P. 1
Perencanaan Instalasi Listrik

Perencanaan Instalasi Listrik

|Views: 133|Likes:
Published by hilmy_art

More info:

Published by: hilmy_art on Nov 14, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PPT, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

03/13/2013

pdf

text

original

Perencanaan Instalasi Listrik

1. Persyaratan umum
2. Perhitungan beban
3. Jumlah Titik Beban Pada Sirkit Akhir
4. Kemampuan Hantar Arus (KHA) Penghantar Dan Arus
Nominal Pengendali Dan Penganman
5. Saluran Utama Konsumen, Sirkit Cabang Dan Sirkit
Akhir
6. Pengendalian Dan Pengamanan Sirkit Yang Netralnya
Dibumikan Langsung.
7. Pengendalian Dan Pengamanan Sirkit Yang Netralnya
Dibumikan Tidak Langsung.
8. Pelengkapan Pemadam Kebakaran
9. Instalasi Lif.


Persyaratan Umum
A. Ketentuan Umum
Rencana instalasi listrik harus memenuhi ketentuan PUIL dan peraturan lain
yang berlaku.

B. Ketentuan Rencana Instalasi Listrik
1. Rencana instalasi listrik ialah berkas gambar rencana dan uraian teknik,
yang digunakan sebagai pegangan untuk melaksanakan pemasangan suatu
instalasi listrik
2. Rencana instalasi listrik harus dibuat dengan jelas, serta mudah dibaca dan
difahami oleh para teknisi listrik. Untuk itu harus diikuti ketentuan dan
standar yang berlaku
3. Rencana instalasi listrik terdiri dari:
a. Gambar situasi
b. Gambar instalasi
c. Diagram garis tunggal
d. Gambar rinci
e. Perhitungan teknis
f. Tabel bahan instalasi
g. Uraian teknis
h. Perkiraan biaya


2. Gambar Instalasi Yang Meliputi :
a. Rencana tata letak yang menunjukan dengan jelas tata letak perlengkapan listrik
beserta sarana kendalinya seperti : titik lampu, kotak kontak, sakelar motor listrik,
PHB dan lain-lain.
b. Rencana hubungan perlengkapan listrik dengan gawai pengendalinya seperti
hubungan lampu dengan sakelarnya, motor dengan pengasutnya, dan dengan
gawai pengatur kecepatannya, yang merupakan sebagaian dari sirkit akhir atau
cabang sirkit akhir.
c. Gambar hubungan antara bagian sirkit akhir tersebut dalam butir 2 dan PHB yang
bersangkutan, ataupun pemberian tanda mengenai hubungan tersebut.
d. Tanda ataupun keterangan yang jelas mengenai setiap perlengkapan listrik

3. Diagram Garis Tunggal yang meliputi :
a. Diagram PHB lengkap dengan keterangan mengenai ukuran dan besaran nominal
komponennya.
b. Keterangan mengenai jenis dan besar beban yang terpasang dan pembagiannya.
c. Sistem pembumian.
d. Ukuran dan jenis penghantar yang dipakai.

4. Gambar Rinci yang meliputi :
a. Perkiraan ukuran fisik PHB
b. Cara pemasangan perlengkapan listrik.
c. Cara pemasangan kabel
d. Cara kerja instalasi kendali.

Gambar rinci tersebut dapat juga diganti dan atau dilengkapi dengan keterangan atau
uraian.



5. Perhitungan Teknis meliputi :
a. Susut tegangan
b. Perbaikan faktor kerja
c. Beban terpasang dan kebutuhan maksimum
d. Arus hubung pendek dan Daya hubung pendek
e. Tingkat penerangan

6. Tabel Bahan Instalasi meliputi :
a. Jumlah dan jenis kabel, penghantar dan perlengkapan
b. Jumlah dan jenis perlengkapan bantu
c. Jumlah dan jenis PHB
d. Jumlah dan jenis armatur lampu.

7. Uraian Teknis yang meliputi :
a. Ketentuan teknis perlengkapan listrik yang dipasang dan cara pemasangannya.
b. Cara pengujian.
c. Jadwal waktu pelaksanaan

8. Perkiraan Biaya
A. Cara Menentukan Kebutuhan Maksimum
Kebutuhan maksimum dapat ditentukan dengan salah satu cara yang diuraikan
di bawah ini. Instansi yang berwenang dapat menentukan cara yang
mana yang harus digunakan.
1. Dengan Perhitungan,
2. Dengan Penaksiran,
3. Dengan Pengukuran atau Pembatasan.

Ketentuan diatas berlaku berdasarkan sebagai berikut :
1. Bila nilai kebutuhan maksimum,yang diperoleh dari
pengukuran,melampaui nilai yang diperoleh dari perhitungan atau
penaksiran,maka nilai hasil pengukuran inilah yang diambil sebagai
kebutuhan maksimum.
2. Bagi sirkit yang melayani sirkit akhir,yang diamankan dengan pemutusan
daya arus lebih yang disetel pada nilai tertentu,kebutuhan maksimumnya
tidak boleh diambil lebih besar dari nilai penyetelan arus pemutusan daya
yang mengamunkan sirkit akhir itu










B. Perhitungan kebutuhan maksimum
Penentuan kebutuhan maksimum suatu instalasi dengan perhitungan,pada dasarnya
dilakukan dengan memperhatikan cara kerja beban dalam instansi tersebut.
Bila cara kerja beban dalam suatu instansi tidak diketahui dengan pasti maka
kebutuhan maksimum dihitung menurut ketentuan sesuai dengan jenis perlengkapan
dan instansi yang melayaninya.

Untuk menghitung kebutuhan maksimumnya maka:
1. Beban yang di hubungkan pada setiap penghantar aktif harus diperhatikan secara
terpisah.
2. Beban armatur lampu dan kotak kontak harus diperhitungkan sesuai dengan
ketentuan
3. Kecuali untuk hal-hal yang tercantum dalam ketentuan, kebutuhan maksimum harus
dilakukan dengan memperjumlahkan nilai yang diperoleh dari perhitungan yang
dilakukan menurut ketentuan sesuai dengan keperluan masing-masing.
Catatnan :
Kebutuhan maksimum suatu instansi dalam tempat ibadah,gedung umum,sekolah dan
kompleks rekreasi tidak dicakup secara khusus dalam peraturan ini,karena
pembebanan instalasi di tempat ini sangat berbeda dengan tempat lain. Meskipun
beberapa aspek dari peraturan ini digunakan sebagai pegangan,kebutuhan maksimum
instansi di tempat tersebut di atas harus diperhatikan secara khusus.
Instalasi rumah tunggal dan bangunan rumah petak, perhitungan kebutuhan
maksimum dapat dilaksanakan sesuai dengan ketentuan.




C. Menentukan kebutuhan maksimum dengan penaksiran
Instansi yang berwenang dapat menentukan kebutuhan maksimum suatu
instalasi dengan penaksiran
D. Menentukan kebutuhan maksimum dengan cara pengukuran atau
pembatasan kebutuhan maksimum
Kebutuhan maksimum sirkit utama dan cabang dapat ditentukan dengan
cara pengukuran atau dengan pembatasan kebutuhan sbb:
1. Pengukuran kebutuhan maksimum dilaksanakan dengan menentukan
daya yang terbesar selama satu atau beberapa periode ¼ jam, dengan
alat ukur atau pencatat kebutuhan maksimum.
2. Arus nominal atau penyetelan dari pemutus daya
Kebutuhan maksimum ditentukan oleh arus nominal suatu pemutus
daya yang mempunyai penyetelan tetap, atau oleh penyetelan arus
pemutus daya yang dapat disetel, dengan syarat bahwa pemutus daya
tersebut mempunyai peneraan, penyetelan, tutup dan segel yang
disetujui oleh instansi yang berwenang.
E. Kebutuhan maksimum sirkit akhir
F. Sirkit akhir yang diamankan dengan pengeman lebur atau pemutus daya
Jumlah Titik Beban Pada Sirkit Akhir Dengan Ketentuan sbb :
A. Sirkit akhir dengan pemutus daya atau pengaman
B. Sirkit akhir untuk tujuan khusus
C. Perlengkapan Tegangan Rendah (TR) dengan arus nominal 16 A atau
lebur per fasa
Kemampuan Hantar Arus (KHA) Penghantar, dan Arus Nominal Pengendali
dan Pengaman memenuhi ketentuan sbb :
1. Penghantar dengan ketentuan tertentu
2. Saklar mempunyai arus nominal
3. Gawai pengaman seperti pemutus daya dan pengaman lebur harus sesuai
dengan ketentuan.
4. Penghantar netral bersama
Satuan-Satuan

Dalam instalasi penerangan satuan-satuan yang perlu diketahui adalah
a. Intensitas cahaya dengan satuan : Candela (cd)
b. Flux cahaya dengan satuan : Lumen (lm)
c. Intensitas penerangan atau iluminasi : lux (lx)
d. Sudut ruangan dengan satuan : steradian (sr)

Flux Cahaya
Intensitas cahaya ialah Flux Cahaya per satuan sudut ruangan yang dipancarkan ke
suatu arah tertentu dengan rumus
cahaya f lux untuk lambang adalah phi
lm l
cd l
) ( u
I - = u
u
=
e
e
Jadi jumlah candela sama dengan jumlah lumen per steradian.
Flux cahaya yang dipancarkan oleh suatu sumber cahaya ialah seluruh
jumlah cahaya yang dipancarkan dalam satu detik. Kalau sumber
cahayanya,misalnya sebuah lampu pijar,ditempatkan dalam reflektor,maka
cahayanya akan diarahkan,tetapi jumlah atau flux cahayanya tetap.
Intensitas Penerangan
Intensitas penerangan atau iluminasi di suatu bidang ialah flux cahaya yang
jatuh pada 1 m
2
dari bidang tersebut. Satuan untuk intensitas penerangan ialah
lux (lx), dan lambangnya E. jadi 1 lux = 1 lumen per m
2

Kalau suatu bidang yang luasnya A m2, diterangi dengan Φ lumen, maka
intensitas penerangan rata-rata di bidang tersebut sama dengan :
lux
rata rata
A
u
= E
÷
Kalau 10 m
2
diterangi dengan 1000 lumen,didapat :
lux
rata rata
100
10
1000
= =
A
u
= E
÷
Instensitas penerangan Ep di suatu titik P umumnya tidak sama untuk setiap titik
dari bidang itu.
Intensitas penerangan di suatu bidang karena suatu sumber cahaya dengan
intensitas I,berkurang dengan kuadrat dari jarak antara sumber cahaya dan bidang
itu (hukum kuadrat).

Dalam bentuk rumus
Umumnya bidang yang diterangi bukan permukaan bola.Karena itu rumus di atas
hanya berlaku untuk suatu titik tertentu dari bidang yang diterangi
Ep = intensitas penerangan di suatu titik P dari bidang yang diterangi,dinyatakan
dalam satuan lux;
lux
r
l
E
p
2
=
2
/ cm cd
l
L
s
A
=
Luminasi
Luminasi adalah suatu ukurnan untuk terang suatu benda.Luminasi yang terlalu
besar akan menyilaukan mata,seperti lampu pijar tanpa armatur.
Luminasi L suatu sumber cahaya atau suatu permukaan yang memantulkan
cahaya ialah intensitas cahayanya dibagi dengan luas semu permukaan.
Dalam bentuk rumus:
l = intensitas sumber cahayanya dalam satuan kandela ;
r = jarak dari sumber cahaya ke titik P,dinyatakan dalam meter.
Di mana:
L = luminansi dalam satuan cd/cm
2;
I = intensitas cahaya dalam satuan cd;
As = luas semu permukaan dalam satuan cm
2

Kalau luminansinya sangat kecil dapat juga digunakan satuan cd/m
2
:
I cd/cm
2
= 10.000 cd/m
2
.
Luas semu permukaan dua bola ialah:
Dari bola kecil dengan jari-jari r = 1m

;
2 2
m r
s
t t = = A
2
2
1 1
4 m r
s
t t = = A
Dari bola besar dengan jari-jari r1 = 2m:

Jika bola-bolanya 100% tembus cahaya dan l = 1cd, maka luminansi masing-
masing bola sama dengan:
Dari bola kecil:
; 2
/ 318 , 0
1
cm cd
l
L
s
= =
A
=
t
Dari bola besar :
2
/ 0796 , 0
4
1
1
cm cd
l
L
s
= =
A
=
t
Supaya tidak menyilaukan,luminansi sumber cahaya tidak boleh terlalu
besar.Luminansi armatur bola dari kaca putih susu umumnya tidak dibuat lebih dari
0,3 cd/cm
2

Contoh-contoh praktis
Flux cahaya
lumen Lampu sepeda memberi kira-kira 10 lm
Lampu pijar 150 W memberi 2.100 lm
Lampu TL 40 W memberi 2.800 lm
Intensitas penerangan (nilai rata-rata)
Lux Tengah musim panas,siang hari 50.000 lx
Tengah musim dingin,siang hari 10.000 lx
Waktu fajar atau senja(di lapangan terbuka) 400 lx
Waktu bulan purnama dan langit cerah 0,25 lx

Meja kamar tamu dengan penerangan buatan 500 lx
Ruang kantor 800 lx
Untuk pekerjaan sangat halus dengan penerangan buatan 3.000 lx
Intensitas cahaya
kandela Dop lampu sepeda(lurus ke depan),kira-kira 1cd
Dop lampu sepeda dalam reflektor (pusat berkas cahaya)
kira-kira 250 cd
Lampu suar (pusat berkas cahaya yang sangat tajam) 2.000.000 cd
Luminansi
cd/cm
2
Matahari,dilihat dari bumi 150.000 cd/cm
2
Bulan diihat dari bumi 0,25 cd/cm
2
Langit berawan ringan 0,5 cd/cm
2

Kawat lampu pijar 200 W,tanpa armatur 1.000 cd/cm
2

Lampu TL 0,4 cd/cm
2

Lampu natrium 19 cd/cm
2

Alas meja berwarna putih,dengan iluminasi 250 lux 0,05 cd/cm
2

Alas meja berwarna coklat,dengan iluminasi 250 lux 0,01 cd/cm
2

Tabel bahan instalasi g. Gambar instalasi c. Rencana instalasi listrik harus dibuat dengan jelas. Perkiraan biaya . Ketentuan Umum Rencana instalasi listrik harus memenuhi ketentuan PUIL dan peraturan lain yang berlaku. Gambar situasi b. Gambar rinci e. serta mudah dibaca dan difahami oleh para teknisi listrik. Perhitungan teknis f. Rencana instalasi listrik terdiri dari: a. Rencana instalasi listrik ialah berkas gambar rencana dan uraian teknik. Diagram garis tunggal d. Uraian teknis h. B. Ketentuan Rencana Instalasi Listrik 1.Persyaratan Umum A. Untuk itu harus diikuti ketentuan dan standar yang berlaku 3. yang digunakan sebagai pegangan untuk melaksanakan pemasangan suatu instalasi listrik 2.

Ukuran dan jenis penghantar yang dipakai. sakelar motor listrik. . Cara pemasangan perlengkapan listrik. c. Gambar hubungan antara bagian sirkit akhir tersebut dalam butir 2 dan PHB yang bersangkutan. 4. d. dan dengan gawai pengatur kecepatannya. Rencana hubungan perlengkapan listrik dengan gawai pengendalinya seperti hubungan lampu dengan sakelarnya. c. Perkiraan ukuran fisik PHB b. Gambar Rinci yang meliputi : a. yang merupakan sebagaian dari sirkit akhir atau cabang sirkit akhir. Diagram PHB lengkap dengan keterangan mengenai ukuran dan besaran nominal komponennya. kotak kontak. Tanda ataupun keterangan yang jelas mengenai setiap perlengkapan listrik 3. ataupun pemberian tanda mengenai hubungan tersebut. PHB dan lain-lain. b. c.2. b. Cara kerja instalasi kendali. Diagram Garis Tunggal yang meliputi : a. Cara pemasangan kabel d. Keterangan mengenai jenis dan besar beban yang terpasang dan pembagiannya. Gambar rinci tersebut dapat juga diganti dan atau dilengkapi dengan keterangan atau uraian. d. Gambar Instalasi Yang Meliputi : a. Rencana tata letak yang menunjukan dengan jelas tata letak perlengkapan listrik beserta sarana kendalinya seperti : titik lampu. motor dengan pengasutnya. Sistem pembumian.

Cara pengujian. Ketentuan teknis perlengkapan listrik yang dipasang dan cara pemasangannya. c. Jumlah dan jenis kabel. penghantar dan perlengkapan b. Perhitungan Teknis meliputi : a. 7. e. Jumlah dan jenis perlengkapan bantu c. Uraian Teknis yang meliputi : a. Perkiraan Biaya . Jadwal waktu pelaksanaan 8. Susut tegangan Perbaikan faktor kerja Beban terpasang dan kebutuhan maksimum Arus hubung pendek dan Daya hubung pendek Tingkat penerangan 6. d. b. Jumlah dan jenis armatur lampu. Tabel Bahan Instalasi meliputi : a. Jumlah dan jenis PHB d. b. c.5.

yang diperoleh dari pengukuran. 2. 3. Instansi yang berwenang dapat menentukan cara yang mana yang harus digunakan. 1. Dengan Pengukuran atau Pembatasan. Dengan Perhitungan. Bagi sirkit yang melayani sirkit akhir.melampaui nilai yang diperoleh dari perhitungan atau penaksiran. Dengan Penaksiran.A. Ketentuan diatas berlaku berdasarkan sebagai berikut : 1.maka nilai hasil pengukuran inilah yang diambil sebagai kebutuhan maksimum.kebutuhan maksimumnya tidak boleh diambil lebih besar dari nilai penyetelan arus pemutusan daya yang mengamunkan sirkit akhir itu .yang diamankan dengan pemutusan daya arus lebih yang disetel pada nilai tertentu. Cara Menentukan Kebutuhan Maksimum Kebutuhan maksimum dapat ditentukan dengan salah satu cara yang diuraikan di bawah ini. 2. Bila nilai kebutuhan maksimum.

2. .pada dasarnya dilakukan dengan memperhatikan cara kerja beban dalam instansi tersebut. Kecuali untuk hal-hal yang tercantum dalam ketentuan.gedung umum.sekolah dan kompleks rekreasi tidak dicakup secara khusus dalam peraturan ini. Catatnan : Kebutuhan maksimum suatu instansi dalam tempat ibadah. Beban armatur lampu dan kotak kontak harus diperhitungkan sesuai dengan ketentuan 3.karena pembebanan instalasi di tempat ini sangat berbeda dengan tempat lain.B . Beban yang di hubungkan pada setiap penghantar aktif harus diperhatikan secara terpisah. Instalasi rumah tunggal dan bangunan rumah petak. Meskipun beberapa aspek dari peraturan ini digunakan sebagai pegangan. kebutuhan maksimum harus dilakukan dengan memperjumlahkan nilai yang diperoleh dari perhitungan yang dilakukan menurut ketentuan sesuai dengan keperluan masing-masing. Perhitungan kebutuhan maksimum Penentuan kebutuhan maksimum suatu instalasi dengan perhitungan. Bila cara kerja beban dalam suatu instansi tidak diketahui dengan pasti maka kebutuhan maksimum dihitung menurut ketentuan sesuai dengan jenis perlengkapan dan instansi yang melayaninya. perhitungan kebutuhan maksimum dapat dilaksanakan sesuai dengan ketentuan. Untuk menghitung kebutuhan maksimumnya maka: 1.kebutuhan maksimum instansi di tempat tersebut di atas harus diperhatikan secara khusus.

E. tutup dan segel yang disetujui oleh instansi yang berwenang. Arus nominal atau penyetelan dari pemutus daya Kebutuhan maksimum ditentukan oleh arus nominal suatu pemutus daya yang mempunyai penyetelan tetap. penyetelan. dengan alat ukur atau pencatat kebutuhan maksimum.C. Pengukuran kebutuhan maksimum dilaksanakan dengan menentukan daya yang terbesar selama satu atau beberapa periode ¼ jam. Menentukan kebutuhan maksimum dengan cara pengukuran atau pembatasan kebutuhan maksimum Kebutuhan maksimum sirkit utama dan cabang dapat ditentukan dengan cara pengukuran atau dengan pembatasan kebutuhan sbb: 1. Menentukan kebutuhan maksimum dengan penaksiran Instansi yang berwenang dapat menentukan kebutuhan maksimum suatu instalasi dengan penaksiran D. 2. Kebutuhan maksimum sirkit akhir F. atau oleh penyetelan arus pemutus daya yang dapat disetel. Sirkit akhir yang diamankan dengan pengeman lebur atau pemutus daya . dengan syarat bahwa pemutus daya tersebut mempunyai peneraan.

dan Arus Nominal Pengendali dan Pengaman memenuhi ketentuan sbb : 1. Saklar mempunyai arus nominal 3. Sirkit akhir dengan pemutus daya atau pengaman B. Penghantar netral bersama .Jumlah Titik Beban Pada Sirkit Akhir Dengan Ketentuan sbb : A. Sirkit akhir untuk tujuan khusus C. Perlengkapan Tegangan Rendah (TR) dengan arus nominal 16 A atau lebur per fasa Kemampuan Hantar Arus (KHA) Penghantar. 4. Gawai pengaman seperti pemutus daya dan pengaman lebur harus sesuai dengan ketentuan. Penghantar dengan ketentuan tertentu 2.

tetapi jumlah atau flux cahayanya tetap.Satuan-Satuan Dalam instalasi penerangan satuan-satuan yang perlu diketahui adalah a. Flux cahaya yang dipancarkan oleh suatu sumber cahaya ialah seluruh jumlah cahaya yang dipancarkan dalam satu detik. Intensitas penerangan atau iluminasi : lux (lx) d.maka cahayanya akan diarahkan. Flux cahaya dengan satuan : Lumen (lm) c.ditempatkan dalam reflektor.misalnya sebuah lampu pijar. Kalau sumber cahayanya. Intensitas cahaya dengan satuan : Candela (cd) b. . Sudut ruangan dengan satuan : steradian (sr) Flux Cahaya Intensitas cahaya ialah Flux Cahaya per satuan sudut ruangan yang dipancarkan ke suatu arah tertentu dengan rumus l       l lm  ( phi) adalah lambang untuk flux cahaya cd Jadi jumlah candela sama dengan jumlah lumen per steradian.

Intensitas Penerangan Intensitas penerangan atau iluminasi di suatu bidang ialah flux cahaya yang jatuh pada 1 m2 dari bidang tersebut. diterangi dengan Φ lumen. jadi 1 lux = 1 lumen per m2 Kalau suatu bidang yang luasnya A m2. Intensitas penerangan di suatu bidang karena suatu sumber cahaya dengan intensitas I.berkurang dengan kuadrat dari jarak antara sumber cahaya dan bidang itu (hukum kuadrat).didapat :  rata rata  1000    100 lux  10 Instensitas penerangan Ep di suatu titik P umumnya tidak sama untuk setiap titik dari bidang itu. . Satuan untuk intensitas penerangan ialah lux (lx). maka intensitas penerangan rata-rata di bidang tersebut sama dengan :  rata  rata   lux  Kalau 10 m2 diterangi dengan 1000 lumen. dan lambangnya E.

Dalam bentuk rumus: L l cd / cm 2 s . Luminasi L suatu sumber cahaya atau suatu permukaan yang memantulkan cahaya ialah intensitas cahayanya dibagi dengan luas semu permukaan.Luminasi yang terlalu besar akan menyilaukan mata.Karena itu rumus di atas hanya berlaku untuk suatu titik tertentu dari bidang yang diterangi Ep = intensitas penerangan di suatu titik P dari bidang yang diterangi.seperti lampu pijar tanpa armatur. = jarak dari sumber cahaya ke titik P.Dalam bentuk rumus l E p  2 lux r Umumnya bidang yang diterangi bukan permukaan bola.dinyatakan dalam satuan lux. Luminasi Luminasi adalah suatu ukurnan untuk terang suatu benda. l r = intensitas sumber cahayanya dalam satuan kandela .dinyatakan dalam meter.

Dari bola besar dengan jari-jari r1 = 2m: s1   r1  4 m2 2 Jika bola-bolanya 100% tembus cahaya dan l = 1cd. maka luminansi masingmasing bola sama dengan: Dari bola kecil: L l 1   0. I = intensitas cahaya dalam satuan cd. As = luas semu permukaan dalam satuan cm2 Kalau luminansinya sangat kecil dapat juga digunakan satuan cd/m2: I cd/cm2 = 10. Luas semu permukaan dua bola ialah: Dari bola kecil dengan jari-jari r = 1m s   r 2   m2.000 cd/m2. s  .Di mana: L = luminansi dalam satuan cd/cm2.318 cd / cm 2.

000 lx 400 lx 0.000 lx 10.siang hari Waktu fajar atau senja(di lapangan terbuka) Waktu bulan purnama dan langit cerah 50.3 cd/cm2 Contoh-contoh praktis Flux cahaya lumen Lampu sepeda memberi kira-kira Lampu pijar 150 W memberi Lampu TL 40 W memberi Intensitas penerangan (nilai rata-rata) Lux Tengah musim panas.siang hari Tengah musim dingin.Dari bola besar : l 1 L   0.luminansi sumber cahaya tidak boleh terlalu besar.0796cd / cm 2  s1 4 Supaya tidak menyilaukan.25 lx 10 lm 2.Luminansi armatur bola dari kaca putih susu umumnya tidak dibuat lebih dari 0.800 lm .100 lm 2.

4 cd/cm2 19 cd/cm2 0.000 cd cd/cm2 Matahari.000 cd/cm2 0.01 cd/cm2 .tanpa armatur 150.dilihat dari bumi Bulan diihat dari bumi Langit berawan ringan Kawat lampu pijar 200 W.05 cd/cm2 0.kira-kira 800 lx 3.000.25 cd/cm2 0.dengan iluminasi 250 lux Alas meja berwarna coklat.5 cd/cm2 1.000 lx 1cd Dop lampu sepeda dalam reflektor (pusat berkas cahaya) kira-kira Lampu suar (pusat berkas cahaya yang sangat tajam) Luminansi 250 cd 2.Meja kamar tamu dengan penerangan buatan 500 lx Ruang kantor Untuk pekerjaan sangat halus dengan penerangan buatan Intensitas cahaya kandela Dop lampu sepeda(lurus ke depan).dengan iluminasi 250 lux 0.000 cd/cm2 Lampu TL Lampu natrium Alas meja berwarna putih.

5.8../.28.8./:3...9:./.3/./..3..3..90..3.3...::23.9:.28./ 8:.2 390389.9:.38.383.8802:5072:.2 .9:.

2 ./.

2 ../.

8.7 .2 :../.3./03.2... ./ 2.382..3.3.7 .-4.7-4..83-4.7-4.772 8  6 7   6 2  ..3. -4..77 2  8  6 7  6 2  .:23./ .-4.3/:.0.83 2.8802:5072:./03.0. 902-:8.      .3 .7/03.-08.7-4.

2  8 6  . .

/ .7-4.7      .-08..

90-/..72./.7 :23.203..:.2   8 6 $:5.388:2-07./-:.5:98:8::2:23.9/.9/.: -08.9:7-4./...7 .-40907..38. .7..3 :23.9/.

/..39..3.3.202-077.7  .     2   2   2 ..8 8.. 7.7  %03.3.2.7.439457.07.2 4394 ./.3.9:1.3.25:% 202-07 390389..9.9.2:825.7.7 202-07 .9:-:.25:8050/. :203. . : %03.5.35:73.:803. 7.98 :. .3.3907-:.2:82/33 8.25:5.850307.9.3 3.

2:/03.38.3.. 7.8.3. :7:80/05.3. 45.3-:.7 5:8.3..45. .3 390389.9-07.38 ./.0.3-:.:8/03.9.25:8:.2  :23.27010947 5:8..350307. 7...25:8050/.9..2..... 7.25:8050/.79./.350307.3947 &39:5007....3 7.99.3.8.3/0..9.9-07. .38.8.3 #:.

25:5.373./.35.9/..5:9 /03.3:23.97:2 .-07./  .7  9.9.4.73.8 : ..3:23.2 .9 /03..25:% ./  .9/./  .9:7 ...820.7-:2 .73.-07.820.7-:2 :.8 :       .9.72..7 /.39-07.3 .25:3.3/.

2 ./..

.2 ./.

/.2  ..

/.2 ..

./.2 .

./.2 .

/.2 ..

.2 .

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->