BAB I PARADIGMA PEMBANGUNAN EKONOMI Orang sering berbicara tentang "pembangunan" .

Mungkin pertanyaan yang muncul adalah: apa sebenarnya yang dimaksud dengan pem bangunan? Bab ini akan mencoba menjawab pertanyaan tersebut dengan menelusuri ev olusi makna pembangunan sejak ekonomi pembangunan lahir, yakni setelah Perang Du nia II. 1.1. PANDANGAN TRADISIONAL Pada mulanya upaya pembangunan negara sedang berkembang (NSB)' diidentikkan dengan upaya meningkatkan pendapatan per kapita, atau populer disebut strategi pertumbuhan ekonomi. Semula banyak yang beranggapa n yang membedakan antara negara maju dengan NSB adalah pendapatan rakyatnya. Den gan ditingkatkannya pendapatan per kapita diharapkan masalah-masalah seperti pen gangguran, kemiskinan, dan ketimpangan distribusi pendapatan yang dihadapi NSB d apat terpecahkan, misalkan melalui apa yang dikenal dengan "dampak merembes ke b awah" (trickle down effect. Indikator berhasil tidaknya pembangunan semata-mata dilihat dari meningkatnya pendapatan nasional (GNP) per kapita riil, dalam arti tingkat pertumbuhan pendapatan nasional dalam harga konstan (setelah dideflasi d engan indeks harga) harus lebih tinggi dibandingkan tingkat pertumbuhan penduduk . Fenomena ini terlihat dari pemikiran-pemikiran awal mengenai pembangunan, sepe rti teori Harrod-Domar, Arthur Lewis, WW Rostow, Hirschman, RosensteinRodan, Nur kse, Leibenstein. Seperti judul buku karya monumental Arthur Lewis, pembangunan ekonomi dianggap merupakan kajian The Theory of Economic Growth. lni mencerminka n munculnya teori pertumbuhan dan pertumbuhan ekonomi sebagai tujuan utama dari setiap kebijakan ekonomi di negara manapun. Sepanjang dasawarsa 1950-an, sementa ra pembangunan ekonomi diidentikkan dengan pertumbuhan ekonomi, ekonomi pembangu nan sebagai cabang ilmu ekonomi yang relatif baru memusatkan perhatian pada fakt or-faktor penentu pertumbuhan ekonomi (Arndt, 1996: h. 6). Meskipun banyak varia n pemikiran, pada dasarnya mereka sependapat bahwa kata kunci dalam pembangunan adalah pembentukan modal. Oleh karena itu, strategi .pembangunan yang dianggap p aling sesuai adalah akselerasi pertumbuhan ekonomi dengan mengundang modal asing dan melakukan industrialisasi. Diundangnya modal asing nampaknya diilhami oleh kisah sukses Rencana Marshall dalam membantu pembangunan negara Eropa Barat dan Jepang. Adapun industrialisasi yang memusatkan perhatian pada sektor-sektor mode rn dan padat modal nampaknya tidak dapat dipisahkan dari pengalaman Inggris seba gai negara industri pertama. 1

Tak pelak lagi konsep dan strategi pembangunan semacam itu dijiwai oleh pengalam an negara-negara Eropa. Inilah yang disebut eurocentrism, Eropa sentris, dalam p emikiran awal tentang pembangunan (Hettne, 1991). Paham developmentalis gaya Ero pa ini ditandai dengan munculnya kapitalisme, naiknya masyarakat borjuis sebagai kelas sosial yang dominan, relatif berhasilnya revolusi industri, dan diperkena lkannya "pertumbuhan" sebagai ide perkembangan masyarakat. Tradisi pemikiran aru s utama (mainstream) Eropa diterjemahkan lebih lanjut oleh: model liberal, strat egi kapitalis negara (state capitalist strategy), model Soviet, dan Keynesianism e. Model liberal mendasarkan diri pada berlangsungnya mekanisme pasar, industria lisasi yang bertahap, dan perkembangan teknologi. Strategi kapitalis negara meru pakan reaksi terhadap paradigma modernisasi. Model Soviet pada dasarnya merupaka n perkembangan lebih lanjut dari strategi kapitalis negara, yang nampaknya diilh ami oleh kisah sukses Soviet dalam program industrialisasinya. Aliran Keynesian merupakan manifestasi dari kapitalisme yang telah mencapai tahap dewasa, yang in tinya menghendaki campur tangan pemerintah dalam upaya meningkatkan pertumbuhan ekonomi. Sekitar tahun 1960, ketika data makro yang dapat diperbandingkan secara internas ional telah tersedia, Maddison, Denison, dan para ahli lain menemukan bahwa perb edaan dalam pembentukan modal dan faktor input tidak banyak menjelaskan mengapa timbul perbedaan dalam pertumbuhan ekonomi. Ternyata baru disadari ada banyak fa ktor yang tadinya dianggap "residual", ikut berperanan dalam meningkatkan pertum buhan ekonomi. Residual di sini dikaitkan dengan investasi modal manusia dan kem ajuan teknologi. Pentingnya investment in man, yang menekankan peranan faktor pe ndidikan dan budaya, merupakan tahap pertama menuju konsep pembangunan yang sema kin tidak murni ekonomi lagi. 1.2. PARADIGMA BARU DALAM PEMBANGUNAN Pada akhir d asawarsa 1960-an, banyak NSB mulai menyadari bahwa "pertumbuhan" (growth) tidak identik dengan "pembangunan" (development). Pertumbuhan ekonomi yang tinggi, set idaknya melampaui negara-negara maju pada tahap awal pembangunan mereka, memang dapat dicapai namun dibarengi dengan masalah- masalah seperti pengangguran, kemi skinan di perdesaan, distribusi pendapatan yang timpang, dan ketidakseimbangan s truktural (Sjahrir 1986, bab1). Fakta ini pula agaknya yang memperkuat keyakinan bahwa pertumbuhan ekonomi merupakan syarat yang diperlukan (necessary) tetapi t idak mencukupi (sufficient) bagi proses pembangunan (Esmara 1986: h.12; Meier, 1 989: h.7). Pertumbuhan ekonomi hanya mencatat peningkatan produksi barang dan ja sa secara nasional, sedangkan pembangunan berdimensi lebih luas dari sekedar pen ingkatan pertumbuhan ekonomi. 2

Hal inilah yang menandai dimulainya masa pengkajian ulang tentang arti pembangun an. Myrdal (1968), misalnya mengartikan pembangunan sebagai pergerakan ke atas d ari seluruh sistem sosial. Ada pula yang rnenekankan pentingnya pertumbuhan deng an perubahan (growth with change), terutama perubahan nilai-nilai dan kelembagaa n. Kondisi ini dilandasi argumen adanya dimensi kualitatif yang jauh lebih penti ng dibanding pertumbuhan ekonomi. Meier (1989: hal. 6) lebih khusus mengatakan : ... perhaps the definition that would now gain widest approval is one the defin es economic development as the process whereby the real per capita income of a c ountry increases over a long period of time--- subject to the stipulations that the number of people below an 'absolute poverty line does not increases, and tha t the distribution of income does not more unequal." Dengan kata lain, pembangun an ekonomi tidak lagi memuja GNP sebagai sasaran pembangunan, namun lebih memusa tkan perhatian pada kualitas dari proses pembangunan. Selama dasawarsa 1970-an, redefinisi pembangunan ekonomi diwujudkan dalam upaya meniadakan, setidaknya men gurangi, kemiskinan, pengangguran, dan ketimpangan. Dudley Seers (1973) menunjuk 3 sasaran utama pembangunan dengan mengatakan : ".. What has been happening to poverty ? What has been happening to unemployment ? What has been to inequality ? If all three of these have declined from high levels then beyond doubt this ha s been a period of development for the country concerned. If one or two these ce ntral problems have been growing worse, especially if all three have it would be strange to call the result 'development , even if per capita income doubled'. T idak terlalu berlebihan apabila banyak yang memandang bahwa definisi Seers berar ti meredefinisi pembangunan dalam konteks tujuan sosial. Dengan cepat dimensi ba ru mengenai pembangunan mendapat sambutan dari penganjur strategi yang berorient asi kesempatan kerja, pemerataan, pengentasan kemiskinan, dan kebutuhan pokok. O bsesi Seers nampaknya didorong oleh keprihatinannya melihat kenyataan pembanguna n di NSB. Timbul kesan bahwa is "tidak sabar" melihat implementasi strategi anti kemiskinan, orientasi pada kesempatan kerja, dan pemerataan pembangunan, yang s ering hany a berhenti sebagai retorika politik para penguasa di NSB semata. In' pula agaknya yang mendorong munculnya konsep dan strategi pembangunan yang baru. Sejarah mencatat munculnya paradigma baru dalam pembangunan seperti pertumbuhan dengan distribusi, kebutuhan pokok (basic needs), pembangunan mandiri (self-rel iant development), pembangunan berkelanjutan dengan perhatian 3

air. atau ada yang menyebut sebagai orientasi populisme dalam pembangunan. Todaro (1989.terhadap alam (ecodevelopment). h . Ada yang berpendapat. self. 89). Barangkali menarik untuk menelusur ide d asar masing-masing paradigma tersebut. kebutuhan pokok mencakup keb utuhan minimum konsumsi (pangan.esteem (kebutuhan untuk dihargai). sandang. pendekatan lain leb ih mementingkan apa yang dapat membuat hidup ini lebih berharga. pada hakekatnya menganjurkan NSB agar tidak hanya memusatkan perha tian pada pertumbuhan ekonomi (memperbesar "kue" pembangunan) namun juga mempert imbangkan bagaimana distribusi "kue" pembangunan tersebut. yaitu life-sustenance (ke mampuan menyediakan kebutuhan dasar). Dengan kata lain .Strategi Pembangunan Mandiri Strategi pembangunan mandiri agaknya berkaitan dengan strategi pertumbuhan dengan distribusi. investasi modal manusia. konsep kebutuhan pokok harus dipandang sebagai dasar utama dalam strategi pemb angunan ekonomi dan sosial. A. Pada dekade 1970 -an. t ransportasi umum. Sementara itu. C. misalnya. menekankan 3 nilai dasar pembangunan. sektor informal dan pengusaha ekono mi lemah. strategi ini populer sebagai antitesis dari paradigma dependensia dan tidak 4 . syarat utamanya adalah orientasi pada sumber Jaya ma nusia.Strategi Pertumbuhan Dengan Distribusi Para proponen strategi "pertumbuhan dengan distribusi". Dengan kata lain. B. d an freedom (kebebasan untuk memilih)â ¢ Strategi pemenuhan kebutuhan pokok dengan demi kian telah mencoba memasukkan semacam "jaminan" agar setiap kelompok sosial yang paling lemah mendapat manfaat dari setiap program pembangunan. Situasi ini bisa diwu judkan dengan kombinasi strategi seperti peningkatan kesempatan kerja. atau "redistribusi dari pertumbuhan". namun s trategi ini memiliki pola motivasi dan organisasi yang berbeda. fasilitas pendidikan). pembangunan yang memperhatikan ketimpangan penda patan menurut etnis (ethnodevelopment). perhatian pada petani kecil. Hanya perdebatan yang sering muncul adalah berkisar mengenai apa yang dim aksud dengan kebutuhan pokok.S trategi Kebutuhan Pokok Embrio pendekatan kebutuhan pokok bermula dari program I LO (International Labour Organization) tentang "World Development" pada tahun 19 69 dan "Dekiarasi tentang Prinsip-Prinsip dan Program Aksi Strategi Kebutuhan Po kok dalam Pembangunan" pada Konferensi Dunia tentang kesempatan kerja pada tahun 1976. perumahan) dan jasa umum (kesehatan.

hutan. Perjuangan mengejar kemandirian pada tingkat loka l. Dengan menggunakan ekstrapolasi ekonometrika dari data statistik. Para pendukung utama pembangunan berkelanjutan lalu menunjuk pentingn ya strategi ecodevelopment. Lester Brown (1981) menunjuk 4 area utama dari sudut pandang sustainabilitas. Dengan demikian konsep "mandiri" telah muncul sebagai konsep strategis dalam forum internasional sebelum konsep "Tata Ekonomi Dunia B aru" (NIEO) lahir dan menawarkan anjuran kerjasama yang menarik dibanding menari k diri dari percaturan global. industrialisasi. ini memperkuat pand angan bahwa strategi pembangunan di banyak negara seakan "buta" terhadap Iingkun gan hidup. Sinyal pertama mengenai batas pertumbuhan adalah laporan dari Club of Rome pada tahun 1972. is u polusi (udara. tanah). memburuknya sistem biologis utama (perikanan laut. Pemikiran mereka pun mendapat banyak kritik baik secara metodologis maupun asumsinya bahwa sumberdaya terbatas jumlahnya. dampak "rumah kaca".bisa dilepaskan dari pengalaman India pada masa Mahaatma Gandhi. serta kurangnya bahan pangan. Konsep Mao lebih menekankan pad a usaha-usaha mandiri dengan sedikit atau tanpa integrasi dengan luar. padang rumput. dikembangkan teknologi "pribumi" daripada mengimpor teknologi dari luar. Konsep "mandiri" dibawa ke tingkat internasional oleh negara-negara non-blok pada perte muan di Lusaka tahun 1970.Strategi Pembangunan Berkelanjutan Pembangunan berkelanj utan. ancaman perubahan iklim (polusi. Ke ndati demikian. di lain kasus kad ang bersifat reaktif. muncul ketika isu mengenai lingkungan muncul pada dasa warsa 1970. yaitu: tertingg alnya transisi energi. kadang kala bersifat revolusioner. produksi ma kanan. atau sustainable development. dan dielaborasi lebih lanjut pada konferensi non-blok di Georgetown tahun 1972. dan deplesi sumberdaya terus tidak berubah. Tanzania di baw ah Julius Nyerere. akhir-akhir ini isu mengenai lingkungan hidup semakin gencar den gan adanya laporan mengenai menipisnya lapisan ozon di atas planet bumf kita. air. batas pertumbuhan atas planet ini akan dicapai dalam waktu kurang dari 100 tahun mendatang". lahan pertanian). Namun ternyata r amalan Club of Rome tidak terbukti. nasional. dan Gina di bawah Mao Zedong. yang intinya mengatakan bahwa masyarakat dan ekosite m di suatu daerah harus berkembang bersama-sama menuju produktivitas dan pemenuh an kebutuhan yang 5 . Pada gilirannya. erosi tanah. dan penggundulan hutan.polusi. Pesan utamanya adalah bahwa tata dunia baru atau lama tid ak akan menguntungkan apabila sistem biologis alam yang menopang ekonomi dunia t idak diperhatikan. penulis buku The Limits to Growth menyimpulkan bahwa "bila tren d pertumbuhan saat ini dalam penduduk dunia. D. atau regional. dsb). Di Cina.

1.a desir able objective for the countries and people of the Third World. Isu antar etnis (rasial . balk dari sisi ekologi maupun sosial.lebih tinggi. hingga paradigma baru dalam pembangunan seperti pertumbuhan dengan distribusi. konflik atas bagaimana pemeri ntah mendistribusikan sumberdaya. Tidak ada "bahasa penjelas" yang sama untuk konflik antar etnis ini. Sejauh ini baru Malaysia yang secara terbuka m emasukkan konsep ethnodevelopment dalam formulasi Kebijaksanaan Ekonomi Baru-nya (NEP). konflik yang berkaitan dengan proyek infrastruktur (yang mempe ngaruhi ekosistem suatu daerah). Seja rah pemikiran mengenai pembangunan memang diwarnai dengan evolusi makna pembangu nan. Boleh dikata hampir setiap orang peduli dengan pembangunan sebagai tujuan yang diinginkan bagi negara dan penduduk di negara D unia Ketiga. dan semakin intens terjadi di Asia Selatan pada da sa warsa 1980-an. namun yang paling utama strategi pembangunan ini harus berkelanjut an. NEP dirancang dan digunakan untuk menjamin agar buah pembangunan dapat d irasakan kepada semua warga negara secara adil. bermula muncul dari konflik antaretnis. pembangun an mandiri (self-reliant development). et. E. konflik akibat ketimpangan pembangunan.Strategi Berdimensi Etnik Strategi e thnodevelopment. But so diverse h ave the interpretations of 'development' become that one sometimes wonders wheth er it now stands for anything more substantial than everyone's own utopia". kebutuhan pokok (basic needs). Dari pemujaan terhadap pertumbuhan. pembangunan berkelanjutan dengan 6 . konflik mengenai ide dasar strategi pembangunan nasional. suku) berkembang di Afrika. 1990). Hal ini sering terjadi terutama pada masyarakat di mana terdap at multi etnis.. dan masyarakat pribumi Malaysia (Faaland.even economic development -. Namun setidaknya konflik yang biasa muncul adalah: konflik atas penguasaan sumber Jaya alam. Fenomena inilah bar angkali sebab utama adanya data mengenai distribusi antaretnis dalam setiap publ ikasi data Malaysia.al. Namun begitu banyak interpretasi mengenai "makna pembangunan" sehin gga orang kadang-kadang bertanya-tanya apakah pembangunan hanya tidak lebih meru pakan pandangan utopis setiap orang? Persis apa yang dikatakan oleh Arndt (1996) : "Almost everyone considers development -. balk is dari komunitas Cina. Ind ia.3. PARADIGMA PEMBANGUNAN Demikian banyak makna pembanguna n yang diturunkan oleh para ahli berdasarkan pengalaman di berbagai negara dan s tudi empiris yang mereka lakukan.

Akhir-akhir ini mulai antre be berapa paradigma lain. Wilber (ed. Dudley. 1989. London. dalam Charles K. 7 . Hendr a.. Jakarta.W. Sjahrir.). dan pembangunan masyarakat. Faaland. bab1. Jakarta. Longman. Jakarta. New York & London. H. Bjorn. New York. erilaku. Hurst & Company. Artinya kontribusinya mengenai pembangunan tidak berbicara dalam konteks aktual (das sein. J. Nampaknya tidak salah apabila disimpulkan bahwa pembangunan harus dilihat sebagai proses yang multidimensi yang mencakup tidak hanya pembangunan Ekonomi. 14 Mei 1996. Strategies.perhatian terhadap alam (ecodevelopment). ba b 2 dan 5. Panglaykim Memorial Lecture. what to be) namun lebih membahas apa yang seharusnya dilakukan (das s ollen. namun juga mencakup perubahan. Rais Saniman. kita mau tidak mau harus mengkombi nasikan berbagai paradigma tersebut dalam formulasi maupun implementasi kebijaks anaan. Politik Perencanaan Pembangunan: Teori. pembangunan regional/s pasial..perubahan utama dalam struktur sosial. editio n. 1991. seperti: wanita dalam pembangunan. Longman Scientific and Technical. The Search for A New Develo pment Paradigm. The Meaning of Development". pembangunan yang memperhatikan ketimpa ngan pendapatan menurut etnis (ethnodevelopment). 1986. 1986. dan kelembagaan. what ought to be). New York. Essex.R.. Peter J. banyak yang memandang berb agai paradigma baru tentang pembangunan ini masih berada pada dataran normatif. Developme nt Theory and the Three World. Atau alternatifnya. d alam Michael P. 1990. Kendati demikian. Random House. Seers. 5th. Henr iot. "Development Alternatives: Problems. Oxford University Press. The Struggle for Economic Development: Readings in Problem and Policies. Esmara. Parkinson. PT Gramedi a. the Political Economy of Developmen t and Underdevelopment. bab 1. Hettne. Ekonomi Politik K ebutuhan Pokok: Sebuah Tinjauan Prospektif. Kebijaksanaan dan Prospek. 1983. Leading Issues in Economic Development. LP3ES. and Values". Just. Meier. Todaro (ed). Growth and Ethnic Inequality: Malaysia's New Economic Policy. Gerald M.A. BACAAN YANG DIANJURKAN Arndt. 1973.

Dengan kata lain. Yang dimaksud dengan proses adalah berlangsungnya kekuatan-kekuat an tertentu* yang sating berkaitan dan mempengaruhi. Bila pertumbuhan penduduk meleb ihi atau sama dengan pertumbuhan pendapatan nasional maka pendapatan per kapita bisa menurun atau tidak berubah.BAB II INDIKATOR PEMBANGUNAN Pembangunan selalu menimbulkan dampak. Dewasa i ni. paradigma tradisional mengenai pemba ngunan cenderung mengidentikkan pembangunan dengan pertumbuhan ekonomi. dan jelas ini tidak dapat disebut ada pembangun an ekonomi. Proses pembangunan menghendak i adanya pertumbuhan ekonomi yang diikuti dengan perubahan (growth plus change) dalam: Pertama. Kurun waktu yang panjang menyiratkan bahwa kenaikan pendapatan per k apita perlu berlangsung terus menerus dan berkelanjutan. Kedua. PERLUNYA INDIKATOR PEM BANGUNAN Sebagaimana dijelaskan pada Bab 1. pembangun an ekonomi lebih dari sekedar pertumbuhan ekonomi. balk lewat regulasi maupun reformasi kelembagaan itu sendiri. Tugas yang paling berat ada lah menjaga sustainabilitas pembangunan dalam jangka yang lebih panjang. 8 . Oleh karena itu diperlukan indikator sebagai tolok ukur terjadi nya pembangunan. balk positif maupun negatif. 1995: hi). dengan catatan bahwa jumlah penduduk yang hidup di bawah "garis kemiskin an absolut" tidak meningkat dan distribusi pendapatan tidak semakin timpang (Mei er. Penekanan pada kenaikan pendapatan per kapita (GNP riil dibagi jum lah penduduk) dan tidak hanya kenaikan pendapatan nasional riil menyiratkan bahw a perhatian pembangunan bagi negara miskin adalah menurunkan tingkat kemiskinan. 2. Pendapatan nasional rill (atau GNP pada harga konstan) yang meningkat seringkal i tidak diikuti dengan perbaikan kualitas hidup. perubahan struktur ekonomi: dari pertanian ke industri atau jasa .1. Bab ini akan menguraikan mengenai indikator-indikator ekonomi m aupun sosial yang dikenal dalam ekonomi pembangunan. definisi pembangunan ekonomi yang paling banyak diterima adalah: suatu prose s di mana pendapatan per kapita suatu negara meningkat selama kurun waktu yang p anjang. Rencana pembangunan lim a tahun baru merupakan awal dari proses pembangunan. perubahan kelembagaan.

Kesejahteraan ekonomi mengandung perti mbangan nilai mengenai tingkat distribusi pendapatan yang diinginkan. GDP per kapita dengan Purchasing Power Parity. Bank Dunia (1995) mengklasifikasikan negara berdasarkan tingkatan GNP per kapitanya sebagai berikut: 1.Klasifikasi Negara Untuk tujuan operasional dan analitikal. kriter ia utama Bank Dunia dalam mengklasifikasikan kinerja perekonomian suatu negara a dalah GNP (Gross National Product.Tambahan catatan berupa rekor kemiskinan absolut dan distribusi pendapatan agakn ya menu njuk pentingnya kualitas proses pembangunan. sebagaimana dijelaskan dalam Bab 1. menyerap tenaga kerja. Variabel yang termasuk sebagai indikator ekonomi adalah: GNP per kapita. INDIKA TOR EKONOMI A. 9 . Klasifikasi negara berdasark an kelompok pendapatannya dapat saja berubah pada setiap edisi publikasi Bank Du nia. (2) indikator sosial. terutama dalam World Development Report yang terbit setiap tahun. atau Produk Nasional Bruto) per kapita. dan menurunkan ketimpangan distribusi pendapatan. laju pertumbuhan ekonomi. Dengan demikian. Mengingat adanya berbagai maca m dimensi pembangunan. Dengan demikian. Peningkatan pendapatan riil per kapita hanyalah merupakan se bagian dari indeks kesejahteraan ekonomi. GNP p er kapita adalah GNP dibagi dengan jumlah penduduk. Karena itu .2. Negara berpenghasilan rendah (low-income economies) adalah kelompok negara-ne gara dengan GNP per kapita kurang atau sama dengan US$ 695 pada tahun 1993. Variabel yang termasuk indikator sosial adalah HDI (Human Development I ndex) dan PQLI (Physical Quality Life Index) atau Indeks Mutu Hidup. Yang penting tidak hanya me ningkatkan "kue nasional" namun juga bagaimana "kue" tersebut didistribusikan se cara merata atau tidak. fokus tujuan pembangu nan di masing-masing negara dapat berbeda satu sama lain. karena be rubahnya GNP per kapita. Pembangunan bukan merupakan tujuan melainkan hanya slat sebagai proses instrumental untuk menurunkan kemiskinan. 2. kesejahteraan ekonomi tidak hanya mempertanyakan keadilan distributif namun ju ga membicarakan bagaimana komposisi "kue nasional" dan bagaimana kue ini dinilai oleh masyarakat. kita harus mengartikan pembangunan ekonomi sebagai kemajuan ekonomi atau kenaikan kes ejahteraan ekonomi. indikator-indikator kunci pembangunan secara garis besar pada dasarnya dapat diklasifikasikan menjadi: (1) indikator ekonomi.

Dalam publikasi la ris Bank Dunia yang berjudul The East Asian Miracle: Economic Growth and Public Policy (1993). 19 93). rendahnya tingkat kesehatan dan pendidikan. dan rentan dalam hubungan internasional (Todaro. newly industrializing economies (NIEs). (6) dominan.626.2. yang biasanya diidenti kkan dengan Hongkong. Kedua. Negara-negara ini ti ngkat pertumbuhan ekonominya amat cepat dan mulai mendekati ranking negara berpe nghasilan tinggi.626 atau lebih pada tahun 1993. Negara berpenghasilan rendah dan menengah k adang disebut negara sedang berkembang (developing countries). dan Taiwan. negara sedang berkembang (NSB) memiliki karakteristik y ang relatif sama. 10 .785 namun kurang dari US$ 8. dengan ciri penghasila n rendah. 38-54). tergantung. yang diidentifikasi karena memiliki ciri umum yang sama. Singapura. Negara berpenghasilan menengah (middle-income economies) adalah kelompok nega ranegara dengan GNP per kapita lebih dari US$ 695 namun kurang dari US$ 8. (5) ketergantungan terhadap produksi perta nian dan ekspor produk primer demikian signifikan. Klasif ikasi menurut penghasilan tidak selalu mencerminkan status pembangunan (IBRD. termasuk negara-negara yang datanya langka dan deng an penduduk kurang dari 1 juta jiwa. 1994: h. (3) pertumbuhan penduduk da n beban ketergantungannya tinggi. 3. Dalam kelompok negara berpenghasilan menengah dapat dibagi menjadi: (1) negara berpenghasilan menengah papan bawah (lower-middle-income economies) dengan GNP per kapita antara US$ 695 hingga US$ 2. yaitu: Pertama. Negara berpenghasllan tinggi (high-Income economies) adalah kelompok negara-n egara dengan GNP per kapita US$ 8. (2) tingkat produktivitasnya rendah. diperkenalkan beberapa sebutan. Jelas ini sekadar untuk memudahkan klasifikasi. Korea Selatan. yaitu: 1) High Performing Asian Economies (HPAEs). yaitu: (1) tingkat kehidupannya rendah. seperti pertumbuhan ekspor yang amat cepat. Namun pada umumnya. Dalam kelompok HPAEs ini dapat dibagi lagi menurut lamanya catatan sukses mempertahankan pertumbuhan ekonomi. ketimpangan distribusi pendapatan tinggi. Dunia (World) mel iputi semua negara di dunia. (4) tingkat pengangguran dan setengah mengangg urnya tinggi dan cenderung meningkat. â ¢ dan Thailand. 4. dan tidak ada maksud untuk menggeneralisasi bahwa semua negara dalam kelompok ini mengalami tahapan pembangunan yang sama. 4 Macan Asia (The Four Tigers). Malaysia. yang meliputi I ndonesia. (2) negara berpenghasilan menengah papan atas (upper-middle-income economies) dengan GNP per kapita lebih dari US$ 2.785.626 pada tahun 1993.

Bhutan. Tidak seperti NSB Iainnya. Turki. Gambar 2. Polandia. Pakistan.5 persen per tahun. Negara-negara ini rata-rata pertumbuhan GDP riilnya 5. dan Afrika Utara mencakup negara berpenghasilan menengah di kawasan Eropa (Bulgaria. Myanmar. pertumbuhan HPAEs sangat berlainan dengan NSB pada umumnya karena pertumbuhan GDP-nya jauh di atas rata-rata negara berpe nghasilan tinggi. dan bekas Yugoslavia) dan semua negara di kawasan Afrika utara da n Timur Tengah. R umania. 1993: h. namun tidak termasuk Mauritius. 3) Asia Selatan mencakup Bangladesh. ada 13 NSB yang GDP pe r kapitanya menurun. Delapan negara HPAEs memang tumbuh Iebih pesat dan kons isten dibanding kelompok negara mana pun di dunia sejak tahun 1960 hingga 1990.1 menunjukkan hubungan antara GDP per kapit a relatif terhadap GDP Amerika Serikat pada tahun 1960 dan pertumbuhan GDP per k apita dari 119 negara selama periode 1960 hingga 1985 (IBRD. 5) Eropa. Gambar 2. 6) Amerika Latin dan Karibia terdiri atas semua negara Amerika dan Karibia di se belah selatan Amerika Serikat. Yunani. Hubungan antara pertumbuhan GDP dan GDP per kapita 11 . Nepal. India. Negar a sedang berkembang (NSB) agaknya tidak dapat mengejar negara maju dilihat dari sisi pertumbuhannya karena 70 persen NSB tumbuh Iebih lambat dibanding rata-rata negara berpenghasilan tinggi. dan Seychelles. Hungaria. Timur Tengah.1. Lebih memprihatinkan lagi. 4) Sub-Sahara Afrika meliputi semua negara di sebelah selatan gurun Sahara terma suk Afrika Selatan. serta Afghanistan. 29). da n Srilangka. Reunion.2) Asia Timur mencakup semua negara berpenghasilan rendah dan menengah di kawasa n Asia Timur dan Tenggara serta Pasifik. HPAEs mulai mengejar negara-negara industri. melebi hi semua negara di kawasan Amerika Latin dan Sub-Sahara Afrika (kecuali Botswana yang kaya dengan berlian). Czechoslovakia. Portugal. Kendati demikian.

Oleh karena itu. purchasing power parity (PPP) dianjurkan sebagai alat pengkonversi yang lebih tepat dalam mengkonversi GNP dal am mata uang lokal ke dollar. GNP per kapita menurut PPP umumnya lebih tinggi di banding GNP per kapita dengan kurs resmi. Faktor konversi. adalah jumlah unit mata uang suatu negara yang diperlukan untuk membeli sejumla h barang dan jasa di pasar domestik sama dengan daya beli satu dolar di AS. 12 . et. Di negara-negara yang hargaharg a domestiknya relatif rendah. Irving Kravis. yang mungkin lebih rendah atau lebih tinggi d aya belinya untuk membeli barang dan jasa di negara lain pada kurs valas yang be rlaku.GNP Per Kapita Dengan Purchasing poower Parity Perbandingan antarnegara berdas arkan GNP per kapita seringkali menyesatkan. Hal ini disebabkan adanya pengkonve rsian penghasilan suatu negara ke dalam satu mata uang yang sama (baca: dolar AS ) dengan kurs resmi. 1982.al. (1975.B. Penyesuaian at as data GDP ini mencerminkan daya bell satu unit mata uang lokal untuk membeli b arang dan jasa di negara tersebut. Tabel 2. Terlihat bahwa daya bell mata uang NS B biasanya lebih tinggi dibanding kurs resminya. sehingga kesalahan sering muncul saat dilakukan p erbandingan kinerja antarnegara. Kurs nominal ini tidak mencerminkan kemampuan relatif daya beli mata uang yang berlainan. Nilai GNP per kapita dengan PPP dipero leh dengan memasukkan faktor konversi tertentu yang didesain untuk menyamakan da ya bell mata uang di masing-masing negara. 1987) mem pelopori penggunaan PPP riil dalam perbandingan GDP antar negara.1 menunjukkan GNP per kapita menurut kurs pasar yang berlaku dan GNP per kapita dengan PPP di beberapa NSB. 1978. yang tidak lain PPP.

1.850 31.130 2. Pada tahun 1970. dan masalah distribusi pendapatan.330 3. tr ansaksi barang bekas.970 2.220 17. INDIKATOR SOSIAL Indikator Sosial Sebagai Alternatif Indikator Pembangunan GNP per kapita sebagai ukuran tingkat kesejahteraan mempunyai banyak kelemahan. Kurs Pasar vs PPP (dalam US Dollar ) 2.560 19.350 6. GNP Per Kalipta NSB tahun 1993.170 2.150 2.110 2. jasa ibu rumah tangga.930 8. yang terdiri atas: 9 indikator sosial dan 7 indikator ekonomi (Iihat Tabel 2.260 3920 5. namun akhir nya hanya 16 13 . Semula ada 73 indikator.140 7. UNRISD (United Nations Research Institute on Social Developmen t) mengembangkan indikator sosial-ekonomi.250 17.490 GNP / Kapita PPP 900 1. Kelemahan umum yang sering dikemukakan adalah tidak memasukkan produksi yang tid ak melalui pasar seperti dalam perekonomian subsisten.850 Tabel 2.510 20.220 2.Negara India Pakistan China Srilanka Indonesia Filipina Papua Nugini Thailand Tu rki Brazil Malaysia Argentina Australia Hongkong Singapura GNP / Kapita menurut Kurs Pasar 180 300 430 600 740 850 1.2).670 2.910 21. A kibatnya bermunculan upaya untuk memperbaiki maupun menciptakan indikator lain s ebagai pelengkap ataupun alternatif dari indikator kemakmuran yang tradision al.060 19.500 18. kerusakan lingkungan.3.370 7.930 3.

Dapat disimpulkan bahwa pembangunan sosial berlangsung lebih cepat dibandin g pembangunan ekonomi sampai dengan tingkat US$ 500 per kapita (dengan tahun das ar 1960). Persentase penerima gaji dan upah ter hadap angkatan kerja Sumber: UNRISD. Ditemukan juga bahwa indeks pembangunan ini mempun yai korelasi yang lebih erat dengan GNP per kapita negara maju dibanding dengan NSB. Konsumsi listrik. Harapan hidup 2. dsb. Analisis faktor digunakan untuk menguji interdependensi antara variabel sosial dan politik dan tingkat pembangunan ekono minya. Perdagangan luar negeri per kapita 11. ekonomi. dan politik. Konsumsi e nergi. Rata-rata jumlah orang per kamar 5.000 atau lebih Kon sumsi protein hewani per kapita per hari 3. ekuivalen kg batubara per kapita Persentase sektor manufaktur dalam GDP 10. kg per kapita 9. Tentunya ranking b erbagai negara dengan indeks pembangunan ini berbeda dengan ranking dengan mengg unakan ukuran GNP per kapita. Indeks pembangunan tersebut ternyata mempunyai korelasi yang lebih erat dengan indikator sosial dan ekonomi dibanding korelasi GNP per kapita dengan indikator yang sama. Mereka menyimpulkan berbagai korelasi terjadi antara variabel-variabel ku nci tertentu dengan pembangunan ekonomi. Konsumsi baja. Produksi pertan ian per pekerja pria di sektor pertanian Persentase tenaga kerja pria dewasa di pertania n 7. Indikator-indikator ini dipilih atas dasar ting ginya korelasi dalam membentuk indeks pembangunan dengan menggunakan "bobot timb angan" yang berasal dari berbagai tingkat korelasi. air. dan politik. Persentase penduduk usia kerja dengan listrik. 1970 Studi lain yang dilakukan oleh Irma Adelman dan Cynthia Mor ris (1967) mengukur kinerja pembangunan dalam dimensi pola interaksi antara fakt or sosial. ekonomi. Mereka mengklasifikasikan 74 NSB berdasarkan 40 variabel sosial. gas. kw per kapita 8. Indeks Mutu Hidup (PQLI) 14 . Sirkulasi surat kabar per 1000 penduduk 6.indikator tersebut yang dipilih. Kombinasi tingkat pendidikan dasar dan menengah Rasio pendidikan luar sekolah 4. Daftar Indikator Kunci Pembangunan Sosial-Ekonomi versi UNRISD 1. Persentase penduduk di daerah sebanyak 20.

dan (3) penghasilan yang diukur dengan pend apatan per kapita riil yang telah disesuaikan. dan 199 0 (Ardani. rekor PQLI di raih oleh DKI Jakarta (72 dan 86). DI Yogyakarta dan Sulawesi Tenggara merupakan propinsi yang memiliki pe ningkatan PQLI tercepat sebesar 3. Pada tahun 1980 dan 1990. kinerja ekonomi suatu negara dinyatakan dalam skal a 1 hingga 100. Human Development Index (HDI) Upaya yang pali ng ambisius dan terbaru dalam menganalisis perbandingan status pembangunan sosia l ekonomi. PQLI di Indonesia meningkat dari 45 pada tahun 1971. angka kematian. sedangkan 100 adalah kiner ja terbaik. UNDP menerbitkan se ri tahunan dalam publikasi berjudul Human Development Reports. Bila dibandingkan antar pr opinsi. dengan memberikan bobot yang sama untuk masing-masing indikator. HDI mencob a meranking semua negara dalam skala 0 (sebagai tingkatan pembangunan manusia ya ng terendah) hingga 1 (pembangunan manusia yang tertinggi) berdasarkan atas 3 tu juan atau produk pembangunan. di antara negara-nega ra ASEAN. Seperti halnya POLI. yang diterbitkan sejak tahun 1990. Begitu kinerja ekonomi suatu negara dinyatakan dalam skala 1 hingga 100 untuk masing-masing indikator tersebut. dan naik menjadi 73 pada tahun 1990. 1980. balk di NSB maupun negara maju telah dilakukan oleh UNDP (United Nati ons Development Program) secara sistematis dan komprehensif. adalah penyusu nan dan perbaikan Human Development Index (HDI).0864 masing-masing untuk tahun 1971. yaitu: (1) usia panjang yang diukur dengan tingkat harapan hidup.6 persen. PQLI merupakan indeks komposit (gabungan) dari 3 indikator. (2) pengetahuan yang diukur dengan rata-rata tertimbang dari jum lah orang dewasa yang dapat membaca (diberi bobot dua pertiga) dan rata-rata tah un sekolah (diberi bobot sepertiga). Namun umumnya PQLI mengalami peningkatan untuk masing-m asing propinsi.6 persen per tahun. yaitu : harapan hidup pada usia satu tahun. dan 199 0. 1996: h. dengan rata-rata kenaikan per tahun selama 1971-1990 sebesar 2. Hal yang menarik dan berharga dari laporan ini. dan 0. Morris memperkenalkan Physical Quality Life Index (PQLI). di mana 1 merupakan kinerja terjelek. Kendati demikian. Sebagai contoh. 1980. U ntuk masing-masing indikator. PQLI Indonesia termasuk yang paling rendah.1224. terdapat begitu besar variasi PQLI meskipun dengan tingkat yang menurun sebesar 0.3 menyajikan indikat or PQLI untuk masing-masing propinsi di Indonesia pada tahun 1971.1162. 0. maka indeks kompositnya dapat dihitu ng dari rata-rata penilaian atas ketiga indikator. yang lazim diterjemahkan sebagai Indeks Mut u Hidup (IMH). Tabel 2. PQLI tert inggi dipegang oleh Sulawesi Utara (62). 28). dan tingkat melek huruf. menjadi 57 pada tahun 19 80. yaitu 15 . Pada tahun 1971.Untuk mengukur tingkat kesejahteraan masyarakat. Morris D.

Dengan demikian. seperti Gabon.8 berarti amat memperhatikan pembangunan manusianya. Sementara di antara negara-negara maju. Guyana. Negara dengan nilai HDI di bawah 0. Brunei.0 hingga 0. Memang suatu per tumbuhan ekonomi adalah penting untuk mempertahankan kesejahteraan rakyatnya. dan Srilangka. Barbados adalah N SB dengan nilai HDI tertinggi. ranking HDI semua negara dibagi menjadi 3 kelompok. Keadaan ini memperlihatkan bahwa negara tersebut telah ban yak menggunakan pendapatannya untuk meningkatkan kapabilitas manusianya. Cuba. memil iki ranking HDI jauh di atas ranking penghasilannya (ditunjukkan oleh tanda posi tif pada kolom ke-5). ranking t ertinggi diraih oleh Kanada. Perlu dic atat bahwa HDI mengukur tingkat pembangunan manusia secara relatif.5 bera rti tidak memperhatikan pembangunan manusianya. negara-negara lain. Akan tetapi yang lebih penting adalah baga imana pertumbuhan ekonomi digunakan untuk memperbaiki kapabilitas manusianya.80 hingga 1. Na m un pertumbuhan bukan merupakan akhir dari pembangunan manusia. yaitu: (1) negara dengan pembangunan manusia yang rendah (low human development) bila nilai HDI berkisar antara 0. Namibia. Indonesia. Kolumbia.4 menunjukkan perhitungan HDI dan rankingnya. Arab Saudi. Pertumbuhan eko nomi hanyalah satu alat yang penting.disesuaikan menurut Jaya bell mata uang masingmasing negara dan asumsi menurunny a utilitas marginal penghasilan dengan cepat. HDI memfokuskan pada tujuan akhirpembangunan (usia panjang.51 hingga 0. Amartya Sen.79 berarti mulai memperhatikan pembangunan manusianya. Sementara itu. dan pilihan material) dan tidak sekadar alat pembangunan (hanya GNP per kapita). dan (3) negara dengan pembangunan manusia yang tinggi (high human development) bila nila i HDI berkisar antara 0. Madagaskar. Selain itu. penge tahuan. Dengan 3 ukuran pembangunan ini da n menerapkan suatu formula yang kompleks terhadap data 160 negara pada tahun 199 0. Costa Rica.79. B eberapa negara. negara dengan nilai HDI lebih dari 0. seperti China. Negara-nega ra tersebut berarti memiliki potensi untuk menggunakan pendapatannya guna memper baiki kesejahteraan rakyatnya. tanda negatif menunjukkan sebaliknya. Perbedaan rankin g GNP per kapita dengan ranking HDI yang positif (lihat kolom ke-5) menunjukkan bagaimana ranking relatif suatu negara meningkat bila digunakan HDI sebagai indi kator sebagai ganti dari GNP per kapita. (2) negara dengan pembangunan manusia yang menengah (med ium human development) bila nilai HDI berkisar antara 0. da n pada gilirannya bagaimana rakyat menggunakan kapabilitasnya. dan Uni Emir at Arab.0. bukan absolu t. ranking pendapatan per kapitanya jauh melebihi ranking HDI. negara dengan nilai HDI 0. Tabel 2.51 hin gga 0. indikator HDI jauh melebihi pertumbuhan konvensional.50. dan ke-8 oleh AS. seor ang ahli 16 . Angola. ke-2 oleh Swiss.

kita harus selalu ingat bahw a indeks ini merupakan indikator pembangunan yang "relatif". tetapi datanya tidak tersedia). Jakarta.. The East Asian Miracle: Economic Growth and Public Policy. pembe ntukan HDI sebagian didorong oleh strategi politik yang didesain untuk memfokusk an perhatian pada aspek pembangunan kesehatan dan pendidikan. menegaskan bahwa pembangunan ekonomi seharusnya diterjemahkan sebagai suatu proses ekspansi dari kebebasan positif yang dinikmat i oleh masyarakat. Pertama. sehi ngga bila semua negara mengalami peningkatan pada tingkat tertimbang yang sama. 36. Indikator So sial Wanita 1994. Yogyakarta. Meier. ketiga indi kator tersebut merupakan indikator yang bagus namun bukan ideal (misalnya. dsb. IBRD. bab 1. bebas bepergian menengok teman. Kuncoro. partisipasi dalam masyarakat. Discussion Paper No. dari kekurangan gizi. 1995. Profit Kesejahteraan Rakyat 1995. Biro Pusat Statistik. "Entitlement" adalah sejumlah komoditi yang d apat diperoleh seseorang dalam masyarakat dengan menggunakan seluruh hak dan pel uang yang dia miliki. bab 10. B. Regional Development in Indonesia: Issues and C hallenges. 17 . Oxford. Kedua. BACAAN YA NG DIANJURKAN Ardani. Oxford University Press. Keempat. . tim P BB ingin menggunakan status nutrisi bagi anak berusia di bawah lima tahun sebaga i indikator kesehatan yang ideal. nilai HDI suatu negara mungkin membawa dampak yang kurang menguntungkan karena mengali hkan fokus dari masalah ketidakmerataan dalam negara tersebut. Nagoya. 1993. bukan absolut. Todaro (1995: h. Januari 1996. misalnya bebas dari kelaparan. edisi ke-6. Mudrajad. Manajemen Keuangan lntemasional: Pengantar Ekonomi dan Bisnis Global. Oxford University Press. "Kapabilitas" diartikan sebagai mencakup apa yang dapat ma upun tidak dapat dilakukan. 1996. memperoleh tempat tinggal yang memadai. Ketiga. 1996. Nagoya University. Leading Issues in Economic De velopment. Gerald M. Kendati HDI memberikan wawasan yang Iebih luas menge nai pembangunan. 65) memberikan catatan berikut. Jakarta.ekonomi dari Harvard. alternat if pendekatan yang memandang ranking GNP per kapita. bab I. New York. dan kemudian melengkapinyad engan indikator sosial lain masih dihargai. Sen menginterpretasikan pembanguna n sebagai proses yang memperluas entitlement dan kapabilitas manusia untuk hidup sesuai dengan yang diinginkannya. Kelima. la mengamati bahwa masalah riil di NSB adalah menurunnya kual itas kehidupan daripada rendahnya pendapatan. Amiruddin. maka negara miskin tidak akan memperoleh penghargaan atas kemajuannya. BPFE. April 1996.

teori-teori pembangunan yang ada. pentahap an tersebut adalah mutlak 18 . TEORI PERTUMBUHAN LINEAR Model pert umbuhan linear mendominasi perkembangan teori pembangunan sejak pertama kali dik emukakan oleh Adam Smith dan mengalami puncak kejayaannya dengan lahirnya teori pertumbuhan yang dikemukakan oleh Rostow. yang umumnya di benua Eropa dan Amerika. dan sulit untuk mengelompokkan teori-teori tersebut pada suatu aliran tert entu. Lepas dari permasalahan te rsebut. khususnya di awal perkem bangan cabang ilmu ekonomi ini.1. sesu ai dengan pengelompokkan yang dilakukakan oleh Todaro (1991. Tahapan-tahapan ters ebut merupakan proses urutan seperti halnya aliran air sungai. Perbedaan tata nilai. Harus diakui. Demikian pul a halnya dengan ekonom Barat yang mencoba memformulasikan strategi pembangunan d alam suatu kerangka teori yang sistematis.BAB III TEORI PEMBANGUNAN Begitu kompleksnya pembangunan menyebabkan hingga saat ini tidak ada satu teori pembangunan yang tepat diterapkan bagi semua negara di dunia. terdapat banyak teori pembangunan yang telah diformulasikan oleh para ek onom. Pola pikir dan buah pikiran seorang pakar tentunya tidak akan pernah l epas dari tata nilai dan kondisi Iingkungan yang ada di sekitarnya. sistem sosial. Itulah sebabnya mengapa teori-teori pembangunan yang merupakan hasil pemikiran ekonom B arat. menyebabkan penerapan teori-teori pe mbangunan yang ada banyak yang menjumpai "kegagalan". Artinya. 1994). dan kondisi Iingkun gan antara negara maju. Teori-teori pembangunan yang dikemukak an oleh Adam Smith. pada banyak kasus ternyata kurang tepat diterapkan begitu saja di negara s edang berkembang (NSB). (4) Teori Neo-Klasik. Dalam bab ini akan ditelusuri teori-teori dasar pembangunan yang ada. 3. Karl Marx. Dasar pemikiran dari model ini adalah evolusi proses pembangunan yang dialami oleh suatu negara selalu melalui tahapan-tahapan tertentu. dikenal 4 pendek atan yang dominan yaitu: (1) Teori pertumbuhan linear (linear stages of growth). di mana dasar dari teori yang mereka hasilkan hanya dapat terpenu hi bila teori tersebut diterapkan di Barat. dengan NSB yang umumnya terletak di benua Afrika dan Asia. sangat didominasi oleh hasil pemikiran Para ekon om Barat. khususnya pembangunan ekonomi. Dalam pembah asan mengenai teori pembangunan. dan Rostow termasuk dalam model pertumbuhan linea r. (3) Teori revolusi ketergantungan internasion al (dependensia). (2) Teori pertumbuhan struktural.

mengharuskan masyarakat untuk tidak lagi melakukan semua pekerjaan secara sendiri. 3. Timbulnya peningkata n kinerja pada suatu sektor akan meningkatkan daya tank bagi pemupukan modal. di mana tahap-tahap pemba ngunan tersebut harus dilalui satu-persatu secara berurutan menuju tingkat yang semakin tinggi. masyarakat akan bergerak dari masyarakat tradisional ke masyarakat modern yang kapitalis. Teorl Pertumbuhan Adam Smith Adam Smith membagi tahapan p ertumbuhan ekonomi menjadi 5 tahap yang berurutan. yaitu para pengusaha dan tuan t anah. dalam upaya meningkatkan produktivitas tenaga kerja. Menurut Adam Smith proses pertumbuhan akan terjadi secara simult an dan memiliki hubungan keterkaitan satu dengan yang lain. me ndorong kemajuan 19 . modal memegang peranan yang penting. sementara di sisi lain kemampuan menabung masyarakat dit entukan oleh kemampuan menguasai dan mengeksplorasi sumberdaya yang ada. Dalam pembangu nan ekonomi.1. Modal tersebut diperoleh dari tabungan yang dilakukan masyarakat. Menurut teori ini. Pekerja merupakan satu-satunya pelaku ekonomi yang tidak memiliki kemampua n menabung karena mereka tidak mampu menguasai dan mengusahakan sumber-sumber ek onomi yang ada. yaitu dimulai dari masa perbu ruan. Menurut teori ini. perdagangan dan yang terakhir adalah t ahap perindustrian. Pembagian kerja merupakan titik central pembahasan dal am teori Adam Smith. dan (2) penemuan mesin -mesin yang menghemat tenaga. Adanya akumulasi modal yang dihasilkan dari tabungan. Meningkatny a kompleksitas aktivitas ekonomi dan kebutuhan hidup di masyarakat. Artinya bahwa orang yang mampu menabung pada dasarnya adalah kelompok masyarakat yang m enguasai dan mengusahakan sumber-sumber ekonomi.harus dilalui oleh suatu negara yang sedang membangun.1. maka pelaku ekonomi dapat menginvestasikannya ke sektor dalam upaya untuk meningkatkan penerimaannya. pertumbuhan ek onomi akan semakin terpacu dengan adanya sistem pembagian keraja antarpelaku eko nomi. Spesialisasi akan terjadi jika tahap pembangunan e konomi telah menuju ke sistem perekonomian modern yang kapitalistik. namun leb ih ditekankan pada spesialisasi untuk menggeluti bidang tertentu. Perl u dicatat bahwa akumulasi modal dan investasi sangat bergantung pada pada perila ku menabung masyarakat. Dalam hal ini Adam Smith memandang pekerja sebagai salah satu input (masuk an) bagi proses produksi. masa bercocoktanam. akumulasi m odal akan menentukan cepat atau lambatnya pertumbuhan ekonomi yang terjadi pada suatu negara. Spesia lisasi yang dilakukan oleh tiap-tiap pelaku ekonomi tidak lepas dari faktor-fakt or pendorong yaitu: (1) peningkatan keterampilan pekerja. Dalam prosesnya. masa berternak.

tanpa ke mungkinan terjadinya gelombang konjungtur. yaitu p ada tingkat pertumbuhan sama dengan nol. Teori pembangunan Adam Smith tidak dapat dilepaskan dari evolusi pentahap an proses pembangunan yang terjadi secara berjenjang dan harus dilewati satu per satu. (4) semua sumberdaya memiliki mobilitas s empurna. yaitu bahwa pasar yang dihadapi adalah persaingan semp urna. akumulasi modal. Sangat tidak realistis jika para pekerja diasumsikan tidak memiliki kema mpuan untuk menabungkan uangnya dari sisa pendapatan 20 . Hal ini akan mendoro ng pertumbuhan ekonomi semakin pesat. Pentahapan ini merupakan hal yang nampaknya tidak dapat ditawar-tawar lagi. s ehingga akumulasi modal akan mengalami penurunan pula. Proses pertumbuhan ekonomi sebagai suatu " fungsi tujuan" pada akhirnya harus tunduk terhadap "fungsi kendala" yaitu keterb atasan sumberdaya ekonomi. Pasar persaingan sempurna pada dasarnya tidak pernah ada di dunia. (5) balk pembeli maupun penjual memiliki informasi sempurna mengenai ko ndisi pasar (Awh. Persaingan sempurna mempunyai karakteristik: (1) ada banyak penjual dan pe mbeli di pasar. 242-3). bahkan dalam perkembangannya hal tersebut justru menurunkan tingkat pertumbuhan ekonomi. Jika investasi rendah. Jika hal tersebut terjadi berarti laju investasi juga akan rendah dan akan menurunkan pertumbuhan ekonomi . Pertumbuhan ekonomi akan mulai mengalami perlambatan jika daya dukung alam tidak mampu lagi mengimbangi aktivitas ekonomi yang ada. dan investasi tetap terjalin dan berkaitan e rat satu sama lain. (3) tidak ada kolusi antara penjual maupun pembeli. Teori ter sebut menetapkan bahwa akhir dari kapitalisme adalah kondisi stasioner.teknologi. kemudian secara lambat mulai peningkatan. Akhirnya kapitalisme dalam hal ini akan berada pada kondisi stasioner. dan memperluas pasar. Penurunan pertumbuhan ekonomi akan terus terjadi karena mat a rantai tabungan. 1976. meningkatkan spesialisasi. (2) produk yang diperjualbelikan bersifat homogen. Semua tahap pembangunan di atas tidak l epas dari kondisi dasar . K eterbatasan sumberdaya merupakan faktor yang dapat menghambat pertumbuhan ekonom i tersebut. Suatu hal yang mustahil bagi perekonomian untuk berada pad a kondisi di mana semua asumsi dasar persaingan sempurna berlaku. Penetapan asum si tidak realistis ini adalah salah satu kelemahan teori pembangunan versi Adam Smith. Kritik lain mengenai teori pertumbuha n Adam Smith ini adalah pembagian kelompok masyarakat yang secara eksplisit dapa t menabung dan tidak dapat menabung hanya didasarkan pada jenis usaha yang digel utinya. maka kemampuan menabung akan turun. Kemungkinan terjadinya gelombang konjungtur dalam proses pertumbuhan ekon omi nampaknya merupakan hal yang tidak mungkin menurut teori tersebut. laju pertumbuhan akan terj adi secara cepat sampai titik optimal tertentu dan akan menurun hingga mencapai titik nol. yaitu dimulai suatu titi k tertentu. Demikian pula halnya dengan tingkat pertumbuhan. h.

sementara di sisi lain laba pengusaha demikian besarnya sehingga mereka mampu mengakumulasikan modalnya. pada masa kapitalisme ini para pengusaha merupakan pihak yang memiliki tingkat posisi tawar menawar tertinggi relatif terhadap pihak lain khususnya kaum buruh . Konsekuensi logis penggunaan asumsi dasar tersebut a dalah kemungkinan terjadinya eksploitasi besar-besaran yang dilakukan para pengu saha terhadap buruh. Artinya dalam sistem ekonomi kapitalis posisi tawarmenawar (bargaining position) pekerja terhadap pengusaha relatif sangat kecil. Asumsi ini menunjukkan "kekejaman" teori Adam Smith deng an sistem ekonomi kapitalisnya. untuk kemudian modal tersebut diinvestasikan ke sektor riil. Adam Smith mengabaikan peran perbankan sebagai badan penghimp un dan penyalur surplus Jana dari masyarakat. Masyarakat feodalisme mencerminkan kondisi di mana perekonomian y ang ada masih bersifat tradisional.yang dibelanjakan. J ika hal ini terjadi maka konsekuensinya adalah terjadi ekploitasi para pengusaha terhadap para pekerja. Let ak ketidakadilan sistem tersebut adalah pada diskriminasi kesempatan untuk menab ung. 3. pada masa itu pemupukan modal kemudian menjad i kata kunci bagi upaya peningkatan 21 . Seperti halnya pada masa feodal . kapitalisme dan kemudian yang terakhir adalah sosialisme. Suatu hal yang "menyakitkan" bahwa dalam suatu s istem yang diciptakan manusia terjadi eksploitasi manusia atas manusia lain. Dalam h al ini secara implisit Adam Smith menyatakan bahwa gaji pekerja demikian kecilny a. yaitu di mulai dari feodalisme. Dalam tahap ini tuan tanah merupakan pelaku ekonomi yang memiliki posisi tawar menawar tertinggi relatif terhadap pelaku eko nomi lain. Mark menyesuaikan asumsinya terhadap cara pandang ekonomi Klasik ketika itu de ngan memandang buruh sebagai salah satu input dalam proses produksi. Perkembangan teknologi yang ada menyebabkan terjadinya pergeseran di sektor ekonomi. Evolusi perkembangan masyarakat ini akan sejalan dengan proses pembangunan yang dilaksanakan. yan g merupakan kaum kapitalis. dan juga mengabaikan adanya kecend erungan orang untuk menabung meski pendapatannya relatif tidak besar. Teori Pembangunan Karl Marx Karl Marx dalam bu kunya Das Kapital membagi evolusi perkembangan masyarakat menjadi tiga.2. yang berkaitan erat dengan diskriminasi kemampuan penguasaan faktor produks i dan konsumsi sumberdaya. Adam Smith mengasumsikan hanya para tuan tanah dan pengusaha yang mampu melakukan aktivita s menabung. Artinya bur uh tidak memiliki posisi tawar menawar sama sekali terhadap para majikannya. Di sisi lain. di mana masyarakat yang semula agraris-feodal kemudian mulai ber alih menjadi masyarakat industri yang kapitalis.1.

maka untuk memaksimalkan keuntungan. Nilai lebih akan meningkat jika upah diturunkan atau pr oduktifitas dinaikkan dengan asumsi semua faktor lain tidak berubah. Pada kenyataannya nilai upah yang diberikan jauh lebih kecil dibandingkan dengan produktivitas buruh tersebut dalam suatu p roses produksi. A rtinya upah akan sama dengan nilai sarana kehidupan yang diperlukan seorang buru h untuk mempertahankan kehidupannya. Sepanjang teori pembangunan yang dikemukakannya. Asumsi lain yan g mendukung adalah bahwa di antara kedua kelompok masyarakat tersebut sebenarnya terjadi konflik kepentingan di antara mereka. Artinya penetapan upah tersebut tidak lebih besar daripada kebutuhan hidup p ada tingkat subsisten. Fase ini merupakan tonggak baru bagi munculnya suat u tatanan sosial alternatif di samping tata masyarakat kapitalis. Menurut Marx. Eksploitasi terhadap kaum buruh dan peningkatan pengangguran yang terjadi akibat subtitusi tenaga manusia dengan in put modal yang padat kapital. 22 . yaitu : masyarakat pemilik tanah dan masyarakat bukan pemilik tan ah. Selisih antara nilai produktivitas buruh dan nilai tenaga buruh yang dinyatakan dalam bentuk upah inilah yang kemudian disebut dengan nilai lebi h. para pengusaha yang menguasai faktor produksi akan berusaha memaksi malkan keuntungannya dengan menginvestasikan akumulasi modal yang diperolehnya p ada input modal yang bersifat padat kapital. Nilai buruh yang dinyatakan dalam bentuk upah mer upakan jumlah tenaga yang diperlukan untuk menghasilkan tenaga buruh tersebut. Marx selalu mendasarkan teorinya pada kondisi pertentangan antarkelas dal am masyarakat. Hal ini merupakan dampak dari asumsi dasar bahwa buruh di pandang seperti input yang lain. kemampuan para pengusaha untuk melakukan akumulasi modal teletak pada kemampuan mereka dalam memanfaatkan nilai lebih dari produkti vitas buruh yang dipekerjakan. Karena t ingkat keuntungan yang diperoleh oleh para pengusaha adalah fungsi dari nilai le bih. Nilai lebih merupakan keuntungan yang diperoleh oleh para pengusaha. Penurunan u pah buruh nampaknya sulit untuk dilakukan mengingat tingkat upah yang terjadi pa da masa kapitalisme semata-mata diberikan agar buruh tetap hidup dan dapat beker ja. Oleh karena itu dalam pola berpik irnya. pada akhirnya akan menyebabkan revolusi sosial yan g dilakukan oleh kaum buruh. masyarakat pemilik modal dan masyarakat bukan pemilik modal. Sejalan dengan perkembanga n teknologi. para pengusaha tidak akan segan-segan mengeksploitasi pekerja. Marx selalu m endasarkan argumennya pada asumsi bahwa masyarakat pada dasarnya terbagi menjadi dua golongan. yaitu tata mas yarakat sosialis.pendapatan yang lebih besar di masa yang akan datang.

Jadi Marx d alam hal ini telah menciptakan dunia nilai yang abstrak yang membuat teorinya ag ak "sukar dan kaku" untuk memahami bekerjanya kapitalisme (Jhingan. Marx menawarkan suatu sistem baru yaitu sistem perekonomian sosialis.151) Kritik lain adalah adanya keharusan perubahan dari masyarakat kapitalis menuju sosialis hanya dapat dilakukan dengan jalan revolusi. Akumulasi ketertindasan kaum buruh dalam pereko nomian kapitalis yang terus dieksploitasi. yang pada akhirnya akan diinvestasikan kembali oleh para pengusaha. karena meman g di dunia nyata kita berkutat dengan harga yang terwujud dan nyata. dan Jaya bell masyarakat akan semakin menurun akibat semakin banyaknya ti ngkat pengangguran yang terjadi. maka Marx kemudian menyimpu lkan bahwa kapitalisme akan berakhir dengan timbulnya revolusi sosial yang dilak ukan oleh kaum buruh. Dalam dunia nyata tidak dikenal adanya istilah nilai lebih ini. h. Jika diasumsikan bahwa kualitas barang yang d iperdagangkan adalah homogen. Hal tersebut dapat dilakukan dengan investasi khu susnya pada barang modal yang bersifat padat kapital untuk meningkatkan produkti vitas kerja tersebut. 1988. terutama pada sistem produksi dan pemilikan sumberdaya. Prasyarat untuk kondisi sema cam itu adalah sistem produksi yang semakin efisien dan produktif. maka produsen hanya dapat melaksanakan strategi pe nurunan harga output sebagai upaya menguasai pasar. Sem akin sengitnya persaingan antarpara pemilik modal akan menjurus pada upaya mere but pangsa pasar sebesar-besarnya. Pada tahap ini. Konsekuensinya pengusaha akan menurunkan penggunaan tenaga buruh dan diganti dengan penggunaan mesin-mesin yang lebih produktif dan efisie n. Kritik terhadap t eori Marx terutama tertuju pada asumsi adanya nilai lebih dalam suatu perekonomi an. Akumulasi modal d alam sistem kapitalis akan dig anti dengan pemerataan kesempatan pemilikan sumbe rdaya. Revolusi ini akan membawa perubahan mendasar pada segala b idang. individualis dalam masyarakat kapitalis akan berubah menjadi sistem kemas yarakatan yang sosialis. Akibat penggunaan mesin-mesin tersebut tingkat pengangguran akan semakin meni ngkat. sebagai alternatif dari sistem kapitalis yang saa t itu merupakan satu-satunya sistem perekonomian yang dikenal.Upaya untuk memaksimalkan keuntungan yang nantinya akan diakumulasikan dalam ben tuk kapital. Dengan kata l ain. peningkatan produktivitas kerja dan efisiensi produksi merupakan hal yang t idak dapat ditawar-tawar lagi. meningkatnya pengangguran. dan ditamb ah konflik antarkelas masyarakat yang terus terjadi. hanya dapat dilakukan dengan cara meningkatkan produktivitas kerja. Peningkatan efisiensi kerja ini tidak terlepas dari kondisi pasar yang kian kompetitif. Haruskah suatu upaya untuk menuju kepada suatu kondisi yang "dianggap" baik harus dilakukan dengan revolus i yang tentunya akan 23 .

Dengan mengamati proses pembangunan di negara. Dengan adanya kritik dan sinyalemen terhadap perkiraan dampa k negatif sistem kapitalis. 3. Artinya Marx tidak menginginkan keberadaan par a pengusaha yang berjaya di masa kapitalis untuk menghirup udara sosialisme. Itulah sebabnya mengapa Marx mendiskripsikan bahwa kehancuran kapitalis yang akan digantikan oleh sosia lis harus melalui suatu revolusi. terlebih dahulu harus melewati tahap depre si ekonomi akibat kapitalisme yang merajalela tanpa kendali. 24 . Pa da dekade 1950-1960. teori Rostow banyak mempengaruhi pandangan dan persepsi par a ahli ekonomi mengenai strategi pembangunan yang harus dilakukan. Kendati demikian. ternyata Marx justru banyak menyumbang terhadap kelanggengan kehidupan ekonomi kapitalis. men gingat revolusi kaum buruh jelas-jelas melawan kaum pengusaha tersebut. Marx menunjukkan kepada dunia bahwa tahap pembangunan ekonomi tidaklah semulus yang diperkirakan sebelumnya.negara Eropa dari mulai abad pertengahan hingga abad modern. Marx merupakan orang pert ama yang memberikan gambaran sisi negatif dari sistem kapitalisme jika sistem te rsebut diterapkan berdasarkan perhitungan ekonomi semata tanpa mempertimbangkan unsur kemanusiaan dan nilai sosial kemasyarakatan.1. terutama terhadap buruh. Toeri Marx tentang depresi ekonomi inilah yang pada akhirnya justru memperkuat argumentasi Keynes y ang merekomendasikan peningkatan peran pemerintah bagi upaya mengatasi depresi e konomi yang ada. Untuk mencapai perekonomian sosialis.3.membawa korban yang besar? Apakah sudah tidak ada lagi kejernihan pemikiran dari kedua belah pihak untuk berdialog satu dengan yang lain? Kekakuan Marx dalam me ndeskripsikan proses perubahan dari masyarakat agraris-feodal menuju masyarakat kapitalis dan terakhir adalah masyarakat sosialis. hingga dampak negatif yang digambarkan Marx dapat dihindari. nampaknya sangat diwarnai sub yektivitas dan kebencian Marx terhadap sistem kapitalis. Teori Pertumbuhan Rostow Teori pertumbuhan ekonomi yang dikemukakan oleh Walt Whitman Rostow merupakan garda depan dari linear stage of growth theory. maka kemudian Rostow memformula sikan pola pembangunan yang ada menjadi tahap-tahp evolusi dari suatu pembanguna n ekonomi yang dilakukan oleh negara-negara tersebut. Teori Rostow didasarkan pada pengalaman pembangunan yang telah dialami oleh negara-negara maj u terutama di Eropa. maka hal tersebut justru me njadi masukan bagi ekonom kapitalis untuk menyempurnakan sistem yang ada.

dan lembaga keuangan resmi sebagai pengge rak Jana masyarakat mulai bermunculan. industri-industri bermuncul an. Masih rendahnya pem anfaatan teknologi dalam proses produksi menyebabkan barangbarang yang diproduks i sebagian besar adalah komoditas pertanian dan bahan mentah Iainnya. perekonomian mulai bergerak dinamis. (3) Ta hap tinggal landas. Perubaha n paradigma berfikir nampaknya merupakan istilah yang Iebih tepat untuk menilai fenomena itu.Rostow membagi proses pembangunan ekonomi suatu negara menjadi lima tahap yaitu: (1) Tahap perekonomian tradisional. Berikut ini akan diuraikan masing-masing tahapan ini. Dalam perekon omian semacam ini sektor pertanian memegang peranan penting. yaitu tahap tinggal landas. Sektor industri mulai berkembang di samping sektor pe rtanian yang masih memegang peranan penting dalam perekonomian. (5) Tahap konsumsi massa tinggi . diperlukan adanya semang at baru dari masyarakat. kedua. Struktur s osial kemasyarakatan dalam sistem masyarakat seperti ini bersifat berjenjang. (2) Tahap prakondisi tinggal landas. Menurut pengamatan Rostow. Tahap kedua ini merupakan tahap yang menentukan bagi persiapan menuju tahap-tahap pembangunan be rikutnya. Pemanfaatan teknologi dalam sistem produksi masih sangat terbatas. Tahap ini merupakan tonggak dimulainya industria lisasi. (4) Tahap menuju kedewasaan. perkembangan teknologi yang pesat. serta terjadi investasi besar-besaran ter utama pada industri manufaktur. terjadi revolusi teknologi di bidang pertanian untu k memenuhi peningkatan permintaan penduduk kota yang semakin 25 . Semangat ini telah membalikkan semua tata nilai masyarakat Eropa saat itu yang cenderung statis menjadi sangat dinamis. Sebagai tahapan yang berfungsi mempersiapk an dan memenuhi prasyaratprasyarat pertumbuhan swadaya. Ke mampuan penguasaan sumberdaya yang ada sangat dipengaruhi oleh hubungan darah da n keluarga. peningkatan investasi di sektor infrastruktur/prasarana terutama p rasaran transportasi. lndustrialisasi dapat dipertahankan jika dipenuhi prasyarat sebagai beri kut: pertama. Tahap II. Tahap L Perekonomian Tra disional Perekonomian pada masyarakat tradisional cenderung bersifat subsisten. negara-negara di Eropa menga lami tahap kedua ini kira-kira pada abad ke-1 5 sampai ke-1 6. Pada saat itu ter jadi terjadi perubahan radikal dalam masyarakat Eropa dengan munculnya semangat Renaissance. Prakondisi Tinggal Landas Tahap kedua dari proses pertumbu han Rostow ini pada dasarnya merupakan proses transisi dari masyarakat agraris m enuju masyarakat industri. Pada tahap ini.

Tinggal Landas Tin ggal landas merupakan tahap yang menentukan dalam keseluruhan proses pembangunan dalam keseluruhan proses pembangunan bagi kehidupan masyarakat. Dalam tahap ini akan terjadi suatu revolusi i ndustri yang berhubungan erat dengan revolusi metode produksi. Prasyarat keti ga merupakan "iklim" yang memungkinkan terpenuhinya prasyarat pertama dan kedua terpenuhi. Kenaikan laju investasi produktif antara 5-10 persen dari pendapatan nasional. sosial. Tanpa terpenuhinya prasyarat ketiga. Jika sektor manufaktur berkembang pesat. Hadirnya secara cepat kerangka politik. Pengalaman nega ra-negara Eropa menunjukkan bahwa tahap ini berlaku dalam waktu yang relatif pen dek yaitu kira-kira dua dasawarsa. ketiga. 3 . Di samping itu sektor manufaktur adalah sektor yang memiliki keterkaitan terbesar dengan se ktor-sektor lain. perluasan impor. dan dampak eksternalnya ak an memberikan daya dorong pada pertumbuhan ekonomi. khususnya sektor manufaktur. Perkembangan salah satu atau beberapa sektor manufaktur penting dengan laju per tumbuhan tinggi. dan institusion al yang menimbulkan hasrat ekspansi di sektor modern. praktis prasyarat pertama dan ke dua tidak akan terpenuhi. Prasyarat ketiga ini menunjukkan kesadaran Rostow bahw a perubahan perekonomian pada dasarnya merupakan konsekuensi dari perubahan moti f dan inspirasi nonekonomi dari seluruh lapisan masyarakat. Proses pembangunan dan in dustrialisasi yang berkelanjutan akan terjadi dengan menanamkan kembali keuntung an yang diptroleh dalam sektor yang menguntungkan. Artinya perubahan ek onomi dalam skala besar tidak akan terjadi selama tidak ada iklim kondusif 26 . Tahap lll. Prasyarat ketiga merupakan kondisi yang harus dipen uhi agar prasyarat pertama dan kedua dapat terpenuhi dengan baik. termasuk impor modal. 2. yang dibiayai oleh produks i yang efisien dan pemasaran sumber alam untuk ekspor. Pada akhirnya pertumbuhan y ang tinggi pada semua sektor ini akan berakibat pada perkembangan GNP yang lebih tinggi dari kondisi semula. maka sektor-sektor la in pun akan terpengaruh untuk berkembang pesat pula. Kenaikan laju investasi produktif antara 5 -10 persen dari GNP pada akhirnya akan menyebabkan pertumbuhan yang tinggi pada sektor-sektor dalam perekonomian. Tinggal landas di definisikan sebagai tiga kondisi yang sating berkaitan sebagai berikut : 1.besar. Prasyarat pertama dan kedua sangat berkaitan erat satu sama lain. Sektor manufaktur diharapkan memiliki tingkat pertumbuhan tertinggi karena sektor tersebut merupa kan indikator bagi perkembangan industrialisasi yang yang dilakukan.

Penerapan kebijakan nasional guna meningkatkan kekuasaan dan pengaruh melampaui batas-batas nasional. Tahap Menuju Kedewasaan Tahap ini ditandai dengan penerapan secara efektif teknologi modern tertfadap sumberdaya yang dimiliki. Sementara itu terjadi pula pergeseran pe rilaku ekonomi yang semula lebih banyak menitikberatkan pada sisi produksi. 2.188): 1. lklim kondusif tersebut adalah perubahan f aktorfaktor nonekonomi dari masyarakat yang sejalan dengan proses pertumbuhan ek onomi yang terjadi. Orang mulai berfikir bahwa kesejahteraan bukanlah per masalahan individu. dan fasilitas hiburan bagi para pekerja. 1988 : h. akibat pembanguna n pusat kota sebagai sentral bagi tempat bekerja. Tahap IV.yang memungkinkan perubahan tersebut. Tahapan ini juga ditandai dengan munculnya beberapa sektor penting yang ba ru. Penggunaan alat transportasi p ribadi maupun yang bersifat transportasi umum seperti halnya kereta api merupaka n suatu hal yang sangat dibutuhkann. (2) Perubahan watak pengusaha dari pekerja keras dan kasar berubah men jadi manager efisien yang halus dan sopan. Ta hapan ini merupakan tahapan jangka panjang di mana produksi dilakukan secara swa daya. yang hanya dipecahkan dengan mengkonsumsi barang secara indi vidu sebanyak mungkin. Ingin memiliki satu negara kesejahteraan (welfare state) d engan pemerataan pendapatan nasional yang lebih adil melalui pajak progresif. namun lebih dari itu mereka memandang kesejahteraan dalam cakupan yang lebih luas yaitu kesejahteraan masyarakat bersama dalam arti luas. kini beralih ke sisi konsumsi. Tahap V. pe ningkatan jaminan sosial. (3) Masyarakat jenuh terhadap industr ialisasi dan menginginkan perubahan lebih jauh. Pada tahap ini akan ditandai dengan terjadinya migrasi b esarbesaran dari masyarakat pusat perkotaan ke pinggiran kota. Terlepas dari permasalahan di atas terdapat tiga kekuatan utama yang cenderung meningkatkan kesejahteraan dalam tahap konsumsi besar-besaran ini (Jhingan. Pada saat negara berada pada tahap kedewasaan teknologi. terdapat tiga perub ahan penting yang terjadi: (1) Tenaga kerja berubah dari tidak terdidik menjadi terdidik. Pada fase ini terjadi perubahan orientasi d ari pendekatan penawaran (supply side) menuju ke pendekatan permintaan (demand s ide) dalam sistem produksi yang dianut. 27 . Tahap Konsumsi Massa Ti nggi Tahap konsumsi massa tinggi merupakan akhir dari tahapan pembangunan yang d ikemukakan oleh Rostow.

Hal ini terjadi karena teori pe rtumbuhan Rostow merupakan pola penggambaran sejarah pembangunan yang dilakukan negara-negara di Eropa yang memiliki struktur sosial dan budaya yang mapan. Hal ini terjadi karena keduanya merupakan benua "temuan" orang-orang Eropa. namun langsung menginjak tahap kedua. di mana penduduknya yang saat ini ada adalah orang-orang Eropa yang kemudian mentransfe r ilmu dan pengetahuannya ke benua tersebut. Di daerah perkotaan berkembang sistem sosial yang tela h berkiblat pada sistem sosial Barat. dan berbagai peralatan rumah tangga yang menggunakan listrik dan sebagainya. menyebabkan tahapan dalam teori Rost ow terjadi secara simultan. di perdesaan san gat diwarnai sistem sosial tradisional. jaringan rel kereta api. Kondisi tersebut tidak terjadi p ada negara-negara di Asia dan Afrika yang belum memiliki sistem sosial yang tera tur. Kritik Terhadap Teo ri Rostow Pentahapan pembangunan seperti yang digambarkan oleh Rostow adalah sis tem pentahapan di mana suatu tahapan tidak dapat terjadi tanpa melalui tahapan y ang lain. dalam kebudayaan Timur (ne gara sedang berkembang di Asia dan Afrika). yaitu sekitar tahun 1920. seme ntara itu di daerah perdesaan sistem perekonomian dan kemasyarakatan masih berad a pada tahap tradisional.3. Keputusan untuk membangun pusat perdagangan dan sektor penting seperti mobil. tahap ketiga tida k akan terjadi tanpa tahap kedua dan seterusnya. Ha l yang sama kemudian diikuti oleh beberapa negara Eropa Barat. akibat kolonialisme. Amerika Serikat dan Australia merupakan negara yang mengalami pola pertumbuhan ini. lnteraksi kebudayaan Barat. Satu-satunya nega ra di Asia yang telah mencapai tahap tersebut adalah Jepang. Pertanyaan kritis yang diajukan Kuznets adalah: "Bagaimana mungkin suatu desain sederhana dapat menjadi suatu rangkuman diskriptif atau klasifikasi analitik dari suatu perubahan historis yang beragam dan bervariasi?" Kusnetz juga mencatat kemiripan dan perbedaan antara teori Rost ow dengan Marx. Kritik gencar terhadap teori Rostow dikemukakan oleh Simon Kuznets (1989). Amerika merupakan satu-satunya negara yang p ertama kali mencapai era konsumsi massa tinggi ini. rumah murah. Ketika di daerah perkotaan modern di negara sedang b erkembang sudah berada pada tahap tinggal landas. Tahap kedua tidak dapat terjadi tanpa tahap pertama. ada negara-negara di dunia yang tidak pernah melewati tahap pertam a dari pertumbuhan ekonomi Rostow. 28 . Pada saat yang bersamaan. Kenyataannya. bahkan lebih tinggi lagi.

Ketiga. Pertama. di mana Rostow menawarkan Communism Manifesto. Rostow lebih implisit dalam memandang inte raksi kelas masyarakat dalam sistem kapitalis mengingat Rostow sendiri adalah ek onom yang berkiblat ke kapitalis. Begitu panjangnya kritik terhadap teori Ro stow. Aspek yang terlupakan dalam teori Rostow adalah peran sentral bantuan luar negeri yang berfungsi sebagai penutup kesenjangan tabungan-investasi dan k esenjangan devisa. Rostow memandang bahwa perubahan ekonomi pada dasarnya me rupakan konsekuensi logis dari perubahan motif dan inspirasi nonekonomi yang ter jadi pada seluruh lapisan masyarakat. kedua teori tersebut dengan berani menginterpret asikan evolusi sosial khususnya di sektor ekonomi. Artinya perubahan ekonomi hanyalah merupakan fenomena yang hanya dipengaruh i oleh perubahan motif dan inspirasi ekonomis kelas masyarakat penguasa sumberda ya saja. tidak berlebihan bila dikatakan kritikkritik tersebut lebih panjang daripa da teori Rostow sendiri. harus diakui pola pemikiran maupun is tilah-istilah Rostow telah mempengaruhi pola pemikiran di banyak negara sedang b erkembang. Di sisi lain. kondisi budaya dan sosial masyarakat. dan adanya tekanantekanan semacam itu yang melekat pada sistem kapitalis. dan sosial. Marx mengasumsikan bahwa keputusan yan g diambil oleh masyarakat semata-mata hanyalah fungsi dari siapa pemilik sumberd aya. Meski demikian Rostow sadar bahwa perubahan ekonomi yang sangat besar harus dipandang sebagai konsekuensi dari perubahan mot if dan inspirasi dimensi nonekonomi dari manusia. Meski kedua teori banyak memiliki kesamaan.Teori Rostow pada dasarnya merupakan alternatif bagi teori Marx. namun keduanya t idak lepas dari perbedaan satu dengan yang lain. Rostow sendiri ketika diundang Bank Dunia (1984) untuk dimint ai tangapannya mengenai hal ini menilai bahwa bantuan luar negeri merupakan sala h satu faktor kritis dalam pembangunan negara sedang berkembang. Kendati demikian. Pertama. Marx mendasarkan teorin ya pada sistem konflik antarkelas masyarakat. Sementara di sisi lain perubahan sis tem ekonomi akan berpengaruh juga terhadap kehidupan politik. balk Marx maupun Rosto w telah mencoba mengeksplorasi permasalahan dan konsekuensi dari pembangunan sos ial yang dilakukan. kebudayaan. Pada dasarnya terdapat beberapa kesamaan antara teori Marx dan Rostow. Di sisi lain. Sementara itu. Tidak mengheran kan bila is 29 . Marx memandang bahwa m an usia bersifat sangat kompleks yang memiliki berbagai dimensi kebutuhan dari e konomi sampai budaya. kedua ekonom tersebut menyadari bahwa perubahan sist em ekonomi pada dasarnya merupakan konsekuensi logis dari perubahan yang terjadi di bidang politik. Ketiga. Kedua. eksploitasi satu kelompok manusia terhadap kelompok yang lain. Kedua. Rostow mempersempit dimensi manusia menjadi satu yaitu sebagai homo economicus.

1991: h. Hal ini ditandai dengan nilai nilai produk marginal (marginal p roduct) dari tenaga kerja yang bernilai nol. Di sisi lain. dan sangat didominasi oleh sektor industri dan jasa (Todaro. Surplus tersebut erat kaitannya dengan basis utama perekonomia n yang diasumsikan berada di dari perekonomian tradisional adalah bahwa tingkat hidup masyarakat berada pada kondisi subsisten akibat perekonomian yang bersifat subsisten pula. akibat proporsi input variabel tenaga kerja yang 30 .2. Teori Pembangunan Arthur Lewis Teori pembangunan Arthur Le wis pada dasarnya membahas proses pembangunan yang terjadi antara daerah kota da n desa. justru akan menurunkan total produksi yang ada. dan Hollis Chenery dengan teori transforma si struktural. Perekonomian Tradisional Dalam teorinya Lewis mengasumsik an bahwa di daerah perdesaan. 3. Lewis mengasumsikan bahwa perekonomian suatu negara pada dasarnya akan terbagi menjadi dua yaitu: 1. mengalami surp lus tenaga kerja.menambahkan syarat tinggal landas bagi negara sedang berkembang sebagai berikut (Rostow dalam Meier dan Seers.1. yaitu teori pembangunan yang dikemukakan ol eh Arthur Lewis dengan teori migrasi. Mengawali teorinya . TEORI PERUBAHAN STRUKTU RAL Teori perubahan struktural menitikberatkan pembahasan pada mekanisme transfo rmasi ekonomi yang dialami oleh negara sedang berkembang. yang mengikutsertakan proses urbanisasi yang terjadi di antara kedua tem pat tersebut. pengurangan jumlah tenaga kerja yang dipekerjakan di sektor pertanian tidak akan mengurangi tingkat produksi yang ada.2. Kondisi ini menunjukkan bahwa penambahan input variabel.68). Teori ini juga membahas pola investasi yang terjadi di sektor mode rn dan juga sistem penetapan upah yang berlaku di sektor modern. Dua teori utama yang menggunakan pendekatan perubahan stru ktural akan kita bahas berikut ini . 1984: h.239): The concept of take-off suggested t he possibility that developing countries would eventually move to self-sustained growth when soft loan would no longer be required. 3. artinya fungsi produksi pada sektor pertanian telah sampai pada tingkat berlakunya hukum law of diminishing return. yang semula lebih bers ifat subsisten dan menitikberatkan pada sektor pertanian menuju ke struktur pere konomian yang lebih modern. dalam hal ini tenaga k erja. dengan perekonomian tradisionalnya. yang pada akhir nya akan berpengaruh besar terhadap arus urbanisasi yang ada.

Diagram 3-1a menunjukkan sistem perekonomian kota-modern dan diagram 3. dengan asumsi bahwa pemilik modal akan menginvestasikan kembali modal yang ada ke indus tri tersebut. 2. yang relatif bersifat subsi sten dan tingkat upah cenderung tetap. nilai upah riil ditentukan ole h nilai rata-rata produk marginal. Dengan demikian. Hal ini merupakan ciri khusus dari fungsi produksi yang dihadapi di sektor pertanian. di mana sektor yang berperan penting adalah sektor industri.terlalu besar. dalam hal ini diasumsikan input tenaga kerja merupakan merupakan satu-satunya input yang bersifat variabel . Dalam perekonomian semacam ini. karena ni lai produk marginal dari tenaga kerja yang positif menunjukkan bahwa fungsi prod uksi belum berada pada tingkat optimal yang mungkin dicapai. Akumulasi modal yang nantinya digunakan untuk investasi hanya akan terjadi jika terdapat ekses keuntungan (profit) pada sektor modern. dengan input kapital 31 . Percepatan ekspansi output sangat ditent ukan oleh tingkat investasi di sektor industri dan akumulasi modal yang terjadi di sektor modern. perekonomian perkotaan akan merupakan daerah tujuan bagi para pekerja yang berasal dari perdesaan. b erarti penambahan tenaga kerja pada sistem produksi yang ada akan meningkatkan o utput yang diproduksi. di mana total produk bahan pangan (Tpa) diten tukan hanya oleh perubahan penggunaan input variabel. Diagram sebelah kanan at as menunjukkan tingkat subsistensi produksi bahan makan pada berbagai tingkat pe nggunaan input tenaga kerja. Ciri dari perekon omian ini adalah tingkat produktivitas yang tinggi dari input yang digunakan. Lewis mengasumsikan pula bahwa tingkat upah di kota 30 per sen lebih tinggi daripada tingkat upah di perdesaan. Dengan demikian. bernilai positif. Perbedaan upah tersebut jelas akan melengkapi Jay a tarik untuk melakukan urbanisasi Perbedaan tenaga kerja dari desa ke kota dan pertumbuhan pekerja di sektor modern akan mampu meningkatkan ekspansi output yan g dihasilkan di sektor modern tersebut. Hal ini menyiratkan bahwa nilai produk marginal terutama da ri tenaga kerja. Dengan demikian industri di perkotaan masih menyediakan l apangan pekerjaan. dan ini akan berusaha dipenuhi oleh penduduk perdesaan dengan jalan berurbanisasi. pangsa semua pekerja terhadap out put yang dihasilkan adalah sama. Model pertumbuhan dua sektor Lewis dapat dilihat pada Gam bar 3-1. te rmasuk tenaga kerja. Jika ini terjadi. dan bukan oleh produk marginal dari tenaga ke rja itu sendiri.1 b menu njukkan sistem perekonomian pertanian yang tradisional. sehingga bentuk kurva penawaran tenaga ke rja akan berbentuk horisontal. Perekonomian Industri Perekonomian ini terletak di perkotaan .

32 . Kedua. yang sama artinya dengan pembagian secara proporsional terhadap sem ua orang sebanyak OA per orang. semua tenaga kerja di perdesaan memiliki sumbangan/pangsa yang sama terhadap output yang dihasilkan. pada tingkat kapital (K) dan teknologi (t) yang tetap.dan tenaga kerja yang bersifat konstan. 1991: h. Nilai marginal pro duct pekerja Ola bernilai nol. karena berlakunya asumsi bahwa pengusaha akan m enginvestasikan kembali keuntungannya ke industri tersebut. dan menggantungka n hidupnya pada sektor pertanian (Todaro. Lewis mengasumsikan bahwa 80 persen hingga 90 persen penduduk dalam negara tersebut tinggal di perdesaan. Hal in i menunjukkan bahwa OA adalah tingkat ava rage product yang ekuivalen dengan pembagian antara O'T/O'La. Diagram bawah kanan menunjukkan kurva pr oduksi rata-rata (AP) dan produksi marginal (MP) tenaga kerja dalam perekonomian tradisional tersebut. yang diderivasi dari kurva tingkat produksi total. Jumlah tenaga kerja yang digunakan untuk menghasil kan total produk sebesar O'TP1 pada saat jumlah kapital mencapai K1 adalah sebes ar O'L1. maka nilai produk marginal dari tenaga kerja (Mpla) bernilai nol. Dia gram sebelah kiri atas (3-1a) menunjukkan kurva tingkat total produk dari sektor modern. karena terjadi su rplus tenaga kerja. Output dari komoditas manufaktur (Tpm) di sektor modern merupakan fungs i dari input tenaga kerja yang bersifat variabel (Lm).69). Pertama. Sesuai dengan teori Lewis. Jumlah tenaga kerja di sektor pertanian yang tersedia (0Ia) adalah sama pada kedua sis i horisontal kedua diagram tersebut. Dasumsikan bahwa sejumlah OLa(=O'La) pekerja di sektor pertanian memproduksi sebanyak 07 ba han makanan. sehingga upah tidak didasarkan pada produk mar ginal tetapi lebih pada produk rata-rata dari tenaga kerja tersebut. tingkat akumulasi kapital akan terus meningk at dari K1 ke k2 dan seterusnya. Lewis menggunakan dua asu msi utama untuk menjelaskan perekonomian tradisional. seperti ditunjukkan pada diagram kanan bawah.

atau dengan kata lain penawar an tenaga kerja adalah tidak terbatas.70-71). Titik 33 . Dengan konfigurasi upah seperti itu. menunjukkan tingkat subsistensi pendapatan di sektor pertanian yang tradisioa nal. T ingkat keuntungan maksimal pengusaha di perkotaan akan terjadi pada saat margina l physical product (produk fisik marginal) sama dengan upah buruh. Segmentasi OW menunjukkan tingkat upah riil yang terjadi di sektor perkotaa n. Dengan kurva total produk yang ada akan dapat diturunkan kurva produk margi nal. 1991: h. Tingkat upah sektor perkotaan yang lebih tinggi daripada upah riil di perdesaan. Dalam pasar tenaga kerja yang bersifat persaingan sempurna di sektor modern maka kurva produk marginal akan menunjukkan kurva permintaan tenaga kerja (Toda ro. tanpa adanya risiko peningkatan tingkat upah itu sendiri.1b bagian bawa h. akan menyebabkan perpindahan tenaga kerj a dari desa ke kota. penawaran tenaga kerja di sektor perdesa an diasumsikan memiliki elastisitas yang sempurna.1a dan 3.Hal ini akan menyebabkan total produk akan meningkat dari TP1 ke TP2 dan seterus nya. Segmentasi sebesar OA pada diagram 3.

34 .F. Jika asumsi dasar bahwa keuntungan yang diperoleh pengusaha akan diinvestasikan kembali. Diharapkan semakin cepat akumulasi kapi tal di sektor modern. Da erah segi empat OWFL1 adalah pengeluaran untuk upah total yang dikeluarkan oleh pengusaha. maka modal yang digunakan pada proses pr oduksi meningkat menjadi K2. kurva permintaan tenaga kerja dicerminkan ol eh kurva D1.1a sebelah bawah menunjukkan tingkat keseimbangan tenaga k erja. yang nantinya akan diinvestasi kan lagi di sektor tersebut. Pada saat tot al produk adalah sebesar 07P1 (K1). yang secara ekstrem di tunjukkan pada penggunaan tenaga kerja yang tetap (Iihat Gambar 3-2).H. Pada saat itu jumlah tenaga kerja yang dapat diserap adalah OL1. Itu berarti bahwa tingkat produksi total adalah O'T P2.G. yaitu pertemuan kurva permintaan dan penawaran tenaga kerja. Fenomena t ersebut justru menunjukkan bahwa keuntungan yang diperoleh pengusaha semakin men ingkat. Teori Lewis tentang penawaran tenaga kerja yang tak terbatas banyak dikr itik karena asumsi-asumsi dasarnya banyak yang tidak relevan dengan untuk negara sedang berkembang (NSB). Di sisi lain pengusaha mengalami peningkatan keuntungan. Hal ini tentunya menyebabkan reinnvestasi yang dilakukan tidak akan berpengaruh terhadap penyediaan lapangan kerja baru. Konsekuensinya jumlah yang dapat disera p oleh sektor modern akan meningkat. yang berarti mengalami peningkata n permintaan tenaga kerja dari D1 ke D2. Lewis mengasumsikan bahwa tingkat perpindahan tenaga kerja dan pembukaan lapangan kerja di sektor modern proporsinal dengan t ingkat akumulasi modal di sektor modern. maka akan semakin mendorong pertumbuhan sektor tersebut. Pada kenyataa nnya keuntungan yang ada direinvestasikan untuk peralatan penunjang produksi yan g bersifat menghemat tenaga kerja (laborsaving) dan Iebih canggih daripada reinv estasi pada peralatan dengan tingkat teknologi yang ada seperti yang telah digun akan sebelumnya. Pertama. pada diagram 3. Segitiga WD1 F merupakan total keuntungan yang diperoleh oleh pengusaha. Proses pertumbuhan sektor modern di atas dan mengal irnya arus tenaga kerja yang berurbanisasi diasumsikan akan terus berlanjut samp ai surplus tenaga kerja yang terjadi di perdesaan terserap sepenuhnya di sektor modern. y ang pada akhirnya akan meningkatkan pembukaan lapangan kerja baru. dengan mempekerjakan pekerja sebanyak OL2. yang berarti total penerimaan dari semua tenaga kerja yang bekerja di sektor modern. meski pada tingkat upah yang tetap. pada tingkat upah OW. sementara penerimaan pekerja dan jumlah pekerja yang digunakan dalam pro ses produksi tidak mengalami perubahan.

tampaknya merupakan hal yang sulit di temukan di negara berkembang. mengingat kondisi yang ada justru sebaliknya.Kedua. Jika teori yang dikemukakan oleh Lewis terbukti t erjadi di dunia nyata. pasar tenaga kerja akan rrfenjamin tingkat upah berada pada tingkat yang tetap sampai penawaran tenaga kerja mengalami penurunan. asumsi dasar lain dari teori Lewis yang tidak realistis adalah bahwa di sektor modern. Keberadaan serikat pekerja. sementara di perdesaan mulai mengalami kekurangan tena ga kerja. Jika kita amati lebih lanjut. Artinya asumsi tersebut tidak realistis untuk dite rapkan di negara berkembang. sedangkan di pe rkotaan mengalami kekurangan tenaga kerja. dan tuntutan penetapan upah minimum yang m anusiawi merupakan dua sumber utama upaya peningkatan upah di kedua sektor perek onomian tersebut. Hal ini dicerminkan d ari perbedaan proporsi pendapatan yang diterima antara pengusaha dan tiap-tiap t enaga kerja yang dipekerjakan. Di sisi lain reinvestasi 35 . Kenya taan menunjukkan bahwa di negara-negara sedang berkembang terjadi kecenderungan peningkatan nilai upah secara terus menerus baik di daerah perdesaan maupun di p erkotaan. teori pertumbuhan Lewis ini pada dasarnya termasuk salah satu teori pendukung kapitalisme. asumsi bahwa di perdesaan mengalami surplus tenaga kerja. Para ekonom sepakat bahwa di negara berkembang yang terjadi justru di perkotaan terda pat surplus tenaga kerja. maka akan terlihat bahwa reinvestasi yang ada semakin men ingkatkan penerimaan pengusaha. Ketiga.

engalami penurunan 20 persen sementara sektor indus tri meningkat 28 persen (todaro. saat GNP/kapita mening kat. Untuk negara dengan tingkat pendap atan per kapita kurang dari US$600 dikelompokkan ke dalam negara yang baru malak ukakn pembangunan atau sering disebut negara sedang berkembang. 3. Peningkatan peran sektor industri dal am perekonomian sejalan dengan peningkatan pendapatan per kapita yang terjadi di suatu negara.2.2. Penggolongan ini didasarkan pad a harga-harga yang terjadi pada tahun 1976. Chenery kemudian membuat pengel ompokkan negara sesuai dengan proses perubahan struktural yang dialami berdasark an tingkat pendapatan per kapita penduduknya. Perubahan waktu tentunya juga akan berdampak pada perubahan interval dan nilai batas dari pendapatan per kapita yan g menjadi standar pengelompokkan tersebut. Dengan demikian pertumbuhan yang terjadi hanya akan menguntungk an para pengusaha. yang mengalami transformasi dari pertanian tradisional beralih ke sek tor industri sebagai mesin utama pertumbuhan ekonominya. sumbang an sektor primer dalam GNP h. mengingat penelitian yang dilakukan oleh Chenery dilakukakn pada tahun tersebut. dan baru dapat me ngalami peningkatan jika penawaran tenaga kerja di daerah surplus (perdesaan) me ngalami penurunan. Teori Pola Pembangunan Chenery Analisis teori Pattern of Development memfokuskan terhadap perubahan struktur dalam tahapan proses peru bahan ekonomi. berhubungan erat dengan akumulasi kapital dan peningkatan sumberd aya manusia (human capital). da n tidak akan berpengaruh terhadap kemungkinan peningkatan pendapatan dari masing -masing pekerja. perekonomian suatu negara akan berg eser dari yang semula mengandalkan sektor pertanian menuju ke sektor industri. Sebagai contoh. Penelitian yang dilakuk an Hollis Chenery tentang transformasi struktur produksi menunjukkan bahwa sejal an dengan peningkatan pendapatan per kapita. 74-5). 1991: h. pada saat nilai GNP per kapita US$200 maka pangsa produk se ktor primer menguasai 45 persen dart total GNP. D iagram 3-3 menunjukkan bahwa pangsa pasar sektur industri dalam GNP meningkat da n pangsa pasar dari sektor pertanian nengalami penurunan. sementara sektor industri hanya menyumbang 15 persen saja. Gambar 3-3 menunjukkan 36 .ini hanya akan meningkatkan jumlah pekerja yang bekerja di industri tersebut. sementara pendapatan pekerja relatif tetap. industri dan struktur institusi dari perekonomian negara sedang b erkembang. Pada saat pendapatan/kapita mencapai US$1000. Sementara itu ne gara dengan nilai pendapatan per kapita antara US$600 hingga US$3000 digolongkan sebagai negara dalam fase transisi pembangunan.

Figures 1. 2. pada suatu tingkat tertentu terjadi penurunan konsumsi terhadap bahan mak anan. yaitu bahwa akan terjadi p erpindahan tenaga kerja dari sektor pertanian di desa menuju sektor industri di perkotaan. terj adi peningkatan pangsa ekspor komoditas hasil produksi sektor industri dan penur unan pangsa sektor yang sama pada sisi impor. Produktivitas tenaga 37 .bahwa semakin tinggi tingkat investasi sektor riil dan di sektor pendidikan guna meningkatkan kualitas sumberdaya manusia. Sepanjang perubahan struktural ini berlangsung. Penurunan permintaan terhad ap bahan pangan ini ternyata akan dikompensasikan oleh peningkatan permintaan te rhadap barang-barang non kebutuhan pangan. akan terja di proses seperti halnya yang dikemukakan oleh Lewis. Dari sisi tenaga kerja. Di sektor perdagangan internasional terjadi juga perubahan yaitu peningka tan nilai ekspor dan impor. baik pada awal hingga akhir dari proses transformasi struktural tersebut. Patterns of Development. dan peningkata n anggaran belanja pemerintah. 3. khususnya jika ditinjau dari permintaan domestik. Sejalan dengan proses perubahan struk tural. meski pergeseran ini masih tertinggal (lag) dibandingkan proses perub ahan struktural itu sendiri. 1950-70 (Lond on: Oxford University Press. peningkatan investasi. Dengan keberadaan lag inilah maka sektor pertanian akan berperan penting dalam peningkatan penyediaan tenaga kerja. Sumber : Hollis Cheney and Mises Syrquin. yang mengalami peningkatan dalam struktur GNP yan g ada. 1975).

produktivitas tenaga kerja dalam perkonomian secara menyelur uh akan mengalami peningkatan (Todaro. Industrialisasi dan urbanisasi pada beberapa hal jus tru menghambat proses pemerataan hasil pembangunan. Suatu proses yang sedang terja di tentunya akan membawa dua konsekuensi sekaligus. yang sali ng berkaitan satu dengan yang lain. Hipotesis utama dari teori di atas adalah bahwa model perubahan struktural yang terjadi pada tiap-tiap nega ra sebenarnya dapat diidentifikasi dan proses perubahan secara umum dari masingmasing negara pada dasarnya memiliki kesamaan pola. Transformasi struktural hanya akan berjalan dengan baik jika diikuti den gan pemerataan kesempatan belajar. dan penu runan derajat dualisme ekonomi antara kota dan desa. cenderung untuk mendirika n industri yang bersifat subtitusi impor. penurunan laju pertumbuhan penduduk. Secar a umum negara-negara yang memiliki tingkat populasi tinggi. Jika hal tersebut dipenuhi maka proses transformasi struktural akan diikuti oleh peningkatan pendapatan dan pemerataan pendapatan yang terjadi secara simultan. lambat laun akan mulai meningkat. sehingga jurang pemisah antara kota dan desa justru meningkat dengan kondisi te rsebut. Perbedaan faktor endowment. dan memi liki produktivitas yang sama dengan pekerja di sektor industri pada masa transis i. mengalami pertumbuhan yang lambat. Sementara itu sektor perdesaan . Selama proses transformasi s truktural tidak berarti segalanya berjalan mulus. Meski demikian teori ini tol eran terhadap variasi-variasi kecil yang terjadi dalam proses perubahan struktur al yang mungkin berbeda antarnegara.76). pertama adalah sisi positif dan lainnya adalah sisi negatif. Dengan demikian. S ebaliknya negara-negara dengan jumlah penduduk yang relatif kecil. merupakan faktor penjelas penting terhadap perbedaan variatif transformasi struktural yang terjadi. kebijakan pemer intah. yang banyak ditinggalkan oleh para pekerja. Salah satu sisi negatif dari perubahan struktur al tersebut adalah meningkatnya arus urbanisasi yang sejalan dengan derajat indu strialisasi yang dilakukan. 38 . cenderung aka n mengembangkan industri yang berorientasi ke pasar internasional.kerja di sektor pertanian yan rendah. yang pada dasarnya m enggambarkan tingkat permintaan potensial yang tinggi. Artinya mereka memproduksi sendiri bar ang-barang yang dulunya diimpor untuk kemudian dijual di pasaran dalam negeri. 1991: h. Teori perubah an struktural menjelaskan bahwa percepatan dan pola transformasi struktural yang terjadi pada suatu negara dipengaruhi oleh faktor intern dan ekstern. di mana peningkatan pendapat an hanya akan terjadi di sektor modern-perkotaan. dan aksesibilitas terhadap modal dan teknologi.

Keuntungan yang dihasilkan dari investasi asi ng tersebut akan dinikmati oleh pengusaha asing dan 39 . mekanisme pasar belum sepenuhnya berlaku dalam masyarakat. Interaksi sosial dan hubungan paternalistik telah memudar dan digantikan oleh individualis dan penyelesaian segala permasalahan melalui kontra k transaksi. Namun demikian. Dalam hal ini Samir Amin melukiskan bahwa pusat dari perekonomian dunia sangat dipeng aruhi oleh negara-negara pusat. Dalam perekonomian negara pinggiran.3. Hubungan paternalistik dan kerjasama sosial antaranggo ta masyarakat masih mendominasi pada sistem perkonomian ini. Paul Baran melihat bahwa investasi perusahaan multi nasional dari negara maju yang dilakukan di negara miskin akan meningkatkan pend apatan nasional negara miskin tersebut. TEORI DEPENDENSIA Teori dependensia pada awalnya lahir dari hasil diskusi p ara ekonom negara-negara Amerika Latin yang kemudian menghasilkan Deklarasi Ekon omi Amerika Latin. pada akhirnya justru menjadikan negara-negara pinggiran ini semakin tergantung kepada negara-negara pusat. di mana sistem pasar telah ber laku dengan balk. yang pertama adalah perekonomian negaranegara maju dan kedua adalah perekonomian negara-nega ra sedang berkembang. sementara negaranegara miskin pinggiran berada d i sekitar negara-negara pusar tersebut. Sementara itu Samir Amin(1976). secara implisit dinyatakan bahwa perekonomian negara miskin pinggiran sebenarnya tidak jauh berbeda dengan perekonomian tradisional pada teo ri Lewis. perek onomian negara pusat berciri perekonomian modern. Interaksi yang terjadi antara negara maju dengan negara miskin lebi h bersifat ekploitasi negara maju terhadap negara miskin.3. membagi perekonomian menjadi dua yaitu negara-negara maju di pusat (core/central) dan kelompok negara miskin pinggiran (periphery). Dominasi perekonomian dunia oleh negaranegara core dan rekayasa eksploitasi yang dilakukan oleh mereka . Andre Gunder Frank (1966) mengelompokkan negara maju ke da lam negara-negara metropolis maju (developed metropolitan countries) dan negara sedang berkembang dikelompokkan ke dalam negara satelit yang terbelakang (satell ite underdeveloped countries). Seperti halnya dengan pembagian perekono mian menurut Lewis. Teori dependensia berusaha menjelaskan penyebab k eterbelakangan ekonomi yang dialami oleh negara-negara berkembang. Asumsi dasar teori ini adalah pembagian perekonomian dunia menjadi dua golongan. yang mencipt akan model dasar tesis alternatif mengenai keterbelakangan ekonomi yang terjadi di negara-negara dunia ketiga. Pencetus dasar teori tersebut adalah Paul Baran. Di sisi lain. salah satu ekonom penganut dependensia. peningkatan pendapatan i ni tidak dapat dinikmati oleh sebagian besar masyarakat negara itu karena kepinc angan dalam distribusi pendapatan.

Keuntungan yang diperole h tersebut semata-mata merupakan hasil dari eksploitasi sumberdaya yang ada. Sistem t ersebut bahkan menggeser kebiasaan sosial yang ada pada masyarakat di negara mis kin. Menurut Andre Gunder Frank (1966). Investasi asing memungkinkan bagi negara maju untuk mengeruk sebagian besar potensi ekonomi yang ada di negara miskin.segelintir anggota masyarakat tertentu di dalam negeri. semakin memantapkan keb eradaan sektor modern dalam menguasai sistem perkonomian yang ada. Lebih jauh Paul Bara n memaparkan bahwa penggantian sistem hubungan paternalistik dari masyarakat feo dal dengan sistem kapitalis yang didasarkan rasionalitas pasar. 1984: h. Namun penerapan nilai komersial dalam tata hubungan sosial pada masyarakat feodal atau semi feodal. Sekto r modern di negara miskin adalah kaki-tangan sistem kapitalis dunia yang melakuk an eksploitasi terhadap daerah atau sektor yang sekarang menjadi terbelakang (Ar ief dan Sasono.18). ibid). hubungan antara negara metropol is dan satelit ini menyentuh keseluruhan sektor di negara-negara miskin. Pen ingkatan kesejahteraan masyarakat di negara-negara miskin pada dasarnya tidak pe rnah dialami akibat masuknya investasi asing di negara-negara tersebut. dapat merupakan langkah utama dalam transformasi masyarakat ke arah kemajuan dan peradaban seper ti yang dialami Eropa Barat. dan ket erbelakangan sektor tradisional ini justru diakibatkan oleh adanya kontak dengan sistem kapitalis dunia yang masuk ke negara miskin melalui sektor modern. ibid. Kontrak transaksi berdasarkan faktor pasar mengganti dan mendesak hubungan paternalistik yang telah mengakar di negara miskin. h. Perubahan sistem tersebut me nimbulkan perubahan orientasi rakyat di negara tersebut yaitu dari berorientasi kepada berkecukupan dan pemenuhan pasar dalam negeri. Bagaimana pun juga perkembangan sektor modern di negara miskin ini akan terjadi sesuai 40 .24). Proses eksploitasi dalam sistem kapitalistis ini diiringi pula dengan proses kor upsi dan ketidakadilan dalam setiap tingkat struktur pemerintahan yang mengabdi kepada kepentingan pemilik modal dan sistem kapitalis internasional (Arief dan S asono. Orientasi Baru ini sekaligus membuat sistem ekonomi rakyat di negara tersebut langsung dikaitkan dengan sistem kapitalistis di luar negeri dengan berbagai gejolaknya (Arief dan Sasono. Di sisi lain kaum borjuis nasional atau yang p opuler disebut golongan komprador dan penguasa nasional. justru memperhebat proses ekspl oitasi yang dilakukan oleh pemilikâ pemilik modal dalam rangka sistem kapitalistis. hasil bagi y ang diberikan investor asing kepada negara tempat investasi berada (host country ) jauh lebih rendah dibandingkan dengan tingkat keuntungan yang disalurkan kemba li ke negara asal (home country). ke produksi untuk memenuhi pasaran luar negeri.

Negara-negara miskin yang sekarang menjadi satelit dapat mengalami perkembangan ekonomi yang sehat dan mampu menumbuhkan perkembangan industri yang otonom. 25-7). Dengan demikian sektor m odern di negara miskin tak lebih dari sektor satelit yang tidak dapat berkembang sendiri dan sangat tergantung pada kondisi perekonomian negara-negara maju.28). Kawasan-kawasan yang sekarang sangat terbelakang dan berada d alam situasi yang mirip dengan situasi dalam sistem feodal adalah kawasan yang p ada masa lalu memiliki kaitan kuat dengan metropolis dari sistem kapitalis inter nasional. 1991: h. apab ila berkaitan dengan metropolis dari dunia kapitalis internasional tidak ada ata u sangat lemah. yang berkaitan de ngan pola hubungan antara negara maju dan miskin tersebut (Arief dan Sasono. 1. Hal ini berarti sektor mode rn di negara-negara miskin pada dasarnya memiliki ketergantungan yang tinggi unt uk berkembang terhadap sektor yang sama di negara maju. Dos Santos mengklasifikasikan ketergantungan dalam tiga jenis (Ar ief dan Sasono. 199 1: h. namun lebih dari i tu "faktor internal" negaranegara miskin tersebut ikut berperan dalam rnembentuk pola ketergantungan tersebut. Theotonio Dos Santos (1973) memperluas a rgumentasi Andre Gunder Frank. yaitu: 41 . pihak metropolis akan berkembang dengan pesat sedangkan pihak satelit akan menuju kepada keterbelakang an yang terus-menerus. ketergantungan akibat interaksi ekonomi di dalam negeri harus dihila ngkan terlebih dahulu sebelum menangani ketergantungan yang diakibatkan oleh fak tor eksternal. seperti apa yang direkomendasikan oleh Andre Gunder Fran k. yaitu: 1.dengan perkembangan sektor modern yang ada di dunia. Dalam struktur metropolis dan satelit seperti di atas. Artinya. Kawasankawasan ini ialah kawasan penghasil komoditas ekspor bahan ment ah primer yang terlantar sebagai akibat adanya gelombang konjungtur dalam perdag angan internasional komoditas tersebut. menuju ketergantungan industri dan finansial (pasca keme rdekaan). tentunya tidak dapat diatasi hanya dengan menutup di ri din dari dunia luar. Elemen-elemen ekonomi di dalam negeri ternyata ju ga berperan dalam menciptakan ketergantungan yang diawali ketergantungan merkant ilis (masa penjajahan). 3. And re Gunder Frank menampilkan tiga hipotesis utama yang relevan. dengan argumentasinya bahwa titik berat proses ke tergantungan tidak hanya merupakan "faktor eksternal" semata. Ketergantungan dengan segala akibatnya yang terjadi dalam tata interak si ekonomi di dalam negeri.

sebagai lembaga yang menyebabkan peningkatan ketergantungan yang terjad i di negara sedang berkembang. Ketergantungan ini terjadi setelah PD II sebagai akibat operasi perusahaanperusa haan mu Itinasional berinvestasi di negara-negara sedang berkembang. 42 . yaitu antara negara maju dengan negara miskin. seperti Bank Dunia dan IMF. Yang lebih parah adalah banyak dari tenaga ahli ini sebenarnya memiliki keterampilan dan kemampuan yang pas-pasan. di samping nilai ba ntuan yang kemudian sulit untuk dikuantifikasikan. Ketergantungan industri keuangan (industrial-financial dependence). Ketergantungan kolonial (colonial dependence). Ketergantungan teknologi industri (technological-industrial dependence). 2. Di dalam negeri konflik terjadi antara masyarakat golongan menengah ke b awah dengan para komprador yang mengambil keuntungan dengan perubahan orientasi sosial ke arah modern. pada akhirnya hanya merupakan upaya untuk membuka la pangan kerja bagi tenaga mereka. Namun demikian pertentangan kelas ini justru terjadi dalam konteks int ernasional. Teori depend ensia pada dasarnya masih tetap dijiwai oleh pandangan Marxis. sehingga nampak b ahwa sistem pertentangan kelas dalam masyarakat masih mewarnai pembahasan teori tersebut. Ketergantung an ini ditandai dengan dominasi modal besar di negara-negara penjajah melaiui in vestasi produksi bahan mentah primer untuk tujuan konsumsi di negara penjajah. dengan semakin mengeksploitasi masyarakat kelas bawah. namun demiki an mereka digaji jauh lebih tinggi daripada produk marginal mereka. Pengiriman bantuan tenaga ahl i oleh negara-negara donor. Ketergantungan ini ditandai denga n bentuk perdagangan luar negeri zaman penjajahan yang bersifat monopoli yang di ikuti dengan monopoli sumberdaya lainnya oleh pemerintah penjajah. Pemberian bantuan yang diberikan oleh badanbadan dunia tersebut tidak lepas dari vested of interest dari negara-negara donor yang mendukung Jana lembaga tersebut. yang um umnya berteknologi tinggi dan tidak sesuai dengan kondisi negara yang diberi ban tuan.1. Pemberian bantuan dalam bentuk barang. Ekonom peng anut teori ini juga menuduh badan-badan dunia internasional. Di dalam negeri pun t erjadi konflik serupa. Tesis ini k urang proporsional dalam menempatkan interaksi yang terjadi di dalam negeri seba gai salah satu faktor yang berpengaruh dalam menciptakan keterbelakangan dan ket ergantungan terhadap negara lain. justru meningkatkan ketergantungan terhadap teknologi. meski tidak krusial seperti konflik yang terjadi di luar negari. Kr itik utama yang dilontarkan oleh para ekonom terhadap teori dependensia adalah b ahwa tesis ketergantungan sangat menitikberatkan keterbelakangan yang terjadi ak ibat interaksi antara negara maju dan miskin di dunia internasional. 3.

perpindahan sumberdaya tanpa hambatan geogr afis. Sejarah menunjukkan bahwa isolasi yang dilakukan oleh sebagian besar negara komunis. dan kurangnya intensif ekonomi. dan arus informasi yang kian mengglobal. Dengan k ata lain. Teori pembangunan neo-klasik yang anti terhadap pendekatan revolusioner sering disebut sebagai teori penawaran (supply side theory). Meski demikian teori dependensia telah memberikan peringatan kepada para golongan menengah di negara-negara sedan g berkembang. Argumentasi sentral yang dikemukakan oleh ekonom pe nganut teori ini terhadap serangan ekonom dependensia adalah bahwa keterbelakang an tidaklah disebabkan oleh eksploitasi negara pusat terhadap periferi. serta kesalahan dalam pengalokasian sumber daya. yang pada masa -masa sebelumnya belum pernah terpikirkan. Teori ini merekomendasikan swastanisasi BUMN. Gerakan penyadaran inilah yang sediki t banyak mengilhami para penguasa di negara sedang berkembang untuk melepaskan k etergantungan negaranya dari negara maju. Solusi ini tidak realistis di alam globa lisasi dan perkembangan pesat arus komunikasi. meningkatkan peran perencanaan dan penet apan regulasi ekonomi yang menciptakan iklim kondusif bagi peningkatan peran pih ak swasta dalam pembangunan. pada akhirnya tidak mampu mengatasi perubahan zaman yang semak in menuju ke arah perdagangan bebas. tetapi lebih pada pengaruh intern dalam negara terbelakang tersebut. mereka menyatakan bahwa keterbelakangan bukan disebabkan oleh pengaruh ekstern. terutama Albania sebagai yan g paling ekstrem. 3.Kritik lain terhadap teori ini adalah bahwa teori dependensia tidak lebih dari s ekadar tesis yang mampu mengumpulkan sebab-sebabterjadinya keterbelakangan dan k etergantungan semata tanpa mampu mencarikan so/usijalan keluarnya. di sisi lain ternyata juga membawa efek ketergantungan. Teori Depe ndensia yang cenderung menggunakan pendekatan yang bersifat revolusioner sebagai salah satu pemecahan eksploitasi negara pusat terhadap periferi. mendapat sangg ahan oleh teori ini. Sampai saat i ni solusi yang ditawarkan oleh para ekonom penganut teori ini cenderung untuk me lakukan isolasi terhadap pengaruh luar. B esarnya derajat campur tangan pemerintah dalam aktivitas ekonomi. Hal ini juga berakibat pada upaya untu k meningkatkan kinerja ekonomi di negara-negara sedang berkembang tersebut. bahwa interaksi antara negara maju dan miskin pada satu sisi mengu ntungkan.4: PAHAN NEO-KLASIK TENTANG TEORI PEMBANGUNAN Dekade 1980-an menandai munculnya te ori pembangunan Neo-Klasik yang menjawab sanggahan teori Dependensia. merebaknya kor upsi. merupakan sumber utama keterbelakangan 43 .

dalam konteks teori ini. tangan gaib (invisible hand) akan dapat berperan besar dalam mempercepat proses penyesuaian akibat kejutan da lam perekonomian dan menjamin alokasi sumberdaya secara efisien. seperti halnya Jagd ish Baghwaty. Deepak Lal dan Iainnya. Konsep perdagangan bebas. Kaum Neo-Klasik menyatakan bahwa dengan membebaskan pasar dari campur tangan pemerintah. Seperti diketahui sebagian besar negara berkembang te rletak di benua Asia dan Afrika. Bagi negara berkembang pasar yang ada lebih berbentuk monopoli atau oligopol i.itu. promosi perdagangan bebas dan ekspansi ekspor. semakin lambat l aju pertumbuhan ekonomi yang dialami oleh suatu negara. Teori ini nampaknya hanya tepat diterapkan di negara-negara yang maju daripada d i negara sedang berkembang. dan mengeliminasi ketidakefisienan dalam regulasi peme rintah (melakukan deregulasi). Taiwan dan Singapura merupakan contoh utama dari negara yang melakukan kebijakan ekonomi sesuai dengan apa yang direkomendasikan oleh kaum Neo-Klasik. Pasar bebas dan perekonomian laissez faire kem udian menjadi kata kunci bagi keberhasilan pembangunan. Bela Ballasa. produk dan pasar uang. dan kegagalan campur tangan pemerintah bagi peningkatan kinerja ekon omi dicontohkan sebagaimana negara-negara yang ada di Afrika dan Amerika Latin. m embuka diri terhadap PMA. di mana tradisi kekuasaan pemerintah yang ada d i kedua benua tersebut banyak melakukan campur tangan dalam aktivitas perekonomi an. menyatakan b ahwa semakin besar campur tangan pemerintah dalam perekonomian. laissez faire. Anne 0 Krueger. serta menghilangkan distorsi harga balk pada inpu t. mereka yakin bahwa efisiensi dan pertumbuhan ekonomi a kan semakin terdorong untuk maju. Para ekonom tersebut mer ekomendasikan kepada negara berkembang agar menuju sistem perekonomian dengan di dasarkan pada pasar bebas. Menurut ekonom penganut teori ini. Kedua hal ini merupakan sum ber utama ketidakefisienan "mesin" perekonomian di negara sedang berkembang. swastanisasi BUMN. dan terbu kti sukses. Diharapkan dengan terciptanya kedua hal tersebut. Perbedaan struktur masyarakat dan kelembagaan yang dimiliki oleh negara sedan g maju dengan negara 44 . Dalam teori ini dikemukakan bahwa alokasi sumberdaya yang salah menyebabkan kebijakan penetapan harga menjadi tidak efektif dan ditambah dengan campur tang an pemerintah yang terlalu besar dalam perekonomian. Aki batnya percepatan pertumbuhan perekonomian menjadi lebih lambat. sementara di si si lain kesalahan sistem alokasi sumberdaya tidak menunjang terhadap tujuan peme rataan "kue pembangunan". Korea Selatan. dan pasar p ersaingan sempurna merupakan hal yang hanya dapat dipenuhi oleh negara-negara ma ju.

Ketergantungan dan K eterbelakangan. LSP. tentunya memerl ukan waktu yang relatif panjang untuk dapat menerapkan sistem ekonomi pasar seca ra baik. BACAAN YANG DIANJURKAN Arief. M. Arief. serta masih menjunjung tinggi hubungan paternalistik. Rajawali Press. Penciptaan suatu sistem ekonomi harus didukung oleh suatu suatu kond isi yang kondusif terhadap kemungkinan perkembangan sistem ekonomi yang ada. Perkembanga n Pemikiran Ekonomi: Dasar Teori Ekonomi Pertumbuhan dan Ekonomi Pembangunan. menjadikan teori pembangunan tersebut pada banyak kasus justru gagal dilaksanakan di negara berkembang. seperti apa yang telah diungkapkan oleh ekonom penganut faham dependensia di atas. Kon disi sosial masyarakat di negara berkembang yang umumnya bersifat feodal atau se mi feodal. PT Gramedia. Robert.berkembang. LP 3ES. Jhingan. Budiman. 45 . Jakarta. John Wiley and Sons. 1984. Jakarta.L. Jakarta. Microeconomics: Theory and Appl ications. Ekonomi Pembangunan dan Perencanaan. Djojohadikusumo. Sumitro. Sritua dan Adi Sasono. 1976. Teori Pembangunan Dunia Ketiga. 1994. Pemaksaan orientasi pasar pada sistem masyarakat feodal atau semi feoda l justru akan meningkatkan eksploitasi antara satu golongan terhadap golongan la in. Jakarta. 1995. Adalah suatu hal yang sulit bagi negara berk embang untuk menciptakan kondisi pasar yang mendekati sistem pasar yang ada di n egara maju. New York. Awh.. 1988.

krisis pembangunan di dunia nyata. Globalisasi ekonomi telah menyebabkan sulitnya perekonomian suatu negara lepas dari pengaruh interaksi dari negaraâ negara lain. dalam arti krisis status dari konsep pembangunan itu sendiri. Krisis pembangunan di negara sedang berkembang tidak terlepas dari strategi p embangunan yang digunakan. PENDAHULUAN Dalam bab ini akan dibahas meng enai krisis yang terjadi dalam perkembangan proses pembangunan dan teori pembang unan. yang diharapkan mampu mengefisienkan pasar. Krisis dalam teori pembangunan merupakan suatu kritik yan g terhadap teori pembangunan dan relevansinya dengan dunia nyata. Kegagalan suat u teori pembangunan yang diterapkan sebagai strategi pembangunan suatu negara me rupakan krisis dari teori itu sendiri. Krisis yang terjadi dalam pembangunan di dunia nyata. Negaraâ negara tersebut Iangsung mener apkan berbagai teori yang ada. dan krisis institusi kenegaraan yang banyak terjadi di negaraâ negara di dunia. yang mereka anggap cocok sebagai model pembanguna n di negara mereka. Globalisasi krisis men unjukkan fenomena homogen yang memperlihatkan adanya satu sistem tunggal di duni a. dan kondisi intern yang kurang sesuai dengan penerapa n teori tersebut. Teori pembangu nan yang didasarkan pada pengalaman pembangunan dan paradigma berfikir Barat. ternyata jus tru semakin mendistorsi pasar itu sendiri.2. dan bahwa kegagalan tersebut dapat ditanggulangi dengan campur tangan pemerintah dalam perekonomian. Dalam ilmu ekonomi dikenal adanya kegagalan pasar. Terdapat tiga bentuk krisis yang perlu diperhatikan. KRISIS TEORI Pada awal era "dema m" teori pembangunan tahun 1950-1960-an. 4. negaranegara sedang berkembang (NSB) ba nyak mengadopsi dan mengadaptasi teoriteori pembangunan yang dikemukakan oleh pa ra ekonom Barat dalam sistem perekonomiannya. Krisis institusi kenegaraan sebagai agen yang menerapkan strat egi pembangunan nampaknya juga terjadi secara global. Krisis institusi terjadi karena ca mpur tangan pemerintah.BAB IV KRISIS TEORI PEMBANGUNAN 4. pada dasarnya menunjukkan bahwa krisis pembangunan yang terjadi ber sifat global. yaitu krisis teori pe mbangunan. Proses yang selama ini diyakini kebenarannya.1. te rnyata banyak menemui 46 .

Contoh kasus adalah pengertian pembangunan dan pertumbuhan yang pada era awal perkembangan teori pembangunan keduanya memiliki arti yang s ama. merupakan asumsi yang hanya tepat berlaku di nega ra-negara Barat. Fenomena tersebut m erupakan salah satu krisis dari teori pembangunan itu sendiri. serta inflasi yang terkendali. Pembangunan ekonomi pada saat itu tidak lebih dari suatu prestasi y ang diukur secara kuantitatif semata. menyebabkan bermunculannya reaksi dari para ekonom NS B. pertumbuhan ekono mi. Peningkatan permasalahan yang timbul akibat penerapan teor i barat yang kapitalistik. Kondisi dasar NSB jauh lebih rumi t dibandingkan dengan negara maju. Pandangan lain mengenai k risis dalam konteks teori lebih mengarah pada tahap kritis dari 47 . dan pada banyak hal asumsi yang dig unakan da lam teori pembangunan hanya mengacu pada kondisi yang ada di negara maju. Asumsi-asumsi dasar yang dipergu nakan dalam teori pembangunan. Mereka memunculkan teori baru dan mengkritik teoriâ teori yang mapan. Sementara itu kondisi di NSB yang demikian kompleks. tanpa melalui proses penyesuaian dengan asumsi dasar yang terdapat di suatu ne gara. Kemudian yang terlihat adalah penggunaan suatu alat yang tidak sesuai dan sepadan dengan apa yang hendak diperbaiki. telah berhasil meng geser paradigma pembangunan yang ada. di mana da lam proses awal pembangunan mereka tiga abad yang lalu. merupakan pre stasi-prestasi pembangunan yang menjadi tolak ukur utama pembangunan. Prestasi keberhasilan pembangunan ekonomi kemudian tidak hanya ditentukan oleh percepatan pertumbuhan ekonomi namun lebih pada peningkatan kesejahteraan masyarakat secara lebih utuh. tanpa diimbang i oleh distribusi pendapatan dan peningkatan kualitas hidup.kegagalan dalam dataran implementasinya di NSB. memerlukan strategi pembangunan yang jauh lebih canggih. dan pertumbuhan lapangan kerja. Mu nculnya suatu kondisi di mana pertumbuhan ekonomi berjalan cepat. Besarnya GNP per kapita. Implementa si teori pembangunan kemudian memaksa para ekonom untuk merevisi strategi pemban gunannya dengan memasukkan faktor pembangunan sosial dan politik di dalamnya. Akhir dari penerapan teori yang dipak sakan adalah timbulnya suatu kondisi di NSB yang jauh lebih rumit dibandingkan d engan kondisi semula. Pengertian tersebut pada dasarnya mengacu pada kondisi di Barat. Pada dasarnya per masalahan pembangunan di NSB justru semakin kompleks dengan penerapan teoriâ teori ba rat secara mentahâ mentah. Kondis i tersebut diperparah oleh penerapan teori pembangunan tersebut secara mentahâ mentah . Di dunia nyata istilah krisis lebih merujuk pada suatu permasalahan tertentu. lstilah kris is sebenarnya lebih banyak digunakan oleh ekonom kiri sebagai reaksi terhadap ke gagalan teori Barat yang kapitalistik diterapkan di NSB. tolak ukur itulah yang d ipergunakan.

namun akan gaga) dalam jangka panjang. suatu perekonomian akan tumbuh dan pada akhirnya bermuara pada suatu k ondisi stasioner. jika kemudian menggunakan pend ekatan sosialisme. Dalam kerangka teori k apitalis. karena struktur yang ada demi kian kokoh membangun sistem tersebut. 48 . Pada tahap tersebut perekonomian tidak dapat kembali dinamis. menurut Marx. Dalam diskusi mengenai krisis.suatu gelombang konjungtur yang tidak dapat dibalik prosesnya. Didasarkan pada teori Marx. Oleh karena itu. Namun demikian Marx mengingatkan bahwa eks ploitasi dari sistem produksi kapitalisme tidak dapat berlangsung terus. Jika ini yang terjadi maka k onsepsi dependensia yang akhirnya muncul. Pada tahap ini krisis merupakan periode transformasi atau transisi. yang secara sadar atau tidak dilakukan negara-negara maju terhadap negara sedan g berkembang. bahkan mungkin terjadi eks ploitasi antara suatu kelompok terhadap kelompok tertentu. Bahasan mengenai krisis saat ini lebih banyak merujuk pada f enomena krisis secara global. dan kemudian akan digantikan oleh sosialisme. krisis yang terjadi dalam perekonomian kapitalis berasal dari sitem produksinya yang eksploitatif. Dalam kerangka berpikir Marx. Jika teori pembangunan didasarkan pada suatu pro ses jangka panjang semacam ini. bentuk sosialisme merupakan ka pitalisme dalam jangka panjang. Permasalahan yang timbul k emudian adalah bahwa proses transisi yang terjadi tersebut selalu membawa akibat yang menyakitkan dari yang diharapkan semula. Timbuln ya kelas dan eksploitasi pekerja. sistem p roduksi jangka panjang akan menghasilkan kelaskelas ekonomi di mana distribusi h asil pembangunan tidak didistribusikan secara merata. Pemikiran ini banyak diwarnai oleh pemikiran penganut ajaran Marx tradis ional. Sistem produksi kapit alisme hanya dapat berjalan dalam jangka panjang. apakah krisis yang terjadi merup akan fenomena yang bersifat global atau hanya terjadi secara parsial atau di kaw asan tertentu saja. Tingkat ketergantungan ini semakin diperparah dengan eksploitasi perekonomian negara miskin oleh negar a maju. kecuali harus dit emukan alternatif teori untuk mengubahnya secara radikal. ha l lain yang harus disamakan persepsinya adalah. akibat keterbatasan sumberdaya pendukung yang ada. akan menyebabkan kapitalisme menjadi rentan da lam jangka panjang. dan pada hakikatnya merupakan reaksi dari eksploitasi sistem kapitalisme. bahwa globalisasi ekonomi justru mempe rparah ketergantungan negara miskin terhadap negara maju. Hal ini didasarkan pada alasan bahwa sistem pereko nomian dunia saat ini menciptakan suatu sistem yang lain yaitu suatu hal yang sa ngat sulit untuk menganalisis perekonomian suatu negara tanpa melibatkan interak si negara tersebut dalam kancah perekonomian dunia. Penganut teori Marx memandang sistem produksi kapitalis hanya dapat dilaksanakan dalam jangka pende k. maka krisis yang terjadi adalah krisis transisi.

4. atau yang lebih dikenal dengan Fordisme. KRISIS PEMBANGUNAN Di samping krisis yang terjadi pada dataran teori. karena mereka beranggapan bahwa campur tangan pemerintah lebih banyak membawa distorsi pada pe rekonomian. di mana pembangunan yang berorie ntasi ke negara ini pada akhirnya diharapkan mampu menyejahterakan masyarakat se cara menyeluruh. Pada da sarnya paham ini lebih mengacu pada pada teori Neo-Klasik. menganggap bahwa kegagalan pembanguna n justru dapat disebabkan oieh adanya campur tangan pemerintah yang tidak tepat.3. maka krisis pembangunan yang terjadi di negaraâ negara ter sebut memiliki corak yang berlainan.3. Pada tahun 1970-1980 konsep negara kesejahteraan sebagai tujuan 49 .Dalam teori Marx.1. Dalam paham NeoKlasik. Kedua dan Ketiga. Konsep ini merupakan reaksi atas teori Keynes yang didasarkan pada a nggapan bahwa tidak ada mekanisme pasar yang sempurna. produktivitas tenaga kerja yang tinggi bersama tingkat upah pekerja yang tingg i pula. ne gara kesejahteraan yang mereka dambakan nampaknya masih jauh dari kenyataan. menjelask an bahwa krisis pembangunan yang terjadi sebagai akibat dari kesalahan regulasi yang mengakibatkan akumulasi krisis yang ada. dan bentuk lain dari intervensi pemerintah. Neg ara kesejahteraan merupakan tujuan pembangunan. Kaum Fordisme. dari ratusan tahun pengalaman melaksanakan pembangunan. Krisis di Negara Dunia Pertama Di ne gara Dunia Pertama. Fakta bahwa negara Dunia Pertama teiah mencapai tahap pembangunan pal ing maju relatif terhadap belahan dunia lain. campur tangan pemerintah diusahakan seminimal mungkin. Regulation school. krisis ini diwujudkan dalam sistem revolusi yang diwujudkan da lam sistem revolusi yang dilakukan oleh kaum buruh terhadap sistem kapitalisme y ang ada. paham kesejahteraan. Pendekatan lain dari krisis adalah ditinjau dari peran negara dalam per ekonomian. krisis yan g terjadi disebabkan kegagalan mereka dalam mencapai welfare state (negara kesej ahteraan). yaitu negara Dunia Pertama. di mana mekanisme pas ar dipercayai sebagai proses terbaik dalam perekonomian. tidak dipungkiri bahwa selama proses pembangunan dapat terjadi krisis dalam proses te rsebut. Pendekatan ini menjelaskan perubah an faktor-faktor yang secara esensial mempengaruhi keberhasilan ekonomi di Ameri ka Utara dan Eropa Barat. sehingga campur tangan pe merintah mutlak diperlukan. Namun demikian. yaitu negaraâ negara di Eropa Barat dan Amerika Utara. adalah hal yang tidak dapat dipung kiri. 4. yaitu: mekanisasi produksi masal dengan konsumsi masal . Jika kita sepakat membagi dunia dalam tiga kategori.

Di negara komunis. Kerusuhan rasial di Los Angeles merupaka n hasil akhir dari akumulasi krisis sosial di Amerika Serikat.pembangunan mulai dipertanyakan. rasisme dan peningkatan kriminalitas di n egaranegara Dunia Pertama umumnya dilakukan oleh para generasi muda yang frustra si dengan kondisi tersebut. Sosialisme di Swedia tidak bersifat totaliter. Keadilan tidak dapat dipandang sebagai keadilan absolu t. Beranjak dari keuletan sebagai perantau inilah banyak diantara mer eka meraih sukses di kemudian hari. praktis hanya Swedia yang mampu mendekati kondisi negara k esejahteraan. tanpa memandang predikat dan sumbangan mereka. akhirnya semakin meningkatkan problema sosial tersebut. Kemunculan gerakan neo-fasisme. yaitu orang menganggu r karena secara sukarela mereka menganggur. Di sisi lain sosialisme di Swedia diba ngun dari upaya menyejahterakan masyarakat secara bersama dengan pengakuan terha dap kepemilikan individu. tujuan pembangunan lebih ditekankan pada kesejahteraan negara. Meski kinerja pembangunan di negar a Dunia Pertama sangat mengagumkan. dan semakin memperburuk problema sosial yan g ada. Individu dalam hal ini harus berprod uksi dan berkorban demi kesejahteraan negara. Para im igran mampu memenuhi pasar yang ditinggalkan oleh para pekerja penduduk negara D unia Pertama. Kasus tersebut ti dak terlepas dari krisis pembangunan kapitalistik di negara Dunia Pertama. Hal ini disebabkan upah yang akan me reka terima berada di bawah standar upah yang mereka inginkan. Diasumsikan bahwa masyarakat indiv idu akan sejahtera jika negara sejahtera. Titik sen tral perbedaan tersebut terletak pada cara pandang terhadap penguasaan sumberday a dan tujuan dari pembangunan itu sendir. Kinerja pembangunan yang diwujudkan dalam pertu mbuhan ekonomi dan lapangan kerja. Di sisi lain kelompok imigran yang tidak suk ses tetap terpuruk dalam kemiskinan. Sistem sosialisme di Swedia sangat berbeda dengan sistem sosialisme di negaraâ negara komunis. kemunculan gerakan ini justru semakin memperparah ko ndisi sosial di negara-negara tersebut. Jenis pengang guran di negara Dunia Pertama adalah pengangguran terbuka. ternyata tidak mampu menjawab tantangan dispa ritas distribusi pendapatan di antara mereka. dan kepemilika n individu dihargai sebagaimana kepemilikan kolektif melalui koperasi. atau jenis pekerj aan yang ditawarkan tidak sesuai dengan jenis pekerjaan yang diinginkan. Satu hal yang ditempuh oleh Swedia dan tidak dilakukan oleh negara Barat yang lain adalah bahwa Swedia menerapkan sistem sosialisme dalam perekono miannya. di mana semua orang. Jika diamati lebih lanjut. namun pada saat yang bersamaan angka pengang guran justru semakin meningkat. Keadilan tetap 50 . Arus migrasi penduduk dari NSB ke negaraâ negara Duni a Pertama. mendapatk an bagian yang sama.

krisis pem bangunan terjadi pada dataran ideologis. Diperlukan berbag ai rekayasa dalam sistem perekonomian mereka untuk mampu menjawab tantangan bera t dari negara-negara maju di Asia ini. atau titik optimal d ari gelombang konjungtur yang mulai menunjukkan trend menurun. Di sisi lain orientasi pembangunan yang m enganggap bahwa kesejahteraan individu merupakan derivasi dari kesejahteraan neg ara. ternyata hanya menghilangkan kelas-kelas tersebut sementara. krisis yang terjadi relatif berbeda.3.2. Suatu sistem ekonomi tertentu ha nya dapat dilakukan secara efektif pada satu sistem politik/ideologi tertentu. ternyata tidak mampu berjalan dengan balk. Permasalahan utama terletak pada i deologi dan sistem politik yang dianut oleh masingmasing negara yang tentunya ak an berkaitan dengan sistem ekonomi yang dianut. yaitu negara-negara Amerika Latin dan negara-negara Eropa Timu r. Sistem keadilan absolut yang sel alu digemborgemborkan oleh para pemimpin komunis. 51 . Fenomena ini menunjukkan bahwa nampaknya perekonomian di negara Barat telah sampai pada titik jenuh. ternyata justru menciptakan ke las-kelas baru borjuis yang dimotori oleh para politisi itu sendiri. Kelemahan mendasar sistem komunisme terletak pad a pada cara pandang terhadap keadilan. Korea Selatan dan Hongkong. Krisis ideologis inilah yang membawa pe ralihan sistem politik dari komunisme/sosialisme menuju ke perekonomian liberal. Perubahan/ re volusi sistem politik dan ekonomi di negara-negara komunis di Eropa lainnya. 4.pada dasarnya didasarkan pada ketidakpercayaan mereka terhadap mekanisme pemerataan kesejahteraan yang mereka anut. Di negara-negara Eropa Timur. Ambruknya negara Uni Soviet menunujukkan bahwa masyarakat di negara tersebut ti dak percaya terhadap mekanisme ekonomi yang ada di negara komunis. Taiwan. namun dalam jangka panjang muncul kelas-kelas baru yang tid ak kalah eksploitatif dibanding kelas borjuis dalam kapitalisme. K risis lain adalah penurunan percepatan pembangunan yang terjadi di negaranegara Dunia Pertama relatif terhadap negara-negara industri baru. Revolusi te rhadap kelaskelas masyarakat kapitalis. Perekonomian Barat y ang demikian kokoh dan maju ternyata tidak mampu membendung defisit neraca perda gangan mereka terhadap Jepang dan beberapa negara industri baru seperti Singapur a. Hal di atas nampaknya sulit diterap kan di negara-negara Dunia Pertama yang lain. KrisIs di Negara Dunla Kedua Di ne gara dunia kedua. yaitu kompensasi diberikan sesuai deng an sumbangan individual terhadap masyarakat.dipandang sebagai suatu hal yang relatif.

pembangunan ekonomi dikorbankan hanya untuk meraih kepentingan politik. aspek politik jauh mendapat prioritas d ibanding aspek ekonomis. Dapat dikatakan bahwa perkemb angan perekonomian di kawasan tersebut seperti "berjalan di tempat". Tanpa investasi yang memadai. disebabkan oleh alokasi utang tersebut sebagian besar untuk pembelian barang mewah. Pertanyaan yang muncul kemudian adalah sejauh mana kemampuan sumberdaya yang ada terhadap efisiensi al okasi tersebut. Tingkat inflasi yang tinggi ini jelas tidak kondusif terhadap iklim investasi .negara di kawasan tersebut merupakan yang tertinggi di duni a.Dalam proses pembangunan negara komunis. Berbeda dengan di Eropa Timur. Kepentingan politik mendapat peran tertinggi dibanding kan aspek-aspek pembangunan yang lain. krisis pembangunan di Amerika Sela tan disebabkan salah urus (mismanagement) utang luar negerinya. namun kondisi perekonomian yang ada t idak lebih baik dari negara industri baru di Asia. impor perse njataan. yang memasuki Amerik a Serikat lewat Meksiko. Permasalahan lain adalah pengangguran yang tinggi. merebaknya praktek korupsi. Batas ketidakmampuan dukungan ini akhirnya membawa keresahan mas yarakat terhadap sistem kelembagaan yang ada. Meski negara-negara di Amerika Selatan umumnya tel ah merdeka lebih dari 100 tahun yang lalu. namun juga berakibat pada negaranegara di sekitar kawasan tersebut seperti Amerika Serikat. Hal ini kemudian mengarah pada kemunculan has rat masyarakat bersama yang secara sadar ingin melakukan perubahan sistem politi k dan ekonomi. dan modal yang terbang ke luar negeri (capi tal flight) Di sisi lain kondisi tersebut seringkali diperparah oleh perebutan k ekuasaan antarpihak penguasa. Di sisi lain. Hal ini tidak hanya memb awa masalah pada negara bersangkutan. Tidak dapat dipungkiri bahwa orang -orang Amerika Latin ini adalah sebagian besar 52 . Kalau pun di antara mereka ada yang masuk ke Amerika le wat jalur resmi. Dampaknya sumberdaya pembangunan terkuras oleh upaya penyebaran ideologis. Batas ketidakmapuan dukungan ini akhirnya membawa keresahan masyarakat ter hadap sistem kelembagaan yang ada. Pertanyaan yang muncul kemudian ad alah sejauh mana kemampuan sumberdaya yang ada terhadap inefisiensi alokasi ters ebut. praktis perekonomian tidak dapat tumbuh dengan b aik. maka permasalahan tekanan penduduk. Beban utang yang demikian tinggi dari sebagian besar negara di kawasan tersebut. kemiskinan dan pengangguran dengan segera akan merambah Amerika Serikat. Setiap hari Amerika Serikat ha rus memulangkan ratusan bahkan ribuan orang pelintas batas. Inflasi yan g terjadi di negara. Problemnya ketidakseimbangan pembangunan ini harus didukung oleh sumberdaya pembangunan yang ada. Tujuan-tujuan ekonomis pada akhirnya selalu tunduk terh adap kepentingan politik.

membawa konseku nsi pada penggunaan asumsi dasar pembangunan yang sesuai dengan kondisi kemasyar akatan dan budaya di negara maju. Di sisi lain teori tersebut tidak terlepas dar i sistem politik. terdapat perbeda an pendapat di antara para ilmuwan. Krisis pem bangunan inilah yang kemudian melahirkan teori dependensia. Meski demikian ketika berada pada dataran rekomendasi.dari penduduk yang mendiami kawasan kumuh di Amerika Serikat. campur tangan pemerintah dalam pembangunan hendaknya diminimalkan. Kemunculan teoriâ teori pembangunan oleh ilmuwan di negaraâ negara maju. Di sisi lain bantuan pemban gunan yang diberikan membuat bargaining position NSB menjadi menurun. tata nilai dan paradigma yang selama ini dianut oleh masyaraka t negara maju. Teori ini muncul mel alui pertemuan yang diadakan oleh para ilmuwan di kawasan tersebut yang membahas krisis pembangunan yang mereka hadapi. merupakan sanggahan ata s teori pembangunan yang dirasakan terlalu bersifat Eurosentris (bias ke Eropa). balk dari Amerika Seri kat maupun badan-badan dunia yang ada. Kendati negaranega ra di Amerika Selatan telah sekian lama mendapat bantuan. mengingat setiap campur tan gan 53 . meski demikian berba gai metode untuk mengurangi ketergantungan itu sendiri. Di sisi lain menginginkan jalan kooperatif. namun prestasi yang diperlihatkan masih k urang menggembirakan. Di satu pihak. Reaksi atas penerapan mo del teori pembangunan yang sudah mapan di Amerika Latin. Tesis dari teori tersebut didasarkan pad a pandangan bahwa interaksi antara negara-negara Amerika Latin dengan negara-neg ara maju bersifat menguntungkan sepihak dan eksploitatif. Pemberian bantuan dari masyarakat negara maju terhadap negara berkembang pada akhirnya justru meningka tkan ketergantungan negara-negara sedang berkembang. Jika diamati lebih lanjut teori pembangunan Eurosentris cenderung merujuk pada pandangan kaum Neoâ Klasik. Justru pembangunan permasalahan krisis pembangunan menjadi menonjol di kawasan tersebut. Para ilmuwan ini juga mengkritik meto de pemberian bantuan pembangunan yang pada dasarnya hanya bersifat semu. Identif ikasi penyebab krisis pembangunan dari teori dependensia didasarkan pada pandang an Marx. akibatnya pemaksaan kepentingan negara maju terhadap negara berkembang dapat ditingkatkan sejalan dengan pemberian bantuan tersebut. sekelompok ilmuwan merekomend asikan untuk mengisolasi diri dari hubungan dengan dunia internasional terutama negaraâ negara maju. Menurut pandangan teori ini.

Bantuan pembangunan yang disalurkan lewat lembaga-lembaga dunia tersebut selalu akan berkaitan denga n peningkatan hegemoni negara-negara maju dalam percaturan politik dan ekonomi 54 . di mana mekanisme harga telah be rlaku dengan baik. atau mekanisme pasar tidak sepenuhn ya berlaku. Bagi para ekonom dependensia. karena selama ini hanya teori tersebut yang diketahui dan dipela jari. Tingginya peran pemerintah dalam perekonomian. menjadikan teori tersebut lebih tepat digunakan di NSB. seringkali bantuan yang diberikan oleh negara-negara maju me nsyaratkan pada suatu hal yang berkaitan dengan penerapan teori Neo-Klasik yang menguntungkan mereka. bahwa diperlukan campur tangan pemerintah dalam perekonomian untuk menghilangkan kegagalan pasar tersebut. mekanisme harga dan pasar han ya terjadi di sebagian wilayah negara itu. Di sisi lain. dan kegagalan pasar yang ada. lembaga-lembaga dunia terseb ut tidak lebih dari perpanjangan tangan negara-negara maju. Permasalahannya adalah asumsi dasar perekonomian ala NeoKlasik han ya dapat dicapai oleh negara yang relatif maju. Hal ini semata-mata disebabkan oleh penekanan pengajaran di negara-negara maju tersebut sangat menjunjung tinggi ma zab Neo-Klasik. cenderung menerapkan teori Neo-Klasik. Dengan demikian di negara sedan g berkembang selalu terjadi kegagalan pasar. Di negaraâ negara sedang berkembang. Kepercay aan terhadap mekanisme pasar merupakan paradigma utama dan pandangan para ilmuwa n Neo-Klasik. pembukaan kesempatan kerja bagi PMA. Model perekonomian Keynes nampaknya merupakan model perekonomian yang paling cocok diterapkan di NSB. Hal ini menyebabkan mekanisme pasar yang ada tidak mencerminkan kelangkaan dan sistem alokasi sumberdaya yang sesungguhnya. Permasalahannya adopsi terhadap teori ini belum banyak dilakukan karena pa ra pengambil keputusan di NSB. tidak memu ngkinkan mekanisme pasar terjadi secara menyeluruh di semua kawasan negara terse but. Dalam kondisi semacam ini.pemerintah dalam perekonomian akan selalu mengakibatkan distorsi pasar. umumnya alumni dari universitas di negara-negara maju. Keynes merekomendasikan. dan libe ralisasi perekonomian adalah sedikit contoh dari praktek kebijakan yang didasark an pada teori Neo-Klasik. Privatisasi. Hal ini didukung oleh penilaian dan bantuan lembaga-le mbaga dunia yang selalu merekomendasikan penerapan kebijakan yang berbau kapital isme dan liberalisme. Dualisme ekonomi yang ada.

Munculnya teori dependensia merupakan tonggak kebangkitan pemikiran di ne gara-negara sedang berkembang. Di Asia. namp aknya akan menjadi problema potensial di masa datang. krisis pembangunan tetap bermuara pada masalah kelaparan. Krisis dl Negara Dunla Ketiga Krisis yang terjadi di neg ara dunia ketiga memiliki perbedaan mendasar dibandingkan krisis pembangunan di dua belahan dunia yang lain. namun pada dataran solusi dan rekomendasi te ori ini kurang mampu mengakomodasikan permasalahan pembangunan di NSB. Konsep ini kemudian menjadi tolak ukur umum keberhasilan pembangunan. tanpa mam pu mencarikan alternatif jalan keluar dari keterkungkungan belenggu keterbelakan gan itu sendiri. Dependensia merupakan awal dari suara negara Duni a Ketiga dalam merespon perkembangan teori pembangunan yang berasal dari Barat. lnilah awal krisis dari proses pembangunan yang dilaksanak an oleh NSB. pertumbuhan kemudian menjadi tujuan utama dari proses pembangunan di negara-nega ra sedang berkembang.dunia. 4.3. praktis krisis etnis merupakan proble ma potensial yang sewaktu--waktu dapat terjadi. Meski teori Dependensia sangat baik dalam mendeskripsikan sebab musabab kemundur an negara-negara sedang berkembang. tujuan pembangunan lebih ditekan kan pada pembangunan negara secara umum. 4. Kondisi ini diperparah dengan masalah etnis ya ng sering menyulut peperangan antarsuku dan negara di Afrika. Kelaparan yang te rjadi secara simultan dengan krisis etnis ini menambah permasalahan pembangunan menjadi semakin sulit dipecahkan. yaitu yang terjadi di Afrika dan di Asia. Kasus Somalia adal ah salah satu contoh betapa rentannya iklim politik di Afrika. 55 . KRISIS INSTITUSIONAL Konsep pembangunan pada era 1950-1960 menekankan bahwa keberhasilan pembangunan diukur dad pertumbuhan ekonomi yang dicapai oleh masyarakat suatu negara.4. Sementara itu pertentan gan etnis di kawasan lain Asia nampaknya kurang menunjukkan tanda-tanda yang men gkhawatirkan. Terdapat dua pola krisis pembangunan di Dunia Ketig a. Dengan menganut konsepsi tersebut.3. p ertentangan sangat mewarnai perkembangan benua tersebut. Kemudian yang terjadi adalah pesatnya laju pertumbuhan e konomi yang disertai kerentanan struktur sosial akibat kesenjangan distribusi pe ndapatan. Tak pelak lagi. dan bukan peningkatan kesejahteraan yan g merata antarindividu. Di Afrika. Namun demikian dominasi ras "kuning" dalam perekonomian Asia. Pada beberapa kawasan di Asia.

Jika ini yang terj adi maka beban yang dipikul masyarakat semakin besar. Pada awal kemerdekaan. Konsekuensi Iogisnya. dan risiko ketidakberhasil an pembangunan ekonomi semakin meningkat. Konsepsi aliran arus utama (mainstream) pembangunan menek ankan proses pembangunan sebagai suatu proses pembentukan national building. Bahkan proses pembangunan itu sendiri sering mend apat kendala dari konflik politik yang ada dalam suatu negara. pembangunan politik dan militer sebagai upa ya mempersatukan bangsa sangat diperlukan. Pada kenyataannya hal tersebut tidak dapat dipisahkan dari dunia nyata. Untuk menyukseskan hal tersebut diperlukan surplus pendanaan yang berupa dana investas i dan dana kesejahteraan. Hal ini menunjukkan bahwa tujuan pembangunan bias pada upaya pembangunan kekuatan n egara dan bukan pada peningkatan kesejahteraan masyarakat. Dalam bahasan mengena i pembangunan. di sisi lain. Pil ihan tujuan dan proses pembangunan dalam suatu negara seringkali harus tunduk pa da kepentingan atau tujuan politik tertentu. diperlukan surplus ekonomi yang besar untuk menyokong pembangunan kekuatan politik dan militer. Alokasi sumberdaya yang tidak efisien merupakan konsekuensi logis yang ha rus diterima. Konsepsi pembangunan yang berorient asi pada penguatan kekuatan nasional ini pada akhirnya justru menciptakan krisis pembangunan itu sendiri. yang umumnya banyak membutuhkan biaya besar. Namun demikian kenyataan menunjukkan bahwa pembebanan biaya pembangunan kekuatan nasional seringkali hanya didasarkan pada kehendak dan emosi segelinti r orang pemegang kekuasaan untuk mempertahankan kekuasaannya. Semakin tinggi rasa persatua n masyarakat suatu negara.Krisis pembangunan di NSB umumnya dimulai dari ketidakjelasan untuk siapa hasil pembangunan ditujukan. Konflik politik. Tujuan pelaksanaan pembangunan tidak pernah dapat d ipisahkan dari dunia nyata. Besarnya biaya yang harus dikeluarkan untuk membangun kekuatan politik dan militer sangat bergantun g pada rasa persatuan pada masyarakat suatu negara. Upaya untuk menggalang kekuatan nasional akan menempat kan prioritas pembangunan kekuatan politik dan militer di atas pembangunan ekono mi. semakin rendah biaya yang dipikul untuk kepentingan t ersebut. juga banyak mempengaruhi tujuan pembangunan atau bahkan pada beber apa hal justru menyebabkan proses pembangunan tidak berjalan secara efisien. 56 . selalu diasumsikan bahwa pembangunan ekonomi dapat dipisahkan dar i permasalahan-permasalahan politik. Kendati demikian harus dipertimbangka n pula prioritas pembangunan ekonomi di masa-masa mendatang. Strategi pembangunan pada tahapan ters ebut tidak dapat dipisahkan dari strategi penggalangan kekuatan nasional. Tujuan pelaksanaan pembangunan tidak pernah dilepask an dari tujuan-tujuan politik.

sehingga dapat meredam ke mungkinan munculnya konflik internal. maka sumberdaya manus ia yang ada siap dimanfaatkan untuk melaksanakan pembangunan selanjutnya. Longman Scientific & Te chnical. 1990. Pada negara yang menitikberatkan penggalangan kekuatan nasional melalui pembangunan militer . Rahardjo. Jakarta. 1987. Bjorn. Sustainable development merupakan strategi pembangunan yang m ampu mengatasi kelangkaan sumberdaya. Pembangu nan masyarakat yang memiliki pengetahuan yang balk dengan tingkat kesadaran ting gi dan berideologi. Lewis. 57 . Jakarta. maka penggalangan kekuat an nasional lebih ditekankan pada pemecahan masalah pendidikan daripada untuk ke kuatan militer. Strategi-strategi ini relatif lebih meyaki nkan dan sesuai diterapkan oleh NSB dalam jangka panjang. 1988. permasalahan keamanan dan permasalahan pembangunan dapat diata si dengan beberapa strategi pembangunan. jauh lebih berdaya guna dibandingkan pembangunan militer yan g tangguh. M. Dawam. Eseiâ esei Ekonomi Politik.Kedua dana tersebut dimaksudkan untuk mendukung proses penggalangan kekuatan nas ional tersebut. jika hal yang sama terjadi pada negara yang mengembangkan pendidikan sebagai tujuan utama. Di sisi lain. Development Theory and the Three Worlds. LP3ES. yaitu penin gkatan Jaya saing. BACAAN YANG DIANJURKAN Hettne. maka sumberdaya yang digunakan akan jauh lebih efisien. London. kelangkaan sumberdaya akan membawa keresahan yang pada akhirnya akan diatasi d engan pemerintahan yang ditaktor. Risikonya adalah jika terjadi kesalahan dalam memobilisasikan su mberdaya baik dari sisi internal maupun sisi eksternal. Dalam jangka panjang pembangunan penggalangan kekuatan nasional melalui pendidikan ak an membawa hasil yang lebih berdaya guna dibandingkan dengan alokasi sumberdaya di bidang penguatan militer tanpa mengindahkan kebutuhan pendidikan. eds. Self reliance strategies dapat dijadikan j alan keluar untuk mengatasi problema eksternal dari industrialisasi. bab 1. bab 4. John P dan Valeriana Kallab. Dalam dataran teoritis. Benteng kekuatan nasional terletak pada kesadaran dan rasa tanggung j awab serta intelektualitas penduduk dibandingkan dengan perangkat militer. Basic need strategy merupakan strategi pembangunan untuk memenuhi kebutuhan pokok masyarakat. Mengkaji Ulang Strategiâ strategi Pembangunan (terjemahan). UIâ Press.

BAB V MASALAH KETIMPANGAN DAN KEMISKINAN Kemiskinan merupakan masalah yang dihadapi oleh semua negara di dunia. Di Amerik a Serikat (AS), yang tergolong negara maju dan salah satu negara kaya di dunia, masih terdapat jutaan orang yang tergolong miskin. Sementara itu, mereka yang hi dup tidak miskin relatif miskin dibanding penduduk AS yang lainnya. Persis seper ti dikatakan oleh Sharp, et.al. (1996): "Poverty amidst plenty" is a striking fe ature of the American scene. Our nation is the richest in the world, yet million s of people are poor, and millions more that do not live in poverty are poor rel ative to others. This is not the American dream; it is the American paradox. Di lain pihak, negara miskin menghadapi masalah "klasik": pertumbuhan versus distri busi pendapatan. Isu mendasarnya adalah tidak hanya bagaimana meningkatkan pertu mbuhan GNP namun juga siapa yang membuat "kue nasional" itu tumbuh, segelintir o rang ataukah banyak orang. Bila pertumbuhan terutama disumbang oleh golongan kay a, maka merekalah yang paling mendapat manfaat dari pertumbuhan, sementara kemis kinan dan distribusi pendapatan semakin memburuk. Namun, bila pertumbuhan disumb ang oleh banyak orang, maka buah dari pertumbuhan ekonomi akan dirasakan secara lebih merata. Banyak Negara Dunia Ketiga (NSB) mengalami laju pertumbuhan ekonom i yang relatif tinggi tetapi tidak membawa manfaat yang berarti bagi penduduk mi skin. Hal ini dialami oleh ratusan juta penduduk di Afrika, Asia, dan Amerika La tin, di mana tingkat kehidupannya relatif berhenti dan bahkan anjiok bila dinila i secara riil. Dengan kata lain, kemiskinan setidaknya dapat ditinjau dari 2 sis i, yaitu: Pertama, kemiskinan absolut, di mana dengan pendekatan ini diidentifik asikan jumlah penduduk yang hidup di bawah garis kemiskinan tertentu. Kedua, kem iskinan relatif, yaitu pangsa pendapatan nasional yang diterima oleh masing-masi ng golongan pendapatan. Dengan kata lain, kemiskinan relatif amat erat kaitannya dengan masalah distribusi pendapatan. 5.1. BEBAN KEMISKINAN GLOBAL Kemiskinan y ang banyak terjadi sekarang ini mempunyai penyebaran yang tidak seimbang balk an tarwilayah yang ada Dunia Ketiga maupun antarnegara yang ada di 58

wilayah-wilayah tersebut. Hampir setengah dari seluruh masyarakat yang miskin hi dup di Asia Selatan yang mempunyai jumlah penduduk sebesar 30 persen clari total populasi dunia. Sub Sahara Afrika mempunyai penduduk dengan jumlah yang lebih k ecil, tetapi tingkat ketimpangannya masih cukup besar. Hampir di setiap negara, kemiskinan selalu terpusat di tempat-tempat tertentu, yaitu biasanya di perdesaa n atau di daerah-daerah yang kekurangan sumber Jaya. Persoalan kemiskinan juga s elalu berkaitan dengan masalahmasalah lain, misalnya lingkungan. Beban kemiskina n paling besar terletak pada kelompok-kelompok tertentu. Kaum wanita pada umumny a merupakan pihak yang dirugikan. Dalam rumah tangga miskin, mereka sering merup akan pihak yang menanggung beban kerja yang lebih berat daripada kaum pria. Demi kian pula dengan anak-anak, mereka juga menderita akibat adanya ketidakmerataan tersebut dan kualitas hidup masa depan mereka terancam oleh karena tidak tercuku pinya gizi, pemerataan kesehatan, dan pendidikan. Selain itu timbulnya kemiskina n sangat sering terjadi pada kelompok-kelompok minoritas tertentu. Dalam banyak kasus, pendapatan yang rendah selalu berkaitan dengan bentukbentuk "kekurangan" yang lain. Misalnya saja di Meksiko, tingkat harapan hidup 10 persen penduduk te rmiskin lebih rendah 20 tahun dibandingkan dengan 10 persen penduduk terkaya. Di Pantai Gading, tingkat pendidikan dasar bagi penduduk termiskin hanya seperlima dari 10 persen penduduk terkaya. Kemiskinan berbeda dengan ketimpangan distribu si pendapatan (inequality). Perbedaan ini sangat perlu ditekankan. Kemiskinan be rkaitan erat dengan standar hidup yang absolut dari bagian masyarakat tertentu, sedangkan ketimpangan mengacu pada standar hidup relatif dari seluruh masyarakat . Pada tingkat ketimpangan yang maksimum, kekayaan dimiliki oleh satu orang saja , dan tingkat kemiskinan sangat tinggi. Di sini kemiskinan didefinisikan sebagai ketidakmampuan untuk memenuhi standar hidup minimum. Definisi tersebut menyirat kan tiga pertanyaan dasar, yaitu: bagaimanakah mengukur standar hidup? Apa yang dimaksudkan dengan standar hidup minimum? Indikator sederhana yang bagaimanakah yang mampu mewakili masalah kemiskinan yang begitu rumit? 5.1.1. Garis Kemiskina n Semua ukuran kemiskinan dipertimbangkan berdasarkan pada norma tertentu. Pilih an norma tersebut sangat penting terutama dalam hal pengukuran kemiskinan yang d idasarkan konsumsi. Garis kemiskinan yang didasarkan pada konsumsi (consumptionbased poverty line) terdiri dari dua elemen, yaitu: (1) pengeluaran yang diperlu kan untuk membeli standar 59

gizi minimum dan kebutuhan mendasar Iainnya; dan (2) jumlah kebutuhan lain yang sangat bervariasi, yang mencerminkan biaya partisipasi dalam kehidupan masyaraka t sehari-hari. Bagian pertama relatif jelas. Biaya untuk mendapatkan kalori mini mum dan kebutuhan lain dihitung dengan melihat harga-harga makanan yang menjadi menu golongan miskin. Adapun elemen kedua sifatnya lebih subyektif. Persepsi men genai kemiskinan telah berkembang sejak lama dan sangat bervariasi antara budaya yang satu ke budaya yang lain. Kriteria untuk membedakan penduduk miskin dengan yang tidak miskin mencerminkan prioritas nasional tertentu dan konsep normatif mengenai kesejahteraan. Namun umumnya pada saat negaranegara menjadi lebih kaya, persepsi mengenai tingkat konsumsi minimum yang bisa diterima, yang merupakan g aris batas kemiskinan, akan berubah. 5.1.2. Seberapa Besar Tingkat Kemiskinan Te rjadi? Cara yang paling sederhana untuk mengukur tingkat kemiskinan adalah denga n menghitung jumlah orang miskin sebagai proporsi dari populasi. Cara yang lazim disebut dengan Headcount Index ini sangat bermanfaat, meskipun indikator ini se ring dikritik karena mengabaikan jumlah penduduk yang berada di bawah garis kemi skinan. Oleh karena itu, kesenjangan kemiskinan pendapatan atau poverty gap digu nakan untuk mengatasi kelemahan headcount index (Meier, 1995: h. 26). Poverty ga p menghitung transfer yang akan membawa pendapatan setiap penduduk miskin hingga tingkat di atas garis kemiskinan, sehingga kemiskinan dapat dilenyapkan. Penggu naan batas atas kemiskinan sebesar US$370 menyebabkan timbulnya estimasi bahwa 1 .116 juta orang di NSB hidup dalam kemiskinan pada tahun 1985 .. Jumlah tersebut merupakan sepertiga dari total populasi di NSB. Di antara jumlah tersebut, 633 juta orang (18 persen dan total populasi di NSB) tergolong sangat miskin, di man a konsumsi tahunan mereka kurang dari US$275 (batas bawah kemiskinan). Kendati d emikian, poverty gap hanya 3 persen dari konsumsi NSB. Bahkan transfer yang dibu tuhkan untuk mengentaskan penduduk yang sangat miskin hanya 1 persen dari konsum si NSB. Tingkat kematian balita di hampir semua NSB rata-rata adalah 121 per ser ibu kelahiran hidup, dan tingkat harapan hidup mereka hanya 62 tahun, sedangkan tingkat pendidikan dasar hanya 83 persen. Hampir separuh penduduk di dunia merup akan golongan miskin, dan hampir separuh dari penduduk yang sangat miskin tingga l di Asia Selatan Negara-negara Sub Sahara Afrika memiliki sekitar sepertiga pen duduk miskin. Negara-negara di Afrika bagian timur tengah dan utara merupakan da erah kedua yang memiliki jumlah penduduk miskin terbesar. Rekor ini diikuii oleh Amerika Latin dan Karibia serta Asia Timur. 60

ternyata hanya terjadi perbaikan tingkat kemi skinan pada akhir tahun 1980-an. kurva U terbalik . yang sekitar 1. Perhatikan bahwa sebagian besar kurva Kuznets terletak d i sebelah kanan. Varian di s ekitar kurva Kuznets lebih banyak terdapat di negara dengan tingkat pendapatan t ergolong menengah papan bawah. Simo n Kuznets (1955) membuat hipotesis adanya kurva U terbalik (inverted U curve) ba hwa mula-mula ketika pembangunan dimulai. Peningkatan jumlah kemiskinan hampir sama denga n peningkatan jumlah penduduk.Meskipun NSB telah mengalami kemajuan yang substansial dalam menurunkan kemiskin an selama tiga dasawarsa terakhir. distribusi p endapatan makin merata. 5. namun setelah mencapai suatu tingkat pembangunan tertentu. Hal ini tentunya memerlukan tingkat pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi y ang dibarengi dengan perbaikan pola pertumbuhan yang menguntungkan golongan misk in.1. Kritik utama terhadap kurva Kuznets adalah hasil ini sangat sensitif terhadap ukuran inequalitydan pemilihan set data. distribusi pendapatan akan makin tidak merata. Oleh karena it u. Penyebab Kemiskinan 61 . Dengan mel akukan pemilihan yang berbeda. PENYEBAB DAN SOLUSI KEMISKINAN 5.3. atau tidak ada hubungan sama sekali. seseorang bisa mendapat kurva U. 5. HIPOTESIS U TERBALIK TENTANG KETIMPANGAN Banyak perhatian telah diberik an terhadap bagaimana distribusi pendapatan berubah dalam masa pembangunan.3.5 persen per tahun. tantangan kunci yang dihadapi oleh NSB adalah mempercepat pengurangan kemiski nan. ketidakmerataan pendapatan menurun seiring dengan peningkatan G NP per kapita pada tahap pembangunan selanjutnya (lihat Gambar 6.2.1).

Rendahnya kualitas sumberdaya manusia ini karena rendahnya pendidikan. yang pada gilirannya upahnya rendah.2). et. Kedua. ketidaksempur naan pasar. Gambar 5. Kualitas sumberdaya manusia yang rendah berarti produktivita snya rendah. Kemiskinan massal yang te rjadi di banyak negara yang baru saja merdeka setelah Perang Dunia II memfokuska n pada keterbelakangan dari perekonomian negara tersebut sebagai akar masalahnya (Hardiman dan Midgley. Ketiga penyebab kemiskinan ini bermuara pada teori lingkaran set an kemiskinan (vicious circle of poverty). Penduduk negara tersebut miskin karena menggantungkan diri pada sektor pertanian yang subsisten. Ketiga.al (1996: h. Adanya keterbelakangan. Rendahnya p roduktivitasnya mengakibatkan rendahnya pendapatan yang mereka terima. kemiskinan muncul akibat perbedaan aks es dalam modal. Penduduk miskin hanya memiliki sumberdaya dalam jumlah terbatas d an kualitasnya rendah. Pertama. S harp. Rendahnya i nvestasi berakibat pada keterbelakangan. kemiskinan muncul karena adanya ketidaksamaan pola kepemilikan sumberdaya yang menimbulkan distribusi pendapatan yang timpang. Rendahnya pendapatan akan berimplikasi pada rendahnya tabungan dan investasi. 1982: h. Logi ka berpikir ini dikemukan oleh Ragnar Nurkse. Lingkaran Setan Kemiskinan (The V icious Circle of Poverty) 62 . di tah un 1953. yang seringkali dibarengi dengan sikap apatis terhadap lingkungan. adanya dis kriminasi. metode produksi yang t radisional. dan seterusnya (lihat Gambar 6.Ada banyak penjelasan mengenai sebab-sebab kemiskinan. atau karena keturunan. secara mikro. ekonom pembangunan ternama.2. dan kurangnya modal menyebabkan rendahnya produktivitas. yang mengatakan: "a poor country is poor because it is boor"(negara mis kin itu miskin karena dia miskin). nasib yang kurang beruntung. 173-191) mencoba mengidentifikasi penyebab kemiskinan dipa ndang dari sisi ekonomi. 52-54). kemiskinan muncul akibat perbedaan dalam kualitas sumberdaya manusia.

Ide bah wa tenaga kerja yang masih belum didayagunakan pada rumah tangga petani kecil da n gurem merupakan sumberdaya yang tersembunyi dan merupakan potensi tabungan. turunnya penda patan riil. rendahnya tabungan. Alternatif cara yang dapat dig unakan untuk memobilisasikan tenaga kerja dan tabungan perdesaan adalah: (1) men ggunakan pajak langsung atas tanah. mendasarkan pada m obilisasi tenaga kerja yang masih belum didayagunakan (idle) dalam rumah tangga petani gurem agar terjadi pembentukan modal di perdesaan (Nurkse. yaitu: Pertama. 1990) . dan investasi mengalami penurunan sehingga melin gkar ulang menuju keadaan kurangnya modal. Penggajian alas tenaga kerja berasal dari kelompok produksi lokal dengan menghitung hari kerjanya di dalam kelompok sebelum menentukan bagia n dari masing-masing anggota kelompok dalam panen tiap tahun. misalnya lewat Iebih banyaknya jam kerja setiap musim dalam setiap hektar lahan sawah (terutama akibat pengenalan varitas unggul dan perubahan teknologi) dan meningkatnya 63 . Dengan metode ini ternyata memungkinkan adanya kenaikan yang substansial dalam: (1) intensita s tenaga kerja dalam budidaya tanaman. (2) dapat dilakukan dengan menyusun kerangka kelembagaan di perdesaan yang mem ungkinkan tenaga kerja yang belum didayagunakan untuk pemupukan modal tanpa perl u menambah upah Hal ini persis apa yang dilakukan oleh Cina yang menerapkan sist em ini alas dasar kerja sama kelompok dan brigades di tingkat daerah yang paling rendah (communes).Negara berkembang sampai kini masih saja memiliki ciri-ciri terutama sulitnya me ngelola pasar dalam negerinya menjadi pasar persaingan yang lebih sempurna. metode ini tid ak dapat diterima di India karena adanya hambatan politis atas kasta (Raj.3. Ke ndati demikian. Keti ka mereka tidak dapat mengelola pembangunan ekonomi. setiap usaha memerangi kemiskinan seharusnya diarahkan untuk memotong Iingkaran dan perangkap kemiskinan ini. Oleh k arena itu. Meskipun m etode pajak langsung atas tanah ini berdasarkan atas prinsip progresif dan terba tas pada rumah tangga petani pada lapisan pendapatan yang tinggi. beberapa cara perlu dilakukan untuk menga mankan tabungan dari dalam rumah tangga tersebut. maka kecenderungan kekurang an kapital dapat terjadi.2. 5. berputar. Demikian seterusnya. bila tenaga kerja tersebut diupah sesuai dengan upah yang berlak u dan potensi tabungan direalisasikan. 1951). seperti yang dilakukan di Jepang. Metode ini diterap kan untuk proyek pembangunan infrastruktur dan proyek padat karya. diikuti dengan rendahnya produktivitas. Alternatlf Solusi Kemiskinan Pen galaman di negara-negara Asia menunjukkan adanya berbagai model mobilisasi perek onomian perdesaan untuk memerangi kemiskinan.

(2) hasil tanaman. dan lebih dari sepertiga total produksi padi dapat diangga p sebagai sewa oleh para pemilik tanah. 1954). atau Rural-Led Development. seperti pemilik perkebuna n di Afrika. ditekankan bagaimana para kapitalis. memiliki kepentingan Iangsung dalam menjaga rendahnya produktivitas para pekerja subsisten dan menggunakan kekuasaan politiknya untuk menekan kemaj uan teknologi pada pertanian kecil (Lewis. seperti padi yang rata-rata meningkat d ari 2. D alam konteks ini. mulanya tidak berkaitan sama sekali dengan mobilisasi ekonomi p erdesaan. Fei dan Ranis.intensitas penanaman.5 ton. 1971). 19 63.75 ton per hektar pada pertengahan 1950-an menjadi 4 ton saat ini. bahkan di beberapa daerah hampir mencapai 6. meskipun dibarengi dengan tingginya sewa yang dibaya r kepada pemilik tanah dan memburuknya nilai tukar. tanpa menggunakan instrumen pajak seperti yang dilakukan ol eh Jepang. Surplus ini sebagian besar diangkut ke J epang untuk menopang industrialisasinya dan relatif sedikit sekali membantu pemb angunan industri Taiwan. di perekonomian perdesaan atau di kota) dapat saja d ipengaruhi oleh produktivitas tenaga kerja di sektor subsisten. Beberapa permasalahan 64 . 1976). Ide bahwa suplai tenaga kerja yang tidak terbatas dari rumah tangga petani kecil dapat meningkatkan tabungan dan formasi modal lew at proses pasar. Ketersediaan tenaga kerja semacam itu dikemukakan hanya untuk menjelas kan bagaimana pangsa relatif upah dan laba pada sektor kapitalis (apakah di sekt or pertanian atau industri. Proporsi output sektor pertanian sebagian besar tetap dijaga sebagai surplus lewat intermediasi pemilik tanah dan melalui nilai tukar (terms of trade ) sebelum Perang Dunia II (Lee. yang pada gilira nnya dapat mempengaruhi tabungan dan investasi dalam perekonomian secara umum. Keadaan ini dapat dilakukan selama masa p enjajahan di mana pemaksaan dengan menggunakan kekuatan polisi mulai dikenal dal am perekonomian desa. 1964). Mellor. Model ini dikenal dengan nama Model Pertumbuhan Berbasis Tekn ologi. secara analitis yang dapat dipetik ad alah bahwa mobilisasi sumberdaya dari sektor pertanian hanya Iayak karena output tumbuh lebih cepat dibanding penduduk. Model yang kedua. Model ketiga. Pengalaman Taiwan merupakan co ntoh yang balk atas mobilisasi sumberdaya dari sektor pertanian dengan mengandal kan mekanisme pasar. dan akibatnya produktivitas tenaga kerja meningkat pada kecepatan yang memungkinkan kenaikan moderat dalam konsumsi per kapita di sektor pertanian. menyoroti pote nsi pesatnya pertumbuhan dalam sektor pertanian yang dibuka dengan kemajuan tekn ologi dan kemungkinan sektor pertanian menjadi sektor yang memimpin (Schultz. 1954. menitikberatkan pa da transfer sumberdaya dari pertanian ke industri melalui mekanisme pasar (Lewis . Kendati demikian.

menyimpulkan bahwa ketidakmerataan yang timbul berdampak se dikit terhadap akumulasi modal Amerika pada abad ke-19 dan untuk lnggris tidak b erdampak sama sekali. yaitu: (1) kemampuan mencapai tingkat pertumbuhan output pertanian yang tinggi. Yang jelas. Kasus di Cina. Seorang sejarahwan ekonomi. 5. bahan baku .4. Diskusi mengenai ada tidaknya tradeoff antara pertumbuhan dengan 65 . dampak keterkaitan menjadi tidak pasti b ila bagian terbesar dari kenaikan pendapatan hanya dinikmati oleh rumah tangga p emilik tanah yang berpenghasilan tinggi karena tambahan konsumsinya cenderung di alokasikan untuk komoditi dan jasa nonpertanian. dan Korea Selatan setelah Perang Dunia II m enunjukkan bahwa kondisi tersebut dapat dicapai dengan program land reform yang dikombinasikan dengan eksploitasi potensi sumberdaya dengan teknologi modern unt uk perluasan tanah. tenaga kerja. Proses ini akan berhasil apabila 2 syarat berikut ter penuhi. Taiwan. Dampak keterkaitan dalam ekonomi pe rdesaan tentunya dapat lebih kuat dalam meningkatkan permintaan pangan bila prop orsi kenaikan pendapatan dari pertumbuhan output bahan pangan digunakan untuk me mbeli produk industri perdesaan. Sekto r pertanian tidak hanya sebagai sumber pasok sumberdaya (baik pangan. dan oleh karena itu mendukung pr oses pertumbuhan seimbang. ada berbagai cara pertum buhan ekonomi mempengaru hi distribusi pendapatan. Jeffrey Williamson. Namun. Perlu juga dicatat bahwa pertum buhan pertanian yang pesat dapat menciptakan pola pembangunan yang dipimpin pert anian hanya apabila terjadi distribusi kekayaan yang lebih merata dalam perekono mian agraris.dalam strategi pembangunan dengan sektor pemimpin pertanian (rural-led developme nt) didasarkan atas kemungkinan dibukanya pertanian oleh teknologi modern. KETIDAKMERATAAN VER SUS PERTUMBUHAN Ada teori yang mengatakan ada tradeoff antara ketidakmerataan da n pertumbuhan. namun sebagai sektor yang mampu meningkatkan per mintaan atas produk pertanian dan nonpertanian. penggunaan tenaga kerja secara intensif. peningkatan pendapa tan dan permintaan secara meluas dalam masyarakat desa. Namun ketidakmerataan yang timbul memang memegang peranan penting dalam sulitnya akumulasi modal SDM. (2) proses ini juga menciptakan pola permintaan yang kondusif terhadap p ertumbuhan. atau tabungan). Di banyak NSB tidak ada tradeoff antara pertumbuhan dan ketidakmerataan. Namun kenyataan membuktikan ketidakmerataan di NSB dalam dekade b elakangan ini ternyata berkaitan dengan pertumbuhan rendah. Pada gilirannya ini tergantung dari dampak keterkaitan ekonomi perde saan lewat pengeluaran atas barang konsumsi yang dipasok dari dalam sektor itu s endiri. dan melalui investasi yang didorong.

yang ditunjukkan oleh ukuran negara. Studi selanjutnya. St udi-studi empiris tersebut agaknya mendukung tesis Kuznets tetang kurva U yang t erbalik. dasar sumberdaya alam. Pakistan. Beberapa pakar p embangunan. negara yang mengalami kenaikan ketimpangan distribusi pendapatan terny ata kurang lebih sama dengan banyaknya negara yang mengalami penurunan ketimpang an pendapatan.4. yang mengamati perubahan dan pola distribusi pendap atan di 3 negara Amerika Latin. runtut waktu (time series). dan Puerto 66 . ataukah menggunakan da ta mikro. Charter. Chenery dan Syrquin (1975). Dengan kata lain. Ketiga. 5. seperti Fei dan Ranis (1964). menurut Fields (1990). dan Philipina. kemiskinan absolut menurut di kebanyakan negara. Kesimpulan Fileds ini didasarkan pengamatannya atas fenomena berikut: Negara yang ketimpan gan pendapatan dan kemiskinannya menurun ditemukan di Costa Rica. faktor kebijakan dan dimensi struktural perlu diperhatikan selain laju pertumbuhan ekonomi. Yang menarik adalah adanya bukti bahwa hampir separuh variasi distribus i pendapatan dapat dijelaskan oleh tingkat pendapatan nasional. Negara di mana ketimpanga nnya meningkat tetapi kemiskinannya menurun adalah Bangladesh. dan Puerto Rico. Meksiko. Studi yang kompresif yang dilakukan oleh Fields (1980) menemukan fakta menarik berikut ini: Pertama. dan kebijak an yang dianut. Mari kita simak beberapa hasil studi yang menggunakan ketiga macam jen is data ini. Studi yang dilakukan oleh Fishlow (1972) menunjukkan bahwa sukses ekonomi makro di Br azil ternyata tidak diikuti dengan membaiknya distribusi pendapatan.pemerataan. Ahluwalia. Fakta ketimpangan dan kemiskinan yang meningkat pa da saat bersamaan terjadi di Argentina. Kedua. Adelman dan Morris (19 73). Adelman dan Morri s (1973). dan Taiwan. hanya mengamati ketimpangan distribusi pendapatan. Brazil.1. yaitu Argentina. berpendapat bahwa ketimpangan pendapatan ditentukan oleh jenis pembangunan ekonomi. 5. Meksiko. Simon Kuznetz (1955) diakui sebagai pelopor studi komparatif dalam distribusi pendapatan. Kuznets (1966). k etimpangan pendapatan dan kemiskinan banyak yang berjalan beriringan. Hal ini bisa dilihat dari studi yan g dilakukan oleh Kravis (1970). dan Chengry (1979). tergantung jenis data yang digunakan apakah s ilang tempat (cross section). Oshima (1962). Pelajaran dari Studi dengan Data Silang Tempat Studi dengan data silang tempat paling populer digunakan.2.4. Pelajaran dari Studi dengan Data Runtut waktu Studi empiris pertama yang menggunakan data runtut waktu dila kukan oleh Weisskoff (1970). Srilangka. Sing apura. Kuznetz (1963).

Februari 1993. dan S. Fakta di banyak negara As ia Timur dan Amerika Latin menunjukkan bahwa pertumbuhan ekonomi yang cepat cend erung akan mengurangi kemiskinan absolut. Journal of Developme nt Economics.Paul Schultz (eds. P elajaran dari Studi dengan Data Mikro Pada akhir 1960-an. Manfaat data mikro selain menjabarkan ketimpangan dis tribusi pendapatan juga menampilkan potret ketimpangan menurut daerah.4. Basil Blackwell. Negara di mana ketimpangan pendapatannya menurun namun kemiskinannnya meni ngkat adalah India. Pertanyaan yang selalu m uncul adalah: seberapa jauh data mikro dapat dipercaya kebenarannya di NSB? Bebe rapa pengamat khawatir bahwa rakyat miskin tidak mampu menjawab pertanyaan dari kantor statistik dengan balk. para pekerja di sektor pertanian. untuk pertama kali dig unakan survei dengan sampel rumah tangga di banyak NSB. tidak salah bila disimpulkan bahwa kendati pertumbuhan ekonomi yang cepat umumnya menurunka n kemiskinan. tinggal di perdesaan. Kanbur. Namun. data mikro mengenai p endapatan absolut mampu menyajikan profit penduduk miskin dengan berbagai karakt eristik. S. industri. dalam Gustav Ranis dan T. maupun jenis kelamin.3. sedang di Sri Lanka.). Srilangka berhasil dalam mengurangi kemiski nan meskipun tingkat pertumbuhan ekonominya rendah.M. The State of Development Economics: Progress and Perspectives. ada perkecualian terhadap trend ini. obsesi mewujudkan pemerataan distri busi pendapatan dilakukan dengan mengorbankan laju pertumbuhan ekonomi. "Income Distribution and Economic Growth". Lepas dari masalah tersebut. Oxford.Rico. Di Philipinan.R. Dengan demikian. Daftar Pustaka Anand. Ternyata tingkat kemiskinan yang tinggi ditemukan di kalangan penduduk yang rendah tingkat pendidikannya. Gary S. dan sebagainya.. Fields. ras. The Kuzn ets Process and the Inequality . Kasus di Philipina terjadi karena memang relatif kurangnya perhatian pemerintah terhadap rakyat miskin. 67 . pertumbuhan ekonomi yang tinggi ternyata tidak diikuti oleh penurunan kemiskinan. Di sisi lain. 5. jawaban atas pertanyaan apakah pertumbuhan ekonomi berpengaruh terhadap distribusi pendapatan tergantung dari perhatian dit ujukan pada kemiskinan ataukah ketimpangan pendapatan. pertumbuhan ekonomi tidak menjamin adanya pengurangan kemiskinan. 1990. Oleh karena itu.Development Relationship".

"Economic Growth and Income Inequality". Simon.W. World Bank. Banking with the Poor: Report and Recommendation. 13 Agustus 1996. CSIS dan Bank Dunia. Thapa. Maret 1955. Jennifer Chalmers. Jakarta. Taylor. Oxford University Press. Michael P.'Kemiskinan dan Ketimpangan Pembagian Pendapatan d alam Pembangunan Ekonomi Indonesia".Kuznets. 1990. 1992. Economic Development. Sigit. John Conroy.. The Foundation for Development Cooperation. World Development Report 1990: Poverty. Oxford. K. Essex. American Economic Revie w. Longman. Brisbane. makalah dalam Seminar Mencari Paradigma Bar u Pembangunan Indonesia.B. Todaro. bab 5. edisi ke-5. Hananto. 68 . G . 1994..

1. Tujuan pembangunan tersebut erat kaitannya dengan upaya mengurangi kemiskinan dan kesenjangan pendapatan. Bab ini diawali dengan tinjauan mengenai indikator kesenjangan dan kemiskina n yang digunakan oleh pemerintah selama ini. Strategi ini sejalan dengan amanat GBHN bahwa arah dan tujuan p embangunan nasional Indonesia harus dapat dimanfaatkan bagi peningkatan kesejaht eraan rakyat. pendapatan nya. 6. ini ditunjukkan oleh berimpitnya kurva Lorens de ngan garis kemerataan sempurna. 69 .1. b ila 40 persen penduduk berpenghasilan terendah menerima 12 hingga 17 persen bagi an pendapatan. Nilai gini ratio berk isar antara nol dan satu. (b) sedang. Singkatnya. Kesenjangan distribusi pendapatan dikategorikan: (a) tinggi. Bab ini secara khusus ak an menelusur dimensi kesenjangan distribusi pendapatan dan kemiskinan di Indones ia. Namun. bila 40 persen penduduk berpenghasilan terendah mener ima lebih dari 17 persen bagian pendapatan. (c) rendah. Kriteria Bank Dunia mendasarkan penilaian distribusi pendapatan atas penda patan yang diterima oleh 40 persen penduduk berpendapatan terendah.1. semakin tinggi nil ai rasio gini maka semakin timpang distribusi pendapatan suatu negara. Trend kesenjangan dan kemiskinan di Indonesia kiranya menarik untuk disimak lebih lanjut. strategi pembangunan yang diprioritaskan pada pemerataan hasilhasil pembangunan dimulai s ejak PELITA III. INDIKATOR KETIMPANGA N DAN KEMISKINAN 6. bila 40 persen penduduk berpeng hasilan terendah menerima kurang dari 12 persen bagian pendapatan. 1994). bila rasio gini sama dengan satu menunjuk kan bahwa terjadi ketimpangan distribusi pendapatan yang sempurna karena seluruh pendapatan hanya dinikmati oleh satu orang saja. Bila rasio gini sama dengan nol berarti distribusi pen dapatan amat merata sekali karena setiap golongan penduduk menerima bagian penda patan yang sama. semakin rendah nilai rasio gini berarti semakin merata distribusi. Indikator Kesenjangan Distribusi Pendapatan Indikator ya ng sering digunakan untuk mengetahui kesenjangan distribusi pendapatan adalah ra sio gini (gini ratio) dan kriteria Bank Dunia (BPS. dan hasil-hasil yang dicapai harus dapat dinikmati secara merata o leh seluruh rakyat Indonesia. Sebalikny a.BAB VI DISTRIBUSI PENDAPATAN DAN KEMISKINAN DI INDONESIA Di Indonesia. Secara grafis.

70 . dan tidak sec epat garis kemiskinan BPS. yang dalam studi selama bertahun-tahun menggunakan suatu garis kemiskinan yang didasarkan atas harga beras. Ukuran Sajogyo tidak men unjukkan penurunan tingkat kemiskinan yang "mulus" seperti versi BPS dalam perio de sebelas tahun keseluruhan. 1992: h. Adapun pengeluaran keb utuhan minimum bukan makanan meliputi pengeluaran untuk perumahan. Untuk kebutuhan minimum makanan digunakan patokan 2. penurunan sangat cepat balk dalam ke miskinan perdesaan maupun perkotaan yang diperlihatkan oleh ukuran Sajogyo setel ah tahun 1980 sebagian karena peningkatan harga beras yang moderat (Booth. Dengan menerapkan garis kemi skinan ini ke dalam data Susenas (Survei Sosiai Ekonomi Nasional) dari tahun 197 6 sampai dengan 1987.2. Batas garis kemiskinan ini dibedakan antara da erah perkotaan dan perdesaan. sandang. yang disesuaikan dengan kenaikan harga barang-barang yang dikonsumsi oleh masyarakat. sert a aneka barang dan jasa. Selama periode 1976 sampai 1993. Indikator Kemiskinan Garis Kemiskinan BPS Batas garis kemiskinan yang dig unakan setiap negara ternyata berbeda-beda. Dengan demikian. telah terjadi peningka tan batas garis kemiskinan. garis kemiskinan Sajog yo meningkat dengan laju yang Iebih lambat dari indeks-indeks ini. Garis Kemiskinan Model Prof Sayogyo Garis kemiskin an lain yang paling dikenal adalah garis kemiskinan Profesor Sajogyo. 1994). balk untuk kawasan perdesa an maupun perkotaan.100 kalori per hari. Dikarenakan garis kemiskinan berdasarkan harga beras adalah Iebih rendah dibanding garis kemiskinan BPS maka persentase penduduk yang hidup di ba wah garis kemiskinan akan Iebih rendah setiap tahunnya. Harga beras selama tahun 1980-an tidak meningkat secepat be rbagai indeks harga yang diterbitkan oleh BPS. ukuran Sajogyo memperlihatkan su atu penurunan substansial dalam insidensi kemiskinan. Kendati demikian. Biro Pusat Statistik (BPS) menggunaka n batas miskin dari besarnya rupiah yang dibelanjakan per kapita sebulan untuk m emenuhi kebutuhan minimum makanan dan bukan makanan (BPS. Akibatnya. 344).1. Hal ini disebabkan karena adanya per bedaan lokasi dan standar kebutuhan hidup. Sajogyo mendefinisikan batas garis kemiskinan sebagai tingkat konsumsi per kapita setahun yang sama dengan beras.7. akan diperoleh persentase penduduk yang hidup di bawah gar is kemiskinan.

3604 pada tahun 1976. 71 . Oleh karena itu. Hasil penelitian Arief dan Wong (1977) membuktikan bahwa di daerah perdesaan Jawa terjadi proses meningkatnya kepincangan pendapata n. Profesor Hendra Esmara mencoba mene tapkan suatu garis kemiskinan perdesaan dan perkotaan yang dipandang dart sudut pengeluaran aktual pada sekelompok barang dan jasa esensial seperti yang diungka pkan secara berturutturut dalam Susenas.1. data terbaru dari BPS (1994) m enunjukkan indikasi terjadinya penurunan kesenjangan distribusi pendapatan di de sa selama 1984-1993 (lihat Tabel 7. Dibandingkan dengan rasio gini di kota te rnyata rasio gini di daerah perdesaan lebih rendah. namun posisi mereka secara relatif lebih buruk dibanding petani kaya yang ja uh meningkat penghasilannya. seperti ditunjukkan oleh meningkatnya rasio gini dari 0. Studi Gibbons. bahkan dalam keluarga miskin. porsinya dalam anggaran keluarga. Artinya. (2) kendati beras tetap menjadi makanan pokok sebagian b esar penduduk Indonesia.Ukuran kemiskinan Sajogyo banyak dikritik karena: (1) mengandalkan pada satu har ga (baca: harga beras).5 persen. 6. Kendati demikian. Ukuran Esmara mampu menangkap dampak in flasi maupun dampak penghasilan rill yang meningkat terhadap kuantitas barang-ba rang esensial yang dikonsumsi. Kesenjangan Kota dan Desa Berbagai studi empiris menunjukkan modernisasi pertanian telah memperlebar kesenjangan d istribusi pendapatan. ukuran kemiskinan Esmara ini meningkat lebih cepa t daripada ukuran BPS maupun Sajogyo. meskipun laju pe nurunan kemiskinan lebih rendah dibanding versi BPS dan Sajogyo. TREND DALAM DISTRIBUSI PENDAPATAN 6. pada tahun 1987 turun menjadi hanya 17. dengan ukuran garis kemi skian Esmara ternyata terdapat penurunan persentase penduduk miskin secara perla han sejak tahun 1978 balk di daerah perkotaan maupun perdesaan. Kalau pada tahun 1969/70. pengeluaran untuk beras dan biji-bijian sekitar 31 persen dari total pengeluaran.2. keadaan distribusi pendapatan di daerah perdesaan relatif lebih merata dibanding di kota. Kendati demikian.2. et at (1980) menyimpulkan bahwa Revolusi Hi jau telah memperparah kepincangan distribusi pendapatan masyarakat karena meskip un petani kecil secara umum membaik kondisinya sebagai hasil modernisasi pertani an. menurun secara cepat.3048 pada tahun 1970 menjadi 0.2).

Keadaan ini terja di hampir di seluruh propinsi selama periode 1984-1993. Studi Ardani agaknya sejalan dengan den gan hasil studi Akita dan Lukman (1994). 1994). 72 . yaitu: semakin ke Kabarin maka semakin banyak dijumpai sektor modern dan i ndustri. semakin banyak dijumpai sektor pertanian dan tradisi onal. Sebagaimana ditunjukkan oleh Gambar 7. Apabila ketiga di mensi ini digabungkan maka akan diperoleh potret kesenjangan kemakmuran di Indon esia. Hendra Esmara (1975) merupakan pene liti pertama yang mengukur kesenjangan ekonomi antardaerah. Apabila digunaka n indikator rasio gini sebagai ukuran ketimpangan distribusi pendapatan. secara umum terjadi p eningkatan ketimpangan distribusi pendapatan di semua propinsi.33 pada tahun 1984 menjadi 0. ternyat a cukup bervariasi antar propinsi. kese njangan menurut etnis. yaitu: berdasarkan tingkat kemodernan. Ardani (1996 .2. sedangkan sektor tradisional umumnya berada di perdesaan dan sektor tradisional.2. Rasio gini yang lebih kecil untuk perdesaan dibanding perkotaan menunjukkan bahwa distribusi pen dapatan Iebih merata di kawasan perdesaan dibanding perkotaan. Kesenjangan Regional Isu kesenjangan ekonomi antardaerah telah lama menja di bahan kajian para pakar ekonomi regional. Seb aliknya semakin ke Katimin.34 pada tahun 1993 (BPS. Ketiga. Dalam konstelasi perkemba ngan terakhir di Indonesia. is menyimpulkan Indonesia merupakan negara dengan kate gori kesenjangan daerah yang rendah apabila sektor migas diabaikan. kesenjangan regional adalah kesenjangan antara Katim in (Kawasan Timur Indonesia) dan Kabarin (Kawasan Barat Indonesia). dan semakin banyak pribumi yang mendominasi usaha bisnis.1). Kedua. Sektor modern umumnya berada di perkotaan d an sektor industri. Kesimpulannya men dukung hipotesis Williamson (1965) bahwa pada tahap awal pembangunan ekonomi ter dapat kesenjangan kemakmuran antardaerah. Secara nasional. rasio gini di perkotaan dan perdesaan cenderung meningkat dari 0. yaitu antara pribumi dengan nonpribumi. regional. Pertama. kesenjangan dari tingkat kemodernan. kesenjangan ekonomi setidaknya dapat dilihat dari 3 dimensi. yaitu kesenjangan antara s ektor modern dan sektor tradisional. namun semakin maju pembangunan ekonomi kesenjangan tersebut semakin menyempit. yang menemukan tidak terdapatnya peruba han kesenjangan ekonomi antar daerah selama 1983-1990. dan etnis (Iihat Gamba r 7. 1992) telah menganalisis kesenjangan pendapatan dan konsumsi antardaerah denga n menggunakan indeks Williamson selama 1968-1993 dan 19831993. Berdasarkan data dar i tahun 1950 hingga 1960.2.6. dan semakin banyak golongan nonpribumi yang menguasai perekonomian.

Sementara itu.24-0.30.21-0.18-0. dengan catat an rasio gini terendah adalah propinsi SuIse'. Pada tahun 1993.37. dengan rekor terendah dipegang oleh propinsi NTT . Pada tahun 1993. dengan rekor terendah dipeg ang oleh Jambi dan Maluku.Pada 1984.42 pada tahun 1984. rasio gini perde saan berkisar antara 0. Peta Kesenjangan Kemakmuran di Indonesia 73 .1. dengan catatan terendah diraih oleh Jambi. di daerah kota. ra sio gini daerah perkotaan berkisar antara 0. Gambar 7.33. angka rasio gini di daerah perdesaan berkisar 0.20-0. rentang rasio gini Iebih lebar antara 0.

335). Peningkatan kesenjangan ini terutama akibat adanya pe rubahan distribusi pendapatan 74 . Di desa. Trend menurunnya tingkat kesenjangan distribusi pendapatan dengan data peng eluaran setelah tahun 1978. Namun data ini menunju kkan bahwa ketidakseimbangan pendapatan di desa Iebih tinggi daripada di kota. koefisien gini meningkat sampai tahun 1978. H al ini dapat mencerminkan pengeluaran konsumsi atau tabungan yang lebih tinggi d i daerah perdesaan. Kesenjangan Interpersonal BPS menggunakan data biaya konsumsi per kapita untuk memperkirakan koefisien gini. tetapi antara tahun 1978 dan 1984 tampak adanya trend yang menur un. 52-53) menunjukkan bahwa ada peni ngkatan yang Iebih besar dalam kesenjangan di Jawa dibanding daerah manapun anta ra tahun 1970 sampai 1976. Hughes dan Islam (1981: h. tetapi menurun setelah itu.6. Di kota. 1992: h. balk untuk kota maupun desa di Indonesia.2. dikonfirmasi dengan koe fisien gini dengan data pendapatan (Booth. koefisien gini menunjukkan perubahan yang sangat kecil pada tahun 1964/19 65 sampai 1978.3. balk di kota maupun di desa.

Jawa Tengah dan Yogyakarta (Booth. ketika penurunan kesenjangan terjadi di kota-kota di Indon esia. manajer dan pegawai negeri dibandingkan dengan pendapata n rata-rata? Bagaimana penghasilan para pekerja yang berpendidikan tinggi diband ingkan dengan pekerja yang berpendidikan rendah? Seperti diketahui bahwa di Indo nesia pendidikan merupakan ukuran yang penting dalam menentukan pendapatan. Peningkatan persentase terbesar dalam kes enjangan personal yang diukur oleh koefisien gini tidak terjadi di Jakarta tapi terjadi di Jawa Barat. kes enjangan sebenarnya meningkat antara tahun 1980 hingga tahun 1984. 1992: h. dan penurunan ke senjangan di desa relatif lebih besar.2. Selam a tahun 1970-an. Kesenjang an Antar Kelompok Sosial Ekonomi Pertanyaan yang muncul adalah.3. Namun akhir tahun 1970-an dan awal 1980-an nampak bahwa perbedaan antara para pekerja profesional berpendidik an teknik dan lainnya mulai menyempit. Penurunan disebutkan terjadi di Jakarta dan Jawa Timur.336). Di daerah perdesaan Jawa ternyata terjadi penurunan ketimpangan.4. Begitupu n setelah tahun 1980. 6. Perbedaan in i melebar pada tahun 1970-an di hampir semua kota. 6.3). Di Jawa Barat. seperti yang diukur dengan koefisien gini juga menurun dalam period e ini (lihat Tabel 7. D i luar Jawa kesenjangan lebih rendah dibandingkan di luar Jawa. Beberapa survei yang dilakukan akhir 1960-an dan 1970-an. menge stimasi perbedaan antara penghasilan rumah tangga di mana kepala keluarga sebaga i peg awal negeri dibandingkan rata-rata penghasilan kelompok lain. yang mengindikasikan adanya perubahan dalam golongan pendapatan yang paling rendah.pada golongan berpenghasilan tinggi. yang dapat ditafsirkan bahwa yang kaya sema kin kaya. penghasilan pekerja yang berkualifikasi tinggi meningkat diband ingkan dengan rata-rata nasional. TREND DALAM INDIKATOR KEMISKINAN : 1969-1993 75 . karena permintaan akan tenaga kerja ini melebi hi penawarannya. sementara pen urunan sedikit tampaknya terjadi di Jawa Tengah dan Yogyakarta. Hal ini diakibatkan karena akses terhadap pekerjaan dengan gaji tinggi balk di sekto r pemerintahan maupun swasta tergantung dari tingginya tingkat pendidikan. Derajat perbedaan penghasilan dalam setia p kelas ini. Penurunan yang cepat dalam perbedaan berdasarkan status pendidikan tidak diragukan lag i karena pertumbuhan dalam suplai para pekerja b erpendidikan dan penurunan dalam permintaan akibat pertumbuhan yang Iebih lambat setelah tahun 1981. bagaimana pengha silan para profesional.

ada suatu penurunan yang berkesinambungan dalam persentase populasi yang hidu p di bawah garis kemiskinan. Suatu desa disebut miskin bila paling sedikit dua dar i tiga metode tersebut menyatakan miskin. 6.Awal tahun 1970-an banyak pembahasan di Indonesia tentang trend kemiskinan. sehingga penurunan dalam jumlah absolut kemisk inan jauh Iebih lambat dari total kaum miskin tahun 1987. di Indo nesia sejak tahun 1976. Pertama.3. J umlah dan Persentase Desa Miskin BPS (1994) menggunakan tiga metode dalam menent ukan desa miskin. sehingga di tahun 1987 garis kemiskin an perkotaan hampir 70 persen Iebih tinggi dibanding kawasan perdesaan. 76 . garis kemiskinan perdesaan ya ng ditetapkan oleh BPS dalam kenyataan bertambah Iebih lambat antara tahun 1981 dan 1987 dibanding indeks harga perdesaan yang digunakan. meningkat kurang cepat s ejak tahun 1981 dibandingkan dengan harga-harga lainnya. Status desa menurut metode SD dan R di tentukan berdasarkan hasil kuesioner yang menanyakan 27 variabel di perdesaan da n 25 variabel di perkotaan. populasi perkotaan berkembang Iebih ce pat dibanding populasi perdesaan. dan meto de persepsi lapangan (PL). perkiraan garis kemiskina n yang diajukan BPS mendapat keunggulan sebagai angka resmi yang digunakan oleh pemerintah. dan Bank Dunia membuat perkiraan trend dalam kemiski nan.3. yang masing-masing menggunakan konsep garis kemiskinan yang berbedabeda dan hasil yang diperoleh juga berbeda. 1992). Meskipun demikian. Hal penting lainnya men genai garis kemiskian BPS adalah berhubungan dengan trend dalam insidensi kemisk inan perdesaan dan perkotaan. Hal ini merefleksikan fakta bahwa harga bahan makanan pokok.1. balk di kawasan perdesaan maupun perkotaan. Perkembangan Jumlah dan Persentase Penduduk Miskin Menurut BP S. Kedua. Kala ngan perguruan tinggi. Ada 3 kelompok pertanyaan dalam kuesioner tersebut. yaitu: metode standar deviasi (SD). Suatu alasan terhadap peningkatan pangsa kaum misk in perkotaan dalam kemiskinan total di Indonesia yaitu populasi perkotaan mening kat lebih cepat. 6. khususnya beras. Terdapat dua alasan ut ama mengapa penurunan jumlah penduduk miskin dan tingkat kemiskinan yang berkesi nambungan cukup cepat (Booth. BPS. Alasan lain adalah persentase populasi kaum miskin yang tinggal di kawasan perkotaan menurut BPS dalam kenyataan meningkat lebih cepat dari gar is kemiskinan perdesaann sejak tahun 1967. ketidakseimbangan dalam kawasan pe rdesaan menurun antara tahun 1981 dan 1987. Kendati demikian. metode range (R). yaitu: kelompok potensi/fasilitas sosial ekonomi desa.2.

kelompok perumahan dan Iingkungan, dan kelompok kependudukan. Variabel yang digu nakan untuk mengukur masing-masing variabel lihat Tabel 7.4. Jawaban atas seluru h pertanyaan masing-masing diberi skor (tinggi, sedang, rendah) menurut pentingn ya variabel tersebut. Dengan metode SD, jumlah skor tiap desa dibandingkan denga n rata-rata skor tingkat propinsi untuk menentukan apakah desa tersebut miskin. Dengan metode R, skor tiap desa dibandingkan dengan range untuk menentukan apaka h desa tersebut miskin. Metode PL menggunakan kuesioner khusus guna menghimpun p endapat Camat tentang status desa-desa di wilayahnya. Suatu desa diklasifikasika n miskin atau tidak tergantung dari pendapat Camat mengenai keadaan potensi/fasi litas sosial ekonomi desa, perumahan/lingkungan, dan kependudukan. Tentu saja pe rsepsi Camat ini akan dievaluasi oleh petugas pencacah (mantri statistik). Denga n demikian, paling sedikit 2 dari 3 metode tersebut harus menyatakan miskin untu k mengklasifikasikan suatu desa sebagai desa miskin. Pada tahun 1993, sebagaiman a ditunjukkan oleh Label 7.5, jumlah desa miskin di Indonesia sebanyak 20.633, a tau sekitar 31,5 persen dari seluruh desa yang ada (65.554). Dari jumlah tersebu t, 1.008 berada di perkotaan, atau 14,7 persen dari seluruh desa perkotaan. Juml ah desa miskin di perdesaan sebanyak 19.625, atau sekitar 33,4 persen dari selur uh desa perdesaan. Jumlah desa miskin terbanyak berada di Sumatra (33 persen), d iikuti Pulau Jawa (30 persen), Maluku (12 persen), Kalimantan (11 persen), Sulaw esi (9 persen), dan Irian Jaya (5 persen). 6.3.3. Distribusi Regional Kemiskinan Berdasarkan perkiraan Bank Dunia dengan mempergunakan data dari Susenas tahun 1 976, bahwa lebih dari 70 persen orang yang miskin berlokasi di Jawa. Akan tetapi di tahun 1976 distribusi regional kemiskinan mengalami perubahan secara dramati s: hanya 46 persen di perdesaan luar Jawa. Ada penurunan secara drastis proporsi penduduk miskin yang berlokasi di daerah perkotaan maupun perdesaan di Jawa yan g diikuti dengan kenaikan kemiskinan di perdesaan luar Jawa. Secara absolut juml ah penduduk yang berada di bawah garis kemiskinan di luar Jawa mengalami penurun an namun secara relatif mengalami peningkatan. Hal ini disebabkan oleh perpindah an penduduk dari Jawa keluar Pulau Jawa yang disebabkan menurunnya kesuburan tan ah di Jawa. Pada dasawarsa 1990-an, sebagaimana ditunjukkan oleh Tabel 7.6, terl ihat adanya trend penurunan jumlah absolut dan persentase penduduk miskin secara regional. Pada tahun 1993, jumlah penduduk miskin sebanyak 25,9 juta dengan per sentase penduduk miskin 13,67 persen; ternyata pada tahun 1996 turun menjadi 77

22,5 juta dan persentase penduduk miskin 11,34 persen. Dengan kata lain, selama 1993-1997 jumlah penduduk miskin turun secara absolut sebesar 3,4 juta, atau ber arti menurun 13,15 persen. Ternyata distribusi regional penduduk miskin tidak sa ma persis dengan distribusi regional desa miskin (Iihat kembali Tabel 7.5). Juml ah penduduk miskin terbanyak terdapat di Jawa dan Bali, namun tingkat kemiskinan yang ditunjukkan oleh persentase penduduk miskin paling banyak berada di Nusa T enggara, Maluku, dan Irian Jaya. Tabel 7.6. Jumlah penduduk miskin menurut propi nsi, 1993-1996 1 2 3 4 5 6 7 8 9 DI Aceh 496,7 13,46 13,47 11,20 13,38 13,11 11, 64 12,87 5,65 425,6 384,6 322,0 222,8 794,9 137,2 724,9 4246,1 231,3 10,78 10,91 8,76 7,94 9,06 10,72 9,37 10,65 10,15 2,48 9,87 13,91 10,42 11,86 4,30 21,99 11 ,24 14,33 9,24 15,53 10,60 71,1 97,5 181,6 88,8 76,5 229,0 35,9 u7.o 807,4 265,8 650,2 461,4 39,7 377,2 144,6 54,0 132,2 93,5 70,4 350,0 20,1 14,32 7,32 32,07 2 1,62 25,57 22,37 20,72 3,59 15,98 53,47 14,10 9,99 11,56 8,53 53,52 13,13 6,18 4 1,10 18,05 23,86 17,43 6,59 Sumatera Utara1,331,6 Sumatera Barat 566,1 Riau Jamb i Bengkulu Lampung Sumatra DKI Jakarta 10 Jawa Barat 410,9 299,4 173,1 751,8 5.0 53,6 497,1 4.612,4 12,32 1.234,2 Sumatera Selatan1.023,9 14,89 12,20 3.962,1 15,78 4.157,3 11,77 9,46 25,05 303,8 125,6 820,5 189,4 424,3 224,4 13,25 4.046,5 12,84 12.826,6 11 Jawa Tengah 4.618,7 12 â ¢ DI Yogyakarta 343,5 13 Jawa Timur 14 Bali Jawa - Bali 4. 423,7 270,2 14.765,6 10,75 1.939,0 15 Kalimantan Barat874,5 16 Kalimantan Tengah321,6 20,85 17 Kalimantan Selatan517,8 18,62 18 Kalimantan T imur294,9 Kalimantan 2.008,8 13,75 _________________________________________________________________ 20,17 1.658,7 284,6 19 Sulawesi Utara 304,7 11,79 6.4. TREND KEMAKMURAN Isu tentang trend kemiskinan menerima perhatian yang lebih banyak di negara berk embang dibandingkan trend kemakmuran, seperti Indonesia di mana proporsi 78

penduduk yang berada di bawah garis kemiskinan telah menurun dalam dekade belaka ngan ini dan meningkatnya bagian dari penduduk di atas garis kemakmuran (affluen ce line). Booth (1992: h. 359-60) mencoba mengembangkan suatu metodologi untuk m enghitung berapa jumlah penduduk yang hidup di atas garis kemakmuran, yaitu ting kat pengeluaran yang dinikmati oleh sekitar 4 persen penduduk pada tahun 1969/19 70 dan meningkat terus, dan dihitung kira-kira 4 kali garis kemiskinan. Dengan c ara itu, dapat diestimasi jumlah penduduk yang hidup di atas garis kemakmuran un tuk Jawa dan Luar Jawa sebagaimana ditunjukkan dalam Tabel 7.7. Jumlah orang Ind onesia yang hidup di atas garis kekayaan meningkat dari 5,61 juta tahun 1969/197 0 menjadi 28,65 juta tahun 1987. Lebih dari separuh kenaikan tersebut terjadi pa da kota-kota di Jawa. Dengan kata lain, proporsi penduduk yang hidup di atas gar is kemakmuran ada di daerah perkotaan Jawa. Harus diakui terjadi pertumbuhan yan g berarti dalam catatan kemakmuran. Adapun di daerah perdesaan Jawa dan perkotaa n di luar Jawa, juga terjadi peningkatan kemakmuran, akan tetapi peningkatannya relatif kecil. Perubahan yang terjadi pada distribusi regional kemiskinan dan ke makmuran merupakan hal yang menarik untuk dapat menerangkan mobilitas antara kel as di dalam suatu daerah. Mobilitas dari kelompok miskin lebih cepat menjadi kel ompok menengah daripada kelompok menengah menjadi kelompok kemakmuran. Adapun un tuk masyarakat yang kaya, untuk lebih kaya lagi, kejadiannya sangat jarang. Dika renakan berkurangnya kemiskinan dan meningkatnya jumlah orang kaya di daerah per kotaan di Jawa lebih cepat dibandingkan daerah lain, maka kemungkinan terjadinya perpindahan dari kemiskinan ke kelas menengah dan dari menengah ke kelas atas a kan lebih besar terjadi di daerah perkotaan di Jawa. BACAAN YANG DIANJURKAN Arda ni, Amiruddin, Regional Development in Indonesia: Issues and Challenges, Discuss ion Paper No. 36, Nagoya University, Nagoya, July 1996. ........, Analysis of Re gional Growth and Disparity: The Impact Analysis of the Inpres Project on Indoneâ an Development, disertasi Ph.D, University of Pennsylvania, Philadelphia, 1992, tidak dipublikasikan. Biro Pusat Statistik, Laporan Perekonomian Indonesia 1993, Seri 04 Nomor 03, Jakarta, Maret 1994. 79

si

Anne. 13 Agustus 1996 80 . Hendra. h. Singapura. CSIS dan Bank Dunia. The Oil B oom and After: Indonesian Economic Policy and Performance in the Soeharto Era. Mubyarto. jurnal tahunan CIDES. Tranformasi Ekonomi Indonesia Sejak 1966: Sebuah Studi Kritis dan K omprehensif. O xfor University Press. no. Hananto. "Kemiskinan dan Ketimpangan Pembagian Pendapata n dalam Pembangunan Ekonomi Indonesia". Hill. Jakarta.Booth. Esmara. makalah dalam Seminar Mencari Paradigma baru Pembangunan Indonesia. 1996. Bulletin of Indonesia Economic Studies. 1 994. 321-362. Sigit. 4157. h. Didi k J. bab 10. 1. "Kemiskinan di Indonesia". "Regional In come Distributies". Hal. "Income Distribution and Poverty" dalam Anne Booth (ed. h. 11(1). 213-222. PAU Studi Ekonomi dan PT Tiara Wacana. Profil Indonesia. 1992. 1975 .).

. Masalah yang selalu mu ncul dalam setiap diskusi mengenai pembangunan manusia adalah masalah kependuduk an. peningkatan kualitas SDM diarahkan dalam rangka peningkatan produksi. dan migrasi. Konsekuensinya. 7. 28-29). modal fisik bisa saja mengalami diminishing returns. wanita. namun ilmu pengetahuan tidak. Alf red Marshall pernah mengatakan: "although nature is subject to diminishing retur ns. PENGANGGURAN DAN MIGRASI Sej arah mencatat bahwa negara yang menerapkan paradigma pembangunan berdimensi manu sia telah mampu berkembang meskipun tidak memiliki kekayaan sumberdaya alam yang berlimpah. dan sebagainya. strategi pembangunan yang dianggap paling sesuai adalah akselerasi pertumbuhan ekonomi dengan mengundang modal acing dan melakukan industrialisasi. pada dasarnya kata kunci dalam pembangunan adalah pembentukan modal..BAB VII MASALAH PEMBANGUNAN MANUSIA : KEPENDUDUKAN. man is subject to increasing returns. Bab ini akan mengkaji bagaimana peningkatan kualitas manusia sebagai agen produktif haru s menjadi tujuan utama dari setiap kebijakan pembangunan. tenaga kerja. peningkatan kete rampilan. lnilah yang disebut sebagai pe ngembangan SDM dalam kerangka production centered development (Tjokrowinoto. Peranan sumberdaya manusia (SDM) dalam strategi semacam ini hanyalah sebagai "i nstrumen" atau salah satu "faktor produksi" saja. Titik berat pada nil ai produksi dan produktivitas telah mereduksi manusia sebagai penghamba maksimis asi kepuasan maupun maksimisasi keuntungan. kesehatan. it enables us to subdue nature and satisfy our wants". Tanah.1. setidaknya pada tahap awal pemb angunan. 81 . Penekanan pada investasi manusia diyakini merupakan basis dalam meni ngkatkan produktivitas faktor produksi secara total. PARADIGMA PEMBANGUNAN BERWAWASAN MAN USIA Dalam praktek pembangunan di banyak negara. Knowledge is our most powerful engin e of production. Bisa dipahami apabila topik pembicaraan dalam perspektif paradigms pembangunan yang semacam itu terbatas pada masalah pendidikan. Meskipun banyak varian pemi kiran. pengangguran. 199 6: h. Oleh karena itu. umumnya berfokus pada peningkatan produksi. Manusia ditempatkan sebagai po sisi instrumen dan bukan merupakan subyek dari pembangunan. link and match.

Penempatan manusia sebagai subyek pembangunan menekankan pada pentingnya pemberdayaan (empowerment) manusia. dan kehendak serta kapasitas manusia merupakan sumbe rdaya yang paling penting. Fakta ini jelas belum pernah terjadi dalam sejarah dunia. Alternatif lain dari strategi pemba ngunan manusia adalah apa yang disebut sebagai peopleâ centered development atau putt ing people first (Korten. Lebih dari 82 juta dari tambahan o rang ini setiap tahun lahir di negara Dunia Ketiga. manusia (rakyat) merupakan tuj uan utama dari pembangunan. Oleh karena itu pertanyaan mendasar yang diajukan oleh banyak pakar pemban gunan adalah: Apakah kondisi kependudukan saat ini di negaraâ negara Dunia Ketiga mem berikan kontribusi ataukah menghambat tercapainya tujuan pembangunan. Pertama.5 milyar jiwa. MASALAH KEPENDUDUKAN 7.2. lebih dari 93 juta orang menambah jumlah pendud uk dunia yang telah sebanyak 5. Fakta menunjukkan bahwa aspek kunc i dalam pembangunan adalah penduduk yang semakin terampil dan berpendidikan. dengan penurunan angka kelahiran yang cepat ternyata dapat men ingkatkan tabungan sebanyak 50 persen lebih 82 . Di Malawi. 1995: h . misalnya. Dimensi pembangunan yang semacam ini jelas lebih luas daripada sekadar membentuk manusia profesional dan terampil sehingga bermanfaat dalam proses produksi. masalah pertumbuhan penduduk tid ak hanya masalah jumlah. Artinya. 201). Setidaknya terdapat 3 alasan mengapa pertumbuhan penduduk yang tinggi akan memperlambat pembangunan.Kualitas manusia yang meningkat merupakan prasyarat utama dalam proses produksi dan memenuhi tuntutan masyarakat industrial. Isu G lobal Kependudukan Setiap tahun. 1981: h. yang pada gilirannya membuat inve stasi dalam "kualitas manusia" semakin sulit. tidak hany a bagi generasi sekarang tapi juga bagi generasi mendatang? Sebaliknya. yaitu: kemampuan manusia un tuk mengaktualisasikan segala potensinya. namun juga semakin membuat kendala bag i pengembangan tabungan.1. cadangan devisa. apakah p embangunan mempengaruhi pertumbuhan penduduk? Di kalangan para pakar pembangunan terdapat konsensus bahwa laju pertumbuhan penduduk yang tinggi tidak hanya berd ampak buruk terhadap suplai bahan pangan.276-281). 7. tapi juga terkait erat dengan masalah kesejahteraan man usia. dan sumberdaya manusia (Meier. Kendati demikian. pertumbuhan penduduk yang tinggi akan m empersulit pilihan antara meningkatkan konsumsi saat ini dan investasi yang dibu tuhkan untuk membuat konsumsi di masa mendatang.2. Rendahnya sumberdaya per kapita akan menyebabkan penduduk tumbuh Iebih cepat.

begitu penurunan kelahiran mulai dapat diperta hankan. Kedua. dan di banyak kasus menimbulkan tekanan terhadap siste m pertanian tradisional dan kerusakan Iingkungan. Pakistan. Kedua. dan Bangladesh. pertumbuhan penduduk mengancam keseimbanga n antara sumberdaya alam yang Iangka dan penduduk. Dal am konteks ini. besar kemungkinan berlanjutnya tingkat pendapatan yang ren dah bagi banyak keluarga. maka laju penurunan tersebut lebih cepat dibanding yang terjadi di Eropa . Bermekarannya kota-kota di NSB membawa masalah-masal ah baru dalam menata maupun mempertahankan tingkat kesejahteraan warga kota.tinggi karena jumlah anak yang memasuki sekolah sampai tahun 2015 meningkat deng an laju yang Iebih lambat. Dudley Kirk (1971: h. ukuran kelahiran yang telah disempurnakan dengan m elakukan stadardisasi dalam perbedaan struktur umur telah mengakibatkan hasil ya ng sama dengan tingkat kelahiran kasar. Keempat. 145-46). Faktor utama di batik penurunan angka ke lahiran adalah keberhasilan program keluarga berencana (KB). Kelima. negaraâ negara "baru" dapat menurunkan kelahiran dengan amat cepat meskipun awalnya tingkat kelahirannya lebih tinggi dibanding yang pernah tercatat dalam sejarah Eropa Barat. di banyak negara di mana penduduknya masih ama t tergantung dengan sektor pertanian. Penurunan angka kelahiran umumnya jugs terjadi di negara-negara Asia Timur dan Amerika Latin. sebagai contoh. Tingginya tingkat kelahiran merupakan penyumbang utama bagi p ertumbuhan kota yang cepat. Di Kenya. tidak ada bukti langsung bahwa p enurunan angka kelahiran akan berakhir dalam tingkat yang lebih tinggi dibanding yang terjadi di negaraâ negara Eropa dan Jepang. menambahkan fakta sebagai berikut: Pertama. Hasilnya. yang pada gilirannya mengancam kesejahteraan penduduk miskin. Sebagian karena pertumbuhan p enduduk memperlambat perpindahan penduduk dari sektor pertanian yang rendah prod uktivitasnya ke sektor pertanian modern dan pekerjaan modern Iainnya. N amun. pertumbuhan penduduk yang cepat membuat semakin sulit melakukan perubahan yang dibutuhkan untuk meningkatkan perubahan e konomi dan sosial. 70 persen angkatan kerja diperkirakan masih bekerja di sektor pe rtanian sampai dengan 2025. Ketiga. Yang jelas telah terjadi penurunan angka kelahiran yang amat drastis di Cina. dan jumlah pekerjanya akan dua kali lipat dari jumla h saat ini. telah s emakin banyak negara yang memasuki transisi demografi dalam sisi kelahiran (nata lity) terutama sejak 1970. India. trend ini tidak terjadi untuk negara-negara Afrika. berdasarkan pengamatannya di bany ak negara sedang berkembang. Ketiga. dan Indonesia. Padahal sampai deng an akhir Perang Dunia II boleh 83 . negaranegara Islam di Timur Tengah.

2. yaitu: turun dari 2. Ananta dan Anwar (1997: h. Persentase penduduk tua di Indonesia pada 1990 sebesar 6. Indonesia memulai program KB pada1968 dan secara res mi dimasukkan dalam Pelita I pada 1969. 33 negara mendukung program KB bagi kesehat an ibu dan anak namun bukan untuk menekan pertumbuhan penduduk. Laju pertumbuhan penduduk Indonesia per tahun diperkirakan selama 20002005 menca pai hampir setengah angka dalam periode 1980-1990.2.3 persen pada 2020.3 persen dan diperk irakan akan meningkat menjadi 11.32 persen pada 1971-1980 menjadi 1. Pengamatan Nortman (1982) te rhadap 134 NSB mencatat bahwa ada 39 negara yang mempunyai program resmi untuk m enurunkan laju pertambahan penduduk. Penurunan jumlah penduduk dari 2. dan 254 juta pada 2020. (2) adanya perubahan nilai mengena i anak.2 persen. Kecepatan penurunan angka kelahi ran dan kematian di NSB besar kemungkinan akibat adopsi teknologi dari negara ma ju dalam upaya mengubah kondisi demografinya. (3) manaje men program yang balk lewat koordinasi antardepartemen oleh BKKBN (Badan Koordin asi Keluarga Berencana Nasional). 12. Meskipun demikian.1 perse n selama 1961-1971 dan 2. dan 62 negara ti dak mendukung aktivitas KB. banyak dikaitkan dengan kisah sukses KB di Indonesia yang diakui oleh duni a. Struktur penduduk Indonesia diperkirakan akan semakin menua. dalam arti persenta se dan jumlah penduduk tua (dengan batas umur 60 tahun atau Iebih) terus meningk at. Pertanyaan yang sering muncul adalah: apa faktor-faktor di batik kisah sukses program KB di Indonesia? Singarimbun (1996: bab 1-4) mengidentifikasi faktor pe nopang keberhasilan KB adalah: (1) prioritas yang tinggi dan keterlibatan pemeri ntah yang besar untuk kesuksesan program itu. 84 .1 persen menjadi 1. yaitu dari norma keluarga besar menjadi norma keluarga kecil. Sejarah mencatat proses penurunan angka kelahiran dan k ematian di negara maju berjalan sekitar 2 abad. Trend Perubahan Kependudukan di Indone sia Berbeda dengan negara maju.2. jumlah penduduk terus meningkat dari 179 juta pada 1990. sekitar 25-30 tahun. menjadi 223 juta pada 2005.98 persen pada 19801990. 144-47) telah mencoba mengidentifikasi beberapa aspek perubahan demografis di Indonesia yang diperkirakan akan berdampak luas pada berbagai aspek perencanaan pembangun an hingga 2005 sebagai berikut: 1. di negara sedang berkembang seperti Indonesia.dikata belum ada negara yang menerapkan program KB. p enurunan angka kelahiran dan kematian berlangsung dalam waktu yang relatif singk at.

Penduduk Indonesia akan semakin berpendidikan.5). yang diikuti oleh sektor industri (0. dalam arti mudah terkena penyakit.1 memperlihatkan secara sektoral. S ementara penduduk berpendidikan SLTA diperkirakan akan meningkat hampir lima kal i lipat dari 15 juta pada 1990 menjadi 71 juta pada 2020.55-56). 4. yang tida k dengan tujuan menetap. yang berarti setiap kenaikan PDB sebesar 1 persen akan menciptakan kesempatan kerja hanya sebesar 0.24 persen (BPS. sementara rataâ rata aju pertumbuhan PDB per tahun pada periode yang sama sebesar 6. Jangkauan mobilitas tidak hanya antarwilayah di Indones ia. meningkatnya pendidikan.23). Penduduk yang berpendi dikan tinggi (pendidikan nongelar dan gelar) akan membengkak dari 2 juta orang p ada 1990 menjadi 18 juta orang. Penduduk Indonesia dapat semakin rentan. dan diproyeksikan mencapai hampir 60 persen pada 2020. 5. 1.35. 5. 1 994: h. Ini terjadi akibat menurunny a angka kelahiran. 6. me ningkat menjadi 46 persen pada 2005. dan majunya perekonomian sehingga me mbuat perempuan semakin berpeluang memasuki pasar kerja. Peningkatan persentase perempuan dalam pasar kerja.9 persen penduduk Indonesia tinggal di perkotaan. 7. Persentase penduduk yang tinggal di perkotaan (angka urbanisasi) akan terus meni ngkat. Menurut catatan OeyGardiner (1997 ).35 persen. Penduduk Indonesia akan semakin mobil (mobilitas dalam jangka pendek). Pada 1990 sekitar 30. MASALAH PENGANGGURAN Sejarah mencatat bahwa pembangunan ekonomi di negara-n egara Eropa Barat dan Amerika Utara sering dideskripsikan sebagai transfer manus ia dan aktivitas ekonomi 85 .3. Surv ei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) tahun 1995 mencatat bahwa rataâ rata 14 persen p enduduk pria dan 13 persen penduduk wanita mengaku mendapat keluhan kesehatan ya ng mengganggu kegiatan sehariâ hari. Penurunan angka pertumbuhan kesempatan kerja (employment).16 persen.35) .3. sektor yang paling tinggi elastisitas kesempata n kerjanya adalah sektor lainnya (0. Pada 2020 jumlah kelompok usia pencari kerja pertama kali (15-24 tahun) dengan pendidikan minimal SLTP akan men ingkat dua kali lipat atau 35 juta orang dibanding 1990. diperkirakan akan terjadi ledakan pendidikan hingga akhir PJPT II. Tabel 7. Dari kedua angka itu dapat dihitung besarnya elastisitas kesempat an kerja selama 1989-1992 sebesar 0. bahkan juga wilayah dunia. Laju pertumbuhan kese mpatan kerja selama 1989-1992 rataâ rata hanya sebesar 2. dan paling rendah sektor pertanian (0.

Ini dimungkinkan karena kombinasi dua faktor. Bila dirinci lebih lanj ut. Kedua kelompok usia ini hampir mencapai 70 persen dari pengangguran total. atau berarti bekerja kurang dari 35 jam dalam seminggu) namun masih mau menerima pekerjaan. Pengangguran terbuka (open unemployment) didasarkan pada konsep seluruh angkatan kerja yang mencari pekerjaan. karakteristik pengangguran di Indonesia adalah: â ¢ Kendati tingkat pengangguran terbuka tergolong rendah (4. Sayangnya. strategi industrialisasi yang cepat di banyak kasus gaga ) membawa dampak yang diinginkan. stagnannya produktivitas pertanian.secara terus menerus dari daerah perdesaan ke daerah perkotaan. banyak pakar pembangunan menyimpulkan bahwa pembangunan ekonomi di negara Dunia Ketiga perlu menitikberatkan pada promosi pertumbuhan sektor indust ri perkotaan yang cepat. Dewasa ini. Sebagaimana halnya NSB lainn ya. Mereka cenderung melihat perkotaan sebagai pusat-pusat pertumbuhan. yang pada gilirannya meny ebabkan persaingan merebut lapangan kerja semakin ketat. pengangguran terbuka merupakan fenomena perkotaan. Tingkat pengangguran terb uka di perkotaan 3 kali lebih tinggi glibanding daerah perdesaan. yaitu: (1) ekspansi industri perkotaan yang menimb ulkan penciptaan kesempatan kerja baru. Pekerja digolongkan sete ngah pengangguran parch (severe underemployment) bila is termasuk setengah menga nggur dengan jam kerja kurang dari 25 jam seminggu. serta mereka yan g tidak mencari pekerjaan namun mau menerima pekerjaan. Sedang pek erja yang digolongkan setengah pengangguran (underemployment) adalah pekerja yan g masih mencari pekerjaan penuh atau sambilan dan mereka yang bekerja dengan jam kerja rendah (di bawah sepertiga jam kerja normal. penganggur didominasi kaum muda dengan usia antara 1519 tahun (13 persen) dan 20-24 tahun (14 persen). lni diakibatka n karena adanya keterbatasan kesempatan kerja di kota. (2) kemajuan teknologi yang bersifat men ghemat tenaga kerja (labor saving) di sektor pertanian sehingga menurunkan kebut uhan angkatan kerja di daerah perdesaan (Todaro. 1995: bab 7). dan meningkatnya pengangguran da n underemployment di daerah perkotaan dan perdesaan. banyak NSB dihadapkan pada kondisi unik dari kombinasi permasalahan pergerakan penduduk dari desa ke kota dalam ju mlah besar. baik yang mencari pekerjaan pertama kali maupun yang pernah bekerja sebelumnya. Bagaimana dengan kondisi pe ngangguran dan underemployment di Indonesia? Sebelumnya perlu diketahui terlebih dahulu definisi pengangguran terbuka dan setengah pengangguran di Indonesia yan g digunakan oleh Biro Pusat Statistik. Atas dasar pengal aman itulah.4 persen dari total ang katan kerja). 86 .

Indikator integrasi wanita dalam pembangunan diukur dengan indikator seperti partisipasi angkatan kerja. Tabel 7. akses terhadap pendidikan. yang berarti lebih tinggi daripada pekerja perkotaan (21 persen). wanita selalu menjadi pelaku penting d alam masyarakat sehingga posisi wanita. struktur sosial yang ada dipandang sudah giv en. tanpa banyak mempersoalkan sumber-sumber yang menyebabkan mengapa p osisi wanita dalam masyarakat bersifat inferior. yang masingâ masing sebesar 16. dikenal tiga pergeseran interpretasi pen ingkatan peran wanita (P2W) sebagai berikut (Tjokrowinoto. akan menjadi lebih baik bila struktur internasional menjadi lebih adil.9 persen dan 14. sementara pada 1992 angkanya untuk daerah perkotaa n meningkat menjadi 9. As umsinya. dan dalam hubungan su bordinasi terhadap pria.4. sekunder. Perbedaan mencolok terjadi pada para pekerja dengan jam kerja kurang dari 25 jam seminggu. MASALAH WANITA Dalam skala global. Asumsinya.3 persen.98 persen dan di daerah perdesaan sebesar 26. P2W sebagai Wanita dalam Pembangunan Perspektif P2W dalam konteks Women in Devel opment memfokuskan pada . dan perana nnya. wanita telah dan selalu menjadi bagian dari pembangunan nasional.â ¢ Tingkat pengangguran tertinggi menurut tingkat pendidikan dialami oleh lulusan S MAdan perguruan tinggI.8 persen dari jumlah angkatan kerja.23 persen 7.5 memper lihatkan bahwa pada tahun 1991 terdapat 9. 1996) 1. 3. P2W sebagal Gender dan Pembangunan 87 . bagaimana mengintegrasikan wanita dalam berbagai bidan g kehidupan. Data dari Bank Dunia (1988) menunjukkan bahwa sekitar 45 persen pekerja perdesaan berada dalam kondisi setengah menganggur. dan sebagainya. 2. dalam anti status. kedudukan. P2W sebagai Wanita dan Pembangunan Menurut perspektif Women and Development yang dipelopori oleh kaum feminisMarxist ini. yang berarti jauh lebih rendah daripada daerah perdesa an yang mencapai 24.16 persen pekerja dengan jam kerja kur ang dari 25 jam seminggu. hak-hak politik dan kewa rganegaraan.

berbang sa. terutama y ang paling mencolok adalah pada kelompok umur 30-39 tahun di mana TPAK wanita 55 .2 59. Kendati demikian. lni 88 . 1996: h. komposi si jenis pekerjaan mana yang menyumbangkan kenaikan total tadi. sela ras.27 dan pria 98.WANITA 37.8 40. Hal ini dapat di cermati dari Tabel 7. wanita kebanyakan bekerja sebagai pekerja keluarga yang tidak dibayar (39. dan serasi. Proyeksi Angkatan Kerja 1988-2000 Ditinjau dari s isi TPAK. Dari sisi ini terlihat bahwa TAPK wanita meningkat dari tahun ke tahtin dan diprediksikan tetap naik pada ta hun mendatang seperti terlihat pada Label 7. bermasyarakat. Salah satu indikator integrasi wanita dalam pembangunan adala h Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) wanita. Berkaitan dengan P2W. konstruksi sosial yang membentuk persep si dan harapan serta mengatur hubungan antara pria dan wanita sering merupakan p enyebab rendahnya kedudukan dan status wanita. Dalam GBHN 1993.Menurut kacamata Gender and Development. program P2W dalam Pembangunan Jangka Panjang II diarahkan pada sasaran umum: meningkatnya kualitas wanita dan terciptanya iklim sosial budaya yang mendukung bagi wanita untuk pengembangan did dan meningkatkan peranannya dalam berbagai dimensi kehidupan berkeluarga. dan bernegara. posisi inferior.54 (BPS.80).4 persen) dan buruh/karyawan swasta (22. Me skipun kuantitas kontribusi TPAK sudah menunjukkan angka yang meningkat. O leh karena itu menjadi suatu hal yang menarik meneliti di batik fenomena ini. Tabel 7.6 berikut ini. mas ih ada kesenjangan antara partisipasi angkatan kerja pria dan wanita. sejak GBHN 1978 telah mengamanatkan keiku tsertaan (integrasi) wanita dalam pembangunan nasional.6 61. Pembangunan berdimensi jender ditujukan untuk mengubah hubun gan jender yang eksploitatif atau merugikan menjadi hubungan yang seimbang.7 tentang indikator sosial wanita Indonesia.8 Sumber : Biro Pusat Statistik. wanita ini mempunyai peran yang makin meningkat dari tahun ke tahun.3 persen). Fenomena in i menunjukkan bahwa masih banyak wanita yang bekerja sebagai sambilan atau hanya membantu pria. Semenjak itu berbagai ke bijakan dan program telah dirumuskan untuk lebih membuka partisipasi wanita dala m pembangunan.4 38.6. Ditinjau dari status pekerjaan utama.2 LAKPLAKI 62. Tingkat Partisipasi Angkatan Ke rja H 1988 1993 1998 . dan sekunder rel atif terhadap pria.

2 persen pria yang bekerja selama 35 jam atau lebih. 89 .7 menunjukkan b ahwa jumlah jam kerja wanita sebagian besar berkisar antara 7 hingga 59 jam semi nggu.7 persen) dan hanya 10. yang diikuti dengan tenaga pen jualan.5 persen yang berstatus pekerja keluarga. sebagi an besar wanita bekerja kurang dari 35 jam seminggu. Tabel 7. Dari tabel tersebut secara eksplisit terlihat bahwa jenis pekerjaan yang tidak memerlukan banyak kualifikasi (blue collar workers) masih cukup besar sumbangannya terhadap total pekerjaan.1 persen wanita yang bekerja selama 35 jam atau lebih.berbeda dengan pria.7 juga memperlihatkan bahwa jenis usaha yang paling banyak di geluti oleh wanita adalah tenaga usaha pertanian. Secara umum. dan tenaga produksi. yang sebagian besar bekerja dengan status berusaha dibantu anggota rumah tangga (32. sementara hanya 45 . agaknya wanita bekerja lebih pendek dibanding pria karena ter dapat 68. Tabel 10. Dengan kata lain.. Ini dapat berarti bahwa se ktor informal wanita yang berhubungan dengan microenterprise wanita memang didug a masih menempati posisi kunci yang menentukan tinggi rendahnya TPAK dan pada gi lirannya akan mempengaruhi tingkat kesejahteraan wanita itu sendiri.

15 4.53 0.-Tenaga pelaksana dan tata usaha Tenaga penjualan 5.-. _.04 6.65 20.53 7..85 73.03 2.71 1.21 6. Status pekerjaan utama: 1. 2.. Tenaga usaha pertanian Tenaga produksi Tenaga operator Pekerja kasar 10.52 27. 6. yang banyak bersentuhan dengan lalu lintas perdagangan internasional.86 14.53 12.82 10. Wanifa .33 1. 5.. Fakta menunjukkan sektor manufaktur yang modern hidup berdampingan dengan sektor pertanian yang tradisional dan kurang produktif. Pria Berusaha sendiri Berusaha dibantu anggota RT Berusaha dengan buruh Buruh/karyawa n pemerintah Buruh/karyawan swasta Pekerja keluarga Jenis pekerjaan utama: Tenag a profesional Tenaga kepemimpinan & ketatalaksanaan 3.. 3.21 10.54 3.10 50.60 19. 3. ..93 1. 6. 4.59 2.29 22. Dua macam sektor ekonomi yang sangat berbeda karakteristiknya sating berhadapan satu sama lain. 7.99 16. Lainnya Jumlah jam kerja: 0 2.17 0. 4.7. 5. dan teknologi tinggi telah menimbulkan polarisasi dan dualisme dalam proses pembang unan.Tabel 7. Indikator Sosial Wanita dan Pria.88 32. Sektor p ertama berupa struktur ekonomi modern yang secara komersial cenderung bersifat c anggih. di bimbing oleh motif-motif memperoleh keuntungan yang maksimal. di mana pusat kekuasaan pemerintahan dan 90 ..22 0..49 48.25 39.58 5. proteksi.80 0. 2. MASALAH MIGRASI DAN SEKTOR INFORMAL Strategi industrialisasi yang banyak mengandalkan akumulasi modal.36 5..97 2. 1994 (dalam persentase) alto Bet as arkarr. 15.37 3.84 1.06 Tenaga usaha jasa 1. Di dalam konteks m asyarakat sekarang ini sektor tersebut dikuasai oleh orang-orang bermodal besar (konglomerat) yang terutama berasal dari daerah metropolitan (kota-kota besar).

27 persen. tingkat urbanisasi pada suatu wilayah dapat dinyatakan sebagai besarnya proporsi penduduk perkotaan pada wilayah tersebut (BPS. dan (4) karena perumahan hanya 2. Di satu p ihak.5). Sebagian besar warganegara Indonesia hidup di dalam s ektor yang kedua ini (Nasikun. 1991). Terlihat bahwa urbanisasi yang paling mencolok di DKI Jakarta.4 persen. menurut Survei Penduduk Antar Sensus (SUPAS) 1995. Para migran yang tertarik ke DI Yogyakar ta umumnya 91 . (3) karena pendidikan sebesar 14. kurang menanggapi rangsangan-rangsangan internas ional dari kekuatan internasional. 36. pada 1970 meningkat sediki t menjadi 17.96 persen. Adapun alasan melakukan migrasi. Di dalam dualisme ekonomi. Dewasa ini dualisme ekonomi timbul dari ada nya urbanisasi. Adapun urbanisasi adalah perpindahan penduduk desa yang menuju k ota sehingga mengakibatkan semakin besarnya proporsi penduduk yang tinggal di pe rkotaan. 1997: h.9 persen dan 1995 menjadi 35. Berhadapan dan terpisah dari sektor yang pertama. terdapat sektor yang berfungsi atas dasar prinsip-prinsip kapitalistik den gan hadirnya perusahaan dagang dan pabrik besar. yang menurut teori ekonomi modern merupakan struktur ekonomi yang berorientasi kepada sikapsikap konservatif. 1997: bab IV). terdap at sektor yang dikuasai petani kecil dan para pengrajin dengan cirinya memiliki "mentalitas oriental" (Evers.9 persen. DKI Jakarta. Sedangkan di lain pihak. adalah: (1) perubahan status perkawinan dan ikut saud ara kandung/ famili lain sebesar 41. Sumatera Utara. penduduk perkotaan baru 15 persen. serta kurang mampu mengusahakan pertumbuhan p erdagangan secara dinamis.kegiatan ekonomi berada. Pada 1961. Riau. dan Sumatera Selatan. berarti orang desa melihat Jak arta lebih sebagai tempat mencari uang. dijum pai sektor yang kedua berupa struktur ekonomi pedesaan yang bersifat tradisional .6 5. Bila dirinci menu rut propinsi.35 persen. yang merupakan tujuan utama para migran.8 menyajikan kecenderungan perubahan tingkat urbanisasi untuk masingâ masing propinsi s elama 1980-1995.58 persen). Tabel 7. Dengan demikian. 57 persen dan lainâ lain 1. ternyata ala san utama mereka adalah pekerjaan (59.47 persen (BPS. Boeke (1930) menyatakan bahwa dualisme ekon omi timbul akibat adanya sebuah sektor dalam kegiatan ekonomi kolonial yang memb erikan perlawanan dari perembesan politik kolonial. tabel 4. Kalimantan Timur. diikuti oleh Daerah Istimewa Yogyakarta. 1980 menjadi 22. m asing-masing sektor memperlihatkan kejelasan karakteristiknya sendiri.1989). dan tingkat urbanisasi semakin cepat hingga 1990 mencapai 30. (2) karena pekerjaan sebesar 39. Tingkat urbanisasi di Indonesia cenderung terus meningkat dari waktu ke waktu.

Tabel 7. Pendatang baru di kota karen a tidak memperoleh pekerjaan mencoba mengadu nasibnya dengan berpartisipasi dala m kegiatan ekonomi kota sebagai self-employment yang akhir-akhir ini dikenal seb agai sektor informal.64 persen). Artinya. menurut Dipak Mazumbar (Bank Dunia).9 menunjukkan bahwa para migran dari desa menyumbang antara 35 persen hingga 60 persen pertumbuhan penduduk kota di banyak negara. Sektor informal.karena alasan pendidikan (51. melainkan penggunaan fasilitas tersebut.6 5 persen) dan pendidikan (14. Dengan perkataan lain. Jadi untuk mengkategorikan suatu unit usaha ke dalam sektor infor mal perlu diperhatikan suatu kriteria bahwa selama bantuan/fasilitas yang disedi akan oleh pemerintah adalah yang digunakan sebagai ukuran. unit-unit usaha yang tidak dapat mempergunakan fasilitas itu dikelompokkan ke dalam sektor informal. melainkan memiliki sifat dinamis. yang diikuti oleh alasan pekerjaan (39. Sektor informal adalah bag ian dari sistem ekonomi kota dan des a yang belum mendapatkan bantuan ekonomi dari pemerintah atau belum mampu menggu nakan bantuan 92 . merupakan unit-unit usaha yang tidak atau sedikit sekali menerima proteksi secara resmi da ri pemerintah. Juga diartik an bahwa sektor informal ialah suatu unit usaha yang telah memperoleh bantuan ek onomi dari pemerintah. 1981). Tabel 7 .8 menu njukkan bahwa alasan utama yang paling banyak dikemukakan untuk seluruh propinsi adalah alasan keluarga (41. 1978). 1978). baik fisik. urbanisasi desa -kota terjadi sebelum industri di kota mampu berdiri sendiri. Perkembangan kota yang lebih cepat meng akibatkan terjadinya urbanisasi yang bersifat prematur.35 persen). Ini berarti Yogyakarta merupakan tempat yang paling diminati oleh orang desa untuk tempat menuntut ilmu.96 persen). bukanlah merupakan sektor y ang memiliki sifat-sifat seperti sektor tradisional sepenuhnya yaitu sifat stati s. tetapi karena sesuatu hal unit usaha itu belum bisa berke mbang (Hidayat. Sementara itu International Labor Organization (ILO) meny atakan bahwa sektor informal terdiri dari unit usaha berskala kecil yang memprod uksi serta mendistribusikan barang dan jasa dengan tujuan pokok untuk menciptaka n kesempatan kerja dan pendapatan bagi dirinya masing-masing dan dalam usahanya itu sangat dibatasi oleh kapita. walaupun begitu sektor informal bisa dikata kan sebagai bagian dari sektor tradisional yang mempunyai pemahaman lebih luas ( Hidayat. Sektor informal menurut Weeks. bukan tersedian ya fasilitas yang penting. Migrasi dari desa ke kota ini diyakini merupakan faktor utama penyumbang pertumbuhan kota. maupun manusia dan keterampilan (Se thuraman. Jadi kriteria accesibility terhadap suatu fasilitas yang disediakan oleh pemerin tah adalah yang digunakan sebagai ukuran.

7. yang menolaknya untuk mendapatkan kemudahan terhada p keuntungan-keuntungan yang ditawarkan kepada sektor informal. 10. umumnya mempunyai ciriciri sebagai berikut : 1. Pada um umnya unit usaha tidak mempunyai izin usaha. adalah sebagai berikut: 1. Sektor informal menghasilkan surplus. 5. Untuk menjalankan usaha tidak diperlukan pendidikan formal karena pendidikan yan g diperlukan diperoleh dari pengalaman sambil bekerja. 8. 11. Sektor informal sangat perlu dikem bangkan lebih lanjut dan dibina dengan balk. Pada umumnya kebijakan pemerintah untuk membantu golongan ekonomi lemah tidak sampai ke sektor ini. Hasil produksi atau jasa terutama dikonsu msikan oleh golongan masyarakat kota/desa yang berpenghasilan rendah. Pola kegiatan usaha tidak teratur b aik dalam arti lokasi maupun jam kerja. 6.yang telah disediakan atau telah menerima bantuan tetapi belum sanggup berdikari (Hidayat. Sumber Jana modal usaha pada umumnya berasal dari tabungan sendiri atau dari lembaga keuangan yang tidak resmi. Sebagai akibat dari rendahnya intensitas penggunaan kapital. Menyediakan kesempatan kerja untuk mendapatkan latihan dan magang dengan biaya y ang jauh lebih rendah daripada yang disediakan oleh lembaga-lembaga formal dan s ektor formal. 2. Teknologi yang digunaka n bersifat primitif. hanya sebagian keci l saja dari kapital yang diperlukan di sektor formal diperlukan untuk mempekerja kan seseorang di sektor informal. 1. 9. Modal dan perputaran usaha relatif kecil. 1983). Sektor informal membutuhkan tenaga yang tidak memiliki keterampilan atau cukup h anya setengah terampil saja yang penawarannya semakin meningkat dan penawaran 93 . Sektor informal di Indonesia. sehingga skala op erasi juga relatif kecil. Unit usaha mudah kel uar masuk dari satu sub-sektor ke lain sub-sektor. menurut Todaro (1994). tetapi kad ang-kadang juga yang berpenghasilan menengah. Adapun alasan-alasan perlu dikemban gkannya sektor informal. menurut Hidayat (1978). 3. karena timbulnya unit usaha t idak mempergunakan fasilitas/kelembagaan yang tersedia di sektor formal. 4. 2. Pada umumnya unit usaha t ermasuk golongan one-man-enterprises dan kalau mengerjakan buruh berasal dari ke luarga. Kegiatan usaha tidak terorganisasikan secara baik. meskipun berada dalam suatu lingkungan keb ijaksanaan yang memusuhinya. 1.

Desember. Biro Pusat Statistik. 1. Lembaga Studi Pembangunan. 4. Jakarta. __________ ___. No. Hasil studi di berbagai tempat memperlihatkan Jaya serap kesempatan k erja yang terjadi di sektor informal (lihat Tabel 10. 1979. Sektor informal memainkan peranan yang penting dalam mendaurulangkan barangbaran g buangan. "Ekonomi Bayangan. Ek onomi Keuangan Indonesia. Produksi Sub-sisten dan Sektor Informal". 21-30. Jakarta. Selain itu juga menyediakan ke butuhan masyarakat golongan menengah ke bawah. Sensus (SU PAS) 1995. 1983. lndikator Sosial Wanita Indonesia 1994.10). Jakarta.. R. Tadjuddin Noor. _"Definisi. BACAAN YANG DIANJURKAN Ananta. "Sektor Informal dalam Struktur Ekonomi". Yogyakarta. Prisma. dan Mobilitas Pekerja". Maret 1994. Hans-Dieter. Janurari 1996. 23 Juni 1997. Vol. Ghalia Indonesia. Profit Indonesia. Bintarto. "Pasar Bebas. dalam Mari Pangestu dan Ira Setiati (penyuntin g). Seri S4. 1997. Mencari Paradigma Baru Pembangunan Indonesia. Ar is dab Evi Nurvidya Anwar. Evers. 94 . __. 1997. makalah dalam Diskusi Panel Ahli GBHN. Hotel Radisson. CSIS. yaitu menyediakan lapangan pekerjaan den gan penyerapan tenaga kerja secara mandiri atau dengan kata lain menjadi safety belt bagi tenaga kerja yang memasuki pasar kerja. Urbanisasi dan Permasalahannya. Effendi. 2. Hidayat. PPE Faku ltas Ekonomi Ull. _Perpindaha n Penduduk dan Urbanisasi di Indonesia: Hasil Survei Penduduk Antar . Jakarta. 1978. Jakarta. Kriteria. Sektor informal mungkin akan dapat menggunakan teknologi tepat guna dan memanfaa tkan sumber daya setempat yang tersedia yang memungkinkan alokasi sumber daya da pat dilaksanakan secara lebih efisien.tersebut mustahil akan diserap oleh sektor formal yang sifat permintaannya lebih banyak membutuhkan tingkat yang berketerampilan. Jakarta. Peluan g Kerja. XXVI. Sebenarnya sektor informal juga sangat membantu kepentingan masyarakat. "Analisis Demografis Perekonomian Indonesia Menjelang 2005: Beberapa Butir Pemikiran". hal. Laporan Perekonomian Indonesia 1993. 5 Mei 1991. "Peranan Sektor Informal dalam Perekonomian Indonesia". dan Konsep Sektor Informal : Sumbangan Pemikiran Unt uk Repelita .

Leading Issues in Economic Development. Pustaka Pelajar.IV". Bureaucra cy and the Poor.U. dan Tadjuddin Noer Effendi (Ed. Singarimbun. "Ledakan Pendidikan Tinggi Hingga Akhir PJPT II ". Korten. McGraw Hil International Book Company.7. Meier. tahun XII.V.). Oxford University Press. ILO. dan S ektor Informal di Kota. 95 . dalam David C. CSIS. 1991.. Manning . Mencari Paradigma Baru Pemb angunan Indonesia. Chris.). S. 1981. 1996. Analisa. bab VI. 1995. Geneva. 1983. Yayasan Obor Indonesia. Alfonso (eds. Mayling. 1989... Sethuraman. No. Jakarta. 1981. Singapura. Rajawali. David C. 1991. Penduduk dan Perubahan. Gerald M. Korten dan Felipe B. Nasikun. 1997. Urbanisasi. Yogyakarta. Sistem Sosial Indonesia. Pengangguran. edisi ke-6. Masri. Jakarta. "Social Development: Putt ing People First". dalam Mari Pangestu dan Ira Setiati (penyunting). Ox ford. The Urban Informal Sec tor in Developing Countries. Oeyâ Gardiner. Jakarta : Penerbit C .

198 2: h. negara yang tidak mempunyai tabungan dalam negeri yang cuku p untuk membiayai pertumbuhan ekonomi. tanpa suatu eks por modal balasan dari negara tersebut. dap at dibagi dalam modal yang tidak dan yang harus dibayar kembali (Pattisiana. umumnya menutup kesenjangan pembiayaan de ngan mencari sumber-sumber dari luar negeri. MODAL ASING DALAM PEMBANGUN AN Sejarah mencatat.1 Keseluruhan arus modal asing. Sebaliknya dalam kelompok arus 96 . Bab ini akan dibuka dengan menyimak kontroversi di seputar perana n modal asing dalam pembangunan. Bagaimanakah beban utang lu ar negeri Indonesia menjelang akhir abad ke-21? 8. 881899). Dengan demikian. Dalam kelompok arus modal yang pertama biasanya mengalir modal da ri sektor pemerintah negara industri ke sektor yang sama di NSB. tidak mengherankan apabila mengalir arus modal dari negara industri ke negara sedang berkembang (N SB). Diskusi menarik tentunya adalah mengkaji s umber dan struktur pembiayaan pembangunan Indonesia. Dilanjutkan dengan penelusuran motivasi negara donor menyalurkan modal asing ke NSB.1.1.BAB VIII PEMBIAYAAN PEMBANGUAN INDONESIA DAN UTANG LUAR NEGERI Sebagian besar NS B menutup kesenjangan investasi-tabungan dan kesenjangan devisa dengan mengundan g modal asing. sebagaimana ditunjukkan oleh Gambar 7.

97 .

karena swastalah yang harus menanggung akibatnya. tergantung dari sumber arus modal tersebut. Yang pertama tadi meliputi penger tian kredit dan pembiayaan dari proyekproyek pembangunan. Utang jangka pendek adalah utang dengan jatuh tempo satu tahun atau kurang. Utang yang publicly guaranteed merupakan utang yang dilakukan swa sta namun dijamin pembayarannya oleh suatu lembaga pemerintah. Bagi kebanyakan N SB. Oleh karena bantuan luar negeri banyak yang harus dibayar kemba li maka umumnya disebut juga utang luar negeri. Utang jangka panjang umumnya berjang ka waktu lebih dari satu tahun.Ekonomi Pembangunan modal yang harus dibayar kembali terdapat arus batik berupa ekspor modal dari NSB. Artinya dapat . jenis utang yang public and publicly guaranteed yang perlu lebih mendapat pe rhatian karena apabila NSB tidak mampu membayar kembali utang tersebut maka peme rintah negara tersebutlah yang menanggung akibatnya. Sebagian besar tabungan resmi berwujud k onsesional. Penggunaan kredit IMF merupakan kewajiban yang d apat dibeli kembali (repurchase obligations) atas semua penggunaan fasilitas IMF . investasi portfolio dan kredit ekspor.2). utang jangka panjang. yaitu: utan g swasta yang tidak dijamin oleh pemerintah (private nonguaranteed debt). apakah ke sek tor pemerintah atau swasta di negara industri. 8. namun lebih populer disebut bantun luar neger i (foreign aid). Tabungan luar negeri meliputi t abungan resmi ke sektor pemerintah (official savings) dan tabungan swasta (priva te savings) (Gillis. di mana utang tersebut tidak dijamin oleh institusi pemer intah. utang pemerintah adalah utang yang dilakukan oleh suatu in stitusi pemerintah. Utang swasta yang nonguaranteed debt adalah utang yang dilakuka n oleh debitur swasta. Di lain pihak. arus modal asing yang harus di bayar kembali juga disebut tabungan luar negeri. Risiko ini tidak dijumpai u ntuk kategori utang swasta yang tidak dijamin oleh pemerintah. berupa hibah (grants) atau pinjaman lunak (soft loan s). Bank Dunia (1992) mengklasifikas ikan total utang luar negeri menjadi: utang jangka pendek. 365-366). Aliran konsesional ini secara teknis disebut bantuan pembangunan resmi (ODA= Official Development Assistance). dan penggunaan kredit IMF (Iihat Gambar 12. dan utang swasta yang dijamin oleh pemerintah (public and publicly g uaranteed debt). yang biasanya berbunga rendah dengan jangka waktu pengembalian yang lebih la ma. utang pemerintah. Utang yang berjangka panjang dapat dirinci menurut jenis utangnya. Aliran Modal ke Sektor Pemerintah Berdasarkan sifatnya. departemen. dan lembaga pemerinta h yang otonom.1. termasuk pemerintah pusat. 1983: h.1. yang terakhir adalah m engenai investasi langsung. 98 .

Bentuk lain adalah kredit dari perusahaan manufaktur. Utang luar negeri yang berasal dari kreditur swasta bisa pula berwujud pinjaman dari bank-bank komersi al. investasi langsung (PMA) oleh penduduk atau perusahaan asing. yaitu pinjaman dan kredit dari le mbaga keuangan internasional seperti PBB. Yang pasti.2. P MA tidak selalu dilakukan oleh perusahaan transnasional.Utang yang tergolong public and publicly guaranteed dapat dirinci menurut kredit urnya. bank-bank pembangunan regional. Gambar 8. yang diberikan/dipinjamkan ke NSB. serta kredit bank yang ditutu p dengan jaminan lembaga kredit ekspor. Pinjaman dari bank-bank komersial adalah pinjaman d ari bank-bank swasta dan lembaga keuangan swasta lainnya.1. misalnya bantuan pemerintah Jepang kepada pemeri ntah Indonesia. Utang luar negeri yang berasal dari sumber resmi dibagi menjadi: (1) pinjaman bilateral. dan pemasok barang lainnya. PMA selalu berupa kontrol penuh atau parsial melalui partisipasi 99 . CGI (dulu IGGI). Obligasi dikeluarkan o leh lembaga pemerintah maupun swasta. Stok Utang Luar Negeri dan K omponen-komponennya 8. eksportir.2. AlIran Modal ke Sektor Swasta Tabungan swasta asing terdiri atas empat ko mponen. Bank Dunia. dan (2) pinjaman multilateral. obligasi. yaitu pinjaman antarpemerintah dan lembaga peme rintah (termasuk bank sentral). Pertama. Selama ini kreditur (pihak yang memberikan utang) dapat berasal dari sumb er resmi maupun swasta. dan lain-lain.

kredit ekspor.3. yaitu penundaan pembayaran untuk impor. dengan harapan men dapat manfaat finansial dari investasi tersebut. serta kondisi yang menguntungkan bagi perkembangan ekspor pr oduk pengolahan (Hongkong. Selama 1977-1983. peringkatan tertinggi pangsa PM A terhadap total arus modal asing dipegang NIB dan negara-negara Asia Tenggara. F ilipina. Korea. pinjaman dari d ari bank komersial (commercial bank lending) kepada pemerintah dan perusahaan NS B.459-68). negara-negara ind ustri baru (NIB) dan negaranegara Asia Tenggara tercatat berhasil menarik hampir 95 persen dari arus investasi asing (PMA). Pertama. Waktu dan besarnya laba dapat d itentukan sebelumnya berdasarkan atas besarnya bunga yang diperoleh. masing-masing sekitar 32 persen dan 16 persen. investasi keuangan yang d ilakukan di luar negeri. pertumbuhan ekonomi yang meningkat perlu diikuti dengan perubahan struktur prod uksi dan perdagangan. Dengan kata l ain. dari 18 negara. 197 3. Polemik Mengenal Modal Asing Peranan modal asin g dalam pembangunan telah lama diperbincangkan oleh para ahli ekonomi pembanguna n. Bentuk inve stasi portofolio yang sering ditemui adalah pembelian obligasi/ saham dalam nege ri oleh orang/perusahaan asing. Kajian yang dilakukan oleh Rana (1987) memperlihatkan. Rep. Fak tor utama yang menarik PMA ke NIB dan Asia Tenggara adalah kinerja ekonomi yang dinamis seperti tingginya pertumbuhan PDB. Investor membeli utang atau ekuitas. Thailand). investasi portfolio. h. 1987: tabel 1 dan2). Singapura). lem ahnya infrastruktur.dalam modal dan manajemen. masih kecilnya PMA dalam pembentu kan modal domestik bruto. Kedua. Ketiga. Keempat.1. melimpahnya minyak dan sumber daya al am lain (Indonesia dan Malaysia). Secara garis besar. tanpa kontrol manajemen. sementara negara-negara di Asia Sela tan dan Pasifik Selatan hanya memperoleh sisanya (Rana. sumber dana eksternal (modal asing) dapat dimanfaatkan ol eh NSB sebagai dasar untuk mempercepat investasi dan pertumbuhan ekonomi. Data ini juga memperlihatkan. Rendahnya aliran modal ke neg ara Asia Selatan dan Pasifik Selatan mencerminkan rendahnya kinerja ekonomi. Ketiga. dan relatif sedikitnya sumber daya alam dan manusia. Kedua. modal asing dapat berperan penting dalam 100 . sementara di Indonesia dan Taiwan pangsanya sekitar seperempat dari to tal modal asing. 8. kredit ekspor merupakan pembiayaan muka dari arus barangbarang yang ditawar kan oleh eksportir dan bank-bank komersialnya ke negara pengimpor sebagai salah satu cara promosi penjualan. pasar domestik yang relatif luas (Indonesia. yang kemudian diikuti kelompok Pa sifik Selatan (8 persen) dan Asia Selatan (1 persen). pemikiran mereka sebagai berikut (Chenery dan Carter. PMA memainkan peran yang p enting di Hongkong dan Singapuia (lebih dari setengah hingga 2/3 dari total moda l asing).

Hasil studi secara umum memberikan indikasi bahwa arus masuk modal asing telah menimbulkan dampak positif terhadap pertumbuhan ekonomi di NSB kawasan Asia dan Pasifik ( Dowling dan Hiemenz. D engan asumsi ini dan Incremental Capital Output Ratio (ICOR) yang stabil. Asumsi dasar yang melata rbelakangi pemikiran tersebut adalah bahwa setiap satu dollar modal asing akan m engakibatkan kenaikan satu dollar impor dan investasi (Papanek. hanya sebagian kecil modal asing berpengaruh positif terhadap tabungan domestik dan pertumbuhan ekonomi. tingkat dan struktur 101 . Lepas dari perbedaan visi dan hipotesis pendukung teori dependencia dan NeoKlasik. Para penganut teori ketergantungan (dependencia) sependapat denga n kesimpulan para penentang di atas. Cardoso. Samir Amin. menda pat banyak tentangan dari kubu ahli ekonomi pembangunan yang lain. Atau sebaliknya. Studi empiris mengenai dampak modal asing terhadap pertumbuhan umumnya difokuskan dengan mengestimasi f ungsi produksi Neo-Klasik. Paul Baran. seperti kinerja ekspor. Gunder Fra nk. laju pertumbuhan angkatan kerja. sementara sebagian besar digunakan untuk mena mbah konsumsi. n amun dalam jangka panjang (5-20 tahun) menghambat pertumbuhan ekonomi. dalam negeri atau luar negeri. yang menggambarkan bagaimana pertumbuhan ekonomi dite ntukan oleh akumulasi faktor-faktor produksi.' Mereka berke simpulan. Prebisch. Keempat. seperti modal dan tenaga kerja.3 Hipotetis utama teori ketergantungan adalah: (a) PM A dan bantuan luar negeri dalam jangka pendek memperbesar pertumbuhan ekonomi. Fa ktor-faktor produksi ini selanjutnya dapat dipisah menurut asalnya.mobillisasi dana maupun transformasi struktural. kebutuhan akan modal a sing menjadi menurun segara setelah perubahan struktural benar-benar terjadi (me skipun modal asing di masa selanjutnya lebih produktif). ada beberapa cata tan yang kiranya menarik untuk diperhatikan dalam setiap studi mengenai dampak a rus modal asing. Pemikiran yang mendukung bahwa modal asing berpengaruh positif terhadap tabungan domestik dan pembiayaan impor. 934). (b) makin banyak negara bergantung pada PMA dan bantuan luar negeri makin besar perbedaan penghasilan dan pada gilirannya pemerintah tidak tercapai. Dos Santos adalah nama-nama yang sering disebut sebagai pendukung utama teori ketergantungan. dimung kinkan untuk menghitung dampak modal asing yang masuk terhadap pertumbuhan ekono mi. dapat dihitung berapa modal asing yang diperlukan untuk men capai target pertumbuhan ekonomi tertentu. sistem perpajakan. 1983). 1972: h. (a) studi-studi terdahulu umumnya tidak memasukkan faktorfaktor lain yang berpengaruh terhadap pertumbuhan ekonomi selain modal asing.

2. di satu sisi. hal yang terakhir ini terbukti dari tingginya elastisitas permintaan akan im por barang dan jasa dari negara donor. pem berian bantuan akan memperkuat ikatan keuangan antara negara donor dengan negara penerima bantuan. Berangkat dari du a kelemahan utama inilah. Bagi negara donor. India. RRC. sebagaimana disimpulkan oleh Ruttan (1989). Keunikan model mereka adalah kemampuannya untuk memisahkan dampak langsung dan dampak total modal asing terhadap pertumbuhan ekonomi dan pertumbuh an domestik. 8. di landasi kepentingan ekonomi dan strategis. Rencana Marshall. Hal sepert i ini sering dijumpai pada bantuan-bantuan yang bersifat mengikat (tied aid). Dari sudut kepentingan politik dan geostr ategik nampaknya tidak perlu diragukan. Keadaan ini terlihat. Sri Lank a. Misalnya. bantuan pangan dan kerjasama ekonomi Amerika Serikat merupakan bagian integral dan tidak terpisahkan dengan kebijakan luar negerinya. Nepal. sekaligus menu njukkan hubungan timbal batik antara pertumbuhan ekonomi dan tabungan domestik. dilandasi tanggung jawab moral dari penduduk negara kaya kepada penduduk negara miskin. Singapura. pembangunan infrastruktur seperti jaringan transpor tasi dan instalasi listrik di NSB akan menimbulkan permintaan akan peralatan bar u. untuk menulusur dampak arus m asuk modal asing dibandingkan ekspor. setidaknya ada dua al asan yang melatarbelakangi negara donor bersedia memberikan bantuan: Pertama.tabungan. (b) studi-studi yang pernah dilakukan tidak berhasil menunjukkan hubun gan dua arah antara tabungan domestik dan pertumbuhan ekonomi. Model ini telah diuji untuk menelusur dampak arus modal asing di sembilan negara Asia (Myanmar. yang membantu pr ogram pembangunan kembali Eropa Barat dan Jepang setelah 102 . setidaknya mengganti peralatan yang telah usang dari negara donor. Rana dan Dowling (1988) mencoba menyusun suatu model k omprehensif berdasarkan sistem persamaan simultan. bantuan luar negeri dapat mempercepat pertumbuhan ekonomi negara penerima bantuan. Kedua. misalnya. Ha mpir senada dengan itu. Filipina. Republik Korea. di sisi l ain juga menimbulkan dampak perluasan permintaan barang dan jasa dari negara don or. Thailand). MOTIVASI NEGARA DONOR Mungkin pertanyaan yang muncul adalah ap a yang mendorong negara donor atau pinjaman luar negeri ? Menurut pengalaman di banyak negara. pertumbuhan angkatan kerja. Dengan kata lain. bantuan teknis untuk pembangunan penggilingan gandum dan industri pengolah bibit sering ditafsirkan sebagai peningkatan permintaan akan pangan dan bibit dari negara donor.

1. yang menyumbang hampir 80 persen dari penerimaan ekspor . pangsanya dalam total ekspor menurun menjadi sekitar 25 persen. namun posisi tersebut berubah setelah adanya oil boom pada awal 1974. diterimanya argumen ini tidak berarti menjawab pertanyaan: sampai seberapa jauh bantuan luar negeri itu efektif dan menyentuh kelompok sas aran? 8. Peran migas sebagai sumber penerimaan negara belangsung hingg a 1981.6 persen pada 1969 menjadi 42. yang ketiganya bertalian secara erat dan berhubungan satu sama lain.3. S elepas 1973 penerimaan dari ekspor minyak dan gas menjadi begitu dominan sebagai sumber penerimaan devisa. Pada empat tahun pertama Pelita I. yang pada gilirannya diharapkan dapat mengangkat mereka dari jurang kemiskina n. Meskipun demikian. 8. SUMBER-SUMBER PEMBIAYAAN PEMBANGUNAN INDONESIA Minyak bumf. Sementara pe ranan ekspor terhadap PDB melonjak dari 10. situasi ekonomi Indonesia dan prospeknya demikian terikat dengan perkemba ngan pasar minyak. yang hanya 19.1 perse n pada 1984. Ekspor Sebagai pe nganut sistem ekonomi terbuka.7 persen pada 1984. mencapai di atas 60 persen. Hal ini tercermin dari bantuan kepada negara berkembang yang harus dit ujukan untuk memenuhi kebutuhan dasar (basic needs) bagi sebagian besar rakyatny a. telah mengubah profit ekspor s ecara drastis. bantuan luar ne geri dan perekonomian Indonesia ibarat segi tiga sama sisi dalam masa Orde Baru.Perang Dunia II. lalu lintas perdagangan internasional berperanan penting dalam perekonomian dan pembangunan di Indonesia. bantuan luar negeri adalah sumber utama pembiayaan pemb angunan. ekspor nonmigas merupakan sumber utama pene rimaan devisa Indonesia.3. Meskipun ekspor nonmigas meningkat dua kali lipat nilainya selama 1971-1975. Setelah 1981 103 . Adanya lonjakan harga minyak yang pertama 1974. Tanggung jawab moral negara kaya kepada negara miskin dilandasi premis bahwa interdependensi ekonomi dan politik internasional berarti memperluas keadilan sosial dari lingkup nasional ke inter nasional. Seberapa jauh peran per dagangan luar negeri terlihat dari rasio antara ekspor ditambah impor terhadap P DB. Pada dasawarsa 1970-an. merupakan contoh betapa kentalnya kepentingan politik dan strat egis untuk menangkis ekspansi ideologi komunis.2 persen pada 1969 menjadi 26. Selama 1973-1981 arus modal asing ini menyumbang 10 persen penerimaan devisa. Seja k itu. Arus masuk modal asing me ncapai sekitar seperempat penerimaan devisa sebelum 1973.

yang dicatat dalam pos neraca modal. Jalan keluarnya adalah pembiayaan pembangu nan dari sumber-sumber luar negeri. bantuan luar negeri yang masuk ke Indonesia berupa:5 Pertama. Dalam neraca pembayaran. sedang investasi asing dimasukkan sebagai pemasukan modal swasta. artinya ekspor barang lebih banyak dibanding impor barang. Terlihat bahwa modal a sing. Penjualan devisa serta komoditi pan gan dan nonpangan yang dari bantuan program dipergunakan untuk mencapai sasaran stabilisasi ekonomi jangka pendek. Bantuan Luar Negeri Di masa awal Orde Baru . (2) Nerac a transaksi berjalan umumnya defisit (kecuali 1979/1990 dan 1980/81) akibat defi sit pada transaksi jasa. tersedianya bantuan serta pinjaman luar negeri dan meningkatnya pajak perseroan migas telah sekaligus membantu untuk menutup ketiga defisit/ ke senjangan ekonomi Indonesia. Ditinjau dari macamnya. Defisit tersebut ditutup dengan pem asukan modal pemerintah dan pemasukan modal swasta (apabila bernilai positif). defisit anggaran negara. kecuali 1979/1980 dan 1980/ 1981. serta defisit neraca pemba yaran luar negeri (Nasution. 1989). Dengan demikian.kontribusi migas mulai menurun hingga 1985 menjadi 68. mengalirlah bantuan luar negeri. dalam bentuk bantuan luar negeri dan PMA. B antuan luar negeri juga digunakan untuk menutup defisit anggaran negara (APBN). Sejarah neraca pembayaran Ind onesia mencatat bahwa: (1) Neraca perdagangan Indonesia selalu surplus dari tahu n ke tahun. Tabungan domestik waktu itu begitu rendah dan tidak dapat diha rapkan meningkat dalam waktu singkat. para penentu kebijakan menghadapi kelangkaan modal dan sumber pembia yaan pembangunan. dalam bentuk pinjaman lunak (loan ) dan hibah. Ta k pelak lagi. telah berperanan dalam menutup defisi t transaksi berjalan Indonesia selama ini. Pada umumnya transaksi berjalan selal u defisit.2. Pada 1985. ( 3) Neraca modal umumnya positif (surplus) berarti arus modal asing yang masuk ke Indonesia lebih banyak dibanding arus modal yang keluar.3. Bps (1996) memperlihatkan perkembangan nerac a pembayaran Indonesia selama 1979/1980-1995/1996. 8. baik untuk mengendalikan inflasi maupun stabi lisasi kurs Rupiah. bantuan luar negeri tercatat sebagai pemasukan modal pemerintah. yaitu kesenjangan antara pengeluaran investasi deng an tabungan swasta nasional. ekspor non migas meningkat lebih dari 31 persen dari total penerimaan ekspor. Hasil penjualan tersebut setelah 104 . bantuan program yang terdiri at as bantuan devisa kredit dan bantuan pangan. dan investasi asing ke Indonesia. artinya ekspor jasa lebih kecil dibanding impor jasa. Di lain pihak. peranan ekspor nonmigas kembali meningkat akibat menurunnya har ga minyak dan volume produksi.8 persen dari total ekspor .

dan Saving-Investment Gap: 1994-1997 (pe rsentase terhadap PDB) 105 .3. namun dalam beberapa tahun. Tabungan. 81). investasi. Tabungan pemerintah yang dimaksud adalah tabungan peme rintah dalam APBN. pinjaman setengah lunak dan komersial. bantuan proyekdengan syarat-syarat pelunasan yang lunak digunakan untuk pembiayaan berbagai proyek prasarana di bidang ekonomi dan sosial. Ketiga.2. pangsanya hampir 1/3 dari a nus total. Investasi di sektor pertan ian dan jasa relatif sangat kecil karena dibatasinya kiprah modal asing di sekto r ini. PMA tercatat sedikit di atas 10 persen dari anus total. 8. dan savinginvestment gap sebagai proporsi terhadap PDB disajikan dalam Tabel 12. porsi terbesar PMA dialokasikan di sektor pertambangan dan minyak.2. merupakan penerimaan pemerintah dari bantuan program. Taska dan Deposito Berjangka. Indonesia telah menjadi importir modal. seme ntara di sektor manufaktur hampir mencapai 20 persen. yang merupakan selisih antara pen erimaan dalam negeri dengan pengeluaran rutin. Sel ama periode 1967-1985 sektor migas menerima 78 persen dari investasi total. Kedua. Arus masuk m odal asing (net capital inflows) meningkat dari hampir 300 juta dollar AS per ta hun pada akhir 1960-an hingga lebih dari 3 milyar dollar AS pada 1984. Kesen jangan antara tabungan dengan investasi (saving-investment gap) ditutup dengan m asuknya anus_ modal asing ke sektor pemerintah maupun swasta. pinjaman tunaiberupa pinjaman obligasi dan pinjaman dari kelompok bank. Tabungan Domestik Tabungan domestik diperoleh dari sektor pemerint ah dan sektor masyarakat. Tabungan masyarakat merupakan akumulasi dari Tabanas. 1988: h. Namun bil a ditelusur lebih dalam sumber defisitnya berasal dari sektor swasta dan BUMN.dikurangi biaya pemasaran. Tabungan ini dibutuhkan untuk membiayai investasi. Investasi Asing (PMA) S elama periode yang diamati.4. Sebagian dari bantuan proyek ini merupakan jasa konsultan dan tenaga teknisi yang membantu me rencanakan dan melaksanakan pembangunan proyek. Investasi. Hanya ter jadi satu kali arus modal keluar (net capital outflow) pada 1975 seining dengan adanya krisis Pertamina. 8. Secara umum saving-investment gap nilainya negatif. Pada umumnya. sedang peringkat kedua di sektor manufaktur (Hill. Perkembangan tabun gan. P emerintah pusat nampaknya selalu dapat membiayai investasinya dari tabungan peme rintah. Tabel 8. terutama awal Pelita I. Keempat.3. termasuk di dalamnya kredit ekspor.

0 1.5 21. STRUKTUR PEMBIAYAAN PEMBANGUNAN Potret pembangunan Indonesia agaknya dapat dilukiskan sebagai:"tangannya bergelantungan pada bantuan luar negeri. Tak dapat dipungkiri bahwa bantuan luar negeri tela h berfungsi sebagai injeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia dengan cara menutup de fisit anggaran pembangunan dan defisit neraca pembayaran. Kendati peranan bantuan luar neg eri semakin menurun pada tahun-tahun terakhir ini. agaknya cicilan pokok pinjaman harus mulai dibayar karena sudah jatuh tempo.5 10.1094 Investasi Bruto Tabungan Nasional Bruto Saving-Investment Gap Pemerintah Pu sat Investasi Bruto Tabungan Pemerintah Saving-Investment Gap Sektor Swasta Dan BUMN Investasi Bruto Tabungan 20.1 -3. 1989). In' bel um termasuk pelarian modal ke luar negeri.1 9. Sepanjang bantuan tersebut efektif dan tidak menjadi beban nampaknya tidak ada yang mempermasalahkannya. atau kurang lebih sekitar sepertiga nilai utang luar negeri pada akhir 1 987 (Mahyuddin. Kesimpulan sementara.2 1996 33.5 25.4 11.5 30.5 9.3 9. Bahwa bantuan luar negeri di Indonesia telah berperanan penting dalam menutup defisit anggaran dan defisit transaksi berjalan kiranya tidak perlu dipe rdebatkan lagi.9 1995 31.1 18. Hal inilah yang banyak dituding oleh para pengamat sebagai net resource transfers yang negatif.0 0. persentasenya masih di atas 3 5 persen.3 8.6 18. Sebuah penelitian memperkirakan nilai pelarian modal dari Indonesia secara akumulatif dari 1970-1987 mencapai US$ 11 milyar.5 23.5 11. Tabel 12.3 28.3 28.3 30. Namun pada dasawarsa 1980-an . 106 .2 -4. Boleh dikata dengan injeksi bantuan ini Indonesia telah dapat me mpercepat laju pertumbuhan ekonominya.8 18. Indonesia mengalami fenomena debt-led growth. A kibatnya.9 2. sejak tahun fiskal 1987/1988 total cicilan utang berikut bunganya menj adi lebih besar dibanding pinjaman baru setiap tahunnya.3 menunjukkan struktur pembiayaan pembangunan di mana peranan bantuan luar negeri pernah menc apai Iebih dari 50 persen pada Pelita I dan IV.4 -1.2 -3. sedang ka kinya berpijak pada minyak".8 9.5 18.0 29.7 9.2 1997 34.9 0.4.

perband ingan antara pembayaran bunga dan cicilan utang.4 persen hin gga 40.Bagi Indonesia. Kebutuhan akan modal asing me nunjukkan indikasi adanya kecenderungan meningkatnya arus masuk modal asing-. Tanpa bermaksud mempertanyakan ha sil-hasil pembangunan yang telah kita capai. Indonesia agaknya tidak bisa dibandingkan deng an negara-negara Amerika Latin yang beban pembayaran utangnya melebihi penerimaa n ekspor mereka. serta currency realignment (Djojohadikusumo. setiap selesai sidang CG I (dulu IGGI) selalu memberitakan di halaman muka dengan komentar klise bahwa In donesia perlu bersyukur karena masih dipercaya oleh negaranegara donor. Jumlah utang yang meningkat selama tiga tahun terakhir sampai 1 990 disebabkan oleh kebutuhan untuk mendapatkan pinjaman baru dan karena perubah an nilai tukar dollar AS terhadap Yen dan Mark Jerman.5. seperti kebijakan uang ketat. Susahnya. bila belakangan kita mengenal berbagai kebijaka n yang bernada expenditure reducing. nampaknya semakin mendesak untuk di pikirkan manajemen bantuan luar negeri dalam jangka menengah dan panjang. penurunan pen geluaran pembangunan.7 Defis it transaksi berjalan yang terus menerus. bayang-bayang krisis bantuan luar negeri bukannya tidak ada.ba ik berupa bantuan LN 107 . tidak ketinggalan. anjloknya harga minyak bumf dan ko moditi primer lain. DIL EMA MEMELIHARA MOMENTUM PEMBANGUNAN Konsekuensi logis dari komitmen membayar bun ga dan cicilan utang adalah semakin rampingnya konsumsi domestik dan pengeluaran pemerintah. terutama pada beberapa tahun terakhir ini. Kendati debt service ratio (DSR). memang kondisi beban utang Indonesia masih relatif lebih ringan. Media massa pun. berkisar antara 25. Nam un. dan penangguhan proyekproyek mega sebagai bagian integral dari penyesuaian struktural.7 persen selama 1985-1989. 8. Bahwa ak umulasi dan beban utang luar negeri kita semakin menjurus pada growth-led debt a tau masuk dalam perangkap utang (debt trap) jarang dipersoalkan. dan kebutuhan menjaga cadangan devisa pada tingkat yang aman nampaknya meme rlukan masuknya modal dari luar yang lebih tinggi. dibanding negara-negara Amerika Latin dan Afrika. 1990). ba nyak pengamat yang hanya membicarakan berapa bantuan luar negeri yang berhasil d icairkan tahun ini. Tidak mengherankan. Padahal proyeks i utang luar negeri pada BPS (1996) menunjukkan bahwa fenomena growth-led debt b ukannya tidak mustahil akan menjadi kenyataan.6 Permasalahan tradeoff antara kepatuhan membayar ut ang dan desakan membatasi pengeluaran dalam negeri diperkirakan akan semakin men cuat ke permukaan sebagai salah satu isu sentral di masa mendatang. sedangkan meningkatnya DS R karena sudah banyak utang yang jatuh tempo.

DSR (debt service ratio). selalu di atas 200 persen sejak 198 6. menurut catatan World Development Report 1995. DER.1). 8. yaitu rasio ant ara total utang LN dengan penerimaan ekspor. Bolivia (US$80.5). dan DGNP.5). dengan DGNP (debt GNP ratio).secara resmi namun juga investasi asing langsung dan pinjaman luar negeri ke sek tor swasta-. dan 40 p ersen (lihat Tabel 12.9).9 Dengan cara ini nilai tukar dapat diproteksi terha dap risiko fluktuasi mata uang negara donor. telah di atas 40 persen bahkan sejak 1985.6. SUDAHKAH INDIKATOR UTANG LN MENCAPAI OVERBORROWIN G? Kita harus mewaspadai bahwa indikator beban utang LN (Luar Negeri) Indonesia sudah menunjukkan sampai pada taraf overborrowing. dan Argentina (US$8. bantu an LN bersih (net disbursement of ODA from all sources) per kapita untuk Indones ia sebesar US$ 10.6 memperlihatkan bahw a selama ini utang luar negeri Indonesia didenominasi dalam dollar AS dan Yen Je pang.6 milyar antara 1981 hingga pertengahan 1995. Berarti masih di bawah Chile (US$13. yang masing-masing 20 persen. masih bertengger p ada angka di atas 31 persen sejak 1986. Peru (US$24. ataukah tetap mampu mempertahankan momentum pembangunan? Saat ini. Apresiasi mata uang Yen terhadap dollar AS (terkenal dengan yendaka) diper kirakan menyebabkan melonjaknya kewajiban pembayaran utang kita sebesar US$ 18. 200 persen. Kerugian akibat foreign exchange ex posure bisa dihindari dengan tindakan hedging. telah meleb ihi batas yang dianggap aman. yaitu DSR.5). namun melebihi Meksiko (U S$4.hingga 2001.8. Brazil (US$1. Demikian juga. Tabel 12. dan mendapat "medali perak" di Asia sebagai neg ara pengutang terbesar. Dalam konstelasi semacam ini. yang merupakan rasio antara pembayaran bungadan cicilan utang terhadap penerimaan ekspor. agaknya perlu dipikirkan manajemen utang yang mampu meredam gejolak pe rubahan nilai tukar mata uang negara donor utama. balk dengan: (1) melakukan curren cy swap atas utang dalam yen dengan utang dalam dollar. Indonesia menduduki peringkat keempat di antara neg ara pengutang terbesar di dunia. Dari sisi total utang. 108 .4).6).3). yang merupakan rasio antara utan g LN total terhadap Produk Nasional Bruto. (2) membeli kontrak forw ard ataupun currency option. p ertanyaan yang muncul adalah: apakah Indonesia akan mengalami krisis utang LN (m asuk dalam debt trap).5). Data dari World Debt Tables m enunjukkan bahwa indikator beban utang LN. Co sta Rica (US$30.8 Berapakah utang LN yang ditanggung oleh setiap penduduk Indonesia? Pada 1993 saja. Korea (US$21. DER (debt export ratio).

biaya Jana pinjama n yang tadinya kelihatan murah bisa berubah menjadi mahal bila suku bunga pasar tiba-tiba melonjak. balk lewat mobilisasi tabungan domestik. Langkah ini bisa dikombinasikan dengan usulan un tuk melakukan debt-intoequity swaps. maupun gerakan swadana. intensifikasi dan eksten sifikasi perpajakan. Kalau usulan-usulan langkah strategis i ni diterapkan secara intensif dan simultan. Gerakan tabungan nasional. "rtsya Allah. Sebagai Ketua Gerakan Non-Blok ditambah struktur utang kita yang terutama be rsumber dari pinjaman multilateral dan bilateral. maka upaya mobilisasi Ana dari dalam negeri merupakan pilihan yang tidak bisa ditawar. sebagai mekanisme untuk mengurangi beban utang sekaligus instrumen konservasi hutan trop is. Sementara pada waktu yang sama. Tidak berle bihan apabila ada yang mempertanyakan: sampai kapan Indonesia *an bergantung pad a Jana dari luar negeri? Apakah bantuan luar negeri semata*Rata hanya injeksi (s ementara). Untuk itu dituntut fad* hanya inisiatif pemerintah namun juga partisipasi seluruh lapisan masyaraka t dalam pembiayaan pembangunan. ataukah sudah menjadi semacam infus (kebutuhan yang tidak bisa dihent ikan untuk menjaga momentum pembangunan) ? Bagaimana dengan amanat GBHN yang men yatakan bahwa bantuan luar negeri hanya sebagai aeiengkap dan bersifat sementara ? Apabila komitmen terhadap GBHN tetap dipertahankan. Bila kecenderungan ini berlang sung terus di masa mendatang. Pelajaran dari krisis utang 1980-an menunjukkan. khususnya untuk hutan tropis kita. sebaliknya dengan bangga mengatakan: "Habi s Bantuan Terbitlah 109 . strategi pinjam-meminjam yang prudent perlu memperhitungkan ketidakp astian akan kejutan eksternal yang berdampak kurang menguntungkan. yaitu bahwa bantuan tsar n egeri hanya sebagai pelengkap dan bersifat sementara. langkah lewat jalur diplomasi ini agaknya merupakan agenda strategis yang sayang untuk dilewatkan. ada kecenderungan kuat bahwa bantuan dari sumber-sumber resmi (ODA) s emakin sulit diperoleh. dunia usaha dan perbanka n kita semakin gencar mencari pinjaman off-shore. Pada dasawars a 1990-an. maka perekonomian kita semakin "responsif" terhadap apa yang terjadi di dunia in ternasional.Selain itu. akibat arus globalisasi dan gelombang deregulasi. dan penjualan saham BUMN. aerpaja kan. Hal ini mungkin saja terjadi karena pola pinjaman off-shore yang paling banyak dimanfaatkan berupa obligasi dengan tingkat bunga mengambang dan fasilitas revolving credit. merupakan bukti betapa oemerintah sudah menyadari pentingnya Iangkah ini. tiada lagi ungkapan:"H abis Bantuan Terbitlah Utang". Namun.

lkhsan. Carter. Setidaknya ada lima faktor kunci yang menentukan arah utang LN Ind onesia di masa mendatang. 1994. Ketergantungan dan Keterbelakangan. Budiman. Mahyuddin. Arief. 881-899.no. Moh. CPS dan ISEI. Mei 1973. Pattisiana. h. no. Arief. Prospektif PPSK. "Foreign Assistance and Development Performance. 9. Deviations. Tentunya tidak diinginginkan bahwa "generasi saat ini yang berpesta pora sementara generasi anak cucu nanti yang mencuci pining"? DAFTAR PU STAKA Abimanyu. Perkembangan Ekonomi Indonesia Selama Empat Tahap Pelita 196 9/701988/89. sekaligus dilema memelihara m omentum pembangunan. Engeli na. American Economic Review. 1989. 1989.Kemandirian". komposisi mata u ang dari kewajiban utang. September 1194. pertumbuhan utang sektor publik dan quasi-public. BPFE. Hol lis B. "Utang Luar Negeri dan Efisiensi Penggunaan dalam Pemba ngunan Ekonomi Indonesia". Sumitro. and Nicholas G. Har us diakui. 82. 83-99. dan pertumbuhan tabungan domestik (Radelet. Chenery. Sritua dan Adi Sasono. Jakarta. 37(1). Gstav F. Manajemen Keuangan Intemasional: Pengantar Ekonomi dan Bisnis Global. 6(1). "The Effe ct of Aid and Other Resource Transfers on Savings and Growth in Less Developed C ountries". 50-58. h. pertumbuhan utang swasta. Economic Journal. Analisa CS/S. LSP. PT Gramedia. 111(7). "Purchasing-Power Parity: Its Nature. Teori Pembangunan Dunia Ketiga. Jakarta. Yogyakarta.. Kelola Gad jah Mada University Business Review. "Dampak-dampak Kegiatan Penanaman Modal Asing terhadap Pertumbuhan Ekonomi d i Indonesia". 1995. 1984. inilah sumber dilema utang luar negeri. Jakarta. yaitu: arah kebijakan ekonomi pemerintah. 63. Djojoh adikusumo. Papanek. and Implications for International Financial Management". 110 . no. Ekonomi dan Keuangan Indonesia. vol.2. 459-468. 1995). September 1972. 1 996. 327. vol. 1982. h. "Pelarian Modal dari Indonesia: Estimasi dan Masala hnya". 19601970". Anggito. h.

Sastrowardoyo. World Development.11 5. 7/III.. International Financial Market. Alan L. 1994. Tucker. no. PT Gramedia. Kelola Gadjah Mada University Business Review. Jeff Madura.. h. Sanyoto. "Pendekatan Dependencia dalam Sejarah Perekonomian: Suatu Kritik". West Publishing Company. Longman. Ja karta. 1994. Wie. Chiang. seorang pemirsa menanyakan suatu pertanyaan menggelitik berikut. 1992. "Foreign Capital and Economic Growth". vo l. New York. BAB 9 EK0NOMI KERAKYATAN SEKTOR RIIL DAN UMKM Dalam suatu talkshow di suatu tele visi swasta. edisi ke-5. Thee Kian. Michael P. Economic Development in the Third World. Essex. Todaro. 1988. Stoneman. dalam Hendra Esmara (penyunting). Teori Ekonomi dan Kebijaksanaan Pemba ngunan: Kumpulan Esei untuk Menghormati Sumitro Djojohadikusumo. dan Thoma s C.1. no. "'Overview' Perkembangan Investasi di Indonesia: Sebuah Pengantar". 3. Januari 1975. Colin. "M engapa kita hanya membicarakan krisis keuangan global? 111 .

Pada awalnya memang hanya krisis mata uang." Saya ter menung mendengar komentar kritis tersebut. 1998). kecil. XVI/1998. Namun ketika krisis melanda negeri ini. dia menulis Indonesia sebagai the sudden death of Asian Tiger. Pertama. sifat. mayorita s UMKM umumnya dianggap unbankable. Barangkali konsep ekonomi kerakyatan hanya membingungkan bagi mereka yang menolaknya. 2002: Bab 5). yan g menyebutkan kata "ekonomi rakyat" dua kali. tidak hanya krisis moneter. krisis ekono mi. dan tujuan pembangunan dengan sasaran utama perbaikan nasib rakyat (Sumawinata. raksasa ekon omi yang naik daun di ASEAN. Dimensi krisis Indonesia pada 1998 ternyata paling parah d ibandingkan enam negara Asia lain (Rao.000 lebih per dolar AS. dan krisis politik. Ekonomi kerakyatan adalah gagasan tentang cara. sepuluh tahun lalu Indonesia mengalami krisis total. sebag ai pilar utama pembangunan nasional. bahkan menimbulkan kebingungan. 2004: 161). d an zvong cilik pada umumnya. setidaknya Tap no. Kedua. 112 . Mereka mendapatkan windfall profit akibat depresiasi rupiah karena mendapatkan penghasilan dalam dolar AS. krisis itu kami alami hampir setiap hari. tidak layak mendapatkan kredit dari bank kom ersial sehingga tidak terpengaruh dengan credit crunch yang melanda sektor korpo rat. UMKM inilah pilar utama ekonomi kerakyatan di Indonesia. bah kan banyak yang malah mengalami masa boom karena beberapa faktor. usaha mikro. Hebatnya. UMKM yang berorientasi ekspor justru berpesta pora ketika nilai rupiah ambruk hingga mencapai Rp17. menengah (UMKM) bisa bertahan. Saya mencoba menelusuri dimensi krisi s pada 1998 dan 2008. Agak mengagetkan k etika dalam pidato kenegaraan Presiden Megawati 16 Agustus 2001 menyebutkan bahw a konsep ekonomi kerakyatan dan ekonomi rakyat belum jelas pengertian. Guru besar dari Australian National University ini ya kin bahwa Indonesia akan menjadi emerging giant in South East Asia. mikro. macan Asia yang tibatiba mat i (Hill. lambat laun menjadi krisis kepercayaan. 2001). dan isinya. krisis sosial.Bukankah itu krisis orang kaya yang mengeluh dan teriak-teriak karena sedikit me nurun return (keuntungan) atau kekayaannya? Bagi kami. lingkup. Dengan kata lain. Ekonomi rakyat merupakan sektor yang mencakup UMKM. Singkatnya. Padahal dalam sistem ekonomi k erakyatan sudah disebutkan dalam ketetapan MPR. pengusaha kecil. krisis keuangan. sistem ekonomi kerakyatan ada lah sistem ekonomi yang memihak pada kepentingan ekonomi rakyat (Mubyarto.Tidak kurang. Hal Hill memuji Indonesia sebelum krisis. dan koperasi.

permasalahan mend asar yang dihadapi UMKM. pengurangan jumlah kemiskinan. ujung peran tombak penting dalam UMKM upaya peng entasan kemiskinan. perhatian untuk menumbuhkembang kan UMKM setidaknya dilandasi oleh tiga alasan. UMKM menyerap banyak te naga kerja (lihat Tabel 19. 1999). Dari sisi kebijakan. Studi empiris membuktikan bahwa pertambahan nilai tambah ternyata tidak dinikmati oleh perusahaan skala kecil. bahkan justru perusahaan besar dan konglomeratlah yang mendap at keuntungan. 1995). tujuh tantangan bagi UMKM di tengah krisis global. profil dan sebaran UMKM.1. namun juga merupakan perdesaan. pemerintah secara konsisten telah melak ukan berbagai upaya deregulasi sebagai upaya penyesuaian struktural dan restrukt urisasi perekonomian. Boleh dikat a. namun justru pe rusahaan skala konglomerat. dengan tenaga kerja lebih dari 1. K uncoro. UMKM memegang peranan penting dalam ekspor nonmigas..Bab ini akan membahas mengenai peran UMKM dalam perekonomian. yang men ikmati kenaikan nilai tambah secara absolut maupun per rata-rata perusahaan (Kun coro & Abimanyu. 1994. is juga berfungsi sebagai strategi mempertahankan hidup (survival strategy) d i tengah krisis. pertumbuhan UMKM akan menimbulkan dampak positif terhadap peningka tan jumlah tenaga kerja.031 juts atau menempati peringkat kedua setelah ekspor da ri kelompok aneka industri. merupakan seedbed bagai pengembangan industri dan sebagai pelengkap produksi pertanian bagi penduduk miskin (Weijland.000 orang. faktor-faktor yang menyebabkan UMKM perlu dikembangkan. dan akses modal dengan lembaga keuangan mikro.1). Apa lagi karena lokasinya banyak di perdesaan. Pertama. banyak yang mensinyalir deregulasi di bi dang perdagangan dan investasi tidak memberi banyak keuntungan bagi perusahaan k ecil dan menengah. pemerataan dalam distrib usi pendapatan. 1994). MENGAPA UM KM PERLU DIKEMBANGKAN? Sejak tahun 1983. Kecenderungan menyerap banyak tenaga kerja umumny a membuat banyak UMKM juga intensif dalam menggunakan sumberdaya slam lokal.. 9. pake t kebijakan UMKM. Kendati demikian. UMKM juga berkontribusi terhadap penerimaan ekspor. 1996). dan besar. Dalam konstelasi inilah. yang pada tah un 1990 mencapai US$ 1. Di memberikan tambahan pendapatan (Sandee et al. dan pembangunan ekonomi di perdesaan (Simatupang et al. namun kontribusi UMKM jauh lebih kecil dibandingkan 113 . sedang. UMKM jelas perlu mendapat perhatian karena t idak hanya memberikan penghasilan bagi sebagian besar angkatan kerja Indonesia. (2006) Kedua.

Gambar 19. Berbagai layanan yang dapat disediakan koperasi dapat dimanfaatkan UMKM untuk peningkatan usahanya. terutama garmen. Struktur ekonomi bentuk pi ramida terbukti telah mencuatkan isu konsentrasi dan konglomerasi. dan akumulasi modal cepat (Kuncoro. menyerap 9. perkembangan koperasi juga belum dap at berperan optimal dalam mendukung perekonomian nasional.). mengingat teknologi yang digunakan adalah teknologi padat karva sehin gga dengan demikian selain bisa memperbesar lapangan kerja dan kesempatan usaha. yang pada gilirannya mendorong pembangunan daerah dan kawasan perdesaan. dengan ciri: beroperasi dalam struktur pasar quasimonopoli oligopolistik. Sebaga i pendamping kelangsungan pertumbuhan UMKM. yang menunjukkan adanya ketimpangan yang lebar antara pemain kecil dan besar dalam ekonomika Indonesia. serta banyak dituding melestarikan dualisme perekonomian nasional. dan sepatu. dan tingkat drop-out tinggi.7 juta unit usaha didominasi oleh usaha skala menengah. s eperti pinjaman uang/barang modal. adanya urgensi untuk struktur ekonomi yang berbentuk piramida.2% hingga hampir 22% selama 2002-2005.3% dan penyerapan tenaga kerja sebesar 62.2). nontariff barriers. dan bimbinga n usaha. dengan perbandin gan 2 tenaga kerja per unit usaha untuk usaha mikro dan 3 tenaga kerja per unit usaha untuk usaha kecil. pemasaran. Kelembagaan koperasi 114 .1 memperlihatkan bah wa pada puncak piramida dipegang oleh usaha skala besar. Ketiga. Pada UMKM. penyumbang terbesar ekspor nonmigas juga sektor industri pengolahan.2%. tekst il dan produk tekstil. modal. Pada dasar piramida dari total 22.6% tenaga kerja dengan perbandingan 19 te naga kerja per unit usaha untuk usaha menengah.5%. d11. menikmati margin keuntungan yang t inggi. Sebaliknya usaha besar dan menengah.1 juga menunjukkan usaha mikro dan kecil mendominasi dari sisi unit usaha sebesar 83. Thee (1993:109) mengemukakan bahwa pengembangan industri kecil adalah can_ yang dinilai besar peranannya dalam pengembangan industri manu faktur. kecil dan mikro (99. 2006).dengan kontribusi usaha besar (lihat Tabel 19. hambatan masuk tinggi (adanya bea masuk. yang jumlah unit u sahanya hanya sebesar 0. UMKM mampu menyumbang ekspor n onmigas sebesar 19. Pengembangan industri berskala kecil akan membantu mengatasi masaiah pen gangguran. m argin keuntungan rendah. pengadaan bahan Baku. 1%) yang beroperasi dalam iklim yang sangat kompetitif. Menurut Sensus Ekonomi 200 6. dan 108 tenaga kerja per unit us aha untuk usaha besar. hambatan masuk rendah. Gambar 19.

Sejalan dengan perkembangan koperasi.2). Perkembangan Kelembagaan Koperasi Tahun 2000-2006 Perkembangan jumlah koperasi aktif untuk periode 2000-2006 secara nasional terca tat mengalami peningkatan rata-rata sebesar 1.periode 2000-2006 mengalami perkembangan yang signifikan. Persentase koperasi ak tif yang telah melaksanakan rapat anggota tahunan (RAT). Hal ini mengindikasikan semakin banyak koperasi tidak akt if pada akhir 2006. Data pada gambar ini juga menunjukkan bahwa proporsi koperas i aktif terhadap jumlah koperasi total cenderung menurun. jumlah anggota koperasi mengalami peningkatan. jumla h koperasi mencapai lebih dari 103 ribu unit.. Pada tahun 2000. PROFIL DAN SEBARAN UMKM 115 . dan terus meningkat sehingga pada tahun 2006 jumlahnya mencapai hamper 142 ribu unit (lihat Gambar 19.5% pertahun). Belum optimalnya k eberadaan UMKM dan Koperasi di Indonesia pasti menimbulkan pertanyaan yang barangkali muncul: bagaimana profil UMKM di Indonesia? Apa permasalahan dan tantangan aktual yang mereka hadapi? Sej auh mana upaya pembinaan dan pengembangan yang telah dilakukan? 9. sebagai salah satu indikator untuk mengukur kinerja koperasi. Namun laju pertumbuha nnya masih lebih rendah dibandingkan laju pertumbuhan jumlah koperasi secara nas ional (5. Gam bar 91.9% pertahun. juga cenderung naik-turun dalam periode 2000-2006.2.

(2) industri kecil dengan peker ja 5-19 orang. Usaha Kecil adalah usaha yang memiliki kekayaan bersih lebih dari Rp50 juta rupiah sampai d engan paling banyak Rp500 juta rupiah.5 miliar sampai dengan paling banyak Rp50 milliar.Ada dua definisi usaha kecil yang dikenal di Indonesia. Usaha Menengah memiliki kekayaan ber sih lebih dari Rp500 juta sampai dengan paling banyak Rp10 miliar. definisi usaha kecil menurut Undang-Undang No. 9 tahun 1995 tentang Usaha Kecil adalah kegiatan ekonomi rakyat yang memiliki hasil penjualan tahunan maksimal Rpl miliar dan me miliki kekayaan bersih. at au memiliki hasil penjualan tahunan paling banyak Rp300 juta.990. Kedua. sebagian besar usaha kecil ditandai dengan belum dipunyainva status badan hukum. atau memiliki hasil penjualan tahunan lebih d ari Rp2. Kendati ada beberapa definisi. tidak termasuk tanah dan bangunan tempat usaha. usaha kecil identik dengan industri kecil dan industri rumah t angga. 635 juta pengusaha kecil mandiri (tanpa menggun akan tenaga kerja lain). atau memiliki hasil penjualan tahunan lebih dari Rp300 juta rupiah sampai dengan paling banyak Rp2. yaitu: (1) industri rumah tangga dengan pekerja 1-4 orang. Undang-Undang No. tidak termasuk tanah dan bangunan tempat usaha. Pertama. Menurut catatan BPS (1994). Kedua. tidak termasuk tanah dan bangunan tempat usaha. Usaha Mikro adalah usaha yang memiliki kekayaan be rsih paling banyak Rp50 juta. ternyata 90. Ketiga. 1999: 250). tidak adany a pembagian tugas yang jelas antara bidang administrasi dan operasi. UMKM mempunyai karakteristik yang hampir seragam. (3) industri menengah dengan pekerja 20-99 orang. Kedua. paling b anyak Rp200 juta (Sudisman & Sari. dari jumlah perusaha an kecil sebanvak sebanvak 124.5 miliar. BPS mengklasifikasikan industri berdasarkan jumlah pekerjanya. (4) industri be sar dengan pekerja 100 orang atau lebih (BPS. tidak termasu k tanah dan bangunan tempat usaha. menurut kategori Badan Pusat Statistik (BPS).6% merupakan perusahaan perorang an 116 . 316 juta orang yang meliputi 15. 1996: 5). Pertama. 20 T ahun 2008 tentang UMKM membedakan beberapa jenis usaha di Indonesia dengan krite ria sebagai berikut: Pertama. 18. Kebanyakan industri kecil dikelola oleh perorangan yang merangkap sebagai pemilik sekaligus pengelola perusahaan.227 juta orang pengusaha kecil yang menggunakan tena ga kerja anggota keluarga sendiri serta 54 ribu orang pengusaha kecil yang memil iki tenaga kerja tetap. serta memanfaatkan tenaga kerja dari keluarga dan kerabat dekatnya. Data BPS (1994) menunjukkan jumlah pengusaha kecil telah mencapai 34.

dilihat menurut golongan industri tampak bahwa hampir sepertiga bag ian dari seluruh industri kecil bergerak pada kelompok usaha industri makanan. Padahal. dari total unit usaha manufaktur di Indonesia sebanya k 2. diikuti oleh kelompok industri barang galian bukan logam (ISIC36). dan hanya 1. Pola ini cenderung sama dari tahu n ke tahunnya (1997-2002).7% yang sudah mempunyai badan hukum (PT/NV. ternyata 99. Di lain pihak. industri besar dan me nengah (IBM) memberikan kontribusi yang dominan dari sisi nilai output. UMKM. namun dari sisi hanya menyumbang 0. ternyata tenaga kerja yang diserap oleh UMKM masih sekitar 59% dari total ten aga kerja yang terserap untuk sektor 117 .8% dari total unit usaha yang ada. IBM menyumbang 91% dari keseluruhan nilai output. Pada tah un 1997. Kendati demikian. Sekitar 99% jenis usaha b isnis di Indonesia tergolong sebagai UMKM. rotan.bambu. Pada tahun 2002. Data berdasarkan Sen sus Ekonomi 1996 menunjukkan tren yang tidak berubah . namun hanya menyumbang 0. atau Kopera si). Sedangkan yang berg erak pada kelompok usaha industri kertas (34) dan kimia (35) relatif masih sanga t sedikit sekali yaitu kurang dari 1%. dan industri kayu.yang tidak berakta notaris.5% dari keseluruhan nilai output. Ketiga. Pada tahun 2002. mampu menyediakan kesempatan kerja sebesar 59.2% merupakan unit usaha UMKM. sumbangan nilai output UMKM terh adap industri manufaktur hanya sebesar 17.7% tergolong perusahaan perorangan berakta notaris .732 juta.3 % dari total kesempatan kerja. Tabel 19.3 menunjukkan bahwa UMK M memiliki peranan yang cukup besar dalam industri manufaktur dilihat dari sisi jumlah unit usaha dan daya serap tenaga kerja. namun lemah dalam menyumbang nila i output. IBM menyumbang 91. CV. m inuman dan tembakau (ISIC31). industri tekstil (ISIC32).8% dari total un it usaha yang ada. rump ut dan sejenisnya termasuk perabotan rumahtangga (ISIC33) masing masing berkisar antara 21% hingga 22% dari seluruh industri kecil yang ada. 4. dengan jumlah tena ga kerja kurang dari 20 orang. Selain dominan dalam jumlah unit usah a.8 %. Banyaknya jumlah orang yang bekerja pada UMKM memperl ihatkan betapa pentingnya peranan UMKM dalam membantu memecahkan masalah pengang guran dan pemerataan distribusi pendapatan. menyerap sekitar 39% dari total kesempatan kerja. Firma. menyediakan lapangan pekerjaan sekitar 40% dari total kesempatan kerja.

Lemahnya kema mpuan manajerial dan sumberdaya manusia ini mengakibatkan pengusaha kecil tidak mampu menjalankan usahanya dengan baik. Namun disadari pula bahwa pengembangan usaha kecil m enghadapi beberapa kendala seperti tingkat kemampuan. masalah dasar yan g dihadapi UMKM adalah: Pertama. Secara lebih spesifik. Ketiga.industri. keterbatasan ja ringan usaha 118 . man ajemen sumber daya manusia. MASALAH DASAR UMKM Memang cukup berat masalah yang dihadapi untuk memperkua t struktur perekonomian nasional. Kon tribusi UMKM di Jawa terhadap total tenaga kerja dan omzet masing-masing sekitar 75%.3. kewirausahaan. Kedua. yang hanya menampung tenaga kerja sekitar 41%. pemasaran dan keuangan. Angka ini masih lebih besar dibanding industri besar dan menengah (IBM ). kelemahan di bidang organisasi dan manajemen sumber daya manusia.5). Pembinaan UMKM hares lebih diarahkan untuk men ingkatkan kemampuan pengusaha kecil menjadi pengusaha menengah dan pengusaha mik ro menjadi pengusaha kecil. UMKM terkonsentrasi di pulau Jawa (lihat Tabel 19. sama seperti IBM. 9. Keempat. Namun berbeda dengan IBM yang terkonsentrasi secara spasial di kota-kota b esar. keahlian. kelemahan dalam memperoleh peluang pasar dan me mperbesar pangsa pasar. ketrampilan. kelemahan dalam struktur permodalan dan keterbata san untuk memperoleh jalur terhadap sumber-sumber permodalan. UMKM tersebar secara merata di luar ketiga kota metropolitan Jawa. Dilihat dari sebaran geografis nya.

BPS mengklasifikasikan industri berdasarkan jumlah pekerjanya. Usaha Mikro adalah usaha yang memiliki kekayaan be rsih paling banyak Rp50 juta. Kedua. PROFIL DAN SEBARAN UMKM Ada dua definisi usaha kecil yang dikenal di Indonesia. telah melaksanakan rapat anggota tahuna n (RAT). iklim usah a yang kurang kondusif. 9 tahun 1995 tentang Usaha Kecil adalah kegiatan ekonomi rakyat yang memiliki hasil penjualan tahunan maksimal Rpl miliar dan me miliki kekayaan bersih.5 miliar. tidak termasu k tanah dan bangunan 119 . tidak termasuk tanah dan bangunan tempat usaha. Pertama. tidak termasuk tanah dan bangunan tempat usaha.2. (3) industri menengah dengan pekerja 20-99 orang. 1996: 5). pembina an yang telah dilakukan masih kurang terpadu dan kurangnya kepercayaan serta kep edulian masyarakat terhadap usaha kecil. (4) industri be sar dengan pekerja 100 orang atau lebih (BPS. Keenam. atau memiliki hasil penjualan tahunan lebih dari Rp300 juta rupiah sampai dengan paling banyak Rp2. Usaha Kecil adalah usaha yang memiliki kekayaan bersih lebih dari Rp50 juta rupiah sampai d engan paling banyak Rp500 juta rupiah. Kedua. yaitu: (1) industri rumah tangga dengan pekerja 1-4 orang. 1999: 250). (2) industri kecil dengan peker ja 5-19 orang. Usaha Menengah memiliki kekayaan ber sih lebih dari Rp500 juta sampai dengan paling banyak Rp10 miliar. definisi usaha kecil menurut Undang-Undang No. Ketiga. sebagai salah satu indikator untuk mengukur kinerja koperasi. menurut kategori Badan Pusat Statistik (BPS). juga cend erung naik-turun dalam periode 20002006. Kelima. karena persaingan yang saling mematikan. at au memiliki hasil penjualan tahunan paling banyak Rp300 juta. tidak termasuk tanah dan bangunan tempat usaha. Undang-Undang No. usaha kecil identik dengan industri kecil dan industri rumah t angga.kerjasama antar pengusaha kecil (sistem informasi pemasaran). Belum optimalnya keberadaan UMKM dan Ko perasi di Indonesia pasti menimbulkan pertanyaan yang barangkali muncul: bagaima na profil UMKM di Indonesia? Apa permasalahan dan tantangan aktual yang mereka h adapi? Sejauh mana upaya pembinaan dan pengembangan yang telah dilakukan? 9. 20 T ahun 2008 tentang UMKM membedakan beberapa jenis usaha di Indonesia dengan krite ria sebagai berikut: Pertama. paling b anyak Rp200 juta (Sudisman & Sari.

6% merupakan perusahaan perorangan yang tidak berakta notaris. dilih at menurut golongan industri tampak bahwa hampir sepertiga bagian dari seluruh i ndustri kecil bergerak pada kelompok usaha industri makanan. dari total unit usaha manufaktur di Indonesia sebanyak 2.227 juta orang pengusaha kecil yang menggunakan tenaga kerja anggota kelu arga sendiri serta 54 ribu orang pengusaha kecil yang memiliki tenaga kerja teta p. Banyaknya jumlah orang yang bekerja pada UMKM memperlihatkan betapa pen tingnya peranan UMKM dalam 120 . dan industri kayu. Kedua.732 juta.316 juta orang yang m eliputi 15. Pertama. minuman dan tembaka u (ISIC31). atau memiliki hasil penjualan tahunan lebih dari Rp2. dari jumlah perusahaan kecil sebanyak seb anvak 124. mampu menyediakan kesempatan kerja sebesar 59. UMKM mempun yai karakteristik yang hampir seragam. Menurut catatan BPS (1994). Pada tah un 2002.tempat usaha. serta memanfaatkan tenaga kerja dari keluarga dan kerabat dekatnya. Padahal. diikuti oleh kelompok industri barang galian bukan logam (ISIC36). Data BPS ( 1994) menunjukkan jumlah pengusaha kecil telah mencapai 34.3 menunjukkan bahwa UMKM memiliki peranan yang cukup besar dalam industri manufaktur dilihat dari sisi jumlah unit usaha dan daya serap tenaga kerja. dengan jumlah tenaga kerja kurang da ri 20 orang. sumbangan nilai output UMKM terhadap industri manu faktur hanya sebesar 17. rotan. Kendati ada beberapa definisi. 635 juta pengusaha kecil mandiri (tanpa menggunakan tenaga kerja lai n).7% y ang sudah mempunyai badan hukum (PT/NV. CV. Tabel 19. UMKM. Sedangkan yang bergerak pada kelompok usaha industri kertas (34) dan kimia (35) relatif masih sangat sedikit sekali y aitu kurang dari 1%. tern yata 99. rumput dan sejenisnya termasuk perabotan rumahtangga (ISIC33) masing masing berkisar antara 21% hingga 22% dari seluruh industri kecil yang ada. ternyata 90. namun lemah dalam menyumbang nilai output. sebagian besar usaha kecil ditandai dengan belum dipunyainva status ba dan hukum. Kebanyakan industri kecil dikelo la oleh perorangan yang merangkap sebagai pemilik sekaligus pengelola perusahaan .990. 18. 4.5 miliar samp ai dengan paling banyak Rp50 milliar.2% merupakan unit usaha UMKM. Kendati demikian. i ndustri tekstil (ISIC32).8 %.7% tergolong perusahaan perorangan berakta notaris. tidak adanya pembagian tugas yan g jelas antara bidang administrasi dan operasi.3 % dari total kesemp atan kerja. Pola ini cenderung sama dari tahun ke tahunnya (199 7-2002).bambu. atau Koperasi). Ketiga. Firma. dan hanya 1.

3. Gambar 9. UMKM terkonsentrasi di pulau Jawa Kontribusi UMKM di Jawa terhada p total tenaga kerja dan omzet masing-masing sekitar 75%. ternyata tenaga kerja yang diserap oleh UM KM masih sekitar 59% dari total tenaga kerja yang terserap untuk sektor industri . namun hanya menyumbang 0. Dilihat dari sebaran geografisnya. Industri Manufaktur Menurut jumlah Tenaga Kerja dan Unit Usaha: Indo nesia. yang hanya menampung tenaga kerja sekitar 41%. industri besar dan menengah (IBM) memberikan kontribusi yang domin an dari sisi nilai output. Namun berbeda dengan I BM yang terkonsentrasi secara spasial di kota-kota besar. UMKM tersebar secara m erata di luar ketiga kota metropolitan Jawa. Sekitar 99% jenis usaha bisnis di Indonesia tergolong sebagai UMKM. 1996 (%) 121 .5% dari keseluruhan nilai output. Data berdasarkan Sensus Ekonomi 1996 menunjukkan tren yang tidak berubah . sam a seperti IBM. IBM menyumbang 91% dari keseluruhan nilai output.8% dari total unit usaha yang ada. Pada tahun 2002. Angka ini masih lebih besar dibanding industri besar dan menengah (IBM). D i lain pihak.8% dari total unit u saha yang ada. IBM menyu mbang 91. Se lain dominan dalam jumlah unit usaha. Pada tahun 1997. menyerap sekitar 39% dari total kesempatan kerja.membantu memecahkan masalah pengangguran dan pemerataan distribusi pendapatan. namun dari sisi hanya menyumbang 0. menyediakan lapangan pekerjaan sekita r 40% dari total kesempatan kerja.

ketrampilan.3. pembinaan yang telah dilakukan masih kurang terpadu dan kurangnya keperca yaan serta kepedulian masyarakat terhadap usaha kecil. man ajemen sumber daya manusia. K eenam. kelemahan dalam memperoleh peluang pasar dan me mperbesar pangsa pasar.9. MASALAH DASAR UMKM Memang cukup berat masalah yang dihadapi untuk memperkua t struktur perekonomian nasional. Keempat. bagi usaha mik ro dengan omset kurang dari Rp300 juta setahun umumnya tantangan yang dihadapi a dalah bagaimana menjaga kelangsungan hidup 122 . pemasaran dan keuangan. tanta ngan yang dihadapi UMKM dapat dibagi dalam dua kategori: Pertama. kelemahan dalam struktur permodalan dan keterbata san untuk memperoleh jalur terhadap sumber-sumber permodalan. Secara garis besar. kewirausahaan. Secara lebih spesifik. keahlian. Keli ma. Kedua. Lemahnya kema mpuan manajerial dan sumberdaya manusia ini mengakibatkan pengusaha kecil tidak mampu menjalankan usahanya dengan baik. Ketiga. masalah dasar yan g dihadapi UMKM adalah: Pertama. keterbatasan ja ringan usaha kerjasama antara pengusaha kecil (sistem informasi pemasaran). iklim usaha yang kurang kondusif. kelemahan di bidang organisasi dan manajemen sumber daya manusia. Pembinaan UMKM harus lebih diarahkan untuk men ingkatkan kemampuan pengusaha kecil menjadi pengusaha menengah dan pengusaha mik ro menjadi pengusaha kecil. karena persaingan yang saling mematikan. Namun disadari pula bahwa pengembangan usaha kecil m enghadapi beberapa kendala seperti tingkat kemampuan.

usahanya. Bagi mereka, umumnya asal dapat berjualan dengan "aman" sudah cukup. M ereka umumnya tidak membutuhkan modal yang besar untuk ekspansi produksi; biasan ya modal yang diperlukan sekedar membantu kelancaran cashflow saja. Bisa dipaham i bila kredit dari BPR-BPR, BKK, TPSP (Tempat Pelayanan Simpan Pinjam-KUD), lint ah darat, mindring, bank plecit, amat membantu modal kerja mereka. Kedua, bagi u saha kecil dengan omset antara Rp300 juta hingga Rp2,5 miliar, tantangan yang di hadapi jauh lebih kompleks. Umumnya mereka mulai memikirkan untuk melakukan eksp ansi usaha lebih lanjut. Berdasarkan pengamatan Pusat Konsultasi Pengusaha Kecil UGM, urutan prioritas permasalahan yang dihadapi oleh usaha jenis ini adalah (K uncoro, 1997): (1) Masalah belum dipunyainya sistem administrasi keuangan dan ma najemen yang baik karena belum dipisahkannya kepemilikan dan pengelolaan perusah aan; (2) Masalah bagaimana menyusun proposal dan membuat studi kelayakan untuk m emperoleh pinjaman baik dari bank maupun modal ventura karena kebanyakan UMKM me ngeluh berbelitnya prosedur mendapatkan kredit, agunan tidak memenuhi syarat, da n tingkat bunga dinilai terlalu tinggi; (3) Masalah menyusun perencanaan bisnis karena persaingan dalam merebut pasar semakin ketat; (4) Masalah akses terhadap teknologi terutama bila pasar dikuasai oleh perusahaan/grup bisnis tertentu dan selera konsumen cepat berubah; (5) Masalah memperoleh bahan baku terutama karena adanya persaingan yang ketat dalam mendapatkan bahan baku, bahan baku berkulait as rendah, dan tingginya harga bahan baku; (6) Masalah perbaikan kualitas barang dan efisiensi terutama bagi yang sudah menggarap pasar ekspor karena selera kon sumen berubah cepat, pasar dikuasai perusahaan tertentu, dan banyak barang pengg anti; (7) Masalah tenaga kerja karena sulit mendapatkan tenaga kerja yang teramp il. 9.4. TUJUH TANTANGAN UMKM DI TENGAH KRISIS Tidak diragukan bahwa fundamental makroekonomi dan kinerja sektor riil Indonesia belum menunjukkan tanda-tanda kr isis sampai pertengahan 2008, meski krisis keuangan mengguncang Amerika Serikat dan Eropa. Krisis global ini memang sempat mengguncang pasar modal dan valas di Indonesia. Bursa Efek Indonesia terpaksa di-suspend setelah indeks harga saham g abungan (IHSG) anjlok lebih dari 10% untuk kedua kalinya dalam waktu tiga hari, dan sempat bertengger 123

di posisi 1.451. Pada Oktober 2008, kurs sempat menyentuh level Rp9.870 per US$. Namun, seberapa jauh krisis ini akan berdampak pada sektor riil, khususnya UMKM , tampaknya perlu diantisipasi. Kewaspadaan diperlukan walaupun pemerintah optim istic bahwa fundamental perekonomian nasional masih cukup kuat untuk menyangga s ektor riil. Saat ini, BI Rate yang tinggi, mencapai 9,5%, tentu merupakan kebija kan yang paling Namun UMKM terbukti tahan terhadap krisis dan mampu survive kare na: pertama, tidak memiliki utang luar negeri. Kedua, tidak banyak utang ke perb ankan karena mereka dianggap unbankable. Ketiga, menggunakan input lokal. Keempa t, berorientasi ekspor. Selama 1997-2006, jumlah perusahaan berskala UKM mencapa i 99% dari keseluruhan unit usaha di Indonesia. Sumbangan UKM terhadap produk do mestik bruto mencapai 54%-57%. Sumbangan UKM terhadap penyerapan tenaga kerja se kitar 96%. Sebanyak 91% UKM melakukan kegiatan ekspor melalui pihak ketiga ekspo rtir/pedagang perantara. Hanya 8,8% yang berhubungan langsung dengan pembeli/imp ortir di luar negeri. Namun, daya tahan UKM pascakenaikan harga bahan bakar miny ak (BBM) benarbenar diuji. Kenaikan harga BBM yang diumumkan pemerintah pada 23 Mei 2008 sangat mempengaruhi kondisi usaha UKM. Survei terhadap pelaku UKM di DI Yogyakarta menunjukkan bahwa kenaikan harga BBM menyebabkan 18.734 pelaku usaha tersebut di daerah ini semakin terpuruk, bahkan kreditnya terancam macet. Berda sarkan pengakuan UKM, sebanyak 73% dari total responden mengatakan usaha mereka terpengaruh oleh dampak kenaikan harga BBM. Gambar 19.4 memperlihatkan bahwa 31% di antaranya amat terpengaruh karena biaya BBM mencapai di atas 50% dari total biaya produksi, 30% mengaku terpengaruh karena biaya BBM antara 20-50% dari tota l biaya produksi, dan 12% lainnya agak terpengaruh karena biaya BBM antara 10-20 % dari total biaya produksi. Gambar 9.4 Pengaruh Kenaikan BBM Terhadap UMKM di DIY 124

Dari total responden yang mengaku sangat terpengaruh kenaikan harga BBM di atas, sebagian besar adalah UMKM yang bergerak sektor makanan, minuman dan tembakau ( 38%). Lainnya, 17% adalah UMKM yang bergerak di sektor kayu, bambu, rotan, rumpu t dan sejenisnya dan 14% adalah UMKM yang bergerak di sektor barang dari logam ( lihat Gambar 19.5). Gambar 9.5.Pengaruh Kenaikan BBM Terhadap UMKM Menurut Sekto r di DIY Survei ini sejalan dengan survei Badan Pusat Statistik (BPS) yang menyebutkan ba hwa kenaikan harga BBM berpengaruh terhadap kenaikan biaya produksi usaha mikro sebesar 34%, usaha kecil 24,6%, dan usaha menengah 129,6% (Kompas, 2008). Apa ta ntangan yang dihadapi UMKM? Pertama, tidak adanya pembagian tugas yang jelas ant ara bidang administrasi dan operasi. Kebanyakan UMKM dikelola oleh perorangan ya ng merangkap sebagai pemilik sekaligus pengelola perusahaan, serta memanfaatkan tenaga kerja dari keluarga dan kerabat dekatnya. Kedua, akses industri kecil ter hadap lembaga kredit formal rendah, sehingga mereka cenderung menggantungkan pem biayaan usahanya dari modal sendiri atau â ¢sumber lain, seperti keluarga, kerabat, pe dagang perantara, bahkan rentenir. 125

barang jadi. Keempat. relatif minimnya kemampuan bahasa asing sebagai suatu hambatan dalam melakukan negosiasi. AY AT-AYAT KRISIS UMKM: KASUS DI YOGYAKARTA (DIY) Usulan moratorium bagi kredit UMK M DIY selama 3 tahun mendapat dukungan Komisi B DPRD dan Gubernur DIY. masalah terbesar yang dihadapi dalam pengadaan bahan baku adalah maha lnya harga. dan peralatan usaha. dan belum stabilnya bisnis UMKM yang berorientasi ekspo r. 126 . tidak hanya rekonstruksi rumah dan infrastruktur. tren nilai ekspor menunjukkan betapa sangat berfluktuatif dan berubahubahnya komoditas eks por Indonesia selama periode 1999-2006. atau koperasi).5. dan jarak yang relatif jauh. terbatasnya ketersediaan. barang siap ekspor. 9. masalah utama yang dihadapi dalam memenuhi kebutuhan tenaga kerja adalah tidak terampil dan mahalnya biaya tenaga kerja.7% yang su dah memiliki badan hukum (PT/ NV. bahan baku. DIY agaknya membutuhkan langkah nyata dalam menyelamatkan UM KM pasca gempa.7% tergolong perusahaan perorangan berakta notaris. R egenerasi perajin dan pekerja terampil relatif lambat. bisa bernafas lega. pa brik. di banyak sent ra ekspor mengalami kelangkaan tenaga terampil untuk sektor tertentu. Ini karena ba han baku bagi UMKM yang berorientasi ekspor sebagian besar berasal dari luar dae rah usaha tersebut berlokasi. koperasi. sebagian besar usaha kecil ditandai dengan belum dipunyainya status bada n hukum. faktor musim di negara mitra dagang ikut berpengaruh. Mayoritas UMKM merupakan perusahaan perorangan yang tidak berakta notar is. Jogja Resque Team (JRT) mendampingi dan memperjuangkan agar UMKM yang dibu ru-buru debt collectors. bank. Ini kali ke-2. Penyebabnya adalah eksportir masih menun ggu order dari pembeli/pelanggan dari luar negeri. perusahaan leasing. dan penetrasi pasar di luar negeri. Keenam. d alam bidang pemasaran. Data Sensus Ekonomi 2006 yang dikumpulkan BPS mencatat dari 403 ribu unit usaha di DIY ternyata 99% tergolong UMKM. Firma. Ketujuh. Akibatnya. dan hanya 1. gempa tekto nik Mei 2006 terbukti memporakporandakan tidak hanya rumah namun juga tempat.Ketiga. masalahnya terkait dengan banyaknya pesaing yang bergerak dalam industri yang sama. atau lintah darat. Kelima. 4. UMKM perlu diprioritaskan pemulihannya. Namun. CV.

Kendati pertumbuhan ekonomi DIY masih pos itif 3. Usulan 127 . pegadaian. namun sektor industri dan perbankan mengalami kontraksi ma sing-masing -1. koperasi. PBI ini hanya menunda masalah karena restru kturisasi kredit setelah 3-6 bulan diikuti denda dan rapelan selama UMKM dibebas kan dari pembayaran cicilan utang. Beberapa malah sudah menggunakan jasa debt collectors dan menyita aset yan g diagunankan oleh UMKM. Namun bagi debitur UMKM.9 miliar pada bulan April 2007. Ini berarti%tase kredi t bermasalah terhadap total kredit (biasa disebut NPL=Non Performing Loans) sebe sar 4. Inilah yang membuat pusing pelaku UMKM DIY. total kredit bermasalah (macet. Pihak pemberi kredit (kreditur) tida k hanya perbankan tetapi juga leasing. Usaha bisnis UMKM belum pulih 100% sementara ancaman penyitaan aset oleh para kreditur sudah di depan mata. tidak ada kemacetan. Dampak gempa memang l uar biasa bagi UMKM dan perbankan DIY. kur ang lancar) sebesar Rp336. Tidak sedikit UMKM yang mengalami kredit macet. Di lapangan. banyak UMKM yang mengalami stagnasi produksi. solusi atas kredit macet perlu mem pertimbangkan fakta bahwa sektor perbankan dan UMKM di DIY sama-sama Baru mender ita akibat gempa. dan lintah darat. diragukan. Pa ra kreditur sudah banyak yang mengancam untuk menyita aset UMKM. Berapa jumlah total kredit ya ng macet di DIY? Menurut data BI. Jeritan UMKM ini didengarkan dengan seksama o leh para wakil rakyat di DPRD DIY.71%. serta fasilitas rumah yang sekaligus bengkel kerja. berdasarkan pengaduan UMKM kepada JRT problem yan g dihadapi oleh UMKM lebih mengkhawatirkan.9%. Padahal dengan hancurnya peralatan dan stok barang. Akib atnya banyak UMKM yang terpaksa tidak dapat membayar kewajiban membayar kreditny a.Bank Dunia mengestimasi total kerusakan dan kerugian UMKM di DIY sekitar Rp7 tri liun. Bila dirinci. PBI ini intinya men gatur restrukturisasi kredit bagi Bank Umum dan BPR yang dilakukan untuk debitur yang terkena dampak bencana alam tersebut langsung dikategorikan berkualitas 'l ancar' selama 3 tahun sejak ketentuan ini berlaku. Pelaku UMKM ini mengeluh mereka sek arang benar-benar UMKM. PBI ini mengun tungkan dari sisi perbankan karena laporan bank ke BI nampak 'cantik'. Dengan kata lain. Dalam praktik. Peraturan Bank Indonesia No 8/10/PBI/2006 memberikan per lakuan khusus bagi UMKM korban gempa di DIY dan Jawa Tengah.34%. angka NPL di Bank Perkreditan Rakyat terhitung 10.3% dan 6. yang lebih tinggi daripada NPL bank umum yang hanya 3.7% tahun lalu.47%.

Kendati nilai agunan mencapai Rp884 miliar. Tujuannya. Kebijakan ini mencakup kredit untuk pertanian dan pengolahan lahan pertanian yang dikeluarkan oleh perusahaan pemberi kredit. Posisi kredit UMKM pada bank/pemberi pinjaman semakin buruk. Karena itu. Tak kuran g ada 17. Kred it UMKM yang termasuk lancar menurun drastis dari 27% menjadi 1%. Data dari 20 Juni 2006 sampai den gan Oktober 2007 posisi kredit yang bermasalah semakin memprihatinkan. serta mendapat 'Iampu hijau' dari pemerintah pusat. Gubernur DIY Sri S ultan HB X. dengan penurunan nilai aset sekitar 20-45%. 128 . bank komersial dan bank regional. khususnya Menteri Keuangan. Menteri Keuangan.Jogja Resque Team (JRT) untuk moratorium kredit bagi UMKM sampai tahun 2010 mend apat dukungan Komisi B DPRD DIY. moratorium kredit UMKM membutuhkan rencana aksi terkoordinasi dari M enteri Koordinator Bidang Perekonomian. Menteri Perindustrian.526 kredit UMKM yang terancam bermasalah. mendukung upaya moratorium selama 3 tahun bagi UMKM agar UMKM merasa tenteram dalam memulihkan bisnisnya. dengan nilai kredit mencapai Rp328 miliar. Menneg BUMN. Pemerintahan India. Untuk moratori um kredit UMKM Jogja perlu dirumuskan apakah moratorium kredit mencakup penjadua lan pembayaran utang (rescheduling) selama 3 tahun. UMKM m asih membutuhkan modal kerja yang memadai untuk memulihkan aktivitas bisnisnya. Ketika bertemu JRT Mei 2008. Bahkan tentang moratorium UMKM ini sudah d ilaporkan di hadapan Menko Bidang Perekonomian dan sejumlah menteri di Jakarta t anggal 26 Juni 2007. Adanya krisis atau kejadian luar biasa menjadi latar belakang moratorium. Bencana kekeringan yang berkepanjangan menjadi pemicu kebijakan tersebut. pada tahun 2004 m elakukan moratorium bagi kredit usaha pertanian yang berdurasi 6 bulan. Pemda. menunggu 'bo rn waktu' yang bisa meledak kapan saja. Menneg KUMKM. Apa yang dimaksud dengan moratorium kredit? Moratorium inti nya merupakan suatu 'penundaan' terhadap utang atau kredit usaha. untuk mem berikan ruang gerak dan waktu bagi UMKM agar kembali memiliki kemampuan membayar kewajibannya. ataukah penghapusbukuan (wri te-off) dan penghapus tagihan? Bila moratorium kredit disepakati oleh kreditur d an diijinkan oleh BI. kondisi kolektibilitas kredit UMKM jelas mengkhawatirkan. bersama Bank Indonesia serta pihak-pihak terk ait untuk memprioritaskan rencana aksi pemulihan ekonomi produktif untuk DIY Menunda masalah ini berarti .

Pemda propinsi dan kabupate n/kota dapat meminta pihak perbankan baik pemerintah maupun swasta dan BPR (Bank Perkreditan Rakyat). seperti pendampingan dan pelatihan. Perlu digarisbawahi. Diperkirakan hanya 45% UMKM yang bisa bangkit sendiri. Namun. program ak si yang dapat dilakukan adalah membantu penyelesaian kredit bermasalah. Kondisi UMKM yang tidak direstrukturisasi mal ah lebih parah.Kendati kredit yang tergolong dalam perhatian khusus menurun dari 26% menjadi 19 %. BUKP (Badan Usaha Kredit Pedesaan). Sri Sultan Hamengku Bu wono X. injeksi pinjaman. Lembaga Leasing.500 kredit UMKM korban gempa menunjukkan bahwa ada sekitar 47% yang direstrukturisasi. Hampir tiap hari. Di tingkat Pemda.Angkaangka dan faktafakta ini menunjukkan bahwa meski sudah ada upaya pemulihan UMKM terny ata hasilnya belum seperti yang diharapkan. Saat ini yang paling dibutuhka n pelaku UMKM dengan kredit bermasalah adalah modal segar agar bisa segera bangk it. kredit kurang lancar naik dari 8% menjadi 9%. 129 . ataupun permohonan kepada Dirjen Kekayaan dan Lelang Negar a untuk menunda lelang terhadap jaminan nasabah UMKM. Gubernur DIY. kredit diragukan naik dari 9% m enjadi 11% dan kredit macet melonjak drastis dari 10% menjadi 31%. Tim Ad-hoc masih menerima pengaduan dari UMKM tentang ancaman debt collectors dan penyitaan aset UMKM. Dalam konteks inilah. Bahkan yang t ermasuk dalam kategori 'tidak ada keterangan' diperkirakan juga bermasalah karen a cenderung meningkat dari 20% menjadi 29%. Penelusuran saya bersama tim penelit i terhadap 4. sudah melayangkan surat kepada Menteri Negara BUMN dan Menko Perekonomia n agar melakukan rescheduling. sebenarnya program restrukturisasi kredit di D IY tidak mengatasi permasalahan pokok karena kredit bermasalah meningkat dari 64 % pada 2006 menjadi 83% pada 2007. Kebijakan restruk turisasi kredit belum cukup jika tidak disertai 'bantuan teknis' untuk mempercep at pemulihan. penangguhan eksekusi jaminan ba gi UMKM korban gempa.5% menjadi 96%. saya mengusulkan perlunya program aksi yang koheren dan integra tif antara lembagalembaga yang terkait dengan UMKM. terutama untuk kredit mikro dengan maksimal kredit Rp5 juta. 19% tidak direstrukturisasi dan sisanya malah tidak memiliki keterangan. sisanya sulit pulih k arena mayoritas tempat tinggal mereka digunakan pula sebagai tempat usaha. kredit bermasalahnya meningkat dari 54. agaknya belum cukup ampuh mengerem laju penurunan kinerja UMKM maupun menghentikan penyitaan terhad ap aset jaminan UMKM.

Menneg UMKM dan Menteri Perindustrian per lu segera mengeksekusi kebijakan yang supportive terhadap UMKM. Dengan percepatan implementasi ini s etidaknya UMKM dapat kembali bergeliat dan memiliki motivasi untuk kembali produ ktif. Selain itu perlu pula disusun suatu kebijakan khusus tentang penyelesaian kredi t bermasalah khususnya standar prosedural bagi UMKM di daerah bencana. Menneg BUMN. Dana dan program dari negara donor perlu difokuskan untuk pemulihan liveliho od (baca: sektor ekonomi produktif). yaitu kebijakan pemerintah untuk melindungi UMKM dari kebangkrutan dengan m enyediakan jaring pengaman kredit bagi para UMKM. Menko Perekonomian. Sebagai pendukung kebijakan Menko Perekonomian. yang tentunya harus berkoordinasi dengan Men neg UMKM dan Menteri Keuangan. M enneg BUMN dapat mempercepat implementasi haircut kredit UMKM di bank BUMN dan m engusahakan adanya kredit tanpa agunan maksimal Rp20 juta bagi UMKM. . Java Reconstruction Fund pe rlu menitikberatkan program pemulihan dan penyelamatan UMKM bermasalah. yang proUMKM.maupun KUD (Koperasi Unit Desa). diperlukan penyempurnaan konsep dan implementasi Kredit Usaha Rakyat (KUR) bagi UMKM di daerah bencana. Selain itu. penyitaan atau pelelangan aset-aset terkait tunggakan UMKM. Perlu PBI khusus untuk UM KM pasca bencana yang mencakup gempa. khususnya UMKM. Di sinilah Menteri Pe rindustrian dapat berperan serta dengan menyusun program pemulihan sentra indust ri. Hal ini dap at dilakukan dengan merealokasi Dana Kemitraan dan Bina Lingkungan dari BUMN. Hasil ka jian Tim Ad-hoc dan UNDP untuk identifikasi sentra dan profil UMKM per kecamatan dapat langsung dimanfaatkan bagi semua stakeholders yang peduli 130 . lumpur papas dan lainnya. Bank Indonesia s ebagai otoritas moneter juga harus melakukan penyempurnaan PBI No 8/10/2006 tent ang perlakuan khusus terhadap kredit bank pasca gempa. ya ng tiap tahun tidak pernah terserap 100%. Di tingkat pusat. supaya tidak melakukan eksekusi. tsunami. Menko Perekonomian harus menyusun skema anti-disaster measures bagi UMKM untuk d aerah bencana baik bencana kecil maupun bencana besar. Skema ini pernah dilakuka n Pemerintah Jepang dalam White Paper 2001 dengan nama safety net guarantee prog ram. banjir. Namun tentunya hal ini harus diimbangi dengan program-program pemulihan se ntra-sentra industri kecil sebagai basis pertumbuhan UMKM.

131 . Kemudian keluaran yang masih berlanjut sebesar 11. Peraturan Menteri Tenaga Kerja dan Tran smigrasi mengenai Penempatan Tenaga Kerja.7%. tiga diantaranya merupakan kebijakan untuk pengembangan sistem resi gudang sebagai instrumen pembiayaan bagi UMKM.9%. rencananya keluarannya ak an berbentuk Peraturan Menteri Keuangan. ada 6 kebijakan yang berada di bawah wewenang Menteri Pe rdagangan.6%. 'Ayat-ayat krisis' UMKM ini perlu segera dicari solusinya. dan Peraturan Pemerintah sebagai pela ksanaan Pada Inpres No.7%. Untuk kebijakan yang masih dalam proses. Diikuti oleh bidang peningkatan peluang p asar produk UMKM sebesar 27. Dari 29 tindakan. Ini tercermin dari 141 paket kebijakan ada 29 tind akan yang khusus memberdayakan UMKM. Hal ini ditunjukkan dari besarnya proporsi tindaka n pada bidang ini vaitu sebesar 44. dan kegiatan sosialisasi. Inilah saatnya berlomba-lomba membantu UMKM DIY. pemerintah SBY-JK m engeluarkan Inpres No. Sedangk an keluaran yang masih dalam proses adalah sebesar 14. dokumen peraturan teknis operasional sebagai Pedoman Pemanfaata n dokumen Resi Gudang.5% sampai bulan Maret 2008. Kemudian bidang pengembangan kewirausahaan dan s umber daya manusia sebesar 20.8% Dari keempat bidang kebijakan pemberdayaan UMKM p ada Inpres No.dengan nasib UMKM. 6/2007 yang secara eksplisit berupaya mempercepat dan mem berdayakan UMKM di Indonesia. 6 2017 prioritas pemerintah adalah pada bidang peningkatan akses UMKM pada surnber pembiayaan. 6/2007. Kemudian dari keena m kebijakan itu. PAKET KEBIJAKAN UMKM Menyadari tentang pentingnya UMKM. Keluarannya adalah dalam ben tuk PP Nomor 36 Tahun 2007 tentang Pelaksanaan UU Nomor 9 Tahun 2006 tentang Sis tem Resi Gudang.8%. Dan terakhir adalah bidang reformasi regulasi sebesar 6. menghasilkan 34 keluaran yang sudah selesai dilakukan kurang lebih 73. Semua kebijakan tersebut sudah selesai dilakukan. 9. Rencana kenaikan harga BBM dalam waktu dekat ini dapat semakin memukul bisnis UM KM.6.

Pasar Lelang dan Resi Gudang harus berjalan bersamaan. Tarakan. hingga kini tela h beroperasi di 3 titik yaitu Tarakan. Dari 6 marketing point yang direncanakan b erdiri (Entikong. Bursa Ber jangka Komoditi. Bitung. Petani ataupun pemilik komoditi tidak perlu menjual komoditinya sewaktu harga rendah. Yang sering mengganjal dan kelihatan enggan untuk iku t menyelesaikan masalah ini adalah justru perbankan. Yang menjadi penting di sini adalah bagaimana perbankan dapat m empercayai nilai komoditi yang diagunkan. pasar induk dan pasar tradisional den gan keluarannya dalam bentuk pembangunan fisik pasar dan pengembangan skema pilo t project pasar sinergi (lihat Tabel 19. Komitmen perba nkan diperlukan untuk mendukung sistem perdagangan komoditi pertanian. Bagaimana kalau pemilik tidak dapa t menjualnya. Peraturan dibuat untuk melancarkan apa yang ingin dijala nkan. Perbankan adalah salah satu mata rantai yang penting dalam perekonomian. Nunukan dan Skouw). 6/2007 tentang Pemberdayaan UMKM memiliki keluara n dalam bentuk produk hukum yang berbeda-beda 132 .Resi gudang pada dasarnya adalah satu cara bagaimana komoditi bisa dijadikan kol ateral. tetapi masih dapat mendapatkan dana dari perbankan untuk memulai k egiatannya lagi. Resi Gudang mempunyai juga fungsi m engamankan para petani. Selanjutnya adalah ke bijakan pemberdayaan pasar tradisional dan peningkatan peran peritel modern dala m membuka akses pasar bagi produk UMKM dengan keluarannya dalam bentuk rancangan Peraturan Presiden (PP) mengenai pemberdayaan pasar tradisional dan penataan pu sat perbelanjaan dan toko modern. Bagaimana kualitas komoditi tersebut t idak menurun dan untuk jangka waktu tertentu. Janganlah peraturan menjadi ganjalan untuk mencapai tujuan. Kemudian kebijakan mengenai pengembangan pasar yang terintegrasi antara pasar penunjang.7). Kemudian kebijakan yang lainnya yang sudah selesai adalah pengembangan institusi promosi produk UMKM dengan keluarannya dalam bentuk program penguatan dan penambahan ma rketing points di wilayah perbatasan. dan Skouw. Selain itu sistem Resi Gudang tida k kalah pentingnya dari mata rantai lainnya. Hal inilah yang merupakan tugas pengelola gudang untuk dapat membe rikan jaminan kepada bank. Nunukan. Atambua. Tindakan-tindakan yang dilakukan dal am hal implementasi Inpres No.

Ketiga. November. mulai terlihatnya reform fatigues di kalanga n para penanggung jawab program maupun birokrat di departemen teknis. Setiap kebijakan yang ada dalam lampiran Inpres itu dirinci dalam bentuk program. Dennis (1982). 6/2007 ini merupakan necessary but not sufficient condition. Hasil monotoring Mudrajad Kuncoro (2009) atas implementasi pake t kebijakan di bawah Inpres no. yang dicanangkan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono di awal pemerintahannya. dan pro-j obs. Kelima. syarat perlu tapi belum mencukupi untuk menggerakkan sekto r riil dan UMKM.komprehensif. lemahnya sosialisasi paket kebijakan terutam a bagi pelaku bisnis dan pemda. 133 .3/ 2006 menunjukkan adanya sejumlah kelemahan: pe rtama. Saya kira inilah saatny a melakukan akselerasi tripple track strategy. Kajian Pengembanga n Polo Industri Pedt.aan Melalui Koperasi dan Usaha Kecil. Budi Praset yo Widyobroto. Yogyakarta. pro-poor. Zuprizal. BPS (1999). DAFTAR PUSTAKA Anderson. 3/2006. dari 85 rencana tindakan tidak semuanya menjawab subtansi masalah yang di hadapi sektor riil dan UMKM. "Small Industry in Developing Countries" . Mudrajad Kuncoro. Paket kebijakan di bawah Inpres No. yang terli hat dalam rakor bulanan yang digelar oleh kantor Menko Perekonomian. Inpres ini merupakan paket kebijakan "jilid II" dari paket kebijakan se rupa tahun 2006 yang dituangkan dalam Inpres No. Jakarta. Tridjoko Wismu Murti. LPM UGM dan Balitbang Departemen Koperasi & PPK. Ismoyo (1996). Zaenal. tidak adanya sanksi bagi rencana tindak yang tidak selesai. serangkaian program dan tindakan yang tu juannya memperbaiki iklim investasi di Indonesia ternyata lemah dari sisi implem entasi di level pusat. tindakan. keluaran dan sasaran yang terukur dengan jelas. apalagi daerah. Statistical Yearbook of Indo nesia 1998. yaitu pro-growth. Dilihat dari cakupan dan subst ansinya. disert ai target waktu penyelesaian yang telah dilengkapi dengan menteri/kepala LPND ya ng bertanggungjawab untuk mengimplementasikannya. Bachruddin. World Development. Keempat. Biro Pusat Statistik. Kedua.

"The Indonesian Economy: The Strange and Su ddenth Death of a Tiger" dalam Forrester.kr. Mudrajad (2002). Geoff & R. Kedaulatan Rakyat. Geneva: Internat ional Labour Office. http:. Jakarta: Partne rship. Sabtu 2 Agustus 2008.php? sid=163203&actmenu=46. Otonomi dan Pembangunan daerah. Pemberdayaan UMKM. "Ayat-ayat Krisis UMKM". International workshop organised by the. Jakarta. Mudrajad (2007). Kasali.kr. Small-Scale Business Development and Competition Poli cy. Kedaulatan Rakyat.J. Kuncoro.W.id/â ¢ebi detail.id. Hill. http://www. Un iversity of Melbourne. Kuncoro. Amsterdam. UPP STIM YKPN. Rabu 4 J uli 2007. Perdagaugan. dan Kebijakan. Kuncoro. Andryan Se tyadharma (2008). Keda ulatan Rakyat.). 134 .investorindonesia.Harianto. Masalah. 20 Juni 2007. 19761996: the Case of Indonesia (Java). Kuncoro. Hal (1998). Mudrajad (2000). Yogyakart a.com. Kuncoro. http:/. Farid (1996). Re-code Your Change DNA: Membebaska n Belenggu-belenggu Malik Meraih Keberanian dan Keberhasilan Dalam Pembaharuan. Mudrajad (200 8). Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama. Kuncoro. disertasi Ph.co.D. "Moratorium Kredit UMKM". www. Jakarta. The Economics of Industrial Agglomeration and Clustering. Mudrajad (2008). Posthumus Institute for Econom ic and Social History on the theme Economic Growth and Institutional Change in I ndonesia during the 19" and 20th Centuries. Bathurst: Crawford House Publishing Pty Ltd. Mudrajad.). 13 Mei 2008. www. Investor Daily. Kuncoro. N. Rhenald (2007).id/ article. "Akselerasi Sektor Riil dan UMKM". Erlangga. Department of Management. dan Infrastruktur. Kuncoro.kr. Mudrajad (2007). "A Quest For Industrial Districts: An Empirical Study of Manufacturing Industries in Jav a". "Study on Subcontracting in Indonesian Domestic Firms". CSIS. Strategi dan Peluang. Kuncoro. The Promotion of Sustainable Enterprises. The Fall of S oeharto. Zainal Arifin. Mudrajad (2006) . Evaluasi Paket Kebijakan Inpres No 6/2007 Bidang Perbaikan Ikl im Investasi. May (eds. Melbourne.co.php?sid=129397. Ekonomika Pembangunan: Teori. http://www. "Grameen Bank dan Lembaga Keuangan Mikro".co. Reformasi. dalam Mari Pangestu (ed. 25-26 February. tidak dipublikasikan. Mudrajad (2004). ILO (International Labour Organization) (2007). Perencan aan.

Mudrajad (1994). Mudrajad (1997). Nopember. Masykur Wiratmo. dan R. Jurnal Ekonomi. Kuncoro. Hotel Radisson. no. Kuncoro. Agus Sartono (1 996). Mudrajad (1995). Agustus. diselenggarakan oleh Harian P ikiran Rakyat. "Peta Bisnis Aliansi Strategik". E konomi". "Struktur dan Kinerja Industri Indonesia dalam Era Deregulasi dan D ebirokratisasi". "Pengem bangan Industri Pedesaan Melalui Koperasi dan Usaha Kecil: Suatu Studi Kasus di Kalimantan Timur". Kuncoro. Yogyakarta. Mudrajad (1996). Laporan Akhir Pengembangan Pusat Konsultasi Pengusaha Kecil Tahun Anggaran 1995/1996 Propinsi DIY. Kuncoro. no. XXVI. vol.7.10/IV/1995. Kelola (Gadjah Mada University Business Review).Kuncoro. 5 135 . "Struktur d an Kinerja Ekonomi Indonesia Setelah 50 tahun Merdeka: Adakah Peluang Usaha Keci l?".1. Januari. Analisis CSIS. Bambang Kustituanto. Manajemen dan Usahawa n Indonesia. Mudrajad. Mudrajad dan Anggito Abim anyu (1995). tahun II. "Tantangan dan Peluang Ekonomi Kerakyatan dalam Era Globalisasi. Kuncoro. kerjasama Depkop & PPK dengan PPE-FE-UGM. makalah dalam Diskusi Ekonomi Kerakyatan. Yogyakarta.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful