P. 1
51710380 Buku Ekonomi Pembangunan Pendidikan SS Edited

51710380 Buku Ekonomi Pembangunan Pendidikan SS Edited

|Views: 590|Likes:
Published by Restia Ardelia

More info:

Published by: Restia Ardelia on Nov 13, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as TXT, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

03/23/2013

pdf

text

original

Sections

  • 5.3. PENYEBAB DAN SOLUSI KEMISKINAN 5.3.1. Penyebab Kemiskinan 61
  • 10. Sumber Jana modal usaha pada umumnya berasal dari tabungan sendiri atau dari

BAB I PARADIGMA PEMBANGUNAN EKONOMI Orang sering berbicara tentang "pembangunan"
. Mungkin pertanyaan yang muncul adalah: apa sebenarnya yang dimaksud dengan pem
bangunan? Bab ini akan mencoba menjawab pertanyaan tersebut dengan menelusuri ev
olusi makna pembangunan sejak ekonomi pembangunan lahir, yakni setelah Perang Du
nia II. 1.1. PANDANGAN TRADISIONAL Pada mulanya upaya pembangunan negara sedang
berkembang (NSB)' diidentikkan dengan upaya meningkatkan pendapatan per kapita,
atau populer disebut strategi pertumbuhan ekonomi. Semula banyak yang beranggapa
n yang membedakan antara negara maju dengan NSB adalah pendapatan rakyatnya. Den
gan ditingkatkannya pendapatan per kapita diharapkan masalah-masalah seperti pen
gangguran, kemiskinan, dan ketimpangan distribusi pendapatan yang dihadapi NSB d
apat terpecahkan, misalkan melalui apa yang dikenal dengan "dampak merembes ke b
awah" (trickle down effect. Indikator berhasil tidaknya pembangunan semata-mata
dilihat dari meningkatnya pendapatan nasional (GNP) per kapita riil, dalam arti
tingkat pertumbuhan pendapatan nasional dalam harga konstan (setelah dideflasi d
engan indeks harga) harus lebih tinggi dibandingkan tingkat pertumbuhan penduduk
. Fenomena ini terlihat dari pemikiran-pemikiran awal mengenai pembangunan, sepe
rti teori Harrod-Domar, Arthur Lewis, WW Rostow, Hirschman, RosensteinRodan, Nur
kse, Leibenstein. Seperti judul buku karya monumental Arthur Lewis, pembangunan
ekonomi dianggap merupakan kajian The Theory of Economic Growth. lni mencerminka
n munculnya teori pertumbuhan dan pertumbuhan ekonomi sebagai tujuan utama dari
setiap kebijakan ekonomi di negara manapun. Sepanjang dasawarsa 1950-an, sementa
ra pembangunan ekonomi diidentikkan dengan pertumbuhan ekonomi, ekonomi pembangu
nan sebagai cabang ilmu ekonomi yang relatif baru memusatkan perhatian pada fakt
or-faktor penentu pertumbuhan ekonomi (Arndt, 1996: h. 6). Meskipun banyak varia
n pemikiran, pada dasarnya mereka sependapat bahwa kata kunci dalam pembangunan
adalah pembentukan modal. Oleh karena itu, strategi .pembangunan yang dianggap p
aling sesuai adalah akselerasi pertumbuhan ekonomi dengan mengundang modal asing
dan melakukan industrialisasi. Diundangnya modal asing nampaknya diilhami oleh
kisah sukses Rencana Marshall dalam membantu pembangunan negara Eropa Barat dan
Jepang. Adapun industrialisasi yang memusatkan perhatian pada sektor-sektor mode
rn dan padat modal nampaknya tidak dapat dipisahkan dari pengalaman Inggris seba
gai negara industri pertama. 1

Tak pelak lagi konsep dan strategi pembangunan semacam itu dijiwai oleh pengalam
an negara-negara Eropa. Inilah yang disebut eurocentrism, Eropa sentris, dalam p
emikiran awal tentang pembangunan (Hettne, 1991). Paham developmentalis gaya Ero
pa ini ditandai dengan munculnya kapitalisme, naiknya masyarakat borjuis sebagai
kelas sosial yang dominan, relatif berhasilnya revolusi industri, dan diperkena
lkannya "pertumbuhan" sebagai ide perkembangan masyarakat. Tradisi pemikiran aru
s utama (mainstream) Eropa diterjemahkan lebih lanjut oleh: model liberal, strat
egi kapitalis negara (state capitalist strategy), model Soviet, dan Keynesianism
e. Model liberal mendasarkan diri pada berlangsungnya mekanisme pasar, industria
lisasi yang bertahap, dan perkembangan teknologi. Strategi kapitalis negara meru
pakan reaksi terhadap paradigma modernisasi. Model Soviet pada dasarnya merupaka
n perkembangan lebih lanjut dari strategi kapitalis negara, yang nampaknya diilh
ami oleh kisah sukses Soviet dalam program industrialisasinya. Aliran Keynesian
merupakan manifestasi dari kapitalisme yang telah mencapai tahap dewasa, yang in
tinya menghendaki campur
tangan pemerintah dalam upaya meningkatkan pertumbuhan ekonomi.

Sekitar tahun 1960, ketika data makro yang dapat diperbandingkan secara internas
ional telah tersedia, Maddison, Denison, dan para ahli lain menemukan bahwa perb
edaan dalam pembentukan modal dan faktor input tidak banyak menjelaskan mengapa
timbul perbedaan dalam pertumbuhan ekonomi. Ternyata baru disadari ada banyak fa
ktor yang tadinya dianggap "residual", ikut berperanan dalam meningkatkan pertum
buhan ekonomi. Residual di sini dikaitkan dengan investasi modal manusia dan kem
ajuan teknologi. Pentingnya investment in man, yang menekankan peranan faktor pe
ndidikan dan budaya, merupakan tahap pertama menuju konsep pembangunan yang sema
kin tidak murni ekonomi lagi. 1.2. PARADIGMA BARU DALAM PEMBANGUNAN Pada akhir d
asawarsa 1960-an, banyak NSB mulai menyadari bahwa "pertumbuhan" (growth) tidak
identik dengan "pembangunan" (development). Pertumbuhan ekonomi yang tinggi, set
idaknya melampaui negara-negara maju pada tahap awal pembangunan mereka, memang
dapat dicapai namun dibarengi dengan masalah- masalah seperti pengangguran, kemi
skinan di perdesaan, distribusi pendapatan yang timpang, dan ketidakseimbangan s
truktural (Sjahrir 1986, bab1). Fakta ini pula agaknya yang memperkuat keyakinan
bahwa pertumbuhan ekonomi merupakan syarat yang diperlukan (necessary) tetapi t
idak mencukupi (sufficient) bagi proses pembangunan (Esmara 1986: h.12; Meier, 1
989: h.7). Pertumbuhan ekonomi hanya mencatat peningkatan produksi barang dan ja
sa secara nasional, sedangkan pembangunan berdimensi lebih luas dari sekedar pen
ingkatan pertumbuhan ekonomi.

2

Hal inilah yang menandai dimulainya masa pengkajian ulang tentang arti pembangun
an. Myrdal (1968), misalnya mengartikan pembangunan sebagai pergerakan ke atas d
ari seluruh sistem sosial. Ada pula yang rnenekankan pentingnya pertumbuhan deng
an perubahan (growth with change), terutama perubahan nilai-nilai dan kelembagaa
n. Kondisi ini dilandasi argumen adanya dimensi kualitatif yang jauh lebih penti
ng dibanding pertumbuhan ekonomi. Meier (1989: hal. 6) lebih khusus mengatakan :
... perhaps the definition that would now gain widest approval is one the defin
es economic development as the process whereby the real per capita income of a c
ountry increases over a long period of time--- subject to the stipulations that
the number of people below an 'absolute poverty line does not increases, and tha
t the distribution of income does not more unequal." Dengan kata lain, pembangun
an ekonomi tidak lagi memuja GNP sebagai sasaran pembangunan, namun lebih memusa
tkan perhatian pada kualitas dari proses pembangunan. Selama dasawarsa 1970-an,
redefinisi pembangunan ekonomi diwujudkan dalam upaya meniadakan, setidaknya men
gurangi, kemiskinan, pengangguran, dan ketimpangan. Dudley Seers (1973) menunjuk
3 sasaran utama pembangunan dengan mengatakan : ".. What has been happening to
poverty ? What has been happening to unemployment ? What has been to inequality
? If all three of these have declined from high levels then beyond doubt this ha
s been a period of development for the country concerned. If one or two these ce
ntral problems have been growing worse, especially if all three have it would be
strange to call the result 'development , even if per capita income doubled'. T
idak terlalu berlebihan apabila banyak yang memandang bahwa definisi Seers berar
ti meredefinisi pembangunan dalam konteks tujuan sosial. Dengan cepat dimensi ba
ru mengenai pembangunan mendapat sambutan dari penganjur strategi yang berorient
asi kesempatan kerja, pemerataan, pengentasan kemiskinan, dan kebutuhan pokok. O
bsesi Seers nampaknya didorong oleh keprihatinannya melihat kenyataan pembanguna
n di NSB. Timbul kesan bahwa is "tidak sabar" melihat implementasi strategi anti
kemiskinan, orientasi pada kesempatan kerja, dan pemerataan pembangunan, yang s
ering hany a berhenti sebagai retorika politik para penguasa di NSB semata. In'
pula agaknya yang mendorong munculnya konsep dan strategi pembangunan yang baru.
Sejarah mencatat munculnya paradigma baru dalam pembangunan seperti pertumbuhan
dengan distribusi, kebutuhan pokok (basic needs), pembangunan mandiri (self-rel
iant development), pembangunan berkelanjutan dengan perhatian

3

terhadap alam (ecodevelopment), pembangunan yang memperhatikan ketimpangan penda
patan menurut etnis (ethnodevelopment). Barangkali menarik untuk menelusur ide d
asar masing-masing paradigma tersebut. A.Strategi Pertumbuhan Dengan Distribusi
Para proponen strategi "pertumbuhan dengan distribusi", atau "redistribusi dari
pertumbuhan", pada hakekatnya menganjurkan NSB agar tidak hanya memusatkan perha
tian pada pertumbuhan ekonomi (memperbesar "kue" pembangunan) namun juga mempert
imbangkan bagaimana distribusi "kue" pembangunan tersebut. Situasi ini bisa diwu
judkan dengan kombinasi strategi seperti peningkatan kesempatan kerja, investasi
modal manusia, perhatian pada petani kecil, sektor informal dan pengusaha ekono
mi lemah. Dengan kata lain, syarat utamanya adalah orientasi pada sumber Jaya ma
nusia, atau ada yang menyebut sebagai orientasi populisme dalam pembangunan. B.S
trategi Kebutuhan Pokok Embrio pendekatan kebutuhan pokok bermula dari program I
LO (International Labour Organization) tentang "World Development" pada tahun 19
69 dan "Dekiarasi tentang Prinsip-Prinsip dan Program Aksi Strategi Kebutuhan Po
kok dalam Pembangunan" pada Konferensi Dunia tentang kesempatan kerja pada tahun
1976. Hanya perdebatan yang sering muncul adalah berkisar mengenai apa yang dim
aksud dengan kebutuhan pokok. Ada yang berpendapat, kebutuhan pokok mencakup keb
utuhan minimum konsumsi (pangan, sandang, perumahan) dan jasa umum (kesehatan, t
ransportasi umum, air, fasilitas pendidikan). Sementara itu, pendekatan lain leb
ih mementingkan apa yang dapat membuat hidup ini lebih berharga. Todaro (1989, h
. 89), misalnya, menekankan 3 nilai dasar pembangunan, yaitu life-sustenance (ke
mampuan menyediakan kebutuhan dasar), self- esteem (kebutuhan untuk dihargai), d
an freedom (kebebasan untuk memilih)â
¢ Strategi pemenuhan kebutuhan pokok dengan demi
kian telah mencoba memasukkan semacam "jaminan" agar setiap kelompok sosial yang
paling lemah mendapat manfaat dari setiap program pembangunan. Dengan kata lain
, konsep kebutuhan pokok harus dipandang sebagai dasar utama dalam strategi pemb
angunan ekonomi dan sosial. C.Strategi Pembangunan Mandiri Strategi pembangunan
mandiri agaknya berkaitan dengan strategi pertumbuhan dengan distribusi, namun s
trategi ini memiliki pola motivasi dan organisasi yang berbeda. Pada dekade 1970
-an, strategi ini populer sebagai antitesis dari paradigma dependensia dan tidak

4

bisa dilepaskan dari pengalaman India pada masa Mahaatma Gandhi, Tanzania di baw
ah Julius Nyerere, dan Gina di bawah Mao Zedong. Konsep Mao lebih menekankan pad
a usaha-usaha mandiri dengan sedikit atau tanpa integrasi dengan luar. Di Cina,
dikembangkan teknologi "pribumi" daripada mengimpor teknologi dari luar. Konsep
"mandiri" dibawa ke tingkat internasional oleh negara-negara non-blok pada perte
muan di Lusaka tahun 1970, dan dielaborasi lebih lanjut pada konferensi non-blok
di Georgetown tahun 1972. Dengan demikian konsep "mandiri" telah muncul sebagai
konsep strategis dalam forum internasional sebelum konsep "Tata Ekonomi Dunia B
aru" (NIEO) lahir dan menawarkan anjuran kerjasama yang menarik dibanding menari
k diri dari percaturan global. Perjuangan mengejar kemandirian pada tingkat loka
l, nasional, atau regional, kadang kala bersifat revolusioner, di lain kasus kad
ang bersifat reaktif. D.Strategi Pembangunan Berkelanjutan Pembangunan berkelanj
utan, atau sustainable development, muncul ketika isu mengenai lingkungan muncul
pada dasa warsa 1970. Pesan utamanya adalah bahwa tata dunia baru atau lama tid
ak akan menguntungkan apabila sistem biologis alam yang menopang ekonomi dunia t
idak diperhatikan. Sinyal pertama mengenai batas pertumbuhan adalah laporan dari
Club of Rome pada tahun 1972. Dengan menggunakan ekstrapolasi ekonometrika dari
data statistik, penulis buku The Limits to Growth menyimpulkan bahwa "bila tren
d pertumbuhan saat ini dalam penduduk dunia, industrialisasi,polusi, produksi ma
kanan, dan deplesi sumberdaya terus tidak berubah, batas pertumbuhan atas planet
ini akan dicapai dalam waktu kurang dari 100 tahun mendatang". Namun ternyata r
amalan Club of Rome tidak terbukti. Pemikiran mereka pun mendapat banyak kritik
baik secara metodologis maupun asumsinya bahwa sumberdaya terbatas jumlahnya. Ke
ndati demikian, akhir-akhir ini isu mengenai lingkungan hidup semakin gencar den
gan adanya laporan mengenai menipisnya lapisan ozon di atas planet bumf kita, is
u polusi (udara, air, tanah), erosi tanah, dan penggundulan hutan. Lester Brown
(1981) menunjuk 4 area utama dari sudut pandang sustainabilitas, yaitu: tertingg
alnya transisi energi, memburuknya sistem biologis utama (perikanan laut, padang
rumput, hutan, lahan pertanian), ancaman perubahan iklim (polusi, dampak "rumah
kaca", dsb), serta kurangnya bahan pangan. Pada gilirannya, ini memperkuat pand
angan bahwa strategi pembangunan di banyak negara seakan "buta" terhadap Iingkun
gan hidup. Para pendukung utama pembangunan berkelanjutan lalu menunjuk pentingn
ya strategi ecodevelopment, yang intinya mengatakan bahwa masyarakat dan ekosite
m di suatu daerah harus berkembang bersama-sama menuju produktivitas dan pemenuh
an kebutuhan yang 5

lebih tinggi; namun yang paling utama strategi pembangunan ini harus berkelanjut
an, balk dari sisi ekologi maupun sosial. E.Strategi Berdimensi Etnik Strategi e
thnodevelopment, bermula muncul dari konflik antaretnis. Isu antar etnis (rasial
, suku) berkembang di Afrika, dan semakin intens terjadi di Asia Selatan pada da
sa warsa 1980-an. Hal ini sering terjadi terutama pada masyarakat di mana terdap
at multi etnis. Tidak ada "bahasa penjelas" yang sama untuk konflik antar etnis
ini. Namun setidaknya konflik yang biasa muncul adalah: konflik atas penguasaan
sumber Jaya alam, konflik yang berkaitan dengan proyek infrastruktur (yang mempe
ngaruhi ekosistem suatu daerah), konflik akibat ketimpangan pembangunan, konflik
mengenai ide dasar strategi pembangunan nasional, konflik atas bagaimana pemeri
ntah mendistribusikan sumberdaya. Sejauh ini baru Malaysia yang secara terbuka m
emasukkan konsep ethnodevelopment dalam formulasi Kebijaksanaan Ekonomi Baru-nya
(NEP). NEP dirancang dan digunakan untuk menjamin agar buah pembangunan dapat d
irasakan kepada semua warga negara secara adil, balk is dari komunitas Cina, Ind
ia, dan masyarakat pribumi Malaysia (Faaland, et.al., 1990). Fenomena inilah bar
angkali sebab utama adanya data mengenai distribusi antaretnis dalam setiap publ
ikasi data Malaysia. 1.3. PARADIGMA PEMBANGUNAN Demikian banyak makna pembanguna
n yang diturunkan oleh para ahli berdasarkan pengalaman di berbagai negara dan s
tudi empiris yang mereka lakukan. Boleh dikata hampir setiap orang peduli dengan
pembangunan sebagai tujuan yang diinginkan bagi negara dan penduduk di negara D
unia Ketiga. Namun begitu banyak interpretasi mengenai "makna pembangunan" sehin
gga orang kadang-kadang bertanya-tanya apakah pembangunan hanya tidak lebih meru
pakan pandangan utopis setiap orang? Persis apa yang dikatakan oleh Arndt (1996)
: "Almost everyone considers development -- even economic development -- a desir
able objective for the countries and people of the Third World. But so diverse h
ave the interpretations of 'development' become that one sometimes wonders wheth
er it now stands for anything more substantial than everyone's own utopia". Seja
rah pemikiran mengenai pembangunan memang diwarnai dengan evolusi makna pembangu
nan. Dari pemujaan terhadap pertumbuhan, hingga paradigma baru dalam pembangunan
seperti pertumbuhan dengan distribusi, kebutuhan pokok (basic needs), pembangun
an mandiri (self-reliant development), pembangunan berkelanjutan dengan 6

perhatian terhadap alam (ecodevelopment), pembangunan yang memperhatikan ketimpa
ngan pendapatan menurut etnis (ethnodevelopment). Akhir-akhir ini mulai antre be
berapa paradigma lain, seperti: wanita dalam pembangunan, pembangunan regional/s
pasial, dan pembangunan masyarakat. Kendati demikian, banyak yang memandang berb
agai paradigma baru tentang pembangunan ini masih berada pada dataran normatif.
Artinya kontribusinya mengenai pembangunan tidak berbicara dalam konteks aktual
(das sein; what to be) namun lebih membahas apa yang seharusnya dilakukan (das s
ollen; what ought to be). Atau alternatifnya, kita mau tidak mau harus mengkombi
nasikan berbagai paradigma tersebut dalam formulasi maupun implementasi kebijaks
anaan. Nampaknya tidak salah apabila disimpulkan bahwa pembangunan harus dilihat
sebagai proses yang multidimensi yang mencakup tidak hanya pembangunan Ekonomi,
namun juga mencakup perubahan- perubahan utama dalam struktur sosial, erilaku.
dan kelembagaan. BACAAN YANG DIANJURKAN Arndt, H.W., The Search for A New Develo
pment Paradigm, Panglaykim Memorial Lecture, Jakarta, 14 Mei 1996. Esmara, Hendr
a, Politik Perencanaan Pembangunan: Teori, Kebijaksanaan dan Prospek, PT Gramedi
a, Jakarta, 1986. Faaland, Just, J.R. Parkinson, Rais Saniman, Growth and Ethnic
Inequality: Malaysia's New Economic Policy, Hurst & Company, London, 1990. Henr
iot, Peter J.A., "Development Alternatives: Problems, Strategies, and Values", d
alam Michael P. Todaro (ed), The Struggle for Economic Development: Readings in
Problem and Policies, Longman, New York & London, 1983. Hettne, Bjorn, Developme
nt Theory and the Three World, Longman Scientific and Technical, Essex, 1991, ba
b 2 dan 5. Meier, Gerald M., Leading Issues in Economic Development, 5th. editio
n, Oxford University Press, New York, 1989, bab1. Seers, Dudley, The Meaning of
Development", dalam Charles K. Wilber (ed.), the Political Economy of Developmen
t and Underdevelopment, Random House, New York, 1973. Sjahrir, Ekonomi Politik K
ebutuhan Pokok: Sebuah Tinjauan Prospektif, LP3ES, Jakarta, 1986, bab 1.

7

BAB II INDIKATOR PEMBANGUNAN Pembangunan selalu menimbulkan dampak, balk positif
maupun negatif. Oleh karena itu diperlukan indikator sebagai tolok ukur terjadi
nya pembangunan. Bab ini akan menguraikan mengenai indikator-indikator ekonomi m
aupun sosial yang dikenal dalam ekonomi pembangunan. 2.1. PERLUNYA INDIKATOR PEM
BANGUNAN Sebagaimana dijelaskan pada Bab 1, paradigma tradisional mengenai pemba
ngunan cenderung mengidentikkan pembangunan dengan pertumbuhan ekonomi. Dewasa i
ni, definisi pembangunan ekonomi yang paling banyak diterima adalah: suatu prose
s di mana pendapatan per kapita suatu negara meningkat selama kurun waktu yang p
anjang, dengan catatan bahwa jumlah penduduk yang hidup di bawah "garis kemiskin
an absolut" tidak meningkat dan distribusi pendapatan tidak semakin timpang (Mei
er, 1995: hi). Yang dimaksud dengan proses adalah berlangsungnya kekuatan-kekuat
an tertentu* yang sating berkaitan dan mempengaruhi. Dengan kata lain, pembangun
an ekonomi lebih dari sekedar pertumbuhan ekonomi. Proses pembangunan menghendak
i adanya pertumbuhan ekonomi yang diikuti dengan perubahan (growth plus change)
dalam: Pertama, perubahan struktur ekonomi: dari pertanian ke industri atau jasa
. Kedua, perubahan kelembagaan, balk lewat regulasi maupun reformasi kelembagaan
itu sendiri. Penekanan pada kenaikan pendapatan per kapita (GNP riil dibagi jum
lah penduduk) dan tidak hanya kenaikan pendapatan nasional riil menyiratkan bahw
a perhatian pembangunan bagi negara miskin adalah menurunkan tingkat kemiskinan.
Pendapatan nasional rill (atau GNP pada harga konstan) yang meningkat seringkal
i tidak diikuti dengan perbaikan kualitas hidup. Bila pertumbuhan penduduk meleb
ihi atau sama dengan pertumbuhan pendapatan nasional maka pendapatan per kapita
bisa menurun atau tidak berubah, dan jelas ini tidak dapat disebut ada pembangun
an ekonomi. Kurun waktu yang panjang menyiratkan bahwa kenaikan pendapatan per k
apita perlu berlangsung terus menerus dan berkelanjutan. Rencana pembangunan lim
a tahun baru merupakan awal dari proses pembangunan. Tugas yang paling berat ada
lah menjaga sustainabilitas pembangunan dalam jangka yang lebih panjang.

8

Tambahan catatan berupa rekor kemiskinan absolut dan distribusi pendapatan agakn
ya menu njuk pentingnya kualitas proses pembangunan. Yang penting tidak hanya me
ningkatkan "kue nasional" namun juga bagaimana "kue" tersebut didistribusikan se
cara merata atau tidak. Pembangunan bukan merupakan tujuan melainkan hanya slat
sebagai proses instrumental untuk menurunkan kemiskinan, menyerap tenaga kerja,
dan menurunkan ketimpangan distribusi pendapatan. Mengingat adanya berbagai maca
m dimensi pembangunan, sebagaimana dijelaskan dalam Bab 1, fokus tujuan pembangu
nan di masing-masing negara dapat berbeda satu sama lain. Dengan demikian, kita
harus mengartikan pembangunan ekonomi sebagai kemajuan ekonomi atau kenaikan kes
ejahteraan ekonomi. Peningkatan pendapatan riil per kapita hanyalah merupakan se
bagian dari indeks kesejahteraan ekonomi. Kesejahteraan ekonomi mengandung perti
mbangan nilai mengenai tingkat distribusi pendapatan yang diinginkan. Karena itu
, kesejahteraan ekonomi tidak hanya mempertanyakan keadilan distributif namun ju
ga membicarakan bagaimana komposisi "kue nasional" dan bagaimana kue ini dinilai
oleh masyarakat. Dengan demikian, indikator-indikator kunci pembangunan secara
garis besar pada dasarnya dapat diklasifikasikan menjadi: (1) indikator ekonomi;
(2) indikator sosial. Variabel yang termasuk sebagai indikator ekonomi adalah:
GNP per kapita, laju pertumbuhan ekonomi, GDP per kapita dengan Purchasing Power
Parity. Variabel yang termasuk indikator sosial adalah HDI (Human Development I
ndex) dan PQLI (Physical Quality Life Index) atau Indeks Mutu Hidup. 2.2. INDIKA
TOR EKONOMI A.Klasifikasi Negara Untuk tujuan operasional dan analitikal, kriter
ia utama Bank Dunia dalam mengklasifikasikan kinerja perekonomian suatu negara a
dalah GNP (Gross National Product, atau Produk Nasional Bruto) per kapita. GNP p
er kapita adalah GNP dibagi dengan jumlah penduduk. Klasifikasi negara berdasark
an kelompok pendapatannya dapat saja berubah pada setiap edisi publikasi Bank Du
nia, terutama dalam World Development Report yang terbit setiap tahun, karena be
rubahnya GNP per kapita. Bank Dunia (1995) mengklasifikasikan negara berdasarkan
tingkatan GNP per kapitanya sebagai berikut:
1. Negara berpenghasilan rendah (low-income economies) adalah kelompok negara-ne
gara

dengan GNP per kapita kurang atau sama dengan US$ 695 pada tahun 1993.

9

2. Negara berpenghasilan menengah (middle-income economies) adalah kelompok nega
ra-

negara dengan GNP per kapita lebih dari US$ 695 namun kurang dari US$ 8.626 pada
tahun 1993. Dalam kelompok negara berpenghasilan menengah dapat dibagi menjadi:
(1) negara berpenghasilan menengah papan bawah (lower-middle-income economies)
dengan GNP per kapita antara US$ 695 hingga US$ 2.785; (2) negara berpenghasilan
menengah papan atas (upper-middle-income economies) dengan GNP per kapita lebih
dari US$ 2.785 namun kurang dari US$ 8.626.
3. Negara berpenghasllan tinggi (high-Income economies) adalah kelompok negara-n
egara

dengan GNP per kapita US$ 8.626 atau lebih pada tahun 1993. 4. Dunia (World) mel
iputi semua negara di dunia, termasuk negara-negara yang datanya langka dan deng
an penduduk kurang dari 1 juta jiwa. Negara berpenghasilan rendah dan menengah k
adang disebut negara sedang berkembang (developing countries). Jelas ini sekadar
untuk memudahkan klasifikasi, dan tidak ada maksud untuk menggeneralisasi bahwa
semua negara dalam kelompok ini mengalami tahapan pembangunan yang sama. Klasif
ikasi menurut penghasilan tidak selalu mencerminkan status pembangunan (IBRD, 19
93). Namun pada umumnya, negara sedang berkembang (NSB) memiliki karakteristik y
ang relatif sama, yaitu: (1) tingkat kehidupannya rendah, dengan ciri penghasila
n rendah, ketimpangan distribusi pendapatan tinggi, rendahnya tingkat kesehatan
dan pendidikan; (2) tingkat produktivitasnya rendah; (3) pertumbuhan penduduk da
n beban ketergantungannya tinggi; (4) tingkat pengangguran dan setengah mengangg
urnya tinggi dan cenderung meningkat; (5) ketergantungan terhadap produksi perta
nian dan ekspor produk primer demikian signifikan; (6) dominan, tergantung, dan
rentan dalam hubungan internasional (Todaro, 1994: h. 38-54). Dalam publikasi la
ris Bank Dunia yang berjudul The East Asian Miracle: Economic Growth and Public
Policy (1993), diperkenalkan beberapa sebutan, yaitu:
1) High Performing Asian Economies (HPAEs), yang diidentifikasi karena memiliki
ciri

umum yang sama, seperti pertumbuhan ekspor yang amat cepat. Dalam kelompok HPAEs
ini dapat dibagi lagi menurut lamanya catatan sukses mempertahankan pertumbuhan
ekonomi, yaitu: Pertama, 4 Macan Asia (The Four Tigers), yang biasanya diidenti
kkan dengan Hongkong, Korea Selatan, Singapura, dan Taiwan. Negara-negara ini ti
ngkat pertumbuhan ekonominya amat cepat dan mulai mendekati ranking negara berpe
nghasilan tinggi. Kedua, newly industrializing economies (NIEs), yang meliputi I
ndonesia, Malaysia, â
¢ dan Thailand.

10

2) Asia Timur mencakup semua negara berpenghasilan rendah dan menengah di kawasa
n

Asia Timur dan Tenggara serta Pasifik.
3) Asia Selatan mencakup Bangladesh, Bhutan, India, Myanmar, Nepal, Pakistan, da
n

Srilangka.
4) Sub-Sahara Afrika meliputi semua negara di sebelah selatan gurun Sahara terma
suk

Afrika Selatan, namun tidak termasuk Mauritius, Reunion, dan Seychelles.
5) Eropa, Timur Tengah, dan Afrika Utara mencakup negara berpenghasilan menengah

di

kawasan Eropa (Bulgaria, Czechoslovakia, Yunani, Hungaria, Polandia, Portugal, R
umania, Turki, dan bekas Yugoslavia) dan semua negara di kawasan Afrika utara da
n Timur Tengah, serta Afghanistan.
6) Amerika Latin dan Karibia terdiri atas semua negara Amerika dan Karibia di se
belah

selatan Amerika Serikat. Delapan negara HPAEs memang tumbuh Iebih pesat dan kons
isten dibanding kelompok negara mana pun di dunia sejak tahun 1960 hingga 1990.
Negara-negara ini rata-rata pertumbuhan GDP riilnya 5,5 persen per tahun, melebi
hi semua negara di kawasan Amerika Latin dan Sub-Sahara Afrika (kecuali Botswana
yang kaya dengan berlian). Gambar 2.1 menunjukkan hubungan antara GDP per kapit
a relatif terhadap GDP Amerika Serikat pada tahun 1960 dan pertumbuhan GDP per k
apita dari 119 negara selama periode 1960 hingga 1985 (IBRD, 1993: h. 29). Negar
a sedang berkembang (NSB) agaknya tidak dapat mengejar negara maju dilihat dari
sisi pertumbuhannya karena 70 persen NSB tumbuh Iebih lambat dibanding rata-rata
negara berpenghasilan tinggi. Lebih memprihatinkan lagi, ada 13 NSB yang GDP pe
r kapitanya menurun. Kendati demikian, pertumbuhan HPAEs sangat berlainan dengan
NSB pada umumnya karena pertumbuhan GDP-nya jauh di atas rata-rata negara berpe
nghasilan tinggi. Tidak seperti NSB Iainnya, HPAEs mulai mengejar negara-negara
industri. Gambar 2.1. Hubungan antara pertumbuhan GDP dan GDP per kapita

11

B.GNP Per Kapita Dengan Purchasing poower Parity Perbandingan antarnegara berdas
arkan GNP per kapita seringkali menyesatkan. Hal ini disebabkan adanya pengkonve
rsian penghasilan suatu negara ke dalam satu mata uang yang sama (baca: dolar AS
) dengan kurs resmi. Kurs nominal ini tidak mencerminkan kemampuan relatif daya
beli mata uang yang berlainan, sehingga kesalahan sering muncul saat dilakukan p
erbandingan kinerja antarnegara. Oleh karena itu, purchasing power parity (PPP)
dianjurkan sebagai alat pengkonversi yang lebih tepat dalam mengkonversi GNP dal
am mata uang lokal ke dollar. Irving Kravis, et.al. (1975, 1978, 1982, 1987) mem
pelopori penggunaan PPP riil dalam perbandingan GDP antar negara. Penyesuaian at
as data GDP ini mencerminkan daya bell satu unit mata uang lokal untuk membeli b
arang dan jasa di negara tersebut, yang mungkin lebih rendah atau lebih tinggi d
aya belinya untuk membeli barang dan jasa di negara lain pada kurs valas yang be
rlaku. Tabel 2.1 menunjukkan GNP per kapita menurut kurs pasar yang berlaku dan
GNP per kapita dengan PPP di beberapa NSB. Terlihat bahwa daya bell mata uang NS
B biasanya lebih tinggi dibanding kurs resminya. Di negara-negara yang hargaharg
a domestiknya relatif rendah, GNP per kapita menurut PPP umumnya lebih tinggi di
banding GNP per kapita dengan kurs resmi. Nilai GNP per kapita dengan PPP dipero
leh dengan memasukkan faktor konversi tertentu yang didesain untuk menyamakan da
ya bell mata uang di masing-masing negara. Faktor konversi, yang tidak lain PPP,
adalah jumlah unit mata uang suatu negara yang diperlukan untuk membeli sejumla
h barang dan jasa di pasar domestik sama dengan daya beli satu dolar di AS.

12

Negara India Pakistan China Srilanka Indonesia Filipina Papua Nugini Thailand Tu
rki Brazil Malaysia Argentina Australia Hongkong Singapura

GNP / Kapita menurut Kurs Pasar 180 300 430 600 740 850 1.130 2.110 2.970 2.930
3.140 7.220 17.500 18.060 19.850 31.490

GNP / Kapita PPP 900 1.220 2.170 2.330 3.150 2.670 2.350 6.260 3920 5.370 7.930
8.250 17.910 21.560 19.510 20.850

Tabel 2.1. GNP Per Kalipta NSB tahun 1993, Kurs Pasar vs PPP (dalam US Dollar )
2.3. INDIKATOR SOSIAL Indikator Sosial Sebagai Alternatif Indikator Pembangunan
GNP per kapita sebagai ukuran tingkat kesejahteraan mempunyai banyak kelemahan.
Kelemahan umum yang sering dikemukakan adalah tidak memasukkan produksi yang tid
ak melalui pasar seperti dalam perekonomian subsisten, jasa ibu rumah tangga, tr
ansaksi barang bekas, kerusakan lingkungan, dan masalah distribusi pendapatan. A
kibatnya bermunculan upaya untuk memperbaiki maupun menciptakan indikator lain s
ebagai pelengkap ataupun alternatif dari indikator kemakmuran yang tradision al.
Pada tahun 1970, UNRISD (United Nations Research Institute on Social Developmen
t) mengembangkan indikator sosial-ekonomi, yang terdiri atas: 9 indikator sosial
dan 7 indikator ekonomi (Iihat Tabel 2.2). Semula ada 73 indikator, namun akhir

nya hanya 16 13

indikator tersebut yang dipilih. Indikator-indikator ini dipilih atas dasar ting
ginya korelasi dalam membentuk indeks pembangunan dengan menggunakan "bobot timb
angan" yang berasal dari berbagai tingkat korelasi. Indeks pembangunan tersebut
ternyata mempunyai korelasi yang lebih erat dengan indikator sosial dan ekonomi
dibanding korelasi GNP per kapita dengan indikator yang sama. Tentunya ranking b
erbagai negara dengan indeks pembangunan ini berbeda dengan ranking dengan mengg
unakan ukuran GNP per kapita. Ditemukan juga bahwa indeks pembangunan ini mempun
yai korelasi yang lebih erat dengan GNP per kapita negara maju dibanding dengan
NSB. Dapat disimpulkan bahwa pembangunan sosial berlangsung lebih cepat dibandin
g pembangunan ekonomi sampai dengan tingkat US$ 500 per kapita (dengan tahun das
ar 1960). Daftar Indikator Kunci Pembangunan Sosial-Ekonomi versi UNRISD
1. Harapan hidup 2. Persentase penduduk di daerah sebanyak 20.000 atau lebih Kon
sumsi protein hewani

per kapita per hari
3. Kombinasi tingkat pendidikan dasar dan menengah Rasio pendidikan luar sekolah
4. Rata-rata jumlah orang per kamar 5. Sirkulasi surat kabar per 1000 penduduk
6. Persentase penduduk usia kerja dengan listrik, gas, air, dsb. Produksi pertan
ian per

pekerja pria di sektor pertanian Persentase tenaga kerja pria dewasa di pertania
n
7. Konsumsi listrik, kw per kapita 8. Konsumsi baja, kg per kapita 9. Konsumsi e
nergi, ekuivalen kg batubara per kapita Persentase sektor manufaktur

dalam GDP
10. Perdagangan luar negeri per kapita 11. Persentase penerima gaji dan upah ter
hadap angkatan kerja

Sumber: UNRISD, 1970 Studi lain yang dilakukan oleh Irma Adelman dan Cynthia Mor
ris (1967) mengukur kinerja pembangunan dalam dimensi pola interaksi antara fakt
or sosial, ekonomi, dan politik. Mereka mengklasifikasikan 74 NSB berdasarkan 40
variabel sosial, ekonomi, dan politik. Analisis faktor digunakan untuk menguji
interdependensi antara variabel sosial dan politik dan tingkat pembangunan ekono
minya. Mereka menyimpulkan berbagai korelasi terjadi antara variabel-variabel ku
nci tertentu dengan pembangunan ekonomi. Indeks Mutu Hidup (PQLI) 14

Untuk mengukur tingkat kesejahteraan masyarakat, Morris D. Morris memperkenalkan
Physical Quality Life Index (PQLI), yang lazim diterjemahkan sebagai Indeks Mut
u Hidup (IMH). PQLI merupakan indeks komposit (gabungan) dari 3 indikator, yaitu
: harapan hidup pada usia satu tahun, angka kematian, dan tingkat melek huruf. U
ntuk masing-masing indikator, kinerja ekonomi suatu negara dinyatakan dalam skal
a 1 hingga 100, di mana 1 merupakan kinerja terjelek, sedangkan 100 adalah kiner
ja terbaik. Begitu kinerja ekonomi suatu negara dinyatakan dalam skala 1 hingga
100 untuk masing-masing indikator tersebut, maka indeks kompositnya dapat dihitu
ng dari rata-rata penilaian atas ketiga indikator, dengan memberikan bobot yang
sama untuk masing-masing indikator. Sebagai contoh, Tabel 2.3 menyajikan indikat
or PQLI untuk masing-masing propinsi di Indonesia pada tahun 1971, 1980, dan 199
0. PQLI di Indonesia meningkat dari 45 pada tahun 1971, menjadi 57 pada tahun 19
80, dan naik menjadi 73 pada tahun 1990. Kendati demikian, di antara negara-nega
ra ASEAN, PQLI Indonesia termasuk yang paling rendah. Bila dibandingkan antar pr
opinsi, terdapat begitu besar variasi PQLI meskipun dengan tingkat yang menurun
sebesar 0,1224, 0,1162, dan 0,0864 masing-masing untuk tahun 1971, 1980, dan 199
0 (Ardani, 1996: h. 28). Namun umumnya PQLI mengalami peningkatan untuk masing-m
asing propinsi, dengan rata-rata kenaikan per tahun selama 1971-1990 sebesar 2,6
persen. DI Yogyakarta dan Sulawesi Tenggara merupakan propinsi yang memiliki pe
ningkatan PQLI tercepat sebesar 3,6 persen per tahun. Pada tahun 1971, PQLI tert
inggi dipegang oleh Sulawesi Utara (62). Pada tahun 1980 dan 1990, rekor PQLI di
raih oleh DKI Jakarta (72 dan 86). Human Development Index (HDI) Upaya yang pali
ng ambisius dan terbaru dalam menganalisis perbandingan status pembangunan sosia
l ekonomi, balk di NSB maupun negara maju telah dilakukan oleh UNDP (United Nati
ons Development Program) secara sistematis dan komprehensif. UNDP menerbitkan se
ri tahunan dalam publikasi berjudul Human Development Reports. Hal yang menarik
dan berharga dari laporan ini, yang diterbitkan sejak tahun 1990, adalah penyusu
nan dan perbaikan Human Development Index (HDI). Seperti halnya POLI, HDI mencob
a meranking semua negara dalam skala 0 (sebagai tingkatan pembangunan manusia ya
ng terendah) hingga 1 (pembangunan manusia yang tertinggi) berdasarkan atas 3 tu
juan atau produk pembangunan, yaitu: (1) usia panjang yang diukur dengan tingkat
harapan hidup; (2) pengetahuan yang diukur dengan rata-rata tertimbang dari jum
lah orang dewasa yang dapat membaca (diberi bobot dua pertiga) dan rata-rata tah
un sekolah (diberi bobot sepertiga); dan (3) penghasilan yang diukur dengan pend
apatan per kapita riil yang telah disesuaikan, yaitu 15

disesuaikan menurut Jaya bell mata uang masingmasing negara dan asumsi menurunny
a utilitas marginal penghasilan dengan cepat. Dengan 3 ukuran pembangunan ini da
n menerapkan suatu formula yang kompleks terhadap data 160 negara pada tahun 199
0, ranking HDI semua negara dibagi menjadi 3 kelompok, yaitu: (1) negara dengan
pembangunan manusia yang rendah (low human development) bila nilai HDI berkisar
antara 0,0 hingga 0,50; (2) negara dengan pembangunan manusia yang menengah (med
ium human development) bila nilai HDI berkisar antara 0,51 hingga 0,79; dan (3)
negara dengan pembangunan manusia yang tinggi (high human development) bila nila
i HDI berkisar antara 0,80 hingga 1,0. Negara dengan nilai HDI di bawah 0,5 bera
rti tidak memperhatikan pembangunan manusianya; negara dengan nilai HDI 0,51 hin
gga 0,79 berarti mulai memperhatikan pembangunan manusianya; negara dengan nilai
HDI lebih dari 0,8 berarti amat memperhatikan pembangunan manusianya. Perlu dic
atat bahwa HDI mengukur tingkat pembangunan manusia secara relatif, bukan absolu
t. Selain itu, HDI memfokuskan pada tujuan akhirpembangunan (usia panjang, penge
tahuan, dan pilihan material) dan tidak sekadar alat pembangunan (hanya GNP per
kapita). Tabel 2.4 menunjukkan perhitungan HDI dan rankingnya. Barbados adalah N
SB dengan nilai HDI tertinggi. Sementara di antara negara-negara maju, ranking t
ertinggi diraih oleh Kanada, ke-2 oleh Swiss, dan ke-8 oleh AS. Perbedaan rankin
g GNP per kapita dengan ranking HDI yang positif (lihat kolom ke-5) menunjukkan
bagaimana ranking relatif suatu negara meningkat bila digunakan HDI sebagai indi
kator sebagai ganti dari GNP per kapita; tanda negatif menunjukkan sebaliknya. B
eberapa negara, seperti Gabon, Brunei, Angola, Namibia, Arab Saudi, dan Uni Emir
at Arab, ranking pendapatan per kapitanya jauh melebihi ranking HDI. Negara-nega
ra tersebut berarti memiliki potensi untuk menggunakan pendapatannya guna memper
baiki kesejahteraan rakyatnya. Sementara itu, negara-negara lain, seperti China,
Kolumbia. Costa Rica, Cuba, Guyana, Madagaskar, Indonesia, dan Srilangka, memil
iki ranking HDI jauh di atas ranking penghasilannya (ditunjukkan oleh tanda posi
tif pada kolom ke-5). Keadaan ini memperlihatkan bahwa negara tersebut telah ban
yak menggunakan pendapatannya untuk meningkatkan kapabilitas manusianya. Dengan
demikian, indikator HDI jauh melebihi pertumbuhan konvensional. Memang suatu per
tumbuhan ekonomi adalah penting untuk mempertahankan kesejahteraan rakyatnya. Na
m un pertumbuhan bukan merupakan akhir dari pembangunan manusia. Pertumbuhan eko
nomi hanyalah satu alat yang penting. Akan tetapi yang lebih penting adalah baga
imana pertumbuhan ekonomi digunakan untuk memperbaiki kapabilitas manusianya, da
n pada gilirannya bagaimana rakyat menggunakan kapabilitasnya. Amartya Sen, seor
ang ahli 16

ekonomi

dari

Harvard,

menegaskan

bahwa

pembangunan

ekonomi

seharusnya

diterjemahkan sebagai suatu proses ekspansi dari kebebasan positif yang dinikmat
i oleh masyarakat. la mengamati bahwa masalah riil di NSB adalah menurunnya kual
itas kehidupan daripada rendahnya pendapatan. Sen menginterpretasikan pembanguna
n sebagai proses yang memperluas entitlement dan kapabilitas manusia untuk hidup
sesuai dengan yang diinginkannya. "Entitlement" adalah sejumlah komoditi yang d
apat diperoleh seseorang dalam masyarakat dengan menggunakan seluruh hak dan pel
uang yang dia miliki. "Kapabilitas" diartikan sebagai mencakup apa yang dapat ma
upun tidak dapat dilakukan, misalnya bebas dari kelaparan, dari kekurangan gizi,
partisipasi dalam masyarakat, bebas bepergian menengok teman, memperoleh tempat
tinggal yang memadai, dsb. Kendati HDI memberikan wawasan yang Iebih luas menge
nai pembangunan, Todaro (1995: h. 65) memberikan catatan berikut; Pertama, pembe
ntukan HDI sebagian didorong oleh strategi politik yang didesain untuk memfokusk
an perhatian pada aspek pembangunan kesehatan dan pendidikan. Kedua, ketiga indi
kator tersebut merupakan indikator yang bagus namun bukan ideal (misalnya, tim P
BB ingin menggunakan status nutrisi bagi anak berusia di bawah lima tahun sebaga
i indikator kesehatan yang ideal, tetapi datanya tidak tersedia). Ketiga, nilai
HDI suatu negara mungkin membawa dampak yang kurang menguntungkan karena mengali
hkan fokus dari masalah ketidakmerataan dalam negara tersebut. Keempat, alternat
if pendekatan yang memandang ranking GNP per kapita, dan kemudian melengkapinyad
engan indikator sosial lain masih dihargai. Kelima, kita harus selalu ingat bahw
a indeks ini merupakan indikator pembangunan yang "relatif", bukan absolut, sehi
ngga bila semua negara mengalami peningkatan pada tingkat tertimbang yang sama,
maka negara miskin tidak akan memperoleh penghargaan atas kemajuannya. BACAAN YA
NG DIANJURKAN Ardani, Amiruddin, Regional Development in Indonesia: Issues and C
hallenges, Discussion Paper No. 36, Nagoya University, Nagoya, 1996. Biro Pusat
Statistik, Profit Kesejahteraan Rakyat 1995, Jakarta, April 1996. , Indikator So
sial Wanita 1994, Jakarta, Januari 1996. IBRD, The East Asian Miracle: Economic
Growth and Public Policy, Oxford University Press, Oxford, 1993, bab 1. Kuncoro,
Mudrajad, Manajemen Keuangan lntemasional: Pengantar Ekonomi dan Bisnis Global,
BPFE, Yogyakarta, 1996, bab 10. Meier, Gerald M., Leading Issues in Economic De
velopment, edisi ke-6, Oxford University Press, New York, 1995, bab I. B. 17

BAB III TEORI PEMBANGUNAN Begitu kompleksnya pembangunan menyebabkan hingga saat
ini tidak ada satu teori pembangunan yang tepat diterapkan bagi semua negara di
dunia. Harus diakui, teori-teori pembangunan yang ada, khususnya di awal perkem
bangan cabang ilmu ekonomi ini, sangat didominasi oleh hasil pemikiran Para ekon
om Barat. Pola pikir dan buah pikiran seorang pakar tentunya tidak akan pernah l
epas dari tata nilai dan kondisi Iingkungan yang ada di sekitarnya. Demikian pul
a halnya dengan ekonom Barat yang mencoba memformulasikan strategi pembangunan d
alam suatu kerangka teori yang sistematis, di mana dasar dari teori yang mereka
hasilkan hanya dapat terpenu hi bila teori tersebut diterapkan di Barat. Itulah
sebabnya mengapa teori-teori pembangunan yang merupakan hasil pemikiran ekonom B
arat, pada banyak kasus ternyata kurang tepat diterapkan begitu saja di negara s
edang berkembang (NSB). Perbedaan tata nilai, sistem sosial; dan kondisi Iingkun
gan antara negara maju, yang umumnya di benua Eropa dan Amerika, dengan NSB yang
umumnya terletak di benua Afrika dan Asia, menyebabkan penerapan teori-teori pe
mbangunan yang ada banyak yang menjumpai "kegagalan". Lepas dari permasalahan te
rsebut, terdapat banyak teori pembangunan yang telah diformulasikan oleh para ek
onom, dan sulit untuk mengelompokkan teori-teori tersebut pada suatu aliran tert
entu. Dalam bab ini akan ditelusuri teori-teori dasar pembangunan yang ada, sesu
ai dengan pengelompokkan yang dilakukakan oleh Todaro (1991; 1994). Dalam pembah
asan mengenai teori pembangunan, khususnya pembangunan ekonomi, dikenal 4 pendek
atan yang dominan yaitu: (1) Teori pertumbuhan linear (linear stages of growth);
(2) Teori pertumbuhan struktural; (3) Teori revolusi ketergantungan internasion
al (dependensia); (4) Teori Neo-Klasik. 3.1. TEORI PERTUMBUHAN LINEAR Model pert
umbuhan linear mendominasi perkembangan teori pembangunan sejak pertama kali dik
emukakan oleh Adam Smith dan mengalami puncak kejayaannya dengan lahirnya teori
pertumbuhan yang dikemukakan oleh Rostow. Teori-teori pembangunan yang dikemukak
an oleh Adam Smith, Karl Marx, dan Rostow termasuk dalam model pertumbuhan linea
r. Dasar pemikiran dari model ini adalah evolusi proses pembangunan yang dialami
oleh suatu negara selalu melalui tahapan-tahapan tertentu. Tahapan-tahapan ters
ebut merupakan proses urutan seperti halnya aliran air sungai. Artinya, pentahap
an tersebut adalah mutlak

18

harus dilalui oleh suatu negara yang sedang membangun, di mana tahap-tahap pemba
ngunan tersebut harus dilalui satu-persatu secara berurutan menuju tingkat yang
semakin tinggi. 3.1.1. Teorl Pertumbuhan Adam Smith Adam Smith membagi tahapan p
ertumbuhan ekonomi menjadi 5 tahap yang berurutan, yaitu dimulai dari masa perbu
ruan, masa berternak, masa bercocoktanam, perdagangan dan yang terakhir adalah t
ahap perindustrian. Menurut teori ini, masyarakat akan bergerak dari masyarakat
tradisional ke masyarakat modern yang kapitalis. Dalam prosesnya, pertumbuhan ek
onomi akan semakin terpacu dengan adanya sistem pembagian keraja antarpelaku eko
nomi. Dalam hal ini Adam Smith memandang pekerja sebagai salah satu input (masuk
an) bagi proses produksi. Pembagian kerja merupakan titik central pembahasan dal
am teori Adam Smith, dalam upaya meningkatkan produktivitas tenaga kerja. Spesia
lisasi yang dilakukan oleh tiap-tiap pelaku ekonomi tidak lepas dari faktor-fakt
or pendorong yaitu: (1) peningkatan keterampilan pekerja, dan (2) penemuan mesin
-mesin yang menghemat tenaga. Spesialisasi akan terjadi jika tahap pembangunan e
konomi telah menuju ke sistem perekonomian modern yang kapitalistik. Meningkatny
a kompleksitas aktivitas ekonomi dan kebutuhan hidup di masyarakat, mengharuskan
masyarakat untuk tidak lagi melakukan semua pekerjaan secara sendiri, namun leb
ih ditekankan pada spesialisasi untuk menggeluti bidang tertentu. Dalam pembangu
nan ekonomi, modal memegang peranan yang penting. Menurut teori ini, akumulasi m
odal akan menentukan cepat atau lambatnya pertumbuhan ekonomi yang terjadi pada
suatu negara. Modal tersebut diperoleh dari tabungan yang dilakukan masyarakat.
Adanya akumulasi modal yang dihasilkan dari tabungan, maka pelaku ekonomi dapat
menginvestasikannya ke sektor dalam upaya untuk meningkatkan penerimaannya. Perl
u dicatat bahwa akumulasi modal dan investasi sangat bergantung pada pada perila
ku menabung masyarakat, sementara di sisi lain kemampuan menabung masyarakat dit
entukan oleh kemampuan menguasai dan mengeksplorasi sumberdaya yang ada. Artinya
bahwa orang yang mampu menabung pada dasarnya adalah kelompok masyarakat yang m
enguasai dan mengusahakan sumber-sumber ekonomi, yaitu para pengusaha dan tuan t
anah. Pekerja merupakan satu-satunya pelaku ekonomi yang tidak memiliki kemampua
n menabung karena mereka tidak mampu menguasai dan mengusahakan sumber-sumber ek
onomi yang ada. Menurut Adam Smith proses pertumbuhan akan terjadi secara simult
an dan memiliki hubungan keterkaitan satu dengan yang lain. Timbulnya peningkata
n kinerja pada suatu sektor akan meningkatkan daya tank bagi pemupukan modal, me
ndorong kemajuan 19

teknologi, meningkatkan spesialisasi, dan memperluas pasar. Hal ini akan mendoro
ng pertumbuhan ekonomi semakin pesat. Proses pertumbuhan ekonomi sebagai suatu "
fungsi tujuan" pada akhirnya harus tunduk terhadap "fungsi kendala" yaitu keterb
atasan sumberdaya ekonomi. Pertumbuhan ekonomi akan mulai mengalami perlambatan
jika daya dukung alam tidak mampu lagi mengimbangi aktivitas ekonomi yang ada. K
eterbatasan sumberdaya merupakan faktor yang dapat menghambat pertumbuhan ekonom
i tersebut, bahkan dalam perkembangannya hal tersebut justru menurunkan tingkat
pertumbuhan ekonomi. Penurunan pertumbuhan ekonomi akan terus terjadi karena mat
a rantai tabungan, akumulasi modal, dan investasi tetap terjalin dan berkaitan e
rat satu sama lain. Jika investasi rendah, maka kemampuan menabung akan turun, s
ehingga akumulasi modal akan mengalami penurunan pula. Jika hal tersebut terjadi
berarti laju investasi juga akan rendah dan akan menurunkan pertumbuhan ekonomi
. Akhirnya kapitalisme dalam hal ini akan berada pada kondisi stasioner, yaitu p
ada tingkat pertumbuhan sama dengan nol. Semua tahap pembangunan di atas tidak l
epas dari kondisi dasar , yaitu bahwa pasar yang dihadapi adalah persaingan semp
urna. Persaingan sempurna mempunyai karakteristik: (1) ada banyak penjual dan pe
mbeli di pasar; (2) produk yang diperjualbelikan bersifat homogen; (3) tidak ada
kolusi antara penjual maupun pembeli; (4) semua sumberdaya memiliki mobilitas s
empurna; (5) balk pembeli maupun penjual memiliki informasi sempurna mengenai ko
ndisi pasar (Awh, 1976, h. 242-3). Pasar persaingan sempurna pada dasarnya tidak
pernah ada di dunia. Suatu hal yang mustahil bagi perekonomian untuk berada pad
a kondisi di mana semua asumsi dasar persaingan sempurna berlaku. Penetapan asum
si tidak realistis ini adalah salah satu kelemahan teori pembangunan versi Adam
Smith. Teori pembangunan Adam Smith tidak dapat dilepaskan dari evolusi pentahap
an proses pembangunan yang terjadi secara berjenjang dan harus dilewati satu per
satu. Demikian pula halnya dengan tingkat pertumbuhan, yaitu dimulai suatu titi
k tertentu, kemudian secara lambat mulai peningkatan; laju pertumbuhan akan terj
adi secara cepat sampai titik optimal tertentu dan akan menurun hingga mencapai
titik nol. Pentahapan ini merupakan hal yang nampaknya tidak dapat ditawar-tawar
lagi. Kemungkinan terjadinya gelombang konjungtur dalam proses pertumbuhan ekon
omi nampaknya merupakan hal yang tidak mungkin menurut teori tersebut. Teori ter
sebut menetapkan bahwa akhir dari kapitalisme adalah kondisi stasioner, tanpa ke
mungkinan terjadinya gelombang konjungtur. Kritik lain mengenai teori pertumbuha
n Adam Smith ini adalah pembagian kelompok masyarakat yang secara eksplisit dapa
t menabung dan tidak dapat menabung hanya didasarkan pada jenis usaha yang digel
utinya. Sangat tidak realistis jika para pekerja diasumsikan tidak memiliki kema
mpuan untuk menabungkan uangnya dari sisa pendapatan 20

yang dibelanjakan. Adam Smith mengabaikan peran perbankan sebagai badan penghimp
un dan penyalur surplus Jana dari masyarakat, dan juga mengabaikan adanya kecend
erungan orang untuk menabung meski pendapatannya relatif tidak besar. Adam Smith
mengasumsikan hanya para tuan tanah dan pengusaha yang mampu melakukan aktivita
s menabung, untuk kemudian modal tersebut diinvestasikan ke sektor riil. Dalam h
al ini secara implisit Adam Smith menyatakan bahwa gaji pekerja demikian kecilny
a, sementara di sisi lain laba pengusaha demikian besarnya sehingga mereka mampu
mengakumulasikan modalnya. Artinya dalam sistem ekonomi kapitalis posisi tawar-
menawar (bargaining position) pekerja terhadap pengusaha relatif sangat kecil. J
ika hal ini terjadi maka konsekuensinya adalah terjadi ekploitasi para pengusaha
terhadap para pekerja. Asumsi ini menunjukkan "kekejaman" teori Adam Smith deng
an sistem ekonomi kapitalisnya. Suatu hal yang "menyakitkan" bahwa dalam suatu s
istem yang diciptakan manusia terjadi eksploitasi manusia atas manusia lain. Let
ak ketidakadilan sistem tersebut adalah pada diskriminasi kesempatan untuk menab
ung, yang berkaitan erat dengan diskriminasi kemampuan penguasaan faktor produks
i dan konsumsi sumberdaya. 3.1.2. Teori Pembangunan Karl Marx Karl Marx dalam bu
kunya Das Kapital membagi evolusi perkembangan masyarakat menjadi tiga, yaitu di
mulai dari feodalisme, kapitalisme dan kemudian yang terakhir adalah sosialisme.
Evolusi perkembangan masyarakat ini akan sejalan dengan proses pembangunan yang
dilaksanakan. Masyarakat feodalisme mencerminkan kondisi di mana perekonomian y
ang ada masih bersifat tradisional. Dalam tahap ini tuan tanah merupakan pelaku
ekonomi yang memiliki posisi tawar menawar tertinggi relatif terhadap pelaku eko
nomi lain. Perkembangan teknologi yang ada menyebabkan terjadinya pergeseran di
sektor ekonomi, di mana masyarakat yang semula agraris-feodal kemudian mulai ber
alih menjadi masyarakat industri yang kapitalis. Seperti halnya pada masa feodal
, pada masa kapitalisme ini para pengusaha merupakan pihak yang memiliki tingkat
posisi tawar menawar tertinggi relatif terhadap pihak lain khususnya kaum buruh
. Mark menyesuaikan asumsinya terhadap cara pandang ekonomi Klasik ketika itu de
ngan memandang buruh sebagai salah satu input dalam proses produksi. Artinya bur
uh tidak memiliki posisi tawar menawar sama sekali terhadap para majikannya, yan
g merupakan kaum kapitalis. Konsekuensi logis penggunaan asumsi dasar tersebut a
dalah kemungkinan terjadinya eksploitasi besar-besaran yang dilakukan para pengu
saha terhadap buruh. Di sisi lain, pada masa itu pemupukan modal kemudian menjad
i kata kunci bagi upaya peningkatan 21

pendapatan yang lebih besar di masa yang akan datang. Sejalan dengan perkembanga
n teknologi, para pengusaha yang menguasai faktor produksi akan berusaha memaksi
malkan keuntungannya dengan menginvestasikan akumulasi modal yang diperolehnya p
ada input modal yang bersifat padat kapital. Eksploitasi terhadap kaum buruh dan
peningkatan pengangguran yang terjadi akibat subtitusi tenaga manusia dengan in
put modal yang padat kapital, pada akhirnya akan menyebabkan revolusi sosial yan
g dilakukan oleh kaum buruh. Fase ini merupakan tonggak baru bagi munculnya suat
u tatanan sosial alternatif di samping tata masyarakat kapitalis, yaitu tata mas
yarakat sosialis. Sepanjang teori pembangunan yang dikemukakannya, Marx selalu m
endasarkan argumennya pada asumsi bahwa masyarakat pada dasarnya terbagi menjadi
dua golongan, yaitu : masyarakat pemilik tanah dan masyarakat bukan pemilik tan
ah, masyarakat pemilik modal dan masyarakat bukan pemilik modal. Asumsi lain yan
g mendukung adalah bahwa di antara kedua kelompok masyarakat tersebut sebenarnya
terjadi konflik kepentingan di antara mereka. Oleh karena itu dalam pola berpik
irnya, Marx selalu mendasarkan teorinya pada kondisi pertentangan antarkelas dal
am masyarakat. Menurut Marx, kemampuan para pengusaha untuk melakukan akumulasi
modal teletak pada kemampuan mereka dalam memanfaatkan nilai lebih dari produkti
vitas buruh yang dipekerjakan. Nilai buruh yang dinyatakan dalam bentuk upah mer
upakan jumlah tenaga yang diperlukan untuk menghasilkan tenaga buruh tersebut. A
rtinya upah akan sama dengan nilai sarana kehidupan yang diperlukan seorang buru
h untuk mempertahankan kehidupannya. Pada kenyataannya nilai upah yang diberikan
jauh lebih kecil dibandingkan dengan produktivitas buruh tersebut dalam suatu p
roses produksi. Selisih antara nilai produktivitas buruh dan nilai tenaga buruh
yang dinyatakan dalam bentuk upah inilah yang kemudian disebut dengan nilai lebi
h. Nilai lebih merupakan keuntungan yang diperoleh oleh para pengusaha. Karena t
ingkat keuntungan yang diperoleh oleh para pengusaha adalah fungsi dari nilai le
bih, maka untuk memaksimalkan keuntungan, para pengusaha tidak akan segan-segan
mengeksploitasi pekerja. Nilai lebih akan meningkat jika upah diturunkan atau pr
oduktifitas dinaikkan dengan asumsi semua faktor lain tidak berubah. Penurunan u
pah buruh nampaknya sulit untuk dilakukan mengingat tingkat upah yang terjadi pa
da masa kapitalisme semata-mata diberikan agar buruh tetap hidup dan dapat beker
ja. Artinya penetapan upah tersebut tidak lebih besar daripada kebutuhan hidup p
ada tingkat subsisten. Hal ini merupakan dampak dari asumsi dasar bahwa buruh di
pandang seperti input yang lain.

22

Upaya untuk memaksimalkan keuntungan yang nantinya akan diakumulasikan dalam ben
tuk kapital, yang pada akhirnya akan diinvestasikan kembali oleh para pengusaha,
hanya dapat dilakukan dengan cara meningkatkan produktivitas kerja. Peningkatan
efisiensi kerja ini tidak terlepas dari kondisi pasar yang kian kompetitif. Sem
akin sengitnya persaingan antarpara pemilik modal akan menjurus pada upaya mere
but pangsa pasar sebesar-besarnya. Jika diasumsikan bahwa kualitas barang yang d
iperdagangkan adalah homogen, maka produsen hanya dapat melaksanakan strategi pe
nurunan harga output sebagai upaya menguasai pasar. Prasyarat untuk kondisi sema
cam itu adalah sistem produksi yang semakin efisien dan produktif. Dengan kata l
ain, peningkatan produktivitas kerja dan efisiensi produksi merupakan hal yang t
idak dapat ditawar-tawar lagi. Hal tersebut dapat dilakukan dengan investasi khu
susnya pada barang modal yang bersifat padat kapital untuk meningkatkan produkti
vitas kerja tersebut. Konsekuensinya pengusaha akan menurunkan penggunaan tenaga
buruh dan diganti dengan penggunaan mesin-mesin yang lebih produktif dan efisie
n. Akibat penggunaan mesin-mesin tersebut tingkat pengangguran akan semakin meni
ngkat, dan Jaya bell masyarakat akan semakin menurun akibat semakin banyaknya ti
ngkat pengangguran yang terjadi. Akumulasi ketertindasan kaum buruh dalam pereko
nomian kapitalis yang terus dieksploitasi, meningkatnya pengangguran, dan ditamb
ah konflik antarkelas masyarakat yang terus terjadi, maka Marx kemudian menyimpu
lkan bahwa kapitalisme akan berakhir dengan timbulnya revolusi sosial yang dilak
ukan oleh kaum buruh. Revolusi ini akan membawa perubahan mendasar pada segala b
idang, terutama pada sistem produksi dan pemilikan sumberdaya. Akumulasi modal d
alam sistem kapitalis akan dig anti dengan pemerataan kesempatan pemilikan sumbe
rdaya, individualis dalam masyarakat kapitalis akan berubah menjadi sistem kemas
yarakatan yang sosialis. Pada tahap ini, Marx menawarkan suatu sistem baru yaitu
sistem perekonomian sosialis, sebagai alternatif dari sistem kapitalis yang saa
t itu merupakan satu-satunya sistem perekonomian yang dikenal. Kritik terhadap t
eori Marx terutama tertuju pada asumsi adanya nilai lebih dalam suatu perekonomi
an. Dalam dunia nyata tidak dikenal adanya istilah nilai lebih ini, karena meman
g di dunia nyata kita berkutat dengan harga yang terwujud dan nyata. Jadi Marx d
alam hal ini telah menciptakan dunia nilai yang abstrak yang membuat teorinya ag
ak "sukar dan kaku" untuk memahami bekerjanya kapitalisme (Jhingan, 1988, h.151)
Kritik lain adalah adanya keharusan perubahan dari masyarakat kapitalis menuju
sosialis hanya dapat dilakukan dengan jalan revolusi. Haruskah suatu upaya untuk
menuju kepada suatu kondisi yang "dianggap" baik harus dilakukan dengan revolus
i yang tentunya akan 23

membawa korban yang besar? Apakah sudah tidak ada lagi kejernihan pemikiran dari
kedua belah pihak untuk berdialog satu dengan yang lain? Kekakuan Marx dalam me
ndeskripsikan proses perubahan dari masyarakat agraris-feodal menuju masyarakat
kapitalis dan terakhir adalah masyarakat sosialis, nampaknya sangat diwarnai sub
yektivitas dan kebencian Marx terhadap sistem kapitalis. Itulah sebabnya mengapa
Marx mendiskripsikan bahwa kehancuran kapitalis yang akan digantikan oleh sosia
lis harus melalui suatu revolusi. Artinya Marx tidak menginginkan keberadaan par
a pengusaha yang berjaya di masa kapitalis untuk menghirup udara sosialisme, men
gingat revolusi kaum buruh jelas-jelas melawan kaum pengusaha tersebut. Kendati
demikian, ternyata Marx justru banyak menyumbang terhadap kelanggengan kehidupan
ekonomi kapitalis. Dengan adanya kritik dan sinyalemen terhadap perkiraan dampa
k negatif sistem kapitalis, terutama terhadap buruh, maka hal tersebut justru me
njadi masukan bagi ekonom kapitalis untuk menyempurnakan sistem yang ada, hingga
dampak negatif yang digambarkan Marx dapat dihindari. Marx merupakan orang pert
ama yang memberikan gambaran sisi negatif dari sistem kapitalisme jika sistem te
rsebut diterapkan berdasarkan perhitungan ekonomi semata tanpa mempertimbangkan
unsur kemanusiaan dan nilai sosial kemasyarakatan. Marx menunjukkan kepada dunia
bahwa tahap pembangunan ekonomi tidaklah semulus yang diperkirakan sebelumnya.
Untuk mencapai perekonomian sosialis, terlebih dahulu harus melewati tahap depre
si ekonomi akibat kapitalisme yang merajalela tanpa kendali. Toeri Marx tentang
depresi ekonomi inilah yang pada akhirnya justru memperkuat argumentasi Keynes y
ang merekomendasikan peningkatan peran pemerintah bagi upaya mengatasi depresi e
konomi yang ada.

3.1.3. Teori Pertumbuhan Rostow Teori pertumbuhan ekonomi yang dikemukakan oleh
Walt Whitman Rostow merupakan garda depan dari linear stage of growth theory. Pa
da dekade 1950-1960, teori Rostow banyak mempengaruhi pandangan dan persepsi par
a ahli ekonomi mengenai strategi pembangunan yang harus dilakukan. Teori Rostow
didasarkan pada pengalaman pembangunan yang telah dialami oleh negara-negara maj
u terutama di Eropa. Dengan mengamati proses pembangunan di negara- negara Eropa
dari mulai abad pertengahan hingga abad modern, maka kemudian Rostow memformula
sikan pola pembangunan yang ada menjadi tahap-tahp evolusi dari suatu pembanguna
n ekonomi yang dilakukan oleh negara-negara tersebut.

24

Rostow membagi proses pembangunan ekonomi suatu negara menjadi lima tahap yaitu:
(1) Tahap perekonomian tradisional; (2) Tahap prakondisi tinggal landas; (3) Ta
hap tinggal landas; (4) Tahap menuju kedewasaan; (5) Tahap konsumsi massa tinggi
. Berikut ini akan diuraikan masing-masing tahapan ini. Tahap L Perekonomian Tra
disional Perekonomian pada masyarakat tradisional cenderung bersifat subsisten.
Pemanfaatan teknologi dalam sistem produksi masih sangat terbatas. Dalam perekon
omian semacam ini sektor pertanian memegang peranan penting. Masih rendahnya pem
anfaatan teknologi dalam proses produksi menyebabkan barangbarang yang diproduks
i sebagian besar adalah komoditas pertanian dan bahan mentah Iainnya. Struktur s
osial kemasyarakatan dalam sistem masyarakat seperti ini bersifat berjenjang. Ke
mampuan penguasaan sumberdaya yang ada sangat dipengaruhi oleh hubungan darah da
n keluarga. Tahap II. Prakondisi Tinggal Landas Tahap kedua dari proses pertumbu
han Rostow ini pada dasarnya merupakan proses transisi dari masyarakat agraris m
enuju masyarakat industri. Sektor industri mulai berkembang di samping sektor pe
rtanian yang masih memegang peranan penting dalam perekonomian. Tahap kedua ini
merupakan tahap yang menentukan bagi persiapan menuju tahap-tahap pembangunan be
rikutnya, yaitu tahap tinggal landas. Sebagai tahapan yang berfungsi mempersiapk
an dan memenuhi prasyaratprasyarat pertumbuhan swadaya, diperlukan adanya semang
at baru dari masyarakat. Menurut pengamatan Rostow, negara-negara di Eropa menga
lami tahap kedua ini kira-kira pada abad ke-1 5 sampai ke-1 6. Pada saat itu ter
jadi terjadi perubahan radikal dalam masyarakat Eropa dengan munculnya semangat
Renaissance. Semangat ini telah membalikkan semua tata nilai
masyarakat Eropa saat itu yang cenderung statis menjadi sangat dinamis. Perubaha
n paradigma berfikir nampaknya merupakan istilah yang Iebih tepat untuk menilai
fenomena itu.

Pada tahap ini, perekonomian mulai bergerak dinamis, industri-industri bermuncul
an, perkembangan teknologi yang pesat, dan lembaga keuangan resmi sebagai pengge
rak Jana masyarakat mulai bermunculan, serta terjadi investasi besar-besaran ter
utama pada industri manufaktur. Tahap ini merupakan tonggak dimulainya industria
lisasi. lndustrialisasi dapat dipertahankan jika dipenuhi prasyarat sebagai beri
kut: pertama, peningkatan investasi di sektor infrastruktur/prasarana terutama p
rasaran transportasi; kedua, terjadi revolusi teknologi di bidang pertanian untu
k memenuhi peningkatan permintaan penduduk kota yang semakin 25

besar; ketiga, perluasan impor, termasuk impor modal, yang dibiayai oleh produks
i yang efisien dan pemasaran sumber alam untuk ekspor. Proses pembangunan dan in
dustrialisasi yang berkelanjutan akan terjadi dengan menanamkan kembali keuntung
an yang diptroleh dalam sektor yang menguntungkan. Tahap lll. Tinggal Landas Tin
ggal landas merupakan tahap yang menentukan dalam keseluruhan proses pembangunan
dalam keseluruhan proses pembangunan bagi kehidupan masyarakat. Pengalaman nega
ra-negara Eropa menunjukkan bahwa tahap ini berlaku dalam waktu yang relatif pen
dek yaitu kira-kira dua dasawarsa. Dalam tahap ini akan terjadi suatu revolusi i
ndustri yang berhubungan erat dengan revolusi metode produksi. Tinggal landas di
definisikan sebagai tiga kondisi yang sating berkaitan sebagai berikut : 1. 2. 3
. Kenaikan laju investasi produktif antara 5-10 persen dari pendapatan nasional;
Perkembangan salah satu atau beberapa sektor manufaktur penting dengan laju per
tumbuhan tinggi; Hadirnya secara cepat kerangka politik, sosial, dan institusion
al yang menimbulkan hasrat ekspansi di sektor modern, dan dampak eksternalnya ak
an memberikan daya dorong pada pertumbuhan ekonomi. Prasyarat pertama dan kedua
sangat berkaitan erat satu sama lain. Kenaikan laju investasi produktif antara 5
-10 persen dari GNP pada akhirnya akan menyebabkan pertumbuhan yang tinggi pada
sektor-sektor dalam perekonomian, khususnya sektor manufaktur. Sektor manufaktur
diharapkan memiliki tingkat pertumbuhan tertinggi karena sektor tersebut merupa
kan indikator bagi perkembangan industrialisasi yang yang dilakukan. Di samping
itu sektor manufaktur adalah sektor yang memiliki keterkaitan terbesar dengan se
ktor-sektor lain. Jika sektor manufaktur berkembang pesat, maka sektor-sektor la
in pun akan terpengaruh untuk berkembang pesat pula. Pada akhirnya pertumbuhan y
ang tinggi pada semua sektor ini akan berakibat pada perkembangan GNP yang lebih
tinggi dari kondisi semula. Prasyarat ketiga merupakan kondisi yang harus dipen
uhi agar prasyarat pertama dan kedua dapat terpenuhi dengan baik. Prasyarat keti
ga merupakan "iklim" yang memungkinkan terpenuhinya prasyarat pertama dan kedua
terpenuhi. Tanpa terpenuhinya prasyarat ketiga, praktis prasyarat pertama dan ke
dua tidak akan terpenuhi. Prasyarat ketiga ini menunjukkan kesadaran Rostow bahw
a perubahan perekonomian pada dasarnya merupakan konsekuensi dari perubahan moti
f dan inspirasi nonekonomi dari seluruh lapisan masyarakat. Artinya perubahan ek
onomi dalam skala besar tidak akan terjadi selama tidak ada iklim kondusif 26

yang memungkinkan perubahan tersebut. lklim kondusif tersebut adalah perubahan f
aktorfaktor nonekonomi dari masyarakat yang sejalan dengan proses pertumbuhan ek
onomi yang terjadi. Tahap IV. Tahap Menuju Kedewasaan Tahap ini ditandai dengan
penerapan secara efektif teknologi modern tertfadap sumberdaya yang dimiliki. Ta
hapan ini merupakan tahapan jangka panjang di mana produksi dilakukan secara swa
daya. Tahapan ini juga ditandai dengan munculnya beberapa sektor penting yang ba
ru. Pada saat negara berada pada tahap kedewasaan teknologi, terdapat tiga perub
ahan penting yang terjadi: (1) Tenaga kerja berubah dari tidak terdidik menjadi
terdidik; (2) Perubahan watak pengusaha dari pekerja keras dan kasar berubah men
jadi manager efisien yang halus dan sopan; (3) Masyarakat jenuh terhadap industr
ialisasi dan menginginkan perubahan lebih jauh. Tahap V. Tahap Konsumsi Massa Ti
nggi Tahap konsumsi massa tinggi merupakan akhir dari tahapan pembangunan yang d
ikemukakan oleh Rostow. Pada tahap ini akan ditandai dengan terjadinya migrasi b
esarbesaran dari masyarakat pusat perkotaan ke pinggiran kota, akibat pembanguna
n pusat kota sebagai sentral bagi tempat bekerja. Penggunaan alat transportasi p
ribadi maupun yang bersifat transportasi umum seperti halnya kereta api merupaka
n suatu hal yang sangat dibutuhkann. Pada fase ini terjadi perubahan orientasi d
ari pendekatan penawaran (supply side) menuju ke pendekatan permintaan (demand s
ide) dalam sistem produksi yang dianut. Sementara itu terjadi pula pergeseran pe
rilaku ekonomi yang semula lebih banyak menitikberatkan pada sisi produksi, kini
beralih ke sisi konsumsi. Orang mulai berfikir bahwa kesejahteraan bukanlah per
masalahan individu, yang hanya dipecahkan dengan mengkonsumsi barang secara indi
vidu sebanyak mungkin, namun lebih dari itu mereka memandang kesejahteraan dalam
cakupan yang lebih luas yaitu kesejahteraan masyarakat bersama dalam arti luas.
Terlepas dari permasalahan di atas terdapat tiga kekuatan utama yang cenderung
meningkatkan kesejahteraan dalam tahap konsumsi besar-besaran ini (Jhingan, 1988
: h.188): 1.
2.

Penerapan kebijakan nasional guna meningkatkan kekuasaan dan pengaruh melampaui
batas-batas nasional; Ingin memiliki satu negara kesejahteraan (welfare state) d
engan pemerataan pendapatan nasional yang lebih adil melalui pajak progresif, pe
ningkatan jaminan sosial, dan fasilitas hiburan bagi para pekerja; 27

3. Keputusan untuk membangun pusat perdagangan dan sektor penting seperti mobil,
jaringan rel kereta api, rumah murah, dan berbagai peralatan rumah tangga yang
menggunakan listrik dan sebagainya. Amerika merupakan satu-satunya negara yang p
ertama kali mencapai era konsumsi massa tinggi ini, yaitu sekitar tahun 1920. Ha
l yang sama kemudian diikuti oleh beberapa negara Eropa Barat. Satu-satunya nega
ra di Asia yang telah mencapai tahap tersebut adalah Jepang. Kritik Terhadap Teo
ri Rostow Pentahapan pembangunan seperti yang digambarkan oleh Rostow adalah sis
tem pentahapan di mana suatu tahapan tidak dapat terjadi tanpa melalui tahapan y
ang lain. Tahap kedua tidak dapat terjadi tanpa tahap pertama, tahap ketiga tida
k akan terjadi tanpa tahap kedua dan seterusnya. Hal ini terjadi karena teori pe
rtumbuhan Rostow merupakan pola penggambaran sejarah pembangunan yang dilakukan
negara-negara di Eropa yang
memiliki struktur sosial dan budaya yang mapan. Kondisi tersebut tidak terjadi p
ada negara-negara di Asia dan Afrika yang belum memiliki sistem sosial yang tera
tur. lnteraksi kebudayaan Barat, akibat kolonialisme, dalam kebudayaan Timur (ne
gara sedang berkembang di Asia dan Afrika), menyebabkan tahapan dalam teori Rost
ow terjadi secara simultan. Ketika di daerah perkotaan modern di negara sedang b
erkembang sudah berada pada tahap tinggal landas, bahkan lebih tinggi lagi, seme
ntara itu di daerah perdesaan sistem perekonomian dan kemasyarakatan masih berad
a pada tahap tradisional. Di daerah perkotaan berkembang sistem sosial yang tela
h berkiblat pada sistem sosial Barat. Pada saat yang bersamaan, di perdesaan san
gat diwarnai sistem sosial tradisional.

Kenyataannya, ada negara-negara di dunia yang tidak pernah melewati tahap pertam
a dari pertumbuhan ekonomi Rostow, namun langsung menginjak tahap kedua. Amerika
Serikat dan Australia merupakan negara yang mengalami pola pertumbuhan ini. Hal
ini terjadi karena keduanya merupakan benua "temuan" orang-orang Eropa, di mana
penduduknya yang saat ini ada adalah orang-orang Eropa yang kemudian mentransfe
r ilmu dan pengetahuannya ke benua tersebut. Kritik gencar terhadap teori Rostow
dikemukakan oleh Simon Kuznets (1989). Pertanyaan kritis yang diajukan Kuznets
adalah: "Bagaimana mungkin suatu desain sederhana dapat menjadi suatu rangkuman
diskriptif atau klasifikasi analitik dari suatu perubahan historis yang beragam
dan bervariasi?" Kusnetz juga mencatat kemiripan dan perbedaan antara teori Rost
ow dengan Marx. 28

Teori Rostow pada dasarnya merupakan alternatif bagi teori Marx, di mana Rostow
menawarkan Communism Manifesto. Pada dasarnya terdapat beberapa kesamaan antara
teori Marx dan Rostow. Pertama, kedua teori tersebut dengan berani menginterpret
asikan evolusi sosial khususnya di sektor ekonomi. Kedua, balk Marx maupun Rosto
w telah mencoba mengeksplorasi permasalahan dan konsekuensi dari pembangunan sos
ial yang dilakukan. Ketiga, kedua ekonom tersebut menyadari bahwa perubahan sist
em ekonomi pada dasarnya merupakan konsekuensi logis dari perubahan yang terjadi
di bidang politik, kebudayaan, dan sosial. Sementara di sisi lain perubahan sis
tem ekonomi akan berpengaruh juga terhadap kehidupan politik, kondisi budaya dan
sosial masyarakat. Meski kedua teori banyak memiliki kesamaan, namun keduanya t
idak lepas dari perbedaan satu dengan yang lain. Pertama, Marx memandang bahwa m
an usia bersifat sangat kompleks yang memiliki berbagai dimensi kebutuhan dari e
konomi sampai budaya. Di sisi lain, Rostow mempersempit dimensi manusia menjadi
satu yaitu sebagai homo economicus. Meski demikian Rostow sadar bahwa perubahan
ekonomi yang sangat besar harus dipandang sebagai konsekuensi dari perubahan mot
if dan inspirasi dimensi nonekonomi dari manusia. Kedua, Marx mendasarkan teorin
ya pada sistem konflik antarkelas masyarakat, eksploitasi satu kelompok manusia
terhadap kelompok yang lain, dan adanya tekanantekanan semacam itu yang melekat
pada sistem kapitalis. Sementara itu, Rostow lebih implisit dalam memandang inte
raksi kelas masyarakat dalam sistem kapitalis mengingat Rostow sendiri adalah ek
onom yang berkiblat ke kapitalis. Ketiga, Marx mengasumsikan bahwa keputusan yan
g diambil oleh masyarakat semata-mata hanyalah fungsi dari siapa pemilik sumberd
aya. Artinya perubahan ekonomi hanyalah merupakan fenomena yang hanya dipengaruh
i oleh perubahan motif dan inspirasi ekonomis kelas masyarakat penguasa sumberda
ya saja. Di sisi lain, Rostow memandang bahwa perubahan ekonomi pada dasarnya me
rupakan konsekuensi logis dari perubahan motif dan inspirasi nonekonomi yang ter
jadi pada seluruh lapisan masyarakat. Begitu panjangnya kritik terhadap teori Ro
stow, tidak berlebihan bila dikatakan kritikkritik tersebut lebih panjang daripa
da teori Rostow sendiri. Kendati demikian, harus diakui pola pemikiran maupun is
tilah-istilah Rostow telah mempengaruhi pola pemikiran di banyak negara sedang b
erkembang. Aspek yang terlupakan dalam teori Rostow adalah peran sentral bantuan
luar negeri yang berfungsi sebagai penutup kesenjangan tabungan-investasi dan k
esenjangan devisa. Rostow sendiri ketika diundang Bank Dunia (1984) untuk dimint
ai tangapannya mengenai hal ini menilai bahwa bantuan luar negeri merupakan sala
h satu faktor kritis dalam pembangunan negara sedang berkembang. Tidak mengheran
kan bila is 29

menambahkan syarat tinggal landas bagi negara sedang berkembang sebagai berikut
(Rostow dalam Meier dan Seers, 1984: h.239): The concept of take-off suggested t
he possibility that developing countries would eventually move to self-sustained
growth when soft loan would no longer be required. 3.2. TEORI PERUBAHAN STRUKTU
RAL Teori perubahan struktural menitikberatkan pembahasan pada mekanisme transfo
rmasi ekonomi yang dialami oleh negara sedang berkembang, yang semula lebih bers
ifat subsisten dan menitikberatkan pada sektor pertanian menuju ke struktur pere
konomian yang lebih modern, dan sangat didominasi oleh sektor industri dan jasa
(Todaro, 1991: h.68). Dua teori utama yang menggunakan pendekatan perubahan stru
ktural akan kita bahas berikut ini , yaitu teori pembangunan yang dikemukakan ol
eh Arthur Lewis dengan teori migrasi, dan Hollis Chenery dengan teori transforma
si struktural. 3.2.1. Teori Pembangunan Arthur Lewis Teori pembangunan Arthur Le
wis pada dasarnya membahas proses pembangunan yang terjadi antara daerah kota da
n desa, yang mengikutsertakan proses urbanisasi yang terjadi di antara kedua tem
pat tersebut. Teori ini juga membahas pola investasi yang terjadi di sektor mode
rn dan juga sistem penetapan upah yang berlaku di sektor modern, yang pada akhir
nya akan berpengaruh besar terhadap arus urbanisasi yang ada. Mengawali teorinya
, Lewis mengasumsikan bahwa perekonomian suatu negara pada dasarnya akan terbagi
menjadi dua yaitu: 1. Perekonomian Tradisional Dalam teorinya Lewis mengasumsik
an bahwa di daerah perdesaan, dengan perekonomian tradisionalnya, mengalami surp
lus tenaga kerja. Surplus tersebut erat kaitannya dengan basis utama perekonomia
n yang diasumsikan berada di dari perekonomian tradisional adalah bahwa tingkat
hidup masyarakat berada pada kondisi subsisten akibat perekonomian yang bersifat
subsisten pula. Hal ini ditandai dengan nilai nilai produk marginal (marginal p
roduct) dari tenaga kerja yang bernilai nol, artinya fungsi produksi pada sektor
pertanian telah sampai pada tingkat berlakunya hukum law of diminishing return.
Kondisi ini menunjukkan bahwa penambahan input variabel, dalam hal ini tenaga k
erja, justru akan menurunkan total produksi yang ada. Di sisi lain, pengurangan
jumlah tenaga kerja yang dipekerjakan di sektor pertanian tidak akan mengurangi
tingkat produksi yang ada, akibat proporsi input variabel tenaga kerja yang

30

terlalu besar. Dalam perekonomian semacam ini, pangsa semua pekerja terhadap out
put yang dihasilkan adalah sama. Dengan demikian, nilai upah riil ditentukan ole
h nilai rata-rata produk marginal, dan bukan oleh produk marginal dari tenaga ke
rja itu sendiri. 2. Perekonomian Industri Perekonomian ini terletak di perkotaan
, di mana sektor yang berperan penting adalah sektor industri. Ciri dari perekon
omian ini adalah tingkat produktivitas yang tinggi dari input yang digunakan, te
rmasuk tenaga kerja. Hal ini menyiratkan bahwa nilai produk marginal terutama da
ri tenaga kerja, bernilai positif. Dengan demikian, perekonomian perkotaan akan
merupakan daerah tujuan bagi para pekerja yang berasal dari perdesaan, karena ni
lai produk marginal dari tenaga kerja yang positif menunjukkan bahwa fungsi prod
uksi belum berada pada tingkat optimal yang mungkin dicapai. Jika ini terjadi, b
erarti penambahan tenaga kerja pada sistem produksi yang ada akan meningkatkan o
utput yang diproduksi. Dengan demikian industri di perkotaan masih menyediakan l
apangan pekerjaan, dan ini akan berusaha dipenuhi oleh penduduk perdesaan dengan
jalan berurbanisasi. Lewis mengasumsikan pula bahwa tingkat upah di kota 30 per
sen lebih tinggi daripada tingkat upah di perdesaan, yang relatif bersifat subsi
sten dan tingkat upah cenderung tetap, sehingga bentuk kurva penawaran tenaga ke
rja akan berbentuk horisontal. Perbedaan upah tersebut jelas akan melengkapi Jay
a tarik untuk melakukan urbanisasi Perbedaan tenaga kerja dari desa ke kota dan
pertumbuhan pekerja di sektor modern akan mampu meningkatkan ekspansi output yan
g dihasilkan di sektor modern tersebut. Percepatan ekspansi output sangat ditent
ukan oleh tingkat investasi di sektor industri dan akumulasi modal yang terjadi
di sektor modern. Akumulasi modal yang nantinya digunakan untuk investasi hanya
akan terjadi jika terdapat ekses keuntungan (profit) pada sektor modern, dengan
asumsi bahwa pemilik modal akan menginvestasikan kembali modal yang ada ke indus
tri tersebut. Model pertumbuhan dua sektor Lewis dapat dilihat pada Gam bar 3-1.
Diagram 3-1a menunjukkan sistem perekonomian kota-modern dan diagram 3.1 b menu
njukkan sistem perekonomian pertanian yang tradisional. Diagram sebelah kanan at
as menunjukkan tingkat subsistensi produksi bahan makan pada berbagai tingkat pe
nggunaan input tenaga kerja. Hal ini merupakan ciri khusus dari fungsi produksi
yang dihadapi di sektor pertanian, di mana total produk bahan pangan (Tpa) diten
tukan hanya oleh perubahan penggunaan input variabel, dalam hal ini diasumsikan
input tenaga kerja merupakan merupakan satu-satunya input yang bersifat variabel
, dengan input kapital 31

dan tenaga kerja yang bersifat konstan. Diagram bawah kanan menunjukkan kurva pr
oduksi rata-rata (AP) dan produksi marginal (MP) tenaga kerja dalam perekonomian
tradisional tersebut, yang diderivasi dari kurva tingkat produksi total. Jumlah
tenaga kerja di sektor pertanian yang tersedia (0Ia) adalah sama pada kedua sis
i horisontal kedua diagram tersebut. Lewis mengasumsikan bahwa 80 persen hingga
90 persen penduduk dalam negara tersebut tinggal di perdesaan. dan menggantungka
n hidupnya pada sektor pertanian (Todaro, 1991: h.69). Lewis menggunakan dua asu
msi utama untuk menjelaskan perekonomian tradisional. Pertama, karena terjadi su
rplus tenaga kerja, maka nilai produk marginal dari tenaga kerja (Mpla) bernilai
nol. Kedua, semua tenaga kerja di perdesaan memiliki sumbangan/pangsa yang sama
terhadap output yang dihasilkan, sehingga upah tidak didasarkan pada produk mar
ginal tetapi lebih pada produk rata-rata dari tenaga kerja tersebut. Dasumsikan
bahwa sejumlah OLa(=O'La) pekerja di sektor pertanian memproduksi sebanyak 07 ba
han makanan, yang sama artinya dengan pembagian secara proporsional terhadap sem
ua orang sebanyak OA per orang. Hal in i menunjukkan bahwa OA adalah tingkat ava
rage product yang ekuivalen dengan pembagian antara O'T/O'La. Nilai marginal pro
duct pekerja Ola bernilai nol, seperti ditunjukkan pada diagram kanan bawah. Dia
gram sebelah kiri atas (3-1a) menunjukkan kurva tingkat total produk dari sektor
modern. Output dari komoditas manufaktur (Tpm) di sektor modern merupakan fungs
i dari input tenaga kerja yang bersifat variabel (Lm), pada tingkat kapital (K)
dan teknologi (t) yang tetap. Jumlah tenaga kerja yang digunakan untuk menghasil
kan total produk sebesar O'TP1 pada saat jumlah kapital mencapai K1 adalah sebes
ar O'L1. Sesuai dengan teori Lewis, tingkat akumulasi kapital akan terus meningk
at dari K1 ke k2 dan seterusnya, karena berlakunya asumsi bahwa pengusaha akan m
enginvestasikan kembali keuntungannya ke industri tersebut.

32

Hal ini akan menyebabkan total produk akan meningkat dari TP1 ke TP2 dan seterus
nya. Dengan kurva total produk yang ada akan dapat diturunkan kurva produk margi
nal. Dalam pasar tenaga kerja yang bersifat persaingan sempurna di sektor modern
maka kurva produk marginal akan menunjukkan kurva permintaan tenaga kerja (Toda
ro, 1991: h.70-71). Segmentasi sebesar OA pada diagram 3.1a dan 3.1b bagian bawa
h, menunjukkan tingkat subsistensi pendapatan di sektor pertanian yang tradisioa
nal. Segmentasi OW menunjukkan tingkat upah riil yang terjadi di sektor perkotaa
n. Dengan konfigurasi upah seperti itu, penawaran tenaga kerja di sektor perdesa
an diasumsikan memiliki elastisitas yang sempurna, atau dengan kata lain penawar
an tenaga kerja adalah tidak terbatas. Tingkat upah sektor perkotaan yang lebih
tinggi daripada upah riil di perdesaan, akan menyebabkan perpindahan tenaga kerj
a dari desa ke kota, tanpa adanya risiko peningkatan tingkat upah itu sendiri. T
ingkat keuntungan maksimal pengusaha di perkotaan akan terjadi pada saat margina
l physical product (produk fisik marginal) sama dengan upah buruh. Titik 33

F,G,H, pada diagram 3.1a sebelah bawah menunjukkan tingkat keseimbangan tenaga k
erja, yaitu pertemuan kurva permintaan dan penawaran tenaga kerja. Pada saat tot
al produk adalah sebesar 07P1 (K1), kurva permintaan tenaga kerja dicerminkan ol
eh kurva D1. Pada saat itu jumlah tenaga kerja yang dapat diserap adalah OL1. Da
erah segi empat OWFL1 adalah pengeluaran untuk upah total yang dikeluarkan oleh
pengusaha, yang berarti total penerimaan dari semua tenaga kerja yang bekerja di
sektor modern, pada tingkat upah OW. Segitiga WD1 F merupakan total keuntungan
yang diperoleh oleh pengusaha. Jika asumsi dasar bahwa keuntungan yang diperoleh
pengusaha akan diinvestasikan kembali, maka modal yang digunakan pada proses pr
oduksi meningkat menjadi K2. Itu berarti bahwa tingkat produksi total adalah O'T
P2, dengan mempekerjakan pekerja sebanyak OL2, yang berarti mengalami peningkata
n permintaan tenaga kerja dari D1 ke D2. Konsekuensinya jumlah yang dapat disera
p oleh sektor modern akan meningkat, meski pada tingkat upah yang tetap. Di sisi
lain pengusaha mengalami peningkatan keuntungan, yang nantinya akan diinvestasi
kan lagi di sektor tersebut. Proses pertumbuhan sektor modern di atas dan mengal
irnya arus tenaga kerja yang berurbanisasi diasumsikan akan terus berlanjut samp
ai surplus tenaga kerja yang terjadi di perdesaan terserap sepenuhnya di sektor
modern. Teori Lewis tentang penawaran tenaga kerja yang tak terbatas banyak dikr
itik karena asumsi-asumsi dasarnya banyak yang tidak relevan dengan untuk negara
sedang berkembang (NSB). Pertama, Lewis mengasumsikan bahwa tingkat perpindahan
tenaga kerja dan pembukaan lapangan kerja di sektor modern proporsinal dengan t
ingkat akumulasi modal di sektor modern. Diharapkan semakin cepat akumulasi kapi
tal di sektor modern, maka akan semakin mendorong pertumbuhan sektor tersebut, y
ang pada akhirnya akan meningkatkan pembukaan lapangan kerja baru. Pada kenyataa
nnya keuntungan yang ada direinvestasikan untuk peralatan penunjang produksi yan
g bersifat menghemat tenaga kerja (laborsaving) dan Iebih canggih daripada reinv
estasi pada peralatan dengan tingkat teknologi yang ada seperti yang telah digun
akan sebelumnya. Hal ini tentunya menyebabkan reinnvestasi yang dilakukan tidak
akan berpengaruh terhadap penyediaan lapangan kerja baru, yang secara ekstrem di
tunjukkan pada penggunaan tenaga kerja yang tetap (Iihat Gambar 3-2). Fenomena t
ersebut justru menunjukkan bahwa keuntungan yang diperoleh pengusaha semakin men
ingkat, sementara penerimaan pekerja dan jumlah pekerja yang digunakan dalam pro
ses produksi tidak mengalami perubahan. 34

Kedua, asumsi bahwa di perdesaan mengalami surplus tenaga kerja, sedangkan di pe
rkotaan mengalami kekurangan tenaga kerja, tampaknya merupakan hal yang sulit di
temukan di negara berkembang. Artinya asumsi tersebut tidak realistis untuk dite
rapkan di negara berkembang, mengingat kondisi yang ada justru sebaliknya. Para
ekonom sepakat bahwa di negara berkembang yang terjadi justru di perkotaan terda
pat surplus tenaga kerja, sementara di perdesaan mulai mengalami kekurangan tena
ga kerja. Ketiga, asumsi dasar lain dari teori Lewis yang tidak realistis adalah
bahwa di sektor modern, pasar tenaga kerja akan rrfenjamin tingkat upah berada
pada tingkat yang tetap sampai penawaran tenaga kerja mengalami penurunan. Kenya
taan menunjukkan bahwa di negara-negara sedang berkembang terjadi kecenderungan
peningkatan nilai upah secara terus menerus baik di daerah perdesaan maupun di p
erkotaan. Keberadaan serikat pekerja, dan tuntutan penetapan upah minimum yang m
anusiawi merupakan dua sumber utama upaya peningkatan upah di kedua sektor perek
onomian tersebut. Jika kita amati lebih lanjut, teori pertumbuhan Lewis ini pada
dasarnya termasuk salah satu teori pendukung kapitalisme. Hal ini dicerminkan d
ari perbedaan proporsi pendapatan yang diterima antara pengusaha dan tiap-tiap t
enaga kerja yang dipekerjakan. Jika teori yang dikemukakan oleh Lewis terbukti t
erjadi di dunia nyata, maka akan terlihat bahwa reinvestasi yang ada semakin men
ingkatkan penerimaan pengusaha. Di sisi lain reinvestasi 35

ini hanya akan meningkatkan jumlah pekerja yang bekerja di industri tersebut, da
n tidak akan berpengaruh terhadap kemungkinan peningkatan pendapatan dari masing
-masing pekerja. Dengan demikian pertumbuhan yang terjadi hanya akan menguntungk
an para pengusaha, sementara pendapatan pekerja relatif tetap, dan baru dapat me
ngalami peningkatan jika penawaran tenaga kerja di daerah surplus (perdesaan) me
ngalami penurunan. 3.2.2. Teori Pola Pembangunan Chenery Analisis teori Pattern
of Development memfokuskan terhadap perubahan struktur dalam tahapan proses peru
bahan ekonomi, industri dan struktur institusi dari perekonomian negara sedang b
erkembang, yang mengalami transformasi dari pertanian tradisional beralih ke sek
tor industri sebagai mesin utama pertumbuhan ekonominya. Penelitian yang dilakuk
an Hollis Chenery tentang transformasi struktur produksi menunjukkan bahwa sejal
an dengan peningkatan pendapatan per kapita, perekonomian suatu negara akan berg
eser dari yang semula mengandalkan sektor pertanian menuju ke sektor industri. D
iagram 3-3 menunjukkan bahwa pangsa pasar sektur industri dalam GNP meningkat da
n pangsa pasar dari sektor pertanian nengalami penurunan, saat GNP/kapita mening
kat. Sebagai contoh, pada saat nilai GNP per kapita US$200 maka pangsa produk se
ktor primer menguasai 45 persen dart total GNP, sementara sektor industri hanya
menyumbang 15 persen saja. Pada saat pendapatan/kapita mencapai US$1000, sumbang
an sektor primer dalam GNP h;engalami penurunan 20 persen sementara sektor indus
tri meningkat 28 persen (todaro, 1991: h. 74-5). Chenery kemudian membuat pengel
ompokkan negara sesuai dengan proses perubahan struktural yang dialami berdasark
an tingkat pendapatan per kapita penduduknya. Untuk negara dengan tingkat pendap
atan per kapita kurang dari US$600 dikelompokkan ke dalam negara yang baru malak
ukakn pembangunan atau sering disebut negara sedang berkembang. Sementara itu ne
gara dengan nilai pendapatan per kapita antara US$600 hingga US$3000 digolongkan
sebagai negara dalam fase transisi pembangunan. Penggolongan ini didasarkan pad
a harga-harga yang terjadi pada tahun 1976, mengingat penelitian yang dilakukan
oleh Chenery dilakukakn pada tahun tersebut. Perubahan waktu tentunya juga akan
berdampak pada perubahan interval dan nilai batas dari pendapatan per kapita yan
g menjadi standar pengelompokkan tersebut. Peningkatan peran sektor industri dal
am perekonomian sejalan dengan peningkatan pendapatan per kapita yang terjadi di
suatu negara, berhubungan erat dengan akumulasi kapital dan peningkatan sumberd
aya manusia (human capital). Gambar 3-3 menunjukkan

36

bahwa semakin tinggi tingkat investasi sektor riil dan di sektor pendidikan guna
meningkatkan kualitas sumberdaya manusia. Sejalan dengan proses perubahan struk
tural, pada suatu tingkat tertentu terjadi penurunan konsumsi terhadap bahan mak
anan, khususnya jika ditinjau dari permintaan domestik.

Sumber : Hollis Cheney and Mises Syrquin. Patterns of Development, 1950-70 (Lond
on: Oxford University Press, 1975), Figures 1, 2, 3. Penurunan permintaan terhad
ap bahan pangan ini ternyata akan dikompensasikan oleh peningkatan permintaan te
rhadap barang-barang non kebutuhan pangan, peningkatan investasi, dan peningkata
n anggaran belanja pemerintah, yang mengalami peningkatan dalam struktur GNP yan
g ada. Di sektor perdagangan internasional terjadi juga perubahan yaitu peningka
tan nilai ekspor dan impor. Sepanjang perubahan struktural ini berlangsung, terj
adi peningkatan pangsa ekspor komoditas hasil produksi sektor industri dan penur
unan pangsa sektor yang sama pada sisi impor. Dari sisi tenaga kerja, akan terja
di proses seperti halnya yang dikemukakan oleh Lewis, yaitu bahwa akan terjadi p
erpindahan tenaga kerja dari sektor pertanian di desa menuju sektor industri di
perkotaan, meski pergeseran ini masih tertinggal (lag) dibandingkan proses perub
ahan struktural itu sendiri. Dengan keberadaan lag inilah maka sektor pertanian
akan berperan penting dalam peningkatan penyediaan tenaga kerja, baik pada awal
hingga akhir dari proses transformasi struktural tersebut. Produktivitas tenaga
37

kerja di sektor pertanian yan rendah, lambat laun akan mulai meningkat, dan memi
liki produktivitas yang sama dengan pekerja di sektor industri pada masa transis
i. Dengan demikian, produktivitas tenaga kerja dalam perkonomian secara menyelur
uh akan mengalami peningkatan (Todaro, 1991: h.76). Selama proses transformasi s
truktural tidak berarti segalanya berjalan mulus. Suatu proses yang sedang terja
di tentunya akan membawa dua konsekuensi sekaligus, pertama adalah sisi positif
dan lainnya adalah sisi negatif. Salah satu sisi negatif dari perubahan struktur
al tersebut adalah meningkatnya arus urbanisasi yang sejalan dengan derajat indu
strialisasi yang dilakukan. Industrialisasi dan urbanisasi pada beberapa hal jus
tru menghambat proses pemerataan hasil pembangunan, di mana peningkatan pendapat
an hanya akan terjadi di sektor modern-perkotaan. Sementara itu sektor perdesaan
, yang banyak ditinggalkan oleh para pekerja, mengalami pertumbuhan yang lambat,
sehingga jurang pemisah antara kota dan desa justru meningkat dengan kondisi te
rsebut. Transformasi struktural hanya akan berjalan dengan baik jika diikuti den
gan pemerataan kesempatan belajar, penurunan laju pertumbuhan penduduk, dan penu
runan derajat dualisme ekonomi antara kota dan desa. Jika hal tersebut dipenuhi
maka proses transformasi struktural akan diikuti oleh peningkatan pendapatan dan
pemerataan pendapatan yang terjadi secara simultan. Hipotesis utama dari teori
di atas adalah bahwa model perubahan struktural yang terjadi pada tiap-tiap nega
ra sebenarnya dapat diidentifikasi dan proses perubahan secara umum dari masing-
masing negara pada dasarnya memiliki kesamaan pola. Meski demikian teori ini tol
eran terhadap variasi-variasi kecil yang terjadi dalam proses perubahan struktur
al yang mungkin berbeda antarnegara. Perbedaan faktor endowment, kebijakan pemer
intah, dan aksesibilitas terhadap modal dan teknologi, merupakan faktor penjelas
penting terhadap perbedaan variatif transformasi struktural yang terjadi. Secar
a umum negara-negara yang memiliki tingkat populasi tinggi, yang pada dasarnya m
enggambarkan tingkat permintaan potensial yang tinggi, cenderung untuk mendirika
n industri yang bersifat subtitusi impor. Artinya mereka memproduksi sendiri bar
ang-barang yang dulunya diimpor untuk kemudian dijual di pasaran dalam negeri. S
ebaliknya negara-negara dengan jumlah penduduk yang relatif kecil, cenderung aka
n mengembangkan industri yang berorientasi ke pasar internasional. Teori perubah
an struktural menjelaskan bahwa percepatan dan pola transformasi struktural yang
terjadi pada suatu negara dipengaruhi oleh faktor intern dan ekstern, yang sali
ng berkaitan satu dengan yang lain.

38

3.3. TEORI DEPENDENSIA Teori dependensia pada awalnya lahir dari hasil diskusi p
ara ekonom negara-negara Amerika Latin yang kemudian menghasilkan Deklarasi Ekon
omi Amerika Latin. Pencetus dasar teori tersebut adalah Paul Baran, yang mencipt
akan model dasar tesis alternatif mengenai keterbelakangan ekonomi yang terjadi
di negara-negara dunia ketiga. Teori dependensia berusaha menjelaskan penyebab k
eterbelakangan ekonomi yang dialami oleh negara-negara berkembang. Asumsi dasar
teori ini adalah pembagian perekonomian dunia menjadi dua golongan, yang pertama
adalah perekonomian negaranegara maju dan kedua adalah perekonomian negara-nega
ra sedang berkembang. Andre Gunder Frank (1966) mengelompokkan negara maju ke da
lam negara-negara metropolis maju (developed metropolitan countries) dan negara
sedang berkembang dikelompokkan ke dalam negara satelit yang terbelakang (satell
ite underdeveloped countries). Sementara itu Samir Amin(1976), salah satu ekonom
penganut dependensia, membagi perekonomian menjadi dua yaitu negara-negara maju
di pusat (core/central) dan kelompok negara miskin pinggiran (periphery). Dalam
hal ini Samir Amin melukiskan bahwa pusat dari perekonomian dunia sangat dipeng
aruhi oleh negara-negara pusat, sementara negaranegara miskin pinggiran berada d
i sekitar negara-negara pusar tersebut. Seperti halnya dengan pembagian perekono
mian menurut Lewis, secara implisit dinyatakan bahwa perekonomian negara miskin
pinggiran sebenarnya tidak jauh berbeda dengan perekonomian tradisional pada teo
ri Lewis. Dalam perekonomian negara pinggiran, mekanisme pasar belum sepenuhnya
berlaku dalam masyarakat. Hubungan paternalistik dan kerjasama sosial antaranggo
ta masyarakat masih mendominasi pada sistem perkonomian ini. Di sisi lain, perek
onomian negara pusat berciri perekonomian modern, di mana sistem pasar telah ber
laku dengan balk. Interaksi sosial dan hubungan paternalistik telah memudar dan
digantikan oleh individualis dan penyelesaian segala permasalahan melalui kontra
k transaksi. Interaksi yang terjadi antara negara maju dengan negara miskin lebi
h bersifat ekploitasi negara maju terhadap negara miskin. Dominasi perekonomian
dunia oleh negaranegara core dan rekayasa eksploitasi yang dilakukan oleh mereka
, pada akhirnya justru menjadikan negara-negara pinggiran ini semakin tergantung
kepada negara-negara pusat. Paul Baran melihat bahwa investasi perusahaan multi
nasional dari negara maju yang dilakukan di negara miskin akan meningkatkan pend
apatan nasional negara miskin tersebut. Namun demikian, peningkatan pendapatan i
ni tidak dapat dinikmati oleh sebagian besar masyarakat negara itu karena kepinc
angan dalam distribusi pendapatan. Keuntungan yang dihasilkan dari investasi asi
ng tersebut akan dinikmati oleh pengusaha asing dan 39

segelintir anggota masyarakat tertentu di dalam negeri. Keuntungan yang diperole
h tersebut semata-mata merupakan hasil dari eksploitasi sumberdaya yang ada. Pen
ingkatan kesejahteraan masyarakat di negara-negara miskin pada dasarnya tidak pe
rnah dialami akibat masuknya investasi asing di negara-negara tersebut. Sistem t
ersebut bahkan menggeser kebiasaan sosial yang ada pada masyarakat di negara mis
kin. Kontrak transaksi berdasarkan faktor pasar mengganti dan mendesak hubungan
paternalistik yang telah mengakar di negara miskin. Perubahan sistem tersebut me
nimbulkan perubahan orientasi rakyat di negara tersebut yaitu dari berorientasi
kepada berkecukupan dan pemenuhan pasar dalam negeri, ke produksi untuk memenuhi
pasaran luar negeri. Orientasi Baru ini sekaligus membuat sistem ekonomi rakyat
di negara tersebut langsung dikaitkan dengan sistem kapitalistis di luar negeri
dengan berbagai gejolaknya (Arief dan Sasono, 1984: h.18). Lebih jauh Paul Bara
n memaparkan bahwa penggantian sistem hubungan paternalistik dari masyarakat feo
dal dengan sistem kapitalis yang didasarkan rasionalitas pasar, dapat merupakan
langkah utama dalam transformasi masyarakat ke arah kemajuan dan peradaban seper
ti yang dialami Eropa Barat. Namun penerapan nilai komersial dalam tata hubungan
sosial pada masyarakat feodal atau semi feodal, justru memperhebat proses ekspl
oitasi yang dilakukan oleh pemilikâ
pemilik modal dalam rangka sistem kapitalistis.
Proses eksploitasi dalam sistem kapitalistis ini diiringi pula dengan proses kor
upsi dan ketidakadilan dalam setiap tingkat struktur pemerintahan yang mengabdi
kepada kepentingan pemilik modal dan sistem kapitalis internasional (Arief dan S
asono, ibid). Menurut Andre Gunder Frank (1966), hubungan antara negara metropol
is dan satelit ini menyentuh keseluruhan sektor di negara-negara miskin, dan ket
erbelakangan sektor tradisional ini justru diakibatkan oleh adanya kontak dengan
sistem kapitalis dunia yang masuk ke negara miskin melalui sektor modern. Sekto
r modern di negara miskin adalah kaki-tangan sistem kapitalis dunia yang melakuk
an eksploitasi terhadap daerah atau sektor yang sekarang menjadi terbelakang (Ar
ief dan Sasono, ibid, h.24). Investasi asing memungkinkan bagi negara maju untuk
mengeruk sebagian besar potensi ekonomi yang ada di negara miskin. hasil bagi y
ang diberikan investor asing kepada negara tempat investasi berada (host country
) jauh lebih rendah dibandingkan dengan tingkat keuntungan yang disalurkan kemba
li ke negara asal (home country), Di sisi lain kaum borjuis nasional atau yang p
opuler disebut golongan komprador dan penguasa nasional, semakin memantapkan keb
eradaan sektor modern dalam menguasai sistem perkonomian yang ada. Bagaimana pun
juga perkembangan sektor modern di negara miskin ini akan terjadi sesuai 40

dengan perkembangan sektor modern yang ada di dunia. Hal ini berarti sektor mode
rn di negara-negara miskin pada dasarnya memiliki ketergantungan yang tinggi unt
uk berkembang terhadap sektor yang sama di negara maju. Dengan demikian sektor m
odern di negara miskin tak lebih dari sektor satelit yang tidak dapat berkembang
sendiri dan sangat tergantung pada kondisi perekonomian negara-negara maju. And
re Gunder Frank menampilkan tiga hipotesis utama yang relevan, yang berkaitan de
ngan pola hubungan antara negara maju dan miskin tersebut (Arief dan Sasono, 199
1: h. 25-7), yaitu:
1. Dalam struktur metropolis dan satelit seperti di atas, pihak metropolis akan

berkembang dengan pesat sedangkan pihak satelit akan menuju kepada keterbelakang
an yang terus-menerus.
1.

Negara-negara miskin yang sekarang menjadi satelit dapat mengalami perkembangan
ekonomi yang sehat dan mampu menumbuhkan perkembangan industri yang otonom, apab
ila berkaitan dengan metropolis dari dunia kapitalis internasional tidak ada ata
u sangat lemah. 3. Kawasan-kawasan yang sekarang sangat terbelakang dan berada d
alam situasi yang mirip dengan situasi dalam sistem feodal adalah kawasan yang p
ada masa lalu memiliki kaitan kuat dengan metropolis dari sistem kapitalis inter
nasional. Kawasankawasan ini ialah kawasan penghasil komoditas ekspor bahan ment
ah primer yang terlantar sebagai akibat adanya gelombang konjungtur dalam perdag
angan internasional komoditas tersebut. Theotonio Dos Santos (1973) memperluas a
rgumentasi Andre Gunder Frank, dengan argumentasinya bahwa titik berat proses ke
tergantungan tidak hanya merupakan "faktor eksternal" semata, namun lebih dari i
tu "faktor internal" negaranegara miskin tersebut ikut berperan dalam rnembentuk
pola ketergantungan tersebut. Elemen-elemen ekonomi di dalam negeri ternyata ju
ga berperan dalam menciptakan ketergantungan yang diawali ketergantungan merkant
ilis (masa penjajahan), menuju ketergantungan industri dan finansial (pasca keme
rdekaan). Ketergantungan dengan segala akibatnya yang terjadi dalam tata interak
si ekonomi di dalam negeri, tentunya tidak dapat diatasi hanya dengan menutup di
ri din dari dunia luar, seperti apa yang direkomendasikan oleh Andre Gunder Fran
k. Artinya, ketergantungan akibat interaksi ekonomi di dalam negeri harus dihila
ngkan terlebih dahulu sebelum menangani ketergantungan yang diakibatkan oleh fak
tor eksternal. Dos Santos mengklasifikasikan ketergantungan dalam tiga jenis (Ar
ief dan Sasono, 1991: h.28), yaitu:

41

1.

Ketergantungan kolonial (colonial dependence). Ketergantungan ini ditandai denga
n bentuk perdagangan luar negeri zaman penjajahan yang bersifat monopoli yang di
ikuti dengan monopoli sumberdaya lainnya oleh pemerintah penjajah.

2.

Ketergantungan industri keuangan (industrial-financial dependence). Ketergantung
an ini ditandai dengan dominasi modal besar di negara-negara penjajah melaiui in
vestasi produksi bahan mentah primer untuk tujuan konsumsi di negara penjajah.

3.

Ketergantungan

teknologi

industri

(technological-industrial

dependence).

Ketergantungan ini terjadi setelah PD II sebagai akibat operasi perusahaanperusa
haan mu Itinasional berinvestasi di negara-negara sedang berkembang. Ekonom peng
anut teori ini juga menuduh badan-badan dunia internasional, seperti Bank Dunia
dan IMF, sebagai lembaga yang menyebabkan peningkatan ketergantungan yang terjad
i di negara sedang berkembang. Pemberian bantuan yang diberikan oleh badanbadan
dunia tersebut tidak lepas dari vested of interest dari negara-negara donor yang
mendukung Jana lembaga tersebut. Pemberian bantuan dalam bentuk barang, yang um
umnya berteknologi tinggi dan tidak sesuai dengan kondisi negara yang diberi ban
tuan, justru meningkatkan ketergantungan terhadap teknologi, di samping nilai ba
ntuan yang kemudian sulit untuk dikuantifikasikan. Pengiriman bantuan tenaga ahl
i oleh negara-negara donor, pada akhirnya hanya merupakan upaya untuk membuka la
pangan kerja bagi tenaga mereka. Yang lebih parah adalah banyak dari tenaga ahli
ini sebenarnya memiliki keterampilan dan kemampuan yang pas-pasan, namun demiki
an mereka digaji jauh lebih tinggi daripada produk marginal mereka. Teori depend
ensia pada dasarnya masih tetap dijiwai oleh pandangan Marxis, sehingga nampak b
ahwa sistem pertentangan kelas dalam masyarakat masih mewarnai pembahasan teori
tersebut. Namun demikian pertentangan kelas ini justru terjadi dalam konteks int
ernasional, yaitu antara negara maju dengan negara miskin. Di dalam negeri pun t
erjadi konflik serupa, meski tidak krusial seperti konflik yang terjadi di luar
negari. Di dalam negeri konflik terjadi antara masyarakat golongan menengah ke b
awah dengan para komprador yang mengambil keuntungan dengan perubahan orientasi
sosial ke arah modern, dengan semakin mengeksploitasi masyarakat kelas bawah. Kr
itik utama yang dilontarkan oleh para ekonom terhadap teori dependensia adalah b
ahwa tesis ketergantungan sangat menitikberatkan keterbelakangan yang terjadi ak
ibat interaksi antara negara maju dan miskin di dunia internasional. Tesis ini k
urang proporsional dalam menempatkan interaksi yang terjadi di dalam negeri seba
gai salah satu faktor yang berpengaruh dalam menciptakan keterbelakangan dan ket
ergantungan terhadap negara lain. 42

Kritik lain terhadap teori ini adalah bahwa teori dependensia tidak lebih dari s
ekadar tesis yang mampu mengumpulkan sebab-sebabterjadinya keterbelakangan dan k
etergantungan semata tanpa mampu mencarikan so/usijalan keluarnya. Sampai saat i
ni solusi yang ditawarkan oleh para ekonom penganut teori ini cenderung untuk me
lakukan isolasi terhadap pengaruh luar. Solusi ini tidak realistis di alam globa
lisasi dan perkembangan pesat arus komunikasi. Sejarah menunjukkan bahwa isolasi
yang dilakukan oleh sebagian besar negara komunis, terutama Albania sebagai yan
g paling ekstrem, pada akhirnya tidak mampu mengatasi perubahan zaman yang semak
in menuju ke arah perdagangan bebas, perpindahan sumberdaya tanpa hambatan geogr
afis, dan arus informasi yang kian mengglobal. Meski demikian teori dependensia
telah memberikan peringatan kepada para golongan menengah di negara-negara sedan
g berkembang, bahwa interaksi antara negara maju dan miskin pada satu sisi mengu
ntungkan, di sisi lain ternyata juga membawa efek ketergantungan, yang pada masa
-masa sebelumnya belum pernah terpikirkan. Gerakan penyadaran inilah yang sediki
t banyak mengilhami para penguasa di negara sedang berkembang untuk melepaskan k
etergantungan negaranya dari negara maju. Hal ini juga berakibat pada upaya untu
k meningkatkan kinerja ekonomi di negara-negara sedang berkembang tersebut. 3.4:
PAHAN NEO-KLASIK TENTANG TEORI PEMBANGUNAN Dekade 1980-an menandai munculnya te
ori pembangunan Neo-Klasik yang menjawab sanggahan teori Dependensia. Teori Depe
ndensia yang cenderung menggunakan pendekatan yang bersifat revolusioner sebagai
salah satu pemecahan eksploitasi negara pusat terhadap periferi, mendapat sangg
ahan oleh teori ini. Teori pembangunan neo-klasik yang anti terhadap pendekatan
revolusioner sering disebut sebagai teori penawaran (supply side theory). Teori
ini merekomendasikan swastanisasi BUMN, meningkatkan peran perencanaan dan penet
apan regulasi ekonomi yang menciptakan iklim kondusif bagi peningkatan peran pih
ak swasta dalam pembangunan. Argumentasi sentral yang dikemukakan oleh ekonom pe
nganut teori ini terhadap serangan ekonom dependensia adalah bahwa keterbelakang
an tidaklah disebabkan oleh eksploitasi negara pusat terhadap periferi. Dengan k
ata lain, mereka menyatakan bahwa keterbelakangan bukan disebabkan oleh pengaruh
ekstern, tetapi lebih pada pengaruh intern dalam negara terbelakang tersebut. B
esarnya derajat campur tangan pemerintah dalam aktivitas ekonomi, merebaknya kor
upsi, dan kurangnya intensif ekonomi, serta kesalahan dalam pengalokasian sumber
daya, merupakan sumber utama keterbelakangan 43

itu. Dalam teori ini dikemukakan bahwa alokasi sumberdaya yang salah menyebabkan
kebijakan penetapan harga menjadi tidak efektif dan ditambah dengan campur tang
an pemerintah yang terlalu besar dalam perekonomian. Kedua hal ini merupakan sum
ber utama ketidakefisienan "mesin" perekonomian di negara sedang berkembang. Aki
batnya percepatan pertumbuhan perekonomian menjadi lebih lambat, sementara di si
si lain kesalahan sistem alokasi sumberdaya tidak menunjang terhadap tujuan peme
rataan "kue pembangunan". Menurut ekonom penganut teori ini, seperti halnya Jagd
ish Baghwaty, Anne 0 Krueger, Bela Ballasa, Deepak Lal dan Iainnya, menyatakan b
ahwa semakin besar campur tangan pemerintah dalam perekonomian, semakin lambat l
aju pertumbuhan ekonomi yang dialami oleh suatu negara. Para ekonom tersebut mer
ekomendasikan kepada negara berkembang agar menuju sistem perekonomian dengan di
dasarkan pada pasar bebas. Seperti diketahui sebagian besar negara berkembang te
rletak di benua Asia dan Afrika, di mana tradisi kekuasaan pemerintah yang ada d
i kedua benua tersebut banyak melakukan campur tangan dalam aktivitas perekonomi
an. Kaum Neo-Klasik menyatakan bahwa dengan membebaskan pasar dari campur tangan
pemerintah, swastanisasi BUMN, promosi perdagangan bebas dan ekspansi ekspor, m
embuka diri terhadap PMA, dan mengeliminasi ketidakefisienan dalam regulasi peme
rintah (melakukan deregulasi), serta menghilangkan distorsi harga balk pada inpu
t, produk dan pasar uang, mereka yakin bahwa efisiensi dan pertumbuhan ekonomi a
kan semakin terdorong untuk maju. Pasar bebas dan perekonomian laissez faire kem
udian menjadi kata kunci bagi keberhasilan pembangunan, dalam konteks teori ini.
Diharapkan dengan terciptanya kedua hal tersebut, tangan gaib (invisible hand)
akan dapat berperan besar dalam mempercepat proses penyesuaian akibat kejutan da
lam perekonomian dan menjamin alokasi sumberdaya secara efisien. Korea Selatan,
Taiwan dan Singapura merupakan contoh utama dari negara yang melakukan kebijakan
ekonomi sesuai dengan apa yang direkomendasikan oleh kaum Neo-Klasik, dan terbu
kti sukses, dan kegagalan campur tangan pemerintah bagi peningkatan kinerja ekon
omi dicontohkan sebagaimana negara-negara yang ada di Afrika dan Amerika Latin.
Teori ini nampaknya hanya tepat diterapkan di negara-negara yang maju daripada d
i negara sedang berkembang. Konsep perdagangan bebas, laissez faire, dan pasar p
ersaingan sempurna merupakan hal yang hanya dapat dipenuhi oleh negara-negara ma
ju. Bagi negara berkembang pasar yang ada lebih berbentuk monopoli atau oligopol
i. Perbedaan struktur masyarakat dan kelembagaan yang dimiliki oleh negara sedan
g maju dengan negara

44

berkembang, menjadikan teori pembangunan tersebut pada banyak kasus justru gagal
dilaksanakan di negara berkembang. Adalah suatu hal yang sulit bagi negara berk
embang untuk menciptakan kondisi pasar yang mendekati sistem pasar yang ada di n
egara maju. Penciptaan suatu sistem ekonomi harus didukung oleh suatu suatu kond
isi yang kondusif terhadap kemungkinan perkembangan sistem ekonomi yang ada. Kon
disi sosial masyarakat di negara berkembang yang umumnya bersifat feodal atau se
mi feodal, serta masih menjunjung tinggi hubungan paternalistik, tentunya memerl
ukan waktu yang relatif panjang untuk dapat menerapkan sistem ekonomi pasar seca
ra baik. Pemaksaan orientasi pasar pada sistem masyarakat feodal atau semi feoda
l justru akan meningkatkan eksploitasi antara satu golongan terhadap golongan la
in, seperti apa yang telah diungkapkan oleh ekonom penganut faham dependensia di
atas. BACAAN YANG DIANJURKAN Arief, Sritua dan Adi Sasono, Ketergantungan dan K
eterbelakangan, LSP, Jakarta, 1984. Awh, Robert, Microeconomics: Theory and Appl
ications, John Wiley and Sons, New York, 1976. Budiman, Arief, Teori Pembangunan
Dunia Ketiga, PT Gramedia, Jakarta, 1995. Djojohadikusumo, Sumitro, Perkembanga
n Pemikiran Ekonomi: Dasar Teori Ekonomi Pertumbuhan dan Ekonomi Pembangunan, LP
3ES, Jakarta, 1994. Jhingan, M.L., Ekonomi Pembangunan dan Perencanaan, Rajawali
Press, Jakarta, 1988.

45

BAB IV KRISIS TEORI PEMBANGUNAN 4.1. PENDAHULUAN Dalam bab ini akan dibahas meng
enai krisis yang terjadi dalam perkembangan proses pembangunan dan teori pembang
unan. Terdapat tiga bentuk krisis yang perlu diperhatikan, yaitu krisis teori pe
mbangunan, dalam arti krisis status dari konsep pembangunan itu sendiri; krisis
pembangunan di dunia nyata, dan krisis institusi kenegaraan yang banyak terjadi
di negaraâ
negara di dunia. Krisis dalam teori pembangunan merupakan suatu kritik yan
g terhadap teori pembangunan dan relevansinya dengan dunia nyata. Kegagalan suat
u teori pembangunan yang diterapkan sebagai strategi pembangunan suatu negara me
rupakan krisis dari teori itu sendiri. Krisis yang terjadi dalam pembangunan di
dunia nyata, pada dasarnya menunjukkan bahwa krisis pembangunan yang terjadi ber
sifat global. Globalisasi ekonomi telah menyebabkan sulitnya perekonomian suatu
negara lepas dari pengaruh interaksi dari negaraâ
negara lain. Globalisasi krisis men
unjukkan fenomena homogen yang memperlihatkan adanya satu sistem tunggal di duni
a. Krisis pembangunan di negara sedang berkembang tidak terlepas dari strategi p
embangunan yang digunakan, dan kondisi intern yang kurang sesuai dengan penerapa
n teori tersebut. Krisis institusi kenegaraan sebagai agen yang menerapkan strat
egi pembangunan nampaknya juga terjadi secara global. Dalam ilmu ekonomi dikenal
adanya kegagalan pasar, dan bahwa kegagalan tersebut dapat ditanggulangi dengan
campur tangan pemerintah dalam perekonomian. Krisis institusi terjadi karena ca
mpur tangan pemerintah, yang diharapkan mampu mengefisienkan pasar, ternyata jus
tru semakin mendistorsi pasar itu sendiri. 4.2. KRISIS TEORI Pada awal era "dema
m" teori pembangunan tahun 1950-1960-an, negaranegara sedang berkembang (NSB) ba
nyak mengadopsi dan mengadaptasi teoriteori pembangunan yang dikemukakan oleh pa
ra ekonom Barat dalam sistem perekonomiannya. Negaraâ
negara tersebut Iangsung mener
apkan berbagai teori yang ada, yang mereka anggap cocok sebagai model pembanguna
n di negara mereka. Proses yang selama ini diyakini kebenarannya. Teori pembangu
nan yang didasarkan pada pengalaman pembangunan dan paradigma berfikir Barat, te
rnyata banyak menemui 46

kegagalan dalam dataran implementasinya di NSB. Asumsi-asumsi dasar yang dipergu
nakan dalam teori pembangunan, merupakan asumsi yang hanya tepat berlaku di nega
ra-negara Barat. Sementara itu kondisi di NSB yang demikian kompleks, memerlukan
strategi pembangunan yang jauh lebih canggih. Kondisi dasar NSB jauh lebih rumi
t dibandingkan dengan negara maju, dan pada banyak hal asumsi yang dig unakan da
lam teori pembangunan hanya mengacu pada kondisi yang ada di negara maju. Kondis
i tersebut diperparah oleh penerapan teori pembangunan tersebut secara mentahâ
mentah
, tanpa melalui proses penyesuaian dengan asumsi dasar yang terdapat di suatu ne
gara. Kemudian yang terlihat adalah penggunaan suatu alat yang tidak sesuai dan
sepadan dengan apa yang hendak diperbaiki. Akhir dari penerapan teori yang dipak
sakan adalah timbulnya suatu kondisi di NSB yang jauh lebih rumit dibandingkan d
engan kondisi semula. Contoh kasus adalah pengertian pembangunan dan pertumbuhan
yang pada era awal perkembangan teori pembangunan keduanya memiliki arti yang s
ama. Pengertian tersebut pada dasarnya mengacu pada kondisi di Barat, di mana da
lam proses awal pembangunan mereka tiga abad yang lalu, tolak ukur itulah yang d
ipergunakan. Pembangunan ekonomi pada saat itu tidak lebih dari suatu prestasi y
ang diukur secara kuantitatif semata. Besarnya GNP per kapita, pertumbuhan ekono
mi, dan pertumbuhan lapangan kerja, serta inflasi yang terkendali, merupakan pre
stasi-prestasi pembangunan yang menjadi tolak ukur utama pembangunan. Implementa
si teori pembangunan kemudian memaksa para ekonom untuk merevisi strategi pemban
gunannya dengan memasukkan faktor pembangunan sosial dan politik di dalamnya. Mu
nculnya suatu kondisi di mana pertumbuhan ekonomi berjalan cepat, tanpa diimbang
i oleh distribusi pendapatan dan peningkatan kualitas hidup, telah berhasil meng
geser paradigma pembangunan yang ada. Prestasi keberhasilan pembangunan ekonomi
kemudian tidak hanya ditentukan oleh percepatan pertumbuhan ekonomi namun lebih
pada peningkatan kesejahteraan masyarakat secara lebih utuh. Fenomena tersebut m
erupakan salah satu krisis dari teori pembangunan itu sendiri. Pada dasarnya per
masalahan pembangunan di NSB justru semakin kompleks dengan penerapan teoriâ
teori ba
rat secara mentahâ
mentah. Peningkatan permasalahan yang timbul akibat penerapan teor
i barat yang kapitalistik, menyebabkan bermunculannya reaksi dari para ekonom NS
B. Mereka memunculkan teori baru dan mengkritik teoriâ
teori yang mapan. lstilah kris
is sebenarnya lebih banyak digunakan oleh ekonom kiri sebagai reaksi terhadap ke
gagalan teori Barat yang kapitalistik diterapkan di NSB. Di dunia nyata istilah
krisis lebih merujuk pada suatu permasalahan tertentu. Pandangan lain mengenai k
risis dalam konteks teori lebih mengarah pada tahap kritis dari 47

suatu gelombang konjungtur yang tidak dapat dibalik prosesnya, kecuali harus dit
emukan alternatif teori untuk mengubahnya secara radikal. Dalam kerangka teori k
apitalis, suatu perekonomian akan tumbuh dan pada akhirnya bermuara pada suatu k
ondisi stasioner, akibat keterbatasan sumberdaya pendukung yang ada. Pada tahap
tersebut perekonomian tidak dapat kembali dinamis, karena struktur yang ada demi
kian kokoh membangun sistem tersebut. Namun demikian Marx mengingatkan bahwa eks
ploitasi dari sistem produksi kapitalisme tidak dapat berlangsung terus. Timbuln
ya kelas dan eksploitasi pekerja, akan menyebabkan kapitalisme menjadi rentan da
lam jangka panjang, dan kemudian akan digantikan oleh sosialisme. Pada tahap ini
krisis merupakan periode transformasi atau transisi. Permasalahan yang timbul k
emudian adalah bahwa proses transisi yang terjadi tersebut selalu membawa akibat
yang menyakitkan dari yang diharapkan semula. Dalam diskusi mengenai krisis, ha
l lain yang harus disamakan persepsinya adalah, apakah krisis yang terjadi merup
akan fenomena yang bersifat global atau hanya terjadi secara parsial atau di kaw
asan tertentu saja. Bahasan mengenai krisis saat ini lebih banyak merujuk pada f
enomena krisis secara global. Hal ini didasarkan pada alasan bahwa sistem pereko
nomian dunia saat ini menciptakan suatu sistem yang lain yaitu suatu hal yang sa
ngat sulit untuk menganalisis perekonomian suatu negara tanpa melibatkan interak
si negara tersebut dalam kancah perekonomian dunia. Jika ini yang terjadi maka k
onsepsi dependensia yang akhirnya muncul, bahwa globalisasi ekonomi justru mempe
rparah ketergantungan negara miskin terhadap negara maju. Tingkat ketergantungan
ini semakin diperparah dengan eksploitasi perekonomian negara miskin oleh negar
a maju. Pemikiran ini banyak diwarnai oleh pemikiran penganut ajaran Marx tradis
ional, dan pada hakikatnya merupakan reaksi dari eksploitasi sistem kapitalisme,
yang secara sadar atau tidak dilakukan negara-negara maju terhadap negara sedan
g berkembang. Didasarkan pada teori Marx, krisis yang terjadi dalam perekonomian
kapitalis berasal dari sitem produksinya yang eksploitatif. Penganut teori Marx
memandang sistem produksi kapitalis hanya dapat dilaksanakan dalam jangka pende
k, namun akan gaga) dalam jangka panjang. Dalam kerangka berpikir Marx, sistem p
roduksi jangka panjang akan menghasilkan kelaskelas ekonomi di mana distribusi h
asil pembangunan tidak didistribusikan secara merata, bahkan mungkin terjadi eks
ploitasi antara suatu kelompok terhadap kelompok tertentu. Sistem produksi kapit
alisme hanya dapat berjalan dalam jangka panjang, jika kemudian menggunakan pend
ekatan sosialisme. Oleh karena itu, menurut Marx, bentuk sosialisme merupakan ka
pitalisme dalam jangka panjang. Jika teori pembangunan didasarkan pada suatu pro
ses jangka panjang semacam ini, maka krisis yang terjadi adalah krisis transisi.

48

Dalam teori Marx, krisis ini diwujudkan dalam sistem revolusi yang diwujudkan da
lam sistem revolusi yang dilakukan oleh kaum buruh terhadap sistem kapitalisme y
ang ada. Pendekatan lain dari krisis adalah ditinjau dari peran negara dalam per
ekonomian. Regulation school, atau yang lebih dikenal dengan Fordisme, menjelask
an bahwa krisis pembangunan yang terjadi sebagai akibat dari kesalahan regulasi
yang mengakibatkan akumulasi krisis yang ada. Pendekatan ini menjelaskan perubah
an faktor-faktor yang secara esensial mempengaruhi keberhasilan ekonomi di Ameri
ka Utara dan Eropa Barat, yaitu: mekanisasi produksi masal dengan konsumsi masal
, produktivitas tenaga kerja yang tinggi bersama tingkat upah pekerja yang tingg
i pula, paham kesejahteraan, dan bentuk lain dari intervensi pemerintah. Pada da
sarnya paham ini lebih mengacu pada pada teori Neo-Klasik, di mana mekanisme pas
ar dipercayai sebagai proses terbaik dalam perekonomian. Dalam paham NeoKlasik,
campur tangan pemerintah diusahakan seminimal mungkin, karena mereka
beranggapan bahwa campur tangan pemerintah lebih banyak membawa distorsi pada pe
rekonomian. Konsep ini merupakan reaksi atas teori Keynes yang didasarkan pada a
nggapan bahwa tidak ada mekanisme pasar yang sempurna, sehingga campur tangan pe
merintah mutlak diperlukan. Kaum Fordisme, menganggap bahwa kegagalan pembanguna
n justru dapat disebabkan oieh adanya campur tangan pemerintah yang tidak tepat.

4.3. KRISIS PEMBANGUNAN Di samping krisis yang terjadi pada dataran teori, tidak
dipungkiri bahwa selama proses pembangunan dapat terjadi krisis dalam proses te
rsebut. Jika kita sepakat membagi dunia dalam tiga kategori, yaitu negara Dunia
Pertama, Kedua dan Ketiga, maka krisis pembangunan yang terjadi di negaraâ
negara ter
sebut memiliki corak yang berlainan. 4.3.1. Krisis di Negara Dunia Pertama Di ne
gara Dunia Pertama, yaitu negaraâ
negara di Eropa Barat dan Amerika Utara, krisis yan
g terjadi disebabkan kegagalan mereka dalam mencapai welfare state (negara kesej
ahteraan). Fakta bahwa negara Dunia Pertama teiah mencapai tahap pembangunan pal
ing maju relatif terhadap belahan dunia lain, adalah hal yang tidak dapat dipung
kiri. Namun demikian, dari ratusan tahun pengalaman melaksanakan pembangunan, ne
gara kesejahteraan yang mereka dambakan nampaknya masih jauh dari kenyataan. Neg
ara kesejahteraan merupakan tujuan pembangunan, di mana pembangunan yang berorie
ntasi ke negara ini pada akhirnya diharapkan mampu menyejahterakan masyarakat se
cara menyeluruh. Pada tahun 1970-1980 konsep negara kesejahteraan sebagai tujuan

49

pembangunan mulai dipertanyakan. Kinerja pembangunan yang diwujudkan dalam pertu
mbuhan ekonomi dan lapangan kerja, ternyata tidak mampu menjawab tantangan dispa
ritas distribusi pendapatan di antara mereka. Meski kinerja pembangunan di negar
a Dunia Pertama sangat mengagumkan, namun pada saat yang bersamaan angka pengang
guran justru semakin meningkat. Arus migrasi penduduk dari NSB ke negaraâ
negara Duni
a Pertama, akhirnya semakin meningkatkan problema sosial tersebut. Jenis pengang
guran di negara Dunia Pertama adalah pengangguran terbuka, yaitu orang menganggu
r karena secara sukarela mereka menganggur. Hal ini disebabkan upah yang akan me
reka terima berada di bawah standar upah yang mereka inginkan, atau jenis pekerj
aan yang ditawarkan tidak sesuai dengan jenis pekerjaan yang diinginkan. Para im
igran mampu memenuhi pasar yang ditinggalkan oleh para pekerja penduduk negara D
unia Pertama. Beranjak dari keuletan sebagai perantau inilah banyak diantara mer
eka meraih sukses di kemudian hari. Di sisi lain kelompok imigran yang tidak suk
ses tetap terpuruk dalam kemiskinan, dan semakin memperburuk problema sosial yan
g ada. Kemunculan gerakan neo-fasisme, rasisme dan peningkatan kriminalitas di n
egaranegara Dunia Pertama umumnya dilakukan oleh para generasi muda yang frustra
si dengan kondisi tersebut. kemunculan gerakan ini justru semakin memperparah ko
ndisi sosial di negara-negara tersebut. Kerusuhan rasial di Los Angeles merupaka
n hasil akhir dari akumulasi krisis sosial di Amerika Serikat. Kasus tersebut ti
dak terlepas dari krisis pembangunan kapitalistik di negara Dunia Pertama. Jika
diamati lebih lanjut, praktis hanya Swedia yang mampu mendekati kondisi negara k
esejahteraan. Satu hal yang ditempuh oleh Swedia dan tidak dilakukan oleh negara
Barat yang lain adalah bahwa Swedia menerapkan sistem sosialisme dalam perekono
miannya. Sistem sosialisme di Swedia sangat berbeda dengan sistem sosialisme di
negaraâ
negara komunis. Sosialisme di Swedia tidak bersifat totaliter, dan kepemilika
n individu dihargai sebagaimana kepemilikan kolektif melalui koperasi. Titik sen
tral perbedaan tersebut terletak pada cara pandang terhadap penguasaan sumberday
a dan tujuan dari pembangunan itu sendir. Di negara komunis, tujuan pembangunan
lebih ditekankan pada kesejahteraan negara. Individu dalam hal ini harus berprod
uksi dan berkorban demi kesejahteraan negara. Diasumsikan bahwa masyarakat indiv
idu akan sejahtera jika negara sejahtera. Di sisi lain sosialisme di Swedia diba
ngun dari upaya menyejahterakan masyarakat secara bersama dengan pengakuan terha
dap kepemilikan individu. Keadilan tidak dapat dipandang sebagai keadilan absolu
t, di mana semua orang, tanpa memandang predikat dan sumbangan mereka, mendapatk
an bagian yang sama. Keadilan tetap 50

dipandang sebagai suatu hal yang relatif, yaitu kompensasi diberikan sesuai deng
an sumbangan individual terhadap masyarakat. Hal di atas nampaknya sulit diterap
kan di negara-negara Dunia Pertama yang lain. Permasalahan utama terletak pada i
deologi dan sistem politik yang dianut oleh masingmasing negara yang tentunya ak
an berkaitan dengan sistem ekonomi yang dianut. Suatu sistem ekonomi tertentu ha
nya dapat dilakukan secara efektif pada satu sistem politik/ideologi tertentu. K
risis lain adalah penurunan percepatan pembangunan yang terjadi di negaranegara
Dunia Pertama relatif terhadap negara-negara industri baru. Perekonomian Barat y
ang demikian kokoh dan maju ternyata tidak mampu membendung defisit neraca perda
gangan mereka terhadap Jepang dan beberapa negara industri baru seperti Singapur
a, Taiwan, Korea Selatan dan Hongkong. Fenomena ini menunjukkan bahwa nampaknya
perekonomian di negara Barat telah sampai pada titik jenuh, atau titik optimal d
ari gelombang konjungtur yang mulai menunjukkan trend menurun. Diperlukan berbag
ai rekayasa dalam sistem perekonomian mereka untuk mampu menjawab tantangan bera
t dari negara-negara maju di Asia ini. 4.3.2. KrisIs di Negara Dunla Kedua Di ne
gara dunia kedua, yaitu negara-negara Amerika Latin dan negara-negara Eropa Timu
r, krisis yang terjadi relatif berbeda. Di negara-negara Eropa Timur, krisis pem
bangunan terjadi pada dataran ideologis. Krisis ideologis inilah yang membawa pe
ralihan sistem politik dari komunisme/sosialisme menuju ke perekonomian liberal.
Ambruknya negara Uni Soviet menunujukkan bahwa masyarakat di negara tersebut ti
dak percaya terhadap mekanisme ekonomi yang ada di negara komunis. Perubahan/ re
volusi sistem politik dan ekonomi di negara-negara komunis di Eropa lainnya.pada
dasarnya didasarkan pada ketidakpercayaan mereka terhadap mekanisme pemerataan
kesejahteraan yang mereka anut. Kelemahan mendasar sistem komunisme terletak pad
a pada cara pandang terhadap keadilan. Di sisi lain orientasi pembangunan yang m
enganggap bahwa kesejahteraan individu merupakan derivasi dari kesejahteraan neg
ara, ternyata tidak mampu berjalan dengan balk. Sistem keadilan absolut yang sel
alu digemborgemborkan oleh para pemimpin komunis, ternyata justru menciptakan ke
las-kelas baru borjuis yang dimotori oleh para politisi itu sendiri. Revolusi te
rhadap kelaskelas masyarakat kapitalis, ternyata hanya menghilangkan kelas-kelas
tersebut sementara, namun dalam jangka panjang muncul kelas-kelas baru yang tid
ak kalah eksploitatif dibanding kelas borjuis dalam kapitalisme. 51

Dalam proses pembangunan negara komunis, aspek politik jauh mendapat prioritas d
ibanding aspek ekonomis. Tujuan-tujuan ekonomis pada akhirnya selalu tunduk terh
adap kepentingan politik. Kepentingan politik mendapat peran tertinggi dibanding
kan aspek-aspek pembangunan yang lain. Dampaknya sumberdaya pembangunan terkuras
oleh upaya penyebaran ideologis. Di sisi lain, pembangunan ekonomi dikorbankan
hanya untuk meraih kepentingan politik. Problemnya ketidakseimbangan pembangunan
ini harus didukung oleh sumberdaya pembangunan yang ada. Pertanyaan yang muncul
kemudian adalah sejauh mana kemampuan sumberdaya yang ada terhadap efisiensi al
okasi tersebut. Batas ketidakmampuan dukungan ini akhirnya membawa keresahan mas
yarakat terhadap sistem kelembagaan yang ada. Pertanyaan yang muncul kemudian ad
alah sejauh mana kemampuan sumberdaya yang ada terhadap inefisiensi alokasi ters
ebut. Batas ketidakmapuan dukungan ini akhirnya membawa keresahan masyarakat ter
hadap sistem kelembagaan yang ada. Hal ini kemudian mengarah pada kemunculan has
rat masyarakat bersama yang secara sadar ingin melakukan perubahan sistem politi
k dan ekonomi. Berbeda dengan di Eropa Timur, krisis pembangunan di Amerika Sela
tan disebabkan salah urus (mismanagement) utang luar negerinya. Beban utang yang
demikian tinggi dari sebagian besar negara di kawasan tersebut, disebabkan oleh
alokasi utang tersebut sebagian besar untuk pembelian barang mewah, impor perse
njataan, merebaknya praktek korupsi, dan modal yang terbang ke luar negeri (capi
tal flight) Di sisi lain kondisi tersebut seringkali diperparah oleh perebutan k
ekuasaan antarpihak penguasa. Meski negara-negara di Amerika Selatan umumnya tel
ah merdeka lebih dari 100 tahun yang lalu, namun kondisi perekonomian yang ada t
idak lebih baik dari negara industri baru di Asia. Dapat dikatakan bahwa perkemb
angan perekonomian di kawasan tersebut seperti "berjalan di tempat". Inflasi yan
g terjadi di negara- negara di kawasan tersebut merupakan yang tertinggi di duni
a. Tingkat inflasi yang tinggi ini jelas tidak kondusif terhadap iklim investasi
. Tanpa investasi yang memadai, praktis perekonomian tidak dapat tumbuh dengan b
aik. Permasalahan lain adalah pengangguran yang tinggi. Hal ini tidak hanya memb
awa masalah pada negara bersangkutan, namun juga berakibat pada negaranegara di
sekitar kawasan tersebut seperti Amerika Serikat. Setiap hari Amerika Serikat ha
rus memulangkan ratusan bahkan ribuan orang pelintas batas, yang memasuki Amerik
a Serikat lewat Meksiko. Kalau pun di antara mereka ada yang masuk ke Amerika le
wat jalur resmi, maka permasalahan tekanan penduduk, kemiskinan dan pengangguran
dengan segera akan merambah Amerika Serikat. Tidak dapat dipungkiri bahwa orang
-orang Amerika Latin ini adalah sebagian besar 52

dari penduduk yang mendiami kawasan kumuh di Amerika Serikat. Kendati negaranega
ra di Amerika Selatan telah sekian lama mendapat bantuan, balk dari Amerika Seri
kat maupun badan-badan dunia yang ada, namun prestasi yang diperlihatkan masih k
urang menggembirakan. Justru pembangunan

permasalahan krisis pembangunan menjadi menonjol di kawasan tersebut. Krisis pem
bangunan inilah yang kemudian melahirkan teori dependensia. Teori ini muncul mel
alui pertemuan yang diadakan oleh para ilmuwan di kawasan tersebut yang membahas
krisis pembangunan yang mereka hadapi. Tesis dari teori tersebut didasarkan pad
a pandangan bahwa interaksi antara negara-negara Amerika Latin dengan negara-neg
ara maju bersifat menguntungkan sepihak dan eksploitatif. Pemberian bantuan dari
masyarakat negara maju terhadap negara berkembang pada akhirnya justru meningka
tkan ketergantungan negara-negara sedang berkembang. Di sisi lain bantuan pemban
gunan yang diberikan membuat bargaining position NSB menjadi menurun, akibatnya
pemaksaan kepentingan negara maju terhadap negara berkembang dapat ditingkatkan
sejalan dengan pemberian bantuan tersebut. Para ilmuwan ini juga mengkritik meto
de pemberian bantuan pembangunan yang pada dasarnya hanya bersifat semu. Identif
ikasi penyebab krisis pembangunan dari teori dependensia didasarkan pada pandang
an Marx. Meski demikian ketika berada pada dataran rekomendasi, terdapat perbeda
an pendapat di antara para ilmuwan. Di satu pihak, sekelompok ilmuwan merekomend
asikan untuk mengisolasi diri dari hubungan dengan dunia internasional terutama
negaraâ
negara maju. Di sisi lain menginginkan jalan kooperatif, meski demikian berba
gai metode untuk mengurangi ketergantungan itu sendiri. Reaksi atas penerapan mo
del teori pembangunan yang sudah mapan di Amerika Latin, merupakan sanggahan ata
s teori pembangunan yang dirasakan terlalu bersifat Eurosentris (bias ke Eropa).
Kemunculan teoriâ
teori pembangunan oleh ilmuwan di negaraâ negara maju, membawa konsekue
nsi pada penggunaan asumsi dasar pembangunan yang sesuai dengan kondisi kemasyar
akatan dan budaya di negara maju. Di sisi lain teori tersebut tidak terlepas dar
i sistem politik, tata nilai dan paradigma yang selama ini dianut oleh masyaraka
t negara maju. Jika diamati lebih lanjut teori pembangunan Eurosentris cenderung
merujuk pada pandangan kaum Neoâ
Klasik. Menurut pandangan teori ini, campur tangan
pemerintah dalam pembangunan hendaknya diminimalkan, mengingat setiap campur tan
gan

53

pemerintah dalam perekonomian akan selalu mengakibatkan distorsi pasar. Kepercay
aan terhadap mekanisme pasar merupakan paradigma utama dan pandangan para ilmuwa
n Neo-Klasik. Permasalahannya adalah asumsi dasar perekonomian ala NeoKlasik han
ya dapat dicapai oleh negara yang relatif maju, di mana mekanisme harga telah be
rlaku dengan baik. Di negaraâ
negara sedang berkembang, mekanisme harga dan pasar han
ya terjadi di sebagian wilayah negara itu. Dualisme ekonomi yang ada, tidak memu
ngkinkan mekanisme pasar terjadi secara menyeluruh di semua kawasan negara terse
but. Hal ini menyebabkan mekanisme pasar yang ada tidak mencerminkan kelangkaan
dan sistem alokasi sumberdaya yang sesungguhnya. Dengan demikian di negara sedan
g berkembang selalu terjadi kegagalan pasar, atau mekanisme pasar tidak sepenuhn
ya berlaku. Dalam kondisi semacam ini, Keynes merekomendasikan, bahwa diperlukan
campur tangan pemerintah dalam perekonomian untuk menghilangkan kegagalan pasar
tersebut. Model perekonomian Keynes nampaknya merupakan model perekonomian yang
paling cocok diterapkan di NSB. Tingginya peran pemerintah dalam perekonomian,
dan kegagalan pasar yang ada, menjadikan teori tersebut lebih tepat digunakan di
NSB. Permasalahannya adopsi terhadap teori ini belum banyak dilakukan karena pa
ra pengambil keputusan di NSB, umumnya alumni dari universitas di negara-negara
maju, cenderung menerapkan teori Neo-Klasik. Hal ini semata-mata disebabkan oleh
penekanan pengajaran di negara-negara maju tersebut sangat menjunjung tinggi ma
zab Neo-Klasik, karena selama ini hanya teori tersebut yang diketahui dan dipela
jari. Di sisi lain, seringkali bantuan yang diberikan oleh negara-negara maju me
nsyaratkan pada suatu hal yang berkaitan dengan penerapan teori Neo-Klasik yang
menguntungkan mereka. Privatisasi, pembukaan kesempatan kerja bagi PMA, dan libe
ralisasi perekonomian adalah sedikit contoh dari praktek kebijakan yang didasark
an pada teori Neo-Klasik. Hal ini didukung oleh penilaian dan bantuan lembaga-le
mbaga dunia yang selalu merekomendasikan penerapan kebijakan yang berbau kapital
isme dan liberalisme. Bagi para ekonom dependensia, lembaga-lembaga dunia terseb
ut tidak lebih dari perpanjangan tangan negara-negara maju. Bantuan pembangunan
yang disalurkan lewat lembaga-lembaga dunia tersebut selalu akan berkaitan denga
n peningkatan hegemoni negara-negara maju dalam percaturan politik dan ekonomi

54

dunia. Munculnya teori dependensia merupakan tonggak kebangkitan pemikiran di ne
gara-negara sedang berkembang. Dependensia merupakan awal dari suara negara Duni
a Ketiga dalam merespon perkembangan teori pembangunan yang berasal dari Barat.
Meski teori Dependensia sangat baik dalam mendeskripsikan sebab musabab kemundur
an negara-negara sedang berkembang, namun pada dataran solusi dan rekomendasi te
ori ini kurang mampu mengakomodasikan permasalahan pembangunan di NSB, tanpa mam
pu mencarikan alternatif jalan keluar dari keterkungkungan belenggu keterbelakan
gan itu sendiri. 4.3.3. Krisis dl Negara Dunla Ketiga Krisis yang terjadi di neg
ara dunia ketiga memiliki perbedaan mendasar dibandingkan krisis pembangunan di
dua belahan dunia yang lain. Terdapat dua pola krisis pembangunan di Dunia Ketig
a, yaitu yang terjadi di Afrika dan di Asia. Di Afrika, krisis pembangunan tetap
bermuara pada masalah kelaparan. Kondisi ini diperparah dengan masalah etnis ya
ng sering menyulut peperangan antarsuku dan negara di Afrika. Kasus Somalia adal
ah salah satu contoh betapa rentannya iklim politik di Afrika. Kelaparan yang te
rjadi secara simultan dengan krisis etnis ini menambah permasalahan pembangunan
menjadi semakin sulit dipecahkan. Di Asia, praktis krisis etnis merupakan proble
ma potensial yang sewaktu--waktu dapat terjadi. Pada beberapa kawasan di Asia, p
ertentangan sangat mewarnai perkembangan benua tersebut. Sementara itu pertentan
gan etnis di kawasan lain Asia nampaknya kurang menunjukkan tanda-tanda yang men
gkhawatirkan. Namun demikian dominasi ras "kuning" dalam perekonomian Asia, namp
aknya akan menjadi problema potensial di masa datang. 4.4. KRISIS INSTITUSIONAL
Konsep pembangunan pada era 1950-1960 menekankan bahwa keberhasilan pembangunan
diukur dad pertumbuhan ekonomi yang dicapai oleh masyarakat suatu negara. Konsep
ini kemudian menjadi tolak ukur umum keberhasilan pembangunan. Tak pelak lagi,
pertumbuhan kemudian menjadi tujuan utama dari proses pembangunan di negara-nega
ra sedang berkembang. lnilah awal krisis dari proses pembangunan yang dilaksanak
an oleh NSB. Dengan menganut konsepsi tersebut, tujuan pembangunan lebih ditekan
kan pada pembangunan negara secara umum, dan bukan peningkatan kesejahteraan yan
g merata antarindividu. Kemudian yang terjadi adalah pesatnya laju pertumbuhan e
konomi yang disertai kerentanan struktur sosial akibat kesenjangan distribusi pe
ndapatan. 55

Krisis pembangunan di NSB umumnya dimulai dari ketidakjelasan untuk siapa hasil
pembangunan ditujukan. Konsepsi aliran arus utama (mainstream) pembangunan menek
ankan proses pembangunan sebagai suatu proses pembentukan national building. Hal
ini menunjukkan bahwa tujuan pembangunan bias pada upaya pembangunan kekuatan n
egara dan bukan pada peningkatan kesejahteraan masyarakat. Dalam bahasan mengena
i pembangunan, selalu diasumsikan bahwa pembangunan ekonomi dapat dipisahkan dar
i permasalahan-permasalahan politik. Pada kenyataannya hal tersebut tidak dapat
dipisahkan dari dunia nyata. Tujuan pelaksanaan pembangunan tidak pernah dapat d
ipisahkan dari dunia nyata. Tujuan pelaksanaan pembangunan tidak pernah dilepask
an dari tujuan-tujuan politik. Bahkan proses pembangunan itu sendiri sering mend
apat kendala dari konflik politik yang ada dalam suatu negara. Konflik politik,
di sisi lain, juga banyak mempengaruhi tujuan pembangunan atau bahkan pada beber
apa hal justru menyebabkan proses pembangunan tidak berjalan secara efisien. Pil
ihan tujuan dan proses pembangunan dalam suatu negara seringkali harus tunduk pa
da kepentingan atau tujuan politik tertentu. Konsepsi pembangunan yang berorient
asi pada penguatan kekuatan nasional ini pada akhirnya justru menciptakan krisis
pembangunan itu sendiri. Upaya untuk menggalang kekuatan nasional akan menempat
kan prioritas pembangunan kekuatan politik dan militer di atas pembangunan ekono
mi. Konsekuensi Iogisnya, diperlukan surplus ekonomi yang besar untuk menyokong
pembangunan kekuatan politik dan militer, yang umumnya banyak membutuhkan biaya
besar. Alokasi sumberdaya yang tidak efisien merupakan konsekuensi logis yang ha
rus diterima. Pada awal kemerdekaan, pembangunan politik dan militer sebagai upa
ya mempersatukan bangsa sangat diperlukan. Kendati demikian harus dipertimbangka
n pula prioritas pembangunan ekonomi di masa-masa mendatang. Besarnya biaya yang
harus dikeluarkan untuk membangun kekuatan politik dan militer sangat bergantun
g pada rasa persatuan pada masyarakat suatu negara. Semakin tinggi rasa persatua
n masyarakat suatu negara, semakin rendah biaya yang dipikul untuk kepentingan t
ersebut. Namun demikian kenyataan menunjukkan bahwa pembebanan biaya pembangunan
kekuatan nasional seringkali hanya didasarkan pada kehendak dan emosi segelinti
r orang pemegang kekuasaan untuk mempertahankan kekuasaannya. Jika ini yang terj
adi maka beban yang dipikul masyarakat semakin besar, dan risiko ketidakberhasil
an pembangunan ekonomi semakin meningkat. Strategi pembangunan pada tahapan ters
ebut tidak dapat dipisahkan dari strategi penggalangan kekuatan nasional. Untuk
menyukseskan hal tersebut diperlukan surplus pendanaan yang berupa dana investas
i dan dana kesejahteraan. 56

Kedua dana tersebut dimaksudkan untuk mendukung proses penggalangan kekuatan nas
ional tersebut. Risikonya adalah jika terjadi kesalahan dalam memobilisasikan su
mberdaya baik dari sisi internal maupun sisi eksternal, maka penggalangan kekuat
an nasional lebih ditekankan pada pemecahan masalah pendidikan daripada untuk ke
kuatan militer, maka sumberdaya yang digunakan akan jauh lebih efisien. Pembangu
nan masyarakat yang memiliki pengetahuan yang balk dengan tingkat kesadaran ting
gi dan berideologi, jauh lebih berdaya guna dibandingkan pembangunan militer yan
g tangguh. Benteng kekuatan nasional terletak pada kesadaran dan rasa tanggung j
awab serta intelektualitas penduduk dibandingkan dengan perangkat militer. Dalam
jangka panjang pembangunan penggalangan kekuatan nasional melalui pendidikan ak
an membawa hasil yang lebih berdaya guna dibandingkan dengan alokasi sumberdaya
di bidang penguatan militer tanpa mengindahkan kebutuhan pendidikan. Pada negara
yang menitikberatkan penggalangan kekuatan nasional melalui pembangunan militer
, kelangkaan sumberdaya akan membawa keresahan yang pada akhirnya akan diatasi d
engan pemerintahan yang ditaktor. Di sisi lain, jika hal yang sama terjadi pada
negara yang mengembangkan pendidikan sebagai tujuan utama, maka sumberdaya manus
ia yang ada siap dimanfaatkan untuk melaksanakan pembangunan selanjutnya. Dalam
dataran teoritis, permasalahan keamanan dan permasalahan pembangunan dapat diata
si dengan beberapa strategi pembangunan. Basic need strategy merupakan strategi
pembangunan untuk memenuhi kebutuhan pokok masyarakat, sehingga dapat meredam ke
mungkinan munculnya konflik internal. Self reliance strategies dapat dijadikan j
alan keluar untuk mengatasi problema eksternal dari industrialisasi, yaitu penin
gkatan Jaya saing. Sustainable development merupakan strategi pembangunan yang m
ampu mengatasi kelangkaan sumberdaya. Strategi-strategi ini relatif lebih meyaki
nkan dan sesuai diterapkan oleh NSB dalam jangka panjang. BACAAN YANG DIANJURKAN
Hettne, Bjorn, Development Theory and the Three Worlds, Longman Scientific & Te
chnical, London, 1990, bab 1. Lewis, John P dan Valeriana Kallab, eds, Mengkaji
Ulang Strategiâ
strategi Pembangunan (terjemahan), UIâ Press, Jakarta, 1987. Rahardjo, M.
Dawam, Eseiâ
esei Ekonomi Politik, LP3ES, Jakarta, 1988, bab 4.

57

BAB V MASALAH KETIMPANGAN DAN KEMISKINAN

Kemiskinan merupakan masalah yang dihadapi oleh semua negara di dunia. Di Amerik
a Serikat (AS), yang tergolong negara maju dan salah satu negara kaya di dunia,
masih terdapat jutaan orang yang tergolong miskin. Sementara itu, mereka yang hi
dup tidak miskin relatif miskin dibanding penduduk AS yang lainnya. Persis seper
ti dikatakan oleh Sharp, et.al. (1996): "Poverty amidst plenty" is a striking fe
ature of the American scene. Our nation is the richest in the world, yet million
s of people are poor, and millions more that do not live in poverty are poor rel
ative to others. This is not the American dream; it is the American paradox. Di
lain pihak, negara miskin menghadapi masalah "klasik": pertumbuhan versus distri
busi pendapatan. Isu mendasarnya adalah tidak hanya bagaimana meningkatkan pertu
mbuhan GNP namun juga siapa yang membuat "kue nasional" itu tumbuh, segelintir o
rang ataukah banyak orang. Bila pertumbuhan terutama disumbang oleh golongan kay
a, maka merekalah yang paling mendapat manfaat dari pertumbuhan, sementara kemis
kinan dan distribusi pendapatan semakin memburuk. Namun, bila pertumbuhan disumb
ang oleh banyak orang, maka buah dari pertumbuhan ekonomi akan dirasakan secara
lebih merata. Banyak Negara Dunia Ketiga (NSB) mengalami laju pertumbuhan ekonom
i yang relatif tinggi tetapi tidak membawa manfaat yang berarti bagi penduduk mi
skin. Hal ini dialami oleh ratusan juta penduduk di Afrika, Asia, dan Amerika La
tin, di mana tingkat kehidupannya relatif berhenti dan bahkan anjiok bila dinila
i secara riil. Dengan kata lain, kemiskinan setidaknya dapat ditinjau dari 2 sis
i, yaitu: Pertama, kemiskinan absolut, di mana dengan pendekatan ini diidentifik
asikan jumlah penduduk yang hidup di bawah garis kemiskinan tertentu. Kedua, kem
iskinan relatif, yaitu pangsa pendapatan nasional yang diterima oleh masing-masi
ng golongan pendapatan. Dengan kata lain, kemiskinan relatif amat erat kaitannya
dengan masalah distribusi pendapatan. 5.1. BEBAN KEMISKINAN GLOBAL Kemiskinan y
ang banyak terjadi sekarang ini mempunyai penyebaran yang tidak seimbang balk an
tarwilayah yang ada Dunia Ketiga maupun antarnegara yang ada di 58

wilayah-wilayah tersebut. Hampir setengah dari seluruh masyarakat yang miskin hi
dup di Asia Selatan yang mempunyai jumlah penduduk sebesar 30 persen clari total
populasi dunia. Sub Sahara Afrika mempunyai penduduk dengan jumlah yang lebih k
ecil, tetapi tingkat ketimpangannya masih cukup besar. Hampir di setiap negara,
kemiskinan selalu terpusat di tempat-tempat tertentu, yaitu biasanya di perdesaa
n atau di daerah-daerah yang kekurangan sumber Jaya. Persoalan kemiskinan juga s
elalu berkaitan dengan masalahmasalah lain, misalnya lingkungan. Beban kemiskina
n paling besar terletak pada kelompok-kelompok tertentu. Kaum wanita pada umumny
a merupakan pihak yang dirugikan. Dalam rumah tangga miskin, mereka sering merup
akan pihak yang menanggung beban kerja yang lebih berat daripada kaum pria. Demi
kian pula dengan anak-anak, mereka juga menderita akibat adanya ketidakmerataan
tersebut dan kualitas hidup masa depan mereka terancam oleh karena tidak tercuku
pinya gizi, pemerataan kesehatan, dan pendidikan. Selain itu timbulnya kemiskina
n sangat sering terjadi pada kelompok-kelompok minoritas tertentu. Dalam banyak
kasus, pendapatan yang rendah selalu berkaitan dengan bentukbentuk "kekurangan"
yang lain. Misalnya saja di Meksiko, tingkat harapan hidup 10 persen penduduk te
rmiskin lebih rendah 20 tahun dibandingkan dengan 10 persen penduduk terkaya. Di
Pantai Gading, tingkat pendidikan dasar bagi penduduk termiskin hanya seperlima
dari 10 persen penduduk terkaya. Kemiskinan berbeda dengan ketimpangan distribu
si pendapatan (inequality). Perbedaan ini sangat perlu ditekankan. Kemiskinan be
rkaitan erat dengan standar hidup yang absolut dari bagian masyarakat tertentu,
sedangkan ketimpangan mengacu pada standar hidup relatif dari seluruh masyarakat
. Pada tingkat ketimpangan yang maksimum, kekayaan dimiliki oleh satu orang saja
, dan tingkat kemiskinan sangat tinggi. Di sini kemiskinan didefinisikan sebagai
ketidakmampuan untuk memenuhi standar hidup minimum. Definisi tersebut menyirat
kan tiga pertanyaan dasar, yaitu: bagaimanakah mengukur standar hidup? Apa yang
dimaksudkan dengan standar hidup minimum? Indikator sederhana yang bagaimanakah
yang mampu mewakili masalah kemiskinan yang begitu rumit? 5.1.1. Garis Kemiskina
n Semua ukuran kemiskinan dipertimbangkan berdasarkan pada norma tertentu. Pilih
an norma tersebut sangat penting terutama dalam hal pengukuran kemiskinan yang d
idasarkan konsumsi. Garis kemiskinan yang didasarkan pada konsumsi (consumption-
based poverty line) terdiri dari dua elemen, yaitu: (1) pengeluaran yang diperlu
kan untuk membeli standar 59

gizi minimum dan kebutuhan mendasar Iainnya; dan (2) jumlah kebutuhan lain yang
sangat bervariasi, yang mencerminkan biaya partisipasi dalam kehidupan masyaraka
t sehari-hari. Bagian pertama relatif jelas. Biaya untuk mendapatkan kalori mini
mum dan kebutuhan lain dihitung dengan melihat harga-harga makanan yang menjadi
menu golongan miskin. Adapun elemen kedua sifatnya lebih subyektif. Persepsi men
genai kemiskinan telah berkembang sejak lama dan sangat bervariasi antara budaya
yang satu ke budaya yang lain. Kriteria untuk membedakan penduduk miskin dengan
yang tidak miskin mencerminkan prioritas nasional tertentu dan konsep normatif
mengenai kesejahteraan. Namun umumnya pada saat negaranegara menjadi lebih kaya,
persepsi mengenai tingkat konsumsi minimum yang bisa diterima, yang merupakan g
aris batas kemiskinan, akan berubah. 5.1.2. Seberapa Besar Tingkat Kemiskinan Te
rjadi? Cara yang paling sederhana untuk mengukur tingkat kemiskinan adalah denga
n menghitung jumlah orang miskin sebagai proporsi dari populasi. Cara yang lazim
disebut dengan Headcount Index ini sangat bermanfaat, meskipun indikator ini se
ring dikritik karena mengabaikan jumlah penduduk yang berada di bawah garis kemi
skinan. Oleh karena itu, kesenjangan kemiskinan pendapatan atau poverty gap digu
nakan untuk mengatasi kelemahan headcount index (Meier, 1995: h. 26). Poverty ga
p menghitung transfer yang akan membawa pendapatan setiap penduduk miskin hingga
tingkat di atas garis kemiskinan, sehingga kemiskinan dapat dilenyapkan. Penggu
naan batas atas kemiskinan sebesar US$370 menyebabkan timbulnya estimasi bahwa 1
.116 juta orang di NSB hidup dalam kemiskinan pada tahun 1985 .. Jumlah tersebut
merupakan sepertiga dari total populasi di NSB. Di antara jumlah tersebut, 633
juta orang (18 persen dan total populasi di NSB) tergolong sangat miskin, di man
a konsumsi tahunan mereka kurang dari US$275 (batas bawah kemiskinan). Kendati d
emikian, poverty gap hanya 3 persen dari konsumsi NSB. Bahkan transfer yang dibu
tuhkan untuk mengentaskan penduduk yang sangat miskin hanya 1 persen dari konsum
si NSB. Tingkat kematian balita di hampir semua NSB rata-rata adalah 121 per ser
ibu kelahiran hidup, dan tingkat harapan hidup mereka hanya 62 tahun, sedangkan
tingkat pendidikan dasar hanya 83 persen. Hampir separuh penduduk di dunia merup
akan golongan miskin, dan hampir separuh dari penduduk yang sangat miskin tingga
l di Asia Selatan Negara-negara Sub Sahara Afrika memiliki sekitar sepertiga pen
duduk miskin. Negara-negara di Afrika bagian timur tengah dan utara merupakan da
erah kedua yang memiliki jumlah penduduk miskin terbesar. Rekor ini diikuii oleh
Amerika Latin dan Karibia serta Asia Timur. 60

Meskipun NSB telah mengalami kemajuan yang substansial dalam menurunkan kemiskin
an selama tiga dasawarsa terakhir, ternyata hanya terjadi perbaikan tingkat kemi
skinan pada akhir tahun 1980-an. Peningkatan jumlah kemiskinan hampir sama denga
n peningkatan jumlah penduduk, yang sekitar 1,5 persen per tahun. Oleh karena it
u, tantangan kunci yang dihadapi oleh NSB adalah mempercepat pengurangan kemiski
nan. Hal ini tentunya memerlukan tingkat pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi y
ang dibarengi dengan perbaikan pola pertumbuhan yang menguntungkan golongan misk
in. 5.2. HIPOTESIS U TERBALIK TENTANG KETIMPANGAN Banyak perhatian telah diberik
an terhadap bagaimana distribusi pendapatan berubah dalam masa pembangunan. Simo
n Kuznets (1955) membuat hipotesis adanya kurva U terbalik (inverted U curve) ba
hwa mula-mula ketika pembangunan dimulai, distribusi pendapatan akan makin tidak
merata, namun setelah mencapai suatu tingkat pembangunan tertentu, distribusi p
endapatan makin merata. Perhatikan bahwa sebagian besar kurva Kuznets terletak d
i sebelah kanan; ketidakmerataan pendapatan menurun seiring dengan peningkatan G
NP per kapita pada tahap pembangunan selanjutnya (lihat Gambar 6.1). Varian di s
ekitar kurva Kuznets lebih banyak terdapat di negara dengan tingkat pendapatan t
ergolong menengah papan bawah. Kritik utama terhadap kurva Kuznets adalah hasil
ini sangat sensitif terhadap ukuran inequalitydan pemilihan set data. Dengan mel
akukan pemilihan yang berbeda, seseorang bisa mendapat kurva U, kurva U terbalik
, atau tidak ada hubungan sama sekali.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->