MATRIKS PERBANDINGAN UNDANG-UNDANG NO.5 TAHUN 1974 TENTANG POKOK-POKOK PEMERINTAHAN DI DAERAH , UNDANG-UNDANG NO.

22 TAHUN 1999 TENTANG PEMERINTAHAN DAERAH DAN UNDANG-UNDANG NO.32 TAHUN 2004 TENTANG PEMERINTAHAN DAERAH
NO UNDANG-UNDANG NO.5 TAHUN 1974 TENTANG POKOK-POKOK PEMERINTAHAN DI DAERAH (sudah tidak berlaku) Menimbang • Untuk mengganti Undang-Undang No. 18 Tahun 1965 tentang Pokok-Pokok Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Tahun 1965 Nomor 83; Tambahan Lembaran Negara Nomor 2778). • UNDANG-UNDANG NO.22 TAHUN 1999 TENTANG PEMERINTAHAN DAERAH (sudah tidak berlaku) UNDANG-UNDANG NO.32 TAHUN 2004 TENTANG PEMERINTAHAN DAERAH KETERANGAN

1.

Untuk mengganti Undang-Undang No. 5 Tahun 1974 tentang Pokok-Pokok Pemerintahan Daerah dan Undang-Undang tentang Pokok-Pokok Pemerintahan di Daerah dan Undang-Undang No. 5 Tahun 1979 tentang Pemerintahan Desa, karena tidak sesuai lagi dengan prinsip penyelenggaraan otonomi daerah, keadaan

• Untuk mengganti Undang-Undang No. 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah yang tidak sesuai lagi dengan perkembangan Keadaan, ketatanegaraan, dan tuntutan penyelenggaraan otonomi daerah

Undang-Undang No 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah merupakan pengganti dari Undang-Undang No.22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Derah. Undang-Undang No. Tahun 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah merupakan pengganti dari Undang Undang No.5 Tahun 1979 tentang Pemerintahan Desa dan Undang-Undang No. 5 Tahun 1974 tentang Pokok-Pokok Pemerintahan di Daerah.

2.

Mengingat

• • •

Pasal 5 ayat (1), 18, dan 20 Ayat (1) UUD RI Tahun 1945; Ketetapan MPR RI No. IV/MPR/1973 tentang GBHN ; Ketapan MPR RI No. V/MPR/1973 tentang Peninjauan Produk-Produk yang berupa Ketatapan-Ketatapan MPRS-RI; UU No. 10 Tahun 1964 tentang Pernyataan daerah Khusus Ibukota Jakarta Raya sebagai Ibukota Negara Republik Indonesia dengan nama Jakarta; UU Nomor 6 Tahun 1969 tentang Pernyataan tidak berlakunya berbagai Undang-Undang dan Peraturan Pemerintah Pengganti UndangUndang;

• Pasal 1 ayat (1), Pasal 5 ayat (1), Pasal 18, dan Pasal 20 ayat (1) UUD 1945; • Ketetapan MPR- RI No. X/MPR/1998 tentang Pokok-Pokok Reformasi Pembangunan dalam Rangka Penyelamatan dan Normalisasi Kehidupan Nasional sebagai Haluan Negara; • Ketetapan MPR-RI No XI/MPR/1998 tentang Penyelenggara Negara yang Bersih dan Bebas Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme; • Ketetapan MPR-RI No XV/MPR/1998 tentang Penyelenggaraan Otonomi Daerah; Pengaturan, Pembagian dan Pemanfaatan Sumber Daya Nasional yang Berkeadilan; serta Perimbangan Keuangan Pusat dan Daerah dalam Kerangka Negara Kesatuan Republik Indonesia; • UU Nomor 4 Tahun 1999 tentang Susunan dan Kedudukan Majelis Permusyawaratan Rakyat, Dewan Perwakilan Rakyat, dan

• Pasal 1, Pasal 4, Pasal 5, Pasal 18, Pasal 18 A, Pasal 18 B, Pasal 20, Pasal 21, Pasal 22 D, Pasal 23E ayat (2), Pasal 24A ayat (1), Pasal 31 ayat (4), Pasal 33 dan Pasal 34 UUD 1945; • UU No. 28 Tahun 1999 tentang Penyelenggara Negara yang Bersihdan Bebas dari Korupsi, Kolusi dan Nepotismo • UU No. 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara • UU No. 22 Tahun 2003 tentang Susunan Kedudukan Majelis Permusyawaratan Rakyat, Dewan Perwakilan Rakyat, Dewan Perwakilan Daerah dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah • UU No. 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara • UU No. 10 Tahun 2004 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan

-

UU Nomor 16 tahun 1969 tentang Susunan dan Kedudukan MPR, DPR dan DPRD;

Dewan Perwakilan Rakyat Daerah)

• UU No. 15 Tahun 2004 tentang Pemeriksaan Pengelolaan dan Tanggung Jawab Keuangan Negara

3

Pengertian

Pasal 1 1. Pemerintah Pusat; 2. Desentralisasi; 3. Otonomii Daerah; 4. Tugas Pembantuan; 5. Derah Otonom; 6. Dekonsentrasi; 7. Wilayah Administratip; 8. Instansi Vertikal; 9. Pejabat yang Berwenang; 10. Urusan Pemerintahan Umum; 11. Polisi Pamong Praja; 12. Investasi.

Terdapat Semua pengertian yang terdapat dalam UU No.5 Tahun 1974 tentang Pemerintahan Daerah, akan tetapi terdapat penabahan, Pengurangan dan perubahan, yaitu: • Pejabat yang berwenang (perubahan) • Urusan Pemerintahan Umum (pengurangan): • Polisi Pamong Praja (pengurangan); • Pemerintah Daerah (penambahan) ; • Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (penambahan); • Pemerintah Daerah (penambahan) ; • Kecamatan (penambahan) ; • Kelurahan (penambahan) ; • Desa (penambahan) ; • Kawasan Perdesaan (penambahan) ; • Kawasan Perkotaan (penambahan).

Terdapat semua pengertian yang terdapat dalam UU N0. 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah, akan tetapi terdapat beberapa perubahan dan penambahan pengertian, yaitu : • Pejabat yang berwenang (perubahan) ; • Kawasan Perkotaan (perubahan) • Kawasan Pedesaan ( perubahan) • Pemerintah Desa (penambahan) • Badan Perwakilan Desa (penambahan) ; • Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Daerah (penambahan) ; • Dana Perimbangan (penambahan) ; • Keuangan Daerah (penambahan) • APBD (penambahan) ; • Pendapatan Daerah (penambahan) ; • Belanja Daerah (penambahan) ; • Pembiayaan (penambahan) • Pinjaman Daerah (penambahan) • Kawasan Khusus (penambahan) ; • Bakal calon Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah (penambahan) ; • Pasangan Calon Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah (penambahan) ; • Komisi Pemilihan Umum Daerah (penambahan); • Panitia Pemilihan Kecamatan (penambahan); • Kampanye pemilihan kepala daerah dan wakil kepala daerah (penambahan)

Selain adanya tambahan pengertian-pengertian yang secara teknis digunakan dalam Pemerintahan Daerah, terdapat juga perbedaan pendefinisian tentang : Pejabat yang berwenang : • dalam UU Nomor 5 Tahun 1974, Pejabat Yang Berwenang adalah pejabat yang berwenang mensahkan, membatalkan dan menangguhkan Peraturan Daerah atau Keputusan Kepala Daerah, yaitu Mendagri bagi Daerah Tingkat I dan Gubernur Kepala Daerah bagi daerah Tingkat II, sesuai peraturan perundang-perundangan yang berlaku ; • dalam UU No 22 Tahun 1999 Pejabat Yang Berwenang adalah , pejabat Pemerintah di tingkat Pusat dan atau pejabat Pemerintah di Daerah Propinsi yang berwenang membina dan mengawasi penyelenggaraan Pemerintahan Daerah • dalam UU No 32 Tahun 2004 Pejabat Yang Berwenang adalah Pejabat Pemerintah yang berwenang mengesahkan atau menyetujui, menangguhkan dan membatalkan kebijakan daerah dan/atau mengangkat, memberhentikan, mengesahkan, menyetujui, membina dan mengawasi pelaksana penyelenggaraan Pemerintah Daerah dan/atau pejabat pemerintah pada pemerintahan Daerah Provinsi yang berwenang membina dan mengwasai pelaksanaan penyelenggaraan pemerintahan daerah Kabupaten dan Kota. UU No. 32 tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah memberikan pengertian yang lebih lengkap dan jelas dari Undang-Undang sebelumnya sehingga tidak menimbulkan penafsiran yang berbeda.

4

Pembagian Wilayah

Pasal 2 Pembagian Wilayah : Dalam menyelenggarakan Pemerintahan, wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia dibagi dalam Daerah-Daerah Otonom dan Wilayah-Wilayah Administratip. Pasal 72 (1) Dalam rangka pelaksanaan azas dekonsentrasi, wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia dibagi dalam Wilayah-wilayah Propinsi dan Ibu kota Negara. (2) Wilayah Propinsi dibagi dalam Wilayahwilayah Kabupaten dan Kota madya. (3) Wilayah Kabupaten dan Kotamadya dibagi dalam Wilayah-wilayah Kecamatan. (4) Apabila dipandang perlu sesuai dengan pertumbuhan dan perkembangannya, dalam Wilayah Kabupaten dapat dibentuk Kota Administratip yang pengaturannya ditetapkan dengan Peraturan Pemerintah. Pasal 73 Apabila dipandang perlu, Menteri Dalam Negeri dapat menunjuk Pembantu Gubernur, Pembantu Bupati atau Pembantu Walikotamadya yang mempunyai wilayah kerja tertentu dalam rangka dekonsentrasi. Pasal 74 (1) Nama dan batas Daerah Tingkat I adalah sama dengan nama dan batas Wilayah Propinsi atau Ibukota Negara. (2) Nama dan batas Daerah Tingkat II adalah sama dengan nama dan batas Wilayah Kabupaten atau Kotamadya. (3) Ibukota Daerah Tingkat I adalah ibukota Wilayah Propinsi. (4) Ibukota Daerah Tingkat II adalah ibukota Wilayah Kabupaten. Pasal 75 Dengan tidak mengurangi ketentuan yang dimaksud dalam Pasal 74 Undang-undang

Pasal 2 Pembagian Wilayah : (1). Wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia dibagi dalam Daerah Propinsi, Daerah Kabupaten, dan Daerah Kota yang bersifat otonom. (2). Daerah Propinsi berkedudukan juga sebagai Wilayah Administrasi. Pasal 3 Wilayah Daerah Propinsi, sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (1), terdiri atas wilayah darat dan wilayah laut sejauh dua belas mil laut yang diukur dari garis pantai ke arah laut lepas dan atau ke arah perairan kepulauan.

Pasal 2 : Negara Kesatuan republik Indonesia dibagi atas daerah-daerah provinsi dan daerah provinsi itu dibagi atas kabupaten dan kota yang masingmasing mempunyai pemerintahan daerah. Pemerintah daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) mengatur dan mengurus sendiri urusan pemerintah menurut asas otonomi dan tugas pembantuan.

• Dalam UU No.5 tahun 1974 mengenai pembagian wilayah diuraikan secara lebih lanjut dalam pasal-pasal dan ayat-ayat tersendiri

serta rekomendasi Menteri Dalam Negeri. pembinaan kestabilan politik dan kesatuan Bangsa dalam rangka pelaksanaan Otonomi Daerah yang nyata dan bertanggunggjawab. Pasal 5 (1) Daerah dibentuk berdasarkan pertimbangan kemampuan ekonomi. ibukota. dan fisik kewilayahan. perubahan nama daerah. (2) Daerah dapat dimekarkan menjadi lebih dari satu Daerah. perubahan nama Daerah. sosial-budaya serta pertahanan dan keamanan nasional Pasal 4 (1) Daerah dibentuk dengan memperhatikan syarat-syarat kemampuan ekonomi. dn tujuan dari pembentukan daerah otonom tresbut. (3) Perubahan batas yang tidak mengakibatkan penghapusan suatu Daerah. dan dokumen. luas Daerah. serta perubahan nama dan pemindahan ibukotanya ditetapkan dengan Peraturan Daerah. Syarat administratif sebagaimana dimaksud pada ayat (1) untuk kabupaten/kota meliputi adanya persetujuan DPRD kabupaten/kota • Ketiga undang-undang tersebut menyebutkan secara tegas bahwa pembentukan daerah otonom dlakukan dalam rangka pelaksanaan asas desentralisasi. pertahanan dan kemanan nasional dan syarat-syarat lain yang memungkinkan Daerah melaksanakan pembangunan. pengisian keanggotaan DPRD. sosial-politik. (3) Pembentukan daerah dapat berupa penggabungan beberapa daerah atau bagian daerah yang bersandingan atau pemekaran dari satu daerah menjadi dua daerah atau lebih. teknis. potensi Daerah. (2) Undang-undang pembentukan daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) antara lain mencakup nama. sebutan. 5 Pembentukan dan Susunan daerah otonom Pasal 3 Dalam rangka pelaksanaan asas desentralisasi dibentuk dan disusun Daerah Tingkat I dan Daerah Tingkat II Perkembangan dan pengembangan otonomi selanjutnya didasarkan pada kondisi politik. maka pembentukan. pengalihan kepegawaian. (3) Perubahan batas yang tidak mengakibatkan penghapuan suatu Daerah. cakupan wilayah. nama. Daerah Kabupaten. hak dan wewenang urusan serta modal pangkal Daerah yang dimaksud pada ayat (1) pasal ini. Syarat administratif sebagaimana dimaksud pada ayat (1) untuk provinsi meliputi adanya persetujuan DPRD kabupaten/kota dan Bupati/Walikota yang akan menjadi cakupan wilayah provinsi. nama. ditetapkan dengan Peraturan Pemerintah. dan pertimbangan lain yang memungkinkan terselenggaranya Otonomi Daerah. (2) Pembentukan. masing-masing berdiri sendiri dan tidak mempunyai hubungan hierarki satu sama lain. batas. ibukota. (3) Kriteria tentang penghapusan. batas. Pasal 6 (1) Daerah yang tidak mampu menyelenggarakan Otonomi Daerah dapat dihapus dan atau digabung dengan Daerah lain. Pasal 4 (1) Pembentukan daerah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (1) ditetapkan dengan undang-undang. sosial-budaya. (2) Pembentukan nama. peralatan. (4) Pemekaran dari satu daerah menjadi 2 (dua) daerah atau lebih sebagaimana dimaksud pada ayat (3) dapat dilakukan setelah mencapai batas minimal usia penyelenggaraan pemerintahan. Pasal 4 (1) Dalam rangka pelaksanaan asas Desentralisasi dibentuk dan disusun Daerah Propinsi. serta perubahan nama dan pemindahan ibukota Daerah ditetapkan dengan Peraturan Pemerintah. ditetapkan dengan Undang-Undang. dan Daerah Kota yang berwenang mengatur dan mengurus kepentingan masyarakat setempat menurut prakarsa sendiri berdasarkan aspirasi masyarakat. (2) (3) . luas daerah. ekonomi. kewenangan menyelenggarakan urusan pemerintahan. ibukota. penunjukan penjabat kepala daerah. serta perangkat daerah. persetujuan DPRD provinsi induk dan Gubernur. jumlah penduduk. batas. dan penghapusan Wilayah Umumnya diatur dengan Peraturan Pemerintah.ini. (2) Daerah-daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1). sebagaimana dimaksud pada ayat (1). • Dalam UU No. Pasal 5 (1) Pembentukan daerah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 harus memenuhi syarat administratif. (4) Syarat-syarat pembentukan Daerah. 34 Tahun 2004 diatur secara lebih terperinci dan jelas mengani syarat-syarat pembentukan suatu daerah otonom. jumlah penduduk. batas. pendanaan. dan ibukota sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditetapkan dengan Undang-Undang.

Pedoman evaluasi sebagaimana dimaksud pada ayat (2) diatur dalam Peraturan Pemerintah. sarana. (2) . pertahanan. lokasi calon ibukota. sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2). sosial politik. Perubahan batas suatu daerah. potensi daerah. Syarat fisik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi paling sedikit 5 (lima) kabupaten/kota untuk pembentukan provinsi dan paling sedikit 5 (lima) kecamatan untuk pembentukan kabupaten. sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2). Penghapusan. ditetapkan dengan Peraturan Pemerintah. persetujuan DPRD provinsi dan Gubernur serta rekomendasi Menteri Dalam Negeri. Pasal 6 (1) Daerah dapat dihapus dan digabung dengan daerah lain apabila daerah yang bersangkutan tidak mampu menyelenggarakan otonomi daerah. pemberian nama bagian rupa bumi serta perubahan nama. atau pemindahan ibukota yang tidak mengakibatkan penghapusan suatu daerah ditetapkan dengan Peraturan Pemerintah. kependudukan.(4) penggabungan. dan pemekaran Daerah. dan faktor lain yang memungkinkan terselenggaranya otonomi daerah. Syarat teknis sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi faktor yang menjadi dasar pembentukan daerah yang mencakup faktor kemampuan ekonomi. (2) (3) Pasal 7 (1) Penghapusan dan penggabungan daerah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 ayat (2) beserta akibatnya ditetapkan dengan undang-undang. perubahan nama daerah. sosial budaya. luas daerah. keamanan. penggabungan dan pemekaran Daerah. dan prasarana pemerintahan. dan 4 (empat) kecamatan untuk pembentukan kota. Penghapusan dan penggabungan daerah otonom dilakukan setelah melalui proses evaluasi terhadap penyelenggaraan pemerintahan daerah. ditetapkan dengan Undang-undang (4) (5) dan Bupati/Walikota yang bersangkutan.

Pemerintah mengikutsertakan daerah yang bersangkutan. Penambahan pemerintahan penyerahan kepala urusan Daerah Pasal 7 (1). Fungsi pemerintahan tertentu sebagaimana dimaksud pada ayat (1) untuk Perdagangan bebas dan/atau pelabuhan bebas ditetapkan dengan undang-undang. Pasal 5. kecuali kewenangan dalam bidang politik luar negeri. Kewenangan bidang lain.(3) Perubahan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dilakukan atas usul dan persetujuan daerah yang bersangkutan. meliputi kebijakan Pasal 10 (1) Pemerintahan daerah menyelenggarakan urusan pemerintahan yang menjadi kewenangannya. dan mengatur pula (2) (3) (4) (5) (6) 5 Penyelenggaraan Otonomi Daerah Pasal 7 Daerah berhak. sebagaimana dimaksud pada ayat (1). 32 Tahun 2004 mengatur lebih rinci mengenai urusan pemerintahan yang menjadi kewenangan daerah. Pemerintah dapat menetapkan kawasan khusus dalam wilayah provinsi dan/atau kabupaten/kota. serta kewenangan bidang lain. ayat (3). penghapusan. ayat (2). • UU No 32 Tahun 2004 disebutkan secara tegas pembagian urusan pemerintahan yang menjadi kewenangan Propinsi dan yang menjadi kewenangan Kabupaten/Kota. Pasal 9 (1) Untuk menyelenggarakan fungsi pemerintahan tertentu yang bersifat khusus bagi kepentingan nasional. moneter dan fiskal. peradilan. Fungsi pemerintahan tertentu selain sebagaimana dimaksud pada ayat (2) diatur dengan Peraturan Pemerintah. dan ayat (5) diatur dalam Peraturan Pemerintah. ayat (4). Pasal 8 Tata cara pembentukan. Daerah dapat mengusulkan pembentukan kawasan khusus sebagaimana dimaksud pada ayat (1) kepada Pemerintah. (2). Dalam menyelenggarakan urusan pemerintahan yang menjadi kewenangan daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1). Tata cara penetapan kawasan khusus sebagaimana dimaksud pada ayat (1). dan Pasal 6 diatur dengan Peraturan Pemerintah. Kewenangan Daerah mencakup kewenangan dalam seluruh bidang pemerintahan. agama. pertahanan keamanan. Untuk membentuk kawasan khusus sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dan ayat (3). kecuali urusan pemerintahan yang oleh Undang-Undang ini ditentukan menjadi urusan Pemerintah. Pasal 8 (1). pemerintahan daerah (2) . • UU No 22 Tahun 1999 dan UU No. berwenang dan berkewajiban mengatur dan mengurus rumah tangganya sendiri sesuai dengan ketentuan perundangundangan yang berlaku. dan penggabungan daerah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4.

e. Pasal 10 (1) Daerah berwenang mengelola sumber daya nasional yang tersedia di wilayahnya dan bertanggung jawab memelihara kelestarian lingkungan sesuai dengan peraturan perundang-undangan. alat perlengkapan dan sumber pembiayaannya. agama.8 dan 9 Undang-Undang ini dibentuk Dewan Otonomi Daerah. Penambahan penyerahan urusan yang dimaksud dalam ayat (1) pasal ini. d. (3). menyelenggarakan sendiri sebagian urusan pemerintahan. (2) Penyelenggaraan urusan pemerintahan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) merupakan pelaksanaan hubungan kewenangan antara Pemerintah dan pemerintahan daerah provinsi. c. mengenai hubungan antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah. Peraturan mengenai Dewan Pertimbangan Otonomi Daerah ditetapkan dengan Peraturan Perundang-undangan Pasal 11 (1). sarana dan prasarana. serta kewenangan dalam bidang pemerintahan tertentu lainnya. serta sumber daya manusia sesuai dengan kewenangan yang diserahkan tersebut. Kewenangan Propinsi sebagai Daerah Otonom mencakup kewenangan dalam bidang pemerintahan yang bersifat lintas Kabupaten dan Kota. (2). pertahanan. Pasal 9 (1). Kewenangan Propinsi sebagai Wilayah Administrasi mencakup kewenangan dalam bidang pemerintahan yang dilimpahkan kepada Gubernur selaku wakil Pemerintah. b. Kewenangan Pemerintahan yang dilimpahkan kepada Gubernur dalam rangka dekonsentrasi harus disertai dengan pembiayaan sesuai dengan kewenangan yang dilimpahkan tersebut. (2). (2). moneter dan fiskal nasional. Dengan peraturan perundangundangan. Pemerintah menyelenggarakan sendiri atau dapat melimpahkan sebagian urusan pemerintahan kepada perangkat Pemerintah atau wakil Pemerintah di daerah atau dapat menugaskan kepada pemerintahan daerah dan/atau pemerintahan desa. Pemberian urusan tugas pembantuan yang dimaksud dalam ayat-ayat (1) dan (2) pasal ini. dan efisiensi dengan memperhatikan keserasian hubungan antar susunan pemerintahan. Titik berat Otonomi Daerah diletakkan pada Daerah Tingkat II (2). pendayagunaan sumber daya alam serta teknologi tinggi yang strategis. (3) (4) (5) menjalankan otonomi seluas-luasnya untuk mengatur dan mengurus sendiri urusan pemerintahan berdasarkan asas otonomi dan tugas pembantuan. disertai dengan pembiayaanya. atau c. Kewenangan Propinsi sebagai Daerah Otonom termasuk juga kewenangan yang tidak atau belum dapat dilaksanakan Daerah Kabupaten dan Daerah Kota. Kewenangan Pemerintahan yang diserahkan kepada Daerah dalam rangka desentralisasi harus disertai dengan penyerahan dan pengalihan pembiayaan. (2). b. dana perimbangan keuangan. Pasal 8 (1).5. Urusan pemerintahan yang menjadi urusan Pemerintah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi: a. dan standardisasi nasional. akuntabilitas. pembinaan dan pemberdayaan sumber daya manusia. melimpahkan sebagian urusan pemerintahan kepada Gubernur selaku wakil Pemerintah. kabupaten dan . Untuk memberikan pertimbangan – pertimbangan kepada presiden tentang hal-hal yang dimaksud dalam pasal 4. konservasi. menugaskan sebagian urusan kepada pemerintahan daerah dan/atau pemerintahan desa berdasarkan asas tugas pembantuan. keamanan. Dengan Peraturan Daerah. Pemerintah dapat menugaskan kepada Pemerintah Daerah untuk melaksanakan urusan tugas pembantuan. Dalam urusan pemerintahan yang menjadi kewenangan Pemerintah di luar urusan pemerintahan sebagaimana dimaksud pada ayat (3). Pasal 12 (1). Pasal 11 (1) Penyelenggaraan urusan pemerintahan dibagi berdasarkan kriteria eksternalitas. yustisi. politik luar negeri. Pasal 10 (1). Pasal 9 Sesuatu urusan pemerintahan yang telah diserahkan kepada Daerah dapat ditarik kembali dengan peraturan perundangundangan yang setingkat. Pelaksanaan ketentuan yang dimaksud dalam ayat (1) pasal ini diatur dengan Peraturan Pemerintah. sistem administrasi negara dan lembaga perekonomian negara. f. Pemerintah Daerah Tingkat I dapat menugaskan kepada Pemerintah Daerah Tingkat II untuk melaksanakan urusan tugas pembantuan. Pemerintah dapat: a. tentang perencanaan nasional dan pengendalian pembangunan nasional secara makro. (3). Dalam menyelenggarakan urusan pemerintahan sebagaimana dimaksud pada ayat (3). disertai perangkat. (2).ditetapkan dengan Peraturan Pemerintah.

(3) Kewenangan Daerah Kabupaten dan Daerah Kota di wilayah laut. perencanaan dan pengendalian pembangunan. Pasal 11 (1). pengaturan tata ruang. eksploitasi. serta kepegawaian sesuai dengan urusan yang didesentralisasikan. dan pengelolaan kekayaan laut sebatas wilayah laut tersebut. d. c. h. adalah sejauh sepertiga dari batas laut Daerah Propinsi. perhubungan. pemanfaatan. tergantung. f. penanganan bidang kesehatan. dan tenaga kerja. dan pengawasan tata ruang. pertanian. j. koperasi. pengendalian lingkungan hidup.(2) Kewenangan Daerah di wilayah laut. bantuan penegakan keamanan dan kedaulatan negara. meliputi : a. kota atau antarpemerintahan daerah yang saling terkait. (3) Urusan pemerintahan yang menjadi kewenangan pemerintahan daerah. penyelenggaraan pendidikan dan alokasi sumber daya manusia potensial. Pasal 12 Pengaturan lebih lanjut mengenai ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 dan Pasal 9 ditetapkan dengan Peraturan Pemerintah. sebagaimana dimaksud pada ayat (2). kesehatan. d. penyelenggaraan ketertiban umum dan ketentraman masyarakat. (4) Penyelenggaraan urusan pemerintahan yang bersifat wajib yang berpedoman pada standar pelayanan minimal dilaksanakan secara bertahap dan ditetapkan oleh Pemerintah. sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3. pertanahan. konservasi. penanaman modal. eksplorasi. Pasal 13 (1) Pemerintah dapat menugaskan kepada Daerah tugas-tugas tertentu dalam rangka tugas pembantuan disertai pembiayaan. terdiri atas urusan wajib dan urusan pilihan. Kewenangan Daerah Kabupaten dan Daerah Kota mencakup semua kewenangan pemerintahan selain kewenangan yang dikecualikan dalam Pasal 7 dan yang diatur dalam Pasal 9. Pasal 13 (1) Urusan wajib yang menjadi kewenangan pemerintahan daerah provinsi merupakan urusan dalam skala provinsi yang meliputi: a. Bidang pemerintahan yang wajib dilaksanakan oleh Daerah Kabupaten dan Daerah Kota meliputi pekerjaan umum. g. perencanaan. lingkungan hidup. pengaturan kepentingan administratif. b. pendidikan dan kebudayaan. usaha kecil. (2) Urusan pemerintahan yang dilimpahkan kepada Gubernur disertai dengan pendanaan sesuai dengan urusan yang didekonsentrasikan. pelayanan bidang ketenagakerjaan lintas kabupaten/kota. Pasal 12 (1) Urusan pemerintahan yang diserahkan kepada daerah disertai dengan sumber pendanaan. industri dan perdagangan. fasilitasi pengembangan koperasi. pengalihan sarana dan prasarana. . yang diselenggarakan berdasarkan kriteria sebagaimana dimaksud pada ayat (1). dan sinergis sebagai satu sistem pemerintahan. dan menengah termasuk lintas kabupaten/kota. b. penyediaan sarana dan prasarana umum. (4) Pengaturan lebih lanjut mengenai ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) ditetapkan dengan Peraturan Pemerintah. i. (2). c. dan e. e. penegakan hukum terhadap peraturan yang dikeluarkan oleh Daerah atau yang dilimpahkan kewenangannya oleh Pemerintah. penanggulangan masalah sosial lintas kabupaten/kota.

m. dan pengawasan tata ruang. pelayanan bidang ketenagakerjaan. h. pelayanan kependudukan.pelayanan administrasi umum pemerintahan. dan potensi unggulan daerah yang bersangkutan. dan catatan sipil. pengendalian lingkungan hidup. k. Setiap penugasan. Pasal 14 (1) Urusan wajib yang menjadi kewenangan pemerintahan daerah untuk kabupaten/kota merupakan urusan yang berskala kabupaten/kota meliputi: a. kekhasan. serta sumber daya manusia dengan kewajiban melaporkan pelaksanaannya dan mempertanggungjawabkannya kepada Pemerintah. sebagaimana dimaksud pada ayat (1). penanggulangan masalah sosial. g. ditetapkan dengan peraturan perundang-undangan k. pelayanan pertanahan. penanganan bidang kesehatan. c. pelayanan administrasi umum pemerintahan. o. n. fasilitasi pengembangan koperasi. penyelenggaraan pendidikan. m. perencanaan dan pengendalian pembangunan. l. e. f. dan catatan sipil. n. urusan wajib lainnya yang diamanatkan oleh peraturan perundangundangan. i. l. penyelenggaraan pelayanan dasar lainnya yang belum dapat dilaksanakan oleh kabupaten/kota. penyelenggaraan pelayanan dasar lainnya. d. pelayanan administrasi penanaman modal. dan . perencanaan. usaha kecil dan menengah. penyelenggaraan ketertiban umum dan ketentraman masyarakat. pelayanan pertanahan termasuk lintas kabupaten/kota. b. pemanfaatan. pelayanan administrasi penanaman modal termasuk lintas kabupaten/kota. o. pelayanan kependudukan.(2) sarana dan prasarana. penyediaan sarana dan prasarana umum. (2) Urusan pemerintahan provinsi yang bersifat pilihan meliputi urusan pemerintahan yang secara nyata ada dan berpotensi untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat sesuai dengan kondisi. j.

pendanaan urusan pemerintahan yang menjadi tanggung jawab bersama. pemberian sumber-sumber keuangan untuk menyelenggarakan urusan pemerintahan yang menjadi kewenangan pemerintahan daerah. (3) Pasal 16 . kekhasan.(2) (3) p. Urusan pemerintahan kabupaten/kota yang bersifat pilihan meliputi urusan pemerintahan yang secara nyata ada dan berpotensi untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat sesuai dengan kondisi. Pasal 13 dan Pasal 14 ayat (1) dan ayat (2) diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah. Pelaksanaan ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 10. pinjaman dan/atau hibah antar pemerintahan daerah. Pasal 11. pembiayaan bersama atas kerja sama antardaerah. bagi hasil pajak dan nonpajak antara pemerintahan daerah provinsi dan pemerintahan daerah kabupaten/kota. (2) Hubungan dalam bidang keuangan antarpemerintahan daerah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (4) dan ayat (5) meliputi: a. pemberian pinjaman dan/atau hibah kepada pemerintahan daerah. Pasal 15 (1) Hubungan dalam bidang keuangan antara Pemerintah dan pemerintahan daerah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (4) dan ayat (5) meliputi: a. dan c. urusan wajib lainnya yang diamanatkan oleh peraturan perundang-undangan. Pasal 12. pengalokasian dana perimbangan kepada pemerintahan daerah. dan potensi unggulan daerah yang bersangkutan. Hubungan dalam bidang keuangan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) diatur dalam peraturan perundangundangan. d. c. b. b.

(2) Hubungan dalam bidang pemanfaatan sumber daya alam dan sumber daya lainnya antarpemerintahan daerah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (4) dan ayat (5) meliputi: . kewenangan. pengalokasian pendanaan pelayanan umum yang menjadi kewenangan daerah. kewenangan. pelaksanaan bidang pelayanan umum yang menjadi kewenangan daerah. pemeliharaan. budidaya. dan c. pemanfaatan. pe-ngendalian dampak. fasilitasi pelaksanaan kerja sama antarpemerintahan daerah dalam penyelenggaraan pelayanan umum. (3) Hubungan dalam bidang pelayanan umum sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) diatur dalam peraturan perundangundangan.(1) Hubungan dalam bidang pelayanan umum antara Pemerintah dan pemerintahan daerah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (4) dan ayat (5) meliputi: a. dan c. kerja sama antarpemerintahan daerah dalam penyelenggaraan pelayanan umum. b. Pasal 17 (1) Hubungan dalam bidang pemanfaatan sumber daya alam dan sumber daya lainnya antara Pemerintah dan pemerintahan daerah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (4) dan ayat (5) meliputi: a. dan c. penyerasian lingkungan dan tata ruang serta rehabilitasi lahan. b. tanggung jawab.tanggungjawab. dan penentuan standar pelayanan minimal. dan pelestarian. (2) Hubungan dalam bidang pelayanan umum antarpemerintahan daerah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (4) dan ayat (5) meliputi: a. bagi hasil atas pemanfaatan sumber daya alam dan sumber daya lainnya. pengelolaan perizinan bersama bidang pelayanan umum. b.

ikut serta dalam pertahanan kedaulatan negara. . pengaturan tata ruang. ikut serta dalam pemeliharaan keamanan. (4) Kewenangan untuk mengelola sumber daya di wilayah laut sebagaimana dimaksud pada ayat (3) paling jauh 12 (dua belas) mil laut diukur dari garis pantai ke arah laut lepas dan/atau ke arah perairan kepulauan untuk provinsi dan 1/3 (sepertiga) dari wilayah kewenangan provinsi untuk kabupaten/kota. (3) Kewenangan daerah untuk mengelola sumber daya di wilayah laut sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi: a. dan f. pengaturan administratif. b. dan pengelolaan kekayaan laut.a. Pasal 18 (1) Daerah yang memiliki wilayah laut diberikan kewenangan untuk mengelola sumber daya di wilayah laut. konser-vasi. eksploitasi. b. eksplorasi. penegakan hukum terhadap pera-turan yang dikeluarkan oleh daerah atau yang dilimpahkan kewenangannya oleh Pemerintah. kerja sama dan bagi hasil atas pemanfaatan sumber daya alam dan sumber daya lainnya antarpemerintahan daerah. d. pengelolaan perizinan bersama dalam pemanfaatan sumber daya alam dan sumber daya lainnya. pelaksanaan pemanfaatan sumber daya alam dan sumber daya lainnya yang menjadi kewenangan daerah. c. e. dan c. (2) Daerah mendapatkan bagi hasil atas pengelolaan sumber daya alam di bawah dasar dan/atau di dasar laut sesuai dengan peraturan perundang-undangan. (3) Hubungan dalam bidang pemanfaatan sumber daya alam dan sumber daya lainnya sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) diatur dalam peraturan perundangundangan.

(3) Dalam menyelenggarakan pemerintahan daerah. asas profesionalitas. dan i. tugas pembantuan. 32 Tahun 2004 mengatur mengenai asas umum dalam penyelenggaraan negara dan hak dan kewajiban dari setiap daerah yang menyelenggarakan otonomi daerah . asas akuntabilitas.(5) Apabila wilayah laut antara 2 (dua) provinsi kurang dari 24 (dua puluh empat) mil. asas efektivitas. dan oleh menteri negara. d. (6) Ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (4) dan ayat (5) tidak berlaku terhadap penangkapan ikan oleh nelayan kecil. • UU No. asas keterbukaan. asas efisiensi. dan untuk kabupaten/kota memperoleh 1/3 (sepertiga) dari wilayah kewenangan provinsi dimaksud. Pemerintah menggunakan asas desentralisasi. asas kepastian hukum. h. (2) Dalammenyelenggarakan pemerintahan Daerah dibentuk Sekretariat Daerah dan Dinas-dinas Daerah. ayat (3). asas kepentingan umum. Pasal 19 (1) Penyelenggara pemerintahan adalah Presiden dibantu oleh 1 (satu) orang wakil Presiden. g. e. (7) Pelaksanaan ketentuan sebagai-mana dimaksud pada ayat (1). dan ayat (5) diatur lebih lanjut dalam peraturan perundang-undangan 6 Penyelenggara Pemerintahan Pasal 13 (1) Pemerintah Daerah adalah Kepala Daerah dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah. dan dekonsentrasi sesuai dengan peraturan perundang-undangan. asas tertib penyelenggara negara. asas proporsionalitas. kewenangan untuk mengelola sumber daya di wilayah laut dibagi sama jarak atau diukur sesuai prinsip garis tengah dari wilayah antar 2 (dua) provinsi tersebut. (2) Penyelenggara pemerintahan daerah adalah pemerintah daerah dan DPRD. ayat (4). f. (2) Dalam menyelenggarakan pemerintahan. Pasal 20 (1) Penyelenggaraan pemerintahan berpedoman pada Asas Umum Penyelenggaraan Negara yang terdiri atas: a. pemerintahan daerah menggunakan asas otonomi dan tugas pembantuan. b. c.

serta keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Pasal 22 Dalam menyelenggarakan otonomi. menyediakan fasilitas sosial dan fasilitas umum yang layak. mengembangkan kehidupan demokrasi. mengelola kekayaan daerah. dan h. meningkatkan pelayanan dasar pendidikan. memilih pimpinan daerah. daerah mempunyai kewajiban: a. mendapatkan bagi hasil dari pengelolaan sumber daya alam dan sumber daya lainnya yang berada di daerah. c. mengelola aparatur daerah. mendapatkan hak lainnya yang di-atur dalam peraturan perundang-undangan. mengembangkan sumber daya produktif di daerah. i. d. b. g. c. g. mewujudkan keadilan dan pemerataan. l. e. f. memungut pajak daerah dan retribusi daerah. mengatur dan mengurus sendiri urusan pemerintahannya. daerah mempunyai hak: a. menjaga persatuan. f. menyediakan fasilitas pelayanan kesehatan. b.Pasal 21 Dalam menyelenggarakan otonomi. k. h. j. mengelola administrasi kepen-dudukan. membentuk dan menerapkan peraturan perundang-undangan sesuai dengan kewenangannya. m. melestarikan lingkungan hidup. melestarikan nilai sosial budaya. meningkatkan kualitas kehidupan masyarakat. e. menyusun perencanaan dan tata ruang daerah. dan . mengembangkan sistem jaminan sosial. n. mendapatkan sumber-sumber pendapatan lain yang sah. d. melindungi masyarakat. kesatuan dan kerukunan nasional.

c. Kota Administratip bertanggung jawab kepada Kepala Wilayah Kabupaten yang bersangkutan . Pembatasan minimum pendidikan. (4) Wakil kepala daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (3) untuk provinsi disebut wakil Gubernur. Kabupaten disebut Bupati. (2) Pengelolaan keuangan daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan secara efisien. Gubernur bertanggung jawab kepada DPRD Propinsi. untuk kabupaten disebut wakil bupati dan untuk kota disebut wakil walikota. Kecamatan bertanggungjawab kepada Kepala Wilayah Kabupaten atau Kotamadya atau Kota Administratip yang bersangkutan b. dan taat pada peraturan perundang-undangan. adil. (2) Dalam menjalankan tugas dan kewenangan sebagai Kepala Daerah. bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. tertib. sedangkan dalam Undang-Undang No 22 Tahun 1999 dan Undang-Undang No 32 Tahun 2004 mensyaratkan bahwa umur minimum calon kepala daerah ádalah 30 tahun 2. yang karena jabatannya adalah juga sebagai wakil Pemerintah. akuntabel. (3) Dalam menjalankan tugas dan kewenangan Pasal 24 (1) Setiap daerah dipimpin oleh kepala pemerintah daerah yang disebut kepala daerah. kewajiban lain yang diatur dalam peraturan perundang-undangan. patut. b. cita-cita . Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Pembatasan umur minimum Dalam Undang-Undang No 5 Tahun 1974 dijelaskan bahwa umur minimum kepala daerah hádala 35 tahun bagi calon kepala daerah tingkat I dan 30 tahun bagi calon kepala daerah tingkat II. ditetapkan oleh Pemerintah. Pasal 31 (1) Kepala Daerah Propinsi disebut Gubernur. (3) Kepala daerah sebagaimana di-maksud pada ayat (1) dibantu oleh satu orang wakil kepala daerah. (3) Tata cara pelaksanaan pertanggungjawaban. (2) Kepala Daerah Kota disebut Walikota. sebagaimana dimaksud pada ayat (2). (2) Kepala daerah sebagaimana di-maksud pada ayat (1) untuk provinsi disebut Gubernur. (4) Dalam kedudukan sebagai wakil Pemerintah. Propinsi dan Ibukota Negara disebut Gubernur. Kepala Wilayah: a. Kabupaten atau Kotamadya bertanggung jawab kepada Kepala Wilayah Propinsi yang bersangkutan . • Dalam ketiga undang-undang tersebut terdapat perbedaan mengenai syarat-syarat calon kepala daerah diantaranya: 1. d. Pasal 77 Kepala Wilayah : a. Dalam Undang-Undang No 5 Tahun 1974 disebutkan bahwa minimum pendidikan ádalah Sarjana bagi calon kepala daerah Tingkat I dan SMU bagi calon kepala daerah tingkat II. b. Pasal 78 Dalam menjalankan tugasnya. Pasal 23 (1) Hak dan kewajiban daerah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 21 dan Pasal 22 diwujudkan dalam bentuk rencana kerja pemerintahan daerah dan dijabarkan dalam bentuk pendapatan. belanja. untuk kabupaten disebut bupati. d. Pasal 32 (1) Kepala Daerah Kabupaten disebut Bupati. Kotamadya disebut Wahkotamadya. transparan. Pembatasan masa jabatan Dalam UU No 5 Tahun 1974 dan UU No 22 Tahun 1999 tidak ada pembatasan masa jabatan sedangkan dalam UndangUndang No 32 Tahun 2004 terdapat pembatasan masa jabatan adalah 2 kali dalam jabatan yang sama 3. dan pembiayaan daerah yang dikelola dalam sistem pengelolaan keuangan daerah. Gubernur berada di bawah dan bertanggung jawab kepada Presiden. (5) Kepala daerah dan wakil kepala daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dan ayat (3) dipilih dalam satu pasangan secara langsung oleh rakyat di daerah yang bersangkutan. b. (5) Tata cara pelaksanaan pertanggungjawaban. setia kepada Pancasila sebagai Dasar Negara.o. Kecamatan disebut Camat. Dalam UU No 22 Tahun 1999 dan UU No 32 syarat minimum 7 Kepala Daerah Pasal 76 Setiap Wilayah dipimpin oleh seorang Kepala Wilayah. ditetapkan dengan Peraturan Tata Tertib DPRD sesuai dengan pedoman yang ditetapkan oleh Pemerintah. Pasal 58 Calon Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah adalah warga negara Republik Indonesia yang memenuhi syarat: a. dan untuk kota disebut walikota. c. Propinsi atau Ibukota Negara bertanggung jawab kepada Presiden Pasal 30 Setiap Daerah dipimpin oleh seorang Kepala Daerah sebagai kepala eksekutif yang dibantu oleh seorang Wakil Kepala Daerah. efektif. Kota Administratip disebut Walikota. sebagaimana dimaksud pada ayat (4).

melalui Menteri Dalam Negeri. memegang teguh Pancasila dan UndangUndang Dasar 1945. mempunyai rasa pengabdian terhadap Nusa dari Bangsa . i. Pasal 14 Yang dapat diangkat menjadi Kepala Daerah ialah Warganegara Indonesia yang memenuhi syarat-syarat sebagai berikut : a. berumur sekurang-kurangnya tiga puluh tahun. mengenal daerahnya dan dikenal oleh masyarakat di daerahnya. g. tidak sedang memiliki tanggungan utang secara perseorangan dan/atau secara badan hukum yang menjadi tanggungjawabnya yang merugikan keuangan negara. e. berpendidikan sekurang-kurangnya sekolah lanjutan tingkat atas dan/atau sederajat. berkemampuan. tidak pernah melakukan perbuatan tercela. mempertahankan dan memelihara keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia sebagaimana cita-cita Proklamasi Kemerdekaan tanggal 17 Agustus 1945. e. k. adil . setia dan taat kepada PANCASILA dan Undang-Undang Dasar 1945. berpendidikan sekurang-kurangnya Sekolah Lanjutan Tingkat Atas dan/atau sederajat. cerdas. Pasal 79 (1) Kepala Daerah Tingkat I karena jabatannya adalah Kepala Wilayah Propinsi atau Ibukota Negara. tidak pernah dihukum penjara karena melakukan tindak pidana. sehat jasmani dan rohani. g. setia dan taat kepada Nega dan Pemerintah . mengenal daerahnya dan dikenal oleh masyarakat di daerahnya. (3) Ketentuan tentang pengangkatan dan pemberhentian Kepala Wilayah Kota Administratip dan Kepala Wilayah Kecamatan diatur dengan Peraturan Menteri Dalam Negeri. b. taqwa kepada Tuhan Yang Maha esa. dan l. f. b. j. j. tidak sedang dinyatakan pailit berdasarkan putusan pengadilan yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap. belum pernah menjabat sebagai kepala daerah atau wakil kepala daerah selama 2 (dua) kali masa jabatan dalam jabatan yang sama. tidak dicabut hak pilihnya berdasarkan keputusan Pengadilan yang mempunyai kekuatan pasti sehat jasmani dan rokhani . menghormati kedaulatan rakyat. tidak pernah dijatuhi pidana penjara berdasarkan putusan pengadilan yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap karena melakukan tindak pidana yang diancam dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun atau lebih. dan pendidikan adalah SMU. m. tidak sedang dicabut hak pilihnya berdasarkan keputusan pengadilan negeri. seperti gerak an G-30-S/PKI dan atau Organisasi terlarang lainnya . dan trampil . suami atau istri. b. l. h. tidak pernah terlibat dalam kegiatan yang mengkhianati Negara Kesatuan Republik Indonesia yang berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945 yang dinyatakan dengan surat keterangan Ketua Pengadilan Negeri. setia dan taat kepada Negara Kesatuan Republik Indonesia dan Pemerintah yang sah. b. c. d. k. i. Pasal 43 Kepala Daerah mempunyai kewajiban : a. tidak pernah terlibat baik langsung maupun tidak langsung dalam setiap kegiatan yang mengkhianati Negara Kesatuan Republik Indonesia yang berdasarkan PANCASILA dan Undang-Undang Dasar 1945. • Dalam UU No 5 Tahun 1974 menjelaskan bahwa wakil kepala daerah diangkat oleh Presiden sedangkan dalam UU No 23 Tahun 1999 dan UU No 32 Tahun 2004 calon kepala daerah dan wakilnya merupakan satu kesatuan dan tidak terpisahkan. g. sebagaimana dimaksud pada ayat (3). menyerahkan daftar kekayaan pribadi dan bersedia untuk diumumkan. jujur . bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. d. dan kepada Negara Kesatuan Republik Indonesia serta Pemerintah. j. h. e. o. f. c. berusia sekurang-kurangnya 30 (tiga puluh) tahun. f. • UU No 32 Tahun 2004 mengatur lebih rinci tentang tata cara pemberhentian kepala daerah . berwibawa . (4) Tata cara pelaksanaan pertanggungjawaban. sehat jasmani dan rohani berdasarkan hasil pemeriksaan kesehatan menyeluruh dari tim dokter. mempunyai kepribadian dan kepemimpinan . menyerahkan daftar kekayaan pribadi. (2) Kepala Daerah Tingkat II karena jabatannya adalah Kepala Wilayah Kabupaten atau Kotamadya. n. ditetapkan dalam Peraturan Tata Tertib DPRD sesuai dengan pedoman yang ditetapkan oleh Pemerintah Pasal 33 Yang dapat ditetapkan menjadi Kepala Daerah adalah warga negara Republik Indonesia dengan syarat-syarat : a. tidak sedang dicabut hak pilihnya berdasarkan putusan pengadilan yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap. memiliki Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP) atau bagi yang belum mempunyai NPWP wajib mempunyai bukti pembayaran pajak menyerahkan daftar riwayat hidup lengkap yang memuat antara lain riwayat pendidikan dan pekerjaan serta keluarga kandung. d. i. c. Proklamasi 17 Agustus 1945. h. bersedia dicalonkan menjadi Kepala Daerah. Bupati/Walikota bertanggung jawab kepada DPRD Kabupaten/Kota. k. berumur sekurang-kurangnya 35 selaku Kepala Daerah. nyata-nyata tidak terganggu jiwa/ingatannya.

atau jika dipandang perlu oleh Kepala Daerah atau apabila diminta oleh Presiden. meninggal dunia . menjadi advokat atau kuasa dalam perkara di muka Pengadilan. (tiga puluh lima) tahun bagi Kepala Daerah Tingkat I dan 30 (tiga puluh) tahun bagi Kepala Daerah Tingkat II . d. Pemerintah. Pasal 20 Kepala Daerah dilarang : a. c. melakukan pekerjaan-pekerjaan lain yang memberikan keuntungan baginya dalam hal-hal yang berhubungan langsung dengan. membantu kepala daerah dalam mengkoordinasikan kegiatan instansi vertikal di daerah. b. berakhir masa jabatannya dan telah dilantik Kepala Daerah yang baru. mewakili daerahnya di dalam dan di luar pengadilan. Daerah. b. f. memantau dan mengevaluasi penyelenggaraan pemerintahan kabupaten dan kota bagi wakil kepala daerah provinsi. wmengajukan Rancangan Peraturan Daerah dan menetapkannya sebagai Peraturan Daerah bersama dengan DPRD. e. menegakkan seluruh peraturan perundangundangan. sebagaimana dimaksud dalam Pasal 45. menyusun dan mengajukan rancangan Perda tentang APBD kepada DPRD untuk dibahas dan ditetapkan bersama. dan dapat menunjuk kuasa hukum untuk mewakilinya sesuai dengan peraturan perundang-undangan. Pasal 44 (1) Kepala Daerah memimpin penyelenggaraan Pemerintahan Daerah berdasarkan kebijakan yang ditetapkan bersama DPRD. b. karena : a. c. mengajukan rancangan Perda. d. e. membantu kepala daerah dalam menyelenggarakan pemerintahan daerah. kelurahan dan/atau desa bagi wakil kepala daerah kabupaten/kota. Daerah yang bersangkutan . mengupayakan terlaksananya ke-wajiban daerah. menetapkan Perda yang telah mendapat persetujuan bersama DPRD. dan f. melanggar sumpah/janji yang dimaksud dalam pasal 18 ayat (4) Undang-undang ini . m. atas permintaan sendiri . e. dan atau Rakyat . p. (2) Dalam menjalankan tugas dan kewajibannya. harus melengkapi dan/atau menyempurnakannya dalam jangka waktu paling lama tiga puluh hari. d. tidak lagi memenuhi sesuatu syarat Pasal 25 Kepala daerah mempunyai tugas dan wewenang: a. Pasal 45 (1) Kepala Daerah wajib menyampaikan pertanggungjawaban kepada DPRD pada setiap akhir tahun anggaran. dengan sengaja melakukan kegiatan-kegiatan yang merugikan kepentingan Negara. c. berpengetahuan yang sederajat dengan Perguruan Tinggi atau sekurang-kurangnya berpendidikan yang dapat dipersamakan dengan Sarjana Muda bagi Kepala Daerah Tingkat I dan berpengetahuan sederajat dengan Akademi atau sekurang-kurangnya berpendidikan yang dapat dipersamakan dengan Sekolah Lanjutan Atas bagi Kepala Daerah Tingkat II. memantau dan mengevaluasi penyelenggaraan pemerintahan di wilayah kecamatan. d. g. memelihara ketenteraman dan ketertiban masyarakat. d. mempunyai kecakapan dan pengalaman pekerjaan yang cukup di bidang pemerintahan . melaksanakan pemberdayaan perempuan dan pemuda. meningkatkan taraf kesejahteraan rakyat. memimpin penyelenggaraan pe-merintahan daerah berdasarkan kebijakan yang ditetapkan ber-sama DPRD. turut serta dalam sesuatu perusahaan . Pasal 26 (1) Wakil kepala daerah mempunyai tugas: a.l. c. c. serta mengupayakan pengembangan dan pelestarian sosial budaya dan lingkungan hidup. sekurang-kurangnya sekali dalam satu tahun. memberikan saran dan pertimbangan kepada kepala daerah dalam . Kepala Daerah bertanggung jawab kepada DPRD. (2) Kepala Daerah wajib memberikan pertanggungjawaban kepada DPRD untuk hal tertentu atas permintaan DPRD sebagaimana dimaksud dalam Pasal 44 ayat (2). Pasal 21 Kepala Daerah berhanti atau diberhentikan oleh pejabat yang berhak mengangkat. menindaklanjuti laporan dan/atau temuan hasil pengawasan aparat pengawasan. melaksanakan tugas dan wewenang lain sesuai dengan peraturan perundangundangan. b. b. baik pertanggungjawaban kebijakan pemerintahan maupun pertanggungjawaban keuangan. tidak dalam status sebagai penjabat kepala daerah. Pasal 46 (1) Kepala Daerah yang ditolak pertanggungjawabannya. (3) Kepala Daerah wajib menyampaikan laporan atas penyelenggaraan Pemerintahan Daerah kepada Presiden melalui Menteri Dalam Negeri dengan tembusan kepada Gubernur bagi Kepala Daerah Kabupaten dan Kepala Daerah Kota.

Pasal 27 (1) Dalam melaksanakan tugas dan wewenang sebagaimana dimaksud dalam Pasal 25 dan Pasal 26. melaksanakan kehidupan demokrasi. dan/atau jasa dari pihak lain yang patut dapat diduga akan mempengaruhi keputusan atau tindakan yang akan dilakukannya. g. selain yang dimaksud dalam Pasal 47. atau kelompok politiknya yang secara nyata merugikan kepentingan umum atau mendiskriminasikan warga negara dan golongan masyarakat lain. b. sebagaimana dimaksud pada ayat (1). memajukan dan mengembangkan daya saing daerah. (2) (3) Pasal 47 Kepala Daerah mewakili daerahnya di dalam dan di luar pengadilan. atau jika dipandang perlu olehnya. h. kroninya. Pasal 22 (1) Kepala Daerah menjalankan hak. Dalam melaksanakan tugas se-bagaimana dimaksud pada ayat (1). c. b. . b. berhenti. turut serta dalam suatu perusahaan. d. melakukan pekerjaan lain yang memberikan keuntungan bagi dirinya. Pasal 48 Kepala Daerah dilarang : a. d. barang. f. menjaga etika dan norma dalam penyelenggaraan pemerintahan daerah. Wakil kepala daerah menggantikan kepala daerah sampai habis masa jabatannya apabila kepala daerah meninggal dunia. baik milik swasta maupun milik Negara/Daerah. sebab-sebab lain. Pasal 23 (1) Kepala Daerah mewakili Daerahnya di dalam dan di luar Pengadilan. atau apabila diminta oteh Dewan Perwakilan Rakyat Daerah. ata cara. e. (4) Pedoman tentang pemberian keterangan pertanggung jawaban yang dimaksud dalam ayat (3) pasal ini. f. wakil kepala daerah bertanggung jawab kepada kepala daerah. menaati dan menegakkan seluruh peraturan perundang-undangan. i. dan kewajiban pemerintahan Daerah. (3) Dalam menjalankan hak. j. dan kewajiban pimpinan pemerintahan Daerah. meninggal dunia. menjadi advokat atau kuasa hukum dalam suatu perkara di pengadilan. melaksanakan dan mempertanggungjawabkan pengelolaan ke-uangan daerah. anggota keluarganya. wewenang. memelihara ketenteraman dan ketertiban masyarakat. wewenang. (2) Dalam menjalankan hak. menjalin hubungan kerja dengan seluruh instansi vertikal di daerah dan semua perangkat daerah. sebagaimana dimaksud pada ayat (3). diberhentikan. DPRD dapat mengusulkan pemberhentiannya kepada Presiden. dan e. melaksanakan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 serta mempertahankan dan memelihara keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Gubernur Kepala Daerah mengajukan calon Wakil Kepala Daerah Tingkat I kepada Presiden melalui (2) (3) (4) Kepala Daerah yang sudah melengkapi dan/atau menyempurnakan pertanggungjawabannya menyampaikannya kembali kepada DPRD. ditetapkan oleh Pemerintah. memegang teguh dan mengamalkan Pancasila. ditetapkan oleh Menteri Dalam Negeri. atau tidak dapat melakukan kewajibannya selama 6 (enam) bulan secara terus menerus dalam masa jabatannya. Kepala Daerah menurut hierarkhi bertanggungjawab kepada Presiden melalui Menteri Dalam Negeri. f. (2) Apabila dipandang. c. Bagi Kepala Daerah yang pertanggungjawabannya ditolak untuk kedua kalinya. melaksanakan tugas dan kewajiban pemerintahan lainnya yang diberikan oleh kepala daerah. e. mengajukan berhenti atas permintaan penyelenggaraan kegiatan pemerintah daerah. menerima uang. wewenang. dan kewajiban pemerintahan Daerah. melanggar ketentuan yang dimaksud dalam pasal 20 Undangundang ini .yang dimaksud dalam Pasal 14 Undang-undang ini . Pasal 49 Kepala Daerah berhenti atau diberhentikan karena : a. perlu Kepala Daerah dapat menunjuk seorang kuasa atau lebih untuk mewakilinya. kepala daerah dan wakil kepala daerah mempunyai kewajiban: a. yang berhubungan dengan Daerah yang bersangkutan. melaksanakan tugas dan wewenang kepala daerah apabila kepala daerah berhalangan. golongan tertentu. melaksanakan prinsip tata pemerintahan yang bersih dan baik. dan g. Kepala Daerah berkewajiban memberikan keterangan pertanggung jawaban kepada Dewan Perwakilan Rakyat Daerah sekurang-kurangnya sekali setahun. atau dalam yayasan bidang apa pun juga. Pasal 24 (1) Wakil Kepala Daerah Tingkat I diangkat oleh Presiden dari Pegawai Negeri yang memenuhi persyaratan. dan dapat menunjuk kuasa untuk mewakilinya. meningkatkan kesejahteraan rakyat. baik secara langsung maupun tidak langsung. (2) Dengan memperoleh persetujuan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah tanpa melalui pemilihan. membuat keputusan yang secara khusus memberikan keuntungan bagi dirinya.

dan keterangannya atas kasus itu ditolak oleh DPRD. b. dan kepada Menteri Dalam Negeri melalui Gubernur untuk Bupati/Walikota 1 (satu) kali dalam 1 (satu) tahun. atau mendiskriminasikan warga negara dan/atau golongan masyarakat lain. (2) (3) Pasal 50 (1) Pemberhentian Kepala Daerah karena alasan-alasan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 49 ditetapkan dengan Keputusan DPRD dan disahkan oleh Presiden. e. melanggar sumpah/janji sebagaimana dimaksud dalam Pasal 42 ayat (3). 20 dan 21 Undang-undang ini berlaku juga untuk Wakil Kepala Daerah. kroni. turut serta dalam suatu perusahaan. Pasal 26 Dengan Peraturan Menteri Dalam Negeri diatur tentang penjabat yang mewakili Kepala c. baik milik swasta maupun milik negara/daerah. g. membuat keputusan yang secara khusus memberikan keuntungan bagi diri. melakukan pekerjaan lain yang memberikan keuntungan bagi dirinya. c. baik secara langsung maupun tidak langsung. (8) Wakil Kepala Daerah diambil sumpahnya/janjinya dan dilantik oleh Menteri Dalam Negeri atas nama Presiden bagi Wakil Kepala Daerah Tingkat I dan oleh Gubernur Kepala Daerah atas nama Menteri Dalam Negeri bagi Wakil Kepala Daerah Tingkat II. golongan tertentu. (3) Wakil Kepala Daerah Tingkat II diangkat oleh Menteri Dalam Negeri atas nama Presiden dari Pegawai Negeri yang memenuhi persyaratan. berakhir masa jabatannya dan telah dilantik pejabat yang baru. merugikan kepentingan umum. (2) Kepala Daerah yang terbukti melakukan makar dan perbuatan yang dapat memecah belah Negara Kesatuan Republik Indonesia (4) (5) k. Pelaksanaan ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1). kepala daerah mempunyai kewajiban juga untuk memberikan laporan penyelenggaraan pemerintahan daerah kepada Pemerintah. ayat (2). anggota keluarga. (9) Tatacara pelaksanaan ketentuan yang dimaksud dalam ayat-ayat (2) dan (4) pasal ini diatur lebih lanjut dengan Peraturan Menteri Dalam Negeri. Bupati/Walikotamadya Kepala Daerah mengajukan calon Wakil Kepala Daerah Tingkat II kepada Menteri Dalam Negeri melalui Gubernur Kepala Daerah. (2) Keputusan DPRD. Pasal 25 (1) Wakil Kepala Daerah membantu Kepala Daerah dalam menjalankan tugas dan wewenangnya sehari-hari sesuai dengan pedoman yang ditetapkan oleh Menteri Dalam Negeri. Pasal 28 Kepala daerah dan wakil kepala daerah dilarang: a. (5) Pengisian jabatan Wakil Kepala Daerah dilakukan menurut kebutuhan. serta menginformasikan laporan penyeleng-garaan pemerintahan daerah kepada masyarakat. 19. menyampaikan rencana strategis penyelenggaraan pemerintahan daerah di hadapan Rapat Paripurna DPRD. (6) Wakil Kepala Daerah adalah Pejabat Negara. Laporan penyelenggaraan peme-rintahan daerah kepada Pemerintah sebagaimana dimaksud pada ayat (2) disampaikan kepada Presiden melalui Menteri Dalam Negeri untuk Gubernur. dan mengalami krisis kepercayaan publik yang luas akibat kasus yang melibatkan tanggung jawabnya. atau diancam dengan hukuman mati sebagaimana yang diatur dalam Kitab Undang-undang Hukum Pidana. Selain mempunyai kewajiban se-bagaimana dimaksud pada ayat (1). Pasal 52 (1) Kepala Daerah yang diduga melakukan makar dan/atau perbuatan lain yang dapat memecah belah Negara Kesatuan Republik Indonesia diberhentikan untuk sementara dari jabatannya oleh Presiden tanpa melalui Keputusan DPRD. melanggar ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 48. ayat (3). atau kelompok politiknya yang bertentangan dengan peraturan perundang-undangan. sendiri.Menteri Dalam Negeri. Wakil Kepala Daerah menjalankan tugas dan wewenang Kepala Daerah seharihari. dan ayat (4) diatur dalam Peraturan Pemerintah. dan memberikan laporan keterangan pertanggungjawaban kepada DPRD. (4) Dengan memperoleh persetujuan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah tanpa melalui pemilihan. Pasal 51 Kepala Daerah diberhentikan oleh Presiden tanpa melalui Keputusan DPRD apabila terbukti melakukan tindak pidana kejahatan yang diancam dengan hukuman lima tahun atau lebih. f. Laporan sebagaimana dimaksud pada ayat (3) digunakan Pemerintah sebagai dasar melakukan evaluasi penyelenggaraan pemerintahan daerah dan sebagai bahan pembinaan lebih lanjut sesuai dengan peraturan perundangundangan. dan meresahkan sekelompok masyarakat. atau dalam yayasan bidang apapun. d. (2) Apabila Kepala Daerah berhalangan. (7) Ketentuan-ketentuan yang dimaksud dalam Pasal-pasal 14. yang . harus dihadiri oleh sekurangkurangnya dua pertiga dari jumlah anggota DPRD dan putusan diambil dengan persetujuan sekurang-kurangnya dua pertiga dari jumlah anggota yang hadir. sebagaimana dimaksud pada ayat (1). tidak lagi memenuhi syarat sebagaimana dimaksud dalam Pasal 33.

Pasal 54 Kepala Daerah yang ditolak pertanggungjawabannya oleh DPRD. diaktifkan kembali dan direhabilitasi selaku Kepala Daerah sampai akhir masa jabatannya. menyelenggarakan kordinasi atas kegiatan-kegiatan Instansi-instansi Vertikal dan antara Instansi-instansi Vertikal dengan Dinas-dinas Daerah. DPRD mulai memproses pemilihan Kepala Daerah yang baru. (2) Kepala daerah dan/atau wakil kepala daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf c diberhentikan karena: a. permintaan sendiri. (3) Selambat-lambatnya satu bulan sebelum masa jabatan Kepala Daerah berakhir. (3) Kepala Daerah yang setelah melalui proses peradilan ternyata tidak terbukti melakukan makar dan perbuatan yang dapat memecah belah Negara Kesatuan Republik Indonesia. b. b. membina ketentraman dan ketertiban di wilayahnya sesuai dengan kebijaksanaan. menjadi advokat atau kuasa hukum dalam suatu perkara di pengadilan selain yang dimaksud dalam Pasal 25 huruf f. b. tanpa persetujuan DPRD. meninggal dunia. (2) Dengan adanya pemberitahuan. tidak dapat dicalonkan kembali sebagai Kepala Daerah dalam masa jabatan berikutnya. atau c. e. berakhir masa jabatannya dan telah dilantik pejabat yang baru. dan menerima uang. c.Daerah dalam hal Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah berhalangan. barang dan/atau jasa dari pihak lain yang mempengaruhi keputusan atau tindakan yang akan dilakukannya. f. d. menyalahgunakan wewenang dan melanggar sumpah/janji jabatan-nya. mengusahakan secara terus-menerus agar segala peraturan-perundangundangan dan Peraturan Daerah dijalankan oleh Instansi-instansi Pemerintah dan Pemerintah Daerah serta pejabat-pejabat yang ditugaskan untuk itu serta mengambil segata tindakan yang dianggap perlu untuk menjamin kelancaran penyelenggaraan pemerintahan. tidak melaksanakan kewajiban kepala daerah dan/atau wakil kepala daerah. membimbing dan mengawasi penyelenggaraan pemerintahan Daerah. melakukan korupsi. Kepala Daerah mempersiapkan pertanggungjawaban akhir masa jabatannya kepada DPRD dan menyampaikan pertanggungjawaban tersebut selambatlambatnya empat bulan setelah pemberitahuan. Pasal 80 Kepala Wilayah sebagai Wakil Pemerintah adalah Penguasa Tunggal di bidang pemerintahan dalam wilayahnya dalam arti memimpin pemerintahan. (2) Hal-hal yang dikecualikan dari ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) adalah: berhubungan dengan daerah yang bersangkutan. dinyatakan melanggar sumpah/janji jabatan kepala daerah dan/atau wakil kepala daerah. ketentraman dan ketertiban yang ditetapkan oleh Pemerintah . melaksanakan segala usaha dan kegiatan di bidang pembinaan ideologi Negara dan politik dalam negeri serta pembinaan kesatuan Bangsa sesuai dengan kebijaksanaan yang ditetapkan oleh Pemerintah c. f. sebagaimana dimaksud pada ayat (1). mengkordinasikan pembangunan dan membina kehidupan masyarakat di segala bidang. tidak dapat melaksanakan tugas secara berkelanjutan atau berhalangan tetap secara berturut-turut selama 6 (enam) bulan. yang dinyatakan dengan keputusan pengadilan yang telah memperoleh kekuatan hukum yang tetap diberhentikan dari jabatannya oleh Presiden. sebagaimana dimaksud pada ayat (1). Pasal 55 (1) Tindakan penyidikan terhadap Kepala Daerah dilaksanakan setelah adanya persetujuan tertulis dari Presiden. diberhentikan. melanggar larangan bagi kepala daerah dan/atau wakil kepala daerah. Pasal 29 (1) Kepala daerah dan/atau wakil kepala daerah berhenti karena: a. g. Pasal 81 Wewenang. d. e. sebagaimana dimaksud dalam Pasal 53. Pasal 53 (1) DPRD memberitahukan akan berakhirnya masa jabatan Kepala Daerah secara tertulis kepada yang bersangkutan. sebagai anggota DPRD sebagaimana yang ditetapkan dalam peraturan perundang-undangan. enam bulan sebelumnya. nepotisme. (3) Pemberhentian kepala daerah dan/atau wakil kepala daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a dan huruf b serta ayat (2) huruf a dan huruf b diberitahukan oleh pimpinan DPRD untuk diputuskan dalam Rapat Paripurna dan diusulkan oleh pimpinan . merangkap jabatan sebagai pejabat negara lainnya. tugas dan kewajiban Kepala Wilayah adalah : a. tidak lagi memenuhi syarat sebagai kepala daerah dan/atau wakil kepala daerah. kolusi. d. baik dalam perencanaan maupun dalam pelaksanaan untuk mencapai dayaguna dan hasilguna yang sebesar-besarnya. e.

b. dituduh telah melakukan tindak pidana kejahatan yang diancam dengan hukuman mati. Pendapat DPRD sebagaimana dimaksud pada huruf a diputuskan melalui Rapat Paripurna DPRD yang dihadiri oleh sekurang-kurangnya 3/4 (tiga perempat) dari jumlah anggota DPRD dan putusan diambil dengan persetujuan sekurangkurangnya 2/3 (dua pertiga) dari jumlah anggota DPRD yang hadir. (2) Wakil Kepala Daerah dilantik oleh Presiden atau pejabat lain yang ditunjuk. dan seadil-adilnya. . dan b. d. sebagaimana dimaksud dalam Pasal 33. c. (3) Sebelum memangku jabatannya. DPRD menyelenggarakan Rapat Paripurna DPRD yang dihadiri oleh sekurang-kurangnya 3/4 (tiga perempat) dari jumlah anggota DPRD dan putusan diambil dengan persetujuan sekurangkurangnya 2/3 (dua pertiga) dari jumlah anggota DPRD yang hadir untuk memutuskan usul pemberhentian kepala daerah dan/atau wakil kepala daerah kepada Presiden. (4) DPRD. (2) Wakil Kepala Daerah Tingkat II karena jabatannya adalah Wakil Kepala Wilayah Kabupaten atau Kotamadya. Pemberhentian kepala daerah dan/atau wakil kepala daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf d dan huruf e dilaksanakan dengan ketentuan: a. (3) Tindakan kepolisian yang dimaksud dalam ayat (2) pasal ini selambatlambatnya dalam waktu 2 (dua) kali 24 (duapuluh empat) jam sesudahnya harus dilaporkan kepada Jaksa Agung atau kepada Menteri Pertahanan Keamanan/Panglima Angkatan Bersenjata. bahwa saya akan selalu taat dalam mengamalkan dan mempertahankan Pancasila sebagai *9617 dasar negara. dan bahwa saya akan menegakkan kehidupan demokrasi dan Undang-Undang Dasar 1945 sebagai konstitusi negara serta segala peraturan perundang-undangan yang berlaku bagi Daerah dan Negara Kesatuan Republik Indonesia". (5) Ketentuan-ketentuan. Pemberhentian kepala daerah dan wakil kepala daerah diusulkan kepada Presiden berdasarkan putusan Mahkamah Agung atas pendapat DPRD bahwa kepala daerah dan/atau wakil kepala daerah dinyatakan melanggar sumpah/janji jabatan dan/atau tidak melaksanakan kewajiban kepala daerah dan wakil kepala daerah. Apabila Mahkamah Agung memutuskan bahwa kepala daerah dan/atau wakil kepala daerah terbukti melanggar sumpah/janji jabatan dan/atau tidak melaksanakan kewajiban.f. tertangkap tangan melakukan sesuatu tindak pidana. hal itu harus dilaporkan kepada Presiden selambatlambatnya dalam 2 kali 24 jam. Wakil Kepala Daerah Kabupaten disebut Wakil Bupati dan Wakil Kepala Daerah Kota disebut Wakil Walikota. dan disebut Wakil Bupati atau Wakil Walikotamadya. yang pada gilirannya harus melaporkan kepada Presiden selambat- a. melaksanakan segala tugas pemerintahan yang tidak termasuk dalam tugas sesuatu Instansi lainnya. Pasal 56 (1) Di setiap Daerah terdapat seorang Wakil Kepala Daerah. Pasal 41. melaksanakan segala tugas pemerintahan yang dengan atau berdasarkan peraturan perundangundangan diberikan kepadanya. (4) Susunan kata-kata sumpah/janji dimaksud adalah sebagai berikut : "Demi Allah (Tuhan). Pasal 43 kecuali huruf g. g. Pasal 82 (1) Wakil Kepala Daerah Tingkat I karena jabatannya adalah Wakil Kepala Wilayah Propinsi atau Ibukota Negara dan disebut Wakil Gubernur. Pasal 83 (1) Tindakan Kepolisian terhadap Kepala Wilayah Propinsi/Ibukota Negara hanya dapat dilakukan atas persetujuan Presiden. Pasal 47 sampai dengan Pasal 54. sejujur-jujurnya. saya bersumpah/berjanji bahwa saya akan memenuhi kewajiban saya selaku Wakil Gubernur/ Wakil Bupati/Wakil Walikota dengan sebaik-baiknya. (3) Setelah tindakan penyidikan. Presiden wajib memroses usul pemberhentian kepala daerah dan/atau wakil kepala daerah tersebut paling lambat 30 (tiga puluh) hari sejak DPRD menyampaikan usul tersebut. Wakil Kepala Daerah mengucapkan sumpah/janji. Mahkamah Agung wajib memeriksa. dituduh telah melakukan tindak pidana kejahatan yang diancam dengan hukuman mati. dituduh telah melakukan tindak pidana kejahatan yang termaktub dalam Kitab Undang-undang Hukum Pidana BUKU KEDUA BAB I. mengadili. berlaku juga bagi Wakil Kepala Daerah. bersamaan dengan pelantikan Kepala Daerah. e. sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dilakukan. b. c. (6) Wakil Kepala Daerah Propinsi disebut Wakil Gubernur. (2) Hal-hal yang dikecualikan terhadap ketentuan yang dimaksud dalam ayat (1) pasal ini adalah: a. tertangkap tangan melakukan tindak pidana kejahatan yang diancam dengan pidana penjara lima tahun atau lebih. dan memutus pendapat DPRD tersebut paling lambat 30 (tigapuluh) hari setelah permintaan DPRD itu diterima Mahkamah Agung dan putusannya bersifat final.

DPRD menyelenggarakan pemilihan Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah selambatlambatnya dalam waktu tiga bulan. (2) Penggunaan hak angket sebagai-mana dimaksud pada ayat (1) dilaksanakan setelah mendapatkan persetujuan Rapat Paripurna DPRD yang dihadiri oleh sekurang-kurangnya 3/4 (tiga perempat) dari jumlah anggota DPRD dan putusan diambil dengan persetujuan sekurang-kurangnya 2/3 (dua pertiga) dari jumlah anggota DPRD yang hadir untuk melakukan penyelidikan terhadap . dan c. Pasal 32 (1) Dalam hal kepala daerah dan/atau wakil kepala daerah menghadapi krisis kepercayaan publik yang meluas karena dugaan melakukan tindak pidana dan melibatkan tanggung jawabnya. (5) Tindakan kepolisian yang dimaksud dalam ayat (4) pasal ini diberitahukan selambat-lambatnya 2 (dua) kali 24 (duapuluh empat) jam sesudahnya kepada Kepala Wilayah atasan dari yang bersangkutan. jabatan Wakil Kepala Daerah tidak diisi. b. Pasal 57 (1) Wakil Kepala Daerah mempunyai tugas : a. (2) Wakil Kepala Daerah bertanggung jawab kepada Kepala Daerah. DPRD menggunakan hak angket untuk menanggapinya. dan/atau tindak pidana terhadap keamanan negara. melaksanakan tugas-tugas lain yang diberikan oleh Kepala Daerah. jabatan Kepala Daerah diganti oleh Wakil Kepala Daerah sampai habis masa jabatannya. Sekretaris Daerah melaksanakan tugas Kepala Daerah untuk sementara waktu. (4) Tindakan kepolisian terhadap Kepala Wilayah lainnya dilakukan dengan memberitahukan sebelumnya kepada Kepala Wilayah atasan dari yang bersangkutan. (3) Apabila Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah berhalangan tetap. (2) Kepala daerah dan/atau wakil kepala daerah diberhentikan oleh Presiden tanpa melalui usulan DPRD karena terbukti melakukan makar dan/atau perbuatan lain yang dapat memecah belah Negara Kesatuan Republik Indonesia yang dinyatakan dengan putusan pengadilan yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap. (2) Kepala daerah dan/atau wakil kepala daerah diberhentikan oleh Presiden tanpa melalui usulan DPRD apabila terbukti melakukan tindak pidana sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berdasarkan putusan pengadilan yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap. apabila menyangkut hal-hal yang dimaksud dalam ayat (2) pasal ini. (3) Wakil Kepala Daerah melaksanakan tugas dan wewenang Kepala Daerah apabila Kepala Daerah berhalangan. Pasal 31 (1) Kepala daerah dan/atau wakil kepala daerah diberhentikan sementara oleh Presiden tanpa melalui usulan DPRD karena didakwa melakukan tindak pidana korupsi. tindak pidana terorisme. (4) Apabila Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah berhalangan tetap. Pasal 58 (1) Apabila Kepala Daerah berhalangan tetap. mengkoordinasikan kegiatan instansi pemerintahan di Daerah. makar. Pasal 59 Kedudukan keuangan Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah ditetapkan dengan Peraturan Pemerintah.lambatnya dalam waktu 2 (dua) kali 24 (duapuluh empat) jam. Pasal 30 (1) Kepala daerah dan/atau wakil kepala daerah diberhentikan sementara oleh Presiden tanpa melalui usulan DPRD apabila dinyatakan melakukan tindak pidana kejahatan yang diancam dengan pidana penjara paling singkat 5 (lima) tahun atau lebih berdasarkan putusan pengadilan. membantu Kepala Daerah dalam melaksanakan kewajibannya. (2) Apabila Wakil Kepala Daerah berhalangan tetap.

kepala daerah dan/atau wakil kepala daerah. (3) Dalam hal ditemukan bukti me-lakukan tindak pidana sebagaimana dimaksud pada ayat (1), DPRD menyerahkan proses penyelesaiannya kepada aparat penegak hukum sesuai dengan peraturan perundang-undangan. (4) Apabila kepala daerah dan/atau wakil kepala daerah dinyatakan bersalah karena melakukan tindak pidana dengan ancaman pidana penjara paling singkat 5 (lima) tahun atau lebih berdasarkan putusan pengadilan yang belum memperoleh kekuatan hukum tetap sebagaimana dimaksud pada ayat (3), DPRD mengusulkan pemberhentian sementara dengan keputusan DPRD. (5) Berdasarkan keputusan DPRD se-bagaimana dimaksud pada ayat (4), Presiden menetapkan pember-hentian sementara kepala daerah dan/atau wakil kepala daerah. (6) Apabila kepala daerah dan/atau wakil kepala daerah dinyatakan bersalah berdasarkan putusan pengadilan yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap sebagaimana dimaksud pada ayat (4), pimpinan DPRD mengusulkan pemberhentian berdasarkan keputusan Rapat Paripurna DPRD yang dihadiri oleh sekurang-kurangnya 3/4 (tiga perempat) dari jumlah anggota DPRD dan putusan diambil dengan persetujuan sekurang-kurangnya 2/3 (dua pertiga) dari jumlah anggota DPRD yang hadir. (7) Berdasarkan keputusan DPRD se-bagaimana dimaksud pada ayat (6), Presiden memberhentikan kepala daerah dan/atau wakil kepala daerah. Pasal 33 (1) Kepala daerah dan/atau wakil kepala daerah yang diberhentikan sementara sebagaimana dimaksud dalam Pasal 30 ayat (1), Pasal 31 ayat (1), dan Pasal 32 ayat (5) setelah melalui proses peradilan ternyata terbukti tidak bersalah berdasarkan putusan pengadilan yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap, paling lambat 30 (tiga puluh) hari Presiden telah merehabilitasikan dan mengaktifkan kembali kepala daerah dan/atau

wakil kepala daerah yang bersangkutan sampai dengan akhir masa jabatannya. (2) Apabila kepala daerah dan/atau wakil kepala daerah yang diberhentikan sementara sebagaimana dimaksud pada ayat (1) telah berakhir masa jabatannya, Presiden merehabilitasikan kepala daerah dan/atau wakil kepala daerah yang bersangkutan dan tidak mengaktifkannya kembali. (3) Tata cara pelaksanaan ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 30, Pasal 31, dan Pasal 32 diatur dalam Peraturan Pemerintah. Pasal 34 (1) Apabila kepala daerah diberhentikan sementara sebagaimana dimaksud dalam Pasal 30 ayat (1), Pasal 31 ayat (1), dan Pasal 32 ayat (5), wakil kepala daerah melaksanakan tugas dan kewajiban kepala daerah sampai dengan adanya putusan pengadilan yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap. (2) Apabila wakil kepala daerah di-berhentikan sementara sebagai-mana dimaksud Pasal 30 ayat (1), Pasal 31 ayat (1), dan Pasal 32 ayat (5), tugas dan kewajiban wakil kepala daerah dilaksanakan oleh kepala daerah sampai dengan adanya putusan pengadilan yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap. (3) Apabila kepala daerah dan wakil kepala daerah diberhentikan sementara sebagaimana dimaksud dalam Pasal 30 ayat (1), Pasal 31 ayat (1), dan Pasal 32 ayat (5), Presiden menetapkan penjabat Gubernur atas usul Menteri Dalam Negeri atau penjabat Bupati/ Walikota atas usul Gubernur dengan pertimbangan DPRD sampai dengan adanya putusan pengadilan yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap. (4) Tata cara penetapan, kriteria calon, dan masa jabatan penjabat sebagaimana dimaksud pada ayat (3) diatur dalam Peraturan Peme-rintah.

Pasal 35 (1) Apabila kepala daerah diberhentikan berdasarkan putusan pengadilan yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap sebagaimana dimaksud dalam Pasal 30 ayat (2), Pasal 31 ayat (2), dan Pasal 32 ayat (7) jabatan kepala daerah diganti oleh wakil kepala daerah sampai berakhir masa jabatannya dan proses pelaksanaannya dilakukan berdasarkan keputusan Rapat Paripurna DPRD dan disahkan oleh Presiden. (2) Apabila terjadi kekosongan jabatan wakil kepala daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) yang sisa masa jabatannya lebih dari 18 (delapan belas) bulan, kepala daerah mengusulkan 2 (dua) orang calon wakil kepala daerah untuk dipilih oleh Rapat Paripurna DPRD berdasarkan usul partai politik atau gabungan partai politik yang pasangan calonnya terpilih dalam pemilihan kepala daerah dan wakil kepala daerah. (3) Dalam hal kepala daerah dan wakil kepala daerah berhenti atau diberhentikan secara bersamaan dalam masa jabatannya, Rapat Paripurna DPRD memutuskan dan menugaskan KPUD untuk menyelenggarakan pemilihan kepala daerah dan wakil kepala daerah paling lambat 6 (enam) bulan terhitung sejak ditetapkannya penjabat kepala daerah. (4) Dalam hal terjadi kekosongan jabatan kepala daerah dan wakil kepala daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (3), sekretaris daerah melaksanakan tugas sehari-hari kepala daerah sampai dengan Presiden mengangkat penjabat kepala daerah. (5) Tata cara pengisian kekosongan, persyaratan dan masa jabatan penjabat sebagaimana dimaksud pada ayat (4) diatur dalam Peraturan Pemerintah. Pasal 36 (1) Tindakan penyelidikan dan penyidi-kan terhadap kepala daerah dan/atau wakil kepala daerah dilaksanakan setelah adanya persetujuan tertulis dari Presiden atas permintaan penyidik.

pembinaan dan pengawasan penyelenggaraan pemerintahan daerah kabupaten/kota. (4) Hal-hal yang dikecualikan dari ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) adalah: a.Dalam hal persetujuan tertulis sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tidak diberikan oleh Presiden dalam waktu paling lambat 60 (enam puluh) hari terhitung sejak diterimanya permohonan. (2) Dalam kedudukannya sebagaimana dimaksud pada ayat (1). c. atau b. (3) Tindakan penyidikan yang dilanjutkan dengan penahanan diperlukan persetujuan tertulis sesuai dengan ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2). tertangkap tangan melakukan tindak pidana kejahatan. atau telah melakukan tindak pidana kejahatan terhadap keamanan negara. koordinasi penyelenggaraan urusan Pemerintah di daerah provinsi dan kabupaten/kota. (2) . (5) Tindakan penyidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (4) setelah dilakukan wajib dilaporkan kepada Presiden paling lambat dalam waktu 2 (dua) kali 24 (dua puluh empat) jam. proses penyelidikan dan penyidikan dapat dilakukan. Pasal 38 (1) Gubernur dalam kedudukannya se-bagaimana dimaksud dalam Pasal 37 memiliki tugas dan wewenang: a. disangka telah melakukan tindak pidana kejahatan yang diancam dengan pidana mati. koordinasi pembinaan dan pengawasan penyelenggaraan tugas pembantuan di daerah provinsi dan kabupaten/kota. Pasal 37 (1) Gubernur yang karena jabatannya berkedudukan juga sebagai wakil Pemerintah di wilayah provinsi yang bersangkutan. Gubernur bertanggung jawab kepada Presiden. b.

• Menurut UU No 32 Tahun 2004. badan kehormatan disebutkan secara tegas dalam salah satu alat kelengkapan DPRD yang mempunyai tugas-tugas tertentu. dan Anggota bewan Perwakilan Rakyat Daerah diatur denpn Peraturan Daerah. hak. anggota TNI/Polri. Pasal 16 (1) DPRD sebagai lembaga perwakilan rakyat di Daerah merupakan wahana untuk melaksanakan demokrasi berdasarkan Pancasila. Pasal 28 (1) Kedudukan keuangan Ketua. membahas dan menyetujui rancangan Perda tentang APBD bersama dengan kepala daerah. • Dalam UU No 32 Tahun 2004 anggota DPRD dilarang untukmerangkap jabatan sebagai pejabat negara lainnya. Wakil Ketua. wewenang. sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dan ayat (3). (3) Kedudukan keuangan Gubernur se-bagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dalam Peraturan Pemerintah. b. b. pimpinan. komisi-komisi. d. dan larangan rangkapan jabatan bagi Anggotaanggotanya diatur dengan Undang-undang. berlaku sesudah ada pengesahan pejabat yang berwenang. mengajukan pertanyaan bagi masing-masing Anggota. dan kerja sama internasional di daerah. • Terdapat perbedaan dalam tugas dan wewenang anggota DPRD dimana dalam UU No 5 Tahun 1974 dan UU No 22 Tahun 1999 DPRD berwenang memilih calon kepala daerah sedangkan UU No 32 Tahun 2004 DPRD hanya berhak menetapkan kepala daerah setelah dilakukan pemilihan secara langsung. meminta keterangan. Pasal 18 (1) DPRD mempunyai tugas dan wewenang : Pasal 39 Ketentuan tentang DPRD sepanjang tidak diatur dalam Undang-Undang ini berlaku ketentuan Undang-Undang tentang Susunan dan Kedudukan MPR. • Terdapat perbedaan hak DPRD diantara ketiga peraturan tersebut dimana dalam UU No 32 Tahun 2004 hanya menyebutkan hakhak tersebut antara lain hak interpelasi. melaksanakan pengawasan ter-hadap pelaksanaan Perda dan peraturan perundang-undangan lainnya. mengusulkan pengangkatan dan pemberhentian kepala daerah/wakil kepala daerah kepada Presiden melalui Menteri Dalam Negeri bagi DPRD provinsi dan kepada Menteri Dalam Negeri melalui . mengadakan perubahan. tugas. keanggotaan. (2) Pemerintah Daerah terdiri atas Kepala Daerah beserta perangkat Daerah lainnya. c. peraturan kepala daerah. Pasal 14 (1) Di Daerah dibentuk DPRD sebagai Badan Legislatif Daerah dan Pemerintah Daerah sebagai Badan Eksekutif Daerah. dan panitia-panitia. Pasal 15 Kedudukan. Pasal 42 (1) DPRD mempunyai tugas dan wewenang: a. Wakil Ketua. 8 Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Pasal 27 Susunan.(2) Pendanaan tugas dan wewenang Gubernur sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dibebankan kepada APBN. (3) DPRD membentuk fraksi-fraksi yang bukan merupakan alat kelengkapan DPRD. Pasal 29 (1) Untuk dapat melaksanakan fungsinya. (2) Kedudukan protokoler Ketua. anggaran. begitu juga sumpah/janji. e. (4) Pelaksanaan ketentuan. masa keanggotaan. Dewan Perwakilan Rakyat Daerah mempunyai hak : a. (4) Tata cara pelaksanaan tugas dan wewenang Gubernur sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dalam Peraturan Pemerintah. kebijakan pemerintah daerah dalam melaksanakan program pembangunan daerah. dan pimpinan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah. susunan. pegawai pada badan usaha milik negara. Pasal 17 (1) Keanggotaan DPRD dan jumlah anggota DPRD ditetapkan sesuai dengan peraturan perundang-undangan. dan pengawasan. DPR. (2) Alat kelengkapan DPRD terdiri atas pimpinan. (4) Peraturan Daerah yang dimaksud dalam ayat-ayat (1) dan (2) pasal ini. mengajukan pernyataan pendapat. dan DPRD. APBD. Pasal 40 DPRD merupakan lembaga perwakilan daerah dan berkedudukan sebagai penyelenggaraan pemerintahan daerah. badan usaha milik daerah dan/atau badan lain yang anggarannya bersumber dari APBN/APBD • UU No 32 Tahun 2004 mewajibkan DPRD untuk menyusun kode etik untuk menjaga martabat dan kehormatan anggota DPRD dalam menjalankan tugas dan wewenangnya. d. hakim pada badan peradilan dan pegawai negeri sipil. dan Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah diatur dengan Peraturan Daerah. DPD. c. diatur dengan Peraturan Tata Tertib DPRD. dan alat kelengkapan DPRD diatur dengan Undang-undang. keanggotaan. membentuk Perda yang dibahas dengan kepala daerah untuk mendapat persetujuan bersama. (3) Peraturan Daerah yang dimaksud dalam ayat-ayat (1) dan (2) pasal ini dibuat sesuai dengan pedoman yang ditetapkan oleh Menteri Dalam Negeri. (2) DPRD sebagai Badan Legislatif Daerah berkedudukan sejajar dan menjadi mitra dari Pemerintah Daerah. angket dan menyatakan pendapat. rakyat unsur Pasal 41 DPRD memiliki fungsi legislasi. Anggaran.

pelaksanaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah. mengadakan penyelidikan. mempertahankan. i. dan Walikota/Wakil Walikota. 3. pelaksanaan kerja sama internasional di Daerah. mengusulkan pengangkatan dan pemberhentian Gubernur/ Wakil Gubernur. (2) Pelaksanaan tugas dan wewenang. Bupati/Wakil Bupati. prakarsa. membentuk panitia pengawas pemilihan kepala daerah. pelaksanaan Peraturan Daerah dan peraturan perundang-undangan lain. Bupati. mengadakan perubahan atas Rancangan Peraturan Daerah. sebagaimana dimaksud dalam ayat (1). b. c. pelaksanaan Keputusan Gubernur. d. atau Walikota/ Wakil Walikota. 2. f. meminta pertanggungjawaban Gubernur. menjunjung tinggi dan melaksanakan secara konsekwen Garis-garis Besar Haluan Negara. Pasal 43 (1) DPRD mempunyai hak: a. c. interpelasi. Pasal 31 (1) Dewan Perwakilan Rakyat Daerah bersidang sekurang-kurangnya 2 (dua) a. memperhatikan aspirasi dan memajukan tingkat kehidupan Rakyat dengan berpegang pada program pembangunan Pemerintah. melaksanakan pengawasan terhadap : 1. penyelidikan. bersama-sama Kepala Daerah menyusun Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah dan Peraturanperaturan Daerah untuk kepentingan Daerah dalam batasbatas wewenang yang diserahkan kepada Daerah atau untuk melaksanakan peraturan perundang-undangan yang pelaksanaannya ditugaskan kepada Daerah . Bupati. j. (3) Dalam menggunakan hak angket se-bagaimana dimaksud pada ayat (2) dibentuk panitia angket yang terdiri atas semua unsur fraksi DPRD yang bekerja dalam waktu paling lama 60 . DPRD melaksanakan tugas dan wewenang lain yang diatur dalam peraturan perundang-undangan. e. e. g. Bupati. g. c. 4. memilih Gubernur/Wakil Gubernur. h. b. diatur dengan Undangundang. memberikan pendapat dan pertimbangan kepada pemerintah daerah terhadap rencana perjanjian internasional di daerah. d. dan Walikota. dan 5. dan Walikota. menyatakan pendapat. bersama dengan Gubernur. b. meminta keterangan kepada Pemerintah Daerah. kebijakan Pemerintah Daerah. dan c. (3) Cara pelaksanaan hak penyelidikan yang dimaksud dalam ayat (1) huruf g pasal ini. mengajukan pernyataan pendapat. f. Ketetapan-ketetapan Majelis Permusyawaratan Rakyat serta mentaati segala peraturan perundang-undangan yang berlaku. (2) Cara pelaksanaan ketentuan yang dimaksud dalam ayat (1) huruf a sampai dengan huruf f pasal ini. h. atau Walikota membentuk Peraturan Daerah. mengamankan. memberikan persetujuan terhadap rencana kerja sama internasional yang dilakukan oleh pemerintah daerah. g.f. Pasal 30 Kewajiban Dewan Perwakilan Rakyat Daerah adalah : a. Bupati/Wakil Bupati. (2) Pelaksanaan hak angket sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b dilakukan setelah diajukan hak interpelasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a dan mendapatkan persetujuan dari Rapat Paripurna DPRD yang dihadiri sekurang-kurangnya 3/4 (tiga perempat) dari jumlah anggota DPRD dan putusan diambil dengan persetujuan sekurangkurangnya 2/3 (dua pertiga) dari jumlah anggota DPRD yang hadir. k. memilih anggota Majelis Permusyawaratan Rakyat dari Utusan Daerah. serta mengamalkan PANCASILA dan Undang-Undang Dasar 1945 . atau Walikota menetapkan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah. Selain tugas dan wewenang sebagaimana dimaksud pada ayat (1). angket. dan h. b. memberikan pendapat dan pertimbangan kepada Pemerintah terhadap rencana perjanjian internasional yang menyangkut kepentingan Daerah. meminta laporan keterangan pertanggungjawaban kepala daerah dalam penyelenggaraan pemerintahan daerah. Bupati. bersama dengan Gubernur. memilih wakil kepala daerah dalam hal terjadi kekosongan jabatan wakil kepala daerah. mengajukan Rancangan Peraturan (2) Gubernur bagi DPRD kabupaten/kota. menampung dan menindaklanjuti aspirasi Daerah dan masyarakat. Pasal 19 (1) DPRD mempunyai hak : a. diatur dalam Peraturan Tata Tertib Dewan Perwakilan Rakyat Daerah sesuai dengan pedoman yang ditetapkan oleh Menteri Dalam Negeri. melakukan pengawasan dan meminta laporan KPUD dalam penyelenggaraan pemilihan kepala daerah. diatur dalam Peraturan Tata Tertib DPRD. memberikan persetujuan terhadap rencana kerja sama antardaerah dan dengan pihak ketiga yang membebani masyarakat dan daerah. d. f. e.

mengamalkan Pancasila dan UndangUndang Dasar 1945. (2) Pejabat negara. pejabat pemerintah. diatur dalam Peraturan Tata Tertib DPRD. f. penghapusan tagihan sebagian atau seluruhnya . diatur dalam Peraturan Tata Tertib DPRD. b. e. dan c. dan penghapusan pajak dan retribusi . dan memeriksa seseorang yang dianggap mengetahui atau patut mengetahui masalah yang sedang diselidiki serta untuk meminta menunjukkan surat atau dokumen yang berkaitan dengan hal yang sedang diselidiki. keuangan dan administratif. pa-nitia angket sebagaimana dimaksud pada ayat (3) dapat memanggil. d. menentukan Anggaran Belanja DPRD. sebagaimana dimaksud pada ayat (1). membina demokrasi dalam penyelenggaraan Pemerintahan Daerah. membela diri. mengamalkan Pancasila. c. dan pemborongan pengangkutan tanpa mengadakan penawaran umum . pemerintahan. d. (2) dan (3) pasal ini diatur dalam Peraturan Tata Tertib Dewan Perwakilan Rakyat Daerah. (2) Pelaksanaan hak. b. mendengar. persetujuan penyelesaian perkara perdata secara damai . menetapkan Peraturan Tata Tertib DPRD. (4) Pelaksanaan ketentuan yang dimaksud dalam ayat-ayat (1). protokoler. hutang piutang dan menanggung pinjaman . (3) Dewan Perwakilan Rakyat Daerah bersidang atas panggilan Ketua. sebagaimana dimaksud pada ayat (1). b. g. menyampaikan usul dan pendapat. dan h. pemilihan Ketua dan Wakil Ketua dan pelantikan Anggota baru Dewan Perwakilan Rakyat Daerah. Tata cara penggunaan hak interpelasi. pejabat pemerintah. panitia angket dapat memanggil secara paksa dengan bantuan Kepolisian Negara Republik Indonesia sesuai dengan peraturan perundang-undangan. atau warga masyarakat untuk memberikan keterangan tentang suatu hal yang perlu ditangani demi kepentingan negara. kecuali mengenai : a. dan diperiksa sebagaimana dimaksud pada ayat (5) wajib memenuhi panggilan panitia angket kecuali ada alasan yang sah menurut peraturan perundang-undangan. dan h. didengar. Seluruh hasil kerja panitia angket bersifat rahasia. sebagaimana dimaksud pada ayat (1). b. (3) Pelaksanaan hak. perubahan. Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah serta perhitungannya. protokoler. e. mengajukan pertanyaan. keuangan/administrasi. perusahaan Daerah . diancam dengan pidana kurungan paling lama satu tahun karena merendahkan martabat dan kehormatan DPRD. Ketua memanggil Anggota-anggota untuk bersidang dalam waktu 1 (satu) bulan setelah permintaan itu diterima. (2) Kedudukan protokoler dan keuangan pimpinan dan anggota DPRD diatur dalam Peraturan Pemerintah. memilih dan dipilih. mengajukan rancangan Perda. Pasal 45 Anggota DPRD mempunyai kewajiban: a. me-laksanakan . diatur dalam Peraturan Tata Tertib DPRD. g. (3) Rapat tertutup dapat mengambil keputusan. atau warga masyarakat yang menolak permintaan. c. Setiap orang yang dipanggil. Pasal 20 (1) DPRD dalam melaksanakan tugasnya berhak meminta pejabat negara. c. mempertahankan dan memelihara keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Dalam hal telah dipanggil dengan patut secara berturut-turut tidak memenuhi panggilan sebagaimana dimaksud pada ayat (5). Pasal 22 DPRD mempunyai kewajiban : a. bangsa. h. g. pemborongan pekerjaan. d. imunitas. dan hak menyatakan pendapat diatur dalam Peraturan Tata Tertib DPRD yang berpedoman pada peraturan perundangundangan. Dalam melaksanakan tugasnya. serta mentaati segala peraturan perundang-undangan.kali dalam setahun. f. (4) Semua yang hadir dalam rapat tertutup Daerah. (2) Pelaksanaan hak. hak angket. jual beli barang-barang. pengajuan pertanyaan. meningkatkan kesejahteraan rakyat di Daerah berdasarkan demokrasi (4) (5) (6) (7) (8) (enam puluh) hari telah menyampaikan hasil kerjanya kepada DPRD. atas permintaan sekurangkurangnya seperlima jumlah Anggota atau atas permintaan Kepala Daerah. dan pembangunan. Pasal 44 (1) Anggota DPRD mempunyai hak: a. (2) Atas permintaan Kepala Daerah. atau atas permintaan sekurang-kurangnya seperlima jumlah Anggota atau apabila dipandang perlu oleh Pimpinan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah. dapat diadakan rapat tertutup. Pasal 21 (1) Anggota DPRD mempunyai hak : a. penetapan. sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2). (2) Kecuali yang dimaksud dalam ayat (1) pasal ini. Pasal 32 (1) Rapat-rapat Dewan Perwakilan Rakyat Daerah pada dasarnya bersifat terbuka untuk umum.

Pasal 23 (1) DPRD mengadakan rapat secara berkala sekurang-kurangnya enam kali dalam setahun. Pasal 47 (1) Badan Kehormatan DPRD dibentuk dan ditetapkan dengan keputusan DPRD. d. Pasal 26 Rapat tertutup dapat mengambil keputusan. yang diajukan secara lisan maupun tertulis kepada Pimpinan Dewan Perwakilna Rakyat Daerah. menerima keluhan dan pengaduan masyarakat. mempertahankan dan memelihara kerukunan nasional serta keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia. dan wewenang alat kelengkapan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dalam Peraturan Tata Tertib DPRD dengan berpedoman pada peraturan perundang-undangan. Kode Etik. kecuali yang dinyatakan tertutup berdasarkan Peraturan Tata Tertib DPRD atau atas kesepakatan di antara pimpinan DPRD. Badan Kehormatan.wajib merahasiakan segala hal yang dibicarakan dan kewajiban itu berlangsung terus baik bagi Anggota maupun pegawai/pekerja yang mengetahui halnya dengan jalan apapun. pimpinan. b. (3) DPRD mengadakan rapat atas undangan Ketua DPRD. memperjuangkan peningkatan kesejahteraan rakyat di daerah. komisi. (2) Peraturan Tata Tertib yang dimaksud dalam ayat (1) pasal ini. menaati Peraturan Tata Tertib. sampai Dewan membebaskannya. (2) Anggota Badan Kehormatan DPRD sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dipilih dari dan oleh anggota DPRD dengan ketentuan: a. baik dalam rapat terbuka maupun dalam rapat tertutup. dan menaati segala peraturan perundang-undangan. d. d. sebagaimana dimaksud pada ayat (1). menampung. pemilihan anggota Majelis Permusyawaratan Rakyat Utusan Daerah. dan f. dan menindaklanjuti aspi-rasi masyarakat. b. e. Pasal 46 (1) Alat kelengkapan DPRD terdiri atas: a. dan sumpah/janji anggota DPRD. Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah. Pasal 35 (1) Apabila ternyata Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Tingkat I melalaikan atau karena sesuatu hal tidak dapat menjalankan fungsi dan kewajibannya e. c. Kepala Daerah atau Pemerintah. (2) Tatacara tindakan kepolisian terhadap Anggota-anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah diatur dengan Undangundang. c. serta memfasilitasi tindak lanjut penyelesaiannya. kecuali mengenai : a. Ketua DPRD dapat mengundang anggotanya untuk mengadakan rapat selambat-lambatnya dalam waktu satu bulan setelah permintaan itu diterima. pemilihan Kepala Daerah/Wakil Kepala Daerah. h. kecuali jika dengan pernyataan itu ia membocorkan apa yang disepakati dalam rapat tertutup untuk dirahasiakan atau hal-hal yang dimaksud oleh ketentuan-ketentuan mengenai pengumuman rahasia Negara dalam BUKU KEDUA BAB I Kitab Undang-undang Hukum Pidana. penetapan perubahan dan penghapusan pajak dan retribusi. (2) Pembentukan. memberikan pertanggungjawaban atas tugas dan kinerjanya selaku anggota DPRD sebagai wujud tanggung jawab moral dan politis terhadap daerah pemilihannya. ekonomi. pemilihan Ketua/Wakil Ketua DPRD. b. g.dan memperhatikan dan menyalurkan aspirasi. tugas. kelompok. susunan. (2) Kecuali yang dimaksud pada ayat (1). (4) Pelaksanaan ketentuan. mendahulukan kepentingan negara di atas kepentingan pribadi. melaksanakan kehidupan demo-krasi dalam penyelenggaraan pemerintahan daerah. Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. panitia anggaran. alat kelengkapan lain yang diperlukan. dan ayat (3). f. i. Pasal 33 (1) Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah tidak dapat dituntut dimuka Pengadilan karena pernyataanpernyataan yang dikemukakan dalam rapat Dewan Perwakilan Rakyat Daerah. meng-himpun. dan golongan. berlaku sesudah ada pengesahan pejabat yang berwenang. atas permintaan sekurang-kurangnya seperlima dari jumlah anggota atau atas permintaan Kepala Daerah. menjaga norma dan etika dalam hubungan kerja dengan lembaga yang terkait. ditetapkan dengan Peraturan Tata Tertib DPRD. untuk DPRD kabupaten/kota yang beranggotakan sampai dengan 34 (tiga puluh . Pasal 25 Rapat-rapat DPRD bersifat terbuka untuk umum. Pasal 34 (1) Peraturan Tata Tertib Dewan Perwakilan Rakyat Daerah diatur dengan Keputusan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah sesuai dengan pedoman yang ditetapkan oleh Menteri Dalam Negeri. c. e. Pasal 24 Peraturan Tata Tertib DPRD ditetapkan dengan Keputusan DPRD. menyerap. panitia musyawarah. ayat (2).

h. setelah mendengar pertimbangan Gubernur Kepala Daerah. kebijakan tata ruang. penghapusan tagihan sebagian atau seluruhnya. dan untuk DPRD yang beranggotakan 75 (tujuh puluh lima) sampai dengan 100 (seratus) berjumlah 7 (tujuh) orang. b. (4) Sekretaris Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Tingkat II diangkat oleh e. persetujuan penyelesaian perkara perdata secara damai. selambat-lambatnya dalam tempo 2 kali 24 jam diberitahukan secara tertulis kepada Menteri Dalam Negeri dan/atau Gubernur. verifikasi. c. mengevaluasi disiplin. Badan Kehormatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dibantu oleh sebuah sekretariat yang secara fungsional dilaksanakan oleh Sekretariat DPRD. (2) Sekretariat DPRD dipimpin oleh seorang Sekretaris DPRD yang diangkat oleh Kepala Daerah dari Pegawai Negeri Sipil yang memenuhi syarat atas persetujuan pimpinan DPRD. Pasal 28 (1) Tindakan penyidikan terhadap anggota DPRD dapat dilaksanakan atas persetujuan tertulis Menteri Dalam Negeri bagi anggota DPRD Propinsi dan Gubernur bagi anggota DPRD Kabupaten dan Kota. g. dan klarifikasi atas pengaduan Pimpinan DPRD. Pasal 29 (1) Sekretariat DPRD membantu DPRD dalam menyelenggarakan tugas dan kewenangannya. pinjaman. kecuali jika yang bersangkutan mengumumkan apa yang disepakati dalam rapat tertutup untuk dirahasiakan atau hal-hal yang dimaksud oleh ketentuan mengenai pengumuman rahasia negara dalam buku kedua Bab I Kitab Undang-undang Hukum Pidana. masyarakat dan/atau pemilih. baik terbuka maupun tertutup. kecuali jika yang bersangkutan tertangkap tangan melakukan tindak pidana kejahatan. (3) Peraturan Daerah yang dimaksud dalam ayat (2) pasal ini. (2) Bagi Daerah Tingkat II penentuan cara yang dimaksud dalam ayat (1) pasal ini. (3) Sekretaris DPRD dalam melaksanakan tugasnya berada di bawah dan bertanggung (3) (4) empat) berjumlah 3 (tiga) orang. Pasal 36 (1) Sekretariat Dewan Perwakilan Rakyat Daerah adalah unsur staf yang membantu Pimpinan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah dalam menyelenggarakan tugas dan kewajibannya. Menteri Dalam Negeri menentukan cara bagaimana hak. sebagaimana dimaksud pada ayat (1). susunan organisasi. dan klarifikasi sebagaimana dimaksud pada huruf c sebagai rekomendasi untuk ditindaklanjuti oleh DPRD.sehingga dapat merugikan Daerah atau Negara. dan untuk DPRD yang beranggotakan 35 (tiga puluh lima) sampai dengan 45 (empat puluh lima) berjumlah 5 (lima) orang. (3) Dengan memperoleh persetujuan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah tanpa melalui pemilihan. dan kewajiban Dewan Perwakilan Rakyat Daerah itu dijalankan. verifikasi. dan formasi Sekretariat Dewan Perwakilan Rakyat Daerah diatur dengan Peraturan Daerah sesuai dengan pedoman yang ditetapkan oleh Menteri Dalam Negeri. Pimpinan Badan Kehormatan DPRD sebagaimana dimaksud pada ayat (2) terdiri atas seorang Ketua dan seorang Wakil Ketua yang dipilih dari dan oleh anggota Badan Kehormatan. d. wewenang. menyampaikan kesimpulan atas hasil penyelidikan. Pasal 49 (1) DPRD wajib menyusun kode etik untuk menjaga martabat dan kehormatan anggota DPRD dalam menjalankan tugas dan wewenangnya. dan pembebanan kepada Daerah. Gubernur Kepala Daerah mengajukan calon Sekretaris Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Tingkat I kepada Menteri Dalam Negeri. (2) Pembentukan. dan i. (2) Sekretaris Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Tingkat I diangkat oleh Menteri Dalam Negeri dari Pegawai Negeri yang memenuhi persyaratan. untuk DPRD provinsi yang beranggotakan sampai dengan 74 (tujuh puluh empat) berjumlah 5 (lima) orang. Pasal 27 Anggota DPRD tidak dapat dituntut di pengadilan karena pernyataan dan atau pendapat yang dikemukakan dalam rapat DPRD. yang diajukannya secara lisan atau tertulis. b. dan moral para anggota DPRD dalam rangka menjaga martabat dan kehormatan sesuai dengan Kode Etik DPRD. f. meneliti dugaan pelanggaran yang dilakukan anggota DPRD terhadap Peraturan Tata Tertib dan Kode Etik DPRD serta sumpah/janji. berlaku sesudah ada pengesahan pejabat yang berwenang. melakukan penyelidikan. (2) Kode etik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) sekurang-kurangnya meliputi: . dilakukan oleh Gubernur Kepala Daerah setelah mendengar pertimbangan Bupati/Walikotamadya Kepala Daerah yang bersangkutan. utang piutang. mengamati. Badan Usaha Milik Daerah. Pasal 37 (1) Sekretariat Dewan Perwakilan Rakyat Daerah dipimpin oleh seorang Sekretaris Dewan Perwakilan Rakyat Daerah. (2) Dalam hal anggota DPRD tertangkap tangan melakukan tindak pidana. Pasal 48 Badan Kehormatan mempunyai tugas: a. etika.

hal yang baik dan sepantasnya dilakukan oleh anggota DPRD. (2) Jumlah anggota setiap fraksi se-bagaimana dimaksud pada ayat (1) sekurang-kurangnya sama dengan jumlah komisi di DPRD. (3). (3) Anggota DPRD sebagaimana di-maksud pada ayat (1) dari 1 (satu) partai politik yang tidak memenuhi syarat untuk membentuk 1 (satu) fraksi. c. (5) Dengan memperoleh persetujuan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah tanpa melalui pemilihan. e. sanggahan. pengaturan sikap. b. d. wajib bergabung dengan fraksi yang ada atau membentuk fraksi gabungan. seluruh anggota fraksi gabungan tersebut wajib bergabung dengan fraksi dan/atau fraksi ga-bungan lain yang memenuhi syarat. (4) Fraksi yang ada wajib menerima anggota DPRD dari partai politik lain yang tidak memenuhi syarat untuk dapat membentuk satu fraksi. Pasal 30 Setiap Daerah dipimpin oleh seorang Kepala Daerah sebagai kepala eksekutif yang dibantu oleh seorang Wakil Kepala Daerah. jawab kepada pimpinan DPRD. (5) Anggaran Belanja Sekretariat DPRD ditetapkan dengan Keputusan DPRD dan dicantumkan dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah. dan f. (7) Fraksi gabungan dapat dibentuk oleh partai politik dengan syarat sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dan ayat (5). (6) Persyaratan dan tatacara pelaksanaan ketentuan yang dimaksud dalam ayatayat (2). kemudian tidak lagi memenuhi syarat sebagai fraksi ga-bungan. (6) Parpol yang memenuhi persyaratan untuk membentuk fraksi hanya dapat membentuk satu fraksi. Pasal 50 (1) Setiap anggota DPRD wajib terhimpun dalam fraksi. tujuan kode etik. a. . Pasal 51 (1) DPRD provinsi yang beranggotakan 35 (tiga puluh lima) sampai dengan 75 (tujuh puluh lima) orang membentuk 4 (empat) komi-si. (5) Dalam hal fraksi gabungan sebagaimana dimaksud pada ayat (3) setelah dibentuk.Gubernur Kepala Daerah atas nama Menteri Dalam Negeri dari Pegawai Negeri yang memenuhi persyaratan. yang beranggotakan lebih dari 75 (tujuh puluh lima) orang membentuk 5 (lima) komisi. pengertian kode etik. etika dalam penyampaian pendapat. sanksi dan rehabilitasi. tanggapan. (4) dan (5) pasal ini diatur dengan Peraturan Manteri Dalam Negeri. dan tata hubungan antarpenyelenggara pemerintahan daerah dan antaranggota serta antara anggota DPRD dan pihak lain. tata kerja. Bupati/Walikotamadya Kepala Daerah mengajukan calon Sekretaris Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Tingkat II kepada Gubernur Kepala Daerah. jawaban. (4) Sekretaris DPRD dapat menyediakan tenaga ahli dengan tugas membantu anggota DPRD dalam menjalankan fungsinya.

atau . (2) Ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tidak berlaku dalam hal anggota yang bersangkutan mengumumkan materi yang telah disepakati dalam rapat tertutup untuk dirahasiakan.(2) DPRD kabupaten/kota yang beranggotakan 20 (dua puluh) sampai dengan 35 (tiga puluh lima) orang membentuk 3 (tiga) komisi. pertanyaan dan/atau pendapat yang dikemukakan dalam rapat DPRD. (4) Hal-hal yang dikecualikan dari ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) adalah: a. Pasal 53 (1) Tindakan penyidikan terhadap anggota DPRD dilaksanakan setelah adanya persetujuan tertulis dari Menteri Dalam Negeri atas nama Presiden bagi anggota DPRD provinsi dan dari Gubernur atas nama Menteri Dalam Negeri bagi anggota DPRD kabupaten/kota. yang beranggotakan lebih dari 35 (tiga puluh lima) orang membentuk 4 (empat) komisi. Pasal 52 (1) Anggota DPRD tidak dapat dituntut dihadapan pengadilan karena pernyataan. (3) Anggota DPRD tidak dapat diganti antarwaktu karena pernyataan. proses penyidikan dapat dilakukan. (3) Tindakan penyidikan yang dilanjutkan dengan penahanan diperlukan persetujuan tertulis dengan cara sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2). sepanjang tidak bertentangan dengan Peraturan Tata Tertib dan kode etik DPRD. (2) Dalam hal persetujuan tertulis sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tidak diberikan dalam waktu paling lambat 60 (enam puluh) hari semenjak diterimanya permohonan. tertangkap tangan melakukan tindak pidana kejahatan. pertanyaan dan/atau pendapat yang dikemukakan secara lisan ataupun tertulis dalam rapat DPRD. atau hal-hal yang dimaksud oleh ketentuan mengenai pengumuman rahasia negara dalam peraturan perundang-undangan.

badan usaha milik daerah dan/atau badan lain yang anggarannya bersumber dari APBN/APBD. Pasal 54 (1) Anggota DPRD dilarang merangkap jabatan sebagai: a. pegawai pada badan usaha milik negara. dan nepotisme. dokter praktik dan pekerjaan lain yang ada hubungannya dengan tugas.(5) b. ayat (3). tindakan penyidikan harus dilaporkan kepada pejabat yang memberikan izin sebagaimana dimaksud pada ayat (1) paling lambat 2 (dua kali) 24 (dua puluh empat) jam. dan ayat (5) diatur dalam Peraturan Tata Tertib DPRD yang berpedoman pada peraturan perundang-undangan. (6) Pelaksanaan ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1). (5) Anggota DPRD yang tidak memenuhi kewajiban sebagaimana dimaksud pada ayat (4) diberhentikan oleh pimpinan berdasarkan hasil pemeriksaan Badan Kehormatan DPRD. notaris. ayat (2). b. pejabat negara lainnya. pegawai negeri sipil. atau tindak pidana kejahatan terhadap keamanan negara. dan hak sebagai anggota DPRD. Setelah tindakan sebagaimana dimaksud pada ayat (4) dilakukan. wewenang. ayat (4). kolusi. (3) Anggota DPRD dilarang melakukan korupsi. c. disangka melakukan tindak pidana kejahatan yang diancam dengan pidana mati. advokat/pengacara. (4) Anggota DPRD yang melakukan pekerjaan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) wajib melepaskan pekerjaan tersebut selama menjadi anggota DPRD. akuntan publik. (2) Anggota DPRD dilarang melakukan pekerjaan sebagai pejabat struktural pada lembaga pendidikan swasta. konsultan. anggota TNI/Polri. hakim pada badan peradilan. Pasal 55 (1) Anggota DPRD berhenti antarwaktu sebagai .

hal ini berbeda dengan yang diatur dalam UU No. dan ayat (4) diatur dalam Peraturan Tata Tertib DPRD berpedoman pada peraturan perundang-undangan. tidak melaksanakan kewajiban anggota DPRD. f. diusulkan oleh partai politik yang bersangkutan. huruf b. dan huruf e dilaksanakan setelah ada keputusan DPRD berdasarkan rekomendasi dari Badan Kehormatan DPRD. tidak dapat melaksanakan tugas secara berkelanjutan atau berhalangan tetap secara berturut-turut selama 6 (enam) bulan.(2) (3) (4) (5) anggota karena: a. d. Anggota DPRD diberhentikan antarwaktu. karena: a. mengundurkan diri atas permintaan sendiri secara tertulis. b. dan c. ayat (2). melanggar larangan bagi anggota DPRD. dinyatakan bersalah berdasarkan putusan pengadilan yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap karena melanggar tindak pidana dengan ancaman pidana paling singkat 5 (lima) tahun penjara atau lebih. Pemberhentian anggota DPRD sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf a. Pasal 56 (1) Kepala daerah dan wakil kepala daerah dipilih dalam satu pasangan calon yang dilaksanakan secara demokratis berdasarkan . dan/atau melanggar kode etik DPRD.22 tahun 1999 9 Pemilihan Kepala Daerah Pasal 15 (1) Kepala Daerah Tingkat I dicalonkan dan dipilih oleh Dewan Perwakilan Rakyat Daerah dari sedikit-dikitnya 3 Pasal 34 : (1) Pengisian jabatan Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah dilakukan oleh DPRD melalui pemilihan secara bersamaan. meninggal dunia. c. dinyatakan melanggar sumpah/janji jabatan. e. huruf d. Pelaksanaan ketentuan sebagai-mana dimaksud pada ayat (1). Pemberhentian anggota DPRD yang telah memenuhi ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) disampaikan oleh Pimpinan DPRD kepada Menteri Dalam Negeri melalui Gubernur bagi anggota DPRD provinsi dan kepada Gubernur melalui Bupati/Walikota bagi anggota DPRD kabupaten/kota untuk diresmikan pemberhentiannya. 32 Tahun 2004 mengatur bahwa Pemilihan Kepala Daerah dilakukan secara langsung. huruf c. • Dalam UU No. ayat (3). tidak lagi memenuhi syarat sebagai anggota DPRD. b.

(tiga) orang dan sebanyak-banyknya 5 (lima) orang calon yang telah dimusyawarahkan dan disepakati bersama antara Pimpinan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah/ Pimpinan Fraksi-fraksi depan Menteri Dalam Negeri. (2) Setiap fraksi menetapkan pasangan bakal calon Kepala Daerah dan bakal calon Wakil Kepala Daerah dan menyampaikannya dalam rapat paripurna kepada pimpinan DPRD. Pasal 17 (1) Kepala Daerah diangkat untuk masa jabatan 5 (lima) tahun terhitung mulai (2) Calon Kepala Daerah dan calon Wakil Kepala Daerah. kejaksaan. perguruan tinggi. (4) Anggota panitia pengawas sebagaimana dimaksud pada ayat (3) berjumlah 5 (lima) orang untuk provinsi. dibentuk Panitia Pemilihan. jujur. (3) Untuk pencalonan dan pemilihan Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah. dan adil. (4) Ketua dan para Wakil Ketua DPRD karena jabatannya adalah Ketua dan Wakil Ketua Panitia Pemilihan merangkap sebagai anggota. pers. Pasal 57 (1) Pemilihan kepala daerah dan wakil kepala daerah diselenggarakan oleh KPUD yang bertanggungjawab kepada DPRD. Pasal 36 (1) Setiap fraksi melakukan kegiatan penyaringan pasangan bakal calon sesuai dengan syarat yang ditetapkan dalam Pasal 33. melakukan pemeriksaan berkas identitas mengenai bakal calon berdasarkan persyaratan yang telah ditetapkan dalam Pasal 33. rahasia. . (2) Pasangan calon sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diajukan oleh partai politik atau gabungan partai politik. (5) Panitia pengawas kecamatan diusulkan oleh panitia pengawas kabupaten/kota untuk ditetapkan oleh DPRD. umum. (3) Dalam mengawasi penyelenggaraan pemilihan kepala daerah dan wakil kepala daerah. sebagaimana dimaksud pada ayat (1). dan c. melakukan kegiatan teknis pemilihan calon. (3) Tatacara pelaksanaan ketentuan yang dimaksud dalam ayat (1) pasal ini diatur dengan Peraturan Menteri Dalam Negeri. (2) Partai politik atau gabungan partai politik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat mendaftarkan pasangan calon apabila dan UU No. tetapi bukan anggota. (2) Hasil pemilihan yang dimaksud dalam ayat (1) pasal ini diajukan oleh Dewan Perwakilan Rakyat Daerah yang bersangkutan kepada Menteri Dalam Negeri melalui Gubernur Kepala Daerah sedikit-dikitnya 2 (dua) orang untuk diangkat salah seorang diantaranya. (6) Dalam hal tidak didapatkan unsur sebagaimana dimaksud pada ayat (3). (2) Bakal calon Kepala Daerah dan bakal calon Wakil Kepala Daerah yang memenuhi persyaratan sesuai dengan hasil pemeriksaan yang dilakukan oleh Panitia Pemilihan. ditetapkan oleh DPRD melalui tahap pencalonan dan pemilihan. 5 (lima) orang untuk kabupaten/kota dan 3 (tiga) orang untuk kecamatan. menjadi penanggung jawab penyelenggaraan pemilihan. bebas. dibentuk panitia pengawas pemilihan kepala daerah dan wakil kepala daerah yang keanggotaannya terdiri atas unsur kepolisian. (2) Dalam melaksanakan tugasnya. diajukan kepada DPRD untuk ditetapkan sebagai calon Kepala Daerah dan calon Wakil Kepala Daerah. panitia pengawas kabupaten/kota/kecamatan dapat diisi oleh unsur yang lainnya. Pasal 16 (1) Kepala Daerah Tingkat II dicalonkan dan dipilih oleh Dewan Perwakilan Rakyat Daerah dari sedikit-dikitnya 3 (tiga) orang dan sebanyak-banyaknya 5 (lima) orang calon yang telah dimusyawarahkan dan disepakati bersama antara Pimpinan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah/Pimpinan Fraksi-fraksi dengan Gubernur Kepala Daerah. bertugas : a. Pasal 59 (1) Peserta pemilihan kepala daerah dan wakil kepala daerah adalah pasangan calon yang diusulkan secara berpasangan oleh partai politik atau gabungan partai politik. (5) Sekretaris DPRD karena jabatannya adalah Sekretaris Panitia Pemilihan. KPUD menyampaikan laporan penyelenggaraan pemilihan kepala daerah dan wakil kepala daerah kepada DPRD. (7) Panitia pengawas pemilihan kepala daerah dan wakil kepala daerah dibentuk oleh dan bertanggungjawab kepada DPRD dan berkewajiban menyampaikan laporannya. Pasal 35 (1) Panitia pemilihan. b. dan tokoh masyarakat. (3) Dua fraksi atau lebih dapat secara bersamasama mengajukan pasangan bakal calon asas langsung. (3) Tatacara pelaksanaan ketentuan yang dimaksud dalam ayat (1) pasal ini diatur dengan peraturan Menteri Dalam Negeri. sebagaimana dimaksud dalam Pasal 34 ayat (3). (2) Hasil pemilihan yang dimaksud dalam ayat (1) pasal ini diajukan oleh Dewan Perwakilan Rakyat Daerah yang bersangkutan kepada Presiden melalui Menteri Dalam Negeri sedikit-dikitnya 2 (dua) orang untuk diangkat salah seorang diantaranya. 5 Tahun 1974 pemilihan kepala daerah dilakukan oleh DPRD.

(2) Nama-nama calon Bupati dan calon Wakil Bupati serta calon Walikota dan calon Wakil Walikota yang akan dipilih oleh DPRD ditetapkan dengan keputusan pimpinan DPRD. surat pernyataan tidak akan menarik pencalonan atas pasangan yang dicalonkan yang ditandatangani oleh pimpinan partai politik atau para pimpinan partai politik yang bergabung. adalah sebagai berikut : "Saya bersumpah/berjanji. (2) Kepala Daerah adalah Pejabat Negara. (4) Dalam proses penetapan pasangan calon. anggota Tentara Nasional Indonesia. tidak memberikan atau menjanjikan atau akan memberikan sesuatu kepada siapapun juga. bahwa saya akan taat dan akan Kepala Daerah dan bakal calon Wakil Kepala Daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1). langsung atau tidak langsung dengan nama atau dalih apapun. f. (4) Pimpinan DPRD dan pimpinan fraksi-fraksi melakukan penilaian atas kemampuan dan kepribadian para bakal calon dan melalui musyawarah atau pemungutan suara menetapkan sekurang-kurangnya dua pasang calon Kepala Daerah dan calon Wakil Kepala Daerah yang akan dipilih satu pasang di antaranya oleh DPRD. surat pernyataan kesediaan yang bersangkutan sebagai calon kepala daerah dan wakil kepala daerah secara berpasangan. c. e. setiap fraksi atau beberapa fraksi memberikan penjelasan mengenai bakal calonnya. misi. sebagaimana dimaksud pada ayat (1). Pasal 39 (1) Pemilihan calon Kepala Daerah dan calon Wakil Kepala Daerah dilaksanakan dalam Rapat Paripurna DPRD yang dihadiri oleh sekurang-kurangnya dua pertiga dari jumlah anggota DPRD. b.tanggal pelantikannya dan dapat diangkat kembali. g. Saya bersumpah/berjanji. bahwa saya untuk diangkat menjadi Kepala Daerah. (3) Anggota DPRD dapat melakukan tanya jawab dengan para bakal calon. Pasal 18 (1) Sebelum memangku jabatannya Kepala Daerah diambil sumpahnya/ janjinya dan dilantik oleh : a. (3) Partai politik atau gabungan partai politik wajib membuka kesempatan yang seluas-luasnya bagi bakal calon perseorangan yang memenuhi syarat sebagaimana dimaksud dalam Pasal 58 dan selanjutnya memproses bakal calon dimaksud melalui mekanisme yang demokratis dan transparan. surat pencalonan yang ditandatangani oleh pimpinan partai politik atau pimpinan partai politik yang bergabung. tidak sekali-kali akan menerima langsung ataupun tidak langsung dari siapapun juga sesuatu janji atau pemberian. d. (4) Susunan kata-kata sumpah/janji yang dimaksud dalam ayat (1) pasal ini. surat pernyataan mengundurkan diri dari jabatan negeri bagi calon yang berasal dari pegawai negeri sipil. bahwa saya untuk melakukan atau tidak melakukan sesuatu dalam jabatan ini. Pasal 38 (1) Nama-nama calon Gubernur dan calon Wakil Gubernur yang telah ditetapkan oleh pimpinan DPRD dikonsultasikan dengan Presiden. memenuhi persyaratan perolehan sekurangkurangnya 15% (lima belas persen) dari jumlah kursi DPRD atau 15% (lima belas persen) dari akumulasi perolehan suara sah dalam Pemilihan Umum anggota DPRD di daerah yang bersangkutan. serta rencana-rencana kebijakan apabila bakal calon dimaksud terpilih sebagai Kepala Daerah. surat pernyataan tidak akan mengundurkan diri sebagai pasangan calon. wajib menyerahkan: a. (2) Pimpinan DPRD mengundang bakal calon dimaksud untuk menjelaskan visi. Presiden bagi Kepala Daerah Tingkat I . (3) Menteri Dalam Negeri dapat menunjuk Gubernur Kepala Daerah untuk mengambil sumpah/janji dan melantik Kepala Daerah Tingkat II atas nama Menteri Dalam Negeri. (5) Partai politik atau gabungan partai politik pada saat mendaftarkan pasangan calon. Pasal 37 (1) Dalam Rapat Paripurna DPRD. Saya bersumpah/berjanji. surat pernyataan kesanggupan mengundurkan diri dari jabatan apabila terpilih menjadi kepala daerah atau wakil kepala daerah sesuai dengan peraturan perundang-undangan. untuk 1 (satu) kali masa jabatan berikutnya. b. (2) Presiden dapat menunjuk Menteri Dalam Negeri untuk mengambil sumpah/janji dan melantik Kepala Daerah Tingkat I atas nama Presiden. . bahwa saya akan memenuhi kewajiban saya sebagai Kepala Daerah dengan sebaik-baiknya dan sejujur-jujurnya. (2) Apabila jumlah anggota DPRD belum mencapai kuorum. kesepakatan tertulis antarpartai politik yang bergabung untuk mencalonkan pasangan calon. Menteri Dalam Negeri bagi Kepala Daerah Tingkat II. pimpinan rapat dapat menunda rapat paling lama satu jam. partai politik atau gabungan partai politik memperhatikan pendapat dan tanggapan masyarakat. dan anggota Kepolisian Negara Republik Indonesia.

(3) Apabila ketentuan. (7) Masa pendaftaran pasangan calon sebagaimana dimaksud pada ayat (1) paling lama 7 (tujuh) hari terhitung sejak pengumuman pendaftaran pasangan calon. seseorang atau sesuatu golongan dan akan menjunjung tinggi kehormatan Negara. Saya bersumpah/berjanji. senantiasa akan lebih mengutamakan kepentingan Negara dan Daerah daripada kepentingan saya sendiri. dan k. surat pemberitahuan kepada pimpinan bagi anggota DPR. (5) Tatacara pengambilan sumpah/janji dan pelantikan bagi Kepala Daerah diatur dengan Peraturan Pemerintah. dan DPRD yang mencalonkan diri sebagai calon kepala daerah dan wakil kepala daerah. h. bahwa saya senantiasa akan menegakkan UndangUndang Dasar 1945 dan segala peraturan perundang-undangan yang berlaku bagi Negara Republik Indonesia. partai politik atau gabungan partai politik yang mengajukan calon diberi kesempatan untuk melengkapi dan/atau memperbaiki surat pencalonan beserta persyaratan pasangan calon atau .mempertahankan PANCASILA sebagai dasar dan ideologi Negara. belum dicapai. paling lambat 7 (tujuh) hari terhitung sejak tanggal penutupan pendaftaran. Pemerintah. Saya bersumpah/berjanji. (2) Hasil penelitian sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diberitahukan secara tertulis kepada pimpinan partai politik atau gabungan partai politik yang mengusulkan. (6) Partai politik atau gabungan partai politik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) hanya dapat mengusulkan satu pasangan calon dan pasangan calon tersebut tidak dapat diusulkan lagi oleh partai politik atau gabungan partai politik lainnya. Pasal 60 (1) Pasangan calon sebagaimana dimaksud dalam Pasal 59 ayat (1) diteliti persyaratan administrasinya dengan melakukan klarifikasi kepada instansi pemerintah yang berwenang dan menerima masukan dari masyarakat terhadap persyaratan pasangan calon. dan program dari pasangan calon secara tertulis. rapat paripurna diundur paling lama satu jam lagi dan selanjutnya pemilihan calon Kepala Daerah dan calon Wakil Kepala Daerah tetap dilaksanakan. dan martabat Pejabat Negara. i. DPD. bahwa saya dalam menjalankan jabatan atau pekerjaan saya. misi. bahwa saya akan memegang rahasia sesuatu yang menurut sifatnya atau menurut perintah harus saya rahasiakan. kelengkapan persyaratan calon kepala daerah dan wakil kepala daerah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 58. (3) Apabila pasangan calon belum memenuhi syarat atau ditolak karena tidak memenuhi syarat sebagaimana dimaksud dalam Pasal 58 dan/atau Pasal 59. sebagaimana dimaksud pada ayat (2). naskah visi. Daerah. surat pernyataan tidak aktif dari jabatannya bagi pimpinan DPRD tempat yang bersangkutan menjadi calon di daerah yang menjadi wilayah kerjanya. bahwa saya akan berusaha sekuat tenaga membantu memajukan kesejahteraan Rakyat Indonesia pada umumnya dan memajukan kesejahteraan Rakyat Indonesia di Daerah pada khususnya dan akan setia kepada Bangsa dan Negara Kesatuan Republik Indonesia. j. Saya bersumpah/berjanji.

(4) (5) mengajukan calon baru paling lambat 7 (tujuh) hari sejak saat pemberitahuan hasil penelitian persyaratan oleh KPUD. (4) Penetapan dan pengumuman pasangan calon sebagaimana dimaksud pada ayat (3) bersifat final dan mengikat. partai politik dan atau gabungan partai politik. KPUD melakukan penelitian ulang kelengkapan dan atau perbaikan persyaratan pasangan calon sebagaimana dimaksud pada ayat (3) dan sekaligus memberitahukan hasil penelitian tersebut paling lambat 7 (tujuh) hari kepada pimpinan partai politik atau gabungan partai politik yang mengusulkan. Pasal 61 (1) Hasil penelitian sebagaimana dimaksud dalam Pasal 60 ayat (2) dan ayat (4). KPUD menetapkan pasangan calon paling kurang 2 (dua) pasangan calon yang dituangkan dalam Berita Acara Penetapan pasangan calon. (2) Apabila partai politik atau gabungan partai politik menarik calonnya dan/atau pasangan calon dan/atau salah seorang dari pasangan calon mengundurkan diri sebagaimana dimaksud pada ayat (1). Pasal 62 (1) Partai politik atau gabungan partai politik dilarang menarik calonnya dan/atau pasangan calonnya. (2) Pasangan calon yang telah ditetapkan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diumumkan secara luas paling lambat 7 (tujuh) hari sejak selesainya penelitian. (3) Terhadap pasangan calon yang telah ditetapkan dan diumumkan. partai politik atau . tidak dapat lagi mengajukan pasangan calon. Apabila hasil penelitian berkas pasangan calon sebagaimana dimaksud pada ayat (3) tidak memenuhi syarat dan ditolak oleh KPUD. selanjutnya dilakukan undian secara terbuka untuk menetapkan nomor urut pasangan calon. dan pasangan calon atau salah seorang dari pasangan calon dilarang mengundurkan diri terhitung sejak ditetapkan sebagai pasangan calon oleh KPUD.

partai politik atau gabungan partai politik yang pasangan calonnya berhalangan tetap dapat mengusulkan pasangan calon pengganti paling lambat 3 (tiga) hari sejak pasangan calon berhalangan tetap dan KPUD melakukan penelitian persyaratan administrasi dan menetapkan pasangan calon pengganti paling lambat 4 (empat) hari sejak pasangan calon pengganti didaftarkan. Pasal 64 (1) Dalam hal salah satu calon atau pasangan calon berhalangan tetap setelah pemungutan suara putaran pertama sampai dimulainya hari pemungutan suara putaran kedua. tahapan pelaksanaan pemilihan kepala daerah dan wakil kepala daerah dilanjutkan dan pasangan calon yang berhalangan tetap tidak dapat diganti serta dinyatakan gugur. tahapan . tahapan pelaksanaan pemilihan kepala daerah dan wakil kepala daerah ditunda paling lambat 30 (tiga puluh) hari dan partai politik atau gabungan partai politik yang pasangan calonnya berhalangan tetap mengusulkan pasangan calon pengganti paling lambat 3 (tiga) hari sejak pasangan calon berhalangan tetap dan KPUD melakukan penelitian persyaratan administrasi dan menetapkan pasangan calon pengganti paling lambat 4 (empat) hari sejak pasangan calon pengganti didaftarkan. (3) Dalam hal salah satu calon atau pasangan calon berhalangan tetap pada saat dimulainya kampanye sampai hari pemungutan suara sehingga jumlah pasangan calon kurang dari 2 (dua) pasangan.gabungan partai politik yang mencalonkan tidak dapat mengusulkan calon pengganti. (2) Dalam hal salah 1 (satu) calon atau pasangan calon berhalangan tetap pada saat dimulainya kampanye sampai hari pemungutan suara dan masih terdapat 2 (dua) pasangan calon atau lebih. Pasal 63 (1) Dalam hal salah satu calon atau pasangan calon berhalangan tetap sejak penetapan calon sampai pada saat dimulainya hari kampanye.

Kampanye. meliputi penetapan tata cara dan jadwal tahapan pelaksanaan pemilihan kepala daerah. (2) Masa persiapan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi: a. Partai politik atau gabungan partai politik yang pasangan calonnya berhalangan tetap mengusulkan pasangan calon pengganti paling lambat 3 (tiga) hari sejak pasangan calon berhalangan tetap sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan KPUD melakukan penelitian persyaratan administrasi dan menetapkan pasangan calon pengganti paling lambat 4 (empat) hari sejak pasangan calon pengganti didaftarkan. c. d. Pembentukan Panitia Pengawas. Penghitungan suara. (4) Tata cara pelaksanaan masa persiapan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dan tahap pelaksanaan sebagaimana dimaksud . d. b.(2) pelaksanaan pemilihan kepala daerah dan wakil kepala daerah ditunda paling lambat 30 (tiga puluh) hari. Pemungutan suara. c. dan tahap pelaksanaan. Pemberitahuan DPRD kepada KPUD mengenai berakhirnya masa jabatan kepala daerah. pengesahan. dan pelantikan. Penetapan daftar pemilih. dan f. e. PPK. Pemberitahuan dan pendaftaran pemantau. Pendaftaran dan Penetapan calon kepala daerah/ wakil kepala daerah. Perencanaan penyelenggaraan. Penetapan pasangan calon kepala daerah/wakil kepala daerah terpilih. b. Pemberitahuan DPRD kepada kepala daerah mengenai berakhirnya masa jabatan. Pasal 65 (1) Pemilihan kepala daerah dan wakil kepala daerah dilaksanakan melalui masa persiapan. (3) Tahap pelaksanaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi: a. e. PPS dan KPPS.

meneliti persyaratan calon kepala daerah dan wakil kepala daerah yang diusulkan. Merencanakan penyelenggara-an pemilihan kepala daerah dan wakil kepala daerah. meneliti persyaratan partai politik atau gabungan partai politik yang me-ngusulkan calon. g.pada ayat (3) diatur KPUD dengan berpedoman pada Peraturan Pemerintah.menyelenggarakan. c. serta pe-mungutan suara pemilihan kepala daerah dan wakil kepala daerah. menetapkan pasangan calon yang telah memenuhi persyaratan. dan mengendalikan semua tahapan pelaksanaan pemilihan kepala daerah dan wakil kepala daerah. menetapkan tata cara pelaksanaan pemilihan kepala daerah dan wakil kepala daerah sesuai dengan tahapan yang diatur dalam peraturan perundang-undangan. d. menetapkan hasil rekapitulasi penghitungan suara dan mengumumkan hasil pemilihan kepala daerah dan wakil kepala daerah. mengumumkan laporan sumbangan dana kampanye. f. Pasal 66 (1) Tugas dan wewenang KPUD dalam penyelenggaraan pemilihan kepala daerah dan wakil kepala daerah adalah: a. h. menerima pendaftaran dan me-ngumumkan tim kampanye. b. mengkoordinasikan. e. j. k. melaksanakan tugas dan wewenang lain yang diatur oleh peraturan perundangundangan. . menetapkan kantor akuntan publik untuk mengaudit dana kampanye dan mengumumkan hasil audit. i. menetapkan tanggal dan tata cara pelaksanaan kampanye. l. m. melakukan evaluasi dan pelaporan pelaksanaan pemilihan kepala daerah dan wakil kepala daerah.

Pasal 67 (1) KPUD berkewajiban: a. Tugas dan wewenang DPRD dalam penyelenggaraan pemilihan kepala daerah dan wakil kepala daerah adalah: a. menyelesaikan sengketa yang timbul dalam penyelenggaraan pemilihan kepala daerah dan wakil kepala daerah. mengusulkan pemberhentian kepala daerah dan wakil kepala daerah yang berakhir masa jabatannya dan mengusulkan pengangkatan kepala daerah dan wakil kepala daerah terpilih. dan e. meminta pertanggungjawaban pelaksanaan tugas KPUD. melakukan pengawasan pada semua tahapan pelaksanaan pemilihan. menetapkan standarisasi serta kebutuhan . b. mengawasi semua tahapan penyelenggaraan pemilihan kepala daerah dan wakil kepala daerah. dan program dari pasangan calon kepala daerah dan wakil kepala daerah. dan f. d. memberitahukan kepada kepala daerah mengenai akan berakhirnya masa jabatan. Panitia pengawas pemilihan mempunyai tugas dan wewenang: a. d. b. e.(2) (3) (4) Dalam penyelenggaran pemilihan gubernur dan wakil gubernur KPUD kabupaten/kota adalah bagian pelaksana tahapan penyelenggaraan pemilihan yang ditetapkan oleh KPUD provinsi. c. c. b. memperlakukan pasangan calon secara adil dan setara. membentuk panitia pengawas. mengatur hubungan koordinasi antar panitia pengawasan pada semua tingkatan. menyelenggarakan rapat paripurna un-tuk mendengarkan penyampaian visi. misi. menerima laporan pelanggaran peraturan perundang-undangan pemilihan kepala daerah dan wakil kepala daerah. meneruskan temuan dan laporan yang tidak dapat diselesaikan kepada instansi yang berwenang.

Pasal 69 (1) Untuk dapat menggunakan hak memilih. (2) Untuk dapat didaftar sebagai pemilih. memelihara arsip dan dokumen pemilihan serta mengelola barang inventaris milik KPUD berdasarkan peraturan perundangundangan.barang dan jasa yang berkaitan dengan penyelenggaraan pemilihan kepala daerah dan wakil kepala daerah berdasarkan peraturan perundang-undangan. menyampaikan laporan kepada DPRD untuk setiap tahap pelaksanaan pemilihan dan menyampaikan informasi kegiatannya kepada masyarakat . c. nyata-nyata tidak sedang terganggu jiwa/ingatannya. e. tidak sedang dicabut hak pilihnya berdasarkan putusan pengadilan yang telah mempunyai kekuatan hukum tetap. melaksanakan semua tahapan pemilihan kepala daerah dan wakil kepala daerah secara tepat waktu. f. d. . (3) Seorang warga negara Republik Indonesia yang telah terdaftar dalam daftar pemilih ternyata tidak lagi memenuhi syarat sebagaimana dimaksud pada ayat (2) tidak dapat menggunakan hak memilihnya. b. 10 Penetapan Pemilih Pasal 68 Warga negara Republik Indonesia yang pada hari pemungutan suara pemilihan kepala daerah dan wakil kepala daerah sudah berumur 17 (tujuh belas) tahun atau sudah/pernah kawin mempunyai hak memilih. warga negara Republik Indonesia sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus memenuhi syarat: a. mempertanggungjawabkan pengguna-an anggaran kepada DPRD. warga negara Republik Indonesia harus terdaftar sebagai pemilih.

pemilih tersebut harus menentukan satu di antaranya untuk ditetapkan sebagai tempat tinggal yang dicantumkan dalam daftar pemilih. (3) Pemilih melaporkan kepindahannya ke-pada PPS di tempat pemilihan yang baru. Pasal 73 (1) Pemilih yang telah terdaftar dalam daftar pemilih sebagaimana dimaksud dalam Pasal 70 kemudian berpindah tempat tinggal atau karena ingin menggunakan hak pilihnya di tempat lain. Pasal 71 Pemilih yang telah terdaftar sebagai pemilih sebagaimana dimaksud dalam Pasal 70 diberi tanda bukti pendaftaran untuk ditukarkan dengan kartu pemilih untuk setiap pemungutan suara. yang bersangkutan dapat menggunakan hak pilihnya di tempat lain dengan menunjukkan kartu pemilih. (2) Apabila seorang pemilih mempunyai lebih dari 1 (satu) tempat tinggal. pemilih yang bersangkutan harus melapor kepada PPS setempat. (4) Pemilih terdaftar yang karena sesuatu hal terpaksa tidak dapat menggunakan hak pilihnya di TPS yang sudah ditetapkan. (2) PPS sebagaimana dimaksud pada ayat (1) mencatat nama pemilih dari daftar pemilih dan memberikan surat keterangan pindah tempat memilih. Pasal 72 (1) Seorang pemilih hanya didaftar 1 (satu) kali dalam daftar pemilih. . (2) Daftar pemilih sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditambah dengan daftar pemilih tambahan yang telah memenuhi persyaratan sebagai pemilih ditetapkan sebagai daftar pemilih sementara.Pasal 70 (1) Daftar pemilih pada saat pelaksanaan pemilihan umum terakhir di daerah digunakan sebagai daftar pemilih untuk pemilihan kepala daerah dan wakil kepala daerah.

(5) Daftar pemilih tetap disahkan dan d-umumkan oleh PPS. (4) Tim kampanye sebagaimana dimaksud pada ayat (3) didaftarkan ke KPUD bersamaan dengan pendaftaran pasangan calon. (2) Daftar pemilih sementara sebagaimana diaksud pada ayat (1) diumumkan oleh PPS untuk mendapat tanggapan masyarakat.Pasal 74 (1) Berdasarkan daftar pemilih sebagaimana diaksud dalam Pasal 70 dan Pasal 73 PPS menyusun dan menetapkan daftar pemilih sementara. 11 Kampanye Pasal 75 (1) Kampanye dilaksanakan sebagai bagian dari penyelenggaraan pemilihan kepala daerah dan wakil kepala daerah. kabupaten/kota bagi pasangan calon Gubernur dan Wakil . (3) Kampanye sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diselenggarakan oleh tim kampanye yang dibentuk oleh pasangan calon bersama-sama partai politik atau gabungan partai politik yang mengusulkan pasangan calon. (4) Daftar pemilih sementara dan daftar pemilih tambahan ditetapkan sebagai daftar pemilih tetap. (2) Kampanye sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan selama 14 (empat belas) hari dan berakhir 3 (tiga) hari sebelum hari pemungutan suara. (6) Penanggung jawab kampanye adalah pasangan calon. yang pelaksanaannya dipertanggungjawabkan oleh tim kampanye. (3) Pemilih yang belum terdaftar dalam daftar peilih sementara dapat mendaftarkan diri ke PPS dan dicatat dalam daftar pemilih tambahan. (5) Kampanye sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan secara bersama-sama atau secara terpisah oleh pasangan calon dan/atau oleh tim kampanye. (7) Tim kampanye dapat dibentuk secara berjenjang di provinsi. (6) Tata cara pelaksanaan pendaftaran pemilih ditetapkan oleh KPUD.

d. misi. (9) Jadwal pelaksanaan kampanye ditetapkan oleh KPUD dengan memperhatikan usul dari pasangan calon. (2) Pasangan calon wajib menyampaikan visi. . (8) Dalam kampanye. pertemuan terbatas. Pasal 77 (1) Media cetak dan media elektronik memberikan kesempatan yang sama kepada pasangan calon untuk menyampaikan tema dan materi kampanye. (5) Penyelenggaraan kampanye dilakukan di seluruh wilayah provinsi untuk pemilihan gubernur dan wakil gubernur dan diseluruh wilayah kabupaten/kota untuk pemilihan bupati dan wakil bupati dan walikota dan wakil walikota.Gubernur dan kabupaten/kota dan kecamatan bagi pasangan calon Bupati/Wakil Bupati dan Walikota/Wakil Walikota. tertib. kegiatan lain yang tidak melanggar peraturan perundang-undangan. dan bersifat edukatif. Pasal 76 (1) Kampanye dapat dilaksanakan melalui: a. g. e. dan/atau i. rakyat mempunyai kebebasan untuk menghadiri kampanye. (4) Penyampaian materi kampanye dilakukan dengan cara yang sopan. dan program secara lisan maupun tertulis kepada masyarakat. rapat umum. tatap muka dan dialog. (3) Calon kepala daerah dan wakil kepala daerah berhak untuk mendapatkan informasi atau data dari pemerintah daerah sesuai dengan ketentuan perundang-undangan. debat publik/debat terbuka antarcalon. h. b. penyiaran melalui radio dan/atau televisi. f. penyebaran bahan kampanye kepada umum. penyebaran melalui media cetak dan media elektronik. pemasangan alat peraga di tempat umum. c.

suku. dan/atau kelompok masyarakat. perseorangan. b. Pasal 78 Dalam kampanye dilarang: a. menggunakan kekerasan. d. mempersoalkan dasar negara Pancasila dan Pembukaan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. menghasut atau mengadu domba partai politik. ras. estetika. Semua yang hadir dalam pertemuan terbatas atau rapat umum yang diadakan oleh pasangan calon hanya dibenarkan membawa atau menggunakan tanda gambar dan/atau atribut pasangan calon yang bersangkutan. menghina seseorang.(2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) Media elektronik dan media cetak wajib memberikan kesempatan yang sama kepada pasangan calon untuk memasang iklan pemilihan kepala daerah dan wakil kepala daerah dalam rangka kampanye. KPUD berkoordinasi dengan pemerintah daerah untuk menetapkan lokasi pemasangan alat peraga untuk keperluan kampanye. Alat peraga kampanye harus sudah dibersihkan paling lambat 3 (tiga) hari sebelum hari pemungutan suara. Pemerintah daerah memberikan kesempatan yang sama kepada pasangan calon untuk menggunakan fasilitas umum. calon kepala daerah/wakil kepala daerah dan/atau partai politik. Pemasangan alat peraga kampanye pada tempat yang menjadi milik perseorangan atau badan swasta harus seizin pemilik tempat tersebut. dan keindahan kota atau kawasan setempat sesuai dengan peraturan perundang-undangan. ancaman kekerasan atau menganjurkan . Pemasangan alat peraga kampanye sebagaimana dimaksud pada ayat (5) oleh pasangan calon dilaksanakan dengan memper-timbangkan etika. c. golongan. agama. kebersihan.

b. (4) Pasangan calon dilarang melibatkan pegawai negeri sipil.penggunaan kekerasan kepada perseorangan. f. melakukan pawai atau arak-arakan yang dilakukan dengan berjalan kaki dan/atau dengan kendaraan di jalan raya. dan c. menjalani cuti di luar tanggungan negara. kepala desa. h. anggota Tentara Nasional Indonesia. menggunakan fasilitas dan anggaran pemerintah dan pemerintah daerah. mengganggu keamanan. e. pejabat BUMN/BUMD. kelompok masyarakat dan/atau partai politik. pejabat struktural dan fungsional dalam jabatan negeri. b. dilarang melibatkan: a. Pasal 79 (1) Dalam kampanye. ketenteraman. d. mengancam dan menganjurkan penggunaan kekerasan untuk mengambil alih kekuasaan dari pemerintahan yang sah. hakim pada semua peradilan. g. dan anggota Kepolisian Negara Republik Indonesia sebagai peserta . (2) Larangan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tidak berlaku apabila pejabat tersebut menjadi calon kepala daerah dan wakil kepala daerah. dan ketertiban umum. c. pengaturan lama cuti dan jadwal cuti dengan memperhatikan keberlangsungan tugas penyelenggaraan pemerin-tahan daerah. merusak dan/atau menghilangkan alat peraga kampanye pasangan calon lain. menggunakan tempat ibadah dan tempat pendidikan. dan j. (3) Pejabat negara yang menjadi calon ke-pala daerah dan wakil kepala daerah dalam melaksanakan kampanye harus memenuhi ketentuan: a. tidak menggunakan fasilitas yang terkait dengan jabatannya. i.

huruf i dan huruf j. pejabat struktural dan fungsional dalam jabatan negeri. huruf e. dan huruf f. huruf h. (2) Pelanggaran atas ketentuan larangan pelaksanaan kampanye sebagaimana dimaksud dalam Pasal 78 huruf g. huruf b. Pasal 80 Pejabat negara. huruf c. merupakan tindak pidana dan dikenai sanksi sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.kampanye dan juru kampanye dalam pemilihan kepala daerah dan wakil kepala daerah. b. . peringatan tertulis apabila penyelenggara kampanye melanggar larangan walaupun belum terjadi gangguan. Pasal 81 (1) Pelanggaran atas ketentuan larangan pelaksanaan kampanye sebagaimana dimaksud dalam Pasal 78 huruf a. (4) Pelanggaran atas ketentuan larangan pelaksanaan kampanye sebagaimana dimaksud dalam Pasal 79 dikenai sanksi penghentian kampanye selama masa kampanye oleh KPUD. penghentian kegiatan kampanye di tempat terjadinya pelanggaran atau di seluruh daerah pemilihan yang bersangkutan apabila terjadi gangguan terhadap keamanan yang berpotensi menyebar ke daerah pemilihan lain. dan kepala desa dilarang membuat keputusan dan/atau tindakan yang menguntungkan atau merugikan salah satu pasangan calon selama masa kampanye. huruf d. yang merupakan pelanggaran tata cara kampanye dikenai sanksi: a. (3) Tata cara pengenaan sanksi terhadap pelanggaran larangan pelaksanaan kampanye sebagaimana dimaksud pada ayat (2) ditetapkan oleh KPUD.

(2) Pasangan calon wajib memiliki rekening khusus dana kampanye dan rekening yang dimaksud didaftarkan kepada KPUD.000. Pasal 83 (1) Dana kampanye dapat diperoleh dari: a.500.00 (lima puluh juta rupiah) dan dari badan hukum swasta dilarang melebihi Rp 350. b. (2) Pasangan calon dan/atau tim kampanye yang terbukti melakukan pelanggaran sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berdasarkan putusan pengadilan yang telah mempunyai kekuatan hukum tetap dikenai sanksi pembatalan sebagai pasangan calon oleh DPRD. c.Pasal 82 (1) Pasangan calon dan/atau tim kampanye dilarang menjanjikan dan/atau memberikan uang atau materi lainnya untuk mempengaruhi pemilih. (4) Pasangan calon dapat menerima dan/atau menyetujui pembiayaan bukan dalam bentuk uang secara langsung untuk kegiatan kampanye. (3) Sumbangan dana kampanye sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf c dari perseorangan dilarang melebihi Rp 50. (6) Laporan sumbangan dana kampanye sebagaimana dimaksud pada ayat (3).000. dan ayat (5) disampaikan oleh pasangan calon . pasangan calon.000. (5) Sumbangan kepada pasangan calon yang lebih dari Rp 2.000. partai politik dan/atau gabungan partai politik yang mengusulkan.00 (tiga ratus lima puluh juta rupiah). sumbangan pihak-pihak lain yang tidak mengikat yang meliputi sumbangan perseorangan dan/atau badan hukum swasta.000.00 (dua juta lima ratus ribu rupiah) baik dalam bentuk uang maupun bukan dalam bentuk uang yang dapat dikonversikan ke dalam nilai uang wajib dilaporkan kepada KPUD mengenai jumlah dan identitas pemberi sumbangan.

(3) KPUD wajib menyerahkan laporan dana kampanye sebagaimana dimaksud pada ayat (2) kepada kantor akuntan publik paling lambat 2 (dua) hari setelah KPUD menerima laporan dana kampanye dari pasangan calon. negara asing. (2) Dana kampanye sebagaimana dimaksud pada ayat (1) wajib dilaporkan oleh pasangan calon kepada KPUD paling lambat 3 (tiga) hari setelah hari pemungutan suara. .kepada KPUD dalam waktu 1 (satu) hari sebelum masa kampanye dimulai dan 1 (satu) hari sesudah masa kampanye berakhir. lembaga swadaya masyarakat asing dan warga negara asing. Pasal 84 (1) Dana kampanye digunakan oleh pasangan calon. lembaga swasta asing. (5) Hasil audit sebagaimana dimaksud pada ayat (4) diumumkan oleh KPUD paling lambat 3 (tiga) hari setelah KPUD menerima laporan hasil audit dari kantor akuntan publik. (6) Laporan dana kampanye yang diterima KPUD wajib dipelihara dan terbuka untuk umum. (4) Kantor akuntan publik wajib menyelesaikan audit paling lambat 15 (lima belas) hari setelah diterimanya laporan dana kampanye dari KPUD. Pasal 85 (1) Pasangan calon dilarang menerima sumbangan atau bantuan lain untuk kampanye yang berasal dari: a. (7) KPUD mengumumkan melalui media massa laporan sumbangan dana kampanye setiap pasangan calon sebagaimana dimaksud pada ayat (6) kepada masyarakat satu hari setelah menerima laporan dari pasangan calon. yang teknis pelaksanaannya dilakukan oleh tim kampanye.

(2) Pemungutan suara dilakukan dengan memberikan suara melalui surat suara yang berisi nomor. (3) Penggunaan tambahan surat suara sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dibuatkan berita acara. foto. c. (3) Pemungutan suara dilakukan pada hari libur atau hari yang diliburkan. BUMN. pemerintah. penyumbang atau pemberi bantuan yang tidak jelas identitasnya.5% (dua setengah perseratus) dari jumlah pemilih tersebut. (2) Pasangan calon yang menerima sumba-ngan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tidak dibenarkan menggunakan dana tersebut dan wajib melaporkannya kepada KPUD paling lambat 14 (empat belas) hari setelah masa kampanye berakhir dan menyerahkan sumbangan tersebut kepada kas daerah. . (2) Tambahan surat suara sebagaimana dimaksud pada ayat (1) digunakan sebagai cadangan di setiap TPS untuk mengganti surat suara pemilih yang keliru memilih pilihannya serta surat suara yang rusak. 12 Pemungutan Suara Pasal 86 (1) Pemungutan suara pemilihan pasangan calon kepala daerah dan wakil kepala daerah diselenggarakan paling lambat 1 (satu) bulan sebelum masa jabatan kepala daerah berakhir. dan nama pasangan calon. Pasal 87 (1) Jumlah surat suara sebagaimana dimaksud dalam Pasal 86 ayat (2) dicetak sama dengan jumlah pemilih tetap dan ditambah 2. (3) Pasangan calon yang melanggar ketentu-an sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dikenai sanksi pembatalan sebagai pasangan calon oleh KPUD.b. dan BUMD.

(2) Petugas KPPS atau orang lain yang membantu pemilih sebagaimana dimaksud pada ayat (1) wajib merahasiakan pilihan pemilih yang dibantunya. dan rahasia. serta menjamin setiap pemilih dapat memberikan suaranya secara langsung. . termasuk oleh penyandang cacat. bahan. Pasal 90 (1) Jumlah pemilih di setiap TPS sebanyakbanyaknya 300 (tiga ratus) orang. (3) Ketentuan lebih lanjut mengenai pemberi-an bantuan kepada pemilih sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) diatur dalam Peraturan Pemerintah. tunadaksa. Pasal 91 (1) Untuk keperluan pemungutan suara dalam pemilihan kepala daerah dan wakil kepala daerah disediakan kotak suara sebagai tempat surat suara yang digunakan oleh pemilih. Pasal 89 (1) Pemilih tunanetra. ukuran. (3) Jumlah. (2) TPS sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditentukan lokasinya di tempat yang mudah dijangkau. bentuk. (2) Jumlah. dan warna kotak suara sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditetapkan oleh KPUD dengan berpedoman pada peraturan perundangundangan. lokasi. bentuk. dan tata letak TPS ditetapkan oleh KPUD. bebas.Pasal 88 Pemberian suara untuk pemilihan kepala daerah dan wakil kepala daerah dilakukan dengan mencoblos salah satu pasangan calon dalam surat suara. atau yang mempunyai halangan fisik lain pada saat memberikan suaranya di TPS dapat dibantu oleh petugas KPPS atau orang lain atas permintaan pemilih.

(2) Tanda khusus sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditetapkan oleh KPUD dengan . pengeluaran seluruh isi kotak suara. (3) Kegiatan KPPS sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dibuatkan berita acara yang ditandatangani oleh Ketua KPPS. serta d. Pasal 94 (1) Pemilih yang telah memberikan suara di TPS diberi tanda khusus oleh KPPS. (2) Dalam memberikan suara. (3) Apabila menerima surat suara yang ternyata rusak. b. panitia pengawas. kemudian KPPS memberikan surat suara pengganti hanya satu kali. Pasal 93 (1) Setelah melakukan kegiatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 92. KPPS melakukan: a. dan sekurang-kurangnya 2 (dua) anggota KPPS dan dapat ditandatangani oleh saksi dari pasangan calon. KPPS memberikan penjelasan mengenai tata cara pemungutan suara. (5) Penentuan waktu dimulai dan berakhirnya pemungutan suara ditetapkan oleh KPUD. (4) Apabila terdapat kekeliruan dalam cara memberikan suara. pembukaan kotak suara. (2) Kegiatan KPPS sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat dihadiri oleh saksi dari pasangan calon. dan warga masyarakat.Pasal 92 (1) Sebelum melaksanakan pemungutan suara. pemantau. penghitungan jumlah setiap jenis dokumen dan peralatan. pengidentifikasian jenis dokumen dan peralatan. pemilih dapat meminta surat suara pengganti kepada KPPS. pemilih diberi kesempatan oleh KPPS berdasarkan prinsip urutan kehadiran pemilih. kemudian KPPS memberikan surat suara pengganti hanya satu kali. pemilih dapat meminta surat suara pengganti kepada KPPS. c.

dan b. Pasal 95 Suara untuk pemilihan kepala daerah dan wakil kepala daerah dinyatakan sah apabila: a. jumlah surat suara yang tidak terpakai. surat suara ditandatangani oleh Ketua KPPS. foto dan nama pasangan calon. jumlah surat suara yang dikembalikan oleh pemilih karena rusak atau keliru dicoblos. (3) Penggunaan surat suara tambahan dibuatkan berita acara yang ditandatangani oleh Ketua KPPS dan sekurang-kurangnya 2 (dua) anggota KPPS. tanda coblos terdapat dalam salah satu kotak segi empat yang memuat nomor. jumlah pemilih yang memberikan suara berdasarkan salinan daftar pemilih tetap untuk TPS. tanda coblos lebih dari satu. tanda coblos terdapat pada salah satu garis kotak segi empat yang memuat nomor. pemantau. atau c. (5) Saksi pasangan calon harus membawa surat mandat dari tim kampanye yang . (4) Penghitungan suara dilakukan dan selesai di TPS oleh KPPS dan dapat dihadiri oleh saksi pasangan calon. tanda coblos hanya terdapat pada 1 (satu) kotak segi empat yang memuat satu pasangan calon. dan d. tetapi masih di dalam salah satu kotak segi empat yang memuat nomor. Pasal 96 (1) Penghitungan suara di TPS dilakukan oleh KPPS setelah pemungutan suara berakhir. (2) Sebelum penghitungan suara dimulai. jumlah pemilih dari TPS lain. dan warga masyarakat. foto dan nama pasangan calon yang telah ditentukan.berpedoman pada Peraturan Pemerintah. atau d. KPPS menghitung: a. panitia pengawas. b. atau e. foto dan nama pasangan calon. c.

bersangkutan dan menyerahkannya kepada Ketua KPPS. Pasal 97 (1) Setelah menerima berita acara dan ser-tifikat hasil penghitungan suara. . dan alat kelengkapan administrasi pemungutan dan penghitungan suara kepada PPS segera setelah selesai penghitungan suara. (11) KPPS menyerahkan berita acara. sertifikat hasil penghitungan suara. dan warga masyarakat yang hadir dapat menyaksikan secara jelas proses penghitungan suara. (7) Pasangan calon dan warga masyarakat melalui saksi pasangan calon yang hadir dapat mengajukan keberatan terhadap jalannya penghitungan suara oleh KPPS apabila ternyata terdapat hal-hal yang tidak sesuai dengan peraturan perundangundangan. surat suara. (8) Dalam hal keberatan yang diajukan oleh saksi pasangan calon atau warga masyarakat sebagaimana dimaksud pada ayat (7) dapat diterima. KPPS membuat berita acara dan sertifikat hasil penghitungan suara yang ditandatangani oleh ketua dan sekurangkurangnya 2 (dua) orang anggota KPPS serta dapat ditandatangani oleh saksi pasangan calon. pemantau. panitia pengawas. KPPS seketika itu juga mengadakan pembetulan. pemantau. (10) KPPS memberikan 1 (satu) eksemplar salinan berita acara dan sertifikat hasil penghitungan suara kepada saksi pasangan calon yang hadir dan menempelkan 1 (satu) eksemplar sertifikat hasil penghitungan suara di tempat umum. panitia pengawas. (6) Penghitungan suara dilakukan dengan ca-ra yang memungkinkan saksi pasangan calon. dan warga masyarakat. (9) Segera setelah selesai penghitungan su-ara di TPS. PPS membuat berita acara penerimaan dan melakukan rekapitulasi jumlah suara untuk tingkat desa/kelurahan dan dapat dihadiri oleh saksi pasangan calon.

(6) PPS wajib memberikan 1 (satu) eksemplar salinan berita acara dan sertifikat rekapitulasi hasil penghitungan suara di PPS kepada saksi pasangan calon yang hadir dan menempelkan 1 (satu) eksemplar sertifikat hasil penghitungan suara di tempat umum . (5) Setelah selesai melakukan rekapitulasi hasil penghitungan suara di semua TPS dalam wilayah kerja desa/kelurahan yang bersangkutan. . (7) PPS wajib menyerahkan 1 (satu) eksemplar berkas berita acara dan sertifikat rekapitulasi hasil penghitungan suara di PPS kepada PPK setempat. pemantau. PPK membuat berita acara penerimaan dan melakukan rekapitulasi jumlah suara untuk tingkat kecamatan dan dapat dihadiri oleh saksi pasangan calon. dan warga masyarakat. PPS seketika itu juga mengadakan pembetulan. PPS membuat berita acara dan sertifikat rekapitulasi hasil penghitungan suara yang ditandatangani oleh ketua dan paling sedikit 2 (dua) orang anggota PPS serta ditandatangani oleh saksi pasangan calon. (4) Dalam hal keberatan yang diajukan oleh saksi pasangan calon atau warga masyarakat sebagaimana dimaksud pada ayat (3) dapat diterima.(2) Saksi pasangan calon harus membawa surat mandat dari Tim Kampanye yang bersangkutan dan menyerahkannya kepada PPS. panitia pengawas. (3) Pasangan calon dan warga masyarakat melalui saksi pasangan calon yang hadir dapat mengajukan keberatan terhadap jalannya penghitungan suara oleh PPS apabila ternyata terdapat hal-hal yang tidak sesuai dengan peraturan perundangundangan. Pasal 98 (1) Setelah menerima berita acara dan ser-tifikat hasil penghitungan suara.

. sebagaimana dimaksud pada ayat (3) dapat diterima. pemantau. (6) PPK wajib memberikan 1 (satu) eksemplar salinan berita acara dan sertifikat rekapitulasi hasil penghitungan suara di PPK kepada saksi pasangan calon yang hadir dan menempelkan 1 (satu) eksemplar sertifikat hasil penghitungan suara di tempat umum.(2) Saksi pasangan calon harus membawa surat mandat dari Tim Kampanye yang bersangkutan dan menyerahkannya kepada PPK. (5) Setelah selesai melakukan rekapitulasi hasil penghitungan suara di semua PPS dalam wilayah kerja kecamatan yang bersangkutan. (3) Pasangan calon dan warga masyarakat melalui saksi pasangan calon yang hadir dapat mengajukan keberatan terhadap jalannya penghitungan suara oleh PPK apabila ternyata terdapat hal-hal yang tidak sesuai dengan peraturan perundangundangan. Pasal 99 (1) Setelah menerima berita acara dan ser-tifikat hasil penghitungan suara. PPK seketika itu juga mengadakan pembetulan. KPU kabupaten/kota membuat berita acara penerimaan dan melakukan rekapitulasi jumlah suara untuk tingkat kabupaten/kota dan dapat dihadiri oleh saksi pasangan calon. (7) PPK wajib menyerahkan 1 (satu) eksem-plar berkas berita acara dan sertifikat rekapitulasi hasil penghitungan suara di PPK kepada KPU kabupaten/kota. panitia pengawas. (4) Dalam hal keberatan yang diajukan oleh atau melalui saksi pasangan calon. PPK membuat berita acara dan sertifikat rekapitulasi hasil penghitungan suara yang ditandatangani oleh ketua dan sekurang-kurangnya 2 (dua) orang anggota PPK serta ditandatangani oleh saksi pasangan calon. dan warga masyarakat.

KPU kabupaten/kota seketika itu juga mengadakan pembetulan. (3) Pasangan calon dan warga masyarakat melalui saksi pasangan calon yang hadir dapat mengajukan keberatan terhadap jalannya penghitungan suara oleh KPU kabupaten/kota apabila ternyata terdapat hal-hal yang tidak sesuai dengan peraturan perundang-undangan.(2) Saksi pasangan calon harus membawa surat mandat dari Tim Kampanye yang bersangkutan dan menyerahkannya kepada KPU kabupaten/kota. Pasal 100 (1) Dalam hal pemilihan kepala daerah dan wakil kepala daerah kabupaten/kota. berita acara dan rekapitulasi hasil peng-hitungan suara selanjutnya diputuskan da-lam pleno KPU kabupaten/kota untuk me-netapkan pasangan calon terpilih. (4) Dalam hal keberatan yang diajukan oleh atau melalui saksi pasangan calon. (5) Setelah selesai melakukan rekapitulasi hasil penghitungan suara di semua PPK dalam wilayah kerja kecamatan yang bersangkutan. (6) KPU kabupaten/kota wajib memberikan 1 (satu) eksemplar salinan berita acara dan sertifikat rekapitulasi hasil penghitungan suara di KPU kabupaten/kota kepada saksi pasangan calon yang hadir dan menempelkan 1 (satu) eksemplar sertifikat hasil penghitungan suara di tempat umum. (7) KPU kabupaten/kota wajib menyerahkan 1 (satu) eksemplar berkas berita acara dan sertifikat rekapitulasi hasil penghitungan suara di KPU kabupaten/kota kepada KPU provinsi. . sebagaimana dimaksud pada ayat (3) dapat diterima. KPU kabupaten/kota membuat berita acara dan sertifikat rekapitulasi hasil penghitungan suara yang ditandatangani oleh ketua dan sekurangkurangnya 2 (dua) orang anggota KPU kabupaten/kota serta ditandatangani oleh saksi pasangan calon.

(5) Setelah selesai melakukan rekapitulasi hasil penghitungan suara di semua KPU kabupaten/kota. panitia pengawas. sebagaimana dimaksud pada ayat (3) dapat diterima. KPU provinsi seketika itu juga mengadakan pembetulan. dan warga masyarakat.(2) Penetapan pasangan calon terpilih sebagaimana dimaksud pada ayat (1) disampaikan kepada DPRD kabu-paten/kota untuk diproses pengesahan dan pengangkatannya sesuai dengan peraturan perundang-undangan. . KPU provinsi membuat berita acara penerimaan dan melakukan rekapitulasi jumlah suara untuk tingkat provinsi dan dapat dihadiri oleh saksi pasangan calon. (2) Saksi pasangan calon harus membawa surat mandat dari Tim Kampanye yang bersangkutan dan menyerahkannya kepada KPU provinsi. pemantau. Pasal 101 (1) Setelah menerima berita acara dan ser-tifikat hasil penghitungan suara. KPU provinsi membuat berita acara dan sertifikat rekapitulasi hasil penghitungan suara yang ditandatangani oleh ketua dan sekurang-kurangnya 2 (dua) orang anggota KPU provinsi serta ditandatangani oleh saksi pasangan calon. (4) Dalam hal keberatan yang diajukan oleh atau melalui saksi pasangan calon. (6) KPU provinsi wajib memberikan 1 (satu) eksemplar salinan berita acara dan sertifikat rekapitulasi hasil penghitungan suara di KPU provinsi kepada saksi pasangan calon yang hadir dan menempelkan 1 (satu) eksemplar sertifikat hasil penghitungan suara di tempat umum. (3) Pasangan calon dan warga masyarakat melalui saksi pasangan calon yang hadir dapat mengajukan keberatan terhadap jalannya penghitungan suara oleh KPU provinsi apabila ternyata terdapat hal-hal yang tidak sesuai dengan peraturan perundang-undangan.

Pasal 103 (1) Penghitungan ulang surat suara di TPS dilakukan apabila dari hasil penelitian dan pemeriksaan terbukti terdapat satu atau lebih penyimpangan sebagai berikut: a. (2) Penetapan pasangan calon terpilih sebagaimana dimaksud pada ayat (1) oleh KPU provinsi disampaikan kepada DPRD provinsi untuk diproses pengesahan pengangkatannya sesuai dengan peraturan perundang-undangan. (3) Penghitungan ulang surat suara dilakukan pada tingkat PPK apabila terjadi perbedaan data jumlah suara dari PPS. panitia pe-ngawas. d. terjadi ketidakkonsistenan dalam menentukan surat suara yang sah dan surat suara yang tidak sah. dan warga mas-yarakat tidak dapat menyaksikan proses penghitungan suara secara jelas. b. . penghitungan suara dilakukan di tempat yang kurang penerangan cahaya.Pasal 102 (1) Berita acara dan rekapitulasi hasil penghitungan suara sebagaimana dimaksud dalam Pasal 101 ayat (5) selanjutnya diputuskan dalam pleno KPU provinsi untuk menetapkan pasangan calon terpilih. dan/atau e. (4) Apabila terjadi perbedaan data jumlah suara pada tingkat KPU Kabupaten/Kota. (2) Penghitungan ulang surat suara dilakukan pada tingkat PPS apabila terjadi perbedaan data jumlah suara dari TPS. pemantau. dilakukan pengecekan ulang terhadap sertifikat rekapitulasi hasil penghitungan suara pada 1 (satu) tingkat di bawahnya. c. dan KPU Provinsi. penghitungan suara dilakukan secara tertutup. penghitungan suara dilakukan di tempat lain di luar tempat dan waktu yang telah ditentukan. saksi pasangan calon.

atau menulis nama atau alamatnya pada surat suara yang sudah digunakan. d. lebih dari seorang pemilih yang tidak terdaftar sebagai pemilih mendapat kesempatan memberikan suara pada TPS. pembukaan kotak suara dan/atau berkas pemungutan dan penghitungan suara tidak dilakukan menurut tata cara yang ditetapkan dalam peraturan perundangundangan. lebih dari seorang pemilih menggunakan hak pilih lebih dari satu kali pada TPS yang sama atau TPS yang berbeda. (2) Pemungutan suara di TPS dapat diulang apabila dari hasil penelitian dan pemeriksaan Panitia Pengawas Kecamatan terbukti terdapat satu atau lebih dari keadaan sebagai berikut: a. Pasal 105 Penghitungan suara dan pemungutan suara ulang sebagaimana dimaksud dalam Pasal 103 dan Pasal 104 diputuskan oleh PPK dan dilaksanakan selambat-lambatnya 7 (tujuh) hari sesudah hari pemungutan suara.Pasal 104 (1) Pemungutan suara di TPS dapat diulang apabila terjadi kerusuhan yang mengakibatkan hasil pemungutan suara tidak dapat digunakan atau penghitungan suara tidak dapat dilakukan. b. Pasal 106 (1) Keberatan terhadap penetapan hasil pemilihan kepala daerah dan wakil kepala daerah hanya dapat diajukan oleh pasangan calon kepada Mahkamah Agung dalam waktu paling lambat 3 (tiga) . c. menandatangani. petugas KPPS meminta pemilih memberi tanda khusus. dan/atau e. petugas KPPS merusak lebih dari satu surat suara yang sudah digunakan oleh pemilih sehingga surat suara tersebut menjadi tidak sah.

Mahkamah Agung dalam melaksanakan kewenangannya sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat mendelegasikan kepada Pengadilan Tinggi untuk memutus sengketa hasil penghitungan suara pemilihan kepala daerah dan wakil kepala daerah kabupaten dan kota. pasangan calon kepala daerah dan wakil kepala daerah yang memperoleh suara lebih dari 25% (dua puluh lima persen) dari jumlah suara sah. Mahkamah Agung memutus sengketa hasil penghitungan suara sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) paling lambat 14 (empat belas) hari sejak diterimanya permohonan keberatan oleh Pengadilan Negeri/Pengadilan Tinggi/ Mahkamah Agung. Putusan Mahkamah Agung sebagaimana dimaksud pada ayat (4) bersifat final dan mengikat. pasangan calon yang perolehan suaranya terbesar dinyatakan sebagai pasangan calon terpilih. Pengajuan keberatan kepada Mahkamah Agung sebagaimana dimaksud pada ayat (1) disampaikan kepada pengadilan tinggi untuk pemilihan kepala daerah dan wakil kepala daerah provinsi dan kepada pengadilan negeri untuk pemilihan kepala daerah dan wakil kepala daerah kabupaten/kota.(2) (3) (4) (5) (6) (7) Keberatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) hanya berkenaan dengan hasil penghitungan suara yang mempengaruhi terpilihnya pasangan calon. . (2) Apabila ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tidak terpenuhi. Putusan Pengadilan Tinggi sebagaimana dimaksud pada ayat (6) bersifat final.ed 13 Penetapan Calon Terpilih dan Pelantikan Pasal 107 (1) Pasangan calon kepala daerah dan wakil kepala daerah yang memperoleh suara lebih dari 50 % (lima puluh persen) jumlah suara sah ditetapkan sebagai pasangan calon terpilih.

calon kepala daerah terpilih dilantik menjadi kepala daerah. penentuan pasangan calon terpilih dilakukan berdasarkan wilayah perolehan suara yang lebih luas. (7) Apabila pemenang kedua sebagaimana dimaksud pada ayat (4) diperoleh oleh lebih dari satu pasangan calon. (2) Kepala daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) mengusulkan dua calon wakil kepala daerah kepada DPRD untuk dipilih. . (5) Apabila pemenang pertama sebagaimana dimaksud pada ayat (4) diperoleh dua pasangan calon. penentuan peringkat pertama dan kedua dilakukan berdasarkan wilayah perolehan suara yang lebih luas. atau tidak ada yang mencapai 25 % (dua puluh lima persen) dari jumlah suara sah. (8) Pasangan calon kepala daerah dan wakil kepala daerah yang memperoleh suara terbanyak pada putaran kedua dinyatakan sebagai pasangan calon terpilih. Pasal 108 (1) Dalam hal calon wakil kepala daerah terpilih berhalangan tetap. (3) Dalam hal calon kepala daerah terpilih berhalangan tetap. penentuannya dilakukan berdasarkan wilayah perolehan suara yang lebih luas. kedua pasangan calon tersebut berhak mengikuti pemilihan putaran kedua.(3) Dalam hal pasangan calon yang perolehan suara terbesar sebagaimana dimaksud pada ayat (2) terdapat lebih dari satu pasangan calon yang perolehan suaranya sama. calon wakil kepala daerah terpilih dilantik menjadi kepala daerah. (6) Apabila pemenang pertama sebagaimana dimaksud pada ayat (4) diperoleh oleh tiga pasangan calon atau lebih. (4) Apabila ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) tidak terpenuhi. dilakukan pemilihan putaran kedua yang diikuti oleh pemenang pertama dan pemenang kedua.

(4) Pasangan calon bupati dan wakil bupati atau walikota dan wakil walikota diusulkan oleh DPRD kabupaten/kota. (6) Untuk memilih wakil kepala daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dan ayat (4). (3) Pasangan calon Gubernur dan wakil Gubernur terpilih diusulkan oleh DPRD provinsi. partai politik atau gabungan partai politik yang pasangan calonnya meraih suara terbanyak pertama dan kedua mengusulkan pasangan calon kepada DPRD untuk dipilih menjadi kepala daerah dan wakil kepala daerah selambatlambatnya dalam waktu 60 (enam puluh) hari. (5) Dalam hal pasangan calon terpilih berhalangan tetap. (2) Pengesahan pengangkatan pasangan calon bupati dan wakil bupati atau walikota dan wakil walikota terpilih dilakukan oleh Menteri Dalam Negeri atas nama Presiden selambat-lambatnya dalam waktu 30 (tiga puluh) hari. selambat-lambatnya dalam waktu 3 (tiga) hari. kepada Presiden melalui Menteri Dalam Negeri berdasarkan berita acara penetapan pasangan calon terpilih dari KPU provinsi untuk mendapatkan pengesahan pengangkatan. kepada Menteri Dalam Negeri melalui Gubernur berdasarkan berita acara penetapan pasangan calon terpilih dari KPU kabupaten/kota untuk mendapatkan pengesahan pengangkatan.(4) Kepala daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (3) mengusulkan dua calon wakil kepala daerah kepada DPRD untuk dipilih. selambatlambatnya dalam waktu 3 (tiga) hari. Pasal 109 (1) Pengesahan pengangkatan pasangan ca-lon Gubernur dan wakil Gubernur terpilih dilakukan oleh Presiden selambatlambatnya dalam waktu 30 (tiga puluh) hari. . pemilihannya dilakukan selambatlambatnya dalam waktu 60 (enam puluh) hari.

Pasal 110 (1) Kepala daerah dan wakil kepala daerah sebelum memangku jabatannya dilantik dengan mengucapkan sumpah/janji yang dipandu oleh pejabat yang melantik. Pasal 111 (1) Gubernur dan wakil Gubernur dilantik oleh Menteri Dalam Negeri atas nama Presiden. saya bersumpah/berjanji akan memenuhi kewajiban saya sebagai kepala daerah/ wakil kepala daerah dengan sebaik-baiknya dan seadil-adilnya. (2) Sumpah/janji kepala daerah dan wakil kepala daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) adalah sebagai berikut: “Demi Allah (Tuhan). memegang teguh Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 dan menjalankan segala undang-undang dan peraturannya dengan selurus-lurusnya serta berbakti kepada masyarakat. nusa dan bangsa. Pasal 112 Biaya kegiatan Pemilihan kepala daerah dan wakil kepala daerah dibebankan pada APBD . (4) Tata cara pelantikan dan pengaturan selanjutnya diatur dalam Peraturan Pemerintah. (2) Bupati dan wakil bupati atau walikota dan wakil walikota dilantik oleh Gubernur atas nama Presiden.” (3) Kepala daerah dan wakil kepala daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) memegang jabatan selama 5 (lima) tahun terhitung sejak pelantikan dan sesudahnya dapat dipilih kembali dalam jabatan yang sama hanya untuk satu kali masa jabatan. (3) Pelantikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) dilaksanakan dalam Rapat Paripurna DPRD.

bersifat independen. 15 Ketentuan Pidana Pemilihan Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah Pasal 115 (1) Setiap orang yang dengan sengaja memberikan keterangan yang tidak benar mengenai diri sendiri atau diri orang lain tentang suatu hal yang diperlukan untuk pengisian daftar pemilih. . (2) Pemantau pemilihan sebagaimana dimak-sud pada ayat (2) harus memenuhi persyaratan yang meliputi: a. (2) Pemantau pemilihan wajib mematuhi se-gala peraturan perundang-undangan. dan badan hukum dalam negeri. Pasal 114 (1) Pemantau pemilihan wajib menyampaikan laporan hasil pemantauannya kepada KPUD paling lambat 7 (tujuh) hari setelah pelantikan kepala daerah dan wakil kepala daerah terpilih. (4) Tata cara untuk menjadi pemantau pemilihan dan pemantauan pemilihan serta pencabutan hak sebagai pemantau diatur dalam Peraturan Pemerintah. (3) Pemantau pemilihan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) harus mendaftarkan dan memperoleh akreditasi dari KPUD.14 Pemantauan Pemilihan Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah Pasal 113 (1) Pemantauan pemilihan kepala daerah dan wakil kepala daerah dapat dilakukan oleh pemantau pemilihan yang meliputi lembaga swadaya masyarakat. mempunyai sumber dana yang jelas. diancam dengan pidana penjara paling singkat 15 (lima belas) hari dan paling lama 3 (tiga) bulan dan/atau denda paling sedikit Rp. (3) Pemantau pemilihan yang tidak memenuhi kewajiban sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dan/atau tidak lagi memenuhi persyaratan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 113 dicabut haknya sebagai pemantau pemilihan dan/atau dikenai sanksi sesuai peraturan perundang-undangan. dan b.

00 (enam ratus ribu rupiah) dan paling banyak Rp. diancam dengan pidana penjara paling singkat 1 (satu) bulan dan paling lama 6 (enam) bulan dan/atau denda paling sedikit Rp. 6. Setiap orang yang dengan sengaja dan mengetahui bahwa suatu surat sebagaimana dimaksud pada ayat (3) adalah tidak sah atau dipalsukan.00 (satu juta rupiah). diancam dengan pidana penjara paling singkat 3 (tiga) bulan dan paling lama 18 (delapan belas) bulan dan/atau denda paling sedikit Rp.000.000. 2.000.(2) (3) (4) (5) 100. Setiap orang yang dengan kekerasan atau dengan ancaman kekuasaan yang ada padanya saat pendaftaran pemilih menghalang-halangi seseorang untuk terdaftar sebagai pemilih dalam Pemilihan kepala daerah menurut undang-undang ini.00 (enam ratus ribu rupiah) dan paling banyak Rp 6. 600. menggunakannya.000.00 (enam juta rupiah).00 (enam ratus ribu .00 (seratus ribu rupiah) dan paling banyak Rp. 1.000.000.000. 600.000.000.00 (dua juta rupiah).00 (dua ratus ribu rupiah) dan paling banyak Rp. diancam dengan pidana penjara paling singkat 3 (tiga) bulan dan paling lama 18 (delapan belas) bulan dan/atau denda paling sedikit Rp.000. 600. Setiap orang yang dengan sengaja menyebabkan orang lain kehilangan hak pilihnya dan orang yang kehilangan hak pilihnya tersebut mengadukan. atau menyuruh orang lain menggunakannya sebagai surat sah.000.00 (enam juta rupiah). Setiap orang yang dengan sengaja memalsukan surat yang menurut suatu aturan dalam Undang-Undang ini diperlukan untuk menjalankan suatu perbuatan dengan maksud untuk digunakan sendiri atau orang lain sebagai seolah-olah surat sah atau tidak dipalsukan. 200.000.000. diancam dengan pidana penjara paling singkat 3 (tiga) bulan dan paling lama 18 (delapan belas) bulan dan/atau denda paling sedikit Rp.

(6) rupiah) dan paling banyak Rp. huruf i dan huruf j dan Pasal 79 ayat (1). huruf e dan huruf f diancam dengan pidana penjara paling singkat 3 (tiga) bulan atau paling lama 18 (delapan belas) bulan dan/atau denda paling sedikit Rp600. huruf h. huruf c.000.000. (2) Setiap orang yang dengan sengaja melanggar ketentuan larangan pelaksanaan kampanye sebagaimana dimaksud dalam Pasal 78 huruf a.00 (enam ratus ribu rupiah) dan paling banyak Rp.000. huruf d. Pasal 116 (1) Setiap orang yang dengan sengaja melakukan kampanye di luar jadwal waktu yang telah ditetapkan oleh KPUD untuk masingmasing pasangan calon sebagaimana dimaksud dalam Pasal 75 ayat (2) diancam dengan pidana penjara paling singkat 15 (lima belas) hari atau paling lama 3 (tiga) bulan dan/atau denda paling sedikit Rp100. 600.000. ayat (3). Setiap orang yang dengan sengaja memberikan keterangan yang tidak benar atau menggunakan surat palsu seolah-olah sebagai surat yang sah tentang suatu hal yang diperlukan bagi persyaratan untuk menjadi Pasangan calon kepala daerah/wakil kepala daerah.00 (enam ratus ribu rupiah) atau paling banyak Rp6.00 (enam juta rupiah).00 (enam juta rupiah).000. dan ayat (4). huruf b.00 (enam juta rupiah). 6.00 (satu juta rupiah). diancam dengan pidana penjara paling singkat 1 (satu) bulan .000.000.000. diancam dengan pidana penjara paling singkat 3 (tiga) bulan atau paling lama 18 (delapan belas) bulan dan/atau denda paling sedikit Rp.000. (3) Setiap orang yang dengan sengaja melanggar ketentuan larangan pelaksanaan kampanye pemilihan kepala daerah dan wakil kepala daerah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 78 huruf g.000. 6.000.00 (seratus ribu rupiah) atau paling banyak Rp1.

00 (enam juta rupiah).00 (enam juta rupiah).000.000.00 (satu miliar rupiah). Setiap orang yang dengan sengaja mengacaukan.000. Setiap orang yang dengan sengaja menerima atau memberi dana kampanye dari atau kepada pihak-pihak yang dilarang sebagaimana dimaksud dalam Pasal 85 ayat (1).000. menghalangi.00 (enam ratus ribu rupiah) atau paling banyak Rp.00 (dua ratus juta rupiah) atau paling banyak Rp 1.000.000. 6.00 (seratus ribu rupiah) atau paling banyak Rp1.000. dan/atau tidak memenuhi kewajiban sebagaimana dimaksud dalam Pasal 85 ayat (2). pejabat struktural dan fungsional dalam jabatan negeri dan kepala desa yang dengan sengaja melanggar ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 83 diancam dengan pidana penjara paling singkat 1 (satu) bulan atau paling lama 6 (enam) bulan dan/atau denda paling sedikit Rp.000.000.000.00 (satu miliar rupiah).000.00 (satu juta rupiah). diancam dengan pidana penjara paling singkat 4 (empat) bulan atau paling lama 24 (dua puluh empat) bulan dan/atau denda paling sedikit Rp 200.000.000.000. diancam dengan pidana penjara paling singkat 4 (empat) bulan atau paling lama 24 (dua puluh empat) bulan dan/atau denda paling sedikit Rp200. 6. .000. 600. atau mengganggu jalannya kampanye.00 (dua ratus juta rupiah) atau paling banyak Rp1.00 (enam ratus ribu rupiah) atau paling banyak Rp.(4) (5) (6) (7) atau paling lama 6 (enam) bulan dan/atau denda paling sedikit Rp100. Setiap pejabat negara. Setiap orang yang memberi atau menerima dana kampanye melebihi batas yang ditentukan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 83 ayat (3).000. diancam dengan pidana penjara paling singkat 1 (satu) bulan atau paling lama 6 (enam) bulan dan/atau denda paling sedikit Rp.000.000.000. 600.

000. atau menggunakan hak pilihnya dengan cara tertentu sehingga surat suaranya menjadi tidak sah.000.000. 1.00 ( satu juta rupiah). diancam dengan pidana penjara paling singkat 2 (dua) bulan atau paling lama 12 (dua belas) bulan dan/atau denda paling sedikit Rp1. Pasal 117 (1) Setiap orang yang dengan sengaja menggunakan kekerasan atau ancaman kekerasan dan menghalang-halangi seseorang yang akan melakukan haknya untuk memilih.(8) Setiap orang yang dengan sengaja memberikan keterangan yang tidak benar dalam laporan dana kampanye sebagaimana diwajibkan oleh UndangUndang ini.000.000. 1.000. .00 (satu juta rupiah) dan paling banyak Rp.000. 1.00 (seratus ribu rupiah) dan paling banyak Rp.000. (3) Setiap orang yang pada waktu pemungutan suara dengan sengaja mengaku dirinya sebagai orang lain untuk menggunakan hak pilih. (2) Setiap orang yang dengan sengaja memberi atau menjanjikan uang atau materi lainnya kepada seseorang supaya tidak menggunakan hak pilihnya.00 (sepuluh juta rupiah). 10.000.000.000.000.00 (sepuluh juta rupiah). atau memilih Pasangan calon tertentu.000.000.00 (satu juta rupiah) dan paling banyak Rp.000. diancam dengan pidana penjara paling singkat 15 (lima belas) hari dan paling lama 60 (enam puluh) hari dan/atau denda paling sedikit Rp.00 (sepuluh juta rupiah). 10.00 (satu juta rupiah) atau paling banyak Rp10. 100. diancam dengan pidana penjara paling singkat 2 (dua) bulan dan paling lama 12 (dua belas) bulan dan/atau denda paling sedikit Rp. dipidana dengan pidana penjara paling singkat 2 (dua) bulan dan paling lama 12 (dua belas) bulan dan/atau denda paling sedikit Rp.

00 (sepuluh juta rupiah).000.00 (satu juta rupiah) dan paling banyak Rp.000.000.00 (satu juta rupiah) dan paling banyak Rp. 1.000. diancam dengan pidana penjara paling singkat 2 (dua) bulan dan paling lama 12 (dua belas) bulan dan/atau denda paling sedikit Rp.000. 10.000.00 .00 (dua juta rupiah). diancam dengan pidana penjara paling singkat 2 (dua) bulan dan paling lama 12 (dua belas) bulan dan/atau denda paling sedikit Rp.000.00 (sepuluh juta rupiah). diancam dengan pidana penjara paling singkat 2 (dua) bulan dan paling lama 12 (dua belas) bulan dan/atau denda paling sedikit Rp.000. (6) Seorang majikan atau atasan yang tidak memberikan kesempatan kepada seorang pekerja untuk memberikan suaranya. diancam dengan pidana penjara paling singkat 1 (satu) bulan dan paling lama 4 (empat) bulan dan/atau denda paling sedikit Rp.000. (5) Setiap orang yang dengan sengaja menggagalkan pemungutan suara diancam dengan pidana penjara paling singkat 6 (enam) bulan dan paling lama 3 (tiga) tahun dan/atau denda paling sedikit Rp.00 (sepuluh juta rupiah).(4) Setiap orang yang pada waktu pemungutan suara dengan sengaja memberikan suaranya lebih dari satu kali di satu atau lebih TPS.000. kecuali dengan alasan bahwa pekerjaan tersebut tidak bisa ditinggalkan.00 (satu juta rupiah) dan paling banyak Rp.000.000. 1. 1. 10.00 ( dua ratus ribu rupiah) dan paling banyak Rp. 200. 1.000.000. 10.000. 2.000. (7) Setiap orang yang dengan sengaja pada waktu pemungutan suara mendampingi seorang pemilih selain yang diatur sebagaimana dimaksud dalam Pasal 89 ayat (1). (8) Setiap orang yang bertugas membantu pemilih sebagaimana dimaksud dalam Pasal 89 ayat (2) dengan sengaja memberitahukan pilihan si pemilih kepada orang lain.000.

00 (seratus juta rupiah) dan paling banyak Rp. 2.00 (satu juta rupiah) dan paling banyak Rp. 20.000. diancam dengan pidana penjara paling singkat 6 (enam) bulan dan paling lama 3 (tiga) tahun dan/atau denda paling sedikit Rp.00 (satu miliar rupiah). 1. . diancam dengan pidana penjara paling singkat 15 (lima belas) hari dan paling lama 2 (dua) bulan dan/atau denda paling sedikit Rp. Pasal 118 (1) Setiap orang yang dengan sengaja melakukan perbuatan yang menyebabkan suara seorang pemilih menjadi tidak berharga atau menyebabkan Pasangan calon tertentu mendapat tambahan suara atau perolehan suaranya berkurang. diancam dengan pidana penjara paling singkat 4 (empat) bulan atau paling lama 2 (dua) tahun dan/atau denda paling sedikit Rp.000. 10. 1.000.00 (dua puluh juta rupiah).000. 10.00 (satu juta rupiah).000.00 (sepuluh juta rupiah).000.00 (dua juta rupiah) dan paling banyak Rp.000.000.000. (2) Setiap orang yang dengan sengaja merusak atau menghilangkan hasil pemungutan suara yang sudah disegel. (3) Setiap orang yang karena kelalaiannya menyebabkan rusak atau hilangnya hasil pemungutan suara yang sudah disegel.000.000.000. 100.00 (sepuluh juta rupiah).000.000.000.000.000.(satu juta rupiah) dan paling banyak Rp. 1. 100.00 (seratus ribu rupiah) dan paling banyak Rp.000. (4) Setiap orang yang dengan sengaja mengubah hasil penghitungan suara dan/atau berita acara dan sertifikat hasil penghitungan suara. diancam dengan pidana penjara paling singkat 2 (dua) bulan dan paling lama 1 (satu) tahun dan/atau denda paling sedikit Rp.

lembaga teknis. Pasal 47 (1) Sekretariat Daerah adalah unsur staf yang membantu Kepala Daerah dalam menyelenggarakan pemerintahan Daerah. Pasal 61 (1) Sekretariat Daerah dipimpin oleh Sekretaris Daerah. susunan organisasi dan formasi Sekretariat Wilayah lainnya serta pengangkatan dan pemberhentian pejabatnya diatur oleh Menteri Dalam Negeri. (4) Sekretaris Daerah Kabupaten atau Sekretaris Daerah Kota diangkat oleh Bupati atau Walikota atas persetujuan pimpinan DPRD dari Pegawai Negeri Sipil yang memenuhi syarat. (2) Dinas dipimpin oleh seorang Kepala Dinas . (3) Peraturan Daerah yang dimaksud dalam ayat (2) pasal ini.Pasal 119 Jika tindak pidana dilakukan dengan sengaja oleh penyelenggara atau pasangan calon. sesuai dengan kebutuhan Daerah. (3) Dengan tidak mengurangi ketentuan yang dimaksud dalam ayat (1) ini. susunan organisasi dan formasi Sekretariat Daerah ditetapkan dengan Peraturan Daerah sesuai dengan pedoman yang ditetapkan oleh Menteri Dalam Negeri. Pasal 117. (3) Sekretaris Daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) untuk kabupaten/kota diangkat dan diberhentikan oleh Gubernur atas usul Dalam Undang-Undang No. tugas sekretaris daerah dilaksanakan oleh pejabat yang ditunjuk oleh kepala daerah. (4) Apabila sekretaris daerah berhalangan melaksanakan tugasnya.32 Tahun 2004 disebutkan secara lebih rinci mengani tugas dari Camat dan Lurah • Pasal 62 (1) Dinas Daerah adalah unsur pelaksana Pemerintah Daerah. sekretariat DPRD.32 Tahun 2004 ditambahkan bahwa Sekertariat DPRD termasuk dalam perangkat daerah Dalam Undang-Undang No. Pasal 122 (1) Sekretaris Daerah diangkat dari pegawai negeri sipil yang memenuhi persyaratan. lembaga teknis daerah. (2) Sekretaris Daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) untuk provinsi diangkat dan diberhentikan oleh Presiden atas usul Gubernur sesuai dengan peraturan perundang-undangan. (2) Pembentukan. berlaku sesudah ada pengesahan pejabat yang berwenang. Pasal 60 Perangkat Daerah terdiri atas Sekretariat Daerah. (2) Sekretaris Daerah Propinsi diangkat oleh Gubernur atas persetujuan pimpinan DPRD dari Pegawai Negeri Sipil yang memenuhi syarat. tugas Sekretaris Daerah dilaksanakan oleh pejabat yang ditunjuk oleh Kepala Daerah. (5) Sekretaris Daerah berkewajiban membantu Kepala Daerah dalam menyusun kebijakan serta membina hubungan kerja dengan dinas. dan kelurahan.l Pasal 85 (1) Dalam menjalankan tugasnya. Pasal 120 (1) Perangkat daerah provinsi terdiri atas sekretariat daerah. dan Pasal 118. ancaman pidananya ditambah 1/3 (satu pertiga) dari pidana yang diatur dalam Pasal 115. (6) Sekretaris Daerah bertanggung jawab kepada Kepala Daerah. dinas daerah. (2) Sekretaris Daerah karena jabatannya adalah Sekretaris Wilayah. dinas daerah. Kepala Instansi Vertikal berada dibawah kordinasi Kepala Wilayah yang bersangkutan. (3) Dalam pelaksanaan tugas dan kewajiban sebagaimana dimaksud pada ayat (2). Pasal 121 (1) Sekretariat daerah dipimpin oleh Sekretaris Daerah. sekretaris daerah bertanggung jawab kepada kepala daerah. dan lembaga teknis daerah. kecamatan. • 16` Aparatur dan Kepegawaian Daerah Pasal 84 (1) Sekretariat Daerah adalah Sekretariat Wilayah. (2) Pelaksanaan ketentuan yang dimaksud dalam ayat (1) pasal ini. (2) Perangkat daerah kabupaten/kota terdiri atas sekretariat daerah. (7) Apabila Sekretaris Daerah berhalangan melaksanakan tugasnya. dan unit pelaksana lainnya. (3) Sekretaris Daerah Propinsi karena jabatannya adalah Sekretaris Wilayah Administrasi. sekretariat DPRD. Dinas Daerah dan lembaga teknis Daerah lainnya. (2) Sekretaris daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) mempunyai tugas dan kewajiban membantu kepala daerah dalam menyusun kebijakan dan mengkoordinasikan dinas daerah dan lembaga teknis daerah. Pasal 116. diatur dengan Peraturan Pemerintah.

pensiun. (2) Sekretaris DPRD sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diangkat dan diberhentikan oleh Gubernur/Bupati/Walikota dengan persetujuan DPRD. (3) Peraturan Daerah yang dimaksud dalam ayat (2) pasal ini. (3) Sekretaris DPRD mempunyai tugas: a. Pasal 63 Penyelenggaraan wewenang yang dilimpahkan oleh Pemerintah kepada Gubernur selaku wakil Pemerintah dalam rangka dekonsentrasi. Pasal 49 (1) Dinas Daerah adalah unsur pelaksana Pemerintah Daerah. (2) Kepala Kecamatan disebut Camat. Pasal 65 Di Daerah dapat dibentuk lembaga teknis sesuai dengan kebutuhan Daerah. susunan organisasi. menyediakan dan mengkoordinasi tenaga ahli yang diperlukan oleh DPRD dalam melaksanakan fungsinya sesuai dengan kemampuan keuangan daerah. dan hal-hal lain yang diangkat oleh Kepala Daerah dari Pegawai Negeri Sipil yang memenuhi syarat atas usul Sekretaris Daerah. dan d. b. dan tata laksananya. sebagaimana dimaksud pada ayat (1). dilakukan oleh instansi vertikal. (2) Dinas daerah dipimpin oleh kepala dinas yang diangkat dan diberhentikan oleh kepala daerah dari pegawai negeri sipil yang memenuhi syarat atas usul Sekretaris Daerah. (4) Bupati/Walikota sesuai dengan peraturan perundang-undangan. gaji. pemberhentian. Pasal 123 (1) Sekretariat DPRD dipimpin oleh Sekretaris DPRD. Pasal 64 (1) Penyelenggaraan bidang pemerintahan yang menjadi wewenang Pemerintah. (3) Camat diangkat oleh Bupati/Walikota atas usul Sekretaris Daerah Kabupaten/Kota dari Pegawai Negeri Sipil yang memenuhi syarat. (5) Camat bertanggung jawab kepada Bupati atau Walikota. dilaksanakan oleh Dinas Propinsi. . (4) Sekretaris DPRD dalam menyediakan tenaga ahli sebagaimana dimaksud pada ayat (3) huruf d wajib meminta pertimbangan pimpinan DPRD. menyelenggarakan administrasi kesekretariatan DPRD. (6) Susunan organisasi sekretariat DPRD ditetapkan dalam peraturan daerah berpedoman pada Peraturan Pemerintah. (5) Apabila Sekretaris Daerah berhalangan menjalankan tugasnya. (4) Camat menerima pelimpahan sebagian kewenangan pemerintahan dari Bupati/Walikota.Pasal 48 (1) Sekretariat Daerah dipimpin oleh seorang Sekretaris Daerah. Pasal 124 (1) Dinas daerah merupakan unsur pelaksana otonomi daerah. pemberhentian sementara. Sekretaris Daerah karena kedudukannya sebagai pembina pengawai negeri sipil di daerahnya. (6) Pembentukan Kecamatan ditetapkan dengan Peraturan Daerah. Pasal 67 (1) Kelurahan merupakan perangkat Kecamatan yang dipimpin oleh Kepala Kelurahan. (5) Sekretaris DPRD dalam melaksanakan tugasnya secara teknis operasional berada dibawah dan bertanggung jawab kepada pimpinan DPRD dan secara administratif bertanggung jawab kepada kepala daerah melalui Sekretaris Daerah. (2) Pembentukan. (4) Persyaratan dan tatacara pelaksanaan ketentuan yang dimaksud dalam ayatayat (2) dan (3) pasal ini diatur dengan Peraturan Menteri Dalam Negeri. (3) Kepala Dinas bertanggung jawab kepada Kepala Daerah melalui Sekretaris Daerah. (3) Sekretaris Daerah tingkat II diangkat oleh Gubernur Kepala Daerah atas nama Menteri Dalam Negeri dari Pegawai Negeri yang memenuhi persyaratan atas usul Bupati/Walikotamadya Kepala Daerah setelah mendengar pertimbangan Pimpinan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah. formasi. ditetapkan dengan Keputusan Presiden. (2) Pembentukan susunan organisasi dan formasi Dinas Daerah ditetapkan dengan Peraturan Daerah sesuai dengan pedoman yang ditetapkan oleh Menteri Dalam Negeri. (2) Sekretaris Daerah Tingkat I diangkat oleh Menteri Dalam Negeri dari Pegawai Negeri yang memenuhi persyaratan atas usul Gubernur Kepala Daerah setelah mendengar pertimbangan Pimpinan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah. mendukung pelaksanaan tugas dan fungsi DPRD. uang tunggu. sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9 ayat (3). Pasal 66 (1) Kecamatan merupakan perangkat Daerah Kabupaten dan Daerah Kota yang dipimpin oleh Kepala Kecamatan. menyelenggarakan administrasi keuangan DPRD. berlaku sesudah ada pengesahan pejabat yang berwenang. sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7. Pasal 50 (1) Pengangkatan. maka tugas Sekretaris Daerah dijalankan oleh pejabat yang ditunjuk oleh Kepala Daerah. c.

gaji. Pasal 76 Daerah mempunyai kewenangan untuk melakukan pengangkatan. gaji. yang diperbantukan atau dipekerjakan kepada sesuatu Daerah berada di bawah pimpinan Kepala Daerah yang bersangkutan. standar. berdasarkan peraturan perundang-undangan. atau rumah sakit umum daerah. pemindahan. kepala kantor. dan prosedur mengenai pengangkatan. c. atau kepala rumah sakit umum daerah yang diangkat oleh kepala daerah dari pegawai negeri sipil yang memenuhi syarat atas usul Sekretaris Daerah. (2) Dalam Keputusan yang dimaksud dalam ayat (1) pasal ini. baik Pegawai Negeri maupun Pegawai Daerah. dan kewajiban. (2) Badan. Pasal 53 Semua pegawai. (3) Kepala badan. mengkoordinasikan penerapan dan penegakan peraturan perundangundangan. Pasal 75 Norma. (2) Formasi dan persyaratan jabatan perangkat Daerah ditetapkan dengan Keputusan Kepala Daerah sesuai dengan pedoman yang ditetapkan Pemerintah. kantor atau rumah sakit umum daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dipimpin oleh kepala badan. pemberhentian. (5) Lurah bertanggung jawab kepada Camat. Pasal 126 (1) Kecamatan dibentuk di wilayah kabupaten/kota dengan Perda berpedoman pada Peraturan Pemerintah. pemindahan. pemberhentian. mengkoordinasikan kegiatan pemberdayaan masyarakat. (3) Lurah diangkat dari Pegawai Negeri Sipil yang memenuhi syarat oleh Walikota/Bupati atas usul Camat. ditetapkan dengan peraturan perundang-undangan.mengenai kedudukan hukum Pegawai Daerah. mengkoordinasikan upaya penyelenggaraan ketentraman dan ketertiban umum. diatur syarat dan hubungan kerja Pegawai Daerah yang bersangkutan dengan perangkat Daerah Tingkat II sepanjang diperlukan. serta pendidikan dan pelatihan sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan Daerah yang ditetapkan dengan Peraturan Daerah. berlaku sesudah ada pengesahan pejabat yang berwenang. Pasal 77 Pemerintah Wilayah Propinsi melakukan pengawasan pelaksanaan administrasi kepegawaian dan karir pegawai di wilayahnya sesuai dengan peraturan perundang-undangan. atas permintaan Kepala Daerah Tingkat II yang bersangkutan. dengan Keputusan Menteri atas permintaan Kepala Daerah yang bersangkutan. dan kesejahteraan pegawai. hak. kantor. (6) Pembentukan Kelurahan ditetapkan dengan Peraturan Daerah. Pasal 68 (1) Susunan organisasi perangkat Daerah ditetapkan dengan Peraturan Daerah sesuai dengan pedoman yang ditetapkan Pemerintah. (4) Lurah menerima pelimpahan sebagian kewenangan pemerintahan dari Camat. Pasal 125 (1) Lembaga teknis daerah merupakan unsur pendukung tugas kepala daerah dalam penyusunan dan pelaksanaan kebijakan daerah yang bersifat spesifik berbentuk badan. b. (2) Kecamatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dipimpin oleh camat yang dalam pelaksanaan tugasnya memperoleh pelimpahan sebagian wewenang bupati atau walikota untuk menangani sebagian urusan otonomi daerah. kesejahteraan. (3) Selain tugas sebagaimana dimaksud pada ayat (2) camat juga menyelenggarakan tugas umum pemerintahan meliputi: a. diatur syarat dan hubungan kerja Pegawai Negeri yang bersangkutan dengan perangkat Daerah sepanjang diperlukan. tunjangan. Pasal 51 (1) Pegawai Negeri dari sesuatu Departemen dapat diperbantukan atau dipekerjakan kepada Daerah. penetapan pensiun. mengkoordinasikan pemeliharaan prasarana dan fasilitas pelayanan . (3) Kepala dinas daerah bertanggung jawab kepada kepala daerah melalui Sekretaris Daerah. diatur dengan Peraturan Daerah sesuai dengan pedoman yang ditetapkan oleh Menteri Dalam Negeri. serta *9621 kedudukan hukum Pegawai Negeri Sipil di Daerah dan Pegawai Negeri Sipil Daerah. kantor. (2) Peraturan Daerah yang dimaksud dalam ayat (1) pasal ini. penetapan pensiun. (2) Dalam Keputusan yang dimaksud dalam ayat (1) pasal ini. atau rumah sakit umum daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (2) bertanggung jawab kepada kepala daerah melalui Sekretaris Daerah. tunjangan. d. Pasal 52 (1) Pegawai Daerah Tingkat I dapat diperbantukan atau dipekerjakan kepada Daerah Tingkat II dengan Keputusan Kepala Daerah Tingkat I. Pasal 54 (1) Pembinaan kepegawaian terhadap Pegawai Daerah di atur oleh Kepala Daerah sesuai dengan peraturan (2) Kepala Kelurahan disebut Lurah.

perundang-undangan yang berlaku. (2) Pembinaan kepegawaian terhadap Pegawai Negeri yang diperbantukan atau dipekerjakan kepada Daerah di atur dengan peraturan perundangundangan. Pasal 85 (1) Dalam menjalankan tugasnya, Kepala Instansi Vertikal berada dibawah kordinasi Kepala Wilayah yang bersangkutan. (2) Pelaksanaan ketentuan yang dimaksud dalam ayat (1) pasal ini, diatur dengan Peraturan Pemerintah.

(4)

(5)

(6)

(7)

umum; e. mengkoordinasikan penyelenggaraan kegiatan pemerintahan di tingkat kecamatan; f. membina penyelenggaraan pemerintahan desa dan/atau kelurahan; g. melaksanakan pelayanan masyarakat yang menjadi ruang lingkup tugasnya dan/atau yang belum dapat dilaksanakan pemerintahan desa atau kelurahan. Camat sebagaimana dimaksud pada ayat (2) diangkat oleh Bupati/Walikota atas usul sekretaris daerah kabupaten/kota dari pegawai negeri sipil yang menguasai pengetahuan teknis pemerintahan dan memenuhi persyaratan sesuai dengan peraturan perundang-undangan. Camat dalam menjalankan tugastugasnya sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dan ayat (3) dibantu oleh perangkat kecamatan dan bertanggung jawab kepada Bupati/Walikota melalui Sekretaris Daerah kabupaten/kota. Perangkat kecamatan sebagaimana dimaksud pada ayat (5) bertanggung jawab kepada camat. Pelaksanaan ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (2), ayat (3), ayat (4), ayat (5), dan ayat (6) ditetapkan dengan peraturan bupati atau walikota dengan berpedoman pada Peraturan Pemerintah.

Pasal 127 (1) Kelurahan dibentuk di wilayah kecamatan dengan Perda berpedoman pada Peraturan Pemerintah. (2) Kelurahan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dipimpin oleh lurah yang dalam pelaksanaan tugasnya memperoleh pelimpahan dari Bupati/Walikota. (3) Selain tugas sebagaimana dimaksud pada ayat (2) lurah mempunyai tugas: a. pelaksanaan kegiatan pemerintahan kelurahan; b. pemberdayaan masyarakat;

(4)

(5)

(6)

(7)

(8)

(9)

c. pelayanan masyarakat; d. penyelenggaraan ketenteraman dan ketertiban umum; dan e. pemeliharaan prasarana dan fasilitas pelayanan umum. Lurah sebagaimana dimaksud pada ayat (2) diangkat oleh Bupati/Walikota atas usul Camat dari pegawai negeri sipil yang menguasai pengetahuan teknis pemerintahan dan memenuhi persyaratan sesuai dengan peraturan perundangundangan. Dalam melaksanakan tugas sebagaimana dimaksud pada ayat (3), Lurah bertanggung jawab kepada Bupati/Walikota melalui Camat. Lurah dalam melaksanakan tugasnya sebagaimana dimaksud pada ayat (3) dibantu oleh perangkat kelurahan. Perangkat kelurahan sebagaimana dimaksud pada ayat (6) bertanggung jawab kepada Lurah. Untuk kelancaran pelaksanaan tugas Lurah sebagaimana dimaksud pada ayat (3), dapat dibentuk lembaga lainnya sesuai dengan kebutuhan yang ditetapkan dengan Perda. Pelaksanaan ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (2), ayat (3), ayat (4), ayat (5), ayat (6), dan ayat (7) ditetapkan dengan peraturan bupati atau walikota sesuai dengan peraturan perundang-undangan.

Pasal 128 (1) Susunan organisasi perangkat daerah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 120 ayat (1) dan ayat (2) ditetapkan dalam Perda dengan memperhatikan faktorfaktor tertentu dan berpedoman pada Peraturan Pemerintah. (2) Pengendalian organisasi perangkat daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan oleh Pemerintah untuk provinsi dan oleh Gubernur untuk kabupaten/kota dengan berpedoman pada Peraturan Pemerintah.

(3) Formasi dan persyaratan jabatan perangkat daerah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 120 ayat (1) dan ayat (2) ditetapkan dengan Peraturan Kepala Daerah dengan berpedoman pada Peraturan Pemerintah. Pasal 129 (1) Pemerintah melaksanakan pembinaan manajemen pegawai negeri sipil daerah dalam satu kesatuan penyelenggaraan manajemen pegawai negeri sipil secara nasional. (2) Manajemen pegawai negeri sipil daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi penetapan formasi, pengadaan, pengangkatan, pemindahan, pemberhentian, penetapan pensiun, gaji, tunjangan, kesejahteraan, hak dan kewajiban kedudukan hukum, pengembangan kompetensi, dan pengendalian jumlah. Pasal 130 (1) Pengangkatan, pemindahan dan pemberhentian dari dan dalam jabatan eselon II pada pemerintah daerah provinsi ditetapkan oleh Gubernur. (2) Pengangkatan, pemindahan, dan pemberhentian dari dan dalam jabatan eselon II pada pemerintah daerah kabupaten/kota ditetapkan oleh Bupati/Walikota setelah berkonsultasi kepada Gubernur. Pasal 131 (1) Perpindahan pegawai negeri sipil antar kabupaten/kota dalam satu provinsi ditetapkan oleh Gubernur setelah memperoleh pertimbangan Kepala Badan Kepegawaian Negara. (2) Perpindahan pegawai negeri sipil antar kabupaten/kota antar provinsi, dan antar provinsi ditetapkan oleh Menteri Dalam Negeri setelah memperoleh pertimbangan Kepala Badan Kepegawaian Negara.

mutasi antar daerah. Pasal 132 Penetapan formasi pegawai negeri sipil daerah provinsi/ kabupaten/kota setiap tahun anggaran dilaksanakan oleh Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara atas usul Gubernur. (2) Penghitungan dan penyesuaian besaran alokasi dasar sebagaimana dimaksud pada ayat (1) akibat pengangkatan. (3) Penghitungan alokasi dasar sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) diatur dalam Undang-Undang tentang Perimbangan Keuangan Antara Pemerintah Pusat Dan Pemerintahan Daerah. dan pemindahan pegawai negeri sipil daerah untuk penghitungan dan penyesuaian alokasi dasar sebagaimana dimaksud pada ayat (3). Pasal 134 (1) Gaji dan tunjangan pegawai negeri sipil daerah dibebankan pada APBD yang bersumber dari alokasi dasar dalam dana alokasi umum. pemberhentian. pangkat. (4) Pemerintah melakukan pemutakhiran data pengangkatan. pemberhentian.(3) Perpindahan pegawai negeri sipil provinsi/kabupaten/kota ke departemen/lembaga pemerintah non departemen atau sebaliknya. ditetapkan oleh Menteri Dalam Negeri setelah memperoleh pertimbangan Kepala Badan Kepegawaian Negara. dan kompetensi. pendidikan dan pelatihan. Pasal 133 Pengembangan karir pegawai negeri sipil daerah mempertimbangkan integritas dan moralitas. mutasi jabatan. Pasal 135 (1) Pembinaan dan pengawasan manajemen pegawai negeri sipil daerah . dan pemindahan pegawai negeri sipil daerah dilaksanakan setiap tahun.

(2) Standar. dan dalam UU No. (2) Keputusan. dapat dilaksanakan. berlaku setelah diundangkan dalam lembaran daerah. (2) Peraturan Daerah mempunyai kekuatan hukum dan mengikat setelah diundangkan dalam Lembaran Daerah yang bersangkutan. kecuali jika ditentukan lain dalam peraturan perundang-undangan. (3) Peraturan Daerah yang tidak memerlukan pengesahan mulai berlaku pada tanggal yang ditentukan dalam Peraturan Daerah yang bersangkutan. norma. d. Pasal 69 Kepala Daerah menetapkan Peraturan Daerah atas persetujuan DPRD dalam rangka penyelenggaraan Otonomi Daerah dan penjabaran lebih lanjut dari peraturan perundangundangan yang lebih tinggi. sebagaimana dimaksud pada ayat (1). Pasal 71 (1) Peraturan Daerah dapat memuat ketentuan tentang pembebanan biaya paksaan penegakan hukum.32 Tahun 2004 disebutkan secara rinci mengenai asas dan materi pembuatan suatu peraturan Daerah .dikoordinasikan pada tingkat nasional oleh Menteri Dalam Negeri dan pada tingkat daerah oleh Gubernur. (2) Perda dibentuk dalam rangka penyelenggaraan otonomi daerah provinsi/ kabupaten/kota dan tugas pembantuan. (2) Peraturan Daerah tidak boleh mengatur sesuatu hal yang telah diatur dalam peraturan perundang-undangan atau Peraturan Daerah yang lebih tinggi tingkatannya. kelembagaan atau organ pembentuk yang tepat. (2) Peraturan Daerah dapat memuat ancaman pidana kurungan paling lama enam bulan atau denda sebanyak-banyaknya Rp5. Pasal 40 (1) Peraturan Daerah diundangkan dengan menempatkannya dalam Lembaran Daerah yang bersangkutan. dan peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi. (5) Perda sebagaimana dimaksud pada ayat (1).000. seluruhnya atau sebagian kepada pelanggar.32 Tahun 2004 disebutkan bahwa Perda dibentuk dalam rangka penyelenggaraan Otonomi Daerah. 22 Tahun 1999 dan UU No. Pasal 137 Perda dibentuk berdasarkan pada asas pembentukan peraturan perundang-undangan yang meliputi: a. b. (4) Peraturan Daerah yang memerlukan pengesahan mulai berlaku pada tanggal pengundangannya atau pada tanggal yang ditentukan dalam Peraturan Daerah yang bersangkutan.000. Peraturan Daerah lain dan peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi. (4) Perda sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilarang bertentangan dengan kepentingan umum dan/atau peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi. Pasal 70 Peraturan Daerah tidak boleh bertentangan dengan kepentingan umum. Kepala Daerah menetapkan keputusan Kepala Daerah. • Dalam UU No. keterbukaan. 17 Peraturan Daerah dan Peraturan Kepala Daerah . (3) Peraturan Daerah tidak boleh mengatur sesuatu hal yang termasuk urusan rumah tangga Daerah tingkat bawahnya. Pasal 38 Kepala Daerah dengan persetujuan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah menetapkan Peraturan Daerah. kejelasan tujuan. kesesuaian antara jenis dan materi muatan.00 (lima juta rupiah) dengan atau tidak merampas barang tertentu untuk Daerah. tidak boleh bertentangan dengan kepentingan umum. kejelasan rumusan. dan prosedur pembinaan dan pengawasan manajemen pegawai negeri sipil daerah diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah. e. (3) Perda sebagaimana dimaksud pada ayat (1) merupakan penjabaran lebih lanjut dari peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi dengan memperhatikan ciri khas masing-masing daerah. dan g. kedayagunaan dan kehasilgunaan. peraturan daerah. c. Pasal 39 (1) Peraturan Daerah dan atau Keputusan Kepala Daerah tidak boleh bertentangan dengan kepentingan umum dan peraturan perundang-undangan atau Peraturan Daerah yang lebih tinggi tingkatannya. Pasal 136 (1) Perda ditetapkan oleh kepala daerah setelah mendapat persetujuan bersama DPRD. Pasal 72 (1) Untuk melaksanakan Peraturan Daerah dan atas kuasa peraturan perundang-undangan lain yang berlaku. f.

keserasian.-(Limapuluh ribu. (2) Dengan Peraturan Daerah dapat juga ditunjuk pejabat lain yang diberi tugas untuk melakukan penyidikan terhadap pelanggaran atas ketentuan Peraturan Daerah. bhineka tunggal ika. Pasal 74 (1) Penyidikan dan penuntutan terhadap pelanggaran atas ketentuan Peraturan Daerah dilakukan oleh pejabat penyidik dan penuntut sesuai dengan peraturan perundang-undangan. (2) Dengan Peraturan Daerah dapat ditunjuk Pegawai-pegawai Daerah yang diberi tugas untuk melakukan Pasal 73 (1) Peraturan Daerah dan Keputusan Kepala Daerah yang bersifat mengatur diundangkan dengan menempatkannya dalam Lembaran Daerah. f.(5) Peraturan Daerah yang memerlukan pengesahan tidak boleh diundangkan sebelum pengesahan itu diperoleh atau sebelum jangka waktu yang ditentukan untuk pengesahannya berakhir. Pasal 41 (1) Peraturan Daerah Tingkat I dan Peraturan Daerah Tingkat II dapat memuat ketentuan ancaman pidana kurungan selama-lamanya 6 (enam) bulan atau denda sebanyak-banyaknya Rp. sebagaimana dimaksud pada ayat (1). berlaku sesudah ada pengesahan pejabat yang berwenang. (2) Peraturan Daerah yang dimaksud dalam ayat (1) pasal ini. pembahasan. dapat mengajukan keberatan kepada Pasal 138 (1) Materi muatan Perda mengandung asas: a. keseimbangan. dan keselarasan. g. atau Bupati/Walikota. Pasal 43 (1) Penyidikan dan penuntutan terhadap pelanggaran atas ketentuan-ketentuan Peraturan Daerah. (2) Peraturan Daerah yang dimaksud dalam ayat (1) pasal ini. kemanusiaan. dan pengesahan rancangan Perda berpedoman kepada peraturan perundang-undangan. kesamaan kedudukan dalam hukum dan pemerintahan. DPRD dan Gubernur atau Bupati/Walikota menyampaikan rancangan Perda mengenai materi yang sama maka yang dibahas adalah rancangan Perda yang disampaikan oleh DPRD. i. Gubernur.rupiah) dengan atau tidak dengan merampas barang tertentu untuk Negara. kekeluargaan. kebangsaan. (2) Apabila dalam satu masa sidang. Pasal 139 (1) Masyarakat berhak memberikan masukan secara lisan atau tertulis dalam rangka penyiapan atau pembahasan rancangan Perda. Pasal 114 (1) Pemerintah dapat membatalkan Peraturan Daerah dan Keputusan Kepala Daerah yang bertentangan dengan kepentingan umum atau peraturan perundangundangan yang lebih tinggi dan/atau peraturan perundang-undangan lainnya. sebagaimana dimaksud pada ayat (2). Pasal 42 (1) Peraturan Daerah dapat memuat ketentuan tentang pembebanan biaya paksaan penegakan hukum. (3) Tindak pidana yang dimaksud dalam ayat (1) pasal ini adalah pelanggaran. sebagaimana dimaksud pada ayat (2). diberitahukan kepada Daerah yang bersangkutan dengan menyebutkan alasan-alasannya. Pasal 140 (1) Rancangan Perda dapat berasal dari DPRD. d. ketertiban dan kepastian hukum. Perda dapat memuat asas lain sesuai dengan substansi Perda yang bersangkutan. (2) Selain asas sebagaimana dimaksud pada ayat (1). h. kenusantaraan. (2) Persiapan pembentukan. b. e. (2) Ketentuan. berlaku sesudah ada pengesahan pejabat yang berwenang. pengayoman. mempunyai kekuatan hukum dan mengikat setelah diundangkan dalam Lembaran Daerah. (3) Selambat-lambatnya satu minggu setelah keputusan pembatalan Peraturan Daerah dan Keputusan Kepala Daerah. keadilan.50.000. Peraturan Daerah atau Keputusan Kepala Daerah tersebut dibatalkan pelaksanaannya. (4) Daerah yang tidak dapat menerima keputusan pembatalan Peraturan Daerah dan Keputusan Kepala Daerah. seluruhnya atau sebagian kepada pelanggar. kecuali jika ditentukan lain dalam peraturan perundang-undangan. c. sebagaimana dimaksud pada ayat (1). . (2) Keputusan pembatalan Peraturan Daerah dan Keputusan Kepala Daerah. dilakukan oleh alatalat penyidik dan penuntut sesuai dengan peraturan perundangundangan yang berlaku. sedangkan rancangan Perda yang disampaikan Gubernur atau Bupati/Walikota digunakan sebagai bahan untuk dipersandingkan. dan/atau j. (3) Tata cara mempersiapkan rancangan Perda yang berasal dari Gubernur atau Bupati/Walikota diatur dengan Peraturan Presiden.

Pasal 45 Kepala Daerah dapat menetapkan Keputusan Kepala Daerah untuk melaksanakan Peraturan Daerah atau urusan-urusan dalam rangka tugas pembantuan. atau Bupati/Walikota dilaksanakan oleh sekretariat daerah. komisi. Pasal 44 (1) Bentuk Peraturan Daerah ditentukan oleh Menteri Dalam Negeri. (3) Rancangan Perda sebagaimana dimaksud . Pasal 144 (1) Rancangan Perda yang telah disetujui bersama oleh DPRD dan Gubernur atau Bupati/Walikota disampaikan oleh pimpinan DPRD kepada Gubernur atau Bupati/Walikota untuk ditetapkan sebagai Perda. oleh pejabat yang berwenang dapat diperpanjang 3 (tiga) bulan lagi.penyidikan terhadap pelanggaran atas ketentuan-ketentuan Peraturan Daerah. dapat dijalankan sesudah ada pengesahan pejabat yang berwenang. Pasal 141 (1) Rancangan Perda disampaikan oleh anggota. dengan memberitahukannya kepada Pemerintah Daerah yang bersangkutan sebelum jangka waktu yang dimaksud dalam ayat (1) pasal ini berakhir. atau alat kelengkapan DPRD yang khusus menangani bidang legislasi. pejabat yang berwenang tidak mengambil sesuatu keputusan. (3) Penolakan pengesahan Peraturan Daerah dan atau Keputusan Kepala Mahkamah Agung setelah mengajukannya kepada Pemerintah. (3) Perda dapat memuat ancaman pidana atau denda selain sebagaimana dimaksud pada ayat (2). (2) Penyebarluasan rancangan Perda yang berasal dari Gubernur. (2) Perda dapat memuat ancaman pidana kurungan paling lama 6 (enam) bulan atau denda edspaling banyak Rp50. Pasal 69 (1) Peraturan Daerah dan atau Keputusan Kepala Daerah yang memerlukan pengesahan. Pasal 143 (1) Perda dapat memuat ketentuan tentang pembebanan biaya paksaan penegakan hukum.00 (lima puluh juta rupiah). Daerah dan Keputusan Kepala Daerah mengenai hal-hal tertentu. sesuai dengan yang diatur dalam peraturan perundangan lainnya. seluruhnya atau sebagian kepada pelanggar sesuai dengan peraturan perundangan. atau apabila setelah 3 (tiga) bulan sejak diterimanya Peraturan Daerah dan atau Keputusan Kepala Daerah tersebut. Pasal 142 (1) Penyebarluasan rancangan Perda yang berasal dari DPRD dilaksanakan oleh sekretariat DPRD. (2) Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara mempersiapkan rancangan Perda sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dalam Peraturan Tata Tertib DPRD. (2) Penyampaian rancangan Perda sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan dalam jangka waktu paling lama 7 (tujuh) hari terhitung sejak tanggal persetujuan bersama. baru berlaku sesudah ada pengesahan pejabat yang berwenang. Pasal 68 Dengan Peraturan Pemerintah dapat ditentukan bahwa Peraturar. gabungan komisi.000. (2) Jangka waktu 3 (tiga) bulan yang dimaksud dalam ayat (1) pasal ini.000.\ (2) Peraturan Daerah ditandatangani oleh Kepala Daerah dan ditandatangani serta oleh Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Daerah.

oleh pejabat yang berwenang diberitahukan kepada Pemerintah Daerah yang bersangkutan disertai alasan-alasannya. mengakibatkan batalnya semua akibat dari Peraturan Daerah dan atau Keputusan Kepala Daerah yang dimaksud. Dalam hal rancangan Perda tidak ditetapkan Gubernur atau Bupati/Walikota dalam waktu sebagaimana dimaksud pada ayat (3) rancangan Perda tersebut sah menjadi Perda dan wajib diundangkan dengan memuatnya dalam lembaran daerah. (2) Apabila Gubernur Kepala Daerah tidak menjalankan haknya untuk menangguhkan atau membatalkan Peraturan Daerah Tingkat II dan atau Keputusan Kepala Daerah Tingkat II sesuai dengan yang dimaksud dalam ayat (1) pasal ini. rumusan kalimat pengesahannya berbunyi. (4) Terhadap penolakan pengesahan yang dimaksud dalam ayat (3) pasal ini. (4) Keputusan penangguhan atau pembatalan yang dimaksud dalam ayatayat (1) dan (2) pasal ini. “Perda ini dinyatakan sah.” dengan mencantumkan tanggal sahnya. sepanjang masih dapat dibatalkan. Pasal 145 (1) Perda disampaikan kepada Pemerintah paling lama 7 (tujuh) hari setelah ditetapkan. karena bertentangan dengan kepentingan umum. peraturan perundang-undangan atau Peraturan Daerah tingkat atasnya ditangguhkan berlakunya atau dibatalkan oleh pejabat yang berwenang. kepala daerah harus memberhentikan pelaksanaan Perda dan selanjutnya DPRD bersama kepala daerah mencabut Perda dimaksud. maka penangguhannya dan atau pembatalannya dapat dilakukan oleh Menteri Dalam Negeri. dapat mengajukan keberatan kepada pejabat setingkat lebih atas dari pejabat yang menolak. (5) Apabila provinsi/kabupaten/kota tidak dapat menerima keputusan pembatalan Perda sebagaimana dimaksud pada ayat (3) dengan alasan yang dapat dibenarkan oleh peraturan perundang-undangan. (2) Perda sebagaimana dimaksud pada ayat (1) yang bertentangan dengan kepentingan umum dan/atau peraturan perundangundangan yang lebih tinggi dapat dibatalkan oleh Pemerintah. Pasal 70 (1) Peraturan Daerah dan atau Keputusan Kepala Daerah yang bertentangan dengan kepentingan umum. Daerah yang bersangkutan dalam waktu 1 (satu) bulan terhitung mulai saat pemberitahuan penolakan pengesahan itu diterima. (3) Pembatalan Peraturan Daerah dan atau Keputusan Kepala Daerah yang dimaksud dalam ayat-ayat (1) dan (2) pasal ini. Dalam hal sahnya rancangan Perda sebagaimana dimaksud pada ayat (4). (4) Paling lama 7 (tujuh) hari setelah keputusan pembatalan sebagaimana dimaksud pada ayat (3). kepala daerah dapat mengajukan keberatan kepada Mahkamah . (3) Keputusan pembatalan Perda sebagaimana dimaksud pada ayat (2) ditetapkan dengan Peraturan Presiden paling lama 60 (enam puluh) hari sejak diterimanya Perda sebagaimana dimaksud pada ayat (1).Daerah yang dimaksud dalam ayat (1) pasal ini. Kalimat pengesahan sebagaimana dimaksud pada ayat (5) harus dibubuhkan pada halaman terakhir Perda sebelum pengundangan naskah Perda ke dalam lembaran daerah. peraturan perundang-undangan atau Peraturan Daerah Tingkat atasnya. disertai alasan- (4) (5) (6) pada ayat (1) dan ayat (2) ditetapkan oleh Gubernur atau Bupati/Walikota paling lama 30 (tiga puluh) hari sejak rancangan tersebut disetujui bersama.

dilarang bertentangan dengan kepentingan umum.alasannya diberitahukan kepada Kepala Daerah yang bersangkutan dalam jangka waktu 2 (dua) minggu sesudah tanggal keputusan itu. Pasal 65 (1) Beberapa Pemerintah Daerah dapat menetapkan Peraturan Bersama untuk mengatur kepentingan Daerahnya secara bersama-sama. Perda dimaksud dinyatakan berlaku. dan peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi. maka Peraturan Daerah dan atau Keputusan-Kepala Daerah itu memperolah kembali kekuatan berlakunya. (2) Peraturan kepala daerah dan atau keputusan kepala daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1). Pasal 146 (1) Untuk melaksanakan Perda dan atas kuasa peraturan perundang-undangan. (6) (7) Agung. (2) Peraturan Bersama yang dimaksud dalam ayat (1) pasal ini. Pasal 147 (1) Perda diundangkan dalam Lembaran Daerah dan Peraturan Kepala Daerah diundangkan dalam Berita Daerah. Apabila keberatan sebagaimana dimaksud pada ayat (5) dikabulkan sebagian atau seluruhnya. Apabila Pemerintah tidak mengeluarkan Peraturan Presiden untuk membatalkan Perda sebagaimana dimaksud pada ayat (3). Perda. (6) Jika dalam jangka waktu 6 (enam) bulan setelah pcnangguhan itu tidak disusul dengan keputusan pembatalannya. Peraturan Daerah dan atau Keputusan Kepala Daerah yang bersangkutan kehilangan kakuatan berlakunya. (3) Dalam hal tidak tercapai kata sepakat mengenai perubahan dan atau pencabutan yang dimaksud dalam ayat (2) pasal ini. (3) Pemerintah daerah wajib menyebarluaskan Perda yang telah diundangkan dalam Lembaran Daerah dan Peraturan Kepala Daerah yang telah diundangkan dalam Berita Daerah. berlaku sesudah ada pengesahan pejabat yang berwenang. (5) Lamanya penangguhan yang dinyatakan dalam Keputusan yang dimaksud dalam ayat (4) pasal ini. (7) Keputusan mengenai pembatalan yang dimaksud dalam ayat-ayat (4) dan (6) pasal ini. . maka pejabat yang berwenang mengambil keputusan. demikian pula mengenai perubahan dan pencabutannya. tidak boleh melebihi 6 (enam) bulan dan sojak saat penangguhannya. kepala daerah menetapkan peraturan kepala daerah dan atau keputusan kepala daerah. (2) Pengundangan Perda dalam Lembaran Daerah dan Peraturan Kepala Daerah dalam Berita Daerah dilakukan oleh Sekretaris Daerah. diumumkan dalam Berita Negara Republik Indonesia dan atau Lembaran Daerah yang bersangkutan. putusan Mahkamah Agung tersebut menyatakan Peraturan Presiden menjadi batal dan tidak mempunyai kekuatan hukum. (4) Menteri Dalam Negeri menetapkan Peraturan untuk melancarkan pelaksanaan kerjasama antar Pemerintah Daerah.

diatur dengan Peraturan Pemerintah. kedudukan.32 Tahun 2004 disebutkan bahwa anggota dari satua Polisi Pamong Praja dapat diangkat sebagai penyidik pegawai negeri sipil. tugas. (2) Penyidikan dan penuntutan terhadap pelanggaran atas ketentuan Perda dilakukan oleh pejabat penyidik dan penuntut umum sesuai dengan peraturan perundangundangan. (2) Susunan organisasi. ditetapkan oleh Menteri Dalam Negeri. (3) Susunan organisasi dan formasi satuan Polisi Pamong Praja yang dimaksud dalam ayat (1) pasal ini. hak dan wewenang Polisi Pamong Praja yang dimaksud dalam ayat (1) pasal ini. Pasal 148 (1) Untuk membantu kepala daerah dalam menegakkan Perda dan penyelenggaraan ketertiban umum dan ketentraman masyarakat dibentuk Satuan Polisi Pamong Praja. dan kewajiban Polisi Pamong Praja ditetapkan dengan Peraturan Daerah. Rencana pembangunan jangka panjang daerah disingkat dengan RPJP daerah untuk jangka waktu 20 (dua puluh) tahun yang memuat visi. (2) Perencanaan pembangunan daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) disusun oleh pemerintahan daerah provinsi. wewenang. 19 Perencanaan Pembangunan Daerah Pasal 150 (1) Dalam rangka penyelenggaraan pemerintahan daerah disusun perencanaan pembangunan daerah sebagai satu kesatuan dalam sistem perencanaan pembangunan nasional. • Dalam UU No. disusun secara berjangka meliputi: a. hak. tugas. Pasal 149 (1) Anggota Satuan Polisi Pamong Praja dapat diangkat sebagai penyidik pegawai negeri sipil sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. dan arah pembangunan daerah yang mengacu - . kabupaten/kota sesuai dengan kewenangannya yang dilaksanakan oleh Badan Perencanaan Pembangunan Daerah. (3) Perencanaan pembangunan daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (2). misi. (2) Pembentukan dan susunan organisasi Satuan Polisi Pamong Praja sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berpedoman pada Peraturan Pemerintah. Pasal 120 (1) Dalam rangka menyelenggarakan ketenteraman dan ketertiban umum serta untuk menegakkan Peraturan Daerah dibentuk Satuan Polisi Pamong Praja sebagai perangkat Pemerintah Daerah. (2) Kedudukan. (3) Dengan Perda dapat juga ditunjuk pejabat lain yang diberi tugas untuk melakukan penyidikan terhadap pelanggaran atas ketentuan Perda. formasi. sesuai dengan ketentuan yang ditetapkan oleh Pemerintah.18 Polisi Pamong Praja Pasal 86 (1) Untuk membantu Kepala Wilayah dalam menyelenggarakan pemerintahan umum diadakan satuan Polisi Pamong Praja.

misi. Rencana pembangunan jangka menengah daerah yang selanjutnya disebut RPJM daerah untuk jangka waktu 5 (lima) tahun merupakan penjabaran dari visi. misi. strategi pembangunan daerah. RPJM daerah sebagaimana dimaksud pada huruf b memuat arah kebijakan keuangan daerah.kepada RPJP nasional. tujuan. dan program satuan kerja perangkat daerah. c. strategi. rencana kerja dan pendanaannya. lintas satuan kerja perangkat daerah. berpedoman pada RPJM Daerah dan bersifat indikatif. selanjutnya disebut RKPD. kebijakan. d. dan program kepala daerah yang penyusunannya berpedoman kepada RPJP daerah dengan memperhatikan RPJM nasional. dan program kewilayahan disertai dengan rencana kerja dalam kerangka regulasi dan kerangka pendanaan yang bersifat indikatif. dengan mengacu kepada rencana kerja Pemerintah. program dan kegiatan pembangunan sesuai dengan tugas dan fungsinya. yang memuat rancangan kerangka ekonomi daerah. Pasal 151 (1) Satuan kerja perangkat daerah menyusun rencana stratregis yang selanjutnya disebut Renstra-SKPD memuat visi. kebijakan umum. baik yang dilaksanakan langsung oleh pemerintah daerah maupun ditempuh dengan mendorong partisipasi masyarakat. merupakan penjabaran dari RPJM daerah untuk jangka waktu 1 (satu) tahun. prioritas pembangunan daerah. e. (2) Renstra-SKPD sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dirumuskan dalam bentuk rencana kerja satuan kerja perangkat . RPJP daerah dan RJMD sebagaimana dimaksud pada ayat (3) huruf a dan b ditetapkan dengan Perda berpedoman pada Peraturan Pemerintah. b. Rencana kerja pembangunan daerah.

tata cara penyusunan. pengendalian. kependudukan. program. b. pemanfaatan data dan informasi sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dikelola dalam sistem informasi daerah yang terintegrasi secara nasional. untuk tercapainya daya guna dan hasil guna. f. dan evaluasi pelaksanaan rencana pembangunan daerah diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah yang berpedoman pada perundangundangan. h. e. Pasal 154 Tahapan. produk hukum daerah. c. DPRD. organisasi dan tata laksana pemerintahan daerah. (2) Data dan informasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) mencakup: a. keuangan daerah.daerah yang memuat kebijakan. dan pengawasan. d. Pasal 153 Perencanaan pembangunan daerah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 152 disusun untuk menjamin keterkaitan dan konsistensi antara perencanaan. potensi sumber daya daerah. (3) Dalam rangka penyelenggaraan pemerintahan daerah. kepala daerah. informasi lain terkait dengan penyelenggaraan pemerintahan daerah. dan i. Pasal 152 (1) Perencanaan pembangunanan daerah didasarkan pada data dan informasi yang akurat dan dapat dipertanggungjawabkan. penganggaran. penyelenggaraan pemerintahan daerah. pelaksanaan. perangkat daerah. dan kegiatan pembangunan baik yang dilaksanakan langsung oleh pemerintah daerah maupun yang ditempuh dengan mendorong partisipasi masyarakat. . dan PNS daerah. informasi dasar kewilayahan. g.

4. 2. atas permintaan Pemerintah Daerah.32 Tahun 2004 ditambahkan bahwa sumber pendapatan daerah berasal dari dana perimbangan dan pinjaman daerah (UU N0 22 Tahun 1999. (2) Dalam melaksanakan kekuasaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1). hasil retribusi Daerah . pertanggungjawaban. pelaporan dan pertanggungjawaban. pendapatan asli daerah yang selanjutnya disebut PAD. menguji. Belanja. serta pengawasan keuangan daerah kepada para pejabat perangkat daerah. lain-lain pendapatan asli Daerah yang sah. (3) Pelimpahan sebagian atau seluruh kekuasaan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) didasarkan pada prinsip pemisahan kewenangan antara yang memerintahkan. hasil pajak Daerah. hasil pajak Daerah . yang terdiri dari : 1.32 tahun 2004. hasil perusahaan Daerah . dana perimbangan. pendapatan asli Daerah. c. dan Pembiayaan Daerah Pasal 55 Sumber pendapatan Daerah adalah : a. Pendapatan asli Daerah sendiri. dana perimbangan. yaitu : 1. (2) Uang Daerah disimpan pada Kas Daerah atau Bank Pembangunan Daerah. lain-lain PAD yang sah. Pasal 157 Sumber pendapatan daerah terdiri atas: a. lain-lain hasil usaha Daerah yang sah. dan b. (2) Penyelenggaraan urusan pemerintahan yang menjadi kewenangan Pemerintah di daerah didanai dari dan atas beban anggaran pendapatan dan belanja negara. Pendapatan berasal dari pemberian Pasal 79 Sumber pendapatan Daerah terdiri atas: a. 2. hasil retribusi daerah. dan yang menerima/mengeluarkan uang. pembayaran atau penyerahan uang. untuk pinjaman daerah tidak disebutkan dalam UU No. dan • • Terdapat perbedaan dalam pengaturan mengenai sumber pendapatan daerah dalam UU No.32 Tahun 2004) Dalam UU No.22 Tahun 1999 dan UU No. hasil pengelolaan kekayaan daerah yang dipisahkan. dan 4. penatausahaan. kepala daerah melimpahkan sebagian atau seluruh kekuasaannya yang berupa perencanaan.20 Keuangan Daerah Pasal 62 (1) Kepala Daerah menyelenggarakan pengurusan. (3) Selama belum ada Kas Daerah atau Bank Pembangunan Daerah. hasil retribusi Daerah. penyimpanan. 3. hasil perusahaan milik Daerah. 3. surat bernilai uang dan atau barang untuk kepentingan Daerah. dan pengawasan keuangan Daerah berdasarkan Peraturan Daerah dan peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi. Pasal 155 (1) Penyelenggaraan urusan pemerintahan yang menjadi kewenangan daerah didanai dari dan atas beban anggaran pendapatan dan belanja daerah. yaitu: 1. dan hasil pengelolaan kekayaan Daerah yang dipisahkan. b. (3) Administrasi pendanaan penyelenggaraan urusan pemerintahan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan secara terpisah dari administrasi pendanaan penyelenggaraan urusan pemerintahan sebagaimana dimaksud pada ayat (2). Pasal 156 (1) Kepala daerah adalah pemegang kekuasaan pengelolaan keuangan daerah. hasil pajak daerah. b. Menteri Keuangan dapat menugaskan Kas Negara atau Bank Pemerintah tertentu untuk melaksanakan pekerjaan mengenai penerimaan. 3. diatur lebih terperinci mengenai Dana Alokasi Umum dan . pelaksanaan. - 21 Pendapatan. Pasal 78 (1) Penyelenggaraan tugas Pemerintah Daerah dan DPRD dibiayai dari dan atas beban Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah. (2) Penyelenggaraan tugas Pemerintah di Daerah dibiayai dari dan atas beban Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara. 2.

Bea Perolehan Atas Hak Tanah dan Bangunan (BPHTB) sektor perdesaan. c. dan perkebunan serta Bea Perolehan Hak Atas Tanah dan Bangunan. sesuai dengan ketentuan . d. dan ayat (3). (3) Peminjaman dan sumber dana pinjaman yang berasal dari luar negeri. pinjaman Daerah. Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) sektor perdesaan. sebagaimana dimaksud pada ayat (1). pertambangan serta kehutanan. c. Lain-lain pendapatan yang sah. b. dana alokasi khusus. harus mendapatkan persetujuan Pemerintah. e. Pasal 80 (1) Dana perimbangan. ditetapkan dengan Undang-undang. (3) Hasil pengelolaan kekayaan daerah yang dipisahkan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 157 huruf a angka 3 dan lain-lain PAD yang sah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 157 huruf a angka 4 ditetapkan dengan Perda berpedoman pada peraturan perundangundangan. Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan. (2) Pemerintahan daerah dilarang melakukan pungutan atau dengan sebutan lain di luar yang telah ditetapkan undang-undang. Dana Bagi Hasil. sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a. (2) Dengan Peraturan Daerah ditetapkan pungutan pajak dan retribusi Daerah. Dana Alokasi Khusus Pasal 56 Dengan Undang-undang sesuatu pajak Negara dapat diserahkan kepada Daerah. (2) Dana Bagi Hasil yang bersumber dari pajak sebagaimana dimaksud pada ayat (1) terdiri dari: a. (4) Pengembalian atau pembebasan pajak Daerah dan atau retribusi Daerah hanya dapat dilakukan berdasarkan Peraturan Daerah. perkotaan. (4) Ketentuan lebih lanjut. dan Pasal 29 wajib pajak orang pribadi dalam negeri. (2) Bagian Daerah dari penerimaan Pajak Bumi dan Bangunan sektor perdesaan. sumbangan dari Pemerintah. (2) Pinjaman dari dalam negeri diberitahukan kepada Pemerintah dan dilaksanakan sesuai dengan pedoman yang ditetapkan oleh Pemerintah. perkebunan. terdiri atas: a. sebagaimana dimaksud pada ayat (1). dan c. pertambangan serta kehutanan. (3) Bagian Daerah dari penerimaan Pajak Bumi dan Bangunan sektor pertambangan serta kehutanan dan penerimaan dari sumber daya alam. Dana Alokasi Khusus. Pasal 81 (1) Pemerintah Daerah dapat melakukan peminjaman dari sumber dalam negeri dan/atau dari sumber luar negeri untuk membiayai kegiatan pemerintahan dengan persetujuan DPRD. bagian Daerah dari penerimaan Pajak Bumi dan Bangunan. Pasal 57 Perimbangan keuangan antara Pemerintah dan Daerah diatur dengan Undang-undang. Penerimaan kehutanan yang berasal dari iuran hak pengusahaan hutan (IHPH). b. sumbangan-sumbangan lain. Pasal 159 Dana perimbangan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 157 huruf b terdiri atas: a. dan c. perkotaan. dana alokasi umum.c. Pajak Penghasilan (PPh) Pasal 21. perkotaan. sebagaimana dimaksud dalam Pasal 79. diterima langsung oleh Daerah penghasil. dan penerimaan dari sumber daya alam. perkebunan. menurut cara yang diatur dalam Undang-undang dan tidak boleh berlaku surut. Pasal 58 (1) Dengan Undang-undang ditetapkan ketentuan pokok tentang pajak dan retribusi Daerah. Pemerintah yang terdiri dari : 1. Pasal 158 (1) retribusi daerah ditetapkan dengan UndangUndang yang pelaksanaannya di daerah diatur lebih lanjut dengan Perda. sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a. Pasal 160 (1) Dana Bagi Hasil sebagaimana dimaksud dalam Pasal 159 huruf a bersumber dari pajak dan sumber daya alam. b. Dana Alokasi Umum. ayat (2). (3) Peraturan Daerah yang dimaksud dalam ayat (2) pasal ini berlaku sesudah ada pengesahan pejabat yang berwenang. (3) Dana Bagi Hasil yang bersumber dari sumber daya alam sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berasal dari: a. dan lain-lain pendapatan Daerah yang sah. yang diatur dengan peraturan perundangundangan . diterima oleh Daerah penghasil dan Daerah lainnya untuk pemerataan sesuai dengan peraturan perundang-undangan. Pasal 25. lain-lain pendapatan daerah yang sah. 2.

Pasal 161 (1) DAU sebagaimana dimaksud dalam Pasal 159 huruf b dialokasikan berdasarkan persentase tertentu dari pendapatan dalam negeri neto yang ditetapkan dalam APBN. Daerah penghasil sumber daya alam sebagaimana dimaksud pada ayat (3). ayat (3). c. Pasal 82 (1) Pajak dan retribusi Daerah ditetapkan dengan Undang-undang. e. (2) Penentuan tarif dan tata cara pemungutan pajak dan retribusi Daerah ditetapkan dengan Peraturan Daerah sesuai dengan peraturan perundangundangan. Penerimaan pertambangan minyak yang dihasilkan dari wilayah daerah yang bersangkutan. Penerimaan pertambangan panas bumi yang berasal dari penerimaan setoran bagian Pemerintah. ayat (4). Dasar penghitungan bagian daerah dari daerah penghasil sumber daya alam ditetapkan oleh Menteri Teknis terkait setelah memperoleh pertimbangan Menteri Dalam Negeri. Penerimaan perikanan yang diterima secara nasional yang dihasilkan dari penerimaan pungutan pengusahaan perikanan dan penerimaan pungutan hasil perikanan. Pelaksanaan ketentuan pada ayat (1). b. dan ayat (5) diatur lebih lanjut dalam Peraturan Pemerintah. (4) (5) (6) provisi sumber daya hutan (PSDH) dan dana reboisasi yang dihasilkan dari wilayah daerah yang bersangkutan.peraturan perundang-undangan. f. ditetapkan oleh Pemerintah. Penerimaan pertambangan gas alam yang dihasilkan dari wilayah daerah yang bersangkutan. ayat (2). ditetapkan oleh Menteri Dalam Negeri berdasarkan pertimbangan dari menteri teknis terkait. (4) Tata cara peminjaman. d. sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2). (2) DAU untuk suatu daerah ditetapkan berdasarkan kriteria tertentu yang menekankan pada aspek pemerataan dan keadilan yang . iuran tetap dan iuran produksi yang dihasilkan dari wilayah daerah yang bersangkutan. Penerimaan pertambangan umum yang berasal dari penerimaan iuran tetap (landrent) dan penerimaan iuran eksplorasi dan iuran eksploitasi (royalty) yang dihasilkan dari wilayah daerah yang bersangkutan.

(2) Penyusunan kegiatan khusus yang ditentukan oleh Pemerintah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a dikoordinasikan dengan Gubernur. dana darurat. dan evaluasi atas dana bagi hasil pajak. DAU. yang meliputi hibah. Pasal 163 (1) Pedoman penggunaan. Pasal 164 (1) Lain-lain pendapatan daerah yang sah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 156 huruf c merupakan seluruh pendapatan daerah selain PAD dan dana perimbangan. dan lain-lain pendapatan yang ditetapkan Pemerintah. (2) Pengaturan lebih lanjut mengenai pembagian dana perimbangan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 157 huruf b ditetapkan dalam Undang-Undang tentang Perimbangan Keuangan Antara Pemerintah Pusat dan Pemerintahan Daerah.selaras dengan penyelenggaraan urusan pemerintahan yang formula dan penghitungan DAU-nya ditetapkan sesuai Undang-Undang. monitoring. (4) Ketentuan lebih lanjut mengenai DAK diatur dengan Peraturan Pemerintah. (3) Penyusunan kegiatan khusus sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b dilakukan setelah dikoordinasikan oleh daerah yang bersangkutan. dana bagi hasil sumber daya alam. (2) Hibah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) . dan DAK diatur dalam Peraturan Menteri Dalam Negeri. supervisi. mendanai kegiatan khusus yang diusulkan daerah tertentu. Pasal 162 (1) Dana Alokasi Khusus (DAK) sebagaimana dimaksud dalam Pasal 159 huruf c dialokasikan dari APBN kepada daerah tertentu dalam rangka pendanaan pelaksanaan desentralisasi untuk: a. Mendanai kegiatan khusus yang ditentukan Pemmerintah atas dasar prioritas nasional. b.

penyediaan fasilitas pelayanan kesehatan. sehingga mengancam keberadaannya sebagai daerah otonom. Pasal 165 (1) Keadaan yang dapat digolongkan sebagai peristiwa tertentu sebagaimana dimaksud dalam Pasal 164 ayat (3) ditetapkan dengan Peraturan Presiden. (2) Perlindungan dan peningkatan kualitas kehidupan masyarakat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diwujudkan dalam bentuk peningkatan pelayanan dasar. pendidikan. barang. dan badan usaha dalam negeri atau luar negeri. serta mengembangkan sistem jaminan sosial. masyarakat. (3) Tata cara pengelolaan dan pertanggungjawaban penggunaan dana darurat diatur dalam Peraturan Pemerintah. (2) Tata cara pengajuan permohonan. dan pengalokasian dana darurat di atur dalam Peraturan Pemerintah.(3) merupakan bantuan berupa uang. Pasal 167 (1) Belanja daerah diprioritaskan untuk melindungi dan meningkatkan kualitas kehidupan masyarakat dalam upaya memenuhi kewajiban daerah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 22. evaluasi oleh Pemerintah. Pasal 166 (1) Pemerintah dapat mengalokasikan dana darurat kepada daerah yang dinyatakan mengalami krisis keuangan daerah. . yang tidak mampu diatasi sendiri. dan/atau jasa yang berasal dari Pemerintah. fasilitas sosial dan fasilitas umum yang layak. Pendapatan dana darurat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) merupakan bantuan Pemerintah dari APBN kepada pemerintah daerah untuk mendanai keperluan mendesak yang diakibatkan peristiwa tertentu yang tidak dapat ditanggulangi APBD. (2) Besarnya alokasi dana darurat ditetapkan oleh Menteri Keuangan dengan memperhatikan pertimbangan Menteri Dalam Negeri dan Menteri teknis terkait.

penganggaran kewajiban pinjaman daerah . dan masyarakat. Pasal 171 (1) Ketentuan mengenai pinjaman daerah dan obligasi daerah diatur dengan Peraturan Pemerintah. tolok ukur kinerja. (2) Perjanjian penerusan pinjaman sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan antara Menteri Keuangan dan kepala daerah. Pasal 168 (1) Belanja kepala daerah dan wakil kepala daerah diatur dalam Perda yang berpedoman pada Peraturan Pemerintah. Pasal 169 (1) Untuk membiayai penyelenggaraan pemerintahan daerah. (2) Peraturan Pemerintah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) sekurang-kurangnya mengatur tentang: a. persyaratan bagi pemerintah daerah dalam melakukan pinjaman.(3) Belanja daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) mempertimbangkan analisis standar belanja. b. lembaga keuangan bukan bank. (2) Belanja pimpinan dan anggota DPRD diatur dalam Perda yang berpedoman pada Peraturan Pemerintah. Pasal 170 (1) Pemerintah daerah dapat melakukan pinjaman yang berasal dari penerusan pinjaman hutang luar negeri dari Menteri Keuangan atas nama Pemerintah setelah memperoleh pertimbangan Menteri Dalam Negeri. lembaga keuangan bank. (2) Pemerintah daerah dengan persetujuan DPRD dapat menerbitkan obligasi daerah untuk membiayai investasi yang menghasilkan penerimaan daerah. pemerintah daerah dapat melakukan pinjaman yang bersumber dari Pemerintah. standar harga. pemerintah daerah lain. dan standar pelayanan minimal yang ditetapkan sesuai dengan peraturan perundang-undangan.

pemerintah daerah lain. serta lembaga keuangan bukan bank dan masyarakat.yang jatuh tempo dalam APBD. dikurangi. persyaratan penerbitan obligasi daerah. (3) Peraturan Pemerintah sebagaimana dimaksud pada ayat (2) sekurangkurangnya mengatur persyaratan pembentukan dana cadangan. (2) Pengaturan tentang dana cadangan daerah ditetapkan dengan Peraturan Pemerintah. tata cara pelaporan posisi kumulatif pinjaman dan kewajiban pinjaman setiap semester dalam tahun anggaran berjalan. e. pelunasan dan penganggaran dalam APBD. pengelolaan obligasi daerah yang mencakup pengendalian risiko. c. (3) Penyertaan modal sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilaksanakan sesuai dengan peraturan perundang-undangan. Pasal 173 (1) Pemerintah daerah dapat melakukan penyertaan modal pada suatu Badan Usaha Milik Pemerintah dan/atau milik swasta. penjualan dan pembelian obligasi. pembayaran bunga dan pokok obligasi. f. (2) Penyertaan modal sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat ditambah. pengenaaan sanksi dalam hal pemerintah daerah tidak memenuhi kewajiban membayar pinjaman kepada Pemerintah. . serta pengelolaan dan pertanggungjawabannya. dijual kepada pihak lain. Pasal 172 (1) Pemerintah daerah dapat membentuk dana cadangan guna membiayai kebutuhan tertentu yang dananya tidak dapat disediakan dalam satu tahun anggaran. dan/atau dapat dialihkan kepada badan usaha milik daerah. lembaga perbankan. d.

dan hal tersebut diatur dalam Peraturan Daerah tidak lagi dituangkan dalam Peraturan Pemerintah. prasana. c.32 Tahun 2004 disebutkan bahwa insentif tidak hanya berupa insentif fiskal dan non fiskal tetapi dalam penjelasannya disebutkan insentif tersebut berupa penyediaan sarana. transfer dari dana cadangan. transfer ke rekening dana cadangan. (2) Pemerintah daerah wajib melaporkan posi-si surplus/defisit APBD kepada Menteri Dalam Negeri dan Menteri Keuangan setiap semester dalam tahun anggaran berjalan.22 Surplus dan Defisit APBD - - Pasal 174 (1) Dalam hal APBD diperkirakan surplus. (3) Dalam hal APBD diperkirakan defisit. sisa lebih perhitungan anggaran tahun lalu. Pemerintah dapat melakukan penundaan atas penyaluran dana perimbangan. (3) Dalam hal pemerintah daerah tidak memenuhi kewajiban sebagaimana dimaksud pada ayat (2). Pemerintah memberi insentif fiskal dan nonfiskal tertentu. (2) Ketentuan. pembayaran cicilan pokok utang yang jatuh tempo. b. Pasal 175 (1) Menteri Dalam Negeri melakukan pengendalian defisit anggaran setiap daerah. (2) Surplus sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat digunakan untuk: a. (4) Pembiayaan daerah sebagaimana di-maksud pada ayat (3) bersumber dari: a. 5 Tahun 1974 dan UU No. ditetapkan dengan Peraturan Pemerintah. . Pasal 176 Pemerintah daerah dalam meningkatkan perekonomian daerah dapat memberikan insentif dan/atau kemudahan kepada masyarakat dan/atau investor yang diatur dalam Perda dengan berpedoman pada peraturan perundang-undangan. sebagaimana dimaksud pada ayat (1). dapat didanai dari sumber pembiayaan daerah yang ditetapkan dalam Perda tentang APBD. penyertaan modal (investasi daerah).32 tahun 2004 23 Pemberian Insentif dan Kemudahan Investasi - Pasal 83 (1) Untuk mendorong pemberdayaan Daerah. b. • Materi tentang pemberian insentif dan kemudahan investasi ada perubahan bahwa dalam UU No. hasil penjualan kekayaan daerah yang dipisahkan. c. • Hal ini merupakan materi baru yang tidak diatur sebelumnya dalam UU No. dan d. pinjaman daerah. penggunaannya ditetapkan dalam Perda tentang APBD.

hanya dapat dilakukan dimuka umum. dihibahkan.Persetujuan penyelesaian sengketa perdata secara damai . dan nilai ekonomis yang dilakukan secara transparan sesuai dengan peraturan perundang-undangan. - 25 Pengelolaan Barang Daerah Pasal 63 (1) Barang milik Daerah yang dipergunakan untuk melayani kepentingan umum tidak dapat dijual. kecuali apabila ditentukan lain dalam Keputusan Kepala Daerah yang dimaksud dalam ayat (1) pasal ini. persetujuan penyelesaian sengketa perdata secara damai. usia pakai. Barang milik daerah dapat dihapuskan dari daftar inventaris barang daerah untuk dijual. berlaku sesudah ada pengesahan pejabat yang berwenang. (2) Penjualan dan penyerahan yang dimaksud dalam ayat (1) pasal ini. diserahkan haknya kepada pihak lain. dijadikan tanggungan atau digadaikan. diserahkan haknya kepada pihak lain. penggabungan. dan/atau pembubarannya ditetapkan dengan Perda yang berpedoman pada peraturan perundang-undangan. tindakan hukum lain. c. (4) Keputusan yang dimaksud dalam ayatayat (1). dan (3) pasal ini. dijadikan tanggungan.24 BUMD Pasal 59 (1) Pemerintah Daerah dapat mengadakan Perusahaan Daerah yang penyelenggaraan dan pembinaannya dilakukan berdasarkan azas ekonomi perusahaan. 32 tahun 2004 menghapuskan wewenang dari kepala daerah untuk menetapkan keputusan mengenai : . kecuali dengan Keputusan Kepala Daerah dengan persetujuan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah. mengenai barang milik atau hak Daerah . (2) Dengan Undang-undang ditetapkan ketentuan pokok tentang Perusahaan Daerah. Pasal 178 (1) Barang milik daerah yang dipergunakan untuk melayani kepentingan umum tidak dapat dijual.Penghapusan tagihan daerah sebagian atau seluruhnya . pelepasan kepemilikan.Tindakan hukum lain mengenai barang milik daerah (2) (3) (4) . dan transparansi dengan mengutamakan produk dalam negeri sesuai dengan peraturan perundangundangan. Pelaksanaan penghapusan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dilakukan berdasarkan kebutuhan daerah. berlaku sesudah ada pengesahan Mendagri Pasal 85 (1) Barang milik Daerah yang digunakan untuk melayani kepentingan umum tidak dapat digadaikan. Pasal 60 (1) Dengan Peraturan Daerah dapat diadakan usaha-usaha sebagai sumber pendapatan Daerah. (2) Kepala Daerah dengan persetujuan DPRD dapat menetapkan keputusan tentang: a. • UU No. (3) Dengan persetujuan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kepala Daerah dapat menetapkan Keputusan tentang : a. dan c. Pasal 84 Daerah dapat memiliki Badan Usaha Milik Daerah sesuai dengan peraturan perundang-undangan dan pembentukannya diatur dengan Peraturan Daerah. mutu barang. (2). penghapusan tagihan Daerah sebagian atau seluruhnya . tindakan hukum lain mengenai barang milik Daerah. penghapusan tagihan Daerah sebagian atau seluruhnya. Pasal 177 Pemerintah daerah dapat memiliki BUMD yang pembentukan. (2) Peraturan Daerah yang dimaksud dalam ayat (1) pasal ini. dan/atau dipindahtangankan. dibebani hak tanggungan. atau digadaikan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. efektivitas. b. dan/atau dimusnahkan sesuai dengan ketentuan peraturan perundangundangan. Pelaksanaan pengadaan barang dilakukan sesuai dengan kemampuan keuangan dan kebutuhan daerah berdasarkan prinsip efisiensi. persetujuan penyelesaian perkara perdata secara damai . b.

(3) Pengambilan keputusan DPRD untuk menyetujui rancangan Perda sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dilakukan selambatlambatnya 1 (satu) bulan sebelum tahun anggaran dilaksanakan. (2) Berdasarkan prioritas dan plafon anggaran sebagaimana dimaksud pada ayat (1) kepala satuan kerja perangkat daerah menyusun rencana kerja dan anggaran satuan kerja perangkat daerah dengan pendekatan berdasarkan prestasi kerja yang akan dicapai. (2) Rancangan Perda sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dibahas pemerintah daerah bersama DPRD berdasarkan kebijakan umum APBD.32 Tahun 2004 seperti adanya kewajiban Kepala daerah menyampaikan rancangan Perda tentang pertanggungjawaban pelaksanaan APBD kepada DPRD berupa laporan keuangan yang telah diperiksa oleh Badan Pemeriksa Keuangan paling lambat 6 (enam) bulan setelah tahun anggaran berakhir. Pasal 179 APBD merupakan dasar pengelolaan keuangan daerah dalam masa 1 (satu) tahun anggaran terhitung mulai 1 Januari sampai dengan tanggal 31 Desember. selambat-lambatnya 6 (enam) bulan setelah ditetapkan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara untuk tahun anggaran tertentu. dan perhitungan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah ditetapkan dengan Peraturan Pemerintah. (4) Atas dasar persetujuan DPRD sebagaimana dimaksud pada ayat (3). (4) Apabila Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah pada permulaan tahun anggaran yang bersangkutan belum mendapat pengesahan dari pejabat yang berwenang dan belum diundangkan. pelaksanaan tata usaha keuangan Daerah dan penyusunan perhitungan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah ditetapkan sesuai dengan peraturan perundang-undangan. (5) Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah yang telah ditetapkan dengan Peraturan Daerah disampaikan kepada Gubernur bagi Pemerintah Kabupaten/Kota dan kepada Presiden melalui Menteri Dalam Negeri bagi Pemerintah Propinsi untuk diketahui. (5) Pemerintah Daerah wajib berusaha mencukupi anggaran belanja rutin dengan pendapatan sendiri. (3) Dengan Peraturan Daerah. dilaksanakan sesudah ada pengesahan pejabat yang berwenang. Pasal 181 (1) Kepala daerah mengajukan rancangan Perda tentang APBD disertai penjelasan dan dokumen-dokumen pendukungnya kepada DPRD untuk memperoleh persetujuan bersama. maka Pemerintah Daerah menggunakan anggaran tahun sebelumnya sebagai dasar pengurusan keuangannya. selambat-lambatnya 3 (tiga) bulan setelah ditetapkan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara untuk tahun anggaran tertentu. (3) Perhitungan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah ditetapkan dengan Peraturan Daerah selambat-lambatnya tiga bulan setelah berakhirnya tahun anggaran yang bersangkutan. Pasal 86 (1) Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah ditetapkan dengan Peraturan Daerah selambat-lambatnya satu bulan setelah ditetapkannya Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara. (2) Dengan Peraturan Daerah. ditetapkan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah. tiap tahun. (3) Rencana kerja dan anggaran satuan kerja perangkat daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (2) disampaikan kepada pejabat pengelola keuangan daerah sebagai bahan penyusunan rancangan Perda tentang APBD tahun berikutnya. (7) Pengesahan atau penolakan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah oleh pejabat yang berwenang dapat dilakukan pos demi pos atau secara keseluruhan. serta prioritas dan plafon anggaran. (2) Perubahan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah ditetapkan dengan Peraturan Daerah selambat-lambatnya tiga bulan sebelum tahun anggaran berakhir.26 APBD Pasal 64 (1) Tahun anggaran Daerah adalah sama dengan tahun anggaran Negara. tiap tahun. kepala • Materi mengani Aggaran Pendapatan dan Belanja Daerah diatur lebih rinci dalam UU No. (8) Dengan Peraturan Pemerintah diatur ketentuan-ketentuan tentang cara: a. penyusunan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah. Pasal 180 (1) Kepala daerah dalam penyusunan rancangan APBD menetapkan prioritas dan plafon anggaran sebagai dasar penyusunan rencana kerja dan anggaran satuan kerja perangkat daerah. . perubahan. pertanggungjawaban. ditetapkan perhitungan atas Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah tahun anggaran sebelumnya. sepanjang tidak dikuasakan sendiri oleh Anggaran itu. dan pengawasan keuangan Daerah serta tata cara penyusunan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah. (4) Pedoman tentang penyusunan. (6) Pedoman tentang pengurusan. (6) Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah serta perubahannya.

pengurusan. dan antarjenis belanja. (9) Dengan Peraturan Menteri Dalam Negeri diatur lebih lanjut cara melaksanakan ketentuan yang dimaksud dalam ayat (8) pasal ini. Pasal 182 Tata cara penyusunan rencana kerja dan anggaran satuan kerja perangkat daerah serta tata cara penyusunan dokumen pelaksanaan anggaran satuan kerja perangkat daerah diatur dalam Perda yang berpedoman pada peraturan perundangundangan. disertai penjelasan dan dokumen-dokumen pendukungnya kepada DPRD.b. perkembangan yang tidak sesuai dengan asumsi kebijakan umum APBD. Pasal 183 (1) Perubahan APBD dapat dilakukan apabila terjadi: a. c. dan c. keadaan yang menyebabkan harus dilakukan pergeseran anggaran antar unit organisasi. (2) Laporan keuangan sebagaimana dimaksud . daerah menyiapkan rancangan peraturan kepala daerah tentang penjabaran APBD dan rancangan dokumen pelaksanaan anggaran satuan kerja perangkat daerah. (3) Pengambilan keputusan mengenai rancangan Perda tentang perubahan APBD sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dilakukan oleh DPRD paling lambat 3 (tiga) bulan sebelum tahun anggaran yang bersangkutan berakhir. pertanggungjawaban dan pengawasan keuangan Daerah. keadaan yang menyebabkan sisa lebih perhitungan anggaran tahun sebelumnya harus digunakan untuk pembiayaan dalam tahun anggaran berjalan. antarkegiatan. (2) Pemerintah daerah mengajukan rancang-an Perda tentang perubahan APBD. penyusunan permtungan atas Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah. b. Pasal 184 (1) Kepala daerah menyampaikan rancangan Perda tentang pertanggungjawaban pelaksanaan APBD kepada DPRD berupa laporan keuangan yang telah diperiksa oleh Badan Pemeriksa Keuangan paling lambat 6 (enam) bulan setelah tahun anggaran berakhir.

laporan arus kas. Pasal 185 (1) Rancangan Perda provinsi tentang APBD yang telah disetujui bersama dan rancangan Peraturan Gubernur tentang penjabaran APBD sebelum ditetapkan oleh Gubernur paling lambat 3 (tiga) hari disampaikan kepada Menteri Dalam Negeri untuk dievaluasi. yang dilampiri dengan laporan keuangan badan usaha milik daerah. (3) Laporan keuangan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) disusun dan disajikan sesuai dengan standar akuntansi pemerintahan yang ditetapkan dengan Peraturan Pemerintah. (5) Apabila hasil evaluasi tidak ditindaklanjuti oleh Gubernur dan DPRD. (2) Hasil evaluasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) disampaikan oleh Menteri Dalam Negeri kepada Gubernur paling lambat 15 (lima belas) hari terhitung sejak diterimanya rancangan dimaksud.pada ayat (1) sekurang-kurangnya meliputi laporan realisasi APBD. (4) Apabila Menteri Dalam Negeri menyata-kan hasil evaluasi rancangan Perda tentang APBD dan rancangan Peraturan Gubernur tentang penjabaran APBD bertentangan dengan kepentingan umum dan peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi. dan catatan atas laporan keuangan. (3) Apabila Menteri Dalam Negeri menyatakan hasil evaluasi rancangan Perda tentang APBD dan rancangan Peraturan Gubernur tentang penjabaran APBD sudah sesuai dengan kepentingan umum dan peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi. Gubernur menetapkan rancangan dimaksud menjadi Perda dan Peraturan Gubernur. Gubernur bersama DPRD melakukan penyempurnaan paling lama 7 (tujuh) hari terhitung sejak diterimanya hasil evaluasi. neraca. dan Gubernur tetap menetapkan rancangan Perda tentang APBD dan rancangan Peraturan Gubernur .

Menteri Dalam Negeri membatalkan Perda dan Peraturan Gubernur dimaksud sekaligus menyatakan berlakunya pagu APBD tahun sebelumnya. dan Bupati/Walikota tetap menetapkan rancangan Perda tentang APBD dan rancangan Peraturan Bupati/Walikota tentang penjabaran APBD menjadi Perda dan Peraturan Bupati/Walikota. (4) Apabila Gubernur menyatakan hasil evaluasi rancangan Perda tentang APBD dan rancangan Peraturan Bupati/Walikota tentang Penjabaran APBD tidak sesuai dengan kepentingan umum dan peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi. (3) Apabila Gubernur menyatakan hasil evaluasi rancangan Perda tentang APBD dan rancangan Peraturan Bupati/Walikota tentang Penjabaran APBD sudah sesuai dengan kepentingan umum dan peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi. Bupati/Walikota bersama DPRD melakukan penyempurnaan paling lama 7 (tujuh) hari sejak diterimanya hasil evaluasi. (5) Apabila hasil evaluasi tidak ditindaklanjuti oleh Bupati/Walikota dan DPRD. Pasal 186 (1) Rancangan Perda kabupaten/kota tentang APBD yang telah disetujui bersama dan rancangan Peraturan Bupati/Walikota tentang Penjabaran APBD sebelum ditetapkan oleh Bupati/Walikota paling lama 3 (tiga) hari disampaikan kepada Gubernur untuk dievaluasi.tentang penjabaran APBD menjadi Perda dan Peraturan Gubernur. Gubernur . (2) Hasil evaluasi disampaikan oleh Gubernur kepada Bupati/Walikota paling lama 15 (lima belas) hari terhitung sejak diterimanya rancangan Perda kabupaten/kota dan rancangan Peraturan Bupati/Walikota tentang Penjabaran APBD sebagaimana dimaksud pada ayat (1). Bupati/Walikota menetapkan ran-cangan dimaksud menjadi Perda dan Peraturan Bupati/Walikota.

Gubernur menyampaikan hasil evaluasi rancangan Perda kabupaten/kota tentang APBD dan rancangan Peraturan Bupati/Walikota tentang Penjabaran APBD kepada Menteri Dalam Negeri. (3) Untuk memperoleh pengesahan sebagaimana dimaksud pada ayat (2).(6) membatalkan Perda dan Peraturan Bupati/Walikota dimaksud sekaligus menyatakan berlakunya pagu APBD tahun sebelumnya. Pasal 187 (1) Apabila DPRD sampai batas waktu sebagaimana dimaksud dalam Pasal 181 ayat (3) tidak mengambil keputusan bersama dengan kepala daerah terhadap rancangan peraturan kepala daerah tentang APBD. (4) Apabila dalam batas waktu 30 (tiga puluh) hari Menteri Dalam Negeri atau Gubernur tidak mengesahkan rancangan peraturan kepala daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (2). kepala daerah menetapkan rancangan peraturan kepala daerah dimaksud menjadi peraturan kepala daerah. (2) Rancangan peraturan kepala daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat dilaksanakan setelah memperoleh pengesahan dari Menteri Dalam Negeri bagi provinsi dan Gubernur bagi kabupaten/kota. Pasal 188 Proses penetapan rancangan Perda tentang . kepala daerah melaksanakan pengeluaran setinggi-tingginya sebesar angka APBD tahun anggaran sebelumnya untuk membiayai keperluan setiap bulan yang disusun dalam rancangan peraturan kepala daerah tentang APBD. rancangan peraturan kepala daerah tentang APBD beserta lampirannya disampaikan paling lambat 15 (lima belas) hari terhitung sejak DPRD tidak mengambil keputusan bersama dengan kepala daerah terhadap rancangan Perda tentang APBD.

(2) Untuk setiap pengeluaran atas beban APBD. dan Pasal 187. dan untuk tata ruang daerah dikoordinasikan dengan menteri yang membidangi urusan tata ruang. diterbitkan surat keputusan otorisasi oleh kepala daerah atau surat keputusan lain yang berlaku sebagai surat keputusan otorisasi. retribusi daerah.Perubahan APBD dan rancangan peraturan kepala daerah tentang Penjabaran Perubahan APBD menjadi Perda dan peraturan kepala daerah berlaku ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 185. Pasal 191 Dalam rangka evaluasi pengelolaan keuangan daerah dikembangkan sistem informasi keuangan daerah yang menjadi satu kesatuan dengan sistem informasi pemerintahan daerah. dan pejabat daerah . Pasal 186. Pasal 192 (1) Semua penerimaan dan pengeluaran pemerintahan daerah dianggarkan dalam APBD dan dilakukan melalui rekening kas daerah yang dikelola oleh Bendahara Umum Daerah. pimpinan DPRD. Pasal 190 Peraturan kepala daerah tentang Penjabaran APBD dan peraturan kepala daerah tentang Penjabaran Perubahan APBD dijadikan dasar penetapan dokumen pelaksanaan anggaran satuan kerja perangkat daerah. dan tata ruang daerah menjadi Perda. (3) Pengeluaran tidak dapat dibebankan pada anggaran belanja daerah jika untuk pengeluaran tersebut tidak tersedia atau tidak cukup tersedia dalam APBD. wakil kepala daerah. Pasal 189 Proses penetapan rancangan Perda yang berkaitan dengan pajak daerah. (4) Kepala daerah. berlaku Pasal 185 dan Pasal 186. dengan ketentuan untuk pajak daerah dan retribusi daerah dikoordinasikan terlebih dahulu dengan Menteri Keuangan.

penghapusan tagihan daerah. bunga atas penempatan uang di bank. (3) Kepala daerah dengan persetujuan DPRD dapat menetapkan peraturan tentang : a.22 Tahun 1999 mengatur secara lebih rinci mengenai syarat dan tata cara jabatan kepala desa 27 Pemerintahan Desa Pasal 88 Pengaturan tentang Pemerintahan ditetapkan dengan Undang. dan/atau penggabungan Desa. pelaksanaan. penatausahaan. dan/atau digabung dengan memperhatikan asalusulnya atas prakarsa masyarakat dengan persetujuan Pemerintah Kabupaten dan DPRD. (2) Bunga deposito. desa desa pada yang Pasal 203 (1) Kepala desa sebagaimana dimaksud dalam Pasal 202 ayat (1) dipilih langsung oleh dan dari penduduk desa warga negara Republik Indonesia yang syarat selanjutnya dan tata cara pemilihannya diatur dengan Perda yang .32 tahun 2004 merubah ketentuan yang terdapat dalam UU No. Pasal 193 (1) Uang milik pemerintahan daerah yang sementara belum digunakan dapat didepositokan dan/atau diinvestasikan dalam investasi jangka pendek sepanjang tidak mengganggu likuiditas keuangan daerah. • UU No. dan/atau bunga atas investasi jangka pendek merupakan pendapatan daerah. dihapus. (3) Sekretaris desa sebagaimana dimaksud ayat (2) diisi dari pegawai negeri sipil memenuhi persyaratan. ditetapkan dengan Peraturan Daerah.undang Desa Pasal 93 (1) Desa dapat dibentuk. sebagian atau seluruhnya. penyelesaian masalah Perdata. Pasal 194 Penyusunan. jasa giro. yang merupakan Pemerintahan Desa.22 Tahun 1999 mengenai masa jabatan Kepala Daerah dari sepuluh tahun menjadi enam tahun. pelaporan. Pasal 94 Di Desa dibentuk Pemerintah Desa dan Badan Perwakilan Desa. (2) Pembentukan. • UU No. penghapusan.lainnya. (2) Perangkat desa terdiri dari sekretaris dan perangkat desa lainnya. dilarang melakukan pengeluaran atas beban anggaran belanja daerah untuk tujuan lain dari yang telah ditetapkan dalam APBD. Pasal 95 Pasal 202 (1) Pemerintah desa terdiri atas kepala dan perangkat desa. dan b. sebagaimana dimaksud pada ayat (1). pengawasan dan pertanggungjawaban keuangan daerah diatur lebih lanjut dengan Perda yang berpedoman pada Peraturan Pemerintah.

(3) Susunan kata-kata sumpah/janji dimaksud adalah sebagai berikut: “Demi Allah (Tuhan). berumur sekurang-kurangnya 25 tahun. dan seadil-adilnya. dan bahwa saya akan menegakkan kehidupan demokrasi dan Undang-Undang Dasar 1945 serta melaksanakan segala peraturan perundang-undangan dengan seluruslurusnya yang berlaku bagi desa. Pasal 96 Masa jabatan Kepala Desa paling lama sepuluh tahun atau dua kali masa jabatan terhitung sejak tanggal ditetapkan. i. sehat jasmani dan rohani. jujur. sejujurjujurnya.(1) Pemerintah Desa terdiri atas Kepala Desa atau yang disebut dengan nama lain dan perangkat Desa. Pasal 206 Urusan pemerintahan yang menjadi kewenangan desa mencakup: (1) urusan pemerintahan yang sudah ada . (2) Calon kepala desa yang memperoleh suara terbanyak dalam pemilihan kepala desa sebagaimana dimaksud pada ayat (1). (3) Calon Kepala Desa yang terpilih dengan mendapatkan dukungan suara terbanyak. ditetapkan oleh Badan Perwakilan Desa dan disahkan oleh Bupati. mengenal daerahnya dan dikenal oleh masyarakat di Desa setempat. tidak pernah terlibat langsung atau tidak langsung dalam kegiatan yang mengkhianati Pancasila dan UndangUndang Dasar 1945. daerah. e. (3) Pemilihan kepala desa dalam kesatuan masyarakat hukum adat beserta hak tradisionalnya sepanjang masih hidup dan yang diakui keberadaannya berlaku ketentuan hukum adat setempat yang ditetapkan dalam Perda dengan berpedoman pada Peraturan Pemerintah. tidak pernah dihukum penjara karena melakukan tindak pidana. G30S/PKI dan/atau kegiatan organisasi terlarang lainnya. f. Pasal 205 (1) Kepala desa terpilih dilantik oleh Bupati/Walikota paling lambat 30 (tiga puluh) hari setelah pemilihan. bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. Pasal 97 Yang dapat dipilih menjadi Kepala Desa adalah penduduk Desa warga negara Republik Indonesia dengan syarat-syarat: a. berpendidikan sekurang-kurangnya Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama dan/atau berpengetahuan yang sederajat. (2) Sebelum memangku jabatannya. c. kepala desa mengucapkan sumpah/janji. bersedia dicalonkan menjadi Kepala Desa. sebagaimana dimaksud pada ayat (2). setia dan taat kepada Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945. Pasal 204 Masa jabatan kepala desa adalah 6 (enam) tahun dan dapat dipilih kembali hanya untuk 1 (satu) kali masa jabatan berikutnya. saya bersumpah/berjanji bahwa saya akan memenuhi kewajiban saya selaku kepala desa dengan sebaik-baiknya. j. tidak dicabut hak pilihnya berdasarkan keputusan pengadilan yang mempunyai kekuatan hukum tetap. dan adil. l. ditetapkan sebagai kepala desa. k. bahwa saya akan selalu taat dalam mengamalkan dan mempertahankan Pancasila sebagai dasar negara. dan Negara Kesatuan Republik Indonesia”. berkelakuan baik. dan m. memenuhi syarat-syarat lain yang sesuai dengan adat istiadat yang diatur berpedoman kepada Peraturan Pemerintah. b. g. d. h. nyata-nyata tidak terganggu jiwa/ingatannya. (2) Kepala Desa dipilih langsung oleh penduduk Desa dari calon yang memenuhi syarat.

. memimpin penyelenggaraan Pemerintah Desa. dan/atau pemerintah kabupaten/kota. dan/atau Pemerintah Kabupaten kepada Desa disertai dengan pembiayaan. dan c. sarana dan prasarana. sarana dan prasarana. b. dan/atau Pemerintah Kabupaten. (3) Susunan kata-kata sumpah/janji dimaksud adalah sebagai berikut : "Demi Allah (Tuhan). Pasal 207 Tugas pembantuan dari Pemerintah. dan Negara Kesatuan Republik Indonesia. pemerintah provinsi. urusan pemerintahan yang menjadi kewenangan kabupaten/kota yang diserahkan pengaturannya kepada desa. (3) (4) berdasarkan hak asal-usul desa. urusan pemerintahan lainnya yang oleh peraturan perundang-perundangan diserahkan kepada desa. tugas pembantuan dari Pemerintah. Daerah. Pasal 101 Tugas dan kewajiban Kepala Desa adalah : a. bahwa saya akan selalu taat dalam mengamalkan dan mempertahankan Pancasila sebagai dasar negara.dalam Peraturan Daerah. Pemerintah Propinsi. dan seadil-adilnya. Kepala Desa mengucapkan sumpah/janji. saya bersumpah/berjanji bahwa saya akan memenuhi kewajiban saya selaku Kepala Desa dengan sebaik-baiknya. Pasal 99 Kewenangan Desa mencakup : a. (2) Pasal 98 (1) Kepala Desa dilantik oleh Bupati atau pejabat lain yang ditunjuk. serta sumber daya manusia. Pasal 100 Tugas Pembantuan dari Pemerintah. kewenangan yang oleh peraturan perundang-perundangan yang berlaku belum dilaksanakan oleh Daerah dan Pemerintah. dan bahwa saya akan menegakkan kehidupan demokrasi dan Undang-Undang Dasar 1945 sebagai konstitusi negara serta segala peraturan perundang-undangan yang berlaku bagi Desa. serta sumber daya manusia. pemerintah provinsi. Pasal 208 Tugas dan kewajiban kepala desa dalam memimpin penyelenggaraan pemerintahan desa diatur lebih lanjut dengan Perda berdasarkan Peraturan Pemerintah. sejujurjujurnya. Pemerintah Propinsi. dan/atau pemerintah kabupaten/kota kepada desa disertai dengan pembiayaan. Tugas Pembantuan dari Pemerintah. kewenangan yang sudah ada berdasarkan hak asal-usul Desa. (2) Sebelum memangku jabatannya.

c. Kepala Desa : a. serta melakukan pengawasan terhadap penyelenggaraan Pemerintahan Desa. sebagaimana dimaksud dalam Pasal 101. menampung dan menyalurkan aspirasi masyarakat. • Dalam UU No. 28 Badan Permusyawaratan Desa dan Lembaga Lainnya Pasal 104 Badan Perwakilan Desa atau yang disebut dengan nama lain berfungsi mengayomi adat istiadat. meninggal dunia. bertanggung jawab kepada rakyat melalui Badan Perwakilan Desa b. d. Pasal 103 (1) Kepala Desa berhenti karena : a. dilakukan oleh Bupati atas usul Badan Perwakilan Desa.32 Tahun 2004 terdapat perubahan istilah dari lembaga perwakilan desa menjadi lembaga permusyawaratan desa dan diatur mengenai pembatasan masa jabatan dari anggota Badan Permusyawaratan Desa. membina perekonomian Desa. membina kehidupan masyarakat Desa. (2) Pemberhentian Kepala Desa. dan e. menyampaikan laporan mengenai pelaksanaan tugasnya kepada Bupati. memelihara ketenteraman dan ketertiban masyarakat Desa. Pasal 102 Dalam melaksanakan tugas dan kewajiban. berakhir masa jabatan dan telah dilantik Kepala Desa yang baru. b. dan mewakili Desanya di dalam dan di luar pengadilan dan dapat menunjuk kuasa hukumnya. tidak lagi memenuhi syarat dan/atau melanggar sumpah/ janji. Pasal 209 Badan Permusyawaratan Desa berfungsi menetapkan peraturan desa bersama kepala desa. melakukan perbuatan yang bertentangan dengan ketentuan peraturan perundangundangan yang berlaku dan/atau norma yang hidup dan berkembang dalam masyarakat Desa.b. mengajukan berhenti atas permintaan sendiri. membuat Peraturan Desa. menampung dan menyalurkan aspirasi masyarakat. sebagaimana dimaksud pada ayat (1). mendamaikan perselisihan masyarakat di Desa. Pasal 210 (1) Anggota adalah badan permusyawaratan wakil dari penduduk desa desa .

(3) Sumber pendapatan desa sebagaimana dimaksud pada ayat (2) terdiri atas: a. hasil kekayaan Desa. bantuan dari Pemerintah Kabupaten yang meliputi : 1. b. c. serta segala sesuatu baik berupa uang maupun berupa barang yang dapat dijadikan milik desa berhubung dengan pelaksanaan hak dan kewajiban.Pasal 105 (1) Anggota Badan Perwakilan Desa dipilih dari dan oleh penduduk Desa yang memenuhi persyaratan. bantuan dari Pemerintah. dan 5. hasil swadaya dan partisipasi. 4. pendapatan asli Desa yang meliputi : 1. • Terdapat perbedaan mengenai sumber pendapatan desa dimana dalam UU No. (2) Hak dan kewajiban sebagaimana dimaksud pada ayat (1) menimbulkan pendapatan. bagian dari dana perimbangan keuangan Pusat dan Daerah yang diterima oleh Pemerintah Kabupaten. 29 Keuangan Desa Pasal 107 (1) Sumber pendapatan Desa terdiri atas : a.32 Tahun 2004 pinjaman desa bukan lagi termasuk dalam sumber pendapatan desa dan diatur secara lebih rinci mengenai Badan Usaha Milik Desa. belanja dan pengelolaan keuangan desa. bersangkutan yang ditetapkan dengan cara musyawarah dan mufakat. b. lain-lain pendapatan asli Desa yang sah. bagian dari dana perimbangan keuangan pusat dan daerah yang diterima oleh kabupaten/kota. bantuan dari Pemerintah dan Pemerintah Propinsi. Masa jabatan anggota badan permusyawaratan desa adalah 6 (enam) tahun dan dapat dipilih lagi untuk 1 (satu) kali masa jabatan berikutnya. Syarat dan tata cara penetapan anggota dan pimpinan badan permusyawaratan desa diatur dalam Perda yang berpedoman pada Peraturan Pemerintah. 2. (2) Pimpinan Badan Perwakilan Desa dipilih dari dan oleh anggota. pendapatan asli desa. (3) Badan Perwakilan Desa bersama dengan Kepala Desa menetapkan Peraturan Desa. (2) Lembaga kemasyarakatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) bertugas membantu pemerintah desa dan merupakan mitra dalam memberdayakan masyarakat desa. d. (2) Pimpinan badan permusyawaratan desa dipilih dari dan oleh anggota badan permusyawaratan desa. hasil gotong royong. hasil usaha Desa. Pasal 212 (1) Keuangan desa adalah semua hak dan kewajiban desa yang dapat dinilai dengan uang. Pasal 106 Di Desa dapat dibentuk lembaga lainnya sesuai dengan kebutuhan Desa dan ditetapkan dengan Peraturan Desa. bagi hasil pajak daerah dan retribusi daerah kabupaten/kota. c. (3) (4) Pasal 211 (1) Di desa dapat dibentuk lembaga kemasyarakatan yang ditetapkan dengan peraturan desa dengan berpedoman pada peraturan perundang-undangan. (4) Pelaksanaan Peraturan Desa ditetapkan dengan Keputusan Kepala Desa. pemerintah . 3. bagian dari perolehan pajak dan retribusi Daerah. dan 2.

dan Pasal 214 (1) Desa dapat mengadakan kerja sama untuk kepentingan desa yang diatur dengan keputusan bersama dan dilaporkan kepada Bupati/Walikota melalui camat. Sumber pendapatan Desa. (4) Untuk pelaksanaan kerja sama. pinjaman Desa. (2) Badan usaha milik desa sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berpedoman pada peraturan perundang-undangan. dikelola melalui Anggaran Pendapatan dan Belanja Desa. Tata cara dan pungutan objek pendapatan dan belanja Desa ditetapkan bersama antara Kepala Desa dan Badan Perwakilan Desa. - . dapat dibentuk Badan Kerja Sama. ayat (2). (3) Badan usaha milik desa sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat melakukan pinjaman sesuai peraturan perundangundangan. (6) Pedoman pengelolaan keuangan desa sebagaimana dimaksud pada ayat (5) ditetapkan oleh Bupati/Walikota dengan berpedoman pada peraturan perundangundangan. Pasal 108 Desa dapat memiliki badan usaha sesuai dengan peraturan perundang-undangan. industri. sumbangan dari pihak ketiga. (3) Kerjasama desa dengan pihak ketiga sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat dilakukan sesuai dengan peraturan perundangundangan. pelaksanaan. dan e. provinsi. sebagaimana dimaksud pada ayat (1). e. hibah dan sumbangan dari pihak ketiga. (2) Kerjasama antar desa dan desa dengan pihak ketiga sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan sesuai dengan kewenangannya. 30 Kerja Sama Desa Pasal 109 (1) Beberapa Desa dapat mengadakan kerja sama untuk kepentingan Desa yang diatur dengan keputusan bersama dan diberitahukan kepada Camat. Kepala Desa bersama Badan Perwakilan Desa menetapkan Anggaran Pendapatan dan Belanja Desa setiap tahun dengan Peraturan Desa. dan jasa wajib mengikutsertakan Pemerintah Desa dan Badan Perwakilan Desa dalam perencanaan. Pasal 213 (1) Desa dapat mendirikan badan usaha milik desa sesuai dengan kebutuhan dan potensi desa. (2) Untuk pelaksanaan kerja sama. sebagaimana dimaksud pada ayat (1).(2) (3) (4) (5) d. Pedoman penyusunan Anggaran Pendapatan dan Belanja Desa ditetapkan oleh Bupati. Pasal 110 Pemerintah Kabupaten dan/atau pihak ketiga yang merencanakan pembangunan bagian wilayah Desa menjadi wilayah permukiman. dan pemerintah kabupaten/kota. (5) Pengelolaan keuangan desa sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dilakukan oleh kepala desa yang dituangkan dalam peraturan desa tentang anggaran pendapatan dan belanja desa. dan ayat (3) dapat dibentuk badan kerja sama. (4) Belanja desa sebagaimana dimaksud pada ayat (2) digunakan untuk mendanai penyelenggaraan pemerintahan desa dan pemberdayaan masyarakat desa. sebagaimana dimaksud pada ayat (1).

asal-usul. Peraturan Daerah dan Keputusan Kepala Daerah disampaikan kepada Pemerintah selambat-lambatnya lima belas hari setelah ditetapkan. kepentingan masyarakat desa. wajib mengakui dan menghormati hak. pemberian bimbingan. sebagaimana dimaksud pada ayat (1). keserasian kepentingan antar kawasan dan kepentingan umum. Pasal 111 (1) Pengaturan lebih lanjut mengenai Desa ditetapkan dalam Peraturan Daerah Kabupaten. • Materi mengenai Pembinaan dan Pengawasan Daerah diatur secara lebih rinci dalam UU No. penelitian. atau provinsi. Pasal 113 Dalam rangka pengawasan. Pasal 216 (1) Pengaturan lebih lanjut mengenai desa ditetapkan dalam Perda dengan berpedoman pada Peraturan Pemerintah. Pasal 215 (1) Pembangunan kawasan perdesaan yang dilakukan oleh kabupaten/kota dan atau pihak ketiga mengikutsertakan pemerintah desa dan badan permusyawaratan desa. wajib mengakui dan menghormati hak. d. dan adat istiadat desa. dan e. dan adat istiadat Desa. perencanaan. kelestarian lingkungan hidup. pengembangan. d. (2) Perda.pengawasannya. dan evaluasi pelaksanaan urusan pemerintahan. pemberian pedoman dan standar pelaksanaan urusan pemerintahan. c. (2) Pelaksanaan ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dengan Perda. Pemerintah memfasilitasi penyelenggaraan Otonomi Daerah. koordinasi pemerintahan antarsusunan pemerintahan. pendidikan dan pelatihan. sesuai dengan pedoman umum yang ditetapkan oleh Pemerintah berdasarkan undang-undang ini. kewenangan desa.32 Tahun 2004 31 Pembinaan dan Pengawasan Pemerintahaan Daerah Pasal 112 (1) Dalam rangka pembinaan. (3) Pemberian pedoman dan standar sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b mencakup aspek perencanaan. pemantauan. (2) Pedoman mengenai pembinaan dan pengawasan atas penyelenggaraan Otonomi Daerah ditetapkan dengan Peraturan Pemerintah. supervisi. Pasal 217 (1) Pembinaan atas penyelenggaraan pemerintahan daerah dilaksanakan oleh Pemerintah yang meliputi : a. (2) Koordinasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a dilaksanakan secara berkala pada tingkat nasional. sebagaimana dimaksud pada ayat (1). b. e. regional. dan konsultasi pelaksanaan urusan pemerintahan. tata laksana. . dengan memperhatikan: a. pelaksanaan. c. kelancaran pelaksanaan investasi. (2) Peraturan Daerah. asal-usul. b.

Pemberian bimbingan. Pasal 219 (1) Pemerintah memberikan penghargaan dalam penyelenggaraan pemerintahan daerah. dan masyarakat. pegawai negeri sipil daerah. Pengawasan atas pelaksanaan urusan pemerintahan di daerah. Pelaksanaan ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf d dan huruf e dapat dilakukan kerja sama dengan perguruan tinggi dan/atau lembaga penelitian. . dan kepala desa. Pendidikan dan pelatihan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf d dilaksanakan secara berkala bagi kepala daerah atau wakil kepala daerah. PNS daerah. kepala daerah dan/atau wakil kepala daerah. pemantauan. anggota DPRD. Pengawasan terhadap peraturan daerah dan peraturan kepala daerah. pengembangan. kepala desa. kualitas. anggota DPRD.(4) (5) (6) (7) pendanaan. baik secara menyeluruh kepada seluruh daerah maupun kepada daerah tertentu sesuai dengan kebutuhan. (2) Pengawasan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a dilaksanakan oleh aparat pengawas intern Pemerintah sesuai peraturan perundang-undangan. b. supervisi dan konsultasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf c dilaksanakan secara berkala dan/atau sewaktuwaktu. penelitian. anggota badan permusyawaratan desa. Perencanaan. Pasal 218 (1) Pengawasan atas penyelenggaraan pemerintahan daerah dilaksanakan oleh Pemerintah yang meliputi: a. pengendalian dan pengawasan. (2) Penghargaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diberikan kepada pemerintahan daerah. perangkat daerah. dan evaluasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf e dilaksanakan secara berkala ataupun sewaktu-waktu dengan memperhatikan susunan pemerintahan. perangkat daerah.

norma. (4) Bupati dan walikota dalam pembinaan dan pengawasan sebagaimana dimaksud pada ayat (3) dapat melimpahkan kepada camat.Pasal 220 (1) Sanksi diberikan oleh Pemerintah dalam rangka pengawasan penyelenggaraan pemerintahan daerah. • Dalam UU No. prosedur. (2) Pembinaan dan pengawasan penyelenggaraan pemerintahan daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) untuk kabupaten/kota dikoordinasikan oleh Gubernur. Pasal 223 Pedoman pembinaan dan pengawasan yang meliputi standar. Pasal 222 (1) Pembinaan dan pengawasan penyelenggaraan pemerintahan daerah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 217 dan Pasal 218 secara nasional dikoordinasikan oleh Menteri Dalam Negeri. kepala daerah atau wakil kepala daerah. PNS daerah. (2) Sanksi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diberikan kepada pemerintahan daerah. Presiden dapat membentuk suatu dewan yang bertugas memberikan saran dan . (3) Pembinaan dan pengawasan penyelenggaraan pemerintahan desa dikoordinasikan oleh Bupati/Walikota.32 Tahun 2004 tidak disebutkan lagi mengenai anggota dari Dewan Perimbangan Otonomi Daerah. perangkat daerah. dan kepala desa. anggota DPRD. akan tetapi dalam Undang-undang ini 32 Pertimbangan dalam Kebijakan Otonomi Daerah Pasal 115 (1) Dewan Pertimbangan Otonomi Daerah bertugas memberikan pertimbangan kepada Presiden mengenai: Pasal 224 (1) Dalam rangka penyelenggaraan pemerintahan daerah. Pasal 221 Hasil pembinaan dan pengawasan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 217 dan Pasal 218 digunakan sebagai bahan pembinaan selanjutnya oleh Pemerintah dan dapat digunakan sebagai bahan pemeriksaan oleh Badan Pemeriksa Keuangan. penghargaan. dan sanksi diatur dalam Peraturan Pemerintah.

penghapusan dan penggabungan daerah serta pembentukan kawasan khusus. perimbangan keuangan Pusat dan Daerah. b. pembentukan. kemampuan Daerah Kabupaten dan Daerah Kota untuk melaksanakan kewenangan tertentu. dan c. Menteri Dalam Negeri dan Menteri Keuangan karena jabatannya adalah Ketua dan Wakil Ketua Dewan Pertimbangan Otonomi Daerah. perhitungan bagian masing-masing daerah atas dana bagi hasil pajak dan sumber daya alam sesuai dengan peraturan perundang-undangan. penghapusan. formula dan perhitungan DAU masingmasing daerah berdasarkan besaran pagu DAU sesuai dengan peraturan perundangan. Dewan Pertimbangan Otonomi Daerah mengadakan rapat sekurang-kurangnya satu kali dalam enam bulan. sebagaimana dimaksud dalam Pasal 11.(2) (3) (4) (5) (6) pembentukan. 3. perimbangan keuangan antara Pemerintah dan pemerintahan daerah. Pasal 116 Dalam melaksanakan tugasnya Dewan Pertimbangan Otonomi Daerah dibantu oleh Kepala Sekretariat yang membawahkan Bidang Otonomi Daerah dan Bidang Perimbangan Keuangan Pusat dan Daerah. menteri lain sesuai dengan kebutuhan. Dewan Pertimbangan Otonomi Daerah terdiri atas Menteri Dalam Negeri. (2) Dewan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) bertugas memberikan saran dan pertimbangan kepada Presiden antara lain mengenai rancangan kebijakan: a. 2. b. Menteri Sekretaris Negara. . perwakilan Asosiasi Pemerintah Daerah. DAK masing-masing daerah untuk setiap tahun anggaran berdasarkan besaran pagu DAK dengan menggunakan kriteria sesuai dengan peraturan perundangan. penggabungan. Dewan Pertimbangan Otonomi Daerah bertanggung jawab kepada Presiden. yang meliputi: 1. diatur lebih rinci mengenai tugas dari dewan tersebut. dan pemekaran Daerah. a. dan wakil-wakil Daerah yang dipilih oleh DPRD . Menteri Keuangan. Dewan Pertimbangan Otonomi Daerah ditetapkan dengan Keputusan Presiden. (3) Dewan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dipimpin oleh Menteri Dalam Negeri yang susunan organisasi keanggotaan dan tata laksananya diatur lebih lanjut dengan Peraturan Presiden. pertimbangan terhadap kebijakan otonomi daerah.