P. 1
Prosiding Tpt Xx Perhapi 2011

Prosiding Tpt Xx Perhapi 2011

5.0

|Views: 4,189|Likes:
Published by Valerie Ggmu Luhg

More info:

Published by: Valerie Ggmu Luhg on Nov 11, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

05/25/2013

pdf

text

original

ISBN : 978-979-8826-20-7

PERHIMPUNAN AHLI PERTAMBANGAN INDONESIA ASSOCIATION OF INDONESIAN MINING PROFESSIONALS

PROSIDING
TEMU PROFESI TAHUNAN (TPT) XX PERHAPI 2011 LOMBOK - NUSA TENGGARA BARAT 10-11 OKTOBER 2011 “Pengelolaan Sumberdaya Mineral dan Batubara untuk Kemakmuran Rakyat”

2011

PROSIDING TPT XX PERHAPI 2011 KATA PENGANTAR

Salam PERHAPI, Sumberdaya mineral dan batubara merupakan salah satu modal bangsa Indonesia dalam melaksanakan pembangunan nasional. Pelaksanaannya adalah melalui transformasi potensi sumberdaya mineral menjadi modal riil ekonomi dan seterusnya menjadi modal sosial untuk mencapai kemakmuran rakyat. Hal tersebut sesuai dengan amanat yang dipesankan dalam UUD 1945 Pasal 33 ayat 3 dimana “Bumi, air, dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh negara dan dimanfaatkan sebesar-besarnya untuk kesejahteraan rakyat”. Saat ini pemerintah Republik Indonesia sedang menyusun “Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia 2011-2025” yang diantaranya ditunjang oleh konsep wilayah koridor perekonomian. Dari 6 koridor ekonomi yang sedang disiapkan paling tidak tiga koridor terkait langsung dengan peran pertambangan mineral dan batubara, yaitu Sumatra (lumbung energi nasional), Kalimantan (pusat produksi dan pengolahan hasil tambang dan lumbung energi nasional) serta Papua-Maluku. Sebagaimana diketahui bahwa tahun 2011 ini dibuka dengan harga komoditas tambang yang tinggi. Tingginya harga komoditas tambang dapat disebabkan oleh terganggunya pasokan ataupun perubahan kondisi perekonomian dunia. Harga tersebut tidak akan selamanya berada pada tingkat yang tinggi, namun berfluktuasi mengikuti kondisi-kondisi yang mempengaruhi harga jual produk. Bagi pemangku kepentingan, harga komoditas tambang akan mempengaruhi keputusan-keputusan yang terkait dengan pelaksanaan kegiatan pertambangan. Dari sisi pelaku industri pertambangan, harga komoditas termasuk juga biaya pengusahaannya akan menentukan strategi operasi mulai dari eksplorasi, penambangan, dan pengolahan sehingga pengusahaan sumberdaya mineral dan batubara akan memberikan keuntungan sesuai keinginan pemilik perusahaan. Sedangkan dari sisi pemerintah selaku pemegang amanah rakyat Indonesia dalam mengelola sumberdaya mineral dan batubara, pertimbangan harga komoditas akan menentukan target pendapatan negara dan kebijakan-kebijakan dalam mengelola sumberdaya mineral dan batubara. Terdapat berbagai aspek yang mempengaruhi dinamika dalam pengelolaan dan pengusahaan sumberdaya mineral dan batubara. Selain aspek harga komoditas tambang yang telah dijelaskan di atas, aspek lain yang dapat mempengaruhi keberlangsungan aktivitas pertambangan antara lain adalah aspek regulasi dan kebijakan pemerintah, baik pusat maupun daerah, serta implementasinya, aspek sosial ekonomi dan budaya, teknologi, dan pengawasan. Sehubungan dengan hal itu, dalam rangka menunjang program percepatan pembangunan dan perluasan pembangunan ekonomi, khususnya di bidang pertambangan, diharapkan seluruh pemangku kepentingan bidang pertambangan dapat berperanserta secara aktif untuk menyelaraskan berbagai aspek dalam pengelolaan sumberdaya tersebut sehingga pengusahaan sumberdaya mineral dan batubara dapat dilaksanakan secara efektif, berdaya guna, berhasil guna, dan berdaya saing untuk mewujudkan kemakmuran bagi seluruh rakyat Indonesia.

i

PROSIDING TPT XX PERHAPI 2011
Demi mewujudkan cita-cita bersama ini PERHAPI mengambil tema “Pengelolaan Sumberdaya Mineral dan Batubara untuk Kemakmuran Rakyat” yang diketengahkan dalam Temu Profesi Tahunan (TPT) XX PERHAPI 2011 di Lombok Nusa Tenggara Barat, 10 - 11 Oktober 2011. Selain sebagai wahana tukar pikiran atau untuk memperkaya wawasan, antar anggota PERHAPI maupun dengan pihak-pihak terkait, diharapkan Pertambangan Berkelanjutan akan terwujud. Dalam Acara ini, 66 Makalah terpilih untuk dipresentasikan oleh anggota PERHAPI ataupun dari pakar-pakar terkait. Dalam Prosiding ini yang berisi 70 Makalah yang dibagi menjadi Kelompok Kebijakan, Kelompok Eksplorasi, kelompok Operasi Penambangan, Kelompok Geoteknik Tambang, Kelompok Pengolahan Bahan Galian, Kelompok Lingkungan dan Kelompok Student Paper Contest. Diharapkan Prosiding ini dapat dijadikan sebagai salah satu bahan acuan, Khususnya untuk perihal Pengembangan Proses Teknologi dan Profesionalisme Menuju Keberlanjutan Pertambangan di Indonesia. Dalam kesempatan yang berbahagia ini pula, segenap Pengurus PERHAPI ingin menyampaikan ucapan terimakasih yang sebesar-besarnya dan penghargaan yang setinggitingginya kepada semua pihak yang telah mendukung terselenggaranya acara TPT XX PERHAPI 2011. Demikian pula bagi yang telah mendukung terwujudnya prosiding ini.

Jakarta, Oktober 2011

Prof. Dr. Ir. IrwandyArif, DEA.,M.Sc Ketua Umum PERHAPI

ii

PROSIDING TPT XX PERHAPI 2011 DAFTAR ISI
Kata Pengantar Daftar Isi KELOMPOK I : EKSPLORASI 1. Ore Reconciliation at Petea Nickel Laterite Deposit, Agus Superiadi, Mylar Mukti and Abdul Rauf, Mines and Exploration Department, PT. International Nickel Indonesia, Tbk. Sorowako Optimasi Spasi Pemboran Eksplorasi Pada Endapan Batubara Dengan Pendekatan Geostatistik, Studi Kasus Batubara Formasi Warukin Kalimantan Selatan, Mohamad Nur Heriawan1, Rudy Hendrawan Noor2, dan Syafrizal1,1Kelompok Keahlian Eksplorasi Sumberdaya Bumi, Fakultas Teknik Pertambangan dan Perminyakan – ITB, 2Program Studi Magister Rekayasa Pertambangan, Fakultas Teknik Pertambangan dan Perminyakan – ITB Keprospekan Dan Kelayakan Kawasan Pertambangan Untuk Bahan Galian Golongan C Kecamatan Narmada Dan Lingsar Kabupaten Lombok Barat, Dwi Winarti, I Gde Dharma Atmaja, Jurusan Teknik Pertambangan Fakultas Teknik Universitas Muhammadiyah Mataram Kajian Karakteristik Maseral Pada Lapisan Batubara Formasi Warukin, Kalimantan Selatan (Studi di PT. Adaro Indonesia), Edy Nursanto1), Hendra Amijaya2), Arifudin Idrus3),Subagyo Pramumijoyo4), Dwin Deswantoro5),1) Mahasiswa program Doktor, Teknik Geologi, Universitas Gadjah Mada, 2), 3), 4) Jurusan Teknik Geologi, Universitas Gadjah Mada, 5)PT. Adaro Indonesia Pemanfaatan Andesit Di Desa Gerbosari, Kecamatan Samigaluh, Kabupaten Kulon Progo, D.I. Yogyakarta Sebagai Bahan Bangunan, Priyo Widodo, Tedy Agung Cahyadi, Staf Pengajar, Prodi Teknik Pertambangan, Fakultas Teknologi Mineral,UPN ”Veteran” Yogyakarta Eksplorasi Bijih Emas Plaser Di Daerah Kabupaten Bombana Provinsi Sulawesi Tenggara, Waterman Sulistyana, Magister Teknik Pertambangan, UPN “Veteran” Jogjakarta Eksplorasi Pendahuluan Tentang Keterdapatan Wolframite Sebagai Logam Langka Di Daerah Alitupu Kabupaten Poso - Sulawesi Tengah, Sofyan Rachman, Ahmad fauji, Teknik Geologi, Universitas Trisakti 1 i iii

2.

11

3.

21

4.

32

5.

42

6.

51

7.

60

iii

PROSIDING TPT XX PERHAPI 2011
8. Aplikasi Mikrothermometri Dalam Eksplorasi Endapan Epithermal, Syafrizal, M. Nur Heriawan, Teti Indriati, Kelompok Keahlian Eksplorasi Sumber Daya Bumi, Fakultas Teknik Pertambangan dan Perminyakan, Institut Teknologi Bandung Mathematical Model Untuk Estimasi Bahan Tambang, Nur Ali Amri, Teknik
Pertambangan FTM UPN “Veteran” Yogyakarta

69

9.

79

10. Karakteristik Akuifer Di Tamiang Layang, Barito Timur, Kalimantan Tengah, Hasywir Thaib S; Barlian Dwinagara; R Hariyanto; Aldin Ardian, Program Studi Teknik Pertambangan UPN “Veteran” Yogyakartal KELOMPOK II : OPERASI PENAMBANGAN 11. Optimasi Lubang Bukaan Tambang Untuk Memaksimalkan Nilai Cadangan Batubara, Studi Kasus PIT 8, Tambang Senakin, PT Arutmin Indonesia, Umar Hadi, Evans Rahadian, PT. Arutmin Indonesia 12. Optimasi Desain Lubang Bukaan Tambang untuk Kondisi Lapisan Batubaraterjal Dan Interburden Tebal (Studi Kasus : Tambang Asamasam, PT Arutmin Indonesia), Kresno Adiprasetyo, Mineral Resource Department, PT Arutmin Indonesia 13. Penambangan Pasir Besi Dengan Menggunakan Alat Bucketwhell Dredges Dan Pengolahan Hingga Menjadi Bahan Baku Selanjutnya Di Wilayah Pesisir Pantai Kabupaten Seluma Provinsi Bengkulu, Ardi Setiawan, ST, Achmed Arrofah, ST, Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral Kabupaten Seluma, Provinsi Bengkulu 14. Knowledge Management Bagi Sistem Informasi Process Plant Plant Dan Mining di Wilayah Operasi Tambang PT. INCO, Tbk Sorowako, Radios Hendrartijanto, Ricky Nelson, Syamsi Buang, PT. International Nickel Indonesia, Tbk (INCO), Sorowako, South Sulawesi. 15. Penerapan RCM (Reliability Centered Maintenance) Analysis Sebagai Sarana Pemetaan Karakteristik Kegagalan Unit Pada Hitachi Euclid EH4500 di KPC Site, Adhen Bagussa Utomo, (Mechanical Engineer & RCM Analysis Facilitator Mining Support Division), PT. Kaltim Prima Coal 16. Analisa Faktor-Faktor Produktivitas Alat Muat Dalam Upaya Penentuan Strategi Peningkatanproduktivitas Liebher R996B PT KPC Sangatta, Kalimantan Timur, Agus Soleh Renggana, Mining Operation Division, PT Kaltim Prima Coal

86

95

102

111

117

128

136

iv

PROSIDING TPT XX PERHAPI 2011
17. Selective Mining dalam Upaya Peningkatan Coal Recovery pada Seam Tipis dan Berparting Studi Kasus Penambangan Divisi Mining PT Kaltim Prima Coal, Armis Haroen, Technical Coal Mining Dept - PT Kaltim Prima Coal 18. Penghematan Bahan Bakar Melalui Upaya Pengoperasian Tambang Yang Efektif Di PT. Kaltim Prima Coal, Didik Mardiono, PT. Kaltim Prima Coal 19. Aplikasi Ultrasonic Test (UT) Sebagai Predictive KeretakanAkibat Dynamic Load Pada CAT789B/785/T282B/EH4500 Truck di KPC Site, Jumaidi Holmes Simatupang, Asst. Condition Monitoring FAR & NDT Specialist Mining Support Division, PT. Kaltim Prima Coal 20. Mewujudkan Manajemen Topsoil Yang Terintegrasi Di Mining Operation Division PT Kaltim Prima Coal, Reza Prasetya, PIT J Departemen - PT Kaltim Prima Coal 21. Implementasi Fleet Monitoring System Dalam Meningkatkan Pencapaian Produksi Di Mining Operation Division (MOD). PT. KPC, Shauman Shaladin, Supt. Mine Control and Dispatch - Mine Optimisation Dept PT.Kaltim Prima Coal 22. Pengaturan Operator Pada Awal Shift Kerja di PT Newmont Nusa Tenggara Dengan Menggunakan ABCD LineUp System, Arif Rahman Ahmad, Arif Johar Pratama, Mine Productivity Performance Department PT Newmont Nusa Tenggara 23. PT. Newmont Nusa Tenggara Mine Operation Reporting System (MORS), Reza Ardhianto, Joko Purnomo, Mine Operation – Fleet Management System, PT. Newmont Nusa Tenggara 24. Studi Aliran Gas Pada Peristiwa Kebakaran di dalam Terowongan Dengan Percobaan Skala Kecil di Laboratorium, Ramdana, Nuhindro Priagung Widodo, Rogate S.T. Saragih, KK Teknik Pertambangan, Fakultas Teknik Pertambangan dan Perminyakan, Institut Teknologi Bandung 25. Analisis Koefisien Tahanan Gulir Alat Angkut Dump Truck Pada Jalan Angkut Di Kuari Batugamping, Yudhidya Wicaksana, Nuhindro P. Widodo, Suseno Kramadibrata, Ridho K. Wattimena, Fajar Ismail, Batara Naenggolan, Laboratorium Geomekanika dan Peralatan Tambang, FTTM ITB 26. Kontrol Vibrasi dan Air Blast di Pit J Panel 4, Pangihutan Siboro, Mining Services, PT Kaltim Prima Coal, Sangatta, Indonesia 145

155

168

175

186

197

202

211

220

227

v

PROSIDING TPT XX PERHAPI 2011
27. Trial Metoda “Coal Decking Blasting Technique“ di Pit Bendili Panel 7, PT. Kaltim Prima Coal, Kiagus Nirwan dan Untung Pramana, Drill and Blast Section – PT. Kaltim Prima Coal 28. Penerapan Disain Trim Shoot dalam Cookbook di PT Newmont Nusa Tenggara, Andriko Satria, HazqilArafi, PT Newmont Nusa Tenggara 29. Applications Of Fibre-Reinforced Shotcrete (Fibrecrete) Support At Sill Drift (Production Stope) In Pongkor Underground Gold Mine PT.Antam (Persero),Tbk, Yosep Purnama, Agus Sudharto, Rustaman, Catur Budiyanto, Bayu Wibisana, Pongkor - Gold Mining Business Unit, PT.Antam (Persero) Tbk KELOMPOK III : EKONOMI MINERAL 30. Kajian Ekonomi Pencucian Batubara Dalam Kaitannya Dengan Konservasi Cadangan Batubara (Studi Kasus : Tambang Mereh, PT Arutmin Indonesia), Riandi Rachmawan, PT Arutmin Indonesia 31. Metode Pembiayaan Yang Paling Ekonomis, Debt or Leasing? Studi Kasus: Pembelian Coal Truck Komatsu HD785 di PT. Kaltim Prima Coal, Cory Manurung, Business Analysis, PT Kaltim Prima Coal, Sangatta, Indonesia 32. Evaluasi Keekonomian Pembuatan Alternatif Coal Road dalam upaya Optimalisasi Cycle Time “Studi Kasus Pembuatan Haul Road di ex-Surya Dump”, Ignatius Dwi Sulestiowidagdo, Technical Coal Mining Department – PT. Kaltim Prima Coal 33. Analisis Kelayakan Ekonomi Rencana Penambangan Bijih Mangan Di Daerah Karangsari Kabupaten Kulonprogo – DIY, Anton Sudiyanto, Priyo Widodo, Teddy Agung Cahyadi, Pratiwi, Program Studi Teknik Pertambangan – FTM UPN “Veteran” Yogyakarta KELOMPOK IV : KEBIJAKAN 34. Pengalaman Sukses Relokasi Kampung Batuharang, Pit 3 Ata, Tambang Batulicin, Kalimantan Selatan, Dedi Heriyanto, Muhammad Muchtar Arifin, PT. Arutmin Indonesia 35. Evaluasi Pelaksanaan Program Pengembangan Masyarakat Dengan Indikator Terukur, Sudirman Widhy H, PT. Arutmin Indonesia 302 262 236

244

252

272

280

289

312

vi

PROSIDING TPT XX PERHAPI 2011
36. Hak Dan Kewajiban Usaha Pertambangan Berdasarkan Undang-Undang No.4 Tahun 2009, Tentang Mineral & Batubara, Ir. Amirrusdi, M.Si, Pusdiklat Ketenagalistrikan Energi Baru Terbarukan & KE 37. IUP Existing, Buana Sjahboeddin, SH, MH, Ditjen Minerba, Kementerian ESDM 38. Pengintegrasian Corporate Social Responsibility (CSR) ke dalam Proses Bisnis: Best Practice Penerapan CSR di Industri Pertambangan melalui Manajemen dan Pengembangan Kontraktor Lokal, Anton Sudarisman, PT International Nickel Indonesia Tbk, Sulawesi Selatan 39. Pendekatan Compass Index Sustainability Untuk Mengukur Keberhasilan Pembangunan Berkelanjutan Berbasis Sumber Daya Mineral: Studi Kasus Kabupaten Luwu Timur, Aryo P Wibowo1), Fadhila A Rosyid1), Rini N Sutardjo Tui2),1). Program Studi Teknik Pertambangan ITB, 2). Alumni Program Magister Rekayasa Pertambangan, Bidang Khusus Manajemen dan Ekonomi Mineral ITB 40. Penerapan Konsep Eksplorasi, Sumberdaya dan Cadangan Dalam Konservasi Sumberdaya Bahan Galian, Syafrizal, Kelompok Keahlian Eksplorasi Sumber Daya Bumi, Fakultas Teknik Pertambangan dan Perminyakan, Institut Teknologi Bandung 41. Penggabungan Pit Hanoman PT Arutmin Indonesia dengan PT Wahana Baratama Mining, Keuntungan dan Tantangannya, Lutfi Qolbirokhim, PT Arutmin Indonesia 42. Desa Mandiri Kendaraan menuju Kemandirian Desa yang menjadi bagian skenario Tutup Tambang di bidang Sosial dan Ekonomi PT Kaltim Prima Coal, Nurul Karim dan Denny Pratama, PT Kaltim Prima Coal 43. Sistem Manajemen Umpan Balik Masyarakat Studi kasus Penanganan Keluhan Sosial & Lingkungan Community Feedback Management System Case Studies Social & Environmental Handling PT Kaltim Prima Coal, Wawan Setiawan, Supt. Community Support PT Kaltim Prima Coal 44. Manfaat Sosial Kegiatan Pertambangan Batubara PT.Bukit Asam, (Persero) Tbk, Tanjung Enim, Sumatera Selatan, Restu Juniah*), Rinaldi Dalimi**), M. Suparmoko***), Setyo S Moersidik****),**) Pengajar Teknik Elektro dan Guru Besar FT Universitas Indonesia,***) Program Studi Ilmu Lingkungan UI dan Guru Besar FE Universitas Budi Luhur,****) pengajar Program Studi Ilmu Lingkungan dan Teknik Lingkungan FT UI 325

344

354

366

376

386

405

418

432

vii

PROSIDING TPT XX PERHAPI 2011

45. Studi Model Pengelolaan Pertambangan Mineral Rakyat Dalam Upaya Mengurangi Dampak Lingkungan Dan Meningkatkan Kesejahteraan Masyarakat, Sekar Mayangsari1, Pancanita Novi Hartami1, Nurhardono2, Nurudin Diding Somantri3, 1Universitas Trisakti; 2Kementerian ESDM; 3Distam Propinsi NTB KELOMPOK V : GEOTEKNIK TAMBANG 46. Kajian Geoteknik Untuk Penanganan Kelongsoran di Low Wall Pit T1 Site Sambarata, PT. Berau Coal, Kabupaten Berau, Kalimantan Timur, David Ontosari, Sindu Umboro1) dan Wandi2), 1)Geotechnical and Hydrological 2) Engineer PT Berau Coal, SMO Superintendent PT Berau Coal 47. Kajian Geoteknik Untuk Prosedur Dumping di Area Disposal PT. Berau Coal, Kabupaten Berau, Kalimantan Timur , Lukman Hakim 1) dan Welly Turupadang2) ,1) Geotechnical and Hydrological Engineer PT Berau Coal, 2) Geotechnical and Hydrological Superintendent PT Berau Coal 48. Pengaruh Kegempaan Terhadap Performance Stabilitas Lereng Tambang Terbuka 1 1 Batu Hijau PT Newmont Nusa Tenggara, Azwar Satriawan , Fransiscus Cahya , Hemiel Lelono1, I.B. Donni Viriyatha1, Yan Adriansyah1, 1Geotechnical & Hydrogeological Group – Mine Technical Services, PT. Newmont Nusa Tenggara 49. Tamrock Cabolter Drilling Dan Grouting Pada Tambang Bawah Tanah “Big Gossan Mine” PT. Freeport Indonesia, Operasi Pemasangan, Pelapisan Dan Pengencangan Cabolter Drilling, Eka Kartamiharja, PT. Freeport Indonesia 50. Tamrock Cabolter Drilling Dan Grouting Pada Tambang Bawah Tanah “Big Gossan Mine” PT. Freeport Indonesia, Pengembangan Element System Grouting Menggunakan Cablebolt Pada Tambang Bawah Tanah, Eka Kartamiharja, PT. Freeport Indonesia 51. Aplikasi Probabilistik Untuk Analisis Kestabilan Lereng Tunggal (Studi Kasus Di PT. Tambang Batubara Bukit Asam Tbk. Tanjung Enim, Sumatera Selatan), Masagus Ahmad Azizi1), Suseno Kramadibrata2), Ridho K.Wattimena2), Indra 3) 4) 5) 1) Djati Sidi , Susanto Basuki , Suhedi , Jurusan Teknik Pertambangan FTKE Universitas Trisakti & Mahasiswa Program Doktor Program Studi Rekayasa 2) 3) Pertambangan ITB; Program Studi Teknik Pertambangan ITB; Program Studi 4) Teknik Sipil ITB; Program Studi Teknik Pertambangan Universitas Lambung 5) Mangkurat; Menejer Eksplorasi Rinci PTBA

440

451

461

472

487

497

511

viii

PROSIDING TPT XX PERHAPI 2011
KELOMPOK V : LINGKUNGAN 52. Fasilitas Komposting Sebagai Solusi Penanganan Sampah Organik PT. Antam (Persero), Tbk UBPN Sultra, TaufikAhmady, PT. ANTAM (Persero), Tbk 53. Studi Pemanfaatan Fly Ash Dan Bottom Ash Dalam Pengelolaan Batuan Penutup Untuk Pencegahan Air Asam Tambang, Iin Lestari1, Rudy Sayoga Gautama1, 1 1 Muhammad Sonny Abfertiawan , Program Studi Teknik Pertambangan, Fakultas Teknik Pertambangan Dan Perminyakan, Institut Teknologi Bandung, Indonesia 54. Pemanfaatan Lubang Bekas Tambang (Void) Sebagai Pengendap Sedimen Yang Terintegrasi Dengan Sistem Manajemen Air - Site Sangatta PT. Kaltim Prima Coal (Studi Kasus Kolam Pengendap Pelikan Selatan), Ibadi Zalfatirsa1) & Firman 2. 2) 1. Simbolon , Sr. Civil Engineer – Civil & Env. Planning PT. KPC, Sr. Civil Engineer – Mining Services PT. KPC 55. Perbandingan Nilai Erosivitas Hujan Menggunakan Data Penakar Hujan Otomatis, Metode Bols dan Metode Lenvain di Area PT. Kaltim Prima Coal, Sari Nurwita, Kris Pranoto, Candra Nugraha, PT. Kaltim Prima Coal, KPC Mine Site Sangatta 56. Pipeline Program CDM di Indonesia: Sebuah peluang dan tantangan untuk Industri Pertambangan, Joni SafaatAdiansyah, ST, MSc, PT Newmont Nusa Tenggara 57. Sistem Penomoran Dokumen Lingkungan PT. Newmont Nusa Tenggara Sesuai Dengan Sistem Manajemen Lingkungan, Radjali Amin, PT Newmont Nusa Tenggara 58. Kualitas Air Larian Dari Daerah Reklamasi Tongoloka PTNNT, Rissa Anungstri, Mara Maswahenu, Departemen Lingkungan PT Newmont Nusa Tenggara 59. Kajian Dampak Pembuangan Tailing PT. Newmont Nusa Tenggara (PTNNT) Terhadap Kualitas Air Laut Dan Sedimen Di Laut Selatan Pulau Sumbawa, Surya Hadi*, Karnan*, Padusung*, Syamsu Rijal**, dan Baiq Dewi Krisnayanti*, *Dosen pada Universitas Mataram; ** Dosen pada Sekolah Tinggi Teknologi Lingkungan Mataram; * dan ** adalah Tim Terpadu Pemantau Dampak Lingkungan PTNNT, Provinsi Nusa Tenggara Barat 60. Evaluasi Perkembangan Tata Guna Lahan terhadap Rencana Penutupan Tambang, Peni Rostiarti, Natalina R. Pangaribuan, Resti Natalia G., Prima Arlini, PT. Bukit Asam (Persero), Tbk 525

535

542

552

559

569

579

589

600

ix

PROSIDING TPT XX PERHAPI 2011
61. Analisis Ekologis dan Variasi Genetik Mangrove Di Pesisir Kabupaten Sumbawa 1) Barat dan Lombok Timur Nusa Tenggara Barat, Erny Poedjirahajoe , Namastra Probosunu 2), Boy Rahardjo Sidharta 3), Dinar Ambarwati 4), Dwinita Utami 5) dan Tarmizi Pane 6), Pusat Studi Agroekologi UGM 62. Aplikasi Proper Pada Pengelolaan Lingkungan Pertambangan Di Indonesia, Meinarni Thamrin, Aryanti Virtanti Anas, Program Studi Teknik Pertambangan, Fakultas Teknik Jurusan Teknik Geologi, Universitas Hasanuddin KELOMPOK VI : PENGOLAHAN BAHAN GALIAN 63. Konversi Bahan Bakar Ido Ke Mfo Untuk Mendukung Efisiensi Operasional Pada Pabrik Pengolahan Bijih Nikel, Ali Anthalano, Departemen Processing & Engineering PT. ANTAM (Persero),Tbk, UBPN Sulawesi Tenggara – Pomalaa 64. Oxygen Liquefaction For Crude Metal Refining, Yanu Sukarno, ST, Processing & Engineering Dept. PT. ANTAM (Persero),Tbk, UBPN Sulawesi Tenggara – Pomalaa 65. Stockpile Management In Coal Processing, Laode M. Iqbal, PT Kaltim Prima Coal 66. Peningkatan Keakuratan Hasil Analisa Komposisi Ore Dengan Metode TDistribution Pada Blending Ore Pengolahan Ferronikel, Vita Astini1, M.Z.Abidin2, Ulil Amri N.3, 1Jurusan Teknik Pertambangan, Fakultas Teknik, Universitas 19 November, Kolaka Sultra, 2, 3 PT. Antam Tbk. UBPN Sultra 67. Studi Peningkatan Kadar Emas Bijih Emas Asal Ciemas-Sukabumi Dengan Alat Meja Goyang (Shaking Table) PT. Golden Pricindo Indah Ciemas, A. Taufik Arief ¹) Lucy Agnecia²), ¹)²)Dosen Jurusan Teknik Pertambangan, Fakultas Teknik, Universitas Sriwijaya KELOMPOK VI : STUDENT PAPER CONTEST 68. Teknologi Pengolahan Air Asam Tambang Dengan Metoda Elektrolisa, Sodikin Mandala Putra, Mahasiswa Jurusan Teknik Pertambangan, UNSRI 69. Studi Perbandingan Metode Estimasi Sumberdaya Timah di Tambang Besar Mawas Nudur, Desa Bencah, Kabupaten Bangka Selatan, Propinsi Kepulauan Bangka Belitung, Muhammad Fikri, Mahasiswa Program Sarjana Teknik Pertambangan FTTM ITB 684 631 609

619

641

651

665

573

692

x

PROSIDING TPT XX PERHAPI 2011

70. Analisis Kestabilan Lereng Disposal, (Studi Kasus PT. Pesona Khatulistiwa Nusantara, Kab. Bulungan Kalimantan Timur), Aditya Wibawa, Mahasiswa Teknik Pertambangan UPN “Veteran” Yogyakarta

703

xi

1

PROSIDING TPT XX PERHAPI 2011 ORE RECONCILIATION at PETEA NICKEL LATERITE DEPOSIT
Agus Superiadi , Mylar Mukti and Abdul Rauf 1 Mines and Exploration Department, PT. International Nickel Indonesia, Tbk. Sorowako
1 1 1

ABSTRACT One of important step at resource estimation is reconciliation between actual mine production and block model. Ore reconciliation became important because it can influence Mineral Resources and Mineral Reserves estimation as feedback in determining actual several mining factor such as mineability, mine recovery, Wet Tonnage Factor (WTF) and Screen recovery. Ore reconciliation that already conducted in PT. INCO (PTI) include Run of Mine (ROM) chemistry (Ni, Fe, SiO2 and MgO), ROM & Over Burden (OB) tonnages, and also geometric of Ore & OB (thickness, area and volume), whereas for reconciliation between mining and process plant, PTI already conduct for chemistry and screen recovery at Dryer. Measurement of actual top ore and bottom ore points by Trimble GPS (Global Positioning System) had been conducted since 2005 at Petea Block A & since 2008 at Petea Block B which covered more than 1.000.000 m2 areas and more than 350.000 m2 has completely both of top ore and bottom ore points. These actual data processed by Vulcan software and calculated to be compared to block model data to get reconciliation result for geometric of Ore & OB (thickness, area and volume). Whereas for ROM chemistry and ROM & OB tonnages, measurement actual weekly topography used with previous topography to calculate data at block model in Vulcan and compared to actual mine production that recorded by Mine Modular System (MMS). The reconciliation data generated weekly, but for formal report it generated quarterly and yearly. The result of reconciliation between actual mine production and block model at Petea Block A & B shows close for chemistry (+ 15% quarterly basis at existing 50m drill space), but show gain at ROM and loss OB as effect at Petea block A, and show loss at ROM and gain at OB as effect at Petea Block B. The gain or loss at ROM contributed from several factor such as drill space, top ore and bottom ore elevation, etc. Actual top ore generally higher than at block model, but at bottom ore of Petea Block A actual is lower than model (generally actual ore thickness is thicker than block model) and at bottom ore Petea B, the elevation difference is higher than at top ore (generally actual ore thickness is thinner than block model). These factors caused by steep slope topography (>14 degrees) at some area at Petea A and most area of Petea Block B that cannot represented by existing 50 m drill space, causing core drilling data and block model having bias when determining top and bottom ore. The geostatistical drilling study at Petea Block A and B shows variogram that the appropriate drill space to confirm laterite and grade continuity is 25m drill space. So for long term solution, Petea Block A and B or other hill that has topography >14 degrees, the drill space need to be closer and for short term solution, the ROM can be adjusted by reconciliation factor. Keywords: reconciliation, morphology, geostatistical, variogram, domaining.

2

INTRODUCTION Ore reconciliation at Petea block A and block B has been conducted by PT. INCO since 2005 and 2008 respectively. This reconciliation include Run of Mine (ROM) chemistry (Ni, Fe, SiO2 and MgO), ROM & Over Burden (OB) tonnages, and also geometric of Ore & OB (thickness, area and volume). The purpose of this reconciliation is to find how close our actual mining to block model estimation in order to assess mineability and optimize the mining sequence. BACKGROUND Basically, the lateritisation process in ultramafic rock will produce 3 layers in the nickel laterite profile, which are limonite, saprolite, and bedrock (Ahmad, W., 2006). This process is influenced by some factors that can be seen in Figure 1. Those factors will affect to the pattern of continuity and thickness of the laterite profile. Because of an irregular pattern in the thickness of laterite profile, the determination of optimum drill spacing will become crucial to confirm the variability pattern of laterite profile in the deposit. Reconciliation for Petea block A was done and the result is very good for first year in 2005 (in range + 15%), but becoming bad reconciliation result at ROM tonnage between actual mine production with block model estimation in 2006 and 2007 (out of range > 15%). Same case happen at Petea Block B after 2009, the reconciliation between actual ROM tonnage of mine production sometimes is quite far (out of range < 15%) with the block model estimation. The slope of morphology and geological structure are supposed to be a factor for this difference. Thus, further analysis is needed to assess whether 50m drill spacing still adequate to apply at the existing geological condition or not. GENERAL GEOLOGY Petea Block A & B lies approximately about 25 km NE from Sorowako, there are estimated of about 600 ha of potential landforms covered by laterite for mining targets. At Petea Block A (Figure 2) generally, two distinct geomorphological features can be recognized (Rafianto,A., 2002), which are: · Tilted plateaus with terraces-like morphology on northern part of the block. The plateaus are dissected by deep valleys and formed creeks that relatively running southward. · Graben-like or lowland depression on the southern portion of the block. This depression is continuing to the west and formed Matano lake. At Petea Block B area (Figure 2) consists of two geomorphologic features (Petea Geologist, 2003), namely: · Tilted plateaus with terraces-like morphology on northern part of the block. · Depression (valley) area in the middle and southern portion of the block. Based on previous exploration data and field observation, bunch of interpreted tilted plateaus with terraces-like morphology on northern part of the block A & B are good landforms for

3

lateritisation. These tilted plateaus are the zones of very intensive weathering, and weathering has triggered nickel mineralization. The common occurrence of iron shot in the area is indicating a good laterite developed. The NW – SE geological structure as major primary faults at the base of plateaus and some are found in tilted plateaus and formed uplift terraces morphology that parallel with Matano Fault Zone. Petea block A and B (Figure 3) is dominantly by ultramafic rock Lherzolite (mediumhighly serpentinized) with some area has brittle shear zones, serpentinite and fault breccias. GEOSTATISTICAL DRILLING The purpose of geostatistical drilling is to get the information of nickel variability at the different distance (Matano, A., 2010). Also, it can be used to determine whether 50m drill spacing still adequate to confirm the continuity of ore and laterite profile at Petea area. To have a represent area of Petea, the area with various slope of morphology in 100m x 100m was chosen for this geostatistical drilling, which cover 48 holes and 74 holes for Petea block A and block B respectively. The regular pattern of drill spacing was applied with 50m spacing as the longest distance and 5m spacing as the shortest. Geo-evaluation, validation, and geological domaining were done for all holes. The geological layer of each hole was defined based on the texture of core and the chemistry from assay analysis. There were 3 main layers should be defined in the laterite profile as the domain: limonite, saprolite, and bedrock. DATA ANALYSIS The geostatistical drilling data was analyzed using Datamine Studio 2 software to estimate the Ni grade. Variability of Ni grade between samples in all drill holes were described in variography analysis. Each of limonite and saprolite layer had their own variogram model after they were unfolded. From these variogram models, for Petea block A 65m of sample distance in limonite layer was enough to confirm the Ni grade continuity, while in saprolite layer the samples had a good correlation in 26m. Whereas for Petea block B 41m of sample distance in limonite layer was enough to confirm the Ni grade continuity, while in saprolite layer the samples had a good correlation in 28m. Figure 4a & 4b shows the variogram model of Ni grade in the limonite and saprolite layer. Ore criteria for all block models are using 1.5% Ni of Cut of Grade (CoG) and 2m of minimum ore thickness. For sampling, Petea block A & B has respectively 521 and 1001 drill holes (including geostatistical drilling). The morphology slope and actual mined slope was calculated using ArcGIS 9.3, Global Mapper 7 and Excel 2003. It can be seen that both Petea block A and B in the beginning mined at good slope (<14 degrees) but in the end mined at the steep slope (>14 degrees). Detail data can be seen at Table 1 and Figure 5.

4

MINING METHOD PT. INCO using open pit mining method with Front Shovel (10 m bucket capacity) and 3 Back Hoe (8m bucket capacity) for mining equipment and for haul truck PT. INCO using 50 WMT and 100 WMT truck. RECONCILIATION METHOD Measurement of actual top ore and bottom ore points by Trimble GPS (Global Positioning System) had been conducted since 2005 at Petea Block A & since 2007 at Petea Block B which 2 2 covered more than 1.000.000 m areas and more than 350.000 m has completely both of top ore and bottom ore points (Saifuddin, A. and Mylar M., 2009). These actual data processed by Vulcan software and calculated to be compared to block model data to get reconciliation result for geometric of Ore & OB (thickness, area and volume). Whereas for ROM chemistry and ROM & OB tonnages, measurement actual weekly topography used with previous topography to calculate data at block model in Vulcan and compared to actual mine production that recorded by Mine Modular System (MMS). The reconciliation data generated weekly, but for formal report it generated quarterly and yearly. MMS data from 2005 – 2007 and 2008-2009 were used to get the historical data of mining in Petea block A and block B respectively. The data were plotted in a map to see the mine face position. In 2005 at Petea block A and 2008 at Petea block B, PTI mined the nickel ore at the slope average < 140. From the reconciliation report of this area, the actual ROM tonnage was close (+ 15%) to the ROM tonnage that was estimated at the block model. Variability slope of mine face in 0 2006 and 2007 at Petea block A and 2009 at block B increase became average > 14 , where the PTI generally mined the nickel ore at the steep slope of morphology. At this area the ROM tonnage at block model was under estimated for Petea block A and on the contrary over estimated for Petea block B. There was a significant difference between the actual ROM compared to the block model estimation (out of range + 15%). Figure 6a & 6b shows us the position of mine face from 2005 – 2009 on the slope distribution map in Petea blockAand B. CONCLUSSIONS According reconciliation result and geostatistical drilling at Petea, we can conclude that in the area with morphology less than 140 of slope, the ore reconciliation result is good (+ 15%) which is determine that 50m drill spacing is still adequate to determine the nickel laterite profile and ore estimation. In the area with 140 – 210 of morphology slope, the ore reconciliation is poor (out of range + 15%, at Petea block A more than 15% and at Petea Block B less than 15%), so it is recommended for short term solution to use reconciliation factor and for long term solution it is recommended to infill the area with the closer drill spacing (minimum 25 m according geostatistical drilling) to confirm the continuity of the nickel laterite profile and ore estimation.At the larger degree of slope (>210) or at the steep slope, the infill drilling is not needed, because basically in this area the nickel grade distribution is not enough to define as ore.
3

5

REFERENCES Ahmad, W. 2006. Laterites; Fundamental of Chemistry, Mineralogy, Weathering Processes, & Laterite Formation; PT. Inco Tbk., Sorowako. 212 p. De Mark, P., Riske, R. and Helm, S. 2010. Mine Reconciliation – For Better or Worse; Snowden Mining, Canada. 8 p. Fouet T., Riske, R., et al. 2009. Standardising the Reconciliation Factors Required in Governance Reporting; Snowden Group, Perth. 13 p. Matano,A. 2010. Petea Block B Geostatistical Drilling; PT. Inco Tbk., Sorowako. 25 p. Petea Geologists. 2003. Petea Block B Geology Report; PT. Inco Tbk., Sorowako. 9 p. Rafianto, A. and Petea Geologists. 2002. Petea Block A Geology Report; PT. Inco Tbk., Sorowako. 10 p. Saifuddin,A. and Mylar, M. 2009. Reconciliation Report: PT. INCO Tbk., Sorowako. 16 p.

6

7

8

9

10

error relatif =

1,96 ´ s OK ´100% z *OK

Se am EU 2

No. 1 2 3 4 5 6 7 8 9

Parameter Jumlah data Rata-rata Nilai tengah Varians Kurtosis Skewness Minimum Maksimum Koefisien variasi

Ketebalan (m) 31 3,62 4,14 3,65 -1,31 -0,42 0,50 5,94 0,53

Kadar abu (% adb) 21 3,08 2,68 0,99 3,50 1,67 2,08 6,17 0,32

Sulfur total (% adb) 22 0,34 0,14 0,61 21,35 4,59 0,10 3,82 2,30

(a)

(b)

(c) K ete rangan:

(d)

K onfiguras i lubang bor me nunjukkan variasi spasi lubang bor dan ke rapatan yang be ragam dengan are a e ksploras i 13 00 m x 1 0 00 m memanjang se cara horizontal s ear ah strike N 70 o E: (a) Spasi pemboran 50 0 m x 50 0 m dengan ke rap atan 9 titik, (b ) Spasi p emboran 40 0 m x 40 0 m de ngan ker apatan 1 2 titik, (c) Spasi pe mbor an 3 00 m x 30 0 m dengan ke rapatan 2 0 titik, (d) Spas i pemboran 2 00 m x 2 0 0 m de ngan ke rapatan 4 2 titik, (e) Spasi pe mbor an 1 00 m x 1 00 m de ngan ke rap atan 15 4 titik.

(e )

Gambar 5. Konfigurasi grid lubang bor dengan variasi spasi dan kerapatan.

Tabel 2. Parameter geostatistik ketebalan seam batubara pada berbagai konfigurasi bor.
Konfigurasi Lubang Bor 500 m 400 m 300 m 200 m 100 m ´ 500 m ´ 400 m ´ 300 m ´ 200 m ´ 100 m Jumlah Lubang Bor 9 12 20 42 154 Parameter Geostatistik Continuity Sill Nugget (C) Variance Ratio (C0 + C) C0/(C0+C) 2 2 0,46 m 0,60 m 22 % 0,19 m2 0,50 m2 62 % 2 2 0,46 m 0,66 m 30 % 0,36 m2 0,50 m2 26 % 2 2 0,56 m 0,63 m 11 %

Nugget Effect (C0) 0,13 m 0,31 m2 2 0,20 m 0,13 m2 0,07 m2
2

Range (a) 800 m 650 m 800 m 650 m 800 m

Tabel 3. Parameter geostatistik kandungan abu batubara pada berbagai konfigurasi bor.
Parameter Geostatistik Konfigurasi Lubang Bor Jumlah Lubang Bor 9 12 20 42 154 Nugget Effect (C0) 0,15 % 0,15 %2 0,01 %2 2 0,00 % 0,00 %2
2

Continuity (C)
2

Sill Variance (C0 + C) 0,36 % 0,50 %2 0,35 %2 2 0,39 % 0,38 %2
2

Nugget Ratio C0/(C0+C) 41 % 29 % 3% 0% 0%

Range (a)

500 m 400 m 300 m 200 m 100 m

´ 500 m ´ 400 m ´ 300 m ´ 200 m ´ 100 m

0,21 % 0,35 %2 0,34 %2 2 0,39 % 0,38 %2

350 m 650 m 500 m 500 m 550 m

Tabel 4. Parameter geostatistik sulfur total batubara pada berbagai konfigurasi bor.
Parameter Geostatistik Konfigurasi Lubang Bor Jumlah Lubang Bor 9 12 20 42 154 Nugget Effect (C0) 0,0005 % 0,0006 %2 0,0005 %2 2 0,0001 % 0,0001 %2
2

Continuity (C)
2

Sill Variance (C0 + C) 0,0011 % 0,0013 %2 0,0012 %2 2 0,0012 % 0,0010 %2
2

Nugget Ratio C0/(C0+C) 43 % 46 % 43 % 10 % 5%

Range (a)

500 m ´ 500 400 m ´ 400 300 m ´ 300 200 m ´ 200 100 m ´ 100

m m m m m

0,0006 % 0,0007 %2 0,0007 %2 2 0,0011 % 0,0010 %2

800 m 950 m 800 m 500 m 400 m

Estimasi menggunakan kriging titik menghasilkan standar deviasi untuk masing-masing parameter geometri dan kualitas untuk setiap konfigurasi grid pemboran tersebut. Resume statistik hasil estimasi kriging pada setiap konfigurasi grid pemboran untuk ketebalan seam, kandungan abu, dan sulfur total masing-masing ditunjukkan pada Tabel 5, 6, dan 7. Perlu diketahui bahwa estimasi kriging melibatkan data aktual dari eksisting bor dan dummy bor hasil interpolasi. DISKUSI Dari hasil pengujian geostatistik untuk berbagai konfigurasi grid pemboran secara umum terlihat bahwa semakin tinggi kerapatan konfigurasi titik bor maka terjadi penurunan rasio nugget variance, yang juga berarti bahwa derajat homogenitas data menjadi semakin baik. Hubungan volum-varians menunjukkan bahwa penambahan titik pemboran akan menurunkan error estimasi. Hal ini dapat dilihat pada Tabel 8 dan juga secara visual ditunjukkan pada Gambar 6.

Tabel 5. Resume statistik hasil estimasi kriging untuk ketebalan seam pada berbagai konfigurasi grid pemboran.

Parameter Statistik Jumlah data Rata-rata Nilai tengah Varians Kurtosis Skewness Minimum Maksimum Koefisien variasi

Spasi 100 255 4,82 4,92 0,52 -0,42 -0,63 3,17 5,88 0,15

Spasi 200 72 4,81 4,93 0,38 -0,02 -0,70 3,20 5,88 0,13

Spasi 300 30 4,95 5,21 0,49 -0,37 -0,84 3,32 5,76 0,14

Spasi 400 20 4,80 4,81 0,29 -0,40 -0,20 3,70 5,78 0,11

Spasi 500 16 4,88 5,19 0,53 -0,52 -0,85 3,43 5,69 0,15

Tabel 6. Resume statistik hasil estimasi kriging untuk parameter kandungan abu pada pada berbagai konfigurasi grid pemboran.

Parameter Statistik Jumlah data Rata-rata Nilai tengah Varians Kurtosis Skewness Minimum Maksimum Koefisien variasi

Spasi 100 255 2,82 2,73 0,22 1,41 0,95 2,05 4,48 0,16

Spasi 200 72 2,81 2,70 0,19 0,45 0,70 2,03 4,37 0,15

Spasi 300 30 2,81 2,76 0,14 1,63 0,88 2,10 4,38 0,13

Spasi 400 20 2,81 2,76 0,14 1,63 0,88 2,10 4,38 0,13

Spasi 500 16 2,76 2,69 0,16 0,15 0,68 2,13 4,20 0,15

Tabel 7. Resume statistik hasil estimasi kriging untuk parameter total sulfur pada berbagai konfigurasi grid pemboran.

Parameter Statistik Jumlah data Rata-rata Nilai tengah Varians Kurtosis Skewness Minimum Maksimum Koefisien variasi

Spasi 100 255 0,15 0,14 0,001 1,55 1,34 0,11 0,25 0,19

Spasi 200 72 0,15 0,14 0,001 0,74 1,15 0,11 0,24 0,18

Spasi 300 30 0,15 0,14 0,001 0,28 1,02 0,11 0,22 0,16

Spasi 400 20 0,15 0,14 0,001 0,26 1,13 0,11 0,23 0,19

Spasi 500 16 0,16 0,15 0,001 -0,18 0,91 0,11 0,24 0,18

Tabel 8. Persen error estimasi pada perbedaan konfigurasi grid pemboran
Konfigurasi grid bor Jumlah titik bor Jumlah penambahan titik bor Standar deviasi kriging Error relatif dengan 95% tingkat kepercayaan Persen error estimasi (PA) Persen pengurangan error (PR) Penambahan persen reduksi error per penambahan bor 0,34 1,02 0,44 0,12 0,53 2,76 0,23 0,13 0,36 0,04 0,94 0,09

Ketebalan seam 500 m x 500 m 400 m × 400 m 300 m × 300 m 200 m × 200 m 100 m × 100 m Kandungan abu 500 m × 500 m 400 m × 400 m 300 m × 300 m 200 m × 200 m 100 m × 100 m Sulfur total 500 m × 500 m 400 m × 400 m 300 m × 300 m 200 m × 200 m 100 m × 100 m

9 12 20 42 154 9 12 20 42 154 9 12 20 42 154

3 11 33 145 3 11 33 145 3 11 33 145

± 0,63 ± 0,64 ± 0,60 ± 0,52 ± 0,43 ± 0,57 ± 0,58 ± 0,44 ± 0,42 ± 0,33 ± 0,03 ± 0,03 ± 0,03 ± 0,02 ± 0,02

± 1,24 ± 1,25 ± 1,18 ± 1,02 ± 0,84 ± 1,12 ± 1,14 ± 0,87 ± 0,82 ± 0,65 ± 0,06 ± 0,06 ± 0,05 ± 0,04 ± 0,04

± 26,79 ± 26,52 ± 24,34 ± 21,77 ± 18,09 ± 41,65 ± 40,98 ± 31,78 ± 29,70 ± 23,65 ± 37,97 ± 37,55 ± 37,44 ± 29,55 ± 25,55

1,01 9,16 18,74 32,48 1,59 23,68 28,69 43,20 1,09 1,38 22,16 32,70

Keterangan: Persen error estimasi (PA) = [± (1,96(OK)/z*] 100% Total % reduksi error dari base (PR) = [(PAbase – PA base+i)/PA base] 100% Penambahan % reduksi error per penambahan titik bor = (PRi+1 – PRi) / (Ni+1 – Ni) dimana i = 1 s/d 4

Gambar 6. Grafik hubungan penurunan persen error terhadap penambahan titik bor.

Jenis WKKP

Kelas Sumberdaya Mineral Terukur/Terunjuk Terukur/Terunjuk Terukur/Terunjuk Terukur/Terunjuk Terukur/Terunjuk Terukur/Terunjuk Terukur/Terunjuk Tereka/Hipotetik Tereka/Hipotetik Tereka/Hipotetik Tereka/Hipotetik Tereka/Hipotetik Tereka/Hipotetik Terukur/Terunjuk Tereka/Hipotetik Tereka/Hipotetik

Lahan Mudah Mudah Sulit Mudah Mudah Sulit Sulit Mudah Mudah Mudah Sulit Sulit Sulit Sulit Mudah Sulit

Pangsa Pasar Tinggi Tinggi Tinggi Rendah Rendah Tinggi Rendah Tinggi Tinggi Rendah Tinggi Tinggi Rendah Rendah Rendah Rendah

Pencapaian Daerah Mudah Sulit Mudah Mudah Sulit Sulit Mudah Mudah Sulit Mudah Mudah Sulit Mudah Sulit Sulit Sulit

WKKP Utama

WKKP Pengembangan

WKKP Berpotensi

Lokasi Pengamatan LP 1 LP 2 LP 3 LP 4 LP 5 LP 6 LP 7 LP 8 LP 9 LP 10 LP 11 LP 12 LP 13 LP 14 LP 15 LP 16 LP 17 LP 18 LP 19 LP 20 LP 21 LP 22 LP 23 LP 24 LP 25 LP 26 LP 27 LP 28 LP 29 LP 30

Peruntukan Lahan Kebun, pemukiman jarang, persawahan Pemukiman jarang, dekat jalan aspal 100 m dari pemukiman jarang, area sawah 300 m dari pemukiman jarang, dekat bangunan permanen, dekat saluran irigasi Area kebun, dekat pemukiman jarang dan sawah Area perkebunan kelapa, 25 m dari sungai Sungai Dekat lapangan golf, pemukiman jarang Dekat lapangan golf, area persawahan Area pura dan dekat persawahan 200 m dari Dam Keru, area kebun buah Area perkebunan 50m dari pemukiman jarang, dekat jalan aspal Daerah resapan airtanah Daerah resapan airtanah Sungai 100 m dari pemukiman jarang, kebun dan sawah Sungai, area persawahan Dekat pemukiman, wilayah hutan tutupan Dekat pemukiman, wilayah hutan tutupan Dekat air terjun, wilayah hutan tutupan 100 m dari pemukiman jarang, kebun dan sawah Area sawah, dekat sungai dan jalan tanah Sungai, wilayah hutan tutupan Dekat pemukiman, jalan aspal, saluran irigasi Dekat pura, persawahan, saluran irigasi dan merupakan kawasan hutan Dekat jalan raya dan saluran irigasi Dekat PLN mikrohidro, area persawahan, perkebunan dan dekat sungai. Area perkebunan dan pemukiman jarang Area sungai

Faktor Lahan Sulit Mudah Mudah Sulit Mudah Sulit Mudah Sulit Sulit Sulit Sulit Sulit Sulit Mudah Sulit Sulit Sulit Sulit Mudah Sulit Sulit Sulit Sulit Mudah Sulit Sulit Sulit Sulit Sulit Sulit Mudah Sulit

No Kegiatan Andesit (m³) 2.639 Pembuatan Jalan 1 1.985 Peningkatan Jalan 2 2.800 Pemanjangan Jalan 3 49 Rehabilitasi Jalan 4 Sumber :Ditjen Bina Marga Departemen Pekerjaan Umum, 1990

Pasir (m³) 511 360 700 21

Gambar 3.1. Grafik Jumlah Kepala Keluarga Sejalan dengan perkembangan perumahan maka kebutuhan bahan galian juga akan terus meningkat. Perkiraan pemakaian andesit (batu bangunan) dan pasir di sektor pemukiman daerah Kecamatan Narmada, Lingsar dan Kota Mataram selama periode 2005 sampai dengan 2014 dapat dilihat pada Tabel 3.3. berikut ini: Tabel 3.3. Kebutuhan Andesit (Batu Bangunan) Di Sektor Pemukiman Kecamatan Narmada, Lingsar Dan Kota Mataram Tahun 2005-2014

3. Sektor Industri Potensi kebutuhan bahan galian untuk sektor industri di hitung dari produksi : - Industri gerabah Industri gerabah tersebar di beberapa tempat di Kabupaten Lombok Barat. Bahan baku utama gerabah adalah tanah liat, tetapi saat ini industri gerabah telah banyak menggunakan batuapung maupun trass sabagai bahan campuran dan bahan ornamen gerabah. Produksi gerabah di Kabupaten Lombok Barat dari tahun ke tahun semakin berkembang seiring meningkatnya permintaan pasar dalam negeri dan luar negeri. - Industri tegel/bata blok Perkembangan industri tegel/bata blok mengalami peningkatan produksi tiap tahunnya, seiring dengan makin merata pembangunan dibidang konstruksi, perumahan dan bidang lainnya. Data jumlah produksi secara series tidak diperoleh di Kecamatan Narmada dan Kecamatan Lingsar. Namun diketahui kebutuhan 1 m2 paping blok atau batako dengan 10% bahan campuran atau 90% trass, 10% semen atau kapur dan kadar air 23,37% membutuhkan bahan baku trass sebanyak 132,3 kg. Perkiraan pemakaian trass untuk paving blok atau batako di sektor pemukiman daerah Kecamatan Narmada, Lingsar dan Kota Mataram selama periode 2005 sampai dengan 2014 dengan asumsi bahwa penduduk kota membangun rumah dengan type 70 membutuhkan paving blok sebanyak 80m2 dan pedesaan dengan type 36 membutuhkan paving blok atau batako sebanyak 74 m2 dapat dilihat pada Tabel 3.4. berikut ini : Tabel 3.4. Kebutuhan Trass Untuk Paving Blok atau Batako di Kecamatan Narmada, Lingsar Dan Kota Mataram Tahun 2005-2014
Tahun 2005 2006 2007 2008 2009 2010 2011 2012 2013 2014 Perkotaan (kg) 943.955.208 945.320.544 946.675.296 948.040.632 949.405.968 950.728.968 952.062.552 953.396.136 954.729.720 956.063.304 Kebutuhan Trass Pedesaan (kg) 349.696.154 354.483.562 359.633.207 364.841.593 369.981.448 375.346.478 380.789.829 386.311.502 391.911.496 391.911.496 Jumlah (kg) 1.293.651.362 1.299.804.106 1.306.308.503 1.312.882.225 1.319.387.416 1.326.075.446 1.332.852.381 1.339.707.638 1.346.641.216 1.347.974.800

Gambar 3.3. Kebutuhan Trass

Lokasi Pengamatan LP 1 LP 2 LP 3 LP 4 LP 5 LP 6 LP 7 LP 8 LP 9 LP 10 LP 11 LP 12 LP 13 LP 14 LP 15 LP 16 LP 17 LP 18 LP 19 LP 20 LP 21 LP 22 LP 23 LP 24 LP 25 LP 26 LP 27 LP 28 LP 29 LP 30

Kondisi Wilayah Topografi Berlereng Landai Berlereng Landai Berlereng Landai Berlereng Sedang Berlereng Sedang Berlereng Sedang Berlereng Sedang Berlereng Landai Berlereng Landai Berlereng Sedang Berlereng Sedang Berlereng Sedang Berlereng Landai Berlereng Sedang Berlereng Sedang Berlereng Sedang Berlereng Sedang Berlereng Sedang Berlereng Terjal Berlereng Terjal Berlereng Terjal Berlereng Sedang Berlereng Sedang Berlereng Terjal Berlereng Landai Berlereng Sedang Berlereng Landai Berlereng Terjal Berlereng Sedang Berlereng Sedang Sarana Transportasi Jalan Jalan Jalan Jalan Jalan Jalan Jalan Jalan Jalan Jalan Jalan Jalan Jalan Jalan Jalan Jalan Jalan Jalan Jalan Jalan Tidak ada jalan Jalan Jalan Jalan Jalan Jalan Jalan Jalan Jalan Jalan

Pencapaian Daerah Sulit Mudah Mudah Mudah Mudah Mudah Mudah Mudah Mudah Mudah Mudah Mudah Mudah Mudah Mudah Mudah Mudah Mudah Mudah Mudah Mudah Mudah Mudah Mudah Mudah Mudah Mudah Mudah Mudah Mudah Mudah

Sulit

Kelas Sumberdaya Mineral Tereka

Lahan Sulit

Pangsa Pasar Tinggi

Pencapaian Daerah Mudah

42

PROSIDING TPT XX PERHAPI 2011 PEMANFAATAN ANDESIT DI DESA GERBOSARI, KECAMATAN SAMIGALUH, KABUPATEN KULON PROGO, D.I. YOGYAKARTA SEBAGAI BAHAN BANGUNAN

Priyo Widodo 2 Tedy Agung Cahyadi
1

1

Staf Pengajar, Prodi Teknik Pertambangan, Fakultas Teknologi Mineral,UPN ”Veteran” Yogyakarta Email: priyo_widodo58@yahoo.co.id 2 Staf Pengajar, Prodi Teknik Pertambangan, Fakultas Teknologi Mineral,UPN ”Veteran” Yogyakarta Email: tedyagungc@upnyk.ac.id ABSTRACT D.I. Yogyakarta is one province that has abundant natural resources, which consist of natural resources which can be renewed or not renewed. With the increasing human population, especially in Indonesia is estimated at more than 200 million people, resulting in increasing human needs of various sectors, particularly in the construction sector. In the development activities required a lot of materials - minerals, such as sandstone, limestone, andesite which serves for a variety of needs in development activities. Hamlet Pengos and Manggis, Gerbosari Village, District Samigaluh, Kulonprogo Regency find the andesite in abundance. Meanwhile, in line with the rapid physical development in Kulon Progo Regency and its surroundings, then the needs of andesite stone as building materials will increase as well. Research done by testing compressive strength, wear, and physical properties of andesite to determine its quality as a building material Keywords: andesite, building materials. ABSTRAK D.I. Yogyakarta merupakan salah propinsi yang memiliki sumberdaya alam melimpah, yang terdiri sumberdaya alam yang dapat diperbaharui ataupun tidak diperbaharui. Dengan meningkatnya jumlah populasi manusia, terutama di Indonesia yang diperkirakan lebih dari 200 juta manusia, mengakibatkan meningkatnya kebutuhan manusia dari berbagai macam sektor, terutama dalam hal sektor pembangunan. Dalam kegiatan pembangunan dibutuhkan banyak sekali bahan – bahan tambang, misalnya batupasir, gamping, andesit yang berfungsi untuk berbagai macam kebutuhan dalam kegiatan pembangunan. Di Dusun Pengos dan Manggis, Desa Gerbosari, Kecamatan Samigaluh, Kabupaten Kulonprogo terdapat batu andesit dalam jumlah yang sangat banyak. Sementara itu sejalan dengan pesatnya pembangunan fisik di Kabupaten Kulonprogo dan sekitarnya, maka kebutuhan batu andesit sebagai bahan bangunan akan

43

meningkat pula. Penelitian dilakukan dengan melakukan pengujian kuat tekan, keausan, dan sifat fisik terhadap batu andesit untuk mengetahui kualitasnya sebagai bahan bangunan Kata Kunci : batu andesit, bahan bangunan. 1. LATAR BELAKANG Usaha Pertambangan bahan galian merupakan salah satu industri untuk menyediakan bahan baku baik untuk keperluan pembangunan maupun industri lainnya. Berdasarkan hasil pengamatan yang ada di lapangan di Kecamatan Samigaluh menunjukkan adanya potensi bahan galian andesit. Bahan galian andesit yang terdapat di Dusun Pengos dan Manggis Desa Gerbosari, Kecamatan Samigaluh terlihat sangat kompak dan dengan jumlah yang cukup banyak. Selain itu kebutuhan andesit sebagai bahan bangunan pada saat ini cukup banyak. Oleh karena itu bahan galian andesit yang ada di lokasi tersebut sangat baik untuk dapat dikembangkan menjadi suatu kegiatan investasi di sektor pertambangan. Secara umum batu andesit dapat digunakan sebagai bahan bangunan, baik untuk pondasi bangunan, agregat dalam pembuatan beton, jalan raya ataupun kereta api, penutup lantai. Apabila akan digunakan sebagai bahan bangunan, maka kualitas batu andesit harus memenuhi syarat tertentu yang telah diatur dalam SNI 03-0394-1989 Dengan adanya kemajuan teknologi sekarang ini, potensi sumberdaya alam yang ada di sekitar kita dapat kita prediksikan kemungkinan pemanfaatannya. Pengujian sifat fisik dan mekanik batuan dapat memberikan gambaran seperti apa pemanfaatan bahan galian tersebut. Kegiatan pengujian mencakup kuat tekan uniaksial, ketahanan geser Loss Angeles (keausan), penyerapan air (absorbsi), dan kekekalan bentuk Salah satu alasan kenapa menggunakan pengujian kuat tekan uniaksial batuan karena untuk mengetahui seberapa besar kemapuan dari batuan andesit tersebut dapat menerima beban, sehingga dapat digunakan untuk rekomendasi pemanfaatan bahan galian yang berada di daerah penelitian. 2. TUJUAN PENELITIAN Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kemungkinan batu andesit di Desa Gerbosari dimanfaatkan sebagai bahan bangunan sebagaimana yang disyaratkan dalam SNI 03-0394-1989 3. METODOLOGI PENELITIAN Penelitian ini dilakukan dengan metode penggabungan antara teori, data lapangan dan hasil pengujian di Laboratorium, sehingga dari ketiganya dapat diperoleh kesimpulan. Dari sisi teori digunakan Standar Nasional Indonesia (SNI) 03-0394-1989. Adapun tahapan metode yang dilaksanakan meliputi Studi litaratur, komparasi terhadap penelitian terdahulu, orientasi lapangan, pengambilan conto, preparasi dan pengujian di Laboratorium, mengolah dan menganalisis hasil pengolahan data, serta mengambil kesimpulan. 4. KEADAAN LOKASI PENELITIAN Lokasi kegiatan penelitian terletak secara administratif terletak pada Dusun Pengos dan Manggis, Desa Gerbosari, Kecamatan Samigaluh, Kabupaten Kulonprogo. Secara geografis terletak pada 1100 01' 37” BT – 1100 16' 26 “ BT dan 70 38” 42” LS – 70 59' 03” LS. Desa

44

Gerbosari, Kecamatan Samigaluh, Kabupaten Kulonprogo berbatasan dengan : Sebelah Selatan berbatasan dengan Desa Banjarsari Kecamatan Samigaluh, Sebelah Barat berbatasan dengan Desa Ngargosari, Kecamatan Samigaluh, Sebelah Utara berbatasan dengan Kabupaten Magelang, Prop. Jawa Tengah, Sebelah Timur berbatasan dengan Desa Sidoharjo, Kecamatan Samigaluh. Dusun Pengos dan Manggis, Desa Gerbosari, Kecamatan Samigaluh berjarak ± 40 km dari Yogyakarta. Dapat ditempuh dalam ± 1 jam, melalui jalan darat dengan rute Yogyakarta – Godean –Kenteng – Samigaluh – Gerbosari – Pengos – Manggis. Sedangkan Jarak Dusun Pengos dengan kota Wates adalah + 30 km

Lokasi penelitian merupakan daerah perbukitan dengan ketinggian 160-450 m di atas permukan air laut. Sebelah barat dan sebelah selatan merupakan lereng yang cukup curam dengan kemiringan ±70o-80o. Kondisi lahan sebagian besar merupakan tanah tegalan yang ditanami tanaman palawija, buah-buahan dan lahan perkebunan. Sebagian besar tanah penutup (overburden) ditumbuhi oleh semak belukar. Di sebelah utara dan selatan terdapat sungai, dengan aliran sungai yang tidak terlalu deras dan dangkal. Sebelah Timur merupakan daerah perbukitan dan pegunungan dengan ketinggian ± 340 m dpl. Morfologi Dusun Pengos dan Manggis merupakan daerah dataran tinggi yang dibentuk oleh satuan massa batuan beku, yaitu andesit

45

Jenis batuan yang terdapat di dusun Pengos termasuk dalam formasi Kaligesing, dengan dominasi batuan beku vulkanik berupa andesit, yang keberadaannya tersebar secara merata hampir di seluruh kawasan dusun Pengos B. Sebagian besar andesit berasosiasi dengan breksi membentuk breksi andesit yang sebagian dari endapan telah tersedimentasi oleh pengangkutan arus sungai, sebagian lainnya mengalami pelapukan sehingga semakin mempertebal lapisan tanah penutup. Batu andesit di daerah Pengos mengalami proses pelapukan, sehingga di bagian atas dari batuan andesit segarnya ditutupi oleh bagian andesit yang mengalami pelapukan. Pada batuan andesit lapuk, komposisi batuannya lebih dominan diisi oleh mineral-mineral lempung. Lapisan ini hampir menutupi seluruh daerah pengamatan dengan ketebalan yang bervariasi antara 0 – 2 meter. Batu andesit yang lapuk umumnya berwarna abu-abu muda sampai abu-abu tua dan bersifat agak keras. Dari hasil pengamatan lapangan dan perhitungan sumberdaya dengan metode sayatan dengan tebal lapisan penutup dan andesit lapuk 2 meter, maka didapat sumberdaya andesit sebesar 26.800.922 m3

46

5. PELAKSANAAN PENELITIAN 5.1. Pengambilan Conto BatuAndesit Pengambilan conto dilakukan dengan memecah secara acak diseluruh areal penyebaran batu andesit untuk kemudian dikumpulkan di suatu tempat. Alat yang digunakan adalah palu 5 kg, pahat, palu geologi, dan linggis. Conto yang diambil berbentuk bongkah yang berukuran antara 15 – 30 cm, dengan pertimbangan agar nantinya dapat dipotong sesuai dengan standar uji yang ditetapkan. Selanjutnya conto-conto yang ada dikumpulkan berdasarkan titik pengambilannya, diberi notasi, kemudian masing-masing kelompok dimasukkan ke dalam karung untuk dibawa ke Laboratorium. 5.2. Preparasi Conto Preparasi yang dilakukan disesuaikan dengan macam uji yang akan dilakukan, yaitu uji kuat tekan, uji sifat fisik untuk mendapatkan parameter penyerapan air (absorbsi), dan uji keausan. 5.2.1. Uji Kuat Tekan Standar uji kuat tekan yang digunakan disesuaikan dengan ketentuan yang ada pada SNI 030394-1989, yang mana conto yang diuji berbentuk kubus dengan ukuran + (5 x 5 x 5) cm. Untuk itulah maka conto yang ada dipotong dengan menggunakan gergaji batu sehingga diperoleh spesimen dengan bentuk dan ukuran yang diinginkan. Adapun sisa potongan conto pada masingmasing kelompok dikumpulkan untuk digunakan dalam uji yang lainnya.

5.2.2. Uji Sifat Fisik Uji sifat fisik batuan dapat dilakukan terhadap conto dengan bentuk sembarang sehingga sisi batu andesit yang terpotong untuk spesimen uji kuat tekan dapat digunakan. Conto yang akan diuji sebaiknya diambil yang masih segar, diberi label dengan spidol permanen, dan dimasukkan ke dalam kantong plastik.

47

5.2.3. Uji Keausan Uji keausan memerlukan conto yang terbagi dalam dua fraksi ukuran, yaitu fraksi -19,00+12,50 mm sebanyak 2500 gr dan fraksi -12,50+9,50 mm sebanyak 2500 gr. Untuk itulah, maka conto dipecah-pecah sehingga membentuk kerikil dan diayak untuk mendapatkan fraksi ukuran tersebut. Peralatan yang digunakan adalah palu besi 5 kg, palu besi 1 kg, peremuk rahang (jaw crusher) skala laboratorium, timbangan, dan ayakan getar (vibrating screen). Conto seberat 2500 gr dari masing-masing fraksi ukuran dimasukkan ke dalam kantong plastik dan diberi label. 5.3. Pengujian Conto 5.3.1. Uji Kuat Tekan Uji kuat tekan dilakukan di Laboratorium Mekanika Batuan Jurusan Teknik Pertambangan – FTM, UPN ”Veteran” Yogyakarta. Alat yang digunakan adalah jangka sorong dan mesin tekan 150 ton. Spesimen batu andesit yang berbentuk kubus diukur dimensinya dengan jangka sorong dan ditempatkan diantara kedua plat penekan, selanjutnya ditekan hingga pecah. Untuk mengurangi gesekan antara conto dengan plat penekan, maka pada bagian atas dan bawah spesimen diolesi dengan vaselin. Besarnya kuat tekan dapat diperoleh dengan persamaan :
P A Dengan : sc = kuat tekan, kg/cm2 P = beban pada saat pecah, kg A = luas penampang spesimen, cm2. sc =

Adapun hasil uji kuat tekan batu andesit dari Desa Gerbosari adalah sebagai berikut (lihat Tabel 1).

5.3.2. Uji Sifat Fisik Uji sifat fisik terhadap conto dilakukan dengan cara penimbangan dengan menggunakan timbangan triple beam yang mempunyai ketelitian 0,1 gram. Pengujian dilakukan di Laboratorium Mekanika Batuan Jurusan Teknik Pertambangan – FTM, UPN ”Vetyeran” Yogyakarta. Prosedur yang digunakan adalah sebagai berikut : - Conto batu andesit yang telah disiapkan ditimbang (= Wn gram) - Conto yang telah ditimbang dimasukkan ke dalam desicator vacuum, ditambah air hingga

48

-

terendam dan diisap dengan pompa isap. Conto dibiarkan dalam keadaan tersebut selama 24 jam sehingga conto dalam keadaan benar-benar jenuh. Conto yang telah jenuh ditimbang (= Ww gram) Conto digantung di dalam air dan ditimbang dalam keadaan tergantung (= Ws gram). Selanjutnya conto dimasukkan ke dalam oven dengan temperatur + 90o C selama 24 jam hingga kering. Conto kering ditimbang (= Wo gram).

Besarnya penyerapan air dihitung dengan persamaan :
ì Ww - Wo ü Penyerapan air (absorption) = í ý x 100% î Wo þ

Hasil uji penyerapan air terhadap conto batu andesit dari Desa Gerbosari adalah sebagai berikut (lihat Tabel 2).

5.3.3. Uji Keausan Pengujian keausan bertujuan untuk mengetahui keausan agregat yang diakibatkan oleh faktorfaktor mekanis. Besarnya nilai keausan dinyatakan dalam persen, yaitu perbandingan antara selisih berat conto sebelum diuji dan berat conto yang tertahan ayakan No.12 setelah pengujian dengan berat conto sebelum diuji dan dinyatakan dalam persen. Pengujian dilakukan di Laboratorium Mekanika Batuan Jurusan Teknik Pertambangan – FTM, UPN ”Vetyeran” Yogyakarta.Alat yang digunakan untuk pengujian keausan adalah Los Angeless Abrassion Machine terdiri dari silinder baja yang hampa dan tertutup pada kedua ujungnya. Pada bagian dalamnya mempunyai diameter 711 ± 5 mm dan panjang 508 ± 5 mm. Silinder diletakkan secara horisontal di atas batang besi yang diletakkan pada ujung silinder sehingga silinder dapat diputar porosnya. Alat lain yang diperlukan dalam pengujian ini adalah bola baja dengan diameter 4,68 cm dan ayakan dengan ukuran No. 12 atau 1,7 mm serta talang untuk menampung agregat hasil pengujian. Besarnya nilai keausan diperoleh dengan persamaan : A-B Keausan = x 100% A Dengan :A= berat conto sebelum diuji, gr B = berat conto setelah diuji, gr.

49

Hasil uji keausan terhadap conto batu andesit di Desa Gerbosari adalah sebagai berikut (lihat Tabel 3).

6. PEMBAHASAN 6.1. Kualitas Bahan Bangunan Pemerintah mensyaratkan kualitas batu alam sebagai bahan bangunan adalah sebagai berikut (lihat Tabel 4).

Bahan bangunan yang dimaksudkan di sini adalah pondasi bangunan, tonggak dan batu tepi jalan, penutup lantai/trotoar, serta batu hias atau batu tempel. Sehubungan dengan keberadaan batu andesit di Desa Gerbosari, maka untuk mengetahui kualitasnya dilakukan pengujian di Laboratorium. Uji yang dilakukan adalah kuat tekan, ketahanan geser Loss Angeles (keausan), serta penyerapan air. Uji kekekalan bentuk dengan natrium sulfat tidak dilakukan karena uji ini sangat jarang dan biayanya sangat mahal. 6.2. Kuat Tekan Hasil uji kuat tekan terhadap conto batu andesit di Desa Gerbosari mendapatkan nilai kuat tekan antara 1158,84 – 2374,50 kg/cm2 (Tabel 1). Conto A1 dan A3 mempunyai nilai kuat tekan lebih kecil dari 1500 kg/cm2 sehingga jika dilihat secara sendiri-sendiri, maka berdasarkan SNI 030394-1989 kedua conto tersebut tidak dapat digunakan sebagai bahan pondasi kelas berat. Tetapi jika dilihat secara keseluruhan nilai kuat tekan rata-rata dari conto yang diambil adalah 1715,036

50

kg/cm2. Oleh karena itu jika ditinjau dari nilai kuat tekannya, maka batu andesit di Desa Gerbosari memenuhi syarat untuk digunakan sebagai bahan bangunan, yaitu untuk pondasi kelas berat hingga ringan, tonggak dan batu tepi jalan, penutup lantai/trotoar, maupun sebagai batu hias atau batu tempel. 6.3. Keausan Hasil uji keausan terhadap conto batu andesit di Desa Gerbosari mendapatkan nilai keausan antara 8,74 – 11,76%. Nilai keausan maksimum batu alam sebagai bahan bangunan adalah 27% untuk pondasi kelas berat, sedangkan untuk pondasi kelas sedang maupun ringan lebih besar lagi, yaitu masing-masing 40% dan 50%. Oleh karena itu jika dilihat dari nilai keausannya, maka berdasarkan SNI 03-0394-1989 batu andesit di Gerbosari memenuhi syarat untuk digunakan sebagai bahan bangunan. 6.4. PenyerapanAir Hasil uji sifat fisik terhadap conto batu andesit di Desa Gerbosari mendapatkan nilai penyerapan air antara 0,23 – 1,04%. Nilai penyerapan air batu alam sebagai bahan bangunan menurut SNI 030394-1989 maksimum sebesar 5%. Oleh karena itu jika dilihat dari nilai penyerapan airnya, maka berdasarkan SNI 03-0394-1989 batu andesit di Gerbosari memenuhi syarat untuk digunakan sebagai bahan bangunan. 6.5. Retak Pecah dan Cacat Bongkah batu andesit yang terdapat di Desa Gerbosari terlihat padat dan utuh. Berdasarkan pengamatan terhadap conto yang diambil tidak dijumpai adanya retak pecah dan cacat. Demikian pula pada permukaan conto yang digergaji juga tidak dijumpai adanya retak pecah dan cacat. 6.6. Kemungkinan Pemanfaatan Berdasarkan hasil uji kuat tekan, sifat fisik, dan keausan terhadap conto batu andesit di Desa Gerbosari, maka dapat dilihat bahwa berdasarkan SNI 03-0394-1989 batu andesit tersebut memenuhi syarat jika digunakan sebagai bahan bangunan baik sebagai pondasi kelas berat hingga ringan, tonggak dan batu tepi jalan, penutup lantai/trotoar, maupun sebagai batu hias atau batu tempel. 7. KESIMPULAN Dari hasil penelitian ini dapat diambil kesimpulan bahwa berdasarkan SNI 03-0394-1989 batu andesit di Gerbosari dapat dimanfaatkan sebagai bahan bangunan baik untuk pondasi kelas berat hingga ringan, tonggak dan batu tepi jalan, penutup lantai/trotoar, maupun sebagai batu hias atau batu tempel. DAFTAR PUSTAKA 1. Bieniawski, Z.T. 1989. Engineering Rock Mass Classifications. A. Wiley-Interscience Publications. 2. PUBI, 1982, Persyaratan Umum Bahan Bangunan di Indonesia, Departemen Pekerjaan Umum dan Badan Penelitian dan Pengembangan Pekerjaan Umum, Bandung. 3. ,SNI 03-0294-1989, Batu Alam Untuk Bahan Bangunan, Mutu dan Cara Uji.

51

PROSIDING TPT XX PERHAPI 2011 EKSPLORASI BIJIH EMAS PLASER DI DAERAH KABUPATEN BOMBANA PROVINSI SULAWESI TENGGARA
Waterman Sulistyana Magister Teknik Pertambangan UPN Veteran Jogjakarta waterman.sulistyana@gmail.com Abstract Penelitian di daerah Bombana Sulawesi Tenggara ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik endapan emas meliputi tipe, model, kadar, penyebaran bijih emas, serta ketebalan, dan tipe batuan pembawa endapan emas plaser. Metode penelitian: penelitian lapangan, pengambilan sampel dengan pembuatan parit dan sumur uji, analisis sampel endapan, evaluasi kualitas endapan emas plaser dengan metode geostatistik. Berdasarkan hasil penelitian lapangan diketahui pola penyebaran endapan bijih emas plaser dikontrol oleh arus purba yang memiliki arah relatif barat-timur dan mengalami gaya turbelensi. Endapan-endapan logam berat terakumulasi akibat gerakan putar memusat. Analisis variografi dan penaksiran dengan metode geostatistik menunjukkan distribusi kadar cukup tinggi pada bagian timurlaut daerah penelitian. Secara geologi endapan plaser tidak berasal dari endapan emas hidrotermal yang berkaitan dengan batuan vulkanik seperti epitermal, skarn dan porfiri, namun diduga berasal dari endapan orogenik. Kata kunci: bijih emas, plaser, geostatistik The aim of the research in the Bombana area, Southeast Sulawesi Province is to determine the characteristics of gold ore deposits including the type, model, distribution of gold ore grade, as well as the thickness, and formation of rock type of placer gold deposits. Research methods: fieldwork, sampling by making trenches and test pits, analyzing samples, gold ore grade estimation using geostatistics. Based on the results of the field research, we know patterns of distribution of placer gold ore deposits controlled by a paleo-stream that has a relative east-west direction, and has undergone turbulence style. Heavy metals deposits accumulate due to a phenomenon of rotary movement converge. Variography analysis and resource estimation using geostatistics method indicate high grade distribution located in the northeast area of the research. Local geological framework indicates that the placer gold ore is not related to volcanic rock-related hydrothermal gold deposit, but assumed to originate from orogenic deposit. Key words: gold ore, placer, geostatistics

1.1. LATAR BELAKANG Penelitian terdahulu dilakukan oleh Simanjuntak (1993), dan Nawawi tentang endapan

52

bijih emas di Sulawesi dan membandingkannya dengan temuan bijih emas sekunder di Sulawesi Tenggara telah mengindikasikan lokasi emas placer yang prospek untuk dikembangkan. Penelitian ini terletak di Kecamatan Rarowatu Utara, Kabupaten Bombana, Provinsi Sulawesi Tenggara (Gambar 1 di bawah).

Gambar 1. Lokasi penelitian Penelitian bertujuan untuk mengetahui karakteristik endapan emas meliputi tipe, model, kadar, dan penyebaran sumberdaya endapan emas plaser, serta ketebalan dan tipe batuan pembawa endapan emas plaser. Data tersebut digunakan untuk membantu dalam merencanakan kegiatan selanjutnya dalam penentuan lokasi kegiatan penambangan endapan emas yang sesuai dengan karakteristik endapan di lokasi kegiatan penelitian. Metode penelitian meliputi: pemetaan geologi, pembuatan parit uji dan sumur uji, pengambilan sampel endapan, analisis sampel endapan untuk membuat model endapan emas plaser, analisis geostatistika untuk mengetahui distribusi kadar emas. Manfaat penelitian adalah memberikan gambaran potensi bijih emas plaser di daerah penelitian, sehingga dapat dilakukan perencanaan tahap penambangan. 1.2. GEOLOGI Stratigrafi daerah penelitian tersusun tiga satuan batuan secara berurutan dari tua ke muda, yaitu satuan batuan metamorf, satuan batulempung pasiran, dan satuan lempung-pasir kerikilan. Satuan perbukitan curam menempati bagian selatan dicirikan dengan relief yang terbiku kuat dan memiliki pola aliran denritik dengan batuan penyusun berupa batuan metamorfik. Satuan perbukitan agak curam menempati bagian tengah dicirikan dengan relief

53

yang terbiku lemah dan memiliki pola aliran denritik dengan batuan penyusun berupa batulempung pasiran dan endapan Kuarter. Satuan perbukitan landai menempati bagian timur laut dicirikan oleh relief yang lemah dan mempunyai pola penyaluran sub paralel, tersusun oleh batuan-batuan endapan Kuarter yang kurang resisten. Endapan Kuarter di daerah penelitian terdiri dari endapan-endapan lepas lempung berpasir sampai pasir berkerikil yang membentuk struktur berlapis dan bergradasi normal. Fragmen-fragmen lepas berukuran kerakal-berangkal, dan dominan kerikil-pasir kasar berupa fragmen kuarsit, batuan terkersikan, mineral kuarsa, mineral mika, mineral hematit, ilmenit, titanit dan mineral logam berat berada di dalam matriks berukuran pasir sedang–lempung berwarna coklat kehijauan. Beberapa singkapan endapan Kuarter memperlihatkan ketebalan yang bervariasi antara 20cm–8m. Endapan ini diperkirakan merupakan hasil dari proses pengendapan aluvial purba berarus kuat dengan arah relatif barat-timur. Endapan semacam ini sering disebut Paleoaluvial yang terbentuk pada Zaman Kuarter dan endapanAluvial Resen yang berada di sekitar sungai.

Gambar 2. Peta geologi daerah penelitian Endapan Paleoaluvial terbentuk karena adanya arus transportasi yang kuat melewati penghalang berupa barisan gelombang di perbukitan bagian barat dan selatan daerah penelitian telah mengakibatkan fragmen-fragmen kerikil-berangkal pada bagian muka (front) dan didominasi oleh endapan-endapan pasir-kerikil pada bagian belakang (back) lensa pengendapan. Arus kuat yang berakibat gaya turbulensi serta putaran memusat menyebabkan mineral-mineral logam berat banyak terendapkan. Satuan ini melampar sekitar 70% di daerah penelitian. Berdasarkan pemetaan geologi daerah penelitian termasuk bagian dari sistem pola struktur Patahan Bungku yang memanjang arah relatif barat-barat laut sampai timur-tenggara (Gambar 2). Struktur patahan ini membentuk pola antiklinorium lemah Langkowala dengan orientasi sumbu antiklin-sinklin berarah relatif utara-selatan. Hal ini dapat dibuktikan di lapangan melalui perlapisan endapan Kuarter yang membentuk arah perlapisan relatif utaraselatan. Pada bagian barat daerah penelitian terlihat beberapa perlapisan dengan kemiringan lapisan yang landai atau sekitar 10º.

54

1.3. METODE PENELITIAN DAN HASIL-HASIL Pemetaan geologi dilakukan pada lintasan-lintasan melalui alur sungai dan lereng-lereng bukit. Berdasarkan penelitian lapangan menunjukan bahwa endapan emas plaser berhubungan dengan urat kuarsa dalam batuan metamorf khususnya sekis mika dan metasedimen di daerah tersebut. Urat kuarsa sekarang ditemukan di Pegunungan Wumbubangka, pada sayap utara dari rangkaian pegunungan Rumbia. Urat (vein) kuarsa yang tergerus dan tersegmentasi tersebut memiliki ketebalan dari 2cm-2m dengan kadar emas cukup tinggi. Dua generasi urat diduga muncul di area ini yaitu generasi pertama paralel foliasi dengan orientasi N300oE/60º, dan generasi kedua memotong urat generasi pertama dan foliasi batuan. Urat generasi pertama umumnya tergerus, terbreksiasi dan kadang-kadang sigmoidal, sedangkan urat generasi kedua relatif masif. Tipe urat yang sama kemungkinan juga hadir di Pegunungan Mendoke di sebelah utara dari daratan Langkowala. Pemetaan geologi untuk memperoleh profil lapisan batuan dilakukan secara detil pada daerah penelitian. Endapan emas sekunder terdapat pada endapan Kuarter yang hadir sebagai fragmen. Kegiatan pemetaan ini dimaksudkan untuk mencari dan menentukan model, tipe serta karakter endapan mineral logam emas plaser dan variasi litologi pembawanya di daerah penelitian. Pada satuan batuan pembawa endapan mineral logam emas plaser dilakukan pengambilan sampel endapan secara acak berupa stream sediment sampling dan soil sampling dengan interval sekitar 250m dan dilakukan plot lokasi pengambilan sampel endapan. Pada kegiatan pemetaan ini juga dilakukan pemerian fragmen-fragmen batuan yang ada di Endapan Kuarter. Pengambilan stream sediment sampling, dan soil sampling dilakukan pada 33 lokasi. Sampel dipisahkan menjadi fragmen sand-gravel dan fragmen clay-sand. Pada material berukuran butir clay-coarse sand dilakukan pendulangan (panning) untuk memisahkan mineralmineral ringan dan berat. Pemisahan menggunakan ayakan (screen) menghasilkan fragmenfragmen yang berukuran butir +4mm (coarse sand) dan -4mm (clay-coarse sand). Materialmaterial clay-coarse sand dipisahkan menjadi mineral-mineral ringan dan mineral-mineral logam berat (konsentrat) menggunakan proses pendulangan (panning). Setiap konsentrat diberi nomor sampel dan dipisahkan sehingga menghasilkan pasir emas. Pasir emas ditimbang untuk perhitungan kadar emas pada setiap lokasi. Selanjutnya pasir emas ini di kelompokkan berdasarkan ukuran butir menurut skala Wenworth. Penentuan lokasi sumur uji, dan parit uji secara sistematis dilakukan di daerah yang memiliki potensi pasir emas (colour of gold) yang tinggi. Tabel 1 di bawah menunjukkan hasil uji stream sediment dan soil sampling untuk penentuan lokasi parit uji dan sumur uji.

55

Tabel 1. Hasil uji stream sediment dan soil sampling
Colour of Gold Smpl ID
WSB 01 WSB 02 WSB 03 WSB 04 WSB 05 WSB 06 WSB 07 WSB 08 WSB 09 WSB 10 WSB 11 WSB 12 WSB 13 WSB 14 WSB 15 WSB 16 WSB 17 WSB 18 WSB 19 WSB 20 WSB 21 WSB 22 WSB 23 WSB 24 WSB 25 WSB 26 WSB 27 WSB 28 WSB 29 WSB 30 WSB 31 WSB 32 WSB 33

VC (>4mm)
0 0 1 1 0 0 0 0 0 0 1 0 0 1 1 1 0 1 0 0 9 0 0 0 6 3 0 0 0 1 2 1 0

C (4-2mm)
10 9 10 7 11 0 4 1 5 9 7 11 12 7 11 7 1 7 1 0 6 3 7 2 3 2 0 1 0 10 4 7 5

M (2-1mm)
5 2 4 3 10 0 13 1 10 10 3 5 2 3 4 3 12 3 10 6 3 2 5 4 0 3 0 10 6 4 8 5 4

F (1-0,5mm)
2 6 2 0 2 8 0 6 12 8 0 2 6 0 2 0 8 0 2 10 0 3 5 4 0 0 0 2 10 2 3 5 4

VF (<0,5mm)
0 1 4 0 7 2 0 10 2 0 0 0 1 0 4 0 2 0 7 0 0 0 0 1 6 3 3 7 0 4 0 0 1

Ket: VC=very coarse, C=coarse, M=medium, F=fine, VF=very fine

Berdasarkan potensi pasir emas (Tabel 1) pengambilan sampel endapan secara sistematik dilakukan dengan metode parit uji, dan sumur uji. Kegiatan ini untuk mengetahui kadar emas, pola sedimentasi, dan karakter kegiatan sedimentasi purba pada daerah penelitian. Cara pengambilan sampel pada dasar, dan puncak morfologi dilakukan dengan cara pembuatan sumur uji dengan dimensi 80x120cm, dan kedalaman mencapai dasar sedimentasi (bedrock). Cara pengambilan sampel pada lereng morfologi lebih dari 20º dilakukan dengan cara pembuatan parit uji dengan dimensi lebar 80cm, panjang mencapai dasar morfologi, dan kedalaman 50cm. Material-material sampling dari sumur dan parit uji seberat 25kg untuk setiap sampel dimasukan ke dalam kantong sampel, diberi nomor sampel, dan pemisahan material berdasarkan ukuran butir, dan penentuan kadar bijih emas. Material-material hasil kegiatan sumur dan parit uji dilakukan pemisahan ukuran butir

56

dengan ukuran ayakan 4mm, sehingga diperoleh perbandingan prosentase fragmen-fragmen yang berukuran butir +4mm (coarse sand) dan fragmen-fragmen -4mm (clay-coarse sand). Perhitungan volume dilakukan terhadap material +4mm dan -4mm. Material clay-coarse sand dipisahkan melalui proses pendulangan (panning) menjadi mineral-mineral ringan dan mineral-mineral logam berat (konsentrat). Konsentrat dikelompokkan, diberi nomor sampel, selanjutnya dipisahkan sehingga diperoleh pasir emas. Pasir emas kemudian ditimbang untuk menetukan kadar emas (gold grade) pada satu lokasi pengujian. Selanjutnya pasir emas ini di kelompokkan berdasarkan ukuran butir menurut skala Wenworth. Kegiatan pengujian sumur uji (SU) dan parit uji (PU) pada daerah penelitian dilakukan pada 32 lokasi dengan perolehan kadarAu rata-rata 801,92mg/m3 (Tabel 2 di bawah).
Hole ID
SU 01 SU 02 SU 03 SU 04 SU 05 SU 06 SU 07 SU 08 SU 09 SU 10 PU 01 PU 02 PU 03 PU 04 PU 05 PU 06 Kadar Au (mg/m 3) 739 1.001 682 609 535 1.318 584 665 465 496 556 715 584 527 550 648

Hole ID
PU 07 PU 08 PU 09 PU 10 SU 11 SU 12 SU 13 SU 14 SU 15 SU 16 SU 17 SU 18 SU 19 SU 20 SU 21 SU 22

Kadar Au (mg/m 3) 915 1.163 543 586 620 535 653 1.628 1.860 896 1.051 698 879 639 698 1.628

Penaksiran distribusi kadar emas, dan jumlah sumberdaya dilakukan dengan metode geostatistik memakai teknik ordinary kriging (OK). Teknik tersebut merupakan metode yang sangat populer pada saat sekarang karena banyak digunakan untuk penaksiran kadar logam mulia. Secara matematika apabila terdapat sampel-sampel Z, di lokasi xi didefinisikan iZ. Penaksir OK didefinisikan:
Z * = å wi Z i
i =1 n

(1)

Bobot wi dipecahkan dengan sistem persamaan OK yaitu:

å w .s
j i =1

n

ij

- m = s 0i

(2) dengan

syarat terkendala:

åw
i

i

=1

3)

57

Secara sederhana sistem persamaan kriging di atas dapat ditulis dalam bentuk matriks sebagai [D][w]= [X ] berikut: (4) Bobot dipecahkan menggunakan persamaan: [w]= [D]-1 [X ] (5) Persamaan OK dapat dipahami sebagai suatu model linier dalam kasus statistika spasial. Penaksiran kadar bijih emas memakai metode geostatistika diawali dengan perhitungan statistik dasar, pemodelan variogram, dan penaksiran dengan teknik OK. Gambar 3 di bawah ini adalah hasil-hasil perhitungan statistika dasar dan spasial. Pada Gambar 3 di bawah berturutturut menunjukkan: lokasi data (a), parameter statistika data (b), dan model gaussian variogram kadar emas (c).

(a)

(b)

(c)

Gambar 3. Lokasi data (a), statistika data (b), dan variogram kadar emas (c) Taksiran kriging memakai bantuan perangkat lunak Geostatistical Software+ Ver.7 (Gambar 4 di bawah) menunjukkan distribusi kadar tinggi dan rendah.

Gambar 4. Taksiran kriging penyebaran kadar emas plaser Kadar relatif tinggi tersebar di bagian utara-timurlaut daerah penelitian, sedangkan kadar relatif rendah di bagian tengah dan selatan daerah penelitian. 1.1. PEMBAHASAN Evaluasi kualitas endapan emas plaser di daerah penelitian dilakukan pada dua zone yakni zone pada morfologi tinggian dan zone pada sekitar sungai. Zone pada morfologi tinggian dilakukan pada bagian barat laut daerah penelitian dengan elevasi terendah 86mdpl dan elevasi tertinggi 106mdpl (rata-rata beda tinggi adalah 7m) dengan luasan sekitar 45ha. Zone pada sekitar sungai dilakukan di sekitar lokasi stream sediment sampling dengan jarak maksimal 25m dari kiri dan kanan sungai dengan ketebalan endapan rata-rata 2m dan luasan sekitar 55ha. Berdasarkan pemetaan geologi detil di daerah penelitian endapan bijih emas plaser tidak berasal dari endapan emas hidrotermal yang berhubungan dengan batuan volkanik seperti epitermal, skarn dan porfiri. Kemungkinan tipe endapan primer sebagai sumber emas plaser berada di Langkowala (Bombana). Endapan emas primer ini dikenal sebagai endapan orogenik.

58

Sebaran endapan mineral logam emas plaser pada daerah penelitian adalah sebagai endapan Kuarter. Emas plaser pada satuan ini terdapat sebagai salah satu yang mengambang pada endapan lempung-pasir lepas. Karakter ini dapat disebut sebagai endapan emas placer. Pola penyebaran endapan logam emas plaser daerah penelitian dikontrol oleh arus purba yang memiliki arah relatif barat-timur dan mengalami gaya turbulensi karena adanya penghalang di bagian barat dan selatan daerah penelitian sehingga memiliki endapan-endapan logam berat yang terakumulasi akibat gerakan putar memusat. Gambar 5 di bawah ini merupakan hasil penaksiran distribusi kadar bijih emas (3D) dan ukuran keakuratan taksiran yang ditunjukkan melalui diagram pencar.

(a)

(b)

Gambar 5. Distribusi kadar emas (a), dan diagram pencar taksiran dan data (b) Gambar 5(a) di atas menunjukkan taksiran kriging secara 3D dengan kadar tinggi tersebar di bagian timurlaut daerah penelitian, sedangkan Gambar 5(b) adalah diagram pencar antara taksiran kadar emas plaser dan data eksplorasi pada lokasi yang sama. Berdasarkan hasil analisis diagram pencar (regression coefficient sebesar 0,925; dan standard error of estimation sebesar 0,244) metode kriging cukup akurat diterapkan pada cebakan bijih emas plaser di daerah penelitian. Berdasarkan data di lapangan endapan logam berat yang terakumulasi di dalam endapan Kuarter mempunyai pengendapan dengan ketebalan yang sangat bervariasi. Pada bagian barat daerah penelitian, endapan logam mineral berat lebih dominan dibandingkan di sebelah timur. Ketebalan endapan pembawa mineral logam berat pada bagian barat-barat laut daerah penelitian adalah lebih tebal dibandingkan dengan ketebalan di bagian timur. Ketebalan endapan pembawa emas sangat bervariasi rata-rata 0,5cm–1m serta dengan tingkat kedalaman yang berbeda atau bervariasi dari 5-10m. Pengujian sampel secara mikroskopis menunjukkan kehadiran mineralmineral berat seperti ilmenit, tembaga dan rutil. Berdasarkan luas daerah penelitian, hasil pengujian kadar emas, dan analisis memakai metode geostatistika diperoleh jumlah sumberdaya tereka bijih emas plaser sebesar 20 tonAu. 1.1. KESIMPULAN Berdasarkan hasil pembahasan dapat disimpulkan sebagai berikut : 1. Endapan emas yang terdapat di daerah penelitian adalah tipe endapan emas sekunder (placer). Kemungkinan tipe endapan primer sebagai sumber emas plaser adalah endapan orogenik. 2. Pola penyebaran endapan logam emas plaser daerah penelitian dikontrol oleh arus purba

59

yang memiliki arah relatif barat-timur dan mengalami gaya turbulensi karena adanya penghalang di bagian barat dan selatan daerah penelitian sehingga memiliki endapanendapan logam berat yang terakumulasi akibat gerakan putar memusat. 3. Ketebalan endapan pembawa mineral logam berat pada bagian barat-barat laut daerah penelitian adalah lebih tebal dibandingkan dengan ketebalan di bagian timur. Kadarkadar tinggi dominan menempati bagian timurlaut daerah penelitian. 4. Berdasarkan analisis memakai metode geostatistika diperoleh jumlah sumberdaya tereka bijih emas plaser di daerah penelitian diduga sebesar 20 tonAu.

DAFTAR PUSTAKA Idrus, A., Nur, I., Warmada, I.W., and Fadlin (2010), Metamorphic rock-hosted orogenic gold deposit type as a source of Langkowala placer gold, Bombana, Southeast Sulawesi Indonesia. Simanjuntak, dkk. (1980), Penelitian geologi daerah Sulawesi Tenggara dan Sulawesi Timur. Simanjuntak, Surono, dan Sukido (1993), Pemetaan geologi sistematik, Berskala 1:250.000 pada Lembar Kolaka, Sulawesi 2211 dan 2210. Waterman, S., et.al. (2001), Gold vein modeling using two stage indicator kriging, Seminar, Indonesian Association of Geologist-GEOSEA 2001, 30th Annual Conference-10th Regional Congress, Yogyakarta, September 13-14, 2001.

60

PROSIDING TPT XX PERHAPI 2011
EKSPLORASI PENDAHULUAN TENTANG KETERDAPATAN WOLFRAMITE SEBAGAI LOGAM LANGKA DI DAERAH ALITUPU KABUPATEN POSO - SULAWESI TENGAH
Oleh: 1. Sofyan Rachman (sofyan@trisakti.a.id) 2. Ahmad fauji 1. Teknik Geologi, Universitas Trisakti
ABSTRAK

Secara geologi sulawesi merupakan wilayah yang geologinya sangat komplek, karena merupakan perpaduan antara dua rangkaian orogen ( Busur kepulauan Asia timur dan system pegunungan sunda ) sehingga, hampir seluruhnya terdiri dari pegunungan dimana pada sulawesi tengah didominasi batuan yang berasal dari aktivitas volkanik seperti granit yang merupakan jalur mineralisasi. Penyelidikan umum mencari keterdapatan wolframite di daerah Alitupu dan sekitarnya, secara administratif termasuk dalam wilayah Kecamatan Napu Kabupaten Poso, Sulawesi Tengah. Metode yang digunakan meliputi: pemetaan geologi, pengambilan perconto, analisis perconto. Studi mineralisasi merupakan salah satu bagian dari kegiatan penyelidikan terhadap kemungkinan pembentukan cebakan bijih tungsten dan jenis cebakan ini pada umumnya terbentuk dalam lingkungan benua dengan ciri berasosiasi mineral kasiterit dan molibdenit. Potensi keterdapatan logam langka hanya ditunjukkan adanya wolframite namun kadar dan jumlahnya yang diperoleh sangat terbatas.dengan nilai kadar rata-ratanya yang diperoleh lebih kecil tidak jauh berbeda dengan nilai kadar rata-rata logam tersebut dalam kulit bumi dan dalam batuan beku yang terubah mengidentifikasi jenis-jenis ubahan yang terdiri atas argilik, propilitik hingga filik atau serisitisasi. Silisifikasi dijumpai secara lokal terutama di sekitar zona urat kuarsa. Berdasarkan analisis laboratorium diketahui bahwa mineral pada mineralisasi tersebut ditandai oleh sejumlah mineral sulfida – oksida yang terdiri atas arsenopirit, pirit, oksida mangan, silikat, phosphorous pentaoxide, mangan oxide, besi, kobalt, magnesium oxide, dan wolframite. Untuk wolframite berkisar antara 0.01-0.03 % dengan mengunakan metode X-Ray fluorescence Kata kunci : wolframite, metasedimen, zona urat kuarsa, hydrothermal, tungsten, seristisasi,

PENDAHULUAN LATAR BELAKANG Survei pemetaan geologi telah dilakukan di areal konsesi, di Alitupu daerah, Napu Kecamatan, Kabupaten Poso, Provinsi Sulawesi Tengah. Alasan di balik penyelidikan adalah untuk mengidentifikasi daerah wolframite potensi dalam 125 hektar areal konsesi keseluruhan (gambar 1). Cebakan bijih tungsten dibentuk oleh proses hidrotermal dan termasuk salah satu cebakan yang jarang ditemukan di Indonesia. Jenis cebakan ini pada umumnya terbentuk dalam lingkungan

61

benua atau batuan granitik dengan ciri asosiasi mineral kasiterit dan molibdenit. Keterdapatan cebakan atau mineralisasi tungsten yang sudah dikenal di Indonesia adalah di wilayah Kepulauan Bangka– Belitung, dimana tungsten memiliki asosiasi erat dengan kasiterit. Studi mineralisasi di daerah Alitupu merupakan salah satu bagian dari kegiatan penyelidikan terhadap kemungkinan pembentukan cebakan bijih tungsten pada lingkungan kompleks batuan granitik di wilayah Sulawesi Tengah.. UBAHAN HIDROTERMAL DAN MINERALISASI Ubahan hidrotermal dan mineralisasi berkembang baik terutama di daerah aliran S.Alitupu. Pada umumnya mineralisasi di tandai oleh adanya urat-urat kuarsa mengandung mineral sulfida dan oksida seperti : arsenopirit, wolframit, magnetit, hematit, kalkopirit, pirit, oksida mangan, realgar dan sinabar; mengisi rekahan batuan metasedimen dan granit dengan gejala ubahan berupa filik, argilik dan silisifikasi (Gambar .2). METODELOGI Observasi lapangan telah dilakukan di seluruh tanah, bukit dan bagian sungai. Pemetaan geologi, pengambilan sampel wolframite singkapan, dan menghitung sumber daya wolframite dilakukan dalam pengamatan ini sebagai cara merekam potensi wolframite. Peta geologi regional (skala 1:250.000, P3G-Bandung) telah digunakan sebagai referensi untuk penamaan pembentukan dan karakteristik fisik. Orientasi lapangan dan posisi wolframite dapat diidentifikasi dengan menggunakan kompas dan GPS GARMIN geologi 60-CSX jenis. Litologi pengamatan secara umum telah dilakukan pada batuan metamorfh. Pengamatan singkapan telah dilakukan lateral dan vertikal untuk memeriksa variasi wolframite dan tubuhwolframite. Pengamatan dan pencatatan dari singkapan dilakukan lateral dan vertikal untuk mengidentifikasi variasi singkapan worframite dan kontinuitas lapisan worframite. Analisis ini sangat penting untuk mengenali struktur geologi yang sebenarnya di daerah konsesi, intensitas dan kemungkinan intrusi, dan kondisi geologi lainnya yang dapat mempengaruhi peringkat kualitas worframite. Analisis Laboratorium wolframite terdiri dari: W; Sr, Li; Sn, Zr; dan kepadatan relatif akan diterapkan pada analisis sampel. MORFOLOGI DAN TOPOGRAFI Sebagian besar kawasan adalah menengah-rendah morfologi perbukitan dengan rentang ketinggian 1100-1300 meter di atas permukaan laut dan didominasi oleh batuan sedimen dan metamorf termasuk dalam Kapur malihan dan compleks Pompangeo. Kemiringan berkisar dari 55 bukit ° hingga 75 °, dengan trend bukit relatif dari barat ke arah timur. Iklim, Flora, dan Fauna Iklim di daerah Alitupu dicirikan oleh hutan hujan tropis dengan iklim perbedaan minimum

62

antara musim kering dan basah. Kisaran hujan 2000-4000 mm per tahun dengan suhu rata-rata adalah 30 ° C. Perubahan suhu antara malam dan hari berkisar 5-7 ° C (Data dari Pemerintah Kabupaten Poso). Para vegetasi hutan hujan tropis yang ditemukan di area konsesi dengan morfologi yang cukup terbuka. Fauna yang ditemukan di kawasan adalah babi, rusa, monyet dan beberapa jenis burung. Penggunaan Lahan, Infrastruktur dan Sosial Demografi Sebagian dari area konsesi ditempati oleh hutan. Infrastruktur jalan adalah jalan dari perusahaan penebangan kayu. Desa terdekat adalah desa Wuasa di bagian timur dari areal konsesi. Orangorang lokal bekerja sebagai petani, pemburu, dan pegawai pemerintah seperti guru. TEKTONIK Secara umum P. Sulawesi dibentuk oleh tiga tektonik utama dan disusun oleh 4 (empat) lengan geografi, yaitu bagian barat Sulawesi: lengan utara dan selatan, bagian timur Sulawesi, timur dan selatan-timur lengan dan pulau-pulau timur Banggai-Sula dan Buton adalah fragmen benua yang bergerak ke arah barat karena strike-slip patahan Nugini. Investigasi lokal di lengan utara Sulawesi (Gambar 1), di mana bagian ini adalah busur barat bahwa pengangkatan kuat pengendapan, mengungkapkan bahwa batuan metamorphik setempat. Batu Sediman bergantian dengan batuan vulkanik Paleogen intermiten, terkait dengan sejumlah kecil batuan basaltik dan batuantubuh.granitoid Struktur utama adalah pulau Sulawesi Palu - Koro Fault, tren NW - SE, bentuk dextral mengiri yang masih aktif sampai sekarang dengan kecepatan pergeseran diperkirakan 2-3,5 mm per tahun (Katili, 1978), Oligosen. Dari tengah ke utara ada patahan lain tren paralel dan tegak lurus terhadap patahan utama adalah terbentuk pada waktu yang sama atau setelah patahan besar terbentuk. Semakin ke arah utara serta dextral juga pergeseran dimungkinkan oleh terjadinya tegak mengangkat lempeng kontinental bertabrakan(Gmabar 3). GEOLOGI Urutan stratigrafi dari muda sampai tua sebagai berikut: sedimen aluvium, endapan teras (Kuarter), batuan tufa (Pliosen - Kuarter), batuan sedimen termetamorfose rendah dan batuan metamorf yang keduanya termasuk Formasi Tinombo (Kapur Atas - Eosen Bawah), batu gunung berapi (Upper Cretaceous - Oligosen Bawah), yang dengan Formasi Tinombo intervengenerring. Granit intrusi (Miosen Tengah - Miosen Atas) ditemukan melalui batuan metamorf Formasi Tinombo di daerah penyelidikan tetapi tidak terlihat gejala mineralisasi (Gambar 3). STRUKTUR Struktur yang ditemukan dalam bidang struktur patahan berarah utara - selatan dan juga patahan berarah barat laut - tenggara (hampir mendekati utara - selatan),. Tampaknya patahan adalah sama dengan pembentukan pulau utama patahan Sulawesi, yaitu patahan Palu - Koro. Selain itu ada juga patahan yang normal berarah barat laut struktur - tenggara. Lain yang normal berarah

63

timur laut patahan - barat daya. PEMBAHASAN Cebakan bijih tungsten (wolfram) primer dapat terjadi melalui 3 (tiga) model pembentukan yaitu hidrotermal (urat/vein – pipa/pipe), skarn (di lingkungan karbonat) dan porpiri (Clarke, 1982). Pembentukan di daerah ini berdasarkan model tersebut diatas dapat dumasukkan kedalam kategori model hidrotermal urat (vein), berasosiasi dengan mineral magnetit-hematit. Urat hidrotermal menerobos batuan metasedimen dan batuan granit genes (gneissic granite). Kemungkinan besar mineralisasi terjadi dalam suatu lingkungan batuan dengan sistim bukaan struktur (opening system) atau rekahan, dimana larutan hidrotermal yang melaluinya membentuk cebakan bijih primer. Hasil analisis mineralogi butir dan mineragrafi diperkirakan mineralisasi terbentuk dari suhu tinggi hingga rendah berdasarkan pada mineral indikatornya seperti wolframit-magnetit-arsenopirit hingga sinabar - realgar. Di duga berdasarkan asosiasi mineral yang ada di daerah penyelidikan telah terjadi tiga fase pembentukan mineralisasi : (1) Fasa pertama, mineralisasi terbentuk pada suhu tinggi, menghasilkan asosiasi mineral arsenopirit, pirit, tungsten, magnetit-hematit, dan kalkopirit. (2) Fasa kedua, mineralisasi terbentuk pada suhu yang lebih rendah yang menghasilkan asosiasi mineral sfalerit, galena, kalkopirit dan bornit, (3). Fase ketiga atau terakhir, pembentukan mineralisasi menghasilkan asosiasi mineral realgar dan sinabar yang diendapkan pada suhu sangat rendah. Pada umumnya cebakan tungsten dan kasiterit berada pada lingkungan pembentukan yang berdekatan seperti yang ditemukan di P.Bangka dan daerah-daerah lainnya. Sementara pada kasus di Daerah Alitupu teridentifikasi perbedaan pembentukannya yang ditunjukkan oleh penemuan magnetit-hematit sebagai asosiasi mineral, sekalipun pada lingkungan batuan granitik-metasedimen.
Berdasarkan analisis laboratorium diketahui bahwa mineral pada mineralisasi tersebut ditandai oleh sejumlah mineral sulfida – oksida yang terdiri atas arsenopirit, pirit, oksida mangan, silikat, phosphorous pentaoxide, mangan oxide, besi, kobalt, magnesium oxide, dan wolframite. Untuk wolframite berkisar antara 0.01-0.03 % dengan mengunakan metode X-Ray fluorescence.
KESIMPULAN -

Mineralisasi tungsten di daerah Alitupu ditandai oleh penerobosan urat kuarsa mengandung mineral sufida dan oksida yang menerobos batuan granit dan metasedimen. Model mineralisasi yang terdapat di daerah ini termasuk ke dalam jenis urat hidrotermal dengan asosiasi mineral : arsenopirit, pirit, wolframit, magnetit, hematite, kalkopirit, bornit, sfalerit, galena, emas, sinabar dan realgar serta mineral oksida besi lainnya.
Berdasarkan analisis laboratorium diketahui bahwa mineral pada mineralisasi tersebut ditandai oleh sejumlah mineral sulfida – oksida yang terdiri atas arsenopirit, pirit, oksida mangan, silikat, phosphorous pentaoxide, mangan oxide, besi, kobalt, magnesium oxide, dan wolframite. Untuk wolframite berkisar antara 0.01-0.03 % dengan mengunakan metode X-Ray fluorescence

-

64

UCAPAN TERIMAKASIH Penulis mengucapkan terimakasih banyak kepada PT Estilo Giant, yang telah memberikan kesempatan dan dorongan hingga terealisasinya karya tulis ini. Juga kepada semua pihak terkait, yang telah memberikan kesempatan kepada penulis sehingga terwujudnya tulisan ini.

DAFTAR PUSTAKA
Brouwer, H.A., (1947) Geological Exploration in the Island of Celebes : Geological summary and petrology. North Holland Publishing Co.,Amsterdam. 64 pp. Clarke K.F, Foster CT. and Damon PE.; 1982; Cenozoic mineral deposits and subduction related magmatic arcs in Mexico. Bull Geol SocAm 93: 533-544 Grant, J.N, Halls, C. and Avila G.; 1977; Igneous Geology and the Evolution of Hydrothermal system in some sub volcanic tin deposit of Bolivia, Geol.Soc.London Spec Publ 7:117-126. Hamilton.W.H., (1979) Tectonic of Indonesian Regions. U.S. Geol. Surv.Prof.Pap. 1078, 345 pp. JORC (1992) Australian Code For Reporting of Identified Mineral Resources and Ore Reserves Katili. J, (1978) Past and present geotectonic position of Sulawesi, Indonesia, Tectonophysic, 45:289322. Ramdohr, P.; 1980, The ore minerals and their intergrowths, First edition, Pergamon Press, Oxford-New York-Toronto-Sydney-Paris-Frankfurt. Roedder, E., (1979) Fluid Inclusion, Mineral.Soc.Am.Rev.Mineral., 12, 644. Rusmana, E and Hamdan Z.A., 2004, Wolframite associated with tin deposit in Bangka : Prospect and Origin, Majalah Geologi Indonesia, Vol.19, No.1,April 2004.

65

66

67

68

69

PROSIDING TPT XX PERHAPI 2011 Aplikasi Mikrothermometri Dalam Eksplorasi Endapan Epithermal
Syafrizal, M. Nur Heriawan, Teti Indriati Kelompok Keahlian Eksplorasi Sumber Daya Bumi, Fakultas Teknik Pertambangan dan Perminyakan, Institut Teknologi Bandung, Jl. Ganesha 10, Bandung, 40132 Email : syafrizal@mining.itb.ac.id ABSTRAK Studi mikrothermometri dapat dilakukan antara lain dengan memanfaatkan studi alterasi dan studi inklusi fluida. Studi mineral alterasi umum diterapkan pada batuan samping yang kontak dengan bidang urat atau zona mineralisasi, sehingga dapat dijadikan sebagai referensi perkiraan temperatur pembentukan urat melalui kemunculan mineral-mineral lempung yang sensitif terhadap temperatur. Studi inklusi fluida akan dilakukan dengan cara melakukan pengukuran pada inklusi yang terperangkap di bidang urat pada kristal kuarsa, yang kemudian dapat diketahui temperatur pembentukan dan salinitas larutan hidrothermal. Dari hasil analisis mikrothermometri akan diperoleh data-data berupa perkiraan temperatur pembentukan, posisi (letak) terhadap paleo water table, salinitas fluida pembentuk bijih, serta kondisi pembentukan endapan. Selanjutnya dengan memanfaatkan analisis mineragrafi akan diperoleh variasi kelimpahan secara kualitatif mineral-mineral bijih dan mineral-mineral aksesorisnya, paragenesa serta tekstur. Dengan mengkombinasikan keseluruhan hasil analisis ini, maka akan dapat diketahui posisi (letak) zona mineralisasi, baik zona precious metal maupun zona base metal. Pendekatan mikrothermometri ini diharapkan dapat diterapkan sebagai salah satu pendekatan dalam eksplorasi yang lebih efisien, akan berdampak luas dalam perkiraan distribusi kadar logam-logam berharga, perencanaan penambangan, serta dalam melakukan evaluasi-evaluasi nilai ekonomis suatu endapan, khususnya pada endapan epithermal. Kata Kunci : mikrothermometri, alterasi, inklusi fluida, epithermal, mineragrafi, precious metal, base metal. PENDAHULUAN Studi mikrothermometri adalah salah satu metoda dalam memperkirakan temperatur pembentukan suatu endapan atau mineralisasi, khususnya endapan pada lingkungan hidrothermal melalui analisis inklusi fluida. Data-data yang berasal dari studi mikrothermometri dapat dikombinasikan dengan hasil studi mineragrafi, studi alterasi, studi tekstur bijih, serta studi petrografi urat agar dapat menggambarkan zonasi pengayaan logam-logam tertentu pada zona mineralisasi.

70

Endapan epithermal adalah salah satu tipe endapan yang berada pada suatu sistem hidrothermal (volcanic hydrothermal system) yang merupakan suatu sistem endapan yang terbentuk pada paleo atau fosil suatu sistem panas bumi (geothermal). Pada sistem hidrothermal ini secara umum terdapat 3 (tiga) tipe endapan, yaitu Endapan Porfiri, Endapan Epithermal Low Sulfidasi, dan Endapan Epithermal High Sulfidasi (Gambar 1). Selain itu, pada suatu sistem yang berasosiasi dengan magmatisme akibat subduksi kerak samudera dan kerak benua seperti busur magmatik yang ada di Indonesia akan menghasilkan beberapa tipe endapan sebagaimana terlihat pada Tabel 1.

Gambar 1. Penampang skematik yang memperlihatkan variasi tipe endapan yang terdapat pada sistem hidrothermal vulkanik (Hedenquist & Lowenstern, 1994). Tabel 1. Beberapa tipe endapan yang berasosiasi dengan magmatisme akibat subduksi kerak samudera dan kerak benua (Sumber: Hedenquist & Lowenstern, 1994).

71

ENDAPAN EPITHERMAL Endapan epithermal mengandung mineral bijih epigenetik yang umumnya terjebak (hosted) pada batuan vulkanik. Tubuh bijih memiliki bentuk yang bervariasi yang diakibatkan oleh kontrol struktur dan litologi, dimana biasanya merefleksikan kondisi paleo-permeability pada kedalaman yang dangkal suatu bagian sistem hidrothermal. Tubuh bijih dapat berupa sistem urat dengan dip yang terjal yang terbentuk sepanjang zona regangan. Beberapa diantaranya terdapat pada bidang sesar utama, tetapi lebih umum terdapat pada sesar-sesar minor dengan perpindahan yang relatif kecil (< 10 m). Faktor litologi batuan induk juga cukup penting, terutama ketika aliran fluida mengalir dalam porositas dan permeabilitas batuan, sepanjang kontak antar batuan atau pada permeabilitas yang terbentuk dalam batuan yang ter-breksiasi. Pada suatu jaringan sesar dan fractures, akan terbentuk bijih pada veinlets s/d disseminated, dimana bisa tersebar secara lateral sepanjang beberapa kilometer sampai dengan beberapa meter secara vertikal. Mineral gangue utama adalah kuarsa sehingga menyebabkan bijih menjadi keras dan relatif tahan terhadap pelapukan. Kandungan sulfida pada urat relatif sangat sedikit (<1 s/d 20%). Beberapa faktor penting yang mengontrol pembentukan endapan pada lingkungan epithermal (Simmons et al., 2005) antara lain: · Pada kedalaman beberapa kilometer pembentukan larutan oksidasi dan asam terhadap larutan reduksi dan pH netral dikontrol oleh perbandingan kandungan air magmatik dan air meteorik di dalam larutan sehingga akan mempengaruhi interaksi antara air dan batuan, yang kemudian naik menuju lingkungan epithermal. · Adanya kondisi boiling pada kedalaman menyebabkan terbentuknya gradien secara fisika dan kimia yang cukup tajam, sehingga kondusif untuk pengendapan logam-logam dasar dan logam berharga. · Pada lokasi (daerah) yang dangkal, posisi muka air tanah akan mengontrol gradien tekanan dan temperatur hidrostatik untuk pembentukan endapan epithermal.

ZONA ALTERASI PADA ENDAPAN EPITHERMAL Dalam definisi yang sederhana, batuan yang teralterasi dapat didefinisikan sebagai perubahan komposisi mineral pada batuan. Mineral-mineral awal dapat berubah menjadi satu atau lebih mineral baru akibat adanya perubahan-perubahan kondisi, seperti perubahan dalam temperatur, tekanan, ataupun kondisi kimia-nya. Alterasi hidrothermal dapat didefinisikan sebagai perubahan mineralogi, tekstur dan kimiawi sebagai akibat dari perubahan panas dan kondisi lingkungan kimia yang disebabkan oleh keberadaan larutan yang panas (dapat berupa cairan, uap air maupun gas). Beberapa mineral-mineral hidrothermal tertentu stabil (terbentuk) pada suatu range temperatur

72

dan pH tertentu (Gambar 2). Pendataan dan pemetaan dari mineral-mineral alterasi tersebut dapat menghasilkan suatu zona-zona alterasi yang dapat merefleksikan keberadaan suatu sistem hidrothermal serta temperatur pembentukannya. Jika dihubungkan dengan interpretasi genetik (proses pembentukannya), Simmons et al., (2005) memberikan suatu pendekatan atau penjelasan aspek genetik dari keberadaan suatu zona alterasi (lihat Tabel 2), dimana berdasarkan hubungan secara genetis ini dapat digunakan untuk menjelaskan kemungkinan proses pembentukan endapan epithermal.

Gambar 2. Stabilitas temperatur pembentukan mineral-mineral alterasi yang umum terdapat pada lingkungan epithermal terhadap stabilitas pH pembentukannya (Hedenquist et al., 1996). Tabel 2. Hubungan genetik zona-zona alterasi serta perkiraan kondisi dan temperatur pembentukannya (Sumber : Simmons et al., 2005)

73

Pola distribusi zona alterasi hidrothermal pada endapan epithermal low sulfidasi digambarkan sebagai endapan yang terdiri dari Quartz ± Calcite ±Adularia ± Illite. Sebagai contoh kasus, dapat dilihat bagaimana pola zona alterasi pada urat (vein) Ciurug di Pongkor Indonesia (Gambar 3).

Gambar 3. Contoh kasus zona alterasi pada urat Ciurug, Pongkor Indonesia yang dapat digunakan sebagai referensi dalam penentuan temperatur pembentukan (Syafrizal et al., 2005, 2007). METAL ZONING PADA ENDAPAN EPITHERMAL Variasi mineral pembawa logam yang terbentuk pada lingkungan epithermal yang terjebak di dalam batuan vulkanik dapat dijelaskan dengan model klasik yang dikenal dengan model Buchanan (Gambar 4). Endapan epithermal terbentuk jika terjadi pembentukan mineral-mineral presipitasi dari larutan hidrothermal. Berdasarkan hasil studi dari beberapa endapan-endapan precious dan base metal pada sistem urat, maka Buchanan telah menyusun suatu model yang memperlihatkan hubungan spasial antara mineral assemblages, pola alterasi dan kontrol bijih. Sementara itu, pada Gambar 5 dapat dilihat bagaimana kecenderungan geokimia atau logamlogamAu,Ag, Sb, Tl dan Hg secara vertikal (kedalaman). Dalam model Buchanan ini dapat dilihat perkiraan kedalaman metal zoning atau zona-zona mineralisasi yang melingkupi zona alterasi dan indikasi mineral-mineral yang umum muncul. Pada model ini, secara spesifik dapat dilihat bagaimana kecenderungan letak, kedalaman, serta karakteristik mineralogi terhadap paleo-surface maupun paleo-water table.

74

Gambar 4. Metal zoning berdasarkan model Buchanan pada lingkungan epithermal (Dalam Guilbert and Park, 1985).

Gambar 5. Metal zoning pada lingkungan epithermal low sulfidasi (White, 2005).

STUDI MIKROTHERMOMETRI (INKLUSI FLUIDA) Analisis Inklusi Fluida (Fluid Inclusion) umumnya digunakan dalam "Microthermometry". Studi inklusi fluida dapat dilakukan sebagai termometer geologi untuk memperkirakan temperatur pembentukan urat atau mineralisasi. Lebih luas, interpretasi-interpretasi geologi lainnya dapat dikembangkan lebih jauh untuk mendukung kegiatan eksplorasi khususnya pada endapan epithermal dengan sistem urat, seperti penentuan (perkiraan) tingkat erosi pada paleo-surface atau paleo-water table, sehingga selanjutnya dapat digunakan sebagai dasar dalam

75

memperkirakan spasial (letak dan kedalaman) zona-zona precious metal maupun base metal. Interpretasi inklusi fluida sebaiknya dilakukan bersamaan dengan studi-studi pendukung lainnya, seperti studi mineragrafi, studi tekstur urat dan mineralisasi, serta studi alterasi, sehingga dapat diperoleh hubungan antara inklusi fluida dan host mineral. Mirip dengan studi mineralogi (paragenesa), inklusi fluida tidak hanya bercerita tentang sebuah proses, tetapi dapat menjelaskan evolusi proses pembentukan endapan dimana dapat merupakan bukti langsung dari perilaku suatu fluida sepanjang suatu proses geologi. Inklusi fluida dapat dideskripsikan berdasarkan parameter ukuran, bentuk, warna, dan refractive index pada temperatur kamar. Inklusi fluida biasanya muncul lebih pada 1 fase, dapat berupa liquid (L), gas or vapor (V), atau bersama-sama dengan satu atau lebih fase padatan (S). Host mineral merupakan informasi yang penting. Umumnya studi dilakukan pada FI yang terjebak dalam kuarsa, kalsit ataupun mineral-mineral semi transparan (misalnya sphalerit). Data utama yang dapat diperoleh dari studi ini adalah Temperatur Homogenisasi (Th) dan temperatur titik lebur es (final melting temperature of ice, Tm). Temperatur homogenisasi dapat diterjemahkan sebagai temperatur pembentukan urat. Sementara temperatur titik lebur es dapat digunakan untuk mengetahui tingkat salinitas fluida pembentuk mineralisasi. Dalam makalah ini, pembahasan hanya dilakukan untuk interpretasi data Th. Sebagai studi kasus, pada Tabel 3 dapat dilihat rekapitulasi data inklusi fluida dan pada Gambar 6 dapat dilihat data hasil pengukuran Th pada sampel dari Urat Ciurug, Pongkor, dimana secara umum dapat dilihat terjadi peningkatan temperatur Th dengan kedalaman.

Tabel 3. Rekapitulasi Data Mikrothermometri Sampel Urat Ciurug.

76

Gambar 6. Histogram hasil pengukuran temperatur homogenisasi sampel dari urat Ciurug. Berdasarkan histogram pada Gambar 6 terlihat bahwa pada level 700 mdpl, temperatur homogenisasi diperkirakan berkisar antara 170-210 °C. Temperatur homogenisasi pada level 600 mdpl adalah 170-210 °C. Sedangkan pada level terbawah (level 515 mdpl) menunjukkan temperatur homogenisasi antara 190-240 °C. Studi mikrothermometri juga dapat digunakan untuk memperkirakan kedalaman pembentukan bidang urat. Penentuan perkiraan kedalaman pembentukan urat ini dapat dilakukan dengan plotting histogram data temperatur homogenisasi sesuai dengan posisi (elevasi) asal data tersebut pada diagram (kurva) yang diusulkan oleh Hass (1971). Pada Gambar 7 dapat dilihat plotting data mikrothermometri urat Ciurug pada “boiling curves for the simple H2O-NaCl system (Hass, 1971) untuk menentukan minimal posisi pembentukan urat di bawah paleo-water table. Berdasarkan hasil plotting tersebut dapat diperkirakan bahwa pembentukan urat Ciurug terjadi pada kedalaman 105-130 meter di bawah posisi paleo-water table. Hasil ini menunjukkan bahwa posisi paleo-water table jika diproyeksikan pada elevasi saat ini berada di sekitar elevasi 805-830 mdpl.Ketinggian maksimum topografi saat ini di daerah Pongkor adalah sekitar 800 mdpl, sehingga diperkirakan ketebalan topografi yang telah tererosi adalah sekitar 30 meter. Hal ini didukung oleh studi alterasi (lihat Gambar 3) dimana terdapat alterasi argilik dan I/Sm

77

alterasi pada daerah Pongkor ini yang menunjukkan adanya zona alterasi akibatnya adanya arus air yang mengalir secara lateral. Selain itu, jika disebandingkan dengan model Buchanan (lihat Gambar 4), maka secara umum zona precious metal memiliki rentang ketebalan 200-250 meter, sehingga diperkirakan zona precious metal di urat Ciurug ini relatif masih utuh.

Gambar 7. Plotting histogram hasil pengukuran temperatur homogenisasi sampel dari urat Ciurug pada kurva perkiraan posisi pembentukan urat di bawah water table. KESIMPULAN Studi mikrothermometri dapat digunakan sebagai alternatif dalam penentuan posisi spasial (letak dan kedalaman) pembentukan bidang urat di bawah paleo-water table. Kombinasi antara studistudi pendukung lainnya (alterasi dan mineragrafi) dapat digunakan sebagai dasar untuk penentuan zona mineralisasi (zona precious metal atau zona base metal) beserta perkiraan ketebalan zona-zona tersebut yang masih tersisa pada saat kegiatan eksplorasi dilakukan. DAFTAR REFERENSI
1. Cooke, D R. and Simmons, S F. (2000) Characteristics and Genesis of Epithermal Gold

Deposits. Rev. Econ. Geol., 13, 221–244. 2. Guilbert, J.M. and Park, C.F. Jr., The Geology of Ore Deposits., W.H. Freeman., 1986. 3. Hedenquist, J.W. and Lowenstern, J.B. (1994) The role of magmas in the formation of hydrothermal ore deposits. Nature, Vol. 370, 519-527. 4. Hedenquist, J. W., Izawa, E., Arribas, A. Jr. and White, N. C. (1996) Epithermal gold

78

5.

6.

7.

8.

9.

10.

11.

deposits: Styles, Characteristics, and Exploration, Resource Geol. Special Publ., 1. Simmons, S.F., White, N.C. and John, D.A. (2005) Geological characteristics of epithermal precious and base metal deposits. Econ. Geol. 100th Anniversary Volume., 485-522. Syafrizal, Watanabe, K. and Imai, A. (2004) Alteration and related mineralization of the Ciurug vein and the Cikoret prospect, Pongkor gold-silver deposit, Indonesia. Proc. 2nd International Workshop on Earth Science and Technology, Kyushu Univ., 185–192. Syafrizal, Imai, A. Motomura, Y. and Watanabe, K. (2005) Characteristics of gold mineralization at the Ciurug Vein, Pongkor Gold-Silver Deposit, West Java, Indonesia. Resource Geol., 55, 225–238. Syafrizal, Koichiro Watanabe, Akira Imai. (2005) Hydrothermal Alteration of Cikoret and Ciurug Utara Prospect: A Clue to the Possible Extension of the Ciurug Vein, Pongkor Gold Mine, Indonesia. Proc. 3nd International Workshop on Earth Science and Technology, Kyushu Univ., 573-582. Syafrizal, Akira Imai., and Koichiro Watanabe., “Descriptive and Genetic Models of the Ciurug-Cikoret veins, Pongkor Au-Ag Epithermal Deposit, West Java, Indonesia”., Proceeding of 9th International Symposium on Mineral Exploration (ISME IX), pp 142148, Bandung, September 2006. Syafrizal, Akira Imai., and Koichiro Watanabe, “Origin of Ore-forming Fluids Responsible for Gold Mineralization of the Pongkor Au-Ag Deposit, West Java, Indonesia: Evidences from Mineralogic, Fluid Inclusion Microthermometry and Stable Isotopes of the Ciurug-Cikoret Veins”., Resource Geology Journal, Volume 57, No.2, 136–149, 2007. Noel C. White, Epithermal Gold Deposits., Society of Economic Geologists., Beijing Gold Workshop,August 2005.

79

PROSIDING TPT XX PERHAPI 2011 MATHEMATICAL MODEL UNTUK ESTIMASI BAHAN TAMBANG
Nur Ali Amri Teknik Pertambangan FTM UPN “Veteran” Yogyakarta Abstrak Di dalam geostatistika, terutama pada karakteristik endapan mineral logam dikenal adanya sifat erratical trend pada skala mikro, yang validitasnya dapat dicari dengan melakukan test hipotesis. Perhitunganperhitungan parameter statistik di dalam geostatistika selalu mendasarkan pada perhitungan parameter statistika non spasial. Oleh karenanya secara spatial statistics estimasi cadangan merupakan penaksiran yang mendasarkan pada perhitungan statistical parameters, dimana tingkat akurasi hasil perhitungannya sangat ditentukan oleh – setidaknya – representativeness sampel yang diambil. Representativeness dipengaruhi oleh bagaimana metode pengambilan sampelnya, berapa besar sampel yang harus diambil, dan sebagainya. Kata kunci: Geostatistika, representatif. Abstract In geostatistics, especially in metal mineral precipitation characteristic acquainted of erratical trend on macro scale that the validity can be searched by hypothetical test. The calculations of statistical parameters in geostatistics always based on nonspatial statistics parameters calculation. Therefore, the reserve estimation spatial statistically based on statistical parameters calculation which the levels of significance a given of sample representative. Representativeness of sample given on how the enterpretation method, and how many samples must be taken. Keywords: Geostatistics, representativeness

I.

PENDAHULUAN

Statistika merupakan salah satu alat yang di dalam ilmu kebumian, terutama pada perhitungan cadangan, dipakai untuk mencari suatu kecenderungan atau fenomena (trend), termasuk di dalamnya adalah sebaran atau distribusi bahan tambang. Pada pencarian trend, yang secara matematis sering divisualisasikan dalam sistem koordinat, maka parameter utama yang dipakai adalah parameter central tendency, meliputi mean, median, dan mode. Hanya saja pada kondisi tidak normal – biasanya data yang diambil adalah data yang nonpopulatif berupa sampel – maka nilai (parameter) yang sering dipakai untuk menentukan sebuah trend adalah salah satu dari ketiga parameter tersebut, dan ini sangat bergantung pada objek telitiannya. Tetapi pada kondisi normal (secara visual sebaran grafiknya berupa normal distribution) dimana datanya berupa populasi, pemilihan ketiga parameternya tidak memiliki pengaruh. Pengambilan data dalam rangka perhitungan cadangan, terutama yang menggunakan data hasil pemboran, sangat tidak mungkin dilakukan secara populatif mengingat berbagai macam factor – termasuk faktor ekonomis – disamping faktor-faktor lainnya. Dengan demikian sampling, termasuk jumlah kuantitas dan akurasinya menjadi salah satu penentu akurasi

80

perhitungan. Geostatistika merupakan bagian dari ilmu statistika yang objek datanya spasial sehingga science regulation atau regulasi ilmiahnya mengacu pada ilmu statistika (based on statistical classic).
II.

PROSES PENTAHAPAN

Akurasi perhitungan cadangan ditentukan oleh beberapa hal, antara lain adalah besar atau banyaknya data yang harus diambil, serta metode estimasi yang digunakan. Data dapat berupa populasi (secara keseluruhan) dan dapat berupa sampel, yaitu sebagian anggota dari populasi yang dipilih dengan menggunakan prosedur tertentu sehingga diharapkan dapat mewakili (representativeness) populasinya. Secara teoritis ada dua metode penarikan sampel, yaitu sampel dari populasi yang akan diambil dilakukan secara random (sering disebut sebagai probability sampling), dan sampel dari populasi yang pengambilannya tidak secara random (nonprobability sampling). Pada kasus randomize, bisa saja dilakukan dengan systematic method (baik pada populasi terbatas maupun tak terbatas). Meskipun metode ini lebih cepat, dan lebih mudah namun jika urutannya tidak sepenuhnya random maka variasi dari populasi tidak dapat diduga secara tepat. Di samping itu, jika populasi memiliki pengulangan karakteristik yang relatif tetap (dan kebetulan sama dengan interval yang digunakan) maka sampelnya akan menjadi seragam. Metode kedua adalah random yang terstrata (stratified random), dimana populasinya dibagi ke dalam kelompok-kelompok yang homogen dan distratakan, kemudian sampel diambil secara random dari tiap strata tersebut. Pertanyaannya, bagaimana jika tidak didapatkan pengelompokan yang homogen?. Pada kasus demikian, usahakan dikelompokkan data yang relatif homogen, meskipun resisten terhadap terjadinya biasness. Selanjutnya, dari masingmasing strata diambil lagi sampel secara random. Metode ketiga adalah cluster sampling, yang sering disebut juga sebagai sampel bloking. Metode ini sesungguhnya mirip dengan stratified, dimana masing-masing kelompok terdiri atas beberapa unit elemen yang lebih kecil. Pada kasus ini, seperti halnya random terstrata, kelompokkelompok di dalam populasi bersifat mutually exclusive, artinya bebas satu sama lainnya. Analisis struktural Struktur dapat dipahami, selain secara geologis merupakan bentuk arsitektural batuan sebagai hasil dari proses deformasi atau proses perubahan bentuk dan ukuran pada batuan akibat dari gaya – proses tektonik – yang terjadi di dalam bumi. Dengan demikian maka analisis struktur nantinya menjadi sangat penting, dan ini akan menjadi salah satu awal pentahapan di dalam geostatistika. Analisis yang merupakan pre-estimation ini dimulai dari penentuan variabel regional, critical data, statistical parameter yang kemudian dilanjutkan dengan melakukan perhitungan variografi, dalam hal ini adalah experimental variogram. Critical data dilakukan terhadap semua informasi (kualitatif), dan ini sangat penting untuk mengenal karakteristik data sehingga ketika menghubungkannya dalam interpretasi geologi

81

yang secara eksperimental berpotensi bias, setidaknya dapat diminimalkan. Geostatistika sebenarnya merupakan alat untuk menghitung parameter yang didasarkan pada ketersediaan data, sehingga ketika data tersebut – berkecenderungan – salah secara sistematik, maka kesalahan ini akan berlanjut pada tingkat pengembangannya. Representativeness dan estimasi Pada kondisi dimana data diambil secara populasi, hasil (nilai) perhitungan parameternya merupakan nilai yang sesungguhnya (true value), tetapi pada kondisi dimana data diambil secara sampel maka hasil perhitungannya berkecenderungan estimated. Hal ini disebabkan, salah satunya karena kuantitas yang diestimasi cenderung berbeda dengan objek yang diteliti. Estimasi merupakan penaksiran terhadap kondisi sekitaran (neighborhood) yang diharapkan memiliki pengaruh (infuence) dari titik sampel yang diambil. Di dalam geostatistika sebaran spasial suatu fenomena alam dapat diformulasikan secara matematis sebagai variable teregional. Dengan kalimat lain variabel teregional merupakan variable yang nilai-nilainya bergantung pada posisi spasial; artinya, nilai-nilai suatu data akan menjadi relatif sama jika data tersebut letaknya semakin berdekatan atau nilai-nilai dua buah data akan menjadi semakin berkurang korelasinya jika keduanya semakin berjauhan. Karena berupa estimasi maka kesalahan hitung sangat dimungkinkan terjadi. Pada pemboran, titik sampel tidak lain adalah segala sesuatu yang dihasilkan dari titik bor. Ketika melakukan estimasi terhadap mean dari suatu titik sampel (dapat berupa titik, luasan, maupun volume) pada jarak tertentu, katakanlah sejarak xi, maka kesalahan sangat mungkin terjadi. Sedangkan preferensial, atau rendah dan randomness/eratikal dari perolehan data menggambarkan tidak baiknya volume dimana variabel teregional (support) dari variogram teregional yang dianalisis. Di dalam estimasi, misalnya suatu blok, maka titik-titik sampel harus diletakkan sedemikian rupa sehingga blok yang akan diestimasi bisa masuk ke dalam daerah pengaruh titik-titik yang digunakan sebagai estimator. Jika blok yang akan diestimasi terletak di luar daerah pengaruh titik-titik sampel estimator maka titik-titik estimator tersebut sudah tidak memiliki korelasi dengan blok yang akan diestimasi. Oleh karena itu titik-titik estimator tersebut tidak boleh digunakan untuk mengestimasi blok. Estimasi dapat menggunakan metode Ordinary Kriging, Non-Ordinary Kriging, maupun lainnya. Ordinary Kriging merupakan metode perataan terbobot (weighted mean) dari setiap nilai data sampel, sehingga untuk mendapatkan estimasinya perlu informasi dari data yang terletak di sekitar nilai data sampel yang akan diestimasi. Jika nilai estimasi telah didapat, masalah yang muncul selanjutnya adalah, bagaimana menentukan tingkat akurasinya. Disinilah kemudian diperlukan kombinasi metode, misal menggabungkannya dengan teknik Jackknife, Regresi dan seterusnya, kemudian setelah mengetahui koefisien trendline-nya, dilakukan inferensi, dengan tentunya melakukan pengujian (uji hypotesis). Pengolahan geostatistika Geostatistika – menurut merupakan Matheron (1962) – merupakan aplikasi statistika yang mendasarkan pada formalisme fungsi random (random function) di dalam penyelidikan dan

82

estimasi fenomena alam. Randomness ini sangat boleh jadi disebabkan karena penyebaran fenomena alam (termasuk eksistensi bahan tambang di salah satu lapisan bumi) terjadi secara regional, baik dalam skala dua-dimensi (luasan) maupun keruangan (tiga dimensi). Dalam beberapa hal juga terjadi fenomena seperti probabilis tetapi berstruktur, sebagai 2 (dua) aspek yang tampaknya bertolak belakang sehingga kemudian secara matematis divisualkan dalam notasi fungsi variabel yang bersifat random. Meskipun secara umum sebaran suatu bahan tambang bersifat struktural, tetapi tidak jarang terjadi – pada skala lokal – bersifat tidak teratur/tidak menentu (erratic). Inilah yang menjadi dasar pemikiran untuk memunculkan pemodelan (Mathematical models) yang secara formulatif, nantinya mampu menggambarkan berbagai fenomena yang random. Oleh karena randomness menjadi bagian dari sifat alam kebumian, maka lahirlah statistika – sebagai bagian dari matematika – yang khusus mempelajari dan menyelesaikan berbagai model terkait yang dikenal dengan geostatistika, sebagaimana yang disebut pada alinea sebelumnya. Sajian matematis Seandainya fenomena randomness digambarkan sebagai suatu variabel, dan jika variable random yang dinotasikan sebagai Z(x) untuk semua titik-titik x dalam suatu endapan atau G [ Z(x), xG), maka variabel regional Z(x) ini dapat dianggap sebagai suatu realisasi dari keseluruhan variable random. Keseluruhan variabel random ini dinamakan fungsi random. Berkaitan dengan dua aspek di atas, yaitu untuk membedakan pengamatan yang merupakan variabel teregional dengan model probabilis sebagai fungsi random, maka kemudian penulisannya dibedakan yaitu, pengamatan ditulis dengan huruf kecil y(x); z(x); t(x), dan seterusnya, sedangkan random ditulis dengan huruf besar, misal Y(x); Z(x); T(x); dst. Oleh karena sebaran (distribusi) data bersifat spasial, jika pada semua n titik pengamatan, katakanlah x1, x2, x3,.............., xn, yang berhubungan dengan variabel random dengan k komponen: Z(x1), Z(x2), Z(x3), ..........., Z(xn) bersifat probabilistik, maka formula matematisnya secara vektorial disajikan sebagai:
(1). )x,.......,x,x,x(Z(obPr)z,.......,z,z,z(Fn321n321x,.....,x,x,xn321=

Untuk semua distribusi k titik pengamatan (artinya k positif), maka akan membentuk distribusi spasial – sekaligus merupakan karakteritik – dari fungsi random Z(x). Sebagaimana statistika pada umumnya, maka di dalam perhitungan geostatistika juga memiliki nilai harapan/ekspektasi (mathematical expectation), yang nilainya adalah, (2). E(Z(x))=m(x). Ekspektasi ini sering dikaitkan dengan pengertian momen tingkat pertama atau pangkat satu, yang secara kalkulus tidak lain adalah luasan (area). Pada kondisi dimana momen ini bergantung

83

pada titik pengamatan x maka disebut drift. Secara geologi, drift merupakan sebuah fenomena dimana suatu variogram yang pada awalnya berperilaku normal – yaitu naik hingga mencapai sill – tetapi selanjutnya naik secara mendadak secara parabolik. Artinya, variabel terregionalnya tidak lagi stasioner. Oleh karenanya kelak perlu uji stasionaritas. Variogram merupakan visual grafis dari sebaran spasial suatu fenomena alam yang secara matematis – kelak disebut sebagai momen tingkat kedua – dapat diidentifikasi sebagai variable teregional. Atau dengan kalimat lain dikatakan bahwa variabel regionalnya merupakan variable yang nilai-nilainya bergantung pada posisi spasial. Nilai titik-titik ini akan menjadi semakin sama jika titik-titik tersebut letaknya semakin berdekatan, demikian sebaliknya. Parameter lain yang perlu diketahui adalah momen tingkat kedua atau pangkat dua yang meliputi variansi, covariansi dan variogram. Variansi juga merupakan nilai suatu ekspektasi matematis selisih kuadrat antara nilai fungsi random dengan momen tingkat pertama. Jadi, (3). Var Z ( x) = E ((Z(x) - m(x)) 2 ) Covariansi adalah ekspektasi matematis dari product selisih antara fungsi random pada data titik pengamatan satu dengan titik pengamatan lainnya. Misal titik pengamatannya adalah xi dan xi+h, maka: (4). C ( xi , xi + h ) = E ((Z(x i ) - m(x i ))((Z(xi + h ) - m(x i + h ))) Variogram (semi) atau secara matematis adalah fungsi variogram merupakan variansi dari perubahan (dalam hal ini pertambahanmbuhan) Z(xi) – Z(xi+h), yang diformulasikan sebagai: (5). g ( xi , xi + h ) = 0.5 Var (Z(x i ) - Z(x i + h )) Atau ditulis, (6). Jika diperhatikan maka sesungguhnya momen kedua (pangkat dua) yaitu covarians dan variogram, keduanya merupakan fungsi yang bergantung pada dua titik pengamatan, dalam hal di atas yaitu xi dan xi+h, sehingga statistical inference-nya memerlukan realisasi pengujian dari pasangan variabel random Z(xi) dan Z(xi+h). Hanya saja jika fungsi ini hanya bergantung pada vektor h, dimana h merupakan jarak dua titik atau h=xi – xi+h maka statistical inference-nya akan mengatakan bahwa, untuk semua pasangan (Z(xk), Z(xl)) dengan vektor h=xk – xl dapat dianggap sebagai kenyataan atau realisasi yang berbeda dari pasangan variabel random Z(xi) dan Z(xi+h). Kekecualian terjadi pada daerah yang mineralisasinya homogen, maka korelasi antara kedua titik datanya, yaitu Z(xk) dan Z(xl) akan membentuk karakteristik yang bersifat intrinsik atau sejanyatanya pada daerah tersebut, dimana keduanya tidak bergantung pada dua titik xk dan xl tetapi hanya dari vektor (xk – xl). Inilah yang sering dikenal dengan hipotesa stasionaritas.

84

Kejadian berikutnya adalah, yang pertama, jika terdapat ekspektasi matematis E(Z(x)) yang tidak bergantung pada letak titik data x, maka: (7). E(Z(x))=m; dan ini berlaku untuk semua x. Kedua, jika untuk semua pasangan variabel random (Z(x), Z(x+h)) terdapat covariansi yang hanya bergantung pada h, maka: (8). C (h) = E (Z(x + h)(Z(x)) - m 2 ; yang berlaku untuk semua titik x Maka pada kondisi kedua syarat dipenuhi fungsi randomnya dikatakan stasionar tingkat kedua/pangkat dua. Perlu diingat bahwa pada ruang dimensi 3 (tiga) atau 3-D, h menunjukkan suatu vektor pada koordinat (hu, hv, hw). Eksistensi dan kondisi stasionaritas dari covariansi berarti juga stasionaritas variansi dan variogram yang secara matematis ditulis, (9). Var ( Z ( x)) = E (( Z ( x) - m) 2 ) = C(0); berlaku untuk "x
2 (10). g ( xi , xi +h ) = 0.5 E((Z(x + h) - Z(x)) ) = C(0) - C(h); "x

Persamaan (10) menunjukkan terjadinya stasionaritas tingkat kedua atau pangkat dua. Covariansi dan variogram kesuanya merupakan alat yang sama-sama digunakan untuk melakukan karakterisasi hubungan (korelasi) antara variabel Z(x) dan Z(x+h) pada jarak (vektor) h. Suatu hipotesis pada fungsi random Z(x) dikatakan intrinsik jika berlaku dua hal: Pertama, ekspektasi matematisnya ada, tetapi tidak bergantung pada letak x. Sehingga, (11). E ( Z ( x + h) - Z ( x)) = 0; yang berlaku untuk "x Keduanya adalah, perubahan atau pertumbuhan (Z(x+h) – Z(x)) mempunyai variansi yang tidak bergantung pada x untuk semua vektor h, yang secara matematis ditulis,
2 (12). Var ( Z ( x + h) - Z ( x)) = E (( Z ( x + h) - Z (m)) ) = 2g (h); dan berlaku untuk "x

Dengan demikian maka stasionaritas pangkat dua mengakibatkan berlakunya karakter instrinsik (meskipun tidak berlaku sebaliknya). Koregionalisasi Karakteristik fenomena regional, salah satunya adalah adanya beberapa variabel yang saling berhubungan (terkorelasi) sehingga dalam hal tertentu perlu dilakukan penyelidikan yang integrated. Kondisi semacam inilah yang menyebabkan terjadinya koregionalisi, yang sifatnya juga probabilistik. Pada kondisi dimana terjadi koregionalisasi (terjadi regionalisasi secara

85

bersama) dari sebanyak n variabel random (z1(x), z2(x), z3(x), ........., zn(x)), maka ini diinterpretasikan sebagai realisasi dari sebanyak n fungsi random yang saling terhubung (correlated).
III.

PEMODELAN MATEMATIS

Pemodelan matematis dilakukan setelah diperoleh akurasi dari berbagai parameter yang diperlukan. Pemodelan ini mendasarkan pada trend line yang biasanya disusun dalam bentuk regresi – linier ataupun non linier, baik sederhana maupun multiple – yang selanjutnya dilakukan uji lagi terhadap korelasi masing-masing variabel yang ada. Jika bentuk fungsi matematisnya multiple, maka pengujian dilakukan tidak hanya antara variabel yang bergantung (dependent variable) dengan yang mandiri (independent variable), tetapi juga antar variabel mandiri.
IV.

DAFTAR PUSTAKA

Adhi, R.N., 1992, Geostatistik, Workshop on Applicability of Geostatistics in the Mining Industry, Direktorat Sumberdaya Mineral Dirjen Geologi dan Sumberdaya Mineral Departemen Pertambangan dan Energi, Jakarta. Clark, I., 1979, Practical Geostatistics,Applied Science Publisher Ltd., London Sugiarto, Dergibson S., Lasmono TS., Deny S.O., 2003, Teknik Sampling, PT. Gramedia Pustaka Utama, Jakarta. Sulistyana, W., 2009, Aplikasi Kriging Non-Linier Pada Penaksiran Kadar Bijih Emas, Jurnal Ilmu Kebumian Teknologi Mineral Juli-Desember 2009.

86

PROSIDING TPT XX PERHAPI 2011 KARAKTERISTIK AKUIFER DI TAMIANG LAYANG, BARITO TIMUR, KALIMANTAN TENGAH
Oleh : Hasywir Thaib S; Barlian Dwinagara; R Hariyanto; Aldin Ardian Program Studi Teknik Pertambangan UPN “Veteran” Yogyakarta

Abstrak Daerah penelitian berada di daeraah Tamiang Layang yang memiliki elevasi 20-75 m. Curah tahunan berkisar antara 1126 mm – 4489 mm dan hari hujan 37 hari - 197 hari, dengan curah hujan rata-rata 100,47 mm/hari, sehingga daerah penelitian termasuk wilayah dengan curah hujan tinggi. Untuk mendapatkan parameter akuifer di daerah penelitian perlu dilakukan pengujian akuifer yaitu dengan slugtest pada lubang bor G01 dan GT02, sedangkan pada lubang bor GT03 dan GT04 dilakukan uji akuifer dengan metode pumpingtest. Dari pengujian 4 sumur uji didapat nilai permeabilitas (k) berkisar dari 0,043x10-5 m/detik hingga 3,292x10-5 m/detik.Nilai transmisivitas (T) berkisar dari 0,644x10-5 m2/detik hingga 50,920x10-5 m2/detik, sedangkan koefisien penyimpanannya (S) berkisar dari 0,23x10-4 hingga 0,46x10-4. Data tinggi muka air tanah pada lubang bor lama, air tanah di daerah penelitian secara umum mengalir dari Timur Laut menuju Barat Daya. Hasil pengujian memperlihatkan kondisi air yang relatif baik walaupun tidak ada yang memenuhi standar kualitas air kelas I (air baku yang memenuhi syarat untuk air minum dan dapat digunakan langsung tanpa melalui proses pengolahan). Kata Kunci: Akuifer

THE CHARACTERISTICS OF THE AQUIFER AT TAMIANG LAYANG, EAST BARITO, MIDDLE KALIMANTAN By: Hasywir Thaib Siri; Barlian Dwinagara; R. Hariyanto; Aldin Ardian Mining Engineering Department University of Pembangunan Nasional “Veteran” Yogyakarta ABSTRACT The research area is located in Tamiang Layang which has an elevation of 20 m - 75 m above sea level. Annual rainfall ranges from 1126 mm - 4489 mm and rainy days 37 days - 197 days, with a rainfall average of 100.47 mm / day, so that research area includes area with high rainfall. To obtain aquifer parameters in the research area, it is needed to do aquifer test at G01 and

87

GT02 boreholes by using slug-test, whereas at GT03 and GT04 boreholes by using pumping test. From the testing of four exploration wells, the permeability value (k) obtained is on the range of -5 -5 0.043 x 10 m/second up to 3.292 x 10 m/second. Transmission value (T) is on the range of 0.644 -5 2 -5 2 x 10 m /second up to 50.920 x 10 m /second, while the storage coefficient (S) is on the range of -4 -4 0.23 x 10 up to 0.46 x 10 . Based on the ground water level data on the old boreholes, the ground water in the research area generally flows from the Northeast to the Southwest. The test results show that the water condition is relatively good, although there is no water having standard quality of the first class water (raw water which fulfills the requirements for drinking water and can be used directly without going through the process of treatment). Keyword : Aquifer 1. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Kondisi hidrogeologi suatu daerah rencana pembangunan perlu diketahui secara baik diantaranya curah hujan, hari hujan, intensitas curah hujan, kondisi air limpasan, periode ulang hujan, dan karakteristik akuifer untuk menunjang kelancaran pelaksanaan kegiatan penambangan. Untuk memperoleh nilai karakteristik akuifer, maka perlu dilakukan uji akuifer pada 4 (empat) sumur uji, yaitu GT01, GT02, GT03, dan GT04. Kajian hidrogeologi ini dimaksudkan untuk mendukung rencana Perusahaan Tambang melakukan studi kelayakan mineral dan batubara, khususnya dalam perancangan sistem penyaliran tambang. 1.2. Tujuan Penelitian Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan parameter dan rekomendasi hidrogeologi sebagai masukan dalam perancangan sistem penyaliran tambang di daerah penelitian seperti besarnya debit air limpasan, sifat hujan, karakteristik akuifer, kondisi hidrolik airtanah, kuantitas dan kualitas air. 1.3. Lokasi Penelitian Lokasi penelitian terletak di kelurahan Tamiang Layang, Kecamatan Dusun Timur, Kabupaten Barito Timur, Propinsi Kalimantan Tengah dengan membuat empat lubang bor hidrogeologi (LampiranA). 1.4. Metode Penelitian Secara garis besar, kajian hidrogeologi dilakukan dengan pendekatan penelitian langsung di lapangan dan hasil analisis dari laboratorium. Metode penelitian yang diterapkan meliputi : 1. Studi Literatur Tahap ini didapat dari buku-buku atau sumber lain yang berhubungan dengan hidrogeologi, misalnya jurnal, majalah, dan laporan penelitian terdahulu.

88

2. Pengambilan Data Data yang diperlukan diperoleh dengan cara : a) Pengambilan data primer Didapat dari pengamatan dan pencatatan langsung di lapangan, melihat kegiatan pemboran, melakukan pengujian akuifer, pencatatan lithologi sesuai hasil coring, dan lainlain. b) Pengambilan data sekunder Mengumpulkan peta topografi, peta geologi, data curah hujan dan buku panduan lainnya yang dapat mendukung pengolahan data lebih lanjut. 3. Pengolahan Data Menggabungkan data yang diperoleh dari literature dengan data yang diperoleh di lapangan, kemudian dikelompokkan sesuai dengan kegunaannya. 4. Analisis Data Melakukan analisis data hasil pengolahan, sehingga diperoleh suatu gambaran kondisi hidrogeologi di daerah penelitian. 5. Kesimpulan Kesimpulan diperoleh setelah dilakukan korelasi antara hasil analisis data dengan acuan teori, sehingga didapatkan hasil akhir sebagai solusi masalah yang diteliti. 2. Hasil Penelitian Secara umum kondisi hidrogeologi daerah eksplorasi Tamiang Layang didominasi oleh satuan batuan Formasi Warukin. Identifikasi Hidrogeologi daerah penelitian mencakup masalah kondisi hidrologi, topografi, geologi, karakteristik akuifer, kuantitas dan kualitas air. 2.1. Slug Test Slug test dilakukan hanya pada sumur uji GT01 dan GT02 yang kedua sumur bor tidak flowing. Contoh grafik penurunan muka air tanah terhadap waktu pada GT01 seperti pada gambar di bawah ini:

Gambar 2.1 Grafik Penurunan Muka Air Tanah Terhadap Waktu Kemudian menggunakan rumus Keith Todd (K = 0,133 . (ΔS) .{ (rc)2 /L})akan didapatkan nilai k.

89

2.2. Pumping Test Pumping test dilaksanakan karena air tanah pada sumur uji GT03 dan GT04 cenderung flowing (MAT < 0).

Gambar 2.2 Grafik Penurunan Muka Air Tanah Terhadap Waktu Sedangkan pada pumping test digunakan rumus Jacob untuk mendapatkan nilai Transmisivitasnya terlebih dahulu. 3. Pembahasan 3.1. KondisiAkuifer Lapisan yang diperkirakan dapat bertindak sebagai akuifer adalah lapisan sand (pasir), dan semua akuifer merupakan akuifer tertekan. Berikut adalah hasil penelitian lapisan akuifer seperti pada Tabel 3.1. Tabel 3.1 Lapisan Akuifer Di Daerah Penelitian

90

3.2. Karakteristik Akuifer Uji akuifer dilakukan dengan metode slug test dan pumping test (bagi lubang bor dengan MAT = 0 - flowing).Hasil dari uji akuifer dengan metode slug test dan pumping test menunjukkan nilai permeabilitas (k), transmisivitas (T), dan korfisien penyimpanan (S). Nilai tersebut pada masing-masing lubang dapat dilihat pada tabel 3.2. Setelah menggunakan rumus Jacob maupun Keith Todd, lalu didapat nilai T maupun k menggunakan rumus: T K = m / detik b Selanjutnya nilai terakahir yang dicari untuk menentukan karakteristik akuifer adalah koefisien penyimpanan (S). Nilai ini merupakan hasil kali tebal akuifer dengan konstanta 3x106. Besar nilai k, T dan S tersaji pada table 3.2. Tabel 3.2. Nilai Konduktivitas, Transmisivitas, dan Koefisien Penyimpanan Hasil Uji Slug Test dan Pumping Test

Berdasarkan karakteristik air tanah, seperti nilai k, T dan S, maka air tanah yang ada di daerah penelitian dimasukkan dalam air tanah berproduktivitas moderat.

3.3. PotensiAir Tanah Air tanah pada daerah penelitian memiliki kecenderungan mengalir dari arah timur laut menuju barat daya.Perhitungan potensi air tanah didapat dari pengalian luas permukaan akuifer denga nilai konduktivitas hidroliknya.Sedangkan, luas permukaan didapat dari pengalian lebar akuifer dengan tebal akuifer yang berada di antara 2 titik sumur uji.

91

Adapun hasil perhitungan potensi air tanah pada GT01, GT02, GT03, dan GT04 dapat dilihat pada Tabel 3.3.

3.4. KualitasAir Tanah Uji kualitas air tanah dilakukan dengan mengambil conto air permukaan (air sungai dan air rawa) dan air tanah. Kemudian conto air tersebut diuji di laboratorium Hidrologi dan Kualitas Air, Fak.Geografi, UGM yang meliputi sifat fisik dan kimia. Adapun sebagai standar penilaian dalam analisis conto air permukaan dan air tanah yang diuji digunakan Peraturan Pemerintah No.82 Tahun 2001 (Tentang Pengelolaan Kualitas Air dan Pengendalian Pencemaran Air) dan Keputusan Mentri Lingkungan Hidup No.113 Tahun 2003 (Tentang Baku Mutu Air Limbah Bagi Usaha dan atau Kegiatan Pertambangan Batubara). Hasil dari pengujian conto air pada daerah penelitian dapat dilihat pada lampiran B. Berdasarkan hasil uji 11 conto air yang terdapat pada lampiran B, air yang terdapat di daerah penelitian tidak ada yang memenuhi kualitas I. TSS yang terdiri dari lumpur dan pasir halus, serta jasad-jasad renik, yang terutama disebabkan oleh kikisan tanah atau erosi tanah yang terbawa ke badan air pada semua conto masih jauh di bawah nilai ambang batas, sehingga aman d konsumsi dari segi TSS. Kadar nitritpun tergolong sangat kecil, yang tertinggi terdapat pada TAM-11 yang merupakan air rawa yaitu sebesar 0,009 mg/liter. Untuk kebutuhan oksigen biologis (BOD) hampir semua conto melebihi nilai ambang batas pada klasifikasi air kelas I (baku mutu air untuk dikonsumsi tanpa pengolahan terlebih dahulu) hanya pada TAM-01 (air dari lubang GT-03), TAM-03 (mata air Maramong), dan TAM08 (aliran sungai Dumah) yang memenuhi kelas I. Kadar besi (Fe) merupakan elemen mineral penting untuk keberlangsungan organisme hayati. Untuk air yang dapat dikonsumsi konsentrasi besi total (Fe) tidak boleh lebih dari 0,3mg/L, semua conto memenuhi syarat klasifikasi air kelas I yaitu air yang dapat langsung dikonsumsi, hanya pada conto TAM-01 dan TAM-02 saja konsentrasi besi (Fe) melebihi nilai ambang batas, yaitu 1,382 mg/L pada TAM-01; 2,616 mg/L pada TAM-02 dan 0,962 mg/LTAM04. 4. Kesimpulan 1. Kondisi akuifer di daerah penelitiaan: a. Merupakan jenis akuifer tertekan yang terletak diantara dua lapisan lempung (clay). b. Hasil uji akuifer dengan metode slug test dan pumping test diperoleh nilai permeabilitas

92

(k) berkisar antara (0,043 x 1 -3,292 x 1 ) m/detik. Nilai Transmisivitas (T) berkisar 0-5 0-5 m2 antara (0,644x1 – 50,920x1 ) /detik. Nilai Koefisien Penyimpanan (S) berkisar antara 0-4 0-4 0,23 x 1 - 0,46 x1 . c. Ketebalan akuifer tertekan di daerah Tamiang layang berkisar antara 0,90 m (GT02) sampai dengan 14,26 m (GT04). -4 3 2. Potensi air tanah berkisar antara 85,9873 x 10 m /detik (GT03) sampai dengan 4785,0023 x -4 3 10 m /detik. 3. Kondisi kualitas air di daerah penelitiaan tidak ada yang memenuhi kriteria air kelas I (Air baku yang memenuhi syarat untuk air minum dan dapat digunakan langsung tanpa melalui proses pengolahan). 5. Daftar Pustaka 1. Budiarto, Hartono, Hasywir Thaib S, 2008, Diktat Hidrogeologi, Jurusan Teknik Pertambangan FTM-UPN 'Veteran' Yogyakarta, Yogyakarta. 2. C. W. Fetter, 1994, Applied Hydrogeology, Macmillan College Publishing Company, Third Edition. Indiana University.Amerika Serikat. 3. David Keith Todd, 2005, Third Edition, Groundwater Hydrology, Mc. Graw Hill, Inc. Arizona State University.Amerika Serikat. 4. Effendi, H., 2008, Telaah Kualitas Air, Kanisius, Yogyakarta. 5. Kusnama, 2008, Batubara Formasi Warukin di Daerah Sampit dan Sekitarnya, Jurnal Geologi Indonesia, Bandung 6. _______, 2003, Laporan Akhir Studi Potensi Air Bawah Tanah Berdasarkan Data Hidrogeologi dan Uji Pemompaan di Kabupaten Kulonprogo Daerah Istimewa Yogyakarta, Fakultas Teknologi Mineral Jurusan Teknik Pertambangan UPN “Veteran” Yogyakarta, Yogyakarta. 7. _______,2001, Peraturan Pemerintah Nomor 82 Tahun 2001 Tentang “Pengelolaan Kualitas Air dan Pengendalian Pencemaran Air. 8. _______, 2003, Keputusan Mentri Lingkungan Hidup No. 113 Tahun 2003 Tentang “Baku Mutu Air Limbah Bagi Usaha dan atau Kegiatan Pertambangan Batubara.

0-5

0-5

93

LAMPIRAN A PETA LOKASI TITIK UJI HIDROGEOLOGI

LAMPIRAN B
Tabel 4.10.HasilAnalisisKualitas Air PermukaandiLaboratoriumHidrologidanKualitas Air, Fak.Geografi, UGM

94

95

PROSIDING TPT XX PERHAPI 2011 OPTIMASI LUBANG BUKAAN TAMBANG UNTUK MEMAKSIMALKAN NILAI CADANGAN BATUBARA, STUDI KASUS PIT 8, TAMBANG SENAKIN, PT ARUTMIN INDONESIA
Oleh: Umar Hadi/Evans Rahadian PT. Arutmin Indonesia

ABSTRAK Perubahan harga batubara yang sangat dinamis pada beberapa tahun terakhir sangat berdampak pada nilai keekonomian suatu cadangan batubara. Semakin tinggi harga batubara maka dapat dipastikan bahwa cadangan ekonomis akan meningkat, demikian juga sebaliknya. Peningkatan kuantitas cadangan batubara berbanding lurus terhadap nisbah pengupasan, dan berbanding terbalik terhadap margin (/ton) keuntungan. Dengan demikian, peningkatan kuantitas cadangan tidak selalu selaras dengan peningkatan nilai cadangan. Terdapat nilai optimum lubang bukaan tambang yang dapat memberikan nilai cadangan tertinggi. Tujuan dari optimasi lubang bukaan tambang di PT Arutmin Indonesia adalah menentukan nilai tertinggi cadangan batubara. Secara umum, langkah-langkah yang dilakukan meliputi : - Pembuatan beberapa skenario lubang bukaan menggunakan metode block ranking - Analisa pendapatan dan biaya untuk menghitung margin keuntungan masing-masing skenario - Analisa serta penentuan lubang bukaan tambang yang optimum Pit 8 Tambang Senakin adalah pit yang sudah ditimbun (backfill) cukup lama. Peningkatan harga batubara yang signifikan dalam beberapa tahun terakhir membuat pit ini menjadi ekonomis untuk ditambang kembali. Optimasi lubang bukaan tambang telah dilakukan dan menghasilkan cadangan batubara sebesar 15 juta ton. GAMBARAN UMUM PT ARUTMIN INDONESIA PT Arutmin Indonesia (PTAI) merupakan salah satu perusahaan tambang batubara di Indonesia yang memperoleh ijin PKP2B pada tahun 1981 dari Pemerintah Indonesia. Total luas area penambangan PTAI adalah seluas 70,152.35 Ha dan menyebar di wilayah Kalimantan Selatan. Operasi penambangan batubara PTAI diawali di daerah Senakin DU 313 pada tahun 1989. Berdasarkan hasil ekplorasi detail yang telah dilakukan, kemudian

96

dikembangkan di beberapa daerah PKP2B PTAI lainnya, yaitu Satui, Batulicin, Asam Asam/Mulia. Gambar 1 di bawah ini menunjukkan lokasi penambangan yang dimiliki oleh PTAI.

Gambar 01. Peta Lokasi Penambangan PT Arutmin Indonesia

KONDISI UMUM LAPISAN BATUBARA TAMBANG SENAKIN Secara umum, kondisi lapisan batubara di Tambang Senakin sama seperti lapisan batubara di tempat-tempat lain. Terdapat lapisan sandstone dan atau mudstone di atas lapisan batubara. Tambang Senakin terbagi menjadi 2 area, Senakin Barat (mine closure) dan Senakin Timur (pit aktif). Dengan sudut kemiringan batubara berkisar antara 5 - 14 .

Gambar 02. Peta Lokasi Tambang Senakin

97

Gambar 03. Stratigrafi Batuan Tambang Senakin

PEMBUATAN BEBERAPA SKENARIO LUBANG BUKAAN Tahap awal yang harus dilakukan adalah membuat beberapa skenario lubang bukaan (pitshell) dengan menggunakan metode block ranking. Metode ini dilakukan dengan cara membagi area penambangan menjadi blok-blok kecil dengan ukuran yang ditentukan, kemudian memberi nilai terhadap blok-blok tersebut. Umumnya nilai yang dimasukkan adalah nilai nisbah pengupasan (strip ratio). Setelah masing-masing blok memiliki nilai, selanjutnya dibuat beberapa skenario lubang bukaan sesuai dengan batasan nisbah pengupasan (cut off strip ratio) yang sudah ditentukan. Untuk studi kasus ini, digunakan nilai cut off strip ratio 13, 15, 17, 19, dan 21.

98

Gambar 04. Lubang Bukaan pada Cut off SR 13

Gambar 05. Lubang Bukaan pada Cut off SR 15

Gambar 06. Lubang Bukaan pada Cut off SR 17

99

Gambar 07. Lubang Bukaan pada Cut off SR 19

Gambar 08. Lubang Bukaan pada Cut off SR 21

ANALISA EKONOMI Langkah selanjutnya adalah menghitung kuantitas batubara dan tanah penutup pada masing-masing skenario lubang bukaan tersebut. Analisa ekonomi dilakukan dengan menggunakan beberapa parameter antara lain : 1. Asumsi harga batubara 2. Biaya-biaya, antara lain : Kontraktor penambangan Ÿ Ÿ Barging Bahan Bakar Ÿ Royalti Ÿ Ÿ Biaya internal Arutmin Ÿ dll Output dari analisa ekonomi adalah margin keuntungan perton batubara. Jika margin keuntungan ini dikalikan dengan kuantitas batubara, maka didapatkan nilai cadangan

100

batubara pada masing-masing skenario lubang bukaan tambang.

Gambar 09. Grafik Margin Keuntungan

Gambar 10. Grafik Nilai Keuntungan

KESIMPULAN Grafik nilai keuntungan menunjukkan bahwa masing-masing skenario lubang bukaan mempunyai nilai optimum yang berbeda, yang dapat dijelaskan sebagai berikut : 1. Pit 8 tidak ekonomis jika harga batubara kurang dari $80/ton. 2. Pitshell Cut Off SR 12 memberikan keuntungan yang optimum pada harga batubara $80/ton. 3. Pitshell Cut Off SR 13 memberikan keuntungan yang optimum pada harga batubara $90/ton. 4. Pitshell Cut Off SR 14 memberikan keuntungan yang optimum pada harga batubara $100/ton dan $110/ton. 5. Pitshell Cut Off SR 15 memberikan keuntungan yang optimum pada harga batubara di atas $120/ton. 6. SR yang kecil tidak selalu memberikan keuntungan yang optimum, demikian juga sebaliknya.

101

DAFTAR PUSTAKA ......................, 2007, Minescape Working Sections and ROM Reserves, PT. Arutmin Indonesia - PT. Thiess Contractors Indonesia ......................, 2009, Geological Model Senakin_North_P08_14, PT. Arutmin Indonesia ......................, 2009, Kajian Kelayakan Pengembangan Penambangan Batubara di PT. Arutmin Indonesia, PT. Arutmin Indonesia ......................, 2010-2011, Economical Analysis Documentation, PT. Arutmin Indonesia

102

PROSIDING TPT XX PERHAPI 2011 OPTIMASI DESAIN LUBANG BUKAAN TAMBANG UNTUK KONDISI LAPISAN BATUBARA TERJAL DAN INTERBURDEN TEBAL (STUDI KASUS : TAMBANG ASAMASAM, PT ARUTMIN INDONESIA)
Kresno Adiprasetyo Mineral Resource Department PT Arutmin Indonesia Deposit Asam Asam memiliki kondisi kemiringan seam yang terjal dan pemisahan interburden yang sangat tebal, sehingga dalam pembuatan desain lubang bukaan tambang dibuat terpisah untuk kelompok lapisan batubara bagian atas dan lapisan batubara Litologi didominasi oleh pasir dengan kekuatan rendah, sehingga sudut Low Wall dan Wall dibuat lebih landai dari bidang perlapisan, sehingga menghasilkan adanya tambahan waste di low wall di bawah bidang perlapisan untuk dapat memenuhi standar geoteknik. Kondisi deposit Asam Asam memiliki kemiringan lapisan batubara yang terjal dengan interburden yang sangat tebal, sehingga pembuatan desain lubang bukaan tambang harus dibuat terpisah untuk kelompok lapisan batubara bagian atas dan lapisan batubara bagian bawah. Selain itu, Litologi didominasi oleh pasir dengan kekuatan rendah yang mengakibatkan sudut Low Wall dan Wall dibuat lebih landai dari bidang perlapisan, dan menghasilkan waste tambahan di bawah bidang perlapisan (Low Wall) untuk memenuhi standar geoteknik. Metode optimasi konvensional dengan Block Ranking tidak dapat digunakan, dimana biasanya permukaan lantai batubara yang dijadikan sebagai permukaan acuan. Nisbah kupas yang meningkat seiring dengan pertambahan jarak antara puncak Low wall dan High wall tidak berlaku, sehingga perlu dilakukan optimasi kearah vertical mengikuti kedalaman. Metode optimasi konvensional dengan Block Rangking yang menggunakan permukaan lantai batubara sebagai acuan tidak dapat digunakan. Nisbah kupas yang meningkat seiring dengan pertambahan jarak antara puncak Low wall dan High wall tidak berlaku, sehingga perlu dilakukan optimasi kearah vertical mengikuti kedalaman. Beberapa parameter acuan yang digunakan untuk optimasi adalah ketebalan minimum lapisan batubara, factor kualitas batubara, biaya produksi dan kedalaman. Model geologi lapisan batubara dibuat menjadi model harga lapisan batubara dengan mempertimbangkan factor kualitas batubara tiap lapisan. Setiap lapisan akan memiliki harga yang berbeda tergantung dari kualitas lapisan batubara. Faktor kualitas palong umum digunakan adalah nilai CV. Batubara tipis dengan nilai CV yang tinggi akan memiliki harga lebih baik daripada lapisan batubara tipis dengan nilai CV rendah selama masih memiliki ketebalan di atas ketebalan minimum. Seluruh lapisan batubara dibawah ketebalan minimum tidak akan dioptimasi.

103

Beberapa parameter yang digunakan untuk optimasi antara lain ketebalan minimum lapisan batubara, kualitas batubara, biaya produksi dan kedalaman. Model geologi lapisan batubara dibuat menjadi model harga lapisan batubara dengan mempertimbangkan faktor kualitas batubara tiap lapisan. Setiap lapisan memiliki harga yang berbeda. Faktor penentu kualitas yang umum digunakan adalah nilai CV (Calorie Value). Batubara dengan CV tinggi akan memiliki harga lebih baik dibandingkan batubara dengan nilai CV rendah (selama masih memiliki ketebalan diatas ketebalan minimum). Lapisan batubara dibawah ketebalan minimum tidak akan dioptimasi. Salah satu pertimbangan dalam melakukan optimasi adalah biaya. Dimana makin tebal lapisan penutup yang dipindahkan untuk mendapatkan batubara, maka biaya pemindahan lapisan penutupnya. Setiap lapisan akan memiliki biaya pemindahan lapisan penutup yang berbeda, dimana makin dekat lapisan batubara dengan permukaan topografi maka biaya penambangannya akan lebih rendah. Proses optimasi yang dilakukan adalah dengan mengoptimalkan desain tambang sebagai acuan untuk meningkatkan pendapatan melalui hasil optimasi beberapa lapisan batubara, sehingga desain tambang yang dihasilkan tidak akan mengacu pada salah satu kelompok lapisan batubara, namun dapat berbeda, tergantung dari optimasi pendapatan dan harga yang dikontrol oleh kualitas batubara terhadap biaya penambangan. Parameter lain dalam melakukan optimasi adalah biaya. Semakin tebal lapisan penutup yang dipindahkan, maka semakin besar biayanya. Setiap lapisan memiliki biaya yang berbeda. Semakin dekat lapisan batubara dengan permukaan topografi, maka biaya penambangannya akan lebih rendah. Proses optimasi dilakukan dengan mengoptimalkan desain tambang yang dijadikan acuan untuk meningkatkan pendapatan dari optimasi beberapa lapisan batubara. Desain tambang yang dihasilkan tidak akan mengacu pada satu lapisan batubara saja, namun tergantung dari optimasi pendapatan dan harga yang dikontrol oleh kualitas batubara terhadap biaya penambangan. Proses optimasi akan menghasilkan grid kombinasi antara topografi dengan desain awal tambang. Makin tinggi harga batubara, maka desain awal tambangnya akan menjadi semakin besar. Untuk Deposit Asam Asam, optimasi yang dilakukan berusaha mengoptimalkan nilai cadangan kearah vertical tanpa mengikuti kemiringan lapisan batubara secara utuh, dengan mempertimbangkan seluruh aspek geoteknik. Proses optimasi akan menghasilkan grid kombinasi antara topografi dengan desain awal tambang. Semakin tinggi harga batubara, maka desain awal tambang akan menjadi semakin besar. Untuk deposit Asam Asam, optimasi yang dilakukan adalah mengoptimalkan nilai cadangan kearah vertikal tanpa mengikuti kemiringan lapisan batubara secara utuh dengan tetap mempertimbangkan seluruh aspek geoteknik.

104

GAMBARAN UMUM TAMBANG ASAMASAM

PT Arutmin Indonesia (PTAI) merupakan salah satu perusahaan tambang batubara di Indonesia yang memperoleh ijin PKP2B pada tahun 1981 dari Pemerintah Indonesia. Total luas area penambangan PTAI adalah seluas 70,152.35 Ha dan menyebar di wilayah Kalimantan Selatan.Operasi penambangan batubara PTAI diawali di daerah Senakin DU 313 pada tahun 1989.Berdasarkan hasil ekplorasi detail yang telah dilakukan, kemudian dikembangkan di beberapa daerah PKP2B PTAI lainnya, yaitu Satui, Batulicin, Asam Asam/Mulia. Gambar 1 di bawah ini menunjukkan lokasi penambangan yang dimiliki oleh PTAI.

Gambar 1. Peta Lokasi Penambangan PT Arutmin Indonesia

Produksi Tambang AsamAsam dimulai pada tahun 2005 pada tingkat produksi 1,1 juta ton. Pada tahun 2010, produksi Tambang AsamAsam adalah sebesar 5,2 juta ton, dan akan terus meningkat sampai dengan sebesar 14 juta ton pada tahun 2013 dan seterusnya. KONDISI UMUM LAPISAN BATUBARAASAMASAM Secara umum, kondisi lapisan batubara di AsamAsam memiliki kemiringan lapisan yang terjal, dengan kemiringan lapisan berkisar antara 30 - 45 derajat, dengan ketebalan rata-rata untuk seam utama yang menjadi target penambangan adalah seam BU 19.45 m, BL 17.75 m, CU 2 10.30 m, CL 3.72 m, DU 1.85 m, DL 1.45 m, EU 7.39 m, EL 10.61 m, FU 9.20 m, FL 1.03 m, GU 4.61 m, GL 11.08 m dengan kemiringan lapisan secara umum 30° ke arah tenggara

105

LATAR BELAKANG Kondisi deposit Asam Asam dimana lapisan batubara memiliki kemiringan terjal dan kondisi litologi batuan berkekuatan rendah menyebabkan optimasi cadangan batubara konvensional dengan metode block ranking tidak dapat diterapkan. Lantai lapisan batubara tidak dapat dijadikan acuan pembuatan lanta tambang karena desain lereng tambang yang aman secara geoteknik harus dibuat lebih landai daripada kemiringan bidang perlapisan batubara. Untuk mendapatkan jumlah cadangan yang optimal, maka puncak lereng tambang (pit crest) di bagian low wall harus dibuat di bawah garis singkapan batubara. Block ranking menggunakan metode blok 2 dimensi, dimana masing-masing blok memiliki nilai stripping ratio. Pada kondisi lapisan batubara dengan kemiringan terjal, maka perlu dibuat blok 3 dimensi, dimana masing-masing blok akan memiliki nilai berupa pendapatan dan biaya. Proses optimasi dilakukan dengan menggunakan program Minex Pit Optimiser yang melakukan proses iterasi berulang untuk mendapatkan geometri desain lubang bukaan tambang yang optimal dengan mempertimbangkan aspek biaya penambangan, harga batubara dan tetap mengikuti syarat aman secara geoteknik. Optimasi akan dilakukan berdasarkan parameter ekonomi dan parameter geometri rancangan tambang. Gambar berikut adalah diagram alir dalam melakukan optimasi secara umum dan proses penentuan parameter ekonomi suatu deposit

106

Gambar 5. Diagram alir penentuan parameter ekonomi

107

PARAMETER EKONOMI · Model Harga

Produk dari deposit AsamAsam adalah batubara harga jual untuk kualitas CV sebesar 5000 Kcal/Kg (adb). Pada kenyataannya di lapangan, kualitas CV tiap lapisan batubara tidaklah seragam, dengan rentang kualitas berkisar di selang 3200 Kcal/Kg(adb)-5800 Kcal/Kg(adb). Sehingga, dalam pembuatan model harga lapisan batubara, masing-masing lapisan batubara akan dibobotkan berdasarkan kualitas nilai kalori masing-masing, sehingga akan dihasilkan harga yang spesifik untuk masing-masing lapisan batubara. Pada proses pemodelan harga lapisan batubara, penalty kualitas untuk kenaikan nilai kandingan abu dan kadar belerang belum diterapkan, karena hal itu belum diaplikasikan Pada batubara Ecocoal. Sehingga model harga batubara dibuat berdasarkan nilai kalori lapisan batubara tersebut tanpa adanya pengurangan harga akibat kenaikan nilai sulphur dan kadar abu. Perhitungan harga berdasarkan nilai kalori adalah sebagai berikut : (Base price / Base CV) * CV Seam · Model Biaya

Komponen biaya penambangan terdiri atas 3 komponen biaya utama, yaitu biaya pengupasan lapisan penutup, biaya penambangan batubara, dan biaya lain yang harus ditanggung oleh PT Arutmin Indonesia (PT AI Cost). Masing-masing lapisan batubara akan memiliki biaya penambangan batubara dan biaya penambangan lapisan penutup. Sedangkan untuk biaya lain, akan dimasukkan ke dalam parameter biaya lainnya dalam muka kerja Pit Optimiser PARAMETER DESAIN LUBANG BUKAAN TAMBANG Sudut Lereng Pada deposit AsamAsam, batuan memiliki kekuatan yang rendah, sehingga dalam pembuatan rancangan lereng low wall, harus dibuat di bawah lapisan lantai batubara yang terjal. Hal ini berbeda dari rancangan tambang Arutmin secara umum, dimana lapisan lantai batubara akan menjadi permukaan untuk rancangan lantai tambang. Hasil akhir rancangan lereng low wall berada di bawah lapisan batubara. Hal ini akan menyebabkan terjadinya penambahan material yang harus digali dibawah lapisan batubara (underburden). Sudut lereng yang digunakan adalah sudut lereng secara keseluruhan untuk sisi high wall dan low wall Kedalaman

108

Desain tambang AsamAsam dibatasi oleh kedalaman. Batas kedalaman ini diperoleh dari hasil studi geoteknik dan didukung oleh ijin batas kedalaman maksimum lubang bukaan tambang sebesar 175 m. Sehingga, dalam membatasi proses optimasi, akan dibuat sebuah permukaan batas rona awal yang dikurangi dengan 175 m. Parameter rancangan lereng tambang pada desain lubang bukaan tambang Asam Asam dapat diterapkan berbeda sesuai dengan kedalaman. Makin dalam desain lubang bukaan tambang, maka sudut lerengnya makin landai. Spesifikasi geometri desain lubang bukaan tambang dapat dibuat menjadi lebih dari 1 skenario, bergantung dari kedalaman maksimal lubang bukaan tersebut. Pada deposit AsamAsam, dibuat dalam 5 skenario sudut lereng, yaitu mulai dari kedalaman lubang bukaan tambang 60 sampai dengan 180 m, dengan interval skenario penambahan kedalaman setiap 30 m. Luasan Permukaan Untuk membatasi area kerja optimasi, maka luasan permukaan atas akan dibatasi oleh batas PKP2B. PROSES OPTIMASI Proses optimasi dibuat dalam berbagai skenario harga. Patokan harga yang digunakan berada pada selang 10 % sampai dengan 150 % harga jual batubara. Hal ini dilakukan untuk mengantisipasi terjadinya kenaikan atau penurunan harga jual batubara, sehingga dapat diketahui gambaran awal nilai cadangan yang masih ekonomis untuk ditambang Dalam melakukan optimasi, suatu deposit akan dibagi menjadi blok 3 dimensi. Masing-masing blok tersebut memiliki nilai dalam bentuk biaya(cost) dan pendapatan(revenue). Analisis akan dilakukan pada selang variasi harga 10 %. Setelah didapatkan suatu rentang variasi harga yang mendekati nilai optimum yang diharapkan, maka akan dilakukan proses optimasi yang lebih rinci dengan selang variasi harga 1 %.

109

HASIL OPTIMASI Proses Optimasi akan menghasilkan beberapa rancangan awal yang akan digunakan sebagai acuan dalam pembuatan rancangan tambang yang lebih rinci. Rancangan kaki tambang (toe pit) akan dibuat pada suatu elevasi dan dioffset sejauh lebar muka kerja tambang minimal. Pada hasil sisi lereng yang berpotongan, maka rancangan akan direkayasa sehingga akan menghasilkan rancangan tambang yang terpadu yang merupakan gabungan antara 2 rancangan tambang yang berbeda.

110

KESIMPULAN Metode block ranking 2 D tidak dapat diterapkan untuk deposit AsamAsam yang memiliki kemiringan lapisan batubara yang terjal dan terdiri dari banyak lapisan Metode block ranking 2 D tidak dapat digunakan untuk mengidentifikasi tambahan material galian yang berada di bawah lapisan batubara Metode optimasi 3-D dengan menggunakan Optimiser dapat mengatasi kondisi kemiringan lapisan yang terjal dan jumlah lapisan yang banyak Metode optimasi 3 dimensi dapat mengidentifikasi jumlah material tambahan yang berada di bawah lapisan batubara (underburden) Mengoptimalkan upaya konservasi Dengan tidak meninggalkan cadangan batubara yang dapat ditambang, secara langsung perusahaan berpartisipasi dalam meningkatkan pendapatan negara Mengoptimalkan cadangan batubara ekonomis Dengan melakukan optimasi, memungkinkan terjadinya nilai cadangan yang optimal, baik secara ekonomis maupun secara teknis Mendapatkan nilai cadangan pada various skenario Bila terjadi perubahan harga yang tidak terduga, maka akan diketahui nilai cadangan ekonomis pada perubahan harga tersebut DAFTAR PUSTAKA 1. Dokumen Kajian Kelayakan Pengembangan Penambangan Batubara di PT Arutmin Indonesia, 2009. 2. 2010, Geological Model ASAM_Dec10, PT. Arutmin Indonesia

111

PROSIDING TPT XX PERHAPI 2011 PENAMBANGAN PASIR BESI DENGAN MENGGUNAKAN ALAT BUCKETWHELL DREDGES DAN PENGOLAHAN HINGGA MENJADI BAHAN BAKU SELANJUTNYA DI WILAYAH PESISIR PANTAI KABUPATEN SELUMA PROVINSI BENGKULU
Ardi Setiawan, ST 1), Achmed Arrofah, ST 2) Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral Kabupaten Seluma Provinsi Bengkulu ABSTRAK Pasir besi merupakan bahan galian strategis yang merupakan bahan baku untuk industri hulu seperti industri baja, industri semen. Permintaan pasir besi terus meningkat seiring meningkatnya pertumbuhan ekonomi dan bertambahnya jumlah penduduk. Di Kabupaten Seluma didapatkan dihampir sepanjang pantai dengan volume cukup besar namun belum banyak diusahakan. Dalam upaya pemanfaatan sumberdaya pasir besi di wilayah Kabupaten Seluma meliputi daratan dan perairan laut. Penggalian material pasir besi direncankan menggunakan teknologi ”Bucketwell Dredges” yang dilengkapi ”Magnetic Iron sand Separator” tujuannya untuk memisahkan pasir besi dari material ikutan lainnya. Alat ini memiliki kapasitas penggalian dan pengolahan pasir besi sebesar 100–200 ton/jam dengan kedalaman penggalian 5-10 m dari permukaan air. 1. LATAR BELAKANG Seiring dengan permintaan pasir besi yang terus meningkat, maka teknologi pengalian dibuat semaksimal mungkin guna efektifitas. Adapun teknologi yang dapat digunakan dalam penambangan pasir besi yang sekaligus mampu memisahkan pasir besi dengan material ikutan lainya yaitu menggunakan ”Bucketwhell Dredges”. Pada alat ini ditempatkan ”Magnetik Separator” dengan tujuan untuk memisahkan material pengotor dengan pasir besi, proses melalui alat ini merupakan proses tahap I. Pasir besi yang merupakan output dari ”Magnetik Separator”memiliki kadar besi 58%, kemudian dilanjutkan pada tahap ke II yaitu dialirkan melalui alat yang dinamakan ”Magnetic Iron Sans Separator” sehingga menghasilkan pasir besi dengan kadar 63% besi. 2. TAHAP OPERASI PENAMBANGAN PASIR BESI 2.1. Pengupasan Tanah Pucuk Tanah pucuk di areal penambangan relatif tipis dengan ketebalan tidak merata berkisar 5 cm – 45 cm dan sebagian besar disusun oleh serasah tanaman hasil pengeringan rawa. Pengupasan tanah pucuk ini dilakukan secara mekanis dengan menggunakan ”Dozer”. Tanah pucuk hasil pengupasan direncanakan ditempatkan di lingkungan sabak hijau pantai yang direncanakan vegetasinya dipertahankan selebar 15 meter di daratan garis pantai. Tumpukan tanah pucuk ini

112

digunakan kembali dalam reklamasi lahan bekas penambangan pasir besi. 2.2. Penggalian Pasir Penggalian pasir besi dapat dilakukan di darat dan di pantai. Penambangan didaratan dapat dilakukan secara konvensional menggunakan shovel dan truk, sedangkan penambangan di pantai dapat dilakukan dengan menggunakan teknologi yang dinamalan ”Bucketwheel Dredges” yang mana alat ini terampung di atas ponton. 2.2.1. Penggalian di Pantai Penggalian pasir besi di pantai dilakukan secara mekanis menggunakan ”BucketWheel Dredges” yag ditempatkan di atas ponton ukuran 22 m x 6 m x 2,5 m. Alat ini memiliki ”Bucketwheel” atau mangkok berputar yang dapat mengeruk pasir sampai kedalaman air 10 meter. Untuk menjaga posisi ponton tetap aman saat penggalian pasir, ponton dilengkapi jangkar. ”Bucketwheel Dredges” memiliki kapasitas penggalian pasir 100 ton – 200 ton/jam. Pasir hasil penggalian dengan kadar 25% besi, langsung di proses dengan mengalirkan pada alat yang dinamakan Magnetic Iron Sand Separator di atas ponton dengan produk pasir besi setengah jadi dengan kadar 58 % besi (semi-finished). Tingkat efisiensi Magnetic Iron Sand Separator diperkirakan 80 % atau dengan kata lain 20% pasir besi yang terkandung dalam bahan baku tidak dapat diekstraksi dan ikut bersama Tailing. Jika kadar pasir besi bahan baku (Raw of Material) 25 % maka produk pasir besi yang dapat diekstraksi sebanyak 20 ton – 40 ton/jam atau 20% x 100 ton – 200 ton/jam (kapasitas Bucketwheel Dredges). Produk pasir besi setengah jadi ini ditampung kapal ponton yang terpisah dari ponton Magnetic Iron Sand Separator untuk mengangkut pasir besi ke darat. Kapal ponton tersebut dilengkapi Kontainer/wadah kotak sebanyak 10 unit – 15 unit /kapal ponton. Kontainer ini memiliki kapasitas muat 2,5 ton. Jumlah kapal ponton yang disiapkan perusahaan sebanyak dua unit berukaran panjang 20 meter, lebar 3,5 meter, tinggi draft 1,5 meter. Jika kontainer dalam kapal ponton sudah terisi penuh kapal ponton segera membawa muatan ke tempat Magnetic Iron Sand Separator Static untuk di proses lebih lanjut menjadi produk pasir besi jadi dengan kadar besi 63% - 65%. Pemindahan kontainer dari kapal ponton ke darat menggunakan ”Mobil Crene”. Magnetic Iron Sand Separator Static memiliki kapasitas olah pasir 100 ton – 200 ton / jam.

Gambar 1. Skema Operasi Penggalian Pasir Besi

113

Tabel.I. Prakiraan Produksi Bahan Baku Pasir Besi Setengah Jadi (semi finished) dan Tailing

Tabel.II Prakiraan Produksi Bahan Baku Pasir Besi Setengah Jadi (semi finished) dan Pasir Besi Jadi (Finished)

Kedalaman penggalian pasir besi baik dilakukan di darat maupun di pantai menggunakan ”Bucketwheel Dredges” bervariasi 2,0 m – 8.0 m dari muka air atau disesuaikan kondisi areal penambangan. Tailing dari proses pengolahan pasir besi disalurkan melalui pipa lentur (Flexible Pipe) ukuran 6 inchi sepanjang 15 meter yang ditempatkan di buritan ponton. Tailing ini mengandung sedimen pasir dan kotoran. Diharapkan tailing ini tersedimentasi kembali ke pantai untuk mengisi lubang bekas tambang.

114

2.2.1. Penggalian Darat Penggalian di darat dilakukan dengan cara terlebih dahulu membangun kolam sepanjang 30 meter, lebar 10 meter dan dalam 2 meter menggunakan excavator. Ponton yang dilengkapi ”Bucketwheel Dredges” dan ”Magnetic Iron Sand Separator” dirakit di dalam kolam bauatan tersebut. Bucketwheel atau mangkok berputar digunakan untuk menggali pasir sampai kedalaman air 2 meter – 8 meter. Untuk menjaga posisi ponton tetap aman saat penggalian pasir, ponton dilengkapi jangkar. ”Bucketwheel Dredges” memiliki kapasitas penggalian 100 ton – 200 ton / jam. Pasir hasil penggalian langsung diproses Magnetic Iron Sand Separator di atas ponton dengan produk berupa pasir besi setengah jadi (kadar 58 %). Produk pasir setengah jadi ditampung di ponton yang disiapkan terpisah oleh ponton Magnetic iron Sand Separator. Ponton tersebut dilengkapi dengan kontainer/wadah kotak sebanyak 10 unit – 15 unit. Kontainer ini dapat memuat 2,5 ton produk pasir besi setengah jadi. Jumlah kapal ponton yang dibangun direncanakan sebanyak 2 (dua) unit untuk transportasi pasir besi setengah jadi. Ponton memiliki panjang 20 meter, lebar 3,5 meter, tinggi draft 1,5 meter. Produk pasir besi setengah jadi diangkat dari ponton ke atas truck menggunakan alat angkat (Crane) dan selanjutnya diangkut ke stock pile semi-finished untuk diproses lebih lanjut Magnetic Iron Sand Separator Static menjadi produk pasir besi jadi (finished) dengan kadar besi 63%. Sumber air untuk proses pasir besi diambil dari air sungai. Tailing hasil pengolahan pasir besi ditampung pada 3 (tiga) buah kolam pengolahan limbah dengan ukuran 30 m (P) x 20 m (L) x 5 m (d). 2.3. Pengoperasian Instalasi Pengolahan Instalasi pengolahan pasir besi Magnetic Iron Sand Separator yang dibangun memiliki dua tipe yaitu Magnetic Iron Sand Separator Mobile dan Magnetic Iron Sand Separator Static. 2.3.1. Magnetic Iron Sand Separator Mobile Magnetic Iron Sand Separator Mobile adalah instalasi Pengolahan pasir besi yang dapat dipindah-tempatkan karena dibangun di atas ponton berukuran 22 m x 6 m x 1,5 m.Alat ini dapat dioperasikan di pantai atau di darat yang berair. Bahan baku pasir yang mengandung besi dipasok Bucketwheel Dredges sebanyak 100 ton – 200 ton / jam. Pasir ini kemudian di aduk dengan air dengan perbandingan 40% bahan baku dan air 60% kemudian dilewatkan screen untuk memisahakan batuan dan benda-benda lain ukuran besar. Larutan pasir dan air tersebut kemudian dilewatkan ke medan magnet untuk memisahkan pasir besi dengan kotoran pengikut. Kototran pengikut yang bercampur air (Tailing) dikembalikan ke lubang bekas tambang melalui pipa flexible berukuran 6 inchi. Panjang pipa tailing ini direncanakan 15 meter dan dipasang di buritan ponton dengan arah lubang pipa pembuangan disesuaikan dengan rencana reklamasi lahan. Lubang yang tidak dapat tertimbun sedimen tailing di daratan dijadikan saluran air menuju sungai. Sumber air yang digunakan untuk pengolahan pasir besi diambil dari muara air sungai pada saat penggalian pasir besi di darat. Penggalian pasir besi di pantai, sumber air untuk pengolahan pasir besi di ambil dari air laut. Perkiraan kebutuhan air untuk pengolahan pasir besi 37,5 m3 – 75 m3 / jam dengan volume tailing dihasilkan 57,5 m3 – 115 m3 / jam.

115

Gambar 2. Ponton yang dilengkapi ”Bucketwheel Dredges” dan ”Magnetic Iron Sand Separator Mobile” (semifinished).

2.3.2. Magnetic Iron Sand Separator Static Magnetic Iron Sand Separator Static dibangun secara permanen di muara sungai sehingga tidak dapat dipindah-tempatkan. Kapasitas alat dan kebutuhan air Magnetic Iron Sand Separator Static sama dengan Magnetic Iron Sand Separator Mobile. Perbedaan kedua alat ini didapatkan pada jumlah unit magnet yang lebih banyak terdapat di Magnetic Iron Sand Static. Sumber air untuk proses pasir besi di ambil dari air sungai. Tailing hasil pengolahan pasir besi ditampung pada 3 (tiga) buah kolam pengolahan limbah dengan ukuran 30 m (P) x 20 m (L) x 5 m (d).

Gambar. 3 Alat Magnetic Iron Sand Separator Static (Finished) 3. KESIMPULAN · Teknologi penambangan pasir besi dipantai dengan menggunakan Bucketwheel Dredges. · Magnetic Iron Sand Separator Mobile dapat dipasang di atas ponton sehingga material penggalian dengan Bucketwheel Dredges dengan kadar 25% besi dapat ditingkatkan

116

·

menjadi 58%. Material hasil pengolahan di atas pontoon ini dapat ditingkatkan kembali kadar nya menjadi 63% besi dengan menggunakan Magnetik Iron Sand Separator Statis.

DAFTAR PUSTAKA El Ashry Muhamad, 1989. Impact of Coal Mining on Water Resources in The US. In Jurnal Hydrology and Geochemistry. Vol 2. Hartman, Howard, L., 1987, “Introductury Mining Enginerring”, A Willey interscience Publication, John Willey & Sons, New York. Laporan - Laporan dan Dokumentasi Mining Department, PT. Faminglevto Baktiabadi, Kabupaten Seluma, Bengkulu. Peurifoy, R.I, (1956), “Contruction Planning Equipment and Methods”, Third Edition, International Student Rostiyanti, S.F. 2002.Alat Berat Untuk Proyek Konstruksi, PT. Rinika Cipta Jakarta. Triatmojo, B. 1999. Teknik Pantai. Beta Offset Perum FT. Universitas Gajah Mada, Yogyakarta

117

PROSIDING TPT XX PERHAPI 2011 KNOWLEDGE MANAGEMENT BAGI SISTEM INFORMASI PROCESS PLANT PLANT DAN MINING di Wilayah Operasi Tambang PT. INCO, Tbk Sorowako
Radios Hendrartijanto , Ricky Nelson , Syamsi Buang
Radios.Hendrartijanto@valeinco.com
1) 2) 3)

PT. International Nickel Indonesia, Tbk (INCO), Sorowako, South Sulawesi.
ABSTRAK
RADIOS HENDRARTIJANTO dan rekan-rekan, 2011. Knowledge management bagi system informasi proses plant dan mining di wilayah operasi tambang PT. INCO Tbk-Sorowako. Penulisan ini bertujuan untuk menganalisis knowledge management dalam tata kelola Process Plant

plant and mining dan Mengkaji teknologi yang diterapkan dalam sistem informasi Departemen Process Plant dan Mining. Mengkaji hubungan knowledge management dalam pengembangan sistem informasi Process Plant plant and mining yang berkelanjutan. Penulisan ini menggunakan beberapa referensi sumber yang diperoleh dari flowchart system yg interconnected pd PT INCO, internet, buku, maupun jurnal untuk memperoleh data yang akurat dan informasi yang memadai dalam kajian penulisan jurnal ini.
Hasil kajian menunjukkan dapat ditarik kesimpulan pada penerapan sistem informasi Process Plant

plant and mining : 1. Knowledge management tidak dapat diterapkan secara terpisah dengan aktivitas operasional dan teknologi informasi, karena ketiganya saling berkaitan dan mendukung dalam upaya penciptaan institusi yang berwawasan pengetahuan. 2. Knowledge management yang terintegrasi dengan sistem informasi pendidikan akan meningkatkan PT INCO Tbk mengembangkan karyawan untuk mengelola berbagai pengetahuan yang diperoleh dan selanjutnya dapat digunakan dalam lingkungan pendidikan secara keseluruhan. 3. Penerapan teknologi berbasis web menjadi faktor penting dalam penerapan knowledge management dan sistem informasi Departemen Process Plant dan Mining yang menghasilkan jaringan Departemen Process Plant dan Mining.
Kata Kunci : Knowledge Management bagi sistem informasi Operasi Tambang, Mining, Proses Plant.

1). Sr. Human Business Partner of HR Department 3) General Manager of Process Plant Department

2).General Manager of Mine Operation Department

118

ABSTRACT Radios HENDRARTIJANTO and colleagues, 2011. Knowledge management for process plant and mining with information system in the area mining operations of PT. INCO Tbk -Sorowako. This paper aims to determine knowledge management in governance Plant Process Plant and Mining and Assessing technology applied in information systems Department of Process Plant and Mining. Assessing the relationship knowledge management in information system development Process Plant and sustainable mining. This paper using several reference sources from which the system interconnected flowchart PT INCO Tbk, Internet, books, and journals to obtain accurate data and adequate information in the assessment of writing this journal. The study shows it can be deduced on the application of information systems Plant Process Plant and mining: 1. Knowledge management can not be applied separately with the operational activity and information technology, because all three inter-related and supportive in efforts to create institutions that are insightful knowledge. 2. Knowledge management is integrated with information systems of education will increase PT INCO Tbk develop employees to manage a variety of knowledge acquired and subsequently can be used in the overall educational environment. 3. Implementation of Web-based technology is an important factor in the application of knowledge management and information systems Process Plant and Mining Department who produce tissue Process Plant and Mining Department.

Keywords: Knowledge Management for Mining Operations information systems, Mining, Process Plant.

119

A. LATAR BELAKANG Department Process Plant dan Mining adalah tempat paling penting dalam sebuah Industri Tambang, bisa dikatakan bahwa Departemen Process Plant dan Mining adalah Core bisnis dalam industri tambang dari keseluruhan produk akhir dari industri nickel. Hampir semua aktivitas kegiatan Industri Tambang sangat bergantung pada Departemen Process Plant dan Mining. Fungsi Departemen Process Plant dan Mining terus berkembang tidak hanya sebagai tempat penambangan dan pemproses hasil tambang, namun juga sebagai tempat yang dapat digali mengenai teknologi apa saja yang dapat diaplikasikan untuk kepentingan proses penelitian. Kebutuhan terhadap informasi tersebut membutuhkan suatu dukungan teknologi informasi yang dapat membantu PT. INCO Tbk menempatkan berbagai referensi pengetahuan bagi stake holder dan karyawan untuk mendapatkan tambahan pengetahuan yang berkualitas. Di era globalisasi ini, pemanfaatan teknologi informasi dalam bidang industri tambang sangat penting, terutama untuk mengembangkan suatu sistem tambang yang terintegrasi yang bermutu, salah satunya dengan model Knowledge management yang memungkinkan pengolahan tambang lebih bermutu dan terjamin serta mampu mendukung sistem atau proses penambangan secara keseluruhan. Dengan knowledge management dalam Departemen Process Plant dan Mining tentunya dapat membantu dalam mengumpulkan, mengidentifikasi pengetahuan yang potensial, dan mengelola keseluruhan pengetahuan yang berpotensi bagi kemajuan kualitas sumber daya manusia dalam PT INCO Tbk. Pemanfaatan knowledge management dalam sistem informasi Departemen Process Plant dan Mining akan menguntungkan bagi PT. INCO Tbk untuk mengembangkan suatu jaringan Departemen Process Plant dan Mining yang dapat menyediakan akses informasi dan pengetahuan 24 jam/7 hari seminggu, dapat diakses kapan saja, dan di mana saja, atau dengan kata lain sistem informasi Departemen Process Plant dan Mining dapat menawarkan layanan Departemen Process Plant dan Mining yang menembus ruang dan waktu. Knowledge management pada mulanya diterapkan dalam dunia bisnis yang dapat membantu komunikasi dari top manajemen hingga ke bagian operasional untuk memperbaiki kinerja Process Plant, dan seiring dengan kecepatan perolehan informasi, knowledge management diterapkan pula pada bidang pendidikan (dalam cakupan Departemen Process Plant dan Mining) sebagai media penyebaran informasi secara tidak terbatas. Kebutuhan informasi dan pengetahuan yang terkait dengan kebutuhan masing-masing mahasiswa sesuai dengan bidang ilmu yang ditekuni berkembang sebagai akibat dari globalisasi yang mendorong munculnya internet sebagai jendela informasi dan pengetahuan yang menembus ruang dan waktu. Teknologi informasi memainkan peranan penting dalam manajemen pengetahuan sebagai pemungkin Process Plant bisnis yang bertujuan yang bertujuan untuk menciptakan, menyimpan, memelihara dan mendiseminasikan pengetahuan. B. RUANG LINGKUP Adapun batasan masalah dalam penulisan secara umum ini meliputi beberapa hal di bawah ini : 1. Masalah difokuskan pada fungsi Departemen Process Plant dan Mining yang

120

2.

3. 4. 5.

berkembang dalam perspektif development sejalan dengan perkembangan teknologi informasi. Pemanfaatan knowledge management dalam sistem informasi Departemen Process Plant dan Mining dapat menunjang jaringan Departemen Process Plant dan Mining dalamPT INCO Tbk. Masalah dalam penulisan ditekankan pada knowledge management dalam lingkup perspektif, tidak meliputi sistem keamanan jaringan. Penulisan ini tidak mencakup dalam perancangan sistem informasi Process Plant plant and mining. Penulisan ini berfokus pada analisa model knowledge management pada Process Plant plant and mining, tidak pada desain sistem.

C. TUJUAN DAN MANFAAT Tujuan dari penulisan jurnal ini adalah: 1. Menganalisis knowledge management dalam tata kelola Process Plant plant and mining. 2. Mengkaji teknologi yang diterapkan dalam sistem informasi Departemen Process Plant dan Mining. 3. Mengkaji hubungan knowledge management dalam pengembangan sistem informasi Process Plant plant and mining yang berkelanjutan. Manfaat dari penulisan ini adalah: 1. Memahami pentingnya knowledge management dalam tata kelola pengetahuan yang berpotensi dalam institusi perusahaan. 2. Mendapatkan suatu informasi peran teknologi dalam sinkronisasi knowledge management dengan sistem informasi Departemen Process Plant dan Mining sehingga mampu menunjang jaringan Process Plant Plant and Mining. D. METODOLOGI PENULISAN Penulisan ini menggunakan beberapa referensi sumber yang diperoleh dari flowchart system yg interconnected pd PT INCO, internet, buku, maupun jurnal untuk memperoleh data yang akurat dan informasi yang memadai dalam kajian penulisan jurnal ini. F. TEORI KNOWLEDGE MANAGEMENT Menurut Gilbert Probst (2001, pp.24) dalam bukunya Managing Knowledge Building Block for Success mengemukakan bahwa knowledge adalah keseluruhan bagian dari pengetahuan yang ada dan keterampilan individu yang digunakan untuk memecahkan masalah. Knowledge tersebut terbagi dalam teori dan praktek yang pada umumnya berupa aturan dan petunjuk untuk mengambil keputusan. Knowledge bergantung pada data dan informasi yang dimiliki oleh suatu personal yang merefleksikan tentang suatu pendapat. Menurut Garner Group (Koina, 2004), manajemen pengetahuan adalah suatu disiplin yang mempromosikan suatu pendekatan terintegrasi terhadap pengidentifikasian, pengelolaan dan pendistribusian semua asset informasi suatu organisasi. Selanjutnya disebutkan bahwa

121

informasi yang dimaksud meliputi database, dokumen, kebijakan, dan prosedur dan juga keahlian dan pengalaman yang sebelumnya tidak terartikulasi yang terdapat pada pekerja perorangan. Menurut Laudon (2002:372-3) manajemen pengetahuan berfungsi meningkatkan kemampuan organisasi untuk belajar dari lingkungannya dan menggabungkan pengetahuan ke dalam Process Plant bisnis. Manajemen pengetahuan adalah serangkaian Process Plant yang dikembangkan dalam suatu organisasi untuk menciptakan, mengumpulkan, memelihara dan mendiseminasikan pengetahuan organisasi tersebut. Amrit Tiwana (1999) mendefinisikan knowledge management secara luas dalam arti memanajemeni pengetahuan sebagai “ ...management of organizational knowledge for creating business value and generating a competitive advantage.” KM memberikan kemampuan untuk mencipta, mengkomunikasikan dan menerapkan pengetahuan yang diperlukan dan berguna bagi pencapaian semua jenis tujuan bisnis. Menurut Amrit Tiwana “Knowledge management is the ability to create and retain greater value from core business competencies." KM menyelesaikan masalah bisnis partikular mencakup penciptaan dan penyebaran barang atau jasa inovatif, mengelola dan memperbaiki hubungan dengan para pelanggan, mitra dan pemasok; juga mengadministrasi serta meningkatkan praktek dan Process Plant kerja. Dalam buku yang ditulis oleh Von Krough, Ichiyo, serta Nonaka (2000), dan Chun Wei Choo, (1998), disampaikan ringkasan gagasan yang mendasari pengertian knowledge adalah sebagai berikut: Knowledge merupakan kepercayaan yang dapat dipertanggungjawabkan (justified true (1) believe); (2) Pengetahuan merupakan sesuatu yang eksplisit sekaligus terpikirkan (tacit); (3) Penciptaan inovasi secara efektif bergantung pada konteks yang memungkinkan terjadinya penciptaan tersebut; (4) Penciptaan inovasi . Menurut Malhotra (1997), knowledge management merupakan isu penting mengenai adopsi organisasi, kelangsungan hidup, dan kompetensi organisasi untuk menghadapi peningkatan perubahan lingkungan yang terputus. Intinya, knowledge management merupakan Process Plant organisasi dalam mencari kombinasi sinergi data dan informasi dari kapasitas produksi informasi teknologi, kapasitas kreativitas serta inovasi manusia. Davenport dan Prusak (1998) memberikan metode mengubah informasi menjadi pengetahuan melalui kegiatan yang dimulai dengan huruf C : Comparation, Consequences, Connections dan Conversation.(Definisi/Pengertian Pengetahuan menurut Davenport dan Prusak adalah knowledge is a fluid mix of framed experience, values, contextual information, and expert insight that provides a framework for evaluating and incorporating new experiences and information. It originates and is applied in the minds of knowers. In organizations, it often becomes embedded not only in documents or repositories but also in organizational routines, Process Plant Plantes, practices and norms).

122

Gambar 1.1. Komponen Knowledge Menurut Dilip Bhatt (2000) bahwa knowledge management memiliki komponen yang saling terkait satu sama lain, adapun komponennya : 1. People 2. Technology 3. Process Yang mana ketiganya dapat menghasilkan suatu pembelajaran bagi organisasi. Dari gambar dapat diketahui bahwa komponen sumber daya manusia menjadi factor penting penerapan knowledge management untuk menghasilkan budaya belajar dalam suatu organisasi. Mengapa demikian? Karena hampir sebagian besar pengetahuan yang dimiliki seseorang jauh lebih berpotensi daripada teknologi yang disediakan oleh organisasi. G. KNOWLEGDE MANAGEMENT DALAM PERSPEKTIF DEPARTEMEN PROCESS PLANT DAN MINING

Budaya pengetahuan dalam industri tambang sekarang ini tidak hanya mencakup pada pengetahuan buku secara fisik, banyak jendela informasi yang dapat digali secara elektronik. Hal tersebut tidak lepas dari peranan perusahaan sebagai institusi mengembangkan sumber daya manusia berkualitas dan sebagai tempat yang mudah dimasuki teknologi terkini. Hal terpenting saat ini adalah kemudahan memperoleh dan akses. Dalam suatu institusi, penyediaan akses informasi 24 jam memang pantas untuk diterapkan. Teknologi komunikasi dan informasi yang ada sekarang akan terus berkembang dan semakin memungkinkan karyawan

123

untuk mengakses berbagai bahan pengetahuan dari sumber lain yang dapat menguatkan suatu bahan pengetahuan. Untuk itu user dalam hal ini adalah karyawan harus mampu mencari informasi dari sumber yang dapat dipercaya kemudian menyaring, mengolah, dan menggunakan informasi tesebut untuk memunculkan suatu ide pemikiran yang baru. Sejalan dengan hal itu fasilitas Departemen Process Plant dan Mining harus dimaksimalkan sebagai pintu pengaksesan pengetahuan baik yang tercetak maupun non cetak. Tugas PT INCO Tbk beserta dengan Human Resources Department harus mendorong minat karyawan untuk menggali informasi yang tersedia secara maksimal tanpa terhambat waktu dan ruang. Knowledge management yang dimulai dari dunia bisnis dan akhirnya berkembang fungsinya di organisasi, dijadikan alasan bagi sebagian besar perusahaan, khususnya dalam penulisan ini PT INCO Tbk untuk menyediakan selengkap mungkin referensi buku pengetahuan untuk menciptakan suatu standar Departemen Process Plant dan Mining yang bertaraf internasional. Mengingat bahwa PT INCO Tbk memiliki banyak bidang disiplin ilmu, tentunya pengelolaan informasi sangatlah penting demi kemajuan dan mutu karyawan di dalam PT INCO Tbk. PT INCO Tbk saat ini telah mengembangkan Departemen Process Plant dan Mining secara elektronik, yang diperlukan untuk tindak lanjut adalah mengintegrasikan konsep knowledge management dalam hal pemerolehan, pengorganisasian, pemeliharaan,dan pendistribusian pengetahuan meliputi pengetahuan informal, tidak terstruktur, dan eksternal yang menyangkut lembaga induknya. Konsep knowledge management itu sendiri adalah mendorong bagi tiap individu dapat mengelola pengetahuan yang dimiliki maupun yang digali dari sumber lain yang terkait dengan kebutuhan individu terhadap pengetahuan. Beberapa konsep knowledge management dapat mendasari suatu institusi menerapkan suatu Departemen Process Plant dan Mining berbasis knowledge management, antara lain: 1. Knowledge management merupakan proses yang terus-menerus harus dilakukan sehingga proses tersebut akan menjadi satu budaya dari perusahaan tersebut, dan akhirnya perusahaan akan membentuk perusahaan yang berbasis kepada pengetahuan. 2. Knowledge management membantu organisasi untuk mengelola kemampuan tiap individu untuk sharing knowledge. 3. Organisasi harus mampu mengintegrasi, me-manage knowledge dan informasi terhadap lingkungan secara efektif. Hal-hal di atas harus dapat disinkronisasikan tanpa mengalami hambatan jika masingmasing user menyadari betapa pentingnya pengorganisasian pengetahuan. Pengetahuan tidak akan pernah mati maupun hilang begitu saja, apalagi dalam PT INCO Tbk yang mengutamakan kualitas pendidikan bertaraf internasional. Pengetahuan yang umum tersedia dalam institusi berupa : 1. Tacit knowledge pengetahuan yang berbentuk know-how, pengalaman, skill,

124

2.

pemahaman, maupun rules of thumb. Explicit knowledge pengetahuan yang tertulis, terarsip, tersebar (cetak maupun elektronik) dan bisa sebagai bahan pembelajaran (reference) untuk orang lain.

Tentunya kedua pengetahuan tersebut sama-sama bermanfaat bagi kebutuhan karyawan. Pengelolaan knowledge explicit lebih mudah dikarenakan sudah tercetak, dalam bentuk buku, jurnal,makalah, skripsi, maupun bentuk karya ilmiah tertulis, yang memudahkan bagi pihak pengguna (karyawan) untuk mendapatkan referensi informasi yang dibutuhkan. Sedangkan untuk pengelolaan tacit knowledge sangat sulit, karena beberapa hal seperti beberapa orang enggan untuk melakukan sharing knowledge kepada orang lain, alasannya cukup mudah bahwa pengetahuan yang dimiliki oleh seseorang adalah kekuatan bagi orang tersebut, bila harus dilakukan sharing, hal tersebut sangat sulit, kecuali fenomena sekarang ini yang dapat tertuang dalam blog-blog yang dimiliki oleh orang yang ahli dalam bidang-bidang tertentu. Penggabungan kedua jenis knowledge di atas akan sangat membantu bagi pihak pengguna untuk melakukan studi banding atas berbagai pengetahuan dan menjadi acuan bagi perusahaan untuk selalu menggali pengetahuan yang potensial dari beberapa karyawan. Teknologi sistem informasi yang dikembangkan di Departemen Mining dan Process Plant adalah: · Mine Modular (dispatch system) di mining yang digunakan untuk merekam proses produksi secara real time dan dapat di akses secara langsung baik data produksi yang sedang berjalan maupun data dari tahun-tahun sebelumnya.

Gambar 1.2 . Jaringan Sistem Informasi pada Departemen Mining

125

·

PIMS (Process Information Management System) yang digunakan di Process Plant untuk mengumpulkan seluruh data operasional baik data kritikal maupun data penunjang ke dalam suatu sistem terpadu yang dapat diakses mulai dari level operator hingga ke level executive. Sistem ini menampilkan data on line, real-time dari berbagai macam sumber operasi diseluruh process plant. Juga pada sistem ini dimungkinkan untuk melakukan analisis kalkulasi dari historical data sebagai informasi untuk pengambilan keputusan di bidang operasi oleh manajemen Process Plant. Ilustrasi dibawah menggambarkan jaringan sistem informasi sebagai bagian dari Knowledge Management pada Departement Proses Plant.

126

Gambar 1.3 . Jaringan Sistem Informasi pada Departemen Proses Plant · Daily, weekly dan monthly report yang dibuat secara konstan dengan format-format standar yang disajikan dalam bentuk angka-angka dan narative sekaitan dengan catatan-catatan penting dalam proses produksi di tambang dan process plant. Report ini disimpan dalam server dalam folder-folder yang memiliki struktur yang unik sehingga dapat dengan mudah di akses oleh setiap user. Portal dan intranet yang dibangun untuk memasukkan informasi dan data-data target dan pencapaian produksi, jadwal perbaikan, pengalihan jalan, buletin dari masing-masing departemen yang dapat menjadi acuan atau best practice yang berpotensi untuk diterapkan di departemen lainnya. Dengan menggunakan program teknolgi informasi penampilan informasi dalam web base memudahkan untuk user mengaksesnya dan me-link data-data real time dari berbagai sumber di server. Service Management dan applications (organization change, management message, safety, enviromental and health, prosedur, acuan dan standar operasi, dll) dikelola secara baik dan di update secara terus menerus sehingga dapat di akses dan digunakan menjadi sarana komunikasi atau sharing information secara online yang secara effektif menghilangkan keterbatasan karena jarak dan waktu

·

·

H. KESIMPULAN Berdasarkan kajian di atas, dapat ditarik kesimpulan pada penerapan sistem informasi Process Plant plant and mining : 1. Knowledge management tidak dapat diterapkan secara terpisah dengan aktivitas operasional dan teknologi informasi, karena ketiganya saling berkaitan dan mendukung

127

dalam upaya penciptaan institusi yang berwawasan pengetahuan. 2. Knowledge management yang terintegrasi dengan sistem informasi pendidikan akan meningkatkan PT INCO Tbk mengembangkan karyawan untuk mengelola berbagai pengetahuan yang diperoleh dan selanjutnya dapat digunakan dalam lingkungan pendidikan secara keseluruhan. 3. Penerapan teknologi berbasis web menjadi faktor penting dalam penerapan knowledge management dan sistem informasi Departemen Process Plant dan Mining yang menghasilkan jaringan Departemen Process Plant dan Mining. DAFTAR PUSTAKA Choo, Chun Wei, (1988). “ the Knowing Organization. How Organizations Use Information to Constract Meaning, Create Knowledge, and Make Decisions”. Oxford Univeristy Press, New York. pp.14. Davenport, Thomas H & Prusak, L (1998) .Working Knowledge : How Organizations Manage What They Know. Boston: Harvard Business School Press. Laudon, Kenneth C. and Jane P. Laudon (2002). Management Information System: Managing the Digital Firm, 7th. New Jersey : Prentice-Hall. Malhotra, Yogesh (1998) . Knowledge Management , Knowledge Organizations & Knowledge Workers : A View from the Front Lines. Probst, Gilbert., Raub, Steffen, & Romhardt, Kai (2001) . Managing Knowledge Building Blocks for Success. New York : John Wiley & Sons. Tiwana,Amrit (1999) . The Knowledge Management Toolkit. New Jersey: Prentice Hall PTR.

128

PROSIDING TPT XX PERHAPI 2011 PENERAPAN RCM (Reliability Centered Maintenance) ANALYSIS SEBAGAI SARANA PEMETAAN KARAKTERISTIK KEGAGALAN UNIT PADA HITACHI EUCLID EH4500 DI KPC SITE
Adhen Bagussa Utomo (Mechanical Engineer & RCM Analysis Facilitator Mining Support Division) PT. KALTIM PRIMA COAL Dalam dunia tambang dewasa ini, mobile equipment maintenance merupakan salah satu critical area yang harus diperhatikan dengan baik. Karena seiring bertambahnya jumlah mobile equipment oleh ekspansi produksi, hal tersebut juga menyebabkan utilisasi unit menjadi lebih besar. Dimana salah satu faktor penting dan juga salah satu kunci kesuksesan di dalamnya adalah maintenance, yang diharapkan tidak menimbulkan unscheduled maintenance yang dapat menyebabkan kerugian lebih besar baik dari segi maintenance cost maupun operation loss. Kunci penting dari maintenance equipment yang baik adalah mengetahui apa sebenarnya permasalahan yang sedang dihadapi dan apa yang harus dilakukan setelah diketahui permasalahannya. Seiring berjalannya waktu, konsep maintenance lama yang berawal dari reactive maintenance lambat laun berevolusi menuju modern maintenance system. RCM adalah salah satu proses pelaksanaan modern maintenance system yang bertujuan untuk menjaga physical assets agar beroperasi sesuai target yang telah ditentukan berdasarkan kondisi operasi saat ini. Pada perusahaan tambang KPC, telah dilakukan penerapan RCM pada beberapa type equipment dan salah satu diantaranya adalah EH4500 Hitachi Euclid. Untuk mencapai modern maintenance system tersebut, dipergunakanlah salah satu metode dalam RCM yang dinamakan RCM Analysis. Metode tersebut dilakukan untuk menganalisa dan mempetakan setiap history kegagalan pada unit sehingga didapatkan data karakteristik kegagalan unit sebagai acuan maintenance ke depan untuk menjaga performance equipment tersebut sesuai target yang telah ditentukan. Kata Kunci:Modern Maintenance System, Target Performance Equipment, Karakteristik Kegagalan Unit. 1. Latar Belakang Lebih dari 20 tahun terakhir bidang manajemen maintenance telah banyak berubah, bahkan mungkin merupakan perubahan yang paling signifikan dibandingkan dengan bidang manajemen yang lain. Perubahan maintenance dipengaruhi oleh · peningkatan jumlah dan jenis aset fisik (pabrik, peralatan, dan bangunan) yang harus dipelihara, · desain aset yang lebih kompleks, · munculnya teknik maintenance baru, · dan perubahan cara pandang terhadap maintenance. Pada akhirnya hal tersebut mempengaruhi ekspetasi dari kebutuhan maintenance yaitu Availability dan Reliability lebih tinggi, keselamatan lebih baik, kualitas produk lebih baik, tidak

129

merusak lingkungan, usia peralatan lebih tinggi, dan efektifitas biaya lebih tinggi. Dan selaras dengan perkembangan dunia maintenance, KPC melihat sisi penting implementasi RCM pada maintenance equipment-nya. Dan diharapkan dapat dengan signifikan dapat mensupport peningkatan produksi KPC. Dan Euclid EH4500 merupakan salah satu armada terbaru KPC dengan jumlah 79 unit, menambah jumlah unit Caterpillar, Liebherr dan Komatsu yang sudah lebih dulu ada. 2.Analisa Permasalahan Hadirnya unit baru selain memperkuat kebutuhan supporting produksi, juga menghadirkan permasalahan – permasalahan tersendiri, diantaranya adalah: a) Penanganan masalah maintenance hanya ada pada manual handbook manufacture, dimana manual tersebut bersifat general bukan based on operating condition (site by site). b) Pengetahuan maintenance yang masih terbatas dan hanya pada beberapa ahli berpengalaman saja. c) Belum ada record history yang menjadi acuan maintenance. 3. Pemecahan Permasalahan Berdasarkan permasalahan diatas maka salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk mempetakan kharakteristik dari unit tersebut adalah dengan cara melakukan RCMAnalysis.

130

131

Picture 3.3 Decision Worksheet (Maintenance Strategy Mapping)

Output dari RCMAnalysis diantaranya adalah: o Develop & update service sheet Service sheet harus selalu dilakukan update, mengikuti kebutuhan maintenance saat itu. o Redesign (modifikasi) Design manufacture terkadang sesekali membutuhkan sedikit modifikasi, sesuai dengan operational parameter unit itu bekerja. o Develop predictive or preventive maintenance Untuk mencegah catastrophic down, maka diperlukan metode preventive & predictive yang selalu disesuaikan dengan keadaan saat ini. o Develop SOP Setiap pekerjaan terutama pekerjaan krutial penting untuk di standard kan, agar kualitas dari pekerjaan dapat terjaga. o Run to failure Beberapa case lebih baik melakukan ”run to failure” daripada dilakukan tapi high cost. Dan setelah implementasi pertama dilaksanakan, maka langkah selanjutnya adalah monitor dan control kondisi dari equipment tersebut. Serta melakukan update database sesuai perubahan yang terjadi agar terjadi perubahan dalam maintenance strategy yang diterapkan.

132

4. Kesimpulan Dengan penerapan RCMAnalysis, maka beberapa hal yang menjadi keuntungan diantaranya : a. Performance equipment meningkat dan stabil, dengan monitor yang ketat terhadap maintenance policy yang dilakukan. b. Mempermudah didalam analisa lebih lanjut, dengan adanya metode ini diharapkan semakin mempermudah melakukan analisa terhadap problem yang sering muncul. c. Merecord setiap characteristics problem, sehingga membentuk system maintenance yang berkesinambungan. d. Reduce potential production loss, dengan metode ini maka maintenance sudah menangkap kegagalan pada tahap sympthom (gejala) bukan pada catastrophic down. Daftar Pustaka 1 MSD reliability weekly report, 2010. 2 MSD reliability weekly report, 2011. 3 Dispatch data system. 4 Ivara EXP Pro. 2.0 5 Presentasi ”Introduction to RCM (Reliability Centered Maintenance) Analysis”

Attachment

133

Presentasi hasil analysa

134

Coding grouping and control sheet (excel spread sheet)

135

136

PROSIDING TPT XX PERHAPI 2011 ANALISA FAKTOR-FAKTOR PRODUKTIVITAS ALAT MUAT DALAM UPAYA PENENTUAN STRATEGI PENINGKATANPRODUKTIVITAS LIEBHER R996B PT KPC SANGATTA,KALIMANTAN TIMUR
Oleh: AGUS SOLEH RENGGANA MINING OPERATION DIVISIONPT KALTIM PRIMA COAL SANGATA SITE KALIMANTAN TIMUR 2011 1. ABSRAKSI

Dalam melakukan aktivitas penggalian material overburden, salah satu alat muat yang digunakan di PT KPC adalah Liebher R996B dengan dikombinasikan dengan EH4500. Dalam beberapa kondisi, produktivitas alat muat tersebut tidak bisa mencapai produktivitas yang ditetapkan. Dengan menggunakan why-why anaylsis dan fishbone diagram ada banyak faktor yang mempengaruhi produktivitas sebuah alat muat. Mulai dari fragmentasi, spotting truck, loading time, match factor, metode penggalian, metode pemuatan, jenis alat angkut, keberadaan alat support, peran supervisi, skill operator, kondisi loading point, dll. Sudah banyak upaya perusahaan yang dilakukan untuk meningkatkan produktifitas alat muat baik dalam operasional keseharian maupun secara specifik dibentuk tim khusus yang menganalisa kondisi ini. Salah satu langkah dalam proyek tersebut adalah melakukan proses analisa data. Dengan semakin majunya teknologi informasi, saat ini hampir semua parameter kinerja sebuah mesin bisa didownload dengan cepat. Data dalam jumlah banyak bisa dengan mudah diperoleh, tetapi kemudian bagaimana data tersebut diolah agar bisa bermanfaat? Ditambah lagi, beberapa faktor produksi tersebut harus diamati di lapangan dan bersifat kualitatif. Masalah berikutnya muncul, bagaimana data-data yang bersifat kualitatif dan kuantitatif dikombinasikan? Salah satu jawabannya adalah dengan menggunakan metode regresi linier. Saat ini banyak software statistik beredar di pasaran seperti Minitab dan SPSS, yang bisa membantu melakukan regresi linier. Dengan metode regresi linier dapat diketahui faktor-faktor mana yang secara signifikan berpengaruh terhadap produktivitas sebuah alat muat. Analisis regresi linier ini digunakan untuk mengetahui pengaruh secara simultan dan parsial dari satu faktor (variabel dependen) terhadap satu atau lebih faktor lainnya (variabel independen) dengan tujuan untuk mengestimasi dan/atau memperkirakan nilai rata-rata (populasi) variabel dependen dari nilai yang diketahui dalam hal ini nilai produktivtas aktual. Dengan demikian proyek improvement bisa lebih difokuskan kepada faktor yang secara signifikan dapat mempengaruhi nilai produktifitas alat muat. Kata kunci; faktor-faktor produktivitas, analisa kuantitatif, pinarnti lunak SPSS.

137

2. PENDAHULUAN 2.1. Latar Belakang Proses produksi memerlukan transformasi sumberdaya yang dimiliki perusahaan menjadi barang dan jasa. Semakin efisien perusahaan melakukan perubahan tersebut, maka perusahaan tersebut semakin produktif dan nilai yang ditambahkan pada barang dan jasa tersebut akan semakin tinggi. Produktivitas menjadi hal penting bagi sebuah perusahaan. Salah satu upaya menaikkan produktifitas tersebut, manajemen KPC telah membentuk tim improvement yang berfokus pada peningkatan produktifitas Liebherr R996 backhoe yang saat ini berjumlah 5 unit di seluruh PT. KPC-MOD. Berdasarkan data tahun 2010, rata-rata produktifitas R996B setiap bulannya adalah 1870 bcm/jam sementara dalam budget 2011 telah ditetapkan sebesar 1975 bcm/jam. Hal ini setara dengan kehilangan kesempatan memindahkan OB sebesar 105 bcm/jam/unit dan jika angka tersebut dikonversikan pada produksi batubara untuk 5 unit R996 backhoe maka setara dengan kehilangan kesempatan memproduksi 196.2 kton/tahun. Dengan melihat data tersebut, tim improvement mendapat mandat untuk meningkatkan produktifitas R996B sebesar 5.6% atau peningkatan dari 1870 bcm/jam (rata-rata tahun 2010) menjadi 1975 bcm/jam. 3. TINJAUAN PUSTAKA 3.1. Pengertian Produktivitas Istilah “produktivitas” seringkali disamakan dengan istilah “produksi”. Menurut Mali (1978), sebenarnya pengertian produktivitas sangat berbeda dengan produksi. Tetapi produksi merupakan salah satu komponen dari parameter produktivitas. Dalam dunia penambangan, aspek produktivitas menjadi sangat penting. Karena menjadi salah satu barometer keberhasilan dari serangkaian kegiatan penambangan. Di Divisi Mining Operation (MOD), Produktivitas dapat diartikan besaran volume yang berhasil dipindahkan oleh sebuah alat muat dalam satuan waktu tertentu (bcm/jam). 3.2. Faktor-faktor yang mempengaruhi produktivitas alat muat Pada umumnya jenis alat muat dibedakan menurut kendalinya yaitu electric dan hydraulic. PT KPC saat ini hanya memiliki jenis hydraulic excavator. Keuntungan menggunakan hydraulic excavator karena bisa menyesuaikan dengan kondisi ruang kerja yang sempit dan kondisi material yang beragam. Secara umum ada empat bagian besar yang dapat mempengaruhi produtivitas excavator antara lain: Ø Manusia, seperti: pengetahuan, pengalaman, peran supervisi, motivasi, dll. Ø Mesin/alat, seperti: power, tipe & kapasitas bucket, ketersediaan alat bantu, dll. Ø Lingkungan, seperti: cuaca, material, swell factor, fragmentasi, struktur geology, dll. Ø Metode/system: metode penggalian, metode pemuatan, dimensi loading point, waktu edar alat muat, match faktor, effisiensi kerja, usage, dll. Dengan menggunakan diagram fish bone dapat dijelaskan secara rinci factor-faktor yang mempengaruhi produktivitas alat muat (lihat LampiranA).

138

3.3. Teknik dan Waktu Pengumpulan Data Teknik pengambilan data berupa pengamatan di lapangan, wawancara, dokumen, pengambilan video, dan lain-lain. Dalam periode Feb-Mar 2011 dilakukan pengamatan beberapa variable di lapangan seperti kondisi loading point, geometri loading point, metode pemuatan, metode penggalian, fragmentasi, ketersediaan alat support, sudut swing, dll. Data tersebut kemudian dikorelasikan dengan data-data yang tersimpan dalam database lain. Beberapa contoh data lain tersebut adalah spotting time truck, loading time, Powder Factor, pengalaman kerja operator, dll. 3.4. Cara Pegolahan Data Cara pengolahan data dalam penelitian ini meliputi beberapa tahap, yaitu: 1. Selecting, yaitu dari data yang telah dikumpulkan dilakukan korelasi dan pemilahanpemilahan untuk memastikan, kelengkapan, validitas, reabilitas dan akurasinya. 2. Scoring, dari data yang telah diedit tersebut dilakukan pemberian kode dan skor sesuai dengan klasifikasi data yang telah ditentukan. 3. Entry data, yakni dari data yang telah dipilih dan diberi skor tersebut di-entry dengan menggunakan bantuan piranti lunak SPSS yakni program pengolah data statistik. 3.5. Persamaan Regresi Linier Model analisis data yang dipergunakan dalam penelitian ini adalah Regresi Linier Berganda (multiple regression analysis). Model ini dipilih untuk mengetahui hubungan variabel tergantung dengan variabel independentnya serta mengetahui seberapa besar pengaruh variabel independent (X) terhadap variabel tergantung (Y) baik secara parsial maupun secara bersamasama. Rumus yang digunakan adalah:

Y= a + b1x1 + b2x2 + …+bnxn
Dimana Y a x1 x2 xn b1 s.d bn = Variabel dependent (tergantung) = Konstanta = Variabel independent x1 = Variabel independent x1 = Variable independent ke n = Koefisien regresi

Untuk menjaga akurasi model hasil regresi yang diperoleh, maka dilakukan beberapa tahapan uji syarat klasik. Uji asumsi klasik dibutuhkan untuk mengetahui sah atau tidaknya suatu model regresi yang akan dipakai sebagai model penjelas bagi pengaruh antar variabel. Uji syarat klasik dilakukan untuk menjawab pertanyaan bahwa apakah model analisis regresi tersebut sudah memenuhi syarat-syarat yang berlaku. Data yang tidak memenuhi syarat akan disisihkan atau dilakukan observasi ulang agar datanya menjadi lebih valid. Analisis regresi ditujukan terutama untuk penaksiran. Dalam analisis ini akan dibentuk model statistik yang dapat digunakan untuk memprediksi nilai – nilai dari variabel dependent dengan dasar nilai – nilai variabel independent. Variabel dependent adalah variabel yang nilainya

139

tergantung atau ditentukan dengan model, sedangkan variabel independent adalah variabel yang nilainya ditentukan di luar model. Regresi linier adalah menentukan satu persamaan dan garis yang menunjukkan hubungan antar variabel independent dan dependent, yang merupakan persamaan penduga yang berguna untuk menaksir atau meramalkan variabel dependent/terikat. 4. PEMBAHASAN DAN ANALISIS 4.1.Analisa Kuantitatif 4.1.1. Pengolahan Data Proyek ini dimulai dengan pengumpulan data hasil pengamatan di lapangan dengan menggunakan formulir seperti lampiran B, selama tiga bulan didapatkanlah sejumlah data mentah yang dinilai valid dan layak untuk diproses dalam tahap selanjutnya sebanyak 120 seri. Setiap seri terdiri dari 8 variabel. Setiap individu data tersebut kemudian masing-masing diberi bobot agar bisa diolah dengan menggunakan piranti lunak SPSS. 4.1.2. Hasil regresi dengan SPSS Hasil penginputan 9 variabel hasil pengamatan kedalam piranti lunak SPSS didapatkanlah nilai koefisien R-square = 0,649, sedangkan adjusted R square sebesar 0,620. Ini menunjukkan bahwa 62% variasi variabel dependent (Y) dapat dijelaskan oleh 9 variabel independent (x1 s/d x9). Sementara sisanya sebesar 38% dipengaruhi oleh variabel lain di luar model Tabel 2. Model Summary

4.1.3.Anova Berdasarkan tabel analisis varian (ANOVA), didapatkan bahwa nilai F = 22.785 yang dapat digunakan dalam melakukan uji hipotesis atau F-test dalam melakukan uji hipotesis atau F-test dalam memprediksi kontribusi variabel-variabel independent terhadap variabel dependent. Dengan menentukan level of significant = 5% dan degree of freedom df1 = 9 dan df2 = 111, maka dari table didapatkan F table = 1,965265. Oleh karena F hitung 22,785 > F table 1,965265, maka kesimpulannya adalah variabel independent secara signifikan memberikan kontribusi terhadap variable dependent. Tabel 3. ANOVAb

140

4.1.4. Coefficient Dengan menggunakan fasilitas regresi linier yang ada dalam piranti lunak SPSS didapatkanlah persamaan yang disusun sebagai berikut: Y = 1204.87 + 48.5x1 + 42.9x2 + 37.8x3 + 37.8x4 + 37.6x5 + 34.7x6 + 34.1x7 + 32.0x8 + 27.5x9 Dimana Y = Produktivity alat muat x1 = Metode pemuatan x2 = Kondisi material x3 = Pengalaman Operator x4 = Kondisi loading point x5 = Loading time x6 = Tinggi penggalian x7 = Powder Factor x8 = Ketersediaan alat bant ux9 = Spotting time, Secara teoritis konstanta sebesar 1204.87 menyatakan bahwa jika variable x1 s.d x9 tidak ada, maka alat tersebut memiliki produktivitas hingga 1204.87 bcm/hr. Angka koefisien tersebut menunjukkan pengaruhnya terhadap produktivitas. 4.2. Fokus Improvment Setelah mengetahui faktor-faktor dominan yang paling banyak pengaruhnya bagi peningkatan produktivitas alat muat, langkah yang ditempuh berikutnya dalam merancang perbaikan adalah dengan pemahaman terhadap detil proses dari variabel dominan tadi, peninjauan lapangan, pengukuran waktu siklus, dilanjutkan dengan analisa data dengan metode analisa fishbone, pembobotan masalah, why-why analisis untuk menemukan akar masalah, serta menentukan persoalan apa yang akan diselesaikan selama proyek berjalan. Dengan mempertimbangkan SDM yang ada, fasilitas, teknologi, dan informasi yang ada. Di bawah ini beberapa inisiatif improvement yang diambil untuk mencapai target yang dimandatkan. a. Mengembangkan dan mensosialisasikan SOP Loading Point Backhoe dengan mengintegrasikan aspek K3L dan produktivitas. b. Meningkatkan peran dan skill supervisor khususnya aspek produktivitas dan efisiensi kerja. c. Melakukan coaching terhadap operator truk dan excavator yang memiliki spotting time tinggi d. Meningkatkan kualitas dan kuantitas pelaporan kinerja operator di akhir shift. e. Meningkatkan koordinasi dan komunikasi antara seksi terkait seperti dispatch, pit technical, operator training dan production crew.

141

Tabel 1. Produktivitas Liebher R996B

Tabel 1. Produktivitas Liebher R996 Sejak inisiatif improvement diterapkan pada minggu ke-20 hingga minggu ke-31, produktivitas rata-rata R996B meningkat sebesar 6.9% atau menjadi 2060 bcm/jam. Untuk menjamin kesinambungan improvement dan kemungkinan peningkatan di kemudian hari dikaitkan dengan bertambahnya target produksi, maka beberapa hal berikut harus dilakukan: terus melakukan pengawasan terhadap penerapan SOP Loading Point Backhoe di semua Pit di bawah MOD, materi persiapan loading point backhoe dimasukkan ke dalam MOD training sistem, dan melakukan re-assembly tim secara berkala untuk memantau sustainibility proyek. Secara eksplisit, dengan adanya proyek improvement R 996 backhoe ini meningkat pula skill & capability operator dan supervisor dalam menjalankan operasi penambangan yang lebih terintegrasi. Keberhasilan ini tentunya hanya bisa tercapai jika semua pihak yang terlibat memiliki kepedulian dan komitmen yang kuat untuk tetap berupaya mempertahankan pencapaian produktifitas ini. 5. KESIMPULAN

5.1. Analisis regresi setidak-tidaknya memiliki 3 kegunaan, yaitu untuk tujuan deskripsi dari fenomena data atau kasus yang sedang diteliti, untuk tujuan kontrol, serta untuk tujuan prediksi. Regresi mampu mendeskripsikan fenomena data melalui terbentuknya suatu model hubungan yang bersifatnya numerik. Regresi juga dapat digunakan untuk melakukan pengendalian terhadap suatu kasus atau hal-hal yang sedang diamati melalui penggunaan model regresi yang diperoleh. 5.2. Dengan memanfaatkan hasil analisa regresi linier, tim proyek improvment membuat beberapa perbaikan dan sejak proyek ini diimplementasikan pada minggu ke-20 hingga minggu ke-31, produktivitas rata-rata R996B meningkat ebesar 6.9 % menjadi 2060 bcm/jam. Hal ini diikuti dengan menurunnya angka loading time sebesar 7.25% dari 2.62 menit (Maret 2010-Feb 2011) menjadi 2.43 menit. Jika hasil pencapaian ini dipertahankan

142

selama setahun, maka perusahaan dapat yang menghasilkan kuntungan tambahan sebesar US$ 3.6 juta. 6. REFERENSI http://www.jonathansarwono.info/teori_spss/teori_spss.htm http://digilib.petra.ac.id

LAMPIRAN A. DIAGRAM FISH BONEGambar 2. Diagram Fish Bone

143

LAMPIRAN B. DATA PENGAMATAN LAPANGAN Tabel 2. Penggalan Formulir Pengamatan Lapangan

Tabel 3. Hasil Rekapitulasi Pengamatan Lapangan

Tabel 4. Kriteria Pembobotan

144

Tabel 5. Penggalan Data Input SPSS

145

PROSIDING TPT XX PERHAPI 2011 Selective Mining dalam Upaya Peningkatan Coal Recovery pada Seam Tipis dan Berparting Studi Kasus Penambangan Divisi Mining PT Kaltim Prima Coal
Armis Haroen (Technical Coal Mining Dept - PT Kaltim Prima Coal)

Abstrak Penambangan batubara identik dengan Coal Recovery, dimana Coal Recovery adalah tingkat perolehan Batubara yg bisa dihasilkan dari Batubara yang sudah di ekspose. Target Coal Recovery Divisi Mining PT KPC saat ini pada kisaran 97 - 98 % recovery. Dalam praktek nya, seam-seam batubara yang tipis maupun berparting mempunyai tingkat kesulitan yang lebih tinggi ketika dilakukan Penambangan. Umum nya seam batubara yang berparting terdapat pada seam-seam tipis (thin seam). Dalam lingkup areal penambangan KPC, seam-seam tipis (range ketebalan maksimum 1.5 - 2 meter) ini berkontribusi sebanyak 44 % dari total Batubara yg dihasilkan oleh Divisi Mining PT KPC. Jumlah ini setara dengan 1,7 Juta ton pada angka Year to Date (YTD April 2011) nya, untuk Batubara yg dihasilkan oleh Divisi Mining. Jika tidak dikelola dengan benar, seam-seam batubara yang berparting ini akan menjadi masalah pada proses berikut-nya. Tinggi nya Ash Content pada Batubara juga disebabkan oleh material parting yang terangkut saat proses penambangan Batubara. Masalah yang kemudian dapat timbul adalah produk batubara yg dihasilkan menjadi Out of Range Quality (Ash Content), dmana PT KPC men-syaratkanAsh Content nya berada pada kisaran 6 % maksimum. Tinggi nya kandungan Ash pada Batubara yg sudah ditambang membuat batubara tersebut belum bisa langsung masuk ke unit Crusher. Hal ini akan berdampak pada ketidak sesuaian kualitas batubara (Ash Content) yang dibutuhkan oleh kapal. Batubara ini masih akan tertahan di Stockpile, ataupun membutuhkan material (batubara) blending untuk menurunkan Kadar Ash yang ada. Beberapa persoalan yang ada inilah yg mendorong diperlukan nya suatu konsep penambangan batubara yg selanjut nya dikenal dengan Selective Mining. Selective Mining ini dapat di definisikan sebagai suatu konsep penambangan menggunakan alat / equipment yang sesuai dengan ketebalan dan karakteristik Batubara yang ada, metode penambangan yang tepat, dengan mempertimbangkan aspek efektifitas kerja alat & meminimalkan potensial coal lost yg ada. Untuk memastikan dan mengukur bahwa Selective Mining yang dilakukan bisa memberikan optimasi terhadap peningkatan Coal Recovery, material parting yang sudah dipisahkan, selanjut nya dicatat (record) dengan baik sebagai data olahan dan akan melengkapi data pengukuran batubara yang sudah dilakukan oleh tim survey. Selain penempatan alat yang sesuai, selective mining juga membutuhkan support alat berupa PC200 dan dozer sekelas D85SS untuk pemisahan parting, proses clean up nya. Kombinasi peralatan yang sesuai, teknik penambangan yang tepat, dan support alat yg maksimal, akan menentukan sukses tidak nya konsep Selective Mining ini diterapkan.
Kata Kunci : selective mining, coal recovery, Ash Content

146

I. Latar Belakang Coal Recovery adalah ukuran yg dibuat untuk menggambarkan tingkat perolehan penambangan Batubara dari ketersediaan (inventory) batubara yang ada. Secara sederhana Coal Recovery dapat mengukur efektifitas penambangan suatu Batubara. Dalam hal ini, besarnya angka Coal Recovery yang ditetapkan adalah lebih dari 97 - 98 %. Dalam olahan data, dikenal beberapa istilah yang berkaitan dengan aktivitas Coal Recovery, yaitu; Insitu Model, ROM Merge, Truck Count, Pengukuran by Survey, dll. Insitu model adalah jumlah cadangan batubara yang dihitung tanpa parameter koreksi yang meliputi lapisan weak layer ataupun kandungan parting yg terdapat dalam batubara. ROM Merge adalah perhitungan jumlah cadangan batubara dengan menghitung parameter koreksi terhadap ketebalan parting/ sisipan tertentu. Umum nya angka ROM Merge akan lebih kecil dari angka Insitu Model. Dalam hal ini, angka recovery target yang dimunculkan adalah besaran recovery penambangan batubara yang diangkut dan dihitung berdasarkan data truck (truck count) terhadap pengukuran yang dilakukan oleh survey. Hal ini untuk mengukur efektifitas pekerjaan yang terkait dengan production performance. Terdapat banyak factor yang mempengaruhi pencapaian Coal Recovery, baik factor manusia (man), peralatan (machine), resources (material), maupun teknis penambangan (methods). Dalam hal ini akan dibicarakan lebih lanjut tentang teknis penambangan batubara seam tipis dan berparting untuk menghasilkan angka Coal Recovery yang optimal dengan Kualitas batubara yang masih in range dengan Shipment Requirement. II. Isi Makalah Berdasarkan data Coal Recovery pada tahun 2008 (YTD Agustus), besarnya angka Coal Recovery adalah 96 % untuk seam tebal dan 62 % untuk seam tipis. Hal ini menggambarkan bahwa eksekusi penambangan seam tipis masih belum efektif dengan potensial Coal Lost mencapai 38 %. Gambar 1.

147

Pada tahun 2009, angka Coal Recovery pada seam tipis menunjukkan perbaikan yang signifikan hingga mencapai angka 95 %. Hal ini merupakan dampak dari Upaya perbaikan yg dilakukan pada akhir tahun 2008. Perbaikan yang dilakukan adalah dengan meng-analisa proses penambangan seam tipis secara keseluruhan untuk selanjut-nya dikelompokkan pada beberapa kelompok perbaikan. Gambar 2

Dalam Fish Bone Diagram yang dihasilkan oleh project improvement team pada tahun 2008, faktor yang mempengaruhi coal recovery target dikelompokkan menjadi 6 faktor, yaitu; 1. Faktor Alam, 2. Faktor Alat, 3. Faktor Pengukuran, 4. Faktor Manusia, 5. Faktor Material, dan 6. Metode Penambangan. Faktor alam memberikan kontribusi melalui proses hujan yang menghanyutkan partikelpartikel halus (fine coal) serta tercampurnya Batubara Ekspos dengan lumpur hasil broken material yang tidak ter-rilis dengan baik. Selain itu, proses Oksidasi yang berlangsung secara alamiah akan memicu terjadi nya pembakaran Batubara dengan sendiri nya (self combustion). Untuk menghindari partikel yang hanyut ataupun bercampur dengan lumpur, kontrol yang paling baik dilakukan adalah membuat perencanaan drainage yang terintegrasi dengan baik dengan sequence penambangan. Istilah lowest point adalah hal yang bisa menjadi ukuran ketika merencana-kan sistem drainage yang baik. Lowest Point dimaksudkan untuk menentukan pada titik mana aliran air akan dikonsentrasikan untuk selanjutnya dilakukan pemompaan. Selain mempertimbangkan area lowest point, sistem grading (kemiringan) penambangan batubara juga diperhatikan. Sistem grading ini sangat bermanfaat untuk mengalirkan air lebih cepat ketika proses hujan berlangsung. Dengan menghindarai tergenang nya air permukaan pada front loading penambangan, maka potensial coal lost akibat hanyut dan terkikis air akan dapat dikurangi. Self Combustion adalah hal biasa yang terjadi pada batubara yg sudah ter-ekspos dalam kurun waktu yang relatif lama. Kecepatan efek pembakaran pada batubara bersumber pada teori proses terbentuk nya api, dimana terdapat 3 elemen pembentuk api, yaitu; 1. Bahan Bakar (C), 2. Udara (O), dan 3. Ignition (Pemicu bakar). Bahan bakar sudah terdapat dalam senyawa Carbon

148

pada batubara, untuk Udara nya didapat dari reaksi oksidasi yang terjadi pada mineral matter pengikut yang terdapat pada batubara. Mineral matter dengan kandungan Oksigen didalamnya akan mempercepat proses pembakaran pada Batubara. Nilai HGI (Hard Grindability Index) pada batubara juga turut menentukan lama atau tidaknya proses pembakaran pada batubara. Semakin besar nilai HGI pada batubara maka semakin lemah tingkat kekerasan batubara tersebut. Untuk batubara dengan HGI tinggi, tingkat ketergerusan nya akan makin besar. Banyak ketergerusan pada batubara mengakibatkan luasan permukaan batubara (all sizing) akan semakin besar sehingga proses Oksidasi akan makin cepat berlangsung. Selain itu banyaknya partikel halus yang dihasilkan oleh batubara dengan HGI tinggi akan menjadi perangkap air yang sangat signifikan. Butiran-butiran air akan mengisi poripori atau ruang yang terdapat pada tumpukan batubara. Kandungan oksigen yang dibawa air (H2O) akan mempercepat proses pembakaran batubara. Untuk mengurangi dampak self combustion ini, hal yang baiknya dilakukan adalah mengurangi frequency pemindahan batubara dengan Kandungan HGI yang tinggi. Semakin sering batubara berpindah (transfer / rehandle), maka proses penggerusan akan berlangsung lebih banyak Sebisa mungkin batubara dengan HGI yang tinggi diekspose ketika sudah mendekati requirement limit nya. Selanjutnya adalah batubara yang sudah terdapat pada Stock ROM harus diperhatikan aspek drainage nya. Hal ini penting untuk meminimalkan terperangkapnya air yang lebih banyak dalam tumpukan batubara. Seperti diuraikan diatas, bahwa kandungan air akan membawa kadar Oksigen yang banyak sehingga sangat potensial terjadinya proses pembakaran. Ignition adalah pemicu terjadi nya proses pembakaran, proses pembakaran yang terjadi di inisiasi oleh efek panas yang ada, baik panas yang dihasilkan oleh proses luar (sinar matahari) ataupun efek panas yang dihasilkan melalui proses gradient geothermal pada tumpukan batubara. Cara yang dapat dipertimbangkan untuk meminimalkan hal ini adalah dengan mengatur ketinggian tumpukan batubara. Tumpukan batubara yang tinggi (> 15 meter) dan tersimpan relatif lama akan menambah efek panas pada batubara tersebut. Dalam berbagai situasi terkadang, ketinggian batubara tidak dapat dihindari dengan memperhatikan aspek ruang dan pemeliharaan pada stock ROM. Untuk hal ini, sangat penting untuk diterapkan proses FIFO (First In First Out). Proses FIFO akan sangat efektif diterapkan menggunakan 2 pintu masuk (akses) ke Stock ROM. Faktor alat atau mesin adalah faktor selanjutnya dalam proses Identifikasi dan solusi dalam pembahasan peningkatan Coal Recovery. Peralatan atau permesinan yang dimaksud adalah equipment yang dioperasikan dalam proses penambangan. Equipment yang digunakan adalah alat muat utama dan alat support (auxiliary equipment). Dalam prakteknya, terkadang operasional penambangan batubara pada seam-seam tipis terkendala pada keterbatasan equipment yang ada. Sehingga dalam beberapa waktu, penggunaan tipe equipment yang sesuai masih belum bisa diterapkan secara optimal. Pertimbangan dalam pemilihan alat yang sesuai dengan seam-seam batubara tipis lebih dimaksudkan untuk membuat penambangan lebih efektif dan menjaga produktivitas masingmasing equipment. Equipment dengan kapasitas besar memiliki bobot massa yang lebih berat dengan luas track yang juga lebih besar. Semakin luas dan besar track equipment, bidang yg

149

bergesekan dengan batubara akan lebih besar dan berpotensi menggerus permukaan batubara lebih banyak. Dalam beberapa hal, penggunaan equipment besar saat penambangan batubara tipis bisa terjadi. Hal ini dapat ditemukan ketika kita menambang seam tipis dengan tingkat ketebalan batubara 1 - 2 meter. Range ketebalan tersebut digunakan untuk membuat pad pada loading point nya. Untuk seam batubara dengan ketebalan 1 – 2 meter, penambangan dapat dilakukan dengan bottom loading. Selain identifikasi pada permukaan batubara yang tergerus, hal lain yang juga dipertimbangkan adalah saat eksekusi / pemilahan material parting. Penggunaan bucket yang lebih besar akan menyulitkan saat pemilahan parting dimana sebagian parting akan terambil saat penambangan batubara nya, utama nya pada malam hari. Hal ini yang dihindari untuk melakukan kontrol terhadap kualitas Ash Content nya.

Gambar 3 Proses Penambangan pada Seam Tipis Berparting Faktor Pengukuran adalah faktor yang berpengaruh terhadap pencatatan parting secara administrasi. Faktor ini melibatkan team survey dan team geologist untuk mendapatkan pengukuran secara optimal. Beberapa hal yang menyebabkan deviasi saat pengukuran terjadi pada ekspose batubara, pengukuran progress penambangan, dan pengukuran pada floor batubara. Untuk deviasi pada ekspose batubara adalah sebagai berikut; tidak terdapat acuan patok sebagai limit kepala batubara (TOC, Top of Coal), sebagian batubara ter-ekspos masih tertutup material broken (over burden), bottom batubara ekspos terendam air. Deviasi pengukuran saat progress penambangan dapat terjadi jika ditemukan material sisipan/parting dalam batubara. Sisipan/ Parting inilah yang juga berkontribusi terhadap angka Coal Recovery, dimana data survey hanya meng-akomodir data ekspos dan Floor Batubara.

150

Perlakuan terhadap besaran material parting/ sisipan ini adalah dengan melakukan recording data yang terpisah untuk material non Batubara tersebut. Selanjutnya data tersebut akan diakumulasi dan menjadi koreksi/ adjustment buat Geologist dalam merilis angka Coal Recovery nya. Data survey yang kurang detail pada beberapa spot juga menjadi pertimbangan Geologist dalam merilis besaran angka coal mined nya. Selanjut nya deviasi pengukuran pada Floor batubara dapat terjadi pada kondisi sebagai berikut; penambangan belum komplit atau floor nya yang belum terlalu bersih, floor sudah di terracing untuk peledakan sebelum dilakukan pengukuran, dan bottom floor nya terendam air. Untuk bottom Floor yang terendam air dan floor batubara yang kurang bersih, perlakuan yang dilakukan adalah perbaikan dewatering dan control saat pembersihan floor, sedangkan floor yang diterracing sangat bergantung pada pit sequence nya. Terracing floor sebelum disurvey dapat diminimalkan melalui kontrol pit sequence yang baik. Selanjutnya faktor yang juga memberikan kontribusi terhadap perolehan coal recovery adalah faktor manusia. Faktor manusia dimaksudkan sebagai faktor eksternal yang melibatkan operator alat muat & alat angkut, pengawas pekerjaan, engineer, ataupun supervisi pekerjaan tersebut. Beberapa contoh yang mungkin terjadi sebagai berikut; Operator & pengawas yang kurang memperhatikan perlakuan terhadap seam-seam tipis, Operator Shovel OB me-loading limit / batas batubara sehingga saat dilakukan penambangan pada batubara nya sudah kehilangan acuan patok. Untuk beberapa operator non skill, terkadang Blade Dozer atau kuku Bucket dijumpai tembus ke batubara saat dilakukan proses Clean Up. Selanjutnya yang masih berhubungan dengan faktor manusia adalah beberapa patok acuan limit kepala batubara (top of coal) belum terpasang secara lengkap oleh team survey sehingga berpotensi memberikan deviasi saat dilakukan penambangan. Poin berikutnya adalah pengaruh yang disebabkan oleh faktor material. Dalam hal ini utama nya adalah material batubara itu sendiri dan juga material non Batubara seperti Over Burden, Partings, sisipan, lenses, dan sebagai nya. Pada Batubara, ekspose batubara yang terlalu bersih akan mengakibatkan 2 hal yaitu; tonnase batubara (Clean) akan berkurang dan tonnase batubara (Dirty) akan bertambah. Hal yang tidak diinginkan adalah ketika terlalu banyak meninggalkan Dirty Coal diakhir penambangan. Beberapa persoalan yang mungkin timbul akibat dari dirty coal yang terlalu banyak adalah jika dalam campuran dirty terlalu banyak kandungan over burden nya, hal ini bisa menjadi-kan campuran dirty coal tersebut tidak bisa dijadikan produk Crusher. Semakin banyak produk dirty Coal dihasilkan, maka akan semakin besar juga effort yang dibutuhkan untuk proses lanjutan dirty coal tersebut, dimana dirty coal yang dihasilkan akan melewati proses pencucian didalam washing plant terlebih dahulu sebelum produk tersebut dapat dikapalkan. Persoalan lain nya adalah keterbatasan pada ROM stockpile, semakin banyak dirty coal product yang masuk ke ROM Stockpile akan berdampak pada ketersediaan kapasitas untuk clean coal product. Dalam beberapa seam batubara, terdapat beberapa kasus dimana ditemukan material lain didalam lapisan batubara, material tersebut dapat berupa; shally coal, carbonasius, partings, lenses, dan sebagai nya. Material-material inilah, yang jika tidak ditangani dengan serius akan menimbulkan persoalan terhadap quality dan coal recovery nya. Untuk control Quality nya, kandungan Ash yang dipersyarat-kan untuk crusher berada pada kisaran 6 %. Jika material-

151

material non batubara tersebut tidak dipisahkan, maka kecenderungan naik nya nilai Ash akan semakin besar, sehingga perlu untuk dipisahkan se-optimal mungkin. Dengan melakukan pemisahan terhadap material non batubara, maka coal recovery nya akan semakin berkurang. Untuk mengatasi persoalan ini, recording / booked data yang detail akan bisa mengontrol seberapa besar komposisi material non batubara yang terdapat dalam material batubara. Pada floor batubara, adakalanya ditemukan material floor yang lunak sehingga pembersihan pada floor batubara tidak dapat dikerjakan secara maksimal. Hal ini umumnya terjadi pada lapisan batubara yang dekat dengan permukaan (overcrop). Untuk kasus semacam ini, pembersihan floor batubara dapat dikerjakan oleh small equipment (PC200). Saat penambangan batubara juga dapat memperhatikan jangkauan small equipment tersebut, dmana penambangan batubara nya dapat saja dikerjakan secara paralel dengan pembersihan floor nya, tergantung kondisi yang ada dilapangan. Faktor yang ke-enam yang juga menjadi perhatian adalah metode penambangan. Secara garis besar, metode penambangan nya dapat dikelompokkan dalam 3 hal, yaitu; 1. proses pembersihan permukaan batubara (clean up), 2. proses penambangan batubara, 3. Proses pembersihan lantai batubara (floor finishing). Pada saat Clean Up batubara, hal yang harus dipastikan adalah sebisa mungkin jangan menggunakan Dozer Besar saat proses Clean Up. Hal ini disebabkan oleh track dan blade dozer yang terlalu besar berpotensi mencampur permukaan batubara dengan material overburden nya. Dozer kecil sekelas D85 SS dapat dipergunakan untuk melakukan pembersihan nya. Hanya saja beberapa item pembersihan tidak optimal dilakukan oleh Dozer kecil, yaitu saat pembersihan pada Top of Coal nya, dimana harus ditemukan batas yang jelas antara limit penambangan Overburden dengan Top of Coal nya (kepala batubara). Hal ini dapat dikerjakan oleh PC200 dengan membuat semacam parit (trenching) sepanjang bukan batubara (Lihat Gambar 3).

Gambar 4. Trenching pada Top of Coal (TOC)

152

Dalam proses penambangan seam tipis dan berparting, baik single parting ataupun multi parting. Penting untuk dilakukan penambangan dengan cara per-layer per-blok. Per-layer PerBlok maksudnya adalah ketika terdapat ekspos batubara dengan luasan 200 m2 dan multiparting, maka hal yang dilakukan adalah membagi area tersebut menjadi 4 bagian dengan luasan masingmasing 50 m2. Selanjutnya penambangan dilakukan dengan menuntaskan layer pertama dari 1 Blok ke Blok yang lain. Pemilihan Blok yang pertama dieksekusi tergantung pada akses masuk dan arah drainage yang diinginkan. Setelah penambangan 4 Blok tersebut komplit dilakukan, maka parting/ sisipan yang ada selanjutnya dibersihkan sebelum melakukan penambangan pada layer selanjutnya. Seperti telah diuraikan diatas, bahwa dikenal 2 istilah penambangan berdasarkan posisi epuipment nya, yaitu top loading dan bottom loading. Top loading dan bottom loading memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Untuk Top Loading, keunggulan nya adalah track shoe Equipment tidak akan menggerus permukaan Batubara. Karena track shoe nya akan berada diatas material over burden. Sedang kelemahan nya adalah, kemungkinan batubara nya akan terhampar yang disebabkan oleh radius swing alat muat akan lebih jauh terhadap posisi Dump Body truck nya. Semakin banyak material batubara yang terhampar, akan semakin sering juga dilakukan pembersihan oleh alat support (dozer / loader). Untuk bottom loading, keunggulan nya adalah material batubara tidak akan banyak terhampar karena posisi Dump Body Truck akan semakin dekat dengan alat muat. Hanya saja kelemahan nya adalah, adanya gerusan yg diakibatkan oleh kontak track shoe dengan material batubara nya. Pilihan dalam menentukan top loading atau bottom loading sangat bergantung kondisi batubara ter-ekspose nya dengan melihat ruang, dimensi bukaan, dan ketebalan batubara. Selanjutnya adalah floor batubara hasil penambangan penting juga untuk diperhatikan, hal ini untuk meminimalkan kemungkinan batubara yang masih tertinggal di floor. Sebisa mungkin, diusahakan untuk meratakan permukaan floornya dengan mengumpulkan sisa-sisa batubara yang masih ada. Permukaan yang relatif rata akan mengurangi deviasi pengukuran yang dilakukan oleh survey. Beberapa spot atau undulasi yang disebabkan oleh tumpukan batubara akan berdampak pada permukaan luas secara keseluruhan. Setelah material batubara sisa tersebut dikumpulkan, sesegera mungkin untuk diangkut, untuk menghindari batubara tersebut tercampur dengan material OB, terbawa air saat hujan, ataupun hilang saat teraccing untuk keperluan peledakan. Untuk meminimalkan coal lost saat teraccing, penambangan semi vertical pada bottom coal (floor) dapat juga dilakukan. Hal ini akan mengurangi potensial lost yang mungkin terjadi saat bottom terracing pada lantai kerja berikut nya. Semi vertical dapat dibentuk dengan tingkat kemiringan landai 300 – 450. Perlu dicatat, bahwa untuk lantai kerja yang sudah berada pada posisi lowest point atau final grade, maka penambangan secara semi vertical atau vertical sebaiknya dihindari, karena hal ini akan menjadi masalah dikemudian hari, saat batubara pada daerah tersebut direncanakan untuk ditambang kembali setelah dioptimasi. Istilah penambangan secara vertical dimaksudkan sebagai penambangan yang dilakukan dengan memotong tegak lurus lantai batubara terhadap low wall nya pada akhir penambangan.

153

III. KESIMPULAN Dari sekumpulan faktor yang telah diidentifikasi dan dianalisa selalu terdapat keterkaitan antara faktor satu dengan lain nya. Hal ini menggambarkan bahwa perbaikan dilakukan secara menyeluruh (comprehensive) dan terintegrasi. Untuk perolehan coal recovery pada tahun 2011 (June YTD) ini, angka recovery yang dihasilkan mencapai 100 % recovery (angka dalam pembulatan). Terjemahan terhadap angka ini adalah, besaran jumlah yang diukur oleh survey senilai dengan banyaknya batubara yang diangkut oleh truck. Validasi terhadap angka ini dengan memasukkan koreksi-koreksi terhadap data-data yang berkaitan dengan timing input data, akurasi data survey, dan juga actual analisis & monitoring yang dilakukan oleh Geologist. Dalam kurun waktu hampir tiga tahun (2009-2011), upaya-upaya perbaikan terkait dengan coal recovery terus ditingkatkan untuk menjamin bahwa resources yang tersedia pada seam-seam tipis dan berparting dapat diambil secara optimal. Selain perbaikan pada proses penambangan nya, akurasi pengukuran survey dan pencatatan administrasi by truck count juga terus ditingkatkan untuk menjamin validasi data yang makin mendekati kondisi real. Tantangan lain yang akan terus dikembangkan adalah besaran densitas batubara pada berbagai kondisi, hal ini menjadi sangat signifikan karena pengukuran yang dilakukan survey adalah pengukuran volume, sedang pengukuran yang dilakukan dengan truck count adalah pengukuran berat (tonase).

Gambar 5.

154

IV. DAFTAR PUSTAKA

-

Batubara dan Pemanfaatan nya serta Stockpile Managemen, PT Geoservices, 2011. Coal Recovery Improvement, Coal Mining Improvement Team, 2008 Coal RecoveryAnalysis 2011, file kerja 2011. Coal Discrepancy & Reconcile, file kerja 2011. Relationship of Different Analytical Bases to Various Coal Components (Ward, 1984), Van Krevelen.

- Coal Product Categories, file kerja 2010. - Kamus Pertambangan Indonesia

155

PROSIDING TPT XX PERHAPI 2011 PENGHEMATAN BAHAN BAKAR MELALUI UPAYA PENGOPERASIAN TAMBANG YANG EFEKTIF DI PT. KALTIM PRIMA COAL
Oleh : Didik Mardiono PT. Kaltim Prima Coal Abstrak Pada tahun 2010 PT. Kaltim Prima Coal (KPC) telah menghabiskan bahan bakar sebesar 320 juta liter untuk memenuhi kebutuhan operasionalnya. Sekitar 90% atau 315 juta liter adalah kontribusi dari Mining Operation Division (MOD)-KPC melakukan kegiatan operasional penambangan dibeberapa pit, yaitu : Bendili, J, AB Extention, K-West. Dan dari alat-alat yang digunakan MOD-KPC, 80% kontribusinya berasal dari alat gali dan alat angkut yaitu: R996 Shovel, R996 Backhoe, EX3600B, EX3500S/B, T282, EH4500, Cat789,Cat 785. Dengan tingginya bahan bakar yang digunakan oleh KPC, maka biaya produksi sangat rentan dipengaruhi oleh kenaikan harga bahan bakar dimana saat ini harga bahan bakar sudah mencapai $1.1/liter. Agar kegiatan operasional KPC bisa berlangsung dengan biaya produksi tidak meningkat secara drastis, maka perlu dilakukan upaya-upaya pengoperasian efektif melalui upaya penghematan bahan bakar. Ada beberapa hal yang mengakibatkan kegiatan operasi berpengaruh terhadap pemborosan bahan bakar yaitu : · Pengaturan truk pada alat gali (Pengelolaan Match Factor) · Pengaturan waktu delay dan idle baik pada truk maupun shovel: Sholat; makan; proses peledakan; shift change; hujan · Tingkat ketrampilan dan perilaku operator · Desain jalan tambang : Tingginya OB truck cycle time dan pengaturan lalulintas truck yang kurang efektif · Pengoperasian alat yang tidak produktif · pengawasan supervisor yang belum optimal Apabila kegiatan-kegiatan diatas dapat diatur melalui : pengaturan match factor, pengaturan waktu delay dan idle sesuai prosedur, sosialisasi kepedulian operator, perbaikan alat pengisi bahan bakar dan perencanaan maupun pembuatan jalan sesuai standar kemiringan maka pemborosan bahan bakar dapat dikurangi. Kata kunci : match factor, delay-idle

156

LATAR BELAKANG Mining Operation Division (MOD) berkontribusi lebih dari 40% dari total biaya operasi KPC, sehingga langkah improvement yang dilakukan terhadap suatu unjuk kinerja standard (KPI) akan berpengaruh sangat besar dalam penghematan biaya perusahaan. Pada tahun 2010 PT. Kaltim Prima Coal (KPC) telah menghabiskan bahan bakar sebesar 320 juta liter untuk memenuhi kebutuhan operasionalnya. Sekitar 90% atau 315 juta liter adalah kontribusi dari Mining Operation Division (MOD)-KPC melakukan kegiatan operasional penambangan dibeberapa pit, yaitu : Bendili, J,AB Extention, K-West Panel 1 dan Panel 2. Komponen utama dalam proses overburden removal atau pemindahan lapisan tanah penutup (disposal) di Mining Operation - KPC adalah operasi Shovel dan Truck. Kontribusi total biaya operasi Shovel dan Truck mencakup lebih dari 70% dari total biaya operasi overburden removal. Dalam operasi Truck dan Shovel komponen cost yang sangat besar adalah biaya bahan bakar (fuel). Bahan bakar, menurut data operating cost tahun 2008 hingga 2010, berkontribusi diatas 30% dari total operating cost overburden removal.

Gambar 01 :Grafik Biaya Bahan Bakar dan Biaya Operasi di PT. Kaltim Prima Coal

157

Gambar 02 :Grafik Harga Bahan Bakar ($/liter) Mulai tahun 2011, KPC mulai melakukan ekspansi sehingga akan menambah jumlah alat produksi yang berimbas pada kenaikan konsumsi fuel dan menambah jumlah operator alat angkut yang juga berimbas terhadap kemampuan dalam pengoperasian alat. Operator yang baru direkrut adalah orang-orang yang belum mempunyai keahlian sehingga perlu dilakukan training. Mengingat strategisnya proyek ini, maka sangat diperlukan program penghematan bahan bakar melalui upaya pengoperasian tambang yang efisien dan efektif. FAKTOR-FAKTOR PEMBOROSAN BAHAN BAKAR DI OPERASI TAMBANG Dari pengumpulan dan analisa data diperoleh bahwa faktor-faktor yang paling berpengaruh terhadap terjadinya pemborosan bahan bakar saat pengoperasian adalah: 1. Pengaturan truk pada alat gali (Pengelolaan Match Factor) Match factor adalah faktor keserasian antara alat gali (shovel atau backhoe) dengan alat angkut yang dialokasikan pada alat gali tersebut. Secara teori MF yang ideal adalah 1 namun dalam praktek operasi tambang, hal ini sangat sulit dicapai karena dinamisnya operasi tambang yang dipengaruhi oleh persimpangan jalan, kondisi jalan, kecepatan truk, perilaku operator, dll. Gambar dibawah menunjukkan fluktuasi MF dalam pencatatan setiap jam melalui system dispatch.

158

Gambar 03: Match Factor setiap jam (Dispatch System) 2. Pengaturan waktu delay dan idle baik pada truk maupun shovel Kontribusi terbesar delay dan idle dalam operasi tambang adalah waktu sholat, makan, hujan, relokasi alat, dan waktu peledakan. Untuk kontribusi detail bisa dilihat dalam table dibawah ini.

Tabel 01 : Waktu tunda dan terbuang (Delay-Idle) 3. Tingkat ketrampilan dan perilaku operator Dengan semakin bertambahnya jumlah alat, otomatis akan memerlukan jumlah operator yang lebih banyak. Saat ini KPC dan perusahaan tambang lain sangat kesulitan untuk memperoleh operator yang terampil sehingga mau tidak mau harus merekrut operator yang

159

belum terampil “Non Skill” dan memerlukan training. Penelitian menunjukkan bahwa operator truk yang mengoperasikan alat dengan tidak stabil (sering menaik turunkan gas secara tiba-tiba) mengkonsumsi fuel 24% lebih banyak daripada operator yang mengoperasikan alat secara stabil. 4. Desain jalan tambang : Filosofi dalam operasi tambang terbuka bahwa “Seiring waktu, pit akan semakin dalam dan area disposal akan semakin tinggi” dampaknya adalah tingginya cycle time alat angkut. Faktor lain selain jarak angkut yang jauh adalah lebar jalan, kemiringan jalan, desain persimpangan dan pengaturan lalulintas truck yang melewati jalur tersebut.

Gambar 04 : Perbandingan antara Kemiringan Jalan dengan Fuel Rate 5. Pengoperasian alat yang tidak produktif (Unproductive Enginee Running) Yang dimaksud adalah mesin atau engine alat-alat tambang terutama alat angkut dan muat dihidupkan namun tidak berproduksi atau tidak digunakan dalam proses pemindahan disposal/lapisan penutup. Contoh pengoperasian alat yang tidak produktif adalah mesin hidup saat proses peledakan, hujan, rehandle material, antrian di loading point/front, waktu tunggu alat gali, perapian dinding pit dengan backhoe yang besar. Grafik dibawah ini menunjukkan komponen – komponen yang berkontribusi terhadap unproductive engine running.

160

Gambar 05: Engine Uprate alat Angkut (Truk)

Gambar 06: Engine Uprate alat muat (Shovel/backhoe) 6. Pengawasan supervisor yang belum optimal Peran pengawasan dan kontrol dari supervisor sangat besar dalam pengoperasian tambang. Sebagian besar supervisor mempunyai latar belakang dari seorang operator sehingga mempunyai kekurangan dalam hal : · Pengaturan sumber daya operator sesuai keahliannya, · Pengalokasian alat yang tepat dalam proyek atau pekerjaan yang dilakukan, · Inisiatif-inisiatif dalam melakukan tindakan perbaikan-perbaikan, · Analisa dasar dalam pengoperasian tambang (perhitungan kebutuhan truk, productivity, match factor dan lain-lain).

161

UPAYA PERBAIKAN UNTUK PENGHEMATAN BAHAN BAKAR DALAM OPERASI TAMBANG Terkait upaya penghematan bahan bakar dalam suatu operasi tambang tentunya harus mempunyai ukuran sebagai parameternya. Salah satu contoh ukuran parameter yang dipakai adalah rasio liter/bcm atau liter/ton. Dari parameter tersebut perlu diperhatikan 2 faktor penting yang mempengaruhi yaitu : 1. Konsumsi bahan bakar (liter) : Semakin besar konsumsi bahan bakar yang digunakan untuk memindahkan overburden atau batubara dengan kuantitas yang sama, maka rasio akan semakin besar. Semakin sedikit konsumsi bahan bakar maka rasio bahan bakar akan semakin kecil juga. 2. Produksi (bcm, ton) : semakin besar produksi overburden atau batubara yang dihasilkan dengan konsumsi bahan bakar yang sama, maka rasio akan semakin kecil. Dan sebaliknya, semakin sedikit produksi yang dihasilkan maka rasio akan semakin besar. Terkait dengan bagaimana memaksimalkan produksi dan saat bersamaan juga mengurangi konsumsi bahan bakar, maka berikut ini adalah sejumlah komponen yang menjadi fokus untuk senantiasa diperbaiki serta ditingkatkan efektif dan efisien yaitu : - Optimasi Mine Planning dalam perencanaan desain tambang untuk menghasilkan Strip Ratio yang rendah, cycle time ekonomis, - Reliability dan PAalat-alat muat dan angkut utama, - OB cycle Time, - ProduktivitasAlat-Alat Muat Utama (Shovel, backhoe, truk), - Usage Overburden Truk, - Optimasi proses pemboran dan peledakan, - Efektifitas alat pendukung (grader, dozer, backhoe kecil), - Pengelolaan drainase (Water management). Komponen-komponen diatas sangat berkaitan dengan upaya penghematan bahan bakar karena memperbaiki komponen diatas akan berdampak terhadap kenaikan produksi dan secara otomatis maka rasio bahan bakar akan menurun. Bagan alir dibawah ini dapat menjelaskan bagaimana semua komponen mempunyai output yang sama.

162

Gambar 07: Proses-Proses yang mempengaruhi konsumsi bahan bakar Mining Operation Division-KPC telah berupaya untuk memperbaiki komponen-komponen diatas sebagai upaya dalam penghematan bahan bakar, yang dapat dijelaskan sebagai berikut : 1. Memperbaiki system pencatatan bahan bakar : Dengan penerapan pencatatan bahan bakar otomatis, yang dikenal sebagai FMS (fuel management system), maka suplai dan konsumsi bahan bakar disetiap area produksi dan di setiap alat (unit) kerja bisa dicatat dengan akurat dan otomatis. FMS sendiri diterapkan sejak awal 2010. 2. Memperbaiki praktek Match Factor : Dari hasil analisa diperoleh Match Factor yang ideal saat ini dibatasi dalam range 0.65 < MF < 0.9. Pengelolaan MF ini intinya bagaimana mendistribusikan sejak awal truck-truck berlebih saat terjadi penumpukan truck di suatu shovel. Sebaliknya saat jumlah truck kurang maka salah satu shovel harus dimatikan jika opsi dumping dekat untuk mengurangi cycle time tidak ada. Praktek ini bertujuan untuk mengurangi waktu tunggu truck dan truck antri di shovel agar penggunaan bahan bakar bisa efektif dan efisien.

163

Gambar 08: Grafik perbandingan MF vs Shovel menunggu truk dan antrian truk 3. Melakukan kampanye penghematan bahan bakar dan sosialisasi SOP Program ini dilakukan kepada semua karyawan baik operator maupun supervisor agar mereka paham dan melaksanakan inisiatif-inisiatif untuk berkontribusi dalam penghematan bahan bakar diarea operasional tambang. Kampanye bisa dilakukan melalui broadcast radio, spanduk, stiker dan refresh materi secara berkala. Salah satu contoh kampaye bisa dilihat pada gambar berikut.

Gambar 09: Kampanye melalui poster 4. Memperbaiki lalulintas tambang dan perbaikan desain jalan Lalu lintas tambang perlu memperoleh perhatian khusus terutama dalam perencanaan berapa banyak truk yang akan melewati jalan tersebut. Prioritas yang perlu dilakukan yaitu :

164

· ·

· ·

Membuat alternatif jalan utama yang menuju dumping area untuk menghindari truk beriringan di sepanjang jalan. Membuat prioritas jalan di setiap persimpangan yang ada. Kesalahan penempatan rambu-rambu di persimpangan akan mengakibatkan antrian panjang pada truk-truk yang melewati jalur tersebut. Kemiringan jalan diusahakan tidak melebihi 8%. Jalan yang relatif rata akan membuat rasio bahan bakar akan semakin kecil. Sistem drainase di jalan tambang perlu dibuat agar pada saat kondisi hujan, air cepat mengalir dan tidak merusak jalan.

5. Meningkatkan utilisasi truk dan shovel/backhoe Komponen waktu yang perlu dilakukan perbaikan untuk meningkatkan utilisasi adalah : Jam makan-sholat. · · Jam overshift. · Jam mulai operasi setelah hujan dan peledakan. Proses istirahat makan dan sholat bisa memerlukan waktu antara 25-30 menit setiap shift atau hampir 1.5 jam setiap hari. Umumnya operator akan menghentikan truk turun ke pondok untuk istirahat makan dan sholat. Jika proses ini tidak diawasi dengan baik, maka bisa terjadi banyak truck yang akan berhenti pada saat yang sama. Beberapa kejadian saat pengambilan waktu makan dan sholat ini ternyata mesin truck masih hidup. Kerugian waktu operasi selama proses diatas ini bisa diatasi dengan cara :
·

·

· ·

Membentuk crew bayangan (shadow crew) : Kru bayangan adalah para operator yang ditugaskan untuk bekerja pada gilir kerja waktu berbeda dengan shift normal. Mereka mulai bekerja jam 10 pagi sampai jam 7 malam. Mereka memiliki fungsi khusus hanya mengganti operator selama operator tersebut sedang istirahat makan atau sholat. Penerapan kru bayangan hanya bisa dijalankan kalau Pit Departemen yang bersangkutan memiliki ratio operator terhadap alat yang cukup memadai (ratio 4.4). Membuat lokasi shift change yang tepat (pertengahan pit dan disposal) : Tujuannya mengurangi gap (waktu) antara muatan terakhir di shift tersebut dan muatan pertama di shift berikutnya dalam proses shift change. Membuat dan menerapkan SOP baru untuk memperbaiki peng-alokasian truck kepada alat-alat muat setelah peledakan dan hujan. Menerapkan SOP baru terkait strategi managemen dumping untuk mengoptimalkan utilisasi truck dengan cara mengupayakan agar cycle time seimbang dan stabil dalam jangka waktu lama.

6. Menerapkan proses Hot Shift Change Proses pergantian Shift dapat diperbaiki dengan melakukan pengawasan yang lebih baik dan dengan pengelolaan yang lebih baik di masing-masing daerah shift change agar tiap-tiap

165

truck berganti shift secara bergiliran dan tidak terjadi bersamaan. Inisiatif yang dilakukan adalah: · Menempatkan supervisor khusus yang mengawasi proses shift change agar berjalan sesuai rencana. · Komunikasi antara supervisor dengan dispatcher. · Pembuatan lokasi pergantian shift yang memadai dan tepat. · Operator melakukan pergantian shift dengan crew pengganti tidak lebih dari 3 menit. Artinya dalam durasi tersebut operator pengganti harus sudah mengoperasikan unitnya.

Gambar 10: Lokasi Pergantian Shift Penerapan Hot Shift change “ kursi panas” adalah bertujuan untuk : · Meningkatkan unjuk kerja keselamatan karena selama proses pergantian shift ada pengawas yang melakukan pengontrolan. · Mengefektifkan proses pergantian shift. · Meminimalkan kehilangan produksi pada saat shift change. · Mengurangi waktu tunggu pada alat gali (shovel/backhoe) saat proses pergantian shift. 7. Upaya mengurangi Cycle time alat angkut: Dengan mengurangi cycle time maka dampak yang diperoleh adalah produksi yang dihasilkan akan meningkat, biaya operasi yang dikeluarkan akan berkurang. Inisiatif yang harus dilakukan adalah : · Jarak antara pit dengan dumping /disposal area: Mencari alternatif jarak area penimbunan yang lebih dekat dengan pit. Jarak merupakan faktor dalam componen cycle

166

· · ·

time. Loading Point yang standar: Dengan loading point yang standar akan mengurangi waktu spotting dan antrian pada truk. Dumping Point standar : Dengan dumping point yang standar akan mengurangi waktu spotting dan antrian pada truk. Strategi penempatan disposal : Dengan strategi pengelolaan area penimbunan yang tepat maka cycle time bisa diatur dengan baik dan peningkatan cycle time yang signifikan tidak terjadi.

Gambar 11: Strategi pengelolaan area penimbunan PENUTUP Upaya – upaya penghematan bahan bakar akan bisa dilakukan secara berkelanjutan dengan melakukan pengontrolan dari hasil yang diperoleh dari upaya yang telah dilakukan. Dalam konsep DMAIC, pengontrolan sangat penting artinya dalam suatu proses perbaikan (improvement). Salah satu bentuk pengontrolan yang bisa dilakukan adalah membuat ”Control Chart”. Contoh control chart bisa dilihat pada gambar dibawah ini.

167

Gambar 12: Grafik kontrol pemakaian bahan bakar

Gambar 13: Grafik kontrol pemakaian bahan bakar Dengan melaksanakan upaya – upaya diatas dan pengontrolan yang regular/ setiap saat maka pengoperasian tambang akan berjalan dengan efisien dan berdampak terhadap penurunan konsumsi bahan bakar yang signifikan. Daftar Pustaka 1. MOD business Improvement team, Fuel Efficiency Cycle 1-2 , PT.KPC, Sangatta, 2008. 2. MOD business Improvement team, Fuel Efficiency Cycle 4, PT.KPC, Sangatta, 2010. 3. MOD business Improvement team, Fuel Efficiency Cycle 5, PT.KPC, Sangatta, 2011. 4. Business Improvement Manual Handbook, 1st edition, 2011

168

PROSIDING TPT XX PERHAPI 2011 APLIKASI ULTRASONIC TEST (UT) SEBAGAI PREDICTIVE KERETAKAN AKIBAT DYNAMIC LOAD PADACAT789B/785/T282B/EH4500 TRUCK DI KPC SITE
Jumaidi Holmes Simatupang (Asst. Condition Monitoring FAR & NDT Specialist Mining Support Division) PT. KALTIM PRIMA COAL Peningkatan jumlah equipment karena ekspansi perusahaan dan peningkatan jumlah produksi merupakan suatu hal yang normal pada setiap perusahaan tambang. Hal tersebut juga mempengaruhi kenaikan probability kegagalan yang terjadi. Dari berbagai macam karakteristik kegagalan, terdapat beberapa macam yang sulit untuk dicegah maupun diprediksi. Salah satunya adalah yang disebabkan oleh Dynamic Load. Kegagalan yang diakibatkan oleh Dynamic Load pada heavy equipment sangatlah sulit diketahui karena berhubungan dengan frekuensi paparan, struktur material dan keretakan pada struktur. Dalam kaitannya dengan dunia pertambangan, Dynamic Load tidak dapat dihindari karena konteks operasi yang selalu berubah. Oleh karena itu diperlukan suatu metode maupun cara yang dapat menangkap symptom kegagalan sebelum kegagalan terjadi. Dengan adanya peningkatan jumlah produksi, dalam pertambangan moderen dewasa ini peralatan merupakan salah satu alat yang sangat penting untuk mencapai target yang di harapkan, tanpa di tunjang peralatan yang handal, mustahil target yang sudah ditetapkan dapat di capai,maka kegagalan dari suatu peralatan dalam mencapai target, juga akan berdapak langsung dengan kegagalan mencapai suatu target produksi, dengan kata lain akan mengalami kerugian. Kondisi oprasional tambang yang sangat beragam dan kompleks, tentu menimbulkan beragam permasalahan pada setiap peralatan, salah satunya adalah kerusakan pada struktur material.Maka sangat di butuhkan suatu praktek maintenance yang dapat memprediksi kerusakan pada struktur material agar setiap peralatan dapat mencapai Physical availability yang di harapkan. Non Destructive Test (NDT) Merupakan salah satu praktek predictive keretakan pada struktur material yang dapat di aplikasikan pada peralatan tambang.diantara beragam metode NDT salah satu yang bisa di terapkan adalah Ultrasonic testing. Metode ultrasonic,merupakan suatu metode pengujian yang menggunakan energi suara frekuensi tinggi untuk melakukan pemeriksaan pada struktur material dan membuat parameter pengukurannya. Pengujian dengan metode ultrasonic dapat digunakan antara lain: 1 Mendapatkan informasi yang berhubungan dengan cacat. 2 Memperlihatkan sifat alami cacat tanpa merusak benda yang di uji. 3 Memisahkan cacat pada material yang dapat di terima maupun tidak dapat di terima berdasarkan standart yang sudah di tetapkan. PT.Kaltim Prima Coal, Mining Support Division telah melakukan predictive keretakan pada struktur material dengan mengunakan beberapa metode Non Destructive Test antara lain:

169

ü ü ü

Metode Ultrasonic Testing (UT). Metode Magnetic Testing (MT). Metode Liquid Penetran Testing (PT).

Dan metode ini sudah di terapkan di beberapa peralatan antara lain: ü Unit Caterpillar Truck CAT 789 /785/777. ü Unit Komatsu Truck HD 785-7,-5,-3. ü Unit Hitachi Euclid EH 4500. ü Unit Liebherr T282B. ü Unit Dozer. Kata Kunci:Probability, Dynamic Load, Symptom, Physical availability, Nondestructive Testing (NDT), Ultrasonic Testing (UT). 1. Latar Belakang Banyak-nya kerugian serta faktor keselamatan yang bisa ditimbulkan dari kerusakan pada struktur material yang mengalami retak atau bahkan tidak dapat berfungsi sama sekali yang di sebabkan dari dynamic load yang kompleks dan beragam yang di rasakan pada suatu peralatan operasional tambang. Beberapa kerugian atau dampak dari kegagalan pada struktur material yang tidak di control dengan baik antara lain: ü ü ü ü Production loss Kerusakan peralatan. Kehilangan jam kerja yang berhubungan dengan keselamatan. Kerusakan lingkungan hidup.dll

Dengan mempertimbangkan hal-hal di atas PT. Kaltim Prima Coal Mining Support Division terus berupaya melakukan control yang terbaik dan terus melakukan improvement, khusus-nya dalam melakukan predictive keretakan pada struktur material untuk setiap peralatan, seraya melakukan ekspansi dan peningkatan jumlah produksi serta penambahan jumlah alat operasional. 2.Analisa Permasalahan. Kondisi actual pengoperasian, peningkatan jumlah produksi, letak geograpis, praktek maintenance, dan adanya modifikasi,mengakibatkan setiap peralatan akan mengalami dynamic load yang sangat beragam dan kompleks,dan hal ini tentu sangat sulit untuk di prediksi,di tambah lagi dengan bertambah usia dari peralatan, kegagagalan prodak, akan menambah jumlah kegagalan akibat dynamic load. Beberapa masalah yang bisa muncul diantaranya adalah: 1 Kelelahan yang tidak normal pada struktur material,mengakibatkan struktur material mangalami keretakan atau tidak berfungsi sama sekali. 2 Usía peralatan atau componen yang lebih pendek.

170

3 4 5

Meningkat-nya pekerjaan un Schedule. Tidak selalu tersedia-nya stock part pengganti. Terbatas-nya tenaga ahli yang berpengalaman untuk melakukan perbaikan alat.

3. Pemecahan Permasalahan. Berdasarkan permasalahan diatas maka langkah pertama yang dapat di lakukan adalah pengumpulan data, baik dari kondisi actual maupun rekomandasi pabrik, lalu menganalisa data tersebut,sehingga dapat di ketahui peralatan apa saja serta di bagian–bagian mana saja pada peralatan yang berpotensi besar mengalami kerusakan pada struktur material,dan yang bisa berakibat fatal bagi operator,sehingga dari hasil analisa tersebut dapat di lakukan predictive keretakan yang tepat. Salah satu cara melakukan predictive keretakan pada struktur material adalah dengan penerapan pengujian struktur material dengan mengunakan metode Non Destructive Test,di mana salah satu-nya adalah ultrasonic testing.

171

172

Grafik diatas menunjukan beberapa peralatan yang berpotensi besar mengalami kerusakan pada struktur material akibat dari dynamic load, penentuan predictive keretakan pada setiap peralatan ini di tinjau dari beberapa hal seperti : ü ü ü ü ü Bagian-bagian peralatan yang kritikal. Kondisi actual pengoperasian Data actual frekuensi keretakan. Rekomendasi pabrik. Rekomandasi Failure analist (improvement)

Grapik diatas menunjukan perbandiangan biaya yang harus di keluarkan , jika melakukan predictive keretakan dengan praktek run to failure pada steering ball stud CAT 789, dengan catatan tidak ada dampak lain seperti kecelakan kerja atau kerusakan lain yang merupakan akibat.

173

Hasil kajian dari adanya predictive keretakan struktur material dengan metode ultrasonic, yang perlu di lakukan adalah: ü Develop & update service sheet Menambahkan pekerjaan predictive keretakan struktur material pada service sheet sehingga tidak menambah down time alat. ü Develop inspector ultrasonic testing. Dengan adanya inspector, maka dapat di lakukan pengujian material,beberapa hari sebelum jadwal PM service, sehingga cukup waktu untuk mempersiapkan perbaikan maupun penggantian componen. ü Develop SOP Perlunya membuat standarisasi untuk setiap pekerjaan,terlebih pada peralatan maupun struktur material bagian-bagian peralatan yang kritikal. ü Develop data base. Perlu lakukan pengumpulan data–data serta tersimpan secara sistematis sehingga memudahkan untuk keperluan analisa kerusakan di kemudian hari. ü Monitoring dan improvment. Setelah adanya implementasi, perlu di lakukan monitoring dan kontrol serta melakukan improvment jika di butuhkan. 4. Kesimpulan Dengan di lakukanya predictive keretakan pada struktur material serta monitor yang ketat dengan mengunakan metode ultrasonic , maka akan di peroleh beberapa hal yang menjadi keuntungan diantaranya : ü Performance peralatan akan lebih baik dan stabil. ü Dapat mendeteksi awal kerusakan kecil pada struktur material seperti crack,inclusion,slug dll, melakukan monitor sehingga dapat membuat perencanaan (schedule Maintenace). ü Melakukan predictive keretakan dengan ultrasonic pada kritikal componen, dapat membantu mengurangi atau menghindari terjadinya kerusakan yang berat pada peralatan yang bahkan bisa berakibat fatal bagi manusia. ü Mengantisipasi adanya kegagalan pabrik dan dapat membantu menguatkan data yang berhubungan dengan warranty. ü Mempermudah dalam membuat Failure Analyst Report serta melakukan improvment. ü Mengurangi kemungkinan terjadinya pekerjaan maintenance yang ber ulang karena kegagalan material yang tidak dapat terlihat secara visual.

174

Daftar PustakaAnalist 1 MSD Condition Monitoring NDT Weekly Report, 2011. 2 Ellipse data System. 3 CorVu data System. 4 Ivara EXP Pro. 2.0 5 NDT Module Training Attachment. Ultrasonic flaw detector equipment (USN 58R) Aplikasi ultrasonic untuk mendeteksi keretakan struktur material pada steering ball stud CAT 789,dan prinsip dasar pembacan pulsa.

Picture 3.0 Equipment UT (USN 58R) and Material uji.

Picture 3.1 Basic interpreter

175

PROSIDING TPT XX PERHAPI 2011
PMEWUJUDKAN MANAJEMEN TOPSOIL YANG TERINTEGRASI

DI MINING OPERATION DIVISION PT KALTIM PRIMA COAL
Reza Prasetya PIT J Departemen - PT Kaltim Prima Coal Tanah pucuk atau biasa yang kita kenal dengan sebutan topsoil merupakan lapisan paling atas dari tanah. Lapisan ini menjadi sangat penting karena mengandung bahan- bahan organik, sebagian unsur hara tanah, benih, kumpulan akar dan mikroorganisme tanah yang pada akhirnya akan meningkatkan kesuburan tanah dan berguna untuk proses penanaman kembali (revegetasi). Topsoil dalam dunia pertambangan menjadi sangat penting, karena selalu ada pembukaan lahan (hutan) maupun pembukaan kembali daerah yang sudah direhabilitasi untuk kepentingan penambangan, tempat penimbunan lapisan penutup atau kepentingan lainnya seperti akses di dalam maupun luar lokasi tambang, lokasi bendungan, tempat penampungan sementara batubara, dan kegiatan-kegiatan lainnya yang bersifat project. Topsoil yang terdapat dalam tiap tiap area tersebut memiliki perlakuan khusus karena hal ini berkaitan dengan isu lingkungan ke depannya. Pemindahan topsoil di Mining Operation Division (MOD) PT Kaltim Prima Coal (KPC) sendiri dibagi menjadi dua kegiatan utama yaitu pemindahan topsoil langsung ke daerah tempat penimbunan lapisan penutup yang (area dumping) sudah selesai dan memenuhi standar untuk direhabilitasi dan pemindahan topsoil ke tempat penimbunan sementara yang sudah disetujui oleh pihak-pihak terkait. Di internal MOD sendiri manajemen topsoil itu sendiri melibatkan banyak pihak mulai dari perencanaan tambang jangka panjang, pelaksana kegiatan penambangan, pelaksana seluruh kegiatan topsoiling, hingga dari bagian lingkungan sebagai fungsi kontrol yang memegang peranan penting untuk seluruh kegiatan yang berhubungan dengan isu lingkungan di seluruh PT Kaltim Prima Coal. Oleh karena itu, manajemen topsoil yang terintegrasi dapat diwujudkan dimulai dari kesadaran dari masing-masing individu pelaku kegiatan pertambangan akan pentingnya topsoil untuk kehidupan masa depan serta perencanaan yang matang baik jangka panjang maupun jangka pendek dari segi teknik oleh seluruh pelaku kegiatan penambangan. Kata kunci : manajemen, topsoil

1

176

1. PENDAHULUAN Sebagai salah satu tambang batubara terbesar di Indonesia, PT Kaltim Prima Coal memiliki kebijakan tersendiri mengenai pengelolaan lingkungan hidup yang secara umum menegaskan bahwa PT KPC bertekad mengelola dampak lingkungan salah satunya melalui pengembalian area bekas tambang ke dalam kondisi yang stabil, aman dan produktif yang dalam pelaksanaannya tentunya disesuaikan dengan peraturan pemerintah. Untuk mewujudkan kebijakan tersebut PT KPC sendiri berkomitmen dalam mengontrol pelaksanaan seluruh kegiatan yang berhubungan dengan pengembalian area bekas ke dalam kondisi yang stabil, aman dan produktif tersebut. Salah satu didalamnya ialah dalam pengelolaan topsoil. Dalam pelaksanaannya PT KPC telah memiliki beberapa Standard Operating Procedure (SOP) yang berkaitan dengan kegiatan-kegiatan topsoiling seperti SOP Land Clearing, SOP Cutting Trees, SOP Loading Topsoil, SOP Hauling Topsoil, SOP Dumping Topsoil, dll. Selain itu diluar seluruh SOP tersebut PT KPC juga telah memiliki Spesifikasi Rehabilitasi, sebagai panduan untuk membantu tercapainya standar-standar rehabilitasi di lokasi tambang yang konsisten di seluruh lokasi tambang dan memenuhi praktek industri yang paling baik. 2. KEGIATAN TOPSOILING DI PT KALTIM PRIMACOAL Seluruh kegiatan topsoiling di MOD PT KPC dilakukan sepenuhnya oleh Depertemen Mining Services yang mana pelaksanaan operasionalnya dilakukan oleh section Mine Rehabilitation dan detail perencanaan untuk seluruh kegiatan topsoiling tersebut diatur oleh section Technical & Contract Support. Berikut merupakan gambaran umum kegiatan topsoiling yang dilakukan oleh MOD PT KPC:

Gambar 1. Gambaran umum kegiatan topsoiling di MOD PT KPC

177

2.1

Pembukaan lahan (Land clearing)

Kegiatan pembukaan lahan dilakukan dengan alat berat khusus, dalam hal ini MOD menggunakan dozer D85 Komatsu yang telah dimodifikasi sedemikian rupa untuk mengurangi potensi terjadinya kecelekaan yang rentan terjadi dalam kegiatan pembukaan lahan seperti tertusuknya alat oleh kayu, tertimpa runtuhan batang pohon, dll. Kegiatan pembukaan lahan itu sendiri dilakukan setelah mendapatkan internal clearing permit yang mengakomodir permit dari perhutanan. Dalam kegiatan pembukaan lahan ini peran dari masing-masing individu pelaksana operasional menjadi sangat penting mulai dari supervisi yang wajib mengawasi keseluruhan kegiatan pembersihan lahan hingga operator dozer itu sendiri yang mana harus selalu terjaga tingkat kewaspadaannya. 2.2 Pengambilan topsoil (Topsoil handling)

Pengambilan topsoil dilakukan oleh alat gali PC 750 dan PC 800 Komatsu serta articulated dump truck (ADT) Volvo dan Caterpillar sebagai alat angkut untuk topsoil itu sendiri. Pemilihan PC 750 sebagai alat gali topsoil ditentukan oleh beberapa faktor yang mana faktor utamanya dikarenakan ground pressure PC 750 yang dianggap paling sesuai untuk karakteristik topsoil di wilayah penambangan PT KPC. Sama halnya dengan pemilihan alat angkut dalam hal ini articulated dump truck (ADT) Volvo A35E dan Catterpillar dipilih sebagai alat angkut alasan utamanya karena ground pressurenya yang dianggap cocok dengan kondisi hauling untuk kegiatan topsoiling yang sebagian material dasar pembentukan jalan adalah topsoil itu sendiri. Pada kondisi tertentu ada kalanya dimana daerah yang sudah direhab terpaksa diambil kembali topsoilnya karena beberapa hal seperti meluasnya area penambangan dan hal-hal lainnya yang bersifat project. Pengambilan topsoil dari area yang sudah direhab ini dilakukan sama halnya dengan pengambilan topsoil dari area asli, hanya tidak memerlukan pembersihan lahan karena biasanya belum ada pohon yang tumbuh besar. 2.3 Penimbunan sementara topsoil (Topsoil stockpile)

Topsoil yang diangkut dari daerah asli maupun daerah yang sudah direhab sebaiknya dapat langsung disebar ke daerah penimbunan tanah penutup yang sudah dinyatakan selesai dan memenuhi standar rehabilitasi (final dump area). Namun pada pelaksanaannya, topsoil yang diangkut dari daerah asli maupun daerah redisturb tersebut kadang-kadang harus ditimbun terlebih dahulu sebelum siap dihampar di daerah penimbunan tanah penutup yang sudah dinyatakan selesai dan memenuhi standar rehabilitasi (final dump area). Lokasi penimbunan topsoil sementara ini dinamakan topsoil stockpile. Topsoil stockpile harus dibuat di daerah yang tidak akan terganggu untuk jangka waktu yang cukup lama hingga tersedia final dump area yang siap untuk disebar topsoil dari topsoil stockpile. Selain itu, walaupun sama-sama lokasi penimbunan pada prinsipnya penentuan lokasi

178

topsoil stockpile berbeda dengan penentuan lokasi penimbunan lapisan penutup batubara (overburden) karena lokasi topsoil stockpile dibuat untuk diambil kembali keseluruhan topsoil didalamnya. Sehingga dalam menentukan lokasi topsoil stockpile kita harus melihat pertimbangan dari sisi operasional pada saat topsoil dari stockpile tersebut akan diambil kembali (rehandling) apakah memungkinkan untuk alat kembali masuk dan dapat mengambil kembali 100% seluruh topsoil yang ada pada stockpile tersebut. Setelah design topsoil stockpile selesai dibuat, selanjutnya perlu dilakukan pengecekan dari pihak long term planning mengenai lokasi topsoil stockpile tersebut akan dibuat apakah dapat bertahan cukup lama hingga tersedia area final dump yang cukup untuk dapat disebar topsoil dari stockpile topsoil tersebut. Yang harus dihindari adalah jangan sampai pada tiba saatnya lokasi stockpile tersebut akan direhandle belum tersedia area final dump yang cukup sehingga mengakibatkan pekerjaan yang sangat tidak efektif dalam proses topsoiling secara keseluruhan (double activity dan double expenses). Selanjutnya apabila telah mendapat persetujuan dari pihak long term planning, perlu dilakukan analisis dari pihak geoteknik terhadap tingkat kestabilan design topsoil tersebut sehingga kedepannya pada saat pelaksanaannya seluruh kegiatan operasional pengisian stockpile oleh topsoil ini bisa dilaksanakan dengan aman sesuai dengan kajian geotekniknya. Lalu setelah stockpile topsoil ini dinyatakan selesai dan belum akan diganggu dalam waktu lebih dari tiga bulan perlu dilakukan penanaman cover crop di tiap-tiap benchnya yang bertujuan agar topsoil yang ditimbun tersebut tetap terjaga kandungan organik dan unsur haranya. Berikut merupakan spesifikasi standar pembuatan design topsoil stockpile di PT KPC :

Gambar 2. Standar spesifikasi pembuatan design topsoil stockpile di PT KPC 2.4 Penyebaran topsoil di area penimbunan lapisan penutup yg sudah final (Spreading topsoil) Area final dump merupakan salah satu kunci sukses rehabilitasi, karena kedepannya lokasi ini akan menjadi sebuah ekosistem yang baru bagi makhluk hidup disekitarnya. Pada aplikasi

179

pelaksanaannya pembentukan area final dump perlu pengawasan lebih dari pembentukan temporary dump, diantaranya yang paling utama ialah material pembentuk final dump harus material non acid forming rock (NAF) dan untuk di PT KPC sendiri menggunakan minimal material NAF 95%. Selain itu, pada pelaksanaannya harus benar-benar dipastikan bahwa pembentukan crest dan toe area final dump harus sesuai dengan design finalnya, karena hal ini akan berpengaruh pada proses reshaping dari area final dump menjadi daerah rehab. Pada selanjutnya setelah final dump selesai dibentuk, akan dilakukan Net Acid Generation (NAG) sampling di area final dump tersebut untuk memastikan bahwa area tersebut memang dibentuk dengan minimal material NAF 95%. NAG sampling di PT KPC dilakukan dengan cara mengambil sampel dari cutting area final dump yang telah dibor di titik-titik tertentu untuk selanjutnya dianalisis di laboratorium. Berikut merupakan gambar spesifikasi standar final dump di PT KPC.

Gambar 3. Spesifikasi standar final dump di PT KPC Setelah area final dump dinyatakan sudah memenuhi standar rehabilitasi, maka area tersebut diserahterimakan agar bisa langsung dilakukan reshaping, reshaping sendiri ialah pembentukan ulang kemiringan bench sesuai agar sesuai dengan spesifikasi rehab, untuk di PT KPC sendiri overall slope untuk final rehab ialah 1 : 5,5. Selanjutnya setelah proses reshaping selesai, maka area tersebut sudah bisa langsung dilapisi oleh topsoil. PT KPC menetapkan ketebalan 1 meter sebagai standar untuk pelapisan topsoil di area final. Berikut merupakan spesifikasi standar final dump setelah dilakukan proses reshaping.

Gambar 4. Spesifikasi standar final dump di PT KPC setelah dilakukan proses reshaping

180

3. MANAJEMEN TOPSOIL DI MINING OPERATION DIVISION PT KALTIM PRIMA COAL 3.1 Perencanaan manajemen topsoil

Perencanaan manajemen topsoil di MOD PT KPC terintegrasi dengan perencanaan jangka panjang untuk wilayah penambangan di PT KPC itu sendiri. Berikut merupakan diagram alir perencanaan topsoil jangka panjang di MOD PT KPC.

Gambar 5. Diagram alir perencanaan jangka panjang topsoil di PT KPC Semakin luas area yang akan dibuka maka seluas itulah seluruh topsoil yang ada di daerah yang akan dibuka tersebut harus diselamatkan, baik itu langsung disebar di daerah final dump maupun ditimbun terlebih dahulu sementara di topsoil stockpile. PT KPC menaikkan produksinya menjadi 70 juta ton pada tahun 2013 dari 45 juta ton pada 2011. Hal ini menyebabkan akan semakin luasnya wilayah penambangan baik itu untuk pembukaan pit – pit baru yang dinilai ekonomis dan perluasan lokasi penimbunan tanah penutup untuk meningkatkan kapasitas lokasi timbunan. Selain itu, dengan adanya perluasan wilayah penambangan tentunya akan ada juga perluasan di sistem pendukung kegiatan penambangan itu sendiri seperti bidang infrastruktur dan bagian pemeliharaan alat-alat berat. Oleh karena itu untuk menyikapi hal ini, sangat diperlukan perencanaan manajemen topsoil yang baik. 3.1.1 Penentuan batas penambangan

Sebagai hulu kegiatan perencanaan penambangan, long term planning akan mengeluarkan desain pit, dump dan haul road serta tahapan penambangannya untuk memenuhi target pencapaian batubara dan overburdennya. Setelah itu dari tahapan yang ada tersebut akan didapat batas untuk kemajuan batas penambangan dan batas timbunan overburdennya, sehingga akan didapatkan gambaran awal luasan area untuk daerah-daerah mana saja yang perlu dipindahkan topsoilnya terlebih dahulu sebelum alat berat (alat gali dan alat muat untuk overburden) masuk ke daerah tersebut untuk memulai aktivitas penambangan guna mencapai target kemajuan batas penambangan dan batas timbunan overburdennya. Selain itu juga, dari

181

desain kemajuan daerah timbunan overburden yang dikeluarkan dapat diketahui pula berapa luasan area dump yang bisa dianggap sudah selesai dan siap untuk disebar topsoil dan dapat dihitung sebagai angka rehab tahunan MOD PT KPC. 3.1.2 Pengkategorian jenis topsoil

Setelah didapatkan angka luasan area untuk daerah-daerah yang perlu dipindahkan topsoilnya, topsoil yang akan dipindahkan tersebut perlu dikategorikan untuk mendapatkan jumlah volume total topsoil yang akan dipindahkan. Pengkategorian topsoil terbagi menjadi tiga yaitu topsoil dari lahan asli, topsoil dari daerah yang sudah direhabilitasi dan topsoil dari topsoil stockpile. Pengkategorian dilakukan untuk membedakan ketebalan dari topsoil yang akan dipindahkan. Untuk topsoil dari lahan asli standar ketebalan topsoil yang harus dipindahkan setebal 1.5 meter dan untuk topsoil dari daerah yang sudah direhabilitasi standar ketebalannya 1 meter. Selain itu dari keadaan topografi yang sudah ada, dapat juga diprediksi perolehan topsoil yang akan didapat yang mana tentunya perolehan topsoil untuk daerah terjal tentu akan lebih rendah dari perolehan topsoil untuk daerah yang relatif landai. 3.1.3 Penentuan parameter

Setelah didapatkan angka total volume topsoil yang perlu dipindahkan, tahapan selanjutnya ialah penentuan lokasi kemana topsoil tersebut akan dipindahkan. Pada prinsipnya lokasi target pemindahan topsoil ada dua, yaitu topsoil stockpile dan daerah timbunan overburden yang sudah final dan memenuhi standar untuk rehabilitasi. Penentuan lokasi dilakukan dengan mengacu pada beberapa parameter seperti jarak tempuh dari loading point ke dumping point, cycle time dan kondisi jalan yang akan dilalui. Selanjutnya, setelah didapatkan parameter-parameter untuk pemindahan topsoil seperti yang telah disebutkan diatas akan ditentukan pula parameter-parameter untuk alat gali dan alat angkut topsoil. Parameter alat ini diantaranya meliputi physical availability, usage, productivity dan payload. Penentuan parameter alat ini dilakukan berdasarkan beberapa faktor seperti umur alat, rekomendasi dari bagian pemeliharaan alat berat, data pencapaian yang telah dicapai alat tersebut dalam jangka waktu yang telah ditentukan sebelumnya serta perhitungan teoritis. 3.1.4 Finalisasi data

Setelah data-data yang telah disebutkan diatas selesai dilengkapi. Maka tahapan selanjutnya ialah proses finalisasi terhadap keseluruhan data tersebut sehingga akan didapatkan jumlah alat gali dan alat angkut yang diperlukan guna memenuhi jumlah luasan area yang perlu dilakukan pembersihan lahan dan jumla total volume topsoil yang perlu dipindahkan. Selain itu, proses finalisasi juga meliputi rincian detail jumlah angka luasan daerah final dump yang akan disebar topsoil oleh masing-masing pit departemen dan akan diklaim sebagai angka rehab tahunan MOD PT KPC. Setelah proses finalisasi selesai, seluruh data akan diberikan ke departemen environment

182

dan tiap detail angka tersebut, baik data jumlah luasan area yang akan dibersihkan lahannya, data volume topsoil yang akan dipindahkan serta detail daerah beserta luasannya yang akan diklaim sebagai angka rehab tahunan MOD PT KPC akan digunakan sebagai acuan untuk pelaksanaan kegiatan topsoiling. Berikut merupakan contoh tabel hasil finalisasi perencanaan jangka panjang angka kebutuhan topsoiling.

Tabel 1. Hasil finalisasi perencanaan jangka panjang angka kebutuhan topsoiling 3.2 Kontrol manajemen topsoil

Kontrol manajemen topsoil di MOD PT KPC dilaksanakan sepenuhnya oleh departemen environment. Berikut merupakan gambaran fungsi kontrol yang dilakukan oleh departemen environment mengenai manajemen topsoil di MOD PT KPC.

Gambar 6. Kontrol manajemen topsoil di MOD PT KPC Dari gambar diatas dapat dilihat bahwa untuk setiap kegiatan yang berhubungan dengan pengelolaan topsoil, terdapat peran pihak environment sebagai pihak yang mengontrol pengelolaan topsoil tersebut.

183

3.2.1

Tahap 1

Sebelum suatu lahan akan dibuka dan diambil topsoilnya, maka perlu diajukan terlebih dahulu izin untuk pembersihan lahan dan pengambilan topsoilnya. Untuk pembersihan lahan dan pengambilan topsoil di daerah asli perlu diajukan land clearing permit sedangkan untuk pengambilan topsoil di daerah yang sudah direhabilitasi perlu diajukan redisturb permit. Pengajuan kedua surat izin ini diajukan kepada pihak long term planning sebagai pihak yang memegang detail perencanaan kegiatan penambangan kedepannya dan pihak lingkungan sebagai fungsi kontrol manajemen topsoil itu sendiri. 3.2.2 Tahap 2

Lalu selanjutnya pada saat proses pengambilan topsoil di suatu daerah sudah selesai dilakukan, maka perlu dilakukan Customer Supply Agreement (CSA) Land Clearing dari pihak operasional yang melakukan kegiatan topsoiling, pihak yang meminta atas kegiatan topsoiling itu sendiri dan pihak environment sebagai kontrol manajemen topsoil. CSA Land Clearing ini dilakukan sebagai tanda bukti serah terima bahwa proses pengambilan topsoil di suatu daerah tersebut sudah selesai dilaksanakan dan sudah bisa untuk dilakukan kegiatan penambangan berikutnya. Beberapa kendala ditemui pada saat proses pengambilan topsoil, seperti kemiringan lokasi yang terlalu terjal, terlalu dekat dengan permukaan air, atau kendala-kendala lainnya. Luasan area yang tidak bisa diambil topsoilnya tersebut diajukan sebagai exemption area dan perlu diajukan exemption permit-nya. Dalam hal ini, pihak environment berlaku sebagai pengambil keputusan terhadap disetujui atau tidaknya exemption permit tersebut. 3.2.3 Tahap 3

Selanjutnya, topsoil yang dipindahkan dari daerah asli sebisa mungkin langsung dipindah ke daerah timbunan overburden yang sudah final dan memenuhi standar untuk rehabilitasi. Sehingga perencanaan pengambilan topsoil di suatu tempat harus diatur sedemikian hingga terintegrasi dengan perencanaan pembentukan daerah timbunan overburden yang sudah final yang ada di sekitar lokasi tempat pengambilan topsoil tersebut, sehingga topsoil yang dipindahkan belum kehilangan unsur hara terlalu banyak karena akan langsung ditanami tumbuhan kembali. Pada saat daerah timbunan overburden sudah dinyatakan memenuhi standar rehabilitasi, maka harus dilakukan CSA Dumping dari pihak yang menyelesaikan daerah timbunan overburden kepada pihak yang akan langsung merehabilitasi daerah tersebut sebagai tanda bukti serah terima bahwa proses pembentukan area final timbunan overburden sudah selesai dilakukan dan daerah tersebut sudah memenuhi standar untuk rehabilitasi. Pada pelaksanaannya, CSA Dumping juga disertai dengan adanya persetujuan mengenai perencanaan Dump, Drainage & Rehab (DDR) di daerah yang akan direhablitasi tersebut.

184

3.2.4

Tahap 4

Selanjutnya setelah proses spreading topsoil selesai dilaksanakan, akan dilaksanakan audit terhadap lokasi yang telah selesai direhabilitasi tersebut. Audit yang dilaksanakan berupa peninjauan kembali DDR plan yang telah disetujui bersama sebelumnya dengan kondisi aktual yang terbentuk di daerah rehabilitasi tersebut. Audit rehabilitasi ini dilakukan secara berkala hingga daerah rehabilitasi tersebut dapat dinyatakan layak untuk dilakukan proses penanaman, dan kedepannya luasan area yang telah direhabilitasi tersebut akan dihitung dalam pencapaian target rehabilitasi tahunan MOD PT KPC. 3.3 Perencanaan Dump Drainage Rehab (DDR)

Perencanaan Dump Drainage Rehab (DDR) merupakan perencanaan terintegrasi yang dilakukan mulai dari desain penimbunan lapisan penutup hingga penyiapan area media tanam dengan mempertimbangkan struktur drainage yang memenuhi standar pengelolaan lingkungan. Perencanaan DDR di PT KPC dibuat dengan tujuan diantaranya : 1. Mengontrol aliran air permukaan di area yang akan dilakukan kegiatan rehab 2. Mengurangi erosi permukaan tanah 3. Meminimalkan Total Sulphide Solid (TSS) yang jatuh ke aliran sungai 4. Memberikan dan memastikan media tanam yang cukup memadai di area rencana yang akan direhab 5. Meminimalisir potensi air asam tambang yang terbawa ke aliran sungai 6. Mempercepat proses pemulihan tanah sesuai dengan fungsinya. Di MOD PT KPC sendiri, rerencanaan DDR itu sendiri mencakup detail perencanaan terhadap suatu daerah yang sudah final dan dinilai sudah memenuhi standar untuk rehabilitasi serta bentuk tindakan kontrol terhadap daerah yang sudah direhabilitasi tersebut nantinya. Perencanaan DDR menjadi sangat penting dan bisa dianggap sebagai salah satu kunci sukses rehabilitasi karena dari perencanaan DDR inilah yang nantinya akan menentukan apakah suatu daerah yang sudah selesai direhabilitasi dapat dinilai layak sebagai suatu ekosistem yang baru dan sesuai dengan peruntukannya. Sehingga apabila perencanaan DDR yang telah dibuat dan disepakati bersama tersebut dijalankan dengan baik dan dengan pengawasan yang baik pula maka tujuan dibuatnya perencanaan DDR itu sendiri dapat tercapai. 4. 4.1 KESIMPULAN Kegiatan topsoiling di PT KPC melibatkan banyak pihak mulai dari mulai dari perencanaan tambang jangka panjang, pelaksana kegiatan penambangan, pelaksana seluruh kegiatan topsoiling, hingga dari bagian lingkungan. Kontrol manajemen topsoil perlu dilakukan terhadap setiap kegiatan perencanaan manajemen topsoil juga tiap proses operasional kegiatan pengambilan topsoil itu sendiri. Perencanaan Dump Drainage Rehab (DDR) merupakan salah satu kunci sukses rehabilitasi.

4.2 4.3

185

4.4

Manajemen topsoil yang terintegrasi di PT KPC dapat diwujudkan dimulai dari kesadaran masing-masing individu pelaku proses penambangan akan pentingnya topsoil untuk kebutuhan masa yang akan datang.

186

PROSIDING TPT XX PERHAPI 2011 IMPLEMENTASI FLEET MONITORING SYSTEM DALAM MENINGKATKAN PENCAPAIAN PRODUKSI DI MINING OPERATION DIVISION (MOD). PT. KPC
Oleh : Shauman Shaladin Supt. Mine Control and Dispatch -Mine Optimisation Dept PT. KPC ABSTRAK Fleet Monitoring merupakan suatu fungsi yang digunakan oleh perusahaan untuk memonitoring aktifitas kendaraannya yang bertujuan untuk mengurangi resiko-resiko yang berhubungan dengan kendaraannya, serta meningkatkan efisiensi dan produktifitas dari kendaraan-kendaraan tersebut. Dalam kegiatan penambangan, Fleet monitoring System adalah system yang terintegrasi yang merupakan kombinasi pemahaman teknologi dengan metoda penambangan. System ini melibatkan system Fleet database, GPS tracking, Manajemen alat gali dan alat angkut. Mining Operation Division (MOD) PT. KPC menerapkan fleet monitoring system sejak tahun 1995. Dalam perkembangannya terdapat berbagai hal yang melibatkan peran Fleet Monitoring system untuk memastikan Key performance Indicator (KPI) alat utama dan alat support terdata dengan baik. Paper ini dijelaskan mengenai hal-hal yang perlu diperhatikan dalam proses penerapan Fleet Monitoring System mengacu pada 4 pilar operasional : manusia, System Fleet monitoring, Metoda operational dan Performance alat. Termasuk juga masalah-masalah yang timbul yang berkaitan dengan fleet monitoring dari pengalaman Implementasi system tersebut di MOD PT. KPC Kata kunci : Fleet monitoring, Operasional, KPI

187

PENDAHULUAN Fleet Monitoring merupakan suatu fungsi yang digunakan oleh perusahaan tambang untuk memonitoring aktifitas kendaraannya yang bertujuan untuk mengurangi resiko-resiko yang berhubungan dengan kendaraannya, serta meningkatkan efisiensi dan produktifitas dari kendaraan-kendaraan tersebut. Hal ini tidak terlepas dari factor-faktor yang memperngaruhi operasional penambang, seperti pit slope, tinggi bench, geometri penambangan, arah penggalian dan sebagainya. Perkembangan teknologi GPS tracking dan computer, memberikan manfaat yang besar terhadap perusahaan tambang dalam mengelola armadanya. Kemajuan transfer data dari tambang ke office merubah cara kerja opersional dari tradisional menjadi lebih modern. Dalam kegiatan penambangan, Fleet monitoring System adalah system yang terintegrasi yang merupakan kombinasi pemahaman teknologi dengan metoda penambangan. System ini melibatkan system Fleet database, GPS tracking, Manajemen alat gali dan alat angkut. Paper ini menjelaskan mengenai hal-hal yang perlu diperhatikan dalam proses penerapan Fleet Monitoring System mengacu pada 4 pilar operasional : manusia, System Fleet monitoring, Metoda operational dan Performance alat GAMBARAN UMUM Dalam operasionalnya , fleet monitoring menggunakan perangkat komunikasi yang terintegrasi dengan pusat komputer dimana cara kerja seperti gambar berikut :

Gambar 1 Alur kerja fleet monitoring
Source : MMS dispatch training

188

Untuk Perangkat keras, fleet monitoring system menggunakan perangkat keras yang terpasang di unit dan pusat kontrol sebagai berikut : · pusat kontrol · komputer on board · GPS tracking · Wifi system Untuk perangkat lunak, menggunakan logic komputer yang berisi software aplikasi fleet monitoring dan sistem database berupa PIT dat dan Shift dat.

Gambar 2.Struktur dalam Pit database
Source : MMS dispatch training

PIT database merupakan baseline untuk operasional, secara garis besar dapat dilihat pada gambar 2. PIT database mengandung informasi mengenai kondisi tambang. Fleet monitoring memerlukan database ini untuk menjalankan pengaturan alat gali-truck secara lebih optimal. Hal-hal yang terdapat dalam PIT database antara lain adalah : 1. koordinat :semua Bay, dumping, stockpile, crushers, shift change area, fuel station. 2. Road : panjang, Grade, elevasi, status setiap segmen(terbuka atau tertutup), waktu tempuh antara alat gali dan disposal, stockpile atau crusher 3. informasi berkenaan dengan unit truck seperti jenis truck, nomor truck, kapasitas, System monitoring truck, Kapasitas tangki Truck 4. Informasi yang berkenaan dengan unit alat gali seperti kelas alat gali, nomor alat gali, ukuran bucket alat gali, digging rate, Kapasitas tangki alat gali

189

5. Informasi yang berkenaan dengan alat bantu seperti :type alat bantu, kelas alat bantu (Dozer, grader, Wheel dozer, etc) 6. Informasi yang berkenaan dengan operator seperti :No Identitas operator, lisensi alat yang diperbolehkan. 7. Informasi yang berkenaan dengan material, seperti kelas material waste, ore, coal, acid material, non acid material, grade material 8. hal-hal lain operasional meliputi : lock truck ke alat gali tertentu, batasan truck yang boleh diterima alat gali, kapasitas disposal, schedule shift change atau break.

Gambar 3. struktur dalam shift database
Source : MMS dispatch training

Shift Database merupakan informasi yang berkenaan dengan aktifitas dari shift yang berjalan (gambar 3) . Secara garis besar dikelompokkan kedalam lima kelompok besar seperti : 1. Informasi yang berkenaan dengan dumping atau disposal berisi antara lain Identitas truck, Identitas alat gali, Nama Bench, Nama Dumping point, nama operator, Waktu tiba di dumping point, waktu dumping point dan Waktu berangkat dari dumping point, jarak angkut. 2. Informasi yang berkenaan dengan Pemuatan berisi antara lain identitas shovel, identitas truck, idenstitas operator, Nama bench, grade material, Type material, waktu truck tiba di loading point, waktu truck dimuati dan waktu truck berangkat. 3. Informasi berkenaan dengan alat-alat (alat gali, alat angkut dan alat bantu) meliputi Identitas truck, Alat gali dan alat angkut, Engine hours, nama operator, Department tempat unit tersebut bekerja dsb,

190

4. Informasi berkaitan dengan status alat mengacu ke kategory waktu yang telat ditetapkan seperti Ready, Delay, Idle atau Down selama waktu shift berjalan. 5. Informasi mengenai Lokasi dan awal shift berjalan. Time frame dimulainya shift tersebut berupa Night, Day atau afternoon untuk kategori 3 shift ataupun Night dan Day untuk kategori 2 shift. DASAR APLIKASI FLEET MONITORING Dasar dari penerapan software aplikasi dari Fleet monitoring adalah waktu siklus (Cycle time) Alat Angkut dan waktu muat (Loading time) alat gali dan factor keserasian. Cycle Time Truck Komponen : Fixed time + variable time Fixed time : loading time, Spotting time dan dumping time Variable time meliputi Travel bermuatan dan traveling kosong Loading Time digger Komponen : Kapasitas bucket Kelas alat gali/muat seperti wheel loader, excavator atau shovel

Gambar 4. komponen cycle time truck

191

Gambar 5. Model perhitungan cycle time berdasarkan tracking system Informasi dari Pit Database akan diolah oleh software aplikasi untuk perhitungan keperluan operasional. Dari data-data mengenai segmen jalan, jarak dan grade dari shovel ke dumping pont atau disposal akan menghasilkan rata-rata waktu tempuh kondisi bermuatan. Demikian juga sebaliknya. Nilai tersebut akan menjadi salah satu komponen dari perhitungan cycle time truck berupa travel bermuatan dan travel kembali. Komponen lain berupa waktu buang dan waktu manuver diambil dari selisih waktu tiba di dumping hingga waktu ditugaskan kembali ke alat gali. Sementara waktu spotting diambil dari selisih waktu tiba di alat gali hingga pertama kali dimuati oleh alat gali tersebut. Untuk menjaga keserasian alat gali dan alat angkut , jumlah siklus yang digunakan oleh alat gali untuk memuati truk sangat berperan dalam menentukan keserasian dari angkutnya. Loading time yang baik akan memberikan nilai 4 – 5 kali siklus pemuatan. Optimalisasi dari jumlah truck yang diperlukan oleh satu alat gali dilakukan dengan menerapkan teori antrian dengan menjaga faktor keserasiannya. Truck akan dikirim terlebih ke alat gali yang lebih produktif dan prioritas dari operasional.

Gambar 6. Hasil plot MF optimum KPC

192

Gambar 7. kontrol Match Factor per jam operasional PERSIAPAN IMPLENTASI FLEET MONITORING SYSTEM Implementasi Fleet monitoring system memerlukan persiapan yang matang agar dapat terlaksana dengan baik. Hal-hal yang perlu dilakukan pertama kali adalah Memastikan 4 komponen pokok terpenuhi yaitu : Support System, Personal, Konfigurasi, dan Metode operasional. Untuk memastikan adanya korelasi satu sama lain terdapat komponen pendukung yang perlu diperhatikan yaitu perlu adanya benchmarking terlebih dahulu untuk system operasional ke perusahaan tambang sejenis dan memastikan pihak penjual system memiliki system training yang memadai. Selain itu system fleet monitoring harus dibuat sedemikian rupa agar merespresetasikan kondisi operasional yang ada. Sehingga perlu dilakukan studi lapangan mengenai system kerja yang berlangsung, hubungan antar department operasional, maupun antara department operasional dan perawatan. Jenis-jenis masalah yang terjadi di operasional meliputi waktu tunda, waktu standby maupun komponen-komponen perawatan terjadwal maupun tidak terjadwal. Agar metoda dan konfigurasi system komputersiasi mendapat dukungan dari berbagai pihak, perlu disiapkan langkah-langkah teknis untuk perubahan management operasional. Seperti menetapkan pusat kontrol operasional sebagai pusat informasi tambang dan perubahan model komunikasi untuk memastikan kerjasama antara supervisor dan pusat kontrol dan bagian perawatan terbina dengna baik.

193

Gambar 6. Komponen persiapan penerapan fleet monitoring Setelah semua komponen tersebut telah terpetakan dengan baik. Langkah-langkah selanjutnya adalah penerapannya. Data penting yang diperlukan seperti Pit Database dimasukkan ke dalam system. Kemudian unit-unit dilengkapi dengan peralatan monitoring. Agar tidak mengganggu aktifitas tambang secara keseluruhan, sebaiknya untuk tahap awal , fleet monitoring system dilakukan di area tertentu. Di panel-tertentu dan dilakukan monitoring implementasi. Termasuk peran pengawas, tata laksana kerja pusat kontrol, feed back dari operator, daya dukung infrastruktur, beban kerja system. Proses uji coba ini dilakukan untuk menghindari miss-interpretasi system jika akan dilakukan implementasi ke semua area operasi tambang.

Gambar 7. Langkah-langkah dalam penerapan fleet monitoring system IMPLEMENTASI DI KPC KPC telah menerapkan fleet monitoring sejak tahun 1995, tahap awal di inmplementasikan di pit Hatari kemudian tahun 1996 di implemetasikan di semua pit KPC di surya dan Bintang. Dalam perkembangannya dimulai dari system menggunakan radio frequency 3840 bps, kemudian kapasitas di upgrade menjadi single system yang memiliki kemampuan 9600 bps. Sejalan

194

dengna penambahan alat dan kemajuan technology wifi, KPC sejak tahun 2009 mulai mengadopsi penggunaan fleet monitoring berbasis wifi di pit J. Saat ini terdapat dua basis system yang bekerja bersama-sama untuk keperluan operasional di KPC.

Gambar 8. perjalanan Fleet monitoring di KPC Saat ini fleet monitoring system di KPC - MOD diterapkan untuk hal-hal sebagai berikut :
n n n n n n n n n Mine Control Blasting control Coal flow analysis Data analysis Improvement projects Mining KPI Investigation support TKPH monitoring Fatigue alert n n n n n n n n n Fuel controlling Defect & maintenance support Cost controlling Material reconciliation Fire system Simulation Payload monitoring Shift database Waste management

Dalam perkembangannya juga terdapat masalah-masalah yang timbul dalam penerapan fleet monitoring system ini seperti :

195

Tabel 1 Identifikasi masalah dalam fleet monitoring system

Permasalahan yang timbul bervariasi tergantung komplesifitas dari system monitoring itu sendiri namun secara garis besar dapat dikelompokkan dalam beberapa komponen sesuai tabel diatas. Untuk manning, permasalahan yang paling krusial adalah kemampuan dispatcher dalam menjalankan perannya. Diperlukan personil yang dapat bekerja secara multitasking, menangani informasi baik menerima atau menyampaikan dengan baik baik melalui media radio, telepon maupun layar exception. Para dispatcher harus mampu memutuskan langkah-langkah yang tepat jika terjadi suatu process yang tidak sesuai. Untuk System , permasalahan yang krusial adalah gangguan terhadap software yang meliputi pit database dan shift database yang terganggu, gangguan ini disebabkan antara lain, setting data yang salah dalam membuat jalur atau pun input

196

data status alat yang memutus waktu realtime. selain workload server yang meningkat. Perkembangan teknologi juga akan menimbulkan permasalah baru dimana ketersedian suku cadang akan mempengaruhi seperti layar monitor, layar sentuh. Untuk itu berkomunikasi dengan pihak penjual dengna menerapkan system kontrak perawatan menjadi salah satu alternatif dalam menjaga keberlanjutan system yang ada. Permasalahan yang terjadi di armada dan organisasi operation umumnya disebabkan dari pola komunikasi yang terjalin, untuk itu para dispatcher dituntut untuk selalu menjaga komunikasi timbal balik yang baik kepada para pemangku kepentingannya. Salah satunya dengan rutin melakukan pertemuan regular baik dengan pengawas tambang maupun bagian perawatan. Tujuannya agar saling memahami peran masing-masing agar terjadi keharmonisan dalam bekerja. Agar fleet monitoring dapat diimplentasikan dengan baik, memetakan permasalahan yang akan timbul merupakan salah satu langkah yang perlu dilakukan. Tujuannya agar implemenstasi yang akan dilakukan tidak direspon secara negatif oleh pihak-pihak yang terkena pengaruh dari penerapan fleet monitoring tersebut. PENUTUP Penerapan fleet monitoring dalam aktfitas operasional penambangan dapat membantu pengawas tambang dalam melakukan pengaturan armada dan mencatat produksinya sepanjang konfigurasi yang di susun di dalam system sesuai dengan kondisi aktual operasional tambang. Pemetaan permasalahan yang akan timbul baik sebelum implementasi, dan membuat pilot project skala kecil merupakan salah satu langkah yang perlu dilakukan untuk Agar fleet monitoring dapat diimplentasikan dengan baik. DAFTAR PUSTAKA Sumarjono, Nurwendo Sasongko Aplikasi Dispatch System Untuk Mengoptimalkan Produksi Shovel Dan Truck Dalam Operasi Penambangan Di PT. Kaltim Prima Coal, , prosiding TPT XIX PERHAPI 2010, Balikpapan _______, workshop Project Management, e-learnit, Jakarta,2008 _______, Dispatch Engineer training manual, MMSPTY.LTD,2002 1.Gede Ngurah Ambara, 2. Didik Mardiono, Business Improvement Process In KPC Case Study : Fuel Efficiency Project, , prosiding TPT XIX PERHAPI 2010, Balikpapan

197

PROSIDING TPT XX PERHAPI 2011 PENGATURAN OPERATOR PADA AWAL SHIFT KERJA DI PT NEWMONT NUSA TENGGARA DENGAN MENGGUNAKAN ABCD LINEUP SYSTEM
Arif Rahman Ahmad, Arif Johar Pratama Mine Productivity Performance Department PT Newmont Nusa Tenggara Abstrak Sebagai salah satu langkah untuk melakukan pengaturan operator pada awal shift kerja, PT Newmont Nusa Tenggara memanfaatkan technology yang disebut dengan ABCD lineup system. System pengaturan ini diterapkan dengan tujuan agar pergantian shift dapat berjalan dengan efisien, dikarenakan mempersingkat waktu pergantian shift dan mempercepat operator untuk mengoperasikan alat. ABCD lineup management system merupakan aplikasi yang dibuat dengan menggunakan bahasa pemrograman SQL yang dipergunakan sebagai petunjuk bagi operator alat pada saat awal shift kerja untuk mengetahui alat yang harus dioperasikan, posisi parkir alat dan bus yang akan digunakan menuju unit tersebut. Untuk membuat ABCD lineup system, dibutuhkan aplikasi lain sebagai pendukung yang dapat menyediakan data yang dibutuhkan oleh ABCD lineup system. Aplikasi tersebut berupa aplikasi MineOPSJigsaw sebagai aplikasi rencana operator yang akan mengoperasikan alat dan cardax system sebagai aplikasi yang menghitung nama dan jumlah operator yang hadir pada saat jadwal kerja. Dispatcher yang bekerja akan melakukan edit serta update data operator yang akan mengoperasikan tiap alat untuk setiap crewnya masing-masing. Sehingga ketika operator tiba ditempat kerja, untuk mendapatkan informasi alat yang dioperasikan dapat langsung melihat big screen yang khusus telah disediakan yang telah terhubung denganABCD lineup system. Kata kunci : Pengaturan operator awal shift, ABCD lineup system,mempersingkat waktu pergantian shift.

198

Pendahuluan Efesiensi usaha pertambangan dapat dilakukan salah satunya dengan pengaturan penempatan karyawan pada saat memulai shift kerja, karena pada awal shift kerja akan mempengaruhi jamjam kerja berikutnya, dengan pengaturan yang optimal, diharapkan waktu kerja dapat dimanfaatkan seefektif mungkin. PT Newmont Nusa Tenggara memanfaatkan technology ABCD lineup Management system sebagai upaya untuk memanfaatkan waktu kerja operator, dimana ketika akan memulai kerja, operator alat berat akan mengetahui dengan pasti dan cepat jenis dan lokasi unit yang akan dioperasikan. PengertianABCD Lineup Management System ABCD lineup management system merupakan aplikasi yang dibuat dengan menggunakan bahasa pemrograman SQL yang dipergunakan sebagai petunjuk bagi operator alat pada saat awal shift kerja untuk mengetahui alat yang harus dioperasikan, posisi parkir alat dan bus yang akan digunakan menuju unit tersebut. Dengan adanya petunjuk bagi operator, akan mempersingkat waktu pergantian shift dan mempercepat operator untuk mengoperasikan alat. Menu-menuABCD LineUp ABCD Lineup management system dapat menampilkan dan mengedit data-data operator yang akan ditampilkan. Berikut menu-menuABCD lineup management system. 1. Display scanning result memuat seluruh data hasil badge scanning dari tiap operator yang melakukan scan pada saat memasuki area kerja. 2. Print lineup assignment berisi layout untuk mencetak data operator –operator yang teraasign sebagai lineup. 3. Print backup list berisi layout untuk mencetak data operator-opereator yang terassign sebagai backup operator. 4. Print Absent list berisi layout untuk mencetak data operator-operator yang data absent/tidak hadir pada saat jadwal kerja. 5. Present cable crew berisi layout untuk mencetak data operator-operator cable crew yang hadir pada saat jadwal kerja 6. Set Lineup messages menampilkan menu untuk membuat pesan pada ABCD system lineup yang digunakan untuk memberikan pesan tentang posisi bus yang terassign ke tiap area parkir untuk mengantar operator menuju tempat parker truck 7. Review upload status berisi menu untuk mereview progress status pembuatan line up, sebelum lineup dimulai.

199

i Gambar 1. Tampilan view ABCD system Lineup Dispatcher yang bekerja datang 30 menit sebelum kedatangan operator alat dan akan melakukan edit serta update data operator yang akan mengoperasikan tiap alat untuk setiap crewnya masing-masing. Sehingga ketika operator tiba ditempat kerja, untuk mendapatkan informasi alat yang dioperasikan dapat langsung melihat big screen yang khusus telah disediakan yang telah terhubung denganABCD lineup system. Keuntungan memakaiABCD lineup Management system
1. Operator alat berat akan dengan cepat mengetahui unit yang akan dioperasikannya 2. Operator alat berat akan mengetahui posisi alat dan alokasi Bus yang digunakan untuk

menuju unit tersebut Kelemahan 1. ABCD system menggunakan banyak aplikasi dan saling berkaitan. Tiap aplikasi merupakan tahapan kegiatan sehingga bila satu step gagal/ tidak berhasil dilakukan dengan sempurna, maka tahap berikutnya jugab akan terganggu/gagal. Tahap-tahap alur proses kerjaABCD lineup system Untuk membuat ABCD lineup system, dibutuhkan aplikasi lain sebagai pendukung yang dapat menyediakan data yang dibutuhkan oleh ABCD lineup system. Aplikasi tersebut berupa aplikasi MineOPS Jigsaw dan cardax system.

200

Gambar 2. Tahap-tahap alur proses kerja ABCD lineup system Data yang telah terupdate di aplikasi MineOPS Jigsaw yang dibutuhkan meliputi : 1. Nama Operator yang disesuaikan dengan nama seluruh operator berdasarkan crewnya masing-masing. 2. Badge ID berupa nomor pegawai tiap operator 3. Permanent assignment Permanent Assignment merupakan tabel yang berisi Permanent/fixed equipment dimana operator biasa membawa unit tersebut tiap shift 4. Lineup assignment Lineup assignment merupakan tabel yang berisi temporary assignment jika ada perubahan saat-saat tertentu antara operator dan unit yang dioperasikan sesuai dengan kebutuhan operational tambang perhari kerja 5. Licence equipment Licence equipment merupakan tabel yang berisi licency dari tiap operator terhadap masing-masing unit alat. 6. Bus assignment

201

Aplikasi MineOPS yang telah berisi data-data tersebut diatas, diupdate berupa diexport oleh dispatcher yang bekerja pada shift sebelumnya , aplikasi yang diexport menghasilkan sebuah file berupa file .csv dan tersimpan dalam suatu folder tertentu. File ini berupa file rencana operator yang akan mengoperasikan alat. Pada saat jam awal shift crew, aplikasi ABCD akan mulai active secara automatis dan akan membaca file .csv yang telah tersimpan. Aplikasi Cardax system dibutuhkan sebagai alat absensi bagi para operator untuk memasuki area kerja pertambangan, sehingga nama dan jumlah operator yang hadir bekerja dapat diketahui. Cardax system memiliki server database yang terhubung dengan ABCD lineup system, sehingga data actual operator yang hadir dapat disesuaikan dengan data rencana operator yang akan membawa alat yang telah dibuat di aplikasi MineOPS Jigsaw. Kesimpulan PemakaiABCD Lineup system di PT Newmont Nusa Tenggara sangat bermanfaat untuk : 1. Perusahaan dapat mengetahui jumlah karyawan yang hadir pada saat jadwal kerja 2. Pergantian shift kerja berjalan dengan efektif dikarenakan operator dapat mengetahui dengan cepat alat yang harus dioperasikan dan posisi unit tersebut 3. Mempermudah dan mempersingkat waktu kerja khususnya bagi pengawas dalam hal pengaturan operator diawal shift. Dimana hal ini akan mempengaruhi waktu kerja pada jam-jam berikutnya.

202

PROSIDING TPT XX PERHAPI 2011 PT. NEWMONT NUSA TENGGARA MINE OPERATION REPORTING SYSTEM (MORS)
Disusun bersama oleh : Reza Ardhianto, Joko Purnomo Mine Operation – Fleet Management System PT. Newmont Nusa Tenggara Batuhijau - Sumbawa INDONESIA Abstrak Pengumpulan data operasional tambang yang mencakup data produksi, parameter produksi seperti siklus waktu alat, produktifitas alat, dll yang dilakukan secara terus menerus dapat mengakibatkan terjadinya ledakan data tanpa menghasilkan informasi yang optimal jika tidak diolah secara tepat. Untuk itu seksi Fleet Management System di PT.Newmont Nusa Tenggara mengembangkan Mine Operation Reporting System (MORS). MORS akan mengolah data yang diperoleh dari System Jigsaw® dan menampilkan output berupa ringkasan data secara realtime maupun historical dengan format laporan khusus sesuai permintaan (ad hoc report) maupun dynamic report yang formatnya dapat dikostumisasi sendiri oleh pengguna. MORS juga menampilkan informasi dalam bentuk Chart, Gauge, Diagram dan aneka ragam KPI (Key Performance Indicator). Laporan-laporan tersebut dapat diakses oleh pengguna melalui sebuah antarmuka terintegrasi berbasis web (MORS Portal). MORS terdiri dari 3 bagian utama, yaitu : Realtime and Historical Dashboard. Dynamic Report (Excel Pivot Table). Static Report. dan saat ini mencakup informasi yang berkaitan dengan : Load & Haul Geology & Mill Drill & Blast Mine Maintenance Mine Water Management Informasi yang dihasilkan oleh Mine Operation Reporting System (MORS) diharapkan dapat memberikan dukungan yang lebih baik dalam proses analisis data dan pengambilan keputusan dalam operasional tambang.

203

1. Latar Belakang Di dalam operasi penambangan di PT Newmont Nusa Tenggara, sebagian besar alat produksinya telah dilengkapi dengan sistem Jigsaw®. Sistem tersebut akan merekam seluruh aktivitas yang dilakukan oleh setiap alat untuk kemudian disimpan ke dalam sebuah pusat basis data (database). Banyaknya jumlah alat produksi dan data aktivitas yang dikumpulkan secara terusmenerus tentu saja akan menyebabkan terjadinya lonjakan/ledakan jumlah data. Data dalam jumlah besar tersebut mempunyai potensi untuk menghasilkan informasi yang sangat berguna jika diolah secara tepat dan disajikan kepada pengguna secara efektif sesuai dengan kebutuhannya. Untuk mencapai tujuan tersebut, seksi Fleet Management System mengembangkan Mine Operation Reporting System (MORS).

2. Dasar Teori yang mendukung MORS 2.1 Datawarehouse Adalah konsep pengumpulan dan penyimpanan data dari berbagai sumber yang tersentralisasi ke dalam satu pusat data. Sebuah datawarehouse memiliki keragaman data yang luas yang mencerminkan keadaan proses-proses bisnis yang saling berkaitan pada suatu waktu tertentu. 2.2 Multidimensional Datamart Adalah segmentasi atau pengelompokan data yang ada di dalam sebuah datawarehouse berdasarkan pada suatu proses bisnis. Setiap kelompok data mempunyai 2 bagian penting, yaitu : Numerical measurement, yaitu data berupa angka-angka yang menunjukkan suatu jumlah atau ukuran. Dimension, yaitu data yang digunakan sebagai sudut pandang/pengkategorian dari numerical measurement. 2.3 Business Intelligence Adalah sebuah konsep sistem yang dapat menyajikan data historical, data aktual saat ini serta prediksi di waktu yang akan datang untuk dapat membantu proses pengambilan keputusan secara akurat kepada para pengambil keputusan. Fungsi-fungsi yang biasanya terdapat pada sistem business intelligence diantaranya reporting, online analytical processing, data mining, process mining, business performance management, benchmarking, text mining dan predictive analytics.

204

3. Struktur Sistem MORS Struktur sistem MORS terdiri dari 4 bagian utama, yaitu sumber data, staging database, datamarts, dan antarmuka pengguna seperti terlihat pada Gambar 1.

Gambar 1. Struktur Sistem MORS 3.1 Sumber Data Saat ini sumber data yang digunakan MORS berasal dari Jigsaw, Flat files, dan Ellipse. Jigsaw menyediakan data-data operasional yang mencakup data load & haul, cycle time, tonnase material, grade material dll. Jigsaw menggunakan sistem basis data PostgreSQL dan berjalan di Sistem Operasi Ubuntu Linux. Flat files yang biasa digunakan mempunyai format comma separate values (CSV) atau Microsoft Excel yang berisi data rencana dan perkiraan produksi serta ketersediaan alat produksi. Sedangkan Ellipse menyediakan jumlah ketersediaan tenaga kerja yang dapat ditugaskan untuk kegiatan operasional. Ellipse menggunakan sistem basis data Oracle dan berjalan di server yang terletak di pusat data departemen IT PT. Newmont Nusa Tenggara.

205

3.2 Staging Database Staging Database digunakan untuk menyimpan sementara data-data dari sumber data sebelum data tersebut dikalkulasi. Staging database mempunyai struktur dan tipe data yang sama dengan basis data sumber.

Tujuan digunakan staging database adalah supaya proses kalkulasi data yang dilakukan MORS tidak mengganggu performa basis data sumber yang digunakan untuk kegiatan operasional tambang. 3.3 Datamarts Datamarts, digunakan untuk menyimpan data yang sudah divalidasi oleh MORS. Data-data tersebut dikelompokkan berdasarkan proses bisnis yang ada di tambang PT Newmont Nusa Tenggara.

Gambar 2. Star Schema Proses Load & Haul Gambar 2 menunjukkan contoh star schema, yaitu skema yang terdiri dari Numerical measurements dan Dimension yang digunakan untuk mengilustrasikan sebuah multidimensional datamart. Dalam hal ini datamart yang berkaitan dengan proses load & haul. 3.4Antarmuka Pengguna MORS menyediakan sebuah antarmuka terintegrasi berbasis web yang disebut MORS Portal. Portal tersebut dibangun menggunakan platform Microsoft Sharepoint. Pengguna dapat mengakses MORS Portal di komputer manapun yang terhubung dengan jaringan intranet PT Newmont Nusa Tenggara.

206

Gambar 3. MORS Portal MORS Portal terdiri dari 6 halaman, yaitu : § § § § § § Home, berisi laporan-laporan yang memberikan informasi berkaitan dengan Load & Haul. Drilling & Blasting, berisi laporan-laporan yang memberikan informasi berkaitan dengan pengeboran dan peledakan. Maintenance, berisi laporan-laporan yang memberikan informasi berkaitan dengan perawatan alat-alat produksi. Geology & Mill, berisi laporan-laporan yang diperlukan oleh departemen Geologi dan Mill/Process. Mine Water Management, berisi laporan-laporan yang dibutuhkan oleh departemen Mine Water Management. MORS Administration, berisi laporan-laporan yang sedang dikembangkan oleh tim Fleet Management System.

Para pengguna dapat mengakses laporan-laporan yang disediakan oleh MORS dalam beberapa bentuk, yaitu Dynamic Report (Excel Pivot Table), Dashboards, Static Reports, dan XML Reports/Feeds.

207

Gambar 4. Daily Trucking Dynamic Report Dengan menggunakan dynamic report, pengguna dapat secara mandiri menyusun dan mengagregasikan data historikal dalam bentuk pivot table berdasarkan kondisi-kondisi serta format tertentu sesuai dengan kebutuhan. Hasil laporan tersebut dapat langsung dicetak atau diekspor ke dalam format Microsoft Excel untuk diolah lebih lanjut. Pada contoh gambar Daily Trucking Dynamic Report (Gambar 4) di atas, pengguna dapat mengubah format laporan dari berbagai sudut pandang. Salah satu contoh, pengguna bisa mendapatkan informasi tonnase total material (numerical measurement) yang didapatkan oleh jenis alat tertentu (equipment dimension) dalam rentang tahun 2008 sampai dengan 2011 (time dimension). Format laporan dapat diubah dengan menampilkan subtotal per bulan atau per tahun.

208

Gambar 5. Dashboard Tyre Monitoring Dengan menggunakan dashboards, pengguna dapat secara realtime memantau keadaan di lapangan. Selain itu, pengguna dapat dengan cepat melakukan respon/tindakan berdasarkan informasi yang ditampilkan. Pada contoh gambar Dashboard Tyre Monitoring (Gambar 5) diatas, maintenance dispatcher dapat dengan cepat memerintahkan operator truk untuk menuju ke Tyre Shop apabila tekanan atau temperatur ban pada truk yang dioperasikan tidak sesuai dengan standar yang aman. Pada contoh gambar Dashboard Status Detail (Gambar 6) dibawah, dispatcher dapat memantau jumlah jam kerja alat produksi serta waktu tunda yang telah diambil oleh operator per jam di satu periode gilir kerja (12 jam). Dispatcher dapat segera melakukan tindakan untuk mengoptimalkan penggunaan alat-alat produksi apabila prosentase waktu ketersediaan alat-alat tersebut belum sesuai dengan target yang telah ditetapkan.

209

Gambar 6. Dashboard Status Detail

Gambar 7. VIMS Payload Static Report

210

Salah satu tujuan pembuatan static report adalah untuk mempermudah pembuatan laporan. Para pengguna hanya perlu untuk memberikan beberapa nilai masukan kemudian dapat langsung mencetak laporan tersebut. Pada gambar contoh VIMS Payload static report diatas (Gambar 7), pengguna hanya perlu memberikan nilai masukan batas bawah dan batas atas tonnase untuk menampilkan informasi muatan truk yang tidak sesuai dengan standar pada suatu rentang waktu. 5. Kesimpulan Dengan pengembangan dan penerapan MORS di PT. Newmont Nusa Tenggara, manfaat yang diperoleh antara lain: 1. Pembuatan laporan rutin dapat dilakukan dengan cepat, sehingga para pekerja dapat lebih berkonsentrasi melakukan tindakan aktual di lapangan daripada menghabiskan waktu untuk menyusun laporan. 2. Mempermudah dan mempercepat pembuatan rencana produksi berdasarkan data historikal yang aktual dan akurat. 3. Membantu pencapaian target yang lebih baik karena waktu respon yang lebih cepat terhadap situasi operasional yang sedang berlangsung. 4. Pelaporan dan perencanaan yang didukung dengan data yang akurat akan membantu dalam pengambilan keputusan operasional tambang yang tepat dan efisien.

DAFTAR PUSTAKA 1. PTNNT Mine Operation Reporting System Manual 2. Kimball, Ralph, & Ross, Margy. (2002). The Datawarehouse Toolkit – A Complete Guide to Dimensional Modelling. Wiley Computer Publishing. 3. Kimball, R., Reeves, L., Ross, M., Thorntwaite, W. The Datawarehouse Lifecycle Toolkit – Expert Methods For Designing, Developing, And Deploying Datawarehouse. Wiley Computer Publishing.

211

PROSIDING TPT XX PERHAPI 2011 Studi Aliran Gas Pada Peristiwa Kebakaran di dalam Terowongan Dengan Percobaan Skala Kecil di Laboratorium

Ramdana, Nuhindro Priagung Widodo, Rogate S.T. Saragih KK Teknik Pertambangan, Fakultas Teknik Pertambangan dan Perminyakan, Institut Teknologi Bandung, Jl. Ganesa 10, Bandung 40132, INDONESIA

ABSTRACT Gas yang dihasilkan pada peristiwa kebakaran di dalam terowongan, seperti pada tambang bawah tanah, diantaranya adalah gas CO dan CO2 yang sangat berbahaya bagi manusia. Dalam memperkirakan dampak penyebaran gas pada suatu peristiwa kebakaran tambang, diperlukan perkiraan data konsentrasi gas terhadap waktu pada jarak tertentu dari pusat kebakaran. Percobaan pada skala kecil di laboratorium telah dilakukan untuk mempelajari penyebaran gas dari pusat kebakaran. Penelitian dilakukan pada pipa saluran udara dengan panjang 10 m dan diameter 10 cm. Untuk mempelajari pengaruh jenis material yang terbakar terhadap gas yang dihasilkan, dilakukan percobaan terhadap 3 jenis material yang dibakar, yaitu: ban, kayu, dan arang. Untuk mempelajari pengaruh kemiringan saluran udara pada proses penyebaran gas, dilakukan percobaan pada 3 kemiringan saluran udara, yaitu: +14 %, -14 %, dan horisontal (0 %). Konsentrasi gas diukur pada jarak tertentu dari pusat kebakaran yaitu pada titik pengukuran l/d= 39; 59; 79; 99 dari sumber kebakaran, lebih lanjut dengan menggunakan persamaan adveksi-difusi didapatkan prediksi aliran gas pada terowongan simulasi tersebut.
I.

PENDAHULUAN Kebakaran tambang merupakan suatu kecelakaan tambang yang berbahaya dan sedapat mungkin untuk dihindari. Kebakaran beberapa bahan yang mudah terbakar di terowongan tambang seperti penyangga kayu, belt conveyor, batubara, atau oli dapat menimbulkan bahaya yaitu turunnya konsentrasi oksigen, timbulnya temperatur yang tinggi, serta timbulnya produk-produk hasil pembakaran yang dapat berupa gas berbahaya dan beracun (diantaranya CO, CO2, SO2, NO2, H2S) (Inoue, 2008). Pada artikel Mining and Safety, Vol.24 No.7, 1977, untuk oksigen, karena digunakan untuk pembakaran, kandungan oksigen dalam udara dapat mencapai 0 (nol) % yang akan sangat berbahaya bagi manusia dimana menurut Birch (1988), apabila kandungan oksigen 9 % maka manusia akan kehilangan kesadaran, sedangkan apabila kandungan oksigennya 6%, maka manusia akan meninggal dalam 6-8 menit. Adapun konsentrasi gas CO pada sumber api dapat mencapai 7-8%, sehingga kondisi ini sangat berbahaya (menurut Kepmen 555, 1995, CO tidak boleh melebihi 0,04%); dan konsentrasi CO2 dapat mencapai sekitar 20% yang melebihi batas ketahanan manusia (menurut Birch, 1998, batas ketahanan manusia terhadap CO2 dengan konsentrasi 5% adalah 1 menit). Untuk temperatur, pada kebakaran tambang, artikel Mining and

212

Safety, Vol.24 No.7, 1977, mendapatkan temperatur pada jarak 100 m dari sumber kebakaran o pada kecepatan udara 1 m/s dan 3 m/s menunjukkan angka di atas 800 C, dimana menurut Birch o (1998), pada temperatur 150 C manusia hanya dapat bertahan selama 1 menit. Dengan data tersebut, dipandang perlu melakukan penelitian mengenai penyebaran (adveksi-difusi) gas pada terowongan tambang saat kebakaran berlangsung. Penelitian untuk mengamati penyebaran gas dalam peristiwa kebakaran tambang telah dilakukan di Laboratorium Lingkungan Tambang, Fakultas Teknik Pertambangan dan Perminyakan, Institut Teknologi Bandung, mempelajari konsentrasi gas karbon monoksida dan nilai koefisien difusi gas karbon monoksida pada simulasi kebakaran untuk terowongan horisontal (Widodo dan Saragih, 2009). Pada penelitian tersebut diperoleh hasil bahwa penyebaran gas pada peristiwa kebakaran tambang skala laboratorium untuk aliran laminar dan transisi dapat dimodelkan dengan persamaan adveksi-difusi modifikasi Taylor laminar (1963), dengan koefisien difusi 0,3 – 10 m2/s. Dengan penelitian tersebut konsentrasi gas berbahaya dan beracun pada peristiwa kebakaran tambang diharapkan dapat diprediksi besaran dan arah penyebarannya untuk keperluan evakuasi tambang. Untuk lebih memahami proses penyebaran gas sepanjang jalur terowongan, diperlukan penelitian lanjutan yang diuraikan saat ini, yaitu dengan modifikasi teknik pengukuran konsentrasi gas menjadi pengukuran di beberapa tempat sepanjang terowongan (pada rasio panjang dibanding diameter = l/d = 39; 59; 79; 99 dari sumber kebakaran) dan memperhatikan kemiringan jalur terowongan sesuai dengan kondisi tambang (ramp-up (+14%), ramp-down (14%), dan horisontal (0%)). Adapun material yang dibakar untuk simulasi pada penelitian ini adalah material kayu (representasi dari penyangga terowongan dari kayu), ban (representasi dari karet), dan arang (representasi dari batubara).
II.

PELAKSANAAN PERCOBAAN

Percobaan simulasi kebakaran tambang skala laboratorium dilaksanakan pada model terowongan yang terbuat dari pipa besi dengan diameter 10 cm di Laboratorium Lingkungan Tambang, Fakultas Teknik Pertambangan dan Perminyakan, Institut Teknologi Bandung. Perangkat percobaan utama terdiri dari tempat pembakaran dan terowongan udara yang dapat diatur kemiringannya, sedangkan perangkat percobaan pendukung terdiri dari perangkat pengukuran konsentrasi gas, berupa: pompa udara, botol sampel dan detektor gas CO dan CO2; serta perangkat pengukuran temperatur, berupa: thermocouple, perangkat data akuisisi dan detektor panas infra merah (lihat Gambar 1).

213

Gambar 1. Model terowongan tambang untuk simulasi kebakaran tambang di laboratorium Pada masing-masing kondisi kemiringan (gradien kemiringan +14%, -14% dan 0%), digunakan 3 jenis material yang dibakar (ban, kayu, dan arang), sehingga total percobaan dilakukan sebanyak 9 kali. Data-data yang didapat dari setiap percobaan adalah konsentrasi dan temperatur. Untuk pengukuran temperatur, dilakukan dua jenis pengukuran yaitu temperatur pada ujung pipa dan temperatur sumber kebakaran, keduanya dalam derajat Celcius. Pada sumber kebakaran temperatur diukur dengan menggunakan detektor panas infra merah, dimana jarak alat ke target sekitar 30 cm. Pengukuran temperatur dilakukan setiap interval 20 detik. Pada ujung saluran temperatur diukur dengan menggunakan thermocouple yang telah dihubungkan dengan perangkat data akuisisi. Pengukuran temperatur dilakukan setiap interval 0,5 detik, dan data hasil pengukuran dengan thermocouple tersimpan dalam komputer. Adapun konsentrasi yang didapat dari pengujian yaitu konsentrasi CO (dalam ppm) dan konsentrasi CO2 (dalam %), dengan pengambilan sampel gas dilakukan selama 180-260 detik dengan interval waktu 10 detik dan dilakukan pada empat titik pengamatan 39d; 59d; 79d; 99d secara bersamaan. Proses pengambilan udara hasil pembakaran material dilakukan dengan pompa udara, selanjutnya udara tersebut ditempatkan dalam tabung untuk kemudian menjadi sampel udara. Untuk mengetahui konsentrasi, dilakukan pengukuran terhadap sampel di dalam tabung dengan dua buah alat, yaitu alat auto-emission analyzer untuk mengukur CO2 dan alat CO Detector untuk mengukur CO. Pengambilan sampel udara dilakukan 5-10 menit setelah proses penyalaan material yang dibakar. Sebelum dibakar, material diukur massanya dengan cara penimbangan. Proses pengujian dan pengambilan data dapat dilihat pada Gambar 2.

214

Gambar 2. Pelaksanaan pengujian simulasi kebakaran tambang yang meliputi pengambilan sampel gas serta data temperatur pada sumber kebakaran dan pada ujung terowongan uji
III.

ANALISIS HASILPERCOBAAN

Pengukuran rata-rata temperatur pada sumber pembakaran dan ujung terowongan (lihat Tabel-1 dan Gambar 3) menunjukkan bahwa temperatur udara mengalami penurunan dari sumber pembakaran ke arah ujung terowongan uji dan jenis material maupun kemiringan tidak mempunyai korelasi yang jelas terhadap temperatur yang ditimbulkan. Pada Gambar 3 dapat diamati garis penghubung kedua titik pengukuran adalah berupa garis lurus, hal ini dikarena data pengukuran yang minimum, yaitu hanya 2 (dua) data. Namun demikian, besar kemungkinan sesuai peristiwa adveksi dan difusi panas, garis yang terbentuk secara teoritis akan mengikuti persamaan eksponensial. Tabel-1. Pengukuran temperatur pada sumber pembakaran dan ujung terowongan uji

215

Gambar 3. Plot hasil pengukuran temperatur pada titik sumber pembakaran (l/d = 0) dan ujung terowongan uji (l/d = 99) Pada Gambar 4 dan 5 disajikan salah satu hasil pengukuran konsentrasi gas CO dan CO2 di sepanjang terowongan untuk masing-masing material yang dibakar. Adapun berat material yang dibakar dan CO serta CO2 yang dihasilkan ditunjukkan pada Tabel-2. Pada Gambar 4, terlihat bahwa gas CO yang dihasilkan dari pembakaran ban karet (500 – 4000 ppm) relatif jauh lebih tinggi daripada pembakaran kayu (500 – 1000 ppm) dan arang (400 – 800 ppm). Pada Gambar 5, terlihat bahwa pembakaran ban karet menghasilkan gas CO2 relatif jauh lebih tinggi (15 – 20 %) daripada hasil pembakaran arang (0,5 – 3 %) dan kayu (0,1 – 0,5%).

Gambar 4. Perubahan konsentrasi CO hasil pembakaran ban karet, kayu, dan arang terhadap waktu pada kemiringan ramp-up (+14 %)

Gambar 5. Perubahan konsentrasi CO2 hasil pembakaran ban karet, kayu, dan arang terhadap waktu pada kemiringan ramp-up (+14 %)

216

Untuk kemiringan -14%, gas CO tertinggi dihasilkan oleh pembakaran kayu (386 – 952 ppm), kemudian hasil pembakaran arang (60 – 220 ppm) dan hasil pembakaran ban (40 – 180 ppm). Pada kemiringan -14% tersebut, gas CO2 tertinggi dihasilkan oleh pembakaran kayu (10 – 20%), kemudian hasil pembakaran ban (1 – 9,5%) dan hasil pembakaran arang (0,5 – 3,2%). Untuk kemiringan 0%, gas CO tertinggi dihasilkan oleh pembakaran kayu (2000 – 4000 ppm), kemudian hasil pembakaran ban karet (100 – 450 ppm) dan hasil pembakaran arang (100 – 371 ppm). Pada kemiringan 0% tersebut, gas CO2 tertinggi dihasilkan oleh pembakaran ban karet (6,4 – 20%), kemudian hasil pembakaran kayu (6 – 18,6%) dan hasil pembakaran arang (0,6 – 3,3%). Tabel-2. Berat material yang dibakar dan CO serta CO2 yang dihasilkan

Dari Tabel-2 dapat dilihat bahwa untuk ban karet dan arang, kemiringan +14% (sumber material yang terbakar berada relatif di bawah) mempunyai nilai rasio gas hasil pembakaran terhadap jumlah material yang terbakar yang tertinggi dibandingkan dengan kemiringan -14% dan 0%. Untuk material kayu, nilai rasio gas hasil pembakaran terhadap jumlah material yang terbakar, mempunyai nilai tertinggi pada kemiringan 0%. Dengan kondisi tersebut dapat dinyatakan bahwa nilai rasio gas hasil pembakaran terhadap jumlah material yang terbakar tidak sama kecenderungannya terhadap kemiringan untuk perbedaan jenis material yang terbakar. Pendekatan adveksi-difusi digunakan untuk memprediksi besaran konsentrasi gas CO dan CO2 pada arah hilir dari sumber kebakaran. Apabila digunakan pendekatan bahwa terbakarnya material akan menghasilkan gas secara kontinyu, yang apabila diuraikan lebih lanjut merupakan gabungan dari beberapa gas yang dilepaskan setiap saat (single gas release), maka penyebaran konsentrasi pada arah hilir dapat diprediksi dengan persamaan adveksi-difusi Taylor (1954). Gambaran mengenai difusi suatu zat yang dilepaskan pada suatu aliran dapat dilihat pada Gambar 6. Pada ilustrasi tersebut digambarkan peranan profil kecepatan terhadap konsentrasi gas, dimana pada tengah saluran kecepatan lebih besar dibandingkan dengan di pinggir saluran sehingga zat juga akan terbawa sesuai dengan kecepatan tersebut. Selain itu dimungkinkan juga perpindahan posisi zat ke arah radial. Pada akhirnya kurva konsentrasi terhadap waktu di titik pengamatan mendekati bentuk kurva simetrik Gaussian (distribusi normal).

217

Gambar 6. Perubahan konsentrasi gas dalam aliran udara (Widodo dkk, 2006) Persamaan untuk mengukur konsentrasi di titik pengukuran digunakan persamaan Taylor (1954), yaitu sebagai berikut: (1) 2
C ( x,t) = V 2A æ - (x - u t) expç ç 4Dt pD t è ö ÷ ÷ ø

Keterangan : V = volume gas (ml atau cc); A = luas penampang saluran (m 2 ) D = koefisien difusi (m2 / s) ; t = waktu (s); x = panjang aliran udara (m) u = kecapatan aliran udara (m/s) Pada persamaan (1), koefisien difusi untuk aliran laminar (Reynolds number; Re 2200) dinyatakan oleh Taylor (1953). (2)

D=

u 2r 2 48 Dm

Keterangan: Dm adalah molecular diffusion coefficient dari gas yang diijeksikan terhadap udara, u is kecepatan rata-rata, dan R adalah jari-jari terowongan. Untuk kondisi aliran turbulen, (Re>4000), koefisien difusi dinyatakan oleh Taylor (1954) sebagai, D = 10.1ru *
f ; u* = u 8
*

(3) Keterangan: u = kecepatan friksi (m/s); u= kecepatan rata-rata (m/s); f = friction factor Gambaran mengenai adveksi-difusi gas dari gas yang diinjeksikan ke dalam terowongan, untuk 1 (satu) kali pelepasan gas dapat dilihat pada Gambar 7. Untuk gabungan dari beberapa kurva single gas release yang dilepaskan setiap saat, contoh perbandingan kurva hasil simulasi dengan kurva hasil pengukuran dapat dilihat pada Gambar 8.

218

Gambar 7. Kurva single release terhadap jarak pada percobaan 2

Gambar 8. Konsentrasi CO hasil pembakaran kayu di titik l/d=59 pada percobaan 2

I.

PENUTUP

Percobaan kebakaran tambang skala kecil telah dilakukan di laboratorium untuk menyelidiki pengaruh kemiringan terowongan dan jenis material yang terbakar. Dari hasil pengujian diperoleh data bahwa nilai rasio gas hasil pembakaran terhadap jumlah material yang terbakar tidak sama kecenderungannya terhadap kemiringan untuk perbedaan jenis material yang terbakar. Untuk memprediksi besarnya konsentrasi gas pada arah hilir aliran udara, persamaan adveksi-difusi dengan menggunakan persamaan Taylor (1954) dapat diterapkan Lebih lanjut diperlukan eksperimen dengan skala yang lebih besar untuk mendapatkan data yang lebih mendekati kondisi terowongan sebenarnya untuk keperluan analisis Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) di terowongan dan tambang bawah tanah. UCAPAN TERIMAKASIH Terima kasih disampaikan kepada pimpinan dan segenap staf di Fakultas Teknik Pertambangan dan Perminyakan, Institut Teknologi Bandung.
II.

219

III.

DAFTAR PUSTAKA Birch, N., Passenger Protection Technology in Aircraft Accident Fires, Gower Technical Press (1988). Inoue M., Ventilasi dan Lingkungan Ruang Bawah Tanah, Modul Pelatihan JCOAL (2008). Mining and Safety, Vol.24 No.7 (1977) (diuraikan dalam modul: Inoue M., Ventilasi dan Lingkungan Ruang Bawah Tanah, Modul Pelatihan JCOAL (2008)). Risono, Widodo N.P, Gautama R.S, Mine Fire Management, Case Study In Pongkor Gold Mine, PT Aneka Tambang Tbk., Indonesia, Proc. the 11th U.S./North American Mine Ventilation Symposium, June, Pennsylvania, USA, Taylor and Francis Group (2006). Sasaki, K., Dindiwe, C., An integrated mine ventilation simulator “MIVENA Ver.6” with application, NorthAmerican/ 9th US Mine Ventilation Symposium, Ontario, Canada (2002). Taylor, G.I, Difusion of soluble matter in solvent flowing slowly trough a tube, Proc. R. Soc. London, Ser.A, Vol. 219, pp. 186-203 (1953). Taylor, G.I, The difusion of matter in turbulent flow through a pipe, Proc. of Royal Soc., A223, pp.446-468 (1954). Widodo N.P, Sasaki K, Gautama R.S, Risono, Mine Ventilation Measurements With Tracer Gas Method and Evaluations of Turbulent Diffusion Coefficient, International Journal of Mining, Reclamation and Environment, Taylor and Francis, UK (2007).

1. 2. 3. 4.

5. 6. 7. 8.

220

PROSIDING TPT XX PERHAPI 2011 ANALISIS KOEFISIEN TAHANAN GULIR ALAT ANGKUT DUMP TRUCK PADA JALAN ANGKUT DI KUARI BATUGAMPING
Yudhidya Wicaksana, Nuhindro P. Widodo, Suseno Kramadibrata, Ridho K. Wattimena, Fajar Ismail, Batara Naenggolan Laboratorium Geomekanika dan Peralatan Tambang, FTTM ITB Abstrak Produktifitas penambangan dipengaruhi kinerja alat angkut dan alat muat, salah satu faktor yang mempengaruhi kinerja dari alat angkut adalah Tahanan Gulir atau Rolling Resistance (RR). Koefisien tahanan gulir atau Coeffisien of Rolling Resistance (CRR) adalah besarnya tahanan gulir yang bekerja dibagi beban normal kendaraan. Pengukuran nilai CRR dilakukan di skala lapangan dengan menggunakan alat angkut dump truck bermuatan total 5-15 ton dengan material jalan batugamping. Variabel-variabel pada penelitian ini adalah berat total muatan, tekanan pemompaan ban, dan kecepatan penarikan. Dari hasil pengujian didapatkan nilai CRR untuk material batugamping dengan jenis ban dump truck tipe bias. Berdasarkan hasil pengujian dapat ditunjukkan bahwa kenaikan berat muatan dan kecepatan penarikan akan meningkatkan nilai CRR, sedangkan kenaikan tekanan pemompaan akan menurunkan nilai CRR. Untuk memperoleh hubungan empirik antara antara nilai CRR yang dihasilkan dengan parameter terkait maka dilakukan analisis dimensi. Kata kunci: rolling resistance, coefficient rolling resistance, batugamping 1. Pendahuluan Salah satu aktivitas yang dilakukan pada tambang terbuka atau bawah tanah di antaranya adalah kegiatan pemindahan tanah mekanis yang meliputi pekerjaan penggalian, pemuatan, pengangkutan tanah atau batuan. Alat muat pada kegiatan pemindahan tanah mekanis, kinerjanya dipengaruhi oleh beberapa faktor, antara lain adalah tahanan gulir (RR, Rolling Resistance), tahanan kemiringan (GR, Grade Resistance), koefisien traksi, rimpull, percepatan, ketinggian dari permukaan laut, dan keahlian operator. Di antara faktor-faktor tersebut, yang bersifat spesifik untuk setiap kondisi ban dan jalan adalah tahanan gulir karena merupakan interaksi antara ban dan permukaan jalan. Prodjosumarto (1996) menyatakan bahwa tahanan gulir dapat didefinisikan sebagai jumlah segala gaya-gaya luar yang berlawanan dengan arah gerak kendaraan yang berjalan di atas jalur jalan atau permukaan tanah. Wong (1993) menyebutkan bahwa tahanan gulir pada pemukaan jalan yang keras disebabkan terutama oleh adanya defleksi rangka ban pada saat ban berputar. Karena sifatnya yang berlawanan dengan arah gerak ban maka semakin besar nilai tahanan gulir maka diperlukan gaya yang lebih besar untuk mengatasi tahanan gulir tersebut.

221

Gambar 1. Gaya-gaya yang bekerja pada kendaraan

Penelitian ini merupakan kelanjutan penelitian sebelumnya yaitu Kramadibrata dkk. (2002) dan Widodo dkk. (2009) dimana pada penelitian tersebut didapatkan nilai koefisien tahanan gulir (CRR, Coefisien of Rolling Resistance) pada berbagai variasi variabel, seperti: variasi beban, jenis landasan, kemiringan, dan tekanan ban. Widodo dkk. (2009) melakukan penelitian pada jalan angkut di tambang terbuka batubara hingga beban maksimum 1 ton dengan berbagai variasi jenis ban, kemiringan jalan dan tekanan ban. Penelitian ini merupakan salah satu tahap persiapan untuk penelitian di jalan angkut tambang batubara dengan skala yang lebih besar (mencapai 40 ton beban maksimum). Penelitian ini dilakukan pada jalan angkut dengan material batugamping di lokasi tambang kuari yang berlokasi di Desa Citatah, Kabupaten Bandung Barat, Provinsi Jawa Barat. Beban maksimum pada jalan dengan material batugamping mencapai 15 ton. 2. Batasan penelitian Penelitian dilakukan untuk mencari nilai koefisien tahanan gulir pada berbagai kondisi parameter.Adapun batasan-batasan masalah penelitian ini, yaitu: · Penelitian dilakukan di tambang batugamping di Desa Citatah, Kabupaten Bandung Barat, Provinsi Jawa Barat. · Alat angkut yang digunakan adalah dump truck bermuatan maksimal 15 ton yang ditarik oleh dump truck lainnya yang bermuatan lebih besar. · Berat muatan dump truck bervariasi mulai muatan total 5 ton, 10 ton, dan 15 ton. · Ban yang digunakan adalah ban dump truck dengan jenis ban bias dengan diameter 94 cm dan lebar ban 19 cm dengan variasi tekanan ban 140 Psi (772,18 kPa) dan 112 Psi (965,23 kPa). 3. Uji Lapangan 3.1. Kondisi Jalan Pada Lokasi Pengujian Pengujian tahanan gulir dilakukan pada jalan tambang batugamping di lokasi perbukitan.

222

Material pembentuk jalan adalah material batugamping yang diasumsikan relatif homogen tanpa adanya sisipan material lainnya. Pada jalan yang digunakan untuk penelitian, lapisan atasnya terdapat lapisan tipis debu dan kerikil-kerikil kecil. Profil kemiringan jalan terbagi menjadi tiga segment besar, yaitu kemiringan 0% dengan panjang ± 6 m, kemiringan 4% dengan panjang ± 80 m, dan 10% dengan panjang ± 14 m. Penelitian dilakukan pada segment jalan dengan kemiringan 4% karena jalan dengan kemiringan 4% lebih panjang daripada jalan pada kemiringan 0% dan 10%. (lihat Gambar 2). Beda elevasi titik awal dan titik akhir pengujian adalah 1,4 m.

Gambar 2. Penampang memanjang jalan tambang pada daerah pengujian

3.2. Pengambilan data Pengujian di lapangan menggunakan peralatan berupa dump truck bermuatan 5-15 ton sebagai dump truck yang ditarik dan truck bermuatan maksimal 25 ton sebagai kendaraan penarik. Penggunaan truck yang berbeda muatan ini dimaksudkan agar truck yang bermuatan lebih besar kuat menarik truck yang lebih kecil. Dump truck yang berada di depan menarik dump truck di belakang dengan menggunakan sambungan besi yang telah dimodifikasi sehingga pada sambungan tersebut dapat ditempatkan load cell tekan. Fungsi load cell tekan ini menggantikan fungsi dari load cell tarik yang digunakan pada penelitian-penelitian sebelumnya. Alasan pemilihan load cell tekan adalah karena load cell tekan memiliki nilai tekanan yang lebih besar daripada load cell tarik, sehingga load cell tekan dapat mengakomodir penelitian pada skala lapangan yang menggunakan dump truck berukuran besar. Gambaran sistematik pengambilan data di lapangan dapat dilihat pada Gambar 3.

Gambar 3. Pengambilan data di lapangan

223

3.3. Hasil dan analisis Gambar 4.a merupakan hubungan koefisien tahanan gulir terhadap berat pada berbagai kecepatan dan tekanan pemompaan untuk kemiringan 4%. Secara umum, Gambar 4.a menunjukan bahwa semakin besar muatan total yang bekerja, maka nilai koefisien tahanan gulir yang bekerja semakin besar, kecenderungan ini diakibatkan semakin besar muatan yang bekerja maka semakin besar deformasi dan defleksi rangka ban pada lintasan sehingga deformasi dan gesekan antara ban dengan jalan semakin besar, yang akan menyebabkan gaya tarik yang diperlukan untuk menarik dump truck semakin besar dan meningkatkan koefisien tahanan gulir Gambar 4.b merupakan hubungan koefisien tahanan gulir terhadap tekanan ban pada kecepatan 10 km/jam, 15 km/jam, dan 20 km/jam serta variasi berat total untuk kemiringan 4%. Gambar 4.b menunjukkan kecenderungan bahwa semakin besar tekanan pemompaaan yang diberikan maka nilai koefisien tahanan gulir yang dihasilkan semakin kecil. Untuk kondisi kemiringan 4% nilai CRR yang dihasilkan akan turun seiring dengan kenaikan tekanan pemompaan ban mengikuti persamaan linear. Penurunan nilai kemiringan CRR akan jelas terlihat untuk kondisi berat total muatan 150 kN dengan kecepatan penarikan 20 km/jam, hal ini dikarenakan laju penetrasi dan deformasi yang diakibatkan tekanan pemompaan ban lebih kecil dibandingkan daya dukung tanah untuk mengatasi tekanan ban dan rangkanya. Pemberian berat muatan yang besar harus diimbangi dengan pemberian tekanan pemompaan yang optimum untuk meneruskan beban vertikal ke permukaan kontak antara ban dengan tanah. Pada beban 50 kN dengan kecepatan penarikan 10 km/jam penambahan tekanan pemompaan ban memberikan pengaruh terhadap penurunan CRR relatif kecil hal ini dikarenakan beban muatan yang bekerja ringan. Pada Gambar 4.c terlihat kenaikan nilai koefisien tahanan gulir untuk kecepatan 10 km/jam, 15 km/jam, dan 20 km/jam. Menurut Wong (1993), semakin besar kecepatan yang bekerja pada kendaraan maka semakin besar deformasi yang terjadi pada ban dan lintasan, dan semakin besar getaran pada struktur ban. Gambar 4.a menunjukan kurva koefisien tahanan gulir untuk tekanan pemompaan yang sama, CRR pada kecepatan 20 km/jam berada diatas kurva CRR dengan kecepatan 15 km/jam dan 10 km/jam, kenaikan CRR seiring dengan kenaikan kecepatan karena pada kecepatan rendah gaya yang digunakan stabil dan tidak terjadi kenaikan percepatan yang cepat, pada kecepatan tinggi terjadi kenaikan percepatan yang tiba-tiba sehingga saat terjadi kenaikan kecepatan tersebut akan terjadi kenaikan gaya secara tiba-tiba. Gambar 4.c ini sesuai dengan teori Wong (1993) Pengujian tahanan gulir adalah pengujian yang mengacu pada gaya yang terjadi akibat adanya kontak antara ban dan material jalan. Karena itu luas kontak yang terjadi perlu dianalisis karena sangat berpengaruh terhadap gesekan yang terjadi. Luas kontak yang diukur saat pengujian dihubungkan dengan berat total muatan yang bekerja dan tekanan pemompaan yang diberikan. Gambar 4.d menunjukkan hubungan antara penambahan beban dengan luas kontak antara ban dan material jalan. Ketika dilakukan penambahan beban, maka terjadi penambahan tekanan pada permukaan material sehingga menyebabkan defleksi pada ban. Karena adanya defleksi ini maka luas kontak yang terjadi akan semakin bertambah besar. Parameter yang dihasilkan akibat hubungan antara ban dan material jalan tidak hanya pada luas kontak yang dihasilkan, tetapi juga benaman dan penetrasi ban yang diakibatkan tekanan kendaraan. Pada penelitian ini tidak

224

dilakukan analisis terhadap benaman dan penetrasi karena perbedaan benaman yang dihasilkan relatif kecil, dan pengujian tahanan gulir dilakukan berulang kali, sehingga tinggi benaman yang dihasilkan kurang baik. Pada Gambar 4.e menunjukan kecenderungan semakin besar tekanan pemompaan yang diberikan akan memberikan luas kontak yang dihasilkan semakin kecil. Luas kontak yang dihasilkan menunjukan deformasi yang dihasilkan antara ban dengan material lintasan. Pada penelitian ini, pemberian tekanan pemompaan semakin besar menyebabkan deformasi yang terjadi semakin kecil. Untuk berat muatan semakin besar diperlukan tekanan pemompaan optimum untuk mengimbangi tekanan yang dihasilkan oleh ban.

225

(d)

(e)
(e)Gambar 4. (a) Hubungan CRR terhadap berat pada berbagai kecepatan dan tekanan pemompaan; (b)
Hubungan CRR terhadap tekanan pemompaan ban pada berbagai kecepatan dan berat total; (c) Hubungan CRR terhadap kecepatan penarikan pada berbagai tekanan ban dan berat total; (d) Hubungan penambahan beban terhadap luas kontak; (e) Hubungan penambahan tekanan ban terhadap luas kontak

4. Analisa dimensi Penelitian di lapangan menghasilkan variabel-variabel yang dapat digunakan untuk analisis dimensi. Variabel yang dianalisis ada 6 buah (n=6) yang ditunjukkan dalam Tabel IV.11. Variabel–variabel tersebut adalah berat total muatan (W), tahanan gulir (RR), tekanan pemompaan ban (P), kecepatan (v), luas kontak (A), dan diameter ban (d).
Tabel 1. Parameter dimensi yang bekerja

226

5. Kesimpulan Dari hasil uji lapangan didapatkan nilai CRR bernilai antara 0,016 – 0,031 dengan nilai rata-rata 0,021. Parameter yang digunakan adalah jenis ban dump truck bermuatan maksimal 15 ton adalah ban radial, material lintasan adalah batugamping, kecepatan penarikan 10 km/jam, 15 km/jam, dan 20 km/jam, tekanan pemompaan yang digunakan 112 psi dan 140 psi, beban 50 kN, 100 kN, dan 150 kN dan kemiringan lintasan 4%. Berdasarkan hasil analisis dimensi maka nilai tahanan gulir pada kondisi material jalan batugamping dapat dituliskan sebagai berikut:

Daftar pustaka
1.

2.

3.

4.

5.

6.

Komandi, G., An Evaluation of the Concept of Rolling Resistance, Journal of Terramechanics, 1999 Kramadibrata, S, dkk., Analysis of Rolling Resistance Coefficient of Dried Silt and Wet Silt at Laboratory Scale, Mine Planning and Equipment Selection (MPES), 2002 Kramadibrata, S., The Use of Dimensional Analysis, Department of Mining Engineering – ITB, Bandung, 1998 Prodjosumarto, P., Pemindahan Tanah Mekanis, Jurusan Teknik Pertambangan, ITB, Bandung, 1996 Widodo, N.P., Wicaksana, Y., Wattimena, R.K., A Preliminary Field-Study to Determine Rolling Resistance Surface Coal Mines, Faculty of Mining and Petroleum Engineering, Bandung Institut of Technology, 2009 nd Wong, Theory of Ground Vehicles, 2 Edition, John Wiley and Sons, Inc, New York, 1993

227

PROSIDING TPT XX PERHAPI 2011 KONTROL VIBRASI DAN AIR BLAST DI PIT J PANEL 4
Pangihutan Siboro Mining Services, PT Kaltim Prima Coal, Sangatta, Indonesia Pangihutan.Siboro@kpc.co.id

I. Latar Belakang Pengontrolan peledakan di Pit J selain untuk upaya optimalisasi kualitas hasil peledakan (fragmentasi) juga untuk mengontrol ground vibration, air blast, flying rock dan fumes. Ground Vibration dan Air Blast menjadi prioritas utama karena flying rock dan fumes sudah terkendali dgn praktik standard yang telah ditetapkan. Penggunaan material Red Mud Stone sudah mampu mengendalikan flying rock dan improvement terhadap kualitas produk sdh mampu menngendalikan fumes setelah peledakan. Pentingnya pengendalian ini karena Pit J adalah satusatunya dari 3 Pit MOD yang memiliki jarak yang cukup dekat dengan perkampungan warga dan fasilitas KPC sendiri. Oleh karena itu, ditetapkanlah 2 titik pengukuran untuk merecord Ground Vibration andAir Blast peledakan.

Gambar 1. Letak Pit J

Gambar 2. Letak Titik Monitoring Ada 2 titik compliance pengukuran Ground Vibration and Air Blast peledakan yaitu : 1. Titik pengukuran Kantor Bupati Lama berjarak 650 m dari final wall pit J Panel 4 2. Titik pengukuran area Trakindo berjarak 350 m dari final wall Pit J Panel 4 Nilai Compliance untuk Ground Vibration dan air Blast juga sudah ditetapkan, ada 2 acuan yang digunakan yaitu, KPC Threshold dan Indonesian Regulation.

228

Tabel 1. Nilai Ground Vibration dan air Blast Target Pit J Panel 4 adalah out of plan, tetapi tetap ditambang untuk mengganti kehilangan batu bara sekitar 1 juta ton akibat longsornya low wall di Pit J Panel 1 dan 2 (lihat Gambar).

Gambar 3. Longsor di low wall Pit J Panel 1 dan 2 Pit J Panel 4 setelah dianalisa memperoleh tetap menguntungkan untuk ditambang karena : 1 Coal reserve : 5.898.058 ton 2 Overburden : 55.156.870 bcm 3 Stripping ratio : 9.35 Sehingga ditetapkan Pit j panel 4 tetapi menguntungkan untuk ditambang. Namun demikian tantangannya adalah bagaimana mengendalikan Ground Vibration dan Air Blast namun tetap bisa mempertahan fragmentasi batuan hasil peledakan yang optimal. Upaya-upaya yang telah dilakukan adalah : A. Pengendalian Ground Vibration 1.Analisa Vibrasi dengan menggunakan formula sbb :

229

a. Information Required ü Peak Particle Velocity (PPV) ü Distance to blast ü Charge per delay (use max hole charge) ü Bench blast numbers ü Domain b. Calculate Scaled Distance Distance

Graph log PPV vs. log Scaled Distance Calculate K and B values for each Domain Based on the formula: PPV = k.SD ^-B The value of B and K could be identified as the guidance of the relationship between following parameters: Ground Vibration threshold, blasting distance & the maximumcharge/hole. If X=log SD and Y=log PPV, then the value of K & B could be calculated: K=10(y-B.X) and B = xy-(xy/n X2-(y2/nx) The value of K & B must be updated regularly as the current rock characteristic against the threshold of 3mm/s. The data of Ground Vibration in Pit J from 2007 to 2010 have been evaluated to get most updated of K & B values.

Tabel 3. Nilai K dan B actual Dari formula tersebut ditetapkan standard charging yang akan digunakan sebagai acuan loading sheet

230

Tabel 3. Kantor Bupati Lama Settlement

Tabel 4. KPC Work-shop facilities 2. Simulasi Initiation Point dan Tie Up a. Tie Up Design for Blasting > 6 Rows Initiation Point leaves the Monitoring Point Trim Holes : 100ms Control Row : 175 ms + 175 ms Echelon : 100ms + 100ms

Connecting LIL

: 175ms

231

b. Tie Up Design for Blasting > 8 Rows Initiation Point leaves the Monitoring Point Trim Holes : 100ms Control Row : 175 ms + dummy 175 ms/3 holes Echelon : 100ms + 100ms Connecting LIL : 175ms

c. Tie Up Design for Blasting < 6 Rows Initiation Point leaves the Monitoring Point Control Row : 175 ms + 175 ms Echelon : 100ms Connecting LIL : N/A

232

d. Tie Up Design for Blasting = 3 Rows Initiation Point leaves the Monitoring Point Control Row: 175 ms + 175 ms (if > 1 hole) & 175 ms (if only 1 hole) Echelon: 100ms Connecting LIL: N/A

B. PengendalianAir Blast

Sources of excessive Air Blast o Gases escaping from cracks in the face (back cracking from previous blast) o Charges with small burden (because of collaring errors or hole deviation) o Exposed detonating cord trunklines or down line tails:

233

ü ü ü ü

Blast holes that are overcharged (collar stemming length too short) Unsuitable stemming material that quickly ejected (blown out) Unconfined explosives charges & secondary blasting Weather conditions generally have a significant effect on air vibrations as travel paths, pressure levels and frequency spectrum can be altered by atmospheric conditions. Air pressure waves can be focussed in some directions, causing unexpected problems as a result of wind speed and direction or temperature inversions .

Crushed red-mudstone or limestone, size 20-30cm is the standard stemming material to maintain the confinement, control firing cut-off, and control air blast.. Upaya pengendalian yang dilakukan untuk mengendalikan air Blast adalah dengan menggunakan material stemming dari material crushed Red Mud Stone. Ada 4 unit stemming truck yang digunakan untuk support confinement di lubang tembak. Dari upaya2 di atas bisa dilihat di tabel terlampir nilai

234

GROUND VIBRATION & AIR BLAST RECORDS (YTD April 2011) C. Digging Time

235

Total Charge/Hole=200Kg, Digging Time=11.5Seconds

236

PROSIDING TPT XX PERHAPI 2011 Trial Metoda “Coal Decking Blasting Technique“ di Pit Bendili Panel 7, PT. Kaltim Prima Coal
oleh: Kiagus Nirwan dan Untung Pramana Drill and Blast Section – PT. Kaltim Prima Coal A. ABSTRAK Kegiatan Peledakan pada industri tambang batubara pada pelaksanaanya sedikit lebih rumit dan memakan waktu dibandingkan pada peledakan batuan beku , hal ini dikarenakan pada tujuan peledakan dibatasi oleh beberapa lapisan tujuan batubara (stop to seam blast). Setelah batubara di “exposed”, proses pembersihan floor batubara harus di “terracing” untuk mendapatkan hasil peledakan yang optimal. Proses yang berulang ini mengakibatkan frekuensi peledakan akan lebih sering dilakukan dan efeknya akan mempengaruhi total pencapaian produksi. Metoda peledakan “Coal decking system” menjadi salah pilihan untuk mengurangi frekuensi peledakan dan mengeliminasi waktu untuk proses persiapan area drill serta eleminisai waktu terracing floor batubara. Drill and Blast PT. Kaltim Prima Coal telah melakukan beberapa percobaan untuk menerapakan konsep “Coal decking system” pada Area Multi seam Pit Bendili Panel 7. Setelah dilakukan percobaan didapatkan hasil peledakan yang cukup optimal, frekuensi peledakan dapat ditekan serta waktu persiapan area lebih cepat dari biasanya, walaupun masih didapatkan beberapa kendala teknis dalam implementasi metoda ini. Kata kunci : Coal decking system, terracing, exposed B. PENDAHULUAN Batubara sebagai sumber energi telah menjadi salah satu energi alternatif yang strategis di masa kini dan masa depan. Semakin berkurangnya cadangan minyak bumi membuat batubara menjadi alternatif energi yang tepat, selain gas alam, untuk tujuan penyediaan energi dalam negeri dan sumber pemasukan devisa negara melalui ekspor. Pit Bendili, merupakan salah satu panel penambangan yang dikelola secara mandiri oleh PT. Kaltim Prima Coal dimana panel tersebut dibagi menjadi beberapa panel kerja di antaranya Bendili panel 4, bendili panel 6 dan bendili panel 7. Pembagian area kerja ini dimaksudkan untuk mempermudah pengawasan di dalam pengerjaannya. Kegiatan peledakan pada kegiatan penambangan batubara multi seam memikili tingkat kesulitan yang lebih banyak dan memakan waktu, hal ini disebabkan karena proses pemboran dan peledakan harus dilakukan lapisan demi lapisan batubaranya (stop to Top of Coal). Setelah

237

dilakukan peledakan ke TOC, dilajutkan dengan proses pembersihan floor batubara sebagai area pemboran. Proses yang berulang ini mengakibatkan frekuensi peledakan akan lebih sering dilakukan dan efeknya akan mempengaruhi total pencapaian produksi. Untuk itu PT. Kaltim Prima Coal melakukan percobaan metoda peledakan “coal decking system” dengan harapan memberikan hasil yang lebih optimal.

C. LATAR BELAKANG Metoda peledakan “Coal decking system” bertujuan untuk mengurangi frekuensi peledakan karena Overburden di bawah batu bara (wedge) telah diledakkan bersamaan dengan Overburden di atas batu bara (tembus batu bara), untuk mempertahankan coal recovery, melakukan penghematan dan mengefesiensikan kerja dozer dalam proses drill pad preparation serta melakukan efesiensi penggunaan bahan peledak dengan tetap mempertahankan target produktivitas alat gali-muat.

238

Berikut merupakan langkah-langkah yang dilakukan dalam metoda “Coal decking system” : 1. 2. 3. 4. 5. Aktivitas Pemboran Logging Coal Seam Pick up koordinat dan elevasi lubang ledak Mengukur kedalaman aktual Menetapkan rancangan loading sheet yang telah di overlay dengan data thickness batubara, elevasi batu bara, elevasi lubang ledak dan kedalaman aktual lubang ledak, sehingga bisa ditentukan dimensi decking, stemming dan column explosive 6. Menetapkan rencana inisiasi 7. Mengukur ulang kedalaman aktual pada saat loading sebagai cross check untuk adjustment explosive jika ditemukan pendangkalan. D. PELAKSANAAN TRIAL D1. Aktivitas Pemboran Pelaksanaan trial metoda “Coal decking system” di Panel 7, dilakukan pada boundary area BDP01WK15 dimana pada area ini dilakukan pengeboran dari topografi elevasi RL135 ke elevasi RL119. Proses pengeboran dilakukan dengan menembus lapisan batubara MNUSR (thickness 1.2 m).

Berikut adalah gambaran umum mengenai lokasi Trial metoda ”Coal decking system” di Bendili Panel 7, BDP07+1201501

239

D2. Logging Coal Seam Untuk mempermudah proses decking pada coal seam yang ditembus, pada pelaksanaan trial ini dilakukan proses logging untuk mengetahui secara presisi kedalaman dan ketebalan lapisan batubara yang ditembus. Proses logging ini didahului dengan pemberian identitas lubang baik row by row maupun identitas by holes. Data yang didapatkan dari proses ini akan menjadi acuan dalam menentukan loading sheet explosive maupun decking position. Proses Logging ini dilakukan dengan menggunakan “Gamma-Logging”

D3. Identifikasi Lubang Tembak dan Penetapan Rancangan Loading Sheet Penamaan Lubang tembak dilakukan untuk mempermudah dalam pengisian bahan peledak dan prosedur coal decking system. Hal ini penting dilakukan untuk menghindari terjadinya Coal dilution dan coal losses akibat aktivitas peledakan. Data yang diperoleh dari kegiatan logging akan dijadikan dasar dalam pembuatan rancangan loading sheet, dengan cara overlay data ketebalan batubara, elevasi kedalaman batu bara, elevasi lubang ledak dan kedalaman aktual lubang ledak, sehingga bisa ditentukan dimensi decking, stemming dan column explosive.

240

D4.Analisis Post Blast Setelah dilakukan peledakan, material akan di gali ntuk selanjutnya dipindakan ke dumping area. Hasil peledakan yang baik merupakan faktor utama dalam meningkatkan produktivitas digger. Semakin optimal fragmentasi maka semakin baik penggalian (digging rate) dan makin baik produktivitas digger. Salah satu parameter yang berpengaruh terhadap digging rate alat adalah waktu alat melakukan penggalian. Digging time merupakan waktu yang dibutuhkan oleh digger dalam proses pemuatan material broken ke bucket, mulai dari kuku bucket kontak ke batuan dani bucket terisi penuh dan posisi mulai terangkat. Produktivitas digger = digging rate x PA x US ........................................... Digging Rate = (3600/(S+L+DT)) x C x N x F ................................
Dimana : S (Swing Time), L (Load Time), DT (Digging time), C (kapasitas bucket), N (Jumlah pemuatan), F (Faktor Fill factor)

Dari persamaan diatas, digging time merupakan salah satu bagian dari waktu edar (cycle time), sehingga asumsinya adalah makin kecil digging time maka semakin baik g rate digger. Berikut adalah data Aktual waktu penggalian Digger EX3600, S313.

Gambar 5. Grafik Aktual waktu penggalian (digging time) S313

241

D5. Coal Recovery Banyaknya batubara yang tidak hilang (coal loses) akibat peledakan pada metoda CDS, merupakan salah satu tujuan utama dalam pelaksanaan percobaan ini. Data yang diperoleh dari reserve model geologi diperoleh total batuabara MNSR layak tambang (mineable seam) pada boundary plan adalah 7,125 ton dan data pick up survey (luas area batubara tersingkap dikalikan ketebalan rata-rata) adalah 7,141 ton, apabila dibandingkan antara keduanya didapatkan persentasi Coal recovery sebesar 97 %. Sedangkan apabila dibandingkan antara model geology dengan data aktual pengangkutan batubara diperoleh pesentasi coal recovery sebanyak 96 % dengan total batubara kotor (dirty coal) sebanyak 827 ton atau sebensar 12 %. (Tabel 2)

E. BIAYA MOTADA KONVENSIONAL vs COAL DECKING SYSTEM Seperti disebutkan diawal, metoda coal decking system memiliki keunggulan dibandingkan dengan metoda blasting konvensional pada industi tambang batubara multi-seam. Selain dapat mengurangi frekuensi peledakan, metoda ini juga dapat mengurangi biaya dan waktu pembersihan floor batubara. Berikut merupakan simulasi matrix perbandingan antara metoda konvensional dan metoda coal decking system.

242

Pada Tabel 2 diatas dapat dilihat simulasi perhitungan waktu peledakan antara cara konvensional dan CDS, dengan asumsi total overburden yang akan diledakan sebanyak 1,000 kbcm jumlah peledakan dengan metoda konvensional lebih banyak dibandingkan dengan CDS, hal ini akan berpengaruh pada penambahan delay akibat aktivitas peledakan dan akan mengurangi jumlah produksi. Apabila pengurangan waktu peledakan hal dikonversi menjadi pendapatan, maka batubara yang dapat ditambang adalah 249 ton batubara/hari untuk satu kali pengurangan waktu peledakan. Sehingga pendapatan dalam satu tahun dalam satuan US$, adalah 691,915 US $.

243

Pada Tabel 3 merupakan simulasi perhitungan pengurangan biaya Penyiapan lokasi (drill pad preparation) antara cara konvensional dan CDS, dengan asumsi block peledakan sebanyak 10,000m2. Penggunaan metoda CDS lebih menguntungkan dibandingkan dengan metoda peledakan konvensional, hal ini disebabkan karena peledakan metoda CDS tidak membutukan dozer maupun grader sebagai alat Bantu untuk menyiapan lokasi peledakan berikutnya. Dari simulasi diatas didapatkan pengefesiensian penggunaan alat tambang pendukung sebanyak US $ 861 perhari/peledakan. F. KESIMPULAN Perlakuan decking pada column batu bara masih dapat dilakukan. Perlakuan decking ini bertujuan untuk mengurangi frekuensi peledakan, mengefesiensikan penggunaan dozer dan grader sebagai alat bantu untuk penyiapan lokasi seam floor batubara dan merecover batu bara. Coal recovery batu bara masih memungkinkan untuk di jaga sesuai target (97%) dengan tetap mengacu pada langkah-langkah yang telah ditetapkan pada trial ini. Tingkat hasil percobaan ini belum maksimal karena percobaan ini baru dilakukan beberapa kali, dan perlu dikaji lebih detail sebagai alternatif metoda peledakan di tambang batubara. G. DAFTAR PUSTAKA Scott, Andrew. II. Julius Kruttschnitt Mineral Research Centre., Open Pit Blast Design: AnalysisAnd Optimisation, The University Of Queensland,Australia. Konya, Calvin J. 1995, Blast Design, Intercontinental Development, Montville, Ohio, hal. 157 - 181. Laporan - Laporan dan Dokumentasi Mining Services Department, PT. Kaltim Prima Coal, sangatta

244

PROSIDING TPT XX PERHAPI 2011 PENERAPAN DISAIN TRIM SHOOT DALAM COOKBOOK DI PT NEWMONT NUSA TENGGARA
Disusun bersama : Andriko Satria Hazqil Arafi PT Newmont Nusa Tenggara Batu Hijau-sumbawa Indonesia
Abstrak

Aktivitas peledakan memiliki kontribusi yang signifikan pada kerusakan dinding. Kerusakan ini disebabkan oleh pengulangan peledakan setiap jenjang penambangan yang memberikan getaran secara berulang-ulang. Untuk itu aktifitas peledakan di Batu Hijau dibagi menjadi dua metode peledakan yaitu Production Shoot dan Trim Shoot. Sejak tahun 2004 seluruh disain peledakan menggunakan pedoman yang dikenal dengan nama Cookbook. Sebelum dibuatnya Cookbook, disain peledakan hanya didasarkan pada uji coba disain dan belum adanya petunjuk yang jelas. Dengan disusunnya konsep seperti Cookbook ini mampu menganalisa hasil peledakan sehingga dapat meningkatkan hasil fragmentasi, kestabilan lereng dan mencapai produktifitas shovel yang optimal khususnya pada Trim shoot. Ada beberapa metode yang digunakan untuk mengevaluasi formula dan disain pada disain Trim Shoot dalam Cookbook yang masing-masing disain dibedakan berdasarkan karakteristik batuan, struktur geologi dan kekerasan batuan. Disain Trim shoot dalam Cookbook selalu dimodifikasi sesuai dengan perubahan keadaan penambangan dan hasil yang ditunjukkannya. Hasil peledakan Trim shoot yang kurang optimum dapat dilihat pada proses penggalian dengan tidak meratanya lantai penggalian, tidak tercapainya limit disain (toe) yang telah direncanakan dan terjadinya longsor pada dinding penambangan. Dengan besarnya kontribusi Trim Shoot dalam kelanjutan penambangan sehingga dibutuhkan evaluasi disain Trim shoot dalam Cookbook sesuai dengan kemajuan penambangan sehingga dapat mencapai target-target yang telah direncanakan. 1. Latar Belakang Pit Batu Hijau beroperasi didaerah dengan struktur geologi yang sangat kompleks yang akan mempengaruhi kestabilan dinding tambang. Struktur ini terdiri dari struktur utama yang memotong dari barat selatan dari rencana penambangan dan juga struktur minor dengan jumlah yang cukup besar. Selain struktur kontak antar Litologi batuan juga sangat mempengaruhi

245

kestabilan dinding. Perlunya menjaga kestabilan dinding merupakan suatu hasil yang perlu dicapai dalam operasi pengeboran dan peledakan. Trim yang merupakan salah satu area peledakan yang sangat dekat dengan dinding diharapkan dapat mengurangi resiko terhadap kerusakan tersebut.

Gambar 1. Peta Geologi & Stuktur Utama Pada Peledakan Trim shoot kestabilan dinding adalah mutlak harus dicapai, tetapi juga harus tetap memperhatikan ketercapaian disain (toe) tambang dan produktivitas shovel sebagai alat gali muat pada tambang Batu hijau. Sering target kestabilan dinding, ketercapaian disain dan produktivitas shovel belum bisa tercapai dikarenakan belum adanya kesesuaian disain Trim shoot tersebut dengan kemajuan penambangan. Maka dengan adanya evaluasi disain Trim shoot dalam Cookbook sebagai panduan dari semua uji coba disain yang dilakukan dapat mencapai dari ketiga target yang diharapkan, sehingga dapat juga menunjang kontinuitas operasional penambangan Batu Hijau.

246

Gambar 2. Peta Melintang Ultimate Pit 2. Parameter Disain Trim shoot dalam Cookbook Trim merupakan peledakan yang dekat dengan dinding, disain trim ini berjarak 25-30 m dari Limit setiap Toe Jenjang tambang (Bench). Peledakan Trim dilakukan setelah Production Shoot diledakkan (Gambar 3). Adapun Parameter yang perlu diperhatikan dalam disain trim yaitu dimulai dari Tipe batuan yang akan diledak dan ketersediaan alat bor (diameter), Jarak lubang ke dinding (toe offset), Jumlah bahan peledak untuk setiap baris peledakan.

Gambar 3. Disain Peledakan 2.1 Tipe batuan dan Ketersediaan alat bor (diameter) Sebelum pembuatan disain, harus diketahui besarnya RQD dan PLI masing area yang akan diberaikan. Untuk lebih memudahkan dalam klasifikasi berdasarkan RQD dan PLI maka dibuatkan sebuah tabel klasifikasi sesuai Jenis batuan (Hardness Domain), RQD dan PLI nya

247

yang kemudian akan dicantukam dalam Cookbook. Dari semua percobaan yang telah dilakukan, diameter untuk pengeboran trim ini harus disesuaikan dengan kondisi batuan. Contoh : diameter yang kecil untuk trim di area yang keras akan menghasilkan fragmentasi yang berukuran besar dan keras pada saat digali serta tidak tercapainya disain akibat kurangnya energi untuk memberaikan material tersebut karena menggunakan diameter yang kecil.

Gambar 4. Klasifikasi batuan 2.2 Jarak Lubang terhadap Dinding (Toe Offset) Lubang yang dekat dinding ini berfungsi sebagai buffer atau penahan dari lubang yang ada didepan nya. Selain itu juga diharapkan lubang ini dapat memberaikan material di dekat toe, sehingga memudahkan untuk pencapaian disain. Jarak lubang ini juga disesuaikan dengan jenis batuan dengan kesesuain besarnya angka RQD. Semakin besar angka RQD maka semakin kecil jarak lubang terhadap dinding. Hal ini bertujuan untuk memudahkan dalam pencapain disain toe karena dan mengurangi kerusakan dinding.

Gambar 5. Korelasi RQD dan Jarak ke dinding

248

2.3 Jumlah bahan peledak untuk setiap baris Jumlah bahan peledak tiap baris pada trim shoot berbeda, terutama 2 baris yang dekat dinding. Tujuan pembedaan jumlah bahan peledak ini adalah selain untuk menjaga kestabilan dinding juga untuk menjaga fragmentasi peledakan trim ini. Karena Trim ini mempunyai lebar hanya 2530 meter oleh sebab itu, kesesuain isian bahan peledak sangat perlu diperhatikan. 3.Penerapan Disain Trim dalam Cookbook 3.1. Latar Belakang Pemikiran Penerapan Trim dimaksudkan untuk mengurangi dampak peledakan terhadap kestabilan dinding tambang dengan tetap menjaga ketercapain toe disain dan produktivitas alat gali muat yang beroperasi. Kestabilan dinding diukur berdasarkan jumlah retakan yang berlebihan akibat peledakan backbreak terjadi setelah dilakukan peledakan trim dilakukan. Untuk penilaian ini dilakukan oleh Tim Geoteknis setelah observasi dan analisa setelah peledakan dengan mengklasifikan kerusakan yang ditimbulkan menjadi 3 yaitu : None to slight (Hijau), Moderate (Kuning) dan Severe (Merah). Ketercapaian toe disain ini diukur dengan besarnya deviasi antara disain dengan aktual yang terjadi dilapangan. Produktivitas alat gali muat (Shovel) diukur dengan besarnya jumlah material yang bisa digali dalam satuan waktu (Digging rate). Besarnya digging rate ini dipengaruhi oleh ukuran fragmentasi hasil peledakan yang dihasilkan. Fragmentasi diukur dengan P20, P50, P80 dan Topsize. Sebagai standart yang digunakan adalah P80 dengan ukuran 150 mm 3.2 Evaluasi penerapan Trim dalam Cookbook Bentuk Trim disain yang dimuat dalam Cookbook terdiri dari Hard Domain berdasarkan RQD dan PLI, Jumlah baris Trim shoot, Jarang lubang dari dinding (Toe Offset), Penetration rate, Geometri peledakan, Stemming dan besarnya isian bahan peledak. Untuk lebih jelas nya lihat Gambar 6. Semua modifikasi dan perubahan trim disain akan didokumentasikan dalam Cookbook, sehingga dapat melihat parameter perubahan disain dan aktual yang dihasilkan.

249

Gambar 5. Cookbook Trim shoot dengan diameter 251 mm 3.2.1 Evaluasi kestabilan dinding dan ketercapaian toe disain Dari hasil analisa dan observasi Tim Geoteknis khususnya bench 015 sampai dengan -015 yang telah dilakukan peledakan dengan disain Trim yang ada di Cookbook menunjukkan hasil yang cukup signifikan untuk menjaga kestabilan dinding (None to to slight). Dan juga ketercapain Toe disain hanya 2 - 4 m dari aktual dilapangan.

Gambar 6. Hasil Analisa dan Observasi ketercapain Toe disain

250

Gambar 7. Penilaian geoteknik (Geotech Assesment) Peledakan trim RL 015 3.2.2 Fragmentasi peledakan Peledakan yang dilakukan dengan menggunakan Trim diharapkan dapat menjaga Produktivitas shovel, salah satu cara untuk meningkatkan Produktivitas Shovel yaitu menghasilkan material hasil peledakan dengan Fragmentasi P80 dengan ukuran < 150 mm. Hasil dari penerapan Trim dari bench +015 sampai -015 dapat terlihat bahwa fragmentasi P80 yang dihasilkan berkurang rata – rata 6% dengan rata – rata P80 130 mm.

Gambar 7. Hasil pengukuran fragmentasi peledakan KESIMPULAN Seiring kemajuan penambangan penerapan pengendalian dinding tambang merupakan sesuatu yang mutlak harus dilakukan dengan tidak melupakan ketercapaian disain dan produktivitas alat, karena pit Batu Hijau mempunyai struktur batuan kompleks dan juga penambangan dengan multi phase. Sehingga perlunya melakukan suatu perubahan yang bekelanjutan (Contineous Improvement) dari sisi peledakan dan pemboran yang harus dirangkum dalam suatu pedoman.

251

Salah satu upaya perbaikan bekelanjutan yang diterapkan di tambang Batu Hijau PTNNT yaitu penerapan Trim shoot disain dalam Cookbook dan terus melakukan modifikasi sesuai dengan kondisi penambangan, secara Geoteknik telah menunjukkan hasil positif dan secara umum dapat meningkatkan kualitas kestabilan dinding tambang dan tetap menjaga ketercapaian disain dan produktivitas alat gali.

Daftar Pustaka: 1. Dr. Alan Cameron dkk, April 2002, Blast Design and Assessment for Surface Mine and Quarries, Edumine Online Course 2. Harry R dkk, Bulletin 656- Blasting Vibrations And Their Effects on Structures, US Department of Interior, Office of Surface Mining.

252

PROSIDING TPT XX PERHAPI 2011 APPLICATIONS OF FIBRE-REINFORCED SHOTCRETE (FIBRECRETE) SUPPORT AT SILL DRIFT (PRODUCTION STOPE) IN PONGKOR UNDERGROUND GOLD MINE PT.ANTAM (Persero),Tbk
By: Yosep Purnama, Agus Sudharto, Rustaman, Catur Budiyanto, Bayu Wibisana Pongkor - Gold Mining Business Unit PT.Antam (Persero) Tbk Pos 1 Nanggung. Bogor 16650, Jawa Barat
Correspondent Author :

Yosep.Purnama@antam.com

ABSTRACT A cut and fill method has been successfully applied to extract the Upper Ore Body at Pongkor Gold Mined since the 1995's. Since inception, sill drifts and service ways have been supported using Wooden Support, Steel sets and H-Beam fabricated to a specific design from high strength steel. To reduce costs and to improve ore recovery through decrease supporting mine cycle in mine productivity, trials commenced in 2010 using fibre reinforced shotcrete as an alternative support method. One of the areas; Sill RC Drift 10, Blok IV Central L. 600 Ciurug as a trial drift. Shotcrete installed exhibited minor cracking shortly after application but very little deterioration thereafter. Following the success of the trial, the application of fibre reinforced shotcrete was extended to other stopes. This paper describes the application of fibre reinforced shotcrete at Pongkor Gold Mine and outlines design and quality assurance methods employed. Key words: cut and fill, fibre-shotcrete, sill drift

253

1. Introduction

1.1 Location Pongkor Gold Mine Business Unit is one of PT.Antam (Persero) Tbk which operating underground. The mine is located in Bogor, West Java, ± 80 km southwest from Jakarta Indonesia. (Fig.1)

Fig.1 Location of Pongkor Gold Mine

2. Geological setting and Mineralization

Geologically, Pongkor lies on in northern of Bayah mountain structures at same time with Nirmala, Cibarengkok and Ciawitali gold deposit, in the meantime Cikotok and Cirotan lies on southern of Bayah Dome's structures. Pongkor deposit is ephithermal gold deposit with associated with Mn, even though it was covered by Quarterly volcanic product, but its vein cut off by Pliocene unconformity. It shown that mineralization related with old magmatism ages Plistocene or Miocene that crossed Cimapag Formation and OldAndesitic Formation. Regionally, Pongkor is a part of volcanic complex with widely lies on central up to south of west java, approximately Quarterly or Recent. Tertiary - Old Quarter ages volcanic complexes are G. Halimun, G. Dahu, G. Manceuri, G. Endut dan G. Kendeng, and Quarter up to Recent ages are G. Gede-Pangrango and G. Salak. Between of central of magmatic erupted is significantly spread of not too large intrusion dimension, but the present of intrusion was an important key in mineralization forming in Pongkor. It could shown that relationships of dominated NW-SE structures pattern and same at direction is carry on quartz vein mineralization at Pongkor area.

254

Fig 2. Geological and Structure Map

3.

Mining method Pongkor Gold Mine has implemented mechanized overhand cut and fill stoping method at main vein Ciurug. It has three levels main level, there are 700, 600 and 500 levels. the ore body being mined is located in stopes, and the access to the stope is trough a crosscut from a ramp. The lower ore body from the Pongkor underground mine is extracted by drift continuously advancing overhand and filling slurry and waste as fill material for miner and equipment pavement as well, after the blasted ore has been drawn. The method involves overcutting vein that is broken by blasting sequent. The ore production mine cycle consist of: drilling – charging – blasting - barring down, smoke clearing – supporting – mucking out – hauling.

Fig 3. Ore Production Mine Cycle The development layout consists of a trough drive on the overcut level located in the footwall (FW). The production stoping drive is oriented parallel to strike, with stope panel geometry is 4 x 4 meters (width and height).

255

4. Geotechnical characteristics

4.1 Rock mass condition The rockmass condition in the main concern production area varies along the stratigraphic column from very good in the footwall rocks comprising tuff breccia through to a very weak and incompetent transitional clay and manganese unit, which forms the base of the lower orebody and a poor to moderately poor orebody shale. Generally, the rock mass condition in the footwall where the extraction and service excavations are located gets poorer towards the development areas where the orebody is thin. 4.2 Stress environment The in situ stress levels in the current mining areas are generally low due to the relatively shallow depth of the operations. No stress measurements have been carried-out in this location but it can reasonably be assumed that the stress tensor is generally similar in terms of orientation relative to the bedding plane as the stress tensor measured at Central Block Ciurug Mine (R. Hartami; ITB:2001). The major principal stress is generally sub-vertical (45–60 deg) and normal to subnormal to the bedding plane (60–90 deg). The intermediate and minor principal stresses are almost equal and oriented parallel to sub-parallel to the bedding plane. The K-ratio is 0.85. The initiation of caving from multiple positions along a drift and opening up several blocks along strike does lead to creation of small abutments in which high induced stresses occur. 4.3 Excavation damage Excavation damage is mainly caused by high mining-induced stresses that are generated in small remnant pillars, closure positions and areas in the caving front abutment as discussed in the preceding section. Damage occurs mainly in the production and development drifts, with weak rock masses. Due to the stoping sequence, a production drift or part of the development drift are subjected to cycles of very high loading when caving of drifts up dip takes place and suddenly become de-stressed when the production front advances down dip. Common types of damage are sidewall spalling, and slabbing in the roof as a result of high horizontal stresses generated in the middling between the trough production and development drift if this middling is too small. 4.4 Ground control strategy For a very long time Pongkor gold mine since the early '90s when mining commenced ground control consisted of support installation in damaged excavations. Some roof bolting was carried out as primary support after development but this got damaged as the ground condition deteriorated. There was no rock engineering input in stoping sequences and rates to minimize or reduce conditions that would lead to adverse stress conditions.

256

5. Support system

Since inception, production drifts and development have been supported mainly using steel sets/h-beam fabricated to a specific design from high strength steel. Roof bolts were installed in less severe ground condition areas. The sets were installed with 1 – 1.5 meters spacing when damage to the excavation had already occurred or in some rare cases before damage had occurred where experience showed that damage would occur. 5.1 Steel sets construction and performance A steel set as installed at Pongkor is an arrangement of fabricated pieces of steel held together by shoulder sets. The steel set arrangement is lagged with timbers to form a canopy. The space between the steel set arrangement and the boundary of the excavation is supposed to be filled with timbers to get complete contact between the set and the rock mass. The support system, if properly installed, provides passive support both in the sidewalls and roof of the production drifts. Failure of the support, however, does occur sometimes. The failure occurs in the form of: · cracking of parts of the sets due to impact of falling rocks where the timber lagging had not been done properly · buckling due to excessive point loading as a result of improper filling of the space between the set canopy and the periphery of the excavation to distribute the load evenly · total collapse of the system due to loading as a result of excessive deformation of the rockmass. When damage occurs, production is disrupted due to loss of access. Expensive and timeconsuming rehabilitation work has also got to be carried out.
6. Fibrecrete trials

Failure of the conventional support system to provide satisfactory support results to control ground failure and the frequent requirement to carry out rehabilitation work prompted the mine to look for alternative support systems. The motivation was also enhanced by the need to cut support costs per ton/meter head of ore produced. In the past when a single jumbo drift would generate between 300 and 500 w.m.tons. Currently, the tonnages in the jumbo drifts towards the development areas where the orebody is thinner are between 400 to 600 w.m.tons giving an average support cost per meters of 18 – 24 millions rupiahs. Recent support trials and observations in mines in Ciurug Mine indicated that fibrecrete could provide an effective support system in stressed conditions prevailing at Pongkor Mine. 6.1 Trial area The first trial area was in Sill Drift RC 10, Central block 600 level where severe rock failure and

257

mild rockburst conditions were experienced in 2008 due to high stress conditions in the area. The rockbolts and steel sets that were installed failed. Steel sets were being replaced/rehab at an average rate of four or more times in six month in one place. The trial was carried out on one drift, the sill drift. RC 10, This drift had been subjected to abutment loading for several months prior to overcutting and stoping mining. 6.2 Design considerations The complex interaction between the failing rock mass around an underground opening, and a layer of shotcrete of varying thickness with properties that change as it hardens, defies most attempts at theoretical analysis. With the development of powerful numerical tools in recent years it will be possible to explore the possible support-interaction behaviour of shotcrete. Due to limited numerical analysis capabilities the design of fibrecrete requirements at Pongkor Mine relies very heavily upon rules of thumb and precedent experience from various sources in literature. Empirical design considerations that give suggested shotcrete requirements for various rock mass types and anticipated failure modes (Hoek, 2001), Annexure 1, was used in the initial selection of required shotcrete thickness by comparing observed conditions on the mine and those encountered elsewhere. The fibrecrete strength requirements were based on reference to trials in Pongkor mines where conditions were thought to be similar to conditions being experienced locally. 6.3 Mix requirements The Pongkor fibrecrete wet mix and contains the following materials in quantity. 6.4 Installation of fibrecrete The fibrecrete support is installed by own miners working in two different areas. They use alpha 20 sprayer machines and underground mixer truck machine Normet. The application rates are between 4 to 6 m3 per shift or 2.2 to 3 linear metres, compared to 1.5 linear metres advance per week. To ensure good quality work on fibrecrete installation, it was required to have well-trained operators who produce excellent quality shotcrete manually. The work areas are normally well lit and ventilated. It is a standard practice that the areas scheduled for fibrecreting are rockbolted prior to fibrecrete application. Table. I Mix Design Composition

258

Fig. 4 Underground trans mixer Normet

Fig. 5 Alpha 20 Sprayer Shotcrete Machine

6.5 Quality control The quality of the final fibrecrete product is closely related to the mix used as well as application procedures used. These procedures include: surface preparation, nozzling technique, lighting, ventilation, communications, and crew training. The shotcrete man teams are guided on the wetmix design. Rock mechanics personnel randomly check the pre-mix to ensure compliance with stipulated standards. To ensure that the stipulated thickness is applied, the shotcrete man is expected to put 100 mm long nails in a ring at 5.0 m intervals and to drill two core samples every ten linear metres, one in the roof and one on the sidewalls alternately. The core samples are later tested by Laboratory ITB, rock mechanics personnel to obtain the uniaxial compressive strength. In addition, the geotechnical engineer do compressive strength tests on cubes. The results are made available to the geotechnical engineer to verify the applied fibrecrete conforms to the design mix. EFNARC panel tests are not being carried out but a good correlation on the performance and the compressive strength has been obtained from observation. Minimum a 25 MPa strength is normally adequate after 3 weeks. Plans are underway to establish a shotcrete testing and quality control facility at ITB rock mechanics laboratory.

259

6.6 Performance of fibrecrete at Pongkor Mine In the one and half years since fibrecrete support was first installed, it has performed beyond expectation. Table I indicates the observations made in areas where fibrecrete had been installed. Two of the fibrecrete supported blocks, sill drift RC-10 and Blok IV Central, are adjacent to areas where steel sets had been installed. Areas with steel steel set support experienced severe deterioration in ground conditions requiring frequent rehabilitation work in a year in the same place. In fibrecreted areas no deterioration in ground condition has been observed so far other than hairline cracks that have not changed for the past three years, as shown in Table II. Based on these observations and engineering judgement, it was concluded that fibrecrete support is a suitable support system and could be tried for a variety of situations on the mine. The use of fibrecrete has therefore been extended to several areas, which include a total of 250 m in 5 development drifts and 150 m in 5 production drifts.

Fig. 6 sample shotcrete in tube and compressive strength. Further, because of the better than expected results obtained, trials with thickness reduced to 75 mm from 100 mm are being considered. The trials in other areas will combine steel sets and fibrecree. It is hoped that these trials will contribute towards understanding the complex nature of how fibrecrete interacts with other support components to provide a cost-effective support system.

260

7. Conclusion

Fibrecrete support used in combination with rockbolting has proved to be a cost-effective support system and has been incorporated as one of the support systems on the mine Further trials are being carried out and it is expected that fibrecrete will replace steel set support in the near future. Shotcrete support has several advantages over other support systems. Production personnel underground especially jumbo drivers, enjoy working in a relatively safe environment where barring down has been minimized. Support costs and production cycle have also been reduced significantly. Fibrecrete support unit cost is Rp. 10 millions per metre advance, while steel set support costs Rp. 18-24 millions per metre advance. Fibrecrete application requires constant attention to the supply pressure and volume of the mix, water and air to ensure that the fibrecrete is conveyed to the nozzle in a continuous, uninterrupted flow. The skill of the nozzle-man is important as the quality of the finished job depends on maximizing compaction while at the same time minimizing rebound and overspray. References GRAHAM, C.B. Proceedings of the Seminar on Shotcrete Technology for the Mining Industry. Mining Resesteel Directorat, Ontario, 20April 1989. HOEK, E. Practical Rock Engineering 5—Excavation and support: Shotcrete support 2001. HOEK, E. and BROWN, E.T. Underground Excavations in Rock. Institution of Mining and Metallurgy, London. Melbye, T., Dimmock, R., and Garshol, K.F. Sprayed Concrete for Rock Support, 9th edition. Zurich, 2001. Shotcrete Application-Empirical consideration (Adapted from E. Hoek, Practical Rock Engineering 5- Excavation and Shotcrete support: May 2001)

261

262

PROSIDING TPT XX PERHAPI 2011 KAJIAN EKONOMI PENCUCIAN BATUBARA DALAM KAITANNYA DENGAN KONSERVASI CADANGAN BATUBARA (STUDI KASUS : TAMBANG MEREH, PT ARUTMIN INDONESIA)
Oleh : Riandi Rachmawan, PT Arutmin Indonesia ABSTRAK Batubara merupakan sumber daya alam dengan tingkat variasi kualitas yang tinggi, tergantung dari formasi pembawa lapisannya serta kondisi geologi dari keberadaan endapan tersebut. Saat ini ada beberapa parameter dominan kualitas yang menjadi penentu harga jual batubara, diantaranya Nilai Kalori (CV), Sulfur (TS), Moisture (TM,IM), dan Kandungan Abu (Ash). Di daerah-daerah tertentu, terdapat sumberdaya batubara yang memiliki nilai kadar abu yang sangat tinggi yang tentunya hal ini mengurangi harga jual dari batubara tersebut. Dengan kondisi diatas, maka perlu dilakukan sebuah kajian untuk mengoptimalkan jumlah cadangan yang ada berdasarkan strategi penjualannya. Opsi yang dikaji adalah batubara tersebut dijual langsung sebagai batubara mentah (raw coal) atau dengan melakukan proses peningkatan kualitas terlebih dahulu dengan mereduksi nilai kadar abu yang bertujuan untuk meningkatkan harga jual batubara. Metode yang digunakan untuk mereduksi kadar abu tersebut yaitu dengan melakukan pencucian. Namun, konsekuensi dari dilakukannya pencucian batubara adalah berkurangnya jumlah batubara. Seluruh kelebihan dan kekurangan dari kedua opsi diatas, dimasukkan kedalam model perhitungan ekonomi untuk dilakukan kalkulasi penentuan batas nisbah kupas pulang pokok (break even stripping ratio) yang menjadi masukan dalam proses optimasi batas penambangan ekonomis pada masing-masing opsi. Dari hasil optimasi tersebut dapat diputuskan opsi yang paling maksimal untuk meningkatkan jumlah dan nilai cadangan batubara, sehingga prinsip konservasi cadangan dapat diimplementasikan dengan baik. Didalam pembahasan makalah ini, daerah yang dijadikan studi kasus adalah Tambang Mereh – PTArutmin Indonesia. Kata Kunci : Batubara, pencucian, ekonomis, cadangan, konservasi.

263

ECONOMICAL STUDY OF COAL WASHING IN RELATED WITH COAL RESERVES CONSERVATION (CASE STUDY: MEREH MINE, PT ARUTMIN INDONESIA)
By : Riandi Rachmawan, PT Arutmin Indonesia

ABSTRACT
Coal is natural resources which have high level variation of quality, depends on its bearing formation layers and geological condition of deposits. Now a days, there are some major quality parameters which can determine the sales price of coal, the parameters are : Calorific value (CV), Total Sulphur (TS), Total Moisture (TM), Inherent Moisture (IM), and Ash Content (Ash). In specified areas, the coal deposits may have a very high ash content which can impact to reduce sales price of coal. In line with the condition above, it should be necessary to make a study about optimizing reserves based on sales strategy. The option which will be studied are to sell the coal directly as raw coal or doing some process to increase the coal quality (reducing ash content) so that will increase the coal price. The method that will be used to reduce ash content of coal is coal washing, which have consequences of reducing coal quantity. All of the advantages or disadvantages from both options are included to the economical model calculation to generate determination value of break even stripping ratio (BESR) then the optimization can be processed. From the results of the optimization, we can decide the best option to increase reserves quantity and its value. So that the reserves conservation principe can be implemented well. In this paper content, the area which being case study subject is Mereh Mine, PT Arutmin Indonesia. Keywords: Coal, washing plant, economical, reserves, and conservation PENDAHULUAN PT Arutmin Indonesia (Arutmin) adalah salah satu perusahaan tambang batubara di Indonesia yang memiliki ijin Perjanjian Karya Pengusahaan Penambangan Batubara (PKP2B) generasi pertama dari Pemerintah Republik Indonesia, yang memiliki 19 Daerah Usaha (DU) dengan total luas area 70,152.35 Ha dan tersebar di beberapa Kabupaten di wilayah Kalimantan Selatan. Dalam pengoperasiannya, daerah – daerah usaha tersebut dikelompokkan kedalam 4 area tambang dan 1 area pelabuhan, yaitu Tambang Senakin, Batulicin, Satui, Asam-asam dan Pelabuhan Tanjung Pemancingan (NPLCT). Gambar 1 dibawah ini menunjukkan daerah usaha yang dimiliki olehArutmin.

264

Gambar 1. Peta Lokasi Daerah Usaha PT Arutmin Indonesia Berdasarkan formasi pembawa batubaranya, Sumberdaya Arutmin berasal dari 2 formasi. Yang pertama adalah Formasi Tanjung sebagai pembawa batubara Bituminous, dan yang kedua adalah Formasi Warukin sebagai pembawa batubara Sub-Bituminous. Batubara bituminous yang dimiliki oleh Arutmin, memiliki variasi kualitas yang cukup signifikan untuk setiap area. Sebagai contoh adalah parameter kadar abu di Tambang Senakin lebih tinggi dibandingkan dengan Tambang Satui walaupun berada dalam satu formasi pembawa batubara. Adanya perbedaan kualitas tersebut, membuat Arutmin harus selalu melakukan kajian dan memunculkan opsi-opsi improvisasi dalam mengoptimasi cadangan yang ada, sehingga parameter optimasi yang dilakukan di setiap area berbeda-beda. Tabel I dibawah menunjukkan Kualitas rata-rata batubara di beberapa DUArutmin yang saat ini beroperasi. Tabel I. Kualitas Batubara di PT Arutmin Indonesia

Sumber : Statement of Resources and Open Cut Coal Reserves as of May 31 2010, PT Arutmin Indonesia (JORC Based)

st

265

Dari tabel diatas, dapat dilihat bahwa untuk kandungan air (Moisture) tertinggi berasal dari DU Sarongga (41,84%) dan kadar sulfur (TS) tertinggi berasal dari DU Ata (1,22%). Sedangkan untuk kadar abu tertinggi berasal dari DU Mereh sebesar 21,89%. Secara umum, imbas dari kualitas yang kurang baik adalah terkoreksinya harga jual batubara. Pada model ekonomi dengan parameter yang sama, berkurangnya harga batubara akan menimbulkan pengurangan nisbah kupas pulang pokok (break even stripping ratio) dan akhirnya jumlah cadangan pun akan berkurang. Beberapa upaya yang telah dilakukan oleh Arutmin untuk meningkatkan kualitas batubara adalah dengan mengadakan kerjasama dengan Jepang untuk melakukan penelitian Upgrading Brown Coal (UBC) di Tambang Mulia, serta mereduksi kadar abu dengan melakukan pencucian batubara di Tambang Senakin. Improvisasi-improvisasi tersebut terus dikembangan sesuai potensi sumberdaya yang ada, sebagai contoh adalah di DU Mereh. DU ini memiliki potensi sumberdaya yang cukup besar dengan karakteristik batubara relatif mirip dengan Senakin, namun memiliki kadar abu yang lebih tinggi. Sehingga perlu dilakukan pengkajian apakah perlu dilakukan pencucian batubara seperti hal nya di Senakin, atau dapat dijual sebagaimana adanya. Karena di dalam proses pencucian batubara, akan terdapat batubara yang hilang atau tidak menjadi produk (reject). Pencucian batubara dapat meningkatkan kualitas batubara khususnya mereduksi kadar abu, namun ada konsekuensi lain yang timbul akibat pencucian batubara yaitu tonase hasil pencucian (produk) akan berkurang dibandingkan dengan inputnya (feed). Perbandingan antara produk dengan feed batubara umumnya disebut yield. Di dalam perhitungan keekonomian untuk nisbah kupas pulang pokok (BESR) faktor yield memiliki peran penting, karena akan menjadi variabel pembanding apakah hilangnya batubara tersebut sepadan dengan peningkatan kualitas yang berujung pada kenaikan harga jual, atau yang terjadi adalah sebaliknya, bahwa lebih baik tetap dengan kualitas yang ada daripada melakukan pencucian karena jumlah hilangnya batubara yang cukup besar.
Gambar 2 menunjukkan lokasi dan Penampang batubara di DU Mereh.

Gambar 2. Lokasi DU Mereh dan Penampang Melintang

266

PENCUCIAN BATUBARA Pada industri pertambangan batubara, terdapat beberapa jenis metode pencucian batubara yang umumnya dipakai, diantaranya adalah : · Jig Method · Dense Medium Separation Method (DMS) · Shaking Table · Flotation Saat ini, metode yang digunakan oleh Arutmin di Tambang Senakin adalah Jig dan DMS. Oleh karena itu, pada kajian pemilihan sarana pencucian batubara di Tambang Mereh, kedua tipe alat pencucian tersebut lah yang digunakan sebagai opsi dan sumber pengambilan data. Gambar 3 dan 4 adalah gambar prinsip kerja dari kedua jenis sarana pencucian tersebut.

Gambar 3. Prinsip Kerja Jig Plant

Gambar 4. Prinsip Kerja Dense Medium Separation Plant Pada prinsipnya, washplant memiliki titik yield optimal dalam menghasilkan produknya, tergantung dari kualitas feed yang masuk ke dalam washplant tersebut. Sebagai acuan data awal yang digunakan untuk kajian washplant di Tambang Mereh adalah data dari Tambang Senakin

267

yang telah direkapitulasi sejak tahun 1996. Grafik pada gambar 5 dan 6 menunjukkan hubungan antara kadar abu pada feed dengan yield yang diperoleh pada Jig dan DMS Plant.

Gambar 5. Hubungan Antara Kadar Abu di Feed dengan Yield pada Jig Plant

Gmbar 6. Hubungan Antara Kadar Abu di Feed dengan Yield pada DMS Plant

Trend yang didapat dari data diatas adalah sebagai berikut : Jig Plant : y = -1.1981x + 108.97 DMS Plant : y = -1.0702x + 106.13

Sehingga, akan didapatkan variasi nilai yield yang sesuai dengan kadar abu dari feed dengan kadar abu produk + 12% seperti pada Tabel 2. Sedangkan untuk analisis awal yang dilakukan terhadap contoh batubara dari Tambang Mereh sendiri, seperti terlampir pada Tabel 3 . Tabel 2. Variasi Nilai Yield Terhadap Kadar Abu Feed

268

Tabel 3. Hasil Pencucian Batubara Tambang Mereh dan Ata

Sumber : The Preparation of a coal washability database for the Ata deposit and evaluation products from Ata and Mereh deposit PT Sedgman Nusantara, 1997

ANALISIS KEEKONOMIAN PENCUCIAN BATUBARA Dengan adanya opsi pencucian batubara, serta segala konsekuensi-konsekuensi yang timbul akibat proses pencucian tersebut, maka perlu dibuat suatu analisis keekonomian mengenai nilai dari nisbah kupas pulang pokok (break even stripping ratio – BESR) antara batubara yang dicuci dengan yang tidak dicuci. Perhitungan ini akan berimbas kepada besarnya jumlah cadangan batubara. Arutmin menggunakan konsep dasar perhitungan nilai BESR sebagai berikut :

Keterangan : A = Harga Batubara Per ton (US$/ton) B = Biaya Produksi Batubara Per-ton (US$/ton) C = Biaya Pengupasan Batuan Penutup (US$/bcm) Asumsi-asumsi yang digunakan dalam perhitungan BESR adalah : · Harga batubara 112.18 US$/Ton @ 6322 kcal/kg (gar) · Fuel Cost = 0.78 US$/lt · Nilai tukar valas : 1 US$ = Rp 9.000 · Tidak ada nilai investasi sarana pencucian batubara, hanya ada biaya keseluruhan pencucian batubaranya saja, sebesar : 5.25 US$/ton (biaya bersih pencucian batubara, biaya-biaya lain termasuk didalamnya) · Biaya penambangan batubara dan biaya pengupasan batuan penutup menggunakan sistem dikontrakkan sesuai dengan budget Arutmin tahun 2011. Untuk harga batubara, dilakukan perhitungan koreksi terhadap kualitas produk dan insitu di Tambang Mereh. Sehingga asumsi harga batubara menjadi sebagai berikut :

269

Tabel 4. Asumsi Harga Batubara di Tambang Mereh

Seluruh parameter harga, biaya, dan asumsi asumsi diatas kemudian dimasukkan ke dalam model ekonomi yang mengakomodasi kedua opsi tersebut. Untuk batubara yang tidak dilakukan pencucian, tidak terdapat recovery yield sehingga produk batubara diasumsikan sama dengan yang ditambang (ROM). Tabel 5 dan grafik pada gambar 7 menunjukkan hasil perhitungan BESR terhadap yield dari model ekonomi yang telah dibuat.

Gambar 7. Grafik Hubungan Recovery Yield dengan BESR Tabel 5. Hubungan Recovery Yield vs Break Even Stripping Ratio

Untuk Tambang Mereh yang memiliki kadar abu rata-rata 22.4%, nilai BESR jika tidak dilakukan pencucian adalah 16.6 bcm/ton, sedangkan Jika dilakukan pencucian maka kadar abu yang dihasilkan adalah 12% dengan nilai BESR yang variatif bergantung pada yield dari washplant yang digunakan untuk menghasilkan nilai kadar abu tersebut. Berdasarkan grafik pada gambar 7, nilai BESR yang sama untuk kedua opsi tersebut akan diperoleh jika washplant memiliki kemampuan recovery yield sebesar 76.7%. Dari hasil perhitungan diatas, dapat dilihat bahwa jika dilakukan pencucian batubara, maka minimum dari yield yang akan menghasilkan BESR lebih besar dibandingkan dengan tidak dilakukan pencucian adalah pada kisaran >76.7%. Artinya, jenis sarana pencucian batubara yang

270

digunakan harus dapat menghasilkan yield minimal 76.7%. Pada kondisi ideal, peningkatan nilai BESR ini akan berpengaruh pada bertambahnya jumlah cadangan batubara, sehingga batubara yang ditambang akan lebih optimal (lihat gambar 8). Selain meningkatkan pendapatan bagi perusahaan dan negara, prinsip konservasi cadangan pun dapat diimplementasikan dengan baik.

Gambar 8. Ilustrasi Peningkatan nilai BESR terhadap Jumlah Cadangan

KESIMPULAN Dari kajian-kajian diatas maka dapat dibuat kesimpulan baik untuk studi kasus di Tambang Mereh ataupun kesimpulan yang bersifat umum adalah sebagai berikut : 1. Proses pencucian batubara tidak selalu menjadi opsi yang optimal dalam meningkatkan nilai BESR, perlu dilakukan pengkajian terlebih dahulu terhadap faktorfaktor yang mempengaruhi proses pencucian batubara. Faktor - faktor yang perlu dikaji dalam proses pencucian batubara adalah kadar abu dari sumberdaya batubara, jenis dari washplant yang digunakan, recovery yield pasca pencucian, kualitas produk hasil pencucian, dan biaya untuk proses pencucian batubara. Pada studi kasus di Tambang Mereh, proses pencucian batubara akan menghasilkan nilai BESR yang lebih optimal dibandingkan dengan tidak dilakukan pencucian adalah pada kondisi recovery yield >76.7%, kadar abu feed +22% dan kadar abu produk +12%. Dengan kondisi diatas, maka tipe washplant Jig dan DMS Plant dapat digunakan di Tambang Mereh. Optimasi terhadap nilai BESR harus selalu dilakukan sesuai dengan data-data yang termutakhirkan, serta faktor-faktor yang berpengaruh di dalamnya. Sehingga BESR yang diimplementasikan di tambang adalah angka paling optimal yang mendukung prinsip konservasi cadangan.

2.

3.

4.

271

DAFTAR PUSTAKA Runge,Ian Charles. (1998): Mining Economics and Strategy. Society for Mining, Metallurgy, and Exploration, Inc. USA. Gentry, Donald W dan O'Neil, Thomas J. (1984): Mine Investment Analysis. Society of Mining Engineers –AIME. New York, USA. ………… (2009): Kajian Kelayakan Pengembangan Penambangan Batubara di PT Arutmin Indonesia. PTArutmin Indonesia – PT LAPI ITB, Indonesia. ………… (2010): Statement of Resources and Open Cut Coal Reserves as of May 31st 2010 (JORC Based). PTArutmin Indonesia, Indonesia. .………… (1997): The Preparation of a coal washability database for the Ata deposit and evaluation products from Ata and Mereh deposit. PT Sedgman Nusantara, Indonesia. Salim, Agus. (2009): Coal Washing Plan Development for Mereh – Batulicin Mine. PT Arutmin Indonesia, Indonesia.

272

PROSIDING TPT XX PERHAPI 2011 Metode Pembiayaan Yang Paling Ekonomis, Debt or Leasing? Studi Kasus: Pembelian Coal Truck Komatsu Hd785 di PT. Kaltim Prima Coal
Cory Manurung Business Analysis, PT Kaltim Prima Coal, Sangatta, Indonesia Cory.Manurung@kpc.co.id ABSTRAK Untuk memenuhi kebutuhan akan peralatan operasi penambangan terutama peralatan bergerak (mobile equipment), terdapat beberapa metoda pembiayaan yang dapat dipergunakan diantaranya adalah purchase outright, debt, dan lease (financial lease dan operating lease). Purchase outright adalah salah satu metode pembelian barang dan membayar dengan uang tunai (cash). Metode ini biasanya merupakan pilihan terakhir untuk sebuah perusahaan untuk mengeluarkan nilai kapital dengan jumlah yang cukup besar. Hal ini akan mempengaruhi aliran kas perusahaan. Debt ataupun hutang dapat diartikan sebagai sejumlah uang yang dipinjamkan dari sebuah lembaga keuangan kepada perusahaan untuk digunakan dalam hal pembiayaan biaya operasi ataupun pembelian barang-barang modal untuk mengoperasikan perusahaan. Sedangkan lease merupakan sebuah kontrak antara lessor dan lesse dimana lessor akan memberikan hak kepada lesse untuk menggunakan propertinya dalam situasi, kondisi, dan jangka waktu tertentu yang disepakati. Makalah ini akan coba membandingkan metode debt dan lease dengan melakukan analisa aliran kas (cash flow) terhadap keduanya. Studi kasus yg digunakan dalam makalah ini adalah pengadaan sejumlah unit coal truck Kom HD785 di PT. Kaltim Prima Coal (KPC) pada tahun 2011. Metode manakah yang paling ekonomis bagi KPC? Bagaimanakah potensi keuntungan (opportunity cost) yg di peroleh oleh KPC dengan memilih metode yg tepat. Hasil analisa ini diharapkan akan memberikan gambaran seberapa besar potensi keuntungan (opportunity cost) dari pemilihan metode yang tepat bagi KPC dalam pembelian peralatan tambang lainnya. Keywords: leasing, lessor, lessee, lease cost, debt, interest rate, payment, discounted cash flow, NPV, sensitivity ABSTRACT In order to fulfill the requirement of equipment in mining operations, especially for moving equipment, there are some financing methods that could be used to execute the new equipment. For example: purchase out right, debt, and lease (financial lease and operating lease).

273

Purchase out right is to pay cash for the full purchase price. This method usually will be the last option for company due to spending a large amount of capital cost. It will be affected company’s cash flow. Debt is an amount of money which is lent by financial institutions to a company for operating cost financing or purchasing capital equipment. Whereas lease is a contract between the lessor and lesse that gives a right to use the property of lessor in certain situation, condition, and term. Hence, the lesse have to pay amount of money for property usage. This paper will try to compare both debt and lease method by doing the cash flow analysis. The case study for this analysis is “Purchasing some unit of coal truck Kom Hd785- 7 at PT. Kaltim Prima Coal (KPC) in 2011. Which method is the most economical for KPC? How is the chance for opportunity cost for KPC by choosing the best method? The analysis are expected will give preferable option for others equipment and property purchasing in KPC. Keywords: leasing, lessor, lesse, lease cost, debt, interest rate, payment, discounted cash flow, NPV, sensitivity I. PENDAHULUAN Batubara sebagai sumber energi telah menjadi salah satu sumber energi alternatif yang strategis di masa kini dan masa depan. Semakin berkurangnya cadangan minyak bumi membuat batubara menjadi alternatif energi yang tepat, selain gas alam, untuk tujuan penyediaan energi dalam negeri dan sumber pemasukan devisa negara melalui ekspor. PT. Kaltim Prima Coal (KPC) merupakan salah satu perusahaan tambang batubara PKP2B Generasi I di Indonesia. Kegiatan eksplorasi di KPC sudah dimulai sejak tahun 1982 dan kegiatan penambangannya dilakukan secara tambang terbuka pada tahun 1990. Produksi komersial mulai dihasilkan pada tahun 1992 sebesar 7,3 juta ton/tahun. Peningkatan produksi terus berlanjut hingga mencapai 36,8 juta ton pada tahun 2007, 37,4 juta ton pada tahun 2008, 40,2 juta ton pada tahun 2009, 45.8 juta ton pada tahun 2010, dan sebesar 46,4 juta ton direncanakan pada tahun 2011 (lihat Gambar 1). Untuk memenuhi permintaan batubara di pasar domestik dan global yang semakin meningkat, KPC berencana meningkatkan produksinya menjadi maksimum sekitar 70 juta ton/tahun yang diperkirakan akan dicapai pada tahun 2014. Produksi tersebut akan berasal dari daerah operasi tambang Sangata dan Bengalon, baik dengan cara pengembangan pit yang sudah ada sekarang maupun pembukaan pit baru di kedua daerah tersebut.

274

Untuk mendukung peningkatan produksi, KPC melakukan proyek penambahan infrastruktur dan peralatan tambang. Salah satunya adalah pembelian 34 unit coal truck tipe Komatsu HD785-7. Unit baru ini akan digunakan untuk pengangkutan batubara yang berasal dari pit MOD (Mining Operation Division). Jalur pengangkutan akan dilakukan baik dari pit ke ROM stockpile maupun dari ROM stockpile menuju CPP (Coal Processing Plant). Investasi yang dilakukan oleh sebuah perusahaan tentunya diharapkan akan memberikan keuntungan di masa depan. Untuk itu, investasi dengan nilai capital yang besar harus melewati analisa yang mendalam tentang keekonomian dari proyek tersebut. Mengacu pada hal ini, maka dapat diajukan 2 pertanyaan mendasar. Pertama, dengan adanya nilai waktu dari uang, apakah tingkat keuntungan diprediksi mampu menghasilkan kapital yang lebih besar daripada yang diinvestasikan. Kedua, dengan adanya ketidakpastian di masa depan, apakah prediksi keuntungan tersebut dapat dicapai dengan aman. II. LATAR BELAKANG Metode pengangkutan batubara yang digunakan di KPC selama ini ada 2, yaitu coal trucking (dari pit menuju ke ROM stockpile) dan overland conveyor (dari ROM menuju ke CPP dan selanjutnya menuju Tanjung Bara Port). Seluruh kegiatan coal trucking dikelola oleh Departemen Coal Mining KPC. Berikut adalah jenis-jenis coal truck yang digunakan di KPC seperti tertera pada Tabel 2 di bawah ini.

275

Dengan adanya rencana peningkatan produksi batubara maksimal sebesar 70 juta ton yang direncanakan pada tahun 2013, kebutuhan akan coal truck mulai meningkat pada tahun 2011. Kebutuhan penambahan coal truck dengan asumsi Physical Availability (PA) 85 % dan Usage 75% adalah sebesar 34 unit. Unit baru tersebut akan dibagi menjadi: g 30 unit 1. Coal Mined (Pit – ROM stockpile) 2. Coal Reclaimed (ROM stockpile – CPP) g 4 unit Untuk truck jenis Cat CB785, Cat 785STD, dan Cat 785 CB-NT sejumlah 21 unit dipindahkan ke pit untuk membantu operasional tambang. Tabel 3 berikut memperlihatkan jumlah coal truck di tahun 2011.

III. TEORI DASAR Dalam menjalankan operasinya, perusahaan membutuhkan aktiva tetap dan untuk memperolehnya perusahaan dapat menggunakan cara yang berbeda-beda. Salah satu cara yang paling mudah adalah dengan melakukan pembelian. Memperoleh aktiva tetap dengan pembelian menimbulkan berbagai pertimbangan. Perusahaan perlu memikirkan apakah dana yang ada mencukupi atau diperlukan sebuah pinjaman, dan resiko lain seperti alat yang tidak sesuai dengan perkembangan teknologi sehingga tidak ekonomis lagi bila dipakai ataupun ada resiko kegagalan memakai serta kemungkinan biaya pemeliharaan yang terlalu tinggi. Sesuai dengan perkembangan ilmu pembiayaan perusahaan (corporate finance), saat ini perusahaan memiliki beberapa opsi dalam melakukan pembelian barang modal, yakni: 1. Purchase outright 2. Debt 3. Lease Ketiga metode diatas akan memberikan performa aliran kas (cash flow) yang berbeda-beda. Masing-masing metode memiliki karakteristik umum seperti terlihat dalam Tabel 4 berikut ini:

276

3.1 Purchase Outright Metode ini biasanya diartikan sebagai pembelian barang dengan uang tunai (cash). Perusahaan harus menyiapkan sejumlah dana untuk melakukan pembelian alat. 3.2 Debt Debt adalah modal yang berasal dari pihak lain (pinjaman), biasanya berasal dari lembaga keuangan. Dengan menggunakan pinjaman, hal-hal yang harus dipertimbangkan diantaranya adalah faktor bunga (interest), jangka waktu pengembalian, dan proporsi pinjaman terhadap biaya kapital yang diperlukan. Dengan pembiayaan melalui pinjaman/hutang, kepemilikan atas pendapatan dari proyek akan berubah sesuai dengan proporsi modal sendiri (equity) dan hutang. 3.3 Lease (Sewa Guna Usaha) Lease adalah pembiayaan peralatan atau barang modal untuk digunakan pada proses produksi suatu perusahaan, baik secara langsung maupun tidak langsung. Industri leasing menciptakan konsep baru untuk mendapatkan barang modal serta menggunakannya sebaik mungkin tanpa harus membeli atau memiliki barang tersebut. Dengan kata lain, lease adalah perjanjian dalam kontrak antara penyewa dan pemberi sewa (lessee and lessor). Pemberi sewa memiliki aset dan memperbolehkan penyewa untuk menggunakan aset dengan imbalan biaya sewa. Terdapat 2 jenis lease, yaitu: 1. Operating lease a. Biasanya tidak sepenuhnya diamortisasi b. Biasanya mengharuskan pemberi sewa (lesor) untuk memelihara dan mengasuransikan aset. c. Penyewa menikmati opsi untuk melakukan pembatalan kontrak leasing. 2. Financial lease a. Tidak menyediakan pemeliharaan asset. Hal ini dikelola langsung oleh penyewa (lessee). b. Financial leases diamortisasi secara penuh c. Penyewa pada umumnya memiliki hak untuk memperbarui sewa pada saat akhir masa sewa. d. Biasanya, financial leases tidak dapat dibatalkan. Ada 3 jenis leasing company yang sering terlibat dalam proses leasing KPC, yaitu: 1. Captive Leasing Company, Contohnya adalah Caterpillar Finance Indonesia (Trakindo/Cat), Komatsu Astra Finance (Astra/UT/Komatsu), Hitachi Construction Machinery Finance Indonesia (Hexindo/Hitachi).

277

2. Independent Leasing Company Contohnya adalah Dipo Star Finance, Orix Indonesia Finance, Mitsubishi UFJ Lease & Finance Indonesia, dll. 3. Bank Ketiga metode pembiayaan diatas akan dianalisa dengan menggunakan aliran kas diskonto (Discounted Cash Flow) dengan membandingkan nilai NPV dari masing-masing aliran kas. Selain itu, unit cost juga akan menjadi salah satu faktor pembanding untuk menilai tingkat keekonomisan dari transaksi tersebut. IV. ASUMSI YANG DIGUNAKAN Asumsi – asumsi yang digunakan dalam perhitungan arus kas adalah sebagai berikut: 1. Biaya kapital pembelian 34 unit Kom HD785-7 adalah USD 32 juta. 2. Umur ekonomis alat 8 tahun 3. PA alat 90% dan Usage 80% 4. Discount rate 15% 5. Corporate tax rate 45% 6. Debt interest 10% 7. Lama pembiayaan untuk debt 4 tahun, dengan periode 1kali dalam setahun 8. Lease interest 7% 9. Lama pembiayaan untuk financial lease 4 tahun, dengan periode 2kali dalam setahun 10. Depresiasi yang digunakan adalah depresiasi garis lurus (straight line) V. PEMBAHASAN Dengan menggunakan 2 skenario pembiayaan pada aliran kas Discounted Cash Flow (DCF), didapatkan hasil sebagai berikut:

Secara garis besar, tabel diatas menunjukkan nilai yang berbeda untuk NPV dan unit cost. Pembiayaan dengan menggunakan financial lease memberikan nilai NPV yang paling besar, yaitu USD 2,795,210,819. Jika dibandingkan dengan nilai NPV dengan metode debt, terlihat perbedaan sebesar USD 4,3 juta atau sebesar 12,5% dari nilai kapital pembelian 34 unit Komatsu HD785-7. Sementara untuk unit cost, metode financial lease masih menunjukkan nilai yang kecil yakni sebesar USD 1.14/ton. Bila dibandingkan dengan metode debt yang memiliki unit cost USD 1.18/ton, unit cost metode financial lease lebih rendah sebesar USD 0.04/ton (4 sen per ton batubara). Nilai ini bila dikalikan dengan jumlah batubara yang dapat diangkut oleh 34 unit coal

278

truck selama umur ekonomisnya (8tahun) akan menghasilkan saving sebesar USD 7.3juta. Financial lease merupakan pilihan yang sangat dilirik oleh perusahaan saat ini karena perusahaan tidak memerlukan modal atau kapital untuk pembelian alat tambahan. Setelah masa sewa telah habis, biasanya perusahaan akan membeli asset dengan nilai $1 untuk setiap alat. Meskipun periode pembayaran sewa selama 4 tahun, namun alat akan tetap didepresiasi sepanjang umur ekonomisnya. Dalam hal ini, Komatsu HD785-7 memiliki umur ekonomis selama 8 tahun (seperti yang terdapat pada asumsi). Pada umumnya, debt dan financial lease merupakan 2 hal yang tidak jauh berbeda. Perbedaan mendasar terletak pada nilai bunga (interest) dan waktu pembayaran (payment period). Selain itu, penggunaan metode debt sedikit banyak berpeluang dalam penyalahgunaan uang pinjaman. Hal ini dimungkinkan apabila pinjaman tersebut digunakan untuk pembiayaan proyek yang lain. Dengan kata lain, kontrol penggunaan pinjaman lebih terletak pada perusahaan. Beda halnya dengan financial lease, perusahaan menerima langsung alat yang dibutuhkan tanpa adanya dana yang mengalir kepada perusahaan. Berikut adalah sensitivity chart untuk masingmasing debt dan financial leasing.

Gambar diatas menunjukkan bahwa NPV berbanding terbalik dengan suku bunga debt (debt interest). Apabila suku bunga naik, maka NPV akan semakin kecil. Lain halnya dengan periode pembiayaan yang berbanding terbalik juga dengan NPV. Apabila periode pembiayaan semakin lama, maka NPV akan semakin besar. Hal ini memperlihatkan bahwa adanya penundaan terhadap pembiayaan akan memberikan keuntungan bagi perusahaan untuk memanfaatkan uang tersebut.

279

Lain halnya dengan debt, financial lease menunjukkan grafik yang berbeda pada sensitivity periode leasing. Periode pembiayaan 6 bulan atau 2 kali dalam setahun memberikan nilai NPV yang paling rendah. Nilai NPV tertinggi diperoleh pada periode pembiayaan setiap 1, 5, 7, 8, 9, 10, dan 11 bulan. VI. KESIMPULAN Dari perhitungan aliran kas dan sensitivity yang telah dilakukan, dapat diambil kesimpulan sebagai berikut: 1. Pembelian 34 unit Komatsu HD785-7 dengan menggunakan metode financial lease memberikan nilai NPV sebesar USD 2,795,210,819 dan unit cost sebesar USD 1.142/ton. 2. Pembelian 34 unit Komatsu HD785-7 dengan menggunakan metode financial lease memberikan nilai NPV sebesar USD 2,790,877,652 dan unit cost sebesar USD 1.185/ton. 3. Perbedaan nilai NPV untuk debt dan financial leasing adalah sebesar USD 4,3 juta atau sebesar 12.5% dari total nilai kapital. 4. Perbedaan unit cost untuk debt dan financial lease adalah sebesar USD 0.04/ton atau sebesar USD 7.3 juta untuk 34 unit coal truck selama umur ekonomis (8 tahun). 5. Faktor utama yang membedakan hasil NPV dari aliran kas debt dan financial lease adalah tingkat suku bunga dan periode pembiayaan. VII. DAFTAR PUSTAKA Crundwell, F.K. Finance for Engineers: Evaluation and Funding of Capital Projects. SpringerVerlag London Limited, 2008. Riahi – Belkaoui,Ahmed; Long – Term Leasing – Accounting, Evaluation, Consequences, British Library Publishing, 1998.

280

PROSIDING TPT XX PERHAPI 2011 EVALUASI KEEKONOMIAN PEMBUATAN ALTERNATIF COAL ROAD DALAM UPAYA OPTIMALISASI CYCLE TIME “STUDI KASUS PEMBUATAN HAUL ROAD DI EX-SURYA DUMP”
Ignatius Dwi Sulestiowidagdo Technical Coal Mining Department – PT. Kaltim Prima Coal Abstract Coal road in mining operation is a vital infrastructure facility due to its function as the connector of pits; Crushing plant area, ROM Stockpile, offices, and workshops as well. The effective coal road must not only meet the security and safety prerequisite but it also must be optimal in reducing duration of distributing goods and humans. PT. Kaltim Prima Coal (PT. KPC) has several coal roads; Melawan coal road, Nia coal road, and Panel 8 coal road. The main function from Nia coal road, one of the coal roads, is to haul coal from Bendili pit to Crushing Plant area or ROM Stockpiles. Along the operation development, Nia coal road's function has increased. Besides being used as coal road, Bendili pit has also used Nia coal road to haul overburden. However, because the traffic condition in Nia coal road is heavy, it is worried there will be crash between coal truck and overburden truck. Therefore, constructing a new alternative coal road namely Surya coal road was planned in order to substitute Nia coal road. Surya coal road will be built from Bendili Pit pass through ex-Surya dump to Crushing plant area along 2 kilometres and the cycle time is 10 minutes fewer than the cycle time in Nia coal road. Surya coal was planned to be used for 4 years at the minimum. This paper represents the economical analysis of the road construction. The economic indication which is used are Net Present Value, Discounted Cashflow Rate Of Return, and Pay Back Period. Keywords : Surya coal road- Cycle Time- NPV- PBP DCFRO-PBP

Abstrak Coal road dalam operasi penambangan merupakan sarana infrastruktur yang vital karena berfungsi sebagai penghubung antara lokasi tambang dengan area Crushing plant, ROM Stockpile, Perkantoran maupun workshop . Coal road yang efektif selain harus memenuhi standar keamanan dan keselamatan juga harus optimal dalam mempersingkat waktu distribusi barang dan manusia.

281

PT. Kaltim Prima Coal (PT. KPC) memiliki beberapa coal road, antara lain : Melawan Coal Road, Nia coal road, Panel 8 coal road. Nia coal road fungsi utamanya digunakan sebagai sarana angkut batubara dari Pit Bendili ke area Crushing plant maupun ROM Stockpile. Seiring dengan kemajuan penambangan, Nia coal road telah meningkat fungsinya. Selain sebagai coal road, Nia coal road sekarang juga berfungsi sebagai sarana angkut overburden oleh Pit Bendili. Situasi lalu lintas yang semakin ramai di Nia Coal road menimbulkan kekhawatarin adanya persinggungan antara coal truck dengan overburden truck. Berdasarkan maksud di atas direncanakan untuk membuat coal road alternatif (Surya coal road) sebagai pengganti dari Nia Coal Road. Surya Coal road akan dibuat dari Pit Bendili melintasi area ex- Surya dump menuju area crushing plant dengan panjang 2 km dan cycle time 10 menit lebih rendah dari cycle time di Nia coal road. Surya coal road direncanakan untuk dapat digunakan minimal selama 4 tahun. Dalam tulisan ini disajikan analisis ekonomi dari pembuatan jalan tersebut. Indikator ekonomi yang digunakan adalah : Nilai sekarang Bersih (Net Present Value), Tingkat Pengembalian (Discounted Cashflow Rate Of Return ), dan Periode waktu Pengembalian Modal (Pay Back Period). Kata kunci : Surya coal road- Cycle Time- NPV- PBP DCFRO-PBP

I. Pendahuluan Salah satu kegiatan yang penting dalam pertambangan batubara adalah pengangkutan. Pengangkutan dalam hal ini dapat dimaksudkan untuk mengangkut batubara ke lokasi pengolahan , mengangkut overburden ke lokasi timbunan, maupun mengangkut manusia dan barang ke lokasi kerja. Dalam pengangkutan batubara, diperlukan adanya coal road yang efektif. Coal road yang efektif, selain memenuhi standar keamanan dan keselamatan juga harus optimal dalam mempersingkat waktu distribusi barang dan manusia. Dalam pembuatan coal road, di samping aspek keselamatan dan teknis yang menjadi pertimbangan perlu diperhatikan juga aspek ekonomis dari coal road tersebut. Aspek ekonomis yang dimaksud bertujuan untuk mendapatkan nilai kapital yang lebih besar di masa depan daripada nilai kapital yang diinvestasikan saat ini. Dalam hal ini, coal road diupayakan untuk dibuat dengan biaya pembuatan dan biaya perawatan yang serendah – rendahnya. PT. Kaltim Prima Coal (PT. KPC) memiliki beberapa coal road; antara lain Melawan coal road, Nia coal Road, Panel 8 coal road. Lebar rata-rata 31 meter (KPC Standar) dengan jarak berkisar dari 2 km sampai 14 km. Coal road tersebut dibuat dengan tujuan menghubungkan antara tempat penambangan batubara (Pit) dengan area penimbunan batubara (ROM stockpile ) dan Crusher.

282

II. Latar belakang Dari Pit bendili , batubara diangkut melalui Nia coal road dilanjutkan dengan Melawan coal road dan berakhir di area Crushing Plant maupun ROM Stockpile. Adapun jarak dari Pit Bendili menuju area Crushing Plant dan ROM Stockpile melalui Nia coal road adalah sekitar 9 - 11 km. Seiring dengan kemajuan penambangan Pit Bendili , maka Nia Coal road telah meningkat fungsinya. Selain sebagai coal road, Nia coal road sekarang juga berfungsi sebagai sarana angkut overburden oleh Pit Bendili. Situasi lalu lintas yang semakin ramai di Nia coal road menimbulkan kekhawatarian adanya persinggungan antara coal truck dengan overburden truck. Berdasarkan maksud di atas direncanakan untuk membuat coal road alternatif (Surya coal road) sebagai pengganti dari Nia coal road. Dalam pembuatan Surya coal road , aspek keselamatan, teknis dan ekonomis ditempatkan dalam porsi yang seimbang. Maksud seimbang di sini adalah : surya coal road dibuat dengan cycle time yang lebih rendah dari Nia coal road , dengan situasi lalu lintas yang lebih sepi ( jarang bersinggungan dengan overburden truck) dan dari sisi teknis tidak mengalami hambatan yang berarti dalam pembuatannya. Dalam tulisan ini akan dibahas mengenai analisis keekonomian dari pembuatan Surya coal road. III. Surya Coal road Panjang surya coal road sekitar 2 km dengan lebar 31 meter dan kemiringan jalan 1 %. Ketebalan rata – rata dari overburden untuk pembuatan jalan ini direncanakan berkisar antara 2 ,5 – 3, 5 meter. Jalan ini menghubungkan Surya dump di Pit Bendili dengan area Crushing Plant dan ROM Stockpile dengan melalui daerah Scrap Yard. Adapun jarak dari Pit Bendili menuju area Crushing Plant dan ROM Stockpile melalui Surya coal road berkisar dari 6 – 11 km (tergantung panel penambangan dan jalan yang diambil). Dari rencana 5 year Plan v 2A yang dikeluarkan oleh Departemen Mine Planning PT. KPC, Surya coal road direncanakan dapat digunakan setidaknya sampai dengan tahun 2015. Hasil perhitungan menunjukkan bahwa cycle time dari Pit Bendili menuju area Crushing Plant dan ROM Stockpile melalui Surya coal road lebih rendah 10 menit daripada cycle time dari Pit Bendili menuju area Crushing Plant dan ROM Stockpile melalui Nia coal road. Pembuatan Surya coal road dimulai dengan memindahkan soft material yang ada di Surya dump dengan menggunakan digger l 984 C, Dozer D 85 S dan Truck HD 785-7 oleh Departemen Coal Mining . Pekerjaan dilanjutkan dengan pemindahan tanah pucuk ( top soil) dengan menggunakan PC 750, Dozer D 85 S dan articulated truck berkapasitas 35 – 40 ton. Pekerjaan pemindahan tanah pucuk ini dilakukan oleh Departemen Mining Service. Pekerjaan selanjutnya adalah pemindahan soft material yang ada di belakang daerah Scrap yard dengan menggunakan Dozer D 375 oleh Departemen Coal Mining. Pekerjaan dilanjutkan dengan pembuatan saluran drainage di sepanjang jalan rencana Surya coal road di belakang area Scrap yard. Saluran

283

drainage dibuat menggunakan PC 200 oleh Departemen Coal Mining. Pekerjaan berikutnya adalah penimbunan material overburden untuk pembuatan badan jalan Surya coal road. Material overburden diangkut dari Pit Bendili menggunakan truk Liebherr T 282 kapasitas 360 ton dan truck Euclid EH 4500 kapasitas 280 ton. Material kemudian dibentuk dengan menggunakan Dozer D 375. Pekerjaan ini dilakukan oleh Departemen Coal Mining bekerjasama dengan pihak Pit Bendili. Tahap berikutnya adalah final regrade dan pemadatan material overburden dengan menggunakan compactor Bomag BW 216D oleh Departemen Mining Service. Tahap selanjutnya adalah pekerjaan pelapisan material red mudstone di atas badan jalan dengan menggunakan compactor Cat 825 C oleh Departemen Mining Service. Tahap terakhir adalah pembuatan safety berm dengan menggunakan PC 200 oleh Departemen Mining Service. Surya coal road direncanakan untuk dapat dibuat dalam waktu 6 bulan sehingga direncanakan akhir tahun 2011, jalan ini sudah dapat digunakan untuk mengangkut batubara dari Pit Bendili.

Gambar 1. Proses pengerjaan Surya coal road IV.Analisis ekonomi Analisis ekonomi dilakukan untuk mengetahui nilai keekonomian dari pembuatan dan penggunaan Surya coal road. Analisis keekonomian dilakukan berdasarkan konsep aliran tunai diskonto (discounted cash flow analysis). Masukan utama untuk analisis komponen biaya adalah biaya pembuatan dan pemeliharaan Surya coal road, sedangkan faktor penting lainnya adalah potensi saving cost dan kenaikan biaya pengangkutan (hauling cost). Biaya Capital Biaya pembuatan Surya coal road diperkirakan sebesar US $ 847.534. Biaya tersebut meliputi biaya clearing dan top soiling, pemindahan soft material, penimbunan material overburden, pemadatan permukaan jalan , pelapisan red mudstone dan pembuatan saluran drainage dan safety berm. (Tabel 1).

284

Tabel 1. Biaya Capital Surya Coal Road

Biaya Operasional Biaya operasional adalah biaya pemeliharaan Surya coal road selama jalan ini digunakan. Besar biaya operasional diperkirakan sebesar US $ 85.795 pertahun. Biaya ini meliputi biaya pemadatan kembali permukaan jalan, pelapisan kembali permukaan jalan dengan red mudstone,serta biaya perbaikan safety berm dan sistem drainage di Surya coal road (Tabel 2). Tabel 2. Estimasi Biaya operasional

Pendapatan Pendapatan dari penggunaan Surya Coal road, didapatkan dari estimasi penghematan hauling cost batubara dari Pit Bendili menuju area Crushing Plant dan ROM Stockpile melalui Surya coal road dibandingkan dengan hauling cost batubara dari Pit Bendili menuju area Crushing Plant dan ROM Stockpile melalui Nia coal road. (Tabel 3).

285

Tabel 3. Estimasi Saving Cost

Parameter yang digunakan Beberapa parameter yang digunakan dalam analisis aspek keekonomian adalah : Struktur pembiayaan pembuatan Surya coal road adalah 100 % modal sendiri (Menggunakan alat-alat milik PT. KPC sendiri). Suku bunga bank dalam dollar saat ini 9% / th. MinimumAttractive Rate of Return (MARR ) sebesar 15 %. Metode depresiasi yang digunakan adalah metode garis lurus. Dengan nilai sisa dianggap 0 (Jalan diasumsikan akan putus di tahun 2016). Tax effect sebesar 45%.

1. 2. 3. 4. 5.

Cash Flow Aliran kas (cash flow) untuk proyek Surya coal road dibuat dengan dasar estimasi besarnya penghematan hauling cost dari penggunaan Surya coal road. Metode Nilai sekarang Bersih (Net Present Value), Tingkat Pengembalian (Discounted Cashflow Rate Of Return ), dan Periode waktu Pengembalian Modal (Pay Back Period) digunakan dalam perhitungan keekonomian pembuatan Surya coal road.

286

Tabel 4. Aliran Kas

Analisis Kepekaan Model analisis kepekaan (sensitivity analysis): Variansi + 5% hingga +10% dan -5% hingga – 10% untuk variabel biaya operasional dan pendapatan. Data masukan yang digunakan untuk analisis kepekaan dapat dilihat pada tabel berikut :

287

Tabel 5. Resume Analisis Kepekaan

Gambar 2. Grafik Kepekaaan Perubahan Pendapatan

Gambar 3. Grafik Kepekaaan Perubahan Biaya Operasional

288

Jika dilakukan analisis terhadap perubahan pendapatan, terlihat bahwa setiap ada penambahan atau pengurangan sebesar ±5% maka akan terjadi perubahan DCFROR sebesar ±4%. Jadi dapat disimpulkan bahwa sangat peka terhadap perubahan pendapatan. Jika dilakukan analisis terhadap perubahan biaya operasional, terlihat bahwa setiap ada penambahan atau pengurangan sebesar ±5% maka akan terjadi perubahan DCFROR sebesar ±0.4%. Jadi dapat disimpulkan bahwa kurang peka terhadap perubahan biaya operasional. V. Kesimpulan Dari perhitungan yang dilakukan , pembuatan Jalan alternatif Surya coal road dapat menghasil net income sebesar US $1.171.097 dan NPV US $ 640.978 dengan IRR 54,31 % dan PBP 2 tahun 8 bulan. Dari analisis kepekaan, didapatkan bahwa proyek ini sangat peka terhadap perubahan pendapatan dan kurang peka terhadap perubahan biaya operasional. Dari analisis di atas dapat disimpulkan bahwa Surya Coal Road dari sisi ekonomi layak untuk dibuat. VI. Daftar Pustaka 1. Dendi Dwitandi. Evaluasi Keekonomian Proyek Narrow – Vein Mining : Tambang Emas Cikidang L500. Proseding TPT XIII Perhapi, 2004. 2. F.M. & J.M. Stermole. Economic Evaluation and Investement Dcision Methods. Seventh ed, Investment Evaluations Corporation, Golden, Colorado, 1999. 3. Guy Allinson. Economics of Petroleum Exploration and Production.Program Diklat Tim Pengelolaan IWPL Migas Bekerjasama dengan IAGI, 1992. 4. PT. Kaltim Prima Coal. Buku Pegangan Haul Road” Desain,Konstruksi, dan Perawatan Jalan untuk Jalan Truk Tambang, Sangatta, 2005. 5. William Hustrulid and Mark Kuchta. Open Pit Mine Planning and Design Volume 1Fundamentals.A.A.Balkema /Rotterdam/Brookfield, Netherland, 1995.

289

PROSIDING TPT XX PERHAPI 2011 ANALISIS KELAYAKAN EKONOMI RENCANA PENAMBANGAN BIJIH MANGAN DI DAERAH KARANGSARI KABUPATEN KULONPROGO – DIY
Oleh : Anton Sudiyanto, Priyo Widodo, Teddy Agung Cahyadi, Pratiwi (e-mail : anton_sudiyanto@yahoo.co.id) Program Studi Teknik Pertambangan – FTM UPN “Veteran” Yogyakarta

Abstrak
Desa Karangsari Kecamatan Pengasih, salah satu daerah di Kabupaten Kulon Progo, DIY memiliki potensi sumber daya alam berupa bahan galian mangan yang cukup potensial. yang rencananya akan diolah menjadi industri baterai kering, industri besi-baja, dan industri kimia dengan sasaran produksi 78.300 ton selama 5 tahun. Gambaran yang jelas tentang besarnya pendapatan yang akan diterima dan biaya untuk pengusahaan bahan galian tersebut sangat diperlukan dalam pengambilan keputusan para investor atau pengembang untuk menanamkan modalnya. Analisis kelayakan ekonomi terhadap rencana penambangan bijih mangan di daerah Karangsari Kabupaten Kulonprogo ini perlu dilakukan agar investor dapat mengetahui kemampulabaan yang akan didapat dalam berbagai kondisi, seperti terjadinya perubahan harga jual, perubahan besarnya investasi total, dan perubahan biaya operasional. Investasi total untuk membiayai rencana penambangan bijih mangan untuk industri baterai kering, industri besi-baja, dan industri kimia tersebut adalah Rp21.706.900.219,- yang terdiri dari modal tetap sebesar Rp19.535.992.000,- modal kerja sebesar Rp 2.065.908.219,- dan jaminan reklamasi Rp105.000.000,-. Ada tiga alternatif struktur modal yang digunakan, yaitu 100% modal sendiri, 70% modal sendiri dan 30% pinjaman, dan 60% modal sendiri dan 40% pinjaman. Tingkat bunga kredit dari Bank yaitu 12%. Metode analisis yang digunakan adalah Net Present Value (NPV), Discounted Cash Flow Rate of Return (DCFROR), dan Pay Back Period (PBP). Dari hasil analisis kelayakan ekonomi tersebut, rencana penambangan bijih mangan layak dipertimbangkan. Kata Kunci : Kelayakan Ekonomi. I. LATAR BELAKANG

Kabupaten Kulon Progo merupakan salah satu kabupaten di Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta yang memiliki potensi bijih mangaan cukup besar. Akan tetapi kondisi keberadaan bahan galian tersebut belum dimanfaatkan secara optimal. Kondisi ini disebabkan karena keberadaan bahan galian tersebut belum terdata dengan baik.

290

Seiring dengan meningkatnya laju pembangunan khususnya di sektor industri seperti; industri baterai kering, industri besi-baja, dan industri kimia, pemerintah daerah Kabupaten Kulon Progo berupaya mendata dan mempublikasikan kondisi persebaran bijih mangan yang ada di Kabupaten Kulon Progo. Para investor atau pengembang diharapkan berminat dalam menanamkan modalnya sehingga dapat menambah pendapatan asli daerah. Untuk menjalankan suatu proses kegiatan pertambangan perlu dilakukan suatu proses yang cukup panjang mulai dari tahap prospeksi sampai tahap pemasaran. Salah satu tahapan yang cukup penting adalah tahap studi kelayakan yang merupakan suatu penelitian tentang analisa kelayakan teknik, lingkungan dan ekonomi terhadap rencana penambangan bijih mangan di daerah tersebut, sehingga investor dapat mengetahui tingkat keuntungan yang akan didapat. Kegiatan dalam merencanakan studi kelayakan bahan galian bijih mangan tersebut adalah menyangkut aspek teknis, lingkungan dan ekonomis. Dalam pembahasan ini akan mengkaji permasalahan tentang kelayakan bahan galian bijih mangan dari segi aspek ekonomis.
II.

LOKASI DAN KESAMPAIAN DAERAH Secara administratif lokasi penambangan terletak di Desa Karangasari, Kecamatan Pengasih, Kabupaten Kulon Progo, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, dengan luas daerah penyelidikan 856,888 ha. Secara geografis berada pada 100°07'44”-100°09'48.9” BT dan 07°49'36.26”07°51'52.6” LS. Untuk mencapai daerah penambangan dapat ditempuh dengan jalur darat dari pusat kota Yogyakarta menuju Godean berjarak 10 km, kemudian dari Godean menuju Kabupaten Kulon Progo berjarak 20 km dan dari kabupaten menuju ke Pengasih atau lokasi penambangan berjarak 10 km. 2.1 Iklim dan Curah Hujan Iklim di daerah Karangsari yang berada pada Garis Lintang Selatan adalah tropis yang dicirikan dengan keadaan udara yang panas, lembab dan curah hujan yang cukup tinggi. Data curah hujan diperoleh dari Dinas Perairan Umum Pemerintah Yogyakarta Stasiun Hargorejo pada tahun 1997 – 2007. Curah hujan rata - rata per tahun pada tahun 1997 – 2007 adalah 486,3 mm dengan jumlah curah hujan rerata harian tertinggi terjadi pada bulan Desember yaitu 69,9 mm dan curah hujan rerata harian terendah terjadi pada bulan Agustus yaitu 4,91 mm. Hari hujan terbesar terjadi pada bulan Desember yaitu 15 hari, sedangkan hari hujan terendah pada bulanAgustus yaitu 1 hari. 2.2. Kondisi Geologi Daerah Penyelidikan 2.2.1. Topografi Desa Karangsari merupakan daerah perbukitan yang bergelombang dengan ketinggian 120 mdpl, yang terbentuk dari batuan sedimen dan sebagian daerah yang lain berupa dataran. Tanah penutup yang berwarna hitam, mempunyai ketebalan ± 1m. Umumnya satuan batuannya terdiri dari batugamping, andesit, lempung dan bijih mangan. Keadaan morfologinya dapat dikelompokkan dalam 3 bagian yaitu : dataran limpah banjir, perbukitan bergelombang lemah dan perbukitan bergelombang kuat. Dataran limpah

291

banjir berupa persawahan, perkebunan dan belukar. Perbukitan bergelombang lemah sebagian besar berupa kebun tadah hujan dan belukar. Perbukitan bergelombang kuat sebagian besar berupa kebun dan belukar. Perbukitan bergelombang kuat sebagian besar berupa kebun dan belukar. Daerah yang ditempati oleh satuan pegunungan Kulon Progo ini sebagian besar digunakan sebagai campuran tegalan dan pemukiman. 2.2.2 Struktur Geologi Daerah penyelidikan termasuk dalam Peta Geologi Lembar Yogyakarta menurut Wartono Rahardjo, Sukandarrumidi dan H.M.D. Rosidi 1995. Formasi geologi daerah telitian yaitu : 1. Formasi Kebobutak (Tmok) : terdiri dari breksi andesit, tuf, tuf lapili, aglomerat dan sisipan aliran lava andesit. 2. Formasi Sentolo (Tmps) : terdiri dari batugamping dan batupasir napalan 3. FormasiAluvium (Qa) : terdiri dari kerakal, pasir, lanau dan lempung sepanjang sungai yang besar dan dataran pantai. Struktur geologi yang dijumpai dilapangan berupa monoklin dengan arah jurus relatif Barat Daya – Timur laut dengan arah dip relatif Tenggara. Daerah telitian merupakan daerah dengan formasi sentolo, yang terdiri dari batugamping dan batupasir napalan. Dip mengarah ke tenggara dan di wilayah tenggara kecamatan Blendung terdapat lipatan. Sesar naik terjadi di wilayah Nanggulan sampai ke kota Wates. 2.3. Keadaan Endapan Dari hasil penyelidikan lapangan didapat singkapan bijih mangan (Mn) yang arahnya dari utara mengarah ke timur laut dengan kemiringan 50 – 200, keadaan endapan bijih mangan di lokasi memperlihatkan perselingan antara batugamping pasiran, warna lapuk : hitam tanah, warna segar : kehitaman agak kemerahan, ukuran butir pasir halus - kerikilan, ketebalan antara 0,10 – 0,30 meter (Gambar 1). 2.3.1. Penyebaran dan Kualitas Bijih Mangan Penyebaran endapan bijih mangan berdasarkan data yang ditinjau dari cross section diperoleh penyebaran yang homogen untuk masing-masing lensa bijih mangan. Tiap-tiap lensa bijih mangan memiliki kadar Mn yang berbeda-beda satu dengan yang lainnya (Lihat Tabel 1). Penyebaran bijih mangan juga didasarkan pada pengamatan terhadap singkapan yang sekaligus diambil conto batuan samping (Batugamping) dan pemboran inti sebanyak 3 lubang bor. Untuk kualitas berdasarkan hasil uji kandungan Mn pada Tabel 1 menunjukkan kadar Mn berkisar antara 10,2% - 60,5%, kadar Belerang (S) boleh dibilang tidak bisa ditaksir, juga kadar Phosphat (P), termasuk Calsium Oksida (Ca), Alumunium Trokxida (Al2O3), Iron Trioxida (Fe2O3) dan ada deteksi Titanium Dioxida (TiO2) namun kecil sekali persentasinya (dibawah 1,2 %). Spesifikasi Mangan untuk kegiatan industri bisa dilihat pada Tabel 2.

292

Gambar 1 Singkapan Bijih Mangan Daerah Karangsari, Pengasih, Kulon Progo Untuk kualitas berdasarkan hasil uji kandungan Mn pada Tabel 1 menunjukkan kadar Mn berkisar antara 10,2% - 60,5%, kadar Belerang (S) boleh dibilang tidak bisa ditaksir, juga kadar Phosphat (P), termasuk Calsium Oksida (Ca), Alumunium Trokxida (Al2O3), Iron Trioxida (Fe2O3) dan ada deteksi Titanium Dioxida (TiO2) namun kecil sekali persentasinya (dibawah 1,2 %). Spesifikasi Mangan untuk kegiatan industri bisa dilihat pada Tabel 2. Tabel 1 Hasil Uji Kandungan Mn

293

Tabel 2 Spesfikasi Mangan Untuk Berbagai Keperluan

Sumber : Pusat Penelitian dan Pengembangan Teknologi Mineral 1997

Berdasarkan hasil perbandingan bahwa endapan bijih mangan pada lokasi penyelidikan di desa Karangsari cukup baik. Contoh batuan bisa dilihat pada Gambar 2.

Gambar 2 Batuan Yang Mengandung Bijih Mangan 2.3.2. Jumlah Cadangan Terbukti Berdasarkan hasil Eksplorasi dengan luas daerah penyelidikan seluas 856,888 ha. Jumlah cadangan menurut laporan terdahulu menunjukkan cadangan bijih mangan yang dilakukan penelitian dalam luasan 4 ha memiliki cadangan 78.300 ton. 2.4. Pemanfaatan Bijih Mangan PT. Aneka Sumber Indonesia memfokuskan kegiatan pemasarannya untuk memenuhi kebutuhan dalam industri pembuatan baterai kering, bahan campuran refraktori, campuran kimia.

294

2.5.

Harga Produk dan Tujuan Pemasaran Harga bijih mangan setelah melalui proses pengepakan dan produk yang dihasilkan dikirim menuju pelabuhan Semarang, dengan perkiraan 1$ = Rp 11.000,-(Money Chages, Januari 2009) dapat dilihat pada Tabel 3 sebagai berikut: Tabel 3 Tabel Harga Bijih Mangan

III.

ASPEK TEKNIS Analisis ekonomi rencana penambangan bijih mangan ini juga memperhatikan aspek teknis yang telah dirancang menyesuaikan dengan kebutuhan peralatan pertambangan. Nilai ekonomis yang dimaksudkan merupakan nilai investasi yang dinyatakan dalam bentuk nilai uang yang akan dipergunakan sebagai bahan penyusunan aliran uang tunai (cash flow) yang terdiri dari investasi total (modal tetap, bunga masa kontruksi dan modal kerja), pendapatan, biaya operasi, depresiasi, amortisasi, modal pinjaman. Dengan memperhatikan beberapa metode pendekatan yang dipakai. Metode Penambangan Penambangan menggunakan metode tambang bawah tanah dengan sistem Room and Pillar (Gambar 3), diawali dengan pembuatan sumur vertikal (shaft). Rencana target produksi adalah 15.150 ton/tahun dan direncanakan umur tambang tersebut adalah sampai 5 tahun. a. Pembongkaran Kegiatan pembongkaran dengan tujuan pembuatan vertikal shaft di lakukan dengan cara pemboran dan peledakan. b. Pemboran (Drilling) Dalam pemboran lubang ledak pembuatan cut menggunakan metode burn cut dengan ukuran lubang bukaan adalah diameter 2,5 meter. Pemboran dilakukan dengan alat bor Hidraulic Hand Held Drill HH 50 (rotary-percussive) merk Tamrock sebanyak 1 unit dimana umur alatnya adalah 5 tahun. c. Peledakan Bahan peledak yang dipakai adalah Damotine dan detonator, untuk peralatan pendukung leading wire dan blasting machine sebagai alat penyalaannya. Kelebihan Damotine yaitu tahan terhadap air/keadaan lembab sehingga lebih efisien bila dipakai di daerah karangsari yang keadaan tanahnya lembab. Kedalaman vertikal shaft 30 m sehingga kegiatan pembongkaran ini memerlukan waktu 20 hari. 3.1.

295

Gambar 3 Sistem Room and Pillar d. Pemuatan dan Pengangkutan Pemuatan adalah proses pemindahan batuan dari front penambangan ke alat angkut, dilakukan secara manual dengan menggunakan sekop dan cangkul, sedangkan untuk pengangkutan bijih mangan menggunakan lori. 3.2. Pengolahan Tujuan diadakannya pengolahan bijih mangan adalah peningkatan bentuk dan penampilan guna menunjang peningkatan nilai tambah dari bijih mangan. Pada dasarnya pengolahan bijih mangan, mereduksi ukuran saja sehingga kualitas bijih mangan hasil pengolahan dapat dikatakan hampir tidak berubah. Kapasitas produksi pengolahan bijih mangan yang direncanakan harus dapat mencapai rencana produksi adalah 15.150 ton per tahun. Target produksi tersebut didasarkan pada jumlah cadangan bijih mangan yang ada dan kebutuhan pasar pada saat ini. Jika nantinya ditemukan endapan yang baru dan kebutuhan pasar meningkat, maka ada kemungkinan target produksi akan dinaikkan dan umur tambang juga akan semakin besar. IV. ASPEK EKONOMI Ada beberapa pendekatan yang dipakai dalam menyusun laporan ini diantaranya adalah: 4.1. Inflasi, Eskalasi, Suku Bunga Bank Inflasi yang dipakai dalam konsep nilai uang terhadap waktu (time value of money) yang digunakan adalah nilai inflasi rata-rata tahun 1999-2007 yaitu sebesar 7%, dan tingkat eskalasi diasumsikan 8% untuk biaya dan 3% untuk pendapatan (Tabel 4). Tabel 4 Indikator Ekonomi Indonesia Terkini Tahun 1999-2007

Sumber: modul seminar perpajakan oleh Boediono (MENKO Perekonomian)

296

4.2. a.

Struktur Modal Alternatif struktur pembiayaan adalah 40% pinjaman dan 60% modal sendiri, 30% pinjaman dan 70% modal sendiri, 100% modal sendiri. b. Persentasi Suku Bunga Pinjaman Bank Persentasi Suku bunga bank yang digunakan 12% per tahun (Sumber: Bank Mandiri, Januari 2009). Suku bunga pinjaman bank ini menyesuaikan dengan suku bunga bank Indonesia yang berubah setiap tahun. c. Tingkat Bunga Minimum Dalam menentuan tingkat bunga minimum dilakukan perimbangan berdasarkan struktur modalnya. Pada struktur modal sendiri, tingkat bunga minimum yang digunakan berdasarkan tingkat persentasi suku bunga Bank yaitu sebesar 12% dengan faktor risiko diasumsikan 3%. Jadi tingkat bunga minimum untuk 100% modal sendiri adalah 15%. 1) Untuk struktur modal 70% sendiri, 30% pinjaman, tingkat bunga minimum = (0.7 x 15%) + (0.3 x 12%) = 14.10% 2) Untuk struktur modal 60% sendiri, 40% pinjaman, tingkat bunga minimum = (0.6 x 15%) + (0.4 x 12%) = 13.80%

4.3.

Investasi Total Besar investasi total yang merupakan penjumlahan dari modal tetap, modal kerja ,biaya jaminan reklamasi, biaya studi Upaya Pengelolaan Lingkungan ( UKL ) dan Upaya Pemantauan Lingkungan (UPL) sebesar Rp 21.706.900.219,- . 4.3.1. Modal Tetap Besarnya biaya modal tetap yang diperlukan disesuaikan dengan kebutuhan peralatan utama, peralatan pendukung, serta infrastruktur yang diperlukan mendasarkan target produksi dan umur tambang, dimana biaya–biaya tersebut dibutuhkan pada tahun ke-0 sebelum proyek beroperasi sebesar Rp 19.507.992.000,- , dengan rincian biaya sebagai berikut : a. Biaya Pembelian Peralatan Dalam perencanaan usaha pertambangan bijih mangan beserta unit pengolahannya, perhitungan dan pemilihan alat harus dilakukan secara cermat agar kegiatan operasionalnya memberikan hasil yang efisien dan optimum baik ditinjau dari segi teknis, lingkungan maupun ekonomis. Pertimbangan teknis ini bertujuan untuk mengetahui apakah alat yang dipilih sesuai kapasitas menurut kondisi obyektif yang ada dan target produksi yang ditetapkan. Sedangkan pertimbangan ekonomis bertujuan untuk menyesuaikan dengan permodalan awal yang disediakan, sehingga biaya yang dikeluarkan dapat ditekan seminimal mungkin namun tetap berproduksi secara optimal sehingga target produksi yang ditetapkan tercapai. Peralatan yang digunakan adalah peralatan tambang, pengolahan, inventaris, peralatan bengkel, peralatan K3, peralatan pendukung operasional. Besarnya biaya adalah Rp 6.606.325.000,- . b. Biaya Persiapan Penambangan Biaya persiapan penambangan meliputi; biaya yang dikeluarkan untuk mendapatkan ijin

297

penambangan, eksplorasi, penyewaan atas tanah, sewa ganti rugi tanaman, dan biaya pembuatan jalan tambang dan saluran. Besarnya biaya adalah Rp 12.901.667.000,- dengan perincian: 1) Perijinan Peraturan daerah Kabupaten Kulon Progo No. 7 Th 2002, setiap ijin usaha pertambangan dipungut retribusi ijin usaha pertambangan sebagai pembayaran atas pemberian ijin dan pepanjangan ijin. Besarnya biaya perijinan yaitu Rp4.194.000.000,2) Biaya Eksplorasi Biaya Eksplorasi meliputi : pemetaan topografi, biaya sampling (pemboran), uji kualitas bijih mangan, sehingga bisa diketahui kuantitas dan kualitas bijih mangan sesuai dengan kegunaannya, diperkirakan sebesar Rp 233.550.000,-. 3) Biaya sewa lahan Di daerah penelitian ada beberapa pihak yang berhak mendapat kompensasi atas hak tanah yang dimilikinya. Tanah tersebut dimiliki oleh masyarakat sekitar seperti kebun, dan rumah, besarnya biaya pembebasan disesuaikan dengan harga yang umum yang berlaku di daerah tersebut. Besarnya biaya yang diperlukan adalah Rp 482.500.000,-. 4) Biaya Konstruksi dan Infrastruktur Pembuatan bangunan sarana tambang seperti bangunan kantor, unit pengolahan, gudang, pantry, pos keamanan, bengkel, mushola , pos poliklinik, garasi, kantor K3, menggunakan sistem developer. Peralatan Penyedia Listrik sebesar Rp 768.000.000,-. Pembuatan jaringan instalasi pendukung sebesar Rp 117.000.000,- dan Total biaya peralatan penambangan dan instalasi sebesar Rp 4.521.000.000,-. Jadi total biaya konstruksi dan infrastruktur adalah Rp 6.166.000.000,-. 5) Biaya Pengadaan Tenaga Kerja Biaya pengadaan tenaga kerja yang dimaksud adalah tenaga kerja yang akan dipakai pada saat tambang sudah mulai beroperasi. Besarnya biaya diperkirakan Rp 15.000.000,- . 6) Biaya Pembuatan Sumur Vertikal shaft Biaya Pembuatan sumur vertikal shaft/lubang bukaan yang dibuat relatife vertical, menghubungkan permukaan bumi dengan daerah kerja bawah tanah (Stope) diperkirakan sebesar Rp 1.810.617.000,-. 4.3.2. Modal Kerja Modal kerja diperhitungkan cukup untuk membiayai kegiatan perusahaan selama 3 bulan selama belum ada dana masuk dari penjualan produk. Dengan demikian modal kerja yang dibutuhkan adalah 25% dari biaya operasi tahunan sebesar Rp 8.263.632.875,-, maka didapat Rp 2.065.908.219,4.3.3. Biaya Jaminan Reklamasi Perencanaan biaya reklamasi direncanakan pada akhir umur proyek, dan peralatan yang digunakan juga merupakan peralatan bekas proyek beroperasi. Besarnya biaya reklamasi adalah Rp. 105.000.000,-.

298

4.3.4. Studi UKL dan UPL Menurut Peraturan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor 11 tahun 2006, suatu industri yang bergerak di bidang pertambangan harus mengadakan tentang analisis mengenai dampak lingkungan (AMDAL) jika luas KP lebih dari 200 ha, dan produksinya adalah lebih dari 300.000 ton/tahun. Karena target produksi yang direncanakan adalah 15.150 ton/tahun, maka dikenakan biaya studi UKL dan UPL yang besarnya adalah Rp 28.000.000,- . 4.3.5. Pendapatan Pendapatan dari penjualan hasil produk mangan dimana total produksi dari masing–masing ukuran tersebut diperkirakan adalah Rp 15.150 ton / tahun diperkirakan harga jual $3/%kadar per ton, sehingga untuk masing-masing kadar harga berbeda, maka pendapatan pada tahun pertama adalah Rp 18.711.000.000,-. 4.3.6. Biaya Operasi Biaya operasi adalah biaya yang berkaitan dengan pengoperasian suatu peralatan atau biaya yang dikeluarkan apabila alat tersebut beroperasi saja. 4.3.6.1.Biaya Operasi Tetap Biaya ini terdiri dari : 1. Pengembangan masyarakat, Biaya Pemakaian Listrik , Biaya PemakaianAir dan Telepon Pengembangan masyarakat ditujukan untuk pengembangan daerah sekitar penambangan, besarnya biaya adalah Rp 15.000.000,- per tahun. Kebutuhan pemakaian listrik dari PLN sejumlah Rp 15.000.000,- per tahun, Pemakaian Air sebesar Rp 10.000.000,- per tahun dan telepon diperkirakan sebesar Rp 12.000.000,- per tahun. 2. Gaji Karyawan Karyawan yang bekerja adalah karyawan tetap perusahaan dan ada karyawan harian. Jumlah gaji yang dikeluarkan pada tahun pertama sebesar Rp1.757.000.000,- . 4.3.6.2.Biaya Operasi Tidak Tetap 1. Iuran Produksi Berdasarkan prosedur permohonan KP untuk pengusahaan bahan pertambangan mineral logam, besarnya iuran produksi untuk eksploitasi sebesar Rp 2.000,- untuk tiap 1 m2. Jadi total iuran produksi eksploitasi adalah Rp 2.000 x 40.000m2 = Rp80.000.000,- dan iuran produksi untuk pengolahan adalah Rp 3000 per m2 jadi total iuran produksi eksploitasi adalah Rp 3.000 / m2 x 5.500 m2 per tahun = Rp 16.500.000,- sehingga total iuran produksi = Rp 96.500.000,-. 2. Asuransi tenaga kerja Asuransi tenaga kerja direncanakan Rp 10.000,- perbulan setiap tenaga kerja, dimana bila dihitung secara keseluruhan pada tahun pertama adalah (Rp 10.000,- x 112 orang)+ (Rp 10.000,- x 40 orang x 11 bulan) = Rp 5.520.000,-. 3. Biaya operasi alat tambang Biaya oprasi alat tambang yang dibutuhkan hanya pada tahun pertama, dimana dilakukan

299

pembersihan lahan ( land clearing) untuk pembuatan jalan sebesar Rp 16.200.000,-. Biaya ini digunakan untuk membiayai kebutuhan sewa alat (sudah termasuk bahan bakar, pelumas, gumuk, dan biaya Operatornya). 4. Biaya peledakan Kebutuhan bahan peledak hanya dilakukan pada tahun pertama adalah Rp 66.382.000,-. Biaya ini digunakan untuk membiayai kebutuhan peledakan agar proses peledakan dapat berjalan, seperti kebutuhan bahan peledak, conecting wire, delay, dan perlengkapan peledakan lainnya . 5. Biaya pembelian bijih mangan dari rakyat Biaya ini merupakan biaya yang dikeluarkan perusahaan untuk membeli bijih mangan dari tambang rakyat, yang kemudian dijual ke perusahaa lain,besarnya biaya ini di tahun pertama adalah Rp 60.000.000,-. 6. Biaya Pengiriman Biaya pengiriman adalah biaya yang meliputi biaya pengiriman mangan dari stockpile 1 (lokasi tambang) menuju stockpile 2 ( tempat pengiriman ). Baru dari stockpile 2 dikirim ke pelabuhan semarang. Besarnya biaya pengiriman di tahun pertama adalah Rp 5.443.825.000,-. 7. Biaya Perawatan Biaya perawatan diasumsikan tereskalasi 8% dari biaya pengadaan alat, bangunan, inventaris, infrastruktur. Besarnya biaya perawatan pada tahun pertama adalah Rp 739.705.875,-. 8. Biaya Pergantian Perlengkapan Biaya pergantian perlengkapan adalah biaya yang diperlukan untuk penggantian perlengkapan operasional. Alat yang perlu diganti seperti, mata bor, alat-alat inventaris perusahaan, alat-alat K3 dimana besarnya biaya pada tahun pertama yang adalah Rp 26.500.000,-. 4.3.7. Depresiasi Perhitungan depresiasi atau penyusutan digunakan metode garis lurus yaitu cara perhitungan penyusutan dengan anggapan berkurangnya harga alat, nilai sisa berbanding lurus dengan waktu kerjanya dimana nilai sisa adalah 10% dari harga alat. Besarnya biaya depresiasi pada tahun pertama adalah Rp 759.073.600,- dan nilai sisa sebesar Rp 359.232.000,4.3.8. Amortiasasi Biaya amortisasi menggunakan metode garis lurus dengan ketentuan penyusutan pada kelompok 2 dengan masa manfaat 5 tahun yaitu 12,5 % dari total perijinan besarnya biaya adalah 12,5 % x Rp 4.194.000.000,- = Rp 21.750.000,-

300

4.3.9. Pajak 4.3.9.1.Royalty Menurut PP no.45 tahun 2003, besarnya royalty bahan pertambangan mineral logam khususnya bijih mangan adalah 3,25% dari hasil penjualan, untuk tahun pertama royalty sebesar Rp 608.107.500,- , asumsi 100% modal sendiri. 4.3.9.2.Pajak Penghasilan Penghasilan kena pajak setelah dikurangi dengan biaya operasi, bunga pinjaman, Amortisasi, Biaya penyusutan (Depresiasi) setiap tahunnya. Dimana besar pajak penghasilan telah ditentukan pada UU No 36 th 2008 pasal 17 ayat 1 sub b sebesar 28%, jadi hasil pajak pada tahun 1 adalah Rp 2.522.586.535,- ( dengan asumsi modal sendiri 60 % dan modal pinjam 40% ). Untuk melihat pajak penghasilan untuk struktur modal yang lain dapat dilihat pada lampiran cash flow di masing-masing struktur modal. Analisis Ekonomi Hasil perhitungan dari komponen-komponen biaya yang disusun dalam Cash flow selanjutnya dianalisis dengan metode NPV, DCFROR, dan PBP dengan bantuan program Microsoft Office Excel 2007. 4.4.1. Metode Nilai Sekarang Bersih/Net Present Value (NPV) Dari perhitungan Cash flow diperoleh hasil analisis ekonomi dengan metode Net Present Value (NPV) setiap struktur modal, dapat dilihat pada table 5 : Tabel 5 Hasil Analisis Ekonomi Dengan Metode Net Present Value (NPV) Tiap Struktur Modal 4.4.

4.4.2. Metode Tingkat Bunga Pengembalian/ Discounted Cash Flow Rate Of Return (DCFROR) Dari perhitungan Cash flow diperoleh hasil analisis ekonomi dengan metode Discounted Cash Flow Rate Of Return (DCFROR) setiap struktur modal, dapat dilihat pada table 6 : Tabel 6
Hasil Analisis Ekonomi Dengan Metode Discounted Cash Flow Rate Of Return (DCFROR) Setiap Struktur Modal

301

4.4.3. Metode Waktu Pengembalian Modal/Pay Back Period (PBP) Dari perhitungan Cash flow diperoleh hasil analisis ekonomi dengan metode Pay Back Period (PBP) setiap struktur modal, dapat dilihat pada table 7 : Tabel 7 Hasil Analisis Ekonomi Dengan Metode Pay Back Period (PBP) Setiap Struktur Modal

V.

KESIMPULAN 1. Investasi total untuk menjalankan kegiatan usaha penambangan sebesar Rp.21.706.900.219,-. 2. Berdasarkan pada analisis ekonomi NPV, DCFROR dan PBP. NPV, dihasilkan positif, DCFROR lebih dari tingkat bunga minimum (i*) yang ditetapkan dan PBP lebih kecil dari umur proyek selama 5 tahun, maka proyek ini layak untuk dipertimbangkan.

VI. DAFTAR PUSTAKA 1. Adjat Sudrajat, “Teknologi & Managemen Sumberdaya Mineral”, Penerbit ITB, Edisi ke. 1, Bandung,Agustus 1999. 2. F.J. Stermole and J.M. Stermole, 1996, Economic Evaluation and Investment Decision Methods, Ninth Edition, Investment Evaluation Corporation, Golden, Colorado 3. Haming, Murdifin dan Salim Basalamah, 2003, Studi Kelayakan Investasi: Proyek dan Bisnis, Penerbit PPM, Jakarta 4. Haryanto, D., 1983, Eknomi Teknik, Jurusan Teknik Pertambangan, Fakultas Teknologi Mineral, Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Yogyakarta, 1983 5. Haryanto, D., 2004, Evaluasi Eknomi Proyek Mineral, Jurusan Teknik Pertambangan, Fakultas Teknologi Mineral, Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Yogyakarta, 2004

302

PROSIDING TPT XX PERHAPI 2011 Pengalaman Sukses Relokasi Kampung Batuharang, Pit 3 Ata, Tambang Batulicin, Kalimantan Selatan
Oleh : Dedi Heriyanto, Muhammad Muchtar Arifin PT. Arutmin Indonesia Site Batulicin Abstrak Kampung Batuharang berada di daerah Pit Ata, Tambang Batulicin. Di daerah tersebut dihuni oleh sekitar 120 kepala keluarga dan terdapat infrastruktur yang lengkap mulai dari masjid, gedung sekolah dasar, lapangan bulutangkis dan gedung pertemuan. Di bawah kawasan tersebut terdapat potensi cadangan batubara sekitar 1,45 juta ton dengan kualitas yang baik. Kenaikan harga batubara dalam beberapa tahun terakhir berdampak pada nilai keekonomian batubara tersebut. Pendekatan yang sangat mendalam dilakukan agar masyarakat bersedia dipindahkan. Secara umum langkah-langkah yang dilakukan sebagai berikut : - Pendataan area yang terkena dampak ekspansi pit - Komparasi data cadangan ekspansi pit dengan alokasi biaya pemindahan kampung - Sosialiasi kepada masyarakat dengan melibatkan muspida dan tokoh masyarakat - Pelaksanaan pemindahan kampung Pada akhirnya masyarakat menyadari bahwa pemindahan kampung merupakan pilihan yang realistis dan menguntungkan dengan fasilitas tambahan yang disediakan oleh perusahaan dan program pendampingan masyarakat yang masih berjalan hingga saat ini. Kata kunci : batubara, cadangan, ekonomis, pemindahan kampung I. Pendahuluan PT. Arutmin Indonesia (PT AI) adalah merupakan salah satu perusahaan tambang batubara terbesar di Indonesia yang berdiri sejak tahun 1981 sebagai kontraktor pertambangan batubara Pemerintah Republik Indonesia di bawah Perjanjian Karya Pengusahaan Pertambangan Batubara (PKP2B). Sejak tahun 1981 PT AI telah melakukan kegiatan eksplorasi yang intensif dan melakukan analisa studi kelayakan untuk menentukan daerah yang layak secara teknis dan ekonomis untuk di lakukan penambangan.

303

Kegiatan penambangan PT Arutmin Indonesia Tambang Batulicin yang saat ini beroperasi berada di 4 lokasi yakni Ata (pit 3), Mangkalapi, Mereh, dan Sarongga. DU Ata, Mangkalapi dan Mereh memiliki cadangan batubara Bituminuous, sedangkan Sarongga termasuk pada low rank coal. Untuk meningkatkan nilai keekonomian dan konservasi batubara, maka dilakukan berbagai optimasi dan rekayasa keteknikan. Salah satu dari upaya tersebut adalah dilakukan kajian terhadap potensi lokasi blok penambangan yang berada di bawah areal pemukiman Batuharang di lokasi tambangAta pit 3.

304

II. Latar Belakang, Maksud dan Tujuan Tahapan ini berkenaan dengan rencana penambangan PT. Arutmin Batulicin yang memasuki blok 15 - blok 11 di Pit 3 Ata. Aktivitas penambangan dilakukan dengan kombinasi pemindahan tanah mekanis dengan pemboran dan peledakan. Sementara di lokasi tersebut sudah mendekati area perkampungan dimana di bagian bawah perkampungan tersebut masih teradapat cadangan batubara yang masih bisa di tambang. Untuk hal tersebut, dilakukan kajian untuk rencana penambangan di lokasi dimaksud. Ada 3 opsi yang dikembangkan untuk dikaji lebih lanjut yaitu : 1. Merelokasi masyarakat sehingga pit design bisa di optimalkan sampai ke area di bawah perkampungan dan kegiatan pemboran dan peledakan dapat tetap dilakukan. Opsi ini akan dapat menambah cadangan yang dapat di tambang adalah 1,45 juta ton dengan SR 11,41:1 2. Tidak merelokasi masyarakat, namun penambangan dilakukan kombinasi dengan penggaruan (tanpa peledakan) untuk daerah di dekat perkampungan yang masuk radius pengaruh peledakan. Opsi ini akan dapat memberikan tambahan cadangan batubara sebanyak 1 juta ton dengan SR 9,2: 1 3. Tidak merelokasi masyarakat dan tidak ada optimalisasi cadangan dengan penggaruan sehingga pit shell lebih kecil. Opsi ini kehilangan kesempatan mendapat tambahan cadangan Dengan menghitung biaya produksi masing-masing opsi sesuai tambahan cadangan dan biaya tambahan maka didapatkan: Opsi 1 : • Tambahan laba $ sedangkan biaya yang dikeluarkan sekitar meliputi biaya: • Mobilisasi • Transportasi • Pembebasan lahan untuk rencana perkampungan masyarakat yang baru • Persiapan lahan untuk rencana perkampungan yang baru • Pembangunan perumahan dan fasilitas umum seperti gedung serba guna, mesjid, sekolah, fasilitas olahraga dll • Pemasangan jaringan air bersih • Pemasangan jaringan listrik • Pembangunan jalan masuk dan perumahan • Pemindahan kubur • Kompensasi bagi yang tidak ingin menerima rumah baru • Pembebasan kebun • Dll Dengan memperhitungkan biaya-biaya diatas, opsi 1 memiliki laba sebesar $79.676k $43.361k = $35.315k

305

Opsi 2 : Biaya yang dikeluarkan sekitar meliputi biaya penggaruan Opsi 2 memiliki laba sebesar $55.146k - $28.558k = $26.588k Opsi 3 : Tidak ada tambahan laba maupun biaya. Berikut adalah tabel keuntungan dan kerugian beberapa opsi yang di kembangkan tersebut.

Dengan dasar kajian laba rugi tersebut, agar kegiatan penambangan tetap berkesinambungan (exist) serta memiliki nilai keekonomian yang baik bagi perusahaan dan masyarakat maka relokasi perkampungan dan fasilitas umum Batuharang menjadi prioritas pekerjaan di Tambang Batulicin.

306

II. Kondisi Demografi RT Batuharang RT Batuharang termasuk ke dalam Desa Mentewe, Kecamatan Mentewe, Kabupaten Tanah Bumbu. Untuk ke lokasi tersebut dapat dicapai dari jalan angkut Kodeco KM 51 masuk dan berbelok ke arah jalan menuju Mangkalapi. Masyarakat Batuharang terbagi atas dua daerah kumpulan mayoritas pemukiman yakni Batuharang Lama yang kemudian disebut dengan Batuharang blok II serta Batuharang Baru yang kemudian disebut dengan Batuharang Blok I. Dari kedua blok tersebut yang akan segera dipindahkan adalah Batuharang Blok I karena sudah dekatnya dengan areal blasting (masuk ke dalam jarak tidak aman). Masyarakat Batuharang II terletak disekitar Sungai Sela di bagian selatan pit 3 Ata PT Arutmin IndonesiaTambang Batulicin. Jarak terdekat antara rumah masysrakat Batuharang II dengan penambangan akhir (toe) pit 3Ata (blok 11) adalah hanya sejauh 74 meter saja.

Dari hasil survey di lapangan, diperoleh informasi mengenai jumlah bangunan di RT Batuharang adalah sebagai berikut. Untuk Blok I terdapat, di antaranya: a. Rumah/Bangunan (termasuk warung) berjumlah 52 buah (data dari tim CD) b. Mesjid berjumlah satu buah c. Sekolah berjumlah satu buah (plus satu buah yang sudah tidak digunakan lagi) d. Pemakaman (kuburan) berjumlah satu kompleks (berjumlah lebih kurang 69 makam dengan total luas areal sebesar 0,102 hektar).

307

e. Pos berjumlah satu buah f. Fasilitas olah raga berjumlah dua buah lapangan. Untuk Blok II terdapat, di antaranya: a. Rumah/Bangunan (termasuk rumah warung) berjumlah 65 buah b. Garasi yang terpisah dari rumah berjumlah satu buah Selain itu, berdasarkan pendataan melalui survey langsung di lapangan diperoleh juga informasi mengenai kepemilikan lahan yang secara detil. Adapun total lahan yang diperlukan serta diprioritaskan untuk dibebaskan adalah seluas 30,503 hektar. Informasi lainnya yang diperoleh dari survey di lapangan adalah mengenai mata pencaharian masyarakat di RT Batuharang yang cukup beragam, yaitu berkebun (di antaranya memiliki kebun karet), berhuma (menanam padi), berwirausaha (warung), karyawan (CK), guru, penambang emas dan lain-lain. Faktor ini juga menjadi data tambahan sebagai salah satu parameter yang dimasukkan dalam rencana dan pelaksanaan pemindahan masyarakat Batuharang terutama dalam pemilihan lokasi baru. Untuk lebih memudahkan dalam pembacaan data demografi masyarakat Batuharang I dan II berikut ini adalah daftar bangunan yang ada di lokasi tersebut.

308

III. Strategi Realisasi Pemindahan RT Batuharang Target pemindahan masyarakat Batuharang dibagi ke dalam dua tahap. Langkah awal yang telah dilakukan adalah pengumpulan data sebanyak-banyaknya (data demografi) melalui survey langsung di lapangan yang berkenaan dengan masyarakat Batuharang. Data tersebut kemudian diolah menjadi sebuah informasi yang menggambarkan kondisi dan posisi Batuharang dalam rencana penambangan sekaligus extend blok penambangan. Langkah – langkah yang dilakukan adalah mulai dari sosialisasi kepada masyarakat, unsur muspida dan muspika sehinga di peroleh kesepakatan. Dari hasil sosialisasi, diskusi dan negosiasi dengan masyarakat maka mekanisme penggantian rumah/bangunan serta lahan yang disepakati dalam pemindahan kampung Batuharang ini adalah dengan mengganti rugi uang bagi mereka yang hanya menginginkan uang sebagai bentuk kompensasinya. Bagi mereka yang tidak menginginkan uang sebagai bentuk kompensasi maka PT. Arutmin Indonesia akan membuatkan rumah di lokasi baru sekaligus penyediaan lahannya yang lebih kurangnya setara dengan nilai rumah/bangunan dan/atau lahannya yang lama. Hal ini juga dimaksudkan sebagai kontribusi PT. Arutmin Indonesia dalam program community development agar pemindahan masyarakat Batuharang memiliki nilai sosial dan kemanusiaan yang lebih. Lokasi baru tersebut pun telah ditentukan (setelah di survey terlebih dahulu) oleh tim yang terletak di Jalan menuju Mayapa. Total pengadaan lahan di lokasi baru adalah lebih kurang 10 hektar.

Proses pemindahan masyarakat Batuharang telah dilakukan semenjak negosiasi terakhir mengenai harga nilai lahan (termasuk kebun karet) dan rumah/bangunan disepakati. Di awal pelaksanaannya telah berhasil dibebaskan lahan di lokasi baru (Mayapa) seluas 10 hektar yang dipergunakan untuk pembangunan rumah baru lengkap dengan fasilitas umumnya. Di tempat tersebut juga akan dibangun kompleks baru pemakaman umum (muslim). penggantian lahan dan rumah/bangunan.

309

Setelah pembangunan rumah baru di lokasi Mayapa selesai, maka warga kampung lama secara bertahap berpindah dan menempati rumah mereka yang baru di Mayapa. Sekolah Dasar Swadaya di fasilitasi oleh PT.AI termasuk bantuan untuk insentif guru pengajar.

310

IV. Pasca pemindahan Setelah satu tahun mulai diaktifkannya kompleks perumahan Mayapa, perekonomian dan kehidupan bermasyarakat kian berkembang. Baik di dalam maupun di sekeliling kompleks Mayapa bermuncul rumah-rumah yang di bangun masyarakat atas inisiatif sendiri.

311

V. Kesimpulan Kegiatan relokasi perkampungan Batuharang yang telah dilakukan oleh PT.Arutmin Indonesia di tambang Batulicin dapat dilakukan dengan aman dan lancar. Kompleks Mayapa sebagai lokasi baru perkampungan semakin menggeliat dengan semakin bertambahnya rumah-rumah baru yang dibangun oleh masyarakat di dalam maupun di sekeliling kompleks. . VI. Daftar Pustaka 1. Proposal Relokasi Perkampungan Batuharang Tahap I, PT. AI Batulicin, 2008. 2. Proposal Relokasi Perkampungan Batuharang Tahap II, PT. AI Batulicin, 2009 3. Reserve statement PT. Arutmin Indonesia, 2008.

312

PROSIDING TPT XX PERHAPI 2011 EVALUASI PELAKSANAAN PROGRAM PENGEMBANGAN 1) 2) MASYARAKAT DENGAN INDIKATOR TERUKUR
Disampaikan oleh: 3) Sudirman Widhy H

Tanggung Jawab Sosial Perusahaan/ Corporate Social Responsibility (CSR) merupakan sebuah kewajiban dasar yang harus dipenuhi oleh perusahaan dalam rangka menjaga relasi antara perusahaan dengan pemangku kepentingan-nya, termasuk komunitas yang ada di sekitar wilayah operasional perusahaan. Pelaksanaan CSR juga berperan dalam menjaga keberlanjutan aktifitas perusahaan dalam jangka panjang. Salah satu bentuk tanggung jawab sosial perusahaan adalah keterlibatan perusahaan dalam kegiatan pemberdayaan masyarakat. Pemberdayaan masyarakat (Community Development) itu sendiri, menurut ISO 26000 tentang Sustainability Responsible, merupakan salah satu dari tujuh isu utama di dalamnnya, yaitu: Hak Asasi Manusia (HAM), Lingkungan, Tata Kelola Organisasi, Operasi Perusahaan, Konsumen dan Ketenagakerjaan. PT Arutmin Indonesia (Arutmin) telah melaksanakan program Pemberdayaan Masyarakat (CD) bagi komunitas yang berada di sekitar wilayah operasional tambang, meliputi wilayah Satui, Asam-asam, Batulicin, Senakin dan terminal khusus batubara (NPLCT), sejak awal perusahaan beroperasi. Kinerja perusahaan terkait kebijakan program CD dapat dinilai dengan melihat pemenuhan: 1. Komitmen manajemen puncak tentang CD a. Visi, misi, tujuan dan strategi program CSR secara tertulis dan berlaku untuk seluruh lokasi b. Objektif CD di dalam salah satu objektif perusahaan 2. Struktur organisasi CD yang definitif dan bekerja secara efektif a. Sumberdaya manusia di departemen CD yang mencukupi dan memiliki kapabilitas dan kuantitas yang memadai b. Teamwork antar personel CD 3. Fokus pengelolaan program CD yang dituangkan dalam rencana kerja strategik program a. Rencana strategis program CD, yang dapat dijadikan sebagai panduan bagi pelaksana untuk mengembangkan program CD dalam jangka menengah-panjang. b. Fokus program CD masih sebatas pada program-program yang diwajibkan oleh peraturan perundangan. c. Pola yang baku dalam melakukan perencanaan program setiap tahunnya
Materi ini untuk disampaikan dalam Temu Profesi Tahunan Perhapi 2011 Kajian ini dilakukan oleh Social Investment Indonesia (SII) untuk PT Arutmin Indonesia sebagai pelaksana evaluasi program CD tahun 2011 3) General Manager Operations PTArutmin Indonesia
2) 1)

313

4. Anggaran yang memadai untuk pelaksanaan program CD

a. Tersedia anggaran yang memadai dalam pelaksanaan program CD. b. Trend anggaran yang cenderung naik setiap tahunnya, sesuai dengan target produksi dan komitmen perusahaan. c. Proses persetujuan penggunaan anggaran relatif mudah (birokrasi tidak berbelit) yang dilakukan setiap kuartal. MAKSUD DAN TUJUAN Untuk melihat sejauh mana dampak dari pelaksanaan program pemberdayaan masyarakat yang dilakukan Arutmin dan seberapa jauh peningkatan kondisi sosial, ekonomi dan lingkungan komunitas, diperlukan adanya Evaluasi program. Evaluasi program juga dimaksudkan untuk menilai efektifitas kebijakan perusahaan dan strategi terhadap keberhasilan pelaksanaan program atau proyek. Hasil evaluasi dapat menjadi dasar dalam melakukan perumusan kebijakan, strategi, dan re-desain program CDArutmin yang lebih komprehensif. Adapun tujuan dilakukannya studi evaluasi adalah: 1) melakukan review atas kebijakan dan strategi yang dimiliki oleh perusahaan dalam menjalankan program CD, beserta parameter penilaian keberhasilannya; 2) mendapatkan hasil review dan umpan balik yang objektif dari para pemangku kepentingan terkait dengan pelaksanaan program CD, baik dalam tataran strategis maupun teknis, dan dampaknya terhadap perusahaan dan kesejahteraan sosial ekonomi masyarakat; 3) membantu perusahaan untuk merumuskan kembali dan mendesain ulang program ke depan, sesuai dengan hasil evaluasi yang telah dilaksanakan; dan 4) sebagai salah satu alat kontrol manajemen agar dapat diperbandingkan antara biaya yang dikeluarkan dengan benefit yang diperoleh. RUANG LINGKUPDAN METODOLOGI Ruang Lingkup Penelitian Evaluasi program Pemberdayaan Masyarakat yang dilakukan mencakup: 1) Evaluasi pada Tingkat Korporat (Kebijakan dan Strategi); 2) Evaluasi pada Tingkat Program; 3) Evaluasi pada Tingkat Proyek; dan 4) Evaluasi pada Manajemen Pelaksana Program.

314

Secara skematis proses evaluasi dapat digambarkan dalam Gambar 1.

Cakupan lokasi studi meliputi keseluruhan wilayah operasional tambang Arutmin, yaitu wilayah (site) Tambang Satui, Asam-Asam, Senakin, Batulicin dan NPLCT. Selain itu studi juga dilakukan pada tingkat manajemen perusahaan di Kantor Pusat Jakarta. Profil Singkat PTArutmin Indonesia PT Arutmin Indonesia merupakan salah satu pemegang PKP2B generasi pertama yang kegiatan pertambangan batubaranya berada di wilayah provinsi Kalimantan Selatan, yang meliputi tiga wilayah kabupaten, yaitu Kabupaten Kotabaru (meliputi Senakin Timur, Sangsang, Sembilang,

315

dan Tanjung Pemancingan), Kabupaten Tanah Bumbu (Ata, Mangkalapi, Mereh, sebagian Satui, sebagian Mulia, dan Muara Satui), serta di Kabupaten Tanah Laut (Sebagian Satui, Sebagian Mulia danAsamasam). Jumlah produksi batubara Arutmin padatahun 2010 mencapai 20,2 juta ton, sedangkan batubara yang dipasarkan mencapai 20 juta ton.

Gambar 2. Peta Wilayah Operasional PT Arutmin Indonesia

Metodologi Penelitian Secara umum pelaksanaan Evaluasi Program Pemberdayaan Masyarakat Arutmin dilakukan dengan pendekatan dan metodologi analisis data sekunder dan dokumen-dokumen penting, survey dan wawancara mendalam, Focused Group Discussion (FGD), pemeriksaan kepatutan kebijakan dan teknis, penilaian kinerja program, proyek, mitra kerja dan kelembagaan lokal. Ada dua sasaran utama dari evaluasi program ini yaitu dalam melihat apakah kebijakan telah terintegrasi (integrated) dalam kebijakan perusahaan dan program yang dilaksanakan efektif, dapat direplikasi, sustainable or unsustainable), yang secara langsung merupakan dua kriteria utama yang digunakan dalam pelaksanaan evaluasi program. Adapun secara detail, deskripsi metodologi penelitian tersebut adalah sebagai berikut: 1. Review dan analisis data sekunder dan dokumen terkait Penelusuran dan analisis dokumen ini bertujuan untuk mendapatkan gambaran umum tentang pelaksanaan program Pemberdayaan Masyarakat yang dilaksanakan. Adapun data sekunder dan dokumen utama yang dibutuhkan adalah: 1) Dokumen Kebijakan Perusahaan; 2) Master plan

316

atau Rencana Strategis Program Pemberdayaan Masyarakat; 3) Laporan Tahunan Perusahaan; 4) Rencana Kerja Anggaran dan Belanja (RKAB); 5) Dokumen AMDAL, RKL/ RPL Perusahaan; 6) Proposal Program/ Proyek; 7) Laporan-laporan hasil pelaksanaan program; 8) Profil kelompok usaha komunitas; dan 9) Dokumen-dokumen terkait lainnya. 2. Pemeriksaan dan Kepatutan Kegiatan ini berfokus pada pemeriksaan kepatutan substansi program Pemberdayaan Masyarakat yang sudah direncanakan. Di samping itu juga dilakukan penilaian terhadap pelaku dan penerima manfaat (beneficiaries) program dengan menyiapkan standar evaluasi program (kepatutan) mencakup: 1) Penilaian Efektifitas Kebijakan dan Strategi Program; 2) Penilaian Kinerja Manajemen Program; 3) Penilaian Lembaga Mitra Kerja; dan 4) Penilaian Lembaga Lokal/ Kelompok Usaha. 3. Survey dan Wawancara Mendalam (Semi dan tak terstruktur) Kegiatan ini mencakup observasi, pengumpulan data primer baik secara kualitatif maupun kuantitatif, tentang: 1) Komitmen, kebijakan dan strategi serta pengukuran kinerja pelaksanaan Program Pemberdayaan Masyarakat; 2) Keselarasan (alignment) program Pemberdayaan Masyarakat dengan rencana operasional perusahaan; 3) Tantangan dan hambatan pelaksanaan Program Pemberdayaan Masyarakat; 4) Profil kondisi masyarakat sebelum dan sesudah Arutmin beroperasi, baik dari aspek sosial, budaya, ekonomi maupun lingkungan; 5) Opini, respon, harapan dan apresiasi masyarakat terhadap Arutmin (Perception Indicators); dan 6) Dampak program yang dilaksanakan perusahaan terhadap kehidupan komunitas. 4. Focus Group Discussion (FGD) Kegiatan ini lebih menitikberatkan pada pengukuran dampak program dan pengembangan rekomendasi ke depan, dengan menghadirkan representasi dari pemangku kepentingan. Hasil dari FGD diharapkan dapat memperkuat hasil temuan di lapang sebelumnya dan sekaligus mengkristalkan rekomendasi peningkatan program ke depan, baik dari sisi pelaksanaan, kebutuhan maupun skala program. Penelitian lapang dilakukan pada tanggal 21 Maret sampai dengan 2 April 2011. Sementara penelitian data sekunder dilakukan sejak awal Maret 2011, dilakukan bersamaan dengan penelitian lapangan, dan dilanjutkan hingga pertengahan April 2011. Informan untuk penelitian terdiri dari kelompok internal dan eksternal. Kelompok internal berasal dari dalam perusahaan, terutama manajemen di Arutmin pusat dan seluruh site tambangnya serta staf pelaksana di lapangan. Sedangkan kelompok eksternal adalah kelompok penerima manfaat program pengembangan masyarakat dan mitra kerja (LSM, perguruan tinggi, pemerintah daerah dan kelembagaan lokal).

317

Site Satui. Kelompok Internal terdiri dari: Mine Manager, CDEA Superintendent, Community Development Supervisor, Community Relations Supervisor, Community Development Officer, Community Relations Officer, dan Community Development Assistant. Eksternal, meliputi: Universitas Lambung Mangkurat, LPMS, BMT Agro Banua, BMT Al Falah, YKAI, Pemerintahan Kecamatan dan Desa, Kelompok penerima manfaat program. Site Senakin. Kelompok Internal terdiri dari: Mine Manager, CDEA Superintendent, Community Development Supervisor, Community Relations Supervisor, Community Development Officer, Community Relations Officer, dan Local Community Officer serta Lembaga Pemberdayaan Perekonomian Masyarakat (LPPM). Eksternal, meliputi: Dompet Dhuafa Republika, Pemerintahan Kecamatan dan Desa, Kelompok penerima manfaat program. Site Asam-Asam. Kelompok Internal terdiri dari: Mine Manager, CDEA Superintendent, Community Relations Supervisor, Community Development Officer, Community Relations Officer, dan Local Community Officer. Eksternal, meliputi: Universitas Lambung Mangkurat, BKLH, HPMT, Pemerintahan Kecamatan dan Desa, Kelompok penerima manfaat program. Site Batulicin. Kelompok Internal terdiri dari: Mine Manager, CDEA Superintendent, Community Development Supervisor, Community Development Officer, Community Relations Officer, dan Local Community Assistant. Eksternal, meliputi: Yayasan Gada Ulin, Universitas Lambung Mangkurat, LPMD, LKD, PT CK, Pemerintahan Kecamatan dan Desa, Kelompok penerima manfaat program. Site NPLCT. Kelompok Internal terdiri dari: Port Manager, HSEC Superintendent, Environment and Community Supervisor, Community Development Officer, dan Community Relations Officer. Eksternal, meliputi: Universitas Lambung Mangkurat (Mitra Bahari), KSU Madani, Pemerintahan Daerah, Pemerintahan Kecamatan dan Desa, Kelompok penerima manfaat program. HASILKAJIAN 1. Komitmen untuk mendukung terlaksananya program CD yang unggul. Teridentifikasi ada tiga parameter yang menunjukkan bahwa perusahaan mempunyai komitmen yang tinggi untuk mendukung pencapaian program CD yang unggul, yaitu: 1) Komitmen manajemen puncak; 2) Adanya bagian organisasi/ departemen yang khusus menangani pelaksanaan program CD; dan 3)Adanya alokasi anggaran yang memadai untuk program CD. Namun perusahaan masih perlu memperkuat 2 aspek lainnya, yaitu: 1) Program CD yang terfokus sehingga pelaksanaan menjadi lebih baik 2) Penambahan kuantitas personel pelaksana program CD. Kurangnya sumberdaya manusia pelaksana Program CD. Komitmen yang tinggi dari manajemen belum diimbangi dengan pemenuhan kebutuhan sumberdaya manusia pelaksana Program CD.

318

Walaupun isu ini sudah disuarakan oleh pemangku kepentingan internal ke manajemen puncak, tapi belum pernah ditindaklanjuti secara serius. Dampak potensial dalam jangka menengah dan panjang adalah Program CD akan sulit untuk mencapai tingkat pelaksanaan yang memuaskan. Dengan kata lain, Program CD akan tetap dapat dilaksanakan, tapi dengan kualitas pelaksanaan yang standar saja. 2. Komitmen perusahaan dan penterjemahan ke bentuk program CD Terkait dengan pelaksanaan Porgram CD di lokasi, teridentifikasi 5 kesenjangan yang dapat menyebabkan program CD tidak terlaksana dengan baik: 1) Senjang kualitas SDM; 2) Senjang kuantitas SDM; 3) Senjang konsep dan strategi program; 4) Senjang konsep keberlanjutan program; dan 5) Senjang keterkaitan pilihan program CD dengan rencana penutupan tambang. Kesenjangan kualitas dan kuantitas SDM. Sebagaimana disampaikan dalam kesimpulan bahwa salah satu kekurangan untuk mencapai tingkat pelaksanaan Program CD yang memuaskan adalah kurangnya sumberdaya manusia pelaksana program. Seluruh Site Arutmin menyatakan bahwa kekurangan sumberdaya manusia menjadi kendala yang signifikan bagi pelaksanaan Program CD. Keterbatasan sumberdaya manusia menyebabkan pelaksana Program CD tidak bisa fokus merealisasikan target dan mencapai indikator kinerja serta memikirkan konsep dan keberlanjutan secara baik, karena disibukkan oleh berbagai urusan yang “lebih mendesak”. Kesenjangan konsep dan strategi program. Sebagai dampak dari tidak adanya pemetaan atas isu strategis dan pemangku kepentingan utama, tidak adanya kajian kebutuhan komunitas yang dilakukan sebelumnya, serta tidak adanya fokus program yang dirumuskan dengan baik, maka hampir seluruh Site tidak mempunyai konsep dan strategi program atas pelaksanaan Program CD. Semua Site tidak mempunyai Rencana Strategis (Strategic Plan / Master Plan) mengenai pelaksanaan Program CD secara komprehensif. Beberapa Site sudah mempunyai rencana strategis untuk program tertentu, khususnya pengembangan ekonomi lokal. Kesenjangan konsep keberlanjutan program. Akibat dari tidak adanya rencana strategis pelaksanaan Program CD, maka konsep keberlanjutan program pun tidak terdefinisikan dengan baik. Pelaksanaan program hanya mempertimbangkan dampak jangka pendek – beberapa diantaranya sudah mempertimbangkan dampak jangka menengah - dan sebatas memenuhi kewajiban sebagaimana diatur oleh peraturan pemerintah yang ada. Kesenjangan keterkaitan pilihan Program CD dengan rencana penutupan tambang. Karena tidak adanya kajian kebutuhan dan juga rencana strategis program, maka sebagian besar pilihan Program CD tidak mempertimbangkan keterkaitannya dengan rencana penutupan tambang. Di satu sisi proses koordinasi dengan pemerintah, terkait dengan prioritas program pemerintah daerah, rencana tata ruang wilayah kawasan pasca tambang serta sinkronisasi dengan program CD perusahaan juga belum secara serius dilakukan.

319

3. Program CD sebagai bagian dari pengelolaan pemangku kepentingan dan dampak operasional Program CD sebagai bagian dari manajemen pemangku kepentingan. Perusahaan tidak mempunyai dokumen mengenai pola pembinaan (engagement) dan pelibatan (involvement) pemangku kepentingan secara memadai di tingkat Korporat maupun di tingkat Site. Pola pelibatan pemangku kepentingan masih dilakukan secara sporadis berdasarkan program/proyek yang dilaksanakan, belum dilakukan dalam pola yang kontinum. Tidak adanya peta pemangku kepentingan, peta kelompok rentan dan kajian kebutuhan komunitas, menyebabkan perusahaan tidak dapat merumuskan strategi pembinaan hubungan dan pelibatan pemangku kepentingan secara tepat. Perencanaan dan pemantauan program CD harus disusun bersama pemangku kepentingan. Hal ini menunjukan hubungan antara perusahaan dan pemangku kepentingan dalam kondisi yang baik. Beberapa lokasi kerja, mendesain hubungan dengan pemangku kepentingan seperti dalam diagram berikut: Gambar 4. Diagram Hubungan Perusahaan dengan Pemangku Kepentingan

Program CD sebagai bagian manajemen dampak operasional perusahaan. Perusahaan khususnya di tingkat Site kadang salah menempatkan CD dalam konteks sebagai manajemen dampak operasional perusahaan. Dalam manajemen dampak operasional, maka urutannya adalah meminimalkan dampak negatif operasional, kemudian mengkompensasi dampak residual yang ada, dan baru terakhir memaksimalkan dampak positif keberadaan perusahaan. Studi mengidentifikasi bahwa seringkali tidak sinkron antara upaya memaksimalkan dampak positif dengan meminimalkan dampak negatif operasional. Baseline data dari social environmental impact assessment yang dimiliki belum diterjemahkan sepenuhnya dalam bentuk program sosial kemasyarakatan.

320

REKOMENDASI Berbagai isu dan tantangan yang dihadapi oleh Arutmin dalam pengelolaan Program CD pada dasarnya dapat dipecahkan dan dikelola, jika perusahaan melakukan sejumlah perbaikan baik di tingkat korporat maupun di tingkat manajemen site. Studi evaluasi ini memberikan sejumlah rekomendasi untuk membantu perusahaan dalam mengambil keputusan untuk mengelola isu dan menghadapi tantangan tersebut. 1. Melakukan review atas Kebijakan Perusahaan tentang K3, Lingkungan dan Kemasyarakatan. Kebijakan K3LK yang ada tidak lagi memadai untuk menjadi landasan bagi pelaksanaan program tanggung jawab sosial perusahaan yang lebih komprehensif, sehingga direkomendasikan untuk melakukan review atas Kebijakan K3LK dan merubah nama kebijakannya menjadi Kebijakan tentang Keselamatan, Kesehatan Kerja, Lingkungan dan Tanggung Jawab Sosial atau Kebijakan tentang Pembangunan Berkelanjutan, Keselamatan, Kesehatan Kerja, Lingkungan dan Tanggung Jawab Sosial. 2. Menjabarkan Key Performance Indicator (KPI) dari Objektif CD Secara Lebih Terukur Untuk memperbaiki manajemen program CD dan merumuskan KPI secara lebih teratur, direkomendasikan untuk mengikuti alur logika dari Sistem Manajemen program sebagaimana di bawah. Gambar 5. Sistem Manajemen Program CD

321

Tabel 1. Jenis dan dokumen pendukung manajemen program CD

322

3. Melakukan perubahan struktur organisasi sebagai respon atas perkembangan dinamika bisnis pertambangan batubara dan adanya berbagai peraturan perundangan Membentuk Komite CSR, Lingkungan dan Penutupan Tambang. Komite ini adalah organ perusahaan yang mempunyai tugas pokok dan fungsi mengawasi, memberikan nasehat, dan memberikan arahan kepada Dewan Komisaris, Dewan Direksi dan senior management lainnya, mengenai isu yang terkait dengan CSR, lingkungan dan penutupan tambang. 4. Pengelolaan program CD 1) Meningkatkan kapasitas CDO dalam manajemen program pengembangan masyarakat (perencanaan, pelaksanaan, monitoring dan evaluasi) serta kemampuan berkomunikasi dengan semua pemangku kepentingan. Direkomendasikan untuk mengikutsertakan CDO dalam program pelatihan (baik yang diselenggarakan sendiri oleh perusahaan maupun pelatihan dari pihak ketiga) secara berkelanjutan dan berjenjang, dan melakukan studi banding program CD ke perusahaan lain.; 2) Menambah kuantitas SDM pelaksana program yang memiliki kapasitas memadahi dalam pelaksanaan program pengembangan masyarakat. CDO/CRO disarankan untuk dapat mengakses data dan informasi terkait dengan perusahaan, termasuk dokumen rencana strategis/rencana induk, dokumen rencana pengembangan tambang, dokumen rencana pembebasan lahan dan sebagainya, dan terlibat langsung dalam proses bisnis perusahaan. 3) Melakukan redefinisi atas berbagai program CD, dengan tujuan untuk meningkatkan efektifitas pelaksanaan program, termasuk dampaknya ke pemangku kepentingan dan perusahaan sendiri. Adapun usulan atas redefinisi program tersebut adalah sebagaimana tabel berikut.

323

Tabel 2 Usulan redefinisi Program CD

324

4) Melakukan perbaikan atas proses dan sistem perencanaan program CD Tabel 10-1. Deskripsi Singkat Tahapan Perencanaan Program CD

325

PROSIDING TPT XX PERHAPI 2011 HAK DAN KEWAJIBAN USAHA PERTAMBANGAN BERDASARKAN UNDANG-UNDANG No.4 TAHUN 2009, TENTANG MINERAL & BATUBARA
Disusun oleh, Ir.Amirrusdi, MSi Praktisi dan penulis tentang Pertambangan ABSTRAK Sampai saat ini usaha pertambangandi Indonesia sudah mencapai lebih kurang 12.000 perusahaan, yang terdiri dari perusahaan-perusahaan seperti PT.Freeport, PT.Tambang Batubara Bukit Asam (persero), PT.Newmont, PT.Kaltim Prima Coal, PT.Aneka Tambang dan perusahaan tambang skala menengah, Koperasi, perseorangan , serta perusahaan tambang tanpa izin (PETI) Mengusahakan tambang di Indonesia sangatlah menguntungkan, karena perusahaan tidak perlu membayar pajak pertambahan nilai, sesuai dengan Undang-undang Pajak Pertambahan Nilai (PPN), dan bila diekspor tidak dikenakan bea ekspor seperti yang dikenakan pada komoditi lain, misalnya minyak kelapa sawit, kakao, dan lain-lain. Selain itu untuk pengawasan produksi, cukup dilaporkan saja oleh perusahaan kepada kementerian yang menangani urusan pertambangan ini atau kepada gubernur atau bupati/walikota sesuai dengan Undang-undang No.4 tahun2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batubara, seandainya terjadi pencemaran lingkungan, tanah longsor maka pihak perusahaan tambang sudah berdalih bahwa Analisis Mengenai Dampak Lingkungan sudah disetujui Pemerintah dan Pemerintah Daerah serta Lembaga Sosial Masyarakat dan masyarakat disekitar kegiatan. Seandainya terjadi tumpang tindih penggunaan kawasan, maka masing-masing yang berkepentingan mempunyai Undang-undang spesialis seperti Undang-undang No. 41 tahun 1999 tentang Kehutanan, UU No.51 tahun 1960 tentang larangan pemakaian tanah tanpa izin yang berhak atau kuasanya, Undang-undang No.20 tahun 1961 tentang pencabutan hak-hak atas tanah dan benda yang diatasnya dan lain sebagainya. Belum lagi di era otonomin daerah, masing-masing Gubernur, Bupati, Walikota mempunyai kewenangan untuk memajukan daerahnya masing-masing, tapi walaupun demikian semua insan dinegeri ini seharusnya kembali kepada Undang-Undang Dasar 1945 pasal 33 ayat 3 “ Bumi, air, yang terkandung didalamnya dikuasai oleh Negara untuk se-besar-besarnya kemakmuran rakyat “

326

PENENTUAN LOKASI PERTAMBANGAN Lokasi pertambangan biasanya terletak diareal hutan atau remote area atau dilepas pantai (0ff shore), sebelum menentukan suatu lokasi pertambangan, maka area tersebut di survey terlebih dahulu terutama keadaan geologinya, bahan galian/mineral apa yang dominan dapat ditambang, selain itu akses transportasi, perkiraan secara kasar cadangan mineral/batubara, kondisi geografi/topografi, keadaan penduduk lokal, jenis kegiatan yang sudah berlangsung di daerah tersebut seperti pertanian, kehutanan, perikanan dan lain sebagainya, selain itu informasi dari kelurahan/desa/kecamatan/kabupaten apakah lokasi tesebut sudah dicadangkan/diusahakan oleh kegiatan sejenis atau kegiatan lainnya, begitu juga apakah daerah ini yang termasuk dilindungi seperti hutan lindung dan lain sebagainya. PRAIZIN LOKASI Seandainya calon pengusaha/investor pertambangan memilih lokasi yang berstatus hutan, maka supaya tidak terjadi protes dari masyarakat atau melanggar peraturan dari pemerintah sebagai instansi yang mengeluarkan izin maka harus diketahui fungsi hutan antara lain: *Sebagai 1. Pengatur iklim dan 2. Pengatur cuaca: Supaya bila lokasi ini di eksploitasi tidak menyebabkan para aktivis lingkungan akan melakukan demo/protes, yang dapat mengakibatkan kegiatan ini ditinjau/ditutup. *Sebagai 3. Pengatur suplai air, 4.Penyimpanan air: Banyak sekali usaha pertambangan dianggap sebagai penyebab langkanya air tanah, karena untuk mengambil mineral/batubara diperlukan penggalian dengan kedalaman lebih kurang 100 meter dengan lokasi yang luas sesuai cadangannya . Dimana sebelumnya hutan yang terdapat dipermukaan tanah dibuang/di landclearing, akibatnya daerah tersebut menjadi langka air dan akibatnya air tanahnya akan turun mengikuti dalamnya penggalian tambang tersebut. *Sebagai 5. Pengendali erosi, 6. Pengendali formasi tanah: Karena akar dari pepohonan, tumbuh-tumbuhan di hutan maka erosi tidak akan terjadi, dimana akar tanaman sebagai perekat tanah antar formasi Banyak lagi fungsi hutan lainnya seperti: 1. Pengendali siklus nutrisi 2. Pengelola limbah 3. Sumber bahan makanan 4. Sumber bahan baku industri 5. Sumber bahan obat-obatan 6. Sumber mata pencaharian masyarakat disekitar hutan 7. Tempat berlindung dan berkembang biak hewan 8. Mencegah intrussi air laut

327

9. Memelihara kesuburan tanah 10. Tempat pengawetan keanekaragaman tumbuhan dan satwa 11. Tempat wisata berburu Se-kurang-kurangnya ada 17 point kegunaan hutan yang harus diperhatikan bila membuka usaha pertambangan di lokasi tambang. Amirrusdi ”Pertambangan hak dan Kewajiban”ISBN 979-979-99810-6-6, 2011-06-16 PENGUASAAN MINERALDAN BATUBARA Mineral dan Batubara sebagai sumber daya alam yang tak terbarukan merupakan kekayaan nasional yang dikuasai oleh negara untuk sebesar-besar kesejahteraan rakyat dan diselenggarakan oleh pemerintah dan/atau pemerintah daerah dan untuk kepentingan nasional , pemerintah setelah berkonsultasi dengan Dewan Perwakilan Rakyat RI dapat menetapkan kebijakan penggunaan mineral dan/atau batubara untuk kepentingan dalam negeri dan kepentingan nasional dapat dilakukan dengan pengendalian produksi dan ekspor (.....diskusi .... bea ekspor ) (..... diskusi Domestic Market Obligation ). Pemerintah mempunyai kewenangan untuk menetapkan jumlah produksi tiap-tiap komoditas per tahun setiap provinsi, dan pemerintah daerah wajib mematuhi ketentuan yang ditetapkan oleh pemerintah ( diskusi ......produksi batubara tahun 2011, akan mencapai 330 juta ton, dan 80% produk ini diekspor ( ....diskusi... PLN akan membeli batubara untuk pembangkit listrik ). Didalam Undang- Undang ini pemda berhak mengatur untuk menetapkan jumlah produksi, apabila Pemerintah Daerah tidak mematuhi ketentuan jumlah yang ditetapkan, maka dapat dikenakan sanksi administratif berupa penarikan sementara kewenangan atas hak pengelolaan usaha pertambangan Mineral dan Batubara tersebut. PRAIZIN LOKASI Dalam pra izin lokasi ini, calon pengusaha tambang harus benar-benar memastikan apakah lokasi yang dipilih tidak sedang dieksploitasi dalam artikata sudah memiliki izin dari pihak yang berwenang, baik berupa sertifikat atau izin-izin lainnya, bila hal ini diketahui lebih awal maka pendekatan secara kekerabatan lebih baik dilakukan dengan maksud win-win solution. PENETAPAN WILAYAH IZIN USAHA PERTAMBANGAN (WIUP) Kewenangan mengeluarkan WIUP diberikan oleh: 1. Pemerintah 2. Pemerintah Daerah Provinsi 3. Pemerintah Daerah Kabupaten 4. Pemerintah Daerah Kota

328

ad. 1. Kewenangan Pemerintah Pemberian Izin Usaha Pertambangan yang berada pada lintas wilayah provinsi atau wilayah laut lebih dari 12 mil dari garis pantai. ad. 2. Kewenangan Pemerintah Provinsi Pemberian Izin Usaha Pertambangan yang berada pada lintas wilayah Kabupaten/Kota dan/atau wilayah laut sampai 4 s/d 12 mil dari garis pantai. ad.3. Kewenangan Pemerintah Kabupaten/Kota Pemberian Izin Usaha Pertambangan atau Izin Pertambangan Rakyat (IPR) di wilayah Kabupaten/Kota dan/atau wilayah laut sampai dari 4 mil. Dalam pemberian Izin Usaha Pertambangan (IUP) atau Izin Usaha Pertambangan Rakyat (IUPR) , diberikan oleh pemerintah setelah adanya penetapan Wilayah Pertambangan (WP) yang sebelumnya telah dikoordinasikan terlebih dahulu dengan Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) dan WP ini adalah bagian dari tataruang nasional yang merupakan landasan bagi penetapan kegiatan pertambangan, bila kegiatan Wilayah Pertambangan Rakyat (WPR) maka ditetapkan oleh Bupati/Walikota setelah terlebih dahulu berkonsultasi dengan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah yang bersangkutan.Adapun kriteria untuk menetapkan WPR yaitu: a. Mempunyai cadangan mineral sekunder yang terdapat di sungai dan/atau diantara tepi dan tepi sungai ( daerah akumulasi pengayaan mineral sekunder dalam suatu meander sungai ) b. Mempunyai cadangan mineral primer logam atau batubara dengan kedalaman maksimal dua puluh lima meter c. Endapan teras, dataran banjir, dan endapan sungai purba d. Luas maksimal WPR adalah dua puluh lima hektare e. Menyebutkan jenis komoditas yang akan ditambang, f. Merupakan wilayah atau tempat kegiatan tambang rakyat yang sudah dikerjakan sekurang-kurangnya lima belas tahun. Penetapan Wilayah Usaha Pertambangan (WUP) dilakukan oleh pemerintah setelah berkoordinasi dengan pemerintah daerah dan disampaikan secara tertulis kepada DPR, koordinasi yang dilakukan oleh pemerintah daerah (pemda) yang bersangkutan berdasarkan data dan informasi yang dimiliki oleh pemerintah dan pemerintah daerah, luas dan batas Wilayah Izin Usaha Pertambangan (WIUP) Mineral dan Batubara (MINERBA) ditetapkan oleh pemerintah berkoordinasi dengan pemda berdasarkan kriteria yang dimiliki oleh pemerintah . Kriteria untuk menetapkan satu atau beberapa WIUP dalam satu WIUP antara lain: a. Letak geografis b. Kaidah konservasi c. Daya dukung lindungan lingkungan d. Optimalisasi sumber daya mineral dan/atau batubara

329

e. Tingkat kepadatan penduduk USAHAPERTAMBANGAN Usaha pertambangan dikelompokkan atas pertambangan mineral dan batubara. Pertambangan mineral terdiri dari: a. Pertambangan mineral RadioAktiv b. Pertambangan mineral Logam c. Pertambangan mineral Bukan Logam d. Pertambangan Batubara Usaha pertambangan dilaksanakan dalam bentuk; a. Izin Usaha Pertambangan (IUP) b. Izin Pertambangan Rakyat c. Izin Usaha Pertambangan Khusus Dalam merealisasikan usaha pertambangan dilakukan secara bertahap yaitu: 1. Izin Usaha Pertambangan Eksplorasi yang terdiri dari kegiatan ( Penyelidikan Umum; Eksplorasi; Studi Kelayakan ) 2. Izin Usaha Pertambangan Operasi Produksi yang terdiri dari kegiatan ( Konstruksi; Penambangan; Pengolahan, Pemurnian, Pengangkutan dan Penjualan, serta sarana pengendalian dampak lingkungan sesuai dengan hasil studi kelayakan ) Penyelidikan Umum : adalah kegiatan untuk mengetahui kondisi geologi regional dan indikasi adanya mineralisasi. Eksplorasi: adalah kegiatan untuk memperoleh informasi secara terperinci dan teliti tentang lokasi, bentuk, dimensi, sebaran, kualitas, dan sumber daya terukur dari bahan galian , serta informasi mengenai lingkungan sosial dan lingkungan hidup. Studi Kelayakan : adalah kegiatan untuk memperoleh informasi secara rinci seluruh aspek yang berkaitan untuk menentukan kelayakan ekonomis dan teknis usaha pertambangan, termasuk analisis mengenai dampak lingkungan ( amdal ) serta perencanaan pasca tambang Konstruksi : adalah kegiatan untuk melakukan pembangunan seluruh fasilitas operasi produksi, termasuk pengendalian dampak lingkungan. : adalah kegiatan untuk memproduksi mineral dan/atau batubara dan mineral ikutannya.

Penambangan

Pengolahan & Pemurnian: adalah kegiatan untuk meningkatkan mutu mineral dan/atau

330

batubara serta untuk memanfaatkan dan memperoleh mineral ikutannya. Pengangkutan : adalah kegiatan usaha pertambangan untuk memindahkan mineral dan/atau batubara dari daerah tambang dan/atau tempat pengolahan dan pemurnian sampai tempat penyerahan. : adalah kegiatan usaha pertambangan untuk menjual hasil pertambangan mineral atau batubara.

Penjualan

Jadi untuk merealisasikan kegiatan suatu bahan tambang dari dalam perut bumi sampai menjadi suatu bahan/komoditi yang dapat dimanfaatkan dalam kehidupan diperlukan perjalanan panjang yang tadinya belum bernilai menjadikan nilainya bertambah , dengan pekerjaan awal yaitu penyelidikan umum, eksplorasi, studi kelayakan, konstruksi, penambangan, pengolahan, pemurnian,pengangkutan barulah dilakukan penjualan. Adanya UURI No.8 tahun 1983 jo. UURI No.11 tahun 1994 jo. UURI No.18 tahun 2000 tentang Pajak Pertambahan Nilai ( PPN) Barang dan Jasa dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah pasal 4A ayat (2) Penetapan jenis barang yang tidak dikenakan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) didasarkan atas kelompok barang a. Barang hasil pertambangan atau hasil pengeboran yangdiambil langsung dari sumbernya Mungkin Dewan Perwakilan Rakyat dan Pemerintah/instansi terkait kurang memahami usaha kegiatan pertambangan yang menyatakan bahwa barang hasil pertambangan nilainya tidak bertambah sejak diambil dari dalam perut bumi sampai dapat dijual kepada konsumen, padahal dalam melakukan usaha eksplorasi sudah dilakukan pengeboran dan pada saat melakukan konstruksi juga dilakukan landclearing dan pengupasan permukaan tanah, yang dilanjutkan dengan penambangan yang pertama kali dilakukan adalah landclearing, pengupasan tanah top soil, pengupasan, pemuatan tanah penutup (over burden) yang dilanjutkan dengan pengangkutannya, selanjutnya pengambilan barang tambang (mineral atau batubara ), digali, dimuat dan diangkut untuk Pengolahan dan Pemurnian, karena bahan galian tersebut masih tercampur dengan kotoran-kotoran ( impurities ) dan disesuaikan baik kadar atau besaran butirannya berdasarkan permintaan pasar/konsumen, adapun jangka waktu dari tahap eksplorasi sampai penambangan berkisar antara 3 sampai 8 tahun. Bila PPN 10% dikenakan pada hasil pertambangan karena bahan tambang adalah Unrenewable ( tidak dapat diperbaharui lagi ), sebagai contoh: Batubara diperkirakan produksi tahun 2011 sebesar 300.000.000 ton dengan harga $120 per ton, maka pemerintah akan mendapat dana sebesar = 10% x 300.000.000 ton x $ 120 per ton = $3,600,000,000 ( $3,6 Milyar).

331

PPN ini baru hanya dari bahan tambang batubara saja, belum lagi dari hasil pertambangan lainnya seperti, Emas, Tembaga, Perak, Timah, Pasir besi, Bauksit, Pasir laut, Pasir silika, bahan Radio Aktiv ,Nikkel, Mangan, dan lain sebagainya, kiranya pemerintah tidak perlu lagi mengekspor Tenaga Kerja, didalam negeri dapat banyak diciptakan lapangan kerja yang produktif, selain itu harga bahan bakar minyak dan tarif listrik serta jalan tol dapat digratiskan kepada rakyat Indonesia hanya dengan menerapkan PPN dari bahan tambang. Izin Usaha Pertambangan diberikan oleh: a. Bupati/Walikota apabila WIUP berada didalam satu wilayah kabupaten/kota b. Gubernur apabila WIUP berada pada lintas wilayah kabupaten/kota dalan satu provinsi setelah mendapat rekomendasi dari bupati/walikota setempat sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan c. Menteri apabila WIUP berada pada lintas wilayah propinsi setelah mendapat rekomendasi dari gubernur dan bupati/walikota setempat sesuai dengan ketentuan peraturan perundangundangan. Izin Usaha Pertambangan diberikan kepada: a. Badan Usaha ( termasuk BUMN dan BUMD ) b. Koperasi dan c. Perseorangan Izin Usaha Pertambangan Eksplorasi ( IUPE ) dapat diberikan setelah memenuhi ketentuan wajib se-kurang-kurangnya: a. Nama perusahaan b. Lokasi dan luas wilayah c. Rencana umum tata ruang d. Jaminan kesungguhan e. Modal investasi f. Perpanjangan waktu tahap kegiatan g. Hak dan kewajiban pemegang IUP h. Jangka waktu berlakunya tahap kegiatan i. Jenis usaha yang diberikan j. Rencana pengembangan dan pemberdayaan masyarakat disekitar wilayah pertambangan k. Perpajakan l. Penyelesaian perselisihan m. Iuran tetap dan iuran eksplorasi n. Analisis mengenai dampak lingkungan. IUP Eksplorasi ini hanya diberikan untuk satu jenis Mineral atau Batubara saja . #Jangka waktu IUP Eksplorasi Mineral Logam diberikan paling lama delapan tahun. (Penyelidikan Umum satu tahun, dapat diperpanjang satu kali selama satu tahun; Eksplorasi

332

tiga tahun; dapat diperpanjang 2 kali masing-masing satu tahun . #Jangka waktu IUP Eksplorasi Mineral bukan Logam diberikan paling lama tiga tahun , dan Mineral bukan logam jenis tertentu ( bt.gamping, intan, bt.mulia ) jangka waktu 7 tahun #Jangka waktu IUPEksplorasi batuan dapat diberikan paling lama 3 tahun. #Jangka waktu IUPEksplorasi Batubara dapat diberikan paling lama 7 tahun. Pemegang IUP Eksplorasi yang akan menjual Minerba yang tergali dapat mengajukan izin sementara kepada Menteri, Gubernur atau Bupati/Walikota sesuai kewenangannya dan dikenakan iuran produksi. Adapun untuk Izin Usaha Pertambangan Operasi Produksi ( IUPOP ) dapat diberikan dengan ketentuan wajib yang harus dipenuhi se-kurang-kurangnya: a. Nama perusahaan b. Luas wilayah c. Lokasi pertambangan d. Lokasi pengolahan dan pemurnian e. Pengangkutan dan penjualan f. Modal investasi g. Jangka waktu berlakunya Izin Usaha Pertambangan h. Jangka waktu tahap kegiatan i. Penyelesaian masalah pertanahan j. Lingkungan hidup termasuk reklamasi dan pasca tambang k. Dana jaminan reklamasi dan pasca tambang l. Perpanjangan Izin Usaha Pertambangan m. Hak dan kewajiban pemegang IUP n. Rencana pengembangan dan pemberdayaan masyarakat di sekitar wilayah pertambangan o. Perpajakan p. Penermaan negara bukan pajak (PNBP) yang terdiri atas Iuran tetap dan Iuran produksi q. Penyelesaian perselisihan r. Keselamatan dan Kesehatan Kerja s. Konservasi Mineral atau Batubara t. Pemanfaatan barang, jasa, dan teknologi dalam negeri u. Penerimaan kaidah keekonomian dan keteknikan pertambangan yang baik v. Pengembangan tenaga kerja Indonesia w. Pengelolaan data Mineral atau Batubara x. Penguasaan . pengembangan, dan penerapan teknologi pertambangan Mineral atau Batubara

333

ü ü ü

ü ü

Jangka waktu IUP Operasi Produksi Mineral Logam paling lama 20 tahun dan dapat diperpanjang 2 kali, masing-masing 10 tahun. Jangka waktu IUP Operasi Produksi Mineral bukan Logam, paling lama 10 tahun dan dapat diperpanjang 2 kali, masing-masing 5 tahun. Jangka waktu IUP Operasi Produksi Mineral bukan logam jenis tertentu ( bt.gamping; intan; bt.mulia ), paling lama 20 tahun dan dapat diperpanjang 2 kali, masing-masing 10 tahun. Jangka waktu IUP Operasi Produksi Batuan, paling lama 5 tahun dan dapat diperpanjang 2 kali, masing-masing 5 tahun. Jangka waktu IUPOperasi Produksi Batubara, paling lama 20 tahun dan dapat diperpanjang 2 kali, masing-masing 10 tahun.

LUASAREALPERTAMBANGAN Luas areal pertambangan, untuk pemegang IUP Eksplorasi dan IUP Operasi Produksi untuk satu jenis mineral saja dan dapat diberikan ke pihak lain setelah ada pertimbangan pendapat dari pemegang IUP pertama yaitu: # IUP Eksplorasi Mineral Logam diberikan WIUP dengan luas paling sedikit 5000 Hektare dan paling banyak 100.000 Hektare. # IUP Operasi Produksi Mineral Logam diberikan WIUP dengan luas paling banyak 25.000 Hektare. # IUP Eksplorasi Mineral Bukan Logam diberikan WIUP dengan luas berkisar antara 500 s/d 25.000 Hektare. # IUP Operasi Produksi Mineral Bukan Logam diberikan WIUP dengan luas paling banyak 5.000 Hektare. # IUP Eksplorasi Batuan diberikan WIUP dengan luas berkisar antara 5 s/d 5.000 Hektare. # IUP Operasi Produksi Batuan diberikan WIUP dengan luas paling banyak 1.000 Hektare. # IUP Eksplorasi Batubara diberikan WIUP dengan luas berkisar antara 5.000 s/d 50.000 Hektare . # IUP Operasi Produksi Batubara diberikan WIUP dengan luas paling banyak 15.000 Hektare . IZIN PERTAMBANGAN RAKYAT Izin pertambangan rakyat dikeluarkan pada prinsip filosofinya adalah untuk membina pertambangan yang telah dilakukan oleh rakyat sejak lama yang menggunakan alat tradisionil seperti cangkul, blencong, alat pelimbang dan lain sebagainya, untuk menyambung kehidupan se-hari-hari rakyat yang bermukim disekitar sumber daya alam atau mineral atau batubara yang terdapat disekitar pemukiman penduduk tersebut, sehingga alam atau lingkungan hidup tidak akan tercemar, tidak akan terjadinya longsor, bukan sebaliknya alat yang digunakan berupa

334

traktor, bulldozer, back hoe, truk yang berukuran 2 ton keatas. Persyaratan izin Pertambangan Rakyat diajukan oleh pemohon yang diutamakan kepada penduduk setempat, baik perseorangan maupun kelompok masyarakat dan/atau petani, kepada Bupati/Walikota, yang dapat juga kewenangannya dilimpahkan kepada Camat sesuai dengan ketentuan peratuaran per-undang-undangan . Luas wilayah untuk satu IPR dapat diberikan kepada: a. Perseorangan maximum 1 Hektare b. Kelompok masyarakat maximum 5 Hektare c. Koperasi maximum 10 Hektare Adapun dalam pembinaannya Pemerintah kabupaten/Pemerintah kota wajib melakukan pembinaan di bidang pengusahaan, teknologi pertambangan, permodalan,dan pemasaran untuk meningkatkan kemampuan usaha pertambangan rakyat dan pemberdayaan daerah, selain itu harus bertanggung jawab terhadap pengamanan teknis yang meliputi: a. Keselamatan dan kesehatan kerja b. Pengelolaan lingkungan hidup dan c. Pasca tambang IZIN USAHAPERTAMBANGAN KHUSUS ( IUPK ) Izin usaha pertambangan ini diberikan oleh Menteri dengan memperhatikan kepentingan daerah dalam rangka pemberdayaan daerah, persyaratan untuk diberikannya IUPK sama dengan persyaratan seperti IUP Mineral Batubara. · · · · Luas satu WIUPK Eksplorasi Mineral Logam max. 100.000 Hektare dengan waktu maximum 8 tahun Luas satu WIUPK Operasi Produksi Mineral Logam max. 25.000 Hektare dengan waktu maximum 20 tahun dengan perpanjangan 2 kali 10 tahun. Luas satu WIUPK Eksplorasi Batubara max. 50.000 Hektare, dengan waktu maximum 7 tahun. Luas satu WIUPK Operasi Produksi Batubara max. 15.000 Hektare, dengan waktu dengan waktu maximum 20 tahun dengan perpanjangan 2 kali 10 tahun.

Pemegang IUP dan IUPK berhak memiliki Mineral, termasuk mineral ikutannya, atau batubara yang telah terproduksi apabila telah memenuhi iuran Eksplorasi atau iuran Produksi Selain itu pemegang IUP dan IUPK tidak boleh memindahkan IUP dan IUPKnya kepada pihak lain dan dalam pengalihan kepemilikan dan/ atau saham di bursa saham , hanya dapat

335

dilakukan dengan syarat: Harus memberitahu kepada Menteri, Gubernur atau Bupati/Walikota sesuai dengan kewenangannya dan sepanjang tidak bertentangan dengan ketentuan peraturan perundangundangan. HAK PEMEGANG IZIN USAHAPERTAMBANGAN Pemegang usaha pertambangan dijamin hak nya untuk melakukan usaha pertambangan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. KEWAJIBAN PEMEGANG IZIN USAHAPERTAMBANGAN Pemegang izin usaha pertambangan wajib: a. Menetapkan kaidah teknik pertambangan yang baik b. Mengelola keuangan sesuai dengan sistim akuntansi Indonesia c. Meningkatkan nilai tambah sumber daya mineral dan/atau batubara d. Melaksanakan pengembangan dan pemberdayaan masyarakat setempat e. Mematuhi batas toleransi daya dukung lingkungan. Dalam penerapan kaidah teknik pertambangan yang baik ( good mining practice ), pemegang izin usaha pertambangan wajib melaksanakan: a. Ketentuan keselamatan dan kesehatan kerja pertambangan b. Keselamatan operasi pertambangan c. Pengelolaan dan pemantauan lingkungan pertambangan, termasuk kegiatan reklamasi dan pasca tambang d. Upaya konservasi sumber daya mineral dan batubara e. Pengelolaan sisa tambang ( antara lain tailing dan limbah batubara ) dari suatu kegiatan usaha pertambangan dalam bentuk padat, cair , atau gas sampai memenuhi standar baku mutu lingkungan sebelum dilepas ke media lingkungan. Selain itu pemegang izin usaha pertambangan wajib menjamin penerapan standar dan baku mutu lingkungan sesuai dengan karakteristik suatu daerah dan wajib menjaga kelestarian fungsi dan daya dukung sumber daya air yang bersangkutan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan ( karena usaha pertambangan pada sumber air dapat mengakibatkan perubahan morfologi sumber air, baik pada kawasan hulu maupun hilir ) (....diskusi...... beberapa usaha pertambangan di Indonesia yang melakukan pembuangan sisa tambang kedalam palung laut atau mengorbankan sungai sebagai tempat pembuangan sisa tambang ) Disamping itu pemegang izin usaha pertambangan wajib: a. Menyerahkan rencana reklamasi dan rencana pasca tambang pada saat mengajukan permohonanizin usaha peratambangan operasi/Produksi

336

b.

Pelaksanaan reklamasi dan kegiatan pasca tambang dilakukan sesuai dengan peruntukan lahan pasca tambang Menyediakan dana jaminan reklamasi dan dana jaminan pasca tambang ( Menteri, Gubernur, atau Bupati/Walikota sesuai dengan kewenangannya dan dapat menetapkan pihak ketiga untuk melaksanakan pekerjaan tersebut , hal ini diberlakukan apabila pemegang izin pertambangan tidak melakukan sesuai dengan rencana yang telah disetujui )

c.

Kewajiban meningkatkan nilai tambah sumber daya mineral dan/atau batubara dalam melaksanakan penambangan dan pemurnian , serta pemanfaatan mineral dan batubara termasuk mineral ikutannya, oleh karena itu maka izin usaha pertambangan operasi produksi diwajibkan melakukan pengolahan dan pemurnian hasil penambangan di dalam negeri, dan dapat melakukan pengolahan dan pemurnian dari pemegang izin usaha pertambangan lainnya didalam negeri dengan harapan dapat meningkatkan dan mengoptimalkan nilai tambang dari produk,serta tersedianya bahan baku industri, penyerapan tenaga kerja, dan peningkatan penerimaan negara. Dalam melakukan pengolahan dan pemurnian , pemegang izin usaha pertambangan dapat melakukan kerja sama dengan badan usaha, koperasi atau perseorangan yang telah mendapat IUP Operasi Produksi yang telah dikeluarkan oleh Menteri, Gubernur, Bupati/Walikota sesuai dengan kewenangannya dan pemegang izin usaha pertambangan dilarang melakukan pengolahan dan pemurnian dari hasil tambang yang tidak memiliki IUP, IPR atau IPK, (......diskusi.....kasus smelter timah di Bangka yang melakukan kegiatan pemurnian bijih timah menjadi timah balok ) Untuk mendukung dan menumbuhkembangkan kemampuan nasional dan daerah setempat maka Pemegang izin usaha pertambangan harus mengutamakan pemanfaatan tenaga kerja setempat, barang dan jasa dalam negeri serta dalam melakukan kegiatan operasi produksi wajib mengikutsertakan pengusaha lokal serta wajib menyusun program pengembangan dan pemberdayaaan masyarakat ( Corporate Social Responsibility ) yang sebelumnya dikonsultasikan terlebih dahulu kepada Pemerintah, Pemerintah Daerah , dan Masyarakat ( Community Development). Sebagai pertanggungjawaban secara administrasi maka pemegang izin usaha pertambangan wajib memberikan laporan tertulis secara berkala atas rencana kerja dan pelaksanaan kegiatan kepada Menteri, Gubernur, atau Bupati/Walikota sesuai dengan kewenangannya .

337

DIVESTASI Izin usaha pertambangan yang sahamnya dimiliki oleh asing berproduksi wajib melakukan divestasi saham kepada: 1. Pemerintah 2. Pemerintah Daerah 3. Badan Usaha Milik Negara 4. Badan Usaha Milik Daerah 5. Badan Usaha Swasta Nasional setelah 5 ( lima ) tahun

PENGHENTIAN SEMENTARA IZIN USAHAPERTAMBANGAN Izin usaha pertambangan dapat dihentikan sementara dengan tidak mengurangi masa berlaku izin usaha pertambangan apabila terjadi : a. Keadaan kahar seperti perang, kerusuhan, pemberontakan, epidemi, gempa bumi, banjir, kebakaran, atau bencana alam. b. Keadaan yang menghalangi sehingga menimbulkan penghentian sebagian atau seluruh kegiatan pertambangan seperti blokade, pemogokan, perselisihan buruh atau peraturan perundang-undangan yang dilanggar oleh perusahaan tambang. Penghentian sementara disampaikan kepada Menteri, Gubernur, Bupati/Walikota sesuai dengan kewenangannya diterima atau ditolak dengan jangka waktu paling lama 30 hari yang disertai alasannya. c. Apabila kondisi daya dukung lingkungan wilayah yang tidak dapat menanggung beban kegiatan operasi produksi diwilayah tersebut seperti tercemarnya daerah aliran sungai, aliran laut, rusaknya tanah . Penghentian dapat dilakukan oleh Inspektur Tambang atau atas permohonan masyarakat kepada Menteri, Gubernur, Bupati/Walikota. Jangka waktu penghentian sementara diberikan paling lama 1 tahun dan dapat diperpanjang untuk 1 kali selama 1 tahun. BERAKHIRNYAIZIN USAHAPERTAMBANGAN Izin usaha pertambangan akan berakhir karena: a. Dikembalikan: pemegang izin menyerahkan secara tertulis kepada pemberi izin, disertai dengan alasan yang jelas dan pengembalian disetujui setelah dipenuhi semua kewajiban dari pemegang izin. b. Dicabut : apabila pemegang izin tidak memenuhi kewajiban yang ditetapkan dalam izin serta peraturan per-undang-undangan, atau melakukan tindak pidana sebagaimana dimaksud dalam undang-undang ini atau dinyatakan pailit . c. Habis masa berlakunya, dan pemegang izin harus menyelesaikan kewajibannya sesuai dengan izinnya seperti; reklamasi, menyerahkan data yang diperoleh selama kegiatan yang sudah berlangsung .

338

Izin yang sudah berakhir dapat ditawarkan pada badan usaha, koperasi atau perseorangan melalui mekanisme sesuai dengan ketentuan dalam undang-undang ini. PENDAPATAN NEGARADAN DAERAH Walaupun produksi galian tambang adalah bahan yang tidak dapat diperbaiki lagi ( unrenewable ) seperti hasil pertanian, kehutanan, kenyataannya pemegang izin hanya wajib membayar pendapatan negara dan pendapatan daerah yang terdiri atas penerimaan pajak dan penerimaan negara bukan pajak: Penerimaan pajak terdiri atas: a. Pajak-pajak yang menjadi kewenangan pemerintah ( bukan PPN )?? b. Bea masuk dan cukai ( tidak termasuk Bea ekspor ) ?? Penerimaan negara bukan pajak terdiri atas: a. Iuran tetap b. Iuran eksplorasi c. Iuran produksi d. Kompensasi data informasi Pendapatan daerah terdiri atas: a. Pajak daerah b. Retribusi daerah c. Pendapatan lain yang syah berdasarkan ketentuan peraturan perundang – undangan. PENGGUNAAN TANAH UNTUK KEGIATAN USAHAPERTAMBANGAN · · Hak atas WIUP, WPR atau WIUPK tidak meliputi hak atas tanah permukaan bumi Kegiatan usaha pertambangan tidak dapat dilaksanakan pada tempat yang dilarang untuk melakukan kegiatan usaha pertambangan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang – undangan , misal: Hutan lindung Pemegang IUP atau IUPK Eksplorasi hanya dapat melaksanakan kegiatannya setelah mendapat persetujuan dari pemegang hak atas tanah, yaitu penyelesaian lahan-lahan yang terganggu oleh kegiatan eksplorasi seperti pengeboran , parit uji, dan pengambilan sample. Pemegang IUP atau IUPK sebelum melakukan kegiatan operasi produksi wajib menyelesaikan hak atas tanah dengan pemegang hak sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan dan penyelesaian hak atas tanah dapat dilakukan secara bertahap sesuai dengan kebutuhan atas tanah oleh pemegang izin pertambangan, setelah menyelesaikan hak atas tanah tersebut maka dapat diberikan hak atas tanah sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan dan hak izin pertambangan tersebut

·

·

339

bukan merupakan pemilikan hak atas tanah. PEMBINAAN DAN PERTAMBANGAN PENGAWASAN PELAKSANAAN KEGIATAN USAHA

Pembinaan terhadap penyelenggaraan pengelolaan usaha pertambangan yang dilaksanakan oleh pemerintah provinsi dan pemerintah kabupaten/kota dilakukan oleh Menteri sesuai dengan kewenangannya meliputi: a. Pemberian pedoman dan standar pelaksanaan pengelolaan usaha pertambangan b. Pemberian bimbingan, supervisi, dan konsultansi c. Pendidikan dan pelatihan d. Perencanaan, penelitian, pengembangan, pemantauan, dan evaluasi pelaksanaan penyelenggaraan usaha pertambangan dibidang mineral dan batubara. Menteri dapat melimpahkan kepada Gubernur untuk melakukan pembinaannya yang dilaksanakan oleh pemerintah kabupaten/kota, secara hierarkis Menteri, Gubernur, Bupati/Walikota sesuai kewenangannya bertanggung jawab melakukan pembinaan atas pelaksanaan kegiatan usaha pertambangan yang dilakukan oleh pemegang IUP, IPR, atau IUPK Pengawasan terhadap penyelenggaraan pengelolaan usaha pertambangan yang dilaksanakan oleh pemerintah provinsi dan pemerintah kabupaten/kota dilakukan oleh Menteri sesuai dengan kewenangannya meliputi: a. Teknis pertambangan b. Pemasaran c. Keuangan d. Pengelolahan data mineral dan batubara e. Konservasi sumber daya mineral dan batubara f. Keselamatan dan Kesehatan kerja pertambangan g. Keselamatan operasi pertambangan.....(diskusi....inspektur tambang) h. Pengelolaan lingkungan hidup, reklamasi, dan pasca tambang ...(diskusi) i. Pemanfaatan barang, jasa, teknologi, dan kemampuan rekayasa dan rancang bangun dalam negeri j. Pengembangan tenaga kerja teknis pertambangan k. Pengembangan dan pemberdayaan masyarakat setempat (diskusi....CSR) l. Penguasaan , pengembangan, dan penerapan teknologi pertambangan m. Kegiatan-kegiatan lain di bidang kegiatan usaha pertambangan yang menyangkut kepentingan umum n. Pengelolaan IUP atau IUPK dan o. Jumlah, jenis, dan mutu hasil usaha pertambangan

340

Pengawasan Teknis Pertambangan: Konservasi sumber daya Minerba; Keselamatan dan Kesehatan Kerja Pertambangan; Keselamatan operasi pertambangan; Pengelolaan lingkungan hidup, reklamasi, dan pasca tambang; Penguasaan, pengembangan, dan penerapan teknologi pertambangan. sesuai dengan ketentuan peraturan perundang;undangan. dilakukan oleh inspektur tambang, bila pemerintah daerah propinsi, pemerintah daerah kabupaten/kota belum mempunyai inspektur tambang, Menteri dapa menugaskan inspektur tambang yang sudah diangkat untuk melaksanakan pembinaan dan pengawasan tesebut. Dalam hal pelaporan, Gubernur dan Bupati/Walikota wajib melaporkan pelaksanaan usaha pertambangan di wilayah nya masing-masing se-kurang-kurangnya sekali dalam 6 bulan, dan pemerintah dapat memberikan teguran kepada pemerintah daerah apabila dalam pelaksanaan kewenangannya tidak sesuai dengan ketentuan UURI Nomor 4 tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batubara dan ketentuan peraturan perundang-undangan lainnya. PERLINDUNGAN MASYARAKAT Masyarakat yang terkena dampak negatif langsung dari kegiatan usaha pertambangan berhak untuk: a. Memperoleh ganti rugi yang layak akibat kesalahan dalam kegiatan pertambangan b. Mengajukan gugatan kepada pengadilan terhadap kerugian akibat pengusahaan pertambangan yang menyalahi ketentuan UU SANKSI ADMINISTRATIF Menteri, Gubernur, atau Bupati/Walikota sesuai dengan kewenangannya berhak memberikan sanksi administratif kepada pemegang IUP, IPR atau IUPK atas pelanggaran UU ini, saksi dapat berupa: a. Peringatan tertulis b. Penghentian sementara sebagian atau seluru kegiatan eksplorasi atau produksi dan atau c. Pencabutan IUP, IPR atau IUPK, sesuai dengan ketentuan peraturan dan perundangundangan yang berlaku. Dalam hal Kontrak Karya (KK) dan Perjanjian Karya Pengusahaan Pertambangan Batubara ( PKP2B) yang telah ada sebelum UU ini diundangkan, tetap diberlakukan jangka waktunya sampai berakhirnya kontrak / perjanjian tersebut, tapi pasal –pasal dalam KK dan PKP2B tersebut harus disesuaikan se-lambat-lambatnya satu tahun sejak UU ini di undangkan ( sudah berbentuk Izin Usaha Pertambangan /IUP), sejak tanggal 12 Januari 2010, kecuali mengenai penerimaan negara. Selain itu pemegang KK yang sudah berproduksi wajib melakukan pemurnian, selambat-lambatnya 5 ( lima ) tahun sejak UU ini di undangkan , yaitu: (sejak tanggal 12 Januari 2014 ).

341

KETENTUAN PIDANA # Setiap orang yang melakukan usaha pertambangan tanpa IUP, IPR atau IUPK, dipidana kurungan penjara maximum 10 tahun dan denda Rp 10 M. Pemegang izin yang dengan sengaja menyampaikan laporan tidak benar/palsu, dipidana kurungan penjara maximum 10 tahun dan denda Rp 10 M. Setiap orang yang melakukan eksplorasi tanpa memiliki IUP, atau IUPK, dipidana kurungan penjara maximum 1 tahun dan denda Rp 200 juta. Setiap orang yang mempunyai IUP Eksplorasi tapi melakukan kegiatan produksi , dipidana kurungan penjara maximum 5 tahun dan denda Rp 10 M. operasi

#

#

#

#

Setiap orang yang mempunyai IUP/IUPK operasi produksi yang menampung , memanfaatkan, melakukan pengolahan, dan pemurnian pengangkutan, penjualan MINERBA yang bukan dari pemegang IUP, IUPK atau izin menurut UU ini, dipidana kurungan penjara maximum 10 tahun dan denda Rp 10 M. Setiap orang yang merintangi atau mengganggu kegiatan usaha pertambangan dari pemegang IUP atau IUPK dipidana kurungan maximum 1 tahun, atau denda Rp 100 juta. Setiap orang yang mengeluarkan IUP,IPR atau IUPK yang bertentangan dengan UU ini dan menyalahgunakan wewenang nya , dipidana maximum 2 tahun dan denda Rp 200 juta. PENUTUP

#

#

·

Pertambangan adalah sebagian atau seluruh tahapan kegiatan dalam rangka, penelitian, pengelolaan, dan pengusahaan MINERBA yang meliputi: Penyelidikan umum, eksplorasi, study kelayakan, konstruksi, penambangan, pengolahan dan pemurnian, pengangkutan dan penjualan , serta kegiatan Pasca tambang Wilayah pertambangan (WP) adalah wilayah yang memiliki potensi mineral dan atau batubara dan tidak terikat dengan batasan administrasi pemerintahan yang merupakan bagian dari tata ruang nasional. Wilayah usaha pertambangan (WUP) adalah bagian dari Wilayah pertambangan yang telah memiliki ketersediaan data, potensi, dan atau informasi geologi.

·

·

342

·

Wilayah izin usaha pertambangan (WIUP) adalah wilayah yang diberikan kepada pemegang Izin Usaha Pertambangan (IUP). Wilayah Pertambangan Rakyat (WPR) adalah bagian dari Wilayah pertambangan tempat dilakukannya usaha pertambangan rakyat. Wilayah Pencadangan Negara (WPN) adalah bagian Wilayah pertambangan yang dicadangkan untuk kepentingan strategis nasional. Pertambangan mineral dan atau batubara dikelola berasaskan: a. Manfaat, keadilan, dan keseimbangan b. Keberpihakan kapada kepentingan bangsa c. Partisipatif, tranparansi, dan akuntabilitas d. Berkelanjutan dan berwawasan lingkungan Mineral dan batubara adalah sumber daya alam yang tak terbarukan merupakan kekayaan nasional yang dikuasai oleh negara untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat. Kriteria untuk menetapkan Wilayah Izin Usaha Pertambangan (WIUP) dalam Wilayah Usaha Pertambangan (WUP) adalah: a. Letak geografis; b. Kaidah konservasi; c. Daya dukung lingkungan; d. Optimalisasi sumber daya mineral dan/atau batubara dan e. Tingkat kepadatan penduduk. Izin Usaha Pertambangan (IUP) diberikan oleh Menteri, Gubernur, Bupati/Walikota sesuai dengan ketentuan peraturan perundang undangan dan kewenangan masing-masing. Izin Usaha Pertambangan diberikan kepada: a. Badan usaha b. Koperasi dan c. Perorangan Pemegang Izin Usaha Pertambangan (IUP) dan Izin Usaha Pertambangan Khusus (IUPK) Operasi Produksi wajib melakukan pengolahan dan pemurnian didalam negeri. Kontrak Karya (KK) dan Perjanjian Karya Pengusahaan Pertambangan Batubara (PKP2B) menyesuaikan pasal dalam kontrak karya selambat-lambatnya 1 (satu) tahun sejak Undang-Undang ini di undangkan ( 12 Januari 2010).

·

·

·

·

·

·

·

·

·

343

·

Pemegang Kontrak Karya yang sudah berproduksi wajib melakukan pemurnian selambat-lambatnya 5 (lima) tahun sejak Undang-Undang di undangkan ( 12 Januari 2014 ) Setiap orang yang melanggar ketentuan dalam Undang-Undang No.4 tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batubara akan dikenakan pidana kurungan penjara dan denda.

·

344

PROSIDING TPT XX PERHAPI 2011 IUP Existing Buana Sjahboeddin, SH, MH
1

LATAR BELAKANG Pengaturan pengusahaan pertambangan mineral dan batubara di Indonesia telah berlangsung selama lebih dari empat puluh tahun sebelum berlakunya UU No.4 Tahun 2009 (UU Minerba), yang pada masa sebelumnya, pengaturan pengusahaan pertambangan dengan regulasi UU Pokok Pertambangan Tahun 1967 dapat diikhtisarkan sebagai berikut: 1) segala bahan galian yang terdapat dalam wilayah hukum pertambangan Indonesia adalah kekayaan nasional yang dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat ; 2) bahan galian dibagi atas tiga golongan a strategis, b golongan vital dan golongan c yang tidak termasuk strategis dan vital; 3) pelaksanaan penguasaan negara dan pengaturan usaha pertambangan untuk bahan galian strategis dan vital dilakukan oleh menteri yang membidangi tugas pertambangan, sedangkan untuk bahan galian yang tidak strategis dan vital dilakukan oleh pemerintah daerah tingkat provinsi (Dati I) tempat terdapatnya bahaan galian tersebut; 4) usaha pertambangan dapat meliputi kegiatan penyelidikan umum, eksplorasi, eksploitasi, pengolahan dan pemurnian, pengangkutan dan penjualan; 5) usaha pertambangan bahan galian strategis dan vital hanya dapat dilakukan oleh perusahaan atau perorangan berdasarkan Kuasa Pertambangan (KP) yang diberikan berdasarkan surat keputusan menteri dan usaha bahan galian yang tidak tergolong strategis maupun vital dapat dilakukan dengan Surat Izin Penambangan Daerah; 6) Menteri dapat menunjuk pihak swasta nasional maupun swasta asing sebagai kontraktor untuk melaksanakan pekerjaan yang belum atau tidak dapat ditangani sendiri oleh instansi pemerintah atau perusahaan negara pemegang KP, dalam hal ini pelaksanaan pekerjaaan oleh kontraktor berdasarkan Perjanjian Karya. Demikianlah yang dapat diterangkan sehubungan dengan pengaturan pengusahaan pertambangan minerba berdasarkan UU Pokok Pertambangan.
2 3 4 5 6

Pada 12 Januari 2009, pasca disahkannya UU Minerba serta setelah diberlakukannya PP Pengusahaan Minerba, menjadi landasan hukum melakukan penyesuaian terhadap konsesi pertambangan minerba yang telah ada sebelumnya untuk hal-hal sebagai berikut:

1 Penulis, pada saat ini bekerja pada Bagian Hukum Ditjen Minerba Kementerian ESDM, serta telah menyelesaikan Diklat PPNS Minerba Pabum. 2 Indonesia, Undang-Undang Republik Indonesia No.4 Tahun 2009 Tentang Pertambangan Mineral dan Batubara (LN RI 2009 No.4, TLN RI No.4959). 3 Indonesia, Undang-Undang Republik Indonesia No. 11 Tahun 1967 Tentang Ketentuan-Ketentuan Pokok Pertambangan (LN RI 1967 No22, TLN RI No.2831). 4 Soetaryo Sigit, Sejarah dan Kebijakan Pengembangan Pertambangan Indonesia dalam Pengantar Pertambangan Indonesia. Jakarta: Indonesia MiningAssociation, 1992, hal 55 s.d 56. 5 Indonesia, Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 Pasal 33. 6 Indonesia, Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No. 27 Tahun 1980 Tentang Penggolongan Bahan-Bahan Galian (LN RI 1980 No.47, TLN RI No.3174) .

345

I.

Status hukum KP, SIPD, beserta permohonan yang telah diajukan sebelum terbitnya UU Minerba dan telah mendapatkan pencadangan wilayah dapat diproses perizinannya dalam bentuk IUP tanpa melalui lelang 1. PP Pengusahaan Minerba Pasal 112 angka 4: KP, SIPD, SIPR, yang diberikan berdasarkan ketentuan peraturan perundang- undangan sebelum ditetapkannya PP ini tetap diberlakukan sampai jangka waktu berakhir serta wajib: a. disesuaikan menjadi IUP atau IPR sesuai dengan ketentuan PP ini dalam jangka waktu paling lambat 3 (tiga) bulan sejak berlakunya PP ini dan khusus BUMN dan BUMD, untuk IUP OP merupakan IUP OP pertama; b. menyampaikan rencana kegiatan pada seluruh wilayah kuasa pertambangan sampai dengan jangka waktu berakhirnya kuasa pertambangan kepada Menteri, gubernur, atau bupati/walikota sesuai dengan kewenangannya; c. melakukan pengolahan dan pemurnian di dalam negeri dalam jangka waktu paling lambat 5 (lima) tahun sejak berlakunya UU Minerba 2009. 2. PP Pengusahaan Minerba Pasal 112 angka 5: Permohonan KP yang telah diterima Menteri, gubernur, bupati/walikota sebelum terbitnya UU Minerba 2009 dan telah mendapatkan Pencadangan Wilayah dari Menteri, gubernur, atau bupati/walikota sesuai dengan kewenangannya dapat diproses perizinannya dalam bentuk IUP tanpa melalui lelang paling lambat 3 (tiga) bulan setelah berlakunya PP ini. 3. PP Pengusahaan Minerba Pasal 112 angka 7: Pemegang KP yang memiliki lebih dari 1 (satu) KP dan/atau lebih dari 1 (satu) komoditi sebelum diberlakukannya UU No. 4 Tahun 2009 tetap berlaku sampai jangka waktu berakhir dan dapat diperpanjang menjadi IUP sesuai dengan ketentuan dalam PP Kegiatan Usaha Pertambangan Mineral dan Batubara.

II. KK/PKP2B perpanjangan yang dikonversi menjadi IUP 1. UU Minerba Pasal 169: Pada saat Undang-Undang ini mulai berlaku: a) Kontrak karya dan perjanjian karya pengusahaan pertambangan batubara yang telah ada sebelum berlakunya Undang-Undang ini tetap diberlakukan sampai jangka waktu berakhirnya kontrak/perjanjian; b) Ketentuan yang tercantum dalam pasal kontrak karya dan perjanjian karya pengusahaan pertambangan batubara sebagaimana dimaksud pada huruf a disesuaikan selambat-lambatnya 1 (satu) tahun sejak Undang-Undang ini diundangkan kecuali mengenai penerimaan negara; c) Pengecualian terhadap penerimaan negara sebagaimana dimaksud pada huruf b adalah upaya peningkatan penerimaan negara. 2. UU Minerba Pasal 171: Pemegang kontrak karya dan perjanjian karya pengusahaan pertambangan batubara sebagaimana dimaksud dalam Pasal 169 yang telah melakukan tahapan kegiatan eksplorasi, studi kelayakan, konstruksi, atau operasi produksi paling lambat 1 (satu) tahun sejak berlakunya Undang-Undang ini harus menyampaikan rencana kegiatan pada seluruh wilayah kontrak/perjanjian sampai dengan jangka waktu berakhirnya kontrak/perjanjian untuk mendapatkan persetujuan pemerintah; 2) Dalam hal ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tidak terpenuhi, luas wilayah pertambangan yang telah diberikan kepada pemegang kontrak karya dan perjanjian karya pengusahaan pertambangan batubara disesuaikan dengan UndangUndang ini. 3. UU Minerba Pasal 172: Permohonan kontrak karya dan perjanjian karya pengusahaan pertambangan batubara yang telah diajukan kepada Menteri paling lambat 1 (satu) tahun sebelum berlakunya Undang-Undang ini dan sudah mendapatkan surat persetujuan prinsip atau surat izin penyelidikan pendahuluan tetap dihormati dan dapat diproses perizinannya tanpa melalui lelang

346

berdasarkan Undang-Undang ini. 4. PP Pengusahaan Minerba Pasal 112 angka 2: KK dan PKP2B yang belum memperoleh perpanjangan pertama dan/atau kedua dapat diperpanjang menjadi IUP perpanjangan tanpa melalui lelang dan kegiatan usahanya dilaksanakan sesuai dengan ketentuan PP ini kecuali mengenai penerimaan negara yang lebih menguntungkan.
7

PENYESUAIAN (KONVERSI) BERDASARKAN UU MINERBA Pada kesempatan ini penulis membatasi pembahasan dalam hal IUP Existing yang berasal dari: I. KP, SIPD, dan permohonan yang diajukan sebelum UU Minerba tetapi belum diproses perijinannya serta telah mendapatkan pencadangan wilayah. Kendala yang dihadapi sehubungan dengan adanya kewajiban menyesuaikan dengan regulasi baru, dapat dijelaskan sebagai berikut: 1. Belum dapat dikonversi dan/atau belum teregistrasi, dengan alasan antara lain: a. KP telah tercatat pada tapi belum dapat diregistrasi karena belum disesuaikan menjadi IUP; b. Masih berbentuk SKIP atau dokumen pencadangan wilayah; c. IUP habis masa berlakunya dan sudah ada surat permohonan perpanjangan atau permohonan peningkatan tahap kegiatan, namun belum diproses oleh pemberi IUP; d. IUP habis masa berlakunya dan tidak ada surat permohonan perpanjangan dari pemegang IUP; e. KP Eksplorasi/Eksploitasi habis masa berlakunya dan belum disesuaikan menjadi IUP Operasi Produksi, permohonan telah diajukan namun persyaratan belum lengkap; f. IUP penyesuaian telah diterbitkan tapi SK belum dilampirkan; g. Koordinat dan peta batas wilayah tidak sesuai dengan Kepmen ESDM 1603 yang mengatur harus sesuai dengan garis lintang dan garis bujur; h. IUP mineral logam dan batubara diterbitkan setelah berlakunya UU Minerba tanpa dilengkapi dengan dokumen pencadangan wilayah serta SK KP awal yang menjadi dasar konversi. 2. Tumpang tindih wilayah, karena: a. Tidak melaksanakan pencadangan wilayah mengakibatkan terjadi tumpang tindih wilayah kerja antara pemegang KP, SIPD dengan wilayah kerja KK/PKP2B dan IUP existing sehingga tidak clear and clean. b. Pemekaran wilayah sehingga belum ada kepastian hukum penetapan batas wilayah administratif daerah induk dengan daerah hasil pemekaran antara provinsi dengan provinsi, provinsi dengan kabupaten/kota, serta kabupaten/kota dengan kabupaten/kota, sehingga terjadi tumpang tindih kewenangan diantara pemerintah daerah dalam menerbitkan perijinan pertambangan.
8

7 Indonesia, Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No. 23 Tahun 2010 Tentang Pelaksanaan Kegiatan Usaha Pertambangan Mineral dan Batubara (LN RI 2010 No.29, TLN RI No.5111). 8 Indonesia, Keputusan Menteri ESDM RI No.1603K/40/MEM/2003 Tentang Pedoman Pencadangan Wilayah Pertambangan, tgl 24 Desember 2003.

347

3.

4.

Provinsi Aceh sebagai daerah otonomi khusus pengaturan pengusahaan pertambangan mineral dan batubara memiliki regulasi tersendiri berdasarkan Qanun Provinsi No.12 Tahun 2002 Tentang Pertambangan Umum, Minyak Bumi dan Gas Alam. Dalam Qanun, mensyaratkan pemberian ijin pertambangan minerba oleh kabupaten/kota setelah mendapatkan rekomendasi dari provinsi. Provinsi Papua sebagai daerah otonomi khusus pengaturan pengusahaan pertambangan mineral dan batubara, berdasarkan UU Otonomi Khusus Papua mengatur bahwa kewenangan diatur dalam Perdasus atau Perdasi. Kewenangan pemberian ijin pertambangan minerba dalam Rancangan Perdasus tahun 2008 yang mengacu pada UU No.11 Tahun 1967 mengatur bahwa pemberian ijin pertambangan minerba oleh provinsi setelah mendapat rekomendasi dari kabupaten/kota.
9

10

Persyaratan untuk Penyesuaian KP, SIPD dan dan permohonan yang diajukan sebelum UU Minerba tetapi belum diproses perijinannya serta telah mendapatkan pencadangan wilayah menjadi IUP Existing sesuai dengan UU Minerba sebagai berikut:
11

9 Nanggroe Aceh Darussalam, Qanun Provinsi No.12 Tahun 2002 Tentang Pertambangan Umum,Minyak Bumi dan Gas Alam (LD Prov NAD 2002 No.55 Seri E No.4, TLD Prov NAD No.6). 10 Indonesia, Undang-Undang Republik Indonesia No. 21 Tahun 2001 Tentang Otonomi Khusus Bagi Provinsi Papua (LN RI 2001 No. , TLN RI No. ). 11 Kementerian ESDM, Lampiran Surat Dirjen Minerba Pabum No.2287/30/DJB/2009 kepada Gubernur, Bupati/Walikota di seluruh Indonesia perihal Pelaksanaan Koordinasi, tgl 12 Agustus 2009.

348

II. Judicial Review Surat Edaran Dirjen Mineral Batubara dan Panas Bumi No.03.E/31/DJB/2009 (SE Dirjen 03)
12

Setelah disahkannya UU Minerba serta sambil menunggu terbitnya PP Pengusahaan Minerba, untuk mengisi kekosongan hukum, mengingat KP tidak diatur dalam Ketentuan Peralihan UU Minerba, maka untuk memberikan kepastian hukum dan kepastian berusaha, Pemerintah selaku regulator mengeluarkan SE Dirjen Minerba Pabum No.03.E/31/DJB/2009 tgl 30 Januari 2009 kepada seluruh gubernur dan seluruh bupati/walikota, yang berisi antara lain: 1. KP existing diberlakukan hingga izin berakhir. 2. Menghentikan sementara penerbitan IUP baru hingga tersusunnya PP. 3. Proses peningkatan dan perpanjangan KP berkoordinasi dengan DJMBP. 4. Menyampaikan permohonan KP (yang telah mendapat persetujuan pencadangan wilayah). 5. Pemegang KP mengajukan rencana kerja untuk seluruh wilayah. 6. KP yang diterbitkan setelah 12 Januari 2009 dibatalkan.
12 Uji

Materiil suatu keputusan/peraturan dengan Undang-Undang hierarki di atasnya.

349

7. Pemerintah akan mengeluarkan format IUP. Seiring berjalannya waktu, Bupati Kutai Timur mengajukan permohonan uji materil (judicial review) terhadap SE Dirjen 03 ke Mahkamah Agung (MA) pada tgl 22 Juli 2009, yang intinya memohon untuk membatalkan SE dimaksud.

III. Kontrak Karya (KK) dan Perjanjian Karya Pengusahaan Pertambangan Batubara (PKP2B) KK dan PKP2B yang KK dan PKP2B yang belum memperoleh perpanjangan pertama dan/atau kedua dapat diperpanjang menjadi IUP perpanjangan tanpa melalui lelang dan kegiatan usahanya dilaksanakan sesuai dengan ketentuan PP ini kecuali mengenai penerimaan negara yang lebih menguntungkan . Berdasarkan ketentuan ini, maksudnya adalah bahwa seluruh KK dan PKP2B yang telah habis masa kontrak/perjanjiannya dan sesuai dengan ketentuan dalam KK/PKP2B dapat diperpanjang, namun setelah disahkannya UU Minerba 2009, untuk perpanjangan jangka waktu pengusahaan pertambangan harus dalam bentuk IUP. Pada kesempatan ini penulis mencoba untuk memaparkan kendala-kendala yang dihadapi sehubungan dengan "konversi dari PP/PKP2B menjadi IUP", antara lain: 1. Luas wilayah KK mineral logam dan PKP2B umumnya sangat luas melebihi ketentuan dalam UU Minerba 2009, dapat dirinci sebagai berikut: a. Mineral logam: tahap eksplorasi paling sedikit 5.000 hektare dan paling banyak 100.000 hektare; tahap operasi poduksi paling banyak 25.000 ; b. Batubara: tahap eksplorasi paling sedikit 5.000 hektare dan paling banyak 50.000 hektare ; tahap operasi produksi 15.000 hektare. 2. Kepastian hukum terhadap investasi, selama ini KK/PKP2B merupakan "partner pemerintah dalam berkontrak", namun setelah perpanjangan dan konversi menjadi IUP, maka ini menjadi kewenangan siapa? Apakah menteri, gubernur atau bupati/walikota sesuai dengan kewenangan pemberian IUP? Mengingat selama ini KK/PKP2B adalah lex specialist, asal mula serta keberadaannya tidak dapat disamakan dengan pengaturan pengusahaan minerba dalam bentuk KP dan SIPD, dan mengingat selama ini pembinaan pengawasan serta pelaporan kegiatan usaha pertambangan minerba dengan skema kontrak/perjanjian menjadi kewenangan pemerintah pusat.
13 14 15 16

17

PENUTUP KK/PKP2B dan KP yang sudah ada (existing) tetap dihormati, namun wajib disesuaikan dengan undang-undang, setelah dievaluasi maka kendala yang dihadapi antara lain: I. Konversi dari KP/SIPD/permohonan yang telah diajukan sebelum UU Minerba dan telah mendapat pencadangan wilayah menjadi IUP 1. Permasalahan yang banyak dihadapi dalam pelaksanaan konversi menjadi IUP, serta upaya penyelesaian:
13 PP RI No. 23 Tahun 2010 Pasal 112 angka 2. 14 UU RI No.4 Tahun 2009 Pasal 52 (1). 15 UU RI No.4 Tahun 2009 Pasal 53. 16 UU RI No.4 Tahun 2009 Pasal 61 (1). 17 UU RI No.4 Tahun 2009 Pasal 62.

350

18 Kementerian ESDM, Lampiran Surat Edaran Dirjen Minerba Pabum No.1053/30/DJB/2009 perihal Izin Usaha Pertambangan, tgl 24 Maret 2009. 19 Indonesia, Pasal 7 (2) Keputusan Menteri ESDM RI No.1603K/40/MEM/2003 Tentang Pedoman Pencadangan Wilayah Pertambangan, tgl 24 Desember 2003.

351

2. Penyelesaian tumpang tindih dengan upaya: 3. Perlakuan khusus untuk pengaturan pengusahaan pertambangan mineral dan batubara di Provinsi Aceh sebagai wujud dari daerah otonomi khusus diatur dalam Qanun Provinsi No.12 Tahun 2002 Tentang Pertambangan Umum, Minyak Bumi dan Gas Alam, yang mensyaratkan untuk pengusahaan pertambangan mineral dan batubara yang hendak mengajukan ijin kepada bupati harus disertai rekomendasi gubernur. Dengan demikian apabila dalam penerbitan IUP tidak dilengkapi rekomendasi gubernur maka IUP belum dapat diregistrasi. 4. Provinsi Papua dalam kerangka otonomi khusus berdasarkan UU Otonomi Khusus Bagi Provinsi Papua pengaturan kewenangan pemberian ijin pertambangan mineral dan batubara berdasarkan Rancangan Perdasus Pertambangan Umum 2008 yang mengacu pada UU No.11 Tahun 1967 merupakan kewenangan gubernur (provinsi) dengan terlebih dahulu mendapat rekomendasi dari bupati/walikota yang bersangkutan. Akan tetapi setelah perubahan regulasi menjadi UU Minerba, belum ada Perdasus yang menyesuaikan dengan UU Minerba. Dengan kondisi yang demikian kabupaten/kota beranggapan bahwa berdasarkan UU Minerba yang mengatur bahwa kewenangan pemberian ijin sesuai dengan wilayahnya adminstratif , maka kabupaten/kota menerbitkan ijin, dengan kondisi yang demikian maka sering terjadi silang sengketa serta ketidakpastian hukum dalam kewenangan pemberian ijin pertambangan minerba antara pemerintah provinsi dan pemerintah kabupaten/kota, yang mengakibatkan ketidakpastian hukum yang dihadapi oleh pelaku investasi pertambangan di Papua.
20

21

II.

Putusan MA terhadap Judicial Review SE Dirjen 03 Putusan MA No.23P/Hum/2009 dikeluarkan pada tgl 9 Desember 2009, yang pada amar putusannya memerintahkan untuk membatalkan dan mencabut SE dimaksud. Sesuai UU Minerba, maka IUP untuk mineral logam dan batubara dilakukan dengan tata cara lelang, namun apabila saat ini terdapat IUP "baru" untuk mineral logam dan batubara yang diterbitkan tanpa melalui proses pelelangan wilayah, hal tersebut melanggar UU Minerba sebagai hukum positif . Tidak lama setelah putusan MA terbit yang isinya membatalkan dan mencabut SE Dirjen 03, pada 1 Februari 2010 telah disahkan PP Pengusahaan Minerba yang pada ketentuan peralihan mengatur kepastian hukum dan kepastian berusaha dari KP/SIPD/permohonan yang telah diajukan sebelum UU Minerba dan telah mendapat pencadangan wilayah.
22

20 Nanggroe Aceh Darussalam, Qanun Provinsi No.12 Tahun 2002 Tentang Pertambangan Umum,Minyak Bumi dan Gas Alam (LD Prov NAD 2002 No.55 Seri E No.4, TLD Prov NAD No.6). 21 UU No.4 Tahun 2009 Pasal 37: "IUP diberikan oleh: a. bupati/walikota apabila WIUP berada di dalam satu wilayah kabupaten/kota; b. gubernur apabila WIUP berada pada lintas wilayah kabupaten/kota dalam 1 (satu) provinsi setelah mendapatkan rekomendasi dari bupati/walikota setempat sesuai dengan ketentuan perundang-undangan; c. Menteri apabila WIUP berada pada lintas wilayah provinsi setelah mendapatkan rekomendasi dari gubernur dan bupati/walikota setempat sesuai dengan peraturan perundang-undangan". 22 Kementerian ESDM, IUP untuk Mineral Logam dan Batubara yang terbit tanpa proses lelang wilayah dan penerbitan KP melanggar UU Minerba sebagai Hukum Positif. Kementerian ESDM Siaran Pers No.01/Humas DESDM/2010 tgl 8 Januari 2010.

352

Pada saat terjadinya "kekosongan hukum" sebelum terbitnya PP Pengusahaan Minerba, apabila terdapat permohonan pengusahaan wilayah untuk mineral logam dan batubara yang diajukan setelah 12 Januari 2009 yang tidak ada pencadangan wilayah namun telah mendapat IUP, dalam hal ini dapat dikatakan telah tejadi penyalahgunaan wewenang dari badan/pejabat tata usaha negara dalam hal penerbitan perizinan di bidang pertambangan mineral dan batubara. Karena rejim UU Minerba mensyaratkan ketentuan lelang untuk mendapatkan wilayah ijin usaha pertambangan mineral logam dan batubara. III. Konversi serta perpanjangan KK/PKP2B menjadi IUP 1. Luas wilayah Kontrak Karya (KK)/ Perjanjian Karya Pengusahaan Pertambangan Batubara (PKP2B) umumnya lebih besar dari regulasi yang berlaku saat ini. Sebagai gambaran agar terdapat kepastian hukum investasi, dalam waktu tidak terlalu lama lagi pada 1 April 2013 KK PT Kobatin akan habis masa kontrak perpanjangan pertama dan masih terdapat kesempatan diperpanjang masa kerjanya untuk yang kedua, akan tetapi tidak dalam bentuk kontrak, tetapi dalam bentuk IUP. KK PT Kobatin pertama kali kontrak ditandatangani pada 16 Oktober 1971 memiliki wilayah kerja seluas 41.660,30 hektare, dan setelah relinquish wilayah kk tahap kegiatan operasi produksi pada 12 November 2010 luas yang dipertahankan 41.510,30 hektare yang berada di dua wilayah kabupaten, yaitu Kabupaten Bangka Tengah dan Kabupaten Bangka Selatan. Terkait regulasi ring fencing , apakah nantinya akan menjadi IUP PT Kobatin Bangka Tengah dan IUP PT Kobatin Bangka Selatan yang merupakan penjelmaan dari Kontrak Karya PT Kobatin? Bagaimana status hukum terhadap investasi serta kepastian berusaha pada masa mendatang? Intinya apakah pemegang KK/PKP2B existing ini dengan sukarela untuk merelinquish wilayah kerjanya kepada pemerintah? Keberadaan KK/PKP2B pada hakekatnya berbeda dengan iup yang pada rejim regulasi lampau yang diberikan dengan bentuk kp dan sipd. Kewenangan pemberian IUP perpanjangan/konversi dari KK/PKP2B belum diatur tegas dan jelas dalam UU Minerba dan PP Pengusahaan Minerba. Perlu dibuat terobosan hukum untuk mengatur kewenangan pemberian IUP perpanjangan yang berasal dari kontrak/perjanjian, dapat diakomodasi dengan revisi Peraturan Pemerintah atau diatur dalam Permen ESDM.
23 24

2.

KESIMPULAN dan SARAN Pengelolaan sumber daya alam serta dan acuan dalam pemanfaatan merupakan amanat dari Pasal 33, ayat 3, UUD45 untuk sebesar-besarnya kesejahteraan rakyat. Sumber daya alam merupakan potensi yang dapat memberikan manfaat ekonomi, daya saing daerah, sosial dan lingkungan. Pengelolaan Sumber Daya Alam merupakan pekerjaan yang sangat

23 Data 24 PP

Direktorat Jenderal Mineral dan Batubara, Agustus 2011. Pengusahaan Minerba Pasal 9 (2): "setiap pemohon IUP hanya dapat diberikan 1 (satu) WIUP".

353

kompleks, sejak dari inventarisasi hingga ke pengusahaannya. Dalam pengusahaannya perlu kebijakan yang dapat menjamin kelestarian lingkungan dan keseimbangan konservasi sda. Pembinaan dan pengawasan perlu dilakukan oleh pemerintah dan pemerintah daerah dan dilakukan oleh personnel yang kompeten. Pada hakekatnya tujuan dari penyesuaian KP/SIPD/permohonan yang telah diajukan sebelum UU Minerba dan telah mendapat pencadangan wilayah menjadi IUP dari adalah agar wilayah kerja para pemegang KP, SIPD, IUP teregistrasi clear and clean dalam UPIWP DJMB, dengan demikian para pemegang konsesi pertambangan di Indonesia memiliki kepastian hukum dalam menjalankan kegiatan usahanya. Registrasi ini bertujuan agar seluruh IUP existing ini seluruhnya dapat tertata rapih tidak ada tumpang tindih dalam Wilayah Pertambangan yang ditetapkan oleh Pemerintah setelah berkoordinasi dengan DPR RI. Konversi perpanjangan KK/PKP2B menjadi IUP perlu pengaturan khususnya luas wilayah serta kewenangan perpanjangan jangka waktu dalam bentuk IUP. Mengingat selama ini pembinaan pengawasan serta pelaporan kegiatan KK/PKP2B berada pada pemerintah maka sebaiknya kewenangan penerbitan IUP diberikan oleh Menteri dengan mempertimbangkan rekomendasi Gubernur/Bupati/Walikota, dan selanjutnya pada kegiatan pembinaan dan pengawasan turut serta melibatkan aparatur pemerintah provinsi/ kabupaten/kota. Pemegang KK/PKP2B harus full commitment melaksanakan pengusahaan pertambangan sesuai dengan kontrak/perjanjian yang telah disepakati dan sesuai rencana kerja anggaran biaya yang telah disetujui serta rencana kerja jangka panjang sampai masa berakhir kontrak yang telah mendapat persetujuan. Diharapkan kepada pemegang KK/PKP2B secara jujur menyatakan apabila tidak sanggup lagi untuk mengelola wilayah kerjanya untuk mengembalikan kepada negara (relinquish). Kewenangan penerbitan IUP oleh pemerintah provinsi/kabupaten/kota merupakan urusan pilihan dalam pelaksanaan tugas pemerintahan daerah. Oleh karena itu apabila pemerintah provinsi/kabupaten/kota telah menetapkan untuk melaksanakan urusan ini maka seyogyanya tunduk pada ketentuan perundang-undangan yang mengatur pelaksanaan urusan pilihan dalam hal tugas pemerintah daerah di bidang pertambangan minerba. UU Minerba mengatur sanksi bagi pejabat/aparatur negara yang mengeluarkan izin yang bertentangan dengan UU ini dan menyalahgunakan kewenangannya, dikenakan sanksi pidana kurungan dua tahun penjara serta denda paling banyak Rp. 200 juta.
25 26

27

28

29

25 Kementerian ESDM Ditjen Mineral dan Batubara, Unit Pelayanan Informasi Wilayah Pertambangan. 26 UU Minerba Pasal 9 (1): "WP sebagai bagian dari tata ruang nasional merupakan landasan bagi penetapan kegiatan pertambangan. (2) WP ditetapkan oleh Pemerintah setelah berkoordinasi dengan DPR RI". 27 UU Minerba Pasal 171: "Pemegang kontrak karya dan perjanjian karya pengusahaan pertambangan batubara yang telah melakukan tahapan kegiatan eksplorasi, studi kelayakan, konstruksi, atau operasi produksi paling lambat 1 (satu) tahun sejak berlakunya Undang-Undang ini harus menyampaikan rencana kegiatan pada seluruh wilayah kontrak/perjanjian sampai dengan jangka waktu berakhirnya kontrak/perjanjian untuk mendapatkan persetujuan pemerintah; 2) Dalam hal ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tidak terpenuhi, luas wilayah pertambangan yang telah diberikan kepada pemegang kontrak karya dan perjanjian karya pengusahaan pertambangan batubara disesuaikan dengan Undang-Undang ini". 28 Urusan pilihan adalah urusan pemerintahan yang secara nyata ada dan berpotensi untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat sesuai dengan kondisi, kekhasan, dan potensi unggulan daerah yang bersangkutan. Pasal 7 ayat (3) Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No. 38 Tahun 2007 Tentang Pembagian Urusan Pemerintahan Antara Pemerintah, Pemerintah Daerah Provinsi dan Pemerintah Kabupaten/Kota (LN RI 2007 No.82, TLN RI No.4737). 29 UU Minerba Pasal 165.

354

PROSIDING TPT XX PERHAPI 2011 PENGINTEGRASIAN CORPORATE SOCIAL RESPONSIBILITY (CSR) KE DALAM PROSES BISNIS: BEST PRACTICE PENERAPAN CSR DI INDUSTRI PERTAMBANGAN MELALUI MANAJEMEN DAN PENGEMBANGAN KONTRAKTOR LOKAL
Anton Sudarisman, PT International Nickel Indonesia Tbk, Sulawesi Selatan Kata Kunci: CSR, Corporate Social Responsibility, Pengembangan Kontraktor Lokal Konteks: CSR di Industri Pertambangan Indonesia Industri pertambangan di seluruh dunia merupakan satu dari sekian sektor yang ditandai dengan kehadiran CSR berprofil tinggi (high profile), baik karena sifat operasi tambang itu sendiri yang merupakan industri ekstraktif dan ekspolitatif, maupun lokus pengoperasiannya yang sebagian besar berada di daerah terpencil dengan ketersediaan fasilitas umum. Di lingkungan seperti itu, perusahaan-perusahaan tambang dan industri-industri ekstraktif lainnya diharapkan bisa menjadi penggerak utama bagi perkembangan ekonomi lokal (Frynas: 2009, Edoho: 2007). Begitu pula, perusahaan-perusahaan tambang di Indonesia juga telah mengalami banyak sorotan selama dua dekade terakhir, terutama sehubungan dengan penekanan perlunya hubungan masyarakat yang harmonis dalam upaya mendukung strategi operasional jangka pendek dan jangka panjang perusahaan. Sedemikian pentingnya, banyak perusahan tambang di Indonesia telah memposisikan CSR sebagai salah satu strategi utama perusahan mereka, khususnya sebagai suatu strategi pemerolehan 'social licence to operate' (persetujuan social dari masyarakat bagi perusahaan sebagai perbanding ijin formal dari pemerintah). Dengan melibatkan dan bersumbangsih kepada masyarakat, diharapkan perusahaan bisa beroperasi tanpa menghadapi kendala sosial yang berarti, baik untuk jangka pendek maupun jangka panjang (Kemp: 2009). Sementara itu, inisiatif-inisiatif CSR di sektor pertambangan dipraktekkan dalam beragam bentuk. Berdasarkan hasil penelusuran terhadap berbagai laporan tahunan perusahaan yang diperoleh selama beberapa tahun terakhir mengenai proyek-proyek CSR, program-program utama CSR yang dijalankan oleh sektor ini – meskipun diklaim sebagai 'sustainable' dalam laporan-laporan ini– difokuskan pada kegiatan berdasarkan pendekatan filantropis. Programprogram ini mencakup pendidikan, kesehatan, keuangan mikro, dan kontribusi pembangunan fisik/infrastruktur bagi masyarakat. Meskipun mampu mengatasi kebutuhan penting dari local stakeholders, pendekatan seperti ini dalam banyak hal mungkin tidak akan dapat berkesinambungan, dan justru sebaliknya, malahan akan membentuk ketergantungan masyarakat lokal kepada perusahaan.

355

Pendekatan Baru terhadap CSR Salah satu pendekatan CSR yang belakangan ini menjadi focus dunia bisnis dan dinilai berkesinambungan adalah dengan cara mengintegrasian CSR ke dalam proses bisnis. Sebagaimana yang dikemukakan oleh Porter & Kramer (2006), “Pendekatan-pendekatan yang ada terhadap CSR terpisahkan ke dalam banyak segmen dan tidak terkait dengan bisnis dan strategi inti perusahaan, sehingga akan menjauhkah berbagai kesempatan perusahaan untuk bisa memberikan manfaat kepada masyarakat. Sebaliknya, bilamana perusahaan-perusahaan menganalisa program tanggung jawab sosial dengan menggunakan framework yang sama yang mereka pakai dalam menjalankan roda bisnis utama mereka, mereka akan mendapati bahwa CSR bukan lagi dipandang sebagai biaya, kendala, atau perbuatan amal—tetapi juga merupakan sumber peluang dan inovasi, dan bisa dijadikan sebagai keunggulan kompetitif.” Paper ini mencoba untuk memberikan uraian tentang best practice program CSR yang diterapkan oleh salah satu perusahaan tambang yang beroperasi di Indonesia, yang telah berhasil mengintegrasikan program CSR ke dalam strategi operasinya melalui strategi peningkatan manajemen kontraktor (contracting strategy framework). Meskipun pendekatan CSR semacam itu menuntut komitmen dari berbagai internal resources yang lebih banyak (karyawan, manajemen), program ini telah membuahkan hasil-hasil yang sifatnya lebih berkesinambungan, yakni dalam upaya meningkatkan efisiensi dan efektivitas operasi perusahaan, sembari membangun suatu sistem yang bisa mengembangkan kemampuan masyarakat setempat untuk kepentingan jangka panjang. Dengan kata lain, program CSR seperti ini bisa menghasilkan berbagai manfaat, baik operasional, komersial maupun sosial. (Hancock: 2005) Program yang dipresentasikan dalam makalah ini dinamakan Integrated Contractor Strategy Framework (ICSF). Program ini berfokus pada peningkatan efektivitas dalam pengelolaan pekerjaan yang ditangani oleh kontraktor lokal, melalui peningkatan sistem kontrak dan pengembangan kapabilitas kontraktor (sebagai perusahaan maupun karyawan/pekerjanya). Termasuk dalam program ini adalah memperbaiki sistem internal dalam proses pengontrakan, terutama peningkatan alat dan prosedur guna membantu perusahaan dalam mengidentifikasi pekerjaan-pekerjaan yang sesuai bagi kontraktor lokal. Disamping itu, proyek ini juga memfokuskan peningkatan kapabilitas kontraktor lokal dalam mengelola eksekusi pekerjaan kontrak yang telah diberikan oleh perusahaan. Presentasi artikel ini bertujuan untuk menyebarluaskan salah praktek terbaik (best practice) dalam pelaksanaan CSR yang diharapkan bisa direplikasi atau disesuaikan dengan lingkungan yang serupa, dan bisa menjadi sumber inspirasi bagi program-program serupa di berbagai industri.

356

Tentang Perusahaan Perusahaan yang menjadi bahan kajian adalah PT International Nickel Indonesia, sebuah perusahaan multinasional penghasil nikel berskala besar yang beroperasi di Soroako, Sulawesi Selatan. Saat ini perusahaan memproduksi kurang lebih 160 juta pounds nikel dalam bentuk matte, dengan tenaga kerja sekitar 3500 karyawan dan kurang lebih 4000 karyawan kontraktor. Dari 400 kontraktor yang ada, kurang lebih 150 di antaranya adalah perusahaan kontraktor lokal yang bekerja di berbagai bidang pekerjaan yang dikontrakkan. Perusahaan membelanjakan kurang lebih 400 juta dolar untuk pekerjaan yang dikontrakkan (contracts and services), di mana dana ini mengalir ke kontraktor lokal, nasional dan asing. Masalah efisiensi dan kualitas pekerjaan yang dilaksanakan oleh kontraktor lokal Banyak perusahaan mengandalkan mitra lokal mereka dalam melaksanakan pekerjaan yang ada. Dengan melibatkan kontraktor lokal, perusahaan berharap bisa mendapatkan barang-barang dan jasa yang lebih murah dibandingkan dengan yang ditawarkan oleh kontraktor nasional atau internasional. Kecenderungan dalam menggunakan kontraktor lokal juga merupakan wujud keterlibatan dan dukungan operasional masyarakat (terkait dengan pencapaian tujuan 'licence to operate'). Meskipun pengerahan kontraktor lokal memerlukan keterlibatan masyarakat yang besar, salah satu kendala utama yang sering diidentifikasi adalah rendahnya kualitas output berbagai pekerjaan yang dilaksanakan oleh kontraktor ini. Hal tersebut menyebabkan operasi berbiaya tinggi dan tidak efisien, dikarenakan banyaknya rework dan penundaan penyelesaian proyek (delay), di mana hal ini tidak hanya mengorbankan kualitas, tetapi juga berakibat pada kerugian finansial di pihak perusahaan dan kontraktornya sendiri. Berbagai rework akibat 'ketidaksesuaian dengan spesifikasi' lazim dijumpai, dan cukup banyak proyek tertunda pelaksanaannya akibat perencanaan, pelaksanaan dan kapabilitas kontraktor yang kurang dari yang diharapkan. Untuk memecahkan masalah-masalah dalam melibatkan masyarakat lokal seperti tersebut di atas, perusahaan telah meluncurkan suatu program yang dinamakan Integrated Contractor Strategy Framework (ICSF). Adapun mandat dari proyek ini adalah untuk meningkatkan prosesproses internal sehingga setiap pekerjaan yang dikontrakkan direncanakan dan dikelola dengan baik sesuai anggaran, spesifikasi dan skedul proyek. Pada saat yang bersamaan, sebagai bagian dari Corporate Social Responsibility, ICSF juga dimaksudkan untuk meningkatkan kapabilitas kontraktor lokal dalam menyediakan barang dan jasa yang baik kepada perusahaan. Dengan meningkatkan kapabilitas kontraktor lokal, perusahaan berkeyakinan bahwa ada lebih banyak pekerjaan yang bisa dilakukan oleh kontraktor lokal dan dukungan untuk operasi perusahaan dari masyarakat lokal pun bisa diperoleh.

357

Penyelesaian Proyek ICSF a) Project Team Salah satu faktor keberhasilan yang akan menentukan keberhasilan suatu proyek, termasuk yang ada dalam CSR, adalah komitmen dari pimpinan perusahaan. Untuk itulah, ICSF langsung disponsori dan dipantau oleh CEO dan COO. Setelah menetapkan tujuan sebagaimana tersebut di atas, suatu satuan tugas (task force) untuk melaksanakan proyek dalam kerangka waktu yang telah disetujui, yakni 2 tahun, ditetapkan dan diberi mandat. Penunjukan oleh pejabat level atas (high level appointment) dinilai penting untuk memastikan bahwa seluruh stakesholders mendukung proyek tersebut. Seorang direktur proyek perusahaan ditunjuk sebagai project leader, dibantu oleh sejumlah stream leader dan champions yang diambil dari berbagai departemen.

Keterlibatan dan partisipasi dari berbagai departemen di dalam perusahaan adalah sangat penting bagi keberhasilan ICSF. Pada kenyataannya, manajemen kontraktor melibatkan pihak-pihak yang berbeda: para pihak sponsor yang memiliki proyek, para project manager yang bertanggung jawab atas pelaksanaan, para engineer yang membantu perencanaan teknik dan menetapkan WBS (work breakdown structures), para contract administrator yang mengurus proses tender dan kontrak, serta para external & communication officer yang mengurus komunikasi dengan para kontraktor lokal. Oleh karena itu, ICSF juga meminta area-area untuk terlibat dengan cara menugaskan senior staff mereka untuk bertindak sebagai Anggota Tim. Sebagian besar anggota tim adalah para project manager yang berhubungan dengan kontraktor lokal sehingga mereka memahami karakteristik-karakteristik tertentu beserta proses keterlibatan dengan kontraktor lokal. b) Tahapan Proyek Suatu program yang berhasil perlu direncanakan secara efektif dengan menggunakan langkahlangkah dan tahapan-tahapan proyek yang paling sesuai. Dalam hal ini, ICSF menggunakan langkah-langkah peningkatan proses bisnis sebagaimana yang dijelaskan di bawah ini. Proses ini telah dianggap efektif untuk mencapai tujuan yang dimandatkan sembari mempertimbangkan keterlibatan berbagai pemangku kepentingan internal dan eksternal.

358

Artikel ini mencoba mengulas setiap proses yang ada sehingga pembaca bisa memetik pelajaran yang ada dan mampu melakukan evaluasi terhadap proyek ini. 1) Menetapkan Tujuan Proyek Setiap upaya tertentu oleh perusahaan harus dikaitkan dengan tujuan strategis perusahaan (Porter: 2003). Untuk memastikan keselarasan antara ICSF dengan tujuan strategis, suatu diskusi panel yang dihadiri semua senior management dan beberapa focus group discussion (FGD) telah dilakukan. Adapun landasan kerja untuk perumusan tujuan adalah sebagai berikut:

359

2) Mengidentifikasi Pemangku Kepentingan, Masalah-masalah dalam Manajemen Kontrak dan Tujuan-tujuan Khusus ICSF Langkah pertama yang diambil dalam proses ini adalah mengadakan FGD (focus group discussion) untuk mengidentifikasi para pemangku kepentingan utama beserta apa yang menjadi permasalahan dan kebutuhan mereka. Untuk bisa memperoleh komitmen level tinggi, fasilitator untuk proses ini dipilih dari tampuk pimpinan (Jabatan Direktur). Berbagai pihak pemangku kepentingan internal yang berasal hampir dari seluruh departemen yang terlibat dengan kontraktor lokal diundang ke acara lokakarya (workshop). Beragam kepentingan yang dijumpai pihak sponsor dan projet manager yang terlibat dengan kontraktor lokal, beserta berbagai permasalahan yang lazimnya dikemukakan oleh kontraktor lokal dipetakan dan kemudian dibuatkan peringkat berdasarkan pendekatan partisipatif. Permasalahan yang berasal dari pemangku kepentingan internal dan eksternal berikut ini berasal dari proses sebagai lima permasalahan utama. 1. Minimnya kapabilitas dan kapasitas kontraktor jika dibandingkan dengan kontraktor nasional dan internasional. 2. Proses kontrak dan tender yang rumit. 3. Ruang lingkup pekerjaan yang ditetapkan oleh pemilih proyek (project owner) rumit dan tidak bisa dipahami oleh kontraktor lokal. 4. Eksekusi kontrak tidak dipantau dengan baik (tidak ada alat untuk memantau eksekusi kontrak). 5. Perlunya transparansi proses administrasi tender dan kontrak. Permasalahan-permasalahan tersebut di atas dikonfirmasi melalui FGD lainnya yang diadakan oleh pemangku kepentingan eksternal (kontraktor dan pimpinan masyarakat). Diskusi dengan pihak-pihak eksternal dijalankan dengan hati-hati untuk menghindari ekspektasi yang berlebihan. Misalnya, proyek ini tidak boleh dipandang sebagai suatu cara untuk memberikan peluang kepada mereka untuk mengintervensi proses kontrak, atau pun janji bahwa semua pekerjaan akan diberikan kepada kontraktor lokal. Dari diskusi FGD tersebut di atas kemudian diputuskan apakah ICSF harus membahas areaarea khusus berikut ini: 1. Bagaimana cara mengidentifikasi dan merencanakan pekerjaan yang dikontrakkan secara efektif sehingga lebih mudah dipahami dan dilaksanakan oleh kontraktor lokal. 2. Bagaimana cara menggunakan proses admin dan proses tender yang sederhana namun sekaligus mencerminkan proses yang transparan dan obyektif. 3. Bagaimana cara memantau eksekusi proyek secara progresif untuk bisa

360

mengidentifikasi kesenjangan-kesenjangan yang ada dan memberikan bimbingan kepada kontraktor lokal selama eksekusi pekerjaan. 4. Bagaimana cara meningkatkan kapabilitas kontraktor secara keseluruhan. 3) Memetakan Proses Sesuai dengan Kondisi yangAda (As-Is Process) Setelah permasalahan-permasalahan utama dibahas, langkah program selanjutnya untuk ditempuh oleh tim ICSF adalah memetakan kondisi manajemen kontraktor yang sekarang, termasuk berbagai peluang peningkatan yang dibutuhkan. Proses ini menggunakan beragam cara, termasuk wawancara dengan para pemangku kepentingan, pengumpulan data dari departemen-departemen, serta observasi secara intensif di lapangan tentang proyek-proyek yang dikerjakan. Dari situ diketahui bahwa beberapa proses masih perlu ditingkatkan, yakni:

4)

Mengembangkan Proses dan Piranti yang Dikehendaki Setelah 'As-Is' Process ditetapkan, langkah selanjutnya adalah menetapkan proses yang membantu, baik perusahaan maupun kontraktor lokal, untuk bisa melaksanakan pekerjaan yang dikontrakkan secara lebih baik. Hal ini diperoleh melalui serangkaian workshop intensif yang menghasilkan pemetaan proses-proses baru, kebijakan, prosedur, panduan, daftar pemeriksaan (check-list) dan formulir yang membantu proses. Untuk memastikan efektivitas, proses dan sistem dan piranti yang diperlukan (kebijakan, prosedur, panduan, dst.) kemudian diujicobakan ke dalam sejumlah proyek sebelum disetujui secara penuh oleh Manajemen.

361

Area-area perubahan yang membahas permasalahan-permasalahan tersebut di atas termasuk: · Pengantar Scope of Work Assessment (SoWA check-list), yang bisa menetapkan apakah suatu paket pekerjaan bisa dilakukan oleh kontraktor lokal, atau harus ditangani oleh kontraktor nasional. Kriteria-kriteria ini didasarkan pada ketersediaan sumber, kapabilitas perusahaan, risiko, dsb. SoWA ini juga bisa menetapkan bagian pekerjaan yang bisa disubkontraktorkan kepada kontraktor lokal. Pengenalan Contractor Performance Review (CPR) secara periodik yang akan mengevaluasi kemajuan pekerjaan yang dikontrakkan. Penilaian kinerja ini dilakukan mingguan, seminggu dua kali atau bulanan, bergantung pada sifat pekerjaan. Audit Kapabilitas Kontraktor. Proses ini menggunakan check-list sederhana untuk mengukur efektivitas supervisor dan project manager kontraktor. Kesenjangan kompetensi yang diamati selama berlangsungnya audit proyek dan penilaian kinerja kontraktor diselesaikan melalui program/pelatihan Kapabilitas Kontraktor. 5) Instalasi ICSF Setelah proses, sistem dan prosedur dikonfirmasikan, langkah selanjutnya adalah menginstal/mengimplementasikan ICSF. Metode yang dipilih merupakan sebagian dari program pelaksanaan melalui proyek percontohan (pilot project) sebelum instalasi dilakukan di seluruh perusahaan. Tiga pilot project yang kesemuanya melibatkan kontraktor lokal dipilih untuk memanfaatkan proses dan piranti baru yang ditetapkan oleh ICSF, untuk menilai efektivitas proses dan piranti yang baru. Pengaturan yang sesuai pada proses maupun piranti dilakukan berdasarakan umpan balik dari para project leader, kontraktor yang terlibat serta para pemangku kepentingan lainnya (seperti karyawan bagian contract admin). Setelah sistem dan piranti disempurnakan berdasarkan umpan balik dari pilot project, ICSF kemudian di-instal di departemen-departemen penting seperti Mining, Supply Change Management (SCM) dan Engineering Services. Instalasi ini melibatkan team leader dan project manager dari departemen yang juga bertanggung jawab untuk menilai dan memberikan penyuluhan kepada kontraktor lokal. Sementara itu, pelaksanaan Kapabilitas Kontraktor melibatkan sejumlah program pelatihan bagi Project Manager di dalam perusahaan dan kontraktor lokal untuk memastikan keselarasan dengan sistem baru. Tim Kapabilitas Kontraktor (Contractor Capability) juga memberikan pelatihan kepada supervisor lokal tentang keterampilan-keterampilan penting seperti keterampilan dasar bagi supervisor (8 Behaviours of Effective Supervisors) dan Keterampilan Berkomunikasi serta Management Operatign System. Suatu multimedia interaktif juga dibuat untuk peningkatan (kualifikasi) berbagai pihak yang terlibat dalam Manajemen Kontraktor.

·

·

362

c) Komunikasi Komunikasi yang efektif adalah faktor kunci keberhasilan lain bagi program CSR seperti ICSF karena memastikan keterlibatan dan komitment para pemangku kepentingan baik internal maupun eksternal. Selama penyusunan dan pelaksanaan ICSF, pemangku kepentingan internal seperti manajemen, karyawan dan project manager dilibatkan melalui update secara teratur dan sejumlah workshop. Sementara itu, komunikasi dengan pihak-pihak eksternal harus dikelola dengan hati-hati untuk menghindari ekpektasi yang tidak sesuai dan salah interpretasi. Sebagian komunikasi dengan pihak luar dilakukan melalui sejumlah rapat yang diadakan dengan kelompokkelompok tertentu (isi komunikasi tergantung pada audience seperti owner, project manager, supervisor, dan pimpinan masyarakat).

d) Pengukuran Pengukuran keberhasilan kegiatan dalam bentuk indikator kinerja pokok (KPI) dan realisasi benefit (mis. Pengembalian Nilai Investasi (ROI) untuk keberhasilan program CSR) telah menjadi topik bahasan utama di antara para praktisi CSR. Permasalahan muncul terutama karena kesulitan dalam mengidentifikasi hasil-hasil langsung dan kompleksitas faktor-faktor eksternal yang bisa mempengaruhi program-program CSR (sosial, politik, dll.) (Hennigfeld: 2006). Demikian juga, ICSF mencoba untuk menetapkan faktor kunci keberhasilan utama programprogramnya dengan menggunakan KPI untuk proses dan penghitungan ROI untuk realisasi benefit.Adapun KPI yang diukur dalam proses termasuk:

363

e) Kapabilitas Kontraktor Lokal Salah satu permasalahan ICSF sebagai inisiatif CSR adalah bagaimana cara meningkatkan kapabilitas kontraktor lokal, baik dari segi keterampilan teknik maupun keterampilan manajerial sehingga mereka bisa melaksanakan pekerjaan yang dikontrakkan secara lebih efektif dan efisien. Keterampilan yang lebih baik juga akan meningkatkan peluang untuk memperluas bisnis mereka ke daerah lain, sehingga tidak tergantung pada PTI. Fokus program-program peningkatan bisa dibagi ke dalam dua bidang, yakni teknik dan manajerial. Meskipun peningkatan dalam bidang teknik (pekerja seperti tukang kayu, teknisi, juru listrik, tukang batu, dsb.) adalah penting, Proyek ICSF berfokus untuk membantu kontraktor lokal dalam meningkatkan kualitas pengawasan dan keterampilan manajemen proyek. Sementara itu, peningkatan keterampilan teknik diwadahi melalui inisiatif-inisiatif CSR lainnya yang berfokus pada pendidikan dan pelatihan teknik yang juga dijalankan oleh perusahaan. Berikut ini adalah penjelasan mengenai program-program pelatihan yang tersedia bagi kontraktor lokal di bawah proyek ICSF:

364

Program pelatihan beserta modulnya diberikan secara cuma-cuma oleh perusahaan kepada kurang lebih 150 project managers dan supervisors dari pihak kontraktor lokal. Program ini mendapatkan umpan balik yang sangat positif dari para kontraktor lokal. Kesinambungan Masalah kesinambungan telah menjadi perhatian besar bagi proyek-proyek CSR di seluruh dunia. Faktor fundamental dalam kesinambungan berakar dari pertanyaan, “Bagaimana kita menjadikan program CSR berkesinambungan?” ICSF menekankan perlunya kesinambungan proses yang telah berjalan dengan baik dengan memastikan bahwa sistem, prosedur, dan piranti digunakan secara terus-menerus oleh pihakpihak internal dan eksternal yang berkepentingan dengan cara memasukkannya ke dalam proses bisnis. Sebelum proyek selesai, seluruh sistem dan piranti disosialisasikan kepada pihak internal dan eksternal, berdasarkan tugas sehari-hari dalam manajemen kontraktor. Audit regular terhadap penerapan sistem juga dilakukan oleh bagian audit internal. Kesimpulan Pengelolaan program CSR yang berkontribusi langsung ke proses bisnis inti perusahaan menjadi tantangan bersama. Meskipun hal tersebut menuntut adanya komitmen yang besar dari seluruh stakeholders, namun nilai pengembalian sosial dan ekonomi juga menjadi hal yang sangat penting.

365

Audit reguler terhadap penerapan ICSF menunjukkan bahwa telah terjadi banyak peningkatan dalam hal pelaksanaan proyek secara keseluruhan, terkait dengan biaya, waktu dan kualitas proyek-proyek yang dikerjakan kontraktor lokal. Proses plan-award-perform (perencanaanpemberian-pelaksanaan) kini telah ditopang melalui pengintegrasian proses ke dalam pekerjaan kontrak sehari-hari. Secara finansial, penghematan biaya telah dicapai melalui pengurangan jumlah penundaan proyek dan variasi kontrak dengan perencanaan yang lebih baik, penyelesaian proyek secara tepat waktu dengan bimbingan di tempat kerja yang lebih baik kepada kontraktor lokal oleh project manager atau supervisor perusahaan.

Referensi: Edoho, Felix M., Oil Transnational Corporations: Corporate Social Responsibility and Environmental Sustainability, in Corporate Social Responsibility and Environmental Management, in Corporate. Soccial Responsibility and Environment Management. 15, 210–222 , Wiley InterScience, 2008 Frynas, Jedrzej George, Beyond Corporate Social Responsibility, Oil Multinationals and Social Challenges, Cambridge University Press, 2009 Freeport, CSR Reports 2007-2008. Hancock, John, Investing in corporate social responsibility: a guide to best practice, business planning and the UK's leading companies, Kogan Page, 2005 Hennigfeld, Judith (ed.), The ICCA Handbook on Corporate Social Responsibility, John Wiley & Sons Ltd, 2006 International Nickel Indonesia, Tbk,Annual Reports, 2006-2010. Kemp, Deanna, Community Relations in the Global Mining Industry: Exploring the Internal Dimensions of Externally Orientated Work, Corporate Social Responsibility and Environmental Management, 2009 McElhaney, KellieA. Just Good Business, Berrett-Koehler Publishers, Inc, 2008 Porter, Michael E. and Kramer, Mark R., “Strategy and Society: The Link between Competitive Advantage and corporate Social Responsibility, Harvard Business Review, December 2006, p. 1. Radyati, Maria R. Nindita, CSR for Better Life: Indonesian Context, Indonesia Business Links, 2008

366

PROSIDING TPT XX PERHAPI 2011 Pendekatan Compass Index Sustainability Untuk Mengukur Keberhasilan Pembangunan Berkelanjutan Berbasis Sumber Daya Mineral: Studi Kasus Kabupaten Luwu Timur
Aryo P Wibowo , Fadhila A Rosyid , Rini N Sutardjo Tui
1) 2)

1)

1)

2)

. Program Studi Teknik Pertambangan ITB . Alumni Program Magister Rekayasa Pertambangan, Bidang Khusus Manajemen dan Ekonomi Mineral ITB

Abstrak Keberadaan pertambangan nikel di Kabupaten Luwu Timur selama beberapa dasawarsa ini memberikan pengaruh yang signifikan terhadap perekonomian daerah tersebut. Tidak dapat dipungkiri bahwa sektor pertambangan menjadi tulang punggung pembangunan di daerah. Hal tersebut dibuktikan dengan besarnya kontribusi sektor pertambangan pada PDRB daerah, yang mencapai US $ 5,9 juta atau sekitar 81% dari PDRB Kabupaten Luwu pada tahun 2007. Sejak beberapa tahun yang lalu, pemerintah Kabupaten Luwu Timur telah mulai mengembangkan sektor agribisnisKonsep pembangunan berkelanjutan ini diterapkan dengan memanfaatkan beberapa instrumen analisis, yakni model input – output, Location Quotient, Daly's Triangle, dan hasilnya kemudian diverifikasi dengan menggunakan Compass Index of Sustainability. Dari instrumen-instrumen analisis tersebut, diketahui bahwa pada dasarnya sektor pertambangan di Kabupaten Luwu Timur merupakan sektor yang berorientasi ekspor, dengan nilai LQ sebesar 7.969. Namun, pada dasarnya hanya sebagian kecil dari masyarakat Kabupaten Luwu Timur yang dapat menikmati atau terlibat langsung dalam proses produksi sektor pertambangan tersebut. Ditunjukkan oleh keterkaitan hulu dan keterkaitan hilir sektor pertambangan, terutama pertambangan nikel yang bernilai paling kecil. Walaupun demikian, tingkat kesejahteraan masyarakat Kabupaten Luwu Timur mencapai tingkat kesejahteraan menengah cenderung menengah atas, terlihat dari nilai rata-rata Indeks Pembangunan Manusia yang sebesar 70.39, dan dikonfirmasi oleh Daly's Triangle yang menempatkan Kabupaten Luwu Timur pada segmen intermediate means. Compass Index of Sustainability yang digunakan sebagai instrumen verifikasi menyatakan Kabupaten Luwu Timur memiliki potensi untuk menjalankan pembangunan berkelanjutan, dengan nilai indeks rata-rata untuk Kabupaten Luwu Timur adalah 70. Agar pembangunan berkelanjutan dapat terwujud, sektor-sektor unggulan lain yang dapat dimanfaatkan adalah sektor pertanian dalam arti luas dan sektor industri pengolahan. Pemerintah Kabupaten Luwu Timur perlu dirangsang untuk menjalankan program-program berkaitan dengan sektor-sektor unggulan tersebut, dan menekankan pentingnya nilai tambah (added value) di dalamnya. Konsep pengembangan wilayah yang dapat diterapkan pada Kabupaten Luwu Timur adalah Local Economy Development (LED). Keywords: Pembangunan Berkelanjutan, Compass Index of Sustainability.

367

1. Pendahuluan Usaha pertambangan merupakan kegiatan yang bertujuan untuk memindahkan material berharga yang berada di bawah permukaan bumi dan memanfaatkannya untuk menggerakkan aktivitas perekonomian. Dalam menggerakkan aktivitas ekonomi tersebut, keberadaan usaha pertambangan dapat memberikan pengaruh yang signifikan. Khusus bagi negara berkembang, serta berlaku juga pada daerah di Indonesia yang kaya akan sumberdaya mineral dan batubara, usaha pertambangan akan meningkatkan pertumbuhan ekonomi dengan laju yang sangat besar. Hal tersebut berdampak pada tingkat kesejahteraan daerah yang mengalami peningkatan selama tambang beroperasi dibandingkan pada kondisi sebelum tambang mulai beraktivitas. Sumberdaya mineral dan batubara, meskipun dapat digunakan untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat namun mempunyai jumlah yang terbatas. Dengan pemanfaatannya yang terus menerus akan menyebabkan cadangannya habis. Hal tersebut menjadikan tantangan bagi pemangku kepentingan di sektor pertambangan untuk dapat menjaga keberlanjutan dari pemanfaatan sumberdaya mineral dan batubara. Sehingga meskipun kegiatan pertambangan sudah berhenti namun hasil dari pemanfaatan sumberdaya tersebut masih dapat dirasakan oleh generasi sekarang dan generasi yang akan datang. Sejalan dengan konsep tersebut, dalam makalah ini akan dikaji keberlanjutan pelaksanaan pembangunan yang berbasiskan sumberdaya mineral dan batubara. Pendekatan yang digunakan dalam mengevaluasi keberlajutan pembangunan tersebut adalah menggunakan Compass Index Sustainability dengan studi kasus pada pembangunan daerah Kabupaten Luwu Timur yang selama ini pembangunannya bergantung terutama pada pertambangan nikel. 2. Pembangunan Berkelanjutan Berbasiskan Pertambangan Pembangunan berkelanjutan ini mulai diperkenalkan oleh World Commission on Environment and Development, yang dikenal juga sebagai Brundtland Commission, pada tahun 1987. Brundtland Commission memperkenalkan definisi pembangunan berkelanjutan sebagai suatu sistem yang memungkinkan terjadinya pemenuhan kebutuhan saat ini, tanpa membahayakan kemampuan pemenuhan kebutuhan di masa depan. Menurut UNCSD (United Nations Commission on Sustainable Development), empat dimensi keberlanjutan adalah institusional, sosial, ekonomi, dan lingkungan1. Indikator untuk mengukur dimensi institusional adalah keadilan, kesetaraan gender, dan peran serta aktif. Sementara, indikator dimensi sosial adalah pemerataan dan pemenuhan kebutuhan manusia. Selain itu, indikator ekonomi menggunakan ukuran-ukuran ekonomi. Indikator lingkungan adalah penggunaan sumberdaya alam dan juga indikator lingkungan yang dikeluarkan oleh pemerintah. Konsep keberlanjutan terutama melingkupi tiga hal, yakni lingkungan, ekuitas, dan ekonomi. Seorang ekonom bernama Herman Daly mengkorporasikan tiga hal tersebut dan membentuk
1

Sustainability Indicators, Wuppertal Paper No 81, February 1998 (http://www.wuppwerinst.org, diakses 01 Mei 2010)

368

sebuah diagram segitiga untuk menjelaskan hubungan antara masing-masing hal. Diagram segitiga tersebut dikenal dengan nama Daly's Triangle. Kemudian, dalam penelitiannya yang berjudul Indicators and Information Systems for Sustainable Development2, Donella Meadows memecah Daly's Triangle menjadi 4 segmen, yakni ultimate means, intermediate means, intermediate ends, dan ultimate ends.

Gambar 1 Segmen-segmen Daly's Triangle (Interpretasi oleh Donella Meadows) Sebagai instrument verifikasi, digunakan Compass Index of Sustainability. Compass Index merupakan suatu indeks yang didesain untuk melakukan tiga hal, yakni:
1. Mengukur keberlanjutan. 2. Mendukung keterlibatan multi-stakeholder.
2 Meadows, Donella, Indicators and Information Systems for Sustainable Development, The Sustainability Institute, September 1998 (http://www.nssd.net, diakses 23 Maret 2010)

369

3. Menyesuaikan rencana strategis dan inisiatif pembangunan berkelanjutan ke arah

berkelanjutan yang sistemik. Kerangka Compass Index ini berawal dari teori keberlanjutan yang diajukan oleh Herman Daly. Daly mengemukakan empat elemen keberlanjutan, yakni nature, economy, society, dan individual well being. Teori ini kemudian dikembangkan oleh Alan Atkisson menjadi Compass Index of Sustainability, dengan merincikan komponen-komponen yang terukur pada masingmasing elemen, agar dapat membentuk suatu indeks keberlanjutan, sebagai berikut: 1. Nature, merupakan komponen yang terdiri atas sumberdaya alam dan ekosistem. 2. Economy, adalah komponen yang mengukur proses-proses yang menyebabkan terjadinya pertambahan nilai, seperti transaksi, produksi, dan ekstraksi. 3. Society, merupakan komponen yang terdiri atas institusi dan sistem yang dibangun oleh manusia. 4. Well-being, adalah komponen yang mengukur kesehatan dan kebahagiaan individu manusia.

Gambar 2 Kerangka kerja dari Compass Index of Sustainability
3. Studi Kasus Penerapan Compass Index Sustainability Pada Pembangunan Daerah

Luwu Timur Kabupaten Luwu Timur merupakan kabupaten paling timur di Propinsi Sulawesi Selatan yang berbatasan dengan Propinsi Sulawesi Tengah di sebelah utara. Di sebelah selatan, Kabupaten Luwu Timur berbatasan dengan Propinsi Sulawesi Tenggara dan Teluk Bone. Batas sebelah barat dari kabupaten ini adalah Kabupaten Luwu Utara. Secara geografis, Kabupaten Luwu Timur terletak di sebelah selatan garis khatulistiwa, yakni antara 2°03'00” - 3°03'25” Lintang Selatan dan 119°28'56” - 121°47'27” Bujur Timur. Luas wilayah Kabupaten Luwu Timur adalah 6,944.88 km2, yakni mencakup 11.14% luas wilayah Propinsi Sulawesi Selatan.

370

Ibukota Kabupaten Luwu Timur adalah Malili. Secara administratif, Kabupaten Luwu Timur dibagi menjadi 11 kecamatan yaitu Kecamatan Burau, Wotu, Tomoni, Tomoni Timur, Angkona, Malili, Towuti, Nuha, Wasuponda, Mangkutana, dan Kalaena. 11 kecamatan tersebut terbagi menjadi 99 desa dan 3 UPT (Unit Pemukiman Transmigrasi). Ditinjau dari jumlah desanya, Kecamatan Burau memiliki jumlah desa terbanyak, yakni 14 desa. Namun, bila ditinjau dari luas wilayah, Kecamatan Towuti merupakan kecamatan yang memiliki wilayah terluas, mencapai 1,820.48 km2 atau sekitar 26.21% dari luas wilayah Kabupaten Luwu Timur. Jumlah penduduk Kabupaten Luwu Timur (kondisi Desember 2007) berdasarkan estimasi Hasil Sensus Penduduk Tahun 2000 mencapai jumlah 231,385 jiwa dengan laju pertumbuhan penduduk sebesar 3.66% per tahun dalam periode 2003 – 2007. Jumlah tersebut tercakup dalam 52,854 rumah tangga. Pada tahun 2007, rata-rata kepadatan penduduk di Kabupaten Luwu Timur relatif masih kecil, yakni hanya 33 jiwa per km persegi. Kecamatan paling padat adalah Kecamatan Tomoni Timur, yang mencapai 263 jiwa per km2. Sementara, Kecamatan Malili, yang adalah pusat pemerintahan, kepadatannya hanya 31 jiwa per km2. Sektor pertambangan di Kabupaten Luwu Timur sampai saat ini didominasi oleh pengusahaan sumberdaya nikel oleh PT Inco. PT Inco menandatangani kontrak karya eksplorasi nikel pada 27 juli tahun 1968 berdasarkan kontrak karya generasi II dan VI pada tahap operasional hingga saat ini, seluas 218.530 Ha, meliputi 118,387 Ha di wilayah Kabupaten Luwu Timur, 36,638 Ha di Provinsi Sulawesi Tengah dan 63,505 Ha termasuk Provinsi Sulawesi Tenggara Kegiatan penambangan berada di sekitar Sorowako dan Danau Matano, yang berjarak sekitar 240 km dari Makassar ibukota propinsi Sulawesi Selatan. Jika dilihat secara sektoral, sektor pertambangan dan penggalian, masih menjadi sektor yang mampu memberikan kontribusi terbesar bagi pembentukan PDRB Kabupaten Luwu Timur, baik atas dasar harga berlaku maupun atas dasar harga konstan 2000 (lihat Tabel 1). Kemudian, Daly's Triangle digunakan untuk melakukan analisis atas tingkat kesejahteraan masyarakat Kabupaten Luwu Timur. Analisis ini dilakukan dengan cara melihat kesesuaian antara segmen-segmen pada Daly's Triangle serta kesesuaian dengan program-program yang ada pada pemerintah Kabupaten Luwu Timur.

371

Tabel 1 Kontribusi masing-masing Sektor pada PDRB Kabupaten Luwu Timur dan Provinsi Sulawesi Selatan

Gambar 3 Hasil Analisis Tingkat Kesejahteraan Masyarakat Kabupaten Luwu Timur dengan Daly's Triangle Berdasarkan Daly's Triangle terlihat bahwa Kabupaten Luwu Timur saat ini berada pada segmen intermediate means. Kabupaten Luwu Timur belum dapat mencapai segmen intermediate ends, masih diperlukan upaya-upaya lebih lanjut dari pemerintah Kabupaten Luwu Timur untuk mencapai segmen ini. Setelah menentukan tingkat kesejahteraan masyarakat Kabupaten Luwu Timur dengan Daly's Triangle, selanjutnya dilakukan verifikasi dengan memanfaatkan perhitungan Compass Index of Sustainability. Skala yang digunakan dalam indeks ini adalah

372

antara 0 sampai dengan 100. Nilai 0 menunjukkan situasi terburuk, di mana kondisi kolaps dan tidak terjadi keberlanjutan. Nilai 100 adalah kondisi ideal, di mana terjadi keberlanjutan. Untuk komponen nature, parameter yang dibutuhkan harus dapat mengukur perubahan yang terjadi dalam sumberdaya alam dan ekosistem, dalam hal ini adalah sumberdaya alam komoditas tambang, yakni nikel, yang menjadi bahan galian utama PT INCO, Tbk pada Kabupaten Luwu Timur. Komponen economy diukur dengan menggunakan parameter Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Kabupaten Luwu Timur. Sementara, parameter yang digunakan pada komponen society adalah angka partisipasi kasar siswa dalam sekolah dan fasilitas kesehatan yang terdapat pada Kabupaten Luwu Timur. Terakhir, komponen well-being diukur dengan menggunakan parameter-parameter yang menyusun Indeks Pembangunan Manusia, yakni angka harapan hidup, angka melek huruf, dan paritas daya beli. Setelah diperoleh indeks untuk masing-masing komponen, dapat ditentukan Compass Index for Sustainability secara keseluruhan. Compass Index ini memberikan nilai rata-rata sebesar 70 dari skala 0 – 100, dalam periode tahun 2004 hingga 2008. Hal ini menunjukkan bahwa kondisi Kabupaten Luwu Timur, secara umum dari 4 aspek nature, economy, society, dan well-being, cukup memadai bagi terwujudnya pembangunan berkelanjutan. Hanya saja, Compass Index tidak dapat menunjukkan apakah kondisi yang memadai tersebut karena pemerintah Kabupaten Luwu Timur telah menyiapkan dan menjalankan program-program bagi pengembangan sektor unggulan pengganti sektor pertambangan, ataukah semata-mata karena terlalu besarnya kontribusi sektor pertambangan nikel yang tercatat dalam anggaran belanja dan programprogram yang dijalankan oleh pemerintah Kabupaten Luwu Timur.

Gambar 4. Indeks untuk Komponen Nature, Economy, Society, dan Well-being

373

Gambar 5. Compass Index of Sustainability untuk Kabupaten Luwu Timur
4.

Diskusi

Masyarakat Kabupaten Luwu Timur pada dasarnya merupakan masyarakat agraris yang mengandalkan kehidupan perekonomiannya pada kegiatan bertani. Namun, di sisi lain, keberadaan PT International Nickel Indonesia, Tbk (PT INCO, Tbk) yang menggerakkan sektor pertambangan di Kabupaten Luwu Timur secara tidak langsung juga memegang peranan penting pada kehidupan perekonomian masyarakat Luwu Timur. Tabel 2. Struktur Perekonomian Menurut Sektor/Lapangan Usaha Kabupaten Luwu Timur Dengan dan Tanpa Pertambangan Nikel (2008*, %)

Selain sektor pertanian dan pertambangan yang merupakan industri primer, roda perekonomian Kabupaten Luwu Timur saat ini tengah berjalan menuju industri sekunder, yakni sektor

374

pengolahan. Hal ini terlihat dari besarnya kontribusi sektor pengolahan pada struktur perekonomian, yang pada periode 2004 – 2008 adalah rata-rata sebesar 1.80% bila dengan pertambangan nikel, dan sebesar 9.13% bila tanpa pertambangan nikel (Kab. Luwu Timur Dalam Angka 2004 – 2008). Selain itu, sektor pengolahan ini memiliki faktor keterkaitan hilir terbesar bila dibandingkan dengan sektor-sektor lainnya, yakni sebesar 1.971, dan faktor keterkaitan hulu terbesar kedua, yakni sebesar 1.258 (Tabel I/O 2000). Dengan nilai Indeks Pembangunan Manusia rata-rata berada pada titik 70.39 sejak tahun 2004 hingga tahun 2008, Kabupaten Luwu Timur berada pada tingkat kesejahteraan menengah cenderung menengah atas. Hal ini juga ditunjukkan oleh hasil analisis Daly's Triangle yang diterapkan pada Kabupaten Luwu Timur. Daly's Triangle menunjukkan bahwa pada saat ini kondisi Kabupaten Luwu Timur masih berada pada tahap intermediate means. Berarti, secara umum, pemenuhan kesejahteraan masyarakat Kabupaten Luwu Timur masih berkisar pada kebutuhan sekunder. Namun, secara keseluruhan tingkat kesejahteraan masyarakat Kabupaten Luwu Timur relatif baik dan menjanjikan bagi keberlanjutan menuju taraf hidup yang lebih baik. Hal ini ditunjukkan oleh Compass Index of Sustainability. Sustainability Index secara keseluruhan untuk Kabupaten Luwu Timur untuk periode 2004 – 2008 memiliki nilai rata-rata sebesar 70. Berarti kondisi yang tercipta pada Kabupaten Luwu Timur relatif memadai bagi terwujudnya pembangunan berkelanjutan. Kesimpulan Dari pengolahan data serta analisis yang dilakukan, kesimpulan yang dapat diambil adalah sebagai berikut: 1. Sektor pertambangan, melalui PT INCO, Tbk, merupakan sektor yang berkontribusi paling besar pada perekonomian Kabupaten Luwu Timur. Meskipun demikian, sektor pertambangan bukanlah sektor yang dapat diandalkan untuk selamanya menunjang perekonomian Kabupaten Luwu Timur. 2. Kabupaten Luwu Timur memiliki kondisi yang siap bagi keberlangsungan pembangunan yang berkelanjutan. 3. Pemerintah Kabupaten Luwu Timur perlu didorong untuk menjalankan program yang memberikan nilai tambah (added value) yang tinggi. Dengan adanya pilihan program yang bernilai tambah tinggi diharapkan pemerintah Kabupaten Luwu Timur dapat menjalankan pembangunan berkelanjutan dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat yang pada saat ini berada pada Daly's Triangle segmen intermediate means menjadi segmen intermediate ends dan ultimate ends .
5. 6.

Pustaka
Amrullah, A. (2007): Kajian Peran PT INCO (Tbk) Dalam Mendukung Pembangunan Ekonomi Kabupaten Luwu Timur - Sulawesi Selatan Era Otonomi Daerah: Pendekatan Antar Industri, Tesis Program Magister Rekayasa Pertambangan,

375

Institut Teknologi Bandung Atkisson, A., Hatcher, R L. (2005): The Compass Index of Sustainability: Prototype for a Sustainability Information System in Journal of Environmental Assesment Policy and Management, Volume: 3, Issue: 4, Pages: 509 - 532 Badan Pusat Statistik Provinsi Sulawesi Selatan. (2000): Tabel Input – Output Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2000, Badan Pusat Statistik Provinsi Sulawesi Selatan Badan Pusat Statistik Kabupaten Luwu Timur. (2004): Kabupaten Luwu Timur Dalam Angka 2004, Badan Pusat Statistik Kabupaten Luwu Timur Badan Pusat Statistik Kabupaten Luwu Timur. (2005): Kabupaten Luwu Timur Dalam Angka 2005, Badan Pusat Statistik Kabupaten Luwu Timur Badan Pusat Statistik Kabupaten Luwu Timur. (2006): Kabupaten Luwu Timur Dalam Angka 2006, Badan Pusat Statistik Kabupaten Luwu Timur Badan Pusat Statistik Kabupaten Luwu Timur. (2007): Kabupaten Luwu Timur Dalam Angka 2007, Badan Pusat Statistik Kabupaten Luwu Timur Badan Pusat Statistik Kabupaten Luwu Timur. (2008): Kabupaten Luwu Timur Dalam Angka 2008, Badan Pusat Statistik Kabupaten Luwu Timur Hutamadi, R., Kuntjara, U., Fujiono, H. (2005): Pemantauan dan Evaluasi Konservasi Sumber Daya Mineral Pada Wilayah Usaha Pertambangan di Kabupaten Luwu Timur Provinsi Sulawesi Selatan, (http://www.dim.esdm.go.id/kolokium%202005/) Jensen, I. (2001): The Leontief Open Production Model or Input-output Analysis, (http://online-redwoods.cc.ca.us/instruct/darnold/) Kerjasama Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Kabupaten Luwu Timur dan Badan Pusat Statistik Luwu Timur. (2007): Indikator Kesejahteraan Rakyat Kabupaten Luwu Timur 2006/2007, Badan Pusat Statistik Kabupaten Luwu Timur Kerjasama Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Kabupaten Luwu Timur dan Badan Pusat Statistik Luwu Timur. (2008): Produk Domestik Regional Bruto Kabupaten Luwu Timur Tahun 2004 – 2008, Badan Pusat Statistik Kabupaten Luwu Timur Meadows, D. (1998): Indicators and Information Systems for Sustainable Development, The Sustainability Institute, (http://www.nssd.net/) PT International Nickel Indonesia, Tbk. (2004): Laporan Tahunan – Annual Report Tahun 2004, PT International Nickel Indonesia, Tbk PT International Nickel Indonesia, Tbk. (2005): Laporan Tahunan – Annual Report Tahun 2005, PT International Nickel Indonesia, Tbk PT International Nickel Indonesia, Tbk. (2006): Laporan Tahunan – Annual Report Tahun 2006, PT International Nickel Indonesia, Tbk PT International Nickel Indonesia, Tbk. (2007): Laporan Tahunan – Annual Report Tahun 2007, PT International Nickel Indonesia, Tbk PT International Nickel Indonesia, Tbk. (2008): Laporan Tahunan – Annual Report Tahun 2008, PT International Nickel Indonesia, Tbk Model Tabel Input-output Nasional (Regional), (http://xa.yimg.org/kq/groups/) Profil Kabupaten LuwuTimur, (http://regionalinvestment.bkpm.go.id/newsipid/id/displayprofil.php?ia=7325/)

Wibowo A P., et.al. Pengelolaan Pembangunan Berbasiskan Sektor Pertambangan Di Kabupaten Luwu Timur Dari Perspektif Pemerintah Daerah, Prosiding TPT XIX Perhapi, 2010, Hal. 390 – 401.

376

PROSIDING TPT XX PERHAPI 2011 Penerapan Konsep Eksplorasi, Sumberdaya dan Cadangan Dalam Konservasi Sumberdaya Bahan Galian
Syafrizal Kelompok Keahlian Eksplorasi Sumber Daya Bumi, Fakultas Teknik Pertambangan dan Perminyakan, Institut Teknologi Bandung, Jl. Ganesha 10, Bandung, 40132, Jawa Barat, Indonesia Email : syafrizal@mining.itb.ac.id ABSTRAK Dewasa ini, konservasi sumberdaya alam (mineral dan batubara) merupakan salah satu isu yang cukup hangat dibicarakan dalam rangka pemanfaatan sumberdaya bahan galian (mineral dan batubara) secara optimal. Dalam hal ini, maka penerapan konsep eksplorasi, perhitungan dan pelaporan sumberdaya dan cadangan menjadi hal yang sangat krusial untuk diperhatikan, dimana peranan pemilik konsesi yang merupakan pelaksana kegiatan eksplorasi, pemerintah daerah dan pemerintah pusat sebagai pembuat kebijakan yang sekaligus berfungsi sebagai pengawas seharusnya memiliki kesamaan dalam visi untuk memaksimalkan atau mengoptimalkan pemanfaatan bahan galian ini. Pada makalah ini, akan diulas kembali hal-hal yang berhubungan dengan konsep-konsep eksplorasi, konsep-konsep dasar dan paramater-parameter perhitungan sumberdaya dan cadangan, serta teknik pelaporan yang akan dihubungkan dengan konsep konservasi sumberdaya alam khususnya sumberdaya bahan galian. Kata kunci : konservasi sumberdaya alam, mineral, batubara, eksplorasi, perhitungan dan pelaporan sumberdaya dan cadangan. PENDAHULUAN Berdasarkan pencarian kata konservasi (conservation) dengan menggunakan metoda pencarian di internet, diperoleh banyak sekali definisi dan pengertian dari konservasi. Secara umum, konservasi berasal dari kata “ conservation ”. Menurut terjemahan bebas dari “dictionary.cambridge.org” maka kata “conservation” diartikan sebagai “carefully using valuable natural substances that exist in limited amounts in order to make certain that they will be available for as long a time as possible”. Berdasarkan definisi tersebut di atas dapat dilihat beberapa kata kunci yang penting seperti “sumberdaya alam dalam jumlah terbatas” dan “ketersediaan dalam waktu yang selama mungkin”. Kedua kata kunci tersebut sangat relevan jika dikaitkan dengan karakteristik endapan

377

bahan galian yaitu tersedia dalam jumlah tertentu dan tidak bisa diperbarukan. Begitu juga dengan “ketersediaan dalam waktu yang selama mungkin” dimana hal ini dapat diartikan sebagai eksploitasi bahan galian secara optimum sesuai dengan tingkat kebutuhannya. Berdasarkan definisi tersebut di atas, maka upaya konservasi juga dapat dikaitkan dengan pengertian mendapatkan manfaat yang optimal dari potensi bahan galian. Upaya konservasi juga dapat diterjemahkan sebagai usaha untuk memanfaatkan endapan bahan galian secara maksimal, dimana diharapkan tidak adanya potensi bahan galian yang tidak dimanfaatkan. Oleh sebab itu jika dikaitkan dengan hal yang lebih luas dalam dunia pertambangan, maka umur tambang, proses penutupan tambang serta kegiatan reklamasi lahan bekas tambang harus mempertimbangkan ketersediaan potensi bahan galian atau keberadaan potensi bahan galian yang masih ada atau yang masih bersisa, baik berupa bahan galian utama yang karena kualitas atau kadarnya belum mempunyai nilai ekonomi (endapan marginal ?), produk bahan galian selain yang diusahakan sebagai komoditi utama (by product), maupun komoditas bahan galian yang masih terkandung pada tailing yang saat ini belum bisa diekstrak dengan teknologi pengolahan saat ini. EKSPLORASI Eksplorasi adalah suatu proses atau bidang ilmu dalam rangka pencarian atau pendifinisian suatu endapan bahan galian sehingga memiliki suatu nilai ekonomis tertentu. Dalam banyak literatur, terminologi “prospeksi (prospecting)” banyak digunakan sebagai sinonim dari eksplorasi. Suatu endapan bahan galian yang miliki nilai komersial (ekonomis) sering disebut atau dinyatakan sebagai tubuh bijih (ore bodies). Industri Pertambangan merupakan salah satu industri yang mempunyai resiko (ketidakpastian) yang tinggi. Dalam usaha pemanfaatan sumberdaya mineral/bahan galian untuk kesejahteraan masyarakat dan pengembangan suatu daerah, diperlukan suatu aktivitas (usaha) pertambangan. Agar usaha pertambangan tersebut dapat berjalan dan memperoleh keuntungan, maka potensi sumberdaya mineral/bahan galian yang ada harus diketahui dengan pasti, baik kualitas maupun kuantitasnya. Begitu juga terhadap resiko, dimana melalui kegiatan-kegiatan yang sistematis dan bertahap perlu dilakukan untuk menurunkan atau memperkecil resiko-resiko yang ada (Gambar 1). Suatu daerah yang diperkirakan memiliki potensi suatu endapan bahan galian sering dinyatakan sebagai daerah prospek. Selanjutnya, aktivitas-aktivitas yang dilakukan dalam usaha investigasi untuk menghasilkan data-data sehubungan dengan daerah prospek disebut dengan kegiatan eksplorasi. Tujuan akhir dari kegiatan eksplorasi ini adalah menghasilkan suatu daerah yang memiliki nilai untuk dikembangkan lebih lanjut melalui kegiatan penambangan.

378

Geometri, distribusi kadar atau kualitas suatu endapan pada umumnya tidak homogen, sehingga pola dan distribusi titik pengambilan data (sampel) menjadi suatu hal yang sangat penting sehingga tingkat kesulitan eksplorasi sangat ditentukan oleh tipe dan jenis endapannya (Gambar 2). Pada tahap akhir kegiatan eksplorasi, penyebaran dan kerapatan titik pengambilan data adalah faktor penentu utama dalam penilaian kesuksesan program eksplorasi. Dimana, pada tahap akhir kegiatan eksplorasi, proses pengambilan keputusan untuk dibukanya suatu tambang menjadi tantangan utama yang beresiko tinggi (Gambar 3).

Gambar 1. Pentahapan aktivitas eksplorasi dan industri pertambangan dalam hubungannya dengan resiko-resiko yang ada.

Gambar 2. Hubungan antara kontinuitas geometri dan nilai masing-masing jenis bahan galian (Alastair J. Sinclair and Garston H. Blackwell 2004).

379

Gambar 3. Skema pentahapan eksplorasi, pendugaan biaya, dan titik-titik pengambilan keputusan (dimodifikasi dari Evans, 1995).

PERENCANADAN PELAKSANAEKSPLORASI Badan atau pihak perencana kegiatan eksplorasi tersebut dapat berupa suatu badan pemerintah, perusahaan eksplorasi atau perusahaan pertambangan. Berikut diuraikan goal (tujuan) dari masing-masing pihak perencana eksplorasi tersebut :
§ Pada suatu badan pemerintah, kegiatan eksplorasi lebih ditujukan untuk prospek

pengembangan wilayah (daerah), maka kegiatan eksplorasi lebih diarahkan untuk pendataan potensi sumberdaya bahan galian yang ada di wilayah tersebut, sehingga kegiatan eksplorasi tersebut lebih bersifat inventarisasi sumberdaya mineral. Dimana pada akhirnya, hasil dari inventarisasi sumberdaya mineral ini dapat dijadikan sebagai pijakan awal dalam perencanaan pengembangan daerah tersebut.
§ Pada perusahaan eksplorasi, dengan tujuan pengembangan potensi mineral tertentu, maka

kegiatan eksplorasi diarahkan untuk dapat mengumpulkan data endapan tersebut selengkaplengkapnya, sehingga data endapan yang dihasilkan mempunyai nilai yang dapat dianggunkan atau dijual kepada pihak lain.
§ Pada perusahaan pertambangan, dengan tujuan pengembangan dan penambangan mineral

tertentu, maka kegiatan eksplorasi diarahkan untuk dapat mengumpulkan data endapan tersebut untuk mengetahui nilai ekonominya sehingga layak untuk ditambang dengan jangka waktu dan tingkat produksi tertentu.

380

Keberhasilan program eksplorasi ini sangat bergantung pada beberapa hal, antara lain pemahaman (pengetahuan) terhadap bahan galian, penguasaan teknologi dan metoda eksplorasi, serta kekuatan (besaran) modal. Sebuah ilustrasi tentang progam eksplorasi ini dapat dilihat pada Gambar 4.

Gambar 4. Ilustrasi program eskplorasi berdasarkan tingkat pengetahuan dan teknologi eksplorasi yang digunakan. Oleh sebab itu, kegiatan eksplorasi secara umum dapat memiliki beberapa tujuan, antara lain : Mencari dan menemukan cadangan bahan galian baru. Dalam hal ini, kegiatan eksplorasi a. dilakukan pada daerah yang benar-benar baru (tanpa adanya data-data keberadaan endapan). Mengendalikan (menambah) pengembalian investasi yang ditanam. Dalam hal ini, b. kegiatan eksplorasi ditujukan untuk menemukan pencadangan wilayah atau melakukan pembatasan potensi endapan yang pada saat sekarang belum memiliki nilai ekonomi yang bagus (kadar rendah). Mengendalikan (penambahan/pengurangan) jumlah cadangan. Dalam hal ini biasanya c. dilaksanakan pada tahapan re-evaluasi suatu wilayah yang sudah ditambang, dimana ketersediaan jumlah sisa cadangan merupakan dasar utama dari aktivitas penambangan, Mengendalikan atau memenuhi kebutuhan pasar atau industri. Dalam hal ini kegiatan d. eksplorasi diarahkan pada suatu komoditi tertentu yang dibutuhkan oleh permintaan pasar (industri). Diversifikasi sumberdaya alam. Dalam hal ini, kegiatan eksplorasi diarahkan untuk e. mengantisipasi perkembangan teknologi (misalnya teknologi ekstraksi atau pemisahan) sehingga beberapa jenis logam yang sebelumnya tidak bisa diambil bisa menjadi komoditi multi-produk. Mengontrol sumber-sumber bahan baku sehingga dapat berkompetisi dalam persaingan f. pasar. Dalam hal ini, kegiatan eksplorasi lebih ditujukan dalam per-ekonomian global, dimana kontrol terhadap sumber-sumber bahan baku menjadi alat perdagangan secara regional.

381

EKSPLORASI DAN KONSERVASI SUMBERDAYAMINERALDAN BATUBARA Dalam amanah UUD 1945 Pasal 33 ayat (3) “Bumi dan air dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat”. UU No. 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batubara : Pasal 1 § Pertambangan adalah sebagian atau seluruh tahapan kegiatan dalam rangka penelitian, pengelolaan dan pengusahaan mineral atau batubara yang meliputi penyelidikan umum, eksplorasi, studi kelayakan, konstruksi, penambangan, pengolahan dan pemurnian, pengangkutan dan penjualan, serta kegiatan pascatambang. § Penyelidikan Umum adalah tahapan kegiatan pertambangan untuk mengetahui kondisi geologi regional dan indikasi adanya mineralisasi. § Eksplorasi adalah tahapan kegiatan usaha pertambangan untuk memperoleh informasi secara terperinci dan teliti tentang lokasi, bentuk, dimensi, sebaran, kualitas dan sumberdaya terukur dari bahan galian, serta informasi mengenai lingkungan sosial dan lingkungan hidup. Konservasi Sumberdaya Mineral Dan Batubara (PP 55 Tahun 2010, Pasal 25) melingkupi : § Recovery penambangan dan pengolahan; § Pengelolaan dan/atau pemanfaatan cadangan marginal; § Pengelolaan dan/atau pemanfaatan batubara kualitas rendah dan mineral kadar rendah; § Pengelolaan dan/atau pemanfaatan mineral ikutan; § Pendataan sumber daya serta cadangan mineral dan batubara yang tidak tertambang; dan § Pendataan dan pengelolaan sisa hasil pengolahan dan pemurnian. Beberapa teori dasar eksplorasi yang mendukung dan relevan terhadap amanah undang-undang dan Peraturan Pemerintah yang berhubungan dengan eksplorasi dan konservasi bahan galian ini adalah antara lain klasifikasi sumberdaya dan cadangan “The Mc. Kelvey Box, 1986” dan “SNI 13-6011-1999” (Gambar 5 dan 6).

Gambar 5. The Mc. Kelvey Box, 1986.

382

Gambar 6. Tahapan Eksplorasi, klasifikasi sumberdaya dan cadangan menurut SNI 13-60111999. Pada saat ini, dapat dikutip beberapa hal yang cukup relevan sehubungan dengan Konservasi Sumberdaya Mineral dan Batubara, antara lain § Dewasa ini pertambangan merupakan salah satu sektor dalam sebuah rantai besar yang yang digerakkan oleh seluruh stakeholders (goverment, business maupun society). § Beberapa kelemahan yang menyebabkan sinergi belum hadir antara lain kelemahan institutional dari sisi pemerintah (tumpang tindih regulasi), kelemahan dari kalangan bisnis (peningkatan nilai tambah), serta kelemahan kultural dari society. § Kegiatan penambangan yang sangat marak ditengah-tengah momentum untuk mendapatkan tingkat produksi guna mencapai pendapatan daerah dan mendatangkan keuntungan kapital dengan cepat. Hal utama yang menjadi isu penting dari sisi eksplorasi adalah Neraca Sumberdaya dan Cadangan (Gambar 7 dan Gambar 8). § Apakah memungkinkan jika setiap perusahaan diwajibkan untuk melakukan eksplorasi secara menyeluruh pada konsesi yang diberikan dengan menggunakan spasi (kerapatan) data yang cukup, minimal memenuhi persyaratan sumberdaya inferred. § Sisi positif yang dapat diperoleh adalah dapat diketahuinya total sumberdaya di keseluruhan wilayah diketahui, begitu juga dengan perkiraan pola sebaran sehingga bisa diproyeksikan kepada umur tambang, kemungkinan melakukan metoda penambangan bawah tanah, perencanaan penempatan waste, perencanaan reklamasi, dan lain-lain. § Sisi negatif : beban biaya eksplorasi dan lama waktu kegiatan eksplorasi menjadi lebih panjang. Apakah tidak mungkin eksplorasi awal mulai dilakukan oleh pemerintah atau memberikan izin kepada Junior Company yang khusus di bidang eksplorasi. § Dengan adanya neraca sumberdaya & cadangan ini, maka dapat diatur (ditentukan) target

383

produksi yang akan berhubungan dengan lama izin pengusahaan yang akan diberikan. Apakah tidak mungkin membuat klasifikasi-klasifikasi perusahaan berdasarkan neraca sumberdaya dan cadangan yang dimiliki, sehingga pengusahaan bahan galian tersebut dapat maksimal atau optimal.

Gambar 7. Ilustrasi neraca sumberdaya dan cadangan.

Gambar 8. Ilustrasi skema neraca sumberdaya dan cadangan untuk konservasi. Hal lain yang dapat menjadi isu adalah keberagaman tingkat kesulitan eksplorasi bahan galian (lihat Gambar 2 dan Gambar 9), dimana endapan-endapan bijih primer akan jauh lebih sulit daripada endapan-endapan laterit maupun batubara, sehingga dalam penanganannya tidak dapat diberlakukan hal yang sama.

384

Sebagai contoh, pada endapan batubara yang memiliki karakteristik tersebar luas dan memiliki variasi kualitas yang relatif homogen pada suatu wilayah tertentu akan relatif lebih mudah ditangani dari sisi eksplorasi sehingga dapat dilakukan pemboran awal dengan spasi pemboran yang besar, sehingga waktu eksplorasi dan proses analisis serta evaluasi dapat dilakukan dengan waktu yang relatif cepat. Hal penting yang menjadi perhatian dalam aspek konservasi adalah luasan dan lahan. Namun pada endapan-endapan primer dengan tingkat kesulitan tinggi, akan berhubungan dengan wilayah-wilayah yang relatif terpencil dan alam yang sulit, sehingga proses eksplorasinya akan memakan waktu yang panjang karena membutuhkan tahapan-tahapan eksplorasi yang banyak. Hal penting yang menjadi perhatian dalam aspek konservasi adalah durasi waktu, keberagaman variasi mineral bijih dan mineral ikutannya, kadar yang akan relatif kecil/rendah, dll. Dalam hal ini, sinergi antara data eksplorasi, konsep penambangan, serta teknologi pengolahan dan pemurnian adalah sinergi utama yang dapat mendukung keberhasilan program konservasi.

Gambar 9. Ilustrasi hubungan antara kontinuitas endapan dan tingkat kesulitan. KESIMPULAN Keberhasilan program konservasi bahan galian (mineral dan batubara) berawal dari informasi eksplorasi, dimana informasi (data) yang berhubungan dengan penyebaran endapan sehingga dapat diketahui neraca sumberdaya dan cadangan yang menjadi pijakan utama dalam mengambil kebijakan yang berwawasan konservasi. Keberhasilan konservasi bahan galian juga berhubungan dengan variasi dan jenis komoditi bahan galian yang memiliki karakteristik-karakteristik tertentu, sehingga sinergi antara eksplorasi hingga pengolahan dan pemurnian menjadi hal yang sangat penting.

385

REFERENSI 1. Annels; Mineral Deposits Evaluation. Chapman & Hall. 1991 2. Charles J. Moon, Michael K.G. Whateley, & Anthony M. Evans., Introduction to Mineral Exploration., Blackwell Publishing Ltd., 2006. 3. Spereo Carras., Sampling Evaluation and Basic Principles of Reserve Estimation, Carras Mining &Associates, 1983 4. Alastair J. Sinclair and Garston H. Blackwell., Applied Mineral Inventory Estimation., Cambridge., 2006

386

PROSIDING TPT XX PERHAPI 2011

387

388

389

390

391

392

393

394

395

396

397

398

399

400

401

402

403

404

405

PROSIDING TPT XX PERHAPI 2011 DESA MANDIRI Kendaraan menuju Kemandirian Desa yang menjadi bagian skenario Tutup Tambang di bidang Sosial dan Ekonomi PT Kaltim Prima Coal
Nurul Karim dan Denny Pratama PT Kaltim Prima Coal Abstract Makalah ini adalah tentang program pemberdayaan masyarakat dan penguatan kapasitas pemerintah desa yang dilakukan PT.Kaltim Prima Coal (KPC) dengan nama Program Desa Mandiri. Pelaksanaan program Desa Mandiri merupakan bagian dari pelaksanaan Corporate Social Responsibility PT.Kaltim Prima Coal dan sebagai bentuk kontribusi terhadap pembangunan berkelanjutan di Kabupaten Kutai Timur. Program Desa Mandiri dan CSR, pada gilirannya mendukung strategi dan rencana penutupan tambang KPC. Sebagai bentuk dari etika bisnis kontemporer, aktivitas CSR menujukkan perhatian perusahaan selaku bagian dari entitas masyarakat. Perusahaan dituntut untuk memberikan kontribusi lebih, dalam mendukung trend pembangunan berkelanjutan daerah, dan isu peningkatan kualitas hidup masyarakat sekitar. Kepedulian terhadap pembangunan berkelanjutan dan peningkatan kualitas hidup masyarakat menjadi komitmen utama KPC dalam pelaksanaan program CSRnya. Terbagi menjadi tujuh bidang program, CSR KPC menitikberatkan pada tujuan kemandirian dan keberdayaan masyarakat. Isu sosial dan ekonomi yang khas dihadapi oleh pembangunan Kutai Timur, menjadi factor pendorong dalam perencanaan program Desa Mandiri. Program Desa Mandiri masih jauh dari final, namun proses dan perkembangannya menunjukkan hasil yang positif. Dukungan dan partisipasi dari masyarakat serta pemerintah dapat bersamasama mewujudkan masyarakat desa yang berdaya dan mandiri.

Kata Kunci: CSR, pemberdayaan masyarakat, pembangunan berkelanjutan, desa.

406

Latar Belakang Makalah ringkas ini bermaksud untuk membahas program Desa Mandiri sebagai salah satu program utama dalam CSR KPC di bidang pemberdayaan masyarakat. Dalam makalah ini akan digambarkan pada studi kasus mengenai proses dan capaian-capaian apa saja yang telah dipenuhi, maupun tantangan dan peluang yang perlu dicermati dalam program ini, mengingat bahwa sampai sekarang status program Desa Mandiri masih berlangsung. Harapannya, program Desa Mandiri ini dapat menjadi pelajaran baik, juga inspirasi khususnya bagi perusahaan tambang, maupun instansi yang berkecimpung dalam bidang pemberdayaan masyarakat local atau penggiat CSR. Sebelum membahas studi kasus Desa Mandiri, terlebih dahulu akan dijelaskan secara singkat mengenai KPC, konsep CSR dan paradigma CSR KPC serta kaitannya program Desa Mandiri, sebagai bagian dari CSR KPC, dengan isu strategis sosial-ekonomi pembangunan daerah. Sekilas PT.Kaltim Prima Coal PT Kaltim Prima Coal (KPC) adalah salah satu perusahaan tambang batubara terbesar di Indonesia. KPC sebelumnya dimiliki oleh British Petroleum International Ltd (BP) dan Conzinc Rio Tinto of Australia Ltd (Rio Tinto). KPC didirikan pada tahun 1982 dengan pengesahan dari Menteri Kehakiman RI sesuai dengan Surat Keputusan No Y.A.5/208/25 tanggal 16 Maret 1982 dan diumumkan dalam Berita Negara Republik Indonesia tanggal 30 Juli 1982 No 61 Tambahan Nomor 967. KPC saat ini dimiliki oleh PT Bumi Resources Tbk sebanyak 70% dan sisanya dimiliki oleh Tata Mauritius Ltd. Akuisisi saham dilakukan oleh PT Bumi Resources Tbk berdasarkan Akta Notaris No 3 tanggal 18 Oktober 2005, dan pengalihan 30% saham kepada Tata Power (Mauritius) Ltd dilakukan pada tahun 2007. Berdasarkan Perjanjian Kontrak Karya Pengusahaan Pertambangan Batubara (PKP2B) yang ditandatangani pada tanggal 8 April 1982, pemerintah memberikan izin kepada KPC untuk melaksanakan eksplorasi, produksi dan memasarkan batubara dari wilayah perjanjian sampai dengan tahun 2021. Wilayah perjanjian PKP2B ini mencakup daerah seluas 90.938 ha di Kabupaten Kutai Timur, Propinsi Kalimantan Timur. Dalam menjalankan operasional tambang, PT.Kaltim Prima Coal tidak bisa lepas dari pemangku kepentingan yang berada di sekitar area pertambangan. Dalam membangun interaksi dengan para pemangku kepentingan, KPC mempunyai komitmen yang kuat untuk melakukan pembangunan berkelanjutan sebagai bentuk dari tanggung jawab perusahaan terhadap sumber daya manusia, alam, dan lingkungan. Komitmen terhadap lingkungan, sosial, dan pembangunan ekonomi merupakan bagian dari komiten KPC mendukung pembangunan berkelanjutan. Ketiga aspek tersebut melandasi pelaksanaan program CSR KPC di wilayah Kabupaten Kutai Timur.

407

Melalui program CSR, KPC bertujuan mendukung percepatan pembangunan daerah yang berkelanjutan. Proses pembangunan daerah pun harus terkawal dan didukung oleh semua pihak yang terkait, tentunya juga dengan perencanaan yang matang dan prinsip kemitraan sebagai prinsip utama pola kerjasama dalam program CSR KPC. Sehingga, pembangunan daerah berkelanjutan yang didasari oleh kemandirian masyarakat dapat terwujud secara bertahap. Melalui program Desa Mandiri lah, impian tersebut berusaha digapai bersama-sama. CSR KPC, utamanya program Desa Mandiri ini, memiliki persilangan yang erat dengan isu-isu strategis pembangunan daerah. Memang, beberapa aspek program Desa Mandiri merupakan bentuk pemenuhan dari komitmen KPC terhadap nilai dan tujuan Millennium Development Goals dan Global Compact yang dikampanyekan oleh Badan Dunia PBB. Namun, isu sosialekonomi daerah dan isu pembangunan masyarakat lokal (desa) lah yang menjadi kaitan utama program Desa Mandiri. Dalam trend CSR terkini pun, pengembangan masyarakat local atau peningkatan kapasitas pemerintahan lokal, adalah salah satu tujuan utama yang disasar dalam pemikiran CSR kontemporer. Bagian berikut akan menjelaskan mengenai konsep CSR, paradigma CSR KPC dan keterkaitannya dengan isu sosial-ekonomi dan pembangunan daerah yang pada akhirnya membuat program Desa Mandiri bernilai strategis. Paradigma Corporate Social Responsibility (CSR) Trend CSR dapat ditelusuri empat puluh tahun yang lalu, ketika isu lingkungan hidup mencuat sebagai masalah bersama di dunia. Pembangunan dan kemajuan ekonomi memiliki sisi gelap; demi progresifitas ekonomi dan trend positif pembangunan, lingkungan alam menjadi taruhannya. Sehingga kala itu, banyak pihak yang kemudian menekankan perhatian terhadap pentingnya 'pembangunan berkelanjutan', yang menyelaraskan proses pembangunan dengan tidak mengorbankan lingkungan alam. World Commission on Environment and Development mengeluarkan sebuah laporan berjudul Our Common Future pada tahun 1987. Pada laporan tersebut, konsep sustainable development (pembangunan berkelanjutan) diangkat ke permukaan kepada public sebagai salah satu solusi untuk menengahi dan menyelaraskan urgensi isu lingkungan dengan geliat pertumbuhan ekonomi. Dengan kata lain: aktivitas ekonomi dapat memenuhi kebutuhan masa kini, tanpa harus mengorbankan hak pemenuhan kebutuhan hidup generasi di masa depan. Konsep pembangunan berkelanjutan menjadi penting di kalangan korporat. Jika korporat hanya menjalankan business as-usual, dunia korporasi akan gagal berkontribusi terhadap keberlanjutan lingkungan dan sosial, dan tidak mustahil akan berdampak negatif terhadap keberlanjutan usahanya sendiri. Maka, dari semangat pergerakan ini, pada era tahun 1990an lahir apa yang disebut dengan konsep CSR; sebuah interpretasi dunia bisnis mengenai etika berbisnis yang berkelanjutan dengan memperhatikan tiga aspek penting: sosial-lingkungan-ekonomi (atau biasa disebut 3P: People-Planet-Profit).

408

Terjemahan bebas CSR adalah “tanggung jawab sosial perusahaan”. Menurut The World Business Council for Sustainable Development CSR didefinisikan sebagai: “komitmen bisnis untuk berkontribusi dalam pembangunan ekonomi berkelanjutan, bekerja dengan karyawan perusahaan, keluarga karyawan tersebut, berikut komunitikomuniti setempat dan masyarakat secara keseluruhan dalam rangka meningkatkan kualitas kehidupan”. (Budimanta et al, 2008: 76)

Penekanan definisi di atas adalah pada komitmen. CSR dipahami sebagai bentuk pelaksanaan komitmen atau etika bisnis, sebuah best practice bagi perusahaan yang beroperasi di tengah masyarakat untuk berkontribusi terhadap kelangsungan pembangunan masyarakat sekitar. Dalam paradigma etika bisnis dan pembangunan berkesinambungan, perusahaan merupakan bagian dari entitas sosial-ekonomi yang dapat berperan lebih dari sekedar doing business as usual. Perusahaan dapat menjadi katalisator, atau bahkan agent of change dari masyarakat sekitarnya. CSR mendorong perusahaan untuk berbuat lebih dari apa yang diwajibkan atau dimandatkan. Apabila pemenuhan kewajiban berdasarkan apa yang dipersyaratkan oleh peraturanperundangan yang berlaku, CSR merupakan insiatif perusahaan sebagai bagian dari masyarakat untuk memberikan lebih dari apa yang diwajibkan. Perusahaan menjadi bagian dari proses perubahan dan pembangunan secara aktif dengan mengikuti nilai, norma, serta aspirasi dari pihak pemangku kepentingan sekitar wilayah usaha/operasinya. Sehingga, CSR merupakan konsep sekaligus praktek dalam konteks keberlangsungan usaha sebuah perusahaan, terutama perusahaan tambang. World Business Council for Sustainable Development mengeluarkan publikasi berjudul Doing Business with the World: The new role of corporate leadership in global development (WBCSD, 2007). Publikasi itu menjabarkan isu-isu global, dan langkah apa saja yang dapat dilakukan oleh dunia usaha dan korporasi untuk berkontribusi. Salah satu aspek utama yang dibahas adalah mengenai aspek 'pemerintah', dan kaitannya dengan pembangunan berkelanjutan. Menurut WBCSD, pemerintah merupakan aspek penting dalam keberhasilan pembangunan yang berkelanjutan. Pemerintahan yang buruk merepresentasikan tatanan utama bagi pertumbuhan ekonomi berkesinambungan. Disebutkan, faktor utama dalam tata pemerintahan yang buruk adalah tidak adanya political will memperbaiki keadaan yang sudah terjadi, sehingga, di sini lah pintu masuk perusahaan. Dengan adanya kontribusi lebih (CSR), perusahaan dapat menjadi pihak yang mendorong dan mengawal perbaikan dan pengembangan tata pemerintahan yang baik. Bantuan-bantuan (finansial, pelatihan tata kelola, pendampingan, jaringan, dsb) dari perusahaan diharapkan dapat mengeluarkan pemerintah, terutama pemerintah lokal di negara berkembang/miskin, dari jurang ketergantungan dan kemiskinan.

409

Perusahaan tambang memiliki andil besar terhadap peningkatan kapasitas pemerintah lokal. Dalam Mining: Partnership for Development Toolkit (2011) International Council in Mining and Metal kegiatan pertambangan mempengaruhi institusi dan kebijakan di tingkat nasional, regional, dan lokal (2011: 125). Sehingga, salah satu solusi yang dianjurkan oleh ICMM adalah, perusahaan tambang dapat berperan aktif dalam mengidentifikasi cakupan tanggung jawab atau CSR perusahaan terkait dengan aspek tata kelola pemerintah lokal, serta mengembangkan kemitraan untuk meningkatkan tingkat keterserapan lokal terhadap hasil pembangunan. Dengan CSR dan program pemberdayaan masyarakat, PT.Kaltim Prima Coal berusaha menjadi bagian dari percepatan pembangunan daerah dan peningkatan kualitas kehidupan masyarakat. Tujuan ini lah yang mendasari inisiatif pelaksanaan program Desa Mandiri. CSR KPC, Program Desa Mandiri dan Kaitannya Isu Pembangunan Daerah Bagi KPC, pelaksanaan CSR bukan hanya merupakan wujud pemenuhan dari amanat dan tanggung jawab, tetapi juga sebuah komitmen terhadap proses penambangan yang bertanggung jawab dan berkelanjutan. “Lebih dari Menambang”, begitu motto KPC, diimplementasikan salah satunya dalam dimensi pelaksanaan CSR KPC. KPC berkomitmen bahwa kegiatan penambangan harus bermanfaat kepada masyarakat lokal di daerah sekitar wilayah tambang KPC. Manfaat terhadap daerah didapat secara tidak langsung dari efek ganda (multiplier effect) seperti penerimaan pajak, pembelian domestik, gaji karyawan, dan lainnya. Akan tetapi, KPC pun secara aktif dapat berkontribusi langsung melalui kegiatan pengembangan masyarakat dan pembangunan berkelanjutannya sebagai bentuk dari tanggung jawab sosial perusahaan. Visi utama CSR KPC adalah “menjadi mitra pemerintah dan masyarakat dalam pembangunan berkelanjutan dan peningkatan kualitas hidup masyarakat”. Visi ini diterjemahkan ke dalam beberapa misi: 1. Menjalin hubungan yang harmonis dengan pemangku kepentingan berdasarkan prinsip saling percaya dan saling menghargai. 2. Mendorong pertumbuhan ekonomi lokal yang saling menguntungkan untuk menuju masyarakat yang mandiri sejahtera. 3. Menjaga tatanan masyarakat dengan memelihara kelestarian alam dan budayanya. Tujuan dari CSR KPC utamanya untuk pemenuhan amanat AMDAL 2010. Namun, lebih dari itu CSR KPC ditujukan juga untuk mendukung pembangunan daerah serta inisiatif mendorong pemberdayaan masyarakat, khususnya masyarakat desa sekitar wilayah tambang KPC. Tujuan ini selaras dengan paradigma CSR kontemporer yang memposisikan perusahaan sebagai bagian dari entitas sosial dan bagian dari dinamika masyarakat. Sehingga, tujuan-tujuan CSR KPC tidak hanya berhenti pada dimensi jangka pendek, namun juga berjangka panjang dan berdimensi pada masa depan. Karena faktor pembangunan daerah dan pemberdayaan masyarakat terkait erat dengan rencana strategi penutupan tambang KPC yang bertanggungjawab.

410

KPC berusaha melakukan berbagai intervensi dalam berbagai bentuk untuk merespon berbagi issue sosial, ekonomi dan lingkungan yang muncul di wilayah sekitar operasi tambangnya. Inisiatif ini dilakukan melalui berbagai program pemberdayaan masyarakat, yang juga merupakan bagian dari CSR KPC. Untuk mencapai tujuan-tujuan tersebut, program CSR KPC di bidang sosial-ekonomi-lingkungan dibagi ke dalam tujuh bidang, yaitu: (1) pendidikan dan pelatihan; (2) kesehatan dan sanitasi; (3) infrastruktur; (4) peningkatan kapasitas pemerintah desa dan masyarakat, (5) pengembangan agribisnis; (6) pemberdayaan ekonomi lokal dan UMKM, serta (6) konservasi alam dan budaya. Tiap program kerja ini, diprioritaskan untuk dilaksanakan di desa di empat kecamatan yang bersinggungan langsung dengan operasi tambang KPC (ring 1). Pelaksanaan tujuh bidang program berjalan berdasarkan perencanaan KPC, yang didasari oleh berbagai hasil survei, kajian pihak ketiga, arah pembangunan daerah dan Rencana Pembangunan Desa. Dari sisi KPC, tujuh bidang tersebut tidak saling berdiri sendiri, namun mempunyai keterkaitan satu dengan yang lainnya, dimana tujuan besarnya adalah meningkatkan kemandirian dan kesejahteraan masyarakat. Tantangannya, karena karakter tiap masyarakat desa bervariasi antara satu dengan yang lainnya, maka kemampuan serta tujuan pembangunan tiap-tiap desa pun berbeda-beda. Hal ini mempengaruhi tingkat keterserapan dan keberhasilan tiap program, sehingga, satu yang pasti adalah, mengetahui dan memahami arah dan tujuan serta kemampuan sumber daya tiap desa adalah hal yang penting dalam pelaksanaan CSR atau program pemberdayaan masyarakat. Catatan lain adalah, pelaksanaan program CSR dan pemberdayaan KPC selalu menggunakan resource dari KPC, dengan mengedepankan pola kemitraan bersama masyarakat dan pemerintah terkait. Pola kemitraan ini merupakan prinsip dasar dalam hubungan kerjasama KPCmasyarakat-pemerintah selama ini, namun ada nilai yang terlewatkan dalam hubungan kerjasama semacam ini yaitu keterlibatan pemerintah desa secara utuh. Pola kemitraan kurang mampu mendorong masyarakat untuk secara partisipatif menjadi subjek dalam tiap program pemberdayaan, maupun berpartisipasi pada proses pembangunan daerah. Masyarakat dan pemerintah cenderung pasif, tanpa memahami sebenarnya mereka memiliki potensi dan sumber daya, serta potensi jaringan yang mumpuni. Masyarakat kurang diajak untuk menemukenali dan mengelola dengan baik sumber daya yang mereka miliki secara terpadu. Akibatnya, masyarakat dan pemerintah desa kurang berdaya dalam merencanakan dan menyusun program pembangunan desa jangka panjang. Minimnya kapasitas masyarakat beserta pemerintah desa untuk merencanakan pembangunan desa secara partisipatif, dengan menemukenali sumber daya dan merancang pengelolaannya dengan baik merupakan fakta pada masyarakat desa sekitar wilayah tambang KPC. Padahal, ketiga aspek tersebutlah yang menjadi kunci dalam mewujudkan pembangunan berkelanjutan.

411

Kabupaten Kutai Timur merupakan salah satu dari tiga kabupaten terkaya di Indonesia. Sektor pertambangan merupakan sektor penyumbang pendapatan terbesar untuk PDRB Kutai Timur sekitar 86%. Akan tetapi, angka ini tidak dibarengi dengan kemampuan ekonomi masyarakat. Pendapatan perkapita masyarakat di luar sektor batubara dan migas masih kecil, sedangkan ketergantungan keuangan daerah terhadap pemerintah masih tinggi. Situasi menunjukkan tingginya tingkat ketergantungan perekonomian daerah terhadap SDA tak terbaharukan yang padat modal dan investasi. Selain itu, besarnya sumberdaya dan pendapatan, berbanding terbalik dengan kemampuan dan kapasitas pemerintah (terutama pemerintah desa) dalam menyelenggarakan pemerintahan dan program pembangunan. Tanpa adanya peningkatan kualitas SDM, kapasitas penyelenggaraan pemerintahan dan program pembangunan yang mumpuni, maka mustahil sumberdaya dan kekayaan Kabupaten Kutai Timur dapat secara maksimal dapat dimanfaatkan untuk tujuan kesejahteraan masyarakat secara luas. Isu tingkat ketergantungan terhadap sektor pertambangan juga merupakan isu Kabupaten Kutai Timur dalam konteks pembangunan yang berkelanjutan. Selama ini, sektor tambang (batubara dan migas) menjadi penyumbang pendapatan terbesar Kutai Timur, disusul oleh sektor pertanian. Pada perencanaan pembangunan jangka panjang, pemerintah daerah harus bersiap dalam mengantisipasi perubahan sumber pendapatan kearah yang berkesinambungan dari sumber daya alam yang terbaharukan sebagai sumber pendapatan daerah. Pemkab Kutai Timur mencanangkan kebijakan Gerakan Daerah Pengembangan Agribisnis (GERDABANGAGRI) yang menekankan pada pengembangan ekonomi di bidang pertanian dan perkebunan berdasarkan potensi Kutai Timur yang besar pada sektor ini. Kebijakan ini tentunya memerlukan kemampuan perencanaan dan kapasitas pelaksana yang optimal dari pihak pemerintah di segala level. Sebagai titik masuk, CSR KPC mengambil peran di pengembangan kapasitas dan keberdayaan pemerintah, khususnya pemerintah desa. Paska Orde Baru, isu pembangunan daerah bergesar titik perhatiannya ke tingkat masyarakat dan pemerintah desa. Dengan adanya kerangka dan penerapan otonomi Desa berdasarkan UU no.32 tahun 2004 dan PP no.72 tahun 2005 Tentang Desa, maka pembangunan daerah sebetulnya ditentukan oleh kemampuan Desa dalam mengelola dan merencanakan pembangunannya sendiri secara otonom. Pada kenyataannya, banyak program pemerintah pusat bersifat bottom up (seperti contoh PNPM Mandiri), namun mekanisme yang terjadi adalah dengan membagibagikan bantuan dunia kepada masyarakat. Kebijakan dan mekanisme ini menjadikan masyarakat dalam posisi yang pasif, sehingga inisiatif lokal dan kemandirian lokal tidak dapat berkembang. Selain itu, pemerintah daerah memiliki paradigma, bahwa masyarakat desa adalah masyarakat yang kurang mampu, sehingga mengakibatkan kebijakan pemerintah daerah bersifat top down

412

dan melakukan kendali penuh terhadap desa. Alhasil, kebijakan yang mengarah pada desa mandiri dan berdaya itu masih rapuh. Gerakan agribisnis yang dilancarkan oleh pemerintah daerah maupun berbagai perusahaan juga belum menampakkan sebuah gerakan ekonomi berbasis desa yang mengarah pada pengembangan produk yang sesuai dengan SDA Desa tersebut. Desa-desa di Kutai Timur mempunyai potensi alam yang melimpah, tetapi sejauh ini menjadi beban berat bagi pemerintah daerah dan belum tumbuh menjadi desa yang mandiri. Pemerintah daerah telah melancarkan kebijakan Alokasi Dana Desa (ADD), namun besarnya pendapatan desa belum diikuti dengan kemampuan perencanaan desa dan pengembangan BUMDes untuk membangun desa mandiri, sehingga belum membuahkan hasil yang optimal. Pada tahun 2009, Pemerintah Daerah Kabupaten Kutim Timur mengalokasikan dana ADD (Alokasi Dana Desa) sebesar 500 juta per Desa untuk 135 desa, sementara pada tahun 2010 total alokasi sebesar 102 milyar yg dibagi berdasarkan proporsinya (lokasi, populasi dll) dg kisaran antara Rp.73,8 juta s/d Rp. 1,1 Milyar per desa. Pada tahun 2011, total alokasi turun menjadi hanya Rp 54 milyar atau turun secara total sebanyak 48%, dan ADD minimal sebesar Rp. 392 juta (sumber Tribun kaltim 20 July 2011). Fakta tersebut di atas menunjukkan bahwa kapasitas pihak desa dalam melaksanakan wewenang dan tanggungjawabnya masih banyak menghadapi kendala, sehingga sumber dana yang tersedia untuk melakukan pembangunan belum dapat terserap secara maksimal.

413

Berdasarkan sejumlah isu pembangunan daerah yang muncul termasuk hal tersebut diatas, maka program Desa Mandiri menjadi inisiatif KPC dalam ikut serta mengatasi berbagai kendala yang ada dengan melakukan peningkatan kapasitas dan kemampuan masyarakat dan pemerintah desa dalam mendorong percepatan pembangunan berkelanjutan yang bergulir dari kemandirian dan keberdayaan pemerintah desa, dimana dalam pelaksanaannya berkolaborasi denga berbagai pihak dan dalam arahan pihak pemerintah daerah. Desa mandiri juga bagian dari Rencana Penutupan Tambang (RPT) KPC. Dokumen RPT KPC khususnya di bagian Program Paska Tambang sub bidang sosial dan ekonomi, disusun berdasarkan berbagai hasil survei, kajian, pembelajaran dan pengalaman dalam proses implementasi CSR termasuk dinamika sosial, ekonomi dan lingkungan yang terjadi. RPT juga dirancang dalam rangka mendukung pemerintah dan masyarakat sekitar dalam meningkatkan kualitas kehidupan dalam berbagai aspek kehidupan khususnya terkait dengan persiapan tutup tambang. Sebuah skenario CSR dalam dokumen RPT menjadi koridor dalam pemanfaatan dana pemberdayaan masyarakat yang tesedia, kemandirian desa menjadi tujuan utama. Dalam alur logika ini, KPC menginisiasi program Desa Mandiri, sebagai kendaraan program pemberdayaan dan CSR KPC menuju desa yang berdaya, produktif dan mandiri. Program Desa Mandiri Menurut PP No. 72 Tahun 2005, Desa adalah: “kesatuan masyarakat hukum yang memiliki batas-batas wilayah yang berwenang untuk mengatur dan mengurus kepentingan masyarakat setempat, berdasarkan asal-usul dan adat istiadat setempat yang diakui dan dihormati dalam sistem Pemerintahan Negara Kesatuan Republik Indonesia.” Desa tidak berada dibawah struktur pemerintahan kecamatan, karena desa bukan merupakan bagian dari perangkat daerah. Desa memiliki hak untuk mengatur wilayahnya lebih luas secara otonom. Program Desa Mandiri yang dilakukan KPC sebagaimana dijelasakan diatas, utamanya bertujuan untuk meningkatkan kapasitas masyarakat dan pemerintah desa dalam hak pelaksanaan otonomi desa. Pemaknaan dan pelaksanaan otonomi desa menjadi faktor utama dalam keberhasilan pembangunan desa. Otonomi tidak sama dengan kesendirian, melainkan mengandung dimensi kemandirian dalam mengatur. Dalam otonomi terkandung hak, kewenangan, dan inisiatif dalam tiap aspek pembangunan masyarakat desa.

414

Matriks di bawah ini adalah tujuan dan kompenen dalam program Desa Mandiri.

(STMPD, 2011) Studi kasus – Desa mandiri - Kendaraan dalam menuju kemandirian Komponen dan tujuan Program Desa Mandiri sebagaimana telah dijabarkan dalam matrik diatas dimaksudkan untuk meningkatkan keterlibatan masyarakat serta dan peran pemerintah desa dalam menentukan arah pembangunannya secara partisipatif dengan mengoptimalakan semua potensi yang dimilikinya. Inisatif program Desa Mandiri dimulai dengan pemberian beasiswa penuh untuk 3 siswa terpilih asal Kutai Timur ke STPMD (Sekolah Tinggi Pembangunan Masyarakat Desa) di Yogyakarta. Tujuan utama adalah memberikan pembekalan pendidikan khusus dalam pembangunan masyarakat desa kepada generasi muda yang berprestasi dan diharapkan nantinya dapat menjadi agen perubahan yang mampu berkontribusi dalam melakukan percepatan pembangunan desa, khususnya di sekitar wilayah operasi tambang. Program beasiswa ini merupakan kerjasama antar lembaga yaitu KPC dan STPMD, sehingga STPMD juga bertanggungjawab untuk malakukan pengawalan khusus bagi penerima beasiswa tersebut baik dalam proses belajar formal maupun kegiatan lainnya yang dapat memberikan pengalaman dan pengetahuan dalam pengorganisasian masyarakat. Pada tahun 2008, ketiga siswa angkatan pertama melakukan presentasi hasil tugas akhir mereka yang dilakukan di Desa sekitar wilayah tambang di depan masyarakat dan cara serta apa yang mereka sampaikan meyakinkan kami bahwa mereka memiliki kapasitas dalam turut serta melakukan percepatan menuju kemandirian desa dengan memaksimalkan segala potensi yang

415

dimiliki oleh daerah yang kaya ini. Sejak tahun 2009 mereka membentuk Lembaga Penguatan Masyarakat Desa bernama GAPURA dan telah menjadi mitra kerja KPC dalam proses pendampingan menuju kemandirian desa dan telah melakukan pendampingan di 23 desa untuk menyusun Rencana Pembangunan Jangka Menengah Desa (RPJMDes – rencana 5 tahunan) dan Rencana Kerja Pembangunan Desa (RKPDES – rencana tahunan) yang diamanatkan dalam Peraturan Pemerintah no 72 tahun 2005 dan peraturan terkait lainnya. Selain kerjasama yang dilakukan dengan GAPURA, pada tahun 2008 dan 2009, KPC bekerjasama dengan STPMD memberikan pembekalan kepada pemerintah desa di empat kecamatan di sekitar wilayah tambang dengan judul Pengembangan Tata Pemerintahan Desa. Pelatihan ini tidak hanya memberikan pembekalan dan pemahaman kepada pemerintah desa juga bagi staff Dept Community Empowerment KPC terkait berbagai acuan hukum serta pedoman tehnis pelaksanaan peran dan tanggungjawab serta wewenang pemerintah desa agar dapat menjalankan hak serta kewajibannya dengan maksimal. Proses perumusan program Desa Mandiri ini diawali dengan sebuah penelitian singkat di 4 desa terpilih yang mewakili 4 kecamatan, untuk memperoleh gambaran berbagai potensi dan permasalahan yang ada serta peluang yang bisa dikembangkan sebagai desa mandiri. Hasil penelitian dan rumusan awal Desa mandiri telah dikonsultasikan dan disosialisasikan ke berbagai pihak difasilitasi oleh BAPPEDA Kabupaten Kutai Timur. Dalam proses ini terjadi berbagai perdebatan mengenai indikator dan beragamnya penafsiran mengenai istilah 'kemandirian': seperti Desa mandiri energi, mandiri pangan dan sebagainya. KPC dan STPMD mencoba merumuskan pendekatan untuk menuju desa yang lebih baik di masa depan, yang dapat dimaknai dan di ukur dengan dua cara yaitu : (a) Integral holistik

416

(b) sektoral inkremental.

Desa mandiri dengan model “integral-holistik” memang sangat ideal dan komprehensif dengan indikator yang bisa digunakan di setiap tempat, dimana pintu masuknya adalah penguatan pemerintah desa yang kemudian berkembang ke isu yang lain, namun cara ini sulit dicapai dalam waktu yang relatif singkat. Model kedua adalah “sektoral-inkremental” yang bersifat parsial dan fokus pada potensi unggulan untuk mencapai “satu desa satu produk”. Apabila produk unggulan ini berhasil menggerakkan perekonomian desa maka akan berdampak baik terhadap sektorsektor lainnya, namun demikian hal ini tidak bisa berjalan sendiri, tapi harus didukung Pemerintah Desa yang kuat dan Institusi lokal yang tangguh sebagaimana terlihat dalam bagan diatas. Berdasarkan diskusi yang panjang antara STPMD, Pemkab Kutai Timur, KPC dan LSM, pilihan jatuh pada model desa mandiri yg sektoral-inkremental dengan pendekatan yang induktif dari bawah. Model ini lebih fokus dan membumi pada potensi unggulan desa dan aksi konkret dapat dilakukan tanpa harus menunggu kebijakan makro. Diharapkan pengalaman konkret dari beberapa desa dapat di “scaling up” menjadi kebijakan kabupaten. Disamping tema pembangunan yang telah dirumuskan di 2 desa pilot yang mengambil tema agribisnis dan ketahanan pangan, pendampingan dalam memperkuat pengelolaan usaha yang terkait langsung dengan program KPC terus ditingkat menjadi BUMDes (Badan Usaha Milik desa). Usaha tersebut terkait dengan pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat seperti unit pengolahan air bersih dan pengelolaan generator litrik. Ruang dan peluang untuk menuju ke kemandirian desa terbuka luas, mengingat besarnya sumber daya yang tersedia serta besarnya peluang serapan pasar atas berbagai pasokan baik dibidang pangan dan lainnya. Sumber dana yang diperlukan untuk percepatan tersedia, baik dari pusat, daerah maupun dari lembaga keuangan yang menyediakan berbagai skema pinjaman lunak dan juga pihak lainnya. Tantangan atau kendala yang perlu diantisipasi adalah : (a) Kurangnya soliditas perangkat desa. Kerjasama diatara perangkat desa dapat menjadi penggerak untuk mempercepat perwujudan kemandirian desa (b) Lemahnya kapasitas pemerintah desa. Kemampuan memimpin baik dalam

417

(c) (d) (e)

perencanaan, implementasi pembangunan, penyiapkan perangkat kebijakan, peraturan desa dan lainnya untuk menuju desa yang produktif dan mandiri. Prasarana dan sarana yang kurang mendukung. Infrastruktur yang baik akan dapat meningkat daya saing desa, demikian pula prasarana dan sarana lainnya. Terbatasnya akses Informasi. Perlunya tokoh atau kelompok penggerak dalam aksi kolektif berskala desa untuk menggerakkan ekonomi lokal

Kesimpulan Pendapatan ekonomi daerah yang berasal dari sumber daya alam yang tidak terbarukan harus dimanfaatkan sebagai investasi dalam membangun produktifitas desa. Desa bersama masyarakatnya harus menjadi subjek atau pelaku utama pembangunan desa dengan segala kewenangan dan tanggungjawabnya mengacu pada berbagai peraturan yang berlaku dengan memaksimalkan semua potensi yang dimilikinya menuju kemandirian. Referensi: Budimanta, Arif et all. 2008. Corporate Social Responsibility: Alternatif bagi pembangunan Indonesia. Jakarta: ICSD. ICMM. 2011. Mining: Partnership for Development Toolkit. London: ICMM Sutoro, Eko et all. 2011. Laporan Final Dari Rantau Pulung Untuk Kutai Timur: Inisiasi pengembangan Desa Mandiri. Sangatta-Yogyakarta. (tidak diterbitkan) . WBCSD. 2007. Doing Business With the World: The new role of corporate leadership in global development. Switzerland: WBCSD

418

PROSIDING TPT XX PERHAPI 2011 SISTEM MANAJEMEN UMPAN BALIK MASYARAKAT Studi kasus Penanganan Keluhan Sosial & Lingkungan COMMUNITY FEEDBACK MANAGEMENT SYSTEM Case Studies Social & Environmental Handling PT Kaltim Prima Coal
Wawan Setiawan Supt. Community Support, PT Kaltim Prima Coal ABSTRACT The existence of Coal mining company, such as KPC, can not be separated from society. In any event mining activity has always had both positive also negative impacts. Positive impact provides a positive image, while the negative impact often forms a bad image in society. Desires, hopes to be an important part of community demand against the company. They expect quick action from the company to respond. Their talk turn into a burst of complaints, dissatisfaction with the performance conducted by KPC. Consequently, complaints which are not quickly respond will result in a greater reaction affects the disruption of the production process of coal. In anticipating of the various issues that arise from a complaint, hopes and desires of the community, KPC develops a community feedback communication system (Community Feedback System). This system is a procedure to manage critical, potential and significant complaints interfering the company operation. Relying on the compliance of ISO 14001 environmental management system, communication system reflects a stage of community communication procedures to be based on the input, process and output (case closed) controlled from the various dimensions of space and time. The community feedback system is expected to create a healthy mutual communication between companies and society. Systemic responses by PT. KPC, from the external side can provide a positive image of the company as responsible and authoritative company, while from the internal side can be a responsive shared responsibility distribution system and a management review to social and environmental performance improvement in stakeholders. Kata Kunci: Community Communication, Community Feedback System

419

I. PENDAHULUAN Operasi tambang batubara merupakan kegiatan operasi yang bersifat ekspansif-ekstraktif sehingga dapat berdampak negatif pada masyarakat. Selain itu, perbedaan cara pandang, pengharapan, keinginan, kebutuhan, atas pengelolaan tambang sering kali menimbulkan perbedaan yang mengarah pada konflik.Apabila faktor yang dapat menimbulkan konflik tersebut tidak dikelola dengan baik, tentunya akan mengakibatkan dampak buruk, selain bagi perusahaan tambang, juga bagi masyarakat sekitar. Sejak mulai beroperasi di tahun 1991 sampai sekarang, daerah yang terkena dampak baik langsung maupun tidak langsung daerah operasional PT KPC terletak di daerah operasi di tiga kecamatan, yaitu Sangatta Utara, Bengalon dan Rantau Pulung Kutai Timur. Pengelolaan dampak positip maupun negatif perlu dilakukan sebagai tanggung jawab perusahaan dalam memberikan citra positipnya kepada masyarakat. Pada titik tertentu, karena perusahaan dengan berbagai keterbatasannya dalam merespon dampak negatif dari masyarakat, konflik pun terjadi. Keluhan-keluhan akibat operasi tambang sering kali terjadi karena masyarakat merasa kecewa dengan lambat atau berlarut-larutnya masalah sehingga reaksi ancaman atau blokade / demo sekalipun dilakukan. Dinamika konflik bisa meruncing manakala perbedaan ini tidak dapat di pertemukan. Untuk perusahaan sebagai entitias bisnis hal ini bisa merugikan perputaran kelola bisnis, sehingga menjadi penting pengelolaan konflik yang mengarah pada sebuah upaya pencapaian solusi strategis harus dikedepankan. Dengan demikian, konflik menjadi bagian penting yang harus dikelola dengan strategis oleh perusahaan tambang, apalagi perubahan masyarakat yang terus dinamis dan bisa merubah komponen di dalamnya (Soetomo, 2008 ). Besar kecilnya konflik dapat mempengaruhi pada proses pengelolaan dampak tambang menjadi perhatian pihak perusahaan untuk meminimalisir dampak tambang dan juga untuk mencapai kesepakatan bersama dengan pihak yang berkonflik. Potensi-potensi berakibat gangguan bisa beragam dan kompleks. Sebut saja ketidakpercayaan, dan persepsi negatif masyarakat terhadap perusahaan ketidaknyamanan yang diakibatkan oleh operasi tambang yang bisa mengarah pada potensi konflik. Perusahaan dituntut untuk tetap menghargai perbedaan dan tetap berpihak pada kepentingan masyarakat. Maka, dasar upaya untuk pengelolaan konflik adalah dengan menekankan pada prinsip simbiosis mutualisme, menjauhi pemaksaaan, tidak menekankan kondisi kalah menang dan bukan pada situasi salah benar, tetapi adanya satu upaya untuk mengakomodasi atau menjembatani kepentingan tiap-tiap pihak (perusahaan dan masyarakat) (Rusmadi dkk: 2006).

420

Dampak negatif yang timbul dicerminkan persepsi gangguan terhadap ketidakyamanan / ketenangan mereka dalam interaksi sosial. Selain dampak negatif yang timbul, harapan dan ekpektasi masyarakat terhadap eksistensi perusahaan dituntut tanggung jawab sosialnya dalam mendorong dan terlibat dalam memajukan daerah. Dengan gambaran kompleksitas penanganan dampak negatif di atas, maka sedemikian rupa PT KPC mengembangkan sistem pengelolaan komunikasi dengan masyarakat melalui sistem komunikasi umpan balik (Community Feedback System) yang secara internal perusahan bertujuan membangun tanggung jawab secara sistemik di semua lini perusahan dan secara ekternal membangun komunikasi yang sehat, kepercayaan masyarakat terhadap perusahaan . II. Community Feedback System (CFS) Sebuah Telaahan Sistem manajemen umpan balik masyarakat, atau disebut juga dengan Community Feedback System (CFS) merupakan sebuah mekanisme komunikasi yang mengelola keluhan dan isu sosial dengan prosedur penanganan yang sistematis dan terpadu. CFS mengedepankan aspek komunikasi yang efektif sehingga dapat mengakomodir keluhan dan isu sosial yang menjadi perhatian masyarakat sekitar tambang KPC. Isu sosial dan keluhan masyarakat merupakan bagian dari dinamika interaksi KPC dengan masyarakat sekitar tambang. Di sekitar wilayah operasional KPC, terdapat empat wilayah kecamatan yang lokasinya berhimpitan langsung dengan area operasional KPC. Empat kecamatan tersebut adalah: Kecamatan Sangatta Selatan, Sangatta Utara, Rantau Pulung, dan Bengalon, yang disebut daerah Ring I, yaitu wilayah masyarakat lingkar tambang terdekat dengan KPC. Masyarakat di keempat kecamatan inilah yang menjadi titik perhatian utama KPC dalam upaya pengelolaan dampak tambang, karena mereka merupakan penerima dampak langsung dari proses penambangan KPC. Dampak proses penambangan KPC bahkan timbul jauh sebelum area tambang terbuka atau beroperasi. Proses pembebasan lahan berpotensi menuai konflik sosial, dan dapat berpotensi dampak sampai pada tambang tersebut beroperasi. Paparan debu, aliran air tambang, getaran blasting dan kebisingan hanya sebagian dari potensi dampak lingkungan yang juga wajib dikelola, terlebih KPC beroperasi di area yang dikelilingi oleh wilayah hunian berpenduduk. Masyarakat memiliki caranya sendiri dalam menyatakan kepeduliannya terhadap isu sosial atau dampak lingkungan yang ditimbulkan oleh KPC. Mulai dari yang berbentuk saran konstruktif, permintaan, keluhan, tuntutan, ancaman sampai pada aksi demonstrasi atau blokade. Hal tersebut lumrah dalam dinamika interaksi KPC dengan masyarakat. Namun, yang terpenting adalah bagaimana isu sosial serta keluhan dampak tambang tersebut dapat dikelola dengan baik, sehingga dapat dihasilkan resolusi yang mengkomodir kepentingan semua pihak. Tanpa penanganan yang efektif, isu keluhan lingkungan akibat tambang dan social dan dari masyarakat

421

dapat berujung konflik yang berkepanjangan, yang akhirnya pun akan merugikan perusahaan, maupun masyarakat. Besarnya skala proyek penambangan KPC, mensyaratkan perlunya mekanisme pengelolaan dampak lingkungan yang optimal. Inilah nilai strategis dan kritikal CFS, demi mendukung pengelolaan lingkungan KPC yang berkelanjutan. Pentingnya mekanisme dalam sebuah sistem umpan balik, seperti yang disampaikan Joshua Pepall (2005) ketika menjalankan sistem umpan bali ini di masyarakat pakistan melihat bahwa: ”A good community complaints mechanism will serve several ends. First, it assists with transparency by creating a channel for people to register concerns. Second, it provides a mechanism for people to report corruption and the abuse of power by the organization or staff, for example the exploitation of vulnerable groups such as children or unaccompanied women. Third, it provides unique and invaluable sources of information to be used for better project management and outcomes”. Pengelolaan dampak lingkungan KPC diamanatkan dan diatur dalam dokumen AMDAL, yang dijabarkan ke dalam dokumen Rencana Kelola Lingkungan (RKL) dan Rencana Pemantauan Lingkungan (RPL). Dalam dokumen RKL, disebutkan bahwa salah satu pendekatan dalam pengelolaan lingkungan adalah dengan menggunakan pendekatan sosial, dengan aspek komunikasi sebagai elemen penting dari pendekatan social untuk mendukung pengelolaan lingkungan secara keseluruhan. Pendekatan sosial bertujuan untuk meningkatkan kinerja pengelolaan lingkungan KPC bersama dengan masyarakat dan pihak pemangku kepentingan lainnya. Masyarakat menjadi variable utama dalam pengelolaan, sekaligus indikator keberhasilan pengelolaan dampak operasional KPC. Melalui masyarakat dan pihak pemangku kepentingan, KPC menerima masukan dan koreksi positif sehingga dapat meningkatkan kinerja upaya pengelolaan lingkungannya. Adanya system yang mengelola umpan balik (CFS) dari masyarakat, merupakan perwujudan dari pemenuhan amanat AMDAL KPC. Segala bentuk komunikasi dengan masyarakat, terutama menyangkut isu-isu kritikal (dampak tambang, keluhan, kekecewaan, konflik sosial, dsb), dapat terkelola, terpantau dan terdokumentasi dengan baik. Akan tetapi, kehadiran CFS sebagai bagian dari pengelolaan lingkungan KPC tidak hanya sebatas pemenuhan persyaratan AMDAL saja. CFS merupakan perpaduan dari pemenuhan kewajiban peraturan-perundangan berdasarkan AMDAL, dan juga sebagai bentuk inisiatif KPC untuk senantiasa memenuhi citra positip / image baik dari masyarakat sekalibus memenuhi tantangan dunia bisnis industri pertambangan . Sebagai kerangka operasional yang sistemik, CFS mengikuti standar bersamdar pada sistem Manajemen Lingkungan ISO 14001:2004 butir 4.4.3 Communication disebutkan bahwa:

422

“With regard to its environmental aspects and environmental management system , the organization shall establish, implement and maintain a procedure (s) for: a. internal communication among the various levels and function of the organization, b. receiving, documenting, and responding to relevant communication from external interested parties.” (2004: 6) ISO 14001:2004 menekankan pada aspek komunikasi sebagai bagian penting yang harus terintegrasi dalam sistem pengelolaan lingkungan sebuah perusahaan. Tanpa adanya prosedur pengelolaan komunikasi yang sistematis, pengelolaan lingkungan hanya berdimensi pada factor teknis saja. Sedangkan nyatanya, dampak lingkungan sebuah perusahaan, terutama perusahaan tambang, berdimensi social, budaya ekonomi, ekologi, dan juga Hak Asasi Manusia (HAM), lebih dari sekedar dimensi lingkungan saja. Sebagai perusahaan ekstrasktif, KPC dituntut untuk menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan pada semua tahapan operasional bisnisnya. Pada tahun 2008 John Ruggie, United Nation Special Representative of the Secretary General on Business and Human Right memberikan laporan mengenai kaitan dunia bisnis (perusahaan 1 transnasional atau bisnis skala besar) dengan isu perlindungan HAM . Laporan tersebut didasari pada kerja penelitian yang ekstensif. Pada laporan tersebut dijelaskan kriteria dan prinsip yang dikembangkan yang sebaiknya diadopsi oleh perusahaan untuk mengantisipasi dan menekan potensi pelanggaran HAM yang mungkin saja diakibatkan oleh operasional perusahaan tersebut. Kriteria dan prinsip HAM seperti keterbukaan, legitimasi, keterjangkauan, persamaan, dan lain sebagainya, diwujudkan pada mekanisme pengelolaan keluhan masyarakat (non-judicial grievance mechanism) yang tersedia pada semua tingkat operasional perusahaan. Pada laporan itu dijelaskan bahwa prinsip dan kriteria dalam mekanisme tersebut haruslah berjalan berdasarkan dialog langsung atau melalui proses mediasi, bukan melalui proses quasiadjudication (proses hukum formal) (CSRM, 2009: 1; Rees, 2011: 7). Laporan John Ruggie memiliki pengaruh yang kuat. Pada tahun 2009 International Organization of Employers, Kamar Dagang Internasional dan Business and Industry Advisory Committee mengumumkan pilot proyek untuk mengelaborasi prinsip-prinsip HAM pada empat perusahaan: dua diantaranya adalah perusahaan tambang (batu bara dan minyak bumi). Agensi keuangan dunia seperti International Finance Corporation dan Bank Dunia, serta Konsil Internasional pada sector Pertambangan dan Metal kini menekankan pentingnya prinsip HAM dan mekanisme pengelolaan keluhan sebagai bentuk best practice bagi calon debitur dan perusahaan yang 2 bernaung di bawahnya (IFC, 2009; ICMM, 2009) . CFS adalah salah satu upaya KPC untuk memenuhi prinsip HAM, terutama dalam pengelolaan dampak tambang perasi tambang yang berdimensi sosial-budaya. KPC bahkan sudah melakukan CFS pada tahun 2005, tiga tahun sebelum John Ruggie memberikan laporannya di depan

423

perwakilan Sekjen PBB. Semangat KPC adalah sistem pengelolaan lingkungan (dan pengelolaan keluhan/komunikasi) perlu mengelaborasi aspek sosial-budaya sebagai bagian dari pelaksanaan bisnis yang beretika dan bertanggungjawab. Menjunjung nilai HAM dalam operasional bisnis KPC yang berdimensi sosial-budaya, erat kaitannya dengan komitmen KPC terhadap implementasi Corporate Social Responsibility yang menjadi komitmen KPC terhadap pihak pemangku kepentingannya3. “A company's commitment to operating in a economical, socially and environmentally sustainable manner whilst balancing the interest of diverse stakeholder.” (CSR Asia). Kata kuncinya adalah “kemampuan menyeimbangkan kepentingan dari beragam pihak pemangku kepentingan”. Dengan CFS, kepentingan dari tiap-tiap pihak yang terkait/terkena dampak operasioal KPC dapat terwadahi, walaupun jelas tidak semua harapan dan tuntutan dapat terakomodasi. Namun setidaknya, dengan CFS KPC menunjukkan niat untuk selalu melihat dan mendengar hal apa yang terjadi dan menjadi perhatian masyarakat sekitar. III. Cara kerja CFS Semua dampak, harapan masyarakat ini perlu dikelola yang baik. Di tengah keterbatan perusahaan akan ruang dan waktu, perusahaan memerlukan sistem pengelolaan komunikasi yang efektif dan strategis yang dapat memuaskan semua pihak. Sehingga secara sistemik keluhan yang masuk perlu diidentifikasikannya secara strategis yang dapat menggangu jalannya operasional PT KPC. Hasil identiifikasi ini mencerminkan keluhan yang ”kritikal” sesuai dengan MEMO (ref: Memo/ESD/I/2006 yang perlu segera dikelola oleh CFS. Keluhan”kritikal” menyangkut keluhan dari dampak isu lingkungan, konflik sosial dan bentuk lain berupa ancaman yang dapat mengganggu produksi. Sehingga tidak semua keluhan dikelola langsung lewat CFS.

1

Promotion and Protection of All Human Rights, Civil, Political, Economical, Social and Cultural Rights, Including the Right to Development; Protect, Respect and Remedy: a Framework For Business and Human Rights, HUMAN RIGHTS COUNCIL:April 2008. 2 Salah satu contoh adalah publikasi International Finance Corporation, yang merupakan bagian dari grup Bank Dunia, mengenai panduan desain mekanisme pengelolaan keluhan: Good Practice Note: Addressing Grievance from Project-Affected Communities. Guidance for Project and Companies on Designing Grievance Mechanism, IFC, 2009. 3 Komitmen KPC pada prinsip dan nilai HAM didasari pada komitmen perusahaan terhadap kebijakan meratifikasi pinsip Global Compat dan Millennium Development Goals. Tidak hanya pada CFS, namun prinsip dan nilai HAM juga berusaha diimplementasikan pada pelaksanaan kegiatan/program CSR KPC lainnya. Berangkat dari konsep manajemen resiko social, image dan social license to operate, perusahaan dan masyarakat merupakan dua entitas yang berbeda, dengan kepentingan yang berbeda pula. Dalam konteks KPC, situasi sebenarnya lebih rumit dari apa yang terlihat. Dengan latar belakang geografis, kondisi social-budaya masyarakat, otonomi daerah, isu percepatan pembangunan daerah berputar dengan cepat, harapan dan tuntutan masyarakat besar bertumpu pada KPC.

424

Telahaan atau analisa bahwa satu kasus keluhan merupakan isu kritikal dapat dilakukan dengan menggunakan analisa dampak, analisa kekerapan isu dan analisa aktor yang dapat berpotensi mengganggu produksi. Lebih lanjut, jika isu tidak dikelola dengan baik maka mungkin saja akan tereskalasi bukan saja menjadi isu berdimensi sosial bahkan melebar berdimensi konflik. CFS adalah sebuah sistem pengelolaan komunikasi yang sistemik dari perusahaan kepada Masyarakat. Komunikasi dibangun dalam upaya membangun dialog atas semua keluhan kritikal dari pemangku kepentingan terhadap aktivitas yang dilakukan oleh PT KPC. Sistem ini, dengan standar operasional yang disepakati, harus mencerminkan satu proses tindakan untuk memberikan rasa kenyamanan dan kepuasaan kepada pemangku kepentingan. CFS ini pula, secara proses, harus memastikan dimensi ruang dan waktu di dalam mengelola keluhan kritis untuk ditindaklanjuti dan kepastian status penyelesaian (close status). Proses tersebut berjalan berdasarkan siklus manajemen pengelolaan lingkungan yaitu Plan-Do-CheckAction sebagai sistem kendali. Lewat Standard Operational Prosedure (SOP) no ESDMS/DOC/SOP/ESD/CFS/002 yang disepakati meliputi dintas Divisi dan department. SOP ini harus pula merupakan tahapan proses dan cerminan atas komitment terhadap tugas, tanggung jawab dan peran dari setiap Divisi / departemen dalam menyelesaikan keluhan. Keterkaitan tanggung jawab lintas departemen menjadi penting. Departemen- terkait ini merupakan departemen teknis (lingkungan, safety, mine planing, operation) yang bertanggung jawan dalam pengendalian teknis operasional tambang. Koordinasi cepat menjadi syarat utama di tengah isu yang terus bergulir ditengah harapan masyarakat dalam penyelesaian keluhan tersebut. Lewat koordinasi akan menghasilkan tindakan atau action nyata yang harus dilakukan oleh setiap departement untuk memastikan proses investigasi, analisa , sosialisasi – komunikasi temuan dan kesimpulan akhir dari sebuah isu. Setiap proses action dari CFS yang dilakukan dibatasi oleh ruang dan waktu. Artinya setiap langkah tindakan mengharuskan setiap petugas dilapangan harus sesuai waktu yang ditetapkan di dalam standard operatioanal procedure (SOP). Sehingga alokasi waktu proses yang ada sekaligus menjadi acuan komunikasi kepada masyarakat bahwa perkiraan penyelesaian menjadi dimaklumi masyarakat dan kepercayaan akan timbul dari masyarakat kepada perusahaan. Keluhan yang datang dari masyarakat biasanya bersifat reaktif dan emosional. Sehingga tim komunikasi masyarakat perlu segera merespon dengan cepat dan antisipatif terhadap pergerakan isu tersebut guna menghindari eskalasi persoalan akibat kurang kepercayaan masyarakat atas penanganan isu. Reaksi cepat merupakan satu langkah strategis, dimana perusahaan responsip terhadap keluhan yang terjadi. Dengan komunikasi yang santun dan saling menghormati , perusahaan sekaligus

425

akan mendapat kepercayaan dari masyarakat. Seringkali lambannya penanganan keluhan, komunikasi jadi terlambat dan kontra produktif. Seringkali mengakibatkan masalah yang harusnya segera bisa diselesaikan menjadi masalah panjang yang melelahkan. Langkah cepat dan bekerja bersama komponen pemerintah pun menjadi keharusan untuk koordinasi. Karena Pemerintah pemegang mandat tertinggi dalam pengawasan , ketaatan, kepatuhan pelaksanaan pengelolaan lingkungan. Tanpa kecuali pula koordinasi dengan masyarakat perlu dilakukan sehingga penyelesaian masalah bisa transparan sekaligus tidak menimbulkan saling kecurigaan diantara satu dengan yang lainnya.

CFS terintegrasi di dalam Sistem Manajemen Lingkungan ISO 14001. Sistem ini mengontrol proses input, proses action dan proses pengelesaian (closed). Semua harus terdokumentasikan dengan baik dan secara proses harus memastikan waktu proses dan tindakan yang bisa saja terkait dengan departemen lain di KPC yang berhubungan. Sebagai upaya strategis dan penutupan kasus (case close) sekaligus memastikan bahwa persoalan tuntas dan tidak tereskalasi ke dimensi manapun, maka perlu sekali pembuktian dokumen tersebut. Upaya dokumentasi bisa berbagai hal, diantaranya surat pernyataan, minute of meeting yang di sepakati / ditandangani bersama ataupun liputan berita media.

426

Semua gambaran tahapan input, proses output dapat terlihat dalam flow di bawah ini.

427

IVAnalisa 2008-2011 Di tahun 2008 terdapat 17 keluhan kritikal yang berpotensi mengganggu. Enam keluhan tertinggi mengenai persepsi negatif tentang pencemaran air akibat tambang di sungai Sangatta. Disamping keluhan blasting, dan tuntutan tenaga kerja lokal. Secara keseluruhan keluhan di tahun 2008 dapat diselesaikan dengan dokumen penutupan kasus (close) sebagai bukti tertulis. Enam belas kasus keluhan kritikal di tahun 2009 di kelola lewat CFS. Terdapat satu aksi blokade dan demonstrasi dari masyarakat namun tidak mengganggu produksi. Namun, dinamika potensi menuju kelola konflik masyarakat di tahun 2010 menunjukan eskalasi menaik. Hal ini terjadi seiring dengan rencana KPC dalam peningkatan produksi dalam empat – lima tahun ke depan.

Dari tabel grafik dan tabel keluhan di atas, untuk tahun 2010, ada 11 keluhan kritikal yang dikelola lewat CFS. Katagori konflik sosial mendominasi dengan 10 keluhan, disamping 1 keluhan dari masyarakat tentang keluhan kondisi air sungai. Empat keluhan konflik sosial muncul diantara 11 keluhan yang ada, berupa tuntutan CSR yang dilakukan oleh salah satu kelompok pemuda di Bengalon telah menempuh waktu 4 hari aksi dengan gangguan hauling batubara ke dermaga lubuk tutung di Bengalon selama 24 jam. Disamping tuntutan warga mengatasnamakan komunitas asli Kutai yang menuntut dana

428

kompensasi 10.000/bcm atas hasil produksi . Ada 3 kali demo dilakukan dengan durasi 46 jam, namun gangguan tidak mengganggu produksi saat itu, karena demo dan blokade jalan dilakukan di lokasi perkantoran gedung utama KPC Sangatta.

Sebanyak 4 keluhan kritikal terjadi sampai bulan Juli 2011di Sangatta. . Keluhan ini termasuk katagori konflik sosial dimana warga menuntut pekerjaan selain penyelesaian atas tuntutan tanah yang sebetulnya sudah diselesaikan oleh pihak KPC. Diiringi dengan satu keluhan disertai dengan aksi blokade di Bengalon. Blokade tersebut berupa penahanan alat dozer di tengah pekerjaan pembangunan jalan penghubung pit A ke pit B . Walaupun pekerjaan terhenti selama 2 hari, kejadian ini tidak menghambat produksi secara langsung, karena tidak terkait langsung di derah prosduksi di PitA Dari analisa data tahun 2008-2011 ini, nampaknya masalah konflik sosial menjadi proporsi terbesar dengan 30 keluhan. Isu keluhan air sebanyak 11 yang ditangani disamping terjadi disamping keluhan lain atas persepsi dampak lingkungan akibat operasional tambang. Walaupun masalah isu lingkungan yang mencuat dapat diselesaikan (closed), namun hal ini harus menjadi perhatian serius kita dalam mengelola dan memantau potensi isu akibat dampak operasi pertambangan. Karena melihat ekskalasi dampaknya isu lingkungan jauh lebih berdampak terutama pada komunitas masyarakat. V Studi kasus sebuah pembelajaran Sistem Penanganan keluhan kritikal merupakan satu proses yang perlu terus menerus dan berupaya dilakukan dalam kerangka membangun komunikasi yang sehat dan bertanggung jawab dari perusahaan kepada masyarakat Hal ini merupakan salah satu indikator kepedulian perusahaan terhadap respon yang muncul akibat keluhan yang datang dari masyarakat. Cara masyarakat dalam mengekspresikan keluhan tersebut melalui tindakan yang baik atau kurang berkenan bagi perusahan harus dimaknai sebagai ruang keinginan “Perjumpaan / bertemu / berkomunikasi”, sehingga wibawa dan tanggung jawab perusahaan terlihat nyata. Dinamika penanganan keluhan bisa menjadi guru terbaik di dalam melatih kepekaaan sosial perusahaan bahwa ada masyarakat yang mungkin saja tidak nyaman atas keberadaan perusahaan dengan tindakan yang menggangunya.

429

Berikut contoh menarik dari kasus di Sangatta, dimana persepsi masyarakat negatif terhadap isu tercemar dan terjadinya pedangkalan sungai Sangatta akibat operasi tambang PT KPC di Sangatta. Isu Sangai Sangatta dangkal dan tercemar ….. karena tamabang KPC? Isu tercemarn dan dangkalnya sungai sangata sayup-sayup mulai terdengar di penghujung tahun 2010. Terdengar nyaring dipertengahan Maret 2011, dimana lewat lembaga mengatasnamakan komunitas pesisir sungai Sangatta menyampaikan keluhan lewat sebuat ”surat cinta” kepada KPC. Lebih lanjut dalam perjalanannya komunitas ini datang mengeluh disertai ancaman, permintaan ganti rugi dan atau aksi demo dan atau blokade. Tidak hanya surat cinta, ternyata isu ini pula muncul di media masa lokal dengan informasi yang berat sebelah, tendensius dan tidak berimbang. Hal ini tentunya menjadi kado istimewa saat itu untuk KPC dan ”segera harus di tangani”, tutur manajemen pada penanggung jawab masalah sosial KPC. Tentunya keluhan ini menjadi penting dan kritikan. Secara tindakan proses dan pendokumentasian isu kritikal ini masuk dalam dokumen CFS, dan tindakan proses nyata yang harus dilakuan. Menarik melihat isu ini, dimana ada dua kutub yaitu masyarakat dan perusahaan dengan dua persepsi yang berbeda dengan masing masing pada sandaran sosial (versi masyarakat) dan sandaran teknis (versi Perusahaan) Dari versi perusahaan, KPC sebagai salah satu tambang di Indonesia yang selalu berupaya patuh memenuhi ketentuan yang diamanatkan AMDAL dan ketentuan teknis menyangkut manajemen pengelolaan air tambang. Artinya baku mutu harus memenuhi standard yang diprasyaratkan Undang-undang terkait. Dua cara pandang yang berbeda dengan persepsi sebagai landasan dari masyarakat dan KPC dengan standard aturan seringkali tidak merupakan sesuatu yang strategis untuk di pertemukan. Seringkali kondisi penglihatan langsung ke air sungai menjadi senjata pamungkas ”bahwa KPC bersalah” dan KPC patut diberi sangsi dan dimintai pertanggung jawaban. Jadi mereka menyerang KPC dengan kalimat bahwa ” Dulu air Sangatta ini jernih, bisa diminum langsung, ikan bisa berkeliaran terlihat dengan mata telanjang,” seru warga dengan bersemangat . Langkah lanjutan atas keluhan kritikal, secara otomatis semua divisi / departemen terkait internal harus bekerja dan menjalankan tugas dan fungsinya masing-masing. Tanpa kecuali perlunya koordinasi secara formal dengan Badan Lingkungan Hidup Kutim, seiring UU lingkungan no 32 yang dalam strukturnya di bagian Pentaatan lingkungan, diamanatkan

430

untuk mengelola keluhan lingkungan dan wajib mengontrol kondisi pengelolaan air atas kondisi air Sangatta. Lewat perjalanan panjang, akhirnya titik temu dua kutub terjadi. Komunitas dan masyarakat sepakat untuk pembuktian dengan melakukan kunjungan langsung ke sumber isu yang terjadi dengan basis melihat sistem pengelolaan air PT KPC di tambah KPC. Mulai dari RT, Kepala Desa, Camat, BLH, tokoh agama, Tokoh masyarakat, Tokoh adat bersma-sama menuju kunjugan ke tambang. Niat baik ternyata bersambut baik. Masyarakat mendapat penjelasan sekaligus melihat langsung di lapangan. Upaya membangun komunikasi yang sehat terjalin dan “masyarakat merasa bahwa yang diisukan selama ini tentang sungai sangatta tercemar, dangkal akibat tambang, “tidak benar adanya,” kilah beberaka tokoh masyarakat. Akhirnya status masalah ini selesai (close) seiring dengan komentar yang kongkrit dari tokoh yang muncul di lapangan maupun di media masa.

Gambaran cerita di atas adalah penggalan kejadian yang berpangkal pada persepsi negatif dari sebagian masyarakat terhadap pengelolaan air tambang, yang mengakibatkan sungai Sangatta tercemar / dangkal. Tentunya kunci dari penyelesaian maslah ini adalah komunikasi yang strategis dan efektif dan mencari metoda pembuktian yang saling menghormati dengan mengikutsertakan pemangku kepentingan dan pemerintah.

431

VI Kesimpulan Sistem Umpan Balik – CFS, merupakan mekanisme sistem komunikasi perusahaan atas keluhan yang disampaikan masyarakat. CFS merupakan pula cara kerja sistem yang harus dilakukan perusahaan dengan stadard operasional yang sistemik bersandar pada tanggung jawab masingmasing departemen – divisi internal KPC dan dibatasi dimensi ruang / waktu . Mandat komunikasi yang baik dengan para pemangku kepentingan adalah wajib untuk perusahaan, ditengah dinamika ekpektasi, harapan yang terus berjalan, tak terkecuali komunikasi dalam mengelola keluhan kritikal Walaupun CFS ini merupakan sebuat sistem, namun input – proses dan output nya merupakan tindakan nyata dari perusahaan dalam merespon cepat keluhan kritikal Yang paling strategis. Secara dimensi sosial KPC sebagai perusahaan, akan mendapatkan persepsi, pengakuan dan image yang baik dimasyarakat. Secara internal teknis PT KPC bisa jauh produktif dan baik dalam melakukan perbaikan lewat mekanisme management review atas kajian CFS yang berjalan ataupun strategi komunikasi ke depan ditengah PT KPC yang sedang meningkatkan produksinya ke depan. Referensi : CSRM. 2009. Mining industry perspective on handling community grievance: Summary and analysis of industry interviews.Australia: The University of Queensland. ICMM. 2009. Human Rights in the Mining & Metal Sector: Handling and Resolving Local Level Concern & Grievance. (pilot testing version) IFC. 2009. Good Practice Note: Addressing Grievance from Project-Affected Communities. Guidance for Project and Companies on Designing Grievance Mechanism. Washington: International Finance Coporation. Joshua Pepall, Community Feedback System: Complaints Cards. Humanitarian Accountability Team World Vision LTRT Sri Lanka Rees, Caroline. 2011. Piloting Principles for Effective Company-Stakeholder Grievance Mechanism: A Report of Lessons Learned. CSR Initiative Cambridge: Harvard Kennedy School. Ruggie, John. 2008. Promotion and Protection ofAll Human Rights, Civil, Political, Economical, Social and Cultural Rights, Including the Right to Development; Protect, Respect and Remedy: a Framework For Business and Human Rights. Rusmadi dkk, 2006. Membangun Prakarsa Publik, Mengawal Praktik orporate Sosial Responsible. Jogyakarta Suetomo, 2008, Masalah sosial dan upaya pemecahannya. Jakarta

432

PROSIDING TPT XX PERHAPI 2011 MANFAAT SOSIAL KEGIATAN PERTAMBANGAN BATUBARA PT.BUKIT ASAM, (PERSERO) TBK, TANJUNG ENIM, SUMATERA SELATAN
Oleh: ***) ****) Restu Juniah , Rinaldi Dalimi , M. Suparmoko , Setyo S Moersidik
*) **)

ABSTRAK Industri pertambangan ada karena masyarakat membutuhkan mineral dan batubara untuk mendukung berbagai kegiatan perekonomian, yaitu sebagai penyedia bahan baku bagi industri hilir. Kegiatan pertambangan mineral dan batubara biasanya dilakukan dengan metode tambang terbuka. Hal ini dikarenakan letak cadangan bahan galian tambang Indonesia yang merupakan cadangan dangkal atau shallow deposite, hanya terletak beberapa meter dari permukaan tanah. ESDM dalam blue print energinya menyebutkan bahwa salah satu sumber energi alternatif yang akan menggantikan minyak bumi adalah batubara. Kegiatan pertambangan batubara, disamping memberikan manfaat bagi penerimaan daerah atau negara penghasil, juga tentunya tentunya bagi perusahaan, dan masyarakat yang bermukim di sekitar tambang batubara. Salah satu manfaat yang timbul dimasyarakat adalah manfaat sosial, yaitu adanya keterserapan tenaka kerja lokal dan kesempatan berusaha di masyarakat, serta bantuan sosial. Hasil penelitian menunjukkan, kesempatan berusaha yang timbul dimasyarakat yang bermukim di sekitar pertambangan batubara PT Bukit Asam (PTBA) tbk Tanjung Enim Sumatera Selatan adalah dalam bentuk wiraswasta sepeti berdagang, home industry dalam bentuk usaha kerajinan dengan memanfaatkan sisa ban bekas belt conveyor PTBA, usaha pengadaan bibit tanaman dan pupuk. Kata kunci: Manfaat sosial kegiatan pertambangan batubara, Pendapatan masyarakat, pertambangan batubara

*)

Promovendeus Program S3 Ilmu Lingkungan UI, pengajar Teknik Pertambangan Universitas Sriwijaya Promotor, Pengajar Teknik Elektro dan Guru Besar FT Universitas Indonesia ***) Ko promotor, pengajar Program Studi Ilmu Lingkungan UI dan Guru Besar FE Universitas Budi Luhur ****) Ko promotor, pengajar Program Studi Ilmu Lingkungan dan Teknik Lingkungan FT UI
**)

433

I.

PENDAHULUAN

Satu hal yang tidak dapat dipungkiri, dan secara fakta menyebutkan mekipun disatu sisi ada pihak yang tidak sependapat dengan adanya kegiatan pertambangan batubara secara terbuka, namun disisi lain keberadaan pertambangan batubara dibutuhkan oleh semua pihak, termasuk masyarakat yang bermukim di sekitar pertambangan batubara. Adanya pihak yang tidak sependapat atau berkeberatan dengan adanya kegiatan pertambangan batubara, apalagi jika kegiatan pertambangan batubara dilakukan dengan metode tambang terbuka adalah terganggunya fungsi dan jasa lingkungan, antara lain seperti menurunnya kemampuan serapan karbon kawasan hutan dan menurunnya kemampuan serapan air akibat hilangnya vegetasi pada kawasan hutan. Namun disisi lain, tingginya angka pengangguran, terbatasnya lapangan kerja dan kesempatan berusaha di masyarakat menyebabkan industri pertambangan sebagaimana indutsri-industri lainnya tetap dibutuhkan masyarakat. Melalui penelitian ini ingin diketahui apa saja manfaat sosial yang dapat dirasakan oleh masyarakat yang bermukim di sekitar pertambangan batubara Tambang Air Laya PTBA, serta harapan apa sajakah yang di inginkan oleh masyarakat yang bermukim di sekitar pertambangan batubara TambangAir Laya PTBAdengan adanya kegiatan pertambangan batubara PTBA. Diharapkan dari hasil penelitian ini dapat memberikan masukan kepada semua pihak, perusahaan pertambangan batubara khususnya perusahaan PTBAdimana penelitian ini dilakukan. II. III. TINJAUAN PUSTAKA METODOLOGI PENELITIAN

Penelitian ini termasuk jenis penelitian deksriptif yang menggambarkan apa adanya suatu kegiatan dan didukung oleh data sekunder. Adapun metodologi yang digunakan dalam penelitian adalah sebagai berikut: Populasi dan sampel penelitian Populasi penelitian adalah masyarakat yang bermukim di sekitar pertambangan batubara PTBA. Sampel penelitian adalah masyarakat yang bermukim di sekitar lokasi pertambangan batubara TAL PTBA. Penetapan sampel dilakukan secara purposive sampling yang didasarkan pada pertimbangan masyarakat yang berada disekitar lokasi pertambangan batubara TAL PTBA adalah yang paling lama terkena dampak kegiatan pertambangan batubara PTBA.
3.1.

434

3.2.

Pengambilan sampel penelitian Pengambilan sampel penelitian dilakukan secara bertahap yaitu: a. Penentuan jumlah responden dalam penelitian ini didasarkan atas metode penentuan jumlah responden yaitu (Suparmoko, 2007:51, dengan jumlah sampel penelitian sebanyak 198 responden. b. Terhadap 198 sampel masyarakat yang telah ditetapkan untuk digunakan dalam penelitian ini dilakukan proportional random sampling, yaitu secara proporsional terhadap jumlah penduduk pada masing-masing Kelurahan dan Desa yang terdapat di sekitar pertambangan batubara TAL PTBAyang menjadi lokasi kajian ini. c. Terhadap jumlah sampel pada masing-masing Desa dan Kelurahan di sekitar pertambangan batubara TAL PTBA Dilakukan distribusi sampel berdasarkan jenis pekerjaan responden.

3.3.

Pengumpulan data Pengumpulan data dilakukan terhadap data primer dan data sekunder yang digunakan dalam penelitian ini. Pengumpulan data primer dilakukan dengan wawancara dan penyebaran kuesioner terhadap responden masyarakat yang bermukim di sekitar pertambangan batubara TAL PTBA. Sedangkan Sedangkan data sekunder dikumpulkan melalui studi kepustakaan, jurnal dan hasil penelitian yang terkait dengan masalah penelitian, dan berbagai dokumen yang berasal dari instansi terkait dengan masalah penelitian, seperti Dinas Kesehatan Kabupaten Muara Enim, Perusahaan Pertambangan Batubara PTBA, Dinas Pertambangan Sumatera Selatan, Badan Pusat Statistik Jakarta, serta Ditjen Mineral Batubara. Pengolahan dan Analisis data Pengolahan data dilakukan terhadap data yang telah di dapatkan sebelumnya yaitu dengan melakukan tabulasi data. Untuk menjawab permasalahan penelitian, selanjutnya dilkukan analisis secara deskriptif terhadap data yang telah di olah. IV. HASILDAN PEMBAHASAN

3.4.

4.1. Bentuk manfaat sosial kegiatan pertambangan batubara TALPTBA Tabel 4.1 Bentuk manfaat sosial kegiatan pertambangan batubara TALPTBA Berdasarkan kuesioner dan wawancara yang dilakukan terhadap 198 responden pada 6 kelompok jenis pekerjaan, keberadaan Tambang Air Laya PTBA memberikan manfaat ekonomi dalam bentuk manfaat sebagaimana disajikan pada Tabel 4.3A-C A. Kelompok responden pekebun Berdasarkan Tabel 4.3A dari responden kelompok pekebun memperlihatkan sebesar 40 % menyatakan bentuk manfaat adanya Tambang Air Laya PTBA adalah adanya bantuan pupuk dari PTBA

435

Tabel 4.3 A Bentuk Manfaat Ekonomi Tambang Air Laya Terhadap Kelompok Pekebun

Sumber: Data primer penelitian disertasi, 2011 B. Kelompok responden karyawan PTBA, PNS,ABRI dan karyawan non PTBA Berdasarkan Tabel 4.3B dari responden kelompok karyawan PTBA PNS, ABRI memperlihatkan sebesar 40.96 % menyatakan bentuk manfaat adanya Tambang Air Laya PTBA adalah Dapat memberikan kesempatan kerja untuk tenaga kerja lokal. Tabel 4.3. B Bentuk Manfaat Sosial Tambang Air Laya Terhadap Kelompok responden karyawan PTBA, PNS, ABRI dan karyawan non PTBA

Sumber: Data primer penelitian, 2011 C. Kelompok responden wiraswasta Berdasarkan Tabel 4.3C dari responden kelompok karyawan PTBA memperlihatkan sebesar 38 % menyatakan bentuk manfaat adanya Tambang Air Laya PTBA adalah adanya bantuan pupuk dari PTBA

436

Tabel 4.3C Bentuk Manfaat sosial Tambang Air Laya Terhadap Kelompok responden karyawan PTBA, PNS, ABRI dan karyawan non PTBA

Sumber: Data primer penelitian, 2011 Sebagaimana halnya pertambangan batubara PTBA yang telah memberikan manfaat sosial kepada masyarakat yang bermukim di sekitar TAL PTBA dalam bentuk keterserapan tenaga kerja lokal, kesempatan berusaha di masyarakat, adanya bantuan pendidikan, dan bantuan pinjaman lunak. Penelitian yang dilakukan oleh LP3M UI, 2005 dalam Dede Suhendra, 2011 terhadap 3 perusahaan tambang yaitu PT Kaltim Prima Coal (KPC), PT Freeport Indonesia (PTFPI), PT INCO (PTI) menunjukkan, bahwa ketiga perusahaan tambang tersebut telah memberikan manfaat sosial dalam bentuk Employment Multiplier. Tabel 4.2. Multipliers effect Beberapa Pertambangan Mineral dan Batubara

Sumber: LP3M 2005, dalam Suhendra, 2011

437

4.2. Bentuk Kesempatan Berusaha di masyarakat yang Bermukim di sekitar`TAL PTBA Usaha pertambangan memberikan manfaat langsung meningkatnya perputaran ekonomi. Hotelhotel arau rumah-rumah kontrakan dan rumah-rumah makan akan tumbuh menjamur untuk memenuhi kebutuhan para pekerja lokal maupun pendatang (Mansur, 2010) Kesempatan berusaha yang timbul di masyarakat yang bermukim di sekitar`TAL PTBA sebagai dampak adanya kegiatan pertambangan batubara PTBA adanya kesempatan berusaha atau berwiraswasta, baik dalam bentuk berdagang, pengusaha dan kontraktor. Kesempatan berusaha dimasyarakat tersebut ada yang bermitra dengan PTBA, namun ada juga yang tidak bermitra dengan PTBAdalam bentuk usaha binaan PTBA. Berdasarkan data kependudukan yang di dapatkan langsung dari beberapa Desa dan Kelurahan yang bermukim di Kecamatan Lawang Kidul dan beberapa Desa di Kecamatan Muaraenim, untuk jenis pekerjaan masyarakat sektor wiraswasta (berdagang/kontraktor dan pengusaha) jumlah yang terbanyak berada di Kecamatan Lawang Kidul yaitu Kelurahan Pasar Tanjung Enim, Kelurahan Tanjung Enim, Desa Lingga dan Desa Tegal Rejo sebanyak 5.479 orang atau 97.069 dari total pekerja kelompok wiraswata. Jumlah dan jenis pekerjaan penduduk yang bermukim di sekitar Tambang Air Laya PTBA di Kecamatan Lawang Kidul disajikan pada Tabel 4.3. Tabel 4.3. Jenis dan Pekerjaan Masyarakat yang Bermukim disekitar TAL PTBA di Kecamatan Lawang Kidul dan Kecamatan Muaraenim

438

Sumber: Monografi Desa dan Kelurahan di Kecamatan Lawang Kidul dan Kecamatan Muaraenim, 2011 Berdasarkan pengamatan dan wawancara yang dilakukan di lapangan, kesempatan berusaha yang ada di masyarakat antara lain adalah usaha pengadaan bibit, pengadaan pupuk, memanfaatkan sisa ban belt conveyor Tambang Air Laya. Ban bekas belt dimanfaatkan penduduk menjadi usaha kerajinan home industry. Produk kerajinan yang dihasilkan ban bekas belt conveyor ini adalah untuk keset kaki mobil, untuk talangan air hujan pada rumah,jok mobil, papan gilas untuk mencuci, sandal. Sedangkan kawat dari ban bekas belt conveyor dimanfaatkan penduduk untuk pagar rumah. Sedangkan mitra binaan PTBA hingga tahun 2009 berjumlah 6.660 unit Usaha. Kumulatif mitra binaan PTBAdalam bentuk unit usaha tahun 2004 hingga 2009 dapat dilihat pada Gambar 5.1.

Sumber: PTBA, 2011 Gambar 5.1. Kumulatif mitra binaan PTBA dalam bentuk unit usaha tahun 2004 hingga 2009 Gambar 5.1. di atas memperlihatkan bahwa, unit usaha yang menjadi mitra binaan PTBA setiap tahunnya selalu meningkat dengan kenaikan rata-rata 5.34 %. Pada tahun 2004 mitra binaan PTBA sebanyak 3.853 unit usaha, tahun 2005 sebanyak 4.371 unit usaha, tahun 2006 sebanyak 4.899 unit usaha, tahun 2007 sebanyak 5.506 unit usaha, tahun 2008 sebanyak 6.020 unit usaha dan tahun 2009 sebanyak 6.660 unit usaha Program kemitraan (mitra binaan) merupakan salah satu program yang terdapat dalam program CSR PTBA. CSR PTBA sebagai bentuk tanggung Jawab sosial perusahaan PTBA terhadap masyarakat, dilaksanakan PTBA dengan mengacu pada Permen BUMN Nomor PER05/MBU/2007 tanggal 27April 2007. Salim, (2010:43), memandang terbukanya lapangan pekerjaan, terbangunnya sentra kegiatan ekonomi adalah jasa besar pertambangan bagi pembangunan.

439

V.

PENUTUP

Mengutip yang telah dikemukakan Salim sebelumnya, terbukanya lapangan pekerjaan, terbangunnya sentra kegiatan ekonomi adalah jasa besar pertambangan bagi pembangunan. Adanya manfaat sosial yang timbul di masyarakat yang bermukim di sekitar pertambangan batubara Tambang Air Laya PTBA dalam bentuk keterserapan kerja masyarakat lokal Tanjung Enim, tumbuhnya peluang berwiraswasta bagi masyarakat Tanjung Enim merupakan dampak positif adanya kegiatan pertambangan batubara PTBA pada aspek sosial, yang merupakan jasa besar pertambangan PTBA bagi pembangunan khususnya msyarakat dan pemerintah daerah Kabupaten Muara Enim dimana pertambangan PTBAberada. Dalam rangka meningkatkan kesejahteraan masyarakat, diharapkan pada masa yang akan datang, semua perusahaan pertambangan batubara yang ada di Indonesia termasuk perusahaan PTBA akan lebih lagi dapat memberikan kesempatan yang sebesar-besarnya terhadap tenaga kerja lokal dan memberikan kesempatan berusaha seluas-luasnya kepada masyarakat khususnya yang bermukim di sekitar pertambangan batubara. Karena tidak dapat dipungkiri selain dampak positif sebagai manfaat sosial yang dapat dirasakan langsung oleh masyarakat yang bermukim disekitar pertambangan batubara, juga dampak negatif pada aspek sosial seperti gangguan kesehatan masyarakat akibat udara yang tercemar, air yang tercemar, yang akan merasakan langsung adalah masyarakat yang bermukim di sekitar pertambangan batubara. Dengan demikian pemanfaatan sumberdayaalam pertambangan benar-benar memberikan manfaat sebesar-besarnya bagi kesejahteraan masyarakat, tidak bagi segelintir orang atau sekelompok orang, dan pihak-pihak tertentu semata.

440

PROSIDING TPT XX PERHAPI 2011 STUDI MODEL PENGELOLAAN PERTAMBANGAN MINERAL RAKYAT DALAM UPAYA MENGURANGI DAMPAK LINGKUNGAN DAN MENINGKATKAN KESEJAHTERAAN MASYARAKAT
Sekar Mayangsari , Pancanita Novi Hartami , Nurhardono , Nurudin Diding Somantri
(1= Universitas Trisakti; 2 = Kementerian ESDM; 3 = Distam Propinsi NTB)
1 1 2 3

ABSTRAK Saat ini Indonesia merupakan negara eksportir terbesar untuk berbagai jenis bahan tambang seperti batubara, timah dan lain-lain. Meski demikian, ironisnya diberbagai daerah penghasil tambang, masih terlihat kemiskinan bahkan daerah-daerah tersebut memiliki PDRB yang relatif rendah dibanding daerah-daerah nonpenghasil. Di sisi lain pertambangan rakyat diberbagai lokasi tumbuh subur tanpa pengaturan yang jelas sehingga tidak memberikan dampak signifikan bagi pendapatan daerah, kesejahteraan penambang bahkan lingkungan. Tujuan penelitian ini adalah membentuk suatu model pengelolaan pertambangan rakyat. Ada pun subsub tujuan untuk mencapai tujuan umum tersebut adalah mengetahui berbagai pola pertambangan rakyat yang ada di Indonesia serta memahami berbagai kebijakan pertambangan rakyat. Pengamatan dilakukan di 3 (tiga) lokasi, yaitu Bangka, Lombok dan Bogor. Pemilihan ketiga lokasi tersebut didasarkan pada keragaman jenis tambang serta kompleksitas permasalahan yang terkait dengan tambang rakyat. Data dikumpulkan melalui kuesioner dan wawancara dengan masyarakat penambang di lokasi tersebut untuk mengetahui karakteristik penambang rakyat di tiga daerah tersebut. Kajian dan analisis dari segi teknis dilakukan dengan menggunakan metode analisis deskriptif serta didukung oleh analisis input-output untuk mempertajam analisis dari sisi ekonomi. Hasil penelitian menunjukkan berbagai hal sebagai berikut: Pertama, sebagian besar masyarakat di tiga lokasi tersebut sangat tergantung pada kegiatan penambangan. Kedua, Model pengelolaan tambang rakyat yang saat ini sudah berjalan dengan cukup baik adalah model yang telah dikembangkan di daerah Bangka Belitung. Model tersebut menganut azas inti-plasma dimana Perusahaan sebagai inti dan para penambang rakyat sebagai plasmanya. Tetapi di daerah lain, yaitu di Lombok, model ini tidak bisa diterapkan karena ada resistensi masyarakat terhadap masuknya investor sangat besar. Karena itu pada daerah ini model yang tepat adalah model pengelolaan seperti koperasi dengan Dinas Pertambangan setempat sebagai pembina. Kata Kunci: Tambang Rakyat, Good Mining Practice, Efek pengganda, Model Inti - Plasma, Model Koperasi 1. LATAR BELAKANG

Pertambangan dan energi merupakan sektor pembangunan penting bagi Indonesia. Industri pertambangan sebagai bentuk kongkret sektor pertambangan menyumbang sekitar

441

11,2%. Pada beberapa daerah tambang, kontribusi terbesar atas pendapatan daerah berasal dari sektor ini, dan prosentasenya mencapai lebih dari 50%. Dari sisi global, Indonesia merupakan negara eksportir terbesar untuk berbagai bahan tambang seperti batubara, dan timah. Namun demikian kontribusi yang besar terhadap pemasukan negara maupun daerah tersebut tidak sejalan dengan peningkatan kesejahteraan rakyat setempat dan lingkungan. Pertambangan skala kecil yang juga mulai marak diberbagai tempat penambangan juga tidak cukup mampu mengangkat atau mengurangi tingkat kemiskinan (Hentschel dkk. 2002). Lebih jauh, Dreschler (2001) menyatakan bahwa pertambangan diragukan kontribusinya terhadap sustainabilitas masyarakat sekitar. Riset sebelumnya menunjukkan bahwa pertambangan skala kecil yang tidak dikelola dengan baik justru menjadi antitesa baik bagi individu maupun daerah setempat karena menimbulkan kerusakan lingkungan. Hal ini karena secara teknis penambangan dilakukan secara sporadis tanpa memperhatikan lingkungan, keselamatan kerja dan bahkan tidak mampu untuk meningkatkan kesejahteraan para penambang (Hartami dkk., 2009). Barang tambang merupakan komoditi strategis bagi beberapa Daerah serta memberikan dampak bagi perekonomian masyarakat dan daerah. Kebijakan otonomi daerah dan munculnya kebijakan pemerintah pusat tersebut yang menetapkan satu jenis barang tambang mineral bukan barang strategis memberikan peluang kepada masyarakat untuk mengelola dan mengeksploitasi barang tersebut secara bebas. Di lain pihak, beberapa daerah sebagai provinsi penghasil tambang masih memiliki PDRB yang relatif rendah. Kondisi ini menunjukkan bahwa industri tambang yang ada belum cukup mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat setempat Oleh karena itu Pemerintah dalam menghadapi gejala dan fenomena tersebut harus menetapkan kebijakan pengelolaan barang tambang tersebut agar dapat memberikan dampak maksimal bagi peningkatan kesejahteraan masyarakat setempat dan berkelanjutan. Pada kondisi saat ini yang penting adalah adanya peraturan yang jelas, tegas dan efektif dalam penataan, pelaksanaan dan pengawasannya baik secara nasional maupun lokal/daerah terkait dengan pertambangan skala kecil. Karena belum adanya model pengelolaan yang efektif tersebut mengakibatkan kegiatan pertambangan sekala kecil terus berkembang tanpa kendali atau dengan kata lain menjadi pertambangan tanpa izin yang sangat merugikan negara dan memperparah dampak kerusakan lingkungan. 2. PERTAMBANGAN RAKYAT DAN KERANGKAENTREPRENEURSHIP

Pengertian dan kriteria pertambangan rakyat hingga saat ini masih sering menimbulkan kerancuan di kalangan aparat terutama di daerah dan masyarakat. Kategori pertambangan skala kecil yang dikemukakan oleh Aspinall (2001), terdiri atas: koperasi Unit Desa (KUD), pertambangan yang dilakukan oleh penduduk setempat yang mempunyai wadah badan hukum koperasi desa dengan perizinan diterbitkan oleh daerah. Pertambangan Rakyat, pertambangan yang dilakukan oleh penduduk setempat secara perseorangan atau kelompok dengan perizinan oleh daerah Pertambangan Tradisional, pertambangan yang dilakukan oleh penduduk setempat secara perseorangan atau kelompok yang telah berlangsung secara turun-tumurun, contohnya :

442

penambang emas, intan mendulang di sungai - sungai di Kalimantan, Pertambangan Tanpa Izin (PETI), pertambangan yang dilakukan oleh penduduk setempat secara perseorangan atau kelompok dengan TANPA perizinan sehingga dalam kegiatannya sulit terkendali. Oleh karena itu PETI ini seringkali menimbulkan masalah baik sosial maupun lingkungan karena sangat merugikan negara dan memperparah kerusakan lingkungan. Avila (2003) secara sistematis mengungkap karakteristik pertambangan skala kecil sebagai berikut padat karya, penggunaan teknologi rendah, pemasaran hanya pada level local, terjadi kerusakan lingkungan, pekerja merupakan masyarakat miskin, keselamatan kerja rendah, sumber konflik, biaya produksi rendah, banyak pihak terlibat dan merupakan stimulus perekonomian lokal Kriteria pertambangan skala kecil lainnya seperti yang diusulkan oleh Lembaga Demografi Universitas Indonesia (LD-UI, 1996) yang diharapkan dapat menjadi bahan acuan pengembangan pertambangan rakyat atau pertambangan skala kecil dengan memasukan kegiatan PETI (pertambangan tanpa izin) ke dalam kriteria tersebut. Adapun kriteria yang dibuat oleh LD-UI /1996 tersebut antara lain : · Potensi sumber daya/cadangan sifatnya terbatas (kecil) dan biasanya mereka tidak mampu untuk melaksanakan kegiatan eksplorasi. · Teknologi penambangan dan pengolahan sifatnya sederhana atau manual dan diterapkan untuk bahan galian yang bernilai (berkadar) tinggi. Kualitas bahan galian dipengaruhi atau ditentukan oleh pasar/ konsumen. · Sering mengabaikan kelestarian lingkungan serta kesehatan dan keselamatan kerja · Modal awal kegiatan penambangan sangat terbatas (kecil). · Dilakukan sebagai usaha keluarga atau perorangan oleh masyarakat setempat. · Penggunaan tenaga kerja relatif tinggi (padat karya). · Waktu pelaksanaan penambangan sifatnya terbatas dan biasanya merupakan usaha sampingan atau musiman. · Produktivitas rendah. Pertambangan rakyat saat ini ada di 50 negara dimana rakyatnya hidup miskin dan para penambang umumnya merupakan pendatang. Paling tidak ada 20 juta orang yang bekerja di pertambangan skala kecil ini (Worldbank, 2008). Jumlah ini semakin meningkat sejalan dengan semakin tingginya harga barang tambang. Berbagai jenis komoditas dihasilkan oleh tambang skala kecil ini, seperti emas, tembaga, batubara, timah, dan lain-lain. Worldbank (2001) menyatakan bahwa tujuan pengelolan tambang rakyat hendaknya untuk mengurangi kemiskinan melalui pembangunan yang berkelanjutan. Ada 4 pilar yang harus dibangun untuk mencapai tujuan tersebut, yaitu : 1. Better governance and formalization of the sector 2. Memiliki inisiatif untuk meningkatkan kinerja ekonomi dan lingkungan serta mengembangkan berbagai factor sosial 3. Membangun kerjasama dengan berbagai mitra kerja 4. Mengembangkan pengetahuan di bidangnya dan menyebarluaskan best practice di pertambangan.

443

3. METODE PENELITIAN Sampel yang diobservasi adalah pertambangan rakyat yang ada di tiga lokasi berbeda, yaitu Bangka Belitung, Nusa Tenggara Barat, dan Pongkor. Ketiga lokasi dipilih untuk generalisasi jenis bahan tambang mineral yang beragam dan keragaman penduduknya Data dikumpulkan melalui kuesioner dan wawancara dengan masyarakat penambang di lokasi tersebut untuk mengetahui karakteristik penambang rakyat di tiga daerah tersebut. Kajian dan analisis dari segi teknis dilakukan dengan menggunakan metode analisis deskriptif serta didukung oleh analisis analisis input-output untuk mempertajam analisis dari sisi ekonomi. 4. HASILDAN PEMBAHASAN 4.1. Tinjauan Peraturan dan Kebijakan Sebenarnya, hukum negara mengakui keberadaan pertambangan rakyat, namun batasannya dirumuskan terlalu sempit dan perizinannya dibuat terlalu berbelit (Wiriosudarmo, 2001). Tidaklah mengherankan jika hampir 90 persen dari kegiatan penambangan masyarakat, atau sering juga disebut penambang informal atau penambang tanpa izin (PETI), lalu digolongkan sebagai penambangan liar (Aspinall, 2001). Pada masa sebelum reformasi telah terbit peraturan yang menyangkut pertambangan rakyat tertuang dalam peraturan Menteri Pertambangan dan Energi no 01P/201/M.PE/1986 yaitu tentang Pedoman Pengelolaan Pertambangan Rakyat Bahan Galian Strategis dan Vital (GolonganAdan B). Dalam peraturan ini yang dimaksud dengan pertambangan rakyat antara lain usaha pertambangan yang dilakukan oleh masyarakat setempat sebagai lahan kehidupan seharihari dengan menggunakan peralatan sederhana, juga luas dibatasi maksimal 25 Ha. Komitmen pemerintah dalam mengembangkan serta menata ulang pertambangan rakyat tertuang dalam UU no. 4 tahun 2009. Di dalam pertambangan yang terbaru, yaitu UU No. 4/2009 tentang pertambangan Mineral dan Batubara, Pertambangan Rakyat diakomodir dalam beberapa pasal (pasal 20 hingga Pasal 26) yang mengatur mengenai Wilayah Pertambangan Rakyat dan Izin Usaha Pertambangan Rakyat. Hal ini memberikan peluang kepada pertambangan rakyat dan pertambangan skala kecil untuk tumbuh dan berkembang. Mengingat karaktersitik industri pertambangan yang padat modal dan padat karya maka model pengelolaan pertambangan rakyat untuk bahan tambang mineral adalah model kemitraan. 4.2. Tinjauan Teknis Penambangan Rakyat, Pencemaran Lingkungan, dan Kesehatan dan Keselamatan Kerja yang Tidak Memadai Pertambangan adalah suatu kegiatan yang menimbulkan dampak yang serius dan beragam terhadap lingkungan. Keadaan pertambangan skala kecil dan penambangnya saat ini sangat berkaitan dengan wilayah dan beberapa faktor antara lain : keadaan alam, kultur dan penduduknya, teknik dan keuangan. Berbagai masalah dapat menimbulkan dampak lingkungan pada pertambangan skala kecil yang bisa disebabkan oleh beberapa hal sebagai berikut : · Kurangnya pengetahuan, pendidikan, dan pelatihan personel (teknik dan lingkungan) · Manajemen dan administrasi yang tidak efisien · Keterbatasan ekonomi

444

Kurangnya akses terhadap teknologi atau teknologi yang tidak efisien Kurangnya informasi tentang pelaksanaan kerja yang lebih baik Kurangnya pengawasan dan sanksi / penegakan hukum Menurut Soemantri (2010), lemahnya kemampuan pengetahuan dan ekonomi masyarakat telah menyebabkan mereka seringkali menjadi objek eksploitasi para pemodal atau cukong sehingga sangat sedikit diantara mereka yang dapat memperbaiki kesejahteraan hidupnya. Lebih jauh lagi, aktivitas ini seringkali menggiring mereka menuju terjadinya degradasi budaya lokal akibat bertemunya berbagai budaya dari para penambang pendatang dengan masyarakat setempat sehingga tidak jarang melahirkan konflik diantara mereka dan meningkatkan potensi kriminalitas. Keadaan lingkungan dari kegiatan pertambangan kecil dipandang sebagai hal yang sangat penting. Kegiatan kerja dan aspek kehidupan yang berbeda dari para penambang yang berada dalam kondisi sedemikan rupa sehingga dampak yang mengancam kesehatannya sangat beragam. Sebagai salah satu contoh adalah akibat yang ditimbulkan oleh merkuri dan sianida. Di samping keadaan sanitasi pada umumnya, beberapa penyakit khusus penambang seperti kematian karena kecelakaan kerja dan dampak dari keracunan yang berat, kelelahan menghadapi pekerjaan sehari-hari yang berkepanjangan, akibat kebisingan, kelainan mental dan lain-lain. Selain itu, masih harus ditambah dengan ancaman tanah longsor, ledakan, kebakaran, banjir, kesalahan pengoperasian peralatan dan mesin, resiko jatuh dan bahaya lain. Kegiatan penambangan rakyat pada umumnya tidak memperhatikan aspek K3 dikarenakan pengetahuan dan kesadaran penambang yang rendah. Pekerja penambangan tidak menggunakan alat pelindung diri dan bekerja pada kondisi yang tidak aman, seperti bekerja pada lubang bawah tanah tanpa penyangga, menggali dibawah tebing yang mudah lonsor. Hal ini menyebabkan sering terjadinya kecelakaan kerja yang dapat menyebabkan kematian. Berkaitan dengan hal tersebut ada mitos di kalangan para penambang jika terjadi korban maka akan semakin banyak emas yang akan didapat (Soemantri, 2010). Menurut Herman Wotruba, dkk (2002) Pemerintah mengalami banyak kesulitan mengontrol pertambangan rakyat (pertambangan skala kecil). Hal ini disebabkan oleh : Banyaknya usaha tersebut dan letaknya yang tersebar dan terpencil · Kurangnya peraturan dan norma yang dapat diterapkan · Kurangnya sumber daya manusia yang memadai · Kurangnya infrastruktur yang diperlukan · Penolakan para penambang terhadap akses pemerintah · Pada banyak Negara berkembang, kegiatan industri tradisionil terutama yang menyangkut perusahaan kecil (dalam hal ini pertambangan rakyat) seringkali menimbulkan tingkat pencemaran yang tinggi sehingga membahayakan kesehatan manusia dan lingkungan hidup. Hal ini menjadi semakin menyulitkan karena letak sumber pencemaran yang tersebar sehingga mempersulit pemerintah untuk melakukan pengawasan. Peraturan hukum yang kurang memadai atau lemahnya penegakan peraturan tersebut dapat memperparah tingkat pencemaran lingkungan. Untuk dapat mengurangi efek negatif terhadap lingkungan hidup dan kesehatan

· · ·

445

masyarakat yang tidak terlibat dalam kegiatan tersebut, dan agar dapat dipenuhinya persyaratan yang umum dan legal, perlu adanya pengertian, informasi, dan pelatihan dari para pelaku pada semua tingkat disertai dengan implementasi pengelolaan teknis lingkungan 4.4. Tinjauan Ekonomis Berkembangnya produksi pertambangan di negeri ini berkat investasi yang dilakukan oleh berbagai perusahaan tambang dalam 35 tahun belakangan ini, baik perusahaan lokal maupun luar negeri. Peran perusahaan-perusahaan ini dalam mengeksplorasi dan mengeksploitasi kekayaan mineral Indonesia untuk menjadi komoditas bernilai, sekaligus menjadi pionir dalam menghubungkan peradaban urban dengan daerah-daerah terpencil, tidaklah dapat diabaikan begitu saja. Industri pertambangan sangatlah erat dengan kemiskinan, terutama di daerah-daerah yang berhubungan langsung dengan kegiatan eksploitasi (Jatam, 2005). Lebih jauh lagi, kegiatan tambang di berbagai tempat tidak saja dicurigai tidak berkontribusi dalam memajukan masyarakat lokal, tapi juga memicu berbagai konflik sosial ekonomi. Konflik ini dapat terjadi antara perusahaan tambang dan pemerintah daerah, antara perusahaan dan masyarakat, antara berbagai institusi di pemerintahan dan antara berbagai kelompok masyarakat lokal. Namun demikian yang menonjol adalah konflik antara perusahaan tambang dan masyarakat lokal. Dan salah satu isunya menyangkut isu penambangan masyarakat yang terjadi di sekitar perusahaan tambang. Sekurangnya ada tiga syarat agar kegiatan pertambangan dapat tetap memberikan kontribusi terhadap pengentasan kemiskinan, mengurangi potensi konflik sosial ekonomi, dan mendorong pertumbuhan berkelanjutan. Ketiga syarat ini adalah (EIR, 2003): 1 Tata kelola korporasi dan tata kelola publik (corporate and public governance) yang pro rakyat miskin; 2 Kebijakan-kebijakan sosial dan lingkungan yang lebih efektif; 3 Penghargaan terhadap hak asasi manusia (HAM). Pada prinsipnya, dalam pengelolan pertambangan, kesejahteraan masyarakat dan kelestarian ekosistem lokal harus diutamakan, tidak peduli seberapa menguntungkan dan lamanya operasi penambangan bagi pemerintah dan pihak perusahaan. Masyarakat lokallah yang pada kenyataan harus menerima dampak kegiatan penambangan, baik yang positif maupun yang negatif, bahkan hingga perusahaan tambang tersebut telah berhenti beroperasi (pasca tambang). Untuk kasus penambangan rakyat di Indonesia, bahwa penambangan di Indonesia belum mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat lokal, kalau pun terdapat peningkatan kesejahteraan sifatnya hanya temporer. Berbagai isu sosial dan konflik di sekitar kegiatan penambangan adalah persoalan yang kompleks (Resosudarmo et al., 2009). Masyarakat berkeyakinan bahwa daerah tambang yang dikelola perusahaan adalah hak mereka, umumnya melalui hak ulayat. Karenanya, terutama setelah Indonesia memasuki era reformasi di akhir 1990an, muncul kesadaran masyarakat lokal untuk bangkit melawan kesewenang-wenangan negara berupa eksploitasi perusahaan dan penguasaan tanah secara sepihak dengan mengambil alih kegiatan penambangan.

446

5.

MODEL PENGELOLAAN TAMBANG RAKYAT

5.1. Gambaran Pertambangan Rakyat di Indonesia Observasi tiga lokasi pertambangan rakyat di Indonesia memberikan gambaran mengenai kondisi pertambangan rakyat di Indonesia. Di beberapa lokasi, masyarakat penambang ini mempunyai beberpa julukan. Di sekitar Gunung Pongkor terkenal dengan sebutan “gurandil”, di Bangka terkenal dengan sebutan Tambang Inkonvensional (TI) dan di beberapa lokasi lain biasa disebut sebagai penambang liar. Gerakan reformasi yang muncul akibat krisis ekonomi dan melemahnya otoritas pemerintah pusat membuka celah bagi masyarakat untuk berani menambang tanpa izin. Selain kebutuhan ekonomi, ada juga rasa ketidakadilan di kalangan masyarakat yang beranggapan rakyat kecil tidak menikmati kekayaan alam yang dimiliki bumi ini. Umumnya para penambang ini mengangkat isu hak milik rakyat yang telah dirampas penguasa melalui perusahaan sebagai kaki tangannya sebagai alasan membenarkan tindakan mereka. Banyak penduduk lokal pun memanfaatkan “kealpaan” perusahaan dalam memperhatikan kesejahteraan masyarakat sekitar. Reformasi lalu disalah-artikan sebagai pintu kebebasan yang membenarkan masyarakat untuk menduduki daerah pertambangan dan mengabaikan keberadaan perusahaan sebagai pemilik legal wilayah kuasa pertambangan di daerah tersebut. Selama kurun waktu 1998-2000, daerah tambang Pongkor yang luasnya sekitar 4.000 ha ini menjadi lahan mata pencaharian baru bagi ribuan orang yang pada puncaknya diperkirakan mencapai 26.000 orang (McMahon et al., 2000). Penduduk lokal pun, terutama mereka yang bermukim di daerah yang berbatasan langsung dengan Gunung Pongkor tak kalah giatnya berpartisipasi dalam kegiatan pertambangan rakyat ini. Diperkirakan, sekitar 30 persen para penambang adalah penduduk lokal (Zulkarnain et al., 2004); dan selebihnya datang dari daerah di sekitar Bogor dan dari luar Jawa. Tidak dapat dimungkiri bahwa kegiatan penambangan rakyat ini menjadi sumber pendapatan penting bagi yang terlibat. Bagi penduduk lokal, baik yang terlibat secara langsung maupun tidak langsung (seperti membuka warung untuk menyediakan kebutuhan sehari-hari para penambang), mereka merasakan dampak ekonomi yang cukup besar dari kegiatan penambangan rakyat ini (Pudjiastuti, 2005). Di Propinsi Bangka Belitung, jatuhnya harga lada di penghujung 1990an yang menyebabkan penurunan pendapatan masyarakat lokal, melemahnya sistem pemerintahan, serta rasa ketidakadilan yang lama terpendam mendorong penduduk untuk melakukan penambangan timah secara terbuka dengan menyatakan diri sebagai TI. Tentunya kegiatan TI yang bermunculan ini dapat dikatakan liar karena tanpa sepengetahuan perusahaan maupun pemerintah. Dari sisi masyarakat pelaku TI, penambangan timah liar ini memberikan manfaat keuangan yang besar. Dibandingkan dengan bertani lada pekerjaan menambang timah dapat menghasilkan uang yang setara dalam jangka waktu yang jauh lebih cepat. Dari sisi perusahaan, keberadaan TI liar ini tentunya sangat merugikan. Sebagai usaha mengontrol aktivitas TI dan meredam ketidakpuasan masyarakat, perusahaan mengambil inisiatif untuk menjalin kerja sama lebih baik dengan para TI dan sejak tahun 2009 menerapkan pola model kemitraan Karakteristik berbeda ditemukan di daerah Lombok Barat. Kegiatan menambang di

447

Lombok Barat saat ini dilakukan tanpa izin dari pemerintah daerah. Beberapa penambang terlibat dengan pengijon sebagai pemilik modal. Pengijon adalah pembeli emas hasil tambang rakyat tersebut sekaligus pemberi modal. Seorang responden mengatakan, pengijon bukan hanya berasal dari sekitar Mataram, tetapi juga dari Jakarta dan Surabaya. Hasil tambang emas saat ini sangat menarik, sehingga masyarakat ramai-ramai menambang. Padahal, aktivitas tambang emas oleh rakyat ini berisiko besar. Kegiatan menambang pada kedalaman 40 meter di bawah permukaan. Lubang masuknya kadang hanya pas tubuh. Tidak mengherankan, beberapa kali terjadi kecelakaan tambang yang memakan korban. Hasil penambangan dijual langsung kepada penampung atau langsung diolah dengan menggunakan alat gelondong. Penggunaan gelondong sangat berpotensi mencemari lingkungan karena limbah hasil pengolahan dibuang disekitar rumah-rumah penduduk. 5.2. Usulan Model Pengelolaan Pertambangan Rakyat Pengembangan model pertambangan rakyat pada kajian ini mempertimbangkan skenario pembangunan daerah. Daerah secara umum memiliki tiga elemen, yaitu manusia, sumber daya alam dan lingkungan. Ketiga elemen tersebut terkait dalam satu sistem yang dinamakan sistem lokal. Sistem lokal saat ini dengan adanya otonomi daerah dibuat dengan memperhatikan hak rakyat untuk mengurus kepentingan di daerahnya sendiri. Hak otonomi harus dilaksanakan dengan penuh tanggung jawab, terutama dalam kaitan dengan pemanfaatan sumber daya alam khususnya untuk barang mineral. Model pengelolaan tambang rakyat yang akan diusulkan dalam kajian ini didasarkan pada perangkat dasar otonomi daerah karena model ini dikembangkan dalam era otonomi daerah. Model ini mempertimbangkan 4 (empat) perangkat otonomi daerah, yaitu : 1. Perangkat otonomi pertama adalah kewenangan untuk mengatur dan mengambil keputusan yang menyangkut kepentingan daerah dengan pendekatan yang menyeluruh (holistic spatial). Pendekatan ini menekankan kepentingan manusia dalam suatu ruang dimana terdapat berbagai kepentingan manusia. 2. Perangkat otonomi kedua adalah sumber dana pembangunan daerah. Dana pembangunan adalah dana yang berasal dari masyarakat, termasuk investor, yang digunakan dalam pembangunan. Sumber dana pembangunan dalam pemanfaatan sumber daya alam dapat berwujud investasi. 3. Perangkat otonomi ketiga adalah sumber daya manusia, baik dalam jumlah maupun kualitas. 4. Perangkat otonomi keempat adalah sistem manajemen otonomi yang terdiri dari berbagai sub sistem yang berkaitan dengan informasi, organisasi, anggaran daerah dan regional, penciptaan sumber pendanaan, pendidikan serta administrasi. Berdasarkan penjelasan di atas maka model pengelolaan tambang rakyat harus mencakup unsurunsur sebagai berikut: 1. Berbagai kebijakan sebagai landasan hukum untuk memayungi kegiatan pertambangan rakyat sehingga tidak dipandang pertambangan ilegal 2. Pengelolaan pertambangan rakyat harus dibuat menarik dan ekonomis sehingga menarik investor untuk menanamkan investasi dalam pertambangan rakyat

448

3. Kualitas SDM dalam pertambangan rakyat maupun pertambangan skala kecil harus mendapat perhatian sehingga pendidikan keahlian yang sifatnya berkelanjutan harus dijalankan. Kualitas SDM yang meningkatkan akan berdampak pada penurunan jumlah kecelakaan kerja yang masih relatif tinggi di sektor ini. 4. Model pengelolaan tambang rakyat harus terintegrasi sehingga segala hal bisa terpantau dengan baik. Model kemitraan yang selama ini banyak dikenal adalah antara perusahaan besar dengan pengusaha kecil seperti sub kontraktor, pola PIR, bapak angkat. Sedangkan kemitraan yang ada walaupun sudah ada tapi masih sebagian kecil dan pada umumnya belum terpola dengan baik, dan bersifat temporer atau sewaktu-waktu. Berkaitan dengan hal tersebut, untuk mengetahui lebih jauh bagaimana suatu pengkajian yang akan dapat menyajikan informasi secara rinci mengenai model-model kemitraan. Sasaran utama model kemitraan tambang rakyat terpadu adalah membantu berbagai permasalahan yang dihadapi oleh tambang rakyat baik di bidang pemasaran, proses produksi, bahan baku, dan lain-lain. Sedangkan permasalahan pembiayaan/permodalan diasumsikan ditangani secara lebih khusus lewat model pembiayaan usaha. Identifikasi dan analisis kemitraan secara terpadu bertumpu pada bagaimana agar keterkaitan (linkage) antar tambang rakyat atau kaitan antar tambang rakyat dengan usaha menengah dan besar dapat efektif dalam arti saling menimbulkan keuntungan internal dari masing-masing pihak yang terkait. Dari sisi pemasaran tambang rakyat dapat memasarkan produk barang dan mungkin jasa sebagai produk akhir atau produk antara (intermediate goods) yang masih akan diolah oleh unit usaha lainnya. Kontinuitas penjualan sangat diperlukan terutama bila hasil tambang tersebut merupakan barang antara yang akan diproses lagi, selain itu kualitas yang sesuai dengan standar yang telah ditetapkan perlu tetap dijaga. Dari sisi produksi, proses produksi yang dilakukan tambang rakyat tergantung kepada alam sehingga dapat mengancam kontinuitas suplai maupun harga jual produk jika tidak dikelola dengan baik. Pada saat jumlah cadangan memadai pasokan ke pasar melimpah, penambang dengan mudah mendapatkan hasil yang memadai tetapi tidak demikian keadaannya jika terjadi kondisi sebaliknya. Persoalan ini memerlukan perhatian yang cukup serius dari sisi pembinaan produksi yang berorientasi kepada pasar. Jaminan terhadap adanya cadangan hanya dapat terjadi bila tambang rakyat bekerja sama dengan para ahli atau pihak terkait untuk membantu mendeteksi lokasi-lokasi yang masih memiliki cadangan ekonomis. Untuk ini diperlukan beberapa persyaratan misalnya tambang rakyat harus lah memiliki keterkaiatan secara legal dengan perusahaan besar serta dinas pertambangan terkait. Jika tidak ada sarana-sarana tersebut diatas maka dipastikan biaya awal untuk melakukan eksplorasi tidak terkendali bahkan pada akhirnya mendapatkan hasil yang siasia. Kondisi ini berarti pendapatan akhir yang nantinya akan diterima penambang akan relatif rendah karena harus dikurangi dengan biata awal yang dikeluarkan pada tahap eksplorasi. Berdasarkan pertimbangan di atas maka model kemitraan yang diusulkan adalah sebagai berikut:

449

Penyandang Dana

Lembaga keuangan formal

Pembina Pendamping

Sumber Teknologi

Lembaga Keuangan Internal

PR

PR

Pemasok Bahan Pendukung

PR

PR

PR

PERUSAHAAN INDUK

Skema Usulan Model Kemitraan Pertambangan Rakyat

450

DAFTAR PUSTAKA 1. Aspinall, Clive. 2001. Small Scale Mining in Indonesia. NWSD-IIED, England 2. Avila, Eduardo. 2003. Small-scale mining: A new entrepreneurial approach. Natural Resources and Infrastructure Division 3. Davidson, Jeffrey. 1993. The Transformation & Succesful Development of small scale mining enterprise in developing countries. World Bank 4. Hartami, Pancanita Novi, Sekar Mayangsari dan Jamal Tuheteru. 2009. Kajian teknis dan ekonomi penggunaan jasa pelaksanaan penambangan dalam pengusahaan pertambangan. Direktorat Mineral, Batubara dan Panas Bumi, Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral. 5. Hunai, Maria. 1999. Mining and the environment. International Development Research Center 6. Hentschel, Thomas; Felix Hruscha dan Michael Priester. 2002. Global Report on Artisanal & Small Scale Mining. World Business Council for Sustainable Development 7. Hermann Wotruba, dkk. 2002. Pengelolaan Lingkungan pada Usaha Pertambangan Skala Kecil, SWISSCONTACT – Swiss Foundation for Technical Cooperation, Jakarta 8. Jalilian, Hossein and Colin K. 2001. Financial development and poverty reduction in developing countries. Finance and Development Research Programme 9. Keputusan Bersama 3 Menteri (Menteri Pertambangan dan Energi, Menteri dalam negeri, dan Menteri Koperasi, Pengusaha Kecil dan Menengah) tahun 1998 tentang Pembinaan dan Pengembangan Koperasi dan Pengusaha Kecil Melalui Usaha Pertambangan Skala Kecil 10.Kuncoro, Mudrajad. 2008. Pembiayaan Usaha Kecil. Economic Review No. 211, Maret 2008 11.Kuncoro, Mudrajad. 2008. Usaha Kecil di Indonesia : Profil, Masalah dan Strategi Pemberdayaan. Disempurnakan dari makalah yang disajikan dalam Studium Generale dengan topik “Strategi Pemberdayaan Usaha Kecil di Indonesia”, di STIE Kerja Sama, Yogyakarta, 18 Nopember 2000 12.Lucas, R. 1988. On the Mechanics of Economic Development. Journal of Monetary Economics 22(1): 3-42. 13.Rahardjo, Hutamadi dan Mulyana. 2007. Evaluasi Sumber Daya dan Cadangan Bahan Galian untuk Pertambangan Skala Kecil. Kajian Departemen Energi Sumber Daya Mineral 14.Soares, Aderito D.J. 2004. The impact of corporate strategy on community dynamics: A case study of Freeport Mining. International Journal on Minority and Group Rights 15.Susanto, S.N.H. 2009. Penguasaan Daerah atas Bahan Galian dalam Perspektif Otonomi Daerah. Dipresentasikan pada Seminar Nasional Aspek Hukum Penguasaan Daerah atas Bahan Galian 16.Suryatono, dkk. 2002. Praktek Pertambangan yang Baik dan Benar. 17.Soemantri, N.D. 2010. Pertambangan Emas Tanpa Ijin (PETI) di Provinsi Nusa Tenggara Barat dan Permasalahannya. Bidang Pertambangan Umum, Dinas Pertambangan dan Energi, Provinsi Nusa Tenggara Barat 18.Undang-Undang Pertambangan no. 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batubara 19.Undang-Undang No.20 tahun 2008 tentang Usaha Kecil, Mikro dan Menengah

451

PROSIDING TPT XX PERHAPI 2011 Kajian Geoteknik Untuk Penanganan Kelongsoran di Low Wall Pit T1 Site Sambarata, PT. Berau Coal, Kabupaten Berau, Kalimantan Timur
David ONTOSARI, Sindu UMBORO dan Wandi 1) Geotechnical and Hydrological Engineer PT Berau Coal, 2) SMO Superintendent PT Berau Coal.
1) 2)

Sari Pit T1 merupakan salah satu seri Pit T yang ada di Block B West, site Sambarata Mine Operation (SMO). Kegiatan penambangan di Pit T1 sudah dimulai sejak September 2010 dan penambangan tersebut masih berlangsung di tahun 2011 dengan total cadangan batubara adalah 445,000 Ton. Berdasarkan data rencana tambang seharusnya operasional penambangan akan selesai pada bulan Mei 2011 namun selama kegiatan penambangan mengalami beberapa kendala operasional diantaranya kendala geoteknik dan hidrologi pada low wall Pit T1 sehingga akan menyebabkan terjadinya penundaan. Kelongsoran yang terjadi pada tanggal 2 Oktober 2010 di area blok 3-4 adalah salah satu kendala geoteknik yang cukup mengganggu tahapan kegiatan penambangan. Terjadinya kelongsoran diakibatkan oleh geometri desain tambang yang tidak sesuai dengan kekuatan geser batuan yang ada di belakang Seam T1 yang tersusun oleh beberapa lapisan yang disebut bedding shear. Kehadiran bedding shear yang umumnya tersusun atas sheared lamination atau slickensided lamination pada mudstone dan carbonaceous mudstone berasosiasi dengan rembesan air tanah membentuk suatu bidang lemah yang berfungsi sebagai bidang gelincir yang menyebabkan terjadinya kelongsoran dengan mekanisme active – passive wedge (semi planar) di Pit T1 Block B West – SMO. Keywords: Low wall, Bedding shear, slickensided lamination, active – passive wedge Abstract Pit T1 is one of Pit T series within B West area, Sambarata Mine Operation (SMO) site. Mining activities at Pit T1 has been commenced since September 2010 and it's still continue to 2011 with measured remaining reserves are 445,000 Tons. Based on mine plan data, mining operation in this area should be finished in May 2011, but it has several operational obstacles such as geotechnical and hydrological problems on Pit T1's low wall which was making an operation delay time. Low wall failure on October 2nd 2010 at block 3-4 was a geotechnical problem which was an operational activity's obstacles. Low wall failure was caused by mine design geometry is not fulfill the criteria shear strength of low wall rock behind seam T. The material is carbonaceous mudstone consisted of thinly bedding and lamination called bedding shear. The existence of bedding shear comprise of sheared lamination and slickensided lamination in mudstone associated with water seepage were creating weak zones as failure plane as main factor of activepassive wedge (semi planar) in Pit T1 Blok B West SMO. Keywords: Low wall, Bedding shear, slickensided lamination, active – passive wedge

452

PENDAHULUAN Pit T1 terletak di area Tambang PT Berau Coal di Kabupaten Berau, Kalimantan Timur yakni di area Sambarata Mine Operation (SMO) di Blok B West. Secara umum area Tambang Sambarata Blok B West terbagi menjadi 4 pit yaitu Pit T1 di sebelah selatan dan menerus ke T2, T3 dan T4 di sebelah utara, saat ini Pit T1 dan T2 yang merupakan pit aktif. Dari interpretasi peta topografi, daerah ini berupa pegunungan bergelombang sedang – kuat yang terdiri dari bukit dan lembah yang menunjukkan adanya kemenerusan topografi baik dari sisi punggungan bukit maupun turunan lembah yang terbentuk. Interpretasi kemenerusan topografi ini sebagai panduan dalam penentuan struktur geologi yang lebih besar. Dari interpretasi ini dapat dipadukan dengan struktur-struktur minor yang teramati dan terukur di area pit. Data model geologi juga berperan besar dalam interpretasi model geologi secara menyeluruh. Dip litologi batubara di area tersebut mempunyai kecendrungan menegak dari Timur ke Barat, dengan dip litologi Pit T1 ±32°, Pit T2 ±33-34° , Pit T3 ±38° dan Pit T4 ±39° .

Gambar 1. Peta struktur dan geologi Sambarata Area Struktur geologi regional berupa lipatan yang terdapat pada daerah Sambarata block West merupakan lipatan monoklin (satu sayap) (lihat gambar 1). Arah umum dari lipatan ini adalah utara – selatan dengan jurus (strike) N 160º – 170º E, dengan kemiringan berkisar antara 33º – 45º E. Struktur geologi lokal yang berkembang adalah long joint sebagai bidang batas active – passive wedge dan laminated carbonaceous mudstone yang slickensided setebal 20 cm pada tiap ketebalan 4 – 5 m mudstone. Laminasi ini disebut sebagai bedding shear yang berpotensi sebagai

453

bidang lemah dan bidang kelongsoran akibat berasosiasi dengan air tanah.

Gambar 2. Struktur dan stratigrafi Sambarata Area Pit T1 adalah tambang yang dilakukan dengan cara open pit mining untuk memperoleh batubara dari seam T. Batuan yang melingkupi seam T (mineout dan overburden) adalah mudstone dan carbonaceous mudstone dengan dip perlapisan batuan 32-37º (blok 1-7) - 42º (blok 11-13). Tebal total mudstone di mineout secara stratigrafi adalah 28 m.

454

LATAR BELAKANG Terjadinya beberapa kelongsoran di Pit T1, diantaranya longsor yang terjadi pada tanggal 2 Oktober 2010 di blok 4, longsor yang terjadi pada tanggal 11 Oktober 2010 di blok 1 – 4 (meluas dari kelongsoran pertama) dan longsor yang terjadi pada minggu ke 2 Januari 2011 di blok 12 – 13 (lihat gambar 4, 5 dan 6).

Gambar 3. Peta lokasi longsor di Pit T1 blok 12-13 week 2 Januari 2011 Kelongsoran di area lowwall pit T1 tersebut telah menyebabkan terjadinya kerugian berupa loss time yang cukup besar. Pekerjaan yang dijadwalkan selesai dalam 2 minggu mengalami keterlambatan menjadi 1.5 bulan dan harus dilakukan investigasi geoteknik, pembuatan analisa dan rekomendasi geoteknik, perhitungan ulang cadangan dan revisi desain oleh Mine Plan serta pekerjaan untuk memperbaiki dan membersihkan area longsoran (lihat gambar 6). Selain dari sisi keterlambatan waktu dan sisi keamanan lereng tambang, juga muncul biaya tambahan untuk membersihkan dan membentuk desain revisi akibat longsor tersebut. TUJUAN/HASIL YANG DIHARAPKAN Tujuan yang diharapkan dari penelitian ini adalah untuk memberikan rekomendasi penanganan kelongsoran dan acuan revisi terhadap desain Pit T1, T2, T3 dan T4 di area blok B West secara keseluruhan, sehingga dapat mengurangi risiko kelongsoran serupa yang dapat terjadi di pit SMO dan pit lainnya yang memiliki karakter topografi, lithologi dan hidrologi hampir sama.

455

Gambar 4. Foto longsor pertama tanggal 2 Oktober 2010 di blok 4

Gambar 5. Foto longsor kedua tanggal 11 Oktober 2010 meluas dari blok 1 hingga blok 4

Gambar 6. Biaya besar untuk penanganan dan pembersihan longsoran

456

METODOLOGI Pit T1, T2, T3, dan T4 adalah rangkaian pit panjang yang mengambil seam T sebagai target utama. Jarak masing-masing pit tersebut kurang dari 100 m. Dengan lapisan batuan yang sama dan jarak relatif dekat, permasalahan longsor di pit T1 mungkin dapat terjadi juga di Pit T2, T3 maupun Pit T4. Dari sudut pandang data, ada kemungkinan juga data penting yang tidak terlihat di Pit T1 dapat terlihat di Pit T2, T3 maupun T4, sehingga pengambilan data dilakukan secara menyeluruh untuk memperoleh data yang lengkap dan komprehensif. a. Pengambilan Data Lapangan Pengambilan data lapangan berupa data geologi, yaitu perlapisan lithologi, dip perlapisan, struktur geologi yang muncul, hidrologi dan data lain yang mendukung untuk analisa. Pengambilan data ini sebagai informasi update terhadap data model dan mapping geologi yang telah ada sebelumnya. Dari hasil mapping lapangan, diperoleh data geometri dan kondisi lereng berupa steep dip tidak sesuai dengan geometri (tinggi) lereng dan tidak diikuti dengan shear strength batuan kuat, low wall desain awal adalah single slope mulai dari elevasi +50 hingga elevasi +13 tanpa adanya bentukan berjenjang dan tension crack teramati pada jarak 3 – 5 m dari crest lereng low wall. Selain data geometri dan kondisi lereng, juga diperoleh data kondisi batuan, berupa dip perlapisan batuan berkisar 32-37º (blok 1-7) - 42º (blok 11-13), dijumpai juga joint sebagai bidang batas active – passive wedging yang membatasi dan berpotongan terhadap lapisan bedding shear, material di belakang mine out adalah mudstone/siltstone clayey horizontal laminated dengan tebal 28 m dan terdapat bedding shear (lihat gambar 7). Bedding shear berada 3-5 m di belakang mineout dengan tebal bedding shear 20 cm. Bedding shear ini berupa bidang lemah dan berpotensi menjadi bidang kelongsoran jika berasosiasi dengan air tanah.

Gambar 7. Foto bedding shear dan sample bedding shear Dari sisi hidrologi, pada daerah ini dijumpai adanya seepage dari ceruk alami (gully) terinfiltrasi ke dalam low wall. Akibat infiltrasi air ini terdapat pengurangan kuat geser batuan dan menambah licin bedding shear. Genangan dan aliran air juga ditemui pada jarak 0 – 10 m sepanjang crop line sehingga menambah resapan air yang masuk ke dalam pit.

457

b. Data Hasil Laboratorium Data laboratorium berupa data unit weight, shear strength, cohesion dan internal friction diambil dari data pemboran geoteknik yang telah ada sebelumnya dan dikombinasikan dengan kondisi aktual data mekanika batuan disekitar longsoran berupa pemerian geometri joint dan roughness yang dikonversi ke dalam Geological Strength Index(GSI) Chart dan melakukan estimasi terhadap nilai compressive strength dari setiap lapisan batuan yang digunakan sebagai parameter batuan dalam analisa kestabilan lereng menggunakan software SLIDE. ANALISIS GEOTEKNIK Analisa geoteknik dilakukan melalui dua tahap utama yaitu back analysis untuk mengetahui nilai parameter batuan ketika longsor terjadi dan forward analysis untuk memodelkan kembali kestabilan lereng dengan parameter yang diperoleh dari analisa back analysis. Forward analysis dilakukan dengan kombinasi terhadap data GSI yang diperoleh dari data pengukuran defect di lapangan.

Gambar 8. Foto lokasi, section lithologi model geologi dan deskripsi bor geologi. a. Back Analysis Back analysis adalah analisa balik dengan memodelkan lereng pada kondisi longsor untuk memperoleh nilai parameter batuan. Back analysis dilakukan terhadap kondisi aktual awal saat longsor terjadi pada tanggal 2 dan 11 Oktober 2010 (lihat gambar 9). Dengan menggunakan software SLIDE dan pengaturan FS 1 pada tinggi lereng 21 m dan pembebanan blasting sebesar 0.08, diperoleh nilai parameter batuan sesuai pada gambar 9 dan table 1 (lihat gambar 9 dan table 1).

458

Gambar 9. Back analysis terhadap kelongsoran yang terjadi pada tanggal 2 dan 11 Oktober 2011.

Tabel 1. Parameter Material di Pit T1

b. Forward Analysis Forward analysis dilakukan berdasar parameter material yang diperoleh dari data back analysis. Selain menggunakan data parameter batuan dari hasil back analysis, juga digunakan data GSI (Geological Strength Index) sebagai parameter pembanding terhadap data back analysis. Data GSI digunakan untuk analisa dengan tipe strength Gen. Hoek-Brown. Dari hasil analisa diperoleh nilai FK 1.716 untuk ketinggian jenjang 10 m dan berm 5 m. Nilai FK 1.292 diperoleh untuk ketinggian jenjang 15 m dan berm 5 serta sudut 34o (lihat gambar 10).

Gambar 10. Analisa kestabilan lereng dengan tinggi jenjang 10 m dan 15 m.

459

KESIMPULAN 1. Kesimpulan dan rekomendasi yang dapat diambil dari analisa longsor di Pit T1 agar longsor tersebut tidak terjadi lagi baik di pit T1 maupun pit T yang lain adalah melakukan pengendalian dan pembuatan sistem manajemen air permukaan di sekitar area pit. 2. Melakukan revisi desain, berupa cut back dengan tinggi lereng maksimum 15 m, sudut lereng sesuai dip perlapisan batuan, dilakukan pembuatan catchberm antar bench selebar 5 m serta dibentuk berm pada batas antara lapisan soil dan bedrock. 3. Untuk lapisan residual soil dilakukan pembentukan desain geometri dengan tinggi tiap jenjang adalah 5 m dan re-sloping jenjang maksimum 30º. 4. Untuk formasi rawa dengan susunan tanah lempung lunak (soft soil) pada blok 15 - 33, dilakukan pembentukan desain geometri dengan tinggi tiap jenjang 3 m dan kemiringan maksimum 20o. 5. Berdasarkan hasil forward analysis untuk mendapatkan kondisi lereng yang acceptable secara geoteknik, lereng keseluruhan perlu dilandaikan dan elevasi muka air tanah (Ground Water Level – GWL) dijaga pada level 50% dibawah elevasi permukaan. 6. Direkomendasikan dilakukan trial bore hole untuk mengetahui kondisi hidrogeologi terutama elevasi permukaan air tanah setiap penurunan elevasi 30 m. Jika ditemukan adanya air tanah keluar dari trial bore hole tersebut yang mengindikasikan tingginya elevasi muka air tanah dan tekanan hidrostatis terhadap lereng, maka perlu dilakukan drain hole untuk mengeluarkan air tanah tersebut sehingga air tanah berada elevasi 50 % dari elevasi permukaan, sehingga tekanan air tanah tidak berada pada kondisi yang membahayakan kestabilan lereng. 7. Dikarenakan penyelidikan geoteknik pada Tambang Sambarata Blok B West masih terus dilakukan, maka di area ini akan terus dilakukan up-date terhadap geotechnical design criteria tersebut sehingga perubahan design criteria masih mungkin terjadi (Tabel 2).

Tabel 2. Geotechnical Design Criteria untuk desain Pit T2, T3 dan T4 Maksimum overall slope angle sangat bergantung terhadap ketinggian pit dan jumlah jenjang tunggal yang akan dibentuk.

460

PENUTUP Penulis tak lupa berterima kasih pada semua tim Geotechnical dan Hydrology PT Berau Coal, Departemen Mine Plan & Control, PT Berau Coal : Bapak Arya Nugraha dan Bapak Junebets Munthe, Geologist Evaluator PT Berau Coal : Bapak Martadi, Sambarata Mine Operation : Bapak Suhartono, Bapak Tomy Indarto, dan Bapak Mando Sirait, PT Madhani Talatah Nusantara sebagai kontraktor pelaksana pekerjaan tambang di area Blok B West, dan semua pihak yang mendukung terlaksananya penulisan makalah ini.

PUSTAKA Hoek, Evert and Bray, John, 1981, Rock Slope Engineering, Revised Third Edition, The Institution of Mining and Metallurgy, London.. Marinos, Paul; Hoek, Evert, 2000, GSI : A Geologically Friendly Tools for Rock Mass Strength Estimation. 2005, SlideTutorials V5 : 2D limit equilibrium slope stability, Rocscience Inc. Kiven, W. Chuck,1985, Peta Geologi Regional Berau, PT Berau Coal. Sulistianto, Budi dan Karyan Tri, Mei 2011, Laporan Hasil Kunjungan Lapangan, PT Berau Coal, PT LAPI - ITB

461

PROSIDING TPT XX PERHAPI 2011 Kajian Geoteknik Untuk Prosedur Dumping di Area Disposal PT. Berau Coal, Kabupaten Berau, Kalimantan Timur
Lukman HAKIM dan Welly TURUPADANG 1) Geotechnical and Hydrological Engineer PT Berau Coal, 2) Geotechnical and Hydrological Superintendent PT Berau Coal.
1) 2)

Sari Operasi penambangan batubara di wilayah tambang PT Berau Coal terdiri atas 3 lokasi yaitu: Binungan Mine Operation (BMO), Lati Mine Operation (LMO) dan Sambarata Mine Operation (SMO). Seiring dengan bertambahnya produksi batubara dengan target produksi 20 juta ton per tahun 2011 maka volume overburden / interburden yang terambil akan bertambah besar pula sehingga memerlukan lokasi disposal yang semakin luas dan unit alat berat yang semakin bertambah. Mengacu pada situasi tersebut maka dirasa perlu untuk membuat prosedur dumping (penimbunan) untuk mencegah terjadinya kecelakaan kerja dan kerusakan lingkungan dalam rangka menciptakan praktek penambangan batubara yang baik dan benar (Good Mining Practices). Tulisan ini hanya membahas kajian geoteknik untuk keperluan prosedur dumping di area disposal. Keywords: Dumping, Disposal, Good Mining Practices, overburden / interburden.

Abstract Currently the active mining operation area of PT Berau Coal located in three sites: Binungan Mine Operation (BMO), Lati Mine Operation (LMO) dan Sambarata Mine Operation (SMO). Increasing coal production to 20 MTPA in 2011 hence overburden / interburden volume is taken will be increase as well so that need additional disposal area and heavy equipment unit would be more. Refer to those situations, it's important to prepare the dumping procedure to avoid any incident or accident and environmental impact to accomplish “Good Mining Practices” in the site operation. The paper describes geotechnical analyses only of the dumping procedure requirement in disposal area. Keywords: Dumping, Disposal, Good Mining Practices, overburden / interburden.

462

PENDAHULUAN PT Berau Coal (PT BC) adalah salah satu perusahaan pertambangan batubara yang ada di Kabupaten Berau, Propinsi Kalimantan Timur. PT BC didirikan tahun 1983 dan pertama kali menanda tangani Perjanjian Kerjasama Pengusahaan Pertambangan Batubara (PKP2B) dengan PT Perusahaan Umum Tambang Batubara (PUTB), perusahaan milik negara yang mempunyai kewenangan memberikan izin konsesi pertambangan batubara dengan luas area 485.217 hektar untuk izin awal kegiatan pemetaan dan eksplorasi. Setelah melakukan studi kelayakan penambangan dan sebagaimana tercantum dalam keputusan tentang penciutan dan perluasan wilayah PKP2B dalam tahap kegiatan PT BC yang diterbitkan oleh Direktur Jendral Geologi dan Sumberdaya Mineral, maka pada tanggal 7 April 2005 PT BC dengan sukarela melepaskan sebagian wilayah konsesinya sehingga luas wilayah konsesi pada saat ini adalah 118.400 hektar. Secara keseluruhan PT BC mempunyai 3 lokasi operasional penambangan batubara aktif yang sudah dan sedang memproduksi batubara, yaitu: Binungan Mine Operation (BMO), Lati Mine Operation (LMO) dan Sambarata Mine Operation (SMO) serta 4 lokasi yang masih dalam persiapan penambangan, studi kelayakan dan eksplorasi, yaitu: Parapatan, Gurimbang, Punan dan Kelay (BMO Blok 8 -10). Rencananya pada tahun 2011 ini PT BC akan memproduksi batubara sebesar 20 juta ton per tahun yang dihasilkan dari ketiga tambang aktif, yaitu BMO, LMO dan SMO. LATAR BELAKANG DAN TUJUAN Dengan mempertimbangkan kegiatan penambangan batubara PT BC yang dari tahun ke tahun akan mengalami peningkatan produksi batubara yang semakin besar hingga 30 juta ton per tahun di mulai pada tahun 2014, tentunya membutuhkan bukaan lahan penambangan dan lahan penimbunan material buangan yang semakin luas pula. Dengan mempertimbangkan striping ratio (SR) penambangan rata rata PT BC pada kisaran angka 10 tentunya membutuhkan lahan disposal yang cukup luas untuk menempatkan material overburden (OB) / interburden (IB) tersebut. Mengingat kebutuhan lahan yang cukup luas dan aktivitas kendaraan angkut yang cukup ramai di area disposal dengan potensi resiko tinggi baik dari aspek safety maupun aspek geoteknik, maka perlu dilakukan pembuatan prosedur dumping di area disposal untuk menghindari terjadinya kecelakaan ataupun insiden lain. Dengan melakukan kajian geoteknik terhadap kestabilan lereng disposal, diharapkan terwujudnya prosedur dumping (SOP) dan bisa diimplementasikan di lapangan. Dalam tulisan ini penulis lebih membatasi membahas prosedur dumping di area disposal didasarkan pada tinjauan analisa geoteknik saja.

463

KONDISI LAPANGAN Kondisi morfologi di wilayah konsesi PT BC secara umum terdiri dari perbukitan bergelombang (hilly terrain) yang cukup bervariasi mulai dari perbukitan bergelombang lemah hingga perbukitan bergelombang kuat dan wilayah pedataran yang umumnya berupa dataran banjir (flood plain) dari beberapa sungai besar yang ada di sekitar wilayah konsesi diantaranya; Sungai Segah, Sungai Kelay dan Sungai Berau yang bermuara di Delta Berau. Pada bagian hulu di dalam area perbukitan bergelombang lemah sampai sedang terdapat beberapa anak sungai yang merupakan sungai permanent, yaitu; Sungai Sambarata, Sungai Talau dan Sungai Lati. Kehadiran batubara di wilayah konsesi PT BC secara umum terdapat dalam Formasi Lati (Tml) yang terdiri dari perselingan (interbedded) antara batu lempung, batu lanau, batu pasir dan batu bara, dimana secara regional Formasi Lati terendapkan di dalam sub-basin Berau yang merupakan bagian dari cekungan Tarakan. Kehadiran struktur geologi yang terdapat pada Formasi Lati cukup bervariasi terdiri dari sesar naik, sesar mendatar, sesar turun, sinklin, antiklin, monoklin dengan dip curam dan sheared zone. Untuk itu kehadiran struktur geologi tersebut perlu diperhitungkan dalam setiap kajian geoteknik. Kondisi geoteknik di wilayah PT Berau Coal umumnya terdiri dari batuan sedimen yang secara kualitatif kisaran kekuatan batuan umumnya dari batuan sangat lunak (very low strength) sampai batuan lunak (low strength), untuk batuan kekuatan sedang (medium strength) sampai tinggi (high strength) secara setempat terdapat pada batu pasir. Untuk kekuatan batuan extremely low strength umumnya ditemukan pada lapisan sandstone dan mudstone (claystone dan siltstone) dekat permukaan atau pada lapisan sandstone yang berfungsi sebagai lapisan aquifer. Berdasarkan hasil pengujian sederhana dengan melakukan rendaman (soaking) pada mudstone terlihat bahwa batuan tersebut sangat sensitif terhadap air sehingga menyebabkan terjadinya swelling dan slaking. METODOLOGI KAJIAN GEOTEKNIK Dasar teori dan kriteria data yang digunakan Kajian geoteknik bertujuan memberikan masukan berdasarkan tinjauan geoteknik (geotechnical input) kepada pihak mine operation PT BC dan departemen terkait sehingga potensi resiko yang unacceptable yang diakibatkan oleh bahaya yang terpapar akibat kegiatan penimbunan waste material dapat dihindarkan. Kajian geoteknik ini didasarkan pada beberapa pendekatan parameter sifat mekanis tanah / batuan secara empiris yang disesuaikan dengan pendekatan penentuan parameter yang diperoleh dari hasil uji laboratorium serta profesional judgement dari beberapa pengawas operasional yang sudah berpengalaman. Beberapa pendekatan dan pertimbangan tersebut sebagai berikut: 1) Analisis kestabilan lereng disposal dilakukan berdasarkan desain geometri dan lokasi yang diusulkan oleh pihak mine development atau mine operation PT BC dan minimum safety factor (FS) adalah 1,3 (Arif, 2008). 2) Perhitungan analisis kestabilan lereng mempertimbangkan beban external (surcharge) adalah

464

dump truck terbesar penuh muatan yang digunakan pada lokasi dumping, yaitu HD 785. Dalam analisis geoteknik, tekanan total dump truck terhadap disposal / ground adalah 265 kN/m2. 3) Material dumping adalah material yang terdiri atas material over burden (OB)/inter burden (IB) dan tidak termasuk tanah penutup (soil), endapan rawa (soft soil) dan endapan lumpur. Penentuan parameter berdasarkan pendekatan empiris dan analisa balik yang sudah dilakukan pada beberapa kelongsoran yang sudah terjadi sebelumnya di wilayah penambangan PT BC. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel 1.
Tabel 1. Properties material

*penambahan shear strength of depth diasumsikan sebesar 1 kPa/m 4) Kondisi lapangan sebagai area dumping antara lain adalah sebagai berikut :

a) Area tanpa genangan air tetap, yakni area disposal dengan lantai dasar kering atau yang terdapat genangan air sementara dan dapat dihilangkan. (Gambar 1) b) Area genangan air tetap, yakni area dumping yang memiliki genangan air seperti kolam dan sump, dengan kedalaman minimal 1 meter (Gambar 2). c) Rawa, yakni area dumping dengan tanah lunak (soft soil) yang terbentuk secara alami (Gambar 2).

Gambar 1. Dumping pada area kering (kiri : tidak ada retakan di OPD E-C2 BMO, kanan : terdapat retakan ganda di OPD – T1 SMO)

465

Gambar 2. Dumping pada badan air dengan kedalaman >1m (kiri : badan air bersifat tetap di IPD E, kanan : pada area rawa di OPD E selatan BMO) 5) Analisis kestabilan lereng menggunakan Limit Equilibrium Methods program SLIDE dari Rockscience. Dalam analisis, dilakukan asumsi bahwa material dumping dengan pemadatan dozer atau lintasan HD, dan disimulasikan dengan total timbunan dalam keadaan jenuh air. 6) Geometri timbunan secara umum berbeda – beda pada ketinggian antara crest-toe timbunan, baik di area kering, area genangan air tetap, maupun area rawa. Namun demikian, dengan material dumping seperti yang sudah disebutkan di atas, sudut timbunan sementara yang terdapat di lapangan pada umumnya adalah 40°, terutama pada area kering, namun secara keseluruhan final design dari semua disposal yang ada di PT BC adalah 25o untuk jenjang tunggal. Analisis Geoteknik Analisis geoteknik dilakukan berdasarkan pertimbangan kriteria di atas untuk mengetahui tingkat kestabilan lereng jangka panjang dengan mempertimbangkan kondisi geoteknik dan topografi lokasi dimana disposal akan ditempatkan yang disesuaikan dengan usulan desain perencanaan tambang. 1. Dumping di area kering Dalam melaksanakan proses dumping di area kering, dimana dasar timbunan tidak terdapat genangan air maupun rawa, geometri yang direkomendasikan adalah sebagai berikut : a) Beda tinggi antara crest – toe disposal adalah maksimum 10m. b) Jika terdapat retakan tunggal maupun ganda, maka dilakukan dumping pada retakan terjauh dari cerst lereng disposal. c) Dari hasil simulasi, diperoleh angka keamanan lereng (FK) disposal adalah 1.318 (acceptable). Hasil simulasi yang lebih jelas dapat dilihat pada Gambar 3. Langkah kerja untuk melakukan dumping di area kering dan terdapat retakan dapat dilihat pada Gambar 4.

466

Gambar 3. Kondisi dumping pada area kering hasil simulasi dengan software SLIDE

Gambar 4. Langkah kerja pada kondisi dumping di area kering, jika terdapat retakan tunggal (gambar kiri) dan retakan ganda (gambar kanan) Dumping pada kondisi genangan air tetap (diasumsikan kedalaman lebih dari 1 meter) 2. Analisis untuk kondisi dumping pada genangan tetap dengan kedalaman air lebih dari 1 meter metode penimbunan direkomendasikan sebagai berikut : a) Penimbunan dilakukan minimal pada jarak 5 m dari crest lereng disposal b) Apabila terdapat retakan tunggal maupun majemuk, maka penimbunan dilakukan pada jarak minimal 5 m dari crest retakan terjauh dari lereng disposal. Jarak 5m dari crest adalah jarak yang diperoleh berdasarkan hasil analisa kestabilan lereng dengan asumsi bahwa sebagian material timbunan sudah terjenuhkan akibat static water pressure dari badan air / genangan.

467

c) Dari hasil simulasi, diperoleh angka keamanan lereng (FK) disposal sebesar 1.319 (acceptable). Hasil analisis tersebut dapat dilihat pada Gambar 5. Sedangkan langkah – langkah penimbunan di area genangan air lebih dari 1m dapat dilihat pada Gambar 6.

Gambar 5. Kondisi dumping pada area genangan air tetap, hasil simulasi dengan menggunakan software SLIDE

Gambar 6. Langkah kerja pada kondisi dumping di area genangan air dengan kedalaman lebih dari 1m dan terdapat retakan tunggal maupun retakan majemuk Dumping di area rawa dengan dasar timbunan berupa tanah lunak 3. Material lunak sebagai dasar disposal pada umumnya diasumsikan dalam kondisi undrained, dengan densitas 16 kN/m3, dan kohesi di bawah 30 kN/m2. Karakter lunak ini mudah untuk mengalami heaving maupun retakan jika kondisi pembebanan dari disposal melebihi load factor atau bearing capacity yang diijinkan. Karena pada proses penimbunan, rentan terjadi differential settlement antara bagian rawa dengan timbunan tertinggi dengan bagian tepi timbunan.

468

Untuk menghindari hal tersebut, disimulasikan beberapa parameter geoteknik yang lebih ketat, agar proses penimbunan di area rawa menjadi aman. Beberapa tambahan kriteria geoteknik yang diperuntukkan bagi penimbunan di area rawa adalah sebagai berikut : a) Sebelum dilakukan penimbunan, area dibersihkan dari vegetasi (potongan kayu, pohon dan ranting). b) Disimulasikan rawa dalam kondisi rata dan datar, sebagai asumsi bahwa lapisan tanah lunak cukup dalam (>10m) dan mengalami pembebanan oleh timbunan secara bertahap. c) Pembebanan bertahap dilakukan dengan metode per-layer, dimana satu layer tidak lebih dari 2m dan jarak penimbunan minimal 20m dari crest lereng. d) Elevasi final disposal pada area endapan rawa direkomendasikan tidak lebih dari 5m dari elevasi awal dan diasumsikan campuran (blended) antara material rawa dan OB/IB mempunyai ketebalan 3m. e) Jika terdapat retakan pada area crest disposal, maka dilakukan penimbunan pada jarak minimal 20m dari retakan terjauh dari crest lereng disposal. f) Dari hasil simulasi, diperoleh angka keamanan lereng (FK) disposal sebesar 1.304 (acceptable). Hasil simulasi dan langkah – langkah kerja dumping di area rawa dapat dilihat pada Gambar 7 dan Gambar 8.

Gambar 7. Kondisi dumping pada area rawa dengan kondisi pembebanan bertahap secara layering

469

Gambar 8. Langkah kerja untuk dumping di area rawa. PENERAPAN KAJIAN GEOTEKNIK UNTUK PROSEDUR DUMPING Hasil dari analisis dan kajian geoteknik sebagai referensi risk assessment dari Geotechnical & Hydrology PT Berau Coal, yang dilakukan pada kurun waktu tahun 2010 sampai 2011, dijadikan acuan dalam pembuatan standard operating procedure (SOP) mengenai dumping di area disposal dan sebagai acuan operasional tambang untuk meminimalisir risiko – risiko yang tidak diinginkan, diantaranya adalah: 1. Kerugian waktu Tersedianya SOP mengenai dumping akan meminimalisir waktu yang digunakan oleh pihak mine development PT BC dalam membuat disposal design. Demikian juga dari aspek operasional akan memudahkan perbaikan jika ditemukan adanya retakan, longsoran maupun genangan di area disposal akan dengan cepat teratasi setelah adanya SOP mengenai dumping di area disposal. 2. Standarisasi metode dumping Penyesuaian terhadap target produksi yang semakin meningkat dari tahun ke tahun akan menyebabkan hadirnya kontraktor – kontraktor baru, yang pada umumnya belum memiliki kompetensi dan standardisasi metode dumping. Dengan adanya SOP mengenai dumping ini, akan menyeragamkan semua kontraktor yang bekerja di area operasional PT Berau Coal agar mengikuti rekomendasi pihak Geoteknik – Hidrologi. 3. Safety dan management system SOP mengenai dumping di area disposal akan menambah akuntabilitas operasional safety di tambang, dengan kewajiban inspeksi safety pada disposal, pelaporan tindakan perbaikan akan

470

dapat diterapkan dengan lebih baik dan lebih cepat. Peningkatan kompetensi pengawasan di area dumping disposal dapat diterapkan juga dengan lebih baik. Secara keseluruhan, sistem manajemen K3L menjadi lebih terarah mengenani responsibility dan accountability pada masing – masing level management. 4. Operasional Terkait risiko operasional yang mencakup alat, manusia, dan ruang kerja, dibutuhkan beberapa tambahan syarat operasional dumping di area disposal sebagai berikut : a) Peralatan – Dibutuhkan peralatan spreading, loading vegetasi dan lain – lain yang sesuai kapasitas / standar dan dapat digunakan agar kegiatan operasional aman saat dilakukan dumping oleh operator dump truck. b) Man power – Karena kapasitas produksi tambang yang semakin meningkat, maka volume disposal juga semakin meningkat, dan hal ini membutuhkan kompetensi pengawas dumping disposal yang sudah berpengalaman. c) Geometri dan area kerja – Desain geometri disposal di area PT BC , misalnya tersedianya boundwall, akses jalan, radius manuver unit, rambu- rambu, dan lain – lain. – Sebelum dilakukan dumping, diharuskan untuk tiap pengawas dumping melakukan Risk assessment terhadap adanya retakan, genangan air, material lunak pada permukaan, tinggi lereng disposal, metode spreading belum merata, keberadaan vegetasi dan material organik. KESIMPULAN DAN SARAN Dari kajian geoteknik untuk prosedur dumping di area disposal, diperoleh beberapa kesimpulan sebagai berikut : 1. Berdasarkan kajian geoteknik yang dilakukan, prosedur dumping di area PT Berau Coal dibagi berdasarkan tiga lokasi area yang menjadi base diposal, yaitu : area lantai dasar disposal kering, area yang terdapat air tetap dengan kedalaman lebih dari 1 m dan area rawa dengan lantai dasar yang tersusun oleh tanah lunak (soft soil). 2. Geometri rekomendasi untuk masing – masing area disposal ditunjukkan pada Tabel 2 berikut : Tabel 2. Kriteria geoteknik untuk prosedur dumping di area disposal

*tinggi lereng (beda tinggi) antara permukaan air dan crestline disposal terdekat.

471

3. Prosedur dumping yang mengacu pada kajian geotek ini perlu dilengkapi dengan kriteria aspek safety dan operasional yang mencakup standarisasi sistem K3L, peralatan, metode, dan manusia, agar dapat meminimalisir risiko kerugian waktu dan biaya yang mungkin timbul jika prosedur tidak dilaksanakan di lapangan. 4. Perlu dilakukan sistem kontrol dalam penerapan di lapangan, seperti tersedianya check-list prosedur penimbunan, jadwal inspeksi terencana dan OJT di area penimbunan. 5. Prosedur dumping di area disposal perlu dilakukan refresher kepada karyawan tambang yang terlibat langsung di area penimbunan, baik dari operator, pengawas, mine engineer, maupun mine planner, agar dapat meminimalisir terjadinya gap pemahaman antara perencanaan dan aktual penimbunan. 6. Dalam jangka panjang, perlu dilakukan sistem manajemen geoteknik (geotechnical management system), agar penerapan metode, advanced geotechnical – monitoring technology, serta risk management di area disposal dapat dikendalikan dan probability of failure (POF) bisa diprediksi dengan lebih baik. DAFTAR PUSTAKA Abramson, L.W., Lee, S.T., Sharma, S., Boyce, G.M. (1995). Slope Stability And Stabilization Methods, John Willey & Sons, inc, New York Arif, Irwandy, 2008, Falsafah Kemantapan Lereng, internal PT Berau Coal Training GeotechnicalAwareness. Kramadibrata, Suseno, 2010, Rock Slope & Geotechnical Risk Assessment, Geotechnical Workshop, Balikpapan. Simons, Noel., Menzies, Bruce., Mattews, Marcus., 2001, Soil and Rock slope Engineering, Thomas Telford. 2005, SlideTutorials V5 : 2D limit equilibrium slope stability, Rocscience Inc. Sulistianto, Budi dan Karyan Tri, Mei 2011, Laporan Hasil Kunjungan Lapangan, PT Berau Coal, PT LAPI - ITB

472

PROSIDING TPT XX PERHAPI 2011

473

474

475

476

477

478

479

480

481

482

483

484

485

486

487

PROSIDING TPT XX PERHAPI 2011 TAMROCK CABOLTER DRILLING DAN GROUTING PADA TAMBANG BAWAH TANAH “BIG GOSSAN MINE” PT. FREEPORT INDONESIA OPERASI PEMASANGAN, PELAPISAN DAN PENGENCANGAN CABOLTER DRILLING
OLEH : EKA KARTAMIHARJA PT. FREEPORT INDONESIA TEMBAGAPURA, PAPUA Email : eka_kartamiharja@fmi.com : kafi_kartamiharja@yahoo.com

1. TUJUAN Makalah ini memaparkan mengenai prosedur standar untuk pengoperasian Cabolter dan Tensioner yang aman. Teknik pengeboran dan pemasangan cable bolt ini setiap kali operasi manual memaparkan operator pada ground yang belum dipasangi penyangga. Ini terdiri dari stope terbuka, atau area-area pengembangan dimana ground support diperlukan. Prosedur ini menyediakan perlindungan dari bahaya-bahaya tersebut. 2. CAKUPAN Prosedur ini berlaku bagi seluruh area tambang bawah tanah dimana Cabolter dan Tensioner dioperasikan,dan bagi semua karyawan yang terlibat dalam pengoperasian dan perawatan alat tersebut. Semua karyawan yang tugasnya mengharuskan mereka bekerja di dekat atau masuk ke area-area tersebut harus memahami prosedur ini sepenuhnya. 3. BAHAYA Cedera diri bisa terjadi saat mesin dioperasikan di area-area tambang bawah tanah.

488

4.APD YANG DIPERLUKAN APD berikut harus digunakan ketika melakukan tugas ini:

5. TINDAKAN PENCEGAHAN UMUM · Sehat Mental dan Fisik · Operator harus memahami sistem ini, dan harus mampu berkomunikasi dengan baik dan jelas dengan lingkungan sekitarnya. 6. PROSEDUR AUMUM Pengoperasian Cabolter dan Tensioner harus sesuai dengan prosedur untuk mengamankan dan bekerja di tambang Bawah Tanah.

B. TANGGUNG JAWAB DAN KEWAJIBAN DRILLER 1. Hanya juru bor, yang memiliki izin/lisensi untuk mengoperasikan dan menerima perintah resmi dari supervisor mereka, dapat mengoperasikan alat ini. 2. Pastikan area kerja untuk alat ini dalam kondisi aman (dari kemungkinan batuan yang menggantung) dan memiliki sistem ventilasi yang memadai. 3. Pastikan kondisi alat baik dengan mengisi pre-operational checklist sebelum pengoperasian, termasuk pada semua kontrol-kontrolnya. 4. Pastikan ground kokoh untuk menopang jack sebelum diturunkan dan pastikan alat rata sebelum dinyalakan. 5. Pastikan lampu bekerja dengan baik ketika dioperasikan. 6. Pastikan tidak ada seorang pun lewat di bawah telescopic arm-nya (boom). 7. Pastikan tidak ada orang berada di area artikulasi ketika bekerja. 8. Pastikan semua sambungan selang air dan hidraulik dalam kondisi yang baik. 9. Pasang tanda peringanta di pintu masuk sebelum memulai pengeboran dan grouting. 10. Pastikan kabel listrik digantung pada dinding (rib) untuk menghindari terkena air dan lumpur di lantai.

489

11. Pastikan area kerja diventilasi sepenuhnya dan bebas dari asap. 12. Jika kerusakan ditemukan pada alat, laporkan segera ke supervisor atau bagian maintenance. C. PROSEDUR PENGOPERASIAN UNTUK CABOLTER 1. Pemeriksaan Pra-Operasi a. Pasang rem parkir, turunkan boom, turunkan jack dan pasang transmisi ke netral. b. Periksa level fluida oli engine, oli transmisi, oli hidraulik dan vahan bakar solar. c. Periksa level oli kompresor. d. Periksa engine coolant e. Periksa alat pemadam api ringan dan mekanisme switch untuk fire suppression system. f. Periksa selang yang rusak atau koneksi yang lepas. g. Berjalan keliling mesin dan periksa kebocoran. h. Isi formulir “Pre-Operation Check”. 2. SettingAwal. a. Setelah alat masuk ke dalam area kerja, pastikan lantai cukup aman untuk menerima load buffer rod (jack). b. Turunkan dan letakkan jack pada permukaan yang rata dengan menggunakan nivo/inclinometer. c. Sudut kemiringan yang diizinkan adalah sebagai berikut:

d. Periksa semua gauge dan indicator untuk memastikan fungsi berjalan dengan baik dan perkakas tersebut berada dalam kisaran operasi normal. e. Laporkan semua kerusakan kepada mekanik/supervisor. Jangan mengoperasikan alat sebelum diperbaiki. f. Periksa lampu dan klakson. g. Periksa rem parkir dan rem kaki. h. Boom/slide harus diletakkan di tengah dan paralel dengan carrier. i. Semua selang harus tidak menyentuh tanah. j. Nyalakan power pack, compressor dan pompa air kemudian periksa fungsi hammer, putaran dan feed. k. Pasang drill rod dan drill bit. l. Setel telescopic arm (boom) sesuai dengan rencana pengeboran kemudian setel stinger, gunakan extension jika perlu. 3. Pengeboran a. Pastikan ukuran drill bit yang benar digunakan sesuai dengan rencana teknis.

490

b. Semprot air untuk membersihkan muka kerja, kemudian gerakan feed ke depan, dengan memastikan bit menyentuh permukaan batuan. c. Jalankan hammer perlahan dan diikuti dengan fungsi putaran dan pembilasan (flushing). d. Setelah bit menembus sekitar 4 inch (8 cm), operasikan fungsi hammer, rotary dan feed untuk memperoleh pergerakan pengeboran yang optimal. e. Setelah drill rod dimasukkan sepenuhnya, matikan hammer dan keluarkan feed agar air bilasan dapat membersihkan dinding lubang pengeboran dari potonganpotongan f.Angkat drill rod dari lubang dan mundurkan feed hingga ujung feed boom. 4. Memasang Cement Grout dan Cable Bolt a. Jika ujung wire coil feed ditemukan rusak, maka minimum pemotongan adalah 30 cm. b. Pastikan campuran semen dalam mixing drum sesuai dengan prosedur pencampuran yang ditetapkan oleh Engineering Department dan siap untuk dimasukkan ke dalam lubang. Lakukan pengecekan fisik. c. Operasikan transferring arm untuk mengubah fungsi pengeboran menjadi fungsi pengisian semen. d. Semprotkan oli hidraulik sebelum pekerjaan pemasangan grout di permukaan boom. e. Operasikan arm untuk mendorong/memasukkan selang pengisi semen ke dasar lubang yang dibor dengan mengunakan cement hose guider. Kecepatan penarikan pipa grout harus diimbangi dengan kecepatan pemompaan grout; lubang harus penuh. f. Lakukan pemeriksaan fisik seberapa jauh level grout dalam tangki turun lihat apakah sesuai dengan jumlah MINIMUM untuk ketinggian lubang dan diameter lubang (lihat grafik: item 5 cement grouting table). Tangki harus memiliki kalibrasi 5 liter untuk tujuan penilaian. g. Aktifkan cement pump lever bersama-sama dengan menarik turun level untuk selang semen hingga lubang pengeboran terisi penuh dengan grout. h. Lanjutkan pengoperasian cement mixer dalam cement mixing drum selama campuran semen masih ada dalam tangki. I. Jalankan transferring arm untuk mendorong cable bolt. j. Tekan cable bolt ke dalam lubang hingga hanya 50 cm bagian luarnya untuk memasang doom plate dan wedge barrel-nya. k. Tekan stinger ke bawah dan tekuk cable bolt dengan memutar telescopic arm ke kanan dan ke kiri. l. Pastikan tidak ada seorang pun berjalan di bawah cable yang di-grout (khususnya kabelkabel vertikal) sebelum grout mengeras. m. Di akhir shift, catat jumlah kabel (dan panjang) yang telah di-grout dan berapa banyak campuran volume standar cement grout yang digunakan di setiap area kerja dalam logbook. n. Jika pompa tidak mengeluarkan grout pada kecepatan yang benar (pompa aus, dll.), beritahukan mekanik.

491

5. Cement Grouting Table Tabel volume cement grout minimum untuk mengisi lubang untuk Cablebolt ukuran 15,2mm

6. MengoperasikanAlat a. Memindahkan drilling line 1. Pastikan semua fungsi yang dipasang dalam telescopic arm (seperti: fungsi pengeboran, penyemenan, stinger dan feed extension) telah ditarik ke dalam. 2. Matikan sistem hidraulik yang digerakkan oleh power pack dan nyalakan mesin disel. 3. Pastikan kabel listrik, selang air dan selang hidraulik yang menggantung dalam telescopic arm (boom) berada dalam posisi yang aman. 4. Lakukan komunikasi dengan pekerja yang membantu kegiatan pengeboran atau orang lain di dekat alat untuk mengambil posisi aman. 5. Gerakkan alat (maju/mundur) perlahan ke drilling line yang diinginkan. 6. Ulangi prosedur penyetelan awal ini sesuai dengan yang ditetapkan dalam no. 1 di atas. b. Bergerak di area kerja atau masuk ke dalam bengkel 1. Pastikan semua fungsi yang dipasang dalam telescopic arm (seperti: 2. fungsi pengeboran, penyemenan, stinger dan feed extension) telah ditarik ke dalam. 3. Pastikan cement mixing drum telah dibersihkan dari sisa campuran semen. 4. Selama pembersihkan tangki mixer pastikan semua komponen yang bergerak telah diisolasi (LOTO dipasang pada Master Switch) untuk mencegah pengaktifan mixer yang

492

tidak disengaja). 5. Pastikan semua platform step di sampingnya telah dilipat dan semua alat pendukung telah ditempatkan di area yang aman. 6. Matikan sistem hidraulik yang diaktifkan oleh power pack dan lepaskan/gulung kabel listrik dari jumbo box. 7. Pastikan kabel listrik, selang air dan selang hidraulik yang menggantung dalam telescopic arm (boom) telah diletakkan di area yang aman. 8. Nyalakan mesin disel dan semua sistem pencahayaan dan komunikasikan hal ini dengan orang yang membantu pekerjaan pengeboran atau orang yang berada di dekat alat untuk mengambil posisi yang aman. 9. Gerakkan alat (maju/mundur) secara perlahan ke arah yang diinginkan. 10. Perhatikan semua belokan atau area kerja yang sibuk, khususnya pejalan kaki; jika perlu, mintalah orang yang membantu pekerjaan pengeboran untuk membantu mengawasi pergerakan alat dari jarak yang aman. D. PROSEDUR MEMBERSIHKAN CABOLTER JIKATIDAK TERDAPAT SUPLAIAIR 1. Matikan lisrik dan nyalakan mesin disel. 2. Isi hopper dengan air genangan atau air dari sump dan turunkan campuran kemudian pompa air genangan/air sump melalui pompa hingga sebersih mungkin. 3. Jika tidak ada air, sebagai upaya terakhir, isi hopper dengan oli hidraulik (sprayer) dan pompa semua semen dan oli hidraulik melalui pompa hingga bowl bersih kemudian pompa sekurang-kurangnya 20 liter oli hidraulik melalui grout pump hingga oli hidraulik keluar dari grout tube. Kumpulkan oli ke suatu ruang tertutup untuk melindungi lingkungan. 4. Setelah hal ini dilakukan, semprotkan hopper dan rig dengan oli hidraulik dalam jumlah banyak dan ini akan memberikan waktu untuk membenahi rig dan mencari sumber air alternative untuk mencuci dengan benar. Jika dilumasi oli dengan benar, operator memiliki waktu sekitar 6 jam. 5. Jika tersedia, operator dapat menghubungkan saluran udara tambang ke selang grout dan mengikatkannya ke mesh untuk meniup semen dan oli hidraulik dari selang grout. 6. Operator harus memiliki spotter di belakang rig dan harus dapat melihat orang yang mengontrol airline tap dan menyalakan air line perlahan karena semen bertekanan bisa sangat berbahaya. Ini harus dilakukan dengan pengawasan yang ketat. E. PROSEDUR MEMBERSIHKAN MIXER DAN GROUT PUMP JIKATIDAK TERSEDIALISTRIK DAN DAYAENGINE 1. Jika daya listrik dan daya engine tidak tersedia ketika semen berada dalam mixer, operator harus melaporkan hal ini kepada supervisor/bagian maintenance segera dan pembersihan dilakukan dengan: a. Melepaskan baut pengencang pompa semen. Gunakan socket wrench berukuran 17 mm (lihat gambar terlampir). b. Menarik keluar pompa semen dari housing.

493

c. Menyemprotkan bagian dalam mixer mengunakan air dari saluran utama hingga semen bersih. d. Menghubunkan air saluran utama ke inlet hingga semen dalam grout tube bersih/terbilas. e. Pengaman pada saluran keluar pompa semen harus dipasang setiap saat dan dalam kondisi baik.

494

F. TANGGUNG JAWAB DAN KEWAJIBAN TENSIONER OPERATOR 1. Hanya orang yang terlatih untuk mengoperasikan Cable Bolt Tensioner yang boleh mengoperasikan alat ini. 2. Pastikan scissor lift tersedia untuk digunakan sebagai platform dan pastikan dalam kondisi aman. 3. Inspeksi Cable Bolt Tensioner untuk memastikan dalam keadaan berfungsi baik. 4. Pastikan pelat cable bolt dan barrel wedge tersedia di area kerja. 5. Pastikan suplai grease dan application cone tersedia di area kerja. 6. Pastikan suplai silicone glue tersedia di area kerja. G.LEMBAR PEMERIKSAAN PRE-START UNTUK FOOT PUMP DAN CABLE TENSIONER FOOT PUMP 1. Pastikan semua air-line telah dibersihkan dengan ditiup sebelum dipasang ke foot pump. 2. Periksa level oli dalam pump dari sight glass jika oli diperlukan. 3. Pastikan vent screw dilepaskan sekurang-kurangnya setengah putaran. 4. Pastikan Hi-flow coupling dipasang dengan benar. CABLE TENSIONER 1. Lepaskan rangkaian jaw dan bersihkan gigi pada jaw, lumasi bagian luar 2. rangkaian jaw. 3. Ganti jaw jika perlu. 4. Berhati-hatilah ketika memasang cable tensioner pada cable tail yang panjang. Cable tail dapat bergeser melalui tensioner dan menjepit tangan pada kabel. Cable tail dapat masuk ke bawah spring locking bar dan merusak alat. H. PROSEDUR MEMASANG PELAT DAN WEDGE 1. Memasang Support Plate a. Pasang lingkaran pelat cable bolt lengkap dari satu posisi, dan satu tepi pada dek harus paralel dengan lingkaran (ring) tersebut. b. Pastikan barrel dan wedge bersih. Jangan gunakan jika berkarat atau berminyak. Jika berminyak, bersihkan. Jika terdapat Lumpur, atau Outlet Pump wedge teeth berpasir, bersihkan hingga benar-benar bersih

Cable-bolt yang telah digrout dan dipasangi pelat

495

2. Memasang fitting pada permukaan: a. Pastikan setiap cable bolt cukup bersih untuk barrel dan wedge ditambatkan pada bagian cable bolt yang menonjol dari batuan. Jika terdapat tumpukan grout, bersihkan dengan sikat kawat dan emery paper, atau cungkil dengan palu dan bersihkan dengan emery paper. Lap hingga bersih. b. Pasang pelat cable bolt khusus pada cable bolt. Jika lubang memiliki dua cable bolt, maka pasang pelat pada kedua cable secara bersamaan. c. Pastikan cable bolt dan pelat menyiku satu dengan lainnya. Jika cable bersudut lebih dari 25 derajat dari sudut siku, gunakan spherical washer di antara barrel dan pelat. Cara lain adalah dengan menggunakan barrel khusus, dengan ujung bulat. Jika sudut tidak disesuaikan dengan cara ini, maka beban eksentrik akan membebani cable dan mengurangi kekuatannya. d. Gunakan perkakas berbentuk kerucut dengan pelapis karet spons untuk menyebarkan lapisan grease TIPIS di bagian dalam barrel (lihat gambar di bawah ini untuk keterangan lebih jelas).

Catatan; fungsi grease adalah membantu mencegah korosi pada permukaan slip kritis ini dan memungkinkan wedge bergerak dalam barrel ketika cable menahan beban tambahan (akibat reaksi batuan); ini menjadikan wedge mencengkeram lebih kuat pada kabel dan sistem bekerja dengan efektifitas maksimum. Jika grease tidak digunakan dan praktek pengencangan yang buruk serta dengan ditambah adanya efek korosi maka tidak akan ada lagi pergerakan wedge dan terdapat kemungkinan besar barrel melayang dari kabel yang bertekanan dan menimbulkan risiko di area kerja.

496

e. Sekarang geser barrel pada cable bolt, hingga ke pelat. Kemudian geser wedge ke atas cable bolt dan geser ke atas hingga pas masuk dalam barrel. Putar barrel untuk menyebarkan grease pada wedge; Pastikan kedua wedge pas rapi terpasang pada cable. Dengan kabel melewati wedge, kedua paruhan wedge tidak boleh bersentuhan satu sama lain (berjarak memadai). Pastikan pelat dan barrel diikat ke belakang sebelum melakukan peregangan (tensioning). f. Gunakan jack untuk memberikan mimimum 3t hingga maksimum 5t peregangan pada cable. Ketika melakukan peregangan pada cable bolt dan menyetel wedge, jack harus dipasangi penyangga. g. Operator tidak boleh berdiri langsung di bawah tensioner. h. Lepaskan Tensioner Unit dengan mendorong Tensioner ke atas dan pada saat yang bersamaan tarik release cord ke bawah untuk melepaskan jaw dari cable. i. Turunkan unit sambil menahan release cord. j. Pastikan ram hidraulik ditarik sepenuhnya sebelum melakukan peregangan pada bolt berikutnya. k. Jika pelat menjadi longgar setelah pemasangan, mintalah bagian Maintenance memeriksa jack. l. Sisa cable bolt yang menonjol harus dipotong. Pemotongan harus minimum 5 cm dari anchor, sehingga anchor tidak terpengaruh. m.Jika pelapisan shotcrete akhir akan dilakukan di area, dua lapis silica glue harus diteteskan untuk menyekat ruang-ruang terbuka di antara wedge. Hal ini diperlukan agar butiran shotcrete tidak mengisi ruang-ruang tersebut dan mencegah wedge menjepit lebih kuat pada cable ketika cable berbeban. 7. Foto Cabolter

8. Referensi Keputusan Menteri No.555.K/26/M.PE/1995, klausa-klausa yang berhubungan. Elemen & Standar FRESH NOSA1.15.2.1, 2.18, 2.31, 2.41-43, 2.45-46, & 2.48

497

PROSIDING TPT XX PERHAPI 2011 TAMROCK CABOLTER DRILLING DAN GROUTING PADA TAMBANG BAWAH TANAH “BIG GOSSAN MINE” PT. FREEPORT INDONESIA PENGEMBANGAN ELEMENT SYSTEM GROUTING MENGGUNAKAN CABLEBOLT PADA TAMBANG BAWAH TANAH

OLEH : EKA KARTAMIHARJA PT. FREEPORT INDONESIA TEMBAGAPURA, PAPUA Email : eka_kartamiharja@fmi.com : kafi_kartamiharja@yahoo.com

A. GALERI CABOLTER 1. TAMPAK SAMPING

498

2. TAMPAK BELAKANG

B.

TUJUAN PENGGUNAAN CABOLT 7-5 adalah sebuah jumbo bolting elektro-hidrolik yang dioperasikan satu orang secara mekanis penuh yang ditujukan untuk penguatan terowongan dan tambang bawah tanah dengan penampang kecil dan sedang. Lingkungan operator dengan kontrol-kontrol listrik yang mudah digunakan serta tingkat ergonomi yang tinggi memungkinkan operator untuk berkonsentrasi dalam pekerjaan penguatan batuan secara aman, cepat dan efisien. C. · KONDISI PENGOPERASIAN YANG DIANJURKAN Tambang underground stopping Suhu sekitar ……………………………………………. 0°C … +40°C

D.

DESIGN CABOLTER 1. Model Kabin

499

2.

Model Kanopi Pengaman

E.

NAMABAGIAN CABOLTER

F.

SIKLUS DEVELOPMENT HEADING

500

DRILLCABOLTER PADAUNDERGROUND STOPPING Dalam system penambangan underground stopping akan dijumpai beberapa kondisi batuan dengan stress yang tinggi. Untuk itu diperlukan suatu system penyanggan batuan yang tepat. Penggunaan CABOLT 7-5 merupakan penerapan aplikasi sistem penyanggan secara cepat dan efisien dengan melakukan pengeboran dan memanfaatkan suatu kabel sistematis yang disebut “cablebolt/cablecoil” (grouting) serta dilengkapi system pembautan (tention). Salah satu hasil dari metode pengeboran ini didasarkan atas kebutuhan untuk lubang bor yang lebih besar dan jarak lubang bor yang relative panjang. Penelitian terakhir yang dilakukan menunjukkan bahwa, dalam kondisi yang ideal, dalam proses grouting, diameter lubang bor memiliki pengaruh yang kecil pada kekuatan tarik dari cablecoil dengan kekentalan campuran sement dan flowcable yang sama. Empat diameter lubang bor yang pernah diuji, yaitu: 42 mm, 52 mm, 81 mm dan 106 mm (lihat worksheet), dengan ukuran cablecoil yang sama. Hasil penelitian menunjukkan :

G.

Model penambangan underground dan penggunaan data massa batuan digunakan untuk menggambarkan perilaku batuan dalam penanganan sistem penyanggaan yang digunakan. Selain karakteristik batuan yang mempengaruhi pemilihan sistem penyanggaan juga dipengaruhi oleh karakteristik lokasi penambangan underground. Makalah ini menyajikan alasan untuk memilih elemen pendukung yang tepat yang digabungkan untuk membentuk sistem penyanggaan guna menjaga stabilitas di tambang bawah tanah. Keseluruhan pendekatan yang dilakukan dalam rangka menjaga keselamatan manusia dan alat pada tambang bawah tanah. H. IMPLIKASI GROUTING PADACABOLTER Dalam tambang bawah tanah, sistem grouting menggunakan cablebolt dimanfaatkan untuk memperkuat penyanggaan pada batuan yang kompak dengan umur penyanggaan yang relative panjang. Kegagalan yang ditemukan pada system grouting ini adalah terjadinya korosi pada cablebolt yang dapat menyebabkan pengurangan kekuatan penyaggaan yang signifikan. Untuk meminimalkan kegagalan tersebut sangat disarankan mengenai persyaratan instalasi yang benar, sehingga dapat mengurangi potensi korosi. Prediksi maksimal beban penyanggaan yang dapat ditahan sudah dilakukan, yang diperkirakan terjadi penurunan sekitar 30%. Dari kapasitas asli 25 ton terjadi penurunan menjadi 17.5 ton yang terjadi akibat korosi tersebut. Dalam usaha membandingkan efek dari korosi tersebut dilakukan simulasi pada tingkat korosi yang sesuai berdasarkan klasifikasi korosi sehingga diperoleh pendekatan yang sesuai.

501

Diperkirakan bahwa bahkan dalam kondisi yang paling korosif telah diamati pada proses grouting cabolter di tambang bawah tanah terjadi retakan pada batuan yang signifikan. Data keretakan menunjukkan angka yang masih jauh dari harapan yang berhubungan dengan kekuatan penyanggaan cablebolting. Hasil penyelidikan yang telah dilakukan menuntut suatu pengembangan desain cablebolt sebagai element yang sangat penting dalam proses grouting menggunakan alat cabolter. Sejumlah penelitian dilakukan dalam pemeriksaan unsur-unsur penguat dan element-element yang lainnya untuk mendapatkan tingkat korosif yang paling rendah berdasarkan kondisi yang paling ekstrim pada lingkungan tambang bawah tanah.

I.

PENGEMBANGAN ELEMENT SYSTEM GROUTING MENGGUNAKAN CABLEBOLT PADATAMBANG BAWAH TANAH Sebuah studi sistematis mengenai kondisi air tanah pada tambang bawah tanah menunjukkan berbagai kondisi kualitas air tanah yang sangat berpengaruh pada korosifitas cablebolt system grouting cablebolt. Penelitian ini menghasilkan klasifikasi korosif baru untuk air tanah yang mempengaruhi cablebolt pada system grouting. Korosi yang terjadi pada cablebolt akan sangat berpengaruh pada kapasitas beban yang dapat ditahan oleh salah satu system penyangga tersebut. Hal ini belum banyak diteliti dan umumnya tidak dipahami dengan baik. Sementara ada banyak literatur yang berkaitan dengan fenomena korosi yang tidak selalu berlaku untuk lingkungan tambang bawah tanah. Korosi dapat mengurangi kapasitas beban penyanggaan dan umur dari penyangaan itu sendiri sehingga dapat menciptakan sejumlah masalah keamanan dan ketidakstabilan. J. HASILGROUTING CABOLTER Sistem grouting menggunakan cabolter sudah banyak diterapkan pada tambang bawah tanah di Australia. Grouting pada tambang bawah tanah digunakan untuk penyanggan beban dengan kapasitas yang relative besar dan dapat menjaga ketahanan terhadap kerusakan akibat korosi. Korosi ini dapat dicegah dan dikurangi efeknya karena adanya cement pelindung dari

502

cablebolt pada sisitem grouting ini. Penelitian menunjukkan bahwa efek dari korosi sangat mungkin terjadi akibat cement pelindung atau penahan ditiadakan. Korosi yang tinggi pada element penyangga batuan akan mengakibatkan gerakan tanah yang tidak diinginkan. Teknik pemasangan system penyangga memiliki pengaruh terhadap terciptanya korosi akibat airtanah tambang bawah tanah. Dalam upaya untuk lebih memahami respon system penyanggaan menggunakan grouting cabolter telah dilakukan pengujian. Metodologi yang digunakan untuk menyelidiki kapasitas beban dari cablebolt dalam kondisi korosif adalah pengujian sistem pipa split. Cablebolt digunakan dalam industri pertambangan Australia dimana menggunakan 7 wire, dengan bahan baja yang teruntai polos (bulat) membentuk menyerupai kabel. Enam cablebolt dengan panjang yang sama dan dengan diameter yang berbeda telah diuji. Masing – masing cablebolt tersebut memberikan hasil uji ketahanan penyanggaan yang berbeda pula, namun dengan perbedaan angka yang tidak begitu signifikan. Elemen-elemen yang diuji secara periodic tersebut untuk menentukan bagaimana korosi mempengaruhi efektivitas penguatan dengan waktu dan kondisi. Pada proses grouting campuran yang digunakan adalah semen Portland termasuk aditif Methocel dimana dengan komposisi 2g aditif methocel per 1 kg semen Portland dan memiliki air semen dengan rasio 0,35 dicampur dan dipompa ke dalam pipa menggunakan pompa GP2000A.

503

K. Shank

PERLENGKAPAN PENGEBORAN

MF rod

Extension tube

Guide tube

Drill bit

504

Sebuah contoh penggunaan peralatan pengeboran yang berbeda. Sebuah guide tube dan sebuah bit khusus digunakan jika lubang yang harus dibor harus lurus dan kondisinya sulit. L. INSTRUKSI PENGEBORAN. 1. Prinsip-prinsip pengeboran percussion

Pengeboran percussion memiliki empat fungsi utama :

Energi percussion yang dikumpulkan oleh piston rock drill dikirimkan ke batuan melalui drill rod (batang bor) dan drill bit (mata bor). Percussion

Tenaga percussion yang dikirimkan melalui rod string merupakan gabungan dari kekuatan percussion dan frekuensi percussion. Tenaga ini dikontrol secara langsung oleh TEKANAN percussion.

505

Salah satu prinsip dasar dalam pengeboran adalah kemampuan alat bor untuk mengantarkan energi. Menggunakan alat bor dengan ukuran khusus, jumlah energi kinetik maksimum tertentu akan bisa dihasilkan. Jika kemampuan pengantaran energi alat dilampaui, kerusakan alat akan cepat terjadi. Tenaga percussion yang digunakan ditentukan sesuai dengan sifat batuan yang dibor. Jika batuannya lunak, percussion rendah akan digunakan. Jika sifat batuannya keras, maka tekanan yang lebih tinggi harus digunakan. Setelan tekanan percussion biasanya mempertimbangkan tingkat penetrasi dan ketahanan alat. Feed

Fungsi feed adalah untuk menjaga agar shank tetap terhubung secara erat ke rock drill dan drill berkontak secara erat dengan batuan. Saat tekanan percussion ditingkatkan, tekanan feed harus dinaikkan juga. Tenaga feed yang benar tergantung pada tekanan percussion, sifat batuan, kedalaman pengeboran dan ukuran serta jenis alat bor. Batuan longgar harus dibor dengan tekanan percussion rendah dan tekanan feed rendah. Tekanan feed yang benar bisa ditentukan dengan mengamati proses pengeboran (melihat dan mendengarkan). MELIHAT untuk memastikan bahwa : - Rock drill bergerak secara mulus (cradle tidak boleh mengayun atau menyentak). - Rod berputar secara merata (kecepatan rotasi stabil). - Sambungan shank kencang (sambungan tidak mengalami overheat/menjadi biru/ berasap). - Tingkat penetrasi imbang. MENDENGAR untuk memastikan bahwa : - Suara percussion datar (tidak ada suara bergetar atau berderak). Bertambahnya tenaga feed tidak meningkatkan tingkat penetrasi; hal tersebut hanya akan meningkatkan aus pada drill bit yang selanjutnya akan menyebabkan pembelokan arah lubang yang dibor, membengkokkan batang bor, dan meningkatkan tekanan rotasi sehingga menjadi lebih tinggi dari tingkat normal. Menggunakan tekanan feed yang terlalu rendah akan menyebabkan drill bit kehilangan kontak secara erat dengan batuan yang dibor. Jika hal tersebut terjadi, maka energi percussion dipantulkan kembali ke batang bor (dan tidak ke arah batuan) yang selanjutnya akan bisa menyebabkan kerusakan pada rod string, rock drill dan feed cradle.

506

Rotasi

Fungsi utama rotasi dalam pengeboran percussion adalah untuk memutar drill bit ke posisi yang baru setiap kali sesudah percussion dikirimkan oleh piston. Kecepatan rotasi yang benar ditentukan oleh geometri bit, ukuran bit, kemampuan batuan untuk dibor (kekerasan, penggerindaan, dll.) dan fungsi-fungsi pengeboran utama yang lain. Kecepatan rotasi yang terlalu rendah akan mengakibatkan hilangnya energi karena sifat batuan yang sudah longgar akan pecah lebih lanjut dan tingkat penetrasi tetap rendah. Sisa pengeboran keluar dari permukaan batuan lubang berupa butiran halus dan bukan dalam bentuk serpihan kecil. Kecepatan rotasi yang terlalu tinggi akan mengakibatkan bit menjadi cepat aus karena materia batuan pecah oleh putaran dan bukan karena percussion. Kecepatan rotasi tinggi yang tidak diperlukan juga akan mengakibatkan mengencangnya sambungan batang bor, yang selanjutnya akan membuatnya sulit dibuka. Flushing

507

Fungsi flushing adalah untuk menghilangkan material batuan lunak dari lubang. Air flushing dialirkan ke alas lubang melalui rod string dan lubang-lubang pada drill bit. Material batuan yang dilonggarkan bercampur dengan air flushing dan ditiup keluar dari lubang melalui ruang di antara rod string dan dinding lubang. Flushing rendah mengurangi tingkat penetrasi (pemotongan ulang material batuan bertambah), memperpendek usia kerja rod dan meningkatkan aus drill bit dan resiko macetnya rod. Pelumasan Shank (SLU) Fungsi pelumasan shank (SLU) adalah untuk melumasi mekanisme rotasi rock drill dan shank. Unit pompa memompakan oli ke rock drill melalui tube di dalam pipa air kompresi. Angin kompresi membagikan oli ke titik-titik pelumasan.

1. 2. 3. 4. 5.

Tangki oli Unit pompa Sekrup bleeder Sekrup bleeder hidrolik Angin kompresi

Membilas (bleeding) tangki : - Buka sekrup bleeder (3) sebanyak 1 sampai 2 putaran. - Tunggu sampai oli yang keluar tidak lagi mengandung gelembung angin. - Tutup sekrup bleeder (3). 2. Parameter Pengeboran Hubungan antara tekanan percussion, tekanan feed, kecepatan rotasi dan aliran flushing yang diperlukan juga setting-nya yang benar tergantung pada beberapa faktor seperti kondisi

508

batuan, jenis bit dan diameter lubang. Parameter pengeboran harus selalu disesuaikan dengan kondisi pengeboran saat itu. Tabel berikut ini menunjukkan parameter pengeboran yang digunakan pengeboran tes pabrik di granodiorite yang homogen. Tabel pada contoh parameter pengeboran yang normal bisa digunakan sebagai panduan untuk menyetel parameter yang sesuai dengan kondisi pengeboran saat itu. Contoh parameter untuk pengeboran normal dengan bit 9-button, Ø51mm.

Mengidentifikasi parameter pengeboran yang tidak benar

509

M.

AKHIR SHIFT

-

-

Saat menghentikan pengeboran di akhir shift, atau untuk istirahat makan siang, untuk memindahkan rig atau untuk alasan yang lainnya, selalu bersihkan air dengan cara meniup rock drill dan drill rod menggunakan flushing angin (putar tuas kontrol S74 ke arah jam 6). Putar ujung depan feed ke arah bawah untuk mencegah agar air tidak masuk ke dalam rock drill. Cuci rig sebelum shift berakhir (boom, bolting head dan unit cement grouting). Laporkan adanya gangguan atau kelainan yang anda amati ke personel yang bekerja pada shift berikutnya. Matikan powerpack. Tutup katup air yang terletak di bagian belakang rig. Putar main switch ke posisi 0. Putar main switch pada carrier ke posisi OFF.

510

Sesudah Pengeboran 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. Longgarkan bit dan rod. Tiupkan air keluar dari sirkuit air. Tiupkan bahan anti-freeze ke dalam sirkuit, kalau perlu. Gerakkan boom, feed dan kabin/kanopi ke posisi tramming. Naikkan jack. Matikan powerpack. Putuskan aliran dari main switch. Hidupkan mesin diesel dan pilih cable and water hose reeling. Saat menjalankan alat, perhatikan bahwa reeling bekerja dan boom tidak menabrak dinding. 9. Putuskan kabel dan selang air dan anchor-nya. Pastikan bahwa semuanya tidak terseret di permukaan tanah saat alat dijalankan. 10. Jalankan alat ke area kerja dan melakukan pekerjaan servis shift dan harian pada rig. 11. Jika rig harus ditinggalkan tanpa pengawasan, main switch pada carrier harus dimatikan.

511

PROSIDING TPT XX PERHAPI 2011

512

513

514

515

516

517

518

519

520

521

522

523

524

525

PROSIDING TPT XX PERHAPI 2011

526

527

528

529

530

531

532

533

534

535

PROSIDING TPT XX PERHAPI 2011 Studi Pemanfaatan Fly Ash dan Bottom Ash dalam Pengelolaan Batuan Penutup untuk Pencegahan Air Asam Tambang
Iin Lestari , Rudy Sayoga Gautama , Muhammad Sonny Abfertiawan , 1 Program Studi Teknik Pertambangan, Fakultas Teknik Pertambangan dan Perminyakan, Institut Teknologi Bandung, Indonesia, r_sayoga@mining.itb.ac.id Abstrak Pencegahan air asam tambang (AAT) dapat dilakukan dengan melakukan upaya covering material yang berpotensi membentuk AAT (Potentially Acid Forming/PAF) dengan menggunakan material yang tidak berpotensi (Non Acid Forming/NAF). Sehingga dapat menghentikan atau mengurangi kontak antara mineral besi sulfida dengan udara dan/atau air. Namun, keberadaan material NAF seringkali tidak ditemukan dalam jumlah yang banyak untuk dapat mengisolasi seluruh material PAF. Oleh karena itu, diperlukan material lain sebagai alternatif dalam pencegahan pembentukan AAT. Salah satu material yang memiliki potensi untuk dapat digunakan yakni fly ash dan bottom ash yang merupakan hasil pembakaran batubara di PLTU. Sebuah penelitian dilakukan dengan beberapa variasi campuran fly ash dan bottom ashserta pelapisan material fly ash terhadap material PAF. Hasil pengujian leachate pada kolom pencampuran bottom ash diperoleh nilai pH yang berfluktuasi dengan rentang 4-7. Pada kolom pencampuran fly ash, nilai pH cenderung stabil pada rentang 8-9. Sedangkan pada kolom pelapisan fly ash (10%) diperoleh nilai pH sebesar 9,5 dan terus turun hingga pH sebesar 2,5 di akhir penelitian. Pada kolom pelapisan fly ash (20% dan 30%), nilai pH di akhir penelitian stabil pada kisaran nilai 6. Hasil simulasi menunjukkan bahwa dengan penambahan Fly ash dan bottom ash dapat meningkatkan nilai pH, menurunkan nilai DHL, serta TDS air lindian hasil oksidasi mineral dalam batuan. Penambahan fly ash juga dapat memperkecil laju infiltrasi air melalui material, sedangkan bottom ash dapat memperbesar laju infiltrasi karena ukuran yang cukup besar. Kata kunci:air asam tambang,fly ash, bottom ash Latar Belakang Pemanfaatan batubara sebagai sumber kebutuhan energi nasional Indonesia akan semakin meningkat hingga 30% dari total persentase sumber energi di tahun 2025 (Dewan Energi Nasional, 2006). Laju produksi batubara nasional mencapai 310 juta pada tahun 2010 dan akan meningkat menjad 340 juta ton pada tahun 2011. Permasalahan air asam tambang merupakan isu utama yang sering muncul dari kegiatan pertambangan. Pemerintah dalam regulasi yang telah dikeluarkan yakni Undang-undang Nomor 4 Tahun 2009 memberikan kewajiban kepada pemilik Izin Usaha Pertambangan (IUP) dan Izin Usaha Pertambangan Khusus (IUPK) untuk menerapkan kaidah teknik penambangan yang baik serta mematuhi batas toleransi daya dukung lingkungan (Pasal 95, a dan e).Permasalahan air asam tambang masih terjadi di banyak pertambangan batubara, sebagai contoh nilai pH air yang
1 1 1

536

rendah di kolam bekas pit penambangan (Coal Pit Lake) di Kalimantan Selatan (Rahmawati & Gautama, 2010; Saputri & Gautama, 2010) dan nilai pH yang rendah di Sungai Ukud yang terkontaminasi oleh air asam tambang di Site Lati, Kalimantan Timur (Abfertiawan, 2010). Sungai Ukud merupakan sungai yang mengalir di Site Lati yang terindikasi terkontaminasi oleh air asam tambang dari kegiatan penambangan aktif dan daerah penimbunan. Daerah tangkapan Sungai Ukud terdiri dari 48.6% daerah terganggu (pit dan timbunan) and 51.4% daerah asli. Pencegahan melalui enkapsulasi dengan memanfaatkan material tidak berpotensi membentuk asam (Non Acid Forming / NAF) sulit dilakukan dikarenakan keterbatasan material tersebut. Secara umumpersentase volume litologi NAF yang menyusun Site Lati adalah 30% dan persentase volume overburden litologi PAF adalah 70% dari total overburden (Laporan Pemodelan Litologi NAF Daerah Lati Berau Coal, 2009). Dalam makalah ini akan didiskusikan mengenai pemanfaatan abu pembakaran batubara (Fly ash dan Bottom ash) sebagai alternatif pencegahan air asam tambang. Karakteristik Sungai Ukud Daerah tangkapan (catchment area) Sungai Ukud memiliki luas 1.738,67 Ha yang terbagi menjadi 11 subcatchment dan berbatasan langsung dengan pit aktif di utara dan selatan catchment area. Terdiri dari 48.6% daerah terganggu dan hanya 51,4% masih merupakan daerah asli. Dari total daerah terganggu, hanya 48% yang telah direvegetasi. Perubahan lahan ini akan terus bertambah seiring dengan kemajuan daerah penambangan aktif. Sebanyak 102 sampel batuan di daerah timbunan sepanjang aliran Sungai Ukud diambil dan 90 sampel diklasifikasikan sebagai PAF. Sayangnya, hasil analisisnya ini tidak menggambarkan pola persebaran yang jelas. Sungai Ukud berlokasi di selatan Site Lati mengalir ke timur menuju Sungai Lati. Sungai Ukud memiliki kisaran nilai pH 3-4 dikarenakan kontaminasi air asam tambang. Pemantauan kualitas aliran Sungai Ukud dilakukan di tujuh titik pantau dengan parameter pH, SO4, Fe2+, Fe3+, Mn2+, Al3+, total suspended solids (TSS), dan conductivity (CD). Nilai pH yang rendah, pada kisaran 3,96-4,49 terpantau di hampir seluruh titik kecuali satu titik yakni titik dua yang merupakan daerah asli yang belum terganggu. Titik pantau satu memiliki nilai pH terendah yang merupakan daerah penambangan aktif. Sedangkan titik-titik pantau lainnya merupakan daerah timbunan, baik yang belum terevegetasi maupun telah. Sampel dan Metode Sampel Sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah abu sisa pembakaran batubara berupa abu terbang (fly ash/FA) dan abu dasar (bottom ash/BA), yang berasal dari sisa pembakaran batubara dari PLTU Lati. Batuan overburden berasal dari disposal Q10 dan batuan yang baru terekspos karena proses penambangan (Overburden Pit East). Sampel tersebut dilakukan uji karakteristik

537

geokimia batuan melalui uji statik dan XRF (komposisi mineral). Hasil dapat dilihat pada Tabel 1. Tabel 1. Komposisi Mineral dalam Sampel Hasil Uji XRF

Metode Percobaan uji kinetik ini dilakukan dengan menggunakan metode free draining colomn leach, dengan menggunakan buchner funnel berdiameter luar 150 mm, dan tinggi 150 mm, sebanyak 8 kolom, sedangkan untuk pengontrol dilakukan uji terhadap fly ash dan bottom ash dengan menggunakan buchner funnel berdiameter luar 100mm dan tinggi 50 mm sebanyak 2 kolom. Kolom disiram dengan menggunakan air destilat sejumlah 199mL/hari, yang kemudian diukur kecepatan infiltrasi air dan kualitas air lindian yang terbentuk. Table 2. Komposisi Sampel untuk Uji (dalam %)

Hasil dan Diskusi Karakter Fisik dan Konduktifitas Hidrolik Perubahan fisik secara signifikan terjadi pada setiap kolom yakni ukuran butiran yang mengecil dan perubahan warna batuan dari cokelat gelap menjadi cokelat muda. Kolom pencampuran menunjukkan kecepatan pelapukan (dilihat dari nilai laju infiltrasi) yang lebih besar dibandingkan pada kolom pelapisan. Hal ini dikarenakan pengaruh dari proses pelapukan akibat fluktuasi temperatur dan kelembaban serta frekuensi penyiraman pada masing-masing kolom. Perubahan fisik juga terlihat pada warna dari air lindi (leachate). Konduktifitas hidrolik di semua kolom dihitung dengan menggunakan perhitungan laju infiltrasi harian.

538

Gambar 1.Konduktifitas Hidrolik Harian Nilai laju infiltrasi kolom pencampuran fly ash mempunyai nilai yang menurun tiap harinya yang bernilai sekitar 1 x10-7 m/s sedangkan pencampuran bottom ash mempunyai nilai yang lebih tinggi yaitu sekitar 10-6 m/s. Nilai laju infiltrasi pada kolom pencampuran mempunyai nilai yang lebih rendah dibandingkan kolom pelapisan dengan nilai laju infiltrasi harian sekitar 5 x10-5 m/s. Perubahan nilai laju infiltrasi harian yang ada pada kolom pelapisan Disposal-FA 20% mempunyai nilai yang lebih besar jika dibandingkan dengan metode pencampuran yang menggunakan sampel dan jumlah masing-masing material yang sama. Hal ini dikarenakan dengan metode pencampuran, material abu akan tercampur dengan batuan sehingga mengakibatkan pori material akan semakin mengecil, sedangkan pada kolom pelapisan, fly ash disusun pada dasar kolom, dan adanya penggumpalan pada fly ash sehingga mengakibatkan infiltrasi berlangsung lebih cepat. Kedua komposisi baik kolom pencampuran maupun pelapisan memperlihatkan penurunan nilai konduktifitas hidrolik yang diakibatkan karena hasil peluruhan dari material batuan. Penurunan nilai konduktifitas hidrolik ini penting dalam memperbaiki kondisi capping dalam enkapsulasi material PAF. Penutupan maupun pencampuran material PAF dengan menggunakan abu pembakaran batubara Nilai pH, Daya Hantar Listrik dan Total Dissolved Solids Simulasi yang dilakukan selama 14 minggu menunjukkan nilai pH pada kolom campuran fly ash lebih tinggi dibandingkan dengan campuran dengan bottom ash tapi masih tetap rendah dibandingkan dengan nilai pH pada kolom pelapisan dengan fly ash. Nilai pH lindian yang dihasilkan pada kolom pencampuran bottom ash cukup fluktuatif dengan rentang nilai 4-7 sedangkan pada kolom pencampuran fly ash relatif stabil pada rentang nilai 8-9. Pada kolom pelapisan juga menunjukkan peningkatan pH akibat penambahan fly ash. Penggunaan fly ash yang lebih banyak menyebabkan nilai pH akan meningkat. Perhatikan Gambar 1.

539

Gambar 2. Grafik pH harian pada kolom pencampuran dan kolom pelapisan Nilai daya hantar listrik (DHL) dan TDS juga memiliki tren penurunan. Nilai DHL dan TDS kecil pada air lindian yang memiliki pH yang tinggi, hal ini disebabkan logam-logam yang bersifat konduktor seperti Fe, Cu, ataupun Mn hanya sedikit terlarut pada air lindian. Fe, Cu, dan Mn terlarut dalam jumlah yang besar pada air yang memiliki pH kecil atau bersifat asam. Nilai DHL dan TDS pada kolom BA 30% mempunyai nilai rata-rata yang lebih tinggi dibanding BA 20%, karena material ash yang digunakan lebih banyak jumlahnya dan mineral-mineralnya pun lebih banyak.

Gambar 3. Nilai DHL harian Konsentrasi logam terhadap kumulatif (2 mingguan) air lindian tiap kolom diambil dan dilakukan analisis dengan parameter Fe, Mn, Cu dan Zn. Konsentrasi logam pada air lindian memiliki tren menurun. Selengkapnya dapat dilihat pada Tabel 3. Tabel 3. Kualitas Air Lindian Tiap-tiap Variasi Kolom

540

Terlihat bahwa parameter yang menunjukkan adanya sifat alkalinitas dalam lindian seperti Kalium, Kalsium, Magnesium, menunjukkan nulai yang relatif lebih besar apabila dibandingkan dengan kolom tanpa penambahan material abu, sedangkan logam yang mempunyai sifat asiditas, seperti Fe, Mn menunjukkan nilai yang relatif lebih rendah bila dibandingkan kolom tanpa penambahan abu. Kandungan Cu, Al, Fe maksimum terjadi pada minggu kedua dan ketiga, setelah minggu kedua nilai konsentrasi mineral tersebut menurun mendekati nol, hal ini terjadi karena pengaruh peristiwa pelapukan butiran sampel yang menyebabkan ukuran partikel menjadi lebih kecil yang pada akhirnya menyebabkan terlarutnya logam dan mineral yang ada pada sampel. Karena pH lindian mempunyai nilai yang tinggi (pH>7), logam tersebut akan terpresipitasi dan mengendap pada dasar tabung yang digunakan. Pada kolom pelapisan FR-FA 10% konsentrasi Fe tidak terlalu tinggi pada awal penelitian, hal ini diperkirakan karena jumlah fly ash yang sedikit sehingga kandungan Fe dan logam yang lain akan lebih sedikit jika dibandingkan kolom lain. Kesimpulan Abu pembakaran batubara digunakan sebagai material campuran untuk mencegah pembentukan air asam tambang, karena ukuran yang kecil dan sifat alkali yang diharapkan dapat menetralkan pH air asam. Percobaan dilakukan dalam skala laboratorium menggunakan free draining colomn leach method. Sampel batuan yang bersifat PAF ditambah dengan bottom ash atau fly ash dengan berbagai variasi jumlah dan variasi model (pelapisan dan pencampuran). Nilai konduktifitas hidrolik semakin menurun yang diakibatkan karena hasil peluruhan dari material batuan. Konduktifitas hidrolik pada kolom pencampuran menurun secara signifikan dibandingkan dengan kolom pelapisan. Nilai pH dengan model kolom pelapisan didapatkan nilai yang lebih tinggi daripada model pencampuran, namun tidak terjadi perbedaan kandungan logam yang signifikan. Secara keseluruhan dapat disimpulkan bahwa pencampuran overburden dengan abu pembakaran batubara terutama fly ash dapat digunakan untuk pencegahan pembentukan air asam tambang. Namun, penelitian skala lapangan masih diperlukan. Ucapan Terima Kasih Penelitian ini dibiayai oleh Program Hibah Kompetitif Penelitian Sesuai Prioritas Nasional Batch 1 tahun 2009 Nomor: 164/SP2H/PP/DP2M/V/2009, tanggal 30 Mei 2009 dari Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Departemen Pendidikan Nasional. Penulis juga mengucapkan terima kasih kepada kepada PT. Berau Coal atas dukungannya dalam melaksanakan penelitian ini

541

Referensi Davis, G.B., Ritchie, A.I.M. 1987. A model of oxidation in pyrite mine waste: part 3: import of particle size distribution,Appl Math Model. 11, pp. 417–422. Kusuma G.J, Gautama R.S., Anggana R.P., 2009, Kajian Perilaku Peluruhan Batuan Dengan Uji Kinetik untuk Air Asam Tambang, Proceedings XVIII Annual Meeting & VII Congress of PERHAPI, October 2009, Jakarta (in Bahasa Indonesia) Pérez-López Rafael et al. 2003. The Use of Alkaline Residues for The Inhibition of Acid Mine Drainage Processes in sulphide-rich mining wastes. Department of Geology, University of Huelva.

542

PROSIDING TPT XX PERHAPI 2011

543

544

545

546

547

548

549

550

551

552

PROSIDING TPT XX PERHAPI 2011

553

554

555

556

557

558

559

PROSIDING TPT XX PERHAPI 2011

560

561

562

563

564

565

566

567

568

569

PROSIDING TPT XX PERHAPI 2011 PROSIDING TPT XX PERHAPI 2011Sistem Penomoran Dokumen Lingkungan PT. Newmont Nusa Tenggara Sesuai Dengan Sistem Manajemen Lingkungan
Radjali Amin Jl. Sriwijaya 258, Mataram 83126 Abstrak Penomoran dokumen lingkungan diperlukan, salah satunya karena di dalam sistem manajemen lingkungan (SML) yang ada, dikenal, dan diterapkan oleh perusahaan tambang di Indonesia merupakan salah satu standar yang harus dilaksanakan. Dokumen yang sudah dinomori dikatakan sebagai dokumen terkontrol. Penomoran dokumen akan memudahkan pencarian dan mencegah duplikasi atau kesalahan data/dokumen yang dibutuhkan. Dokumen lingkungan PT. Newmont Nusa Tenggara yang sudah dikontrol sejauh ini sekitar 8 ribu buah dan diperkirakan baru mencakup 75% dari seluruh dokumen yang dibutuhkan. Sistem penomoran dokumen SML menyediakan fleksibilitas yang tinggi di dalam mengakomodir berbagai jenis bentuk perusahaan tambang dan metode eksploitasinya. Secara umum penomoran diatur dengan urutan kode lokasi, nomor standar SML, spesifikasi pemilik dokumen, jenis dokumen dan nomor urut dokumen, contohnya NNT-ENV-007-F001. Masing – masing kode dan nomor ini dibuat dan disusun secara teratur dan spesifik. Dari masing- masing pengkodean ini, dua yang paling krusial yaitu kode spesifikasi pemilik dokumen dan jenis dokumen. Hal ini terjadi karena biasanya suatu perusahaan itu berkembang dan konsekuensinya adalah struktur organisasinya akan berkembang dan jenis – jenis dokumen yang diproduksinya juga ikut berkembang. Oleh sebab itu pengaturan kode yang visioner dan konsisten adalah kunci – kunci kerberhasilan sistem penomoran dokumen. Penomoran dokumen juga akan berhasil guna apabila didukung oleh komitmen yang tinggi dari perusahaan dan justru akan menjadi kontra produktif jika dijalankan setengah – setengah terutama karena jumlah dokumen yang ditangani dan sifat dokumen yang ”hidup”. Kata kunci : Sistem Manajemen Lingkungan, Dokumen Kontrol, Penomoran Dokumen, PT. Newmont Nusa Tenggara Latar Belakang Perusahaan tambang, dan perusahaan lainnya, mempunyai core business-nya masingmasing dan cenderung untuk “mengabaikan” side core business-nya. Reklamasi, contohnya, masih saja “ditinggalkan” atau dikerjakan dengan setengah hati oleh beberapa perusahaan tambang, walaupun sebenarnya reklamasi adalah bagian yang tidak terpisahkan dari aktivitas penambangan. Lebih buruknya lagi, para pekerja reklamasi kadang tidak mendapatkan hak yang sama dengan pekerja di tambang, operator truk misalnya. Gaji manajer reklamasi biasanya lebih rendah daripada manajer tambang. Siapa sangka kalau ternyata ada hubungan antara pengontrolan dokumen dengan aktivitas penambangan? Disadari atau tidak, ketika Kepala Teknik Tambang (KTT) membuat laporan kecelakan kepada Kepala Pengawasa Inspeksi

570

Tambang (KAPIT) kita sudah harus menerapkan pengontrolan dokumen dengan cara pemberian nomor di surat KTT itu. Di dalam dunia pertambangan, rencana tambang sangat mudah berubah karena adanya data tambahan hasil pengeboran atau karena perubahan harga produk/komoditi atau karena kondisi lain. Kalau rencana tambang satu dengan yang lain tidak diberi tanda atau kode, bukan hal yang tidak mungkin rencana tambang itu akan tertukar dengan rencana tambang yang lain. Dari beberapa contoh di atas, disadari atau tidak kita telah menerapkan pengontrolan dokumen dan menyadari kalau pengontrolan dokumen itu penting, namun sayangnya belum 8diterapkan secara konsisten dan menyeluruh ke seluruh aspek operasi penambangan. Konsistensi penerapan suatu standar dan menyeluruh bisa dilaksanakan jika mempunyai sistem pengelolaan atau sistem manajemen. Dalam dunia pertambangan ada dua sistem manajemen yang familiar yaitu sistem manajemen lingkungan seperti ISO14001 dan sistem manajemen keselamatan dan kesehatan kerja seperti OHSAS18001. Sistem Manajemen Lingkungan (SML) Sistem Manajemen Lingkungan adalah suatu mekanisme kerangka kerja yang terintegrasi dengan komponen bisnis dan komponen penyusunnya untuk mencapai tujuan secara efektif dan sesuai dengan standar dan prosedur yang baku dan disepakati. Mekanisme ini memicu peningkatan yang berkesinambungan (continual improvement) hingga akhirnya kesinambungan lingkungan bisa berjalan secara maksimal. Sistem Manajemen mengatur 4 (empat) komponen penting di dalamnya, yaitu Planning (perencanaan), Organizing (pengorganisasian), Actuating (pelaksanaan), dan Controlling (pemeriksaan) (Gambar 1). Dalam implementasinya, masing – masing komponen dapat menjelma dengan menggunakan istilah atau terminologi yang sama sekali berbeda tetapi pada prinsipnya mereka adalah sama. Gambar 1. Komponen Manajemen dan Mekanisme Interaksinya (Herdiyanto, 2011)

571

Masing – masing komponen ini saling berinteraksi menciptakan suatu sistem yang disebabkan oleh adanya mekanisme yang terintegrasi dengan komponen bisnis induknya. Di dalam SML, mekanisme ini diarahkan kepada continual improvement (Gambar 2) yang memberi dampak terhadap sistem itu sendiri maupun terhadap bisnis induknya. Dari gambar – gambar di bawah diketahui bahwa: 1. Sistem manajemen terdiri dari 4 (empat) komponen utama 2. Adanya interaksi antara komponen manajemen 3. Adanya interaksi dengan komponen produksi/bisnis induknya 4. Continual improvement dihasilkan dari interaksi masing – masing komponen Gambar 2. Contoh Sistem Manajemen Yang Menghasilkan Continual Improvement

(Australian/New Zealand Standard Quality Management Systems ISO 9000:2000 dalam Softswitch, 2009) Interaksi ini akan menjadikan masing – masing komponen bisa diterapkan secara menyeluruh dan konsisten. Di dalam ISO14001, sebagai salah satu Sistem Manajemen Lingkungan, yang dikenal dan diakui secara luas, secara spesifik telah mencantumkan pengontrolan dokumen di dalam salah satu standarnya. Di dalam sistem manajemen, standar – standar ini “tersimpan” di dalam masing – masing komponen sistem manajemen. SMLDi PT. Newmont Nusa Tenggara Bagi PT. Newmont Nusa Tenggara (PTNNT) SML tidak asing lagi karena sistem manajemen seperti ini sudah diterapkan sejak beroperasinya PTNNT. Pertama kali SML yang diterapkan adalah Five Star namun sejak 2009, SML yang diadop adalah ISO14001:2004.Adopsi ISO14001:2004 oleh PTNNT mengalami beberapa penyesuaian seperi di dalam Tabel 1 di bawah ini dan lebih dikenal dengan APAC IMS yang merupakan singkatan dari Asia Pacific - Integrated Management System. SML ini tidak hanya digunakan di PTNNT Batu Hijau tetapi juga site Newmont lainnya di kawasanAsia dan Pasifik.

572

Tabel 1. Perbandingan ISO14001 denganAPAC IMS

(NMC, 2010) Di dalam SML PTNNT, standar prosedur dikelompokkan menjadi dua yaitu standar prosedur yang mengatur seluruh aspek produksi/operasi atau yang disebut dengan integrated standard (standar terintegrasi) dan standar prosedur yang mengatur khusus tentang aspek pengelolaan lingkungan atau yang disebut dengan environmental specific standard. Contoh standar terintegrasi adalah di dalam Tabel 1 sedangkan contoh environmental specific standard

573

seperti di dalam Tabel 3. Integrated standard berfungsi untuk mengatur agar masing – masing komponen sistem manajemen lingkungan agar dapat berjalan dengan baik. Masing – masing komponen menunjang komponen lainnya dan mekanismenya simultan dari satu komponen ke komponen yana lain, tidak bisa saling melompat, karena jika saling melompat maka tidak bisa disebut sebagai suatu sistem. Contoh, jika tidak ada policy & standar (sebagai komponen Planning) maka perencanaan tidak bisa dilaksanakan, karena arah dan tujuan perusahaan belum ditentukan. Penjelasan masing – masing komponen SML PTNTT seperti di dalam Gambar 3 di bawah ini. Sedangkan environmental specific standard merupakan standar pengelolaan lingkungan yang terprogram agar bisa diukur dan dipantau. Jumlah dan jenis environmental specific standard bersifat fleksibel menyesuaikan dengan jenis kegiatan yang ada di dalam suatu operasi. Gambar 3. Siklus Continual Improvement SMLPTNNTContinual Improvement

Agar sistem ini bisa berjalan dengan baik dan konsisten tanpa adanya kebingungan seperti yang diilustrasikan di dalam bagian Pendahuluan maka di dalam tahapan Pelaksanaan atau Actuating atau Implementasi atau Produksi diperlukan pengaturan/pengontrolan dokumen. Tujuan pengontrolan dokumen adalah untuk: 1. Agar pelaksana tidak salah dalam menggunakan dokumen atau tidak terjadinya kebingungan pemilihan/penggunaan dokumen. 2. Agar dokumen tetap terbarukan. 3. Agar dokumen tetap relevan untuk dilaksanakan. 4. Agar pelaksanaan suatu kegiatan sesuai dengan prosedur, standar, dan program manajemen. 5. Sebagai bahan evaluasi untuk kepentingan continuous development.

574

Penomoran Untuk Dokumen Kontrol Agar dokumen bisa dikontrol dengan baik, maka diberikan nomor. Seperti surat, contohnya, selalu diberikan nomor. Nomor itu sendiri mengandung kode-kode tertentu yang sudah disepakati dan dipahami oleh penyusunnya. Penomoran yang diterapkan oleh PTNNT pada prinsipnya ada dua metode. Metode pertama adalah penomoran dokumen untuk prosedur atau standar yang berlaku secara sitewide dan penomoran dokumen yang berlaku secara spesifik perdepartemen atau beberapa departmen. Namun, secara umum keduanya sama di dalam penerapannya. Perbedaannya terletak pada kode departemen-nya. Kode – kode dokumen kontrol itu adalah: 1. Kode Site PTNNT. Newmont Mining Corporate (NMC) mempunyai beberapa site baik di dalam maupun di luar negeri. Kebetulan untuk PTNNT, kodenya adalah NNT. Site yang lain mempunyai kode yang lain pula. Kode site sangat tepat dicantumkan di dalam penomoran dokumen jika suatu perusahaan mempunyai beberapa site, terutama jika masing – masing site menerapkan SML yang sama. 2. Nomor Urut Dokumen. Tidak sama dengan penomoran surat, nomor ini tidak diperbaharui setiap tahun tetapi terus berlanjut. Untuk menjamin kalau nomornya ”cukup” maka biasanya nomor terdiri dari 3 digit sehingga maksimal bisa mencapai nomor 999. 3. DepartemenAtau Seksi Penyusun Dokumen. Kode departemen dan seksi atau yang biasa disebut dengan department/section identifier, harus disusun dan disepakati oleh seluruh pengontrol dokumen. Biasanya terdiri dari 3 digit dan masing – masing departemen atau seksi disingkat sedemikian rupa untuk bisa ”muat” dalam 3 digit itu. Beberapa contoh yang ada di PTNNT seperti di dalam Tabel 2. Tabel 2. Contoh Kode Departmen dan Seksi PTNNT (PTNNT, 2009)

575

Sebagai kode departemen atau seksi, kode ini sangat berpotensi untuk berkembang sejalan dengan berkembangnya suatu organisasi/perusahaan. Sebuah perusahaan baru atau dalam tahap eksplorasi akan mempunyai struktur organisasi yang lebih sederhana daripada perusahaan yang sudah dalam tahap eksploitasi, oleh sebab itu disarankan untuk mempersiapkannya dari awal. Jumlah kode departemen atau seksi yang berlebihan di tahap awal operasi tidak menjadi masalah karena akan terasa manfaatnya ketika perusahaan telah berkembang. 4. Nomor Standar IMSAPAC Kode nomor standar IMS APAC terdiri dari 3 digit dan diambil dari Tabel 1 di atas. Kode ini menjelaskan referensi yang digunakan di dalam penyusunan suatu standar atau prosedur. Prosedur penomoran dokumen, misalnya, akan menggunakan kode ”008” di dalam penomorannya. Seperi yang dijelaskan di atas, SML PTNNT terdiri dari dua standar prosedur yaitu yang standar prosedur yang terintegrasi dan standar prosedur yang spesifik. Kedua jenis standar prosedur ini menggunakan nomor atau kode yang sudah ditentukan di dalam ISO14001. Kode standar prosedur yang terintegrasi seperti di dalam Tabel 1 sedangkan untuk yang standar prosedur spesifik, kodenya seperti di Tabel 3 di bawah ini. Tabel 3. Kode Standar Prosedur Spesifik (PTNNT, 2009)

5. Jenis Dokumen Di dalam dokumen kontrol, satu dokumen akan mempunyai kaitan dengan dokumen lainnya atau satu dokumen menjelaskan dokumen lainnya. Hubungan dan tingkatan dokumen ini dikenal dengan hirarki dokumen. Di dalamnya dijelaskan, dokumen mana yang posisinya lebih tinggi terhadap dokumen lainnya. Di PTNNT, hirarki dokumen diatur seperti di dalam Gambar 4 di bawah ini. Piramida di bawah menjelaskan dokumen mana yang posisinya paling tinggi dan dokumen mana yang menjelaskan atau merupakan turunan dari dokumen di atasnya, dst. Di

576

dalam praktek sehari – hari suatu dokumen Prosedur akan didukung oleh dokumen – dokumen pendukung seperti Check list atau Tabel. Semakin ke bawah posisinya, dokumen akan lebih praktis seperti Tabel dan Check list dan semakin ke atas posisinya akan lebih bersifat filosofis seperi Kebijakan Perusahaan. Penggunanyapun akan mengikuti jenis dokumennya. Para operator atau teknisi, biasanya akan lebih banyak menggunakan jenis dokumen di level bawah sedangkan middle managment seperti para penyelia akan menggunakan dokumen di level menengah. Para manager dan top management akan berfungsi sebagai pengelola dokumen level atas. Dinamika jenis dokumen juga tinggi, tergantung dari dinamika pekerjaan yang ada. Namun secara umum, dokumen di level bawah akan lebih dinamis dan perubahan dokumen di level atas akan membawa implikasi perubahan dokumen di bawahnya. Gambar 4. Piramida Hirarki Dokumen

(NMC, 2010) Tabel 4 di bawah menjelaskan beberapa jenis dokumen yang ada di PTNNT dan pengkodeannya. Berbeda dengan kode – kode yang lain, kode jenis dokumen hanya terdiri dari 1 digit dan merupakan awalan dari nomor urut dokumen. Misalnya, C057 adalah dokumen berupa BaganAlir ke 57 yang didaftarkan.

577

Tabel 4. Kode Jenis Dokumen (PTNNT, 2009)

Jenis – jenis dokumen perlu disepakati dari awal karena jika tidak disiapkan dan disepakati dari awal akan membingungkan pengontrolannya kelak, lebih – lebih jika dokumen itu berbahasa asing dimana satu kata bahasa asing bisa diartikan atau ditafsirkan banyak arti. ”Policy”, misalnya bisa diartikan ”komitmen”, ”kebijakan”, ”aturan”, ”standar”, atau ”prosedur”. Di dalam persiapannya, suatu jenis dokumen perlu diberikan definisi atau penjelasan sehingga bisa mencegah multi tafsir. Dari penjelasan – penjelasan kode di atas, sebuah dokumen di PTNNT dengan nomor ”NNT-GMT-008-G100” dapat diartikan dengan : · Dokumen itu dibuat dan berlaku di site PTNNT Batu Hijau, · Dokumen ini berlaku umum, · Dokumen ini merupakan turunan dari dokumen IMS-08 tentang Manajemen Catatan dan Dokumentasi Sistem, · Jenis dokumen ini adalah Petunjuk atau Tata Cara suatu program atau Standar untuk dilaksanakan, · Dokumen ini adalah dokumen ke-100 dari jenis dokumen yang disusun. Disamping penomoran dokumen, biasanya juga disertakan informasi tentang umur dokumen, nomor revisi dokumen, penulis dokumen dan approver dokumen di dalam suatu dokumen yang terkontrol. Keempat hal akan lebih melengkapi informasi tentang dokumen dimaksud. Penutup Salah satu tujuan penomoran dokumen adalah agar selalu didapatkannya dokumen yang terkinikan dan relevan dengan operasi yang sedang berlangsung. Hal ini penting untuk menjamin bahwa operasi dilaksanakan sesuai dengan kebijakan dan arah tujuan perusahaan. Di dalam pengelolaan lingkungan hidup, tujuan penomoran dokumen masih relevan dengan tujuan di atas dan merupakan salah satu standar yang terdapat di dalam ISO14001. PTNNT telah mengimplementasikan ISO14001 seri 2004 dengan modifikasi menjadi APAC IMS yang dipakai di seluruh site Newmont Mining Corporate di kawasan Asia dan Pasifik termasuk PTNNT Batu Hijau. Karena merupakan salah satu bagian dari dari komponen sistem manajeman, maka penomoran dokumen diyakini bisa dijalankan dengan konsisten di seluruh operasi dan khususnya di dalam hal pengelolaan lingkungan hidup.

578

Penomoran dokumen di PTNNT terdiri dar beberapa kode yang harus dikelola yaitu kode site, nomor urut, department/section identifier, nomor standar IMS APAC, dan jenis dokumen. Khusus untuk department/section identifier dan jenis dokumen harus disiapkan dari awal, sejak operasi (mulai) berjalan untuk mencegah kerancuan di kemudian hari. Sebaiknya penomoran dokumen juga dilengkapi dengan informasi dokumen lainnya seperti umur dokumen, nomor revisi dokumen, penulis dokumen dan approver dokumen. Daftar Pustaka Herdiyanto, W., 2011, Hubungan Organisasi, Manajemen dan Kepemimpinan, http://saripedia.wordpress.com/2011/02/14/hubungan-organisasi-manajemen-dankepemimpinan/ NMC, 2010, Integrated Management System : IMS Manual, Version 2.0, Volume 2. PTNNT, 2009, General Management : Document Control Guideline, NNT-GMT-008-G100. Softswitch, 2009, Implementasi Model – Model Manajemen Mutu untuk Layanan Kalibrasi, http://softswitch.wordpress.com/category/uncategorized/

579

PROSIDING TPT XX PERHAPI 2011 Kualitas Air Larian dari Daerah Reklamasi Tongoloka PTNNT
Rissa Anungstri, Mara Maswahenu
Departemen Lingkungan PT Newmont Nusa Tenggara, Batu Hijau Project, Sekongkang, NTB

Abstract: PT Newmont Nusa Tenggara (PTNNT) mengoperasikan sistem penambangan terbuka (open cut) konvensional dan melakukan kegiatan reklamasi bersamaan dengan penambangan (concurrent reclamation). Sebagai bagian dari sistem pengelolaan air tambang (mine water management), saat ini air larian dari daerah reklamasi masih bercampur dengan air tambang (impacted water) yang ditampung dalam kolam-kolam pengendali sedimen untuk kemudian di pompa ke kolam sedimen Santong 3 untuk dipakai sebagai air proses di pabrik pengolahan. Seiring dengan meningkatnya timbunan batuan sisa sesuai dengan kemajuan penambangan, volume air tambang yang harus dikelola akan semakin tinggi dan hal ini berpotensi meningkatkan kemungkinan terjadinya limpasan air tambang ke badan air ambien pada musim hujan. Untuk itu dilakukan evaluasi kualitas air dari daerah reklamasi untuk mengetahui apakah kualitas air dari daerah reklamasi Tongoloka telah memenuhi baku mutu, sehingga dapat dapat dialirkan langsung keluar ke sungai Tongoloka. Data kualitas air diambil dari 8 titik di saluran reklamasi dan dari 7 titik di lereng reklamasi pada Bulan Oktober 2010 – April 2011. Parameter yang dievaluasi adalah pH, Daya Hantar Listrik, TSS, Kation, Anion, dan Logam terlarut. Hasil pengukuran dan analisa kualitas air disajikan dalam bentuk grafik dan dibandingkan dengan KEPMENLH 202/2004 tentang baku mutu air limbah dari pertambangan emas dan tembaga. Hasil analisa logam terlarut menunjukkan bahwa air larian dari slope reklamasi jauh dibawah batasan dalam KEPMENLH 202/2004. PTNNT operates open cut conventional mining system and conduct reclamation concurrently with mining activities. Currently surface runoff from the reclamation area is still mixed with impacted water and collected into several sediment control structures and then pumped to Santong 3 pond and utilized as process water in processing plant. Following the increased of waste rock dump area due to mine progress, volume of impacted water in mine water management system is also increase which resulted in increasing risk of Tongoloka Pond overflow to ambient surface water during wet season. Evaluation of runoff water from reclamation area was conducted to evaluate whether the runoff from reclamation area could be diverted directly to ambient surface water, separate from impacted water. Water quality data were taken from 8 points in canal and 7 points from reclamation slope in October 2010 to April 2011. Analyzed parameters were pH, Conductivity, TSS, Cation, Anion, and Dissolved Metals. The results were presented in graph and compared to KEPMENLH 202/2004 about waste water quality standard from gold and copper mine activities. Result showed that dissolved metals from reclamation slope were well below KEPMENLH 202/2004 limit. Keyword: Kualitas Air Larian, Reklamasi, Air Tambang

A.

Latar Belakang PT Newmont Nusa Tenggara (PTNNT) mengoperasikan Tambang Tembaga dan Emas Batu Hijau, di sebelah Barat Daya Pulau Sumbawa, yaitu di Kecamatan Sekongkang, Kabupaten Sumbawa Barat, Provinsi NTB. PTNNT menggali bijih tembaga dan emas dari pit di tambang terbuka tunggal lalu mengolahnya menjadi konsentrat untuk dikapalkan ke peleburan. PTNNT beroperasi berdasarkan Kontrak Karya (KK) dan sebagai bagian dari peraturan tersebut, AMDAL disusun tahun 1996 yang berisi ANDAL (Analisis Dampak Lingkungan), Rencana Pengelolaan Lingkungan (RKL), dan Rencana Pemantauan Lingkungan (RPL). Terkait dengan revisi pengelolaan pengelolaan timbunan batuan sisa, maka pada tahun 2000 dilakukan revisi RKL-RPL. Revisi terakhir adalah revisi tahun 2010, RKL-RPL tambahan ini dibuat untuk mengakomodasi perubahan-perubahan yang akan terjadi dalam kegiatan penambangan kedepan.

580

Timbunan limbah batuan sebagian besar ditempatkan di Tongoloka, di selatan Batu Hijau. Timbunan batuan dibangun sebagai serangkaian tumpukan yang berjenjang. Kemiringan o slope permukaan timbunan dirancang sekitar 26,6 (2H: 1V). Pengalaman selama beroperasi 2000-2008 dan analisa studi geoteknik memperlihatkan bahwa desain yang diterapkan ditempat penimbunan batuan telah memenuhi kebutuhan untuk terlaksananya program reklamasi sesuai rencana, dan juga usaha untuk pengontrolan erosi dan pengoptimalan lahan untuk mengurangi air asam tambang (PTNNT,2010). Proses reklamasi di PTNNT, dilakukan bersamaan dengan kemajuan penambangan (concurrent reclamation), meliputi proses pembentukan konfigurasi lereng akhir (recontouring) dan penyebaran tanah, diikuti dengan kegiatan reklamasi yang meliputi penempatan tanah pucuk dan dilanjutkan revegetasi. Proses revegetasi membantu untuk menstabilkan permukaan timbunan batuan penutup dan mengurangi erosi. Air tambang dikelola dengan Sistem Pengelolaan Air Tambang (Mine Water Management atau MWM). Saat ini, aliran air permukaan yang bersih dari daerah sekitar lereng atas tambang disalurkan melalui beberapa saluran pengalih di sekitar lokasi tambang ke Sungai Sejorong dan Sungai Tongoloka, yang berada di bagian hilirnya. Pengelolaan air di dalam lokasi tambang adalah mengatur air limpasan dari sekitar fasilitas tambang yaitu air yang dipompa dari lubang tambang, serta air rembesan dan air limpasan dari Timbunan Bijih Sejorong, Timbunan Timur (East WRSF) dan Timbunan Tongoloka. Air tersebut dikumpulkan pada beberapa kolam pengendap sedimen dan kemudian dipompakan ke kolam Santong 3 yang kemudian dimanfaatkan di pabrik pengolahan bijih. Daerah reklamasi Tongoloka dilengkapi dengan sistem aliran air terbuka, perpipaan untuk rembesan, effluent pond, dan Struktur Kendali Sedimen (SKS) Tongoloka. Saat ini, air larian dari lereng reklamasi dan daerah timbunan yang masih terbuka, serta air rembesan timbunan batuan terkumpul menjadi satu di kolam Tongoloka. Seiring dengan bukaan yang semakin luas dan penambahan timbunan maka beban kolam Tongoloka semakin besar dan meningkatkan potensi terjadinya limpasan air asam tambang ke badan air di hilirnya. Sistem MWM dirancang untuk pelepasan terkendali semua air yang terkena dampak di dalam area proyek. Sistem ini memungkinkan pembuangan air dari area tambang hanya jika air tersebut sudah memenuhi baku mutu air sesuai KepMen LH 202/2004. Dalam rencana pengelolaan untuk mengoptimalkan sistem drainase dan bagunan penampung sedimen, direncanakan untuk mengalihkan air bersih dari permukaan timbunan yang telah direklamasi keluar sistem MWM (PTNNT, 2010). Air larian dari reklamasi Tongoloka diharapkan merupakan air yang memehuni baku mutu air dan tidak tercemar air asam tambang sehingga bisa dialihkan. Kajian tentang kualitas air dari daerah reklamasi terbagi dalam 2 projek, yaitu pengambilan contoh air di saluran reklamasi dan di lereng reklamasi. Tujuan dari projek ini adalah mengetahui kualitas air larian pada lereng daerah reklamasi dan kualitas air yang keluar dari daerah reklamasi melalui saluran yang ada di lereng reklamasi dan dibandingkan dengan baku mutu air menurut KepMen 202/2004. Hasil kajian berupa rekomendasi kepada Departemen MWM dalam merancang sistem pengalihan air dari reklamasi keluar dari sistem air asam tambang. Program pengambilan contoh ini melibatkan Departemen Environmental dan Mining khususnya seksi

581

Environmental Compliance, Environmental Reclamation, Environmental Monitoring, dan Mine Water Management. B. Lokasi Pengambilan Contoh Secara umum Air lairan dari lereng reklamasi mengalir melalui saluran dan akan berakhir di drop structure yang kemudian masuk ke kolam Tongoloka. Lokasi pengambilan contoh kualitas air tersebar di jenjang reklamasi Tongoloka di elevasi 140 – 225, 8 titik pengambilan contoh di saluran reklamasi, 7 titik di daerah lereng reklamasi, dan 1 titik stasiun pantau air hujan (RF10). Gambar 1. Lokasi Pengambilan Contoh di Saluran Reklamasi dan Lereng Reklamasi

Arah aliran air adalah sebagai berikut: 1. Point 1 Point 7 Point 8 drop structured 2. Point 2 Point 7 Point 8 drop structured 3. Point 2A Point 7 Point 8 drop structured 4. Point 3 Point 6 Point 7 Point 8 drop structured 5. Point 4 Point 6 Point 7 Point 8 drop structured 6. Point 5 drop structured Pada Oktober 2010, terdapat aktifitas dredging yang melewati daerah reklamasi Tongoloka sehingga mempengaruhi kualitas air pada Point 1, 3, dan 6. Aktifitas dredging memompa lumpur air dari kolam Tongoloka ke kolam pengendapan dengan pipa HDPE, dan

582

menyalurkan kembali air yang sudah terendapkan kembali ke kolam Tongoloka melewati saluran reklamasi. Setelah dua kali pengambilan contoh, dredging selesai dan saluran reklamasi di gelontori dengan air bersih dari truk air untuk menghilangkan pengaruh air dredging. Data yang diambil pada bulan Oktober 2010 tidak dimasukkan dalam perhitungan. Point 2A mengalirkan air dari rembesan di timbunan limbah batuan yang masih terbuka dan mengarah ke Point 7 dan 8 sehingga mempengaruhi kualitas air di titik-titik tersebut. Point 2Adimasukkan ke dalam peta walaupun tidak dilakukan pengambilan contoh. C. Metode Pengambilan Contoh Program pengambilan contoh air dilakukan pada musim hujan dengan sistem pengambilan contoh sesaat. pH dan daya hantar listrik diukur di lapangan, contoh air disaring dengan saringan 0.45 mikron dan pengawet HNO3 untuk parameter logam. Contoh logam terlarut dan ion terlarut dikirim ke Laboratorium ALS di Bogor, contoh lain dikirim ke laboratorium lingkungan PTNNT untuk analisis TSS. Pada lereng reklamasi, titik pengambilan contoh dibuat dengan menempatkan sebuah ember pada lereng reklamasi di jalur air. Untuk menangkap air larian, dibuat batasan bentuk V dengan kayu yang dilapisi plastik. Pada ujung batasan, pipa PVC dihubungkan dengan ember plastik 5 liter untuk pempungan air.

Pada saluran daerah reklamasi, titik pengambilan contoh adalah cebakan seukuran ember plastik 5 liter. Data curah hujan selama periode pemantauan diambil dari stasiun pantau curah hujan pencatatan otomastis di RF10. D. Hasil dan Pembahasan Menurut konsep keseimbangan air, presipitasi yang jatuh ke lokasi tambang akan mengalami evapotranspirasi melalui vegetasi, 'lari' melalui permukaan (runoff), dan akan infiltrasi dan mengalir didalamnya (subsurface) (Morin, 1997).Air larian yang mengalir di lereng Tongoloka berkontak dengan lapisan top soil. Vegetasi yang ada berfungsi dalam menstabilkan lapisan penutup bersamaan dengan pembusukan dan berfungsi juga sebagai absorben oksigen (Forstner, 1983). Sedangkan aliran subsurface banyak berinteraksi dengan limbah batuan dan menghasilkan air asam tambang. Pengukuran aliran subsurface di Tongoloka 140 mRL,

583

menunjukkan bahwa aliran subsurface mengalir pada dasar fondasi timbunan. (PTNNT, 2010). Hal ini mengindikasikan bahwa air rembesan tidak mengalir ke saluran maupun lereng reklamasi. 1. Presipitasi

Grafik 1. Data Curah Hujan ketika Pengambilan Contoh

Pengambilan contoh dilakukan setelah hujan besar atau pada waktu hujan besar. Kebanyakan data menunjukkan bahwa contoh diambil sehari setelah hujan besar dengan maksimal curah hujan harian sebesar 70 mm (Grafik 1). pH air hujan yang turun di RF10, terukur sedikit asam pada pH 4,4 dan 4,6 dengan daya hantar listrik (DHL) sebesar 8 dan 18 us/cm (Pengukuran 28 Desember 2010 dan 27 Januari 2011). Air hujan secara esensial bebas dari mineral terlarut, air hujan sedikit asam karena adanya karbondioksida yang terlarut dan akan lebih asam jika ditambah dengan konstiruen lain pembentuk hujan asam (Manahan, 2005). TipeAir (Water Type) Contoh air dengan analisis parameter anion (SO42-, Cl-, F-, HCO3-) dan kation (Na+, K+, Mg+, Ca+) dilakukan terhadap air dari lereng reklamasi. Hal ini untuk menunjukkan komposisi elemen utama yang terkandung dalam air larian tersebut dan dibandingkan dengan data komposisi air hujan maupun air rembesan dari timbunan batuan sisa yang pernah dilakukan tahun 2006. Selama periode pengambilan contoh (Oktober 2010 – Maret 2011), didapat 53 contoh air larian dari lereng reklamasi. Perhitungan keseimbangan ion berkisar dari -15% sampai +50% dengan rata-rata sebesar +9%, hal ini mengindikasikan kelebihan kation dibandingkan dengan anion. Kekurangan anion kemungkinan adanya organik anion yang tidak teranalisis. Dominan anion pada contoh air lereng reklamasi adalah alkalinitas yang berkontribusi sebesar 64% sedangkan sodium + potasium, kalsium dan magnesium masing-masing berkontribusi hampir sama terhadap keseluruhan kation (Grafik 2a). 2.

584

Grafik 2. TipeAir

Grafik 2a. Komposisi Air Grafik 2c. Komposisi Air dari Lereng Reklamasi R e m b e s a n T i m b u n a n Tongoloka. Batuan Tongoloka (AAT) – Data tahun 2006

Grafik 2b. Komposisi Air Hujan di Batu Hijau - Data tahun 2006

Jika dibandingkan antara komposisi air hujan dan air di reklamasi pada grafik 2a dan grafik 2b, telah terjadi sedikit pelarutan mineral yang berasal dari permukaan lereng yang ditunjukkan dengan meningkatnya kandungan ion menjadi sekitar 0,7 meq/l dari 0,15 meq/l di air hujan. Bahan organik dan pembusukan mikrobial memberikan kontribusi bagi terlarutnya CO2 dalam air larian reklamasi sehingga anionnya didominasi oleh alkalinitas bikarbonat selain dari pelarutan mineral di permukaan lereng. Komposisi air di lereng sangat jelas berbeda jika dibandingkan dengan komposisi penyusun air rembesan seperti terlihat pada grafik 2c (Anungstri, 2006) yang lebih didominasi sulfat, kalsium dan magnesium, yang merupakan tipikal air asam tambang dengan electrical charges sampai 50 meq/l. 3. Kualitas pH

Kualitas air saluran di Point 1, 2, 3, 4, 5, 6 memenuhi batasan dari KepMen LH 202/2004 (6 – 9). pH air di Point 7 dan Point 8 dipengaruhi oleh aliran rembesan dari daerah timbunan terbuka yaitu di Point 2Aseperti dalam peta.

585

Tabel 1. Kualitas pH padaAir Larian

Tabel 1 menunjukkan bahwa, pH air larian lereng dan pH saluran tanpa Point 7 dan Point 8 mempunyai kisaran pH yang hampir sama, dengan pH lereng sedikit lebih rendah daripada pH saluran. 4. Kualitas Logam Terlarut Tembaga, Seng danArsenik Grafik 5 sampai 12 berikut menampilkan konsentrasi logam terlarut selama pemantauan pada contoh air di lereng reklamasi dan perbandingannya dengan konsentrasi logam yang sama di saluran dengan batasan KepMen LH 202/2004.

586

Terlihat bahwa konsentrasi logam terlarut Cu, Zn, As, dan Cd cukup signifikan mencemari Point 7 dan Point 8. Tabulasi kualitas air untuk parameter logam selengkapnya terdapat pada tabel 2 dan tabel 3. Tabel 2. Kualitas air di Lereng

Semua parameter logam terlarut air larian lereng reklamasi memenuhi baku mutu air sesuai KepMenLH 202/2004. Dengan tidak mengikutsertakan data Point 7 dan 8 maka semua parameter logam terlarut di saluran reklamasi (tabel 3) dan di lereng reklamasi (tabel 2) memiliki nilai yang hampir sama dan keduanya memenuhi baku mutu air menurut KepMenLH 202/2004.

587

Tabel 3. KualitasAir di Saluran tanpa Point 7 dan Point 8

5.

Kualitas Total Padatan Tersuspensi Rata-rata konsentrasi TSS saluran lebih tinggi daripada di lereng. Air saluran juga dipengaruhi oleh air larian dari jalan inspeksi reklamasi yang membawa kekeruhan tinggi karena debu-debu halus jalanan.. Tabel 4. Konsentrasi TSS di Lereng dan Saluran

Pada pelaksanaan di lapangan, bias yang mungkin dapat mempengaruhi tingginya TSS adalah beberapa ember terlihat sudah meluap karena tidak cukup menampung air dan sedimen, terutama untuk lokasi di lereng reklamasi karena contoh air diambil sudah terendapkan sekitar 12 jam. Hal ini juga mungkin terjadi di cebakan ember di saluran reklamasi. Walaupun begitu, hal ini mengindikasikan bahwa masih terjadinya erosi pada lereng dan sedimentasi pada saluran reklamasi. Dua data dari Bulan Maret dan April 2011 merupakan data yang diambil dari air lereng reklamasi secara langsung tidak menggunakan ember. Tabel 5. Hasil Pemantauan TSS di Lereng Reklamasi

588

Tingginya konsentrasi TSS dipengaruhi juga oleh besarnya curah hujan pada saat pengambilan contoh. Di beberapa lokasi seperti TD05-1, 3, 4,dan 5 menunjukkan erosi minimum dan TSS memenuhi baku mutu 200 mg/l pada dua hari pengamatan tersebut. E. Kesimpulan dan Saran 1. Sumber utama air di saluran reklamasi Tongoloka adalah air yang berasal dari lereng reklamasi. Kualitas air yang berasal dari lereng reklamasi mempunyai pH rata-rata dan konsentrasi logam-logam terlarut memenuhi baku mutu air menurut KepMen LH 202/2004. Kualitas air saluran reklamasi dipengaruhi oleh air dari aktifitas dredging, air larian dari jalan inspeksi dan rembesan air asam tambang dari timbunan limbah batuan yang belum direklamasi yang melalui saluran tersebut. Jika pengaruh luar tersebut dihilangkan, maka pH maupun logam terlarut memenuhi batasan KepMen LH 202/2004. Total Padatan Tersuspensi masih terbawa oleh air larian dari lereng reklamasi dan terendapkan di saluran reklamasi yang nantinya bisa terbawa sampai ujung saluran yang masuk ke badan air ambien. Perancangan saluran diusulkan untuk mempertimbangkan hal ini. Perancangan saluran pengalih dari daerah reklamasi menuju badan air ambien perlu juga memperhitungkan pembuatan gate untuk pengukuran laju aliran dan penentuan lokasi titik penaatan dalam rangka perijinan, serta membuat saluran darurat atau bypass jika parameter pemantauan kemungkinan tidak dapat terpenuhi.

2.

3.

4.

F. PUSTAKA
Anungstri, R, 2006, “- Studi mengenai Sifat KimiaAir Run Off ke PIT”, Internal PTNNT Memo report. nd Forstner, U., Wittmann GTW, 1983,”Metal Pollution in the Aquatic Environment”, 2 edition, SpringerVerlag. Hem, J.D., 2005,”Study and Interpretation of the Chemical Characteristics of Natural Water”, University Press of The Pacific, Honolulu Hawai. Menteri Negara Lingkungan Hidup, 2004. ”Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup, Nomor 202 Tahun 2004 tentang KualitasAir Limbah Batuan dari Proses Penambangan Emas dan Tembaga”. Manahan, E.S, 2005, “Environmental Chemistry”, 8th edition, CRC Press. Bupati Kabupaten Sumbawa Barat (KSB), 2007,”Peraturan Bupati Sumbawa Barat tentang Penetapan Kelas dan PeruntukanAir pada SumberAir di Kabupaten Sumbawa Barat Nomor 20”.

Peraturan Pemerintah, 2001, “Pengelolaan Kualitas Air dan Pengendalian Pencemaran Air
PTNNT, 1996, “Rencana Pengelolaan Lingkungan dan Rencana Pemantauan Lingkungan, Pertambangan Tembaga – Emas Batu Hijau Dati II Sumbawa, Provinsi Nusa Tenggara Barat”. PTNNT, 2000, “Rencana Pengelolaan Lingkungan dan Rencana Pemantauan Lingkungan, Rencana Pengelolaan Limbah Batuan Batu Hijau, Provinsi Nusa Tenggara Barat”. PTNNT, 2010, “Rencana Pengelolaan Lingkungan (RKL) dan Rencana Pemantauan Lingkungan Tambahan (RPL), Kegiatan Perubahan Penambangan pada Pertambangan Tembaga – Emas Batu Hijau di Kabupaten Sumbawa Barat, Provinsi Nusa Tenggara Barat”.

39,1 30,4 7,1

3 3 3

ND ND ND

0,01 0,009 0,009

0,004 0,005 0,005

46,1 31,8 17,5

40,8 36,2 12,2

Keterangan: ND = Not Detected atau nilainya lebih kecil dari limit deteksi; (I) = Hasil analisis data Laboratorium Intertek ; (A) = Hasil analisis data laboratorium ALS

CRF = å(RE + RSH + RC + RLU + RLF + RT ) ...................................(1.1)

619

PROSIDING TPT XX PERHAPI 2011 APLIKASI PROPER PADA PENGELOLAAN LINGKUNGAN PERTAMBANGAN DI INDONESIA
Meinarni Thamrin , Aryanti Virtanti Anas , 1 Program Studi Teknik Pertambangan,Fakultas Teknik Jurusan Teknik Geologi Universitas Hasanuddin Jl. Perintis Kemerdekaan Km.10 Makassar 90245, Sulawesi Selatan Telp/ Fax : 0411-580202 E-mail: meinarni@unhas.ac.id dan virtanti@unhas.ac.id Abstract The company's performance appraisal program in environmental management or PROPER is one form of environmental policy instruments actually has been started since 1995 up to the present. The main purpose of PROPER to enhance the corporate compliance of environmental legislation in force through the dissemination of information submitted to the relevant stakeholders through public media, and give reputation incentives for companies that get good ratings and reputation disincentive for companies that get bad ratings. Since the commencement of this program is not only a more integrative control of water pollution, but also air pollution control, waste management of hazardous toxic materials, EIA requirements and some aspects of the supporters that were classified as beyond compliance. The assessment was conducted for all company activities that generate waste and are based on compliance with quality standards that must be met and regulatory management. This program is not voluntary but mandatory for all companies which have the following criteria, have a significant impact on the environment and also impact of pollution or environmental damage is very large, the companies that pollute and damage environment and or potentially polluting and damaging environment, the public companies that listed on the stock market, and export-oriented. All these criteria could not be separated from mining companies that operating in Indonesia until now. Keywords: PROPER, stakeholders, environmental legislation, beyond compliance, Ministry of Environment. Abstrak Program penilaian kinerja perusahaan dalam pengelolaan lingkungan hidup atau PROPER adalah salah satu bentuk instrumen kebijakan lingkungan yang sebenarnya telah dimulai sejak tahun 1995 dan berlaku sampai sekarang. Tujuan utama PROPER untuk meningkatkan penaatan perusahaan terhadap perundang-undangan lingkungan hidup yang berlaku, melalui penyebaran informasi yang disampaikan kepada stakeholder terkait ke media publik serta memberi insentif reputasi bagi perusahaan yang mendapat peringkat baik dan disinsentif bagi yang mendapat peringkat buruk. Sejak digulirkan program ini lebih integrative, tidak hanya pada pengendalian pencemaran air, namun juga pengendalian pencemaran udara, pengelolaan limbah B3, persyaratan AMDAL dan beberapa aspek pendukung yang digolongkan sebagai beyond compliance. Penilaian dilakukan pada semua perusahaan yang akibat kegiatannya menghasilkan
1 1

620

limbah dan didasarkan pada pemenuhan terhadap standar mutu yang harus dipenuhi serta peraturan pengelolaannya. Program ini tidak bersifat sukarela melainkan wajibbagi seluruh perusahaan yang memiliki kriteria sebagai berikut, menimbulkan dampak penting bagi lingkungan juga dampak pencemaran atau kerusakan lingkungan yang sangat besar, perusahaan yang mencemari dan merusak lingkungan dan atau berpotensi mencemari dan merusak lingkungan, perusahaan publik yang terdaftar pada pasar modal serta perusahaan yang berorientasi ekspor. Semua kriteria tersebut tidak terlepas dari perusahaan-perusahaan tambang yang telah beroperasi di Indonesia sampai saat ini. Kata kunci: PROPER, stakeholder, perundang-undangan lingkungan hidup, beyond compliance, KLH 1. PENDAHULUAN

Program Penilaian Peringkat Kinerja Perusahaan dalam Pengelolaan LingkunganHidup (PROPER) adalah salah satu instrumen kebijakan yang dikembangkan olehKementerian Negara Lingkungan Hidup untuk mendorong penaatan dan kepedulianperusahaan dalam pengelolaan lingkungan hidup. Mekanisme kerja instrumenPROPER adalah dengan penyebaran informasi tingkat kinerja penaatan perusahaankepada masyarakat dan stakeholder (public information disclosure), maka diharapkan masyarakat dan stakeholder dapat menyikapi kinerja pengelolaanlingkungan perusahaan peserta PROPER sesuai dengan kapasitasnya. Parastakeholder diharapkan memberikan apresiasi kepada perusahaan yang berkinerjabaik, dan mendorong perusahaan yang belum berkinerja baik untuk lebihmeningkatkan kinerja pengelolaan lingkungannya. Pelaksanaan PROPER merupakan upaya terpadu untuk melaksanakan kebijakan yang diamanatkan oleh Undang-undang No. 23 tahun 1997 tentang PengelolaanLingkungan Hidup yang telah direvisi menjadi Undang-Undang No.32 tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup. PROPER merupakan pengawasan pemerintahterhadap upayaperusahaan dalam melaksanakan ketentuan-ketentuan yang tercantum dalamperaturan perundang-undangan bidang lingkungan hidup yang berlaku. SekaligusPROPER merupakan perwujudan transparansi dan pelibatan masyarakatdalampengelolaan lingkungan. Dimana hasil pengawasan melalui PROPER ini disampaikansecara terbuka kepada masyarakat. Perlu diketahui bahwa PROPER bukanlah pengganti instrumen penaatan lingkunganlainnya, akan tetapi komplementer dari instrumen penaatan yang ada. PelaksanaanPROPER akan mendukung penerapan instrumen penegakan hukum lingkungan daninstrumen ekonomi lainnya. Pada awalnya pelaksanaan PROPER difokuskan pada penilaian peringkat kinerja penaatan perusahaan terhadap pengendalian pencemaran air dari perusahaan yang masuk dalam Program Kali Bersih (PROKASIH). Penilaian kinerja penaatan untuk media tunggal (pengendalian pencemaran air) ini relatif mudah dilakukan, waktu yang dibutuhkan lebih singkat, dan biaya yang dibutuhkan juga relatif lebih murah. Namun informasi kinerja penaatan perusahaan media tunggal yang disampaikan kepada masyarakat belum mencerminkan kinerja

621

pengelolaan lingkungan perusahaan secara keseluruhan. Hal ini terkadang membingungkan masyarakat. Perusahaan dapat dikategorikan peringkat Hijau atau Biru dalam PROPER PROKASIH, padahal perusahaan tersebut belum melakukan pengelolaan limbah bahan berbahaya dan beracun (B3) dan pengendalian pencemaran udara dengan baik.Karena kurang kondusifnya situasi di Tanah Air akibat krisis ekonomi dan politik dalam kurun waktu 1998 – 2001, pelaksanaan PROPER pernah terhenti. Guna memberikan gambaran kinerja penaatan perusahaan lebih menyeluruh, maka sejak tahun 2002 aspek penilaian kinerja penaatan dalam PROPER diperluas. Kinerja penaatan yang dinilai dalam PROPER mencakup: penaatan terhadap pengendalian pencemaran air, udara, pengelolaan limbah B3, dan penerapan AMDAL (Analisis Mengenai Dampak Lingkungan). Sedangkan penilaian untuk aspek upaya lebih dari taat, meliputi penerapan sistem manajemen lingkungan, pemanfaatan limbah dan konservasi sumber daya, dan pelaksanaan kegiatan pengembangan masyarakat (Commmunity Development). Penilaian ini dapat mengukur penerapan CSR (Corporate Social Responsibility). Sejak dikembangkan,PROPER yang asli milik Indonesia dan tidak di download dari program pengelolaan lingkungan dari negara manapun, telah diadopsi menjadi instrumen penaatan di berbagai negara seperti China,India, Filipina, dan Ghana, serta menjadi bahan pengkajian di berbagai perguruan tinggidan lembaga penelitian.Sebagai instrumen penaatan alternatif PROPER telah dipuji oleh berbagai pihak termasuk Bank Dunia, bahkan PROPER menjadi salah satu bahan studi kasus di Harvard Institute for International Development (HIID). Sejak dikembangkan di Indonesia mulai tahun 1995, PROPER telah menjadi contoh di berbagai negara di Asia, Amerika Latin dan Afrika sebagai instrumen penaatan alternatif. Pada tahun 1996, PROPER mendapatkan penghargaan Zero Emission Award dari United Nations University di Tokyo. Operasionalisasi PROPER dilakukan melalui penerbitan Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor: 127/MENLH/2002 tentang Program Penilaian Peringkat Kinerja Perusahaan dalam Pengelolaan Lingkungan (PROPER). Keputusan Menteri Negara LH, selanjutnya ini diperbaharui melalui penerbitan Keputusan Menteri Negara LH Nomor: 250 tahun 2004 tentang Perubahan atas Kepmen No. 127/2002 tentang Program Penilaian Peringkat Kinerja Perusahaan dalam Pengelolaan Lingkungan Hidup. Tujuan Pelaksanaan PROPER · Meningkatkan penaatan perusahaan terhadap pengelolaan lingkungan. · Meningkatkan komitmen para stakeholder dalam upaya pelestarianlingkungan · Meningkatkan kinerja pengelolaan lingkungan secara berkelanjutan · Meningkatkan kesadaran para pelaku usaha untuk menaati peraturan perundangundangan di bidang lingkungan hidup · Mendorong penerapan prinsip Reduce, Reuse, Recycle, dan Recovery (4R) dalam pengelolaan limbah. Sasaran Pelaksanaan PROPER · Menciptakan lingkungan hidup yang baik

622

· · ·

Mewujudkan pembangunan berkelanjutan Menciptakan ketahanan sumber daya alam Mewujudkan iklim dunia usaha yang kondusif dan ramah lingkungan, yangmengedepankan prinsip produksi bersih atau eco-efficiency

Manfaat PROPER Bagi Stakeholder · Waktu dan biaya yang dibutuhkan untuk mendorong penaatan perusahaan relatif lebih singkat dan murah dibandingkan instrumen penaatan lainnya, misalnya penegakan hukum lingkungan; dapat mendorong peran aktif para stakeholder dalam pengelolaan lingkungan; meningkatnya intensitas dan kualitas komunikasi antara para stakeholder; dan meningkatnya nilai tambah bagi perusahaan yang melakukan pengelolaan lingkungan lebih baik dari yang disyaratkan. Bagi pemerintah, PROPER dapat digunakan sebagai instrumen untuk mengukur kinerja pengelolaan lingkungan makro yang telah dilakukan di tingkat pusat maupun daerah. PROPER juga dapat menjadi pendorong untuk penerapan sistem basis data modern. Bagi perusahaan, pelaksanaan PROPER juga mendapatkan berbagai manfaat, seperti: perusahaan dapat menggunakan informasi peringkat PROPER sebagai benchmark untuk mengukur kinerja perusahaan. Sedangkan untuk perusahaan yang berperingkat Hijau atau Emas, PROPER dapat digunakan sebagai alat untuk mempromosikan perusahaan. PROPER dapat juga digunakan dalam mendorong perusahaan untuk melakukan upaya lebih dari taat (beyond compliance), seperti melaksanakan konservasi sumber daya alam atau eco-efficiency, comunity development dan sistem manajemen lingkungan. Para investor, konsultan, supplier, dan masyarakat, dapat menjadikan PROPER sebagai balai kliring untuk mengetahui kinerja penaatan perusahaan. PROPER dapat digunakan oleh investor untuk mengukur tingkat risiko investasi mereka. Konsultan dan supplier dapat memanfaatkan informasi kinerja penaatan perusahaan untuk melihat prospek peluang bisnis yang ada. Informasi PROPER dapat menunjukkan tingkat tanggung jawab perusahaan terhadap lingkungan bagi masyarakat di sekitar lokasi kegiatan perusahaan yang bergerak di sektor pertambangan maupun non pertambangan.

·

·

·

Tabel 1. Manfaat PROPER bagi stakeholder

623

INSTRUMEN KEBIJAKAN LINGKUNGAN Penilaian kinerja penaatan perusahaan dalam PROPER dilakukan berdasarkan ataskinerja perusahaan dalam memenuhi berbagai persyaratan ditetapkan dalam peraturanperundang-undangan yang berlaku dan kinerja perusahaan dalam pelaksanaan berbagaikegiatan yang terkait dengan kegiatan pengelolaan lingkungan yang belum menjadipersyaratan penaatan (beyond compliance).Pada saat ini, penilaian kinerja penaatan difokuskan kepada penilaian penaatanperusahaan dalam aspek pengendalian pencemaran air, pengendalian pencemaran udara,dan pengelolaan limbah B3 serta berbagai kewajiban lainnya yang terkait denganAMDAL. Untuk sektor pertambangan, belum dilakukan penilaian kinerja perusahaanterkait dengan upaya pengendalian kerusakan lingkungan, khususnya kerusakan lahan.Sedangan penilaian untuk aspek beyond compliance dilakukan terkait dengan penilaianterhadap upayaupaya yang telah dilakukan oleh perusahaan dalam penerapan SistemManajemen Lingkungan (SML), Konservasi dan Pemanfaatan Sumber daya, sertakegiatan Corporate Social Responsibilty (CSR) termasuk kegiatan CommunityDevelopment. Mengingat hasil penilaian peringkat PROPER ini akan dipublikasikan secara terbukakepada publik dan stakeholder lainnya, maka kinerja penaatan perusahaandikelompokkan ke dalam peringkat warna. Melalui pemeringkatan warna ini diharapkanmasyarakat dapat lebih mudah memahami kinerja penaatan masing-masing perusahaan.Sejauh ini dapat dikatakan bahwa PROPER merupakan sistem pemeringkatan yangpertama kali menggunakan peringkat warna. Peringkat kinerja penaatan perusahaan PROPER dikelompokkan dalam 5 (lima)peringkat warna dengan 7 (tujuh) kategori. Masing-masing peringkat warnamencerminkan kinerja perusahaan. Kinerja penaatan terbaik adalah peringkat emas, danhijau, selanjutnya biru, biru minus, merah, dan merah minus dan kinerja penaatanterburuk adalah peringkat hitam.

2.

624

Berdasarkan Peraturan Menteri Negara Lingkungan Hidup No. 7 Tahun 2008 TentangProgram Penilaian Peringkat Kinerja Perusahaan Dalam Pengelolaan Lingkungan Hidup,kriteria yang digunakan dalam pemeringkatan tersebut adalah sebagai berikut: Tabel 2.1 Kriteria Peringkat PROPER

Dasar Penilaian PROPER Penilaian PROPER mengacu kepada persyaratan penaatan lingkungan yang ditetapkan dalam peraturan pemerintah terkait dengan pengendalian pencemaran air, pengendalian pencemaran udara, pengelolaan limbah B3 danAMDAL. Penilaian PROPER mengacu kepada prinsip-prinsip akuntabiltas, berkeadilan, transparansi. Penilaian kinerja perusahaan dilakukan terhadap dua aspek yaitu: 1. Aspek penataan terhadap persyaratan penaatan yang berlaku Penilaian tingkat penaatan dilakukan berdasarkan pendekatan result oriented atau mengacu kepada hasil pencapaian tingkat penaatan perusahaan terhadap peraturan perundangan undangan yang berlaku untuk masing-masing media. 2. Aspek upaya lebih dari penaatan (beyond compliance) Penilaian dilakukan berdasarkan pada proses atau effort oriented. Kinerja perusahaan dilihat dari upaya-upaya yang telah dilakukan terhadap aspek konservasi sumber daya alam, peran sosial perusahaan dan sistem manajemen lingkungan.

625

Tingkat penaatan perusahaan dikategorikan “Taat” apabila memenuhi atau menaati seluruh persyaratan dan ketentuan yang diwajibkan dalam peraturan perundang-undangan yang berlaku.Beberapa peraturan perundangan-undangan yang menjadi acuan dalam penilaian kinerja penaatan dapat dilihat pada tabel berikut: Tabel.2.2 Acuan peraturan perundangan-undangan dalam penilaian PROPER

Sumber: KLH 2009

Sumber Data Penilaian Sumber data penilaian PROPER terutama berasal dari data swapantau yang dilakukan oleh perusahaan sesuai dengan peraturan yang berlaku. Tim teknis menilai berdasarkan data swapantau tersebut disertai pengecekan dokumen hasil uji laboratorium yang terakreditasi. Data swapantau tersebut akan diverifikasi oleh tim teknis sebagai fungsi check-recheck terhadap data swapantau perusahaan. Sistem Penilaian Untuk menjaga akuntabilitas penilaian PROPER, proses penilaian dilakukan secara bertingkat. Dimulai dari review oleh Tim Teknis PROPER KLH. Kemudian dilanjutkan dengan review tim teknis bersama dengan Pemerintah Provinsi dan Kabupaten/Kota untuk memberikan informasi terkini kinerja pengelolaan lingkungan hidup perusahaan di wilayahnya. Hasil pembahasan dengan pemda selanjutnya dievaluasi oleh pejabat eselon 1 KLH. Kemudian

626

dibahas lebih lanjut di tingkat Dewan Pertimbangan PROPER. Pada tingkat ini, dewan pertimbangan akan memberikan masukan dan jika diperlukan akan melakukan verifikasi lapangan untuk menentukan peringkat kinerja perusahaan dalam pengelolaan lingkungan hidup. Sistem Publikasi Untuk menjamin prinsip keadilan (fairness) dan transparansi (transparency) dalam pelaksanaan PROPER, pengumuman PROPER dilakukan dua tahap. Tahap pertama adalah pengumuman peringkat secara tertutup melalui surat pemberitahuan peringkat kepada masingmasing perusahaan. Perusahaan diberikan kesempatan untuk melakukan klarifikasi terhadap hasil peringkat dalam waktu tertentu. Setelah KLH menerima klarifikasi oleh perusahaan, selanjutnya Dewan Pertimbangan PROPER melakukan pembahasan terhadap tanggapan perusahaan.Dengan memperhatikan kemajuan pengelolaan lingkungan hidup yang telah dilakukan oleh perusahaan, Dewan Pertimbangan menetapkan usulan Peringkat Kinerja Penaatan masing-masing perusahaan. Selanjutnya usulan peringkat masing-masing perusahaan disampaikan kepada Menteri Negara Lingkungan Hidup untuk dilaporkan kepada Presiden Republik Indonesia dan selanjutnya dilakukan pengumuman peringkat kinerja masing-masing perusahaan secara terbuka kepada publik. 3. KINERJAPENAATAN PROPER SEKTOR PERTAMBANGAN Berdasarkan data terakhir yang disosialisasikan oleh Kementerian Lingkungan Hidup laporan PROPER 2009 dari Tim PROPER KLH, maka jumlah perusahaan yang menjadi peserta PROPER pada periode 2008-2009 mencapai 667 perusahaan, namun sebanyak 627 perusahaan yang dilakukan penilaian kinerja pengelolaan lingkungannya. Dari 667 peserta PROPER, terdapat 20 (dua puluh) perusahaan sedang dalam proses penegakan hukum, 13 (tiga belas) perusahaan tutup, dan delisting sebanyak 7(tujuh) perusahaan, sehingga tidak dilakukan penilaian peringkatnya. Berdasarkan sektor industri peserta PROPER 2008-2009 terbesar berasal dari sektor manufaktur yaitu 220 (dua ratus dua puluh) perusahaan atau 35.09%, kemudian diikuti oleh sektor Pertambangan, Energi dan Migas (PEM) sebanyak 183 (seratus delapan puluh tiga) perusahaan (29.19%), sektor agroindustri 209 (dua ratus sembilan) perusahaan 33.33%), dan Kawasan Industri dan Jasa Pengolahan Limbah sebanyak 15 (lima belas) perusahaan (2.39%). Distribusi jumlah peserta PROPER periode 2008-2009 berdasarkan jenis sektor industri adalah sebagai berikut: Tabel 3.1. Distribusi Peserta PROPER 2008-2009 (Berdasarkan Sektor Industri)

Sumber: PROPER KLH 2008-2009

627

Jumlah perusahaan dari sektor Pertambangan, Energi dan Migas yang dinilai kinerjaperingkat PROPER tahun 2008-2009 sebanyak 183 perusahaan. Tingkat kinerja penaatanperusahaan PROPER 2008-2009 dapat dilihat sebagaimana dalam gambar dibawah ini.

Gambar 2.1 Tingkat Penaatan untuk Sektor Pertambangan, Energi, Migas Pada periode penilaian ini terdapat 25 perusahaan (13,66%) mendapat peringkat Hijau, 55 perusahaan (30,05%) mendapat peringkat Biru 71 perusahaan (38,79%) mendapatperingkat Biru Minus , 19 perusahaan (10,38%) mendapat peringkat Merah, 11perusahaan (6,01%) mendapat peringkat Merah Minus, dan 2 perusahaan (1,09%)mendapat peringkat Hitam.Dari persentase tersebut dapat disimpulkan bahwa dari 183 perusahaan untuk sektorPertambangan, Energi dan Migas yang mengikuti PROPER, 151 perusahaan (82,51%)sudah taat dalam aspek penaatan pengendalian pencemaran air, udara dan pengelolaanlimbah Berbahaya dan Beracun, sedangkan sisanya yaitu 32 perusahaan (17,45%)dikategorikan belum taat. Tabel 3.2 Daftar Peringkat PROPER Sektor Pertambangan Mineral Dan Batubara 2008-2009

628

629

4.

PENUTUP Penilaian peringkat Hijau dan Emas dilakukan apabila kinerja perusahaan sudah taat atau sudah memenuhi seluruhpersyaratan-persyaratan yang wajib untuk masing-masing perusahaan sesuai dengan perizinan yang dimiliki danketentuan terkait lainnya untuk pelaksanaan AMDAL, Pengendalian Pencemaran Air, Pengendalian Emisi Udara, danPengelolaan Limbah B3 atau sudah mencapai peringkat Biru. Keterbatasan sumber daya yang ada dan tidak semua perusahaan baik yang bergerak di sektor pertambangan maupun non pertambangan akan efektif ditangani melalui instrumen penaatan PROPER, maka jumlah perusahaan yang diikutsertakan alamPROPER terbatas sesuai sumberdaya yang tersedia.

630

DAFTAR PUSTAKA 1. KLH.,2000, Buku Peraturan Perundang-Undangan Lingkungan Hidup, Jilid 1 &2, Penerbit Kementerian Lingkungan. 2. Tim Proper., 2004, Press Release PROPER 2002-2004, Penerbit Kementerian Negara Republik Indonesia. 3. Tim Proper., 2005, Press Release PROPER 2005, Penerbit Kementerien Negara Republik Indonesia. 4. KLH, 2006, Standard Operating Procedure PROPER, Kementerian Negara Republik Indonesia. 5. Tim Proper., 2007, Daftar PROPER Industri Pertambangan di Regional Sumatera, Jawa, Balinusra dan Sumapapua, Penerbit Kementerian Negara Republik Indonesia. 6. Tim Proper., 2009, Laporan PROPER Sektor Pertambangan Mineral dan Energi, Penerbit Kementerian Negara Republik Indonesia. 7. KLH., 2010, Agenda Hari Lingkungan Hidup, Penerbit Kementerian Negara Republik Indonesia.

631

PROSIDING TPT XX PERHAPI 2011

632

633

634

635

SG =

r mfo r air

® r mfo = SGxr air = 0.999 x 0.999.10 - 3

kg kg = 0.989.10 - 3 ms ms

C20 H42 + a(O2 + 3,76N2 ) ® b.CO2 + c.H2O + d.N2

C 20 H 42 = 30 ,5 (O 2 + 3,76 N 2 ) ® b.CO 2 + c.H 2 O + d . N 2

AF ( basismol ) = a.(1 + 3,76 ) = 30,5 .( 4,76 ) = 145,18

636

637

JenisBahanBakar IDO IDO IDO IDO IDO MFO MFO MFO MFO

Peralatan RD1 RK1 CFS1 CFS2 CFS3 RD 2 RK 2 RD 3 RK 3

Pemakaian Max 1357.8313 2761.80005 50.4399986 72.6299973 139.399994 873.556335 3153.79346 2401.17993 5884.06104

638

639

640

PROSIDING TPT XX PERHAPI 2011

t =

Z = V /v

(x

- m

)Sn
n

P (L < q <= 1 - a P (-t a X -m a < ) < t ) =1-a 2 2 S / n

X -t

a a S/ n < m < X +t S/ n 2 2

=

GayaPenahanKelongsoran GayaPenyebabKelongsoran

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->