P. 1
tasawuf

tasawuf

|Views: 109|Likes:
Published by Fahrul Dawam

More info:

Published by: Fahrul Dawam on Nov 12, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

06/26/2013

pdf

text

original

Sabtu, 14 November 2009

CORAK AJARAN ILMU TASAWUF ( akhlaqi, amaly, falsafi )

Sebagai ilmu pengetahuan „Tasawuf‟ atau „Sufisme‟ mempelajari cara dan jalan bagaimana manusia (seorang muslim) dapat berada sedekat mungkin dengan Allah SWT. Sekalipun secara tekstual, tidak ditemukan ayat yang memerintahkan bertasawuf dan kata atau kalimat tasawuf dalam al Quran, namun secara implisit terdapat ayat-ayat dalam al Quran yang memberi dorongan untuk mengamalkan bagian dari ajaran tasawuf yang diartilkulasikan sebagai landasan moral.Dalam perkembangannya, pemikiran tawasuf mengalami persentuhan budaya dengan ajaran atau nilai-nilai agama yang bukan Islam, seperti dari peradaban Yunani, Romawi, Hindi, Mesir, Yahudi, dan Kristiani. Interaksi ajaran dan sistem nilai tersebut tidak bisa dihindari mengakibatkan ajaran tasawuf mengalami perkembangan pemikiran dalam penerapannya. Dalam pertemuan budaya dan peradaban tersebut Umat Islam mengenalkan, menularkan dan mengedepankan aqidah dan ibadah dalam sistem nilai ajaran Islam, sebaliknya peradaban non Islam dan budaya lokal setempat menularkan pemikiran kefilsafatan kepada umat Islam. Begitu juga pemikiran tasawuf yang pada awalnya bersifat amali atau akhlaqi, atau disebut „tasawuf akhlaqi‟, maka dalam perkembangannya memunculkan ajaran tasawuf dengan pola kefilsafatan dalam memahami tasawuf, yang kemudian dikenal dengan „tasawuf falsafi‟. Sebagaimana Tasawuf Amali, Tasawuf Falsafi juga melahirkan tokoh-tokoh dan pemikirannya yang terkenal dalam kajian ilmu tasawuf. Dan upaya mendekati Tuhan berdasarkan „kedekatan atau jarak‟ antara manusia dengan Tuhan telah melahirkan dua aliran tasawuf, yaitu „tasawuf transendentalisme dan tasawuf union mistisisme‟.Aliran pertama memperlihatkan bahwa masih ada garis pemisah atau pembeda antara manusia dan Tuhan, sedangkan aliran kedua mengatakan bahwa garis pemisah tersebut dapat dihilangkan sehingga manusia dapat manunggal dengan Tuhan karena ada kesamaan . Dalam perkembangannya kedua aliran tersebut banyak melahirkan tokoh-tokohnya antara lain ; al-Qusyairy, al-Junaid, al-Ghazali, al-Busthami, Ibnu Arabi, Ibnu Sab‟in, Al Jilli, dll. Pada pemahaman yang pertama kemudian melahirkan tasawuf akhlaqi/amali , kemudian sering juga disebut tasawuf sunni. Dalam perkembangannya tasawuf sunni juga disebut sebagai tasawuf „Dualistik‟ yaitu tasawuf yang telah dimodifikasi dan disesuaikan dengan teologi Asy‟ariyah dan Syariah (baca „fiqih ahlussunah).Tokoh-tokohnya antara lain Al Junaid, Abu Bakar Muhammad al-Kalabazi, Al Qusyairi, Al Ghazali, dll. Tasawuf sunni berupaya mendamaikan tasawuf dengan

Akan koyaklah kaki . dimana ajaran tasawuf ini memadukan visi mistis dan rasional dengan ungkapan dan terminologi filsafat. filsafat tidaklah memiliki pendirian keTuhanan. baqa dan ittihad adalah hasil pemikiran Abu Yazid Al Busthami. dll. Yahudi dan Kristen tanpa kehilangan keautentikan Islam sebagai agama. Mesir.Tasawuf falsafi ini pada umumnya didasarkan pada konsep wahdatul wujud. tetapi orang tidak menggali sampai ke uratnya. Orang hanya tertarik pada ujung ujung filsafat. yang juga disebut „Tasawuf Monistik‟. India. Beliau berkata : orang orang yang bekerja membantah filsafat tidaklah berusaha hendak sampai mengetahui urat ilmu mereka. ditandai dengan diperkenalkannya tokoh-tokoh pemikiran sufi yang filosof dan filosof yang sufi ketika tasawuf bercampur dengan filsafat menyerap beragam pemikiran filsafat asing di luar Islam dari Yunani. filsafat mereka pelajari hanyalah semata semata untuk menguatkan dasar ilmu qalam itu.syariat sejak pertengahan abad ke 3 H / 9 M. adalah laksana memanah dengan mata buta. bukan hanya mengenal Tuhan saja (ma‟rifatullah) melainkan lebih tinggi dari itu yaitu wihdatul wujud (kesatuan wujud). Tokoh-tokohnya antara lain Abu Yazid Al Busthami. Ibn Masarra. Yang dimaksud dengan tasawuf falsafi adalah tasawuf yang bersandarkan pada pemaduan antara intuisi para sufi dengan cara pandang rasional mereka. Tasawuf falsafi muncul pada sekitar abad ke 6 dan 7 H. Maka insaflah saya bahwasannya menolak suatu mazhab sebelim benar benar di fahamkan dan di pelajari dengan seksama. sedangkan tasawuf falsafi menonjol kepada segi teoritis sehingga dalam konsep-konsep tasawuf falsafi lebih mengedepankan asas rasio dengan pendekatan-pendekatan filosofis yang sulit diaplikasikan ke dalam kehidupan sehari-hari khususnya bagi orang awam. Di dalam tasawuf falsafi metode pendekatannya sangat berbeda dengan tasawuf sunni atau tasawuf salafi. Kalau tasawuf sunni atau salafi lebih menonjol kepada segi praktis. Kata kata yang di pakai oleh ilmu qalam hanyalah kata kata yang sulit dan pecah belah. Ibnu Arabi. fana. Al Hallaj. Hulul oleh Al Hallaj. Al Jilli. Jelas berlawan lawanan dan merusak. Mulla Sadra. serta menggunakan tema-tema filsafat dari berbagai macam sumber untuk mengungkapkan tasawufnya itu. sebelum Al Ghazali. ulama ulama ilmu Qalam telah mengambil beberapa cara berfikir kaum filsafat menguatkan dasar ilmu qalam. tapi hanyalah menggoyahkan. yang mencapai kematangan dan keberhasilannya pada pemikiran Abu Hamid al-Ghazali Tasawuf Falsafi adalah sebuah konsep ajaran tasawuf yang mengenal tuhan (ma‟rifat) dengan pendekatan rasio (filsafat) hingga menuju tingkatan yang lebih tinggi. al-Hulul dan al-Ittihad. apa lagi orang yang memiliki ilmu yang tinggi. Dalam tasawuf falsafi lahirlah beberapa teori-teori pemikiran tasawuf. tetapi Ghazali memandang bahwasannya cara pengambilan yang demikian adalah dangkal. Ibn Sab‟in. Suhrawardi al-Maqtul.Bisa juga dikatakan bahwa tasawuf falsafi adalah tasawuf yang kaya dengan pemikiran-pemikiran filsafat. dan Wihdatul al-Mutlaqah digagas oleh pemikiran Ibn Sab‟in. Wahdat Al Wujud dinisbahkan kepada Ibnu Arabi. Sedangkan pemahaman kelompok kedua adalah tasawuf falsafi. diantaranya seperti . namun tetap bisa diaplikasikan pada kenyataannya. Persia. Orang biasa yang tak berilmu pun tak dapat menerimanya. bahkan bisa dikatakan mustahil. Insan Kamil dikembangkan oleh Al Jilli.

pengatur segala kejadian dan asal segala yang ada. seluruh pengabdian yang mereka lakukan bertujuan demi keselamatan diri dari siksaanNya. Sedangkan penolakan tasawuf falsafi secara kritis juga diketahui telah memperkaya keluasan kajian tasawuf secara kontemporer yang sampai saat ini masih terus dibicarakan secara komprehensif dalam wacana akademik. al-Farabi. daya iradat yang mutlak. Salah satu kerangka umum tasawuf falsafi adalah bahwa tasawufnya tidak jelas. sebagai Dzat Yang Maha Agung dan Mulia. Dorongandorongan yang demikian mempengaruhi sikap hidup mereka terhadap hal-hal yang profan dan hubungan mereka dengan Tuhan.melangkah dalam kesungguhan. maka hasrat mencintai Tuhan adalah manusiawi. teori emanasi. Karena kuatnya rasa takut kepada murka Tuhan. mempunyai bahasa-bahasa tersendiri dan memahaminya memerlukan daya pikir dan daya rasa yang tidak biasa. Kata kata filsafat tidak lagi semata mata di pinjamnya lagi untuk menguatkan pendiriannya. Oleh karena keyakinan yang demikian. Puaslah Ghazali menegakkan ilmu qalam sebagai suatu ilmu. Neoplatonisme. Tuhan. tetapi lebih dari itu. Konsepsi etikal berkembang di kalangan zuhad atau asketik adalah embrio sufisme. Dzat Tuhan adalah sumber dari segala keindahan dan kesempurnaan. Tetapi meskipun ia telah menang. Plato. dan sebab itu tasawuf falsafi tidak dianggap filsafat karena dilandaskan pada intuisi. terutama tentang „wahdah al-wujud‟ dan pemikiran lainnya yang dianggap bertentangan dengan akidah Islam. Persia. kerena dengan usahanya ilmu qalam yelah tegak sebagai suatu ilmu. namun jiwanya sendiri belumlah puas. Konsep teologik estetikal ini dikaitkan dengan Rabi‟ah al- . yang menyatakan bahwa Tuhan tidak hanya terbatas sebagaimana pendapat Mutakallimin (pengamal ilmu kalam).tetapi telah di perbaiki dan di jadikannya suatu ilmu yang tahan uji. Sejak awal diketahui pemikiran falsafatnya para sufi falsafi menjadi target kritik dari para fuqaha Islam. Timbulnya doktrin estetikal tentang Tuhan bersumber dari keyakinan bahwa Tuhan adalah segala yang ada. Ibn Sina.Tuhan adalah pencipta tertinggi. Para sufi falsafi mengenal dan memperdalam filsafat aliran Socrates. Sesuai dengan salah satu sifat dasar manusia yang menyukai keindahan dan kecantikan. Hermetisisme dan buku-buku filsafat lainnya dari Timur. Dia tidak akan menurut dengan membuta saja kepada ilmu qalam buatan orang yang dahulu dari padanya. Ibnu Rusyd dan lainnya untuk diterjemahkan ke dalam bahasa Arab. sehingga antara manusia dengan Tuhan ada jalur komunikasi timbal balik. juga adalah Dzat Yang Maha Cantik. juga bukan tasawuf murni karena diungkapkan dengan bahasa-bahasa filsafat yang mengarah pada pembentukan aliran pemikiran dalam pembahasan.Sebagian dari mereka ada juga yang terpengaruh dengan pemikiranpemikiran Syiah Ismailiyah. dan Sumber segala keindahan. Aristoteles. maka perasaan takut kepada Tuhan lebih mempengaruhi mereka ketimbang rasa pengharapan. India dan Filsafat Islam. tanpa seorang guru. karena Tuhan adalah puncak dari segala keindahan. juga diyakini bahwa Tuhan adalah sumber kekuatan. dengan membaca kitab filsafat kitab kitab saja. Batiniyah dan Risalah-Risalah Ikhwan as-Shafa‟.

perjalanan ruhani dan pengalaman ruhani yang dijalani dan dialami dalam kondisi „ekstase‟ mengalami „keterpaduan esensi‟. Jika pada kedua konsepsi tentang Tuhan sebelumnya. dengan alasan bahwa manusia adalah manusia. Dari kelompok inilah tampil sejumlah sufi yang filosofis. Doktrin ini kemudian berlanjut kepada keyakinan. Berkembangnya tasawuf sebagai jalan dan latihan untuk merealisir kesucian batin dalam perjalanan menuju kedekatan dengan Allah. Jadi mereka berpendapat bahwa alam ini dimana di dalamnya terdapat manusia dan makhluk dan atau benda-benda lainnya merupakan radiasi dari „hakikat Ilahi‟. atau filosof yang sufis. Para sufi sunni mengakui bahwa kedekatan manusia dengan Tuhannya. karena ia merupakan pancaran Nur Ilahi (Cahaya Tuhan) seperti pancaran cahaya matahari. Dalam jiwa tidak ada rasa takut akan siksa atau murka Tuhan. bukan „kebersatuan substansi‟. Konsep-konsep tasawuf mereka disebut „tasawuf falsafi‟ yakni tasawuf yang kaya dengan pemikiran-pemikiran filsafat. Dalam diri manusia terdapat unsur-unsur ke-Tuhanan. para sufi mengartikan makrifat sebagai pengenalan Allah melalui qalbu dan merupakan terminal tertinggi yang bisa dicapai manusia. juga menarik perhatian para pemikir muslim yang berlatar belakang teologi dan filsafat. yang tidak mungkin dapat bersatu antara keduanya. Sedangkan antara hakikat dengan yang nampak aneka terlihat ada perbedaan. dimana inti ajarannya adalah bahwa dunia fenomena ini hanyalah bayangan dari realitas yang sesungguhnya. pendapat sufi condong kepada konsepsi „kesatuan wujud‟ atau „union mistisism‟. Satu-atunya wujud yang hakiki hanyalah wujud Tuhan yang merupakan dasar dan sumber kejadian dari segala sesuatu. Suhrawardi al-Maqtul (W. Dunia adalah bayangan yang keberadaannya tergantung wujud Tuhan. tokoh tasawuf falsafi atau teosofi yang populer dan sebagai perintis adalah Ibn Masarrah (W. Mencintai Tuhan dan berbuat apa saja untukNya. sedangkan Tuhan adalah Tuhan. Ajaran filsafat yang banyak dipergunakan dalam analisis tasawuf adalah paham „emanasi Neo-Platonisme‟ dalam semua variasinya.578 H) berkebangsaan Persia/Iran adalah orang kedua yang mengkombinasikan teori filsafat dan tasawuf berangkat dari teori emanasi berpendapat bahwa melalui usaha keras dan sungguh-sungguh seseorang dapat membebaskan jiwanya dari . hanyalah perbedaan relatif. Selain Abu Yazid al-Busthami.381H) dari Andalusi (Spanyol) yang berdasarkan teori emanasi berpendapat bahwa melalui jalan tasawuf manusia dapat membebaskan jiwanya dari cengkeraman badani (materi) dan memperoleh sinar Ilahi (emanasi) secara langsung (ma‟rifat sejati).Orang sufi mengabdikan diri kepada Tuhan adalah karena cinta dan harapan sambutan cinta dari-Nya. Semenjak masa Abu Yazid al-Busthami. tidak ada hasrat untuk menikmati surga yang ada hanyalah keinginan untuk memperoleh cinta dan keindahan Dzat Tuhan yang abadi. Jadi adanya keberagaman tidak lain hanyalah hasil pencerapan indrawi dan penalaran akal budi yang terbatas dan ketidak mampuan memahami ketunggalan dzat segala sesuatu. yaitu Tuhan. manusia masih dapat melewati „maqom ma‟rifat‟ yaitu „bersatu dengan Allah‟ atau dikenal dengan istilah „ittihad‟. adalah motivasi kasih para sufi. hanya dalam batas-batas syariat yang tetap “membedakan manusia dengan Tuhan”. sehingga realitas wujud ini hakikatnya tunggal. maka bagi sufi penganut „kesatuan wujud‟. adalah pengalaman batin.Adawiyah melaui doktrin al-hubb atau mahabbah. bahwa penciptaan alam semesta adalah pernyataan cinta kasih Tuhan yang direfleksikan dalam bentuk empirik atau sebagai mazhohir dari asma Allah. Perbedaan hakikinya adalah akibat yang timbul dari keterbatasan akal budi. Sedangkan para sufi falsafi mengakui “kebersatuan manusia dengan Tuhannya” itu.

Konsepsi tersebut kemudian dikenal dengan nama „al-Israqiyah‟. yakni perpaduan insan dengan Tuhan secara rohaniyah atau makhluk dengan al-khalik.Wujud yang dasar-dasarnya diletakkan dan dinisbahkan kepada Ibnu ‟ Arabi (W. 832 H) juga mengemukakan pendapatnya bahwa upaya manusia melalui Ma‟rifat untuk mendekati Tuhan akan mampu dicapai sampai kepada hakikat jati dirinya. al-Jilli (W. Itulah alasannya kenapa tasawuf falsafi sering juga dinamai atau dinisbahkan ke dalam „tasawuf Syi‟i‟. Terinspirasi oleh Ibn Arabi.Wihdat al. 638 H). Ibnu Syab‟in. dll.perangkap ragawi untuk kemudian dapat kembali ke pangkalan pertama yakni alam malakut atau alam Ilahiyat.308 H) memformulasikan teorinya dalam doktrin „Hulul‟.633 H) seorang sufi penyair dari Mesir juga telah mengenalkan konsepsi pemikiran tasawuf yang mirip dengan al Wihdat al Wujud. konsep-konsep tasawuf falsafi biasanya dapat diterima karena itu aliran tasawuf ini berkembang pesat dikawasan umat Islam bermazhab Syi‟ah dan atau Muktazilah. disebut dengan “al-Wihdat al-Syuhud”. yang disebut „insan kamil‟. Al Jilli. Dalam teologi bermazhab Syi‟ah dan berpola pikir Muktazilah. Ibn Faridh (W. yang terkenal diantaranya adalah Ibnu Arabi. Dan sebagai puncak dari pemikiran tasawuf falsafi adalah konsepsi al. . Sementara itu al-Hallaj (W. Pandangan „union mistisisme‟ inilah yang membentuk konsepsi dasar tasawuf falsafi dan banyak meng-inspirasi para sufi bermazhab falsafi atau Sufi-Filosof untuk merumuskan dan melahirkan karya-karya pemikiran tasawuf falsafi.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->