P. 1
Uji Efek Proteksi Fraksi Etil Asetat Ekstrak Metanol Rimpang Temu Giring (Curcuma heyneana Val.) Terhadap Peningkatan Kadar Kolesterol Tikus Putih Jantan Galur Wistar Yang Diberi Diet Kolesterol Tinggi.

Uji Efek Proteksi Fraksi Etil Asetat Ekstrak Metanol Rimpang Temu Giring (Curcuma heyneana Val.) Terhadap Peningkatan Kadar Kolesterol Tikus Putih Jantan Galur Wistar Yang Diberi Diet Kolesterol Tinggi.

|Views: 5,519|Likes:
Published by Faik Fauzi
Skripsi Faik Fauzi
Apabila anda ingin membutuhkan dokumen ini, silahkan hubungi email saya: faikfauzi@gmail.com. Saya dengan senang hati akan mengirimkannya untuk anda..
Semoga bermanfaat bagi dunia pendidikan dan semoga dengan publikasi online skripsi ini menjadi awal dari terbukanya semua akses informasi bagi semua kalangan..
Skripsi Faik Fauzi
Apabila anda ingin membutuhkan dokumen ini, silahkan hubungi email saya: faikfauzi@gmail.com. Saya dengan senang hati akan mengirimkannya untuk anda..
Semoga bermanfaat bagi dunia pendidikan dan semoga dengan publikasi online skripsi ini menjadi awal dari terbukanya semua akses informasi bagi semua kalangan..

More info:

Published by: Faik Fauzi on Nov 10, 2011
Copyright:Traditional Copyright: All rights reserved

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF or read online from Scribd
See more
See less

10/16/2013

Senyawa tanin terdapat luas di dalam tumbuhan berpembuluh. Senyawa

ini merupakan penghambat enzim yang kuat bila terikat dengan protein. Menurut

batasannya tanin dapat bereaksi dengan dengan protein membentuk kopolimer

mantap yang tidak larut di dalam air. Di dalam tumbuhan letak tanin terpisah dari

protein dan sitoplasma tetapi apabila jaringan rusak, misalnya jaringan yang

dimakan oleh hewan maka bisa terjadi reaksi penyamakan. Tanin merupakan

senyawa bakteriostatik terhadap gram positif dan gram negatif (Pramono, 1989)

Secara kimia tanin dibagi menjadi dua yaitu tanin yang terhidrolisis dan

tanin yang terkondensasi.

13

a) Tanin Terhidrolisis (hydrolysable tannins).

Tanin ini biasanya berikatan dengan karbohidrat dengan membentuk

jembatan oksigen, maka dari itu tanin ini dapat dihidrolisis dengan menggunakan

asam sulfat atau asam klorida. Salah satu contoh jenis tanin ini adalah gallotanin

yang merupakan senyawa gabungan dari karbohidrat dengan asam galat.

Selain membentuk gallotanin, dua asam galat akan membentuk tanin

terhidrolisis yang bisa disebut Ellagitanins. Ellagitanin sederhana disebut juga

ester asam hexahydroxydiphenic (HHDP). Senyawa ini dapat terpecah menjadi

asam galic jika dilarutkan dalam air.

Tanin jenis penyebarannya terbatas pada tumbuhan berkeping dua. Deteksi

pendahuluan dalam jaringan lain dengan mengidentifikasi asam galat atau asam

elagat dalam fraksi eter atau etil asetat yang dipekatkan dengan sinar UV akan

tampak bercak ungu yang menjadi gelap bila diuapi NH3 selain itu juga bisa

dengan menggunakan KCKT (Harborne, 1996)

b) Tanin terkondensasi (condensed tannins).

Tanin jenis ini biasanya tidak dapat dihidrolisis, tetapi dapat terkondensasi

menghasilkan asam klorida. Tanin jenis ini kebanyakan terdiri dari polimer

flavonoid yang merupakan senyawa fenol dan telah dibahas pada bab yang lain.

Nama lain dari tanin ini adalah Proanthocyanidin. Proanthocyanidin merupakan

polimer dari flavonoid yang dihubungkan dengan melalui C8 dengan C4. Salah

satu contohnya adalah Sorghum procyanidin, senyawa ini merupakan trimer yang

tersusun dari epiccatechin dan catechin.

14

Tanin jenis ini terdapat di dalam paku-pakuan dan gimnospermae serta

angiospermae terutama pada jenis tumbuhan berkayu. Tanin terkondensasi dapat

dideteksi langsung dalam jaringan dengan mencelupkannya ke dalam HCl 2M

mendidih selama 30 menit. Bila terdapat warna merah yang dapat diekstraksi

dengan amil atau butil alkohol maka ini merupakan bukti adanya tanin. Selain itu

tanin jenis ini juga dapat dideteksi dengan kromatografi kertas dua arah memakai

fase atas pengembang butanol-asam asetat (14:1:5) diikuti dengan asam asetat

6%. Selain itu dapat pula dideteksi dengan UV dan KCKT (Harborne, 1996).

3) Kurkumin

Kurkumin (Gambar 2) adalah senyawa aktif yang ditemukan pada kunir,

berupa polifenol dengan rumus kimia C21H20O6. Kurkumin merupakan salah satu

produk senyawa metabolit sekunder dari tanaman kunyit dan temulawak.

Senyawa ini merupakan golongan karatenoid yaitu pigmen (zat warna) yang larut

dalam lemak berwarna kuning sampai merah. Kurkumin termasuk golongan

senyawa polifenol dengan struktur kimia 1,7-bis (4’hidroksi-3 metoksifenil)-1,6

heptadien 3,5-dion. Kurkumin dapat memiliki dua tautomer yaitu keton dan enol.

Sturktur keton lebih dominan dalam bentuk padat sedangkan struktur enol

ditemukan dalam bentuk cairan. Pada struktur kurkumin terdapat ikatan rangkap

terkonjugasi dan pasangan elektron bebas sehingga berpotensi sebagai ligan.

Kurkumin juga termasuk senyawa β-ketoenolat yang dapat membentuk kompleks

khelat cincin enam yang sangat stabil (Herlinawati, 1984) Kurkumin mempunyai

sifat sebagai antioksidan (Sudarsono dkk, 1996)

15

Gambar 2. Struktur kimia kurkumin

4) Flavonoid

Flavonoid merupakan salah satu metabolit sekunder, kemungkinan

keberadaannya dalam daun dipengaruhi oleh adanya proses fotosintesis sehingga

daun muda belum terlalu banyak mengandung flavonoid. Senyawa flavonoid

adalah senyawa yang mempunyai struktur C6-C3-C6. tiap bagian C6 merupakan

cincin benzen yang terdistribusi dan dihubungkan oleh atom C3 yang merupakan

rantai alifatik Dalam tumbuhan flavonoid terikat pada gula sebagai glikosida dan

aglikon flavonoid yang mungkin terdapat dalam satu tumbuhan dalam bentuk

kombinasi glikosida (Harbone, 1987).

Aglikon flavonoid (yaitu flavonoid tanpa gula terikat) terdapat dalam

berbagai bentuk struktur. Golongan flavonoid dapat digambarkan sebagai deretan

senyawa C6-C3-C6, artinya kerangka karbonnya terdiri atas dua gugus C6 (cincin

benzena) disambungkan oleh rantai alifatik tiga karbon. Kelas-kelas yang

berlainan dalam golongan flavonoid dibedakan berdasarkan cincin heterosiklik-

oksigen tambahan dan gugus hidroksil yang tersebar menurut pola yang berlainan.

Flavonoid merupakan senyawa pereduksi yang baik, menghambat banyak

reaksi oksidasi, baik secara enzim maupun non enzim. Flavonoid bertindak

16

sebagai penampung yang baik radikal hidroksi dan superoksida dengan demikian

melindungi lipid membran terhadap reaksi yang merusak. Aktivitas

antioksidannya dapat menjelaskan mengapa flavonoid tertentu merupakan

komponen aktif tumbuhan yang digunakan secara tradisional untuk mengobati

gangguan fungsi hati (Robinson, 1995).

Flavonoid merupakan golongan terbesar senyawa fenol alam. Flavonoid

merupakan senyawa polar karena mempunyai sejumlah gugus hidroksil yang tak

tersulih atau suatu gula, sehingga akan larut dalam pelarut polar seperti etanol,

metanol, butanol, aseton, dimetilsulfoksida, dimetilformamida, dan air. Adanya

gula yang terikat pada flavonoid cenderung menyebabkan flavonoid lebih mudah

larut dalam air dan dengan demikian campuran pelarut di atas dengan air

merupakan pelarut yang lebih baik untuk glikosida. Sebaliknya, aglikon yang

kurang polar seperti isoflavon, flavanon, dan flavon serta flavonol yang

termetoksilasi cenderung lebih mudah larut dalam pelarut seperti eter dan

kloroform. Analisa flavonoid lebih baik dengan memeriksa aglikon yang terdapat

dalam ekstrak tumbuhan yang telah dihidrolisis sebelum memperhatikan

kerumitan glikosida yang ada dalam ekstrak asal (Harbone, 1987).

Kegunaan senyawa flavonoid menunjukan aktivitas biologi yang beragam

diantaranya adalah sebagai antivirus, antihistamin, diuretik, antiinflamasi,

antimikroba dan antioksidan (Dewick, 2002).

17

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->