Perang Padri Perang Padri merupakan peperangan yang pada awalnya akibat pertentangan dalam masalah agama sebelum

berubah menjadi peperangan melawan penjajahan. Perang Padri ini terjadi pada kawasan Kerajaan Pagaruyung antara tahun 1803 hingga 1838.[1] Peperangan ini dimulai dengan munculnya gerakan Kaum Padri (Kaum Ulama) dalam menentang perbuatan-perbuatan yang marak waktu itu di kalangan masyarakat yang ada dalam kawasan Kerajaan Pagaruyung sekitarnya, seperti perjudian, penyabungan ayam, penggunaan madat (opium), minuman keras, tembakau, sirih, dan juga aspek hukum adat matriarkat mengenai warisan dan umumnya pelaksanaan longgar kewajiban ritual formal agama Islam.[2] Perbedaan pendapat ini memicu peperangan antara Kaum Padri yang dipimpin oleh Harimau nan Salapan dengan Kaum Adat di bawah pimpinan Yang Dipertuan Pagaruyung waktu itu Sultan Arifin Muningsyah. Kemudian peperangan ini meluas dengan melibatkan BelandaHarimau nan Salapan (Harimau yang Delapan), merupakan sebutan untuk pimpinan beberapa perguruan yang tersebar di Nagari yang ada dalam Kerajaan Pagaruyung masa itu, yang kemudian menjadi pemimpin dari Kaum Padri. Berikut ini nama pemimpin Harimau nan Salapan tersebut: Tuanku nan Renceh atau Tuanku nan Tuo atau Tuanku Kamang Tuanku Mansiangan Tuanku Pandai Sikek Tuanku Lintau Tuanku Pasaman Tuanku Rao Tuanku Tambusai Tuanku Barumun Perang Saudara Perang Padri merupakan peperangan yang meninggalkan kenangan heroik sekaligus traumatis dalam memori bangsa. Hampir selama 20 tahun pertama perang ini (1803-1821), dapatlah dikatakan sebagai perang saudara antara sesama etnis Minang dan Mandailing atau Batak umumnya. Pada awalnya peperangan ini dilatar belakangi oleh adanya keinginan para ulama di Kerajaan Pagaruyung untuk menerapkan dan menjalan syariat Islam sesuai dengan Mahzab Wahabi yang waktu itu berkembang di tanah Arab (Arab Saudi sekarang). Kemudian pemimpin para ulama yang tergabung dalam Harimau nan Salapan meminta Tuanku Lintau untuk mengajak Raja Pagaruyung Sultan Arifin Muningsyah beserta Kaum Adat untuk meninggalkan beberapa kebiasaan yang tidak sesuai dengan ajaran Islam. Dalam beberapa perundingan tidak ada kata sepakat antara kaum Padri dengan kaum Adat. Seiring itu beberapa nagari dalam kerajaan Pagaruyung bergejolak, puncaknya pada tahun 1815, kaum Padri dibawah pimpinan Tuanku Pasaman menyerang kerajaan Pagaruyung, dan pecahlah peperangan di Koto Tangah. Serangan ini menyebabkan Sultan Arifin Muningsyah terpaksa menyingkir dan melarikan diri dari ibukota kerajaan.[3] Dari catatan Raffles yang pernah mengunjungi Pagaruyung di tahun 1818, menyebutkan bahwa ia hanya mendapati sisa-sisa istana raja Minangkabau yang sudah terbakar. Serangan ke Bonjol

Namun dengan kekuatan yang jauh tak sebanding. Selanjutnya pada tanggal 11 Juni 1835 pasukan Belanda kembali bergerak menuju sebelah timur Batang Alahan Panjang dan membuat kubu pertahanan di sana. Namun Kaum Padri juga tidak tinggal diam. dan terus masuk menyelusup ke dalam hutan rimba. ia kembali dipindahkan ke Ambon. untuk selanjutnya diasingkan. Sebagai front terdepan dari Alahan Panjang adalah daerah Padang Lawas. sampai korban di kedua belah pihak banyak yang berjatuhan. Selama 14 hari berkibar bendera putih dan gencatan senjata berlaku. Pasukan ini mesti menyeberangi sungai yang saat itu lagi banjir. Belanda memutuskan untuk kembali mengadakan serangan besar-besaran untuk menaklukkan Bonjol dan sekitarnya. dengan kekuatan yang besar pasukan Belanda memulai gerakan maju menuju sasaran akhir yaitu benteng Bonjol di Bukit Tajadi.Pada tanggal 16 April 1835. pada tanggal 8 November 1864. Sesampainya di Sipisang. Tuanku Imam Bonjol menemui ajalnya . kemudian bersama bergerak menuju Masang. pasukan Belanda banyak menjadi korban. di mana pasukan Belanda dipimpin oleh Letnan Kolonel Bauer yang kemudian memecah pasukannya menjadi dua bagian yang bergerak masing-masing dari Matur dan Bamban. ia dipindahkan ke Cianjur. Tuanku Imam Bonjol diminta untuk datang ke Palupuh tempat perundingan tanpa membawa senjata. Kemudian pada tanggal 17 Juni 1835 kembali datang bantuan tambahan pasukan sebanyak 2000 orang yang dikirim oleh Residen Francis di Padang. menembaki benteng Bonjol. peristiwa itu terjadi di bulan Oktober 1837 dan kemudian Tuanku Imam Bonjol dalam kondisi sakit langsung dibawa ke Bukittinggi kemudian terus dibawa ke Padang. Perundingan Dalam pelarian dan persembunyiannya. namun karena telah lebih 3 tahun bertempur melawan Belanda secara terus menerus. Namun karena posisi yang kurang menguntungkan. ternyata hanya sedikit saja yang tinggal dan masih siap untuk bertempur kembali. Selanjutnya dengan menggunakan houwitser. Tuanku Imam Bonjol kembali dipindahkan ke Menado. Pada tengah malam tanggal 16 Juni 1835 pasukan Belanda berhasil mendekati Bonjol dalam jarak kira-kira hanya 250 langkah dari Bonjol dan kemudian mencoba membuat kubu pertahanan di sana. Namun pada tanggal 23 Januari 1838. dan pada akhir tahun 1838. pasukan Kaum Padri terpaksa mengundurkan diri ke hutan-hutan rimba sekitarnya. sementara pasukan Kaum Padri tetap bersiaga di seberangnya. yang secara penuh masih dikuasai oleh Kaum Padri. guna membuka jalur baru menuju Bonjol. Pada tanggal 23 April 1835 gerakan pasukan Belanda ini telah berhasil mencapai tepi Batang Gantiang. Namun pada tanggal 8 Juni 1835 pasukan Belanda berhasil menguasai daerah ini. tiba-tiba datang surat tawaran dari Residen Francis di Padang untuk mengajak berunding. dan kemudian terus menyeberanginya dan berkumpul di Batusari. Dari sini hanya ada satu jalan sempit menuju Sipisang. Perundingan itu dikatakan tidak boleh lebih dari 14 hari lamanya. hampir sebulan waktu yang diperlukan untuk dapat mendekati daerah Alahan Panjang. daerah yang masih dikuasai oleh Kaum Padri. Walau pergerakan laju pasukan Belanda menuju Bonjol masih sangat lamban. Dalam kondisi seperti ini. kemudian membalas dengan menembakan juga meriam-meriam dari Bukit Tajadi. dan di daerah inilah setelah menjalani masa pembuangan selama 27 tahun lamanya. Jatuhnya daerah Sipisang ini meningkatkan moralitas pasukan Belanda. mortir dan meriam besar. dan kemudian daerah ini dijadikan sebagai kubu pertahanan sambil menunggu pembuatan jembatan menuju Bonjol. Tapi hal itu cuma jebakan Belanda untuk menangkap Tuanku Imam Bonjol. dan pada tanggal 21 Juni 1835. pecah pertempuran sengit antara pasukan Belanda dengan Kaum Padri selama tiga hari tiga malam pertempuran berlangsung tanpa henti. Tuanku Imam Bonjol terus mencoba mengadakan konsolidasi terhadap seluruh pasukannya yang telah bercerai-berai dan lemah. Kemudian pada tanggal 19 Januari 1839. mendaki gunung dan menuruni lembah. Kemudian Tuanku Imam Bonjol menyatakan kesediaannya melakukan perundingan. Operasi militer dimulai pada tanggal 21 April 1835.

dan akhirnya peperangan ini dianggap selesai dan kemudian Kerajaan Pagaruyung ditetapkan menjadi bagian dari pax neerlandica dan menyatakan wilayah Padangse Bovenlanden berada di bawah pengawasan Belanda. Peperangan ini melibatkan seluruh wilayah Jawa. diangkat menjadi penguasa. pemerintahan kerajaan dilaksanakan oleh Patih Danuredjo. Untuk semakin memperkuat kekuasaan dan perekonomiannya. Akan tetapi pada prakteknya. pemerintah Belanda yang berada dalam kesulitan ekonomi berusaha menutup kekosongan kas mereka dengan memberlakukan berbagai pajak di wilayah jajahannya. pada 20 Juli 1825 mengepung kediaman beliau. Hindia Belanda (sekarang Indonesia). Hal inilah yang membuat Pangeran Diponegoro tersinggung dan memutuskan untuk mengangkat senjata melawan Belanda. kemenakannya. Belanda: De Java Oorlog). sebagai basisnya. di Dalu-Dalu. maka disebutlah perang ini sebagai Perang Jawa. Pangeran menempati goa sebelah Barat yang disebut Goa Kakung. Ia kemudian memerintahkan bawahannya untuk mencabut patok-patok yang melewati makam tersebut. Sementara itu di pihak serdadu Belanda.000 jiwa rakyat yang terenggut. Pada pertengahan bulan Mei 1825. Pangeran beserta keluarga dan pasukannya menyelamatkan diri menuju barat hingga Desa Dekso di Kabupaten Kulonprogo. benteng Bonjol dapat dikuasai Belanda. Dalam perang ini telah berjatuhan korban yang tidak sedikit. dan bersama sisa-sisa pengikutnya pindah ke Semenanjung Malaya. mereka juga melakukan monopoli usaha dan perdagangan untuk memaksimalkan keuntungan. disebutkan bahwa sekitar 200. Baik korban harta maupun jiwa. Terdesak. Belanda —yang tidak berhasil menangkap Pangeran Diponegoro— membakar habis kediaman Pangeran. Pajak-pajak dan praktek monopoli tersebut amat mencekik rakyat Indonesia yang ketika itu sudah sangat menderita. Rupanya di salah satu sektor. Belanda yang mempunyai alasan untuk menangkap Pangeran Diponegoro karena dinilai telah memberontak. yang waktu itu telah dipimpin oleh Tuanku Tambusai jatuh pada tahun 28 Desember 1838. termasuk di Hindia Belanda.[15] Jatuhnya benteng tersebut memaksa Tuanku Tambusai mundur. Sementara itu. . pemerintah Belanda yang awalnya memerintahkan pembangunan jalan dari Yogyakarta ke Magelang lewat Muntilan. Guwosari Pajangan Bantul. Belanda tepat melintasi makam dari leluhur Pangeran Diponegoro.000. tetapi peperangan ini masih berlanjut sampai akhirnya benteng terakhir Kaum Padri. dan Tuanku Imam Bonjol berhasil ditipu dan ditangkap. Latar belakang Setelah kekalahannya dalam Peperangan era Napoleon di Eropa. Selain itu. Belanda mulai berusaha menguasai kerajaankerajaan lain di Nusantara.Akhir Peperangan Meskipun pada tahun 1337. Belanda dianggap mengangkat seseorang yang tidak sesuai dengan pilihan/adat keraton. Pangeran Diponegoro kemudian menjadikan Goa Selarong. dan meneruskan ke arah selatan hingga tiba di Goa Selarong yang terletak lima kilometer arah barat dari Kota Bantul. Ketika Sultan Hamengku Buwono IV wafat. sebuah goa yang terletak di Dusun Kentolan Lor. Perang Diponegoro Perang Diponegoro (Inggris:The Java War. mengubah rencananya dan membelokan jalan itu melewati Tegalrejo. antara pasukan penjajah Belanda di bawah pimpinan Jendral De Kock[1] melawan penduduk pribumi yang dipimpin seorang pangeran Yogyakarta bernama Pangeran Diponegoro. korban tewas berjumlah 8. Perang Diponegoro merupakan salah satu pertempuran terbesar yang pernah dialami oleh Belanda selama menjajah Nusantara. Sultan Hamengku Buwono V yang baru berusia 3 tahun. seseorang yang mudah dipengaruhi dan tunduk kepada Belanda. salah satu di antaranya adalah Kerajaan Yogyakarta. Dokumen-dokumen Belanda yang dikutip para ahli sejarah. adalah perang besar dan menyeluruh berlangsung selama lima tahun (1825-1830) yang terjadi di Jawa.

Pakubowono VI serta Raden Tumenggung Prawirodigdoyo Bupati Gagatan. Ketika gencatan senjata terjadi. karena taktik dan strategi yang jitu hanya dapat dibangun melalui penguasaan informasi. perang ini juga dilengkapi dengan taktik perang urat syaraf (psy-war) melalui insinuasi dan tekanantekanan serta provokasi oleh pihak Belanda terhadap mereka yang terlibat langsung dalam pertempuran. para senopati menyadari sekali untuk bekerjasama dengan alam sebagai "senjata" tak terkalahkan. disentri. ini adalah perang pertama yang melibatkan semua metode yang dikenal dalam sebuah perang modern.S. begitu pula sebaliknya. ini bukan sebuah tribal war atau perang suku. sanyari bumi ditohi tekan pati". dan kegiatan telik sandi (spionase) dimana kedua belah pihak saling memata-matai dan mencari informasi mengenai kekuatan dan kelemahan lawannya. Dalam perang jawa ini Pangeran Diponegoro juga berkoordinasi dengan I. Pertempuran berlangsung sedemikian sengitnya sehingga bila suatu wilayah dapat dikuasai pasukan Belanda pada siang hari. Jenderal De Kock berhasil menjepit pasukan Diponegoro di . sebanyak 15 dari 19 pangeran bergabung dengan Diponegoro. Selama perang. maupun metoda perang gerilya (geurilia warfare) yang dilaksanakan melalui taktik hit and run dan penghadangan. menghasut. Akhirnya pada tanggal 28 Maret 1830. Namun pejuang pribumi tersebut tidak gentar dan tetap berjuang melawan Belanda. Para telik sandi dan kurir bekerja keras mencari dan menyampaikan informasi yang diperlukan untuk menyusun stategi perang. ditangkap. Serangan-serangan besar rakyat pribumi selalu dilaksanakan pada bulan-bulan penghujan. Bila musim penghujan tiba. kavaleri dan artileri —yang sejak perang Napoleon menjadi senjata andalan dalam pertempuran frontal— di kedua belah pihak berlangsung dengan sengit. gubernur Belanda akan melakukan usaha usaha untuk gencatan senjata dan berunding. Menyusul kemudian Pangeran Mangkubumi dan panglima utamanya Alibasah Sentot Prawirodirjo menyerah kepada Belanda. Front pertempuran terjadi di puluhan kota dan desa di seluruh Jawa. Pada tahun 1827. Belanda melakukan penyerangan terhadap Diponegoro dengan menggunakan sistem benteng sehingga Pasukan Diponegoro terjepit.yang juga menjadi tempat pertapaan beliau. Produksi mesiu dan peluru berlangsung terus sementara peperangan berkencamuk. maka malam harinya wilayah itu sudah direbut kembali oleh pasukan pribumi. Pada tahun 1829. Berpuluh kilang mesiu dibangun di hutan-hutan dan dasar jurang. Kyai Maja. Sedangkan Raden Ayu Retnaningsih (selir yang paling setia menemani Pangeran setelah dua istrinya wafat) dan pengiringnya menempati Goa Putri di sebelah Timur. memecah belah dan bahkan menekan anggota keluarga para pengeran dan pemimpin perjuangan rakyat yang berjuang dibawah komando pangeran Diponegoro.S. Jalannya perang Peta Mataram Baru setelah Perang Diponegoro pada tahun 1830 Alibasah Sentot Pertempuran terbuka dengan pengerahan pasukan-pasukan infantri. Jalur-jalur Iogistik dibangun dari satu wilayah ke wilayah lain untuk menyokong keperluan perang.000 orang serdadu. Belanda mengerahkan lebih dari 23. dan sebagainya merupakan "musuh yang tak tampak" melemahkan moral dan kondisi fisik bahkan merenggut nyawa pasukan mereka. Setelah penyerangan itu. kondisi medan.K. dimulailah sebuah perang besar yang akan berlangsung 5 tahun lamanya. pemimpin spiritual pemberontakan. Pada puncak peperangan. Perjuangan Diponegoro dibantu Kyai Maja yang juga menjadi pemimpin spiritual pemberontakan. rakyat pribumi bersatu dalam semangat "Sadumuk bathuk. karena hujan tropis yang deras membuat gerakan pasukan mereka terhambat. Belanda akan mengkonsolidasikan pasukan dan menyebarkan mata-mata dan provokator mereka bergerak di desa dan kota. Di bawah kepemimpinan Diponegoro. sejari kepala sejengkal tanah dibela sampai mati. Penyakit malaria. curah hujan menjadi berita utama. Informasi mengenai kekuatan musuh. jarak tempuh dan waktu. Dari sudut kemiliteran. suatu hal yang belum pernah terjadi ketika itu dimana suatu wilayah yang tidak terlalu luas seperti Jawa Tengah dan sebagian Jawa timur dijaga oleh puluhan ribu serdadu. Tapi suatu perang modern yang memanfaatkan berbagai siasat yang saat itu belum pernah dipraktekkan. Baik metode perang terbuka (open warfare).

dengan mempertimbangkan semangat kebangsaan yang dipunyai Diponegoro kala itu.280 serdadu dan dipersenjatai dengan 115 moncong senapan. Raja diberi ultimatum 3 kali dalam 24 jam. May. Sehingga setelah perang ini jumlah penduduk Yogyakarta menyusut separuhnya. Namun pada akhirnya Belanda harus melawan baik kaum adat dan kaum paderi. Namun. maternalisme dan paternalisme. pada tanggal 20 Juni 1846 pasukan diberangkatkan di bawah pimpinan LaksDa Engelbertus Batavus van den Bosch ke Besuki dan seminggu kemudian ke Buleleng. judi. Tuanku Imam Bonjol akhirnya menyerah. sampai kemudian Sri Sultan HB IX memberi amnesti bagi keturunan Diponegoro. Latar belakang Bali (saat itu dikenal sebagai Jawa kecil) adalah salah satu pulau di Kepulauan Sunda yang berada di timur Jawa. dan babak II.000 jiwa. 7. Pangeran Diponegoro ditangkap dan diasingkan ke Manado. Di hari berikutnya. Perang Bali I Perang Bali I merupakan ekspedisi yang dilancarkan oleh Koninklijk Nederlandsch-Indisch Leger ke Bali pada tahun 1846. Khususnya Raja Buleleng berkali-kali melanggar semua butir perjanjian itu dan bendera Belanda dihinakan. Perang Jawa ini banyak memakan korban dipihak pemerintah Hindia sebanyak 8. Perang Diponegoro dan Perang Padri Di sisi lain. di antaranya terdapat 400 serdadu Eropa dipimpin oleh LetKol. kemudian dipindahkan ke Makassar hingga wafatnya di Benteng Rotterdam tanggal 8 Januari 1855. pada tanggal 17 Juni. ia harus mengalah atas sikap arogansinya. Maka. sebenarnya Belanda sedang menghadapi Perang Padri di Sumatera Barat. angkatan itu terdiri atas 1. kertas perjanjian gencatan senjata itu disobek.000 pribumi. Pangeran Diponegoro menyatakan bersedia menyerahkan diri dengan syarat sisa anggota laskarnya dilepaskan. Di sana. hari ketika ekspedisi ke Buleleng terjadi. dan terjadilah Perang Padri babak kedua. sehingga atas tanggung jawabnya. sehingga konon anak cucunya tidak diperbolehkan lagi masuk ke Kraton. tanpa rasa takut akan diusir. Boers . terutama untuk mengurus Silsilah bagi mereka. dan pemerintah tidak dapat membiarkannya karena daerah lain juga akan menunjukkan tanda-tanda perlawanan. De Brauw. Angkatan yang tersedia dibagi 3 di bawah pimpinan May. Kini anak cucu Diponegoro dapat bebas masuk Kraton. Berakhirlah Perang Padri. ajaran-ajaran agama. Perang Paderi berlangsung dalam dua babak: babak I antara 1821-1825. Penyebab Perang Paderi adalah perselisihan antara Kaum Padri (alim ulama) dengan Kaum Adat (orang adat) yang mempermasalahkan soal agama Islam. jarak bentang pulau ini 105 mil geografis dan berpenduduk 700. Sebuah gencatan senjata disepakati pada tahun 1825. berlalu begitu saja. Ekspedisi Sebuah armada dipersiapkan. dan 200. Pada tahun 1837 pemimpin Perang Paderi. Mengingat bagi sebagian orang Kraton Yogyakarta Diponegoro dianggap pemberontak. Untuk menghadapi Perang Diponegoro. setelah Perang Diponegoro berakhir (1830). yang belakangan bersatu. dan sebagian besar pasukan dari Sumatera Barat dialihkan ke Jawa.000 serdadu berkebangsaan Eropa. Saat inilah Belanda masuk dan mencoba mengambil kesempatan. pasukan itu tiba di bawah pimpinan perwira Abraham Johannes de Smit van den Broecke di bawah perlindungan senapan laut. mabuk-mabukan. Berakhirnya Perang Jawa yang merupakan akhir perlawanan bangsawan Jawa.000 orang Jawa. Belanda terpaksa menarik pasukan yang dipakai perang di Sumatera Barat untuk menghadapi Pangeran Diponegoro yang bergerilya dengan gigih. Pasukan ekspedisi dibawa ke kapal dengan kekuatan 1700 prajurit. terdiri atas 23 kapal perang dan 17 kapal lainnya. Bakker.000 prajurit Bali mencegah pendaratan tersebut namun gagal dan pasukan penyerang maju ke daerah persawahan yang telah dikelilingi oleh pasukan Buleleng. Cornelis de Houtman pernah mendatangi pulau itu dan diterima baik namun dalam perkembangannya kesepahaman kurang terjalin. Lebih dari 10.Magelang. pada tahun 1841 dan 1843 sebuah persetujuan diputuskan antara kerajaan setempat dan pemerintah Hindia-Belanda tetapi penduduk Bali segera menunjukkan permusuhan.

F. namun keadaan damai yang dicapai pada tanggal 12 Juli itu pecah kembali. Pada tahun 1785. Konflik dengan Belanda sebenarnya sudah mulai sejak Belanda memperoleh hak monopoli dagang di Kesultanan Banjar. Belanda membubarkan Kesultanan Banjar. mengangkat dirinya menjadi raja dengan gelar Sultan Tahmidullah II (1785-1808) dan membunuh semua putra almarhum Sultan Muhammad. Lomon. ketika datang ke Bali.[7] Penyebab Sebab umum : Rakyat tidak senang dengan merajalelanya Belanda yang mengusahakan perkebunan dan pertambangan di Kalimantan Selatan. J. Pangeran Amir. Jan Jacob Rochussen ia menemukan daerah setempat menyerah. Tokoh-tokoh . Dengan ikut campurnya Belanda dalam urusan kerajaan. Pasca perang Kerajaan Karangasem dan Buleleng menawarkan penyerahan diri dan para penduduk kembali ke tempat tinggalnya masing-masing. berhasil melarikan diri lalu mengadakan perlawanan dengan dukungan pamannya Arung Turawe. Sebab Khusus: Karena Pangeran Hidayatullah yang seharusnya menjadi Sultan Banjar tidak disetujui oleh Belanda yang kemudian menganggap Tamjidullah sebagai sultan yang sebenarnya tidak berhak menjadi sultan. yang kewajiban terhadap pemerintah Hindia-Belanda diselesaikan dengan cepat. Dengan Kerajaan Karangasem dan Buleleng disepakatilah perjanjian baru. Belanda terlalu banyak campur tangan dalam urusan intern kesultanan. Kemudian setelah Belanda mencopot Tamjidullah dari kursi sultan. Pemerintahan membangun benteng di Buleleng yang dihuni oleh 200 orang yang dikendalikan penduduk dan menjamin pengawasan kontrak yang dibuat namun kemudian tak dapat disangka bahwa perang segera meletus dan serangan menjadi kenyataan. Belanda bermaksud menguasai daerah Kalimantan Selatan karena daerah ini ditemukan pertambangan batubara. Strategi Perang Pangeran Hidayatullah dan Pangeran Antasari menggunakan strategi perang gerilya dengan membuat kerajaan baru di pedalaman dan membangun benteng-benteng pertahanan di hutan-hutan. Perang Banjar[2][3][4] berlangsung antara 1859 -1905 (menurut sumber Belanda 1859-1863[5][6]). Pangeran Nata yang menjadi wali putra makota. tetapi gagal.dan Kapt. Pangeran Amir akhirnya tertangkap dan dibuang ke Srilangka. putra mahkota. GubJend. Perang Banjar Perang Banjar (1859-1905)[1] adalah perang perlawanan terhadap penjajahan kolonial Belanda yang terjadi di Kesultanan Banjar yang meliputi wilayah propinsi Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah. kekalutan makin bertambah. Semua kerja perlawanan dilakukan dan di hari berikutnya serdadu Belanda maju ke ibukota Singaraja dan menaklukkan kota itu.

Köhler saat itu membawa 3. rakyat masih bergerilya dengan se-sekali melakukan serangan kepada Belanda sampai awal abad ke-20. Sepuluh hari kemudian. Pangeran Antasari.H. Oleh pemimpin-pemimpin tersebut. dan beberapa wilayah lain. Lambhuk. Pada 8 April 1873. Pada tanggal 26 Maret 1873 Belanda menyatakan perang kepada Aceh. Charles de Roy van Zuydewijn. tapi perlawanan rakyat Aceh dengan perang gerilya terus berlanjut. Pada Perang Aceh . Kilian. Karel Cornelis Bunnik. dimana Köhler sendiri tewas pada tanggal 14 April 1873. Pidie. Tumenggung Antaludin. Gusti Muhammad Arsyad. P. Evert Willem Pfeiffer. Perang Aceh Perang Aceh adalah perang Kesultanan Aceh melawan Belanda dimulai pada 1873 hingga 1904. Panglima Bukhari. Yang paling besar saat merebut kembali Masjid Raya Baiturrahman. Belanda mendarat di Pantai Ceureumen di bawah pimpinan Johan Harmen Rudolf Köhler. Penghulu Suhasin. sampai Lambada. Lampu'uk. Peukan Bada. F. yang dibantu oleh beberapa kelompok pasukan.198 tentara. dan langsung bisa menguasai Masjid Raya Baiturrahman. Jacobus Agustinus Vetter Medan Perang Daerah pertempuran berada di daerah Kalimantan Selatan dan sebagian Kalimantan Tengah. Tagab Obang. Penghulu Rasyid. Daerah Kalimantan Selatan dikuasai sepenuhnya oleh pemerintah kolonial Belanda. Demang Lehman. Köhler dengan 3000 serdadunya dapat dipatahkan. C. Tumenggung Surapati.Tokoh rakyat Banjar: Pangeran Hidayatullah.L. dan mulai melepaskan tembakan meriam ke daratan Aceh dari kapal perang Citadel van Antwerpen. Cavaljé. Gustave Verspijck. van Ham. dan Antung Durrahman. Joost Hendrik Romswinckel. dan Muhammad Seman. Aling. Dibubarkannya negara Kesultanan Banjar.P. Krueng Raya. perjuangan tetap berlanjut yang di pimpin oleh Gusti Mat Seman.E. Karel van der Heijden. Ada di Peukan Aceh. Panembahan Muhammad Said. George Frederik Willem Borel. Kesultanan Aceh menyerah pada 1904.P. Penghulu Muda. H. Sebanyak 168 di antaranya para perwira Periode Tentara VOC Aceh setelah peperangan selesai Perang Aceh Pertama (1873-1874) dipimpin oleh Panglima Polim dan Sultan Mahmud Syah melawan Belanda yang dipimpin Köhler. Akibat perang Bidang politik. Tumenggung Jalil. Panglima Wangkang. Franz Lodewijk Ferdinand Karel von Pestel. Akhir perang Setelah Pangeran Hidayatullah tertangkap dan Pangeran Antasari wafat. perang berkecamuk di mana-mana. Uhlenbeck. Panglima Batur. Tokoh pihak kolonial Belanda: Augustus Johannes Andresen. Christiaan Antoon Jeekel. Peusangan. Johannes Jacobus Wilhelmus Eliza Verstege. Gusti Acil. Beberapa ribu orang juga berdatangan dari Teunom. Bidang ekonomi Dikuasainya tambang batubara dan perkebunan di daerah Kalimantan Selatan. Termasuk di daerah sungai Barito.

Di mana Sultan Ismail menyerahkan daerah Deli. Keduanya mengakui kedaulatan Aceh. Italia dan Turki di Singapura. Akibat perjanjian Sumatera 1871. . Belanda mengizinkan Britania bebas berdagang di Siak dan menyerahkan daerahnya di Guyana Barat kepada Britania. supaya golongan Keumala (yaitu Sultan yang berkedudukan di Keumala) dengan pengikutnya dikesampingkan dahulu. dan dijadikan sebagai pusat pertahanan Belanda. tetapi Sultan Machmud menolak untuk memberikan keterangan. Dalam buku itu disebutkan strategi bagaimana untuk menaklukkan Aceh. 31 Januari 1874 Jenderal Van Swieten mengumumkan bahwa seluruh Aceh jadi bagian dari Kerajaan Belanda. Pada tahun 1899 ketika terjadi serangan mendadak dari pihak Van der Dussen di Meulaboh. Wakil Presiden Dewan Hindia Frederik Nicolaas Nieuwenhuijzen dengan 2 kapal perangnya datang ke Aceh dan meminta keterangan dari Sultan Machmud Syah tentang apa yang sudah dibicarakan di Singapura itu. yang isinya. penghadangan dan pembunuhan tanpa komando dari pusat pemerintahan Kesultanan. penyerbuan. Teuku Umar gugur. Asahan dan Serdang kepada Belanda. Akibat dari Perjanjian Siak 1858. Siasat Snouck Hurgronje Untuk mengalahkan pertahanan dan perlawan Aceh. memperbaiki jalan-jalan irigasi dan membantu pekerjaan sosial rakyat Aceh. Mendirikan pangkalan tetap di Aceh Raya. Kesultanan Usmaniyah di Singapura. berada di bawah kekuasaan Aceh. Isi perjanjian London adalah Belanda dan Britania Raya membuat ketentuan tentang batas-batas kekuasaan kedua daerah di Asia Tenggara yaitu dengan garis lintang Singapura. perang dilanjutkan secara gerilya dan dikobarkan perang fi sabilillah. Tetap menyerang terus dan menghantam terus kaum ulama. Ternyata siasat Dr Snouck Hurgronje diterima oleh Van Heutz yang menjadi Gubernur militer dan sipil di Aceh (1898-1904). Perang pertama dan kedua ini adalah perang total dan frontal. padahal daerah-daerah itu sejak Sultan Iskandar Muda. Perbuatan Aceh ini didukung Britania. Kerajaan Italia. Aceh mengadakan hubungan diplomatik dengan Konsul Amerika Serikat. Tetapi Cut Nyak Dhien istri Teuku Umar kemudian tampil menjadi komandan perang gerilya. Belanda menjadikan itu sebagai alasan untuk menyerang Aceh. Belanda harus menjaga keamanan lalulintas di Selat Malaka. dimana pemerintah masih berjalan mapan. digantikan oleh Tuanku Muhammad Dawood yang dinobatkan sebagai Sultan di masjid Indragiri. Jangan mau berunding dengan pimpinan-pimpinan gerilya. Perang keempat (1896-1910) adalah perang gerilya kelompok dan perorangan dengan perlawanan. masjid. Usulan strategi Snouck Hurgronje kepada Gubernur Militer Belanda Joannes Benedictus van Heutsz adalah. Belanda melanggar perjanjian Siak. di bawah Jend. Indrapuri. Aceh menuduh Belanda tidak menepati janjinya. Belanda memakai tenaga ahli Dr. Dan mengirimkan utusan ke Turki Usmani pada tahun 1871. Britania memberikan keleluasaan kepada Belanda untuk mengambil tindakan di Aceh. Menyebabkan perairan Aceh menjadi sangat penting untuk lalu lintas perdagangan. Langkat. dan tempat-tempat lain. Jan van Swieten. Akibat hubungan diplomatik Aceh dengan Konsul Amerika. Perang ketiga (1881-1896). Latar belakang Perang Aceh disebabkan karena: Belanda menduduki daerah Siak. Christiaan Snouck Hurgronje yang menyamar selama 2 tahun di pedalaman Aceh untuk meneliti kemasyarakatan dan ketatanegaraan Aceh. Belanda berhasil menduduki Keraton Sultan. Dibukanya Terusan Suez oleh Ferdinand de Lesseps. Ketika Sultan Machmud Syah wafat 26 Januari 1874. sehingga kapal-kapal Belanda yang lewat perairan Aceh ditenggelamkan oleh pasukan Aceh. maka berakhirlah perjanjian London tahun 1824. Hasil kerjanya itu dibukukan dengan judul Rakyat Aceh (De Acehers). 26 Januari 1874. Dalam perang gerilya ini pasukan Aceh di bawah Teuku Umar bersama Panglima Polim dan Sultan.Kedua (1874-1880). Ditandatanganinya Perjanjian London 1871 antara Inggris dan Belanda. Menunjukkan niat baik Belanda kepada rakyat Aceh. meskipun ibu kota negara berpindahpindah ke Keumala Dalam. Dimana sistem perang gerilya ini dilangsungkan sampai tahun 1904. dengan cara mendirikan langgar. Kemudian Dr Snouck Hurgronje diangkat sebagai penasehatnya.

istri Sisingamangaraja XII serta dua orang anaknya. Raja (Sultan) mengakui daerahnya sebagai bagian dari daerah Hindia Belanda. Belanda berusaha mewujudkan Pax Netherlandica.922 orang dibunuhnya. Ia menolak tawaran untuk menyerah. Raja Sisingamangaraja XII memutuskan untuk menyerang kedudukan Belanda di Tarutung. Kota Natal. hutan-hutan rimba raya Aceh untuk mencari dan mengejar gerilyawan-gerilyawan Aceh. Pada tahun 1907. Sultan menyerah pada tanggal 5 Januari 1902 ke Sigli dan berdamai. Van Heutz telah menciptakan surat pendek (korte verklaring.Taktik perang Taktik perang gerilya Aceh ditiru oleh Van Heutz. Van der Maaten menawan putera Sultan Tuanku Ibrahim. sementara itu Sisingamangaraja XII dan para pengikutnya berhasil melarikan diri ke hutan Simsim. Setelah Panglima Polim menyerah. Walau demikian. pasukan Belanda. Perjanjian pendek ini menggantikan perjanjianperjanjian terdahulu yang rumit dan panjang dengan para pemimpin setempat. pembersihan dengan cara membunuh rakyat Aceh yang dilakukan di bawah pimpinan Gotfried Coenraad Ernst van Daalen yang menggantikan Van Heutz. dengan tujuan untuk melindungi penyebar agama Kristen yang tergabung dalam Rhijnsnhezending. Seperti pembunuhan di Kuta Reh (14 Juni 1904) dimana 2. Akibatnya Panglima Polim meletakkan senjata dan menyerah ke Lhokseumawe pada Desember 1903. banyak penghulupenghulu rakyat yang menyerah mengikuti jejak Panglima Polim. Perang ini berlangsung selama 29 tahun. Hal ini berlanjut sampai Belanda enyah dari Nusantara dan diganti kedatangan penjajah baru yakni Jepang (Nippon). merupakan perang antara Kerajaan Batak melawan Belanda. Siborong-borong. Alasan meletusnya perang ini adalah: Raja Sisingamangaraja XII tidak senang daerah kekuasaannya diperkecil oleh Belanda. Taktik selanjutnya.773 laki-laki dan 1. Raja berjanji tidak akan mengadakan hubungan dengan kekuasaan di luar negeri. Taktik berikutnya yang dilakukan Belanda adalah dengan cara penculikan anggota keluarga gerilyawan Aceh. dengan tokoh penyebarnya Nommensen (orang Jerman). tetapi sebagai gantinya ditangkap putera Panglima Polim. pusat kedudukan dan pemerintahan Kerajaan Batak. Traktat Pendek) tentang penyerahan yang harus ditandatangani oleh para pemimpin Aceh yang telah tertangkap dan menyerah. dibawah pimpinan Van Daalen dari Aceh Tengah. yang terdiri dari 1. Angkola dan Sipirok di Tapanuli Selatan dikuasai oleh Belanda. Cut Po Radeu saudara perempuannya dan beberapa keluarga terdekatnya. Sisingamangaraja XII gugur bersama dengan putrinya Lopian dan dua orang putranya Sutan Nagari dan Patuan Anggi. sedangkan di Medan didatangkan pasukan lain. Pasukan Marsose di bawah pimpinan Kapten Hans Christoffel berhasil menangkap Boru Sagala. Akibat penyerangan ini. dikarenakan pada saat itu tetap saja terjadi perlawanan terhadap Belanda meskipun dilakukan oleh sekelompok orang (masyarakat). Perang Tapanuli Perang Tapanuli. dan dalam pertempuran tanggal 17 Juni 1907. Gugurnya Sisingamangaraja XII menandai berakhirnya Perang Tapanuli. . Van der Maaten dengan diam-diam menyergap Tangse kembali. seperti di Bahal Batu. Perang meletus setelah Belanda menempatkan pasukannya di Tarutung. Pada tahun 1894. dimana dibentuk pasukan maréchaussée yang dipimpin oleh Hans Christoffel dengan pasukan Colone Macan yang telah mampu dan menguasai pegunungan-pegunungan. dimana akhirnya Cut Nya Dien dapat ditangkap dan diasingkan ke Sumedang. Taktik terakhir menangkap Cut Nyak Dhien istri Teuku Umar yang masih melakukan perlawanan secara gerilya. Di mana isi dari surat pendek penyerahan diri itu berisikan. Pada tahun 1904. Panglima Polim dapat meloloskan diri. Surat perjanjian tanda menyerah Selama perang Aceh. Perang berlangsung selama tujuh tahun di daerah Tapanuli Utara. juga dikenal sebagai Perang Batak (1878-1907). Balige Laguboti dan Lumban Julu.149 perempuan. berjanji akan mematuhi seluruh perintah-perintah yang ditetapkan Belanda. melanjutkan gerakannya ke Tapanuli Utara. Akibatnya. Sisingamangaraja XII terpaksa pindah ke Dairi Pakpak. wilayah Aceh tetap tidak bisa dikuasai Belanda seluruhnya. Mandailing. Belanda melancarkan serangan untuk menguasai Bakkara. Misalnya Christoffel menculik permaisuri Sultan dan Tengku Putroe (1902).

A Leo Orlando .P Chatarina Citra.KELOMPOK : Andrew Thene.W Caecila Oddilia.W.

 ! .9.  04 7.                  !  3/70%030  . //.73.97.0..3/4  .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful