BAB I PARADIGMA PEMBANGUNAN EKONOMI Orang sering berbicara tentang "pembangunan" .

Mungkin pertanyaan yang muncul adalah: apa sebenarnya yang dimaksud dengan pem bangunan? Bab ini akan mencoba menjawab pertanyaan tersebut dengan menelusuri ev olusi makna pembangunan sejak ekonomi pembangunan lahir, yakni setelah Perang Du nia II. 1.1. PANDANGAN TRADISIONAL Pada mulanya upaya pembangunan negara sedang berkembang (NSB)' diidentikkan dengan upaya meningkatkan pendapatan per kapita, atau populer disebut strategi pertumbuhan ekonomi. Semula banyak yang beranggapa n yang membedakan antara negara maju dengan NSB adalah pendapatan rakyatnya. Den gan ditingkatkannya pendapatan per kapita diharapkan masalah-masalah seperti pen gangguran, kemiskinan, dan ketimpangan distribusi pendapatan yang dihadapi NSB d apat terpecahkan, misalkan melalui apa yang dikenal dengan "dampak merembes ke b awah" (trickle down effect. Indikator berhasil tidaknya pembangunan semata-mata dilihat dari meningkatnya pendapatan nasional (GNP) per kapita riil, dalam arti tingkat pertumbuhan pendapatan nasional dalam harga konstan (setelah dideflasi d engan indeks harga) harus lebih tinggi dibandingkan tingkat pertumbuhan penduduk . Fenomena ini terlihat dari pemikiran-pemikiran awal mengenai pembangunan, sepe rti teori Harrod-Domar, Arthur Lewis, WW Rostow, Hirschman, RosensteinRodan, Nur kse, Leibenstein. Seperti judul buku karya monumental Arthur Lewis, pembangunan ekonomi dianggap merupakan kajian The Theory of Economic Growth. lni mencerminka n munculnya teori pertumbuhan dan pertumbuhan ekonomi sebagai tujuan utama dari setiap kebijakan ekonomi di negara manapun. Sepanjang dasawarsa 1950-an, sementa ra pembangunan ekonomi diidentikkan dengan pertumbuhan ekonomi, ekonomi pembangu nan sebagai cabang ilmu ekonomi yang relatif baru memusatkan perhatian pada fakt or-faktor penentu pertumbuhan ekonomi (Arndt, 1996: h. 6). Meskipun banyak varia n pemikiran, pada dasarnya mereka sependapat bahwa kata kunci dalam pembangunan adalah pembentukan modal. Oleh karena itu, strategi .pembangunan yang dianggap p aling sesuai adalah akselerasi pertumbuhan ekonomi dengan mengundang modal asing dan melakukan industrialisasi. Diundangnya modal asing nampaknya diilhami oleh kisah sukses Rencana Marshall dalam membantu pembangunan negara Eropa Barat dan Jepang. Adapun industrialisasi yang memusatkan perhatian pada sektor-sektor mode rn dan padat modal nampaknya tidak dapat dipisahkan dari pengalaman Inggris seba gai negara industri pertama. 1

Tak pelak lagi konsep dan strategi pembangunan semacam itu dijiwai oleh pengalam an negara-negara Eropa. Inilah yang disebut eurocentrism, Eropa sentris, dalam p emikiran awal tentang pembangunan (Hettne, 1991). Paham developmentalis gaya Ero pa ini ditandai dengan munculnya kapitalisme, naiknya masyarakat borjuis sebagai kelas sosial yang dominan, relatif berhasilnya revolusi industri, dan diperkena lkannya "pertumbuhan" sebagai ide perkembangan masyarakat. Tradisi pemikiran aru s utama (mainstream) Eropa diterjemahkan lebih lanjut oleh: model liberal, strat egi kapitalis negara (state capitalist strategy), model Soviet, dan Keynesianism e. Model liberal mendasarkan diri pada berlangsungnya mekanisme pasar, industria lisasi yang bertahap, dan perkembangan teknologi. Strategi kapitalis negara meru pakan reaksi terhadap paradigma modernisasi. Model Soviet pada dasarnya merupaka n perkembangan lebih lanjut dari strategi kapitalis negara, yang nampaknya diilh ami oleh kisah sukses Soviet dalam program industrialisasinya. Aliran Keynesian merupakan manifestasi dari kapitalisme yang telah mencapai tahap dewasa, yang in tinya menghendaki campur tangan pemerintah dalam upaya meningkatkan pertumbuhan ekonomi. Sekitar tahun 1960, ketika data makro yang dapat diperbandingkan secara internas ional telah tersedia, Maddison, Denison, dan para ahli lain menemukan bahwa perb edaan dalam pembentukan modal dan faktor input tidak banyak menjelaskan mengapa timbul perbedaan dalam pertumbuhan ekonomi. Ternyata baru disadari ada banyak fa ktor yang tadinya dianggap "residual", ikut berperanan dalam meningkatkan pertum buhan ekonomi. Residual di sini dikaitkan dengan investasi modal manusia dan kem ajuan teknologi. Pentingnya investment in man, yang menekankan peranan faktor pe ndidikan dan budaya, merupakan tahap pertama menuju konsep pembangunan yang sema kin tidak murni ekonomi lagi. 1.2. PARADIGMA BARU DALAM PEMBANGUNAN Pada akhir d asawarsa 1960-an, banyak NSB mulai menyadari bahwa "pertumbuhan" (growth) tidak identik dengan "pembangunan" (development). Pertumbuhan ekonomi yang tinggi, set idaknya melampaui negara-negara maju pada tahap awal pembangunan mereka, memang dapat dicapai namun dibarengi dengan masalah- masalah seperti pengangguran, kemi skinan di perdesaan, distribusi pendapatan yang timpang, dan ketidakseimbangan s truktural (Sjahrir 1986, bab1). Fakta ini pula agaknya yang memperkuat keyakinan bahwa pertumbuhan ekonomi merupakan syarat yang diperlukan (necessary) tetapi t idak mencukupi (sufficient) bagi proses pembangunan (Esmara 1986: h.12; Meier, 1 989: h.7). Pertumbuhan ekonomi hanya mencatat peningkatan produksi barang dan ja sa secara nasional, sedangkan pembangunan berdimensi lebih luas dari sekedar pen ingkatan pertumbuhan ekonomi. 2

Hal inilah yang menandai dimulainya masa pengkajian ulang tentang arti pembangun an. Myrdal (1968), misalnya mengartikan pembangunan sebagai pergerakan ke atas d ari seluruh sistem sosial. Ada pula yang rnenekankan pentingnya pertumbuhan deng an perubahan (growth with change), terutama perubahan nilai-nilai dan kelembagaa n. Kondisi ini dilandasi argumen adanya dimensi kualitatif yang jauh lebih penti ng dibanding pertumbuhan ekonomi. Meier (1989: hal. 6) lebih khusus mengatakan : ... perhaps the definition that would now gain widest approval is one the defin es economic development as the process whereby the real per capita income of a c ountry increases over a long period of time--- subject to the stipulations that the number of people below an 'absolute poverty line does not increases, and tha t the distribution of income does not more unequal." Dengan kata lain, pembangun an ekonomi tidak lagi memuja GNP sebagai sasaran pembangunan, namun lebih memusa tkan perhatian pada kualitas dari proses pembangunan. Selama dasawarsa 1970-an, redefinisi pembangunan ekonomi diwujudkan dalam upaya meniadakan, setidaknya men gurangi, kemiskinan, pengangguran, dan ketimpangan. Dudley Seers (1973) menunjuk 3 sasaran utama pembangunan dengan mengatakan : ".. What has been happening to poverty ? What has been happening to unemployment ? What has been to inequality ? If all three of these have declined from high levels then beyond doubt this ha s been a period of development for the country concerned. If one or two these ce ntral problems have been growing worse, especially if all three have it would be strange to call the result 'development , even if per capita income doubled'. T idak terlalu berlebihan apabila banyak yang memandang bahwa definisi Seers berar ti meredefinisi pembangunan dalam konteks tujuan sosial. Dengan cepat dimensi ba ru mengenai pembangunan mendapat sambutan dari penganjur strategi yang berorient asi kesempatan kerja, pemerataan, pengentasan kemiskinan, dan kebutuhan pokok. O bsesi Seers nampaknya didorong oleh keprihatinannya melihat kenyataan pembanguna n di NSB. Timbul kesan bahwa is "tidak sabar" melihat implementasi strategi anti kemiskinan, orientasi pada kesempatan kerja, dan pemerataan pembangunan, yang s ering hany a berhenti sebagai retorika politik para penguasa di NSB semata. In' pula agaknya yang mendorong munculnya konsep dan strategi pembangunan yang baru. Sejarah mencatat munculnya paradigma baru dalam pembangunan seperti pertumbuhan dengan distribusi, kebutuhan pokok (basic needs), pembangunan mandiri (self-rel iant development), pembangunan berkelanjutan dengan perhatian 3

pada hakekatnya menganjurkan NSB agar tidak hanya memusatkan perha tian pada pertumbuhan ekonomi (memperbesar "kue" pembangunan) namun juga mempert imbangkan bagaimana distribusi "kue" pembangunan tersebut. konsep kebutuhan pokok harus dipandang sebagai dasar utama dalam strategi pemb angunan ekonomi dan sosial. investasi modal manusia. pembangunan yang memperhatikan ketimpangan penda patan menurut etnis (ethnodevelopment). perhatian pada petani kecil.S trategi Kebutuhan Pokok Embrio pendekatan kebutuhan pokok bermula dari program I LO (International Labour Organization) tentang "World Development" pada tahun 19 69 dan "Dekiarasi tentang Prinsip-Prinsip dan Program Aksi Strategi Kebutuhan Po kok dalam Pembangunan" pada Konferensi Dunia tentang kesempatan kerja pada tahun 1976. Dengan kata lain. Sementara itu. d an freedom (kebebasan untuk memilih)â ¢ Strategi pemenuhan kebutuhan pokok dengan demi kian telah mencoba memasukkan semacam "jaminan" agar setiap kelompok sosial yang paling lemah mendapat manfaat dari setiap program pembangunan. strategi ini populer sebagai antitesis dari paradigma dependensia dan tidak 4 . Hanya perdebatan yang sering muncul adalah berkisar mengenai apa yang dim aksud dengan kebutuhan pokok. yaitu life-sustenance (ke mampuan menyediakan kebutuhan dasar). C. fasilitas pendidikan). kebutuhan pokok mencakup keb utuhan minimum konsumsi (pangan. 89). pendekatan lain leb ih mementingkan apa yang dapat membuat hidup ini lebih berharga. namun s trategi ini memiliki pola motivasi dan organisasi yang berbeda.Strategi Pembangunan Mandiri Strategi pembangunan mandiri agaknya berkaitan dengan strategi pertumbuhan dengan distribusi. misalnya. Dengan kata lain .terhadap alam (ecodevelopment). atau "redistribusi dari pertumbuhan". Pada dekade 1970 -an. perumahan) dan jasa umum (kesehatan. air.esteem (kebutuhan untuk dihargai). menekankan 3 nilai dasar pembangunan. Todaro (1989. sandang. t ransportasi umum. syarat utamanya adalah orientasi pada sumber Jaya ma nusia. Ada yang berpendapat. A.Strategi Pertumbuhan Dengan Distribusi Para proponen strategi "pertumbuhan dengan distribusi". self. atau ada yang menyebut sebagai orientasi populisme dalam pembangunan. Barangkali menarik untuk menelusur ide d asar masing-masing paradigma tersebut. B. h . sektor informal dan pengusaha ekono mi lemah. Situasi ini bisa diwu judkan dengan kombinasi strategi seperti peningkatan kesempatan kerja.

is u polusi (udara. dan dielaborasi lebih lanjut pada konferensi non-blok di Georgetown tahun 1972. Pesan utamanya adalah bahwa tata dunia baru atau lama tid ak akan menguntungkan apabila sistem biologis alam yang menopang ekonomi dunia t idak diperhatikan. dampak "rumah kaca".polusi. ini memperkuat pand angan bahwa strategi pembangunan di banyak negara seakan "buta" terhadap Iingkun gan hidup. memburuknya sistem biologis utama (perikanan laut. dan deplesi sumberdaya terus tidak berubah. Lester Brown (1981) menunjuk 4 area utama dari sudut pandang sustainabilitas. Pada gilirannya. ancaman perubahan iklim (polusi. hutan. penulis buku The Limits to Growth menyimpulkan bahwa "bila tren d pertumbuhan saat ini dalam penduduk dunia. kadang kala bersifat revolusioner. Dengan demikian konsep "mandiri" telah muncul sebagai konsep strategis dalam forum internasional sebelum konsep "Tata Ekonomi Dunia B aru" (NIEO) lahir dan menawarkan anjuran kerjasama yang menarik dibanding menari k diri dari percaturan global. lahan pertanian). Di Cina. atau regional. Ke ndati demikian. yang intinya mengatakan bahwa masyarakat dan ekosite m di suatu daerah harus berkembang bersama-sama menuju produktivitas dan pemenuh an kebutuhan yang 5 . air. Konsep "mandiri" dibawa ke tingkat internasional oleh negara-negara non-blok pada perte muan di Lusaka tahun 1970. dan penggundulan hutan. produksi ma kanan. erosi tanah. tanah).Strategi Pembangunan Berkelanjutan Pembangunan berkelanj utan. atau sustainable development. industrialisasi. dikembangkan teknologi "pribumi" daripada mengimpor teknologi dari luar. di lain kasus kad ang bersifat reaktif. Para pendukung utama pembangunan berkelanjutan lalu menunjuk pentingn ya strategi ecodevelopment. Pemikiran mereka pun mendapat banyak kritik baik secara metodologis maupun asumsinya bahwa sumberdaya terbatas jumlahnya. serta kurangnya bahan pangan. batas pertumbuhan atas planet ini akan dicapai dalam waktu kurang dari 100 tahun mendatang". dan Gina di bawah Mao Zedong. muncul ketika isu mengenai lingkungan muncul pada dasa warsa 1970. Sinyal pertama mengenai batas pertumbuhan adalah laporan dari Club of Rome pada tahun 1972. Konsep Mao lebih menekankan pad a usaha-usaha mandiri dengan sedikit atau tanpa integrasi dengan luar.bisa dilepaskan dari pengalaman India pada masa Mahaatma Gandhi. padang rumput. Dengan menggunakan ekstrapolasi ekonometrika dari data statistik. dsb). Tanzania di baw ah Julius Nyerere. akhir-akhir ini isu mengenai lingkungan hidup semakin gencar den gan adanya laporan mengenai menipisnya lapisan ozon di atas planet bumf kita. yaitu: tertingg alnya transisi energi. nasional. Perjuangan mengejar kemandirian pada tingkat loka l. D. Namun ternyata r amalan Club of Rome tidak terbukti.

NEP dirancang dan digunakan untuk menjamin agar buah pembangunan dapat d irasakan kepada semua warga negara secara adil. kebutuhan pokok (basic needs).3. pembangunan berkelanjutan dengan 6 . pembangun an mandiri (self-reliant development). hingga paradigma baru dalam pembangunan seperti pertumbuhan dengan distribusi. dan semakin intens terjadi di Asia Selatan pada da sa warsa 1980-an. PARADIGMA PEMBANGUNAN Demikian banyak makna pembanguna n yang diturunkan oleh para ahli berdasarkan pengalaman di berbagai negara dan s tudi empiris yang mereka lakukan. balk dari sisi ekologi maupun sosial. et. But so diverse h ave the interpretations of 'development' become that one sometimes wonders wheth er it now stands for anything more substantial than everyone's own utopia".lebih tinggi.even economic development -. Namun setidaknya konflik yang biasa muncul adalah: konflik atas penguasaan sumber Jaya alam. Hal ini sering terjadi terutama pada masyarakat di mana terdap at multi etnis. Namun begitu banyak interpretasi mengenai "makna pembangunan" sehin gga orang kadang-kadang bertanya-tanya apakah pembangunan hanya tidak lebih meru pakan pandangan utopis setiap orang? Persis apa yang dikatakan oleh Arndt (1996) : "Almost everyone considers development -. konflik yang berkaitan dengan proyek infrastruktur (yang mempe ngaruhi ekosistem suatu daerah). Dari pemujaan terhadap pertumbuhan. namun yang paling utama strategi pembangunan ini harus berkelanjut an. suku) berkembang di Afrika. dan masyarakat pribumi Malaysia (Faaland. Ind ia. E. bermula muncul dari konflik antaretnis. 1. balk is dari komunitas Cina. Boleh dikata hampir setiap orang peduli dengan pembangunan sebagai tujuan yang diinginkan bagi negara dan penduduk di negara D unia Ketiga.al. konflik atas bagaimana pemeri ntah mendistribusikan sumberdaya. Tidak ada "bahasa penjelas" yang sama untuk konflik antar etnis ini..Strategi Berdimensi Etnik Strategi e thnodevelopment. konflik akibat ketimpangan pembangunan. 1990). konflik mengenai ide dasar strategi pembangunan nasional. Isu antar etnis (rasial .a desir able objective for the countries and people of the Third World. Seja rah pemikiran mengenai pembangunan memang diwarnai dengan evolusi makna pembangu nan. Sejauh ini baru Malaysia yang secara terbuka m emasukkan konsep ethnodevelopment dalam formulasi Kebijaksanaan Ekonomi Baru-nya (NEP). Fenomena inilah bar angkali sebab utama adanya data mengenai distribusi antaretnis dalam setiap publ ikasi data Malaysia.

pembangunan yang memperhatikan ketimpa ngan pendapatan menurut etnis (ethnodevelopment). dan pembangunan masyarakat. Wilber (ed. dan kelembagaan. kita mau tidak mau harus mengkombi nasikan berbagai paradigma tersebut dalam formulasi maupun implementasi kebijaks anaan. Random House. Leading Issues in Economic Development. bab 1. Just. Politik Perencanaan Pembangunan: Teori. pembangunan regional/s pasial. Growth and Ethnic Inequality: Malaysia's New Economic Policy. Peter J. Akhir-akhir ini mulai antre be berapa paradigma lain. Longman Scientific and Technical.. Hendr a. 1973. 1986. The Search for A New Develo pment Paradigm. The Struggle for Economic Development: Readings in Problem and Policies.perhatian terhadap alam (ecodevelopment). Atau alternatifnya. what ought to be). Dudley. LP3ES. Meier. Longman. 1990. ba b 2 dan 5. and Values". Rais Saniman. 14 Mei 1996. 1991. 1983. Strategies. 1989. d alam Michael P. New York. J. Hettne. Jakarta. New York & London. Essex. Seers.W.R. the Political Economy of Developmen t and Underdevelopment. Ekonomi Politik K ebutuhan Pokok: Sebuah Tinjauan Prospektif. Faaland. 7 . Gerald M. Developme nt Theory and the Three World.perubahan utama dalam struktur sosial. Esmara. 1986. seperti: wanita dalam pembangunan. 5th. Oxford University Press. Parkinson. editio n. The Meaning of Development". Jakarta.. Henr iot. Artinya kontribusinya mengenai pembangunan tidak berbicara dalam konteks aktual (das sein. London. erilaku.A. what to be) namun lebih membahas apa yang seharusnya dilakukan (das s ollen. PT Gramedi a. Jakarta. banyak yang memandang berb agai paradigma baru tentang pembangunan ini masih berada pada dataran normatif. Kendati demikian. BACAAN YANG DIANJURKAN Arndt. "Development Alternatives: Problems. Kebijaksanaan dan Prospek. Nampaknya tidak salah apabila disimpulkan bahwa pembangunan harus dilihat sebagai proses yang multidimensi yang mencakup tidak hanya pembangunan Ekonomi. Panglaykim Memorial Lecture. Sjahrir. Bjorn. H.). bab1.. Hurst & Company. dalam Charles K. namun juga mencakup perubahan. Todaro (ed). New York.

Oleh karena itu diperlukan indikator sebagai tolok ukur terjadi nya pembangunan. Penekanan pada kenaikan pendapatan per kapita (GNP riil dibagi jum lah penduduk) dan tidak hanya kenaikan pendapatan nasional riil menyiratkan bahw a perhatian pembangunan bagi negara miskin adalah menurunkan tingkat kemiskinan. dan jelas ini tidak dapat disebut ada pembangun an ekonomi. 1995: hi). Dengan kata lain.BAB II INDIKATOR PEMBANGUNAN Pembangunan selalu menimbulkan dampak. 8 . Tugas yang paling berat ada lah menjaga sustainabilitas pembangunan dalam jangka yang lebih panjang. Pendapatan nasional rill (atau GNP pada harga konstan) yang meningkat seringkal i tidak diikuti dengan perbaikan kualitas hidup. balk lewat regulasi maupun reformasi kelembagaan itu sendiri. balk positif maupun negatif.1. Yang dimaksud dengan proses adalah berlangsungnya kekuatan-kekuat an tertentu* yang sating berkaitan dan mempengaruhi. 2. Kedua. Bila pertumbuhan penduduk meleb ihi atau sama dengan pertumbuhan pendapatan nasional maka pendapatan per kapita bisa menurun atau tidak berubah. Kurun waktu yang panjang menyiratkan bahwa kenaikan pendapatan per k apita perlu berlangsung terus menerus dan berkelanjutan. pembangun an ekonomi lebih dari sekedar pertumbuhan ekonomi. Bab ini akan menguraikan mengenai indikator-indikator ekonomi m aupun sosial yang dikenal dalam ekonomi pembangunan. Proses pembangunan menghendak i adanya pertumbuhan ekonomi yang diikuti dengan perubahan (growth plus change) dalam: Pertama. PERLUNYA INDIKATOR PEM BANGUNAN Sebagaimana dijelaskan pada Bab 1. Rencana pembangunan lim a tahun baru merupakan awal dari proses pembangunan. definisi pembangunan ekonomi yang paling banyak diterima adalah: suatu prose s di mana pendapatan per kapita suatu negara meningkat selama kurun waktu yang p anjang. perubahan kelembagaan. paradigma tradisional mengenai pemba ngunan cenderung mengidentikkan pembangunan dengan pertumbuhan ekonomi. perubahan struktur ekonomi: dari pertanian ke industri atau jasa . Dewasa i ni. dengan catatan bahwa jumlah penduduk yang hidup di bawah "garis kemiskin an absolut" tidak meningkat dan distribusi pendapatan tidak semakin timpang (Mei er.

dan menurunkan ketimpangan distribusi pendapatan. kriter ia utama Bank Dunia dalam mengklasifikasikan kinerja perekonomian suatu negara a dalah GNP (Gross National Product. Kesejahteraan ekonomi mengandung perti mbangan nilai mengenai tingkat distribusi pendapatan yang diinginkan. Klasifikasi negara berdasark an kelompok pendapatannya dapat saja berubah pada setiap edisi publikasi Bank Du nia. Variabel yang termasuk indikator sosial adalah HDI (Human Development I ndex) dan PQLI (Physical Quality Life Index) atau Indeks Mutu Hidup. Dengan demikian. Yang penting tidak hanya me ningkatkan "kue nasional" namun juga bagaimana "kue" tersebut didistribusikan se cara merata atau tidak. INDIKA TOR EKONOMI A. atau Produk Nasional Bruto) per kapita. Dengan demikian. kita harus mengartikan pembangunan ekonomi sebagai kemajuan ekonomi atau kenaikan kes ejahteraan ekonomi.2.Klasifikasi Negara Untuk tujuan operasional dan analitikal. Bank Dunia (1995) mengklasifikasikan negara berdasarkan tingkatan GNP per kapitanya sebagai berikut: 1.Tambahan catatan berupa rekor kemiskinan absolut dan distribusi pendapatan agakn ya menu njuk pentingnya kualitas proses pembangunan. fokus tujuan pembangu nan di masing-masing negara dapat berbeda satu sama lain. Peningkatan pendapatan riil per kapita hanyalah merupakan se bagian dari indeks kesejahteraan ekonomi. terutama dalam World Development Report yang terbit setiap tahun. sebagaimana dijelaskan dalam Bab 1. GNP p er kapita adalah GNP dibagi dengan jumlah penduduk. Karena itu . GDP per kapita dengan Purchasing Power Parity. Variabel yang termasuk sebagai indikator ekonomi adalah: GNP per kapita. Pembangunan bukan merupakan tujuan melainkan hanya slat sebagai proses instrumental untuk menurunkan kemiskinan. Negara berpenghasilan rendah (low-income economies) adalah kelompok negara-ne gara dengan GNP per kapita kurang atau sama dengan US$ 695 pada tahun 1993. Mengingat adanya berbagai maca m dimensi pembangunan. 2. (2) indikator sosial. 9 . laju pertumbuhan ekonomi. kesejahteraan ekonomi tidak hanya mempertanyakan keadilan distributif namun ju ga membicarakan bagaimana komposisi "kue nasional" dan bagaimana kue ini dinilai oleh masyarakat. indikator-indikator kunci pembangunan secara garis besar pada dasarnya dapat diklasifikasikan menjadi: (1) indikator ekonomi. karena be rubahnya GNP per kapita. menyerap tenaga kerja.

785 namun kurang dari US$ 8. (2) negara berpenghasilan menengah papan atas (upper-middle-income economies) dengan GNP per kapita lebih dari US$ 2.2. (6) dominan.785.626 pada tahun 1993. 4 Macan Asia (The Four Tigers). dengan ciri penghasila n rendah. Malaysia. dan rentan dalam hubungan internasional (Todaro. 38-54). rendahnya tingkat kesehatan dan pendidikan. yang meliputi I ndonesia. Negara-negara ini ti ngkat pertumbuhan ekonominya amat cepat dan mulai mendekati ranking negara berpe nghasilan tinggi.626 atau lebih pada tahun 1993. Negara berpenghasilan menengah (middle-income economies) adalah kelompok nega ranegara dengan GNP per kapita lebih dari US$ 695 namun kurang dari US$ 8. yaitu: (1) tingkat kehidupannya rendah. 3. ketimpangan distribusi pendapatan tinggi. Dunia (World) mel iputi semua negara di dunia. dan Taiwan. Jelas ini sekadar untuk memudahkan klasifikasi. Negara berpenghasilan rendah dan menengah k adang disebut negara sedang berkembang (developing countries). yang diidentifikasi karena memiliki ciri umum yang sama. newly industrializing economies (NIEs). Kedua. Dalam kelompok negara berpenghasilan menengah dapat dibagi menjadi: (1) negara berpenghasilan menengah papan bawah (lower-middle-income economies) dengan GNP per kapita antara US$ 695 hingga US$ 2. Dalam kelompok HPAEs ini dapat dibagi lagi menurut lamanya catatan sukses mempertahankan pertumbuhan ekonomi.626. Namun pada umumnya. 10 . tergantung. (5) ketergantungan terhadap produksi perta nian dan ekspor produk primer demikian signifikan. termasuk negara-negara yang datanya langka dan deng an penduduk kurang dari 1 juta jiwa. diperkenalkan beberapa sebutan. yaitu: Pertama. 19 93). Negara berpenghasllan tinggi (high-Income economies) adalah kelompok negara-n egara dengan GNP per kapita US$ 8. seperti pertumbuhan ekspor yang amat cepat. â ¢ dan Thailand. 4. Klasif ikasi menurut penghasilan tidak selalu mencerminkan status pembangunan (IBRD. Singapura. dan tidak ada maksud untuk menggeneralisasi bahwa semua negara dalam kelompok ini mengalami tahapan pembangunan yang sama. yaitu: 1) High Performing Asian Economies (HPAEs). (2) tingkat produktivitasnya rendah. 1994: h. Korea Selatan. (4) tingkat pengangguran dan setengah mengangg urnya tinggi dan cenderung meningkat. (3) pertumbuhan penduduk da n beban ketergantungannya tinggi. yang biasanya diidenti kkan dengan Hongkong. Dalam publikasi la ris Bank Dunia yang berjudul The East Asian Miracle: Economic Growth and Public Policy (1993). negara sedang berkembang (NSB) memiliki karakteristik y ang relatif sama.

Czechoslovakia. dan bekas Yugoslavia) dan semua negara di kawasan Afrika utara da n Timur Tengah. 6) Amerika Latin dan Karibia terdiri atas semua negara Amerika dan Karibia di se belah selatan Amerika Serikat. Timur Tengah. serta Afghanistan. da n Srilangka. namun tidak termasuk Mauritius. Yunani. pertumbuhan HPAEs sangat berlainan dengan NSB pada umumnya karena pertumbuhan GDP-nya jauh di atas rata-rata negara berpe nghasilan tinggi. Portugal. R umania. Hungaria.5 persen per tahun. 29). Gambar 2. Reunion. Lebih memprihatinkan lagi. Tidak seperti NSB Iainnya. dan Afrika Utara mencakup negara berpenghasilan menengah di kawasan Eropa (Bulgaria. Pakistan. 5) Eropa. Polandia. Gambar 2. Delapan negara HPAEs memang tumbuh Iebih pesat dan kons isten dibanding kelompok negara mana pun di dunia sejak tahun 1960 hingga 1990. melebi hi semua negara di kawasan Amerika Latin dan Sub-Sahara Afrika (kecuali Botswana yang kaya dengan berlian). 4) Sub-Sahara Afrika meliputi semua negara di sebelah selatan gurun Sahara terma suk Afrika Selatan. Hubungan antara pertumbuhan GDP dan GDP per kapita 11 .1. Kendati demikian. Bhutan. ada 13 NSB yang GDP pe r kapitanya menurun. 1993: h. Negar a sedang berkembang (NSB) agaknya tidak dapat mengejar negara maju dilihat dari sisi pertumbuhannya karena 70 persen NSB tumbuh Iebih lambat dibanding rata-rata negara berpenghasilan tinggi. Nepal. Myanmar.2) Asia Timur mencakup semua negara berpenghasilan rendah dan menengah di kawasa n Asia Timur dan Tenggara serta Pasifik. India. Negara-negara ini rata-rata pertumbuhan GDP riilnya 5. HPAEs mulai mengejar negara-negara industri. Turki. 3) Asia Selatan mencakup Bangladesh.1 menunjukkan hubungan antara GDP per kapit a relatif terhadap GDP Amerika Serikat pada tahun 1960 dan pertumbuhan GDP per k apita dari 119 negara selama periode 1960 hingga 1985 (IBRD. dan Seychelles.

GNP Per Kapita Dengan Purchasing poower Parity Perbandingan antarnegara berdas arkan GNP per kapita seringkali menyesatkan. Tabel 2. Oleh karena itu. Nilai GNP per kapita dengan PPP dipero leh dengan memasukkan faktor konversi tertentu yang didesain untuk menyamakan da ya bell mata uang di masing-masing negara. et. yang tidak lain PPP. Hal ini disebabkan adanya pengkonve rsian penghasilan suatu negara ke dalam satu mata uang yang sama (baca: dolar AS ) dengan kurs resmi. Terlihat bahwa daya bell mata uang NS B biasanya lebih tinggi dibanding kurs resminya. Di negara-negara yang hargaharg a domestiknya relatif rendah. 1987) mem pelopori penggunaan PPP riil dalam perbandingan GDP antar negara. Irving Kravis. adalah jumlah unit mata uang suatu negara yang diperlukan untuk membeli sejumla h barang dan jasa di pasar domestik sama dengan daya beli satu dolar di AS.1 menunjukkan GNP per kapita menurut kurs pasar yang berlaku dan GNP per kapita dengan PPP di beberapa NSB.B. Faktor konversi. Kurs nominal ini tidak mencerminkan kemampuan relatif daya beli mata uang yang berlainan. sehingga kesalahan sering muncul saat dilakukan p erbandingan kinerja antarnegara. Penyesuaian at as data GDP ini mencerminkan daya bell satu unit mata uang lokal untuk membeli b arang dan jasa di negara tersebut.al. yang mungkin lebih rendah atau lebih tinggi d aya belinya untuk membeli barang dan jasa di negara lain pada kurs valas yang be rlaku. GNP per kapita menurut PPP umumnya lebih tinggi di banding GNP per kapita dengan kurs resmi. 12 . 1978. 1982. (1975. purchasing power parity (PPP) dianjurkan sebagai alat pengkonversi yang lebih tepat dalam mengkonversi GNP dal am mata uang lokal ke dollar.

510 20.220 17.350 6. kerusakan lingkungan.Negara India Pakistan China Srilanka Indonesia Filipina Papua Nugini Thailand Tu rki Brazil Malaysia Argentina Australia Hongkong Singapura GNP / Kapita menurut Kurs Pasar 180 300 430 600 740 850 1.3. A kibatnya bermunculan upaya untuk memperbaiki maupun menciptakan indikator lain s ebagai pelengkap ataupun alternatif dari indikator kemakmuran yang tradision al.110 2.970 2.500 18.2).850 Tabel 2.060 19. yang terdiri atas: 9 indikator sosial dan 7 indikator ekonomi (Iihat Tabel 2. Kurs Pasar vs PPP (dalam US Dollar ) 2.170 2. namun akhir nya hanya 16 13 . INDIKATOR SOSIAL Indikator Sosial Sebagai Alternatif Indikator Pembangunan GNP per kapita sebagai ukuran tingkat kesejahteraan mempunyai banyak kelemahan. Semula ada 73 indikator. UNRISD (United Nations Research Institute on Social Developmen t) mengembangkan indikator sosial-ekonomi. tr ansaksi barang bekas.1.670 2. Pada tahun 1970.140 7.850 31.930 3.490 GNP / Kapita PPP 900 1.910 21.220 2.150 2.250 17. Kelemahan umum yang sering dikemukakan adalah tidak memasukkan produksi yang tid ak melalui pasar seperti dalam perekonomian subsisten. GNP Per Kalipta NSB tahun 1993. jasa ibu rumah tangga.930 8.130 2.260 3920 5.370 7. dan masalah distribusi pendapatan.560 19.330 3.

Persentase penduduk usia kerja dengan listrik. ekuivalen kg batubara per kapita Persentase sektor manufaktur dalam GDP 10. Harapan hidup 2. Tentunya ranking b erbagai negara dengan indeks pembangunan ini berbeda dengan ranking dengan mengg unakan ukuran GNP per kapita. Indeks pembangunan tersebut ternyata mempunyai korelasi yang lebih erat dengan indikator sosial dan ekonomi dibanding korelasi GNP per kapita dengan indikator yang sama. dan politik. Mereka mengklasifikasikan 74 NSB berdasarkan 40 variabel sosial. gas. Rata-rata jumlah orang per kamar 5. Daftar Indikator Kunci Pembangunan Sosial-Ekonomi versi UNRISD 1. air. Kombinasi tingkat pendidikan dasar dan menengah Rasio pendidikan luar sekolah 4. Indikator-indikator ini dipilih atas dasar ting ginya korelasi dalam membentuk indeks pembangunan dengan menggunakan "bobot timb angan" yang berasal dari berbagai tingkat korelasi. Persentase penerima gaji dan upah ter hadap angkatan kerja Sumber: UNRISD. kg per kapita 9. dan politik. Dapat disimpulkan bahwa pembangunan sosial berlangsung lebih cepat dibandin g pembangunan ekonomi sampai dengan tingkat US$ 500 per kapita (dengan tahun das ar 1960). Persentase penduduk di daerah sebanyak 20. Analisis faktor digunakan untuk menguji interdependensi antara variabel sosial dan politik dan tingkat pembangunan ekono minya. 1970 Studi lain yang dilakukan oleh Irma Adelman dan Cynthia Mor ris (1967) mengukur kinerja pembangunan dalam dimensi pola interaksi antara fakt or sosial. Sirkulasi surat kabar per 1000 penduduk 6. Indeks Mutu Hidup (PQLI) 14 . Ditemukan juga bahwa indeks pembangunan ini mempun yai korelasi yang lebih erat dengan GNP per kapita negara maju dibanding dengan NSB.indikator tersebut yang dipilih.000 atau lebih Kon sumsi protein hewani per kapita per hari 3. Konsumsi baja. ekonomi. dsb. ekonomi. Produksi pertan ian per pekerja pria di sektor pertanian Persentase tenaga kerja pria dewasa di pertania n 7. Konsumsi listrik. kw per kapita 8. Perdagangan luar negeri per kapita 11. Mereka menyimpulkan berbagai korelasi terjadi antara variabel-variabel ku nci tertentu dengan pembangunan ekonomi. Konsumsi e nergi.

balk di NSB maupun negara maju telah dilakukan oleh UNDP (United Nati ons Development Program) secara sistematis dan komprehensif. Namun umumnya PQLI mengalami peningkatan untuk masing-m asing propinsi. 28).0864 masing-masing untuk tahun 1971.Untuk mengukur tingkat kesejahteraan masyarakat. yaitu : harapan hidup pada usia satu tahun.3 menyajikan indikat or PQLI untuk masing-masing propinsi di Indonesia pada tahun 1971. Hal yang menarik dan berharga dari laporan ini.1162. 0. yaitu 15 . Pada tahun 1980 dan 1990. rekor PQLI di raih oleh DKI Jakarta (72 dan 86). Tabel 2.1224. dan naik menjadi 73 pada tahun 1990. Human Development Index (HDI) Upaya yang pali ng ambisius dan terbaru dalam menganalisis perbandingan status pembangunan sosia l ekonomi. dengan memberikan bobot yang sama untuk masing-masing indikator. dan 199 0 (Ardani.6 persen. 1980. yang lazim diterjemahkan sebagai Indeks Mut u Hidup (IMH). DI Yogyakarta dan Sulawesi Tenggara merupakan propinsi yang memiliki pe ningkatan PQLI tercepat sebesar 3. dan 199 0. PQLI tert inggi dipegang oleh Sulawesi Utara (62). Kendati demikian. dan 0. menjadi 57 pada tahun 19 80. Begitu kinerja ekonomi suatu negara dinyatakan dalam skala 1 hingga 100 untuk masing-masing indikator tersebut. kinerja ekonomi suatu negara dinyatakan dalam skal a 1 hingga 100. PQLI Indonesia termasuk yang paling rendah. Morris memperkenalkan Physical Quality Life Index (PQLI). UNDP menerbitkan se ri tahunan dalam publikasi berjudul Human Development Reports. PQLI di Indonesia meningkat dari 45 pada tahun 1971. yang diterbitkan sejak tahun 1990. Bila dibandingkan antar pr opinsi. HDI mencob a meranking semua negara dalam skala 0 (sebagai tingkatan pembangunan manusia ya ng terendah) hingga 1 (pembangunan manusia yang tertinggi) berdasarkan atas 3 tu juan atau produk pembangunan. di mana 1 merupakan kinerja terjelek. (2) pengetahuan yang diukur dengan rata-rata tertimbang dari jum lah orang dewasa yang dapat membaca (diberi bobot dua pertiga) dan rata-rata tah un sekolah (diberi bobot sepertiga). U ntuk masing-masing indikator. adalah penyusu nan dan perbaikan Human Development Index (HDI). dengan rata-rata kenaikan per tahun selama 1971-1990 sebesar 2. Morris D. dan tingkat melek huruf. maka indeks kompositnya dapat dihitu ng dari rata-rata penilaian atas ketiga indikator. angka kematian. Pada tahun 1971.6 persen per tahun. dan (3) penghasilan yang diukur dengan pend apatan per kapita riil yang telah disesuaikan. Seperti halnya POLI. sedangkan 100 adalah kiner ja terbaik. PQLI merupakan indeks komposit (gabungan) dari 3 indikator. 1980. Sebagai contoh. yaitu: (1) usia panjang yang diukur dengan tingkat harapan hidup. di antara negara-nega ra ASEAN. terdapat begitu besar variasi PQLI meskipun dengan tingkat yang menurun sebesar 0. 1996: h.

4 menunjukkan perhitungan HDI dan rankingnya. Pertumbuhan eko nomi hanyalah satu alat yang penting. Memang suatu per tumbuhan ekonomi adalah penting untuk mempertahankan kesejahteraan rakyatnya. tanda negatif menunjukkan sebaliknya. Na m un pertumbuhan bukan merupakan akhir dari pembangunan manusia. seor ang ahli 16 . Sementara itu.51 hingga 0. Akan tetapi yang lebih penting adalah baga imana pertumbuhan ekonomi digunakan untuk memperbaiki kapabilitas manusianya. dan ke-8 oleh AS. Angola. dan Uni Emir at Arab. Selain itu. Perbedaan rankin g GNP per kapita dengan ranking HDI yang positif (lihat kolom ke-5) menunjukkan bagaimana ranking relatif suatu negara meningkat bila digunakan HDI sebagai indi kator sebagai ganti dari GNP per kapita. Tabel 2. Costa Rica. Kolumbia. seperti China. Dengan 3 ukuran pembangunan ini da n menerapkan suatu formula yang kompleks terhadap data 160 negara pada tahun 199 0. bukan absolu t. negara dengan nilai HDI 0. Perlu dic atat bahwa HDI mengukur tingkat pembangunan manusia secara relatif. Dengan demikian. Negara-nega ra tersebut berarti memiliki potensi untuk menggunakan pendapatannya guna memper baiki kesejahteraan rakyatnya. Amartya Sen.5 bera rti tidak memperhatikan pembangunan manusianya. Namibia. indikator HDI jauh melebihi pertumbuhan konvensional. ranking t ertinggi diraih oleh Kanada. Barbados adalah N SB dengan nilai HDI tertinggi. ranking HDI semua negara dibagi menjadi 3 kelompok. Cuba. penge tahuan.8 berarti amat memperhatikan pembangunan manusianya.disesuaikan menurut Jaya bell mata uang masingmasing negara dan asumsi menurunny a utilitas marginal penghasilan dengan cepat. da n pada gilirannya bagaimana rakyat menggunakan kapabilitasnya.0 hingga 0. Keadaan ini memperlihatkan bahwa negara tersebut telah ban yak menggunakan pendapatannya untuk meningkatkan kapabilitas manusianya. Arab Saudi. (2) negara dengan pembangunan manusia yang menengah (med ium human development) bila nilai HDI berkisar antara 0.50. dan (3) negara dengan pembangunan manusia yang tinggi (high human development) bila nila i HDI berkisar antara 0.79. ke-2 oleh Swiss. Guyana. Sementara di antara negara-negara maju. Indonesia. dan Srilangka.79 berarti mulai memperhatikan pembangunan manusianya. negara-negara lain. negara dengan nilai HDI lebih dari 0.80 hingga 1.51 hin gga 0. dan pilihan material) dan tidak sekadar alat pembangunan (hanya GNP per kapita). B eberapa negara.0. Brunei. seperti Gabon. memil iki ranking HDI jauh di atas ranking penghasilannya (ditunjukkan oleh tanda posi tif pada kolom ke-5). HDI memfokuskan pada tujuan akhirpembangunan (usia panjang. yaitu: (1) negara dengan pembangunan manusia yang rendah (low human development) bila nilai HDI berkisar antara 0. ranking pendapatan per kapitanya jauh melebihi ranking HDI. Madagaskar. Negara dengan nilai HDI di bawah 0.

bukan absolut. Gerald M. "Entitlement" adalah sejumlah komoditi yang d apat diperoleh seseorang dalam masyarakat dengan menggunakan seluruh hak dan pel uang yang dia miliki. tetapi datanya tidak tersedia). Biro Pusat Statistik. Kuncoro. Nagoya University. bebas bepergian menengok teman. Ketiga. BACAAN YA NG DIANJURKAN Ardani. sehi ngga bila semua negara mengalami peningkatan pada tingkat tertimbang yang sama. B.ekonomi dari Harvard. bab 10. Keempat. Regional Development in Indonesia: Issues and C hallenges. Todaro (1995: h. misalnya bebas dari kelaparan. la mengamati bahwa masalah riil di NSB adalah menurunnya kual itas kehidupan daripada rendahnya pendapatan. Indikator So sial Wanita 1994. Manajemen Keuangan lntemasional: Pengantar Ekonomi dan Bisnis Global. Nagoya. Meier. 17 . Jakarta. nilai HDI suatu negara mungkin membawa dampak yang kurang menguntungkan karena mengali hkan fokus dari masalah ketidakmerataan dalam negara tersebut. BPFE. Profit Kesejahteraan Rakyat 1995. Yogyakarta. dari kekurangan gizi. 65) memberikan catatan berikut. Pertama. tim P BB ingin menggunakan status nutrisi bagi anak berusia di bawah lima tahun sebaga i indikator kesehatan yang ideal. ketiga indi kator tersebut merupakan indikator yang bagus namun bukan ideal (misalnya. Oxford University Press. IBRD. bab I. The East Asian Miracle: Economic Growth and Public Policy. 1995. Jakarta. "Kapabilitas" diartikan sebagai mencakup apa yang dapat ma upun tidak dapat dilakukan.. alternat if pendekatan yang memandang ranking GNP per kapita. New York. Oxford. maka negara miskin tidak akan memperoleh penghargaan atas kemajuannya. 1996. 1996. menegaskan bahwa pembangunan ekonomi seharusnya diterjemahkan sebagai suatu proses ekspansi dari kebebasan positif yang dinikmat i oleh masyarakat. partisipasi dalam masyarakat. Januari 1996. Leading Issues in Economic De velopment. 36. Mudrajad. memperoleh tempat tinggal yang memadai. Sen menginterpretasikan pembanguna n sebagai proses yang memperluas entitlement dan kapabilitas manusia untuk hidup sesuai dengan yang diinginkannya. dsb. Kedua. Discussion Paper No. dan kemudian melengkapinyad engan indikator sosial lain masih dihargai. edisi ke-6. 1993. April 1996. Amiruddin. pembe ntukan HDI sebagian didorong oleh strategi politik yang didesain untuk memfokusk an perhatian pada aspek pembangunan kesehatan dan pendidikan. kita harus selalu ingat bahw a indeks ini merupakan indikator pembangunan yang "relatif". Oxford University Press. Kendati HDI memberikan wawasan yang Iebih luas menge nai pembangunan. bab 1. Kelima. .

Dalam pembah asan mengenai teori pembangunan. pentahap an tersebut adalah mutlak 18 . (3) Teori revolusi ketergantungan internasion al (dependensia). Harus diakui. khususnya pembangunan ekonomi. terdapat banyak teori pembangunan yang telah diformulasikan oleh para ek onom. Lepas dari permasalahan te rsebut. TEORI PERTUMBUHAN LINEAR Model pert umbuhan linear mendominasi perkembangan teori pembangunan sejak pertama kali dik emukakan oleh Adam Smith dan mengalami puncak kejayaannya dengan lahirnya teori pertumbuhan yang dikemukakan oleh Rostow.BAB III TEORI PEMBANGUNAN Begitu kompleksnya pembangunan menyebabkan hingga saat ini tidak ada satu teori pembangunan yang tepat diterapkan bagi semua negara di dunia. pada banyak kasus ternyata kurang tepat diterapkan begitu saja di negara s edang berkembang (NSB). sesu ai dengan pengelompokkan yang dilakukakan oleh Todaro (1991. 1994). sistem sosial. menyebabkan penerapan teori-teori pe mbangunan yang ada banyak yang menjumpai "kegagalan". Artinya. teori-teori pembangunan yang ada. (4) Teori Neo-Klasik. dikenal 4 pendek atan yang dominan yaitu: (1) Teori pertumbuhan linear (linear stages of growth). dengan NSB yang umumnya terletak di benua Afrika dan Asia. di mana dasar dari teori yang mereka hasilkan hanya dapat terpenu hi bila teori tersebut diterapkan di Barat.1. dan sulit untuk mengelompokkan teori-teori tersebut pada suatu aliran tert entu. sangat didominasi oleh hasil pemikiran Para ekon om Barat. dan kondisi Iingkun gan antara negara maju. yang umumnya di benua Eropa dan Amerika. Teori-teori pembangunan yang dikemukak an oleh Adam Smith. (2) Teori pertumbuhan struktural. Tahapan-tahapan ters ebut merupakan proses urutan seperti halnya aliran air sungai. Dalam bab ini akan ditelusuri teori-teori dasar pembangunan yang ada. Karl Marx. Demikian pul a halnya dengan ekonom Barat yang mencoba memformulasikan strategi pembangunan d alam suatu kerangka teori yang sistematis. Dasar pemikiran dari model ini adalah evolusi proses pembangunan yang dialami oleh suatu negara selalu melalui tahapan-tahapan tertentu. dan Rostow termasuk dalam model pertumbuhan linea r. Itulah sebabnya mengapa teori-teori pembangunan yang merupakan hasil pemikiran ekonom B arat. khususnya di awal perkem bangan cabang ilmu ekonomi ini. 3. Pola pikir dan buah pikiran seorang pakar tentunya tidak akan pernah l epas dari tata nilai dan kondisi Iingkungan yang ada di sekitarnya. Perbedaan tata nilai.

dalam upaya meningkatkan produktivitas tenaga kerja. mengharuskan masyarakat untuk tidak lagi melakukan semua pekerjaan secara sendiri. 3.1. sementara di sisi lain kemampuan menabung masyarakat dit entukan oleh kemampuan menguasai dan mengeksplorasi sumberdaya yang ada. Dalam hal ini Adam Smith memandang pekerja sebagai salah satu input (masuk an) bagi proses produksi. yaitu dimulai dari masa perbu ruan. masa bercocoktanam. me ndorong kemajuan 19 . Menurut Adam Smith proses pertumbuhan akan terjadi secara simult an dan memiliki hubungan keterkaitan satu dengan yang lain. yaitu para pengusaha dan tuan t anah. Pekerja merupakan satu-satunya pelaku ekonomi yang tidak memiliki kemampua n menabung karena mereka tidak mampu menguasai dan mengusahakan sumber-sumber ek onomi yang ada. maka pelaku ekonomi dapat menginvestasikannya ke sektor dalam upaya untuk meningkatkan penerimaannya.1. Perl u dicatat bahwa akumulasi modal dan investasi sangat bergantung pada pada perila ku menabung masyarakat. masa berternak. perdagangan dan yang terakhir adalah t ahap perindustrian. Adanya akumulasi modal yang dihasilkan dari tabungan. namun leb ih ditekankan pada spesialisasi untuk menggeluti bidang tertentu. di mana tahap-tahap pemba ngunan tersebut harus dilalui satu-persatu secara berurutan menuju tingkat yang semakin tinggi. pertumbuhan ek onomi akan semakin terpacu dengan adanya sistem pembagian keraja antarpelaku eko nomi.harus dilalui oleh suatu negara yang sedang membangun. Menurut teori ini. Spesialisasi akan terjadi jika tahap pembangunan e konomi telah menuju ke sistem perekonomian modern yang kapitalistik. Menurut teori ini. Dalam pembangu nan ekonomi. akumulasi m odal akan menentukan cepat atau lambatnya pertumbuhan ekonomi yang terjadi pada suatu negara. modal memegang peranan yang penting. Modal tersebut diperoleh dari tabungan yang dilakukan masyarakat. Dalam prosesnya. Timbulnya peningkata n kinerja pada suatu sektor akan meningkatkan daya tank bagi pemupukan modal. Pembagian kerja merupakan titik central pembahasan dal am teori Adam Smith. Teorl Pertumbuhan Adam Smith Adam Smith membagi tahapan p ertumbuhan ekonomi menjadi 5 tahap yang berurutan. Spesia lisasi yang dilakukan oleh tiap-tiap pelaku ekonomi tidak lepas dari faktor-fakt or pendorong yaitu: (1) peningkatan keterampilan pekerja. masyarakat akan bergerak dari masyarakat tradisional ke masyarakat modern yang kapitalis. dan (2) penemuan mesin -mesin yang menghemat tenaga. Meningkatny a kompleksitas aktivitas ekonomi dan kebutuhan hidup di masyarakat. Artinya bahwa orang yang mampu menabung pada dasarnya adalah kelompok masyarakat yang m enguasai dan mengusahakan sumber-sumber ekonomi.

tanpa ke mungkinan terjadinya gelombang konjungtur. Pasar persaingan sempurna pada dasarnya tidak pernah ada di dunia. Teori pembangunan Adam Smith tidak dapat dilepaskan dari evolusi pentahap an proses pembangunan yang terjadi secara berjenjang dan harus dilewati satu per satu. K eterbatasan sumberdaya merupakan faktor yang dapat menghambat pertumbuhan ekonom i tersebut. Kritik lain mengenai teori pertumbuha n Adam Smith ini adalah pembagian kelompok masyarakat yang secara eksplisit dapa t menabung dan tidak dapat menabung hanya didasarkan pada jenis usaha yang digel utinya. (4) semua sumberdaya memiliki mobilitas s empurna. Sangat tidak realistis jika para pekerja diasumsikan tidak memiliki kema mpuan untuk menabungkan uangnya dari sisa pendapatan 20 . Kemungkinan terjadinya gelombang konjungtur dalam proses pertumbuhan ekon omi nampaknya merupakan hal yang tidak mungkin menurut teori tersebut. maka kemampuan menabung akan turun. Demikian pula halnya dengan tingkat pertumbuhan. dan memperluas pasar. Jika investasi rendah. kemudian secara lambat mulai peningkatan. Proses pertumbuhan ekonomi sebagai suatu " fungsi tujuan" pada akhirnya harus tunduk terhadap "fungsi kendala" yaitu keterb atasan sumberdaya ekonomi. yaitu bahwa pasar yang dihadapi adalah persaingan semp urna. Pentahapan ini merupakan hal yang nampaknya tidak dapat ditawar-tawar lagi. yaitu dimulai suatu titi k tertentu. Penetapan asum si tidak realistis ini adalah salah satu kelemahan teori pembangunan versi Adam Smith. (5) balk pembeli maupun penjual memiliki informasi sempurna mengenai ko ndisi pasar (Awh. akumulasi modal. meningkatkan spesialisasi. h. s ehingga akumulasi modal akan mengalami penurunan pula. laju pertumbuhan akan terj adi secara cepat sampai titik optimal tertentu dan akan menurun hingga mencapai titik nol. (2) produk yang diperjualbelikan bersifat homogen. Jika hal tersebut terjadi berarti laju investasi juga akan rendah dan akan menurunkan pertumbuhan ekonomi . Penurunan pertumbuhan ekonomi akan terus terjadi karena mat a rantai tabungan. Pertumbuhan ekonomi akan mulai mengalami perlambatan jika daya dukung alam tidak mampu lagi mengimbangi aktivitas ekonomi yang ada. (3) tidak ada kolusi antara penjual maupun pembeli. Suatu hal yang mustahil bagi perekonomian untuk berada pad a kondisi di mana semua asumsi dasar persaingan sempurna berlaku. yaitu p ada tingkat pertumbuhan sama dengan nol. Teori ter sebut menetapkan bahwa akhir dari kapitalisme adalah kondisi stasioner. bahkan dalam perkembangannya hal tersebut justru menurunkan tingkat pertumbuhan ekonomi. dan investasi tetap terjalin dan berkaitan e rat satu sama lain. Akhirnya kapitalisme dalam hal ini akan berada pada kondisi stasioner. 1976. Persaingan sempurna mempunyai karakteristik: (1) ada banyak penjual dan pe mbeli di pasar. Hal ini akan mendoro ng pertumbuhan ekonomi semakin pesat.teknologi. 242-3). Semua tahap pembangunan di atas tidak l epas dari kondisi dasar .

kapitalisme dan kemudian yang terakhir adalah sosialisme. Dalam h al ini secara implisit Adam Smith menyatakan bahwa gaji pekerja demikian kecilny a. Perkembangan teknologi yang ada menyebabkan terjadinya pergeseran di sektor ekonomi. untuk kemudian modal tersebut diinvestasikan ke sektor riil. Evolusi perkembangan masyarakat ini akan sejalan dengan proses pembangunan yang dilaksanakan.2. Artinya dalam sistem ekonomi kapitalis posisi tawarmenawar (bargaining position) pekerja terhadap pengusaha relatif sangat kecil.yang dibelanjakan. Asumsi ini menunjukkan "kekejaman" teori Adam Smith deng an sistem ekonomi kapitalisnya. Di sisi lain. pada masa kapitalisme ini para pengusaha merupakan pihak yang memiliki tingkat posisi tawar menawar tertinggi relatif terhadap pihak lain khususnya kaum buruh . dan juga mengabaikan adanya kecend erungan orang untuk menabung meski pendapatannya relatif tidak besar. Adam Smith mengabaikan peran perbankan sebagai badan penghimp un dan penyalur surplus Jana dari masyarakat. Teori Pembangunan Karl Marx Karl Marx dalam bu kunya Das Kapital membagi evolusi perkembangan masyarakat menjadi tiga. di mana masyarakat yang semula agraris-feodal kemudian mulai ber alih menjadi masyarakat industri yang kapitalis. Masyarakat feodalisme mencerminkan kondisi di mana perekonomian y ang ada masih bersifat tradisional. yaitu di mulai dari feodalisme. Let ak ketidakadilan sistem tersebut adalah pada diskriminasi kesempatan untuk menab ung. pada masa itu pemupukan modal kemudian menjad i kata kunci bagi upaya peningkatan 21 . J ika hal ini terjadi maka konsekuensinya adalah terjadi ekploitasi para pengusaha terhadap para pekerja. yan g merupakan kaum kapitalis. yang berkaitan erat dengan diskriminasi kemampuan penguasaan faktor produks i dan konsumsi sumberdaya. 3. sementara di sisi lain laba pengusaha demikian besarnya sehingga mereka mampu mengakumulasikan modalnya. Dalam tahap ini tuan tanah merupakan pelaku ekonomi yang memiliki posisi tawar menawar tertinggi relatif terhadap pelaku eko nomi lain. Artinya bur uh tidak memiliki posisi tawar menawar sama sekali terhadap para majikannya. Seperti halnya pada masa feodal .1. Suatu hal yang "menyakitkan" bahwa dalam suatu s istem yang diciptakan manusia terjadi eksploitasi manusia atas manusia lain. Konsekuensi logis penggunaan asumsi dasar tersebut a dalah kemungkinan terjadinya eksploitasi besar-besaran yang dilakukan para pengu saha terhadap buruh. Mark menyesuaikan asumsinya terhadap cara pandang ekonomi Klasik ketika itu de ngan memandang buruh sebagai salah satu input dalam proses produksi. Adam Smith mengasumsikan hanya para tuan tanah dan pengusaha yang mampu melakukan aktivita s menabung.

kemampuan para pengusaha untuk melakukan akumulasi modal teletak pada kemampuan mereka dalam memanfaatkan nilai lebih dari produkti vitas buruh yang dipekerjakan. para pengusaha yang menguasai faktor produksi akan berusaha memaksi malkan keuntungannya dengan menginvestasikan akumulasi modal yang diperolehnya p ada input modal yang bersifat padat kapital. masyarakat pemilik modal dan masyarakat bukan pemilik modal. Marx selalu mendasarkan teorinya pada kondisi pertentangan antarkelas dal am masyarakat. Sepanjang teori pembangunan yang dikemukakannya. Karena t ingkat keuntungan yang diperoleh oleh para pengusaha adalah fungsi dari nilai le bih. Eksploitasi terhadap kaum buruh dan peningkatan pengangguran yang terjadi akibat subtitusi tenaga manusia dengan in put modal yang padat kapital. Hal ini merupakan dampak dari asumsi dasar bahwa buruh di pandang seperti input yang lain. yaitu : masyarakat pemilik tanah dan masyarakat bukan pemilik tan ah. Menurut Marx. A rtinya upah akan sama dengan nilai sarana kehidupan yang diperlukan seorang buru h untuk mempertahankan kehidupannya. Nilai lebih akan meningkat jika upah diturunkan atau pr oduktifitas dinaikkan dengan asumsi semua faktor lain tidak berubah. Artinya penetapan upah tersebut tidak lebih besar daripada kebutuhan hidup p ada tingkat subsisten. para pengusaha tidak akan segan-segan mengeksploitasi pekerja. Nilai buruh yang dinyatakan dalam bentuk upah mer upakan jumlah tenaga yang diperlukan untuk menghasilkan tenaga buruh tersebut. Selisih antara nilai produktivitas buruh dan nilai tenaga buruh yang dinyatakan dalam bentuk upah inilah yang kemudian disebut dengan nilai lebi h. Asumsi lain yan g mendukung adalah bahwa di antara kedua kelompok masyarakat tersebut sebenarnya terjadi konflik kepentingan di antara mereka. Oleh karena itu dalam pola berpik irnya. yaitu tata mas yarakat sosialis. Marx selalu m endasarkan argumennya pada asumsi bahwa masyarakat pada dasarnya terbagi menjadi dua golongan. Pada kenyataannya nilai upah yang diberikan jauh lebih kecil dibandingkan dengan produktivitas buruh tersebut dalam suatu p roses produksi. pada akhirnya akan menyebabkan revolusi sosial yan g dilakukan oleh kaum buruh. Fase ini merupakan tonggak baru bagi munculnya suat u tatanan sosial alternatif di samping tata masyarakat kapitalis. Sejalan dengan perkembanga n teknologi. maka untuk memaksimalkan keuntungan. 22 . Nilai lebih merupakan keuntungan yang diperoleh oleh para pengusaha. Penurunan u pah buruh nampaknya sulit untuk dilakukan mengingat tingkat upah yang terjadi pa da masa kapitalisme semata-mata diberikan agar buruh tetap hidup dan dapat beker ja.pendapatan yang lebih besar di masa yang akan datang.

maka produsen hanya dapat melaksanakan strategi pe nurunan harga output sebagai upaya menguasai pasar. Akibat penggunaan mesin-mesin tersebut tingkat pengangguran akan semakin meni ngkat. Akumulasi ketertindasan kaum buruh dalam pereko nomian kapitalis yang terus dieksploitasi. Konsekuensinya pengusaha akan menurunkan penggunaan tenaga buruh dan diganti dengan penggunaan mesin-mesin yang lebih produktif dan efisie n. hanya dapat dilakukan dengan cara meningkatkan produktivitas kerja. yang pada akhirnya akan diinvestasikan kembali oleh para pengusaha. dan ditamb ah konflik antarkelas masyarakat yang terus terjadi. Akumulasi modal d alam sistem kapitalis akan dig anti dengan pemerataan kesempatan pemilikan sumbe rdaya. terutama pada sistem produksi dan pemilikan sumberdaya. Prasyarat untuk kondisi sema cam itu adalah sistem produksi yang semakin efisien dan produktif. 1988. Kritik terhadap t eori Marx terutama tertuju pada asumsi adanya nilai lebih dalam suatu perekonomi an. sebagai alternatif dari sistem kapitalis yang saa t itu merupakan satu-satunya sistem perekonomian yang dikenal. peningkatan produktivitas kerja dan efisiensi produksi merupakan hal yang t idak dapat ditawar-tawar lagi. Revolusi ini akan membawa perubahan mendasar pada segala b idang. Sem akin sengitnya persaingan antarpara pemilik modal akan menjurus pada upaya mere but pangsa pasar sebesar-besarnya. Haruskah suatu upaya untuk menuju kepada suatu kondisi yang "dianggap" baik harus dilakukan dengan revolus i yang tentunya akan 23 . h.Upaya untuk memaksimalkan keuntungan yang nantinya akan diakumulasikan dalam ben tuk kapital. dan Jaya bell masyarakat akan semakin menurun akibat semakin banyaknya ti ngkat pengangguran yang terjadi. Hal tersebut dapat dilakukan dengan investasi khu susnya pada barang modal yang bersifat padat kapital untuk meningkatkan produkti vitas kerja tersebut. Jadi Marx d alam hal ini telah menciptakan dunia nilai yang abstrak yang membuat teorinya ag ak "sukar dan kaku" untuk memahami bekerjanya kapitalisme (Jhingan. meningkatnya pengangguran.151) Kritik lain adalah adanya keharusan perubahan dari masyarakat kapitalis menuju sosialis hanya dapat dilakukan dengan jalan revolusi. Marx menawarkan suatu sistem baru yaitu sistem perekonomian sosialis. Pada tahap ini. Dalam dunia nyata tidak dikenal adanya istilah nilai lebih ini. karena meman g di dunia nyata kita berkutat dengan harga yang terwujud dan nyata. Dengan kata l ain. individualis dalam masyarakat kapitalis akan berubah menjadi sistem kemas yarakatan yang sosialis. Peningkatan efisiensi kerja ini tidak terlepas dari kondisi pasar yang kian kompetitif. maka Marx kemudian menyimpu lkan bahwa kapitalisme akan berakhir dengan timbulnya revolusi sosial yang dilak ukan oleh kaum buruh. Jika diasumsikan bahwa kualitas barang yang d iperdagangkan adalah homogen.

teori Rostow banyak mempengaruhi pandangan dan persepsi par a ahli ekonomi mengenai strategi pembangunan yang harus dilakukan. Untuk mencapai perekonomian sosialis. nampaknya sangat diwarnai sub yektivitas dan kebencian Marx terhadap sistem kapitalis. Artinya Marx tidak menginginkan keberadaan par a pengusaha yang berjaya di masa kapitalis untuk menghirup udara sosialisme. Teori Pertumbuhan Rostow Teori pertumbuhan ekonomi yang dikemukakan oleh Walt Whitman Rostow merupakan garda depan dari linear stage of growth theory.3.membawa korban yang besar? Apakah sudah tidak ada lagi kejernihan pemikiran dari kedua belah pihak untuk berdialog satu dengan yang lain? Kekakuan Marx dalam me ndeskripsikan proses perubahan dari masyarakat agraris-feodal menuju masyarakat kapitalis dan terakhir adalah masyarakat sosialis.1.negara Eropa dari mulai abad pertengahan hingga abad modern. 24 . Dengan adanya kritik dan sinyalemen terhadap perkiraan dampa k negatif sistem kapitalis. terutama terhadap buruh. men gingat revolusi kaum buruh jelas-jelas melawan kaum pengusaha tersebut. Pa da dekade 1950-1960. Teori Rostow didasarkan pada pengalaman pembangunan yang telah dialami oleh negara-negara maj u terutama di Eropa. Itulah sebabnya mengapa Marx mendiskripsikan bahwa kehancuran kapitalis yang akan digantikan oleh sosia lis harus melalui suatu revolusi. terlebih dahulu harus melewati tahap depre si ekonomi akibat kapitalisme yang merajalela tanpa kendali. Marx merupakan orang pert ama yang memberikan gambaran sisi negatif dari sistem kapitalisme jika sistem te rsebut diterapkan berdasarkan perhitungan ekonomi semata tanpa mempertimbangkan unsur kemanusiaan dan nilai sosial kemasyarakatan. Marx menunjukkan kepada dunia bahwa tahap pembangunan ekonomi tidaklah semulus yang diperkirakan sebelumnya. maka kemudian Rostow memformula sikan pola pembangunan yang ada menjadi tahap-tahp evolusi dari suatu pembanguna n ekonomi yang dilakukan oleh negara-negara tersebut. maka hal tersebut justru me njadi masukan bagi ekonom kapitalis untuk menyempurnakan sistem yang ada. Kendati demikian. 3. hingga dampak negatif yang digambarkan Marx dapat dihindari. Dengan mengamati proses pembangunan di negara. Toeri Marx tentang depresi ekonomi inilah yang pada akhirnya justru memperkuat argumentasi Keynes y ang merekomendasikan peningkatan peran pemerintah bagi upaya mengatasi depresi e konomi yang ada. ternyata Marx justru banyak menyumbang terhadap kelanggengan kehidupan ekonomi kapitalis.

(2) Tahap prakondisi tinggal landas. peningkatan investasi di sektor infrastruktur/prasarana terutama p rasaran transportasi.Rostow membagi proses pembangunan ekonomi suatu negara menjadi lima tahap yaitu: (1) Tahap perekonomian tradisional. Prakondisi Tinggal Landas Tahap kedua dari proses pertumbu han Rostow ini pada dasarnya merupakan proses transisi dari masyarakat agraris m enuju masyarakat industri. negara-negara di Eropa menga lami tahap kedua ini kira-kira pada abad ke-1 5 sampai ke-1 6. Tahap L Perekonomian Tra disional Perekonomian pada masyarakat tradisional cenderung bersifat subsisten. (5) Tahap konsumsi massa tinggi . perekonomian mulai bergerak dinamis. (3) Ta hap tinggal landas. diperlukan adanya semang at baru dari masyarakat. terjadi revolusi teknologi di bidang pertanian untu k memenuhi peningkatan permintaan penduduk kota yang semakin 25 . Tahap II. Pemanfaatan teknologi dalam sistem produksi masih sangat terbatas. kedua. serta terjadi investasi besar-besaran ter utama pada industri manufaktur. Sebagai tahapan yang berfungsi mempersiapk an dan memenuhi prasyaratprasyarat pertumbuhan swadaya. Pada tahap ini. Berikut ini akan diuraikan masing-masing tahapan ini. Ke mampuan penguasaan sumberdaya yang ada sangat dipengaruhi oleh hubungan darah da n keluarga. industri-industri bermuncul an. (4) Tahap menuju kedewasaan. Semangat ini telah membalikkan semua tata nilai masyarakat Eropa saat itu yang cenderung statis menjadi sangat dinamis. Pada saat itu ter jadi terjadi perubahan radikal dalam masyarakat Eropa dengan munculnya semangat Renaissance. Masih rendahnya pem anfaatan teknologi dalam proses produksi menyebabkan barangbarang yang diproduks i sebagian besar adalah komoditas pertanian dan bahan mentah Iainnya. Struktur s osial kemasyarakatan dalam sistem masyarakat seperti ini bersifat berjenjang. Perubaha n paradigma berfikir nampaknya merupakan istilah yang Iebih tepat untuk menilai fenomena itu. lndustrialisasi dapat dipertahankan jika dipenuhi prasyarat sebagai beri kut: pertama. Sektor industri mulai berkembang di samping sektor pe rtanian yang masih memegang peranan penting dalam perekonomian. Menurut pengamatan Rostow. Tahap kedua ini merupakan tahap yang menentukan bagi persiapan menuju tahap-tahap pembangunan be rikutnya. dan lembaga keuangan resmi sebagai pengge rak Jana masyarakat mulai bermunculan. Tahap ini merupakan tonggak dimulainya industria lisasi. yaitu tahap tinggal landas. perkembangan teknologi yang pesat. Dalam perekon omian semacam ini sektor pertanian memegang peranan penting.

Kenaikan laju investasi produktif antara 5 -10 persen dari GNP pada akhirnya akan menyebabkan pertumbuhan yang tinggi pada sektor-sektor dalam perekonomian. perluasan impor. Hadirnya secara cepat kerangka politik. Prasyarat pertama dan kedua sangat berkaitan erat satu sama lain. Prasyarat ketiga ini menunjukkan kesadaran Rostow bahw a perubahan perekonomian pada dasarnya merupakan konsekuensi dari perubahan moti f dan inspirasi nonekonomi dari seluruh lapisan masyarakat. Prasyarat keti ga merupakan "iklim" yang memungkinkan terpenuhinya prasyarat pertama dan kedua terpenuhi. Proses pembangunan dan in dustrialisasi yang berkelanjutan akan terjadi dengan menanamkan kembali keuntung an yang diptroleh dalam sektor yang menguntungkan. khususnya sektor manufaktur. ketiga. Jika sektor manufaktur berkembang pesat. dan dampak eksternalnya ak an memberikan daya dorong pada pertumbuhan ekonomi. Pengalaman nega ra-negara Eropa menunjukkan bahwa tahap ini berlaku dalam waktu yang relatif pen dek yaitu kira-kira dua dasawarsa. Pada akhirnya pertumbuhan y ang tinggi pada semua sektor ini akan berakibat pada perkembangan GNP yang lebih tinggi dari kondisi semula. Perkembangan salah satu atau beberapa sektor manufaktur penting dengan laju per tumbuhan tinggi. sosial. Di samping itu sektor manufaktur adalah sektor yang memiliki keterkaitan terbesar dengan se ktor-sektor lain. yang dibiayai oleh produks i yang efisien dan pemasaran sumber alam untuk ekspor. maka sektor-sektor la in pun akan terpengaruh untuk berkembang pesat pula. dan institusion al yang menimbulkan hasrat ekspansi di sektor modern. Tahap lll. praktis prasyarat pertama dan ke dua tidak akan terpenuhi. Tanpa terpenuhinya prasyarat ketiga. termasuk impor modal. Artinya perubahan ek onomi dalam skala besar tidak akan terjadi selama tidak ada iklim kondusif 26 . Tinggal landas di definisikan sebagai tiga kondisi yang sating berkaitan sebagai berikut : 1. 2. 3 . Sektor manufaktur diharapkan memiliki tingkat pertumbuhan tertinggi karena sektor tersebut merupa kan indikator bagi perkembangan industrialisasi yang yang dilakukan. Tinggal Landas Tin ggal landas merupakan tahap yang menentukan dalam keseluruhan proses pembangunan dalam keseluruhan proses pembangunan bagi kehidupan masyarakat. Prasyarat ketiga merupakan kondisi yang harus dipen uhi agar prasyarat pertama dan kedua dapat terpenuhi dengan baik.besar. Kenaikan laju investasi produktif antara 5-10 persen dari pendapatan nasional. Dalam tahap ini akan terjadi suatu revolusi i ndustri yang berhubungan erat dengan revolusi metode produksi.

Tahapan ini juga ditandai dengan munculnya beberapa sektor penting yang ba ru. Penerapan kebijakan nasional guna meningkatkan kekuasaan dan pengaruh melampaui batas-batas nasional. pe ningkatan jaminan sosial.188): 1. yang hanya dipecahkan dengan mengkonsumsi barang secara indi vidu sebanyak mungkin. Pada fase ini terjadi perubahan orientasi d ari pendekatan penawaran (supply side) menuju ke pendekatan permintaan (demand s ide) dalam sistem produksi yang dianut. (2) Perubahan watak pengusaha dari pekerja keras dan kasar berubah men jadi manager efisien yang halus dan sopan. Sementara itu terjadi pula pergeseran pe rilaku ekonomi yang semula lebih banyak menitikberatkan pada sisi produksi. 27 . namun lebih dari itu mereka memandang kesejahteraan dalam cakupan yang lebih luas yaitu kesejahteraan masyarakat bersama dalam arti luas. Tahap Konsumsi Massa Ti nggi Tahap konsumsi massa tinggi merupakan akhir dari tahapan pembangunan yang d ikemukakan oleh Rostow. akibat pembanguna n pusat kota sebagai sentral bagi tempat bekerja. Pada tahap ini akan ditandai dengan terjadinya migrasi b esarbesaran dari masyarakat pusat perkotaan ke pinggiran kota. Tahap Menuju Kedewasaan Tahap ini ditandai dengan penerapan secara efektif teknologi modern tertfadap sumberdaya yang dimiliki. Ingin memiliki satu negara kesejahteraan (welfare state) d engan pemerataan pendapatan nasional yang lebih adil melalui pajak progresif. Orang mulai berfikir bahwa kesejahteraan bukanlah per masalahan individu. kini beralih ke sisi konsumsi. (3) Masyarakat jenuh terhadap industr ialisasi dan menginginkan perubahan lebih jauh. Tahap V.yang memungkinkan perubahan tersebut. terdapat tiga perub ahan penting yang terjadi: (1) Tenaga kerja berubah dari tidak terdidik menjadi terdidik. lklim kondusif tersebut adalah perubahan f aktorfaktor nonekonomi dari masyarakat yang sejalan dengan proses pertumbuhan ek onomi yang terjadi. Penggunaan alat transportasi p ribadi maupun yang bersifat transportasi umum seperti halnya kereta api merupaka n suatu hal yang sangat dibutuhkann. Ta hapan ini merupakan tahapan jangka panjang di mana produksi dilakukan secara swa daya. 1988 : h. 2. Tahap IV. dan fasilitas hiburan bagi para pekerja. Pada saat negara berada pada tahap kedewasaan teknologi. Terlepas dari permasalahan di atas terdapat tiga kekuatan utama yang cenderung meningkatkan kesejahteraan dalam tahap konsumsi besar-besaran ini (Jhingan.

ada negara-negara di dunia yang tidak pernah melewati tahap pertam a dari pertumbuhan ekonomi Rostow.3. rumah murah. dan berbagai peralatan rumah tangga yang menggunakan listrik dan sebagainya. Amerika merupakan satu-satunya negara yang p ertama kali mencapai era konsumsi massa tinggi ini. 28 . akibat kolonialisme. Kritik Terhadap Teo ri Rostow Pentahapan pembangunan seperti yang digambarkan oleh Rostow adalah sis tem pentahapan di mana suatu tahapan tidak dapat terjadi tanpa melalui tahapan y ang lain. Kenyataannya. seme ntara itu di daerah perdesaan sistem perekonomian dan kemasyarakatan masih berad a pada tahap tradisional. dalam kebudayaan Timur (ne gara sedang berkembang di Asia dan Afrika). Tahap kedua tidak dapat terjadi tanpa tahap pertama. bahkan lebih tinggi lagi. Pada saat yang bersamaan. Kondisi tersebut tidak terjadi p ada negara-negara di Asia dan Afrika yang belum memiliki sistem sosial yang tera tur. Pertanyaan kritis yang diajukan Kuznets adalah: "Bagaimana mungkin suatu desain sederhana dapat menjadi suatu rangkuman diskriptif atau klasifikasi analitik dari suatu perubahan historis yang beragam dan bervariasi?" Kusnetz juga mencatat kemiripan dan perbedaan antara teori Rost ow dengan Marx. Ketika di daerah perkotaan modern di negara sedang b erkembang sudah berada pada tahap tinggal landas. jaringan rel kereta api. Satu-satunya nega ra di Asia yang telah mencapai tahap tersebut adalah Jepang. Di daerah perkotaan berkembang sistem sosial yang tela h berkiblat pada sistem sosial Barat. di perdesaan san gat diwarnai sistem sosial tradisional. namun langsung menginjak tahap kedua. Hal ini terjadi karena teori pe rtumbuhan Rostow merupakan pola penggambaran sejarah pembangunan yang dilakukan negara-negara di Eropa yang memiliki struktur sosial dan budaya yang mapan. Kritik gencar terhadap teori Rostow dikemukakan oleh Simon Kuznets (1989). Amerika Serikat dan Australia merupakan negara yang mengalami pola pertumbuhan ini. menyebabkan tahapan dalam teori Rost ow terjadi secara simultan. Hal ini terjadi karena keduanya merupakan benua "temuan" orang-orang Eropa. Ha l yang sama kemudian diikuti oleh beberapa negara Eropa Barat. Keputusan untuk membangun pusat perdagangan dan sektor penting seperti mobil. di mana penduduknya yang saat ini ada adalah orang-orang Eropa yang kemudian mentransfe r ilmu dan pengetahuannya ke benua tersebut. lnteraksi kebudayaan Barat. yaitu sekitar tahun 1920. tahap ketiga tida k akan terjadi tanpa tahap kedua dan seterusnya.

Rostow lebih implisit dalam memandang inte raksi kelas masyarakat dalam sistem kapitalis mengingat Rostow sendiri adalah ek onom yang berkiblat ke kapitalis. Marx memandang bahwa m an usia bersifat sangat kompleks yang memiliki berbagai dimensi kebutuhan dari e konomi sampai budaya. Marx mengasumsikan bahwa keputusan yan g diambil oleh masyarakat semata-mata hanyalah fungsi dari siapa pemilik sumberd aya. kedua ekonom tersebut menyadari bahwa perubahan sist em ekonomi pada dasarnya merupakan konsekuensi logis dari perubahan yang terjadi di bidang politik. di mana Rostow menawarkan Communism Manifesto. Sementara di sisi lain perubahan sis tem ekonomi akan berpengaruh juga terhadap kehidupan politik. Di sisi lain. balk Marx maupun Rosto w telah mencoba mengeksplorasi permasalahan dan konsekuensi dari pembangunan sos ial yang dilakukan. Di sisi lain. Ketiga. tidak berlebihan bila dikatakan kritikkritik tersebut lebih panjang daripa da teori Rostow sendiri. dan adanya tekanantekanan semacam itu yang melekat pada sistem kapitalis. Rostow sendiri ketika diundang Bank Dunia (1984) untuk dimint ai tangapannya mengenai hal ini menilai bahwa bantuan luar negeri merupakan sala h satu faktor kritis dalam pembangunan negara sedang berkembang. Ketiga. Artinya perubahan ekonomi hanyalah merupakan fenomena yang hanya dipengaruh i oleh perubahan motif dan inspirasi ekonomis kelas masyarakat penguasa sumberda ya saja. kondisi budaya dan sosial masyarakat. Rostow memandang bahwa perubahan ekonomi pada dasarnya me rupakan konsekuensi logis dari perubahan motif dan inspirasi nonekonomi yang ter jadi pada seluruh lapisan masyarakat. Sementara itu. kebudayaan. Tidak mengheran kan bila is 29 . Kedua. harus diakui pola pemikiran maupun is tilah-istilah Rostow telah mempengaruhi pola pemikiran di banyak negara sedang b erkembang. Aspek yang terlupakan dalam teori Rostow adalah peran sentral bantuan luar negeri yang berfungsi sebagai penutup kesenjangan tabungan-investasi dan k esenjangan devisa.Teori Rostow pada dasarnya merupakan alternatif bagi teori Marx. namun keduanya t idak lepas dari perbedaan satu dengan yang lain. Kendati demikian. Pertama. dan sosial. Marx mendasarkan teorin ya pada sistem konflik antarkelas masyarakat. kedua teori tersebut dengan berani menginterpret asikan evolusi sosial khususnya di sektor ekonomi. Kedua. Meski kedua teori banyak memiliki kesamaan. eksploitasi satu kelompok manusia terhadap kelompok yang lain. Meski demikian Rostow sadar bahwa perubahan ekonomi yang sangat besar harus dipandang sebagai konsekuensi dari perubahan mot if dan inspirasi dimensi nonekonomi dari manusia. Pertama. Rostow mempersempit dimensi manusia menjadi satu yaitu sebagai homo economicus. Begitu panjangnya kritik terhadap teori Ro stow. Pada dasarnya terdapat beberapa kesamaan antara teori Marx dan Rostow.

Teori Pembangunan Arthur Lewis Teori pembangunan Arthur Le wis pada dasarnya membahas proses pembangunan yang terjadi antara daerah kota da n desa. Perekonomian Tradisional Dalam teorinya Lewis mengasumsik an bahwa di daerah perdesaan. mengalami surp lus tenaga kerja. Kondisi ini menunjukkan bahwa penambahan input variabel.68). Lewis mengasumsikan bahwa perekonomian suatu negara pada dasarnya akan terbagi menjadi dua yaitu: 1.2. Mengawali teorinya .menambahkan syarat tinggal landas bagi negara sedang berkembang sebagai berikut (Rostow dalam Meier dan Seers. Dua teori utama yang menggunakan pendekatan perubahan stru ktural akan kita bahas berikut ini . artinya fungsi produksi pada sektor pertanian telah sampai pada tingkat berlakunya hukum law of diminishing return. dengan perekonomian tradisionalnya.1. TEORI PERUBAHAN STRUKTU RAL Teori perubahan struktural menitikberatkan pembahasan pada mekanisme transfo rmasi ekonomi yang dialami oleh negara sedang berkembang.239): The concept of take-off suggested t he possibility that developing countries would eventually move to self-sustained growth when soft loan would no longer be required. akibat proporsi input variabel tenaga kerja yang 30 . yaitu teori pembangunan yang dikemukakan ol eh Arthur Lewis dengan teori migrasi. dan Hollis Chenery dengan teori transforma si struktural. yang pada akhir nya akan berpengaruh besar terhadap arus urbanisasi yang ada. 1984: h. pengurangan jumlah tenaga kerja yang dipekerjakan di sektor pertanian tidak akan mengurangi tingkat produksi yang ada. 3. dalam hal ini tenaga k erja.2. Hal ini ditandai dengan nilai nilai produk marginal (marginal p roduct) dari tenaga kerja yang bernilai nol. dan sangat didominasi oleh sektor industri dan jasa (Todaro. Teori ini juga membahas pola investasi yang terjadi di sektor mode rn dan juga sistem penetapan upah yang berlaku di sektor modern. yang mengikutsertakan proses urbanisasi yang terjadi di antara kedua tem pat tersebut. 3. 1991: h. Surplus tersebut erat kaitannya dengan basis utama perekonomia n yang diasumsikan berada di dari perekonomian tradisional adalah bahwa tingkat hidup masyarakat berada pada kondisi subsisten akibat perekonomian yang bersifat subsisten pula. justru akan menurunkan total produksi yang ada. Di sisi lain. yang semula lebih bers ifat subsisten dan menitikberatkan pada sektor pertanian menuju ke struktur pere konomian yang lebih modern.

Jika ini terjadi. dan bukan oleh produk marginal dari tenaga ke rja itu sendiri. Ciri dari perekon omian ini adalah tingkat produktivitas yang tinggi dari input yang digunakan. yang relatif bersifat subsi sten dan tingkat upah cenderung tetap. 2. Dalam perekonomian semacam ini. Dengan demikian. di mana total produk bahan pangan (Tpa) diten tukan hanya oleh perubahan penggunaan input variabel. perekonomian perkotaan akan merupakan daerah tujuan bagi para pekerja yang berasal dari perdesaan. Dengan demikian. dan ini akan berusaha dipenuhi oleh penduduk perdesaan dengan jalan berurbanisasi.1 b menu njukkan sistem perekonomian pertanian yang tradisional. b erarti penambahan tenaga kerja pada sistem produksi yang ada akan meningkatkan o utput yang diproduksi. Perbedaan upah tersebut jelas akan melengkapi Jay a tarik untuk melakukan urbanisasi Perbedaan tenaga kerja dari desa ke kota dan pertumbuhan pekerja di sektor modern akan mampu meningkatkan ekspansi output yan g dihasilkan di sektor modern tersebut.terlalu besar. pangsa semua pekerja terhadap out put yang dihasilkan adalah sama. Lewis mengasumsikan pula bahwa tingkat upah di kota 30 per sen lebih tinggi daripada tingkat upah di perdesaan. bernilai positif. Model pertumbuhan dua sektor Lewis dapat dilihat pada Gam bar 3-1. Akumulasi modal yang nantinya digunakan untuk investasi hanya akan terjadi jika terdapat ekses keuntungan (profit) pada sektor modern. karena ni lai produk marginal dari tenaga kerja yang positif menunjukkan bahwa fungsi prod uksi belum berada pada tingkat optimal yang mungkin dicapai. Dengan demikian industri di perkotaan masih menyediakan l apangan pekerjaan. Hal ini merupakan ciri khusus dari fungsi produksi yang dihadapi di sektor pertanian. Diagram 3-1a menunjukkan sistem perekonomian kota-modern dan diagram 3. Diagram sebelah kanan at as menunjukkan tingkat subsistensi produksi bahan makan pada berbagai tingkat pe nggunaan input tenaga kerja. di mana sektor yang berperan penting adalah sektor industri. Perekonomian Industri Perekonomian ini terletak di perkotaan . nilai upah riil ditentukan ole h nilai rata-rata produk marginal. dengan asumsi bahwa pemilik modal akan menginvestasikan kembali modal yang ada ke indus tri tersebut. te rmasuk tenaga kerja. Percepatan ekspansi output sangat ditent ukan oleh tingkat investasi di sektor industri dan akumulasi modal yang terjadi di sektor modern. sehingga bentuk kurva penawaran tenaga ke rja akan berbentuk horisontal. dalam hal ini diasumsikan input tenaga kerja merupakan merupakan satu-satunya input yang bersifat variabel . Hal ini menyiratkan bahwa nilai produk marginal terutama da ri tenaga kerja. dengan input kapital 31 .

maka nilai produk marginal dari tenaga kerja (Mpla) bernilai nol. Lewis mengasumsikan bahwa 80 persen hingga 90 persen penduduk dalam negara tersebut tinggal di perdesaan. sehingga upah tidak didasarkan pada produk mar ginal tetapi lebih pada produk rata-rata dari tenaga kerja tersebut. karena terjadi su rplus tenaga kerja. Kedua. pada tingkat kapital (K) dan teknologi (t) yang tetap. Pertama. 1991: h. karena berlakunya asumsi bahwa pengusaha akan m enginvestasikan kembali keuntungannya ke industri tersebut. Dia gram sebelah kiri atas (3-1a) menunjukkan kurva tingkat total produk dari sektor modern. seperti ditunjukkan pada diagram kanan bawah. Sesuai dengan teori Lewis. yang diderivasi dari kurva tingkat produksi total. 32 . Nilai marginal pro duct pekerja Ola bernilai nol. Jumlah tenaga kerja yang digunakan untuk menghasil kan total produk sebesar O'TP1 pada saat jumlah kapital mencapai K1 adalah sebes ar O'L1. Lewis menggunakan dua asu msi utama untuk menjelaskan perekonomian tradisional. Output dari komoditas manufaktur (Tpm) di sektor modern merupakan fungs i dari input tenaga kerja yang bersifat variabel (Lm). Hal in i menunjukkan bahwa OA adalah tingkat ava rage product yang ekuivalen dengan pembagian antara O'T/O'La.69). Diagram bawah kanan menunjukkan kurva pr oduksi rata-rata (AP) dan produksi marginal (MP) tenaga kerja dalam perekonomian tradisional tersebut. Jumlah tenaga kerja di sektor pertanian yang tersedia (0Ia) adalah sama pada kedua sis i horisontal kedua diagram tersebut. dan menggantungka n hidupnya pada sektor pertanian (Todaro. Dasumsikan bahwa sejumlah OLa(=O'La) pekerja di sektor pertanian memproduksi sebanyak 07 ba han makanan. yang sama artinya dengan pembagian secara proporsional terhadap sem ua orang sebanyak OA per orang. tingkat akumulasi kapital akan terus meningk at dari K1 ke k2 dan seterusnya. semua tenaga kerja di perdesaan memiliki sumbangan/pangsa yang sama terhadap output yang dihasilkan.dan tenaga kerja yang bersifat konstan.

tanpa adanya risiko peningkatan tingkat upah itu sendiri. penawaran tenaga kerja di sektor perdesa an diasumsikan memiliki elastisitas yang sempurna. Dalam pasar tenaga kerja yang bersifat persaingan sempurna di sektor modern maka kurva produk marginal akan menunjukkan kurva permintaan tenaga kerja (Toda ro. Dengan kurva total produk yang ada akan dapat diturunkan kurva produk margi nal. menunjukkan tingkat subsistensi pendapatan di sektor pertanian yang tradisioa nal. akan menyebabkan perpindahan tenaga kerj a dari desa ke kota. T ingkat keuntungan maksimal pengusaha di perkotaan akan terjadi pada saat margina l physical product (produk fisik marginal) sama dengan upah buruh. Dengan konfigurasi upah seperti itu. 1991: h.70-71). Tingkat upah sektor perkotaan yang lebih tinggi daripada upah riil di perdesaan.1b bagian bawa h. Segmentasi OW menunjukkan tingkat upah riil yang terjadi di sektor perkotaa n.Hal ini akan menyebabkan total produk akan meningkat dari TP1 ke TP2 dan seterus nya.1a dan 3. Titik 33 . Segmentasi sebesar OA pada diagram 3. atau dengan kata lain penawar an tenaga kerja adalah tidak terbatas.

Fenomena t ersebut justru menunjukkan bahwa keuntungan yang diperoleh pengusaha semakin men ingkat. maka modal yang digunakan pada proses pr oduksi meningkat menjadi K2. Segitiga WD1 F merupakan total keuntungan yang diperoleh oleh pengusaha. yang secara ekstrem di tunjukkan pada penggunaan tenaga kerja yang tetap (Iihat Gambar 3-2). Proses pertumbuhan sektor modern di atas dan mengal irnya arus tenaga kerja yang berurbanisasi diasumsikan akan terus berlanjut samp ai surplus tenaga kerja yang terjadi di perdesaan terserap sepenuhnya di sektor modern. pada tingkat upah OW. Lewis mengasumsikan bahwa tingkat perpindahan tenaga kerja dan pembukaan lapangan kerja di sektor modern proporsinal dengan t ingkat akumulasi modal di sektor modern. dengan mempekerjakan pekerja sebanyak OL2. yang berarti total penerimaan dari semua tenaga kerja yang bekerja di sektor modern. Konsekuensinya jumlah yang dapat disera p oleh sektor modern akan meningkat. Da erah segi empat OWFL1 adalah pengeluaran untuk upah total yang dikeluarkan oleh pengusaha. kurva permintaan tenaga kerja dicerminkan ol eh kurva D1. Pada kenyataa nnya keuntungan yang ada direinvestasikan untuk peralatan penunjang produksi yan g bersifat menghemat tenaga kerja (laborsaving) dan Iebih canggih daripada reinv estasi pada peralatan dengan tingkat teknologi yang ada seperti yang telah digun akan sebelumnya.G. y ang pada akhirnya akan meningkatkan pembukaan lapangan kerja baru. Diharapkan semakin cepat akumulasi kapi tal di sektor modern. Jika asumsi dasar bahwa keuntungan yang diperoleh pengusaha akan diinvestasikan kembali. maka akan semakin mendorong pertumbuhan sektor tersebut. Di sisi lain pengusaha mengalami peningkatan keuntungan. yaitu pertemuan kurva permintaan dan penawaran tenaga kerja. 34 . Teori Lewis tentang penawaran tenaga kerja yang tak terbatas banyak dikr itik karena asumsi-asumsi dasarnya banyak yang tidak relevan dengan untuk negara sedang berkembang (NSB). Pada saat itu jumlah tenaga kerja yang dapat diserap adalah OL1. yang berarti mengalami peningkata n permintaan tenaga kerja dari D1 ke D2. pada diagram 3. Pertama. Itu berarti bahwa tingkat produksi total adalah O'T P2. Pada saat tot al produk adalah sebesar 07P1 (K1).F. yang nantinya akan diinvestasi kan lagi di sektor tersebut.1a sebelah bawah menunjukkan tingkat keseimbangan tenaga k erja.H. Hal ini tentunya menyebabkan reinnvestasi yang dilakukan tidak akan berpengaruh terhadap penyediaan lapangan kerja baru. sementara penerimaan pekerja dan jumlah pekerja yang digunakan dalam pro ses produksi tidak mengalami perubahan. meski pada tingkat upah yang tetap.

Jika kita amati lebih lanjut. dan tuntutan penetapan upah minimum yang m anusiawi merupakan dua sumber utama upaya peningkatan upah di kedua sektor perek onomian tersebut. Hal ini dicerminkan d ari perbedaan proporsi pendapatan yang diterima antara pengusaha dan tiap-tiap t enaga kerja yang dipekerjakan. Para ekonom sepakat bahwa di negara berkembang yang terjadi justru di perkotaan terda pat surplus tenaga kerja. Kenya taan menunjukkan bahwa di negara-negara sedang berkembang terjadi kecenderungan peningkatan nilai upah secara terus menerus baik di daerah perdesaan maupun di p erkotaan. Di sisi lain reinvestasi 35 . tampaknya merupakan hal yang sulit di temukan di negara berkembang.Kedua. teori pertumbuhan Lewis ini pada dasarnya termasuk salah satu teori pendukung kapitalisme. Ketiga. Keberadaan serikat pekerja. mengingat kondisi yang ada justru sebaliknya. maka akan terlihat bahwa reinvestasi yang ada semakin men ingkatkan penerimaan pengusaha. asumsi bahwa di perdesaan mengalami surplus tenaga kerja. sementara di perdesaan mulai mengalami kekurangan tena ga kerja. asumsi dasar lain dari teori Lewis yang tidak realistis adalah bahwa di sektor modern. Artinya asumsi tersebut tidak realistis untuk dite rapkan di negara berkembang. sedangkan di pe rkotaan mengalami kekurangan tenaga kerja. Jika teori yang dikemukakan oleh Lewis terbukti t erjadi di dunia nyata. pasar tenaga kerja akan rrfenjamin tingkat upah berada pada tingkat yang tetap sampai penawaran tenaga kerja mengalami penurunan.

da n tidak akan berpengaruh terhadap kemungkinan peningkatan pendapatan dari masing -masing pekerja. Untuk negara dengan tingkat pendap atan per kapita kurang dari US$600 dikelompokkan ke dalam negara yang baru malak ukakn pembangunan atau sering disebut negara sedang berkembang. yang mengalami transformasi dari pertanian tradisional beralih ke sek tor industri sebagai mesin utama pertumbuhan ekonominya. Penggolongan ini didasarkan pad a harga-harga yang terjadi pada tahun 1976. 74-5). Perubahan waktu tentunya juga akan berdampak pada perubahan interval dan nilai batas dari pendapatan per kapita yan g menjadi standar pengelompokkan tersebut. saat GNP/kapita mening kat. mengingat penelitian yang dilakukan oleh Chenery dilakukakn pada tahun tersebut. Penelitian yang dilakuk an Hollis Chenery tentang transformasi struktur produksi menunjukkan bahwa sejal an dengan peningkatan pendapatan per kapita. Sebagai contoh. sementara sektor industri hanya menyumbang 15 persen saja.engalami penurunan 20 persen sementara sektor indus tri meningkat 28 persen (todaro. Teori Pola Pembangunan Chenery Analisis teori Pattern of Development memfokuskan terhadap perubahan struktur dalam tahapan proses peru bahan ekonomi. berhubungan erat dengan akumulasi kapital dan peningkatan sumberd aya manusia (human capital).ini hanya akan meningkatkan jumlah pekerja yang bekerja di industri tersebut. 3. sementara pendapatan pekerja relatif tetap. Pada saat pendapatan/kapita mencapai US$1000. D iagram 3-3 menunjukkan bahwa pangsa pasar sektur industri dalam GNP meningkat da n pangsa pasar dari sektor pertanian nengalami penurunan. Dengan demikian pertumbuhan yang terjadi hanya akan menguntungk an para pengusaha.2. 1991: h. Sementara itu ne gara dengan nilai pendapatan per kapita antara US$600 hingga US$3000 digolongkan sebagai negara dalam fase transisi pembangunan. Gambar 3-3 menunjukkan 36 . Chenery kemudian membuat pengel ompokkan negara sesuai dengan proses perubahan struktural yang dialami berdasark an tingkat pendapatan per kapita penduduknya.2. perekonomian suatu negara akan berg eser dari yang semula mengandalkan sektor pertanian menuju ke sektor industri. pada saat nilai GNP per kapita US$200 maka pangsa produk se ktor primer menguasai 45 persen dart total GNP. sumbang an sektor primer dalam GNP h. dan baru dapat me ngalami peningkatan jika penawaran tenaga kerja di daerah surplus (perdesaan) me ngalami penurunan. Peningkatan peran sektor industri dal am perekonomian sejalan dengan peningkatan pendapatan per kapita yang terjadi di suatu negara. industri dan struktur institusi dari perekonomian negara sedang b erkembang.

Penurunan permintaan terhad ap bahan pangan ini ternyata akan dikompensasikan oleh peningkatan permintaan te rhadap barang-barang non kebutuhan pangan. Sepanjang perubahan struktural ini berlangsung. Produktivitas tenaga 37 . 2. baik pada awal hingga akhir dari proses transformasi struktural tersebut. Patterns of Development. yaitu bahwa akan terjadi p erpindahan tenaga kerja dari sektor pertanian di desa menuju sektor industri di perkotaan. Dengan keberadaan lag inilah maka sektor pertanian akan berperan penting dalam peningkatan penyediaan tenaga kerja. 3. Di sektor perdagangan internasional terjadi juga perubahan yaitu peningka tan nilai ekspor dan impor. meski pergeseran ini masih tertinggal (lag) dibandingkan proses perub ahan struktural itu sendiri. dan peningkata n anggaran belanja pemerintah. Sejalan dengan proses perubahan struk tural. 1975). 1950-70 (Lond on: Oxford University Press. akan terja di proses seperti halnya yang dikemukakan oleh Lewis. peningkatan investasi. khususnya jika ditinjau dari permintaan domestik. yang mengalami peningkatan dalam struktur GNP yan g ada. Sumber : Hollis Cheney and Mises Syrquin. Dari sisi tenaga kerja. Figures 1.bahwa semakin tinggi tingkat investasi sektor riil dan di sektor pendidikan guna meningkatkan kualitas sumberdaya manusia. pada suatu tingkat tertentu terjadi penurunan konsumsi terhadap bahan mak anan. terj adi peningkatan pangsa ekspor komoditas hasil produksi sektor industri dan penur unan pangsa sektor yang sama pada sisi impor.

Jika hal tersebut dipenuhi maka proses transformasi struktural akan diikuti oleh peningkatan pendapatan dan pemerataan pendapatan yang terjadi secara simultan. yang sali ng berkaitan satu dengan yang lain. Secar a umum negara-negara yang memiliki tingkat populasi tinggi. Industrialisasi dan urbanisasi pada beberapa hal jus tru menghambat proses pemerataan hasil pembangunan. Hipotesis utama dari teori di atas adalah bahwa model perubahan struktural yang terjadi pada tiap-tiap nega ra sebenarnya dapat diidentifikasi dan proses perubahan secara umum dari masingmasing negara pada dasarnya memiliki kesamaan pola. penurunan laju pertumbuhan penduduk. lambat laun akan mulai meningkat.76). 1991: h. Dengan demikian. cenderung aka n mengembangkan industri yang berorientasi ke pasar internasional. Teori perubah an struktural menjelaskan bahwa percepatan dan pola transformasi struktural yang terjadi pada suatu negara dipengaruhi oleh faktor intern dan ekstern. Meski demikian teori ini tol eran terhadap variasi-variasi kecil yang terjadi dalam proses perubahan struktur al yang mungkin berbeda antarnegara. yang pada dasarnya m enggambarkan tingkat permintaan potensial yang tinggi. Perbedaan faktor endowment. di mana peningkatan pendapat an hanya akan terjadi di sektor modern-perkotaan. Artinya mereka memproduksi sendiri bar ang-barang yang dulunya diimpor untuk kemudian dijual di pasaran dalam negeri. S ebaliknya negara-negara dengan jumlah penduduk yang relatif kecil. mengalami pertumbuhan yang lambat. Selama proses transformasi s truktural tidak berarti segalanya berjalan mulus. dan penu runan derajat dualisme ekonomi antara kota dan desa. cenderung untuk mendirika n industri yang bersifat subtitusi impor. Salah satu sisi negatif dari perubahan struktur al tersebut adalah meningkatnya arus urbanisasi yang sejalan dengan derajat indu strialisasi yang dilakukan. merupakan faktor penjelas penting terhadap perbedaan variatif transformasi struktural yang terjadi. Sementara itu sektor perdesaan . dan aksesibilitas terhadap modal dan teknologi. sehingga jurang pemisah antara kota dan desa justru meningkat dengan kondisi te rsebut. 38 .kerja di sektor pertanian yan rendah. yang banyak ditinggalkan oleh para pekerja. pertama adalah sisi positif dan lainnya adalah sisi negatif. produktivitas tenaga kerja dalam perkonomian secara menyelur uh akan mengalami peningkatan (Todaro. Suatu proses yang sedang terja di tentunya akan membawa dua konsekuensi sekaligus. dan memi liki produktivitas yang sama dengan pekerja di sektor industri pada masa transis i. kebijakan pemer intah. Transformasi struktural hanya akan berjalan dengan baik jika diikuti den gan pemerataan kesempatan belajar.

secara implisit dinyatakan bahwa perekonomian negara miskin pinggiran sebenarnya tidak jauh berbeda dengan perekonomian tradisional pada teo ri Lewis. peningkatan pendapatan i ni tidak dapat dinikmati oleh sebagian besar masyarakat negara itu karena kepinc angan dalam distribusi pendapatan.3. yang mencipt akan model dasar tesis alternatif mengenai keterbelakangan ekonomi yang terjadi di negara-negara dunia ketiga. Seperti halnya dengan pembagian perekono mian menurut Lewis. Di sisi lain. Dominasi perekonomian dunia oleh negaranegara core dan rekayasa eksploitasi yang dilakukan oleh mereka . salah satu ekonom penganut dependensia. Namun demikian. Paul Baran melihat bahwa investasi perusahaan multi nasional dari negara maju yang dilakukan di negara miskin akan meningkatkan pend apatan nasional negara miskin tersebut. perek onomian negara pusat berciri perekonomian modern. membagi perekonomian menjadi dua yaitu negara-negara maju di pusat (core/central) dan kelompok negara miskin pinggiran (periphery). mekanisme pasar belum sepenuhnya berlaku dalam masyarakat. Dalam hal ini Samir Amin melukiskan bahwa pusat dari perekonomian dunia sangat dipeng aruhi oleh negara-negara pusat. TEORI DEPENDENSIA Teori dependensia pada awalnya lahir dari hasil diskusi p ara ekonom negara-negara Amerika Latin yang kemudian menghasilkan Deklarasi Ekon omi Amerika Latin.3. sementara negaranegara miskin pinggiran berada d i sekitar negara-negara pusar tersebut. Andre Gunder Frank (1966) mengelompokkan negara maju ke da lam negara-negara metropolis maju (developed metropolitan countries) dan negara sedang berkembang dikelompokkan ke dalam negara satelit yang terbelakang (satell ite underdeveloped countries). di mana sistem pasar telah ber laku dengan balk. Pencetus dasar teori tersebut adalah Paul Baran. pada akhirnya justru menjadikan negara-negara pinggiran ini semakin tergantung kepada negara-negara pusat. Dalam perekonomian negara pinggiran. Interaksi sosial dan hubungan paternalistik telah memudar dan digantikan oleh individualis dan penyelesaian segala permasalahan melalui kontra k transaksi. Interaksi yang terjadi antara negara maju dengan negara miskin lebi h bersifat ekploitasi negara maju terhadap negara miskin. Asumsi dasar teori ini adalah pembagian perekonomian dunia menjadi dua golongan. Hubungan paternalistik dan kerjasama sosial antaranggo ta masyarakat masih mendominasi pada sistem perkonomian ini. Teori dependensia berusaha menjelaskan penyebab k eterbelakangan ekonomi yang dialami oleh negara-negara berkembang. Keuntungan yang dihasilkan dari investasi asi ng tersebut akan dinikmati oleh pengusaha asing dan 39 . yang pertama adalah perekonomian negaranegara maju dan kedua adalah perekonomian negara-nega ra sedang berkembang. Sementara itu Samir Amin(1976).

Orientasi Baru ini sekaligus membuat sistem ekonomi rakyat di negara tersebut langsung dikaitkan dengan sistem kapitalistis di luar negeri dengan berbagai gejolaknya (Arief dan Sasono. ibid. Kontrak transaksi berdasarkan faktor pasar mengganti dan mendesak hubungan paternalistik yang telah mengakar di negara miskin. 1984: h. dan ket erbelakangan sektor tradisional ini justru diakibatkan oleh adanya kontak dengan sistem kapitalis dunia yang masuk ke negara miskin melalui sektor modern. Menurut Andre Gunder Frank (1966). Investasi asing memungkinkan bagi negara maju untuk mengeruk sebagian besar potensi ekonomi yang ada di negara miskin. Pen ingkatan kesejahteraan masyarakat di negara-negara miskin pada dasarnya tidak pe rnah dialami akibat masuknya investasi asing di negara-negara tersebut. Keuntungan yang diperole h tersebut semata-mata merupakan hasil dari eksploitasi sumberdaya yang ada. ke produksi untuk memenuhi pasaran luar negeri. Di sisi lain kaum borjuis nasional atau yang p opuler disebut golongan komprador dan penguasa nasional. ibid). h. Lebih jauh Paul Bara n memaparkan bahwa penggantian sistem hubungan paternalistik dari masyarakat feo dal dengan sistem kapitalis yang didasarkan rasionalitas pasar. Bagaimana pun juga perkembangan sektor modern di negara miskin ini akan terjadi sesuai 40 . Sistem t ersebut bahkan menggeser kebiasaan sosial yang ada pada masyarakat di negara mis kin.18). hasil bagi y ang diberikan investor asing kepada negara tempat investasi berada (host country ) jauh lebih rendah dibandingkan dengan tingkat keuntungan yang disalurkan kemba li ke negara asal (home country). hubungan antara negara metropol is dan satelit ini menyentuh keseluruhan sektor di negara-negara miskin. justru memperhebat proses ekspl oitasi yang dilakukan oleh pemilikâ pemilik modal dalam rangka sistem kapitalistis.segelintir anggota masyarakat tertentu di dalam negeri. Namun penerapan nilai komersial dalam tata hubungan sosial pada masyarakat feodal atau semi feodal. Proses eksploitasi dalam sistem kapitalistis ini diiringi pula dengan proses kor upsi dan ketidakadilan dalam setiap tingkat struktur pemerintahan yang mengabdi kepada kepentingan pemilik modal dan sistem kapitalis internasional (Arief dan S asono. Perubahan sistem tersebut me nimbulkan perubahan orientasi rakyat di negara tersebut yaitu dari berorientasi kepada berkecukupan dan pemenuhan pasar dalam negeri. dapat merupakan langkah utama dalam transformasi masyarakat ke arah kemajuan dan peradaban seper ti yang dialami Eropa Barat. semakin memantapkan keb eradaan sektor modern dalam menguasai sistem perkonomian yang ada.24). Sekto r modern di negara miskin adalah kaki-tangan sistem kapitalis dunia yang melakuk an eksploitasi terhadap daerah atau sektor yang sekarang menjadi terbelakang (Ar ief dan Sasono.

And re Gunder Frank menampilkan tiga hipotesis utama yang relevan. Ketergantungan dengan segala akibatnya yang terjadi dalam tata interak si ekonomi di dalam negeri. Dengan demikian sektor m odern di negara miskin tak lebih dari sektor satelit yang tidak dapat berkembang sendiri dan sangat tergantung pada kondisi perekonomian negara-negara maju. Kawasankawasan ini ialah kawasan penghasil komoditas ekspor bahan ment ah primer yang terlantar sebagai akibat adanya gelombang konjungtur dalam perdag angan internasional komoditas tersebut. yang berkaitan de ngan pola hubungan antara negara maju dan miskin tersebut (Arief dan Sasono. 199 1: h. dengan argumentasinya bahwa titik berat proses ke tergantungan tidak hanya merupakan "faktor eksternal" semata.28). 25-7). tentunya tidak dapat diatasi hanya dengan menutup di ri din dari dunia luar. Negara-negara miskin yang sekarang menjadi satelit dapat mengalami perkembangan ekonomi yang sehat dan mampu menumbuhkan perkembangan industri yang otonom. yaitu: 1. ketergantungan akibat interaksi ekonomi di dalam negeri harus dihila ngkan terlebih dahulu sebelum menangani ketergantungan yang diakibatkan oleh fak tor eksternal. yaitu: 41 . seperti apa yang direkomendasikan oleh Andre Gunder Fran k. Artinya. 3. menuju ketergantungan industri dan finansial (pasca keme rdekaan). namun lebih dari i tu "faktor internal" negaranegara miskin tersebut ikut berperan dalam rnembentuk pola ketergantungan tersebut. 1. Dos Santos mengklasifikasikan ketergantungan dalam tiga jenis (Ar ief dan Sasono. Hal ini berarti sektor mode rn di negara-negara miskin pada dasarnya memiliki ketergantungan yang tinggi unt uk berkembang terhadap sektor yang sama di negara maju. Kawasan-kawasan yang sekarang sangat terbelakang dan berada d alam situasi yang mirip dengan situasi dalam sistem feodal adalah kawasan yang p ada masa lalu memiliki kaitan kuat dengan metropolis dari sistem kapitalis inter nasional. 1991: h. Elemen-elemen ekonomi di dalam negeri ternyata ju ga berperan dalam menciptakan ketergantungan yang diawali ketergantungan merkant ilis (masa penjajahan). Dalam struktur metropolis dan satelit seperti di atas. pihak metropolis akan berkembang dengan pesat sedangkan pihak satelit akan menuju kepada keterbelakang an yang terus-menerus. Theotonio Dos Santos (1973) memperluas a rgumentasi Andre Gunder Frank. apab ila berkaitan dengan metropolis dari dunia kapitalis internasional tidak ada ata u sangat lemah.dengan perkembangan sektor modern yang ada di dunia.

Di dalam negeri konflik terjadi antara masyarakat golongan menengah ke b awah dengan para komprador yang mengambil keuntungan dengan perubahan orientasi sosial ke arah modern. Ketergantungan kolonial (colonial dependence).1. Ketergantungan ini terjadi setelah PD II sebagai akibat operasi perusahaanperusa haan mu Itinasional berinvestasi di negara-negara sedang berkembang. Ekonom peng anut teori ini juga menuduh badan-badan dunia internasional. di samping nilai ba ntuan yang kemudian sulit untuk dikuantifikasikan. 3. Pemberian bantuan yang diberikan oleh badanbadan dunia tersebut tidak lepas dari vested of interest dari negara-negara donor yang mendukung Jana lembaga tersebut. Kr itik utama yang dilontarkan oleh para ekonom terhadap teori dependensia adalah b ahwa tesis ketergantungan sangat menitikberatkan keterbelakangan yang terjadi ak ibat interaksi antara negara maju dan miskin di dunia internasional. Yang lebih parah adalah banyak dari tenaga ahli ini sebenarnya memiliki keterampilan dan kemampuan yang pas-pasan. Namun demikian pertentangan kelas ini justru terjadi dalam konteks int ernasional. Pemberian bantuan dalam bentuk barang. Di dalam negeri pun t erjadi konflik serupa. Teori depend ensia pada dasarnya masih tetap dijiwai oleh pandangan Marxis. yang um umnya berteknologi tinggi dan tidak sesuai dengan kondisi negara yang diberi ban tuan. Ketergantung an ini ditandai dengan dominasi modal besar di negara-negara penjajah melaiui in vestasi produksi bahan mentah primer untuk tujuan konsumsi di negara penjajah. Pengiriman bantuan tenaga ahl i oleh negara-negara donor. Ketergantungan ini ditandai denga n bentuk perdagangan luar negeri zaman penjajahan yang bersifat monopoli yang di ikuti dengan monopoli sumberdaya lainnya oleh pemerintah penjajah. pada akhirnya hanya merupakan upaya untuk membuka la pangan kerja bagi tenaga mereka. Ketergantungan industri keuangan (industrial-financial dependence). 2. 42 . namun demiki an mereka digaji jauh lebih tinggi daripada produk marginal mereka. justru meningkatkan ketergantungan terhadap teknologi. meski tidak krusial seperti konflik yang terjadi di luar negari. seperti Bank Dunia dan IMF. dengan semakin mengeksploitasi masyarakat kelas bawah. Tesis ini k urang proporsional dalam menempatkan interaksi yang terjadi di dalam negeri seba gai salah satu faktor yang berpengaruh dalam menciptakan keterbelakangan dan ket ergantungan terhadap negara lain. sehingga nampak b ahwa sistem pertentangan kelas dalam masyarakat masih mewarnai pembahasan teori tersebut. Ketergantungan teknologi industri (technological-industrial dependence). yaitu antara negara maju dengan negara miskin. sebagai lembaga yang menyebabkan peningkatan ketergantungan yang terjad i di negara sedang berkembang.

Meski demikian teori dependensia telah memberikan peringatan kepada para golongan menengah di negara-negara sedan g berkembang. mendapat sangg ahan oleh teori ini.Kritik lain terhadap teori ini adalah bahwa teori dependensia tidak lebih dari s ekadar tesis yang mampu mengumpulkan sebab-sebabterjadinya keterbelakangan dan k etergantungan semata tanpa mampu mencarikan so/usijalan keluarnya. di sisi lain ternyata juga membawa efek ketergantungan. meningkatkan peran perencanaan dan penet apan regulasi ekonomi yang menciptakan iklim kondusif bagi peningkatan peran pih ak swasta dalam pembangunan. Gerakan penyadaran inilah yang sediki t banyak mengilhami para penguasa di negara sedang berkembang untuk melepaskan k etergantungan negaranya dari negara maju. B esarnya derajat campur tangan pemerintah dalam aktivitas ekonomi. Dengan k ata lain. tetapi lebih pada pengaruh intern dalam negara terbelakang tersebut. Teori Depe ndensia yang cenderung menggunakan pendekatan yang bersifat revolusioner sebagai salah satu pemecahan eksploitasi negara pusat terhadap periferi. 3.4: PAHAN NEO-KLASIK TENTANG TEORI PEMBANGUNAN Dekade 1980-an menandai munculnya te ori pembangunan Neo-Klasik yang menjawab sanggahan teori Dependensia. Sejarah menunjukkan bahwa isolasi yang dilakukan oleh sebagian besar negara komunis. terutama Albania sebagai yan g paling ekstrem. Solusi ini tidak realistis di alam globa lisasi dan perkembangan pesat arus komunikasi. Teori ini merekomendasikan swastanisasi BUMN. serta kesalahan dalam pengalokasian sumber daya. yang pada masa -masa sebelumnya belum pernah terpikirkan. merupakan sumber utama keterbelakangan 43 . Argumentasi sentral yang dikemukakan oleh ekonom pe nganut teori ini terhadap serangan ekonom dependensia adalah bahwa keterbelakang an tidaklah disebabkan oleh eksploitasi negara pusat terhadap periferi. dan kurangnya intensif ekonomi. Hal ini juga berakibat pada upaya untu k meningkatkan kinerja ekonomi di negara-negara sedang berkembang tersebut. dan arus informasi yang kian mengglobal. mereka menyatakan bahwa keterbelakangan bukan disebabkan oleh pengaruh ekstern. perpindahan sumberdaya tanpa hambatan geogr afis. Sampai saat i ni solusi yang ditawarkan oleh para ekonom penganut teori ini cenderung untuk me lakukan isolasi terhadap pengaruh luar. bahwa interaksi antara negara maju dan miskin pada satu sisi mengu ntungkan. pada akhirnya tidak mampu mengatasi perubahan zaman yang semak in menuju ke arah perdagangan bebas. merebaknya kor upsi. Teori pembangunan neo-klasik yang anti terhadap pendekatan revolusioner sering disebut sebagai teori penawaran (supply side theory).

mereka yakin bahwa efisiensi dan pertumbuhan ekonomi a kan semakin terdorong untuk maju. promosi perdagangan bebas dan ekspansi ekspor. Kedua hal ini merupakan sum ber utama ketidakefisienan "mesin" perekonomian di negara sedang berkembang. Diharapkan dengan terciptanya kedua hal tersebut. semakin lambat l aju pertumbuhan ekonomi yang dialami oleh suatu negara. Anne 0 Krueger. tangan gaib (invisible hand) akan dapat berperan besar dalam mempercepat proses penyesuaian akibat kejutan da lam perekonomian dan menjamin alokasi sumberdaya secara efisien. Korea Selatan. Taiwan dan Singapura merupakan contoh utama dari negara yang melakukan kebijakan ekonomi sesuai dengan apa yang direkomendasikan oleh kaum Neo-Klasik. Bela Ballasa. Seperti diketahui sebagian besar negara berkembang te rletak di benua Asia dan Afrika. di mana tradisi kekuasaan pemerintah yang ada d i kedua benua tersebut banyak melakukan campur tangan dalam aktivitas perekonomi an. menyatakan b ahwa semakin besar campur tangan pemerintah dalam perekonomian. Perbedaan struktur masyarakat dan kelembagaan yang dimiliki oleh negara sedan g maju dengan negara 44 . sementara di si si lain kesalahan sistem alokasi sumberdaya tidak menunjang terhadap tujuan peme rataan "kue pembangunan". dan mengeliminasi ketidakefisienan dalam regulasi peme rintah (melakukan deregulasi). seperti halnya Jagd ish Baghwaty. dalam konteks teori ini. Para ekonom tersebut mer ekomendasikan kepada negara berkembang agar menuju sistem perekonomian dengan di dasarkan pada pasar bebas. Konsep perdagangan bebas. m embuka diri terhadap PMA. Pasar bebas dan perekonomian laissez faire kem udian menjadi kata kunci bagi keberhasilan pembangunan. Bagi negara berkembang pasar yang ada lebih berbentuk monopoli atau oligopol i. Kaum Neo-Klasik menyatakan bahwa dengan membebaskan pasar dari campur tangan pemerintah. Deepak Lal dan Iainnya. Dalam teori ini dikemukakan bahwa alokasi sumberdaya yang salah menyebabkan kebijakan penetapan harga menjadi tidak efektif dan ditambah dengan campur tang an pemerintah yang terlalu besar dalam perekonomian. dan terbu kti sukses. Menurut ekonom penganut teori ini. dan kegagalan campur tangan pemerintah bagi peningkatan kinerja ekon omi dicontohkan sebagaimana negara-negara yang ada di Afrika dan Amerika Latin. produk dan pasar uang. serta menghilangkan distorsi harga balk pada inpu t. laissez faire. dan pasar p ersaingan sempurna merupakan hal yang hanya dapat dipenuhi oleh negara-negara ma ju. swastanisasi BUMN.itu. Aki batnya percepatan pertumbuhan perekonomian menjadi lebih lambat. Teori ini nampaknya hanya tepat diterapkan di negara-negara yang maju daripada d i negara sedang berkembang.

Jhingan. Arief.berkembang. 1976. M. Ekonomi Pembangunan dan Perencanaan.. LSP. Perkembanga n Pemikiran Ekonomi: Dasar Teori Ekonomi Pertumbuhan dan Ekonomi Pembangunan. Sumitro. serta masih menjunjung tinggi hubungan paternalistik. BACAAN YANG DIANJURKAN Arief. Robert. 1988. LP 3ES. Djojohadikusumo. 1994. John Wiley and Sons.L. Budiman. 1984. Ketergantungan dan K eterbelakangan. Rajawali Press. seperti apa yang telah diungkapkan oleh ekonom penganut faham dependensia di atas. Jakarta. PT Gramedia. menjadikan teori pembangunan tersebut pada banyak kasus justru gagal dilaksanakan di negara berkembang. Pemaksaan orientasi pasar pada sistem masyarakat feodal atau semi feoda l justru akan meningkatkan eksploitasi antara satu golongan terhadap golongan la in. Penciptaan suatu sistem ekonomi harus didukung oleh suatu suatu kond isi yang kondusif terhadap kemungkinan perkembangan sistem ekonomi yang ada. Jakarta. Jakarta. 45 . Teori Pembangunan Dunia Ketiga. Awh. 1995. Adalah suatu hal yang sulit bagi negara berk embang untuk menciptakan kondisi pasar yang mendekati sistem pasar yang ada di n egara maju. Microeconomics: Theory and Appl ications. Jakarta. New York. Kon disi sosial masyarakat di negara berkembang yang umumnya bersifat feodal atau se mi feodal. Sritua dan Adi Sasono. tentunya memerl ukan waktu yang relatif panjang untuk dapat menerapkan sistem ekonomi pasar seca ra baik.

pada dasarnya menunjukkan bahwa krisis pembangunan yang terjadi ber sifat global. Terdapat tiga bentuk krisis yang perlu diperhatikan. Globalisasi krisis men unjukkan fenomena homogen yang memperlihatkan adanya satu sistem tunggal di duni a. 4. ternyata jus tru semakin mendistorsi pasar itu sendiri. Dalam ilmu ekonomi dikenal adanya kegagalan pasar. Negaraâ negara tersebut Iangsung mener apkan berbagai teori yang ada. KRISIS TEORI Pada awal era "dema m" teori pembangunan tahun 1950-1960-an. yang diharapkan mampu mengefisienkan pasar.2. dalam arti krisis status dari konsep pembangunan itu sendiri.BAB IV KRISIS TEORI PEMBANGUNAN 4. yang mereka anggap cocok sebagai model pembanguna n di negara mereka. Kegagalan suat u teori pembangunan yang diterapkan sebagai strategi pembangunan suatu negara me rupakan krisis dari teori itu sendiri. Proses yang selama ini diyakini kebenarannya. Krisis institusi terjadi karena ca mpur tangan pemerintah. yaitu krisis teori pe mbangunan. dan krisis institusi kenegaraan yang banyak terjadi di negaraâ negara di dunia. Krisis yang terjadi dalam pembangunan di dunia nyata. Teori pembangu nan yang didasarkan pada pengalaman pembangunan dan paradigma berfikir Barat. Globalisasi ekonomi telah menyebabkan sulitnya perekonomian suatu negara lepas dari pengaruh interaksi dari negaraâ negara lain. krisis pembangunan di dunia nyata. Krisis institusi kenegaraan sebagai agen yang menerapkan strat egi pembangunan nampaknya juga terjadi secara global. PENDAHULUAN Dalam bab ini akan dibahas meng enai krisis yang terjadi dalam perkembangan proses pembangunan dan teori pembang unan. dan bahwa kegagalan tersebut dapat ditanggulangi dengan campur tangan pemerintah dalam perekonomian. Krisis pembangunan di negara sedang berkembang tidak terlepas dari strategi p embangunan yang digunakan. dan kondisi intern yang kurang sesuai dengan penerapa n teori tersebut.1. te rnyata banyak menemui 46 . Krisis dalam teori pembangunan merupakan suatu kritik yan g terhadap teori pembangunan dan relevansinya dengan dunia nyata. negaranegara sedang berkembang (NSB) ba nyak mengadopsi dan mengadaptasi teoriteori pembangunan yang dikemukakan oleh pa ra ekonom Barat dalam sistem perekonomiannya.

tolak ukur itulah yang d ipergunakan. merupakan asumsi yang hanya tepat berlaku di nega ra-negara Barat. Pengertian tersebut pada dasarnya mengacu pada kondisi di Barat. Contoh kasus adalah pengertian pembangunan dan pertumbuhan yang pada era awal perkembangan teori pembangunan keduanya memiliki arti yang s ama. Mu nculnya suatu kondisi di mana pertumbuhan ekonomi berjalan cepat. Pandangan lain mengenai k risis dalam konteks teori lebih mengarah pada tahap kritis dari 47 . merupakan pre stasi-prestasi pembangunan yang menjadi tolak ukur utama pembangunan. Fenomena tersebut m erupakan salah satu krisis dari teori pembangunan itu sendiri. tanpa diimbang i oleh distribusi pendapatan dan peningkatan kualitas hidup. Mereka memunculkan teori baru dan mengkritik teoriâ teori yang mapan. Implementa si teori pembangunan kemudian memaksa para ekonom untuk merevisi strategi pemban gunannya dengan memasukkan faktor pembangunan sosial dan politik di dalamnya. memerlukan strategi pembangunan yang jauh lebih canggih. Kemudian yang terlihat adalah penggunaan suatu alat yang tidak sesuai dan sepadan dengan apa yang hendak diperbaiki. lstilah kris is sebenarnya lebih banyak digunakan oleh ekonom kiri sebagai reaksi terhadap ke gagalan teori Barat yang kapitalistik diterapkan di NSB. dan pertumbuhan lapangan kerja. Prestasi keberhasilan pembangunan ekonomi kemudian tidak hanya ditentukan oleh percepatan pertumbuhan ekonomi namun lebih pada peningkatan kesejahteraan masyarakat secara lebih utuh. Asumsi-asumsi dasar yang dipergu nakan dalam teori pembangunan. Akhir dari penerapan teori yang dipak sakan adalah timbulnya suatu kondisi di NSB yang jauh lebih rumit dibandingkan d engan kondisi semula. di mana da lam proses awal pembangunan mereka tiga abad yang lalu. Besarnya GNP per kapita. Peningkatan permasalahan yang timbul akibat penerapan teor i barat yang kapitalistik. Pembangunan ekonomi pada saat itu tidak lebih dari suatu prestasi y ang diukur secara kuantitatif semata. telah berhasil meng geser paradigma pembangunan yang ada. serta inflasi yang terkendali. menyebabkan bermunculannya reaksi dari para ekonom NS B. Kondisi dasar NSB jauh lebih rumi t dibandingkan dengan negara maju. Kondis i tersebut diperparah oleh penerapan teori pembangunan tersebut secara mentahâ mentah . Pada dasarnya per masalahan pembangunan di NSB justru semakin kompleks dengan penerapan teoriâ teori ba rat secara mentahâ mentah. tanpa melalui proses penyesuaian dengan asumsi dasar yang terdapat di suatu ne gara. Sementara itu kondisi di NSB yang demikian kompleks. Di dunia nyata istilah krisis lebih merujuk pada suatu permasalahan tertentu. dan pada banyak hal asumsi yang dig unakan da lam teori pembangunan hanya mengacu pada kondisi yang ada di negara maju. pertumbuhan ekono mi.kegagalan dalam dataran implementasinya di NSB.

kecuali harus dit emukan alternatif teori untuk mengubahnya secara radikal. krisis yang terjadi dalam perekonomian kapitalis berasal dari sitem produksinya yang eksploitatif.suatu gelombang konjungtur yang tidak dapat dibalik prosesnya. Dalam kerangka teori k apitalis. Hal ini didasarkan pada alasan bahwa sistem pereko nomian dunia saat ini menciptakan suatu sistem yang lain yaitu suatu hal yang sa ngat sulit untuk menganalisis perekonomian suatu negara tanpa melibatkan interak si negara tersebut dalam kancah perekonomian dunia. Dalam kerangka berpikir Marx. Jika ini yang terjadi maka k onsepsi dependensia yang akhirnya muncul. maka krisis yang terjadi adalah krisis transisi. Pada tahap tersebut perekonomian tidak dapat kembali dinamis. Namun demikian Marx mengingatkan bahwa eks ploitasi dari sistem produksi kapitalisme tidak dapat berlangsung terus. apakah krisis yang terjadi merup akan fenomena yang bersifat global atau hanya terjadi secara parsial atau di kaw asan tertentu saja. Oleh karena itu. Pada tahap ini krisis merupakan periode transformasi atau transisi. menurut Marx. Pemikiran ini banyak diwarnai oleh pemikiran penganut ajaran Marx tradis ional. Penganut teori Marx memandang sistem produksi kapitalis hanya dapat dilaksanakan dalam jangka pende k. Timbuln ya kelas dan eksploitasi pekerja. karena struktur yang ada demi kian kokoh membangun sistem tersebut. bentuk sosialisme merupakan ka pitalisme dalam jangka panjang. namun akan gaga) dalam jangka panjang. Dalam diskusi mengenai krisis. suatu perekonomian akan tumbuh dan pada akhirnya bermuara pada suatu k ondisi stasioner. Bahasan mengenai krisis saat ini lebih banyak merujuk pada f enomena krisis secara global. sistem p roduksi jangka panjang akan menghasilkan kelaskelas ekonomi di mana distribusi h asil pembangunan tidak didistribusikan secara merata. jika kemudian menggunakan pend ekatan sosialisme. Sistem produksi kapit alisme hanya dapat berjalan dalam jangka panjang. Tingkat ketergantungan ini semakin diperparah dengan eksploitasi perekonomian negara miskin oleh negar a maju. 48 . bahwa globalisasi ekonomi justru mempe rparah ketergantungan negara miskin terhadap negara maju. Permasalahan yang timbul k emudian adalah bahwa proses transisi yang terjadi tersebut selalu membawa akibat yang menyakitkan dari yang diharapkan semula. akan menyebabkan kapitalisme menjadi rentan da lam jangka panjang. bahkan mungkin terjadi eks ploitasi antara suatu kelompok terhadap kelompok tertentu. Didasarkan pada teori Marx. Jika teori pembangunan didasarkan pada suatu pro ses jangka panjang semacam ini. ha l lain yang harus disamakan persepsinya adalah. dan kemudian akan digantikan oleh sosialisme. dan pada hakikatnya merupakan reaksi dari eksploitasi sistem kapitalisme. yang secara sadar atau tidak dilakukan negara-negara maju terhadap negara sedan g berkembang. akibat keterbatasan sumberdaya pendukung yang ada.

paham kesejahteraan. Pendekatan lain dari krisis adalah ditinjau dari peran negara dalam per ekonomian. maka krisis pembangunan yang terjadi di negaraâ negara ter sebut memiliki corak yang berlainan. Kedua dan Ketiga. dari ratusan tahun pengalaman melaksanakan pembangunan. Neg ara kesejahteraan merupakan tujuan pembangunan. Pada da sarnya paham ini lebih mengacu pada pada teori Neo-Klasik. karena mereka beranggapan bahwa campur tangan pemerintah lebih banyak membawa distorsi pada pe rekonomian. campur tangan pemerintah diusahakan seminimal mungkin. yaitu negaraâ negara di Eropa Barat dan Amerika Utara. Konsep ini merupakan reaksi atas teori Keynes yang didasarkan pada a nggapan bahwa tidak ada mekanisme pasar yang sempurna.1. menganggap bahwa kegagalan pembanguna n justru dapat disebabkan oieh adanya campur tangan pemerintah yang tidak tepat. Jika kita sepakat membagi dunia dalam tiga kategori. di mana pembangunan yang berorie ntasi ke negara ini pada akhirnya diharapkan mampu menyejahterakan masyarakat se cara menyeluruh. krisis ini diwujudkan dalam sistem revolusi yang diwujudkan da lam sistem revolusi yang dilakukan oleh kaum buruh terhadap sistem kapitalisme y ang ada. Regulation school. Namun demikian. yaitu negara Dunia Pertama. yaitu: mekanisasi produksi masal dengan konsumsi masal . 4. ne gara kesejahteraan yang mereka dambakan nampaknya masih jauh dari kenyataan. 4. menjelask an bahwa krisis pembangunan yang terjadi sebagai akibat dari kesalahan regulasi yang mengakibatkan akumulasi krisis yang ada. Krisis di Negara Dunia Pertama Di ne gara Dunia Pertama. atau yang lebih dikenal dengan Fordisme. sehingga campur tangan pe merintah mutlak diperlukan. Pada tahun 1970-1980 konsep negara kesejahteraan sebagai tujuan 49 . KRISIS PEMBANGUNAN Di samping krisis yang terjadi pada dataran teori. Pendekatan ini menjelaskan perubah an faktor-faktor yang secara esensial mempengaruhi keberhasilan ekonomi di Ameri ka Utara dan Eropa Barat. produktivitas tenaga kerja yang tinggi bersama tingkat upah pekerja yang tingg i pula. dan bentuk lain dari intervensi pemerintah.3. krisis yan g terjadi disebabkan kegagalan mereka dalam mencapai welfare state (negara kesej ahteraan). tidak dipungkiri bahwa selama proses pembangunan dapat terjadi krisis dalam proses te rsebut. adalah hal yang tidak dapat dipung kiri.3. di mana mekanisme pas ar dipercayai sebagai proses terbaik dalam perekonomian. Dalam paham NeoKlasik. Fakta bahwa negara Dunia Pertama teiah mencapai tahap pembangunan pal ing maju relatif terhadap belahan dunia lain.Dalam teori Marx. Kaum Fordisme.

Individu dalam hal ini harus berprod uksi dan berkorban demi kesejahteraan negara. Titik sen tral perbedaan tersebut terletak pada cara pandang terhadap penguasaan sumberday a dan tujuan dari pembangunan itu sendir. akhirnya semakin meningkatkan problema sosial tersebut. praktis hanya Swedia yang mampu mendekati kondisi negara k esejahteraan. namun pada saat yang bersamaan angka pengang guran justru semakin meningkat. Jenis pengang guran di negara Dunia Pertama adalah pengangguran terbuka. rasisme dan peningkatan kriminalitas di n egaranegara Dunia Pertama umumnya dilakukan oleh para generasi muda yang frustra si dengan kondisi tersebut. Di negara komunis. dan semakin memperburuk problema sosial yan g ada. yaitu orang menganggu r karena secara sukarela mereka menganggur. tanpa memandang predikat dan sumbangan mereka. Para im igran mampu memenuhi pasar yang ditinggalkan oleh para pekerja penduduk negara D unia Pertama. Sosialisme di Swedia tidak bersifat totaliter. Arus migrasi penduduk dari NSB ke negaraâ negara Duni a Pertama.pembangunan mulai dipertanyakan. Diasumsikan bahwa masyarakat indiv idu akan sejahtera jika negara sejahtera. atau jenis pekerj aan yang ditawarkan tidak sesuai dengan jenis pekerjaan yang diinginkan. Kemunculan gerakan neo-fasisme. Meski kinerja pembangunan di negar a Dunia Pertama sangat mengagumkan. Satu hal yang ditempuh oleh Swedia dan tidak dilakukan oleh negara Barat yang lain adalah bahwa Swedia menerapkan sistem sosialisme dalam perekono miannya. Di sisi lain sosialisme di Swedia diba ngun dari upaya menyejahterakan masyarakat secara bersama dengan pengakuan terha dap kepemilikan individu. Di sisi lain kelompok imigran yang tidak suk ses tetap terpuruk dalam kemiskinan. dan kepemilika n individu dihargai sebagaimana kepemilikan kolektif melalui koperasi. Sistem sosialisme di Swedia sangat berbeda dengan sistem sosialisme di negaraâ negara komunis. Kinerja pembangunan yang diwujudkan dalam pertu mbuhan ekonomi dan lapangan kerja. Keadilan tidak dapat dipandang sebagai keadilan absolu t. Kasus tersebut ti dak terlepas dari krisis pembangunan kapitalistik di negara Dunia Pertama. Keadilan tetap 50 . di mana semua orang. tujuan pembangunan lebih ditekankan pada kesejahteraan negara. kemunculan gerakan ini justru semakin memperparah ko ndisi sosial di negara-negara tersebut. Jika diamati lebih lanjut. Kerusuhan rasial di Los Angeles merupaka n hasil akhir dari akumulasi krisis sosial di Amerika Serikat. ternyata tidak mampu menjawab tantangan dispa ritas distribusi pendapatan di antara mereka. mendapatk an bagian yang sama. Beranjak dari keuletan sebagai perantau inilah banyak diantara mer eka meraih sukses di kemudian hari. Hal ini disebabkan upah yang akan me reka terima berada di bawah standar upah yang mereka inginkan.

Sistem keadilan absolut yang sel alu digemborgemborkan oleh para pemimpin komunis.2. yaitu kompensasi diberikan sesuai deng an sumbangan individual terhadap masyarakat. 4. Kelemahan mendasar sistem komunisme terletak pad a pada cara pandang terhadap keadilan. Suatu sistem ekonomi tertentu ha nya dapat dilakukan secara efektif pada satu sistem politik/ideologi tertentu. 51 .pada dasarnya didasarkan pada ketidakpercayaan mereka terhadap mekanisme pemerataan kesejahteraan yang mereka anut. krisis yang terjadi relatif berbeda. namun dalam jangka panjang muncul kelas-kelas baru yang tid ak kalah eksploitatif dibanding kelas borjuis dalam kapitalisme. Fenomena ini menunjukkan bahwa nampaknya perekonomian di negara Barat telah sampai pada titik jenuh. K risis lain adalah penurunan percepatan pembangunan yang terjadi di negaranegara Dunia Pertama relatif terhadap negara-negara industri baru. Diperlukan berbag ai rekayasa dalam sistem perekonomian mereka untuk mampu menjawab tantangan bera t dari negara-negara maju di Asia ini. atau titik optimal d ari gelombang konjungtur yang mulai menunjukkan trend menurun.3. ternyata tidak mampu berjalan dengan balk. Di negara-negara Eropa Timur. Krisis ideologis inilah yang membawa pe ralihan sistem politik dari komunisme/sosialisme menuju ke perekonomian liberal. Di sisi lain orientasi pembangunan yang m enganggap bahwa kesejahteraan individu merupakan derivasi dari kesejahteraan neg ara. Perekonomian Barat y ang demikian kokoh dan maju ternyata tidak mampu membendung defisit neraca perda gangan mereka terhadap Jepang dan beberapa negara industri baru seperti Singapur a. Perubahan/ re volusi sistem politik dan ekonomi di negara-negara komunis di Eropa lainnya. yaitu negara-negara Amerika Latin dan negara-negara Eropa Timu r.dipandang sebagai suatu hal yang relatif. Hal di atas nampaknya sulit diterap kan di negara-negara Dunia Pertama yang lain. Revolusi te rhadap kelaskelas masyarakat kapitalis. ternyata justru menciptakan ke las-kelas baru borjuis yang dimotori oleh para politisi itu sendiri. KrisIs di Negara Dunla Kedua Di ne gara dunia kedua. krisis pem bangunan terjadi pada dataran ideologis. Permasalahan utama terletak pada i deologi dan sistem politik yang dianut oleh masingmasing negara yang tentunya ak an berkaitan dengan sistem ekonomi yang dianut. ternyata hanya menghilangkan kelas-kelas tersebut sementara. Ambruknya negara Uni Soviet menunujukkan bahwa masyarakat di negara tersebut ti dak percaya terhadap mekanisme ekonomi yang ada di negara komunis. Taiwan. Korea Selatan dan Hongkong.

Kepentingan politik mendapat peran tertinggi dibanding kan aspek-aspek pembangunan yang lain. Hal ini kemudian mengarah pada kemunculan has rat masyarakat bersama yang secara sadar ingin melakukan perubahan sistem politi k dan ekonomi. namun kondisi perekonomian yang ada t idak lebih baik dari negara industri baru di Asia. yang memasuki Amerik a Serikat lewat Meksiko. disebabkan oleh alokasi utang tersebut sebagian besar untuk pembelian barang mewah. kemiskinan dan pengangguran dengan segera akan merambah Amerika Serikat. Batas ketidakmampuan dukungan ini akhirnya membawa keresahan mas yarakat terhadap sistem kelembagaan yang ada. Tingkat inflasi yang tinggi ini jelas tidak kondusif terhadap iklim investasi . Inflasi yan g terjadi di negara. Tidak dapat dipungkiri bahwa orang -orang Amerika Latin ini adalah sebagian besar 52 . Di sisi lain. Dapat dikatakan bahwa perkemb angan perekonomian di kawasan tersebut seperti "berjalan di tempat". Pertanyaan yang muncul kemudian ad alah sejauh mana kemampuan sumberdaya yang ada terhadap inefisiensi alokasi ters ebut. Beban utang yang demikian tinggi dari sebagian besar negara di kawasan tersebut. Berbeda dengan di Eropa Timur. namun juga berakibat pada negaranegara di sekitar kawasan tersebut seperti Amerika Serikat. Setiap hari Amerika Serikat ha rus memulangkan ratusan bahkan ribuan orang pelintas batas. Pertanyaan yang muncul kemudian adalah sejauh mana kemampuan sumberdaya yang ada terhadap efisiensi al okasi tersebut. Problemnya ketidakseimbangan pembangunan ini harus didukung oleh sumberdaya pembangunan yang ada. Meski negara-negara di Amerika Selatan umumnya tel ah merdeka lebih dari 100 tahun yang lalu. praktis perekonomian tidak dapat tumbuh dengan b aik. krisis pembangunan di Amerika Sela tan disebabkan salah urus (mismanagement) utang luar negerinya. pembangunan ekonomi dikorbankan hanya untuk meraih kepentingan politik. Kalau pun di antara mereka ada yang masuk ke Amerika le wat jalur resmi. Hal ini tidak hanya memb awa masalah pada negara bersangkutan.Dalam proses pembangunan negara komunis. maka permasalahan tekanan penduduk. Dampaknya sumberdaya pembangunan terkuras oleh upaya penyebaran ideologis. aspek politik jauh mendapat prioritas d ibanding aspek ekonomis. impor perse njataan.negara di kawasan tersebut merupakan yang tertinggi di duni a. Tujuan-tujuan ekonomis pada akhirnya selalu tunduk terh adap kepentingan politik. Batas ketidakmapuan dukungan ini akhirnya membawa keresahan masyarakat ter hadap sistem kelembagaan yang ada. dan modal yang terbang ke luar negeri (capi tal flight) Di sisi lain kondisi tersebut seringkali diperparah oleh perebutan k ekuasaan antarpihak penguasa. Tanpa investasi yang memadai. Permasalahan lain adalah pengangguran yang tinggi. merebaknya praktek korupsi.

Kemunculan teoriâ teori pembangunan oleh ilmuwan di negaraâ negara maju. Menurut pandangan teori ini. Di sisi lain teori tersebut tidak terlepas dar i sistem politik. Identif ikasi penyebab krisis pembangunan dari teori dependensia didasarkan pada pandang an Marx. Di sisi lain menginginkan jalan kooperatif. namun prestasi yang diperlihatkan masih k urang menggembirakan. campur tangan pemerintah dalam pembangunan hendaknya diminimalkan. Reaksi atas penerapan mo del teori pembangunan yang sudah mapan di Amerika Latin. balk dari Amerika Seri kat maupun badan-badan dunia yang ada. mengingat setiap campur tan gan 53 .dari penduduk yang mendiami kawasan kumuh di Amerika Serikat. Justru pembangunan permasalahan krisis pembangunan menjadi menonjol di kawasan tersebut. merupakan sanggahan ata s teori pembangunan yang dirasakan terlalu bersifat Eurosentris (bias ke Eropa). Tesis dari teori tersebut didasarkan pad a pandangan bahwa interaksi antara negara-negara Amerika Latin dengan negara-neg ara maju bersifat menguntungkan sepihak dan eksploitatif. Pemberian bantuan dari masyarakat negara maju terhadap negara berkembang pada akhirnya justru meningka tkan ketergantungan negara-negara sedang berkembang. membawa konseku nsi pada penggunaan asumsi dasar pembangunan yang sesuai dengan kondisi kemasyar akatan dan budaya di negara maju. Jika diamati lebih lanjut teori pembangunan Eurosentris cenderung merujuk pada pandangan kaum Neoâ Klasik. Di satu pihak. Para ilmuwan ini juga mengkritik meto de pemberian bantuan pembangunan yang pada dasarnya hanya bersifat semu. sekelompok ilmuwan merekomend asikan untuk mengisolasi diri dari hubungan dengan dunia internasional terutama negaraâ negara maju. Kendati negaranega ra di Amerika Selatan telah sekian lama mendapat bantuan. Meski demikian ketika berada pada dataran rekomendasi. meski demikian berba gai metode untuk mengurangi ketergantungan itu sendiri. akibatnya pemaksaan kepentingan negara maju terhadap negara berkembang dapat ditingkatkan sejalan dengan pemberian bantuan tersebut. Krisis pem bangunan inilah yang kemudian melahirkan teori dependensia. terdapat perbeda an pendapat di antara para ilmuwan. Di sisi lain bantuan pemban gunan yang diberikan membuat bargaining position NSB menjadi menurun. tata nilai dan paradigma yang selama ini dianut oleh masyaraka t negara maju. Teori ini muncul mel alui pertemuan yang diadakan oleh para ilmuwan di kawasan tersebut yang membahas krisis pembangunan yang mereka hadapi.

di mana mekanisme harga telah be rlaku dengan baik. Privatisasi. Hal ini didukung oleh penilaian dan bantuan lembaga-le mbaga dunia yang selalu merekomendasikan penerapan kebijakan yang berbau kapital isme dan liberalisme. Di negaraâ negara sedang berkembang. pembukaan kesempatan kerja bagi PMA. menjadikan teori tersebut lebih tepat digunakan di NSB. bahwa diperlukan campur tangan pemerintah dalam perekonomian untuk menghilangkan kegagalan pasar tersebut. mekanisme harga dan pasar han ya terjadi di sebagian wilayah negara itu. Permasalahannya adopsi terhadap teori ini belum banyak dilakukan karena pa ra pengambil keputusan di NSB. Dalam kondisi semacam ini. Permasalahannya adalah asumsi dasar perekonomian ala NeoKlasik han ya dapat dicapai oleh negara yang relatif maju. Hal ini menyebabkan mekanisme pasar yang ada tidak mencerminkan kelangkaan dan sistem alokasi sumberdaya yang sesungguhnya. dan kegagalan pasar yang ada. karena selama ini hanya teori tersebut yang diketahui dan dipela jari. Dengan demikian di negara sedan g berkembang selalu terjadi kegagalan pasar. cenderung menerapkan teori Neo-Klasik. Tingginya peran pemerintah dalam perekonomian. Model perekonomian Keynes nampaknya merupakan model perekonomian yang paling cocok diterapkan di NSB. Bagi para ekonom dependensia. Hal ini semata-mata disebabkan oleh penekanan pengajaran di negara-negara maju tersebut sangat menjunjung tinggi ma zab Neo-Klasik. umumnya alumni dari universitas di negara-negara maju. tidak memu ngkinkan mekanisme pasar terjadi secara menyeluruh di semua kawasan negara terse but. Kepercay aan terhadap mekanisme pasar merupakan paradigma utama dan pandangan para ilmuwa n Neo-Klasik. Di sisi lain. Keynes merekomendasikan. dan libe ralisasi perekonomian adalah sedikit contoh dari praktek kebijakan yang didasark an pada teori Neo-Klasik. seringkali bantuan yang diberikan oleh negara-negara maju me nsyaratkan pada suatu hal yang berkaitan dengan penerapan teori Neo-Klasik yang menguntungkan mereka.pemerintah dalam perekonomian akan selalu mengakibatkan distorsi pasar. atau mekanisme pasar tidak sepenuhn ya berlaku. Dualisme ekonomi yang ada. Bantuan pembangunan yang disalurkan lewat lembaga-lembaga dunia tersebut selalu akan berkaitan denga n peningkatan hegemoni negara-negara maju dalam percaturan politik dan ekonomi 54 . lembaga-lembaga dunia terseb ut tidak lebih dari perpanjangan tangan negara-negara maju.

Meski teori Dependensia sangat baik dalam mendeskripsikan sebab musabab kemundur an negara-negara sedang berkembang. 4. Kelaparan yang te rjadi secara simultan dengan krisis etnis ini menambah permasalahan pembangunan menjadi semakin sulit dipecahkan. 4. praktis krisis etnis merupakan proble ma potensial yang sewaktu--waktu dapat terjadi. Dependensia merupakan awal dari suara negara Duni a Ketiga dalam merespon perkembangan teori pembangunan yang berasal dari Barat. Kasus Somalia adal ah salah satu contoh betapa rentannya iklim politik di Afrika. namp aknya akan menjadi problema potensial di masa datang. tanpa mam pu mencarikan alternatif jalan keluar dari keterkungkungan belenggu keterbelakan gan itu sendiri. pertumbuhan kemudian menjadi tujuan utama dari proses pembangunan di negara-nega ra sedang berkembang. Krisis dl Negara Dunla Ketiga Krisis yang terjadi di neg ara dunia ketiga memiliki perbedaan mendasar dibandingkan krisis pembangunan di dua belahan dunia yang lain. 55 .3. namun pada dataran solusi dan rekomendasi te ori ini kurang mampu mengakomodasikan permasalahan pembangunan di NSB. Munculnya teori dependensia merupakan tonggak kebangkitan pemikiran di ne gara-negara sedang berkembang. Konsep ini kemudian menjadi tolak ukur umum keberhasilan pembangunan. lnilah awal krisis dari proses pembangunan yang dilaksanak an oleh NSB. Di Afrika. Pada beberapa kawasan di Asia. Sementara itu pertentan gan etnis di kawasan lain Asia nampaknya kurang menunjukkan tanda-tanda yang men gkhawatirkan. tujuan pembangunan lebih ditekan kan pada pembangunan negara secara umum. KRISIS INSTITUSIONAL Konsep pembangunan pada era 1950-1960 menekankan bahwa keberhasilan pembangunan diukur dad pertumbuhan ekonomi yang dicapai oleh masyarakat suatu negara. Tak pelak lagi. yaitu yang terjadi di Afrika dan di Asia. Kemudian yang terjadi adalah pesatnya laju pertumbuhan e konomi yang disertai kerentanan struktur sosial akibat kesenjangan distribusi pe ndapatan. Dengan menganut konsepsi tersebut. krisis pembangunan tetap bermuara pada masalah kelaparan. Di Asia.4. Kondisi ini diperparah dengan masalah etnis ya ng sering menyulut peperangan antarsuku dan negara di Afrika. p ertentangan sangat mewarnai perkembangan benua tersebut. Terdapat dua pola krisis pembangunan di Dunia Ketig a. dan bukan peningkatan kesejahteraan yan g merata antarindividu. Namun demikian dominasi ras "kuning" dalam perekonomian Asia.3.dunia.

Konsekuensi Iogisnya. Tujuan pelaksanaan pembangunan tidak pernah dapat d ipisahkan dari dunia nyata. yang umumnya banyak membutuhkan biaya besar. selalu diasumsikan bahwa pembangunan ekonomi dapat dipisahkan dar i permasalahan-permasalahan politik. 56 . Hal ini menunjukkan bahwa tujuan pembangunan bias pada upaya pembangunan kekuatan n egara dan bukan pada peningkatan kesejahteraan masyarakat. Tujuan pelaksanaan pembangunan tidak pernah dilepask an dari tujuan-tujuan politik. diperlukan surplus ekonomi yang besar untuk menyokong pembangunan kekuatan politik dan militer. Upaya untuk menggalang kekuatan nasional akan menempat kan prioritas pembangunan kekuatan politik dan militer di atas pembangunan ekono mi. Namun demikian kenyataan menunjukkan bahwa pembebanan biaya pembangunan kekuatan nasional seringkali hanya didasarkan pada kehendak dan emosi segelinti r orang pemegang kekuasaan untuk mempertahankan kekuasaannya. Pada kenyataannya hal tersebut tidak dapat dipisahkan dari dunia nyata. Kendati demikian harus dipertimbangka n pula prioritas pembangunan ekonomi di masa-masa mendatang. Besarnya biaya yang harus dikeluarkan untuk membangun kekuatan politik dan militer sangat bergantun g pada rasa persatuan pada masyarakat suatu negara. semakin rendah biaya yang dipikul untuk kepentingan t ersebut. Konsepsi aliran arus utama (mainstream) pembangunan menek ankan proses pembangunan sebagai suatu proses pembentukan national building. Konsepsi pembangunan yang berorient asi pada penguatan kekuatan nasional ini pada akhirnya justru menciptakan krisis pembangunan itu sendiri. Konflik politik. dan risiko ketidakberhasil an pembangunan ekonomi semakin meningkat. di sisi lain. Strategi pembangunan pada tahapan ters ebut tidak dapat dipisahkan dari strategi penggalangan kekuatan nasional. pembangunan politik dan militer sebagai upa ya mempersatukan bangsa sangat diperlukan. Alokasi sumberdaya yang tidak efisien merupakan konsekuensi logis yang ha rus diterima. Jika ini yang terj adi maka beban yang dipikul masyarakat semakin besar. Pil ihan tujuan dan proses pembangunan dalam suatu negara seringkali harus tunduk pa da kepentingan atau tujuan politik tertentu. Dalam bahasan mengena i pembangunan. Untuk menyukseskan hal tersebut diperlukan surplus pendanaan yang berupa dana investas i dan dana kesejahteraan. Pada awal kemerdekaan. Semakin tinggi rasa persatua n masyarakat suatu negara. Bahkan proses pembangunan itu sendiri sering mend apat kendala dari konflik politik yang ada dalam suatu negara. juga banyak mempengaruhi tujuan pembangunan atau bahkan pada beber apa hal justru menyebabkan proses pembangunan tidak berjalan secara efisien.Krisis pembangunan di NSB umumnya dimulai dari ketidakjelasan untuk siapa hasil pembangunan ditujukan.

Basic need strategy merupakan strategi pembangunan untuk memenuhi kebutuhan pokok masyarakat. kelangkaan sumberdaya akan membawa keresahan yang pada akhirnya akan diatasi d engan pemerintahan yang ditaktor. Strategi-strategi ini relatif lebih meyaki nkan dan sesuai diterapkan oleh NSB dalam jangka panjang. eds. Eseiâ esei Ekonomi Politik. jauh lebih berdaya guna dibandingkan pembangunan militer yan g tangguh. Dalam jangka panjang pembangunan penggalangan kekuatan nasional melalui pendidikan ak an membawa hasil yang lebih berdaya guna dibandingkan dengan alokasi sumberdaya di bidang penguatan militer tanpa mengindahkan kebutuhan pendidikan. Jakarta. John P dan Valeriana Kallab. maka sumberdaya yang digunakan akan jauh lebih efisien. Sustainable development merupakan strategi pembangunan yang m ampu mengatasi kelangkaan sumberdaya. Self reliance strategies dapat dijadikan j alan keluar untuk mengatasi problema eksternal dari industrialisasi. maka penggalangan kekuat an nasional lebih ditekankan pada pemecahan masalah pendidikan daripada untuk ke kuatan militer. Pembangu nan masyarakat yang memiliki pengetahuan yang balk dengan tingkat kesadaran ting gi dan berideologi. sehingga dapat meredam ke mungkinan munculnya konflik internal. Pada negara yang menitikberatkan penggalangan kekuatan nasional melalui pembangunan militer . Longman Scientific & Te chnical. London. Di sisi lain. 57 . 1987. Jakarta. Dalam dataran teoritis. 1990. Dawam. Development Theory and the Three Worlds.Kedua dana tersebut dimaksudkan untuk mendukung proses penggalangan kekuatan nas ional tersebut. BACAAN YANG DIANJURKAN Hettne. Rahardjo. Lewis. Bjorn. jika hal yang sama terjadi pada negara yang mengembangkan pendidikan sebagai tujuan utama. bab 4. permasalahan keamanan dan permasalahan pembangunan dapat diata si dengan beberapa strategi pembangunan. LP3ES. Risikonya adalah jika terjadi kesalahan dalam memobilisasikan su mberdaya baik dari sisi internal maupun sisi eksternal. yaitu penin gkatan Jaya saing. M. 1988. UIâ Press. maka sumberdaya manus ia yang ada siap dimanfaatkan untuk melaksanakan pembangunan selanjutnya. Mengkaji Ulang Strategiâ strategi Pembangunan (terjemahan). Benteng kekuatan nasional terletak pada kesadaran dan rasa tanggung j awab serta intelektualitas penduduk dibandingkan dengan perangkat militer. bab 1.

BAB V MASALAH KETIMPANGAN DAN KEMISKINAN Kemiskinan merupakan masalah yang dihadapi oleh semua negara di dunia. Di Amerik a Serikat (AS), yang tergolong negara maju dan salah satu negara kaya di dunia, masih terdapat jutaan orang yang tergolong miskin. Sementara itu, mereka yang hi dup tidak miskin relatif miskin dibanding penduduk AS yang lainnya. Persis seper ti dikatakan oleh Sharp, et.al. (1996): "Poverty amidst plenty" is a striking fe ature of the American scene. Our nation is the richest in the world, yet million s of people are poor, and millions more that do not live in poverty are poor rel ative to others. This is not the American dream; it is the American paradox. Di lain pihak, negara miskin menghadapi masalah "klasik": pertumbuhan versus distri busi pendapatan. Isu mendasarnya adalah tidak hanya bagaimana meningkatkan pertu mbuhan GNP namun juga siapa yang membuat "kue nasional" itu tumbuh, segelintir o rang ataukah banyak orang. Bila pertumbuhan terutama disumbang oleh golongan kay a, maka merekalah yang paling mendapat manfaat dari pertumbuhan, sementara kemis kinan dan distribusi pendapatan semakin memburuk. Namun, bila pertumbuhan disumb ang oleh banyak orang, maka buah dari pertumbuhan ekonomi akan dirasakan secara lebih merata. Banyak Negara Dunia Ketiga (NSB) mengalami laju pertumbuhan ekonom i yang relatif tinggi tetapi tidak membawa manfaat yang berarti bagi penduduk mi skin. Hal ini dialami oleh ratusan juta penduduk di Afrika, Asia, dan Amerika La tin, di mana tingkat kehidupannya relatif berhenti dan bahkan anjiok bila dinila i secara riil. Dengan kata lain, kemiskinan setidaknya dapat ditinjau dari 2 sis i, yaitu: Pertama, kemiskinan absolut, di mana dengan pendekatan ini diidentifik asikan jumlah penduduk yang hidup di bawah garis kemiskinan tertentu. Kedua, kem iskinan relatif, yaitu pangsa pendapatan nasional yang diterima oleh masing-masi ng golongan pendapatan. Dengan kata lain, kemiskinan relatif amat erat kaitannya dengan masalah distribusi pendapatan. 5.1. BEBAN KEMISKINAN GLOBAL Kemiskinan y ang banyak terjadi sekarang ini mempunyai penyebaran yang tidak seimbang balk an tarwilayah yang ada Dunia Ketiga maupun antarnegara yang ada di 58

wilayah-wilayah tersebut. Hampir setengah dari seluruh masyarakat yang miskin hi dup di Asia Selatan yang mempunyai jumlah penduduk sebesar 30 persen clari total populasi dunia. Sub Sahara Afrika mempunyai penduduk dengan jumlah yang lebih k ecil, tetapi tingkat ketimpangannya masih cukup besar. Hampir di setiap negara, kemiskinan selalu terpusat di tempat-tempat tertentu, yaitu biasanya di perdesaa n atau di daerah-daerah yang kekurangan sumber Jaya. Persoalan kemiskinan juga s elalu berkaitan dengan masalahmasalah lain, misalnya lingkungan. Beban kemiskina n paling besar terletak pada kelompok-kelompok tertentu. Kaum wanita pada umumny a merupakan pihak yang dirugikan. Dalam rumah tangga miskin, mereka sering merup akan pihak yang menanggung beban kerja yang lebih berat daripada kaum pria. Demi kian pula dengan anak-anak, mereka juga menderita akibat adanya ketidakmerataan tersebut dan kualitas hidup masa depan mereka terancam oleh karena tidak tercuku pinya gizi, pemerataan kesehatan, dan pendidikan. Selain itu timbulnya kemiskina n sangat sering terjadi pada kelompok-kelompok minoritas tertentu. Dalam banyak kasus, pendapatan yang rendah selalu berkaitan dengan bentukbentuk "kekurangan" yang lain. Misalnya saja di Meksiko, tingkat harapan hidup 10 persen penduduk te rmiskin lebih rendah 20 tahun dibandingkan dengan 10 persen penduduk terkaya. Di Pantai Gading, tingkat pendidikan dasar bagi penduduk termiskin hanya seperlima dari 10 persen penduduk terkaya. Kemiskinan berbeda dengan ketimpangan distribu si pendapatan (inequality). Perbedaan ini sangat perlu ditekankan. Kemiskinan be rkaitan erat dengan standar hidup yang absolut dari bagian masyarakat tertentu, sedangkan ketimpangan mengacu pada standar hidup relatif dari seluruh masyarakat . Pada tingkat ketimpangan yang maksimum, kekayaan dimiliki oleh satu orang saja , dan tingkat kemiskinan sangat tinggi. Di sini kemiskinan didefinisikan sebagai ketidakmampuan untuk memenuhi standar hidup minimum. Definisi tersebut menyirat kan tiga pertanyaan dasar, yaitu: bagaimanakah mengukur standar hidup? Apa yang dimaksudkan dengan standar hidup minimum? Indikator sederhana yang bagaimanakah yang mampu mewakili masalah kemiskinan yang begitu rumit? 5.1.1. Garis Kemiskina n Semua ukuran kemiskinan dipertimbangkan berdasarkan pada norma tertentu. Pilih an norma tersebut sangat penting terutama dalam hal pengukuran kemiskinan yang d idasarkan konsumsi. Garis kemiskinan yang didasarkan pada konsumsi (consumptionbased poverty line) terdiri dari dua elemen, yaitu: (1) pengeluaran yang diperlu kan untuk membeli standar 59

gizi minimum dan kebutuhan mendasar Iainnya; dan (2) jumlah kebutuhan lain yang sangat bervariasi, yang mencerminkan biaya partisipasi dalam kehidupan masyaraka t sehari-hari. Bagian pertama relatif jelas. Biaya untuk mendapatkan kalori mini mum dan kebutuhan lain dihitung dengan melihat harga-harga makanan yang menjadi menu golongan miskin. Adapun elemen kedua sifatnya lebih subyektif. Persepsi men genai kemiskinan telah berkembang sejak lama dan sangat bervariasi antara budaya yang satu ke budaya yang lain. Kriteria untuk membedakan penduduk miskin dengan yang tidak miskin mencerminkan prioritas nasional tertentu dan konsep normatif mengenai kesejahteraan. Namun umumnya pada saat negaranegara menjadi lebih kaya, persepsi mengenai tingkat konsumsi minimum yang bisa diterima, yang merupakan g aris batas kemiskinan, akan berubah. 5.1.2. Seberapa Besar Tingkat Kemiskinan Te rjadi? Cara yang paling sederhana untuk mengukur tingkat kemiskinan adalah denga n menghitung jumlah orang miskin sebagai proporsi dari populasi. Cara yang lazim disebut dengan Headcount Index ini sangat bermanfaat, meskipun indikator ini se ring dikritik karena mengabaikan jumlah penduduk yang berada di bawah garis kemi skinan. Oleh karena itu, kesenjangan kemiskinan pendapatan atau poverty gap digu nakan untuk mengatasi kelemahan headcount index (Meier, 1995: h. 26). Poverty ga p menghitung transfer yang akan membawa pendapatan setiap penduduk miskin hingga tingkat di atas garis kemiskinan, sehingga kemiskinan dapat dilenyapkan. Penggu naan batas atas kemiskinan sebesar US$370 menyebabkan timbulnya estimasi bahwa 1 .116 juta orang di NSB hidup dalam kemiskinan pada tahun 1985 .. Jumlah tersebut merupakan sepertiga dari total populasi di NSB. Di antara jumlah tersebut, 633 juta orang (18 persen dan total populasi di NSB) tergolong sangat miskin, di man a konsumsi tahunan mereka kurang dari US$275 (batas bawah kemiskinan). Kendati d emikian, poverty gap hanya 3 persen dari konsumsi NSB. Bahkan transfer yang dibu tuhkan untuk mengentaskan penduduk yang sangat miskin hanya 1 persen dari konsum si NSB. Tingkat kematian balita di hampir semua NSB rata-rata adalah 121 per ser ibu kelahiran hidup, dan tingkat harapan hidup mereka hanya 62 tahun, sedangkan tingkat pendidikan dasar hanya 83 persen. Hampir separuh penduduk di dunia merup akan golongan miskin, dan hampir separuh dari penduduk yang sangat miskin tingga l di Asia Selatan Negara-negara Sub Sahara Afrika memiliki sekitar sepertiga pen duduk miskin. Negara-negara di Afrika bagian timur tengah dan utara merupakan da erah kedua yang memiliki jumlah penduduk miskin terbesar. Rekor ini diikuii oleh Amerika Latin dan Karibia serta Asia Timur. 60

atau tidak ada hubungan sama sekali. yang sekitar 1. HIPOTESIS U TERBALIK TENTANG KETIMPANGAN Banyak perhatian telah diberik an terhadap bagaimana distribusi pendapatan berubah dalam masa pembangunan.5 persen per tahun.3. Penyebab Kemiskinan 61 .3. Kritik utama terhadap kurva Kuznets adalah hasil ini sangat sensitif terhadap ukuran inequalitydan pemilihan set data. Perhatikan bahwa sebagian besar kurva Kuznets terletak d i sebelah kanan.1). Peningkatan jumlah kemiskinan hampir sama denga n peningkatan jumlah penduduk. Dengan mel akukan pemilihan yang berbeda. distribusi pendapatan akan makin tidak merata. PENYEBAB DAN SOLUSI KEMISKINAN 5. ketidakmerataan pendapatan menurun seiring dengan peningkatan G NP per kapita pada tahap pembangunan selanjutnya (lihat Gambar 6. distribusi p endapatan makin merata. Oleh karena it u.1. 5. 5. namun setelah mencapai suatu tingkat pembangunan tertentu. Hal ini tentunya memerlukan tingkat pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi y ang dibarengi dengan perbaikan pola pertumbuhan yang menguntungkan golongan misk in. Varian di s ekitar kurva Kuznets lebih banyak terdapat di negara dengan tingkat pendapatan t ergolong menengah papan bawah. Simo n Kuznets (1955) membuat hipotesis adanya kurva U terbalik (inverted U curve) ba hwa mula-mula ketika pembangunan dimulai. kurva U terbalik .2. seseorang bisa mendapat kurva U.Meskipun NSB telah mengalami kemajuan yang substansial dalam menurunkan kemiskin an selama tiga dasawarsa terakhir. tantangan kunci yang dihadapi oleh NSB adalah mempercepat pengurangan kemiski nan. ternyata hanya terjadi perbaikan tingkat kemi skinan pada akhir tahun 1980-an.

Penduduk negara tersebut miskin karena menggantungkan diri pada sektor pertanian yang subsisten.Ada banyak penjelasan mengenai sebab-sebab kemiskinan. metode produksi yang t radisional. adanya dis kriminasi. yang mengatakan: "a poor country is poor because it is boor"(negara mis kin itu miskin karena dia miskin). yang seringkali dibarengi dengan sikap apatis terhadap lingkungan. S harp. Adanya keterbelakangan. Kualitas sumberdaya manusia yang rendah berarti produktivita snya rendah. Kemiskinan massal yang te rjadi di banyak negara yang baru saja merdeka setelah Perang Dunia II memfokuska n pada keterbelakangan dari perekonomian negara tersebut sebagai akar masalahnya (Hardiman dan Midgley. Ketiga penyebab kemiskinan ini bermuara pada teori lingkaran set an kemiskinan (vicious circle of poverty). Rendahnya kualitas sumberdaya manusia ini karena rendahnya pendidikan. 1982: h. Lingkaran Setan Kemiskinan (The V icious Circle of Poverty) 62 . nasib yang kurang beruntung. et. Rendahnya p roduktivitasnya mengakibatkan rendahnya pendapatan yang mereka terima. Pertama. di tah un 1953. ekonom pembangunan ternama. kemiskinan muncul karena adanya ketidaksamaan pola kepemilikan sumberdaya yang menimbulkan distribusi pendapatan yang timpang.al (1996: h.2. Rendahnya i nvestasi berakibat pada keterbelakangan. dan seterusnya (lihat Gambar 6. kemiskinan muncul akibat perbedaan aks es dalam modal.2). secara mikro. Rendahnya pendapatan akan berimplikasi pada rendahnya tabungan dan investasi. 173-191) mencoba mengidentifikasi penyebab kemiskinan dipa ndang dari sisi ekonomi. Gambar 5. dan kurangnya modal menyebabkan rendahnya produktivitas. yang pada gilirannya upahnya rendah. ketidaksempur naan pasar. atau karena keturunan. Ketiga. kemiskinan muncul akibat perbedaan dalam kualitas sumberdaya manusia. 52-54). Logi ka berpikir ini dikemukan oleh Ragnar Nurkse. Penduduk miskin hanya memiliki sumberdaya dalam jumlah terbatas d an kualitasnya rendah. Kedua.

Meskipun m etode pajak langsung atas tanah ini berdasarkan atas prinsip progresif dan terba tas pada rumah tangga petani pada lapisan pendapatan yang tinggi. dan investasi mengalami penurunan sehingga melin gkar ulang menuju keadaan kurangnya modal. misalnya lewat Iebih banyaknya jam kerja setiap musim dalam setiap hektar lahan sawah (terutama akibat pengenalan varitas unggul dan perubahan teknologi) dan meningkatnya 63 . Demikian seterusnya. 1951). seperti yang dilakukan di Jepang. Penggajian alas tenaga kerja berasal dari kelompok produksi lokal dengan menghitung hari kerjanya di dalam kelompok sebelum menentukan bagia n dari masing-masing anggota kelompok dalam panen tiap tahun. Keti ka mereka tidak dapat mengelola pembangunan ekonomi.2. (2) dapat dilakukan dengan menyusun kerangka kelembagaan di perdesaan yang mem ungkinkan tenaga kerja yang belum didayagunakan untuk pemupukan modal tanpa perl u menambah upah Hal ini persis apa yang dilakukan oleh Cina yang menerapkan sist em ini alas dasar kerja sama kelompok dan brigades di tingkat daerah yang paling rendah (communes). metode ini tid ak dapat diterima di India karena adanya hambatan politis atas kasta (Raj. Ide bah wa tenaga kerja yang masih belum didayagunakan pada rumah tangga petani kecil da n gurem merupakan sumberdaya yang tersembunyi dan merupakan potensi tabungan.3. yaitu: Pertama. Metode ini diterap kan untuk proyek pembangunan infrastruktur dan proyek padat karya. turunnya penda patan riil.Negara berkembang sampai kini masih saja memiliki ciri-ciri terutama sulitnya me ngelola pasar dalam negerinya menjadi pasar persaingan yang lebih sempurna. bila tenaga kerja tersebut diupah sesuai dengan upah yang berlak u dan potensi tabungan direalisasikan. setiap usaha memerangi kemiskinan seharusnya diarahkan untuk memotong Iingkaran dan perangkap kemiskinan ini. rendahnya tabungan. Alternatif cara yang dapat dig unakan untuk memobilisasikan tenaga kerja dan tabungan perdesaan adalah: (1) men ggunakan pajak langsung atas tanah. 5. berputar. Alternatlf Solusi Kemiskinan Pen galaman di negara-negara Asia menunjukkan adanya berbagai model mobilisasi perek onomian perdesaan untuk memerangi kemiskinan. Ke ndati demikian. Dengan metode ini ternyata memungkinkan adanya kenaikan yang substansial dalam: (1) intensita s tenaga kerja dalam budidaya tanaman. Oleh k arena itu. diikuti dengan rendahnya produktivitas. beberapa cara perlu dilakukan untuk menga mankan tabungan dari dalam rumah tangga tersebut. mendasarkan pada m obilisasi tenaga kerja yang masih belum didayagunakan (idle) dalam rumah tangga petani gurem agar terjadi pembentukan modal di perdesaan (Nurkse. maka kecenderungan kekurang an kapital dapat terjadi. 1990) .

Model ini dikenal dengan nama Model Pertumbuhan Berbasis Tekn ologi. ditekankan bagaimana para kapitalis. Model ketiga. menitikberatkan pa da transfer sumberdaya dari pertanian ke industri melalui mekanisme pasar (Lewis . seperti padi yang rata-rata meningkat d ari 2. atau Rural-Led Development. Ide bahwa suplai tenaga kerja yang tidak terbatas dari rumah tangga petani kecil dapat meningkatkan tabungan dan formasi modal lew at proses pasar.intensitas penanaman. secara analitis yang dapat dipetik ad alah bahwa mobilisasi sumberdaya dari sektor pertanian hanya Iayak karena output tumbuh lebih cepat dibanding penduduk. menyoroti pote nsi pesatnya pertumbuhan dalam sektor pertanian yang dibuka dengan kemajuan tekn ologi dan kemungkinan sektor pertanian menjadi sektor yang memimpin (Schultz. Ketersediaan tenaga kerja semacam itu dikemukakan hanya untuk menjelas kan bagaimana pangsa relatif upah dan laba pada sektor kapitalis (apakah di sekt or pertanian atau industri. (2) hasil tanaman. D alam konteks ini. Fei dan Ranis. 1976). dan akibatnya produktivitas tenaga kerja meningkat pada kecepatan yang memungkinkan kenaikan moderat dalam konsumsi per kapita di sektor pertanian. mulanya tidak berkaitan sama sekali dengan mobilisasi ekonomi p erdesaan. meskipun dibarengi dengan tingginya sewa yang dibaya r kepada pemilik tanah dan memburuknya nilai tukar. Model yang kedua. 1964). 19 63. Proporsi output sektor pertanian sebagian besar tetap dijaga sebagai surplus lewat intermediasi pemilik tanah dan melalui nilai tukar (terms of trade ) sebelum Perang Dunia II (Lee. 1954).5 ton. yang pada gilira nnya dapat mempengaruhi tabungan dan investasi dalam perekonomian secara umum. 1954. dan lebih dari sepertiga total produksi padi dapat diangga p sebagai sewa oleh para pemilik tanah. bahkan di beberapa daerah hampir mencapai 6. tanpa menggunakan instrumen pajak seperti yang dilakukan ol eh Jepang. Keadaan ini dapat dilakukan selama masa p enjajahan di mana pemaksaan dengan menggunakan kekuatan polisi mulai dikenal dal am perekonomian desa. di perekonomian perdesaan atau di kota) dapat saja d ipengaruhi oleh produktivitas tenaga kerja di sektor subsisten. Surplus ini sebagian besar diangkut ke J epang untuk menopang industrialisasinya dan relatif sedikit sekali membantu pemb angunan industri Taiwan. Beberapa permasalahan 64 . 1971). Kendati demikian.75 ton per hektar pada pertengahan 1950-an menjadi 4 ton saat ini. memiliki kepentingan Iangsung dalam menjaga rendahnya produktivitas para pekerja subsisten dan menggunakan kekuasaan politiknya untuk menekan kemaj uan teknologi pada pertanian kecil (Lewis. seperti pemilik perkebuna n di Afrika. Mellor. Pengalaman Taiwan merupakan co ntoh yang balk atas mobilisasi sumberdaya dari sektor pertanian dengan mengandal kan mekanisme pasar.

atau tabungan). Jeffrey Williamson. dan melalui investasi yang didorong. Namun ketidakmerataan yang timbul memang memegang peranan penting dalam sulitnya akumulasi modal SDM. Proses ini akan berhasil apabila 2 syarat berikut ter penuhi. Di banyak NSB tidak ada tradeoff antara pertumbuhan dan ketidakmerataan. Dampak keterkaitan dalam ekonomi pe rdesaan tentunya dapat lebih kuat dalam meningkatkan permintaan pangan bila prop orsi kenaikan pendapatan dari pertumbuhan output bahan pangan digunakan untuk me mbeli produk industri perdesaan. Perlu juga dicatat bahwa pertum buhan pertanian yang pesat dapat menciptakan pola pembangunan yang dipimpin pert anian hanya apabila terjadi distribusi kekayaan yang lebih merata dalam perekono mian agraris. namun sebagai sektor yang mampu meningkatkan per mintaan atas produk pertanian dan nonpertanian. Namun kenyataan membuktikan ketidakmerataan di NSB dalam dekade b elakangan ini ternyata berkaitan dengan pertumbuhan rendah. tenaga kerja. Diskusi mengenai ada tidaknya tradeoff antara pertumbuhan dengan 65 . (2) proses ini juga menciptakan pola permintaan yang kondusif terhadap p ertumbuhan. 5. Seorang sejarahwan ekonomi. Kasus di Cina. Namun. Pada gilirannya ini tergantung dari dampak keterkaitan ekonomi perde saan lewat pengeluaran atas barang konsumsi yang dipasok dari dalam sektor itu s endiri.4.dalam strategi pembangunan dengan sektor pemimpin pertanian (rural-led developme nt) didasarkan atas kemungkinan dibukanya pertanian oleh teknologi modern. dampak keterkaitan menjadi tidak pasti b ila bagian terbesar dari kenaikan pendapatan hanya dinikmati oleh rumah tangga p emilik tanah yang berpenghasilan tinggi karena tambahan konsumsinya cenderung di alokasikan untuk komoditi dan jasa nonpertanian. ada berbagai cara pertum buhan ekonomi mempengaru hi distribusi pendapatan. peningkatan pendapa tan dan permintaan secara meluas dalam masyarakat desa. Sekto r pertanian tidak hanya sebagai sumber pasok sumberdaya (baik pangan. Taiwan. KETIDAKMERATAAN VER SUS PERTUMBUHAN Ada teori yang mengatakan ada tradeoff antara ketidakmerataan da n pertumbuhan. yaitu: (1) kemampuan mencapai tingkat pertumbuhan output pertanian yang tinggi. bahan baku . Yang jelas. dan oleh karena itu mendukung pr oses pertumbuhan seimbang. menyimpulkan bahwa ketidakmerataan yang timbul berdampak se dikit terhadap akumulasi modal Amerika pada abad ke-19 dan untuk lnggris tidak b erdampak sama sekali. dan Korea Selatan setelah Perang Dunia II m enunjukkan bahwa kondisi tersebut dapat dicapai dengan program land reform yang dikombinasikan dengan eksploitasi potensi sumberdaya dengan teknologi modern unt uk perluasan tanah. penggunaan tenaga kerja secara intensif.

Meksiko. yang ditunjukkan oleh ukuran negara. dan kebijak an yang dianut. Fakta ketimpangan dan kemiskinan yang meningkat pa da saat bersamaan terjadi di Argentina. Ahluwalia. Studi yang dilakukan oleh Fishlow (1972) menunjukkan bahwa sukses ekonomi makro di Br azil ternyata tidak diikuti dengan membaiknya distribusi pendapatan. Simon Kuznetz (1955) diakui sebagai pelopor studi komparatif dalam distribusi pendapatan. Hal ini bisa dilihat dari studi yan g dilakukan oleh Kravis (1970). Sing apura. dan Puerto Rico. dasar sumberdaya alam. dan Chengry (1979). yang mengamati perubahan dan pola distribusi pendap atan di 3 negara Amerika Latin.4. menurut Fields (1990). Adelman dan Morris (19 73). tergantung jenis data yang digunakan apakah s ilang tempat (cross section). negara yang mengalami kenaikan ketimpangan distribusi pendapatan terny ata kurang lebih sama dengan banyaknya negara yang mengalami penurunan ketimpang an pendapatan. Dengan kata lain. Kuznetz (1963). Yang menarik adalah adanya bukti bahwa hampir separuh variasi distribus i pendapatan dapat dijelaskan oleh tingkat pendapatan nasional. Oshima (1962). ataukah menggunakan da ta mikro. hanya mengamati ketimpangan distribusi pendapatan. berpendapat bahwa ketimpangan pendapatan ditentukan oleh jenis pembangunan ekonomi. Studi yang kompresif yang dilakukan oleh Fields (1980) menemukan fakta menarik berikut ini: Pertama. Kuznets (1966). Adelman dan Morri s (1973). Pelajaran dari Studi dengan Data Runtut waktu Studi empiris pertama yang menggunakan data runtut waktu dila kukan oleh Weisskoff (1970). Srilangka. Negara di mana ketimpanga nnya meningkat tetapi kemiskinannya menurun adalah Bangladesh.pemerataan. seperti Fei dan Ranis (1964). dan Puerto 66 . Pakistan. runtut waktu (time series). kemiskinan absolut menurut di kebanyakan negara.4.2. Pelajaran dari Studi dengan Data Silang Tempat Studi dengan data silang tempat paling populer digunakan. Meksiko. faktor kebijakan dan dimensi struktural perlu diperhatikan selain laju pertumbuhan ekonomi. Beberapa pakar p embangunan. Brazil. Kedua. Charter.1. Chenery dan Syrquin (1975). dan Taiwan. yaitu Argentina. Kesimpulan Fileds ini didasarkan pengamatannya atas fenomena berikut: Negara yang ketimpan gan pendapatan dan kemiskinannya menurun ditemukan di Costa Rica. 5. St udi-studi empiris tersebut agaknya mendukung tesis Kuznets tetang kurva U yang t erbalik. Studi selanjutnya. 5. Mari kita simak beberapa hasil studi yang menggunakan ketiga macam jen is data ini. Ketiga. k etimpangan pendapatan dan kemiskinan banyak yang berjalan beriringan. dan Philipina.

industri. Di Philipinan. Kasus di Philipina terjadi karena memang relatif kurangnya perhatian pemerintah terhadap rakyat miskin. The State of Development Economics: Progress and Perspectives. Di sisi lain. Lepas dari masalah tersebut. pertumbuhan ekonomi yang tinggi ternyata tidak diikuti oleh penurunan kemiskinan. maupun jenis kelamin. Journal of Developme nt Economics. Oleh karena itu. dan S. P elajaran dari Studi dengan Data Mikro Pada akhir 1960-an.R.Paul Schultz (eds. ras. sedang di Sri Lanka. ada perkecualian terhadap trend ini. Gary S. The Kuzn ets Process and the Inequality . untuk pertama kali dig unakan survei dengan sampel rumah tangga di banyak NSB. tinggal di perdesaan.Development Relationship".. Februari 1993. 67 .4. data mikro mengenai p endapatan absolut mampu menyajikan profit penduduk miskin dengan berbagai karakt eristik. Manfaat data mikro selain menjabarkan ketimpangan dis tribusi pendapatan juga menampilkan potret ketimpangan menurut daerah.M. Srilangka berhasil dalam mengurangi kemiski nan meskipun tingkat pertumbuhan ekonominya rendah. 1990. dan sebagainya. para pekerja di sektor pertanian. Kanbur. obsesi mewujudkan pemerataan distri busi pendapatan dilakukan dengan mengorbankan laju pertumbuhan ekonomi. dalam Gustav Ranis dan T. Ternyata tingkat kemiskinan yang tinggi ditemukan di kalangan penduduk yang rendah tingkat pendidikannya. Oxford. "Income Distribution and Economic Growth".Rico. Fakta di banyak negara As ia Timur dan Amerika Latin menunjukkan bahwa pertumbuhan ekonomi yang cepat cend erung akan mengurangi kemiskinan absolut.). Negara di mana ketimpangan pendapatannya menurun namun kemiskinannnya meni ngkat adalah India. tidak salah bila disimpulkan bahwa kendati pertumbuhan ekonomi yang cepat umumnya menurunka n kemiskinan. Namun.3. Daftar Pustaka Anand. Pertanyaan yang selalu m uncul adalah: seberapa jauh data mikro dapat dipercaya kebenarannya di NSB? Bebe rapa pengamat khawatir bahwa rakyat miskin tidak mampu menjawab pertanyaan dari kantor statistik dengan balk. S. jawaban atas pertanyaan apakah pertumbuhan ekonomi berpengaruh terhadap distribusi pendapatan tergantung dari perhatian dit ujukan pada kemiskinan ataukah ketimpangan pendapatan. pertumbuhan ekonomi tidak menjamin adanya pengurangan kemiskinan. Basil Blackwell. Dengan demikian. 5. Fields.

Michael P. Jennifer Chalmers. Simon. Longman. Todaro. Oxford. "Economic Growth and Income Inequality". 1990. G . Jakarta. 13 Agustus 1996. Essex. The Foundation for Development Cooperation.B. 1994... Banking with the Poor: Report and Recommendation. American Economic Revie w. Taylor. Thapa. K. 1992. Sigit. World Development Report 1990: Poverty. 68 . Brisbane. makalah dalam Seminar Mencari Paradigma Bar u Pembangunan Indonesia. CSIS dan Bank Dunia. edisi ke-5. Hananto. Economic Development. Oxford University Press.Kuznets.W. bab 5. Maret 1955.'Kemiskinan dan Ketimpangan Pembagian Pendapatan d alam Pembangunan Ekonomi Indonesia". World Bank. John Conroy.

semakin rendah nilai rasio gini berarti semakin merata distribusi. Trend kesenjangan dan kemiskinan di Indonesia kiranya menarik untuk disimak lebih lanjut.1. semakin tinggi nil ai rasio gini maka semakin timpang distribusi pendapatan suatu negara. pendapatan nya. (b) sedang. strategi pembangunan yang diprioritaskan pada pemerataan hasilhasil pembangunan dimulai s ejak PELITA III. Bab ini secara khusus ak an menelusur dimensi kesenjangan distribusi pendapatan dan kemiskinan di Indones ia. b ila 40 persen penduduk berpenghasilan terendah menerima 12 hingga 17 persen bagi an pendapatan. Indikator Kesenjangan Distribusi Pendapatan Indikator ya ng sering digunakan untuk mengetahui kesenjangan distribusi pendapatan adalah ra sio gini (gini ratio) dan kriteria Bank Dunia (BPS. Tujuan pembangunan tersebut erat kaitannya dengan upaya mengurangi kemiskinan dan kesenjangan pendapatan. Nilai gini ratio berk isar antara nol dan satu. Namun. bila 40 persen penduduk berpeng hasilan terendah menerima kurang dari 12 persen bagian pendapatan. bila 40 persen penduduk berpenghasilan terendah mener ima lebih dari 17 persen bagian pendapatan. Strategi ini sejalan dengan amanat GBHN bahwa arah dan tujuan p embangunan nasional Indonesia harus dapat dimanfaatkan bagi peningkatan kesejaht eraan rakyat. Kriteria Bank Dunia mendasarkan penilaian distribusi pendapatan atas penda patan yang diterima oleh 40 persen penduduk berpendapatan terendah. 69 . Kesenjangan distribusi pendapatan dikategorikan: (a) tinggi. bila rasio gini sama dengan satu menunjuk kan bahwa terjadi ketimpangan distribusi pendapatan yang sempurna karena seluruh pendapatan hanya dinikmati oleh satu orang saja. (c) rendah. 6. INDIKATOR KETIMPANGA N DAN KEMISKINAN 6. dan hasil-hasil yang dicapai harus dapat dinikmati secara merata o leh seluruh rakyat Indonesia. Secara grafis. Singkatnya. Sebalikny a. Bila rasio gini sama dengan nol berarti distribusi pen dapatan amat merata sekali karena setiap golongan penduduk menerima bagian penda patan yang sama.BAB VI DISTRIBUSI PENDAPATAN DAN KEMISKINAN DI INDONESIA Di Indonesia.1. 1994).1. Bab ini diawali dengan tinjauan mengenai indikator kesenjangan dan kemiskina n yang digunakan oleh pemerintah selama ini. ini ditunjukkan oleh berimpitnya kurva Lorens de ngan garis kemerataan sempurna.

Dikarenakan garis kemiskinan berdasarkan harga beras adalah Iebih rendah dibanding garis kemiskinan BPS maka persentase penduduk yang hidup di ba wah garis kemiskinan akan Iebih rendah setiap tahunnya. 1994). yang disesuaikan dengan kenaikan harga barang-barang yang dikonsumsi oleh masyarakat. telah terjadi peningka tan batas garis kemiskinan.2. Selama periode 1976 sampai 1993. Garis Kemiskinan Model Prof Sayogyo Garis kemiskin an lain yang paling dikenal adalah garis kemiskinan Profesor Sajogyo. garis kemiskinan Sajog yo meningkat dengan laju yang Iebih lambat dari indeks-indeks ini. dan tidak sec epat garis kemiskinan BPS. Hal ini disebabkan karena adanya per bedaan lokasi dan standar kebutuhan hidup. Biro Pusat Statistik (BPS) menggunaka n batas miskin dari besarnya rupiah yang dibelanjakan per kapita sebulan untuk m emenuhi kebutuhan minimum makanan dan bukan makanan (BPS. akan diperoleh persentase penduduk yang hidup di bawah gar is kemiskinan. Sajogyo mendefinisikan batas garis kemiskinan sebagai tingkat konsumsi per kapita setahun yang sama dengan beras.1. Batas garis kemiskinan ini dibedakan antara da erah perkotaan dan perdesaan. Ukuran Sajogyo tidak men unjukkan penurunan tingkat kemiskinan yang "mulus" seperti versi BPS dalam perio de sebelas tahun keseluruhan. Untuk kebutuhan minimum makanan digunakan patokan 2. yang dalam studi selama bertahun-tahun menggunakan suatu garis kemiskinan yang didasarkan atas harga beras. Dengan demikian. 344). balk untuk kawasan perdesa an maupun perkotaan. penurunan sangat cepat balk dalam ke miskinan perdesaan maupun perkotaan yang diperlihatkan oleh ukuran Sajogyo setel ah tahun 1980 sebagian karena peningkatan harga beras yang moderat (Booth. Dengan menerapkan garis kemi skinan ini ke dalam data Susenas (Survei Sosiai Ekonomi Nasional) dari tahun 197 6 sampai dengan 1987. sert a aneka barang dan jasa. Harga beras selama tahun 1980-an tidak meningkat secepat be rbagai indeks harga yang diterbitkan oleh BPS. sandang. 70 .7.100 kalori per hari. Indikator Kemiskinan Garis Kemiskinan BPS Batas garis kemiskinan yang dig unakan setiap negara ternyata berbeda-beda. Adapun pengeluaran keb utuhan minimum bukan makanan meliputi pengeluaran untuk perumahan. Kendati demikian. 1992: h. ukuran Sajogyo memperlihatkan su atu penurunan substansial dalam insidensi kemiskinan. Akibatnya.

Hasil penelitian Arief dan Wong (1977) membuktikan bahwa di daerah perdesaan Jawa terjadi proses meningkatnya kepincangan pendapata n. 6. meskipun laju pe nurunan kemiskinan lebih rendah dibanding versi BPS dan Sajogyo. Kesenjangan Kota dan Desa Berbagai studi empiris menunjukkan modernisasi pertanian telah memperlebar kesenjangan d istribusi pendapatan.3604 pada tahun 1976. 71 . Oleh karena itu.Ukuran kemiskinan Sajogyo banyak dikritik karena: (1) mengandalkan pada satu har ga (baca: harga beras). Studi Gibbons. Kalau pada tahun 1969/70. (2) kendati beras tetap menjadi makanan pokok sebagian b esar penduduk Indonesia. namun posisi mereka secara relatif lebih buruk dibanding petani kaya yang ja uh meningkat penghasilannya. dengan ukuran garis kemi skian Esmara ternyata terdapat penurunan persentase penduduk miskin secara perla han sejak tahun 1978 balk di daerah perkotaan maupun perdesaan. Ukuran Esmara mampu menangkap dampak in flasi maupun dampak penghasilan rill yang meningkat terhadap kuantitas barang-ba rang esensial yang dikonsumsi. et at (1980) menyimpulkan bahwa Revolusi Hi jau telah memperparah kepincangan distribusi pendapatan masyarakat karena meskip un petani kecil secara umum membaik kondisinya sebagai hasil modernisasi pertani an.5 persen.3048 pada tahun 1970 menjadi 0. ukuran kemiskinan Esmara ini meningkat lebih cepa t daripada ukuran BPS maupun Sajogyo. porsinya dalam anggaran keluarga. Kendati demikian.2). Dibandingkan dengan rasio gini di kota te rnyata rasio gini di daerah perdesaan lebih rendah. seperti ditunjukkan oleh meningkatnya rasio gini dari 0. Artinya. pada tahun 1987 turun menjadi hanya 17. bahkan dalam keluarga miskin. TREND DALAM DISTRIBUSI PENDAPATAN 6. pengeluaran untuk beras dan biji-bijian sekitar 31 persen dari total pengeluaran. keadaan distribusi pendapatan di daerah perdesaan relatif lebih merata dibanding di kota. data terbaru dari BPS (1994) m enunjukkan indikasi terjadinya penurunan kesenjangan distribusi pendapatan di de sa selama 1984-1993 (lihat Tabel 7. Profesor Hendra Esmara mencoba mene tapkan suatu garis kemiskinan perdesaan dan perkotaan yang dipandang dart sudut pengeluaran aktual pada sekelompok barang dan jasa esensial seperti yang diungka pkan secara berturutturut dalam Susenas.1. Kendati demikian.2. menurun secara cepat.2.

2. 1992) telah menganalisis kesenjangan pendapatan dan konsumsi antardaerah denga n menggunakan indeks Williamson selama 1968-1993 dan 19831993. Secara nasional. dan semakin banyak golongan nonpribumi yang menguasai perekonomian. Keadaan ini terja di hampir di seluruh propinsi selama periode 1984-1993. Sektor modern umumnya berada di perkotaan d an sektor industri. Hendra Esmara (1975) merupakan pene liti pertama yang mengukur kesenjangan ekonomi antardaerah. Apabila digunaka n indikator rasio gini sebagai ukuran ketimpangan distribusi pendapatan. sedangkan sektor tradisional umumnya berada di perdesaan dan sektor tradisional. 1994). dan etnis (Iihat Gamba r 7. secara umum terjadi p eningkatan ketimpangan distribusi pendapatan di semua propinsi. kesenjangan dari tingkat kemodernan. Rasio gini yang lebih kecil untuk perdesaan dibanding perkotaan menunjukkan bahwa distribusi pen dapatan Iebih merata di kawasan perdesaan dibanding perkotaan. Apabila ketiga di mensi ini digabungkan maka akan diperoleh potret kesenjangan kemakmuran di Indon esia. Sebagaimana ditunjukkan oleh Gambar 7. regional. Kedua. kesenjangan regional adalah kesenjangan antara Katim in (Kawasan Timur Indonesia) dan Kabarin (Kawasan Barat Indonesia).1). Berdasarkan data dar i tahun 1950 hingga 1960. rasio gini di perkotaan dan perdesaan cenderung meningkat dari 0. semakin banyak dijumpai sektor pertanian dan tradisi onal. Kesenjangan Regional Isu kesenjangan ekonomi antardaerah telah lama menja di bahan kajian para pakar ekonomi regional. yang menemukan tidak terdapatnya peruba han kesenjangan ekonomi antar daerah selama 1983-1990.34 pada tahun 1993 (BPS.2. yaitu: berdasarkan tingkat kemodernan. dan semakin banyak pribumi yang mendominasi usaha bisnis. namun semakin maju pembangunan ekonomi kesenjangan tersebut semakin menyempit. 72 . Ardani (1996 . Seb aliknya semakin ke Katimin. Dalam konstelasi perkemba ngan terakhir di Indonesia. kesenjangan ekonomi setidaknya dapat dilihat dari 3 dimensi. kese njangan menurut etnis.33 pada tahun 1984 menjadi 0. Kesimpulannya men dukung hipotesis Williamson (1965) bahwa pada tahap awal pembangunan ekonomi ter dapat kesenjangan kemakmuran antardaerah. Pertama.2. is menyimpulkan Indonesia merupakan negara dengan kate gori kesenjangan daerah yang rendah apabila sektor migas diabaikan. yaitu: semakin ke Kabarin maka semakin banyak dijumpai sektor modern dan i ndustri.6. Ketiga. Studi Ardani agaknya sejalan dengan den gan hasil studi Akita dan Lukman (1994). yaitu antara pribumi dengan nonpribumi. yaitu kesenjangan antara s ektor modern dan sektor tradisional. ternyat a cukup bervariasi antar propinsi.

angka rasio gini di daerah perdesaan berkisar 0.18-0. di daerah kota. dengan rekor terendah dipeg ang oleh Jambi dan Maluku. Gambar 7. rentang rasio gini Iebih lebar antara 0.1. Sementara itu.Pada 1984.20-0.21-0.30.33. Pada tahun 1993. Peta Kesenjangan Kemakmuran di Indonesia 73 . rasio gini perde saan berkisar antara 0. ra sio gini daerah perkotaan berkisar antara 0.37. dengan catat an rasio gini terendah adalah propinsi SuIse'. dengan catatan terendah diraih oleh Jambi. Pada tahun 1993. dengan rekor terendah dipegang oleh propinsi NTT .24-0.42 pada tahun 1984.

6. Hughes dan Islam (1981: h. 52-53) menunjukkan bahwa ada peni ngkatan yang Iebih besar dalam kesenjangan di Jawa dibanding daerah manapun anta ra tahun 1970 sampai 1976. balk di kota maupun di desa. H al ini dapat mencerminkan pengeluaran konsumsi atau tabungan yang lebih tinggi d i daerah perdesaan. tetapi antara tahun 1978 dan 1984 tampak adanya trend yang menur un. koefisien gini meningkat sampai tahun 1978. dikonfirmasi dengan koe fisien gini dengan data pendapatan (Booth. Di desa. Trend menurunnya tingkat kesenjangan distribusi pendapatan dengan data peng eluaran setelah tahun 1978. 1992: h. Kesenjangan Interpersonal BPS menggunakan data biaya konsumsi per kapita untuk memperkirakan koefisien gini. koefisien gini menunjukkan perubahan yang sangat kecil pada tahun 1964/19 65 sampai 1978. balk untuk kota maupun desa di Indonesia.2. Peningkatan kesenjangan ini terutama akibat adanya pe rubahan distribusi pendapatan 74 . Namun data ini menunju kkan bahwa ketidakseimbangan pendapatan di desa Iebih tinggi daripada di kota.3. 335). tetapi menurun setelah itu. Di kota.

Derajat perbedaan penghasilan dalam setia p kelas ini. Penurunan yang cepat dalam perbedaan berdasarkan status pendidikan tidak diragukan lag i karena pertumbuhan dalam suplai para pekerja b erpendidikan dan penurunan dalam permintaan akibat pertumbuhan yang Iebih lambat setelah tahun 1981. seperti yang diukur dengan koefisien gini juga menurun dalam period e ini (lihat Tabel 7. 6. Beberapa survei yang dilakukan akhir 1960-an dan 1970-an. karena permintaan akan tenaga kerja ini melebi hi penawarannya. sementara pen urunan sedikit tampaknya terjadi di Jawa Tengah dan Yogyakarta.2. bagaimana pengha silan para profesional. Penurunan disebutkan terjadi di Jakarta dan Jawa Timur. dan penurunan ke senjangan di desa relatif lebih besar. Kesenjang an Antar Kelompok Sosial Ekonomi Pertanyaan yang muncul adalah. Begitupu n setelah tahun 1980.336). D i luar Jawa kesenjangan lebih rendah dibandingkan di luar Jawa. penghasilan pekerja yang berkualifikasi tinggi meningkat diband ingkan dengan rata-rata nasional. Hal ini diakibatkan karena akses terhadap pekerjaan dengan gaji tinggi balk di sekto r pemerintahan maupun swasta tergantung dari tingginya tingkat pendidikan. Selam a tahun 1970-an. manajer dan pegawai negeri dibandingkan dengan pendapata n rata-rata? Bagaimana penghasilan para pekerja yang berpendidikan tinggi diband ingkan dengan pekerja yang berpendidikan rendah? Seperti diketahui bahwa di Indo nesia pendidikan merupakan ukuran yang penting dalam menentukan pendapatan. kes enjangan sebenarnya meningkat antara tahun 1980 hingga tahun 1984. 6. Namun akhir tahun 1970-an dan awal 1980-an nampak bahwa perbedaan antara para pekerja profesional berpendidik an teknik dan lainnya mulai menyempit. 1992: h. Perbedaan in i melebar pada tahun 1970-an di hampir semua kota. Di Jawa Barat.3.pada golongan berpenghasilan tinggi. menge stimasi perbedaan antara penghasilan rumah tangga di mana kepala keluarga sebaga i peg awal negeri dibandingkan rata-rata penghasilan kelompok lain. yang mengindikasikan adanya perubahan dalam golongan pendapatan yang paling rendah. Di daerah perdesaan Jawa ternyata terjadi penurunan ketimpangan. Peningkatan persentase terbesar dalam kes enjangan personal yang diukur oleh koefisien gini tidak terjadi di Jakarta tapi terjadi di Jawa Barat. Jawa Tengah dan Yogyakarta (Booth.3).4. ketika penurunan kesenjangan terjadi di kota-kota di Indon esia. yang dapat ditafsirkan bahwa yang kaya sema kin kaya. TREND DALAM INDIKATOR KEMISKINAN : 1969-1993 75 .

Hal ini merefleksikan fakta bahwa harga bahan makanan pokok. meningkat kurang cepat s ejak tahun 1981 dibandingkan dengan harga-harga lainnya. Meskipun demikian. Suatu alasan terhadap peningkatan pangsa kaum misk in perkotaan dalam kemiskinan total di Indonesia yaitu populasi perkotaan mening kat lebih cepat. ketidakseimbangan dalam kawasan pe rdesaan menurun antara tahun 1981 dan 1987. sehingga di tahun 1987 garis kemiskin an perkotaan hampir 70 persen Iebih tinggi dibanding kawasan perdesaan. Suatu desa disebut miskin bila paling sedikit dua dar i tiga metode tersebut menyatakan miskin. dan meto de persepsi lapangan (PL). Hal penting lainnya men genai garis kemiskian BPS adalah berhubungan dengan trend dalam insidensi kemisk inan perdesaan dan perkotaan. 6. metode range (R). di Indo nesia sejak tahun 1976.3. yaitu: metode standar deviasi (SD). Kedua. Pertama.1. balk di kawasan perdesaan maupun perkotaan.2. garis kemiskinan perdesaan ya ng ditetapkan oleh BPS dalam kenyataan bertambah Iebih lambat antara tahun 1981 dan 1987 dibanding indeks harga perdesaan yang digunakan. 6. J umlah dan Persentase Desa Miskin BPS (1994) menggunakan tiga metode dalam menent ukan desa miskin. Perkembangan Jumlah dan Persentase Penduduk Miskin Menurut BP S. Ada 3 kelompok pertanyaan dalam kuesioner tersebut.3. Terdapat dua alasan ut ama mengapa penurunan jumlah penduduk miskin dan tingkat kemiskinan yang berkesi nambungan cukup cepat (Booth. yaitu: kelompok potensi/fasilitas sosial ekonomi desa. 76 . dan Bank Dunia membuat perkiraan trend dalam kemiski nan. Kendati demikian. BPS. khususnya beras.Awal tahun 1970-an banyak pembahasan di Indonesia tentang trend kemiskinan. populasi perkotaan berkembang Iebih ce pat dibanding populasi perdesaan. Kala ngan perguruan tinggi. ada suatu penurunan yang berkesinambungan dalam persentase populasi yang hidu p di bawah garis kemiskinan. 1992). Status desa menurut metode SD dan R di tentukan berdasarkan hasil kuesioner yang menanyakan 27 variabel di perdesaan da n 25 variabel di perkotaan. sehingga penurunan dalam jumlah absolut kemisk inan jauh Iebih lambat dari total kaum miskin tahun 1987. yang masing-masing menggunakan konsep garis kemiskinan yang berbedabeda dan hasil yang diperoleh juga berbeda. Alasan lain adalah persentase populasi kaum miskin yang tinggal di kawasan perkotaan menurut BPS dalam kenyataan meningkat lebih cepat dari gar is kemiskinan perdesaann sejak tahun 1967. perkiraan garis kemiskina n yang diajukan BPS mendapat keunggulan sebagai angka resmi yang digunakan oleh pemerintah.

kelompok perumahan dan Iingkungan, dan kelompok kependudukan. Variabel yang digu nakan untuk mengukur masing-masing variabel lihat Tabel 7.4. Jawaban atas seluru h pertanyaan masing-masing diberi skor (tinggi, sedang, rendah) menurut pentingn ya variabel tersebut. Dengan metode SD, jumlah skor tiap desa dibandingkan denga n rata-rata skor tingkat propinsi untuk menentukan apakah desa tersebut miskin. Dengan metode R, skor tiap desa dibandingkan dengan range untuk menentukan apaka h desa tersebut miskin. Metode PL menggunakan kuesioner khusus guna menghimpun p endapat Camat tentang status desa-desa di wilayahnya. Suatu desa diklasifikasika n miskin atau tidak tergantung dari pendapat Camat mengenai keadaan potensi/fasi litas sosial ekonomi desa, perumahan/lingkungan, dan kependudukan. Tentu saja pe rsepsi Camat ini akan dievaluasi oleh petugas pencacah (mantri statistik). Denga n demikian, paling sedikit 2 dari 3 metode tersebut harus menyatakan miskin untu k mengklasifikasikan suatu desa sebagai desa miskin. Pada tahun 1993, sebagaiman a ditunjukkan oleh Label 7.5, jumlah desa miskin di Indonesia sebanyak 20.633, a tau sekitar 31,5 persen dari seluruh desa yang ada (65.554). Dari jumlah tersebu t, 1.008 berada di perkotaan, atau 14,7 persen dari seluruh desa perkotaan. Juml ah desa miskin di perdesaan sebanyak 19.625, atau sekitar 33,4 persen dari selur uh desa perdesaan. Jumlah desa miskin terbanyak berada di Sumatra (33 persen), d iikuti Pulau Jawa (30 persen), Maluku (12 persen), Kalimantan (11 persen), Sulaw esi (9 persen), dan Irian Jaya (5 persen). 6.3.3. Distribusi Regional Kemiskinan Berdasarkan perkiraan Bank Dunia dengan mempergunakan data dari Susenas tahun 1 976, bahwa lebih dari 70 persen orang yang miskin berlokasi di Jawa. Akan tetapi di tahun 1976 distribusi regional kemiskinan mengalami perubahan secara dramati s: hanya 46 persen di perdesaan luar Jawa. Ada penurunan secara drastis proporsi penduduk miskin yang berlokasi di daerah perkotaan maupun perdesaan di Jawa yan g diikuti dengan kenaikan kemiskinan di perdesaan luar Jawa. Secara absolut juml ah penduduk yang berada di bawah garis kemiskinan di luar Jawa mengalami penurun an namun secara relatif mengalami peningkatan. Hal ini disebabkan oleh perpindah an penduduk dari Jawa keluar Pulau Jawa yang disebabkan menurunnya kesuburan tan ah di Jawa. Pada dasawarsa 1990-an, sebagaimana ditunjukkan oleh Tabel 7.6, terl ihat adanya trend penurunan jumlah absolut dan persentase penduduk miskin secara regional. Pada tahun 1993, jumlah penduduk miskin sebanyak 25,9 juta dengan per sentase penduduk miskin 13,67 persen; ternyata pada tahun 1996 turun menjadi 77

22,5 juta dan persentase penduduk miskin 11,34 persen. Dengan kata lain, selama 1993-1997 jumlah penduduk miskin turun secara absolut sebesar 3,4 juta, atau ber arti menurun 13,15 persen. Ternyata distribusi regional penduduk miskin tidak sa ma persis dengan distribusi regional desa miskin (Iihat kembali Tabel 7.5). Juml ah penduduk miskin terbanyak terdapat di Jawa dan Bali, namun tingkat kemiskinan yang ditunjukkan oleh persentase penduduk miskin paling banyak berada di Nusa T enggara, Maluku, dan Irian Jaya. Tabel 7.6. Jumlah penduduk miskin menurut propi nsi, 1993-1996 1 2 3 4 5 6 7 8 9 DI Aceh 496,7 13,46 13,47 11,20 13,38 13,11 11, 64 12,87 5,65 425,6 384,6 322,0 222,8 794,9 137,2 724,9 4246,1 231,3 10,78 10,91 8,76 7,94 9,06 10,72 9,37 10,65 10,15 2,48 9,87 13,91 10,42 11,86 4,30 21,99 11 ,24 14,33 9,24 15,53 10,60 71,1 97,5 181,6 88,8 76,5 229,0 35,9 u7.o 807,4 265,8 650,2 461,4 39,7 377,2 144,6 54,0 132,2 93,5 70,4 350,0 20,1 14,32 7,32 32,07 2 1,62 25,57 22,37 20,72 3,59 15,98 53,47 14,10 9,99 11,56 8,53 53,52 13,13 6,18 4 1,10 18,05 23,86 17,43 6,59 Sumatera Utara1,331,6 Sumatera Barat 566,1 Riau Jamb i Bengkulu Lampung Sumatra DKI Jakarta 10 Jawa Barat 410,9 299,4 173,1 751,8 5.0 53,6 497,1 4.612,4 12,32 1.234,2 Sumatera Selatan1.023,9 14,89 12,20 3.962,1 15,78 4.157,3 11,77 9,46 25,05 303,8 125,6 820,5 189,4 424,3 224,4 13,25 4.046,5 12,84 12.826,6 11 Jawa Tengah 4.618,7 12 â ¢ DI Yogyakarta 343,5 13 Jawa Timur 14 Bali Jawa - Bali 4. 423,7 270,2 14.765,6 10,75 1.939,0 15 Kalimantan Barat874,5 16 Kalimantan Tengah321,6 20,85 17 Kalimantan Selatan517,8 18,62 18 Kalimantan T imur294,9 Kalimantan 2.008,8 13,75 _________________________________________________________________ 20,17 1.658,7 284,6 19 Sulawesi Utara 304,7 11,79 6.4. TREND KEMAKMURAN Isu tentang trend kemiskinan menerima perhatian yang lebih banyak di negara berk embang dibandingkan trend kemakmuran, seperti Indonesia di mana proporsi 78

penduduk yang berada di bawah garis kemiskinan telah menurun dalam dekade belaka ngan ini dan meningkatnya bagian dari penduduk di atas garis kemakmuran (affluen ce line). Booth (1992: h. 359-60) mencoba mengembangkan suatu metodologi untuk m enghitung berapa jumlah penduduk yang hidup di atas garis kemakmuran, yaitu ting kat pengeluaran yang dinikmati oleh sekitar 4 persen penduduk pada tahun 1969/19 70 dan meningkat terus, dan dihitung kira-kira 4 kali garis kemiskinan. Dengan c ara itu, dapat diestimasi jumlah penduduk yang hidup di atas garis kemakmuran un tuk Jawa dan Luar Jawa sebagaimana ditunjukkan dalam Tabel 7.7. Jumlah orang Ind onesia yang hidup di atas garis kekayaan meningkat dari 5,61 juta tahun 1969/197 0 menjadi 28,65 juta tahun 1987. Lebih dari separuh kenaikan tersebut terjadi pa da kota-kota di Jawa. Dengan kata lain, proporsi penduduk yang hidup di atas gar is kemakmuran ada di daerah perkotaan Jawa. Harus diakui terjadi pertumbuhan yan g berarti dalam catatan kemakmuran. Adapun di daerah perdesaan Jawa dan perkotaa n di luar Jawa, juga terjadi peningkatan kemakmuran, akan tetapi peningkatannya relatif kecil. Perubahan yang terjadi pada distribusi regional kemiskinan dan ke makmuran merupakan hal yang menarik untuk dapat menerangkan mobilitas antara kel as di dalam suatu daerah. Mobilitas dari kelompok miskin lebih cepat menjadi kel ompok menengah daripada kelompok menengah menjadi kelompok kemakmuran. Adapun un tuk masyarakat yang kaya, untuk lebih kaya lagi, kejadiannya sangat jarang. Dika renakan berkurangnya kemiskinan dan meningkatnya jumlah orang kaya di daerah per kotaan di Jawa lebih cepat dibandingkan daerah lain, maka kemungkinan terjadinya perpindahan dari kemiskinan ke kelas menengah dan dari menengah ke kelas atas a kan lebih besar terjadi di daerah perkotaan di Jawa. BACAAN YANG DIANJURKAN Arda ni, Amiruddin, Regional Development in Indonesia: Issues and Challenges, Discuss ion Paper No. 36, Nagoya University, Nagoya, July 1996. ........, Analysis of Re gional Growth and Disparity: The Impact Analysis of the Inpres Project on Indoneâ an Development, disertasi Ph.D, University of Pennsylvania, Philadelphia, 1992, tidak dipublikasikan. Biro Pusat Statistik, Laporan Perekonomian Indonesia 1993, Seri 04 Nomor 03, Jakarta, Maret 1994. 79

si

CSIS dan Bank Dunia. makalah dalam Seminar Mencari Paradigma baru Pembangunan Indonesia. h. 213-222. Bulletin of Indonesia Economic Studies.). Tranformasi Ekonomi Indonesia Sejak 1966: Sebuah Studi Kritis dan K omprehensif. 1. 4157. "Kemiskinan di Indonesia". Hill. Hal. Didi k J. "Regional In come Distributies". Jakarta. Sigit. Esmara. PAU Studi Ekonomi dan PT Tiara Wacana. no. jurnal tahunan CIDES. Mubyarto. h. "Kemiskinan dan Ketimpangan Pembagian Pendapata n dalam Pembangunan Ekonomi Indonesia". O xfor University Press. 1 994. 1975 . 1996. Hananto.Booth. 13 Agustus 1996 80 . Hendra. 11(1). Singapura. h. Anne. Profil Indonesia. 321-362. "Income Distribution and Poverty" dalam Anne Booth (ed. bab 10. 1992. The Oil B oom and After: Indonesian Economic Policy and Performance in the Soeharto Era.

.BAB VII MASALAH PEMBANGUNAN MANUSIA : KEPENDUDUKAN. Oleh karena itu. Penekanan pada investasi manusia diyakini merupakan basis dalam meni ngkatkan produktivitas faktor produksi secara total. Manusia ditempatkan sebagai po sisi instrumen dan bukan merupakan subyek dari pembangunan. link and match. tenaga kerja. pada dasarnya kata kunci dalam pembangunan adalah pembentukan modal. peningkatan kete rampilan. it enables us to subdue nature and satisfy our wants".. 28-29). Bab ini akan mengkaji bagaimana peningkatan kualitas manusia sebagai agen produktif haru s menjadi tujuan utama dari setiap kebijakan pembangunan. Alf red Marshall pernah mengatakan: "although nature is subject to diminishing retur ns. Meskipun banyak varian pemi kiran. Titik berat pada nil ai produksi dan produktivitas telah mereduksi manusia sebagai penghamba maksimis asi kepuasan maupun maksimisasi keuntungan. setidaknya pada tahap awal pemb angunan. Masalah yang selalu mu ncul dalam setiap diskusi mengenai pembangunan manusia adalah masalah kependuduk an. Knowledge is our most powerful engin e of production. 7. 199 6: h. PENGANGGURAN DAN MIGRASI Sej arah mencatat bahwa negara yang menerapkan paradigma pembangunan berdimensi manu sia telah mampu berkembang meskipun tidak memiliki kekayaan sumberdaya alam yang berlimpah.1. peningkatan kualitas SDM diarahkan dalam rangka peningkatan produksi. namun ilmu pengetahuan tidak. wanita. umumnya berfokus pada peningkatan produksi. Tanah. Bisa dipahami apabila topik pembicaraan dalam perspektif paradigms pembangunan yang semacam itu terbatas pada masalah pendidikan. kesehatan. 81 . modal fisik bisa saja mengalami diminishing returns. strategi pembangunan yang dianggap paling sesuai adalah akselerasi pertumbuhan ekonomi dengan mengundang modal acing dan melakukan industrialisasi. dan sebagainya. dan migrasi. PARADIGMA PEMBANGUNAN BERWAWASAN MAN USIA Dalam praktek pembangunan di banyak negara. lnilah yang disebut sebagai pe ngembangan SDM dalam kerangka production centered development (Tjokrowinoto. man is subject to increasing returns. pengangguran. Peranan sumberdaya manusia (SDM) dalam strategi semacam ini hanyalah sebagai "i nstrumen" atau salah satu "faktor produksi" saja. Konsekuensinya.

Setidaknya terdapat 3 alasan mengapa pertumbuhan penduduk yang tinggi akan memperlambat pembangunan. Kendati demikian. 1981: h. Pertama.2. Alternatif lain dari strategi pemba ngunan manusia adalah apa yang disebut sebagai peopleâ centered development atau putt ing people first (Korten. Artinya. yaitu: kemampuan manusia un tuk mengaktualisasikan segala potensinya. yang pada gilirannya membuat inve stasi dalam "kualitas manusia" semakin sulit. dan kehendak serta kapasitas manusia merupakan sumbe rdaya yang paling penting.2. tidak hany a bagi generasi sekarang tapi juga bagi generasi mendatang? Sebaliknya. 201). masalah pertumbuhan penduduk tid ak hanya masalah jumlah. cadangan devisa. Rendahnya sumberdaya per kapita akan menyebabkan penduduk tumbuh Iebih cepat. manusia (rakyat) merupakan tuj uan utama dari pembangunan.5 milyar jiwa. namun juga semakin membuat kendala bag i pengembangan tabungan. Lebih dari 82 juta dari tambahan o rang ini setiap tahun lahir di negara Dunia Ketiga. Fakta menunjukkan bahwa aspek kunc i dalam pembangunan adalah penduduk yang semakin terampil dan berpendidikan. Isu G lobal Kependudukan Setiap tahun. Penempatan manusia sebagai subyek pembangunan menekankan pada pentingnya pemberdayaan (empowerment) manusia. Di Malawi. Fakta ini jelas belum pernah terjadi dalam sejarah dunia.276-281). MASALAH KEPENDUDUKAN 7. misalnya. dengan penurunan angka kelahiran yang cepat ternyata dapat men ingkatkan tabungan sebanyak 50 persen lebih 82 . Oleh karena itu pertanyaan mendasar yang diajukan oleh banyak pakar pemban gunan adalah: Apakah kondisi kependudukan saat ini di negaraâ negara Dunia Ketiga mem berikan kontribusi ataukah menghambat tercapainya tujuan pembangunan. apakah p embangunan mempengaruhi pertumbuhan penduduk? Di kalangan para pakar pembangunan terdapat konsensus bahwa laju pertumbuhan penduduk yang tinggi tidak hanya berd ampak buruk terhadap suplai bahan pangan. lebih dari 93 juta orang menambah jumlah pendud uk dunia yang telah sebanyak 5. tapi juga terkait erat dengan masalah kesejahteraan man usia. pertumbuhan penduduk yang tinggi akan m empersulit pilihan antara meningkatkan konsumsi saat ini dan investasi yang dibu tuhkan untuk membuat konsumsi di masa mendatang. 1995: h . dan sumberdaya manusia (Meier. Dimensi pembangunan yang semacam ini jelas lebih luas daripada sekadar membentuk manusia profesional dan terampil sehingga bermanfaat dalam proses produksi. 7.Kualitas manusia yang meningkat merupakan prasyarat utama dalam proses produksi dan memenuhi tuntutan masyarakat industrial.1.

ukuran kelahiran yang telah disempurnakan dengan m elakukan stadardisasi dalam perbedaan struktur umur telah mengakibatkan hasil ya ng sama dengan tingkat kelahiran kasar. Kelima. Sebagian karena pertumbuhan p enduduk memperlambat perpindahan penduduk dari sektor pertanian yang rendah prod uktivitasnya ke sektor pertanian modern dan pekerjaan modern Iainnya. Tingginya tingkat kelahiran merupakan penyumbang utama bagi p ertumbuhan kota yang cepat. Di Kenya. dan di banyak kasus menimbulkan tekanan terhadap siste m pertanian tradisional dan kerusakan Iingkungan. N amun. negaraâ negara "baru" dapat menurunkan kelahiran dengan amat cepat meskipun awalnya tingkat kelahirannya lebih tinggi dibanding yang pernah tercatat dalam sejarah Eropa Barat. Kedua. Yang jelas telah terjadi penurunan angka kelahiran yang amat drastis di Cina. Dudley Kirk (1971: h. begitu penurunan kelahiran mulai dapat diperta hankan. di banyak negara di mana penduduknya masih ama t tergantung dengan sektor pertanian. berdasarkan pengamatannya di bany ak negara sedang berkembang. India. tidak ada bukti langsung bahwa p enurunan angka kelahiran akan berakhir dalam tingkat yang lebih tinggi dibanding yang terjadi di negaraâ negara Eropa dan Jepang. sebagai contoh. yang pada gilirannya mengancam kesejahteraan penduduk miskin. 145-46). dan Indonesia. 70 persen angkatan kerja diperkirakan masih bekerja di sektor pe rtanian sampai dengan 2025. maka laju penurunan tersebut lebih cepat dibanding yang terjadi di Eropa . trend ini tidak terjadi untuk negara-negara Afrika. telah s emakin banyak negara yang memasuki transisi demografi dalam sisi kelahiran (nata lity) terutama sejak 1970. dan Bangladesh. Kedua. dan jumlah pekerjanya akan dua kali lipat dari jumla h saat ini. Pakistan. Bermekarannya kota-kota di NSB membawa masalah-masal ah baru dalam menata maupun mempertahankan tingkat kesejahteraan warga kota. Ketiga. Penurunan angka kelahiran umumnya jugs terjadi di negara-negara Asia Timur dan Amerika Latin. pertumbuhan penduduk yang cepat membuat semakin sulit melakukan perubahan yang dibutuhkan untuk meningkatkan perubahan e konomi dan sosial. pertumbuhan penduduk mengancam keseimbanga n antara sumberdaya alam yang Iangka dan penduduk. negaranegara Islam di Timur Tengah. Keempat.tinggi karena jumlah anak yang memasuki sekolah sampai tahun 2015 meningkat deng an laju yang Iebih lambat. besar kemungkinan berlanjutnya tingkat pendapatan yang ren dah bagi banyak keluarga. Dal am konteks ini. menambahkan fakta sebagai berikut: Pertama. Ketiga. Faktor utama di batik penurunan angka ke lahiran adalah keberhasilan program keluarga berencana (KB). Padahal sampai deng an akhir Perang Dunia II boleh 83 . Hasilnya.

84 .2 persen. di negara sedang berkembang seperti Indonesia. Pengamatan Nortman (1982) te rhadap 134 NSB mencatat bahwa ada 39 negara yang mempunyai program resmi untuk m enurunkan laju pertambahan penduduk. banyak dikaitkan dengan kisah sukses KB di Indonesia yang diakui oleh duni a. sekitar 25-30 tahun.2. Struktur penduduk Indonesia diperkirakan akan semakin menua. Meskipun demikian. Laju pertumbuhan penduduk Indonesia per tahun diperkirakan selama 20002005 menca pai hampir setengah angka dalam periode 1980-1990.1 perse n selama 1961-1971 dan 2. Kecepatan penurunan angka kelahi ran dan kematian di NSB besar kemungkinan akibat adopsi teknologi dari negara ma ju dalam upaya mengubah kondisi demografinya.1 persen menjadi 1. (3) manaje men program yang balk lewat koordinasi antardepartemen oleh BKKBN (Badan Koordin asi Keluarga Berencana Nasional). dalam arti persenta se dan jumlah penduduk tua (dengan batas umur 60 tahun atau Iebih) terus meningk at. 144-47) telah mencoba mengidentifikasi beberapa aspek perubahan demografis di Indonesia yang diperkirakan akan berdampak luas pada berbagai aspek perencanaan pembangun an hingga 2005 sebagai berikut: 1.dikata belum ada negara yang menerapkan program KB. (2) adanya perubahan nilai mengena i anak.32 persen pada 1971-1980 menjadi 1.3 persen pada 2020. yaitu: turun dari 2. p enurunan angka kelahiran dan kematian berlangsung dalam waktu yang relatif singk at. yaitu dari norma keluarga besar menjadi norma keluarga kecil.98 persen pada 19801990. 12. 33 negara mendukung program KB bagi kesehat an ibu dan anak namun bukan untuk menekan pertumbuhan penduduk. Ananta dan Anwar (1997: h.3 persen dan diperk irakan akan meningkat menjadi 11. dan 62 negara ti dak mendukung aktivitas KB.2. Pertanyaan yang sering muncul adalah: apa faktor-faktor di batik kisah sukses program KB di Indonesia? Singarimbun (1996: bab 1-4) mengidentifikasi faktor pe nopang keberhasilan KB adalah: (1) prioritas yang tinggi dan keterlibatan pemeri ntah yang besar untuk kesuksesan program itu. Trend Perubahan Kependudukan di Indone sia Berbeda dengan negara maju. menjadi 223 juta pada 2005. Indonesia memulai program KB pada1968 dan secara res mi dimasukkan dalam Pelita I pada 1969. Penurunan jumlah penduduk dari 2. jumlah penduduk terus meningkat dari 179 juta pada 1990. dan 254 juta pada 2020. 2. Sejarah mencatat proses penurunan angka kelahiran dan k ematian di negara maju berjalan sekitar 2 abad. Persentase penduduk tua di Indonesia pada 1990 sebesar 6.

16 persen. Ini terjadi akibat menurunny a angka kelahiran. bahkan juga wilayah dunia.35 persen. Surv ei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) tahun 1995 mencatat bahwa rataâ rata 14 persen p enduduk pria dan 13 persen penduduk wanita mengaku mendapat keluhan kesehatan ya ng mengganggu kegiatan sehariâ hari. 6. dan paling rendah sektor pertanian (0. Penduduk Indonesia akan semakin mobil (mobilitas dalam jangka pendek). Pada 2020 jumlah kelompok usia pencari kerja pertama kali (15-24 tahun) dengan pendidikan minimal SLTP akan men ingkat dua kali lipat atau 35 juta orang dibanding 1990.9 persen penduduk Indonesia tinggal di perkotaan.5). Penduduk Indonesia akan semakin berpendidikan. MASALAH PENGANGGURAN Sejarah mencatat bahwa pembangunan ekonomi di negara-n egara Eropa Barat dan Amerika Utara sering dideskripsikan sebagai transfer manus ia dan aktivitas ekonomi 85 . Tabel 7. Menurut catatan OeyGardiner (1997 ). yang berarti setiap kenaikan PDB sebesar 1 persen akan menciptakan kesempatan kerja hanya sebesar 0. Dari kedua angka itu dapat dihitung besarnya elastisitas kesempat an kerja selama 1989-1992 sebesar 0. diperkirakan akan terjadi ledakan pendidikan hingga akhir PJPT II. 1. Jangkauan mobilitas tidak hanya antarwilayah di Indones ia. dalam arti mudah terkena penyakit. Pada 1990 sekitar 30. S ementara penduduk berpendidikan SLTA diperkirakan akan meningkat hampir lima kal i lipat dari 15 juta pada 1990 menjadi 71 juta pada 2020. yang diikuti oleh sektor industri (0.55-56).23).35.35) .3. 4.1 memperlihatkan secara sektoral. meningkatnya pendidikan. sementara rataâ rata aju pertumbuhan PDB per tahun pada periode yang sama sebesar 6.24 persen (BPS. 7. Penduduk yang berpendi dikan tinggi (pendidikan nongelar dan gelar) akan membengkak dari 2 juta orang p ada 1990 menjadi 18 juta orang. Laju pertumbuhan kese mpatan kerja selama 1989-1992 rataâ rata hanya sebesar 2. Persentase penduduk yang tinggal di perkotaan (angka urbanisasi) akan terus meni ngkat. Peningkatan persentase perempuan dalam pasar kerja. 5. 1 994: h. sektor yang paling tinggi elastisitas kesempata n kerjanya adalah sektor lainnya (0. dan diproyeksikan mencapai hampir 60 persen pada 2020.3. Penduduk Indonesia dapat semakin rentan. 5. Penurunan angka pertumbuhan kesempatan kerja (employment). me ningkat menjadi 46 persen pada 2005. dan majunya perekonomian sehingga me mbuat perempuan semakin berpeluang memasuki pasar kerja. yang tida k dengan tujuan menetap.

dan meningkatnya pengangguran da n underemployment di daerah perkotaan dan perdesaan. penganggur didominasi kaum muda dengan usia antara 1519 tahun (13 persen) dan 20-24 tahun (14 persen). Bagaimana dengan kondisi pe ngangguran dan underemployment di Indonesia? Sebelumnya perlu diketahui terlebih dahulu definisi pengangguran terbuka dan setengah pengangguran di Indonesia yan g digunakan oleh Biro Pusat Statistik. Sedang pek erja yang digolongkan setengah pengangguran (underemployment) adalah pekerja yan g masih mencari pekerjaan penuh atau sambilan dan mereka yang bekerja dengan jam kerja rendah (di bawah sepertiga jam kerja normal. serta mereka yan g tidak mencari pekerjaan namun mau menerima pekerjaan. Dewasa ini. Sebagaimana halnya NSB lainn ya. Atas dasar pengal aman itulah. Bila dirinci lebih lanj ut. (2) kemajuan teknologi yang bersifat men ghemat tenaga kerja (labor saving) di sektor pertanian sehingga menurunkan kebut uhan angkatan kerja di daerah perdesaan (Todaro. Mereka cenderung melihat perkotaan sebagai pusat-pusat pertumbuhan. stagnannya produktivitas pertanian. Pekerja digolongkan sete ngah pengangguran parch (severe underemployment) bila is termasuk setengah menga nggur dengan jam kerja kurang dari 25 jam seminggu. banyak pakar pembangunan menyimpulkan bahwa pembangunan ekonomi di negara Dunia Ketiga perlu menitikberatkan pada promosi pertumbuhan sektor indust ri perkotaan yang cepat. yaitu: (1) ekspansi industri perkotaan yang menimb ulkan penciptaan kesempatan kerja baru. Pengangguran terbuka (open unemployment) didasarkan pada konsep seluruh angkatan kerja yang mencari pekerjaan. Kedua kelompok usia ini hampir mencapai 70 persen dari pengangguran total.secara terus menerus dari daerah perdesaan ke daerah perkotaan. banyak NSB dihadapkan pada kondisi unik dari kombinasi permasalahan pergerakan penduduk dari desa ke kota dalam ju mlah besar. baik yang mencari pekerjaan pertama kali maupun yang pernah bekerja sebelumnya. karakteristik pengangguran di Indonesia adalah: â ¢ Kendati tingkat pengangguran terbuka tergolong rendah (4. 86 . Tingkat pengangguran terb uka di perkotaan 3 kali lebih tinggi glibanding daerah perdesaan. yang pada gilirannya meny ebabkan persaingan merebut lapangan kerja semakin ketat. lni diakibatka n karena adanya keterbatasan kesempatan kerja di kota. Sayangnya. strategi industrialisasi yang cepat di banyak kasus gaga ) membawa dampak yang diinginkan.4 persen dari total ang katan kerja). 1995: bab 7). pengangguran terbuka merupakan fenomena perkotaan. atau berarti bekerja kurang dari 35 jam dalam seminggu) namun masih mau menerima pekerjaan. Ini dimungkinkan karena kombinasi dua faktor.

struktur sosial yang ada dipandang sudah giv en.â ¢ Tingkat pengangguran tertinggi menurut tingkat pendidikan dialami oleh lulusan S MAdan perguruan tinggI.16 persen pekerja dengan jam kerja kur ang dari 25 jam seminggu. sekunder. akan menjadi lebih baik bila struktur internasional menjadi lebih adil.23 persen 7. As umsinya. dan perana nnya. tanpa banyak mempersoalkan sumber-sumber yang menyebabkan mengapa p osisi wanita dalam masyarakat bersifat inferior. Perbedaan mencolok terjadi pada para pekerja dengan jam kerja kurang dari 25 jam seminggu. dalam anti status. wanita telah dan selalu menjadi bagian dari pembangunan nasional. yang berarti jauh lebih rendah daripada daerah perdesa an yang mencapai 24. akses terhadap pendidikan. kedudukan. hak-hak politik dan kewa rganegaraan.8 persen dari jumlah angkatan kerja. Asumsinya.9 persen dan 14.3 persen. MASALAH WANITA Dalam skala global.98 persen dan di daerah perdesaan sebesar 26. dan dalam hubungan su bordinasi terhadap pria. Tabel 7. yang masingâ masing sebesar 16. dan sebagainya. dikenal tiga pergeseran interpretasi pen ingkatan peran wanita (P2W) sebagai berikut (Tjokrowinoto. P2W sebagai Wanita dalam Pembangunan Perspektif P2W dalam konteks Women in Devel opment memfokuskan pada . wanita selalu menjadi pelaku penting d alam masyarakat sehingga posisi wanita.5 memper lihatkan bahwa pada tahun 1991 terdapat 9. 2. sementara pada 1992 angkanya untuk daerah perkotaa n meningkat menjadi 9. 1996) 1. 3. P2W sebagal Gender dan Pembangunan 87 . bagaimana mengintegrasikan wanita dalam berbagai bidan g kehidupan. P2W sebagai Wanita dan Pembangunan Menurut perspektif Women and Development yang dipelopori oleh kaum feminisMarxist ini. Data dari Bank Dunia (1988) menunjukkan bahwa sekitar 45 persen pekerja perdesaan berada dalam kondisi setengah menganggur. Indikator integrasi wanita dalam pembangunan diukur dengan indikator seperti partisipasi angkatan kerja.4. yang berarti lebih tinggi daripada pekerja perkotaan (21 persen).

Ditinjau dari status pekerjaan utama. bermasyarakat. Fenomena in i menunjukkan bahwa masih banyak wanita yang bekerja sebagai sambilan atau hanya membantu pria.6 berikut ini.7 tentang indikator sosial wanita Indonesia.80). komposi si jenis pekerjaan mana yang menyumbangkan kenaikan total tadi. Dalam GBHN 1993. berbang sa. Me skipun kuantitas kontribusi TPAK sudah menunjukkan angka yang meningkat. Tabel 7. lni 88 . posisi inferior.8 40. dan sekunder rel atif terhadap pria.54 (BPS. terutama y ang paling mencolok adalah pada kelompok umur 30-39 tahun di mana TPAK wanita 55 .8 Sumber : Biro Pusat Statistik.WANITA 37. O leh karena itu menjadi suatu hal yang menarik meneliti di batik fenomena ini. Tingkat Partisipasi Angkatan Ke rja H 1988 1993 1998 . Berkaitan dengan P2W.2 LAKPLAKI 62. wanita ini mempunyai peran yang makin meningkat dari tahun ke tahun. Proyeksi Angkatan Kerja 1988-2000 Ditinjau dari s isi TPAK. Pembangunan berdimensi jender ditujukan untuk mengubah hubun gan jender yang eksploitatif atau merugikan menjadi hubungan yang seimbang. Hal ini dapat di cermati dari Tabel 7. wanita kebanyakan bekerja sebagai pekerja keluarga yang tidak dibayar (39. sejak GBHN 1978 telah mengamanatkan keiku tsertaan (integrasi) wanita dalam pembangunan nasional. Salah satu indikator integrasi wanita dalam pembangunan adala h Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) wanita. konstruksi sosial yang membentuk persep si dan harapan serta mengatur hubungan antara pria dan wanita sering merupakan p enyebab rendahnya kedudukan dan status wanita.6 61. dan bernegara. Semenjak itu berbagai ke bijakan dan program telah dirumuskan untuk lebih membuka partisipasi wanita dala m pembangunan. 1996: h. sela ras.3 persen). dan serasi. Kendati demikian.4 38. program P2W dalam Pembangunan Jangka Panjang II diarahkan pada sasaran umum: meningkatnya kualitas wanita dan terciptanya iklim sosial budaya yang mendukung bagi wanita untuk pengembangan did dan meningkatkan peranannya dalam berbagai dimensi kehidupan berkeluarga.6. mas ih ada kesenjangan antara partisipasi angkatan kerja pria dan wanita.27 dan pria 98.2 59. Dari sisi ini terlihat bahwa TAPK wanita meningkat dari tahun ke tahtin dan diprediksikan tetap naik pada ta hun mendatang seperti terlihat pada Label 7.4 persen) dan buruh/karyawan swasta (22.Menurut kacamata Gender and Development.

Dengan kata lain..7 persen) dan hanya 10. Tabel 7.5 persen yang berstatus pekerja keluarga. sementara hanya 45 . Ini dapat berarti bahwa se ktor informal wanita yang berhubungan dengan microenterprise wanita memang didug a masih menempati posisi kunci yang menentukan tinggi rendahnya TPAK dan pada gi lirannya akan mempengaruhi tingkat kesejahteraan wanita itu sendiri. dan tenaga produksi. Dari tabel tersebut secara eksplisit terlihat bahwa jenis pekerjaan yang tidak memerlukan banyak kualifikasi (blue collar workers) masih cukup besar sumbangannya terhadap total pekerjaan.7 menunjukkan b ahwa jumlah jam kerja wanita sebagian besar berkisar antara 7 hingga 59 jam semi nggu.7 juga memperlihatkan bahwa jenis usaha yang paling banyak di geluti oleh wanita adalah tenaga usaha pertanian. Tabel 10.2 persen pria yang bekerja selama 35 jam atau lebih. agaknya wanita bekerja lebih pendek dibanding pria karena ter dapat 68. Secara umum. 89 .berbeda dengan pria. yang diikuti dengan tenaga pen jualan. sebagi an besar wanita bekerja kurang dari 35 jam seminggu.1 persen wanita yang bekerja selama 35 jam atau lebih. yang sebagian besar bekerja dengan status berusaha dibantu anggota rumah tangga (32.

93 1.-Tenaga pelaksana dan tata usaha Tenaga penjualan 5.53 0. Sektor p ertama berupa struktur ekonomi modern yang secara komersial cenderung bersifat c anggih. di bimbing oleh motif-motif memperoleh keuntungan yang maksimal. . 4.03 2. 5. proteksi. Dua macam sektor ekonomi yang sangat berbeda karakteristiknya sating berhadapan satu sama lain.22 0. 15.65 20.52 27. 7. Tenaga usaha pertanian Tenaga produksi Tenaga operator Pekerja kasar 10.10 50.58 5. Fakta menunjukkan sektor manufaktur yang modern hidup berdampingan dengan sektor pertanian yang tradisional dan kurang produktif. 3. di mana pusat kekuasaan pemerintahan dan 90 .99 16.Tabel 7.25 39.17 0.82 10.7..33 1.49 48.21 6.53 7.59 2.. 2.21 10.29 22.80 0. 6.15 4.37 3. yang banyak bersentuhan dengan lalu lintas perdagangan internasional. Wanifa .85 73.06 Tenaga usaha jasa 1.54 3.. 2...04 6.71 1. Status pekerjaan utama: 1.53 12. dan teknologi tinggi telah menimbulkan polarisasi dan dualisme dalam proses pembang unan. 3.88 32.84 1. Lainnya Jumlah jam kerja: 0 2.60 19..-. 1994 (dalam persentase) alto Bet as arkarr.. MASALAH MIGRASI DAN SEKTOR INFORMAL Strategi industrialisasi yang banyak mengandalkan akumulasi modal.. Indikator Sosial Wanita dan Pria. Pria Berusaha sendiri Berusaha dibantu anggota RT Berusaha dengan buruh Buruh/karyawa n pemerintah Buruh/karyawan swasta Pekerja keluarga Jenis pekerjaan utama: Tenag a profesional Tenaga kepemimpinan & ketatalaksanaan 3. _.36 5.86 14. Di dalam konteks m asyarakat sekarang ini sektor tersebut dikuasai oleh orang-orang bermodal besar (konglomerat) yang terutama berasal dari daerah metropolitan (kota-kota besar). 6.97 2. 4. 5.

Dengan demikian. 57 persen dan lainâ lain 1. tingkat urbanisasi pada suatu wilayah dapat dinyatakan sebagai besarnya proporsi penduduk perkotaan pada wilayah tersebut (BPS.6 5.kegiatan ekonomi berada. Adapun alasan melakukan migrasi. Di satu p ihak. (2) karena pekerjaan sebesar 39. Adapun urbanisasi adalah perpindahan penduduk desa yang menuju k ota sehingga mengakibatkan semakin besarnya proporsi penduduk yang tinggal di pe rkotaan. Bila dirinci menu rut propinsi. berarti orang desa melihat Jak arta lebih sebagai tempat mencari uang. Kalimantan Timur. 36. Tabel 7. dan (4) karena perumahan hanya 2.58 persen). 1991).8 menyajikan kecenderungan perubahan tingkat urbanisasi untuk masingâ masing propinsi s elama 1980-1995. Sebagian besar warganegara Indonesia hidup di dalam s ektor yang kedua ini (Nasikun.9 persen dan 1995 menjadi 35. terdap at sektor yang dikuasai petani kecil dan para pengrajin dengan cirinya memiliki "mentalitas oriental" (Evers. yang menurut teori ekonomi modern merupakan struktur ekonomi yang berorientasi kepada sikapsikap konservatif.5). Boeke (1930) menyatakan bahwa dualisme ekon omi timbul akibat adanya sebuah sektor dalam kegiatan ekonomi kolonial yang memb erikan perlawanan dari perembesan politik kolonial. Dewasa ini dualisme ekonomi timbul dari ada nya urbanisasi. adalah: (1) perubahan status perkawinan dan ikut saud ara kandung/ famili lain sebesar 41. 1997: h.4 persen. Sumatera Utara. yang merupakan tujuan utama para migran. Terlihat bahwa urbanisasi yang paling mencolok di DKI Jakarta.35 persen. menurut Survei Penduduk Antar Sensus (SUPAS) 1995. penduduk perkotaan baru 15 persen. kurang menanggapi rangsangan-rangsangan internas ional dari kekuatan internasional. m asing-masing sektor memperlihatkan kejelasan karakteristiknya sendiri. Di dalam dualisme ekonomi. Sedangkan di lain pihak. 1997: bab IV). ternyata ala san utama mereka adalah pekerjaan (59. Pada 1961. dan Sumatera Selatan.27 persen. pada 1970 meningkat sediki t menjadi 17. diikuti oleh Daerah Istimewa Yogyakarta. Para migran yang tertarik ke DI Yogyakar ta umumnya 91 . Berhadapan dan terpisah dari sektor yang pertama. dijum pai sektor yang kedua berupa struktur ekonomi pedesaan yang bersifat tradisional .9 persen. tabel 4.1989). Riau. DKI Jakarta. (3) karena pendidikan sebesar 14. terdapat sektor yang berfungsi atas dasar prinsip-prinsip kapitalistik den gan hadirnya perusahaan dagang dan pabrik besar.96 persen. serta kurang mampu mengusahakan pertumbuhan p erdagangan secara dinamis. Tingkat urbanisasi di Indonesia cenderung terus meningkat dari waktu ke waktu. 1980 menjadi 22.47 persen (BPS. dan tingkat urbanisasi semakin cepat hingga 1990 mencapai 30.

Migrasi dari desa ke kota ini diyakini merupakan faktor utama penyumbang pertumbuhan kota. Tabel 7. melainkan penggunaan fasilitas tersebut.8 menu njukkan bahwa alasan utama yang paling banyak dikemukakan untuk seluruh propinsi adalah alasan keluarga (41. bukanlah merupakan sektor y ang memiliki sifat-sifat seperti sektor tradisional sepenuhnya yaitu sifat stati s.9 menunjukkan bahwa para migran dari desa menyumbang antara 35 persen hingga 60 persen pertumbuhan penduduk kota di banyak negara. 1978). Pendatang baru di kota karen a tidak memperoleh pekerjaan mencoba mengadu nasibnya dengan berpartisipasi dala m kegiatan ekonomi kota sebagai self-employment yang akhir-akhir ini dikenal seb agai sektor informal.64 persen). Tabel 7 .96 persen). Dengan perkataan lain. Artinya. urbanisasi desa -kota terjadi sebelum industri di kota mampu berdiri sendiri.6 5 persen) dan pendidikan (14. Jadi untuk mengkategorikan suatu unit usaha ke dalam sektor infor mal perlu diperhatikan suatu kriteria bahwa selama bantuan/fasilitas yang disedi akan oleh pemerintah adalah yang digunakan sebagai ukuran. Perkembangan kota yang lebih cepat meng akibatkan terjadinya urbanisasi yang bersifat prematur. Sektor informal adalah bag ian dari sistem ekonomi kota dan des a yang belum mendapatkan bantuan ekonomi dari pemerintah atau belum mampu menggu nakan bantuan 92 .35 persen). Juga diartik an bahwa sektor informal ialah suatu unit usaha yang telah memperoleh bantuan ek onomi dari pemerintah. yang diikuti oleh alasan pekerjaan (39. unit-unit usaha yang tidak dapat mempergunakan fasilitas itu dikelompokkan ke dalam sektor informal. Sementara itu International Labor Organization (ILO) meny atakan bahwa sektor informal terdiri dari unit usaha berskala kecil yang memprod uksi serta mendistribusikan barang dan jasa dengan tujuan pokok untuk menciptaka n kesempatan kerja dan pendapatan bagi dirinya masing-masing dan dalam usahanya itu sangat dibatasi oleh kapita. Sektor informal. Ini berarti Yogyakarta merupakan tempat yang paling diminati oleh orang desa untuk tempat menuntut ilmu. maupun manusia dan keterampilan (Se thuraman. baik fisik. 1981). bukan tersedian ya fasilitas yang penting. melainkan memiliki sifat dinamis. Jadi kriteria accesibility terhadap suatu fasilitas yang disediakan oleh pemerin tah adalah yang digunakan sebagai ukuran. tetapi karena sesuatu hal unit usaha itu belum bisa berke mbang (Hidayat. merupakan unit-unit usaha yang tidak atau sedikit sekali menerima proteksi secara resmi da ri pemerintah. menurut Dipak Mazumbar (Bank Dunia). walaupun begitu sektor informal bisa dikata kan sebagai bagian dari sektor tradisional yang mempunyai pemahaman lebih luas ( Hidayat.karena alasan pendidikan (51. Sektor informal menurut Weeks. 1978).

Sektor informal menghasilkan surplus. adalah sebagai berikut: 1. yang menolaknya untuk mendapatkan kemudahan terhada p keuntungan-keuntungan yang ditawarkan kepada sektor informal. Untuk menjalankan usaha tidak diperlukan pendidikan formal karena pendidikan yan g diperlukan diperoleh dari pengalaman sambil bekerja. 5. menurut Hidayat (1978). umumnya mempunyai ciriciri sebagai berikut : 1. menurut Todaro (1994). tetapi kad ang-kadang juga yang berpenghasilan menengah. Sektor informal di Indonesia. 11. Menyediakan kesempatan kerja untuk mendapatkan latihan dan magang dengan biaya y ang jauh lebih rendah daripada yang disediakan oleh lembaga-lembaga formal dan s ektor formal. Adapun alasan-alasan perlu dikemban gkannya sektor informal. 3. Sektor informal membutuhkan tenaga yang tidak memiliki keterampilan atau cukup h anya setengah terampil saja yang penawarannya semakin meningkat dan penawaran 93 . Teknologi yang digunaka n bersifat primitif. hanya sebagian keci l saja dari kapital yang diperlukan di sektor formal diperlukan untuk mempekerja kan seseorang di sektor informal. 4. Pola kegiatan usaha tidak teratur b aik dalam arti lokasi maupun jam kerja. Pada um umnya unit usaha tidak mempunyai izin usaha. Sektor informal sangat perlu dikem bangkan lebih lanjut dan dibina dengan balk. 6. Pada umumnya unit usaha t ermasuk golongan one-man-enterprises dan kalau mengerjakan buruh berasal dari ke luarga. 7. Kegiatan usaha tidak terorganisasikan secara baik. karena timbulnya unit usaha t idak mempergunakan fasilitas/kelembagaan yang tersedia di sektor formal. sehingga skala op erasi juga relatif kecil. 2. 9. 2. Modal dan perputaran usaha relatif kecil. Pada umumnya kebijakan pemerintah untuk membantu golongan ekonomi lemah tidak sampai ke sektor ini. meskipun berada dalam suatu lingkungan keb ijaksanaan yang memusuhinya. 1983). 8. Sumber Jana modal usaha pada umumnya berasal dari tabungan sendiri atau dari lembaga keuangan yang tidak resmi. Sebagai akibat dari rendahnya intensitas penggunaan kapital. 1. 1. 10.yang telah disediakan atau telah menerima bantuan tetapi belum sanggup berdikari (Hidayat. Hasil produksi atau jasa terutama dikonsu msikan oleh golongan masyarakat kota/desa yang berpenghasilan rendah. Unit usaha mudah kel uar masuk dari satu sub-sektor ke lain sub-sektor.

"Analisis Demografis Perekonomian Indonesia Menjelang 2005: Beberapa Butir Pemikiran". Jakarta. Jakarta. Ghalia Indonesia. Produksi Sub-sisten dan Sektor Informal". Hotel Radisson.. No. R. hal. 1979. CSIS. Laporan Perekonomian Indonesia 1993. lndikator Sosial Wanita Indonesia 1994. _"Definisi. Jakarta. Jakarta. Ar is dab Evi Nurvidya Anwar.10). Hidayat. Ek onomi Keuangan Indonesia. 94 . Hasil studi di berbagai tempat memperlihatkan Jaya serap kesempatan k erja yang terjadi di sektor informal (lihat Tabel 10. Sensus (SU PAS) 1995. makalah dalam Diskusi Panel Ahli GBHN. _Perpindaha n Penduduk dan Urbanisasi di Indonesia: Hasil Survei Penduduk Antar . Kriteria. Biro Pusat Statistik. Tadjuddin Noor. yaitu menyediakan lapangan pekerjaan den gan penyerapan tenaga kerja secara mandiri atau dengan kata lain menjadi safety belt bagi tenaga kerja yang memasuki pasar kerja. 2. Vol. dalam Mari Pangestu dan Ira Setiati (penyuntin g). 1983. 1. Evers. Desember. 4. __. Sektor informal memainkan peranan yang penting dalam mendaurulangkan barangbaran g buangan. Sektor informal mungkin akan dapat menggunakan teknologi tepat guna dan memanfaa tkan sumber daya setempat yang tersedia yang memungkinkan alokasi sumber daya da pat dilaksanakan secara lebih efisien. Sebenarnya sektor informal juga sangat membantu kepentingan masyarakat. Selain itu juga menyediakan ke butuhan masyarakat golongan menengah ke bawah. 1978. "Ekonomi Bayangan. Bintarto. PPE Faku ltas Ekonomi Ull. Mencari Paradigma Baru Pembangunan Indonesia. 21-30. 1997. Jakarta. "Sektor Informal dalam Struktur Ekonomi". Seri S4. Maret 1994. "Peranan Sektor Informal dalam Perekonomian Indonesia". Jakarta. BACAAN YANG DIANJURKAN Ananta. Yogyakarta. "Pasar Bebas. Urbanisasi dan Permasalahannya. dan Mobilitas Pekerja". __________ ___. 5 Mei 1991. Hans-Dieter. Profit Indonesia. Lembaga Studi Pembangunan. Janurari 1996. XXVI. 23 Juni 1997. 1997. Effendi.tersebut mustahil akan diserap oleh sektor formal yang sifat permintaannya lebih banyak membutuhkan tingkat yang berketerampilan. Prisma. dan Konsep Sektor Informal : Sumbangan Pemikiran Unt uk Repelita . Peluan g Kerja.

. Nasikun. The Urban Informal Sec tor in Developing Countries. Leading Issues in Economic Development. Penduduk dan Perubahan. Jakarta : Penerbit C . Yogyakarta. Analisa.V. 1991. 1995. Pustaka Pelajar. Jakarta. Mencari Paradigma Baru Pemb angunan Indonesia. dalam David C. Oxford University Press. Korten dan Felipe B. Jakarta. "Social Development: Putt ing People First". CSIS. 1983.7. David C. Chris. dalam Mari Pangestu dan Ira Setiati (penyunting).. Mayling. Bureaucra cy and the Poor. Rajawali. 1991.U. Sistem Sosial Indonesia. Oeyâ Gardiner. 1981. 1989. 1981. edisi ke-6. Singarimbun.). Korten. Manning . 1997. Masri. Pengangguran. S. 95 . Yayasan Obor Indonesia. "Ledakan Pendidikan Tinggi Hingga Akhir PJPT II ".). Singapura.IV". tahun XII. Urbanisasi. Meier. Ox ford. dan Tadjuddin Noer Effendi (Ed. Alfonso (eds. McGraw Hil International Book Company. dan S ektor Informal di Kota. No. Geneva. Gerald M. 1996. ILO. bab VI. Sethuraman..

MODAL ASING DALAM PEMBANGUN AN Sejarah mencatat. Dilanjutkan dengan penelusuran motivasi negara donor menyalurkan modal asing ke NSB. negara yang tidak mempunyai tabungan dalam negeri yang cuku p untuk membiayai pertumbuhan ekonomi. umumnya menutup kesenjangan pembiayaan de ngan mencari sumber-sumber dari luar negeri. Sebaliknya dalam kelompok arus 96 . tanpa suatu eks por modal balasan dari negara tersebut. dap at dibagi dalam modal yang tidak dan yang harus dibayar kembali (Pattisiana. 881899). tidak mengherankan apabila mengalir arus modal dari negara industri ke negara sedang berkembang (N SB). Bagaimanakah beban utang lu ar negeri Indonesia menjelang akhir abad ke-21? 8. 198 2: h. Bab ini akan dibuka dengan menyimak kontroversi di seputar perana n modal asing dalam pembangunan.1. Dalam kelompok arus modal yang pertama biasanya mengalir modal da ri sektor pemerintah negara industri ke sektor yang sama di NSB. Diskusi menarik tentunya adalah mengkaji s umber dan struktur pembiayaan pembangunan Indonesia. sebagaimana ditunjukkan oleh Gambar 7.BAB VIII PEMBIAYAAN PEMBANGUAN INDONESIA DAN UTANG LUAR NEGERI Sebagian besar NS B menutup kesenjangan investasi-tabungan dan kesenjangan devisa dengan mengundan g modal asing. Dengan demikian.1 Keseluruhan arus modal asing.1.

97 .

departemen. berupa hibah (grants) atau pinjaman lunak (soft loan s). tergantung dari sumber arus modal tersebut. yang biasanya berbunga rendah dengan jangka waktu pengembalian yang lebih la ma. yang terakhir adalah m engenai investasi langsung. utang pemerintah adalah utang yang dilakukan oleh suatu in stitusi pemerintah. Artinya dapat . termasuk pemerintah pusat.2). dan utang swasta yang dijamin oleh pemerintah (public and publicly g uaranteed debt). Aliran konsesional ini secara teknis disebut bantuan pembangunan resmi (ODA= Official Development Assistance).Ekonomi Pembangunan modal yang harus dibayar kembali terdapat arus batik berupa ekspor modal dari NSB. Yang pertama tadi meliputi penger tian kredit dan pembiayaan dari proyekproyek pembangunan. dan penggunaan kredit IMF (Iihat Gambar 12. Utang swasta yang nonguaranteed debt adalah utang yang dilakuka n oleh debitur swasta. investasi portfolio dan kredit ekspor. Risiko ini tidak dijumpai u ntuk kategori utang swasta yang tidak dijamin oleh pemerintah.1. karena swastalah yang harus menanggung akibatnya. utang pemerintah. Utang jangka pendek adalah utang dengan jatuh tempo satu tahun atau kurang. 98 . Tabungan luar negeri meliputi t abungan resmi ke sektor pemerintah (official savings) dan tabungan swasta (priva te savings) (Gillis. Penggunaan kredit IMF merupakan kewajiban yang d apat dibeli kembali (repurchase obligations) atas semua penggunaan fasilitas IMF . Di lain pihak. Oleh karena bantuan luar negeri banyak yang harus dibayar kemba li maka umumnya disebut juga utang luar negeri. Utang yang berjangka panjang dapat dirinci menurut jenis utangnya. 1983: h. Sebagian besar tabungan resmi berwujud k onsesional. Bank Dunia (1992) mengklasifikas ikan total utang luar negeri menjadi: utang jangka pendek. 365-366). Utang yang publicly guaranteed merupakan utang yang dilakukan swa sta namun dijamin pembayarannya oleh suatu lembaga pemerintah. 8. apakah ke sek tor pemerintah atau swasta di negara industri. arus modal asing yang harus di bayar kembali juga disebut tabungan luar negeri. Utang jangka panjang umumnya berjang ka waktu lebih dari satu tahun.1. namun lebih populer disebut bantun luar neger i (foreign aid). jenis utang yang public and publicly guaranteed yang perlu lebih mendapat pe rhatian karena apabila NSB tidak mampu membayar kembali utang tersebut maka peme rintah negara tersebutlah yang menanggung akibatnya. Bagi kebanyakan N SB. di mana utang tersebut tidak dijamin oleh institusi pemer intah. Aliran Modal ke Sektor Pemerintah Berdasarkan sifatnya. dan lembaga pemerinta h yang otonom. yaitu: utan g swasta yang tidak dijamin oleh pemerintah (private nonguaranteed debt). utang jangka panjang.

Selama ini kreditur (pihak yang memberikan utang) dapat berasal dari sumb er resmi maupun swasta. dan pemasok barang lainnya. Bank Dunia. AlIran Modal ke Sektor Swasta Tabungan swasta asing terdiri atas empat ko mponen. PMA selalu berupa kontrol penuh atau parsial melalui partisipasi 99 . Utang luar negeri yang berasal dari sumber resmi dibagi menjadi: (1) pinjaman bilateral.Utang yang tergolong public and publicly guaranteed dapat dirinci menurut kredit urnya. yaitu pinjaman antarpemerintah dan lembaga peme rintah (termasuk bank sentral). serta kredit bank yang ditutu p dengan jaminan lembaga kredit ekspor. investasi langsung (PMA) oleh penduduk atau perusahaan asing. Stok Utang Luar Negeri dan K omponen-komponennya 8. Bentuk lain adalah kredit dari perusahaan manufaktur. Yang pasti. bank-bank pembangunan regional. misalnya bantuan pemerintah Jepang kepada pemeri ntah Indonesia. dan (2) pinjaman multilateral.2. P MA tidak selalu dilakukan oleh perusahaan transnasional. dan lain-lain. obligasi.2. Gambar 8. Pinjaman dari bank-bank komersial adalah pinjaman d ari bank-bank swasta dan lembaga keuangan swasta lainnya. Obligasi dikeluarkan o leh lembaga pemerintah maupun swasta. CGI (dulu IGGI). Pertama.1. Utang luar negeri yang berasal dari kreditur swasta bisa pula berwujud pinjaman dari bank-bank komersi al. yang diberikan/dipinjamkan ke NSB. yaitu pinjaman dan kredit dari le mbaga keuangan internasional seperti PBB. eksportir.

Bentuk inve stasi portofolio yang sering ditemui adalah pembelian obligasi/ saham dalam nege ri oleh orang/perusahaan asing. Dengan kata l ain. kredit ekspor. melimpahnya minyak dan sumber daya al am lain (Indonesia dan Malaysia). 197 3. Rep. Rendahnya aliran modal ke neg ara Asia Selatan dan Pasifik Selatan mencerminkan rendahnya kinerja ekonomi. h. serta kondisi yang menguntungkan bagi perkembangan ekspor pr oduk pengolahan (Hongkong. dari 18 negara.1. pemikiran mereka sebagai berikut (Chenery dan Carter. Pertama. dan relatif sedikitnya sumber daya alam dan manusia. Kedua. tanpa kontrol manajemen. Selama 1977-1983.3. yaitu penundaan pembayaran untuk impor. Keempat. Ketiga. Investor membeli utang atau ekuitas. Ketiga. kredit ekspor merupakan pembiayaan muka dari arus barangbarang yang ditawar kan oleh eksportir dan bank-bank komersialnya ke negara pengimpor sebagai salah satu cara promosi penjualan. Kedua. Polemik Mengenal Modal Asing Peranan modal asin g dalam pembangunan telah lama diperbincangkan oleh para ahli ekonomi pembanguna n. pinjaman dari d ari bank komersial (commercial bank lending) kepada pemerintah dan perusahaan NS B. Data ini juga memperlihatkan. investasi keuangan yang d ilakukan di luar negeri. sementara di Indonesia dan Taiwan pangsanya sekitar seperempat dari to tal modal asing. pertumbuhan ekonomi yang meningkat perlu diikuti dengan perubahan struktur prod uksi dan perdagangan. Korea. F ilipina. negara-negara ind ustri baru (NIB) dan negaranegara Asia Tenggara tercatat berhasil menarik hampir 95 persen dari arus investasi asing (PMA).dalam modal dan manajemen. dengan harapan men dapat manfaat finansial dari investasi tersebut. 8. sumber dana eksternal (modal asing) dapat dimanfaatkan ol eh NSB sebagai dasar untuk mempercepat investasi dan pertumbuhan ekonomi. Singapura).459-68). yang kemudian diikuti kelompok Pa sifik Selatan (8 persen) dan Asia Selatan (1 persen). modal asing dapat berperan penting dalam 100 . Thailand). Fak tor utama yang menarik PMA ke NIB dan Asia Tenggara adalah kinerja ekonomi yang dinamis seperti tingginya pertumbuhan PDB. 1987: tabel 1 dan2). peringkatan tertinggi pangsa PM A terhadap total arus modal asing dipegang NIB dan negara-negara Asia Tenggara. Waktu dan besarnya laba dapat d itentukan sebelumnya berdasarkan atas besarnya bunga yang diperoleh. pasar domestik yang relatif luas (Indonesia. masing-masing sekitar 32 persen dan 16 persen. masih kecilnya PMA dalam pembentu kan modal domestik bruto. PMA memainkan peran yang p enting di Hongkong dan Singapuia (lebih dari setengah hingga 2/3 dari total moda l asing). Kajian yang dilakukan oleh Rana (1987) memperlihatkan. Secara garis besar. sementara negara-negara di Asia Sela tan dan Pasifik Selatan hanya memperoleh sisanya (Rana. lem ahnya infrastruktur. investasi portfolio.

934). D engan asumsi ini dan Incremental Capital Output Ratio (ICOR) yang stabil. ada beberapa cata tan yang kiranya menarik untuk diperhatikan dalam setiap studi mengenai dampak a rus modal asing.3 Hipotetis utama teori ketergantungan adalah: (a) PM A dan bantuan luar negeri dalam jangka pendek memperbesar pertumbuhan ekonomi. tingkat dan struktur 101 . Paul Baran. Hasil studi secara umum memberikan indikasi bahwa arus masuk modal asing telah menimbulkan dampak positif terhadap pertumbuhan ekonomi di NSB kawasan Asia dan Pasifik ( Dowling dan Hiemenz. 1983). seperti kinerja ekspor. Prebisch. Samir Amin. Gunder Fra nk. hanya sebagian kecil modal asing berpengaruh positif terhadap tabungan domestik dan pertumbuhan ekonomi. Dos Santos adalah nama-nama yang sering disebut sebagai pendukung utama teori ketergantungan. Pemikiran yang mendukung bahwa modal asing berpengaruh positif terhadap tabungan domestik dan pembiayaan impor. Studi empiris mengenai dampak modal asing terhadap pertumbuhan umumnya difokuskan dengan mengestimasi f ungsi produksi Neo-Klasik. dimung kinkan untuk menghitung dampak modal asing yang masuk terhadap pertumbuhan ekono mi. 1972: h. menda pat banyak tentangan dari kubu ahli ekonomi pembangunan yang lain.mobillisasi dana maupun transformasi struktural. dapat dihitung berapa modal asing yang diperlukan untuk men capai target pertumbuhan ekonomi tertentu. seperti modal dan tenaga kerja. Cardoso. Para penganut teori ketergantungan (dependencia) sependapat denga n kesimpulan para penentang di atas. dalam negeri atau luar negeri. kebutuhan akan modal a sing menjadi menurun segara setelah perubahan struktural benar-benar terjadi (me skipun modal asing di masa selanjutnya lebih produktif). Atau sebaliknya. n amun dalam jangka panjang (5-20 tahun) menghambat pertumbuhan ekonomi. Asumsi dasar yang melata rbelakangi pemikiran tersebut adalah bahwa setiap satu dollar modal asing akan m engakibatkan kenaikan satu dollar impor dan investasi (Papanek. yang menggambarkan bagaimana pertumbuhan ekonomi dite ntukan oleh akumulasi faktor-faktor produksi. Fa ktor-faktor produksi ini selanjutnya dapat dipisah menurut asalnya. laju pertumbuhan angkatan kerja. sistem perpajakan. (a) studi-studi terdahulu umumnya tidak memasukkan faktorfaktor lain yang berpengaruh terhadap pertumbuhan ekonomi selain modal asing. (b) makin banyak negara bergantung pada PMA dan bantuan luar negeri makin besar perbedaan penghasilan dan pada gilirannya pemerintah tidak tercapai.' Mereka berke simpulan. Lepas dari perbedaan visi dan hipotesis pendukung teori dependencia dan NeoKlasik. sementara sebagian besar digunakan untuk mena mbah konsumsi. Keempat.

bantuan pangan dan kerjasama ekonomi Amerika Serikat merupakan bagian integral dan tidak terpisahkan dengan kebijakan luar negerinya. pembangunan infrastruktur seperti jaringan transpor tasi dan instalasi listrik di NSB akan menimbulkan permintaan akan peralatan bar u. Hal sepert i ini sering dijumpai pada bantuan-bantuan yang bersifat mengikat (tied aid). sebagaimana disimpulkan oleh Ruttan (1989). Singapura. dilandasi tanggung jawab moral dari penduduk negara kaya kepada penduduk negara miskin. Sri Lank a. Bagi negara donor. RRC. India. untuk menulusur dampak arus m asuk modal asing dibandingkan ekspor. misalnya. Dari sudut kepentingan politik dan geostr ategik nampaknya tidak perlu diragukan. pertumbuhan angkatan kerja. bantuan teknis untuk pembangunan penggilingan gandum dan industri pengolah bibit sering ditafsirkan sebagai peningkatan permintaan akan pangan dan bibit dari negara donor. bantuan luar negeri dapat mempercepat pertumbuhan ekonomi negara penerima bantuan. Keunikan model mereka adalah kemampuannya untuk memisahkan dampak langsung dan dampak total modal asing terhadap pertumbuhan ekonomi dan pertumbuh an domestik. sekaligus menu njukkan hubungan timbal batik antara pertumbuhan ekonomi dan tabungan domestik. (b) studi-studi yang pernah dilakukan tidak berhasil menunjukkan hubun gan dua arah antara tabungan domestik dan pertumbuhan ekonomi. setidaknya mengganti peralatan yang telah usang dari negara donor. di sisi l ain juga menimbulkan dampak perluasan permintaan barang dan jasa dari negara don or. Rencana Marshall.2. Model ini telah diuji untuk menelusur dampak arus modal asing di sembilan negara Asia (Myanmar. setidaknya ada dua al asan yang melatarbelakangi negara donor bersedia memberikan bantuan: Pertama. yang membantu pr ogram pembangunan kembali Eropa Barat dan Jepang setelah 102 . di satu sisi. MOTIVASI NEGARA DONOR Mungkin pertanyaan yang muncul adalah ap a yang mendorong negara donor atau pinjaman luar negeri ? Menurut pengalaman di banyak negara.tabungan. Kedua. Nepal. Filipina. pem berian bantuan akan memperkuat ikatan keuangan antara negara donor dengan negara penerima bantuan. Misalnya. 8. di landasi kepentingan ekonomi dan strategis. Republik Korea. Berangkat dari du a kelemahan utama inilah. hal yang terakhir ini terbukti dari tingginya elastisitas permintaan akan im por barang dan jasa dari negara donor. Dengan kata lain. Rana dan Dowling (1988) mencoba menyusun suatu model k omprehensif berdasarkan sistem persamaan simultan. Thailand). Ha mpir senada dengan itu. Keadaan ini terlihat.

bantuan luar ne geri dan perekonomian Indonesia ibarat segi tiga sama sisi dalam masa Orde Baru. telah mengubah profit ekspor s ecara drastis. yang pada gilirannya diharapkan dapat mengangkat mereka dari jurang kemiskina n. yang menyumbang hampir 80 persen dari penerimaan ekspor . Tanggung jawab moral negara kaya kepada negara miskin dilandasi premis bahwa interdependensi ekonomi dan politik internasional berarti memperluas keadilan sosial dari lingkup nasional ke inter nasional.1 perse n pada 1984. lalu lintas perdagangan internasional berperanan penting dalam perekonomian dan pembangunan di Indonesia. Sementara pe ranan ekspor terhadap PDB melonjak dari 10. Selama 1973-1981 arus modal asing ini menyumbang 10 persen penerimaan devisa. Hal ini tercermin dari bantuan kepada negara berkembang yang harus dit ujukan untuk memenuhi kebutuhan dasar (basic needs) bagi sebagian besar rakyatny a. mencapai di atas 60 persen. bantuan luar negeri adalah sumber utama pembiayaan pemb angunan. Pada empat tahun pertama Pelita I. Adanya lonjakan harga minyak yang pertama 1974. Pada dasawarsa 1970-an.6 persen pada 1969 menjadi 42. ekspor nonmigas merupakan sumber utama pene rimaan devisa Indonesia. Setelah 1981 103 . Ekspor Sebagai pe nganut sistem ekonomi terbuka. pangsanya dalam total ekspor menurun menjadi sekitar 25 persen.Perang Dunia II. merupakan contoh betapa kentalnya kepentingan politik dan strat egis untuk menangkis ekspansi ideologi komunis. Seja k itu. namun posisi tersebut berubah setelah adanya oil boom pada awal 1974. Seberapa jauh peran per dagangan luar negeri terlihat dari rasio antara ekspor ditambah impor terhadap P DB. yang hanya 19. diterimanya argumen ini tidak berarti menjawab pertanyaan: sampai seberapa jauh bantuan luar negeri itu efektif dan menyentuh kelompok sas aran? 8.1. S elepas 1973 penerimaan dari ekspor minyak dan gas menjadi begitu dominan sebagai sumber penerimaan devisa.3.7 persen pada 1984. situasi ekonomi Indonesia dan prospeknya demikian terikat dengan perkemba ngan pasar minyak. yang ketiganya bertalian secara erat dan berhubungan satu sama lain. Meskipun demikian.2 persen pada 1969 menjadi 26. Arus masuk modal asing me ncapai sekitar seperempat penerimaan devisa sebelum 1973. Meskipun ekspor nonmigas meningkat dua kali lipat nilainya selama 1971-1975. 8. Peran migas sebagai sumber penerimaan negara belangsung hingg a 1981. SUMBER-SUMBER PEMBIAYAAN PEMBANGUNAN INDONESIA Minyak bumf.3.

artinya ekspor barang lebih banyak dibanding impor barang. yaitu kesenjangan antara pengeluaran investasi deng an tabungan swasta nasional.8 persen dari total ekspor . bantuan luar negeri yang masuk ke Indonesia berupa:5 Pertama. serta defisit neraca pemba yaran luar negeri (Nasution. (2) Nerac a transaksi berjalan umumnya defisit (kecuali 1979/1990 dan 1980/81) akibat defi sit pada transaksi jasa. Hasil penjualan tersebut setelah 104 . dan investasi asing ke Indonesia. para penentu kebijakan menghadapi kelangkaan modal dan sumber pembia yaan pembangunan. defisit anggaran negara. Dengan demikian. Ta k pelak lagi. Pada umumnya transaksi berjalan selal u defisit. Ditinjau dari macamnya. Penjualan devisa serta komoditi pan gan dan nonpangan yang dari bantuan program dipergunakan untuk mencapai sasaran stabilisasi ekonomi jangka pendek. Di lain pihak. Dalam neraca pembayaran. baik untuk mengendalikan inflasi maupun stabi lisasi kurs Rupiah.3. yang dicatat dalam pos neraca modal. 1989). bantuan luar negeri tercatat sebagai pemasukan modal pemerintah. dalam bentuk bantuan luar negeri dan PMA. bantuan program yang terdiri at as bantuan devisa kredit dan bantuan pangan. ( 3) Neraca modal umumnya positif (surplus) berarti arus modal asing yang masuk ke Indonesia lebih banyak dibanding arus modal yang keluar. B antuan luar negeri juga digunakan untuk menutup defisit anggaran negara (APBN). Bantuan Luar Negeri Di masa awal Orde Baru . Sejarah neraca pembayaran Ind onesia mencatat bahwa: (1) Neraca perdagangan Indonesia selalu surplus dari tahu n ke tahun. Pada 1985. artinya ekspor jasa lebih kecil dibanding impor jasa. 8. dalam bentuk pinjaman lunak (loan ) dan hibah. sedang investasi asing dimasukkan sebagai pemasukan modal swasta. mengalirlah bantuan luar negeri. Tabungan domestik waktu itu begitu rendah dan tidak dapat diha rapkan meningkat dalam waktu singkat. peranan ekspor nonmigas kembali meningkat akibat menurunnya har ga minyak dan volume produksi.2. kecuali 1979/1980 dan 1980/ 1981.kontribusi migas mulai menurun hingga 1985 menjadi 68. Bps (1996) memperlihatkan perkembangan nerac a pembayaran Indonesia selama 1979/1980-1995/1996. tersedianya bantuan serta pinjaman luar negeri dan meningkatnya pajak perseroan migas telah sekaligus membantu untuk menutup ketiga defisit/ ke senjangan ekonomi Indonesia. telah berperanan dalam menutup defisi t transaksi berjalan Indonesia selama ini. Jalan keluarnya adalah pembiayaan pembangu nan dari sumber-sumber luar negeri. Terlihat bahwa modal a sing. Defisit tersebut ditutup dengan pem asukan modal pemerintah dan pemasukan modal swasta (apabila bernilai positif). ekspor non migas meningkat lebih dari 31 persen dari total penerimaan ekspor.

porsi terbesar PMA dialokasikan di sektor pertambangan dan minyak. PMA tercatat sedikit di atas 10 persen dari anus total. Hanya ter jadi satu kali arus modal keluar (net capital outflow) pada 1975 seining dengan adanya krisis Pertamina.2. Tabungan ini dibutuhkan untuk membiayai investasi.3. bantuan proyekdengan syarat-syarat pelunasan yang lunak digunakan untuk pembiayaan berbagai proyek prasarana di bidang ekonomi dan sosial. 8.3. Indonesia telah menjadi importir modal. Ketiga. Tabel 8. Pada umumnya.2. yang merupakan selisih antara pen erimaan dalam negeri dengan pengeluaran rutin. Tabungan pemerintah yang dimaksud adalah tabungan peme rintah dalam APBN. merupakan penerimaan pemerintah dari bantuan program. Investasi Asing (PMA) S elama periode yang diamati. namun dalam beberapa tahun. pinjaman setengah lunak dan komersial. Secara umum saving-investment gap nilainya negatif. Keempat. Sel ama periode 1967-1985 sektor migas menerima 78 persen dari investasi total. Kesen jangan antara tabungan dengan investasi (saving-investment gap) ditutup dengan m asuknya anus_ modal asing ke sektor pemerintah maupun swasta. Tabungan. Perkembangan tabun gan.dikurangi biaya pemasaran. terutama awal Pelita I.4. Investasi. 8. 81). Taska dan Deposito Berjangka. seme ntara di sektor manufaktur hampir mencapai 20 persen. Namun bil a ditelusur lebih dalam sumber defisitnya berasal dari sektor swasta dan BUMN. Tabungan masyarakat merupakan akumulasi dari Tabanas. pinjaman tunaiberupa pinjaman obligasi dan pinjaman dari kelompok bank. dan savinginvestment gap sebagai proporsi terhadap PDB disajikan dalam Tabel 12. termasuk di dalamnya kredit ekspor. Kedua. Investasi di sektor pertan ian dan jasa relatif sangat kecil karena dibatasinya kiprah modal asing di sekto r ini. dan Saving-Investment Gap: 1994-1997 (pe rsentase terhadap PDB) 105 . investasi. P emerintah pusat nampaknya selalu dapat membiayai investasinya dari tabungan peme rintah. sedang peringkat kedua di sektor manufaktur (Hill. Arus masuk m odal asing (net capital inflows) meningkat dari hampir 300 juta dollar AS per ta hun pada akhir 1960-an hingga lebih dari 3 milyar dollar AS pada 1984. 1988: h. Sebagian dari bantuan proyek ini merupakan jasa konsultan dan tenaga teknisi yang membantu me rencanakan dan melaksanakan pembangunan proyek. pangsanya hampir 1/3 dari a nus total. Tabungan Domestik Tabungan domestik diperoleh dari sektor pemerint ah dan sektor masyarakat.

Indonesia mengalami fenomena debt-led growth.1094 Investasi Bruto Tabungan Nasional Bruto Saving-Investment Gap Pemerintah Pu sat Investasi Bruto Tabungan Pemerintah Saving-Investment Gap Sektor Swasta Dan BUMN Investasi Bruto Tabungan 20. Bahwa bantuan luar negeri di Indonesia telah berperanan penting dalam menutup defisit anggaran dan defisit transaksi berjalan kiranya tidak perlu dipe rdebatkan lagi.5 23. STRUKTUR PEMBIAYAAN PEMBANGUNAN Potret pembangunan Indonesia agaknya dapat dilukiskan sebagai:"tangannya bergelantungan pada bantuan luar negeri.4.5 25.4 11. In' bel um termasuk pelarian modal ke luar negeri.3 28.9 2.3 menunjukkan struktur pembiayaan pembangunan di mana peranan bantuan luar negeri pernah menc apai Iebih dari 50 persen pada Pelita I dan IV.4 -1. Sebuah penelitian memperkirakan nilai pelarian modal dari Indonesia secara akumulatif dari 1970-1987 mencapai US$ 11 milyar.2 1996 33.0 29.9 1995 31. sejak tahun fiskal 1987/1988 total cicilan utang berikut bunganya menj adi lebih besar dibanding pinjaman baru setiap tahunnya. atau kurang lebih sekitar sepertiga nilai utang luar negeri pada akhir 1 987 (Mahyuddin.1 9. agaknya cicilan pokok pinjaman harus mulai dibayar karena sudah jatuh tempo. Namun pada dasawarsa 1980-an .5 21.5 18.6 18.3 30. Boleh dikata dengan injeksi bantuan ini Indonesia telah dapat me mpercepat laju pertumbuhan ekonominya.1 18. Hal inilah yang banyak dituding oleh para pengamat sebagai net resource transfers yang negatif. A kibatnya.8 9.2 1997 34. persentasenya masih di atas 3 5 persen.9 0.0 1.3 28.5 11. Tabel 12. 106 .0 0. Tak dapat dipungkiri bahwa bantuan luar negeri tela h berfungsi sebagai injeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia dengan cara menutup de fisit anggaran pembangunan dan defisit neraca pembayaran.1 -3. Kendati peranan bantuan luar neg eri semakin menurun pada tahun-tahun terakhir ini.2 -3.2 -4.3 8.5 10.5 30. Sepanjang bantuan tersebut efektif dan tidak menjadi beban nampaknya tidak ada yang mempermasalahkannya.8 18.5 9. sedang ka kinya berpijak pada minyak". 1989).3 9. Kesimpulan sementara.7 9.

Indonesia agaknya tidak bisa dibandingkan deng an negara-negara Amerika Latin yang beban pembayaran utangnya melebihi penerimaa n ekspor mereka. Media massa pun. bayang-bayang krisis bantuan luar negeri bukannya tidak ada. sedangkan meningkatnya DS R karena sudah banyak utang yang jatuh tempo.ba ik berupa bantuan LN 107 . tidak ketinggalan. Tanpa bermaksud mempertanyakan ha sil-hasil pembangunan yang telah kita capai. ba nyak pengamat yang hanya membicarakan berapa bantuan luar negeri yang berhasil d icairkan tahun ini. Kendati debt service ratio (DSR).5. bila belakangan kita mengenal berbagai kebijaka n yang bernada expenditure reducing. anjloknya harga minyak bumf dan ko moditi primer lain. Bahwa ak umulasi dan beban utang luar negeri kita semakin menjurus pada growth-led debt a tau masuk dalam perangkap utang (debt trap) jarang dipersoalkan. penurunan pen geluaran pembangunan. 8. perband ingan antara pembayaran bunga dan cicilan utang.4 persen hin gga 40. dan penangguhan proyekproyek mega sebagai bagian integral dari penyesuaian struktural. Kebutuhan akan modal asing me nunjukkan indikasi adanya kecenderungan meningkatnya arus masuk modal asing-. berkisar antara 25.7 Defis it transaksi berjalan yang terus menerus. DIL EMA MEMELIHARA MOMENTUM PEMBANGUNAN Konsekuensi logis dari komitmen membayar bun ga dan cicilan utang adalah semakin rampingnya konsumsi domestik dan pengeluaran pemerintah. 1990). setiap selesai sidang CG I (dulu IGGI) selalu memberitakan di halaman muka dengan komentar klise bahwa In donesia perlu bersyukur karena masih dipercaya oleh negaranegara donor. Tidak mengherankan.Bagi Indonesia. serta currency realignment (Djojohadikusumo. dan kebutuhan menjaga cadangan devisa pada tingkat yang aman nampaknya meme rlukan masuknya modal dari luar yang lebih tinggi. terutama pada beberapa tahun terakhir ini. dibanding negara-negara Amerika Latin dan Afrika.7 persen selama 1985-1989. Nam un. nampaknya semakin mendesak untuk di pikirkan manajemen bantuan luar negeri dalam jangka menengah dan panjang. Susahnya. Jumlah utang yang meningkat selama tiga tahun terakhir sampai 1 990 disebabkan oleh kebutuhan untuk mendapatkan pinjaman baru dan karena perubah an nilai tukar dollar AS terhadap Yen dan Mark Jerman. memang kondisi beban utang Indonesia masih relatif lebih ringan.6 Permasalahan tradeoff antara kepatuhan membayar ut ang dan desakan membatasi pengeluaran dalam negeri diperkirakan akan semakin men cuat ke permukaan sebagai salah satu isu sentral di masa mendatang. Padahal proyeks i utang luar negeri pada BPS (1996) menunjukkan bahwa fenomena growth-led debt b ukannya tidak mustahil akan menjadi kenyataan. seperti kebijakan uang ketat.

4). Dari sisi total utang. telah di atas 40 persen bahkan sejak 1985. Dalam konstelasi semacam ini.5). dan DGNP.6 memperlihatkan bahw a selama ini utang luar negeri Indonesia didenominasi dalam dollar AS dan Yen Je pang.1). telah meleb ihi batas yang dianggap aman. yang masing-masing 20 persen.5).8 Berapakah utang LN yang ditanggung oleh setiap penduduk Indonesia? Pada 1993 saja. Peru (US$24. DER (debt export ratio). dan Argentina (US$8. Kerugian akibat foreign exchange ex posure bisa dihindari dengan tindakan hedging.6). Demikian juga.6. Co sta Rica (US$30. masih bertengger p ada angka di atas 31 persen sejak 1986. yaitu DSR. yang merupakan rasio antara pembayaran bungadan cicilan utang terhadap penerimaan ekspor. menurut catatan World Development Report 1995. Indonesia menduduki peringkat keempat di antara neg ara pengutang terbesar di dunia. Brazil (US$1. 8.5).6 milyar antara 1981 hingga pertengahan 1995. p ertanyaan yang muncul adalah: apakah Indonesia akan mengalami krisis utang LN (m asuk dalam debt trap).8. SUDAHKAH INDIKATOR UTANG LN MENCAPAI OVERBORROWIN G? Kita harus mewaspadai bahwa indikator beban utang LN (Luar Negeri) Indonesia sudah menunjukkan sampai pada taraf overborrowing. Apresiasi mata uang Yen terhadap dollar AS (terkenal dengan yendaka) diper kirakan menyebabkan melonjaknya kewajiban pembayaran utang kita sebesar US$ 18. dan mendapat "medali perak" di Asia sebagai neg ara pengutang terbesar.5). selalu di atas 200 persen sejak 198 6.3). Korea (US$21. 108 . namun melebihi Meksiko (U S$4. Data dari World Debt Tables m enunjukkan bahwa indikator beban utang LN. 200 persen.9 Dengan cara ini nilai tukar dapat diproteksi terha dap risiko fluktuasi mata uang negara donor. Bolivia (US$80.secara resmi namun juga investasi asing langsung dan pinjaman luar negeri ke sek tor swasta-.9). bantu an LN bersih (net disbursement of ODA from all sources) per kapita untuk Indones ia sebesar US$ 10. DER. Tabel 12. yang merupakan rasio antara utan g LN total terhadap Produk Nasional Bruto.hingga 2001. balk dengan: (1) melakukan curren cy swap atas utang dalam yen dengan utang dalam dollar. yaitu rasio ant ara total utang LN dengan penerimaan ekspor. agaknya perlu dipikirkan manajemen utang yang mampu meredam gejolak pe rubahan nilai tukar mata uang negara donor utama. ataukah tetap mampu mempertahankan momentum pembangunan? Saat ini. DSR (debt service ratio). dengan DGNP (debt GNP ratio). dan 40 p ersen (lihat Tabel 12. (2) membeli kontrak forw ard ataupun currency option. Berarti masih di bawah Chile (US$13.

Langkah ini bisa dikombinasikan dengan usulan un tuk melakukan debt-intoequity swaps. dunia usaha dan perbanka n kita semakin gencar mencari pinjaman off-shore. Tidak berle bihan apabila ada yang mempertanyakan: sampai kapan Indonesia *an bergantung pad a Jana dari luar negeri? Apakah bantuan luar negeri semata*Rata hanya injeksi (s ementara). sebaliknya dengan bangga mengatakan: "Habi s Bantuan Terbitlah 109 . "rtsya Allah.Selain itu. Pada dasawars a 1990-an. Gerakan tabungan nasional. Pelajaran dari krisis utang 1980-an menunjukkan. khususnya untuk hutan tropis kita. Hal ini mungkin saja terjadi karena pola pinjaman off-shore yang paling banyak dimanfaatkan berupa obligasi dengan tingkat bunga mengambang dan fasilitas revolving credit. Sementara pada waktu yang sama. maka upaya mobilisasi Ana dari dalam negeri merupakan pilihan yang tidak bisa ditawar. intensifikasi dan eksten sifikasi perpajakan. biaya Jana pinjama n yang tadinya kelihatan murah bisa berubah menjadi mahal bila suku bunga pasar tiba-tiba melonjak. Kalau usulan-usulan langkah strategis i ni diterapkan secara intensif dan simultan. sebagai mekanisme untuk mengurangi beban utang sekaligus instrumen konservasi hutan trop is. akibat arus globalisasi dan gelombang deregulasi. Sebagai Ketua Gerakan Non-Blok ditambah struktur utang kita yang terutama be rsumber dari pinjaman multilateral dan bilateral. maka perekonomian kita semakin "responsif" terhadap apa yang terjadi di dunia in ternasional. yaitu bahwa bantuan tsar n egeri hanya sebagai pelengkap dan bersifat sementara. maupun gerakan swadana. strategi pinjam-meminjam yang prudent perlu memperhitungkan ketidakp astian akan kejutan eksternal yang berdampak kurang menguntungkan. tiada lagi ungkapan:"H abis Bantuan Terbitlah Utang". dan penjualan saham BUMN. Untuk itu dituntut fad* hanya inisiatif pemerintah namun juga partisipasi seluruh lapisan masyaraka t dalam pembiayaan pembangunan. ataukah sudah menjadi semacam infus (kebutuhan yang tidak bisa dihent ikan untuk menjaga momentum pembangunan) ? Bagaimana dengan amanat GBHN yang men yatakan bahwa bantuan luar negeri hanya sebagai aeiengkap dan bersifat sementara ? Apabila komitmen terhadap GBHN tetap dipertahankan. balk lewat mobilisasi tabungan domestik. ada kecenderungan kuat bahwa bantuan dari sumber-sumber resmi (ODA) s emakin sulit diperoleh. aerpaja kan. Namun. Bila kecenderungan ini berlang sung terus di masa mendatang. merupakan bukti betapa oemerintah sudah menyadari pentingnya Iangkah ini. langkah lewat jalur diplomasi ini agaknya merupakan agenda strategis yang sayang untuk dilewatkan.

1995. 327. vol. Yogyakarta.Kemandirian". Manajemen Keuangan Intemasional: Pengantar Ekonomi dan Bisnis Global. no. 9. Perkembangan Ekonomi Indonesia Selama Empat Tahap Pelita 196 9/701988/89.. Arief. American Economic Review. Jakarta. Analisa CS/S. 37(1). Papanek. Engeli na. Budiman. Ketergantungan dan Keterbelakangan. "Utang Luar Negeri dan Efisiensi Penggunaan dalam Pemba ngunan Ekonomi Indonesia". September 1972. Mahyuddin.2. BPFE. inilah sumber dilema utang luar negeri. 63. Mei 1973. Anggito. and Nicholas G. 110 . September 1194. Economic Journal. Teori Pembangunan Dunia Ketiga. Deviations. Prospektif PPSK. h. 83-99. CPS dan ISEI. Pattisiana. pertumbuhan utang sektor publik dan quasi-public. "Dampak-dampak Kegiatan Penanaman Modal Asing terhadap Pertumbuhan Ekonomi d i Indonesia". Ekonomi dan Keuangan Indonesia. Jakarta. Chenery. yaitu: arah kebijakan ekonomi pemerintah. Carter. Tentunya tidak diinginginkan bahwa "generasi saat ini yang berpesta pora sementara generasi anak cucu nanti yang mencuci pining"? DAFTAR PU STAKA Abimanyu. 1994. dan pertumbuhan tabungan domestik (Radelet. 1982. Arief. 1995). 881-899. Gstav F. h. Sritua dan Adi Sasono. "The Effe ct of Aid and Other Resource Transfers on Savings and Growth in Less Developed C ountries". sekaligus dilema memelihara m omentum pembangunan. 1984. and Implications for International Financial Management". Setidaknya ada lima faktor kunci yang menentukan arah utang LN Ind onesia di masa mendatang. 459-468. 50-58. 1989.no. Djojoh adikusumo. 19601970". LSP. 111(7). 1 996. "Foreign Assistance and Development Performance. Kelola Gad jah Mada University Business Review. Har us diakui. h. 82. "Purchasing-Power Parity: Its Nature. h. komposisi mata u ang dari kewajiban utang. Moh. Jakarta. no. 1989. lkhsan. "Pelarian Modal dari Indonesia: Estimasi dan Masala hnya". Hol lis B. Sumitro. PT Gramedia. 6(1). pertumbuhan utang swasta. vol.

7/III.. 1994. 1988. Essex. h. Wie. Kelola Gadjah Mada University Business Review. New York. Januari 1975. Economic Development in the Third World. West Publishing Company. Longman.. Stoneman. 1992. vo l. World Development. 1994. Ja karta. PT Gramedia. Thee Kian. Alan L. seorang pemirsa menanyakan suatu pertanyaan menggelitik berikut. no. Michael P. BAB 9 EK0NOMI KERAKYATAN SEKTOR RIIL DAN UMKM Dalam suatu talkshow di suatu tele visi swasta. Sanyoto. "'Overview' Perkembangan Investasi di Indonesia: Sebuah Pengantar". 3. International Financial Market. "Pendekatan Dependencia dalam Sejarah Perekonomian: Suatu Kritik". "Foreign Capital and Economic Growth". no.Sastrowardoyo.11 5. dalam Hendra Esmara (penyunting). "M engapa kita hanya membicarakan krisis keuangan global? 111 . Tucker. Chiang.1. Teori Ekonomi dan Kebijaksanaan Pemba ngunan: Kumpulan Esei untuk Menghormati Sumitro Djojohadikusumo. edisi ke-5. Colin. Jeff Madura. dan Thoma s C. Todaro.

krisis itu kami alami hampir setiap hari. sebag ai pilar utama pembangunan nasional. Kedua. Padahal dalam sistem ekonomi k erakyatan sudah disebutkan dalam ketetapan MPR. Dimensi krisis Indonesia pada 1998 ternyata paling parah d ibandingkan enam negara Asia lain (Rao. Hebatnya. UMKM inilah pilar utama ekonomi kerakyatan di Indonesia. setidaknya Tap no. tidak hanya krisis moneter. mayorita s UMKM umumnya dianggap unbankable. Pada awalnya memang hanya krisis mata uang. mikro. krisis sosial. Guru besar dari Australian National University ini ya kin bahwa Indonesia akan menjadi emerging giant in South East Asia. d an zvong cilik pada umumnya. sistem ekonomi kerakyatan ada lah sistem ekonomi yang memihak pada kepentingan ekonomi rakyat (Mubyarto. dia menulis Indonesia sebagai the sudden death of Asian Tiger. sepuluh tahun lalu Indonesia mengalami krisis total. kecil. Pertama. 112 . dan isinya. dan krisis politik.Tidak kurang. raksasa ekon omi yang naik daun di ASEAN. Ekonomi kerakyatan adalah gagasan tentang cara. Barangkali konsep ekonomi kerakyatan hanya membingungkan bagi mereka yang menolaknya. krisis keuangan. Hal Hill memuji Indonesia sebelum krisis. sifat. Ekonomi rakyat merupakan sektor yang mencakup UMKM. 2002: Bab 5).000 lebih per dolar AS. lambat laun menjadi krisis kepercayaan. dan tujuan pembangunan dengan sasaran utama perbaikan nasib rakyat (Sumawinata. yan g menyebutkan kata "ekonomi rakyat" dua kali. Singkatnya. bah kan banyak yang malah mengalami masa boom karena beberapa faktor. XVI/1998. bahkan menimbulkan kebingungan. 2001). Dengan kata lain. lingkup. UMKM yang berorientasi ekspor justru berpesta pora ketika nilai rupiah ambruk hingga mencapai Rp17. krisis ekono mi. Agak mengagetkan k etika dalam pidato kenegaraan Presiden Megawati 16 Agustus 2001 menyebutkan bahw a konsep ekonomi kerakyatan dan ekonomi rakyat belum jelas pengertian." Saya ter menung mendengar komentar kritis tersebut. 1998). dan koperasi. Namun ketika krisis melanda negeri ini. menengah (UMKM) bisa bertahan. tidak layak mendapatkan kredit dari bank kom ersial sehingga tidak terpengaruh dengan credit crunch yang melanda sektor korpo rat. Mereka mendapatkan windfall profit akibat depresiasi rupiah karena mendapatkan penghasilan dalam dolar AS. Saya mencoba menelusuri dimensi krisi s pada 1998 dan 2008. pengusaha kecil. macan Asia yang tibatiba mat i (Hill.Bukankah itu krisis orang kaya yang mengeluh dan teriak-teriak karena sedikit me nurun return (keuntungan) atau kekayaannya? Bagi kami. 2004: 161). usaha mikro.

dan pembangunan ekonomi di perdesaan (Simatupang et al. permasalahan mend asar yang dihadapi UMKM. UMKM memegang peranan penting dalam ekspor nonmigas. perhatian untuk menumbuhkembang kan UMKM setidaknya dilandasi oleh tiga alasan.031 juts atau menempati peringkat kedua setelah ekspor da ri kelompok aneka industri. UMKM juga berkontribusi terhadap penerimaan ekspor. dengan tenaga kerja lebih dari 1. pemerataan dalam distrib usi pendapatan. 1996). Dari sisi kebijakan..Bab ini akan membahas mengenai peran UMKM dalam perekonomian. sedang. K uncoro. Dalam konstelasi inilah. 9. UMKM menyerap banyak te naga kerja (lihat Tabel 19. namun kontribusi UMKM jauh lebih kecil dibandingkan 113 . banyak yang mensinyalir deregulasi di bi dang perdagangan dan investasi tidak memberi banyak keuntungan bagi perusahaan k ecil dan menengah. merupakan seedbed bagai pengembangan industri dan sebagai pelengkap produksi pertanian bagi penduduk miskin (Weijland. Apa lagi karena lokasinya banyak di perdesaan. profil dan sebaran UMKM. tujuh tantangan bagi UMKM di tengah krisis global. ujung peran tombak penting dalam UMKM upaya peng entasan kemiskinan.1. namun juga merupakan perdesaan. pertumbuhan UMKM akan menimbulkan dampak positif terhadap peningka tan jumlah tenaga kerja. yang men ikmati kenaikan nilai tambah secara absolut maupun per rata-rata perusahaan (Kun coro & Abimanyu. yang pada tah un 1990 mencapai US$ 1. Studi empiris membuktikan bahwa pertambahan nilai tambah ternyata tidak dinikmati oleh perusahaan skala kecil. pake t kebijakan UMKM. 1995). (2006) Kedua. is juga berfungsi sebagai strategi mempertahankan hidup (survival strategy) d i tengah krisis. Di memberikan tambahan pendapatan (Sandee et al. UMKM jelas perlu mendapat perhatian karena t idak hanya memberikan penghasilan bagi sebagian besar angkatan kerja Indonesia. Boleh dikat a. Pertama.000 orang. dan akses modal dengan lembaga keuangan mikro. pemerintah secara konsisten telah melak ukan berbagai upaya deregulasi sebagai upaya penyesuaian struktural dan restrukt urisasi perekonomian. bahkan justru perusahaan besar dan konglomeratlah yang mendap at keuntungan. faktor-faktor yang menyebabkan UMKM perlu dikembangkan. 1994).. 1999). Kendati demikian. namun justru pe rusahaan skala konglomerat. MENGAPA UM KM PERLU DIKEMBANGKAN? Sejak tahun 1983.1). 1994. pengurangan jumlah kemiskinan. dan besar. Kecenderungan menyerap banyak tenaga kerja umumny a membuat banyak UMKM juga intensif dalam menggunakan sumberdaya slam lokal.

pengadaan bahan Baku. Ketiga. Gambar 19. dan akumulasi modal cepat (Kuncoro. yang jumlah unit u sahanya hanya sebesar 0. nontariff barriers. Pengembangan industri berskala kecil akan membantu mengatasi masaiah pen gangguran. dengan ciri: beroperasi dalam struktur pasar quasimonopoli oligopolistik. Kelembagaan koperasi 114 .dengan kontribusi usaha besar (lihat Tabel 19. Sebaliknya usaha besar dan menengah. 1%) yang beroperasi dalam iklim yang sangat kompetitif. menyerap 9. Pada dasar piramida dari total 22.). yang menunjukkan adanya ketimpangan yang lebar antara pemain kecil dan besar dalam ekonomika Indonesia. Gambar 19. dan tingkat drop-out tinggi. UMKM mampu menyumbang ekspor n onmigas sebesar 19. menikmati margin keuntungan yang t inggi. Pada UMKM.3% dan penyerapan tenaga kerja sebesar 62. dan sepatu. s eperti pinjaman uang/barang modal.1 memperlihatkan bah wa pada puncak piramida dipegang oleh usaha skala besar. adanya urgensi untuk struktur ekonomi yang berbentuk piramida.1 juga menunjukkan usaha mikro dan kecil mendominasi dari sisi unit usaha sebesar 83. tekst il dan produk tekstil. dan bimbinga n usaha. 2006). m argin keuntungan rendah. kecil dan mikro (99.5%. mengingat teknologi yang digunakan adalah teknologi padat karva sehin gga dengan demikian selain bisa memperbesar lapangan kerja dan kesempatan usaha. dengan perbandin gan 2 tenaga kerja per unit usaha untuk usaha mikro dan 3 tenaga kerja per unit usaha untuk usaha kecil. hambatan masuk tinggi (adanya bea masuk. penyumbang terbesar ekspor nonmigas juga sektor industri pengolahan. Berbagai layanan yang dapat disediakan koperasi dapat dimanfaatkan UMKM untuk peningkatan usahanya. Struktur ekonomi bentuk pi ramida terbukti telah mencuatkan isu konsentrasi dan konglomerasi. serta banyak dituding melestarikan dualisme perekonomian nasional. hambatan masuk rendah.2). pemasaran. Sebaga i pendamping kelangsungan pertumbuhan UMKM.2%. yang pada gilirannya mendorong pembangunan daerah dan kawasan perdesaan.7 juta unit usaha didominasi oleh usaha skala menengah. modal. Menurut Sensus Ekonomi 200 6. Thee (1993:109) mengemukakan bahwa pengembangan industri kecil adalah can_ yang dinilai besar peranannya dalam pengembangan industri manu faktur.2% hingga hampir 22% selama 2002-2005. terutama garmen. dan 108 tenaga kerja per unit us aha untuk usaha besar. d11.6% tenaga kerja dengan perbandingan 19 te naga kerja per unit usaha untuk usaha menengah. perkembangan koperasi juga belum dap at berperan optimal dalam mendukung perekonomian nasional.

2).5% pertahun).2. sebagai salah satu indikator untuk mengukur kinerja koperasi. jumla h koperasi mencapai lebih dari 103 ribu unit. Perkembangan Kelembagaan Koperasi Tahun 2000-2006 Perkembangan jumlah koperasi aktif untuk periode 2000-2006 secara nasional terca tat mengalami peningkatan rata-rata sebesar 1. juga cenderung naik-turun dalam periode 2000-2006.. dan terus meningkat sehingga pada tahun 2006 jumlahnya mencapai hamper 142 ribu unit (lihat Gambar 19. Gam bar 91. jumlah anggota koperasi mengalami peningkatan. Sejalan dengan perkembangan koperasi. Namun laju pertumbuha nnya masih lebih rendah dibandingkan laju pertumbuhan jumlah koperasi secara nas ional (5. Hal ini mengindikasikan semakin banyak koperasi tidak akt if pada akhir 2006.periode 2000-2006 mengalami perkembangan yang signifikan. Belum optimalnya k eberadaan UMKM dan Koperasi di Indonesia pasti menimbulkan pertanyaan yang barangkali muncul: bagaimana profil UMKM di Indonesia? Apa permasalahan dan tantangan aktual yang mereka hadapi? Sej auh mana upaya pembinaan dan pengembangan yang telah dilakukan? 9. PROFIL DAN SEBARAN UMKM 115 .9% pertahun. Pada tahun 2000. Data pada gambar ini juga menunjukkan bahwa proporsi koperas i aktif terhadap jumlah koperasi total cenderung menurun. Persentase koperasi ak tif yang telah melaksanakan rapat anggota tahunan (RAT).

usaha kecil identik dengan industri kecil dan industri rumah t angga. UMKM mempunyai karakteristik yang hampir seragam. (2) industri kecil dengan peker ja 5-19 orang. tidak adany a pembagian tugas yang jelas antara bidang administrasi dan operasi. 1996: 5). definisi usaha kecil menurut Undang-Undang No. 635 juta pengusaha kecil mandiri (tanpa menggun akan tenaga kerja lain). Kedua. dari jumlah perusaha an kecil sebanvak sebanvak 124. atau memiliki hasil penjualan tahunan lebih dari Rp300 juta rupiah sampai dengan paling banyak Rp2.6% merupakan perusahaan perorang an 116 . tidak termasuk tanah dan bangunan tempat usaha.Ada dua definisi usaha kecil yang dikenal di Indonesia. 9 tahun 1995 tentang Usaha Kecil adalah kegiatan ekonomi rakyat yang memiliki hasil penjualan tahunan maksimal Rpl miliar dan me miliki kekayaan bersih. Usaha Mikro adalah usaha yang memiliki kekayaan be rsih paling banyak Rp50 juta. Menurut catatan BPS (1994). Kedua. tidak termasuk tanah dan bangunan tempat usaha. Pertama. paling b anyak Rp200 juta (Sudisman & Sari. at au memiliki hasil penjualan tahunan paling banyak Rp300 juta. Data BPS (1994) menunjukkan jumlah pengusaha kecil telah mencapai 34. ternyata 90. Ketiga. Usaha Kecil adalah usaha yang memiliki kekayaan bersih lebih dari Rp50 juta rupiah sampai d engan paling banyak Rp500 juta rupiah. Kebanyakan industri kecil dikelola oleh perorangan yang merangkap sebagai pemilik sekaligus pengelola perusahaan. (4) industri be sar dengan pekerja 100 orang atau lebih (BPS. BPS mengklasifikasikan industri berdasarkan jumlah pekerjanya.5 miliar. 316 juta orang yang meliputi 15. menurut kategori Badan Pusat Statistik (BPS). Pertama. 1999: 250). (3) industri menengah dengan pekerja 20-99 orang. Kendati ada beberapa definisi. atau memiliki hasil penjualan tahunan lebih d ari Rp2. 20 T ahun 2008 tentang UMKM membedakan beberapa jenis usaha di Indonesia dengan krite ria sebagai berikut: Pertama. tidak termasu k tanah dan bangunan tempat usaha. serta memanfaatkan tenaga kerja dari keluarga dan kerabat dekatnya.5 miliar sampai dengan paling banyak Rp50 milliar. Undang-Undang No. 18.227 juta orang pengusaha kecil yang menggunakan tena ga kerja anggota keluarga sendiri serta 54 ribu orang pengusaha kecil yang memil iki tenaga kerja tetap. yaitu: (1) industri rumah tangga dengan pekerja 1-4 orang.990. tidak termasuk tanah dan bangunan tempat usaha. Kedua. Usaha Menengah memiliki kekayaan ber sih lebih dari Rp500 juta sampai dengan paling banyak Rp10 miliar. sebagian besar usaha kecil ditandai dengan belum dipunyainva status badan hukum.

ternyata tenaga kerja yang diserap oleh UMKM masih sekitar 59% dari total ten aga kerja yang terserap untuk sektor 117 . namun lemah dalam menyumbang nila i output. Banyaknya jumlah orang yang bekerja pada UMKM memperl ihatkan betapa pentingnya peranan UMKM dalam membantu memecahkan masalah pengang guran dan pemerataan distribusi pendapatan. namun dari sisi hanya menyumbang 0. atau Kopera si). dari total unit usaha manufaktur di Indonesia sebanya k 2. dan hanya 1.bambu. IBM menyumbang 91% dari keseluruhan nilai output. rotan.8% dari total un it usaha yang ada. dilihat menurut golongan industri tampak bahwa hampir sepertiga bag ian dari seluruh industri kecil bergerak pada kelompok usaha industri makanan. Data berdasarkan Sen sus Ekonomi 1996 menunjukkan tren yang tidak berubah . sumbangan nilai output UMKM terh adap industri manufaktur hanya sebesar 17.8 %.yang tidak berakta notaris. Sekitar 99% jenis usaha b isnis di Indonesia tergolong sebagai UMKM. Sedangkan yang berg erak pada kelompok usaha industri kertas (34) dan kimia (35) relatif masih sanga t sedikit sekali yaitu kurang dari 1%. UMKM. industri besar dan me nengah (IBM) memberikan kontribusi yang dominan dari sisi nilai output. industri tekstil (ISIC32). 4. rump ut dan sejenisnya termasuk perabotan rumahtangga (ISIC33) masing masing berkisar antara 21% hingga 22% dari seluruh industri kecil yang ada. dengan jumlah tena ga kerja kurang dari 20 orang.7% yang sudah mempunyai badan hukum (PT/NV. mampu menyediakan kesempatan kerja sebesar 59. Selain dominan dalam jumlah unit usah a. Tabel 19. Pada tah un 1997. Di lain pihak. Pada tahun 2002. Pola ini cenderung sama dari tahu n ke tahunnya (1997-2002).3 % dari total kesempatan kerja.8% dari total unit usaha yang ada.7% tergolong perusahaan perorangan berakta notaris . namun hanya menyumbang 0. menyediakan lapangan pekerjaan sekitar 40% dari total kesempatan kerja.5% dari keseluruhan nilai output. Kendati demikian. diikuti oleh kelompok industri barang galian bukan logam (ISIC36). IBM menyumbang 91. menyerap sekitar 39% dari total kesempatan kerja. ternyata 99.732 juta.3 menunjukkan bahwa UMK M memiliki peranan yang cukup besar dalam industri manufaktur dilihat dari sisi jumlah unit usaha dan daya serap tenaga kerja. Firma. Pada tahun 2002. CV. dan industri kayu.2% merupakan unit usaha UMKM. Ketiga. Padahal. m inuman dan tembakau (ISIC31).

MASALAH DASAR UMKM Memang cukup berat masalah yang dihadapi untuk memperkua t struktur perekonomian nasional. Namun disadari pula bahwa pengembangan usaha kecil m enghadapi beberapa kendala seperti tingkat kemampuan. kewirausahaan. UMKM terkonsentrasi di pulau Jawa (lihat Tabel 19. keahlian. man ajemen sumber daya manusia. keterbatasan ja ringan usaha 118 . Namun berbeda dengan IBM yang terkonsentrasi secara spasial di kota-kota b esar. kelemahan dalam memperoleh peluang pasar dan me mperbesar pangsa pasar. UMKM tersebar secara merata di luar ketiga kota metropolitan Jawa. kelemahan dalam struktur permodalan dan keterbata san untuk memperoleh jalur terhadap sumber-sumber permodalan. sama seperti IBM.5). kelemahan di bidang organisasi dan manajemen sumber daya manusia. Secara lebih spesifik. 9. Lemahnya kema mpuan manajerial dan sumberdaya manusia ini mengakibatkan pengusaha kecil tidak mampu menjalankan usahanya dengan baik. Kon tribusi UMKM di Jawa terhadap total tenaga kerja dan omzet masing-masing sekitar 75%. masalah dasar yan g dihadapi UMKM adalah: Pertama. ketrampilan. Ketiga. Dilihat dari sebaran geografis nya.3. Angka ini masih lebih besar dibanding industri besar dan menengah (IBM ). Keempat. yang hanya menampung tenaga kerja sekitar 41%. pemasaran dan keuangan.industri. Pembinaan UMKM hares lebih diarahkan untuk men ingkatkan kemampuan pengusaha kecil menjadi pengusaha menengah dan pengusaha mik ro menjadi pengusaha kecil. Kedua.

2. tidak termasu k tanah dan bangunan 119 . Kedua. menurut kategori Badan Pusat Statistik (BPS).kerjasama antar pengusaha kecil (sistem informasi pemasaran). Ketiga. (2) industri kecil dengan peker ja 5-19 orang. Kelima. 20 T ahun 2008 tentang UMKM membedakan beberapa jenis usaha di Indonesia dengan krite ria sebagai berikut: Pertama. paling b anyak Rp200 juta (Sudisman & Sari. sebagai salah satu indikator untuk mengukur kinerja koperasi. usaha kecil identik dengan industri kecil dan industri rumah t angga. tidak termasuk tanah dan bangunan tempat usaha.5 miliar. Usaha Mikro adalah usaha yang memiliki kekayaan be rsih paling banyak Rp50 juta. at au memiliki hasil penjualan tahunan paling banyak Rp300 juta. (3) industri menengah dengan pekerja 20-99 orang. Kedua. Belum optimalnya keberadaan UMKM dan Ko perasi di Indonesia pasti menimbulkan pertanyaan yang barangkali muncul: bagaima na profil UMKM di Indonesia? Apa permasalahan dan tantangan aktual yang mereka h adapi? Sejauh mana upaya pembinaan dan pengembangan yang telah dilakukan? 9. tidak termasuk tanah dan bangunan tempat usaha. Usaha Menengah memiliki kekayaan ber sih lebih dari Rp500 juta sampai dengan paling banyak Rp10 miliar. (4) industri be sar dengan pekerja 100 orang atau lebih (BPS. Pertama. Keenam. PROFIL DAN SEBARAN UMKM Ada dua definisi usaha kecil yang dikenal di Indonesia. 1996: 5). Usaha Kecil adalah usaha yang memiliki kekayaan bersih lebih dari Rp50 juta rupiah sampai d engan paling banyak Rp500 juta rupiah. BPS mengklasifikasikan industri berdasarkan jumlah pekerjanya. pembina an yang telah dilakukan masih kurang terpadu dan kurangnya kepercayaan serta kep edulian masyarakat terhadap usaha kecil. atau memiliki hasil penjualan tahunan lebih dari Rp300 juta rupiah sampai dengan paling banyak Rp2. 9 tahun 1995 tentang Usaha Kecil adalah kegiatan ekonomi rakyat yang memiliki hasil penjualan tahunan maksimal Rpl miliar dan me miliki kekayaan bersih. telah melaksanakan rapat anggota tahuna n (RAT). juga cend erung naik-turun dalam periode 20002006. yaitu: (1) industri rumah tangga dengan pekerja 1-4 orang. tidak termasuk tanah dan bangunan tempat usaha. iklim usah a yang kurang kondusif. Undang-Undang No. karena persaingan yang saling mematikan. 1999: 250). definisi usaha kecil menurut Undang-Undang No.

Tabel 19. i ndustri tekstil (ISIC32). sebagian besar usaha kecil ditandai dengan belum dipunyainva status ba dan hukum.2% merupakan unit usaha UMKM.316 juta orang yang m eliputi 15. minuman dan tembaka u (ISIC31). Kedua. serta memanfaatkan tenaga kerja dari keluarga dan kerabat dekatnya.3 menunjukkan bahwa UMKM memiliki peranan yang cukup besar dalam industri manufaktur dilihat dari sisi jumlah unit usaha dan daya serap tenaga kerja. dan hanya 1. sumbangan nilai output UMKM terhadap industri manu faktur hanya sebesar 17. dilih at menurut golongan industri tampak bahwa hampir sepertiga bagian dari seluruh i ndustri kecil bergerak pada kelompok usaha industri makanan. 4. Data BPS ( 1994) menunjukkan jumlah pengusaha kecil telah mencapai 34. Kendati ada beberapa definisi. 635 juta pengusaha kecil mandiri (tanpa menggunakan tenaga kerja lai n).732 juta.7% tergolong perusahaan perorangan berakta notaris.tempat usaha. CV. namun lemah dalam menyumbang nilai output. Sedangkan yang bergerak pada kelompok usaha industri kertas (34) dan kimia (35) relatif masih sangat sedikit sekali y aitu kurang dari 1%. Pertama.6% merupakan perusahaan perorangan yang tidak berakta notaris.7% y ang sudah mempunyai badan hukum (PT/NV. Ketiga. tern yata 99.8 %.990. rotan. Firma. Menurut catatan BPS (1994). mampu menyediakan kesempatan kerja sebesar 59. tidak adanya pembagian tugas yan g jelas antara bidang administrasi dan operasi. dengan jumlah tenaga kerja kurang da ri 20 orang. dan industri kayu. diikuti oleh kelompok industri barang galian bukan logam (ISIC36). Kebanyakan industri kecil dikelo la oleh perorangan yang merangkap sebagai pemilik sekaligus pengelola perusahaan . dari total unit usaha manufaktur di Indonesia sebanyak 2. dari jumlah perusahaan kecil sebanyak seb anvak 124.3 % dari total kesemp atan kerja. Padahal. Kendati demikian. Banyaknya jumlah orang yang bekerja pada UMKM memperlihatkan betapa pen tingnya peranan UMKM dalam 120 . UMKM.227 juta orang pengusaha kecil yang menggunakan tenaga kerja anggota kelu arga sendiri serta 54 ribu orang pengusaha kecil yang memiliki tenaga kerja teta p. atau memiliki hasil penjualan tahunan lebih dari Rp2. ternyata 90.5 miliar samp ai dengan paling banyak Rp50 milliar. Pada tah un 2002.bambu. UMKM mempun yai karakteristik yang hampir seragam. rumput dan sejenisnya termasuk perabotan rumahtangga (ISIC33) masing masing berkisar antara 21% hingga 22% dari seluruh industri kecil yang ada. atau Koperasi). Pola ini cenderung sama dari tahun ke tahunnya (199 7-2002). 18.

menyediakan lapangan pekerjaan sekita r 40% dari total kesempatan kerja. 1996 (%) 121 . IBM menyu mbang 91. Dilihat dari sebaran geografisnya. UMKM terkonsentrasi di pulau Jawa Kontribusi UMKM di Jawa terhada p total tenaga kerja dan omzet masing-masing sekitar 75%.3. UMKM tersebar secara m erata di luar ketiga kota metropolitan Jawa.8% dari total unit u saha yang ada. sam a seperti IBM. ternyata tenaga kerja yang diserap oleh UM KM masih sekitar 59% dari total tenaga kerja yang terserap untuk sektor industri . industri besar dan menengah (IBM) memberikan kontribusi yang domin an dari sisi nilai output. menyerap sekitar 39% dari total kesempatan kerja. Angka ini masih lebih besar dibanding industri besar dan menengah (IBM). namun dari sisi hanya menyumbang 0. Gambar 9. namun hanya menyumbang 0. Sekitar 99% jenis usaha bisnis di Indonesia tergolong sebagai UMKM. Namun berbeda dengan I BM yang terkonsentrasi secara spasial di kota-kota besar. Pada tahun 1997. IBM menyumbang 91% dari keseluruhan nilai output.5% dari keseluruhan nilai output. yang hanya menampung tenaga kerja sekitar 41%.8% dari total unit usaha yang ada. Industri Manufaktur Menurut jumlah Tenaga Kerja dan Unit Usaha: Indo nesia. D i lain pihak. Data berdasarkan Sensus Ekonomi 1996 menunjukkan tren yang tidak berubah . Pada tahun 2002.membantu memecahkan masalah pengangguran dan pemerataan distribusi pendapatan. Se lain dominan dalam jumlah unit usaha.

ketrampilan. Keempat. tanta ngan yang dihadapi UMKM dapat dibagi dalam dua kategori: Pertama. keahlian. kewirausahaan. man ajemen sumber daya manusia. pembinaan yang telah dilakukan masih kurang terpadu dan kurangnya keperca yaan serta kepedulian masyarakat terhadap usaha kecil. MASALAH DASAR UMKM Memang cukup berat masalah yang dihadapi untuk memperkua t struktur perekonomian nasional. pemasaran dan keuangan. karena persaingan yang saling mematikan. Kedua.3. kelemahan di bidang organisasi dan manajemen sumber daya manusia.9. Namun disadari pula bahwa pengembangan usaha kecil m enghadapi beberapa kendala seperti tingkat kemampuan. kelemahan dalam struktur permodalan dan keterbata san untuk memperoleh jalur terhadap sumber-sumber permodalan. Secara lebih spesifik. Lemahnya kema mpuan manajerial dan sumberdaya manusia ini mengakibatkan pengusaha kecil tidak mampu menjalankan usahanya dengan baik. Ketiga. Keli ma. iklim usaha yang kurang kondusif. kelemahan dalam memperoleh peluang pasar dan me mperbesar pangsa pasar. bagi usaha mik ro dengan omset kurang dari Rp300 juta setahun umumnya tantangan yang dihadapi a dalah bagaimana menjaga kelangsungan hidup 122 . K eenam. keterbatasan ja ringan usaha kerjasama antara pengusaha kecil (sistem informasi pemasaran). masalah dasar yan g dihadapi UMKM adalah: Pertama. Pembinaan UMKM harus lebih diarahkan untuk men ingkatkan kemampuan pengusaha kecil menjadi pengusaha menengah dan pengusaha mik ro menjadi pengusaha kecil. Secara garis besar.

usahanya. Bagi mereka, umumnya asal dapat berjualan dengan "aman" sudah cukup. M ereka umumnya tidak membutuhkan modal yang besar untuk ekspansi produksi; biasan ya modal yang diperlukan sekedar membantu kelancaran cashflow saja. Bisa dipaham i bila kredit dari BPR-BPR, BKK, TPSP (Tempat Pelayanan Simpan Pinjam-KUD), lint ah darat, mindring, bank plecit, amat membantu modal kerja mereka. Kedua, bagi u saha kecil dengan omset antara Rp300 juta hingga Rp2,5 miliar, tantangan yang di hadapi jauh lebih kompleks. Umumnya mereka mulai memikirkan untuk melakukan eksp ansi usaha lebih lanjut. Berdasarkan pengamatan Pusat Konsultasi Pengusaha Kecil UGM, urutan prioritas permasalahan yang dihadapi oleh usaha jenis ini adalah (K uncoro, 1997): (1) Masalah belum dipunyainya sistem administrasi keuangan dan ma najemen yang baik karena belum dipisahkannya kepemilikan dan pengelolaan perusah aan; (2) Masalah bagaimana menyusun proposal dan membuat studi kelayakan untuk m emperoleh pinjaman baik dari bank maupun modal ventura karena kebanyakan UMKM me ngeluh berbelitnya prosedur mendapatkan kredit, agunan tidak memenuhi syarat, da n tingkat bunga dinilai terlalu tinggi; (3) Masalah menyusun perencanaan bisnis karena persaingan dalam merebut pasar semakin ketat; (4) Masalah akses terhadap teknologi terutama bila pasar dikuasai oleh perusahaan/grup bisnis tertentu dan selera konsumen cepat berubah; (5) Masalah memperoleh bahan baku terutama karena adanya persaingan yang ketat dalam mendapatkan bahan baku, bahan baku berkulait as rendah, dan tingginya harga bahan baku; (6) Masalah perbaikan kualitas barang dan efisiensi terutama bagi yang sudah menggarap pasar ekspor karena selera kon sumen berubah cepat, pasar dikuasai perusahaan tertentu, dan banyak barang pengg anti; (7) Masalah tenaga kerja karena sulit mendapatkan tenaga kerja yang teramp il. 9.4. TUJUH TANTANGAN UMKM DI TENGAH KRISIS Tidak diragukan bahwa fundamental makroekonomi dan kinerja sektor riil Indonesia belum menunjukkan tanda-tanda kr isis sampai pertengahan 2008, meski krisis keuangan mengguncang Amerika Serikat dan Eropa. Krisis global ini memang sempat mengguncang pasar modal dan valas di Indonesia. Bursa Efek Indonesia terpaksa di-suspend setelah indeks harga saham g abungan (IHSG) anjlok lebih dari 10% untuk kedua kalinya dalam waktu tiga hari, dan sempat bertengger 123

di posisi 1.451. Pada Oktober 2008, kurs sempat menyentuh level Rp9.870 per US$. Namun, seberapa jauh krisis ini akan berdampak pada sektor riil, khususnya UMKM , tampaknya perlu diantisipasi. Kewaspadaan diperlukan walaupun pemerintah optim istic bahwa fundamental perekonomian nasional masih cukup kuat untuk menyangga s ektor riil. Saat ini, BI Rate yang tinggi, mencapai 9,5%, tentu merupakan kebija kan yang paling Namun UMKM terbukti tahan terhadap krisis dan mampu survive kare na: pertama, tidak memiliki utang luar negeri. Kedua, tidak banyak utang ke perb ankan karena mereka dianggap unbankable. Ketiga, menggunakan input lokal. Keempa t, berorientasi ekspor. Selama 1997-2006, jumlah perusahaan berskala UKM mencapa i 99% dari keseluruhan unit usaha di Indonesia. Sumbangan UKM terhadap produk do mestik bruto mencapai 54%-57%. Sumbangan UKM terhadap penyerapan tenaga kerja se kitar 96%. Sebanyak 91% UKM melakukan kegiatan ekspor melalui pihak ketiga ekspo rtir/pedagang perantara. Hanya 8,8% yang berhubungan langsung dengan pembeli/imp ortir di luar negeri. Namun, daya tahan UKM pascakenaikan harga bahan bakar miny ak (BBM) benarbenar diuji. Kenaikan harga BBM yang diumumkan pemerintah pada 23 Mei 2008 sangat mempengaruhi kondisi usaha UKM. Survei terhadap pelaku UKM di DI Yogyakarta menunjukkan bahwa kenaikan harga BBM menyebabkan 18.734 pelaku usaha tersebut di daerah ini semakin terpuruk, bahkan kreditnya terancam macet. Berda sarkan pengakuan UKM, sebanyak 73% dari total responden mengatakan usaha mereka terpengaruh oleh dampak kenaikan harga BBM. Gambar 19.4 memperlihatkan bahwa 31% di antaranya amat terpengaruh karena biaya BBM mencapai di atas 50% dari total biaya produksi, 30% mengaku terpengaruh karena biaya BBM antara 20-50% dari tota l biaya produksi, dan 12% lainnya agak terpengaruh karena biaya BBM antara 10-20 % dari total biaya produksi. Gambar 9.4 Pengaruh Kenaikan BBM Terhadap UMKM di DIY 124

Dari total responden yang mengaku sangat terpengaruh kenaikan harga BBM di atas, sebagian besar adalah UMKM yang bergerak sektor makanan, minuman dan tembakau ( 38%). Lainnya, 17% adalah UMKM yang bergerak di sektor kayu, bambu, rotan, rumpu t dan sejenisnya dan 14% adalah UMKM yang bergerak di sektor barang dari logam ( lihat Gambar 19.5). Gambar 9.5.Pengaruh Kenaikan BBM Terhadap UMKM Menurut Sekto r di DIY Survei ini sejalan dengan survei Badan Pusat Statistik (BPS) yang menyebutkan ba hwa kenaikan harga BBM berpengaruh terhadap kenaikan biaya produksi usaha mikro sebesar 34%, usaha kecil 24,6%, dan usaha menengah 129,6% (Kompas, 2008). Apa ta ntangan yang dihadapi UMKM? Pertama, tidak adanya pembagian tugas yang jelas ant ara bidang administrasi dan operasi. Kebanyakan UMKM dikelola oleh perorangan ya ng merangkap sebagai pemilik sekaligus pengelola perusahaan, serta memanfaatkan tenaga kerja dari keluarga dan kerabat dekatnya. Kedua, akses industri kecil ter hadap lembaga kredit formal rendah, sehingga mereka cenderung menggantungkan pem biayaan usahanya dari modal sendiri atau â ¢sumber lain, seperti keluarga, kerabat, pe dagang perantara, bahkan rentenir. 125

DIY agaknya membutuhkan langkah nyata dalam menyelamatkan UM KM pasca gempa.5. 126 . sebagian besar usaha kecil ditandai dengan belum dipunyainya status bada n hukum. Ini kali ke-2. Akibatnya. atau koperasi). Firma. dan peralatan usaha. dan belum stabilnya bisnis UMKM yang berorientasi ekspo r. d alam bidang pemasaran. di banyak sent ra ekspor mengalami kelangkaan tenaga terampil untuk sektor tertentu. tren nilai ekspor menunjukkan betapa sangat berfluktuatif dan berubahubahnya komoditas eks por Indonesia selama periode 1999-2006. masalah terbesar yang dihadapi dalam pengadaan bahan baku adalah maha lnya harga. relatif minimnya kemampuan bahasa asing sebagai suatu hambatan dalam melakukan negosiasi. terbatasnya ketersediaan. masalahnya terkait dengan banyaknya pesaing yang bergerak dalam industri yang sama. gempa tekto nik Mei 2006 terbukti memporakporandakan tidak hanya rumah namun juga tempat. bisa bernafas lega.Ketiga. CV. barang siap ekspor.7% yang su dah memiliki badan hukum (PT/ NV. tidak hanya rekonstruksi rumah dan infrastruktur. bahan baku. UMKM perlu diprioritaskan pemulihannya. Namun. Keempat. koperasi.7% tergolong perusahaan perorangan berakta notaris. Ketujuh. barang jadi. perusahaan leasing. Kelima. Data Sensus Ekonomi 2006 yang dikumpulkan BPS mencatat dari 403 ribu unit usaha di DIY ternyata 99% tergolong UMKM. dan hanya 1. masalah utama yang dihadapi dalam memenuhi kebutuhan tenaga kerja adalah tidak terampil dan mahalnya biaya tenaga kerja. R egenerasi perajin dan pekerja terampil relatif lambat. Keenam. dan jarak yang relatif jauh. dan penetrasi pasar di luar negeri. 9. Penyebabnya adalah eksportir masih menun ggu order dari pembeli/pelanggan dari luar negeri. Ini karena ba han baku bagi UMKM yang berorientasi ekspor sebagian besar berasal dari luar dae rah usaha tersebut berlokasi. bank. faktor musim di negara mitra dagang ikut berpengaruh. pa brik. Jogja Resque Team (JRT) mendampingi dan memperjuangkan agar UMKM yang dibu ru-buru debt collectors. AY AT-AYAT KRISIS UMKM: KASUS DI YOGYAKARTA (DIY) Usulan moratorium bagi kredit UMK M DIY selama 3 tahun mendapat dukungan Komisi B DPRD dan Gubernur DIY. Mayoritas UMKM merupakan perusahaan perorangan yang tidak berakta notar is. atau lintah darat. 4.

Usaha bisnis UMKM belum pulih 100% sementara ancaman penyitaan aset oleh para kreditur sudah di depan mata. Peraturan Bank Indonesia No 8/10/PBI/2006 memberikan per lakuan khusus bagi UMKM korban gempa di DIY dan Jawa Tengah.9 miliar pada bulan April 2007.9%. Usulan 127 . Kendati pertumbuhan ekonomi DIY masih pos itif 3. Namun bagi debitur UMKM. Ini berarti%tase kredi t bermasalah terhadap total kredit (biasa disebut NPL=Non Performing Loans) sebe sar 4. Akib atnya banyak UMKM yang terpaksa tidak dapat membayar kewajiban membayar kreditny a. tidak ada kemacetan. solusi atas kredit macet perlu mem pertimbangkan fakta bahwa sektor perbankan dan UMKM di DIY sama-sama Baru mender ita akibat gempa. berdasarkan pengaduan UMKM kepada JRT problem yan g dihadapi oleh UMKM lebih mengkhawatirkan. Di lapangan. PBI ini intinya men gatur restrukturisasi kredit bagi Bank Umum dan BPR yang dilakukan untuk debitur yang terkena dampak bencana alam tersebut langsung dikategorikan berkualitas 'l ancar' selama 3 tahun sejak ketentuan ini berlaku. Dengan kata lain. PBI ini mengun tungkan dari sisi perbankan karena laporan bank ke BI nampak 'cantik'. Tidak sedikit UMKM yang mengalami kredit macet. pegadaian.34%. yang lebih tinggi daripada NPL bank umum yang hanya 3. Inilah yang membuat pusing pelaku UMKM DIY. Pihak pemberi kredit (kreditur) tida k hanya perbankan tetapi juga leasing. kur ang lancar) sebesar Rp336. banyak UMKM yang mengalami stagnasi produksi. namun sektor industri dan perbankan mengalami kontraksi ma sing-masing -1. Pa ra kreditur sudah banyak yang mengancam untuk menyita aset UMKM. angka NPL di Bank Perkreditan Rakyat terhitung 10.47%. PBI ini hanya menunda masalah karena restru kturisasi kredit setelah 3-6 bulan diikuti denda dan rapelan selama UMKM dibebas kan dari pembayaran cicilan utang. diragukan. Beberapa malah sudah menggunakan jasa debt collectors dan menyita aset yan g diagunankan oleh UMKM. Dalam praktik. Jeritan UMKM ini didengarkan dengan seksama o leh para wakil rakyat di DPRD DIY. Pelaku UMKM ini mengeluh mereka sek arang benar-benar UMKM. koperasi. serta fasilitas rumah yang sekaligus bengkel kerja. total kredit bermasalah (macet.Bank Dunia mengestimasi total kerusakan dan kerugian UMKM di DIY sekitar Rp7 tri liun. Bila dirinci. dan lintah darat. Berapa jumlah total kredit ya ng macet di DIY? Menurut data BI.71%.3% dan 6. Dampak gempa memang l uar biasa bagi UMKM dan perbankan DIY.7% tahun lalu. Padahal dengan hancurnya peralatan dan stok barang.

UMKM m asih membutuhkan modal kerja yang memadai untuk memulihkan aktivitas bisnisnya. Data dari 20 Juni 2006 sampai den gan Oktober 2007 posisi kredit yang bermasalah semakin memprihatinkan. Pemerintahan India. Karena itu. Bencana kekeringan yang berkepanjangan menjadi pemicu kebijakan tersebut. pada tahun 2004 m elakukan moratorium bagi kredit usaha pertanian yang berdurasi 6 bulan. Untuk moratori um kredit UMKM Jogja perlu dirumuskan apakah moratorium kredit mencakup penjadua lan pembayaran utang (rescheduling) selama 3 tahun. menunggu 'bo rn waktu' yang bisa meledak kapan saja. Adanya krisis atau kejadian luar biasa menjadi latar belakang moratorium. kondisi kolektibilitas kredit UMKM jelas mengkhawatirkan. Posisi kredit UMKM pada bank/pemberi pinjaman semakin buruk. Tak kuran g ada 17. Kred it UMKM yang termasuk lancar menurun drastis dari 27% menjadi 1%. Ketika bertemu JRT Mei 2008. serta mendapat 'Iampu hijau' dari pemerintah pusat. Kebijakan ini mencakup kredit untuk pertanian dan pengolahan lahan pertanian yang dikeluarkan oleh perusahaan pemberi kredit. moratorium kredit UMKM membutuhkan rencana aksi terkoordinasi dari M enteri Koordinator Bidang Perekonomian.526 kredit UMKM yang terancam bermasalah. bank komersial dan bank regional. dengan penurunan nilai aset sekitar 20-45%. ataukah penghapusbukuan (wri te-off) dan penghapus tagihan? Bila moratorium kredit disepakati oleh kreditur d an diijinkan oleh BI. Apa yang dimaksud dengan moratorium kredit? Moratorium inti nya merupakan suatu 'penundaan' terhadap utang atau kredit usaha. Kendati nilai agunan mencapai Rp884 miliar. Menteri Keuangan. Tujuannya. Menneg KUMKM. Bahkan tentang moratorium UMKM ini sudah d ilaporkan di hadapan Menko Bidang Perekonomian dan sejumlah menteri di Jakarta t anggal 26 Juni 2007. Pemda. untuk mem berikan ruang gerak dan waktu bagi UMKM agar kembali memiliki kemampuan membayar kewajibannya. Gubernur DIY Sri S ultan HB X. Menneg BUMN. mendukung upaya moratorium selama 3 tahun bagi UMKM agar UMKM merasa tenteram dalam memulihkan bisnisnya. dengan nilai kredit mencapai Rp328 miliar.Jogja Resque Team (JRT) untuk moratorium kredit bagi UMKM sampai tahun 2010 mend apat dukungan Komisi B DPRD DIY. 128 . khususnya Menteri Keuangan. bersama Bank Indonesia serta pihak-pihak terk ait untuk memprioritaskan rencana aksi pemulihan ekonomi produktif untuk DIY Menunda masalah ini berarti . Menteri Perindustrian.

Hampir tiap hari. Lembaga Leasing. seperti pendampingan dan pelatihan. kredit diragukan naik dari 9% m enjadi 11% dan kredit macet melonjak drastis dari 10% menjadi 31%. Kondisi UMKM yang tidak direstrukturisasi mal ah lebih parah. ataupun permohonan kepada Dirjen Kekayaan dan Lelang Negar a untuk menunda lelang terhadap jaminan nasabah UMKM. program ak si yang dapat dilakukan adalah membantu penyelesaian kredit bermasalah.500 kredit UMKM korban gempa menunjukkan bahwa ada sekitar 47% yang direstrukturisasi. Diperkirakan hanya 45% UMKM yang bisa bangkit sendiri. Dalam konteks inilah. sisanya sulit pulih k arena mayoritas tempat tinggal mereka digunakan pula sebagai tempat usaha. 19% tidak direstrukturisasi dan sisanya malah tidak memiliki keterangan. Saat ini yang paling dibutuhka n pelaku UMKM dengan kredit bermasalah adalah modal segar agar bisa segera bangk it. terutama untuk kredit mikro dengan maksimal kredit Rp5 juta. Tim Ad-hoc masih menerima pengaduan dari UMKM tentang ancaman debt collectors dan penyitaan aset UMKM.Angkaangka dan faktafakta ini menunjukkan bahwa meski sudah ada upaya pemulihan UMKM terny ata hasilnya belum seperti yang diharapkan. Gubernur DIY. Bahkan yang t ermasuk dalam kategori 'tidak ada keterangan' diperkirakan juga bermasalah karen a cenderung meningkat dari 20% menjadi 29%. saya mengusulkan perlunya program aksi yang koheren dan integra tif antara lembagalembaga yang terkait dengan UMKM. Perlu digarisbawahi. sudah melayangkan surat kepada Menteri Negara BUMN dan Menko Perekonomia n agar melakukan rescheduling. agaknya belum cukup ampuh mengerem laju penurunan kinerja UMKM maupun menghentikan penyitaan terhad ap aset jaminan UMKM. Namun. injeksi pinjaman. kredit bermasalahnya meningkat dari 54. Di tingkat Pemda. Sri Sultan Hamengku Bu wono X.Kendati kredit yang tergolong dalam perhatian khusus menurun dari 26% menjadi 19 %. kredit kurang lancar naik dari 8% menjadi 9%. BUKP (Badan Usaha Kredit Pedesaan). 129 . Pemda propinsi dan kabupate n/kota dapat meminta pihak perbankan baik pemerintah maupun swasta dan BPR (Bank Perkreditan Rakyat). Kebijakan restruk turisasi kredit belum cukup jika tidak disertai 'bantuan teknis' untuk mempercep at pemulihan. Penelusuran saya bersama tim penelit i terhadap 4. sebenarnya program restrukturisasi kredit di D IY tidak mengatasi permasalahan pokok karena kredit bermasalah meningkat dari 64 % pada 2006 menjadi 83% pada 2007. penangguhan eksekusi jaminan ba gi UMKM korban gempa.5% menjadi 96%.

penyitaan atau pelelangan aset-aset terkait tunggakan UMKM. . Selain itu. Dengan percepatan implementasi ini s etidaknya UMKM dapat kembali bergeliat dan memiliki motivasi untuk kembali produ ktif. Di sinilah Menteri Pe rindustrian dapat berperan serta dengan menyusun program pemulihan sentra indust ri.maupun KUD (Koperasi Unit Desa). yaitu kebijakan pemerintah untuk melindungi UMKM dari kebangkrutan dengan m enyediakan jaring pengaman kredit bagi para UMKM. diperlukan penyempurnaan konsep dan implementasi Kredit Usaha Rakyat (KUR) bagi UMKM di daerah bencana. khususnya UMKM. Menneg BUMN. Bank Indonesia s ebagai otoritas moneter juga harus melakukan penyempurnaan PBI No 8/10/2006 tent ang perlakuan khusus terhadap kredit bank pasca gempa. Skema ini pernah dilakuka n Pemerintah Jepang dalam White Paper 2001 dengan nama safety net guarantee prog ram. Sebagai pendukung kebijakan Menko Perekonomian. Perlu PBI khusus untuk UM KM pasca bencana yang mencakup gempa. Dana dan program dari negara donor perlu difokuskan untuk pemulihan liveliho od (baca: sektor ekonomi produktif). supaya tidak melakukan eksekusi. Selain itu perlu pula disusun suatu kebijakan khusus tentang penyelesaian kredi t bermasalah khususnya standar prosedural bagi UMKM di daerah bencana. banjir. Di tingkat pusat. Hal ini dap at dilakukan dengan merealokasi Dana Kemitraan dan Bina Lingkungan dari BUMN. Menko Perekonomian. Hasil ka jian Tim Ad-hoc dan UNDP untuk identifikasi sentra dan profil UMKM per kecamatan dapat langsung dimanfaatkan bagi semua stakeholders yang peduli 130 . M enneg BUMN dapat mempercepat implementasi haircut kredit UMKM di bank BUMN dan m engusahakan adanya kredit tanpa agunan maksimal Rp20 juta bagi UMKM. lumpur papas dan lainnya. yang tentunya harus berkoordinasi dengan Men neg UMKM dan Menteri Keuangan. Menko Perekonomian harus menyusun skema anti-disaster measures bagi UMKM untuk d aerah bencana baik bencana kecil maupun bencana besar. Menneg UMKM dan Menteri Perindustrian per lu segera mengeksekusi kebijakan yang supportive terhadap UMKM. yang proUMKM. Java Reconstruction Fund pe rlu menitikberatkan program pemulihan dan penyelamatan UMKM bermasalah. ya ng tiap tahun tidak pernah terserap 100%. Namun tentunya hal ini harus diimbangi dengan program-program pemulihan se ntra-sentra industri kecil sebagai basis pertumbuhan UMKM. tsunami.

5% sampai bulan Maret 2008.7%. menghasilkan 34 keluaran yang sudah selesai dilakukan kurang lebih 73. Peraturan Menteri Tenaga Kerja dan Tran smigrasi mengenai Penempatan Tenaga Kerja.dengan nasib UMKM. ada 6 kebijakan yang berada di bawah wewenang Menteri Pe rdagangan.9%. pemerintah SBY-JK m engeluarkan Inpres No.6%.8%. dokumen peraturan teknis operasional sebagai Pedoman Pemanfaata n dokumen Resi Gudang. Dan terakhir adalah bidang reformasi regulasi sebesar 6. Ini tercermin dari 141 paket kebijakan ada 29 tind akan yang khusus memberdayakan UMKM. PAKET KEBIJAKAN UMKM Menyadari tentang pentingnya UMKM. Diikuti oleh bidang peningkatan peluang p asar produk UMKM sebesar 27. Inilah saatnya berlomba-lomba membantu UMKM DIY. Rencana kenaikan harga BBM dalam waktu dekat ini dapat semakin memukul bisnis UM KM. dan Peraturan Pemerintah sebagai pela ksanaan Pada Inpres No. 131 . dan kegiatan sosialisasi.6. 6 2017 prioritas pemerintah adalah pada bidang peningkatan akses UMKM pada surnber pembiayaan. Kemudian dari keena m kebijakan itu. rencananya keluarannya ak an berbentuk Peraturan Menteri Keuangan. 'Ayat-ayat krisis' UMKM ini perlu segera dicari solusinya.7%. Sedangk an keluaran yang masih dalam proses adalah sebesar 14.8% Dari keempat bidang kebijakan pemberdayaan UMKM p ada Inpres No. Hal ini ditunjukkan dari besarnya proporsi tindaka n pada bidang ini vaitu sebesar 44. Kemudian keluaran yang masih berlanjut sebesar 11. Keluarannya adalah dalam ben tuk PP Nomor 36 Tahun 2007 tentang Pelaksanaan UU Nomor 9 Tahun 2006 tentang Sis tem Resi Gudang. 9. Semua kebijakan tersebut sudah selesai dilakukan. Dari 29 tindakan. tiga diantaranya merupakan kebijakan untuk pengembangan sistem resi gudang sebagai instrumen pembiayaan bagi UMKM. Kemudian bidang pengembangan kewirausahaan dan s umber daya manusia sebesar 20. Untuk kebijakan yang masih dalam proses. 6/2007. 6/2007 yang secara eksplisit berupaya mempercepat dan mem berdayakan UMKM di Indonesia.

6/2007 tentang Pemberdayaan UMKM memiliki keluara n dalam bentuk produk hukum yang berbeda-beda 132 . Nunukan. Selain itu sistem Resi Gudang tida k kalah pentingnya dari mata rantai lainnya. Janganlah peraturan menjadi ganjalan untuk mencapai tujuan. Komitmen perba nkan diperlukan untuk mendukung sistem perdagangan komoditi pertanian. tetapi masih dapat mendapatkan dana dari perbankan untuk memulai k egiatannya lagi. Kemudian kebijakan yang lainnya yang sudah selesai adalah pengembangan institusi promosi produk UMKM dengan keluarannya dalam bentuk program penguatan dan penambahan ma rketing points di wilayah perbatasan. dan Skouw. pasar induk dan pasar tradisional den gan keluarannya dalam bentuk pembangunan fisik pasar dan pengembangan skema pilo t project pasar sinergi (lihat Tabel 19. Hal inilah yang merupakan tugas pengelola gudang untuk dapat membe rikan jaminan kepada bank. Tindakan-tindakan yang dilakukan dal am hal implementasi Inpres No. Bitung. Selanjutnya adalah ke bijakan pemberdayaan pasar tradisional dan peningkatan peran peritel modern dala m membuka akses pasar bagi produk UMKM dengan keluarannya dalam bentuk rancangan Peraturan Presiden (PP) mengenai pemberdayaan pasar tradisional dan penataan pu sat perbelanjaan dan toko modern. Tarakan.Resi gudang pada dasarnya adalah satu cara bagaimana komoditi bisa dijadikan kol ateral. Atambua. Dari 6 marketing point yang direncanakan b erdiri (Entikong. Pasar Lelang dan Resi Gudang harus berjalan bersamaan. Peraturan dibuat untuk melancarkan apa yang ingin dijala nkan. Petani ataupun pemilik komoditi tidak perlu menjual komoditinya sewaktu harga rendah. Nunukan dan Skouw). Perbankan adalah salah satu mata rantai yang penting dalam perekonomian. Resi Gudang mempunyai juga fungsi m engamankan para petani. Yang menjadi penting di sini adalah bagaimana perbankan dapat m empercayai nilai komoditi yang diagunkan. Bagaimana kualitas komoditi tersebut t idak menurun dan untuk jangka waktu tertentu. Kemudian kebijakan mengenai pengembangan pasar yang terintegrasi antara pasar penunjang. Yang sering mengganjal dan kelihatan enggan untuk iku t menyelesaikan masalah ini adalah justru perbankan. Bursa Ber jangka Komoditi. Bagaimana kalau pemilik tidak dapa t menjualnya. hingga kini tela h beroperasi di 3 titik yaitu Tarakan.7).

yang dicanangkan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono di awal pemerintahannya. serangkaian program dan tindakan yang tu juannya memperbaiki iklim investasi di Indonesia ternyata lemah dari sisi implem entasi di level pusat. dari 85 rencana tindakan tidak semuanya menjawab subtansi masalah yang di hadapi sektor riil dan UMKM. Hasil monotoring Mudrajad Kuncoro (2009) atas implementasi pake t kebijakan di bawah Inpres no. 6/2007 ini merupakan necessary but not sufficient condition. tidak adanya sanksi bagi rencana tindak yang tidak selesai. Setiap kebijakan yang ada dalam lampiran Inpres itu dirinci dalam bentuk program. Kedua. Ismoyo (1996). yaitu pro-growth. BPS (1999). Saya kira inilah saatny a melakukan akselerasi tripple track strategy. Inpres ini merupakan paket kebijakan "jilid II" dari paket kebijakan se rupa tahun 2006 yang dituangkan dalam Inpres No. pro-poor.3/ 2006 menunjukkan adanya sejumlah kelemahan: pe rtama. Kajian Pengembanga n Polo Industri Pedt. Bachruddin. Biro Pusat Statistik. Kelima. keluaran dan sasaran yang terukur dengan jelas. Dilihat dari cakupan dan subst ansinya. apalagi daerah. Dennis (1982). lemahnya sosialisasi paket kebijakan terutam a bagi pelaku bisnis dan pemda. Ketiga.komprehensif. "Small Industry in Developing Countries" . Yogyakarta. LPM UGM dan Balitbang Departemen Koperasi & PPK. Mudrajad Kuncoro. yang terli hat dalam rakor bulanan yang digelar oleh kantor Menko Perekonomian. Zaenal. DAFTAR PUSTAKA Anderson. 3/2006. Zuprizal. tindakan. dan pro-j obs. disert ai target waktu penyelesaian yang telah dilengkapi dengan menteri/kepala LPND ya ng bertanggungjawab untuk mengimplementasikannya. syarat perlu tapi belum mencukupi untuk menggerakkan sekto r riil dan UMKM. November. World Development. mulai terlihatnya reform fatigues di kalanga n para penanggung jawab program maupun birokrat di departemen teknis. Jakarta. Keempat. 133 . Paket kebijakan di bawah Inpres No.aan Melalui Koperasi dan Usaha Kecil. Tridjoko Wismu Murti. Budi Praset yo Widyobroto. Statistical Yearbook of Indo nesia 1998.

disertasi Ph. 25-26 February. Posthumus Institute for Econom ic and Social History on the theme Economic Growth and Institutional Change in I ndonesia during the 19" and 20th Centuries.php?sid=129397. http:/. Kuncoro. www.com. Andryan Se tyadharma (2008). Rabu 4 J uli 2007.co. Evaluasi Paket Kebijakan Inpres No 6/2007 Bidang Perbaikan Ikl im Investasi.J. ILO (International Labour Organization) (2007). Jakarta: Partne rship. Otonomi dan Pembangunan daerah. Kedaulatan Rakyat.id/â ¢ebi detail. Strategi dan Peluang. Keda ulatan Rakyat. Mudrajad (2006) . International workshop organised by the. Mudrajad (2002). Mudrajad (200 8). "A Quest For Industrial Districts: An Empirical Study of Manufacturing Industries in Jav a". dan Kebijakan. Ekonomika Pembangunan: Teori. Perencan aan. Hal (1998). "Moratorium Kredit UMKM". Kasali. "Grameen Bank dan Lembaga Keuangan Mikro". Kuncoro. The Fall of S oeharto. Kedaulatan Rakyat. Un iversity of Melbourne. Mudrajad (2007).investorindonesia. May (eds.co. Hill. Kuncoro. UPP STIM YKPN. Rhenald (2007). Jakarta. Masalah. Mudrajad (2007).php? sid=163203&actmenu=46. N. http://www. Kuncoro. Mudrajad (2008).kr. http:. 20 Juni 2007. Sabtu 2 Agustus 2008. 134 . Zainal Arifin. dalam Mari Pangestu (ed. Small-Scale Business Development and Competition Poli cy. Kuncoro. Kuncoro.co. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama. Reformasi. Melbourne. Yogyakart a.kr.D. Department of Management.Harianto. The Promotion of Sustainable Enterprises. dan Infrastruktur. "Ayat-ayat Krisis UMKM". Farid (1996). 13 Mei 2008. "The Indonesian Economy: The Strange and Su ddenth Death of a Tiger" dalam Forrester. "Study on Subcontracting in Indonesian Domestic Firms". Jakarta. Mudrajad (2000).W. Mudrajad (2004). Kuncoro. Pemberdayaan UMKM.id. Bathurst: Crawford House Publishing Pty Ltd. "Akselerasi Sektor Riil dan UMKM".id/ article. Perdagaugan. Geoff & R. Mudrajad. The Economics of Industrial Agglomeration and Clustering. Kuncoro. Amsterdam. Geneva: Internat ional Labour Office.). Investor Daily. Kuncoro. Re-code Your Change DNA: Membebaska n Belenggu-belenggu Malik Meraih Keberanian dan Keberhasilan Dalam Pembaharuan. www. tidak dipublikasikan. Erlangga.). CSIS. http://www. 19761996: the Case of Indonesia (Java).kr.

kerjasama Depkop & PPK dengan PPE-FE-UGM. Agustus.7. Januari.Kuncoro. "Peta Bisnis Aliansi Strategik". E konomi". Nopember. Mudrajad. Mudrajad dan Anggito Abim anyu (1995). XXVI. Kuncoro. Hotel Radisson.10/IV/1995. Mudrajad (1997). Mudrajad (1996).1. dan R. Kelola (Gadjah Mada University Business Review). tahun II. "Tantangan dan Peluang Ekonomi Kerakyatan dalam Era Globalisasi. Laporan Akhir Pengembangan Pusat Konsultasi Pengusaha Kecil Tahun Anggaran 1995/1996 Propinsi DIY. Masykur Wiratmo. Bambang Kustituanto. Mudrajad (1995). Yogyakarta. Yogyakarta. Kuncoro. no. Kuncoro. makalah dalam Diskusi Ekonomi Kerakyatan. 5 135 . Manajemen dan Usahawa n Indonesia. "Struktur d an Kinerja Ekonomi Indonesia Setelah 50 tahun Merdeka: Adakah Peluang Usaha Keci l?". "Pengem bangan Industri Pedesaan Melalui Koperasi dan Usaha Kecil: Suatu Studi Kasus di Kalimantan Timur". vol. Jurnal Ekonomi. Agus Sartono (1 996). Kuncoro. "Struktur dan Kinerja Industri Indonesia dalam Era Deregulasi dan D ebirokratisasi". Kuncoro. diselenggarakan oleh Harian P ikiran Rakyat. Analisis CSIS. Mudrajad (1994). no.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful