P. 1
Filsafat Ilmu lingusistik - PPs IAIN Tulungagung - Oleh Tyas

Filsafat Ilmu lingusistik - PPs IAIN Tulungagung - Oleh Tyas

|Views: 373|Likes:
Published by Afif

More info:

Published by: Afif on Nov 15, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

03/12/2014

pdf

text

original

STRUKTUR ILMU BAHASA (LINGUISTIK

)
MAKALAH Disusun Sebagai Bahan Diskusi Mata Kuliah Filsafat Ilmu Dosen Pengampu: Dr. Maftukhin, M.Ag.

Oleh: FAIZAH NURMANINGTYAS

2841104025

PROGRAM PASCASARJANA INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN) TULUNGAGUNG FEBRUARI 2011

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Tidak ada kegiatan manusia yang tidak melibatkan bahasa. Bahasa dipergunakan manusia mulai ia bangun tidur hingga akan tidur lagi, mungkin pula dipergunakan dalam mimpi. Bahasa hadir di ruang privat hingga public, mulai dari kamar mandi, warung kopi, gang sempit perumahan, hingga pasar – baik tradisional maupun mall dan plaza, juga pasar modal –, rumah sakit, hotel berbintang, sampai gedung parlemen dan istana negara. Bahasa dipergunakan oleh semua makhluk hidup yang disebut manusia, mulai yang dianggap paling primitive, seperti suku asmat di Papua, hingga yang dianggap paling maju, seperti masyarakat Eropa-Amerika. Bahasa hidup dan berkembang seiring kehidupan umat manusia. Saat manusia mempelajari manusia sendiri, mereka tidak bisa meluputkan bahasa karena adanya bahasa inilah yang membedakan manusia dengan makhluk hidup lain. Sebagai makhluk yang dibekali akal, manusia tidak cukup hanya dengan ‘berbunyi’ akan tetapi berkembang melalui berbahasa. Dan dengan akal ini pula, manusia dapat mengembangkan bahasa untuk kebutuhan hidupnya sesuai latar-belakang hidupnya itu. Karena manusia adalah makhluk sosial, manusia memerlukan alat untuk dapat berhubungan dengan orang lain. Dalam hal ini, bahasa berperan penting untuk berkomunikasi, yaitu saling menyampaikan hal, pikiran, tanggapan, perasaan, dan keinginan setiap manusia sehingga mereka bisa saling mengerti dan memahami lalu dapat bekerja sama untuk memenuhi kebutuhan hidup. Saat kehidupan manusia berkembang semakin kompleks, kebutuhan mereka pun semakin bertambah dan peran bahasa sebagai alat komunikasi pun berkembang pesat sesuai tujuan masing-masing dalam berbahasa. Manusia pun mempelajari bahasa untuk mengembangkannya sesuai perkembangan kehidupan mereka. Kegiatan manusia dalam menyelidiki, mempelajari (mengkaji) bahasa melahirkan ilmu bahasa (linguistik). Meski diyakini bahwa bahasa muncul bersama munculnya manusia, kegiatan penyelidikan dan kajian terhadap bahasa baru muncul pada abad IV sebelum Masehi. Sejarah mencatat nama Plato (429-348 SM) dari

Yunani dan Panini dari India sebagai orang pertama yang mengkaji bahasa. Plato membagi kata dalam bahasa Yunani Kuno dalam dua golongan: onoma, yaitu jenis kata yang biasanya menjadi pangkal pernyataan dan pembicaraan, bisa disejajarkan dengan kata kerja, dan rhema, yaitu jenis kata yang biasanya dipakai untuk mengungkapkan pernyataan atau pembicaraan, bisa disejajarkan dengan kata sifat. Penemuan Plato dikembangkan oleh muridnya, Aristoteles (384-322 SM) dengan tambahan golongan kata ketiga, syndesmos, yaitu kata-kata yang tidak termasuk onoma maupun rhema. Pemikiran Plato dan Aristoteles ini melandasi perkembangan kajian bahasa di Barat, mulai Yunani, Arab, Latin, hingga bahasa modern Eropa seperti Jerman, Inggris, Prancis dan bahasa-bahasa lainnya. Sementara itu, kajian linguistik di Timur yang dipelopori oleh Panini dilakukan terhadap bahasa Sansekerta, yaitu bahasa suci yang dipergunakan dalam suci Hindu, Veda. Panini menuliskan kajiannya dalam buku Vyakarana berdasarkan dorongan religius. Para brahmana dan brahmacarin mengajarkan pemahaman dan pengalaman isi Veda secara lisan agar benar-benar mendapat perhatian masyarakat. Setiap pengucapan dilakukan secara cermat dan hati-hati karena kesalahan pengucapan akan membuat mantra tidak terkabul bahkan menimbulkan malapetaka. Karena itu, sistem pengucapan (fonologi) Sansekerta sangat lengkap, dan huruf yang digunakan untuk melambangkannya, aksara Devanagari pun sangat lengkap pula karena setiap bunyi dilambangkan dengan khas. Vyakarana karya Panini merupakan buku tata bahasa yang sangat akurat dalam mendeskripsikan bahasa Sansekerta, meskipun sulit untuk dipahami orang awam sehingga muridnya, Patanjali, menuliskan penjelasan atas kitab ini dalam karyanya “Mahabhasa”. Karya Panini disebut deskripsi structural paling cermat dan paling murni atas bahasa. Sayangnya, karya Panini dan muridnya tidak berkembang menjadi ilmu bahasa yang melandasi perkembangan bahasa di Timur karena motivasi karya mereka adalah motivasi religius, bukan motivasi linguistikilmiah. Karya-karya linguis Barat kemudian berkembang pesat, terutama sejak abad ke19 hingga kini. Dipelopori Ferdinand de Saussure, linguistik menemukan objek yang sebenarnya dari ilmu ini, yakni bahasa itu sendiri, yang dikaji dan dikembangkan secara ilmiah sehingga dapat berkembang menjadi berbagai sub-bidang linguistik.

Sebagaimana halnya ilmu pengetahuan dan teknologi lainnya, karya para linguis tersebut tidak hanya mempengaruhi perkembangan bahasa di Barat saja, tetapi di seluruh dunia. Tidak hanya mempengaruhi perkembangan ilmu bahasa sendiri, tapi bersama ilmu-ilmu lain bersinergi melahirkan ilmu-ilmu baru untuk menjawab tantangan perkembangan kehidupan manusia. Kajian terhadap bahasa tidak akan berhenti selama masih ada manusia karena bahasa merupakan keistimewaan manusia dan terus ada selama masih ada manusia. ‘Sejauh mana manusia mengembangkan bahasa dan sejauh mana pula bahasa mempengaruhi manusia’ adalah pertanyaan yang mendorong penulisan makalah ini. Karena terbatasnya kemampuan penulis dalam memahami bahasa dan linguistik, penulis membahatasi kajian dalam rumusan masalah di bawah ini. B. Rumusan Masalah 1. Bagaimana aspek ontologi linguistik? 2. Bagaimana aspek epistemologi linguistik? 3. Bagaimana aspek aksiologi linguistik? 4. Bagaimana heuristika linguistik? C. Tujuan pembahasan 1. Untuk mengetahui aspek ontologi linguistik. 2. Untuk mengetahui aspek epistemologi linguistik. 3. Untuk mengetahui aspek aksiologi linguistik. 4. Untuk mengetahui heuristika linguistik.

BABII PEMBAHASAN Ilmu pengetahuan dibangun berdasarkan tiga aspek: ontologi yang menunjukkan apa yang sebenarnya dikaji suatu ilmu pengetahuan, epistemologi yang menunjukkan, bagaimana objek tersebut dikaji, dan aksiologi yang menunjukkan kebermaknaan ilmu pengetahuan tersebut bagi kehidupan manusia. Linguistik, sebagai salah satu ilmu pengetahuan, juga dibangun atas ketiga aspek tersebut sehingga keberadaannya dapat dipertanggungjawabkan pada keilmuan dan kemanusiaan. A. Aspek Ontologi Linguistik Ontologi adalah cabang filsafat yang membicarakan hakikat “yang ada”, yang didasarkan atas pandangan tertentu. Pandangan yang berbeda terhadap “yang ada” ini memunculkan pengertian yang berbeda pula atas hakikat “yang ada” tersebut. Dalam kaitannya dengan ilmu pengetahuan, ontologi mempertanyakan objek kajian sebuah ilmu yang berwujud objek material dan formal dari ilmu tersebut. Kata “linguistik” berasal dari kata “lingua” dalam bahasa Latin yang berarti bahasa. Para ahli bahasa berusaha memaparkan pengertian bahasa. Ronald Wardhaugh, misalnya, mendefinisikan bahasa sebagai suatu sistem simbol-simbol bunyi arbitrer yang digunakan untuk komunikasi manusia. Senada dengan Wardhaugh, Bloch dan Trager menyatakan bahwa bahasa adalah sistem simbolsimbol bunyi arbitrer yang dipergunakan oleh suatu kelompok sosial sebagai alat komunikasi. Demikian pula dengan Joseph Bram yang menyatakan bahasa sebagai sistem yang berstruktur dari simbol-simbol bunyi arbitrer yang dipergunakan oleh para anggota suatu kelompok sosial untuk berinteraksi. Dari ketiga pengertian bahasa tersebut, dapat kita tarik kesimpulan bahwa bahasa merupakan sistem simbol-simbol bunyi yang arbitrer (bersifat sewenang-wenang, dapat digunakan sekehendak pengguna) yang dipergunakan oleh manusia untuk berhubungan dengan manusia lainnya. Bapak linguistik modern, Ferdinand de Saussure mengetengahkan tiga istilah yang berkaitan dengan bahasa; “langue”, “parole”, dan “langage”. Parole adalah

keseluruhan apa yang diujarkan manusia (tuturan), manifestasi individu dari bahasa. Sedangkan langue adalah keseluruhan kebiasaan yang diperoleh secara pasif yang diajarkan oleh masyarakat bahasa yang memungkinkan para penutur saling saling memahami dan menghasilkan unsur-unsur yang dipahami penutur dalam masyarakat. Langue adalah bahasa sebagai sebuah sistem. Sedangkan langage adalah gabungan dari langue dan parole,yakni bahasa yang menjadi keistimewaan manusia yang membedakannya dengan makhluk yang lain. Saussure menyatakan bahwa langue adalah khazanah tanda yang menyatukan konsep dan citra akustis. Bahasa pada dasarnya merupakan perpaduan dua unsur: signifie, yakni unsur bahasa yang berada di balik tanda yang berupa konsep dalam benak penutur (yang ditandai, petanda), dan signifiant, yakni unsur bahasa yang merupakan wujud fisik (yang menandai, penanda). Linguistik atau ilmu bahasa adalah disiplin ilmu yang mempelajari bahasa secara luas mencakup semua aspek dan komponen bahasa, dan mengkaji bahasa pada umumnya, bukan terpaku pada salah satu bahasa saja. Dari definisi tersebut, dapat kita ketahui bahwa objek material dari linguistik adalah bahasa, dengan objek formal semua aspek dan komponen bahasa yang dipandang secara ilmiah. Ferdinand de Saussure memandang bahwa bahasa yang dapat dikaji secara ilmiah adalah langue karena sebagai sistem, langue merupakan perangkat hubungan di antara tanda bahasa yang stabil. Meski demikian, untuk mengkaji langue, seorang linguis tetap harus berhadapan dengan parole sebagai objek konkret karena langue bersifat abstrak, demikian pula dengan langage. B. Aspek Epistemologi Linguistik Epistimologi adalah cabang filsafat yang membahas tentang asal mula, sumber, metode, struktur dan validitas atau kebenaran pengetahuan. Dalam kaitannya dengan ilmu, landasan epistemologi mempertanyakan proses yang memungkinkan dipelajarinya pengetahuan yang berupa ilmu. Berangkat dari objek linguistik, yaitu bahasa dengan segala aspek dan komponennya, linguistik mengkaji bahasa secara ilmiah yang secara garis besar dapat dibagi ke dalam dua ranah: bentuk bahasa dan makna bahasa yang kemudian

melahirkan berbagai cabang linguistik, baik yang mengkaji bahasa dalam rangka kepentingan ilmu bahasa itu sendiri (mikrolinguistik), maupun yang mengkaji bahasa terkait dengan bidang lain dan bagaimana penerapannya dalam kehidupan sehari-hari (makrolinguistik). Kajian terhadap bentuk bahasa meliputi kajian struktur bunyi, kata, dan kombinasi kata yang melahirkan ilmu: 1. Fonologi (phonology): ilmu yang mempelajari bunyi sebagai sistem terkecil bahasa, yang dapat berupa vokal (vowel), konsonan, diphthong maupun triphtong. 2. Morfologi (morphology): ilmu yang mempelajari kata berikut unsur-unsur dan proses pembentukannya, apakah itu berupa morfem bebas (free morpheme) ataukah terikat (bound morpheme) dengan tambahan-tambahan (affixes), baik awalan (prefix), sisipan (infix), maupun akhiran (suffix). 3. Sintaks (sytax): ilmu yang mempelajari struktur kombinasi kata berupa frase maupun kalimat. Dari kajian ini lahirlah ilmu tata bahasa (grammar and structure). Kajian terhadap bentuk bahasa ini melahirkan kaidah konstitutif (constitutive rule) dalam berbahasa yang menciptakan istilah benar dan salah dalam berbahasa. Kajian berikutnya, yakni kajian terhadap makna bahasa yang melahirkan ilmu: 1. Semantik (sematics): ilmu yang mempelajari makna kata, frase maupun kalimat tanpa adanya konteks. 2. Pragmatik (pragmatiks): ilmu yang mempelajari makna kata, frase, maupun kalimat dalam penggunaannya dalam konteks. Kajian terhadap makna bahasa, terutama pragmatik, melahirkan kaidah regulatif (regulative rule) yang menciptakan istilah tepat-tidak tepat dalam berbahasa. Ditinjau dari hubungan dengan bidang lain, linguistik dibagi dalam mikrolingistik dan makrolinguistik seperti di bawah ini: Mikrolinguistik meliputi bidang dan sub-bidang di bawah ini: 1. Linguistik teoritis, subdidiplin linguistik yang menelaah bahasa secara teoriti , terdiri dari: linguistik kognitif, linguistik generatif, linguistik kuantitatif, fonologi, morfologi, sintaks, leksis, semantik, pragmatik.

2. Linguistik deskriptif, subdisiplin linguistik yang menelaah bahasa berdasarkan kenyataan yang ada pada saat ditelaah, meliputi: linguistik historis, linguistik komparatif, etimologi, fonetik. Makrolinguistik meliputi bidang dan sub-bidang di bawah ini: 1. Linguistik interdisipliner, meliputi: sosiolinguistik, fonetik interdisipliner, psikolinguistik, antropolinguistik, filologi, stilistik, semiotic, epigrafi, paleografi, etologi, etimologi, dialektologi. 2. Linguistik terapan, meliputi: fonetik terapan, pengajaran bahasa, perencanaan bahasa, penerjemahan, grafonomi, grafologi, leksikografi, mekanolinguistik, medikolinguistik, neurolinguistik, dsb. C. Aspek Aksiologi Linguistik Aksiologi adalah cabang dari filsafat yang membicarakan nilai-nilai. Aspek aksiologis suatu ilmu pengetahuan bersifat pragmatis berhubungan dengan nilai dan manfaat bagi kemanusiaan. Hasil sebuah aktivitas atau proses ilmiah setiap ilmu pengetahuan pasti memiliki nilai guna (utility) dan kebergunaan (usefulness). Kebergunaan linguistik tidak bisa dilepaskan dari fungsi bahasa. Sebagaimana dinyatakan Roman Jakobson, bahasa memiliki enam fungsi dasar: 1. Fungsi emotif: menyatakan perasaan, sikap dan emosi penutur. 2. Fungsi fatis: memelihara hubungan sosial. 3. Fungsi kognitif: menyatakan ujaran yang mengacu pada kenyataan dunia (informatif). 4. Fungsi retoris: mempengaruhi dan mengkondisikan pikiran dan tingkah laku penanggap tutur. 5. Fungsi metalingual: fungsi yang paling abstrak, digunakan dalam membicarakan kode komunikasi. 6. Fungsi puitik: dipakai dalam bentuk tersendiri dengan mengistimewakan keindahan. Dari perkembangan linguistik yang begitu pesat, kita dapat mengambil manfaat dari linguistik bagi kehidupan kita secara luas, bukan hanya dalam hal bahasa tapi juga dalam bidang sosial, keagamaan, politik, dsb. Tentu penggunaan dari linguistik

ini harus dalam batas kebutuhan kehidupan manusia, kelestarian kemanusiaan itu sendiri, bukan hanya demi kepentingan manusia tertentu yang kemudian akan merugikan manusia yang lainnya. D. Heuristika Linguistik Dengan mencermati perkembangan linguistik yang memiliki mikro dan makrolinguistik, dapat kita simpulkan bahwa linguistik berkembang dengan perkembangan terbuka (open development). Linguistik dikembangkan dengan konsep, teori, dan paradigma ilmu lain. Filsafat, sosiologi, antropologi, psikologi, dan ilmu-ilmu lainnya turut memberi warna pada perkembangan linguistik sehingga ilmu ini ini berkembang luas dan dapat diterapkan di seluruh aspek kehidupan manusia.

BAB III KESIMPULAN Linguistik merupakan ilmu yang mempelajari bahasa secara luas dan umum berikut seluruh aspek dan komponen di dalamnya. Pelopor linguistik modern adalah Ferdinand de Saussure dari Swiss. Kajian utama dalam linguistik dilakukan pada ranah bentuk dan makna bahasa. Dalam hubungannya dengan ilmu lain, terbentuklah mikrolinguistik dan makrolinguistik. Manfaat dari linguistik tidak hanya pada bidang bahasa. Karena perkembangan pesatnya, linguistik beserta berbagai bidang dan sub-bidangnya memberi manfaat pada seluruhaspek kehidupan manusia. Linguistik berkembang dengan pola perkembangan terbuka (open development) karena linguistik menerima berbagai konsep, teori, dan paradigma ilmu lain dalam perkembangannya.

DAFTAR PUSTAKA Hidayat, Asep Ahmad. Filsafat Bahasa, Mengungkap Hakikat Bahasa, Makna dan Tanda. Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2006. Saussure, Ferdinand de. Pengantar Linguistik Umum, Rahayu S. Hidayat, terj. Yogakarta: Gadjah Mada University Press, 1996. Soeparno. Dasar-dasar Linguistik Umum. Yogyakarta: Tiara Wacana, 2002.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->