MAKALAH PELAYANAN KEFARMASIAN DI KOMUNITAS

DIARE

Kelompok: Cinthya Wijayani, S. Farm. B. Robby Wilson, S. Farm. Daniel Kurniawan, S, Farm. Devina Anggraeni, S. Farm. Martinus Supriyadi K., S, Farm. Valentina Ermita H., S. Farm. (118115000) (118115039) (118115000) (118115000) (118115053) (118115000)

Program Profesi Apoteker Angkatan 23 Fakultas Farmasi Universitas Sanata Dharma Yogyakarta 2011

BAB I A. PENDAHULUAN

Diare (gastroenteritis) merupakan kondisi buang air besar dalam bentuk cair lebih dari tiga kali dalam sehari, biasanya disertai dengan rasa sakit dan keram perut. Beberapa penyebab diare adalah agen infeksi, toksin, rasa cemas, obat, udara dingin, dan sebagainya. Diare merupakan salah satu penyakit yang hingga saat ini masih menjadi permasalahan, tidak hanya di negara berkembang saja, namun juga di negara maju. Pada tahun 2000, angka kejadian diare diperkirakan mencapai 1,4 – 2,5 juta jiwa, dan kejadian ini cukup banyak menjadi penyebab kematian pada anak-anak. Angka kejadian dan resiko kematian paling banyak terdapat pada anak-anak di bawah usia 1 tahun. Berdasarkan data WHO tahun dipublikasikan tahun 2003, di tahun 2002 terdapat 1,6 juta angka kematian pada anak-anak di negara-negara berkembang yang terjadi disebabkan oleh diare. Di Indonesia, kondisi sanitasi belum menggembirakan. Faktanya, layanan air limbah domestik baru mencakup 51,9% penduduk (2010). Masih 70 juta penduduk buang air besar sembarangan. Artinya setiap hari ada 14.000 ton tinja dan 176.000 meter kubik air seni yang mencemari lingkungan. Bakteri e-coli dijumpai di 75 persen air sumur dangkal perkotaan. Tidak heran jika kasus diare saat ini masih mencapai 411 per 1.000 penduduk. Kebiasaan menyusui bayi atau balita serta peran meningkatkan sanitasi lingkungan harus dilakukan guna menurunkan angka kejadian dan kematian dari pasien penderita diare, terutama kaum anak-anak dibawah usia 1 tahun.

Gambar 1 Karakteristik konsistensi feses

B. PATOFISIOLOGI 1) Definisi Diare Diare merupakan kondisi dimana terdapat meningkatnya motilitas dari Gastrointestinal Track (GI Track) bersama dengan meningkatnya sekresi dan menurunnya absorbsi cairan tubuh yang menyebabkan kehilangan elektrolit (biasanya Na+) dan air.

2) Jenis-jenis diare a. Diare akut Diare akut memiliki karakteristik frekuensi absorbsi nutrisi yang pendek dan kehilangan cairan tubuh. Diare jenis ini biasanya disebabkan oleh makanan dan minuman yang terkontaminasi oleh bakteri. Selain itu, dapat pula disebabkan oleh obat-obat tertentu atau jenis diet yang salah. Pada orang dewasa diare biasanya disebabkan oleh kontaminasi bakteri. Pada anak-anak diare sering disebabkan adanya kontaminasi virus. Secara umum, gejala diare akut adalah tinja cair, terjadi mendadak, badan lemas kadang demam dan muntah, berlangsung selama beberapa jam atau beberapa hari (biasanya tidak lebih dari 3 minggu). b. Diare kronik Diare kronik merupakan jenis diare yang menetap atau berulang dalam jangka waktu tertentu. Diare ini dapat disebabkan oleh beberapa faktor misalnya adanya masalah dalam system pencernaannya atau dapat pula merupakan manifestasi dari penyakit lain yang diderita pasien. Diare kronis biasanya berlangsung dalam waktu yang cukup lama (biasanya di atas 3 minggu). Karena banyaknya penyebab diare kronik, maka diperlukan identifikasi patofisiologis secara lebih serius menggunakan ter laboratorium yang mendukung. c. Disentri Disentri merupakan salah satu tipe diare dimana terjadi kondisi buang air besar disertai darah dan lendir. Diare jenis ini biasanya dikarenakan adanya bakteri (Contoh: Shigella, Salmonella) pada saluran pencernaan. Adapun diare jenis ini memiliki gejala penyakit: demam, sakit kram pada organ abdominal, tenesmus, kotoran yang mengandung darah dan lendir. Diare yang hanya terjadi sekali-sekali tidak berbahaya dan biasanya dapat sembuh dengan sendirinya. Tetapi diare yang berat bisa menyebabkan dehidrasi yang

Diare osmotik Diare osmotik terjadi jika cairan yang dicerna tidak seluruhnya diabsorbsi oleh usus halus akibat tekanan osmotik yang mendesak cairan kedalam lumen intestinal. Pada pasien yang sudah mengalami gastrektomi atau piroplasti atau gastroenterostomi. Keadaan ini mengakibatkan volume isi usus halus bertambah dengan tiba-tiba sehingga menimbulkan distensi usus. Yang memiliki sifat ini adalah magnesium sulfat (garam Inggris). Laktase diproduksi dan disekresi oleh sel epitel usus halus sejak dalam kandungan dan diproduksi maksimum pada waktu lahir sampai umur masa anak-anak kemudian menurun sejalan dengan usia.dapat merenggut jiwa penderitanya. Dalam keadaan fisiologis makanan yang masuk ke lambung selalu dalam keadaan hipertonis. kemudian oleh lambung di campur dengan cairan lambung dan diaduk menjadi bahan isotonis atau hipotonis. Hal ini dapat menerangkan mengapa banyak orang Asia tidak tahan susu. 2. Intoleransi makanan. makanan yang masih hipertonik akan masuk ke usus halus akibatnya akan timbul sekresi air dan elektrolit ke usus. Laksan osmotik. Yahudi dan Indian. Beberapa keadaan yang dapat memicu terjadinya diare osmotik adalah: 1. Situasi ini timbul bila seseorang makan berbagai jenis makanan dalam jumlah yang besar sekaligus. Dehidrasi merupakan suatu kondisi dimana tubuh kekurangan cairan yang dapat berujung pada kematian. 4. Peningkatan volume cairan lumen tersebut meliputi kapasitas kolon untuk reabsorbsi. Waktu pengosongan lambung yang cepat. produksi enzim laktase tetap bertahan sampai usia tua. Berbagai laksan bila diminum dapat menarik air dari dinding usus ke lumen. Beberapa karakteristik klinis diare osmotik ini adalah sebagai berikut: . yang kemudian mengakibatkan diare yang berat disertai hipovolumik intravaskuler. Pada umumnya diare osmotik terjadi akibat adanya malabsorbsi lemak atau karbohidrat. Contoh yang terkenal adalah defisiensi enzim laktase. baik sementara maupun menetap. d. nutrien dan obat sebagai cairan yang gagal dicerna dan diabsorbsi. sebaliknya orang Eropa senang minum susu. Sindrom malabsorbsi atau kelainan proses absorbsi intestinal. produksi enzim laktase cepat menurun. Defisiensi enzim. Pada orang Eropa dan Amerika. sedang pada orang Asia. Laktase adalah enzim yang disekresi oleh intestin untuk mencerna disakarida laktase menjadi monosakarida glukosa dan galaktosa. terutama bagi anak bayi yang ketahanan tubuhnya masih terbilang lemah. 3.

Diare eksudatif Diare eksudatif terjadi akibat timbulnya inflamasi pada mukosa usus yang disebabkan oleh proses invasion dan cytotoxin di kolon dengan manifestasi sindroma Disentri dengan diare yang disertai lendir dan darah (disebut juga Bloody diarrhea). Hal ini terjadi pada peninggian tekanan vena mesenterial. atau laksantif non osmotik. Inflamasi ini akan mengakibatkan kerusakan mukosa baik usus halus maupun usus besar. Shigella. inflamatory bowel disease (IBD) atau akibat radiasi. Jadi dalam keadaan fisiologi terdapat keseimbangan dimana aliran absorpsi selalu lebih banyak dari pada aliran sekresi. Entero Invasive E. Beberapa hormon intestinal seperti gastrin vasoactive intestinal polypeptide (VIP) juga dapat menyebabkan diare sekretorik.V. Efek berlebihan suatu laksan (intoksikasi laksan) dapat diatasi dengan puasa 24-27 jam dan hanya diberikan cairan intravena. e. Sperti diketahui dinding usus selain mengabsorpsi air juga mengsekresi sebagai pembawa enzim. . obstruksi sistem limfatik. Diare sekretori Diare sekretori terjadi akibat adanya gangguan transport elektrolit baik absorbsi yang berkurang ataupun sekresi yang meningkat. parahaemolitycus. histolytica. karena itu bila didapatkan pasien dehidrasi akibat laksan harus diperhatikan keadaan hipernatremia tersebut dengan memberikan dekstrose 5 %. Inflamasi dan eksudasi dapat terjadi akibat infeksi bakteri seperti E. Diare sekretorik pasif disebabkan oleh tekanan hidrostatik dalam jaringan karena terjadi pada ekspansi air dari jaringan ke lumen usus. Ada 2 kemungkinan timbulnya diare sekretorik yaitu diare sekretorik aktif dan pasif. iskemia usus. - Diare berhenti bila pasien puasa. C. Hal ini dapat terjadi akibat toksin yang dikeluarkan bakteri misalnya toksin kolera atau pengaruh garam empedu. Diare sekretorik aktif terjadi bila terdapat gangguan aliran (absorpsi) dari lumen usus ke dalam plasma atau percepatan cairan air dari plasma ke lumen.- Ileum dan kolon masih mampu menyerap natrium karena natrium diserap secara aktif. bahkan proses peradangan. difficile. coli (EIEC). asam lemak rantai pendek. Kadar natrium dalam darah cenderung tinggi. - Nilai pH feses menjadi bersifat asam akibat fermentasi karbohidrat oleh bakteri. jejuni atau bersifat non infeksi seperti gluten sensitive enteropathy. dan C. f.

pada beberapa kasus. Sakit/kejang perut. Perubahan motilitas usus dapat disebabkan oleh. b) Gejala yang biasanya dialami oleh balita . Hipersekretoris yang menyebabkan sekresi berlebih air dan elektrolit dari mukosa.Diare eksudatif ditandai dengan adanya demam. nyeri perut. Penyebabnya dapat berupa infeksi intestinal. fases yang berdarah dan berisi lekosit serta lesi inflamasi pada biopsy mukosa intestinal. keadaan tirotoksikosis. 5. Pasien ini umumnya wanita dengan diare kronik berat. rangsangan kuman. h. 6. Demam dan muntah karena malabsorpsi yang membuat tubuh gagal untuk mengabsorbsi nutrien dari makanan yang masuk. berat badan menurun. skleroderma. Mekanisme inflamasi ini dapat bersamaan dengan malabsorbsi dan meningkatnya sekresi intestinal. 2. Diare akibat perubahan motilitas intestinal Perubahan motilitas usus menyebabkan penurunan waktu kontak antara makanan yang akan dicerna dengan mukosa usus sehingga terjadi penurunan reabsorbsi dan peningkatan cairan dalam tinja. Kejadian ini terjadi pada sekitar 15 % pasien diare kronik. Mengalami rasa haus yang lebih besar daripada disaat normal (karena dehidrasi – kehilangan cairan tubuh dalam jumlah yang cukup besar). g. Kulit menjadi kering karena tubuh kekurangan cairan (dehidrasi). 7. oedem perifer dan hipokalemia. Frekuensi buang air kecil semakin sedikit. penggunaan yang salah terhadap laktsantia. 3) Gejala-gejala Diare Gejala-gejala yang terjadi pada pasien yang menderita diare (baik akut maupun kronis) secara umum adalah sebagai berikut : a) Gejala yang terjadi 1. nyeri abdomen. Diare factitia Diare ini terjadi pada pasien yang diduga memiliki riwayat penyakit psikiatrik atau tanpa riwayat penyakit diare sebelumnya. 4. protein losing enterophaty. intestinal pseudo-obstruction syndrome dan penyakit hirschsprung. Kotoran encer/cair. hipoglobulinemia. 3. zat kimia/makan. diabetes mellitus. psikologis. Pada beberapa kasus terdapat hipoalbuminemia. malnutrisi.

dan virus hepatitis adalah beberapa virus yang dapat menyebabkan diare. ETIOLOGI DIARE Secara umum diare dapat dibagi menjadi diare yang bersifat akut (durasi kurang dari dua minggu) dan diare kronik (durasi lebih dari dua minggu). Diare parasiter Parasit dapat masuk ke dalam tubuh melalui makanan dan air yang kita konsumsi. 2. Mikroba penyebab bakteri akan menginvasi lapisan mukosal dan membentuk toksin sehingga mengganggu mekanisme absorbsi maupun sekresi. Diare yang disebabkan oleh virus ini bersifat self limiting. coli). lesu. Diare akan hilang dengan sendirinya seiiring dengan hilangnya virus. kolitis ulseratif. Diare akibat penyakit usus Radang usus (Inflamatori Bowel Diseases). Diare akut yang terjadi pada anakanak umumnya disebabkan oleh infeksi rotavirus. Dehidrasi ringan/sedang (balita menjadi gelisah. Diare akibat Virus Rotavirus. 2. Selain itu. Dehidrasi berat (balita tidak sadarkan diri. Diare akibat intoleransi pada makanan . 3.1. C. susah makan. mulut sangat kering. menangis tanpa air mata). rewel. Ada beberapa penyebab yang memicu terjadinya diare. 5. dan Escherichia coli (E. Shigella. norovirus. mulut kering. Dengan demikian maka akan menurunkan kapasitas reabsorbsi dan akan meningkatkan sekresi air dan elektrolit. Salmonella. diare parasiter juga dapat disebabkan oleh protozoa Cryptosporidium. 4. Giardia lamblia dan Entamoeba histolyca adalah protozoa yang menyebabkan diare akut. Virus penyebab diare akan melekat pada sel-sel mukosa usus sehingga akan menyebabkan kerusakan pada mukosa usus. mata cekung. kanker kolon serta infeksi HIV sering menyebabkan diare. Diare akibat infeksi bakteri Beberapa jenis bakteri yang terkonsumsi melalui makanan atau air yang terkontaminasi bakteri dapat menyebabkan diare. cytomegalovirus. mata cekung. Beberapa bakteri tersebut antara lain adalah Campylobacter. virus herpes simpleks. penyakit Crohn. sangat haus dan kulit menjadi kering). Diare rotavirus biasanya sembuh dalam 3 sampai 7 hari namun untuk yang mengalami masalah pada pencernaan laktosa dapat terjadi sampai satu bulan atau lebih. biasanya 3-6 hari. antara lain: 1.

sitostatika dan antasida yang mengandung magnesium bisa menyebabkan diare. kilndamisin.Beberapa orang mengalami kesulitan mencerna makanan tertentu. antibiotik untuk kasus rumitb Self-limiting. pusing. oral-fecal spread Gejala Penanganan Usual Prognosis Onset 24-48 jam. Cairan dan Self-limiting . sorbitol. reserpin. digoksin. makanan mengandung lemak tinggi. misalnya laktosa. makanan pedas dan makanan banyak serat dan kasar. gula yang ditemukan dalam produk susu. tidak memerlukan antibiotik Cairan dan elektrolit. muntah. penghambat-ACE. tetrasiklin). muntah. sefalosporin. biasanya 5-8 hari Self-limiting. beta-blockers. mempengaruhi kekebalan inang Terbawa makanan yang dimasak kurang sempurna atau produk susu dan makanan yang dikulkas. antibiotik mungkin diperlukana Cairan dan elektrolit untuk kasus ringan. antibiotik Self-limiting Onset 8-72 jam. mempengaruhi kekebalan inang Terbawa oleh Cairan dan elektrolit. Tabel 1 Diare infeksius dan penanganannya Tipe Viral Rotavirus Epidemiologi/ Faktor Etiologi Menginfeksi bayi. oral-fecal spread. demam. mual. malaise. kinidin. diare. mual. amoksisilin. biasanya < 7 hari Onset 12-24 jam. sakit kepala. menimbulkan “stomach flu” Onset 24-72 jam. severe atau persisten. mual. diare cair Onset 24-72 jam. demam. Selain itu beberapa orang mungkin mengalami diare jika mereka makan beberapa jenis pengganti gula dalam jumlah yang berlebihan. 6. mempengaruhi kekebalan inang Terbawa oleh sayuran atau air yang terkontaminasi. demam. Diare akibat obat Antibiotik berspektrum luas (ampisilin. diare cair Cairan yang banyak dan penggantian elektrolit. demam. mual. myalgia. obat kanker. biasanya 12-60 hari Bacterial Campylobacter jejuni Salmonella Shigella Escherchia cili Terbawa makanan atau minuman yang terkontaminasi. muntah. muntah tiba-tiba. diare akut Norovirus Menginfeksi semua usia. diare Cairan dan elektrolit. tidak memerlukan antibiotic Self-limiting. menggigil Self –limiting Onset 24-48 jam.

mempengaruhi kekebalan inang Cairan dan elektrolit. antibiotikg Onset kira-kira 1 Cairan dan minggu. diare cair. demam tinggi. antimikrobade Self-limiting Self-limiting. anoreksia. diare cair Onset antara 1648 jam. sembuh dalam 23 minggu . kejang elektrolit. tenesmus. rasa tidak enak badan Diare cair yang kronik. terapi antimikrobaef Entamoeba hystolytica Isospora belli Fecal-soiled food or water. mual. antibiotikc biasanya kurang dari 3-5 hari Cairan dan elekrolit. berakhir hingga 3 minggu. tidak diperlukan antibiotik Cairan dan elektrolit. kecuali diare bertahan hingga >3 minggu Self-limiting Protozoal Giardia lamblia Terbawa bersama air yang terkontaminasi feses manusia atau hewan. mempengaruhi kekebalan inang Bagus bila dilakukan perawatan Cryptosporidia AIDS. epigastric pain Onset 2-14 hari. diare cair akut dan kronis. diare cair akut dan kronis. demam.makanan atau minuman yang terkontaminasi Clostridium difficile Diare yang dikaitkan dengan antibiotik. bacitracin) Self-limiting Bacillus cereus Terbawa makanan yang terkontaminasi Cairan dan elektrolit. mempengaruhi kekebalan inang Terbawa bersama makanan dan air yang Cairan dan elektrolit. cair. sekalikali muntah Onset selama atau sesudah beberapa minggu bergantung pada terapi antibiotik. diare. antibiotik (metronidazole. kecuali pasien penderita AIDS dan penyakit imunosupresif Bagus. kejang perut. nyeri perut. rasa tidak enak badan. perut kembung. kecuali bila mempengaruhi sistem imun Self-limited. menghentikan penyebabnya. vancomycin. muntah Onset antara 1012 jam. penyebab colitis pseudomembran Staphylococcus Terbawa makanan aureus yang dimasak kurang sempurna atau disimpan Yersinia Terbawa makanan enterocolitica yang terkontaminasi diare cair. tidak diperlukan antibiotik Cairan dan elektrolit. demam. diare elektrolit. rasa tidak antibiotik Self-limiting. perut kembung. kejang Onset 1-6 jam. mual. muntah. nyeri perut. muntah. nyeri perut. diare cair disertai mucus. mual. muntah Onset 13 minggu. abdominal bloating. bengkak. antibiotik mungkin dibutuhkan Cairan dan elektrolit.

Metronidazole. atau rifaximin (resep dokter) diberikan untuk traveler’s diare yang disebabkan E. Durasi antibiotik terapi biasanya 7-10 hari. Antibiotik tidak diindikasikan untuk penggunaan rutin apabila terinfeksi Salmonella gastroenteritis. sel darah bulan sabit. anoreksia. f. mempengaruhi kekebalan inang enak badan. dan padamomycin sebagai alternatif yang efektif. quinacrine. : a. Ciprofloksasin bisa digunakan. terapi antibiotik diberikan kepada bayi dan anak-anak yang gagal pada terapi supportif. beraat badan turun. meningkatkan resiko penyakit lain. d. kejang perut Ket. bersifat infasif dan terapi pendukung tidak membantu. Tidak ada nonprescintion terapi untuk giardiasis. Kehilangan elektrolit akan mengakibatkan dehidrasi serta . Treatmen antibiotik menggunakan fluoroquinolon. c. metronidazol yang diikuti juga dengan paramomycin atau iodoquinol untuk treatmen yang lebih baik. b. MANIFESTASI KLINIS Penyakit diare baik kronik maupun akut dapat menyebabkan beberapa keadaan klinik pada penderita. Trimethoprim-sulfamethoxazole bukan merupakan terapi yang baik karena dapat meningkatkan resistensi secara luas. azithromycin. namun Campylobacter resisten terhadap fluoroquinolon. Dehidrasi (kehilangan air) Kejadian diare umumnya akan mengalami dihidrasi karena air tidak dapat diserap secara normal oleh tubuh. Treatmen mandiri untuk emebiasis tidak berhasil. furazolidone. Diberikan nitazoxanide sebagai antibiotik spektrum luas untuk Cryptosporidium parvum pada anak 1-10 tahun dan Giardia lamblia. Treatmen antibiotik tidak dianjurkan untuk gastroenteritis karena E. Terapi antibiotik harus dipastikan kembali bahwa pasien terkenan febrile diarrheal illness.terkontaminasu feces manusia. Pasien yang mengalami demam (390C). e. pasien yang lebih tua (>65 tahun). AIDS. Berikan azithromycin atau eritromisin untuk membunuh bakteri. tidak sembuh secara spontan. coli 0157:H7. D. bayi (<3bulan). Gejala yang mengenai penderita AIDS dapat diberikan paramomycin dan azithromycin untuk terapi antiretroviral g. pasien kanker. diantaranya: 1. coli. nitazoxadine.

Hal ini akan menyebabkan tubuh kekeringan (dehidrasi). Gejala-gejala awal dari dehidrasi adalah perasaan haus. berkurangnya air seni dan menurunnya berat badan. lemah otot dan sesak nafas (dyspnoea). kejang sampai koma. kulit menjadi keriput (hilang kekenyalan).dan fungsi penting lainnya. juga keadaan gelisah. Gejala hipoglikemia akan muncul jika kadar glukosa darah menurun hingga 40 mg% pada bayi dan 50% pada anak-anak.mempengaruhi jumlah air dalam tubuh. tremor. yang seringkali berakhir dengan shock dan kematian. Tabel 2 Derajat dehidrasi 2. terutama natrium dan kalium. dehidrasi ringan-sedang jika cairan tubuh yang hilang 5%-10% dan dehidrasi berat jika tubuh kehilangan cairan lebih dari 10%. Kekurangan kalium akan mempengaruhi sistem neuromuskuler dengan gejala mengantuk(latargi). Gejala terjadinya hipoglikemia antara lain adalah lemas. bibir dan mulut kering. Pada diare hebat yang seringkali disertai muntah-muntah. berkeringat. . syok. kekurangan kalium (hipokaliemia) dan terkadang asidosis (darah menjadi asam). aktivitas otot. Dehidrasi pada diare diklasifikasikan menjadi tiga klasifikasi yakni tanpa dehidrasi jika cairan tubuh yang hilang antara 3%-5%. Hipoglikemia Hipoglikemia terjadi karena adanya gangguan penyimpanan/penyediaan glikogen dalam hati dan adanya gangguan absorbsi glukosa. tubuh akan banyak kehilangan air dan garam. pucat.

E. Produk metabolisme yang bersifat asam meningkat karena tidak dapat dikeluarkan oleh ginjal (terjadi oliguria/anuria) dan terjadinya pemindahan ion Na dari cairan ekstraseluler kedalam cairan intraseluler. KELOMPOK RESIKO TINGGI DIARE 1. . hipogammaglobulinemia. Secara klinis. dan dalam yang disebut kuzmaull sebagai usaha tubuh untuk mempertahankan pH darah. Penyebab utama diare ini adalah adalah enterotoksigenik Eschericia coli. 2. Orang yang mengalami penurunan sistem kekebalan tubuh (Imunodeficien) Orang-orang yang berisiko diare adalah orang-orang dengan imunodefisiensi primer (seperti defisiensi IgA. Gangguan keseimbangan asam basa (metabolik asidosis) Gangguan keseimbangan asam basa terjadi karena kehilangan Na-bikarbonat bersama tinja. teratur. 4. 5. akibatnya perfusi jaringan berkurang dan terjadi hipoksia. Gangguan gizi Pada kejadian diare sering mengakibatkan terjadinya gangguan gizi akibat adanya penurunan berat badan dalam waktu singkat. sering diberikan dengan pengeluaran dan susu yang encer ini diberikan terlalu lama. Pelancong (Traveler’s) Kurang lebih 40% orang yang pergi ke daerah/negara endemik dapat mengalami diare yang sering dikenal sebagai traveler’s diarrhea. kesadaran menurun dan bila tidak segera diatasi penderita diare akan meninggal.3. dapat mengakibatkan perdarahan otak.Makanan yang diberikan sering tidak dapat dicerna dan diabsorbsi dengan baik karena adanya hiperperistaltik. asidosis dapat diketahui dengan memperhatikan pernafasan. walaupun susu diteruskan. Pernafasan yang cepat.Makanan sering dihentikan karena takut diare atau muntah yang bertambah hebat.Pada anak-anak. Gangguan sirkulasi Pada penderita diare dapat mengalami gangguan sirkulasi berupa renjatan (shock) hipovolemik. terjadinya penimbunan asam laktat karena adanya anorexia jaringan. Campylobacter. asidosis bertambah berat. penyakit granulomatosa kronik) atau . Metabolisme lemak tidak sempurna sehingga benda kotor tertimbun dalam tubuh. . Shigella dan Salmonella. yang disebabkan oleh: .

Mengkonsumsi makanan tertentu Makanan atau keadaan makanan yang tidak biasa dapat menjadi risiko penyebab diare.orang-orang imunodefisiensi sekunder (seperti AIDS. Selain itu makanan yang tekontaminasi Campylobacter. 3. usia lanjut. Mikroorganisme yang menyebakan diare ini bermacam-macam tetapi yang paling sering adalah Clostridium difficile. Diare infeksi merupakan penyakit nosokomial tersering di rumah sakit dan longterm care facilities. Makanan tersebut dapat berupa makanan laut dan shell fish. . banket. dan piknik dapat menyebabkan terjadinya diare. Enteropatogen dapat menyebabkan diare hebat yang biasanya terjadi pada orang-orang dengan AIDS. 4. pharmacologic suppression). Orang yang sedang menjalani rawat inap Orang-orang yang dirawat inap dapat menjadi kelompok risiko tinggi mengalami diare. terutama yang mentah. Restoran dan rumah makan cepat saji (fast food). Shigella dan Salmonella juga dapat menjadi penyebab diare.

Gambar 2 Diarrhea Pathway .

Untuk diare yang disertai dengan darah dapat menggunakan antibiotik. 2. Terapi Non-Farmakologis Terapi non farmakologis yang dapat dilakukan terhadap pasien yang menderita diare antara lain adalah: a) Terapi rehidrasi Pelaksanaan terapi rehidrasi dapat dilakukan dengan pemberian cairan secara oral maupun parenteral. Sasaran Terapi 1. 6. 2. dan bismuth subsalicylate (pepto-bismol. kaopectate). Pemberian cairan secara oral dapat dilakukan . Menormalkan sekresi pada usus. sasaran terapi dan strategi terapi baik secara farmakologis maupun non farmakologis. Osmolaritas lumen. 3. 3. Cairan tubuh. Terapi Farmakologis Diare dapat diobati dengan menggunakan obat over the counter (OTC) seperti loperamide (imodium). dan muntah. 4. 4. 6. mual. 5. Menghilangkan gejala-gejala yang menyertai keluhan abdomen. Strategi Terapi 1. C. dan muntah. Tujuan terapi 1. Mengembalikan keseimbangan cairan tubuh. seperti mulas. mual. Sekresi usus. Mukosa usus. nyeri. Memperbaiki transport elektrolit dalam tubuh. Mekanisme transport elektrolit dalam tubuh. A. B. Mengembalikan osmolaritas dalam lumen akibat adanya defisiensi laktase atau garam magnesium. nyeri. Memperbaiki kerusakan mukosa pada usus. Namun obat-obat ini tidak dianjurkan untuk bayi dan anak-anak. 2.BAB II STRATEGI TERAPI Strategi terapi dalam pengobatan diare meliputi tujuan terapi. Gejala-gejala seperti mulas. 5.

atau kembung (violent meteorism). Tabel 3 Komposisi ORS Komposisi Natrium Klorida Glukosa anhidrat Kalium Sitrat Osmolaritas total 75 65 75 20 10 245 Mmol/L (Sumber : World Gastroenterology Organisation practice guideline: Acute diarrhea March 2008) Rehidrasi pada dehidrasi ringan dan sedang dapat dilakukan dengan pemberian oralit sesuai defisit yang terjadi. Namun pada kasus diare dengan dehidrasi berat atau pengeluaran air tinja > 100 ml/kg/hari atau muntah hebat (severe vomiting) dimana penderita tidak dapat minum sama sekali.Perawatan untuk mengganti kehilangan cairan dan elektrolit 1) Terapi rehidrasi oral Terapi rehidrasi oral (TRO) merupakan pemberian cairan melalui mulut untuk mencegah atau mengobati dehidrasi yang disebabkan oleh diare.untuk dehidrasi ringan sampai sedang.Mengganti defisit yang terjadi . maka dapat dilakukan terapi rehidrasi parenteral. Dehidrasi ringan (5%) (3%) Dehidrasi sedang : 50 ml/kg (4 – 6 jam pada bayi) : 30 ml/kg (4 – 6 jam pada anak) (5 – 10%) : 50 – 100 ml/kg (4 – 6 jam pada bayi) (6%) : 60 ml/kg (4 – 6 jam pada anak) 2) Terapi rehidrasi parenteral Penderita dengan dehidrasi berat. Cairan rehidrasi oral atau oral rehydration solution (ORS) merupakan cairan yang biasa digunakan untuk TRO.Memperbaiki dinamika sirkulasi . Adapun tujuan pemberian cairan adalah: . TRO merupakan terapi yang efektif untuk mengobati gastroenteritis akut. yaitu dehidrasi > 10% untuk bayi dan anak serta menunjukan gangguan tanda-tanda vital tubuh (somnolen- .

Na intraseluler yang berlebihan kelak akan kembali ke dalam cairan ekstraseluler apabila diberikan K. Terapi rehidrasi parenteral memerlukan tiga tahapan. Oleh karena itu diberikan larutan elektrolit dengan kadar Na yang sama dengan darah. pernafasan Kussmaul. .Terapi lanjutan Dilakukan segera setelah sirkulasi dapat dipulihkan kembali. keseluruhan cairan dan elektrolit yang diberikan perlu mencakup pula penggantian kehilangan . Untuk menghindari hal ini. kadang perlu diketahui nilai elektrolit serum sehingga terapi cairan dapat dimodifikasi sesuai dengan kadar Na yang ada (isonatremi. Pada saat tercapainya tahap ini. hanya 2/3 dari perkiraan hilangnya Na dan air dari cairan ekstraseluler yang perlu diganti pada 24 jam pertama pemberian cairan. hiponatremi atau hipernatremi). terapi lanjutan dan terapi akhir. Dehidrasi Isonatremi (Na 130 – 149 mEq/l) Pada gangguan elektrolit ini terjadi kehilangan eksternal Na dari cairan ekstraseluler dan juga Na dari cairan ekstraseluler yang masuk kedalam cairan intraseluler sebagai kompensasi dari kehilangan K intraseluler. gangguan dinamik sirkulasi) memerlukan pemberian cairan elektrolit parenteral. dengan akibat terjadinya ekspansi ke ruang ekstraseluler. Dengan demikian pemberian Na dalam jumlah yang sama dengan kehilangannya Na dari cairan ekstraseluler akan berlebihan dan akan menghasilkan kenaikan dari Na tubuh total dari penderita. Perlu adanya penambahan glukosa dalam cairan karena penderita yang sakit dapat mengalami hipoglikemi dan perlu penambahan basa untuk koreksi asidosis.Terapi awal Terapi ini bertujuan untuk memperbaiki dinamika sirkulasi dan fungsi ginjal dengan cara re-ekspansi volume cairan ekstraseluler. Terapi lanjutan digunakan untuk mengkoreksi secara menyeluruh sisa defisit air dan Na serta mengganti kehilangan cairan berlebih. Pada tahap ini disamping mengganti defisit. 1. yaitu tahap terapi awal. .koma.

Dehidrasi Hiponatremi (Na < 130mEq/l) Keadaan ini timbul karena hilangnya Na yang relatif lebih besar dari pada air. 2. Kecuali pada keadaan yang hipokalemia berat. keseluruhan cairan tubuh diperkirakan 50 – 55% dari berat badan. Pada prinsipnya Na merupakan kation ekstraseluler namun total cairan tubuh digunakan untuk menghitung kehilangan Na. maka dapat dipastikan bahwa akan terjadi hiperkalemi. Sesudah tahap penggantian defisit (sesudah 3 – 24 jam) tahap berikutnya adalah tahapan untuk mengganti sisa kehilangan cairan dan elektrolit secara menyeluruh dan dimulainya pemberian K. kadar K yang diberikan hendaknya tidak melebihi 40 mEq/L dan kecepatan pemberiannya tidak melebihi 3 mEq/kg/24 jam. Dengan demikian biasanya penggantian K dilakukan dalam waktu 3 – 4 hari. Kehilangan K mungkin sama dengan kehilangan Na namun hampir keseluruhan K yang hilang adalah berasal dari cairan ekstraseluler dan harus diganti dengan memberikannya ke dalam ruang ekstraseluler. Kebutuhan Na dan air pada tahap ini dapat diperkirakan dengan menambah 25% pada kebutuhan normal yang diperkirakan dan dengan menambah kebutuhan bagi kehilangan abnormal yang sedang berjalan (ongoing abnormal losses). Kehilangan Na ekstraseluler dapat dihitung dengan rumus berikut : Defisit Na (mEq) = (nilai Na normal – nilai Na yang diperiksa) x total cairan tubuh (L) Karena pasien mengalami dehidrasi. Apabila K diberikan dengan kecepatan sebanding dengan pemberian Na. K jangan diberikan apabila terdapat kenaikan K serum atau sampai ginjal berfungsi dengan baik. Pemberian jumlah ekstra dari Na yang diperlukan untuk mengganti kehilangan ekstra . kecuali pada kehilangan natrium yang berlebihan pemberian Na perlu diperhitungkan adanya kehilangan ekstra dari ion tsb. Terapi dehidrasi hiponatremi adalah sama seperti pada dehidrasi isonatremi. dalam keadaan asidosis berat pemberian K harus berhati-hati.cairan yang normal (ongoing normal losses) maupun yang abnormal (ongoing abnormal losses) yang terjadi melalui diare ataupun muntah.

dengan perdarahan yang tersebar luas dan trombosis atau efusi subdural. Hal ini dapat terjadi oleh kenaikan jumlah Na dalam sel otak pada saat terjadinya dehidrasi. Gejala jarang timbul kecuali bila serum Na berkurang dibawah 120 mEq/L dan hal ini biasanya cepat dikontrol dengan pemberian larutan Nacl 3% pada kecepatan 1 ml/menit sampai maksimum 12 ml/kg berat badan. Jumlah dari cairan dan Na rumatan perlu dikurangi dengan sekitar 25% pada tahap ini karena penderita dengan hipernatremi mempunyai . yang dalam gilirannya akan menimbulkan perpindahan yang berlebihan dari air ke dalam sel otak pada saat rehidrasi sebelum kelebihan Na sempat dikeluarkan. Bahkan sering timbul kejang pada pasien dengan hipernatremi. Larutan hipotonis perlu dihindarkan terutama pada tahap awal pemberian cairan karena adanya resiko terjadinya hiponatremi simptomatik 3. Itulah sebabnya terapi cairan perlu disesuaikan agar Na serum kembali normal tidak melebihi 10 m Eq/24 jam. Kejang sering pula timbul pada saat pemberian cairan karena kembalinya Na serum menjadi normal.75 ml/kg/24 jam dari larutan 5% dektrosa yang mengandung kombinasi bikarbonat dan khlorida.dapat dibagi rata dalam beberapa hari sehingga koreksi bertahap dari hiponatremi dapat tercapai pada saat volume telah bertambah. Defisit Na pada dehidrasi hipernatremi adalah relatif kecil dan volume cairan ekstraseluler relatif masih tetap tak berubah sehingga jumlah air dan Na yang diberikan pada tahap ini perlu dikurangi bila dibandingkan pada dehidrasi hipo-isonatremi. Kadar Na seyogyanya tidak dinaikkan secara mendadak dengan pemberian larutan garam hipertonis kecuali bila terlihat gejala keracunan air seperti kejang. Dehidrasi hipertonis ( Na > 150 mEq/l ) Hiperosmolalitas yang berat dapat mengakibatkan kerusakan otak. Jumlah yang sesuai adalah pemberian 60 . Kerusakan serebral ini dapat mengakibatkan kerusakan syaraf yang menetap. Diagnosis dari kerusakan serebral sekunder karena hipernatremi biasanya disertai dengan kenaikan kadar protein dalam cairan serebrospinal. kejadian ini dapat dihindari dengan melakukan koreksi hipernatremi secara pelan dalam waktu beberapa hari.

Diharapkan dengan adanya terapi akhir penderita segera mendapat asupan makanan dan minuman secara normal.5 ml/kg kalsium glukonat 10%) intravena. . hal ini dapat dicegah dengan memberikan jumlah yang cukup kalium.5 ml/kg intravena atau manitol hipertonik. Tetapi sekali timbul diperlukan pemberian kalsium (0. pengelolaannya tetap sulit dan sering terjadi kejang. meskipun cara pemberian terapi yang terencana dengan baik. Hipokalsemia kadang terlihat pula selama pengobatan dehidrasi hipernatremi. Hal ini direkomendasikan oleh WHO. Pada pengobatan dehidrasi hipertonis dengan memberikan sejumlah besar air. b) Terapi suplemen zink.Terapi akhir Pada tahap terapi akhir ini dilakukan pencegahan dan terapi defisiensi nutrisi. Komplikasi lain adalah terjadinya kerusakan tubulus ginjal dengan gejala azotemia dan berkurangnya kemampuan konsentrasi ginjal.ADH (antidiuretic hormone) yang tinggi yang menimbulkan berkurangnya volume urin. Penggantian dan kehilangan abnormal yang sedang berjalan (ongoing abnormal losses) tidak memerlukan modifikasi. Menurut WHO tahun 2005. dapat diberikan Nacl 3% 3 . Anak-anak yang menderita diare harus menerima suplemen multivitamin dan mineral setiap hari selama dua minggu. Sebagai akibatnya dapat terjadi sembab dan gagal jantung yang memerlukan digitalisasi. Walaupun dehidrasi hipernatremi dapat secara berhasil ditangani. sehingga memerlukan modifikasi cara pemberian terapi cairan. multivitamin yang dapat diberikan untuk anak di atas 1 tahun antara lain: Folat Zink 50 µg 20 µg . multivitamin dan mineral Untuk diare pada anak dibutuhkan zink sebanyak 20 mg per 14 hari. sering menimbulkan ekspansi volume cairan ekstraseluler sebelum terjadi ekskresi Cl yang nyata atau koreksi dari asidosis. Apabila timbul kejang. dengan atau tanpa garam. Suplemen dengan zink sulfat 2 mg per hari selama 10 – 14 hari dapat mengurangi kemungkinan diare selama 2 – 3 bulan.

Tidak meminum air mentah.Tidak menggunakan air mentah untuk menyikat gigi. nasi. protein. kecuali dikupas terlebih dahulu. sehingga terapi ini harus rutin dilakukan. dan roti bakar (tidak direkomendasikan sebab tidak memberikan cukup kalori.Anak dengan diare akut : ASI dan susu sapi.Tidak memakan buah dan sayuran mentah. .Tidak mengkonsumsi makanan yang dijual di pinggiran. Beberapa makanan yang harus dihindari antara lain minuman dengan kafein.Diet BRAT : pisang. Makanan sebaiknya diberikan sesudah 4 jam pemberian cairan rehidrasi oral atau sesudah disuntikkan cairan rehidrasi intravena. makanan berserat. .Tidak mengkonsumsi daging atau ikan mentah dan setengah matang. saus apel. . .Vitamin A Tembaga Magnesium 400 µg 1 mg 80 mg c) Diet makanan Pengaturan makanan merupakan terapi nutrisi untuk meningkatkan daya tahan tubuh dan menghidari menurunnya berat badan. Jenis diet yang biasa dilakukan adalah : . . seperti pisang.Tidak menggunakan es batu yang dibuat dari air mentah. dan lemak untuk penggunaan jangka panjang). . . . soda. kentang rebus. Makanan yang dapat diberikan ketika menderita diare biasanya adalah makanan yang lunak. makanan yang manis dan makanan berlemak. wortel rebus dan biskuit. d) Pencegahan Diare dapat dicegah dengan cara: .Tidak meminum susu yang tidak disterilkan.

Sakit Perut ? Ya Tidak Konsumsi obat Tidak Ya Anak usia < 3 tahun. Suhu Tubuh Anak ≥ 38°C. Periksa lebih lanjut dan berikan terapi sesuai Bbrp obat menyebabkan diare Terapi yg sesuai Toodler’s Diarrhea (makanan tdk dicerna dgn baik.BAB III ALGORITMA PENYAKIT DIARE 1. krn tdk dikunyah dgn baik) Atur diet/menu makanan anak. cairan. serat. terutama mengandung lemak. ada sisa makanan utuh dan belum dicerna pada feses Mengalami Gastroenteritis (Infeksi Sal. Algoritma diare pada anak-anak: Diare Akut Diare Kronis Anak mengalami diare > 1 minggu Ya Frekuensi BAB Anak dalam 24 Jam > 3 x / hari Tidak Muntah. & jus buah .Cerna) Terapi yang Sesuai Kemungkinan Anak sedang Stress Tidak Ya Terapi yang Sesuai Emosi berlebihan / rasa cemas dapat menyebabkan diare Anjurkan Orangtua untuk perawatan mandiri Diare mungkin disebabkan penyakit lain.

mata cekung. kepala terasa ringan.2. mual. tdk mau minum. kulit kering. turgor kulit sangat menurun Pasien mengalami dehidrasi ringan-sedang Berikan terapi rehidrasi Disertai dengan kram perut yg timbul setelah konsumsi susu / produknya dan / coklat Pasien mungkin mengalami inflammatory bowel disease Periksa lebih lanjut & berikan terapi yang tepat Pasien mungkin dehidrasi berat Lanjut di halaman berikutnya . sangat haus. feses berdarah Tidak Ya Terdapat 2/lebih gejala: gelisah. menurunnya turgor kulit Ya Tidak Ada darah dan/ nanah di feses Ya Pasien mungkin mengalami amobiasis intestinal Ada gejala 2/lebih: sangat mengantuk. tdk nafsu makan. urine warna gelap Tidak Diare disertai gejala: demam. nyeri perut. Algoritma diare pada pasien dewasa: Tidak Frekuensi BAB dalam 24 Jam > 3 x / hari Ya Disertai gejala: Haus. lemas. lemas. frekuensi BAK turun. muntah.

Anjurkan psien untuk lenjalani pemeriksaan lebih lanjut . Anjurkan pasien untuk segera menghentikan obatobatan tersebut & bila perlu berikan obat penggantinya Gejala-gejala diatas mungkin disebabkan penyakit lain. dan antihipertensi? Ya Tidak Berikan penanganan atau terapi yang tepat Pasien mungkin mengalami diare akibat obat. antibiotik.Lanjutan dari halaman sebelumnya Ya Disertai dengan kram perut yg timbul setelah konsumsi susu / produknya dan / coklat? Tidak Pasien mungkin mengalami intoleransi laktosa. suatu kondisi yang disebabkan karena enzim lactase di dalam system pencernaan yang berfungsi menguraikan gula susu/laktosa tidak ada/tidak cukup Pasien mengeluh karena perut bagian bawah terasa nyeri dan bertambah besar serta ada gejala konstipasi Ya Tidak Anjurkan psien untuk membatasi konsumsi susu dan produknya Pasien mungkin mengalami Irritable Bowel Syndrome (IBS) yg disebabkan perubahan atau gangguan fungsi normal kolon Pasien sedang menggunakan obat-obatan seperti antacid yg mengandung magnesium.

Beri oralit atau cairan rumah tangga sebagai tambahan (kuah sayur. air matang. Rencana terapi A (Terapi diare tanpa dehidrasi di rumah) Berikan pasien lebih banyak cairan dari biasanya untuk mencegah dehidrasi. Tabel 4 Penilaian derajat dehidrasi Penilaian 1. Derajat Dehidrasi Tanpa dehidrasi Dehidrasi ringan / sedang 4. lunglai / tidak sadar Mata Normal Cekung Sangat cekung dan kering Air Mata Mulut & Lidah Rasa Haus Ada Basah Minum biasa. sehingga didapatkan terapi yang sesuai untuk kondisi pasien. Bila muntah.BAB IV OBAT PILIHAN A. Teruskan pemberian larutan oralit hingga diare berhenti. Prosedur tata laksana diare adalah sebagai berikut : 1. air tajin. Untuk anak kurang dari 6 bulan dan belum mendapat makanan padat. tidak haus 2. Pemilihan Terapi Pengobatan Untuk melakukan prosedur tata laksana penderita diare yang tepat dan efektif. Periksa Turgor Kulit 3. dsb). ingin minum banyak Kembali lambat Tidak ada Sangat kering Malas minum / tidak bisa minum Kembali sangat lambat A B C Berdasarkan hasil penilaian derajat dehidrasi. Terapi Rencana terapi A Rencana terapi B Rencana terapi C Dehidrasi berat Kembali cepat Tidak ada Kering Haus. lalu pilihlah rencana terapi yang sesuai untuk pengobatan pasien. rewel Lesu. . Bila anak tidak mendapat ASI maka berikan susu formula yang biasa diberikan. teruskan ASI lebih sering dan lebih lama. awali dengan menilai derajat dehidrasi yang dialami oleh pasien. tunggu 10 menit dan lanjutkan sedikit demi sedikit. sadar Gelisah. seperti memberikan oralit atau cairan rumah tangga yang dianjurkan.umur < 1 tahun diberi 50-100 ml setiap kali berak . Lihat : Keadaan Umum Baik.

maka dilakukan rehidrasi dengan oralit melalui mulut. Selain itu. Bila berat badan tidak diketahui dan atau untuk memudahkan di lapangan. 3. rehidrasi juga dapat dilakukan dengan pemberian oralit menggunakan pipa nasogastrik / orogastrik.umur > 1 tahun diberi 100-200 ml setiap kali berak 2. hentikan pemberian oralit dan berikan air masak atau ASI. Terapi rehidrasi secara oral maupun naso gastrik / orogastrik tersebut dilakukan dengan cara memberikan oralit sedikit demi sedikit. Rencana terapi B (Terapi diare dehidrasi ringan / sedang) Jumlah oralit yang diberikan dalam 3 jam pertama dihitung dengan mengalikan berat badan penderita (kg) dengan 75 ml. dan adanya lendir serta darah . bila mutah atau perut kembung berikan cairan lebih lambat. bila rehidrasi tidak tercapai setelah 3 jam rujuk untuk terapi intravena. Penanganan Mikrobial pada Diare Akut Penderita diare akut infeksi mikrobial biasanya ditandai dengan kumpulan gejala dan tanda diare infeksi. leukosit pada feses. 20 ml/kg BB/jam selama 6 jam.. Bila kelopak mata anak bengkak. Dibagi sebagai berikut : Tabel 6 Terapi rehidrasi dengan pemberian larutan ringer laktat Umur Bayi < 1 tahun Anak ≥ 1 tahun Pemberian I : 30 ml/kg BB 1 jam* ½ jam* Kemudian 70 ml/kg BB 5 jam 2½ jam *diulangi lagi bila denyut nadi masih lemah atau tidak teraba dalam 15-30 menit. Rencana terapi C (Terapi diare dehidrasi berat) Jika penderita masih dapat minum. beri tetesan lebih cepat B.9% (bila RL tidak tersedia) 100 ml/kg BB. Kemudian beri oralit sesuai rencana terapi A bila pembengkakan telah hilang. Terapi rehidrasi intravena dilakukan dengan cara memberikan Ringer Laktat atau NaCl 0. Kemudian di nilai setiap 1-2 jam. berikan oralit sesuai tabel dibawah ini : Tabel 5 Penggunaan oralit sesuai usia pasien Umur Jumlah oralit < 1 tahun 300 ml 1 – 4 tahun 600 ml > 5 tahun 1200 ml Dewasa 2400 ml Untuk bayi dibawah 6 bulan yang tidak mendapat ASI berikan juga 100-200 ml air masak selama masa dehidrasi. seperti demam.

Penanganan diare akut infeksi ini dapat dilakukan dengan cara pemberian antibiotik. oral  Eritromicin 500 mg. Kelompok opiat . oral  Vancomycin 125 mg. 1x sehari. oral C. oral  TMP-SMX DS 2x sehari. 2x sehari. 2.m. oral  Cefriaxon 1gr. oral Vibrio Cholera  Tetrasiklin 500 mg. 2x sehari.  Ciprofloksacin 1 gr. oral Traveler diarrhea  Ciprofloksacin 500 mg oral 2x sehari. 4x sehari. dosis tunggal. 3 hari. Pemilihan Obat Anti Diare 1. i. 4x sehari. 3 hari. 4x sehari. perlu dilakukan pemeriksaan laboratorium untuk evaluasi kuman penyebab infeksi sehingga antibiotik yang akan diberikan spesifik berdasarkan kultur dan resistensi kuman tersebut. Berikut contoh antibiotik untuk organisme tertentu : Tabel 7 Penggunaan antibiotik pada kasus diare akut infeksi tahap awal Organisme Campylobacter spp Pilihan pertama  Ciprofloksacin 500 mg. 3 hari. Pada kasus diare akut infeksi pada tahap awal. 5 hari.dalam feses. Di Indonesia saat ini tersedia di bawah nama hidrasec sebagai generasi pertama jenis obat baru anti diare yang dapat pula digunakan lebih aman pada anak. / i. 7-14 hari. 4x sehari. 3 hari. 7-14 hari. oral / i. 3 hari. 1x sehari. 3 hari Clostridium difficile  Metronidazole 250-500 mg. Perbaikan fungsi akan menormalkan sekresi dari elektrolit sehingga keseimbangan cairan dapat dikembalikan secara normal. 3-5 hari. oral  Doksisiklin 300 mg.v. 2x sehari. oral  Eritromicin 250 mg. oral Shigella / Salmonella spp  Ciprofloksacin 500 mg. oral Pilihan kedua  Azithromycin 500 mg. Kelompok antisekresi selektif Terobosan terbaru adalah mulai tersedianya secara luas racecadotril yang bermanfaat sekali sebagai penghambat enzim enkephalinase sehingga enkephalin dapat bekerja kembali secara normal. 2x sehari. 3-5 hari.v.  TMP-SMX DS 2x sehari.

Bila diberikan dengan cara yang benar obat ini cukup aman dan dapat mengurangi frekwensi defekasi sampai 80%. Bila diare akut dengan gejala demam dan sindrom disentri obat ini tidak dianjurkan. pektin. loperamid 2 -4 mg / 3-4 x sehari dan lomotil 5 mg / 3. Kelompok adsorbent Arang aktif. Psyllium. Apabila pasien mengalami pengurangan volume cairan tubuh dalam jumlah yang besar (dehidrasi). Coptidis dan Catechu dapat membentuk kolloid dengan cairan dalam lumen usus dan akan mengurangi frekwensi dan konsistensi feses tetapi tidak dapat mengurangi kehilangan cairan dan elektrolit. attapulgit aktif. Pemakaiannya adalah 5-10 cc / 2 x sehari dilarutkan dalam air atau diberikan dalam bentuk kapsul atau tablet. D. Probiotik Kelompok probiotik yang terdiri dari Lactobacillus dan Bifidobacteria atau Saccharomyces boulardii. Ispraghulla. bismut subsalisilat. Melalui efek tersebut maka sel mukosa usus terhindar kontak langsung dengan zat-zat yang dapat merangsang sekresi elektrolit. 4. Zat Hidrofilik Ekstrak tumbuh-tumbuhan yang berasal dari Plantago oveta. 3. Swamedikasi 1. Syarat penggunaan dan keberhasilan mengurangi / menghilangkan diare harus diberikan dalam jumlah yang adekuat. Penggunaan kodein adalah 15-60 mg 3 x sehari. maka rehidrasi harus segera dilakukan untuk mengganti air dan cairan elektrolit yang hilang agar kembali seperti .4 x sehari. atau smektit diberikan atas dasar argumentasi bahwa zat ini dapat menyerap bahan infeksius atau toksin-toksin. kaolin.Dalam kelompok ini tergolong kodein fosfat. 5. Efek kelompok obat tersebut meliputi penghambatan propulsi. Air dan Larutan Elektrolit Pemberian air dan elektrolit merupakan terapi utama yang terus dilakukan sampai diare berhenti. bila mengalami peningkatan jumlahnya di saluran cerna akan memiliki efek yang positif karena berkompetisi untuk nutrisi dan reseptor saluran cerna. loperamid HCl serta kombinasi difenoksilat dan atropin sulfat (lomotil). Karaya (Strerculia). peningkatan absorbsi cairan sehingga dapat memperbaiki konsistensi feses dan mengurangi frekwensi diare.

rehidrasi harus tetap dilakukan selama terjadi pengurangan cairan tubuh. mata tampak cekung.komposisi tubuh yang normal. Seiring meningkatnya dehidrasi. cepat  Mata: agak cekung  Air mata: berkurang  Mulut dan lidah: kering  Elastisitas kulit: kembali sebelum 2 detik  Pengisian kapiler darah: memanjang (lama)  Suhu lengan dan tungkai: dingin  Produksi urin: berkurang . gelisah. elastisitas (turgor) kulit berkurang. Jenis-jenis dehidrasi antara lain: a. mungkin menolak cairan  Denyut nadi: normal  Kualitas kecukupan isi nadi: normal  Pernapasan: normal  Mata: normal  Air mata: ada  Mulut dan lidah: lembap (basah)  Elastisitas kulit: cepat kembali setelah dicubit  Pengisian kapiler darah: normal  Suhu lengan dan tungkai: hangat  Produksi urin: normal sampai berkurang b. Dehidrasi ringan sampai sedang (kehilangan 3 – 9% cairan tubuh):  Status mental: normal. yang ada hanya mulut kering dan rasa haus. Setelah itu. Pada tahap awal. waspada  Rasa haus: minum baik. dan tidak adanya air mata sekalipun menangis keras. Derajat dehidrasi dinilai dari tanda dan gejala yang menggambarkan kehilangan cairan tubuh. muncul tanda-tanda seperti: meningkatnya rasa haus. ubun-ubun mencekung (pada bayi). lesu. Dehidrasi minimal atau tanpa dehidrasi (kehilangan < 3% cairan tubuh):  Status mental: baik. atau rewel  Rasa haus: haus dan ingin minum terus  Denyut nadi: normal sampai meningkat  Kualitas kecukupan isi nadi: normal sampai berkurang  Pernapasan: normal. membran mukosa kering.

air teh encer. NaCl 0.5 g). diare. Oralit yang menurut WHO mempunyai komposisi campuran Natrium Klorida. sampai tidak sadar  Rasa haus: minum sangat sedikit. Glukosa dan Natrium Bikarbonat atau Natrium Sitrat sekarang dijual dengan berbagai merek dagang seperti Cymatrolit. Eltolit. Sedangkan bila telah terjadi dehidrasi sedang atau berat sebaiknya diberi minuman Oralit.c. Pemakaian cairan ini lebih dititik beratkan pada pencegahan timbulnya dehidrasi. sup wortel.5 g). Rehidrasi adalah upaya menggantikan cairan tubuh yang keluar bersama tinja dengan cairan yang memadai melalui oral atau parenteral. air tajin. Berikut ini merupakan salah satu contoh pilihan swamedikasi dengan larutan elektrolit: Tabel 8 Contoh pilihan swamedikasi larutan elektrolit Nama Produk Produsen Komposisi ORALIT Kimia Farma Tiap kantong serbuk 200 mL (1000 mL): KCl 0. biru  Produksi urin: minimal (sangat sedikit) Karena bahaya diare terletak pada dehidrasi maka penanggulangannya dengan cara mencegah timbulnya dehidrasi dan rehidrasi intensif bila telah terjadi dehidrasi. air susu ibu.7 g (3. sampai tidak bisa minum  Denyut nadi: meningkat. Indikasi Mencegah dan mengobati dehidrasi pada waktu muntaber. Kalium Klorida. sampai melemah pada keadaan berat  Kualitas kecukupan isi nadi: lemah. sampai tidak teraba  Pernapasan: dalam  Mata: sangat cekung  Air mata: tidak ada  Mulut dan lidah: pecah-pecah  Elastisitas kulit: kembali setelah 2 detik  Pengisian kapiler darah: memanjang (lama).5 g). Kritallyte dan Aqualite mengandung komposisi yang sama. Cairan rehidrasi oral yang dipakai oleh masyarakat adalah air kelapa.5 g (2. Ottolyte. Na-bikarbonat 0. air perasan buah dan larutan gula garam (LGG). . Dehidrasi berat (kehilangan > 9% cairan tubuh):  Status mental: lesu. glukosa anhidrat 4 g (20 g).3 g (1. minimal  Suhu lengan dan tungkai: dingin.

RENALYTE® 2. selanjutnya 2 gelas setiap buang air besar Kemasan Gambar Produk Kantong aluminium foil Produk larutan elektrolit lainnya: ALPHATROLIT®. CORSALIT®. BIORALIT®. Anak 6-12thn: 1 tablet setiap setelah buang air besar. Mediafarma Tiap tablet mengandung attapulgit aktif 600 mg Anti diare Dewasa dan anak > 12thn: 2 tablet setiap setelah buang air besar. Produk ini dapat dibeli tanpa resep dokter dan tidak toksik. selanjutnya 1 gelas setiap buang air besar. maksimum: sehari 12 tablet. Adsorbent memiliki mekanisme aksi yang tidak spesifik yaitu dengan menyerap racun dan cairan pencernaan agar faeses tidak terlalu encer. Anak 1-5thn: 2 jam pertama 4 gelas larutan.kolera Kontraindikasi Perhatian Dosis Obstruksi atau perforasi usus Pakailah seperlunya sampai dehidrasi teratasi Sesuai keadaan: Anak dibawah 1thn: 2 jam pertama 2 gelas larutan. Anak >5thn dan dewasa: 2 jam pertama 6 gelas. maksimum sehari 6 tablet Kemasan (HNA) Dos 25x4 tablet . selanjutnya ½ gelas setiap buang air besar. Adsorbent Adsorbent digunakan untuk mengatasi gejala diare. CYMATROLIT®. Tabel 9 Contoh pilihan obat swamedikasi dengan adsorbent Nama Produk Produsen Komposisi Indikasi Kontraindikasi Perhatian Dosis NEW DIATABS Biomedis.

Resiko (Efek Sampiing Obat & Interaksi Obat): - 2.  Untuk pasien anak-anak dan dewasa diberikan terapi Ringer Laktat secara intravena sebesar 100 mg/kg BB. NEO DIAREX®. NEO ENTERODIASTOP® E. Berikut adalah beberapa daftar produk obat kombinasi antibiotik yang beredar di masyarakat: Tabel 10 Daftar kombinasi obat antibiotik No. ATAGIP®. MOLAGIT®. Larutan Elektrolit a. Manajemen terapi: Aturan pakai (dosis. frekuensi. ENTROGARD®. BIODIAR®. d. Rujukan Rumah Sakit 1. ANSTREP®. Indikasi: mengatasi dehidrasi c. Obat: larutan Ringer Laktat (pemberian secara intravena) b. NEO DIASTOP®. BEKARBON®. AKITA®. ENTEROGIT®. Kombinasi Antibiotik Pemberian obat untuk terapi penyakit diare yang mengandung kombinasi antibiotik hanya boleh diberikan ketika seorang pasien mengalami penyakit infeksi mikroorganisme pada saluran gastro intestinal. MENSORB®. DIAGIT®. dan durasi pemakaian obat):  Untuk pasien bayi. terapi larutan elektrolit intravena diberikan setelah 1 jam pertama sebanyak 30 mg/kg BB dan dapat dilanjutkan untuk 5 jam berikutnya sebanyak 70 mg/kg BB.Gambar Produk Produk adsorbent lainnya: NEO ENTROSTOP®. Nama Dagang Keterangan kemasan yang tidak lengkap MIMS 2010 Komposisi .

IO 14 15 16 17 IO PRIMZULFON® SANPRIMA/SANPRIMA FORTE® SEPTRIN® SPECTREM® TRIMEZOL® TRIMOXSUL ULFAPRIM® WIATRIM® XEPAPRIM/XEPAPRIM FORTE® ZOLTRIM® ® 18 19 20 21 22 23 24 IO 25 IO Pemberian kombinasi obat antibiotik untuk antidiare yang disebabkan infeksi mikroorganisme perlu mempertimbangkan dosis dan kemungkinan adanya interaksi dengan berbagai jenis obat lain jika diberikan secara bersamaan . ES.1 2 3 4 BACTRICID® BACTRIM® BACTRIZOL® DOTRIM/DOTRIM FORTE® Co-trimoxazole (sulfamethoxazole (SMS) & trimethoprim (TM)) 5 HEXAPRIM/HEXAPRIM FORTE ® 6 IKAPRIM/IKAPRIM FORTE® INFATRIM® KAFTRIM® LAPIKOT FORTE® MOXALAS® NUFAPRIM/NUFAPRIM FORTE® OTTOPRIM® PEHATRIM/PEHATRIM FORTE® PRIMADEX® PRIMAZOLE ® 7 8 9 10 11 12 13 P.

Perlu adanya monitoring terus-menerus untuk kadar fenitoin serta penyesuaian dosisnya. dan ataksia. Kebutuhan untuk mengurangi dosis . 3 Co-trimoxazole + Methotrexate Penggunaan bersama antara metotreksat dosis rendah dengan co-trimoxazole akan menyebabkan beberapa kasus yaitu depresi sum-sum tulang yang berakibat fatal.(polifarmasi). Terjadi beberapa kasus yaitu disebabkan toksisitas fenitoin. sehingga perlu penyesuaian dosis jika diberikan pada pasien lansia. Volume dan tekanan darah perlu dimonitor terus-menerus ketika penggunaan metotreksat. Berikut adalah informasi tentang interaksi kombinasi antibiotik dengan obat lain: Tabel 11 Interaksi kombinasi antibiotik dengan obat lain No. 1 Kombinasi Co-trimoxazole + Dapsone Efek Interaksi Kadar serum baik dapsone dan trimetoprim dapat meningkat jika digunakan secara bersama. Trimetoprim merupakan konstituen dari co-trimoxazole namun belum diketahui secara pasti untuk dosis profilaktik dari pemberian cotrimoxazole (160 mg trimetoprim per hari dari 960 mg dosis co-trimoxazole) akan bereaksi meningkatkan derajat klinis secara signifikan. nistagmus. 4 Co-trimoxazole + Phenytoin Kadar fenitoin di dalam serum akan meningkat oleh adanya co-trimoxazole. Jika terlihat beberapa kejadian tidak normal kemungkinan disebabkan oleh adanya interaksi. Indikator terjadinya toksisitas fenitoin termasuk penglihatan kabur. Perlu adanya penyesuaian dosis yang tepat. toksisitas dari dapsone juga terjadi (menyebabkan methaemoglobinameia) 2 Co-trimoxazole + Digoxin Kadar serum dari digoksin dapat meningkat bila diberikan bersamaan. Selain meningkatkan efek obat. Perlu diperhatikan juga pemberian obat digoksin pada pasien khususnya lansia. Terdapat interaksi antara digoksin dengan co-trimoxazole dosis tinggi. 5 Co-trimoxazole + Procainamide Trimetoprim menyebabkan meningkatnya kadar prokainamid dan metabolitnya (N-asetilprokainamid) di dalam plasma.

gastrointestinal. kulit. pada pasien penderita HIV. Co-trimoxazole dapat meningkatkan kadar rifampisin dalam serum pasien yang menderita tuberculosis. 2-5 tahun setengah tablet.prokainamid perlu dilakukan bila trimetoprim diberikan untuk pasien yang telah mengkonsumsi prokainamid. dan fenprokumon akan meningkat dengan adanya pemberian co-trimoxazole. infeksi lain Dosis Tablet Dewasa biasanya 2 tablet. 2-5 tahun 1 sendok teh. Dosis minimal untuk > 14 hari terapi: 1 tablet. 8 Co-trimoxazole + Warfarin dan Antikoagulan Oral lainnya Efek antikoagulan dari warfarin. Anak 6-12 tahun 1 tablet. Berikut adalah salah satu jenis produk kombinasi antibiotik yang beredar di masyarakat untuk pasien diare akibat infeksi mikroorganisme: Tabel 12 Contoh produk kombinasi antibiotik Nama produk Pabrik pembuat Golongan obat Komposisi Indikasi SPECTREM® Armoxindo Farma G Co-trimoxazole (sulfamethoxazole (SMS) & trimethoprim (TM)) Infeksi saluran nafas. Seluruh dosis diberikan 2 x per hari. 7 Co-trimoxazole + Rifampicin (Rifampin) Rifampisin akan menurunkan kadar AUC trimetoprim dan sulfametoxazole sebanyak 56% dan 28% berturut-turut. PO obat) (pemberian Bersama makanan . Sirup anak 6-12 tahun 2 sendok teh. saluran kemih kelamin. 6 Co-trimoxazole + Pyrimethamine Pansitopenia serius dan megaloblastik anemia terjadi pada pemberian bersamaan kombinasi obat pirimetamin dan cotrimoxazole. namun ternyata tidak berefek pada manusia sehat. Pendarahan dapat terjadi bila dosis antikoagulan tidak dikurangi secara tepat. Tablet forte Dewasa 2 tablet forte/12 jam. Maksimal untuk kasus berat: 3 tablet. < 2 tahun setengah sendok teh. asenokumarol.

status gizi buruk atau defisiensi G6PD. Bayi < 2 bulan. fotsensitisasi.000). tablet forte 10 x 10 (Rp. hipersensitif terhadap sulfonamide.500). ♀ : B 3. Kategori kehamilan (US FDA Preg Cat). 19. hepatitis. IO IO LOPERAMID HCl LOPERAMID HCl LOPERAMID HCl LOPERAMID HCl INAMID® LEXADIUM® LODIA ® ® IO IO LOPERAMID HCl LOPERAMID HCl MOTILEX . Peringatan Pasien dengan defisinesi asam folat. IO P IO LOPERAMID HCl LOPERAMID HCl LOPERAMID HCl LOPERAMID HCl LOPERAMID HCl IO P. Hamil dan laktasi. Namun perlu diperhatikan bahwa senyawa Loperamid HCl memiliki efek yang membuat usus memiliki motilitas rendah sehingga senyawa ini sering menjadi pilihan obat terakhir untuk terapi penangnan penyakit diare. Nama Dagang Keterangan kemasan yang tidak lengkap MIMS 2010 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 AMEROL® COLIDIUM DIADUM DIASEC® IMODAN® IMODIUM IMUSA ® ® ® ® Komposisi P. . Berikut adalah beberapa daftar produk obat antidiare yang telah beredar di masyarakat: Tabel 13 Daftar obat antimotilitas No. diskrasia darah. dengan mekanisme antimotilitas salah satunya adalah Loperamid HCl. Kemasan/harga Tablet 100 (Rp. Efek samping Gangguan GI. Pasien lanjut usia dan pasien dengan fungsi ginjal menurun. Senyawa Lopermaid HCl ini juga tidak boleh digunakan untuk anak dibawah usia 2 tahun. artralgia. sindroma Steven-Johnson & Lyell. gangguan hematologi.500).Kontra-indikasi Kerusakan fungsi hati atau ginjal yang berat. kolitis pseudomembranosa. 148. Sirup 60 mL x 1 (Rp. 73. Antimotilitas Obat untuk terapi diare.

IO LOPERAMID HCl MIMS 2009 1 2 3 4 DIASTION® LICODIUM OPOX® ® ® LOPERAMID HCl KI IO IO LOPERAMID HCl LOPERAMID HCl LOPERAMID HCl NORMUDAL Berikut merupakan salah satu produk yang sering diberikan untuk tujuan terapi antidiare beserta dengan informasi obatnya: Tabel 14 Contoh produk antimotilitas Nama produk Pabrik pembuat Golongan obat Komposisi Indikasi Dosis NORMOTIL® Novell Pharma G Loperamid HCl Diare akut spesifik dan non spesifik.  Loperamid dengan protease inhibitor Loperamid dapat menurunkan bioavailibilitas saquinavir hingga 50%. Pemberian tipranavir tunggal dan kombinasi dengan ritronavir akan menurunkan bioavailibilitas dan konsentrasi plasma dari loperamid serta metabolitnya. mual. Hindari pemberian obat ini pada diare akut yang disebabkan E coli. shigella. konstipasi Trankuilizer.12 13 14 15 NORMOTIL® PRIMODIUM® RENAMID XEPARE ® ® LOPERAMID HCl P. alkohol. nyeri abdomen. Anak kecil. Pada kasus dimana konstipasi harus dihindari. IO LOPERAMID HCl LOPERAMID HCl P. diikuti dengan 1 tablet setiap kali BAB Anak > 5 tahun: maksimal 4-6 tablet per hari PO obat) Kontra-indikasi Hipersensitif terhadap loperamid. . atau ada darah dalam feses Efek samping Interaksi obat Mulut kering. dan saquinavir dapat meningkatkan (pemberian Bersama/tanpa makanan bioavailibilitas loperamid hingga 40%. MAOI. diare kronik Dewasa: 2 tablet. Bayi Peringatan Gangguan fungsi hati. salmonella. muntah.

19. maka perlu dipertimbangkan untuk mengurangi dosis loperamid. Perlu hati-hati untuk efek samping CNS dari loperamid bila diberikan bersamaan dengan kuinidin. ♀ : B . Kategori kehamilan (US FDA Preg Cat). Bila didapatkan efek samping merugikan.800). Loperamid dengan kuinidin Kuinidin akan meningkatkan penetrasi lopermaid menuju otak sehingga menghasilkan depresi pernafasan. Kemasan/harga Tablet 2 mg x 6 x 10 (Rp.

London Carruthers. 2008. K. Pharmaceutical Press. McGraw-Hill Companies. 2003. 2010. 2000. M. 242.org/mengenal-diare/. H. Inc. diakses tanggal 19 September 2010 Baxter. 2006. http://www. 351353.DAFTAR PUSTAKA Anonim. PT. 2010. United Kingdom Harianto. Clinical Pharmacology. dkk. United States of America Anonim. MIMS Indonesia Petunjuk Konsultasi. 2004. Inc. The Complete Encyclopedia of Medicine & Health. United Kingdom . 2nd Edition. 316-319. Elsevier Science Limited. 5th Edition. 261. 24. Mengenal Diare.P.farmasi.eurekaindonesia. Russell J. 296. United States of America Farthing. dkk. Pharmacology. Foreign Media Group. 2000.pdf Rang. 2009. 314-415. dkk. Stockley’s Drug Interactions Pocket Companion 2009. S.ac. 4th Edition. Pharmaceutical Press. Bhuana Ilmu Populer. Jakarta Anonim. George dkk.. 309. 367-378. Acute Diarrhea. World Gastroenterology Organization. Pathology and Therapeutics for Pharmacist. United Kingdom Greene.. Edisi 10 2010/2011.ui.id/pdf/2004/v01n01/Harianto010104.. jurnal.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful