SUKU SAKAI DALAM TIGA KEKUASAAN 1.

Pendahuluan Propinsi Riau didiami masyarakat suku terasing yang terdiri dari 5 suku yang termasuk kategori masyarakat terasing. Kelima suku terasing tersebut adalah: 1. 2. 3. 4. 5. Suku laut Suku Hutan Suku Talang Mamak Suku Bonai Suku Akit

Suku sakai merupakan suku terasing yang mendiami propinsii Riau. Dari tempat tinggal, masyarakat Sakai dapat dibedakan menjadi sakai Luar dan sakai Dalam. Sakai dalam merupakan warga sakai yang masih hidup setengah menetap dalam rimba belantara, dengan mata pencarian berburu, menangkap ikan dan mengambil hasil hutan. Sakai luar adalah warga yang mendiami perkampungan berdampingan dengan pemukiman-pemukiman puak melayu dan suku lainnya. Dilingkungan masyarakat suku sakai masih ditemukan upacara yang berkaitan dengan daur hidup (Life cycle). Pelaksanaan upacara tersebut dilaksanakan secara turun temurun yang masih dipertahankan oleh masyarakat suku sakai. Adapun upacara tersebut antara lain: 1. Upacara kematian 2. Upacara kelahiran 3. Upacara pernikahan 4. Upacara penobatan batin (orang yang dituakan atau pemimpin suku) baru. Selain upacara yang berkaitan dengan lingkungan hidup (ife cycle) ada juga upacara yang berkaitan dengan peristiwa alam diantaranya, 1. 2. 3. 4. Upacara menanam padi Upacara menyiang Upacara sorang sirih Upacara tolak bala.

Dewasa ini masyarakat sakai sudah mengalami perubahan sebagian sudah memeluk agama Islam dan memperoleh pendidikan mulai Sekolah Dasar sampai Perguruan Tinggi. Masyarakat suku sakai tidak hanya bekerja sebagai peramu tetapi sudah ada yang bekerja sebagai guru, pegawai negeri, pedagang, petani dan nelayan. Walaupun sudah mengalami perubahan dalam masyarakat sakai tetapi masih berkaitan dengan upacara daur hidup masih melekat dalam kehidupan mareka. Masyarakat berpandangan apabila tidak melaksanakan upacara tersebut akan mendapatkan musiah menurut kepercayaan mereka yaitu akan diganggu oleh makhluk-makhluk gaib yang dinamakan antu (hantu).

Menurut Louis Gottschalk metode sejarah adalah proses menuju dan menganalisis secara kritis rekaman dan peninggalan masa lampau. Menurut Moszkowski (1908) dan kemudian dikutib oleh Loeb-(1935) Orang Sakai adalah Orang Veddoid yang bercampur dengan orang Minangkabau yang datang berimigrasi pada sekitar abad ke-14 ke daerah Riau. dengan menilai secara kritis asal usul suku sakai yang sampai ke propinsi Riau dan disajikan dalam bentuk historiografi sejarah. yang datang di kerajaan Gasib dan kemudian hancur diserang oleh kerajaan Aceh. Kedatangan pertama diperkirakan terjadi sekitar abad ke 14 langsung ke daerah Mandau. Banyak diantara mereka mengujar logat-logat bahasa batak Mandailing. Rokan dan Mandau serta seluruh anak-anak sungai Siak. dan warga masyarakat ini melarikan diri ke hutan-hutan di sekitar daerah sungai-sungai Gasib. berasal dari Pagaruyung. yaitu ke Gasib. mengatakan bahwa orang sakai datang dari kerajaan Pagaruyung Minangkabau Sumatera Barat dalam dua gelombang migrasi. di tepi sungai gasib di hulu sungai Rokan. Mereka adalah nenek moyang orang sakai. Untuk berhubungan satu sama lain. Orang sakai tergolong dalam ras Veddoid dengan ciri-ciri rambut keriting berombak. orang Sakai menggunakan bahasa sakai. Sejarah Suku Sakai di Riau Nama sakai dalam sebutan bagi penduduk pengembara yang terpencil dari lalu lintas kehidupan dunia kekinian di Riau.Metode Penelitian Penelitian ini dilakukan di daerah propinsi Riau ini di tahun 2007. Kulit coklat kehitaman. Sedangkan yang datang kemudian diperkirakan tiba di Riau abad ke 18. Menurut Boehari Hasmmy (dlm Parsudi Suparlan). Mereka tinggal di bagian hulu sungai Siak. Sedangkan menurut Boechari Hasny (1970) yang memperoleh keterangan mengenai asal-muasal orang sakai dari para orang tua sakai. 3. Gasib kemudian menjadi sebuah kerajaan dan kerajaan ini kemudian dihancurkan oleh kerajaan Aceh. Metode yang digunakan adalah metode penelitian sejarah kritis dan metode penelitian kualitatif menurut Snowboll sampling. dan dari Mentawai. tinggi tubuh laki-laki sekitar 155 cm dan perempuan 145 cm. untuk memperlihatkan rekonstruksi yang imajinatf pada sejarah suku sakai. Batusangkar. bahasa Minangkabau dan bahasa Melayu.Dari uraian di atas maka peneliti tertarik mempelajari sejarah asal usul orang suku sakai dan tentang bagaimana suku sakai dalam masa 3 kekuasaan pemerintah yang ada di Riau ini. . sehingga penduduknya lari ke dalam hutan belantara dan masing-masing membangun rumah dan ladangnya secara terpisah satu sama lainnya di bawah kepemimpinan salah seorang diantara mereka. 2.

Rombongan tiga orang hulubalang ini berjalan menuju ke arah wilayah Mandau dengan mengikuti bekas-bekas perjalanan rombongan 190 orang. Yang dipilih adalah wilayah-wilayah di sebelah timur Pagaruyung karena tampaknya masih kosong penduduk dan hanya dipenuhi rimba belantara. Sutan Harimau dan Sutan Rimbo. Nama Biduondo kemudian berubah menjadi Mandau. Sedangkan kenyataannya kini. Rombongan tersebut kemudian kembali pulang ke Pagaruyung melaporkan hasil ekspedisi mereka. Setelah rombongan 190 orang tersebut untuk beberapa lamanya tinggal di tepi sungai Mandau. dan Ikan. dan tentang mahkuk halus. Mereka membawa makanan dan bekal bibit tanaman serta membawa peralatan yang diperlukan dan bijih-bijih besi untuk mereka . namun mereka tetap memraktekkan agama nenek moyang mereka yang masih diselimuti unsur-unsur animisme. karena wilayah hutan yang semakin sempit di daerah Riau. Perjalanan tiga orang ini berlangsung selama beberapa tahun. dan Ando = janda). Raja Pagarruyung kemudian mengirim lagi rombongan perintis yang terdiri atas tiga orang hulubalang atau prajurit. yang artinya sungai dari rombongan 189 orang janda yang dipimpin oleh seorang kepala rombongan (bidu = kepala rombongan.Arti Nama Sakai: Nama Sakai konon berasal dari huruf awal kata Sungai. Anak. Sebuah rombongan yang jumlahnya 190 orang terdiri dari 189 orang janda dan seorang hulubalang atau prajurit laki-laki sebagai kepalanya dikirim oleh raja untuk berangkat ke arah timur. yaitu Sutan Janggut. mereka menyimpulkan bahwa wilayah di sekitar sungai tersebut layak untuk dijadikan tempat pemukiman yang baru. mereka adalah anak-anak negeri yang hidup di sekitar sungai dan mencari penghidupan dari hasil kekayaan yang ada di sungai berupa ikan. Meskipun banyak di antara orang Sakai yang telah memeluk Islam. masyarakat Sakai sudah tidak lagi banyak yang masih melakukan tradisi hidup nomadennya. Jelas julukan ini diprotes oleh masyarakat suku Sakai yang sudah maju. atau mahluk gaib yang ada di sekitar mereka. 4. Kampung. Perbatinan Lima Negeri Pagaruyung sangat padat penduduknya. Maknanya. kekuatan magis. karena hal tersebut berkonotasi pada hal yang tidak kuno dan bodoh. Mereka menembus hutan rimba belantara dan akhirnya mereka sampai di tepi sebuah anak sungai yang mereka namakan sungai Biduando. Suku Sakai Berasal dari Perbatinan Lima dan Perbatinan Delapan a. Kepercayaan: Salah satu ciri masyarakat Sakai yang juga melahirkan penilaian negatif dari orang Melayu adalah agama mereka yang bersifat animistik. Inti dari agama nenek moyang masyarakat Sakai adalah kepercayaan terhadap keberadaan ‘hantu‘. Raja berusaha mencari wilayahwilayah pemukiman baru untuk menampung kepadatan penduduknya. serta tidak mengikuti kemajuan jaman.

Pada waktu itu raja Kunto Bessalam bercita-cita menjadikan negerinya sebagai sebuah kerajaan yang besar tetapi jumlah penduduknya hanya terdiri atas 25 keluarga dan 10 orang Hulubalang. dan merupakan salah satu anak sungai Mandau. dengan mengirimkan 50 keluarga yang dipimpin oleh Sutan Janggut dan Sutan Rimbp untuk bekerja disitu. Setelah berjalan selama sepuluh tahun pembangunan tersebut selesai dikerjakan. dan dalam perjalanan menuju Mandau sutan Janggut pergi secara diam-diam meninggalkan . Setelah beberapa tahun mengembara dihutan-hutan mereka sampai di tepi sungai Syam-syam. Rombongan yang melarikan diri dibawah pimpinan Sutan Janggut dan Sutan Rimbo itu berjalan ke arah wilayah Mandau. Mereka berjalan terus ke arah hulu sungai dan akhirnya tiba di wilayah yang dialiri tujuh buah anak sungai. Rombongan tiga orang ini setelah tiba di Mentawai menyerahkan emas. Mereka yang seratus orang ini kedudukannya kira-kira sama dengan setelah budak. benteng. yang menjadi nenek moyang orang Sakai di Mandau. Rombongan ini kemudian menuju ke arah Mandau. Keluarga-keluarga pekerja yang ditinggalkan oleh rombongan yang melarikan diri sebagian dari mereka tetap menjadi penduduk kota Rokan Kanan dan Kiri. dan setelah beberapa lamanya tinggal di kerajaan tersebut mereka dianggkat sebagai hulubalang raja. Mereka menyerahkan diri kepada raja Kunto Bessalam. Sutan Janggut. Pembangunan kerajaan Rokan Kanan dan Kiri berjalan terus. Dalam wilayah ini terdapat bekas-bekas pemukiman yang menurut dugaan mereka adalah bekas-bekas rombongan pertama yang berjumlah 190 orang. setelah sepuluh tahun kerajaan ini menjadi besar dan jaya seperti kerajaan Kunto Bessalam. dan kerajaan kunto Bessalam menjadi besar. Sebabnya adalah Raja Rokan Kanan dan Kiri sangat kejam. jalan-jalan dan saluruan-saluran air.tempa menjadi parang dan peralatan lainnya. Sutan Harimau. Tetapi sebelum pekerjaan pembangunan dilaksanakan dengan baik. Yang dibangun adalah istana. bila diperlukan. Sutan Janggut dan Sutan Rimbo bersama dengan lima keluarga yang telah melarikan diri dari kerajaan Rokan kanan dan Kiri masuk ke hutan. perak. Raja Kunto Bessalam mengalihkan kegiatan pembangunan ke kerajaan Rokan Kanan dan Kiri yang berkerabat dan bersahabat dengannya. di hulu sungai Mandau. Dan sebagian lainnya tinggal di pedesaan yang berdekatan dengan Rokan Kanan dan Kiri (di desa Sintung dan beberapa desa lainnya). Diputuskan untuk mencari tambahan penduduk Mentawai karena menurut keterangan yang mereka peroleh penduduk Mentawai jumlahnya berlebihan. Setelah tinggal untuk beberapa lamanya di tempat tersebut rombongan ini meneruskan perjalanan dan tibalah mereka di hulu sungai Penaso. Setelah beberapa tahun dalam perjalanan mereka bukannya sampai ke wilayah Mandau tetapi tiba di Kunto Bessalam (Kunto Darussalam). dan intan berlian kepada kepala kampung Mentawai sebagai pembawaran atas 100 orang yang mereka butuhkan. Diputuskan oleh raja Kunto untuk mencari tambahan penduduk dengan cara mendatangkan kira-kira 100 orang penduduk baru. Sehingga sebenarnya mereka seasal dengan lima keluarga yang melarikan diri. Mereka tinggal untuk sementara di hulu sungai tersebut dan di sini sutan Rimbo meninggal dunia. Oleh raja Kunto Bessalam mereka dijadikan penduduk dengan kewajiban bekerja secara rodi bersama dengan penduduk aslinya yang berjumlah 25 keluarga dalam membangun kota Kunto Bessalam. dan Sutan Rimbo diutus oleh raja untuk mencari tambahan penduduk.

karena tidak mungkin bagi mereka untuk kembali ke Pagaruyung ataupun ke Kunto Bessalam. Karena jumlah penduduk massing-masing perbatinan tersebut bertambah besar. b. Setelah beberapa tahun tinggal di desa Mandau rombongan yang berjumlah lima keluarga ini memohon untuk diberi tanah/hutan bagi mereka menetap dan hidup. Sebagian penduduknya menjadi warga pemukiman masyarakat terasing yang dibangun di Sialang Rimbun dan di Kandis. Pada masa sekarang desa ini sudah tidak ada lagi karena seluruh warganya dipimpin oleh kepala desa dan telah berpindah ke pemukiman masyarakat terasing di Sialang Rimbun. daerah sekitar hulu Sungai Penaso 3. dan karena adanya usaha penyeragaman administrasi yang dilakukan oleh pemerintah kerajaan Siak dalam usaha mempermudah penarikan pajak. 4. Desa ini sudah tidak ada lagi sekarang (1982). maka masingmasing perbatinan tersebut dijadikan kepenghuluan atau desa dan dikepalai oleh seorang batin atau kepala desa. sebagian lainnya di pemukiman masyarakat terasing di Kandis dan di Bulu Kasap. Desa Beringin Sakai. Desa Minas. Perbatinan Delapan .rombongan tersebut. desa ini masih ada dan sebagian warganya adalah orang sakai. daerah sekitar hulu sungai Beringin 5. Desa Penaso. daerah sekitar sungai Ebon di Tengganau Rombongan yang terdiri atas lima keluarga ini kemudian beranak pinak di masing-masing wilayah tempat hidup mereka. daerah sekitar sungai Belutu 6. karena jumlah penduduknya hanya 8 keluarga. Rombongan tiba di desa Mandau dan menyerahkan diri kepada kepala desa (penghulu) Mandau yang bernama Takim. Desa ini masih ada dan sebagaian besar warganya adalah Orang Sakai 2. Massing-masing tempat pemukiman tersebut dinamakan perbatinan (dukuh) yang dipimpin oleh seorang kepala perbatinan atau batin. Oleh kepala desa Mandau masing-masing keluarga diberi hak ulayat atas tanah-tanah dan hutan-hutan yang berada di daerah: 1. 3. Penaso dijadikan sebuah Rukun Kampung dari desa Muara Basung. daerah sekitar Minas 2. dan sebagian lainnya tinggal di rumah-rumah yang dibangun di atas ladang yang mereka kerjakan di sekitar daerah Sialang Rimbun dan Balai Pungut. Desa Tengganou. Desa-desa atau kepenghuluan-kepenghuluan Orang Sakai yang tergolong dalam Perbatinan Lima tersebut adalah: 1. Desa Mandau ini sekarang bernama desa Beringin yang penduduknya adalah orang Melayu. dan masih sebagian lainnya tinggal dalam kelompok-kelompok kecil rumah sederhana yang dibangun di sepanjang jalan raya antara kota Duri dan Minas.

Di wilayah tersebut mereka berkeliling sampai ke daerah yang dialiri tujuh buah anak sungai. menempa besi untuk mrmbuat peralatan berbagai alat pertanian dan rumah tangga. Tujuan mereka adalah membuka daerah baru untuk tempat pemukiman. 13 Air Jamban Duri Pinggir Semunai Syam-Syam Kandis Balaimakam . Sebuah rombongan yang terdiri atas suami-istri. 8. Secara diam-diam. Mereka membuka hutan di tepat-tempat pemukiman baru yaitu: 1. 5. 2. Sang istri tidak mau turut dan rombongan tersebut tidak dapat lagi ditahan oleh sang istri untuk menunggu kedatangan sang suami. rumah. Tetapi yang didengar oleh sang suami adalah bayi jantan yang dikandung oleh pelanduk (kancil) jantan. Karena dia telah berjanji tidak akan memenuhi istrinya kalau tidak dapat memenuhi permintaan nyidamnya. dan seorang hulubalang yang menjadi kepala rombongan yang bernama batin pada suatu malam meninggalkan Pagaruyung. 6. Raja Pagarruyung mengirim lagi serombongan laki-laki dan keluarga untuk memenuhi rombongan yang dipimpin oleh Batin Sangkar. Di tempat terakhir ini mereka tinggal untuk beberapa tahun lamanya. kerajaan ini telah menjadi padat lagi penduduknya. Beberapa waktu lamanya kemudaian dan istri dari keluarga yang menjadi anggota rombongan tersebut mengandung. Setelah bayi tersebut besar. setelah merambah hutan belantara dan rawa-rawa. 3. Batin yang dipimpin oleh Batin Sangkar akhirnya. Mereka membuat ladang.beberapa lamanya setelah keberangkatan rombongan terakhir meninggalkan Pagaruyung. Petani Sebanga/Duri km. tanpa meminta izin dari raja. Rombongan 12 orang berangkat dang sang istri melahirkan bayi laki-laki. Setelah itu rombongan 12 orang perempuan yang dipimpin oleh batin sangkar bermaksud meninggalkan tempat tersebut mencari daerah lainnya yang lebih baik. Dalam mengidamnya sang istri meminta kepada sang suaminya untuk mencari banyi rusa jantan yang masih ada dalam kandungan. di Mandau. 7. Setelah menetap di Petani untuk beberapa tahun lamanyan. Tanahnya datar dan digenani air. sampailah mereka didaerah Petani. Bati Sangkar memutuskan untuk mencegah rombongan tersebut ke dalam delapan tempat pemungkiman yang letaknya saling berdekatan. kedua anak-beranak tersebut kembali ke pagarruyung melaporkan apa yang telah mereka lakukan dan memohon ampun kepada raja Pagarruyung. Sang suami pergi berburu dan tidask pernah kembali karena tidak pernah menemukan ada pelanduk jantan yang mengandung untuk memenuhi permintaan nyidamnya sang istri. Mencari nafkah dirasakan sulit dan kehidupan dirasakan berat oleh sebagian dari warga masyarakat. 4. Setelah beberapa lamanya dalam perjalanan akhirnya sampailah mereka ke hulu sungai Syam-syam.

pungut = memungut atau memilih untuk diambil). Pengangkatan seorang batin dalam zaman kerajaan siak selalu dilakukan dengan melalui suatu upacara penobatan yang diikuti dengan pesta makan-minum tujuh hari tujuh malam. Jadi dari sejarah asal muasal orang sakai khususnya sejarah terbentuknya perbatinan lima dan delapan. Adapun gadis-gadis orang sakai diserahkan di balai pungut tempat para bangsawan beristirahat (balai=rumah atau tempat. Pajak-pajak tersebut dalam wilayah perbatinan lima diserahkan kepada raja Siak melalui tangan penghulu (kepala desa) Mandau. keluargakeluarga tersebut dibagi rata penempatan tempat tinggal di delapan buah tempat pemukiman tersebut dalam rombongan pendatang tersebut telah diangkat sebagai pembantunya.Setelah delapan tempat pemungkiman tesebut selesai dibangun. Tempat ini digunakan sebagai tempat peristirahatan keluarga raja siak. Dan ciri pembagian sistem kemasyarakatan orang sakai adalah Molety atay paruh dua. Klasifikasi ini muncul lagi dalam sistem pertanian yang dipinjam dari Minangkabau yaitu padi Induk dan padi anak. Yang menarik untuk diperhatikan adalah unsur perempuan yang mayoritas dan dominan dalam legenda asal-muasal tersebut. sedangkan pajak-pajak dari perbatinan delapan diserahkan melalui tangan penghulu (kepala desa) petani. kepala desa balai pungut pada waktu itu berfungsi sebagai mata-mata dalam sistem keamanan wilayah kehidupan orang sakai. Pada mulanya daerah ini termasuk dalam wilayah perbatinan tengganau. kebetulan datng rombongan yang terakhir dari Pagarruyung yang dikirim oleh Batin Sangkar. Dua kelompok perbatinan masing-masing diperlakukan sebagai sebuah satuan administrasi kekuasaan yang jelas wilayah kekuasaan masing-masing. Masa Kekuasaan Pemerintahan Kerajaan Siak Para batin orang sakai memperoleh surat pengakatan menjadi batin dari raja Siak. Semula balai Pungut hanya berupa sebuah tempat dengan beberapa rumah yang dihuni oleh orang Melauu yang menjadi pegawai kerajaan Siak. Disamping batin. Tugas seorang tongkek adalah membantu pekerjaan- . raja siak juga mengangkat seorang wakil batin yang diberi nama Tongkek. 1. Pemerintah kerajaan Siak menarik pajak dan upeti dari perbatinan ini. Upacara batin. Menurut para informan. Oleh batin Sangkar pembantunya tersebut disuruhnya pergi ke kota Siak Sri Indrapura untuk menghadap kepada raja Siak dan memohon izin untuk dapat dijadikan rakyat kerajaan Siak Indrapura dan diberi pengesahan atas hak pemukiman dan menggunakan tanah atau hutan wilayahnya. Ciri-ciri ini tampak dalam sistem pembagian warisan. Seorang batin memperoleh bagian kira-kira sepuluh persen dari pajak yang telah dikumpulkan dan diserahkan kepada raja tersebut. yaitu perbatinan lima dan perbatinan delapan. dapat dilihat bahwa orang sakai menurut penelitian ini mereka berasal dari Minangkabau (Pagaruyung dan Mentawai). Dan mereka adalah orang belian (setengah budak). Melalui hubungan mengangkat saudara (hubungan adik-beradik) yang dikukuhkan antara pegawai istana kerajaan tersebut yang menjadi kepala pemukimam balai pungut dengan batin tenggganau maka balai pungut dapat dijadikan dan dinaikkan kedudukannya sama dengan sebuah kepenghuluan (desa) yang setaraf kedudukannya dengan Tengganau. Pajak dan upeti yang ditarik berupa berbagai hasil hutan dan juga anak-anak gadis.

Masa Kekuasaan Zaman Pemerintahan Jepang Selama masa pemerintahan Jepang orang sakai tidak dipedulikan oleh orang Jepang. Hal ini disebabkan orang sakai takut dan malu terhadap orang asing. sama halnya dengan daerahdaerah lainnya di Indonesia. yang kemudian juga dilanjutkan dalam masa pemerintah jajahan Belanda disamping mengumpulkan pajak juga menjaga ketertibam kehidupan di pemukiman (menjaga jangan sampai terjadi pencurian. Kekuasaan pemerintah penjajahan Belanda di Riau. Seperti terjadinya peristiwa pembunuhan. Kekuasaan belanda bekerja sama dengan penguasa-penguasa tradisional setempat. Di daerah Mandau dan sekitarnya adalah melalui kekuasaan raja siak. Dalam hal ini terjadinya pembunuhan maka si pembunuh diserahkan kepada punggawa kerajaan di Balai pungut. 3. Walaupun wilayah tempat kehidupan mereka dijadikan tempat kegiatan-kegiatan pembangunan jalan dan kegiatan-kegiatan pembangunan lainnya.pekerajaan batin. Sehingga orang sakai hanya mengetahui dan merasakan kekuasaan dan kewibawaan kerajaan Siak. Walaupun kegiatan-kegiatan pencaharian dan pengeboran minyak telah dilakukan di wilayah kecamatan Mandau sejak sebelum perang dunia II tetapi kontak-kontak langsung dengan orang asing (Belanda) hampir tidak pernah terjadi. dan dalam keadaan batin berhalangan mewakili batin dalam tugas-tugasnya. maka mereka tidak pernah atau jarang mempunyai hubungan langsung dengan orang belanda atau kekuasaan pemerintahan jajahan belanda yang ada di Riau. Seorang batin dapat menjatuhkan hukuman denda kepada warga masyarakat yang dipimpinnya yang kedapatan bersalah karena merugikan sesama warga masyarakatnya. Masa Kekuasaan Zaman Penjajahan Belanda Karena orang sakai hidup di tempat-tempat pemukiman yang terletak di daerah pedalaman dan selalu menjauhkan diri dari kehidupan bermasayarakat yang lebih luas. Sedangkan hukuman badan ataupun pengadilan karena yang bersangkutan melakukan pembunuhan tidak dapat diputuskan oleh seorang batin. dan dalam zaman Belanda diserahkan kepada opas atau polisi. dan perbuatan-perbuatan maksiat (perzinahan). Diantara mereka yang ditolong ini kemudian hidupa bersama dengan menjadi warga masyarakat orang sakai yang menolongnya dan kawin dengan wanita orang Sakai yang . Mereka melihat kekejaman tentara Jepang terhadap para pekerja romusha yang didatangkan dari Jawa. barulah opas atau polisi yang merupakan alat kekuasaan pemerintah Belanda menangani masalah ini sampai ke daerah-daerah pedalaman tempat tinggal orang Sakai. Mereka ditolong dan diberi makan dan disembunyikan oleh orang-orang sakai yang ada di daerah sekitar ini. 2. Bahkan dalam membayar pajak ataupun kerja wajib (romusha) tidak diwajibkan oleh pemerintah Jepang. Sebagian kecil dari romusha ini dapat melarikan diri dari rombongan romusha tersebut. Tugas seorang Batin dalam zaman kerajaan siak. Mereka dibiarkan menjalani hidup cara mereka sebelumnya. Inipun dilakukan oleh para batin orang sakai. khususnya dalam kegiatan pengumpulan pajak.

Dalam masa pemerintahan raja Siak suku Sakai dikenakan pajak pada daerah perbatinan lima dan perbatinan delapan. Pekanbaru. FE UI.PD. Louis Gohschalk. Totok Isdarwanto S. Jakarta. . 1975. 1984.Pd. Zamrud. menyelesaikan S1 di FKIP Sejarah UNRI dan sekarang mengajar di MAN Kuok Bangkinang pada mata pelajaran sejarah. 2005. Di Muara Basung ada dua orang sakai yang menyatakan ayahnya adalah romusha yang melarikan diri dan kawin dengan orang sakai. Parsudi Suparlan. 1985. Zulfa S. Padang. Yang lebih tidak dipedulikan suku sakai pada masa pemerintahan Jepang. menyelesaikan S1 di FKIP Sejarah UNRI. Dalam masa pemerintahan Belanda mereka dijadikan alat untuk merebut daerah kekuasaan dengan berusaha mendekati Batin (kepala suku sakai). 1988. Artikel. Pengantar Metode Penelitian Kualitatif. Koentjaraningrat. UIR. 1991. Kemudian juga di PKMT (Pembinaan Kesejahteraan Masyarakat Terasing) Sialang Rimbun juga ada dua orang warganya berayahkan seorang pelarian romusha. Bengkalis Propinsi Riau. Jakarta: Yayasan Penerbit UI. M. Pada zaman Jepang inilah suku sakai paling menderita. Suroyo. menyelesaikan S2 di UNP jurusan Pendidikan Sejarah dan sekarang sedang menyelesaikan program doktoral di UNP padang. Untuk pekerjaan romusha mereka tidak dipaksa untuk ikut serta. (Tesis) UNP. DAFTAR PUSTAKA Depsos. KESIMPULAN Jadi suku Sakai berasal dari daerah Minangkabau dan Mentawai. UU Hamidi.menolongnya dan kawin dengan wanita orang sakai setempat. Masyarakat Desa di Indonesia. Direktorat Bina Masyarakat Terasing. Petunjuk Teknis Masyarakat Terasing dan Terbelakang.Pd. Masyarakat Terasing Daerah Riau Abad XXI. Upacara Perkawinan Dalam Masyarakat Suku Terasing di Propinsi Riau (Studi Pada Suku Sakai di Mandau Kab. Mengerti Sejarah. Jakarta.