu . Bila itu benar karena dari Allah. Bila itu salah karena pendapat manusia. manusia tak luput dari salah. Allah absolut benar. Bila muncul pertanyaan membingungkanmu. Kembalikan pada ALLAH. La ilaha illalloh. Tapi bila tak mau muter2 filsafat. Bisa dipelajari di Al-Qur’an. Siapa Allah itu. #61. Dikirim oleh Dani pada 30/01 05:54 PM Buat Dietje, Kalau memang ada umat yang mempraktekkan ayat dari yang anda tulis menurut saya ajaran tersebut pantas dilarang, mau agamanya kristen kek,islam kek,pokoknya dimana ada ayat2 kekerasan maka ajaran tersebut pantas untuk diragukan,apakah ayat tersebut ada di Injil ataupun Quran. Ajaran yang benar menurut saya adalah ajaran Kasih, diluar itu semuanya patut dipertanyakan,bagaimana bisa ajaran untuk mengasihi musuh kita,tidak membalas kejahatan dengan kejahatan yang katanya adalah ajaran manusia kok bisa lebih baik dari ajaran dari “tuhan”. Masalah menikahi anak kecil,apakah umur 9 tahun jaman dahulu jauh lebih dewasa dari jaman sekarang,apakah gak terbalik justru anak2 jaman sekarang jauh lebih dewasa dari anak2 jaman dahulu. Tapi lepas dari semuanya itu,seorang yang menjadi panutan,harusnya tahu bahwa apa yang dia lakukan akan diikuti oleh pengikutnya jadi harus lebih menjaga sikap. #62. Dikirim oleh sadarlah pada 02/02 11:04 PM Agama ! Apa sih itu agama ? Apa Sih Itu Nabi ? Apa sih itu Tuhan ? Apa sih itu Alkitab, Injil, Taurat, zabur, dan Al-quran ? Apa sih Itu Allah ? apakah agama itu satu faham yang hanya menjadi isapan jempol belaka ? yang dengan seenaknya orang membuat agama baru ? kayak partai politik aja Membuat agama baru bukan kayak bikin dodol atau partai politik atau negara, sebenarnya orang yang demikian itu hanya menyesatkan orang banyak, Untuk tim pemburu hantu dan ustad cilik coba deh terawang mereka-mereka yang membuat agama baru itu, hukum polisi aja ditkuti koq hukum tuhan diada-adakan ? Coba tanyakan kepada mereka yang membuat agama baru itu Tuhan dan Malaikat itu ujudnya bagaiman karena sampaim dengan jaman milenium ini kita belum pernah tahu ujudnya tuhan kita termasuk ALLAH, siapa tahu pendiri agama baru tadi punya ilmu yang lebih hebat dari nabi muhammad yang bisa melewati 7 lapis langit dan 7 lapis bumi ? #63. Dikirim oleh joki pada 03/02 09:01 AM Assalamu’alaikum wr.wb. Allahu Laa ilaha illallah,huwarrahmanirrahim, al malikul quddusu salamul mu`minul muhaiminul ‘aziz ul jabbar…... Alhamdulillahi rabbil ‘alamin, washalatu wassalamu ‘ala asyrafil ambiya wa mursalin, Sayyidina Muhammad wa ‘ala alihi washahbihi ajma’in…... Atas nama Allah, alm. Rasulullah saw. dan para shahabatnya serta para ulamanya hingga akhir zaman Saya menyerukan kepada seluruh umat Islam, khusus nya para pemuka JIL dan seluruh umat manusia didunia mulai dari orang-orang faqir hingga para kepala negara non muslim sekalipun (Rasulullah pun menyeru kepada para Kepala negara dunia non Muslim) : agar sadar dan kembali, serta bertobat kepada ALLAH Swt. yaitu kepada jalan yang Haqq (benar) dan lurus !!! Harap anda semua berfikir dengan akal yang sehat dan jernih bahwasanya Kebenaran (Al Haqq) itu HANYA ADA SATU SAJA sejak awal hingga akhir zaman.

Seandainya ada 10 agama, dapat dipastikan yang lurus HANYA SATU SAJA !!! Yang diterima atau diridhoi ALLAH swt. pun hanya SATU SAJA !!! Bukankah Adam as. sebagai manusia pertama adalah seorang yang HANYA MENYEMBAH ALLAH YANG ESA (Laa ilaha illa LLAH) yang berarti ia adalah seorang Muslim dan saat ini agama yang yang tetap konsukuen dan lurus hanya ISLAM SAJA !!! dan tidak ada agama yang lain. Agama-agama lainnya itu adalah hasil ciptaan manusia saja dengan cara menyimpangkan ajaran ALLAH Swt. yang lurus dan menciptakan ibadah-ibadah buatan sendiri…... Bertobatlah sebelum maut menjemput, karena ALLAH Swt. tidak akan mengampuni siapapun yang MENYEKU TUKANNYA dan menciptakan agama baru apapun selain agamaNYA yaitu ISLAM !!!!!!! Wassalaamu ‘alaikum wr.wb. DWIYANTO P. #64. Dikirim oleh Dwiyanto P. pada 05/02 01:20 AM @Dwiyanto P, Menurut gue sish yang pantas bertobat adalah kamu bukan orang lain. Ngaku bahwa Allah yang paling berkuasa tapi berani-berani ngambilin kuasa Allah untuk mutusin apakah si A itu bedosa dan si B ngga. Lagian kamu itu manusia atau Allah sih sehingga berani-beraninya mengatakan yang ini paling benar dan yang itu salah? Bukan yang nentukan salah benar adalah HAKNYA? Jonny #65. Dikirim oleh Jonny pada 06/02 12:27 PM To bung sadarlah: 1. Silahkan baca Alkitab (Kitab Ulangan) tersebut yang berisi anjuran pembunuhan dan terserah pembaca untuk menilai, saya menyajikan sesuai fakta literatur Kitab Suci agama tertentu tidak meng ada-ada atau opini pribadi. 2. Untuk mempelajari dan mengupas tentang cabul yang diajarkan suatu Kitab Suci (ini fakta bukan fitnah) silahkan kunjungi http://groups.google.com/group/soc.culture.malaysia/browse_thread/thread/24042890483b322f 3. Kalau berdasarkan ilmiah bukan opini pribadi yaitu teori Albert Enstein E= MC2 (2 dibaca kwadrat) waktu adalah relatif. Masalah fisik manusia/hewan masa lampau lebih besar daripada manusia/hewan masa kini bisa dibuktikan dengan penemuan fosil manusia/hewan masa lampau yang berukuran lebih besar shg dengan demikian menurut ilmu kedokteran postur yg lebih besar dapat menyebabkan seorang wanita lebih cepat mendapatkan akil baliq/mensturasi. Artinya umur/kedewasaan manusia di masa lampau dengan masa kini adalah tidak sama. 4. Anda selalu menuduh buruk tetapi tanpa bukti. Terima kasih kepada admin atas dimuatnya tanggapan ini #66. Dikirim oleh dietje pada 09/02 10:22 AM pendapat kita manusia tidak pernah luput dari salah itu menurut saudara Dani dan mungkin yang lainnya,jika demikian jadi saya ingin bertanya jadi pendapat siapa yang mesti kita dengar dan kita jalankan???? #67. Dikirim oleh adi pada 09/02 02:18 PM @dietje Kitab Ulangan adalah salah satu kitab yang terdapat dalam Kitab Perjanjian Lama (Alkitab agama Katolik dan agama Kristen lainnya terdiri dari Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru). Kitab Perjanjian Lama adalah kitab yang memuat ajaran-ajaran sebelum Yesus. Sedangkan kitab Perjanjian Baru adalah Kitab tentang ajaran Yesus dan ajaran sesudah Yesus. Jadi jika suatu ayat Perjanjian Lama bertentangan dengan ajaran yang terdapat dalam Perjanjian baru, secara otomatis ayat itu dikalahkan oleh ajaran dalam Perjanjian Baru. Sejauh pengetahuan saya ajaranajaran dalam kitab Perjanjian Lama banyak dipakai sebagai referensi untuk membandingkan/menunjukan sesuatu isu pernah dibahas sebelumnya. Ajaran Yesus utama dan yang paling Utama adalah CINTA KASIH. Jadi orang yang menganut ajaran Yesus pasti menggunakan ajaran utama ini sebagai sumber dari segalah sumber hidup mereka. Lagi pula dalam membaca suatu alkitab (Kitab Suci) agama apa pun; kita harus melihat secara keseluruhannya bukan sepenggal-penggal. Sebab sangat berbahaya bagi orang yang hanya melihat ayat perayat tanpa menyelami spiritualitas dari Kitab Suci itu secara keseluruhan. Bisa-bisa orang menjadi gila atau cendrung menggunakan ayat-ayat secara terpotong-potong untuk kepentingan sendiri. Banyak contoh yang dapat kita lihat dalam kehidupan kita sehari-hari. Jadi sebaiknya jangan kita mencari-cari ayat-ayat kitab suci/ajaran agama lain untuk tujuan melecehkan. Sebaiknya kita memperatekan ajaran agama kita masing-masing untuk kesejahteraan dan kemakmuran sesama umat manusia dan alam semesta.

hila #68. Dikirim oleh hila pada 10/02 08:32 AM Salam perdamaian, Saya makin tak menerti,... kenapa kontropersial semakin diruncingin,.. walau semua kita tahu, bahwa secara definisi Agama itu artinya adalah A= Tidak, Gama = Kacau ( latin ) sehingga jika digabung, Agama memiliki Arti Tidak kacau,.. dengan demikian secara sederhana saya artikan bahwa agama itu mempunyai tujuan Agar manusia dibumi ini tidak kacau balau. dari itu saya percaya dua hal, yakni : 1. Bahwa Agama itu adalah Produk manusia…. 2. Tuhan tidak menciptakan Agama, namun manusia itu sendiri membuat sebuah media untuk mencari Tuhan yang diyakininya. Ada sebuah artikel yang pernah saya baca, sudah tidak bersampul, sehingga saya tidak tahu siapa yang menulis dan ini paham siapa, yang jelas bunyinya sebagai berikut : “Ujilah Iman manusia dari perbuatannya” sebab bukan semua manusia yang memanggil namaku ” ALLAH ” akan masuk kedalam surga “... ( ujilah dirimu sebelum mengomentari orang lain ) Saudara 2 ku… buat Tuhan jalan hidup kita dibuat tidaklah sulit,... Tuhan memberikan otoritas kepada kita ( manusia ) untuk memilih,ALLAH tak pernah memaksa manusia untuk memilih, hanya ALLAH memberikan gambaran… agar kita tidak salah pilih…. saya heran,.. ALLAH yang menciptkan kita aja demikian,... kenapa kita manusia yg di ciptakan,bertindak seolah2 lebih mengetahui atas (dosa atau tida, atas salah atau tidak dan lain2)dan atau seolah lebih berwenang untuk mengadili orang lain…. dan yang paling saya sedihkan adalah…. kita mempersulit/ merumitkan jalan yang sudah dibuat ALLAH mudah…. salam atas semuanya,,.. yang jelas satu hal teman2 harus tahu,, bahwa ALLAH mu tertawa melihat komentarmu di blok ini,... dan saya akan berdoa serta memohon kepada Allah SAW,, dengan sebuatan.. Ya TUHAN ALLAH,.. Ampunilah mereka2, sebab mereka tidak mengerti apa yang mereka perbuat….. Amin…..... #69. Dikirim oleh rexsmile pada 12/02 10:21 AM @ sdr Dani Quote : ” Buat Anton ? Semoga ini membantu, 1. Siapakah hakikatnya Tuhan itu? Aku tak tahu, Tapi Allah tahu. 2. Siapakah Allah itu ? Aku tak tahu, Tapi Allah tahu. 3. Apakah pernyataan itu benar ? Aku tak tahu, tapi Allah tahu dia yang Maha benar. 4. apakah 1 +1 = 2. Aku tak tahu, tapi allah tahu . “ So sudah Jelas kan? Siapa sih yang tahu, kecuali Pencipta itu sendiri (Pencipta yang asli yang Anda semua sekalian pun GAK PERNAH TAHU Pencipta itu seperti apa). Lalu kenapa harus merasa paling benar dan lain harus bertobat? Trus kenapa harus tanya kepada Allah? Allah yang mana? Padahal Anda menulis bahwa Anda tidak tahu (termasuk saya dan semua manusia gak tahu siapa Allah) Balik lagi…Semua itu tidak lebih dari Klaim dan keyakinan. Kebenaran itu ada dalam batin kita masing-masing yang terdalam. Hati Nurani lah yang sebenarnya way of life yang jujur. #70. Dikirim oleh anton pada 12/02 06:36 PM Saudara Dietje, Banyak ajaran2 konyol seperti menikahi anak kecil,melakukan hubungan intim (bagi suami istri) dihari tertentu dimana ganjarannya salah satunya adalah orang atau bangsa yang kita benci penduduknya akan meninggal sesuai jumlah hubungan intimnya,yang terakhir muncul hanya dengan membayar 4 jt bisa masuk surga saya utarakan tanpa menyebut dari agama mana atau ajaran mana. Kalau anda merasa agama anda mengajarkan seperti itu ya tolong maafkan saya tapi kalau anda merasa agama anda tidak mengajarkan hal2 tsb kenapa harus sewot. Masalah ayat2 kekerasan itu ada di Alkitab maupun Quran,yang terpenting adalah apakah ayat2 tsb diterapkan hanya pada saat ayat tsb diturunkan atau berlaku sepanjang masa. Bagi saya ajaran yang benar adalah ajaran kasih,tidak mungkin ajaran manusia lebih baik dari ajaran Tuhan,mungkin gak Tuhan mengajarkan jangan kasihi musuhmu sedangkan manusia mengajarkan kasihilah musuhmu? #71. Dikirim oleh sadarlah pada 13/02 06:47 AM Kembali saya merasa aneh dengan anda2 yang merasa bahwa agamanya adalah yang paling benar dan merasa bahwa agamanya adalah satu2nya agama yang “diakui” sang pencipta!!... Anda semua selalu marah dan kadang2 bertindak anarkis jika agama dan kepercayaannya diserang oleh pemeluk agama lain tapi kenapa anda sendiri selalu menyerang agama dan kepercayaan orang lain yang dalam kasus ini adalah menyerang Lia Eden!!.. Mengapa anda sekalian terlihat sangat takut oleh kehadiran Lia Eden? Apakah kalian takut bahwa kuantitas dari pemeluk agama yang kalian imani akan berkurang?, itulah mengapa walaupun pengikut ajaran agama yang anda imani besar dalam kuantitas tapi tidak berarti besar dalam kualitas. Apakah menurut

agama anda dan anda2 sebagai pengikutnya, kuantitas jauh lebih baik dibandingkan kualitas? jika jawabannya adalah “ya”, maka tak diragukan lagi bahwa betapa mudahnya yahudi israel menggasak anda2 dan agama yang anda imani..Saya adalah seorang agnostik jadi saya tidak “berdiri” di satu agama apapun. #72. Dikirim oleh armenlam pada 13/02 08:33 AM Saya merasa kasihan dan juga sebagai manusia, saya kadang merasa jijik dengan tingkah yang diperlihatkan oleh sdr. Dwiyanto. Saya tidak mengeri dari mana anda tahu bahwa nabi Adam seorang muslim sejati?, dari mana anda tahu bahwa nabi Adam beragama islam?, dari mana anda tahu bahwa agama islam adalah agama satu2nya yang diakui oleh sang pencipta?..tidak, tidak dan tidak. Tak seorang pun dari kita, manusia ini, yang tahu tentang masa lalu dan tentu juga masa yang akan datang, apalagi ini ribuan tahun yang lalu. Mungkin sdr. Dwiyanto hanya dan selalu tinggal di dalam negeri atau mungkin hanya di dalam kota atau mungkin juga hanya di dalam kampungnya sendiri, karena itu pikiran dan cara pandangnya pun sedikit “malu2” dalam melihat dunia luar. Jika anda mempunyai sedikit “rejeki” cobalah untuk melakukan sedikit perjalanan, jangan jauh2 jika khawatir mahal, cukuplah ke Thailand, Kambodja atau bahkan ke Malaysia. Di sana anda akan melihat banyak ras dan agama yang berbeda tapi bila itu menyangkut soal agama mereka tidak terlalu mempermasalahkannya. Mungkin itu juga yang membuat Malaysia (negeri islam) jauh lebih maju dari pada Indonesia (negeri dengan jumlah pemeluk islam terbanyak di dunia)! Mungkin juga indonesia jatuh terpuruk dibandingkan dengan Malaysia karena terlalu banyak mahluk2 manusia seperti sdr. di atas tadi…Dan jika anda tetap ingin berbahasa arab seperti yang anda tulis dalam komentar anda, lebih baik anda meminta suaka kepada negara2 arab agar anda dapat tinggal di sana dan anda dapat menunjukkan kemampuan anda dalam berbahasa arab. kalau tetap di indonesia sih sepertinya percuma karena ketika anda berbicara atau menulis dalam bahasa arab dengan benar atau salah sekalipun tak akan ada yang perduli karena kebanyakan dari orang indonesia(walaupun mereka mengaku beragama islam) tidak mengerti bahasa dan tulisan yang anda agung2kan itu!!!!!. #73. Dikirim oleh armenlam pada 13/02 08:58 AM Yang nulis2 dan ngagung2in agamanya sendiri dan paling keras dalam menghujat agama orang lain sudah dapat dipastikan bahwa hidupnya susah, tidak pernah tinggal dan hidup selain di dalam negara atau kota atau bahkan kampungnya sendiri, pendidikan formalnya kurang dan juga yang paling pasti adalah “KURUNG BATOKKEUN”, atau “KATAK DALAM TEMPURUNG”, dalam bahasa indonesia. Coba suruh pergi ke luar dari negara atau kota atau bahkan kampungnya sendiri, pasti mereka tersasar. Ini sekarang mereka merasa bahwa agama dan kepercayaannya adalah yang paling benar dan akan membawanya ke surga. Bagaimana mau ke surga jika di dunia ini saja mereka mungkin tersesat jika di suruh keluar dari"kandang"nya!!!??..Untuk saudara/saudari Hila: Teruslah bersuara, tak perlu terpengaruh oleh “preman2 berjubah” itu. Salam… #74. Dikirim oleh armenlam pada 13/02 09:14 AM disetiap agama ada hal baik yg bs diambil…...tapi maaf saya memilih agama saya karena itu yang paling sempurna menurut saya..agama terakhir penyempurna semuanya #75. Dikirim oleh setankober pada 14/02 06:30 AM @dietje sekedar melihat diri anda ternyata: 1.Anda sendiri berperilaku seperti Lia Aminudin 2.Tentang Alkitab anda nggak ngerti definisinya menurut orang Kristen. Alkitab adalah tulisan - tulisan tentang pengalaman orang - orang keturunan Israel aka Yakub dalam “pergaulannya” dengan Tuhan. Isi alkitab menceritakan kebaikan Tuhan dalam “mengasuh” kebobrokan manusia. Karena: 3.Tuhan menurut orang kristen adalah Tuhan yang dinamis selalu bekerja dari kekal sampai kekal berbeda dengan dewa - dewa yang “hanya” bersemayam dalam tahtanya dan mengatur kehidupan manusia lewat hukum dan perintahnya. Jadi nggak ada bedanya anda dengan Lia Aminudin yang menghakimi agama orang lain menurut keyakinannya. #76. Dikirim oleh lemon pada 15/02 08:01 AM to : armenlan dan sejenisnya kalo melihat komentar anda, anda bukan muslim artinya anda kafir, dalam agama kami kafir 100% masuk neraka, pasti, tidak bisa tidak. urusan senang didunia itu urusan lain, yg pasti masuk neraka. bukti konkrit islam adalah agama yg paling benar adalah : belum ada satu kitab suci pun selain Alquran yang dapat dengan mudah dihafal diingat dari abad ke abad sampai hari ini, bahkan ditiap kecamatan di Indonesia saja pasti banyak yang hafal Alquran, coba saya tantang ada pemeluk agama lain yang hafal detil rinci kitabnya? sudah pasti, tidak ada. nul. nol. nill. tidak ada. Maka didasarkankan atas 1 bukti saja (belum bukti2 yg lain) saya Lillahi Ta’ala, beriman kepada Allah SWT, Nabi Muhammad SAW, Kitab2, Malaikat dan Adanya hari akhir. That’s my commitment, sampai saya mati. #77. Dikirim oleh aji meji pada 19/02 08:07 AM dalaam menyikapi agama-agama baru. kita sebagai seorang muslim haruslah memiliki sikap furqon. karena tanpa sikap furqon kita bagaikan orang yang memakan ayam tanpa memilih mana yang daging dan mana kotoran, bayangkan orang islam yang tidak punya furqon maka mereka akan bersikap mengambil jalan tengah. kadang beriman dan kadang kafir. mengaku hamba Alloh tapi agamanya buatan sendiri, ibarat main sepak bola kita sebagai pemain maunya membuat aturan sendiri, dengan mencetak gol gak pake di jaga kipper. mau hidup di dunia tapi aturanya buatan dewek. lu kira ini dunia punya babe lu.. ingat ente juga hamba Alloh. #78. Dikirim oleh abil pada 21/02 02:40 PM @ aji meji quote :

“kalo melihat komentar anda, anda bukan muslim artinya anda kafir, dalam agama kami kafir 100% masuk neraka, pasti, tidak bisa tidak. urusan senang didunia itu urusan lain, yg pasti masuk neraka.” Kalo cuma melihat komentar ini atau seandainya Alquran hanya menyatakan begini, saya kita wajar-wajar saja. Namanya juga yang jualan selalu nomor 1. Semua Agama/kepercayaan samawi juga begitu. Yang jadi masalah adalah ketika “NYAWA” manusia dihalalkan atas nama “seorang pencipta”. NAH LHO, Pencipta kok memerintahkan mencabuti nyawa ciptaan-nya melalui ciptaannya yang lain. Kalo dipakai dengan logika dari agama itu sendiri bahwa manusia harus percaya pada TAKDIR. Trus manusia2 yang lahir dari rahim kafir itu TAKDIR-nya bagaimana? Jadi yang namanya “Pencipta” itu sebenarnya pencipta atas apa sih? #79. Dikirim oleh anton pada 21/02 06:55 PM Teruntuk Aji Meji. Urusan saya mau masuk surga atau neraka, itu adalah urusan saya dan bukan urusan anda. Dan jika anda percaya kepada yang anda yakini, ya jalankan saja tapi saya tidak percaya dengan apa yang anda percayai. Untuk urusan Anda akan percaya hingga anda mati, ya akan lebih baik jika anda mati sekarang2 ini jadi anda akan tahu apa benar keyakinan anda dan apakah benar keyakinan anda bahwa Saya dan orang sejenisnya akan masuk neraka?!. Jika benar keyakinan anda bahwa saya dan orang sejenisnya akan masuk neraka, Saya orang pertama yang akan mengimani anda. Bung sadarlah,lemon Saya tidak pernah sewot. Justru andalah yg menuduh tapi tidak bisa menujukkan buktinya. Lebih sempurna Ajaran Kasih dan Sayang (Rahman dan Rahim)karena kasih(memberi) tanpa sayang(menyayangi) adalah tidak lengkap. Saya tidak menghakimi, tapi menyajikan bukti kalau anda tidak setuju dengan ayat2 Alkitab tsb proteslah kepada penerbitnya. Terima kasih kepada admin atas dimuatnya jawaban saya ini #81. Dikirim oleh dietje pada 23/02 03:09 AM Dietje, Apa yang saya sampaikan adalah apa yang pernah saya baca,lihat dan dengar yang menurut saya adalah ajaran konyol. Saya ambil contoh lain yaitu jihad, menurut anda pantaskah seorang yang membunuh orang lain yang tidak bersalah hanya gara2 alasan jihad lantas dijanjikan surga beserta dengan para bidadari,jujur menurut saya ini jelas ajaran SETAN. Dari tulisan anda,saya yakin agama anda tidak mengajarkan seperti itu. #82. Dikirim oleh Sadarlah pada 27/02 06:33 AM sadarlah Tolong tunjukan ayat yang pernah anda baca, dengar, lihat secara lengkap yang anda maksud sebagai ajaran konyol dan setan,sebagaimana saya menyajikan ayat2 alkitab. jadi kita tidak debat kusir, harus ada literaturnya. Saya tidak pernah membaca bahwa ada ajaran yang memperbolehkan membela diri bahkan sampai berperang tanpa alasan. Berperang diperbolehkan jika karena sudah membahayakan jiwa, bahkan sebaliknya dilarang berdiam diri jika dizalimi. #83. Dikirim oleh dietje pada 02/03 02:16 AM Dietje, Saya tidak akan tunjukkan ayat sebagaimana anda maksud karena akhirnya akan jadi perdebatan yang tidak ada ujungnya. Yang terpenting adalah apakah yang menurut saya konyol demikian juga anda memandangnya,seperti kasus jihad yang saya berikan,kalau menurut anda tidak konyol dan dibenarkan,itu terserah anda. #84. Dikirim oleh sadarlah pada 03/03 08:40 PM Kebebasan beragama adalah solusinya Kita harus saling menghormati agama dan kepercayaan orang lain. jangan memaksakan kehendak kepada orang lain islamu islamku islam kita semua #85. Dikirim oleh Anof Krisdianto pada 04/03 12:18 PM

Setiap orang bebas memilih agama untuk dianut, namun bukan berarti “mengobrak abrik” ajaran agama yang sudah ada. Jika ingin membuat risalah baru dengan serta merta harus menamakan agama tersebut dengan nama baru. “Mengobrak abrik” ajaran agama bukanlah kebebasan beragama. Yang harus kita hormati atau bertoleransi adalah kepada umat beragamanya. Terima kasih kepada admin atas dimuatnya komentar saya ini. #86. Dikirim oleh dietje pada 06/03 03:07 AM To : sadarlah Saya sudah menduga sebelumnya bahwa anda tidak akan menemukan ayat yang menurut anda dengan sangat yakin telah anda baca, dengar dan lihat yang katanya ajaran setan dan konyol, karena memang tidak ada. Dan sekarang kita semua bisa menyaksikan bahwa dia telah mempermalukan dirinya sendiri. Inilah pelajaran berharga buat kita semua, jika dalam hati penuh kebencian pasti akan mengepresikan kecerobohan sehingga tampak seperti orang yang tidak berpendidikan. Kepada admin mohon ditrace kembali komentar2 ybs semuanya karena lebih banyak menghujat dan omong kosong daripada memberikan masukan positif untuk kita semua, apakah masih berminat dan menganggap layak komentar seperti yang dikirim “sadarlah” diposting ??? Karena menurut saya ini adalah termasuk kategori provokasi. Semoga admin obyektif. terima kasih atas dimuatnya komentar ini #87. Dikirim oleh dietje pada 06/03 09:13 AM To Dietje, Apakah saya pernah mengatakan bahwa yang saya baca,dengar,lihat adalah suatu ayat???? Saya hanya mengutarakan apa-apa yang menurut saya konyol. Sekarang saya bertanya pada anda atau pembaca forum ini atas tulisan saya mengenai ajaran-ajaran (bukan ayat-ayat) yang menurut saya konyol apakah memang ada di masyarakat atau tidak dan tolong jawab apakah anda setuju dengan: - Menikahi anak kecil - Hubungan suami-istri (ini suami istri benaran loh) pada hari tertentu,biasanya malam jumat,tujuannya agar orang atau bangsa yang dibencinya mati sesuai jumlah berapa kali berhubungan intim pada hari tertentu tersebut - Ganjaran surga dan bidadari bagi yang berjihad menurut keyakinannya meskipun membunuh orang yang tidak bersalah. #88. Dikirim oleh sadarlah pada 14/03 01:54 PM Buat Semua… Janganlah suatu editorial menjadikan kita saling hujat, biarlah perbedaan menjadi suatu nuasa. Yakinah hanya pada apa yang kita yakin benar, dan biarkan orang lain melakukan hal yang sama selama mereka tidak memaksakan keyakinannya. Bila pemaksaan dilakukan, maka kita berhak untuk membentengi diri dengan iman. Setidaknya itu yang saya yakin utuk lakukan #89. Dikirim oleh Emima pada 17/03 11:25 AM @ sadarlah Karena tidak ada ajaran yg anda maksud tersebut, jadi tidak bisa dijawab. Tks kepada admin apabila jawaban saya ini dimuat #90. Dikirim oleh dietje pada 18/03 10:18 AM Pilihan hidup masss…tinggal pilih…mau sesat…mau selamat…tinggal pilih…Allah telah memberi petunjuk kitab suci Al Qur’an melalui rasulnya Muhammad SAW yang merupakan petunjuk selamat dunia dan akherat…selamat memilih.. #91. Dikirim oleh east pada 19/03 05:50 AM To Dietje, Kalau tidak ada di ajaran anda berarti case closed. Mohon maaf kalau ada tulisan saya yang tidak berkenan #92. Dikirim oleh sadarlah pada 21/03 03:04 AM

sebelum tugas kenabian seorang nabi berakhir, beliau pasti akan menubuatkan kehadiran nabi penerusnya. sedangkan lia aminudin cs tidak ada sangkut pautnya sama sekali dengan tugas kenabian, dan tidak pernah disebutkan dalam kitab2 terdahulu jadi dia tidak berhak menghapus agama. #93. Dikirim oleh Romadhani pada 28/03 02:55 PM As salamualaikum, Lia Aminuddin (mudah-mudahan Allah memberi petunjuk), aliran yang jelas mengada-ada, ada yang namanya titisan Nabi Muhammad Saw, itu jelas tidak mungkin, mari bersama-sama kembali ke ajaran Islam yang benar #94. Dikirim oleh arema singa islam pada 13/04 04:04 PM modus semua nabi sama:yang udah2 pd menyimpang jd dia perlu meluruskan/menyempurnakan.jadi ini cuma masalah menang/kalah aja,bukan benar/salah.pelajari lg perjuangan nabimu jd ente bs obyektif. #95. Dikirim oleh banish pada 08/06 12:17 PM

“Wahyu” didapatkan Lia saya kira setelah ia melakukan proses pencarian yang luar biasa sehingga akhirnya “tuhan” memberinya pemahaman seperti itu termasuk cara menyebarkan ismenya. Mungkin itu “lebih baik” bagi dia dari pada sekedar ikut-ikutan seperti mayoritas orang yang terkondisikan untuk malas atau bahkan tidak sempat berpikir. Semua ajaran para utusan-Nya tampak pernah mengalami kegemilangan kesuksesan baik sebagai konsep intelektual menyejarah tak terbantahkan maupun sebagai bukti kasih-Nya yang teraplikasi dalam kehidupan manusia, suatu kehidupan yang damai sejahtera, kehidupan penuh berkah, pengkabulan dari doa semoga semuanya bahagia. Hari ini semua ajaran agama, baik itu Islam, Kristen, maupun Yahudi, tampaknya tinggal deret-deret huruf di atas kertas dan jejalin pemahaman yang rumit di dalam masing-masing pikiran pemeluknya. Ummat Islam misalnya, sangat sibuk dengan wacana dan perdebatan tiada henti tentang ajaran-ajaran Muhammad Rasulullah dan para ulama pendahulunya. Mayoritas dari wacana itu, baik yang sudah dianggap final atau belum, khususnya dalam soal aplikasi petunjuk kehidupan praktis tidak pernah membumi. Dan apa pun alasannya, Islam hari ini tak ubahnya seperti macan ompong yang bahkan tidak punya cakar. tinggal auman garing tersisa. Cita-cita rahmatan lil alamin hanya isapan jempol ketika mengurus diri sendiri saja sudah tidak mampu. Impian ya’lu wala yu’la ‘alaih hanya mimpi di siang bolong, ummat Islam sedang kalah dan terus kalah. Apalagi idealitas ummatan wasaton, menjadi ummat yang menjadi wasit dunia, penegak keadilan di bumi hanya menjadi bualan kosong, sebab untuk merukunkan diri sesama ummat Muhammad saja sudah keteteran dan diam-diam menikmati perang dingin di tubuh ummat Islam sendiri. Islam, Kristen dan Yahudi yang diajarkan para Nabi-Nya hanya menjadi anjuran dan nasehat yang dikemas untuk memperkaya pemberi nasehat dan even organizernya. Tidak terbukti, ajaranajaran itu kini menuju ke idealitas kehidupan ilahiah. Kondisi ini membuat sebagian orang pesimis, dan bahkan mungkin muak. Tampaknya sudah menjadi keniscaan sejarah bila para pencari muncul dengan “wahyu” barunya, menggagas perubahan ke arah yang lebih baik dan fundamental. #96. Dikirim oleh mustofa pada 11/10 09:15 AM Semua perseteruan ini akan berakhir jika semua ummat memurnikan agama masing-masing atau waktu berakhir.. #97. Dikirim oleh Cahyo Gio pada 25/02 05:06 AM Apakah Istilah “Allah” Hanya Milik Umat Islam? Oleh Ulil Abshar Abdalla Masalahnya adalah bahwa sebagian umat Islam sendiri melakukan sejumlah tindakan yang justru membuat citra Islam itu menjadi buruk. Menurut saya, pendapat ulama dan sikap pemerintah Malaysia itu adalah salah satu contoh tindakan semacam itu. Jika umat Islam menginginkan agar umat lain memiliki pandangan yang positif tentang agama mereka, maka langkah terbaik adalah memulai dari “dalam” tubuh umat Islam sendiri. Yaitu dengan menghindari tindakan yang tak masuk akal. SEORANG perempuan beragama Kristen saat ini sedang menggugat pemerintah Malaysia dengan alasan telah melanggar haknya atas kebebasan beragama (baca International Herald Tribune, 29/11/2008). Mei lalu, saat balik dari kunjungan ke Jakarta, Jill Ireland, nama perempuan itu, membawa sejumlah keping DVD yang berisi bahan pengajaran Kristen dari Jakarta. Keping-keping itu disita oleh pihak imigrasi, dengan alasan yang agak janggal: sebab dalam sampulnya terdapat kata “Allah”. Sejak tahun lalu, pemerintah Malaysia melarang penerbitan Kristen untuk memakai kata “Allah”, sebab kata itu adalah khusus milik umat Islam. Umat lain di luar Islam dilarang untuk menggunakan kata “Allah” sebagai sebutan untuk Tuhan mereka. Pemakaian kata itu oleh pihak non-Muslim dikhawatirkan bisa membingungkan dan “menipu” umat Islam (Catatan: Sedih sekali ya, umat Islam kok mudah sekali tertipu dengan hal-hal sepele seperti itu?)

Pertanyaan yang layak diajukan adalah: apakah kata “Allah” hanyalah milik umat Islam saja? Apakah umat lain tidak boleh menyebut Tuhan yang mereka sembah dengan kata “Allah”? Apakah pandangan semacam ini ada presedennya dalam sejarah Islam? Kenapa pendapat seperti itu muncul? Sebagai seorang Muslim, terus terang saya tak bisa menyembunyikan rasa geli, tetapi juga sekaligus jengkel, terhadap pandangan semacam ini. Sikap pemerintah Malaysia ini jelas bukan muncul dari kekosongan. Tentu ada sejumlah ulama dan kelompok Islam di sana yang menuntut pemerintah mereka untuk memberlakukan larangan tersebut. Di Indonesia sendiri, hal serupa juga pernah terjadi. Beberapa tahun lalu, ada seorang pendeta Kristen di Jakarta yang ingin menghapus kata “Allah” dalam terjemahan Alkitab versi bahasa Indonesia. Menurut pendeta itu, istilah “Allah” bukanlah istilah yang berasal dari tradisi Yudeo-Kristen. Nama Tuhan yang tepat dalam tradisi itu adalah Yahweh bukan Allah. Jika usulan untuk melarang penggunaan kata Allah berasal dari dalam kalangan Kristen, tentu saya, sebagai orang luar, tak berhak untuk turut campur. Tetapi jika pendapat ini datang dari dalam kalangan Islam sendiri, maka saya, sebagai seorang Muslim dan “orang dalam”, tentu berhak mengemukakan pandangan mengenainya. Pandangan bahwa istilah Allah hanyalah milik umat Islam saja, menurut saya, sama sekali tak pernah ada presedennya dalam sejarah Islam. Sejak masa pra-Islam, masyarakat Arab sendiri sudah memakai nama Allah sebagai sebutan untuk salah satu Tuhan yang mereka sembah. Dalam Quran sendiri, bahkan berkali-kali kita temui sejumlah ayat di mana disebutkan bahwa orang-orang Arab, bahkan sebelum kedatangan Islam, telah mengakui Allah sebagai Tuhan mereka (baca QS 29:61, 31:25, 39:37, 43:87). Dengan kata lain, kata Allah sudah ada jauh sebelum Islam sebagai agama yang dibawa Nabi Muhammad lahir di tanah Arab. Begitu juga, umat Kristen dan Yahudi yang tinggal di kawasan jazirah Arab dan sekitarnya memakai kata Allah sebagai sebutan untuk Tuhan. Para penulis Kristen dan Yahudi juga memakai kata yang sama sejak dulu hingga sekarang. Seorang filosof Yahudi yang hidup sezaman dengan Ibn Rushd di Spanyol, yaitu Musa ibn Maimun (atau dikenal di dunia Latin sebagai Maimonides [1135-1204]) menulis risalah terkenal, Dalalat al-Ha’irin (Petunjuk Bagi Orang-Orang Yang Bingung). Kalau kita baca buku itu, kita akan jumpai bahwa kata Allah selalu ia pakai untuk menyebut Tuhan. Semua Bibel versi Arab memakai kata Allah sebagai nama untuk Tuhan. Ayat pertama yang terkenal dalam Kitab Kejadian diterjemahkan dalam bahasa Arab sebagai berikut: Fi al-bad’i khalaqa Allahu al-samawati wa al-ard (baca Al-Kitab al-Muqaddas edisi The Bible Society in Lebanon). Dalam terjemahan versi Lembaga Alkitab Indonesia (LAI), ayat itu berbunyi: “Pada mulanya Allah menciptakan langit dan bumi”. Tak seorangpun sarjana Islam yang memakai bahasa Arab sebagai bahasa ibu mereka, entah pada masa klasik atau modern, yang mem-beslah atau keberatan terhadap praktek yang sudah berlangsung ratusan bahkan ribuan tahun itu. Tak seorang pun ulama Muslim yang hidup sezaman dengan Maimonides yang memprotes penggunaan kata Allah dalam buku dia di atas. Polemik antara Islam dan Kristen sudah berlangsung sejak masa awal Islam, dan, sejauh pengetahuan saya, tak pernah kita jumpai seorang “mutakallim” atau teolog Muslim yang terlibat perdebatan dengan teolog Kristen atau Yahudi karena memperebutkan kepemilikan atas kata Allah. (Survei terbaik tentang sejarah polemik Islam-Kristen sejak masa awal Islam hingga abad ke-4 H/10 M adalah buku karangan Abdul Majid Al-Sharafi, “Al-Fikr al-Islami fi al-Radd ‘Ala al-Nashara“, 2007). Dalam perspektif historis, pandangan sejumlah ulama Malaysia yang kemudian diresmikan oleh pemerintah negeri jiran itu, jelas sangat aneh dan janggal sebab sama sekali tak ada presedennya. Dipandang dari luar Islam, pendapat ulama Malaysia itu juga bisa menjadi bahan olok-olok bagi Islam. Sebab, pandangan semacam itu tiada lain kecuali memperlihatkan cara berpikir yang sempit di kalangan sebagian ulama. Jika para ulama di Malaysia itu mau merunut sejarah ke belakang, kata Allah itu pun juga bukan “asli” milik umat Islam. Kata itu sudah dipakai jauh sebelum Islam datang. Dengan kata lain, umat Islam saat itu juga meminjam kata tersebut dari orang lain. Yahudi, Kristen, dan Islam adalah tiga agama yang lahir dari rahim yang sama, yaitu dari tradisi Ibrahim. Islam banyak sekali mewarisi tradisi dan ajaran dari kedua agama itu. Karena asalusul yang sama, dengan sendirinya sudah lumrah jika terjadi proses pinjam-meminjam antara ketiga agama itu. Selama berabad-abad, ketiga agama itu juga hidup berdampingan di jazirah Arab dan sekitarnya. Tak heran jika terjadi proses saling mempengaruhi antara ketiga tradisi agama Ibrahimiah tersebut. Tradisi Kristiani, misalnya, mempunyai pengaruh yang besar dalam proses pembentukan Islam, terutama dalam tradisi pietisme atau mistik (baca, misalnya, buku karangan Tarif Khalidi, “The Muslim Jesus: Saying and Stories in Islamic Literature“, 2001). Quran sendiri banyak meminjam dari tradisi lain, termasuk dalam konteks istilah-istilah yang berkaitan dengan peribadatan. Hampir semua istilah-istilah ritual yang ada dalam Islam, seperti salat (sembahyang), saum (puasa), hajj, tawaf (mengelilingi ka’bah), ruku’ (membungkuk pada saat salat) dsb., sudah dipakai jauh sebelum Islam oleh masyarakat Arab. Dengan kata lain, proses pinjam-meminjam ini sudah berlangsung sejak awal kelahiran Islam. Pandangan ulama Malaysia itu seolah-olah mengandaikan bahwa semua hal yang ada dalam Islam, terutama istilah-istilah yang berkenaan dengan doktrin Islam, adalah “asli” milik umat Islam, bukan pinjaman dari umat lain. Sebagaimana sudah saya tunjukkan, pandangan semacam itu salah sama sekali. JIKA demikian, bagaimana kita menjelaskan pendapat yang janggal dari Malaysia itu? Saya kira, salah satu penjelasan yang sederhana adalah melihat masalah ini dari sudut dinamika internal dalam tubuh umat Islam sendiri sejak beberapa dekade terakhir. Sebagaimana kita lihat di berbagai belahan dunia Islam manapun, ada gejala luas yang ditandai oleh mengerasnya identitas dalam tubuh umat. Di mana-mana, kita melihat suatu dorongan yang kuat untuk menetapkan batas yang jelas antara Islam dan non-Islam. Kekaburan batas antara kedua hal itu dipandang sebagai ancaman terhadap identitas umat Islam. Penegasan bahwa kata “Allah” hanyalah milik umat Islam saja adalah bagian dari manifestasi kecenderungan semacam itu. Pada momen-momen di mana suatu masyarakat sedang merasa diancam dari luar, biasanya dorongan untuk mencari identitas yang otentik makin kuat. Inilah tampaknya yang terjadi juga pada umat Islam sekarang di beberapa tempat. Kalau kita telaah psikologi umat Islam saat ini, tampak sekali adanya perasaan terancam dari pihak luar. Teori konspirasi yang melihat dunia sebagai arena yang dimanipulasi oleh “kllik” tertentu yang hendak menghancurkan Islam mudah sekali dipercaya oleh umat. Teori semacam ini mudah mendapatkan pasar persis karena bisa memberikan justifikasi pada perasaan terancam itu. Keinginan untuk memiliki identitas yang otentik dan “beda” jelas alamiah belaka dalam semua masyarakat. Akan tetapi, terjemahan keinginan itu dalam dunia sehar-hari bisa mengambil berbagai bentuk. Ada bentuk yang sehat dan wajar, tetapi juga ada bentuk yang sama sekali tak masuk akal bahkan lucu dan menggelikan. Pandangan ulama Malaysia yang kemudian

didukung oleh pemerintah negeri itu untuk melarang umat Kristen memakai istilah “Allah” adalah salah satu contoh yang tak masuk akal itu. Sebagaimana saya sebutkan di muka, secara historis, pandangan semacam ini sama sekali tak ada presedennya. Selain itu, proses saling meminjam antara Islam, Kristen dan Yahudi sudah berlangsung dari dulu. Bayangkan saja, jika suatu saat ada kelompok Yahudi yang berpikiran sama seperti ulama Malaysia itu, lalu menuntut agar umat Islam tidak ikut-ikutan merujuk kepada nabi-nabi Israel sebelum Muhammad — apakah tidak runyam jadinya. Orang Yahudi bisa saja mengatakan bahwa sebagian besar nabi yang disebut dalam Quran adalah milik bangsa Yahudi, dan karena itu umat Islam tak boleh ikut-ikutan menyebut mereka dalam buku-buku Islam. Sudah tentu, kita tak menghendaki situasi yang “lucu” dan ekstrem seperti itu benar-benar terjadi. Selama ini umat Islam mengeluh karena umat lain memiliki pandangan yang negatif tentang Islam, dan karena itu mereka berusaha sekuat mungkin agar citra negatif tentang agama mereka itu dihilangkan. Masalahnya adalah bahwa sebagian umat Islam sendiri melakukan sejumlah tindakan yang justru membuat citra Islam itu menjadi buruk. Menurut saya, pendapat ulama dan sikap pemerintah Malaysia itu adalah salah satu contoh tindakan semacam itu. Jika umat Islam menginginkan agar umat lain memiliki pandangan yang positif tentang agama mereka, maka langkah terbaik adalah memulai dari “dalam” tubuh umat Islam sendiri. Yaitu dengan menghindari tindakan yang tak masuk akal. Tak ada gunanya umat Islam melakukan usaha untuk mengoreksi citra Islam, sementara mereka sendiri memproduksi terus-menerus hal-hal yang janggal dan tak masuk akal.[] Caveat: Mohon maaf kepada teman-teman dan pembaca Malaysia, jika tulisan saya ini terlalu kritis pada pemerintah Malaysia dalam isu yang spesifik ini. Saya sama sekali tidak berpandangan bahwa sikap pemerintah Malaysia itu mewakili sikap seluruh umat Islam di sana. Saya tahu, banyak kalangan Islam di sana yang tak setuju dengan sikap ulama dan pemerintah Malaysia itu. 01/12/2008 | Editorial, | # Komentar Komentar Masuk (129) (Tampil maks. 5 komentar terakhir, descending) Cuma mau nanya, kalau Arab Pra Nabi Muhamad memang Agamanya apa ??? Posted by muhamad rizal on 02/23 at 10:48 PM Memang situs yang sangat sukses. Selain itu, artikel ini sangat mengesankan. Terima kasih berkontribusi untuk itu. tv mobil saya sedang mengakses internet sekarang, biarkan akumelihat situs Anda dari itu. Posted by car tv on 08/21 at 03:56 PM @tomi/toni: betul..betul..betul….buat ape kite ni betekak…semue manusie di dunia ni seharusnya mengakui bahwe ade kekuatan yang super di luar kemampuan manusia…dan yang memiliki kekuatan super itu adl….terserah lah setiap orang punye sebutan masing2….tak payah nak begaduh lah pasal ni je.. Posted by raja on 08/17 at 04:27 PM Assalamu’alaikum. sebenarnya tujuan malaysia melarang pemakaian kata ALLAH dalam ajaran lain adalah justru untuk mencegah perpecahan antar penganut agama. bukan berarti muslimnya yang angkuh, maunya sendiri. coba kalau suatu saat terjadi penyalah gunaan pemakaian nama ALLAh dalam agama lain, palagi kalau sampai digunakan oleh orang yang tak bertanggung jawab. maka mereka bisa dengan entengnya berkilah “lah ALLAH ini kan tuhanku, saya berhak dong pake semau saya. ngapain kamu marah2”. kan malah berantem ntar, dan hasilnya kondisi kondusif antar umat beragama jdi rusak. Posted by zhafran on 04/16 at 05:52 PM Yang merasa dirinya suci dan pasti masuk surga silakan baca ayat ini: Q.S. An Najm ayat 31-32: 31. Dan hanya kepunyaan Allah-lah apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi supaya Dia memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat jahat terhadap apa yang telah mereka kerjakan dan memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik dengan pahala yang lebih baik (syurga). 32. (Yaitu) orang-orang yang menjauhi dosa-dosa besar dan perbuatan keji yang selain dari kesalahan-kesalahan kecil. Sesungguhnya Tuhanmu maha luas ampunanNya. Dan Dia lebih mengetahui (tentang keadaan)mu ketika Dia menjadikan kamu dari tanah dan ketika kamu masih janin dalam perut ibumu; maka janganlah kamu mengatakan dirimu suci. Dialah yang paling mengetahui tentang orang yang bertakwa.

Yang merasa sudah membela Allah SWT silakan baca ayat ini: Q.S. Ali Imran 188: 188. Janganlah sekali-kali kamu menyangka, bahwa orang-orang yang gembira dengan apa yang telah mereka kerjakan dan mereka suka supaya dipuji terhadap perbuatan yang belum mereka kerjakan janganlah kamu menyangka bahwa mereka terlepas dari siksa, dan bagi mereka siksa yang pedih. Bagi yang resah karena ucapan yang tidak baik, silakan baca ayat ini: Q.S. Yasiin ayat 76: 76. Maka janganlah ucapan mereka menyedihkan kamu. Sesungguhnya Kami mengetahui apa yang mereka rahasiakan dan apa yang mereka nyatakan. Bagi yang menyangka Allah hanya Tuhan bagi agama Islam, silakan baca firman Allah SWT ini: Q.S. As Syuura ayat 15: 15. Maka karena itu serulah (mereka kepada agama ini) dan tetaplah sebagaimana diperintahkan kepadamu dan janganlah mengikuti hawa nafsu mereka dan katakanlah: “Aku beriman kepada semua Kitab yang diturunkan Allah dan aku diperintahkan supaya berlaku adil diantara kamu. Allah-lah Tuhan kami dan Tuhan kamu. Bagi kami amal-amal kami dan bagi kamu amal-amal kamu. Tidak ada pertengkaran antara kami dan kamu, Allah mengumpulkan antara kita dan kepada-Nyalah kembali (kita).” Bagi yang suka main obrak abrik tempat orang lain seenaknya (dengan alasan dakwah dan menegakkan syiar Islam), juga bagi yang suka mengancam akan menghancurkan orang lain yang beda paham dengannya, yang suka menyebut diri pembela Islam, silakan baca ini: Q.S. Al Maaidah ayat 8: 8. Hai orang-orang yang beriman hendaklah kamu jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. Syukurlah Allah SWT tidak memberikan pengetahuan tentang bom atom, rudal nuklir, bom neutron, bom hidrogen, dan sejenisnya kepada orang-orang yang mengaku muslim tapi gemar akan kekerasan. Karena baru masalah nama Allah SWT saja sudah mau main hancurkan orang lain. Allah SWT Mahatahu dan memberikan sekedar apa yang pantas mereka (umat Islam saat ini yang picik pikirannya) dapatkan, dan tidak memberi kepada orang-orang picik itu apa yang mereka inginkan yang nantinya akan menghancurkan seluruh umat manusia (senjata atom/nuklir). Posted by muhammad hakim on 03/12 at 06:23 PM kita harus prihatin dengan tetangga kita. prihatin dalam artian kasian. melihat latar belakang tidak adanya kebebasan berekspresi di rumah tetangga, saudara muda kita lagi belajar. banayk kesalahan dan hal0hal lucu lainya, semuga mengalir hanay sebatas senyum.. kelak mereka dewasa. #1. Dikirim oleh tri makno pada 04/12 12:37 PM mohon maaf, sebelumnya saya hanya ingin mengingatkan bahwa hanya umat islam yang akan diakui keberagamaannya oleh Allah (Q.S Ali Imran:19). terima kasih. #2. Dikirim oleh Jirdi pada 04/12 01:17 PM Hmm, Allah yang sejati, ya milik semua umat manusia. Nggak bisa dikapling-kapling milik agama tertentu saja. Mestinya ulama yang berfatwa belajar sejarah dan tata bahasa arab juga. Repot deh, apalagi bila fatwa itu menjadi kebijakan negara. Berbahaya. Salam, Destika Cahyana #3. Dikirim oleh Destika pada 04/12 02:37 PM Kok lucu ya Malaysia itu. Lucu atau bodo memang susah dibedakan. Seperti susahnya mebedakan mujahid dan teroris, pejabat dan penjahat. tapi yang jelas…bahasa adalah milik semua umat manusia. Bahasa Indonesia banyak mengambil dari bahasa Sansekerta yang notabene bahasa Hindu. Bahasa Jawa juga demikian. Nati kalao orang Hindu marah karena bahasanya banyak dipinjam orang Indonesia dan disuruh “mengembalikan”, kita pasti akan kebingungan. Ada banyak persoalan yang kayaknya jauh lebih penting daripada rebutan bahasa.Tapi benarkah mereka memang merebut bahasa kita. Jangan -jangan kita sudah terjangkit Yudeo-Kristianiphobia. #4. Dikirim oleh Shobahuddin Supriyanto pada 05/12 01:41 AM perbedaan persepsi tentang makna Allah memiliki perbedaan lexical semantik yang dipengaruhi oleh makna teologis dari ajaran agama dan budaya. Allah dalam teologi islam sangat berbeda dengan Allah dalam teologi kristen dan yahudi umpamanya. jadi sangat wajar jika ada pemeluk agama tertentu merasa keberatan jika Allah dipakai oleh agama lain atau sebaliknya kata allah dipakai dalam agamanya. jadi ini bukan semata pandangan umat islam saja tapi juga pandangan orang kristen umpamanya (http://www.truthwatch.info/modules.php? op=modload&name=News&file=article&sid=83) jadi pembuat editorial di atas tolonglah sedikit obyektif. Wassalam

#5. Dikirim oleh aminuddin pada 05/12 01:42 AM Ada sekelompok orang Islam yang kadang lucu cara berpikirnya. Ngakunya agamanya paling benar, paling masuk surga, tetapi sekaligus stress menghadapi kenyataan di dunia sehingga dirinya nggak percaya diri lagi. Akhirnya ya itu nglarang ini-nglarang itu yang gak masuk akal. Kayak belum lama ini FPI Jogja ngamuk di Paguyuban aliran kepercayaan Sapto Darmo karena katanya cara berdoanya mirip salat tapi menghadap ke timur. Waktu nuntut akhmadiyah bubar katanya asal nggak ngaku Islam silahkan mau melakukan apa saja, ternyata Sapto Darmo yang Jelas2 dari dulu nggak ngaku Islam juga kena gebuk. Saya kuatir nanti ada kelompok orang kristen syria kuno yang sembahyangnya mirip Islam nyuruh orang Islam gak boleh salat karena mereka lebih dulu ada dari Islam. #6. Dikirim oleh Nurcahaya pada 05/12 03:22 AM Bagi saya, sebagai seorang muslim berpendapat bahwa bicara tentang menyebut tuhan (cukup diawali huruf t, karena tanpa T, tuhan sudah besar adanya, dan saya cukup ber"engkau” saja dengannya)yang penting adalah esensi tentang tuhan. Karena islam lahir di arab, maka tuhan memperkenalkan dirinya dengan “Allah”. Mungkin kalau islam lahir di Indonesia, dia barangkali akan memperkenalkan dirinya dengan Gusti, Pangeran, dsb. Sekali lagi, pemahaman saya sebagai muslim yang bertauhid adalah bahwa berapapun jumlah agama yang ada di alam semesta ini tuhannya hanya ada satu, apapun agama yang dianut orang di alam semesta ini tuhannya pasti sama. Dialah yang menoleh dengan nama apapun kita sebut, dan tersenyum kemanapun kita menghadap. Justru saya akan sangat senang kalau semua orang yang berbeda agamanya dengan saya mengganti panggilan kepada tuhannya (yang tuhan saya juga) dengan sebutan Allah. Dan bukankah agama yang dibawa oleh para nabi sebelum islamnya Muhammad adalah islam juga ?. So what ? ............. Dan #7. Dikirim oleh Teguhsuseno pada 05/12 03:37 AM Assalam Mualaikum Wr.Wb. Hanya koreksi sedikit; anda mengatakan bahwa kata Allah sudah jauh dipakai oleh masyarakat arab sebelum Islam lahir, menurut Saya justru disitu letak masalahnya,semenjak Nabi Adam diturunkan ke dunia,saat itulah Islam lahir,dan pada era Nabi Muhamad SAW lah, Islam itu disempurnakan, sehingga menurut Saya,memang yang berhak memakai kata ‘Allah’ hanyalah agama Islam, karena Yahudi dan Nasrani sudah keluar dari Islam,.makasih. Wassalam #8. Dikirim oleh deniel pada 05/12 03:55 AM ISLAM ADALAH AGAMA ALLAH YANG PALING SEMPURNA.Yang tidak bersekutu dgn tuhan2 yg diakui agama lain yang menyamkanNYA dgn yesus. ALLAH adalah rabb nya umat ISLAM yang maha tunggal. #9. Dikirim oleh yasser pada 05/12 04:02 AM Dari Oxford Advanced Leaners’ Dictionary dijelaskan bahwa Allah itu adalah nama Tuhan berbagai agama yang ada di Timur Tengah. Dengan penjelasan ini berarti bukan hanya Islam saja yang menyebut Tuhannya dengan Allah. Zul #10. Dikirim oleh zulkifli harahap pada 05/12 04:14 AM Memang benar hanya umat Islam yang diakui keberagmaannya oleh Allah, namun pihak Kristen juga pasti berpendapat bahwa hanya umatnya yang yang diakui oleh Allah. Jadi mana yang benar? yang pasti untuk Muslim yang benar adalah Agama Islam dan untuk Pemeluk Kristiani yang benar adalah Agama Nasrani. Dari zaman dulu juga begitu. Ini merupakan 2 keyakinan yang berbeda dan tidak bisa saling mengalah (meskipun diantaranya lebih banyak persamaan dibandingkan perbedaan). Bayangkan dengan adanya sejumlah perang diantaranya, Umat Islam dan Kristen tetap berpegang teguh atas keyakinannya masing-masing, gak pernah jera tuh mereka? .(jadi kalau diliat dari hasilnya, sebetulnya itu perang keyakinan atau perang kekuasaan sih?!)benar-benar merupakan keyakinan yang kuat untuk keduanya, saya salut. Untuk kepentingan umat Muslim, Kita boleh punya kenyakinan sendiri tetapi harus tetap menghargai dan menghormati keyakinan umat lain. Tentunya kita ingin agar umat lain untuk selalu menghargai, menghormati bahkan menjamin keberadaan keyakinan kita. Namun bagaimana kita akan dihormati, dihargai dan dijamin keberadaannya apabila kita sendiri tidak melakukan hal yang sama kepada mereka? Orang-orang penganut Kristen yang merupakan agama mayoritas di dunia saja menghargai keyakinan kita (meskipun tidak semua penganutnya seperti itu), masa kita yang minoritas tidak mau bertindak serupa? bisa apes sendiri nanti kita. (yang ada nanti perang kekuasaan dengan mengataskan agama lagi?) #11. Dikirim oleh Mr. Bunglon pada 05/12 04:53 AM Menurut pendapat saya karena dalam kitab Yahudi dan kristen, nama tuhan bisa berbeda2 untuk tiap negara, di sini Allah, di inggris God, ditempat lain mungkin mengikuti bahasa ibu negara tsb, lain dengan islam, dimanapun di dunia ini Alqur’an menyebut Allah untuk tuhan, maka dari itu klaim Yahudi dan kristen untuk menjadikan Allah sebagai tuhannya kurang kuat. Lagian juga itukan urusan negara Malaysia, kita nggak usah ikut campur urusan negara lain. #12. Dikirim oleh abu mifzal pada 05/12 07:19 AM Bagi kelompok kelompok literalis klaim-klaim seperti ini sudah merupakan tradisi berfikir mereka, sulit sekali untuk bisa diajak berfikir historis dan logis bahwa setiap produk-produk pemikiran/ide tidak akan pernah lepas dari konteks historis-nya.

Semangat untuk berfikir inklusif harus dijadikan tradisi , bahwa kita umat islam jangan malas dan takut untuk bersikap kritis terhadap setiap pendapat yang lahir dari pemikiran manusia, apakah itu datangnya dari ulama kaliber klasik sekalipun, kebenarannya tidak 100% mutlak benar alias tidak tertutup kemungkinan untuk salah. #13. Dikirim oleh Taufik Iskandar pada 05/12 09:06 AM wah, kok pada ribut neriakin siapa yang berhak menggunakan nama allah? toh itu cuma penyimbolan manusia tentang apa yang mereka anggap kuasa. mendingan kita mikirin dunia ini mau dibawa kemana, generasi muda kita yang semakin kehilangan arti sebagai manusia. kebenaran itu relatif dan subjektif, termasuk kebenaran tentang tuhan. walalupun ada klaim kebenaran, itu hanyalah subjektif-berkelompok. marilah kita hadapi kondisi dunia ini untuk membagun dunia yang lebih “baik”. tidak cuma berpangku tangan mencari surga dan neraka yang gak bakal jelas, sekarang. #14. Dikirim oleh neno pada 05/12 09:46 AM Sepertinya rame nih bicara tentang tuhan.Perbedaan pemahaman tentang esensi tuhan inilah yang merupakan akar konflik umat beragama selama ini. Dan inilah yang merupakan kesalahan pengajaran agama islam selama ini, yaitu tidak dimulai dengan pendalaman tentang apa dan siapa itu tuhan. Pokoknya selama pemahaman semua orang, apapun agamanya, bahwa yang dimaksud dengan tuhan itu adalah sumber segala sumber (causa prima), maka tidak penting dengan nama apa dia disebut dan dengan cara apa dia disembah. Soal nanti siapa yang diterima cara ibadahnya, biarlah kita lihat sendiri nanti, tuhanlah yang akan menunjukkan kepada kita siapa yang benar, mau dikasih pahala/disiksa, mau dimasukkan ke surga/neraka itu haknya. Bukankah di al kitab (qur’an) dinyatakan bahwa : kalau umat agama tertentu mau disiksa, mereka adalah hambanya, atau kalau mereka mau diampuni, itu haknya. Jadi tugas kita sebagai muslim adalah berlomba-lomba berbuat baik dengan sesama umat manusia, apapun agamanya. Bukankah tugas utama Muhammad diutus adalah untuk memperbaiki moral/akhlak ?. Selama umat agama apapun tidak menghalangi umat lain untuk beribadah dan tidak mengusir umat lain yang berbeda agama dari suatu negara, itulah adalah kebenaran. Justru sekarang ini umat islamlah yang paling sering menghalangi umat agama lain untuk membangun rumah ibadah dan melaksanakan ibadah masing-masing. Buat saya sebagai muslim, justru keimanan saya terasa lebih bermakna ketika saya beribadah dengan cara saya di tengah hiruk pikuk orang lain beribadah dengan caranya. Di telinga saya, lantunan panduan suara di gereja, terasa semakin merdu saat saya sedang berdzikir. Kalau orang agama lain bisa begitu syahdu beribadah dengan bernyanyi, justru mendorong saya supaya khusyu shalat dan tartil membaca qur’an dengan suara yang syahdu pula. Jadi buat apa ribut-ribut soal agama ?, kita jalankan saja agama masing-masing dengan cara masing-masing, tuhan saya mau diambil juga silahkan…..... #15. Dikirim oleh Teguhsuseno pada 05/12 10:44 AM Setuju sama deniel, yasser, dan abu mifzal. Mari kita hancurkan orang-orang kafir yang menyebut Allah sebagai Tuhannya. Allahu akbar! Hancurkan!! #16. Dikirim oleh Indra pada 05/12 11:54 AM Ass.Wr.Wb. Setuju banget… dgn akhi Abu Mifzal dinegara manapun di dunia ini Tuhannya Umat Islam yaitu: ALLAH(SWT) atau klo kurang puas tanyain dech / buat sample beberapa org dari berbagai negara yang Muslim pasti mereka menyebut Tuhannya : ALLAH(SWT), begitupun sebaliknya yang Non Muslim anda tanyain juga pastilah jawabannya berbeda2. Jadi Klaim Yahudi & Kristen Tuhannya ALLAH(SWT) sangat2 lemah dan tanpa alasan yang kuat. Sebagaimana Firman ALLAH(SWT) : “Innani anallaah Laailahailla ana…” artinya “Sungguh Aku ALLAH(SWT) dan Tidak ada tuhan selain AKU” jadi ALLAH(SWT) sendiri yang menyebut namanya ALLAH(SWT) sebagai Tuhannya Umat Muslim. Wassalaam #17. Dikirim oleh uchon pada 05/12 12:05 PM Perlu diketahui bahwa Tuhannya bangsa Israel/ Yahudi dan Umat Kristen bernama YahWeH bukan Allah..krn Allah adalah nama tuhannya bangsa Arab/umat islam.dpt diteliti dalam ayat2 berikut : “Sebab itu, ketahuilah, Aku mau memberitahukan kepada mereka, sekali ini Aku akan memberitahukan kepada mereka kekuasaan-Ku, supaya mereka tahu, bahwa nama-Ku YaHWeH.” <Yer 16:21> Sebab Akulah YaHWeH,Tuhanmu, Yang Mahakudus, Tuhan Israel, Juruselamatmu. <Yes 43:3a> Semoga menjadi jelas,mengapa Malaysia melarang menggunakana kata Allah oleh non muslim. #18. Dikirim oleh bambang3 pada 05/12 12:15 PM Perlu diketahui bahwa nama TUHANnya bangsa israel/yahudi/umat kristen adalah YaHWeH bukan Allah. Nama Allah tidak terdapat dalam bahasa asli kitab perjanjian lama dan perjanjian baru. Krn nama Allah adalah nama sesembahan bangsa arab pagan. Perhatikan ayat2 berikut ini : “Aku ini YaHWeH,itulah nama-Ku; Aku tidak akan memberikan kemuliaan-Ku kepada yang lain atau kemasyhuran-Ku kepada patung” <Yes 42:8> “Sebab itu, ketahuilah, Aku mau memberitahukan kepada mereka, sekali ini Aku akan memberitahukan kepada mereka kekuasaan-Ku, supaya mereka tahu, bahwa nama-Ku YaHWeH.” <Yer 16:21>

Sebab Akulah YaHWeH,Tuhanmu, Yang Mahakudus, Tuhan Israel, Juruselamatmu. <Yes 43:3a> Semoga menjadi jelas mengapa pemerintah melarang non muslim menggunakan nama Allah dalam alkitabnya. #19. Dikirim oleh bambang3 pada 05/12 12:55 PM Orang muslim membaca kata Allah dengan lafal Alloh dan orang kristen membacanya dengan lafal Allah. Lafal Alloh tidak dikenal dalam bahasa Arab karena tidak adanya vokal “o” dalam huruf “l”, lafal Alloh ini adalah nama diri, jadi tidak bisa diterjemahkan. Adapun lafal Allah, yang katanya berasal dari kata al-ilah, adalah nama jenis, jadi bisa diterjemahkan dengan kata Tuhan (bahasa Indonesia) atau The God (bahasa Inggris). Lafal Alloh menunjuk kepada robb(Tuhan) dan ilah(Tuhan) yang sebenarnya bagi seluruh manusia dan para Nabi dan Rosul menyeru kepada umatnya masing-masing mengabdi kepada Alloh saja dan tidak mensekutukan Dia dengan sesuatu. Jadi Alloh adalah Tuhan bagi seluruh manusia meskipun banyak manusia yang tidak mengakuinya, dan nampaknya hanya kaum muslimin yang mengakuinya. Seandanya saya ini orang ISLAM saya pasti sangat bangga bahwa salah satu unsur budaya Islam sudah diterima oleh masyarakat umum. Jika semakin banyak orang menggunakan kata “Allah” untuk menyebut yang ilahi, itu membuktikan bahwa orang non muslim sudah menerima Allah sebagai Allah yang Esa. Apakah menurut orang Islam yang mendukung pelarangan penggunaan kata ” Allah” itu percaya bahwa Ada lebih dari satu Allah/Tuhan? Jika Anda percaya bahwa Allah adalah Allah yang Esa maka tidak ada masalah untuk non muslim menggunakan kata Allah. Bagi saya bukan kata “Allah” tetapi makna dibalik kata itu, yang paling penting. Kata itu akan hampa tak bermakna jika kita tidak memahami makna kata itu. Hila #21. Dikirim oleh Hila pada 05/12 01:09 PM coba renungkan kalimah Tauhid yang berbunyi:“LAA ILAHA ILLALLAHU”. Artinya: tidak ada Tuhan yang patut disembah kecuali Allah.. Disitu lafad “ILAH/ILAHUN” bermakna umum,mungkin bahasa indonesianya adalah TUHAN dan ini tidak patut kita sembah atau kita tuhankan, Namun kalau lafad “ALLAH” maknanya sudah tidak umum lagi, artinya khusus dan bahasa indonesianya tetap ALLAH. Kemudian terusannya kalimah Tauhid tersebut adalah:“MUHAMMADURRASULULLAH”. Artinya Muhammad adalah utusan Allah. Tidak menggunakan RASULUL ILAH/ROBBI. Menurut hemat saya jelas sekali bahwa lafad lafad dlm eja’aan arab seperti ILAHUN, ROBBUN, ALLAH, itu ada perbedaan yang signifikan. Dalam bahasa indonesia kata Tuhan itu masih umum.. Dalam istilah ilmu nahwu adalah ada lafad NAKIRAH & MA’RIFAT. Agama yahudi pada zaman nabi Musa as jelas berbeda dengan jaman sekarang. Agama Nasrani pada jaman nabi Isa as jelas berbeda pula dengan yang jaman sekarang. Berbeda dengan agama islam jaman dulu dg sekarang sama. Karna Nabi Muhammad adalah nabi yang menyempurnakan agama yang dibawa oleh nabi musa dan isa as dalam wadah islam. Dan Alqur’an adalah penyempurna kitab yang dibawa oleh nabi musa dan isa as. Sehingga kedua ahli kitab tersebut dituntut untuk mengikuti ajaran Muhammad saw dan kitabnya meski mereka tidak mau, karna kalau tidak begitu apa gunanya Muhammad? Apa gunanya Islam? Apa gunanya Alqur’an? Mas ulil dan mas muqsith aja milih islam kok.. Nabi bersabda: “Barang siapa yang ucapan terakhirnya jelang ajal LAA ILAHA ILLALLAH maka dia berhak masuk surga.. Dan lagi yang terdapat dalam kalimat syahadat yang menjadi rukun islam yang pertama disitu lafad ALLAH jelas MA’RIFAT. Jadi pada hakekatnya Allah itu ahad tapi hambanya yang menciptakan Allah2/tuhan2 yang lain… Maha Suci Allah dari sekutuan !! #22. Dikirim oleh Maulana pada 05/12 08:18 PM Ada pertanyaan saya untuk orang-orang yang setuju bahwa kata “Allah” adalah milik agama Islam dan tidak boleh digunakan oleh Non-Islam: Bagaimana orang Arab Non-Islam menyebut Yang Ilahi? Dugaan saya mereka berbahasa Arab jadi pasti menggunakan kata “Allah” untuk menyebut Sang Penciptanya. Atau mungkin mereka menggunakan kata lain? Atau memang bahasa Arab itu bahasa orang Islam sehingga orang Non-Islam yang tinggal di Timur Tengah, yang berbahasa Arab menggunakan bahasa lain atau kata lain dalam berdoa? Kalau Islam lahir sejak Nabi Abraham, Apakah Nabi-nabi sebelum Nabi Muhamad menggunakan kata “Allah” dalam menyebut nama Yang Maha Esa. Jika mereka tidak menggunakan kata “Allah” berarti Nabi-Nabi yang selama ini di terima oleh Islam sebagai Nabi Islam sebenarnya Non-Islam? Contoh saja Nabi Isa (Yesus); Apakah Dia menggunakan kata “Allah” atau kata yang lain dalam menyebut Yang Maha Tinggi?. Semua uraian diatas hanya mau menunjukan bahwa kata “Allah” hanyalah simbol dalam penyebutan Yang Maha Benar. Jadi jangan diributkanlah. Anda yang menggunakan internet dalam diskusi ini sadar bahwa kata “Internet” bukan kata yang berasal dari bahasa Arab atau Bahasa Indonesia? Atau kata lain seperti komputer, televisi, telephone, dll-dll. Pernahkah Anda berpikir tentang hal ini? Apakah Anda merasa berdosa karena telah menggunakan kata yang bukan berasal dari bahasa Arab? Bahkan apakah Anda merasa berdosa karena telah menggunakan fasilitas hasil karya umat manusia non-Islam? Saya yakin Anda belum terbesik dibenakmu untuk merasa bersalah, malupun tidak terbayangkan. Bahasa adalah alat komunikasi sedangkan kata adalah simbol dari alat komunikasi itu. Seruan saya: Keluarlah dari tempurung sehingga bisa melihat dunia lebih luas, tidak melihat dunia sebatas dunia yang ada dalam tempurungmu. Hila

#23. Dikirim oleh Hila pada 05/12 11:23 PM Bukan tidak boleh tapi ia lebih banyak mengelirukan umat Islam. Biar lah masing masing dengan nama tuhan tuhan mereka yang asal yang telah tercatit dalam kitab suci mereka. Kenapa mesti tukar nama tuhan mereka? #24. Dikirim oleh SA'AT pada 06/12 05:47 AM Intinya, tu fatwa muncul krn yg ngedominasi d sono tu Islam bkn yg lainnya, jd ya suka2 gitu dech buat aturan, nga jauh beda ma Indonesia, solusinya mgkn lbh baik klo yg Islam mnjadikan segala sesuatu yg brhubungan ma komunikasi WAJIB brbhsa Arab, nah yg lainnya (non-islam) trserah mo pake bahasa apa. jd jls ga da lg istilah dompleng2an,....pa Allah cm bs brbhs arab doang ya?, brarti ga Maha dong, aneh? #25. Dikirim oleh h3ll80yz pada 06/12 04:25 PM Yah..semua kita bisa berpendapat.. Semua orang bisa saling mempengaruhi, mudah-mudahan hanya kebenaran dan pendapat yang paling objektif (tanpa kepentingan apapun selain kepentingan untuk kebenaran) yang akhirnya bisa kita terima.. #26. Dikirim oleh agung hermawan pada 06/12 09:32 PM saya sependapat dengan mas teguh suseno cuma masalah bahasa saja ko diributkan, malu ah..

salam sehat danielf #27. Dikirim oleh daniel pada 07/12 05:05 AM saya berpendapat majoriti muslim di malaysia setuju dengan pemerintah malaysia yang melarang penggunaan Allah bagi agama lain. #28. Dikirim oleh yusoff pada 08/12 05:28 AM “Sungguh Aku ALLAH(SWT) dan Tidak ada tuhan selain AKU” jadi ALLAH(SWT) sendiri yang menyebut namanya ALLAH(SWT) sebagai Tuhannya Umat Muslim. Wassalaam

Allahnya islam = Auloh (kata muhamad)bukan mujizat Aulohnya islam = Dewa Bulan (berhala) Dewa bulan dan dewa2 yang lain sama saja berhala. So, yang mana Allah sebenarnya yang Esa itu menurut Islam??? Auloh = Setankah??? saya juga heran dengan Islam ini. #29. Dikirim oleh kolot pada 09/12 04:46 AM Jika para ulama di Malaysia itu mau merunut sejarah ke belakang, kata Allah itu pun juga bukan “asli” milik umat Islam. Kata itu sudah dipakai jauh sebelum Islam datang. Dengan kata lain, umat Islam saat itu juga meminjam kata tersebut dari orang lain. Bukanya islam itu sudah ada sejak nabi Adam, jadi orang lain itu siapa? #30. Dikirim oleh cnura pada 09/12 05:05 AM

Buat: Bung DANIEL, YASSER, ABU MIFZAL & INDRA; coba anda pelajari sejarah crusade (perang salib) dari sudut pandang kedua belah pihak dan pelajari pula kenapa bangsa Mongol bisa menembus jantung islam dan mereka berubah menjadi islam, pelajari pula mengapa kekhalifahan islam akhirnya bisa runtuh. Maka kelak anda akan tahu mengapa umat islam hingga saat ini tidak pernah bisa maju. Orang2 seperti andalah (ma’af) yang membuat orang2 di luar islam sana berpendapat bahwa islam hanya cocok untuk masa lalu, tidak untuk zaman modern ini. Orang2 seperti anda jugalah yang membuat Ambon, Poso dan Jerussalem terus bergolak. #31. Dikirim oleh Teguhsuseno pada 09/12 09:52 AM Banyak orang mengatakan, bahwa Tuhan itu esa, Allah SWT itu esa, ALLAH SWT itu satu, YAHWE itu satu, Yang Widi itu tunggal atau satu dsb. kalau sesembahan itu satu atau tunggal tentunya TIDAK MEMPUNYAI NAMA,kalau ada namanya berarti Allah itu jumlahnya banyak. Tuhannya Kristiani katanya di buku sucinya memperkenalkan “AKU adalah AKU ” Artinya bahwa nama sesembahan tersebut adalah nama SEBUTAN untuk mempermudah mengatakan. Kalau

sesembahan lahir di dunia agar tidak keliru untuk membedakannya baru diberi nama, karena banyaknya manusia untuk membedakan diperlukan nama. adi intinya yang memberikan nama kepada sesembhan itu adalah manusia manusia sendiri. Jadi kalau kita memperebutkan nama sebutan Yang Maha Esa itu adalah munafik. #32. Dikirim oleh Imam Santoso pada 09/12 09:55 AM “Sesungguhnya agama di sisi Allah adalah Islam…” [QS. Ali ‘Imran: 19]. “Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah dengan sebenar-benarnya taqwa kepadaNya dan jaganlah kamu mati kecuali dalam keadaan Muslim” [QS. Ali’Imran: 102]. Dari ayat tsb sudah jelas, bahwa tidak agama yang benar selain ISLAM. Islam adalah satu-satunya agama yang menyembah Allah semata, Islam adalah satu-satunya agama yang mengakui ke-ESA-an Allah. Yang disebut Allah oleh orang-orang Nasrani (pada masa sekarang) adalah bukan Allah yang sebenarnya. Karena menurut mereka (nasrani) Allah adalah seorang Bapak yang memiliki anak (Nabi Isa ‘alaihi salaam atau mereka sebut Yesus). Jadi penggunaan kata Allah pada salah satu tuhan mereka merupakan PELECEHAN terhadap agama ISLAM. #33. Dikirim oleh Santoso pada 09/12 10:55 AM Keyakinan, kepercayaan, keimanan memang sesuatu yang tidak dapat disentuh, apalagi dilecehkan. Keyakinan harus dihormati, bahkan orang lainpun harus menhormati. Orang akan marah bahkan sampai dihalalkan untuk membunuh apabila keyakinannya dilecehkan. Warung makan diobrak abrik orang karena buka dibulan puasa, karena dianggap tidak menghormati bulan puasa. Nama / sebutan Tuhannya tidak boleh dipakai orang / kepercayaan lain. Demo dimana mana waktu ada kartun Nabi Muhammad SAW memakai sorban bom. Itu sedikit contoh orang minta keyakinannya dihormati. Tapi saya selalu bertanya, apakah kalau ada orang sedang berpuasa, lalu didepannya ada oang makan apakah keimanannya menjadi goyah? Apakah bukan malah keimanannya menjadi lebih tebal karena bisa melawan godaan? Lagi2 semua itu saya lihat sebagai “nafsu” manusia yang ingin dihormati kemudian meminjam nama Tuhan untuk memhukum yang tidak menghormati. Saya membaca tulisan seorang Ustadz disalah satu situs bahwa kata2 RIP ( Rest In Peace ) untuk orang Kristen yang meninggal adalah salah, katanya yg benar adalah Rest In Hell karena orang yg meninggal tadi tidak dalam keadaan beriman Islam. Pak Ustadz mengatakan yg benar menurut saya karena dia mengatakan berdasarkan keyakinan yg diimaninya. Tetapi apa kata orang Kristen? Pasti sebaliknya. Selama nafsu manusia tidak ikut campur dalam perbedaan ini tak akan terjadi apa2, tetapi apabila nafsu manusia sudah timbul, maka bisa dibayangkan apa yg akan terjadi. Yang saya tahu pasti, antara satu keyakinan dan keyakinan yang lain, meskipun tidak terbuka, saling menganggap remeh, menganggap lucu, menganggap aneh dan bodoh, malah kadang2 timbul rasa kasihan. terutama kalau saling menyaksikan cara mereka melakukan ritual keyakinannya. Apa yang terlintas difikiran orang Islam kalau melihat orang2 India mandi ber-desak2an disungai Gangga untuk melukan ritual keyakinanya? Apa anggapan orang Katholik kalau melihat orang2 Bali tiap hari buat sesajen didepan batu sesembahannya? Bagaimana pendapat orang Kristen Protestan melihat orang Cina didaratan RRC yang jumlahnya 1 milyar lebih sedang menyembah dewa2 dikelenteng dengan membakar dupa? Orang nonmuslim banyak yang menganggap pergi haji itu cuma ditipu orang2 Arab saja, mau2nya disuruh desak2an, cuma untuk nglilingin batu saja. Disuruh bayar mahal lagi.dan menjadi lahan subur korupsi. Pemerintah Arab Saudi telah melebarkan jalur untuk melakukan Sya’i dan tempat melempar Jumrah sekarang sudah 3 tingkat untuk menampung “customer” lebih banyak, begitu ejekannya. Pada jaman Komunis masih subur dulu, mereka selalu berpropaganda bahwa agama ( apa saja ) adalah ibarat candu, narkoba yg memabokkan dan menjadikan orang ketagihan. Makin dalam orang belajar agama, kata propaganda tadi, maka makin ketagianlah mereka dan makin tidak majulah orang tersebut, terkungkung seperti katak dalam tempurung katanya dan tidak “revolusioner” untuk mengganyang imperialisme dan kapitalisme barat, yang mana “perjuangan” ini belum sempat berhasil keburu komunisme bubar. ( konon perjuangan ini belakangan saya baca telah “diteruskan” oleh gerakan2 Islam, meskipun alasannya lain ) Saya yakin sekali, kalau manusia dapat mengendalikan “nafsunya”, maka celotehan2, ejekan2, propaganda2 semacam yang diatas tidak akan mempengaruhi keimanannya. Justru akan lebih mempertebal keimanan kita. #34. Dikirim oleh Anto Bsd pada 09/12 01:10 PM jangan terpaku pada lafaz yang berbeda karena dialeg tapi apakah Allah itu tuhan ataukah hanya nama ? saya perkenalkan blog saya dengan judul posting ” Ternyata Allah Bukan Tuhan Yang Sesunggunya “ silahkan kunjungi dan berikan komentar kalau ada yang bisa menyalahkan !!! http://myrazano.com/ternyata-allah-bukan-tuhan-yang-sesungguhnya/ terimakasih #35. Dikirim oleh myrazano pada 09/12 04:53 PM Biasanya orang bodoh selalu mengaku paling pintar, dan biasanya orang orang munafik selalu menampilkan dirinya sebagai orang yang paling benar dan paling taat.Demikian juga orang merasa dan mengaku paling mengenal “Sang Maha Tinggi” sebenarnya mereka tidak mengenal-Nya. Karena diri sendirinya pun barang kali tidak mereka kenali, siapa, di mana, kapan dan sebagainya dan sebagainya.

#36. Dikirim oleh Ttg pada 10/12 02:10 AM salam, salamm, salam… shanti, shanti, shanti… hanya dengan menegakan kedamaian sorga di dunia dan akhirat tercapai. dengan kebencian hanya api yang membakar. saudaraku, mari tebarkan salam, mari tebarkan kedamaian. islam tak harus di bela, karena islam akan tegak. kita yang butuh islam, bukan islam yang butuh kita. buat apa memedam kebencian ? kejayaan islam adalah kedamaian dunia yang terhampar. entah itu dalam syariat muhammad atau bukan. salam.. salam.. salam.. shanti.. shanti… shanti… #37. Dikirim oleh tri makno pada 10/12 08:51 AM Saya heran dengan Majelis Ulama Malaysia, terus terang saya meragukan ke ulama an mereka. Dalam bayangan saya seorang ulama itu tidak hanya mempunyai pengetahuan yang tinggi tapi juga kebijaksanaan dan tingkat spiritualitas yang tinggi. Tapi yang saya tangkap Ulama Malaysia hanya mempunyai pengetahuan saja, meskipun tinggi tapi kosong. Saya kira Majelis Ulama Indonesia tidak perlu meniru mereka, belajar dari kebodohan mereka memang harus kita lakukan. #38. Dikirim oleh Budi pada 10/12 03:59 PM saya sangat setuju dengan gagasan mas ulil di muka. menurut saya kata Allah hanyalah sebuah simbol bagi dzat yang maha esa yang itu pasti milik semua orang termasuk di luar islam. sebenarnya yang harus diperjelas, apakah kata Allah itu hanya simbol atau sudah menjadi esensi???? #39. Dikirim oleh tirmidzi pada 11/12 04:04 PM Mas Indra ( 16 )...apa sampean itu sdh mendapat mandat dari Tuhan untuk menghancurkan orang lain? Apa maksud Anda dengan teriak ” hancurkan..hancurkan..?” Kalo Tuhan mau, gak usah anda teriak2 bahkan dunia dan seisinya bisa hancur dengan sekejap. Kenapa tidak dilakukan Tuhan? Karena Tuhan masih memberi kesempatan kita untuk berbuat baik. Kebenaran yang mutlak itu hanya punya Tuhan, bukan keyakinan Anda. Orang-orang seperti Andalah salah satu yang mengusik ketenteraman hidup, ketika tidak setuju dengan orang lain ekspresi yang muncul hanyalah: kekerasan. Jiwa yang kerdil…. bung ulil , bukannya diqur’an itu menyebutkan bahwa agama dari adam sampai muhammad itu adalah islam ? jadi istilah pinjam meminjam istilah kan tidak ada kan ? karena memang awalnua sama , nah kalau sekaramh menjadi beda itu kan ada penyelewengan. #41. Dikirim oleh djihaz lukman pada 12/12 11:27 AM Tuk DANIEL, YASSER, ABU MIFZAL & INDRA, Nama Allah itu bukan nama baru yang muncul ketika Islam datang, jadi bukan dicetuskan oleh Islam. “Allah” itu panggilan untuk tuhan tertinggi orang2 arab kuno. Mereka mengenal berhala2 latta, uzza, manat sebagai bukan sebagai tuhan tetapi sebagai anak2 perempuan Allah, sebagai dewa2 perantara dengan Allah. Sebelum Islam datang, banyak orang arab bernama Abdullah yang artinya hamba Allah, ada juga AbdulUzza artinya hamba al-uzza. Karena wahyu keislaman turun di Arab, maka tuhan memperkemalkan dirinya sebagai Allah, yaitu panggilan untuk tuhan tertinggi orang Arab musyrik penyembah berhala. Memang dalam bahasa2 semit (arab, ibrani, aramaic, syriac dll) kata untuk tuhan itu varian dari huruf alif, lam dan ha (bahasa semit tidak punya huruf vocal), dalam taurat, selain dipanggil sebagai “Yahwe” juga tuhan dipanggil sebagai “Ellohim”, dalam bahasa Aramaic dipanggil “Allaha”. Orang arab musyrik jelas bukan orang Islam, tapi mereka memanggil tuhan tertingginya sebagai Allah, pada saat itu nabi Muhammad tidak protes tuh.. Atau malah kalau begitu kita nggak boleh pake nama Allah, karena ini kepunyaa kaum musyrik penyembah berhala? Harus cari nama lain dong… Lagi pula yang harusnya protes bukan manusia, tapi Allah, tapi Allah nggak keberatan dipanggil-panggil oleh siapa saja, Allah tidak pernah protes. Tidak ada perintah Allah supaya namanya tidak disebut2 oleh nonmuslim (apa ada dalilnya?). #42. Dikirim oleh wangi pada 14/12 04:05 AM bagi saya, Tuhan tidak pernah menyuruh manusia untuk mempertentangkan siapa diri-Nya. jika Allah adalah Tuhan dan tiada Tuhan selain Allah maka pada akhirnya dia adalah “Ultima Being”. maaf saya lebih suka terminologi bahasa Indonesia untuk menyebut Allah dengan Tuhan. Jika Yahweh adalah Tuhan orang Israel,Allah adalah Tuhan orang Arab, lalu siapa Tuhan orang Indonesia? #43. Dikirim oleh Fendy pada 15/12 02:43 PM Sebagai Muslim di Malaysia, biar saya kongsi realitis di negara saya dalam kasus nama “Allah”. Pertama, tantangan penggunaan nama Allah itu tidak mewakili pandangan seluruh Muslim di Malaysia. Namun, pandangan itu selalu terpencil dan dianggap ‘berdosa’.

Kedua, pengaruh Islam Fekah dan Islam hitam-putih itu terlalu menebal di Malaysia hinggakan Muslim tak bisa lagi melihat sisi-sisi lain daripada agamanya yang kaffah itu, selain halal dan haram. Aspek-aspek lain beragama seperti tasauf dan tareqat apatah lagi filsafat dilihat ‘mengelirukan’, ‘sesat’, bahkan dibunuh dengan hukum, bukan kematangan akal pikiran. Trend pengharaman buku juga menggila akhir-akhir ini. Tidak seperti di Indonesia, nama Allah tak lazim digunakan masyarakat non-Muslim. Tidak ada Alkitab terjemahan bahasa Melayu, kecuali dalam slaga Pattani (itu pun di Selatan Thailand dan bertulis jawi). Nama Allah bagi non-Muslim bukanlah kebiasaan. Karena barangkali, bapa persuratan kita, Munsyi Abdullah tak sempat menyiapkannya dulu, kerana orang Malaya ketika itu berkongsi minda yang sama dengan umat Islam Malaysia zaman ini. Dan manusia takut kepada sesuatu yang dipikirnya baru, bahkan pula berbeda. Jim Kuala Lumpur #44. Dikirim oleh Jim pada 15/12 06:26 PM Pas tadi malam saya mendengarkan bait syair lagunya SLANK :Teriakkannya Allahuakbar tapi kelakuannya barbar. Saya pernah dengar Cak Nun(yg cintanya terhadap Rasulallah bisa kita simak lewat tembang2 salawatannya)bilang: Seandainya Rasulullah menyaksikan kartun yang melecehkan beliau, apakah menurut anda, beliau akan marah atau tersenyum?.Jadi sekarang siapa yang berani berbeda sikapnya dengan Rasulullah?. Itulah ironisnya umat islam ini, sebahagian mereka terlalu GR menjadi penegak kebenaran, padahal membuat kerusakan. Tapi menurut saya kita bisa melihat, membaca sikap orang dalam menyikapi setiap keadan, apakah dia mewakili agama dengan kedamaian atau mewakili syaitan dengan emosinya. Kita hubungkan dengan sikap yang mendukung pemerintah Malaysia diatas. Sederhana kan? #45. Dikirim oleh dizal pada 16/12 06:40 AM sebelumnya saya ingin mengatakan bahwa saya memang fundamental, juga claim of truth, berdasarkan agama Islam yang saya yakini mutlak kebenarannya.. Bukan relatif2an.. Kata Allah itu mas berasal dari B.Semit (Arab).. Islam itu turun di Jazirah Arab.. Nabi kita (?) juga orang Arab.. Sedang umat Yahudi.. Menyebut Tuhan dengan sebutan “YHWH”, huruf vokal yang belum terpecahkan bagi Yahudi sendiri.. Umat Nasrani.. Menyebut Tuhan lebih suka dengan sebutan BAPA, karena bila menyebut lafaz Allah mereka keliru.. Umat Masehi (Kristen).. Lebih suka menyebut Nabi yang mereka anggap Tuhan yaitu Yesus.. Jadi, kesimpulannya walaupun kita (umat Islam) mau berbaik hati dengan cara berbagi kepada saudara ahli kitab kita tadi.. Dengan mengatakan “Sebutlah Tuhan dengan nama Allah” Mereka pasti menolak.. Dan pada akhirnya akan merusak keharmonisan antar umat beragama.. Dengan cara memaksakan penyebutan2 yang mungkin tidak lazim di kalangan non-muslim.. Sekian dari saya.. Saya ucapkan “GITU AJA KOK REPOT” (Maaf saya minjam istilah Paklek sampean). #46. Dikirim oleh ferry nasution pada 16/12 07:32 AM Allah itu beda sama makhluk,kalau ukuran diukur seperti kepentingan kita didunia ini ya.. nggak ketemu,Tuhan ALLOH itu Rahmatan lil alamin,rugi dong.. kalau gitu Tuhan. Sepertinya Tuhan itu hanya melayani anda saja, kok kecil ya Tuhan, ALLOH MAHA BESAR, Berarti yg kecil itu ya.. Sudut pandang anda saja….....(prihatin). (turu lengger-tkg ngarit,alas wonodiri). #47. Dikirim oleh fatoni pada 16/12 10:10 AM Setuju sama deniel, yasser, dan abu mifzal. Mari kita hancurkan orang-orang kafir yang menyebut Allah sebagai Tuhannya. Allahu akbar! Hancurkan!! ....................

inilah dia…. sang provokator.. mewakili islam yang kaku,beku,tidak punya nurani,sempit, sombong tapi bodoh… kasihan amat sih kamu indra…

#48. Dikirim oleh ardianto pada 16/12 08:49 PM Wah-wah ternyata di Islam ada juga yang ngelarang-larang gitu…Soalnya sekarang di beberapa kalangan Kristen juga ada yang melarang orang-orang Kristen memakai nama Allah dengan alasan bahwa Allah itu Tuhannya orang Islam. Bahkan mereka menggugat lembaga Alkitab Indonesia yang menerbitkan Alkitab karena memakai nama itu. Kalau buat saya sih simpel aja, kalau ada orang Islam atau Kristen ngotot melarang pemakaian nama Allah, berarti: (1) tidak mengakui keesaan Allah, sebab di dalam Kitab Suci masing-masing jelas disebutkan bahwa Allah itu Esa, lha kok ada Tuhannya orang Kristen, Tuhannya orang Islam, dll,jadi ada berapa Tuhan yang kamu akui? (2)kurang mendalami hakikat Tuhan bahwa Ia sesungguhnya apa yang manusia dapat sebutkan hanyalah penunjuk kepada Dia yang melampaui seluruh pikiran manusia. Karena itulah dalam Alkitab, ketika YHWH mewahyukan dirinya kepada NABI MUSA, Ia bersabda “AKU ADALAH AKU” (Keluaran 3:14). Salam #49. Dikirim oleh Hans pada 17/12 04:50 AM Islam itu hanya sedikit bahkan hampir punah sedangkan mereka semua hanya ngaku, apakah kita islam #50. Dikirim oleh realyan pada 18/12 04:29 AM Buat aparat penegak hukum: Kalau mau cari tahu dimana para gembong teroris berada, barangkali bisa dilacak melalui INDRA Cs. #51. Dikirim oleh Teguhsuseno pada 18/12 06:06 AM Ngomong-ngomong masalah nama “Allah” milik Kristen atau Islam, kalo gak salah nama “Daniel” itu nama orang Kristen kan ya? berarti nama “Daniel” tidak boleh dipake untuk orang Islam donk? itu kan milik orang Kristen karena orang Kristen yang pertama kali menemukan itu nama.. tentu saja tidak begitu jika kita pikir dengan akal sehat kan?.. itu semua hanya masalah nama sebutan saja, yang penting kita masing-masing umat tahu sifat Tuhannya masing-masing jadi gak perlu ribut-ribut masalah nama. #52. Dikirim oleh Mr. Bunglon pada 18/12 09:34 AM Penggunaan kata Allah dalam Kristen (di Indonesia dan Malaysia) dan Islam berbeda makna. Kristen menganggap Allah itu “sebutan”, sedangkan Islam menganggap Allah itu “nama” NAMA Tuhannya orang Kristen = Tuhannya orang Yahudi yaitu YHWH (dibaca YAHWEH—silakan googling di internet tentang penyebutannya), Jelas ditulis dalam Kitab Yesaya 42:8, Aku ini Yahweh, itulah nama-Ku… Jadi, ketika umat Kristen hendak “teliti” dengan penggunaan kata Allah, maka akan ada kalimat “Allah saya adalah Yahweh” atau “Allah saya bernama Yahweh”, apakah orang Islam akan berkata “Allah saya adalah Allah” atau “Allah saya bernama Allah” atau “Allah saya tidak bernama”? Oleh sebab itu, untuk menghindari kerancuan bahasa, memang lebih baik dibedakan antara Allah dan Yahweh, jadi Tuhannya orang Kristen = Yahweh dan Tuhannya orang Islam = Allah, akan membingungkan jika disebut Allahnya orang Kristen adalah Yahweh. Hingga saat ini masih ada kebingungan yang tidak ada titik temunya yaitu: apakah Allah itu berasal dari kata Al + ilah atau bukan. Apakah Allah itu “nama” atau “sebutan”. Apakah Allah = atau =/= Yahweh. OK bagi yang tidak mempersoalkan nama Tuhan, dan menganggap Tuhan itu adalah Tuhan yang sama bagi semua agama,nah kalau demikian kita sedang keluar dari kerangka agama, artinya tidak relevan pula mempertahankan bahwa Tuhan itu “ALLAH” atau Tuhan itu “YAHWEH”, karena Allah dan Yahweh dikenal dari agama Yahudi dan Allah dikenal dari agama Islam, atau agama/kepercayaan lain pra Islam. Kebingungan penggunaan kata Allah di kalangan kristen misalnya bisa dilihat di http://gkmin.net/?p=124 Bukankah di Indonesia, umat Hindu dan Budha (misalnya) juga tidak menggunakan kata Allah untuk menyebut Tuhan mereka? Bagi saya, kita masing-masing menggunakan nama Tuhannya sendiri-sendiri tidak menjadi masalah, yang penting kita saling menghormati satu sama lain. Sebagai orang Kristen, saya termasuk yang tidak setuju dengan penggunaan kata Allah di kalangan Kristen. Bayangkan “rancunya” ketika orang Kristen menyatakan bahwa Yesus adalah Anak Allah, juga orang Katholik bilang Maria itu Bunda Allah, padahal orang Islam menyatakan, Allah tidak beranak dan diperanakkan. Saya pikir orang Islam tidak akan protes terhadap keyakinan Kristen ketika saya katakan bahwa Tuhan saya adalah Yahweh, dan Yesus adalah Anak Yahweh. Bukankah tidak akan ada benturan, ketika kita masing-masing berjalan di rel masing-masing, dengan saling menghormati, daripada kita memaksakan diri mencari persamaan-persamaan.

Sikap pluralis tidak harus ditunjukkan dengan menyama-nyamakan dan mempertemukan ajaran masing-masing agama, tetapi sikap menghormati perbedaan satu sama lain. Oh ya.., kata Allah juga tidak pernah ditemukan dalam Bible, jadi jika Allah dipakai oleh orang Kristen itu adalah adopsi dari ‘budaya’ yang sudah ada. Silakan baca: http://gkmin.net/? p=126 sekali lagi, ketika kita menghayati HAKIKAT Tuhan semesta alam, maka Allah dan Yahweh tidak perlu dipersoalkan, karena kita sedang keluar dari kerangka AGAMA, tetapi ketika kita tunduk pada AGAMA, saya kira Allah dan Yahweh tidak bisa dicampuradukkan. Allah ya Allah, Yahweh ya Yahweh. Bagi yang menganggap tidak masalah, bisakah orang Islam berikrar, “Tidak ada Tuhan selain Yahweh?” Tidak khan?! Ketika orang Islam di Amerika dan di Eropa bisa bilang “Allah is My Lord” dan orang Islam di Indonesia bisa bilang “Allah adalah Tuhan saya”, apakah orang Kristen di Malaysia dan Indonesia yang (bisa) bilang, “Tuhan Bapa adalah Allah” bisa bilang di Amerika/Eropa, “The Father is Allah”? Tidak khan… #53. Dikirim oleh gkmin pada 18/12 03:14 PM Saya pikir sudah saatnya seluruh umat beragama meneliti kenebaran agama yang ada,dengan memakai pendekatan ilmiah dan mengkomparasikan antara informadi yang ada dalam kitab dengan kenyataan penemuan ilmiah. hasil dari analisanya nanti jelas tidak baku, tetapi setidaknya cukup membantu dalam melihat kebenaran sebuah agama. agar tidak terjadi lagi mempermasalahkan hal-hal ysng sepele. umat Kristen dan Islam dam umat lainya jangan cemas kalau seandainya agama yang diyakini selama ini ternyata bertentangan dengan ilmu pengetahuan. karena agama yang benar _yang datang dari Allah tidak mungkin bertentangan dengan ciptaannya. apabila salah satu dari ahama tersebut bertentangan antara perkataan dan perbuatanNa,artinya terungkap mana yang benar dan maba yang salah. maka kenapa tidak terima kebenaran yang terbukti keberadaannya secara ilmiah. bukankah itu jalan satu2nya?? dari pada mempercayai agama yang tidak jelas kebenarannya…. #54. Dikirim oleh adi pada 20/12 04:24 AM Klo saya boleh berpendapat, sebenarnya tuhan kita itu sama. terus mengapa kita terkotak #55. Dikirim oleh Anof Krisdianto pada 22/12 04:26 AM @Anof Krisdianto kalau Tuhannya sama, kenapa agama berbeda-beda, kenapa “mewahyukan” firman yang berbeda-beda (dalam wujud Kitab Suci)? jangan jangan Tuhan yang dikonsep oleh agama-agama itu memang berbeda-beda. Sebenarnya tidak perlu menyama-nyamakan Tuhan yang “berbeda-beda” itu, tapi mari kita MENERIMA perbedaan-perbedaan itu. Kalau Tuhan saya YHWH, Tuhan teman saya ALLAH, Tuhan teman lain Sang Hyang Widi, apakah harus disamakan sehingga YHWH=ALLAH=Sang Hyang Widi, Apakah kita tahu atau merasa tahu bahwa ALLAH = YHWH? atau ALLAH =/= YHWH misalnya…. Klo saya boleh berpendapat, sebenarnya tuhan kita itu sama. terus mengapa kita terkotak itu PENDAPAT anda…. bagaimana dengan ini: Katakanlah:“Hai orang-orang kafir!” aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah Dan kamu bukan penyembah Ilah (Tuhan) yang aku sembah Dan aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembah dan kamu tidak pernah (pula) menjadi penyembah Ilah (Tuhan) yang aku sembah. Untukmulah agamamu, dan untukkulah agamaku (al-Kafirun, 109:1-6) itu pendapat Quran, Pak… #56. Dikirim oleh gkmin pada 22/12 06:11 AM Seandainya agama Islam turun di Indonesia, kemungkinan besar nama tuhannya adalah “Tuhan”, dan Dia akan disebut pula dengan sifat2 sebagai nama alias, misalnya Sang Hyang Tunggal, Sang Hyang Widhi Wasa, Sang Welas Asih, dll. Mungkin saja toh? #57. Dikirim oleh Asep Sofyan pada 22/12 02:19 PM

Mas Ulil, topik seperti ini kok dibahas?, sorry banget topiknya tidak konstruktif dan hanya akan membuat perbedaan yang tidak penting dan tidak perlu dengan rekan2 lainnya, apalagi dengan rekan2 yang fundamentalis-konservatif,mudah2an topik mas Ulil berikutnya dapat memberikan kita2 semua pencerahan yang lebih dalam ya mas… saya ikitan sharing ya…

Tuhan itu satu, apapun “Nama”nya, karena keterbatasan pikiran kita lah Tuhan kita beri “Label”, meskipun “Satu” namun jalan menujuNya berbeda2 caranya, dan saya sendiri menyakini jalan menuju Tuhan jumlahnya sebanyak kepala orang yang pernah ada di bumi, karena apa? karena Tuhan Maha Besar dan Maha Kuasa untuk menerima ibadah/persembahan/atau rasa syukur/ kepasrahan dari umatnya apapun caranya apapun bentuknya, namun disisi lain saya juga tidak akan berani untuk menyalahkan “konsep “ diluar “konsep” yang saya yakini, karena sesungguhnya Kebenaran dan KeMutlakan itu hanya milikNya dan tidak bisa di “konsep”kan Guru saya berkata : Mengatakan bahwa Tuhan SATU saja sebenarnya tidak tepat, karena dengan demikian Tuhan masuk dalam dimensi bilangan dan Tuhan jadi terbatas, mengatakan bahwa Tuhan “Ada dimana - mana” juga menimbulkan pertanyaan bahwa konsekwensi logisnya “dimana – mana” haruslah lebih besar dari Tuhan, sehingga “Tuhan ” bisa berada “dimana-mana” dan bila “Dimanamana” lebih besar dari Tuhan jelas Tuhan tidak Maha Besar lagi. Maha Ada tetapi bukan Maha Besar, Bingung kan…? Pasti Bingung, karena kita semua masih berada didalam didalam cengkraman pikiran.(mind) dan kelembagaan agama dan umatnya selalu ingin meng “konsep”kan Tuhan menurut apa yang diyakini berdasarkan “mind” nya. Jadi, berikutnya kata guru saya : Tuhan itu tak terpahami oleh pikiran Tuhan itu tidak terdefinisikan, dan tidak ter”konsep”kan Tuhan itu Maha Ada dan Maha Tiada. Tuhan itu melampaui Dualitas Tuhan itu tak terjelaskan oleh kata- kata Tak terselami oleh rasa sedalam apapun Itulah Kebenaran Nya, Kebenaran kita semua Jadi, Mudah2an Kita tidak menjadi sombong karena merasa sudah tahu segalanya,merasa paling benar, bahkan karena sudah merasa melakukan kegiatan ritual yang paling tinggi derajatnya maka kita merasa sudah hampir mencapai puncak spriritualitas, padahal dengan kita masih meributkan ‘Label’ meributkan perbedaan2, entah itu agama, aturan, dogma bahkan “Nama Tuhan” sekalipun, semua itu membuktikan bahwa kita masih terjebak dan dan sering dijadikan “budak” oleh pikiran kita sendiri sehingga secara tidak sadar kita kerapkali mensejajarkan agama, syariat, kitab suci dengan Tuhan itu sendiri………. Jadi masih kah kita meributkan “ Label”?? Semoga pencerahan akan mengunjungi kita semua… Amin….. #58. Dikirim oleh dewayanto pada 23/12 09:48 AM Allah hadir sebelum Adam diciptakan. Allah bahkan hadir jauh sebelum hadir. Allah tidak diciptakan oleh Nabi Muhamad SAW, karena nama itu sudah dikenal sebelum Ibrahim. Hanya saja orang kristen Indonesia kemungkinan menyamakan kata Allah dengan Tuhan. Ada Allah Bapa, Allah Putra dan Allah Ruhulkudus. Tidak jelas mengapa orang kristen meminjam nama tersebut dan lupa mengembalikannya. Kalau Malaysia merasa keberatan dengan penggunaan Allah oleh kristen, mungkin karena istilah yang tidak tepat di atas. Sebagai pemegang hak paten atas nama tersebut, wajar dong kalau Malaysia tidak ingin ada pihak yang memalsukan. #59. Dikirim oleh Ali Salim pada 24/12 10:43 AM he..he..manusia kok mau menerka sifat tuhan. tuh yang menyatakan seandainya islam lahir di indonesia, wah…emangnya siapa loe? jangan-jangan mau ngaku menjadi tuhan? #60. Dikirim oleh sam pada 24/12 10:56 AM @Asep Sofyan Tuhan itu khan dari kata Tuan. Tuhan artinya “sesembahan”, itu yang saya pahami. Kata “Tuhan” sebenarnya sama dengan kata “Ilah” (Arab). Nah.., kata ilah ini ‘kacau’ dengan kata “allah”. Kalau dalam bahasa Ibrani, lebih jelas Adon/Adonai, itu bisa dipakai untuk (ditujukan kepada) Tuhan (Yahweh) bisa juga untuk orang yang dihormati. @Ali Salim, Allah? Allah yang mana? ada banyak definisi tentang “Allah”. Coba anda baca di http://gkmin.net/?p=85 @dewayanto, saya setuju dengan anda, TAPI itu ketika kita membicarakan Tuhan HAKIKAT, ketika kita membicarakan Tuhan SYARIAT, saya kira perlu dibedakan antara Allah dan Tuhan dan Yahweh (misalnya). Dalam Kitab Suci Kristen, ASLI-nya tidak ada kata Allah, itu masuk karena PENTERJEMAHAN yang ‘rancu’. Kalau dianggap sama saja antara Tuhan, Allah dan Yahweh, bisakah orang Islam bersyahadat, “Tiada Tuhan selain Yahweh” tidak khan? Karena, ketika kita bicara tentang Islam, Kristen, Hindu, Budha, dan agama-agama lain, itu adalah SYARIAT, bukan HAKIKAT. Kalau kita memahami Tuhan HAKIKAT, tapi kita masih sholat 5x sehari, atau masih ke gereja tiap minggu, ya… artinya ‘pikiran’ dan tindakan kita tidak sinkron, pikiran HAKIKAT, tindakan SYARIAT. Jadi, ketika saya sebagai orang Kristen, ya saya teguh berpendirian bahwa Tuhan saya YHWH (Yahweh) bukan Allah. Ketika saya sebagai MANUSIA , ya saya memahami Tuhan sebagai YANG MAHA KUASA, yang tak terdefinisikan dengan kata-kata.

Jadi..konkritnya, di http://www.gkmin.net , saya bertindak sebagai orang Kristen, tapi di milis spiritual-indonesia, atau di http://www.ilmubahagia.wordpress.com, saya lepaskan identitas Kristen, dan saya di sana adalah seorang MANUSIA (tanpa agama). Tidakkah kita tetap bisa menghargai perbedaan, walau kita BERBEDA? Atau haruskah yang berbeda itu disama-samakan? #61. Dikirim oleh gkmin pada 24/12 03:00 PM Aku sangat setuju dengan komentar mas Dewayanto seperti yg diajarkan oleh gurunya. Tambahan dari saya: Banyak orang2 yang rupanya belum mengenal Tuhan yg sebenarnya. #62. Dikirim oleh Anto Bsd pada 25/12 03:07 PM Mas-Mas Moderator, percayalah topik ini tidak akan habis dibahas, saling balas, saling hujat, Jadi ibarat beberapa orang buta yang menebak bentuk gajah. Si buta pertama yang memegang belalai, akan mendefinisikan gajah ya seperti belai, yang memegang ekor, ya akan bilang gajah sepeti ekor yang dia pegang, Hal yang paling bodoh adalah meganggap pendapatnya paling benar. Kalian-kalian semua yang menganggap paling tahu, paling benar, .... Apakah kalian sungguh mengenalNya…..Saya tidak yakin kalian mengenalNya. Saya melepaskan atribut agama saya, karena setiap agama mempunyai konsep dan difinisi yang berbeda tentang Sang Pencipta Yang Maha Tinggi. Padahal di luar konteks teologi, Sang Pencipta Yang Maha Tinggi tidak dapat di konsepkan dan difinisikan.Sang Pencipta Yang Maha Tinggi dalam konteks agama hanya cukup diyakini dan dipercaya, tidak perlu diperdebatkan, diperebutkan, dan lebih parah lagi DIMANUSIAKAN. Tempatkan Sang Pencipta Yang Maha Tinggi setinggi-tingginya sehingga tak ada seorang manusiapun yang mampu meraihnya. #63. Dikirim oleh Ttg pada 26/12 10:54 AM ikut nimbrung. saya setuju dengan pemerintah malaisia karena kalo dikembangkan dan menang dimahkamah international, kita bisa memaksa jepang untuk tidak ruku dalam menyembah matahari karena milik islam. tetapi kalo dipikir sebelum islam jadi nggak ada alloh dong. pusing deh. Juga orang eropa kalo nyari tuhan god ya yang ada peceren. salam nambah: asik lagi kalo nabi muhammad orang sunda salamnya ya punten dan jawabnya manggak #64. Dikirim oleh wahyu pada 26/12 05:45 PM BANg UliL Saya tanya dong, KenaPa OrAng IslaM itU sUka MengaTakan KalO AgaMa MuhamMAd iTu MenyeMpurNakn AgAma SebEluMnya, Apa Itu NGak MemfitNAh Tuhan BahWA TuhaN PernAH BikiN AgaMA NggAK SemPURna? MaturNUWUn #65. Dikirim oleh cakracepat pada 26/12 06:02 PM Assalamu’laikum Wr.Wb. Kalau kita merujuk kepada Al Qur’an langsung, jelas sekali ALLAH itu bukan hanya milik umat Islam. Dia adalah Tuhan siapapun dan apapun yang ada di langit dan di bumi baik yang kita ketahui maupun yang tidak ( belum ) kita ketahui.Karena dialah yang menciptakan segala sesuatunya.Juga harus di fahami kalimat LA ILAA HA ILLALLAH pada dasarnya bukanlah berarti ALLAH adalah tuhan diantara tuhan-tuhan lain yang menjadi semacam “presiden direktur” dalam kumpulan tuhan tersebut.Kata ALLAH sendiri dalam kalimat tahlil itu berarti Tuhan Sesungguhnya.Dengan demikian kalimat tahlil itu akan berarti lebih dalam menjadi: TIDAK ADA TUHAN SELAIN TUHAN SESUNGGUHNYA (ALLAH). Inilah hakikat rasionalitas tauhid sebenarnya. Hal ini juga seharusnya menjadi cara pandang seorang muslim terhadap apapun yang ada di bumi dan di langit sehingga dia tidak lagi memandang dengan cara pandang sempit.Kebanyakan kita selalu berpikiran bahwa ALLAH telah “memenangkan” pertarungan dengan tuhan-tuhan lain pada zaman dulu dan sekarang DIA sedang berkuasa sehingga siapapun yang “menentang” DIA wajib dihabisi demi mendapat ridhoNYA.Padahal semuanya adalah makhluk ALLAH, termasuk iblis sekalipun menyembah kepadaNYA.Kalau kita menganggap ALLAH benar-benar mempunyai “musuh”, maka sungguh syiriklah kita jadinya karena berarti ada yang setara dengan ALLAH secara implisit.Bagaimana ALLAH dapat memusuhi makhluk-makhluk yang diciptakan olehNYA dengan penuh kemahapengasihan dan kemahapenyayanganNYA ? Bagaimana mungkin DIA menciptakan “musuh” NYA sendiri ?Bukankah Iblis yang menyebalkan dan demikian terkutuknya bahkan diberi umur panjang ?Kalau kita mungkin akan langsung membunuhnya!.Padahal kita oleh Rasulullah disuruh meniru akhlak ALLAH.Wallahu’alam bissawab. #66. Dikirim oleh Ferry pada 28/12 01:05 PM Benarkah kejadiannya seperti ITU,jika benar memang kehendak Allah kejadian itu terpublikasi dan ada banyak jawaban dan alasan tentunya,kembali ke diri kita apakah emosi atau santun dalam mengutarakan pikiran kita(mengalahkan tanpa membuat terhina)benar2 smooth mengambil tanpa meninggalkan prasangka.Belajar dari “QWERTY VS DVORAK” #67. Dikirim oleh joko ariyanto pada 29/12 10:28 AM

Tuhan saya kira tidak akan repot-repot dia mau dipanggil dengan sebutan apa? #68. Dikirim oleh Miftahuddin pada 29/12 05:40 PM to Mas Gkmin Yth. Mas Gkmin, Soal Syariat dan Hakekat dalam pengertian saya adalah proses evolusi spriritual sesorang, sehingga apabila sesorang telah mencapai hakekat dan makrifat maka “mungkin” ia tidak memerlukan syariat lagi,sedangkan “Syariat dan Hakekat Tuhan” yang yang mas sebutkan itu kalau saya tidak salah tangkap adalah perbedaan “kaca mata” yang kita pakai didalam menjalin hubungan dengan Nya ? Saya rasa Tuhan dapat disebut apa saja sesuai dengan kebiasaan dan kenyamanan kita untuk memanggilNya,jadi karena saya islam maka pada waktu berdoa jelas saya lebih sreg menyebutNYa Alloh, bukan Yahweh atau lainnya, namun pada situasi yang lebih santai sering juga saya menyebut atau memanggiNya dengan “BOSS”,misalnya pada kalimat : “Mudah2an semua lancar ya Boss….(sambil nyengir dan mata saya melirik keatas, maksudnya melirik Alloh di langit). Pada tataran syariat, mungkin banyak yang menentang ucapan saya tsb,namun dalam situasi tersebut dan sedikit ingin bercanda dengan Nya maka saya pribadi merasa lebih sreg dan lebih dekat dengan memanggilNya dengan nama “Boss”. Des, menurut saya sebutlah Beliau dengan apa yang ingin kita sebut,Tuhan?,Alloh?,Allah?,Gusti?, namun tentunya dengan penuh rasa cinta dan kasih ,bukan dengan rasa takut bahkan seharusnya setiap dari tarikan nafas kita adalah perwujudan rasa syukur dan cinta kepadaNya meskipun mulut kita tidak mengucapkan satu kata apapun.Kongkritnya nih kata orang bijak,pada waktu kita menyebut ” Nama ” Beliau,timbul rasa cinta enggak didalam diri kita?, seandainya tidak,kering, bahkan ada rasa takut, maka mungkin kita perlu tinjau ulang konsepsi hubungan Batin kita dengan Nya, karena menurut orang bijak Tuhan itu untuk dicintai, bukan untuk ditakuti.dan saya setuju banget “konsep” itu. Namun jika diantara teman2 ada yang mengganggap bahwa Tuhan itu ada diatas sana dengan singgasananya dan kita perlu mengikuti protokoler(dogma)untuk dapat berhubungan dengan Nya ya silahkan juga, karena ssya percaya meskipun jalannya berbeda kelak kita bersama akan bertemu disatu titik. Salam __________________ To: Anto Bsd Salam dan terima kasih. #69. Dikirim oleh dewayanto pada 31/12 11:19 AM assalamu alaikum wr wb sebelumnya saya berterima kasih kepada anda untuk mengangkat topik ini, dan saya setuju-setuju aja bahwa pemakaian nama tidak Allah tidak hanya untuk Islam aja. kita melihat dari asal mulanya agama Yahudi,Nasrani adalah Agama tauhid dan dimana Nabi Musa dan Nabi Isa alaihi salam menyuruh umatnya untuk mengesahkan Allah.Mungkin dari penjelasan diatas teman-teman juga sependapat oleh saya.Dan Ajaran Nabi Musa berupa kitab Taurat tidak dianggap oleh orang Yahudi dan mereka kepada Kitab-kitab selain kitab yang datangnya dari Allah.dan Nasrani juga di perintakan oleh Nabi Isa untuk mengesakankan Allah tetapi disalah-salahi oleh orang Nasrani melalui Trinitas tersebut.Islam sebagai agama terakhir yaitu sebagai penyempurna dari agama-agama Majusi dan agama Nasrani. Saya setuju-sutuju aja menurut pendapat anda tersebut. Dan ada beberapa pendapat anda yang perlu saya komentari tentang Al-qur’an menurut anda Al-Qura’an meminjam tradisi termasuk dalam konteks istilah-istilah yang berkaitan dengan peribadatan. Hampir semua istilah-istilah ritual yang ada dalam Islam, seperti salat (sembahyang), saum (puasa), hajj, tawaf (mengelilingi ka’bah), ruku’ (membungkuk pada saat salat) dsb., sudah dipakai jauh sebelum Islam oleh masyarakat Arab. Perlu anda koreksi Poin ini yang saya tanyakan apakah sebelum Islam ada tatacara salat,haji,tawaf dan ruku apa sudah ada hal seperti ini sebelum Islam ini ada.mungkin perlu anda membrikan penjelasan dari statmen anda itu kirimin aja di e-mail saya arief_alkatirie@yahoo.com dan saya menyetujui tentang ketidak setujuan anda kepada pemerintahan Malaisia untuk pemakaian nama Allah hanya untuk Islam saja. Wassalamu alaikum wr’wb #70. Dikirim oleh arief alkatirie pada 31/12 01:24 PM Walain-sa-altahum MAN kholaqos-samaawaati wal-ardho wasakh-khorosy-syamsa walqomaro layaquulun-nALLAAH..Fa-annaa yu’fakuun? Jika mereka di tanya (arab musyrik) siapa yg menciptakan langit dan bumi, yg menundukkan matahari dan bulan pasti Mereka menjawab; ALLAH. Bagaimana bisa mereka di palingkan dr jalan yg benar? Intinya adalah Allah adalah Tuhan bagi semua, Tuhan bagi mereka yg kafir, Tuhan bagi mereka yg musyrik, Tuhan bagi mereka yg nranyak, Tuhan bagi mereka yg Yahudi, Tuhan bagi mereka yg kristian, Tuhan bagi mereka yg “Islam”, bahkan Tuhan bagi mereka yg atheis sekalipun, cuma mereka tidak tahu dan kadang tidak mau mengakuinya. Padahal tidak pa2 jg sih kalau tidak ada yg mengakuinya toh ALLAH pernah bilang jika seluruh manusia tidak mengakui aku sebagai Tuhan maka keagunganku tidak berkurang sedikitpun. #71. Dikirim oleh Fatur rafael pada 31/12 01:46 PM Mas Ulil Yth. maaf sy awam agama. jadi ga komentar mengenai agama, dalil, hukum, dll. masalah hidup kita aja. semua yg dihidupkan adalah kehendak mutlak dari yg menghidupkan. jadi kenal yg menghidupi dulu dgn tahu sifat,azas dan cara menghidupkan. simpel, sederhana dan mudah. satu caranya, tinggal dulu aja keterikatan pada simbol, bunyi dan bentuk kasar terus melangkah sedikit pada memahami hakikinya apa yg ada.

karena keterikatan pada bentuk simbol, bunyi dan lahiriah lah penyebab beda pendapat, cara pandang dan cara menilai dari satu hal yg sama. ini awal dari munculnya ego paling benar dan lainnya paling salah. mengenal pencipta yg nyata, tidak sulit dan jauh, karena lebih dekat dari urat nadi kita sendiri. mhn maaf & maturnuwun. #72. Dikirim oleh timmulya pada 04/01 06:26 AM ‘Katakanlah: “Serulah Allah atau serulah Ar-Rahman. Dengan nama yang mana saja kamu seru, Dia mempunyai al asmaaul husna (nama-nama yang terbaik)...’ (Q.S. 17: 110) al-Lah (arab) = Tuhan Sebelum ajaran Nabi Muhammad SAW istilah al-Lah sudah digunakan orang-orang terdahulu, kafir atau tidak, untu menyatakan “dei”: suatu realitas super yang menguasai kehidupan manusia. Wujudanya bisa Uzza, Latta, ataupun Manah. Kawan, bahkan Allah yang disembah sesama muslim pun bisa berbeda. Seberapa banyak realitas Tuhan yang bisa kita tangkap? Apakah persepsi kita tentang Allah sama satu sama lain? Tuhan itu Maha Besar, kawan. Manusia hanya bisa mempersepsi sesuatu hanya dari informasi yang masuk dalam kesadarannya. Adakah yang yakin dia sudah mengetahui semuanya tentang Allah? Bagi muslim, cukuplah menyembah Tuhan seperti yang sudah dituntunkan Al-Qur’an, sebatas kemampuan kita mempersepsinya. Bagi teman-teman Kristiani yang hanya mengetahui konsep Allah seperti dalam Bible dan doktrin gereja, toh mereka menyembah Allah yang mempunyai al asmaaul husna walaupun dalam konsep yang berbeda. Urusan penilaian dan pengampunan akan segala keterbatasan akal: lupa, khilaf, dan tidak tahu, serahkanlah pada-Nya. Bagi yang menolak kebenaran setelah dia mengetahui suatu kebenaran, Dia pun akan memberikan balasan yang seharusnya. Dialah yang Maha Mengetahui apa yang ada di dalam hati manusia. Termasuk siapa saja yang menyembah-Nya, Islam, Kristen, Yahudi bahkan suku primitif sekalipun. Cukup percaya saja Allah itu Maha Adil, ‘kan? #73. Dikirim oleh insanadiwibowo pada 06/01 06:08 AM ELOHIM=YAHWEH=ALLAH=4jjI #74. Dikirim oleh adek pada 08/01 07:00 AM Ass.Wr.Wb. Benar juga yg mengatakan bahwa ALLAH adalah Tuhannya semua manusia baik itu kafir ataupun Muslim sejak jaman Nabi Adam AS s/d jaman Nabi Muhammad SAW hingga akhir jaman, maka Nabi Muhammad SAW juga disebut Nabi Akhir jaman yg syariatnya pun berlaku juga hingga akhir jaman.Karena sejak Nabi Adam AS s/d hari ini Tuhan itu cuma satu yaitu ALLAH (SWT). Disinilah Fungsi Islam diturunkan dgn kitabnya Alqur’an yaitu sebagai Pelengkap bahkan mengkritisi kitab-kitab sebelumnya dimana salah satu ayatnya berbunyi “Innani anallah laailaahailla ana fa’budni ...” yg kira2 terjemahannya “Sungguh Aku ALLAH(SWT) dan tidak ada tuhan melainkan Aku maka sembahlah Aku”, jelaskan ALLAH(SWT) sendiri yang menamakan dirinya ALLAH(SWT) bukan pakai nama2 tuhannya Yahudi, Nasrani(yg saat ini menjadi Kristen), dll.Coba anda buktikan atau cari di kitab selain Alqur’an yg secara tegas mengatakan Tuhan itu ALLAH(SWT), tapi klo anda cari pada kitab Taurat, Injil, Zabur yg orisinil baru anda bisa menemukan krn memang sumbernya satu yaitu ALLAH(SWT) sedangkan kitab Taurat, Injil, Zabur yg sekarang udah tidak Orisinil lagi krn ada campur tangan manusia didalamnya, sekian. Wassalaam #75. Dikirim oleh Uchon pada 08/01 12:00 PM Nama Allah sendiri hingga kini msh menjadi polemik yg berkepanjangan, sebab dr zaman kafir Quraish jg menggunakan nama al-Illah, di mana sebelum era agama Islam lahir versi nabi Muhammad. Tak ada kitab yg asli, semua telah dimodifikasi karya tangan manusia! Quran pun telah mengalami revisi, itu dpt dilihat dr nats asli Quran yg berbeda dgn nats versi modern yg digunakan sekarang.Salam. #76. Dikirim oleh Azura pada 10/01 02:17 AM AYAT MANAKAH DALAM ALQURAN MELARANG ORANG KRISTEN MENGGUNAKAN NAMA ALLAH…KALAU ADA SAAT INI JUGA SAYA DAN SELURUH KELUARGA AKAN PINDAH KE ISLAM. JIKA TIDAK ADA…..MAKA USULKU ADALAH SILAHKAN MASUK KE KATHOLIK KARENA MENURUT KATOLIK YANG PALING BENAR ADALAH TUHAN,YAHWE,ALLAH,GOD DAN BUKAN AGAMA. GOD (ALLAH) BLESS YOU, catatan lain kali jangan pake GBU tapi A(allah)B U #77. Dikirim oleh jimy pada 10/01 06:49 AM Allah Milik setiap orang… Setuju…..

Tapi….. Allah Yang Mana yang benar?????? Yang Banyak vs Yang Satu Yang Seperti Makhluk vs Yang Tidak seperti Makhluk Ciptaannya???? Bagaimana pun kita Memilih…. Kebenaran di HARI PERTANGGUNG JAWABAN lah yang akan menjadi JAWABANNYA… APAKAH KITA SIAP MEMPERTAMGGUMG JAWABKANNYA???? Allah TIDAK MEMERLUKAN PENGAKUAN KITA…. #78. Dikirim oleh Novie pada 11/01 11:41 AM Menurut nalar saya yang sehat ini….kata Allah itu merupakan suatu kata yang digunakan orang Arab untuk menyebut Tuhan (Tapi belum tentu kata Allah merupakan bahasa asli Arab, bisa saja merupakan kata serapan). Sebagaimana misal orang Inggris menyebut God. Berhubung bahasa Arab adalah bahasa resmi Al-Quran dan dimanapun Al-Quran berada selalu dalam bahasa Arab, maka jadilah penyebutan Allah dianggap baku milik umat Islam. Maklumlah..orang-orang di Malaysia kan daya pikirnya belum sampai ke “sana”, jadi ga bisa menelaah mana yang benar.God Bless You… #79. Dikirim oleh dani pada 12/01 01:02 PM Jujur gw masih awam banget ttg Islam, tp gw masih belajar, tp ada beberpa hal yg gw geli ngebacanya,Gw sih ngeliat gampang aja, nama tuhan orang islam sm orang kristen emang sama, Allah, but kalo liat definisi beda banget, arti Tuhan Allah kt orang Islam ialah tuhan yang satu,ga beranak,ga ada yang nyamain satupun, ga ada tuhan lain selain Allah tp kalo kt orang kristen beda, konsep Allahnya bagian dari trinitas, 1 itu 3 & 3 itu 1,Allah itu bagian dari keluarga… Ejaan emang sama tp pelafalannya beda kan? so qt bs simpulin Allah-nya orang Islam dengan Allah-nya orang kristen beda banget…. ga salah dong kalo ada orang/kelompok yang pingin dibedakan istilah Allah yg berbeda supaya ga ketuker, namanya juga pendapat, boleh kan kalo berpendapat,kan namanya bgian dari liberal Oada Orang Islam yang pingin minta juga ada supaya nama Allah dlm kristen ada sesuatu yang membedakan, karena orang Kristen sendiri menyebut Allah berbeqa juga Gw pnya 2 orang temen, namanya sm2 Andi, tp sebenernya kan Andi yang satu dengan Andi yang lain namanya beda So kalo kt gw, jelas banget maksud Allah kata orang Islam sm Allah kata orng kristen beda bangetz, artinya Tuhannya emang beda banget ga bisa disamain Truz..gw ngeliat kesannya mas Ulil ini ngeritik banget pendapat sebagian orang Islam, kata gw sih ga usah dipermasalahin, namanya kan kebebasan berpendapat& berekspresi, wajar lah kalo ada orang Islam yang punya keinginan kaya gitu, hargain dong, soalnya mereka juga sm2 punya argumen… Ini pendapat gw, sory kalo bahasa gw kurang ilmiah, but ga masalah kan kalo gw ngasih pendapat gw..kan bagian dari konsep kebebasan berpendapat..OK!! #80. Dikirim oleh aldeeraa pada 14/01 04:35 AM Editorial, 01/12/2008 Apakah Istilah “Allah” Hanya Milik Umat Islam? Oleh Ulil Abshar Abdalla Masalahnya adalah bahwa sebagian umat Islam sendiri melakukan sejumlah tindakan yang justru membuat citra Islam itu menjadi buruk. Menurut saya, pendapat ulama dan sikap pemerintah Malaysia itu adalah salah satu contoh tindakan semacam itu. Jika umat Islam menginginkan agar umat lain memiliki pandangan yang positif tentang agama mereka, maka langkah terbaik adalah memulai dari “dalam” tubuh umat Islam sendiri. Yaitu dengan menghindari tindakan yang tak masuk akal.

01/12/2008 08:13 # « Kembali ke Artikel Komentar Komentar Masuk (129) (Tampil semua komentar, ascending. 20 komentar per halaman) Halaman 5 dari 7 halaman‹ First < 3 4 5 6 7 > ALLAH itu tuhan semua agama, dan ALLAH bukan hak patent, jadi siapa suka punya tuhan bernama ALLAH silah saja, monggo mas, karena yang maha memiliki hanya ALLAH/Tuhan saja. Jadi jangan menghakimi atau menguasai. ALLAH tak perlu dibela, Islam tak perlu dibela, alQuran tak perlu dibela, karena ALLAH akan menjaga agamanya sendiri yaitu ISLAM. Cara menjaga umat hanya satu sejaterahkan mereka, bukan hanya mendoktrin, karena doktrin baru hanya konsep belum realisasi. so be realistic man, #81. Dikirim oleh hendri pada 14/01 04:36 PM mau allah mau setan yang penting kalau lu hidup bermakna bagi orang lain itulah yang disukai oleh yang mencipta bumi, apa lu kira dengan sebut nama Allah sudah masuk surga , kalaju perbuatan lu laknat dan suka buat onar seperti FPI apa itu tidak islam ,gimana kami mau ikut kalian teroris #82. Dikirim oleh sendi pada 15/01 07:39 AM Pak Ulil, setelah membaca apa yang Pak Ulil tulis saya jadi merasa bahwa Tuhan yang kita sembah tidak pernah menyebutkan nama-Nya pada kita… Bukankah itu berarti kita bisa memanggilnya denga Tuhan? Bukankah itu berarti pelajaran yang diberikan pada anak-anak di sekolah untuk memanggil Allah bukannya Tuhan itu harus direvisi? #83. Dikirim oleh FLCL pada 15/01 02:15 PM ah,mas sendi, lagian sekeras-kerasnya ormas Islam yang ktnya ‘garis keras’, ga sekeras Israel yang udah ngebantai ribuan orang palestin yang diantarnya anak2 ga punya dosa, so,kt gw real terorist itu ya Israel lah, yang udah ngancurin banyak tempaat di Gaza,Include rumah sakit,Sekolah,Camp pengungsi,even bangunan PBB sekalipun, Kalo gw liat selama ini FPI sasarannya jelas lah,tempat pelacuran,tempat judi,tempat mabok-narkoba,tempat2 ky gituan lah, mereka ga pernah tuh ngancurin tempat2 yang ga ada ‘masalah’...,Secara, merekaa tuch br turun kalo misalnya polisi yg udh dikasih th sblmnya ga bertindak jg,pdhl jelas2 ada aturan yang dilanggar Qt jg mesti fair lah ke FPI, at least mereka jg termasuk relawan kemanusiaan tsunami di Aceh yg tergolong paling pertama turun, media pun nge-publish kan usaha FPI ini, coz relawan FPI lah yang pertama kali menemukan& mengevakuasi jenazah seorang perwira polisi yang meninggal diterjang gelombang tsunami, please, be objective & open mind #84. Dikirim oleh aldeeraa pada 16/01 01:55 AM Masih banyak orang-orang yang belum mengerti dan belajar dari sejarah, karena guru terbaik adalah sejarah. Jauh sebelum zamannya Nabi Ibrahim, bangsa2 di arab adalah menganut politeisme (mempercayai lebih dari satu/banyak tuhan/dewa) dan mereka sudah lama mengenal nama “Allah” sebagai salah satu nama tuhan/dewa yang mereka sembah (kalau gak salah Allah itu adalah nama dewa sungai/air) yang dianggap memiliki kedudukan paling tinggi diantara dewa2 lainnya. Kemudian oleh Nabi Ibrahim, nama Allah itu di-“re-positioning”-kan menjadi “Tuhan Yang Maha Esa” dan mulailah peralihan dari Politeisme menjadi Monoteisme, dan berkembang terus dari Yahudi, Kristen, dan Islam. Jadi menurut saya, nama “Allah” itu adalah memang sebuah nama ciptaan manusia untuk menyimbolkan/memanggil tuhannya, karena nama “Tuhan” yang sesungguhnya sama sekali tidak akan pernah bisa diketahui atau dijangkau oleh pikiran/akal manusia, karena “Tuhan” yang sesungguhnya itu adalah maha “Esa” dan tidak ada sesuatu apapun di dunia ini yang menyerupainya. Bahkan dengan memberikan nama “Allah” atau yang lainnya sudah mempersempit ke"ESA"an-Nya. Jadi penamaan tuhan (Allah, Yehwah, God, Keberadaan, The Force, dsb.) itu adalah semata-mata dari manusia untuk menyimbolkan-Nya dan mempermudah manusia untuk berinteraksi dengan “Tuhan” yg sesungguhnya “Yang Maha Abstrak”. Untuk pemikiran yang lebih jauh lagi, karena “Tuhan” itu “Maha Abstrak”, maka hampir tidak ada perbedaan lagi antara “ada” dan “tiada”.

Semoga kita menjadi orang-2 yang lebih dewasa dalam memahami arti “Liberalisme” yang hakiki. #85. Dikirim oleh Anton pada 16/01 05:30 AM Penggunaan nama Allah dalam Islam bersifat universal, tapi dalam agama lain bisa berbeda-beda. Lagi pula, dari segi teologis, penggunaan nama Allah dalam agama di luar Islam justru menjadi rancu. Dalam kepercayaan dan keyakinan kristen misalnya, Bagaimana penggunaan nama Allah dalam konsep trinitas. Apakah tuhan bapa bisa disebut Allah bapa? tuhan anak bisa disebut Allah anak atau Allah yesus? dan kalau roh kudus juga tuhan, apa bisa juga disebut Allah? Apakah umat kriten di Inggeris, Amerika, Perancis, Italia, Afrika dan lainnya juga menggunakan nama Allah sebagai sebutan terhadap Tuhan Yang Maha Esa??? Tapi, dalam Islam, dimanapun di dunia ini, umat Islam menyebut Tuhan Yang Maha Esa dengan nama Allah kecuali mungkin yang mengklaim dirinya Islam liberal. Dalam Islam, Allah tidak pernah berubah menjadi God, Gusti dan sebagainya. Soal klaim-mengklaim, itu hal yang lumrah sepanjang tidak memaksakan pendapat dan keyakinan kepada orang lain. Jangan pula dengan alasan mengembalikan domba-domba yang tersesat lantas mengajak orang lain murtad dengan imbalan indo mie, pendidikan dan pengobatan gratis serta berbagai berbagai tipu daya lainnya. Tindakan pemerintah malaysia yang menyita buku dan VCD yang bertuliskan Allah milik seorang kristiani, bisa jadi karena sudah ada kasus sebelumnya, yang berkaitan degan kritenisasi dengan modus operandi, pembagian buku dan VCD gratis. Labelnya Allah tapi isinya Yesus. Pola-pola seperti itu marak terjadi di Indonesia. #86. Dikirim oleh adit pada 17/01 05:06 PM rukun islam yang pertama adalah syahadat…. yaitu mengakui tiada tuhan selain Allah, dan mengakui nabi SAW sebagai rasul. sekarang dalam agama lain ada gak ketentuan yang harus dilakukan seperti masuk islam… (syahadat) Allah memberitahu bahwa tuhan kita itu “ALLAH”, dari jaman nabi adam juga tuhan itu ALLAH. seiring waktu berjalan manusia dengan kebebasan berfikir banyak mencari tuhan selain ALLAH, atau menggunakan nama ALLAH sebagai tuhannya yang baru di temukan. makanya diturunkan nabi2 dan rosul untuk mengingatkan kembali manusia yang sudah menyimpang dari ajaran tuhannya. kalau kita lihat sejarah : nabi ibrahim meyakini tuhan dengan sifat2Nya, setelah itu baru nama yaitu Allah. Nama ALLah juga dipakai oleh para nabi setelah ibrahim, termasuk nabi yakub (isroil) yang diyakini anak2nya termasuk yang bernama YAHUDA. nabi ISA pun menggunakan nama Allah beserta sifat2Nya sebagai tuhannya. jadi wajar aja agama nasrani juga yahudi menggunakan nama allah dalam kehidupan sehari2 mereka…. yang pasti nama yang mereka sebut itu jauuuuuuh berbeda dengan maknanya dengan yang kita (umat islam) sebut. Allah tidak akan marah namanya disebut sama orang yang tidak meyakininya, tapi nanti Allah akan menyiksa manusia yang tidak mengakui ajarannya… apalagi menyesatkan mahluk2nya dengan pola pikir manusia yang merasa pintar dari tuhannya…. #87. Dikirim oleh arif pada 17/01 10:24 PM Assalamualaikum WW, Tuhannya Adam adalah Allah.. artinya, agama Adam pun Islam. Cuma dalam perjalanan waktu, ajaran ini (Islam), melenceng.. dan kemudian atas izin Allah akhirnya dikembalikan ke aslinya lagi melalui Muhammad SAW. Jadi, umat Islam bertuhan Allah seperti tertulis di alqur’an itu sudah final.. dan hanya milik umat islam saja.. bukan agama-agama yg lain, sebagaimana Allah mengakui Islam sebagai agama yag Haq. Wassalam #88. Dikirim oleh ben pada 18/01 06:51 AM ALLOH itu tuhan dalam bahasa arab,siapapun boleh memakai kalau dia mau.Mungkin kalau alquran turun di ingris tuhan sebutannya GOD. Kebanyakan Orang islam sendiri belum memahami alquran secara komperhensip , dalam alquran sudah jelas tentang hubunga dengan umat agama lain disebutkan dalam surat AL KAAFIRUN. ALLOH, TUHAN , GOD, SHANG HYANG WIDHI, adalah sebutan dari manusia untuk dzat/sesuatu yang diakui menciptakan,menguasai,mengatur kehidupan alam semesta ini beserta isinya. Jadi umat islam tidak perlu lagi meributkan hal-hal yang tidak perlu diributkan, kita harus cerdas dalam bersikap. Sudah saatnya kita mengembangkan pola pikir yang maju dalam bidang ekonomi,sosial,politik dan teknologi. Konsep alquran dalam berpikir adalah rasional dan masuk akal.Sehingga kita tidak lagi dianggap umat yang miskin, bodoh dan tidak punya teknologi. #89. Dikirim oleh eko p hadi pada 21/01 01:15 PM dalam umat nasrani, TUHAN=YAHWEH (Ibrani)=ALLAH(Arab). Apakah salah apabila umat nasrani di Arab memanggil ALLAH? Buat apa hal seperti ini diperdebatkan, sampai menimbulkan kekacauan (seperti di Malaysia)? #90. Dikirim oleh santi pada 21/01 01:29 PM

Assalamualaikum wr.wb. Bicara ttg status dan eksistensi Allah, percaya atau tidak, diakui atau tidak, status Allah adalah TUHAN Yang Maha Esa dan TUHAN semesta alam. Namun menurut kaidah bahasa selaku alat untuk mengekspresikan/mengkomunikasikan pemahaman/idea manusia, “tuhan” adalah kata benda yg merepresentasikan sosok sesembahan, tidak mesti hanya satu, bisa banyak, sekaligus juga berbeda-beda. Oleh sebab itu, mengingat bahwa eksistensi “tuhan” sangat erat dengan AJARAN, sungguh menjadi rancu dan tidak relevan jika SATU SOSOK TUHAN memerintahkan/mengajarkan halhal yang satu sama lain berbeda, bahkan saling bertolak belakang! Allah swt melalui Agama Islam mengajarkan bahwa Allah adalah ESA, tidak beranak dan tidak diperanakkan, maka mustahil Allah mengajarkan adanya tuhan anak, tuhan bapak dsb!! Jika ada segelintir orang berupaya melegalisir penggunaan nama/icon yg sama untuk materi ajaran yang jelas2 berbeda, bahkan bertolak belakang, menurut hemat saya, tujuannya sangat jelas, yakni ingin menimbulkan kekacauan, konflik dan merusak toleransi antar umat agama !!! Wassalam Irawan #91. Dikirim oleh irawan pada 22/01 06:11 AM Alloh punya umat Muslim. Yang bukan Muslim Terserah panggil God, Deo, Diva, Theo, Hyang dll. Terserah. Tapi kalau mau ikut-ikutan juga ga masalah buat saya. Tapi Buat yang diatas ga tahu yah. Enaknya dibedain aja…..biar oke. #92. Dikirim oleh Panca pada 22/01 09:44 AM Sekedar tambahan, Dalam bangsa Arab kuno/purba, jaman nya Bibel, ribuan tahun sebelum Muhammad lahir, Allah sudah disembah oleh Suku Arab padang pasir Boduin/Badui. Suku Arab purba ini mengasosiasikan Allah dengan Bulan yang bersinar terang pada dilangit malam yang luas dan yang menyinari gurun pasir bertahun-tahun. Alasan kenapa Allah dianggap Dewa Bulan tidaklah sulit untuk dipahami. Badui Arab adalah sebuah suku yang hidupnya nomadic. Hidup didaerah yang keras, tandus, gurun pasir, tanpa kesediaan saluran air untuk irigasi dan ketidak mungkinan untuk hidup sebagai masyarakat tani ,Badui Arab termasuk sebuah suku /masyarakat pengembala. Mereka seringnya melakukan perjalan pada malam hari dengan berpatokan arah pada bulan dan bintang Oleh karenanya mereka begitu akrab berhubungan dengan bulan dan bintang. Hidup mereka sepenuhnya bergantung pada bulan. Bagi mereka, bulan sudah merupakan penopang hidup mereka.Mereka mendasarkan kalendar primitif mereka pada pergerakan bulan, agama dan perayaan komunal mereka diatur menurut posisi dan bentuk bulan. Tidak heran, jika suku Arab padang pasir ini menggangap bulan sebagai Dewa tertingg- - Allah Taalaa- Tuhan Maha Kuasa. Seorang Professor Sejarah Arab, Phillip K Hitti menulsi bahwa penyemabahan bulan merupakan hal utama dalam masyarakat/suku pengembala dan penyembahan matahari dalam masyarakat pertanian. Bagi masyarakat Arab Badui, bulan merupakan sesuatu yang nyata dan kudus yang harus disembah dan dipuja dengan sangat dalam dan sungguh-sungguh. Setelah Muhammad “menekan” mereka dgn Islam ,suku Arab gurun ini jadi fakir miskin, neo Muslim Badui masih meneruskan praktek-praktek kepercayaan kuno mereka yang menggangap hidup mereka diatur oleh bulan. Hingga sekarang, kita masih temukan obsesi akan Bulan suku Badui Arab ini masih sangat kuat dalam Islam. Islam dengan baik sekali berhubungan dengan bulan. Semua ritual didasarkan atas pengamatan bulan atau kalendar bulan. Tak peduli seberapa banyak Islam menyatakan dan menekankan untuk menjauhi penyembahan berhala atau paganisme, namun semua itu tidak bisa terlepas atau melepaskan Islam dari hubungan akan praktek penyembahan berhala atau paganism masa lalu. Kenyataannya adalah, Islam masih memakai simbol bulan, khususnya bulan sabit. Lihat lah pada puncak-puncak masjid ada bulan sabit yang dilengkapi dengan bintang , dan juga Palang Merahnya memakai bulan sabit. Juga dalam menentukan jadwal puasa serta Lebaran mereka melakukannya dengan mengikuti pergerakan bintang. Jadi, tentunya, bulan sabit – sebagai simbol Islam yang sering dijumpai dimana-mana -merupakan simbol dari Dewa Bulan dari bangsa Arab Pagan/penyembah berhala. #93. Dikirim oleh Nurani pada 22/01 10:18 AM Setau saya kata Allah dalam bahasa arab artinya tuhan… jadi boleh-boleh saja umat agama lain memakai istilah Allah (Apalagi klo ia orang arab)... kalau soal perkara dimalaysia itu kasus DVD-nya punya orang arab kristen itu dia tidak salah… Tetapi kalau dia bukan orang arab dan tulisan “ALLAH” dicovernya dalam tulisan berarti dia yang cari perkara…alias memancing diair keruh… pengen buat ricuh masalah agama… Toh dalam agama kristen sendiri ada sebutan khusus buat tuhan mereka… Yang jelas tuhan orang Islam dengan tuhan umat agama lain berbeda… TUHAN ORANG ISLAM ITU: “ALLAH YANG ESA…HANYA KEPADANYA SEGALA SESUATU BERGANTUNG…TIDAK DIPERANAK DAN TIDAK DIPERANAKAN…TIADA SEKUTU BAGINYA” Q jamin dalam agama lain tuhan mereka tidak ada yang seperti itu… #94. Dikirim oleh Otto pada 22/01 12:25 PM

Menurut saya sebutan Allah itu adalah pangilan manusia. Allah mau dipanggil apa saja gak mau ambil pusing. Goblok benar tuh Allah gak tahu namanya dipanggil yang jelas manusia aja yang goblok Allah tetap yang kuasa jangan merendahkan Allah seperti Pemerintah Malaysia seolah-olah Allah itu gak berdaya bodoh dan sebagainya. Dasar manusia ......ada ada saja kalau aku Allah udah tak tumpas semua pada gak tahu diri untung Allah maha segalanya… #95. Dikirim oleh maman pada 23/01 02:09 PM Thank’s Mas Ulil, refleksi anda sangat briliant. ini bukan sanjungan, apalagi bukan karena refleksi anda nuantif bela kaum samawi lainnya. saya hanya sering gelisah, kok klaim agamis menjadi semakin infantil. masalah sebutan atau panggailan kepada Sanga Khalik saja dipersoalkan? Apakah Allah ingin dibela, diperebutkan? Naif rasanya mempersoalkan sesuatu yang sebenarnya tidak urgent. Apakah kadar keagamaan kita, terreduksikan hanya pada sebutan atau panggilan “Allah?” sepertinya tahun 2007 yang lalu sempat mengemuka kasus ini di negara kita. saya merasa bahwa hidup keagamaan kita semakin korupt, pengkerdilan makna. kita terlalu sibuk dengan istilah, kalim inilah. itulah, tetapi kita lupa bahwa agama yang kita anut haruslah menjadi bejana pemus dahaga bagi siapa pun yang percaya. kita telah terasing dari pemaknaan hakiki dari hidup keagamaan. saya menduga bahwa perlahat iman kita terreduksikan pada aturan dan larangan, sementara unsur fondamental yakni religiusitas kehilangan ruangnya. iman akhirnya hanya menjadi kumpulan aturan, yang pada gilirannya mengasingkan manusia dari cita-rasa rohani sesungguhnya. ada kesan seolah agama kita menjadi ancaman bagi agama lain. ini tentu sebuah pretensi negatif untuk kita. saya berpikir bahwa masing-masing kita para pemerluk agama, harusnya lebih mempertajam lagi olah agamis dan pola tampil kita. kita masih sering kabur dalam balutan fisik agama. adakah negeri ini akan menjadi impian bagi semua penghuni negeri ini? seandainya kita masih percaya bahwa agama adalaj salah satu pilastri fondamental pembentukan keindonesiaan, maka pola pikir kita harus dikoreksi kembali. Thank’s so mauch Mr. Ulil #96. Dikirim oleh Ruggero pada 23/01 06:04 PM Saya setuju dengan kalimat : “Yaitu dengan menghindari tindakan yang tak masuk akal.” pada artikel di atas. Bagaimana orang lain akan menganggap Islam Baik, kalau intern Islam sendiri tidak terlihat baik. #97. Dikirim oleh yd.i pada 24/01 09:30 PM Panggilan atau sebutan terhadap satu pribadi yang disebut Allah memang unik, pelik, polemis, politis, asumtis, dan is-is yang lain. Penggilan terhadap Allah adalah relasi agamis yang didasari oleh interpersonal relationship dengan fokus Allah. Jika perdebatannya masih di wilayah sebutan berarti secara tidak langsung sedang mengesampingan Allah itu sendiri. Panggilan atau sebutan memang perlu, tetapi bukan yang utama, oleh karena yang relasi personla dengan Allah yang berdaya dampak konstruktif, buat sesama (bukan sesama agama, melainkan sesama manusia). #98. Dikirim oleh imarssuwignyo,. ev pada 26/01 02:32 AM Manusia mempunya potensi lupa dan salah. Berhentinya bola pada lemparan yang kedua tidak akan bisa sama posisinya dengan lemparan yang pertama. Itulah lemahnya manusia. Padahal manusia adalah sebagus-bagus ciptaan. Manusia hanya bisa mereka-reka dan melukis terhadap apa yang pernah dilihatnya. Manusia hanya bisa menduga dan membayangkan terhadap apa yang pernah dirabanya. Manusia hanya bisa mengungkap kembali dan mempertanggungjawabkan terhadap apa yang pernah diperbuatnya. Kekuatan manusia hanya di panca indra dan pikirannya. Diluar itu manusia tidak dapat berbuat apa-apa, karena berbuat itu sendiri adalah pekerjaan panca indera dan akalnya. Jangan coba-coba manusia berfikir tentang Tuhan (Allah), kecuali pasti meng-orangkan, kecuali pasti memanusiakan. #99. Dikirim oleh mtob pada 28/01 03:10 AM Kalian tdk akan tersesat selama berpegang pada 2 hal,yakni Al QUR’AN & SUNNAH shaloom JIL mas ulil, mungkin yg di maksud ulama malaysia Allah itu Tuhannya para nabi dan rasul, termasuk Tuhannya nabi isa almasih putra maryam, sehingga Allah yg esa dan benar benar TUHAN tersebut sampai detik ini hanya di sembah oleh umat islam sbg penerus tradisi para nabi dan rasul, jadi ketika ada agama yg mengatakan bahwa isa (jesus) adalah Allah yg wajib di sembah… itukan keblinger namanya, sudah jelas isa atau jesus itu bukan Allah, malah dia menyembah Allah juga(apa sbg muslim anda mau mengakui isa sbg Allah tuhan yang anda sembah..?) , toleran dan auto kritik boleh-boleh aja mas…tapi kalau mmg agama lain jelas salah dan tidak mau tunduk pada kebenaran apa ngga boleh kita yg berada di jalur yg benar mengingatkan mereka…ok mas..? #101. Dikirim oleh rubber thread pada 13/02 12:10 PM semoga Allah membukakan pintu hati yang telah tertututp oleh ilmu yang tidak bermanfaat.. #102. Dikirim oleh eva pada 24/02 10:56 AM

Sebenarnya ini persoalan budaya. Budaya yang terkontaminasi agama.Coba kita berpikir sejenak, kita ini sesungguhnya sudah digiring untuk menjadi ARAB. Bisa kita bayangkan apa jadinya bila alquran tidak boleh diterjemahkan dalam bahasa indonesia, saya percaya kita semua akan jadi islam jadi2an. Survey membuktikan hampir 80% ummat islam tidak mengerti bahasa Arab. Bagaimana mau mengimani kitab suci, bila bahasanya tak dimengerti??? Coba lihat, dimana mana orang orang udah pake jenggot, bersorban, bau, dan terkesan kumuh. Mau jadi apa??? Kerja di perusahaan asing dgn tampilan seperti itu??? alamak, ke laut aje..! Makanye jangan jadi katak di bawah tempurung. Dunia sudah berubah. Ini Indonesia, bukan Arab.

#103. Dikirim oleh burhanuddin pada 05/03 05:57 PM Semua agama itu benar. Namun yang menyelamatkan manusia adalah imannya. Jika seseorang itu mempunyai agama, jika tidak menurut perintah agamanya, saya percaya ia tiada peluang untuk masuk syurga.Saya memang kecewa apabila kerajaan Malaysia melarang agama kristian menggunakan perkataan allah atas alasan tauhid. Perkataan allah sepatutnya milik semua agama di muka bumi ini. #104. Dikirim oleh Victor pada 14/03 04:39 AM pembahasan yang sangat menarik. saya sendiri kristen tetapi saya memiliki banyak teman muslim mulai dari yang moderat sampai yang liberal. dan saya belajar cukup banyak dari mereka mengenai Islam ( tapi gak ada niatan pindah agama, saya ingin bisa menghargai agama lain seperti saya menghargai agama saya ) menurut saya pribadi sih, sebutan Allah itu sih cuman karena bahasa saja. dan kalau di bilang Allahnya beda, masak iya sih? lha wong nabi nabinya banyakan sama kok. sampe Isa/Yesus masih sama kan? kita berdua punya adam, musa, daud, sulaiman/salomo, zakaria, saul jadi kenapa harus ribut soal sebuah kata. Bagaimana kalo ternyata dealing nya ada : ok Allah di pake oleh Islam aja, tapi Kristen pake Tuhan. apakah itu berarti orang Islam gak boleh memakai kata Tuhan lagi? trus apa berari sila pertama pancasila kita yang Kristen dan yang Islam jadi berbeda? mungkin ada bagusnya untuk tidak terlalu meributkan masalah kecil dan di gede gedein, yang nantinya kalau di sahkan gak ada untungnya buat salah satu pihak. misalnya sepakat bahwa hanya Islam yang boleh pake kata Allah, trus apa untung nya? gak bikin negara jadi tambah makmur, gak bikin negara bebas dari bencana, gak bikin semua orang masuk sorga kan? salam #105. Dikirim oleh nug nug pada 03/04 02:20 PM maaf ya bapak.Ulil Abshar Abdalla saya tersinggung dengan blok yang ada buat memang kata ALLAH milIk semua umat manusia di bumi ini . tp mengenai kAta: ” PRA-ISLAM DAN SEBELUM ISLAM LAHIR TANAH ARAB “ SAYA TERSINGGUNG SEKALI ISLAM ADALAH AGAMA SAYA JIKA MEMANG ISLAM MEMANG AGAMA BAPAK ,BAPAK PASTI TAU SEBELUM DUNIA INI LAHIR DAN SEBELUM ADAM DAN HAWA LAHIR ISLAM ITUPUN SUDAH ADA SEJAK JAMAN DAHULU KARENA ISLAM ITU SATU-SATUNYA AGAMA ALLAH,SELAIN ISLAM BUKAN AGAMA ALLAH ITUPUN SUDAH TERTERA DI KITAB SUCI KITA UMAT ISLAM AL’QURAN TIDAK ADA AGAMA APAPUN SELAIN ISLAM DI MATA ALLAH YANG MAHA SUCI ,,,, #106. Dikirim oleh ambon pada 03/04 04:48 PM ... ALLAH adalah Tuhan seluruh manusia… tetapi Ia bukan tuhan semua agama… Agama yang ada di sisiNya hanyalah ISLAM ... tidak ada yang lain… ... tentunya ISLAM yang sesuai dengan sunnah RasulNya… bukan asal berpikir dengan dalih ‘ijtihad’... #107. Dikirim oleh no-name-required pada 06/04 11:14 AM Kata “Allah” memang hanya ada di Al-Qur’an saja kok, kalo di injil barat sono lebih menggunakan kata “Father” bukan “Allah” coba cek deh, cuman injil di indonesia aja yg pake kata “Allah”, tul gak? #108. Dikirim oleh AntiJIL pada 15/04 11:59 AM As salamualaikum, Istilah ALLAH tidak hanya dimiliki oleh agama Islam yang dibawa Muhammad Rasulullah SAW saja, tetapi pengertian atau pengetahuan yang benar saat ini hanya milik Islam yang diajarkan Nabi Muhammad SAW saja, tidak yang lain…tidak yang lain #109. Dikirim oleh arema singa islam pada 21/04 02:10 PM He he he, argumentasi Bang Ulil kuat saya kira. Sama sekali tidak ada nash yang menyudutkan Islam ko. Argumentasinya menjadi percik dakwah dan saya kira ada daya persuasi yang kuat bagi kalangan non muslim. Itulah, untuk memeluk Islam secara kaffah, semangat yang tinggi harus diimbangi dengan pemikiran yang meninggi juga saya kira. Karena itu, umat muslim diwajiban membaca (iqra) dan membaca. #110. Dikirim oleh Yuhka pada 23/04 10:13 PM

Menurut saya,kita dalam menyembah Allah,jangan di lihat dari namanya,tetapi dari sifatnya..percuma anda menyebut-nyebut Allah jika anda mnganggp bhwa Allah ada 3,10 atau 360. Yg penting,adalah sifatnya,yaitu ESA..dan teologi dalam Islamlah yg paling sesuai dgn sifat ke Esaan Nya, so mnrt q ga masalah jika anda menyebutnya dg TUHAN atw GOD,adanya syahadat krna pd zaman Nabi,kaum pagan arab menganggap Allah itu termanifestasikan dalam 360 brhala,maka dr itu syahadat diperlukan untuk memurnikan keESA an Allah,kesimpulannya mnrt q nama Allah adalah sbutan kita untuk berelasi dgn DIA,jd DIA lah Allah.. #111. Dikirim oleh Lukman pada 23/05 01:55 AM semua omong kosong…... sok tahu tentang Tuhan….. siapa TUhan itu, dari apa Tuhan itu, ngapain mikir TUhan….? dasar kemeruh semua…. yang penting sampean sampean menjalani misi hidup dan menjadi mahluk yang menyenangkan bagi semua orang itu lebih mendingan ... dari pada ngomong debat soaal Tuhan .... sampean-2 sendiri aja belum tentu menyenangkan hati TUhan gak usah sok ngebela Tuhan… Tuhan nggak butuh dibela…. Dia itu sakti maha sakti mampu menghancurkan segalanya dalam waktu detik….. ngapain sampean-2 debat soal Tuhan , yang pasti cari benarnya sendiri…. di hadapan TUhan yang Esa sampean belum tentu orang benar. #112. Dikirim oleh ahmed jailani pada 16/06 09:06 AM begini ya! gw seh sepakat2 aja dengan pernyataan mas ulil. bener banget ALLAH itu bukan hanya milik umat Islam. sederhana saja komentar dari saya:ALLAH itu rabbul alamin seperti yg dimuat dalam ayat pertama surat al-Fatihah.so, bukan Tuhan kelompok tertentu. gitu aja kok repots…hehehe go JIL go. . . #113. Dikirim oleh Tatang pada 22/06 12:31 PM Begini, kalau terjadi perbedaan2 dlm agama Islam, kita harus kembali kepada al quran, demikian ALLAH menyelaskan dlm al quran, satu satunya yang bisa menyatukan umat Islam. Kalau kita tidak berpegang kepada al Quran, tapi kpd pendapat masing2 ulama, atau usztad2 dll,maka umat Islam akan tetap terpecah belah. Apa kata ALLAH dalam al quran, apakah benar ALLAH itu hanya milik orang2 Muslim saja? Sesungguhnya (agama tauhid) ini adalah agama kamu semua(Yahudi, Nasrani dan muslim); agama yang satu dan Aku adalah Tuhanmu, maka sembahlah Aku.QS 21:92.QS.23:52 Sesungguhnya orang orang Mukmin, orang orang Yahudi, Shabiin, orang orang Nasrani, siapa saja ( diantara mereka) (1) yang benar benar beriman kepada ALLAH,(2) hari kiamat dan (3) beramal saleh,maka tidak ada kekhawatiran terhadapap mereka (masuk golongan surga) dan tidak(pula) mereka bersedih hati.QS.5:69 #114. Dikirim oleh alatif pada 05/07 10:40 PM beginilah jika niat yang baik tanpa ilmu yg mumpuni hanya akan menimbulkan mudharat yg besar. pingin bela islam, ledakkan bom dimana-mana, korban sipil yg tdk ada sangkut pautnya jad korban. apakah islam terbela dgn tindakan ini?. hanya org gila yg bisa menjawab “ya”. sama halnya dengan tindakan pemerintah malaysia, bukan bela islam tp justru menambah corengmoreng wajah islam yg memang sudah pada bopeng-bopeng akibat tindakan umatnya yang jauh, dan sangat jauh dgn islam. islam ajarkan hidup bersih, tp faktanya wc masjid jauh lebih kotor tidak ketulungan, kalah jauh dengan wc pub, diskotik, dsb. islam ajarkan hidup tertib dimanapun berada, tp faktanya jalan raya di negeri2 kaum muslim merupakan pembunuh nomor wahid, sebagai buah dari ketidaktertiban di jalan raya.islam ajarkan agar hanya memakan rizki yg halal, tp faktanya korupsi justru sangat marak di negeri dimana mayoritas umat islam bertempat tinggal. islam ajarkan untuk senantiasa mendatangkan kebaikan dan manfaat bagi semua makhluk tp faktanya tidak ada satupun produk2 barang atau jasa yg dihasilkan oleh umat islam. HP, TV, Mobil, Radio, Kulkas, dsb. siapa yg memproduksi? org2 islam?? hahaha…nggak ada. umat islam betul pure sebagai konsumen #115. Dikirim oleh ajun pada 18/08 06:54 AM silahkan berpesepsi tentang kata Allah tetapi yang lebih penting bagaimana kita ini beribadah dengan baik sesuai dengan tuntunan Allah dan Rasul. Kata Allah memang dipakai oleh semua agama tetapi yang lebih penting bagaimana seseorang itu meyakini bahwa Allah itu satu tiada duanya. #116. Dikirim oleh galih pada 07/09 02:59 AM Apapun Orang Menyebut Tuhan: , Allah, Hyang Widi, Yahweh, Gusti-nu-Agung, Dan Lain Sebagainya, ( Bahkan seperti kata Yth. Muhammad Bin Abdullah => dari Tuhan Sendiri…;TUHAN mempunyai 99 NAMA yang sempurna.) yang jelas TUHAN ITU TETAP SATU DAN HANYA SATU. Tuhannya orang Islam, Tuhannya orang Kristen, Tuhannya orang Budha, Hindu, Konghucu, Tuhan nya orang Sunda, Jawa, Batak, Indonesia, Malaysia, Afrika…Ya itu-itu Juga…! Kenapa mesti bingung dengan sebuah Nama….!!! Yang Penting kan kita yakin TUHAN ITU ADA, dengan segala Kesempurnaan & Sifat-Nya, setelah itu BERBUAT BAIK KEPADA : sesama Ciptaan-Nya, Siapapun dan Apapun status dia…, termasuk diri kita Sendiri. Dan seluruh alam semesta,baik benda hidup maupun benda mati, dan yakin, bahwa setelah kita lewati Dunia ini, akan ada kehidupan lagi yang kekal… Beres Perkara Deh… Selamat deh disini dan disana, di Dunia dan di Akhirat….! ( Nah… kalo gak salah.., seperti itu kan AJARAN ISLAM…, sejak nabi Adam sampe nabi Muhammad , cuma beragam bahasa,

beragam cara, beragam keunikan lainnya…!, makanya kata Tuhan: agama disisiNya hanya ISLAM, nah…ISLAM itu bahasa arab…Kalo Jaman Yahudi, Jaman bahasa DAUD, Jaman bahasa LUTH, Jaman bahasa SULAIMAN, jaman bahasa ADAM dlsb.., jangan-jangan ISLAM itu juga disebut nya bukan I-S-L-A-M, Padahal ITU-ITU Juga…!, selama itu memang ajaran yang membuat orang SELAMAT DI SINI (ruh masih bersatu dengan badan) dan SELAMAT DI SANA (ruh sudah berpisah degan badan) ...ha..ha..ha..ha..ha..ha…!!! #117. Dikirim oleh Irsyad Muhammad pada 20/10 09:39 PM Betul sekali apa yg ditulis oleh si penulis diatas, bahwa Nabi2x dari Adam s/d Isa Allaihisalam adalah bangsa Keturunan Yahudi/Israel, jd tambah runyam klo umat Israel complain agar umat muslim di Alquran jgn ditulis/dihapus saja Nabi2xnya( Adam s/d Isa Allaihisalam) milik bangsa Israel-Yahudi tuh…....Orang Israel juga dari sebelum Muhammad ada sdh menyebut Tuhan/Allah koq, cuma negara Malaysia saja yg ke GR ran mau bela Islam tapi tdk ngaca dulu tuh ( sebelum Alquran kan ada Kitab Taurat,Zabur, Injil )yach aneh saja tuh pemerintah Malysia…............apalagi klo bc Injil bahasa Arab ya sdh sdh jelas pakai kt Allah koq… #118. Dikirim oleh Leni pada 17/11 06:10 PM Allah adalah Allah,Tuhan semua Makhluk..Nabi Muhammad adalah rasulnya yg diiktiraf oleh-Nya begitu juga dgn nabi-nabi lain..tiada sesiapa yang memangil dengan nama tersebut jika bukan dr ALLAH sendiri kepada NABI ADAM..sedangkan Nabi ISA juga menyebutnya sedangkan dia kaum ISrael bukanya dari beza bahasa itu sendiri.Nabi Isa juga turut sujud kpd ALLAh masakan Tuhan menyembah Tuhan yang lain..Masakan jesus boleh meminta kepada Tuhan yg lain.Kalau benar jesus di salibkan untuk mengampunkan dosa hambanya buat apa lg kamu orang kristien memohon ampun untuk dosa sekarang buat apa lagi kamu pergi gereja.Agama Islam juga di salah tafsir oleh org buta agama Islam…Allah dalam Islam perspektifnya adalah 1..sedangkan dlm kristien Allah adalah triniti…adakah kamu merasakan bentuk manusia adalah yg tercantik dalam alam ini. Adakah kamu menyangka Allah serupa dengan makhluk kerdil seperti kita yg memang dasar lahirnya dr setitis air mani dari kemaluan.Kalau benar jesus itu Tuhan tidaklah jesus keluar dari rahim seorang manusia yg hampir dgn salur kencingnya..Tuhan mencipta kita bukan mengikut bentukNya tp mengikut bentuk yg diinginiNya..TanganNya bukanlah macam tangan kita manusia. kita dapat melihat bukan bererti kita dapat melihat semua benda seperti sebalik tembok tingi atau butiran bintang dengan mata kasar.. #119. Dikirim oleh tom pada 23/11 08:47 PM sebenarnya sederhana. memang Kata Allah itu berasal dr bahasa Arab dan sudah dari dulu digunakan oleh masyarakat yang berbahasa arab tanpa memandang agamanya. dan sampai sekarang, saya ga pernah dengar tuh klo Allah protes krn namaNya dicaplok oleh orang -yang katanya tidak menyembah Allah yang sama- emang pernah ya? tunjukkan mana buktinya. Allah Allah Allah malang benar kami manusia ini, masih meributkan nama-Mu walaupun masih banyak hal lain yang lebih penting untuk dipikirkan demi keselamatan jiwa kami saat ini dan waktu kami mati nanti… :( #120. Dikirim oleh Angela pada 10/01 11:02 AM Sejarah sederhana: 1. Islam dibawa oleh Nabi Muhammad 2. Nabi Muhammad lahir sebagai anak yatim, ayahnya meninggal selagi beliau masih dalam kandungan. 3. Siapa nama ayah Nabi Muhammad ayooo… ? Jangan teriak2 hancurkan..ancurkan… tapi gak tau ini… Nama ayah Nabi Muhammad adalah Abdullah ibn Abdul Mutalib. Orang yang pernah belajar bahasa Arab pasti tahu arti dari kata Abdullah, Abd-Allah… masih belum ngerti juga? Halooo….. ini bukti sederhana, kata Allah telah digunakan sebelum Islam ada. Omong-omong, saya curiga jangan-jangan ini semua murni buah guyonannya Gus Dur dengan Gusti Pangeran di atas sono… karena asli.. SUPER LUCU!!! You are really mocking yourself, Malingsia….as a never ending story :D Mbok sekalian aja ditarifin dan dipatenkan, jangan lupa disertai potong sapi dan kerbau, bikin bubur merah-putih, kan ngeganti nama! ...Dasar mental pemburu hak paten tapi gak kreatif… Lebay abis… mau lebih Arab dari Arab??? #121. Dikirim oleh Gus Durian pada 12/01 03:53 AM ALLAH ITU PERKATAAN ARAB, BERMAKSUD TUHAN! GOD ITU PERKATAAN INGGERIS, BERMAKSUD TUHAN! TUHAN ITU PERKATAAN MELAYU, BAHASA MELAYU BERMAKSUD BAHASA MALAYSIA! PUNCA PERMASALAHAN ISU ‘ALLAH’ INI IALAH BILA WUJUDNYA PENGGUNAAN DWIBAHASA! PERTUTURAN N PENGGUNAAN BAHASA MELAYU YG 100% BAHASA MELAYU TETAPI DICAMPUR DENGAN BAHASA ARAB! CONTOHNYA BILA NAK SEBUT ‘TUHAN’ TAK DSEBUT TUHAN DLM BAHASA MELAYU TETAPI ‘ALLAH’ DLM BAHASA ARAB! KENAPA PERLU MENCAMPUR ADUK BAHASA KALAU ERTINYA SAMA JUGA? BAHASA MELAYU BYK ‘MENCURI’ BAHASA LAIN DI

DUNIA NI, TAPI SAH2 PERKATAAN ‘ALLAH’ ITU SUDAH WUJUD DLM BAHASA MELAYU IAITU ‘TUHAN’ TAPI JARANG SEKALI DIGUNAKAN! KALAU ORG2 MELAYU YG AGAK KOLOT FIKIRANNYA, MESTI DIA AKAN ANGGAP ALLAH ITU TUHAN ORG ISLAM JE! PADAHAL DIA TAK TAHU, ORG2 BUKAN ISLAM DI NEGARA2 LAIN JUGAK MENGGUNAKAN PERKATAAN ‘ALLAH’ SBG TUHAN SB ‘TUHAN’ DLM BAHASA DIORANG IALAH ‘ALLAH’ N TIDAK ADA PERKATAAN LAIN YG DCIPTA LAGI UNTUK MENGGANTIKAN ATAU MEMBEZAKAN PERKATAAN ‘ALLAH’ DI NEGARA DIORANG! NEGARA PALING UTAMA IALAH NEGARA ARAB! ORG2 KRISTIAN D NEGARA ARAB MENGGUNAKAN PERKATAAN ‘ALLAH’ SEJAK ZAMAN ADAM DAN HAWA!!! LEPAS TU ZAMAN ISA AL MASIH, BAHASA ARAB ARMAIC DIGUNAKAN…. BAHASA ARAB ADA RUMPUN2 TERTENTU TP TETAP MENGGUNAKAN PERKATAAN ‘ALLAH’..... NAK JADIKAN ISU PASAL PERKATAAN NI WATPE? TAKKAN TUHAN SENDIRI PON TAK KENAL N TAK YAKIN? TANYA DIRI SENDIRI…. APA AGAMAMU, SIAPA TUHANMU, HATI SENDIRI YG TAHU! TP AKU RASA DLM ISLAM KALAU KENA TANYA SIAPA TUHANMU, JAWAPANNYA HANYA TUHAN… DLM BAHASA ARAB IALAH ‘ALLAH’! TU JE… MELAINKAN KALAU DTANYA SIAPA NABIMU? JAWAPAN INI PASTI DPT MEMBEZAKAN APA AGAMAMU….. MUDAH N TAKYAH KECOH2! #122. Dikirim oleh Tommy pada 24/01 06:39 AM Katakanlah.“serulah dia Allah, atau APAPUN (!) dia punya nama nama yang baik (Al Quran). Kita orang muslim? mengerti tidak ayat di atas?Kurang jelas apa ayat di atas?. Tuhan tdk punya nama, Tuhan tidak sama dengan mahluknya yang perlu nama untuk dipanggil. Dia bukan untuk dipanggil, tapi di seru( Siapa kita berani-beraninya memanggilNYA??!!)Kalau Dia punya nama “Allah” misalnya bagaimana adab kita memanggil Tuhannya..? Ya.. Allah. Gitu? apa sopan memanggil Namanya dg begitu.. seperti memanggil hey..Udin, hey Budi..? . Hanya mahlukNYA yang perlu nama karena jumlahnya banyak, maksudnya untuk membedakan satu dengan lainnya.. itupun kita kekurangan nama untuk menyebutnya. berapa ribu yang namanya Budi, susi, daniel?Tapi tuhan tidak perlu nama…Kalau perlu nama untuk membedakan dengan siapa???untuk membedakan dengan apa?. kalau Allah itu nama . tidak boleh manusia diberi nama dengan embel=embel namanya donk…. Abdullah, Nasrullah, dll. Kok jd sama sama mahlukNYA? #123. Dikirim oleh terserahente pada 10/02 06:07 PM Saya mau bagi cerita nih tentang dialog antara katak laut dan katak kolam. Katak kolam bertanya, “Hai katak laut, seperti apakah tempat tinggalmu itu? Adakah tempat tinggalmu itu lebih luas daripada kolam tempat tinggalku ini?” Katak laut hanya diam. Tidak mengatakan apapun. (ya, terang aja katak laut diam, gimana mo ngasih tau katak kolam yang gak pernah tau tentang laut?) Nah, dari kisah di atas, bagi mereka yang DANGKAL ilmu pengetahuan mengenai sejarah, geografi, demografi, filsafat, bahasa, matematika, fisika, kimia, biologi, komputer, komunikasi, teknologi, ruang angkasa, atom, kuantum, dsb., maka mereka itu seperti katak kolam. Pasti mereka akan mengatakan bahwa mereka adalah the number one in this world and the best of the best. Muslim yang seperti katak kolam itu gayanya sombong tapi gak punya kekuatan. Pengen diakui terbaik, tapi kagak bisa-bisa. Lihat saja, sekarang Amerika, Eropa, Jepang, India, Cina, sudah punya satelit yang mengorbit bulan. Tapi wakil umat Islam…? Mengapa demikian? Bukankah umat Islam yang paling banyak tambang minyaknya? Sebabnya karena mereka seperti katak kolam. Hanya meributkan siapa yang paling diterima, siapa yang paling benar, siapa yang paling berhak masuk surga, siapa yang paling berhak atas nama Allah, siapa yang paling berhak atas penguasaan dunia, siapa yang paling baik sistem ekonominya, siapa yang paling baik sistem pemerintahannya, tapi gak pernah bisa membuktikannya. Kalau ditanya mana buktinya? pasti disebutkan sejarah-sejarah kehebatan nenek moyangnya di jaman beratus tahun yang lalu . Itu sama dengan pertengkaran antara kaum muslimin di Madinah tentang kehebatan nenek moyang mereka, hingga ditegur oleh Rasulullah SAW. Yang anehnya lagi, ada orang Islam yang seperti katak dalam kolam itu yang tidak mau mendapat ujian. Kalau puasa, maunya tidak ada orang yang jualan biar dia gak lihat makanan dan jadi tergoda. Kalau jalan di jalan umum, maunya gak lihat pakaian aneh-aneh, biar dia gak tergoda nafsunya. Pengen nonton televisi, tapi gak mau nerima risiko dapat tontonan yang menggoda syahwat. (Koq gak mau bikin acara televisi sendiri ya…? kan jumlahnya jutaan, kalau setiap orang nyumbang dari kisaran 1000 rupiah hingga 1 juta rupiah, berapa trilyun tuh yang bisa dikumpulin buat bikin stasiun teve sendiri..?) Padahal Allah SWT sendiri berfirman dalam al-qur’an bahwa untuk masuk surga perlu diuji dulu. Bacalah Q.S. Al Baqarah: “214. Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk syurga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya: “Bilakah datangnya pertolongan Allah?” Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat” Bagi yang suka emosi terhadap non-muslim atau muslim yang berbeda pendapat dengannya, mohon baca ayat-ayat qur’an ini: Q.S. Ali ‘Imran ayat 186: Kamu sungguh-sungguh akan diuji terhadap hartamu dan dirimu. Dan (juga) kamu sungguh-sungguh akan mendengar dari orang-orang yang diberi kitab sebelum kamu dan dari orang-orang yang mempersekutukan Allah, gangguan yang banyak yang menyakitkan hati. Jika kamu bersabar dan bertakwa, maka sesungguhnya yang demikian itu termasuk urusan yang patut diutamakan.” Q.S. Al Israa’: “110. Katakanlah: “Serulah Allah atau serulah Ar-Rahman. Dengan nama yang mana saja kamu seru, Dia mempunyai al asmaaul husna (nama-nama yang terbaik) dan janganlah kamu mengeraskan suaramu dalam shalatmu dan janganlah pula merendahkannya dan carilah jalan tengah di antara kedua itu.” Q.S. Asy Syu’araa’ 183. Dan janganlah kamu merugikan manusia pada hak-haknya dan janganlah kamu merajalela di muka bumi dengan membuat kerusakan;” Q.S. Al An’aam ayat 108. Dan janganlah kamu memaki sembahan-sembahan yang mereka sembah selain Allah, karena mereka nanti akan memaki Allah dengan melampaui batas tanpa pengetahuan. Demikianlah Kami jadikan setiap umat menganggap baik pekerjaan mereka. Kemudian kepada Tuhan merekalah kembali mereka, lalu Dia memberitakan kepada mereka apa yang dahulu mereka kerjakan.” Q.S. Al An’aam 35 dan ayat 52. “Dan janganlah kamu mengusir orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan petang hari, sedang mereka menghendaki keridhaanNya. Kamu tidak memikul tanggung jawab sedikitpun terhadap perbuatan mereka dan merekapun tidak memikul tanggung jawab sedikitpun terhadap perbuatanmu, yang menyebabkan kamu (berhak) mengusir mereka, (sehingga kamu termasuk orang-orang yang zalim)” Juga Q.S. An Najm ayat 31-32; Q.S. Ali Imran 188; Q.S. Yasiin ayat 76; Q.S. As Syuura ayat 15; Q.S. Al Maaidah ayat 8 Jazakumullahu khairan. #124. Dikirim oleh muhammad hakim pada 12/03 05:41 PM

Yang merasa dirinya suci dan pasti masuk surga silakan baca ayat ini: Q.S. An Najm ayat 31-32: 31. Dan hanya kepunyaan Allah-lah apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi supaya Dia memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat jahat terhadap apa yang telah mereka kerjakan dan memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik dengan pahala yang lebih baik (syurga). 32. (Yaitu) orang-orang yang menjauhi dosa-dosa besar dan perbuatan keji yang selain dari kesalahan-kesalahan kecil. Sesungguhnya Tuhanmu maha luas ampunanNya. Dan Dia lebih mengetahui (tentang keadaan)mu ketika Dia menjadikan kamu dari tanah dan ketika kamu masih janin dalam perut ibumu; maka janganlah kamu mengatakan dirimu suci. Dialah yang paling mengetahui tentang orang yang bertakwa. Yang merasa sudah membela Allah SWT silakan baca ayat ini: Q.S. Ali Imran 188: 188. Janganlah sekali-kali kamu menyangka, bahwa orang-orang yang gembira dengan apa yang telah mereka kerjakan dan mereka suka supaya dipuji terhadap perbuatan yang belum mereka kerjakan janganlah kamu menyangka bahwa mereka terlepas dari siksa, dan bagi mereka siksa yang pedih. Bagi yang resah karena ucapan yang tidak baik, silakan baca ayat ini: Q.S. Yasiin ayat 76: 76. Maka janganlah ucapan mereka menyedihkan kamu. Sesungguhnya Kami mengetahui apa yang mereka rahasiakan dan apa yang mereka nyatakan. Bagi yang menyangka Allah hanya Tuhan bagi agama Islam, silakan baca firman Allah SWT ini: Q.S. As Syuura ayat 15: 15. Maka karena itu serulah (mereka kepada agama ini) dan tetaplah sebagaimana diperintahkan kepadamu dan janganlah mengikuti hawa nafsu mereka dan katakanlah: “Aku beriman kepada semua Kitab yang diturunkan Allah dan aku diperintahkan supaya berlaku adil diantara kamu. Allah-lah Tuhan kami dan Tuhan kamu. Bagi kami amal-amal kami dan bagi kamu amal-amal kamu. Tidak ada pertengkaran antara kami dan kamu, Allah mengumpulkan antara kita dan kepada-Nyalah kembali (kita).” Bagi yang suka main obrak abrik tempat orang lain seenaknya (dengan alasan dakwah dan menegakkan syiar Islam), juga bagi yang suka mengancam akan menghancurkan orang lain yang beda paham dengannya, yang suka menyebut diri pembela Islam, silakan baca ini: Q.S. Al Maaidah ayat 8: 8. Hai orang-orang yang beriman hendaklah kamu jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. Syukurlah Allah SWT tidak memberikan pengetahuan tentang bom atom, rudal nuklir, bom neutron, bom hidrogen, dan sejenisnya kepada orang-orang yang mengaku muslim tapi gemar akan kekerasan. Karena baru masalah nama Allah SWT saja sudah mau main hancurkan orang lain. Allah SWT Mahatahu dan memberikan sekedar apa yang pantas mereka (umat Islam saat ini yang picik pikirannya) dapatkan, dan tidak memberi kepada orang-orang picik itu apa yang mereka inginkan yang nantinya akan menghancurkan seluruh umat manusia (senjata atom/nuklir). #125. Dikirim oleh muhammad hakim pada 12/03 06:23 PM Assalamu’alaikum. sebenarnya tujuan malaysia melarang pemakaian kata ALLAH dalam ajaran lain adalah justru untuk mencegah perpecahan antar penganut agama. bukan berarti muslimnya yang angkuh, maunya sendiri. coba kalau suatu saat terjadi penyalah gunaan pemakaian nama ALLAh dalam agama lain, palagi kalau sampai digunakan oleh orang yang tak bertanggung jawab. maka mereka bisa dengan entengnya berkilah “lah ALLAH ini kan tuhanku, saya berhak dong pake semau saya. ngapain kamu marah2”. kan malah berantem ntar, dan hasilnya kondisi kondusif antar umat beragama jdi rusak. #126. Dikirim oleh zhafran pada 16/04 05:52 PM @tomi/toni: betul..betul..betul….buat ape kite ni betekak…semue manusie di dunia ni seharusnya mengakui bahwe ade kekuatan yang super di luar kemampuan manusia…dan yang memiliki kekuatan super itu adl….terserah lah setiap orang punye sebutan masing2….tak payah nak begaduh lah pasal ni je.. #127. Dikirim oleh raja pada 17/08 04:27 PM Memang situs yang sangat sukses. Selain itu, artikel ini sangat mengesankan. Terima kasih berkontribusi untuk itu. tv mobil saya sedang mengakses internet sekarang, biarkan akumelihat situs Anda dari itu. #128. Dikirim oleh car tv pada 21/08 03:56 PM Cuma mau nanya, kalau Arab Pra Nabi Muhamad memang Agamanya apa ??? #129. Dikirim oleh muhamad rizal pada 23/02 10:48 PM

Gagalnya Ideologi Kekerasan Dalam Islam Oleh Ulil Abshar Abdalla Perkembangan dalam tubuh umat Islam sendiri dalam arena internasional makin mengarah pada “dialog antar peradaban”. Baru-baru ini, misalnya, Raja Saudi menuan-rumahi suatu peristiwa yang saya anggap sangat historis dalam sejarah negeri Saudi, yaitu konferensi yang diniatkan untuk mendorong dialog antaragama. Dilihat dari sudut pandang ideologi Wahabisme (ideologi resmi negeri Saudi) yang sangat tertutup dan eksklusif, tindakan Raja Abdullah dari Saudi itu sangat berani dan bersifat terobosan. Banyak kalangan yang khawatir bahwa dieksekusinya Amrozi dkk akan melambungkan status mereka sebagai seorang “syahid” atau martir di mata umat Islam. Beberapa kalangan was-was jika mereka dihukum mati, alih-alih akan memotong akar-akar ideologi kekerasan, hukuman itu justru akan membuat ideologi mereka menjadi menarik di mata umat Islam, terutama di kalangan anak-anak muda. Menurut saya, kekhawatiran semacam ini sama sekali tak beralasan. Untuk sementara, mungkin saja kematian Amrozi dkk akan menaikkan emosi umat Islam, terutama kalangan yang sejak dari awal memiliki simpat pada ideologi para pelaku pengeboman di Bali itu, meskipun tak serta merta mesti setuju dengan tindakan mereka. Tetapi, lambat-laun, Amrozi dkk akan hilang dari memori umat Islam. Dalam beberapa tahun saja, nama Amrozi, Imam Samudra, dan Ali Imron akan segera dilupakan oleh umat Islam. Salah satu perkembangan menarik setelah peristiwa 9/11 adalah bahwa hampir terjadi penolakan serentak di semua kalangan umat Islam, terutama kalangan yang moderat yang merupakan mayoritas dalam umat Islam, terhadap ideologi Al-Qaidah. Meskipun kita menjumpai simpati terhadap figur Osama bin Ladin di sebagian kalangan Islam, tetapi secara umum kita melihat suatu penolakan yang nyaris kompak terhadap tindakan Osama itu. Ratusan ulama dari berbagai sudut dunia Islam mengeluarkan fatwa yang dengan serentak menolak dan mengutuk tindakan para pelaku terorisme yang memakai nama Islam. Di mana-mana, kita mendengar suatu penegasan yang nyaris kategoris bahwa Islam adalah anti tindakan teoriristik, apalagi jika membawa korban masarakat sipil yang sama sekali tak berdosa (al-abriya’). Di Indonesia sendiri, setelah bom Bali, kita mendengar kutukan yang serentak dari semua tokoh-tokoh agama dan masyarakat, terutama kalangan Islam, terhadap tindakan nista itu. Memang ada banyak kalangan Islam yang secara apologetik mencari-cari alasan yang secara tak langsung hendak “memahami” dan, dengan demikian, secara implisit juga “membenarkan” tindakan pengeboman itu. Tetapi, suara dominan di kalangan Islam hampir seluruhnya menyatakan bahwa tindakan Amozi dkk itu salah secara kategoris dari sudut pandang ajaran Islam. Dengan kata lain, kalangan Islam arus utama sama sekali tak memberikan persetujuan atas tindakan kekerasan itu. Simpati terhadap Amrozi dkk tentu ada. Sejumlah kalangan Islam juga mencoba memahami tindakan Amrozi dkk dalam kerangka “teori konspirasi” di mana pihak Barat (dalam hal ini Amerika dan sekutunya) dipandang sebagai yang berada di balik peristiwa itu. Tetapi, “apologetisme” semacam itu sama sekali tak bisa menolak fakta bahwa kalangan arus utama dalam Islam tetap mengutuk tindakan kekerasan tersebut. Ideologi Amrozi dkk sama sekali tak didukung oleh umat Islam arus utama. Saya kira ini yang menjelaskan, antara lain, kenapa hingga sejauh ini kelompok-kelompok kekerasan seperti Jamaah Islamiyah dan ideologi yang menyangganya sama sekali tak pernah mendapatkan tempat yang mantap di kalangan Islam arus utama. Sementara itu, perkembangan lain juga layak mendapat perhatian kita. Pada saat reputasi kelompok-kelompok Islam radikal-pro-kekerasan mengalami kemerosotan tajam, kita melihat perkembangan lain yang justru menarik, yaitu melambungnya reputasi sejumlah partai Islam dalam kancah politik resmi. Dalam kasus Indonesia, hal ini bisa dilihat dari maraknya Partai Keadilan Sejahtera (PKS). Gejala serupa juga kita lihat di sejumlah negeri Islam yang lain. Perkembangan ini, menurut saya menandakan satu hal: bahwa umat Islam lebih memberikan “endorsement” pada perjuangan Islam secara “damai” melalui arena politik normal, seraya mengutuk metode kekerasan yang hanya akan membawa dampak fatal bagi umat Islam sendiri. Hukuman yang diberikan kepada tokoh FPI, Rizieq Syihab, baru-baru ini makin memperkuat kecenderungan yang kontrap-kekerasan ini. Hukuman itu boleh kita pandang sebagai paku terakhir yang ditancapkan pada peti-mati ideologi kekerasan atas nama Islam. Dengan mantap saya bisa mengatakan bahwa ideologi Osama bin Ladin, Amrozi, Rizieq Syihab dll. telah gagal memperoleh dukungan dari umat Islam arus utama. Ideologi itu telah gagal. Dengan mengatakan demikian, bukan berarti bahwa dukungan atas ideologi kekerasan hilang sama sekali dalam tubuh umat Islam. Dukungan itu akan selalu ada, tetapi tak akan pernah menjadi pandangan dominan dalam tubuh umat Islam. Penolakan kategoris atas ideologi ini yang kita lihat hampir di semua sudut dunia Islam makin membuat posisi ideologi itu terpinggirkan. Ideologi Osama pelan-pelan akan menjadi “residu” yang lambat-laun kehilangan relevansi dan ditinggalkan sama sekali oleh kalangan umat Islam. Sementara itu, perkembangan dalam tubuh umat Islam sendiri dalam arena internasional makin mengarah pada “dialog antar peradaban”. Baru-baru ini, misalnya, Raja Saudi menuan-rumahi suatu peristiwa yang saya anggap sangat historis dalam sejarah negeri Saudi, yaitu konferensi yang diniatkan untuk mendorong dialog antaragama. Dilihat dari sudut pandang ideologi Wahabisme (ideologi resmi negeri Saudi) yang sangat tertutup dan eksklusif, tindakan Raja Abdullah dari Saudi itu sangat berani dan bersifat terobosan. Raja Saudi konon akan menyeponsori acara serupa dalam waktu yang tak terlalu lama lagi di PBB. Momentum yang mengarah kepada dialog antarperadaban ini makin mendapatkan ruang setelah terpilihnya Presiden Barack Obama. Retorika kampanye presiden-terpilih Obama saat pemilu kemaren sangat menekankan kebijakan luar negeri yang lebih membuka dialog ketimbang memaksa pihak lain dengan laras senjata seperti kita lihat pada Presien Bush saat ini. Dengan sedikit optimis, saya bisa mengatakan bahwa era Bush, Osama bin Ladin, Ayman Al-Zawahiri, Dr. Azahari, Amrozi, Imam Samudra, Rizieq Shihab dll. pelan-pelan mulai memudar. Kita sedang menjelang era lain yang jauh lebih “dialogis”. Pelaku-pelaku utama dalam era ini bukanlah mereka yang menenteng senjata AK-47 di tangan kiri dan Kitab Suci di tangan kanan lalu meneriakkan Allahu Akbar seraya membunuhi nyawa-nyawa yang tak berdosa. Pelaku utama dalam era baru ini adalah mereka yang siap berjuang di kancah resmi, di panggung politik normal, berani adu pendapat, berani melakukan kompromi, seraya secara kategoris menolak kekerasan.

17/11/2008 | Editorial, | # Komentar Komentar Masuk (93) (Tampil maks. 5 komentar terakhir, descending) coba tolong klo kasi tulisan di attach juga dasar/dalil ayatnya. contoh: kekerasan dlmm Islam itu salah, bukti ayatnya QS 007 ayat 700. jadi yg baca jg faham bhw penulis ga asal ngomong. klo ternyata ga ada ayat pendukung padahal sdh di baca berulang2 seluruh isi Al Quran, brarti .....bikin penilaian sndiri deh. Islam itu agama yg sempurna ato bukan? klo bukan berarti butuh kitab2 lain seperti Hadist ato buku Kitab Undang2 (KUHP/KUHAP), dll. Posted by andy on 03/17 at 03:21 AM skarang memang sudah bukan jamannya perang karna semua aturan dalam perang nabi sudah tidak bisa lagi diterapkan. tidak ada lagi lokasi bebas penduduk sipil seperti badar, uhud misalnya. Tehnologi persenjataan yg begitu canggih justru yg menjadi alasan ditiadakannya perang. Jihad muslim diabad ini adalah justru mencegah terjadinya perang bukan justru memicu atau balas dendam kepada masyarakat sipil yg tidak tahu menahu tentang pengambilan keputusan pemerintah mereka. Posted by andi on 04/18 at 05:27 AM Untuk Mohamad Arif Ar Riadh Bin Hamid, ekoji, Irsad, Indra, Iqbal, Zulfikar Akbar Romadlon: jadi karena Israel dan Amerika Serikat menginvasi negara Islam, lalu kita boleh membom di mana-mana….? Gimana kalau ada yang meledakkan bom dekat rumah antum dan sanak keluarga antum jadi korbannya….? (ada yang mati, ada yang terbakar, ada yang cacad, dsb…?) Masih setuju dengan tindakan pemboman itu…? Wong Rasulullah SAW saja ketika menaklukkan Mekkah memaafkan semua orang yang tadinya memerangi Beliau dan para pengikutnya. Kalau anda mungkin sudah memancung semua orang di Mekkah saat itu ya…? Baca qur’an lagi deh…utamanya ayat yang ini nih… Q.S. Ali ‘Imran ayat 186: Kamu sungguh-sungguh akan diuji terhadap hartamu dan dirimu. Dan (juga) kamu sungguh-sungguh akan mendengar dari orang-orang yang diberi kitab sebelum kamu dan dari orang-orang yang mempersekutukan Allah, gangguan yang banyak yang menyakitkan hati. Jika kamu bersabar dan bertakwa, maka sesungguhnya yang demikian itu termasuk urusan yang patut diutamakan.”

Untuk Delli: Mohon baca sejarah Muhammad SAW. Selama 13 tahun ditindas di Mekkah. Tidak melakukan pembalasan apapun. Perang dilakukan karena Quraisy yang menyerang mereka di Madinah. Buktinya, setelah penaklukkan kota Mekkah, semua penduduk Mekkah dimaafkan. Kalau mengenai peperangan pasca Rasulullah SAW, itu masuk pada politik ekspansi pada masa itu. Anda lupa bahwa Romawi menyerang wilayah Persia, begitu pula Persia balas menyerang Romawi, Umar bin Khattab menyerang Romawi dan juga sebaliknya, Sparta menyerang Athena dan sebaliknya, Inggris menyerang Amerika, kulit putih Amerika membantai suku Indian (sebelumnya ada 10 juta populasi suku-suku Indian, setelah dibantai, tinggal 300-an ribu), Anglo Saxon menyerang Inggris, dan sebagainya, karena itu adalah bagian dari keadaan politik dan diplomasi pada jaman itu (malah perang dunia I dan II itu awalnya adalah sengketa antara negara-negara Eropa). Anda lupa pada saat Yesus Kristus lahir, Palestina berada di bawah kekuasaaan Romawi alias dijajah bangsa Romawi, sebelumnya Palestina berada di bawah kekuasaan Babylonia, dsb. Jadi Eropa pun pernah melakukan penyerbuan ke Timur Tengah bung. Itu sudah menjadi bagian dari politik dan diplomasi jaman itu. Tolong baca lagi sejarah baru mengambil kesimpulan, jangan mengambil kesimpulan yang mengesankan bahwa seolah-olah Muhammad SAW yang mengajarkan kekerasan. Malah sewaktu Rasulullah menawan musuh pada Perang Badar, sampai-sampai turun ayat yang menegur beliau. Tapi memang begitulah beliau, sebelum turun teguran, beliau selalu mengutamakan perdamaian. Itu disebabkan karena Muhammad SAW adalah seorang yang cinta damai. Kalau tidak turun ayat yang mengijinkan beliau untuk berperang, pasti beliau tidak akan melakukannya. Tahukah anda bahwa dalam adab perang Islam itu dilarang membunuh wanita dan anak-anak, orang yang lemah dan tidak berdaya, orang yang ditawan, orang yang tidak ikut perang, para kurir, dilarang menghancurkan lahan pertanian, dilarang menghancurkan rumah-rumah ibadah seperti gereja, kuil, sinagog, dsb. (Itulah sebabnya tempat-tempat ibadah berusia ratusan tahun di bekas wilayah kekuasaan khalifah muslim masih tetap bertahan hingga sekarang). Kemudian bila lawan menawarkan damai, baik itu sungguh-sungguh, atau hanya bagian dari taktik militer, wajib hukumnya diterima oleh pihak muslim. Kalau peperangan yang sekarang, karena senjata yang digunakan adalah jenis penghancur (bom, rudal, granat, mortir, bazooka, roket, dsb), maka syarat-syarat perang sesuai adab Islam menjadi sulit dilaksanakan. Itulah jeleknya perang yang sekarang. Yang tidak ikut berperang pun akan kena getahnya. Kalau jaman dahulu, perang itu dilaksanakan di suatu tempat dan yang mati hanya yang ikut perang tersebut. Jadi lebih terbatas yang jadi korban. Intinya di setiap jaman pasti ada peperangan baik besar maupun kecil. Dan tak ada seorang pun Nabi dan Rasul yang menganjurkan kekerasan. Hanya para pengikutnya yang karena tekanan psikologis, ekonomi, politik, yang sedang mencari motivasi untuk melakukan pembalasan terhadap kekerasan yang mereka alami, secara keliru menafsirkan setiap ucapan mereka tanpa melihat syarat-syaratnya. Akhirnya muncullah orang-orang seperti Taliban, Amrozi cs., Klu Klux Klan, kaum zionis, dsb. Posted by muhammad hakim on 03/14 at 05:28 AM gak usah jauhjauh analisis pake agama ..... pengebom = PENGECUT ... perakitnya = BIANG PENGECUT Posted by gilanto on 07/21 at 05:19 PM To Muhammad arif & Igbal

Lebih baik kalian hidup di arab sono atau kalian hidup di pulau tersediri. Hidup adalah pilihan kalian tidak berhak memvonis orang lain salah dan menghukumnya. Kalo mmg org2 kafir (versi kalian) atau org2 paddy cafe berbuat maksiat dan mereka adalah pendosa, so what??? Kalian berhak membunuh? berhak menghukum? Tolong tanyakan itu ama diri kalian. Kami yang di bali dan tmp2 lain yg mayoritas non muslim cinta damai, kami ingin hidup rukun dan saling menghargai. Tolong ramah dengan semua perbedaan dan please don’t negative thinking..segala sesuatu dari luar yang merongrong agama kalian..justru pemikiran kalian yang akan merusak simpati disetiap orang yang memiliki hati nurani. Posted by kaka on 07/20 at 01:24 PM .saya sendiri sebenarnya optimis (kalau itu hanya menyangkut kekerasan) bahwa hal ini tidak akan berkembang d indonesia ..Ini masalah kultur kita koq ..kita pernah d jajah belanda selama 350 tahun dan d jajah jepang selama hanya 3 tahun, akan tetapi d bawah kekuasaan jepang bangsa kita `merasa` d saat2 yg plg sengsara ..`kayak jaman jepang aja` itu mungkin istilah yg dr dulu d sematkan untuk keadaan yg sangat sengsara.kenapa demikian? karena jepang saat itu merupakan negara fasis yg menerapkan kekerasan d mana2(dan juga sudah ada dalam rekam sejarah mereka sejak masih berbentuk ke-shogun -an) ..jadi, kekerasan itu adalah bukan bagian dr kita (saya masih optimis itu)kita ini bukan berkultur pemarah berat seperti orang arab, entah ini positif atau malah negatif, kita ini malahan cenderung untuk memaafkan dan melupakan ..jualan organisasi2 keagamaan yg ada sekarang saya yakin ga akan laku jika masih d jajakan dgn cara2 kekerasan, Alhamdullilah setidaknya masih ada hal baik yg tersisa d negara kita ini #1. Dikirim oleh Firdaus pada 17/11 04:23 AM

Bravo Mas Ulil dan JIL ...... Tulisan mas Ulil semakin menegaskan apa yang dikatakan oleh Ayumaardi Azra (maaf kalau ejaannya salah), Rektor Syarif Hidayatulah jakarta, bahwa orang muslim sejenis Amrozy, Habib Riziek, Abu Bakar Baasyir dkk jumlahnya sedikit. Hanya saja mereka sangat sering dan pandai berkoar-koar serta bikin demo dimana-mana, akibatnya mereka kelihatannya banyak dan mendominasi umat muslim. Sampai saat ini saya masih haqul yakin bahwa saudara-saudara kita dari umat muslim mayoritas adalah muslim moderat yang ingin hidup dalam kedamaian, sayangnya para pengacau seperti Amrozy dkk, telah melumurkan kotoran kemuka umat islam seluruhnya. Saya walaupun bukan muslim (saya orang Bali) sangat banyak mempunyai temanteman muslim, dan rata-rata mereka baik dan tidak memperlihatkan gejala orang edan seperti Amrozy dkk. Dalam beberapa kali perjalanan saya ke kota-kota di pulau Jawa pasca bom Bali I, setiap sopir taxy, pelayan restoran, manager hotel dll yang berhubungan dengan saya, begitu mereka tahu saya dari Bali, dari bibir mereka keluar sumpah serapah mengutuk tindakan Amrozy dkk, padahal mereka semuanya muslim. Hal ini melegakan saya, bahwa dukungan dan simpati terhadap peristiwa Bom Bali ternyata sebagian besar juga datang dari saudara-saudara kita yang muslim. Yang patut kita renungkan saat ini adalah bagaimana caranya untuk memberikan counter terhadap ideologi radikal yang ditenggarai masih tetap berlangsung dibeberapa pesantren. Salah satu buktinya adalah demonstrasi dari Jemaat Tauhid (organisasi baru bentukan Abu Bakar Baasyir) menjelang dieksekusinya Amrozy CS. Pun kalau kita lihat, hampir semua pelaku pengeboman Bom Bali I dan II adalah alumnus pesantren Ngruki pimpinan Abu Bakar Baasyir. Dalam alam demokrasi yang ada di Indonesia sekarang ini, pemerintah tentu saja tidak bisa seenak udelnya menutup pesantren-pesantren yang ditenggarai mengajarkan paham radikalisme agama. Menurut pendapat saya, jawabannya lebih banyak berpulang kepada uamt islam sendiri, apakah akan membiarkan dirinya dicekoki dengan ideologi radikal semacam itu. Mengenai bagaimana sebenarnya reaksi orang Bali terhadap para sauadar-saudara kita yang muslim, bisa disimak dari talk show di TV one setelah dieksekusinya Amrozy dkk, Bp Komarudin Hidayat sebagai narasumber utama dalam dialog tersebut mengatakan saya salut dengan reaksi orang Bali yang tetap menanggapi dengan tenang dan kepala dingin, walaupun telah dua kali menjadi korban pengeboman dari kaum radikalisme agama itu. Kalau saja para radikal itu melihat dampak pengeboman tsb, yang sampai mematikan perekonomian di Bali sampai ke desa-desa di pelosok Bali, bahkan sampai ke beberapa daerah di Jawa yang menjadi sentra sub kontraktor dari para pengusaha handycraft di Bali (sebagian dari pekerjaan industri handycraft di Bali disubkan ke Jawa). Untuk para radikalisme yang ada dimanapun, kami dari Bali dengan sangat memohon, jangan jadikan kami korban, kami di Bali sama sekali tidak ada sangkut pautnya dengan kebencian kalian terhadap Amerika, Australia, Israel dll. Ingat bahwa kami juga orang Indonesia yang setiap hari membanting tulang untuk sesuap nasi. Kalau kalian memang berani dan bermimpi berjihad, pergi sana ke Amerika dan Israel, mau bunuh berapa orangpun disana terserah! jangan jadikan daerah kami sebagai ajang untuk melampiaskan segala kebencian dan kebiadabanmu! Sekali lagi Bravo untuk Mas Ulil dan JIL. #2. Dikirim oleh Ketut Ulil pada 17/11 04:28 AM Saya setuju. Kekerasan bukan solusi. Kekarasan adalah jalan rugi. Tidak manusiawi. Tak Islami. #3. Dikirim oleh supriyanto pada 17/11 04:44 AM salah satu ayat di Al Quran yang menyatakan bahwa semua muslim adalah saudara, jangan dihayati secara dangkal dan harafiah. Saya berpendapat karena dangkalnya pemahaman terhadap ayat itulah yang paling memberi kontribusi terhadap gerakan radikal islam di dunia ini. Setiap perang yang melibatkan negara islam dengan negara non islam, maka seketika akan menjadi ajang pembuktian ayat tersebut. Para radikalisme agama akan berbondong-bondong mendaftarkan jihad kedalam perang tersebut, bahkan terkadang tanpa memaknai substansi dari perang yang ada tersebut. Lucunya kalau yang perang adalah sesama negara islam, maka para radikalisme dari Indonesia sama sekali nggak ada yang teriak-teriak. Contoh perang iran irak yang berlangsung cukup lama dan memakan korban cukup banyak, tidak ada sama sekali demo dan teriakan dari ormas islam radikal di Indonesia. Mungkin mereka bingung mau belain yang mana. Ketika Taliban menguasai Afganisthan dan saling berperang dengan beberapa fraksi disana yang sama-sama muslim, ormas-ormas islam radikal di Indonesia pun mulutnya pada bungkam. Penyebabnya saya kira sama dengan diatas, mereka pd bingung, mau belain yang mana. Yang paling konyol adalah ketika kerusuhan Ambon masih berlangsung, dengan alasan RMS akan memerdekakan dirinya, Laskar Jihad berbondong-bondong ke Ambon dan ikut berperang disana, tapi ketika GAM di Aceh memberontak, mereka pada bungkam lagi, penyebabnya jelas karena sebagian penduduk Aceh beragama islam. Coba seandainya sebagian besar penduduk Aceh beragama kristen, Hindu atau Buda, maka bisa dipastikan ormas-ormas islam garis keras pun akan riuh rendah mengerahkan anggotanya untuk berJihad. Kesimpulannya disini rasa kemanusiaan dan solidaritas kaum radikal tersebut sangat dangkal, hanya terbatas pada kesamaan agama. Kita lihat saja seandainya Pakistan dan India berperang lagi memperebutkan Khasmir, pasti kaum radikal itu akan berbondong mendaftarkan jihad, padahal mereka berperang karena rebutan tanah! #4. Dikirim oleh Barack Obama pada 17/11 04:47 AM Assalamu’alaikum Wr. Wb. Bagi mereka yang beridologi seperti amrozi dkk (semoga Allah swt mengampuni dosanya) seyogyanya mempelajari lebih dalam lagi tentang: -Arti Jihad. -Peperangan Nabi saw dengan para sahabatnya dulu. -Negara Indonesia.

Al hasil, apakah Jihad itu harus berperang? Nge bom sana sini? Apakah peperangan Nabi saw dulu tujuannya agar semua orang orang kafir memeluk agama islam? Apakah masih bisa dibenarkan di indonesia yang tentram ini berperang? Lantas siapa yang akan kita perangi dalam arti kita tawan dan halal harta bendanya? atau bahkan kita bunuh? Pada jaman sekarang, khususnya di bumi indonesia ini, apakah syiar islam atau untuk agar islam berkembang itu harus dengan perang fisik atau ngebom sana sini? Benci Amerika ya ngebom disana saja ! Ingin membela islam dan mati sebagai syahid ya berangkat ke palestine saja ! Dan jangan menyuruh orang, tapi lakukan sendiri.. Apakah mereka terbujuk oleh keindahan surga? Bukankah banyak jalan menuju surga? Renungkan !! Wassalamu’alaikum Wr. Wb. #5. Dikirim oleh Ibrahim pada 17/11 07:07 AM Mas Ulil Lalu bagaimana menurut Anda ideologi kekerasan Israel, Amerika Serikat CS Langgeng dan menang…........? Karena Israel sendiri ideologinya di Jazirah Arab bisa jadi alasan punya senjata nuklir dan memberangus gerakan Palestina…..? Amerika dengan segudang alasan boleh nyerang Irak dan Afganistan dan dalam praktiknya tidak mengindahkan budaya dan agama di sana, misalnya masuk Mesjid dengan sepatu kotor….....? Kalau orang Islam meminta tanahnya kepada penjajah dengan kekerasan itu teroris….....? Lalu rakyat Palestina yang tidak punya senjata berjuang dengan apa yang mereka bisa lalu dianggap kekerasan dan mereka harus bernegosiasi dengan musuh yang terus menekan secara fisik kepada mereka…........? jadi ideologi apa ini namanya bung….........? Anda orang yang matang di dalam kelas dan tidak pernah ke lapangan seperti mereka para mujahid. jadi tentu perspektif dan pijakan perjuangan mereka akan berbeda dengan Anda. Dalam kelas itu semua sangat teoritis dan manis-manis kawan. Tapi mereka bukan orang bodoh seperti dalam sangkaan anda dan kawan2 Anda. #6. Dikirim oleh irsad pada 17/11 08:39 AM Assalmualaikum wr wb.. buat Ibrahim yg semoga diberikan hidayah oleh Allah Ta’ala. pelajarilah lalu pahamilah dahulu yg pertama-tama tentang ilmu AQIDAH Tauhid yang puristik dan integral dalam berislam, bukan hanya mengambil sebagian yg haq ( benar ) dan mencampakkan sebagian yg haq ( benar ) kainnya, niscaya Allah Ta’ala akan membimbing antum untuk memahami Islam secara kafaah. perlu diketahui bahwa AQIDAH tauhid yg puristik dan integral adalah yg telah diterangkan dalam Al Qur’an,salah satu ayatnya adalah QS AL MUMTAHANAH : 4..coba antum baca dan pahami scara ikhlas. untuk org2 kafir adlah sangat jelas permusuhannya selama mereka menentang dan memusuhi Islam baik dgn invasi fisik maupun pemikiran2 batil.tetapi jikalau mereka tdk memusuhi amar ma’rufnya sangat jelas untuk mereka dan tdk akn diperangi.tetapi antum lihatlah dng mata kepala sendiri bgaimana kiprah org2 kafir yg memusuhi Islam tsb yg tlah mmbuat segala macam invasi fisik dan invasi kebejatan moral khususnya di indonesia?!,dalih2 memberantas terorisme yg nyata2 merekalah trnyta terorisnya,dimana posisi antum jika dihadapkan pada perkara tsb? apakah antum akan lari dan takut mati atau berani? ( lihat dan pahamilah QS AN NISAA : 78 ) Semoga antum bukan termasuk kepada org2 yang berpihak dan membaela para org2 kafir YG MEMUSUHI ISLAM. Barokallah Mohamad Arif / 08999829829 #7. Dikirim oleh Mohamad Arif Ar-Riadh Bin Hamid pada 17/11 03:28 PM hidup secara damai dimuka bumi ini diantara pemeluk agama yang berbeda, ras yang berbeda terasa lebih indah dan menyejukkan. kenapa harus dengan jalan kekerasan untuk mendapatkan surga ALLAH…......??????? #8. Dikirim oleh AJP pada 17/11 05:25 PM Beberapa hari yang lalu, ribuan ulama dan umat muslim di India melaksanakan “istighotsah” untuk menolak terorisme dan aksi kekerasan. Saya rindu kapan ya MUI dan jamiyah besar (NU + Muhammadiyah)dan parpol2 islam melakukan hal sama ............. Kalau NU + Muhammadiyah sih sudah sering saya dengar pernyataannya menolak terorisme dan kekerasan. Tapi kalau MUI dan partai islam belum pernah dengar tuh…... Coba kalau berani, takut kekurangan pendukung dalam pemilu 2009 ya ?................. dan MUI ....? anda pernah menyatakan haram terhadap liberalisme dan isme2 yang lain. Kapan berani menolak terang2an terorisme atas nama agama dan kekerasanismenya FPI dan yang lain…....... #9. Dikirim oleh Teguhsuseno pada 18/11 08:18 AM assalamualaikum .. kawan-kawan smua yang di rahmati allah semuga kita dalam lindungan nya kalau berbicara kekerasan tak usah ngumung agama

yang nama nya tindak kekerasan tidak boleh, tidak perlu ngumung atas nama agama ....emang ada kekersan yang boleh kalau bukan atas nama agama ... gak ada ....yg nma nya kekerasan tidak boleh titik tak perlu mengusung nama agama .... hati2 dech dalam membuat statemen ungkapan ... indonesia perlu mengureksi ulang dalam statement2 yang sudah ada .... #10. Dikirim oleh memeng pada 18/11 02:44 PM Kepada Bung Irsad kalau anda bilang mereka (Amrozi cs) tidak bodoh kenapa mereka membom dan menghancurkan tanah airnya ? bukankah konfliknya ada di palestina,Irak dan Afganistan bukan di Indonesia. dan satu lagi jika orang Islam ingin merebut tanah airnya kenapa harus membom di Indonesia dan melukai sebagian Muslim yang ada di Indonesia ???? Sebagai Muslim saya malu dengan logika dan paradigma orang seperti ini #11. Dikirim oleh ada aja pada 19/11 08:37 AM Hai saudara-saudaraku! Jangan bodoh dengan menganggap Amrozi cs itu melakukan perjuangan jihad! Coba lihat, jumlah korban terbanyak adalah orang Australia (kita abaikan aja deh!), lalu kedua sekitar 40-an itu orang Indonesia dan sebagian di antaranya MUSLIM juga! Saya tanya, apa hukuman bagi orang MUSLIM YANG MEMBUNUH 1 MUSLIM LAINNYA YANG TAK BERSALAH! Saya perlu menekankan kata TAK BERSALAH, karena memang samasekali tak terkait dengan Amerika atau Israel atau iblis-iblis lainnya lho! Bom JW Marriot dan Kedubes Australia itu korbannya supir taksi dan satpam yang nota bene adalah MUSLIM! pernahkah MUI Memikirkan bagaimana nasib keluarga korban bom-bom laknat itu? Kenapa kok yang diurusi malahan teroris-teroris berkedok ISLAM spt Amrozi cs? Bodoh benar kita ini, membela TERORIS! Pantaslah orang mengatakan Indonesia adalah SARANG TERORIS, karena nyatanya hanya di Indonesia teroris dibela mati-matian! #12. Dikirim oleh donny pada 19/11 12:24 PM Allohummahdina fimanhaadait. Kekerasan apa pun bentuknya merupakan momok yang harus di singkirkan, kekerasan itu merusak sendi sendi kehidupan, kedamaian dan ketentraman. Ibadah kepada Alloh swt. memerlukan jaminan keamanan untuk melaksanakan. Tentunya bisa di bandingkan pelaksanaan ibadah kepada Alloh swt pada zaman sekarang dengan zaman penjajahan dulu. #13. Dikirim oleh Rizqon pada 20/11 12:05 AM memang benar bahwa raja saudi sudah melakukan dialog antar agama. tapi jangan salah, suatu saat raja saudi ditanya kenapa pasukan masih bercokol di negeri ka’bah itu, kemudian raja berkomentar “untuk melindungi negara setanpun akan saya undang”. bisa jadi dalam dialog antar agama itu setan politik pun diundang olehnya. masalah dialog antar peradaban bukan hal baru. sejak dahulu, peradaban Islam memang sudah melakukan hal itu. uniknya, peradaban Islam tidak serta merta jadi budak peradaban lain, mengambil elemen - elemen peradaban lain secara buta. sebaliknya, justru Islam memilah-milah, mengadapsi elemen - elemen peradaban asing tersebut kemudian disesuaikan dengan pandangan hidup Islam. karena proses seperti itulah Al-Farabi berhasil menengahi pertengkaran Aristoteles dan Plato. Barat juga demikian, mengambil sebagian elemen peradaban Islam dan peradaban lainnya kemudian disesuaikan dengan pandangan hidup Barat. dengan demikian, dialog peradaban itu sudah biasa, tapi kalau membabi buta meniru peradaban lain itu gila. #14. Dikirim oleh Erdy Nasrul pada 20/11 06:09 AM Assalamu’alaikum Bang Ulil, kayaknya kita (Bangsa Indonesia bagi yang merasa)harus membuat Kitab Putih mengenai apa itu Jihad sebenarya dalam Islam. Bagi saya yang cocok untuk mmberikan pemahaman Jihad yang sebenarnya hanyalah GUS DUR dan Quraisy Shihab dan yang sepaham dengan mereka berhubung yang lain sudah tiada (berangkat ke hadirat Ilahi) seperti Cak Nur dll. sejatinya tak ada lagi yang berani seberani mereka atau Bang Ulil sendiri mau buat? #15. Dikirim oleh SauQi Awi pada 20/11 04:05 PM assalamalaikum semuanya.. al islam mahjub bil muslimin, begitu kata sebuah maqalah. saya org dusun, tidak kenal ulil kecuali lewat tulisan2 beliau, tidak kenal jil, liberalisme, pluralisme atau apapun sebelumnya. saya belajar agama dari pesantren, dari bapak saya yang kyai ndeso dan guru-guru saya yang santun dan ramah dalam ber-islam. Ada yang aneh akhir-akhir ini, ketika banyak orang berteriak takbir di mana-mana dengan wajah sangar dan penuh emosional. di tv-tv pada forum-forum diskusi dan debat, seolah yang mereka hadapi musuh yang sesunguhnya padahal yang mereka teriaki takbir dengan kepalan tangan adalah sama-sama muslim dan sama-sama Indonesianya. saya menjadi miris, betapa wajah damai dan humanis agama yang saya banggakan ini sekarang begitu terdesak (setidaknya yang terlihat di media) oleh sekelompok orang yang berjubah (bersimbol)islam kemudian berwajah seram dan berteriak takbir. belum lagi debat dan adu argumentasi dari mereka yang selalu berasumsi negatif terhadap lawan bicaranya dan selalu ada kata-kata kasar (maaf, seperti preman jalanan). tidakkah mereka ingat bahwa ini adalah zaman global, era dialog, era di mana citra begitu penting. saya jadi ingat guru MI (SD) saya dulu yang berpesan; islam nanti akan tidak dilihat orang (mahjub) sebab ulah mereka sendiri. mudahmudahan vonis kyai ulil benar, setidaknya saatnya mengakhiri black image yang diciptakan umat islam sendiri; dangkal, reaktif, eksklusive dan anarkhis, persis seperti zaman khawarij dulu. atau mngkin mereka reinkarnasinya…? salam buat ustadz ulil, kapan main ke tuban? #16. Dikirim oleh mikyal pada 20/11 05:27 PM

hari gini koq masih ribut soal kafir, zionis musuh islam, kalo ga ada orang kafir zionis, rumah kita bakalan seprti goa kosong melompong, sebab apa?! komputer buatan siapa?, tv bikinan siapa? mobil karya siapa ? pesawat terbang kita nikmati dll,jadi orang jangan munafik dong !!!, sebab orang munafik itu dinerakanya dibawah neraka orang orang kafir tau ga seh??? mari kita galang persatuan, kerukunan dan kedamaian untuk alam semesta ini, sebenarnya musuh islam yang nyata adalah setan bung,yang selalu menggoda hati ini untuk riya sombong dan menganggap diri kita yang paling benar dan paling suci dan itu namanya orang sombong, dan neraka adalah tempatnya orang orang yang sombong, Naudzubillah mindalik amin. #17. Dikirim oleh bramono pada 21/11 04:54 AM Saya yakin islam pasti menang kapanpun dan dimanapun, karena Allah sudah menjamin keunggulan islam dan menjadikan islam sebagai agama yang diridloiNYA.Jadi kita tidak perlu minder kemudian bertindak ngawur yang berbuntut rusaknya citra islam. Mari kita hadapi semua bentuk “permusuhan” dengan kaum kafir (mereka) sesuai iramanya. Mari kita tingkatkan kwalitas SDM umat Islam, kita bangun dialog dengan mereka bila mereka mau sebagai bagian dari dakwa, kita siapkan perang urat syaraf bila dikehendaki bahkan kita mampu mengadakan perang fisik dengan mereka. Dalam kasus indonesia, menurut saya belum perlu perang fisik. Dialog perlu dibangun dan sesekali perang urat syaraf guna membangkitkan kepedulian umat kepada Islam. Mari melakukan semua itu secara Proporsional sehingga kita bisa terhindar dari perbuatan dholim kepada diri kita maupun pihak lain. Wallahu a’lam. #18. Dikirim oleh Abu Sulthan pada 21/11 07:43 AM Optimis sekali…mudah-mudahan benar2 seperti ini deh…. #19. Dikirim oleh Deedee pada 22/11 02:24 AM to: mohammad arif kenapa nggak rumah dan keluarga anda saja yang diBom Amrozi Cs… #20. Dikirim oleh john lenin pada 22/11 06:52 AM to: irsad Bangsa Arab saja tidak melakukan apa2. Mana yang katanya Arab dan Islam bersatu? gak ada tuh. mereka sibuk dengan minyak2-nya. sama kaya Indonesia (yg kaya makin kaya, miskin mah tambah miskin), krisis Global! lebih baik anda tinggal di Saudi saja, biar anda orang pertama yang dipancung pemerintah Arabsaudi!!! #21. Dikirim oleh john lenin pada 22/11 06:59 AM

Yang jelas perang dunia ke lll pasti akan datang…Dan tak akan bisa dihindari,gejalanya sudah bisa kita lihat pada dunia internasional..Hukum rimba akan berlaku kembali.Siapa yang kuat dia yang menang!Jangan salah kan kafir dan yahudi ketika kesabaran dan kesadaran mereka telah habis…Cuma 1 yang harus di ingat2 hai orang palestina dan iran jangan teriak2 minta tolong sama PBB yach… #22. Dikirim oleh Jari pada 22/11 07:39 AM Yaps… Orang sekarang terlena dengan slogan “syahid” tanpa mengkaji lebih dalam apa itu “syahid”. Amrozi dkk, dianggap sebagai seorang syahid. Namun, jika kita mau menelaah sejarah, tak pernah sekalipun nabi yang memulai perang. Atau karena kebencian yang mendalam kepada warga Amerika yang (dituduhkan) telah memerangi orang muslim? Dari sini, kita bisa mengambil kesimpulan, siapa sebenarnya Amrozi dkk, apakah mereka pejuang jihad ataukah teroris (???). Cobalah kita bisa merenungkan apa yang pernah diucapkan oleh DR. Yusuf Al-Qorodlowi, bahwa jihad tidak saja bagaimana kita mati di jalan Tuhan, melainkan bagaimana kita hidup bersama di jalan-Nya. #23. Dikirim oleh Muhamad Sofi Mubarok pada 22/11 09:45 AM assalamu’alaikum… bung ulil..secara prinsip saya sependapat dengan Anda. kalau kita mau jeli, kelompok pro kekerasan dalam Islam selama ini menjadi kelompok minoritas, khususnya di Indonesia. arus besar umat Islam saya yakin menentang aksi, apapun dalihnya. dari berbagai aksi brutal yang pernah terjadi di Indoneis, sebenarnya pelakunya tak berubah. hanya “itu-itu saja”, kelompok FPI Cs dan kelompok2 yang menghalalkan terorisme. masalahnya meski kelompok minoritas, aktivitas mereka sangat mencolok, sering membikin aksi, demo, dll. bagi kalangan media, ulah mereka memang bernilai news. aktivitas mereka kerap menjadi berita. kesan yang kemudian timbul adalah kelompok2 pro kekerasan ini seolah-olah mewakili umat Islam arus utama. ini yang membuat citra buruk di kalangan umat lain. sementara kelompok arus utama menjadi mayoritas diam. menurut saya, masih diperlukan proses panjang untuk mengakhiri ideologi kriminal ini. meski saya yakin ideologi mereka pasti akan mati. insya allah… wassalam

#24. Dikirim oleh sholahuddin pada 22/11 11:56 AM

Salam sejahtera,sudah cukup islam di exploetasi.jika ingin berjuang atas nama islam,sebaiknya di jalan peradaban.simpati saya yg besar terhadap JIL,Gus Dur,Nurkholis M dll yg memandang kehidupan tidak dari dalam islam saja.marilah kita semua mencari kesamaan di dalam perbedaan yg sesungguhnya adalah wujud besar dari wajah ke Tuhanan yg Esa. #25. Dikirim oleh Big dream pada 23/11 12:46 AM Kepada Bung Irsad & Mohamad Arif Ar-Riadh Bin Hamid Apa yang dilakukan Israel, Amerika cs,kedua-duanya bertentangan dengan kemanusiaan ,tindakan biadab dan tak berperikemanusiaan bahkan tindakan setan. Yang membedakannya adalah Israel dan Amerika cs bertindak didasari latar belakang politik, sementara satunya bertindak dengan atas nama agama, dan itu terlihat dari tindakan para mujahid dan tanggapan anda sendiri ikut memperkuat dan mempertegas hal tersebut. Tuhan tindak pernah mengajarkan dan memerintahkan untuk membunuh sesama. Jka anda seorang yang beragama anda pasti tahu salah satu dari 10 Perintah Tuhan adalah JANGAN MEMBUNUH! Hanya setan yang mengajarkan dan memerintahkan membunuh! #26. Dikirim oleh Humanis pada 24/11 08:19 AM Bung Abu Sulthan, Tidak cukupkah 1400 tahun untuk belajar menjadi pintar??1400 tahun bukanlah waktu yang pendek untk belajar menjadi pntar dan mengejar ketinggalan.Seekor induk binatang saja hanya perlu hitungan hari untuk mengajarkan anak-anaknya pintar!! Atau itu 1400 terlalu lama sehinggah ada sebagain muslim ingin kembali ke 1400 tahun yang lalu, kembali ke garis start, sementara sisanya terus bermimpi mengejar janji-janji!! Atau jangan-jangan janji Allah itu untuk orang kafir, bukan utnuk Muslim!! Buktinya mereka lebih unggul dan maju dari Muslim dan Islam. Tidak kah Allah peduli dengan apa yang dialami Muslim selama 1400 tahun ini!!?? Ayo Muslim, bangun dari tidur, tinggalkan mimpi dan janji janji,hadapilah realita ini dengan kerja keras!! #27. Dikirim oleh Humanis pada 24/11 10:11 AM Tindakan pengeboman di Bali mmg tdk bisa dibenarkan krn disana tkd ada perang,terutama perang dengan musuh Islam.Hanya saja harusnya untuk lebih adil, ulil harus pula mengkritisi apa yg dilakukan Bush dgn menyerang Afganistan & Iraq.Kalo dihitung jumlah,maka korban mati di 2 tempat itu jauh lebih banyak dr bom Bali.Padahal terbukti bahwa apa yg dituduhkan Bush hanyalah bohong besar belaka.Suatu perang yg sia2 malah hanya melahirkan dendam & kebencian yg berkepanjangan saja.Apakah krn Amrozi cs org Islam shg kalo salah dibesar2kan? Bagaimana pula dengan di Palestina?Disana org berjuang untuk tanah airnya yg dirampok oleh Yahudi,sama spt para pahlawan kita melawan belanda. Tapi mengapa mereka disebut teroris? Harusnya ANDA lebih kritis lagi.Situs ini sebenarnya untuk Islam atau bukan sih? #28. Dikirim oleh ekoji pada 24/11 10:51 AM Humanis yg terhormat Anda jangan pura2 atau memang tidak paham politik dan tidak mengikuti perkembangan. Israel dan AS bermotif politik dan orang islam bermotif agama? Israel didirikan justru karena ideologi kawan. Dan mati-matian merebut Jerusalem bukan karena politik kawan, tapi motif agama juga. Amerika Serikat juga dengan semboyon tentara Tuhan menghancurkan syetan. Anda tidak tahu, para pemuda AS semangat dikirim sebagai tentera ke Irak dan Afganistan karena merasa berjuang sebagai tentara Tuhan untuk membasmi syetan. jadi anda jangan asal ngomong. #29. Dikirim oleh Irsad pada 24/11 01:00 PM sudah karakter bangsa indonesia suka kekerasan..kalo dilihat tayangan berita di tv,mayoritas diisi berita2 kekarasan,demonstrasi,tawuran,perampokan,kejahatan.mereka rata2 orang islam.Memang jumlah mereka nda banyak,tapi tindakan mereka sudah bisa mencoreng citra karakter orang islam #30. Dikirim oleh huda pada 24/11 04:59 PM yo..apik..karakter wong indonesia memang suka kekerasan,seneng tawuran..jumlahnya nda banyak,tapi cukup merusak karakter bangsa indonesia,khususnya islam,karena mayoritas bangsa indonesia adalah umat islam..jadi dakwah dengan kekerasan sangat merugikan dan kontra produktif.. #31. Dikirim oleh huda pada 24/11 05:14 PM Kenapa mereka terutama pemuda-pemuda islam banyak terjerumus kepada pemahaman terorisme? Sebabnya antara lain karena mereka, 1. Meremehkan dakwah kepada Tauhid, dengan alasan urusan Aqidah telah diketahui banyak orang dan mungkin dapat memahaminya dalam jangka sepuluh menit. Merekapun enggan untuk mendakwahkan aqidah yang benar dengan sangkaan akan memecah belah umat. 2. Mencela ulama umat, merendahkan ilmunya dan memalingkan pendengarannya dari para ulama dengan dalih mereka tidak faham kondisi dan bukan ahlinya untuk menyelesaikan problema umat,(sering sekali mereka mengatakan ulama tidak paham trik-trik politik atau ulama hanya sibuk dengan tumpukan-tumpukan kitab, -pent) 3. Menjauhkan para pemuda dari ilmu yang syar’i yang berlandaskan Kitab dan Sunnah serta menyibukan mereka dengan nasyid-nasyid provokasi yang disebar disana-sini lewat media elektronik yang dibaca, dilihat ataupun didengar.

4. Meremehkan keberadaan pemerintah dan menjelaskan ‘aib-aibnya di atas mimbar atau lewat tindakan-tindakan yang meresahkan serta mentakwil nash-nash yang ditujukan untuk ta’at terhadap pemerintah, bahwa nash-nash tersebut untuk khalifah kaum muslimin seluruhnya. (Mereka lupa atau pura-pura lupa dengan apa yang telah menjadi konsensus ulama bahwa dalam keadaan berbilangnya wilayah-wilayah Islam, maka setiap wilayah itu punya hak dan kewajiban-kewajibannya terhadap penguasanya, karena itu wajib untuk ta’at dalam hal yang ma’ruf dan haram untuk memeberontaknya selama menegakkan hukum-hukum Allah di tengahtengah umat). 5. Menghadirkan para pemikir yang berpemahaman teroris lalu mengumpulkan para pemuda dalam satu halaqah, mencuci otak mereka dalam pertemuan tertutup, menjauhkan para pemuda dari ulamanya dan dari pemerintahnya serta mengikatkan mereka dengan tokoh-tokoh yang mana pemberontakan dan pengkafiran menjadi jalan pikirannya. 6. Mengajak untuk berjihad, yang dalam pandangan mereka adalah menghalalkan darah kaum muslimin dan hartanya, memprovokasi untuk membuat pengrusakan dan pengeboman dengan anggapan bahwa negeri muslimin adalah negeri kafir. Alasan mereka karena, hukum pemerintahan yang diberlakukannya bukan hukum Islam. Ini jelas pemahaman yang keliru dan membahayakan), karena itu menurut mereka negeri muslimin yang demikian keadaannya adalah negeri jihad, negeri perang. Mereka tanamkan pemikirannya ini lewat sebagian nasyid-nasyid, bahkan sampai pada tahap melatih para pemuda menggunakan segala macam jenis senjata di tempat-tempat yang jauh dari penglihatan, baik di dalam negeri maupun di luar negeri. 7. Menyebarkan buku-buku, selebaran-selebaran dan berkas-berkas serta kaset-kaset yang mengajak pada pemikiran teroris, pengkafiran kaum muslimin lebih-lebih ulama dan pemerintah. Buku-buku seperti ini bila dibaca oleh pemuda yang belum matang pemikirannya dan tidak punya kemampuan ilmu, akan dapat merusak akalnya. Ia akan berjalan di belakang angan-angan, siap untuk menjalankan tuntutan-tuntutannya walaupun harus membunuh dirinya, atau lainnya dari kaum muslimin, atau membunuh orang-orang yang mendapat jaminan keamanan, demi untuk mencapai tujuan SYAHID DI JALAN ALLAH dan SURGA, seperti yang digambarkan oleh para tokoh-tokohnya bahwa inilah jalan yang benar, siapa yang menempuhnya ia akan mendapatkan cita-citanya dan sukses meraih ridlo Allah. Maka pengkafiran, pengeboman, pengrusakan di negeri kaum muslimin. . #32. Dikirim oleh Iwan Sulistyanto, S.T pada 24/11 05:53 PM Saya sependapat dengan Bpk ulil. Agama manapun tidak mengajarkan kekerasan kepada ummatnya. Agama manapun pasti melarang ummatnya melakukan kekerasan. Tegas berbeda keras.Klo islam di hina, kita tidak boleh tinggal diam. Kita juga harus jeli berfikir dan menyikapi tiap persoalan. Tidak boleh tergesa-gesa. Semoga allah memberiakn barakahnya buat kita semua #33. Dikirim oleh Arif pada 25/11 06:41 AM Eksekusi amrozi cs adalah hal yang wajar, seperti contoh ulama2 jaman dahulu banyak yang di hukum gantung hanya karena beda pendapat dengan para politikus negeri tersebut. tapi benda nya mereka itu kebanyakan tidak pernah melakukan tidakan yang membabi buta seprti amrozy cs, mereka hanya melakukan jihad dengan dakwah mereka. jadi sangat setuju sekali dengan om ulil kalau gerakan radikal memang harus dihentikan dari kegiatan dibumi indonesia khususnya dan dunia umumnya. dan jangan hanya memandang dari satu sudut saja melihat hal tersebut….... semangat islam yang cinta damai dan tepo seliro harus di pupuk selaul #34. Dikirim oleh syahip pada 25/11 02:20 PM

saya sepakat dengan tulisan Ulil, bahwa seorang Amrozi Cs belum bisa dikatakan orang yang syahid, karena saya menganggap apa yang dilakukan Amrozi Cs merupakan tindak bukan dalam rangka membela agama, tetapi dalam rangka menjerumuskan agama itu sendiri. apapun alasan mereka dan para pendukungnya,bahwa Amrozi telah syahid, itu adalah alasan yang tidak masuk akal dan harus dipertanyakan keislaman mereka. wallahu a’lam bis shawab, wassalam #35. Dikirim oleh afandi pada 25/11 03:42 PM bagaimana kalau kita sudahi sikap inferiority complex ini? kita silau dengan humanisme amerika, padahal keburukan amerika terlalu banyak hingga tak bisa dihitung, terlalu besar hingga tak kelihatan. pernahkah terpikirkan di otak bahwa pandangan negatif pada ‘diri sendiri’ dan ajaran sendiri itu tebentuk oleh propaganda dari luar? #36. Dikirim oleh Achyat Ahmad pada 25/11 04:52 PM lebih Memanusiakan manusia tanpa ada sekat perbedaan, diskriminasi ras suku agama #37. Dikirim oleh nasukha pada 26/11 06:04 AM KEKERASAN ATAS NAMA APAPUN DAN OLEH SIAPAPUN TIDAK DIBENARKAN ........!!!!!!!! #38. Dikirim oleh eZZuKA pada 26/11 04:19 PM Yang jelas tampaknya para teroris itu belum khatam terjemahan Kur’an. Bukankah Allah melarang membunuh kafir yang telah dilindungi oleh SEORANG Muslim. Korban WNA itu apa pun agamanya sudah berani membayar visa karena sudah dijamin oleh seorang SBY yang Muslim dan kepala negara bahwa mereka akan aman selama berada di Indonesia? Mudah2an mereka mendapat balasan yang berlipat ganda dari Allah atas keingkaran mereka pada ayat yang satu ini. AMIIIIIIIIIINNNNNNNNNNN ....... #39. Dikirim oleh zulkifli harahap pada 27/11 05:40 AM Bung moderator, tolong dikirim kepada SAugi Awi:

“Tidak perlu buat buku putih. Baca dan pahami saja bab Jihad dalam buku Bulughul Maram, Anda sudah tidak berani lagi jadi mujahid versi MMI, HTI, \amrozi cs. dan lain-lain yang membuat onar di bumi Indonesia ini. Laknat Allah atas manusia yang berbuat onar di muka bumi.” Menurut kesadaran saya, jihad itu salah satunya : berjuang/berperang secara terang2an menyatakan perang terhadap pihak/negara yg mendzolimi negara lain, dengan sasaran militernya, bukan ke publik dan masyarakat yang tidak bersenjata. Timpang ? ok, tapi itulah perjuangan, masyarakat dunia yang akan menilai dan memihak kepada mujahid dan pandangannya itu melalui kemampuannya masing2. Di jaman nabi mana ada mujahid yg bantai penduduk tak berdose? mereka berjuang di medan perang sesungguhnya… Namun, damai adalah cara terbaik… kita pun yakin itu dan masih selalu ada cara untuk itu.. #41. Dikirim oleh rian pada 27/11 07:01 AM Insya Allah, jawaban apapun yang tersurat, diridhoi Allah, sesuai dengan Sunatullah Islam, Walahu alam bi sawab #42. Dikirim oleh Tofik H pada 27/11 08:10 PM aku gak mau komentar ah, dah banyak yg komentar. aku hanya ingin mas ulil nulis yg banyak biar saya bisa banyak belajar dan berpikir. #43. Dikirim oleh jamaluddin asbukh pada 28/11 05:05 AM Assalamualaikum wr wb.

Pemahaman yang parsial ttg perintah Allah Ta’ala dlm Al Qur’an akn membuat umat mnjadi permisif dan apatis trhadap perintah2 Allah yg tegas dan tanpa bs mncari-cari alasan yg lebih ringan dlm berIslam. “Dan tidaklah patut bagi laki-laki mukmin dan tidak pula bagi perempuan mukmin, apabila Allah dan Rosul Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan yang lain tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan Rosul Nya maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata”. ( QS Al-Ahzab : 36. Coba pahami dan apa maknanya? jika umat hanya melihat bagian kecil dari “perang” global pasti pemahamanya hny melihat wilayah indonesia saja!!padahal umat muslim adalh satu,scara hakiki tdk mengenal batasan negara.mereka dng mudah beralasan bahwa di indonesia tdk ada perang? kata siapa?coba jelaskan pemahaman ini bila di indonesia tdk ada perang?perang bkn saja hny dilihat fisik,tapi semua sendi umat islam scara hakiki sdg berperang dng para kafirin dan pendukungnya yg memerangi Islam baik secara fisik maupun Isme-isme lainnya.dalam masalah umat “islam yg tidak berdosa?” jg terkena dampak musibah ini adalah sesuai dng Al Qur’an,diterangkan bhwa Allah Ta’ala menjadikan musibah/azab kpd siapa sja termasuk org muslim didlamnya yg menyimpang dari aturan syariat Allah Ta’ala!!jadi sgt jelas dsini bhwa yg dilakukan (alm)amrozi dkk adlh untuk memberikan pelajaran kpd para kafir dan org2 yg mendukungnya.coba pahami ayat ini:“ Tidaklah sepatutnya bagi penduduk Madinah dan orang-orang Arab Badwi yang berdiam disekitar mereka, tidak turut menyertai Rosulullah ( pergi berperang ) dan tidak patut pula bagi mereka lebih mencintai diri mereka dadripada mencintai diri Rosul. Yang demikian itu ialah karena mereka tidak ditimpa kehausan, kepayahan dan kelaparan pada jalan Allah. Dan tidak pula menginjak suatu tempat yang membangkitkan amarah orang-orang kafir, dan tidak menimpakan suatu bencana kepada musuh, melainkan dituliskanlah bagi mereka dengan yang demikian itu suatu amal saleh. Sesungguhnya Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang yang berbuat baik. ( QS At-Taubah : 120 )jadi ayat Allah Ta’ala ini adalh jelas bagi mereka yaitu dituliskan Allah Ta’ala sbgai suatu amal saleh.siapa yg mau mmbantah firman Allah Ta’ala ini?maka janganlah berislam secara parsial,berislamlah secara kafaah/integral.Dan jelas Yahudi,AS dn pendukungnya adalah memerangi Islam untuk alsan “agama mereka juga” yaitu nasrani dan yahudi,cuma nasrani tidak sadar bhwa tlah didompleng oleh yahudi.Siapa yg munafik bila tdk menerima ketentuan Allah Ta’ala secara integral?camkan pola pikir ini dalam pemahaman yg puristik. Barokallahu fiikum. Mohamad Arif Ar Riadh Bin Hamid 08999829829 #44. Dikirim oleh Mohamad Arif Ar-Riadh Bin Hamid pada 29/11 04:52 PM Setuju sama Habib Mohamad Arif Ar Riadh Bin Hamid. Allahu akbar! Bakar! Allahu akbar! Bunuh! Allahu akbar! Hancurkan! #45. Dikirim oleh Indra pada 01/12 12:41 PM kekerasan adalah perbuatan yang gak bisa ditolerir agama manapun apalagi islam yang rahmatan lil alamin. kelompok yang mengatas namakan ayat suci demi kepentingan mereka sebenarnya kelompok kecil yang bodoh dan frustasi akan kehidupan dunia yang semakin maju, sedangkan mereka tidak siap akan perubahan tersebut. Habib Rizieq dkk, Amrozi dkk, atau sejenisnya adalah bagian dari contoh segelintir umat manusia yang menafsirkan ayat suci demi kepentingan mereka sendiri. dan saya yakin hati mereka sudah “membatu” sehingga tidak mau menerima perbedaan yang memang diciptakan oleh Allah. klo mereka bilang Allahu akbar mengangkat senjata maka saya yang menjawab tantangan mereka dengan Allahu akbar dengan “mengangkat” senyum. #46. Dikirim oleh Achmad Ubaidillah pada 02/12 05:00 AM Perlu definisi ulang kata PERANG yang sering diyakini adalah perang identik dengan kekerasan. Perang adalah melawan terhadap apapun yang dianggap mengancam diri, perang terhadap hawa nafsu perang terhadap korupsi perang terhadap ketidakadilan juga perang terhadap kekerasan itu sendiri. Tidak selamanya yang dari barat/kafir jelek juga tidak selamanya yang dari timur tengah baik kita harus memilah dan memilih sendiri sesuai dengan budaya kita yang bersandar Alquran dan

alkhadist,mungkin untuk orang2 fundamentalis ada perang batin dalam menerima yang baik dari barat/kafir apakah mau menerima atau tidak tapi kok ini dari barat, begitu juga sebaliknya dari kaum liberalis. Kadang saya heran Allah saja yang memberi rezeki pada orang kafir masih membolehkan mereka untuk tinggal di bumi Allah lah kita yang tidak pernah memberikan apa apa dengan pongahnya membunuhi mereka dengan justifikasi ayat ayat suci dengan penafsirannya sendiri. #47. Dikirim oleh taufiq pada 03/12 10:22 AM apapun pemahamannya/penafsirannya…yang penting jangan memaksakan kehendak. Andaikan para teroris itu suka mendengarkan musik Rock, pasti gak akan kacau dunia ini. keep on writing Ulil. kiponrokin #48. Dikirim oleh mamakusuma pada 04/12 03:53 PM amrozi dkk = wong edan = gak waras ... harusnya jangan langsung ditembakmati…bikin cacat kaya korban bom nya #49. Dikirim oleh mamakusuma pada 04/12 03:56 PM Assalmualaikum wr wb. kepada “mamakusuma” Kasihan sekali engkau, engkau adalah salah satu dari sekian juta manusia produk jahiliah dan sekuler. Demi Allah yang memegang jiwaku…Allah Ta’ala akan menjadikan engkau seperti apa yg telah engkau ucapkan..sampai engkau beristighfar kepada Allah Ta’ala. #50. Dikirim oleh Mohamad Arif Ar-Riadh Bin Hamid pada 05/12 11:09 AM saya stuju ma mas bramono, satu hal perlu jg di pahami, bhw Islam “menganjurkan utk belajar/menutut ilmu sampai k negeri cina”, cb d bayangin, masa islam yg mngatakan bhw sbg agama yg pling bnr n smpurna nyuruh umatnya bljr ma org2 komunis yg jls2 lbh dr kafir, bkn kah itu jd aneh ???, org yg shrsnya di perangi kok mlh d jadikan guru ???, alangkah indahnya klo keyakinan/agama bnr2 d terapkan sbg pmbw damai, bkn permusuhan. buat sodara2 yg brpndngan sempit, tlng liat kenyataan, ini INDONESIA bkn ARAB ato NEGARA ISLAM, jgn jdikan dominasi anda sbg dsr utk menekan, mngintimidasi, meneror yg minoritas, bkn kah islam mgajarkan agar mnjd pelindung bg yg minoritas ??? klo anda ttep ngotot, tlng buat LABEL anda sndri, jd kita2 yg minoritas nih bs siap2. knp susah bnr lama2 nyari kdamaian. #51. Dikirim oleh h3ll80yz pada 06/12 05:01 PM ” ......Setuju sama Habib Mohamad Arif Ar Riadh Bin Hamid. Allahu akbar! Bakar! Allahu akbar! Bunuh! Allahu akbar! Hancurkan! #45. Dikirim oleh Indra pada 01/12 06:41 PM” Ini orang gila kali! ya beginilah karakter khas orang yang ngaku Islam fanatik. Pantas gak maju2. #52. Dikirim oleh Nurcahaya pada 11/12 04:40 AM asalamualaikum .Islam adalah agama damai, rahmatan lil alamin , tidak ada kekerasan dalam islam . coba tunjukan ayat nya . kekerasan dalam islam hanyalah tuduhan keji . yang bener aja dong masa dibilang ada kekerasan dalam islam ? islam agama yg sesuai fitrah manusia. kebenarannya universal . ingat universal ,bukan menurut sekelompok golongan. wassalam #53. Dikirim oleh bambang pada 11/12 12:32 PM Mas Ulil, minta daftar buku yang pernah ditulis plus penerbitnya. Aku mau koleksi. Kalau baca di layar monitor terus, suka sering pusing. Aku baru punya 1 buku Mas. Atau, yang kumpulan artikel juga ngga apa, sekalian sama penerbitnya ya. #54. Dikirim oleh Karbala pada 11/12 08:10 PM

Untuk Bung Irsad Yth, Anda buta atau pura-pura buta??Anda Tulia tau pura-pura tuli??Atau anda malu lalu anda menjadi pura-pura buta dan pura-pura tuli!! Saya yakin anda sering melihat dan mendengar pengikut suatu agama besar dalam melakukan setiap tindakan termasuk kekerasan, terror dan pembunuhan meneriakkan “ ALLAHU AKBAR - ALLAH MAHA BESAR”. ?? Bukankah ini sudah lebih dari cukup untuk membuktikan bahwa apa yang mereka lakukan dimotivasi oleh keyakinan ajaran agama mereka sekaligus juga salah satu upaya untuk menyenangkan Allah mereka!!??? Anda mengatakan bahwa tentara yang dikirim ke Irak dan Afganistan adalah sebagai tentara Tuhan, pernah anda melihat dan mendengar mereka meneriakkan “TUHAN MAHA BESAR ” saat mereka melakukan tindakan kekerasan ,pembunuhan dan pemboman ??!! Jika ada yang mengajarkan dan membenarkan kekerasan, terror dan pembunuhan sudah jelas itu SETAN/IBLIS, maka setiap manusia pasti akan melawan dan memusnahkan setan/iblis tsb karena kekerasan, terror dan pembunuhan bertentangan dengan kemanusiaan dan Perintah Tuhan!!

Mari kita bicara jangan hanya dengan mulut saja tapi gunakanlah juga logika dan hati nurani #55. Dikirim oleh Humanis pada 12/12 06:31 AM Assalamualaikum wr wb. Kepada Nurcahya Demi Allah Ta’ala yang memegang jiwaku Bersedihlah atas ketidak majuan antum. Allah Maha Tahu atas orang2 yang hati dan jiwanya telah ditutupi oleh kesenangan dan kenyamanan dunia. Allah Ta’ala telah menjadikan diri antum sebagai manusia yang CINTA DUNIA DAN TAKUT MATI. #56. Dikirim oleh Mohamad Arif Ar-Riadh Bin Hamid pada 12/12 12:48 PM Mas Ulil, Keruntuhan radikalisme juga semakin nyata dilihat dari kurikulum akademik saat ini di Indonesia. Misalnya, di Universitas Bina Nusantara diajarkan Character Building tentang relasi manusia dengan Tuhan yang mencakup ide dari semua agama. Dengan pengajaran karakter tersebut mahasiswa eling bahwa kebijaksanaan tidak hanya bisa dimonopoli oleh orang beriman saja, melainkan juga yang tidak beriman. Bagi yang beriman dengan demikian mesti beriman dengan sikap. Usep Abdul Matin #57. Dikirim oleh Usep Abdul Matin pada 13/12 03:54 AM “... Kasihan sekali engkau, engkau adalah salah satu dari sekian juta manusia produk jahiliah dan sekuler… #50. Dikirim oleh Mohamad Arif Ar-Riadh Bin Hamid pada 05/12 05:09 PM” Justru yang perlu dikasihani itu anda pak. Anda perlu banyak belajar lagi buat memperluas pengetahuan #58. Dikirim oleh momer pada 13/12 07:36 PM .Mohamad Arif Ar-Riadh Bin Hamid

Ke laut aje deh lu, ato menetap aja ke Arab sono ngebomin Amerika. Jgn cuma beraninya di Indon aje. #59. Dikirim oleh Nurcahaya pada 16/12 07:34 AM

Meskipun saya sendiri muslim,tapi gerah juga ka lau mendengar kata2 kafir, seakan umat kita ada lah yang paling suci dan benar.kan sombong nama nya…. tul enggak? Mari kita buktikan bahwa “keyakinan” dari mas Moha mad Arif Ar-Riadh Bin Hamid sebenarnya terdapat 2 premis yang saling bertentangan satu sama lain : 1.Keyakinan anda bahwa kafir adalah musuh Islam, dan pasti kaum ‘Kafir” ini tidak akan dimaafkan Allah,maka jikalau begitu, gugur dong statement bahwa “Allah Maha Pengampun” kalau anda akan menja wab Allah Maha Pengampun kecuali orang kafir,maka mana ada yang “MAHA” tetapi masih ada embel2 “ke cuali” jadi kesimpulannya pasti ada yang salah dengan pengertian kita terhadap definisi si kafir” ini,karena Allah sudah pasti Maha Pengampun,dan ti dak ada satupun yang tidak dimaafkannya,termasuk orang yang anda sebut kafir. 2.Pengertian Kafir yang anda maksud tentunya umat “agama lain “diluar islam,lalu bagaimana dng statement bahwa “Allah Maha Sempurna”, artinya kan tidak ada satupun ciptaanNYA yang tidak sem purna, termasuk agama “si kafir”. jikalau anda yakin bahwa agama si kafir tidak sempurna,maka sa ma saja anda mengatakan bahwa Allah tidak sem purna? masuk enggak mas logika2 diatas? Musuh Islam yang harus kita perangi dan ada dide pan hidung kita adalah persoalan2 kemiskinan,kebo dohan,ketidakberdayaan umat dan ketidakadilan, mungkin justru kita sendiri yang berhak menyan dang label “Kafir” jika kita tidak peduli dengan persoalan itu semua. #60. Dikirim oleh ardianto pada 16/12 08:19 PM Halaman 3 dari 5 halaman < 1 2 3 4 5 > ntuk mas Mohamad arif, mas irsad, mas indra coba deh, bukalah hatimu dengarkan suara nuranimu rendahkan hatimu bakar egomu mudah2an anda semua, termasuk kita semua mendapatkan hidayah dan pencerahan dari NYA. amin #61. Dikirim oleh wiro pada 18/12 05:09 PM “ ......Setuju sama Habib Mohamad Arif Ar Riadh Bin Hamid. Allahu akbar! Bakar! Allahu akbar! Bunuh! Allahu akbar! Hancurkan! #45. Dikirim oleh Indra pada 01/12 06:41 PM” Komentar Nurcahaya: Ini orang gila kali! ya beginilah karakter khas orang yang ngaku Islam fanatik. Pantas gak maju2. Komentar saya: Nurcahaya jangan buru-buru mengutuk Indra, read between the lines. Menurut saya bisa jadi Indra sebenarnya ngeledek Mohammad Arif Ar Riadh Bin Hamid. Buktinya, namanya ditambah Habib oleh Indra, lalu seruan Bakar!, Bunuh! Hancurkan! dibelakang “A’hu A’bar’ jelas suatu kontradiksi yang tidak mungkin diserukan oleh seorang Mukmin. Jadi kesimpulan saya, Bung Indra sebenarnya ngeledek Bung Arif. He he he.(Tibandenker) #62. Dikirim oleh Tibandenker pada 19/12 06:02 AM untuk tibandeker, ah…..he..he….heee ente bisa aja cari pembenaran…. taruhan yuk, pasti si indra juga nama palsu, alamat palsu. #63. Dikirim oleh ardianto pada 19/12 10:13 AM Bung Mohamad Arif,

Saya setuju satu hal dengan anda. Segala bentuk penjajahan, penindasan kesewenang-wenangan harus dilawan. Kenyataan, bahwa karena penindasan dan kesewenang-wenangan amerika dan sekutunyalah serangan2 bom, bom bunuh diri dan serangan sporadis terhadap kepentingan amerika & sekutunya marak dilakukan oleh kelompok2 jihad. Tapi apakah anda berpikir, kenapa modus perjuangannya seperti itu??. Jawabnya adalah, karena memang tidak mampu untuk melawan secara sistematis. Lawan sangat kuat, kita sangat lemah, teknologi musuh sangat canggih, kita tidak punya teknologi apa-apa, lawan punya kekuatan ekonomi yang besar, kita miskin, musuh punya SDM yang cerdas berkualitas, SDM kita bodoh-bodoh. Dengan keadaan compang-camping seperti itu mana mungkin kita bisa melawan musuh yang sangat sangat sangat lebih kuat. Ya paling bisa cuma ngebom, bom bunuh diri, pembajakan atau serangan sporadis sejenisnya (yang sangat digemari oleh kelompok2 jihad). Tapi itu lebih merupakan bentuk keputusasaan dari pada perjuangan. Apakah dengan perjuangan seperti itu bisa menang? atau malah sebaliknya cuma menimbulkan gelombang antipati dan menjatuhkan martabat menjadi umat yang tak beradab?. Jadi kalau kita mau melawan, ya harus diusahakan kekuatannya sama. Kalau kita kuat, kita tidak bisa ditindas dan mereka tidak bisa sewenang-wenang. Untuk itu kita harus membangun masyarakat, menggalakkan pendidikan, meningkatkan perekonomian dan teknologi. Penguasaan teknologi, itu syarat mutlak kalau kita mau unggul, dan tidak tertindas. Dulu, Muslim pernah jaya, dan Barat sangat ketakutan pada kekhalifahan Turki, tapi setelah mereka menguasai teknologi keunggulan berbalik, seluruh dunia berada dibawah dominasi barat. Atau kita bisa mencontoh China, setelah mengalami hubungan yang buruk dengan Barat terutama Inggris, perang candu, perang boxer, Hongkong dipaksa dikontrakkan, akhirnya China menutup diri dan bertahun-tahun asyik membangun negara dan bangsanya, sekarang mereka membuka pintu dan dunia takjub pada kemajuan dan kekuatannya bahkan amerika juga takut. Begitulah bung Mohammad Arif, kalau mau jadi umat yang unggul harus pake strategi yang ma’ruf. Kalau nggak mau membangun jadi bangsa yang maju, siap-siap aja untuk tertindas selamanya. #64. Dikirim oleh wangi pada 22/12 03:02 PM Saran buat Ardianto : Belajar agama lagi, Mulai dari pelajaran Islam anak Tsanawiyah (SMP). Dan buat tulisan ini : Ada api ada asap…. #65. Dikirim oleh Orc pada 25/12 10:49 AM Yang disesalkan umat Islam adalah kita yang muslim kok cepat terlena dengan cap kekerasan terhadap Islam. Amerika dan Yahudi yang lebih banyak membunuh muslim diistilahkan berperang, tetapi kalau islam dicap teror. Padahal sampai sekarang apa yg dilakukan Amrozi cs di Bali masih jadi bahan diskusi krn bahan peledak yang begitu dahsyat tidak mungkin menggunakan serbuk bahan yang biasa dipakai untuk mengebom ikan. Siapa dibalik itu semua, tidak pernah tersingkap. Yang ada adalah penangkapan para ulama garis keras seperti Abubakar Baasyir dan Habib Riziek yang bondo pentungan. Lihat betapa kesalnya orang Irak sampai melempar sepatu ke arah Bush. Kekerasan baru saja dilakukan di LA Amerika ketika seorang berpakaian Santa Claus memberondong senjatanya ke puluhan orang di sebuah rumah, 9 tewas dan puluhan luka berat. Kalau di indonesia dan dilakukan seorang muslim pasti sudah dicaci seakan hanya Islam yang mengajar kekerasan sementara ratusan kali peristiwa kekerasan di Amerika hanya disebut sebagai urusan perorangan. Kekerasan dilakukan presiden, tentara, polisi, kristen, islam, yahudi. Tapi ISLAM SELALU SAJA DITUDUH PELAKUKAN KEKERASAN, BAHKAN SANDIWARA MODEL BOM BALI SEKALIPUN TETAP SAJA DITUDUH ISLAM YANG SALAH. Marah juga dong kalau Israel serang Hamas, Amerika membunuh Taliban dan Irak, atau India membunuh muslim di Kashmir. #66. Dikirim oleh Ali Salim pada 26/12 02:25 PM kulihat di tv warga palestina diusir “hatiku berkata jihad yang baik adalah melawan hawa nafsu” kulihat di tv warga irak dibunuh. “mungkin ada senjata kimia” kulihat di tv Amrozi nge bom di bali.. dasar teroris.. dasar teroris… dasar teroris… kulihat lagi amerika nge bom taliban dan banyak warga sipil yang tewas dan aku berkata “ternyata tuanku salah lagi sasaran” dan kembali lagi aku tidur… #67. Dikirim oleh urip pada 27/12 05:51 PM to : Orc Terima Kasih banyak atas sarannya Salam. #68. Dikirim oleh ardianto pada 31/12 04:53 PM Wkt kecil di agama aq di ajarkan untk mengasihi sesama makhlu hdup tanpa pandang bulu dan sampai skrg aq msh seperti yg dulu,menyayangi sesama.aq jg heran wkt kristen di sebut sbg kafir?atas dasar apa?apakah ini terbukti?kalo hany ada di ayat alquran anda,aq makin ragu..kembali ke topik,temanku pny teman muslim,dan dari kecil sudah diajarkan untuk memusuhi dan membunuh org kristen krn kafir.what happen with muslim?apakh bnar2 ada di alquran anda?membunuh kristen.sy jd takut sm org2 muslim,terutma yg FANAtik #69. Dikirim oleh Alexander pada 01/01 07:26 AM Sejak agama islam muncul dibawa oleh Muhammad SAW sudah ada kekerasan. Bangsa Arab Islam yang melakukan penyerbuan kedaratan eropa dan yerusalem, sehingga terjadi perang salib. Kita lihat sejarah perang salib terjadi perebutan antara islam dari Turkey dengan Islam dari Ayubbi Mesir. Begitu pula antara bangsa Iran dan bangsa Iraq yang Arab. Ini perang selama 8 tahun. Lalu bangsa Arab Islam Iraq menyerbu bangsa Kuwait yang juga sesama Arab Islam. Penyerbuan Amerika dan sekutunya ke Iraq, bukan atas kehendakan Amerika, tetapi atas keinginan Saudi Arabia dan Kuwait. Mereka sudah trauma dengan kebiadapan Saddam Hussein. Jadi memang dasar awal kekerasan itu udah ada sejak Muhammad SAW.

#70. Dikirim oleh Delli pada 02/01 01:32 AM Setuju dengan Wangi, tapi itu Mimpi! Komentar Wangi untuk Mohamad Arif itu benar sekali. Penguasaan teknologi itu syarat mutlak kalau mau unggul dan tidak tertindas. Tetapi untuk menguasai teknologi perlu perubahan paradigma, dari sekedar melihat dan memahami fenomena menjadi mempertanyakan dan mendalami ada apa di balik fenomena itu. Sayang sekali perubahan paradigma seperti itu tidak dimungkinkan dalam Islam. Seyyed Hossein Nasr, seorang ilmuwan asal Iran, dalam suatu wawancara mengenai penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi modern mengatakan bahwa ketika seorang mahasiswa Muslim belajar untuk menguasai science dan teknologi modern (Barat) maka mahasiswa ybs akan mempertanyakan juga kebenaran ajaran Islam dan kemungkinan besar akan menjadi murtad. Fakta menunjukkan bahwa para ilmuwan penerima hadiah Nobel di bidang science dan teknologi yang sebagian besar adalah orang Yahudi, adalah orang-orang Yahudi yang murtad dari agama Yahudi (Judaism). Jadi pendapat saudara/i Wangi walaupun benar, tidak mungkin dapat terlaksana, atau hanya sekedar mimpi saja. (Tibandenker) #71. Dikirim oleh Tibandenker pada 02/01 09:45 AM Mengerti Islam secara kaffah itu tidak hanya mendasarkan hanya satu atau dua ayat tetapi pelajari seluruh ayat-ayat al Qur’an. Nanti akan menemukan wajah Islam itu tidak garang seperti yang ada dalam pikiran orang-2 yang eksklusif. Rasul berkata ” Innama buitsu li utamima makarimal akhlaq = Aku dibangkitkan/diutus untuk menegakkan budi pekerti/akhlaq yang mulia. Membunuh orang yang tidak bersalah itu atau membunuh orang yang tidak melawan atau menyerang itu apakah termasuk orang yang berakhlaq ? Salam #72. Dikirim oleh mr.dayson pada 07/01 07:20 AM Kelompok kekerasan memang terpinggirkan tapi tidak akan pernah mati. Saya harap, semoga mereka lebih memahami Al Qur’an dan lebih dapat bertoleransi pada orang-orang yang berbeda pendapat. Kalau saja tenggang rasa sudah tumbuh di hati mereka, saya yakin kekerasan atas nama agama akan hilang. #73. Dikirim oleh FLCL pada 16/01 11:36 PM Assalamu ala manittaba Al Huda…. Sekedar saran untuk kita semua ada baiknya kembali mempelajari Aqidah agama Islam yang Benar menurut yang telah ditetapkan Allah dan Rasulnya dalam Al-Qur’an dan Hadits - hadits nabi yang Shahih… semoga mendapat petunjuk…bukankah umat ini dalam pengkabaran nabi akan menjadi 73 golongan ? dan 72nya akan ditempatkan di Neraka dan hanya 1 yang selamat ? bukankah nabi telah mengabarkan bahwa yang selamat itu adalah orang yang meniti jalan yang dilalui olehnya dan sahabat - sahabatnya ? semoga Allah menunjuki kita pada kebenaran… #74. Dikirim oleh Abid Faqir pada 20/01 10:18 AM Untuk Mas Abid Faqir #74 Saya jadi tertawa karena komentar Anda, ha ha ha ha. Jelas yang paling benar itu adalah golongan Wahabi + Ikhwanul Muslimin + Hizbut Thahir + Mujahiddin + Jamaah Islamiyah, dkk. Yang lain daripada itu sudah pasti tempatnya di Neraka. Bukankah begitu? Tibandenker #75. Dikirim oleh Tibandenker pada 22/01 10:55 AM utk ada aja= pertanyaaan mas Irsad mah ngga ada hub. ama Amrozi? coz pertanyaannya khan ttg amrik n sekutuna? well…telaah/liat dg tliti dlu. Apakah ngga sebaikna kl bahas kekerasan itu ngga usah usung embel2 agama org/organisasi yg melakukan kekerasan tsb.Apa ya ada suatu agama apapun itu yg mengajarkan pada para pemeluknya utk melakukan tindakan kriminal/kekerasan? Siapakah qt yg berhak menilai baik-burukna seseorang? Sudah yakinkah saudara yg sesama muslim/non muslim itu merasa lbh baik dr mereka? Yg berhak menilai baik-buruk seseorang itu cuman Allah. Siapakah yg memberi istilah Islam Radikal/moderat dll?. Coba liat pandangan para western dimana klo ada umat Islam yg setuju dg pabndangan mrk dianggap temen tp klo yg ngga setuju dianggap musuh/teroris?.Apa tindakan/pemikiran tsb benar mnrt anda? Lalu bgmn dg mrka western/Yahudi yg nyata2 memusuhi umat islam dg pembantaian yg demikian sadis apa ngga bs disebut teroris?.Dlm peperangan masih ada toleransina utk wanita, lansia, anak2, palangmerah utk ngga dibunuhkan?Sedang mereka menyerang ngga jelas(seenakna aja sluruh org yg tampak mata dianggap musuh). Kalopun umat Islam memanggul senjata ato apalah mnrt anda itu utk keadaan tertentu bukan dg seenak perutna spt Yahudi. Apakah org spt Amrozi ngga ada yg non muslim? Apakah Yakin peristiwa september di AS itu tindakan umat Muslim? Ato teror2 yg ada disluruh dunia itu yg nglakuin smuana org muslim?.Apakah ngga ada secuil pemikiran bhwa sgla sesutau adakalana cmn sebuah rekayasa, DUNIA INI PANGGUNG SANDIWARA!!! Apakah qt jg ngga bs berfikir bhwa yg nglakuin sgla teror yg ada itu ya yg berkuasa n mrk ngga mau UMAT ISLAM BERSATU.Apalgi kl UMAT ISLAM BERSATU itu memimpin yg otomatis bs menggantikan posisi mrk yg skrg ini lg mrk genggam(AS YAHUDI N SEKUTUNA).Bukankah mereka para Kafir itu ngga seneng klo qt sng tp sebalikna mrk gembira bila qt ditimpa kesusahan.Dan mrk akan mlakukan bbg macam cara itu meluluskan keinginan mrk. Diaolog adalah langkah yg bagus, dg bgtuy qt bs memusyawarahkan sgl sesuatuna.Kalaulah qt berdialog dg umat/golongan yg beriman, berakal/berfikir INSAYAALLAH bs.Tp persoalana berdialog dg kaum yg nyata memusuhi umat islam dan mrk terkenal dg kelicikanna(bacalah Al-Qur’an ttg bgs Yahudi)?.Bgmn hasil perundingan dg mrk? Sukseskah?Klpun awalna mrk

menyetujui tp bertahan sampai berapa lama?. Apa salah kl mrk yg ingkar janji n mrk dg nyata memulai/membuat kericuhan seolah2 qt umat Islam yg salah itu mau dibenerin trs?dibela trs? Didiemin trs? #76. Dikirim oleh ZAZA pada 27/01 11:45 AM Assalamuálaikum Saudara-saudara seakidah semuanya, sudah saatnya kita menyatukan visi dan misi yang bersandar pada pedoman-Nya. siapapun anda, di manapun anda berada yang masih mengakui Allah sebagai Tuhannya mari sebarkan perdamaian, sampaikan berita gembira dan berita akan kebenaran-Nya. Sebarkan berita ini kepada saudara kita yang seakidah atau saudara kita yang tidak seakidah karena mereka berhak mendengarkan kabar itu sebagai makhluk ciptaan-Nya. Beri mereka kesempatan untuk menikmati kebenaran dan hidayah-Nya. Jangan lupa bahwa akal yang ada pada setiap manusia bukanlah segala-galanya, dia tiada lain gumpalan daging yang terbatas dibalut tulang dan kulit yang fana. Kekuatan yang kita miliki adalah anugerah-Nya untuk melindungi penghuni jagat ini, membimbing mereka ke arah yang baik. #77. Dikirim oleh Daran Supadan pada 31/01 05:16 AM semuanya masuk neraka kecuali ahlussunnah wal jama’ah… lha, trus loe pada mo apa??? #78. Dikirim oleh islam way pada 03/03 08:08 AM @ muhammad arif bagaimana kalau keluarga anda menjadi korban bom? anda masih mau mengatakan itu benar untuk memberi pelajaran bagi kaum kafir hahaha saya pikir anda akan nangis darah! #79. Dikirim oleh gazele pada 11/03 06:56 PM @ ardianto saya setuju dengan anda kita harus meluruskan definisi kafir itu sebenarnya. @ indra anda seharusnya malu membawa nama Allah untuk teriak bakar bunuh! @ moh arif kafir berasal dari kufur (cover) jadi menurut saya orang yang tertutup dari tuhan harus di ingat agama di luar islam juga memiliki tuhan berarti mereka bukan kaum kafir menurut saya anda yang kafir telah menutup diri anda begitu sempit anda terbelengu ideologi atas nama islam yang menghalalkan kekerasan Buat Mas Arif.. Dari namanya sudah ketahuan. Jangan anda kotori budaya bangsa Indonesia ini dengan budaya Arab Jahiliyah. Tak usah munafiklah. Jaman sekarang anda masih bawa bom, pentungan, clurit, pedang sambil teriak2 garang mengatas namakan Allah, itu sdh ketinggalan zaman. Pakai otak mas, jangan dengkul. Lihat tuh Arab saudi, Qatar, Dubai, Bahrain. Mereka maju karena siapa??? Karena orang kafir, tau nggak lu..! Coba kalo mereka spt anda, dijamin sampai skrg masih tidur sama onta tuh. #81. Dikirim oleh Cinta Damai pada 14/03 07:40 PM assalamu “alaikum.. skrg mari kita lihat yg manakah yg disebut ekstrimis, apakah saudara2 kita yg berjuang untuk tegaknya kalimat tawhid atau para negara2 kafir yg tanpa alasan menyerang negeri2 muslim. kita harus jujur sama diri sendiri… silahkan kita belajar ttg agama ini lebih banyak dan mengkajinya lebih dalam. jangan samapai kita berkomentar ttg sesuatu yg tidak kita pahami ilmunya. apakah tujuan manusia hidup didunia kalau bukan untuk beribadah kepada Allah.

silahkan cari dan pelajari kitab tawhid dan kita ikhlas dalam memperlajarinya.. buat saudara2 yg masih menganggap bahwa saudara2 kita yg berjihad adlah teroris atas dasar apa?? berapa banyak saudara2 kita muslim di iraq, afghanistan, somalia, dan palestina dengan mendukung israel yg mereka bantai terang-terangan. apa alasan mereka melakukan semua itu??? di iraq dengan alasan senjata pemusnah massal, apakah terbukti, amerika merupakan negara yg katanya menjunjung tinggi kebebasan tetapi mendukung penjajahan di palestina. di somalia???? amerika lebih pantas disebut sang pembantai… apakah tolok ukur kalian mengecap teroris terhadap saudara2 muslim yg berjihad? #82. Dikirim oleh syaifullah pada 16/03 05:50 PM assalamu ‘alaikum, buat saudara2ku mari kita jujur kepada diri kita sendiri, apakah kita telah melaksanakan islam secara kaffah??? apakah kita pantas untuk memvonis bahwasanya amrozi, muklas dan imam samudera adalah seorang syuhada atau bukan, hanya Allah yg menentukan segalanya. kita lihat hakikat dari diciptakannya manusia di dunia, yaitu untuk beribadah kepada Allah Azza Wa Jalla. yg ingin saya tanyakan yg manakah mas ulil sebut dengan ideologi kekerasan dalam islam. apakah orang-orang yg berjuang untuk menegakkan kalimat tawhid??? kalau kita melihat tindakan amrozi dkk adalah pembalasan terhadap kekejaman amerika laknatullah terhadap saudara2 kita muslim di iraq, afghanistan, somalia, dan dukungannya thd israel dalam membantai umat muslim di palestina. apakah dalam serangan mereka mengenal sipil atau militer??? apakah mereka membedakan sipil dan militer, tidak mereka membom sesuka hati mereka. apabila mereka melukai sipil kita apakah salah apabila kita membalas hal yg setimpal. lagian permasalah bom bali, paddys cafe merupakan bar tempat maksiat disana hanya diperuntukkan untuk orang asing saja dan indonesia dilarang masuk adapun warga indonesia yg terkena bukan merupakan kesengajaan, lagipula bukankah Rosulullah telah memperingati umatnya agar menjauhi tempat2 maksiat??? #83. Dikirim oleh iqbal pada 18/03 03:35 PM lanjutkan mas ulil saya mendukung sepenuh nya,menjadikan islam yang moderat rahmatan lil aalamin bukan islam yang radikal yang hanya kenal dengan kekerasan.stop kekerasan titik. #84. Dikirim oleh hery pada 19/03 11:27 AM stop kekerasan bagaimana menurut hery??? islam bukanlah agama kekerasan, tetapi apakah pembantaian saudara2 muslim kita di palestina, iraq, afghanistan, checnya, somalia, akan kita nikmati??? bukankah muslim semuanya bersaudara??? ataukah hery mau membeda-bedakan antara muslim indonesia dgn muslim di belahan bumi yg lain. kita disatukan oleh islam dan tidak dikotak2kan oleh wilayah teritori, suku, dan kelas ekonomi melainkan kita adalah bersaudara dalam satu keyakinan yaitu islam. apakah kita akan tinggal diam dengan usaha2 yg dilakukan oleh sekelompok orang dalam mengaburkan dan bahkan menghilangkan ajaran islam sedkit demi sedikit??? islam moderat??? yg bagaimana itu, setahu saya yg ada hanyalah islam berdasarkan al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah. segala yg bertentangan dengan keduanya bukanlah islam. ini baru titik….......... #85. Dikirim oleh iqbal pada 29/03 06:36 PM kalo agama mengajarkan kebaikan, tentu tdk mungkin memerintahkan n mewajibkan peperangan dlm bentuk apapun tu, apalagi ampe bw2 nama Tuhan, Tuhan nga perlu pasukan d bumi ini dan umat yg mengatakan bhw ia adlh org yg beriman tentu tdk perlu berpikiran bhw dia adlh pasukan Tuhan tuk menegakan kebenaran, urusan benar n salah cm Tuhan yg tau, makanya Tuhan dah punya t4 buat yg benar n yg slh, yaitu sorga ma neraka,n soal mslh sodara2an, apa sodara itu trbatas hny kpd bentuk keyakinan semata ? #86. Dikirim oleh ghostx pada 04/04 01:05 AM jika anda mengatakan seperti itu, maka saya boleh tuk berkata seperti ini: kita harus melakukan sekularisme seperti barat, semua ideologi harus seperti barat (pernyataan anda). lalu mengapa umat Islam menghancurkan barat tidak boleh, khan orang barat berusaha menghancurkan kita juga ? (ya toh) kalau Amerika dkk boleh mengirim armadanya dinegeri-negeri umat Islam lalu mengapa kita tidak boleh mengirim armada kita ketempat mereka? jika mereka boleh membuat nuklir mengapa kita tidak? #87. Dikirim oleh DZULFIKAR AKBAR ROMADLON pada 18/06 04:05 PM yang terpenting bukan masalah kekerasannya,tapi masalah idiologi yang bercampur atau dimasukkan ke dalam idiologi islam itu sendiri, ini menyebabkan persinggungan karekteristik dari idiologi itu sendiri. islam tetaplah islam. jangan ada kompilasi terhadap idiologi itu (islam).misalkan hukum islam (fikih),tidak bisa diganggu gugat karena sudah merupakan ketetapan dari ALLAH SWT,namun sekarang banyak yang mempermaikannya….nah semakin banyak yang mempermaikan semakin dekat azab itu akan datang…nah koment saya untuk amrozi dkk…coba kita lihat secara universal,,tsunami,banjir,gempa bumi,dan bencana alam lainnya..nah semua itu merupakan peringatan sekaligus azab dari ALLAH SWT.termasuk bom bardir yang ada di indonesia..coba baca kembali sejarah jaman kenabian agar supaya kita paham..dan sekali lagi jangan pernah mengkompilasikan ajaran islam. #88. Dikirim oleh ada dech pada 18/07 06:42 AM To Muhammad arif & Igbal

Lebih baik kalian hidup di arab sono atau kalian hidup di pulau tersediri. Hidup adalah pilihan kalian tidak berhak memvonis orang lain salah dan menghukumnya. Kalo mmg org2 kafir (versi kalian) atau org2 paddy cafe berbuat maksiat dan mereka adalah pendosa, so what??? Kalian berhak membunuh? berhak menghukum? Tolong tanyakan itu ama diri kalian. Kami yang di bali dan tmp2 lain yg mayoritas non muslim cinta damai, kami ingin hidup rukun dan saling menghargai. Tolong ramah dengan semua perbedaan dan please don’t negative thinking..segala sesuatu dari luar yang merongrong agama kalian..justru pemikiran kalian yang akan merusak simpati disetiap orang yang memiliki hati nurani. #89. Dikirim oleh kaka pada 20/07 01:24 PM gak usah jauhjauh analisis pake agama ..... pengebom = PENGECUT ... perakitnya = BIANG PENGECUT #90. Dikirim oleh gilanto pada 21/07 05:19 PM Untuk Mohamad Arif Ar Riadh Bin Hamid, ekoji, Irsad, Indra, Iqbal, Zulfikar Akbar Romadlon: jadi karena Israel dan Amerika Serikat menginvasi negara Islam, lalu kita boleh membom di mana-mana….? Gimana kalau ada yang meledakkan bom dekat rumah antum dan sanak keluarga antum jadi korbannya….? (ada yang mati, ada yang terbakar, ada yang cacad, dsb…?) Masih setuju dengan tindakan pemboman itu…? Wong Rasulullah SAW saja ketika menaklukkan Mekkah memaafkan semua orang yang tadinya memerangi Beliau dan para pengikutnya. Kalau anda mungkin sudah memancung semua orang di Mekkah saat itu ya…? Baca qur’an lagi deh…utamanya ayat yang ini nih… Q.S. Ali ‘Imran ayat 186: Kamu sungguh-sungguh akan diuji terhadap hartamu dan dirimu. Dan (juga) kamu sungguh-sungguh akan mendengar dari orang-orang yang diberi kitab sebelum kamu dan dari orang-orang yang mempersekutukan Allah, gangguan yang banyak yang menyakitkan hati. Jika kamu bersabar dan bertakwa, maka sesungguhnya yang demikian itu termasuk urusan yang patut diutamakan.”

Untuk Delli: Mohon baca sejarah Muhammad SAW. Selama 13 tahun ditindas di Mekkah. Tidak melakukan pembalasan apapun. Perang dilakukan karena Quraisy yang menyerang mereka di Madinah. Buktinya, setelah penaklukkan kota Mekkah, semua penduduk Mekkah dimaafkan. Kalau mengenai peperangan pasca Rasulullah SAW, itu masuk pada politik ekspansi pada masa itu. Anda lupa bahwa Romawi menyerang wilayah Persia, begitu pula Persia balas menyerang Romawi, Umar bin Khattab menyerang Romawi dan juga sebaliknya, Sparta menyerang Athena dan sebaliknya, Inggris menyerang Amerika, kulit putih Amerika membantai suku Indian (sebelumnya ada 10 juta populasi suku-suku Indian, setelah dibantai, tinggal 300-an ribu), Anglo Saxon menyerang Inggris, dan sebagainya, karena itu adalah bagian dari keadaan politik dan diplomasi pada jaman itu (malah perang dunia I dan II itu awalnya adalah sengketa antara negara-negara Eropa). Anda lupa pada saat Yesus Kristus lahir, Palestina berada di bawah kekuasaaan Romawi alias dijajah bangsa Romawi, sebelumnya Palestina berada di bawah kekuasaan Babylonia, dsb. Jadi Eropa pun pernah melakukan penyerbuan ke Timur Tengah bung. Itu sudah menjadi bagian dari politik dan diplomasi jaman itu. Tolong baca lagi sejarah baru mengambil kesimpulan, jangan mengambil kesimpulan yang mengesankan bahwa seolah-olah Muhammad SAW yang mengajarkan kekerasan. Malah sewaktu Rasulullah menawan musuh pada Perang Badar, sampai-sampai turun ayat yang menegur beliau. Tapi memang begitulah beliau, sebelum turun teguran, beliau selalu mengutamakan perdamaian. Itu disebabkan karena Muhammad SAW adalah seorang yang cinta damai. Kalau tidak turun ayat yang mengijinkan beliau untuk berperang, pasti beliau tidak akan melakukannya. Tahukah anda bahwa dalam adab perang Islam itu dilarang membunuh wanita dan anak-anak, orang yang lemah dan tidak berdaya, orang yang ditawan, orang yang tidak ikut perang, para kurir, dilarang menghancurkan lahan pertanian, dilarang menghancurkan rumah-rumah ibadah seperti gereja, kuil, sinagog, dsb. (Itulah sebabnya tempat-tempat ibadah berusia ratusan tahun di bekas wilayah kekuasaan khalifah muslim masih tetap bertahan hingga sekarang). Kemudian bila lawan menawarkan damai, baik itu sungguh-sungguh, atau hanya bagian dari taktik militer, wajib hukumnya diterima oleh pihak muslim. Kalau peperangan yang sekarang, karena senjata yang digunakan adalah jenis penghancur (bom, rudal, granat, mortir, bazooka, roket, dsb), maka syarat-syarat perang sesuai adab Islam menjadi sulit dilaksanakan. Itulah jeleknya perang yang sekarang. Yang tidak ikut berperang pun akan kena getahnya. Kalau jaman dahulu, perang itu dilaksanakan di suatu tempat dan yang mati hanya yang ikut perang tersebut. Jadi lebih terbatas yang jadi korban. Intinya di setiap jaman pasti ada peperangan baik besar maupun kecil. Dan tak ada seorang pun Nabi dan Rasul yang menganjurkan kekerasan. Hanya para pengikutnya yang karena tekanan psikologis, ekonomi, politik, yang sedang mencari motivasi untuk melakukan pembalasan terhadap kekerasan yang mereka alami, secara keliru menafsirkan setiap ucapan mereka tanpa melihat syarat-syaratnya. Akhirnya muncullah orang-orang seperti Taliban, Amrozi cs., Klu Klux Klan, kaum zionis, dsb. #91. Dikirim oleh muhammad hakim pada 14/03 05:28 AM skarang memang sudah bukan jamannya perang karna semua aturan dalam perang nabi sudah tidak bisa lagi diterapkan. tidak ada lagi lokasi bebas penduduk sipil seperti badar, uhud misalnya. Tehnologi persenjataan yg begitu canggih justru yg menjadi alasan ditiadakannya perang. Jihad muslim diabad ini adalah justru mencegah terjadinya perang bukan justru memicu atau balas dendam kepada masyarakat sipil yg tidak tahu menahu tentang pengambilan keputusan pemerintah mereka. #92. Dikirim oleh andi pada 18/04 05:27 AM coba tolong klo kasi tulisan di attach juga dasar/dalil ayatnya. contoh: kekerasan dlmm Islam itu salah, bukti ayatnya QS 007 ayat 700. jadi yg baca jg faham bhw penulis ga asal ngomong. klo ternyata ga ada ayat pendukung padahal sdh di baca berulang2 seluruh isi Al Quran, brarti .....bikin penilaian sndiri deh. Islam itu agama yg sempurna ato bukan? klo bukan berarti butuh kitab2 lain seperti Hadist ato buku Kitab Undang2 (KUHP/KUHAP), dll. Kritik atas Argumen Aktivis Hizbut Tahrir Oleh Ulil Abshar-Abdalla

Maslahat bersumber dari konteks sosial. Jika dalil agama bertentangan dengan konteks sosial, maka konteks harus didahulukan di atas teks agama. “Mendahulukan” di sini, dalam pandangan Thufi, bukan berarti membatalkan dan menganulir sama sekali dalil agama. Sebaliknya, konteks sosial dianggap sebagai “pentakhsis” atau spesifikasi dan “bayan” atau menerangkan teks atau dalil agama yang ada. SAYA kerap mendengar pernyataan aktivis Hizbut Tahrir (HT), gerakan Islam yang dikenal dengan “mimpi besar” untuk menegakkan negara Islam internasional itu (dikenal dengan negara khilafah), bahwa fakta sosial tak bisa menjadi dasar landasan penetapan hukum. Pernyataan ini pertama kali saya dengar dari jubir Hizbut Tahrir Indonesia (HTI), Ismail Yusanto, saat saya dan dia berbicara dalam sebuah diskusi di Bogor sekitar enam tahun yang lalu. Belakangan, aktivis HTI kerap mengulang-ulang argumen serupa. Rupanya, statemen ini menjadi semacam “refrain” di kalangan mereka. Bagi yang kurang akrab dengan ilmu ushul fikih (teori hukum Islam), mungkin statemen ini kurang begitu jelas. Supaya sederhana dan mudah dipahami, saya akan berikan contoh kecil berikut ini. Kita tahu, bahwa Sunan Kudus membangun masjid dengan menara yang berbentuk seperti pura Hindu. Taruhlah, anda terlibat dalam sebuah diskusi tentang boleh tidaknya membangun masjid dengan arsitektur yang menyerupai tempat ibadah agama lain. Misalkan saja anda berpendapat bahwa hal itu boleh. Saat lawan diskusi anda bertanya, apa “hujjah” atau argumen anda, anda menjawab, “Tuh, buktinya Sunan Kudus membangun masjid dengan arsitektur yang menyerupai tempat ibadah agama Hindu.” Ini hanya contoh anekdotal yang sangat sederhana. Anda bisa mengembangkan contoh ini dengan kasus-kasus lain. Menurut aktivis HTI, cara berargumen seperti ini mereka anggap salah, sebab fakta sosial, yaitu tindakan Sunan Kudus, tidak bisa dijadikan sebagai landasan penetapan hukum tentang boleh tidaknya membangun masjid dengan gaya arsitektur yang mirip tempat ibadah agama lain. Hukum, menurut mereka, hanya bisa disandarkan atas dalil agama (dalil syar’i). Dalil atau teks agama mengatasi segala-galanya. Tindakan Sunan Kudus atau tokoh manapun, selain Nabi Muhammad, tidak bisa menjadi standar normatif. Yang bisa menjadi standar hanyalah teks agama. Apakah argumen aktivis HTI ini tepat, terutama dilihat dari tradisi teori hukum Islam klasik sendiri? Esei pendek ini saya tulis untuk memberikan kritik atas cara berpikir aktivis HTI yang, jujur saja, merupakan ciri-khas kaum “tekstualis” di manapun. Dalam pandangan saya, argumen semacam ini sama sekali tak tepat. Memang, dalam teori hukum Islam, dikenal empat sumber hukum utama, yaitu Quran, hadis, ijma’ (konsensus sarjana hukum Islam atau “juris”) dan qiyas atau analogi (dalam tradisi fikih Syiah, sumber keempat bukan qiyas tetapi akal). Tetapi, sumber hukum bukan hanya empat, sebab ada sumber-sumber lain yang kedudukannya memang diperselisihkan oleh para sarjana Islam (al-adillah al-mukhtalaf fiha). Statemen aktivis HTI bahwa fakta sosial tidak bisa menjadi sumber hukum, sama sekali tidak tepat, sebab di luar empat sumber utama di atas, ada sumber-sumber lain yang diakui oleh ulama fikih, termasuk fakta sosial sebagaimana akan saya tunjukkan nanti. Argumen kalangan HTI ini sengaja mereka pakai untuk menepis sanggahan yang diajukan oleh para pengkritik teori negara khilafah yang antara lain disandarkan pada fakta-fakta historis dalam sejarah Islam. Para pengkritik teori negara khilafah, antara lain, mengatakan praktek negara khilafah tidak “secemerlang” yang dikira oleh para penyokong ide itu. Banyak “khalifah” dalam dinasti-dinasti Islam masa lampau yang bertindak otoriter, despotik, dan kejam. Sebagaimana dalam sejarah negara-negara kuno, pertumpahan darah selalu menandai peralihan kekuasaan dari satu dinasti Islam ke dinasti yang lain. Terhadap kritik semacam ini, aktivis HTI akan mengatakan bahwa fakta sejarah tidak bisa menjadi dasar untuk menetapkan hukum. Menurut mereka, negara khilafah adalah satu-satunya bentuk negara yang sah menurut dalil agama; fakta sejarah yang menunjukkan bahwa bentuk negara khilafah tak seideal yang dibayangkan, menurut mereka, tak bisa dijadikan argumen untuk menyanggah dalil agama. Dalam pandangan aktivis HTI, dalil agama sudah cukup dalam dirinya sendiri; fakta sosial harus tunduk pada dalil agama, bukan sebaliknya. DALAM standar ilmu ushul fikih klasik, argumen ala HT ini jelas sama sekali salah. Dalam hukum fikih, fakta sosial jelas bisa menjadi dasar penetapan hukum. Karena itulah ada kaidah terkenal, “taghayyur al-ahkam bi taghayyur al-azminati wa al-amkan,” hukum berubah sesuai dengan waktu dan tempat. Perbedaan mazhab dalam Islam jelas terkait dengan perbedaan konteks sosial di mana pendiri mazhab itu hidup. Kenapa mazhab Abu Hanifah sering disebut sebagai mazhab ahl al-ra’y, pendapat yang cenderung rasional, karena mereka hidup di Kufah, kota tempat persilangan budaya, kota di mana kita jumpai warisan dari banyak peradaban besar sebelum Islam. Sementara mazhab Maliki lebih cenderung berpegang pada “sunnah” penduduk Madinah (dikenal dengan ‘amal ahl al-Madinah) karena memang itulah kota tempat Nabi dan sahabatnya hidup, sehingga sunnah penduduk Madinah dianggap sebagai norma. Sudah tentu, fakta sosial semata-mata memang tak cukup untuk menetapkan sebuah hukum dalam pandangan teori hukum Islam klasik. Fakta sosial tetap harus ditimbang berdasarkan teks. Tetapi teks saja juga tak cukup, karena teks juga dipahami berdasarkan perubahan-perubahan lingkungan sosial yang ada. Dengan kata lain, ada hubungan simbiosis antara teks dan konteks sosial. Dengan demikian, argumen aktivis HTI itu jelas sama sekali tak benar.

Seorang ulama mazhab Hanafi, Najm al-Din al-Thufi (w. 1324 M), malah berpendapat lebih jauh lagi. Dalam kitabnya yang kurang banyak dibaca luas, “Kitab al-Ta’yin fi Sharh al-Arba’in” (komentar atas kumpulan empat puluh hadis karya Imam Nawawi), al-Thufi melontarkan sebuah pendapat yang menjadi kontroversi dari dulu hingga sekarang, bahwa jika terjadi pertentangan antara maslahat atau kepentingan umum dengan teks atau dalil agama, maka maslahat harus didahulukan. Saya kutipkan teks Thufi yang langsung berkaitan dengan hal ini: “Wa in khaalafaaha wajaba taqdim ri’ayat al-masalahati ‘alaihima bi thariq al-takhsis wa al-bayan lahuma, la bi thariq al-iftiyat ‘alaihima wa al-ta’thil lahuma, kama tuqaddam al-sunnah ‘ala al-Qur’an bi thariq al-bayan” (hal. 238, edisi yang diedit oleh Ahmad Haj Muhammad ‘Uthman, 1998). Secara ringkas, teks itu menegaskan, jika terjadi pertentangan antara teks (nass) dan konsensus ulama (ijma’) dengan maslahat, maka kemaslahatan umum harus didahulukan di atas teks dan ijma’.

Maslahat bersumber dari konteks sosial. Jika dalil agama bertentangan dengan konteks sosial, maka konteks harus didahulukan di atas teks agama. “Mendahulukan” di sini, dalam pandangan Thufi, bukan berarti membatalkan dan menganulir sama sekali dalil agama. Sebaliknya, konteks sosial dianggap sebagai “pentakhsis” atau spesifikasi dan “bayan” atau menerangkan teks atau dalil agama yang ada. Ini memang pembahasan yang kompleks. Yang tidak pernah belajar ushul fikih, penjelasan ini mungkin terlalu teknis dan kurang jelas. Intinya adalah: jika dalil dalam Quran atau hadis mengatakan A, lalu konteks sosial justru menunjukkan B, maka teks Quran/hadis itu bisa “dispesifkasi” atau “diterangkan” oleh konteks itu. Dengan kata lain, konteks didahulukan atas teks. Pendapat al-Thufi ini memang banyak diserang oleh ulama-ulama lain, karena dianggap terlalu berani. Dia bahkan diisukan sebagai seorang penganut sekte Syi’ah rafidah (Syi’ah yang ekstrim). Biasa, ini adalah semacam “black campaign“. Seolah-olah jika seseorang menganut sekte Syi’ah maka pendapatnya otomatis salah. Apapun, pendapat al-Thufi ini sangat menarik dan memperlihatkan bahwa di kalangan ulama fikih dan ushul fikih klasik sendiri sudah ada pendapat yang menyatakan tentang kedudukan penting dari konteks sosial. Sekali lagi, pernyataan kalangan aktivis HTI bahwa fakta sosial tak bisa menjadi sumber hukum, sama sekali tak tepat, untuk tak mengatakan keliru sama sekali.

Sementara itu, banyak sekali ketentuan hukum dalam fikih yang digantungkan pada adat dan kebiasaan masyarakat setempat. Itulah sebabnya, dalam fikih dikenal kaidah yang sangat populer, “al-’adah muhakkamah“, kebiasaan sosial bisa menjadi sumber hukum. Sudah tentu adat bukan sumber hukum yang mandiri, sebab harus ditimbang berdasarkan parameter teks agama. Tetapi, teks agama juga tak bisa berdiri sendiri tanpa bantuan adat sosial. Dengan kata lain, ada hubungan simbiosis antara adat dan teks agama. Adat dan teks agama, dua-duanya menjadi sumber hukum. Contoh sederhana adalah mengenai mas kawin atau mahar. Quran menegaskan bahwa seorang lelaki harus memberikan mas kawin kepada perempuan yang dinikahinya (wa aatu al-nisa’a shaduqatihinna nihlah, QS 4:4). Tetapi Quran tidak menerangkan, berapa jumlah mahar yang harus diberikan oleh suami kepada isterinya. Di sini, ada ruang “legal” yang dibiarkan terbuka oleh teks agama. Adat masuk untuk mengisinya. Jumlah mahar, menurut ketentuan yang kita baca dalam literatur fikih, diserahkan saja pada adat dan kebiasaan sosial yang ada. Oleh karena itu, jumlah mahar berbeda-beda sesuai dengan adat yang berlaku dalam masyarakat. Itulah yang dikenal dalam fikih sebagai “mahr al-mitsl“, yakni mas kawin yang sepadan dengan kedudukan sosial seorang isteri dalam adat dan kebiasaan masyarakat setempat. Fakta ini dengan baik menunjukkan bahwa kebiasaan sosial bisa menjadi sumber hukum. Teks saja tidak cukup kalau tak dilengkapi dengan konteks sosial. Kalangan santri yang belajar di pesantren-pesantren NU tentu sudah terbiasa dengan kenyataan bahwa hukum bisa berubah-ubah karena perubahan konteks. Fatwa beberapa kiai berubahubah dari waktu ke waktu karena perubahan konteks sosial. Pada zaman kolonial Belanda dulu, banyak kiai yang berfatwa bahwa memakai celana dan jas hukumnya haram, karena menyerupai adat kebiasaan kaum kolonial yang “kafir”. Setelah zaman merdeka, kiai-kiai mulai berubah pendapat dan bisa menerima “baju kolonial” itu, karena konteksnya sudah berbeda. Jadi, sekali lagi, apa yang dikatakan oleh aktivis HT itu sama sekali keliru![] 31/08/2008 | Editorial, | # Komentar Komentar Masuk (201) (Tampil maks. 5 komentar terakhir, descending) Allahu a’lam bi ash showwab. ihdina ash shirot al mustaqiim. ya…. itulah idalektika al akh, suatu petaka bagi yang gak mau mentela’ah dan belajar. ulil n HTI, lumayan seru ... terusin, yang penting tetap dlm koridor dialog ilmiah, statement di balas statement. opini dibalas opini, orasi di balas orasi Posted by abu dukhon as sijarii on 06/17 at 04:50 PM

Pemikiran Ulil Absar Abdalla dan konco2 JIL nya adalah pemikiran TAlbis Iblis. Pemikiran orang-orang kafir Posted by yy on 06/13 at 03:56 PM Pemikiran Ulil Absar Abdalla dan konco2 JIL ada pemikiran Talbis Iblis,pemikiran yang sesuai dengan pemikiran orang-orang kafir. Posted by yy on 06/13 at 03:50 PM saya sangat tidak sepaham dengan islamlib ini (ulil),alasan saya 1.dalil2 anda tidak kuat,apalagi ditulis dengan bahasa ajam, 2.anda tidak faham benar dengan agama islam, a.islam itu sangat sosial,seandainya ada yg salah maka kesalahannya itu bukan hukum islamnya,tapi yg menafsiri dalil ashalnya, b.salah benarnya itu siapa yang tahu?ummat islam itu wajib mncri ilmu untuk tahu pd yang benar, b.kalau sekedar cita cita atau ada upaya upaya dr HTI atau ormas yg lain,asal itu tidak keluar dr syari’ah maka jelas boleh,bahkan nanti bisa sunnah atau wajib. coba anda kaji lagi hadits RASULULLAH SAW ‫...تركت فيكم امرين الخ‬ 2.yg anda sebut di atas itu dalil qawa’id,qawa’id itu hanya untuk pertimbangan kalau ada 2dalil yang ta’arudl,coba anda lihat ilmu ushul. 3.anda membikin perpecahan dalam islam dengan menghujat golongan islam yg lain. 4.sejarah mana yang menunjukkan pertumpahan darah,dikarenakan pemerintahan islam. otoreter itu kan menurut anda!coba anda kaji ‫.من لم يحكم ما انزل ال الخ‬ maaf saya jadi su’udhan anda ini bukan muslim,atau anda ini orang islam yg siap mnghancurkn islam dengan kebodohan anda dan hawa nafsu anda. kalau tidak!beri saya alasan yg singkat padat,jelas dengan dalil yg shahih. Posted by anti on 06/13 at 01:20 AM Tugas Jaringan Liberal memang untuk menyesatkan umat dan memperlemah kaum muslimin,jangan khawatir wahai umat Islam, jika Khilafah sudah tegak orang2 spt JL ini akan dibabat habis Posted by abasalim on 06/11 at 07:03 PM Meski agak membingungkan tetapi cukup mencerahkan. Beruntunglah orang yang mau melihat tanda2 kebesaranNya. Jangankan konteks sekarang, konteks dahulupun bisa berbeda. Interpretasi sahabat atau murid Rasullullah bisa berbeda terhadap Qur’an, maupun hadis, maka muncullah sekian banyak golongan, yang memang golongan itu sudah ada sejak jaman nabi.Sebagai pengikut utama Nabi pasti debelakang mereka juga ada sejumlah pengikut lagi. Semacam kelompok kelompok(kabilah). Di sinilah pentingnya “komunikasi langsung” dengan Allah dan Rasulnya untuk mencari kebenaran.Ruang inilah yang selama ini tertutup dan jarang dibuka.Kecuali yang berkaitan dengan keputusan -keputusan sosial. Selama situasi sosial menerima, tidak ada yang dipaksa, tak ada diintimidasi, jadi lah apa yang kita sebut norma/konvensi/atau hukum. Bukankan Allah yang Maha mengetahui segala sesuatu. Salam #1. Dikirim oleh abu kusuma pada 04/09 02:23 PM Aku setuju banget dengan pendapat anda bung.Sering2 aja buat pencerahan. #2. Dikirim oleh ahmad asy syaukani pada 04/09 04:42 PM

kritik ini men-disclosure fakta ekstrimisme islam sebagai yg memusuhi sejarah…dengan demikian, menjadi muslim dng perspektif ekstrim (semisal HTI) berarti menempatkan diri sbg musuh dari dunia-hidup…sekaligus terasing darinya. Alih-alih memakmurkan dunia dengan khilafah, justru yg akan terjadi adalah permusuhan abadi dengan sejarah karena sejarah itu sendiri takkan pernah bisa diprediksi kapan berakhirnya… Saya kira hukum yg baik adalah wahyu yg menyejarah, atau semacam ‘zeitgeist’, yakni kesadaran akan keniscayaan sejarah yg tak bisa diingkari, yg muncul dalam kerangka memperbaiki yg kurang/tidak/belum terwujud dari fundamen kekinian kita…so,bukan hukum namanya jika malah mengalienasikan person/subjek moral dari kekiniannya…dari dunia-hidup’nya. Allah al-Haqq a’lam…. #3. Dikirim oleh tijany pada 04/09 07:01 PM Dari kenyataan yang ada dapat kita simpulkan, sesuai dengan hadis nabi, sebenarnya sedikit sekali orang Islam yang sebenarnya (banyak yang mengaku agamanya Islam tapi menginjak-injak sendiri ajaran agamanya / munafik) itulah yang harus dikritik atau di koreksi bukan ajarannya yang memang harus begitu. Kalau kita balik lagi kita lihat fakta, sudah ada bangunan masjid yang berarsitektur klenteng, tapi adakah klenteng berasitektur masjid, ini kan menunjukkan mereka yang memiliki prinsip hidup klenteng lebih kuat memegang prinsipnya dari pada yang berprinsip masjid. Sudah tahu begitu kuatnya prinsip mereka, malah sekarang banyak yang membelanya, artinya yang membela itu yang termasuk sama prinsipnya (tidak punya pendirian) alias munafik, ya itulah fakta kualitas umat Islam, jadi yang begilah kenyataannya sedikit sekali orang-orang yang benar-beanr beragama islam (berprinsip Islam), makanya kenyataan dunia sekarang ini semakin rusak (kata mereka semakin maju, alias membangun padahal sebenarnya mereka merusak Baca Global Warming, solusinya tidak lain adalah hidup sederhana sebagai acuan utama dari akhlak mulia, makanya ada hadis tanda kiamat adalah hamba sahaya yagn berlomba mendirikan bangunan yang tinggi, kenyataannya yagn mempraktekkan ajaran ini adalah orang hindu di Bali, kita umat islam sendiri menginjak-injak ajaran agama kita sendiri, dan masih banyak ajaran lainnya yang kita tidak mengimaninya). Kembali ke pokok inti ajaran agama Islam dan sebenarnya juga merupakan inti semua agama samawi di dunia. Dapat kita lihat dari nama kitab suci Islam sendiri: Bacaan Mulia. Mulia disini bukan kemuliaan seperti yagn anda maksudkan seperti kemuliaan Raja Firaun (Banyak kekuasaan dan harta bendanya seperti bangunan,seni, budaya dan bahkan persenjataannya, begitu juga Kemuliaan Raja Romawi atau Kemuliaan Bahu Jahal atau Abu Sofyan, tapi kemuliaan seperti nabi Musa, Isa dan Muhammad SAW, yaitu Kemuliaan Akhlak. Sebagaimana Sabda beliau Tidaklah aku di utus untuk menyempurnakan kemuliaan Akhlaq. Itulah prinsip semua agama yang benar. Jadi dari situ kita bisa melihat prinsip agama mana yang benar yang bisa menjadi

kompas bagi kita untuk mengarungi kehidupan dunia ini. Inilah sebenarnya yagn bisa menanggulangi ancaman terbesar penghuni planet bumi ini atau yagn disebut Global Warming. Kalau kita menerapkan ajaran agama Islam yang murni (dengan yakin dan benar-benar mempraktekkannya) itulah yagn bakal pantas mendapat gelar Rahmatan Lil Alamin, dan itulah sebenarnya solusi dari ancaman global Warming. Tapi kalau kita yang hanya mengaku beragama Islam tapi prinsip yagn di ambil dan kelakuan yagn dilakukan sama dengan orang yang tidak percaya agama Islam atau munafik, ya keadaanya seperti saat ini, yang namanya Islam rahmatan lil alamin gak bakal terwujud. Jadi intinya agama adalah akhlak - takwa - moral - akal sehat - yang bisa membedakan mana yang baik dan mana yang buruk, itulah yagn menjadi sentra agama islam. Namun memang pada setiap tubuh manusia, didalamnya ada setannya (terbuat dari api kalau sekarang namanya energi yang bertugas menyesatkan manusia). Manusia yang tersesat pikirannya, seperti anda yang terpukau dengan kemewahan yang anda anggap kemuliaan dunia adalah manusia yang tersesat oleh bujukan setan yang memang menjadi tugasnya sampai akhir zaman. Makanya dalam Islam sudah diberikan resep agar tidak tergelincir atau tersesat oleh bujukan setan yang merusak (tapi dalam pandangan orang munafik dan kafir adalah membangun, padahal merejka itu merusak) ya harus dilaksanakan amal iabdahnya (karena itulah yagn bisa menangkal energi setan yagn cenderung menyesatkan manusia dari jalan yang benar. kalau hanya dipelajari saja tidak ada efeknya, tapi harus di jalani seperti minum obat kalau dibaca resepnya saja yang tidak berpengaruh tapi jkalau diminum dengan benar sesuai resep(atau dilakukan) itu akan berperngaruh (hidup adalah perbuatan) itulah yang berpengaruh. Untuk itu kita harus kembali kepada prinsip agama islam yang sudah diringkas sendiri dalam hadis atau dikenal dengan Islam, iman dan Ihsan. Itulah Trilogi Kemuliaan Akhlaq, dengan Trilogi Islam itu, dipastikan setan pasti terbelenggu dan sempit jalannya untuk menyesatkan manusia dari jalan yang benar (fitrah) yang rahmatan lil alamin, sehingga ancaman kerusakan dunia tidak bakal terjadi, mudah-mudahan, amin. #4. Dikirim oleh mukhtar effendi pada 05/09 03:38 AM Sangatlah menarik ketika kita mengamati fakta-fakta sosial yang terjadi disekitar kita dan kemunculannya yang kadang kala bertentangan dengan hukum-hukum agama menurut saya juga merupakan hukum Tuhan yang akan selalu ada mengiringi peradaban manusia sampai kapanpun, jadi tidak perlu takut mendahulukan fakta-fakta sosial yang selalu berubah-ubah sebagai landasan hukum, karena sejarah kehidupan manusia itu sendiri juga telah membuktikan hal-hal tersebut. Justru agak aneh dimata saya, ketika dalil-dalil hukum agama harus dipaksakan sehingga justru menjauhkan umatnya dari realita sosial yang ada, dan akibatnya hukum-hukum agama menjadi kelihatan naif dan janggal, dan akhir kata sebagai orang awam sebuah pertanyaan selalu muncul dibenak saya yaitu apakah apakah jalan ke syurga hanya bisa ditempuh dengan dengan agama yang kaku dan tidak peduli pada keadaan sosial…........? #5. Dikirim oleh Alfi pada 05/09 05:32 AM Assalamu alaikum. Mas Ulil sekali lagi memberi pencerahan….. Fakta mengatakan bahwa tuhan menciptakan manusia berbangsa-bangsa dan bersuku-suku. Disana terkandung arti didunia ini ada banyak budaya dan tatanan sosial sebanyak bangsa/suku yang ada. Tantangannya adalah sebagai muslim kita bisa membuat islam masuk dalam suatu bangsa/suku dan tatana sosial dengan tetap menghargai budaya, tatanan soaial di tempat dimana islam berada #6. Dikirim oleh Abu Sulthan pada 05/09 09:15 AM menurut pendapat saya, pandangan ulil justru yang keliru bahkan sangat keliru… kita ambil contoh fakta sosial, sepeda motor bisa dijalankan dengan bahan bakar campuran bensin dan minyak tanah(supaya irit)... fakta sosial mengatakan sepeda motor tetap bisa jalan akan tetapi bagaimana dengan kondisi mesin kendaran tersebut jika terus menerus menggunakan bahan bakar camouran, tak perlu saya jawab karena setiap pemilik kendaraan yang membaca aturan dari parbrik (buku petunjuk) pasti tahu jawabnya. pertanyaannya , bisakah fakta sosial tersebut mengesampingkan teks dalam buku petunjuk kendaraan???? tanya kenapa?? #7. Dikirim oleh aidam pada 05/09 09:37 AM Sering kita lihat baleho HTI “Saatnya khilafah memimpin dunia….”. Menurut pendapat saya sebuah slogan yang tidak realistis, bahkan cenderung menipu. La mo memimpin dunia itu modalnya itu apa? Semangat dan doa? Bahkan Allah SWT saja menasehati kita, bahwa usaha dan doa harus seimbang. Doanya HTI dan umat ISlam mungkin sudah cukup bahkan berlebih, tapi la kok masih kalah sama barat. KArena apa….ya udah jelas karena usaha kita kurang. Usahanya apa? Usaha adalah hasil jerih payah kita secara fisik dan mental dan bersifat materialis. Untuk ini diperlukan otak yang cerdas. Semangat dan doa membutuhkan hati, sedangkan usaha membutuhkan otak yang cerdas. Slogan HTI diatas jika ditujukan kepada umat muslim saat ini dapat digambarkan sebagai ngojok2i (basa indonesianya apa ya ini), orang pesantren didesa2 yang minim pengetahuan umumnya untuk menjadi teroris.

Logikanya sederhana saja. Memimpin dunia diartikan mereka secara sederhana yaitu menguasai. Menguasai dunia kalo tidak pakek kekerasan lantas pakek apa? Jadilah mereka teroris, karena otaknya sudah nggak nyandak. Usaha yang cerdas dapat kita lakukan..yaitu dengan menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi. Ini satu2nya jalan untuk menang melawan hegemoni barat dan US. PErtanyaan selanjutnya…bagaimana kita menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi, yang saat ini dikuasai oleh barat dan US. Jalan satu2nya (nggak ada deh jalan lain) ya..harus baek2 sama mereka. Ibaratnya umat ISlam ditodong ditengah hutan, sedangkan kita gak punya senjata selain doa. Silakan pilih wahai HTI. KAlo anda memilih bunuh diri karena kebodohan anda sendiri…ya silakan, tapi jangan rayu2 rakyat Indonesia. Rakyat Indonesia dari dulu sudah pintar memilih, yaitu memilih memperkuat diri menimba ilmu pengetahuan dan teknologi (seperti yang diperjuangkan oleh NU dan Muhammadyah) #8. Dikirim oleh cogito pada 05/09 10:39 AM saya sependapat dengan hal yg telah diuraikan. saya sungguh antusias jika masalah “muamalah” ditelaah secara rasional, karena menyangkut sosialbudaya, bahkan peradaban yg senantiasa mengalami perubahan. bagaimanapun cita-cita kawan2 di HT juga perlu apresiasi, sebagaimana cita-cita kawan2 di “Islam liberalis” ini. perlu diperhatikan, kalau “obyek” kesemuanya itu adalah masyarakat/umat. maka setiap bentuk cita-cita bisa di-manifestasi-kan, bila umat sepakat dengan nilai2 yg ditawarkan tadi. sederhana saja, mana yg bisa memberikan banyak manfaat bagi umat, nilai2 itu-lah yg akan dipegang dan diterima. #9. Dikirim oleh mahmudbudi pada 05/09 11:00 AM Banyak penyimpangan, kekejaman yang terjadi saat konsepsi khilafahan diterapkan, bisa jadi disebabkan oleh kesalahan manusiawi penegak hukum syariat (pemerintah) dan bukan kesalahan dari tataran konsep syariat itu sendiri dan ini tidak dapat dijadikan hujjah dalam penolakan konsepsi kekhilafahan, melainkan hanya dapat diambil pelajaran atau hikmah saja terhadapnya sebagai fakta sejarah. Argumentasi kewajiban penegakan khilafah, salah satunya, disandarkan pada kaidah ushul ma la yatimul wajib ila bihi fahuwa wajib; dengan menyadari bahwa kewajiban utama ummat Islam adalah ketaatan terhadap hukum syara yang hanya bisa secara mayoritas diterapkan melalui suatu institusi yang dapat menerapkan secara praktis hukum2 syara, maka kekhilafahan sebagai satu-satunya institusi tersebut menjadi wajib untuk didirikan kembali. #10. Dikirim oleh crtitique pada 05/09 11:32 PM Bung Ulil, Kalau sudah bicara HTI, saya cenderung untuk melihat dari konteks politik. Untuk itu, guna mencapai tujuan politik yang bermuara pada kekuasaan, maka orang bisa saja menggunakan kendaraan tertentu untuk mencapai tujuan tersebut. Nah, kebetulan mereka menemukan kendaraan tersebut berupa ajaran Islam, yang harapannya di masyarakat Indonesia yang mayoritas Islam ini akan mendapat dukungan atas tujuan politik mereka yaitu mendirikan negara Islam di Indonesia atau minimal penerapan syariat Islam menggantikan hukum yang ada (meskipun mereka mengaku atau merasa sebagai gerakan non politik). Bagaimana pendapat anda Bung Ulil ?? Tolong respon ya. #11. Dikirim oleh Abun pada 06/09 05:29 AM Mas Ulil, Kenapa bisa mashlahat bersumber dari konteks sosial? Kalau ada dalil agama yang bertentangan dengan konteks, kenapa mashlahat bersumber dari konteks sosial? Kita punya al qur’an dan hadits sebagai sumber pegangan hidup yang menyelamatkan. Mestinya, sosiallah yang harus mengikuti ajaran agama, karena agama (utamanya al qur’an dan hadits) adalah sumber kebenaran mutlak. Yang bertentangan dengan alquran dan sunnah, dialah yang harus dikalahkan. bukannya jika kamu ikuti kebanyakan orang maka akan menyesatkanmu? Pantaskah orang yang melihat minta tuntunan kepada orang yang buta? Wallohua’lam. #12. Dikirim oleh taufik pada 06/09 08:51 AM Saya justru baru tahu, kalo HTI ternyata punya fikiran seperti itu, setelah baca artikel ini.. Dari atas sampai bawah, kalo memang kenyataannya seperti itu, BUKANNYA MALAH JUSTRU HTI YANG LEBIH BENAR ?? YAA KAAN ? HTI LAH YANG LEBIH BENAR ! GIMANA SIH MAS ULIL ? JANGAN2 SALAH KETIK NIH MAS ULIL. #13. Dikirim oleh AREK NDIWEK JOMBANG pada 06/09 09:42 AM mas ulil kyaknya harus tahu hukum wajib, haram, dan mubah dalam islam, masa salah satu contohnya mahar #14. Dikirim oleh firmanazwir pada 06/09 10:27 AM

Saya yakin bila syariat Islam diterapkan di Indonesia secara murni dalam arti Indonesia menjadi negara islam yang dipimpin oleh ulama spritual, maka akan terjadi hal-hal sebagai berikut : 1. Hak-hak perempuan akan dihilangkan dan setiap perempuan akan dipaksa menggunakan atribut2 agama sekalipun mereka menolak 2. Hak2 beribadah dan hak hidup kaum minoritas yang berasal dari penganut agama2 selain muslim (kristen, hindu, Budha, dll) akan dihilangkan secara sistematis. 3. Akan terjadi diskriminasi hukum dimana bila ada dua orang yang bertikai dan salah satunya non muslim, maka yang non muslim akan “dikalahkan” 4. Akan terjadi penangkapan dan penghukuman sewenang-wenang karena tidak adanya pengawasan / control terhadap kekuasaan yang absolut yang mengatasnamakan Tuhan / Alloh itu sendiri 5. Bangsa Indonesia akan semakin terbelakang karena setiap orang akan dipaksa untuk melihat setiap masalah dari sudut pandang Islam 6. Penutupan tempat2 ibadah non muslim akan semakin gencar dan mungkin disertai dengan pertumpahan darah 7. Kemunafikan akan semakin merajalela di masyarakat (dari luar kelihatan putih namun di dalamnya busuk) 8. Kebebasan dalam berbicara dan berpendapat akan hilang 9. Tayangan2 televisi pasti akan dibatasi hanya yang sesuai dengan ajaran syariat saja 10. Kekuasan mutlak pada satu orang yang menjadi wakil Tuhan sangat berbahaya karena tidak ada control 11. Ilmu pengetahuan tidak akan berkembang karena setiap orang akan didorong untuk masuk pesantren daripada kuliah di tempat sekuler 12. Semakin banyak warga indonesia yang akan cripple akibat hukuman potong tangan / kaki dimana belum tentu mereka bersalah, dan mereka pada akhirnya akan menjadi beban negara 13. Hukum akan menjadi milik orang2 yang “membela agamanya” 14. Hilangnya akal sehat 15. Provokasi2 akan merajalela terutama untuk menghancurkan musuh2 Islam (AS, Yahudi, Kristen) 16. Bangsa Indonesia akan menjadi anak kecil, dimana yang menjadi cirinya adalah, bertindak dahulu, hajar dahulu, berpikir belakangan, urusan lain belakangan. 17. Bendera merah putih akan diganti bulan sabit 18. Semua atribut2 yang ada di jalan akan diganti tulisan2 arab 19. Lagu kebangsaan, UUD45 akan diganti dengan alquran 20. Bangsa Indonesia akan “diseragamkan” jadi bhinneka Tunggal ika akan dihilangkan 21. Tidak ada lagi kebebasan pers 22. bersambung #15. Dikirim oleh arfat pada 06/09 01:00 PM islam liberal memang selau bersandar pada sesuatu yang konstektual.saya juga tidak tau bagaimana konsep saudara ulil tentang konstektual dan tekstual sehingga selalu dengan landasan progresifitas, bahwa fakta sosial bisa di elaborasi menjadi sesuatu yang yuridis dalam islam.sejujurnya saya malas berkomentar..karena bagi saya islam adalah agama yang sempurna.jadi tidak perlu di kontradiksikan dengan fakta-fakta sosial dan budaya.bung ulil perlu belajar lagi memahami bagaimana kedudukan konstektual dan hubungan nya dengan tekstual.jangan hanya asal berargumen #16. Dikirim oleh abdillah rifal pada 06/09 04:18 PM dalil agama sebagai rujukan menyelesaikan kemaslahatan yang perlu penafsiran dengan dukungan berbagai disiplin ilmu. #17. Dikirim oleh Mohamad Taufik pada 07/09 09:44 AM Assalamu’alaikum Wr. Wb. Hehehe…antum omong banyak banget Abdallah. Contoh Khilafah dalam Islam cuma 5 yakni Kekhalifahan Abu Bakar, Umar, Utsman, Ali, dan Umar bin Abdul Aziz. Selebihnya kerajaan yang mengaku kekhilafahan. Daripada banyak dalil dalam polemik antum, mending pakai 1 dalil yakni Jika Allah dan Rasul telah menetapkan satu hukum mengapa kita ambil hukum lain. Kekhilafahan adalah sunah Khulafaur Rasyidin yang Nabi memerintahkan kita mengikuti sunah itu. Btw ana bukan anggota JIL. Jadi jangan asal cantumin nama ana sebagai anggota JIL, mudah2an bukan trik baru ya. Ana orang Islam. Ana ada hadiah untuk Abdallah, novel Jalan Cinta Darussalam terbitan Lingkar Pena. Di novel itu ana muat perang pemikiran antara JIL dan seorang sufi garis tengah. Semoga manfaat. #18. Dikirim oleh Harlis Kurniawan pada 07/09 11:11 AM Tulisan mencerahkan saya. jarang ada orang berani mengkritik dan mengoreksi dengan penjelasan detil dan menyakinkan seperti itu. terkadang umat kita hanya terbuai dengan suara keras Khilafah, khilafah, pokoknya itu, titik! Tapi apa yang terjadi, disharmoni dan kekerasan merebak.katanya mereka haram kekerasan, tetapi kekerasan kata-kata terhadap pihak HIH! Wasalam andri #19. Dikirim oleh andreyd pada 07/09 05:29 PM

Apa yang Kanda Ulil katakan ada benarnya,, karena kita melihat hari ini bahwasannya hidup berdampingan dan Heterogen itu adalah sebuah Realita yang tidak bisa dipandang sebelah mata. Banyak orang yang Sampai hari masih memiliki kefanatikan yang berlebihan sehingga menyebabkan terhambatnya perkembangian negara Indonesia. menurut pandangan saya pribadi , Masyarakat Indonesia hampir sebagian besar masih “penasaran” dengan ” Yang mana sih agama yang benar? Pasti agama yang ku Anut” tetapi tidak pernah mempertanyakan ” Bagaimana sih cara menjalankan Agama dengan Benar?” Karena kita tau bersama orang yang Beriman, Berilmu dan beramal pasti menghargai kemajemukan karena perbedaan itu seperti pelangi, warnanya merah, kuning, hijau dan kita semua menyadari bahwa Pelangi itu Indah. Artinya Berbeda itu adalah sebuah rahmat yang diberikan Tuhan kepada kita untuk saling melengkapi. Dan kaitan pendapat saya adalah, Konteks sosial yang dibicaran Kanda Ulil berkaitan dengan Kemajemukan Masyarakat di Indonesia ini. Kita semua harus bersama-sama mulai untuk menyadari bahwa kita hidup berdampingan dengan orang-orang yang belum tentu sepaham dengan kita. jadi kita harus menerima bahwa Manusia itu adalah Makhluk yang Nisbi…

Satu-satunya Usul Fiqih menurut hujjah Allah, hujjah nabi Muhammad saw. dan hujjah kitab suci-Nya yang wajib ditunggu-tunggu akan tetapi dilupakan oleh umat manusia adalah: 1. Al Baqarah (2) ayat 4,5: Agar tetap mendapat petunjuk usul fiqihnya adalah beriman kepada telah turun, beriman kepada yang turun sebelumnya dan beriman kepada hal-hal yang akan turun dari Allah pada akhirnya, pada era globalisai sesuai Al Isro (17) ayat 104, Al Kahfi (18) ayat 99, Al Qariah (101) ayat 4, untuk kepentingan masyarakat dunia PBB (United nations) sesuai Asysyuuraa (42) ayat 7, Al An Aam (6) ayat 92. 2. Al A’raaf (7) ayat 52,53: Datangnya Allah menurunkan Penggenapan Hari Takwil Kebenaran Kitab, diprotes orang Arab sesuai At Taubah (9) ayat 97. 3. Fushshilat (41) ayat 44: Datangnya Allah menurunkan Penggenapan Al Quran dijadikan dalam bahasa asing ‘Indonesia’ selain dalam bahasa Arab, dan diprotes oleh orang Arab sesuai At Taubah (7) ayat 97. (Al Quran adalah isi kitab sesuai Al Waaqi’ah (56) ayat 77,78,79, dari Kitab sesuai Al Baqarah (2) ayat 2). 4. Thaha (20) ayat 114,115: Datangnya Allah menurunkan Penggenapan Menyempurnakan Pewahyuan Al Quran, berkat do’a ilmu pengetahuan agama oleh manusia, dan diprotes oleh orang Arab sesuai At Taubah (9) ayat 97. 5. Al Mujaadilah (58) ayat 6,18,22: Datangnya Allah menurunkan Penggenapan Kebangkitan Agama kepada umat manusia semuannya dan diprotes oleh orang Arab sesuai At Taubah (9) ayat 97. 6. Ibrahim (14) ayat 5, Al Jaatsiyah (45) ayat 14: Datangnya Allah menurunkan Penggenapan Hari-Hari Allah sebanyak 444 ayat dan diprotes oleh otrang Arab sesuai At Taubah (9) ayat 97. Wasalam, Soegana Gandakoesoema, Pembaharu Persepsi Tunggal Agama millenniuam ke-3 masehi. #21. Dikirim oleh Soegana Gandakoesoema, Pembaharu Persepsi Tunggal pada 08/09 01:05 AM Ass.Wr.Wb. Sudahlah Bung Ulil anda jangan membuat pusing kami2 yang berjuang menegakkan Syariat Islam yang sejalan dengan Keridhoan Allah SWT. Di satu sisi anda menistakan nilai2 Islam/Alqur’an/Hadits/Ulama yang menurut anda tidak sejalan dengan Pola Pikiran Anda tapi disisi lain anda gunakan Islam/Alqur’an/Hadits/Ulama untuk menguatkan atau sekedar menjustifikasi Pendapat anda, ini bagaimana…? Anda membangga-banggakan Pola pikir Wetern ketimbang membela Saudara sendiri yang Notabene seiman dengan anda. Ingat saudaraku kematian di depan anda pastilah anda diminta pertanggungan jawaban anda nantinya. Wassalaam #22. Dikirim oleh Uchon pada 08/09 03:38 AM Menarik untuk dikomentari artikel di atas. Ada beberapa penggalan kalimat yang saya ingin komentari: pertama, penulis menyatakan: Tetapi, sumber hukum bukan hanya empat, sebab ada sumber-sumber lain yang kedudukannya memang diperselisihkan oleh para sarjana Islam (al-adillah al-mukhtalaf fiha). Komentar: Singkatnya, kalau memang statusnya diperselisihkan kenapa anda musti “kebakaran jenggot”. kedua, Para pengkritik teori negara khilafah, antara lain, mengatakan praktek negara khilafah tidak “secemerlang” yang dikira oleh para penyokong ide itu. Banyak “khalifah” dalam dinastidinasti Islam masa lampau yang bertindak otoriter, despotik, dan kejam. Komentar: sudah berulangkali hal ini selalu digunakan sebagai dalih untuk memberi kesan khilafah bukan negara Ideal kaum muslimin, (saya jadi ingat statemen om Moqsith di metro tv beberapa hari yang lalu). Intinya : satu, dari awal ushul fiqh yang dibangun HT dan Islib sudah berbeda jadi pandangan turunannyapun juga berbeda, kedua, ada aspek lain yang musti para aktivis islib ketahui dari sejarah panjang Khilafah tersebut, selain apa yang om Ulil ketengahkan di atas. ketiga, silakan anda bandingkan bagaimana kondisi umat Islam sekarang dengan kondisi umat di zaman kekhilafahan…maka, mari kita baca kembali sejarahnya, dari sana anda bisa bandingkan. (khusus untuk Om Ulil saya tahu anda pasti akan mengatakan zaman ini kondisi umat jauh lebih baik) ya, karena memang sedari awal “islam” yang anda kembangkan memiliki penilaian dan standar nilai yang berbeda dengan Islam yang standar/umum/genuine… Itu semua karena dasar pemikiran dan metode berfikir yang anda bangun bukan lagi digali dari khazanah Islam yang murni. Anda berbicara tentang Islam tetapi selalu kembali disandarkan dengan/ dari sudut pandang khazanah barat (ats-tsaqofah al-gharbiyyah) dengan memakai standar-standar yang dipaksakan kepada Islam, persamaan gender, HAM, demokrasi, pluralisme, dll. Memang, saya selalu mengikuti pemikiran yang anda dan aktivis Islib ketengahkan, kita semua tahu bahwa anda dan kawan-kawan anda memang akan selalu begitu ketika kehidupan yang anda bangun dan jalani tidak lagi memiliki kesadaran agama yang lurus, ikhlas karena-Nya. banyak sudah bukti yang menyatakan demikian. Banyak hal yang mau saya komentari, tapi karena keterbatasan, saya cukupkan sampai disini. saya berharap akan ada media elektronik yang mau memfasilitasi diadakannya debat antara anda (Islamlib) dengan aktivis HT, agar umat Islam tahu apa yang Anda dan kawan-kawan mau perjuangkan sebenarnya dan menjadi terbukalah rahasia dari misi di balik pemikiran anda itu… wallahu a’lam. #23. Dikirim oleh Muslim Mabda'i (nama bukan sebenarnya) pada 08/09 05:55 AM Islam hadir dan besar justru karena sangat memperhatikan lingkungan di sekitarnya. Para sunan yang menyebar Islam di Indonesia banyak melakukan akulturasi budaya, mengawinkan penanggalan Jawa dan Islam. Jubah Arab berganti dengan sarung hindu. Nama dan gelar para sunan lebih akrab dengan bahasa dan telinga orang Jawa. Puasa hanya diawal dan diakhir ramadhan.Salat juga tidak wajib. Berangsur yang namanya rukun Islam mulai dilatih sehingga berkembang seperti sekarang. Yang namanya budaya seperti cara berpakaian tergantung situasi. Ada kiai yang sampai saat ini masih tetap tidak nyaman dengan celana, meski celaka pula ada yang mengharamkan penggunaan celana saat salat. Jangan kaget kalau jamaah haji Indonesia yang pakai sarung saat salat di masjid Haram Makkah akan dikira kuli asal kasta rendahan dari India yang masih gemar memakai sarung. Karena sulit membedakan mana yang budaya dan mana hukum/praturan ibadah, maka saya menggunakan cara gampang yang kini jadi pedoman Bank Syariah Mandiri; Kalau tidak dilarang, berarti boleh dilakukan.

#24. Dikirim oleh Ali Salim pada 08/09 07:12 AM Sumber hukum islam bukan hanya 4 menurut saudara Ulil Abshar-Abdalla, tetapi 5 yaitu ditambah satu lagi adalah fakta sosial… Kalau menurut saya juga 5, tetapi yang kelima bukan fakta sosial. Tetapi pendapat Ulil Abshar-Abdalla… Yang dirinya merasa memiliki kemampuan untuk menafsirkan Islam secara beda dan benar… #25. Dikirim oleh Bedjo pada 08/09 08:08 AM >> dalam setiap kesempatan bung ulil selalu mengatakan bahwa perjuangan mendirikan kembali nedara Khilafah itu adalah mimpi. saya belum tau apa yang dimaksud dengan mimpi di sini. apakan mimpi dalam artian cita2 besar (dreams), atau mimpi dalam artian khayalan belaka yang ga akan pernah terjadi? sekedar menurut perkiraan saja, sudah bisa dipastikan mimpi menurut bung ulil di sini adalah khayalan belaka. kalo memang benar begitu, saya jadi ingin bertanya neh bung: pernahkah sampean menemukan hadits ini? “Akan ada fase kenabian di tengah-tengah kalian. Dengan kehendak Allah, ia akan tetap ada, kemudian Dia mengakhirinya, jika Dia berkehendak untuk mengakhirinya. Kemudian akan ada fase Khilafah berdasarkan metode kenabian. Dengan kehendak Allah, ia akan tetap ada, kemudian Dia akan mengakhirinya, jika Dia berkehendak untuk mengakhirinya. Kemudian akan ada fase penguasa yang zalim, ia akan tetap ada, kemudian Dia akan mengakhirinya, jika Dia berkehendak untuk mengakhirinya. Lalu akan ada fase penguasa diktator, ia akan tetap ada, kemudian Dia akan mengakhirinya, jika Dia berkehendak untuk mengakhirinya. Setelah itu, akan datang kembali Khilafah ala Minhajin Nubuwah (berdasarkan metode kenabian).” Kemudian Baginda saw. diam. (HR Ahmad). jawabannya saya tunggu loh! bisa jawab langsung di forum ini atau ke email saya langsung: re_visi@yahoo.co.id #26. Dikirim oleh sai pada 08/09 01:44 PM Ht dan mas ulil, sama2 saya kagumi. #27. Dikirim oleh Putrakiematubu pada 09/09 03:21 AM Memang susah kalo kita dari awal sudah didoktrin misalnya yang paling baik HT, liberal, demokratis atau lainnya. Kalau saya sih yang penting membuktikan di dunia kita berbuat baik kepada sesama baik yang sejalan ato tidak sejalan dgn pemikiran kita. Soal di akhirat ya hanya Tuhan yang tahu, yang penting satu! “jangan!” memaksa orang untuk menjalankan syariat sesuai aliran yang diikuti oleh seseorang, tetapi tetap membiarkan adanya perbedaan.Maka dari itu saya lebih suka menjalankan pemerintahan yang demokratis saja karena lebih asyik. Kalau misalnya pimpinan salah ya kita ganti saja memakai mekanisme demokratis. Kalo semua bergantung hanya pada satu figur model Basyir sebagai penentu kebenaran ya gawat, emang dia Tuhan atau malaikat? yang pasti tahu yang benar ama yang salah. Demokratis dalam beragama juga lebih asyik. Misalnya saat saya puasa saya tidak pernah akan melarang orang makan di depan saya ataupun berjualan makanan, apalagi ngamuk2 seperti FPI. Saya jauh merasakan keasyikan berpuasa ditengah aneka macam makanan di sekitar kita maupun hiburan lainnya. Tantangan puasanya jadi lebih tinggi. Orang yang suka nglarang-nglarang itu kagak Pe de agamanya. #28. Dikirim oleh Nurcahaya pada 09/09 03:45 AM kabeh kang ono iku dudu. Urip mung mampir ngombe memayu hayuning bawono iku luwih becik. Sing paling bener iku ya gusti Allah Gusti kang akaryo jagad. thank you #29. Dikirim oleh M. Battle Son pada 09/09 06:58 AM Maaf kang ulil yang luar biasa pintar, saya bukan anggota HTI, bukan pula pendukung JIL. Saya cuman mau mengomentari beberapa hal : “Para pengkritik teori negara khilafah, antara lain, mengatakan praktek negara khilafah tidak “secemerlang” yang dikira oleh para penyokong ide itu. Banyak “khalifah” dalam dinasti-dinasti Islam masa lampau yang bertindak otoriter, despotik, dan kejam. Sebagaimana dalam sejarah negara-negara kuno, pertumpahan darah selalu menandai peralihan kekuasaan dari satu dinasti Islam ke dinasti yang lain.” Tanggapan : Setau saya, banyak khalifah, baik dari Abu Bakar hingga khilafah Turki mampu menerapkan toleransi terhadap umat agama lain, baik kristen maupun yahudi. Kapan dan dimanakah kaum Yahudi yang Kang Ulil dan rekan2 sanjung2 bisa dihargai sebagai manusia kalau bukan pas jaman “khalifah” Islam berkuasa? Oke, kalau menurut para pengkritik tetap terjadi pertumpahan darah dan kekejaman dsb. Lalu yg dilakukan oleh Negara Yahudi yang digadang2 bernama Israel apa dong namanya? Kalo menurut Kang Ulil apa namanya? Lalu Kang Ulil sendiri mendukung atau mengkritik konsep khilafah? Hidup Kang Ulil! Maju tak gentar membela yang bayar…!!!! #30. Dikirim oleh yudha pada 09/09 07:03 AM Iya ni bang Ulil, kita sesama muslim jangan saling intervensi apalagi yang dilakukan Hizbut Tahrir itu demi kemaslahatan bersama, kecuali yang dilakukan Jama’at Ahmadiyah baru melenceng dari koridor Tali Agama Allah. Tidak mustahil kok mendirikan kilafah, dulu saja islam bisa jaya hingga 800 tahun dengan kilafah, jangan-jangan JIL takut ya kalau kilafah sudah berdiri maka langkah JIL takut dihalangi atau diberangus ya…., jelas itu pasti kayaknya. Allah bersama dengan orang-orang yang menegakan Hak Allah! #31. Dikirim oleh Usup Supriyadi pada 09/09 08:38 AM

FAKTA BUKANLAH SUMBER HUKUM (Koreksi Atas Ulil Abshar Abdala)

Ulil Abshor kembali melontarkan kritik terhadap pendirian HTI, seraya melontarkan propaganda ”menjadikan realitas sebagai sumber hukum” (mashdar al-hukm/dalil al-hukm). Menurutnya, hukum syariat tidak melulu harus digali dari atau bersumber pada nash-nash syariat, akan tetapi realitas dan kemashlahatan juga absah digunakan sebagai dalil penetapan hukum. Bahkan, masih menurut dia, realitas dan kemashlahatan bisa menganulir ketetapan hukum yang digali dari nash-nash syariat. Dengan kata lain, ada atau tidak adanya hukum syariat bergantung pada ada atau tidak adanya kemashlahatan dan kesesuaiannya dengan realitas kekinian. Jika hukum syariat tidak lagi dianggap mashlahat, maka hukum itu bisa dianulir. Sebaliknya, ketetapan yang bertentangan dengan syariat bisa ditetapkan menjadi hukum syariat, jika ketetapan itu membawa mashlahat dan sesuai dengan realitas. Benarkah pendapat Ulil di atas? Benarkah realitas dan kemashlahatan bisa menggeser hukum syariat yang telah ditetapkan berdasarkan nash-nash syariat? Benarkah penetapan hukum dalam Islam bisa dirujukkan pada realitas dan kemashlahatan? Realitas Hukum Syariat Pada dasarnya ulama ushul fikih telah mengklasifikasi pembahasan hukum menjadi empat topic pembahasan penting; (1) al-hukm (hukum itu sendiri), (2) al-haakim (pihak yang berwenang menetapkan hukum), (3) al-mahkuum bihi (perbuatan mukallaf), dan (4) al-mahkuum ‘alaihi (mukallaf atau pihak yang dibebani hukum). [Imam Syaukaniy, Irsyaad al-Fuhuul ila Tahqiiq alHaq min ‘Ilm al-Ushuul, hal.6- dst]. Dalam konteks pembahasan hukum (al-hukm), mereka mendefinisikan al-hukm al-syar’iy (syariat) sebagai berikut; 1. Syariat adalah perintah Asy-Syâri‘ (Pembuat hukum) yang berhubungan dengan perbuatan-perbuatan hamba dan berkaitan dengan iqtidhâ‘ (ketetapan), takhyîr (pilihan), atau wadh‘i (kondisi) (khithâb asy-Syâri‘ al-muta‘allaq bi af‘âl al-‘ibâd bi al-iqtidhâ‘ aw al-takhyîr, aw al-wadl‘i (An-Nabhani, op.cit., III/31). 2. Syariat adalah perintah Asy-Syâri‘ (Pembuat hukum) yang berhubungan dengan perbuatan mukallaf (khithâb asy-Syâri‘ al-muta‘allaq bi af‘âl al-mukallafîn. (Al-Amidi, op.cit.) 3. Syariat adalah perintah Asy-Syâri‘ (Pembuat hukum) yang berhubungan dengan perbuatan-perbuatan hamba (khithâb asy-Syâri‘ al-muta‘allaq bi af‘âl al-‘ibâd (Al-Amidi, ibid., I/70-71). 4. Syariat adalah perintah Asy-Syâri‘ (Pembuat hukum) yang berhubungan dengan perbuatan-perbuatan mukallaf dan berkaitan dengan iqtidhâ‘ (ketetapan), takhyîr (pilihan), atau wadh‘i (kondisi) (khithâb asy-Syâri‘ al-muta‘allaq bi af‘âl al-‘ibâd bi al-iqtidhâ‘ aw al-takhyîr, aw al-wadl‘i. (Asy-Syaukani, op.cit., hlm. 7). Para ulama juga mengenalkan istilah fikih, yang substansinya juga bermakna hukum syariat (syariat). Fikih adalah pengetahuan terhadap sejumlah hukum syariat yang digali dari dalil-dalil yang bersifat rinci. Sedangkan syariat adalah hukum Allah yang berlaku pada benda dan perbuatan manusia. Menurut Imam al-Ghazali, fikih mencakup kajian terhadap dalil-dalil dan arah yang ditunjukkan oleh dalil (makna), dari tinjauan yang bersifat rinci. Contohnya, penunjukkan sebuah hadis pada makna tertentu, misalnya nikah tanpa wali secara khusus. (Al-Ghazali, op.cit., hlm. 5). Sedangkan hukum syariat adalah perintah Asy-Syâri‘ yang berhubungan dengan perbuatan hamba, baik dengan iqtidhâ‘, takhyîr, maupun wadh‘i. Dari definisi di atas dapat disimpulkan bahwa hukum syariat harus digali atau bersumber dari khithaab al-syaari’ (dalil syariat, yakni al-Quran, Sunnah, Ijma Shahabat, dan Qiyas). Hukum syariat tidak boleh digali dari fakta maupun kondisi yang ada. Pasalnya, penetapan hukum syariat (wajib, sunnah, mubah, makruh, dan haram) mesti merujuk kepada perintah Syaari’ (pembuat hukum) bukan merujuk kepada realitas. bersambung— #32. Dikirim oleh Abdusssalam pada 09/09 09:16 AM Dari definisi di atas dapat disimpulkan bahwa hukum syariat harus digali atau bersumber dari khithaab al-syaari’ (dalil syariat, yakni al-Quran, Sunnah, Ijma Shahabat, dan Qiyas). Hukum syariat tidak boleh digali dari fakta maupun kondisi yang ada. Pasalnya, penetapan hukum syariat (wajib, sunnah, mubah, makruh, dan haram) mesti merujuk kepada perintah Syaari’ (pembuat hukum) bukan merujuk kepada realitas. Sedangkan realitas (fakta) diposisikan sebagai obyek yang dihukumi (manath al-hukm), bukan sebagai sumber hukum (mashdar al-hukm). Hukum syariat juga tidak bisa diubah-ubah maupun disesuaikan dengan realitas yang berkembang di tengah-tengah masyarakat. Sebaliknya, realitas masyarakat justru harus diubah dan disesuaikan dengan syariat. Dan inilah misi diutusnya Rasulullah saw dan urgensi ditetapkannya hukum Islam. Rasulullah saw diutus oleh Allah swt untuk mengubah realitas jahiliyyah menuju realitas Islamiy. Nabi Mohammad saw diutus tidak untuk membenarkan atau menyokong realitas jahiliyyah. Sebaliknya, beliau saw diutus untuk mengajak manusia meninggalkan realitas jahiliyyah, dan mengubahnya menjadi realitas yang Islamiy. Perhatikan firman Allah swt berikut;

‫فل وربك ل يؤمنون حتى يحكموك فيما شجر بينهم ثم ل يجدوا في أنفسهم حرجا ِما قضيت وي َلموا تسليما‬ ً ِْ َ ُ ّ‫َ َ َ َ ّ َ َ ُ ْ ِ ُ َ َ ّ ُ َ ّ ُ َ ِ َ َ َ َ َ ْ َ ُ ْ ُ ّ َ َ ِ ُ ِ َ ْ ُ ِ ِ ْ َ َ ً م ّ َ َ ْ َ َُس‬ ”Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa keberatan dalam hati mereka terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya”.[TQS An Nisaa’ (4):65] Ayat ini dengan sharih menyatakan wajibnya kaum Muslim merujuk keputusan Nabi saw (sunnah) dalam setiap perkara yang mereka perselisihkan (fiimaa syajara bainahum), bukan kepada realitas kekinian. Seandainya realitas absah digunakan sebagai rujukan untuk menetapkan hukum, tentunya kita tidak akan diperintahkan untuk merujuk kepada keputusan Nabi. Di ayat yang lain, Allah juga memerintahkan kaum Mukmin untuk berhukum dengan hukum Allah swt dan RasulNya; ‫وأن احكم بينهم بما أنزل ال ول تتبع أهواءهم‬ ْ ُ َ َ ْ َ ْ ِ َّ َ َ ّ َ َ ْ َ َ ِ ْ ُ َ ْ َ ْ ُ ْ ِ ََ ُ “Hendaklah kamu putuskan perkara diantara mereka dengan hukum-hukum yang telah diturunkan Allah, dan janganlah kalian ikuti hawa nafsu mereka.”[TQS Al Maidah (5):49]

Ayat ini memerintahkan kaum Muslim untuk menghukumi realitas berdasarkan hukum-hukum yang telah diturunkan Allah, sekaligus melarang kaum Muslim berhukum dengan hawa nafsu. Pada ayat lain juga dinyatakan dengan sangat jelas; ‫ألم تر إلى الذين يزعمون أنهم ءامنوا بما أنزل إليك وما أنزل من قبلك يريدون أن يتحاكموا إلى الطاغوت وقد أمروا أن يكفروا به ويريد الشيطان أن يضلهم ضلل بعيدا‬ ً ِ َ ً َ َ ْ ُ ِّ ُ ْ َ ُ َ ْ ّ ُ ِ َُ ِ ِ ُ ُ ْ َ ْ َ ُ ِ ُ ْ َ َ ِ ُ ّ َِ ُ َ َ َ َ ْ َ َ ُ ِ ُ َ ِْ َ ْ ِ َ ِ ْ ُ َ َ َ ْ َِ َ ِ ْ ُ َ ِ َُ َ ْ ُ َّ َ ُ ُ ْ َ َ ِ ّ َِ َ َ ْ ََ ”Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang mengaku dirinya telah beriman kepada apa yang diturunkan kepadamu dan kepada apa yang diturunkan sebelum kamu? Mereka hendak berhakim kepada thaghut, padahal mereka telah diperintah mengingkari thaghut itu. Dan syaitan bermaksud menyesatkan mereka (dengan) penyesatan yang sejauh-jauhnya”.[TQS An Nisaa’ (4):60] Ayat ini mencela orang-orang yang berhukum kepada selain hukum syariat (thaghut). Salah satu pengertian dari thaghut adalah hukum yang dibuat oleh manusia tanpa merujuk kepada alQuran dan Sunnah. Seandainya hukum boleh ditetapkan tidak berdasarkan dalil syariat –al-Quran dan Sunnah, serta yang ditunjuk oleh keduanya—, niscaya tidak akan ada celaan (dzam) dari Allah swt atas perbuatan tersebut. Sedangkan pada ayat itu jelas-jelas ada celaan bagi orang-orang yang menetapkan hukum tidak merujuk kepada al-Quran dan Sunnah. bersambung—#33. Dikirim oleh Abdusssalam pada 09/09 09:21 AM Melihat kiprah perjuangan kawan-kawan di JIL, kita bisa menarik kesimpulan sederhana bahwa (1) perjuangan JIL bukanlah aspirasi umat Islam karena selama ini JIL cenderung “ribut” melihat umat non-Islam yang diperlakukan dengan sedikit tidak “manusiawi” oleh segelintir umat islam tetapi tidak pernah “ribut” bila melihat umat islam “dimurtadkan” secara paksa di beberapa daerah. ini jelas menunjukkan bahwa JIL tidak liberal dan netral, tetapi diintervensi oleh kepentingan kelompok di luar islam. (2) pernyataan JIL bahwa kebenaran bisa datang dari mana saja ternyata tidak sepenuhnya dipegang teguh oleh JIL karena mereka sering juga menyalah2kan pendapat kelompok Islam lain, padahal JIL juga tidak memperoleh legitimasi dari langit untuk berbuat seperti ini. (3) JIL adalah organ yang reaktif terhadap isu-isu yang menyangkut umat Islam. JIL akan sangat suka melihat ada ajaran agama Islam yang diselewengkan ketimbang memperbaiki saudara-saudaranya yang berbuat maksiat, karena penyelewengan ajaran Islam adalah komoditas bagi JIL untuk meraup banyak dana dari asing. (4) JIL bukanlah organ yang inklusif karena bahasa yang digunakan dalam “dakwah” JIL adalah bahasa yang elitis yang hanya bisa dipahami oleh kelompok yang “dekat” dengan pemikiran filsafat. jadi kalau pihak JIL menyatakan bahwa target perjuangan mereka adalah memberi pencerahan kepada semua golongan, ini adalah pernyataan yang tidak bisa dipertanggungjawabkan. #34. Dikirim oleh dion pada 09/09 10:01 AM Alhamdulillah, saya baru mendapat wawasan lagi, saya sangat tertarik dengan pola pikir atau cara fikir dari anda semua, saya ingin sekali bergbung dalam hal mencari ilmu, apakah boleh. karen dalam benak saya semakin kita mempumyai refrensi yang beragam, maka semakin dewasa kita dalam bertindak. saya harap saya bisa untuk ini. syukran. Assalamu’alaikum wr wb. Saya ada di, zo_el@ymail.com saya sangat mununggu akan ini…...

#35. Dikirim oleh Muhammad Zulfikar pada 09/09 04:50 PM bung ulil tentu ingat ungkapan seorang filsuf perancis, rene descartes, yaitu cogito ergo sum = aku berpikir maka aku ada (http://id.wikipedia.org/wiki/Rene_Descartes). celakanya hanya sedikit orang, khususnya di bumi indonesia tercinta, yang mau menghargai anugerah besar TUHAN ini, yaitu akal budi yang memampukan kita untuk “berpikir” hingga sampai saat ini kita pun dimampukan untuk tetap ‘survive.’ jadi, bung ulil, teruskan perjuangan jil sehingga banyak orang yang melek pikir! ever onward no retreat! #36. Dikirim oleh adi pada 09/09 06:24 PM assalamualaikum… kang Ulil yang terhormat, sungguh hati kami sangat tersakiti karena perseteruan di antara saudara-saudara seiman kami… mengapa kita semua tidak mencoba untuk ‘berkaca’ dan introspeksi diri atas segala kelemahan dan ‘kebodohan’ kita masing-masing bukan malah mencari-cari kesalahan saudara kita. Mengkritisi yg bersifat produktif & konstruktif memang sangat dibutuhkan untuk kemajuan umat Islam tapi apakah kita sudah melakukan itu semua dengan niatan lillahi ta’ala? Ingat! diluar sana sudah terjadi konspirasi tingkat tinggi & luar biasa solidnya untuk meluluh-lantakkan persaudaraan kaum muslimin, mengapa kita tidak juga tersadarkan??? astagfirullah, semoga Allah SWT membimbing hati-hati ini untuk tetap bersatu dan istiqamah di jalan-Nya wassalam #37. Dikirim oleh vea pada 10/09 04:48 AM yang jadi masalah kayaknya itu definisi khilafah ya? Padahal dalam hadist, yang khilafah ‘ala minhajin nubuwwah yaa cuma yang empat itu…sedangkan setelahnya..dimungkinkan menjadi mulkan adzim dan mulkan jabbariyah. dan terakhir akan kembali menjadi khilafah. Jadi, mengambil contoh ada kekhilafahan yang kejam bukan cara yang tepat. Kalau begitu, sama saja donk, tidak ada satupun sistem di dunia ini yang bersih dari kekejaman untuk menegakkan ‘sistem” mereka. Suharto dengan “demokrasi Pancasila"nya, didahului oleh demokrasi terpimpin-nya Sukarno. Apa semua demos itu menghasilkan kesejahteraan dan bebas tirani?

Sehingga, agar ide khilafah menjadi ide yang absolut kebenarannya, hendaknya khilafah ini adalah khilafah yang benar bersendi alquran dan sunnah, sehingga tidak menjadi yang diceritakan Ulil. Namun demikian, secara pribadi saya tidak terlalu mementingkan bentuk. #38. Dikirim oleh Heru atmoko pada 10/09 06:18 AM Saya setuju dengan Kang Usup dan Kang Dion, saya perhatikan para punggawa JIL selalu menyoroti tentang “kekerasan” yg dilakukan oleh segelintir umat Islam kepada umat lain. Sementara ada banyak pemurtadan dimana - mana tetapi JIL tidak bereaksi sama sekali. Pemurtadan itu ada Kang Ulil. Perlu diketahui, tidak ada pemurtadan yang dilakukan secara kasar (Ini kan milenium ketiga). Pemurtadan diselubungi dengan dalih sumbangan sosial atau aktivitas sosial. Atau mungkin pemurtadan itu adalah salah satu bentuk toleransi kerukunan antar umat beragama? Apa tanggapan JIL mengenai Ahmadiyah yg jelas2 tidak mengakui Muhammad sebagai Rasul mereka, tetapi tetap ingin diangap sebagai bagian dari agama islam? Mohon pencerahan. #39. Dikirim oleh Yudha pada 10/09 07:12 AM assalamualaikum Saya setuju apa yang diutarakan oleh saudari vea.. sekedar pemberitahuan, saya adalah salah satu anak muda islam yg terenyuh melihatsepak terjang para ulama <orang berilmu> islam yg saling perang statement malah ada yg berbau fisik.. marilah kita sama-sama berbuat yg terbaik untuk agama kita,bercermin diri dan menjaga sikap adalah salah satu perbuatan baik itu. islam butuh orang-orang seperti itu. wassalam. Sebuah kritik yg sangat tajam shg kita tahu proyeksi Hizbut Tahrir dalam konteks dalil keagamaan telah terjadi deviasi yg signifikan. Benar2 mencerdaskan mas Ulil…terus berkarya demi kecerdasan spiritual umat muslim. #41. Dikirim oleh Yaris Saputra pada 10/09 01:22 PM Bung Ulil , terimakasih anda telah memberikan suatu pandangan. Saya berharap , teman - teman JIL dan siapa saja yang melakukan dakwah atau apapun namanya tidak terbawa oleh emosi yang pada akhirnya membawa pada suatu fase pemaksaan kehendak. Kita sebagai manusia bisanya hanya memberi pencerahan ataupun masukan ,masalah pencerahan itu diterima atau ditolak itu sudah bukan wewenang dari kita, itu merupakan wewenang dari Allah. Bukankah setan juga di beri kewenangan dari Allah untuk menggoda manusia ? #42. Dikirim oleh Ivan pada 11/09 07:46 AM Buat rekan - rekan di JIL khususnya Kang Ulil, mungkin bisa buat bahan penelitian mengenai kerajaan - kerajaan Islam yang ada di Nusantara ini. Bagaimana keberadaannya saat ini ? Kerajaan mana saja yang masih eksis ? Mungkin bisa membantu Kang Ulil dalam berpikir mengenai apakah sistem khilafah cocok di bumi Nusantara ? #43. Dikirim oleh Ivan pada 11/09 07:57 AM - kok pd repot. hukumnya kan sdh jelas, masalah ibadah dan akhlak ya ikuti konteks ajarannya, sedang masalah duniawi ya silakan diatur sendiri. soal ngatur negara? ya silakan atur sendiri. gitu aja ko repot! - negara kita pancasila, kalo kita mau kita bisa saja sholat & puasa sepuasnya, tak ada gangguan kan? tapi nyatanya kita males2an & ibadahnya tdk komplit. tanya kenapa? tentu bkn krn lambang garudanya. - tanya pada sodara2 kita yg tinggal / kuliah di negara2 kafir, kalo mereka mau mereka bisa saja sholat & puasa sepuasnya, tak ada gangguan kan? tapi klo nyatanya pada males2an & ibadahnya tdk komplit. tanya kenapa? tentu bkn krn hdp di negara kafir - tanya pada sodara2 yg tinggal di negara2 arab, apa di sana tak ada diskotik, film porno, dan musik metal? tanya kenapa? artinya, tanpa harus bernafsu menguasai dunia, kita sebenarnya jg bisa ibadah sepuasnya to? kalopun tetep ndablek ibadahe ya memang krn orangnya aja yg gak bener, jgn nyalahkan setan ato barat lah. kaya anak kecil aja, dikit2 ngadu. trus kalo sdh terwujud kilafah tsb, apa ya kamu langsung pada rajin ibadahnya? #44. Dikirim oleh ismail pada 11/09 10:29 AM Maaf saya cuma mau tanya, ntar kalo negara kilafah berdiri semua barang yang buatan barat ato nonmuslim harus dimusnahkan?

Kalo emang Tuhan cuma sayang ama umat tertentu saja, kenapa orang2 kafir diberi kelebihan dalam mencipta, ada yang bisa bikin listrik, bikin piring makan, kain, internet, kacamata dsb. Dan dipakai oleh semua orang tanpa lihat suku dan agamnya. Kenapa Tuhan menciptakan hujan dan panas kepada setiap orang yang benar maupun oang yang tidak benar. Kenapa Ada kebudayaan yang bermacam-macam didunia ini, apa jadinya jika orang di jepang berjilbab semua, apakah ada yang salah dalam ciptaan Tuhan tentang kebudayaan. #45. Dikirim oleh Tjeng Yusup pada 12/09 02:24 AM Kalo cuma theory doank sih , doktrin negara komunis jauh lebih bagus drpd teori negara khilafah. Theory sih bagus-bagus saja. Prakteknya hancur babak belur. Orang2 yang begitu mendukung negara khilafah ataupun memimpikannya hanya sekelompok kodok UTOPIS yang cuma bisa bernyanyi krok..krok..krok… Kenapa nga kasih gelar nabi ke stalin atau lenin saja, toh cita-cita mereka tidak kalah mulia drpd ide negara khilafah. Ahhhh… apa sih bagusnya negara berdasarkan agama, emang menjamin penduduknya masuk surga. #46. Dikirim oleh abubakar pada 12/09 08:59 PM asswrwb,betul bang ulil saya sependapat bahwa sejarah khilafah memang tidak bersih dari noda korupsi dan dosa politik.ga ada jaminan sebagai wadah islam rahmatan lil ‘alamin.tapi yg patut saya acungi jempol,HTI berani “bermimpi”,anda dan JIL tidak berani sama sekali.Sungguh berat menanggung amanat melaksanakan agama Islam ini ( apalagi kalau dilihat dari tekstualis ),yg akan menjadi Islam sepertinya tidak populer,tidak lincah dan tidak akomodatif terhadap modernisasi dan isu-isu global.Tapi kita bisa memilih,kita punya timbangan yaitu Qur’an dan Hadist dengan tafsir yang paling moderat sekalipun ( tidak tafsir bebas ) untuk menentukan mana yang bener dan mana yang salah,mana yang tepat dan tidak tepat untuk kemajuan / keselamatan ummat. Bolehlah kita pake HP buatan Finlandia atau Britania Raya karena kita ga mampu buat,tapi untuk “memasukkan” fakta sosial sebagai pertimbangan penetapan hukum dalam Islam ( saya yakin anda sangat menguasai teori konstruksi sosial Barat )saya pandang sangat gegabah,memandang Islam hanya dari fenomena sosio-politik saja.Suka atau tidak suka,Islam kita punya wajah keras terhadap upaya penghancuran ide-ide dasar ketauhidannya,prinsip-prinsip aqidah dan syariah.Islam memandang dunia adalah ladang berbagi rezeki dengan siapa saja.agama apa saja,suku dan negara mana saja,hidup berdampingan dengan damai.Tapi tidak dengan berbagi kebenaran seperti yang anda dan pendukung anda telah lakukan.Disitulah bedanya anda dengan HTI,anda berbagi kebenaran dengan sekuler dengan mengkhianati ISlam,HTI memperjuangkan kebenaran… #47. Dikirim oleh dahlan pada 13/09 04:09 AM sebuah aturan itu semuanya pasti mengikat orang yang menganutnya…. #48. Dikirim oleh pahlev pada 13/09 04:26 AM Assalamu alaikum wr wb gini ya Bang, kalau misalnya HTI benar-benar menginginkan islamisasi Indonesia (Aplikasi syariat Islam), terus terang saya sangat tidak setuju mengingat Indonesia multi-kultural (terdiri dari banyak daerah yang memiliki budaya masing-masing), kalu hal itu terjadi budaya atau kebudayaan Indnesia akan hilang secara sengaja atau pun tidak, karena di negara kita budayanya sebagian kurang serasi dengan syariat Islam itu sendiri, ya kita lihat saja budaya apa kira-kira yang kurang pas. tapi saya teringat akan kalimat ushul fiqh yang berbunyi “al’urfu hukmun” kira-kira begitu. dari kalimat itu sudah jelas bahwa teks akan mengikuti konteks yang ada. akan tetapi bagaimana kalau budaya itu sudah benar-benar di luar batas, katakanlah budaya itu sangat tidak manusiawi dan sangat jauh dari teks Qur’an dan Sunnah, apa masih berlaku katakata budaya sebagai spesifikasi dari agama (teks Qur’an dan Sunnah)? terima kasih #49. Dikirim oleh M. SauQi pada 13/09 03:46 PM 60 tahun lebih kita merdeka, tapi semakin hari semakin terpuruk. Saya rasa tidak ada salahnya kalau islam liberal, islam sekuler, islam nasionalis, islam feminisme etc yang sudah diberi kesempatan sejak awal merdeka untuk memimpin dan mengatur rakyat indonesia untuk mengalah dulu. Sudah saatnya “islam” kita gunakan sebagai dasar untuk mengatur negeri ini.Kadangkadang dengan cara berpikir simple kita akan dapat menyelesaikan semua masalah negeri ini. Konsepnya Al qur’an, contoh pelaksanaannya ikuti Muhammad SAW. Orang-orang dengan cara berpikir seperti mas ulil sudah sangat mendominasi negeri ini sejak lama. Tapi ternyata belum bisa membawa kebaikan untuk negeri ini. #50. Dikirim oleh imam pada 14/09 02:17 AM Buat Tjeng Yusup, Kalau nanti HT menjadi pemimpin dunia dengan konsep khilafah dan hukum Islamnya, maka akal hanya boleh digunakan untuk memahami Al Quran dan Al Hadits, karena diharamkan memahami fenomena budaya (yang menurut mas Ulil berkembang sekan-akan tanpa batas), kita tidak boleh menggunakan tehnologi yang diciptakan barat/kafir. Dan seorang khilafahnya akan memimpin dan mengunjungi rakyatnya dengan menggunakan onta atau kuda untuk mengejar perempuan yang tidak pakai jilbab dan orang-orang yang tidak sholat kalau mendengar adzan, paham…....??? #51. Dikirim oleh iwan pada 14/09 07:22 AM Salam Pembebasan, Buat saudara-saudaraku yang masih konsisten terhadap ‘isu daulah Islamiyah’, mohon untuk melakukan studi historis. Mengapa Ali ra matinya dibunuh? mengapa jenazah Muhammad saw ‘terlambat’ dikebumikan? semua karena kepentingan politik kan? Formalisme Islam bukan solusi, tolong jangan gadaikan Islam untuk kepentingan politi-kekuasaan sesaat, suwun.

#52. Dikirim oleh Muhammad Fakhrial Aulia pada 15/09 01:46 AM Belajar pada tewasnya 21 orang pengantri zakat di jatim. Pertama, ini membuktikan bahayanya orang yg beribadah tanpa mempelajari aspek sosial. Mungkin pak haji gofur hanya berpikir ,“Jika saya berzakat kewajiban saya sbg muslim sudah lunas, dan jika saya kerjakan di bulan ramadhan pahala saya berlipat, dan jika saya bagi tgl 15 pertengahan puasa ganjarannya berlipat pula, dan jika orang berduyun-duyun ke rumah saya maka mulia pula keluarga saya…dan target surga di depan mata..” tak ada yg salah dr pemikiran ini. Kedua, dia sama sekali tak memikirkan aspek sosial krn menurutnya tak ada hubungannya dg ibadah dan pahala, bahwa nafsu mencari ganjaran dg cara seperti itu sangat berbahaya. Akhirnya banyak yg tewas, dan coba anda pikirkan nasib keluarga yg ditinggalkan? atau malah anda berpikir “ah mereka mati syahid?” jadi no problem, kan tujuannya ibadah. Ketiga, pak haji gofur kurang percaya dg sistem & lembaga amil? oke, tapi kenapa tidak langsung terjun ke masyarakat secara spontan ke daerah yg membutuhkan saja? sehingga tdk terjadi konsentrasi masa? wong pembagian BLT yg disuport pemerintah & aparat saja memakan korban. Atau jangan-jangan yg pak haji pikirkan cuma…“yg penting ibadah titik, peduli amat sama orang2 fakir yg pasti dekat sama kekufuran” Keempat, aspek sosial jelas sangat2 wajib dipelajari dan diperhatikan dlm setiap ibadah. dan itu sudah dilakukan oleh orang2 sebelum kita dijaman internet ini, contohnya para wali, nabi, dan rasul. bukankah setiap wahyu itu datang diawali tdk secara ‘jatuh’ dari langit tetapi setelah ada kejadian lalu rasul mendapat wahyu. #53. Dikirim oleh azzam pada 17/09 12:08 AM Kalau kita cermati, sebenarnya pemahaman tekstualis atas berbagai teks agama, Alquran maupun Alhadits, tak hanya terjadi pada masalah khilafah. Banyak hal juga masih sentral teks. Dan, celakanya ini menjadi pemahaman yang nyaris tak tersentuh. Misalnya terkait dengan ayat-ayat pernikahan. Mungkin, kawan-kawan JIL juga perlu memberi respons soal teks lain yang banyak sekali bertentangan dengan kondisi sosial (konteks) yang ada. Suwun #54. Dikirim oleh ahmad taufiq pada 17/09 03:06 PM Assalamu Alaikum Wr. Wbr. Saudara (I) intinya adalah bagaimana hukum-hukum Allah ( Hukum syariat) bisa ditegakkan dipermukaan bumi ini tanpa memilah dan memilih. Mari semua kembali kepada Al-Qur’an karena al-qur’anlah petunjuk teknis kita dalam berbuat #55. Dikirim oleh Anwar pada 18/09 08:11 AM sebagai orang awam jujur aja gw bingung masalah kilafah… yang dimaksud kilafah itu apa sih?trus parameternya sebuah kilafah itu apa? apakah kita pernah punya kilafah?klo pernah tahun berapa terakhir kali kita punya? #56. Dikirim oleh dendy pada 18/09 10:41 AM Teori Hisbut Tahrir dengan seorang Khilafah, maka umat Islam akan menjadi satu internasional, sebenarnya telah ada diciptakan Allah, yaitu Ahmadiyah, sebagaimana Katholik didalam kristiani setelah umat Yahudi Musa. Teorinya memenuhi Al Baqarah (2) ayat 87 yang sama dengan a sesuai Al Fath (48) ayat 29 dan Ash Shaff (61) ayat 6,7,8,14, ialah sifat tunas injil Nasrani dari tanaman sifat Taurat Yahudi dan berlaku sampai kiamat, sedang tunas sifat Nasrani Nuh dari tanaman Adam asal-usul agama Buddha sesuai Maryam (19) ayat 58 dan tunas sifat Injil Nasrani Luth dari tanaman sifat Taurat Ibrahim asal-usul agama Hindu sesuai Al Hajj (22) ayat 43 yang kesemuanya terdukung oleh Ali Imran (3) ayat 31,32,33,34, artinya semuanya sifat Kabil/Taurat/Yahudi membunuh sifat Habil/Injil/Nasrani, sesuai Al Maidah (5) ayat 27-32, sampai kiamat artinya sampai hari habis gelap terbitlah terang berderang ilmu pengetahuan agama sesuai Al Qiyamah (75) ayat 6-15, Al Baqarah (2) ayat 257, sampai datangnya yang wajib ditunggu-tunggu akan tetapi dilupakan ialah Hari Takwil Kebenaran Kitab 100 tahun setelah Ahamadiyah pada era globalisasi di Indonesia sesuai Al A’raaf (7) ayat 52,53. dan Hari Al Quran dijadikan dalam bahasa asing ‘Indonesia’ selain dalam bahasa Arab sesuai Fushshilat (41) ayat 44 atau Hari Al Quran disempurnakan pewahyuannya, berkat do’a ilmu pengetahuan agama oleh Soegana Gandakoesoema memenuhi Thaha (20) ayat 114,115. Artinya datangnya Hari Kebangkitan Ilmu Pengetahuan Agama sesuai Al Mujaadilah (58) ayat 6,18,22, atau Allah menyempurnakan kondisi dari agama disisi Allah adalah Islam menuju kepada Agama Allah dari dahulu kaffah sesuai Ali Imran (3) ayat 19,81,82,83,85, Al Maidah (5) ayat 3, Al Hajj (22) ayat 78, Al Baqarah (2) ayat 208 dan An Nashr (110) ayat 1,2,3 dan berbondong-bondong masuk menjadi satu Agama Allah. Teori pelaksanannya baca Buku Panduan terhadap kitab-kitab suci agama-agama berjudul “BHINNEKA CATUR SILA TUNGGAL IKA”, dengan lampiran “SKEMA TUNGGAL ILMU LADUNI TEMPAT ACUAN AYAT KITAB SUCI TENTANG KESATUAN AGAMA (GLOBALISASI)” Penulis: Soegana Gandakoesoema, Penerbit: GOD-A CENTRE. Buku tersebut tersedia ditoko buku K A L A M JL. Raya Utan Kayu 68-H, Jakarta 13120, Telp. 62-21-8573388. Wasalam, Soegana Gandakoesoema, Pembaharu Persepsi Tunggal Agama millennium ke-3 masehi. #57. Dikirim oleh Soegana Gandakoesoema, Pembaharu Persepsi Tunggal pada 18/09 07:48 PM wah diskusinya seru banget….yang satu pro khilafah yang satu kontra khilafah….kalau menurut saya yang orang awam…..selama indonesia merdeka selama 63 tahun ya gini2 aja…malah semakin kisruh…..yaa kenapa tidak dicoba aja model khilafah yang bersumber dari islam sendiri…siapa tahu lebih baik….toh bentk kekhalifahan itu sendiri pernah ada…bukan hanya dongeng atau mimpi #58. Dikirim oleh ummuhumaira pada 19/09 10:01 AM

ASs Semua yg terjadi di muka bumi ini atas ijin ALLAH, runtuhnya khilafah Islamiyah pun atas ijin allah, karena allah tdk menghendaki tiran, dan praktek2 anti sosial yg di terapkan secara sistematis dlm khilafah Islam benar2 melampaui batas, sehingga Tuhan pun mencabut mandatnya. Kalau sekarang sekelompok orang ingn bernostalgia ke zaman lampau untuk mendirikan khilafah itu, sama saja mengulang kesalahan yg sama untuk ke-dua kalinya. tidak ada satu ayatpun dlm Al-Quran yg menyerukan berdirinya khilafah Islamiyah. Pendapat saya Khilafah itu adalah Bid’ah yg tidak perlu untuk dijalankan. #59. Dikirim oleh M. RIZAL pada 20/09 06:18 AM Negara Khilafah yg ingin dibangun oleh HTI, menurut saya cuma sekedar igauan orang2 yg maaf kurang ber-akal sehat, mimpi di siang bolong kalau itu mau mereka wujudkan disini. Alasannya dr persepektif saya sederhana aja, : Dibawah Nabi dan dua Khalifah Pertama, Abu Bakar dan Umar, keutuhan negara dan solidaritas ummat itu menyatu dan nyata, khalifah ketiga, keutuhan negara, sudah goncang, begitupun masyarakatnya, sedangkan dibawah Ali negara dipecah-belah, begitu juga masyarakatnya. Tetapi setelah itu dimulai pd pemerintahan Umayyah dan selanjutnya ,menurut saya itu sudah bukan lagi instrumen Islam, ia memiliki tujuannya sendiri dan mempertahankan kepentingan “pribadi” mereka sendiri, apalagi seperti yg kita tahu itulah awal mula munculnya sekte-sekte dalam agama ini yg saling merasa benar. Hampir semua pemerintah tersebut bersifat sektarian, nah kalau HTI memang bermimpi menghidupkan kembali Sistem Khalifah akan mengacu ke sekte yg mana, dari begitu banyak sekte yg ada saat ini. Memang ada adagium “dlm islam tdk ada perbedaan antara agama dan negara” (apakah ada dasar hukumnya ?) , pertanyaannya apakah masih relevan dgn kondisi saat ini yg menganut paham negara bangsa. Silahkan HTI mewujudkan itu mudah-mudahan bisa terwujud!Walaupun menurut saya itu hanya omong-kosong penganut sekte HTI saja. Tidak ada yg wajib diikuti Kecuali Allah dan Rasul-Nya, walaupun saya tahu, HTI pasti mengatakan berpegang pada Al-Qur’an dan Sunnah juga. Cuma pesan saya janganlah membuat kekacauan di negara ini dengan merusak para pemuda-pemudi muslim yg mungkin awam dalam masalah agama mereka, Kasihanilah Mereka, biarkan mereka ber-Islam dgn budaya yg mereka miliki, bukan dgn cara berpikir Impor semodel HTI ini, negara ini sudah repot ngurusin fundamentalis lokal semacam penyembah Kartosuwiryo dgn NII-nya. Bertaubatlah wahai pengikut HTI, sesungguhnya ALLAH SWT itu Maha Penerima Tobat. Wassalam @imam: Islam liberal sudah pernah memimpin negara ini?? Mimpi kali yee. Gerakan ini baru nongol 1990-an. Ada lagi anda menyebut “Islam sekuler” (barang apaan nih?). Anda ingin “Islam” yang memimpin negara ini. Maksud situ Islam wahhabi ya? Atau Islam salafiy, yg ngakunya mau balik ke zaman Nabi? Bisa2 Nabi saw nangis dari langit lapis ke-7 lihat umatnya malah pengen balik ke zaman beliau. Kok bisa-bisanya anda ngaku2 Islam asli, padahal cuma mengandalkan buku2 tafsir/ riwayat kuno atau ajaran tokoh2 kontroversial dari abad ke-19? #61. Dikirim oleh jaka pada 22/09 02:03 PM saya jadi bingung sama kasus yang sunan Kudus bangun masjid itu. jadi sebenarnya kita membuat kasus itu sebagai dalil ataukah seharusnya kita mencari dalil apa yang membuat sunan Kudus membangun masjid seperti itu? #62. Dikirim oleh dhanz pada 23/09 04:55 AM asslkm, perbantingan sejarah dan fakta sosial jelas-jelas menunjukan bahwa sistem islam lah yang sebenarnya paling pantas berada pada Bumi ini, dalam sejarah dan literatur manapun, tidak pernah ada pemerintahan islam yang mendiskreditkan agama lain (seperti yang ditakuti oleh kalian), dan terbukti sistem islam yang paling lama menguasai dunia selama 14 abad dengan peradaban yang maju. Fakta sosial juga menunjukan bahwa masyarakat sudah menginginkan sistem khilafah dan sistem masyarakat yang islami. majunya sistem perbankan syariah, menangnya partai GOLPUT merupakan signal yang positif. #63. Dikirim oleh gege pada 24/09 09:25 AM assalamu;alaikum… khilafah islam itu sudah pernah diterapkan oleh Rasulullah SAW ketika beliau masih hidup.bahkan sebelum Abu bakar diangkat sebagai Khalifah. bahkan pada saat itu Islam lah yang memimpin peradaban dunia.BAYANGKAN PADA SAAT ITU ISLAM TELAH MEMIMPIN 2/3 DUNIA!!!! hanya saja beluM sampai ke Indonesia. karena pada saat itu khilafah islam telah runtuh tepatnya tgl 3 maret 1924 di turki.dikarenakan ada sekelompok orang yang ingin menghancurkan islam..tapi SAYA YAKIN SEYAKIN-YAKINNYA suatu hari nanti cepat atau lambat khilafah islam pasti akan tegak kembali. ini bukan tipuan bukan juga khayalan apalagi utopis.tapi ini sudah tertera dalam Al-quran dan di dalam hadits pun sudah dikatakan bahwa khilafah islam akan tegak kembali sesuai manhaj kenabian.(maaf saya lupa haditsnya riwayat siapa)tapi saya pernah baca hadits itu dan sanadnya shahih.Jadi sebenarnya Khilafah Islam itu pernah di terapkan di bumi ini.bahkan kalau khilafah diterapkan insyaAllah rakyat baik muslim maupun nonmuslim akan merasakan nyaman dan aman dalam naungam khilafah islam. kalau saudara cogito menanyakan bagaimana menguasai IPTEK?tidak tahukah Anda pada jaman kejayaan islam dulu bahwa yang menguasai semua bidang ilmu adalah islam?tapi kenapa barat bisa lebih unggul dari pada umat islam?karena waktu itu perpustakaan islam terbesar di Andalusia di bakar habis dan sebagian ilmu dari islam diadopsi oleh barat.di tambah lagi umat islam tidak punya pemimpin yang bisa mengarahkan umat islam dan menjaga akidah umat. coba kalau umat islam punya seorang pemimpin, maka tidak akan terjadi YANG NAMANYA perpecahan antara umat islam. karena umat islam bagaikan satu tubuh. baik itu umat islam yang ada di indonesia maupun di seluruh pelosok belahan dunia manapun.kalau Anda hanya mengandalkan pada IPTEK saja itu tidak akan cukup karena musuh yang kita hadapi cukup besar dan dia punya pengaruh sangat besar terhadap dunia. kalau anda sekalian mau tahu ternyata umat islam sekarang sedang dijajah oleh barat tapi dengan PERANG PEMIKIRAN maka dari itu musuh kita harus di lawan dengan PEMIKIRAN lagi.tentu saja dengan PEMIKIRAN ISLAM.dan melawannya dengan kekuatan yang lebih dahsyat lagi.apalagi kalau bukan KHILAFAH ISLAM. Islam lah satu2nya solusi bagi permasalahan di negara kita. wahai umat islam dimanapun berada sadarlah….......!!!!!!!!!! mari kita kembali ke jalan yang benar yakni AL-QURAN dan HADITS.serta TEGAKNYA SYARIAT ISLAM DI BUMI ALLAH INI. ALLAHU AKBAR!!!!!!!!!!!!!!!!! Salam Ukhuwah buat semuanya….. wallahu’alam…...jazaqillah…...

#64. Dikirim oleh sayyidah pada 24/09 04:05 PM Hare geneee khalifaaaah???? #65. Dikirim oleh Jun pada 26/09 05:54 AM Shaloom, Saat ini saya sering mendengar kotbah2 yang mendeskreditkan Isa dan peristiwa kelahirannya.Yang mulai mengkaburkannya dan mungkin suatu saat akan dibuang dari AL Quran. ISA lahir bukan dari hubungan sex suami istri, Isa lahir dari seorang perawan Al Quran mencatat itu. Sebagai mujizat yang ajaib. Allah mencipta manusia dengan tiga cara, Tanah, hubungan sex antara pria dan wanita dan FIRMAN “Kun Fayakun” Tolong dong banyak nabi yang harus dihormati dalam Islam karena mereka punya legitimasi dari Allah, Kenapa cerita sahabat Nabi Muhammad yang sering jadi rujukan moralitas? Jadi saya rasa wajar kenapa Yaser Arafat mau datang tiap perayaan Natal di Bethlehem, buka untuk sekedar formalitas belaka, tapi kesdaran penuh atas penghargaan kepada karya Allah dan keajaiban yang pernah terjadi di tanahnya Palestina. #66. Dikirim oleh Tjeng Yusup pada 26/09 03:53 PM Islam rahmatan lil ‘alamin, dulu pada saat Nabi Muhammad membawa Agama Islam, Dianggap asing oleh masyarakat pada waktu itu, tetapi ternyata Isl;am memang benar. Mari kita lihat kasus Galileo, pada saat menepis pendapat Aristoteles mengenai berputarnya matahari mengelilingi bumi. Hal ini dibantah oleh galileo, tetapi pendapat beliau di tolak oleh pendeta pada waktu itu. Padahal sekerang terbukti pendapat galileolah yang benar. kadang tanpa pengetahuan yang lebih, yang benar kadang juga menjadi salah. Untuyk itu kalau ingin belajar islam ya jangan di Amerika. #67. Dikirim oleh Asyam pada 27/09 09:19 AM mbokya kasihan dikit ma HTI, cobalah dikasi kesempatan menerapkan “Khilafah Islamiyah” dengan “syari’at Islam” tekstualnya di lingkungan RT dulu…. gmn…??? Kang ulil taktunggu pencerahan lainnya,, otre…. #68. Dikirim oleh Bop-O dQQ pada 27/09 09:30 AM ISLAM ADALAH AGAMA YG SAKIT,ARTINYA ISLAM PADA DIRINYA SENDIRI PENUH DENGAN GEJOLAK-GEJOLAK YG SALING BERTENTANGAN DALAM DIRINYA SENDIRI.ISLAM MINTA DAN TIDAK MAU DI KATAKAN AGAMA KEKERASAN,MINTA DI JULUKI AGAMA RAHMAT BAGI SEMUA,TAPI KENYATAAN DAN REALITA TIDAK SAMA.DAN ITU TERBUKTI DGN SEJARAH 4 KHALIFAH YG MASYUR YG SEJARAHNYA BERCECERAN DAN TRAGEDI YG BERDARAH-DARAH ALIAS PEMBUNUHAN YG KEJAM YG DILAKUKAN OLEH SESAMA MUSLIM.UMAT ISLAM MENJULUKI DIRI DAN AGAMANYA AGAMA YG DAMAI DAN RAMAH,TAPI MENGUCAPKAN SELAMAT HARI RAYA PADA UMAT AGAMA LAIN AJA HARAM…ANEH SEKALI ISLAM INI!! #69. Dikirim oleh ghofursolihin pada 28/09 05:24 AM mungkinkah yang dimaksudkan sebagai “khilafah” itu bisa dianalogikan sebagai “vatikan” #70. Dikirim oleh sukasrana pada 28/09 09:40 AM Saya tidak bengitu mengtahui masalah agama islam, tetapi kalau melihat sejarah, seperti aliran marxis aja bisa membangun ikatan negara yang luas meskipun sebelumnya kebanyakan negaranegara tersebut berbentuk kerajaan, negara-negara “demokratis” juga berkembang. Tetapi jika masyarakat sudah tidak menghendaki, satu persatu runtuh, komunis duluan sebentar lagi negara -negara “demokratis/kapitalis”. Jadi menurut saya bukan hal yang mustahil dan ‘berangan-angan’ jika kelompok ht berkeinginan me rebuild khilafah, karena memang sebelumnya sudah ada. dan ingat sejarah biasanya akan terulang kembali. kekuatan negara-negara zaman Rasul sekarang sudah mulai muncul lagi. Di barat ada Eropa/Amerika (Romawi) dan di timur Iran, India, Cina, jepang, Korea (Persia, India, Cina). Jadi menurut pandangan saya, kemungkinan khilafah itu tidak lama lagi akan terbentuk. #71. Dikirim oleh agus pada 30/09 07:01 AM Dear All, Saya sangat “bergairah” dengan pemikiran radikal yang disalurkan oleh HTI, JIL, Ahmadiyah dll. Menurut saya jika ruang lingkupnya hanya pemikiran dan bukan dengan aksi kekerasan seperti radikalisme yang dilakukan oleh radikal muslim di Pakistan, radikal kristen (dengan gerakan bom bunuh diri IRA di Irlandia) hingga radikalime liberal yang dilakukan oleh Amerika hingga membunuh ratusan ribu manusia di dunia maka semua pemikiran radikal ala HTI, JIL maupun Ahmadiyah sah-sah saja. “Gairah” tersebut menambah kreatifitas saya dalam berfikir mengenai agama Islam. Bagaimana pemikiran radikal HTI yang menjadikan agama islam lintas batas negara, maupun pemikirian radikal JIL yang tidak pernah terfikirkan oleh saya selama

ini bahwa Islam pun bisa menjadi Liberal. Jadi hemat saya, teruslah pemikiran radikalisme ini digulirkan tanpa adanya kekerasan seperti yang ingin dimulai oleh AKBB dan FPI. Karena radikalisme pemikiran inilah yang nantinya akan menambah khazanah umat Islam dalam berfikir tentang Islam itu sendiri. Wassalam, GBU #72. Dikirim oleh Ulil Imran pada 01/10 06:27 PM Cak Ulil, setelah baca artikel Anda sebenarnya point yang ingin Anda bantah/tentang dari HT adalah konsep khilafah Islam yang klo berhasil akan mengancam negara2 Liberal yang selama ini banyak ngasih dana ke JIL.Adapun masalah dalil mana yang harus didahulukan…maslahat sosial ato dalil syar’i, hanya hantaran saja. Tapi dari artikel itu bisa disimpulkan: 1. Ide khilafah Islam HT adalah Utopis. Tanggapan: UTOPIS adalah khayalan..sesuatu yang tidak mungkin terjadi karena tidak ada faktanya. Padahal klo belajar dari sejarah Islam.Khilafah Islam pernah ada..berarti bukan utopis doong. Demokrasi-Liberal yang diemban Cak Ulil CS belum pernah ada faktanya dan keberhasilannya…berarti UTOPIS doong ide ini. 2.Maslahat sosial lebih didahulukan dari teks dalil syar’i Tanggapan : Kira2 lebih maslahat mana sistem khilafah Islam yang menerapkan syariat Islam secara kaffah yang telah terbukti mampu memberikan kemaslahatan yang luar biasa kepada semua manusia (Islam,kristen,yahudi,dll) dengan demokrasi dan liberalisme yang ditawarkan cak Ulil CS? Padahal telah terbukti demokrasi ggasan utopis dan liberalisme telah membawa kehancuran sosial yang luar biasa.. KESIMPULANNYA: 1.Di lihat dari sudut dalil teks syar’i pendapat HT lebih kuat dari cak ulil(islib) 2.Dilihat dari sisi maslahat…konsep liberal yang diperjuangkan cak ulil CS telah gagal memciptakan kemaslahatan. JAdi konsep Khilafah HT yang layak dijadikan alternatif saat ini. #73. Dikirim oleh Cak Dur pada 03/10 02:38 AM Saya punya Nasehat buat hti segera dukung Sri Sultan beliau KALIFATULLAH sayidin penotogomo yang tersisa. #74. Dikirim oleh wahyu pada 05/10 10:29 AM ass. alhamdulilah, saya sangat brsyukur. ternyata husnudz dzan saya sama mas Ulil benar. mas ulil tidak benar2 seliberal yang mereka kira. buktinya masih tetap menggunakan “referensi” dan masih menggunakan teori ushul fiqh. kklo caranya begini, walaupun tidak semua pendapat mas ulil saya setujui, tapi masih bisa masuk ranah “ilmiah” karena msih punya kerangka brfikir dan masih di pertanggungjawabkan secara ilmiah. dalam artian masih layak untuk dijadikan bahan diskusi teman2 disini. tapi kenapa mas ulil selalu terkesan tidak utuh dalam memaparkan hujjah sehingga yang ada hanyalah natijah sebelum melewati proses muqaddimah? contoh konkret dalam pemaparan konsep maslahat dan dalalat al nushus ala al thufi, kaidah ala adah muhkmah, taghayyur al ahkam bi taghayyur al azminah wal amkinah. karena dalam ushul fiqh sendiri, setiap nushus tidak bisa di terapkan secara liar tanpa batas. pasti ada rambu, baik itu takhsis, bayan, qayd dan lainnya. ala kulli hal, muwaffaq insyaAllah. #75. Dikirim oleh ahsin pada 07/10 08:27 AM

Hukum Islam itu baik, itu dulu masih satu komando rasulullah dan sahabat rasulullah, kalau sekarang ya sudah ga bisa mas !? karena apa ? karena sekarang banyak orang yang pinter tapi keblinger yang hanya menganggap keyakinannya yang dianut yang paling benar?! kan bisa repot,bisa perang tiap hari,tergantung yang berkuasa siapa?!dan pesan sponsor,suni, wahabi, syiah, dan lain lain, yang berbeda beda aturannya, yang satu menganggap sunah yang satu menganggap bid’ah ,yang lainnya lagi menganggap bisa bid’ah bisa sunah apa nggak repot tuh, lebaran aja bisa berbeda, ada yang senin ada yang minggu, ada yang selasa, ada yang pakai husoli ada yang nggak, ada yang jenggotnya dipelihara dan lain lain belum lagi dengan umat yang lain, kalau menurut aku jangan memaksakan kehendak itulah yang sudah menjalankan hukum islam, dan aku yakin semua agama juga memerintahkan yang demikian itu,pokoknya jangan percaya simbol simbolah karena bisa menipu,yang terpenting jagalah dirimu dan keluargamu dari siksa api neraka seperti ajaran Al Quran. #76. Dikirim oleh bramono pada 07/10 10:20 AM Dari pada ribut-ribut tanpa hasil hanya bicara doang. Ada engga yang berani mengupas sistem-sistem yang zalim atau hukum-hukum yang zalim, atau yang merasa terzalimi untuk diceritakan sebagai literatur. Kemudian sama-sama merumuskan bagaimana menghentikan kezaliman dan mencegah kezaliman. Ada engga orang yang sanggup memimpin program untuk memastikan bahwa tidak ada satupun muslim yang terzalimi, memastikan tidak ada satu sistempun yang zalim . Adakah orang yang berani memimpin program penghentian kezaliman dimanapun muslim itu berada dan apapun bangsanya apapun sukunya dan berani menyatakan muslim itu tanggung jawab kita bersama. Apabila di suatu belahan bumi ada muslim yang dimarjinalkan atau didiskreditkan Adakah pemimpin yang berani memimpin program pengangkatan martabat muslim ? . Sebetulnya Kezaliman tidak boleh dilakukan walaupun terhadap bukan muslim, bahkan kezaliman tidak boleh dilakukan terhadap binatang, pohon, gunung, hutan dan bumi beserta isinya. #77. Dikirim oleh Citra pada 07/10 10:52 AM

Bravo… pokoknya Islam itu damai, bersahabat dan rahmatan lil ‘alamin. Gusti Alloh menciptakan makhluk untuk saling mengenal dan tentunya harus dengan toleransi bukan untuk merasa benar sendiri, saling menyalahkan, berbuat kasar dan merusak dengan dalih agama. Hanya orang-orang yang fanatik berlebihan ( cenderung benernya sediri) yang memaksakan kehendaknya apapun caranya. Hidup JIL… #78. Dikirim oleh IPUL pada 08/10 07:25 AM memang secara kasat mata cita2 HTI bagaikan pungguk merindu bulan, tapi keyakinan dari mimpi ini Insya Allah akan terwujud. nabi kita dulu pun tidak pernah membayangkan bagaimana islam akan menguasai hampir separuh daratan yg ada di bumi, tapi dengan spirit tauhid dan keyakinan kuat akan perintah Tuhan yg cukup dengan “sami’na wa ato’na”, Tuhan akan kasih jalan. cuma masalahnya sekarang orang kadung cinta ama ini dunia, padahal akhirat jauh lebih baik. apa mimpi akhirat juga bualan menurut anda, bung ulil? #79. Dikirim oleh 'D' pada 08/10 10:02 AM Dear Saudara Danny: Anda seharusnya menyamakan persepsi terlebih dahulu sebelum berkomentar, negara Khilafah yang sedang di perjuangkan tidak memilih sekte, karena pada dasarnya sampai 1924, hancurnya kekuasaan ottoman,hukum Allah lah yang digunakan. Anda bilang khilafah/Sistem islam hanya mimpi? apakah anda tidak melihat fenomena yang terjadi di dunia? dimana sistem liberal dan kapitalis sebenarnya sudah berada di ujung tanduk. Sistem ekonomi yang cenderung mengabaikan akad / rukun jual-beli (dalam islam) terbukti membawa keterpurukan ekonomi mereka melalui sup-prime mortage crisis di USA dan merambat ke Indonesia. Sistem politik telah mereka cederai dengan contohnya penggunaan hak veto dalam voting right PBB, mereka yang menggembar-gemborkan mereka sendiri yang meludahi. thus, tidak ada alasan untuk mengatakan khalifah adalah mimpi. sdr.hijbut tahrir. saya kira anda harus lebih banyak belajar tentang hukum agama,apa yang dikatakan mas ulil itu benar.hukum agama itu tidak saja al-quran dan hadist.untuk menafsirkan keduanya perlu reverensi yang kuat,jangan dengan otak sendiri. ingat,qur’an sediri bukan sebuah hukum tapi nash yang perlu kita tafsirkan dengan baik. anda mungkin lupa sdr HT,ada sebuah hadist yang apa bila sesuatu itu bagus menurut masyarakat maka baguslah itu,itu sudah menyatakan kontek sosial.jadi belajarlah sdr.HT dengan baik lagi. hidup ulil dan hidup jil #81. Dikirim oleh ardani pada 10/10 07:44 PM ini suatu pencerahan yang baik,dari mas ulil. saya ga ngerti HTI konsep khilafah ,sekarang sudah bukan set bec ke masa lampau,tapi harus memajukan islam dengan pemikiran yang universal. #82. Dikirim oleh ardani pada 10/10 07:58 PM khilapah sebuah mimpi yang tak bakalan terwujud, lebih baik sekarang ini kita hembuskan ‘saatnya JIL memimpin dunia dan akherat, gitu lhoooooo. #83. Dikirim oleh ardani pada 11/10 01:37 AM Bagaimana bisa dalil agama bertentangan dengan konteks sosial ??? Sedangkan dalil agama itu berasal dari ALLOH yang selalu benar dan nol kesalahan…..apapun yang ada dalam ajaran agama pastilah tujuan akhirnya adalah suatu kebaikan yang besar bagi yang menjalankannya….. #84. Dikirim oleh Yash,,yAsh........ pada 11/10 04:01 PM bagi saya khilafah atau apapun metode kekuasaan itu sama baik dan juga bisa diterima asalkan bisa menaikkan ekonomi. #85. Dikirim oleh zizou pada 12/10 10:43 PM Heheehe…. kata siapa khilafah Islam yang paling lama menguasai dunia? Anda lupa Inggris? Inggris sudah ada berabad-abad sebelum peradaban Islam lahir dan hari ini Inggris masih berdiri kokoh, empat belas abad setelah keruntuhan peradaban Islam… hehehehe….

Dan Bahasa Inggris menjadi bahasa INternasional. Bahkan komputer yang ANda pake saat ini juga pake bahasa Inggris… hehehe…. Perasaan “besar” umat Islam seperti Anda inilah yang akan membuat peradaban Islam makin terpuruk. Kita sebagai orang Islam harusnya malu dan harus mulai menyadari kelemahan kita…. #86. Dikirim oleh Andang Parsan pada 13/10 03:40 PM 1.Alqur’an itu terdiri dari Ayat2 muhkamat yang merujuk teks yang ada , adan juga terdiri dari ayat2 Mutasyabihat yang merujuk pada konteks sosial makhluk Alloh.Alqur’an tidak diturunkan hanya kepada manusia saja tetapi kepada seru sekalian alam artinya kepada seluruh makhluk yang ada dimuka bumi. 2.Hadits : Hadits Qouliyah “yang berasal dari perkataan Nabi”,Hadits amaliyah “yang berasal dari Perbuatan Nabi”,Hadits Taqririyah “yang berasal dari perkataan atau perbuatan sahabat nabi tapi mendapat persetujuan Nabi” jadi kesimpulanya dalam istinbat hukum jangan hanya bersandar pada akal saja karena itu hanya bersandar pada tekstualis semata atau berdasar dalil2 yang Muhkamat saja.akan tetapi harus dibarengi dengan Hati karena keimanan ada didalamnya,apabila orang itu bener2 iman insyaalloh akan beristinbat hukum islam dari Alqur’an dan Hadits dengan modal akal dan Hati bukan Nafsu semata…... #87. Dikirim oleh vanjava pada 15/10 03:53 AM Islam merupakan agama yang dapat menjadi solusi bagi terciptanya kehidupan yang sejahtera dimuka bumi. bagaimanapun teknik dan cara yang digunakan, islam menjadi bagian integral yang harud dapat diaplikasikan secara menyeluruh. pemahaman tentang khilafah merupakan salah satu ide yang dapat digunakan untuk mewujudkannya, tetapi hal ini harus disesuai dengan berbagai potensi masalah yang akan atau sedang dihadapi oleh ummat islam. saya berpendapat masih banyak ide-ide yang lain yang dapat digunakan untuk mengaplikasikan islam dalam kehidupan ini, wallahu a’lam bisshowab #88. Dikirim oleh mursyidi pada 15/10 04:30 AM HT adalah sebuah gerombolan orang-orang yang sedang bermimpi. Namanya mimpi, segala hal bisa terjadi. Sesuatu yang dalam kehidupan nyata sangat mustahil, dalam mimpi bisa tidak mustahil. karenanya trade merk HT adalah hal-hal yang ada di awang-awang, tapi sulit mencari pijakan di bumi. konsep khilafah yang diusungnya sulit dicari sandarannya yang qat’i. Apalagi kalau bersandar pada sejarah, maka tambah sulit lagi. Karenanya, kalau anda suka bermimpi yang berkepanjangan, silakan jadi anggota HT. Tetapi kalau anda bukan type seperti itu, ya mari kita doakan saja semoga mereka segera menyadari bahwa mimpi mereka mustahil menjadi hal yang nyata #89. Dikirim oleh muhammad nuh pada 16/10 10:02 PM Kejayaan sebuah aturan politik maupun ekonomi akan berputar seperti bola, dulu khalifah islam bisa menguasai dunia ,setelah itu sistem kapitalis dan liberal (sekuler) yg menguasai dunia setelah khalifah hancur, tapi sekarang sistem liberal dan kapitalis sedang dalam keterpurukan baik ekonomi maupun politik, apakah sistem khalifah (syariah) akan kembali hadir dan berkuasa kembali, atau komunis yg berjaya? Apakah anda masih percaya sistem liberal dan kapitalis masih kokoh? Apakah kalau nanti sistem syariah yg berjaya didunia ini, Jaringan islam liberal (JIL) akan berubah menjadi Jaringan Islam Syariah (JIS)? Atau kalau komunis yg berkuasa di dunia ini JIL akan berubah menjadi Jaringan Islam komunis (JIK)? #90. Dikirim oleh salman pada 17/10 04:35 AM wah bagus bgt kritik mas ulil ini. saya juga berpikir konsep-konsep pemikiran HTI itu membingungkan dan juga tidak “membumi”. Pernah saya berdiskusi dg mereka dan ujung2nya mereka bicara soal khilafah itu, soal palestina, soal israel. Padahal khan di sekitar kita banyak muslim yang lebih patut kita tolong dan kita pikirkan nasibnya… salut deh buat mas ulil #91. Dikirim oleh sofyan pada 18/10 02:05 PM untuk arfat… siapa bilang kalo hukum islam dijalankan lantas penganut agama lain tidak bisa melaksanakan ajarannya? islam tidak memaksa….. berapa tahun anda belajar agama islam? #92. Dikirim oleh gundul pada 19/10 11:23 AM saya kira khilafah bukan mimpi besar, itu adalah yang sesungguhnya yang pernah terjadi dan akan terjadi lagi, itu hanya masalah waktu saja. Bukankah islam selalu melindungi nonmuslim selama nonmuslim itu tidak memerangi orang islam karena agamanya dan tanah airnya, kita lihat fakta sejarah dimana khilafah islam di spanyol dimana orang2 yahudi bisa hidup nyaman. mereka bisa berkerja dan berkarya dengan bebas, namun ketika khilafah islam dimusnahkan oleh orang2 spanyol orang-orang yahudi menjadi orang yang terusir dan diburu, jadi khilafah bukan mimpi besar namun itu adalah kenyataan yang akan terjadi. #93. Dikirim oleh w4lt3r pada 19/10 05:31 PM negara islam = kehancuran bangsa indonesia.pejuang syariah sedang berjuang menghancurkan bangsa indonesia.sadarlah para taliban,sebelum engkau dibuat menyesal oleh cita2mu sendiri.Kelak bila negara islam terwujud,anak-cucumu akan berjuang menggulingkan pemerintahan yg kau impikan karena tidak tahan melihat&merasakan;penindasan.

bravo JIL !!! parengg…ng #94. Dikirim oleh banish pada 20/10 12:52 PM wahai saudaraku….sesama muslim,TUHAN kita sama,NABI kita sama,KITAB kita jg sama,jg kiblat kita sama…masih banyak lagi PERSAMAAN kita…MENGAPA HARUS BERBEDA.AYO KITA DUKUNG PERJUANGAN SAUDARA2 KITA,SLAMA TIDAK MENYIMPANG/BERTENTAGAN DG AL-QURAN DAN SUNNAH… TIDAK ADA SESUATU YANG TAK MUNGKIN BAGI ALLAH… YG PENTING KITA BERUSAHA…

77 #95. Dikirim oleh fadlyl pada 23/10 06:33 PM ok, dengan logika “realitas” ulil, dia mestinya juga menolak pemerintahan demokrasi sekarang ini. realitasnya: JFK dibunuh, SBY banyak mendhalimi rakyat, Amerika bantai jutaan org dimana2. jika dibandingkan, keganasan khalifah2 masih jauh lebih ringan daripada kebuasan pemimpin2 negara demokrasi. jika ulil menolak khilafah karena ada beberapa khalifah dhalim, maka mestinya dia juga tolak pemerintahan demokrasi, karena kedhaliman penguasanya banyak yang lebih akut! ingat kata pram, seorang terpelajar harus sudah bisa adil sejak dalam pikiran. kan begitu? #96. Dikirim oleh wong ndeso pada 24/10 05:15 AM astagfirullah…. ktk manusia meragukan janjiNya.ap yg akn qt trima dariNYA?! wahai sdr q, hendaklah qt mengetahui konsep khilafah scr keseluruhan tdk parsial yg nantinya akan menimbulkan persepsi ato pemahaman yg salah… janjiNya adalah pasti! DEMOKRASI HARUS MATI!!!!!!!!!! KHILAFAH HARGA MATI!!!!!!!!!!!!!!!! #97. Dikirim oleh dyach ayoe pada 24/10 04:42 PM Untuk bung Ulil, terima kasih pendapat anda, kayaknya HT(I) adalah suatu organisasi yang berbahaya, mereka mengatakan anti demokrasi , tetapi mereka mau hidup di negara yang menganut demokrasi. inilah contoh orang yang munafik…kalau dibiarkan maka indonesia akan tercerai berai.(emang nenek moyangnya agama apa????? hancurkan HTI… sebelum mereka menghancurkan indonesia. thanx #98. Dikirim oleh dodol pada 24/10 05:16 PM utk dodol (#98)yg mengatakan: “mereka mengatakan anti demokrasi , tetapi mereka mau hidup di negara yang menganut demokrasi” >> memangnya aneh ya? karl marx hidup di london, negeri kapitalis, yg justru di tentangnya. muhammad saw juga awalnya hidup di makkah, kota jahiliyah. ulil pernah hidup di era orba, yg sama sekali tidak demokratis. jd, sama sekali tidak aneh, HT yang anti demokrasi hidup di negeri yg demokratis. tp itu yang anda gunakan sebagai alasan untuk mengajak org menghancurkan HT. #99. Dikirim oleh wong ndeso pada 27/10 07:44 AM Menanggapi Mas Iwan,

Mas..mas…saya cuma orang awam yang cuma mengingatkan ada satu yang mungkin kelupaan. Rasullullah SAW bersabda “Carilah ilmu sampai ke negeri China”...kemudian di Qur’an “Tembuslah Langit dengan tenagamu” disini kita diperintahkan untuk memakai ilmu/akal. Jadi yo masalah teknologi selama membawa manfaat yo nda opo2 tho yooo….yang melarang berarti ya melarang perintah Allah. Itu bukan orang Islam..atau Orang Islam..cuman ya itu belum memahami seluruh ajaran Islam.Tapi nda apa-apa…kalau udah tau mana yang benar dan salah saya rasa cukup dewasa untuk memilih mana yang harus dikerjakan. Apapun itu namanya Kilafah kek..presiden kek…perdana menteri kek…selama mewakili suara rakyat,membawa kemakmuran bagi rakyat itu yang dicari. Nah yang jadi masalah itu tunggangan dia menjadi pemimpin berlandaskan sistem apa?sistem komunis, yang sudah runtuh di Indonesia kemudian liberalisme “yang mulai runtuh dg sistem ekonominya yg semu”....atau sistem syariah Islam “yang orang belum tau tapi udah jadi phobia duluan” salam Mohamad Soleh (yang nasionalis agamis) Buat Tjeng Yusup, Kalau nanti HT menjadi pemimpin dunia dengan konsep khilafah dan hukum Islamnya, maka akal hanya boleh digunakan untuk memahami Al Quran dan Al Hadits, karena diharamkan memahami fenomena budaya (yang menurut mas Ulil berkembang sekan-akan tanpa batas), kita tidak boleh menggunakan tehnologi yang diciptakan barat/kafir. Dan seorang khilafahnya akan memimpin dan mengunjungi rakyatnya dengan menggunakan onta atau kuda untuk mengejar perempuan yang tidak pakai jilbab dan orang-orang yang tidak sholat kalau mendengar adzan, paham…....??? #51. Dikirim oleh iwan pada 14/09 12:22 PM Negara Islam “Indonesia” mungkin aja. Tergantung hasil pertarungan fisik antara Islam mainstream dengan pendukung liberal. Kita liat aja siapa yang menang FPI atau FKBBBBBBB, MUI vs JIL, Wahabi VS JIL. Atau Kalo yang berkuasa Islam Mainstream kaya PKS, terus syariah islam ditegakan bagi pemeluknya. Tapi kalo khalifah global, apa mungkin yah.. Bagaimanapun semua seperti yang ditulis ulil “Mimpi Besar”. So biarin aja. Hanya di Laskar Pelangi, the dreaming coming true. #101. Dikirim oleh islam komplit pada 28/10 10:39 AM Memang kadang-kadang konteks sosial akan bertentangan dengan teks apalagi mengingat bahwa teks itu mucul tidak dengan serta merta tanpa latar belakang yang ada dibaliknya.teks wahyu itu biasanya muncul sebagai sebuah jawaban terhadap eristiwa yang ada.Namun oleh karena menurut Al quran bahwa tidak ada lagi nabi setelah nabi Muhamad SAW, hal ini juga menunjukkan bahwa tidak lagi ada syariat yang bisa diberlakukan kecuali syariat nabi saw. Maka ketika ada syariat yang bertentangan denmgan konteks sosial,yang harus dilakukan adalah upaya untuk mencari titik temu diantara keduanya. Jika upaya yang dilakukan tidak berhasil maka otomatis yang harus dilakukan adalah mendahulukan syariat, tidak boleh tidak. Hal ini karena fungsi syariat sebagai pengikat dan pembatas pola pikir masyarakat yang hanya mgedepankan nafsunya saja.Oleh karenanya pendapat saudar ulil saya rasa perlu untuk di tinjau ulang dan dicari dasarnya yang tepat.Ingat kehancuran umat nabi musa dulu juga sebagai akibat dari kebebasan berfikir yang tanpa batas.terima kasih #102. Dikirim oleh MUHAMAD FATONI pada 29/10 06:28 AM Islam adalah damai di dalam JIL ada “Islam” di dalam HT ga ada “Islam"nya Siapa yang meyakini di dalam HT ada “Islam"nya saran saya, silakan belajar membaca lagi. IQRA’....!!!! ya… sodaraku….. #103. Dikirim oleh thole pada 29/10 11:16 AM tidak ada yang lebih mulia dari khilafah dan islam. justru peradaban dunia ini awal mulanya di emban oleh umat muslim…barat cuma menjiplak saja ... pada masa khalifah iptek berkembang dg pesat, rakyat muslim non muslim hidup berdampingan, ..tidak ada dominasi apapun justru yang ada hanyalah kemslahatan,tapi lihatlah keadaan sekarang….beda jauh bangeeeet…. jika anda masih meragukan islam maka dipertanyakan sejauh mana aqidah anda…. bravo al qaeda #104. Dikirim oleh psikobat tobat pada 31/10 03:37 AM memang HTI orangnya banyak kolot #105. Dikirim oleh moh.safrudin pada 01/11 05:50 AM Ana dari Malaysia. Tujuan ana adalah untuk menunjukkan sokongan kepada pejuang HT Indonesia.

“Mimpi besar” ???? Kenapa harus takut kepada mimpi… kenapa…??? adakah ia akan menjadi realiti…??? HTI atau HT seluruh dunia wujud dengan 1 org dan bertambah 2 bertambah 3… dan kini ????? Adakah mustahil untuk mewujudkan daulah khilafah… Dengan nama Allah dan dengan izin Allah, ia akan menjadi kenyataan satu hari nanti… Kita akan nantikan bila sebuah negara daulah wujud dan di masa itu tiada sempadan untuk umat Muhammad S.A.W dalam menerokai dunia Islam… InsyaAllah… Yang tidak berpandukan Al-Quran dan sunnah… Anta fikirkan sendiri…..................... ” DUNIA SEDANG MENUJU DAULAH KHILAFAH “ #106. Dikirim oleh jebbat pada 04/11 02:58 AM Assalamualaikum.. Ana ingin memberikan sebuah contoh analogi yang InsyaAllah dapat membuat faham antum semua.. selebihnya urusan Allah ta’ala untuk perkara hidayah. begini.. Bila seseorang memakai sebuah topi, dan ternyata topi itu kecil dan tidak masuk dalam kepalanya.. lantas ana mau bertnya dengan akal logika saja menjawabnya..? Apa yang harus di ubah ? ukuran topi nya atau bentuk kepala orang tersebut.? Bagi orang yang masih sehat akal pikirannya, tentunya jawabannya adalah ukuran topinya yang di ubah untuk dibesarkan..bukan bentuk kepalanya yang di ubah…memang bisa diubah bentuk kepalanya tetapi hanya orang yang sudah kehilangan akal yang mau melakukannya.!! Sama halnya untuk urusan perkara syari’at Allah sebagai suatu yang benar-benar haq dan mutlak di aplikasikan bukan hanya dalam ranah individual saja, tetapi juga di implementasikan dalam masyarakat dan berpemerintahan. Syariat Allah Ta’ala adalah sama halnya secara hakikat dengan kepala orang tersebut tadi dan topi adalah persamaan dari ummat manusia dengan segala problematika dan permasalahannya di dunia ini.. Jadi dengan merujuk kepada analogi sederhana tadi, sewajibnya umat manusia dengan segala macam perkara permasalahannya di dunia yang harus dengan ikhlas mengikuti dan menta’ati syari’at Allah Ta’ala itu, bukan malah Syari’at Allah Ta’ala yang harus menyesuaikan dengan ummat manusianya. Sekarang pahamilah dengan ikhlas, apakah antum semua masih waras/sehat atau antum semua sudah kurang akal/sakit jiwa. Barakallahu. Mohamad Arif / 08999289289 #107. Dikirim oleh Mohamad Arif Ar-Riadh Bin Hamid pada 04/11 04:19 PM Masya Allah, ternyata masih ada yang belum sadar akan kekhilafan bahwa Syariat Islam dengan berdasarkan Al Qur an merupakan wajib untuk kita patuhi secara keseluruhan, dan patutu kita sadari syariat islam tidak akan bisa diterapkan jika tidak adanya kekhilafahan. Ya Allah… luruskan kembali jalan mereka kuatkan iman bagi orang-orang yang dengan ikhlas berjuang untuk penerapan syariah dan penegakan khilafah. WAHAI SAUDARAKU SEIMAN DAN SEAGAMA SEBENTAR LAGI,,,,

KITA AKAN SONGSONG ERA BARU ERA KEKHILAFAHAN KHILAFAH RASYIDAH INSYA ALLAH ALLAHU AKBAR #108. Dikirim oleh Ali.Mbo pada 06/11 11:27 AM emang sih khilafah sebentar lagi akan jaya, hanya dalam beberapa….......beberapa .......ribu tahun lagi! he..he..he… #109. Dikirim oleh Nurcahaya pada 07/11 09:13 AM ...saya pribadi tidak memusuhi HT, meskipun saya tidak sependapat degan ide negara khalifah ini. Saya pikir biarlah saudara2 d HT punya ide seperti ini setidak2nya se bagai bunga rampai yg menghiasi perbedaan di dalam islam, dan yg perlu kita ingat bahwa perbedaan itu(selama tidak membawa kekerasan&kerusakan;)adalah rahmat dr Allah. ...alasan utama dr ketidak-sependapatan saya dgn konsep HT ttg negara khalifah ini lebih karena (yg sapa pikir) buah dr pemikiran yg kurang mendalam. ...secara teknis, tidak pernah ada satu surahpun d dlm al-Qur`an yg mewajibkan umat islam untuk mendirikan negara khalifah dan baik itu d dalam rukun iman dan rukun islam juga tdk terdapat 1 poin pun yg menyatakan kita hrs beriman kepada pendirian negara khalifah. Yang saya percayai, risalah islam itu di turunkan kepada insan bernama Muhammad bin Abdullah adalah untuk memperbaiki AKHLAK, akhlak sebagai landasan manusia sehingga jika akhlak manusia baik maka baik juga apa saja yg manusia kerjakan, jika dia berpolitik maka dia akan berpolitik dgn santun, jika dia berbisnis maka dia akan berbisnis dgn jujur DLL. Singkat kata islam tdk d turunkan untuk mengurusi politik,bisnis,ilmu pengetahuan DLL tetapi islam d turunkan untuk mengurusi akhlak. ...kekalahan umat islam sekarang ini (jika anda menganggap sekarang umat islam sebagai pihak yg kalah) bukan karena kejatuhan sistem kekhalifahan d dunia, tapi lebih d karenakan KETIDAK-MAMPUAN umat islam memecahkan permasalahan yg sedang terjadi dimasa sekarang sesuai perubahan jaman(boro2 buat memeberikan jawaban pada permasalahan d masa yg akan datang, yg adasekarang aja pola pikirnya d balik kejaman pertengahan). DAN ITULAH YG TERJADI, bahkan saya katakan keruntuhan dinasti ottoman turki juga adalah karena KETIDAK-MAMPUAN untuk menjawab tantangan jaman ini. ...SUN-Tzu berkata:`jika kamu tidak ingin jd pihak yg kalah, maka jadikanlah dirimu tak terkalahkan`. menjadi tidak terkalahkan berarti mengetahui kelemahan kita yg mampu d ekspoiltasi oleh lawan. Dan saya katakan: KETIDAK-MAMPUAN kita d dalam menjawab tantangan jaman inilah yg membuat islam tdk kembali berjaya. ...JADI, sudahkah umat islam bergerak sesuai dgn jaman?sudahkah umat islam mampu menjawab tantangan jaman yg berubah? ITULAH kunci jawaban terhadap kejayaan islam dan bukan negara KHALIFAH (menurut pendapat saya) ...buat mas ulil: terimakasih rujukan fikih ulama mazhab hanafi nya, mudah2an beliau d ridhai Allah. #110. Dikirim oleh Firdaus pada 07/11 12:53 PM Weleh weleh…... Saya ada pertanyaan sedikit. Kalau misalnya, sekali lagi misalnya, kekhalifahan nantinya terbentuk. Lalu siapa yang jadi khalifahnya? Dari Islam yang mana? Ambil saja, Indonesia kan terbanyak orang Islamnya, ys nggak? Jadi sangat wajar kalau khalifahnya harus orang Indonesia. Apa mau orang Arab, Irak, dll dipimpin oleh orang Indonesia? Ingat orang Indonesia itu hobinya Korupsi! Kalau mereka menerima orang Indonesia jadi khalifah lalu dari partai atau ormas mana? Qurannya satu, haditsnya satu tapi madhabnya banyak, Orientasi politiknya rupa-rupa. Tafsirannya juga banyak macam. NU? Muhamadiyah? Persis? HTI? P3? PKS? Apakah orang Islam sedunia akan mau dipimpin oleh khalifah dari PKS atau Persis atau PAN? Lalu bagaimana cara memilihnya? Kebayang akan saling rebut kekuasaan, seperti jamannya khalifarasyidin!!! Saling bunuh! Ih ngerinya….. #111. Dikirim oleh Uskar . S pada 10/11 03:35 AM Memang benar agama tdk memberikan batasan sbrp banyak suami hrus memberikan mas kawin kpd istri, tp agama menganjurkan para wanita unt tdk mminta mahar trlalu banyak. Dsebutkan wanita yang baik adlh yg sedikit maharnya. Meminta mahar trlalu bsar jg tdk baik di mata agama. adat memina mahar terlalu tinggi jg berujung pada kerusakan sosial. Intinya agama menyarankan sdikitnya mahar, bukan diam saja. #112. Dikirim oleh Habibie pada 10/11 03:58 AM ups khilafah? wah terlalu jauh meen. okelah kalo cuman bilang negara indonesia harus mengikuti aturan islam… itusih masih relefan. tapi kalo udah khilafah ya ampun. jadi ingat sejarah banyak banget yang mati akibat khilafah, bagaimana spanyol juga ambruk karna khilafah. but gue juga salut ma umar ibn abdl aziz tu juga kholifah looo so mungkin kesimpulanya ya gak papa kalo mikir khilafah cuman yang pentingkan penegakan keadilan yang sesuai sengan syariat islam. mungkin ide khilafah satu juta tahun lagi bisa terwujut siapa tahu???????? yang penting indonesia adil makmur coy!!! #113. Dikirim oleh zaini pada 11/11 04:00 AM

Asalam, wr wb. semoga semua sdr ku yang membaca komentar ini tergugah untuk tidak takut dengan hukum islam,setiap siapapun yang merasa islam, ia harus meyakini bahwa Allah sang pencipta segalanya, telah juga memberikan panduan yang langkap untuk bagaimana menjlankan hidup ini sesuai dengan tujuan diciptakannya manusia, pernahkan kita bertanya siapasih kita? darimana kita berasal? Untuk apa kita hidup? dan akan kemana kita setelah mati?

jika ini terjawab dengan sebenarnya sesuai dengan fitrah manusia, kita akan menjawab, kita berasal dari Allah, kita hidup tiada lain hanya untuk beribadah kepadanya dan kita akan kembali lagi kepadanya! .... coba kita bayangkan, jika kita seorang bos yang memiliki karyawan, karyawan kita sudah kita gaji, kita kasi fasilitas, kita beri tunjangan dan tempat tinggal, tetapi mereka tidak mengikuti perintah kita, mereka bekerja untuk orang lain, apa yang akan kita lakukan, tentu kita akan memecat nya, begitu juga manusia, kita telah diciptakan, diberi fasilitas dengan segala macam kenikmatan, tetapi kita tidak mau mengikuti perintah Allah, apakah kita layak untuk hidup di bumi Allah ini jika kita tidak mengikuti perintahnya, maka dari itu khilafah adalah bagian dari hukum islam, yang akan menjalankan syariat islam secara sempurna, ingat mau atau gak mau khilafah akan tegak, dengan kita atau tanpa kita, yakinlah…...... jangan samapai kita hanya menjadi penonton atau bahkan pengacau pertandingan, tetapi jadilah pemain, karna yang akan mendapat hasilnya ialah pemain….... Allahualam bi showab, Semoga Allah merahmati kita semua, Allahuakbar, ws #114. Dikirim oleh ibnu hernawan pada 25/11 09:35 AM Hukum itu harus posifit, artinya mesti jelas teks mana yang akan dijadikan landasan hukum. Jika fakta sosial bertentangan dengan teks, jelas fakta sosial tidak bisa dipandangan sebagai kebenaran, walaupun itu adalah realita. Disamping itu, bukankah realitas sosial itu tidak berlaku universal? Sebagian besar orang Selandia Baru misalnya berpendapat bahwa minum alcohol itu tidak dosa dan realitas sosialnya mereka melakukan itu tiap akhir pekan. Realitas ini tidak mungkin lalu membuat larangan meminum alcohol di dalam Al Qur’an menjadi gugur karena tidak seragam dengan realitas sosial. Jadi dalam hal ini harus jelas hukum mana yang dibicarakan. Jika Al Qur’an dan hadis sahih mestinya tidak bisa digugat, tapi kalau pendapat ulama, bisa saja berubah sesuai perkambangan zaman. Toh Al Qur’an tidak pernah mengtahur hal-hal detail. Inilah ruangan bagi inisiatif manusia. #115. Dikirim oleh Surya Bumi pada 05/12 11:57 AM Pernyataan anda Utopis, anda lupa, bahwa kekhalifahan berkuasa didunia selama 14 abad, permasalahan mengenai adanya perselisihan diantara satu khalifah dengan pergantian khalifah lainnya adalah dimana saat itu, kesalahan terjadi pada orang-orang yang menjalankan pemerintahan itu, bukan pada syariat nya, khilafah adalah representatif dari tegaknya syariat Islam, anda cuma melihat adanya pertentangan antara kekuasaan satu khalifah dengan khalifah yang lainnya, tapi anda tidak melihat justru islam bangkit saat khalifah itu tegak. 14 abad menguasai dunia, mana ada sistem politik yang bisa mengimbangi ISlam dan khalifah. dalam kekhalifahan umat islam dijadikan satu , menjadi sebuah kekuatan yang besar, setelah runtuhnya khalifah, justru semakin memperparah kondisi umat muslim sendiri. kita sebagai muslim malah membuang ajaran-ajaran Islam sendiri , tapi barat berapa ratus tahun kebelakang malah belajar dari pemerintahan Islam (khalifah). #116. Dikirim oleh boy hidayat pada 12/12 01:32 AM sebenarnya khilafah ditgakkan bkn utk menjdikan kt tidak beragam umat tetep boleh beda dan brg2 teknologi dan sains harus tetap ada cuma kita terapkan hukum Allah dimuka bumi ini bkn untk membtasi umat lain tp lbh kpada tercptnya keadaan yg aman tertib dan berkah. Logikanya kalo kita beli tv merk a tentu kita harus menuruti buku petnjuk dari pabrik merk a, agar tv kita awet dan bgus ya to. Jd sains dan teknologi tdk ada kaitnya dgn idelisme seseorang tp bnda2dan simbol2 bisa saja mkn ada kaitnya dgn idelisme cth ptng budha ato lmbg salib jd jelas kdua hal ini dpngaruhi oleh pngnut idelisme tertentu. Kawan2 JIL anda setuju tidak setuju khilafah pasti berdiri karena ini sudah janji Allah.dan sy kira anda perlu bnyak belajar jgn hnya pake logika saja, karena logika kt sgt terbts. Wassalam #117. Dikirim oleh Zaenal pada 14/12 04:48 PM Buat ismail dan tjeng yusup aku liat berpendpat asal ucp tnpa brpikir mendlam dlu gini ya cnth aja kalo kita pnya anak tentunya pengen pnya anak yg nurut ama kt dong apalagi Allah yg ciptain kita tentunya segala peraturanya pengen dlksanakan maka dksh buku petnjuknya dan nabi Muhammad SAW sbgai cnthnya termasuk mendirikan negara islam pertama dimadinah.trus dgn tgaknya khilafah didlmnya bukan hnya org islam smua nasrani boleh jd warga negaranya dan dilindungi hak nya utk bribdh dan mendpt perlkuan yg sama dimata hukum, ekonomi karena yg brlaku adlh hkm islam. Seperti paham demokrazi walau dari amerika apa yg menganutnya harus jd warga amerika kan nggak to khilafah juga sama.jd kalo mau bcara dpkir dlu. Anda setju tdk stju khilafah pasti tegak…mau apa lo ueek #118. Dikirim oleh Zaena pada 15/12 03:39 PM Siapa yang menentang sunatullah pasti akan langsung kena hukumannya, diyakini atau tidak. contohnya saya ambil dari ceramahnya bang Imad (Imaduddin Abdurachim):kalau kita membangun mesjid bangunannya lebih rendah dari tempat maksiat, tapi tempat maksiat menggunakakan penangkal petir sementara mesjid tidak, maka petir pasti menyambar bamgunan mesjid. Itu artinya perancang bangunan mesjid tidak taat pada hukum Allah. Saya hanya patuh pada aturan Al Qur’an tidak akan turut hukum jahiliah maka saya langgar lalulintas. Ya..konyol dicium truck. Bagi saya akhlak berkendara lebih diutamakan tanpa memandang siapa yang membuat aturan, selama demi kemaslahatan bersama. Negara Islam? masih masuk akal, jika bisa memempengaruhi mayoritas penduduk negeri lewat pemilu, revolusi atau gerakan apalah namanya. Tapi khilafah ? wow..! saya salut dengan kerja kerasnya saudara saya di HTI. bukankah itu menentang sunatullah?

#119. Dikirim oleh dizal pada 18/12 06:54 AM Bagi orang bukan pemeluk islam dalam negri kilafah akan ditarik pajak JIZYAH, siapapun dia bahkan orang2asli yang mendiami tanah air nusantara ini.Mungkin bakal ada orang2 “tengger” babak kedua, baca sejarah sabdo palon, dan darmo gandul, prabu brawijaya yang di perangi sendiri oleh anaknya Raden patah,karena ayahnya seorang hindu.Berapa banyak korban jiwa melayang, bukan saja di majapahit di pajajaran dll. Apa sudah tabiat orang indonesia melupakan asal usul dan sejarahnya,negri dengan sejarah2 tersembunyi. Anti kafir tapi euenak tenan pake demokrsai, internet,mobil nissan terrano…Hape,yang penting gayaaaaa s’bodo amat, gak ada yang abadi ini didunia ini.EGP. godbey indonesia(nusantara) i will always love you. #120. Dikirim oleh Tjeng Yusup pada 19/12 07:00 AM Cita-cita pemerintahan khilafah adalah cita-cita yang mulia, mungkin sekarang belum dapat diwujudkan, tapi setidak-tidaknya ada keinginan untuk itu. Mengenai tulisan saudara…itu adalah pendapat saudara yang sah-sah saja. Kita punya keyakinan masing-masing terhadap suatu hukum. Untuk kamu laksanakan prinsip kamu, untuk kami, kami laksanakan prinsip kami. Insya Allah dengan demikian kita tidak saling mencaci bahkan membenci. Sekian dan terima kasih. #121. Dikirim oleh samarudin pada 23/12 03:52 AM Terima kasih, rekan Samaruddin saya menghargai perjuangan anda dan teman2, marilah sementara sekarang kita menikmati sistem demokrasi bersama2 sampai cita2 khilafah terlaksana, yang mana dalam sistem sekarang kita bisa melaksanakan keyakinan kita tanpa dihadang oleh hukum yang melarangnya. Komentar anda :“Kita punya keyakinan masing-masing terhadap suatu hukum. Untuk kamu laksanakan prinsip kamu, untuk kami, kami laksanakan prinsip kami”. Tentang hukum saya dan anda Insya Allah sedang menjalaninya dengan baik saat ini di alam demokrasi, saat ini saya bisa menghargai keyakinan anda tanpa menunggu kekhalifahan terbentuk, jangankan anda yang saudara seiman bagi saya, orang tang tidak percaya Tuhanpun harus tetap saya hargai tidak perlu dibenci selama dia tidak mengusik keyakinan saya. Masalah keyakinan terhadap suatu hukum adalah masalah persepsi dan menurut saya tidak akan menggoyahkan keimanan . Contoh: kasus TKW di Arab Saudi yang diperkosa majikannya, didalam rumah. Tidak ada saksi disana. Ketika dia mengadukan kasusnya ke aparat setempat karena disana(konon) diterapkan syariat Islam, maka harus ada beberapa orang saksi yang mendukung aduannya, kalau tidak maka disebut fitnah otomatis dia dipenjara. Lantas dimana keadilannya hukum islam?. Menurut saya hukum islam tetap adil jika dijalankan dengan akhlak islami. Seharusnya aparat tidak melihat hukum secara kaku, dia melaksanakan hal2 yang tersurat. Jika ada pengaduan seperti itu aparat bisa bekerjasama dengan dokter untuk visum apakah benar ada pemaksaan atau tidak, hasil visum bisa membuktikannya.Ikhtiar ini lebih islami menurut saya, dan yang membantu sebahagian kecil saudara2 kita TKW yang tersandung kasus seperti itu adalah bukan tokoh2 agama. Tapi LSM. Maka saya sangat mendukung andai saudara2 saya pendukung Khilafah seperti HTI,Persis atau organisasi islam manapun jika ada usaha kearah sana seperti LSM2 yang dilakukan oleh saudara2 saya yang sekuler. Saya yakin, meski berbada pandangan andai bertetangga kita bisa menjadi tetangga yang baik. jika ada kesempatan berdiskusi di forum diskusi akan saling berargumen dengan arif. Meski bukan pendukung Khilafah, saya bukan penghalang. Saya yang pandir dan penuh kesalahan, karena kebenaran dan keutamaan hanya milik Allah, mohon maaf jika ada kata yang kurang berkenan. Terima kasih juga pada bung Ulil. Karena tulisan anda saya bisa silaturahmi dengan saudara Samaruddin . #122. Dikirim oleh dizal pada 23/12 09:14 AM Sdr .ardan sptnya pemikiran anda terlalu sempit. Kalo segala yang dianggap msyrkt itu baik maka baik pla scra agama maka itu salah kaprah.misal msyrkt amerika menghlalkan zina dan aborsi pdhal agama islam jelas2 melarang trus anda brgngpan yg benar masyaraktnya .wah kalo gni otak anda perlu dicuci, kita mati yg dtnya tuh amalan kt kpda agama islam bkn amlan kt pada msyarkt jd kbnaran mutlak ada pda agama islam bkn masyarkt. #123. Dikirim oleh Zaenal pada 24/12 07:30 AM Ah…sy ini org2 yg ndak tahu banyak ttg agama, tapi dari kecil yg ku dengar bahwa patokan org islam itu adalah Al Quran dan Hadis, selebihnya klu ndak ada di kedua itu barulah ulama yg “baik2” boleh berjumhur (udah betul ya..?), dasar sy ini kan pandir. Tapi apa yg sy baca dari atas sampai bawah kebanyakannya mau berjumhur dulu baru melihat kitabnya. Jadi bgmn nih org2 pintar? Ah sampeyan2 ini berlagak kayak Tuhan saja padahal kalian itu manusia lho…ndak bisa mencipta tanpa bantuan Tuhannya. Berani menerima tantangan gue… ayo coba dulu bikin sesuatu trus katakan bahwa itu adalah hasil anda sendiri tdk ada campur tangan Tuhan anda, bisa anda buktikan? Ambil contoh anda bikin kue Bolu, trus kuenya jadi dan anda

mengatakan ini hasil kerjaku Tuhan ndak ada di sini. Sy bisa tunjukin bahwa Tuhan ada di situ sebagai contoh tetap menghidupkan anda untuk bisa bikin kue bolu, coba klu Tuhan mematikan anda sebelum kue bolunya jadi, apa anda bisa bikin kue bolu tuh???....Hi…hi… lucu deh. Makanya karena anda itu ciptaanNYA maka harus make manualNYA juga, kayak komputer gitu loh. ManualNYA yah itu Al Qur’an dan Hadis. Kalau di putar-putar malah salah nantinya. Ok Bung2 yang pinter2, !!!! #124. Dikirim oleh Adindah pada 05/01 01:07 AM Saya memang mendukung pemerintahan khilafah. Ciptakanlah atau bentuklah pemerintahan khilafah dengan menjunjung tinggi akhlaq dan tidak dengan cara-cara kekerasan dan teror. Bagaimana kita dapat membentuk pemerintahan khilafah sementara pemimpin umat saling bercerai-berai. Ini ditunjukkan banyaknya partai Islam dan kelompok Islam. Bentuklah satu partai Islam dan tunjukkan wajah Islam itu penuh kedamaian dan mengutamakan akhlaq yang mulia, pasti banyak umat non Muslim dan Muslim yang mendukung dan memilih.Kenyataannya kenapa partai non Islam yang menang ? Kalau ini masih terjadi, pemerintahan khilafah masih merupakan ilusi. Salam. #125. Dikirim oleh mr.dayson pada 07/01 10:09 AM Assalamualaikum.WR.WB ke semua pihak yang mengaku dirinya beriman. cermati lagi sejarah Rosulullah bagaimana hukum islam bisa tegak didunia ini. 1.Nabi menerima Wahyu 2.Da’wah sembunyi2 3.Da’wah terang terangan sudah Umar Bin Khatab Hijrah kepemimpinan Rosulullah 3.hijrah dari pemimpin abu jahal (hukum bukan Islam) ke Nabi Muhammad (Hukum Islam) 4.hijrah Mekkah Ke Madinah (yastrib yg heterogen) Mendirikan Negara Islam (tegaknya hukum Islam)dan menyusun kekuatan besar “ka annahum Bunyaanun marsuus”. 5.Mengirim utusan ke berbagai negara/kerajaan lain supaya menerima seruan rosulullah setelah perjanjian Hudaibiyah. bila tidak mengikuti seruannya diperangi oleh Rosul bila atau membayar Jizyah. 6. Menyerang Mekkah?Futuh Mekkah. 7.Khilafah menguasai negara lannya kalau mau mendirikan khilafah harus seperti perjalanan rasulullah, harus mempunyai wilayah terlebih dahulu De Jure dan De Facto. Kalau langsung khilafah kejauhan seperti orang yang mau memetik buah kelapa tanpa memanjatnya terlebih dahulu. kalau umat islam masih berada dibawah pemarintahan abu jahal Rasulullah tidak wajib menolong mereka yang berada di kepemimpinan abu jahal.Si Jahal merupakn orang yang mengaku dirinya sebagai Millah nya Nabi Ibrahim (Islam) yang tidak menegakan kitab Taurot secara kaffah bahkan di selewengkan. seperti sekarang orang yang mengaku Muslim tetapi tidak mau di atur oleh hukum Alquran. dan pemimpinnya sebagai Abu Jahal Modern. Partai2 Islam yg masih di bawah naungan abu jahal sama saja. mohon tanggapannya? Wassalamualaikum #126. Dikirim oleh Hamzah pada 09/01 12:08 PM Buat ismail dan tjeng yusup aku liat berpendpat org islam smua nasrani boleh jd warga negaranya dan dilindungi hak nya utk bribdh dan mendpt perlkuan yg sama dimata hukum, ekonomi karena yg brlaku adlh hkm islam. Seperti paham demokrazi walau dari amerika apa yg menganutnya harus jd warga amerika kan nggak to khilafah juga sama.jd kalo mau bcara dpkir dlu. Anda setju tdk stju khilafah pasti tegak…mau apa lo ueek #118. Dikirim oleh Zaena pada 15/12 09:39 PM

Tapi kan nggak bakalan yg non-muslim boleh jadi menteri, panglima ABRI dsb spt sekarang ini. Nggak usah yg khilafah yg namanya PKS di Depok juga berusaha menggusur orang2 Muslim (dari NU/Muhammadiyah)dari badan2 Islam. Itu yg katanya juga Islam nasionalis. Ketika Siti Musdah Mulia tanya sama Ustad Baasir dlm suatu diskusi pola negara Islamn kayak apa yang mau diadopsi… Saudi apa Iran, katanya Baasir “bukan keduanya nanti kita pikirin” .... trus gimana mau negakkan Khilafah wong konsep dasarnya aja nggak jelas ...masih dipikirin…lucuuuu buanget.Orang tua kayak Baasir wirid aja deh…. #127. Dikirim oleh nurcahaya pada 13/01 05:43 AM Mas ulil musti bener-bener lihat sejarah dengan pandangan yang positif,hati yang bersih,pikiran yang jernih. sebab orang yang bener-bener cinta ama Allah dan Rasulnya. Pasti sami’na wa ata’na.namun sekarang kebanyakan umat ketika ditawari sistem yang benar dan baik sami’na wa saya pikir-pikir dulu,tidak hanya itu malah menentang dengan argumentasi fakta dan mengatakan kita harus realistis. hanya orang yang tidak realistis dan ahistoris yang tidak menerima konsep sistem Islam,Khilafah ala minhaji nubuwah. rasulpun dulu tatkala menyampaikan wahyu banyak orang yang tidak percaya dan mengatakan tidak sesuai dengan kondisi Mekkah,tapi Allah ternyata memperlihatkan bahwa Islam dapat tegak. jadi back to iman yang shahih wa back to al-Qur’an dan Assunnah. Insya Allah Khilafah tinggal tunggu waktu. Allahu Akbar. #128. Dikirim oleh Arimah pada 14/01 07:47 AM Kalau dikatakan Khilafah tunggal sedunia hanya mimpi, pasti dibantah HTI. Tapi kalau benar bukan mimpi, setelah sekian lama diperjuangkan HTI, kok belum terlihat wujud awal atau embrionya. Penyelesain masalah menunggu terbentuknya Khilafah? Keburu parah! Kalau HTI punya solusi, ya lakukan sekarang juga. Gak perlu nunggu terbentuknya Khilafah, yang tak jelas kapan waktunya. #129. Dikirim oleh ekonikoe pada 16/01 10:06 AM

Aslm,Anda-anda ini sebenarnya umat islam atau bukan? Mengapa anda tidak setuju kalau KHILAFAH ditegakkan kembali.Padahal Allah SWT sudah menjanjikan bahwa sebelum datangnya hari kiamat bakal ada pemerintahan Islam dengan metode kenabian (Khilafah ala min Hajj nubuwah). Apakah anda-anda tidak takut akan pembalasan nanti di akhirat? Renungkanlah & introspeksi lah !!!!!! #130. Dikirim oleh hamba Allah pada 22/01 04:29 AM Gini aja mas ulil .. kasih kesempatan aja semua harokah untuk membuktikan apa yang menurut mereka benar… marilah kita sama-sama sebagai umat muslim untuk bisa menghargai setiap pendapat dari masing-masing pihak untuk membuktikan pendapatnya ... yuk mari #131. Dikirim oleh Aba Fafa pada 23/01 07:38 PM Buat m.rizal jika anda mengatakan HTI itu mengigau memang anda benar sebab HTI mengigau dgn sadar bahwa org2 spt anda itu buta dan tuli tentang khilafah islamiyah…tahukah anda bahwa islam adalah agama yang tinggi dan tak ada yg lbh tinggi darinya karena islam bukan skedar agama yg sifatnya hnya moral dan ritual tp lebih… islam juga sbuah paham yg lbh baik dari liberalisme dan sosialisme islam juga budaya islam juga politik…jd jgn salah memandang islam ato jgn2 anda bukan org islam kalo gt ya wajar… #132. Dikirim oleh Zaenal pada 26/01 01:06 PM sumber islam itu ada empat kok malah ditambah-tambah dengan yang pasti. islam itu jelas, mana yang halal mana yng haram, mana yang wajib dan mana yang tidak. islam teh bukan agama abu2. #133. Dikirim oleh ana zulkhan pada 28/01 08:31 AM Ok dehh kitta ga bissa bawa budayya arrab mentah mentah ke endonesia kayyak yg mungkin hizbut tahrir mauu.. massak ntar ada arabisasi kayyak amerrikanisasi ha ha.. di sinni meski sama2 bar bar kayyak negarra2 orrang jahiliyah tetapi masi adda local genius sbagai bagian pola respon budayya local doong., massak cuman budayya luar ajja yg jenius.. asal mau tau ajja buat parra aktivis hizbut tahrir., skarang gw massi feel good in my neighborhood tuhh dan kalo lo semmua emmang padda udda ngrasa ga comfort jangan sog yg palling ekstreem gittu dong sbagai polla responnya.. ha ha bcanda bang bcanda.. wassalam.. piss unity respect katanya SlanK #134. Dikirim oleh Ghulam Hafiedz pada 29/01 05:06 PM weleh-weleh kok bingung amat, yang lebih tau maslahat atau tidak itu sopo mas?, berani-beraninya manusia menganggap lebih tau dari kholiqnya. #135. Dikirim oleh yogi pada 18/02 05:29 AM mohon kawan2 di ingat kembali bahwa kita ini sebagai umat islam telah dikatakan oleh beliau SAW akan terbagi menjadi 73 golongan. dan saya yakin dan percaya masing2 golongan akan punya pendapat masing2, namun saya juga yakin dan percaya mereka akan mendasarkan pendapatnya pada nilai2 islam (qur’an dan hadits), maka dari itu bisa disimpulkan bahwa tujuannya satu yaitu Allah SWT. jadi mengapa kita musti ribut2 tentang perbedaan diantara kita…AstaghfiruLLah…....semoga Allah mengampuni dosa2 kita dan semoga kita selalu dilindungi dari godaan syeta dan fitnah dajjal, amin…...mengapa kita tidak bisa saling mendoakan satu sama lain agar bisa hidup saling berdampingan walaupun dalam perbedaan. sesungguhnya pemilik segala kebenara hanyalah Allah SWT, makhluk seperti kita ini tahu apa???? kita ini semua adalah hamba…...jadi berperilakulah sebagai hamba yang baik dan berbaiklah juga pada hamba2 Allah yang lain, kepada semut saja kita di suruh untuk tidak aniaya, masak dengan sesama hamba Allah tidak bisa saling mengasihi…..ingat asma Allah Arrahman…...Arrahim…............semoga kita selalu dalam ramat dan ampunanNya, amin….... #136. Dikirim oleh abdullah pada 26/02 03:08 AM Percaya nggak, jika warga HT meninggal maka akan bawa dosa karena belum punya imam. Sabda Nabi : barang siapa yang mati tanpa ber imam maka matinya mati jahiliah. Woou..ngeri deh…Ayo buruan angkat Iamam HT sedunia…atau jika belum siap pilih saja salah satu Kepala Negara di dunia yg paling menjalankan Syariat Isla di negaranya sebagai Imam HT sedunia. Ber baiatlah padanya, agar jika sewaktu waktu meninggal maka terlepas dari dosa tak ber imam. Daripada nunggu2 tanpa kepastian sejak tahun 1953 tanpa imam. Capek..deh…! #137. Dikirim oleh lamaru pada 01/03 10:32 PM Afwan sebelumnya, menurut saya: 1. Agama bukan opini tetapi hukum/syariat jadi sudah seharusnya bahwa konteks sosial atau apapun itu yang mengikuti dalil agama dan bukan sebaliknya dalil agama menyesuaikan dengan konteks sosial dengan dibumbui opini si ini dan si itu yang belum tentu benar 2. Rasulullah SAW adalah orang/makhluk yang paling bertaqwa kepada Allah SWT. Jadi, apabila ada dalil dalam Al Qur’an yang dirasa belum detail menggambarkan implementasi pada konteks sosial bisa langsung merujuk pada Al Hadits/ As Sunnah yang merupakan cara

hidup Rasulullah yang adalah orang yg paling bertaqwa pada Allah. “Sesungguhnya yang paling bertaqwa di antara kalian dan paling mengetahui tentang Allah adalah aku” (HR. Al Bukhori) “...Katakanlah:“Apakah kamu lebih mengetahui ataukah Allah…” (QS. Al Baqarah; 140) Berikutnya bisa juga merujuk pada cara hidup para sahabat dan salafush shalih sebagaimana pernah disampaikan Rasulullah SAW pada sebuah hadits yang shahih bahwa orang yang paling baik imannya adalah aku lalu orang setelah aku dan setelahnya (afwan…saya lupa riwayat dan nomor hadistnya) Apabila kita berpendapat bahwa apa yang disebut dalam hadits tidak sesuai dengan jaman atau lain sebagainya apakah kita merasa LEBIH PINTAR DAN LEBIH BERTAQWA DARI RASUL??? Mohon dijawab sendiri. Sebagai tambahan PENTING, Allah sudah meridhai Muhammad SAW sebagai Rasul dan Islam sebagai agama umat manusia dan Rasulullah sendiri, AL AMIN, sudah menyampaikan secara TUNTAS TAS TASSSSS semua pedoman hidup dan hujjah LANGSUNG DARI SUMBERNYA (ALLAH SWT.) melalui Jibril. Jadi, masih relevankah kita menganggap dalil agama menyesuaikan dengan konteks sosial????? #138. Dikirim oleh Putri pada 10/03 02:15 PM Maaf ya… Khilafah itu mungkin berasal dari kata Khilaf ya….? Ya emang Khilaf..! Ini zaman millenium, yg mengharuskan kita tidak menutup diri thd perkembangan zaman. Kog malah mau digiring ke zaman Purba. Apa mau, bila nanti perempuan di Indonesia tdk boleh ikut berpolitik?? Apa mau nanti, anak muda Indonesia tdk boleh nonton sinetron??? Tidak boleh pakai fashion model terbaru??? Kerjanya cuma manjangin jenggot, terus patroli kesana kemari bawa pentungan. Sadar dong ah… Tuh di Arab sono, lebih liar lagi. Nggak percaya? Buka aja web porno Arabian, pasti lu semua pada ngeres. Dasar Munafik lu semua..! Terus terang aja ya, gue nggak suka kalau suatu saat Presiden gue, pake Jubah bersorban, trus berjenggot lebat. Ini Indonesia, BUKAN ARAB..!! Pantesan Irian mau merdeka, Maluku mau merdeka, Kalimantan mau merdeka. Ini semua karena ulah orang2 yang sok Arab. Kalau mau bikin Khilafah, bikin aja di Pulau yg khusus muslim semua. #139. Dikirim oleh Ucok pada 14/03 08:04 PM Nanti kalau negeri Khilafah udah terwujud, tolong sampaikan ke Ust Basyir, Habieb Riziek, dan seluruh Islam Fundamentalis, tolong kalau mau bepergian naik ONTA saja. Jangan naik mobil Marcedes, atau BMW buatan kafir ya. Haram hukumnya. Trus, kalau sakit nggak usah ke dokter, karena obatnya juga haram, minum air zam zam saja. Kalau mau ke luar negeri, jgn naik pesawat Boeing, MD, atau Airbus, itu buatan kafir juga. Naik PERMADANI TERBANG, atau sampan saja. Bubarkan group musik SLANK, DEWA, dan aliran kontemporer, musik yg halal hanya irama gambus saja plus penari perut. Parfum buatan Amrik atau France diharamkan, pakai minyak nyongnyong wan abut saja. Komunikasi jangan pakai HP, haram juga tuh soalnya buatan kafir juga. Yang terakhir, silahken beristri 10. Tinggal pilih dan kawini dgn kedok agama. fakta sosial yang notabennya dilakukan oleh para ulama atau tokoh islam merupakan bias dari hukum syariat islam, jadi qt harus menganalisanya secara menyeluruh baik waktu, tempat dan keadaan yang terjadi pada fakta sosial tsb. oleh sebab itu fakta sosial tidak bisa qita jadikan sumber hukum tidak juga setara kedudukannya dengan alquran dan sunnah rosul. karena hukum syariat dibuat oleh Tuhan bukan manusia dengan syahwatnya. #141. Dikirim oleh sumsaad pada 20/03 03:18 AM Cak Ulil, aku tidak bakal menulis banyak, tapi aku memang setuju karo sampeyan. Kenapa, coba kita bayangkan belum saja khilafah fasis ini berdiri, pembantaian sesama mulsim aja sudah sering terjadi. Coba tengok sejarah bagaimana negara yang punya judul gagah “NEGARA ISLAM PAKISTAN” dengan tidak ragu menindas saudara satu akidah Bengalis yang mengakibatkan 3 juta orang bengalis mati. Emang kita mau dihukumi bughat kayak Mujiburrhaman oleh fasis Pakistan itu. Trus tentang lainnya, sampeyan bisa kontak aku. Bolo Dewe , cs sholawatan ! #142. Dikirim oleh Ahmed Shahi Kusuma pada 20/03 06:13 AM Ajaran Islam bisa sampai di Indonesia ini, karena kemurnian ajarannya, yakni dalil baik Al-Qur’an maupun Al-Hadist. Coba anda pikir, kalo saja dalil kalah dengan konteks sosial, pastilah Islam sekarang gak ada. Jadi yang menjadi sumber hukum bukan konteks sosial melainkan harus dalil yang jelas, yakni Al-Qur’an. #143. Dikirim oleh fatih al-bari pada 30/03 05:43 AM kok agama yang sudah jelas landasannya Alquran dan hadist masih di pertanyakan. lah kalo kita tinggal di lingkungan orang yang podo pegang norma gila maka kita mengikuti karena mereka mayoritas.. Akal pikiran kita tidak akan mampu untuk memahami semua isi Alquran. Kita diperintahkan untuk sami’na waato’na..dalil Tuhan kok dikalahkan oleh konteks sosial, dari logika saja tidak masuk akal. Mengapa sekarang orang-orang pintar kok malah belajar agama islam ke negara Barat. Belajar dalang ya di Jawa, belajar karapan sapi ya di madura, belajar agama Islam ya di negara-negara asalnya, bukan amerika, dsb.

#144. Dikirim oleh emima pada 02/04 10:51 AM “Saya yakin bila syariat Islam diterapkan di Indonesia secara murni dalam arti Indonesia menjadi negara islam yang dipimpin oleh ulama spritual, maka akan terjadi hal-hal sebagai berikut : 1. Hak-hak perempuan akan dihilangkan dan setiap perempuan akan dipaksa menggunakan atribut2 agama sekalipun mereka menolak” dlm islam perempuan sangat di jaga, dihormati.kerudung maupun jilbab bknlah atribut spt salib pd nasroni,ttpi itu adl kewajiban. dgn bgitu prempuan tlh mnjaga kehormatanny, terhindar dari fitnah, perjinahan,perselingkuhan,pemerkosaan,dll.bs anda bygkan jk perempuan hidup tnp aturan, spt skr ini..permpuan di jual, berzina, berpakaian seronok shg menggugah nafsu pria (ga usah bohong, anda laki2 pasti pernah (walaupun tnp disadari)“merinding lht pr seksi”.kalo anda berkata tidak berarti anda bohong, knp? krn fitrah manusia memiliki naluri sex, dan dorongan itu akan muncul jika fakta dari luar sesuai.silahkan anda buktikan dlm sjrah mana wnita dlm pandangan islam dihapus hak2nya?buktikan apa yg anda katakan itu benar.jgn cuma omong tanpa bukti.jgn 2 anda bukan muslim?? “2. Hak2 beribadah dan hak hidup kaum minoritas yang berasal dari penganut agama2 selain muslim (kristen, hindu, Budha, dll) akan dihilangkan secara sistematis.” wah pernyataan ini sangat bertentangan dgn fakta sejarah yg ada. baca sejarah dong mas.rosulullah saw membebaskan tiap jiwa memilih agamanya masing2, kan udah jelas laa iqra hafiddin, trs lakum dinukum waliyaddin. baca juga tuh sejarah perancis yg dibantu oleh kholifah melawan penjajah. cari tuh bukunye. “3. Akan terjadi diskriminasi hukum dimana bila ada dua orang yang bertikai dan salah satunya non muslim, maka yang non muslim akan “dikalahkan”.” gubrak… kan udah ada ceritanya seorang nonmuslim yg kehilangan baju perangnya kemudian menuduh ali mengambilnya, kemudian didatangkan saksi yg cukup untuk mbktikan perkataan 2 orang yg sdg bertikai itu.tiba2 ali tidak mmiliki saksi,sdgkan nonmuslim tsb memiliki saksi. maka rosul memutuskan berdasarkan saksi yg ada.shg non muslim itulah yg memenangkan perkara ini.namun tidak disangka ternyata nonmuslim itu hanya mencari tau apakah rosul itu akan bertindak adil pd non muslim atau hanya pd muslim saja.akhirnya baju tsb di kembalikan pada ali. “4. Akan terjadi penangkapan dan penghukuman sewenang-wenang karena tidak adanya pengawasan / control terhadap kekuasaan yang absolut yang mengatasnamakan Tuhan / Alloh itu sendiri.” kedaulatan itu hanya ada pada Allah, kholifah yg menjalankannya, masyarakat sebagai pengawas sekaligus pengontrol seluruh kebijakan. jaman kholifah abu bakar, pernah seorang wanita komplen sama kholifah karna dia tlh menentukan kadar mahar bagi wanita. “5. Bangsa Indonesia akan semakin terbelakang karena setiap orang akan dipaksa untuk melihat setiap masalah dari sudut pandang Islam” islam itu tidak terbelakang, kalo islam terbelakang ntuh galileo galilei ga mungkin bisa tau kalo bumi itu bulat.juga ilmuwan2 lainnya yg notabene berkembang krna Alqur’an.contoh realnya harun yahya.lihat fakta madu bisa menyembuhkan ternyata di alQuran udah di jelaskan terlebih dahulu.weeeee “6. Penutupan tempat2 ibadah non muslim akan semakin gencar dan mungkin disertai dengan pertumpahan darah,“BUKTINYA MANA?mrk dilindungi sama halnya dgn wrg negara muslim lainnya. “7. Kemunafikan akan semakin merajalela di masyarakat (dari luar kelihatan putih namun di dalamnya busuk)” maksudnya ente?waduh perumpamaan yg ga jelas.hiks “8. Kebebasan dalam berbicara dan berpendapat akan hilang” who said? kalo gt ga akan ada mujtahid, sdgkan dlm islam mujtahid wajib ada. 9. Tayangan2 televisi pasti akan dibatasi hanya yang sesuai dengan ajaran syariat saja"wealah moso ente mau anak ente umur 6 tahun udah ga virgin gara 2 nonton tontonan porno di tv? gledaks “10. Kekuasan mutlak pada satu orang yang menjadi wakil Tuhan sangat berbahaya karena tidak ada control.” waduh itumah paus atuh.ente nih lagi ngomongin islam apa kristen seh?ko semuanya mengarah ke kristen?!! “11. Ilmu pengetahuan tidak akan berkembang karena setiap orang akan didorong untuk masuk pesantren daripada kuliah di tempat sekuler”. gini nih org yg berpikiran pendek…ga punya pilihan. think smart dong. yah, tinggal buat aja perkuliahan dgn kurikulum yg ga sekuler. yg jelas kita hidup buat di akhirat jg kan? so cari nya yg kudu bisa masukin kita ke surga.kalo pilih sekuler ya jelas kagak bakal ke surga, malah jauh, knp? ya ente pikir aja, org sekuler itu ga bakal mikir ttg agama lagi, hubbuddunia.(wahn) bersambung #145. Dikirim oleh Wafa pada 05/04 09:01 PM “Nanti kalau negeri Khilafah udah terwujud, tolong sampaikan ke Ust Basyir, Habieb Riziek, dan seluruh Islam Fundamentalis, tolong kalau mau bepergian naik ONTA saja. Jangan naik mobil Marcedes, atau BMW buatan kafir ya. Haram hukumnya.” hehehehe…bo ya mikir toh mas….al ashlu fiil asy yaail ibaahatu maa lam yarid daliilul tahriim (hkm asal benda adl mubah selama tidak ada dalil yg mengharamkannya). siapa yg mengharamkan mobil???cuma ente doang “Trus, kalau sakit nggak usah ke dokter, karena obatnya juga haram, minum air zam zam saja.” hehehe air zam zam kan sudah terbukti khasiatnya bisa menyembuhkan..lagian kalo sakit mending ga ke dokter…malah makin sakit..lha wong sakit kepala doang bisa nambah sakit jadi parah…konsumsi obat anti biotik aja yg berkelanjutan mlah buat sakit parah..banyak2 baca dong.hehehehe.BTW tubuh kita itu punya penawar sendiri cukup istirahat dan olah raga.makanya pikirannya jgn pendek. “Parfum buatan Amrik atau France diharamkan, pakai minyak nyongnyong wan abut saja.“yg haram ntuh yg ada alkoholnya…mmgnya rosul ga pernah pake parfum apa?jaman rosul itu udah terkenal yg namanya parfum…ente aja yg kagak tau…masa iya Allah memerintahkan sst yg tidak ada… “Komunikasi jangan pakai HP, haram juga tuh soalnya buatan kafir juga.“ini orang primitif amat… apa2 haram…apa2 haram…mikir ke…dikiiiiiiiiit aja “Yang terakhir, silahken beristri 10. Tinggal pilih dan kawini dgn kedok agama.“yg boleh itu cm sampe 4 tau….buta agama amat seh ente #146. Dikirim oleh wafa pada 05/04 09:32 PM Orang HTI kalau memang menginginkan punya Khilafah ya harus Percaya Pada Nabi yang diutus Allah. Allah dan Rasul-Nya sudah menjanjikan kedatangan Muhammad SAW kedua kali lewat Surat Al-jum’ah: Waakhoriina minhum lamma yalhaquu bihim….dan Hadits Mutawatir tentang Kedatangan Isa Ibnu Maryam (Almahdi). Mau tidak orang HTI beriman kepada Isa Ibnu Maryam akhir zaman? kalau ga mau SAYA JAMIN SAMPAI HANCUR DUNIA INI PUN HTI TIDAK AKAN MAMPU MENDIRIKAN KHILAFAH. Kalau ada Pimpinan HTI berani memploklamirkan diri jadi Khalifah SAYA ACUNGKAN JEMPOL, DAN SAYA AKAN LIHAT NASIB ORANG ITU. #147. Dikirim oleh Mang Udin pada 08/04 03:36 AM Qta merdeka bukan atas jasa2 pahlawan islam saja, tapi banyak juga pejuang2 non islam. wong islam aja baru masuk setelah agama hindu dan budha. saya muslim, tapi saya juga cinta keragaman negeri ini. toh Nabi sendiri juga mengajarkan kesamaan hak/kewajiban kepada negara, meskipun warga negara itu muslim maupun bukan. #148. Dikirim oleh vahied pada 11/04 08:23 PM

@arfat: Anda harus membaca lebih banyak lagi tentang sejarah, khususnya sejarah Islam tentang peraturan khilafah atas warga negara non-muslim yg ada di dalamnya. Pada kenyataannya warga non-muslim diperlakukan sama dengan warga muslim lainnya di dalam negara Islam, baik dalam hak beribadah, administrasi, fasilitas, dll. Silahkan buka kembali buku2 sejarah di gudang anda.

Kekhawatiran anda sama sekali tidak beralasan…atau karena kebencian?! #149. Dikirim oleh sarachen pada 13/04 06:13 PM asw… afwan… ana mau aturan islam!!! syariah islam!!! dunia islam!!!

bukan demokrasi sampah,najis!!! demokrasi adalah kufur yang nyata!!! #150. Dikirim oleh rudi pada 15/04 05:27 PM numpang comment yaa.. menurut inyong, hukum agama tu ibarat penggaris, dan hidup ini kayunya, jadi kalok mau lurus atau bener ukurannya ya..manut penggaris, trus kayunya yang dipotong, bukan penggaris yang dipotong karena manut kepada kayunya. laa… kalo kita mau pake kayu itu untuk buat kursi atau meja atau lemari ya terserah aja, asal ngukurnya tetep pake penggaris….tak pikir itu “mungkin” maksud HTI coy…dimana hukum agama saat ini, sepertinya dipotong-potong manut keadaan… #151. Dikirim oleh fitri pada 17/04 08:18 AM Alhamudillah, Assalamualaikum wr. wb. Memang jika kita kurang memahami suatu kegiatan sperti HTI maka banyak hal buruk yang akan kita dengarkan atau hal super baik yang kita dapatkan. Khilafah Islam yang sesuai dalam struktur kenegaraan Islam dalam sejarahnya sebenarnya terhenti sesudah Khalifah Ali. Sesudah itu yang terjadi adalah model pemerintahan kerajaan Islam yang sebenarnya tidak sesuai dengan struktur pemerintahan Islam. Hidup ini sudah diatur hukum-hukumnya dalam Al-Qur’an dan “ditafsirkan” dalam Hadist. Sudah seharusnya kita hidup berlandaskan itu. Konflik sosial yan timbul sebenarnya terjadi karena kedangkalan penafsiran kita akan hukum-hukum Allah. Islam sangat menghormati keanekaragaman budaya dan agama sebagaimana dalam surat Al-Kafirun. Pada rekan-rekan non muslim jangan kuatir akan kebebasan melaksanakan ibadahnya, yang diatur hanya hubungan sosial diantara umat manusia sehingga tercapai suatu keadilan. #152. Dikirim oleh Hita pada 20/04 08:03 AM semua kaum muslimin harus bersatu untuk membangun bangsa ini dari keterpurukan dengan adanya dengan adanya banyak pemahaman sebaiknya kita mengkaji terlebih dahulu pemahaman yang satu dengan yang lain…bila perlu kita terjun dan ikut halakohnya..br kita buat keputusan yang tepat untuk suatu pernyataaan…jgn lihat kulitnya aja… saya udah ikut berbagai halakoh..dari hti..dan lain2…dan kalo dibandingkan dengan demokrasi yg sekarang kita anut..emang jauh bedanya… emang bener kita harus mendahulukan qur’an dan hadist…nilai2 islam dalam demokrasi telah rusak… dan bertolak belakang…kita bisa lihat contoh yang banyak terjadi di masyarakat, bahwa emang benar…fakta sosial tidak dapat dijadikan sumber hukumm….krn kl masyarakat blm paham maka yang terjadi adalah hukum allah mengikuti masyarakat..semoga berguna..wassalam #153. Dikirim oleh irwan pada 23/04 05:55 AM Maslahat bersumber dari konteks sosial. Jika dalil agama bertentangan dengan konteks sosial, maka konteks harus didahulukan di atas teks agama??????

Pemikiran itu jelas menunjukkan bahwa si Penulis tersebut, hendak mengatakan bahwa Allah Subhanahu Wata’ala sebagai Zat yang telah mewahyukan sumber hukum Islam (Al-Qur’an) tidak komplit memberikan problem solving bagi manusia. Konteks sosial yang Anda ambil sebagai bahan perbandingan, yakni baju jas (pakaian zaman Belanda dulu) tidak dapat dijadikan hujjah bagi konteks sosial lainnya, apalagi untuk dijadikan hujjah di dalam hal yang hukumnya sudah secara gamblang diterangkan Allah, Sang Pencipta Yang Mahatahu apa yang terbaik bagi ciptaan-Nya. Sebab hukum suatu benda adalah mubah sebelum ada dalil yang mengharamkannya. Contoh-contoh konteks sosial yang Anda sodorkan berbeda dengan apa yang ingin Anda jelaskan. Ingatlah Allah sebagai Pencipta seluruh alam dan segala isinya termasuk menciptakan diri Anda, Mahatahu atas segala apa yang terbaik bagi ciptaan-Nya, dan apa yang tidak baik untuk ciptaan-Nya itu. Sumber hukum yang telah Dia wahyukan kepada Rasul-Nya, Nabi terakhirNabi akhir zaman-Muhammad SAW, telah jelas (al-Qur’an, al-Hadist, Ijma’ Sahabat, dan Qiyas), sehingga apa(hukum yang diambil dari) yang ada diluar yang telah ditetapkan tersebut akan ditolak.

#154. Dikirim oleh Maryam pada 23/04 08:33 AM wah HT itu keliru. di kampung saya saya ratusan hektar saya yg nandurin sbagian kaum wanita ga pake jilbab apalagi baju putih wong dijemur dipetakan sawah sambil mundur bawa benih tuk ditancepin dipetakan sawah HT bilang mski bgamana pun hrs pk pake pakean yg menutup semua ato klo tidak ga usah bkrja ckp dirumah aja trus dicap msk NERAKA. .? jahat bgt HT. nanti klo aktivis HT main kesini , akan ku bawa kau menikmati teriknya matahari sambl bermandi lumpur dan berjalan mundur sambil menenteng benih dan akan kubisikan ditelinganya ’ UPAHMU HANYA UNTUK MAKAN SEHARI ,ANAKMU TIDAK BISA SEKOLAH , SUAMIMU SEDANG NGROMPONG (mencari barang bekas untuk dijual kembali) BELUM TENTU DAPAT DAN YANG TERAKHIR KAN KUBISIKAN KAU AKAN DIPANGGANG DINERAKA JAHANAM SETELAH MATI ...!!!’ #155. Dikirim oleh FAJAR pada 24/04 07:11 PM asw… Wahai sahabat seiman dan yang bertaqwa kepada ALLOH SWT. Perjuangan kita tak akan sia-sia tuk tegakkan syariah Islam… Tetap bersemangatlah untuk kehidupan yang benar-benar dirahmati ALLOH SWT yang kita dambakan… ALLOHUAKBAR!!! #156. Dikirim oleh rudi pada 25/04 06:02 AM as salaualaikum, Khilafah Islam harus tetap kita perjuangkan di negri ini walau perlahan-lahan. Menilik komentar yang diberikan oleh “Hamba Allah” maka itulah pemikiran yang benar. #157. Dikirim oleh arema singa isam pada 03/05 06:12 AM As salamualaikum, saya bukan anggota Hizbut Tahrir tetapi jika itu pemikiran mereka, maka itu adalah benar. #158. Dikirim oleh arema singa isam pada 03/05 06:49 AM tegaknya khilafah adalah keniscayaan. percaya atau tidak itu pasti akan terjadi walaupun menurut logika manusia itu sebuah kemustahilan tapi jauh-jauh hari Rosulullah SAW.telah menyebutkan bahwa khilafah ‘ala minhaajin Nubuwah akan kembali tegak. beruntunglah bagi orang percaya dan memperjuangkannya karena mereka masih punya harapan bagi kehidupan yang lebih baik dan rugilah bagi yang meragukaannya karena hal akan menjadi kesalahan terbesar dalam dugaan logika terbesarnya. ALLAHU AKBAR !!!! #159. Dikirim oleh eval pada 06/05 05:25 PM Fajar, dlm Islam berbicara ada adabnya. Apalagi kalau dikau berbicara penuh emosi, itu akan menurunkan harkat dan martabatmu sbg manusia. Mari berfikir dan bersikap atas dasar Islam, ketaatan pd Allah, Rabb Semesta alam. Smg hidayah Allah tercurah atasmu, walau kau pernah menghina sdrku.. #160. Dikirim oleh WR Abdullah pada 09/05 05:08 AM hizbut tahrir lah yang terbaik di dunia ini…........................... #161. Dikirim oleh komentar pada 12/05 01:55 PM (Gak Kemana2) Yup,, setuju buanget tuch dgn WR Abdullah walaupun begitu sbagai umat muslim yg merupakan saudara, qta gak boleh nghina saudara sendiri apalagi smpai mngkafirkan,,, setiap individu punya pendapat msing2… klo pendapat itu mbawa kebaikan kenapa enggak, kenapa mesti di tolak… sy pnah denger Islam rahmatan lilalamin(bener g ya nulisnya?). yg Rahmat utk Seluruh Alam, Islamnya apa Umat Islamnya. Logika aja Bukanya jdi enak klo negaranya ber Syariat Islam… Jadi Alam nya penuh Rahmat tmasuk manusia manusianya, krna itu tadi Islam Rahmat Tuk Seluruh Alam. #162. Dikirim oleh aida pada 13/05 03:32 PM

saya sepakat sekali klo “khilafah” itu adalah sebuah konsep pemerintahan yang sangat menarik sekali, tapi apakah mungkin konsep seperti ini bisa diterapkan di seluruh dunia? dunia inikan luas, sangat luas malahan. dan di wilayah yg luas pastilah ada banyak sekali perbedaan2 antara wilayah satu dan lainnya. ingat “lain ladang lain belalang, lain lubuk lain ikannya” ato kalian lebih ngerti “different pond, different fish” jangankan di seluruh dunia, di indonesia saja saya rasa bakalan sangat sulit untuk diterapkan, mengingat indonesia punya wilayah yg cukup malahan sangat luas dan banyaknya suku bangsa. luasnya wilayah tentu akan menimbulkan permasalahan yang sangat besar dlm administrasi pemerintahan. sudah barang tentu akan sulit pula bagi khalifah untuk melakukan kontrol terhadap para pejabat2 yg ada wilayah yg jauh (dunia gitu loh!!!) #163. Dikirim oleh anonymous pada 13/05 03:36 PM pendapat saya tidak bisa budaya mempengaruhi agama/islam karena islam hakekat nya diturunkan di muka bumi ini untuk memperbaiki budaya sdh sama2 kita ketahui bagaimana hidup dan berkehidupan pada jaman jahilliyah itu sudah di buktikan islam merubah itu semua bagaimana jadinya kalau agama/islam mengikuti budaya ????? #164. Dikirim oleh beni pada 15/05 06:37 AM bung lambat laun khilafah islamiyah pasti terjadi itu memang sudah hukum yang telah digarisakan seperti pergantian siang dan malam juga setiap yang bernyawa pasti mati(jangan diartikan sempit) sebuah peradaban akan dapat gilirannya baik islam maupun non islam itu sudah pasti.setip umat ada batas manggungnya (ada ajalnya) dan akan dibangkitkan lagi dengan umat yang baru (ini sebuah ketetapan dari dulu sampai hari ini tidak akan berubah)maka yakinlah khilafah itu pasti akan dapat gilirannya tinggal proses pembentukannya harus kenal sunatullah dulu tidak langsung terbentuk khilafah silahkan baca sejarah dalam kitab-kitab Allah(taurat,injil dan Alqur’an)untuk bung ulil absar bahwa sebaik-baiknya perkataan adalah yang bersumber pada kitabullah.jangan anda berpikir bahwa hukum islam itu ada dua (Al-qur’an dan hadits)“fabi ayyi haditsin ba’dahu yu minun?sebaik-baiknya hadits adalah alQur’an.tidak ada lagi . #165. Dikirim oleh bambang pada 15/05 10:05 AM Mas Ulil, sy sependapat dengan anda. Umat ini membutuhkan pencerahan terus-menerus agar mereka dapat memahami Islam sebagai rahmatan lil ‘alamin. Perlu di ketahui bahwa teks AlQur’an itu tidak turun pada ruang yang kosong, akan tetapi ia turun pada konteks sosial yang ada pada masa Nabi. Persentuhan antara teks dan konteks itulah yang kemudian melahirkan hukum. Keliru jika kita memahami teks yang terpisah dari konteks (fakta sosial) yang ada. Hanya dengan pemahaman seperti ini kita bisa menjamin Islam adalah “saalihun likulli zaman wa makaan”. #166. Dikirim oleh Faisal Attamimi pada 17/05 05:50 AM Hanya orang-orang yang berimanlah yang meyakini janji Allah SWT karena janji Allah pasti dan pasti benar adanya. Berdirinya Khilafah adalah Janji Allah maka hanya orang-orang yang berimanlah yang dapat menyakini berdirinya kembali khilafah. selain mereka adalah Sunatullah dan itu wajar maka jangan risau dengan artikelnya JIL, itu sudah sunnatullah. #167. Dikirim oleh eddy romadhon pada 27/05 03:48 AM Assalamualaikum Wr. Wb. Agama yang diridhai oleh Allah hanyalah Islam bukan agama yang lain. Kewajiban menegakkan Khilafah sama dengan kewajiban sholat. Berarti menegakkan Islam itu merupakan suatu kewajiban. Allahu Akbar…...........!!!!! #168. Dikirim oleh Taufiqur Rahman pada 29/05 03:10 AM saya nggak sepakat dengan artikel anda. Menegakkan Khilafah itu adalah wajib bagi setiap muslim. Kalau anda muslim anda juga harus mengetahui Islam itu sendiri. Islam itu kaffah menyeluruh. Allahu Akbar…................!!! #169. Dikirim oleh Taufiqur Rahman pada 29/05 03:14 AM Biarin aja HTI dan para pengikutnya. Mereka adalah orang2 yang tidak menghargai karunia Tuhan yang terbesar: “akal sehat”. Mereka sudah membuang otak dan akal sehatnya. Sebaiknya kita tetap menghargai pilihan mereka, betapapun konyol dan gobloknya, namun hendaknya mereka juga tidak mengganggu kehidupan kita dan menghargai pilihan kita. Agama adalah bagian dari budaya yang selalu berkembang. Agama yang tidak bisa menyesuaikan diri dengan realitas sosial akan ditinggalkan dan akhirnya hanya menjadi catatan masa lalu. Dari abad ke 7 sampai abad ke 14, Hindu dan Buddha dominan di Nusantara. Dari abad 15 sampai sekarang Islam mendominasi Nusantara. Abad ke 16 Kristen mulai masuk ke Nusantara dibawa oleh petualang dan pedagang Eropa, dan tetap menjadi minoritas di Nusantara. Sampai kapan Islam akan dianut masyarakat Indonesia? Rasionalitas dan akal sehat akan menjadi “agama” yang dianut oleh masyarakat dunia di abad yang akan datang.

#170. Dikirim oleh Toni pada 31/05 03:28 PM Assalamu’alaikum saudaraku wafa, Afwan, tidak usah menanggapi tulisan dari ucok, karena sangat terlihat kedangkalan ilmu serta argumentasinya. Mohon maaf, dia hanya menulis berlandaskan emosi yang terlihat dari kata2nya yang tidak berpendidikan. jadi hanya membuang-buang waktu saja. Jazakallahu khoir.. #171. Dikirim oleh Putri pada 07/06 01:22 AM Dari artikel ini baru saya memahami bagaimana jalan pikiran HTI. Dan saya sepakat dengan pendapat penulis. #172. Dikirim oleh Rizki Putri Ramadhani pada 10/06 07:22 AM Kalau fenomena sosial dijadikan sumber hukum maka tidak lagi diperlukan agama biarlah manusia berjalan sesuai dengan norma kehidupannya. Tetapi yang terjadi ternyata tidak demikian. Ketika suatu umat diberi Nabi sebagai panutan maka baiklah umat saat itu. Hanya kemudian umat meninggalkan panutannya, meninggalkan agamaNya maka rusaklah umat itu. Kemudian diutuslah Nabi baru. Sejak nabi Adam, Nuh, Ibrahim, Musa, Is