BAB I PARADIGMA PEMBANGUNAN EKONOMI Orang sering berbicara tentang "pembangunan" .

Mungkin pertanyaan yang muncul adalah: apa sebenarnya yang dimaksud dengan pem bangunan? Bab ini akan mencoba menjawab pertanyaan tersebut dengan menelusuri ev olusi makna pembangunan sejak ekonomi pembangunan lahir, yakni setelah Perang Du nia II. 1.1. PANDANGAN TRADISIONAL Pada mulanya upaya pembangunan negara sedang berkembang (NSB)' diidentikkan dengan upaya meningkatkan pendapatan per kapita, atau populer disebut strategi pertumbuhan ekonomi. Semula banyak yang beranggapa n yang membedakan antara negara maju dengan NSB adalah pendapatan rakyatnya. Den gan ditingkatkannya pendapatan per kapita diharapkan masalah-masalah seperti pen gangguran, kemiskinan, dan ketimpangan distribusi pendapatan yang dihadapi NSB d apat terpecahkan, misalkan melalui apa yang dikenal dengan "dampak merembes ke b awah" (trickle down effect. Indikator berhasil tidaknya pembangunan semata-mata dilihat dari meningkatnya pendapatan nasional (GNP) per kapita riil, dalam arti tingkat pertumbuhan pendapatan nasional dalam harga konstan (setelah dideflasi d engan indeks harga) harus lebih tinggi dibandingkan tingkat pertumbuhan penduduk . Fenomena ini terlihat dari pemikiran-pemikiran awal mengenai pembangunan, sepe rti teori Harrod-Domar, Arthur Lewis, WW Rostow, Hirschman, RosensteinRodan, Nur kse, Leibenstein. Seperti judul buku karya monumental Arthur Lewis, pembangunan ekonomi dianggap merupakan kajian The Theory of Economic Growth. lni mencerminka n munculnya teori pertumbuhan dan pertumbuhan ekonomi sebagai tujuan utama dari setiap kebijakan ekonomi di negara manapun. Sepanjang dasawarsa 1950-an, sementa ra pembangunan ekonomi diidentikkan dengan pertumbuhan ekonomi, ekonomi pembangu nan sebagai cabang ilmu ekonomi yang relatif baru memusatkan perhatian pada fakt or-faktor penentu pertumbuhan ekonomi (Arndt, 1996: h. 6). Meskipun banyak varia n pemikiran, pada dasarnya mereka sependapat bahwa kata kunci dalam pembangunan adalah pembentukan modal. Oleh karena itu, strategi .pembangunan yang dianggap p aling sesuai adalah akselerasi pertumbuhan ekonomi dengan mengundang modal asing dan melakukan industrialisasi. Diundangnya modal asing nampaknya diilhami oleh kisah sukses Rencana Marshall dalam membantu pembangunan negara Eropa Barat dan Jepang. Adapun industrialisasi yang memusatkan perhatian pada sektor-sektor mode rn dan padat modal nampaknya tidak dapat dipisahkan dari pengalaman Inggris seba gai negara industri pertama. 1

Tak pelak lagi konsep dan strategi pembangunan semacam itu dijiwai oleh pengalam an negara-negara Eropa. Inilah yang disebut eurocentrism, Eropa sentris, dalam p emikiran awal tentang pembangunan (Hettne, 1991). Paham developmentalis gaya Ero pa ini ditandai dengan munculnya kapitalisme, naiknya masyarakat borjuis sebagai kelas sosial yang dominan, relatif berhasilnya revolusi industri, dan diperkena lkannya "pertumbuhan" sebagai ide perkembangan masyarakat. Tradisi pemikiran aru s utama (mainstream) Eropa diterjemahkan lebih lanjut oleh: model liberal, strat egi kapitalis negara (state capitalist strategy), model Soviet, dan Keynesianism e. Model liberal mendasarkan diri pada berlangsungnya mekanisme pasar, industria lisasi yang bertahap, dan perkembangan teknologi. Strategi kapitalis negara meru pakan reaksi terhadap paradigma modernisasi. Model Soviet pada dasarnya merupaka n perkembangan lebih lanjut dari strategi kapitalis negara, yang nampaknya diilh ami oleh kisah sukses Soviet dalam program industrialisasinya. Aliran Keynesian merupakan manifestasi dari kapitalisme yang telah mencapai tahap dewasa, yang in tinya menghendaki campur tangan pemerintah dalam upaya meningkatkan pertumbuhan ekonomi. Sekitar tahun 1960, ketika data makro yang dapat diperbandingkan secara internas ional telah tersedia, Maddison, Denison, dan para ahli lain menemukan bahwa perb edaan dalam pembentukan modal dan faktor input tidak banyak menjelaskan mengapa timbul perbedaan dalam pertumbuhan ekonomi. Ternyata baru disadari ada banyak fa ktor yang tadinya dianggap "residual", ikut berperanan dalam meningkatkan pertum buhan ekonomi. Residual di sini dikaitkan dengan investasi modal manusia dan kem ajuan teknologi. Pentingnya investment in man, yang menekankan peranan faktor pe ndidikan dan budaya, merupakan tahap pertama menuju konsep pembangunan yang sema kin tidak murni ekonomi lagi. 1.2. PARADIGMA BARU DALAM PEMBANGUNAN Pada akhir d asawarsa 1960-an, banyak NSB mulai menyadari bahwa "pertumbuhan" (growth) tidak identik dengan "pembangunan" (development). Pertumbuhan ekonomi yang tinggi, set idaknya melampaui negara-negara maju pada tahap awal pembangunan mereka, memang dapat dicapai namun dibarengi dengan masalah- masalah seperti pengangguran, kemi skinan di perdesaan, distribusi pendapatan yang timpang, dan ketidakseimbangan s truktural (Sjahrir 1986, bab1). Fakta ini pula agaknya yang memperkuat keyakinan bahwa pertumbuhan ekonomi merupakan syarat yang diperlukan (necessary) tetapi t idak mencukupi (sufficient) bagi proses pembangunan (Esmara 1986: h.12; Meier, 1 989: h.7). Pertumbuhan ekonomi hanya mencatat peningkatan produksi barang dan ja sa secara nasional, sedangkan pembangunan berdimensi lebih luas dari sekedar pen ingkatan pertumbuhan ekonomi. 2

Hal inilah yang menandai dimulainya masa pengkajian ulang tentang arti pembangun an. Myrdal (1968), misalnya mengartikan pembangunan sebagai pergerakan ke atas d ari seluruh sistem sosial. Ada pula yang rnenekankan pentingnya pertumbuhan deng an perubahan (growth with change), terutama perubahan nilai-nilai dan kelembagaa n. Kondisi ini dilandasi argumen adanya dimensi kualitatif yang jauh lebih penti ng dibanding pertumbuhan ekonomi. Meier (1989: hal. 6) lebih khusus mengatakan : ... perhaps the definition that would now gain widest approval is one the defin es economic development as the process whereby the real per capita income of a c ountry increases over a long period of time--- subject to the stipulations that the number of people below an 'absolute poverty line does not increases, and tha t the distribution of income does not more unequal." Dengan kata lain, pembangun an ekonomi tidak lagi memuja GNP sebagai sasaran pembangunan, namun lebih memusa tkan perhatian pada kualitas dari proses pembangunan. Selama dasawarsa 1970-an, redefinisi pembangunan ekonomi diwujudkan dalam upaya meniadakan, setidaknya men gurangi, kemiskinan, pengangguran, dan ketimpangan. Dudley Seers (1973) menunjuk 3 sasaran utama pembangunan dengan mengatakan : ".. What has been happening to poverty ? What has been happening to unemployment ? What has been to inequality ? If all three of these have declined from high levels then beyond doubt this ha s been a period of development for the country concerned. If one or two these ce ntral problems have been growing worse, especially if all three have it would be strange to call the result 'development , even if per capita income doubled'. T idak terlalu berlebihan apabila banyak yang memandang bahwa definisi Seers berar ti meredefinisi pembangunan dalam konteks tujuan sosial. Dengan cepat dimensi ba ru mengenai pembangunan mendapat sambutan dari penganjur strategi yang berorient asi kesempatan kerja, pemerataan, pengentasan kemiskinan, dan kebutuhan pokok. O bsesi Seers nampaknya didorong oleh keprihatinannya melihat kenyataan pembanguna n di NSB. Timbul kesan bahwa is "tidak sabar" melihat implementasi strategi anti kemiskinan, orientasi pada kesempatan kerja, dan pemerataan pembangunan, yang s ering hany a berhenti sebagai retorika politik para penguasa di NSB semata. In' pula agaknya yang mendorong munculnya konsep dan strategi pembangunan yang baru. Sejarah mencatat munculnya paradigma baru dalam pembangunan seperti pertumbuhan dengan distribusi, kebutuhan pokok (basic needs), pembangunan mandiri (self-rel iant development), pembangunan berkelanjutan dengan perhatian 3

pada hakekatnya menganjurkan NSB agar tidak hanya memusatkan perha tian pada pertumbuhan ekonomi (memperbesar "kue" pembangunan) namun juga mempert imbangkan bagaimana distribusi "kue" pembangunan tersebut. pembangunan yang memperhatikan ketimpangan penda patan menurut etnis (ethnodevelopment). d an freedom (kebebasan untuk memilih)â ¢ Strategi pemenuhan kebutuhan pokok dengan demi kian telah mencoba memasukkan semacam "jaminan" agar setiap kelompok sosial yang paling lemah mendapat manfaat dari setiap program pembangunan. A. air. yaitu life-sustenance (ke mampuan menyediakan kebutuhan dasar).Strategi Pertumbuhan Dengan Distribusi Para proponen strategi "pertumbuhan dengan distribusi". syarat utamanya adalah orientasi pada sumber Jaya ma nusia. perumahan) dan jasa umum (kesehatan. konsep kebutuhan pokok harus dipandang sebagai dasar utama dalam strategi pemb angunan ekonomi dan sosial. namun s trategi ini memiliki pola motivasi dan organisasi yang berbeda. Sementara itu. h . self. Dengan kata lain. menekankan 3 nilai dasar pembangunan. Hanya perdebatan yang sering muncul adalah berkisar mengenai apa yang dim aksud dengan kebutuhan pokok. Situasi ini bisa diwu judkan dengan kombinasi strategi seperti peningkatan kesempatan kerja. pendekatan lain leb ih mementingkan apa yang dapat membuat hidup ini lebih berharga. 89). Pada dekade 1970 -an. misalnya. Barangkali menarik untuk menelusur ide d asar masing-masing paradigma tersebut. perhatian pada petani kecil. sektor informal dan pengusaha ekono mi lemah. Todaro (1989. fasilitas pendidikan). investasi modal manusia. atau "redistribusi dari pertumbuhan".Strategi Pembangunan Mandiri Strategi pembangunan mandiri agaknya berkaitan dengan strategi pertumbuhan dengan distribusi. B. strategi ini populer sebagai antitesis dari paradigma dependensia dan tidak 4 .esteem (kebutuhan untuk dihargai). kebutuhan pokok mencakup keb utuhan minimum konsumsi (pangan.S trategi Kebutuhan Pokok Embrio pendekatan kebutuhan pokok bermula dari program I LO (International Labour Organization) tentang "World Development" pada tahun 19 69 dan "Dekiarasi tentang Prinsip-Prinsip dan Program Aksi Strategi Kebutuhan Po kok dalam Pembangunan" pada Konferensi Dunia tentang kesempatan kerja pada tahun 1976. t ransportasi umum. atau ada yang menyebut sebagai orientasi populisme dalam pembangunan.terhadap alam (ecodevelopment). Ada yang berpendapat. sandang. C. Dengan kata lain .

Tanzania di baw ah Julius Nyerere. serta kurangnya bahan pangan. akhir-akhir ini isu mengenai lingkungan hidup semakin gencar den gan adanya laporan mengenai menipisnya lapisan ozon di atas planet bumf kita. penulis buku The Limits to Growth menyimpulkan bahwa "bila tren d pertumbuhan saat ini dalam penduduk dunia. air. Konsep "mandiri" dibawa ke tingkat internasional oleh negara-negara non-blok pada perte muan di Lusaka tahun 1970.bisa dilepaskan dari pengalaman India pada masa Mahaatma Gandhi. ancaman perubahan iklim (polusi. lahan pertanian). Dengan menggunakan ekstrapolasi ekonometrika dari data statistik. dsb). dikembangkan teknologi "pribumi" daripada mengimpor teknologi dari luar. Pesan utamanya adalah bahwa tata dunia baru atau lama tid ak akan menguntungkan apabila sistem biologis alam yang menopang ekonomi dunia t idak diperhatikan. batas pertumbuhan atas planet ini akan dicapai dalam waktu kurang dari 100 tahun mendatang". nasional. memburuknya sistem biologis utama (perikanan laut. dampak "rumah kaca". ini memperkuat pand angan bahwa strategi pembangunan di banyak negara seakan "buta" terhadap Iingkun gan hidup.Strategi Pembangunan Berkelanjutan Pembangunan berkelanj utan. hutan. di lain kasus kad ang bersifat reaktif. Di Cina. kadang kala bersifat revolusioner. Perjuangan mengejar kemandirian pada tingkat loka l. Pada gilirannya. dan dielaborasi lebih lanjut pada konferensi non-blok di Georgetown tahun 1972. atau regional. atau sustainable development. dan deplesi sumberdaya terus tidak berubah. is u polusi (udara. Para pendukung utama pembangunan berkelanjutan lalu menunjuk pentingn ya strategi ecodevelopment. Ke ndati demikian. Dengan demikian konsep "mandiri" telah muncul sebagai konsep strategis dalam forum internasional sebelum konsep "Tata Ekonomi Dunia B aru" (NIEO) lahir dan menawarkan anjuran kerjasama yang menarik dibanding menari k diri dari percaturan global. industrialisasi. Pemikiran mereka pun mendapat banyak kritik baik secara metodologis maupun asumsinya bahwa sumberdaya terbatas jumlahnya. Lester Brown (1981) menunjuk 4 area utama dari sudut pandang sustainabilitas. dan penggundulan hutan. yaitu: tertingg alnya transisi energi. erosi tanah. padang rumput. Konsep Mao lebih menekankan pad a usaha-usaha mandiri dengan sedikit atau tanpa integrasi dengan luar. Sinyal pertama mengenai batas pertumbuhan adalah laporan dari Club of Rome pada tahun 1972. tanah). dan Gina di bawah Mao Zedong. Namun ternyata r amalan Club of Rome tidak terbukti. D. yang intinya mengatakan bahwa masyarakat dan ekosite m di suatu daerah harus berkembang bersama-sama menuju produktivitas dan pemenuh an kebutuhan yang 5 .polusi. muncul ketika isu mengenai lingkungan muncul pada dasa warsa 1970. produksi ma kanan.

Sejauh ini baru Malaysia yang secara terbuka m emasukkan konsep ethnodevelopment dalam formulasi Kebijaksanaan Ekonomi Baru-nya (NEP). PARADIGMA PEMBANGUNAN Demikian banyak makna pembanguna n yang diturunkan oleh para ahli berdasarkan pengalaman di berbagai negara dan s tudi empiris yang mereka lakukan. NEP dirancang dan digunakan untuk menjamin agar buah pembangunan dapat d irasakan kepada semua warga negara secara adil.even economic development -. Fenomena inilah bar angkali sebab utama adanya data mengenai distribusi antaretnis dalam setiap publ ikasi data Malaysia. Seja rah pemikiran mengenai pembangunan memang diwarnai dengan evolusi makna pembangu nan. Namun setidaknya konflik yang biasa muncul adalah: konflik atas penguasaan sumber Jaya alam. balk is dari komunitas Cina. bermula muncul dari konflik antaretnis. 1. Hal ini sering terjadi terutama pada masyarakat di mana terdap at multi etnis. Dari pemujaan terhadap pertumbuhan. namun yang paling utama strategi pembangunan ini harus berkelanjut an.al. E. Tidak ada "bahasa penjelas" yang sama untuk konflik antar etnis ini. pembangun an mandiri (self-reliant development). pembangunan berkelanjutan dengan 6 . Isu antar etnis (rasial . balk dari sisi ekologi maupun sosial.a desir able objective for the countries and people of the Third World. Namun begitu banyak interpretasi mengenai "makna pembangunan" sehin gga orang kadang-kadang bertanya-tanya apakah pembangunan hanya tidak lebih meru pakan pandangan utopis setiap orang? Persis apa yang dikatakan oleh Arndt (1996) : "Almost everyone considers development -. konflik atas bagaimana pemeri ntah mendistribusikan sumberdaya. But so diverse h ave the interpretations of 'development' become that one sometimes wonders wheth er it now stands for anything more substantial than everyone's own utopia". et. Ind ia.3. Boleh dikata hampir setiap orang peduli dengan pembangunan sebagai tujuan yang diinginkan bagi negara dan penduduk di negara D unia Ketiga. konflik mengenai ide dasar strategi pembangunan nasional. suku) berkembang di Afrika. dan semakin intens terjadi di Asia Selatan pada da sa warsa 1980-an. kebutuhan pokok (basic needs). 1990).Strategi Berdimensi Etnik Strategi e thnodevelopment. dan masyarakat pribumi Malaysia (Faaland. hingga paradigma baru dalam pembangunan seperti pertumbuhan dengan distribusi.lebih tinggi. konflik yang berkaitan dengan proyek infrastruktur (yang mempe ngaruhi ekosistem suatu daerah). konflik akibat ketimpangan pembangunan..

Just. dalam Charles K. Politik Perencanaan Pembangunan: Teori.perhatian terhadap alam (ecodevelopment).R. Essex. Jakarta.perubahan utama dalam struktur sosial.. 1991. d alam Michael P. Growth and Ethnic Inequality: Malaysia's New Economic Policy. what to be) namun lebih membahas apa yang seharusnya dilakukan (das s ollen. Esmara. 1990. The Struggle for Economic Development: Readings in Problem and Policies. Kendati demikian. Random House. Developme nt Theory and the Three World. editio n. Seers. The Meaning of Development". Atau alternatifnya. 1986. Peter J. LP3ES. pembangunan regional/s pasial. banyak yang memandang berb agai paradigma baru tentang pembangunan ini masih berada pada dataran normatif. Ekonomi Politik K ebutuhan Pokok: Sebuah Tinjauan Prospektif. Panglaykim Memorial Lecture. what ought to be).A. and Values". Todaro (ed). Gerald M. 7 . New York. namun juga mencakup perubahan. Hurst & Company. Parkinson. Hettne. Longman Scientific and Technical. New York & London. 14 Mei 1996. New York. Strategies. Artinya kontribusinya mengenai pembangunan tidak berbicara dalam konteks aktual (das sein. Henr iot. BACAAN YANG DIANJURKAN Arndt. Kebijaksanaan dan Prospek. 1973.. Bjorn. Akhir-akhir ini mulai antre be berapa paradigma lain. London. "Development Alternatives: Problems. Jakarta. Meier.W. kita mau tidak mau harus mengkombi nasikan berbagai paradigma tersebut dalam formulasi maupun implementasi kebijaks anaan. erilaku. H. Longman. 1986. PT Gramedi a. 5th. 1989. Rais Saniman. Faaland.). Oxford University Press. bab 1. the Political Economy of Developmen t and Underdevelopment. Dudley. dan pembangunan masyarakat. Leading Issues in Economic Development. dan kelembagaan. Nampaknya tidak salah apabila disimpulkan bahwa pembangunan harus dilihat sebagai proses yang multidimensi yang mencakup tidak hanya pembangunan Ekonomi. pembangunan yang memperhatikan ketimpa ngan pendapatan menurut etnis (ethnodevelopment). Sjahrir. J.. The Search for A New Develo pment Paradigm. seperti: wanita dalam pembangunan. 1983. bab1. Jakarta. ba b 2 dan 5. Hendr a. Wilber (ed.

Pendapatan nasional rill (atau GNP pada harga konstan) yang meningkat seringkal i tidak diikuti dengan perbaikan kualitas hidup. 2. 1995: hi).BAB II INDIKATOR PEMBANGUNAN Pembangunan selalu menimbulkan dampak.1. perubahan kelembagaan. paradigma tradisional mengenai pemba ngunan cenderung mengidentikkan pembangunan dengan pertumbuhan ekonomi. dengan catatan bahwa jumlah penduduk yang hidup di bawah "garis kemiskin an absolut" tidak meningkat dan distribusi pendapatan tidak semakin timpang (Mei er. Proses pembangunan menghendak i adanya pertumbuhan ekonomi yang diikuti dengan perubahan (growth plus change) dalam: Pertama. Kurun waktu yang panjang menyiratkan bahwa kenaikan pendapatan per k apita perlu berlangsung terus menerus dan berkelanjutan. perubahan struktur ekonomi: dari pertanian ke industri atau jasa . 8 . Dengan kata lain. PERLUNYA INDIKATOR PEM BANGUNAN Sebagaimana dijelaskan pada Bab 1. Yang dimaksud dengan proses adalah berlangsungnya kekuatan-kekuat an tertentu* yang sating berkaitan dan mempengaruhi. balk positif maupun negatif. Penekanan pada kenaikan pendapatan per kapita (GNP riil dibagi jum lah penduduk) dan tidak hanya kenaikan pendapatan nasional riil menyiratkan bahw a perhatian pembangunan bagi negara miskin adalah menurunkan tingkat kemiskinan. Tugas yang paling berat ada lah menjaga sustainabilitas pembangunan dalam jangka yang lebih panjang. definisi pembangunan ekonomi yang paling banyak diterima adalah: suatu prose s di mana pendapatan per kapita suatu negara meningkat selama kurun waktu yang p anjang. Bab ini akan menguraikan mengenai indikator-indikator ekonomi m aupun sosial yang dikenal dalam ekonomi pembangunan. Oleh karena itu diperlukan indikator sebagai tolok ukur terjadi nya pembangunan. Rencana pembangunan lim a tahun baru merupakan awal dari proses pembangunan. Kedua. dan jelas ini tidak dapat disebut ada pembangun an ekonomi. Bila pertumbuhan penduduk meleb ihi atau sama dengan pertumbuhan pendapatan nasional maka pendapatan per kapita bisa menurun atau tidak berubah. pembangun an ekonomi lebih dari sekedar pertumbuhan ekonomi. balk lewat regulasi maupun reformasi kelembagaan itu sendiri. Dewasa i ni.

Yang penting tidak hanya me ningkatkan "kue nasional" namun juga bagaimana "kue" tersebut didistribusikan se cara merata atau tidak.2. Mengingat adanya berbagai maca m dimensi pembangunan. sebagaimana dijelaskan dalam Bab 1. (2) indikator sosial.Tambahan catatan berupa rekor kemiskinan absolut dan distribusi pendapatan agakn ya menu njuk pentingnya kualitas proses pembangunan. atau Produk Nasional Bruto) per kapita. Klasifikasi negara berdasark an kelompok pendapatannya dapat saja berubah pada setiap edisi publikasi Bank Du nia. GDP per kapita dengan Purchasing Power Parity. INDIKA TOR EKONOMI A. 2. karena be rubahnya GNP per kapita. Pembangunan bukan merupakan tujuan melainkan hanya slat sebagai proses instrumental untuk menurunkan kemiskinan. menyerap tenaga kerja. GNP p er kapita adalah GNP dibagi dengan jumlah penduduk.Klasifikasi Negara Untuk tujuan operasional dan analitikal. Bank Dunia (1995) mengklasifikasikan negara berdasarkan tingkatan GNP per kapitanya sebagai berikut: 1. kita harus mengartikan pembangunan ekonomi sebagai kemajuan ekonomi atau kenaikan kes ejahteraan ekonomi. 9 . terutama dalam World Development Report yang terbit setiap tahun. Variabel yang termasuk indikator sosial adalah HDI (Human Development I ndex) dan PQLI (Physical Quality Life Index) atau Indeks Mutu Hidup. Variabel yang termasuk sebagai indikator ekonomi adalah: GNP per kapita. Peningkatan pendapatan riil per kapita hanyalah merupakan se bagian dari indeks kesejahteraan ekonomi. dan menurunkan ketimpangan distribusi pendapatan. Negara berpenghasilan rendah (low-income economies) adalah kelompok negara-ne gara dengan GNP per kapita kurang atau sama dengan US$ 695 pada tahun 1993. indikator-indikator kunci pembangunan secara garis besar pada dasarnya dapat diklasifikasikan menjadi: (1) indikator ekonomi. Karena itu . kesejahteraan ekonomi tidak hanya mempertanyakan keadilan distributif namun ju ga membicarakan bagaimana komposisi "kue nasional" dan bagaimana kue ini dinilai oleh masyarakat. Kesejahteraan ekonomi mengandung perti mbangan nilai mengenai tingkat distribusi pendapatan yang diinginkan. Dengan demikian. kriter ia utama Bank Dunia dalam mengklasifikasikan kinerja perekonomian suatu negara a dalah GNP (Gross National Product. Dengan demikian. laju pertumbuhan ekonomi. fokus tujuan pembangu nan di masing-masing negara dapat berbeda satu sama lain.

10 . (5) ketergantungan terhadap produksi perta nian dan ekspor produk primer demikian signifikan.2. Dalam kelompok negara berpenghasilan menengah dapat dibagi menjadi: (1) negara berpenghasilan menengah papan bawah (lower-middle-income economies) dengan GNP per kapita antara US$ 695 hingga US$ 2. dan Taiwan. yang meliputi I ndonesia.626. dengan ciri penghasila n rendah. yaitu: (1) tingkat kehidupannya rendah. Kedua. Namun pada umumnya. dan rentan dalam hubungan internasional (Todaro. Singapura. seperti pertumbuhan ekspor yang amat cepat. dan tidak ada maksud untuk menggeneralisasi bahwa semua negara dalam kelompok ini mengalami tahapan pembangunan yang sama.626 atau lebih pada tahun 1993. termasuk negara-negara yang datanya langka dan deng an penduduk kurang dari 1 juta jiwa. negara sedang berkembang (NSB) memiliki karakteristik y ang relatif sama. Negara berpenghasilan rendah dan menengah k adang disebut negara sedang berkembang (developing countries). tergantung. (2) negara berpenghasilan menengah papan atas (upper-middle-income economies) dengan GNP per kapita lebih dari US$ 2.785. (3) pertumbuhan penduduk da n beban ketergantungannya tinggi. Dalam publikasi la ris Bank Dunia yang berjudul The East Asian Miracle: Economic Growth and Public Policy (1993). newly industrializing economies (NIEs). Negara berpenghasllan tinggi (high-Income economies) adalah kelompok negara-n egara dengan GNP per kapita US$ 8.626 pada tahun 1993. yaitu: Pertama. 4. (4) tingkat pengangguran dan setengah mengangg urnya tinggi dan cenderung meningkat. ketimpangan distribusi pendapatan tinggi. 1994: h. (6) dominan.785 namun kurang dari US$ 8. yaitu: 1) High Performing Asian Economies (HPAEs). Jelas ini sekadar untuk memudahkan klasifikasi. (2) tingkat produktivitasnya rendah. 3. Negara-negara ini ti ngkat pertumbuhan ekonominya amat cepat dan mulai mendekati ranking negara berpe nghasilan tinggi. diperkenalkan beberapa sebutan. Klasif ikasi menurut penghasilan tidak selalu mencerminkan status pembangunan (IBRD. yang diidentifikasi karena memiliki ciri umum yang sama. rendahnya tingkat kesehatan dan pendidikan. 38-54). Dalam kelompok HPAEs ini dapat dibagi lagi menurut lamanya catatan sukses mempertahankan pertumbuhan ekonomi. 4 Macan Asia (The Four Tigers). â ¢ dan Thailand. yang biasanya diidenti kkan dengan Hongkong. Malaysia. Dunia (World) mel iputi semua negara di dunia. 19 93). Negara berpenghasilan menengah (middle-income economies) adalah kelompok nega ranegara dengan GNP per kapita lebih dari US$ 695 namun kurang dari US$ 8. Korea Selatan.

Yunani. HPAEs mulai mengejar negara-negara industri. Hubungan antara pertumbuhan GDP dan GDP per kapita 11 . melebi hi semua negara di kawasan Amerika Latin dan Sub-Sahara Afrika (kecuali Botswana yang kaya dengan berlian). Tidak seperti NSB Iainnya. 4) Sub-Sahara Afrika meliputi semua negara di sebelah selatan gurun Sahara terma suk Afrika Selatan. da n Srilangka. 3) Asia Selatan mencakup Bangladesh. R umania. Negar a sedang berkembang (NSB) agaknya tidak dapat mengejar negara maju dilihat dari sisi pertumbuhannya karena 70 persen NSB tumbuh Iebih lambat dibanding rata-rata negara berpenghasilan tinggi. India. Gambar 2. dan bekas Yugoslavia) dan semua negara di kawasan Afrika utara da n Timur Tengah. Reunion. Negara-negara ini rata-rata pertumbuhan GDP riilnya 5. 6) Amerika Latin dan Karibia terdiri atas semua negara Amerika dan Karibia di se belah selatan Amerika Serikat. Polandia. Lebih memprihatinkan lagi. serta Afghanistan. Kendati demikian.1. 5) Eropa. pertumbuhan HPAEs sangat berlainan dengan NSB pada umumnya karena pertumbuhan GDP-nya jauh di atas rata-rata negara berpe nghasilan tinggi. Bhutan. Turki. Nepal.1 menunjukkan hubungan antara GDP per kapit a relatif terhadap GDP Amerika Serikat pada tahun 1960 dan pertumbuhan GDP per k apita dari 119 negara selama periode 1960 hingga 1985 (IBRD. ada 13 NSB yang GDP pe r kapitanya menurun. namun tidak termasuk Mauritius. Pakistan. Gambar 2.5 persen per tahun. Portugal. Czechoslovakia. dan Seychelles. Hungaria. Delapan negara HPAEs memang tumbuh Iebih pesat dan kons isten dibanding kelompok negara mana pun di dunia sejak tahun 1960 hingga 1990. Myanmar.2) Asia Timur mencakup semua negara berpenghasilan rendah dan menengah di kawasa n Asia Timur dan Tenggara serta Pasifik. Timur Tengah. 29). dan Afrika Utara mencakup negara berpenghasilan menengah di kawasan Eropa (Bulgaria. 1993: h.

GNP Per Kapita Dengan Purchasing poower Parity Perbandingan antarnegara berdas arkan GNP per kapita seringkali menyesatkan.B. purchasing power parity (PPP) dianjurkan sebagai alat pengkonversi yang lebih tepat dalam mengkonversi GNP dal am mata uang lokal ke dollar. 1987) mem pelopori penggunaan PPP riil dalam perbandingan GDP antar negara. Di negara-negara yang hargaharg a domestiknya relatif rendah. Terlihat bahwa daya bell mata uang NS B biasanya lebih tinggi dibanding kurs resminya. 1978. Nilai GNP per kapita dengan PPP dipero leh dengan memasukkan faktor konversi tertentu yang didesain untuk menyamakan da ya bell mata uang di masing-masing negara. Penyesuaian at as data GDP ini mencerminkan daya bell satu unit mata uang lokal untuk membeli b arang dan jasa di negara tersebut. yang tidak lain PPP. Oleh karena itu. Irving Kravis. et. Faktor konversi. (1975. GNP per kapita menurut PPP umumnya lebih tinggi di banding GNP per kapita dengan kurs resmi. 12 . Hal ini disebabkan adanya pengkonve rsian penghasilan suatu negara ke dalam satu mata uang yang sama (baca: dolar AS ) dengan kurs resmi.1 menunjukkan GNP per kapita menurut kurs pasar yang berlaku dan GNP per kapita dengan PPP di beberapa NSB.al. Kurs nominal ini tidak mencerminkan kemampuan relatif daya beli mata uang yang berlainan. Tabel 2. yang mungkin lebih rendah atau lebih tinggi d aya belinya untuk membeli barang dan jasa di negara lain pada kurs valas yang be rlaku. adalah jumlah unit mata uang suatu negara yang diperlukan untuk membeli sejumla h barang dan jasa di pasar domestik sama dengan daya beli satu dolar di AS. sehingga kesalahan sering muncul saat dilakukan p erbandingan kinerja antarnegara. 1982.

jasa ibu rumah tangga. dan masalah distribusi pendapatan. A kibatnya bermunculan upaya untuk memperbaiki maupun menciptakan indikator lain s ebagai pelengkap ataupun alternatif dari indikator kemakmuran yang tradision al.560 19.220 17.Negara India Pakistan China Srilanka Indonesia Filipina Papua Nugini Thailand Tu rki Brazil Malaysia Argentina Australia Hongkong Singapura GNP / Kapita menurut Kurs Pasar 180 300 430 600 740 850 1. INDIKATOR SOSIAL Indikator Sosial Sebagai Alternatif Indikator Pembangunan GNP per kapita sebagai ukuran tingkat kesejahteraan mempunyai banyak kelemahan.150 2.930 3. Kelemahan umum yang sering dikemukakan adalah tidak memasukkan produksi yang tid ak melalui pasar seperti dalam perekonomian subsisten.850 Tabel 2.130 2.110 2. kerusakan lingkungan.060 19.350 6. GNP Per Kalipta NSB tahun 1993.910 21.2). yang terdiri atas: 9 indikator sosial dan 7 indikator ekonomi (Iihat Tabel 2. Pada tahun 1970. Kurs Pasar vs PPP (dalam US Dollar ) 2.490 GNP / Kapita PPP 900 1.140 7.170 2.670 2.250 17. tr ansaksi barang bekas.1.850 31.220 2.370 7.500 18. UNRISD (United Nations Research Institute on Social Developmen t) mengembangkan indikator sosial-ekonomi.3. namun akhir nya hanya 16 13 .260 3920 5.930 8.330 3.970 2.510 20. Semula ada 73 indikator.

air. Mereka menyimpulkan berbagai korelasi terjadi antara variabel-variabel ku nci tertentu dengan pembangunan ekonomi. Harapan hidup 2.indikator tersebut yang dipilih. ekonomi. Persentase penduduk usia kerja dengan listrik. Konsumsi e nergi. Rata-rata jumlah orang per kamar 5. ekuivalen kg batubara per kapita Persentase sektor manufaktur dalam GDP 10. Tentunya ranking b erbagai negara dengan indeks pembangunan ini berbeda dengan ranking dengan mengg unakan ukuran GNP per kapita. ekonomi. kw per kapita 8. Sirkulasi surat kabar per 1000 penduduk 6. dan politik. kg per kapita 9. dsb. gas. Konsumsi listrik. dan politik. Ditemukan juga bahwa indeks pembangunan ini mempun yai korelasi yang lebih erat dengan GNP per kapita negara maju dibanding dengan NSB. Kombinasi tingkat pendidikan dasar dan menengah Rasio pendidikan luar sekolah 4. Indeks pembangunan tersebut ternyata mempunyai korelasi yang lebih erat dengan indikator sosial dan ekonomi dibanding korelasi GNP per kapita dengan indikator yang sama. Mereka mengklasifikasikan 74 NSB berdasarkan 40 variabel sosial. Konsumsi baja. Dapat disimpulkan bahwa pembangunan sosial berlangsung lebih cepat dibandin g pembangunan ekonomi sampai dengan tingkat US$ 500 per kapita (dengan tahun das ar 1960). Indikator-indikator ini dipilih atas dasar ting ginya korelasi dalam membentuk indeks pembangunan dengan menggunakan "bobot timb angan" yang berasal dari berbagai tingkat korelasi. Persentase penduduk di daerah sebanyak 20.000 atau lebih Kon sumsi protein hewani per kapita per hari 3. Perdagangan luar negeri per kapita 11. Analisis faktor digunakan untuk menguji interdependensi antara variabel sosial dan politik dan tingkat pembangunan ekono minya. 1970 Studi lain yang dilakukan oleh Irma Adelman dan Cynthia Mor ris (1967) mengukur kinerja pembangunan dalam dimensi pola interaksi antara fakt or sosial. Indeks Mutu Hidup (PQLI) 14 . Produksi pertan ian per pekerja pria di sektor pertanian Persentase tenaga kerja pria dewasa di pertania n 7. Persentase penerima gaji dan upah ter hadap angkatan kerja Sumber: UNRISD. Daftar Indikator Kunci Pembangunan Sosial-Ekonomi versi UNRISD 1.

(2) pengetahuan yang diukur dengan rata-rata tertimbang dari jum lah orang dewasa yang dapat membaca (diberi bobot dua pertiga) dan rata-rata tah un sekolah (diberi bobot sepertiga). UNDP menerbitkan se ri tahunan dalam publikasi berjudul Human Development Reports.1224. Tabel 2.0864 masing-masing untuk tahun 1971. 1996: h. dan naik menjadi 73 pada tahun 1990. menjadi 57 pada tahun 19 80. Human Development Index (HDI) Upaya yang pali ng ambisius dan terbaru dalam menganalisis perbandingan status pembangunan sosia l ekonomi. maka indeks kompositnya dapat dihitu ng dari rata-rata penilaian atas ketiga indikator. adalah penyusu nan dan perbaikan Human Development Index (HDI). Hal yang menarik dan berharga dari laporan ini. dan (3) penghasilan yang diukur dengan pend apatan per kapita riil yang telah disesuaikan. dan 199 0. dan 0.3 menyajikan indikat or PQLI untuk masing-masing propinsi di Indonesia pada tahun 1971. di antara negara-nega ra ASEAN. DI Yogyakarta dan Sulawesi Tenggara merupakan propinsi yang memiliki pe ningkatan PQLI tercepat sebesar 3. PQLI di Indonesia meningkat dari 45 pada tahun 1971. yaitu: (1) usia panjang yang diukur dengan tingkat harapan hidup.6 persen per tahun. Morris memperkenalkan Physical Quality Life Index (PQLI). dan 199 0 (Ardani. yang diterbitkan sejak tahun 1990. Kendati demikian. U ntuk masing-masing indikator. dan tingkat melek huruf. 0. Pada tahun 1971. 1980.1162. Begitu kinerja ekonomi suatu negara dinyatakan dalam skala 1 hingga 100 untuk masing-masing indikator tersebut. balk di NSB maupun negara maju telah dilakukan oleh UNDP (United Nati ons Development Program) secara sistematis dan komprehensif. yaitu 15 . Sebagai contoh. yang lazim diterjemahkan sebagai Indeks Mut u Hidup (IMH). di mana 1 merupakan kinerja terjelek. 1980. dengan memberikan bobot yang sama untuk masing-masing indikator. yaitu : harapan hidup pada usia satu tahun. Seperti halnya POLI. kinerja ekonomi suatu negara dinyatakan dalam skal a 1 hingga 100. Bila dibandingkan antar pr opinsi. terdapat begitu besar variasi PQLI meskipun dengan tingkat yang menurun sebesar 0. PQLI tert inggi dipegang oleh Sulawesi Utara (62). HDI mencob a meranking semua negara dalam skala 0 (sebagai tingkatan pembangunan manusia ya ng terendah) hingga 1 (pembangunan manusia yang tertinggi) berdasarkan atas 3 tu juan atau produk pembangunan. 28). angka kematian. PQLI Indonesia termasuk yang paling rendah. Namun umumnya PQLI mengalami peningkatan untuk masing-m asing propinsi.6 persen. dengan rata-rata kenaikan per tahun selama 1971-1990 sebesar 2. sedangkan 100 adalah kiner ja terbaik. Pada tahun 1980 dan 1990.Untuk mengukur tingkat kesejahteraan masyarakat. rekor PQLI di raih oleh DKI Jakarta (72 dan 86). Morris D. PQLI merupakan indeks komposit (gabungan) dari 3 indikator.

dan ke-8 oleh AS. Costa Rica. yaitu: (1) negara dengan pembangunan manusia yang rendah (low human development) bila nilai HDI berkisar antara 0. Keadaan ini memperlihatkan bahwa negara tersebut telah ban yak menggunakan pendapatannya untuk meningkatkan kapabilitas manusianya. Sementara itu. negara dengan nilai HDI lebih dari 0. Perlu dic atat bahwa HDI mengukur tingkat pembangunan manusia secara relatif. negara-negara lain. Dengan demikian. tanda negatif menunjukkan sebaliknya. ranking pendapatan per kapitanya jauh melebihi ranking HDI. Brunei.8 berarti amat memperhatikan pembangunan manusianya. Guyana. seperti China.0. Pertumbuhan eko nomi hanyalah satu alat yang penting. Memang suatu per tumbuhan ekonomi adalah penting untuk mempertahankan kesejahteraan rakyatnya. ranking HDI semua negara dibagi menjadi 3 kelompok.0 hingga 0.80 hingga 1. Indonesia. Arab Saudi. Tabel 2. negara dengan nilai HDI 0. B eberapa negara. dan pilihan material) dan tidak sekadar alat pembangunan (hanya GNP per kapita). Dengan 3 ukuran pembangunan ini da n menerapkan suatu formula yang kompleks terhadap data 160 negara pada tahun 199 0. Kolumbia. HDI memfokuskan pada tujuan akhirpembangunan (usia panjang. dan Srilangka. memil iki ranking HDI jauh di atas ranking penghasilannya (ditunjukkan oleh tanda posi tif pada kolom ke-5). Sementara di antara negara-negara maju.5 bera rti tidak memperhatikan pembangunan manusianya. Na m un pertumbuhan bukan merupakan akhir dari pembangunan manusia. seperti Gabon. ke-2 oleh Swiss.50.4 menunjukkan perhitungan HDI dan rankingnya. Madagaskar.79.disesuaikan menurut Jaya bell mata uang masingmasing negara dan asumsi menurunny a utilitas marginal penghasilan dengan cepat. Akan tetapi yang lebih penting adalah baga imana pertumbuhan ekonomi digunakan untuk memperbaiki kapabilitas manusianya. Negara-nega ra tersebut berarti memiliki potensi untuk menggunakan pendapatannya guna memper baiki kesejahteraan rakyatnya. Cuba.51 hin gga 0. da n pada gilirannya bagaimana rakyat menggunakan kapabilitasnya. Amartya Sen. Negara dengan nilai HDI di bawah 0. ranking t ertinggi diraih oleh Kanada. Selain itu. dan (3) negara dengan pembangunan manusia yang tinggi (high human development) bila nila i HDI berkisar antara 0. indikator HDI jauh melebihi pertumbuhan konvensional. Angola. Barbados adalah N SB dengan nilai HDI tertinggi. seor ang ahli 16 . penge tahuan. Namibia.79 berarti mulai memperhatikan pembangunan manusianya. Perbedaan rankin g GNP per kapita dengan ranking HDI yang positif (lihat kolom ke-5) menunjukkan bagaimana ranking relatif suatu negara meningkat bila digunakan HDI sebagai indi kator sebagai ganti dari GNP per kapita. bukan absolu t. (2) negara dengan pembangunan manusia yang menengah (med ium human development) bila nilai HDI berkisar antara 0. dan Uni Emir at Arab.51 hingga 0.

April 1996. BPFE. kita harus selalu ingat bahw a indeks ini merupakan indikator pembangunan yang "relatif". Todaro (1995: h. nilai HDI suatu negara mungkin membawa dampak yang kurang menguntungkan karena mengali hkan fokus dari masalah ketidakmerataan dalam negara tersebut. bebas bepergian menengok teman. "Kapabilitas" diartikan sebagai mencakup apa yang dapat ma upun tidak dapat dilakukan. Kendati HDI memberikan wawasan yang Iebih luas menge nai pembangunan. Leading Issues in Economic De velopment. ketiga indi kator tersebut merupakan indikator yang bagus namun bukan ideal (misalnya. tim P BB ingin menggunakan status nutrisi bagi anak berusia di bawah lima tahun sebaga i indikator kesehatan yang ideal. Oxford University Press. Yogyakarta. edisi ke-6. Meier. Oxford. . Jakarta. New York. Pertama.. partisipasi dalam masyarakat. la mengamati bahwa masalah riil di NSB adalah menurunnya kual itas kehidupan daripada rendahnya pendapatan. dsb. alternat if pendekatan yang memandang ranking GNP per kapita. Discussion Paper No. Kelima. Ketiga. Jakarta.ekonomi dari Harvard. dari kekurangan gizi. BACAAN YA NG DIANJURKAN Ardani. 36. Mudrajad. Januari 1996. 1995. Indikator So sial Wanita 1994. 1996. 17 . bukan absolut. Gerald M. maka negara miskin tidak akan memperoleh penghargaan atas kemajuannya. pembe ntukan HDI sebagian didorong oleh strategi politik yang didesain untuk memfokusk an perhatian pada aspek pembangunan kesehatan dan pendidikan. Kuncoro. Nagoya. Keempat. Nagoya University. B. Profit Kesejahteraan Rakyat 1995. Sen menginterpretasikan pembanguna n sebagai proses yang memperluas entitlement dan kapabilitas manusia untuk hidup sesuai dengan yang diinginkannya. The East Asian Miracle: Economic Growth and Public Policy. IBRD. "Entitlement" adalah sejumlah komoditi yang d apat diperoleh seseorang dalam masyarakat dengan menggunakan seluruh hak dan pel uang yang dia miliki. bab I. Regional Development in Indonesia: Issues and C hallenges. Kedua. 1996. Amiruddin. 1993. dan kemudian melengkapinyad engan indikator sosial lain masih dihargai. tetapi datanya tidak tersedia). bab 1. Oxford University Press. menegaskan bahwa pembangunan ekonomi seharusnya diterjemahkan sebagai suatu proses ekspansi dari kebebasan positif yang dinikmat i oleh masyarakat. Manajemen Keuangan lntemasional: Pengantar Ekonomi dan Bisnis Global. memperoleh tempat tinggal yang memadai. sehi ngga bila semua negara mengalami peningkatan pada tingkat tertimbang yang sama. 65) memberikan catatan berikut. bab 10. misalnya bebas dari kelaparan. Biro Pusat Statistik.

dan sulit untuk mengelompokkan teori-teori tersebut pada suatu aliran tert entu. dikenal 4 pendek atan yang dominan yaitu: (1) Teori pertumbuhan linear (linear stages of growth). Lepas dari permasalahan te rsebut. sesu ai dengan pengelompokkan yang dilakukakan oleh Todaro (1991. Dasar pemikiran dari model ini adalah evolusi proses pembangunan yang dialami oleh suatu negara selalu melalui tahapan-tahapan tertentu. Dalam pembah asan mengenai teori pembangunan. teori-teori pembangunan yang ada. 3. Harus diakui. sangat didominasi oleh hasil pemikiran Para ekon om Barat. Teori-teori pembangunan yang dikemukak an oleh Adam Smith. Itulah sebabnya mengapa teori-teori pembangunan yang merupakan hasil pemikiran ekonom B arat. Dalam bab ini akan ditelusuri teori-teori dasar pembangunan yang ada. Pola pikir dan buah pikiran seorang pakar tentunya tidak akan pernah l epas dari tata nilai dan kondisi Iingkungan yang ada di sekitarnya. Karl Marx. (3) Teori revolusi ketergantungan internasion al (dependensia). khususnya pembangunan ekonomi. Demikian pul a halnya dengan ekonom Barat yang mencoba memformulasikan strategi pembangunan d alam suatu kerangka teori yang sistematis. dengan NSB yang umumnya terletak di benua Afrika dan Asia. terdapat banyak teori pembangunan yang telah diformulasikan oleh para ek onom. pentahap an tersebut adalah mutlak 18 . dan kondisi Iingkun gan antara negara maju. (2) Teori pertumbuhan struktural.1. Tahapan-tahapan ters ebut merupakan proses urutan seperti halnya aliran air sungai. 1994). khususnya di awal perkem bangan cabang ilmu ekonomi ini. pada banyak kasus ternyata kurang tepat diterapkan begitu saja di negara s edang berkembang (NSB). di mana dasar dari teori yang mereka hasilkan hanya dapat terpenu hi bila teori tersebut diterapkan di Barat. dan Rostow termasuk dalam model pertumbuhan linea r. Perbedaan tata nilai. TEORI PERTUMBUHAN LINEAR Model pert umbuhan linear mendominasi perkembangan teori pembangunan sejak pertama kali dik emukakan oleh Adam Smith dan mengalami puncak kejayaannya dengan lahirnya teori pertumbuhan yang dikemukakan oleh Rostow. yang umumnya di benua Eropa dan Amerika. Artinya. (4) Teori Neo-Klasik.BAB III TEORI PEMBANGUNAN Begitu kompleksnya pembangunan menyebabkan hingga saat ini tidak ada satu teori pembangunan yang tepat diterapkan bagi semua negara di dunia. sistem sosial. menyebabkan penerapan teori-teori pe mbangunan yang ada banyak yang menjumpai "kegagalan".

Dalam pembangu nan ekonomi. masyarakat akan bergerak dari masyarakat tradisional ke masyarakat modern yang kapitalis. Artinya bahwa orang yang mampu menabung pada dasarnya adalah kelompok masyarakat yang m enguasai dan mengusahakan sumber-sumber ekonomi. Adanya akumulasi modal yang dihasilkan dari tabungan. namun leb ih ditekankan pada spesialisasi untuk menggeluti bidang tertentu.1.harus dilalui oleh suatu negara yang sedang membangun. 3. Dalam hal ini Adam Smith memandang pekerja sebagai salah satu input (masuk an) bagi proses produksi. mengharuskan masyarakat untuk tidak lagi melakukan semua pekerjaan secara sendiri. Menurut teori ini. pertumbuhan ek onomi akan semakin terpacu dengan adanya sistem pembagian keraja antarpelaku eko nomi. dalam upaya meningkatkan produktivitas tenaga kerja. di mana tahap-tahap pemba ngunan tersebut harus dilalui satu-persatu secara berurutan menuju tingkat yang semakin tinggi. modal memegang peranan yang penting. masa berternak. Pekerja merupakan satu-satunya pelaku ekonomi yang tidak memiliki kemampua n menabung karena mereka tidak mampu menguasai dan mengusahakan sumber-sumber ek onomi yang ada. Meningkatny a kompleksitas aktivitas ekonomi dan kebutuhan hidup di masyarakat.1. Perl u dicatat bahwa akumulasi modal dan investasi sangat bergantung pada pada perila ku menabung masyarakat. masa bercocoktanam. me ndorong kemajuan 19 . Spesialisasi akan terjadi jika tahap pembangunan e konomi telah menuju ke sistem perekonomian modern yang kapitalistik. Menurut Adam Smith proses pertumbuhan akan terjadi secara simult an dan memiliki hubungan keterkaitan satu dengan yang lain. sementara di sisi lain kemampuan menabung masyarakat dit entukan oleh kemampuan menguasai dan mengeksplorasi sumberdaya yang ada. Menurut teori ini. akumulasi m odal akan menentukan cepat atau lambatnya pertumbuhan ekonomi yang terjadi pada suatu negara. maka pelaku ekonomi dapat menginvestasikannya ke sektor dalam upaya untuk meningkatkan penerimaannya. Timbulnya peningkata n kinerja pada suatu sektor akan meningkatkan daya tank bagi pemupukan modal. Dalam prosesnya. Modal tersebut diperoleh dari tabungan yang dilakukan masyarakat. Teorl Pertumbuhan Adam Smith Adam Smith membagi tahapan p ertumbuhan ekonomi menjadi 5 tahap yang berurutan. yaitu para pengusaha dan tuan t anah. dan (2) penemuan mesin -mesin yang menghemat tenaga. yaitu dimulai dari masa perbu ruan. perdagangan dan yang terakhir adalah t ahap perindustrian. Pembagian kerja merupakan titik central pembahasan dal am teori Adam Smith. Spesia lisasi yang dilakukan oleh tiap-tiap pelaku ekonomi tidak lepas dari faktor-fakt or pendorong yaitu: (1) peningkatan keterampilan pekerja.

K eterbatasan sumberdaya merupakan faktor yang dapat menghambat pertumbuhan ekonom i tersebut. laju pertumbuhan akan terj adi secara cepat sampai titik optimal tertentu dan akan menurun hingga mencapai titik nol. dan investasi tetap terjalin dan berkaitan e rat satu sama lain. Hal ini akan mendoro ng pertumbuhan ekonomi semakin pesat. Jika investasi rendah. Demikian pula halnya dengan tingkat pertumbuhan. Teori pembangunan Adam Smith tidak dapat dilepaskan dari evolusi pentahap an proses pembangunan yang terjadi secara berjenjang dan harus dilewati satu per satu. (3) tidak ada kolusi antara penjual maupun pembeli. kemudian secara lambat mulai peningkatan. tanpa ke mungkinan terjadinya gelombang konjungtur. Sangat tidak realistis jika para pekerja diasumsikan tidak memiliki kema mpuan untuk menabungkan uangnya dari sisa pendapatan 20 . Kritik lain mengenai teori pertumbuha n Adam Smith ini adalah pembagian kelompok masyarakat yang secara eksplisit dapa t menabung dan tidak dapat menabung hanya didasarkan pada jenis usaha yang digel utinya. Jika hal tersebut terjadi berarti laju investasi juga akan rendah dan akan menurunkan pertumbuhan ekonomi . h. (4) semua sumberdaya memiliki mobilitas s empurna. Teori ter sebut menetapkan bahwa akhir dari kapitalisme adalah kondisi stasioner. 242-3). Semua tahap pembangunan di atas tidak l epas dari kondisi dasar . Akhirnya kapitalisme dalam hal ini akan berada pada kondisi stasioner.teknologi. dan memperluas pasar. Suatu hal yang mustahil bagi perekonomian untuk berada pad a kondisi di mana semua asumsi dasar persaingan sempurna berlaku. Pasar persaingan sempurna pada dasarnya tidak pernah ada di dunia. Kemungkinan terjadinya gelombang konjungtur dalam proses pertumbuhan ekon omi nampaknya merupakan hal yang tidak mungkin menurut teori tersebut. (5) balk pembeli maupun penjual memiliki informasi sempurna mengenai ko ndisi pasar (Awh. maka kemampuan menabung akan turun. yaitu p ada tingkat pertumbuhan sama dengan nol. yaitu bahwa pasar yang dihadapi adalah persaingan semp urna. Pentahapan ini merupakan hal yang nampaknya tidak dapat ditawar-tawar lagi. 1976. akumulasi modal. yaitu dimulai suatu titi k tertentu. Proses pertumbuhan ekonomi sebagai suatu " fungsi tujuan" pada akhirnya harus tunduk terhadap "fungsi kendala" yaitu keterb atasan sumberdaya ekonomi. (2) produk yang diperjualbelikan bersifat homogen. meningkatkan spesialisasi. s ehingga akumulasi modal akan mengalami penurunan pula. Penurunan pertumbuhan ekonomi akan terus terjadi karena mat a rantai tabungan. bahkan dalam perkembangannya hal tersebut justru menurunkan tingkat pertumbuhan ekonomi. Pertumbuhan ekonomi akan mulai mengalami perlambatan jika daya dukung alam tidak mampu lagi mengimbangi aktivitas ekonomi yang ada. Penetapan asum si tidak realistis ini adalah salah satu kelemahan teori pembangunan versi Adam Smith. Persaingan sempurna mempunyai karakteristik: (1) ada banyak penjual dan pe mbeli di pasar.

yan g merupakan kaum kapitalis. Konsekuensi logis penggunaan asumsi dasar tersebut a dalah kemungkinan terjadinya eksploitasi besar-besaran yang dilakukan para pengu saha terhadap buruh.1. untuk kemudian modal tersebut diinvestasikan ke sektor riil. Teori Pembangunan Karl Marx Karl Marx dalam bu kunya Das Kapital membagi evolusi perkembangan masyarakat menjadi tiga. kapitalisme dan kemudian yang terakhir adalah sosialisme. Adam Smith mengasumsikan hanya para tuan tanah dan pengusaha yang mampu melakukan aktivita s menabung. Evolusi perkembangan masyarakat ini akan sejalan dengan proses pembangunan yang dilaksanakan.2. Let ak ketidakadilan sistem tersebut adalah pada diskriminasi kesempatan untuk menab ung. Artinya bur uh tidak memiliki posisi tawar menawar sama sekali terhadap para majikannya. yang berkaitan erat dengan diskriminasi kemampuan penguasaan faktor produks i dan konsumsi sumberdaya. 3. Artinya dalam sistem ekonomi kapitalis posisi tawarmenawar (bargaining position) pekerja terhadap pengusaha relatif sangat kecil. Mark menyesuaikan asumsinya terhadap cara pandang ekonomi Klasik ketika itu de ngan memandang buruh sebagai salah satu input dalam proses produksi. Masyarakat feodalisme mencerminkan kondisi di mana perekonomian y ang ada masih bersifat tradisional. Seperti halnya pada masa feodal . pada masa kapitalisme ini para pengusaha merupakan pihak yang memiliki tingkat posisi tawar menawar tertinggi relatif terhadap pihak lain khususnya kaum buruh . Asumsi ini menunjukkan "kekejaman" teori Adam Smith deng an sistem ekonomi kapitalisnya. J ika hal ini terjadi maka konsekuensinya adalah terjadi ekploitasi para pengusaha terhadap para pekerja. dan juga mengabaikan adanya kecend erungan orang untuk menabung meski pendapatannya relatif tidak besar. Perkembangan teknologi yang ada menyebabkan terjadinya pergeseran di sektor ekonomi. di mana masyarakat yang semula agraris-feodal kemudian mulai ber alih menjadi masyarakat industri yang kapitalis. Adam Smith mengabaikan peran perbankan sebagai badan penghimp un dan penyalur surplus Jana dari masyarakat. Suatu hal yang "menyakitkan" bahwa dalam suatu s istem yang diciptakan manusia terjadi eksploitasi manusia atas manusia lain. Dalam tahap ini tuan tanah merupakan pelaku ekonomi yang memiliki posisi tawar menawar tertinggi relatif terhadap pelaku eko nomi lain. sementara di sisi lain laba pengusaha demikian besarnya sehingga mereka mampu mengakumulasikan modalnya. pada masa itu pemupukan modal kemudian menjad i kata kunci bagi upaya peningkatan 21 . yaitu di mulai dari feodalisme.yang dibelanjakan. Dalam h al ini secara implisit Adam Smith menyatakan bahwa gaji pekerja demikian kecilny a. Di sisi lain.

pendapatan yang lebih besar di masa yang akan datang. Sejalan dengan perkembanga n teknologi. para pengusaha tidak akan segan-segan mengeksploitasi pekerja. Selisih antara nilai produktivitas buruh dan nilai tenaga buruh yang dinyatakan dalam bentuk upah inilah yang kemudian disebut dengan nilai lebi h. Fase ini merupakan tonggak baru bagi munculnya suat u tatanan sosial alternatif di samping tata masyarakat kapitalis. Karena t ingkat keuntungan yang diperoleh oleh para pengusaha adalah fungsi dari nilai le bih. para pengusaha yang menguasai faktor produksi akan berusaha memaksi malkan keuntungannya dengan menginvestasikan akumulasi modal yang diperolehnya p ada input modal yang bersifat padat kapital. Pada kenyataannya nilai upah yang diberikan jauh lebih kecil dibandingkan dengan produktivitas buruh tersebut dalam suatu p roses produksi. yaitu : masyarakat pemilik tanah dan masyarakat bukan pemilik tan ah. Marx selalu mendasarkan teorinya pada kondisi pertentangan antarkelas dal am masyarakat. 22 . maka untuk memaksimalkan keuntungan. yaitu tata mas yarakat sosialis. Nilai buruh yang dinyatakan dalam bentuk upah mer upakan jumlah tenaga yang diperlukan untuk menghasilkan tenaga buruh tersebut. Penurunan u pah buruh nampaknya sulit untuk dilakukan mengingat tingkat upah yang terjadi pa da masa kapitalisme semata-mata diberikan agar buruh tetap hidup dan dapat beker ja. Sepanjang teori pembangunan yang dikemukakannya. Menurut Marx. Eksploitasi terhadap kaum buruh dan peningkatan pengangguran yang terjadi akibat subtitusi tenaga manusia dengan in put modal yang padat kapital. Nilai lebih akan meningkat jika upah diturunkan atau pr oduktifitas dinaikkan dengan asumsi semua faktor lain tidak berubah. pada akhirnya akan menyebabkan revolusi sosial yan g dilakukan oleh kaum buruh. kemampuan para pengusaha untuk melakukan akumulasi modal teletak pada kemampuan mereka dalam memanfaatkan nilai lebih dari produkti vitas buruh yang dipekerjakan. masyarakat pemilik modal dan masyarakat bukan pemilik modal. Marx selalu m endasarkan argumennya pada asumsi bahwa masyarakat pada dasarnya terbagi menjadi dua golongan. Hal ini merupakan dampak dari asumsi dasar bahwa buruh di pandang seperti input yang lain. Nilai lebih merupakan keuntungan yang diperoleh oleh para pengusaha. Artinya penetapan upah tersebut tidak lebih besar daripada kebutuhan hidup p ada tingkat subsisten. Asumsi lain yan g mendukung adalah bahwa di antara kedua kelompok masyarakat tersebut sebenarnya terjadi konflik kepentingan di antara mereka. Oleh karena itu dalam pola berpik irnya. A rtinya upah akan sama dengan nilai sarana kehidupan yang diperlukan seorang buru h untuk mempertahankan kehidupannya.

maka Marx kemudian menyimpu lkan bahwa kapitalisme akan berakhir dengan timbulnya revolusi sosial yang dilak ukan oleh kaum buruh. Peningkatan efisiensi kerja ini tidak terlepas dari kondisi pasar yang kian kompetitif. Kritik terhadap t eori Marx terutama tertuju pada asumsi adanya nilai lebih dalam suatu perekonomi an. karena meman g di dunia nyata kita berkutat dengan harga yang terwujud dan nyata.Upaya untuk memaksimalkan keuntungan yang nantinya akan diakumulasikan dalam ben tuk kapital. Akumulasi ketertindasan kaum buruh dalam pereko nomian kapitalis yang terus dieksploitasi. Jadi Marx d alam hal ini telah menciptakan dunia nilai yang abstrak yang membuat teorinya ag ak "sukar dan kaku" untuk memahami bekerjanya kapitalisme (Jhingan. hanya dapat dilakukan dengan cara meningkatkan produktivitas kerja. Pada tahap ini. individualis dalam masyarakat kapitalis akan berubah menjadi sistem kemas yarakatan yang sosialis. 1988. dan Jaya bell masyarakat akan semakin menurun akibat semakin banyaknya ti ngkat pengangguran yang terjadi. terutama pada sistem produksi dan pemilikan sumberdaya. maka produsen hanya dapat melaksanakan strategi pe nurunan harga output sebagai upaya menguasai pasar. Hal tersebut dapat dilakukan dengan investasi khu susnya pada barang modal yang bersifat padat kapital untuk meningkatkan produkti vitas kerja tersebut. meningkatnya pengangguran. Prasyarat untuk kondisi sema cam itu adalah sistem produksi yang semakin efisien dan produktif. Jika diasumsikan bahwa kualitas barang yang d iperdagangkan adalah homogen. Marx menawarkan suatu sistem baru yaitu sistem perekonomian sosialis. peningkatan produktivitas kerja dan efisiensi produksi merupakan hal yang t idak dapat ditawar-tawar lagi. Dengan kata l ain. yang pada akhirnya akan diinvestasikan kembali oleh para pengusaha.151) Kritik lain adalah adanya keharusan perubahan dari masyarakat kapitalis menuju sosialis hanya dapat dilakukan dengan jalan revolusi. sebagai alternatif dari sistem kapitalis yang saa t itu merupakan satu-satunya sistem perekonomian yang dikenal. Revolusi ini akan membawa perubahan mendasar pada segala b idang. Dalam dunia nyata tidak dikenal adanya istilah nilai lebih ini. Akibat penggunaan mesin-mesin tersebut tingkat pengangguran akan semakin meni ngkat. Haruskah suatu upaya untuk menuju kepada suatu kondisi yang "dianggap" baik harus dilakukan dengan revolus i yang tentunya akan 23 . h. Konsekuensinya pengusaha akan menurunkan penggunaan tenaga buruh dan diganti dengan penggunaan mesin-mesin yang lebih produktif dan efisie n. dan ditamb ah konflik antarkelas masyarakat yang terus terjadi. Sem akin sengitnya persaingan antarpara pemilik modal akan menjurus pada upaya mere but pangsa pasar sebesar-besarnya. Akumulasi modal d alam sistem kapitalis akan dig anti dengan pemerataan kesempatan pemilikan sumbe rdaya.

membawa korban yang besar? Apakah sudah tidak ada lagi kejernihan pemikiran dari kedua belah pihak untuk berdialog satu dengan yang lain? Kekakuan Marx dalam me ndeskripsikan proses perubahan dari masyarakat agraris-feodal menuju masyarakat kapitalis dan terakhir adalah masyarakat sosialis. ternyata Marx justru banyak menyumbang terhadap kelanggengan kehidupan ekonomi kapitalis. maka kemudian Rostow memformula sikan pola pembangunan yang ada menjadi tahap-tahp evolusi dari suatu pembanguna n ekonomi yang dilakukan oleh negara-negara tersebut. teori Rostow banyak mempengaruhi pandangan dan persepsi par a ahli ekonomi mengenai strategi pembangunan yang harus dilakukan. terlebih dahulu harus melewati tahap depre si ekonomi akibat kapitalisme yang merajalela tanpa kendali. Toeri Marx tentang depresi ekonomi inilah yang pada akhirnya justru memperkuat argumentasi Keynes y ang merekomendasikan peningkatan peran pemerintah bagi upaya mengatasi depresi e konomi yang ada. Teori Pertumbuhan Rostow Teori pertumbuhan ekonomi yang dikemukakan oleh Walt Whitman Rostow merupakan garda depan dari linear stage of growth theory. Dengan adanya kritik dan sinyalemen terhadap perkiraan dampa k negatif sistem kapitalis. terutama terhadap buruh. 24 . maka hal tersebut justru me njadi masukan bagi ekonom kapitalis untuk menyempurnakan sistem yang ada. Pa da dekade 1950-1960. Marx menunjukkan kepada dunia bahwa tahap pembangunan ekonomi tidaklah semulus yang diperkirakan sebelumnya. hingga dampak negatif yang digambarkan Marx dapat dihindari.1. Kendati demikian. Itulah sebabnya mengapa Marx mendiskripsikan bahwa kehancuran kapitalis yang akan digantikan oleh sosia lis harus melalui suatu revolusi. Teori Rostow didasarkan pada pengalaman pembangunan yang telah dialami oleh negara-negara maj u terutama di Eropa. Untuk mencapai perekonomian sosialis. men gingat revolusi kaum buruh jelas-jelas melawan kaum pengusaha tersebut.3. Artinya Marx tidak menginginkan keberadaan par a pengusaha yang berjaya di masa kapitalis untuk menghirup udara sosialisme. Marx merupakan orang pert ama yang memberikan gambaran sisi negatif dari sistem kapitalisme jika sistem te rsebut diterapkan berdasarkan perhitungan ekonomi semata tanpa mempertimbangkan unsur kemanusiaan dan nilai sosial kemasyarakatan. nampaknya sangat diwarnai sub yektivitas dan kebencian Marx terhadap sistem kapitalis.negara Eropa dari mulai abad pertengahan hingga abad modern. 3. Dengan mengamati proses pembangunan di negara.

Menurut pengamatan Rostow. (3) Ta hap tinggal landas. Tahap kedua ini merupakan tahap yang menentukan bagi persiapan menuju tahap-tahap pembangunan be rikutnya. dan lembaga keuangan resmi sebagai pengge rak Jana masyarakat mulai bermunculan. Pada saat itu ter jadi terjadi perubahan radikal dalam masyarakat Eropa dengan munculnya semangat Renaissance. negara-negara di Eropa menga lami tahap kedua ini kira-kira pada abad ke-1 5 sampai ke-1 6. Semangat ini telah membalikkan semua tata nilai masyarakat Eropa saat itu yang cenderung statis menjadi sangat dinamis. Tahap ini merupakan tonggak dimulainya industria lisasi. Perubaha n paradigma berfikir nampaknya merupakan istilah yang Iebih tepat untuk menilai fenomena itu. (2) Tahap prakondisi tinggal landas. Dalam perekon omian semacam ini sektor pertanian memegang peranan penting. Prakondisi Tinggal Landas Tahap kedua dari proses pertumbu han Rostow ini pada dasarnya merupakan proses transisi dari masyarakat agraris m enuju masyarakat industri. Struktur s osial kemasyarakatan dalam sistem masyarakat seperti ini bersifat berjenjang. kedua. Tahap II. Sebagai tahapan yang berfungsi mempersiapk an dan memenuhi prasyaratprasyarat pertumbuhan swadaya. terjadi revolusi teknologi di bidang pertanian untu k memenuhi peningkatan permintaan penduduk kota yang semakin 25 .Rostow membagi proses pembangunan ekonomi suatu negara menjadi lima tahap yaitu: (1) Tahap perekonomian tradisional. lndustrialisasi dapat dipertahankan jika dipenuhi prasyarat sebagai beri kut: pertama. serta terjadi investasi besar-besaran ter utama pada industri manufaktur. yaitu tahap tinggal landas. peningkatan investasi di sektor infrastruktur/prasarana terutama p rasaran transportasi. Ke mampuan penguasaan sumberdaya yang ada sangat dipengaruhi oleh hubungan darah da n keluarga. diperlukan adanya semang at baru dari masyarakat. perekonomian mulai bergerak dinamis. Pemanfaatan teknologi dalam sistem produksi masih sangat terbatas. (5) Tahap konsumsi massa tinggi . industri-industri bermuncul an. Sektor industri mulai berkembang di samping sektor pe rtanian yang masih memegang peranan penting dalam perekonomian. Pada tahap ini. Berikut ini akan diuraikan masing-masing tahapan ini. Tahap L Perekonomian Tra disional Perekonomian pada masyarakat tradisional cenderung bersifat subsisten. perkembangan teknologi yang pesat. Masih rendahnya pem anfaatan teknologi dalam proses produksi menyebabkan barangbarang yang diproduks i sebagian besar adalah komoditas pertanian dan bahan mentah Iainnya. (4) Tahap menuju kedewasaan.

perluasan impor. Tanpa terpenuhinya prasyarat ketiga. Hadirnya secara cepat kerangka politik. Prasyarat ketiga merupakan kondisi yang harus dipen uhi agar prasyarat pertama dan kedua dapat terpenuhi dengan baik. yang dibiayai oleh produks i yang efisien dan pemasaran sumber alam untuk ekspor. Kenaikan laju investasi produktif antara 5-10 persen dari pendapatan nasional. Pada akhirnya pertumbuhan y ang tinggi pada semua sektor ini akan berakibat pada perkembangan GNP yang lebih tinggi dari kondisi semula. Tinggal landas di definisikan sebagai tiga kondisi yang sating berkaitan sebagai berikut : 1. Artinya perubahan ek onomi dalam skala besar tidak akan terjadi selama tidak ada iklim kondusif 26 . maka sektor-sektor la in pun akan terpengaruh untuk berkembang pesat pula. dan institusion al yang menimbulkan hasrat ekspansi di sektor modern. Tinggal Landas Tin ggal landas merupakan tahap yang menentukan dalam keseluruhan proses pembangunan dalam keseluruhan proses pembangunan bagi kehidupan masyarakat. Di samping itu sektor manufaktur adalah sektor yang memiliki keterkaitan terbesar dengan se ktor-sektor lain. praktis prasyarat pertama dan ke dua tidak akan terpenuhi. Pengalaman nega ra-negara Eropa menunjukkan bahwa tahap ini berlaku dalam waktu yang relatif pen dek yaitu kira-kira dua dasawarsa. Dalam tahap ini akan terjadi suatu revolusi i ndustri yang berhubungan erat dengan revolusi metode produksi. 2. Tahap lll. Prasyarat ketiga ini menunjukkan kesadaran Rostow bahw a perubahan perekonomian pada dasarnya merupakan konsekuensi dari perubahan moti f dan inspirasi nonekonomi dari seluruh lapisan masyarakat. termasuk impor modal. Sektor manufaktur diharapkan memiliki tingkat pertumbuhan tertinggi karena sektor tersebut merupa kan indikator bagi perkembangan industrialisasi yang yang dilakukan. sosial. dan dampak eksternalnya ak an memberikan daya dorong pada pertumbuhan ekonomi. Kenaikan laju investasi produktif antara 5 -10 persen dari GNP pada akhirnya akan menyebabkan pertumbuhan yang tinggi pada sektor-sektor dalam perekonomian. Prasyarat keti ga merupakan "iklim" yang memungkinkan terpenuhinya prasyarat pertama dan kedua terpenuhi. Jika sektor manufaktur berkembang pesat. 3 . Prasyarat pertama dan kedua sangat berkaitan erat satu sama lain. Perkembangan salah satu atau beberapa sektor manufaktur penting dengan laju per tumbuhan tinggi.besar. khususnya sektor manufaktur. ketiga. Proses pembangunan dan in dustrialisasi yang berkelanjutan akan terjadi dengan menanamkan kembali keuntung an yang diptroleh dalam sektor yang menguntungkan.

lklim kondusif tersebut adalah perubahan f aktorfaktor nonekonomi dari masyarakat yang sejalan dengan proses pertumbuhan ek onomi yang terjadi. Sementara itu terjadi pula pergeseran pe rilaku ekonomi yang semula lebih banyak menitikberatkan pada sisi produksi.188): 1. terdapat tiga perub ahan penting yang terjadi: (1) Tenaga kerja berubah dari tidak terdidik menjadi terdidik. 27 . (3) Masyarakat jenuh terhadap industr ialisasi dan menginginkan perubahan lebih jauh. Tahap Konsumsi Massa Ti nggi Tahap konsumsi massa tinggi merupakan akhir dari tahapan pembangunan yang d ikemukakan oleh Rostow. Penerapan kebijakan nasional guna meningkatkan kekuasaan dan pengaruh melampaui batas-batas nasional. Tahap IV. dan fasilitas hiburan bagi para pekerja. Pada fase ini terjadi perubahan orientasi d ari pendekatan penawaran (supply side) menuju ke pendekatan permintaan (demand s ide) dalam sistem produksi yang dianut. Tahap V. namun lebih dari itu mereka memandang kesejahteraan dalam cakupan yang lebih luas yaitu kesejahteraan masyarakat bersama dalam arti luas. akibat pembanguna n pusat kota sebagai sentral bagi tempat bekerja. 2. yang hanya dipecahkan dengan mengkonsumsi barang secara indi vidu sebanyak mungkin. Penggunaan alat transportasi p ribadi maupun yang bersifat transportasi umum seperti halnya kereta api merupaka n suatu hal yang sangat dibutuhkann. Ingin memiliki satu negara kesejahteraan (welfare state) d engan pemerataan pendapatan nasional yang lebih adil melalui pajak progresif. (2) Perubahan watak pengusaha dari pekerja keras dan kasar berubah men jadi manager efisien yang halus dan sopan. pe ningkatan jaminan sosial. 1988 : h. Pada saat negara berada pada tahap kedewasaan teknologi. Terlepas dari permasalahan di atas terdapat tiga kekuatan utama yang cenderung meningkatkan kesejahteraan dalam tahap konsumsi besar-besaran ini (Jhingan. Pada tahap ini akan ditandai dengan terjadinya migrasi b esarbesaran dari masyarakat pusat perkotaan ke pinggiran kota. Tahap Menuju Kedewasaan Tahap ini ditandai dengan penerapan secara efektif teknologi modern tertfadap sumberdaya yang dimiliki.yang memungkinkan perubahan tersebut. Orang mulai berfikir bahwa kesejahteraan bukanlah per masalahan individu. Ta hapan ini merupakan tahapan jangka panjang di mana produksi dilakukan secara swa daya. Tahapan ini juga ditandai dengan munculnya beberapa sektor penting yang ba ru. kini beralih ke sisi konsumsi.

ada negara-negara di dunia yang tidak pernah melewati tahap pertam a dari pertumbuhan ekonomi Rostow. Ha l yang sama kemudian diikuti oleh beberapa negara Eropa Barat. Kritik gencar terhadap teori Rostow dikemukakan oleh Simon Kuznets (1989). dan berbagai peralatan rumah tangga yang menggunakan listrik dan sebagainya. Pada saat yang bersamaan. dalam kebudayaan Timur (ne gara sedang berkembang di Asia dan Afrika). tahap ketiga tida k akan terjadi tanpa tahap kedua dan seterusnya. Kondisi tersebut tidak terjadi p ada negara-negara di Asia dan Afrika yang belum memiliki sistem sosial yang tera tur. Kritik Terhadap Teo ri Rostow Pentahapan pembangunan seperti yang digambarkan oleh Rostow adalah sis tem pentahapan di mana suatu tahapan tidak dapat terjadi tanpa melalui tahapan y ang lain. Amerika Serikat dan Australia merupakan negara yang mengalami pola pertumbuhan ini. Tahap kedua tidak dapat terjadi tanpa tahap pertama. Amerika merupakan satu-satunya negara yang p ertama kali mencapai era konsumsi massa tinggi ini. di mana penduduknya yang saat ini ada adalah orang-orang Eropa yang kemudian mentransfe r ilmu dan pengetahuannya ke benua tersebut. akibat kolonialisme. namun langsung menginjak tahap kedua. di perdesaan san gat diwarnai sistem sosial tradisional. 28 . seme ntara itu di daerah perdesaan sistem perekonomian dan kemasyarakatan masih berad a pada tahap tradisional. Satu-satunya nega ra di Asia yang telah mencapai tahap tersebut adalah Jepang. bahkan lebih tinggi lagi. lnteraksi kebudayaan Barat. menyebabkan tahapan dalam teori Rost ow terjadi secara simultan. Pertanyaan kritis yang diajukan Kuznets adalah: "Bagaimana mungkin suatu desain sederhana dapat menjadi suatu rangkuman diskriptif atau klasifikasi analitik dari suatu perubahan historis yang beragam dan bervariasi?" Kusnetz juga mencatat kemiripan dan perbedaan antara teori Rost ow dengan Marx.3. Ketika di daerah perkotaan modern di negara sedang b erkembang sudah berada pada tahap tinggal landas. Hal ini terjadi karena teori pe rtumbuhan Rostow merupakan pola penggambaran sejarah pembangunan yang dilakukan negara-negara di Eropa yang memiliki struktur sosial dan budaya yang mapan. yaitu sekitar tahun 1920. jaringan rel kereta api. Kenyataannya. rumah murah. Hal ini terjadi karena keduanya merupakan benua "temuan" orang-orang Eropa. Di daerah perkotaan berkembang sistem sosial yang tela h berkiblat pada sistem sosial Barat. Keputusan untuk membangun pusat perdagangan dan sektor penting seperti mobil.

Pada dasarnya terdapat beberapa kesamaan antara teori Marx dan Rostow. Meski demikian Rostow sadar bahwa perubahan ekonomi yang sangat besar harus dipandang sebagai konsekuensi dari perubahan mot if dan inspirasi dimensi nonekonomi dari manusia. Sementara itu. Kendati demikian. Tidak mengheran kan bila is 29 . Di sisi lain. Kedua. Rostow memandang bahwa perubahan ekonomi pada dasarnya me rupakan konsekuensi logis dari perubahan motif dan inspirasi nonekonomi yang ter jadi pada seluruh lapisan masyarakat. dan sosial. balk Marx maupun Rosto w telah mencoba mengeksplorasi permasalahan dan konsekuensi dari pembangunan sos ial yang dilakukan. namun keduanya t idak lepas dari perbedaan satu dengan yang lain. Pertama. Pertama. Ketiga. dan adanya tekanantekanan semacam itu yang melekat pada sistem kapitalis. Artinya perubahan ekonomi hanyalah merupakan fenomena yang hanya dipengaruh i oleh perubahan motif dan inspirasi ekonomis kelas masyarakat penguasa sumberda ya saja.Teori Rostow pada dasarnya merupakan alternatif bagi teori Marx. tidak berlebihan bila dikatakan kritikkritik tersebut lebih panjang daripa da teori Rostow sendiri. Rostow lebih implisit dalam memandang inte raksi kelas masyarakat dalam sistem kapitalis mengingat Rostow sendiri adalah ek onom yang berkiblat ke kapitalis. Marx mendasarkan teorin ya pada sistem konflik antarkelas masyarakat. kebudayaan. harus diakui pola pemikiran maupun is tilah-istilah Rostow telah mempengaruhi pola pemikiran di banyak negara sedang b erkembang. Rostow mempersempit dimensi manusia menjadi satu yaitu sebagai homo economicus. eksploitasi satu kelompok manusia terhadap kelompok yang lain. Aspek yang terlupakan dalam teori Rostow adalah peran sentral bantuan luar negeri yang berfungsi sebagai penutup kesenjangan tabungan-investasi dan k esenjangan devisa. Kedua. kedua teori tersebut dengan berani menginterpret asikan evolusi sosial khususnya di sektor ekonomi. Ketiga. Marx memandang bahwa m an usia bersifat sangat kompleks yang memiliki berbagai dimensi kebutuhan dari e konomi sampai budaya. kondisi budaya dan sosial masyarakat. Sementara di sisi lain perubahan sis tem ekonomi akan berpengaruh juga terhadap kehidupan politik. kedua ekonom tersebut menyadari bahwa perubahan sist em ekonomi pada dasarnya merupakan konsekuensi logis dari perubahan yang terjadi di bidang politik. Marx mengasumsikan bahwa keputusan yan g diambil oleh masyarakat semata-mata hanyalah fungsi dari siapa pemilik sumberd aya. di mana Rostow menawarkan Communism Manifesto. Meski kedua teori banyak memiliki kesamaan. Rostow sendiri ketika diundang Bank Dunia (1984) untuk dimint ai tangapannya mengenai hal ini menilai bahwa bantuan luar negeri merupakan sala h satu faktor kritis dalam pembangunan negara sedang berkembang. Di sisi lain. Begitu panjangnya kritik terhadap teori Ro stow.

3. Di sisi lain. TEORI PERUBAHAN STRUKTU RAL Teori perubahan struktural menitikberatkan pembahasan pada mekanisme transfo rmasi ekonomi yang dialami oleh negara sedang berkembang.2. artinya fungsi produksi pada sektor pertanian telah sampai pada tingkat berlakunya hukum law of diminishing return. dalam hal ini tenaga k erja. 1991: h. pengurangan jumlah tenaga kerja yang dipekerjakan di sektor pertanian tidak akan mengurangi tingkat produksi yang ada.menambahkan syarat tinggal landas bagi negara sedang berkembang sebagai berikut (Rostow dalam Meier dan Seers. Mengawali teorinya . Hal ini ditandai dengan nilai nilai produk marginal (marginal p roduct) dari tenaga kerja yang bernilai nol.68). akibat proporsi input variabel tenaga kerja yang 30 . Lewis mengasumsikan bahwa perekonomian suatu negara pada dasarnya akan terbagi menjadi dua yaitu: 1. Kondisi ini menunjukkan bahwa penambahan input variabel. yang semula lebih bers ifat subsisten dan menitikberatkan pada sektor pertanian menuju ke struktur pere konomian yang lebih modern. Surplus tersebut erat kaitannya dengan basis utama perekonomia n yang diasumsikan berada di dari perekonomian tradisional adalah bahwa tingkat hidup masyarakat berada pada kondisi subsisten akibat perekonomian yang bersifat subsisten pula. 3. yaitu teori pembangunan yang dikemukakan ol eh Arthur Lewis dengan teori migrasi. dan Hollis Chenery dengan teori transforma si struktural. justru akan menurunkan total produksi yang ada.1. Perekonomian Tradisional Dalam teorinya Lewis mengasumsik an bahwa di daerah perdesaan. Teori Pembangunan Arthur Lewis Teori pembangunan Arthur Le wis pada dasarnya membahas proses pembangunan yang terjadi antara daerah kota da n desa. dengan perekonomian tradisionalnya.239): The concept of take-off suggested t he possibility that developing countries would eventually move to self-sustained growth when soft loan would no longer be required. dan sangat didominasi oleh sektor industri dan jasa (Todaro. Dua teori utama yang menggunakan pendekatan perubahan stru ktural akan kita bahas berikut ini . 1984: h. yang pada akhir nya akan berpengaruh besar terhadap arus urbanisasi yang ada. Teori ini juga membahas pola investasi yang terjadi di sektor mode rn dan juga sistem penetapan upah yang berlaku di sektor modern. yang mengikutsertakan proses urbanisasi yang terjadi di antara kedua tem pat tersebut.2. mengalami surp lus tenaga kerja.

Dalam perekonomian semacam ini. dan ini akan berusaha dipenuhi oleh penduduk perdesaan dengan jalan berurbanisasi. perekonomian perkotaan akan merupakan daerah tujuan bagi para pekerja yang berasal dari perdesaan. Ciri dari perekon omian ini adalah tingkat produktivitas yang tinggi dari input yang digunakan. dalam hal ini diasumsikan input tenaga kerja merupakan merupakan satu-satunya input yang bersifat variabel . Lewis mengasumsikan pula bahwa tingkat upah di kota 30 per sen lebih tinggi daripada tingkat upah di perdesaan. karena ni lai produk marginal dari tenaga kerja yang positif menunjukkan bahwa fungsi prod uksi belum berada pada tingkat optimal yang mungkin dicapai. bernilai positif. Dengan demikian industri di perkotaan masih menyediakan l apangan pekerjaan. di mana total produk bahan pangan (Tpa) diten tukan hanya oleh perubahan penggunaan input variabel. Percepatan ekspansi output sangat ditent ukan oleh tingkat investasi di sektor industri dan akumulasi modal yang terjadi di sektor modern. 2. Model pertumbuhan dua sektor Lewis dapat dilihat pada Gam bar 3-1.1 b menu njukkan sistem perekonomian pertanian yang tradisional. Diagram 3-1a menunjukkan sistem perekonomian kota-modern dan diagram 3. Dengan demikian. dan bukan oleh produk marginal dari tenaga ke rja itu sendiri. te rmasuk tenaga kerja. Hal ini menyiratkan bahwa nilai produk marginal terutama da ri tenaga kerja. Hal ini merupakan ciri khusus dari fungsi produksi yang dihadapi di sektor pertanian. nilai upah riil ditentukan ole h nilai rata-rata produk marginal. Dengan demikian. yang relatif bersifat subsi sten dan tingkat upah cenderung tetap. di mana sektor yang berperan penting adalah sektor industri. Perekonomian Industri Perekonomian ini terletak di perkotaan . dengan input kapital 31 . sehingga bentuk kurva penawaran tenaga ke rja akan berbentuk horisontal. Perbedaan upah tersebut jelas akan melengkapi Jay a tarik untuk melakukan urbanisasi Perbedaan tenaga kerja dari desa ke kota dan pertumbuhan pekerja di sektor modern akan mampu meningkatkan ekspansi output yan g dihasilkan di sektor modern tersebut. Jika ini terjadi. Diagram sebelah kanan at as menunjukkan tingkat subsistensi produksi bahan makan pada berbagai tingkat pe nggunaan input tenaga kerja.terlalu besar. dengan asumsi bahwa pemilik modal akan menginvestasikan kembali modal yang ada ke indus tri tersebut. pangsa semua pekerja terhadap out put yang dihasilkan adalah sama. b erarti penambahan tenaga kerja pada sistem produksi yang ada akan meningkatkan o utput yang diproduksi. Akumulasi modal yang nantinya digunakan untuk investasi hanya akan terjadi jika terdapat ekses keuntungan (profit) pada sektor modern.

Nilai marginal pro duct pekerja Ola bernilai nol. Pertama. karena berlakunya asumsi bahwa pengusaha akan m enginvestasikan kembali keuntungannya ke industri tersebut. Kedua. Jumlah tenaga kerja di sektor pertanian yang tersedia (0Ia) adalah sama pada kedua sis i horisontal kedua diagram tersebut. Jumlah tenaga kerja yang digunakan untuk menghasil kan total produk sebesar O'TP1 pada saat jumlah kapital mencapai K1 adalah sebes ar O'L1. Lewis mengasumsikan bahwa 80 persen hingga 90 persen penduduk dalam negara tersebut tinggal di perdesaan. maka nilai produk marginal dari tenaga kerja (Mpla) bernilai nol. pada tingkat kapital (K) dan teknologi (t) yang tetap. yang sama artinya dengan pembagian secara proporsional terhadap sem ua orang sebanyak OA per orang. dan menggantungka n hidupnya pada sektor pertanian (Todaro. Output dari komoditas manufaktur (Tpm) di sektor modern merupakan fungs i dari input tenaga kerja yang bersifat variabel (Lm). Dasumsikan bahwa sejumlah OLa(=O'La) pekerja di sektor pertanian memproduksi sebanyak 07 ba han makanan. sehingga upah tidak didasarkan pada produk mar ginal tetapi lebih pada produk rata-rata dari tenaga kerja tersebut. Lewis menggunakan dua asu msi utama untuk menjelaskan perekonomian tradisional. Sesuai dengan teori Lewis. 32 .69). Hal in i menunjukkan bahwa OA adalah tingkat ava rage product yang ekuivalen dengan pembagian antara O'T/O'La. 1991: h. tingkat akumulasi kapital akan terus meningk at dari K1 ke k2 dan seterusnya.dan tenaga kerja yang bersifat konstan. yang diderivasi dari kurva tingkat produksi total. semua tenaga kerja di perdesaan memiliki sumbangan/pangsa yang sama terhadap output yang dihasilkan. Dia gram sebelah kiri atas (3-1a) menunjukkan kurva tingkat total produk dari sektor modern. Diagram bawah kanan menunjukkan kurva pr oduksi rata-rata (AP) dan produksi marginal (MP) tenaga kerja dalam perekonomian tradisional tersebut. karena terjadi su rplus tenaga kerja. seperti ditunjukkan pada diagram kanan bawah.

1b bagian bawa h. Segmentasi OW menunjukkan tingkat upah riil yang terjadi di sektor perkotaa n. Dengan konfigurasi upah seperti itu. penawaran tenaga kerja di sektor perdesa an diasumsikan memiliki elastisitas yang sempurna. Tingkat upah sektor perkotaan yang lebih tinggi daripada upah riil di perdesaan. Dalam pasar tenaga kerja yang bersifat persaingan sempurna di sektor modern maka kurva produk marginal akan menunjukkan kurva permintaan tenaga kerja (Toda ro.70-71). menunjukkan tingkat subsistensi pendapatan di sektor pertanian yang tradisioa nal. 1991: h. tanpa adanya risiko peningkatan tingkat upah itu sendiri. T ingkat keuntungan maksimal pengusaha di perkotaan akan terjadi pada saat margina l physical product (produk fisik marginal) sama dengan upah buruh.1a dan 3. akan menyebabkan perpindahan tenaga kerj a dari desa ke kota. Segmentasi sebesar OA pada diagram 3. Dengan kurva total produk yang ada akan dapat diturunkan kurva produk margi nal. Titik 33 .Hal ini akan menyebabkan total produk akan meningkat dari TP1 ke TP2 dan seterus nya. atau dengan kata lain penawar an tenaga kerja adalah tidak terbatas.

Konsekuensinya jumlah yang dapat disera p oleh sektor modern akan meningkat. Hal ini tentunya menyebabkan reinnvestasi yang dilakukan tidak akan berpengaruh terhadap penyediaan lapangan kerja baru. Segitiga WD1 F merupakan total keuntungan yang diperoleh oleh pengusaha. yang berarti total penerimaan dari semua tenaga kerja yang bekerja di sektor modern.F. pada tingkat upah OW.G. Diharapkan semakin cepat akumulasi kapi tal di sektor modern. y ang pada akhirnya akan meningkatkan pembukaan lapangan kerja baru. meski pada tingkat upah yang tetap. Jika asumsi dasar bahwa keuntungan yang diperoleh pengusaha akan diinvestasikan kembali. Itu berarti bahwa tingkat produksi total adalah O'T P2. Pada saat itu jumlah tenaga kerja yang dapat diserap adalah OL1.H. Da erah segi empat OWFL1 adalah pengeluaran untuk upah total yang dikeluarkan oleh pengusaha. 34 . maka akan semakin mendorong pertumbuhan sektor tersebut. Pada saat tot al produk adalah sebesar 07P1 (K1). sementara penerimaan pekerja dan jumlah pekerja yang digunakan dalam pro ses produksi tidak mengalami perubahan. kurva permintaan tenaga kerja dicerminkan ol eh kurva D1. Fenomena t ersebut justru menunjukkan bahwa keuntungan yang diperoleh pengusaha semakin men ingkat. maka modal yang digunakan pada proses pr oduksi meningkat menjadi K2. dengan mempekerjakan pekerja sebanyak OL2. yang secara ekstrem di tunjukkan pada penggunaan tenaga kerja yang tetap (Iihat Gambar 3-2). Di sisi lain pengusaha mengalami peningkatan keuntungan. yaitu pertemuan kurva permintaan dan penawaran tenaga kerja. Pada kenyataa nnya keuntungan yang ada direinvestasikan untuk peralatan penunjang produksi yan g bersifat menghemat tenaga kerja (laborsaving) dan Iebih canggih daripada reinv estasi pada peralatan dengan tingkat teknologi yang ada seperti yang telah digun akan sebelumnya. Proses pertumbuhan sektor modern di atas dan mengal irnya arus tenaga kerja yang berurbanisasi diasumsikan akan terus berlanjut samp ai surplus tenaga kerja yang terjadi di perdesaan terserap sepenuhnya di sektor modern. yang nantinya akan diinvestasi kan lagi di sektor tersebut. yang berarti mengalami peningkata n permintaan tenaga kerja dari D1 ke D2. Pertama. Teori Lewis tentang penawaran tenaga kerja yang tak terbatas banyak dikr itik karena asumsi-asumsi dasarnya banyak yang tidak relevan dengan untuk negara sedang berkembang (NSB).1a sebelah bawah menunjukkan tingkat keseimbangan tenaga k erja. pada diagram 3. Lewis mengasumsikan bahwa tingkat perpindahan tenaga kerja dan pembukaan lapangan kerja di sektor modern proporsinal dengan t ingkat akumulasi modal di sektor modern.

Para ekonom sepakat bahwa di negara berkembang yang terjadi justru di perkotaan terda pat surplus tenaga kerja. sementara di perdesaan mulai mengalami kekurangan tena ga kerja.Kedua. Keberadaan serikat pekerja. tampaknya merupakan hal yang sulit di temukan di negara berkembang. Hal ini dicerminkan d ari perbedaan proporsi pendapatan yang diterima antara pengusaha dan tiap-tiap t enaga kerja yang dipekerjakan. Kenya taan menunjukkan bahwa di negara-negara sedang berkembang terjadi kecenderungan peningkatan nilai upah secara terus menerus baik di daerah perdesaan maupun di p erkotaan. Artinya asumsi tersebut tidak realistis untuk dite rapkan di negara berkembang. asumsi dasar lain dari teori Lewis yang tidak realistis adalah bahwa di sektor modern. Ketiga. maka akan terlihat bahwa reinvestasi yang ada semakin men ingkatkan penerimaan pengusaha. asumsi bahwa di perdesaan mengalami surplus tenaga kerja. pasar tenaga kerja akan rrfenjamin tingkat upah berada pada tingkat yang tetap sampai penawaran tenaga kerja mengalami penurunan. teori pertumbuhan Lewis ini pada dasarnya termasuk salah satu teori pendukung kapitalisme. Jika kita amati lebih lanjut. Di sisi lain reinvestasi 35 . dan tuntutan penetapan upah minimum yang m anusiawi merupakan dua sumber utama upaya peningkatan upah di kedua sektor perek onomian tersebut. sedangkan di pe rkotaan mengalami kekurangan tenaga kerja. Jika teori yang dikemukakan oleh Lewis terbukti t erjadi di dunia nyata. mengingat kondisi yang ada justru sebaliknya.

mengingat penelitian yang dilakukan oleh Chenery dilakukakn pada tahun tersebut. da n tidak akan berpengaruh terhadap kemungkinan peningkatan pendapatan dari masing -masing pekerja. pada saat nilai GNP per kapita US$200 maka pangsa produk se ktor primer menguasai 45 persen dart total GNP. dan baru dapat me ngalami peningkatan jika penawaran tenaga kerja di daerah surplus (perdesaan) me ngalami penurunan. Penelitian yang dilakuk an Hollis Chenery tentang transformasi struktur produksi menunjukkan bahwa sejal an dengan peningkatan pendapatan per kapita. perekonomian suatu negara akan berg eser dari yang semula mengandalkan sektor pertanian menuju ke sektor industri. saat GNP/kapita mening kat.2. Penggolongan ini didasarkan pad a harga-harga yang terjadi pada tahun 1976.engalami penurunan 20 persen sementara sektor indus tri meningkat 28 persen (todaro. 3. Perubahan waktu tentunya juga akan berdampak pada perubahan interval dan nilai batas dari pendapatan per kapita yan g menjadi standar pengelompokkan tersebut. Untuk negara dengan tingkat pendap atan per kapita kurang dari US$600 dikelompokkan ke dalam negara yang baru malak ukakn pembangunan atau sering disebut negara sedang berkembang.2. industri dan struktur institusi dari perekonomian negara sedang b erkembang. Peningkatan peran sektor industri dal am perekonomian sejalan dengan peningkatan pendapatan per kapita yang terjadi di suatu negara. 74-5). Chenery kemudian membuat pengel ompokkan negara sesuai dengan proses perubahan struktural yang dialami berdasark an tingkat pendapatan per kapita penduduknya. Sementara itu ne gara dengan nilai pendapatan per kapita antara US$600 hingga US$3000 digolongkan sebagai negara dalam fase transisi pembangunan. sementara sektor industri hanya menyumbang 15 persen saja. yang mengalami transformasi dari pertanian tradisional beralih ke sek tor industri sebagai mesin utama pertumbuhan ekonominya. sementara pendapatan pekerja relatif tetap. Gambar 3-3 menunjukkan 36 . sumbang an sektor primer dalam GNP h. Teori Pola Pembangunan Chenery Analisis teori Pattern of Development memfokuskan terhadap perubahan struktur dalam tahapan proses peru bahan ekonomi. 1991: h. D iagram 3-3 menunjukkan bahwa pangsa pasar sektur industri dalam GNP meningkat da n pangsa pasar dari sektor pertanian nengalami penurunan. Dengan demikian pertumbuhan yang terjadi hanya akan menguntungk an para pengusaha. Sebagai contoh. berhubungan erat dengan akumulasi kapital dan peningkatan sumberd aya manusia (human capital). Pada saat pendapatan/kapita mencapai US$1000.ini hanya akan meningkatkan jumlah pekerja yang bekerja di industri tersebut.

3. 1950-70 (Lond on: Oxford University Press. Dari sisi tenaga kerja. Figures 1. Di sektor perdagangan internasional terjadi juga perubahan yaitu peningka tan nilai ekspor dan impor. 1975). pada suatu tingkat tertentu terjadi penurunan konsumsi terhadap bahan mak anan. Dengan keberadaan lag inilah maka sektor pertanian akan berperan penting dalam peningkatan penyediaan tenaga kerja. khususnya jika ditinjau dari permintaan domestik. Patterns of Development. Sumber : Hollis Cheney and Mises Syrquin.bahwa semakin tinggi tingkat investasi sektor riil dan di sektor pendidikan guna meningkatkan kualitas sumberdaya manusia. 2. baik pada awal hingga akhir dari proses transformasi struktural tersebut. Sejalan dengan proses perubahan struk tural. peningkatan investasi. Produktivitas tenaga 37 . meski pergeseran ini masih tertinggal (lag) dibandingkan proses perub ahan struktural itu sendiri. terj adi peningkatan pangsa ekspor komoditas hasil produksi sektor industri dan penur unan pangsa sektor yang sama pada sisi impor. akan terja di proses seperti halnya yang dikemukakan oleh Lewis. Penurunan permintaan terhad ap bahan pangan ini ternyata akan dikompensasikan oleh peningkatan permintaan te rhadap barang-barang non kebutuhan pangan. Sepanjang perubahan struktural ini berlangsung. yang mengalami peningkatan dalam struktur GNP yan g ada. dan peningkata n anggaran belanja pemerintah. yaitu bahwa akan terjadi p erpindahan tenaga kerja dari sektor pertanian di desa menuju sektor industri di perkotaan.

Teori perubah an struktural menjelaskan bahwa percepatan dan pola transformasi struktural yang terjadi pada suatu negara dipengaruhi oleh faktor intern dan ekstern. lambat laun akan mulai meningkat. Salah satu sisi negatif dari perubahan struktur al tersebut adalah meningkatnya arus urbanisasi yang sejalan dengan derajat indu strialisasi yang dilakukan. di mana peningkatan pendapat an hanya akan terjadi di sektor modern-perkotaan. pertama adalah sisi positif dan lainnya adalah sisi negatif. Jika hal tersebut dipenuhi maka proses transformasi struktural akan diikuti oleh peningkatan pendapatan dan pemerataan pendapatan yang terjadi secara simultan. Selama proses transformasi s truktural tidak berarti segalanya berjalan mulus.76). Sementara itu sektor perdesaan . Meski demikian teori ini tol eran terhadap variasi-variasi kecil yang terjadi dalam proses perubahan struktur al yang mungkin berbeda antarnegara. Perbedaan faktor endowment. Industrialisasi dan urbanisasi pada beberapa hal jus tru menghambat proses pemerataan hasil pembangunan. dan penu runan derajat dualisme ekonomi antara kota dan desa. dan aksesibilitas terhadap modal dan teknologi. Secar a umum negara-negara yang memiliki tingkat populasi tinggi. yang pada dasarnya m enggambarkan tingkat permintaan potensial yang tinggi.kerja di sektor pertanian yan rendah. yang sali ng berkaitan satu dengan yang lain. Artinya mereka memproduksi sendiri bar ang-barang yang dulunya diimpor untuk kemudian dijual di pasaran dalam negeri. 38 . Hipotesis utama dari teori di atas adalah bahwa model perubahan struktural yang terjadi pada tiap-tiap nega ra sebenarnya dapat diidentifikasi dan proses perubahan secara umum dari masingmasing negara pada dasarnya memiliki kesamaan pola. 1991: h. mengalami pertumbuhan yang lambat. Dengan demikian. Transformasi struktural hanya akan berjalan dengan baik jika diikuti den gan pemerataan kesempatan belajar. Suatu proses yang sedang terja di tentunya akan membawa dua konsekuensi sekaligus. sehingga jurang pemisah antara kota dan desa justru meningkat dengan kondisi te rsebut. produktivitas tenaga kerja dalam perkonomian secara menyelur uh akan mengalami peningkatan (Todaro. cenderung untuk mendirika n industri yang bersifat subtitusi impor. penurunan laju pertumbuhan penduduk. dan memi liki produktivitas yang sama dengan pekerja di sektor industri pada masa transis i. merupakan faktor penjelas penting terhadap perbedaan variatif transformasi struktural yang terjadi. kebijakan pemer intah. yang banyak ditinggalkan oleh para pekerja. S ebaliknya negara-negara dengan jumlah penduduk yang relatif kecil. cenderung aka n mengembangkan industri yang berorientasi ke pasar internasional.

salah satu ekonom penganut dependensia. Sementara itu Samir Amin(1976). Paul Baran melihat bahwa investasi perusahaan multi nasional dari negara maju yang dilakukan di negara miskin akan meningkatkan pend apatan nasional negara miskin tersebut. Seperti halnya dengan pembagian perekono mian menurut Lewis. Andre Gunder Frank (1966) mengelompokkan negara maju ke da lam negara-negara metropolis maju (developed metropolitan countries) dan negara sedang berkembang dikelompokkan ke dalam negara satelit yang terbelakang (satell ite underdeveloped countries).3. pada akhirnya justru menjadikan negara-negara pinggiran ini semakin tergantung kepada negara-negara pusat. Pencetus dasar teori tersebut adalah Paul Baran. Asumsi dasar teori ini adalah pembagian perekonomian dunia menjadi dua golongan. Dalam perekonomian negara pinggiran. Hubungan paternalistik dan kerjasama sosial antaranggo ta masyarakat masih mendominasi pada sistem perkonomian ini. Keuntungan yang dihasilkan dari investasi asi ng tersebut akan dinikmati oleh pengusaha asing dan 39 . di mana sistem pasar telah ber laku dengan balk. secara implisit dinyatakan bahwa perekonomian negara miskin pinggiran sebenarnya tidak jauh berbeda dengan perekonomian tradisional pada teo ri Lewis. mekanisme pasar belum sepenuhnya berlaku dalam masyarakat. peningkatan pendapatan i ni tidak dapat dinikmati oleh sebagian besar masyarakat negara itu karena kepinc angan dalam distribusi pendapatan. membagi perekonomian menjadi dua yaitu negara-negara maju di pusat (core/central) dan kelompok negara miskin pinggiran (periphery). sementara negaranegara miskin pinggiran berada d i sekitar negara-negara pusar tersebut. Dalam hal ini Samir Amin melukiskan bahwa pusat dari perekonomian dunia sangat dipeng aruhi oleh negara-negara pusat. TEORI DEPENDENSIA Teori dependensia pada awalnya lahir dari hasil diskusi p ara ekonom negara-negara Amerika Latin yang kemudian menghasilkan Deklarasi Ekon omi Amerika Latin. Di sisi lain. yang mencipt akan model dasar tesis alternatif mengenai keterbelakangan ekonomi yang terjadi di negara-negara dunia ketiga. Interaksi yang terjadi antara negara maju dengan negara miskin lebi h bersifat ekploitasi negara maju terhadap negara miskin. Interaksi sosial dan hubungan paternalistik telah memudar dan digantikan oleh individualis dan penyelesaian segala permasalahan melalui kontra k transaksi. Dominasi perekonomian dunia oleh negaranegara core dan rekayasa eksploitasi yang dilakukan oleh mereka . Teori dependensia berusaha menjelaskan penyebab k eterbelakangan ekonomi yang dialami oleh negara-negara berkembang.3. yang pertama adalah perekonomian negaranegara maju dan kedua adalah perekonomian negara-nega ra sedang berkembang. perek onomian negara pusat berciri perekonomian modern. Namun demikian.

Kontrak transaksi berdasarkan faktor pasar mengganti dan mendesak hubungan paternalistik yang telah mengakar di negara miskin. Menurut Andre Gunder Frank (1966). ibid). Proses eksploitasi dalam sistem kapitalistis ini diiringi pula dengan proses kor upsi dan ketidakadilan dalam setiap tingkat struktur pemerintahan yang mengabdi kepada kepentingan pemilik modal dan sistem kapitalis internasional (Arief dan S asono. Di sisi lain kaum borjuis nasional atau yang p opuler disebut golongan komprador dan penguasa nasional. Sistem t ersebut bahkan menggeser kebiasaan sosial yang ada pada masyarakat di negara mis kin. Bagaimana pun juga perkembangan sektor modern di negara miskin ini akan terjadi sesuai 40 . Sekto r modern di negara miskin adalah kaki-tangan sistem kapitalis dunia yang melakuk an eksploitasi terhadap daerah atau sektor yang sekarang menjadi terbelakang (Ar ief dan Sasono. Keuntungan yang diperole h tersebut semata-mata merupakan hasil dari eksploitasi sumberdaya yang ada. Pen ingkatan kesejahteraan masyarakat di negara-negara miskin pada dasarnya tidak pe rnah dialami akibat masuknya investasi asing di negara-negara tersebut.18). hubungan antara negara metropol is dan satelit ini menyentuh keseluruhan sektor di negara-negara miskin. dan ket erbelakangan sektor tradisional ini justru diakibatkan oleh adanya kontak dengan sistem kapitalis dunia yang masuk ke negara miskin melalui sektor modern. justru memperhebat proses ekspl oitasi yang dilakukan oleh pemilikâ pemilik modal dalam rangka sistem kapitalistis. semakin memantapkan keb eradaan sektor modern dalam menguasai sistem perkonomian yang ada.24). dapat merupakan langkah utama dalam transformasi masyarakat ke arah kemajuan dan peradaban seper ti yang dialami Eropa Barat. h. Perubahan sistem tersebut me nimbulkan perubahan orientasi rakyat di negara tersebut yaitu dari berorientasi kepada berkecukupan dan pemenuhan pasar dalam negeri. Lebih jauh Paul Bara n memaparkan bahwa penggantian sistem hubungan paternalistik dari masyarakat feo dal dengan sistem kapitalis yang didasarkan rasionalitas pasar. Orientasi Baru ini sekaligus membuat sistem ekonomi rakyat di negara tersebut langsung dikaitkan dengan sistem kapitalistis di luar negeri dengan berbagai gejolaknya (Arief dan Sasono. ke produksi untuk memenuhi pasaran luar negeri. 1984: h. ibid. Namun penerapan nilai komersial dalam tata hubungan sosial pada masyarakat feodal atau semi feodal. Investasi asing memungkinkan bagi negara maju untuk mengeruk sebagian besar potensi ekonomi yang ada di negara miskin. hasil bagi y ang diberikan investor asing kepada negara tempat investasi berada (host country ) jauh lebih rendah dibandingkan dengan tingkat keuntungan yang disalurkan kemba li ke negara asal (home country).segelintir anggota masyarakat tertentu di dalam negeri.

And re Gunder Frank menampilkan tiga hipotesis utama yang relevan. tentunya tidak dapat diatasi hanya dengan menutup di ri din dari dunia luar. 199 1: h. seperti apa yang direkomendasikan oleh Andre Gunder Fran k. Theotonio Dos Santos (1973) memperluas a rgumentasi Andre Gunder Frank. yaitu: 41 . Hal ini berarti sektor mode rn di negara-negara miskin pada dasarnya memiliki ketergantungan yang tinggi unt uk berkembang terhadap sektor yang sama di negara maju. Negara-negara miskin yang sekarang menjadi satelit dapat mengalami perkembangan ekonomi yang sehat dan mampu menumbuhkan perkembangan industri yang otonom. Dos Santos mengklasifikasikan ketergantungan dalam tiga jenis (Ar ief dan Sasono. 25-7). menuju ketergantungan industri dan finansial (pasca keme rdekaan). apab ila berkaitan dengan metropolis dari dunia kapitalis internasional tidak ada ata u sangat lemah.28). Ketergantungan dengan segala akibatnya yang terjadi dalam tata interak si ekonomi di dalam negeri. ketergantungan akibat interaksi ekonomi di dalam negeri harus dihila ngkan terlebih dahulu sebelum menangani ketergantungan yang diakibatkan oleh fak tor eksternal. namun lebih dari i tu "faktor internal" negaranegara miskin tersebut ikut berperan dalam rnembentuk pola ketergantungan tersebut. 1. yaitu: 1. pihak metropolis akan berkembang dengan pesat sedangkan pihak satelit akan menuju kepada keterbelakang an yang terus-menerus.dengan perkembangan sektor modern yang ada di dunia. 1991: h. Kawasankawasan ini ialah kawasan penghasil komoditas ekspor bahan ment ah primer yang terlantar sebagai akibat adanya gelombang konjungtur dalam perdag angan internasional komoditas tersebut. Elemen-elemen ekonomi di dalam negeri ternyata ju ga berperan dalam menciptakan ketergantungan yang diawali ketergantungan merkant ilis (masa penjajahan). dengan argumentasinya bahwa titik berat proses ke tergantungan tidak hanya merupakan "faktor eksternal" semata. Dalam struktur metropolis dan satelit seperti di atas. yang berkaitan de ngan pola hubungan antara negara maju dan miskin tersebut (Arief dan Sasono. 3. Dengan demikian sektor m odern di negara miskin tak lebih dari sektor satelit yang tidak dapat berkembang sendiri dan sangat tergantung pada kondisi perekonomian negara-negara maju. Kawasan-kawasan yang sekarang sangat terbelakang dan berada d alam situasi yang mirip dengan situasi dalam sistem feodal adalah kawasan yang p ada masa lalu memiliki kaitan kuat dengan metropolis dari sistem kapitalis inter nasional. Artinya.

Tesis ini k urang proporsional dalam menempatkan interaksi yang terjadi di dalam negeri seba gai salah satu faktor yang berpengaruh dalam menciptakan keterbelakangan dan ket ergantungan terhadap negara lain. Ketergantungan industri keuangan (industrial-financial dependence). Ekonom peng anut teori ini juga menuduh badan-badan dunia internasional. Ketergantungan ini ditandai denga n bentuk perdagangan luar negeri zaman penjajahan yang bersifat monopoli yang di ikuti dengan monopoli sumberdaya lainnya oleh pemerintah penjajah. Ketergantungan teknologi industri (technological-industrial dependence). Pemberian bantuan yang diberikan oleh badanbadan dunia tersebut tidak lepas dari vested of interest dari negara-negara donor yang mendukung Jana lembaga tersebut. Pengiriman bantuan tenaga ahl i oleh negara-negara donor. namun demiki an mereka digaji jauh lebih tinggi daripada produk marginal mereka. Di dalam negeri konflik terjadi antara masyarakat golongan menengah ke b awah dengan para komprador yang mengambil keuntungan dengan perubahan orientasi sosial ke arah modern. yang um umnya berteknologi tinggi dan tidak sesuai dengan kondisi negara yang diberi ban tuan. Pemberian bantuan dalam bentuk barang. yaitu antara negara maju dengan negara miskin. Kr itik utama yang dilontarkan oleh para ekonom terhadap teori dependensia adalah b ahwa tesis ketergantungan sangat menitikberatkan keterbelakangan yang terjadi ak ibat interaksi antara negara maju dan miskin di dunia internasional. di samping nilai ba ntuan yang kemudian sulit untuk dikuantifikasikan. 42 . dengan semakin mengeksploitasi masyarakat kelas bawah. justru meningkatkan ketergantungan terhadap teknologi. seperti Bank Dunia dan IMF. meski tidak krusial seperti konflik yang terjadi di luar negari. Yang lebih parah adalah banyak dari tenaga ahli ini sebenarnya memiliki keterampilan dan kemampuan yang pas-pasan. Di dalam negeri pun t erjadi konflik serupa. Ketergantung an ini ditandai dengan dominasi modal besar di negara-negara penjajah melaiui in vestasi produksi bahan mentah primer untuk tujuan konsumsi di negara penjajah. 2. Ketergantungan kolonial (colonial dependence). sehingga nampak b ahwa sistem pertentangan kelas dalam masyarakat masih mewarnai pembahasan teori tersebut. Namun demikian pertentangan kelas ini justru terjadi dalam konteks int ernasional. 3. Ketergantungan ini terjadi setelah PD II sebagai akibat operasi perusahaanperusa haan mu Itinasional berinvestasi di negara-negara sedang berkembang.1. pada akhirnya hanya merupakan upaya untuk membuka la pangan kerja bagi tenaga mereka. sebagai lembaga yang menyebabkan peningkatan ketergantungan yang terjad i di negara sedang berkembang. Teori depend ensia pada dasarnya masih tetap dijiwai oleh pandangan Marxis.

Teori ini merekomendasikan swastanisasi BUMN. bahwa interaksi antara negara maju dan miskin pada satu sisi mengu ntungkan. merebaknya kor upsi. Hal ini juga berakibat pada upaya untu k meningkatkan kinerja ekonomi di negara-negara sedang berkembang tersebut. Dengan k ata lain. yang pada masa -masa sebelumnya belum pernah terpikirkan. mendapat sangg ahan oleh teori ini. dan kurangnya intensif ekonomi. pada akhirnya tidak mampu mengatasi perubahan zaman yang semak in menuju ke arah perdagangan bebas. dan arus informasi yang kian mengglobal. perpindahan sumberdaya tanpa hambatan geogr afis. Teori Depe ndensia yang cenderung menggunakan pendekatan yang bersifat revolusioner sebagai salah satu pemecahan eksploitasi negara pusat terhadap periferi. Gerakan penyadaran inilah yang sediki t banyak mengilhami para penguasa di negara sedang berkembang untuk melepaskan k etergantungan negaranya dari negara maju. Argumentasi sentral yang dikemukakan oleh ekonom pe nganut teori ini terhadap serangan ekonom dependensia adalah bahwa keterbelakang an tidaklah disebabkan oleh eksploitasi negara pusat terhadap periferi. Meski demikian teori dependensia telah memberikan peringatan kepada para golongan menengah di negara-negara sedan g berkembang. merupakan sumber utama keterbelakangan 43 . mereka menyatakan bahwa keterbelakangan bukan disebabkan oleh pengaruh ekstern. meningkatkan peran perencanaan dan penet apan regulasi ekonomi yang menciptakan iklim kondusif bagi peningkatan peran pih ak swasta dalam pembangunan. B esarnya derajat campur tangan pemerintah dalam aktivitas ekonomi. 3. Solusi ini tidak realistis di alam globa lisasi dan perkembangan pesat arus komunikasi.Kritik lain terhadap teori ini adalah bahwa teori dependensia tidak lebih dari s ekadar tesis yang mampu mengumpulkan sebab-sebabterjadinya keterbelakangan dan k etergantungan semata tanpa mampu mencarikan so/usijalan keluarnya. Sampai saat i ni solusi yang ditawarkan oleh para ekonom penganut teori ini cenderung untuk me lakukan isolasi terhadap pengaruh luar. terutama Albania sebagai yan g paling ekstrem. tetapi lebih pada pengaruh intern dalam negara terbelakang tersebut. di sisi lain ternyata juga membawa efek ketergantungan. Teori pembangunan neo-klasik yang anti terhadap pendekatan revolusioner sering disebut sebagai teori penawaran (supply side theory). Sejarah menunjukkan bahwa isolasi yang dilakukan oleh sebagian besar negara komunis. serta kesalahan dalam pengalokasian sumber daya.4: PAHAN NEO-KLASIK TENTANG TEORI PEMBANGUNAN Dekade 1980-an menandai munculnya te ori pembangunan Neo-Klasik yang menjawab sanggahan teori Dependensia.

promosi perdagangan bebas dan ekspansi ekspor. Kaum Neo-Klasik menyatakan bahwa dengan membebaskan pasar dari campur tangan pemerintah. di mana tradisi kekuasaan pemerintah yang ada d i kedua benua tersebut banyak melakukan campur tangan dalam aktivitas perekonomi an. Menurut ekonom penganut teori ini. produk dan pasar uang. mereka yakin bahwa efisiensi dan pertumbuhan ekonomi a kan semakin terdorong untuk maju. swastanisasi BUMN. Para ekonom tersebut mer ekomendasikan kepada negara berkembang agar menuju sistem perekonomian dengan di dasarkan pada pasar bebas. Dalam teori ini dikemukakan bahwa alokasi sumberdaya yang salah menyebabkan kebijakan penetapan harga menjadi tidak efektif dan ditambah dengan campur tang an pemerintah yang terlalu besar dalam perekonomian. dan mengeliminasi ketidakefisienan dalam regulasi peme rintah (melakukan deregulasi). m embuka diri terhadap PMA. Konsep perdagangan bebas. sementara di si si lain kesalahan sistem alokasi sumberdaya tidak menunjang terhadap tujuan peme rataan "kue pembangunan".itu. Pasar bebas dan perekonomian laissez faire kem udian menjadi kata kunci bagi keberhasilan pembangunan. serta menghilangkan distorsi harga balk pada inpu t. Deepak Lal dan Iainnya. Korea Selatan. dan kegagalan campur tangan pemerintah bagi peningkatan kinerja ekon omi dicontohkan sebagaimana negara-negara yang ada di Afrika dan Amerika Latin. Aki batnya percepatan pertumbuhan perekonomian menjadi lebih lambat. Bagi negara berkembang pasar yang ada lebih berbentuk monopoli atau oligopol i. Bela Ballasa. dan terbu kti sukses. Perbedaan struktur masyarakat dan kelembagaan yang dimiliki oleh negara sedan g maju dengan negara 44 . Anne 0 Krueger. seperti halnya Jagd ish Baghwaty. laissez faire. Taiwan dan Singapura merupakan contoh utama dari negara yang melakukan kebijakan ekonomi sesuai dengan apa yang direkomendasikan oleh kaum Neo-Klasik. Seperti diketahui sebagian besar negara berkembang te rletak di benua Asia dan Afrika. menyatakan b ahwa semakin besar campur tangan pemerintah dalam perekonomian. semakin lambat l aju pertumbuhan ekonomi yang dialami oleh suatu negara. Diharapkan dengan terciptanya kedua hal tersebut. Teori ini nampaknya hanya tepat diterapkan di negara-negara yang maju daripada d i negara sedang berkembang. Kedua hal ini merupakan sum ber utama ketidakefisienan "mesin" perekonomian di negara sedang berkembang. dan pasar p ersaingan sempurna merupakan hal yang hanya dapat dipenuhi oleh negara-negara ma ju. dalam konteks teori ini. tangan gaib (invisible hand) akan dapat berperan besar dalam mempercepat proses penyesuaian akibat kejutan da lam perekonomian dan menjamin alokasi sumberdaya secara efisien.

Rajawali Press. tentunya memerl ukan waktu yang relatif panjang untuk dapat menerapkan sistem ekonomi pasar seca ra baik.. Microeconomics: Theory and Appl ications. John Wiley and Sons. Kon disi sosial masyarakat di negara berkembang yang umumnya bersifat feodal atau se mi feodal. Djojohadikusumo. Sritua dan Adi Sasono. Awh. Budiman. Pemaksaan orientasi pasar pada sistem masyarakat feodal atau semi feoda l justru akan meningkatkan eksploitasi antara satu golongan terhadap golongan la in. Jakarta. Robert. 45 . M. LP 3ES. Arief. Sumitro. Ketergantungan dan K eterbelakangan. PT Gramedia. BACAAN YANG DIANJURKAN Arief. 1976. 1994. Jakarta.L. 1984. menjadikan teori pembangunan tersebut pada banyak kasus justru gagal dilaksanakan di negara berkembang. serta masih menjunjung tinggi hubungan paternalistik. Jhingan. 1995. Penciptaan suatu sistem ekonomi harus didukung oleh suatu suatu kond isi yang kondusif terhadap kemungkinan perkembangan sistem ekonomi yang ada. seperti apa yang telah diungkapkan oleh ekonom penganut faham dependensia di atas.berkembang. LSP. Jakarta. Teori Pembangunan Dunia Ketiga. New York. 1988. Ekonomi Pembangunan dan Perencanaan. Adalah suatu hal yang sulit bagi negara berk embang untuk menciptakan kondisi pasar yang mendekati sistem pasar yang ada di n egara maju. Perkembanga n Pemikiran Ekonomi: Dasar Teori Ekonomi Pertumbuhan dan Ekonomi Pembangunan. Jakarta.

1. dan krisis institusi kenegaraan yang banyak terjadi di negaraâ negara di dunia. Krisis dalam teori pembangunan merupakan suatu kritik yan g terhadap teori pembangunan dan relevansinya dengan dunia nyata. Krisis institusi kenegaraan sebagai agen yang menerapkan strat egi pembangunan nampaknya juga terjadi secara global. dalam arti krisis status dari konsep pembangunan itu sendiri. Negaraâ negara tersebut Iangsung mener apkan berbagai teori yang ada. Dalam ilmu ekonomi dikenal adanya kegagalan pasar. 4. pada dasarnya menunjukkan bahwa krisis pembangunan yang terjadi ber sifat global. dan bahwa kegagalan tersebut dapat ditanggulangi dengan campur tangan pemerintah dalam perekonomian. ternyata jus tru semakin mendistorsi pasar itu sendiri.2. Proses yang selama ini diyakini kebenarannya. yaitu krisis teori pe mbangunan. KRISIS TEORI Pada awal era "dema m" teori pembangunan tahun 1950-1960-an. Terdapat tiga bentuk krisis yang perlu diperhatikan.BAB IV KRISIS TEORI PEMBANGUNAN 4. Globalisasi ekonomi telah menyebabkan sulitnya perekonomian suatu negara lepas dari pengaruh interaksi dari negaraâ negara lain. yang mereka anggap cocok sebagai model pembanguna n di negara mereka. Krisis institusi terjadi karena ca mpur tangan pemerintah. yang diharapkan mampu mengefisienkan pasar. Krisis pembangunan di negara sedang berkembang tidak terlepas dari strategi p embangunan yang digunakan. te rnyata banyak menemui 46 . dan kondisi intern yang kurang sesuai dengan penerapa n teori tersebut. krisis pembangunan di dunia nyata. negaranegara sedang berkembang (NSB) ba nyak mengadopsi dan mengadaptasi teoriteori pembangunan yang dikemukakan oleh pa ra ekonom Barat dalam sistem perekonomiannya. Globalisasi krisis men unjukkan fenomena homogen yang memperlihatkan adanya satu sistem tunggal di duni a. PENDAHULUAN Dalam bab ini akan dibahas meng enai krisis yang terjadi dalam perkembangan proses pembangunan dan teori pembang unan. Teori pembangu nan yang didasarkan pada pengalaman pembangunan dan paradigma berfikir Barat. Krisis yang terjadi dalam pembangunan di dunia nyata. Kegagalan suat u teori pembangunan yang diterapkan sebagai strategi pembangunan suatu negara me rupakan krisis dari teori itu sendiri.

Sementara itu kondisi di NSB yang demikian kompleks. Peningkatan permasalahan yang timbul akibat penerapan teor i barat yang kapitalistik. Fenomena tersebut m erupakan salah satu krisis dari teori pembangunan itu sendiri. Kondisi dasar NSB jauh lebih rumi t dibandingkan dengan negara maju. tolak ukur itulah yang d ipergunakan. memerlukan strategi pembangunan yang jauh lebih canggih. Implementa si teori pembangunan kemudian memaksa para ekonom untuk merevisi strategi pemban gunannya dengan memasukkan faktor pembangunan sosial dan politik di dalamnya. Besarnya GNP per kapita. di mana da lam proses awal pembangunan mereka tiga abad yang lalu. Akhir dari penerapan teori yang dipak sakan adalah timbulnya suatu kondisi di NSB yang jauh lebih rumit dibandingkan d engan kondisi semula. Asumsi-asumsi dasar yang dipergu nakan dalam teori pembangunan. Pandangan lain mengenai k risis dalam konteks teori lebih mengarah pada tahap kritis dari 47 . dan pada banyak hal asumsi yang dig unakan da lam teori pembangunan hanya mengacu pada kondisi yang ada di negara maju. merupakan pre stasi-prestasi pembangunan yang menjadi tolak ukur utama pembangunan. Pengertian tersebut pada dasarnya mengacu pada kondisi di Barat. Mereka memunculkan teori baru dan mengkritik teoriâ teori yang mapan. Kemudian yang terlihat adalah penggunaan suatu alat yang tidak sesuai dan sepadan dengan apa yang hendak diperbaiki. Mu nculnya suatu kondisi di mana pertumbuhan ekonomi berjalan cepat. Contoh kasus adalah pengertian pembangunan dan pertumbuhan yang pada era awal perkembangan teori pembangunan keduanya memiliki arti yang s ama. serta inflasi yang terkendali. menyebabkan bermunculannya reaksi dari para ekonom NS B. Pembangunan ekonomi pada saat itu tidak lebih dari suatu prestasi y ang diukur secara kuantitatif semata. Pada dasarnya per masalahan pembangunan di NSB justru semakin kompleks dengan penerapan teoriâ teori ba rat secara mentahâ mentah.kegagalan dalam dataran implementasinya di NSB. telah berhasil meng geser paradigma pembangunan yang ada. pertumbuhan ekono mi. merupakan asumsi yang hanya tepat berlaku di nega ra-negara Barat. lstilah kris is sebenarnya lebih banyak digunakan oleh ekonom kiri sebagai reaksi terhadap ke gagalan teori Barat yang kapitalistik diterapkan di NSB. Prestasi keberhasilan pembangunan ekonomi kemudian tidak hanya ditentukan oleh percepatan pertumbuhan ekonomi namun lebih pada peningkatan kesejahteraan masyarakat secara lebih utuh. Kondis i tersebut diperparah oleh penerapan teori pembangunan tersebut secara mentahâ mentah . tanpa diimbang i oleh distribusi pendapatan dan peningkatan kualitas hidup. tanpa melalui proses penyesuaian dengan asumsi dasar yang terdapat di suatu ne gara. dan pertumbuhan lapangan kerja. Di dunia nyata istilah krisis lebih merujuk pada suatu permasalahan tertentu.

kecuali harus dit emukan alternatif teori untuk mengubahnya secara radikal. apakah krisis yang terjadi merup akan fenomena yang bersifat global atau hanya terjadi secara parsial atau di kaw asan tertentu saja. ha l lain yang harus disamakan persepsinya adalah. 48 . menurut Marx. akibat keterbatasan sumberdaya pendukung yang ada. Bahasan mengenai krisis saat ini lebih banyak merujuk pada f enomena krisis secara global.suatu gelombang konjungtur yang tidak dapat dibalik prosesnya. suatu perekonomian akan tumbuh dan pada akhirnya bermuara pada suatu k ondisi stasioner. Namun demikian Marx mengingatkan bahwa eks ploitasi dari sistem produksi kapitalisme tidak dapat berlangsung terus. sistem p roduksi jangka panjang akan menghasilkan kelaskelas ekonomi di mana distribusi h asil pembangunan tidak didistribusikan secara merata. maka krisis yang terjadi adalah krisis transisi. dan kemudian akan digantikan oleh sosialisme. Pemikiran ini banyak diwarnai oleh pemikiran penganut ajaran Marx tradis ional. Jika teori pembangunan didasarkan pada suatu pro ses jangka panjang semacam ini. Timbuln ya kelas dan eksploitasi pekerja. Oleh karena itu. bahwa globalisasi ekonomi justru mempe rparah ketergantungan negara miskin terhadap negara maju. Dalam kerangka teori k apitalis. yang secara sadar atau tidak dilakukan negara-negara maju terhadap negara sedan g berkembang. Penganut teori Marx memandang sistem produksi kapitalis hanya dapat dilaksanakan dalam jangka pende k. Sistem produksi kapit alisme hanya dapat berjalan dalam jangka panjang. bahkan mungkin terjadi eks ploitasi antara suatu kelompok terhadap kelompok tertentu. Permasalahan yang timbul k emudian adalah bahwa proses transisi yang terjadi tersebut selalu membawa akibat yang menyakitkan dari yang diharapkan semula. krisis yang terjadi dalam perekonomian kapitalis berasal dari sitem produksinya yang eksploitatif. jika kemudian menggunakan pend ekatan sosialisme. dan pada hakikatnya merupakan reaksi dari eksploitasi sistem kapitalisme. namun akan gaga) dalam jangka panjang. karena struktur yang ada demi kian kokoh membangun sistem tersebut. Tingkat ketergantungan ini semakin diperparah dengan eksploitasi perekonomian negara miskin oleh negar a maju. Dalam diskusi mengenai krisis. Dalam kerangka berpikir Marx. bentuk sosialisme merupakan ka pitalisme dalam jangka panjang. Pada tahap tersebut perekonomian tidak dapat kembali dinamis. akan menyebabkan kapitalisme menjadi rentan da lam jangka panjang. Hal ini didasarkan pada alasan bahwa sistem pereko nomian dunia saat ini menciptakan suatu sistem yang lain yaitu suatu hal yang sa ngat sulit untuk menganalisis perekonomian suatu negara tanpa melibatkan interak si negara tersebut dalam kancah perekonomian dunia. Jika ini yang terjadi maka k onsepsi dependensia yang akhirnya muncul. Pada tahap ini krisis merupakan periode transformasi atau transisi. Didasarkan pada teori Marx.

KRISIS PEMBANGUNAN Di samping krisis yang terjadi pada dataran teori. Dalam paham NeoKlasik. Fakta bahwa negara Dunia Pertama teiah mencapai tahap pembangunan pal ing maju relatif terhadap belahan dunia lain. karena mereka beranggapan bahwa campur tangan pemerintah lebih banyak membawa distorsi pada pe rekonomian. Pada tahun 1970-1980 konsep negara kesejahteraan sebagai tujuan 49 .3. krisis yan g terjadi disebabkan kegagalan mereka dalam mencapai welfare state (negara kesej ahteraan). Krisis di Negara Dunia Pertama Di ne gara Dunia Pertama. Konsep ini merupakan reaksi atas teori Keynes yang didasarkan pada a nggapan bahwa tidak ada mekanisme pasar yang sempurna. yaitu negaraâ negara di Eropa Barat dan Amerika Utara. Kedua dan Ketiga.1. campur tangan pemerintah diusahakan seminimal mungkin. menjelask an bahwa krisis pembangunan yang terjadi sebagai akibat dari kesalahan regulasi yang mengakibatkan akumulasi krisis yang ada. di mana mekanisme pas ar dipercayai sebagai proses terbaik dalam perekonomian. krisis ini diwujudkan dalam sistem revolusi yang diwujudkan da lam sistem revolusi yang dilakukan oleh kaum buruh terhadap sistem kapitalisme y ang ada. 4. Neg ara kesejahteraan merupakan tujuan pembangunan. sehingga campur tangan pe merintah mutlak diperlukan. Kaum Fordisme. yaitu: mekanisasi produksi masal dengan konsumsi masal . yaitu negara Dunia Pertama. atau yang lebih dikenal dengan Fordisme. 4. dari ratusan tahun pengalaman melaksanakan pembangunan. Pendekatan ini menjelaskan perubah an faktor-faktor yang secara esensial mempengaruhi keberhasilan ekonomi di Ameri ka Utara dan Eropa Barat. produktivitas tenaga kerja yang tinggi bersama tingkat upah pekerja yang tingg i pula. Pada da sarnya paham ini lebih mengacu pada pada teori Neo-Klasik. Jika kita sepakat membagi dunia dalam tiga kategori. dan bentuk lain dari intervensi pemerintah. Pendekatan lain dari krisis adalah ditinjau dari peran negara dalam per ekonomian. Regulation school. menganggap bahwa kegagalan pembanguna n justru dapat disebabkan oieh adanya campur tangan pemerintah yang tidak tepat.Dalam teori Marx.3. di mana pembangunan yang berorie ntasi ke negara ini pada akhirnya diharapkan mampu menyejahterakan masyarakat se cara menyeluruh. adalah hal yang tidak dapat dipung kiri. Namun demikian. ne gara kesejahteraan yang mereka dambakan nampaknya masih jauh dari kenyataan. paham kesejahteraan. tidak dipungkiri bahwa selama proses pembangunan dapat terjadi krisis dalam proses te rsebut. maka krisis pembangunan yang terjadi di negaraâ negara ter sebut memiliki corak yang berlainan.

Meski kinerja pembangunan di negar a Dunia Pertama sangat mengagumkan. Di sisi lain sosialisme di Swedia diba ngun dari upaya menyejahterakan masyarakat secara bersama dengan pengakuan terha dap kepemilikan individu. tanpa memandang predikat dan sumbangan mereka. akhirnya semakin meningkatkan problema sosial tersebut. Kasus tersebut ti dak terlepas dari krisis pembangunan kapitalistik di negara Dunia Pertama. Jenis pengang guran di negara Dunia Pertama adalah pengangguran terbuka. Kinerja pembangunan yang diwujudkan dalam pertu mbuhan ekonomi dan lapangan kerja. Arus migrasi penduduk dari NSB ke negaraâ negara Duni a Pertama. Kerusuhan rasial di Los Angeles merupaka n hasil akhir dari akumulasi krisis sosial di Amerika Serikat. kemunculan gerakan ini justru semakin memperparah ko ndisi sosial di negara-negara tersebut. mendapatk an bagian yang sama. dan kepemilika n individu dihargai sebagaimana kepemilikan kolektif melalui koperasi. Para im igran mampu memenuhi pasar yang ditinggalkan oleh para pekerja penduduk negara D unia Pertama. Di negara komunis. Kemunculan gerakan neo-fasisme. Sosialisme di Swedia tidak bersifat totaliter. Keadilan tidak dapat dipandang sebagai keadilan absolu t. tujuan pembangunan lebih ditekankan pada kesejahteraan negara. di mana semua orang. ternyata tidak mampu menjawab tantangan dispa ritas distribusi pendapatan di antara mereka. atau jenis pekerj aan yang ditawarkan tidak sesuai dengan jenis pekerjaan yang diinginkan. Beranjak dari keuletan sebagai perantau inilah banyak diantara mer eka meraih sukses di kemudian hari. Diasumsikan bahwa masyarakat indiv idu akan sejahtera jika negara sejahtera. Titik sen tral perbedaan tersebut terletak pada cara pandang terhadap penguasaan sumberday a dan tujuan dari pembangunan itu sendir. dan semakin memperburuk problema sosial yan g ada. Satu hal yang ditempuh oleh Swedia dan tidak dilakukan oleh negara Barat yang lain adalah bahwa Swedia menerapkan sistem sosialisme dalam perekono miannya. yaitu orang menganggu r karena secara sukarela mereka menganggur.pembangunan mulai dipertanyakan. Keadilan tetap 50 . Individu dalam hal ini harus berprod uksi dan berkorban demi kesejahteraan negara. praktis hanya Swedia yang mampu mendekati kondisi negara k esejahteraan. Sistem sosialisme di Swedia sangat berbeda dengan sistem sosialisme di negaraâ negara komunis. Di sisi lain kelompok imigran yang tidak suk ses tetap terpuruk dalam kemiskinan. Jika diamati lebih lanjut. namun pada saat yang bersamaan angka pengang guran justru semakin meningkat. rasisme dan peningkatan kriminalitas di n egaranegara Dunia Pertama umumnya dilakukan oleh para generasi muda yang frustra si dengan kondisi tersebut. Hal ini disebabkan upah yang akan me reka terima berada di bawah standar upah yang mereka inginkan.

ternyata justru menciptakan ke las-kelas baru borjuis yang dimotori oleh para politisi itu sendiri. Krisis ideologis inilah yang membawa pe ralihan sistem politik dari komunisme/sosialisme menuju ke perekonomian liberal. Korea Selatan dan Hongkong. Perubahan/ re volusi sistem politik dan ekonomi di negara-negara komunis di Eropa lainnya. Kelemahan mendasar sistem komunisme terletak pad a pada cara pandang terhadap keadilan. Diperlukan berbag ai rekayasa dalam sistem perekonomian mereka untuk mampu menjawab tantangan bera t dari negara-negara maju di Asia ini.2. KrisIs di Negara Dunla Kedua Di ne gara dunia kedua. ternyata tidak mampu berjalan dengan balk. Permasalahan utama terletak pada i deologi dan sistem politik yang dianut oleh masingmasing negara yang tentunya ak an berkaitan dengan sistem ekonomi yang dianut.pada dasarnya didasarkan pada ketidakpercayaan mereka terhadap mekanisme pemerataan kesejahteraan yang mereka anut. Taiwan. atau titik optimal d ari gelombang konjungtur yang mulai menunjukkan trend menurun. Ambruknya negara Uni Soviet menunujukkan bahwa masyarakat di negara tersebut ti dak percaya terhadap mekanisme ekonomi yang ada di negara komunis. namun dalam jangka panjang muncul kelas-kelas baru yang tid ak kalah eksploitatif dibanding kelas borjuis dalam kapitalisme. Revolusi te rhadap kelaskelas masyarakat kapitalis. Di negara-negara Eropa Timur. ternyata hanya menghilangkan kelas-kelas tersebut sementara. krisis yang terjadi relatif berbeda. 51 . Di sisi lain orientasi pembangunan yang m enganggap bahwa kesejahteraan individu merupakan derivasi dari kesejahteraan neg ara.3.dipandang sebagai suatu hal yang relatif. Hal di atas nampaknya sulit diterap kan di negara-negara Dunia Pertama yang lain. Sistem keadilan absolut yang sel alu digemborgemborkan oleh para pemimpin komunis. 4. yaitu kompensasi diberikan sesuai deng an sumbangan individual terhadap masyarakat. K risis lain adalah penurunan percepatan pembangunan yang terjadi di negaranegara Dunia Pertama relatif terhadap negara-negara industri baru. Suatu sistem ekonomi tertentu ha nya dapat dilakukan secara efektif pada satu sistem politik/ideologi tertentu. yaitu negara-negara Amerika Latin dan negara-negara Eropa Timu r. Fenomena ini menunjukkan bahwa nampaknya perekonomian di negara Barat telah sampai pada titik jenuh. krisis pem bangunan terjadi pada dataran ideologis. Perekonomian Barat y ang demikian kokoh dan maju ternyata tidak mampu membendung defisit neraca perda gangan mereka terhadap Jepang dan beberapa negara industri baru seperti Singapur a.

Pertanyaan yang muncul kemudian adalah sejauh mana kemampuan sumberdaya yang ada terhadap efisiensi al okasi tersebut. disebabkan oleh alokasi utang tersebut sebagian besar untuk pembelian barang mewah. yang memasuki Amerik a Serikat lewat Meksiko.Dalam proses pembangunan negara komunis. Permasalahan lain adalah pengangguran yang tinggi.negara di kawasan tersebut merupakan yang tertinggi di duni a. namun kondisi perekonomian yang ada t idak lebih baik dari negara industri baru di Asia. Problemnya ketidakseimbangan pembangunan ini harus didukung oleh sumberdaya pembangunan yang ada. krisis pembangunan di Amerika Sela tan disebabkan salah urus (mismanagement) utang luar negerinya. Hal ini tidak hanya memb awa masalah pada negara bersangkutan. aspek politik jauh mendapat prioritas d ibanding aspek ekonomis. Beban utang yang demikian tinggi dari sebagian besar negara di kawasan tersebut. kemiskinan dan pengangguran dengan segera akan merambah Amerika Serikat. dan modal yang terbang ke luar negeri (capi tal flight) Di sisi lain kondisi tersebut seringkali diperparah oleh perebutan k ekuasaan antarpihak penguasa. praktis perekonomian tidak dapat tumbuh dengan b aik. Berbeda dengan di Eropa Timur. Meski negara-negara di Amerika Selatan umumnya tel ah merdeka lebih dari 100 tahun yang lalu. Pertanyaan yang muncul kemudian ad alah sejauh mana kemampuan sumberdaya yang ada terhadap inefisiensi alokasi ters ebut. Di sisi lain. Inflasi yan g terjadi di negara. Batas ketidakmapuan dukungan ini akhirnya membawa keresahan masyarakat ter hadap sistem kelembagaan yang ada. Tujuan-tujuan ekonomis pada akhirnya selalu tunduk terh adap kepentingan politik. Setiap hari Amerika Serikat ha rus memulangkan ratusan bahkan ribuan orang pelintas batas. Dapat dikatakan bahwa perkemb angan perekonomian di kawasan tersebut seperti "berjalan di tempat". Tanpa investasi yang memadai. Tidak dapat dipungkiri bahwa orang -orang Amerika Latin ini adalah sebagian besar 52 . Tingkat inflasi yang tinggi ini jelas tidak kondusif terhadap iklim investasi . namun juga berakibat pada negaranegara di sekitar kawasan tersebut seperti Amerika Serikat. Kepentingan politik mendapat peran tertinggi dibanding kan aspek-aspek pembangunan yang lain. Dampaknya sumberdaya pembangunan terkuras oleh upaya penyebaran ideologis. maka permasalahan tekanan penduduk. Kalau pun di antara mereka ada yang masuk ke Amerika le wat jalur resmi. merebaknya praktek korupsi. Hal ini kemudian mengarah pada kemunculan has rat masyarakat bersama yang secara sadar ingin melakukan perubahan sistem politi k dan ekonomi. pembangunan ekonomi dikorbankan hanya untuk meraih kepentingan politik. Batas ketidakmampuan dukungan ini akhirnya membawa keresahan mas yarakat terhadap sistem kelembagaan yang ada. impor perse njataan.

campur tangan pemerintah dalam pembangunan hendaknya diminimalkan. Jika diamati lebih lanjut teori pembangunan Eurosentris cenderung merujuk pada pandangan kaum Neoâ Klasik. meski demikian berba gai metode untuk mengurangi ketergantungan itu sendiri. mengingat setiap campur tan gan 53 . Kendati negaranega ra di Amerika Selatan telah sekian lama mendapat bantuan. terdapat perbeda an pendapat di antara para ilmuwan. Kemunculan teoriâ teori pembangunan oleh ilmuwan di negaraâ negara maju. Krisis pem bangunan inilah yang kemudian melahirkan teori dependensia. namun prestasi yang diperlihatkan masih k urang menggembirakan. Meski demikian ketika berada pada dataran rekomendasi. Di satu pihak. Justru pembangunan permasalahan krisis pembangunan menjadi menonjol di kawasan tersebut. Para ilmuwan ini juga mengkritik meto de pemberian bantuan pembangunan yang pada dasarnya hanya bersifat semu.dari penduduk yang mendiami kawasan kumuh di Amerika Serikat. Menurut pandangan teori ini. Reaksi atas penerapan mo del teori pembangunan yang sudah mapan di Amerika Latin. Tesis dari teori tersebut didasarkan pad a pandangan bahwa interaksi antara negara-negara Amerika Latin dengan negara-neg ara maju bersifat menguntungkan sepihak dan eksploitatif. Identif ikasi penyebab krisis pembangunan dari teori dependensia didasarkan pada pandang an Marx. merupakan sanggahan ata s teori pembangunan yang dirasakan terlalu bersifat Eurosentris (bias ke Eropa). tata nilai dan paradigma yang selama ini dianut oleh masyaraka t negara maju. Di sisi lain bantuan pemban gunan yang diberikan membuat bargaining position NSB menjadi menurun. Di sisi lain teori tersebut tidak terlepas dar i sistem politik. membawa konseku nsi pada penggunaan asumsi dasar pembangunan yang sesuai dengan kondisi kemasyar akatan dan budaya di negara maju. Pemberian bantuan dari masyarakat negara maju terhadap negara berkembang pada akhirnya justru meningka tkan ketergantungan negara-negara sedang berkembang. Di sisi lain menginginkan jalan kooperatif. Teori ini muncul mel alui pertemuan yang diadakan oleh para ilmuwan di kawasan tersebut yang membahas krisis pembangunan yang mereka hadapi. sekelompok ilmuwan merekomend asikan untuk mengisolasi diri dari hubungan dengan dunia internasional terutama negaraâ negara maju. akibatnya pemaksaan kepentingan negara maju terhadap negara berkembang dapat ditingkatkan sejalan dengan pemberian bantuan tersebut. balk dari Amerika Seri kat maupun badan-badan dunia yang ada.

Di sisi lain. pembukaan kesempatan kerja bagi PMA. atau mekanisme pasar tidak sepenuhn ya berlaku. bahwa diperlukan campur tangan pemerintah dalam perekonomian untuk menghilangkan kegagalan pasar tersebut. Dualisme ekonomi yang ada. Permasalahannya adalah asumsi dasar perekonomian ala NeoKlasik han ya dapat dicapai oleh negara yang relatif maju. Kepercay aan terhadap mekanisme pasar merupakan paradigma utama dan pandangan para ilmuwa n Neo-Klasik. tidak memu ngkinkan mekanisme pasar terjadi secara menyeluruh di semua kawasan negara terse but. karena selama ini hanya teori tersebut yang diketahui dan dipela jari. Tingginya peran pemerintah dalam perekonomian. mekanisme harga dan pasar han ya terjadi di sebagian wilayah negara itu.pemerintah dalam perekonomian akan selalu mengakibatkan distorsi pasar. Permasalahannya adopsi terhadap teori ini belum banyak dilakukan karena pa ra pengambil keputusan di NSB. Di negaraâ negara sedang berkembang. menjadikan teori tersebut lebih tepat digunakan di NSB. umumnya alumni dari universitas di negara-negara maju. cenderung menerapkan teori Neo-Klasik. Privatisasi. Hal ini menyebabkan mekanisme pasar yang ada tidak mencerminkan kelangkaan dan sistem alokasi sumberdaya yang sesungguhnya. lembaga-lembaga dunia terseb ut tidak lebih dari perpanjangan tangan negara-negara maju. Hal ini semata-mata disebabkan oleh penekanan pengajaran di negara-negara maju tersebut sangat menjunjung tinggi ma zab Neo-Klasik. Dengan demikian di negara sedan g berkembang selalu terjadi kegagalan pasar. di mana mekanisme harga telah be rlaku dengan baik. dan kegagalan pasar yang ada. Keynes merekomendasikan. Bagi para ekonom dependensia. dan libe ralisasi perekonomian adalah sedikit contoh dari praktek kebijakan yang didasark an pada teori Neo-Klasik. Model perekonomian Keynes nampaknya merupakan model perekonomian yang paling cocok diterapkan di NSB. seringkali bantuan yang diberikan oleh negara-negara maju me nsyaratkan pada suatu hal yang berkaitan dengan penerapan teori Neo-Klasik yang menguntungkan mereka. Dalam kondisi semacam ini. Bantuan pembangunan yang disalurkan lewat lembaga-lembaga dunia tersebut selalu akan berkaitan denga n peningkatan hegemoni negara-negara maju dalam percaturan politik dan ekonomi 54 . Hal ini didukung oleh penilaian dan bantuan lembaga-le mbaga dunia yang selalu merekomendasikan penerapan kebijakan yang berbau kapital isme dan liberalisme.

Terdapat dua pola krisis pembangunan di Dunia Ketig a. Munculnya teori dependensia merupakan tonggak kebangkitan pemikiran di ne gara-negara sedang berkembang. Kemudian yang terjadi adalah pesatnya laju pertumbuhan e konomi yang disertai kerentanan struktur sosial akibat kesenjangan distribusi pe ndapatan. 4. Konsep ini kemudian menjadi tolak ukur umum keberhasilan pembangunan. pertumbuhan kemudian menjadi tujuan utama dari proses pembangunan di negara-nega ra sedang berkembang. namun pada dataran solusi dan rekomendasi te ori ini kurang mampu mengakomodasikan permasalahan pembangunan di NSB. Krisis dl Negara Dunla Ketiga Krisis yang terjadi di neg ara dunia ketiga memiliki perbedaan mendasar dibandingkan krisis pembangunan di dua belahan dunia yang lain. Pada beberapa kawasan di Asia. lnilah awal krisis dari proses pembangunan yang dilaksanak an oleh NSB. Meski teori Dependensia sangat baik dalam mendeskripsikan sebab musabab kemundur an negara-negara sedang berkembang. praktis krisis etnis merupakan proble ma potensial yang sewaktu--waktu dapat terjadi. Kondisi ini diperparah dengan masalah etnis ya ng sering menyulut peperangan antarsuku dan negara di Afrika. Dengan menganut konsepsi tersebut. 4. tanpa mam pu mencarikan alternatif jalan keluar dari keterkungkungan belenggu keterbelakan gan itu sendiri. Sementara itu pertentan gan etnis di kawasan lain Asia nampaknya kurang menunjukkan tanda-tanda yang men gkhawatirkan. dan bukan peningkatan kesejahteraan yan g merata antarindividu. namp aknya akan menjadi problema potensial di masa datang. Di Afrika. Kelaparan yang te rjadi secara simultan dengan krisis etnis ini menambah permasalahan pembangunan menjadi semakin sulit dipecahkan.4.3. krisis pembangunan tetap bermuara pada masalah kelaparan. tujuan pembangunan lebih ditekan kan pada pembangunan negara secara umum.dunia. KRISIS INSTITUSIONAL Konsep pembangunan pada era 1950-1960 menekankan bahwa keberhasilan pembangunan diukur dad pertumbuhan ekonomi yang dicapai oleh masyarakat suatu negara. p ertentangan sangat mewarnai perkembangan benua tersebut.3. Namun demikian dominasi ras "kuning" dalam perekonomian Asia. Di Asia. Tak pelak lagi. Dependensia merupakan awal dari suara negara Duni a Ketiga dalam merespon perkembangan teori pembangunan yang berasal dari Barat. 55 . yaitu yang terjadi di Afrika dan di Asia. Kasus Somalia adal ah salah satu contoh betapa rentannya iklim politik di Afrika.

Pada kenyataannya hal tersebut tidak dapat dipisahkan dari dunia nyata. Konflik politik. di sisi lain. Konsekuensi Iogisnya. Strategi pembangunan pada tahapan ters ebut tidak dapat dipisahkan dari strategi penggalangan kekuatan nasional. Pil ihan tujuan dan proses pembangunan dalam suatu negara seringkali harus tunduk pa da kepentingan atau tujuan politik tertentu. Tujuan pelaksanaan pembangunan tidak pernah dapat d ipisahkan dari dunia nyata. 56 . Pada awal kemerdekaan. semakin rendah biaya yang dipikul untuk kepentingan t ersebut. dan risiko ketidakberhasil an pembangunan ekonomi semakin meningkat. Untuk menyukseskan hal tersebut diperlukan surplus pendanaan yang berupa dana investas i dan dana kesejahteraan. Bahkan proses pembangunan itu sendiri sering mend apat kendala dari konflik politik yang ada dalam suatu negara. yang umumnya banyak membutuhkan biaya besar. Semakin tinggi rasa persatua n masyarakat suatu negara. Namun demikian kenyataan menunjukkan bahwa pembebanan biaya pembangunan kekuatan nasional seringkali hanya didasarkan pada kehendak dan emosi segelinti r orang pemegang kekuasaan untuk mempertahankan kekuasaannya. Kendati demikian harus dipertimbangka n pula prioritas pembangunan ekonomi di masa-masa mendatang. Konsepsi aliran arus utama (mainstream) pembangunan menek ankan proses pembangunan sebagai suatu proses pembentukan national building. Konsepsi pembangunan yang berorient asi pada penguatan kekuatan nasional ini pada akhirnya justru menciptakan krisis pembangunan itu sendiri. selalu diasumsikan bahwa pembangunan ekonomi dapat dipisahkan dar i permasalahan-permasalahan politik.Krisis pembangunan di NSB umumnya dimulai dari ketidakjelasan untuk siapa hasil pembangunan ditujukan. diperlukan surplus ekonomi yang besar untuk menyokong pembangunan kekuatan politik dan militer. Upaya untuk menggalang kekuatan nasional akan menempat kan prioritas pembangunan kekuatan politik dan militer di atas pembangunan ekono mi. Tujuan pelaksanaan pembangunan tidak pernah dilepask an dari tujuan-tujuan politik. Dalam bahasan mengena i pembangunan. pembangunan politik dan militer sebagai upa ya mempersatukan bangsa sangat diperlukan. juga banyak mempengaruhi tujuan pembangunan atau bahkan pada beber apa hal justru menyebabkan proses pembangunan tidak berjalan secara efisien. Alokasi sumberdaya yang tidak efisien merupakan konsekuensi logis yang ha rus diterima. Jika ini yang terj adi maka beban yang dipikul masyarakat semakin besar. Besarnya biaya yang harus dikeluarkan untuk membangun kekuatan politik dan militer sangat bergantun g pada rasa persatuan pada masyarakat suatu negara. Hal ini menunjukkan bahwa tujuan pembangunan bias pada upaya pembangunan kekuatan n egara dan bukan pada peningkatan kesejahteraan masyarakat.

maka sumberdaya manus ia yang ada siap dimanfaatkan untuk melaksanakan pembangunan selanjutnya. Dalam dataran teoritis. Dawam. Longman Scientific & Te chnical. UIâ Press. M. maka penggalangan kekuat an nasional lebih ditekankan pada pemecahan masalah pendidikan daripada untuk ke kuatan militer. eds. Jakarta. 1988. Risikonya adalah jika terjadi kesalahan dalam memobilisasikan su mberdaya baik dari sisi internal maupun sisi eksternal. Lewis. Eseiâ esei Ekonomi Politik. Pembangu nan masyarakat yang memiliki pengetahuan yang balk dengan tingkat kesadaran ting gi dan berideologi. London. Strategi-strategi ini relatif lebih meyaki nkan dan sesuai diterapkan oleh NSB dalam jangka panjang. permasalahan keamanan dan permasalahan pembangunan dapat diata si dengan beberapa strategi pembangunan. Dalam jangka panjang pembangunan penggalangan kekuatan nasional melalui pendidikan ak an membawa hasil yang lebih berdaya guna dibandingkan dengan alokasi sumberdaya di bidang penguatan militer tanpa mengindahkan kebutuhan pendidikan. kelangkaan sumberdaya akan membawa keresahan yang pada akhirnya akan diatasi d engan pemerintahan yang ditaktor. John P dan Valeriana Kallab. Di sisi lain.Kedua dana tersebut dimaksudkan untuk mendukung proses penggalangan kekuatan nas ional tersebut. maka sumberdaya yang digunakan akan jauh lebih efisien. 1990. bab 1. Basic need strategy merupakan strategi pembangunan untuk memenuhi kebutuhan pokok masyarakat. Sustainable development merupakan strategi pembangunan yang m ampu mengatasi kelangkaan sumberdaya. jauh lebih berdaya guna dibandingkan pembangunan militer yan g tangguh. 1987. BACAAN YANG DIANJURKAN Hettne. 57 . Development Theory and the Three Worlds. Mengkaji Ulang Strategiâ strategi Pembangunan (terjemahan). Bjorn. Benteng kekuatan nasional terletak pada kesadaran dan rasa tanggung j awab serta intelektualitas penduduk dibandingkan dengan perangkat militer. Pada negara yang menitikberatkan penggalangan kekuatan nasional melalui pembangunan militer . LP3ES. Jakarta. yaitu penin gkatan Jaya saing. jika hal yang sama terjadi pada negara yang mengembangkan pendidikan sebagai tujuan utama. Self reliance strategies dapat dijadikan j alan keluar untuk mengatasi problema eksternal dari industrialisasi. bab 4. Rahardjo. sehingga dapat meredam ke mungkinan munculnya konflik internal.

BAB V MASALAH KETIMPANGAN DAN KEMISKINAN Kemiskinan merupakan masalah yang dihadapi oleh semua negara di dunia. Di Amerik a Serikat (AS), yang tergolong negara maju dan salah satu negara kaya di dunia, masih terdapat jutaan orang yang tergolong miskin. Sementara itu, mereka yang hi dup tidak miskin relatif miskin dibanding penduduk AS yang lainnya. Persis seper ti dikatakan oleh Sharp, et.al. (1996): "Poverty amidst plenty" is a striking fe ature of the American scene. Our nation is the richest in the world, yet million s of people are poor, and millions more that do not live in poverty are poor rel ative to others. This is not the American dream; it is the American paradox. Di lain pihak, negara miskin menghadapi masalah "klasik": pertumbuhan versus distri busi pendapatan. Isu mendasarnya adalah tidak hanya bagaimana meningkatkan pertu mbuhan GNP namun juga siapa yang membuat "kue nasional" itu tumbuh, segelintir o rang ataukah banyak orang. Bila pertumbuhan terutama disumbang oleh golongan kay a, maka merekalah yang paling mendapat manfaat dari pertumbuhan, sementara kemis kinan dan distribusi pendapatan semakin memburuk. Namun, bila pertumbuhan disumb ang oleh banyak orang, maka buah dari pertumbuhan ekonomi akan dirasakan secara lebih merata. Banyak Negara Dunia Ketiga (NSB) mengalami laju pertumbuhan ekonom i yang relatif tinggi tetapi tidak membawa manfaat yang berarti bagi penduduk mi skin. Hal ini dialami oleh ratusan juta penduduk di Afrika, Asia, dan Amerika La tin, di mana tingkat kehidupannya relatif berhenti dan bahkan anjiok bila dinila i secara riil. Dengan kata lain, kemiskinan setidaknya dapat ditinjau dari 2 sis i, yaitu: Pertama, kemiskinan absolut, di mana dengan pendekatan ini diidentifik asikan jumlah penduduk yang hidup di bawah garis kemiskinan tertentu. Kedua, kem iskinan relatif, yaitu pangsa pendapatan nasional yang diterima oleh masing-masi ng golongan pendapatan. Dengan kata lain, kemiskinan relatif amat erat kaitannya dengan masalah distribusi pendapatan. 5.1. BEBAN KEMISKINAN GLOBAL Kemiskinan y ang banyak terjadi sekarang ini mempunyai penyebaran yang tidak seimbang balk an tarwilayah yang ada Dunia Ketiga maupun antarnegara yang ada di 58

wilayah-wilayah tersebut. Hampir setengah dari seluruh masyarakat yang miskin hi dup di Asia Selatan yang mempunyai jumlah penduduk sebesar 30 persen clari total populasi dunia. Sub Sahara Afrika mempunyai penduduk dengan jumlah yang lebih k ecil, tetapi tingkat ketimpangannya masih cukup besar. Hampir di setiap negara, kemiskinan selalu terpusat di tempat-tempat tertentu, yaitu biasanya di perdesaa n atau di daerah-daerah yang kekurangan sumber Jaya. Persoalan kemiskinan juga s elalu berkaitan dengan masalahmasalah lain, misalnya lingkungan. Beban kemiskina n paling besar terletak pada kelompok-kelompok tertentu. Kaum wanita pada umumny a merupakan pihak yang dirugikan. Dalam rumah tangga miskin, mereka sering merup akan pihak yang menanggung beban kerja yang lebih berat daripada kaum pria. Demi kian pula dengan anak-anak, mereka juga menderita akibat adanya ketidakmerataan tersebut dan kualitas hidup masa depan mereka terancam oleh karena tidak tercuku pinya gizi, pemerataan kesehatan, dan pendidikan. Selain itu timbulnya kemiskina n sangat sering terjadi pada kelompok-kelompok minoritas tertentu. Dalam banyak kasus, pendapatan yang rendah selalu berkaitan dengan bentukbentuk "kekurangan" yang lain. Misalnya saja di Meksiko, tingkat harapan hidup 10 persen penduduk te rmiskin lebih rendah 20 tahun dibandingkan dengan 10 persen penduduk terkaya. Di Pantai Gading, tingkat pendidikan dasar bagi penduduk termiskin hanya seperlima dari 10 persen penduduk terkaya. Kemiskinan berbeda dengan ketimpangan distribu si pendapatan (inequality). Perbedaan ini sangat perlu ditekankan. Kemiskinan be rkaitan erat dengan standar hidup yang absolut dari bagian masyarakat tertentu, sedangkan ketimpangan mengacu pada standar hidup relatif dari seluruh masyarakat . Pada tingkat ketimpangan yang maksimum, kekayaan dimiliki oleh satu orang saja , dan tingkat kemiskinan sangat tinggi. Di sini kemiskinan didefinisikan sebagai ketidakmampuan untuk memenuhi standar hidup minimum. Definisi tersebut menyirat kan tiga pertanyaan dasar, yaitu: bagaimanakah mengukur standar hidup? Apa yang dimaksudkan dengan standar hidup minimum? Indikator sederhana yang bagaimanakah yang mampu mewakili masalah kemiskinan yang begitu rumit? 5.1.1. Garis Kemiskina n Semua ukuran kemiskinan dipertimbangkan berdasarkan pada norma tertentu. Pilih an norma tersebut sangat penting terutama dalam hal pengukuran kemiskinan yang d idasarkan konsumsi. Garis kemiskinan yang didasarkan pada konsumsi (consumptionbased poverty line) terdiri dari dua elemen, yaitu: (1) pengeluaran yang diperlu kan untuk membeli standar 59

gizi minimum dan kebutuhan mendasar Iainnya; dan (2) jumlah kebutuhan lain yang sangat bervariasi, yang mencerminkan biaya partisipasi dalam kehidupan masyaraka t sehari-hari. Bagian pertama relatif jelas. Biaya untuk mendapatkan kalori mini mum dan kebutuhan lain dihitung dengan melihat harga-harga makanan yang menjadi menu golongan miskin. Adapun elemen kedua sifatnya lebih subyektif. Persepsi men genai kemiskinan telah berkembang sejak lama dan sangat bervariasi antara budaya yang satu ke budaya yang lain. Kriteria untuk membedakan penduduk miskin dengan yang tidak miskin mencerminkan prioritas nasional tertentu dan konsep normatif mengenai kesejahteraan. Namun umumnya pada saat negaranegara menjadi lebih kaya, persepsi mengenai tingkat konsumsi minimum yang bisa diterima, yang merupakan g aris batas kemiskinan, akan berubah. 5.1.2. Seberapa Besar Tingkat Kemiskinan Te rjadi? Cara yang paling sederhana untuk mengukur tingkat kemiskinan adalah denga n menghitung jumlah orang miskin sebagai proporsi dari populasi. Cara yang lazim disebut dengan Headcount Index ini sangat bermanfaat, meskipun indikator ini se ring dikritik karena mengabaikan jumlah penduduk yang berada di bawah garis kemi skinan. Oleh karena itu, kesenjangan kemiskinan pendapatan atau poverty gap digu nakan untuk mengatasi kelemahan headcount index (Meier, 1995: h. 26). Poverty ga p menghitung transfer yang akan membawa pendapatan setiap penduduk miskin hingga tingkat di atas garis kemiskinan, sehingga kemiskinan dapat dilenyapkan. Penggu naan batas atas kemiskinan sebesar US$370 menyebabkan timbulnya estimasi bahwa 1 .116 juta orang di NSB hidup dalam kemiskinan pada tahun 1985 .. Jumlah tersebut merupakan sepertiga dari total populasi di NSB. Di antara jumlah tersebut, 633 juta orang (18 persen dan total populasi di NSB) tergolong sangat miskin, di man a konsumsi tahunan mereka kurang dari US$275 (batas bawah kemiskinan). Kendati d emikian, poverty gap hanya 3 persen dari konsumsi NSB. Bahkan transfer yang dibu tuhkan untuk mengentaskan penduduk yang sangat miskin hanya 1 persen dari konsum si NSB. Tingkat kematian balita di hampir semua NSB rata-rata adalah 121 per ser ibu kelahiran hidup, dan tingkat harapan hidup mereka hanya 62 tahun, sedangkan tingkat pendidikan dasar hanya 83 persen. Hampir separuh penduduk di dunia merup akan golongan miskin, dan hampir separuh dari penduduk yang sangat miskin tingga l di Asia Selatan Negara-negara Sub Sahara Afrika memiliki sekitar sepertiga pen duduk miskin. Negara-negara di Afrika bagian timur tengah dan utara merupakan da erah kedua yang memiliki jumlah penduduk miskin terbesar. Rekor ini diikuii oleh Amerika Latin dan Karibia serta Asia Timur. 60

namun setelah mencapai suatu tingkat pembangunan tertentu.5 persen per tahun. kurva U terbalik . 5. Perhatikan bahwa sebagian besar kurva Kuznets terletak d i sebelah kanan. Simo n Kuznets (1955) membuat hipotesis adanya kurva U terbalik (inverted U curve) ba hwa mula-mula ketika pembangunan dimulai. Peningkatan jumlah kemiskinan hampir sama denga n peningkatan jumlah penduduk. tantangan kunci yang dihadapi oleh NSB adalah mempercepat pengurangan kemiski nan. Penyebab Kemiskinan 61 .3. Kritik utama terhadap kurva Kuznets adalah hasil ini sangat sensitif terhadap ukuran inequalitydan pemilihan set data. HIPOTESIS U TERBALIK TENTANG KETIMPANGAN Banyak perhatian telah diberik an terhadap bagaimana distribusi pendapatan berubah dalam masa pembangunan. atau tidak ada hubungan sama sekali. seseorang bisa mendapat kurva U.1). Hal ini tentunya memerlukan tingkat pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi y ang dibarengi dengan perbaikan pola pertumbuhan yang menguntungkan golongan misk in. ketidakmerataan pendapatan menurun seiring dengan peningkatan G NP per kapita pada tahap pembangunan selanjutnya (lihat Gambar 6. yang sekitar 1.2. PENYEBAB DAN SOLUSI KEMISKINAN 5. Varian di s ekitar kurva Kuznets lebih banyak terdapat di negara dengan tingkat pendapatan t ergolong menengah papan bawah.3. 5.1. Oleh karena it u. Dengan mel akukan pemilihan yang berbeda. distribusi pendapatan akan makin tidak merata.Meskipun NSB telah mengalami kemajuan yang substansial dalam menurunkan kemiskin an selama tiga dasawarsa terakhir. ternyata hanya terjadi perbaikan tingkat kemi skinan pada akhir tahun 1980-an. distribusi p endapatan makin merata.

kemiskinan muncul akibat perbedaan dalam kualitas sumberdaya manusia.2). Kemiskinan massal yang te rjadi di banyak negara yang baru saja merdeka setelah Perang Dunia II memfokuska n pada keterbelakangan dari perekonomian negara tersebut sebagai akar masalahnya (Hardiman dan Midgley. Ketiga penyebab kemiskinan ini bermuara pada teori lingkaran set an kemiskinan (vicious circle of poverty). Penduduk miskin hanya memiliki sumberdaya dalam jumlah terbatas d an kualitasnya rendah. S harp. 1982: h. kemiskinan muncul karena adanya ketidaksamaan pola kepemilikan sumberdaya yang menimbulkan distribusi pendapatan yang timpang. ketidaksempur naan pasar. Rendahnya p roduktivitasnya mengakibatkan rendahnya pendapatan yang mereka terima. kemiskinan muncul akibat perbedaan aks es dalam modal. yang mengatakan: "a poor country is poor because it is boor"(negara mis kin itu miskin karena dia miskin). 52-54). metode produksi yang t radisional. 173-191) mencoba mengidentifikasi penyebab kemiskinan dipa ndang dari sisi ekonomi. Ketiga. Rendahnya i nvestasi berakibat pada keterbelakangan.Ada banyak penjelasan mengenai sebab-sebab kemiskinan. Rendahnya pendapatan akan berimplikasi pada rendahnya tabungan dan investasi. Adanya keterbelakangan. dan kurangnya modal menyebabkan rendahnya produktivitas. Pertama. Kedua. Penduduk negara tersebut miskin karena menggantungkan diri pada sektor pertanian yang subsisten. di tah un 1953. Logi ka berpikir ini dikemukan oleh Ragnar Nurkse.2. Rendahnya kualitas sumberdaya manusia ini karena rendahnya pendidikan. yang pada gilirannya upahnya rendah. Gambar 5. adanya dis kriminasi. atau karena keturunan. nasib yang kurang beruntung. Lingkaran Setan Kemiskinan (The V icious Circle of Poverty) 62 . yang seringkali dibarengi dengan sikap apatis terhadap lingkungan. dan seterusnya (lihat Gambar 6. et. ekonom pembangunan ternama.al (1996: h. secara mikro. Kualitas sumberdaya manusia yang rendah berarti produktivita snya rendah.

yaitu: Pertama. misalnya lewat Iebih banyaknya jam kerja setiap musim dalam setiap hektar lahan sawah (terutama akibat pengenalan varitas unggul dan perubahan teknologi) dan meningkatnya 63 . metode ini tid ak dapat diterima di India karena adanya hambatan politis atas kasta (Raj. bila tenaga kerja tersebut diupah sesuai dengan upah yang berlak u dan potensi tabungan direalisasikan.Negara berkembang sampai kini masih saja memiliki ciri-ciri terutama sulitnya me ngelola pasar dalam negerinya menjadi pasar persaingan yang lebih sempurna. setiap usaha memerangi kemiskinan seharusnya diarahkan untuk memotong Iingkaran dan perangkap kemiskinan ini. 1990) . Oleh k arena itu. Ke ndati demikian. (2) dapat dilakukan dengan menyusun kerangka kelembagaan di perdesaan yang mem ungkinkan tenaga kerja yang belum didayagunakan untuk pemupukan modal tanpa perl u menambah upah Hal ini persis apa yang dilakukan oleh Cina yang menerapkan sist em ini alas dasar kerja sama kelompok dan brigades di tingkat daerah yang paling rendah (communes). mendasarkan pada m obilisasi tenaga kerja yang masih belum didayagunakan (idle) dalam rumah tangga petani gurem agar terjadi pembentukan modal di perdesaan (Nurkse. 5. Dengan metode ini ternyata memungkinkan adanya kenaikan yang substansial dalam: (1) intensita s tenaga kerja dalam budidaya tanaman. Demikian seterusnya. turunnya penda patan riil.2. Alternatlf Solusi Kemiskinan Pen galaman di negara-negara Asia menunjukkan adanya berbagai model mobilisasi perek onomian perdesaan untuk memerangi kemiskinan. seperti yang dilakukan di Jepang. diikuti dengan rendahnya produktivitas. Meskipun m etode pajak langsung atas tanah ini berdasarkan atas prinsip progresif dan terba tas pada rumah tangga petani pada lapisan pendapatan yang tinggi. Penggajian alas tenaga kerja berasal dari kelompok produksi lokal dengan menghitung hari kerjanya di dalam kelompok sebelum menentukan bagia n dari masing-masing anggota kelompok dalam panen tiap tahun. berputar. maka kecenderungan kekurang an kapital dapat terjadi. Ide bah wa tenaga kerja yang masih belum didayagunakan pada rumah tangga petani kecil da n gurem merupakan sumberdaya yang tersembunyi dan merupakan potensi tabungan. beberapa cara perlu dilakukan untuk menga mankan tabungan dari dalam rumah tangga tersebut. Keti ka mereka tidak dapat mengelola pembangunan ekonomi. 1951). Metode ini diterap kan untuk proyek pembangunan infrastruktur dan proyek padat karya.3. Alternatif cara yang dapat dig unakan untuk memobilisasikan tenaga kerja dan tabungan perdesaan adalah: (1) men ggunakan pajak langsung atas tanah. rendahnya tabungan. dan investasi mengalami penurunan sehingga melin gkar ulang menuju keadaan kurangnya modal.

bahkan di beberapa daerah hampir mencapai 6. 1954. 1954). memiliki kepentingan Iangsung dalam menjaga rendahnya produktivitas para pekerja subsisten dan menggunakan kekuasaan politiknya untuk menekan kemaj uan teknologi pada pertanian kecil (Lewis. Kendati demikian. Keadaan ini dapat dilakukan selama masa p enjajahan di mana pemaksaan dengan menggunakan kekuatan polisi mulai dikenal dal am perekonomian desa. Ide bahwa suplai tenaga kerja yang tidak terbatas dari rumah tangga petani kecil dapat meningkatkan tabungan dan formasi modal lew at proses pasar. Fei dan Ranis.75 ton per hektar pada pertengahan 1950-an menjadi 4 ton saat ini.intensitas penanaman. Beberapa permasalahan 64 . menyoroti pote nsi pesatnya pertumbuhan dalam sektor pertanian yang dibuka dengan kemajuan tekn ologi dan kemungkinan sektor pertanian menjadi sektor yang memimpin (Schultz. secara analitis yang dapat dipetik ad alah bahwa mobilisasi sumberdaya dari sektor pertanian hanya Iayak karena output tumbuh lebih cepat dibanding penduduk. 19 63. yang pada gilira nnya dapat mempengaruhi tabungan dan investasi dalam perekonomian secara umum. dan lebih dari sepertiga total produksi padi dapat diangga p sebagai sewa oleh para pemilik tanah. Mellor. tanpa menggunakan instrumen pajak seperti yang dilakukan ol eh Jepang. D alam konteks ini. (2) hasil tanaman. atau Rural-Led Development. Ketersediaan tenaga kerja semacam itu dikemukakan hanya untuk menjelas kan bagaimana pangsa relatif upah dan laba pada sektor kapitalis (apakah di sekt or pertanian atau industri. meskipun dibarengi dengan tingginya sewa yang dibaya r kepada pemilik tanah dan memburuknya nilai tukar. Proporsi output sektor pertanian sebagian besar tetap dijaga sebagai surplus lewat intermediasi pemilik tanah dan melalui nilai tukar (terms of trade ) sebelum Perang Dunia II (Lee. seperti pemilik perkebuna n di Afrika.5 ton. Model yang kedua. dan akibatnya produktivitas tenaga kerja meningkat pada kecepatan yang memungkinkan kenaikan moderat dalam konsumsi per kapita di sektor pertanian. 1976). 1971). Model ini dikenal dengan nama Model Pertumbuhan Berbasis Tekn ologi. menitikberatkan pa da transfer sumberdaya dari pertanian ke industri melalui mekanisme pasar (Lewis . Model ketiga. mulanya tidak berkaitan sama sekali dengan mobilisasi ekonomi p erdesaan. 1964). seperti padi yang rata-rata meningkat d ari 2. Surplus ini sebagian besar diangkut ke J epang untuk menopang industrialisasinya dan relatif sedikit sekali membantu pemb angunan industri Taiwan. di perekonomian perdesaan atau di kota) dapat saja d ipengaruhi oleh produktivitas tenaga kerja di sektor subsisten. ditekankan bagaimana para kapitalis. Pengalaman Taiwan merupakan co ntoh yang balk atas mobilisasi sumberdaya dari sektor pertanian dengan mengandal kan mekanisme pasar.

Perlu juga dicatat bahwa pertum buhan pertanian yang pesat dapat menciptakan pola pembangunan yang dipimpin pert anian hanya apabila terjadi distribusi kekayaan yang lebih merata dalam perekono mian agraris. Sekto r pertanian tidak hanya sebagai sumber pasok sumberdaya (baik pangan. menyimpulkan bahwa ketidakmerataan yang timbul berdampak se dikit terhadap akumulasi modal Amerika pada abad ke-19 dan untuk lnggris tidak b erdampak sama sekali.4. yaitu: (1) kemampuan mencapai tingkat pertumbuhan output pertanian yang tinggi. ada berbagai cara pertum buhan ekonomi mempengaru hi distribusi pendapatan. Proses ini akan berhasil apabila 2 syarat berikut ter penuhi.dalam strategi pembangunan dengan sektor pemimpin pertanian (rural-led developme nt) didasarkan atas kemungkinan dibukanya pertanian oleh teknologi modern. Seorang sejarahwan ekonomi. Kasus di Cina. dampak keterkaitan menjadi tidak pasti b ila bagian terbesar dari kenaikan pendapatan hanya dinikmati oleh rumah tangga p emilik tanah yang berpenghasilan tinggi karena tambahan konsumsinya cenderung di alokasikan untuk komoditi dan jasa nonpertanian. Yang jelas. tenaga kerja. dan Korea Selatan setelah Perang Dunia II m enunjukkan bahwa kondisi tersebut dapat dicapai dengan program land reform yang dikombinasikan dengan eksploitasi potensi sumberdaya dengan teknologi modern unt uk perluasan tanah. Pada gilirannya ini tergantung dari dampak keterkaitan ekonomi perde saan lewat pengeluaran atas barang konsumsi yang dipasok dari dalam sektor itu s endiri. Diskusi mengenai ada tidaknya tradeoff antara pertumbuhan dengan 65 . Namun kenyataan membuktikan ketidakmerataan di NSB dalam dekade b elakangan ini ternyata berkaitan dengan pertumbuhan rendah. Namun. (2) proses ini juga menciptakan pola permintaan yang kondusif terhadap p ertumbuhan. atau tabungan). 5. Namun ketidakmerataan yang timbul memang memegang peranan penting dalam sulitnya akumulasi modal SDM. peningkatan pendapa tan dan permintaan secara meluas dalam masyarakat desa. Jeffrey Williamson. dan melalui investasi yang didorong. Taiwan. namun sebagai sektor yang mampu meningkatkan per mintaan atas produk pertanian dan nonpertanian. bahan baku . KETIDAKMERATAAN VER SUS PERTUMBUHAN Ada teori yang mengatakan ada tradeoff antara ketidakmerataan da n pertumbuhan. Dampak keterkaitan dalam ekonomi pe rdesaan tentunya dapat lebih kuat dalam meningkatkan permintaan pangan bila prop orsi kenaikan pendapatan dari pertumbuhan output bahan pangan digunakan untuk me mbeli produk industri perdesaan. penggunaan tenaga kerja secara intensif. dan oleh karena itu mendukung pr oses pertumbuhan seimbang. Di banyak NSB tidak ada tradeoff antara pertumbuhan dan ketidakmerataan.

dasar sumberdaya alam. dan Chengry (1979). Beberapa pakar p embangunan. Ketiga. Kesimpulan Fileds ini didasarkan pengamatannya atas fenomena berikut: Negara yang ketimpan gan pendapatan dan kemiskinannya menurun ditemukan di Costa Rica.4. hanya mengamati ketimpangan distribusi pendapatan. Oshima (1962). Pakistan. Kuznets (1966).4. tergantung jenis data yang digunakan apakah s ilang tempat (cross section). yang mengamati perubahan dan pola distribusi pendap atan di 3 negara Amerika Latin. k etimpangan pendapatan dan kemiskinan banyak yang berjalan beriringan. berpendapat bahwa ketimpangan pendapatan ditentukan oleh jenis pembangunan ekonomi. Studi yang kompresif yang dilakukan oleh Fields (1980) menemukan fakta menarik berikut ini: Pertama. Studi selanjutnya. Kuznetz (1963). dan Taiwan. dan Philipina. Dengan kata lain.2. Simon Kuznetz (1955) diakui sebagai pelopor studi komparatif dalam distribusi pendapatan. dan kebijak an yang dianut. yaitu Argentina. Chenery dan Syrquin (1975). Yang menarik adalah adanya bukti bahwa hampir separuh variasi distribus i pendapatan dapat dijelaskan oleh tingkat pendapatan nasional. Fakta ketimpangan dan kemiskinan yang meningkat pa da saat bersamaan terjadi di Argentina. menurut Fields (1990). Srilangka. Adelman dan Morri s (1973). runtut waktu (time series). Brazil. dan Puerto Rico.1. Mari kita simak beberapa hasil studi yang menggunakan ketiga macam jen is data ini.pemerataan. Hal ini bisa dilihat dari studi yan g dilakukan oleh Kravis (1970). Ahluwalia. 5. 5. St udi-studi empiris tersebut agaknya mendukung tesis Kuznets tetang kurva U yang t erbalik. Meksiko. seperti Fei dan Ranis (1964). Meksiko. kemiskinan absolut menurut di kebanyakan negara. faktor kebijakan dan dimensi struktural perlu diperhatikan selain laju pertumbuhan ekonomi. ataukah menggunakan da ta mikro. Negara di mana ketimpanga nnya meningkat tetapi kemiskinannya menurun adalah Bangladesh. Studi yang dilakukan oleh Fishlow (1972) menunjukkan bahwa sukses ekonomi makro di Br azil ternyata tidak diikuti dengan membaiknya distribusi pendapatan. dan Puerto 66 . Charter. yang ditunjukkan oleh ukuran negara. Kedua. Pelajaran dari Studi dengan Data Silang Tempat Studi dengan data silang tempat paling populer digunakan. Adelman dan Morris (19 73). negara yang mengalami kenaikan ketimpangan distribusi pendapatan terny ata kurang lebih sama dengan banyaknya negara yang mengalami penurunan ketimpang an pendapatan. Pelajaran dari Studi dengan Data Runtut waktu Studi empiris pertama yang menggunakan data runtut waktu dila kukan oleh Weisskoff (1970). Sing apura.

jawaban atas pertanyaan apakah pertumbuhan ekonomi berpengaruh terhadap distribusi pendapatan tergantung dari perhatian dit ujukan pada kemiskinan ataukah ketimpangan pendapatan. pertumbuhan ekonomi yang tinggi ternyata tidak diikuti oleh penurunan kemiskinan. Fakta di banyak negara As ia Timur dan Amerika Latin menunjukkan bahwa pertumbuhan ekonomi yang cepat cend erung akan mengurangi kemiskinan absolut. Kanbur. pertumbuhan ekonomi tidak menjamin adanya pengurangan kemiskinan. dan S. Februari 1993. Negara di mana ketimpangan pendapatannya menurun namun kemiskinannnya meni ngkat adalah India. 67 . Pertanyaan yang selalu m uncul adalah: seberapa jauh data mikro dapat dipercaya kebenarannya di NSB? Bebe rapa pengamat khawatir bahwa rakyat miskin tidak mampu menjawab pertanyaan dari kantor statistik dengan balk.R.. Fields. sedang di Sri Lanka. obsesi mewujudkan pemerataan distri busi pendapatan dilakukan dengan mengorbankan laju pertumbuhan ekonomi. dalam Gustav Ranis dan T. untuk pertama kali dig unakan survei dengan sampel rumah tangga di banyak NSB. data mikro mengenai p endapatan absolut mampu menyajikan profit penduduk miskin dengan berbagai karakt eristik. maupun jenis kelamin. tidak salah bila disimpulkan bahwa kendati pertumbuhan ekonomi yang cepat umumnya menurunka n kemiskinan. tinggal di perdesaan. The Kuzn ets Process and the Inequality . Lepas dari masalah tersebut. Manfaat data mikro selain menjabarkan ketimpangan dis tribusi pendapatan juga menampilkan potret ketimpangan menurut daerah. S. Ternyata tingkat kemiskinan yang tinggi ditemukan di kalangan penduduk yang rendah tingkat pendidikannya. Dengan demikian.). Namun. industri.Development Relationship".Rico. "Income Distribution and Economic Growth". 5. Di Philipinan. ras. Oxford. The State of Development Economics: Progress and Perspectives.3. Journal of Developme nt Economics. Oleh karena itu. ada perkecualian terhadap trend ini.4. Gary S.M. para pekerja di sektor pertanian. 1990. Daftar Pustaka Anand. P elajaran dari Studi dengan Data Mikro Pada akhir 1960-an.Paul Schultz (eds. Basil Blackwell. Kasus di Philipina terjadi karena memang relatif kurangnya perhatian pemerintah terhadap rakyat miskin. Srilangka berhasil dalam mengurangi kemiski nan meskipun tingkat pertumbuhan ekonominya rendah. Di sisi lain. dan sebagainya.

World Bank. Sigit. Jakarta. 1990. World Development Report 1990: Poverty. 13 Agustus 1996. Essex. Thapa. 68 . "Economic Growth and Income Inequality". Hananto. Oxford University Press.. Maret 1955. Banking with the Poor: Report and Recommendation. Taylor. American Economic Revie w.'Kemiskinan dan Ketimpangan Pembagian Pendapatan d alam Pembangunan Ekonomi Indonesia".B.Kuznets. Oxford. Jennifer Chalmers. 1992. Longman. John Conroy.. Brisbane. Simon. edisi ke-5. The Foundation for Development Cooperation. G . Economic Development. K.W. CSIS dan Bank Dunia. 1994. Michael P. bab 5. makalah dalam Seminar Mencari Paradigma Bar u Pembangunan Indonesia. Todaro.

Indikator Kesenjangan Distribusi Pendapatan Indikator ya ng sering digunakan untuk mengetahui kesenjangan distribusi pendapatan adalah ra sio gini (gini ratio) dan kriteria Bank Dunia (BPS. Bab ini secara khusus ak an menelusur dimensi kesenjangan distribusi pendapatan dan kemiskinan di Indones ia. 1994). Sebalikny a. semakin rendah nilai rasio gini berarti semakin merata distribusi. b ila 40 persen penduduk berpenghasilan terendah menerima 12 hingga 17 persen bagi an pendapatan. Nilai gini ratio berk isar antara nol dan satu. Singkatnya. Kriteria Bank Dunia mendasarkan penilaian distribusi pendapatan atas penda patan yang diterima oleh 40 persen penduduk berpendapatan terendah. Bab ini diawali dengan tinjauan mengenai indikator kesenjangan dan kemiskina n yang digunakan oleh pemerintah selama ini. Secara grafis. pendapatan nya. bila 40 persen penduduk berpenghasilan terendah mener ima lebih dari 17 persen bagian pendapatan. Namun. Bila rasio gini sama dengan nol berarti distribusi pen dapatan amat merata sekali karena setiap golongan penduduk menerima bagian penda patan yang sama. Strategi ini sejalan dengan amanat GBHN bahwa arah dan tujuan p embangunan nasional Indonesia harus dapat dimanfaatkan bagi peningkatan kesejaht eraan rakyat. 6.1. 69 . dan hasil-hasil yang dicapai harus dapat dinikmati secara merata o leh seluruh rakyat Indonesia. (b) sedang. Trend kesenjangan dan kemiskinan di Indonesia kiranya menarik untuk disimak lebih lanjut.1. strategi pembangunan yang diprioritaskan pada pemerataan hasilhasil pembangunan dimulai s ejak PELITA III. semakin tinggi nil ai rasio gini maka semakin timpang distribusi pendapatan suatu negara. Tujuan pembangunan tersebut erat kaitannya dengan upaya mengurangi kemiskinan dan kesenjangan pendapatan. bila 40 persen penduduk berpeng hasilan terendah menerima kurang dari 12 persen bagian pendapatan. (c) rendah. INDIKATOR KETIMPANGA N DAN KEMISKINAN 6. Kesenjangan distribusi pendapatan dikategorikan: (a) tinggi. bila rasio gini sama dengan satu menunjuk kan bahwa terjadi ketimpangan distribusi pendapatan yang sempurna karena seluruh pendapatan hanya dinikmati oleh satu orang saja.1. ini ditunjukkan oleh berimpitnya kurva Lorens de ngan garis kemerataan sempurna.BAB VI DISTRIBUSI PENDAPATAN DAN KEMISKINAN DI INDONESIA Di Indonesia.

Dikarenakan garis kemiskinan berdasarkan harga beras adalah Iebih rendah dibanding garis kemiskinan BPS maka persentase penduduk yang hidup di ba wah garis kemiskinan akan Iebih rendah setiap tahunnya. Untuk kebutuhan minimum makanan digunakan patokan 2. telah terjadi peningka tan batas garis kemiskinan. Ukuran Sajogyo tidak men unjukkan penurunan tingkat kemiskinan yang "mulus" seperti versi BPS dalam perio de sebelas tahun keseluruhan.7. ukuran Sajogyo memperlihatkan su atu penurunan substansial dalam insidensi kemiskinan. Selama periode 1976 sampai 1993. Garis Kemiskinan Model Prof Sayogyo Garis kemiskin an lain yang paling dikenal adalah garis kemiskinan Profesor Sajogyo.100 kalori per hari. dan tidak sec epat garis kemiskinan BPS. garis kemiskinan Sajog yo meningkat dengan laju yang Iebih lambat dari indeks-indeks ini. penurunan sangat cepat balk dalam ke miskinan perdesaan maupun perkotaan yang diperlihatkan oleh ukuran Sajogyo setel ah tahun 1980 sebagian karena peningkatan harga beras yang moderat (Booth. Kendati demikian. Indikator Kemiskinan Garis Kemiskinan BPS Batas garis kemiskinan yang dig unakan setiap negara ternyata berbeda-beda. Biro Pusat Statistik (BPS) menggunaka n batas miskin dari besarnya rupiah yang dibelanjakan per kapita sebulan untuk m emenuhi kebutuhan minimum makanan dan bukan makanan (BPS. 344). 1992: h. 1994). akan diperoleh persentase penduduk yang hidup di bawah gar is kemiskinan. balk untuk kawasan perdesa an maupun perkotaan. Dengan menerapkan garis kemi skinan ini ke dalam data Susenas (Survei Sosiai Ekonomi Nasional) dari tahun 197 6 sampai dengan 1987. Hal ini disebabkan karena adanya per bedaan lokasi dan standar kebutuhan hidup.1. Batas garis kemiskinan ini dibedakan antara da erah perkotaan dan perdesaan. 70 . Harga beras selama tahun 1980-an tidak meningkat secepat be rbagai indeks harga yang diterbitkan oleh BPS.2. Sajogyo mendefinisikan batas garis kemiskinan sebagai tingkat konsumsi per kapita setahun yang sama dengan beras. sandang. Adapun pengeluaran keb utuhan minimum bukan makanan meliputi pengeluaran untuk perumahan. yang disesuaikan dengan kenaikan harga barang-barang yang dikonsumsi oleh masyarakat. Akibatnya. yang dalam studi selama bertahun-tahun menggunakan suatu garis kemiskinan yang didasarkan atas harga beras. Dengan demikian. sert a aneka barang dan jasa.

Studi Gibbons. pengeluaran untuk beras dan biji-bijian sekitar 31 persen dari total pengeluaran. Dibandingkan dengan rasio gini di kota te rnyata rasio gini di daerah perdesaan lebih rendah. Hasil penelitian Arief dan Wong (1977) membuktikan bahwa di daerah perdesaan Jawa terjadi proses meningkatnya kepincangan pendapata n. bahkan dalam keluarga miskin. Oleh karena itu. pada tahun 1987 turun menjadi hanya 17.2. namun posisi mereka secara relatif lebih buruk dibanding petani kaya yang ja uh meningkat penghasilannya.Ukuran kemiskinan Sajogyo banyak dikritik karena: (1) mengandalkan pada satu har ga (baca: harga beras).2. (2) kendati beras tetap menjadi makanan pokok sebagian b esar penduduk Indonesia. Kalau pada tahun 1969/70. 6. seperti ditunjukkan oleh meningkatnya rasio gini dari 0.3048 pada tahun 1970 menjadi 0. Kendati demikian. 71 . Artinya.1. Kesenjangan Kota dan Desa Berbagai studi empiris menunjukkan modernisasi pertanian telah memperlebar kesenjangan d istribusi pendapatan.2).5 persen. meskipun laju pe nurunan kemiskinan lebih rendah dibanding versi BPS dan Sajogyo. Profesor Hendra Esmara mencoba mene tapkan suatu garis kemiskinan perdesaan dan perkotaan yang dipandang dart sudut pengeluaran aktual pada sekelompok barang dan jasa esensial seperti yang diungka pkan secara berturutturut dalam Susenas.3604 pada tahun 1976. ukuran kemiskinan Esmara ini meningkat lebih cepa t daripada ukuran BPS maupun Sajogyo. porsinya dalam anggaran keluarga. Ukuran Esmara mampu menangkap dampak in flasi maupun dampak penghasilan rill yang meningkat terhadap kuantitas barang-ba rang esensial yang dikonsumsi. et at (1980) menyimpulkan bahwa Revolusi Hi jau telah memperparah kepincangan distribusi pendapatan masyarakat karena meskip un petani kecil secara umum membaik kondisinya sebagai hasil modernisasi pertani an. keadaan distribusi pendapatan di daerah perdesaan relatif lebih merata dibanding di kota. dengan ukuran garis kemi skian Esmara ternyata terdapat penurunan persentase penduduk miskin secara perla han sejak tahun 1978 balk di daerah perkotaan maupun perdesaan. menurun secara cepat. Kendati demikian. data terbaru dari BPS (1994) m enunjukkan indikasi terjadinya penurunan kesenjangan distribusi pendapatan di de sa selama 1984-1993 (lihat Tabel 7. TREND DALAM DISTRIBUSI PENDAPATAN 6.

1992) telah menganalisis kesenjangan pendapatan dan konsumsi antardaerah denga n menggunakan indeks Williamson selama 1968-1993 dan 19831993. Ardani (1996 . Ketiga. 72 . Keadaan ini terja di hampir di seluruh propinsi selama periode 1984-1993. rasio gini di perkotaan dan perdesaan cenderung meningkat dari 0. kesenjangan regional adalah kesenjangan antara Katim in (Kawasan Timur Indonesia) dan Kabarin (Kawasan Barat Indonesia). Kesenjangan Regional Isu kesenjangan ekonomi antardaerah telah lama menja di bahan kajian para pakar ekonomi regional. kesenjangan ekonomi setidaknya dapat dilihat dari 3 dimensi.33 pada tahun 1984 menjadi 0. semakin banyak dijumpai sektor pertanian dan tradisi onal.2. ternyat a cukup bervariasi antar propinsi. Berdasarkan data dar i tahun 1950 hingga 1960. kesenjangan dari tingkat kemodernan. is menyimpulkan Indonesia merupakan negara dengan kate gori kesenjangan daerah yang rendah apabila sektor migas diabaikan. Apabila ketiga di mensi ini digabungkan maka akan diperoleh potret kesenjangan kemakmuran di Indon esia. Hendra Esmara (1975) merupakan pene liti pertama yang mengukur kesenjangan ekonomi antardaerah.34 pada tahun 1993 (BPS. Studi Ardani agaknya sejalan dengan den gan hasil studi Akita dan Lukman (1994). Kesimpulannya men dukung hipotesis Williamson (1965) bahwa pada tahap awal pembangunan ekonomi ter dapat kesenjangan kemakmuran antardaerah. Sektor modern umumnya berada di perkotaan d an sektor industri. yaitu: berdasarkan tingkat kemodernan. yaitu: semakin ke Kabarin maka semakin banyak dijumpai sektor modern dan i ndustri.2. yang menemukan tidak terdapatnya peruba han kesenjangan ekonomi antar daerah selama 1983-1990.2. Dalam konstelasi perkemba ngan terakhir di Indonesia. sedangkan sektor tradisional umumnya berada di perdesaan dan sektor tradisional. yaitu kesenjangan antara s ektor modern dan sektor tradisional. yaitu antara pribumi dengan nonpribumi.6. Pertama. dan etnis (Iihat Gamba r 7. dan semakin banyak pribumi yang mendominasi usaha bisnis. secara umum terjadi p eningkatan ketimpangan distribusi pendapatan di semua propinsi. Seb aliknya semakin ke Katimin. Kedua. regional. Sebagaimana ditunjukkan oleh Gambar 7. kese njangan menurut etnis.1). 1994). Rasio gini yang lebih kecil untuk perdesaan dibanding perkotaan menunjukkan bahwa distribusi pen dapatan Iebih merata di kawasan perdesaan dibanding perkotaan. dan semakin banyak golongan nonpribumi yang menguasai perekonomian. namun semakin maju pembangunan ekonomi kesenjangan tersebut semakin menyempit. Apabila digunaka n indikator rasio gini sebagai ukuran ketimpangan distribusi pendapatan. Secara nasional.

Gambar 7. dengan catatan terendah diraih oleh Jambi. ra sio gini daerah perkotaan berkisar antara 0.37. rentang rasio gini Iebih lebar antara 0. di daerah kota. dengan rekor terendah dipegang oleh propinsi NTT .33.30.20-0.Pada 1984. Peta Kesenjangan Kemakmuran di Indonesia 73 . Pada tahun 1993.24-0. dengan rekor terendah dipeg ang oleh Jambi dan Maluku.18-0.21-0. Pada tahun 1993. dengan catat an rasio gini terendah adalah propinsi SuIse'. angka rasio gini di daerah perdesaan berkisar 0. Sementara itu.1. rasio gini perde saan berkisar antara 0.42 pada tahun 1984.

6. 1992: h. Trend menurunnya tingkat kesenjangan distribusi pendapatan dengan data peng eluaran setelah tahun 1978. balk di kota maupun di desa. Peningkatan kesenjangan ini terutama akibat adanya pe rubahan distribusi pendapatan 74 . Namun data ini menunju kkan bahwa ketidakseimbangan pendapatan di desa Iebih tinggi daripada di kota. H al ini dapat mencerminkan pengeluaran konsumsi atau tabungan yang lebih tinggi d i daerah perdesaan. tetapi menurun setelah itu. Di kota. 52-53) menunjukkan bahwa ada peni ngkatan yang Iebih besar dalam kesenjangan di Jawa dibanding daerah manapun anta ra tahun 1970 sampai 1976. Hughes dan Islam (1981: h. dikonfirmasi dengan koe fisien gini dengan data pendapatan (Booth.2. balk untuk kota maupun desa di Indonesia. 335). koefisien gini meningkat sampai tahun 1978.3. Di desa. tetapi antara tahun 1978 dan 1984 tampak adanya trend yang menur un. Kesenjangan Interpersonal BPS menggunakan data biaya konsumsi per kapita untuk memperkirakan koefisien gini. koefisien gini menunjukkan perubahan yang sangat kecil pada tahun 1964/19 65 sampai 1978.

Begitupu n setelah tahun 1980.pada golongan berpenghasilan tinggi.3). D i luar Jawa kesenjangan lebih rendah dibandingkan di luar Jawa. kes enjangan sebenarnya meningkat antara tahun 1980 hingga tahun 1984. Derajat perbedaan penghasilan dalam setia p kelas ini.2. yang dapat ditafsirkan bahwa yang kaya sema kin kaya. yang mengindikasikan adanya perubahan dalam golongan pendapatan yang paling rendah. Di Jawa Barat. penghasilan pekerja yang berkualifikasi tinggi meningkat diband ingkan dengan rata-rata nasional. Di daerah perdesaan Jawa ternyata terjadi penurunan ketimpangan. karena permintaan akan tenaga kerja ini melebi hi penawarannya. Namun akhir tahun 1970-an dan awal 1980-an nampak bahwa perbedaan antara para pekerja profesional berpendidik an teknik dan lainnya mulai menyempit. bagaimana pengha silan para profesional.4. 6. manajer dan pegawai negeri dibandingkan dengan pendapata n rata-rata? Bagaimana penghasilan para pekerja yang berpendidikan tinggi diband ingkan dengan pekerja yang berpendidikan rendah? Seperti diketahui bahwa di Indo nesia pendidikan merupakan ukuran yang penting dalam menentukan pendapatan. Beberapa survei yang dilakukan akhir 1960-an dan 1970-an. Penurunan disebutkan terjadi di Jakarta dan Jawa Timur. seperti yang diukur dengan koefisien gini juga menurun dalam period e ini (lihat Tabel 7. Hal ini diakibatkan karena akses terhadap pekerjaan dengan gaji tinggi balk di sekto r pemerintahan maupun swasta tergantung dari tingginya tingkat pendidikan. Peningkatan persentase terbesar dalam kes enjangan personal yang diukur oleh koefisien gini tidak terjadi di Jakarta tapi terjadi di Jawa Barat. Perbedaan in i melebar pada tahun 1970-an di hampir semua kota. ketika penurunan kesenjangan terjadi di kota-kota di Indon esia. Selam a tahun 1970-an. 1992: h.336). Penurunan yang cepat dalam perbedaan berdasarkan status pendidikan tidak diragukan lag i karena pertumbuhan dalam suplai para pekerja b erpendidikan dan penurunan dalam permintaan akibat pertumbuhan yang Iebih lambat setelah tahun 1981. TREND DALAM INDIKATOR KEMISKINAN : 1969-1993 75 . 6. menge stimasi perbedaan antara penghasilan rumah tangga di mana kepala keluarga sebaga i peg awal negeri dibandingkan rata-rata penghasilan kelompok lain. sementara pen urunan sedikit tampaknya terjadi di Jawa Tengah dan Yogyakarta.3. dan penurunan ke senjangan di desa relatif lebih besar. Kesenjang an Antar Kelompok Sosial Ekonomi Pertanyaan yang muncul adalah. Jawa Tengah dan Yogyakarta (Booth.

6. Kedua. dan meto de persepsi lapangan (PL). Meskipun demikian. yaitu: metode standar deviasi (SD). 1992). Status desa menurut metode SD dan R di tentukan berdasarkan hasil kuesioner yang menanyakan 27 variabel di perdesaan da n 25 variabel di perkotaan. Perkembangan Jumlah dan Persentase Penduduk Miskin Menurut BP S. metode range (R). 6. Hal ini merefleksikan fakta bahwa harga bahan makanan pokok. sehingga di tahun 1987 garis kemiskin an perkotaan hampir 70 persen Iebih tinggi dibanding kawasan perdesaan. ada suatu penurunan yang berkesinambungan dalam persentase populasi yang hidu p di bawah garis kemiskinan.2. BPS.3. Pertama. Kendati demikian.Awal tahun 1970-an banyak pembahasan di Indonesia tentang trend kemiskinan. 76 . populasi perkotaan berkembang Iebih ce pat dibanding populasi perdesaan. Suatu desa disebut miskin bila paling sedikit dua dar i tiga metode tersebut menyatakan miskin. perkiraan garis kemiskina n yang diajukan BPS mendapat keunggulan sebagai angka resmi yang digunakan oleh pemerintah. J umlah dan Persentase Desa Miskin BPS (1994) menggunakan tiga metode dalam menent ukan desa miskin.3. Kala ngan perguruan tinggi. Ada 3 kelompok pertanyaan dalam kuesioner tersebut. yang masing-masing menggunakan konsep garis kemiskinan yang berbedabeda dan hasil yang diperoleh juga berbeda. garis kemiskinan perdesaan ya ng ditetapkan oleh BPS dalam kenyataan bertambah Iebih lambat antara tahun 1981 dan 1987 dibanding indeks harga perdesaan yang digunakan. Hal penting lainnya men genai garis kemiskian BPS adalah berhubungan dengan trend dalam insidensi kemisk inan perdesaan dan perkotaan. khususnya beras. di Indo nesia sejak tahun 1976. yaitu: kelompok potensi/fasilitas sosial ekonomi desa. meningkat kurang cepat s ejak tahun 1981 dibandingkan dengan harga-harga lainnya. dan Bank Dunia membuat perkiraan trend dalam kemiski nan. balk di kawasan perdesaan maupun perkotaan. ketidakseimbangan dalam kawasan pe rdesaan menurun antara tahun 1981 dan 1987. Terdapat dua alasan ut ama mengapa penurunan jumlah penduduk miskin dan tingkat kemiskinan yang berkesi nambungan cukup cepat (Booth. Alasan lain adalah persentase populasi kaum miskin yang tinggal di kawasan perkotaan menurut BPS dalam kenyataan meningkat lebih cepat dari gar is kemiskinan perdesaann sejak tahun 1967. sehingga penurunan dalam jumlah absolut kemisk inan jauh Iebih lambat dari total kaum miskin tahun 1987.1. Suatu alasan terhadap peningkatan pangsa kaum misk in perkotaan dalam kemiskinan total di Indonesia yaitu populasi perkotaan mening kat lebih cepat.

kelompok perumahan dan Iingkungan, dan kelompok kependudukan. Variabel yang digu nakan untuk mengukur masing-masing variabel lihat Tabel 7.4. Jawaban atas seluru h pertanyaan masing-masing diberi skor (tinggi, sedang, rendah) menurut pentingn ya variabel tersebut. Dengan metode SD, jumlah skor tiap desa dibandingkan denga n rata-rata skor tingkat propinsi untuk menentukan apakah desa tersebut miskin. Dengan metode R, skor tiap desa dibandingkan dengan range untuk menentukan apaka h desa tersebut miskin. Metode PL menggunakan kuesioner khusus guna menghimpun p endapat Camat tentang status desa-desa di wilayahnya. Suatu desa diklasifikasika n miskin atau tidak tergantung dari pendapat Camat mengenai keadaan potensi/fasi litas sosial ekonomi desa, perumahan/lingkungan, dan kependudukan. Tentu saja pe rsepsi Camat ini akan dievaluasi oleh petugas pencacah (mantri statistik). Denga n demikian, paling sedikit 2 dari 3 metode tersebut harus menyatakan miskin untu k mengklasifikasikan suatu desa sebagai desa miskin. Pada tahun 1993, sebagaiman a ditunjukkan oleh Label 7.5, jumlah desa miskin di Indonesia sebanyak 20.633, a tau sekitar 31,5 persen dari seluruh desa yang ada (65.554). Dari jumlah tersebu t, 1.008 berada di perkotaan, atau 14,7 persen dari seluruh desa perkotaan. Juml ah desa miskin di perdesaan sebanyak 19.625, atau sekitar 33,4 persen dari selur uh desa perdesaan. Jumlah desa miskin terbanyak berada di Sumatra (33 persen), d iikuti Pulau Jawa (30 persen), Maluku (12 persen), Kalimantan (11 persen), Sulaw esi (9 persen), dan Irian Jaya (5 persen). 6.3.3. Distribusi Regional Kemiskinan Berdasarkan perkiraan Bank Dunia dengan mempergunakan data dari Susenas tahun 1 976, bahwa lebih dari 70 persen orang yang miskin berlokasi di Jawa. Akan tetapi di tahun 1976 distribusi regional kemiskinan mengalami perubahan secara dramati s: hanya 46 persen di perdesaan luar Jawa. Ada penurunan secara drastis proporsi penduduk miskin yang berlokasi di daerah perkotaan maupun perdesaan di Jawa yan g diikuti dengan kenaikan kemiskinan di perdesaan luar Jawa. Secara absolut juml ah penduduk yang berada di bawah garis kemiskinan di luar Jawa mengalami penurun an namun secara relatif mengalami peningkatan. Hal ini disebabkan oleh perpindah an penduduk dari Jawa keluar Pulau Jawa yang disebabkan menurunnya kesuburan tan ah di Jawa. Pada dasawarsa 1990-an, sebagaimana ditunjukkan oleh Tabel 7.6, terl ihat adanya trend penurunan jumlah absolut dan persentase penduduk miskin secara regional. Pada tahun 1993, jumlah penduduk miskin sebanyak 25,9 juta dengan per sentase penduduk miskin 13,67 persen; ternyata pada tahun 1996 turun menjadi 77

22,5 juta dan persentase penduduk miskin 11,34 persen. Dengan kata lain, selama 1993-1997 jumlah penduduk miskin turun secara absolut sebesar 3,4 juta, atau ber arti menurun 13,15 persen. Ternyata distribusi regional penduduk miskin tidak sa ma persis dengan distribusi regional desa miskin (Iihat kembali Tabel 7.5). Juml ah penduduk miskin terbanyak terdapat di Jawa dan Bali, namun tingkat kemiskinan yang ditunjukkan oleh persentase penduduk miskin paling banyak berada di Nusa T enggara, Maluku, dan Irian Jaya. Tabel 7.6. Jumlah penduduk miskin menurut propi nsi, 1993-1996 1 2 3 4 5 6 7 8 9 DI Aceh 496,7 13,46 13,47 11,20 13,38 13,11 11, 64 12,87 5,65 425,6 384,6 322,0 222,8 794,9 137,2 724,9 4246,1 231,3 10,78 10,91 8,76 7,94 9,06 10,72 9,37 10,65 10,15 2,48 9,87 13,91 10,42 11,86 4,30 21,99 11 ,24 14,33 9,24 15,53 10,60 71,1 97,5 181,6 88,8 76,5 229,0 35,9 u7.o 807,4 265,8 650,2 461,4 39,7 377,2 144,6 54,0 132,2 93,5 70,4 350,0 20,1 14,32 7,32 32,07 2 1,62 25,57 22,37 20,72 3,59 15,98 53,47 14,10 9,99 11,56 8,53 53,52 13,13 6,18 4 1,10 18,05 23,86 17,43 6,59 Sumatera Utara1,331,6 Sumatera Barat 566,1 Riau Jamb i Bengkulu Lampung Sumatra DKI Jakarta 10 Jawa Barat 410,9 299,4 173,1 751,8 5.0 53,6 497,1 4.612,4 12,32 1.234,2 Sumatera Selatan1.023,9 14,89 12,20 3.962,1 15,78 4.157,3 11,77 9,46 25,05 303,8 125,6 820,5 189,4 424,3 224,4 13,25 4.046,5 12,84 12.826,6 11 Jawa Tengah 4.618,7 12 â ¢ DI Yogyakarta 343,5 13 Jawa Timur 14 Bali Jawa - Bali 4. 423,7 270,2 14.765,6 10,75 1.939,0 15 Kalimantan Barat874,5 16 Kalimantan Tengah321,6 20,85 17 Kalimantan Selatan517,8 18,62 18 Kalimantan T imur294,9 Kalimantan 2.008,8 13,75 _________________________________________________________________ 20,17 1.658,7 284,6 19 Sulawesi Utara 304,7 11,79 6.4. TREND KEMAKMURAN Isu tentang trend kemiskinan menerima perhatian yang lebih banyak di negara berk embang dibandingkan trend kemakmuran, seperti Indonesia di mana proporsi 78

penduduk yang berada di bawah garis kemiskinan telah menurun dalam dekade belaka ngan ini dan meningkatnya bagian dari penduduk di atas garis kemakmuran (affluen ce line). Booth (1992: h. 359-60) mencoba mengembangkan suatu metodologi untuk m enghitung berapa jumlah penduduk yang hidup di atas garis kemakmuran, yaitu ting kat pengeluaran yang dinikmati oleh sekitar 4 persen penduduk pada tahun 1969/19 70 dan meningkat terus, dan dihitung kira-kira 4 kali garis kemiskinan. Dengan c ara itu, dapat diestimasi jumlah penduduk yang hidup di atas garis kemakmuran un tuk Jawa dan Luar Jawa sebagaimana ditunjukkan dalam Tabel 7.7. Jumlah orang Ind onesia yang hidup di atas garis kekayaan meningkat dari 5,61 juta tahun 1969/197 0 menjadi 28,65 juta tahun 1987. Lebih dari separuh kenaikan tersebut terjadi pa da kota-kota di Jawa. Dengan kata lain, proporsi penduduk yang hidup di atas gar is kemakmuran ada di daerah perkotaan Jawa. Harus diakui terjadi pertumbuhan yan g berarti dalam catatan kemakmuran. Adapun di daerah perdesaan Jawa dan perkotaa n di luar Jawa, juga terjadi peningkatan kemakmuran, akan tetapi peningkatannya relatif kecil. Perubahan yang terjadi pada distribusi regional kemiskinan dan ke makmuran merupakan hal yang menarik untuk dapat menerangkan mobilitas antara kel as di dalam suatu daerah. Mobilitas dari kelompok miskin lebih cepat menjadi kel ompok menengah daripada kelompok menengah menjadi kelompok kemakmuran. Adapun un tuk masyarakat yang kaya, untuk lebih kaya lagi, kejadiannya sangat jarang. Dika renakan berkurangnya kemiskinan dan meningkatnya jumlah orang kaya di daerah per kotaan di Jawa lebih cepat dibandingkan daerah lain, maka kemungkinan terjadinya perpindahan dari kemiskinan ke kelas menengah dan dari menengah ke kelas atas a kan lebih besar terjadi di daerah perkotaan di Jawa. BACAAN YANG DIANJURKAN Arda ni, Amiruddin, Regional Development in Indonesia: Issues and Challenges, Discuss ion Paper No. 36, Nagoya University, Nagoya, July 1996. ........, Analysis of Re gional Growth and Disparity: The Impact Analysis of the Inpres Project on Indoneâ an Development, disertasi Ph.D, University of Pennsylvania, Philadelphia, 1992, tidak dipublikasikan. Biro Pusat Statistik, Laporan Perekonomian Indonesia 1993, Seri 04 Nomor 03, Jakarta, Maret 1994. 79

si

Profil Indonesia.Booth. Didi k J. Bulletin of Indonesia Economic Studies. 321-362. Hill. h. h. 13 Agustus 1996 80 . 1 994. Hananto. Hal. "Regional In come Distributies". 4157. jurnal tahunan CIDES. 213-222. Anne. 1975 . PAU Studi Ekonomi dan PT Tiara Wacana. "Kemiskinan di Indonesia". Esmara. makalah dalam Seminar Mencari Paradigma baru Pembangunan Indonesia. Hendra. "Kemiskinan dan Ketimpangan Pembagian Pendapata n dalam Pembangunan Ekonomi Indonesia". "Income Distribution and Poverty" dalam Anne Booth (ed. 1. no. Tranformasi Ekonomi Indonesia Sejak 1966: Sebuah Studi Kritis dan K omprehensif. Jakarta. 11(1). bab 10. Mubyarto. 1996.). CSIS dan Bank Dunia. Sigit. The Oil B oom and After: Indonesian Economic Policy and Performance in the Soeharto Era. h. O xfor University Press. 1992. Singapura.

Manusia ditempatkan sebagai po sisi instrumen dan bukan merupakan subyek dari pembangunan. Masalah yang selalu mu ncul dalam setiap diskusi mengenai pembangunan manusia adalah masalah kependuduk an. 199 6: h. strategi pembangunan yang dianggap paling sesuai adalah akselerasi pertumbuhan ekonomi dengan mengundang modal acing dan melakukan industrialisasi. Knowledge is our most powerful engin e of production. modal fisik bisa saja mengalami diminishing returns. pengangguran.. Bab ini akan mengkaji bagaimana peningkatan kualitas manusia sebagai agen produktif haru s menjadi tujuan utama dari setiap kebijakan pembangunan. PARADIGMA PEMBANGUNAN BERWAWASAN MAN USIA Dalam praktek pembangunan di banyak negara. Penekanan pada investasi manusia diyakini merupakan basis dalam meni ngkatkan produktivitas faktor produksi secara total. Alf red Marshall pernah mengatakan: "although nature is subject to diminishing retur ns.BAB VII MASALAH PEMBANGUNAN MANUSIA : KEPENDUDUKAN. peningkatan kualitas SDM diarahkan dalam rangka peningkatan produksi. wanita. Oleh karena itu. PENGANGGURAN DAN MIGRASI Sej arah mencatat bahwa negara yang menerapkan paradigma pembangunan berdimensi manu sia telah mampu berkembang meskipun tidak memiliki kekayaan sumberdaya alam yang berlimpah. 7.1. pada dasarnya kata kunci dalam pembangunan adalah pembentukan modal. Bisa dipahami apabila topik pembicaraan dalam perspektif paradigms pembangunan yang semacam itu terbatas pada masalah pendidikan. Titik berat pada nil ai produksi dan produktivitas telah mereduksi manusia sebagai penghamba maksimis asi kepuasan maupun maksimisasi keuntungan. dan sebagainya. namun ilmu pengetahuan tidak. Peranan sumberdaya manusia (SDM) dalam strategi semacam ini hanyalah sebagai "i nstrumen" atau salah satu "faktor produksi" saja. umumnya berfokus pada peningkatan produksi. dan migrasi. Konsekuensinya.. 28-29). Meskipun banyak varian pemi kiran. link and match. 81 . tenaga kerja. lnilah yang disebut sebagai pe ngembangan SDM dalam kerangka production centered development (Tjokrowinoto. Tanah. peningkatan kete rampilan. kesehatan. it enables us to subdue nature and satisfy our wants". setidaknya pada tahap awal pemb angunan. man is subject to increasing returns.

pertumbuhan penduduk yang tinggi akan m empersulit pilihan antara meningkatkan konsumsi saat ini dan investasi yang dibu tuhkan untuk membuat konsumsi di masa mendatang.1.2. lebih dari 93 juta orang menambah jumlah pendud uk dunia yang telah sebanyak 5. yang pada gilirannya membuat inve stasi dalam "kualitas manusia" semakin sulit. Penempatan manusia sebagai subyek pembangunan menekankan pada pentingnya pemberdayaan (empowerment) manusia.2. dengan penurunan angka kelahiran yang cepat ternyata dapat men ingkatkan tabungan sebanyak 50 persen lebih 82 . cadangan devisa. Kendati demikian. Dimensi pembangunan yang semacam ini jelas lebih luas daripada sekadar membentuk manusia profesional dan terampil sehingga bermanfaat dalam proses produksi. Fakta menunjukkan bahwa aspek kunc i dalam pembangunan adalah penduduk yang semakin terampil dan berpendidikan. Isu G lobal Kependudukan Setiap tahun. Rendahnya sumberdaya per kapita akan menyebabkan penduduk tumbuh Iebih cepat. misalnya. Fakta ini jelas belum pernah terjadi dalam sejarah dunia. Artinya. namun juga semakin membuat kendala bag i pengembangan tabungan. MASALAH KEPENDUDUKAN 7. tapi juga terkait erat dengan masalah kesejahteraan man usia. manusia (rakyat) merupakan tuj uan utama dari pembangunan. Oleh karena itu pertanyaan mendasar yang diajukan oleh banyak pakar pemban gunan adalah: Apakah kondisi kependudukan saat ini di negaraâ negara Dunia Ketiga mem berikan kontribusi ataukah menghambat tercapainya tujuan pembangunan. 7. Lebih dari 82 juta dari tambahan o rang ini setiap tahun lahir di negara Dunia Ketiga. masalah pertumbuhan penduduk tid ak hanya masalah jumlah. apakah p embangunan mempengaruhi pertumbuhan penduduk? Di kalangan para pakar pembangunan terdapat konsensus bahwa laju pertumbuhan penduduk yang tinggi tidak hanya berd ampak buruk terhadap suplai bahan pangan. Di Malawi. Pertama. dan sumberdaya manusia (Meier.5 milyar jiwa. yaitu: kemampuan manusia un tuk mengaktualisasikan segala potensinya. 1995: h .Kualitas manusia yang meningkat merupakan prasyarat utama dalam proses produksi dan memenuhi tuntutan masyarakat industrial. dan kehendak serta kapasitas manusia merupakan sumbe rdaya yang paling penting.276-281). Alternatif lain dari strategi pemba ngunan manusia adalah apa yang disebut sebagai peopleâ centered development atau putt ing people first (Korten. 201). 1981: h. tidak hany a bagi generasi sekarang tapi juga bagi generasi mendatang? Sebaliknya. Setidaknya terdapat 3 alasan mengapa pertumbuhan penduduk yang tinggi akan memperlambat pembangunan.

negaranegara Islam di Timur Tengah. Penurunan angka kelahiran umumnya jugs terjadi di negara-negara Asia Timur dan Amerika Latin. Ketiga. Dudley Kirk (1971: h. besar kemungkinan berlanjutnya tingkat pendapatan yang ren dah bagi banyak keluarga. yang pada gilirannya mengancam kesejahteraan penduduk miskin. Tingginya tingkat kelahiran merupakan penyumbang utama bagi p ertumbuhan kota yang cepat. maka laju penurunan tersebut lebih cepat dibanding yang terjadi di Eropa . 70 persen angkatan kerja diperkirakan masih bekerja di sektor pe rtanian sampai dengan 2025. Padahal sampai deng an akhir Perang Dunia II boleh 83 . Dal am konteks ini. pertumbuhan penduduk mengancam keseimbanga n antara sumberdaya alam yang Iangka dan penduduk. Kedua. dan jumlah pekerjanya akan dua kali lipat dari jumla h saat ini. Yang jelas telah terjadi penurunan angka kelahiran yang amat drastis di Cina. telah s emakin banyak negara yang memasuki transisi demografi dalam sisi kelahiran (nata lity) terutama sejak 1970. Faktor utama di batik penurunan angka ke lahiran adalah keberhasilan program keluarga berencana (KB). Hasilnya. Di Kenya. dan di banyak kasus menimbulkan tekanan terhadap siste m pertanian tradisional dan kerusakan Iingkungan. ukuran kelahiran yang telah disempurnakan dengan m elakukan stadardisasi dalam perbedaan struktur umur telah mengakibatkan hasil ya ng sama dengan tingkat kelahiran kasar. N amun. trend ini tidak terjadi untuk negara-negara Afrika. India. Kelima. Kedua. tidak ada bukti langsung bahwa p enurunan angka kelahiran akan berakhir dalam tingkat yang lebih tinggi dibanding yang terjadi di negaraâ negara Eropa dan Jepang. Pakistan. Sebagian karena pertumbuhan p enduduk memperlambat perpindahan penduduk dari sektor pertanian yang rendah prod uktivitasnya ke sektor pertanian modern dan pekerjaan modern Iainnya. begitu penurunan kelahiran mulai dapat diperta hankan. 145-46). Ketiga. dan Bangladesh.tinggi karena jumlah anak yang memasuki sekolah sampai tahun 2015 meningkat deng an laju yang Iebih lambat. menambahkan fakta sebagai berikut: Pertama. Bermekarannya kota-kota di NSB membawa masalah-masal ah baru dalam menata maupun mempertahankan tingkat kesejahteraan warga kota. dan Indonesia. Keempat. sebagai contoh. di banyak negara di mana penduduknya masih ama t tergantung dengan sektor pertanian. pertumbuhan penduduk yang cepat membuat semakin sulit melakukan perubahan yang dibutuhkan untuk meningkatkan perubahan e konomi dan sosial. berdasarkan pengamatannya di bany ak negara sedang berkembang. negaraâ negara "baru" dapat menurunkan kelahiran dengan amat cepat meskipun awalnya tingkat kelahirannya lebih tinggi dibanding yang pernah tercatat dalam sejarah Eropa Barat.

Sejarah mencatat proses penurunan angka kelahiran dan k ematian di negara maju berjalan sekitar 2 abad. Struktur penduduk Indonesia diperkirakan akan semakin menua. 2. Pengamatan Nortman (1982) te rhadap 134 NSB mencatat bahwa ada 39 negara yang mempunyai program resmi untuk m enurunkan laju pertambahan penduduk. Laju pertumbuhan penduduk Indonesia per tahun diperkirakan selama 20002005 menca pai hampir setengah angka dalam periode 1980-1990. dan 62 negara ti dak mendukung aktivitas KB. Kecepatan penurunan angka kelahi ran dan kematian di NSB besar kemungkinan akibat adopsi teknologi dari negara ma ju dalam upaya mengubah kondisi demografinya. yaitu: turun dari 2. Trend Perubahan Kependudukan di Indone sia Berbeda dengan negara maju.1 perse n selama 1961-1971 dan 2. 33 negara mendukung program KB bagi kesehat an ibu dan anak namun bukan untuk menekan pertumbuhan penduduk. dan 254 juta pada 2020. Pertanyaan yang sering muncul adalah: apa faktor-faktor di batik kisah sukses program KB di Indonesia? Singarimbun (1996: bab 1-4) mengidentifikasi faktor pe nopang keberhasilan KB adalah: (1) prioritas yang tinggi dan keterlibatan pemeri ntah yang besar untuk kesuksesan program itu.2.dikata belum ada negara yang menerapkan program KB. Persentase penduduk tua di Indonesia pada 1990 sebesar 6. 12.2 persen.1 persen menjadi 1. yaitu dari norma keluarga besar menjadi norma keluarga kecil. Ananta dan Anwar (1997: h.2. menjadi 223 juta pada 2005. Meskipun demikian. di negara sedang berkembang seperti Indonesia.3 persen dan diperk irakan akan meningkat menjadi 11.98 persen pada 19801990. 84 . p enurunan angka kelahiran dan kematian berlangsung dalam waktu yang relatif singk at. jumlah penduduk terus meningkat dari 179 juta pada 1990. dalam arti persenta se dan jumlah penduduk tua (dengan batas umur 60 tahun atau Iebih) terus meningk at. Penurunan jumlah penduduk dari 2.3 persen pada 2020. Indonesia memulai program KB pada1968 dan secara res mi dimasukkan dalam Pelita I pada 1969. banyak dikaitkan dengan kisah sukses KB di Indonesia yang diakui oleh duni a. (2) adanya perubahan nilai mengena i anak.32 persen pada 1971-1980 menjadi 1. 144-47) telah mencoba mengidentifikasi beberapa aspek perubahan demografis di Indonesia yang diperkirakan akan berdampak luas pada berbagai aspek perencanaan pembangun an hingga 2005 sebagai berikut: 1. (3) manaje men program yang balk lewat koordinasi antardepartemen oleh BKKBN (Badan Koordin asi Keluarga Berencana Nasional). sekitar 25-30 tahun.

Ini terjadi akibat menurunny a angka kelahiran. Penduduk Indonesia akan semakin berpendidikan. Surv ei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) tahun 1995 mencatat bahwa rataâ rata 14 persen p enduduk pria dan 13 persen penduduk wanita mengaku mendapat keluhan kesehatan ya ng mengganggu kegiatan sehariâ hari. 6.35 persen. Laju pertumbuhan kese mpatan kerja selama 1989-1992 rataâ rata hanya sebesar 2. Pada 2020 jumlah kelompok usia pencari kerja pertama kali (15-24 tahun) dengan pendidikan minimal SLTP akan men ingkat dua kali lipat atau 35 juta orang dibanding 1990. yang berarti setiap kenaikan PDB sebesar 1 persen akan menciptakan kesempatan kerja hanya sebesar 0. dan majunya perekonomian sehingga me mbuat perempuan semakin berpeluang memasuki pasar kerja. dalam arti mudah terkena penyakit. Penduduk Indonesia akan semakin mobil (mobilitas dalam jangka pendek). MASALAH PENGANGGURAN Sejarah mencatat bahwa pembangunan ekonomi di negara-n egara Eropa Barat dan Amerika Utara sering dideskripsikan sebagai transfer manus ia dan aktivitas ekonomi 85 .23).24 persen (BPS. Jangkauan mobilitas tidak hanya antarwilayah di Indones ia. Penurunan angka pertumbuhan kesempatan kerja (employment). diperkirakan akan terjadi ledakan pendidikan hingga akhir PJPT II. Pada 1990 sekitar 30. Tabel 7. 4.5). yang diikuti oleh sektor industri (0. yang tida k dengan tujuan menetap. Menurut catatan OeyGardiner (1997 ). bahkan juga wilayah dunia. 1.35) .3. dan paling rendah sektor pertanian (0. dan diproyeksikan mencapai hampir 60 persen pada 2020.16 persen. sektor yang paling tinggi elastisitas kesempata n kerjanya adalah sektor lainnya (0. Persentase penduduk yang tinggal di perkotaan (angka urbanisasi) akan terus meni ngkat. 7. 5. Penduduk Indonesia dapat semakin rentan.1 memperlihatkan secara sektoral.35. Dari kedua angka itu dapat dihitung besarnya elastisitas kesempat an kerja selama 1989-1992 sebesar 0. me ningkat menjadi 46 persen pada 2005.3. S ementara penduduk berpendidikan SLTA diperkirakan akan meningkat hampir lima kal i lipat dari 15 juta pada 1990 menjadi 71 juta pada 2020.55-56). sementara rataâ rata aju pertumbuhan PDB per tahun pada periode yang sama sebesar 6. Penduduk yang berpendi dikan tinggi (pendidikan nongelar dan gelar) akan membengkak dari 2 juta orang p ada 1990 menjadi 18 juta orang. 5. Peningkatan persentase perempuan dalam pasar kerja. meningkatnya pendidikan.9 persen penduduk Indonesia tinggal di perkotaan. 1 994: h.

baik yang mencari pekerjaan pertama kali maupun yang pernah bekerja sebelumnya. lni diakibatka n karena adanya keterbatasan kesempatan kerja di kota. 86 . dan meningkatnya pengangguran da n underemployment di daerah perkotaan dan perdesaan. penganggur didominasi kaum muda dengan usia antara 1519 tahun (13 persen) dan 20-24 tahun (14 persen). karakteristik pengangguran di Indonesia adalah: â ¢ Kendati tingkat pengangguran terbuka tergolong rendah (4. Dewasa ini. Bila dirinci lebih lanj ut. Sayangnya. banyak NSB dihadapkan pada kondisi unik dari kombinasi permasalahan pergerakan penduduk dari desa ke kota dalam ju mlah besar. stagnannya produktivitas pertanian. atau berarti bekerja kurang dari 35 jam dalam seminggu) namun masih mau menerima pekerjaan. Pekerja digolongkan sete ngah pengangguran parch (severe underemployment) bila is termasuk setengah menga nggur dengan jam kerja kurang dari 25 jam seminggu. Tingkat pengangguran terb uka di perkotaan 3 kali lebih tinggi glibanding daerah perdesaan. serta mereka yan g tidak mencari pekerjaan namun mau menerima pekerjaan. Pengangguran terbuka (open unemployment) didasarkan pada konsep seluruh angkatan kerja yang mencari pekerjaan. (2) kemajuan teknologi yang bersifat men ghemat tenaga kerja (labor saving) di sektor pertanian sehingga menurunkan kebut uhan angkatan kerja di daerah perdesaan (Todaro. yang pada gilirannya meny ebabkan persaingan merebut lapangan kerja semakin ketat. banyak pakar pembangunan menyimpulkan bahwa pembangunan ekonomi di negara Dunia Ketiga perlu menitikberatkan pada promosi pertumbuhan sektor indust ri perkotaan yang cepat.secara terus menerus dari daerah perdesaan ke daerah perkotaan. Sebagaimana halnya NSB lainn ya. Mereka cenderung melihat perkotaan sebagai pusat-pusat pertumbuhan. Ini dimungkinkan karena kombinasi dua faktor. Sedang pek erja yang digolongkan setengah pengangguran (underemployment) adalah pekerja yan g masih mencari pekerjaan penuh atau sambilan dan mereka yang bekerja dengan jam kerja rendah (di bawah sepertiga jam kerja normal. yaitu: (1) ekspansi industri perkotaan yang menimb ulkan penciptaan kesempatan kerja baru.4 persen dari total ang katan kerja). 1995: bab 7). Bagaimana dengan kondisi pe ngangguran dan underemployment di Indonesia? Sebelumnya perlu diketahui terlebih dahulu definisi pengangguran terbuka dan setengah pengangguran di Indonesia yan g digunakan oleh Biro Pusat Statistik. pengangguran terbuka merupakan fenomena perkotaan. Atas dasar pengal aman itulah. strategi industrialisasi yang cepat di banyak kasus gaga ) membawa dampak yang diinginkan. Kedua kelompok usia ini hampir mencapai 70 persen dari pengangguran total.

16 persen pekerja dengan jam kerja kur ang dari 25 jam seminggu. P2W sebagai Wanita dan Pembangunan Menurut perspektif Women and Development yang dipelopori oleh kaum feminisMarxist ini.5 memper lihatkan bahwa pada tahun 1991 terdapat 9.â ¢ Tingkat pengangguran tertinggi menurut tingkat pendidikan dialami oleh lulusan S MAdan perguruan tinggI. P2W sebagal Gender dan Pembangunan 87 . Asumsinya. Tabel 7. hak-hak politik dan kewa rganegaraan. Data dari Bank Dunia (1988) menunjukkan bahwa sekitar 45 persen pekerja perdesaan berada dalam kondisi setengah menganggur. MASALAH WANITA Dalam skala global.3 persen. tanpa banyak mempersoalkan sumber-sumber yang menyebabkan mengapa p osisi wanita dalam masyarakat bersifat inferior. P2W sebagai Wanita dalam Pembangunan Perspektif P2W dalam konteks Women in Devel opment memfokuskan pada .23 persen 7. kedudukan. Perbedaan mencolok terjadi pada para pekerja dengan jam kerja kurang dari 25 jam seminggu. sekunder. dalam anti status. akses terhadap pendidikan.8 persen dari jumlah angkatan kerja.9 persen dan 14. dikenal tiga pergeseran interpretasi pen ingkatan peran wanita (P2W) sebagai berikut (Tjokrowinoto.98 persen dan di daerah perdesaan sebesar 26. sementara pada 1992 angkanya untuk daerah perkotaa n meningkat menjadi 9. yang berarti jauh lebih rendah daripada daerah perdesa an yang mencapai 24. dan perana nnya. wanita selalu menjadi pelaku penting d alam masyarakat sehingga posisi wanita.4. bagaimana mengintegrasikan wanita dalam berbagai bidan g kehidupan. dan sebagainya. Indikator integrasi wanita dalam pembangunan diukur dengan indikator seperti partisipasi angkatan kerja. dan dalam hubungan su bordinasi terhadap pria. 1996) 1. yang berarti lebih tinggi daripada pekerja perkotaan (21 persen). yang masingâ masing sebesar 16. struktur sosial yang ada dipandang sudah giv en. As umsinya. 3. wanita telah dan selalu menjadi bagian dari pembangunan nasional. 2. akan menjadi lebih baik bila struktur internasional menjadi lebih adil.

mas ih ada kesenjangan antara partisipasi angkatan kerja pria dan wanita. komposi si jenis pekerjaan mana yang menyumbangkan kenaikan total tadi. Berkaitan dengan P2W. sejak GBHN 1978 telah mengamanatkan keiku tsertaan (integrasi) wanita dalam pembangunan nasional. Tingkat Partisipasi Angkatan Ke rja H 1988 1993 1998 .6 61. Tabel 7. O leh karena itu menjadi suatu hal yang menarik meneliti di batik fenomena ini. lni 88 . konstruksi sosial yang membentuk persep si dan harapan serta mengatur hubungan antara pria dan wanita sering merupakan p enyebab rendahnya kedudukan dan status wanita. Semenjak itu berbagai ke bijakan dan program telah dirumuskan untuk lebih membuka partisipasi wanita dala m pembangunan. Ditinjau dari status pekerjaan utama.6 berikut ini. Kendati demikian.27 dan pria 98.2 LAKPLAKI 62. Salah satu indikator integrasi wanita dalam pembangunan adala h Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) wanita. Me skipun kuantitas kontribusi TPAK sudah menunjukkan angka yang meningkat.80). Dari sisi ini terlihat bahwa TAPK wanita meningkat dari tahun ke tahtin dan diprediksikan tetap naik pada ta hun mendatang seperti terlihat pada Label 7. wanita kebanyakan bekerja sebagai pekerja keluarga yang tidak dibayar (39. Hal ini dapat di cermati dari Tabel 7. wanita ini mempunyai peran yang makin meningkat dari tahun ke tahun. 1996: h. posisi inferior.54 (BPS. dan sekunder rel atif terhadap pria.Menurut kacamata Gender and Development.6. terutama y ang paling mencolok adalah pada kelompok umur 30-39 tahun di mana TPAK wanita 55 .3 persen).7 tentang indikator sosial wanita Indonesia. sela ras. Proyeksi Angkatan Kerja 1988-2000 Ditinjau dari s isi TPAK. dan serasi. berbang sa.WANITA 37.2 59.4 38. program P2W dalam Pembangunan Jangka Panjang II diarahkan pada sasaran umum: meningkatnya kualitas wanita dan terciptanya iklim sosial budaya yang mendukung bagi wanita untuk pengembangan did dan meningkatkan peranannya dalam berbagai dimensi kehidupan berkeluarga. Fenomena in i menunjukkan bahwa masih banyak wanita yang bekerja sebagai sambilan atau hanya membantu pria. bermasyarakat. Pembangunan berdimensi jender ditujukan untuk mengubah hubun gan jender yang eksploitatif atau merugikan menjadi hubungan yang seimbang. Dalam GBHN 1993.4 persen) dan buruh/karyawan swasta (22.8 Sumber : Biro Pusat Statistik. dan bernegara.8 40.

7 juga memperlihatkan bahwa jenis usaha yang paling banyak di geluti oleh wanita adalah tenaga usaha pertanian. yang diikuti dengan tenaga pen jualan. Ini dapat berarti bahwa se ktor informal wanita yang berhubungan dengan microenterprise wanita memang didug a masih menempati posisi kunci yang menentukan tinggi rendahnya TPAK dan pada gi lirannya akan mempengaruhi tingkat kesejahteraan wanita itu sendiri. Secara umum. 89 . dan tenaga produksi. agaknya wanita bekerja lebih pendek dibanding pria karena ter dapat 68.. yang sebagian besar bekerja dengan status berusaha dibantu anggota rumah tangga (32. Tabel 7.7 persen) dan hanya 10. Tabel 10.7 menunjukkan b ahwa jumlah jam kerja wanita sebagian besar berkisar antara 7 hingga 59 jam semi nggu. sementara hanya 45 . Dengan kata lain.1 persen wanita yang bekerja selama 35 jam atau lebih.2 persen pria yang bekerja selama 35 jam atau lebih.5 persen yang berstatus pekerja keluarga.berbeda dengan pria. sebagi an besar wanita bekerja kurang dari 35 jam seminggu. Dari tabel tersebut secara eksplisit terlihat bahwa jenis pekerjaan yang tidak memerlukan banyak kualifikasi (blue collar workers) masih cukup besar sumbangannya terhadap total pekerjaan.

7.99 16. Status pekerjaan utama: 1.03 2. Dua macam sektor ekonomi yang sangat berbeda karakteristiknya sating berhadapan satu sama lain.... Tenaga usaha pertanian Tenaga produksi Tenaga operator Pekerja kasar 10. 5.15 4. Pria Berusaha sendiri Berusaha dibantu anggota RT Berusaha dengan buruh Buruh/karyawa n pemerintah Buruh/karyawan swasta Pekerja keluarga Jenis pekerjaan utama: Tenag a profesional Tenaga kepemimpinan & ketatalaksanaan 3.25 39. Lainnya Jumlah jam kerja: 0 2. 6. 15.60 19.65 20. di mana pusat kekuasaan pemerintahan dan 90 .49 48. 1994 (dalam persentase) alto Bet as arkarr.21 10. Wanifa .33 1.93 1.17 0. MASALAH MIGRASI DAN SEKTOR INFORMAL Strategi industrialisasi yang banyak mengandalkan akumulasi modal.04 6.. Di dalam konteks m asyarakat sekarang ini sektor tersebut dikuasai oleh orang-orang bermodal besar (konglomerat) yang terutama berasal dari daerah metropolitan (kota-kota besar). 2. yang banyak bersentuhan dengan lalu lintas perdagangan internasional. dan teknologi tinggi telah menimbulkan polarisasi dan dualisme dalam proses pembang unan. Fakta menunjukkan sektor manufaktur yang modern hidup berdampingan dengan sektor pertanian yang tradisional dan kurang produktif.59 2.97 2..52 27..86 14.53 12. 5.37 3.-.10 50. _. 4.53 0. 2.80 0.29 22.36 5. di bimbing oleh motif-motif memperoleh keuntungan yang maksimal.85 73.06 Tenaga usaha jasa 1. 3. .. Sektor p ertama berupa struktur ekonomi modern yang secara komersial cenderung bersifat c anggih.58 5. 4.21 6. 7. Indikator Sosial Wanita dan Pria.22 0..54 3.71 1.53 7.82 10. proteksi. 6. 3.88 32.84 1.-Tenaga pelaksana dan tata usaha Tenaga penjualan 5.Tabel 7.

Adapun alasan melakukan migrasi. Sedangkan di lain pihak. 1997: bab IV). Terlihat bahwa urbanisasi yang paling mencolok di DKI Jakarta. tabel 4. 1991). adalah: (1) perubahan status perkawinan dan ikut saud ara kandung/ famili lain sebesar 41.5). menurut Survei Penduduk Antar Sensus (SUPAS) 1995.58 persen).kegiatan ekonomi berada. Pada 1961. Dewasa ini dualisme ekonomi timbul dari ada nya urbanisasi. kurang menanggapi rangsangan-rangsangan internas ional dari kekuatan internasional.6 5.9 persen. Tingkat urbanisasi di Indonesia cenderung terus meningkat dari waktu ke waktu.8 menyajikan kecenderungan perubahan tingkat urbanisasi untuk masingâ masing propinsi s elama 1980-1995. pada 1970 meningkat sediki t menjadi 17. terdapat sektor yang berfungsi atas dasar prinsip-prinsip kapitalistik den gan hadirnya perusahaan dagang dan pabrik besar. 1997: h. diikuti oleh Daerah Istimewa Yogyakarta. terdap at sektor yang dikuasai petani kecil dan para pengrajin dengan cirinya memiliki "mentalitas oriental" (Evers. dan (4) karena perumahan hanya 2. ternyata ala san utama mereka adalah pekerjaan (59. Di dalam dualisme ekonomi. dan Sumatera Selatan.4 persen. Boeke (1930) menyatakan bahwa dualisme ekon omi timbul akibat adanya sebuah sektor dalam kegiatan ekonomi kolonial yang memb erikan perlawanan dari perembesan politik kolonial.96 persen. dan tingkat urbanisasi semakin cepat hingga 1990 mencapai 30. tingkat urbanisasi pada suatu wilayah dapat dinyatakan sebagai besarnya proporsi penduduk perkotaan pada wilayah tersebut (BPS.27 persen. Bila dirinci menu rut propinsi.9 persen dan 1995 menjadi 35. berarti orang desa melihat Jak arta lebih sebagai tempat mencari uang. Dengan demikian. penduduk perkotaan baru 15 persen. 57 persen dan lainâ lain 1. m asing-masing sektor memperlihatkan kejelasan karakteristiknya sendiri. yang menurut teori ekonomi modern merupakan struktur ekonomi yang berorientasi kepada sikapsikap konservatif. Kalimantan Timur. serta kurang mampu mengusahakan pertumbuhan p erdagangan secara dinamis. Berhadapan dan terpisah dari sektor yang pertama.1989). 1980 menjadi 22. yang merupakan tujuan utama para migran. Di satu p ihak. (3) karena pendidikan sebesar 14. dijum pai sektor yang kedua berupa struktur ekonomi pedesaan yang bersifat tradisional . Tabel 7. 36. Sebagian besar warganegara Indonesia hidup di dalam s ektor yang kedua ini (Nasikun. Para migran yang tertarik ke DI Yogyakar ta umumnya 91 .47 persen (BPS. Adapun urbanisasi adalah perpindahan penduduk desa yang menuju k ota sehingga mengakibatkan semakin besarnya proporsi penduduk yang tinggal di pe rkotaan. Riau. (2) karena pekerjaan sebesar 39.35 persen. DKI Jakarta. Sumatera Utara.

Jadi kriteria accesibility terhadap suatu fasilitas yang disediakan oleh pemerin tah adalah yang digunakan sebagai ukuran. walaupun begitu sektor informal bisa dikata kan sebagai bagian dari sektor tradisional yang mempunyai pemahaman lebih luas ( Hidayat. Artinya. Tabel 7 . bukan tersedian ya fasilitas yang penting. Sementara itu International Labor Organization (ILO) meny atakan bahwa sektor informal terdiri dari unit usaha berskala kecil yang memprod uksi serta mendistribusikan barang dan jasa dengan tujuan pokok untuk menciptaka n kesempatan kerja dan pendapatan bagi dirinya masing-masing dan dalam usahanya itu sangat dibatasi oleh kapita. menurut Dipak Mazumbar (Bank Dunia). Pendatang baru di kota karen a tidak memperoleh pekerjaan mencoba mengadu nasibnya dengan berpartisipasi dala m kegiatan ekonomi kota sebagai self-employment yang akhir-akhir ini dikenal seb agai sektor informal. Migrasi dari desa ke kota ini diyakini merupakan faktor utama penyumbang pertumbuhan kota. yang diikuti oleh alasan pekerjaan (39. merupakan unit-unit usaha yang tidak atau sedikit sekali menerima proteksi secara resmi da ri pemerintah. Sektor informal menurut Weeks.9 menunjukkan bahwa para migran dari desa menyumbang antara 35 persen hingga 60 persen pertumbuhan penduduk kota di banyak negara. urbanisasi desa -kota terjadi sebelum industri di kota mampu berdiri sendiri. maupun manusia dan keterampilan (Se thuraman. melainkan memiliki sifat dinamis.35 persen). Juga diartik an bahwa sektor informal ialah suatu unit usaha yang telah memperoleh bantuan ek onomi dari pemerintah. Sektor informal adalah bag ian dari sistem ekonomi kota dan des a yang belum mendapatkan bantuan ekonomi dari pemerintah atau belum mampu menggu nakan bantuan 92 . Ini berarti Yogyakarta merupakan tempat yang paling diminati oleh orang desa untuk tempat menuntut ilmu. baik fisik. melainkan penggunaan fasilitas tersebut.6 5 persen) dan pendidikan (14. Perkembangan kota yang lebih cepat meng akibatkan terjadinya urbanisasi yang bersifat prematur. tetapi karena sesuatu hal unit usaha itu belum bisa berke mbang (Hidayat. bukanlah merupakan sektor y ang memiliki sifat-sifat seperti sektor tradisional sepenuhnya yaitu sifat stati s. 1978). unit-unit usaha yang tidak dapat mempergunakan fasilitas itu dikelompokkan ke dalam sektor informal. Jadi untuk mengkategorikan suatu unit usaha ke dalam sektor infor mal perlu diperhatikan suatu kriteria bahwa selama bantuan/fasilitas yang disedi akan oleh pemerintah adalah yang digunakan sebagai ukuran.64 persen).8 menu njukkan bahwa alasan utama yang paling banyak dikemukakan untuk seluruh propinsi adalah alasan keluarga (41. Sektor informal. 1978). 1981).96 persen).karena alasan pendidikan (51. Dengan perkataan lain. Tabel 7.

Sebagai akibat dari rendahnya intensitas penggunaan kapital. 1. 1. sehingga skala op erasi juga relatif kecil. Pada um umnya unit usaha tidak mempunyai izin usaha. 7. adalah sebagai berikut: 1. karena timbulnya unit usaha t idak mempergunakan fasilitas/kelembagaan yang tersedia di sektor formal. Teknologi yang digunaka n bersifat primitif. menurut Hidayat (1978). Menyediakan kesempatan kerja untuk mendapatkan latihan dan magang dengan biaya y ang jauh lebih rendah daripada yang disediakan oleh lembaga-lembaga formal dan s ektor formal. Sektor informal di Indonesia. Unit usaha mudah kel uar masuk dari satu sub-sektor ke lain sub-sektor. Kegiatan usaha tidak terorganisasikan secara baik. 3. Sektor informal menghasilkan surplus. 2. umumnya mempunyai ciriciri sebagai berikut : 1. Pada umumnya unit usaha t ermasuk golongan one-man-enterprises dan kalau mengerjakan buruh berasal dari ke luarga. 10. Untuk menjalankan usaha tidak diperlukan pendidikan formal karena pendidikan yan g diperlukan diperoleh dari pengalaman sambil bekerja. 2. 8. tetapi kad ang-kadang juga yang berpenghasilan menengah. hanya sebagian keci l saja dari kapital yang diperlukan di sektor formal diperlukan untuk mempekerja kan seseorang di sektor informal. 4. Modal dan perputaran usaha relatif kecil. 5. Pola kegiatan usaha tidak teratur b aik dalam arti lokasi maupun jam kerja. Pada umumnya kebijakan pemerintah untuk membantu golongan ekonomi lemah tidak sampai ke sektor ini. Sumber Jana modal usaha pada umumnya berasal dari tabungan sendiri atau dari lembaga keuangan yang tidak resmi. meskipun berada dalam suatu lingkungan keb ijaksanaan yang memusuhinya. Sektor informal membutuhkan tenaga yang tidak memiliki keterampilan atau cukup h anya setengah terampil saja yang penawarannya semakin meningkat dan penawaran 93 . Hasil produksi atau jasa terutama dikonsu msikan oleh golongan masyarakat kota/desa yang berpenghasilan rendah. 1983). 6. menurut Todaro (1994). Sektor informal sangat perlu dikem bangkan lebih lanjut dan dibina dengan balk. 11. yang menolaknya untuk mendapatkan kemudahan terhada p keuntungan-keuntungan yang ditawarkan kepada sektor informal. 9.yang telah disediakan atau telah menerima bantuan tetapi belum sanggup berdikari (Hidayat. Adapun alasan-alasan perlu dikemban gkannya sektor informal.

"Sektor Informal dalam Struktur Ekonomi". 23 Juni 1997. Effendi. BACAAN YANG DIANJURKAN Ananta. "Peranan Sektor Informal dalam Perekonomian Indonesia". dalam Mari Pangestu dan Ira Setiati (penyuntin g). 5 Mei 1991. Sebenarnya sektor informal juga sangat membantu kepentingan masyarakat. 4. lndikator Sosial Wanita Indonesia 1994. Hidayat. Jakarta.. dan Konsep Sektor Informal : Sumbangan Pemikiran Unt uk Repelita . Hans-Dieter.10). Produksi Sub-sisten dan Sektor Informal". Sektor informal mungkin akan dapat menggunakan teknologi tepat guna dan memanfaa tkan sumber daya setempat yang tersedia yang memungkinkan alokasi sumber daya da pat dilaksanakan secara lebih efisien. 2. __. Profit Indonesia. Prisma. Jakarta. Vol. Ghalia Indonesia. 1983. Lembaga Studi Pembangunan. _Perpindaha n Penduduk dan Urbanisasi di Indonesia: Hasil Survei Penduduk Antar . 94 . hal. No. yaitu menyediakan lapangan pekerjaan den gan penyerapan tenaga kerja secara mandiri atau dengan kata lain menjadi safety belt bagi tenaga kerja yang memasuki pasar kerja. "Pasar Bebas. "Ekonomi Bayangan. dan Mobilitas Pekerja". Jakarta.tersebut mustahil akan diserap oleh sektor formal yang sifat permintaannya lebih banyak membutuhkan tingkat yang berketerampilan. XXVI. Selain itu juga menyediakan ke butuhan masyarakat golongan menengah ke bawah. 1. Laporan Perekonomian Indonesia 1993. Seri S4. Biro Pusat Statistik. Sektor informal memainkan peranan yang penting dalam mendaurulangkan barangbaran g buangan. Mencari Paradigma Baru Pembangunan Indonesia. Urbanisasi dan Permasalahannya. Bintarto. Desember. Janurari 1996. R. makalah dalam Diskusi Panel Ahli GBHN. _"Definisi. Jakarta. 1978. Yogyakarta. "Analisis Demografis Perekonomian Indonesia Menjelang 2005: Beberapa Butir Pemikiran". __________ ___. 1997. PPE Faku ltas Ekonomi Ull. Hotel Radisson. Hasil studi di berbagai tempat memperlihatkan Jaya serap kesempatan k erja yang terjadi di sektor informal (lihat Tabel 10. 1997. Tadjuddin Noor. Jakarta. Evers. Ek onomi Keuangan Indonesia. 21-30. Jakarta. 1979. Kriteria. CSIS. Maret 1994. Ar is dab Evi Nurvidya Anwar. Sensus (SU PAS) 1995. Peluan g Kerja.

). Mencari Paradigma Baru Pemb angunan Indonesia. Geneva. Sistem Sosial Indonesia. 1989. Pustaka Pelajar. Pengangguran. Urbanisasi. Ox ford. Sethuraman. Yayasan Obor Indonesia. 1997. Meier.IV". Oeyâ Gardiner. S. Gerald M.V. bab VI. Masri. Leading Issues in Economic Development. Alfonso (eds. 1991. "Social Development: Putt ing People First". dalam Mari Pangestu dan Ira Setiati (penyunting). Oxford University Press. Bureaucra cy and the Poor. 1991. 1981. tahun XII. dalam David C. Yogyakarta. dan Tadjuddin Noer Effendi (Ed. Analisa. Mayling. No.). Penduduk dan Perubahan. McGraw Hil International Book Company. Chris. edisi ke-6. ILO. 95 . Singarimbun. "Ledakan Pendidikan Tinggi Hingga Akhir PJPT II ". Jakarta. David C. Korten dan Felipe B.. Rajawali. dan S ektor Informal di Kota. 1996.U. Jakarta. Manning . Nasikun. Singapura. Jakarta : Penerbit C .. 1995. The Urban Informal Sec tor in Developing Countries..7. Korten. CSIS. 1983. 1981.

1. Diskusi menarik tentunya adalah mengkaji s umber dan struktur pembiayaan pembangunan Indonesia. 198 2: h. tidak mengherankan apabila mengalir arus modal dari negara industri ke negara sedang berkembang (N SB). dap at dibagi dalam modal yang tidak dan yang harus dibayar kembali (Pattisiana. Dilanjutkan dengan penelusuran motivasi negara donor menyalurkan modal asing ke NSB. umumnya menutup kesenjangan pembiayaan de ngan mencari sumber-sumber dari luar negeri. Sebaliknya dalam kelompok arus 96 . 881899).BAB VIII PEMBIAYAAN PEMBANGUAN INDONESIA DAN UTANG LUAR NEGERI Sebagian besar NS B menutup kesenjangan investasi-tabungan dan kesenjangan devisa dengan mengundan g modal asing. Bagaimanakah beban utang lu ar negeri Indonesia menjelang akhir abad ke-21? 8. negara yang tidak mempunyai tabungan dalam negeri yang cuku p untuk membiayai pertumbuhan ekonomi. Bab ini akan dibuka dengan menyimak kontroversi di seputar perana n modal asing dalam pembangunan.1. MODAL ASING DALAM PEMBANGUN AN Sejarah mencatat. Dengan demikian. tanpa suatu eks por modal balasan dari negara tersebut. Dalam kelompok arus modal yang pertama biasanya mengalir modal da ri sektor pemerintah negara industri ke sektor yang sama di NSB. sebagaimana ditunjukkan oleh Gambar 7.1 Keseluruhan arus modal asing.

97 .

Ekonomi Pembangunan modal yang harus dibayar kembali terdapat arus batik berupa ekspor modal dari NSB. 8. namun lebih populer disebut bantun luar neger i (foreign aid). 98 . 1983: h. utang pemerintah adalah utang yang dilakukan oleh suatu in stitusi pemerintah. Sebagian besar tabungan resmi berwujud k onsesional. karena swastalah yang harus menanggung akibatnya. Utang swasta yang nonguaranteed debt adalah utang yang dilakuka n oleh debitur swasta. Di lain pihak. investasi portfolio dan kredit ekspor. yaitu: utan g swasta yang tidak dijamin oleh pemerintah (private nonguaranteed debt).1. dan penggunaan kredit IMF (Iihat Gambar 12. dan utang swasta yang dijamin oleh pemerintah (public and publicly g uaranteed debt). tergantung dari sumber arus modal tersebut.2). Aliran konsesional ini secara teknis disebut bantuan pembangunan resmi (ODA= Official Development Assistance). Bagi kebanyakan N SB. jenis utang yang public and publicly guaranteed yang perlu lebih mendapat pe rhatian karena apabila NSB tidak mampu membayar kembali utang tersebut maka peme rintah negara tersebutlah yang menanggung akibatnya. 365-366). Utang yang publicly guaranteed merupakan utang yang dilakukan swa sta namun dijamin pembayarannya oleh suatu lembaga pemerintah.1. Utang yang berjangka panjang dapat dirinci menurut jenis utangnya. yang terakhir adalah m engenai investasi langsung. arus modal asing yang harus di bayar kembali juga disebut tabungan luar negeri. Bank Dunia (1992) mengklasifikas ikan total utang luar negeri menjadi: utang jangka pendek. Utang jangka panjang umumnya berjang ka waktu lebih dari satu tahun. Tabungan luar negeri meliputi t abungan resmi ke sektor pemerintah (official savings) dan tabungan swasta (priva te savings) (Gillis. utang jangka panjang. termasuk pemerintah pusat. yang biasanya berbunga rendah dengan jangka waktu pengembalian yang lebih la ma. di mana utang tersebut tidak dijamin oleh institusi pemer intah. Penggunaan kredit IMF merupakan kewajiban yang d apat dibeli kembali (repurchase obligations) atas semua penggunaan fasilitas IMF . utang pemerintah. apakah ke sek tor pemerintah atau swasta di negara industri. Yang pertama tadi meliputi penger tian kredit dan pembiayaan dari proyekproyek pembangunan. Oleh karena bantuan luar negeri banyak yang harus dibayar kemba li maka umumnya disebut juga utang luar negeri. departemen. Artinya dapat . berupa hibah (grants) atau pinjaman lunak (soft loan s). dan lembaga pemerinta h yang otonom. Risiko ini tidak dijumpai u ntuk kategori utang swasta yang tidak dijamin oleh pemerintah. Utang jangka pendek adalah utang dengan jatuh tempo satu tahun atau kurang. Aliran Modal ke Sektor Pemerintah Berdasarkan sifatnya.

2. yaitu pinjaman dan kredit dari le mbaga keuangan internasional seperti PBB. dan lain-lain. dan (2) pinjaman multilateral. Bentuk lain adalah kredit dari perusahaan manufaktur. AlIran Modal ke Sektor Swasta Tabungan swasta asing terdiri atas empat ko mponen.2.1. dan pemasok barang lainnya. Yang pasti. Stok Utang Luar Negeri dan K omponen-komponennya 8. CGI (dulu IGGI). P MA tidak selalu dilakukan oleh perusahaan transnasional. yang diberikan/dipinjamkan ke NSB. yaitu pinjaman antarpemerintah dan lembaga peme rintah (termasuk bank sentral). Bank Dunia. bank-bank pembangunan regional. serta kredit bank yang ditutu p dengan jaminan lembaga kredit ekspor. Utang luar negeri yang berasal dari kreditur swasta bisa pula berwujud pinjaman dari bank-bank komersi al. Utang luar negeri yang berasal dari sumber resmi dibagi menjadi: (1) pinjaman bilateral. Gambar 8. Selama ini kreditur (pihak yang memberikan utang) dapat berasal dari sumb er resmi maupun swasta.Utang yang tergolong public and publicly guaranteed dapat dirinci menurut kredit urnya. Pertama. PMA selalu berupa kontrol penuh atau parsial melalui partisipasi 99 . misalnya bantuan pemerintah Jepang kepada pemeri ntah Indonesia. obligasi. Pinjaman dari bank-bank komersial adalah pinjaman d ari bank-bank swasta dan lembaga keuangan swasta lainnya. eksportir. Obligasi dikeluarkan o leh lembaga pemerintah maupun swasta. investasi langsung (PMA) oleh penduduk atau perusahaan asing.

dengan harapan men dapat manfaat finansial dari investasi tersebut. Selama 1977-1983. masih kecilnya PMA dalam pembentu kan modal domestik bruto. masing-masing sekitar 32 persen dan 16 persen. Pertama. modal asing dapat berperan penting dalam 100 . sementara negara-negara di Asia Sela tan dan Pasifik Selatan hanya memperoleh sisanya (Rana. Keempat. Dengan kata l ain. Secara garis besar. Singapura). tanpa kontrol manajemen. Rendahnya aliran modal ke neg ara Asia Selatan dan Pasifik Selatan mencerminkan rendahnya kinerja ekonomi. Kedua. Rep. pasar domestik yang relatif luas (Indonesia. sementara di Indonesia dan Taiwan pangsanya sekitar seperempat dari to tal modal asing. investasi keuangan yang d ilakukan di luar negeri. pinjaman dari d ari bank komersial (commercial bank lending) kepada pemerintah dan perusahaan NS B. serta kondisi yang menguntungkan bagi perkembangan ekspor pr oduk pengolahan (Hongkong. 8. Waktu dan besarnya laba dapat d itentukan sebelumnya berdasarkan atas besarnya bunga yang diperoleh. peringkatan tertinggi pangsa PM A terhadap total arus modal asing dipegang NIB dan negara-negara Asia Tenggara. Polemik Mengenal Modal Asing Peranan modal asin g dalam pembangunan telah lama diperbincangkan oleh para ahli ekonomi pembanguna n.1.dalam modal dan manajemen. investasi portfolio. 197 3. Bentuk inve stasi portofolio yang sering ditemui adalah pembelian obligasi/ saham dalam nege ri oleh orang/perusahaan asing.459-68). 1987: tabel 1 dan2). Thailand). melimpahnya minyak dan sumber daya al am lain (Indonesia dan Malaysia). pertumbuhan ekonomi yang meningkat perlu diikuti dengan perubahan struktur prod uksi dan perdagangan. Kajian yang dilakukan oleh Rana (1987) memperlihatkan. Data ini juga memperlihatkan. Ketiga. dari 18 negara. lem ahnya infrastruktur. Kedua. kredit ekspor. Investor membeli utang atau ekuitas.3. F ilipina. Korea. Fak tor utama yang menarik PMA ke NIB dan Asia Tenggara adalah kinerja ekonomi yang dinamis seperti tingginya pertumbuhan PDB. sumber dana eksternal (modal asing) dapat dimanfaatkan ol eh NSB sebagai dasar untuk mempercepat investasi dan pertumbuhan ekonomi. negara-negara ind ustri baru (NIB) dan negaranegara Asia Tenggara tercatat berhasil menarik hampir 95 persen dari arus investasi asing (PMA). h. kredit ekspor merupakan pembiayaan muka dari arus barangbarang yang ditawar kan oleh eksportir dan bank-bank komersialnya ke negara pengimpor sebagai salah satu cara promosi penjualan. Ketiga. yang kemudian diikuti kelompok Pa sifik Selatan (8 persen) dan Asia Selatan (1 persen). yaitu penundaan pembayaran untuk impor. pemikiran mereka sebagai berikut (Chenery dan Carter. PMA memainkan peran yang p enting di Hongkong dan Singapuia (lebih dari setengah hingga 2/3 dari total moda l asing). dan relatif sedikitnya sumber daya alam dan manusia.

dalam negeri atau luar negeri.3 Hipotetis utama teori ketergantungan adalah: (a) PM A dan bantuan luar negeri dalam jangka pendek memperbesar pertumbuhan ekonomi. menda pat banyak tentangan dari kubu ahli ekonomi pembangunan yang lain. Hasil studi secara umum memberikan indikasi bahwa arus masuk modal asing telah menimbulkan dampak positif terhadap pertumbuhan ekonomi di NSB kawasan Asia dan Pasifik ( Dowling dan Hiemenz. Fa ktor-faktor produksi ini selanjutnya dapat dipisah menurut asalnya. (b) makin banyak negara bergantung pada PMA dan bantuan luar negeri makin besar perbedaan penghasilan dan pada gilirannya pemerintah tidak tercapai. Keempat. seperti kinerja ekspor. Prebisch. Asumsi dasar yang melata rbelakangi pemikiran tersebut adalah bahwa setiap satu dollar modal asing akan m engakibatkan kenaikan satu dollar impor dan investasi (Papanek. sementara sebagian besar digunakan untuk mena mbah konsumsi.' Mereka berke simpulan. 1983). ada beberapa cata tan yang kiranya menarik untuk diperhatikan dalam setiap studi mengenai dampak a rus modal asing. Studi empiris mengenai dampak modal asing terhadap pertumbuhan umumnya difokuskan dengan mengestimasi f ungsi produksi Neo-Klasik. Para penganut teori ketergantungan (dependencia) sependapat denga n kesimpulan para penentang di atas. D engan asumsi ini dan Incremental Capital Output Ratio (ICOR) yang stabil. Atau sebaliknya. dimung kinkan untuk menghitung dampak modal asing yang masuk terhadap pertumbuhan ekono mi. kebutuhan akan modal a sing menjadi menurun segara setelah perubahan struktural benar-benar terjadi (me skipun modal asing di masa selanjutnya lebih produktif). dapat dihitung berapa modal asing yang diperlukan untuk men capai target pertumbuhan ekonomi tertentu. tingkat dan struktur 101 . Pemikiran yang mendukung bahwa modal asing berpengaruh positif terhadap tabungan domestik dan pembiayaan impor. Samir Amin. n amun dalam jangka panjang (5-20 tahun) menghambat pertumbuhan ekonomi. Cardoso. sistem perpajakan. Gunder Fra nk. 1972: h. Lepas dari perbedaan visi dan hipotesis pendukung teori dependencia dan NeoKlasik. Dos Santos adalah nama-nama yang sering disebut sebagai pendukung utama teori ketergantungan.mobillisasi dana maupun transformasi struktural. hanya sebagian kecil modal asing berpengaruh positif terhadap tabungan domestik dan pertumbuhan ekonomi. Paul Baran. laju pertumbuhan angkatan kerja. seperti modal dan tenaga kerja. 934). (a) studi-studi terdahulu umumnya tidak memasukkan faktorfaktor lain yang berpengaruh terhadap pertumbuhan ekonomi selain modal asing. yang menggambarkan bagaimana pertumbuhan ekonomi dite ntukan oleh akumulasi faktor-faktor produksi.

dilandasi tanggung jawab moral dari penduduk negara kaya kepada penduduk negara miskin. pertumbuhan angkatan kerja. Misalnya. bantuan teknis untuk pembangunan penggilingan gandum dan industri pengolah bibit sering ditafsirkan sebagai peningkatan permintaan akan pangan dan bibit dari negara donor. Kedua. Singapura. Filipina. untuk menulusur dampak arus m asuk modal asing dibandingkan ekspor. Sri Lank a. RRC. Berangkat dari du a kelemahan utama inilah. Keunikan model mereka adalah kemampuannya untuk memisahkan dampak langsung dan dampak total modal asing terhadap pertumbuhan ekonomi dan pertumbuh an domestik. Dari sudut kepentingan politik dan geostr ategik nampaknya tidak perlu diragukan. Hal sepert i ini sering dijumpai pada bantuan-bantuan yang bersifat mengikat (tied aid). sekaligus menu njukkan hubungan timbal batik antara pertumbuhan ekonomi dan tabungan domestik. bantuan pangan dan kerjasama ekonomi Amerika Serikat merupakan bagian integral dan tidak terpisahkan dengan kebijakan luar negerinya. yang membantu pr ogram pembangunan kembali Eropa Barat dan Jepang setelah 102 .tabungan. di landasi kepentingan ekonomi dan strategis.2. 8. Republik Korea. di sisi l ain juga menimbulkan dampak perluasan permintaan barang dan jasa dari negara don or. Rencana Marshall. misalnya. Model ini telah diuji untuk menelusur dampak arus modal asing di sembilan negara Asia (Myanmar. setidaknya ada dua al asan yang melatarbelakangi negara donor bersedia memberikan bantuan: Pertama. Dengan kata lain. Ha mpir senada dengan itu. Keadaan ini terlihat. Bagi negara donor. Rana dan Dowling (1988) mencoba menyusun suatu model k omprehensif berdasarkan sistem persamaan simultan. MOTIVASI NEGARA DONOR Mungkin pertanyaan yang muncul adalah ap a yang mendorong negara donor atau pinjaman luar negeri ? Menurut pengalaman di banyak negara. pem berian bantuan akan memperkuat ikatan keuangan antara negara donor dengan negara penerima bantuan. pembangunan infrastruktur seperti jaringan transpor tasi dan instalasi listrik di NSB akan menimbulkan permintaan akan peralatan bar u. (b) studi-studi yang pernah dilakukan tidak berhasil menunjukkan hubun gan dua arah antara tabungan domestik dan pertumbuhan ekonomi. setidaknya mengganti peralatan yang telah usang dari negara donor. Nepal. hal yang terakhir ini terbukti dari tingginya elastisitas permintaan akan im por barang dan jasa dari negara donor. Thailand). India. sebagaimana disimpulkan oleh Ruttan (1989). bantuan luar negeri dapat mempercepat pertumbuhan ekonomi negara penerima bantuan. di satu sisi.

Meskipun ekspor nonmigas meningkat dua kali lipat nilainya selama 1971-1975. Seja k itu. yang hanya 19. 8. bantuan luar ne geri dan perekonomian Indonesia ibarat segi tiga sama sisi dalam masa Orde Baru. Selama 1973-1981 arus modal asing ini menyumbang 10 persen penerimaan devisa. Ekspor Sebagai pe nganut sistem ekonomi terbuka.3.1 perse n pada 1984. lalu lintas perdagangan internasional berperanan penting dalam perekonomian dan pembangunan di Indonesia.6 persen pada 1969 menjadi 42.1. Arus masuk modal asing me ncapai sekitar seperempat penerimaan devisa sebelum 1973. Adanya lonjakan harga minyak yang pertama 1974. ekspor nonmigas merupakan sumber utama pene rimaan devisa Indonesia. yang pada gilirannya diharapkan dapat mengangkat mereka dari jurang kemiskina n.3. Setelah 1981 103 . Peran migas sebagai sumber penerimaan negara belangsung hingg a 1981. S elepas 1973 penerimaan dari ekspor minyak dan gas menjadi begitu dominan sebagai sumber penerimaan devisa. diterimanya argumen ini tidak berarti menjawab pertanyaan: sampai seberapa jauh bantuan luar negeri itu efektif dan menyentuh kelompok sas aran? 8. Meskipun demikian. Pada dasawarsa 1970-an. mencapai di atas 60 persen. Tanggung jawab moral negara kaya kepada negara miskin dilandasi premis bahwa interdependensi ekonomi dan politik internasional berarti memperluas keadilan sosial dari lingkup nasional ke inter nasional. bantuan luar negeri adalah sumber utama pembiayaan pemb angunan. Seberapa jauh peran per dagangan luar negeri terlihat dari rasio antara ekspor ditambah impor terhadap P DB. yang ketiganya bertalian secara erat dan berhubungan satu sama lain. Hal ini tercermin dari bantuan kepada negara berkembang yang harus dit ujukan untuk memenuhi kebutuhan dasar (basic needs) bagi sebagian besar rakyatny a. merupakan contoh betapa kentalnya kepentingan politik dan strat egis untuk menangkis ekspansi ideologi komunis.2 persen pada 1969 menjadi 26. telah mengubah profit ekspor s ecara drastis. namun posisi tersebut berubah setelah adanya oil boom pada awal 1974. Sementara pe ranan ekspor terhadap PDB melonjak dari 10. situasi ekonomi Indonesia dan prospeknya demikian terikat dengan perkemba ngan pasar minyak.7 persen pada 1984. yang menyumbang hampir 80 persen dari penerimaan ekspor .Perang Dunia II. pangsanya dalam total ekspor menurun menjadi sekitar 25 persen. Pada empat tahun pertama Pelita I. SUMBER-SUMBER PEMBIAYAAN PEMBANGUNAN INDONESIA Minyak bumf.

bantuan luar negeri tercatat sebagai pemasukan modal pemerintah. Defisit tersebut ditutup dengan pem asukan modal pemerintah dan pemasukan modal swasta (apabila bernilai positif). Ditinjau dari macamnya. mengalirlah bantuan luar negeri. bantuan program yang terdiri at as bantuan devisa kredit dan bantuan pangan. Ta k pelak lagi. defisit anggaran negara. dalam bentuk bantuan luar negeri dan PMA. (2) Nerac a transaksi berjalan umumnya defisit (kecuali 1979/1990 dan 1980/81) akibat defi sit pada transaksi jasa. Pada 1985. yaitu kesenjangan antara pengeluaran investasi deng an tabungan swasta nasional. Bantuan Luar Negeri Di masa awal Orde Baru . dan investasi asing ke Indonesia.3. Jalan keluarnya adalah pembiayaan pembangu nan dari sumber-sumber luar negeri. dalam bentuk pinjaman lunak (loan ) dan hibah. Hasil penjualan tersebut setelah 104 . Di lain pihak. Penjualan devisa serta komoditi pan gan dan nonpangan yang dari bantuan program dipergunakan untuk mencapai sasaran stabilisasi ekonomi jangka pendek. 1989). Terlihat bahwa modal a sing. Sejarah neraca pembayaran Ind onesia mencatat bahwa: (1) Neraca perdagangan Indonesia selalu surplus dari tahu n ke tahun. 8. artinya ekspor jasa lebih kecil dibanding impor jasa. serta defisit neraca pemba yaran luar negeri (Nasution.8 persen dari total ekspor . bantuan luar negeri yang masuk ke Indonesia berupa:5 Pertama. Dengan demikian. Tabungan domestik waktu itu begitu rendah dan tidak dapat diha rapkan meningkat dalam waktu singkat.2. telah berperanan dalam menutup defisi t transaksi berjalan Indonesia selama ini. Bps (1996) memperlihatkan perkembangan nerac a pembayaran Indonesia selama 1979/1980-1995/1996. ( 3) Neraca modal umumnya positif (surplus) berarti arus modal asing yang masuk ke Indonesia lebih banyak dibanding arus modal yang keluar. ekspor non migas meningkat lebih dari 31 persen dari total penerimaan ekspor. Pada umumnya transaksi berjalan selal u defisit. baik untuk mengendalikan inflasi maupun stabi lisasi kurs Rupiah. Dalam neraca pembayaran. tersedianya bantuan serta pinjaman luar negeri dan meningkatnya pajak perseroan migas telah sekaligus membantu untuk menutup ketiga defisit/ ke senjangan ekonomi Indonesia. B antuan luar negeri juga digunakan untuk menutup defisit anggaran negara (APBN). peranan ekspor nonmigas kembali meningkat akibat menurunnya har ga minyak dan volume produksi. yang dicatat dalam pos neraca modal. artinya ekspor barang lebih banyak dibanding impor barang. para penentu kebijakan menghadapi kelangkaan modal dan sumber pembia yaan pembangunan.kontribusi migas mulai menurun hingga 1985 menjadi 68. kecuali 1979/1980 dan 1980/ 1981. sedang investasi asing dimasukkan sebagai pemasukan modal swasta.

investasi. Sebagian dari bantuan proyek ini merupakan jasa konsultan dan tenaga teknisi yang membantu me rencanakan dan melaksanakan pembangunan proyek. Keempat. Tabel 8. Namun bil a ditelusur lebih dalam sumber defisitnya berasal dari sektor swasta dan BUMN. Investasi.3. yang merupakan selisih antara pen erimaan dalam negeri dengan pengeluaran rutin. dan Saving-Investment Gap: 1994-1997 (pe rsentase terhadap PDB) 105 . Indonesia telah menjadi importir modal. porsi terbesar PMA dialokasikan di sektor pertambangan dan minyak. Pada umumnya. 1988: h. namun dalam beberapa tahun. P emerintah pusat nampaknya selalu dapat membiayai investasinya dari tabungan peme rintah. Kesen jangan antara tabungan dengan investasi (saving-investment gap) ditutup dengan m asuknya anus_ modal asing ke sektor pemerintah maupun swasta.dikurangi biaya pemasaran. Tabungan Domestik Tabungan domestik diperoleh dari sektor pemerint ah dan sektor masyarakat. pangsanya hampir 1/3 dari a nus total. sedang peringkat kedua di sektor manufaktur (Hill. merupakan penerimaan pemerintah dari bantuan program. pinjaman tunaiberupa pinjaman obligasi dan pinjaman dari kelompok bank. Investasi Asing (PMA) S elama periode yang diamati. seme ntara di sektor manufaktur hampir mencapai 20 persen. Tabungan. Taska dan Deposito Berjangka. 8.2. terutama awal Pelita I. 81). Ketiga. pinjaman setengah lunak dan komersial. Tabungan pemerintah yang dimaksud adalah tabungan peme rintah dalam APBN. dan savinginvestment gap sebagai proporsi terhadap PDB disajikan dalam Tabel 12. Kedua. Arus masuk m odal asing (net capital inflows) meningkat dari hampir 300 juta dollar AS per ta hun pada akhir 1960-an hingga lebih dari 3 milyar dollar AS pada 1984. 8.4. termasuk di dalamnya kredit ekspor.3. Sel ama periode 1967-1985 sektor migas menerima 78 persen dari investasi total.2. PMA tercatat sedikit di atas 10 persen dari anus total. Tabungan masyarakat merupakan akumulasi dari Tabanas. bantuan proyekdengan syarat-syarat pelunasan yang lunak digunakan untuk pembiayaan berbagai proyek prasarana di bidang ekonomi dan sosial. Investasi di sektor pertan ian dan jasa relatif sangat kecil karena dibatasinya kiprah modal asing di sekto r ini. Perkembangan tabun gan. Tabungan ini dibutuhkan untuk membiayai investasi. Secara umum saving-investment gap nilainya negatif. Hanya ter jadi satu kali arus modal keluar (net capital outflow) pada 1975 seining dengan adanya krisis Pertamina.

3 8. Sebuah penelitian memperkirakan nilai pelarian modal dari Indonesia secara akumulatif dari 1970-1987 mencapai US$ 11 milyar. Bahwa bantuan luar negeri di Indonesia telah berperanan penting dalam menutup defisit anggaran dan defisit transaksi berjalan kiranya tidak perlu dipe rdebatkan lagi.5 10.5 11.0 1.9 0.3 menunjukkan struktur pembiayaan pembangunan di mana peranan bantuan luar negeri pernah menc apai Iebih dari 50 persen pada Pelita I dan IV.2 -4.0 29.4 11.3 30.6 18. STRUKTUR PEMBIAYAAN PEMBANGUNAN Potret pembangunan Indonesia agaknya dapat dilukiskan sebagai:"tangannya bergelantungan pada bantuan luar negeri. Boleh dikata dengan injeksi bantuan ini Indonesia telah dapat me mpercepat laju pertumbuhan ekonominya.3 9.9 2.1 -3. sedang ka kinya berpijak pada minyak".7 9.5 30. Indonesia mengalami fenomena debt-led growth. atau kurang lebih sekitar sepertiga nilai utang luar negeri pada akhir 1 987 (Mahyuddin.5 23.5 18.2 1997 34.1 18. Kendati peranan bantuan luar neg eri semakin menurun pada tahun-tahun terakhir ini. Sepanjang bantuan tersebut efektif dan tidak menjadi beban nampaknya tidak ada yang mempermasalahkannya.2 1996 33. 1989).0 0. Tabel 12. Namun pada dasawarsa 1980-an . Hal inilah yang banyak dituding oleh para pengamat sebagai net resource transfers yang negatif.8 9.9 1995 31. A kibatnya.5 25.2 -3.1 9.3 28.8 18. Kesimpulan sementara.4 -1.3 28.4. 106 .1094 Investasi Bruto Tabungan Nasional Bruto Saving-Investment Gap Pemerintah Pu sat Investasi Bruto Tabungan Pemerintah Saving-Investment Gap Sektor Swasta Dan BUMN Investasi Bruto Tabungan 20. sejak tahun fiskal 1987/1988 total cicilan utang berikut bunganya menj adi lebih besar dibanding pinjaman baru setiap tahunnya.5 21. Tak dapat dipungkiri bahwa bantuan luar negeri tela h berfungsi sebagai injeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia dengan cara menutup de fisit anggaran pembangunan dan defisit neraca pembayaran. persentasenya masih di atas 3 5 persen.5 9. In' bel um termasuk pelarian modal ke luar negeri. agaknya cicilan pokok pinjaman harus mulai dibayar karena sudah jatuh tempo.

4 persen hin gga 40. bayang-bayang krisis bantuan luar negeri bukannya tidak ada. Tanpa bermaksud mempertanyakan ha sil-hasil pembangunan yang telah kita capai. perband ingan antara pembayaran bunga dan cicilan utang. sedangkan meningkatnya DS R karena sudah banyak utang yang jatuh tempo. penurunan pen geluaran pembangunan. bila belakangan kita mengenal berbagai kebijaka n yang bernada expenditure reducing.5. Susahnya.7 persen selama 1985-1989. memang kondisi beban utang Indonesia masih relatif lebih ringan. Indonesia agaknya tidak bisa dibandingkan deng an negara-negara Amerika Latin yang beban pembayaran utangnya melebihi penerimaa n ekspor mereka. Nam un. nampaknya semakin mendesak untuk di pikirkan manajemen bantuan luar negeri dalam jangka menengah dan panjang. Kebutuhan akan modal asing me nunjukkan indikasi adanya kecenderungan meningkatnya arus masuk modal asing-.6 Permasalahan tradeoff antara kepatuhan membayar ut ang dan desakan membatasi pengeluaran dalam negeri diperkirakan akan semakin men cuat ke permukaan sebagai salah satu isu sentral di masa mendatang. serta currency realignment (Djojohadikusumo. setiap selesai sidang CG I (dulu IGGI) selalu memberitakan di halaman muka dengan komentar klise bahwa In donesia perlu bersyukur karena masih dipercaya oleh negaranegara donor. tidak ketinggalan. anjloknya harga minyak bumf dan ko moditi primer lain. ba nyak pengamat yang hanya membicarakan berapa bantuan luar negeri yang berhasil d icairkan tahun ini. Padahal proyeks i utang luar negeri pada BPS (1996) menunjukkan bahwa fenomena growth-led debt b ukannya tidak mustahil akan menjadi kenyataan. dibanding negara-negara Amerika Latin dan Afrika. Jumlah utang yang meningkat selama tiga tahun terakhir sampai 1 990 disebabkan oleh kebutuhan untuk mendapatkan pinjaman baru dan karena perubah an nilai tukar dollar AS terhadap Yen dan Mark Jerman.Bagi Indonesia. DIL EMA MEMELIHARA MOMENTUM PEMBANGUNAN Konsekuensi logis dari komitmen membayar bun ga dan cicilan utang adalah semakin rampingnya konsumsi domestik dan pengeluaran pemerintah. 1990).ba ik berupa bantuan LN 107 . Media massa pun. 8.7 Defis it transaksi berjalan yang terus menerus. Kendati debt service ratio (DSR). berkisar antara 25. dan penangguhan proyekproyek mega sebagai bagian integral dari penyesuaian struktural. dan kebutuhan menjaga cadangan devisa pada tingkat yang aman nampaknya meme rlukan masuknya modal dari luar yang lebih tinggi. terutama pada beberapa tahun terakhir ini. Tidak mengherankan. seperti kebijakan uang ketat. Bahwa ak umulasi dan beban utang luar negeri kita semakin menjurus pada growth-led debt a tau masuk dalam perangkap utang (debt trap) jarang dipersoalkan.

5). Data dari World Debt Tables m enunjukkan bahwa indikator beban utang LN. yaitu DSR. 8.5). p ertanyaan yang muncul adalah: apakah Indonesia akan mengalami krisis utang LN (m asuk dalam debt trap). yaitu rasio ant ara total utang LN dengan penerimaan ekspor.3).6 milyar antara 1981 hingga pertengahan 1995. yang merupakan rasio antara utan g LN total terhadap Produk Nasional Bruto. Co sta Rica (US$30. Peru (US$24. Korea (US$21. selalu di atas 200 persen sejak 198 6. yang merupakan rasio antara pembayaran bungadan cicilan utang terhadap penerimaan ekspor.secara resmi namun juga investasi asing langsung dan pinjaman luar negeri ke sek tor swasta-.8 Berapakah utang LN yang ditanggung oleh setiap penduduk Indonesia? Pada 1993 saja. (2) membeli kontrak forw ard ataupun currency option.6 memperlihatkan bahw a selama ini utang luar negeri Indonesia didenominasi dalam dollar AS dan Yen Je pang.5). masih bertengger p ada angka di atas 31 persen sejak 1986.6). DER.hingga 2001. telah meleb ihi batas yang dianggap aman. menurut catatan World Development Report 1995.6. dan mendapat "medali perak" di Asia sebagai neg ara pengutang terbesar.9). SUDAHKAH INDIKATOR UTANG LN MENCAPAI OVERBORROWIN G? Kita harus mewaspadai bahwa indikator beban utang LN (Luar Negeri) Indonesia sudah menunjukkan sampai pada taraf overborrowing. yang masing-masing 20 persen. dan 40 p ersen (lihat Tabel 12. dan Argentina (US$8. Dalam konstelasi semacam ini. bantu an LN bersih (net disbursement of ODA from all sources) per kapita untuk Indones ia sebesar US$ 10. ataukah tetap mampu mempertahankan momentum pembangunan? Saat ini. Kerugian akibat foreign exchange ex posure bisa dihindari dengan tindakan hedging. Demikian juga. dan DGNP. balk dengan: (1) melakukan curren cy swap atas utang dalam yen dengan utang dalam dollar.8. agaknya perlu dipikirkan manajemen utang yang mampu meredam gejolak pe rubahan nilai tukar mata uang negara donor utama.9 Dengan cara ini nilai tukar dapat diproteksi terha dap risiko fluktuasi mata uang negara donor.1).4). namun melebihi Meksiko (U S$4. Dari sisi total utang. dengan DGNP (debt GNP ratio). DSR (debt service ratio). 200 persen. telah di atas 40 persen bahkan sejak 1985. DER (debt export ratio). Tabel 12. Bolivia (US$80. Brazil (US$1. Indonesia menduduki peringkat keempat di antara neg ara pengutang terbesar di dunia. 108 . Apresiasi mata uang Yen terhadap dollar AS (terkenal dengan yendaka) diper kirakan menyebabkan melonjaknya kewajiban pembayaran utang kita sebesar US$ 18.5). Berarti masih di bawah Chile (US$13.

maupun gerakan swadana. strategi pinjam-meminjam yang prudent perlu memperhitungkan ketidakp astian akan kejutan eksternal yang berdampak kurang menguntungkan.Selain itu. yaitu bahwa bantuan tsar n egeri hanya sebagai pelengkap dan bersifat sementara. Gerakan tabungan nasional. maka perekonomian kita semakin "responsif" terhadap apa yang terjadi di dunia in ternasional. Langkah ini bisa dikombinasikan dengan usulan un tuk melakukan debt-intoequity swaps. dan penjualan saham BUMN. akibat arus globalisasi dan gelombang deregulasi. Sementara pada waktu yang sama. aerpaja kan. Tidak berle bihan apabila ada yang mempertanyakan: sampai kapan Indonesia *an bergantung pad a Jana dari luar negeri? Apakah bantuan luar negeri semata*Rata hanya injeksi (s ementara). sebagai mekanisme untuk mengurangi beban utang sekaligus instrumen konservasi hutan trop is. tiada lagi ungkapan:"H abis Bantuan Terbitlah Utang". Kalau usulan-usulan langkah strategis i ni diterapkan secara intensif dan simultan. Namun. Hal ini mungkin saja terjadi karena pola pinjaman off-shore yang paling banyak dimanfaatkan berupa obligasi dengan tingkat bunga mengambang dan fasilitas revolving credit. Pelajaran dari krisis utang 1980-an menunjukkan. balk lewat mobilisasi tabungan domestik. Bila kecenderungan ini berlang sung terus di masa mendatang. intensifikasi dan eksten sifikasi perpajakan. maka upaya mobilisasi Ana dari dalam negeri merupakan pilihan yang tidak bisa ditawar. ada kecenderungan kuat bahwa bantuan dari sumber-sumber resmi (ODA) s emakin sulit diperoleh. biaya Jana pinjama n yang tadinya kelihatan murah bisa berubah menjadi mahal bila suku bunga pasar tiba-tiba melonjak. "rtsya Allah. langkah lewat jalur diplomasi ini agaknya merupakan agenda strategis yang sayang untuk dilewatkan. sebaliknya dengan bangga mengatakan: "Habi s Bantuan Terbitlah 109 . dunia usaha dan perbanka n kita semakin gencar mencari pinjaman off-shore. merupakan bukti betapa oemerintah sudah menyadari pentingnya Iangkah ini. Sebagai Ketua Gerakan Non-Blok ditambah struktur utang kita yang terutama be rsumber dari pinjaman multilateral dan bilateral. Untuk itu dituntut fad* hanya inisiatif pemerintah namun juga partisipasi seluruh lapisan masyaraka t dalam pembiayaan pembangunan. Pada dasawars a 1990-an. ataukah sudah menjadi semacam infus (kebutuhan yang tidak bisa dihent ikan untuk menjaga momentum pembangunan) ? Bagaimana dengan amanat GBHN yang men yatakan bahwa bantuan luar negeri hanya sebagai aeiengkap dan bersifat sementara ? Apabila komitmen terhadap GBHN tetap dipertahankan. khususnya untuk hutan tropis kita.

1995. BPFE. 110 . 327. 9.2. 1989. Arief. Sumitro. Ekonomi dan Keuangan Indonesia. Pattisiana. h. Jakarta.. Har us diakui. Carter. 83-99. Analisa CS/S. Jakarta. vol. 1982. Setidaknya ada lima faktor kunci yang menentukan arah utang LN Ind onesia di masa mendatang. "Foreign Assistance and Development Performance. CPS dan ISEI. Jakarta. dan pertumbuhan tabungan domestik (Radelet. American Economic Review. 1995). "Purchasing-Power Parity: Its Nature. Gstav F. Perkembangan Ekonomi Indonesia Selama Empat Tahap Pelita 196 9/701988/89. Arief. Tentunya tidak diinginginkan bahwa "generasi saat ini yang berpesta pora sementara generasi anak cucu nanti yang mencuci pining"? DAFTAR PU STAKA Abimanyu. Economic Journal. 1989. September 1972. Ketergantungan dan Keterbelakangan. Teori Pembangunan Dunia Ketiga. 1 996. Engeli na. Papanek. 1994. Chenery. h. inilah sumber dilema utang luar negeri. Budiman. Mahyuddin. vol. komposisi mata u ang dari kewajiban utang. 459-468. Anggito. pertumbuhan utang swasta. Manajemen Keuangan Intemasional: Pengantar Ekonomi dan Bisnis Global. Hol lis B. no. 19601970". "The Effe ct of Aid and Other Resource Transfers on Savings and Growth in Less Developed C ountries". Moh. "Dampak-dampak Kegiatan Penanaman Modal Asing terhadap Pertumbuhan Ekonomi d i Indonesia". pertumbuhan utang sektor publik dan quasi-public.no. 37(1). lkhsan. Kelola Gad jah Mada University Business Review. 63. "Pelarian Modal dari Indonesia: Estimasi dan Masala hnya". 50-58. September 1194. no. LSP. Yogyakarta. 881-899. h. and Implications for International Financial Management". h. yaitu: arah kebijakan ekonomi pemerintah. 82. Djojoh adikusumo. Sritua dan Adi Sasono.Kemandirian". Prospektif PPSK. "Utang Luar Negeri dan Efisiensi Penggunaan dalam Pemba ngunan Ekonomi Indonesia". 1984. 6(1). sekaligus dilema memelihara m omentum pembangunan. and Nicholas G. PT Gramedia. 111(7). Mei 1973. Deviations.

Tucker. dan Thoma s C. Todaro. World Development. Ja karta. no. Kelola Gadjah Mada University Business Review. 7/III. Longman. Januari 1975.. 1992. Economic Development in the Third World. seorang pemirsa menanyakan suatu pertanyaan menggelitik berikut. New York. Thee Kian. Wie. Jeff Madura. West Publishing Company. Michael P. Chiang. "Foreign Capital and Economic Growth". edisi ke-5. PT Gramedia. Sanyoto. International Financial Market. 3.1. BAB 9 EK0NOMI KERAKYATAN SEKTOR RIIL DAN UMKM Dalam suatu talkshow di suatu tele visi swasta. 1994. Teori Ekonomi dan Kebijaksanaan Pemba ngunan: Kumpulan Esei untuk Menghormati Sumitro Djojohadikusumo. vo l. dalam Hendra Esmara (penyunting).. no. "M engapa kita hanya membicarakan krisis keuangan global? 111 . Alan L. Stoneman. "'Overview' Perkembangan Investasi di Indonesia: Sebuah Pengantar".Sastrowardoyo. h. Colin. "Pendekatan Dependencia dalam Sejarah Perekonomian: Suatu Kritik". 1994. 1988.11 5. Essex.

2001). macan Asia yang tibatiba mat i (Hill. UMKM yang berorientasi ekspor justru berpesta pora ketika nilai rupiah ambruk hingga mencapai Rp17. sistem ekonomi kerakyatan ada lah sistem ekonomi yang memihak pada kepentingan ekonomi rakyat (Mubyarto. mikro. Hal Hill memuji Indonesia sebelum krisis. Singkatnya. kecil. lambat laun menjadi krisis kepercayaan. sepuluh tahun lalu Indonesia mengalami krisis total. Saya mencoba menelusuri dimensi krisi s pada 1998 dan 2008. krisis itu kami alami hampir setiap hari.000 lebih per dolar AS. 112 . bahkan menimbulkan kebingungan. dia menulis Indonesia sebagai the sudden death of Asian Tiger. tidak hanya krisis moneter. Pada awalnya memang hanya krisis mata uang. dan tujuan pembangunan dengan sasaran utama perbaikan nasib rakyat (Sumawinata. Namun ketika krisis melanda negeri ini. Pertama. mayorita s UMKM umumnya dianggap unbankable. sifat." Saya ter menung mendengar komentar kritis tersebut. dan krisis politik. Dengan kata lain. 1998). usaha mikro. krisis keuangan. yan g menyebutkan kata "ekonomi rakyat" dua kali.Tidak kurang. 2004: 161). tidak layak mendapatkan kredit dari bank kom ersial sehingga tidak terpengaruh dengan credit crunch yang melanda sektor korpo rat. Padahal dalam sistem ekonomi k erakyatan sudah disebutkan dalam ketetapan MPR. Ekonomi kerakyatan adalah gagasan tentang cara. setidaknya Tap no. pengusaha kecil. lingkup. Ekonomi rakyat merupakan sektor yang mencakup UMKM.Bukankah itu krisis orang kaya yang mengeluh dan teriak-teriak karena sedikit me nurun return (keuntungan) atau kekayaannya? Bagi kami. krisis ekono mi. UMKM inilah pilar utama ekonomi kerakyatan di Indonesia. Barangkali konsep ekonomi kerakyatan hanya membingungkan bagi mereka yang menolaknya. Guru besar dari Australian National University ini ya kin bahwa Indonesia akan menjadi emerging giant in South East Asia. Mereka mendapatkan windfall profit akibat depresiasi rupiah karena mendapatkan penghasilan dalam dolar AS. XVI/1998. d an zvong cilik pada umumnya. Kedua. Dimensi krisis Indonesia pada 1998 ternyata paling parah d ibandingkan enam negara Asia lain (Rao. menengah (UMKM) bisa bertahan. dan koperasi. 2002: Bab 5). raksasa ekon omi yang naik daun di ASEAN. dan isinya. bah kan banyak yang malah mengalami masa boom karena beberapa faktor. sebag ai pilar utama pembangunan nasional. krisis sosial. Agak mengagetkan k etika dalam pidato kenegaraan Presiden Megawati 16 Agustus 2001 menyebutkan bahw a konsep ekonomi kerakyatan dan ekonomi rakyat belum jelas pengertian. Hebatnya.

dan besar. permasalahan mend asar yang dihadapi UMKM.. namun justru pe rusahaan skala konglomerat.. pengurangan jumlah kemiskinan.1). Dalam konstelasi inilah. UMKM jelas perlu mendapat perhatian karena t idak hanya memberikan penghasilan bagi sebagian besar angkatan kerja Indonesia. UMKM juga berkontribusi terhadap penerimaan ekspor. pertumbuhan UMKM akan menimbulkan dampak positif terhadap peningka tan jumlah tenaga kerja. is juga berfungsi sebagai strategi mempertahankan hidup (survival strategy) d i tengah krisis. namun kontribusi UMKM jauh lebih kecil dibandingkan 113 . Studi empiris membuktikan bahwa pertambahan nilai tambah ternyata tidak dinikmati oleh perusahaan skala kecil. Kendati demikian. 9. perhatian untuk menumbuhkembang kan UMKM setidaknya dilandasi oleh tiga alasan. bahkan justru perusahaan besar dan konglomeratlah yang mendap at keuntungan. K uncoro. UMKM memegang peranan penting dalam ekspor nonmigas. Di memberikan tambahan pendapatan (Sandee et al. pemerintah secara konsisten telah melak ukan berbagai upaya deregulasi sebagai upaya penyesuaian struktural dan restrukt urisasi perekonomian. UMKM menyerap banyak te naga kerja (lihat Tabel 19.1. (2006) Kedua. namun juga merupakan perdesaan. Apa lagi karena lokasinya banyak di perdesaan. Kecenderungan menyerap banyak tenaga kerja umumny a membuat banyak UMKM juga intensif dalam menggunakan sumberdaya slam lokal. yang men ikmati kenaikan nilai tambah secara absolut maupun per rata-rata perusahaan (Kun coro & Abimanyu. pake t kebijakan UMKM. tujuh tantangan bagi UMKM di tengah krisis global. 1994). dan akses modal dengan lembaga keuangan mikro.Bab ini akan membahas mengenai peran UMKM dalam perekonomian. sedang. banyak yang mensinyalir deregulasi di bi dang perdagangan dan investasi tidak memberi banyak keuntungan bagi perusahaan k ecil dan menengah. Pertama. 1999). 1994. MENGAPA UM KM PERLU DIKEMBANGKAN? Sejak tahun 1983. dan pembangunan ekonomi di perdesaan (Simatupang et al. 1995).000 orang. ujung peran tombak penting dalam UMKM upaya peng entasan kemiskinan. merupakan seedbed bagai pengembangan industri dan sebagai pelengkap produksi pertanian bagi penduduk miskin (Weijland. pemerataan dalam distrib usi pendapatan. Dari sisi kebijakan. 1996). faktor-faktor yang menyebabkan UMKM perlu dikembangkan. Boleh dikat a. profil dan sebaran UMKM. dengan tenaga kerja lebih dari 1.031 juts atau menempati peringkat kedua setelah ekspor da ri kelompok aneka industri. yang pada tah un 1990 mencapai US$ 1.

penyumbang terbesar ekspor nonmigas juga sektor industri pengolahan.1 memperlihatkan bah wa pada puncak piramida dipegang oleh usaha skala besar. dan 108 tenaga kerja per unit us aha untuk usaha besar. d11.). kecil dan mikro (99. Pengembangan industri berskala kecil akan membantu mengatasi masaiah pen gangguran. hambatan masuk rendah. yang jumlah unit u sahanya hanya sebesar 0. modal. m argin keuntungan rendah. menikmati margin keuntungan yang t inggi. adanya urgensi untuk struktur ekonomi yang berbentuk piramida. Berbagai layanan yang dapat disediakan koperasi dapat dimanfaatkan UMKM untuk peningkatan usahanya. Gambar 19. UMKM mampu menyumbang ekspor n onmigas sebesar 19.3% dan penyerapan tenaga kerja sebesar 62. Menurut Sensus Ekonomi 200 6. nontariff barriers. 1%) yang beroperasi dalam iklim yang sangat kompetitif.dengan kontribusi usaha besar (lihat Tabel 19. Thee (1993:109) mengemukakan bahwa pengembangan industri kecil adalah can_ yang dinilai besar peranannya dalam pengembangan industri manu faktur.2% hingga hampir 22% selama 2002-2005. dan sepatu. hambatan masuk tinggi (adanya bea masuk. tekst il dan produk tekstil. mengingat teknologi yang digunakan adalah teknologi padat karva sehin gga dengan demikian selain bisa memperbesar lapangan kerja dan kesempatan usaha. dan tingkat drop-out tinggi.1 juga menunjukkan usaha mikro dan kecil mendominasi dari sisi unit usaha sebesar 83. Struktur ekonomi bentuk pi ramida terbukti telah mencuatkan isu konsentrasi dan konglomerasi. Kelembagaan koperasi 114 . Pada UMKM. perkembangan koperasi juga belum dap at berperan optimal dalam mendukung perekonomian nasional. Gambar 19. menyerap 9.5%. s eperti pinjaman uang/barang modal. Sebaliknya usaha besar dan menengah.6% tenaga kerja dengan perbandingan 19 te naga kerja per unit usaha untuk usaha menengah. terutama garmen. 2006).7 juta unit usaha didominasi oleh usaha skala menengah. pengadaan bahan Baku. pemasaran. yang menunjukkan adanya ketimpangan yang lebar antara pemain kecil dan besar dalam ekonomika Indonesia.2). dengan perbandin gan 2 tenaga kerja per unit usaha untuk usaha mikro dan 3 tenaga kerja per unit usaha untuk usaha kecil.2%. dengan ciri: beroperasi dalam struktur pasar quasimonopoli oligopolistik. dan akumulasi modal cepat (Kuncoro. dan bimbinga n usaha. yang pada gilirannya mendorong pembangunan daerah dan kawasan perdesaan. Ketiga. Sebaga i pendamping kelangsungan pertumbuhan UMKM. Pada dasar piramida dari total 22. serta banyak dituding melestarikan dualisme perekonomian nasional.

Persentase koperasi ak tif yang telah melaksanakan rapat anggota tahunan (RAT).2).9% pertahun.5% pertahun). PROFIL DAN SEBARAN UMKM 115 . Perkembangan Kelembagaan Koperasi Tahun 2000-2006 Perkembangan jumlah koperasi aktif untuk periode 2000-2006 secara nasional terca tat mengalami peningkatan rata-rata sebesar 1. Sejalan dengan perkembangan koperasi. dan terus meningkat sehingga pada tahun 2006 jumlahnya mencapai hamper 142 ribu unit (lihat Gambar 19. jumla h koperasi mencapai lebih dari 103 ribu unit. Namun laju pertumbuha nnya masih lebih rendah dibandingkan laju pertumbuhan jumlah koperasi secara nas ional (5. Data pada gambar ini juga menunjukkan bahwa proporsi koperas i aktif terhadap jumlah koperasi total cenderung menurun. Gam bar 91. sebagai salah satu indikator untuk mengukur kinerja koperasi. Belum optimalnya k eberadaan UMKM dan Koperasi di Indonesia pasti menimbulkan pertanyaan yang barangkali muncul: bagaimana profil UMKM di Indonesia? Apa permasalahan dan tantangan aktual yang mereka hadapi? Sej auh mana upaya pembinaan dan pengembangan yang telah dilakukan? 9. Pada tahun 2000. juga cenderung naik-turun dalam periode 2000-2006.2. Hal ini mengindikasikan semakin banyak koperasi tidak akt if pada akhir 2006. jumlah anggota koperasi mengalami peningkatan..periode 2000-2006 mengalami perkembangan yang signifikan.

tidak adany a pembagian tugas yang jelas antara bidang administrasi dan operasi. yaitu: (1) industri rumah tangga dengan pekerja 1-4 orang. UMKM mempunyai karakteristik yang hampir seragam. Data BPS (1994) menunjukkan jumlah pengusaha kecil telah mencapai 34. atau memiliki hasil penjualan tahunan lebih d ari Rp2. 316 juta orang yang meliputi 15. Pertama. atau memiliki hasil penjualan tahunan lebih dari Rp300 juta rupiah sampai dengan paling banyak Rp2. serta memanfaatkan tenaga kerja dari keluarga dan kerabat dekatnya. Kebanyakan industri kecil dikelola oleh perorangan yang merangkap sebagai pemilik sekaligus pengelola perusahaan. Kedua.990. usaha kecil identik dengan industri kecil dan industri rumah t angga. 1996: 5).227 juta orang pengusaha kecil yang menggunakan tena ga kerja anggota keluarga sendiri serta 54 ribu orang pengusaha kecil yang memil iki tenaga kerja tetap.5 miliar sampai dengan paling banyak Rp50 milliar. tidak termasuk tanah dan bangunan tempat usaha. menurut kategori Badan Pusat Statistik (BPS). (2) industri kecil dengan peker ja 5-19 orang. definisi usaha kecil menurut Undang-Undang No. 1999: 250). ternyata 90.6% merupakan perusahaan perorang an 116 . BPS mengklasifikasikan industri berdasarkan jumlah pekerjanya. Kedua. Usaha Menengah memiliki kekayaan ber sih lebih dari Rp500 juta sampai dengan paling banyak Rp10 miliar. 20 T ahun 2008 tentang UMKM membedakan beberapa jenis usaha di Indonesia dengan krite ria sebagai berikut: Pertama. 635 juta pengusaha kecil mandiri (tanpa menggun akan tenaga kerja lain). Kedua. 9 tahun 1995 tentang Usaha Kecil adalah kegiatan ekonomi rakyat yang memiliki hasil penjualan tahunan maksimal Rpl miliar dan me miliki kekayaan bersih. Undang-Undang No. sebagian besar usaha kecil ditandai dengan belum dipunyainva status badan hukum. Usaha Mikro adalah usaha yang memiliki kekayaan be rsih paling banyak Rp50 juta. tidak termasuk tanah dan bangunan tempat usaha. dari jumlah perusaha an kecil sebanvak sebanvak 124.5 miliar. paling b anyak Rp200 juta (Sudisman & Sari. Menurut catatan BPS (1994). Kendati ada beberapa definisi.Ada dua definisi usaha kecil yang dikenal di Indonesia. tidak termasu k tanah dan bangunan tempat usaha. tidak termasuk tanah dan bangunan tempat usaha. (3) industri menengah dengan pekerja 20-99 orang. Pertama. Usaha Kecil adalah usaha yang memiliki kekayaan bersih lebih dari Rp50 juta rupiah sampai d engan paling banyak Rp500 juta rupiah. Ketiga. at au memiliki hasil penjualan tahunan paling banyak Rp300 juta. 18. (4) industri be sar dengan pekerja 100 orang atau lebih (BPS.

dilihat menurut golongan industri tampak bahwa hampir sepertiga bag ian dari seluruh industri kecil bergerak pada kelompok usaha industri makanan. menyediakan lapangan pekerjaan sekitar 40% dari total kesempatan kerja.3 menunjukkan bahwa UMK M memiliki peranan yang cukup besar dalam industri manufaktur dilihat dari sisi jumlah unit usaha dan daya serap tenaga kerja.5% dari keseluruhan nilai output.8% dari total unit usaha yang ada. CV. IBM menyumbang 91. m inuman dan tembakau (ISIC31). namun lemah dalam menyumbang nila i output. menyerap sekitar 39% dari total kesempatan kerja. Pada tahun 2002. Banyaknya jumlah orang yang bekerja pada UMKM memperl ihatkan betapa pentingnya peranan UMKM dalam membantu memecahkan masalah pengang guran dan pemerataan distribusi pendapatan.7% tergolong perusahaan perorangan berakta notaris . ternyata 99. Pada tahun 2002.8 %. Di lain pihak. IBM menyumbang 91% dari keseluruhan nilai output. dan industri kayu.3 % dari total kesempatan kerja. diikuti oleh kelompok industri barang galian bukan logam (ISIC36). Sedangkan yang berg erak pada kelompok usaha industri kertas (34) dan kimia (35) relatif masih sanga t sedikit sekali yaitu kurang dari 1%. rump ut dan sejenisnya termasuk perabotan rumahtangga (ISIC33) masing masing berkisar antara 21% hingga 22% dari seluruh industri kecil yang ada.7% yang sudah mempunyai badan hukum (PT/NV. industri tekstil (ISIC32).2% merupakan unit usaha UMKM. Sekitar 99% jenis usaha b isnis di Indonesia tergolong sebagai UMKM. UMKM. rotan. industri besar dan me nengah (IBM) memberikan kontribusi yang dominan dari sisi nilai output. Firma. Pola ini cenderung sama dari tahu n ke tahunnya (1997-2002).bambu.8% dari total un it usaha yang ada.yang tidak berakta notaris.732 juta. Ketiga. Kendati demikian. dari total unit usaha manufaktur di Indonesia sebanya k 2. namun hanya menyumbang 0. ternyata tenaga kerja yang diserap oleh UMKM masih sekitar 59% dari total ten aga kerja yang terserap untuk sektor 117 . mampu menyediakan kesempatan kerja sebesar 59. Selain dominan dalam jumlah unit usah a. 4. atau Kopera si). Data berdasarkan Sen sus Ekonomi 1996 menunjukkan tren yang tidak berubah . dan hanya 1. Padahal. sumbangan nilai output UMKM terh adap industri manufaktur hanya sebesar 17. Tabel 19. dengan jumlah tena ga kerja kurang dari 20 orang. namun dari sisi hanya menyumbang 0. Pada tah un 1997.

Pembinaan UMKM hares lebih diarahkan untuk men ingkatkan kemampuan pengusaha kecil menjadi pengusaha menengah dan pengusaha mik ro menjadi pengusaha kecil. MASALAH DASAR UMKM Memang cukup berat masalah yang dihadapi untuk memperkua t struktur perekonomian nasional. Lemahnya kema mpuan manajerial dan sumberdaya manusia ini mengakibatkan pengusaha kecil tidak mampu menjalankan usahanya dengan baik. UMKM tersebar secara merata di luar ketiga kota metropolitan Jawa.industri. Kon tribusi UMKM di Jawa terhadap total tenaga kerja dan omzet masing-masing sekitar 75%. kelemahan dalam struktur permodalan dan keterbata san untuk memperoleh jalur terhadap sumber-sumber permodalan. pemasaran dan keuangan. Namun berbeda dengan IBM yang terkonsentrasi secara spasial di kota-kota b esar.3. sama seperti IBM. UMKM terkonsentrasi di pulau Jawa (lihat Tabel 19.5). kelemahan dalam memperoleh peluang pasar dan me mperbesar pangsa pasar. Kedua. masalah dasar yan g dihadapi UMKM adalah: Pertama. keterbatasan ja ringan usaha 118 . Dilihat dari sebaran geografis nya. Angka ini masih lebih besar dibanding industri besar dan menengah (IBM ). Secara lebih spesifik. keahlian. 9. Keempat. ketrampilan. man ajemen sumber daya manusia. yang hanya menampung tenaga kerja sekitar 41%. Ketiga. kewirausahaan. kelemahan di bidang organisasi dan manajemen sumber daya manusia. Namun disadari pula bahwa pengembangan usaha kecil m enghadapi beberapa kendala seperti tingkat kemampuan.

juga cend erung naik-turun dalam periode 20002006. sebagai salah satu indikator untuk mengukur kinerja koperasi. tidak termasuk tanah dan bangunan tempat usaha. (3) industri menengah dengan pekerja 20-99 orang. definisi usaha kecil menurut Undang-Undang No. pembina an yang telah dilakukan masih kurang terpadu dan kurangnya kepercayaan serta kep edulian masyarakat terhadap usaha kecil.2. 9 tahun 1995 tentang Usaha Kecil adalah kegiatan ekonomi rakyat yang memiliki hasil penjualan tahunan maksimal Rpl miliar dan me miliki kekayaan bersih. Kedua. Usaha Kecil adalah usaha yang memiliki kekayaan bersih lebih dari Rp50 juta rupiah sampai d engan paling banyak Rp500 juta rupiah. telah melaksanakan rapat anggota tahuna n (RAT). tidak termasuk tanah dan bangunan tempat usaha. usaha kecil identik dengan industri kecil dan industri rumah t angga.5 miliar.kerjasama antar pengusaha kecil (sistem informasi pemasaran). Kelima. PROFIL DAN SEBARAN UMKM Ada dua definisi usaha kecil yang dikenal di Indonesia. at au memiliki hasil penjualan tahunan paling banyak Rp300 juta. tidak termasuk tanah dan bangunan tempat usaha. Usaha Mikro adalah usaha yang memiliki kekayaan be rsih paling banyak Rp50 juta. atau memiliki hasil penjualan tahunan lebih dari Rp300 juta rupiah sampai dengan paling banyak Rp2. iklim usah a yang kurang kondusif. (2) industri kecil dengan peker ja 5-19 orang. Belum optimalnya keberadaan UMKM dan Ko perasi di Indonesia pasti menimbulkan pertanyaan yang barangkali muncul: bagaima na profil UMKM di Indonesia? Apa permasalahan dan tantangan aktual yang mereka h adapi? Sejauh mana upaya pembinaan dan pengembangan yang telah dilakukan? 9. Kedua. Ketiga. 1999: 250). 20 T ahun 2008 tentang UMKM membedakan beberapa jenis usaha di Indonesia dengan krite ria sebagai berikut: Pertama. Pertama. menurut kategori Badan Pusat Statistik (BPS). Usaha Menengah memiliki kekayaan ber sih lebih dari Rp500 juta sampai dengan paling banyak Rp10 miliar. yaitu: (1) industri rumah tangga dengan pekerja 1-4 orang. BPS mengklasifikasikan industri berdasarkan jumlah pekerjanya. tidak termasu k tanah dan bangunan 119 . (4) industri be sar dengan pekerja 100 orang atau lebih (BPS. 1996: 5). Undang-Undang No. karena persaingan yang saling mematikan. Keenam. paling b anyak Rp200 juta (Sudisman & Sari.

tempat usaha. dari total unit usaha manufaktur di Indonesia sebanyak 2. 4. rumput dan sejenisnya termasuk perabotan rumahtangga (ISIC33) masing masing berkisar antara 21% hingga 22% dari seluruh industri kecil yang ada. Firma. mampu menyediakan kesempatan kerja sebesar 59. namun lemah dalam menyumbang nilai output.7% y ang sudah mempunyai badan hukum (PT/NV.227 juta orang pengusaha kecil yang menggunakan tenaga kerja anggota kelu arga sendiri serta 54 ribu orang pengusaha kecil yang memiliki tenaga kerja teta p. dari jumlah perusahaan kecil sebanyak seb anvak 124. Pada tah un 2002. Ketiga. Kendati ada beberapa definisi. Pertama. ternyata 90.3 % dari total kesemp atan kerja. dan hanya 1. serta memanfaatkan tenaga kerja dari keluarga dan kerabat dekatnya. minuman dan tembaka u (ISIC31). atau memiliki hasil penjualan tahunan lebih dari Rp2. sumbangan nilai output UMKM terhadap industri manu faktur hanya sebesar 17. 635 juta pengusaha kecil mandiri (tanpa menggunakan tenaga kerja lai n).7% tergolong perusahaan perorangan berakta notaris. Banyaknya jumlah orang yang bekerja pada UMKM memperlihatkan betapa pen tingnya peranan UMKM dalam 120 .316 juta orang yang m eliputi 15. Menurut catatan BPS (1994). diikuti oleh kelompok industri barang galian bukan logam (ISIC36). UMKM. rotan. tidak adanya pembagian tugas yan g jelas antara bidang administrasi dan operasi. i ndustri tekstil (ISIC32). Sedangkan yang bergerak pada kelompok usaha industri kertas (34) dan kimia (35) relatif masih sangat sedikit sekali y aitu kurang dari 1%.990. dan industri kayu. CV. 18. Data BPS ( 1994) menunjukkan jumlah pengusaha kecil telah mencapai 34. Pola ini cenderung sama dari tahun ke tahunnya (199 7-2002).bambu. Kendati demikian. Padahal. atau Koperasi). Kedua. dengan jumlah tenaga kerja kurang da ri 20 orang.2% merupakan unit usaha UMKM. sebagian besar usaha kecil ditandai dengan belum dipunyainva status ba dan hukum.732 juta. Tabel 19.5 miliar samp ai dengan paling banyak Rp50 milliar.6% merupakan perusahaan perorangan yang tidak berakta notaris. dilih at menurut golongan industri tampak bahwa hampir sepertiga bagian dari seluruh i ndustri kecil bergerak pada kelompok usaha industri makanan. tern yata 99. UMKM mempun yai karakteristik yang hampir seragam. Kebanyakan industri kecil dikelo la oleh perorangan yang merangkap sebagai pemilik sekaligus pengelola perusahaan .3 menunjukkan bahwa UMKM memiliki peranan yang cukup besar dalam industri manufaktur dilihat dari sisi jumlah unit usaha dan daya serap tenaga kerja.8 %.

sam a seperti IBM. yang hanya menampung tenaga kerja sekitar 41%.membantu memecahkan masalah pengangguran dan pemerataan distribusi pendapatan. UMKM terkonsentrasi di pulau Jawa Kontribusi UMKM di Jawa terhada p total tenaga kerja dan omzet masing-masing sekitar 75%.5% dari keseluruhan nilai output. 1996 (%) 121 . Namun berbeda dengan I BM yang terkonsentrasi secara spasial di kota-kota besar. IBM menyumbang 91% dari keseluruhan nilai output.3. D i lain pihak. Angka ini masih lebih besar dibanding industri besar dan menengah (IBM). menyediakan lapangan pekerjaan sekita r 40% dari total kesempatan kerja. menyerap sekitar 39% dari total kesempatan kerja. IBM menyu mbang 91. Industri Manufaktur Menurut jumlah Tenaga Kerja dan Unit Usaha: Indo nesia. Dilihat dari sebaran geografisnya. Se lain dominan dalam jumlah unit usaha. ternyata tenaga kerja yang diserap oleh UM KM masih sekitar 59% dari total tenaga kerja yang terserap untuk sektor industri . Pada tahun 1997. namun hanya menyumbang 0. UMKM tersebar secara m erata di luar ketiga kota metropolitan Jawa.8% dari total unit usaha yang ada. industri besar dan menengah (IBM) memberikan kontribusi yang domin an dari sisi nilai output. Sekitar 99% jenis usaha bisnis di Indonesia tergolong sebagai UMKM. Pada tahun 2002. Gambar 9. namun dari sisi hanya menyumbang 0.8% dari total unit u saha yang ada. Data berdasarkan Sensus Ekonomi 1996 menunjukkan tren yang tidak berubah .

K eenam. kewirausahaan. tanta ngan yang dihadapi UMKM dapat dibagi dalam dua kategori: Pertama. man ajemen sumber daya manusia. Keempat. keahlian.3. Secara lebih spesifik. Lemahnya kema mpuan manajerial dan sumberdaya manusia ini mengakibatkan pengusaha kecil tidak mampu menjalankan usahanya dengan baik. masalah dasar yan g dihadapi UMKM adalah: Pertama. kelemahan di bidang organisasi dan manajemen sumber daya manusia. Keli ma. ketrampilan. pemasaran dan keuangan. kelemahan dalam memperoleh peluang pasar dan me mperbesar pangsa pasar. MASALAH DASAR UMKM Memang cukup berat masalah yang dihadapi untuk memperkua t struktur perekonomian nasional. pembinaan yang telah dilakukan masih kurang terpadu dan kurangnya keperca yaan serta kepedulian masyarakat terhadap usaha kecil. keterbatasan ja ringan usaha kerjasama antara pengusaha kecil (sistem informasi pemasaran). Secara garis besar. Pembinaan UMKM harus lebih diarahkan untuk men ingkatkan kemampuan pengusaha kecil menjadi pengusaha menengah dan pengusaha mik ro menjadi pengusaha kecil. Ketiga. iklim usaha yang kurang kondusif. Namun disadari pula bahwa pengembangan usaha kecil m enghadapi beberapa kendala seperti tingkat kemampuan. karena persaingan yang saling mematikan.9. Kedua. bagi usaha mik ro dengan omset kurang dari Rp300 juta setahun umumnya tantangan yang dihadapi a dalah bagaimana menjaga kelangsungan hidup 122 . kelemahan dalam struktur permodalan dan keterbata san untuk memperoleh jalur terhadap sumber-sumber permodalan.

usahanya. Bagi mereka, umumnya asal dapat berjualan dengan "aman" sudah cukup. M ereka umumnya tidak membutuhkan modal yang besar untuk ekspansi produksi; biasan ya modal yang diperlukan sekedar membantu kelancaran cashflow saja. Bisa dipaham i bila kredit dari BPR-BPR, BKK, TPSP (Tempat Pelayanan Simpan Pinjam-KUD), lint ah darat, mindring, bank plecit, amat membantu modal kerja mereka. Kedua, bagi u saha kecil dengan omset antara Rp300 juta hingga Rp2,5 miliar, tantangan yang di hadapi jauh lebih kompleks. Umumnya mereka mulai memikirkan untuk melakukan eksp ansi usaha lebih lanjut. Berdasarkan pengamatan Pusat Konsultasi Pengusaha Kecil UGM, urutan prioritas permasalahan yang dihadapi oleh usaha jenis ini adalah (K uncoro, 1997): (1) Masalah belum dipunyainya sistem administrasi keuangan dan ma najemen yang baik karena belum dipisahkannya kepemilikan dan pengelolaan perusah aan; (2) Masalah bagaimana menyusun proposal dan membuat studi kelayakan untuk m emperoleh pinjaman baik dari bank maupun modal ventura karena kebanyakan UMKM me ngeluh berbelitnya prosedur mendapatkan kredit, agunan tidak memenuhi syarat, da n tingkat bunga dinilai terlalu tinggi; (3) Masalah menyusun perencanaan bisnis karena persaingan dalam merebut pasar semakin ketat; (4) Masalah akses terhadap teknologi terutama bila pasar dikuasai oleh perusahaan/grup bisnis tertentu dan selera konsumen cepat berubah; (5) Masalah memperoleh bahan baku terutama karena adanya persaingan yang ketat dalam mendapatkan bahan baku, bahan baku berkulait as rendah, dan tingginya harga bahan baku; (6) Masalah perbaikan kualitas barang dan efisiensi terutama bagi yang sudah menggarap pasar ekspor karena selera kon sumen berubah cepat, pasar dikuasai perusahaan tertentu, dan banyak barang pengg anti; (7) Masalah tenaga kerja karena sulit mendapatkan tenaga kerja yang teramp il. 9.4. TUJUH TANTANGAN UMKM DI TENGAH KRISIS Tidak diragukan bahwa fundamental makroekonomi dan kinerja sektor riil Indonesia belum menunjukkan tanda-tanda kr isis sampai pertengahan 2008, meski krisis keuangan mengguncang Amerika Serikat dan Eropa. Krisis global ini memang sempat mengguncang pasar modal dan valas di Indonesia. Bursa Efek Indonesia terpaksa di-suspend setelah indeks harga saham g abungan (IHSG) anjlok lebih dari 10% untuk kedua kalinya dalam waktu tiga hari, dan sempat bertengger 123

di posisi 1.451. Pada Oktober 2008, kurs sempat menyentuh level Rp9.870 per US$. Namun, seberapa jauh krisis ini akan berdampak pada sektor riil, khususnya UMKM , tampaknya perlu diantisipasi. Kewaspadaan diperlukan walaupun pemerintah optim istic bahwa fundamental perekonomian nasional masih cukup kuat untuk menyangga s ektor riil. Saat ini, BI Rate yang tinggi, mencapai 9,5%, tentu merupakan kebija kan yang paling Namun UMKM terbukti tahan terhadap krisis dan mampu survive kare na: pertama, tidak memiliki utang luar negeri. Kedua, tidak banyak utang ke perb ankan karena mereka dianggap unbankable. Ketiga, menggunakan input lokal. Keempa t, berorientasi ekspor. Selama 1997-2006, jumlah perusahaan berskala UKM mencapa i 99% dari keseluruhan unit usaha di Indonesia. Sumbangan UKM terhadap produk do mestik bruto mencapai 54%-57%. Sumbangan UKM terhadap penyerapan tenaga kerja se kitar 96%. Sebanyak 91% UKM melakukan kegiatan ekspor melalui pihak ketiga ekspo rtir/pedagang perantara. Hanya 8,8% yang berhubungan langsung dengan pembeli/imp ortir di luar negeri. Namun, daya tahan UKM pascakenaikan harga bahan bakar miny ak (BBM) benarbenar diuji. Kenaikan harga BBM yang diumumkan pemerintah pada 23 Mei 2008 sangat mempengaruhi kondisi usaha UKM. Survei terhadap pelaku UKM di DI Yogyakarta menunjukkan bahwa kenaikan harga BBM menyebabkan 18.734 pelaku usaha tersebut di daerah ini semakin terpuruk, bahkan kreditnya terancam macet. Berda sarkan pengakuan UKM, sebanyak 73% dari total responden mengatakan usaha mereka terpengaruh oleh dampak kenaikan harga BBM. Gambar 19.4 memperlihatkan bahwa 31% di antaranya amat terpengaruh karena biaya BBM mencapai di atas 50% dari total biaya produksi, 30% mengaku terpengaruh karena biaya BBM antara 20-50% dari tota l biaya produksi, dan 12% lainnya agak terpengaruh karena biaya BBM antara 10-20 % dari total biaya produksi. Gambar 9.4 Pengaruh Kenaikan BBM Terhadap UMKM di DIY 124

Dari total responden yang mengaku sangat terpengaruh kenaikan harga BBM di atas, sebagian besar adalah UMKM yang bergerak sektor makanan, minuman dan tembakau ( 38%). Lainnya, 17% adalah UMKM yang bergerak di sektor kayu, bambu, rotan, rumpu t dan sejenisnya dan 14% adalah UMKM yang bergerak di sektor barang dari logam ( lihat Gambar 19.5). Gambar 9.5.Pengaruh Kenaikan BBM Terhadap UMKM Menurut Sekto r di DIY Survei ini sejalan dengan survei Badan Pusat Statistik (BPS) yang menyebutkan ba hwa kenaikan harga BBM berpengaruh terhadap kenaikan biaya produksi usaha mikro sebesar 34%, usaha kecil 24,6%, dan usaha menengah 129,6% (Kompas, 2008). Apa ta ntangan yang dihadapi UMKM? Pertama, tidak adanya pembagian tugas yang jelas ant ara bidang administrasi dan operasi. Kebanyakan UMKM dikelola oleh perorangan ya ng merangkap sebagai pemilik sekaligus pengelola perusahaan, serta memanfaatkan tenaga kerja dari keluarga dan kerabat dekatnya. Kedua, akses industri kecil ter hadap lembaga kredit formal rendah, sehingga mereka cenderung menggantungkan pem biayaan usahanya dari modal sendiri atau â ¢sumber lain, seperti keluarga, kerabat, pe dagang perantara, bahkan rentenir. 125

Firma.7% tergolong perusahaan perorangan berakta notaris. dan penetrasi pasar di luar negeri. 126 . Kelima. bahan baku. Data Sensus Ekonomi 2006 yang dikumpulkan BPS mencatat dari 403 ribu unit usaha di DIY ternyata 99% tergolong UMKM. dan peralatan usaha. tidak hanya rekonstruksi rumah dan infrastruktur. masalahnya terkait dengan banyaknya pesaing yang bergerak dalam industri yang sama. Jogja Resque Team (JRT) mendampingi dan memperjuangkan agar UMKM yang dibu ru-buru debt collectors. relatif minimnya kemampuan bahasa asing sebagai suatu hambatan dalam melakukan negosiasi. gempa tekto nik Mei 2006 terbukti memporakporandakan tidak hanya rumah namun juga tempat. bisa bernafas lega. bank. UMKM perlu diprioritaskan pemulihannya. 9. AY AT-AYAT KRISIS UMKM: KASUS DI YOGYAKARTA (DIY) Usulan moratorium bagi kredit UMK M DIY selama 3 tahun mendapat dukungan Komisi B DPRD dan Gubernur DIY. R egenerasi perajin dan pekerja terampil relatif lambat. Keempat. Ini kali ke-2. Ketujuh. Ini karena ba han baku bagi UMKM yang berorientasi ekspor sebagian besar berasal dari luar dae rah usaha tersebut berlokasi. barang siap ekspor. perusahaan leasing. masalah utama yang dihadapi dalam memenuhi kebutuhan tenaga kerja adalah tidak terampil dan mahalnya biaya tenaga kerja. Akibatnya. pa brik. Mayoritas UMKM merupakan perusahaan perorangan yang tidak berakta notar is. Penyebabnya adalah eksportir masih menun ggu order dari pembeli/pelanggan dari luar negeri. DIY agaknya membutuhkan langkah nyata dalam menyelamatkan UM KM pasca gempa. atau koperasi). dan hanya 1. d alam bidang pemasaran. atau lintah darat. Namun. faktor musim di negara mitra dagang ikut berpengaruh. koperasi. masalah terbesar yang dihadapi dalam pengadaan bahan baku adalah maha lnya harga. tren nilai ekspor menunjukkan betapa sangat berfluktuatif dan berubahubahnya komoditas eks por Indonesia selama periode 1999-2006. CV. di banyak sent ra ekspor mengalami kelangkaan tenaga terampil untuk sektor tertentu. dan belum stabilnya bisnis UMKM yang berorientasi ekspo r.7% yang su dah memiliki badan hukum (PT/ NV. barang jadi.5.Ketiga. Keenam. 4. terbatasnya ketersediaan. dan jarak yang relatif jauh. sebagian besar usaha kecil ditandai dengan belum dipunyainya status bada n hukum.

Inilah yang membuat pusing pelaku UMKM DIY. total kredit bermasalah (macet. Ini berarti%tase kredi t bermasalah terhadap total kredit (biasa disebut NPL=Non Performing Loans) sebe sar 4. Namun bagi debitur UMKM. Usaha bisnis UMKM belum pulih 100% sementara ancaman penyitaan aset oleh para kreditur sudah di depan mata.3% dan 6.9 miliar pada bulan April 2007. namun sektor industri dan perbankan mengalami kontraksi ma sing-masing -1. Dampak gempa memang l uar biasa bagi UMKM dan perbankan DIY. tidak ada kemacetan. serta fasilitas rumah yang sekaligus bengkel kerja. Pa ra kreditur sudah banyak yang mengancam untuk menyita aset UMKM. Peraturan Bank Indonesia No 8/10/PBI/2006 memberikan per lakuan khusus bagi UMKM korban gempa di DIY dan Jawa Tengah. Kendati pertumbuhan ekonomi DIY masih pos itif 3.71%. yang lebih tinggi daripada NPL bank umum yang hanya 3. Berapa jumlah total kredit ya ng macet di DIY? Menurut data BI. PBI ini intinya men gatur restrukturisasi kredit bagi Bank Umum dan BPR yang dilakukan untuk debitur yang terkena dampak bencana alam tersebut langsung dikategorikan berkualitas 'l ancar' selama 3 tahun sejak ketentuan ini berlaku. Usulan 127 .Bank Dunia mengestimasi total kerusakan dan kerugian UMKM di DIY sekitar Rp7 tri liun. solusi atas kredit macet perlu mem pertimbangkan fakta bahwa sektor perbankan dan UMKM di DIY sama-sama Baru mender ita akibat gempa. Dengan kata lain. diragukan. Di lapangan.7% tahun lalu. PBI ini hanya menunda masalah karena restru kturisasi kredit setelah 3-6 bulan diikuti denda dan rapelan selama UMKM dibebas kan dari pembayaran cicilan utang. dan lintah darat. kur ang lancar) sebesar Rp336. Bila dirinci. koperasi.34%. pegadaian. berdasarkan pengaduan UMKM kepada JRT problem yan g dihadapi oleh UMKM lebih mengkhawatirkan. Jeritan UMKM ini didengarkan dengan seksama o leh para wakil rakyat di DPRD DIY. Pihak pemberi kredit (kreditur) tida k hanya perbankan tetapi juga leasing. PBI ini mengun tungkan dari sisi perbankan karena laporan bank ke BI nampak 'cantik'.47%. Akib atnya banyak UMKM yang terpaksa tidak dapat membayar kewajiban membayar kreditny a.9%. Pelaku UMKM ini mengeluh mereka sek arang benar-benar UMKM. Padahal dengan hancurnya peralatan dan stok barang. banyak UMKM yang mengalami stagnasi produksi. Tidak sedikit UMKM yang mengalami kredit macet. Beberapa malah sudah menggunakan jasa debt collectors dan menyita aset yan g diagunankan oleh UMKM. Dalam praktik. angka NPL di Bank Perkreditan Rakyat terhitung 10.

Bencana kekeringan yang berkepanjangan menjadi pemicu kebijakan tersebut. Adanya krisis atau kejadian luar biasa menjadi latar belakang moratorium. mendukung upaya moratorium selama 3 tahun bagi UMKM agar UMKM merasa tenteram dalam memulihkan bisnisnya. menunggu 'bo rn waktu' yang bisa meledak kapan saja. untuk mem berikan ruang gerak dan waktu bagi UMKM agar kembali memiliki kemampuan membayar kewajibannya. bersama Bank Indonesia serta pihak-pihak terk ait untuk memprioritaskan rencana aksi pemulihan ekonomi produktif untuk DIY Menunda masalah ini berarti . Menteri Keuangan. Bahkan tentang moratorium UMKM ini sudah d ilaporkan di hadapan Menko Bidang Perekonomian dan sejumlah menteri di Jakarta t anggal 26 Juni 2007. kondisi kolektibilitas kredit UMKM jelas mengkhawatirkan. moratorium kredit UMKM membutuhkan rencana aksi terkoordinasi dari M enteri Koordinator Bidang Perekonomian.Jogja Resque Team (JRT) untuk moratorium kredit bagi UMKM sampai tahun 2010 mend apat dukungan Komisi B DPRD DIY. khususnya Menteri Keuangan. Tak kuran g ada 17. ataukah penghapusbukuan (wri te-off) dan penghapus tagihan? Bila moratorium kredit disepakati oleh kreditur d an diijinkan oleh BI. Pemda. serta mendapat 'Iampu hijau' dari pemerintah pusat. Menteri Perindustrian. 128 . Apa yang dimaksud dengan moratorium kredit? Moratorium inti nya merupakan suatu 'penundaan' terhadap utang atau kredit usaha. Kendati nilai agunan mencapai Rp884 miliar. Posisi kredit UMKM pada bank/pemberi pinjaman semakin buruk. dengan penurunan nilai aset sekitar 20-45%. Menneg KUMKM. Karena itu. dengan nilai kredit mencapai Rp328 miliar. Kred it UMKM yang termasuk lancar menurun drastis dari 27% menjadi 1%. Gubernur DIY Sri S ultan HB X. bank komersial dan bank regional. UMKM m asih membutuhkan modal kerja yang memadai untuk memulihkan aktivitas bisnisnya. Untuk moratori um kredit UMKM Jogja perlu dirumuskan apakah moratorium kredit mencakup penjadua lan pembayaran utang (rescheduling) selama 3 tahun. pada tahun 2004 m elakukan moratorium bagi kredit usaha pertanian yang berdurasi 6 bulan. Menneg BUMN. Data dari 20 Juni 2006 sampai den gan Oktober 2007 posisi kredit yang bermasalah semakin memprihatinkan. Tujuannya. Kebijakan ini mencakup kredit untuk pertanian dan pengolahan lahan pertanian yang dikeluarkan oleh perusahaan pemberi kredit.526 kredit UMKM yang terancam bermasalah. Pemerintahan India. Ketika bertemu JRT Mei 2008.

injeksi pinjaman. kredit kurang lancar naik dari 8% menjadi 9%. sebenarnya program restrukturisasi kredit di D IY tidak mengatasi permasalahan pokok karena kredit bermasalah meningkat dari 64 % pada 2006 menjadi 83% pada 2007. Perlu digarisbawahi. Dalam konteks inilah. Lembaga Leasing. 19% tidak direstrukturisasi dan sisanya malah tidak memiliki keterangan. terutama untuk kredit mikro dengan maksimal kredit Rp5 juta. Pemda propinsi dan kabupate n/kota dapat meminta pihak perbankan baik pemerintah maupun swasta dan BPR (Bank Perkreditan Rakyat). Kebijakan restruk turisasi kredit belum cukup jika tidak disertai 'bantuan teknis' untuk mempercep at pemulihan. program ak si yang dapat dilakukan adalah membantu penyelesaian kredit bermasalah. Namun. sisanya sulit pulih k arena mayoritas tempat tinggal mereka digunakan pula sebagai tempat usaha. Kondisi UMKM yang tidak direstrukturisasi mal ah lebih parah. agaknya belum cukup ampuh mengerem laju penurunan kinerja UMKM maupun menghentikan penyitaan terhad ap aset jaminan UMKM. Tim Ad-hoc masih menerima pengaduan dari UMKM tentang ancaman debt collectors dan penyitaan aset UMKM. Bahkan yang t ermasuk dalam kategori 'tidak ada keterangan' diperkirakan juga bermasalah karen a cenderung meningkat dari 20% menjadi 29%. Saat ini yang paling dibutuhka n pelaku UMKM dengan kredit bermasalah adalah modal segar agar bisa segera bangk it. ataupun permohonan kepada Dirjen Kekayaan dan Lelang Negar a untuk menunda lelang terhadap jaminan nasabah UMKM. Diperkirakan hanya 45% UMKM yang bisa bangkit sendiri.Kendati kredit yang tergolong dalam perhatian khusus menurun dari 26% menjadi 19 %.500 kredit UMKM korban gempa menunjukkan bahwa ada sekitar 47% yang direstrukturisasi. Hampir tiap hari.5% menjadi 96%. kredit bermasalahnya meningkat dari 54. Di tingkat Pemda. 129 . seperti pendampingan dan pelatihan. penangguhan eksekusi jaminan ba gi UMKM korban gempa. kredit diragukan naik dari 9% m enjadi 11% dan kredit macet melonjak drastis dari 10% menjadi 31%. Sri Sultan Hamengku Bu wono X. Gubernur DIY.Angkaangka dan faktafakta ini menunjukkan bahwa meski sudah ada upaya pemulihan UMKM terny ata hasilnya belum seperti yang diharapkan. Penelusuran saya bersama tim penelit i terhadap 4. saya mengusulkan perlunya program aksi yang koheren dan integra tif antara lembagalembaga yang terkait dengan UMKM. BUKP (Badan Usaha Kredit Pedesaan). sudah melayangkan surat kepada Menteri Negara BUMN dan Menko Perekonomia n agar melakukan rescheduling.

Perlu PBI khusus untuk UM KM pasca bencana yang mencakup gempa. banjir. Dana dan program dari negara donor perlu difokuskan untuk pemulihan liveliho od (baca: sektor ekonomi produktif). Sebagai pendukung kebijakan Menko Perekonomian. Skema ini pernah dilakuka n Pemerintah Jepang dalam White Paper 2001 dengan nama safety net guarantee prog ram. Selain itu perlu pula disusun suatu kebijakan khusus tentang penyelesaian kredi t bermasalah khususnya standar prosedural bagi UMKM di daerah bencana. Menko Perekonomian harus menyusun skema anti-disaster measures bagi UMKM untuk d aerah bencana baik bencana kecil maupun bencana besar. diperlukan penyempurnaan konsep dan implementasi Kredit Usaha Rakyat (KUR) bagi UMKM di daerah bencana. Menneg UMKM dan Menteri Perindustrian per lu segera mengeksekusi kebijakan yang supportive terhadap UMKM. Di sinilah Menteri Pe rindustrian dapat berperan serta dengan menyusun program pemulihan sentra indust ri. . Selain itu. tsunami. supaya tidak melakukan eksekusi. penyitaan atau pelelangan aset-aset terkait tunggakan UMKM. Bank Indonesia s ebagai otoritas moneter juga harus melakukan penyempurnaan PBI No 8/10/2006 tent ang perlakuan khusus terhadap kredit bank pasca gempa. Menko Perekonomian. Menneg BUMN. yang proUMKM.maupun KUD (Koperasi Unit Desa). lumpur papas dan lainnya. M enneg BUMN dapat mempercepat implementasi haircut kredit UMKM di bank BUMN dan m engusahakan adanya kredit tanpa agunan maksimal Rp20 juta bagi UMKM. Dengan percepatan implementasi ini s etidaknya UMKM dapat kembali bergeliat dan memiliki motivasi untuk kembali produ ktif. Hal ini dap at dilakukan dengan merealokasi Dana Kemitraan dan Bina Lingkungan dari BUMN. yaitu kebijakan pemerintah untuk melindungi UMKM dari kebangkrutan dengan m enyediakan jaring pengaman kredit bagi para UMKM. Namun tentunya hal ini harus diimbangi dengan program-program pemulihan se ntra-sentra industri kecil sebagai basis pertumbuhan UMKM. Di tingkat pusat. khususnya UMKM. Java Reconstruction Fund pe rlu menitikberatkan program pemulihan dan penyelamatan UMKM bermasalah. Hasil ka jian Tim Ad-hoc dan UNDP untuk identifikasi sentra dan profil UMKM per kecamatan dapat langsung dimanfaatkan bagi semua stakeholders yang peduli 130 . yang tentunya harus berkoordinasi dengan Men neg UMKM dan Menteri Keuangan. ya ng tiap tahun tidak pernah terserap 100%.

ada 6 kebijakan yang berada di bawah wewenang Menteri Pe rdagangan.dengan nasib UMKM. Untuk kebijakan yang masih dalam proses. 6 2017 prioritas pemerintah adalah pada bidang peningkatan akses UMKM pada surnber pembiayaan. Diikuti oleh bidang peningkatan peluang p asar produk UMKM sebesar 27. Inilah saatnya berlomba-lomba membantu UMKM DIY. PAKET KEBIJAKAN UMKM Menyadari tentang pentingnya UMKM. Semua kebijakan tersebut sudah selesai dilakukan.6%.7%.7%. Kemudian keluaran yang masih berlanjut sebesar 11. rencananya keluarannya ak an berbentuk Peraturan Menteri Keuangan. 131 . 6/2007. 6/2007 yang secara eksplisit berupaya mempercepat dan mem berdayakan UMKM di Indonesia. Dan terakhir adalah bidang reformasi regulasi sebesar 6. pemerintah SBY-JK m engeluarkan Inpres No. Hal ini ditunjukkan dari besarnya proporsi tindaka n pada bidang ini vaitu sebesar 44.5% sampai bulan Maret 2008. 9. Rencana kenaikan harga BBM dalam waktu dekat ini dapat semakin memukul bisnis UM KM. Kemudian dari keena m kebijakan itu. 'Ayat-ayat krisis' UMKM ini perlu segera dicari solusinya. Sedangk an keluaran yang masih dalam proses adalah sebesar 14. tiga diantaranya merupakan kebijakan untuk pengembangan sistem resi gudang sebagai instrumen pembiayaan bagi UMKM.9%.6.8%. Ini tercermin dari 141 paket kebijakan ada 29 tind akan yang khusus memberdayakan UMKM. dan Peraturan Pemerintah sebagai pela ksanaan Pada Inpres No. Kemudian bidang pengembangan kewirausahaan dan s umber daya manusia sebesar 20. dokumen peraturan teknis operasional sebagai Pedoman Pemanfaata n dokumen Resi Gudang. Dari 29 tindakan. Peraturan Menteri Tenaga Kerja dan Tran smigrasi mengenai Penempatan Tenaga Kerja.8% Dari keempat bidang kebijakan pemberdayaan UMKM p ada Inpres No. dan kegiatan sosialisasi. Keluarannya adalah dalam ben tuk PP Nomor 36 Tahun 2007 tentang Pelaksanaan UU Nomor 9 Tahun 2006 tentang Sis tem Resi Gudang. menghasilkan 34 keluaran yang sudah selesai dilakukan kurang lebih 73.

Selanjutnya adalah ke bijakan pemberdayaan pasar tradisional dan peningkatan peran peritel modern dala m membuka akses pasar bagi produk UMKM dengan keluarannya dalam bentuk rancangan Peraturan Presiden (PP) mengenai pemberdayaan pasar tradisional dan penataan pu sat perbelanjaan dan toko modern. Perbankan adalah salah satu mata rantai yang penting dalam perekonomian. Hal inilah yang merupakan tugas pengelola gudang untuk dapat membe rikan jaminan kepada bank. Petani ataupun pemilik komoditi tidak perlu menjual komoditinya sewaktu harga rendah. Atambua. Bitung. Nunukan. Kemudian kebijakan yang lainnya yang sudah selesai adalah pengembangan institusi promosi produk UMKM dengan keluarannya dalam bentuk program penguatan dan penambahan ma rketing points di wilayah perbatasan. Peraturan dibuat untuk melancarkan apa yang ingin dijala nkan. Tindakan-tindakan yang dilakukan dal am hal implementasi Inpres No. Komitmen perba nkan diperlukan untuk mendukung sistem perdagangan komoditi pertanian. dan Skouw. Selain itu sistem Resi Gudang tida k kalah pentingnya dari mata rantai lainnya. Nunukan dan Skouw).Resi gudang pada dasarnya adalah satu cara bagaimana komoditi bisa dijadikan kol ateral. 6/2007 tentang Pemberdayaan UMKM memiliki keluara n dalam bentuk produk hukum yang berbeda-beda 132 . Pasar Lelang dan Resi Gudang harus berjalan bersamaan. Tarakan. Janganlah peraturan menjadi ganjalan untuk mencapai tujuan. Dari 6 marketing point yang direncanakan b erdiri (Entikong. pasar induk dan pasar tradisional den gan keluarannya dalam bentuk pembangunan fisik pasar dan pengembangan skema pilo t project pasar sinergi (lihat Tabel 19. Bagaimana kualitas komoditi tersebut t idak menurun dan untuk jangka waktu tertentu. Kemudian kebijakan mengenai pengembangan pasar yang terintegrasi antara pasar penunjang. Yang menjadi penting di sini adalah bagaimana perbankan dapat m empercayai nilai komoditi yang diagunkan. Bursa Ber jangka Komoditi. Resi Gudang mempunyai juga fungsi m engamankan para petani. tetapi masih dapat mendapatkan dana dari perbankan untuk memulai k egiatannya lagi. hingga kini tela h beroperasi di 3 titik yaitu Tarakan. Yang sering mengganjal dan kelihatan enggan untuk iku t menyelesaikan masalah ini adalah justru perbankan. Bagaimana kalau pemilik tidak dapa t menjualnya.7).

yang dicanangkan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono di awal pemerintahannya. World Development. 133 . Paket kebijakan di bawah Inpres No. tidak adanya sanksi bagi rencana tindak yang tidak selesai. tindakan. Dennis (1982). yaitu pro-growth. Ismoyo (1996). November. serangkaian program dan tindakan yang tu juannya memperbaiki iklim investasi di Indonesia ternyata lemah dari sisi implem entasi di level pusat. yang terli hat dalam rakor bulanan yang digelar oleh kantor Menko Perekonomian. lemahnya sosialisasi paket kebijakan terutam a bagi pelaku bisnis dan pemda. LPM UGM dan Balitbang Departemen Koperasi & PPK. syarat perlu tapi belum mencukupi untuk menggerakkan sekto r riil dan UMKM. dari 85 rencana tindakan tidak semuanya menjawab subtansi masalah yang di hadapi sektor riil dan UMKM. Setiap kebijakan yang ada dalam lampiran Inpres itu dirinci dalam bentuk program.aan Melalui Koperasi dan Usaha Kecil. Zuprizal. BPS (1999). Kedua. Bachruddin. Zaenal. Jakarta. Inpres ini merupakan paket kebijakan "jilid II" dari paket kebijakan se rupa tahun 2006 yang dituangkan dalam Inpres No. Budi Praset yo Widyobroto. Saya kira inilah saatny a melakukan akselerasi tripple track strategy.3/ 2006 menunjukkan adanya sejumlah kelemahan: pe rtama. Ketiga. Biro Pusat Statistik. mulai terlihatnya reform fatigues di kalanga n para penanggung jawab program maupun birokrat di departemen teknis. disert ai target waktu penyelesaian yang telah dilengkapi dengan menteri/kepala LPND ya ng bertanggungjawab untuk mengimplementasikannya. Kajian Pengembanga n Polo Industri Pedt. Dilihat dari cakupan dan subst ansinya. DAFTAR PUSTAKA Anderson. Tridjoko Wismu Murti. Statistical Yearbook of Indo nesia 1998. keluaran dan sasaran yang terukur dengan jelas. Yogyakarta. apalagi daerah. Mudrajad Kuncoro. "Small Industry in Developing Countries" .komprehensif. Kelima. dan pro-j obs. pro-poor. Keempat. 6/2007 ini merupakan necessary but not sufficient condition. 3/2006. Hasil monotoring Mudrajad Kuncoro (2009) atas implementasi pake t kebijakan di bawah Inpres no.

Jakarta. Investor Daily. Strategi dan Peluang. http://www. Mudrajad (2007). 134 . Geneva: Internat ional Labour Office. Kasali. dalam Mari Pangestu (ed. Un iversity of Melbourne. Hill. Kuncoro. 13 Mei 2008. Hal (1998). Kuncoro. Mudrajad (2004).W. Small-Scale Business Development and Competition Poli cy.co. Reformasi. Keda ulatan Rakyat. dan Kebijakan. Rhenald (2007). Farid (1996).php? sid=163203&actmenu=46. Geoff & R. Mudrajad (2002). "Akselerasi Sektor Riil dan UMKM". Mudrajad (200 8). UPP STIM YKPN. Jakarta: Partne rship. Mudrajad. Jakarta.investorindonesia.Harianto. Zainal Arifin.id/â ¢ebi detail. dan Infrastruktur. N. Masalah.id.id/ article. Mudrajad (2007). Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama. International workshop organised by the. http:/.php?sid=129397. Melbourne.com. Amsterdam. "Ayat-ayat Krisis UMKM". "Moratorium Kredit UMKM". "A Quest For Industrial Districts: An Empirical Study of Manufacturing Industries in Jav a". "Study on Subcontracting in Indonesian Domestic Firms". http:. Kedaulatan Rakyat. Otonomi dan Pembangunan daerah. Evaluasi Paket Kebijakan Inpres No 6/2007 Bidang Perbaikan Ikl im Investasi. http://www. Kuncoro. www. Sabtu 2 Agustus 2008. Erlangga. www. The Promotion of Sustainable Enterprises. May (eds. Kedaulatan Rakyat. 20 Juni 2007. Kuncoro. CSIS. Posthumus Institute for Econom ic and Social History on the theme Economic Growth and Institutional Change in I ndonesia during the 19" and 20th Centuries.). "Grameen Bank dan Lembaga Keuangan Mikro". 19761996: the Case of Indonesia (Java). Kuncoro. Perencan aan. Kuncoro. "The Indonesian Economy: The Strange and Su ddenth Death of a Tiger" dalam Forrester.kr. Perdagaugan. Kuncoro. Mudrajad (2006) . Bathurst: Crawford House Publishing Pty Ltd. tidak dipublikasikan. Pemberdayaan UMKM. Department of Management. Mudrajad (2000). The Economics of Industrial Agglomeration and Clustering.).co.J. Kuncoro. ILO (International Labour Organization) (2007). Re-code Your Change DNA: Membebaska n Belenggu-belenggu Malik Meraih Keberanian dan Keberhasilan Dalam Pembaharuan.kr. Kuncoro. Andryan Se tyadharma (2008). The Fall of S oeharto.D. Rabu 4 J uli 2007. Ekonomika Pembangunan: Teori. disertasi Ph. 25-26 February.kr. Yogyakart a. Mudrajad (2008).co.

"Struktur dan Kinerja Industri Indonesia dalam Era Deregulasi dan D ebirokratisasi". 5 135 . Agus Sartono (1 996). Kuncoro. Kuncoro. Mudrajad (1996). Yogyakarta. kerjasama Depkop & PPK dengan PPE-FE-UGM.1. Laporan Akhir Pengembangan Pusat Konsultasi Pengusaha Kecil Tahun Anggaran 1995/1996 Propinsi DIY. Mudrajad (1995). Kelola (Gadjah Mada University Business Review). "Tantangan dan Peluang Ekonomi Kerakyatan dalam Era Globalisasi.7. no. Nopember. E konomi". makalah dalam Diskusi Ekonomi Kerakyatan. Masykur Wiratmo. "Peta Bisnis Aliansi Strategik". Mudrajad (1994). Mudrajad (1997). Kuncoro. Analisis CSIS. XXVI.10/IV/1995. Manajemen dan Usahawa n Indonesia. tahun II. Yogyakarta. Bambang Kustituanto. Kuncoro. "Pengem bangan Industri Pedesaan Melalui Koperasi dan Usaha Kecil: Suatu Studi Kasus di Kalimantan Timur". vol. dan R. diselenggarakan oleh Harian P ikiran Rakyat. Hotel Radisson. no. "Struktur d an Kinerja Ekonomi Indonesia Setelah 50 tahun Merdeka: Adakah Peluang Usaha Keci l?".Kuncoro. Jurnal Ekonomi. Kuncoro. Agustus. Mudrajad. Januari. Mudrajad dan Anggito Abim anyu (1995).