Perang Padri Perang Padri merupakan peperangan yang pada awalnya akibat pertentangan dalam masalah agama sebelum

berubah menjadi peperangan melawan penjajahan. Perang Padri ini terjadi pada kawasan Kerajaan Pagaruyung antara tahun 1803 hingga 1838.[1] Peperangan ini dimulai dengan munculnya gerakan Kaum Padri (Kaum Ulama) dalam menentang perbuatan-perbuatan yang marak waktu itu di kalangan masyarakat yang ada dalam kawasan Kerajaan Pagaruyung sekitarnya, seperti perjudian, penyabungan ayam, penggunaan madat (opium), minuman keras, tembakau, sirih, dan juga aspek hukum adat matriarkat mengenai warisan dan umumnya pelaksanaan longgar kewajiban ritual formal agama Islam.[2] Perbedaan pendapat ini memicu peperangan antara Kaum Padri yang dipimpin oleh Harimau nan Salapan dengan Kaum Adat di bawah pimpinan Yang Dipertuan Pagaruyung waktu itu Sultan Arifin Muningsyah. Kemudian peperangan ini meluas dengan melibatkan BelandaHarimau nan Salapan (Harimau yang Delapan), merupakan sebutan untuk pimpinan beberapa perguruan yang tersebar di Nagari yang ada dalam Kerajaan Pagaruyung masa itu, yang kemudian menjadi pemimpin dari Kaum Padri. Berikut ini nama pemimpin Harimau nan Salapan tersebut: Tuanku nan Renceh atau Tuanku nan Tuo atau Tuanku Kamang Tuanku Mansiangan Tuanku Pandai Sikek Tuanku Lintau Tuanku Pasaman Tuanku Rao Tuanku Tambusai Tuanku Barumun Perang Saudara Perang Padri merupakan peperangan yang meninggalkan kenangan heroik sekaligus traumatis dalam memori bangsa. Hampir selama 20 tahun pertama perang ini (1803-1821), dapatlah dikatakan sebagai perang saudara antara sesama etnis Minang dan Mandailing atau Batak umumnya. Pada awalnya peperangan ini dilatar belakangi oleh adanya keinginan para ulama di Kerajaan Pagaruyung untuk menerapkan dan menjalan syariat Islam sesuai dengan Mahzab Wahabi yang waktu itu berkembang di tanah Arab (Arab Saudi sekarang). Kemudian pemimpin para ulama yang tergabung dalam Harimau nan Salapan meminta Tuanku Lintau untuk mengajak Raja Pagaruyung Sultan Arifin Muningsyah beserta Kaum Adat untuk meninggalkan beberapa kebiasaan yang tidak sesuai dengan ajaran Islam. Dalam beberapa perundingan tidak ada kata sepakat antara kaum Padri dengan kaum Adat. Seiring itu beberapa nagari dalam kerajaan Pagaruyung bergejolak, puncaknya pada tahun 1815, kaum Padri dibawah pimpinan Tuanku Pasaman menyerang kerajaan Pagaruyung, dan pecahlah peperangan di Koto Tangah. Serangan ini menyebabkan Sultan Arifin Muningsyah terpaksa menyingkir dan melarikan diri dari ibukota kerajaan.[3] Dari catatan Raffles yang pernah mengunjungi Pagaruyung di tahun 1818, menyebutkan bahwa ia hanya mendapati sisa-sisa istana raja Minangkabau yang sudah terbakar. Serangan ke Bonjol

Tuanku Imam Bonjol terus mencoba mengadakan konsolidasi terhadap seluruh pasukannya yang telah bercerai-berai dan lemah. Tuanku Imam Bonjol kembali dipindahkan ke Menado. dengan kekuatan yang besar pasukan Belanda memulai gerakan maju menuju sasaran akhir yaitu benteng Bonjol di Bukit Tajadi. Sesampainya di Sipisang. Pada tanggal 23 April 1835 gerakan pasukan Belanda ini telah berhasil mencapai tepi Batang Gantiang. guna membuka jalur baru menuju Bonjol. Tuanku Imam Bonjol diminta untuk datang ke Palupuh tempat perundingan tanpa membawa senjata. Kemudian pada tanggal 19 Januari 1839. tiba-tiba datang surat tawaran dari Residen Francis di Padang untuk mengajak berunding. sementara pasukan Kaum Padri tetap bersiaga di seberangnya. Selanjutnya pada tanggal 11 Juni 1835 pasukan Belanda kembali bergerak menuju sebelah timur Batang Alahan Panjang dan membuat kubu pertahanan di sana. Sebagai front terdepan dari Alahan Panjang adalah daerah Padang Lawas. Namun pada tanggal 8 Juni 1835 pasukan Belanda berhasil menguasai daerah ini. Jatuhnya daerah Sipisang ini meningkatkan moralitas pasukan Belanda.Pada tanggal 16 April 1835. pecah pertempuran sengit antara pasukan Belanda dengan Kaum Padri selama tiga hari tiga malam pertempuran berlangsung tanpa henti. kemudian bersama bergerak menuju Masang. Dari sini hanya ada satu jalan sempit menuju Sipisang. Pada tengah malam tanggal 16 Juni 1835 pasukan Belanda berhasil mendekati Bonjol dalam jarak kira-kira hanya 250 langkah dari Bonjol dan kemudian mencoba membuat kubu pertahanan di sana. pasukan Kaum Padri terpaksa mengundurkan diri ke hutan-hutan rimba sekitarnya. daerah yang masih dikuasai oleh Kaum Padri. yang secara penuh masih dikuasai oleh Kaum Padri. Namun pada tanggal 23 Januari 1838. di mana pasukan Belanda dipimpin oleh Letnan Kolonel Bauer yang kemudian memecah pasukannya menjadi dua bagian yang bergerak masing-masing dari Matur dan Bamban. peristiwa itu terjadi di bulan Oktober 1837 dan kemudian Tuanku Imam Bonjol dalam kondisi sakit langsung dibawa ke Bukittinggi kemudian terus dibawa ke Padang. hampir sebulan waktu yang diperlukan untuk dapat mendekati daerah Alahan Panjang. Tuanku Imam Bonjol menemui ajalnya . Pasukan ini mesti menyeberangi sungai yang saat itu lagi banjir. pada tanggal 8 November 1864. Tapi hal itu cuma jebakan Belanda untuk menangkap Tuanku Imam Bonjol. dan pada akhir tahun 1838. ia kembali dipindahkan ke Ambon. mortir dan meriam besar. Dalam kondisi seperti ini. Namun Kaum Padri juga tidak tinggal diam. untuk selanjutnya diasingkan. Selama 14 hari berkibar bendera putih dan gencatan senjata berlaku. Walau pergerakan laju pasukan Belanda menuju Bonjol masih sangat lamban. mendaki gunung dan menuruni lembah. Belanda memutuskan untuk kembali mengadakan serangan besar-besaran untuk menaklukkan Bonjol dan sekitarnya. dan kemudian daerah ini dijadikan sebagai kubu pertahanan sambil menunggu pembuatan jembatan menuju Bonjol. dan terus masuk menyelusup ke dalam hutan rimba. dan di daerah inilah setelah menjalani masa pembuangan selama 27 tahun lamanya. menembaki benteng Bonjol. namun karena telah lebih 3 tahun bertempur melawan Belanda secara terus menerus. Operasi militer dimulai pada tanggal 21 April 1835. Perundingan Dalam pelarian dan persembunyiannya. ia dipindahkan ke Cianjur. ternyata hanya sedikit saja yang tinggal dan masih siap untuk bertempur kembali. Selanjutnya dengan menggunakan houwitser. Namun karena posisi yang kurang menguntungkan. kemudian membalas dengan menembakan juga meriam-meriam dari Bukit Tajadi. Perundingan itu dikatakan tidak boleh lebih dari 14 hari lamanya. dan kemudian terus menyeberanginya dan berkumpul di Batusari. dan pada tanggal 21 Juni 1835. Kemudian Tuanku Imam Bonjol menyatakan kesediaannya melakukan perundingan. pasukan Belanda banyak menjadi korban. Namun dengan kekuatan yang jauh tak sebanding. sampai korban di kedua belah pihak banyak yang berjatuhan. Kemudian pada tanggal 17 Juni 1835 kembali datang bantuan tambahan pasukan sebanyak 2000 orang yang dikirim oleh Residen Francis di Padang.

Ia kemudian memerintahkan bawahannya untuk mencabut patok-patok yang melewati makam tersebut. mereka juga melakukan monopoli usaha dan perdagangan untuk memaksimalkan keuntungan. disebutkan bahwa sekitar 200. Baik korban harta maupun jiwa. Guwosari Pajangan Bantul.Akhir Peperangan Meskipun pada tahun 1337. benteng Bonjol dapat dikuasai Belanda. Sultan Hamengku Buwono V yang baru berusia 3 tahun. termasuk di Hindia Belanda. mengubah rencananya dan membelokan jalan itu melewati Tegalrejo.000. sebuah goa yang terletak di Dusun Kentolan Lor. Akan tetapi pada prakteknya. salah satu di antaranya adalah Kerajaan Yogyakarta. Perang Diponegoro merupakan salah satu pertempuran terbesar yang pernah dialami oleh Belanda selama menjajah Nusantara. seseorang yang mudah dipengaruhi dan tunduk kepada Belanda. pemerintah Belanda yang awalnya memerintahkan pembangunan jalan dari Yogyakarta ke Magelang lewat Muntilan. Belanda dianggap mengangkat seseorang yang tidak sesuai dengan pilihan/adat keraton. kemenakannya. Hindia Belanda (sekarang Indonesia). Latar belakang Setelah kekalahannya dalam Peperangan era Napoleon di Eropa. Belanda —yang tidak berhasil menangkap Pangeran Diponegoro— membakar habis kediaman Pangeran. Peperangan ini melibatkan seluruh wilayah Jawa. Hal inilah yang membuat Pangeran Diponegoro tersinggung dan memutuskan untuk mengangkat senjata melawan Belanda. Terdesak. dan akhirnya peperangan ini dianggap selesai dan kemudian Kerajaan Pagaruyung ditetapkan menjadi bagian dari pax neerlandica dan menyatakan wilayah Padangse Bovenlanden berada di bawah pengawasan Belanda. Belanda mulai berusaha menguasai kerajaankerajaan lain di Nusantara.000 jiwa rakyat yang terenggut. Belanda: De Java Oorlog). Pajak-pajak dan praktek monopoli tersebut amat mencekik rakyat Indonesia yang ketika itu sudah sangat menderita. korban tewas berjumlah 8. Sementara itu. pada 20 Juli 1825 mengepung kediaman beliau. maka disebutlah perang ini sebagai Perang Jawa. di Dalu-Dalu. pemerintah Belanda yang berada dalam kesulitan ekonomi berusaha menutup kekosongan kas mereka dengan memberlakukan berbagai pajak di wilayah jajahannya. Pangeran beserta keluarga dan pasukannya menyelamatkan diri menuju barat hingga Desa Dekso di Kabupaten Kulonprogo. . Untuk semakin memperkuat kekuasaan dan perekonomiannya. Pangeran Diponegoro kemudian menjadikan Goa Selarong. Pada pertengahan bulan Mei 1825. adalah perang besar dan menyeluruh berlangsung selama lima tahun (1825-1830) yang terjadi di Jawa. Selain itu. yang waktu itu telah dipimpin oleh Tuanku Tambusai jatuh pada tahun 28 Desember 1838. Belanda tepat melintasi makam dari leluhur Pangeran Diponegoro. dan bersama sisa-sisa pengikutnya pindah ke Semenanjung Malaya. Belanda yang mempunyai alasan untuk menangkap Pangeran Diponegoro karena dinilai telah memberontak. tetapi peperangan ini masih berlanjut sampai akhirnya benteng terakhir Kaum Padri. diangkat menjadi penguasa. Sementara itu di pihak serdadu Belanda. Dokumen-dokumen Belanda yang dikutip para ahli sejarah. pemerintahan kerajaan dilaksanakan oleh Patih Danuredjo. dan Tuanku Imam Bonjol berhasil ditipu dan ditangkap. Perang Diponegoro Perang Diponegoro (Inggris:The Java War. Rupanya di salah satu sektor. dan meneruskan ke arah selatan hingga tiba di Goa Selarong yang terletak lima kilometer arah barat dari Kota Bantul. Ketika Sultan Hamengku Buwono IV wafat. antara pasukan penjajah Belanda di bawah pimpinan Jendral De Kock[1] melawan penduduk pribumi yang dipimpin seorang pangeran Yogyakarta bernama Pangeran Diponegoro.[15] Jatuhnya benteng tersebut memaksa Tuanku Tambusai mundur. sebagai basisnya. Pangeran menempati goa sebelah Barat yang disebut Goa Kakung. Dalam perang ini telah berjatuhan korban yang tidak sedikit.

Pada tahun 1829.yang juga menjadi tempat pertapaan beliau. curah hujan menjadi berita utama. Serangan-serangan besar rakyat pribumi selalu dilaksanakan pada bulan-bulan penghujan. Pertempuran berlangsung sedemikian sengitnya sehingga bila suatu wilayah dapat dikuasai pasukan Belanda pada siang hari. Ketika gencatan senjata terjadi. Front pertempuran terjadi di puluhan kota dan desa di seluruh Jawa. pemimpin spiritual pemberontakan. sejari kepala sejengkal tanah dibela sampai mati.S. Produksi mesiu dan peluru berlangsung terus sementara peperangan berkencamuk. Belanda mengerahkan lebih dari 23. ditangkap. Sedangkan Raden Ayu Retnaningsih (selir yang paling setia menemani Pangeran setelah dua istrinya wafat) dan pengiringnya menempati Goa Putri di sebelah Timur. memecah belah dan bahkan menekan anggota keluarga para pengeran dan pemimpin perjuangan rakyat yang berjuang dibawah komando pangeran Diponegoro. Jenderal De Kock berhasil menjepit pasukan Diponegoro di . Baik metode perang terbuka (open warfare). maka malam harinya wilayah itu sudah direbut kembali oleh pasukan pribumi. dimulailah sebuah perang besar yang akan berlangsung 5 tahun lamanya. sebanyak 15 dari 19 pangeran bergabung dengan Diponegoro. gubernur Belanda akan melakukan usaha usaha untuk gencatan senjata dan berunding. Dari sudut kemiliteran. begitu pula sebaliknya.K. para senopati menyadari sekali untuk bekerjasama dengan alam sebagai "senjata" tak terkalahkan. suatu hal yang belum pernah terjadi ketika itu dimana suatu wilayah yang tidak terlalu luas seperti Jawa Tengah dan sebagian Jawa timur dijaga oleh puluhan ribu serdadu. Namun pejuang pribumi tersebut tidak gentar dan tetap berjuang melawan Belanda. disentri. Para telik sandi dan kurir bekerja keras mencari dan menyampaikan informasi yang diperlukan untuk menyusun stategi perang. Di bawah kepemimpinan Diponegoro. maupun metoda perang gerilya (geurilia warfare) yang dilaksanakan melalui taktik hit and run dan penghadangan. Informasi mengenai kekuatan musuh. dan sebagainya merupakan "musuh yang tak tampak" melemahkan moral dan kondisi fisik bahkan merenggut nyawa pasukan mereka. Bila musim penghujan tiba. Perjuangan Diponegoro dibantu Kyai Maja yang juga menjadi pemimpin spiritual pemberontakan. Penyakit malaria.000 orang serdadu. Menyusul kemudian Pangeran Mangkubumi dan panglima utamanya Alibasah Sentot Prawirodirjo menyerah kepada Belanda. ini bukan sebuah tribal war atau perang suku. Akhirnya pada tanggal 28 Maret 1830. kondisi medan. karena hujan tropis yang deras membuat gerakan pasukan mereka terhambat. menghasut. rakyat pribumi bersatu dalam semangat "Sadumuk bathuk.S. Tapi suatu perang modern yang memanfaatkan berbagai siasat yang saat itu belum pernah dipraktekkan. dan kegiatan telik sandi (spionase) dimana kedua belah pihak saling memata-matai dan mencari informasi mengenai kekuatan dan kelemahan lawannya. ini adalah perang pertama yang melibatkan semua metode yang dikenal dalam sebuah perang modern. Belanda akan mengkonsolidasikan pasukan dan menyebarkan mata-mata dan provokator mereka bergerak di desa dan kota. kavaleri dan artileri —yang sejak perang Napoleon menjadi senjata andalan dalam pertempuran frontal— di kedua belah pihak berlangsung dengan sengit. karena taktik dan strategi yang jitu hanya dapat dibangun melalui penguasaan informasi. perang ini juga dilengkapi dengan taktik perang urat syaraf (psy-war) melalui insinuasi dan tekanantekanan serta provokasi oleh pihak Belanda terhadap mereka yang terlibat langsung dalam pertempuran. Jalur-jalur Iogistik dibangun dari satu wilayah ke wilayah lain untuk menyokong keperluan perang. Kyai Maja. Pada tahun 1827. sanyari bumi ditohi tekan pati". Dalam perang jawa ini Pangeran Diponegoro juga berkoordinasi dengan I. Pada puncak peperangan. jarak tempuh dan waktu. Jalannya perang Peta Mataram Baru setelah Perang Diponegoro pada tahun 1830 Alibasah Sentot Pertempuran terbuka dengan pengerahan pasukan-pasukan infantri. Selama perang. Setelah penyerangan itu. Belanda melakukan penyerangan terhadap Diponegoro dengan menggunakan sistem benteng sehingga Pasukan Diponegoro terjepit. Berpuluh kilang mesiu dibangun di hutan-hutan dan dasar jurang. Pakubowono VI serta Raden Tumenggung Prawirodigdoyo Bupati Gagatan.

maternalisme dan paternalisme. Pangeran Diponegoro menyatakan bersedia menyerahkan diri dengan syarat sisa anggota laskarnya dilepaskan.280 serdadu dan dipersenjatai dengan 115 moncong senapan. Cornelis de Houtman pernah mendatangi pulau itu dan diterima baik namun dalam perkembangannya kesepahaman kurang terjalin. kertas perjanjian gencatan senjata itu disobek. Saat inilah Belanda masuk dan mencoba mengambil kesempatan. dan pemerintah tidak dapat membiarkannya karena daerah lain juga akan menunjukkan tanda-tanda perlawanan. Latar belakang Bali (saat itu dikenal sebagai Jawa kecil) adalah salah satu pulau di Kepulauan Sunda yang berada di timur Jawa. Untuk menghadapi Perang Diponegoro.000 prajurit Bali mencegah pendaratan tersebut namun gagal dan pasukan penyerang maju ke daerah persawahan yang telah dikelilingi oleh pasukan Buleleng. tanpa rasa takut akan diusir. pasukan itu tiba di bawah pimpinan perwira Abraham Johannes de Smit van den Broecke di bawah perlindungan senapan laut. dan 200. sehingga konon anak cucunya tidak diperbolehkan lagi masuk ke Kraton. Pada tahun 1837 pemimpin Perang Paderi. De Brauw. Pangeran Diponegoro ditangkap dan diasingkan ke Manado. Berakhirnya Perang Jawa yang merupakan akhir perlawanan bangsawan Jawa. sampai kemudian Sri Sultan HB IX memberi amnesti bagi keturunan Diponegoro. Angkatan yang tersedia dibagi 3 di bawah pimpinan May. Maka. dengan mempertimbangkan semangat kebangsaan yang dipunyai Diponegoro kala itu. Sebuah gencatan senjata disepakati pada tahun 1825. setelah Perang Diponegoro berakhir (1830). judi. Mengingat bagi sebagian orang Kraton Yogyakarta Diponegoro dianggap pemberontak. Pasukan ekspedisi dibawa ke kapal dengan kekuatan 1700 prajurit. Perang Diponegoro dan Perang Padri Di sisi lain. terutama untuk mengurus Silsilah bagi mereka. mabuk-mabukan. Lebih dari 10. ia harus mengalah atas sikap arogansinya. Namun. Boers . jarak bentang pulau ini 105 mil geografis dan berpenduduk 700. Perang Paderi berlangsung dalam dua babak: babak I antara 1821-1825. Sehingga setelah perang ini jumlah penduduk Yogyakarta menyusut separuhnya. Raja diberi ultimatum 3 kali dalam 24 jam. pada tanggal 17 Juni. dan sebagian besar pasukan dari Sumatera Barat dialihkan ke Jawa. Belanda terpaksa menarik pasukan yang dipakai perang di Sumatera Barat untuk menghadapi Pangeran Diponegoro yang bergerilya dengan gigih. di antaranya terdapat 400 serdadu Eropa dipimpin oleh LetKol. kemudian dipindahkan ke Makassar hingga wafatnya di Benteng Rotterdam tanggal 8 Januari 1855. May. Perang Jawa ini banyak memakan korban dipihak pemerintah Hindia sebanyak 8. dan babak II. Kini anak cucu Diponegoro dapat bebas masuk Kraton. sehingga atas tanggung jawabnya. Di hari berikutnya. Tuanku Imam Bonjol akhirnya menyerah. 7. pada tanggal 20 Juni 1846 pasukan diberangkatkan di bawah pimpinan LaksDa Engelbertus Batavus van den Bosch ke Besuki dan seminggu kemudian ke Buleleng. angkatan itu terdiri atas 1. Ekspedisi Sebuah armada dipersiapkan. ajaran-ajaran agama. Bakker.000 jiwa. terdiri atas 23 kapal perang dan 17 kapal lainnya. pada tahun 1841 dan 1843 sebuah persetujuan diputuskan antara kerajaan setempat dan pemerintah Hindia-Belanda tetapi penduduk Bali segera menunjukkan permusuhan. Di sana.000 pribumi. Perang Bali I Perang Bali I merupakan ekspedisi yang dilancarkan oleh Koninklijk Nederlandsch-Indisch Leger ke Bali pada tahun 1846. Namun pada akhirnya Belanda harus melawan baik kaum adat dan kaum paderi.000 orang Jawa.Magelang. Penyebab Perang Paderi adalah perselisihan antara Kaum Padri (alim ulama) dengan Kaum Adat (orang adat) yang mempermasalahkan soal agama Islam. Khususnya Raja Buleleng berkali-kali melanggar semua butir perjanjian itu dan bendera Belanda dihinakan.000 serdadu berkebangsaan Eropa. yang belakangan bersatu. Berakhirlah Perang Padri. sebenarnya Belanda sedang menghadapi Perang Padri di Sumatera Barat. berlalu begitu saja. hari ketika ekspedisi ke Buleleng terjadi. dan terjadilah Perang Padri babak kedua.

mengangkat dirinya menjadi raja dengan gelar Sultan Tahmidullah II (1785-1808) dan membunuh semua putra almarhum Sultan Muhammad. Perang Banjar Perang Banjar (1859-1905)[1] adalah perang perlawanan terhadap penjajahan kolonial Belanda yang terjadi di Kesultanan Banjar yang meliputi wilayah propinsi Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah. Dengan ikut campurnya Belanda dalam urusan kerajaan. Kemudian setelah Belanda mencopot Tamjidullah dari kursi sultan. Belanda terlalu banyak campur tangan dalam urusan intern kesultanan. Pemerintahan membangun benteng di Buleleng yang dihuni oleh 200 orang yang dikendalikan penduduk dan menjamin pengawasan kontrak yang dibuat namun kemudian tak dapat disangka bahwa perang segera meletus dan serangan menjadi kenyataan. Belanda membubarkan Kesultanan Banjar. Pangeran Amir akhirnya tertangkap dan dibuang ke Srilangka.dan Kapt. Tokoh-tokoh . berhasil melarikan diri lalu mengadakan perlawanan dengan dukungan pamannya Arung Turawe. J. GubJend. Sebab Khusus: Karena Pangeran Hidayatullah yang seharusnya menjadi Sultan Banjar tidak disetujui oleh Belanda yang kemudian menganggap Tamjidullah sebagai sultan yang sebenarnya tidak berhak menjadi sultan. namun keadaan damai yang dicapai pada tanggal 12 Juli itu pecah kembali. Pada tahun 1785. ketika datang ke Bali. Pasca perang Kerajaan Karangasem dan Buleleng menawarkan penyerahan diri dan para penduduk kembali ke tempat tinggalnya masing-masing. Perang Banjar[2][3][4] berlangsung antara 1859 -1905 (menurut sumber Belanda 1859-1863[5][6]).F.[7] Penyebab Sebab umum : Rakyat tidak senang dengan merajalelanya Belanda yang mengusahakan perkebunan dan pertambangan di Kalimantan Selatan. Strategi Perang Pangeran Hidayatullah dan Pangeran Antasari menggunakan strategi perang gerilya dengan membuat kerajaan baru di pedalaman dan membangun benteng-benteng pertahanan di hutan-hutan. Jan Jacob Rochussen ia menemukan daerah setempat menyerah. Pangeran Nata yang menjadi wali putra makota. Semua kerja perlawanan dilakukan dan di hari berikutnya serdadu Belanda maju ke ibukota Singaraja dan menaklukkan kota itu. Lomon. Belanda bermaksud menguasai daerah Kalimantan Selatan karena daerah ini ditemukan pertambangan batubara. Pangeran Amir. yang kewajiban terhadap pemerintah Hindia-Belanda diselesaikan dengan cepat. putra mahkota. kekalutan makin bertambah. Dengan Kerajaan Karangasem dan Buleleng disepakatilah perjanjian baru. Konflik dengan Belanda sebenarnya sudah mulai sejak Belanda memperoleh hak monopoli dagang di Kesultanan Banjar. tetapi gagal.

Belanda mendarat di Pantai Ceureumen di bawah pimpinan Johan Harmen Rudolf Köhler. Franz Lodewijk Ferdinand Karel von Pestel. Gusti Acil. Köhler dengan 3000 serdadunya dapat dipatahkan. Yang paling besar saat merebut kembali Masjid Raya Baiturrahman. Pada 8 April 1873. Perang Aceh Perang Aceh adalah perang Kesultanan Aceh melawan Belanda dimulai pada 1873 hingga 1904. perang berkecamuk di mana-mana. Akhir perang Setelah Pangeran Hidayatullah tertangkap dan Pangeran Antasari wafat. Penghulu Rasyid. Pada tanggal 26 Maret 1873 Belanda menyatakan perang kepada Aceh. Peukan Bada. Penghulu Muda.L. perjuangan tetap berlanjut yang di pimpin oleh Gusti Mat Seman. dan Muhammad Seman. Sebanyak 168 di antaranya para perwira Periode Tentara VOC Aceh setelah peperangan selesai Perang Aceh Pertama (1873-1874) dipimpin oleh Panglima Polim dan Sultan Mahmud Syah melawan Belanda yang dipimpin Köhler. Kesultanan Aceh menyerah pada 1904. Lampu'uk. dan langsung bisa menguasai Masjid Raya Baiturrahman. dimana Köhler sendiri tewas pada tanggal 14 April 1873. Köhler saat itu membawa 3. Kilian. Panglima Bukhari. Karel Cornelis Bunnik. Pangeran Antasari. Tumenggung Jalil. Evert Willem Pfeiffer. Tumenggung Antaludin. Penghulu Suhasin. Oleh pemimpin-pemimpin tersebut. H. P. Charles de Roy van Zuydewijn. Peusangan. Gusti Muhammad Arsyad. Johannes Jacobus Wilhelmus Eliza Verstege. Panglima Batur. Dibubarkannya negara Kesultanan Banjar. Joost Hendrik Romswinckel.198 tentara. Daerah Kalimantan Selatan dikuasai sepenuhnya oleh pemerintah kolonial Belanda. Krueng Raya. Cavaljé.P. Panembahan Muhammad Said. yang dibantu oleh beberapa kelompok pasukan. Gustave Verspijck. Lambhuk. Sepuluh hari kemudian. van Ham.H. Demang Lehman. Panglima Wangkang. Beberapa ribu orang juga berdatangan dari Teunom. tapi perlawanan rakyat Aceh dengan perang gerilya terus berlanjut. dan Antung Durrahman.E. Uhlenbeck. F. Christiaan Antoon Jeekel. Ada di Peukan Aceh.P. Jacobus Agustinus Vetter Medan Perang Daerah pertempuran berada di daerah Kalimantan Selatan dan sebagian Kalimantan Tengah. Tokoh pihak kolonial Belanda: Augustus Johannes Andresen. Pada Perang Aceh . dan beberapa wilayah lain. C. sampai Lambada. Tagab Obang. rakyat masih bergerilya dengan se-sekali melakukan serangan kepada Belanda sampai awal abad ke-20. Bidang ekonomi Dikuasainya tambang batubara dan perkebunan di daerah Kalimantan Selatan. dan mulai melepaskan tembakan meriam ke daratan Aceh dari kapal perang Citadel van Antwerpen. Termasuk di daerah sungai Barito. Pidie.Tokoh rakyat Banjar: Pangeran Hidayatullah. Karel van der Heijden. Tumenggung Surapati. Aling. Akibat perang Bidang politik. George Frederik Willem Borel.

Jan van Swieten. Ditandatanganinya Perjanjian London 1871 antara Inggris dan Belanda. dan tempat-tempat lain. Kesultanan Usmaniyah di Singapura. supaya golongan Keumala (yaitu Sultan yang berkedudukan di Keumala) dengan pengikutnya dikesampingkan dahulu. Usulan strategi Snouck Hurgronje kepada Gubernur Militer Belanda Joannes Benedictus van Heutsz adalah. Siasat Snouck Hurgronje Untuk mengalahkan pertahanan dan perlawan Aceh. Mendirikan pangkalan tetap di Aceh Raya. Dalam buku itu disebutkan strategi bagaimana untuk menaklukkan Aceh. Langkat. tetapi Sultan Machmud menolak untuk memberikan keterangan. Isi perjanjian London adalah Belanda dan Britania Raya membuat ketentuan tentang batas-batas kekuasaan kedua daerah di Asia Tenggara yaitu dengan garis lintang Singapura. Belanda berhasil menduduki Keraton Sultan. Perang keempat (1896-1910) adalah perang gerilya kelompok dan perorangan dengan perlawanan. Dan mengirimkan utusan ke Turki Usmani pada tahun 1871. Dalam perang gerilya ini pasukan Aceh di bawah Teuku Umar bersama Panglima Polim dan Sultan. Belanda melanggar perjanjian Siak. meskipun ibu kota negara berpindahpindah ke Keumala Dalam. Perang pertama dan kedua ini adalah perang total dan frontal. Wakil Presiden Dewan Hindia Frederik Nicolaas Nieuwenhuijzen dengan 2 kapal perangnya datang ke Aceh dan meminta keterangan dari Sultan Machmud Syah tentang apa yang sudah dibicarakan di Singapura itu. Akibat perjanjian Sumatera 1871. maka berakhirlah perjanjian London tahun 1824. Pada tahun 1899 ketika terjadi serangan mendadak dari pihak Van der Dussen di Meulaboh. Keduanya mengakui kedaulatan Aceh. Kerajaan Italia. Belanda mengizinkan Britania bebas berdagang di Siak dan menyerahkan daerahnya di Guyana Barat kepada Britania. memperbaiki jalan-jalan irigasi dan membantu pekerjaan sosial rakyat Aceh. dengan cara mendirikan langgar. Perbuatan Aceh ini didukung Britania. Belanda harus menjaga keamanan lalulintas di Selat Malaka. 31 Januari 1874 Jenderal Van Swieten mengumumkan bahwa seluruh Aceh jadi bagian dari Kerajaan Belanda. padahal daerah-daerah itu sejak Sultan Iskandar Muda. Latar belakang Perang Aceh disebabkan karena: Belanda menduduki daerah Siak. Ternyata siasat Dr Snouck Hurgronje diterima oleh Van Heutz yang menjadi Gubernur militer dan sipil di Aceh (1898-1904). Indrapuri. Teuku Umar gugur. dan dijadikan sebagai pusat pertahanan Belanda. sehingga kapal-kapal Belanda yang lewat perairan Aceh ditenggelamkan oleh pasukan Aceh. Ketika Sultan Machmud Syah wafat 26 Januari 1874. Akibat hubungan diplomatik Aceh dengan Konsul Amerika. Aceh mengadakan hubungan diplomatik dengan Konsul Amerika Serikat. dimana pemerintah masih berjalan mapan.Kedua (1874-1880). Menyebabkan perairan Aceh menjadi sangat penting untuk lalu lintas perdagangan. Tetap menyerang terus dan menghantam terus kaum ulama. Perang ketiga (1881-1896). yang isinya. Britania memberikan keleluasaan kepada Belanda untuk mengambil tindakan di Aceh. Akibat dari Perjanjian Siak 1858. 26 Januari 1874. penyerbuan. Menunjukkan niat baik Belanda kepada rakyat Aceh. Belanda menjadikan itu sebagai alasan untuk menyerang Aceh. Asahan dan Serdang kepada Belanda. Dimana sistem perang gerilya ini dilangsungkan sampai tahun 1904. Hasil kerjanya itu dibukukan dengan judul Rakyat Aceh (De Acehers). digantikan oleh Tuanku Muhammad Dawood yang dinobatkan sebagai Sultan di masjid Indragiri. Christiaan Snouck Hurgronje yang menyamar selama 2 tahun di pedalaman Aceh untuk meneliti kemasyarakatan dan ketatanegaraan Aceh. Tetapi Cut Nyak Dhien istri Teuku Umar kemudian tampil menjadi komandan perang gerilya. Aceh menuduh Belanda tidak menepati janjinya. penghadangan dan pembunuhan tanpa komando dari pusat pemerintahan Kesultanan. di bawah Jend. Dibukanya Terusan Suez oleh Ferdinand de Lesseps. . masjid. Kemudian Dr Snouck Hurgronje diangkat sebagai penasehatnya. perang dilanjutkan secara gerilya dan dikobarkan perang fi sabilillah. Italia dan Turki di Singapura. Jangan mau berunding dengan pimpinan-pimpinan gerilya. berada di bawah kekuasaan Aceh. Belanda memakai tenaga ahli Dr. Di mana Sultan Ismail menyerahkan daerah Deli.

Gugurnya Sisingamangaraja XII menandai berakhirnya Perang Tapanuli. dengan tujuan untuk melindungi penyebar agama Kristen yang tergabung dalam Rhijnsnhezending. dengan tokoh penyebarnya Nommensen (orang Jerman). dan dalam pertempuran tanggal 17 Juni 1907. Traktat Pendek) tentang penyerahan yang harus ditandatangani oleh para pemimpin Aceh yang telah tertangkap dan menyerah. istri Sisingamangaraja XII serta dua orang anaknya. Van Heutz telah menciptakan surat pendek (korte verklaring. Balige Laguboti dan Lumban Julu. pembersihan dengan cara membunuh rakyat Aceh yang dilakukan di bawah pimpinan Gotfried Coenraad Ernst van Daalen yang menggantikan Van Heutz. banyak penghulupenghulu rakyat yang menyerah mengikuti jejak Panglima Polim. Perang ini berlangsung selama 29 tahun. sedangkan di Medan didatangkan pasukan lain. Pada tahun 1904. seperti di Bahal Batu.Taktik perang Taktik perang gerilya Aceh ditiru oleh Van Heutz. dimana akhirnya Cut Nya Dien dapat ditangkap dan diasingkan ke Sumedang.149 perempuan. Pada tahun 1894. Alasan meletusnya perang ini adalah: Raja Sisingamangaraja XII tidak senang daerah kekuasaannya diperkecil oleh Belanda. Walau demikian. Pada tahun 1907. Sultan menyerah pada tanggal 5 Januari 1902 ke Sigli dan berdamai. Akibat penyerangan ini. Cut Po Radeu saudara perempuannya dan beberapa keluarga terdekatnya. Taktik terakhir menangkap Cut Nyak Dhien istri Teuku Umar yang masih melakukan perlawanan secara gerilya. Van der Maaten menawan putera Sultan Tuanku Ibrahim. melanjutkan gerakannya ke Tapanuli Utara. Misalnya Christoffel menculik permaisuri Sultan dan Tengku Putroe (1902). dibawah pimpinan Van Daalen dari Aceh Tengah. Sisingamangaraja XII gugur bersama dengan putrinya Lopian dan dua orang putranya Sutan Nagari dan Patuan Anggi. hutan-hutan rimba raya Aceh untuk mencari dan mengejar gerilyawan-gerilyawan Aceh. Perang Tapanuli Perang Tapanuli. wilayah Aceh tetap tidak bisa dikuasai Belanda seluruhnya. Setelah Panglima Polim menyerah. Perang berlangsung selama tujuh tahun di daerah Tapanuli Utara. Perjanjian pendek ini menggantikan perjanjianperjanjian terdahulu yang rumit dan panjang dengan para pemimpin setempat. Angkola dan Sipirok di Tapanuli Selatan dikuasai oleh Belanda. Hal ini berlanjut sampai Belanda enyah dari Nusantara dan diganti kedatangan penjajah baru yakni Jepang (Nippon). sementara itu Sisingamangaraja XII dan para pengikutnya berhasil melarikan diri ke hutan Simsim. juga dikenal sebagai Perang Batak (1878-1907). pusat kedudukan dan pemerintahan Kerajaan Batak. Raja berjanji tidak akan mengadakan hubungan dengan kekuasaan di luar negeri. Pasukan Marsose di bawah pimpinan Kapten Hans Christoffel berhasil menangkap Boru Sagala. Raja (Sultan) mengakui daerahnya sebagai bagian dari daerah Hindia Belanda. Belanda melancarkan serangan untuk menguasai Bakkara. Belanda berusaha mewujudkan Pax Netherlandica. dimana dibentuk pasukan maréchaussée yang dipimpin oleh Hans Christoffel dengan pasukan Colone Macan yang telah mampu dan menguasai pegunungan-pegunungan. dikarenakan pada saat itu tetap saja terjadi perlawanan terhadap Belanda meskipun dilakukan oleh sekelompok orang (masyarakat). Seperti pembunuhan di Kuta Reh (14 Juni 1904) dimana 2. Taktik selanjutnya. Panglima Polim dapat meloloskan diri. Ia menolak tawaran untuk menyerah. Raja Sisingamangaraja XII memutuskan untuk menyerang kedudukan Belanda di Tarutung.773 laki-laki dan 1. Akibatnya. Taktik berikutnya yang dilakukan Belanda adalah dengan cara penculikan anggota keluarga gerilyawan Aceh. Van der Maaten dengan diam-diam menyergap Tangse kembali. Mandailing. Siborong-borong. berjanji akan mematuhi seluruh perintah-perintah yang ditetapkan Belanda. pasukan Belanda. Kota Natal. Di mana isi dari surat pendek penyerahan diri itu berisikan. Akibatnya Panglima Polim meletakkan senjata dan menyerah ke Lhokseumawe pada Desember 1903. tetapi sebagai gantinya ditangkap putera Panglima Polim.922 orang dibunuhnya. yang terdiri dari 1. merupakan perang antara Kerajaan Batak melawan Belanda. Surat perjanjian tanda menyerah Selama perang Aceh. . Perang meletus setelah Belanda menempatkan pasukannya di Tarutung. Sisingamangaraja XII terpaksa pindah ke Dairi Pakpak.

P Chatarina Citra.A Leo Orlando .KELOMPOK : Andrew Thene.W.W Caecila Oddilia.

0.3/4  ..  ! .                  !  3/70%030  .  04 7.9. //.97.73.