P. 1
Pornografi makalah

Pornografi makalah

|Views: 2,508|Likes:

More info:

Published by: Vita Sweetkurkurnya DYa on Nov 11, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

07/19/2013

pdf

text

original

TUGAS TERSTRUKTUR MATA KULIAH Pornografi, Pornoaksi dan Kebebasan Berekspresi Dalam Seni

Disusun Oleh : Novita Putri Agusta

DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL UNIVERSITAS JENDRAL SOEDIRMAN FAKULTAS ISIP PURWOKERTO 2008

KATA PENGANTAR Penyusun panjatkan puji syukur kepada Allah SWT, yang telah memberi segala

Purwokerto. selaku dosen pengampu mata kuliah. 2. 26 Maret 2008 Penyusun. serta hidayah dan petunjuk-Nya kepada penulis. rahmat. Selesainya penyusunan makalah ini tidak lepas dari bantuan dari berbagai pihak. Penulis menyadari bahwa dalam penulisan makalah ini masih banyak kekurangan baik materi maupun penyajianya. yang telah membantu menyusun makalah ini. 3. penulis mengucapkan terima kasih yang sebesar besarnya dan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada : 1. DAFTAR ISI Halaman Judul . Orang tua yang sudah memberi dorongan secara materi maupun moral. Bapak. Oleh karena itu penulis sangat menghargai kritik dan saran yang membangun.kemurahan. Sehingga penyusunan makalah ini berjalan dengan lancar hingga selesai. Serta berbagai pihak yang tidak dapat saya sebutkan satu per satu.

i Daftar Isi…………………………………………………………………………..... Tinjauan Pustaka A. Hipotesis……………………………………………………………………..……..Kata Pengantar…………………………………………………………………. ii BAB I......... Tujuan……………………………………………………………………. Penutup 1. 17 2.. Tinjauan Pustaka……………………………………………………………. Pembahasan BAB IV... Saran………………………………………………………………… 18 Daftar Pustaka……………………………………………………………….. Pendahuluan A.. 1 B.. 1 BAB II. 19 BAB I PENDAHULUAN ... 2 BAB III. Kesimpulan…………………………………………………………..

Oleh karena itu makalah ini dibuat untuk menanggapi RUU anti pornografi dan pornoaksi dikalangang masyarakat dan remaja Indonesia. TUJUAN Peerkembangan zaman dan teknologi. B. HIPOTESIS Tanggapan tentang RUU pornografi dan pornaksi 2. Di satu sisi sebagian masyarakat (dalam lapisan golongan tertentu) masih setia atau setidaknya memelihara norma-norma yang membingkai perilaku.dikalangan masyarakat Indonesia. Sensor Film (BSF) secara benar dan proporsional. Pornografi. masyarakat dalam lapisan yang lain terus berada dalam situasi dan kondisi yang semakin permisif. memebuat pornografi dan pornoaksi semakin merambah pesat. atau kesopanan. Pornoaksi dan Kebebasan Berekspresi Dalam Seni (Tanggapan terhadap RUU Anti Pornografi dan Pornoaksi) . 1. tata krama. sementara di sisi lain.A.

(1) penggambaran tingkah laku secara erotis dengan lukisan atau tulisan untuk membangkitkan nafsu birahi. dan kadang-kadang sangat menantang. video tapes.). dan telefon. tabloid.Persoalan yang selalu muncul dan senantiasa menyimpan ‘passion’ dalam kehidupan masyarakat adalah ikhwal pornografi. yang memanjakan siapa pun untuk mengakses apa pun. kini masyarakat menuai keresahan. pornoaksi. Dengan demikian. Secara etimologi. masyarakat dalam lapisan yang lain terus berada dalam situasi dan kondisi yang semakin permisif. televisi. kebebasan berekspresi. pada dua kutub itu pastilah pula terjadi benturan. Kini seiiring dengan pesatnya laju perkembangan teknologi--media-massa--komunikasi. 1991: 782). Semula pornografi hanya berbentuk tulisan. apabila muncul pemikiran dan sejumlah aksi untuk melihat kembali secara kritis tentang pornografi. memasuki ruang-ruang privat setiap orang dalam segala usia. dan tulisan itu kebanyakan berbentuk fiksi (cerita rekaan) yang materinya diambil dari fantasi seksual. pornografi artinya. seperti disinggung di atas. Namun kini. Pergeseran norma pastilah terjadi.). tata krama. pornografi berarti suatu tulisan yang berkaitan dengan masalahmasalah pelacuran. dsb. maka dapat dimengerti. hadir dalam bentuknya yang beragam meliputi seluruh media. akibat-akibat yang ditimbulkannya. foto. bahkan sering dengan cara berkepanjangan. Ia—pornografi—mudah sekali (dan memang potensial) menjadi tertuduh. atau kesopanan. (2) bahan bacaan yang dengan sengaja dan semata-mata dirancang untuk membangkitkan nafsu birahi dalam seks (KBBI. baik cetak berupa gambar. Media informasi dalam segala bentuknya. tetapi memiliki uraian yang terperinci mengenai aktivitas seksual. dan bagaimana menanggulanginya. maupun media elektronik berupa film sinema. majalah. berkaitan dengan berbagai kejahatan dan kekerasan. Di satu sisi sebagian masyarakat (dalam lapisan golongan tertentu) masih setia atau setidaknya memelihara normanorma yang membingkai perilaku. dsb. Karena itu. Perkembangan selanjutnya. media elektronik (radio. iklan. Pornografi biasanya tidak memiliki plot dan karákter. tanpa mengenal batas dan hambatan. media cetak (koran. termasuk tulisan. Jika kita tengok dalam kamus. sementara di sisi lain. yaitu ‘membangkitkan . Terdapat dua kata kunci pada penjelasan (kamus) di atas. dan dari mana pun.

dan yang paling penting terdapat pada subject matter (masalah dan ruang lingkupnya). Pada pornografi perangkat keras. Law Worker dan seorang IKADIN Yogyakarta dalam ‘Tropong Hukum’ bahwa “selama ini soal pornografi maupun yang disebut sebagai pornoaksi penindakannya selalu dikaitkan dengan Bab XIV KUHP tentang Kejahatan . harus dipertanyakan misalnya. jika laki-laki yang ditampilkan biasanya tidak menunjukkan organ intinya. sudah pasti melanggar rambu-rambu hukum. Tentu saja hal ini akan terkait pula dengan persoalan pengertian secara definitif. Cabul memiliki konotasi yang sangat negatif. terdapat persoalan dalam presentasi teks—tulisan maupun visual/audio visual—yang harus dilihat secara kritis dalam konteks pornografi. disamping melanggar kesusilaan dan kesopanan. tidak senonoh (melanggar kesopanan. Percabulan. kesusilaan). Pornografi pada akhirnya memiliki kaitan erat dengan percabulan dan erotisme. dan kebebasan berekspresi seni. kini dapat dilihat terdapat dua jenis pornografi yaitu “pornografi perangkat keras” (hard core) dan “pornografi perangkat lunak” (soft core). dan sebagainya.H. iklan. Pengertian dalam kamus bahkan sangat tegas. video.nafsu berahi’ dan ‘semata-mata dirancang untuk membangkitkan nafsu berahi dalam seks’. Berkaitan dengan media dan bentuk mediasi seperti itu. dan sudah pasti tidak dapat diterima oleh masyarakat. Artinya. atau Eropa. antara lain sex shop. seperti apa dan bagaimana batas-batas tentang pornografi dan kekerasan. sektor hukum semestinya segera menunjukkan kekuatannya secara efektif.. seperti yang terdapat di Amerika Serikat. sering terdapat teks yang berhubungan secara terperinci dengan gambar atau foto yang disajikan. dan berekspresi dalam seni. telefon. Pornografi perangkat lunak tidak memasukkan masalah-masalah kekerasan (kejahatan). Dalam kaitan inilah. yaitu keji dan kotor. Provokasinya atau tepatnya mediasinya diupayakan dengan berbagai cara dan strategi yang bermacam-macam. Artinya. pornografi pada intinya terdiri dari kombinasi persentuhan seksual dengan tujuan utama adalah untuk membangkitkan gairah seksual. Seperti dilansir oleh Heriadi Willy S. mencitrakan kekerasan dan kejahatan. Perbedaan dari keduanya hanya terdapat pada penggunaan materi. Apa pun jenis dan bentuknya. kekerasan. seiring dengan bergesernya norma-norma dalam masyarakat.

Karya-karya seni rupa memiliki sejarah yang panjang dalam kaitan perdebatan antara mana yang “seni” dan mana yang “porno” dan sudah pasti terus menerus dalam bingkai pengertian yang bergeser. novel) karya para penulis perempuan seperti Rieke Diah Pitaloka. 24 Mei 2003).” (1e) barang siapa sengaja merusak kesopanan di muka umum. 298. 289. perlu diauraikan secara jelas apa yang dimaksud dengan istilah-istilah tersebut. Tampak dalam uraian itu apa yang disebut sebagai “kesopanan” yang terkait pula dengan moralitas serta norma-norma dalam suatu masyarakat. 532) (Ibid). dengan mengatasnamakan sebagai “seni. Karena itu. yaitu “erotika/erotisme”—berkenaan dengan kebirahian. atau Djenar Maesa Ayu. dalam pasal 281 KUHP disebutkan “Dihukum penjara selama-lamanya dua tahun delapan bulan atau denda sebanyak-banyak Rp. Perdebatan yang tak kunjung selesai itulah rupanya yang dijadikan kesempatan ‘perlindungan’ para produsen hiburan yang bernuansa pornografi/seks dan kekerasan. Kejelasan sebuah terminologi. Terdapat istilah lain yang ‘rawan’ dari pengertian dan pemahaman yang keliru.” Persoalan seperti itu memancing pertanyaan. dan argumentasi mereka ketika . 4.500. akan menghindarkan dan penyalahgunaan atau penyimpangan dalam pemahaman dan penerapannya. Nukila Amal. dan tidak memiliki elemen-elemen seni yang artistik dan estetik (ingat misalnya kasus perempuan model untuk sampul majalah yang diajukan di pengadilan. seperti dikatakan oleh Heriadi Willy. cerita pendek. Ayu Utami. mengungkapkan ikhwal seksualitas secara terbuka. agar terdapat rambu-rambu yang jelas untuk mengetahui kebenaran formal dan material.Terhadap Kesopanan” (Kedaulatan Rakyat. Tentu saja karyakarya mereka menarik untuk dilihat dan didiskusikan secara kritis. adakah pornografi yang bersifat seni? Terdapat pendapat yang mengatakan bahwa pornografi bukalah seni. (2e) barang siapa sengaja merusak kesopanan di muka orang lain yang hadir tidak dengan kemauannya sendiri (KUHP 37. Karya-karya sastra (puisi. Dijelaskan lebih lanjut. jika terdapat Undang-undang khusus tentang Pornografi dan Pornoaksi. berkaitan dengan topik kita kali ini. misalnya.

maka pengertian dan pemahaman tentang pornografi. Masih berkaitan dengan seni relief. kurang lebih 30 Km dari kota Solo. sebagai metáfora tentang kesuburan. tentu memiliki pengertiannya sendiri. “foto-foto saya adalah karya seni” kata mereka). Candi agama Siwa yang dibangun pada tahun 1437-1438 itu memamerkan relief penis (lingga) yang berhadapan dengan vagina (yoni). Penggambaran erotisme dalam seni lukis Bali malah lebih dasyat dibandingkan dengan seni lainnya. Di Jawa. diapit oleh dua ekor lembu. erótika. Pada bentuk atau ekspresi kesenian lainnya. kekerasan. Patung telanjang bulat itu menampakkan kelaminnya lembut mengarah pada sebuah lobang yang terletak diantara kedua kaki patung itu. sebuah patung Datonta yang disebut Ratu Pancering Jagat terdapat di desa Trunyan.’ Di istana Klungkung ditemukan sebuah relief batu padas yang menggambarkan seorang laki-laki sedang diikat pada sebatang pohon menunjukkan alat vitalnya tengah ereksi ketika menyaksikan dua orang wanita sedang telanjang bulat di depannya. Boyolali terdapat rief-relief pria dan wanita dalam posisi bersenggama. Seorang pelukis tua Dewa Putu Mokoh dari Pengosekan Ubud senantiasa menggali dan memaknai ketelanjangan dengan estétika seni rupa tradisi lokal. Agar jernih dalam mematok terminologi dan pengertian. adalah bagian dari ‘magi produktif’ merupakan konsep ‘lingga-yoni’ (dalam ideologi Ciwaistik). Diperkirakan relief Candi Ngampel dan Candi Sukuh dibangun pada masa yang sama.menjawab tuntutan/tuduhan masyarakat. Bahkan . Di bagian lain dari candi itu ada patung pria yang memegang penisnya dalam keadaan ereksi. Kintamani merupakan peninggalan megalitik terbesar di Bali dengan tinggi patung sekitar 4 meter. Dalam seni rupa Bali. Tematema erotik dalam seni lukis tradisional Bali mislanya. sebuah panil dari kayu juga dijumpai di sebuah pura di Bali yang menggambarkan seorang laki-laki sedang tersangkut di atas pohon kayu. Lagi-lagi wujud ini adalah manifestasi idiologi ‘lingga-yoni. Di Kecamatan Ngampel. dan sejenisnya dapat dilihat secara kontekstual dari perspektif (pandangan) budaya (masyarakat) yang melatarbelakangi. kainnya lepas dan alat kelaminnya tampak panjang dan besar. adegan porno sudah ada di Candi Sukuh.

memperlihatkan dan melakukan pada . Dari 6 (enam) jenis Pajogedan (Joged Pingitan. Maksudnya suatu produk lukisan telanjang itu dikatagorikan porno atau tidak. Joged Bumbung berbeda dengan tari cabaret dan striptease yang berbicara erótika secara fisikal dan vulgar.) seksualitas adalah penting bagi kehidupan manusia. Gandrung. Tari ini merupakan tari pergaulan dengan konsep arena terbukanya memberi peluang pada pengibing laki-laki untuk menari secara intim dan menantang. dan seksulitas mereka bergantung pada artha dan dharma. Gudegan) dalam seni pertunjukan Bali terdapat salah satu diantaranya yang paling erotis disebut Joged Bumbung. Penari Joged Bumbung yang baik. yaitu dari gemulai goyang pinggul. dimana wujud kelamin manusia selalu hadir dalam kanvas-kanvasnya. 2001). Adar. Persoalan kesenian adalah keindahan. Ada persoalan penghayatan gerak erotik yang lebih sublim yang mesti ditampilkan. hingga kelincahannya dalam menghindari serbuan para pengibingnya. tak bisa diukur dengan kriterium-kriterium kesenian. Karena sifatnya sebagai tari pergaulan berkonsekuensi logis pada sifat-sifat ritme dan geraknya. tergantung siapa yang memandang dan dari latarbelakang agama serta sosial budayanya (Cholis. makna seks atau seksualitas bukanlah sesuatu yang kotor. Leko. Menurut Hindu (Kama Sutra 1. Namun demikian. termasuk pula ketegangan psikologisnya sebagai perempuan yang meninggal terserang kanker pada rahimnya (Kun Adnyana. Karena menyangkut masalah etika. Membicarakan. Menurut Hindu.37. Special Gallery. Sedangkan pornografi lebih menjadi persoalan etika. jahat atau hina. Balipost 2005). seperti halnya makanan perlu untuk kesehatan badan. Sesungguhnya seni bukan alasan yang pas untuk mengesahkan kehadiran pornografi. dalam pengertian mampu menguasai varian gerak tari erotik yang menawan memang tak akan pernah terhenti dalam penampilannya pada titik gerak visual yang seronok dan vulgar.muridnya yang bernama Gusti Ketut Murniasih (kini almarhum) malah menghadirkan teror visual. Gusti Ketut Murniasih yang sempat belajar dari Dewa Putu Mokoh itu seakan-akan meluapkan eskpresi bawah sadarnya. maka persoalannya juga menjadi relatif.

serta duduk di tempat tidur dengannya adalah perbuatan yang (hukumannya) harus dianggap sama dengan berzina” (Manawa Dharma Sastra VIII. Secara tradisional Bali telah memiliki proses penciptaan seni yang terkait dengan siwam (kesucian). kala. memperhalus kepribadian dan rasa termasuk welas asih. jelas menganggap seksualitas itu tidak boleh. dan patra) yang tepat adalah “sah. Namun . persoalan itu mengalir secara dialektis. Dalam Ikonogtafi Hindu penggambaran alat kelamin (phalus atau lingga) dan alat kelamin wanita (yoni) dalam seni rupa adalah melambangkan api atau kekuasaan dan bumi. Di kalangan masyarakat perkotaan atau masyarakat pasca modernis yang pluralistik.” papar pengamat seni rupa kawakan Jim Supangkat. bercanda cabul dengannya. Dan ada kalanya bisa menimbulkan pro dan kontra. baik budaya. “Memberikan sesuatu yang merangsang wanita lain.12). untuk memupuk rasa percaya diri. “Penganut agama yang puritan misalnya. keberanian. Pada saat lalu lintas nilai kebudayaan berseliweran dan berhamburan ke arah pluralisasi. yang apabila kedua unsur itu bersatu akan menghasilkan kekuatan atau energi. satyam (kebenaran) dan sundaram (estétika). Pilihan apa pun juga akan turut memperlebar terbukanya berbagai peluang untuk muncul dan hidup. memegang busana dan hiasannya. Penciptaan dalam bidang seni mengandung pengertian yang terpadu antara kreativitas. dan situasi serta kondisi (desa. Setiap pilihan tentu juga akan membawa reksiko (implikasi). etis maupun moral yang berbeda pula. karena hal itu akan merusak mental dari orang yang melihatnya” (Kama Sutra III. Pendeknya. pilihan apa pun bukan lagi sesuatu yang mustahil terjadi. “Hendaknya bagian yang sensitif dari tubuh ini jangan diperlihatkan. Hindu memiliki konsep yang sangat jelas ketika memaknai pornografi dan pornoaksi. Penciptaan seni terjadi oleh adanya proses cipta. karsa dan rasa. Dalam Manawa Dharmasastra setidaknya ada 4 ayat suci dan dalam Kama Sutra terdapat 3 ayat suci yang berkaitan dengan pornografi dan pornoaksi.” Seks penting untuk mencapai totalitas atau kesempurnaan. penemuan dan inovási yang dipengaruhi oleh rasa.tempat. waktu. semuanya terpulang pada pilihan individu masing-masing.357).

melalui sebuah Seminar Pornografi dan Pornoaksi Menurut Hindu yang . etika. dibutuhkan pendidikan etika dan tata krama yang tegas dan secara terus menerus. Dalam kaitan dengan pornografi. satyam dan sundaram. Penerbitan atau tayangan pornografi. atau penampilan seni erotis dalam ruang publik terbuka. semiloka ini memiliki urgensinya. Kesimpulan itu membuktikan bahwa motivasi terkuat bagi seniman untuk menciptakan kesenian Bali adalah agama Hindu Dharma. dan estétika. Tentang rencana DPR dan Pemerintah untuk mengesahkan RUU Pornografi dan Pornoaksi. kekerasan. Penelitian kami pada tahun 1992. yaitu seni wali. Maka semiloka ini tidak hanya penting dalam hal merumuskan “pengertian” maupun “batasan-batasan” berkaitan dengan pornografi dan pornoaksi. ternyata menunjukkan bahwa 70% kesenian Bali bersifat wali dan bebali (bersifat sakral dan seremonial). lahirlah kesenian Bali dalam tiga katagori. Akan tetapi. bebali. Namun demikian. Penelitian itu telah menganalises sebanyak 5612 kelompok seni pertunjukan yang kini hidup di Bali. kebenaran. terutama bagi anakanak dan remaja. dan hanya 30% bersifat balih-balihan atau sekuler. Hal ini perlu didukung oleh pendidikan seni yang unggul agar mampu melahirkan para pencipta yang dapat memadukan kesucian. logika dan daya nalar mengimbangi rasa dari waktu ke waktu dalam kadar yang cukup tinggi. Rasa muncul karena dorongan kehendak naluri yang disebut karsa. apa pun alasannya lebih mengakibatkan dampak yang buruk. Atau dengan perkataan lain bahwa kesenian Bali diciptakan lewat logika. untuk menghindari pelarangan-pelarangan terhadap pementasan seni sakral di ruang publik yang dianggap tidak tepat. yang paling penting adalah merumuskan bagaimana solusi penanggulangannya . penertiban media sesuai Undang-Undang Pers. Karsa dapat bersifat individu atau kolektif tergantung dari lingkungan serta budaya masyarakat. pornoaksi. Berdasarkan ideologi siwam. pornoaksi. mengoptimalkan lembaga sensor seperti Badan Sensor Film (BSF) secara benar dan proporsional. adanya political will dari pemerintah dan penegak hukum. dan kebebasan berekspresi. dan estetika berdasarkan kebudayaan Bali yang dijiwai oleh agama Hindu Dharma. dan sejenisnya. dan balih-balihan.Tentu saja sebelum merumuskan “pengertian maupun “solusi” hal-hal yang berkaitan dengan latar belakang budaya masyarakat tertentu.demikian.

kesehatan dan pendidikan masih menyisakan banyak masalah yang perlu mendapat perhatian lebih banyak dan lebih serius. baik nama lembaga atau badan yang kurang mencerminkan . Kesimpulan Atas dasar tersebut di atas. Menciptakan BAPPN (Badan Anti Pornografi dan Pornoaksi Nasional) sama dengan membangun kekuasaan ekstra terrestrial dengan memanfaatkan kekuasaan Presiden. Bahkan dalam RUU KUHP yang disusun oleh Pemerintah terdapat 12 (dua belas) pasal yang mengatur tentang Pornografi dan Pornoaksi. forum mengusulkan RUU Anti Pornografi dan Pornoaksi harus dikritisi lebih cermat. karena pasal-pasal KUHP masih relevan. RUU Anti Pornografi dan Pornoaksi banyak mengandung potensi disintegrasi karena bisa memunculkan polemik nasional khususnya menyangkut nilai-nilai sosial dan budaya. RUU Anti Pornogragfi dan Pornoaksi tidak mencerminkan semangat reformasi dan demokratisasi malah sebaliknya lebih bersifat represif. Yang perlu ditingkatkan adalah low enforcement-nya. pengangguran. RUU Anti Pornografi dan Pornoaksi kurang relevan untuk dibahas pada masa-masa dimana masalah kemiskinan.berlangsung tanggal 11 Desember 2005 di Gedung Sapta Pesona Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata Jakarta (Penulis membacakan Makalah Kunci) dapat menghasilkan kesimpulan antara lain sebagai berikut: RUU Anti Pornografi dan Pornoaksi memiliki urgensi yang lemah.

. rumusan/batasan tentang kewajiban warga masyarakat dalam menanggapi/menilai Pornografi dan Pornoaksi.demokrasi. Demikian pokok-pokok fikiran ini saya sampaikan semoga dapat menjadi bahan kajian dalam Semiloka Pornografi dan Pornoaksi selanjutnya. limitasi kriteria Pornografi dan Pornoaksi dalam masyarakat multikultural Indonesia. maupun sangsi hukum yang tidak memenuhi rasa keadilan bahkan tidak mencerminkan kesetaraan gender.

2002. 1995. I Made. 2001. Surabaya: Paramita.” Denpasar: Balipost. Veda: Sabda Suci. Otto CR. Kaja and Kelod Balinese Dance in Transition. Creese. I Wayan. 1997. K. Willy. 2005. Helen and Laura Bellows. 1999. Desember 2005. Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI). “Antara Seni Cita Rasa Ketelanjangan. Murti. Anarkhisme. Titib. Heriadi. Kun Adnyana. Jojakarta: Bentang Budaya. Suwarno. . Wisetrotomo. ”Seni Erotik di Ruang Publik. 1996. ST. Kamasutra. 1998).” Jakarta: STAH Dharma Nusantara.Daftar Pustaka Bandem. dan Kemanusiaan. 19 November 2005. Cholis. Virgina: University of Virginia. Lila dan I Nengah Dana.” Yogyakarta: ISI Yogyamarta. Depdikbud. “Seni. Seks Para Pangeran.L. I Made. “Rumusan Hasil Seminar Pornografi dan Pornoaksi Menurut Hindu. Maswinara.: Oxford University Press. 24 Mei 2003. Sukatno. Surabaya: Paramita. “Tropong Hukum” Yogyakarta: Kedaulatan Rakyat. Erotic Literature in Nineteenth Century Bali.” Special Gallery.

Yogyakarta. Imam Bonjol Denpasar. 11 Februari 2006. 10 Februari 2006 I Made Bandem Makalah ini dipresentasikan pada Semiloka Pornografi dan Pornoaksi yang diselenggarakan oleh Yayasan Sandhi Murti. .

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->