P. 1
IMPLEMENTASI KEBIJAKAN LAKIP

IMPLEMENTASI KEBIJAKAN LAKIP

|Views: 162|Likes:
Published by Mahmun Syarif Nst
Instruksi Presiden Nomor 7 Tahun 1999 tentang Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah, mewajibkan setiap Instansi Pemerintah mempertanggungjawabkan pelaksanaan tugas pokok dan fungsinya serta kewenangan pengelolaan sumber daya, pelaksanaan kebijakan dan program dengan menyusun Laporan Akuntabilitas Instansi Pemerintah (LAKIP), melalui proses penyusunan Rencana Stratejik, Rencana Kinerja dan Pengukuran Kinerja. Laporan dimaksud menggambarkan tingkat capaian kinerja instansi pemerintah sebagai media pertanggungjawaban dalam Sistem Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (SAKIP) sekaligus berperan sebagai alat kendali dan penilaian kualitas serta alat pendorong bagi terwujudnya good governance dalam perspektif yang lebih luas.
Instruksi Presiden Nomor 7 Tahun 1999 tentang Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah, mewajibkan setiap Instansi Pemerintah mempertanggungjawabkan pelaksanaan tugas pokok dan fungsinya serta kewenangan pengelolaan sumber daya, pelaksanaan kebijakan dan program dengan menyusun Laporan Akuntabilitas Instansi Pemerintah (LAKIP), melalui proses penyusunan Rencana Stratejik, Rencana Kinerja dan Pengukuran Kinerja. Laporan dimaksud menggambarkan tingkat capaian kinerja instansi pemerintah sebagai media pertanggungjawaban dalam Sistem Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (SAKIP) sekaligus berperan sebagai alat kendali dan penilaian kualitas serta alat pendorong bagi terwujudnya good governance dalam perspektif yang lebih luas.

More info:

Published by: Mahmun Syarif Nst on Nov 10, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

10/11/2012

pdf

text

original

IMPLEMENTASI KEBIJAKAN PENYUSUNAN LAKIP DI BALAI DIKLAT KEAGAMAAN MEDAN

Oleh : Mahmun Syarif Pendahuluan Instruksi Presiden Nomor 7 Tahun 1999 tentang Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah, mewajibkan setiap Instansi Pemerintah mempertanggungjawabkan pelaksanaan tugas pokok dan fungsinya serta kewenangan pengelolaan sumber daya, pelaksanaan kebijakan dan program dengan menyusun Laporan Akuntabilitas Instansi Pemerintah (LAKIP), melalui proses penyusunan Rencana Stratejik, Rencana Kinerja dan Pengukuran Kinerja. Laporan dimaksud menggambarkan tingkat capaian kinerja instansi pemerintah sebagai media pertanggungjawaban dalam Sistem Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (SAKIP) sekaligus berperan sebagai alat kendali dan penilaian kualitas serta alat pendorong bagi terwujudnya good governance dalam perspektif yang lebih luas. Untuk mendorong terwujudnya akuntabilitas kinerja dan prinsip-prinsip good governance lainnya, di lingkungan Departemen Agama telah ditetapkan standarisasi penyusunan laporan akuntabilitas kinerja dengan Keputusan Menteri Agama (KMA) Nomor 507 Tahun 2003 tentang Petunjuk pelaksanaan Penyusunan Akuntabilitas Kinerja Satuan Organisasi/Kerja di Lingkungan DepartemenAgama. Tulisan beikut ini mencoba melakukan penelusuran terhadap kebijakan penyusunan LAKIP dan implementasinya di satuan kerja Balai Diklat Keagamaan Medan. Kajian ini urgen mengingat bahwa sebuah laporan LAKIP dalam Sistem Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (SAKIP) merupakan gambaran tertulis mengenai keberhasilan dan kegagalan program pelayanan publik sekaligus berperan sebagai alat kendali dan penilai kualitas kinerja serta alat pendorong terwujudnya good governance dalam perspektif yang lebih luas. Disisi lain, KMA Nomor 507 Tahun 2003 sebagai suatu produk kebijakan yang bertujuan untuk menjadi standar pedoman dalam menyusun perencanaan dan pelaporan akuntabilitas kinerja di lingkungan Departemen Agama perlu dipertanyakan kendala dan keberhasilan implementasinya, khususnya di Balai Diklat Keagamaan Medan.

Pengertian LAKIP
Menurut Inpres Nomor 7 Tahun 1999 Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah adalah adalah dokumen yang berisi gambaran perwujudan AKIP yang disusun dan disampaikan secara sistematik dan melembaga. Menurut Undang Nomor 28 Tahun 1999 tentang Penyelenggaraan Negara yang Bersih dan Bebas KKN, akuntabilitas adalah asas yang menentukan bahwa setiap kegiatan dan hasil akhir dari kegiatan penyelenggaraan negara harus dapat dipertanggungjawabkan kepada masyarakat sebagai pemegang kedaulatan tertinggi negara sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Dalam rangka itu, pemerintah telah menerbitkan Peraturan Presiden RI Nomor 8 Tahun 2006 tentang Pelaporan Keuangan dan Kinerja Instansi Pemerintah. Peraturan Presiden tersebut mewajibkan setiap instansi pemerintah sebagai unsur penyelenggara negara untuk mempertanggungjawabkan pelaksanaan tugas dan fungsi serta pengelolaan sumberdaya dan kebijakan yang dipercayakan kepadanya berdasarkan perencanaan strategis (strategic planning) yang ditetapkan. Dalam sistem akuntabilitas instansi pemerintah LAKIP berisikan Rencana Stratejik dan Akuntabilitas Kinerja. Rencana Strategis, memuat penetapan visi, misi, tujuan, sasaran, dan strategi

(cara mencapai tujuan dan sasaran) yang dijabarkan ke dalam kebijakan dan program, serta ukuran keberhasilan dalam pelaksanaannya. Selanjutnya, rencana kinerja kegiatan akan ditetapkan kemudian dalam dokumen tersendiri melalui perencanaan kinerja tahunan dalam kurun waktu 5 (lima tahun) pada 2005-2009 yang menjabarkan kegiatan dan indikator kinerja berdasarkan program, kebijakan dan sasaran yang telah ditetapkan dalam rencana strategis. Penyusunan rencana kinerja tahunan (Dokumen RKT) dilakukan setiap tahun seiring dengan agenda penyusunan dan kebijakan anggaran. Akuntabilitas kinerja memuat pengukuran kinerja kegiatan (Dokumen PKK) dan pengukuran pencapaian sasaran (Dokumen PPS) berdasarkan rencana tingkat capaian yang ada pada dokumen Rencana Kinerja Tahunan (RKT). Berikutnya diadakan analisis akuntabilitas kinerja berdasarkan efektifitas dan efisiensinya. Fungsi, Tujuan dan Manfaat LAKIP Fungsi Penyusunan LAKIP dapat dijabarkan adalah sebagai berikut; 1. Suatu media hubungan kerja organisasi yang berfungsi informasi dan data yang telah diolah; 2. Wujud tertulis pertanggungjawaban suatu organisasi instansi kepada pemberi wewenang dan mandat, sehingga LAKIP berfungsi juga sebagai raport dari pimpinan unit organisasi; 3. LAKIP berisi tentang kinerja instansi dan akuntabilitasnya, yaitu gambaran mengenai tingkat pencapaian pelaksanaan suatu kegiatan/ program/ kebijakan dalam mewujudkan visi, misi, tujuan, sasaran organisasi dan merupakan media akuntabilitas setiap instansi; 4. Sebagai media informasi tentang sejauh mana penentuan prinsipprinsip good governance termasuk penerapan fungsi-fungsi manajemen

secara benar di instansi yang bersangkutan. Tujuan penyusunan dan penyampaian LAKIP : 1. Untuk mewujudkan akuntabilitas instansi pemerintah kepada pihak pemberi mandat/amanat; 2. Pertanggungjawaban dari unit yang lebih rendah kepada unit kerja yang lebih tinggi atau pertanggungjawaban dari bawahan kepada atasan; 3. Perbaikan dalam perencanaan, khususnya perencanaan jangka menengah dan pendek. LAKIP yang disampaikan oleh instansi pemerintah bermanfaat untuk : 1. Meningkatkan akuntabilitas, kredibilitas instansi dimata instansi yang lebih tinggi dan akhirnya meningkatkan kepercayaan masyarakat terhadap instansi; 2. Merupakan umpan balik untuk peningkatan kinerja instansi pemerintah; 3. Dapat mengetahui dan menilai keberhasilan dan kegagalan dalam melaksanakan tugas dan tanggung jawab instansi; 4. Mendorong instansi pemerintah untuk menyelenggarakan tugas umum pemerintahan dan pembangunan secara baik, sesuai ketentuan, peraturan perundangundangan yang berlaku serta kebijakan yang transparan dan dapat dipertanggungjawabkan kepada masyarakat; 5. Menjadikan instansi yang akuntabel sehingga dapat beroperasi secara efisien, efektif, dan responsif terhadap aspirasi masyarakat dan lingkungan.

Sekilas tentang Keagamaan Medan

Balai

Diklat

Berdasarkan Keputusan Menteri Agama Nomor : 345 Tahun 2004 Tentang

Organisasi dan Tata Kerja Balai Pendidikan dan Pelatihan Keagamaan, Balai Pendidikan dan Pelatihan Keagamaan Medan (Balai Diklat Keagamaan Medan) adalah unit pelaksana teknis Badan Penelitian Pengembangan Agama Dan Pendidikan Pelatihan Keagamaan (Balitbang Agama Dan Diklat Keagamaan), berada di bawah dan bertanggung jawab kepada Kepala Balitbang Agama Dan Diklat Keagamaan. Berdasarkan kedudukan tersebut Balai Diklat Keagamaan Medan mempunyai tugas dan fungsi sebagai berikut : a. Tugas Melaksanakan pendidikan dan pelatihan tenaga administrasi dan tenaga tehnis keagamaan sesuai dengan wilayah kerja masingmasing. Balai Diklat keagamaan Medan, wilayah kerjanya meliputi Provinsi Sumatera Utara dan Nanggroe Aceh Darussalam. b. Fungsi Dalam melaksanakan tugasnya, Balai Diklat Keagamaan Medan menyelenggarakan fungsi : i. Perumusan visi, misi dan kebijakan Balai Diklat Keagamaan; ii. penyelenggaraan pendidikan dan pelatihan tenaga administrasi dan tenaga tehnis keagamaan; iii. pelayanan di bidang pendidikan dan pelatihan keagamaan; iv. penyiapan dan penyajian laporan hasil pelaksanaan tyugas Balai Diklat Keagamaan; v. pelaksanaan koordinasi dan pengembangan kemitraan dengan satuan organisasi/ satuan kerja di lingkungan Departemen Agama dan pemerintah daerah serta lembaga terjkait lainnya.

Kebijakan di Departemen Agama

Lingkungan

Sesuai dengan KMA Nomor 507 Tahun 2003 tentang Petunjuk pelaksanaan Penyusunan Akuntabilitas Kinerja Satuan Organisasi/Kerja di Lingkungan Departemen Agama dalam menyusun LAKIP ditempuh dengan langkah-langkah sebagai berikut; 1. Menyusun Tim Kerja; 2. Mengumpulkan, memahami kebijakan yang berhubungan dengan LAKIP antara lain : a. Instruksi Presiden Nomor 7 Tahun 2003; b. Peraturan Menteri Agama Nomor 21 Tahun 2006; c. Instruksi Menteri Agama, Surat Edaran; d. Kebijakan Teknis (Instruksi dan Surat Edaran Pejabat Eselon I). 3. Mengumpulkan data baik internal maupun eksternal yang berhubungan dengan keberhasilan/kegagalan serta capaian inputs, outputs, outcomes, benefits, dan impacts; 4. Pembahasan dan klarifikasi data internal/eksternal kepada yang terkait; 5. Membuat rekap DIPA tahun laporan (menentukan jumlah kegiatan, jumlah dana setiap kegiatan, jumlah harga barang/jasa yang dibeli oleh dana setiap kegiatan, sisa dana setiap kegiatan yang ada pada DIPA tersebut); 6. Mengumpulkan rencana stratejik 5 tahun yang telah dibuat oleh bagian perencanaan; 7. Mempedomani penetapan kinerja yang dibuat pada awal tahun laporan pada waktu menerima DIPA (sasaran, program dan kegiatan yang ada pada DIPA dan Non DIPA yang akan dilaksanakan diisikan pada formulir RKT, dengan demikian RKT yang ada pada LAKIP isinya adalah rekap DIPA

dan Non DIPA tahun yang akan dilaporkan pada LAKIP; 8. Atas dasar penetapan kinerja tersebut pada ad 7 diatas dilakukan pengukuran kinerja kegiatan; 9. Untuk memudahkan penyusunan LAKIP maka, kegiatan/sasaran yang telah dilakukan setiap bulan segera dilakukan pengukuran kinerja kegiatan/sasaran 10. Melakukan evaluasi kinerja : a. Analisis efisiensi (untuk mengetahui tingkat efisiensi kegiatan); b. Analisis efektifitas (untuk mengetahui keserasian antara tujuan dengan hasil, manfaat, dampak); c. Analisis akuntabilitas (mengetahui keterkaitan antara hasil dengan kegiatan, program, kebijakan, sasaran, tujuan, misi dan visi). 11. Melakukan penyusunan narasi LAKIP yang terdiri dari : a. Ikhtisar Eksekutif; b. Daftar Isi; c. BAB I Pendahuluan; d. BAB II Rencana Stratejik; e. BAB III Akuntabilitas Kinerja; f. BAB IV Penutup; g. Lampiran-Lampiran (Form RS, RKT, PKK dan PPS, serta Dokumen Terkait). 12. Menandatangani LAKIP dan menyampaikan kepada Pimpinan.

Penyusunan LAKIP di Balai Diklat Keagamaan Medan
Secara umum Balai Diklat Keagamaan Medan telah melakukan langkah-langkah penyusunan LAKIP sesuai dengan petunjuk tehnis yang ada. Kegiatan penyusunan LAKIP diawali dengan menetapkan Rencana Kinerja Tahunan. Rencana Kinerja Tahunan diambil dari dokumen Rencana Stratejik Tahun 2005 – 2009 berdasarkan skala prioritas maupun masukan dari stakeholder untuk dilaksanakan pada tahun anggaran

berjalan. Setelah turun DIPA (biasanya setiap awal tahun), dilakukan penetapan kinerja untuk selanjutnya dilaksanakan kegiatan dalam rangka mencapai visi dan misi Balai Diklat keagamaan Medan. Setelah kegiatan dilaksanakan, dilakukan pengukuran dan evaluasi kinerja untuk memperoleh realisasi rencana tingkat capaian/ target masing-masing indikator input, output, outcomes, benefit dan imfacts berdasarkan data internal dan eksternal organisasi. Untuk melaksanakan penyusunan LAKIP sesuai dengan petunjuk tehnis yang ada kebijakan yang diterapkan di Balai Diklat Keagaman Medan dapat dijabarkan sebagai berikut; 1. Pada setiap awal tahun di SK-kan satu Tim Penyusun LAKIP yang bertugas untuk mengolah informasi dari data internal dan eksternal yang berkaitan dengan pencapaian setiap rencana tingkat capaian setiap kegiatan yang tercantum didalam DIPA. 2. Untuk memudahkan pengukuran dan evaluasi kinerja, setiap bulan diadakan pengukuran pencapaian sasaran terhadap kegiatan yang telah selesai dilaksanakan. (Khusus untuk indikator benefit dan infacts biasanya belum dapat dilakukan pengukurannya berhubung kegiatan baru dilaksanakan ataupun benefit dan imfacts-nya belum diketahui). 3. Pada akhir tahun dilakukan rekapitulasi data untuk finalisasi pembuatan laporan sesuai dengan sistematika yang ada.

Masalah dan Solusi Penyusunan LAKIP
Adapun masalah dalam penyusunan LAKIP di Balai Diklat Keagamaan Medan diantaranya dapat dijabarkan sebagai berikut; 1. Sistem perencanan kegiatan belum terlaksana dengan baik. Kegiatan yang tercantum dalam dokumen Rencana Kinerja Tahunan banyak

yang tidak tertampung dalam DIPA sesungguhnya dari Balai Diklat dan ada sebagian kegiatan yang Keagamaan Medan. tidak direncanakan dalam dokumen 4. Perencanaan Kegiatan Diklat dalam Renstra tapi tertampung dalam Renstra belum dibuat analisis DIPA, oleh karena itu Tim Penyusun kebutuhan diklat, Perencanaan LAKIP perlu melakukan diklat yang ada baru sebatas rapat penyesuaian Rencana Kinerja koordinasi dengan stakeholders Tahunan dengan DIPA yang ada. yang ada. Sesuai Peraturan Solusinya pada masa yang akan Pemerintah Nomor 101 Tahun 2000 datang adalah supaya diadakan tentang Pendidikan dan Pelatihan perencanaan yang lebih matang Pegawai Negeri Sipil diklat dalam penyusunan Renstra dan dilaksanakan dengan melakukan Renja. analisis kebutuhan diklat. Solusinya 2. Adanya kesulitan tim dalam pada masa mendatang perlu dibuat menentukan setiap besaran analisis kebutuhan diklat sehingga indikator outcome, benefit dan infact perencanaan dklat lebih berhasil. berhubung alat ukur penilaiannya Penutup. belum terstandarisasi, sehingga tim Balai Diklat Keagamaan Medan hanya melakukan taksiran saja telah berupaya menyusun LAKIP sesuai terhadap hasil pencapaiannya. Pada kebijakan KMA Nomor 507 Tahun 2003 masa mendatang perlu dibuat tentang Petunjuk pelaksanaan standarisasi setiap indikator capaian Penyusunan Akuntabilitas Kinerja Satuan output, outcomes, benefit dan infact. Organisasi/Kerja di Lingkungan 3. Tim yang bertugas untuk menyusun Departemen Agama. Namun dalam LAKIP bekerja sampingan pelaksanaannya masih perlu ditingkatkan mengingat belum ada anggaran dari segi; sinergitas perencanaan dengan khusus yang berkaitan dengan kebijakan penganggaran; penyusunan penyusunan LAKIP, sehingga indikator setiap rencana tingkat capaian hasilnya kurang maksimal. Kedepan yang terstandarisasi dan adanya dukungan perlu dialokasikan biaya khusus alokasi dana khusus untuk penyusunan yang berkaitan dengan penyusunan LAKIP. Semoga bermanfaat. LAKIP supaya LAKIP yang disusun dapat menggambarkan kinerja yang Daftar Pustaka: 1. Buku Pedoman Sistem Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah, LAN, 1999 2. Modul Sistem Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (Edisi ke-2) , LAN, Jakarta 2004 3. Keputusan Menteri Agama Nomor 507 Tahun 2003 tentang Petunjuk pelaksanaan Penyusunan Akuntabilitas Kinerja Satuan Organisasi/Kerja

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->