P. 1
Pokok Pokok Permasalahan Kebencanaan

Pokok Pokok Permasalahan Kebencanaan

5.0

|Views: 157|Likes:
Published by Herman Suryo
Poko pikiran unsur pengarah terhadap bencana
Poko pikiran unsur pengarah terhadap bencana

More info:

Published by: Herman Suryo on Nov 14, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

04/09/2015

pdf

text

original

PERSPEKTIF UNSUR PENGARAH BPBD JAWA TENGAH DARI MASYARAKAT PROFFESIONAL TERHADAP PERAN KELEMBAGAAN PENANGGULANGAN BENCANA DI JAWA

TENGAH
01.Pendahuluan Sebagai daerah dengan jumlah penduduk lk 34 juta jiwa, ternyata wilayah ini menyimpan berbagai potensi kebencanaan yang sewaktu waktu dapat terjadi .Potensi kebencanaan tersebut antara lain dapat didentifikasi seperti erupsi gunung,tanah longsor,tsunami,banjir ,kekeringan,kebakaran,gempa bumi dan lain sebagainya. Data BNPB dalam Rencana Nasional Penanggulangan Bencana menunjukkan beberapa sebaran bencana di Jawa Tengah yang dapat menimpa beberapa daerah Tabel 01. Jenis Dan Sebaran Bencana Di Jawa Tengah

S ebaran Bencana
40 35 30 25 20 15 10 5 0
B Ke um kr i 3 in Ts gan un am Gn i Ge Ap rk i .T Ke Ba nh bk nj r H ir ut a Ke E n bk ros r Gl Gd i m ng Cu Eks ac trm a Ko Eks nf tr lS os

Dari tabel tersebut menunjukan bahwa persebaran kejadian bencana dapat terjadi diberbagai wilayah di Jawa Tengah seperti kekeringan yang dapat menimpa di 35 kabupaten di Jawa tengah, gerakan tanah dapat terjadi di 5 titik kabupaten Dengan adanya kejadian tersebutd dapat dipastikan bahwa keseluruhan bencana yang terjadi di wilayah Jawa tengah akan mengakibatkan kerugian yang besar baik jiwa maupun harta benda.Untuk itu diperlukan suatu tata kelola yang baik dalam mengelola kebencanaan atau yang sering di sebut dengan penanggulangan bencana.

Ge m pa

Dalam tata kelola penanggulangan bencana ,sistem pengelolaan kebencanaan telah mengacu pada 3 tahapan utama pegelolaan kebencanaan yakni pada tahap pra bencana,saat bencana dan tahap pasca bencana. Tahapan pengelolaan kebencanaan di Indonesia tersebut merupakan kebijakan publik sektor kebencanaan yang di tuangkan dalam Undang undang Nomor 24 tahun 2007 tentang penanggulangan bencana. Namun demikian dalam implementasinya ( pelaksanaanya ) banyak kendala dalam mewujudkan apa yang menjadi cita cita pembentuk undang undang nomor 24 tahun 2007 tersebut maupun keinginan masyarakat .Walaupun masih perlu diteliti lebih lanjut untuk dilakukan pendalaman maka berbagai kendala tersebut antara lain terbatasnya anggaran,paradigma kebencanaan yang masih menggunakan pola lama,terbatsnya tingkat pemahaman pengelolaan kebencanaan sdm sektor publik serta terbatasnya kelembagaan yang dapat mengambil peran strategis dalam mengelola bencana di Indonesia. Unsur pengarah sebagai bagian dari struktur lembaga penanggulangan bencana di tingkat pusat (BNPB) maupun bagian dari struktur satuan kerja perangkat daerah dalam penanggulangan bencana (BPBD) sesungguhnya mempunyai peran yang cukup penting dalam penanggulanan bencana. Peran unsur pengarah diujudkan dalam bentuk menyusun konsep pelaksanaan kebijakan penanggulangan bencana sehingga hasil rumusan yang di buat oleh unsur pengarah dapat diharapkan sebagai bahan masukan dalam pelaksanaan penanggulangan bencana di Jawa tengah hingga dapat berjalan secara efektif ,effesien serta pelaksanaan penanggulangan bencana diususun tidak hanya untuk memenuhi ketentuan undang undang atau peraturan terkait saja tetapi juga mendasarkan pada aspek kebutuhan dan dinamika yang berkembang di tengah tengah masyarakat yang harus segera untuk dilaksanakan . Untuk itu disusunlah perspektif dan pokok pokok pikiran pengelolaan kebencanaan di jawa tengah untuk mewujudkan tata kelola penanggulangan bencana yang sesuai dengan ketentuan undang undang atau peraturan dan kebutuhan penanggulangan bencana di jawa tengah. Diharapkan pokok pokok pikiran dalam tata kelola penanggulangan bencana di Jawa Tengah dapat bermanfaat bagi semua pihak. 02.Data Kejadian Bencana Dan Asumsi Asumsi Selama tahun 2010 dari bulan Januari hingga bulan September terdapat berbagai kejadian yang cukup menonjol yang berkaitan dengan kebencanaan di Jawa Tengah.Sampai dengan bulan september terdapat 374 kejadian bencana dengan jenis kejadian antara lain kejadian Banjir,Kebakaran,Tanah Longsor,Gempa Bumi,Angin Topan .Kejadian tersebut menimpa 29 Kabupaten dan Kota belum termasuk 6 kabupaten dan kota lain bahkan

memungkinakn ada beberapa daerah yang belum sepenuhnya melaporkan kejadin bencna didaerahnya masing masing.

Kejadian bencana tersebut relatip mengalami kenaikan jika dibandingkan dengan kejadian bencana di Jawa Tengah pada periode sebelumnya dengan kurun waktu yang sama Tabel 02
Perbandingan Kejadian Bencana Tahun 2009 VS 2010 s Bulan Septem /d ber

Th 2010

Th 2009

Dari 27 daerah yang telah melaporkan kejadian bencana maka dapat dilihat daerah daerah di Jawa tengah yang menonjol dalam hal jumlah kejadian bencana seperti dalam diagram berikut ini *:

* Sumber BPBD Jateng

Dalam diagram tersebut disusun berdasarkan data kejadian bencana yang telah menimmpa wilayah tersebut selama bulan Januari sampai dengan September 2010 dengan klasifikasi untuk daerah yang telah mengalami kejadian sekurang kurangnya 20 kali dalam 9 bulan. Diagram berikut ini adalah data kejadian bencana yang terjadi di 27 kabupaten / kota Jawa tengah dengan mendasarkan pada jumlah 4 jumlah terbesar kejadian bencana yang pernah terjadi selama 9 bulan di tahun 2010

Dengan membandingkan dengan data kejadian tahun 2009 seperti table dibawah ini : Tabel
160 140 120 100 80 60 40 20 0
To pa n Ba nj ir Lo ng so Ke r ba ka ra n

Th 2009 Tahun 2010

Maka tanah longsor merupakan kejadian yang sangat menonjol pada periode 2 tahun terakhir .Di Jawa Tengah daerah rawan longsor mengalami kenaikan yakni pada tahun 2002 terdapat daerah tanah longsor seluas 3.667 kilometer persegi manjadi 7.059 kilometer persegi pada tahun 2009 ( Kompas: Rabu,19 Mei 2010).

Berdasarkan data Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Jawa Tengah, jumlah lokasi rawan longsor juga bertambah dari 538 desa/kelurahan di 117 kecamatan menjadi 2.024 desa/kelurahan di 247 kecamatan, yang tersebar di 27 kabupaten/kota di Jateng Adapun data kejadian yang terjadi disuatu daerah dengan frekwensi antara 1 sampai dengan 9 dan 10 sampai dengan 19 antara lain yakni :

Data Kejad ian Bencan a Berdasarkan Kejad ian > 10
Sr a gen .1 1 G r o b o g.1 1 Bl o r a .1 3 P a ti .1 3 s m g.1 7

Dari data 4 kejadian utama yang pernah menimpa wilayah Jawa Tengah selama 9 bulan di tahun 2010 dapat diuraikan menurut waktu yakni :

Data Kejadian Angin Topan Menurut Bulan
Jan-42 8-Feb M aret 12 10-Apr M ei 11 Juni 5 Juli 1 Agst 2 4-Sep

Dari data tersebut maka akan muncul berbagai asumsi yang perlu dilakukan pendalaman melalui penelitian agar asumsi asumsi tersebut mempunyai validitas yang dapat digunakan sebagai dasar untuk mengambil kebijakan dan langkah selanjutnya. Adapun asumsi asumsi tersebut antara lain : a.Bahwa data yang bersumberkan dari BPBD Jawa Tengah belum merupakan data yang final dan mneyeluruh yang diperoleh melalui mekanisme pelaporan kejadian dari setiap instansi yang ada di tiap kabupaten maupun kota di provinsi Jawa Tengah .Fenomena gunung es memungkinkan terjadi terhadap kejadian bencana di Jawa Tengah dan dengan demikian belumlah semuanya kejadian bencana yang ada di Jawa Tengah belum terlaporkan oleh masing masing instansi terkait di kabupaten kabupaten maupun kota di Jawa Tengah b.Ada beberapa kejadian menonjol yang terjadi pada bulan Januari yakni Tanah Longsor,Banjir dan Angin topan sedangkan kebakaran frekwensi kejadiannya diatas`rata rata dari keseluruhan kejadian di Jawa Tengah c.Kejadian yang menonjol tersebut secara langsung maupun tidak langsung adalah kejadian yang saling kait mengkait antara Banjir yang terjadi karena curah hujun tinggi maupun kurang optimalnya manajemen drainase di sejumlah daerah.dan dimungkinkan pula hujan yang menjadi penyebab banjir juga menjadi penyebab terjadinya tanah longsor di beberapa daerah. d.Dari data tersebut memunculkan juga beberapa dugaan mengenai keterlibatan manusia sebagai penyebab bencana ( man made disaster) baik secara individu atau kelompok dengan melakukan perubahan perubahan peruntukan suatu kawasan maupun tata guna lahan sehingga secara langsung maupun tidak langsung dapat memberikan suatu kontribusi sebagai penyebab terjadinya banjir maupun tanah longsor di sejumlah daerah. Dan memungkinkan juga bahwa beberapa kejadian bencana dapat disebabkan karena adanya kebijakan yang tidak tepat yakni dilakukan tanpa analisis risiko bencana .

03.Permasalahan Kebencanaan Disamping terdapatnya berbagai jenis kejadian bencana di Jawa tengah namun sejak diundangkanya peraturan mengenai kebencanaan baik yang berupa Undang Undang Nomor 24 tahun 2007 tentang peannggulangan bencana ,PP Nomor 21 tahun 2008 tentang penyelenggaraan penanggulangan maupun perda provinsi Jawa Tengah nomor 11 tahun 2009 masih terdapat beberapa permasalahan dalam penanggulangan bencana yang terjadi di Jawa Tengah . Adapun permasalahan tersebut antara lain : a.Permasalahan sektor pendanaan. Walaupun masalah dana/anggaran merupakan permasalahan klasik yang sedang terjadi pula pada sektor maupun kelembagaan lain namun demikian pemasalahan ini sebenarnya sungguh menjadi hambatan utama bagi institusi yang mempunyai tupoksi pada penanggulangan bencana . Dengan mengambil contoh di BPBD Jawa tengah maka dana Rp. 7,5 Milyar ( APBD Jawa Tengah : 2011) pertahun akan menjadi kesulitan bagi BPBD Jawa Tengah untuk mewujudkan dan mengembangkan rencana strategi Badan Penanggulangan Bencana Daerah provinsi Jawa Tengah. Anggaran yang digunakan setengahnya untuk kegiatan program dan kegiatan bidang bidang di BPBD akan terasa kecil sekali manfaatnya jika dibandingkan dengan kebutuhan penanggulangan bencana se Jawa Tengah. Permasalahan sektor pendanaan juga dialami oleh badan badan publik ditingkat kabupaten maupun kota.BPBD Jawa Tengah yang telah berhasil untuk mendorong pemerintah daerah di kabupaten maupun kota untuk mendirikan BPBD ditingkat kabupaten / kota .Hingga bulan September pemerintah kabupaten / kota telah merespon dengan mengeluarkan Perbup di 23 Kabupaten maupun Perda di 4 kabupaten. Pendirian BPBD kab/ Kota dengan berlandaskan pada perbup merupakan solusi langkah bagi kabupaten / kota dalam mengatasi keterbatasan dana yang dimilikinya .Dengan berbup tersebut maka Pemerintah Kabupaten tidak perlu menambah anggaran untuk jabatan eselon yang akan menduduki jabatan di BPBD karena dapat dirangkap dengan jabatan sebelumnya. b.Peran Kelembagaan Dengan hanya berlandaskan pada peraturan bupati maka akan dihadapkan pada terbatasnya kinerja yang dapat dilakukan.BPBD dengan peraturan bupati hanya akan mengandalkan dana hibah ataupun bantuan lembaga lainnya sehingga sumber daya

manusia yang tersedia akan disibukkan untuk mencari peluang yang ada tanpa menggali sumber sumber daya yang tersedia di daerahnya. Kegiatan BPBD akan mengikuti kegiatan dari donor / sponsor sehingga komleksitas permasalahan kebencanaan yang dapat diatasi secara integral akan semakin jauh dari harapan Pendirian BPBD dengan Perda merupakan sebuah dukungan politik yang sangat diperlukan dari rakyat yang dipresentasikan kepada anggota dewan perwakilan rakyat daerah.Dengan dukungan politis tersebut tidak hanya sektor anggaran saja yang akan teratasi namun juga kebijakan kebijakan lain yang berkaitan dengan kebencanaan termasuk upaya upaya penanggulangan bencana sebagai bagian dari perencanaan pembangunan Kinerja kelembagaan yang ada di tingkat kabupaten / kota belum optimal demikian juga dengan net working yang dibangun oleh BPBD Jawa Tengah.Sebagai indikatornya adalah mengenai data kejadian yang dapat dimanfaatkan sebagai bahan untuk manajemen information system.Peran lembaga di tingkat daerah belum optimal dalam melaporkan kejadian kebencanaan di wilahnya masing masing c.Sumber Daya Manusia Sektor Publik. Permasalahan yang ada pada sumber daya manusia sektor publik adalah tingkat pemahaman dalam manajemen penanggulangan bencana di semua level.Indikatornya terletak pada proses pembuatan kelembagaan yang akan menangani bencana masih banyak yang berorientasi pada bersifat responsif dari pada preventif.

04.Masukan Dan Saran a.Masukan Unsur pengarah memandang bahwa masalah pendanaan untuk penanggulangan bencana merupakan masalah utama yang sering dan akan dihadapi oleh lembaga pemerintah yang bertupoksi penanggulangan bencana.Anggaran yang bersumberkan dari pemerintah sangat terbatas . Bencana yang terjadi di Jawa Tengah ditinjau dari sudut penyebabnya merupakan kompleksitas dari berbagai hal antara lain perilaku manusia terhadap lingkungan,kebijakan yang dibuat oleh pemerintah setempat,perubahan iklim yang bersifat global dan akibat struktur bumi yang secara geologis melakukan aktivitasnya. Permasalahan perilaku manusia dan kebijakan sangat dipengaruhi oleh tingkat pengetahuan yang dimiliki oleh tiap individu dalam hal kebencanaan seperti paradigma yang dimiliki oleh pengambil kebijakan dalam mengelola kebencanaan.Belum

sepenuhnya dipahami bahwa penanggulangan bencana merupakan tanggung jawab bersama dan belum sepenuhnya dipahami bahwa penanggulangan bencana yang memerlukan biaya relatip banyak merupakan sebuah investasi yang harus dilaksanakan.Demikian juga perilaku masyarakat terhadap lingkungannya yang dapat menimbulkan bencana seperti pemanfaatan lahan yang bukan peruntukannya dan pemanfaatan sumber daya alam melebihi ambang batas. Kegiatan penyadaran,peningkatan ketahanan terhadap bencana,tindakan mitigasi terhadap sumber bencana dan penetapan kebijakan dalam kerangka untuk menghindarkan kebijakan pembangunan yang berpotensi menimbulkan bencana merupakan prioritas yang harus dilakukan oleh pemerintah dan masyarakat pada saat tidak terjadi bencana Seluruh kegiatan tersebut memerlukan peran kelembagaan yang dapat mengimplementasi program program yang sangat dibutuhkan oleh masyarakat dalam penanggulangan bencana juga secara effesien dapat mengkoordinasikan kelembagaan pemerintah yang terkait dan lembaga lembaga masyarakat baik lokal maupun internasional yang berpartisipasi dalam penannggulangan bencana Namun demikian pada sisi lain sesuai dengan semangat otonomi daerah dan arahan Presiden Soesilo Bambang Yudhoyono dalam mensikapi peristiwa erupsi G.Merapi ( Oktober – Desember 2010 ) bahwa persitiwa bencana yang terjadi di kabupaten / kota merupakan tanggung jawab sepenuhnya pemerintah daerah setempat ( kabupaten / kota ) sedangkan peran pemerintah provinsi adalah memberikan dukungan dalam mengatasi kejadian bencana. Dengan peran yang hanya sebagai pendukung maka unsur pengarah melihat bahwa peran yang dilakukan oleh pemerintah provinsi melalui BPBD Jawa Tengah bukan / belum merupakan peran kunci yang sangat diperlukan dalam Penanggulangan Bencana. Bahwa di Jawa Tengah pada tahun 2010 telah berdiri Forum Pengurangan Risiko Bencana yang dimotori oleh BPBD Jawa Tengah dan program SCDRR ( Safer Cominity Trough Disaster Reduction) .Forum ini merupakan forum organisasi tingkat provinsi baik yang berasal dari swasta maupun pemerintah dengan konsentrasi pada kegiatan kegiatan pengurangan risiko bencana. Forum Pengurangan Risiko Bencana (FPRB) meruapakan mitra pemerintah dan saling berbagi pengalaman dalam pengurangan risiko bencana, serta merupakan sumber informasi yang tepat bagi pemerintah karena anggota FPRB meruapakan pelaku yang paling dekat dalam melakukan kontak dengan masyarakat. Unsur Pengarah memandang bahwa FPRB Jawa Tengah telah dan akan memainkan peran strategis dalam Penanggulangan Bencana di Jawa Tengah,memainkan peran pelengkap kebutuhan penanggulanan bencana yang tidak dapat dilakukan oleh Pemerintah Provinsi karena keterbatasan keterbatasan yang milikinya. b.Saran saran

Dengan memahami permasalahan kebencanaan yang ada di Jawa Tengah maka bersama ini dasampaikan saran saran antara lain : 1.Perlu dilakukan pendalaman penelitian mengenai keterlibatan manusia dan lingkungannya baik masyarakat maupun yang berujud sebuah kebijakkan yang sekiranya dapat menimbulkan bencana oleh instansi terkait maupun lembaga lembaga penelitian. 2.Bahwa merubah mindset terhadap paradigma kebencanaan kepada sumber daya sektor publik,pengambil kebijakan maupun otoritas politik dan masyarakat merupakan prioritas yang dapat dilakukan oleh BPBD Jawa Tengah dengan berkolaborasi serta elaborasi terhadap semua pihak baik FPRB,SKPD Provinsi maupun kabupaten/kota,Perguruan Tinggi,Dunia usaha,Media maupun stake holder lainnya. Perubahan tersebut dapat dilakukan melalui kegiatan sosialisasi yang terarah dan terukur hasilnya sehingga dapat didiketahui manfaat serta tingkat keberhasilan yang ingin dicapai Perlu dirumuskan sekali lagi materi materi yang berkaitan dengan sosialisasi kebencanaan dengan tidak hanya menyampaikan regulasi yang ada namun perlu juga perlu disampaikan pengetahuan pegetahuan kebencanaan yang berkaitan dengan sumber sumber bencana,perilaku menyimpang terhadap lingkungan serta upaya upaya meningkatkan ketahanan terhadap bencana. 3.Mengoptimalkan peran peran sekreteriat BPBD Jawa Tengah untuk mendorong agar data kebencanaan yang dilaporkan oleh lembaga kebencanaan di kabupaten / kota dapat melalui satu pintu di kabupaten / kota dengan data yang lebih lengkap . 4.Evaluasi dan monitoring kegiatan / program Unsur Pelaksana BPBD Jawa Tengah hendaknya dilakukan secara terstruktur dan terprogram dengan melibatkan Unsur Pengarah BPBD Jawa Tengah maupun stake holder lainnya yang relevan agar pada kegiatan berikutnya akan ada perbaikan kinerja program/kegiatan yang sesuai dengan kebutuhan ditengah masyarakat. 5.Dengan terbatasnya anggaran pemerintah untuk kegiatan penanggulangan bencana maka perlu dicarikan anggaran lain di sektor privat yakni dilakukan dengan : a.Membuat Task Force /satuan tugas khusus yang menangani fundraising (pencarian dana) sektor non pemerintah di Sekretariat BPBD Jawa Tengah atau membentuk International Office di BPBD Jawa Tengah dengan tugas khusus mengkoordinasikan kegiatan pencariansumber dana internasional maupun mengkoordinasikan kegiatan lembaga internasional yang berkeinginan untuk berpartisipasi dalam penanggulangan bencana di Jawa Tengah . b.Mengoptimalkan kinerja bidang bidang yang ada di BPBD Jawa Tengah yang berkaitan dengan potensi serta aktivitas lembaga masyarakat,media maupun dunia usaha dengan

memadukan kegiatan yang dilakukan oleh pemerintah tanpa kehilangan posisi politis pemerintah di tengah masyarakat. 6.Diperlukan sebuah regulasi agar sebuah penetapan kebijkaan pembangunan harus melalui kajian analisis resiko bencana terlebih dahulu sebagai pelengkap terhadap kajian analisis mengenai dampak lingkungan ( amdal) 5.Penutup Demikian pandangan /perspektip Unsur Pengarah BPBD Jawa Tengah dari Masyarakat Proffesioanal tarhadap upaya Penanggulangan Bencana di Jawa Tengah disampaiakn serta hasil kajian awal ini merupakan hasil rangkuman persidangan Unsur Pengarah BPBD Jawa Tengah dari Masyarakat Proffesional yang di selenggarakan pada : 1.Hari dan tanggal 2.Tempat 3.Peserta : : :1 2. 3. 4. 5.

Semoga hasil kajian awal dari Unusur Pengarah BPBD Jawa Tengah dapat memberi manfaat.

Adapun kejadian menonjol tersebut antara lain :

a.Daerah Rawan Bencana

a.Berdasarkan Renas b.Sumber BPBD Jateng c.Sumber Media Jateng 03.Analisa Kebutuhan Pengelolaan Penanggulangan Bencana di Jawa tengah 04.Konsep Implementasi Kebijakan PB Di Jawa Tengah berdasarkan RKA 2011 05.Saran dan Masukan 06.Penutup.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->