P. 1
Studi kawasan

Studi kawasan

|Views: 896|Likes:
Published by Randy Brahmantyo

More info:

Published by: Randy Brahmantyo on Nov 14, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

04/04/2014

pdf

text

original

Studi kawasan

Studi kawasan adalah sebuah studi interdisipliner yang berkonsentrasi pada analisa tentang fenomena sosial, ekonomi, dan politk yang berada didalam lingkup regional atau suatu kawasan yang didasarkan pada batasan-batasan geografis, identitas, latar belakang histories, serta karakteristik dari sebuah wilayah. Studi tentang kawasan ini mencoba memahami perubahan yang terjadi dialam suatu kawasan, menganalisa dan mencoba mencari jawaban atas perubahan-perubahan yang terjadi, serta merencanakan pembangunan masa depan dari sebuah kawasan. Munculnya teori-teori Copernicus tentang bahwa sesungguhnya bumi itu bundar membawa dunia barat terutama Negara-negara eropa yang dulu masih berada di zaman kegelapan menyadari bahwa ada kawasan atau daerah-daerah lainnya yang belum terjelajahi oleh mereka. Pertumbuhan industrialisasi di Eropa yang berjalan tegak lurus seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan, membuat bagsa Eropa mencoba menjelajahi belahan bumi lainnya atas ide-ide dasar yang di empasiskan oleh Copernicus. Perbedaan kawasan yang memang dilandasi atas perbedaan geograsi membuat banyak perbedaan antara kawasan satu dengan yang lainnya. Penjelajahan bangsa Eropa atas “dunia baru” membuat mereka menemukan bahwa Negara-negara dikawasan lain memiliki sumber daya alam yang lebih kaya dibandingkan Negara mereka. Untuk itu para pemikir-pemikir barat pada masa itu mencoba mengembangkan pemikiran tentang bagaimana studi atas sebuah kawasan ini harus dibentuk untuk memahami fenomena yang amsih tergolong baru pada saat itu, Namun kerangkanya masih berputar sebatas perbedaan sumber daya, kebudayaan, serta perbedaan ras. Hal ini dipergunakan mereka didalam mencoba mengeksploitasi kawasan-kawasan yang mereka klaim sebagai tanah tidak bertuan. Studi kawasan menjadi sebuah studi bermula sejak tahun 1940an ketika para ekonom merasa kurang puas dengan rendahnya analisa ekonomi pada level regional, sehingga mereka mencari jalan untuk meningkatkannya. Pada perkembangannya, para akademisi dan juga para pemikir mencoba memasukan aspek-aspek lain untuk dianalisa pada level kawasan ini sebagai sebuah studi yang interdisipliner. Format dari studi kawasan ini berakar pada kampanye yang dilakukan oleh Walter Isard dan dukungannya terhadap promosi dari keobjektifan serta pendekatan keilmuan atas analisis penyelesaian masalah tentang lokasi industri, dan pembangunan masyarakat. Pelebaran ruang lingkup dari studi kawasan ini terjadi karena adanya dorongan dari para akademisi tentang level analisis dari studi interdisipliner atas fenomenafenomena sosial, yang ternyata pada level kawasan perlu untuk adanya analisis serta metodologi empirik yang dapat menjelaskan

keberagaman serta ciri khas dari masing-masing kawasan yang berbeda-beda. Kenapa demikian? Karena perbedaan karakteristik dari setiap kawasan yang ada ini membuat pendekatan serta analisis yang dilakukan tidak dapat diterapkan secara universal namun harus diterapkan secara relatif. Perkembangan studi kawasan sebagai sebuah studi agak sedikit berbeda, jika disiplin akademik biasanya diidentifikasikan berdasarkan jurnal yang ada, perkembangan studi kawasan justru dimulai pada tahun 1955 dengan publikasi dari paper tentang asosiasi studi kawasan, baru lah pada tahun 1958 jurnal tentang studi kawasan muncul. Namun tetap, pada awal perkembangannya studi kawasan masih terjebak didalam kerangka analisis ekonomi saja. Dalam tulisan Andrew Hurrell yang berjudul “The Regional Dimension in International Relations Theory” dijelaskan bahwa dalam mempelajari secara teoritis interaksi antarnegara, level analisis dalam tingkat regional seringkali dikesampingkan walaupun perkembangan regional secara substantif dirasa sangat penting. Kondisi tersebut dapat diubah ketika karakter pembangunan juga berubah menjadi tidak lagi menitik beratkan pada power dan kepentingan masing-masing negara. Selain itu diperlukan pula adanya kategori perbedaan wilayah (region). Atas dasar-dasar seperti yang dijelaskan diatas pantas rasanya jika studi tentang suatu kawasan membutuhkan perhatian serius agar dapat memuncul teori-teori yang terkait dengan masalah kawasan ini. Penelitian terhadap wilayah ini memang seringkali dikesampingkan namun dengan dasar-dasar yang ditetapkan para penstudi hubungan internasional, hal ini bergeser. Studi atas sebuah kawasan menjadi penting didalam memahami politik internasional. Studi kawasan muncul sebagai sebuah studi hubungan internasional karena biasanya permasalahanpermasalahan yang terjadi didalam dimensi Negara seringkali dikaitkan akan berhubungan langsung dengan level global. Padahal sebenarnya sebelum mencapai tatanan global, Behaviour serta konflik yang berada didalam suatu Negara akan berefek terlebih dahulu kepada lingkungan regionalnya sebelum menyentuh ranah global. Keberagaman serta perbedaan karakteristik yang dimiliki oleh masing-masing kawasan serta letak geografis yang melatarinya membuat studi kawasan menjadi salah satu focus bagi para penstudi hubungan internasional. Letak geografis dari sebuah kawasan membuat dinamika yang terjadi didalam satu wilayah dikawasan tersebut berdampak kedalam kawasan secara keseluruhan, hal ini menyebabkan harus adanya sebuah analisa empirik atas kecenderungan dari kawasan itu sendiri. Persamaan identitas, karakteristik, ras, bahasa ataupun budaya dari sebuah kawasan dapat menjelaskan bagaimana kecenderungan perilaku dari aktor-aktor dikawasan tersebut entah itu kecenderungan untuk berintegrasi ataupun kecenderungan terjadinya konflik.

Didalam memahami studi kawasan di hubungan internasional regionalisasi seringkali menjadi sebuah isu atau perdebatan yang paling popular. Regionalisasi merupakan perkembangan integrasi sosial dalam sebuah wilayah yang kerapkali tidak secara langsung dalam interaksi sosial dan ekonomi. Regionalisasi tidak berdasarkan kebijakan yang secara sadar dibuat oleh negara maupun bukan sekumpulan negara dan pola regionalisasi tidak harus berdasarkan batas negara. Sedangkan kesadaran regional dan identitas menekankan pada sense of belonging atau rasa memiliki antar entitas-entitas yang terlibat di dalamnya. Kerapkali regionalisme jenis ini didasari oleh persamaan identitas dan identifikasi terhadap identitas itu sendiri sehingga kerapkali menimbulkan diferensiasi dan kategorisasi. Misalnya saja penggolongan masyarakat muslim dan non-muslim, serta masyarakat Eropa dan bukan Eropa. Kerjasama regional antar negara merupakan regionalisme yang terbentuk sebagai upaya untuk merespon tantangan eksternal. Dalam regionalisme ini ditekankan adanya koordinasi untuk menentukan posisi regional dalam sistem internasional. Di lain sisi, integrasi regional menekankan pada pengurangan atau bahkan usaha untuk menghilangkan batas antar negara. Dalam konteks ini bukan batas geografis yang ingin dihilangkan, namun batas interaksi seperti batasan pajak ekspor dan impor. Regionalisme yang terakhir, kohesi regional, bisa jadi merupakan gabungan dari keempat regionalisme sebelumnya yang membentuk unit regional yang terkonsolidasi. Pembentukan kohesi regional dapat dilatarbelakangi oleh keinginan untuk membentuk organisasi regional yang supranasional untuk memperdalam integrasi ekonomi dan membentuk rezim serta membentuk hegemoni regional yang kuat.

Referensi:
Farrel, Mary and Bjorn Hette, et al. 2005. Global Politics of Regionalism. Pluto Press. pp. 38-53 Fawcett, Louise and Andrew Hurrell. 2002. Regionalism in World Politics. Oxford University Press. pp. 7-36

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->