diposting oleh nuzulul-fkp09 pada 19 October 2011 di Kep Pencernaan II - 0 komentar

ASUHAN KEPERAWATAN (ASKEP) KONSTIPASI
NUZULUL ZULKARNAIN HAQ FAKULTAS KEPERAWATAN UNIVERSITAS AIRLANGGA

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Konstipasi atau sembelit adalah terhambatnya defekasi (buang air besar) dari kebiasaan normal. Dapat diartikan sebagai defekasi yang jarang, jumlah feses (kotoran) kurang, atau fesesnya keras dan kering. Semua orang dapat mengalami konstipasi, terlebih pada lanjut usia (lansia) akibat gerakan peristaltik (gerakan semacam memompa pada usus, red) lebih lambat dan kemungkinan sebab lain. Kebanyakan terjadi jika makan kurang berserat, kurang minum, dan kurang olahraga. Kondisi ini bertambah parah jika sudah lebih dari tiga hari berturut-turut. Kasus konstipasi umumnya diderita masyarakat umum sekitar 4-30 persen pada kelompok usia 60 tahun ke atas. Ternyata, wanita lebih sering mengeluh konstipasi dibanding pria dengan perbandingan 3:1 hingga 2:1. Insiden konstipasi meningkat seiring bertambahnya umur, terutama usia 65 tahun ke atas. Pada suatu penelitian pada orang berusia usia 65 tahun ke atas, terdapat penderita konstipasi sekitar 34 persen wanita dan pria 26 persen. Konstipasi bisa terjadi di mana saja, dapat terjadi saat bepergian, misalnya karena jijik dengan WC-nya, bingung caranya buang air besar seperti sewaktu naik pesawat dan kendaraan umum lainnya. Penyebab konstipasi bisa karena faktor sistemik, efek samping obat, faktor neurogenik saraf sentral atau saraf perifer. Bisa juga karena faktor kelainan organ di kolon seperti obstruksi organik atau fungsi otot kolon yang tidak normal atau kelainan pada rektum, anak dan dasar pelvis dan dapat disebabkan faktor idiopatik kronik. Mencegah konstipasi secara umum ternyata tidaklah sulit. Lagi-lagi, kuncinya adalah mengonsumsi serat yang cukup. Serat yang paling mudah diperoleh adalah pada buah dan sayur. Jika penderita konstipasi ini mengalami kesulitan mengunyah, misalnya karena ompong, haluskan sayur atau buah tersebut dengan blender. 1.2 Rumusan Masalah

5.3 Tujuan Tujuan umum : Mengetahui dan memahami konsep teori konstipasi dan asuhan keperawatan dalam menangani kasus konstipasi Tujuan khusus : 1. 4. 6. Biasanya konstipasi berdasarkan laporan pasien sendiri atau konstipasi anamnestik dipakai sebagai data pada .Apa konsep teori dari konstipasi dan bagaimana asuhan keperawatan dalam menangani kasus konstipasi? 1. 2. Memahami definisi konstipasi Memahami patofisiologis konstipasi Memahami faktor.4 Manfaaat Memberikan konsep dasar teori tentang gangguan sistem gastrointestinal. beserta asuhan keperawatannya. BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2. 8. 7.faktor risiko konstipasi pada usia lanjut Memahami manifestasi klinis konstipasi Memahami komplikasi konstipasi pada usia lanjut Memahami penatalaksanaan konstipasi Memahami web of causes konstipasi Memahami asuhan keperawatan pada konstipasi 1. 3. Penggunaan istilah konstipasi secara keliru dan belum adanya definisi yang universal menyebabkan lebih kaburnya hal ini.1 Definisi Pada umumnya konstipasi sulit didefinisikan secara tegas karena sebagai suatu keluhan terdapat variasi yang berlainan antara individu. yaitu diare dan konstipasi pada lansia berdasarkan pertimbangan gerontik.

Batasan dari konstipasi klinis yang sesungguhnya adalah ditemukannya sejumlah besar feses memenuhi ampul rektum pada colok dubur. serta kadangkal disertai kesulitan sampai rasa sakit saat BAB. d. Konstipasi sering diartikan sebagai. Konstipasi Fungsional 1. Orang usia lanjut seringkali terpancang dengan kebiasaan BABnya. berbahaya untuk kesehatan. rasa tidak tuntas saat BAB. kalau perlu dengan menggunakan pencahar untuk mendapatkan perasaan sudah bersih. Berdasarkan rekomendasinya. Konstipasi fungsional disebabkan waktu perjalanan yang lambat dari feses. massa feses akan mengeras dan ada kesulitan samapi rasa sakit saat BAB. mengejan dengan keras saat BAB. meliputi paling sedikit 2 dari keluhan di bawah ini dan terjadi dalam waktu 3 bulan : a. bila 3 hari belum BAB. frekuensi BAB 2 kali seminggu atau kurang. Yang terakhir ditandai adanya perasaan sumbatan pada anus. biasanya kurang dari 3 kali per minggu dengan feses yang kecil-kecil dan keras. 2) konstipasi karena penundaan keluarnya feses pada muara rektisigmoid. Definisi Konstipasi sesuai international workshop on constipation No Tipe Kriteria Dua atau lebih dari keluhan ini ada paling sedikit dalam 12 bulan : 1. Tabel 1. Hal ini mungkin merupakan kelanjutan dari pola hidup semasa kanak-kanak dan saat masih muda. Studi epidemiologis menunjukkan kenaikan pesat dari konstipasi terkait dengan usia terutama berdasarkan keluhan pasien dan bukan karena konstipasi klinis. Suatu batasan dari konstipasi diusulkan oleh Holson. Secara umum. Ada anggapan umum yang salah bahwa kotoran yang tertimbun dalam usus besar akan diserap lagi. konsistensi feses yang keras. c. b. dimana setiap usaha dikerahkan untuk BAB teratur tiap hari.penelitian-penelitian. Banyak orang mengira dirinya konstipasi bila tidak buang air besar (BAB) tiap hari sehingga sering terdapat perbedaan pandang antara dokter dan pasien tentang arti konstipasi itu sendiri. mengedan keras 25% dari BAB . sedangkan penundaan pada muara rektosigmoid menunjukkan adanya disfungsi anorektal. atau keduanya yang tampak pada foto polos perut. International Workshop on Constipation berusaha lebih jelas memberikan batasan konstipasi. Ada pula yang mengkhawatirkan keracunan dari fesesnya sendiri bila dalam jangka waktu tertentu tidak dikeluarkan. rektum. dan dapat memperpendek usia. kurangnya frekuensi BAB. konstipasi dikategorikan dalam dua golongan : 1) konstipasi fungsional. meliputi 25% dari keseluruhan BAB. dan atau timbunan feses pada kolon. Frekuensi BAB bervariasi dari 3 kali per hari sampai 3 kali per minggu.

Baik persarafan simpatis maupun parasimpatis terlibat dalam proses BAB. hambatan pada anus lebih dari 25% BAB 2. penelitian pada orang usia lanjut yang menderita konstipasi menunjukkan perpanjangan waktu gerakan usus dari 4-9 hari. Sebaliknya. Kesukaran diagnosis dan pengelolaan dari konstipasi adalah karena banyaknya mekanisme yang terlibat pada proses BAB normal. sehingga rektum mengeluarkan isinya dengan bantuan kontraksi otot dinding perut. 2 (konstipasi sedang) dan 3 (konstipasi ringan) dari Bristol Stool Chart yang menunjukkan tingkat konstipasi atau sembelit. perubahan patofisiologi yang menyebabkan konstipasi bukanlah karena bertambahnya usia tapi memang khusus terjadi pada mereka dengan konstipasi. Gangguan dari salah satu mekanisme ini dapat berakibat konstipasi.2 Patofisiologi Defekasi seperti juga pada berkemih adalah suatu proses fisiologis yang menyertakan kerja otototot polos dan serat lintang. termasuk aktivitas motorik dari kolon. waktu untuk BAB lebih lama 3. Penelitian dengan petanda radioopak yang ditelan oleh orang usia lanjut yang sehat tidak mendapatkan adanya perubahan dari total waktu gerakan usus. normalnya kurang dari 3 hari sudah dikeluarkan. terjadi refleks kontraksi dari sfingter anus eksterna dan kontraksi otot dasar pelvis yang depersarafi oleh saraf pudendus. Proses menua yang normal tidak mengakibatkan perlambatan dari perjalanan saluran cerna. BAB kurang dari 2 kali per minggu 1. kesadaran yang baik dan kemampuan fisis untuk mencapai tempat BAB. Penundaan pada muara rektum Model tinja atau feses 1 (konstipasi kronis). kontraksi ini akan menaikkan tekanan dalam perut. penyebabnya multipel. Walaupun konstipasi merupakan keluhan yang banyak pada usia lanjut. Pada mereka yang dirawat atau terbaring di tempat tidur. koordinasi dari sistem refleks. persarafan sentral dan perifer. perlu bantuan jari-jari untuk mengeluarkan feses 2. Tentang waktu pergerakan usus dengan mengikuti petanda radioopak yang ditelan. dapat lebih panjang lagi sampai 14 hari. relaksasi sfingter dan otot elevator ani. rasa tidak tuntas 25% dari BAB 4. Untuk meghindarkan pengeluaran feses yang spontan. motilitas kolon tidak terpengaruh oleh bertambahnya usia. Otak menerima rangsang keinginan untuk BAB dan sfingter anus eksterna diperintahkan untuk relaksasi. Feses masuk dan meregangkan ampula dari rektum diikuti relaksasi dari sfingter anus interna.2. . 2. Defekasi dimulai dari gerakan peristaltik usus besar yang menghantakan feses ke rektum untuk dikeluarkan. mencakup beberapa faktor yang tumpang tindih. Patogenesis dari konstipasi bervariasi. feses yang keras 25% dari BAB 3.

Hal ini dapat berakibat penekanan pada saraf pudendus sehingga menimbulkan kelemahan lebih lanjut. Pemeriksaan elektrofisiologis untuk mengukur aktivitas motorik dari kolon pasien dengan konstipasi menunjukkan berkurangnya respons motorik dari sigmoid akibat berkurangnya inervasi intrinsic karena degenerasi plexus mienterikus. Diskesia Rektum Ditandai dengan penurunan tonus rektum. motilitas berkurang. Peningkatan Tonus Rektum Terjadi kesulitan mengeluarkan feses yang bentuknya kecil. disertai peningkatan ikatan pada reseptor opiate endogen di usus. pasien dengan konstipasi mempunyai kesulitan lebih besar untuk mengeluarkan feses yang kecil dan keras sehingga upaya mengejan lebih keras dan lebih lama. dan peningkatan ambang kapasitas. Selain itu. terdapat kecenderungan menurunnya tonus sfingter dan kekuatan otot-otot polos berkaitan dengan usia. Pemeriksaan secara manometrik menunjukkan peningkatan tekanan pada saluran anus saat mengejan. Individu di atas usia 60 tahun jug aterbukti mempunyai kadar plasma beta-endorfin yang meningkat. imobilitas. . dan menghambat refleks gaster-kolon. Dibutuhkan lebih besar regangan rektum untuk menginduksi refleks relaksasi dari sfingter eksterna dan interna. khususnya pada perempuan.Petanda radioaktif yang dipakai terutama lambat jalannya pada kolon sebelah kiri dan paling lambat saat pengeluaran dari kolon sigmoid. dimana konstipasi merupakan hal yang dominan. Pada colok dubur pasien dengan diskesia rektum sering didapatkan impaksi feses yang tidak disadari karena dorongan untuk BAB sering sudah tumpul. Hal ini dibuktikan dengan efek konstipatif dari sediaan opiate yang dapat menyebabkan relaksasi tonus kolon. Ditemukan juga berkurangnya rangsang saraf pada otot polos sirkuler yang dapat menyebabkan memanjangnya waktu gerakan usus. Dis-sinergis Pelvis Terdapatnya kegagalan untuk relaksasi otot pubo-rektalis dan sfingter anus eksterna saat BAB. gangguan sensasi rektum. pada mereka yang mengalami konstipasi dapat mengalami 3 perubahan patologis pada rektum : 1. atau sakit daerah anus dan rektum 1. 1. Diskesia rektum juga dapat diakibatkan karena tanggapnya atau penekanan pada dorongan untuk BAB seperti yang dijumpai pada penderita demensia. dilatasi rektum. Sering ditemukan pada kolon yang spastik seperti pada penyakit Irritable Bowel Syndrome. Sebaliknya. Sensasi dan tonus dari rektum tidak banyak berubah pada usia lanjut.

Analgesik 4. Psikosis depresi 2. Rektokel . Hipokalemia 3. Preparat besi 9. Kondisi neurologis 1. Illeus 4. Hernia 5. Hiperkalsemia 2. Penyakit-penyakit saluran cerna 1. Kurang privasi untuk BAB 4.faktor risiko konstipasi pada usia lanjut Dibutuhkan pengenalan faktor-faktor resiko yang berkaitan dengan konstipasi pada usia lanjut untuk memahami masalah ini. Hipotiroid 13. Traauma medulla spinalis 4. Demensia 3. polifarmasi dapat menyebabkan konstipasi karena beberapa golongan obat mempunyai potensi untuk hal ini. Preparat kalsium 8. Volvulus 6. Gangguan metabolik 1. Faktor-faktor resiko konstipasi pada usia lanjut : 1. Diuretik 5. Irritable Bowel Syndrome 7.3 Faktor. Antasida alumunium 10. Kanker kolon 2. konstipasi imajiner 14. Beberapa kelainan neurologis dan endokrin-metabolik juga dapat mengakibatkan konstipasi yang berat. Penyalahgunaan pencahar 11. Kausa Psikologis 1. Narkotik 3. Sebagai contoh. Penyakit Parkinson 3. Obat-obatan yaitu golongan obat-obatan : 1. Stroke 2. Divertikel 3.2. NSAID 6. mengabaikan dorongan BAB 5. Kalsium antagonis 7. Antikolinergik 2. Neorupati diabetik 12.

Diawali dengan pemerikssaan rongga mulut meliputi gigi gerigi. Misalnya jika dalam 24 jam belum BAB atau ada kesulitan dan harus mengejan serta perasaan tidak tuntas untuk BAB sudah mengira dirinya menderita konstipasi. atau adanya massa feses.4 Manifestasi klinis Anamnesis yang terperinci merupakan hal terpenting untuk mengungkapkan adakah konstipasi dan faktor resiko penyebabnya. 6. Fistula atau Fissura ani 10. pembesaran organ. 7. normal atau berlebihan misalnya pada jembatan usus. peregangan atau tonjolan. Selanjutnya palpasi pada permukaan perut untuk menilai kekuatan otot-otot perut. Diet rendah serat 2. Pemeriksaan daerah perut dimulai dengan inspeksi adakah pembesaran abdomen. Konstipasi merupakan suatu keluhan klinis yang umum dengan berbagai tanda dan keluhan lain yang berhubungan. Beberapa keluhan yang mungkin berhubungan dengan konstipasi adalah : 1. Lain-lain 1. Bepergian jauh 5. Inersia kolon 15. adanya lesi selaput lendir mulut dan tumor yang dapat mengganggu rasa pengecap dan proses menelan. adanya tumor atau aneurisma aorta. asietes. 8. Pada perkusi dicari antara lain pengumpulan gas berlebihan. Auskultasi antara lain untuk mendengarkan suara gerakan usus besar. Pemeriksaan daerah anus memberikan petunjuk . Kurang cairan 3. Pasien yang mengeluh konstipasi tidak selalu sesuai dengan patokan-patokan yang obyektif. 2. 4. Walaupun demikian. Palpasi lebih dalam dapat meraba massa feses di kolon.8. 9. pemeriksaan fisis yang teliti dan menyeluruh diperlukan untuk menemukan kelainankelainan yang berpotensi mempengaruhi khususnya fungsi usus besar. Imobilitas atau kurang olahraga 4. 5. 3. Kesulitan memulai dan menyelesaikan BAB mengejan keras saat BAB Massa feses yang keras dan sulit keluar Perasaan tidak tuntas saat BAB Sakit pada daerah rektum saat BAB Rasa sakit pada perut saat BAB Adanya perembesen feses cair pada pakaian dalam Menggunakan jari-jari untuk mengeluarkan feses Menggunakan obat-obatan pencahar untuk bisa BAB Pemeriksaan fisis pada konstipasi sebagian besar tidak didapatkan kelainan yang jelas. Pasca tindakan bedah perut 2. Wasir 9.

kadar hormon tiroid. elektrolit. sedangkan bila di kolon menunjukkan kelemahan yang menyeluruh. prolaps. fistula. Tonus rektum Tonus dan kekuatan sfingter Kekuatan otot pubo-rektalis dan otot-otot dasar pelvis Adakah timbunan massa feses Adakah massa lain (misalnya hemoroid) Adakah darah Adakah perlukaan di anus Pemeriksaan laboratorium dikaitkan dengan upaya mendeteksi faktor-faktor resiko penyebab konstipasi. fisur. 5. dan massa tumor di daerah anus dapat mengganggu proses BAB. Bila ada penurunan berat badan. 3. terutama yang terjadinya akut. keluarnya darah dari rektum atau adanya riwayat keluarga dengan kanker kolon perlu dikerjakan kolonoskopi. anemia yang berhubungan dengan keluarnya darah dari rektum. Sinedefecografi adalah pemeriksaan radiologis daerah anaorektal untuk menilai evakuasi feses secara tuntas. dan sebagainya.penting. Prosedur lain misalnya anuskopi dianjurkan dikerjakan secara rutin pada semua pasien dengan konstipasi untuk menemukan adakah fisura. Pemeriksaan ini dapat mendeteksi adakah impaksi feses dan adanya massa feses yang keras yang dapat menyebabkan sumbatan dan perforasi kolon. menometri. 4. misalnya adakah wasir. 2. cinedefecografi. dapat dilanjutkan dengan barium Enema untuk memastikan tempat dan sifat sumbatan. Pemeriksaan colok dubur harus dikerjakan antara lain untuk mengetahui ukuran dan kondisi rektum serta besar dan konsistensi feses. Bila timbunan zat ini terutama ditemukan di rektum menunjukkan kegagalan fungsi ekspulsi. 6. Waktu persinggahan suatu bahan radio-opak di kolon dapat diikuti dengan melakukan pemeriksaan radioologis setelah menelan bahan tersebut. Pemeriksaan intensif ini dikerjakan secara selektif setelah 3-6 bulan pengobatan konstipasi kurang berhasil dan dilakukan hanya pada pusat-pusat pengelolaan konstipasi tertentu. . Kemudian penderita duduk pada toilet yang diletakkan dalam pesawat sinar X. ulkus. proktosigmoidoskopi. Proktosigmoidoskopi bisanya dikerjakan pada konstipasi yang baru tejadi sebagai pprosedur penapisan adanya keganasan kolon-rektum. misalnya glukosa darah. mengidentifikasi kelainan anorektal dan mengevaluasi kontraksi serta relaksasi otot rektum. Foto polos perut harus dikerjakan pada penderita konstipasi. dan elektromiografi). Uji yang dikerjakan dapat bersifat anatomik (enema. Bila diperkirakan ada sumbatan kolon. Uji ini memakai semacam pasta yang konsistensinya mirip feses. kolonoskopi) atau fisiologik (waktu singgah di kolon. dimasukkan ke dalam rektum. wasir dan keganasan. Colok dubur dapat memberikan informasi tentang : 1. 7. anemia.

suara usus melemah. penampilannya sering hanya berupa kemunduran klinis yang tidak spesifik. Impaksi feses penyebab penting dari morbiditas pada usia lanjut. aritmia serta takipnia karena karena peregangan dari diafragma. Inkontinensia alvi juga sering didapatkan. harus dibatasi. Sedangkan bila mungkin. di rektum (70%). tetapi untuk untuk sebagian kecil dapat berakibat komplikasi yang serius. Strategi pengobatan dibagi menjadi : . adakah atrofi saraf yang dibuktikan dengan respon sfingter yang terhambat. menigkatkan resiko perawatan di rumah sakit dan mempunyai potensi terjadinya komplikasi yang fatal. dapat terjadi perforasi dan penderita datang dengan sakit perut berat yang mendadak. Mengejan berlebihan dalam jangka waktu lama pada penderita dengan konstipasi dapat berakibat prolaps dari rektum. misalnya impaksi feses. 2. sigmoid(20%). karena impaksi feses di daerah kolorektal. pemeriksaan laboratorium didapatkan leukositosis. konstipasi hanya sekedar mengganggu. Impaksi feses merupakan akibat dari terpaparnya feses pada daya penyerapan dari kolon dan rektum yang berkepanjangan. Uji manometri dikerjakan untuk mengukur tekanan pada rektum dan saluran anus saat istirahat dan pada berbagai rangsang untuk menilai fungsi anorektal. dan kolon bagian proksimal(10%). 2. Volvulus daerah sigmoid juga sering terjadi sebagai komplikasi dari konstipasi. dan kadangh-kadang gagal ginjal yang membaik setelah impaksi dihilangkan titik. Pada kebanyakan kasus tidak didapatkan kelainan anatomik maupun fungsional. sehingga penyebab dari konstipasi disebut sebagai nonspesifik. merangsang upaya untuk memberikan pengobatan secara simptomatik. delirium perut yang tegang. kadang-kadang dari pemeriksaan fisis didapatkan panas sampai 39. Dinilai kelainan anorektal saat proses berlangsung.5 Komplikasi Konstipasi Pada Usia Lanjut Walaupun untuk kebanyakan orang usia lanjut.5 o. peristiwa ini dapat disebabkan ulserasi sterkoraseus dari suatu fecaloma yang keras menyebabkan ulkus dengan tepi yang nekrotik dan meradang.Penderita diminta mengejan untuk mengeluarkan pasta tersebut. pemerikasaan elektromiografi dapat mengukur misalnya tekanan sfingter dan fungsi saraf pudendus. pengobatan harus ditujukan pada penyebab dari konstipasi. Impaksi feses yang berat pada daerah rektosigmoid dapat menekan leher kandung kemih menyebabkan retensio urin. Penggunaan obat pencahar jangka panjang terutama yang bersifat merangsang peristaltik usus. hidronefrosis bilateral.6 Penatalaksanaan Banyaknya macam-macam obat yang dipasarkan untuk mengatasi konstipasi. Feses dapat menjadi sekeras batu.

memperbesar dan melunakkan massa feses. Contohnya : minyak kastor. akan menggiatkan sirkulasi dan perut untuk memeperkuat otot-otot dinding perut. antara lain : Cereal. misalnya divertikel dan kanker kolorektal. bila tidak dijumpai sumbatan karena massa atau adanya volvulus. Psilium. ditambahkan terapi farmakologis. Golongan ini yang banyak dipakai. sehingga mempermudah penyerapan air. Bila dijumpai konstipasi kronis yang berat dan tidak dapat diatasi dengan cara-cara tersebut di atas. antara lain : sorbitol. Diet : peran diet penting untuk mengatasi konstipasi terutama pada golongan usia lanjut. dan tidak menahan atau menunda dorongan untuk BAB ini. Diharapkan kebiasaan ini dapat menyebabkan penderita tanggap terhadap tanda-tanda dan rangsang untuk BAB. gliserin 4. Methyl selulose. Serat meningkatkan massa dan berat feses serta mempersingkat waktu transit di usus. golongan dochusate. diharpkan cukup asupan cairan sekitar 6-8 gelas sehari. Olahraga : cukup aktivitas atau mobilitas dan olahraga membantu mengatasi konstipasi jalan kaki atau lari-lari kecil yang dilakukan sesuai dengan umur dan kemampuan pasien. sehingga dapat memanfaatkan reflex gastro-kolon untuk BAB. terutama pada penderita dengan atoni pada otot perut 2. data epidemiologis menunjukkan bahwa diet yang mengandung banyak serat mengurangi angka kejadian konstipasi dan macam-macam penyakit gastrointestinal lainnya. tidak dilakukan tindakan pembedahan. Pengobatan farmakologis Jika modifikasi perilaku ini kurang berhasil. sehingga meningkatkan motilitas usus besar. Fenolptalein. 3. untuk mendukung manfaa serat ini. Contohnya : Bisakodil. sehingga cukup aman untuk digunakan. 2. mungkin dibutuhkan tindakan pembedahan. merangsang peristaltik. bila tidak ada kontraindikasi untuk asupan cairan. obat ini bekerja dengan menurunkan tegangan permukaan feses. Prosedur ini dikerjakan pada konstipasi berat dengan masa transit yang lambat dan tidak diketahui penyebabnya serta tidak ada respons dengan pengobatan yang diberikan. 2.1. Misalnya kolektomi sub total dengan anastomosis ileorektal. 3. laktulose. dapat merusak pleksusmesenterikus dan berakibat dismotilitas kolon. golongan osmotik yang tidak diserap. Perlu diperhatikan bahwa pencahar golongan ini bisa dipakai untuk jangka panjang. Ada 4 tipe golongan obat pencahar : 1. misalnya pada penderita gagal ginjal. Pengobatan non-farmakologis 1. Penderita dianjurkan mengadakan waktu secara teratur setiap hari untuk memanfaatkan gerakan usus besarnya. dianjurkan waktu ini adalah 5-10 menit setelah makan. Pasa umumnya. dan biasnya dipakai obat-obatan golongan pencahar. . Latihan usus besar : melatih usus besar adalah suatu bentuk latihan perilaku yang disarankan pada penderita konstipasi yang tidak jelas penyebabnya. melunakkan dan melicinkan feses.

Sejak saat itu kakek tidak pernah menghabiskan porsi makan sehari-harinya karena kurang nafsu makan.8 Asuhan Keperawatan Seorang kakek bernama Ikhwan yang berumur 65 tahun mengeluh nyeri pada perut bagian bawah. Kakek mengatakan bahwa sudah seminggu belum BAB. 4. Riwayat kesehatan keluarga : Review of system 1. seminggu belum BAB Riwayat penyakit sekarang : Ikhwan yang berumur 65 tahun mengeluh nyeri pada perut bagian bawah. Pengkajian Nama Tanggal lahir Jenis kelamin Tanggal MRS Alamat Diagnosa Medis Sumber Informasi Keluhan utama : Ikhwan : 5 November 1945 : Laki-laki : 30 November 2010 : Surabaya : Konstipasi : Klien.2. 6. TD meningkat B3 (Brain) : nyeri pada abdomen bawah B4 (Bladder) : B5 (Bowel) : nafsu makan turun. pemeriksaan fisik. 2. Biasanya kakek bisa BAB tiga hari sekali. BB turun B6 (Bone): - . kakek mengaku mudah lelah untuk melakukan aktivitas sehari-hari. 3. 1. kolonoskopi : nyeri pada perut.7 WOC DOWNLOAD : WOC ASKEP KONSTIPASI 2. Setelah dikaji inspeksi terdapat pembesaran abdomen dan saat dipalpasi ada impaksi feses. Sejak saat itu kakek tidak pernah menghabiskan porsi makan sehariharinya. Kakek mengatakan bahwa sudah seminggu belum BAB. : B1 (Breath) : RR meningkat B2 (Blood) : denyut jantung meningkat. Selain itu. 5. Biasanya kakek bisa BAB tiga hari sekali.

RR 23x/mnt Pemeriksaan fisik abdomen 1. keadaan umum : lemah 2. ada impaksi feses Perkusi : redup Auskultasi : bising usus tidak terdengar Sulit BAB Perut terasa begah Nafsu makan menurun Nutrisi kurang dari kebutuhan Data Subjektif: Ø Klien tidak nafsu makan Data Objektif: Ø Bising usus tidak terdengar Menurunnya intake makanan . 4. nadi : 90x/mnt. 2. Inspeksi : pembesaran abdomen Palpasi : perut terasa keras. Eliminasi feses tidak kebiasaan BAB tiga kali lancar sehari konstipasi Data obyektif :     Inspeksi : pembesaran abdomen Palpasi : perut terasa keras. 3. ada impaksi feses Perkusi : redup Auskultasi : bising usus tidak terdengar Analisa data Data Data subyektif : Etiologi Masalah Pola BAB tidak teratur Kontipasi Ø Seminggu tidak BAB. TTV : tekanan darah 130/95 mmHg.Hasil pemeriksaan fisik umum : 1.

Diagnosa 1. Konstipasi berhubungan dengan pola defekasi tidak teratur 2.Data Subjektif Ø Keluhan nyeri dari pasien Data Objektif konsistensi tinja yang keras sulit keluar Akumulasi di kolon Nyeri akut Ø Perubahan nafsu makan Nyeri anbdomen 2. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan hilangnya nafsu makan 3. Konstipasi berhubungan dengan pola defekasi tidak teratur Tujuan: pasien dapat defekasi dengan teratur (setiap hari) Kriteria hasil : Ø Defekasi dapat dilakukan satu kali sehari Ø Konsistensi feses lembut Ø Eliminasi feses tanpa perlu mengejan berlebihan Intervensi Mandiri     Rasional Tentukan pola defekasi bagi klien dan latih klien untuk menjalankannya Atiur waktu yang tepat untuk defekasi Ø Untuk mengembalikan keteraturan pola klien seperti sesudah makan defekasi klien Berikan cakupan nutrisi berserat sesuai dengan indikasi Ø Untuk memfasilitasi refleks defekasi Berikan cairan jika tidak kontraindikasi Ø Nutrisi serat tinggi untuk melancarkan . Nyeri akut berhubungan dengan akumulasi feses keras pada abdomen 3. Intervensi dan Rasional 1.

Dengan pemberian porsi yang besar dapat menjaga keadekuatan nutrisi yang masuk. . Dukung anggota keluarga untuk membawa makanan kesukaan pasien dari rumah. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan hilangnya nafsu makan Tujuan: menunjukkan status gizi baik Kriteria Hasil: Ø Toleransi terhadap diet yang dibutuhkan Ø Mempertahankan massa tubuh dan berat badan dalam batas normal Ø Nilai laboratorium dalam batas normal Ø Melaporkan keadekuatan tingkat energi Intervensi Mandiri  Rasional  Buat perencanaan makan dengan pasien untuk dimasukkan ke dalam jadwal makan.  Menjaga pola makan pasien sehingga pasien makan secara teratur      Tawarkan makanan porsi besar disiang hari ketika nafsu makan tinggi Pastikan diet memenuhi kebutuhan tubuh sesuai indikasi.2-3 liter per hari Kolaborasi Ø Pemberian laksatif atau enema sesuai indikasi eliminasi fekal Ø Untuk melunakkan eliminasi feses Ø Untuk melunakkan feses 2. Pastikan pola diet yang pasien yang Pasien merasa nyaman dengan makanan yang dibawa dari rumah dan dapat meningkatkan nafsu makan pasien.

Kaji turgor kulit pasien     Kolaborasi Observasi  Tinggi karbohidrat. albumin. seperti Hb. albumin. dan kadar glukosa darah Ajarkan metode untuk perencanaan makan Health Edukasi Ø Ajarkan pasien dan keluarga tentang makanan yang bergizi dan tidak mahal  Klien terbiasa makan dengan terencana dan teratur.  disukai atau tidak disukai. Pantau masukan dan pengeluaran dan berat badan secara periodik. Nyeri akut berhubungan dengan akumulasi feses keras pada abdomen Tujuan: menunjukkan nyeri telah berkurang Kriteria Hasil: Ø Menunjukkan teknik relaksasi secara individual yang efektif untuk mencapai kenyamanan Ø Mempertahankan tingkat nyeri pada skala kecil Ø Melaporkan kesehatan fisik dan psikologisi Ø Mengenali faktor penyebab dan menggunakan tindakan untuk mencegah nyeri Ø Menggunakan tindakan mengurangi nyeri dengan analgesik dan non-analgesik secara tepat . dan kalori diperlukan atau dibutuhkan selama perawatan. Ø Menjaga keadekuatan asupan nutrisi yang dibutuhkan. 3. protein. dan glukosa dalam darah   Pantau nilai laboratorium. Untuk mendukung peningkatan nafsu makan pasien Mengetahui keseimbangan intake dan pengeluaran asuapan makanan Sebagai data penunjang adanya perubahan nutrisi yang kurang dari kebutuhan Untuk dapat mengetahui tingkat kekurangan kandungan Hb.

Halaman 284291 .Intervensi Mandiri Rasional Ø Bantu pasien untuk lebih berfokus pada Ø Klien dapat mengalihkan perhatian dari aktivitas dari nyeri dengan melakukan nyeri penggalihan melalui televisi atau radio Ø Hati-hati dalam pemberian anlgesik opiat Ø Perhatikan bahwa lansia mengalami peningkatan sensitifitas terhadap efek Ø Hati-hati dalam pemberian obat-obatan analgesik opiat pada lansia Ø Perhatikan kemungkinan interaksi obat – obat dan obat penyakit pada lansia Observasi Ø Minta pasien untuk menilai nyeri atau ketidak nyaman pada skala 0 – 10 Ø Gunakan lembar alur nyeri Ø Mengetahui karakteristik nyeri Ø Lakukan pengkajian nyeri yang komperhensif Health education Ø Instruksikan pasien untuk meminformasikan pada perawat jika pengurang nyeri kurang tercapai Ø Berikan informasi tetang nyeri Ø Agar mngetahui nyeri secara spesifik Ø Perawat dapat melakukan tindakan yang tepat dalam mengatasi nyeri klien Ø Agar pasien tidak merasa cemas Ø Mengetahui tingkat nyeri yang dirasakan klien Daftar Pustaka Carpenito. Lynda Juall. Diagnosis Keperawatan Aplikasi pd praktik klinis Edisi 9.

18:2..8.3 [025079.038 ...950703...9.8:..-47./.33:978:7.  O :.380.547. [&39:20:3.843.3  O ::3.32.8   O !.8.54.8 [%407.3.83472.9:-:/./0:.2-.3-07.3/03..35.3 .3/.393.33.803207.32./.2.5.8:  O ..91...2.18:2.7.30. 7907.38907.-47.9:7 !.9./.7. [.77:2.3/0920203:0-:9:./.7 4.:39:  202-.33:978./.803 /.349.9.7/8.3/7 O #.32.3..3 2.3 O 03.393 O !.808:. 907507..   %.3.3.35.3/.3/03.83472.9203..2.803.803803.5/09.33..7 /... 3/.3-07:-:3.7.3.907.9 2033.5.3.32.709.88.3.:0302.803  O 03.8 023.2-.3. [0.9-.3/.35.89.9...9.35478..3/-.8032./0:.30/.9:8-.3 .947:2/.0:.35.3.354..3/03..9..3 9:-:808:.35..810.3 %::.803 :39:/2..77:2.3.389.8 [!02-07.3023.90307  3907./09.3502-07...89.3-08.35478-08.810808   [&39:20:3.18:2. 5.70-:9:..0.3/. 2.2.308:..3203:3:.3/-:9:.310808    !07:-.

3 7907.3.39/.2.9.9475030-.-07:7.905..9  ..-:23 /.35./...8:.9:7  [03.3/:3.3 &39:/.3203:7.7.93075.339.3.-:23  /.9.920309.9 0:7..5074/  O ...18: 2.358448 [0303.   O 03907-.33.390703..393.307 [03:3./.3.39. 507:-.947:2 805079.8  -807.2.-/4203 %::.9..803 0309...380..0880./8:.3:39:203.3.:/-:9:.8.9.330790.0.7..3.32.9.47 /507:.39..3/.9:747:95.7:48.3/-:9:.3 5030:.:9-07:-:3.9039.30:.3/. O .3.301091:39:203.390370.3..3.8:5.3    07.8.3 2.3-07/..0/./0:.547.7.3..380.2/. [0.33:978.3./.3/.7.3343 .81080807.7./.9./.3/03.:93.8.3  2.:2.3.7.3.8 O  !.35030:.7.:3.3.7..9-.880.3.7-4/7. 0..803 O O O O O 4.393/.7.9./8:.7 0-:9:.3.3 $0-.3/./.9 574903 /.3 [025079.3..0.3.3907.1..3 -07. 507.3/03.  !.3 O %3.3.32094/0:39:50703.3:48.  ..3307/03.3.-47./.-47.503:3.3:7. /.3203:3..:9/...35.:2:./.8 [03:3:.318/.:0802-.8:.85..3  &39:203/::35033..08/..-/.3.2..5.5.803/.3..8  [.33:978 .03.9/:./:..2.3080.3203:3:.7.3.393/.5.0.

9/.72309.5.8  [39.9.9./4 [.38..3/7.8.3 425070381 [..85/57.3507.  -807..9/.3   [!07./.302:33.920.7307/03.7 . [03/.9/.302-.938/8 .35.  .5.3 ..3 03 [:3.3.34880507.9 .331472.34-.320.02.:30780.9.35..803:39:0--0714:85.207.: 09/.3307:7.:.75.9.5.3307   .3/.830703 [.9307.    [0309.2203.  [.85081 0.943 [3897:8.9 .2. ...7.9.9 5.3..:.9203.2.8909..30845..9 [!07./.9/.3 307 503.:7.3 905.38.2502-07.5010 [.:..9/.38.. 503:7.8039/. [!07.3503.:93..3...9.203.:...90789307 [./.8..9.038 .84-.7.:7307 [0309..803:39: 20231472.33907.39:5..34-.0845.320.3. [07.803:39:203.38038919.19.7.9.9../..2 5033.8.35.5.3/7 #. 3907.9.9 4-.9.8/.3907.35.95..393/.843./.7!:89.307.:900../.8 .750394 3/.:.9.8.8907.8.3-.9503.3307.90/:.507.9  4-..2502-07.

 .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful