P. 1
MANAJEMEN PEMBERDAYAAN PENDIDIK DAN TENAGA KEPENDIDIKAN

MANAJEMEN PEMBERDAYAAN PENDIDIK DAN TENAGA KEPENDIDIKAN

|Views: 7,221|Likes:
Published by Khairul Iksan
MANAJEMEN PEMBERDAYAAN PENDIDIK DAN TENAGA KEPENDIDIKAN
MANAJEMEN PEMBERDAYAAN PENDIDIK DAN TENAGA KEPENDIDIKAN

More info:

Published by: Khairul Iksan on Nov 11, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

10/26/2015

pdf

text

original

MUTASI

Keinginan
Tenaga
pendidik dan
kependidikan

Kebijakan
Manajemen

Mutasi Jangka
Panjang

Mutasi Jangka
Pendek

Mutasi Jangka
Panjang

Mutasi Jangka
Pendek

Kepuasan
Kerja Tenaga
pendidik dan
kependidikan

149

5. Sistem Mutasi dan Perubahan Angkatan Kerja

Permasalahan utama dalam mendesain sistem mutasi ialah

perubahan mendasar pada angkatan kerja. Seperti telah ditekankan

bahwa sasaran utama sistem mutasi adalah mempengaruhi perilaku

individu. Sistem mutasi harus dicocokkan dengan sifat para individu

yang bertugas dalam sekolah. Hal ini dapat dikatakan baik tentang

sistem mutasi yang merupakan sanksi maupun tentang mutasi

berdasarkan imbalan. Tugas mencocokkan sistem mutasi dengan

karakteristik angkatan kerja menjadi semakin kompleks disebabkan

oleh beberapa perubahan jangka panjang yang sedang terjadi pada

diri angkatan kerja. Tinjauan ringkas tentang perubahan yang terjadi

meliputi tingkat pendidikan di Indonesia meningkat, pengetahuan

orang semakin luas, angkatan kerja menjadi lebih heterogen,

kesadaran hak bertambah, struktur keluarga mengalami perubahan,

penerimaan orang terhadap kekuasaan primitif berkurang, serta peran

waktu luang berubah.

a. Tingkat Pendidikan di Indonesia Meningkat

Semakin banyak orang yang melanjutkan studi di perguruan tinggi

dan mendapatkan gelar sarjana dianggap sebagai salah satu cara

untuk menaikkan status dalam masyarakat. Pendidikan yang sering

diobral dapat menunjang harapan terhadap perubahan kerja

mempengaruhi manajemen dalam mengambil keputusan berdasarkan

kekuasaan tradisional.

b. Pengetahuan Orang Semakin Luas

Popularitas televisi dan alat-alat media massa lainnya telah

menambah pengetahuan dalam masyarakat kita mengenai

150

permasalahan diskriminasi, keadilan sosial, dan mobilitas ke atas.

Akibatnya, tidak sedikit tenaga pendidik dan kependidikan

memgembangkan gambaran yang lebih jelas mengenai cara bertugas

sistem pengharkatan dalam masyarakat. Pengetahuan ini secara

potensial menimbulkan lebih banyak tantangan terhadap cara

mendistribusikan kualifikasi tenaga pendidik dan kependidikan yang

tepat. Problem seperti bagaimana seharusnya keluaran kerja

dievaluasi dan berapa tarif yang layak untuk tingkat manajemen

hierarkis yang lebih tinggi sudah didiskusikan secara bebas.

Kecenderungan menunjukkan bahwa tenaga pendidik dan

kependidikan kurang menyadari bahwa dengan bertugas mereka

akan memperoleh mutasi pada posisi yang layak ketimbang

kemampuan sebelumnya. Konsepsi proses mutasi yang sama buat

dua tenaga pendidik dan kependidikan atau lebih yang sama semakin

mendapat tantangan di lingkungan organsiasi. Konsepsi proses

mutasi yang sama untuk tenaga pendidik dan kependidikan yang

sama dianggap sebagai satu alternatif yang adil bagi tenaga pendidik

dan kependidikan, baik atas dasar reward maupun sanksi terhadap

tindakan yang pernah sama-sama mereka lakukan pada waktu

sebelumnya.

c. Angkatan Kerja menjadi Lebih Heterogen

Dalam skala besar jumlah kekuatan telah menyatu dalam

menambah karakteristik heterogen dari angkatan kerja. Perundang-

undangan di bidang kesamaan hak atas kesempatan kerja dan

diskriminasi umur telah menyebabkan kaum minoritas dan wanita

lebih banyak bertugas di perusahaan. Di masa mendatang,

tampaknya pabrik-pabrik/perusahaan akan memtenaga pendidik dan

151

kependidikankan lebih banyak orang dewasa ketimbang anak-anak.

Bertambahnya kehadiran kaum wanita, anggota-amggota kelompok

minoritas, dan orang-orang berumur dalam perusahaan berarti bahwa

nilai-nilai, gaya hidup, dan keadaan keluarga para anggota

perusahaan lebih heterogen. Akibatnya, kesukaan mereka terhadap

mutasi bersifat heterogen pula.

d. Kesadaran hak Bertambah

Sejumlah kekuatan tampaknya telah menyatu dan menjadikan

tenaga pendidik dan kependidikan perorangan semakin sadar akan

haknya atas proses keputusan yang seimbang di bidang-bidang yang

penting seperti kompensasi, promosi, dan pemberhentian. Kekauatan-

kekuatan yang dapat dikenal di sini meliputi pedoman normatif yang

bersifat diskriminatif, tingkat pendidikan yang lebih tinggi, dan

tersedianya ahli hukum untuk menuntut perkara. Dampak yang ada

adalah para tenaga pendidik dan kependidikan semakin menunjukkan

kemampuan mereka untuk menentang keputusan perusahaan yang

mempengaruhi mereka di bidang-bidang penting.

e. Struktur Keluarga Mengalami Perubahan

Kenyataan menunjukkan bahwa semakin banyak wanita bertugas,

makin banyak individu yang menunda perkawinan dan kehamilan

sampai umur yang lebih tua, sehingga struktur keluarga berubah. Hal

ini berimplikasi terhadap kebutuhan dan keinginan yang didambakan

setiap individu. Ini berarti, golongan umur yang biasanya merasakan

kebutuhan akan keamanan, sekarang tidak lagi demikian. Dalam hal

lain berarti pendapatan dua orang menjadi pendapata satu keluarga

dan ini meningkatkan daya beli. Di samping itu, mobilitas geografis

152

dalam keluarga juga mengakibatkan struktur keluarga berubah.

Akibatnya, banyak praktek perusahaan yang tadinya dikembangkan

untuk struktur keluarga primitif saat ini menjadi kurang tepat.

f. Penerimaan Orang Terhadap Kekuasaan Primitif Berkurang

Makin banyak bukti bahwa di lembaga seseorang makin kurang

bersedia menerima keputusan, meskipun keputusan tersebut berasal

dari seseorang yang berkedudukan lebih tinggi dalam organsiasi.

Mungkin mereka mempertanyakan mengapa perintah tersebut

dikeluarkan. Mereka hanya menerima keputusan apabila didasarkan

pada pertimbangan yang rasional, objektif, dan ilmiah.

g. Peran Waktu Luang Berubah.

Waktu luang yang banyak adalah hal yang berguna bagi individu.

Suatu kombinasi dari kerja yang pendek, imbalan yang lebih tinggi,

pengembangan industri, dan waktu luang akan menghasilkan tenaga

pendidik dan kependidikanan yang memuaskan dan terjangkau.

Dampaknya adalah perusahaan menemukan tambahan pesaing

ketika mencoba menarik para tenaga pendidik dan kependidikan,

mendorong mereka bertugas, serta melibatkan dirinya dalam tenaga

pendidik dan kependidikanan.

6. Faktor Dasar Mutasi

Dalam mengadakan program mutasi, tenaga pendidik dan

kependidikan harus mempertimbangkan faktor-faktor yang dipandang

objektif dan rasional, antara lain karena kebijakan dan peraturan

pimpinan/Kepsek, prinsip the right man on the right job, untuk

meningkatkan moral kerja, sebagai media kompetisi yang rasional,

untuk promosi, mengurangi labour turnover, dan harus terkoordinasi.

153

(1) Mutasi Disebabkan Kebijakan dan Peraturan Pimpinan

Pelaksanaan mutasi tenaga pendidik dan kependidikan

berdasarkan perencanaan sebelumnya oleh sekolah menurut

kebijakan dan peraturan yang telah ditetapkan pimpinan. Mutasi

dilaksanakan secara kontinu dan berdasarkan pedoman yang berlaku.

Dasar kebijakan dan peraturan tersebut umumnya dilaksanakan

dengan maksud menjaga tingkat objektivitas yang maskimum dalam

pelaksanaan mutasi. Di lain pihak, umumnya kebijakan dan peraturan

dilaksanakan karena mutasi merupakan kewajiban yang harus

dilaksanakan. Untuk menjaga tingkat objektivitas yang maksimum

dalam pelaksanaan mutasi, pedoman normatif yang melandasi

hendaknya dituangkan secara tertulis dan dibuat secara tegas dan

jelas. Hal ini dimaksudkan agar pelaksanaan mutasi jangan sampai

dilaksanakan sekehendak manajemen tanpa pertimbangan rasional.

Yang perlu mendapat perhatian mendalam bagi pimpinan atas

kebijakan dan peraturan yang mendasari pelaksanaan mutasi tidak

hanya harus tegas dan jelas, tetapi lebih dari itu harus dilandasi oleh

argumentasi yag rasional, objektif, dan ilmiah. Dengan kata lain,

argumentasi perlunya kebijakan dan peraturan tersebut betul-betul

memberikan keyakinan bahwa efektivitas, efisiensi, dan produktivitas

kerja para tenaga pendidik dan kependidikan dapat ditingkatkan.

(2) Mutasi Atas Dasar Prinsip The Right Man On The Right Job

Pelaksanaan seleksi tenaga pendidik dan kependidikan

dilaksanakan untuk memenuhi tuntutan atas prinsip tersebut.

Penempatannya pun hendaknya dilakukan dengan cara yang paling

menguntungkan berbagai pihak dan seobjektif mungkin. Meskipun

kenyataannya, penempatan tenaga pendidik dan kependidikan yang

154

pertama kali belum tentu menjamin sepenuhnya bahwa perusahaan

akan mendapatkan tenaga pendidik dan kependidikan tepat pada

tenaga pendidik dan kependidikanan yang tepat.

Meskipun berbagai kendala tujuan untuk menempatkan tenaga

pendidik dan kependidikan pada tenaga pendidik dan kependidikanan

yang tepat seringkali ditemui, namun untuk merealisasikan tujuan

tersebut, tidak cukup dengan program seleksi dan penempatan.

Manejemn SDM harus aktif mengadakan evaluasi secara kontinu,

sebab dengan evaluasi tersebut manajemen dapat melaksanakan

mutasi pada para tenaga pendidik dan kependidikan.

Melalui pelaksanaan mutasi manejemen SDM berusaha

memindahkan para tenaga pendidik dan kependidikan pada tenaga

pendidik dan kependidikanan lain yang seimbang dengan frekuensi

tenaga pendidik dan kependidikanan sebelumnya. Dengan mutasi,

manajemen akan mengoreksi kelemahan-kelemahan pelaksanaan

seleksi dan penempatan tenaga pendidik dan kependidikan yang

pertama kali. Harapan yang hendak dicapai dengan langkah tersebut

adalah untuk menempatkan tenaga pendidik dan kependidikan pada

tenaga pendidik dan kependidikanan yang tepat.

(3) Mutasi Sebagai Tindakan Untuk Meningkatkan Moral Kerja

Prinsip the right man on the right job bukanlah merupakan

program yang keberhasilannya abadi, karena karakter dan

kemampuan orang tidaklah stabil. Suatu tugas dan tenaga pendidik

dan kependidikanan bersifat kontinu yang diberikan kepada seorang

tenaga pendidik dan kependidikan m;ungkin dapat menimbulkan rasa

bosan sehingga berpengaruh terhadap penurunan moral kerja tenaga

pendidik dan kependidikan. Hal ini tidak mustahil terjadi pada tenaga

155

pendidik dan kependidikan yang ditempatkan pada jabatan yang

sesuai dengan keahliannya.

Dalam kondisi demikian, apabila tindakan untuk memberikan

tenaga pendidik dan kependidikanan dengan kemampuan lebih tinggi

belum mengizinkan karena beberapa pertimbangan rasional maka

salah satu teknik yang harus ditempuh adalah dengan cara

memutasikan tenaga pendidik dan kependidikan yang bersangkutan.

Akan tetapi, pelaksanaan mutasi harus mempertimbangkan risiko

yang mungkin terjadi di waktu mendatang. Jangan sampai terjadi di

tempat yang baru, bukan hanya moral kerja yang menurun, tetapi

tenaga pendidik dan kependidikanan yang baru tidak terselesaikan

karena tidak sesuai dengan kemampuan, kecakapan, dan keahlian

tenaga pendidik dan kependidikan yang bersangkutan. Oleh karena

itu, dalam pelaksanaannya perlu pertimbangan yang matang dan

cermat.

(4) Mutasi Sebagai Media Kompetisi Yang Rasional

Tanpa dorongan untuk bersaing dengan orang lain, barangkali

tidak ada gerakan manusia untuk berusaha ke arah kemajuan.

Dengan kompetisi yang rasional diharapkan kemajuan individu tenaga

pendidik dan kependidikan akan lebih cepat tercapai. Oleh karena itu,

kompetisi antar tenaga pendidik dan kependidikan dalam sekolah

harus dapat diciptakan. Salah satu cara yang harus ditempuh adalah

dengan jalan memutasikan tenaga pendidik dan kependidikan.

Dengan cara memutasikannya, berarti dalam tenaga pendidik dan

kependidikanan akan ditenaga pendidik dan kependidikankan lebih

dari seorang tenaga pendidik dan kependidikan meskipun dengan

cara bergantian. Dengan demikian, tenaga pendidik dan kependidikan

156

baru akan termotivasi untuk memiliki prestasi lebih tinggi ketimbang

tenaga pendidik dan kependidikan sebelumnya.

(5) Mutasi Sebagai Langkah Promosi

Mutasi dimaksudkan sebagai pemindahan pada jenjang horizontal

sama dengan tugas dan tenaga pendidik dan kependidikanan

sebelumnya, sedangkan promosi dimaksudkan sebagai pemilihan

pada tingkatan vertikal lebih tinggi dengan tugas dan tenaga pendidik

dan kependidikanan sebelumnya. Tenaga pendidik dan kependidikan

yang direncanakan untuk mengalami promosi memerlukan

penambahan pengalaman, pengetahuan, dan keahlian dalam bidang

kerja yang menjadi tanggung jawabnya. Untuk memperoleh

pengalaman, pengetahuan, dan keahlian pada pribadi tenaga

pendidik dan kependidikan dalam ruang lingkup yang luas, meskipun

kurang mendalam, salah satu cara yang harus ditempuh oleh

manajemen SDM adalah dengan jalan memutasikan tenaga pendidik

dan kependidikan yang bersangkutan di beberapa tenaga pendidik

dan kependidikanan yang akan menjadi tanggung jawabnya apabila

dilaksanakan promosi.

Sebagai langkah untuk promosi, selain dengan mutasi, perlu

diberikan peningkatan (upgrading) seperlunya. Dengan demikian,

mutasi yang dilakukan betul-betul akan mencapai tujuan yang

diharapkan. Hal yang perlu diperhatikan adalah penempatan tenaga

pendidik dan kependidikan yang akan dimutasikan untuk promosi.

Evaluasi sebelumnya harus dilakukan secara kontinu dan objektif,

karena jika terjadi kekeliruan akan mengurangi keberhasilan dalam

promosi.

157

(6) Mutasi Untuk Mengurangi Labour Turnover

Apabila rasa kebosanan terhadap tugas dan tenaga pendidik dan

kependidikanan yang tiap hari dipikul oleh seorang tenaga pendidik

dan kependidikan mencapai tingkat maksimum, dampak negatif atas

kondisi ini bukan hanya akan menurunkan moral kerja, tetapi lebih

dari itu dapat menimbulkan keinginan tenaga pendidik dan

kependidikan yang bersangkutan untuk keluar dari lembaga. Untuk

menanggulangi kondisi ini, apabila pelaksanaan promosi belum

memungkinkan, mutasi merupakan salah satu cara yang harus

ditempuh.

Namun beberapa lembaga mengatasi kondisi tersebut dengan

cara meningkatkan kompensasi dan kesejahteraan para tenaga

pendidik dan kependidikan. Akan tetapi tidak selamanya cara tersebut

akan menghapus kebosanan. Salah satu jalan yang tepat adalah

memutasikannya.

Tingkat labour turnover yang rendah barangkali tidak begitu

merugikan lembaga, tetapi labour turover yng tinggi dapat

mengantarkan lembaga pada kebangkrutan apabila tidak segera

ditanggulangi dengan tepat, sesuai dengan kemampuannya.

(7) Mutasi Harus Terkoordinasi

Pelaksanaan program mutasi hendaknya dilakukan secara

terkoordinasi karena mutasi yang dilakukan umumnya menyangkut

aktivitas lainnya secara berantai. Oleh sebab itu, mutasi hendaknya

dilakukan secara terkoordinasi karena mutasi adalah suatu gerak

yang berputar. Dengan begitu, nilai-nilai positif atas pelaksanaan

kegiatan tersebut tampak pada lembaga.

158

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->