P. 1
MAKALAH Takhrij Hadits-edit

MAKALAH Takhrij Hadits-edit

|Views: 2,680|Likes:
Published by Gambus Latahzan

More info:

Published by: Gambus Latahzan on Nov 13, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

05/30/2013

pdf

text

original

TAHKRIJ AL-HADIST MAKALAH

Diajukan Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah " STUDY HADIST "

Disusun oleh :

Siti Mutiatuz Zahroh Suryaningtyas Yun Diah Wati Luluk Afifah Siti Nurcholifa

: D03210033 : D03210079 : D03210038 : D03210014

Dosen Pembimbing :

Drs. Kasyful Anwar

FAKULTAS TARBIYAH JURUSAN KEPENDIDIKAN ISLAM INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI SUNAN AMPEL SURABAYA 2011
1

BAB I
 Pendahuluan Dalam struktur hirarki sumber hukum Islam, hadits (sunnah) bagi ummat Islam menempati urutan kedua sesudah al-Qur’an karena, disamping sebagai ajaran Islam yang secara langsung terkait dengan keharusan menaati Rasulullah Saw, juga karena fungsinya sebagai penjelas (bayan) bagi ungkapan-ungkapan alQur’an yang mujmal, muthlaq, ‘amm dan sebagainya.1 Hadits Nabi meskipun dalam hirarki sumber pokok ajaran Islam menempati urutan kedua, namun dalam praktek pelaksanaan ajaran Islam sangat urgen, bahkan tidak jarang dianggap sejajar, hadits bukan hanya berfungsi sebagai penguat dan penjelas tetapi suatu ketika ia secara independen dapat menjadi pijakan dalam menentukan suatu ketetapan hukum terhadap sesuatu kasus yang tidak disebut dalam al-Qur’an. Keberadaan hadits sebagai sumber hukum Islam sangat unik dan urgen tidak seperti al-Qur’an yang qath’i, Hadits dengan berbagai dimensinya selalu menjadi fokus kajian yang problematik dan menarik baik bagi pendukung maupun penentangnya.2 Maka tidak mengherankan jika eksistensinya sering menjadi sasaran kritik dari orang-orang yang anti terhadap Islam, dikalangan umat Islam sendiri muncul kelompok yang disebut inkar al-sunnah, yang tidak menjadikan hadits sebagai sumber ajaran Islam dan hanya mencukupkan diri dengan petunjuk al-Qur’an. Di era kontemporer muncul pelbagai pemikiran baik yang dilakukan oleh pemikir muslim maupun kaum orientalis, mereka tidak pernah berhenti dan selalu mengalami perkembangan yang cukup pesat, hal ini terlihat dari banyaknya kelompok yang mengkritisi pemikiran seputar hadits seperti Mustafa al-Azami dari India, Fazlurrahman dari Indo-Pakistan, Muhammad Syahrur dari Syiria, Muhammad al Gazali dan Yusuf Qardawi dari Mesir, sedangkan dari kelompok orientalis terdapat nama-nama seperti Josepht Schacht. Montgomery Watt, Ignaz Goldzihe, dan sebagainya. Al Qur’an dan Hadits mempunyai peranan yang sangat penting dalam kehidupan sehari hari bagi umat Islam. Walaupun terdapat perbedaan dari segi penafsiran dan aplikasi,
1

Abas Hasjim, Kritik Matan Hadits Versi Muhadisin dan Fuqoha, Teras, (Yogjakarta, 2004) . hal :1 Abdul Mustaqim, Teori Sistem Isnad dan Otensitas Hadits, Menurut Perspektif Muhammad Mustafa Azami dalam Fazhurrahman, Tiara Wacana, cet. 1, (Yogjakarta,2002) hal : 55-56

2

2

Qur’an. tafsir dan metodologi penelitian tafsir. yaitu meliputi pengertian tahrij al. metode dan prosesnya takhrij.Qur’an. melalui terobosan terobosan studi baru. perbedaan mazhab dan cinta kebaikan serta bodoh agama. perkembangan keislaman pentas sejarah umat Sebagai insan akademika Institut Agama Islam. karena alasan politik. karena kegiatan ilmiah dapat tumbuh dengan baik dan subur dibandingkan dengan lingkungan pendidikan lainnya. atau dibuat oleh kelompok yang tidak menyukai kehadiran Islam. ‘Ulumul al.namun setidaknya ulama sepakat bahwa keduanya dijadikan sebagai rujukan Islam dalam mengambil dan menjadikan pedoman utamanya dari keduanya. latarbelakang takhrij.Hadits. Ketiganya mempunyai hubungan yang erat satu sama lain dan integral dalam mendalami sumber ajaran Islam. Demikian gambaran makalah ini.Hadits. benar-benar berasal dari Nabi. Darul Ma’arif 1964. apalagi kita mengetahui hadits palsu itu berkeliaran dipermukaan bumi ini. Harapan ini tentu dalam taraf kewajaran.Hadits dan metodologi penelitian hadits ( tahqiq al-hadits ) yang didalamnya terdapat tahrij al-hadits. dan beberapa contoh dalam mentahrij sebuah hadits. baik yang dibuat secara sengaja oleh umat Islam sendiri. dari masing-masing sumber dapat diurai dalam tiga bentuk. Secara umum epistemologis keilmuan sumber ajaran Islam dapat dibagi menjadi dua bagian besar. kajian terhadap sumber hukum Islam ini mempunyai arti yang sangat penting.Qur’an dan hadits..  Latar Belakang Takhrij al-Hadits.3 Oleh karena itu kajian terhadap keduanya tak akan pernah keruh bahkan terus berjalan dan berkembang seiring dengan kebutuhan umat Islam. Mesir. Adapun yang menjadi kajian dalam penulisan makalah ini sebagai berikut. 3 . Syarh al. untuk mengembangkan kajian sumber ajaran Islam secara mendalam dan ilmiah. penting dan manfaatnya takhrij. Pemahaman dalam hal tersebut akan menjadi kajian tentang kajian studi takhrij sebagaimana pada penulisan makalah ini. seperti dalam kajian al. hal:11-14. semoga bermanfaat bagi peningkatan pembelajaran studi hadits baik melalui metode media konvensional maupun dengan media elektronik lainnya. ternyata tidak semua yang disebut hadists itu. yakni al. Sesuai dengan sejarah perjalanan hadits. kajian ini akan dalam terus mewarnai khazanah Islam. 3 Ali Hasbullah. demikian juga dalam kajian hadits terdapat ‘Ulumul al. Usul al-Tasyiri al-Islami.

dan mana yang tidak bisa sebagai hujjah karena hadits itu palsu. Misalnya al-Thabari dalam kitab tarihnya. Ketika semangat belajar generasi berikutnya semakin lemah. Hadits Nabi.mereka mudah menemukan. di kitab mana hadits itu berada. bertolak belakang dari pemikiran semula yang mengira bahwa semua hadits itu segala sesuatu yang di nisbahkan kepada Nabi yang fungsinya sebagai rujukan dalam memahami dan melaksanakan ajaran Islam. bahkan yang disandarkan kepada tabi’in. Tiara Wacana. ketika ahli hadits bangkit dengan memunculkan apa yang dinamakan dengan kutub at-takhrij. cet. maka mulai ada titik terang. maka tidak mengherankan. persoalan-persolan seperti itu selalu membias dan menghantui pemikiran kaum muslimin. ketika membutuhkan sebuah hadits sebagai dalil. karenanya ada beberapa penulis ilmu tertentu memasukan hadits didalamnya melelalui jalur yang di ketahuinya tanpa merujuk kitab tertentu. bahkan yang lebih fatal mereka seringkali mengambil hadits atau 4 Muhammad Zuhri.4 Muh. dalam sekejap mereka dapat menemukannya. diriwayatkan oleh siapa hadits yang dimaksud dan melalui jalur mana saja. Yogjakarta. mereka mempunyai pengetahuan syari’at yang luas dan ingatan yang kuat terhadap sumber hukum yang langsung datang dari Rasulullah Muhammad saw Sebagaimana diungkapkan oleh. begitu juga apa yang dinisbahkan kepada sahabatpun disebut hadits. 2003. Ilmu at-takhrij pada awal perkembangan sumber hukum Islam tidaklah begitu urgen karena penguasaan para ulama terhadap sumber-sumber as-Sunnah begitu luas. jika ilmu tahrij al-hadits tidak dikenal dan tidak untuk dipelajari. Telaah Historis dan Metodologis. bahkan belum dibutuhkan karena.Kenyataan seperti ini. Kemudian kalau ada hadits yang belum dibukukan . II. Zuhri bahwa: Para ulama terdahulu tidak membutuhkan metode takhrij al-Hadits. karena pengetahuan mereka terhadap sumber-sumber syari’at sangat luas dan ingatan mereka sangat kuat. sehingga mereka tidak terlalu sulit jika disebutkan suatu hadits untuk mengetahuinya dalam kitab kitab as-Sunnah. 4 . Imam Syafi’i dalam menulis kitab arRisalah atau al-Umm dan Ibn Katsir dalam menulis tafsirnya memasukan hadits dengan jalurnya sendiri. maka persoalannya mana hadits yang bisa diterima sebagai dalil agama karena diduga keras berasal dari Nabi. mereka kesulitan untuk mengetahu tempat –tempat hadits yang dijadikan rujukan ilmuilmu syar’i.

dan menerangkan hukumnya dari yang shaheh atas yang dhaif. untuk menelusuri hadits atau dalil dan mengkanter hal tersebut diperlukan ilmu yang disebut tahrij al-hadits. tidak semua hadits yang dimuat dalam buku rujukan berkualitas layak.dalil dengan cara merujuk kitab-kitab sembarangan. menjelaskan metodenya. disisi lain. Bagaimana contoh penerapan metode tahkrij al-hadist? 5 . Bagaimana tujuan dan manfaat tahkrij al-Hadist? 3. Bagaimana metode dan proses tahkrij al-hadist? 4.  RUMUSAN MASALAH 1. Bagaimana pengertian tahkrij al-hadist? 2. Maka untuk menjawab berbagai permasalahan sebagaian dari ulama bangkit dan memperlihatkan hadits hadits yang ada pada sebagaian kitab dan menjelaskan sumbernya dari kitab-kitab as-sunnah yang asli.

1313 H. diterjemahkan Mifdhol Abdurrahman. Pengertian Takhrij al. Al-kharaja artinya menampakan dan memperlihatkannya. Kairo al-Maimuniyyah. takhrij adalah menunjukkan tempat hadits pada sumber-sumber aslinya. dimana hadits tersebut telah diriwayatkan lengkap dengan sanadnya. 3.8 Takhrij menurut Nizar Ali. Pengantar Studi Ilmu Hadits. al-istimbath (mengeluarkan dari sumbernya).Hadits A. rangkaian sanadnya 5 6 Al-Fairuz Abadi. Secara Etimologi Kata takhrij berasal dari kata kharaja.taujih (menerangkan). attadrib (latihan). 8 Mahmud Al-Tahhan. Mabahis fi ‘Ulum al-Hadits. 6 . terpisah dan kelihatan. Dar al-Qur’an al-Karim. Secara Terminology Adapun secara terminologi. 2004. mempunyai pengertian: 1. dan akhraja al-khadits wa kharajahu artinya menampakkan dan memperlihatkan hadits kepada orang dengan menjelaskan tempat keluarnya.5 Takhrij juga bisa berarti Ijtima’ alamra’aini al-muttadla diin fi syai’in wahid (berkumpulnya dua persoalan yang bertentangan dalam suatu hal). pengarahan). al-tadrib (meneliti) dan al. Maktabah Wahbah. 7 Syaikh Manna Al-Qaththan’. Cet.II.BAB II A. al-taujih (menjelaskan duduk persoalan. takhrij berasal dari kata kharaja yang artinya nampak dari tempatnya.7 B. hal :9. Mengeluarkan sejumlah hadits dari kandungan kitabnya dan meriwayatkan kembali. Jakarta: Pustaka Al-Kautsar.tp. Yogjakarta. t. Usul al-Takhrij Wa Dirasat al-Isanid. Nizar Ali. dan almakhraja artinya tempat keluar. yang berarti al-zuhur (tampak) dan al-buruz (jelas). Petunjuk yang menjelaskan kepada sumber asal hadits. kemudian menjelaskan derajatnya jika diperlukan. al-Qamus al-Muhit. 1978. atau keadaan. Makalah Studi al-Hadits Program Magister. Takhrij juga bisa berarti al-istimbat (mengeluarkan).6 Sedang menurut Syeh Manna’ Al. 2. 2006.Qaththan. Beirut. Mengungkapkan atau mengeluarkan hadits kepada orang lain dengan menyebutkan para perowi yang berada dalam sebagai yang mengeluarkan hadits. 2008.

pengertian altakhrij seperti ini dilakukan oleh Zain al-Din ‘Abd al-Rahman ibn al-Husai al-‘Iraqi yang melakukan takhrij terhadap hadits-hadits yang dimuat dalam kitab Ihya’ ‘Ulumuddin karya al-Gazali dengan judul bukunya Ikhbar al-Ihya’ bi Akhbar al-Ikhya’. 12 Muhammad Syuhudi Ismail. hal:43. . hal:43. seperti al-Bukhari yang menghimpun kitab hadits Sakhih al-Bukhari. Petunjuk tentang tempat atau letak hadits pada sumber aslinya yang diriwayatkan dengan menyebutkan sanadnya. 11 Ibid. 10 13 14 Ibid. hal:42.10 Mengemukakan berbagai hadits yang telah dikemukakan oleh para guru hadits atau berbagai kitab yang susunannya dikemukakan berdasarkan riwayat sendiri atau para gurunya atau temannya atau orang lain dengan menerangkan siapa periwayatannya dari para penyusun kitab ataupun karya yang dijadikan sumber acuan.12Mengemukakan hadits berdasarkan kitab tertentu dengan disertakan metode periwayatannya dan sanadnya serta penjelasan keadaan para periwayatnya serta kualitas haditsnya.11 Mengemukakan hadits kepada orang banyak dengan menyebutkan peristiwanya dengan sanad lengkap serta dengan menyebutkan metode yang mereka tempuh.9 Sedangkan takhrij menurut istilah ahali hadits.4. 9 Nizar Ali. misalnya Ibnu Hajar al-‘Asqalani yang menyusun kitab Bulug alMaram. . inilah yang dilakukan para penghimpun dan penyusun kitab hadits. Metode Penelitian Hadits Nabi.hal:3. Menunjukan asal usul hadits dan mengemukakan sumber pengambilannya dari berbagai kitab hadits yang disusun Mukhorrijnya langsung. hal:43. 7 . Ibid. Jakarta. Makalah Studi al-Hadits. .13 Menunjukkan tempat hadits pada sumber-sumber aslinya. seperti yang dilakukan oleh Imam Bukhori yang banyak mengambil hadits dari kitab al-Sunan karya Abu al-Hasan al-Basri alSafar. didalamnya dikemukakkan hadits itu secara lengkap dengan sanadnya masingmasing. mempunyai pengertian: 1. Tujuan dan Manfaatnya Takhrij al-Hadits.14 Dengan demikian pengertian takhrij dalam makalah ini adalah penelusuran atau pencarian hadits dari berbagai sumbernya yang asli dengan mengemukakan matan serta sanadnya secara lengkap untuk kemudian diteliti kualitas haditsnya. C. Bulan Bintang 1992. kemudian menjelaskan derajatnya jika diperlukan. kegiatan ini. kegiatan takhrij seperti ini sebagaimana yang dilakukan oleh para penghimpun hadits dari kitabkitab hadits. lalu al-Baihaqi mengemukakan sanadnya sendiri. Ibid. kemudian dijelaskan martabat/kedudukannya manakala diperlukan. hal:71.

Adapun tujuan utama dilakukan tahrij al-hadits diantaranya adalah: a. yaitu a. Muslim. seperti kitab alSittah (sahih al-Bukhari. . sehingga dengan demikian akan mudah pula untuk mengetahui derajat keshahihan tidaknya Hadits tersebut.15 Sumber-sumber Hadits yang asli dimaksud adalah kitab-kitab Hadits . Untuk mengetahui asal usul riwayat hadits yang akan diteliti. c. hal:2. diterima atau tidaknya sebuah hadits atau sahih. dilakukan bila perlu saja dan tidak merupakan yang esensial dalam tahrij. hasan atau daifnya dan lain-lain.16 mengemukakan: Sedikitnya ada tiga hal yang menyebabkan pentingnya kegiatan takhrij alhadits dalam melaksanakan penelitian hadits. . al-Turmudzi. Muhammad Syuhudi Ismail. Untuk mengetahui ada tidaknya syahid dan mutabi’ pada sanad yang akan diteliti. Metode Penelitian Hadits Nabi. Takhrij al-Hadits sangat berguna untuk memperluas pengetahuan seseorang tentang seluk beluk kitab-kitab Hadits dalam berbagai bentuk dan system penyusunannya. 16 8 . beserta ulama yang meriwayatkannya. . kitab-kitab asal di mana suatu hadits berada.hal:71. Mengetahui keadaan/kualitas hadits yang berkaitan dengan maqbul/diterima maupun mardudnya/ditolaknya. Makalah Studi al-Hadits . b. Abu Dawud. Selain itu. Sedangkan manfaat dari kegiatan takhrij al-hadits diantaranya adalah: a) Memperkenalkan sumber-sumber hadits. Mengetahui sumber asli asal hadits yang di takhrij. Untuk mengetahui seluruh riwayat bagi hadits yang akan diteliti. . 15 Nizar Ali. dimana para penyusunnya menghimpun Hadits-hadits itu melalui penerimaan dari guru-gurunya dengan rangkaian sanad yang sampai kepada Nabi Muhammad SAW. alNasa’I dan Ibnu Majah). dengan takhrij al-Hadits secara tidak langsung seseorang akan mengetahui hadits-hadits lain yang sebenarnya tidak dicari dan sempat membacanya dalam kitab-kitab itu. b. Adapun penjelasan terhadap nilai-nilai Hadits. . mempermudah seseorang dalam mengembalikan sesuatu Hadits yang ditemukannya kedalam sumber-sumber aslinya.

hal:11-14. i) Dapat memperkenalkan periwayatan yang tidak terdapat dalam satu sanad. 17 secara makna. t. yaitu melalui perbandingan diantara sanad yang ada.b) Dapat menambah perbendaharaan sanad hadits melalui kitab-kitab yang dirujuknya. semakin banyak kitab asal yang memuat suatu hadits. maka dapat diketahui apakah riwayat tersebut munqati’. hasan atau daif. dengan membandingkan riwayat hadits yang banyak itu. suatu hadits daif kadang diperoleh melalui satu riwayat. h) Dapat menghilangkan kemungkinan terjadinya riwayat dan memperjelas nama periwayat yang sebenarnya. t. f) Dapat memperjelas periwayat hadits yang tidak diketahui namanya. namun takhrij memungkinkan akan menemukan riyawat lain yang sahih. 2006.17 Dengan demikian melalui kegiatan takhrij al-hadits peneliti dapat mengumpulkan berbagai sanad dari sebuah hadits. c) Dapat memperjelas keadaan sanad.th. m. dan juga dapat mengumpulkan berbagai redaksi dari sebuah matan hadits. Yogjakarta. Turuq Tahkhrij. hadits yang sahih itu mengangkat kualitas hadits yang daif tersebut kederajat yang lebih tinggi. dinukil oleh Pokja Akademik. k) Dapat menghilangkan keragu-raguan dan kekeliruan yang dilakukan oleh periwayat. e) Dapat memperjelas periwayat hadits yang samar. Dar al-Ihtisan. Pokja Akademik UIN Sunan Kalijaga. apakah status riwayat tersebut sahih. semakin banyak pula perbendaharaan sanad yang kita miliki. g) Dapat menafikkan pemakaian lambang periwayatan ‘an dalam periwayatan hadits oleh seorang mudallis. Metodologi Penelitian. d) Dapat memperjelas kualitas suatu hadits dengan banyaknya riwayat. j) Dapat menghilangkan unsur syaz dan membedakan hadits yang mudraj. dengan adanya takhrij kemungkinan dapat diketahui nama periwayat yang sebenarnya secara lengkap. demikian juga dapat diketahui. l) Dapat membedakan antara periwayatan secara lafal dengan periwayatan lain. Kairo. 9 . mu’dal dan lain-lain.th. Dapat menjelaskan waktu dan tempat turunnya hadits dan lain- Abu Muhammad Abd al-Mahdi Ibn al-Qodir Ibn ‘Abd Al-Hadi. Hadits Rasulullah saw.

Jakarta: Fajar Inter Pratama Offset 2005. Kawasan dan Wawasan Studi Islam. belum ada sebuah kamus yang mampu memberi petunjuk untuk mencari ha dits yang dimuat oleh seluruh kitab hadits yang ada. lebih lanjut para ulama hadits telah menyusun kitab-kitab kamus dengan metode yang beragam. 5. . penelusuran ayat al-Qur’an.hal:45. sedangkan penelusuran terhadap hadits Nabi terhimpun dalam banyak kitab dengan metode penyusunan yang beragam. misalnya al-Mu’jam Mufahras Li alfazh al-Qur’an al-Karim.Hadits Metode Takhrij al-Hadits Dalam kegiatan penelusuran sebuah Hadits tidaklah semudah yang kita bayangkan. Membagi metode takhrij antara lain: 1. Muhaimin.D. . Memerhatikan salah satu lafal Hadits 4. bahwa kegiatan penelusuran hadits ( takhrij al-hadits ) kepada sumber aslinya. tetapi terbatas pada sejumlah hadits saja. maka sampai saat ini. Metode ketiga. Memerhatikan tema Hadits. 3. Metode kedua. Memerhatikan tentang sifat khusus sanad atau matan Hadits itu. Metode Dan Proses Takhrij al. karena membutuhkan seperangkat kemampuan yang komprehensip terhadap sebuah hadits . tidaklah semudah. 2. Metode pertama.19 dalam bukunya Kawasan dan Wawasan Studi Islam membagi beberapa hal yang diperlukan dalam melakukan takhrij yaitu: 1. . Metode Penelitian Hadits Nabi. sebagaimana yang diungkapkan oleh Suhudi. Penelusuran terhadap ayat al-Qur’an cukup dipergunakan sebuah kitab kamus al-Qur’an. Memerhatikan sahabat yang meriwayatkannya jika disebutkan. untuk keperluan itu. namun tidaklah berarti hadits nabi yang termuat dalam berbagai kitab tidak dapat ditelusuri. takhrij dengan cara mengetahui permulaaan lafazn dari hadits. atau. Memerhatikan lafal pertama dari matan Hadits 3. 2. hal:157. 18 Dengan dimuatnya hadits Nabi dalam berbagai kitab hadits. 10 . dengan cara mengetahui perawi hadits dari sahabat. takhrij dengan cara mengetahui kata yang jarang penggunaannya oleh orang dari bagaian mana saja dari matan hadits 18 19 Muhammad Syuhudi ismail.

kebanyakan kitab-kitab al. karya As-Suyuthi. Kitab al.4.Masaanid (musnad-musnad). lalu kita mencari bantuan dari tiga macam karya hadits. maka kita mencari hadits tersebut dalam kitab al-Masaanid. Metode keempat.Athraf. Bulan Bintang.Mantsuurah fil Ahadits Masyhurah. takhrij dengan cara mengetahui topik pembahasan hadits. Takhrij dengan cara mengetahui perowi Hadits dari sahabat. susunan hadits didalamnya berdasarkan urutan musnad para sahabat atau syuyukh (guru-guru) atau bangsa (tempat asal) sesuai huruf kamus (hijaiyyah). Hal :45 11 . jika seorang peneliti mengetahui bagian dari hadits itu. maka dapat merujuk pada sumber-sumber yang ditunjukkan oleh kitab-kitab al. Dengan demikian dalam takhrij terdapat beberapa macam metode yang diringkas dengan mengambil pokok-pokoknya sebagai berikut:20 a) Metode pertama. dalam kitab ini disebutkan hadits-hadits yang diriwayatkan oleh setiap sahabat secara tersendiri. dengan mengetahui nama sahabat dapat memudahkan untuk merujuk haditsnya.yaitu: Kitab al. b) Metode kedua.Athraf disusun berdasarkan musnad-musnad para sahabat dengan urutan nama mereka sesuai huruf kamus. cara ini dapat dibantu dengan kitabkitab yang berisi tentang hadits yang dikenal orang banyak.1992). Takhrij dengan mengetahui permulaan lafadh dari hadits.Athraf tadi untuk kemudian mengambil hadits secara lengkap. Kitab al. Muhammad Syuhudi. hingga mendapatkan petunjuk dalam satu musnad dalam kumpulan musnad tersebut. (Jakarta. metode ini dikhususkan jika kita mengetahui nama sahabat yang meriwayatkan Hadits. Al – Laali Al. selama kita telah mengetahui nama sahabat yang meriwayatkan hadits.Ma’aajim (mu’jam-mu’jam). “ Metode Penelitian Hadits Nabi”. misalnya Ad-Durarul-Muntasirah FilAhaaditsil Musytaharah. karya Ibnu 20 Ismail.

ada 8 (delapan) cara yang bisa digunakan untuk menelusuri hadits-hadits yang terdapat dalam Shahih al. Al. Sirah Ibnu Hisyam. Musnad Abu Dawud AthThayalisi.Metode keempat. Takhrij dengan cara mengetahui tema pembahasan hadits. ia dapat menggunakan jasa komputer dengan program Mausu’ah al-Hadits al-Syarif yang bisa mengakses 9 (sembilan) kitab sumber primer hadits. berisi sembilan kitab yang paling terkenal diantara kitab-kitab hadits yaitu KutubusSittah. metode ini dapat dibantu dengan kitab Al-Mu’jam Al-Mufahras li Al-Faadzil Hadits An-Nabawi.Hadits menambahkan. untuk mempercepat proses penelusuran dan pencarian hadits tersebut. Disamping metode takhrij al-hadits diatas.Alsinah. Panduan Pemrograman Maushu’ah Asysyarif. maka bisa dibantu dalam takhrijnya dengan karya-karya hadits yang disusun berdasarkan bab-bab dan judul-judul. cara ini banyak dibantu dengan kitab Miftah Kunuz As-Sunah. Muwaththa’ karya Imam Malik. Musnad Ahmad. karya As. kitab ini mencakup daftar isi untuk 14 kitab hadits yang terkenal yaitu: Shahih Bukhari. Jami’ At-Tirmidzi. dan Musnad ad-Darimi.hal:2. Musnad Ahmad. Shahih Muslim.Bukhari. Maghazi Al-Waqidi dan Thabaqat Ibnu Sa’ad. Sunan 21 Agung Danarto.Ahaaditsil Musytahirah ‘alal.Sakhawi. jika telah diketahui tema dan obyek pembahasan hadits. yang berisi daftar isi hadits yang disusun berdasarkan juduljudul pembahasan. Kitab ini disusun oleh seorang orientalis berkebangsaan Belanda yang bernama Arinjan Vensink.Hajar.21 Danarto dalam bukunya Takhrij al. Yogjakarta:Universitas Ahmad Dahlan 2008. Sunan Ad-Darimi.. Sunan Abu Dawud. 12 . Sunan Abi Dawud. Sunan An-Nasa’I. Muwaththa’ Malik. 4.Sunan Ibnu Majah. Takhrij dengan cara mengetahui kata yang jarang penggunaannya oleh orang dari bagian mana saja dari matan hadits. c) Metode ketiga.Maqashidul Hasanah fii Bayaani Katsirin minal. Shahih Muslim. Musnad Zaid bin ‘Ali.

bab apa. 8. 5. II. 4. Sunan al. Berdasarkan pada periwayatannya. sederet pertanyaan itulah yang sering muncul dalam kenyataan. kedelapan cara penelusuran hadits tersebut adalah: 1. karya A. Proses Takhrij al-Hadits. data kitab sumber pengambilannya. Berdasarkan takhrij hadits. tetapi seringkali kita ingat sebuah hadits.22 Zuhri mengemukakan ada dua cara yang dapat dipakai untuk melacak hadits seperti itu. Telaah Historis dan Metodologis.Darimi dan Musnad Ahmad ibn Hambal. Yogjakarta: Tiara Wacana.Nasa’I. Sunan al. 6. 2. itu akan terasa melegakan pikiran. karena didalamnya memuat informasi secara lengkap. sebagaimana kita tidak tahu. 3. salah satu buku ensiklopedi kitab hadis terbaik yang disusun berdasarkan tema/maudhu’ adalah Miftah Kunuz al-Sunnah. 7. informasi tentang hadits yang kita cari secara lengkap dapat ditemukan dikitab ini. juz berapa atau hadits nomor berapa. Sunan Ibnu Majah. kemudian untuk meyakinkan kita lacak hadits itu. hal:150. Dalam kegiatan sehari-hari kita sering menemukan masalah. riwatnya mutawatir atau tidak. kita ragu. Berdasarkan aspek tertentu dalam hadits.Tirmidzi. Hadits Nabi. kita dapat melacaknya melalui tema/maudhu’ yang diperkirakan bahwa hadits dimaksud berada dalam maudhu’ ini. Berdasarkan tema kandungan hadits. 13 . hadits itu sahih atau tidak.al.J. dimuat di kitab mana. Dengan mengetik salah satu lafal dalam matan hadits. kemudian masalah itu kita rujukan dengan sumber hukum Islam. Berdasarkan kitab dan bab sesuai yang ada dalam kitab aslinya. 22 Muhammad Zuhri.Wensick dan kawan-kawan. ketika dirujukan ternyata dalil itu mutawatir. 2003. Dengan memilih lafal yang terdapat dalam daftar lafal yang sesuai dengan hadits yang dicari. cet. 1. Berdasarkan nomor urut hadits.

sesuai dengan klsifikasi hadits. 14 . dan setelah isinya dikonfirmasikan dengan riwayat lain ternyata ada kelainan. menelusuri hadits dikitab al-Mu’jam ini memerlukan ketrampilan23 Zuhri dalam bukunya Haditst Nabi.2. hal:151. kitab ini sangat membantu dalam penelitian hadits. Kitab Mu’jam digunakan apabila kita hanya dapat mengingat potongan hadits. penggunaan Mu’jam hadits untuk mencari hadits berdasarkan kata tertentu dari potongan hadits yang kita hafal. bila hadits itu ahad. tentu tidak sembarang orang mampu melaksanakannya. atau didalam kitab Mu’jam al-Mufahras li Alfazh al-Hadits. walaupun kitab ini ditulis oleh seorang orientalis. pekerjaan seperti ini termasuk dalam ranah takhrij alhadits. maka hadits yang dimaksud kita lihat didalam kitab kamus atau ensiklolpedi. bila berangkat dari kosa kata maka. Telah Historis Dan Metodologis mengatakan. langkah yang kita ambil adalah:  Menelusuri. selanjutnya kita menyusun bagan sanad hadits. pemakalah telah membahas bahwa tujuan utama dari takhrij al-Hadits adalah mengetahui dimana hadits itu dimuat. karena. sejak dari perowi terakhir sampai dengan Nabi. misalnya dikitab Jami’ alShaghir karya Imam al-Suyuthi. seperti penggunaan Mu’jam ayat al-Qur’an. kalau kitab mu’jam itu menunjuk dua kitab.  Membuat Bagan Sanad Periwayat Hadits. Kita berangkat dari kosa kata. dari sana kita memperoleh informasi. Informasi yang kita peroleh dari kitab al-Mu’jam. di buku mana hadits yang diteliti berada Di atas. maka dapat kita katakan hadits itu gharib atau bahkan syadz dan 23 Ibid. kita tindaklanjuti dengan menelusuri hadits sesuai petunjuknya. dan para ahli hadits mengatakan. tetapi sangat diminati oleh para pengkaji hadits. ‘aziz atau ahad. kita mencarinya di dua kitab itu. hadits yang kita cari diriwayatkan oleh siapa dan dalam bab apa. banyak atau sedikitnya jalur hadits akan mengantarkan kita untuk berkata apakah sebuah hadits itu mashur.

kita perlu merujuk kemodel al-Bukhari atau Muslim. dari riwayat hidup yang diinformasikan oleh kitab Rijal. Dari penelusuran terhadap kitab Rijal al-Hadis kita akan memperoleh keterangan dari peneliaian para ahli hadits atas seorang tokoh sanad yang sedang menjadi fokus kajian. kita dapat melihat. berada pada peringkat apa.seterusnya. dari sini kita bisa menentukan tingkat kadar kedha’ifan sebuah hadits.  Periwayat dimaksud terpuji. mendahulukan al-Jarh atas ta’dil atau mendahulukan suara terbanyak.  Memeriksa Persambungan sanad dan Reputasi para Periwayat.  Periwayat yang dimaksud ternyata kontroversi. dari sini muncul kategori hadits mursal. Setelah bagan periwayatan dibuat secara lengkap. karena bayak nama orang. artinya disatu sisi ada ahli hadits yang memuji dan disisi lain ada yang mencela. maka kecermatan seorang peneliti al-Hadits sangat diperlukan. mu’dhal dan sebagainya dan sebaliknya bila sanadnya bersambung. Untuk menjawab hal tersebut tentu kita kembali kepada teori Ulumul Hadits . pujian ini akan membawa kepada kesimpulan bahwa sebuah hadits itu shahih sanadnya atau hadits itu hasan nilainya. maka untuk menentukan predikat hadits yang ditakhrij. ada beberapa kemungkinan antara lain:  Periwayat yang menjadi perhatian kita itu tercela (majruh). selanjutnya kita mengambil Kitab Rijal al-Hadits untuk memeriksa satu demi satu periwayat yang terdapat dalam bagan tersebut. maka pujian tersebut kita lihat. munqathi’. bila sanadnya terputus maka kita dapat menetapkan predikat hadits sesuai dengan jumlah keterputusan sanad. Untuk memberi penilaian sebuah hadits kita kembali kesebuah rujukan teori yang terdapat dalam Ulumul Hadits. 15 . apakah sanadnya dari hadits yang kita maksudkan itu bersambung atau tidak. menghadapi hal yang seperti ini kita akan menggunakan teori mana yang dipakai untuk penyelesaiannya. yang mirip antara satu orang dengan yang lainnya.

katanya. kita ambil contoh sebuah hadits tentang Talqin al. dengan menggunakan metode penelusuran keberadaan hadits. hadits itu diriwayatkan oleh siapa. ‫حيييد ثنيييا ابيييو سيييلمة يحييييي بييين خليييف حيييد ثنيييا بشييير بييين المفضيييل عييين عميييرة بييين غزيييية عييين يحييييى‬ ‫بن عمرة عن ابى سعيد الخد رى عن النبى صلى ال قال : لقنوا موتكم ل اله ال ال‬ Artinya: Telah bercerita kepada saya. dengan membawa kosa kata atau redaksi kata talqin. hadits tersebut diriwayatkan oleh imam al-Turmudzi dan imam Abu Daud. didalam kitab apa. apakah hadits yang kita teliti bertentangan dengan syari’at Islam atau tidak. Untuk mengenal lebih jauh tentang penerapan metode takhrij.Sebagamana yang telah dibahas dimuka. untuk mengetahui syadz tidaknya. Bisyr al-Mufaddhal dari ‘Ummarah ibn Ghaziyyah dari Yahya ibn ‘Ummarah dari Abu Sa’id al-Khudri dari Nabi saw. ia diriwayatkan melalui jalur lain atau tidak. hadits riwatyat al-Turmudzi berbunyi. Contoh Penerapan Metode Takhrij Al-Hadits Dalam hal ini akan dikemukakan salah satu contoh penerapan metode takhrij al-hadits. ada pula yang mengajarkannya untuk calon mayat. mengajarkan la ilaha illallah kepada orang mati. talqin al-maut. Abu Salamah Yahya ibn Khalaf. membuat bagan sanad hadits dan memeriksa persambungan sanad dan reputasi para periwayat. pelaksanaannya ada yang mengajarkan ketika mayat sudah dikubur. persoalannya bagaimana bunyi hadits itu secara lengkap. dimasyarakat muslim ditemukan salah satu upacara keagamaan. dan hadits itu mutawatir apa tidak? Kita memulai membuka kitab Mu’jam al-Mufahras li alfaadzh al-Hadits.”Talqinlah maitmu dengan la ilaha illallah”. Adapun hadits riwayat Abu Daud berbunyi: ‫حييد ثنييا مسييد د ثنييا بشييرى ثنييا عمييارة بيين غزييية ثنييا يحيييى بيين عمييارة قييال: سييمعت ابييا سييعيد‬ ‫الخدرى يقول: قال رسول ال صلى ال عليه وسلم لقنوا موتكم ل اله ال ال‬ 16 . katanya telah bercerita kepada saya. relativitas itu muncul apabila tolak ukur terhadap isi al-hadits didasarkan pada akal atau hawa nafsu semata. bahwa untuk mengetahui apakah sebuah hadits itu shahih atau tidak maka hadits harus terhindar dari predikat saydz dan mu’allal.Maut. E. kita perlu mengadakan konfirmasi.

Mussadad. telah bercerita kepada kami Yahya ibn ‘Ummarah katanya. tidak disebutkan kapan ia lahir. bercerita kepada kami Bisyr katanya.Turmudzi 1. maka dapat dipastikan dialah orang yang dimaksud dalam sanad hadits ini. sesuai dengan hadits yang telah dicontohkan diatas. dengan huruf ta dan dal berarti ia termasuk rijal Turmudzi dan Abu Daud. Ibn Hajar mengatakan bahwa banyak ulama yang ditimba ilmu haditsnya oleh Yahya ibn Khalaf. sebagai berikut: a) Jalur Al. 2. Karena pada dua jalur sanad itu ada periwayat yang sama. banyak juga yang meriwayatkan hadits darinya termasuk Bisyr ibn alMufaddhal.27. Yahya ibn Khalaf Ibn Hajar al-Asqalani di dalam kitab Tahdzib alTahdzib mengungkapkan bahwa nama lengkap tokoh ini adalah Yahya ibn Khalaf al-Bahili Abu Salamah al-Bishri terkenal dengan al-Jubari. katanya. saya mendengar Abu Sa’id al-Khudri berkata : Rasulullah saw pernah bersabda.Artinya:Telah bercerita kepada kami. dan al-Turmudzi disebut sebagai seorang penerima hadits darinya. tetapi yang disebutkan ia wafat pada tahun 242 H. dan al-jarh yang ditunjukkan kepadanya juga 17 . Ibnu Hibban memasukan Yahya ini kedalam kelompok orang tsiqah.Turmudzi sudah sangat terkenal. telah bercerita kepada kami ‘Ummarah ibn Ghaziyyah. beliau adalah seorang periwayat hadits yang dhabit dan tsiqah. dan karena secara kebetulan tidak ada orang lain yang memiliki nama ini. maka dapat dibuat satu bagan saja. hanya perlu dicantumkan. Nama al. komentar lain tidak ada.28. Kode yang dicantumkan di sebelah nama untuk Yahya ini adalah mim dal ta kof. maka kita membuat dua bagan. “Talqinlah maitmu dengan la ilahaillallah”. Abu Salamah. melihat tahun wafatnya ini. beliau hidup antara tahun 209-279 H. al-Turmudzi bertemu dengan tokoh ini (Yahya ibn Khalaf). maka penelusuran terhadapnya tidak diperlukan. Langkah berikutnya membuat bagan hadits. katanya.

3. ia diberi kode ‘ain. dengan kode mim. hadistnya shahih. yang menguntungkan bagi takhrij hadits. ada 26 orang bernama ‘Ummarah. ada 38 orang bernama Bisyr. ia menerima hadits dari banyak ulama. dan menyampaikan hadits kepada Musaddad ( b. tidak ada informasi kapan ia lahir. hanya satu yang ibn al-Mufaddhal. dan meriwayatkan banyak hadits. Ibn Ma’in dan Ahnamad ibn Hambali. mereka yang ibn Ghaziyyah hanya satu orang. Kemudian dari segi ‘adalah (keadilan). Bisyr menerima hadits dari ‘Ummarah ibn Ghaziyyah.. haditsnya shahih. maka ia digolongkan orang yang ‘adil dan dhabit. 18 . hal:157. artinya ia seorang rijal kutubus sittah. tsabat fi alhadits Shahihu sunnah dan hasamul hadits. dan sehari berpuasa sehari tidak. faqih. ta’dan kho. Kalau sanad hadits ini menghendaki. tetapi diinformasikan ia wafat tahun 187. justru ada penilaian tsiqah. jalur Abu Daud ) dan Yahya ibn Khalaf ( b. menurut Ali ibn al-Madinni. mengomentarinya sebagai syuyukh alBasyiriyyin. ini berarti ia rijal al-Turmudzi dan Abu Daud. dengan demikian ia adalah ‘adil dhabitz. karena tidak ada al-jarh terhadapnya. Di dalam kitab Tahdzib ibn Hajar menyebutkan. Ibn Hibban dan al-Bazar menilainya tsiqah. Bisyr shalat 400 rakaat dalam sehari. Ummarah ibn Ghaziyyah Didalam kitab Tahdzib. jalur al-Turmudzi). maka kitab Tahdzib telah menyebut hubungan itu. nama lengkap tokoh ini adalah Bisyr ibn al-Mufaddhal ibn Labiq alRaqasyi. artinya sanad Bisyr dengan Yahya ibn Khalaf dan Musaddad bersambung. nama aslinya ‘Ummarah ibn Ghaziyyah ibn al-Harits ibn amr ibn Ghaziyyah ibn amr ibn Tsa’labah ibn Khansa ibn Mabzul ibn Ghanam ibn Mazin ibn al-Najjari al-Anshari. Banyak ulama yang 24 Ibid. tidak ada seorang ulamapun menilainya majruh. kemudian al-‘Ajlinya menilainya tsiqah. tokoh ini tidak perlu diragukan.tidak ada. karena banyak tokoh hadits yang memujinya.24Bisyr ibn al-Mufaddhal.

jadi baik dari kode maupun pertalian sanad. yaitu Yahya ibn ‘Ummarah dan Yahya Ummarah ibn ‘Ibat. Penilaian tehadap tokoh ini bervariatif. Yahya Muhaimin hanya memberi nilai shahih. yang tepat adalah Yahya Ibn ‘Ummarah Ibn Abi Hasan al-Anshari.ditimba ilmu haditsnya dan Bisyr ibn Mufaddhal (c) disebut oleh ibn Hajar sebagai pemberi hadits kepada tokoh ini. komentar An-Nasa’i terhadap tokoh ini. Tidak ada informasi dari al. Dari komentator para Ulama terhadap ’Ummarah. tidak ada pujian yang berupa ta’kit artinya periwayat ini tidak istimewa.jarh dengan al. sebaliknya Ibn Hazm menilai’’Ummarah dha’if. Yahya Ibn ‘Ummarah Di dalam kitab Tahdzib. tidak diragukan bahwa beliaulah yang dimaksud dalam sanad hadits tersebut diatas. disini al-Jarh tidak disebut rinciannya. Melihat berbagai komentator tadi. bila kita cermati. katsirul hadits. Ta’dil ringan dikemukakan oleh beberapa orang. itu hanya tentang kisah wafatnya Ali Ibnu Abi Thalib. kita melihat ada ta’arudh antara al. 4. “Laisa bihi ba’as”. tetapi ia menambahi katakata. Ibn Hibban dan al-‘Ajli menilainya tsiqah. dan menerima hadits dari Ibnu ‘Abas.31 Agaknya bukan ini orang yang dimaksud dalam sanad. sebenarnya ta’dil yang disampaikan para ulama pada tingkat yang rendah sebagai bentuk tolenransi. dan penerima hadits darinya. sedang Muhammad ibn Sa’ad sungguhpun menilainya tsiqah. Abu Hatim menilai ‘Ummarah “ma fi haditsihi ba’as”. disebutkan oleh al-Asqalani bahwa ia hanya meriwayatkan hadits kepada A’masy.ta’dil. Yahya Ibn ‘Ummarah Ibn ‘Ibat. sedangkan disisi lain ada yang menilai lemah. kita dapat mengatakan bahwa hadits tersebut bukan shahih dan bukan dha’if tetapi hasan. Abdul Haq berkata “Orang mutaakhir menilai dha’if kepadanya. walau tidak berat seperti tuduhan pendusta . mengapa dikatakan dha’if.Asqalani 19 . nama Yahya banyak ditemukan. tetapi hanya dua orang yang mempunyai nama bin “Ummarah .

Dapat dipastikan. beberapa sahabat disebut al-Asqalni sebagai penyalur hadits kepadanya termasuk Abu Sa’id al. 25 Ibid. ia Syeikh.Khudri.Mufaddhal (c) disebut sebagai salah sorang yang menyampaikan hadis kepada Musaddad. Oleh Ibn Hajar al. di sana ada kode sin.Khudri Ia seorang shahabat Nabi. Dengan kode dal dan ta’ maka ia termasuk rijal alTurmudzi dan Abu Daud. semoga Allah mengampuninya”.25 Berbagai pujian yang telah dilontarkan oleh para ulama.kapan ia lahir dan kapan pula ia wafat.”benar . Imam Ahmad menilainya Shaiduq ( dikenal kejujurannya ). Abu Sa’id al. Di dalam Tahdzib. menurut Abu Abdillah. Jalur Abu Daud. Jawaban atas pertanyaan tentang Musaddad. komentar lain tidak ada. Bila kita menggunakan teori bahwa semua shahabat itu adil. ta’ dzal khah.Nasa’i dan Ibn Kharrasy memujinya. Abu Daud disebut sebagai penerima hadits dari tokoh ini. sehingga haditsnya tergolong shahih. Bisyr ibn al.Hafidz. ‘Ummarah ibn Ghaziyyah juga disebut sebagai salah seorang penerima hadits dari Yahya dengan demikian persambungan sanad keatas dan kebawah telah terjadi. tidak banyak komentar ulama terhadap tokoh ini. Abu Daud menerima hadis dari Musaddad (b). tetapi tahun wafatnya disebut 228 H . Ia Musaddad ibn Musarhad ibn Musarbal al-Bashri al –Asadi Abu al-Hasan al. Apalagi. 20 . begitu juga Ibn Hibban. Ibn Ishaq al. langsung dikatakan bahwa hadisnya shahih. Entah kapan dia lahir.Asqalani . ini orang yang dimaksud dalam sanad. dengan demikian tidak ada pertentangan antara penilaian ‘adil dan cacatnya. maka Abu Sa’id tidak perlu diperiksa. hanya seorang yang punya nama ini. 5.hal:157. AlAsqalani memberi informasi bahwa Abu Sa’id meriwayatkan hadis kepada Yahya ibn ’Ummarah. wafat tahun 75 H. Ibn Ma’in menilai Musaddad tsiqah-shaduq. Persambungan sanad ke atas maupun ke bawah sudah jelas. meski tidak luar biasa dengan nilai tsiqah.

agaknya shahih paspasan . maka nilai haditsnya juga hasan. Dari segi kualitas rijal semua periwayat jalur al-Turmudzi berpredikat dhabit dan tsiqah kecuali ‘Ummarah ibn Ghaziyyah (d). dinilai kurang tsiqah.Turmudzi. Demikian juga jalur Abu Daud. benar kalau di dalam Ilmu Hadis ada konsep ashahhul asanid (sanad primadona) . sudah diuraikan di jalur al.tergambar bahwa Musaddad tidaklah terlalu hebat. 21 . Tetapi istilah itu tidak ada di dalam Ilmu hadits . . Yaitu Penelusuran hadits dengan memilih lafal. untungnya ia tidak dicacat orang . hadisnya shahih. Istilah yang digunakan didalam ta’dil adalah syeikh. Bahkan pada jalur Abu Daud terdapat periwayat yang tingkat keadilannya begitu rendah. baik jalur al-Turmudzi maupun jalur abu Daud tidak dapat saling membantu mengangkat nilai hadits tersebut. Maka. b) Abu Daud Dengan demikian dapat disimpulkan. dan hanya dinilai tsiqah shaduq . shaduq. malah disertai permohonan ampun. kalau dikatakan . Sehingga hadits yang berkaitan dengan talqin mait berkedudukan sebagai hadits hasan. . karena “titik lemahnya” terdapat pada tokoh yang sama. itu artinya . Panduan Pemrograman Maushu’ah Asysyarif. yaitu ‘Ummarah ibn Ghaziyyah. seperti Ibn Ma’in. . Karen hadis ini melalui ‘Ummarah ibn Ghaziyyah.Dari hasil tayangan sanad kedua jalur itu dapat dikatakan. Setelah kita menghadapi kasus semacam ini.hal:2-4. sampai ada yang menilai seraya memintakan ampun. Karena itu hadis jalur al. maka kita percaya bahwa keshahihan hadits itu berlapis-lapis. bahwa dalam proses takhrij terhadap hadits tentang talqin mait. bahwa sanadnya bersambung. Itulah dia Musaddad. ia ditolerir sebagai penyalur hadits. Adapun tokoh lain dari jalur Abu Daud adalah Bisyr dan seterusnya ke atas sampai dengan Nabi . Karenanya.26 26 Agung Danarto.Turmudzi nilainya hasan. Kemudian contoh berikutnya penerapan metode takhrij hadits dengan menggunakan jasa komputer dengan program Mausu’al alHadits al-Syarif dengan mengambil satu contoh dari delapan cara penelusuran hadits. yang sekaligus rijal al-Turmudzi.

tanpa mengetahui sebagaian lafalnya. maka cara ini tidak bisa digunakan. BAB III  Kesimpulan 22 .Untuk mencari hadits dengan metode ini. maka harus mengetahui sebagaian lafal dari matan hadits yang akan dicari.

2. Takhrij al-Hadits merupakan suatu kegiatan penelusuran atau pencarian hadits dari berbagai sumbernya yang asli dengan mengemukakan matan serta sanadnya secara lengkap untuk kemudian diteliti kualitas haditsnya. Latar belakang Takhrij al-Hadits pada awalnya tidaklah begitu urgen karena penguasaan para ulama terhadap sumber as-sunnah begitu luas. untuk mengetahui hadits yang dijadikan rujukan ilmu syar’i. Kairo al-Maimuniyyah. Penerapan metode Takhrij al-Hadits memerlukan keseriusan agar memperoleh hasil yang akurat dan dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya. Penerapan metode Takhrij al-Hadits secara garis besar dapat dibagi menjadi dua yaitu: Penerapan media konvensional dan media elektronika atau komputer. Kegunaan Takhrij al-Hadits untuk mengetahui asal-usul riwayat hadits.Hadits. saran dan kritik konstruktif sangat kami harapkan sebagai penyempurna makalah ini. 3. namun dalam prakteknya sering bahkan dianggap sejajar dengan al-Qur’an. seluruh riwayat hadits dan ada tidaknya syahid dan mutabi’ pada sanad hadits yang diteliti. al-Qamus al-Muhit. maka dapat disimpulkan sebagai berikut: 1.Dari uraian makalah yang penulis sajikan tentang Takhrij Al. 5. 1313 H. Hadits Nabi dalam hirarki sumber pokok ajaran Islam menempati urutan kedua sesudah al-Qur’an. 23 . Namun dirasa semakin urgen/penting ketika semangat belajar generasi berikutnya semakin lemah. DAFTAR PUSTAKA Abadi. 4. 6. Demikian makalah yang dapat kami sajikan semoga bermanfa’at. Al-Fairuz.

Jakarta: Fajar Inter Pratama Offset. Danarto. Hadits Nabi. Mustaqim. 2006. Beirut. Versi Muhadisin dan Fuqoha. Ali. Darul Ma’arif. Usul al-Takhrij Wa Dirasat al-Isanid. Usul al-Tasyiri al-Islami.. 2004. t. Dar alQur’an al-Karim.tp. Yogjakarta: Tiara Wacana. Metodologi Penelitian. Yogjakarta. 2004. Makalah Studi al-Hadits Program Magister. Pengantar Studi Ilmu Hadits. Hasbullah.th. Agung. Jakarta: Pustaka Al-Kautsar. Muhaimin. Al-Qaththan. Renaisan. diterjemahkan Mifdhol Abdurrahman. 2002. Mahmud. Dar al-Ihtisan. Jakarta. Maktabah Wahbah. Panduan Pemrograman Maushu’ah Asysyarif. 1964. Universitas Ahmad Dahlan. Mesir. 2005. Paradigma Baru Memahami Hadits Nabi. Yogjakarta. Al-Hadi. Turuq Tahkhrij. Kairo. Menurut Perspektif Muhammad Mustafa Azami dalam Fazhurrahman. Bulan Bintang. t. ———————. t. 2006. Nizar. Teori Sistem Isnad dan Otensitas Hadits. Kritik Matan Hadits. Syaikh Manna’. dinukil oleh Pokja Akademik. 24 . 1992. Kawasan dan Wawasan Studi Islam. 2005. Muhammad. Abu Muhammad Abd al-Mahdi Ibn al-Qodir Ibn ‘Abd. Yogjakarta: Teras. Muhammad Syuhudi. Yogjakarta. Metode Penelitian Hadits Nabi. Mabahis fi ‘Ulum al-Hadits.II. 2008. Zuhri. II. Ismail. Abdul. 1. Jakarta. Yogjakarta.th. cet. Tiara Wacana. Telaah Historis dan Metodologis. Al-Tahhan. Hadits Rasulullah saw. 1978. 2008. Pokja Akademik UIN Sunan Kalijaga. Ali. Cet. 2003.Abas Hasjim. cet.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->