P. 1
Perang Padri

Perang Padri

|Views: 239|Likes:
Published by Rhaa Rahma

More info:

Published by: Rhaa Rahma on Nov 11, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

09/27/2014

pdf

text

original

Perang Padri

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Perang Padri

Kaum Adat

Tanggal Lokasi Hasil Casus belli

1803 – 1838 Sumatera Barat Kemenangan Belanda. Pertikaian Kaum Padri vs Kaum Adat, kemudian melibatkan Belanda. Pihak yang terlibat

Perang 1803-1821: Kaum Adat Perang 1821-1833: Kaum Adat Belanda Perang 1833-1838: Belanda

Kaum Padri Kaum Padri

Kaum Padri Kaum Adat Komandan Tuanku nan Renceh Tuanku Imam Bonjol

Rajo Alam Mayor Jendral Cochius Kolonel Elout

Perang Padri merupakan peperangan yang pada awalnya akibat pertentangan dalam masalah agama sebelum berubah menjadi peperangan melawanpenjajahan.

[2] Perbedaan pendapat ini memicu peperangan antara Kaum Padri yang dipimpin oleh Harimau nan Salapan dengan Kaum Adat di bawah pimpinan Yang Dipertuan Pagaruyung waktu itu Sultan Arifin Muningsyah. Lukisan Rumah Gadang Minangkabau di tahun 1890 Daftar isi [sembunyikan]             1 Harimau nan Salapan 2 Perang Saudara 3 Keterlibatan Belanda 4 Genjatan Senjata 5 Tuanku Imam Bonjol 6 Peperangan Jilid Kedua 7 Perlawanan Bersama 8 Serangan ke Bonjol 9 Benteng Bonjol 10 Pengepungan Bonjol 11 Perundingan 12 Akhir Peperangan . dan juga aspek hukumadat matriarkat mengenai warisan dan umumnya pelaksanaan longgar kewajiban ritual formal agama Islam. tembakau. penggunaan madat (opium). [1] Peperangan ini dimulai dengan munculnya gerakanKaum Padri (Kaum Ulama) dalam menentang perbuatan-perbuatan yang marak waktu itu di kalangan masyarakat yang ada dalam kawasan Kerajaan Pagaruyung sekitarnya. Kemudian peperangan ini meluas dengan melibatkan Belanda. penyabungan ayam. minuman keras.Perang Padri ini terjadi pada kawasan Kerajaan Pagaruyung antara tahun 1803 hingga 1838. sirih. seperti perjudian.

merupakan sebutan untuk pimpinan beberapa perguruan yang tersebar di Nagari yang ada dalam Kerajaan Pagaruyung masa itu. Tuanku Lintau 5. puncaknya pada tahun 1815. kaum Padri dibawah pimpinan Tuanku Pasaman menyerang kerajaan Pagaruyung. Tuanku Pandai Sikek 4. dapatlah dikatakan sebagai perang saudara antara sesama etnis Minang dan Mandailing atau Batak umumnya. Tuanku Tambusai 8. Hampir selama 20 tahun pertama perang ini (1803-1821). Berikut ini nama pemimpin Harimau nan Salapan tersebut: 1. [3] Dari catatanRaffles yang pernah mengunjungi Pagaruyung di tahun 1818. Seiring itu beberapa nagari dalam kerajaan Pagaruyung bergejolak. Kemudian pemimpin para ulama yang tergabung dalam Harimau nan Salapan meminta Tuanku Lintau untuk mengajak Raja Pagaruyung Sultan Arifin Muningsyah beserta Kaum Adat untuk meninggalkan beberapa kebiasaan yang tidak sesuai dengan ajaran Islam. Tuanku nan Renceh atau Tuanku nan Tuo atau Tuanku Kamang 2. Tuanku Barumun [sunting]Perang Saudara Perang Padri merupakan peperangan yang meninggalkan kenangan heroik sekaligus traumatis dalam memori bangsa. Dalam beberapa perundingan tidak ada kata sepakat antara kaum Padri dengan kaum Adat. [4] menyebutkan bahwa ia hanya mendapati sisa-sisa istana raja Minangkabau yang sudah terbakar. [sunting]Keterlibatan Belanda . Pada awalnya peperangan ini dilatar belakangi oleh adanya keinginan para ulama di Kerajaan Pagaruyung untuk menerapkan dan menjalan syariatIslam sesuai dengan Mahzab Wahabi yang waktu itu berkembang di tanah Arab (Arab Saudi sekarang). 13 Referensi [sunting]Harimau nan Salapan Harimau nan Salapan (Harimau yang Delapan). Serangan ini menyebabkan Sultan Arifin Muningsyah terpaksa menyingkir dan melarikan diri dari ibukota kerajaan. Tuanku Rao 7. Tuanku Mansiangan 3. Tuanku Pasaman 6. dan pecahlah peperangan di Koto Tangah. yang kemudian menjadi pemimpin dari Kaum Padri.

nantinya dijadikan oleh Belanda sebagai tanda penyerahan kedaulatan Kerajaan Pagaruyung.Karena terdesak dalam peperangan dan keberadaan Yang Dipertuan Pagaruyung yang tidak pasti. Yang Dipertuan Pagaruyung Raja Alam Sultan Arifin Muningsyah kembali ke Pagaruyung. maka pada 21 Februari 1821 Kaum Adat yang dipimpin oleh Sultan Tangkal Alam Bagagar meminta bantuan Belanda di Padang. . Belanda membangun benteng di Batusangkar dengan nama Fort van der Capellen. dan kemudian Pemerintah Hindia-Belanda mengangkatnya sebagai Regent Tanah Datar. Pada tahun 1824 atas permintaan Letnan Kolonel Raaff. Oleh sebab itu Belanda melalui residennya di Padang mengajak pemimpin Kaum Padri yang waktu itu telah dipimpin oleh Tuanku Imam Bonjol untuk berdamai dengan maklumat "Perjanjian Masang" pada tahun 15 November 1825. [7] [6] Fort van der Capellen Pada 13 April 1823. Sedangkan Kaum Padri menyusun kekuatan dan bertahan di Lintau. Belanda mencoba menyerang Lintau. [8] [sunting]Genjatan Senjata Perlawanan yang dilakukan oleh Kaum Padri cukup tangguh sehingga sangat menyulitkan Belanda untuk menundukkannya. namun Kaum Padri dengan gigih melakukan perlawanan. [5] Namun perjanjian yang tidak dihadiri oleh Raja Alam ini. namun pada tahun 1825 Sultan Arifin Muningsyah raja terakhir Minangkabau ini wafat dan kemudian dimakamkan di Pagaruyung. sehingga pada tanggal 16 April1823 Belanda terpaksa kembali ke Batusangkar. Keterlibatan Belanda dalam perang karena "diundang" oleh kaum Adat. [2] Hal ini dimaklumi karena disaat bersamaan Pemerintah Hindia-Belanda juga kehabisan dana dalam menghadapi peperangan lain di Eropa dan Jawa seperti Perang Diponegoro. Serangan ini berhasil memukul mundur Kaum Padri keluar dari Pagaruyung. dan campur tangan Belanda dalam perang itu ditandai dengan penyerangan Simawang dan Sulit Air oleh pasukan Kapten Goffinet dan Kapten Dienema awal April 1821 atas perintah Residen James du Puy di Padang .

salah seorang pemimpin Perang Padri. hal ini sangat didasari oleh keinginan kuat untuk penguasaan penanaman kopi yang sedang meluas di kawasan darek. kawasan ini merupakan salah satu kawasan yang mampu memproduksi mesiu dan senjata api. komoditas perdagangan kopi merupakan salah satu produk andalan Belanda di Eropa. yang diilustrasikan olehde Stuers Artikel utama untuk bagian ini adalah: Tuanku Imam Bonjol Tuanku Imam Bonjol yang bernama asli Muhammad Shahab muncul sebagai pemimpin dalam Perang Padri setelah sebelumnya ditunjuk oleh Tuanku nan Rencehsebagai Imam di Bonjol. Belanda mulai dengan menyerang nagari Pandai Sikek sekaligus melanggar perjanjian yang telah dibuat sebelumnya.Selama periode gencatan senjata. Fort de Kock . Kemudian untuk memperkuat kedudukannya. Selanjut untuk melemahkan kekuatan lawan. Sampai abad ke 19. Kemudian menjadi pemimpin sekaligus panglima perang setelah Tuanku nan Renceh meninggal dunia. [sunting]Tuanku Imam Bonjol Tuanku Imam Bonjol. [9] [sunting]Peperangan Jilid Kedua Setelah berakhirnya perang Diponegoro dan pulihnya kekuatan Belanda di Jawa. Sehingga akhirnya muncul suatu kompromi yang dikenal dengan nama Plakat Puncak Pato di bukit Marapalam (termasuk daerah kabupaten Tanah Datar sekarang) yang mewujudkan konsensus Adat basandi Syarak. Syarak basandi Kitabullah (Adat berdasarkan Agama. Tuanku Imam Bonjol mencoba memulihkan kekuatan dan juga mencoba merangkul Kaum Adat. Belanda membangun benteng di Bukittinggi yang dikenal dengan nama Fort de Kock. pemerintah HindiaBelanda kembali mencoba untuk menundukan Kaum Padri. Agama berdasarkan Kitabullah (Al-Qur'an).

Menyadari hal itu. penduduk Minangkabau akan tetap diperintah oleh para penghulu adat mereka dan tidak pula diharuskan membayar pajak. Sementara Kaum Padri terus melakukan konsolidasi dan berkubu Kamang. Sentot Prawirodirdjo. membuka sekolah. dia memperoleh tambahan kekuatan dari pasukan Sentot Prawirodirdjo salah seorang panglima pasukan Pangeran Diponegoro yang telah membelot. mengundang Belandadalam konflik justru menyengsarakan masyarakat Minangkabau itu sendiri. Namun kemudian Kolonel Elout berpendapat. sehingga menjadikanLuhak Tanah Datar dan Luhak Limo Puluah telah berada dalam kendali Belanda. [sunting]Perlawanan Namun. mencegah terjadinya "perang antar-nagari".Diawal bulan Agustus 1831. dan berdinas pada Pemerintah HindiaBelanda setelah usai perang di Jawa. maka penduduk diwajibkan menanam kopi dan mesti menjualnya ke Belanda. sehingga Kaum Padri terpaksa mundur dan bertahan di Bonjol. mereka hanya datang untuk berdagang dan menjaga keamanan. mengeluarkan pengumuman yang disebut Plakat Panjang berisi sebuah pernyataan bahwa kedatangan Belanda ke Minangkabau tidaklah bermaksud untuk menguasai negeri tersebut. . namun seluruh kekuatan Kaum Padri diLuhak Agam juga dapat ditaklukkan Belanda setelah jatuhnya Kamang di akhir tahun 1832. Maka PemerintahHindia-Belanda pada tahun 1833. beberapa dokumen-dokumen resmi Belanda. Kepper Sementara ketika Kolonel Elout melakukan berbagai serangan terhadap Kaum Padri tahun 1831-1832. kehadiran Sentot yang ditempatkan di Lintau. justru menimbulkan masalah baru. Diujung penyesalan muncul kesadaran. Kemudian Belanda berdalih bahwa untuk menjaga keamanan. tetapi secara keseluruhan masyarakat Minangkabau. dan sebagainya memerlukan biaya. yang diilustrasikan oleh G. sejak awal 1833 [10] Bersama mulai muncul kompromi antara kaum Adat dan kaum Padri. membuktikan kesalahan Sentot yang telah melakukan persekongkolan dengan kaum Padri. Lintau berhasil ditaklukkan kemudian disusul Luhak Limo Puluah. kini Belanda bukan hanya menghadapi Kaum Padri saja. membuat jalan-jalan.

bahkan juga hampir semua perlengkapan perang pasukan Belanda seperti meriam dan perbekalan semuanya dapat dirampas. yang mengarah ke jurusan Bonjol. Riesz dan Elout menerangkan bahwa belum datang saatnya yang baik untuk mengadakan serangan umum terhadap benteng Bonjol. dan Belanda pun juga tidak ingin dia tetap berada di Jawa dan mengirimnya kembali ke Sumatera. juga ditangkap oleh pasukan Kolonel Elout pada tanggal 2 Mei 1833 di Batusangkar atas tuduhan pengkhianatan. untuk melihat dari dekat tentang jalannya operasi militer yang dilakukan oleh pasukan Belanda [11] . Kedua opsir tersebut meminta tangguh enam hari lagi. Sedangkan pasukannya dibubarkan dan kemudian direkrut kembali menjadi tentara Belanda. Lamanya penyelesaian peperangan ini. Sesampainya di Padang. karena kesetiaan penduduk Agam masih disangsikan. Di Jawa. Pasukan Belanda hanya dapat membawa senjata dan pakaian yang melekat di tangan dan badannya. Van den Bosch membuat laporan bahwa penyerangan ke Bonjol gagal dan sedang diusahakan untuk konsolidasi guna penyerangan selanjutnya. Selain itu pihak Belanda juga terus berusaha menanamkan pengaruhnya pada beberapa kawasan yang dekat dengan pusat pertahanannya. memaksa Gubernur Jenderal Johannes van den Bosch pergi ke Padang pada tanggal 23 Agustus 1833. dengan mengerahkan ribuan tenaga kerja paksa. Sentot juga tidak berhasil menghilangkan kecurigaan Belanda terhadap dirinya. yang sebelumnya ditunjuk oleh Belanda sebagai Regent Tanah Datar.Sehingga kemudian Sentot dan legiunnya kembali ke Jawa. dan mereka sangat mungkin kelak menyerang pasukan Belanda dari belakang. sehingga jatuhnya Bonjol diharapkan pada tanggal 16 September 1833. di mana dia ditinggal sampai mati sebagai orang buangan. ia melakukan perundingan dengan Jenderal Riesz dan Kolonel Elout untuk segera menaklukkan benteng Bonjol. dan dimakamkan di pekuburan Mangga Dua. Sultan Tangkal Alam Bagagar dibuang ke Batavia (Jakarta sekarang) sampai akhir hayatnya. Tetapi Jenderal Van den Bosch bersikeras untuk segera menaklukkan benteng Bonjol. Taktik serangan gerilya yang diterapkan kaum Padri. [sunting]Serangan ke Bonjol Pada tanggal 16 April 1835. Sentot diturunkan dan ditahan di Bengkulu. Belanda memutuskan untuk kembali mengadakan serangan besar-besaran untuk menaklukkan Bonjol dan sekitarnya. Operasi militer dimulai pada tanggal 21 April 1835. Kemudian selama tahun 1834 Belanda hanya fokus pada pembuatan jalan dan jembatan. Namun dalam perjalanan ke sana. Sehingga akhirnya pada tanggal 21 September 1833. berhasil memperlambat gerak laju serangan Belanda ke benteng Bonjol. Demikian juga dengan Sultan Tangkal Alam Bagagar. di mana pasukan Belanda dipimpin oleh Letnan Kolonel Bauer yang kemudian memecah pasukannya menjadi . Hal ini dilakukan untuk memudahkan mobilitas pasukannya dalam menaklukkan Bonjol. yang dijadikan pusat meriam besar pasukan Padri. dan paling lambat tanggal 10 September 1833 Bonjol harus jatuh.

sampai korban di kedua belah pihak banyak yang berjatuhan. Namun Kaum Padri juga tidak tinggal diam. kemudian membalas dengan menembakan juga meriammeriam dari Bukit Tajadi. Sesampainya di Sipisang. Namun dengan kekuatan yang jauh tak sebanding. Selanjutnya dengan menggunakan houwitser.dua bagian yang bergerak masing-masing dari Matur dan Bamban. daerah yang masih dikuasai oleh Kaum Padri. [sunting]Benteng Bonjol Kampung Bonjol kira-kira 1200 hasta panjangnya dan 400 sampai 700 hasta lebarnya. sebab bagian selatan dari dinding barat mundur kira-kira 200 hasta ke belakang. dan terus masuk menyelusup ke dalam hutan rimba. Di timur dan tenggaranya terdapat tebing terjal dan . Letak kampung ini antara 1000 atau 1200 hasta dari tepi timur Batang Alahan Panjang. yang secara penuh masih dikuasai oleh Kaum Padri. pasukan Belanda banyak menjadi korban. mendaki gunung dan menuruni lembah. Dari sini hanya ada satu jalan sempit menuju Sipisang. menembaki benteng Bonjol. dengan kekuatan yang besar pasukan Belanda memulai gerakan maju menuju sasaran akhir yaitu benteng Bonjol di Bukit Tajadi. Namun pada tanggal 8 Juni 1835 pasukan Belanda berhasil menguasai daerah ini. pecah pertempuran sengit antara pasukan Belanda dengan Kaum Padri selama tiga hari tiga malam pertempuran berlangsung tanpa henti. Namun karena posisi yang kurang menguntungkan. hampir sebulan waktu yang diperlukan untuk dapat mendekati daerah Alahan Panjang. Pasukan ini mesti menyeberangi sungai yang saat itu lagi banjir. Pada tengah malam tanggal 16 Juni 1835 pasukan Belanda berhasil mendekati Bonjol dalam jarak kirakira hanya 250 langkah dari Bonjol dan kemudian mencoba membuat kubu pertahanan di sana. Sebagai front terdepan dari Alahan Panjang adalah daerah Padang Lawas. Selanjutnya pada tanggal 11 Juni 1835 pasukan Belanda kembali bergerak menuju sebelah timur Batang Alahan Panjang dan membuat kubu pertahanan di sana. dan kemudian daerah ini dijadikan sebagai kubu pertahanan sambil menunggu pembuatan jembatan menuju Bonjol. dan kemudian terus menyeberanginya dan berkumpul di Batusari. kemudian bersama bergerak menuju Masang. Pada tanggal 23 April 1835 gerakan pasukan Belanda ini telah berhasil mencapai tepi Batang Gantiang. Jatuhnya daerah Sipisang ini meningkatkan moralitas pasukan Belanda. dan pada tanggal 21 Juni 1835. sementara pasukan Kaum Padri tetap bersiaga di seberangnya. mortir dan meriam besar. Kemudian pada tanggal 17 Juni 1835 kembali datang bantuan tambahan pasukan sebanyak 2000 orang yang dikirim oleh Residen Francis di Padang. Walau pergerakan laju pasukan Belanda menuju Bonjol masih sangat lamban. pasukan Kaum Padri terpaksa mengundurkan diri ke hutan-hutan rimba sekitarnya. guna membuka jalur baru menuju Bonjol.

Tanah di sebelah selatan dan tenggara Lembah Alahan Panjang ini bergunung-gunung dan berbukit batu terjal. yaitu dari berbagai negeri di Minangkabau dan sekitarnya. Di balik timur bukit barisan itulah terletak kawasan Luhak Limo Puluah. Blokade yang dilakukan ini. dan dari sana mereka dapat menembakan meriam yang bermacam kaliber kepada musuh yang berada pada arah barat dan timurnya. dan pasukan Bugis ini berada pada bagian depan pasukan Belanda dalam merebut satu persatu kubu-kubu pertahanan strategis Kaum Padri yang berada disekitar bukit Tajadi [13] . Dan setelah serangan dilakukan. Pada tanggal 9 September 1835. dan dari atas bukit inilah Kaum Padri membuat beberapa kubu pertahanan yang kuat dan strategis letaknya. dengan tujuan untuk melumpuhkan suplai bahan makanan dan senjata pasukan Padri. Bukit ini bernama Bukit Tajadi. Dan disaat bersamaan seluruh pasukan Kaum Padri mulai berdatangan dari daerah-daerah yang telah ditaklukkan pasukan Belanda. maka pada pertengahan Agustus 1835 penyerangan mulai dilakukan terhadap kubu-kubu pertahanan Kaum Padri yang berada di bukit Tajadi. pasukan Belanda mencoba menyerang dari arah Luhak Limo Puluah dan Padang Bubus. belukar dan hutan yang sangat tebal di sekitar Bonjol ini membuat kubu-kubu pertahanan Kaum Padri tidak mudah dilihat dari luar. pasukan Belanda mencoba melakukan blokade terhadap Bonjol. hidup mulia atau mati syahid. namun hasilnya gagal. dan terpaksa dikirim ke Bukittinggi dan kemudian digantikan oleh Mayor Prager. Keadaan alam ini dimanfaatkan dengan baik oleh kaum Padri untuk membangun benteng pertahanan yang paling besar dan sekaligus menjadi markas besar Tuanku Imam Bonjol. [12] [sunting]Pengepungan Bonjol Artikel utama untuk bagian ini adalah: Penaklukan Bonjol Melihat kokohnya benteng Bonjol. semak.sebuah bukit yang tegak hampir lurus keatas. bahkan banyak menyebabkan kerugian pada pasukan Belanda. Kaum Padri keluar dari kubu pertahanannya menyerbu ke luar benteng menghancurkan kubu-kubu pertahahan musuh yang dibuat sekitar bukit Tajadi. ternyata tidak efektif. Usaha untuk melakukan serangan ofensif terhadap Bonjol baru dilakukan kembali setelah bala bantuan tentara yang terdiri dari pasukan Bugis datang. Namun sampai awal September 1835. karena justru benteng-benteng pertahanan pasukan Belanda dan bahan perbekalannya yang banyak diserang oleh pasukan Kaum Padri secara gerilya. Semua bertekad bulat untuk mempertahankan markas besar Bonjol sampai titik darah penghabisan. dan dengan Bonjol dipisahkan oleh sebatang anak sungai kecil. salah seorang komandan pasukan Belanda menderita sakit. . yang diselimuti oleh hutan lehat. Dari sebelah timur Bonjol membujur bukit barisan tinggi membujur. pasukan Kaum Padri segera kembali masuk ke dalam benteng Bonjol. Dan di tengah lembah mengalir Batang Alahan Panjang yang berliku-liku dari utara ke selatan. Dan Letnan Kolonel Bauer. pasukan Belanda belum berhasil menguasai bukit tajadi malah pada tanggal 5 September 1835.

Kapten MacLean. dan Ambon. Mayor Sous. Kegagalan penaklukan ini benar-benar memukul kebijaksanaan Gubernur Jenderal Hindia Belanda di Batavia yang waktu itu telah dipegang oleh Dominique Jacques de Eerens kemudian mengirimkan seorang panglima perangnya yang bernama Mayor Jenderal Cochius untuk memimpin langsung serangan besar-besaran ke benteng Bonjol untuk kesekian kalinya. baru setelah datang bantuan dari serdadu-serdadu Madura yang berdinas pada pasukan Belanda. 36 perwira pribumi. pasukan Belanda kembali melakukan serangan besar-besaran terhadap benteng Bonjol. kini negara Ghana dan Mali. Dalam daftar nama para perwira pasukan Belanda tersebut diantaranya adalah Mayor Jendral Cochius. dimana pada tanggal 20 Juli 1837 tiba dengan Kapal Perle di Padang. serta . Letnan Satu Van der Tak. 1.103 tentara Eropa. Serangan yang bergelombang serta bertubi-tubi dan hujan peluru dari pasukan artileri yang bersenjatakan meriam-meriam besar. dan sejumlah orang Eropa dan Afrika. Pasukan Belanda kewalahan mengatasi perlawanan ini. dan Merto Poero. termasuk didalamnya Sumenapsche hulptroepen hieronder begrepen (pasukan pembantu Sumenap alias Madura). dan pasukan gabungan Belanda yang sebagian besar terdiri dari berbagai suku. 4 korporaals dan 112 flankeurs yang merupakan serdadu dari Afrika yang direkrut oleh Belanda di benua itu. Dimana terdapat 148 perwira Eropa. Pembantu Letnan Satu Steinmetz dan seterusnya.130 tentara pribumi. Dari Batavia didatangkan terus tambahan kekuatan tentara Belanda. Prawiro Sentiko. sebagai usaha terakhir untuk penaklukan Bonjol. Mayor Prager. sehingga pasukan Belanda dapat masuk menyerbu dan berhasil membunuh beberapa keluarga Tuanku Imam Bonjol. Letnan Kolonel Bauer. Karto Wongso Wiro Redjo. Kapitein Sinninghe. Indlandsche Luitenant Prawiro di Logo. perlawanan ini dapat diatasi. membangkitkan semangat keberanian rakyat sekitarnya untuk memberontak dan menyerang pasukan Belanda. Prawiro Brotto. yang terdiri dari 1 sergeant. Bugis. sehingga pada tanggal 11 Desember 1835 rakyat desa Alahan Mati dan Simpang mengangkat senjata dan menyerang kubu-kubu pertahanan Belanda. Serangan dahsyat ini mampu menjebol sebagian benteng Bonjol. pada tanggal 3 Desember 1836. Mereka juga disebut denganSepoys dan berdinas dalam tentara Belanda. 4. selama kurang lebih 6 bulan lamanya. Selanjutnya Belanda dengan intensif mengepung Bonjol dari segala jurusan selama sekitar enam bulan (16 Maret-17 Agustus 1837) [14] yang dipimpin oleh jenderal dan para perwira Belanda. dan ada juga nama Inlandsche (pribumi) seperti Kapitein Noto Prawiro. Tetapi dengan kegigihan dan semangat juang yang tinggi Kaum Padri kembali berhasil memporak-porandakan musuh sehingga Belanda terusir dan terpaksa kembali keluar dari benteng dengan meninggalkan banyak sekali korban jiwa di masing-masing pihak.Blokade yang berlarut-larut dan keberanian Kaum Padri. Hampir setahun mengepung Bonjol. Madura. seperti Jawa.

pada tanggal 8 November 1864. namun karena telah lebih 3 tahun bertempur melawan Belanda secara terus menerus. di Dalu-Dalu. Namun Tuanku Imam Bonjol dapat mengundurkan diri keluar dari benteng dengan didampingi oleh beberapa pengikutnya terus menuju daerah Marapak. Akhirnya pada tanggal tanggal 15 Agustus 1837. dan pada tanggal 16 Agustus 1837 benteng Bonjol secara keseluruhan dapat ditaklukkan. dan bersama sisa- sisa pengikutnya pindah ke Semenanjung Malaya. Dalam kondisi seperti ini. Tuanku Imam Bonjol menemui ajalnya. dan pada akhir tahun 1838. [sunting]Perundingan Dalam pelarian dan persembunyiannya.org/wiki/Perang_Padri . Tapi hal itu cuma jebakan Belanda untuk menangkap Tuanku Imam Bonjol.wikipedia. bukit Tajadi jatuh. dan di daerah inilah setelah menjalani masa pembuangan selama 27 tahun lamanya. peristiwa itu terjadi di bulan Oktober 1837 dan kemudian Tuanku Imam Bonjol dalam kondisi sakit langsung dibawa ke Bukittinggi kemudian terus dibawa ke Padang. Tuanku Imam Bonjol terus mencoba mengadakan konsolidasi terhadap seluruh pasukannya yang telah bercerai-berai dan lemah. http://id. Perundingan itu dikatakan tidak boleh lebih dari 14 hari lamanya. Tuanku Imam Bonjol kembali dipindahkan ke Menado. [15] Jatuhnya benteng tersebut memaksa Tuanku Tambusai mundur. ternyata hanya sedikit saja yang tinggal dan masih siap untuk bertempur kembali. tetapi peperangan ini masih berlanjut sampai akhirnya benteng terakhir Kaum Padri. untuk selanjutnya diasingkan. Selama 14 hari berkibar bendera putih dan gencatan senjata berlaku. dan Tuanku Imam Bonjol berhasil ditipu dan ditangkap. Kemudian pada tanggal 19 Januari 1839. Namun pada tanggal 23 Januari 1838. tiba-tiba datang surat tawaran dari Residen Francis di Padang untuk mengajak berunding. [12] [sunting]Akhir Peperangan Meskipun pada tahun 1337. ia dipindahkan ke Cianjur. ia kembali dipindahkan ke Ambon. Tuanku Imam Bonjol diminta untuk datang kePalupuh tempat perundingan tanpa membawa senjata. dan akhirnya peperangan ini dianggap selesai dan kemudian Kerajaan Pagaruyung ditetapkan menjadi bagian dari pax neerlandica dan menyatakan wilayah Padangse Bovenlanden berada di bawah pengawasan Belanda. Kemudian Tuanku Imam Bonjol menyatakan kesediaannya melakukan perundingan.pasukan infantri dankavaleri yang terus berdatangan. benteng Bonjol dapat dikuasai Belanda. yang waktu itu telah dipimpin oleh Tuanku Tambusai jatuh pada tahun 28 Desember 1838.

dan Tuanku Haji Berdada yang tiap hari dijaga oleh 100 orang. Kepala-kepala lain adalah Tuanku Mudi Padang. Pihak Belanda kemudian membantu kaum adat menindas kaum Padri. Terdapat 148 perwira Eropa. 1837. dan Ambon. Tuanku Kali Besar. minuman keras. penggunaan madat (opium).Perang Padri Written by Administrator Thursday. Kepala Perang Bonjol ialah Baginda Telabie. Tanggal 20 Juli 1837 tiba dengan Kapal Perle di Padang. Letnan Satu Van der Tak. barulah jatuh pada tahun 1838. Perang ini dipicu oleh perpecahan antara kaum Paderi pimpinan Datuk Bandaro dan Kaum Adat pimpinan Datuk Sati. Kapitein Sinninghe. Belanda menggunakan 2 benteng sebagai pertahanan selama perang Padri. sejumlah orang Eropa dan Afrika. Tetapi pada tahun 1842. tetapi juga nama Inlandsche (pribumi) seperti Kapitein Noto Prawiro. Alam Minangkabau menjadi bagian dari pax neerlandica. Belanda menyerang benteng kaum Paderi di Bonjol dengan tentara yang dipimpin oleh jenderal dan para perwira Belanda. 4. Bugis. Madura. Yang memberi perintah ialah Tuanku Haji Be Di Bonjol dengan pertahanan enam meriam di . seperti Jawa. Yang belakangan ini menunjuk kepada serdadu Afrika yang direkrut oleh Belanda di benua itu. Ketika dimulai serangan terhadap benteng Bonjol. seperti perjudian. 1 sergeant. Dalam daftar nama para perwira pasukan Belanda adalah Letnan Kolonel Bauer. Haji Mahamed. tetapi benteng terakhir Paderi. Tuanku Danau. Prawiro Sentiko.103 tentara Eropa. Perang melawan Belanda baru berhenti tahun 1838 setelah seluruh bumi Minang ditawan oleh Belanda dan setahun sebelumnya. Kaum Paderi dipimpin Tuanku Imam Bonjol melawan penjajah Hindia Belanda. dan Merto Poero. Sumenapsche hulptroepen hieronder begrepen (pasukan pembantu Sumenap alias Madura).Fort de Kock dan Fort van der Capellen di Batusangkar. 1. tembakau. Datuk Bandaro kemudian diganti Tuanku Imam Bonjol. Gerakan Paderi menentang perbuatan-perbuatan yang marak waktu itu di masyarakat Minang. orang-orang Bugis berada di bagian depan menyerang pertahanan Paderi. 17 July 2008 Perang Paderi meletus di Minangkabau antara sejak tahun 1821 hingga 1837. Indlandsche Luitenant Prawiro di Logo. Mereka disebut Sepoys dan berdinas dalam tentara Belanda. kini negara Ghana dan Mali. Prawiro Brotto. 36 perwira pribumi.130 tentara pribumi. 4 korporaals dan 112 flankeurs. Dari Batavia didatangkan terus tambahan kekuatan tentara Belanda. juga aspek hukum adat matriarkat mengenai warisan dan umumnya pelaksanaan longgar kewajiban ritual formal agama Islam. Meskipun secara resmi Perang Paderi berakhir pada tahun kejatuhan benteng Bonjol. pemberontakan Regent Batipuh meletus. Dalu-Dalu. tetapi yang sebagian besar terdiri dari berbagai suku. penyabungan ayam. Kapten MacLean. sirih. Imam Bonjol ditangkap. di bawah pimpinan Tuanku Tambusai. Karto Wongso Wiro Redjo. dan seterusnya.

Pemerintah Hindia Belanda kini telah menyadari bahwa mereka tidak lagi hanya menghadapi kaum paderi.php?option=com_content&task=view&id=14&Itemi d=1 . membuka sekolah. Selain penduduk Bonjol. Doebelang Alam. Maka pemerintah pun mengeluarkan pengumuman yang disebut Plakat Panjang (1833) berisi sebuah pernyataan bahwa kedatangan Kompeni ke Minangkabau tidaklah bermaksud untuk menguasai negeri ini. Mereka membunuh sersan dan seluruh isi benteng. Doebelang Arab secara khusus berkonsentrasi untuk mencuri dalam benteng-benteng Belanda. Akhirnya benteng Bonjol jatuh juga untuk kedua kalinya pada tahun 1837.daerah gunung. http://matahari. Ada juga Bagindo Alam. terdapat pula di benteng 20 orang serdadu Jawa yang telah menyeberang ke pihak Paderi. Juga ada seorang pemukul tambur bernama Saleya dan seorang awak meriam (kanonnier) bernama Mantoto. mencegah terjadinya "perang antar-nagari". dan Doebelang Arab. mereka hanya datang untuk berdagang dan menjaga keamanan.net63. penduduk Minangkabau akan tetap diperintah oleh para penghulu adat mereka dan tidak pula diharuskan membayar pajak. membuat jalan-jalan. Halaman-halaman dikitari oleh pagar pertahanan dan parit-parit. Karena usaha Kompeni untuk menjaga keamanan. Setelah kejadian ini Sultan Bagagarsyah Alam dariPagaruyung dibuang ke Batavia. Pada tahun 1832. Hal ini memicu kembali peperangan. maka penduduk diwajibkan menanam kopi. Di antara serdadu-serdadu yang telah meninggalkan tentara Belanda itu terdapat seorang yang bernama Ali Rachman yang berupaya keras untuk merugikan Kompeni. benteng Bonjol jatuh ke tangan serdadu Kompeni. dan sebagainya memerlukan biaya. ke-13 orang itu digantung semua. tetapi masyarakat Minangkabau.net/index. Pos Goegoer Sigandang yang dijaga oleh seorang sersan Belanda dan 18 serdadu dipersenjatai dengan sebuah meriam pada tahun 1833 diserbu oleh orang-orang Minang. Kolonel Elout membalas dendam dengan cara memanggil beberapa pemimpin dari daerah Agam untuk menghadapnya di Goegoer Sigandang dan 13 orang menghadap. Atas perintah Kolonel.

Mereka disebut Sepoys dan berdinas dalam tentara Belanda. Ketika dimulai serangan terhadap benteng Bonjol.. 1 sergeant. pemberontakan Regent Batipuh meletus.” 3.103 tentara Eropa. Terdapat 148 perwira Eropa. Karto Wongso Wiro Redjo. Akhir perang Paderi Belanda menyerang benteng kaum Paderi di Bonjol dengan tentara yang dipimpin oleh jenderal dan para perwira Belanda. Tuanku Kali Besar.Fort de Kock dan Fort van der Capellen di Batusangkar. Madura. Tetapi pada tahun 1842. Bugis. dan Gerakan Padri: Minangkabau 1784-1847.. Dsb. Mari giatkan membaca (dari wiki) Secara garis besar Perang Paderi meletus di Minangkabau antara sejak tahun 1821 hingga 1837. Haji Mahamed.. 1.130 tentara pribumi. “TUANKU RAO.‟ 5. Alam Minangkabau menjadi bagian dari pax neerlandica. penggunaan madat (opium). juga aspek hukum adat matriarkat mengenai warisan dan umumnya pelaksanaan longgar kewajiban ritual formal agama Islam. Antara Fakta Dan Khayal.. seperti Jawa. dan Ambon. Belanda menggunakan 2 benteng sebagai pertahanan selama perang Padri. Sebelumberdiskusi ada baiknya membaca beberapa buku ini agar bisa melihat dari bermacam perspektif. barulah jatuh pada tahun 1838. tetapi juga nama Inlandsche (pribumi) seperti Kapitein Noto Prawiro. Letnan Satu Van der Tak. Kapten MacLean. kini negara Ghana dan Mali. orang-orang Bugis berada di bagian depan menyerang pertahanan Paderi. HAMKA. tetapi yang sebagian besar terdiri dari berbagai suku. Perang melawan Belanda baru berhenti tahun 1838 setelah seluruh bumi Minang ditawan oleh Belanda dan setahun sebelumnya.. Yang memberi perintah ialah Tuanku Imam Bonjol dengan pertahanan enam meriam di daerah gunung.. Sopan santun dalam berforumnya dijaga ya. dan Merto Poero. Imam Bonjol ditangkap. dan seterusnya. sejumlah orang Eropa dan Afrika. tetapi benteng terakhir Paderi. biar ngga di gembok.‟ 4. Kaum Paderi dipimpin Tuanku Imam Bonjol melawan penjajah Hindia Belanda. Teror Agama Islam Mazhab Hambali di Tanah Batak. Mangaraja Onggang Parlindungan. „Tuanku Rao. 1. Yang belakangan ini menunjuk kepada serdadu Afrika yang direkrut oleh Belanda di benua itu. Makin banyak buku referensi makin bagus. di bawah pimpinan Tuanku Tambusai. Dalu-Dalu. Meskipun secara resmi Perang Paderi berakhir pada tahun kejatuhan benteng Bonjol. . Tanggal 20 Juli 1837 tiba dengan Kapal Perle di Padang. Dalam daftar nama para perwira pasukan Belanda adalah Letnan Kolonel Bauer. 1816 – 1833. Dari Batavia didatangkan terus tambahan kekuatan tentara Belanda. „Greget Tuanku Rao. Gejolak Ekonomi. Pihak Belanda kemudian membantu kaum adat menindas kaum Padri. seperti perjudian. Kapitein Sinninghe. Indlandsche Luitenant Prawiro di Logo.Sejarah Perang Paderi 1821-1837 Di sini kita membahas sejarah perang Paderi dari berbagai versi sejarah. Basyral Hamidy Harahap. tembakau. Kepala Perang Bonjol ialah Baginda Telabie. Tuanku Danau. 2. 4 korporaals dan 112 flankeurs. Prawiro Brotto. Kebangkitan Islam. penyabungan ayam. Christine Dobbin. Perang ini dipicu oleh perpecahan antara kaum Paderi pimpinan Datuk Bandaro dan Kaum Adat pimpinan Datuk Sati. dan Tuanku Haji Berdada yang tiap hari dijaga oleh 100 orang. sirih. Gerakan Paderi menentang perbuatan-perbuatan yang marak waktu itu di masyarakat Minang. 36 perwira pribumi. 4. Sumenapsche hulptroepen hieronder begrepen (pasukan pembantu Sumenap alias Madura). 1837. Kepala-kepala lain adalah Tuanku Mudi Padang. Prawiro Sentiko. Halaman-halaman dikitari oleh pagar pertahanan dan parit-parit. minuman keras. Datuk Bandaro kemudian diganti Tuanku Imam Bonjol.

Juga ada seorang pemukul tambur bernama Saleya dan seorang awak meriam (kanonnier) bernama Mantoto. Atas perintah Kolonel. Selama 14 hari berkibar bendera putih dan gencatan senjata berlaku. Mereka membunuh sersan dan seluruh isi benteng. Tuanku menyatakan bersedia melakukan perundingan dengan Residen atau dengan komandan militer. Kolonel Elout membalas dendam dengan cara memanggil beberapa pemimpin dari daerah Agam untuk menghadapnya di Goegoer Sigandang dan 13 orang menghadap. Pemerintah Hindia Belanda kini telah menyadari bahwa mereka tidak lagi hanya menghadapi kaum paderi. dia memperoleh tambahan kekuatan dari pasukan Sentot yang telah membelot itu. Kolonel Elout mempunyai dokumen-dokumen resmi yang membuktikan kesalahan Sentot Ali Basya dengan kehadirannya di Sumatera. setelah usai Perang Jawa. Perundingan itu tidak boleh lebih dari 14 hari lamanya. Sentot. Ketika Kolonel Elout melakukan serangan terhadap Paderi tahun 1831-1832. ke13 orang itu digantung semua. Tuanku datang ke tempat berunding tanpa membawa senjata. Karena itu.html . Selain penduduk Bonjol. Maka pemerintah pun mengeluarkan pengumuman yang disebut Plakat Panjang (1833) berisi sebuah pernyataan bahwa kedatangan Kompeni ke Minangkabau tidaklah bermaksud untuk menguasai negeri ini. membuka sekolah. timbul kecurigaan serius bahwa Sentot melakukan persekongkolan dengan kaum Paderi. Karena usaha Kompeni untuk menjaga keamanan.com/sejarah-perang-paderi-1821-1837-t80921.Perang 1833 Pada tahun 1832. Ada juga Bagindo Alam. penduduk Minangkabau akan tetap diperintah oleh para penghulu adat mereka dan tidak pula diharuskan membayar pajak. Pasukannya dibubarkan dan anggota-anggotanya berdinas dalam tentara Hindia. Tapi perundingan tidak terlaksana. http://forum. benteng Bonjol jatuh ke tangan serdadu Kompeni. Pada perjalanan ke sana Sentot diturunkan dan ditahan di Bengkulu di mana dia tinggal sampai mati sebagai orang buangan. dan Doebelang Arab. Setelah pemberontakan tahun 1833. Perundingan Residen Belanda mengirim utusan-utusannya untuk berunding dengan Tuanku Imam Bonjol. malah ditangkap dan langsung dibawa ke Padang.detik. Tuanku Imam Bonjol yang datang menemui panglima Belanda untuk berunding. Setelah kejadian ini Sultan Bagagarsyah Alam dari Pagaruyung dibuang ke Batavia. Elout mengirim Sentot dan legiunnya ke Jawa. Doebelang Alam. Kehadirannya di Jawa bisa menimbulkan masalah. Doebelang Arab secara khusus berkonsentrasi untuk mencuri dalam benteng-benteng Belanda. mencegah terjadinya "perang antar-nagari". membuat jalan-jalan. maka penduduk diwajibkan menanam kopi. Pos Goegoer Sigandang yang dijaga oleh seorang sersan Belanda dan 18 serdadu dipersenjatai dengan sebuah meriam pada tahun 1833 diserbu oleh orang-orang Minang. Belanda tidak ingin dia berada di Jawa dan mengirimnya kembali ke Padang. Akhirnya benteng Bonjol jatuh juga untuk kedua kalinya pada tahun 1837. mereka hanya datang untuk berdagang dan menjaga keamanan. terdapat pula di benteng 20 orang serdadu Jawa yang telah menyeberang ke pihak Paderi. masuk dinas Pemerintah Belanda. Sentot tidak berhasil menghilangkan kecurigaan terhadap dirinya. tetapi masyarakat Minangkabau. dan sebagainya memerlukan biaya. untuk selanjutnya diasingkan ke berbagai daerah hingga meninggal dunia tahun 1864. Di antara serdadu-serdadu yang telah meninggalkan tentara Belanda itu terdapat seorang yang bernama Ali Rachman yang berupaya keras untuk merugikan Kompeni. Hal ini memicu kembali peperangan.

Prawiro Brotto. Tanggal 20 Juli 1837 tiba dengan Kapal Perle di Padang.Fort de Kock dan Fort van der Capellen di Batusangkar. 2. Gejolak Ekonomi. 4 korporaals dan 112 flankeurs. Letnan Satu Van der Tak. pemberontakan Regent Batipuh meletus. Dalam daftar nama para perwira pasukan Belanda adalah Letnan Kolonel Bauer. 1..‟ 5. Yang belakangan ini menunjuk kepada serdadu Afrika yang direkrut oleh Belanda di benua itu. tetapi juga nama Inlandsche (pribumi) seperti Kapitein Noto Prawiro. Belanda menggunakan 2 benteng sebagai pertahanan selama perang Padri. seperti Jawa.. Perang ini dipicu oleh perpecahan antara kaum Paderi pimpinan Datuk Bandaro dan Kaum Adat pimpinan Datuk Sati. dan Ambon.Sejarah Perang Paderi 1821-1837 Di sini kita membahas sejarah perang Paderi dari berbagai versi sejarah. kini negara Ghana dan Mali. Mari giatkan membaca (dari wiki) Secara garis besar Perang Paderi meletus di Minangkabau antara sejak tahun 1821 hingga 1837. 1837.. Kapitein Sinninghe. di bawah pimpinan Tuanku Tambusai. Sopan santun dalam berforumnya dijaga ya. Tetapi pada tahun 1842. Kapten MacLean. dan Merto Poero. biar ngga di gembok.. Dsb. HAMKA. sirih. tetapi benteng terakhir Paderi. Dari Batavia didatangkan terus tambahan kekuatan tentara Belanda.103 tentara Eropa. Datuk Bandaro kemudian diganti Tuanku Imam Bonjol. barulah jatuh pada tahun 1838.130 tentara pribumi. 4. Dalu-Dalu. tembakau. Prawiro Sentiko. Sumenapsche hulptroepen hieronder begrepen (pasukan pembantu Sumenap alias Madura). . penggunaan madat (opium). 1816 – 1833. juga aspek hukum adat matriarkat mengenai warisan dan umumnya pelaksanaan longgar kewajiban ritual formal agama Islam. Terdapat 148 perwira Eropa. Mereka disebut Sepoys dan berdinas dalam tentara Belanda. Madura. dan Gerakan Padri: Minangkabau 1784-1847.‟ 4. Meskipun secara resmi Perang Paderi berakhir pada tahun kejatuhan benteng Bonjol. Alam Minangkabau menjadi bagian dari pax neerlandica. Sebelumberdiskusi ada baiknya membaca beberapa buku ini agar bisa melihat dari bermacam perspektif. Basyral Hamidy Harahap.. Bugis.. Teror Agama Islam Mazhab Hambali di Tanah Batak. Imam Bonjol ditangkap. Indlandsche Luitenant Prawiro di Logo. 1. Ketika dimulai serangan terhadap benteng Bonjol.” 3. Karto Wongso Wiro Redjo. “TUANKU RAO. seperti perjudian. Kebangkitan Islam. minuman keras. 36 perwira pribumi. penyabungan ayam. Antara Fakta Dan Khayal. Pihak Belanda kemudian membantu kaum adat menindas kaum Padri. Christine Dobbin. „Greget Tuanku Rao. Gerakan Paderi menentang perbuatan-perbuatan yang marak waktu itu di masyarakat Minang. Kaum Paderi dipimpin Tuanku Imam Bonjol melawan penjajah Hindia Belanda. orang-orang Bugis berada di bagian depan menyerang pertahanan Paderi. 1 sergeant. Perang melawan Belanda baru berhenti tahun 1838 setelah seluruh bumi Minang ditawan oleh Belanda dan setahun sebelumnya. tetapi yang sebagian besar terdiri dari berbagai suku. sejumlah orang Eropa dan Afrika. „Tuanku Rao. dan seterusnya. Akhir perang Paderi Belanda menyerang benteng kaum Paderi di Bonjol dengan tentara yang dipimpin oleh jenderal dan para perwira Belanda. Mangaraja Onggang Parlindungan. Makin banyak buku referensi makin bagus.

Halaman-halaman dikitari oleh pagar pertahanan dan parit-parit. ke-13 orang itu digantung semua. Doebelang Arab secara khusus berkonsentrasi untuk mencuri dalam benteng-benteng Belanda. untuk selanjutnya diasingkan ke berbagai daerah hingga meninggal dunia tahun 1864. Di antara serdadu-serdadu yang telah meninggalkan tentara Belanda itu terdapat seorang yang bernama Ali Rachman yang berupaya keras untuk merugikan Kompeni. Tuanku Imam Bonjol yang datang menemui panglima Belanda untuk berunding. Kepala-kepala lain adalah Tuanku Mudi Padang. dan Tuanku Haji Berdada yang tiap hari dijaga oleh 100 orang. Tapi perundingan tidak terlaksana. Juga ada seorang pemukul tambur bernama Saleya dan seorang awak meriam (kanonnier) bernama Mantoto. malah ditangkap dan langsung dibawa ke Padang. Selama 14 hari berkibar bendera putih dan gencatan senjata berlaku. Tuanku Kali Besar. Perundingan itu tidak boleh lebih dari 14 hari lamanya. Yang memberi perintah ialah Tuanku Imam Bonjol dengan pertahanan enam meriam di daerah gunung. Akhirnya benteng Bonjol jatuh juga untuk kedua kalinya pada tahun 1837. Kolonel Elout membalas dendam dengan cara memanggil beberapa pemimpin dari daerah Agam untuk menghadapnya di Goegoer Sigandang dan 13 orang menghadap. dan sebagainya memerlukan biaya. masuk dinas Pemerintah Belanda. Pemerintah Hindia Belanda kini telah menyadari bahwa mereka tidak lagi hanya menghadapi kaum paderi. Mereka membunuh sersan dan seluruh isi benteng. dia memperoleh tambahan kekuatan dari pasukan Sentot yang telah membelot itu. Hal ini memicu kembali peperangan. Perundingan Residen Belanda mengirim utusan-utusannya untuk berunding dengan Tuanku Imam Bonjol.Kepala Perang Bonjol ialah Baginda Telabie. tetapi masyarakat Minangkabau. Ada juga Bagindo Alam. Tuanku datang ke tempat berunding tanpa membawa senjata. Sentot. Haji Mahamed. benteng Bonjol jatuh ke tangan serdadu Kompeni. Ketika Kolonel Elout melakukan serangan terhadap Paderi tahun 1831-1832. Kehadirannya di Jawa bisa menimbulkan masalah. Tuanku Danau. Maka pemerintah pun mengeluarkan pengumuman yang disebut Plakat Panjang (1833) berisi sebuah pernyataan bahwa kedatangan Kompeni ke Minangkabau tidaklah bermaksud untuk menguasai negeri ini. Atas perintah Kolonel. Tuanku menyatakan bersedia melakukan perundingan dengan Residen atau dengan komandan militer. Doebelang Alam. . setelah usai Perang Jawa. dan Doebelang Arab. membuat jalan-jalan. Karena usaha Kompeni untuk menjaga keamanan. membuka sekolah. maka penduduk diwajibkan menanam kopi. Perang 1833 Pada tahun 1832. Selain penduduk Bonjol. Setelah kejadian ini Sultan Bagagarsyah Alam dari Pagaruyung dibuang ke Batavia. Kolonel Elout mempunyai dokumen-dokumen resmi yang membuktikan kesalahan Sentot Ali Basya dengan kehadirannya di Sumatera. mereka hanya datang untuk berdagang dan menjaga keamanan. Pos Goegoer Sigandang yang dijaga oleh seorang sersan Belanda dan 18 serdadu dipersenjatai dengan sebuah meriam pada tahun 1833 diserbu oleh orang-orang Minang. mencegah terjadinya "perang antarnagari". penduduk Minangkabau akan tetap diperintah oleh para penghulu adat mereka dan tidak pula diharuskan membayar pajak. terdapat pula di benteng 20 orang serdadu Jawa yang telah menyeberang ke pihak Paderi.

Pada perjalanan ke sana Sentot diturunkan dan ditahan di Bengkulu di mana dia tinggal sampai mati sebagai orang buangan. Belanda tidak ingin dia berada di Jawa dan mengirimnya kembali ke Padang. Karena itu. Pasukannya dibubarkan dan anggota-anggotanya berdinas dalam tentara Hindia.lebay.Setelah pemberontakan tahun 1833. http://www. timbul kecurigaan serius bahwa Sentot melakukan persekongkolan dengan kaum Paderi.us/showthread. Sentot tidak berhasil menghilangkan kecurigaan terhadap dirinya.php/3134-Sejarah-Perang-Paderi-1821-1837 . Elout mengirim Sentot dan legiunnya ke Jawa.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->