MATRIKS PERBANDINGAN UNDANG-UNDANG NO.5 TAHUN 1974 TENTANG POKOK-POKOK PEMERINTAHAN DI DAERAH , UNDANG-UNDANG NO.

22 TAHUN 1999 TENTANG PEMERINTAHAN DAERAH DAN UNDANG-UNDANG NO.32 TAHUN 2004 TENTANG PEMERINTAHAN DAERAH
NO UNDANG-UNDANG NO.5 TAHUN 1974 TENTANG POKOK-POKOK PEMERINTAHAN DI DAERAH (sudah tidak berlaku) Menimbang • Untuk mengganti Undang-Undang No. 18 Tahun 1965 tentang Pokok-Pokok Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Tahun 1965 Nomor 83; Tambahan Lembaran Negara Nomor 2778). • UNDANG-UNDANG NO.22 TAHUN 1999 TENTANG PEMERINTAHAN DAERAH (sudah tidak berlaku) UNDANG-UNDANG NO.32 TAHUN 2004 TENTANG PEMERINTAHAN DAERAH KETERANGAN

1.

Untuk mengganti Undang-Undang No. 5 Tahun 1974 tentang Pokok-Pokok Pemerintahan Daerah dan Undang-Undang tentang Pokok-Pokok Pemerintahan di Daerah dan Undang-Undang No. 5 Tahun 1979 tentang Pemerintahan Desa, karena tidak sesuai lagi dengan prinsip penyelenggaraan otonomi daerah, keadaan

• Untuk mengganti Undang-Undang No. 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah yang tidak sesuai lagi dengan perkembangan Keadaan, ketatanegaraan, dan tuntutan penyelenggaraan otonomi daerah

Undang-Undang No 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah merupakan pengganti dari Undang-Undang No.22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Derah. Undang-Undang No. Tahun 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah merupakan pengganti dari Undang Undang No.5 Tahun 1979 tentang Pemerintahan Desa dan Undang-Undang No. 5 Tahun 1974 tentang Pokok-Pokok Pemerintahan di Daerah.

2.

Mengingat

• • •

Pasal 5 ayat (1), 18, dan 20 Ayat (1) UUD RI Tahun 1945; Ketetapan MPR RI No. IV/MPR/1973 tentang GBHN ; Ketapan MPR RI No. V/MPR/1973 tentang Peninjauan Produk-Produk yang berupa Ketatapan-Ketatapan MPRS-RI; UU No. 10 Tahun 1964 tentang Pernyataan daerah Khusus Ibukota Jakarta Raya sebagai Ibukota Negara Republik Indonesia dengan nama Jakarta; UU Nomor 6 Tahun 1969 tentang Pernyataan tidak berlakunya berbagai Undang-Undang dan Peraturan Pemerintah Pengganti UndangUndang;

• Pasal 1 ayat (1), Pasal 5 ayat (1), Pasal 18, dan Pasal 20 ayat (1) UUD 1945; • Ketetapan MPR- RI No. X/MPR/1998 tentang Pokok-Pokok Reformasi Pembangunan dalam Rangka Penyelamatan dan Normalisasi Kehidupan Nasional sebagai Haluan Negara; • Ketetapan MPR-RI No XI/MPR/1998 tentang Penyelenggara Negara yang Bersih dan Bebas Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme; • Ketetapan MPR-RI No XV/MPR/1998 tentang Penyelenggaraan Otonomi Daerah; Pengaturan, Pembagian dan Pemanfaatan Sumber Daya Nasional yang Berkeadilan; serta Perimbangan Keuangan Pusat dan Daerah dalam Kerangka Negara Kesatuan Republik Indonesia; • UU Nomor 4 Tahun 1999 tentang Susunan dan Kedudukan Majelis Permusyawaratan Rakyat, Dewan Perwakilan Rakyat, dan

• Pasal 1, Pasal 4, Pasal 5, Pasal 18, Pasal 18 A, Pasal 18 B, Pasal 20, Pasal 21, Pasal 22 D, Pasal 23E ayat (2), Pasal 24A ayat (1), Pasal 31 ayat (4), Pasal 33 dan Pasal 34 UUD 1945; • UU No. 28 Tahun 1999 tentang Penyelenggara Negara yang Bersihdan Bebas dari Korupsi, Kolusi dan Nepotismo • UU No. 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara • UU No. 22 Tahun 2003 tentang Susunan Kedudukan Majelis Permusyawaratan Rakyat, Dewan Perwakilan Rakyat, Dewan Perwakilan Daerah dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah • UU No. 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara • UU No. 10 Tahun 2004 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan

-

UU Nomor 16 tahun 1969 tentang Susunan dan Kedudukan MPR, DPR dan DPRD;

Dewan Perwakilan Rakyat Daerah)

• UU No. 15 Tahun 2004 tentang Pemeriksaan Pengelolaan dan Tanggung Jawab Keuangan Negara

3

Pengertian

Pasal 1 1. Pemerintah Pusat; 2. Desentralisasi; 3. Otonomii Daerah; 4. Tugas Pembantuan; 5. Derah Otonom; 6. Dekonsentrasi; 7. Wilayah Administratip; 8. Instansi Vertikal; 9. Pejabat yang Berwenang; 10. Urusan Pemerintahan Umum; 11. Polisi Pamong Praja; 12. Investasi.

Terdapat Semua pengertian yang terdapat dalam UU No.5 Tahun 1974 tentang Pemerintahan Daerah, akan tetapi terdapat penabahan, Pengurangan dan perubahan, yaitu: • Pejabat yang berwenang (perubahan) • Urusan Pemerintahan Umum (pengurangan): • Polisi Pamong Praja (pengurangan); • Pemerintah Daerah (penambahan) ; • Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (penambahan); • Pemerintah Daerah (penambahan) ; • Kecamatan (penambahan) ; • Kelurahan (penambahan) ; • Desa (penambahan) ; • Kawasan Perdesaan (penambahan) ; • Kawasan Perkotaan (penambahan).

Terdapat semua pengertian yang terdapat dalam UU N0. 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah, akan tetapi terdapat beberapa perubahan dan penambahan pengertian, yaitu : • Pejabat yang berwenang (perubahan) ; • Kawasan Perkotaan (perubahan) • Kawasan Pedesaan ( perubahan) • Pemerintah Desa (penambahan) • Badan Perwakilan Desa (penambahan) ; • Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Daerah (penambahan) ; • Dana Perimbangan (penambahan) ; • Keuangan Daerah (penambahan) • APBD (penambahan) ; • Pendapatan Daerah (penambahan) ; • Belanja Daerah (penambahan) ; • Pembiayaan (penambahan) • Pinjaman Daerah (penambahan) • Kawasan Khusus (penambahan) ; • Bakal calon Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah (penambahan) ; • Pasangan Calon Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah (penambahan) ; • Komisi Pemilihan Umum Daerah (penambahan); • Panitia Pemilihan Kecamatan (penambahan); • Kampanye pemilihan kepala daerah dan wakil kepala daerah (penambahan)

Selain adanya tambahan pengertian-pengertian yang secara teknis digunakan dalam Pemerintahan Daerah, terdapat juga perbedaan pendefinisian tentang : Pejabat yang berwenang : • dalam UU Nomor 5 Tahun 1974, Pejabat Yang Berwenang adalah pejabat yang berwenang mensahkan, membatalkan dan menangguhkan Peraturan Daerah atau Keputusan Kepala Daerah, yaitu Mendagri bagi Daerah Tingkat I dan Gubernur Kepala Daerah bagi daerah Tingkat II, sesuai peraturan perundang-perundangan yang berlaku ; • dalam UU No 22 Tahun 1999 Pejabat Yang Berwenang adalah , pejabat Pemerintah di tingkat Pusat dan atau pejabat Pemerintah di Daerah Propinsi yang berwenang membina dan mengawasi penyelenggaraan Pemerintahan Daerah • dalam UU No 32 Tahun 2004 Pejabat Yang Berwenang adalah Pejabat Pemerintah yang berwenang mengesahkan atau menyetujui, menangguhkan dan membatalkan kebijakan daerah dan/atau mengangkat, memberhentikan, mengesahkan, menyetujui, membina dan mengawasi pelaksana penyelenggaraan Pemerintah Daerah dan/atau pejabat pemerintah pada pemerintahan Daerah Provinsi yang berwenang membina dan mengwasai pelaksanaan penyelenggaraan pemerintahan daerah Kabupaten dan Kota. UU No. 32 tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah memberikan pengertian yang lebih lengkap dan jelas dari Undang-Undang sebelumnya sehingga tidak menimbulkan penafsiran yang berbeda.

4

Pembagian Wilayah

Pasal 2 Pembagian Wilayah : Dalam menyelenggarakan Pemerintahan, wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia dibagi dalam Daerah-Daerah Otonom dan Wilayah-Wilayah Administratip. Pasal 72 (1) Dalam rangka pelaksanaan azas dekonsentrasi, wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia dibagi dalam Wilayah-wilayah Propinsi dan Ibu kota Negara. (2) Wilayah Propinsi dibagi dalam Wilayahwilayah Kabupaten dan Kota madya. (3) Wilayah Kabupaten dan Kotamadya dibagi dalam Wilayah-wilayah Kecamatan. (4) Apabila dipandang perlu sesuai dengan pertumbuhan dan perkembangannya, dalam Wilayah Kabupaten dapat dibentuk Kota Administratip yang pengaturannya ditetapkan dengan Peraturan Pemerintah. Pasal 73 Apabila dipandang perlu, Menteri Dalam Negeri dapat menunjuk Pembantu Gubernur, Pembantu Bupati atau Pembantu Walikotamadya yang mempunyai wilayah kerja tertentu dalam rangka dekonsentrasi. Pasal 74 (1) Nama dan batas Daerah Tingkat I adalah sama dengan nama dan batas Wilayah Propinsi atau Ibukota Negara. (2) Nama dan batas Daerah Tingkat II adalah sama dengan nama dan batas Wilayah Kabupaten atau Kotamadya. (3) Ibukota Daerah Tingkat I adalah ibukota Wilayah Propinsi. (4) Ibukota Daerah Tingkat II adalah ibukota Wilayah Kabupaten. Pasal 75 Dengan tidak mengurangi ketentuan yang dimaksud dalam Pasal 74 Undang-undang

Pasal 2 Pembagian Wilayah : (1). Wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia dibagi dalam Daerah Propinsi, Daerah Kabupaten, dan Daerah Kota yang bersifat otonom. (2). Daerah Propinsi berkedudukan juga sebagai Wilayah Administrasi. Pasal 3 Wilayah Daerah Propinsi, sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (1), terdiri atas wilayah darat dan wilayah laut sejauh dua belas mil laut yang diukur dari garis pantai ke arah laut lepas dan atau ke arah perairan kepulauan.

Pasal 2 : Negara Kesatuan republik Indonesia dibagi atas daerah-daerah provinsi dan daerah provinsi itu dibagi atas kabupaten dan kota yang masingmasing mempunyai pemerintahan daerah. Pemerintah daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) mengatur dan mengurus sendiri urusan pemerintah menurut asas otonomi dan tugas pembantuan.

• Dalam UU No.5 tahun 1974 mengenai pembagian wilayah diuraikan secara lebih lanjut dalam pasal-pasal dan ayat-ayat tersendiri

sebutan. ibukota. cakupan wilayah. (2) Undang-undang pembentukan daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) antara lain mencakup nama. dan penghapusan Wilayah Umumnya diatur dengan Peraturan Pemerintah. sosial-politik. batas. pendanaan. sebagaimana dimaksud pada ayat (1). pembinaan kestabilan politik dan kesatuan Bangsa dalam rangka pelaksanaan Otonomi Daerah yang nyata dan bertanggunggjawab. Pasal 4 (1) Pembentukan daerah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (1) ditetapkan dengan undang-undang. jumlah penduduk. perubahan nama Daerah. ibukota. ibukota. Pasal 5 (1) Pembentukan daerah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 harus memenuhi syarat administratif. luas Daerah. pengisian keanggotaan DPRD. ekonomi. (2) Daerah dapat dimekarkan menjadi lebih dari satu Daerah. dan fisik kewilayahan. serta perubahan nama dan pemindahan ibukotanya ditetapkan dengan Peraturan Daerah. batas. kewenangan menyelenggarakan urusan pemerintahan. (2) Daerah-daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1). dan dokumen. batas. dan pertimbangan lain yang memungkinkan terselenggaranya Otonomi Daerah. teknis. (3) Perubahan batas yang tidak mengakibatkan penghapusan suatu Daerah. perubahan nama daerah.ini. serta rekomendasi Menteri Dalam Negeri. potensi Daerah. Pasal 5 (1) Daerah dibentuk berdasarkan pertimbangan kemampuan ekonomi. (2) (3) . 5 Pembentukan dan Susunan daerah otonom Pasal 3 Dalam rangka pelaksanaan asas desentralisasi dibentuk dan disusun Daerah Tingkat I dan Daerah Tingkat II Perkembangan dan pengembangan otonomi selanjutnya didasarkan pada kondisi politik. (4) Pemekaran dari satu daerah menjadi 2 (dua) daerah atau lebih sebagaimana dimaksud pada ayat (3) dapat dilakukan setelah mencapai batas minimal usia penyelenggaraan pemerintahan. (2) Pembentukan nama. ditetapkan dengan Undang-Undang. dan Daerah Kota yang berwenang mengatur dan mengurus kepentingan masyarakat setempat menurut prakarsa sendiri berdasarkan aspirasi masyarakat. 34 Tahun 2004 diatur secara lebih terperinci dan jelas mengani syarat-syarat pembentukan suatu daerah otonom. masing-masing berdiri sendiri dan tidak mempunyai hubungan hierarki satu sama lain. peralatan. Syarat administratif sebagaimana dimaksud pada ayat (1) untuk kabupaten/kota meliputi adanya persetujuan DPRD kabupaten/kota • Ketiga undang-undang tersebut menyebutkan secara tegas bahwa pembentukan daerah otonom dlakukan dalam rangka pelaksanaan asas desentralisasi. batas. serta perubahan nama dan pemindahan ibukota Daerah ditetapkan dengan Peraturan Pemerintah. jumlah penduduk. dan ibukota sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditetapkan dengan Undang-Undang. pertahanan dan kemanan nasional dan syarat-syarat lain yang memungkinkan Daerah melaksanakan pembangunan. (3) Pembentukan daerah dapat berupa penggabungan beberapa daerah atau bagian daerah yang bersandingan atau pemekaran dari satu daerah menjadi dua daerah atau lebih. dn tujuan dari pembentukan daerah otonom tresbut. • Dalam UU No. Pasal 6 (1) Daerah yang tidak mampu menyelenggarakan Otonomi Daerah dapat dihapus dan atau digabung dengan Daerah lain. Daerah Kabupaten. sosial-budaya. maka pembentukan. pengalihan kepegawaian. Syarat administratif sebagaimana dimaksud pada ayat (1) untuk provinsi meliputi adanya persetujuan DPRD kabupaten/kota dan Bupati/Walikota yang akan menjadi cakupan wilayah provinsi. persetujuan DPRD provinsi induk dan Gubernur. (3) Kriteria tentang penghapusan. ditetapkan dengan Peraturan Pemerintah. Pasal 4 (1) Dalam rangka pelaksanaan asas Desentralisasi dibentuk dan disusun Daerah Propinsi. nama. sosial-budaya serta pertahanan dan keamanan nasional Pasal 4 (1) Daerah dibentuk dengan memperhatikan syarat-syarat kemampuan ekonomi. serta perangkat daerah. luas daerah. nama. penunjukan penjabat kepala daerah. hak dan wewenang urusan serta modal pangkal Daerah yang dimaksud pada ayat (1) pasal ini. (2) Pembentukan. (3) Perubahan batas yang tidak mengakibatkan penghapuan suatu Daerah. (4) Syarat-syarat pembentukan Daerah.

sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2). perubahan nama daerah. ditetapkan dengan Peraturan Pemerintah. (2) (3) Pasal 7 (1) Penghapusan dan penggabungan daerah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 ayat (2) beserta akibatnya ditetapkan dengan undang-undang. keamanan. sosial politik. ditetapkan dengan Undang-undang (4) (5) dan Bupati/Walikota yang bersangkutan. atau pemindahan ibukota yang tidak mengakibatkan penghapusan suatu daerah ditetapkan dengan Peraturan Pemerintah. Syarat fisik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi paling sedikit 5 (lima) kabupaten/kota untuk pembentukan provinsi dan paling sedikit 5 (lima) kecamatan untuk pembentukan kabupaten. Penghapusan dan penggabungan daerah otonom dilakukan setelah melalui proses evaluasi terhadap penyelenggaraan pemerintahan daerah. Pedoman evaluasi sebagaimana dimaksud pada ayat (2) diatur dalam Peraturan Pemerintah. Perubahan batas suatu daerah.(4) penggabungan. sosial budaya. dan 4 (empat) kecamatan untuk pembentukan kota. (2) . lokasi calon ibukota. pertahanan. kependudukan. Penghapusan. luas daerah. sarana. pemberian nama bagian rupa bumi serta perubahan nama. dan prasarana pemerintahan. Syarat teknis sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi faktor yang menjadi dasar pembentukan daerah yang mencakup faktor kemampuan ekonomi. Pasal 6 (1) Daerah dapat dihapus dan digabung dengan daerah lain apabila daerah yang bersangkutan tidak mampu menyelenggarakan otonomi daerah. dan faktor lain yang memungkinkan terselenggaranya otonomi daerah. persetujuan DPRD provinsi dan Gubernur serta rekomendasi Menteri Dalam Negeri. penggabungan dan pemekaran Daerah. sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2). potensi daerah. dan pemekaran Daerah.

(2). Tata cara penetapan kawasan khusus sebagaimana dimaksud pada ayat (1).(3) Perubahan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dilakukan atas usul dan persetujuan daerah yang bersangkutan. Pemerintah dapat menetapkan kawasan khusus dalam wilayah provinsi dan/atau kabupaten/kota. Dalam menyelenggarakan urusan pemerintahan yang menjadi kewenangan daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1). berwenang dan berkewajiban mengatur dan mengurus rumah tangganya sendiri sesuai dengan ketentuan perundangundangan yang berlaku. • UU No 32 Tahun 2004 disebutkan secara tegas pembagian urusan pemerintahan yang menjadi kewenangan Propinsi dan yang menjadi kewenangan Kabupaten/Kota. Fungsi pemerintahan tertentu selain sebagaimana dimaksud pada ayat (2) diatur dengan Peraturan Pemerintah. agama. dan ayat (5) diatur dalam Peraturan Pemerintah. • UU No 22 Tahun 1999 dan UU No. serta kewenangan bidang lain. Pasal 5. Untuk membentuk kawasan khusus sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dan ayat (3). Penambahan pemerintahan penyerahan kepala urusan Daerah Pasal 7 (1). Pasal 8 (1). Pemerintah mengikutsertakan daerah yang bersangkutan. Daerah dapat mengusulkan pembentukan kawasan khusus sebagaimana dimaksud pada ayat (1) kepada Pemerintah. kecuali kewenangan dalam bidang politik luar negeri. dan mengatur pula (2) (3) (4) (5) (6) 5 Penyelenggaraan Otonomi Daerah Pasal 7 Daerah berhak. Pasal 8 Tata cara pembentukan. meliputi kebijakan Pasal 10 (1) Pemerintahan daerah menyelenggarakan urusan pemerintahan yang menjadi kewenangannya. peradilan. Kewenangan bidang lain. ayat (4). kecuali urusan pemerintahan yang oleh Undang-Undang ini ditentukan menjadi urusan Pemerintah. ayat (3). pemerintahan daerah (2) . 32 Tahun 2004 mengatur lebih rinci mengenai urusan pemerintahan yang menjadi kewenangan daerah. ayat (2). Fungsi pemerintahan tertentu sebagaimana dimaksud pada ayat (1) untuk Perdagangan bebas dan/atau pelabuhan bebas ditetapkan dengan undang-undang. moneter dan fiskal. penghapusan. sebagaimana dimaksud pada ayat (1). pertahanan keamanan. Kewenangan Daerah mencakup kewenangan dalam seluruh bidang pemerintahan. Pasal 9 (1) Untuk menyelenggarakan fungsi pemerintahan tertentu yang bersifat khusus bagi kepentingan nasional. dan penggabungan daerah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4. dan Pasal 6 diatur dengan Peraturan Pemerintah.

(2) Penyelenggaraan urusan pemerintahan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) merupakan pelaksanaan hubungan kewenangan antara Pemerintah dan pemerintahan daerah provinsi. Kewenangan Pemerintahan yang dilimpahkan kepada Gubernur dalam rangka dekonsentrasi harus disertai dengan pembiayaan sesuai dengan kewenangan yang dilimpahkan tersebut. disertai perangkat. akuntabilitas. Dalam menyelenggarakan urusan pemerintahan sebagaimana dimaksud pada ayat (3).5. menugaskan sebagian urusan kepada pemerintahan daerah dan/atau pemerintahan desa berdasarkan asas tugas pembantuan. Untuk memberikan pertimbangan – pertimbangan kepada presiden tentang hal-hal yang dimaksud dalam pasal 4. (3). d. Urusan pemerintahan yang menjadi urusan Pemerintah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi: a. tentang perencanaan nasional dan pengendalian pembangunan nasional secara makro. Kewenangan Propinsi sebagai Daerah Otonom mencakup kewenangan dalam bidang pemerintahan yang bersifat lintas Kabupaten dan Kota. pembinaan dan pemberdayaan sumber daya manusia. serta sumber daya manusia sesuai dengan kewenangan yang diserahkan tersebut. (2). dan efisiensi dengan memperhatikan keserasian hubungan antar susunan pemerintahan. disertai dengan pembiayaanya. agama. menyelenggarakan sendiri sebagian urusan pemerintahan. Peraturan mengenai Dewan Pertimbangan Otonomi Daerah ditetapkan dengan Peraturan Perundang-undangan Pasal 11 (1). (2). Penambahan penyerahan urusan yang dimaksud dalam ayat (1) pasal ini. (2). dan standardisasi nasional. dana perimbangan keuangan. Pasal 8 (1). mengenai hubungan antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah. Pemberian urusan tugas pembantuan yang dimaksud dalam ayat-ayat (1) dan (2) pasal ini. Pemerintah dapat: a. politik luar negeri. Pasal 9 (1). Pasal 10 (1). moneter dan fiskal nasional. f. serta kewenangan dalam bidang pemerintahan tertentu lainnya. Dengan peraturan perundangundangan. keamanan. Kewenangan Propinsi sebagai Wilayah Administrasi mencakup kewenangan dalam bidang pemerintahan yang dilimpahkan kepada Gubernur selaku wakil Pemerintah. alat perlengkapan dan sumber pembiayaannya. konservasi. Kewenangan Propinsi sebagai Daerah Otonom termasuk juga kewenangan yang tidak atau belum dapat dilaksanakan Daerah Kabupaten dan Daerah Kota. Pemerintah dapat menugaskan kepada Pemerintah Daerah untuk melaksanakan urusan tugas pembantuan. melimpahkan sebagian urusan pemerintahan kepada Gubernur selaku wakil Pemerintah. Titik berat Otonomi Daerah diletakkan pada Daerah Tingkat II (2).8 dan 9 Undang-Undang ini dibentuk Dewan Otonomi Daerah. e. Pasal 11 (1) Penyelenggaraan urusan pemerintahan dibagi berdasarkan kriteria eksternalitas. atau c. (3). Pasal 12 (1). sarana dan prasarana. pendayagunaan sumber daya alam serta teknologi tinggi yang strategis. Pasal 9 Sesuatu urusan pemerintahan yang telah diserahkan kepada Daerah dapat ditarik kembali dengan peraturan perundangundangan yang setingkat. Pemerintah menyelenggarakan sendiri atau dapat melimpahkan sebagian urusan pemerintahan kepada perangkat Pemerintah atau wakil Pemerintah di daerah atau dapat menugaskan kepada pemerintahan daerah dan/atau pemerintahan desa. Dalam urusan pemerintahan yang menjadi kewenangan Pemerintah di luar urusan pemerintahan sebagaimana dimaksud pada ayat (3). Dengan Peraturan Daerah. b.ditetapkan dengan Peraturan Pemerintah. yustisi. Pelaksanaan ketentuan yang dimaksud dalam ayat (1) pasal ini diatur dengan Peraturan Pemerintah. Pemerintah Daerah Tingkat I dapat menugaskan kepada Pemerintah Daerah Tingkat II untuk melaksanakan urusan tugas pembantuan. sistem administrasi negara dan lembaga perekonomian negara. c. (2). Pasal 10 (1) Daerah berwenang mengelola sumber daya nasional yang tersedia di wilayahnya dan bertanggung jawab memelihara kelestarian lingkungan sesuai dengan peraturan perundang-undangan. b. Kewenangan Pemerintahan yang diserahkan kepada Daerah dalam rangka desentralisasi harus disertai dengan penyerahan dan pengalihan pembiayaan. (3) (4) (5) menjalankan otonomi seluas-luasnya untuk mengatur dan mengurus sendiri urusan pemerintahan berdasarkan asas otonomi dan tugas pembantuan. pertahanan. (2). kabupaten dan .

pelayanan bidang ketenagakerjaan lintas kabupaten/kota. Pasal 11 (1). pertanahan. serta kepegawaian sesuai dengan urusan yang didesentralisasikan. perencanaan. usaha kecil. (4) Penyelenggaraan urusan pemerintahan yang bersifat wajib yang berpedoman pada standar pelayanan minimal dilaksanakan secara bertahap dan ditetapkan oleh Pemerintah. dan menengah termasuk lintas kabupaten/kota. kota atau antarpemerintahan daerah yang saling terkait. kesehatan. pengalihan sarana dan prasarana. pengaturan tata ruang. meliputi : a. f. h. (2) Urusan pemerintahan yang dilimpahkan kepada Gubernur disertai dengan pendanaan sesuai dengan urusan yang didekonsentrasikan. (2). g. penyediaan sarana dan prasarana umum. dan pengelolaan kekayaan laut sebatas wilayah laut tersebut. dan sinergis sebagai satu sistem pemerintahan. c. bantuan penegakan keamanan dan kedaulatan negara. pendidikan dan kebudayaan. (3) Urusan pemerintahan yang menjadi kewenangan pemerintahan daerah. e. koperasi. eksploitasi.(2) Kewenangan Daerah di wilayah laut. industri dan perdagangan. Pasal 13 (1) Pemerintah dapat menugaskan kepada Daerah tugas-tugas tertentu dalam rangka tugas pembantuan disertai pembiayaan. tergantung. penegakan hukum terhadap peraturan yang dikeluarkan oleh Daerah atau yang dilimpahkan kewenangannya oleh Pemerintah. pengaturan kepentingan administratif. . j. dan pengawasan tata ruang. dan tenaga kerja. konservasi. Pasal 12 (1) Urusan pemerintahan yang diserahkan kepada daerah disertai dengan sumber pendanaan. Kewenangan Daerah Kabupaten dan Daerah Kota mencakup semua kewenangan pemerintahan selain kewenangan yang dikecualikan dalam Pasal 7 dan yang diatur dalam Pasal 9. penanganan bidang kesehatan. sebagaimana dimaksud pada ayat (2). d. b. Bidang pemerintahan yang wajib dilaksanakan oleh Daerah Kabupaten dan Daerah Kota meliputi pekerjaan umum. penyelenggaraan ketertiban umum dan ketentraman masyarakat. (4) Pengaturan lebih lanjut mengenai ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) ditetapkan dengan Peraturan Pemerintah. dan e. penanaman modal. adalah sejauh sepertiga dari batas laut Daerah Propinsi. penanggulangan masalah sosial lintas kabupaten/kota. pengendalian lingkungan hidup. c. pemanfaatan. perhubungan. pertanian. i. b. terdiri atas urusan wajib dan urusan pilihan. eksplorasi. fasilitasi pengembangan koperasi. perencanaan dan pengendalian pembangunan. penyelenggaraan pendidikan dan alokasi sumber daya manusia potensial. Pasal 12 Pengaturan lebih lanjut mengenai ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 dan Pasal 9 ditetapkan dengan Peraturan Pemerintah. d. sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3. lingkungan hidup. (3) Kewenangan Daerah Kabupaten dan Daerah Kota di wilayah laut. yang diselenggarakan berdasarkan kriteria sebagaimana dimaksud pada ayat (1). Pasal 13 (1) Urusan wajib yang menjadi kewenangan pemerintahan daerah provinsi merupakan urusan dalam skala provinsi yang meliputi: a.

serta sumber daya manusia dengan kewajiban melaporkan pelaksanaannya dan mempertanggungjawabkannya kepada Pemerintah. usaha kecil dan menengah. pelayanan pertanahan. pengendalian lingkungan hidup. m. penyelenggaraan pelayanan dasar lainnya. l. pelayanan bidang ketenagakerjaan. fasilitasi pengembangan koperasi. pelayanan kependudukan. dan catatan sipil. urusan wajib lainnya yang diamanatkan oleh peraturan perundangundangan. penanggulangan masalah sosial. k. pelayanan administrasi penanaman modal. perencanaan dan pengendalian pembangunan. penyelenggaraan pendidikan. (2) Urusan pemerintahan provinsi yang bersifat pilihan meliputi urusan pemerintahan yang secara nyata ada dan berpotensi untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat sesuai dengan kondisi. dan catatan sipil. Pasal 14 (1) Urusan wajib yang menjadi kewenangan pemerintahan daerah untuk kabupaten/kota merupakan urusan yang berskala kabupaten/kota meliputi: a. pelayanan kependudukan. c. d. perencanaan. dan pengawasan tata ruang. pelayanan administrasi umum pemerintahan. i. f. g. o. n. ditetapkan dengan peraturan perundang-undangan k. e. Setiap penugasan. pelayanan pertanahan termasuk lintas kabupaten/kota. penanganan bidang kesehatan. n. penyelenggaraan pelayanan dasar lainnya yang belum dapat dilaksanakan oleh kabupaten/kota. dan potensi unggulan daerah yang bersangkutan.pelayanan administrasi umum pemerintahan. penyelenggaraan ketertiban umum dan ketentraman masyarakat.(2) sarana dan prasarana. kekhasan. o. pemanfaatan. j. penyediaan sarana dan prasarana umum. h. dan . b. l. m. sebagaimana dimaksud pada ayat (1). pelayanan administrasi penanaman modal termasuk lintas kabupaten/kota.

kekhasan. d. dan c. Pasal 13 dan Pasal 14 ayat (1) dan ayat (2) diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah. (3) Pasal 16 . dan potensi unggulan daerah yang bersangkutan. Pasal 15 (1) Hubungan dalam bidang keuangan antara Pemerintah dan pemerintahan daerah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (4) dan ayat (5) meliputi: a. pemberian pinjaman dan/atau hibah kepada pemerintahan daerah. urusan wajib lainnya yang diamanatkan oleh peraturan perundang-undangan. c. (2) Hubungan dalam bidang keuangan antarpemerintahan daerah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (4) dan ayat (5) meliputi: a. b. Hubungan dalam bidang keuangan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) diatur dalam peraturan perundangundangan. pemberian sumber-sumber keuangan untuk menyelenggarakan urusan pemerintahan yang menjadi kewenangan pemerintahan daerah. pembiayaan bersama atas kerja sama antardaerah. Pasal 12.(2) (3) p. Pasal 11. pinjaman dan/atau hibah antar pemerintahan daerah. pendanaan urusan pemerintahan yang menjadi tanggung jawab bersama. bagi hasil pajak dan nonpajak antara pemerintahan daerah provinsi dan pemerintahan daerah kabupaten/kota. Pelaksanaan ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 10. Urusan pemerintahan kabupaten/kota yang bersifat pilihan meliputi urusan pemerintahan yang secara nyata ada dan berpotensi untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat sesuai dengan kondisi. b. pengalokasian dana perimbangan kepada pemerintahan daerah.

(1) Hubungan dalam bidang pelayanan umum antara Pemerintah dan pemerintahan daerah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (4) dan ayat (5) meliputi: a. Pasal 17 (1) Hubungan dalam bidang pemanfaatan sumber daya alam dan sumber daya lainnya antara Pemerintah dan pemerintahan daerah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (4) dan ayat (5) meliputi: a. kewenangan. fasilitasi pelaksanaan kerja sama antarpemerintahan daerah dalam penyelenggaraan pelayanan umum. penyerasian lingkungan dan tata ruang serta rehabilitasi lahan. budidaya. b. bagi hasil atas pemanfaatan sumber daya alam dan sumber daya lainnya. (2) Hubungan dalam bidang pelayanan umum antarpemerintahan daerah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (4) dan ayat (5) meliputi: a. pe-ngendalian dampak. (2) Hubungan dalam bidang pemanfaatan sumber daya alam dan sumber daya lainnya antarpemerintahan daerah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (4) dan ayat (5) meliputi: . pengelolaan perizinan bersama bidang pelayanan umum. pelaksanaan bidang pelayanan umum yang menjadi kewenangan daerah. (3) Hubungan dalam bidang pelayanan umum sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) diatur dalam peraturan perundangundangan. pengalokasian pendanaan pelayanan umum yang menjadi kewenangan daerah.tanggungjawab. dan c. pemeliharaan. dan c. dan penentuan standar pelayanan minimal. b. tanggung jawab. dan pelestarian. b. dan c. pemanfaatan. kewenangan. kerja sama antarpemerintahan daerah dalam penyelenggaraan pelayanan umum.

c. dan pengelolaan kekayaan laut. pelaksanaan pemanfaatan sumber daya alam dan sumber daya lainnya yang menjadi kewenangan daerah. . eksploitasi. konser-vasi. ikut serta dalam pertahanan kedaulatan negara. d. penegakan hukum terhadap pera-turan yang dikeluarkan oleh daerah atau yang dilimpahkan kewenangannya oleh Pemerintah. dan f. (4) Kewenangan untuk mengelola sumber daya di wilayah laut sebagaimana dimaksud pada ayat (3) paling jauh 12 (dua belas) mil laut diukur dari garis pantai ke arah laut lepas dan/atau ke arah perairan kepulauan untuk provinsi dan 1/3 (sepertiga) dari wilayah kewenangan provinsi untuk kabupaten/kota. Pasal 18 (1) Daerah yang memiliki wilayah laut diberikan kewenangan untuk mengelola sumber daya di wilayah laut. (3) Kewenangan daerah untuk mengelola sumber daya di wilayah laut sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi: a. e. kerja sama dan bagi hasil atas pemanfaatan sumber daya alam dan sumber daya lainnya antarpemerintahan daerah. dan c. pengelolaan perizinan bersama dalam pemanfaatan sumber daya alam dan sumber daya lainnya. ikut serta dalam pemeliharaan keamanan. (3) Hubungan dalam bidang pemanfaatan sumber daya alam dan sumber daya lainnya sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) diatur dalam peraturan perundangundangan. pengaturan tata ruang. pengaturan administratif. b. b.a. (2) Daerah mendapatkan bagi hasil atas pengelolaan sumber daya alam di bawah dasar dan/atau di dasar laut sesuai dengan peraturan perundang-undangan. eksplorasi.

kewenangan untuk mengelola sumber daya di wilayah laut dibagi sama jarak atau diukur sesuai prinsip garis tengah dari wilayah antar 2 (dua) provinsi tersebut. asas efektivitas. (7) Pelaksanaan ketentuan sebagai-mana dimaksud pada ayat (1). (2) Dalam menyelenggarakan pemerintahan. b. asas profesionalitas. e. asas kepastian hukum. Pemerintah menggunakan asas desentralisasi. dan oleh menteri negara. asas keterbukaan.(5) Apabila wilayah laut antara 2 (dua) provinsi kurang dari 24 (dua puluh empat) mil. Pasal 20 (1) Penyelenggaraan pemerintahan berpedoman pada Asas Umum Penyelenggaraan Negara yang terdiri atas: a. ayat (3). asas akuntabilitas. h. d. asas tertib penyelenggara negara. dan dekonsentrasi sesuai dengan peraturan perundang-undangan. (3) Dalam menyelenggarakan pemerintahan daerah. ayat (4). Pasal 19 (1) Penyelenggara pemerintahan adalah Presiden dibantu oleh 1 (satu) orang wakil Presiden. c. dan i. dan ayat (5) diatur lebih lanjut dalam peraturan perundang-undangan 6 Penyelenggara Pemerintahan Pasal 13 (1) Pemerintah Daerah adalah Kepala Daerah dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah. asas efisiensi. f. pemerintahan daerah menggunakan asas otonomi dan tugas pembantuan. dan untuk kabupaten/kota memperoleh 1/3 (sepertiga) dari wilayah kewenangan provinsi dimaksud. asas kepentingan umum. g. (2) Dalammenyelenggarakan pemerintahan Daerah dibentuk Sekretariat Daerah dan Dinas-dinas Daerah. • UU No. (6) Ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (4) dan ayat (5) tidak berlaku terhadap penangkapan ikan oleh nelayan kecil. asas proporsionalitas. 32 Tahun 2004 mengatur mengenai asas umum dalam penyelenggaraan negara dan hak dan kewajiban dari setiap daerah yang menyelenggarakan otonomi daerah . tugas pembantuan. (2) Penyelenggara pemerintahan daerah adalah pemerintah daerah dan DPRD.

kesatuan dan kerukunan nasional. g. h. menyediakan fasilitas pelayanan kesehatan. serta keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia. dan h. mengelola aparatur daerah. b. menyediakan fasilitas sosial dan fasilitas umum yang layak. g. mengelola administrasi kepen-dudukan. Pasal 22 Dalam menyelenggarakan otonomi. n. e. l. f. d. daerah mempunyai hak: a. memilih pimpinan daerah. memungut pajak daerah dan retribusi daerah. mengatur dan mengurus sendiri urusan pemerintahannya. melestarikan lingkungan hidup. c. mewujudkan keadilan dan pemerataan.Pasal 21 Dalam menyelenggarakan otonomi. i. membentuk dan menerapkan peraturan perundang-undangan sesuai dengan kewenangannya. j. m. menyusun perencanaan dan tata ruang daerah. meningkatkan pelayanan dasar pendidikan. mengembangkan kehidupan demokrasi. melestarikan nilai sosial budaya. mengelola kekayaan daerah. mendapatkan hak lainnya yang di-atur dalam peraturan perundang-undangan. mendapatkan sumber-sumber pendapatan lain yang sah. mengembangkan sistem jaminan sosial. c. b. meningkatkan kualitas kehidupan masyarakat. mengembangkan sumber daya produktif di daerah. k. menjaga persatuan. dan . melindungi masyarakat. f. mendapatkan bagi hasil dari pengelolaan sumber daya alam dan sumber daya lainnya yang berada di daerah. d. daerah mempunyai kewajiban: a. e.

b. untuk kabupaten disebut wakil bupati dan untuk kota disebut wakil walikota. untuk kabupaten disebut bupati. Propinsi dan Ibukota Negara disebut Gubernur. Pasal 58 Calon Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah adalah warga negara Republik Indonesia yang memenuhi syarat: a. b. (2) Dalam menjalankan tugas dan kewenangan sebagai Kepala Daerah. bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. • Dalam ketiga undang-undang tersebut terdapat perbedaan mengenai syarat-syarat calon kepala daerah diantaranya: 1. Pasal 78 Dalam menjalankan tugasnya. adil. ditetapkan oleh Pemerintah. (4) Wakil kepala daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (3) untuk provinsi disebut wakil Gubernur. sebagaimana dimaksud pada ayat (2). efektif. b. Gubernur berada di bawah dan bertanggung jawab kepada Presiden. cita-cita . belanja. kewajiban lain yang diatur dalam peraturan perundang-undangan. patut. Dalam UU No 22 Tahun 1999 dan UU No 32 syarat minimum 7 Kepala Daerah Pasal 76 Setiap Wilayah dipimpin oleh seorang Kepala Wilayah. (2) Pengelolaan keuangan daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan secara efisien. Pembatasan masa jabatan Dalam UU No 5 Tahun 1974 dan UU No 22 Tahun 1999 tidak ada pembatasan masa jabatan sedangkan dalam UndangUndang No 32 Tahun 2004 terdapat pembatasan masa jabatan adalah 2 kali dalam jabatan yang sama 3. c. Kotamadya disebut Wahkotamadya. Pasal 23 (1) Hak dan kewajiban daerah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 21 dan Pasal 22 diwujudkan dalam bentuk rencana kerja pemerintahan daerah dan dijabarkan dalam bentuk pendapatan. (3) Kepala daerah sebagaimana di-maksud pada ayat (1) dibantu oleh satu orang wakil kepala daerah. Kota Administratip disebut Walikota. Kabupaten disebut Bupati. Kota Administratip bertanggung jawab kepada Kepala Wilayah Kabupaten yang bersangkutan . d. tertib. dan taat pada peraturan perundang-undangan. Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. sebagaimana dimaksud pada ayat (4). Kabupaten atau Kotamadya bertanggung jawab kepada Kepala Wilayah Propinsi yang bersangkutan . (3) Dalam menjalankan tugas dan kewenangan Pasal 24 (1) Setiap daerah dipimpin oleh kepala pemerintah daerah yang disebut kepala daerah. (3) Tata cara pelaksanaan pertanggungjawaban. Dalam Undang-Undang No 5 Tahun 1974 disebutkan bahwa minimum pendidikan ádalah Sarjana bagi calon kepala daerah Tingkat I dan SMU bagi calon kepala daerah tingkat II. setia kepada Pancasila sebagai Dasar Negara. transparan. Pembatasan umur minimum Dalam Undang-Undang No 5 Tahun 1974 dijelaskan bahwa umur minimum kepala daerah hádala 35 tahun bagi calon kepala daerah tingkat I dan 30 tahun bagi calon kepala daerah tingkat II.o. Pasal 31 (1) Kepala Daerah Propinsi disebut Gubernur. (2) Kepala daerah sebagaimana di-maksud pada ayat (1) untuk provinsi disebut Gubernur. Kecamatan bertanggungjawab kepada Kepala Wilayah Kabupaten atau Kotamadya atau Kota Administratip yang bersangkutan b. Propinsi atau Ibukota Negara bertanggung jawab kepada Presiden Pasal 30 Setiap Daerah dipimpin oleh seorang Kepala Daerah sebagai kepala eksekutif yang dibantu oleh seorang Wakil Kepala Daerah. yang karena jabatannya adalah juga sebagai wakil Pemerintah. dan pembiayaan daerah yang dikelola dalam sistem pengelolaan keuangan daerah. Pembatasan minimum pendidikan. (2) Kepala Daerah Kota disebut Walikota. c. Kepala Wilayah: a. sedangkan dalam Undang-Undang No 22 Tahun 1999 dan Undang-Undang No 32 Tahun 2004 mensyaratkan bahwa umur minimum calon kepala daerah ádalah 30 tahun 2. akuntabel. Pasal 77 Kepala Wilayah : a. (5) Kepala daerah dan wakil kepala daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dan ayat (3) dipilih dalam satu pasangan secara langsung oleh rakyat di daerah yang bersangkutan. (5) Tata cara pelaksanaan pertanggungjawaban. ditetapkan dengan Peraturan Tata Tertib DPRD sesuai dengan pedoman yang ditetapkan oleh Pemerintah. Pasal 32 (1) Kepala Daerah Kabupaten disebut Bupati. Gubernur bertanggung jawab kepada DPRD Propinsi. (4) Dalam kedudukan sebagai wakil Pemerintah. d. dan untuk kota disebut walikota. Kecamatan disebut Camat.

tidak sedang dicabut hak pilihnya berdasarkan putusan pengadilan yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap. setia dan taat kepada Negara Kesatuan Republik Indonesia dan Pemerintah yang sah. f. f. k. h. b. i. c. n. • UU No 32 Tahun 2004 mengatur lebih rinci tentang tata cara pemberhentian kepala daerah . Pasal 14 Yang dapat diangkat menjadi Kepala Daerah ialah Warganegara Indonesia yang memenuhi syarat-syarat sebagai berikut : a. berusia sekurang-kurangnya 30 (tiga puluh) tahun. sebagaimana dimaksud pada ayat (3). menyerahkan daftar kekayaan pribadi. seperti gerak an G-30-S/PKI dan atau Organisasi terlarang lainnya . (3) Ketentuan tentang pengangkatan dan pemberhentian Kepala Wilayah Kota Administratip dan Kepala Wilayah Kecamatan diatur dengan Peraturan Menteri Dalam Negeri. suami atau istri. mempunyai rasa pengabdian terhadap Nusa dari Bangsa . cerdas. i. tidak pernah terlibat dalam kegiatan yang mengkhianati Negara Kesatuan Republik Indonesia yang berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945 yang dinyatakan dengan surat keterangan Ketua Pengadilan Negeri. dan pendidikan adalah SMU. Pasal 43 Kepala Daerah mempunyai kewajiban : a. mengenal daerahnya dan dikenal oleh masyarakat di daerahnya. berumur sekurang-kurangnya tiga puluh tahun. f. e. jujur . h. nyata-nyata tidak terganggu jiwa/ingatannya. menghormati kedaulatan rakyat. tidak dicabut hak pilihnya berdasarkan keputusan Pengadilan yang mempunyai kekuatan pasti sehat jasmani dan rokhani . setia dan taat kepada PANCASILA dan Undang-Undang Dasar 1945. memiliki Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP) atau bagi yang belum mempunyai NPWP wajib mempunyai bukti pembayaran pajak menyerahkan daftar riwayat hidup lengkap yang memuat antara lain riwayat pendidikan dan pekerjaan serta keluarga kandung. i. tidak sedang dicabut hak pilihnya berdasarkan keputusan pengadilan negeri. memegang teguh Pancasila dan UndangUndang Dasar 1945. dan trampil . setia dan taat kepada Nega dan Pemerintah . l. d. berwibawa . bersedia dicalonkan menjadi Kepala Daerah. Bupati/Walikota bertanggung jawab kepada DPRD Kabupaten/Kota. tidak pernah melakukan perbuatan tercela. adil . belum pernah menjabat sebagai kepala daerah atau wakil kepala daerah selama 2 (dua) kali masa jabatan dalam jabatan yang sama. menyerahkan daftar kekayaan pribadi dan bersedia untuk diumumkan. e. b. mempertahankan dan memelihara keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia sebagaimana cita-cita Proklamasi Kemerdekaan tanggal 17 Agustus 1945. c. Proklamasi 17 Agustus 1945. Pasal 79 (1) Kepala Daerah Tingkat I karena jabatannya adalah Kepala Wilayah Propinsi atau Ibukota Negara. g. berpendidikan sekurang-kurangnya Sekolah Lanjutan Tingkat Atas dan/atau sederajat. d.melalui Menteri Dalam Negeri. b. mengenal daerahnya dan dikenal oleh masyarakat di daerahnya. (4) Tata cara pelaksanaan pertanggungjawaban. c. m. j. k. tidak pernah terlibat baik langsung maupun tidak langsung dalam setiap kegiatan yang mengkhianati Negara Kesatuan Republik Indonesia yang berdasarkan PANCASILA dan Undang-Undang Dasar 1945. dan kepada Negara Kesatuan Republik Indonesia serta Pemerintah. • Dalam UU No 5 Tahun 1974 menjelaskan bahwa wakil kepala daerah diangkat oleh Presiden sedangkan dalam UU No 23 Tahun 1999 dan UU No 32 Tahun 2004 calon kepala daerah dan wakilnya merupakan satu kesatuan dan tidak terpisahkan. d. berumur sekurang-kurangnya 35 selaku Kepala Daerah. g. dan l. e. (2) Kepala Daerah Tingkat II karena jabatannya adalah Kepala Wilayah Kabupaten atau Kotamadya. berkemampuan. o. berpendidikan sekurang-kurangnya sekolah lanjutan tingkat atas dan/atau sederajat. sehat jasmani dan rohani. h. sehat jasmani dan rohani berdasarkan hasil pemeriksaan kesehatan menyeluruh dari tim dokter. mempunyai kepribadian dan kepemimpinan . b. tidak pernah dihukum penjara karena melakukan tindak pidana. j. tidak pernah dijatuhi pidana penjara berdasarkan putusan pengadilan yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap karena melakukan tindak pidana yang diancam dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun atau lebih. j. ditetapkan dalam Peraturan Tata Tertib DPRD sesuai dengan pedoman yang ditetapkan oleh Pemerintah Pasal 33 Yang dapat ditetapkan menjadi Kepala Daerah adalah warga negara Republik Indonesia dengan syarat-syarat : a. g. bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. tidak sedang memiliki tanggungan utang secara perseorangan dan/atau secara badan hukum yang menjadi tanggungjawabnya yang merugikan keuangan negara. tidak sedang dinyatakan pailit berdasarkan putusan pengadilan yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap. taqwa kepada Tuhan Yang Maha esa. k.

memelihara ketenteraman dan ketertiban masyarakat. membantu kepala daerah dalam menyelenggarakan pemerintahan daerah. meningkatkan taraf kesejahteraan rakyat. serta mengupayakan pengembangan dan pelestarian sosial budaya dan lingkungan hidup. b. sekurang-kurangnya sekali dalam satu tahun. memantau dan mengevaluasi penyelenggaraan pemerintahan di wilayah kecamatan. menindaklanjuti laporan dan/atau temuan hasil pengawasan aparat pengawasan. f. dan atau Rakyat . menetapkan Perda yang telah mendapat persetujuan bersama DPRD. dan f. (tiga puluh lima) tahun bagi Kepala Daerah Tingkat I dan 30 (tiga puluh) tahun bagi Kepala Daerah Tingkat II . mengupayakan terlaksananya ke-wajiban daerah. memimpin penyelenggaraan pe-merintahan daerah berdasarkan kebijakan yang ditetapkan ber-sama DPRD. Pasal 45 (1) Kepala Daerah wajib menyampaikan pertanggungjawaban kepada DPRD pada setiap akhir tahun anggaran. b. Pasal 26 (1) Wakil kepala daerah mempunyai tugas: a. dan dapat menunjuk kuasa hukum untuk mewakilinya sesuai dengan peraturan perundang-undangan. turut serta dalam sesuatu perusahaan . e. b. mengajukan rancangan Perda. p. c. Pasal 21 Kepala Daerah berhanti atau diberhentikan oleh pejabat yang berhak mengangkat. c. melanggar sumpah/janji yang dimaksud dalam pasal 18 ayat (4) Undang-undang ini . (3) Kepala Daerah wajib menyampaikan laporan atas penyelenggaraan Pemerintahan Daerah kepada Presiden melalui Menteri Dalam Negeri dengan tembusan kepada Gubernur bagi Kepala Daerah Kabupaten dan Kepala Daerah Kota. mewakili daerahnya di dalam dan di luar pengadilan. Kepala Daerah bertanggung jawab kepada DPRD. tidak lagi memenuhi sesuatu syarat Pasal 25 Kepala daerah mempunyai tugas dan wewenang: a. membantu kepala daerah dalam mengkoordinasikan kegiatan instansi vertikal di daerah. karena : a.l. berakhir masa jabatannya dan telah dilantik Kepala Daerah yang baru. wmengajukan Rancangan Peraturan Daerah dan menetapkannya sebagai Peraturan Daerah bersama dengan DPRD. Pemerintah. d. m. Pasal 44 (1) Kepala Daerah memimpin penyelenggaraan Pemerintahan Daerah berdasarkan kebijakan yang ditetapkan bersama DPRD. Pasal 46 (1) Kepala Daerah yang ditolak pertanggungjawabannya. atas permintaan sendiri . d. d. c. b. e. Pasal 20 Kepala Daerah dilarang : a. b. (2) Dalam menjalankan tugas dan kewajibannya. e. atau jika dipandang perlu oleh Kepala Daerah atau apabila diminta oleh Presiden. melaksanakan tugas dan wewenang lain sesuai dengan peraturan perundangundangan. dengan sengaja melakukan kegiatan-kegiatan yang merugikan kepentingan Negara. baik pertanggungjawaban kebijakan pemerintahan maupun pertanggungjawaban keuangan. memberikan saran dan pertimbangan kepada kepala daerah dalam . melakukan pekerjaan-pekerjaan lain yang memberikan keuntungan baginya dalam hal-hal yang berhubungan langsung dengan. memantau dan mengevaluasi penyelenggaraan pemerintahan kabupaten dan kota bagi wakil kepala daerah provinsi. berpengetahuan yang sederajat dengan Perguruan Tinggi atau sekurang-kurangnya berpendidikan yang dapat dipersamakan dengan Sarjana Muda bagi Kepala Daerah Tingkat I dan berpengetahuan sederajat dengan Akademi atau sekurang-kurangnya berpendidikan yang dapat dipersamakan dengan Sekolah Lanjutan Atas bagi Kepala Daerah Tingkat II. menegakkan seluruh peraturan perundangundangan. c. harus melengkapi dan/atau menyempurnakannya dalam jangka waktu paling lama tiga puluh hari. Daerah. kelurahan dan/atau desa bagi wakil kepala daerah kabupaten/kota. d. meninggal dunia . (2) Kepala Daerah wajib memberikan pertanggungjawaban kepada DPRD untuk hal tertentu atas permintaan DPRD sebagaimana dimaksud dalam Pasal 44 ayat (2). tidak dalam status sebagai penjabat kepala daerah. d. c. melaksanakan pemberdayaan perempuan dan pemuda. mempunyai kecakapan dan pengalaman pekerjaan yang cukup di bidang pemerintahan . menyusun dan mengajukan rancangan Perda tentang APBD kepada DPRD untuk dibahas dan ditetapkan bersama. Daerah yang bersangkutan . g. menjadi advokat atau kuasa dalam perkara di muka Pengadilan. sebagaimana dimaksud dalam Pasal 45.

kepala daerah dan wakil kepala daerah mempunyai kewajiban: a. melanggar ketentuan yang dimaksud dalam pasal 20 Undangundang ini . atau dalam yayasan bidang apa pun juga. Pasal 49 Kepala Daerah berhenti atau diberhentikan karena : a. Wakil kepala daerah menggantikan kepala daerah sampai habis masa jabatannya apabila kepala daerah meninggal dunia. Kepala Daerah menurut hierarkhi bertanggungjawab kepada Presiden melalui Menteri Dalam Negeri. dan kewajiban pimpinan pemerintahan Daerah. wewenang. ditetapkan oleh Menteri Dalam Negeri. melakukan pekerjaan lain yang memberikan keuntungan bagi dirinya. dan kewajiban pemerintahan Daerah. i. melaksanakan tugas dan kewajiban pemerintahan lainnya yang diberikan oleh kepala daerah. menaati dan menegakkan seluruh peraturan perundang-undangan. sebab-sebab lain. meningkatkan kesejahteraan rakyat. dan/atau jasa dari pihak lain yang patut dapat diduga akan mempengaruhi keputusan atau tindakan yang akan dilakukannya. melaksanakan prinsip tata pemerintahan yang bersih dan baik. Pasal 23 (1) Kepala Daerah mewakili Daerahnya di dalam dan di luar Pengadilan. d. melaksanakan kehidupan demokrasi. Gubernur Kepala Daerah mengajukan calon Wakil Kepala Daerah Tingkat I kepada Presiden melalui (2) (3) (4) Kepala Daerah yang sudah melengkapi dan/atau menyempurnakan pertanggungjawabannya menyampaikannya kembali kepada DPRD. (2) Dengan memperoleh persetujuan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah tanpa melalui pemilihan. melaksanakan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 serta mempertahankan dan memelihara keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia. atau jika dipandang perlu olehnya. (2) Apabila dipandang. Pasal 22 (1) Kepala Daerah menjalankan hak. atau apabila diminta oteh Dewan Perwakilan Rakyat Daerah. DPRD dapat mengusulkan pemberhentiannya kepada Presiden. melaksanakan tugas dan wewenang kepala daerah apabila kepala daerah berhalangan. selain yang dimaksud dalam Pasal 47. (3) Dalam menjalankan hak. dan kewajiban pemerintahan Daerah. e. mengajukan berhenti atas permintaan penyelenggaraan kegiatan pemerintah daerah. g. (4) Pedoman tentang pemberian keterangan pertanggung jawaban yang dimaksud dalam ayat (3) pasal ini. menjaga etika dan norma dalam penyelenggaraan pemerintahan daerah. f. Pasal 48 Kepala Daerah dilarang : a. dan g. berhenti. wewenang. meninggal dunia. wakil kepala daerah bertanggung jawab kepada kepala daerah. ata cara. c. menerima uang. (2) (3) Pasal 47 Kepala Daerah mewakili daerahnya di dalam dan di luar pengadilan. Dalam melaksanakan tugas se-bagaimana dimaksud pada ayat (1). sebagaimana dimaksud pada ayat (3). atau kelompok politiknya yang secara nyata merugikan kepentingan umum atau mendiskriminasikan warga negara dan golongan masyarakat lain. e. perlu Kepala Daerah dapat menunjuk seorang kuasa atau lebih untuk mewakilinya. b. baik secara langsung maupun tidak langsung. memelihara ketenteraman dan ketertiban masyarakat. Pasal 27 (1) Dalam melaksanakan tugas dan wewenang sebagaimana dimaksud dalam Pasal 25 dan Pasal 26. golongan tertentu. wewenang. . ditetapkan oleh Pemerintah. menjalin hubungan kerja dengan seluruh instansi vertikal di daerah dan semua perangkat daerah. anggota keluarganya. sebagaimana dimaksud pada ayat (1). dan e. b. kroninya. atau tidak dapat melakukan kewajibannya selama 6 (enam) bulan secara terus menerus dalam masa jabatannya. j. baik milik swasta maupun milik Negara/Daerah. b. Pasal 24 (1) Wakil Kepala Daerah Tingkat I diangkat oleh Presiden dari Pegawai Negeri yang memenuhi persyaratan. diberhentikan. f. turut serta dalam suatu perusahaan. c. (2) Dalam menjalankan hak.yang dimaksud dalam Pasal 14 Undang-undang ini . menjadi advokat atau kuasa hukum dalam suatu perkara di pengadilan. Bagi Kepala Daerah yang pertanggungjawabannya ditolak untuk kedua kalinya. h. barang. memegang teguh dan mengamalkan Pancasila. membuat keputusan yang secara khusus memberikan keuntungan bagi dirinya. melaksanakan dan mempertanggungjawabkan pengelolaan ke-uangan daerah. dan dapat menunjuk kuasa untuk mewakilinya. d. yang berhubungan dengan Daerah yang bersangkutan. memajukan dan mengembangkan daya saing daerah. f. Kepala Daerah berkewajiban memberikan keterangan pertanggung jawaban kepada Dewan Perwakilan Rakyat Daerah sekurang-kurangnya sekali setahun.

Laporan penyelenggaraan peme-rintahan daerah kepada Pemerintah sebagaimana dimaksud pada ayat (2) disampaikan kepada Presiden melalui Menteri Dalam Negeri untuk Gubernur. (5) Pengisian jabatan Wakil Kepala Daerah dilakukan menurut kebutuhan. d. (3) Wakil Kepala Daerah Tingkat II diangkat oleh Menteri Dalam Negeri atas nama Presiden dari Pegawai Negeri yang memenuhi persyaratan. (2) (3) Pasal 50 (1) Pemberhentian Kepala Daerah karena alasan-alasan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 49 ditetapkan dengan Keputusan DPRD dan disahkan oleh Presiden. dan keterangannya atas kasus itu ditolak oleh DPRD. berakhir masa jabatannya dan telah dilantik pejabat yang baru. ayat (2). (8) Wakil Kepala Daerah diambil sumpahnya/janjinya dan dilantik oleh Menteri Dalam Negeri atas nama Presiden bagi Wakil Kepala Daerah Tingkat I dan oleh Gubernur Kepala Daerah atas nama Menteri Dalam Negeri bagi Wakil Kepala Daerah Tingkat II. 19. tidak lagi memenuhi syarat sebagaimana dimaksud dalam Pasal 33. (2) Apabila Kepala Daerah berhalangan. dan memberikan laporan keterangan pertanggungjawaban kepada DPRD. sebagaimana dimaksud pada ayat (1). Pasal 26 Dengan Peraturan Menteri Dalam Negeri diatur tentang penjabat yang mewakili Kepala c. membuat keputusan yang secara khusus memberikan keuntungan bagi diri. g. Pelaksanaan ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1). serta menginformasikan laporan penyeleng-garaan pemerintahan daerah kepada masyarakat. atau kelompok politiknya yang bertentangan dengan peraturan perundang-undangan. Pasal 25 (1) Wakil Kepala Daerah membantu Kepala Daerah dalam menjalankan tugas dan wewenangnya sehari-hari sesuai dengan pedoman yang ditetapkan oleh Menteri Dalam Negeri. ayat (3). dan kepada Menteri Dalam Negeri melalui Gubernur untuk Bupati/Walikota 1 (satu) kali dalam 1 (satu) tahun. melanggar ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 48. dan meresahkan sekelompok masyarakat. (6) Wakil Kepala Daerah adalah Pejabat Negara. melanggar sumpah/janji sebagaimana dimaksud dalam Pasal 42 ayat (3). baik milik swasta maupun milik negara/daerah. c. Pasal 51 Kepala Daerah diberhentikan oleh Presiden tanpa melalui Keputusan DPRD apabila terbukti melakukan tindak pidana kejahatan yang diancam dengan hukuman lima tahun atau lebih. Pasal 52 (1) Kepala Daerah yang diduga melakukan makar dan/atau perbuatan lain yang dapat memecah belah Negara Kesatuan Republik Indonesia diberhentikan untuk sementara dari jabatannya oleh Presiden tanpa melalui Keputusan DPRD. (9) Tatacara pelaksanaan ketentuan yang dimaksud dalam ayat-ayat (2) dan (4) pasal ini diatur lebih lanjut dengan Peraturan Menteri Dalam Negeri. Laporan sebagaimana dimaksud pada ayat (3) digunakan Pemerintah sebagai dasar melakukan evaluasi penyelenggaraan pemerintahan daerah dan sebagai bahan pembinaan lebih lanjut sesuai dengan peraturan perundangundangan. sendiri. e. anggota keluarga. Pasal 28 Kepala daerah dan wakil kepala daerah dilarang: a. turut serta dalam suatu perusahaan. atau diancam dengan hukuman mati sebagaimana yang diatur dalam Kitab Undang-undang Hukum Pidana. atau mendiskriminasikan warga negara dan/atau golongan masyarakat lain. dan ayat (4) diatur dalam Peraturan Pemerintah. merugikan kepentingan umum. menyampaikan rencana strategis penyelenggaraan pemerintahan daerah di hadapan Rapat Paripurna DPRD. dan mengalami krisis kepercayaan publik yang luas akibat kasus yang melibatkan tanggung jawabnya. yang . (7) Ketentuan-ketentuan yang dimaksud dalam Pasal-pasal 14. harus dihadiri oleh sekurangkurangnya dua pertiga dari jumlah anggota DPRD dan putusan diambil dengan persetujuan sekurang-kurangnya dua pertiga dari jumlah anggota yang hadir. (2) Keputusan DPRD. golongan tertentu.Menteri Dalam Negeri. Wakil Kepala Daerah menjalankan tugas dan wewenang Kepala Daerah seharihari. kroni. baik secara langsung maupun tidak langsung. f. kepala daerah mempunyai kewajiban juga untuk memberikan laporan penyelenggaraan pemerintahan daerah kepada Pemerintah. b. (2) Kepala Daerah yang terbukti melakukan makar dan perbuatan yang dapat memecah belah Negara Kesatuan Republik Indonesia (4) (5) k. (4) Dengan memperoleh persetujuan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah tanpa melalui pemilihan. atau dalam yayasan bidang apapun. melakukan pekerjaan lain yang memberikan keuntungan bagi dirinya. 20 dan 21 Undang-undang ini berlaku juga untuk Wakil Kepala Daerah. Selain mempunyai kewajiban se-bagaimana dimaksud pada ayat (1). Bupati/Walikotamadya Kepala Daerah mengajukan calon Wakil Kepala Daerah Tingkat II kepada Menteri Dalam Negeri melalui Gubernur Kepala Daerah.

Daerah dalam hal Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah berhalangan. (2) Kepala daerah dan/atau wakil kepala daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf c diberhentikan karena: a. f. berakhir masa jabatannya dan telah dilantik pejabat yang baru. e. ketentraman dan ketertiban yang ditetapkan oleh Pemerintah . e. sebagai anggota DPRD sebagaimana yang ditetapkan dalam peraturan perundang-undangan. g. mengusahakan secara terus-menerus agar segala peraturan-perundangundangan dan Peraturan Daerah dijalankan oleh Instansi-instansi Pemerintah dan Pemerintah Daerah serta pejabat-pejabat yang ditugaskan untuk itu serta mengambil segata tindakan yang dianggap perlu untuk menjamin kelancaran penyelenggaraan pemerintahan. (2) Dengan adanya pemberitahuan. melanggar larangan bagi kepala daerah dan/atau wakil kepala daerah. tidak melaksanakan kewajiban kepala daerah dan/atau wakil kepala daerah. c. tidak dapat melaksanakan tugas secara berkelanjutan atau berhalangan tetap secara berturut-turut selama 6 (enam) bulan. d. (3) Kepala Daerah yang setelah melalui proses peradilan ternyata tidak terbukti melakukan makar dan perbuatan yang dapat memecah belah Negara Kesatuan Republik Indonesia. tidak lagi memenuhi syarat sebagai kepala daerah dan/atau wakil kepala daerah. sebagaimana dimaksud dalam Pasal 53. b. mengkordinasikan pembangunan dan membina kehidupan masyarakat di segala bidang. (3) Selambat-lambatnya satu bulan sebelum masa jabatan Kepala Daerah berakhir. tugas dan kewajiban Kepala Wilayah adalah : a. kolusi. tidak dapat dicalonkan kembali sebagai Kepala Daerah dalam masa jabatan berikutnya. Pasal 53 (1) DPRD memberitahukan akan berakhirnya masa jabatan Kepala Daerah secara tertulis kepada yang bersangkutan. dan menerima uang. menyelenggarakan kordinasi atas kegiatan-kegiatan Instansi-instansi Vertikal dan antara Instansi-instansi Vertikal dengan Dinas-dinas Daerah. yang dinyatakan dengan keputusan pengadilan yang telah memperoleh kekuatan hukum yang tetap diberhentikan dari jabatannya oleh Presiden. enam bulan sebelumnya. menjadi advokat atau kuasa hukum dalam suatu perkara di pengadilan selain yang dimaksud dalam Pasal 25 huruf f. (3) Pemberhentian kepala daerah dan/atau wakil kepala daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a dan huruf b serta ayat (2) huruf a dan huruf b diberitahukan oleh pimpinan DPRD untuk diputuskan dalam Rapat Paripurna dan diusulkan oleh pimpinan . e. Pasal 55 (1) Tindakan penyidikan terhadap Kepala Daerah dilaksanakan setelah adanya persetujuan tertulis dari Presiden. menyalahgunakan wewenang dan melanggar sumpah/janji jabatan-nya. nepotisme. permintaan sendiri. melakukan korupsi. merangkap jabatan sebagai pejabat negara lainnya. meninggal dunia. f. d. b. melaksanakan segala usaha dan kegiatan di bidang pembinaan ideologi Negara dan politik dalam negeri serta pembinaan kesatuan Bangsa sesuai dengan kebijaksanaan yang ditetapkan oleh Pemerintah c. barang dan/atau jasa dari pihak lain yang mempengaruhi keputusan atau tindakan yang akan dilakukannya. sebagaimana dimaksud pada ayat (1). (2) Hal-hal yang dikecualikan dari ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) adalah: berhubungan dengan daerah yang bersangkutan. b. Pasal 54 Kepala Daerah yang ditolak pertanggungjawabannya oleh DPRD. Pasal 29 (1) Kepala daerah dan/atau wakil kepala daerah berhenti karena: a. Pasal 80 Kepala Wilayah sebagai Wakil Pemerintah adalah Penguasa Tunggal di bidang pemerintahan dalam wilayahnya dalam arti memimpin pemerintahan. DPRD mulai memproses pemilihan Kepala Daerah yang baru. Pasal 81 Wewenang. tanpa persetujuan DPRD. Kepala Daerah mempersiapkan pertanggungjawaban akhir masa jabatannya kepada DPRD dan menyampaikan pertanggungjawaban tersebut selambatlambatnya empat bulan setelah pemberitahuan. atau c. diaktifkan kembali dan direhabilitasi selaku Kepala Daerah sampai akhir masa jabatannya. d. baik dalam perencanaan maupun dalam pelaksanaan untuk mencapai dayaguna dan hasilguna yang sebesar-besarnya. dinyatakan melanggar sumpah/janji jabatan kepala daerah dan/atau wakil kepala daerah. sebagaimana dimaksud pada ayat (1). diberhentikan. membina ketentraman dan ketertiban di wilayahnya sesuai dengan kebijaksanaan. membimbing dan mengawasi penyelenggaraan pemerintahan Daerah.

dituduh telah melakukan tindak pidana kejahatan yang diancam dengan hukuman mati. Pasal 41. .f. mengadili. c. dituduh telah melakukan tindak pidana kejahatan yang diancam dengan hukuman mati. Presiden wajib memroses usul pemberhentian kepala daerah dan/atau wakil kepala daerah tersebut paling lambat 30 (tiga puluh) hari sejak DPRD menyampaikan usul tersebut. melaksanakan segala tugas pemerintahan yang tidak termasuk dalam tugas sesuatu Instansi lainnya. melaksanakan segala tugas pemerintahan yang dengan atau berdasarkan peraturan perundangundangan diberikan kepadanya. Pendapat DPRD sebagaimana dimaksud pada huruf a diputuskan melalui Rapat Paripurna DPRD yang dihadiri oleh sekurang-kurangnya 3/4 (tiga perempat) dari jumlah anggota DPRD dan putusan diambil dengan persetujuan sekurangkurangnya 2/3 (dua pertiga) dari jumlah anggota DPRD yang hadir. tertangkap tangan melakukan tindak pidana kejahatan yang diancam dengan pidana penjara lima tahun atau lebih. Pasal 83 (1) Tindakan Kepolisian terhadap Kepala Wilayah Propinsi/Ibukota Negara hanya dapat dilakukan atas persetujuan Presiden. Wakil Kepala Daerah mengucapkan sumpah/janji. sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dilakukan. bahwa saya akan selalu taat dalam mengamalkan dan mempertahankan Pancasila sebagai *9617 dasar negara. Apabila Mahkamah Agung memutuskan bahwa kepala daerah dan/atau wakil kepala daerah terbukti melanggar sumpah/janji jabatan dan/atau tidak melaksanakan kewajiban. (4) Susunan kata-kata sumpah/janji dimaksud adalah sebagai berikut : "Demi Allah (Tuhan). Pemberhentian kepala daerah dan wakil kepala daerah diusulkan kepada Presiden berdasarkan putusan Mahkamah Agung atas pendapat DPRD bahwa kepala daerah dan/atau wakil kepala daerah dinyatakan melanggar sumpah/janji jabatan dan/atau tidak melaksanakan kewajiban kepala daerah dan wakil kepala daerah. Mahkamah Agung wajib memeriksa. DPRD menyelenggarakan Rapat Paripurna DPRD yang dihadiri oleh sekurang-kurangnya 3/4 (tiga perempat) dari jumlah anggota DPRD dan putusan diambil dengan persetujuan sekurangkurangnya 2/3 (dua pertiga) dari jumlah anggota DPRD yang hadir untuk memutuskan usul pemberhentian kepala daerah dan/atau wakil kepala daerah kepada Presiden. dan b. g. Wakil Kepala Daerah Kabupaten disebut Wakil Bupati dan Wakil Kepala Daerah Kota disebut Wakil Walikota. (6) Wakil Kepala Daerah Propinsi disebut Wakil Gubernur. Pasal 56 (1) Di setiap Daerah terdapat seorang Wakil Kepala Daerah. (5) Ketentuan-ketentuan. (3) Setelah tindakan penyidikan. tertangkap tangan melakukan sesuatu tindak pidana. c. dan memutus pendapat DPRD tersebut paling lambat 30 (tigapuluh) hari setelah permintaan DPRD itu diterima Mahkamah Agung dan putusannya bersifat final. Pasal 82 (1) Wakil Kepala Daerah Tingkat I karena jabatannya adalah Wakil Kepala Wilayah Propinsi atau Ibukota Negara dan disebut Wakil Gubernur. yang pada gilirannya harus melaporkan kepada Presiden selambat- a. Pasal 47 sampai dengan Pasal 54. (3) Tindakan kepolisian yang dimaksud dalam ayat (2) pasal ini selambatlambatnya dalam waktu 2 (dua) kali 24 (duapuluh empat) jam sesudahnya harus dilaporkan kepada Jaksa Agung atau kepada Menteri Pertahanan Keamanan/Panglima Angkatan Bersenjata. d. b. hal itu harus dilaporkan kepada Presiden selambatlambatnya dalam 2 kali 24 jam. e. bersamaan dengan pelantikan Kepala Daerah. Pasal 43 kecuali huruf g. dituduh telah melakukan tindak pidana kejahatan yang termaktub dalam Kitab Undang-undang Hukum Pidana BUKU KEDUA BAB I. (2) Wakil Kepala Daerah Tingkat II karena jabatannya adalah Wakil Kepala Wilayah Kabupaten atau Kotamadya. sebagaimana dimaksud dalam Pasal 33. sejujur-jujurnya. (3) Sebelum memangku jabatannya. saya bersumpah/berjanji bahwa saya akan memenuhi kewajiban saya selaku Wakil Gubernur/ Wakil Bupati/Wakil Walikota dengan sebaik-baiknya. (2) Wakil Kepala Daerah dilantik oleh Presiden atau pejabat lain yang ditunjuk. (4) DPRD. Pemberhentian kepala daerah dan/atau wakil kepala daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf d dan huruf e dilaksanakan dengan ketentuan: a. berlaku juga bagi Wakil Kepala Daerah. b. dan bahwa saya akan menegakkan kehidupan demokrasi dan Undang-Undang Dasar 1945 sebagai konstitusi negara serta segala peraturan perundang-undangan yang berlaku bagi Daerah dan Negara Kesatuan Republik Indonesia". dan disebut Wakil Bupati atau Wakil Walikotamadya. dan seadil-adilnya. (2) Hal-hal yang dikecualikan terhadap ketentuan yang dimaksud dalam ayat (1) pasal ini adalah: a.

(3) Wakil Kepala Daerah melaksanakan tugas dan wewenang Kepala Daerah apabila Kepala Daerah berhalangan. Pasal 30 (1) Kepala daerah dan/atau wakil kepala daerah diberhentikan sementara oleh Presiden tanpa melalui usulan DPRD apabila dinyatakan melakukan tindak pidana kejahatan yang diancam dengan pidana penjara paling singkat 5 (lima) tahun atau lebih berdasarkan putusan pengadilan. dan c. (2) Penggunaan hak angket sebagai-mana dimaksud pada ayat (1) dilaksanakan setelah mendapatkan persetujuan Rapat Paripurna DPRD yang dihadiri oleh sekurang-kurangnya 3/4 (tiga perempat) dari jumlah anggota DPRD dan putusan diambil dengan persetujuan sekurang-kurangnya 2/3 (dua pertiga) dari jumlah anggota DPRD yang hadir untuk melakukan penyelidikan terhadap . (2) Wakil Kepala Daerah bertanggung jawab kepada Kepala Daerah. DPRD menggunakan hak angket untuk menanggapinya. (4) Tindakan kepolisian terhadap Kepala Wilayah lainnya dilakukan dengan memberitahukan sebelumnya kepada Kepala Wilayah atasan dari yang bersangkutan. b. melaksanakan tugas-tugas lain yang diberikan oleh Kepala Daerah. (2) Kepala daerah dan/atau wakil kepala daerah diberhentikan oleh Presiden tanpa melalui usulan DPRD apabila terbukti melakukan tindak pidana sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berdasarkan putusan pengadilan yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap. jabatan Kepala Daerah diganti oleh Wakil Kepala Daerah sampai habis masa jabatannya. DPRD menyelenggarakan pemilihan Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah selambatlambatnya dalam waktu tiga bulan. dan/atau tindak pidana terhadap keamanan negara. (2) Kepala daerah dan/atau wakil kepala daerah diberhentikan oleh Presiden tanpa melalui usulan DPRD karena terbukti melakukan makar dan/atau perbuatan lain yang dapat memecah belah Negara Kesatuan Republik Indonesia yang dinyatakan dengan putusan pengadilan yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap. (5) Tindakan kepolisian yang dimaksud dalam ayat (4) pasal ini diberitahukan selambat-lambatnya 2 (dua) kali 24 (duapuluh empat) jam sesudahnya kepada Kepala Wilayah atasan dari yang bersangkutan. apabila menyangkut hal-hal yang dimaksud dalam ayat (2) pasal ini. Pasal 32 (1) Dalam hal kepala daerah dan/atau wakil kepala daerah menghadapi krisis kepercayaan publik yang meluas karena dugaan melakukan tindak pidana dan melibatkan tanggung jawabnya. jabatan Wakil Kepala Daerah tidak diisi. (4) Apabila Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah berhalangan tetap. Pasal 58 (1) Apabila Kepala Daerah berhalangan tetap. membantu Kepala Daerah dalam melaksanakan kewajibannya. (2) Apabila Wakil Kepala Daerah berhalangan tetap. (3) Apabila Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah berhalangan tetap. makar. Pasal 57 (1) Wakil Kepala Daerah mempunyai tugas : a. mengkoordinasikan kegiatan instansi pemerintahan di Daerah. tindak pidana terorisme. Pasal 31 (1) Kepala daerah dan/atau wakil kepala daerah diberhentikan sementara oleh Presiden tanpa melalui usulan DPRD karena didakwa melakukan tindak pidana korupsi. Pasal 59 Kedudukan keuangan Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah ditetapkan dengan Peraturan Pemerintah. Sekretaris Daerah melaksanakan tugas Kepala Daerah untuk sementara waktu.lambatnya dalam waktu 2 (dua) kali 24 (duapuluh empat) jam.

kepala daerah dan/atau wakil kepala daerah. (3) Dalam hal ditemukan bukti me-lakukan tindak pidana sebagaimana dimaksud pada ayat (1), DPRD menyerahkan proses penyelesaiannya kepada aparat penegak hukum sesuai dengan peraturan perundang-undangan. (4) Apabila kepala daerah dan/atau wakil kepala daerah dinyatakan bersalah karena melakukan tindak pidana dengan ancaman pidana penjara paling singkat 5 (lima) tahun atau lebih berdasarkan putusan pengadilan yang belum memperoleh kekuatan hukum tetap sebagaimana dimaksud pada ayat (3), DPRD mengusulkan pemberhentian sementara dengan keputusan DPRD. (5) Berdasarkan keputusan DPRD se-bagaimana dimaksud pada ayat (4), Presiden menetapkan pember-hentian sementara kepala daerah dan/atau wakil kepala daerah. (6) Apabila kepala daerah dan/atau wakil kepala daerah dinyatakan bersalah berdasarkan putusan pengadilan yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap sebagaimana dimaksud pada ayat (4), pimpinan DPRD mengusulkan pemberhentian berdasarkan keputusan Rapat Paripurna DPRD yang dihadiri oleh sekurang-kurangnya 3/4 (tiga perempat) dari jumlah anggota DPRD dan putusan diambil dengan persetujuan sekurang-kurangnya 2/3 (dua pertiga) dari jumlah anggota DPRD yang hadir. (7) Berdasarkan keputusan DPRD se-bagaimana dimaksud pada ayat (6), Presiden memberhentikan kepala daerah dan/atau wakil kepala daerah. Pasal 33 (1) Kepala daerah dan/atau wakil kepala daerah yang diberhentikan sementara sebagaimana dimaksud dalam Pasal 30 ayat (1), Pasal 31 ayat (1), dan Pasal 32 ayat (5) setelah melalui proses peradilan ternyata terbukti tidak bersalah berdasarkan putusan pengadilan yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap, paling lambat 30 (tiga puluh) hari Presiden telah merehabilitasikan dan mengaktifkan kembali kepala daerah dan/atau

wakil kepala daerah yang bersangkutan sampai dengan akhir masa jabatannya. (2) Apabila kepala daerah dan/atau wakil kepala daerah yang diberhentikan sementara sebagaimana dimaksud pada ayat (1) telah berakhir masa jabatannya, Presiden merehabilitasikan kepala daerah dan/atau wakil kepala daerah yang bersangkutan dan tidak mengaktifkannya kembali. (3) Tata cara pelaksanaan ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 30, Pasal 31, dan Pasal 32 diatur dalam Peraturan Pemerintah. Pasal 34 (1) Apabila kepala daerah diberhentikan sementara sebagaimana dimaksud dalam Pasal 30 ayat (1), Pasal 31 ayat (1), dan Pasal 32 ayat (5), wakil kepala daerah melaksanakan tugas dan kewajiban kepala daerah sampai dengan adanya putusan pengadilan yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap. (2) Apabila wakil kepala daerah di-berhentikan sementara sebagai-mana dimaksud Pasal 30 ayat (1), Pasal 31 ayat (1), dan Pasal 32 ayat (5), tugas dan kewajiban wakil kepala daerah dilaksanakan oleh kepala daerah sampai dengan adanya putusan pengadilan yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap. (3) Apabila kepala daerah dan wakil kepala daerah diberhentikan sementara sebagaimana dimaksud dalam Pasal 30 ayat (1), Pasal 31 ayat (1), dan Pasal 32 ayat (5), Presiden menetapkan penjabat Gubernur atas usul Menteri Dalam Negeri atau penjabat Bupati/ Walikota atas usul Gubernur dengan pertimbangan DPRD sampai dengan adanya putusan pengadilan yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap. (4) Tata cara penetapan, kriteria calon, dan masa jabatan penjabat sebagaimana dimaksud pada ayat (3) diatur dalam Peraturan Peme-rintah.

Pasal 35 (1) Apabila kepala daerah diberhentikan berdasarkan putusan pengadilan yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap sebagaimana dimaksud dalam Pasal 30 ayat (2), Pasal 31 ayat (2), dan Pasal 32 ayat (7) jabatan kepala daerah diganti oleh wakil kepala daerah sampai berakhir masa jabatannya dan proses pelaksanaannya dilakukan berdasarkan keputusan Rapat Paripurna DPRD dan disahkan oleh Presiden. (2) Apabila terjadi kekosongan jabatan wakil kepala daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) yang sisa masa jabatannya lebih dari 18 (delapan belas) bulan, kepala daerah mengusulkan 2 (dua) orang calon wakil kepala daerah untuk dipilih oleh Rapat Paripurna DPRD berdasarkan usul partai politik atau gabungan partai politik yang pasangan calonnya terpilih dalam pemilihan kepala daerah dan wakil kepala daerah. (3) Dalam hal kepala daerah dan wakil kepala daerah berhenti atau diberhentikan secara bersamaan dalam masa jabatannya, Rapat Paripurna DPRD memutuskan dan menugaskan KPUD untuk menyelenggarakan pemilihan kepala daerah dan wakil kepala daerah paling lambat 6 (enam) bulan terhitung sejak ditetapkannya penjabat kepala daerah. (4) Dalam hal terjadi kekosongan jabatan kepala daerah dan wakil kepala daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (3), sekretaris daerah melaksanakan tugas sehari-hari kepala daerah sampai dengan Presiden mengangkat penjabat kepala daerah. (5) Tata cara pengisian kekosongan, persyaratan dan masa jabatan penjabat sebagaimana dimaksud pada ayat (4) diatur dalam Peraturan Pemerintah. Pasal 36 (1) Tindakan penyelidikan dan penyidi-kan terhadap kepala daerah dan/atau wakil kepala daerah dilaksanakan setelah adanya persetujuan tertulis dari Presiden atas permintaan penyidik.

koordinasi pembinaan dan pengawasan penyelenggaraan tugas pembantuan di daerah provinsi dan kabupaten/kota. tertangkap tangan melakukan tindak pidana kejahatan. c.Dalam hal persetujuan tertulis sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tidak diberikan oleh Presiden dalam waktu paling lambat 60 (enam puluh) hari terhitung sejak diterimanya permohonan. Gubernur bertanggung jawab kepada Presiden. b. (5) Tindakan penyidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (4) setelah dilakukan wajib dilaporkan kepada Presiden paling lambat dalam waktu 2 (dua) kali 24 (dua puluh empat) jam. Pasal 38 (1) Gubernur dalam kedudukannya se-bagaimana dimaksud dalam Pasal 37 memiliki tugas dan wewenang: a. pembinaan dan pengawasan penyelenggaraan pemerintahan daerah kabupaten/kota. (2) . Pasal 37 (1) Gubernur yang karena jabatannya berkedudukan juga sebagai wakil Pemerintah di wilayah provinsi yang bersangkutan. atau b. atau telah melakukan tindak pidana kejahatan terhadap keamanan negara. koordinasi penyelenggaraan urusan Pemerintah di daerah provinsi dan kabupaten/kota. proses penyelidikan dan penyidikan dapat dilakukan. (3) Tindakan penyidikan yang dilanjutkan dengan penahanan diperlukan persetujuan tertulis sesuai dengan ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2). (4) Hal-hal yang dikecualikan dari ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) adalah: a. disangka telah melakukan tindak pidana kejahatan yang diancam dengan pidana mati. (2) Dalam kedudukannya sebagaimana dimaksud pada ayat (1).

pimpinan. susunan. dan pimpinan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah. anggaran.(2) Pendanaan tugas dan wewenang Gubernur sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dibebankan kepada APBN. keanggotaan. (3) Peraturan Daerah yang dimaksud dalam ayat-ayat (1) dan (2) pasal ini dibuat sesuai dengan pedoman yang ditetapkan oleh Menteri Dalam Negeri. Pasal 28 (1) Kedudukan keuangan Ketua. Pasal 16 (1) DPRD sebagai lembaga perwakilan rakyat di Daerah merupakan wahana untuk melaksanakan demokrasi berdasarkan Pancasila. Pasal 17 (1) Keanggotaan DPRD dan jumlah anggota DPRD ditetapkan sesuai dengan peraturan perundang-undangan. mengajukan pernyataan pendapat. hakim pada badan peradilan dan pegawai negeri sipil. dan alat kelengkapan DPRD diatur dengan Undang-undang. anggota TNI/Polri. begitu juga sumpah/janji. (2) Alat kelengkapan DPRD terdiri atas pimpinan. c. masa keanggotaan. d. peraturan kepala daerah. Pasal 42 (1) DPRD mempunyai tugas dan wewenang: a. d. komisi-komisi. angket dan menyatakan pendapat. Dewan Perwakilan Rakyat Daerah mempunyai hak : a. dan pengawasan. b. dan Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah diatur dengan Peraturan Daerah. APBD. badan kehormatan disebutkan secara tegas dalam salah satu alat kelengkapan DPRD yang mempunyai tugas-tugas tertentu. • Terdapat perbedaan hak DPRD diantara ketiga peraturan tersebut dimana dalam UU No 32 Tahun 2004 hanya menyebutkan hakhak tersebut antara lain hak interpelasi. (4) Tata cara pelaksanaan tugas dan wewenang Gubernur sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dalam Peraturan Pemerintah. Anggaran. (3) Kedudukan keuangan Gubernur se-bagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dalam Peraturan Pemerintah. sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dan ayat (3). DPD. (2) Kedudukan protokoler Ketua. keanggotaan. hak. melaksanakan pengawasan ter-hadap pelaksanaan Perda dan peraturan perundang-undangan lainnya. c. meminta keterangan. badan usaha milik daerah dan/atau badan lain yang anggarannya bersumber dari APBN/APBD • UU No 32 Tahun 2004 mewajibkan DPRD untuk menyusun kode etik untuk menjaga martabat dan kehormatan anggota DPRD dalam menjalankan tugas dan wewenangnya. membentuk Perda yang dibahas dengan kepala daerah untuk mendapat persetujuan bersama. Wakil Ketua. rakyat unsur Pasal 41 DPRD memiliki fungsi legislasi. (2) DPRD sebagai Badan Legislatif Daerah berkedudukan sejajar dan menjadi mitra dari Pemerintah Daerah. dan kerja sama internasional di daerah. membahas dan menyetujui rancangan Perda tentang APBD bersama dengan kepala daerah. diatur dengan Peraturan Tata Tertib DPRD. • Terdapat perbedaan dalam tugas dan wewenang anggota DPRD dimana dalam UU No 5 Tahun 1974 dan UU No 22 Tahun 1999 DPRD berwenang memilih calon kepala daerah sedangkan UU No 32 Tahun 2004 DPRD hanya berhak menetapkan kepala daerah setelah dilakukan pemilihan secara langsung. mengajukan pertanyaan bagi masing-masing Anggota. (2) Pemerintah Daerah terdiri atas Kepala Daerah beserta perangkat Daerah lainnya. b. pegawai pada badan usaha milik negara. e. (4) Peraturan Daerah yang dimaksud dalam ayat-ayat (1) dan (2) pasal ini. dan larangan rangkapan jabatan bagi Anggotaanggotanya diatur dengan Undang-undang. (4) Pelaksanaan ketentuan. DPR. dan DPRD. (3) DPRD membentuk fraksi-fraksi yang bukan merupakan alat kelengkapan DPRD. Pasal 40 DPRD merupakan lembaga perwakilan daerah dan berkedudukan sebagai penyelenggaraan pemerintahan daerah. tugas. Pasal 29 (1) Untuk dapat melaksanakan fungsinya. Wakil Ketua. 8 Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Pasal 27 Susunan. berlaku sesudah ada pengesahan pejabat yang berwenang. Pasal 18 (1) DPRD mempunyai tugas dan wewenang : Pasal 39 Ketentuan tentang DPRD sepanjang tidak diatur dalam Undang-Undang ini berlaku ketentuan Undang-Undang tentang Susunan dan Kedudukan MPR. Pasal 14 (1) Di Daerah dibentuk DPRD sebagai Badan Legislatif Daerah dan Pemerintah Daerah sebagai Badan Eksekutif Daerah. wewenang. • Dalam UU No 32 Tahun 2004 anggota DPRD dilarang untukmerangkap jabatan sebagai pejabat negara lainnya. kebijakan pemerintah daerah dalam melaksanakan program pembangunan daerah. dan panitia-panitia. mengusulkan pengangkatan dan pemberhentian kepala daerah/wakil kepala daerah kepada Presiden melalui Menteri Dalam Negeri bagi DPRD provinsi dan kepada Menteri Dalam Negeri melalui . dan Anggota bewan Perwakilan Rakyat Daerah diatur denpn Peraturan Daerah. Pasal 15 Kedudukan. mengadakan perubahan. • Menurut UU No 32 Tahun 2004.

(2) Pelaksanaan hak angket sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b dilakukan setelah diajukan hak interpelasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a dan mendapatkan persetujuan dari Rapat Paripurna DPRD yang dihadiri sekurang-kurangnya 3/4 (tiga perempat) dari jumlah anggota DPRD dan putusan diambil dengan persetujuan sekurangkurangnya 2/3 (dua pertiga) dari jumlah anggota DPRD yang hadir. dan h. 4. Bupati. Pasal 43 (1) DPRD mempunyai hak: a. memilih wakil kepala daerah dalam hal terjadi kekosongan jabatan wakil kepala daerah. e. diatur dalam Peraturan Tata Tertib Dewan Perwakilan Rakyat Daerah sesuai dengan pedoman yang ditetapkan oleh Menteri Dalam Negeri. atau Walikota membentuk Peraturan Daerah. pelaksanaan Keputusan Gubernur. menjunjung tinggi dan melaksanakan secara konsekwen Garis-garis Besar Haluan Negara. pelaksanaan Peraturan Daerah dan peraturan perundang-undangan lain. memberikan pendapat dan pertimbangan kepada pemerintah daerah terhadap rencana perjanjian internasional di daerah.f. h. dan Walikota. menyatakan pendapat. mengusulkan pengangkatan dan pemberhentian Gubernur/ Wakil Gubernur. b. memberikan persetujuan terhadap rencana kerja sama internasional yang dilakukan oleh pemerintah daerah. Bupati. b. Ketetapan-ketetapan Majelis Permusyawaratan Rakyat serta mentaati segala peraturan perundang-undangan yang berlaku. g. memilih anggota Majelis Permusyawaratan Rakyat dari Utusan Daerah. i. membentuk panitia pengawas pemilihan kepala daerah. (3) Dalam menggunakan hak angket se-bagaimana dimaksud pada ayat (2) dibentuk panitia angket yang terdiri atas semua unsur fraksi DPRD yang bekerja dalam waktu paling lama 60 . d. Bupati. bersama-sama Kepala Daerah menyusun Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah dan Peraturanperaturan Daerah untuk kepentingan Daerah dalam batasbatas wewenang yang diserahkan kepada Daerah atau untuk melaksanakan peraturan perundang-undangan yang pelaksanaannya ditugaskan kepada Daerah . diatur dengan Undangundang. memperhatikan aspirasi dan memajukan tingkat kehidupan Rakyat dengan berpegang pada program pembangunan Pemerintah. c. f. dan Walikota. angket. mengadakan penyelidikan. e. e. melakukan pengawasan dan meminta laporan KPUD dalam penyelenggaraan pemilihan kepala daerah. Pasal 19 (1) DPRD mempunyai hak : a. atau Walikota menetapkan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah. bersama dengan Gubernur. interpelasi. mengajukan pernyataan pendapat. b. dan c. k. prakarsa. bersama dengan Gubernur. g. d. diatur dalam Peraturan Tata Tertib DPRD. Bupati/Wakil Bupati. mempertahankan. meminta pertanggungjawaban Gubernur. mengajukan Rancangan Peraturan (2) Gubernur bagi DPRD kabupaten/kota. DPRD melaksanakan tugas dan wewenang lain yang diatur dalam peraturan perundang-undangan. Bupati. Pasal 31 (1) Dewan Perwakilan Rakyat Daerah bersidang sekurang-kurangnya 2 (dua) a. g. (2) Cara pelaksanaan ketentuan yang dimaksud dalam ayat (1) huruf a sampai dengan huruf f pasal ini. c. memberikan persetujuan terhadap rencana kerja sama antardaerah dan dengan pihak ketiga yang membebani masyarakat dan daerah. 2. d. h. mengadakan perubahan atas Rancangan Peraturan Daerah. (3) Cara pelaksanaan hak penyelidikan yang dimaksud dalam ayat (1) huruf g pasal ini. pelaksanaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah. dan 5. meminta laporan keterangan pertanggungjawaban kepala daerah dalam penyelenggaraan pemerintahan daerah. Pasal 30 Kewajiban Dewan Perwakilan Rakyat Daerah adalah : a. melaksanakan pengawasan terhadap : 1. 3. (2) Pelaksanaan tugas dan wewenang. penyelidikan. atau Walikota/ Wakil Walikota. f. f. dan Walikota/Wakil Walikota. b. c. j. pelaksanaan kerja sama internasional di Daerah. sebagaimana dimaksud dalam ayat (1). Selain tugas dan wewenang sebagaimana dimaksud pada ayat (1). kebijakan Pemerintah Daerah. memberikan pendapat dan pertimbangan kepada Pemerintah terhadap rencana perjanjian internasional yang menyangkut kepentingan Daerah. meminta keterangan kepada Pemerintah Daerah. mengamankan. serta mengamalkan PANCASILA dan Undang-Undang Dasar 1945 . memilih Gubernur/Wakil Gubernur. Bupati/Wakil Bupati. menampung dan menindaklanjuti aspirasi Daerah dan masyarakat.

protokoler. hutang piutang dan menanggung pinjaman . membina demokrasi dalam penyelenggaraan Pemerintahan Daerah. dapat diadakan rapat tertutup. Pasal 22 DPRD mempunyai kewajiban : a. dan penghapusan pajak dan retribusi . diatur dalam Peraturan Tata Tertib DPRD. g. serta mentaati segala peraturan perundang-undangan. pemerintahan. me-laksanakan . pejabat pemerintah. pemilihan Ketua dan Wakil Ketua dan pelantikan Anggota baru Dewan Perwakilan Rakyat Daerah. h. mendengar. hak angket. Dalam hal telah dipanggil dengan patut secara berturut-turut tidak memenuhi panggilan sebagaimana dimaksud pada ayat (5). d. bangsa. Pasal 21 (1) Anggota DPRD mempunyai hak : a. c. diatur dalam Peraturan Tata Tertib DPRD. Pasal 20 (1) DPRD dalam melaksanakan tugasnya berhak meminta pejabat negara. (3) Dewan Perwakilan Rakyat Daerah bersidang atas panggilan Ketua. atau warga masyarakat untuk memberikan keterangan tentang suatu hal yang perlu ditangani demi kepentingan negara. Pasal 44 (1) Anggota DPRD mempunyai hak: a. perubahan. b. protokoler. Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah serta perhitungannya. f. b. g. Setiap orang yang dipanggil. Ketua memanggil Anggota-anggota untuk bersidang dalam waktu 1 (satu) bulan setelah permintaan itu diterima. (2) dan (3) pasal ini diatur dalam Peraturan Tata Tertib Dewan Perwakilan Rakyat Daerah. pemborongan pekerjaan. (2) Atas permintaan Kepala Daerah.kali dalam setahun. pa-nitia angket sebagaimana dimaksud pada ayat (3) dapat memanggil. sebagaimana dimaksud pada ayat (1). dan diperiksa sebagaimana dimaksud pada ayat (5) wajib memenuhi panggilan panitia angket kecuali ada alasan yang sah menurut peraturan perundang-undangan. membela diri. panitia angket dapat memanggil secara paksa dengan bantuan Kepolisian Negara Republik Indonesia sesuai dengan peraturan perundang-undangan. b. didengar. mempertahankan dan memelihara keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia. c. mengamalkan Pancasila dan UndangUndang Dasar 1945. e. dan pemborongan pengangkutan tanpa mengadakan penawaran umum . sebagaimana dimaksud pada ayat (1). g. perusahaan Daerah . Dalam melaksanakan tugasnya. atau warga masyarakat yang menolak permintaan. mengajukan rancangan Perda. dan c. mengamalkan Pancasila. imunitas. dan h. sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2). b. d. atau atas permintaan sekurang-kurangnya seperlima jumlah Anggota atau apabila dipandang perlu oleh Pimpinan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah. (2) Kedudukan protokoler dan keuangan pimpinan dan anggota DPRD diatur dalam Peraturan Pemerintah. f. pengajuan pertanyaan. c. Tata cara penggunaan hak interpelasi. (2) Kecuali yang dimaksud dalam ayat (1) pasal ini. Seluruh hasil kerja panitia angket bersifat rahasia. penghapusan tagihan sebagian atau seluruhnya . keuangan dan administratif. meningkatkan kesejahteraan rakyat di Daerah berdasarkan demokrasi (4) (5) (6) (7) (8) (enam puluh) hari telah menyampaikan hasil kerjanya kepada DPRD. jual beli barang-barang. keuangan/administrasi. (3) Pelaksanaan hak. sebagaimana dimaksud pada ayat (1). (4) Semua yang hadir dalam rapat tertutup Daerah. e. Pasal 45 Anggota DPRD mempunyai kewajiban: a. dan pembangunan. menyampaikan usul dan pendapat. dan hak menyatakan pendapat diatur dalam Peraturan Tata Tertib DPRD yang berpedoman pada peraturan perundangundangan. dan h. (3) Rapat tertutup dapat mengambil keputusan. kecuali mengenai : a. diatur dalam Peraturan Tata Tertib DPRD. dan memeriksa seseorang yang dianggap mengetahui atau patut mengetahui masalah yang sedang diselidiki serta untuk meminta menunjukkan surat atau dokumen yang berkaitan dengan hal yang sedang diselidiki. (4) Pelaksanaan ketentuan yang dimaksud dalam ayat-ayat (1). menentukan Anggaran Belanja DPRD. diancam dengan pidana kurungan paling lama satu tahun karena merendahkan martabat dan kehormatan DPRD. (2) Pelaksanaan hak. atas permintaan sekurangkurangnya seperlima jumlah Anggota atau atas permintaan Kepala Daerah. memilih dan dipilih. pejabat pemerintah. persetujuan penyelesaian perkara perdata secara damai . d. mengajukan pertanyaan. Pasal 32 (1) Rapat-rapat Dewan Perwakilan Rakyat Daerah pada dasarnya bersifat terbuka untuk umum. menetapkan Peraturan Tata Tertib DPRD. (2) Pelaksanaan hak. (2) Pejabat negara. penetapan.

Pasal 24 Peraturan Tata Tertib DPRD ditetapkan dengan Keputusan DPRD. kecuali mengenai : a. pemilihan anggota Majelis Permusyawaratan Rakyat Utusan Daerah. Ketua DPRD dapat mengundang anggotanya untuk mengadakan rapat selambat-lambatnya dalam waktu satu bulan setelah permintaan itu diterima. kecuali yang dinyatakan tertutup berdasarkan Peraturan Tata Tertib DPRD atau atas kesepakatan di antara pimpinan DPRD. b. menerima keluhan dan pengaduan masyarakat.wajib merahasiakan segala hal yang dibicarakan dan kewajiban itu berlangsung terus baik bagi Anggota maupun pegawai/pekerja yang mengetahui halnya dengan jalan apapun. Pasal 34 (1) Peraturan Tata Tertib Dewan Perwakilan Rakyat Daerah diatur dengan Keputusan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah sesuai dengan pedoman yang ditetapkan oleh Menteri Dalam Negeri. pemilihan Ketua/Wakil Ketua DPRD. ekonomi. f. Pasal 23 (1) DPRD mengadakan rapat secara berkala sekurang-kurangnya enam kali dalam setahun. penetapan perubahan dan penghapusan pajak dan retribusi. pemilihan Kepala Daerah/Wakil Kepala Daerah. c. d. mendahulukan kepentingan negara di atas kepentingan pribadi. Pasal 46 (1) Alat kelengkapan DPRD terdiri atas: a. b. susunan. memberikan pertanggungjawaban atas tugas dan kinerjanya selaku anggota DPRD sebagai wujud tanggung jawab moral dan politis terhadap daerah pemilihannya. c. (2) Kecuali yang dimaksud pada ayat (1). yang diajukan secara lisan maupun tertulis kepada Pimpinan Dewan Perwakilna Rakyat Daerah. Pasal 26 Rapat tertutup dapat mengambil keputusan. Badan Kehormatan. Kode Etik. memperjuangkan peningkatan kesejahteraan rakyat di daerah. d. panitia anggaran. ayat (2). dan f. sampai Dewan membebaskannya. ditetapkan dengan Peraturan Tata Tertib DPRD. Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. atas permintaan sekurang-kurangnya seperlima dari jumlah anggota atau atas permintaan Kepala Daerah. h. c. dan ayat (3). Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah. (2) Peraturan Tata Tertib yang dimaksud dalam ayat (1) pasal ini. dan golongan. pimpinan. menyerap. kecuali jika dengan pernyataan itu ia membocorkan apa yang disepakati dalam rapat tertutup untuk dirahasiakan atau hal-hal yang dimaksud oleh ketentuan-ketentuan mengenai pengumuman rahasia Negara dalam BUKU KEDUA BAB I Kitab Undang-undang Hukum Pidana. e. dan wewenang alat kelengkapan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dalam Peraturan Tata Tertib DPRD dengan berpedoman pada peraturan perundang-undangan. menjaga norma dan etika dalam hubungan kerja dengan lembaga yang terkait. (3) DPRD mengadakan rapat atas undangan Ketua DPRD. kelompok. Pasal 35 (1) Apabila ternyata Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Tingkat I melalaikan atau karena sesuatu hal tidak dapat menjalankan fungsi dan kewajibannya e. sebagaimana dimaksud pada ayat (1). menaati Peraturan Tata Tertib. untuk DPRD kabupaten/kota yang beranggotakan sampai dengan 34 (tiga puluh . d. komisi. alat kelengkapan lain yang diperlukan.dan memperhatikan dan menyalurkan aspirasi. mempertahankan dan memelihara kerukunan nasional serta keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia. (2) Tatacara tindakan kepolisian terhadap Anggota-anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah diatur dengan Undangundang. dan menaati segala peraturan perundang-undangan. Pasal 33 (1) Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah tidak dapat dituntut dimuka Pengadilan karena pernyataanpernyataan yang dikemukakan dalam rapat Dewan Perwakilan Rakyat Daerah. e. panitia musyawarah. berlaku sesudah ada pengesahan pejabat yang berwenang. Pasal 25 Rapat-rapat DPRD bersifat terbuka untuk umum. (2) Pembentukan. meng-himpun. tugas. melaksanakan kehidupan demo-krasi dalam penyelenggaraan pemerintahan daerah. Kepala Daerah atau Pemerintah. g. i. dan sumpah/janji anggota DPRD. b. menampung. dan menindaklanjuti aspi-rasi masyarakat. Pasal 47 (1) Badan Kehormatan DPRD dibentuk dan ditetapkan dengan keputusan DPRD. (4) Pelaksanaan ketentuan. serta memfasilitasi tindak lanjut penyelesaiannya. (2) Anggota Badan Kehormatan DPRD sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dipilih dari dan oleh anggota DPRD dengan ketentuan: a. baik dalam rapat terbuka maupun dalam rapat tertutup.

(2) Bagi Daerah Tingkat II penentuan cara yang dimaksud dalam ayat (1) pasal ini. Badan Kehormatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dibantu oleh sebuah sekretariat yang secara fungsional dilaksanakan oleh Sekretariat DPRD. persetujuan penyelesaian perkara perdata secara damai. Pasal 37 (1) Sekretariat Dewan Perwakilan Rakyat Daerah dipimpin oleh seorang Sekretaris Dewan Perwakilan Rakyat Daerah. Pasal 36 (1) Sekretariat Dewan Perwakilan Rakyat Daerah adalah unsur staf yang membantu Pimpinan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah dalam menyelenggarakan tugas dan kewajibannya. setelah mendengar pertimbangan Gubernur Kepala Daerah. kebijakan tata ruang. Pasal 48 Badan Kehormatan mempunyai tugas: a. susunan organisasi. berlaku sesudah ada pengesahan pejabat yang berwenang. kecuali jika yang bersangkutan tertangkap tangan melakukan tindak pidana kejahatan. b. (2) Dalam hal anggota DPRD tertangkap tangan melakukan tindak pidana. untuk DPRD provinsi yang beranggotakan sampai dengan 74 (tujuh puluh empat) berjumlah 5 (lima) orang. (3) Peraturan Daerah yang dimaksud dalam ayat (2) pasal ini. melakukan penyelidikan. sebagaimana dimaksud pada ayat (1). g. d. selambat-lambatnya dalam tempo 2 kali 24 jam diberitahukan secara tertulis kepada Menteri Dalam Negeri dan/atau Gubernur. dan klarifikasi sebagaimana dimaksud pada huruf c sebagai rekomendasi untuk ditindaklanjuti oleh DPRD. kecuali jika yang bersangkutan mengumumkan apa yang disepakati dalam rapat tertutup untuk dirahasiakan atau hal-hal yang dimaksud oleh ketentuan mengenai pengumuman rahasia negara dalam buku kedua Bab I Kitab Undang-undang Hukum Pidana. (2) Sekretaris Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Tingkat I diangkat oleh Menteri Dalam Negeri dari Pegawai Negeri yang memenuhi persyaratan. dan formasi Sekretariat Dewan Perwakilan Rakyat Daerah diatur dengan Peraturan Daerah sesuai dengan pedoman yang ditetapkan oleh Menteri Dalam Negeri. Pasal 49 (1) DPRD wajib menyusun kode etik untuk menjaga martabat dan kehormatan anggota DPRD dalam menjalankan tugas dan wewenangnya.sehingga dapat merugikan Daerah atau Negara. (2) Sekretariat DPRD dipimpin oleh seorang Sekretaris DPRD yang diangkat oleh Kepala Daerah dari Pegawai Negeri Sipil yang memenuhi syarat atas persetujuan pimpinan DPRD. masyarakat dan/atau pemilih. utang piutang. Pasal 29 (1) Sekretariat DPRD membantu DPRD dalam menyelenggarakan tugas dan kewenangannya. verifikasi. b. Pasal 28 (1) Tindakan penyidikan terhadap anggota DPRD dapat dilaksanakan atas persetujuan tertulis Menteri Dalam Negeri bagi anggota DPRD Propinsi dan Gubernur bagi anggota DPRD Kabupaten dan Kota. meneliti dugaan pelanggaran yang dilakukan anggota DPRD terhadap Peraturan Tata Tertib dan Kode Etik DPRD serta sumpah/janji. Pimpinan Badan Kehormatan DPRD sebagaimana dimaksud pada ayat (2) terdiri atas seorang Ketua dan seorang Wakil Ketua yang dipilih dari dan oleh anggota Badan Kehormatan. dan untuk DPRD yang beranggotakan 35 (tiga puluh lima) sampai dengan 45 (empat puluh lima) berjumlah 5 (lima) orang. Badan Usaha Milik Daerah. dilakukan oleh Gubernur Kepala Daerah setelah mendengar pertimbangan Bupati/Walikotamadya Kepala Daerah yang bersangkutan. baik terbuka maupun tertutup. penghapusan tagihan sebagian atau seluruhnya. dan kewajiban Dewan Perwakilan Rakyat Daerah itu dijalankan. yang diajukannya secara lisan atau tertulis. h. pinjaman. Gubernur Kepala Daerah mengajukan calon Sekretaris Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Tingkat I kepada Menteri Dalam Negeri. (3) Dengan memperoleh persetujuan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah tanpa melalui pemilihan. dan pembebanan kepada Daerah. mengamati. (4) Sekretaris Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Tingkat II diangkat oleh e. wewenang. c. Pasal 27 Anggota DPRD tidak dapat dituntut di pengadilan karena pernyataan dan atau pendapat yang dikemukakan dalam rapat DPRD. (3) Sekretaris DPRD dalam melaksanakan tugasnya berada di bawah dan bertanggung (3) (4) empat) berjumlah 3 (tiga) orang. dan i. f. dan klarifikasi atas pengaduan Pimpinan DPRD. (2) Pembentukan. Menteri Dalam Negeri menentukan cara bagaimana hak. menyampaikan kesimpulan atas hasil penyelidikan. dan untuk DPRD yang beranggotakan 75 (tujuh puluh lima) sampai dengan 100 (seratus) berjumlah 7 (tujuh) orang. etika. dan moral para anggota DPRD dalam rangka menjaga martabat dan kehormatan sesuai dengan Kode Etik DPRD. verifikasi. (2) Kode etik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) sekurang-kurangnya meliputi: . mengevaluasi disiplin.

sanggahan. jawab kepada pimpinan DPRD. c. (6) Parpol yang memenuhi persyaratan untuk membentuk fraksi hanya dapat membentuk satu fraksi. Pasal 50 (1) Setiap anggota DPRD wajib terhimpun dalam fraksi. yang beranggotakan lebih dari 75 (tujuh puluh lima) orang membentuk 5 (lima) komisi. (7) Fraksi gabungan dapat dibentuk oleh partai politik dengan syarat sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dan ayat (5). kemudian tidak lagi memenuhi syarat sebagai fraksi ga-bungan. tanggapan. e. tujuan kode etik. (2) Jumlah anggota setiap fraksi se-bagaimana dimaksud pada ayat (1) sekurang-kurangnya sama dengan jumlah komisi di DPRD. tata kerja. dan tata hubungan antarpenyelenggara pemerintahan daerah dan antaranggota serta antara anggota DPRD dan pihak lain. pengaturan sikap.Gubernur Kepala Daerah atas nama Menteri Dalam Negeri dari Pegawai Negeri yang memenuhi persyaratan. (3) Anggota DPRD sebagaimana di-maksud pada ayat (1) dari 1 (satu) partai politik yang tidak memenuhi syarat untuk membentuk 1 (satu) fraksi. a. Pasal 51 (1) DPRD provinsi yang beranggotakan 35 (tiga puluh lima) sampai dengan 75 (tujuh puluh lima) orang membentuk 4 (empat) komi-si. . (4) Sekretaris DPRD dapat menyediakan tenaga ahli dengan tugas membantu anggota DPRD dalam menjalankan fungsinya. (5) Dengan memperoleh persetujuan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah tanpa melalui pemilihan. pengertian kode etik. b. (3). (4) Fraksi yang ada wajib menerima anggota DPRD dari partai politik lain yang tidak memenuhi syarat untuk dapat membentuk satu fraksi. wajib bergabung dengan fraksi yang ada atau membentuk fraksi gabungan. hal yang baik dan sepantasnya dilakukan oleh anggota DPRD. (4) dan (5) pasal ini diatur dengan Peraturan Manteri Dalam Negeri. Pasal 30 Setiap Daerah dipimpin oleh seorang Kepala Daerah sebagai kepala eksekutif yang dibantu oleh seorang Wakil Kepala Daerah. d. dan f. (5) Anggaran Belanja Sekretariat DPRD ditetapkan dengan Keputusan DPRD dan dicantumkan dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah. (5) Dalam hal fraksi gabungan sebagaimana dimaksud pada ayat (3) setelah dibentuk. (6) Persyaratan dan tatacara pelaksanaan ketentuan yang dimaksud dalam ayatayat (2). etika dalam penyampaian pendapat. jawaban. seluruh anggota fraksi gabungan tersebut wajib bergabung dengan fraksi dan/atau fraksi ga-bungan lain yang memenuhi syarat. Bupati/Walikotamadya Kepala Daerah mengajukan calon Sekretaris Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Tingkat II kepada Gubernur Kepala Daerah. sanksi dan rehabilitasi.

atau .(2) DPRD kabupaten/kota yang beranggotakan 20 (dua puluh) sampai dengan 35 (tiga puluh lima) orang membentuk 3 (tiga) komisi. sepanjang tidak bertentangan dengan Peraturan Tata Tertib dan kode etik DPRD. Pasal 52 (1) Anggota DPRD tidak dapat dituntut dihadapan pengadilan karena pernyataan. (4) Hal-hal yang dikecualikan dari ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) adalah: a. Pasal 53 (1) Tindakan penyidikan terhadap anggota DPRD dilaksanakan setelah adanya persetujuan tertulis dari Menteri Dalam Negeri atas nama Presiden bagi anggota DPRD provinsi dan dari Gubernur atas nama Menteri Dalam Negeri bagi anggota DPRD kabupaten/kota. pertanyaan dan/atau pendapat yang dikemukakan dalam rapat DPRD. pertanyaan dan/atau pendapat yang dikemukakan secara lisan ataupun tertulis dalam rapat DPRD. tertangkap tangan melakukan tindak pidana kejahatan. (3) Tindakan penyidikan yang dilanjutkan dengan penahanan diperlukan persetujuan tertulis dengan cara sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2). (2) Dalam hal persetujuan tertulis sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tidak diberikan dalam waktu paling lambat 60 (enam puluh) hari semenjak diterimanya permohonan. proses penyidikan dapat dilakukan. yang beranggotakan lebih dari 35 (tiga puluh lima) orang membentuk 4 (empat) komisi. (2) Ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tidak berlaku dalam hal anggota yang bersangkutan mengumumkan materi yang telah disepakati dalam rapat tertutup untuk dirahasiakan. atau hal-hal yang dimaksud oleh ketentuan mengenai pengumuman rahasia negara dalam peraturan perundang-undangan. (3) Anggota DPRD tidak dapat diganti antarwaktu karena pernyataan.

(4) Anggota DPRD yang melakukan pekerjaan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) wajib melepaskan pekerjaan tersebut selama menjadi anggota DPRD. Setelah tindakan sebagaimana dimaksud pada ayat (4) dilakukan. dan hak sebagai anggota DPRD. tindakan penyidikan harus dilaporkan kepada pejabat yang memberikan izin sebagaimana dimaksud pada ayat (1) paling lambat 2 (dua kali) 24 (dua puluh empat) jam. (2) Anggota DPRD dilarang melakukan pekerjaan sebagai pejabat struktural pada lembaga pendidikan swasta. Pasal 54 (1) Anggota DPRD dilarang merangkap jabatan sebagai: a. notaris. ayat (4). wewenang. dokter praktik dan pekerjaan lain yang ada hubungannya dengan tugas. akuntan publik. advokat/pengacara. (6) Pelaksanaan ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1). pegawai pada badan usaha milik negara. dan ayat (5) diatur dalam Peraturan Tata Tertib DPRD yang berpedoman pada peraturan perundang-undangan. badan usaha milik daerah dan/atau badan lain yang anggarannya bersumber dari APBN/APBD. ayat (2). c. kolusi. (3) Anggota DPRD dilarang melakukan korupsi. Pasal 55 (1) Anggota DPRD berhenti antarwaktu sebagai . dan nepotisme. b.(5) b. atau tindak pidana kejahatan terhadap keamanan negara. (5) Anggota DPRD yang tidak memenuhi kewajiban sebagaimana dimaksud pada ayat (4) diberhentikan oleh pimpinan berdasarkan hasil pemeriksaan Badan Kehormatan DPRD. pegawai negeri sipil. hakim pada badan peradilan. pejabat negara lainnya. konsultan. anggota TNI/Polri. disangka melakukan tindak pidana kejahatan yang diancam dengan pidana mati. ayat (3).

dan ayat (4) diatur dalam Peraturan Tata Tertib DPRD berpedoman pada peraturan perundang-undangan. mengundurkan diri atas permintaan sendiri secara tertulis. tidak dapat melaksanakan tugas secara berkelanjutan atau berhalangan tetap secara berturut-turut selama 6 (enam) bulan. tidak lagi memenuhi syarat sebagai anggota DPRD. e. c. Pemberhentian anggota DPRD yang telah memenuhi ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) disampaikan oleh Pimpinan DPRD kepada Menteri Dalam Negeri melalui Gubernur bagi anggota DPRD provinsi dan kepada Gubernur melalui Bupati/Walikota bagi anggota DPRD kabupaten/kota untuk diresmikan pemberhentiannya. huruf d. dinyatakan bersalah berdasarkan putusan pengadilan yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap karena melanggar tindak pidana dengan ancaman pidana paling singkat 5 (lima) tahun penjara atau lebih. dinyatakan melanggar sumpah/janji jabatan. Pasal 56 (1) Kepala daerah dan wakil kepala daerah dipilih dalam satu pasangan calon yang dilaksanakan secara demokratis berdasarkan . Pemberhentian anggota DPRD sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf a. dan c. dan huruf e dilaksanakan setelah ada keputusan DPRD berdasarkan rekomendasi dari Badan Kehormatan DPRD. Anggota DPRD diberhentikan antarwaktu. ayat (3). diusulkan oleh partai politik yang bersangkutan. karena: a. melanggar larangan bagi anggota DPRD. b. d. dan/atau melanggar kode etik DPRD. f.22 tahun 1999 9 Pemilihan Kepala Daerah Pasal 15 (1) Kepala Daerah Tingkat I dicalonkan dan dipilih oleh Dewan Perwakilan Rakyat Daerah dari sedikit-dikitnya 3 Pasal 34 : (1) Pengisian jabatan Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah dilakukan oleh DPRD melalui pemilihan secara bersamaan. ayat (2). Pelaksanaan ketentuan sebagai-mana dimaksud pada ayat (1). hal ini berbeda dengan yang diatur dalam UU No. 32 Tahun 2004 mengatur bahwa Pemilihan Kepala Daerah dilakukan secara langsung. meninggal dunia. huruf c. • Dalam UU No. huruf b. b. tidak melaksanakan kewajiban anggota DPRD.(2) (3) (4) (5) anggota karena: a.

(5) Sekretaris DPRD karena jabatannya adalah Sekretaris Panitia Pemilihan. Pasal 36 (1) Setiap fraksi melakukan kegiatan penyaringan pasangan bakal calon sesuai dengan syarat yang ditetapkan dalam Pasal 33. bebas. dan c. Pasal 59 (1) Peserta pemilihan kepala daerah dan wakil kepala daerah adalah pasangan calon yang diusulkan secara berpasangan oleh partai politik atau gabungan partai politik. sebagaimana dimaksud dalam Pasal 34 ayat (3).(tiga) orang dan sebanyak-banyknya 5 (lima) orang calon yang telah dimusyawarahkan dan disepakati bersama antara Pimpinan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah/ Pimpinan Fraksi-fraksi depan Menteri Dalam Negeri. (2) Partai politik atau gabungan partai politik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat mendaftarkan pasangan calon apabila dan UU No. 5 (lima) orang untuk kabupaten/kota dan 3 (tiga) orang untuk kecamatan. 5 Tahun 1974 pemilihan kepala daerah dilakukan oleh DPRD. Pasal 17 (1) Kepala Daerah diangkat untuk masa jabatan 5 (lima) tahun terhitung mulai (2) Calon Kepala Daerah dan calon Wakil Kepala Daerah. (2) Hasil pemilihan yang dimaksud dalam ayat (1) pasal ini diajukan oleh Dewan Perwakilan Rakyat Daerah yang bersangkutan kepada Menteri Dalam Negeri melalui Gubernur Kepala Daerah sedikit-dikitnya 2 (dua) orang untuk diangkat salah seorang diantaranya. . jujur. pers. dan adil. dan tokoh masyarakat. KPUD menyampaikan laporan penyelenggaraan pemilihan kepala daerah dan wakil kepala daerah kepada DPRD. panitia pengawas kabupaten/kota/kecamatan dapat diisi oleh unsur yang lainnya. Pasal 35 (1) Panitia pemilihan. (3) Dalam mengawasi penyelenggaraan pemilihan kepala daerah dan wakil kepala daerah. (4) Ketua dan para Wakil Ketua DPRD karena jabatannya adalah Ketua dan Wakil Ketua Panitia Pemilihan merangkap sebagai anggota. tetapi bukan anggota. (4) Anggota panitia pengawas sebagaimana dimaksud pada ayat (3) berjumlah 5 (lima) orang untuk provinsi. (2) Dalam melaksanakan tugasnya. (2) Pasangan calon sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diajukan oleh partai politik atau gabungan partai politik. perguruan tinggi. (3) Untuk pencalonan dan pemilihan Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah. (6) Dalam hal tidak didapatkan unsur sebagaimana dimaksud pada ayat (3). sebagaimana dimaksud pada ayat (1). (3) Tatacara pelaksanaan ketentuan yang dimaksud dalam ayat (1) pasal ini diatur dengan Peraturan Menteri Dalam Negeri. menjadi penanggung jawab penyelenggaraan pemilihan. (2) Bakal calon Kepala Daerah dan bakal calon Wakil Kepala Daerah yang memenuhi persyaratan sesuai dengan hasil pemeriksaan yang dilakukan oleh Panitia Pemilihan. (3) Tatacara pelaksanaan ketentuan yang dimaksud dalam ayat (1) pasal ini diatur dengan peraturan Menteri Dalam Negeri. melakukan pemeriksaan berkas identitas mengenai bakal calon berdasarkan persyaratan yang telah ditetapkan dalam Pasal 33. (5) Panitia pengawas kecamatan diusulkan oleh panitia pengawas kabupaten/kota untuk ditetapkan oleh DPRD. umum. b. Pasal 16 (1) Kepala Daerah Tingkat II dicalonkan dan dipilih oleh Dewan Perwakilan Rakyat Daerah dari sedikit-dikitnya 3 (tiga) orang dan sebanyak-banyaknya 5 (lima) orang calon yang telah dimusyawarahkan dan disepakati bersama antara Pimpinan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah/Pimpinan Fraksi-fraksi dengan Gubernur Kepala Daerah. dibentuk Panitia Pemilihan. Pasal 57 (1) Pemilihan kepala daerah dan wakil kepala daerah diselenggarakan oleh KPUD yang bertanggungjawab kepada DPRD. (7) Panitia pengawas pemilihan kepala daerah dan wakil kepala daerah dibentuk oleh dan bertanggungjawab kepada DPRD dan berkewajiban menyampaikan laporannya. melakukan kegiatan teknis pemilihan calon. ditetapkan oleh DPRD melalui tahap pencalonan dan pemilihan. diajukan kepada DPRD untuk ditetapkan sebagai calon Kepala Daerah dan calon Wakil Kepala Daerah. bertugas : a. rahasia. dibentuk panitia pengawas pemilihan kepala daerah dan wakil kepala daerah yang keanggotaannya terdiri atas unsur kepolisian. (2) Hasil pemilihan yang dimaksud dalam ayat (1) pasal ini diajukan oleh Dewan Perwakilan Rakyat Daerah yang bersangkutan kepada Presiden melalui Menteri Dalam Negeri sedikit-dikitnya 2 (dua) orang untuk diangkat salah seorang diantaranya. (3) Dua fraksi atau lebih dapat secara bersamasama mengajukan pasangan bakal calon asas langsung. kejaksaan. (2) Setiap fraksi menetapkan pasangan bakal calon Kepala Daerah dan bakal calon Wakil Kepala Daerah dan menyampaikannya dalam rapat paripurna kepada pimpinan DPRD.

Saya bersumpah/berjanji. (2) Apabila jumlah anggota DPRD belum mencapai kuorum. bahwa saya untuk diangkat menjadi Kepala Daerah. bahwa saya akan taat dan akan Kepala Daerah dan bakal calon Wakil Kepala Daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1). surat pernyataan mengundurkan diri dari jabatan negeri bagi calon yang berasal dari pegawai negeri sipil. (4) Dalam proses penetapan pasangan calon. b. partai politik atau gabungan partai politik memperhatikan pendapat dan tanggapan masyarakat. dan anggota Kepolisian Negara Republik Indonesia. Pasal 18 (1) Sebelum memangku jabatannya Kepala Daerah diambil sumpahnya/ janjinya dan dilantik oleh : a. f. Menteri Dalam Negeri bagi Kepala Daerah Tingkat II. (4) Pimpinan DPRD dan pimpinan fraksi-fraksi melakukan penilaian atas kemampuan dan kepribadian para bakal calon dan melalui musyawarah atau pemungutan suara menetapkan sekurang-kurangnya dua pasang calon Kepala Daerah dan calon Wakil Kepala Daerah yang akan dipilih satu pasang di antaranya oleh DPRD. surat pernyataan kesanggupan mengundurkan diri dari jabatan apabila terpilih menjadi kepala daerah atau wakil kepala daerah sesuai dengan peraturan perundang-undangan. sebagaimana dimaksud pada ayat (1). adalah sebagai berikut : "Saya bersumpah/berjanji. (3) Partai politik atau gabungan partai politik wajib membuka kesempatan yang seluas-luasnya bagi bakal calon perseorangan yang memenuhi syarat sebagaimana dimaksud dalam Pasal 58 dan selanjutnya memproses bakal calon dimaksud melalui mekanisme yang demokratis dan transparan. setiap fraksi atau beberapa fraksi memberikan penjelasan mengenai bakal calonnya. memenuhi persyaratan perolehan sekurangkurangnya 15% (lima belas persen) dari jumlah kursi DPRD atau 15% (lima belas persen) dari akumulasi perolehan suara sah dalam Pemilihan Umum anggota DPRD di daerah yang bersangkutan. d. bahwa saya untuk melakukan atau tidak melakukan sesuatu dalam jabatan ini. (2) Pimpinan DPRD mengundang bakal calon dimaksud untuk menjelaskan visi. surat pernyataan tidak akan mengundurkan diri sebagai pasangan calon. surat pernyataan tidak akan menarik pencalonan atas pasangan yang dicalonkan yang ditandatangani oleh pimpinan partai politik atau para pimpinan partai politik yang bergabung. Saya bersumpah/berjanji. Presiden bagi Kepala Daerah Tingkat I . (2) Presiden dapat menunjuk Menteri Dalam Negeri untuk mengambil sumpah/janji dan melantik Kepala Daerah Tingkat I atas nama Presiden. Pasal 38 (1) Nama-nama calon Gubernur dan calon Wakil Gubernur yang telah ditetapkan oleh pimpinan DPRD dikonsultasikan dengan Presiden. Pasal 37 (1) Dalam Rapat Paripurna DPRD. (3) Anggota DPRD dapat melakukan tanya jawab dengan para bakal calon. (4) Susunan kata-kata sumpah/janji yang dimaksud dalam ayat (1) pasal ini. wajib menyerahkan: a. anggota Tentara Nasional Indonesia. tidak sekali-kali akan menerima langsung ataupun tidak langsung dari siapapun juga sesuatu janji atau pemberian. tidak memberikan atau menjanjikan atau akan memberikan sesuatu kepada siapapun juga. (5) Partai politik atau gabungan partai politik pada saat mendaftarkan pasangan calon. kesepakatan tertulis antarpartai politik yang bergabung untuk mencalonkan pasangan calon. c. (2) Kepala Daerah adalah Pejabat Negara. surat pencalonan yang ditandatangani oleh pimpinan partai politik atau pimpinan partai politik yang bergabung. langsung atau tidak langsung dengan nama atau dalih apapun. (3) Menteri Dalam Negeri dapat menunjuk Gubernur Kepala Daerah untuk mengambil sumpah/janji dan melantik Kepala Daerah Tingkat II atas nama Menteri Dalam Negeri. b. surat pernyataan kesediaan yang bersangkutan sebagai calon kepala daerah dan wakil kepala daerah secara berpasangan. g. untuk 1 (satu) kali masa jabatan berikutnya. serta rencana-rencana kebijakan apabila bakal calon dimaksud terpilih sebagai Kepala Daerah. misi. Pasal 39 (1) Pemilihan calon Kepala Daerah dan calon Wakil Kepala Daerah dilaksanakan dalam Rapat Paripurna DPRD yang dihadiri oleh sekurang-kurangnya dua pertiga dari jumlah anggota DPRD.tanggal pelantikannya dan dapat diangkat kembali. . bahwa saya akan memenuhi kewajiban saya sebagai Kepala Daerah dengan sebaik-baiknya dan sejujur-jujurnya. e. (2) Nama-nama calon Bupati dan calon Wakil Bupati serta calon Walikota dan calon Wakil Walikota yang akan dipilih oleh DPRD ditetapkan dengan keputusan pimpinan DPRD. pimpinan rapat dapat menunda rapat paling lama satu jam.

naskah visi. surat pernyataan tidak aktif dari jabatannya bagi pimpinan DPRD tempat yang bersangkutan menjadi calon di daerah yang menjadi wilayah kerjanya. (3) Apabila ketentuan. (5) Tatacara pengambilan sumpah/janji dan pelantikan bagi Kepala Daerah diatur dengan Peraturan Pemerintah. (6) Partai politik atau gabungan partai politik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) hanya dapat mengusulkan satu pasangan calon dan pasangan calon tersebut tidak dapat diusulkan lagi oleh partai politik atau gabungan partai politik lainnya. dan DPRD yang mencalonkan diri sebagai calon kepala daerah dan wakil kepala daerah. h. Daerah. surat pemberitahuan kepada pimpinan bagi anggota DPR. misi. senantiasa akan lebih mengutamakan kepentingan Negara dan Daerah daripada kepentingan saya sendiri. Saya bersumpah/berjanji.mempertahankan PANCASILA sebagai dasar dan ideologi Negara. (3) Apabila pasangan calon belum memenuhi syarat atau ditolak karena tidak memenuhi syarat sebagaimana dimaksud dalam Pasal 58 dan/atau Pasal 59. Saya bersumpah/berjanji. paling lambat 7 (tujuh) hari terhitung sejak tanggal penutupan pendaftaran. bahwa saya dalam menjalankan jabatan atau pekerjaan saya. kelengkapan persyaratan calon kepala daerah dan wakil kepala daerah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 58. Pemerintah. partai politik atau gabungan partai politik yang mengajukan calon diberi kesempatan untuk melengkapi dan/atau memperbaiki surat pencalonan beserta persyaratan pasangan calon atau . bahwa saya akan berusaha sekuat tenaga membantu memajukan kesejahteraan Rakyat Indonesia pada umumnya dan memajukan kesejahteraan Rakyat Indonesia di Daerah pada khususnya dan akan setia kepada Bangsa dan Negara Kesatuan Republik Indonesia. dan martabat Pejabat Negara. belum dicapai. i. seseorang atau sesuatu golongan dan akan menjunjung tinggi kehormatan Negara. sebagaimana dimaksud pada ayat (2). (7) Masa pendaftaran pasangan calon sebagaimana dimaksud pada ayat (1) paling lama 7 (tujuh) hari terhitung sejak pengumuman pendaftaran pasangan calon. (2) Hasil penelitian sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diberitahukan secara tertulis kepada pimpinan partai politik atau gabungan partai politik yang mengusulkan. bahwa saya senantiasa akan menegakkan UndangUndang Dasar 1945 dan segala peraturan perundang-undangan yang berlaku bagi Negara Republik Indonesia. dan k. DPD. Pasal 60 (1) Pasangan calon sebagaimana dimaksud dalam Pasal 59 ayat (1) diteliti persyaratan administrasinya dengan melakukan klarifikasi kepada instansi pemerintah yang berwenang dan menerima masukan dari masyarakat terhadap persyaratan pasangan calon. bahwa saya akan memegang rahasia sesuatu yang menurut sifatnya atau menurut perintah harus saya rahasiakan. j. dan program dari pasangan calon secara tertulis. rapat paripurna diundur paling lama satu jam lagi dan selanjutnya pemilihan calon Kepala Daerah dan calon Wakil Kepala Daerah tetap dilaksanakan. Saya bersumpah/berjanji.

(4) (5) mengajukan calon baru paling lambat 7 (tujuh) hari sejak saat pemberitahuan hasil penelitian persyaratan oleh KPUD. KPUD melakukan penelitian ulang kelengkapan dan atau perbaikan persyaratan pasangan calon sebagaimana dimaksud pada ayat (3) dan sekaligus memberitahukan hasil penelitian tersebut paling lambat 7 (tujuh) hari kepada pimpinan partai politik atau gabungan partai politik yang mengusulkan. selanjutnya dilakukan undian secara terbuka untuk menetapkan nomor urut pasangan calon. (4) Penetapan dan pengumuman pasangan calon sebagaimana dimaksud pada ayat (3) bersifat final dan mengikat. KPUD menetapkan pasangan calon paling kurang 2 (dua) pasangan calon yang dituangkan dalam Berita Acara Penetapan pasangan calon. Pasal 62 (1) Partai politik atau gabungan partai politik dilarang menarik calonnya dan/atau pasangan calonnya. (3) Terhadap pasangan calon yang telah ditetapkan dan diumumkan. dan pasangan calon atau salah seorang dari pasangan calon dilarang mengundurkan diri terhitung sejak ditetapkan sebagai pasangan calon oleh KPUD. (2) Apabila partai politik atau gabungan partai politik menarik calonnya dan/atau pasangan calon dan/atau salah seorang dari pasangan calon mengundurkan diri sebagaimana dimaksud pada ayat (1). tidak dapat lagi mengajukan pasangan calon. partai politik dan atau gabungan partai politik. (2) Pasangan calon yang telah ditetapkan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diumumkan secara luas paling lambat 7 (tujuh) hari sejak selesainya penelitian. Apabila hasil penelitian berkas pasangan calon sebagaimana dimaksud pada ayat (3) tidak memenuhi syarat dan ditolak oleh KPUD. partai politik atau . Pasal 61 (1) Hasil penelitian sebagaimana dimaksud dalam Pasal 60 ayat (2) dan ayat (4).

tahapan . partai politik atau gabungan partai politik yang pasangan calonnya berhalangan tetap dapat mengusulkan pasangan calon pengganti paling lambat 3 (tiga) hari sejak pasangan calon berhalangan tetap dan KPUD melakukan penelitian persyaratan administrasi dan menetapkan pasangan calon pengganti paling lambat 4 (empat) hari sejak pasangan calon pengganti didaftarkan. (3) Dalam hal salah satu calon atau pasangan calon berhalangan tetap pada saat dimulainya kampanye sampai hari pemungutan suara sehingga jumlah pasangan calon kurang dari 2 (dua) pasangan. Pasal 64 (1) Dalam hal salah satu calon atau pasangan calon berhalangan tetap setelah pemungutan suara putaran pertama sampai dimulainya hari pemungutan suara putaran kedua. tahapan pelaksanaan pemilihan kepala daerah dan wakil kepala daerah ditunda paling lambat 30 (tiga puluh) hari dan partai politik atau gabungan partai politik yang pasangan calonnya berhalangan tetap mengusulkan pasangan calon pengganti paling lambat 3 (tiga) hari sejak pasangan calon berhalangan tetap dan KPUD melakukan penelitian persyaratan administrasi dan menetapkan pasangan calon pengganti paling lambat 4 (empat) hari sejak pasangan calon pengganti didaftarkan. Pasal 63 (1) Dalam hal salah satu calon atau pasangan calon berhalangan tetap sejak penetapan calon sampai pada saat dimulainya hari kampanye. tahapan pelaksanaan pemilihan kepala daerah dan wakil kepala daerah dilanjutkan dan pasangan calon yang berhalangan tetap tidak dapat diganti serta dinyatakan gugur.gabungan partai politik yang mencalonkan tidak dapat mengusulkan calon pengganti. (2) Dalam hal salah 1 (satu) calon atau pasangan calon berhalangan tetap pada saat dimulainya kampanye sampai hari pemungutan suara dan masih terdapat 2 (dua) pasangan calon atau lebih.

Penghitungan suara. d. Pemberitahuan DPRD kepada KPUD mengenai berakhirnya masa jabatan kepala daerah. Pemberitahuan DPRD kepada kepala daerah mengenai berakhirnya masa jabatan. c. Pendaftaran dan Penetapan calon kepala daerah/ wakil kepala daerah. (3) Tahap pelaksanaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi: a. Partai politik atau gabungan partai politik yang pasangan calonnya berhalangan tetap mengusulkan pasangan calon pengganti paling lambat 3 (tiga) hari sejak pasangan calon berhalangan tetap sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan KPUD melakukan penelitian persyaratan administrasi dan menetapkan pasangan calon pengganti paling lambat 4 (empat) hari sejak pasangan calon pengganti didaftarkan. e. dan pelantikan. Pembentukan Panitia Pengawas. Penetapan daftar pemilih. Penetapan pasangan calon kepala daerah/wakil kepala daerah terpilih. c. meliputi penetapan tata cara dan jadwal tahapan pelaksanaan pemilihan kepala daerah. Pasal 65 (1) Pemilihan kepala daerah dan wakil kepala daerah dilaksanakan melalui masa persiapan. b. e. (4) Tata cara pelaksanaan masa persiapan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dan tahap pelaksanaan sebagaimana dimaksud . Pemungutan suara. (2) Masa persiapan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi: a. PPK. Pemberitahuan dan pendaftaran pemantau. pengesahan. Kampanye.(2) pelaksanaan pemilihan kepala daerah dan wakil kepala daerah ditunda paling lambat 30 (tiga puluh) hari. dan f. d. Perencanaan penyelenggaraan. dan tahap pelaksanaan. PPS dan KPPS. b.

menetapkan tata cara pelaksanaan pemilihan kepala daerah dan wakil kepala daerah sesuai dengan tahapan yang diatur dalam peraturan perundang-undangan.menyelenggarakan. serta pe-mungutan suara pemilihan kepala daerah dan wakil kepala daerah. h. m. melakukan evaluasi dan pelaporan pelaksanaan pemilihan kepala daerah dan wakil kepala daerah. Merencanakan penyelenggara-an pemilihan kepala daerah dan wakil kepala daerah. melaksanakan tugas dan wewenang lain yang diatur oleh peraturan perundangundangan. b. mengumumkan laporan sumbangan dana kampanye. meneliti persyaratan calon kepala daerah dan wakil kepala daerah yang diusulkan. mengkoordinasikan. k. f. menerima pendaftaran dan me-ngumumkan tim kampanye. l. menetapkan pasangan calon yang telah memenuhi persyaratan. menetapkan tanggal dan tata cara pelaksanaan kampanye. j. i. . menetapkan kantor akuntan publik untuk mengaudit dana kampanye dan mengumumkan hasil audit. dan mengendalikan semua tahapan pelaksanaan pemilihan kepala daerah dan wakil kepala daerah. d.pada ayat (3) diatur KPUD dengan berpedoman pada Peraturan Pemerintah. Pasal 66 (1) Tugas dan wewenang KPUD dalam penyelenggaraan pemilihan kepala daerah dan wakil kepala daerah adalah: a. c. g. e. meneliti persyaratan partai politik atau gabungan partai politik yang me-ngusulkan calon. menetapkan hasil rekapitulasi penghitungan suara dan mengumumkan hasil pemilihan kepala daerah dan wakil kepala daerah.

Tugas dan wewenang DPRD dalam penyelenggaraan pemilihan kepala daerah dan wakil kepala daerah adalah: a. e. meneruskan temuan dan laporan yang tidak dapat diselesaikan kepada instansi yang berwenang. memberitahukan kepada kepala daerah mengenai akan berakhirnya masa jabatan. b. Pasal 67 (1) KPUD berkewajiban: a. c. dan program dari pasangan calon kepala daerah dan wakil kepala daerah. d. dan f. b. menetapkan standarisasi serta kebutuhan . menyelesaikan sengketa yang timbul dalam penyelenggaraan pemilihan kepala daerah dan wakil kepala daerah. d. mengawasi semua tahapan penyelenggaraan pemilihan kepala daerah dan wakil kepala daerah. membentuk panitia pengawas. meminta pertanggungjawaban pelaksanaan tugas KPUD. mengatur hubungan koordinasi antar panitia pengawasan pada semua tingkatan. dan e. mengusulkan pemberhentian kepala daerah dan wakil kepala daerah yang berakhir masa jabatannya dan mengusulkan pengangkatan kepala daerah dan wakil kepala daerah terpilih. c. b. menyelenggarakan rapat paripurna un-tuk mendengarkan penyampaian visi. misi. memperlakukan pasangan calon secara adil dan setara. menerima laporan pelanggaran peraturan perundang-undangan pemilihan kepala daerah dan wakil kepala daerah.(2) (3) (4) Dalam penyelenggaran pemilihan gubernur dan wakil gubernur KPUD kabupaten/kota adalah bagian pelaksana tahapan penyelenggaraan pemilihan yang ditetapkan oleh KPUD provinsi. Panitia pengawas pemilihan mempunyai tugas dan wewenang: a. melakukan pengawasan pada semua tahapan pelaksanaan pemilihan.

. menyampaikan laporan kepada DPRD untuk setiap tahap pelaksanaan pemilihan dan menyampaikan informasi kegiatannya kepada masyarakat . memelihara arsip dan dokumen pemilihan serta mengelola barang inventaris milik KPUD berdasarkan peraturan perundangundangan. f. warga negara Republik Indonesia harus terdaftar sebagai pemilih. melaksanakan semua tahapan pemilihan kepala daerah dan wakil kepala daerah secara tepat waktu. tidak sedang dicabut hak pilihnya berdasarkan putusan pengadilan yang telah mempunyai kekuatan hukum tetap. c. warga negara Republik Indonesia sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus memenuhi syarat: a. 10 Penetapan Pemilih Pasal 68 Warga negara Republik Indonesia yang pada hari pemungutan suara pemilihan kepala daerah dan wakil kepala daerah sudah berumur 17 (tujuh belas) tahun atau sudah/pernah kawin mempunyai hak memilih. mempertanggungjawabkan pengguna-an anggaran kepada DPRD. b. (3) Seorang warga negara Republik Indonesia yang telah terdaftar dalam daftar pemilih ternyata tidak lagi memenuhi syarat sebagaimana dimaksud pada ayat (2) tidak dapat menggunakan hak memilihnya. e. Pasal 69 (1) Untuk dapat menggunakan hak memilih. (2) Untuk dapat didaftar sebagai pemilih.barang dan jasa yang berkaitan dengan penyelenggaraan pemilihan kepala daerah dan wakil kepala daerah berdasarkan peraturan perundang-undangan. d. nyata-nyata tidak sedang terganggu jiwa/ingatannya.

Pasal 73 (1) Pemilih yang telah terdaftar dalam daftar pemilih sebagaimana dimaksud dalam Pasal 70 kemudian berpindah tempat tinggal atau karena ingin menggunakan hak pilihnya di tempat lain. pemilih yang bersangkutan harus melapor kepada PPS setempat. yang bersangkutan dapat menggunakan hak pilihnya di tempat lain dengan menunjukkan kartu pemilih. (2) PPS sebagaimana dimaksud pada ayat (1) mencatat nama pemilih dari daftar pemilih dan memberikan surat keterangan pindah tempat memilih. Pasal 71 Pemilih yang telah terdaftar sebagai pemilih sebagaimana dimaksud dalam Pasal 70 diberi tanda bukti pendaftaran untuk ditukarkan dengan kartu pemilih untuk setiap pemungutan suara. (3) Pemilih melaporkan kepindahannya ke-pada PPS di tempat pemilihan yang baru. . (2) Apabila seorang pemilih mempunyai lebih dari 1 (satu) tempat tinggal. (2) Daftar pemilih sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditambah dengan daftar pemilih tambahan yang telah memenuhi persyaratan sebagai pemilih ditetapkan sebagai daftar pemilih sementara. pemilih tersebut harus menentukan satu di antaranya untuk ditetapkan sebagai tempat tinggal yang dicantumkan dalam daftar pemilih. (4) Pemilih terdaftar yang karena sesuatu hal terpaksa tidak dapat menggunakan hak pilihnya di TPS yang sudah ditetapkan. Pasal 72 (1) Seorang pemilih hanya didaftar 1 (satu) kali dalam daftar pemilih.Pasal 70 (1) Daftar pemilih pada saat pelaksanaan pemilihan umum terakhir di daerah digunakan sebagai daftar pemilih untuk pemilihan kepala daerah dan wakil kepala daerah.

(2) Kampanye sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan selama 14 (empat belas) hari dan berakhir 3 (tiga) hari sebelum hari pemungutan suara. (6) Penanggung jawab kampanye adalah pasangan calon. 11 Kampanye Pasal 75 (1) Kampanye dilaksanakan sebagai bagian dari penyelenggaraan pemilihan kepala daerah dan wakil kepala daerah. (5) Kampanye sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan secara bersama-sama atau secara terpisah oleh pasangan calon dan/atau oleh tim kampanye. (2) Daftar pemilih sementara sebagaimana diaksud pada ayat (1) diumumkan oleh PPS untuk mendapat tanggapan masyarakat. yang pelaksanaannya dipertanggungjawabkan oleh tim kampanye. (7) Tim kampanye dapat dibentuk secara berjenjang di provinsi. (5) Daftar pemilih tetap disahkan dan d-umumkan oleh PPS. (3) Kampanye sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diselenggarakan oleh tim kampanye yang dibentuk oleh pasangan calon bersama-sama partai politik atau gabungan partai politik yang mengusulkan pasangan calon. (4) Daftar pemilih sementara dan daftar pemilih tambahan ditetapkan sebagai daftar pemilih tetap. (4) Tim kampanye sebagaimana dimaksud pada ayat (3) didaftarkan ke KPUD bersamaan dengan pendaftaran pasangan calon. (3) Pemilih yang belum terdaftar dalam daftar peilih sementara dapat mendaftarkan diri ke PPS dan dicatat dalam daftar pemilih tambahan.Pasal 74 (1) Berdasarkan daftar pemilih sebagaimana diaksud dalam Pasal 70 dan Pasal 73 PPS menyusun dan menetapkan daftar pemilih sementara. (6) Tata cara pelaksanaan pendaftaran pemilih ditetapkan oleh KPUD. kabupaten/kota bagi pasangan calon Gubernur dan Wakil .

(9) Jadwal pelaksanaan kampanye ditetapkan oleh KPUD dengan memperhatikan usul dari pasangan calon. dan/atau i. h. (5) Penyelenggaraan kampanye dilakukan di seluruh wilayah provinsi untuk pemilihan gubernur dan wakil gubernur dan diseluruh wilayah kabupaten/kota untuk pemilihan bupati dan wakil bupati dan walikota dan wakil walikota. penyebaran melalui media cetak dan media elektronik. rapat umum. dan bersifat edukatif. d. tertib. debat publik/debat terbuka antarcalon. f. (8) Dalam kampanye. Pasal 77 (1) Media cetak dan media elektronik memberikan kesempatan yang sama kepada pasangan calon untuk menyampaikan tema dan materi kampanye. (3) Calon kepala daerah dan wakil kepala daerah berhak untuk mendapatkan informasi atau data dari pemerintah daerah sesuai dengan ketentuan perundang-undangan. dan program secara lisan maupun tertulis kepada masyarakat. b. g. . penyebaran bahan kampanye kepada umum. (2) Pasangan calon wajib menyampaikan visi. rakyat mempunyai kebebasan untuk menghadiri kampanye. e. (4) Penyampaian materi kampanye dilakukan dengan cara yang sopan.Gubernur dan kabupaten/kota dan kecamatan bagi pasangan calon Bupati/Wakil Bupati dan Walikota/Wakil Walikota. pertemuan terbatas. penyiaran melalui radio dan/atau televisi. c. Pasal 76 (1) Kampanye dapat dilaksanakan melalui: a. tatap muka dan dialog. kegiatan lain yang tidak melanggar peraturan perundang-undangan. misi. pemasangan alat peraga di tempat umum.

Pemerintah daerah memberikan kesempatan yang sama kepada pasangan calon untuk menggunakan fasilitas umum. suku. estetika. menghasut atau mengadu domba partai politik. agama. kebersihan. Pasal 78 Dalam kampanye dilarang: a. ras. perseorangan. Alat peraga kampanye harus sudah dibersihkan paling lambat 3 (tiga) hari sebelum hari pemungutan suara. c. ancaman kekerasan atau menganjurkan . d. Pemasangan alat peraga kampanye pada tempat yang menjadi milik perseorangan atau badan swasta harus seizin pemilik tempat tersebut. golongan. menghina seseorang. dan keindahan kota atau kawasan setempat sesuai dengan peraturan perundang-undangan. KPUD berkoordinasi dengan pemerintah daerah untuk menetapkan lokasi pemasangan alat peraga untuk keperluan kampanye. b. Semua yang hadir dalam pertemuan terbatas atau rapat umum yang diadakan oleh pasangan calon hanya dibenarkan membawa atau menggunakan tanda gambar dan/atau atribut pasangan calon yang bersangkutan. calon kepala daerah/wakil kepala daerah dan/atau partai politik. mempersoalkan dasar negara Pancasila dan Pembukaan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. dan/atau kelompok masyarakat. menggunakan kekerasan. Pemasangan alat peraga kampanye sebagaimana dimaksud pada ayat (5) oleh pasangan calon dilaksanakan dengan memper-timbangkan etika.(2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) Media elektronik dan media cetak wajib memberikan kesempatan yang sama kepada pasangan calon untuk memasang iklan pemilihan kepala daerah dan wakil kepala daerah dalam rangka kampanye.

hakim pada semua peradilan. f. (2) Larangan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tidak berlaku apabila pejabat tersebut menjadi calon kepala daerah dan wakil kepala daerah. kepala desa. (3) Pejabat negara yang menjadi calon ke-pala daerah dan wakil kepala daerah dalam melaksanakan kampanye harus memenuhi ketentuan: a. e. melakukan pawai atau arak-arakan yang dilakukan dengan berjalan kaki dan/atau dengan kendaraan di jalan raya. dan ketertiban umum. anggota Tentara Nasional Indonesia. b. Pasal 79 (1) Dalam kampanye. merusak dan/atau menghilangkan alat peraga kampanye pasangan calon lain. menggunakan tempat ibadah dan tempat pendidikan. pengaturan lama cuti dan jadwal cuti dengan memperhatikan keberlangsungan tugas penyelenggaraan pemerin-tahan daerah. dan anggota Kepolisian Negara Republik Indonesia sebagai peserta . dilarang melibatkan: a. pejabat struktural dan fungsional dalam jabatan negeri. dan j. d. ketenteraman. kelompok masyarakat dan/atau partai politik. menggunakan fasilitas dan anggaran pemerintah dan pemerintah daerah. menjalani cuti di luar tanggungan negara. c. mengancam dan menganjurkan penggunaan kekerasan untuk mengambil alih kekuasaan dari pemerintahan yang sah. dan c. pejabat BUMN/BUMD. b. tidak menggunakan fasilitas yang terkait dengan jabatannya. h. g. (4) Pasangan calon dilarang melibatkan pegawai negeri sipil.penggunaan kekerasan kepada perseorangan. mengganggu keamanan. i.

huruf b.kampanye dan juru kampanye dalam pemilihan kepala daerah dan wakil kepala daerah. huruf h. Pasal 80 Pejabat negara. penghentian kegiatan kampanye di tempat terjadinya pelanggaran atau di seluruh daerah pemilihan yang bersangkutan apabila terjadi gangguan terhadap keamanan yang berpotensi menyebar ke daerah pemilihan lain. merupakan tindak pidana dan dikenai sanksi sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. huruf d. (4) Pelanggaran atas ketentuan larangan pelaksanaan kampanye sebagaimana dimaksud dalam Pasal 79 dikenai sanksi penghentian kampanye selama masa kampanye oleh KPUD. huruf c. dan kepala desa dilarang membuat keputusan dan/atau tindakan yang menguntungkan atau merugikan salah satu pasangan calon selama masa kampanye. yang merupakan pelanggaran tata cara kampanye dikenai sanksi: a. peringatan tertulis apabila penyelenggara kampanye melanggar larangan walaupun belum terjadi gangguan. pejabat struktural dan fungsional dalam jabatan negeri. dan huruf f. (2) Pelanggaran atas ketentuan larangan pelaksanaan kampanye sebagaimana dimaksud dalam Pasal 78 huruf g. b. huruf i dan huruf j. Pasal 81 (1) Pelanggaran atas ketentuan larangan pelaksanaan kampanye sebagaimana dimaksud dalam Pasal 78 huruf a. . (3) Tata cara pengenaan sanksi terhadap pelanggaran larangan pelaksanaan kampanye sebagaimana dimaksud pada ayat (2) ditetapkan oleh KPUD. huruf e.

(6) Laporan sumbangan dana kampanye sebagaimana dimaksud pada ayat (3).000. (4) Pasangan calon dapat menerima dan/atau menyetujui pembiayaan bukan dalam bentuk uang secara langsung untuk kegiatan kampanye. sumbangan pihak-pihak lain yang tidak mengikat yang meliputi sumbangan perseorangan dan/atau badan hukum swasta. pasangan calon. dan ayat (5) disampaikan oleh pasangan calon .000.Pasal 82 (1) Pasangan calon dan/atau tim kampanye dilarang menjanjikan dan/atau memberikan uang atau materi lainnya untuk mempengaruhi pemilih. (5) Sumbangan kepada pasangan calon yang lebih dari Rp 2. (2) Pasangan calon dan/atau tim kampanye yang terbukti melakukan pelanggaran sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berdasarkan putusan pengadilan yang telah mempunyai kekuatan hukum tetap dikenai sanksi pembatalan sebagai pasangan calon oleh DPRD. Pasal 83 (1) Dana kampanye dapat diperoleh dari: a.000.00 (lima puluh juta rupiah) dan dari badan hukum swasta dilarang melebihi Rp 350.00 (dua juta lima ratus ribu rupiah) baik dalam bentuk uang maupun bukan dalam bentuk uang yang dapat dikonversikan ke dalam nilai uang wajib dilaporkan kepada KPUD mengenai jumlah dan identitas pemberi sumbangan.000. partai politik dan/atau gabungan partai politik yang mengusulkan. (3) Sumbangan dana kampanye sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf c dari perseorangan dilarang melebihi Rp 50.00 (tiga ratus lima puluh juta rupiah).500. (2) Pasangan calon wajib memiliki rekening khusus dana kampanye dan rekening yang dimaksud didaftarkan kepada KPUD. c. b.000.

(3) KPUD wajib menyerahkan laporan dana kampanye sebagaimana dimaksud pada ayat (2) kepada kantor akuntan publik paling lambat 2 (dua) hari setelah KPUD menerima laporan dana kampanye dari pasangan calon. (7) KPUD mengumumkan melalui media massa laporan sumbangan dana kampanye setiap pasangan calon sebagaimana dimaksud pada ayat (6) kepada masyarakat satu hari setelah menerima laporan dari pasangan calon. (5) Hasil audit sebagaimana dimaksud pada ayat (4) diumumkan oleh KPUD paling lambat 3 (tiga) hari setelah KPUD menerima laporan hasil audit dari kantor akuntan publik. yang teknis pelaksanaannya dilakukan oleh tim kampanye. Pasal 84 (1) Dana kampanye digunakan oleh pasangan calon. Pasal 85 (1) Pasangan calon dilarang menerima sumbangan atau bantuan lain untuk kampanye yang berasal dari: a. (4) Kantor akuntan publik wajib menyelesaikan audit paling lambat 15 (lima belas) hari setelah diterimanya laporan dana kampanye dari KPUD. (6) Laporan dana kampanye yang diterima KPUD wajib dipelihara dan terbuka untuk umum. . lembaga swadaya masyarakat asing dan warga negara asing. negara asing.kepada KPUD dalam waktu 1 (satu) hari sebelum masa kampanye dimulai dan 1 (satu) hari sesudah masa kampanye berakhir. (2) Dana kampanye sebagaimana dimaksud pada ayat (1) wajib dilaporkan oleh pasangan calon kepada KPUD paling lambat 3 (tiga) hari setelah hari pemungutan suara. lembaga swasta asing.

(3) Penggunaan tambahan surat suara sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dibuatkan berita acara. 12 Pemungutan Suara Pasal 86 (1) Pemungutan suara pemilihan pasangan calon kepala daerah dan wakil kepala daerah diselenggarakan paling lambat 1 (satu) bulan sebelum masa jabatan kepala daerah berakhir. BUMN. (2) Pemungutan suara dilakukan dengan memberikan suara melalui surat suara yang berisi nomor.5% (dua setengah perseratus) dari jumlah pemilih tersebut. dan BUMD. (2) Pasangan calon yang menerima sumba-ngan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tidak dibenarkan menggunakan dana tersebut dan wajib melaporkannya kepada KPUD paling lambat 14 (empat belas) hari setelah masa kampanye berakhir dan menyerahkan sumbangan tersebut kepada kas daerah. Pasal 87 (1) Jumlah surat suara sebagaimana dimaksud dalam Pasal 86 ayat (2) dicetak sama dengan jumlah pemilih tetap dan ditambah 2. penyumbang atau pemberi bantuan yang tidak jelas identitasnya. (3) Pasangan calon yang melanggar ketentu-an sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dikenai sanksi pembatalan sebagai pasangan calon oleh KPUD. dan nama pasangan calon. foto. pemerintah. c.b. . (3) Pemungutan suara dilakukan pada hari libur atau hari yang diliburkan. (2) Tambahan surat suara sebagaimana dimaksud pada ayat (1) digunakan sebagai cadangan di setiap TPS untuk mengganti surat suara pemilih yang keliru memilih pilihannya serta surat suara yang rusak.

bentuk. dan warna kotak suara sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditetapkan oleh KPUD dengan berpedoman pada peraturan perundangundangan. bebas. Pasal 90 (1) Jumlah pemilih di setiap TPS sebanyakbanyaknya 300 (tiga ratus) orang. dan tata letak TPS ditetapkan oleh KPUD. serta menjamin setiap pemilih dapat memberikan suaranya secara langsung. (3) Jumlah. . lokasi. Pasal 89 (1) Pemilih tunanetra. termasuk oleh penyandang cacat. dan rahasia. ukuran. (2) Jumlah. atau yang mempunyai halangan fisik lain pada saat memberikan suaranya di TPS dapat dibantu oleh petugas KPPS atau orang lain atas permintaan pemilih. bentuk. bahan. (2) TPS sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditentukan lokasinya di tempat yang mudah dijangkau.Pasal 88 Pemberian suara untuk pemilihan kepala daerah dan wakil kepala daerah dilakukan dengan mencoblos salah satu pasangan calon dalam surat suara. (3) Ketentuan lebih lanjut mengenai pemberi-an bantuan kepada pemilih sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) diatur dalam Peraturan Pemerintah. (2) Petugas KPPS atau orang lain yang membantu pemilih sebagaimana dimaksud pada ayat (1) wajib merahasiakan pilihan pemilih yang dibantunya. tunadaksa. Pasal 91 (1) Untuk keperluan pemungutan suara dalam pemilihan kepala daerah dan wakil kepala daerah disediakan kotak suara sebagai tempat surat suara yang digunakan oleh pemilih.

pemilih dapat meminta surat suara pengganti kepada KPPS. (5) Penentuan waktu dimulai dan berakhirnya pemungutan suara ditetapkan oleh KPUD. penghitungan jumlah setiap jenis dokumen dan peralatan. (3) Kegiatan KPPS sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dibuatkan berita acara yang ditandatangani oleh Ketua KPPS. Pasal 94 (1) Pemilih yang telah memberikan suara di TPS diberi tanda khusus oleh KPPS. serta d. (2) Tanda khusus sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditetapkan oleh KPUD dengan .Pasal 92 (1) Sebelum melaksanakan pemungutan suara. dan warga masyarakat. (2) Dalam memberikan suara. kemudian KPPS memberikan surat suara pengganti hanya satu kali. pembukaan kotak suara. KPPS melakukan: a. pengidentifikasian jenis dokumen dan peralatan. (2) Kegiatan KPPS sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat dihadiri oleh saksi dari pasangan calon. panitia pengawas. dan sekurang-kurangnya 2 (dua) anggota KPPS dan dapat ditandatangani oleh saksi dari pasangan calon. (4) Apabila terdapat kekeliruan dalam cara memberikan suara. (3) Apabila menerima surat suara yang ternyata rusak. kemudian KPPS memberikan surat suara pengganti hanya satu kali. pemilih dapat meminta surat suara pengganti kepada KPPS. pengeluaran seluruh isi kotak suara. Pasal 93 (1) Setelah melakukan kegiatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 92. b. c. pemilih diberi kesempatan oleh KPPS berdasarkan prinsip urutan kehadiran pemilih. pemantau. KPPS memberikan penjelasan mengenai tata cara pemungutan suara.

tanda coblos lebih dari satu. (3) Penggunaan surat suara tambahan dibuatkan berita acara yang ditandatangani oleh Ketua KPPS dan sekurang-kurangnya 2 (dua) anggota KPPS. dan b. jumlah surat suara yang tidak terpakai. foto dan nama pasangan calon yang telah ditentukan. pemantau. c. tanda coblos hanya terdapat pada 1 (satu) kotak segi empat yang memuat satu pasangan calon. dan d. foto dan nama pasangan calon. Pasal 96 (1) Penghitungan suara di TPS dilakukan oleh KPPS setelah pemungutan suara berakhir. tanda coblos terdapat pada salah satu garis kotak segi empat yang memuat nomor. b. Pasal 95 Suara untuk pemilihan kepala daerah dan wakil kepala daerah dinyatakan sah apabila: a. jumlah surat suara yang dikembalikan oleh pemilih karena rusak atau keliru dicoblos. tanda coblos terdapat dalam salah satu kotak segi empat yang memuat nomor. tetapi masih di dalam salah satu kotak segi empat yang memuat nomor. surat suara ditandatangani oleh Ketua KPPS. jumlah pemilih yang memberikan suara berdasarkan salinan daftar pemilih tetap untuk TPS. atau c. (2) Sebelum penghitungan suara dimulai. KPPS menghitung: a. dan warga masyarakat. atau e. (5) Saksi pasangan calon harus membawa surat mandat dari tim kampanye yang . panitia pengawas. (4) Penghitungan suara dilakukan dan selesai di TPS oleh KPPS dan dapat dihadiri oleh saksi pasangan calon.berpedoman pada Peraturan Pemerintah. jumlah pemilih dari TPS lain. foto dan nama pasangan calon. atau d.

pemantau. panitia pengawas. (8) Dalam hal keberatan yang diajukan oleh saksi pasangan calon atau warga masyarakat sebagaimana dimaksud pada ayat (7) dapat diterima. . dan warga masyarakat yang hadir dapat menyaksikan secara jelas proses penghitungan suara.bersangkutan dan menyerahkannya kepada Ketua KPPS. surat suara. (10) KPPS memberikan 1 (satu) eksemplar salinan berita acara dan sertifikat hasil penghitungan suara kepada saksi pasangan calon yang hadir dan menempelkan 1 (satu) eksemplar sertifikat hasil penghitungan suara di tempat umum. KPPS membuat berita acara dan sertifikat hasil penghitungan suara yang ditandatangani oleh ketua dan sekurangkurangnya 2 (dua) orang anggota KPPS serta dapat ditandatangani oleh saksi pasangan calon. sertifikat hasil penghitungan suara. PPS membuat berita acara penerimaan dan melakukan rekapitulasi jumlah suara untuk tingkat desa/kelurahan dan dapat dihadiri oleh saksi pasangan calon. panitia pengawas. dan warga masyarakat. (11) KPPS menyerahkan berita acara. (9) Segera setelah selesai penghitungan su-ara di TPS. (7) Pasangan calon dan warga masyarakat melalui saksi pasangan calon yang hadir dapat mengajukan keberatan terhadap jalannya penghitungan suara oleh KPPS apabila ternyata terdapat hal-hal yang tidak sesuai dengan peraturan perundangundangan. KPPS seketika itu juga mengadakan pembetulan. pemantau. (6) Penghitungan suara dilakukan dengan ca-ra yang memungkinkan saksi pasangan calon. Pasal 97 (1) Setelah menerima berita acara dan ser-tifikat hasil penghitungan suara. dan alat kelengkapan administrasi pemungutan dan penghitungan suara kepada PPS segera setelah selesai penghitungan suara.

PPS membuat berita acara dan sertifikat rekapitulasi hasil penghitungan suara yang ditandatangani oleh ketua dan paling sedikit 2 (dua) orang anggota PPS serta ditandatangani oleh saksi pasangan calon.(2) Saksi pasangan calon harus membawa surat mandat dari Tim Kampanye yang bersangkutan dan menyerahkannya kepada PPS. (5) Setelah selesai melakukan rekapitulasi hasil penghitungan suara di semua TPS dalam wilayah kerja desa/kelurahan yang bersangkutan. (6) PPS wajib memberikan 1 (satu) eksemplar salinan berita acara dan sertifikat rekapitulasi hasil penghitungan suara di PPS kepada saksi pasangan calon yang hadir dan menempelkan 1 (satu) eksemplar sertifikat hasil penghitungan suara di tempat umum . panitia pengawas. (3) Pasangan calon dan warga masyarakat melalui saksi pasangan calon yang hadir dapat mengajukan keberatan terhadap jalannya penghitungan suara oleh PPS apabila ternyata terdapat hal-hal yang tidak sesuai dengan peraturan perundangundangan. . dan warga masyarakat. (4) Dalam hal keberatan yang diajukan oleh saksi pasangan calon atau warga masyarakat sebagaimana dimaksud pada ayat (3) dapat diterima. PPK membuat berita acara penerimaan dan melakukan rekapitulasi jumlah suara untuk tingkat kecamatan dan dapat dihadiri oleh saksi pasangan calon. PPS seketika itu juga mengadakan pembetulan. (7) PPS wajib menyerahkan 1 (satu) eksemplar berkas berita acara dan sertifikat rekapitulasi hasil penghitungan suara di PPS kepada PPK setempat. Pasal 98 (1) Setelah menerima berita acara dan ser-tifikat hasil penghitungan suara. pemantau.

sebagaimana dimaksud pada ayat (3) dapat diterima. pemantau. KPU kabupaten/kota membuat berita acara penerimaan dan melakukan rekapitulasi jumlah suara untuk tingkat kabupaten/kota dan dapat dihadiri oleh saksi pasangan calon. PPK seketika itu juga mengadakan pembetulan. (3) Pasangan calon dan warga masyarakat melalui saksi pasangan calon yang hadir dapat mengajukan keberatan terhadap jalannya penghitungan suara oleh PPK apabila ternyata terdapat hal-hal yang tidak sesuai dengan peraturan perundangundangan. (7) PPK wajib menyerahkan 1 (satu) eksem-plar berkas berita acara dan sertifikat rekapitulasi hasil penghitungan suara di PPK kepada KPU kabupaten/kota. dan warga masyarakat. PPK membuat berita acara dan sertifikat rekapitulasi hasil penghitungan suara yang ditandatangani oleh ketua dan sekurang-kurangnya 2 (dua) orang anggota PPK serta ditandatangani oleh saksi pasangan calon. (6) PPK wajib memberikan 1 (satu) eksemplar salinan berita acara dan sertifikat rekapitulasi hasil penghitungan suara di PPK kepada saksi pasangan calon yang hadir dan menempelkan 1 (satu) eksemplar sertifikat hasil penghitungan suara di tempat umum. panitia pengawas. Pasal 99 (1) Setelah menerima berita acara dan ser-tifikat hasil penghitungan suara. (5) Setelah selesai melakukan rekapitulasi hasil penghitungan suara di semua PPS dalam wilayah kerja kecamatan yang bersangkutan. .(2) Saksi pasangan calon harus membawa surat mandat dari Tim Kampanye yang bersangkutan dan menyerahkannya kepada PPK. (4) Dalam hal keberatan yang diajukan oleh atau melalui saksi pasangan calon.

(5) Setelah selesai melakukan rekapitulasi hasil penghitungan suara di semua PPK dalam wilayah kerja kecamatan yang bersangkutan.(2) Saksi pasangan calon harus membawa surat mandat dari Tim Kampanye yang bersangkutan dan menyerahkannya kepada KPU kabupaten/kota. sebagaimana dimaksud pada ayat (3) dapat diterima. (3) Pasangan calon dan warga masyarakat melalui saksi pasangan calon yang hadir dapat mengajukan keberatan terhadap jalannya penghitungan suara oleh KPU kabupaten/kota apabila ternyata terdapat hal-hal yang tidak sesuai dengan peraturan perundang-undangan. (7) KPU kabupaten/kota wajib menyerahkan 1 (satu) eksemplar berkas berita acara dan sertifikat rekapitulasi hasil penghitungan suara di KPU kabupaten/kota kepada KPU provinsi. KPU kabupaten/kota seketika itu juga mengadakan pembetulan. (6) KPU kabupaten/kota wajib memberikan 1 (satu) eksemplar salinan berita acara dan sertifikat rekapitulasi hasil penghitungan suara di KPU kabupaten/kota kepada saksi pasangan calon yang hadir dan menempelkan 1 (satu) eksemplar sertifikat hasil penghitungan suara di tempat umum. . KPU kabupaten/kota membuat berita acara dan sertifikat rekapitulasi hasil penghitungan suara yang ditandatangani oleh ketua dan sekurangkurangnya 2 (dua) orang anggota KPU kabupaten/kota serta ditandatangani oleh saksi pasangan calon. berita acara dan rekapitulasi hasil peng-hitungan suara selanjutnya diputuskan da-lam pleno KPU kabupaten/kota untuk me-netapkan pasangan calon terpilih. Pasal 100 (1) Dalam hal pemilihan kepala daerah dan wakil kepala daerah kabupaten/kota. (4) Dalam hal keberatan yang diajukan oleh atau melalui saksi pasangan calon.

dan warga masyarakat. (5) Setelah selesai melakukan rekapitulasi hasil penghitungan suara di semua KPU kabupaten/kota. Pasal 101 (1) Setelah menerima berita acara dan ser-tifikat hasil penghitungan suara. (2) Saksi pasangan calon harus membawa surat mandat dari Tim Kampanye yang bersangkutan dan menyerahkannya kepada KPU provinsi. (4) Dalam hal keberatan yang diajukan oleh atau melalui saksi pasangan calon. . pemantau. KPU provinsi membuat berita acara dan sertifikat rekapitulasi hasil penghitungan suara yang ditandatangani oleh ketua dan sekurang-kurangnya 2 (dua) orang anggota KPU provinsi serta ditandatangani oleh saksi pasangan calon.(2) Penetapan pasangan calon terpilih sebagaimana dimaksud pada ayat (1) disampaikan kepada DPRD kabu-paten/kota untuk diproses pengesahan dan pengangkatannya sesuai dengan peraturan perundang-undangan. KPU provinsi seketika itu juga mengadakan pembetulan. sebagaimana dimaksud pada ayat (3) dapat diterima. (3) Pasangan calon dan warga masyarakat melalui saksi pasangan calon yang hadir dapat mengajukan keberatan terhadap jalannya penghitungan suara oleh KPU provinsi apabila ternyata terdapat hal-hal yang tidak sesuai dengan peraturan perundang-undangan. (6) KPU provinsi wajib memberikan 1 (satu) eksemplar salinan berita acara dan sertifikat rekapitulasi hasil penghitungan suara di KPU provinsi kepada saksi pasangan calon yang hadir dan menempelkan 1 (satu) eksemplar sertifikat hasil penghitungan suara di tempat umum. KPU provinsi membuat berita acara penerimaan dan melakukan rekapitulasi jumlah suara untuk tingkat provinsi dan dapat dihadiri oleh saksi pasangan calon. panitia pengawas.

(2) Penghitungan ulang surat suara dilakukan pada tingkat PPS apabila terjadi perbedaan data jumlah suara dari TPS. dan warga mas-yarakat tidak dapat menyaksikan proses penghitungan suara secara jelas. d. (3) Penghitungan ulang surat suara dilakukan pada tingkat PPK apabila terjadi perbedaan data jumlah suara dari PPS. .Pasal 102 (1) Berita acara dan rekapitulasi hasil penghitungan suara sebagaimana dimaksud dalam Pasal 101 ayat (5) selanjutnya diputuskan dalam pleno KPU provinsi untuk menetapkan pasangan calon terpilih. panitia pe-ngawas. c. terjadi ketidakkonsistenan dalam menentukan surat suara yang sah dan surat suara yang tidak sah. pemantau. dilakukan pengecekan ulang terhadap sertifikat rekapitulasi hasil penghitungan suara pada 1 (satu) tingkat di bawahnya. dan KPU Provinsi. penghitungan suara dilakukan di tempat yang kurang penerangan cahaya. (4) Apabila terjadi perbedaan data jumlah suara pada tingkat KPU Kabupaten/Kota. (2) Penetapan pasangan calon terpilih sebagaimana dimaksud pada ayat (1) oleh KPU provinsi disampaikan kepada DPRD provinsi untuk diproses pengesahan pengangkatannya sesuai dengan peraturan perundang-undangan. saksi pasangan calon. dan/atau e. Pasal 103 (1) Penghitungan ulang surat suara di TPS dilakukan apabila dari hasil penelitian dan pemeriksaan terbukti terdapat satu atau lebih penyimpangan sebagai berikut: a. penghitungan suara dilakukan di tempat lain di luar tempat dan waktu yang telah ditentukan. b. penghitungan suara dilakukan secara tertutup.

c. dan/atau e. pembukaan kotak suara dan/atau berkas pemungutan dan penghitungan suara tidak dilakukan menurut tata cara yang ditetapkan dalam peraturan perundangundangan. Pasal 106 (1) Keberatan terhadap penetapan hasil pemilihan kepala daerah dan wakil kepala daerah hanya dapat diajukan oleh pasangan calon kepada Mahkamah Agung dalam waktu paling lambat 3 (tiga) . (2) Pemungutan suara di TPS dapat diulang apabila dari hasil penelitian dan pemeriksaan Panitia Pengawas Kecamatan terbukti terdapat satu atau lebih dari keadaan sebagai berikut: a. d. menandatangani. petugas KPPS meminta pemilih memberi tanda khusus. b. petugas KPPS merusak lebih dari satu surat suara yang sudah digunakan oleh pemilih sehingga surat suara tersebut menjadi tidak sah. lebih dari seorang pemilih menggunakan hak pilih lebih dari satu kali pada TPS yang sama atau TPS yang berbeda. lebih dari seorang pemilih yang tidak terdaftar sebagai pemilih mendapat kesempatan memberikan suara pada TPS. Pasal 105 Penghitungan suara dan pemungutan suara ulang sebagaimana dimaksud dalam Pasal 103 dan Pasal 104 diputuskan oleh PPK dan dilaksanakan selambat-lambatnya 7 (tujuh) hari sesudah hari pemungutan suara. atau menulis nama atau alamatnya pada surat suara yang sudah digunakan.Pasal 104 (1) Pemungutan suara di TPS dapat diulang apabila terjadi kerusuhan yang mengakibatkan hasil pemungutan suara tidak dapat digunakan atau penghitungan suara tidak dapat dilakukan.

Mahkamah Agung memutus sengketa hasil penghitungan suara sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) paling lambat 14 (empat belas) hari sejak diterimanya permohonan keberatan oleh Pengadilan Negeri/Pengadilan Tinggi/ Mahkamah Agung. (2) Apabila ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tidak terpenuhi.ed 13 Penetapan Calon Terpilih dan Pelantikan Pasal 107 (1) Pasangan calon kepala daerah dan wakil kepala daerah yang memperoleh suara lebih dari 50 % (lima puluh persen) jumlah suara sah ditetapkan sebagai pasangan calon terpilih. Putusan Pengadilan Tinggi sebagaimana dimaksud pada ayat (6) bersifat final. Pengajuan keberatan kepada Mahkamah Agung sebagaimana dimaksud pada ayat (1) disampaikan kepada pengadilan tinggi untuk pemilihan kepala daerah dan wakil kepala daerah provinsi dan kepada pengadilan negeri untuk pemilihan kepala daerah dan wakil kepala daerah kabupaten/kota. Mahkamah Agung dalam melaksanakan kewenangannya sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat mendelegasikan kepada Pengadilan Tinggi untuk memutus sengketa hasil penghitungan suara pemilihan kepala daerah dan wakil kepala daerah kabupaten dan kota. pasangan calon yang perolehan suaranya terbesar dinyatakan sebagai pasangan calon terpilih. pasangan calon kepala daerah dan wakil kepala daerah yang memperoleh suara lebih dari 25% (dua puluh lima persen) dari jumlah suara sah. Putusan Mahkamah Agung sebagaimana dimaksud pada ayat (4) bersifat final dan mengikat. .(2) (3) (4) (5) (6) (7) Keberatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) hanya berkenaan dengan hasil penghitungan suara yang mempengaruhi terpilihnya pasangan calon.

(3) Dalam hal calon kepala daerah terpilih berhalangan tetap. (8) Pasangan calon kepala daerah dan wakil kepala daerah yang memperoleh suara terbanyak pada putaran kedua dinyatakan sebagai pasangan calon terpilih.(3) Dalam hal pasangan calon yang perolehan suara terbesar sebagaimana dimaksud pada ayat (2) terdapat lebih dari satu pasangan calon yang perolehan suaranya sama. dilakukan pemilihan putaran kedua yang diikuti oleh pemenang pertama dan pemenang kedua. penentuan pasangan calon terpilih dilakukan berdasarkan wilayah perolehan suara yang lebih luas. penentuan peringkat pertama dan kedua dilakukan berdasarkan wilayah perolehan suara yang lebih luas. (7) Apabila pemenang kedua sebagaimana dimaksud pada ayat (4) diperoleh oleh lebih dari satu pasangan calon. Pasal 108 (1) Dalam hal calon wakil kepala daerah terpilih berhalangan tetap. calon wakil kepala daerah terpilih dilantik menjadi kepala daerah. . (6) Apabila pemenang pertama sebagaimana dimaksud pada ayat (4) diperoleh oleh tiga pasangan calon atau lebih. (4) Apabila ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) tidak terpenuhi. penentuannya dilakukan berdasarkan wilayah perolehan suara yang lebih luas. calon kepala daerah terpilih dilantik menjadi kepala daerah. atau tidak ada yang mencapai 25 % (dua puluh lima persen) dari jumlah suara sah. kedua pasangan calon tersebut berhak mengikuti pemilihan putaran kedua. (5) Apabila pemenang pertama sebagaimana dimaksud pada ayat (4) diperoleh dua pasangan calon. (2) Kepala daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) mengusulkan dua calon wakil kepala daerah kepada DPRD untuk dipilih.

(6) Untuk memilih wakil kepala daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dan ayat (4). (2) Pengesahan pengangkatan pasangan calon bupati dan wakil bupati atau walikota dan wakil walikota terpilih dilakukan oleh Menteri Dalam Negeri atas nama Presiden selambat-lambatnya dalam waktu 30 (tiga puluh) hari. . selambatlambatnya dalam waktu 3 (tiga) hari. selambat-lambatnya dalam waktu 3 (tiga) hari. (3) Pasangan calon Gubernur dan wakil Gubernur terpilih diusulkan oleh DPRD provinsi. (5) Dalam hal pasangan calon terpilih berhalangan tetap. partai politik atau gabungan partai politik yang pasangan calonnya meraih suara terbanyak pertama dan kedua mengusulkan pasangan calon kepada DPRD untuk dipilih menjadi kepala daerah dan wakil kepala daerah selambatlambatnya dalam waktu 60 (enam puluh) hari. kepada Presiden melalui Menteri Dalam Negeri berdasarkan berita acara penetapan pasangan calon terpilih dari KPU provinsi untuk mendapatkan pengesahan pengangkatan. (4) Pasangan calon bupati dan wakil bupati atau walikota dan wakil walikota diusulkan oleh DPRD kabupaten/kota. pemilihannya dilakukan selambatlambatnya dalam waktu 60 (enam puluh) hari. Pasal 109 (1) Pengesahan pengangkatan pasangan ca-lon Gubernur dan wakil Gubernur terpilih dilakukan oleh Presiden selambatlambatnya dalam waktu 30 (tiga puluh) hari. kepada Menteri Dalam Negeri melalui Gubernur berdasarkan berita acara penetapan pasangan calon terpilih dari KPU kabupaten/kota untuk mendapatkan pengesahan pengangkatan.(4) Kepala daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (3) mengusulkan dua calon wakil kepala daerah kepada DPRD untuk dipilih.

(4) Tata cara pelantikan dan pengaturan selanjutnya diatur dalam Peraturan Pemerintah. Pasal 112 Biaya kegiatan Pemilihan kepala daerah dan wakil kepala daerah dibebankan pada APBD . saya bersumpah/berjanji akan memenuhi kewajiban saya sebagai kepala daerah/ wakil kepala daerah dengan sebaik-baiknya dan seadil-adilnya.Pasal 110 (1) Kepala daerah dan wakil kepala daerah sebelum memangku jabatannya dilantik dengan mengucapkan sumpah/janji yang dipandu oleh pejabat yang melantik.” (3) Kepala daerah dan wakil kepala daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) memegang jabatan selama 5 (lima) tahun terhitung sejak pelantikan dan sesudahnya dapat dipilih kembali dalam jabatan yang sama hanya untuk satu kali masa jabatan. nusa dan bangsa. Pasal 111 (1) Gubernur dan wakil Gubernur dilantik oleh Menteri Dalam Negeri atas nama Presiden. (3) Pelantikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) dilaksanakan dalam Rapat Paripurna DPRD. memegang teguh Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 dan menjalankan segala undang-undang dan peraturannya dengan selurus-lurusnya serta berbakti kepada masyarakat. (2) Bupati dan wakil bupati atau walikota dan wakil walikota dilantik oleh Gubernur atas nama Presiden. (2) Sumpah/janji kepala daerah dan wakil kepala daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) adalah sebagai berikut: “Demi Allah (Tuhan).

(2) Pemantau pemilihan wajib mematuhi se-gala peraturan perundang-undangan. 15 Ketentuan Pidana Pemilihan Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah Pasal 115 (1) Setiap orang yang dengan sengaja memberikan keterangan yang tidak benar mengenai diri sendiri atau diri orang lain tentang suatu hal yang diperlukan untuk pengisian daftar pemilih. (4) Tata cara untuk menjadi pemantau pemilihan dan pemantauan pemilihan serta pencabutan hak sebagai pemantau diatur dalam Peraturan Pemerintah. dan badan hukum dalam negeri.14 Pemantauan Pemilihan Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah Pasal 113 (1) Pemantauan pemilihan kepala daerah dan wakil kepala daerah dapat dilakukan oleh pemantau pemilihan yang meliputi lembaga swadaya masyarakat. (3) Pemantau pemilihan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) harus mendaftarkan dan memperoleh akreditasi dari KPUD. dan b. bersifat independen. diancam dengan pidana penjara paling singkat 15 (lima belas) hari dan paling lama 3 (tiga) bulan dan/atau denda paling sedikit Rp. mempunyai sumber dana yang jelas. (2) Pemantau pemilihan sebagaimana dimak-sud pada ayat (2) harus memenuhi persyaratan yang meliputi: a. Pasal 114 (1) Pemantau pemilihan wajib menyampaikan laporan hasil pemantauannya kepada KPUD paling lambat 7 (tujuh) hari setelah pelantikan kepala daerah dan wakil kepala daerah terpilih. (3) Pemantau pemilihan yang tidak memenuhi kewajiban sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dan/atau tidak lagi memenuhi persyaratan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 113 dicabut haknya sebagai pemantau pemilihan dan/atau dikenai sanksi sesuai peraturan perundang-undangan. .

2.000.000. Setiap orang yang dengan sengaja menyebabkan orang lain kehilangan hak pilihnya dan orang yang kehilangan hak pilihnya tersebut mengadukan.000.000. 600. 600. diancam dengan pidana penjara paling singkat 3 (tiga) bulan dan paling lama 18 (delapan belas) bulan dan/atau denda paling sedikit Rp. Setiap orang yang dengan kekerasan atau dengan ancaman kekuasaan yang ada padanya saat pendaftaran pemilih menghalang-halangi seseorang untuk terdaftar sebagai pemilih dalam Pemilihan kepala daerah menurut undang-undang ini. menggunakannya. Setiap orang yang dengan sengaja memalsukan surat yang menurut suatu aturan dalam Undang-Undang ini diperlukan untuk menjalankan suatu perbuatan dengan maksud untuk digunakan sendiri atau orang lain sebagai seolah-olah surat sah atau tidak dipalsukan. Setiap orang yang dengan sengaja dan mengetahui bahwa suatu surat sebagaimana dimaksud pada ayat (3) adalah tidak sah atau dipalsukan.00 (seratus ribu rupiah) dan paling banyak Rp. diancam dengan pidana penjara paling singkat 1 (satu) bulan dan paling lama 6 (enam) bulan dan/atau denda paling sedikit Rp.000. atau menyuruh orang lain menggunakannya sebagai surat sah.000.000. 600. diancam dengan pidana penjara paling singkat 3 (tiga) bulan dan paling lama 18 (delapan belas) bulan dan/atau denda paling sedikit Rp. 1.000.00 (dua juta rupiah). diancam dengan pidana penjara paling singkat 3 (tiga) bulan dan paling lama 18 (delapan belas) bulan dan/atau denda paling sedikit Rp.000.00 (enam juta rupiah).00 (dua ratus ribu rupiah) dan paling banyak Rp.00 (enam ratus ribu . 200.000.000.00 (enam ratus ribu rupiah) dan paling banyak Rp 6.000. 6.00 (enam ratus ribu rupiah) dan paling banyak Rp.00 (enam juta rupiah).000.(2) (3) (4) (5) 100.00 (satu juta rupiah).

(2) Setiap orang yang dengan sengaja melanggar ketentuan larangan pelaksanaan kampanye sebagaimana dimaksud dalam Pasal 78 huruf a. dan ayat (4). huruf h. Setiap orang yang dengan sengaja memberikan keterangan yang tidak benar atau menggunakan surat palsu seolah-olah sebagai surat yang sah tentang suatu hal yang diperlukan bagi persyaratan untuk menjadi Pasangan calon kepala daerah/wakil kepala daerah.000.000.00 (enam juta rupiah).000. diancam dengan pidana penjara paling singkat 1 (satu) bulan . 6. huruf i dan huruf j dan Pasal 79 ayat (1). 600.000.00 (enam juta rupiah).00 (enam ratus ribu rupiah) atau paling banyak Rp6.000.000. Pasal 116 (1) Setiap orang yang dengan sengaja melakukan kampanye di luar jadwal waktu yang telah ditetapkan oleh KPUD untuk masingmasing pasangan calon sebagaimana dimaksud dalam Pasal 75 ayat (2) diancam dengan pidana penjara paling singkat 15 (lima belas) hari atau paling lama 3 (tiga) bulan dan/atau denda paling sedikit Rp100.000.000. 6.000. (3) Setiap orang yang dengan sengaja melanggar ketentuan larangan pelaksanaan kampanye pemilihan kepala daerah dan wakil kepala daerah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 78 huruf g. ayat (3). huruf d. huruf c. diancam dengan pidana penjara paling singkat 3 (tiga) bulan atau paling lama 18 (delapan belas) bulan dan/atau denda paling sedikit Rp.00 (satu juta rupiah).00 (seratus ribu rupiah) atau paling banyak Rp1.000. huruf e dan huruf f diancam dengan pidana penjara paling singkat 3 (tiga) bulan atau paling lama 18 (delapan belas) bulan dan/atau denda paling sedikit Rp600.00 (enam ratus ribu rupiah) dan paling banyak Rp.00 (enam juta rupiah). huruf b.(6) rupiah) dan paling banyak Rp.000.

00 (satu miliar rupiah). Setiap orang yang dengan sengaja menerima atau memberi dana kampanye dari atau kepada pihak-pihak yang dilarang sebagaimana dimaksud dalam Pasal 85 ayat (1). atau mengganggu jalannya kampanye.000.000. Setiap orang yang memberi atau menerima dana kampanye melebihi batas yang ditentukan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 83 ayat (3).00 (seratus ribu rupiah) atau paling banyak Rp1. 6.000.00 (enam ratus ribu rupiah) atau paling banyak Rp. dan/atau tidak memenuhi kewajiban sebagaimana dimaksud dalam Pasal 85 ayat (2).(4) (5) (6) (7) atau paling lama 6 (enam) bulan dan/atau denda paling sedikit Rp100. Setiap pejabat negara.000.000.000.000.00 (enam ratus ribu rupiah) atau paling banyak Rp.000.00 (enam juta rupiah). Setiap orang yang dengan sengaja mengacaukan.000. 600. diancam dengan pidana penjara paling singkat 4 (empat) bulan atau paling lama 24 (dua puluh empat) bulan dan/atau denda paling sedikit Rp 200.000.00 (dua ratus juta rupiah) atau paling banyak Rp1.000.000.00 (enam juta rupiah). diancam dengan pidana penjara paling singkat 1 (satu) bulan atau paling lama 6 (enam) bulan dan/atau denda paling sedikit Rp. .000. diancam dengan pidana penjara paling singkat 4 (empat) bulan atau paling lama 24 (dua puluh empat) bulan dan/atau denda paling sedikit Rp200.00 (dua ratus juta rupiah) atau paling banyak Rp 1. 6.00 (satu miliar rupiah). menghalangi.000.000. 600. pejabat struktural dan fungsional dalam jabatan negeri dan kepala desa yang dengan sengaja melanggar ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 83 diancam dengan pidana penjara paling singkat 1 (satu) bulan atau paling lama 6 (enam) bulan dan/atau denda paling sedikit Rp.00 (satu juta rupiah).000.000.000.000.

(3) Setiap orang yang pada waktu pemungutan suara dengan sengaja mengaku dirinya sebagai orang lain untuk menggunakan hak pilih.000.000.000.000.000.00 (satu juta rupiah) atau paling banyak Rp10. diancam dengan pidana penjara paling singkat 15 (lima belas) hari dan paling lama 60 (enam puluh) hari dan/atau denda paling sedikit Rp. atau memilih Pasangan calon tertentu. atau menggunakan hak pilihnya dengan cara tertentu sehingga surat suaranya menjadi tidak sah. diancam dengan pidana penjara paling singkat 2 (dua) bulan atau paling lama 12 (dua belas) bulan dan/atau denda paling sedikit Rp1.000. Pasal 117 (1) Setiap orang yang dengan sengaja menggunakan kekerasan atau ancaman kekerasan dan menghalang-halangi seseorang yang akan melakukan haknya untuk memilih.00 (sepuluh juta rupiah). 1. (2) Setiap orang yang dengan sengaja memberi atau menjanjikan uang atau materi lainnya kepada seseorang supaya tidak menggunakan hak pilihnya.000. 100. 1.000.00 (sepuluh juta rupiah). dipidana dengan pidana penjara paling singkat 2 (dua) bulan dan paling lama 12 (dua belas) bulan dan/atau denda paling sedikit Rp.000.00 (satu juta rupiah) dan paling banyak Rp. 1.000. . 10. 10.(8) Setiap orang yang dengan sengaja memberikan keterangan yang tidak benar dalam laporan dana kampanye sebagaimana diwajibkan oleh UndangUndang ini.000.000.00 (sepuluh juta rupiah).00 (satu juta rupiah) dan paling banyak Rp.00 (seratus ribu rupiah) dan paling banyak Rp.000.000. diancam dengan pidana penjara paling singkat 2 (dua) bulan dan paling lama 12 (dua belas) bulan dan/atau denda paling sedikit Rp.00 ( satu juta rupiah).000.

1. diancam dengan pidana penjara paling singkat 2 (dua) bulan dan paling lama 12 (dua belas) bulan dan/atau denda paling sedikit Rp.000.000.000.000.000.000.000.(4) Setiap orang yang pada waktu pemungutan suara dengan sengaja memberikan suaranya lebih dari satu kali di satu atau lebih TPS. 200.00 (satu juta rupiah) dan paling banyak Rp.00 (satu juta rupiah) dan paling banyak Rp.000. (7) Setiap orang yang dengan sengaja pada waktu pemungutan suara mendampingi seorang pemilih selain yang diatur sebagaimana dimaksud dalam Pasal 89 ayat (1). 1. diancam dengan pidana penjara paling singkat 1 (satu) bulan dan paling lama 4 (empat) bulan dan/atau denda paling sedikit Rp. (8) Setiap orang yang bertugas membantu pemilih sebagaimana dimaksud dalam Pasal 89 ayat (2) dengan sengaja memberitahukan pilihan si pemilih kepada orang lain.00 (sepuluh juta rupiah).00 (dua juta rupiah).00 (satu juta rupiah) dan paling banyak Rp.000.000.000. diancam dengan pidana penjara paling singkat 2 (dua) bulan dan paling lama 12 (dua belas) bulan dan/atau denda paling sedikit Rp.00 ( dua ratus ribu rupiah) dan paling banyak Rp. 10. 1.000.00 (sepuluh juta rupiah). 10. (5) Setiap orang yang dengan sengaja menggagalkan pemungutan suara diancam dengan pidana penjara paling singkat 6 (enam) bulan dan paling lama 3 (tiga) tahun dan/atau denda paling sedikit Rp.000. 10.000.00 (sepuluh juta rupiah).000.00 .000.000. kecuali dengan alasan bahwa pekerjaan tersebut tidak bisa ditinggalkan. diancam dengan pidana penjara paling singkat 2 (dua) bulan dan paling lama 12 (dua belas) bulan dan/atau denda paling sedikit Rp. 2. (6) Seorang majikan atau atasan yang tidak memberikan kesempatan kepada seorang pekerja untuk memberikan suaranya. 1.

100.000. . 10. diancam dengan pidana penjara paling singkat 15 (lima belas) hari dan paling lama 2 (dua) bulan dan/atau denda paling sedikit Rp.00 (satu juta rupiah) dan paling banyak Rp.00 (seratus ribu rupiah) dan paling banyak Rp. Pasal 118 (1) Setiap orang yang dengan sengaja melakukan perbuatan yang menyebabkan suara seorang pemilih menjadi tidak berharga atau menyebabkan Pasangan calon tertentu mendapat tambahan suara atau perolehan suaranya berkurang.000. (3) Setiap orang yang karena kelalaiannya menyebabkan rusak atau hilangnya hasil pemungutan suara yang sudah disegel. 1.00 (dua juta rupiah) dan paling banyak Rp. 20. (4) Setiap orang yang dengan sengaja mengubah hasil penghitungan suara dan/atau berita acara dan sertifikat hasil penghitungan suara. (2) Setiap orang yang dengan sengaja merusak atau menghilangkan hasil pemungutan suara yang sudah disegel.000.(satu juta rupiah) dan paling banyak Rp.000.00 (satu miliar rupiah).00 (dua puluh juta rupiah).000. diancam dengan pidana penjara paling singkat 2 (dua) bulan dan paling lama 1 (satu) tahun dan/atau denda paling sedikit Rp.000.00 (satu juta rupiah).000. 1.000.000.000.000. diancam dengan pidana penjara paling singkat 6 (enam) bulan dan paling lama 3 (tiga) tahun dan/atau denda paling sedikit Rp.00 (sepuluh juta rupiah).000. diancam dengan pidana penjara paling singkat 4 (empat) bulan atau paling lama 2 (dua) tahun dan/atau denda paling sedikit Rp.000. 100.00 (seratus juta rupiah) dan paling banyak Rp.000.000. 2.00 (sepuluh juta rupiah). 1.000.000.000. 10.

Kepala Instansi Vertikal berada dibawah kordinasi Kepala Wilayah yang bersangkutan.32 Tahun 2004 disebutkan secara lebih rinci mengani tugas dari Camat dan Lurah • Pasal 62 (1) Dinas Daerah adalah unsur pelaksana Pemerintah Daerah. (2) Sekretaris Daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) untuk provinsi diangkat dan diberhentikan oleh Presiden atas usul Gubernur sesuai dengan peraturan perundang-undangan. kecamatan. (3) Peraturan Daerah yang dimaksud dalam ayat (2) pasal ini. dan Pasal 118. (2) Perangkat daerah kabupaten/kota terdiri atas sekretariat daerah. sekretariat DPRD. dan kelurahan. sekretaris daerah bertanggung jawab kepada kepala daerah. sesuai dengan kebutuhan Daerah. (2) Sekretaris Daerah Propinsi diangkat oleh Gubernur atas persetujuan pimpinan DPRD dari Pegawai Negeri Sipil yang memenuhi syarat. lembaga teknis. (2) Sekretaris Daerah karena jabatannya adalah Sekretaris Wilayah.32 Tahun 2004 ditambahkan bahwa Sekertariat DPRD termasuk dalam perangkat daerah Dalam Undang-Undang No. sekretariat DPRD. (7) Apabila Sekretaris Daerah berhalangan melaksanakan tugasnya.Pasal 119 Jika tindak pidana dilakukan dengan sengaja oleh penyelenggara atau pasangan calon. • 16` Aparatur dan Kepegawaian Daerah Pasal 84 (1) Sekretariat Daerah adalah Sekretariat Wilayah. susunan organisasi dan formasi Sekretariat Wilayah lainnya serta pengangkatan dan pemberhentian pejabatnya diatur oleh Menteri Dalam Negeri. Dinas Daerah dan lembaga teknis Daerah lainnya. Pasal 117. diatur dengan Peraturan Pemerintah. tugas Sekretaris Daerah dilaksanakan oleh pejabat yang ditunjuk oleh Kepala Daerah. ancaman pidananya ditambah 1/3 (satu pertiga) dari pidana yang diatur dalam Pasal 115.l Pasal 85 (1) Dalam menjalankan tugasnya. dan unit pelaksana lainnya. Pasal 61 (1) Sekretariat Daerah dipimpin oleh Sekretaris Daerah. (4) Apabila sekretaris daerah berhalangan melaksanakan tugasnya. (3) Sekretaris Daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) untuk kabupaten/kota diangkat dan diberhentikan oleh Gubernur atas usul Dalam Undang-Undang No. (5) Sekretaris Daerah berkewajiban membantu Kepala Daerah dalam menyusun kebijakan serta membina hubungan kerja dengan dinas. (2) Dinas dipimpin oleh seorang Kepala Dinas . susunan organisasi dan formasi Sekretariat Daerah ditetapkan dengan Peraturan Daerah sesuai dengan pedoman yang ditetapkan oleh Menteri Dalam Negeri. (6) Sekretaris Daerah bertanggung jawab kepada Kepala Daerah. tugas sekretaris daerah dilaksanakan oleh pejabat yang ditunjuk oleh kepala daerah. Pasal 60 Perangkat Daerah terdiri atas Sekretariat Daerah. lembaga teknis daerah. Pasal 121 (1) Sekretariat daerah dipimpin oleh Sekretaris Daerah. dinas daerah. dan lembaga teknis daerah. (2) Pelaksanaan ketentuan yang dimaksud dalam ayat (1) pasal ini. (2) Pembentukan. Pasal 116. dinas daerah. (3) Dengan tidak mengurangi ketentuan yang dimaksud dalam ayat (1) ini. berlaku sesudah ada pengesahan pejabat yang berwenang. Pasal 47 (1) Sekretariat Daerah adalah unsur staf yang membantu Kepala Daerah dalam menyelenggarakan pemerintahan Daerah. (2) Sekretaris daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) mempunyai tugas dan kewajiban membantu kepala daerah dalam menyusun kebijakan dan mengkoordinasikan dinas daerah dan lembaga teknis daerah. (4) Sekretaris Daerah Kabupaten atau Sekretaris Daerah Kota diangkat oleh Bupati atau Walikota atas persetujuan pimpinan DPRD dari Pegawai Negeri Sipil yang memenuhi syarat. Pasal 122 (1) Sekretaris Daerah diangkat dari pegawai negeri sipil yang memenuhi persyaratan. (3) Sekretaris Daerah Propinsi karena jabatannya adalah Sekretaris Wilayah Administrasi. Pasal 120 (1) Perangkat daerah provinsi terdiri atas sekretariat daerah. (3) Dalam pelaksanaan tugas dan kewajiban sebagaimana dimaksud pada ayat (2).

(5) Camat bertanggung jawab kepada Bupati atau Walikota. (4) Persyaratan dan tatacara pelaksanaan ketentuan yang dimaksud dalam ayatayat (2) dan (3) pasal ini diatur dengan Peraturan Menteri Dalam Negeri. (3) Kepala Dinas bertanggung jawab kepada Kepala Daerah melalui Sekretaris Daerah. (2) Dinas daerah dipimpin oleh kepala dinas yang diangkat dan diberhentikan oleh kepala daerah dari pegawai negeri sipil yang memenuhi syarat atas usul Sekretaris Daerah. pensiun. (3) Sekretaris DPRD mempunyai tugas: a. Pasal 66 (1) Kecamatan merupakan perangkat Daerah Kabupaten dan Daerah Kota yang dipimpin oleh Kepala Kecamatan. sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9 ayat (3). sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7. (3) Sekretaris Daerah tingkat II diangkat oleh Gubernur Kepala Daerah atas nama Menteri Dalam Negeri dari Pegawai Negeri yang memenuhi persyaratan atas usul Bupati/Walikotamadya Kepala Daerah setelah mendengar pertimbangan Pimpinan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah. (6) Pembentukan Kecamatan ditetapkan dengan Peraturan Daerah. (4) Camat menerima pelimpahan sebagian kewenangan pemerintahan dari Bupati/Walikota. Pasal 49 (1) Dinas Daerah adalah unsur pelaksana Pemerintah Daerah. c. menyelenggarakan administrasi keuangan DPRD. dan tata laksananya. menyelenggarakan administrasi kesekretariatan DPRD. gaji. b. pemberhentian. Pasal 65 Di Daerah dapat dibentuk lembaga teknis sesuai dengan kebutuhan Daerah. mendukung pelaksanaan tugas dan fungsi DPRD. (2) Sekretaris Daerah Tingkat I diangkat oleh Menteri Dalam Negeri dari Pegawai Negeri yang memenuhi persyaratan atas usul Gubernur Kepala Daerah setelah mendengar pertimbangan Pimpinan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah. dilaksanakan oleh Dinas Propinsi. Pasal 123 (1) Sekretariat DPRD dipimpin oleh Sekretaris DPRD. Pasal 67 (1) Kelurahan merupakan perangkat Kecamatan yang dipimpin oleh Kepala Kelurahan. (2) Kepala Kecamatan disebut Camat. menyediakan dan mengkoordinasi tenaga ahli yang diperlukan oleh DPRD dalam melaksanakan fungsinya sesuai dengan kemampuan keuangan daerah. (5) Apabila Sekretaris Daerah berhalangan menjalankan tugasnya. susunan organisasi. Pasal 64 (1) Penyelenggaraan bidang pemerintahan yang menjadi wewenang Pemerintah. maka tugas Sekretaris Daerah dijalankan oleh pejabat yang ditunjuk oleh Kepala Daerah. Sekretaris Daerah karena kedudukannya sebagai pembina pengawai negeri sipil di daerahnya. uang tunggu. (4) Sekretaris DPRD dalam menyediakan tenaga ahli sebagaimana dimaksud pada ayat (3) huruf d wajib meminta pertimbangan pimpinan DPRD. dan d. formasi. (2) Pembentukan susunan organisasi dan formasi Dinas Daerah ditetapkan dengan Peraturan Daerah sesuai dengan pedoman yang ditetapkan oleh Menteri Dalam Negeri. Pasal 124 (1) Dinas daerah merupakan unsur pelaksana otonomi daerah. Pasal 63 Penyelenggaraan wewenang yang dilimpahkan oleh Pemerintah kepada Gubernur selaku wakil Pemerintah dalam rangka dekonsentrasi.Pasal 48 (1) Sekretariat Daerah dipimpin oleh seorang Sekretaris Daerah. (4) Bupati/Walikota sesuai dengan peraturan perundang-undangan. (6) Susunan organisasi sekretariat DPRD ditetapkan dalam peraturan daerah berpedoman pada Peraturan Pemerintah. (3) Camat diangkat oleh Bupati/Walikota atas usul Sekretaris Daerah Kabupaten/Kota dari Pegawai Negeri Sipil yang memenuhi syarat. (5) Sekretaris DPRD dalam melaksanakan tugasnya secara teknis operasional berada dibawah dan bertanggung jawab kepada pimpinan DPRD dan secara administratif bertanggung jawab kepada kepala daerah melalui Sekretaris Daerah. (2) Sekretaris DPRD sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diangkat dan diberhentikan oleh Gubernur/Bupati/Walikota dengan persetujuan DPRD. berlaku sesudah ada pengesahan pejabat yang berwenang. (2) Pembentukan. dan hal-hal lain yang diangkat oleh Kepala Daerah dari Pegawai Negeri Sipil yang memenuhi syarat atas usul Sekretaris Daerah. pemberhentian sementara. . dilakukan oleh instansi vertikal. sebagaimana dimaksud pada ayat (1). (3) Peraturan Daerah yang dimaksud dalam ayat (2) pasal ini. Pasal 50 (1) Pengangkatan. ditetapkan dengan Keputusan Presiden.

(4) Lurah menerima pelimpahan sebagian kewenangan pemerintahan dari Camat. d. (3) Kepala badan. dengan Keputusan Menteri atas permintaan Kepala Daerah yang bersangkutan. (2) Peraturan Daerah yang dimaksud dalam ayat (1) pasal ini. kantor atau rumah sakit umum daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dipimpin oleh kepala badan. kantor. (2) Formasi dan persyaratan jabatan perangkat Daerah ditetapkan dengan Keputusan Kepala Daerah sesuai dengan pedoman yang ditetapkan Pemerintah. atas permintaan Kepala Daerah Tingkat II yang bersangkutan. ditetapkan dengan peraturan perundang-undangan. (2) Dalam Keputusan yang dimaksud dalam ayat (1) pasal ini. gaji. hak. (3) Lurah diangkat dari Pegawai Negeri Sipil yang memenuhi syarat oleh Walikota/Bupati atas usul Camat. kesejahteraan. Pasal 68 (1) Susunan organisasi perangkat Daerah ditetapkan dengan Peraturan Daerah sesuai dengan pedoman yang ditetapkan Pemerintah. Pasal 52 (1) Pegawai Daerah Tingkat I dapat diperbantukan atau dipekerjakan kepada Daerah Tingkat II dengan Keputusan Kepala Daerah Tingkat I. serta pendidikan dan pelatihan sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan Daerah yang ditetapkan dengan Peraturan Daerah. c. Pasal 126 (1) Kecamatan dibentuk di wilayah kabupaten/kota dengan Perda berpedoman pada Peraturan Pemerintah. pemberhentian. (6) Pembentukan Kelurahan ditetapkan dengan Peraturan Daerah. Pasal 51 (1) Pegawai Negeri dari sesuatu Departemen dapat diperbantukan atau dipekerjakan kepada Daerah. (2) Kecamatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dipimpin oleh camat yang dalam pelaksanaan tugasnya memperoleh pelimpahan sebagian wewenang bupati atau walikota untuk menangani sebagian urusan otonomi daerah. mengkoordinasikan penerapan dan penegakan peraturan perundangundangan. kepala kantor. tunjangan. (5) Lurah bertanggung jawab kepada Camat. gaji. diatur syarat dan hubungan kerja Pegawai Daerah yang bersangkutan dengan perangkat Daerah Tingkat II sepanjang diperlukan. atau rumah sakit umum daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (2) bertanggung jawab kepada kepala daerah melalui Sekretaris Daerah. mengkoordinasikan upaya penyelenggaraan ketentraman dan ketertiban umum. berdasarkan peraturan perundang-undangan. dan kewajiban. (2) Badan. (3) Kepala dinas daerah bertanggung jawab kepada kepala daerah melalui Sekretaris Daerah.mengenai kedudukan hukum Pegawai Daerah. b. baik Pegawai Negeri maupun Pegawai Daerah. (3) Selain tugas sebagaimana dimaksud pada ayat (2) camat juga menyelenggarakan tugas umum pemerintahan meliputi: a. atau kepala rumah sakit umum daerah yang diangkat oleh kepala daerah dari pegawai negeri sipil yang memenuhi syarat atas usul Sekretaris Daerah. penetapan pensiun. serta *9621 kedudukan hukum Pegawai Negeri Sipil di Daerah dan Pegawai Negeri Sipil Daerah. penetapan pensiun. Pasal 75 Norma. berlaku sesudah ada pengesahan pejabat yang berwenang. diatur dengan Peraturan Daerah sesuai dengan pedoman yang ditetapkan oleh Menteri Dalam Negeri. kantor. pemindahan. Pasal 76 Daerah mempunyai kewenangan untuk melakukan pengangkatan. yang diperbantukan atau dipekerjakan kepada sesuatu Daerah berada di bawah pimpinan Kepala Daerah yang bersangkutan. dan kesejahteraan pegawai. Pasal 53 Semua pegawai. Pasal 54 (1) Pembinaan kepegawaian terhadap Pegawai Daerah di atur oleh Kepala Daerah sesuai dengan peraturan (2) Kepala Kelurahan disebut Lurah. Pasal 125 (1) Lembaga teknis daerah merupakan unsur pendukung tugas kepala daerah dalam penyusunan dan pelaksanaan kebijakan daerah yang bersifat spesifik berbentuk badan. atau rumah sakit umum daerah. standar. mengkoordinasikan pemeliharaan prasarana dan fasilitas pelayanan . Pasal 77 Pemerintah Wilayah Propinsi melakukan pengawasan pelaksanaan administrasi kepegawaian dan karir pegawai di wilayahnya sesuai dengan peraturan perundang-undangan. pemindahan. dan prosedur mengenai pengangkatan. tunjangan. pemberhentian. diatur syarat dan hubungan kerja Pegawai Negeri yang bersangkutan dengan perangkat Daerah sepanjang diperlukan. (2) Dalam Keputusan yang dimaksud dalam ayat (1) pasal ini. mengkoordinasikan kegiatan pemberdayaan masyarakat.

perundang-undangan yang berlaku. (2) Pembinaan kepegawaian terhadap Pegawai Negeri yang diperbantukan atau dipekerjakan kepada Daerah di atur dengan peraturan perundangundangan. Pasal 85 (1) Dalam menjalankan tugasnya, Kepala Instansi Vertikal berada dibawah kordinasi Kepala Wilayah yang bersangkutan. (2) Pelaksanaan ketentuan yang dimaksud dalam ayat (1) pasal ini, diatur dengan Peraturan Pemerintah.

(4)

(5)

(6)

(7)

umum; e. mengkoordinasikan penyelenggaraan kegiatan pemerintahan di tingkat kecamatan; f. membina penyelenggaraan pemerintahan desa dan/atau kelurahan; g. melaksanakan pelayanan masyarakat yang menjadi ruang lingkup tugasnya dan/atau yang belum dapat dilaksanakan pemerintahan desa atau kelurahan. Camat sebagaimana dimaksud pada ayat (2) diangkat oleh Bupati/Walikota atas usul sekretaris daerah kabupaten/kota dari pegawai negeri sipil yang menguasai pengetahuan teknis pemerintahan dan memenuhi persyaratan sesuai dengan peraturan perundang-undangan. Camat dalam menjalankan tugastugasnya sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dan ayat (3) dibantu oleh perangkat kecamatan dan bertanggung jawab kepada Bupati/Walikota melalui Sekretaris Daerah kabupaten/kota. Perangkat kecamatan sebagaimana dimaksud pada ayat (5) bertanggung jawab kepada camat. Pelaksanaan ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (2), ayat (3), ayat (4), ayat (5), dan ayat (6) ditetapkan dengan peraturan bupati atau walikota dengan berpedoman pada Peraturan Pemerintah.

Pasal 127 (1) Kelurahan dibentuk di wilayah kecamatan dengan Perda berpedoman pada Peraturan Pemerintah. (2) Kelurahan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dipimpin oleh lurah yang dalam pelaksanaan tugasnya memperoleh pelimpahan dari Bupati/Walikota. (3) Selain tugas sebagaimana dimaksud pada ayat (2) lurah mempunyai tugas: a. pelaksanaan kegiatan pemerintahan kelurahan; b. pemberdayaan masyarakat;

(4)

(5)

(6)

(7)

(8)

(9)

c. pelayanan masyarakat; d. penyelenggaraan ketenteraman dan ketertiban umum; dan e. pemeliharaan prasarana dan fasilitas pelayanan umum. Lurah sebagaimana dimaksud pada ayat (2) diangkat oleh Bupati/Walikota atas usul Camat dari pegawai negeri sipil yang menguasai pengetahuan teknis pemerintahan dan memenuhi persyaratan sesuai dengan peraturan perundangundangan. Dalam melaksanakan tugas sebagaimana dimaksud pada ayat (3), Lurah bertanggung jawab kepada Bupati/Walikota melalui Camat. Lurah dalam melaksanakan tugasnya sebagaimana dimaksud pada ayat (3) dibantu oleh perangkat kelurahan. Perangkat kelurahan sebagaimana dimaksud pada ayat (6) bertanggung jawab kepada Lurah. Untuk kelancaran pelaksanaan tugas Lurah sebagaimana dimaksud pada ayat (3), dapat dibentuk lembaga lainnya sesuai dengan kebutuhan yang ditetapkan dengan Perda. Pelaksanaan ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (2), ayat (3), ayat (4), ayat (5), ayat (6), dan ayat (7) ditetapkan dengan peraturan bupati atau walikota sesuai dengan peraturan perundang-undangan.

Pasal 128 (1) Susunan organisasi perangkat daerah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 120 ayat (1) dan ayat (2) ditetapkan dalam Perda dengan memperhatikan faktorfaktor tertentu dan berpedoman pada Peraturan Pemerintah. (2) Pengendalian organisasi perangkat daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan oleh Pemerintah untuk provinsi dan oleh Gubernur untuk kabupaten/kota dengan berpedoman pada Peraturan Pemerintah.

(3) Formasi dan persyaratan jabatan perangkat daerah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 120 ayat (1) dan ayat (2) ditetapkan dengan Peraturan Kepala Daerah dengan berpedoman pada Peraturan Pemerintah. Pasal 129 (1) Pemerintah melaksanakan pembinaan manajemen pegawai negeri sipil daerah dalam satu kesatuan penyelenggaraan manajemen pegawai negeri sipil secara nasional. (2) Manajemen pegawai negeri sipil daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi penetapan formasi, pengadaan, pengangkatan, pemindahan, pemberhentian, penetapan pensiun, gaji, tunjangan, kesejahteraan, hak dan kewajiban kedudukan hukum, pengembangan kompetensi, dan pengendalian jumlah. Pasal 130 (1) Pengangkatan, pemindahan dan pemberhentian dari dan dalam jabatan eselon II pada pemerintah daerah provinsi ditetapkan oleh Gubernur. (2) Pengangkatan, pemindahan, dan pemberhentian dari dan dalam jabatan eselon II pada pemerintah daerah kabupaten/kota ditetapkan oleh Bupati/Walikota setelah berkonsultasi kepada Gubernur. Pasal 131 (1) Perpindahan pegawai negeri sipil antar kabupaten/kota dalam satu provinsi ditetapkan oleh Gubernur setelah memperoleh pertimbangan Kepala Badan Kepegawaian Negara. (2) Perpindahan pegawai negeri sipil antar kabupaten/kota antar provinsi, dan antar provinsi ditetapkan oleh Menteri Dalam Negeri setelah memperoleh pertimbangan Kepala Badan Kepegawaian Negara.

pangkat. Pasal 132 Penetapan formasi pegawai negeri sipil daerah provinsi/ kabupaten/kota setiap tahun anggaran dilaksanakan oleh Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara atas usul Gubernur. ditetapkan oleh Menteri Dalam Negeri setelah memperoleh pertimbangan Kepala Badan Kepegawaian Negara.(3) Perpindahan pegawai negeri sipil provinsi/kabupaten/kota ke departemen/lembaga pemerintah non departemen atau sebaliknya. (3) Penghitungan alokasi dasar sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) diatur dalam Undang-Undang tentang Perimbangan Keuangan Antara Pemerintah Pusat Dan Pemerintahan Daerah. (4) Pemerintah melakukan pemutakhiran data pengangkatan. pemberhentian. dan pemindahan pegawai negeri sipil daerah untuk penghitungan dan penyesuaian alokasi dasar sebagaimana dimaksud pada ayat (3). dan kompetensi. mutasi jabatan. pemberhentian. pendidikan dan pelatihan. dan pemindahan pegawai negeri sipil daerah dilaksanakan setiap tahun. Pasal 133 Pengembangan karir pegawai negeri sipil daerah mempertimbangkan integritas dan moralitas. (2) Penghitungan dan penyesuaian besaran alokasi dasar sebagaimana dimaksud pada ayat (1) akibat pengangkatan. Pasal 135 (1) Pembinaan dan pengawasan manajemen pegawai negeri sipil daerah . Pasal 134 (1) Gaji dan tunjangan pegawai negeri sipil daerah dibebankan pada APBD yang bersumber dari alokasi dasar dalam dana alokasi umum. mutasi antar daerah.

(4) Peraturan Daerah yang memerlukan pengesahan mulai berlaku pada tanggal pengundangannya atau pada tanggal yang ditentukan dalam Peraturan Daerah yang bersangkutan. (4) Perda sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilarang bertentangan dengan kepentingan umum dan/atau peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi. c. dapat dilaksanakan. Pasal 70 Peraturan Daerah tidak boleh bertentangan dengan kepentingan umum. Pasal 71 (1) Peraturan Daerah dapat memuat ketentuan tentang pembebanan biaya paksaan penegakan hukum. kelembagaan atau organ pembentuk yang tepat. • Dalam UU No. (5) Perda sebagaimana dimaksud pada ayat (1). b. Pasal 137 Perda dibentuk berdasarkan pada asas pembentukan peraturan perundang-undangan yang meliputi: a. dan prosedur pembinaan dan pengawasan manajemen pegawai negeri sipil daerah diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah. berlaku setelah diundangkan dalam lembaran daerah. (3) Perda sebagaimana dimaksud pada ayat (1) merupakan penjabaran lebih lanjut dari peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi dengan memperhatikan ciri khas masing-masing daerah. Pasal 39 (1) Peraturan Daerah dan atau Keputusan Kepala Daerah tidak boleh bertentangan dengan kepentingan umum dan peraturan perundang-undangan atau Peraturan Daerah yang lebih tinggi tingkatannya.000. sebagaimana dimaksud pada ayat (1). (3) Peraturan Daerah yang tidak memerlukan pengesahan mulai berlaku pada tanggal yang ditentukan dalam Peraturan Daerah yang bersangkutan. kedayagunaan dan kehasilgunaan. Pasal 69 Kepala Daerah menetapkan Peraturan Daerah atas persetujuan DPRD dalam rangka penyelenggaraan Otonomi Daerah dan penjabaran lebih lanjut dari peraturan perundangundangan yang lebih tinggi. Kepala Daerah menetapkan keputusan Kepala Daerah. (3) Peraturan Daerah tidak boleh mengatur sesuatu hal yang termasuk urusan rumah tangga Daerah tingkat bawahnya. norma. f. Pasal 136 (1) Perda ditetapkan oleh kepala daerah setelah mendapat persetujuan bersama DPRD. Pasal 40 (1) Peraturan Daerah diundangkan dengan menempatkannya dalam Lembaran Daerah yang bersangkutan. d. 17 Peraturan Daerah dan Peraturan Kepala Daerah . Pasal 38 Kepala Daerah dengan persetujuan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah menetapkan Peraturan Daerah. tidak boleh bertentangan dengan kepentingan umum. keterbukaan. Pasal 72 (1) Untuk melaksanakan Peraturan Daerah dan atas kuasa peraturan perundang-undangan lain yang berlaku. (2) Keputusan.32 Tahun 2004 disebutkan bahwa Perda dibentuk dalam rangka penyelenggaraan Otonomi Daerah. kejelasan tujuan.32 Tahun 2004 disebutkan secara rinci mengenai asas dan materi pembuatan suatu peraturan Daerah .000. kesesuaian antara jenis dan materi muatan. (2) Peraturan Daerah tidak boleh mengatur sesuatu hal yang telah diatur dalam peraturan perundang-undangan atau Peraturan Daerah yang lebih tinggi tingkatannya. peraturan daerah. (2) Standar. seluruhnya atau sebagian kepada pelanggar.00 (lima juta rupiah) dengan atau tidak merampas barang tertentu untuk Daerah. Peraturan Daerah lain dan peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi.dikoordinasikan pada tingkat nasional oleh Menteri Dalam Negeri dan pada tingkat daerah oleh Gubernur. dan g. 22 Tahun 1999 dan UU No. (2) Peraturan Daerah dapat memuat ancaman pidana kurungan paling lama enam bulan atau denda sebanyak-banyaknya Rp5. (2) Peraturan Daerah mempunyai kekuatan hukum dan mengikat setelah diundangkan dalam Lembaran Daerah yang bersangkutan. kejelasan rumusan. e. dan dalam UU No. (2) Perda dibentuk dalam rangka penyelenggaraan otonomi daerah provinsi/ kabupaten/kota dan tugas pembantuan. kecuali jika ditentukan lain dalam peraturan perundang-undangan. dan peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi.

b. f. Pasal 43 (1) Penyidikan dan penuntutan terhadap pelanggaran atas ketentuan-ketentuan Peraturan Daerah. Pasal 140 (1) Rancangan Perda dapat berasal dari DPRD. dapat mengajukan keberatan kepada Pasal 138 (1) Materi muatan Perda mengandung asas: a. kenusantaraan. g. kekeluargaan. (3) Tata cara mempersiapkan rancangan Perda yang berasal dari Gubernur atau Bupati/Walikota diatur dengan Peraturan Presiden. keadilan. h. seluruhnya atau sebagian kepada pelanggar. ketertiban dan kepastian hukum. pembahasan. pengayoman. Pasal 74 (1) Penyidikan dan penuntutan terhadap pelanggaran atas ketentuan Peraturan Daerah dilakukan oleh pejabat penyidik dan penuntut sesuai dengan peraturan perundang-undangan. . dan/atau j. sebagaimana dimaksud pada ayat (2). Peraturan Daerah atau Keputusan Kepala Daerah tersebut dibatalkan pelaksanaannya. diberitahukan kepada Daerah yang bersangkutan dengan menyebutkan alasan-alasannya. c. sebagaimana dimaksud pada ayat (1). d. (2) Peraturan Daerah yang dimaksud dalam ayat (1) pasal ini. kemanusiaan. keserasian. kesamaan kedudukan dalam hukum dan pemerintahan. Pasal 41 (1) Peraturan Daerah Tingkat I dan Peraturan Daerah Tingkat II dapat memuat ketentuan ancaman pidana kurungan selama-lamanya 6 (enam) bulan atau denda sebanyak-banyaknya Rp. DPRD dan Gubernur atau Bupati/Walikota menyampaikan rancangan Perda mengenai materi yang sama maka yang dibahas adalah rancangan Perda yang disampaikan oleh DPRD. mempunyai kekuatan hukum dan mengikat setelah diundangkan dalam Lembaran Daerah. (2) Persiapan pembentukan. Gubernur. Perda dapat memuat asas lain sesuai dengan substansi Perda yang bersangkutan. (2) Selain asas sebagaimana dimaksud pada ayat (1). sebagaimana dimaksud pada ayat (2). (2) Dengan Peraturan Daerah dapat ditunjuk Pegawai-pegawai Daerah yang diberi tugas untuk melakukan Pasal 73 (1) Peraturan Daerah dan Keputusan Kepala Daerah yang bersifat mengatur diundangkan dengan menempatkannya dalam Lembaran Daerah. bhineka tunggal ika. Pasal 114 (1) Pemerintah dapat membatalkan Peraturan Daerah dan Keputusan Kepala Daerah yang bertentangan dengan kepentingan umum atau peraturan perundangundangan yang lebih tinggi dan/atau peraturan perundang-undangan lainnya. atau Bupati/Walikota. (2) Dengan Peraturan Daerah dapat juga ditunjuk pejabat lain yang diberi tugas untuk melakukan penyidikan terhadap pelanggaran atas ketentuan Peraturan Daerah.rupiah) dengan atau tidak dengan merampas barang tertentu untuk Negara. sebagaimana dimaksud pada ayat (1).000. berlaku sesudah ada pengesahan pejabat yang berwenang. Pasal 139 (1) Masyarakat berhak memberikan masukan secara lisan atau tertulis dalam rangka penyiapan atau pembahasan rancangan Perda. Pasal 42 (1) Peraturan Daerah dapat memuat ketentuan tentang pembebanan biaya paksaan penegakan hukum. kebangsaan. (2) Ketentuan. (2) Keputusan pembatalan Peraturan Daerah dan Keputusan Kepala Daerah. sedangkan rancangan Perda yang disampaikan Gubernur atau Bupati/Walikota digunakan sebagai bahan untuk dipersandingkan.50. dilakukan oleh alatalat penyidik dan penuntut sesuai dengan peraturan perundangundangan yang berlaku.-(Limapuluh ribu. e. dan keselarasan. (3) Tindak pidana yang dimaksud dalam ayat (1) pasal ini adalah pelanggaran. (3) Selambat-lambatnya satu minggu setelah keputusan pembatalan Peraturan Daerah dan Keputusan Kepala Daerah. berlaku sesudah ada pengesahan pejabat yang berwenang. (4) Daerah yang tidak dapat menerima keputusan pembatalan Peraturan Daerah dan Keputusan Kepala Daerah. (2) Peraturan Daerah yang dimaksud dalam ayat (1) pasal ini. kecuali jika ditentukan lain dalam peraturan perundang-undangan. dan pengesahan rancangan Perda berpedoman kepada peraturan perundang-undangan. keseimbangan. (2) Apabila dalam satu masa sidang. i.(5) Peraturan Daerah yang memerlukan pengesahan tidak boleh diundangkan sebelum pengesahan itu diperoleh atau sebelum jangka waktu yang ditentukan untuk pengesahannya berakhir.

atau apabila setelah 3 (tiga) bulan sejak diterimanya Peraturan Daerah dan atau Keputusan Kepala Daerah tersebut. baru berlaku sesudah ada pengesahan pejabat yang berwenang.000. (2) Perda dapat memuat ancaman pidana kurungan paling lama 6 (enam) bulan atau denda edspaling banyak Rp50. Pasal 69 (1) Peraturan Daerah dan atau Keputusan Kepala Daerah yang memerlukan pengesahan. (2) Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara mempersiapkan rancangan Perda sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dalam Peraturan Tata Tertib DPRD. Pasal 144 (1) Rancangan Perda yang telah disetujui bersama oleh DPRD dan Gubernur atau Bupati/Walikota disampaikan oleh pimpinan DPRD kepada Gubernur atau Bupati/Walikota untuk ditetapkan sebagai Perda. Pasal 45 Kepala Daerah dapat menetapkan Keputusan Kepala Daerah untuk melaksanakan Peraturan Daerah atau urusan-urusan dalam rangka tugas pembantuan. sesuai dengan yang diatur dalam peraturan perundangan lainnya. oleh pejabat yang berwenang dapat diperpanjang 3 (tiga) bulan lagi. (3) Penolakan pengesahan Peraturan Daerah dan atau Keputusan Kepala Mahkamah Agung setelah mengajukannya kepada Pemerintah.penyidikan terhadap pelanggaran atas ketentuan-ketentuan Peraturan Daerah. dengan memberitahukannya kepada Pemerintah Daerah yang bersangkutan sebelum jangka waktu yang dimaksud dalam ayat (1) pasal ini berakhir. gabungan komisi. Pasal 44 (1) Bentuk Peraturan Daerah ditentukan oleh Menteri Dalam Negeri.000. komisi. atau Bupati/Walikota dilaksanakan oleh sekretariat daerah. Pasal 142 (1) Penyebarluasan rancangan Perda yang berasal dari DPRD dilaksanakan oleh sekretariat DPRD. Daerah dan Keputusan Kepala Daerah mengenai hal-hal tertentu. (3) Rancangan Perda sebagaimana dimaksud . seluruhnya atau sebagian kepada pelanggar sesuai dengan peraturan perundangan. (2) Penyebarluasan rancangan Perda yang berasal dari Gubernur. (3) Perda dapat memuat ancaman pidana atau denda selain sebagaimana dimaksud pada ayat (2). Pasal 143 (1) Perda dapat memuat ketentuan tentang pembebanan biaya paksaan penegakan hukum.\ (2) Peraturan Daerah ditandatangani oleh Kepala Daerah dan ditandatangani serta oleh Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Daerah. Pasal 141 (1) Rancangan Perda disampaikan oleh anggota. (2) Jangka waktu 3 (tiga) bulan yang dimaksud dalam ayat (1) pasal ini. pejabat yang berwenang tidak mengambil sesuatu keputusan.00 (lima puluh juta rupiah). Pasal 68 Dengan Peraturan Pemerintah dapat ditentukan bahwa Peraturar. (2) Penyampaian rancangan Perda sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan dalam jangka waktu paling lama 7 (tujuh) hari terhitung sejak tanggal persetujuan bersama. atau alat kelengkapan DPRD yang khusus menangani bidang legislasi. dapat dijalankan sesudah ada pengesahan pejabat yang berwenang.

(3) Keputusan pembatalan Perda sebagaimana dimaksud pada ayat (2) ditetapkan dengan Peraturan Presiden paling lama 60 (enam puluh) hari sejak diterimanya Perda sebagaimana dimaksud pada ayat (1). Dalam hal sahnya rancangan Perda sebagaimana dimaksud pada ayat (4). rumusan kalimat pengesahannya berbunyi. kepala daerah harus memberhentikan pelaksanaan Perda dan selanjutnya DPRD bersama kepala daerah mencabut Perda dimaksud. Kalimat pengesahan sebagaimana dimaksud pada ayat (5) harus dibubuhkan pada halaman terakhir Perda sebelum pengundangan naskah Perda ke dalam lembaran daerah. (5) Apabila provinsi/kabupaten/kota tidak dapat menerima keputusan pembatalan Perda sebagaimana dimaksud pada ayat (3) dengan alasan yang dapat dibenarkan oleh peraturan perundang-undangan. (4) Paling lama 7 (tujuh) hari setelah keputusan pembatalan sebagaimana dimaksud pada ayat (3). (2) Apabila Gubernur Kepala Daerah tidak menjalankan haknya untuk menangguhkan atau membatalkan Peraturan Daerah Tingkat II dan atau Keputusan Kepala Daerah Tingkat II sesuai dengan yang dimaksud dalam ayat (1) pasal ini. (3) Pembatalan Peraturan Daerah dan atau Keputusan Kepala Daerah yang dimaksud dalam ayat-ayat (1) dan (2) pasal ini. disertai alasan- (4) (5) (6) pada ayat (1) dan ayat (2) ditetapkan oleh Gubernur atau Bupati/Walikota paling lama 30 (tiga puluh) hari sejak rancangan tersebut disetujui bersama. peraturan perundang-undangan atau Peraturan Daerah Tingkat atasnya. “Perda ini dinyatakan sah. Pasal 70 (1) Peraturan Daerah dan atau Keputusan Kepala Daerah yang bertentangan dengan kepentingan umum. (4) Terhadap penolakan pengesahan yang dimaksud dalam ayat (3) pasal ini. Dalam hal rancangan Perda tidak ditetapkan Gubernur atau Bupati/Walikota dalam waktu sebagaimana dimaksud pada ayat (3) rancangan Perda tersebut sah menjadi Perda dan wajib diundangkan dengan memuatnya dalam lembaran daerah. peraturan perundang-undangan atau Peraturan Daerah tingkat atasnya ditangguhkan berlakunya atau dibatalkan oleh pejabat yang berwenang. kepala daerah dapat mengajukan keberatan kepada Mahkamah . Daerah yang bersangkutan dalam waktu 1 (satu) bulan terhitung mulai saat pemberitahuan penolakan pengesahan itu diterima.Daerah yang dimaksud dalam ayat (1) pasal ini.” dengan mencantumkan tanggal sahnya. sepanjang masih dapat dibatalkan. dapat mengajukan keberatan kepada pejabat setingkat lebih atas dari pejabat yang menolak. (2) Perda sebagaimana dimaksud pada ayat (1) yang bertentangan dengan kepentingan umum dan/atau peraturan perundangundangan yang lebih tinggi dapat dibatalkan oleh Pemerintah. oleh pejabat yang berwenang diberitahukan kepada Pemerintah Daerah yang bersangkutan disertai alasan-alasannya. Pasal 145 (1) Perda disampaikan kepada Pemerintah paling lama 7 (tujuh) hari setelah ditetapkan. maka penangguhannya dan atau pembatalannya dapat dilakukan oleh Menteri Dalam Negeri. karena bertentangan dengan kepentingan umum. mengakibatkan batalnya semua akibat dari Peraturan Daerah dan atau Keputusan Kepala Daerah yang dimaksud. (4) Keputusan penangguhan atau pembatalan yang dimaksud dalam ayatayat (1) dan (2) pasal ini.

diumumkan dalam Berita Negara Republik Indonesia dan atau Lembaran Daerah yang bersangkutan. (2) Pengundangan Perda dalam Lembaran Daerah dan Peraturan Kepala Daerah dalam Berita Daerah dilakukan oleh Sekretaris Daerah. kepala daerah menetapkan peraturan kepala daerah dan atau keputusan kepala daerah. (4) Menteri Dalam Negeri menetapkan Peraturan untuk melancarkan pelaksanaan kerjasama antar Pemerintah Daerah. demikian pula mengenai perubahan dan pencabutannya. (7) Keputusan mengenai pembatalan yang dimaksud dalam ayat-ayat (4) dan (6) pasal ini. dilarang bertentangan dengan kepentingan umum. (2) Peraturan kepala daerah dan atau keputusan kepala daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1). maka Peraturan Daerah dan atau Keputusan-Kepala Daerah itu memperolah kembali kekuatan berlakunya. (3) Pemerintah daerah wajib menyebarluaskan Perda yang telah diundangkan dalam Lembaran Daerah dan Peraturan Kepala Daerah yang telah diundangkan dalam Berita Daerah. . Pasal 65 (1) Beberapa Pemerintah Daerah dapat menetapkan Peraturan Bersama untuk mengatur kepentingan Daerahnya secara bersama-sama. Apabila Pemerintah tidak mengeluarkan Peraturan Presiden untuk membatalkan Perda sebagaimana dimaksud pada ayat (3). Apabila keberatan sebagaimana dimaksud pada ayat (5) dikabulkan sebagian atau seluruhnya. Peraturan Daerah dan atau Keputusan Kepala Daerah yang bersangkutan kehilangan kakuatan berlakunya. dan peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi. maka pejabat yang berwenang mengambil keputusan. putusan Mahkamah Agung tersebut menyatakan Peraturan Presiden menjadi batal dan tidak mempunyai kekuatan hukum. Pasal 147 (1) Perda diundangkan dalam Lembaran Daerah dan Peraturan Kepala Daerah diundangkan dalam Berita Daerah. Perda dimaksud dinyatakan berlaku. berlaku sesudah ada pengesahan pejabat yang berwenang. Perda. tidak boleh melebihi 6 (enam) bulan dan sojak saat penangguhannya. (5) Lamanya penangguhan yang dinyatakan dalam Keputusan yang dimaksud dalam ayat (4) pasal ini. (2) Peraturan Bersama yang dimaksud dalam ayat (1) pasal ini. (6) (7) Agung. (6) Jika dalam jangka waktu 6 (enam) bulan setelah pcnangguhan itu tidak disusul dengan keputusan pembatalannya. Pasal 146 (1) Untuk melaksanakan Perda dan atas kuasa peraturan perundang-undangan. (3) Dalam hal tidak tercapai kata sepakat mengenai perubahan dan atau pencabutan yang dimaksud dalam ayat (2) pasal ini.alasannya diberitahukan kepada Kepala Daerah yang bersangkutan dalam jangka waktu 2 (dua) minggu sesudah tanggal keputusan itu.

(3) Susunan organisasi dan formasi satuan Polisi Pamong Praja yang dimaksud dalam ayat (1) pasal ini. dan arah pembangunan daerah yang mengacu - . (2) Kedudukan. Pasal 149 (1) Anggota Satuan Polisi Pamong Praja dapat diangkat sebagai penyidik pegawai negeri sipil sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. (2) Pembentukan dan susunan organisasi Satuan Polisi Pamong Praja sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berpedoman pada Peraturan Pemerintah. Pasal 120 (1) Dalam rangka menyelenggarakan ketenteraman dan ketertiban umum serta untuk menegakkan Peraturan Daerah dibentuk Satuan Polisi Pamong Praja sebagai perangkat Pemerintah Daerah. disusun secara berjangka meliputi: a. dan kewajiban Polisi Pamong Praja ditetapkan dengan Peraturan Daerah. (2) Perencanaan pembangunan daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) disusun oleh pemerintahan daerah provinsi. tugas. kedudukan. sesuai dengan ketentuan yang ditetapkan oleh Pemerintah. 19 Perencanaan Pembangunan Daerah Pasal 150 (1) Dalam rangka penyelenggaraan pemerintahan daerah disusun perencanaan pembangunan daerah sebagai satu kesatuan dalam sistem perencanaan pembangunan nasional. hak dan wewenang Polisi Pamong Praja yang dimaksud dalam ayat (1) pasal ini. wewenang. hak. misi. (2) Susunan organisasi. Rencana pembangunan jangka panjang daerah disingkat dengan RPJP daerah untuk jangka waktu 20 (dua puluh) tahun yang memuat visi. diatur dengan Peraturan Pemerintah. • Dalam UU No.32 Tahun 2004 disebutkan bahwa anggota dari satua Polisi Pamong Praja dapat diangkat sebagai penyidik pegawai negeri sipil. (3) Perencanaan pembangunan daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (2). (3) Dengan Perda dapat juga ditunjuk pejabat lain yang diberi tugas untuk melakukan penyidikan terhadap pelanggaran atas ketentuan Perda. Pasal 148 (1) Untuk membantu kepala daerah dalam menegakkan Perda dan penyelenggaraan ketertiban umum dan ketentraman masyarakat dibentuk Satuan Polisi Pamong Praja. (2) Penyidikan dan penuntutan terhadap pelanggaran atas ketentuan Perda dilakukan oleh pejabat penyidik dan penuntut umum sesuai dengan peraturan perundangundangan. ditetapkan oleh Menteri Dalam Negeri. formasi. kabupaten/kota sesuai dengan kewenangannya yang dilaksanakan oleh Badan Perencanaan Pembangunan Daerah.18 Polisi Pamong Praja Pasal 86 (1) Untuk membantu Kepala Wilayah dalam menyelenggarakan pemerintahan umum diadakan satuan Polisi Pamong Praja. tugas.

kebijakan. dan program kepala daerah yang penyusunannya berpedoman kepada RPJP daerah dengan memperhatikan RPJM nasional. strategi pembangunan daerah. lintas satuan kerja perangkat daerah. e. merupakan penjabaran dari RPJM daerah untuk jangka waktu 1 (satu) tahun. b. RPJM daerah sebagaimana dimaksud pada huruf b memuat arah kebijakan keuangan daerah. berpedoman pada RPJM Daerah dan bersifat indikatif. misi. d. (2) Renstra-SKPD sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dirumuskan dalam bentuk rencana kerja satuan kerja perangkat . kebijakan umum. Pasal 151 (1) Satuan kerja perangkat daerah menyusun rencana stratregis yang selanjutnya disebut Renstra-SKPD memuat visi. tujuan. Rencana kerja pembangunan daerah. baik yang dilaksanakan langsung oleh pemerintah daerah maupun ditempuh dengan mendorong partisipasi masyarakat. c. Rencana pembangunan jangka menengah daerah yang selanjutnya disebut RPJM daerah untuk jangka waktu 5 (lima) tahun merupakan penjabaran dari visi. dengan mengacu kepada rencana kerja Pemerintah. rencana kerja dan pendanaannya. strategi. selanjutnya disebut RKPD. yang memuat rancangan kerangka ekonomi daerah.kepada RPJP nasional. dan program satuan kerja perangkat daerah. prioritas pembangunan daerah. dan program kewilayahan disertai dengan rencana kerja dalam kerangka regulasi dan kerangka pendanaan yang bersifat indikatif. program dan kegiatan pembangunan sesuai dengan tugas dan fungsinya. misi. RPJP daerah dan RJMD sebagaimana dimaksud pada ayat (3) huruf a dan b ditetapkan dengan Perda berpedoman pada Peraturan Pemerintah.

dan i. h. produk hukum daerah. g. tata cara penyusunan. dan pengawasan. Pasal 152 (1) Perencanaan pembangunanan daerah didasarkan pada data dan informasi yang akurat dan dapat dipertanggungjawabkan.daerah yang memuat kebijakan. Pasal 154 Tahapan. (3) Dalam rangka penyelenggaraan pemerintahan daerah. d. kepala daerah. e. DPRD. pemanfaatan data dan informasi sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dikelola dalam sistem informasi daerah yang terintegrasi secara nasional. dan evaluasi pelaksanaan rencana pembangunan daerah diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah yang berpedoman pada perundangundangan. pelaksanaan. b. penyelenggaraan pemerintahan daerah. dan PNS daerah. potensi sumber daya daerah. pengendalian. organisasi dan tata laksana pemerintahan daerah. perangkat daerah. informasi dasar kewilayahan. kependudukan. c. penganggaran. (2) Data dan informasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) mencakup: a. f. informasi lain terkait dengan penyelenggaraan pemerintahan daerah. . Pasal 153 Perencanaan pembangunan daerah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 152 disusun untuk menjamin keterkaitan dan konsistensi antara perencanaan. keuangan daerah. dan kegiatan pembangunan baik yang dilaksanakan langsung oleh pemerintah daerah maupun yang ditempuh dengan mendorong partisipasi masyarakat. program. untuk tercapainya daya guna dan hasil guna.

dan pengawasan keuangan Daerah berdasarkan Peraturan Daerah dan peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi. (3) Selama belum ada Kas Daerah atau Bank Pembangunan Daerah. (3) Pelimpahan sebagian atau seluruh kekuasaan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) didasarkan pada prinsip pemisahan kewenangan antara yang memerintahkan. (2) Dalam melaksanakan kekuasaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1).22 Tahun 1999 dan UU No. dana perimbangan. 4. Menteri Keuangan dapat menugaskan Kas Negara atau Bank Pemerintah tertentu untuk melaksanakan pekerjaan mengenai penerimaan. Pasal 155 (1) Penyelenggaraan urusan pemerintahan yang menjadi kewenangan daerah didanai dari dan atas beban anggaran pendapatan dan belanja daerah. c. surat bernilai uang dan atau barang untuk kepentingan Daerah. 2. yaitu: 1. pertanggungjawaban. b. lain-lain PAD yang sah. kepala daerah melimpahkan sebagian atau seluruh kekuasaannya yang berupa perencanaan. diatur lebih terperinci mengenai Dana Alokasi Umum dan . yang terdiri dari : 1. Belanja. hasil perusahaan Daerah . dan 4. dan • • Terdapat perbedaan dalam pengaturan mengenai sumber pendapatan daerah dalam UU No.32 Tahun 2004 ditambahkan bahwa sumber pendapatan daerah berasal dari dana perimbangan dan pinjaman daerah (UU N0 22 Tahun 1999. hasil pajak daerah. Pasal 156 (1) Kepala daerah adalah pemegang kekuasaan pengelolaan keuangan daerah.32 Tahun 2004) Dalam UU No. pendapatan asli Daerah. Pendapatan berasal dari pemberian Pasal 79 Sumber pendapatan Daerah terdiri atas: a. dan Pembiayaan Daerah Pasal 55 Sumber pendapatan Daerah adalah : a. (3) Administrasi pendanaan penyelenggaraan urusan pemerintahan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan secara terpisah dari administrasi pendanaan penyelenggaraan urusan pemerintahan sebagaimana dimaksud pada ayat (2). 3. penatausahaan. (2) Penyelenggaraan tugas Pemerintah di Daerah dibiayai dari dan atas beban Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara. atas permintaan Pemerintah Daerah. menguji. (2) Uang Daerah disimpan pada Kas Daerah atau Bank Pembangunan Daerah. pelaksanaan. hasil retribusi Daerah . 3. - 21 Pendapatan. pembayaran atau penyerahan uang. penyimpanan. b. 2. Pasal 78 (1) Penyelenggaraan tugas Pemerintah Daerah dan DPRD dibiayai dari dan atas beban Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah. dan yang menerima/mengeluarkan uang. dan b. (2) Penyelenggaraan urusan pemerintahan yang menjadi kewenangan Pemerintah di daerah didanai dari dan atas beban anggaran pendapatan dan belanja negara.32 tahun 2004. 3. hasil perusahaan milik Daerah. Pendapatan asli Daerah sendiri. 2. pendapatan asli daerah yang selanjutnya disebut PAD.20 Keuangan Daerah Pasal 62 (1) Kepala Daerah menyelenggarakan pengurusan. hasil pengelolaan kekayaan daerah yang dipisahkan. Pasal 157 Sumber pendapatan daerah terdiri atas: a. lain-lain hasil usaha Daerah yang sah. hasil pajak Daerah . dana perimbangan. untuk pinjaman daerah tidak disebutkan dalam UU No. yaitu : 1. pelaporan dan pertanggungjawaban. lain-lain pendapatan asli Daerah yang sah. hasil retribusi Daerah. hasil pajak Daerah. dan hasil pengelolaan kekayaan Daerah yang dipisahkan. serta pengawasan keuangan daerah kepada para pejabat perangkat daerah. hasil retribusi daerah.

perkebunan. menurut cara yang diatur dalam Undang-undang dan tidak boleh berlaku surut. harus mendapatkan persetujuan Pemerintah. pertambangan serta kehutanan. (4) Pengembalian atau pembebasan pajak Daerah dan atau retribusi Daerah hanya dapat dilakukan berdasarkan Peraturan Daerah. lain-lain pendapatan daerah yang sah. sebagaimana dimaksud pada ayat (1). ditetapkan dengan Undang-undang. Pasal 81 (1) Pemerintah Daerah dapat melakukan peminjaman dari sumber dalam negeri dan/atau dari sumber luar negeri untuk membiayai kegiatan pemerintahan dengan persetujuan DPRD. perkebunan. b. terdiri atas: a. Dana Alokasi Umum. d. (3) Peraturan Daerah yang dimaksud dalam ayat (2) pasal ini berlaku sesudah ada pengesahan pejabat yang berwenang. sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a. Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) sektor perdesaan. Pasal 57 Perimbangan keuangan antara Pemerintah dan Daerah diatur dengan Undang-undang. Pajak Penghasilan (PPh) Pasal 21. sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a. sesuai dengan ketentuan . dan penerimaan dari sumber daya alam. Dana Alokasi Khusus. dana alokasi umum. dan c. Bea Perolehan Atas Hak Tanah dan Bangunan (BPHTB) sektor perdesaan. diterima oleh Daerah penghasil dan Daerah lainnya untuk pemerataan sesuai dengan peraturan perundang-undangan. Dana Bagi Hasil. sebagaimana dimaksud dalam Pasal 79. b. (3) Dana Bagi Hasil yang bersumber dari sumber daya alam sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berasal dari: a. dan lain-lain pendapatan Daerah yang sah. dan ayat (3).c. bagian Daerah dari penerimaan Pajak Bumi dan Bangunan. c. pertambangan serta kehutanan. Pasal 160 (1) Dana Bagi Hasil sebagaimana dimaksud dalam Pasal 159 huruf a bersumber dari pajak dan sumber daya alam. (2) Pemerintahan daerah dilarang melakukan pungutan atau dengan sebutan lain di luar yang telah ditetapkan undang-undang. sumbangan-sumbangan lain. perkotaan. (2) Dengan Peraturan Daerah ditetapkan pungutan pajak dan retribusi Daerah. dana alokasi khusus. perkotaan. (4) Ketentuan lebih lanjut. Pasal 158 (1) retribusi daerah ditetapkan dengan UndangUndang yang pelaksanaannya di daerah diatur lebih lanjut dengan Perda. Dana Alokasi Khusus Pasal 56 Dengan Undang-undang sesuatu pajak Negara dapat diserahkan kepada Daerah. (3) Peminjaman dan sumber dana pinjaman yang berasal dari luar negeri. e. diterima langsung oleh Daerah penghasil. Lain-lain pendapatan yang sah. Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan. ayat (2). yang diatur dengan peraturan perundangundangan . (3) Hasil pengelolaan kekayaan daerah yang dipisahkan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 157 huruf a angka 3 dan lain-lain PAD yang sah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 157 huruf a angka 4 ditetapkan dengan Perda berpedoman pada peraturan perundangundangan. 2. Penerimaan kehutanan yang berasal dari iuran hak pengusahaan hutan (IHPH). dan perkebunan serta Bea Perolehan Hak Atas Tanah dan Bangunan. sumbangan dari Pemerintah. dan c. sebagaimana dimaksud pada ayat (1). pinjaman Daerah. (2) Bagian Daerah dari penerimaan Pajak Bumi dan Bangunan sektor perdesaan. (2) Pinjaman dari dalam negeri diberitahukan kepada Pemerintah dan dilaksanakan sesuai dengan pedoman yang ditetapkan oleh Pemerintah. Pemerintah yang terdiri dari : 1. c. (2) Dana Bagi Hasil yang bersumber dari pajak sebagaimana dimaksud pada ayat (1) terdiri dari: a. Pasal 159 Dana perimbangan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 157 huruf b terdiri atas: a. b. Pasal 80 (1) Dana perimbangan. perkotaan. Pasal 58 (1) Dengan Undang-undang ditetapkan ketentuan pokok tentang pajak dan retribusi Daerah. Pasal 25. (3) Bagian Daerah dari penerimaan Pajak Bumi dan Bangunan sektor pertambangan serta kehutanan dan penerimaan dari sumber daya alam. dan Pasal 29 wajib pajak orang pribadi dalam negeri.

ditetapkan oleh Menteri Dalam Negeri berdasarkan pertimbangan dari menteri teknis terkait. Penerimaan pertambangan umum yang berasal dari penerimaan iuran tetap (landrent) dan penerimaan iuran eksplorasi dan iuran eksploitasi (royalty) yang dihasilkan dari wilayah daerah yang bersangkutan. (4) (5) (6) provisi sumber daya hutan (PSDH) dan dana reboisasi yang dihasilkan dari wilayah daerah yang bersangkutan. Pasal 82 (1) Pajak dan retribusi Daerah ditetapkan dengan Undang-undang. Penerimaan pertambangan gas alam yang dihasilkan dari wilayah daerah yang bersangkutan. b. f. (2) DAU untuk suatu daerah ditetapkan berdasarkan kriteria tertentu yang menekankan pada aspek pemerataan dan keadilan yang . d. iuran tetap dan iuran produksi yang dihasilkan dari wilayah daerah yang bersangkutan. ditetapkan oleh Pemerintah. Pasal 161 (1) DAU sebagaimana dimaksud dalam Pasal 159 huruf b dialokasikan berdasarkan persentase tertentu dari pendapatan dalam negeri neto yang ditetapkan dalam APBN. (2) Penentuan tarif dan tata cara pemungutan pajak dan retribusi Daerah ditetapkan dengan Peraturan Daerah sesuai dengan peraturan perundangundangan. Pelaksanaan ketentuan pada ayat (1). dan ayat (5) diatur lebih lanjut dalam Peraturan Pemerintah. ayat (4). Penerimaan pertambangan minyak yang dihasilkan dari wilayah daerah yang bersangkutan. ayat (2). Daerah penghasil sumber daya alam sebagaimana dimaksud pada ayat (3). ayat (3). Penerimaan pertambangan panas bumi yang berasal dari penerimaan setoran bagian Pemerintah. Dasar penghitungan bagian daerah dari daerah penghasil sumber daya alam ditetapkan oleh Menteri Teknis terkait setelah memperoleh pertimbangan Menteri Dalam Negeri.peraturan perundang-undangan. sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2). Penerimaan perikanan yang diterima secara nasional yang dihasilkan dari penerimaan pungutan pengusahaan perikanan dan penerimaan pungutan hasil perikanan. (4) Tata cara peminjaman. c. e.

(3) Penyusunan kegiatan khusus sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b dilakukan setelah dikoordinasikan oleh daerah yang bersangkutan. (2) Hibah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) . yang meliputi hibah.selaras dengan penyelenggaraan urusan pemerintahan yang formula dan penghitungan DAU-nya ditetapkan sesuai Undang-Undang. Pasal 164 (1) Lain-lain pendapatan daerah yang sah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 156 huruf c merupakan seluruh pendapatan daerah selain PAD dan dana perimbangan. mendanai kegiatan khusus yang diusulkan daerah tertentu. (2) Pengaturan lebih lanjut mengenai pembagian dana perimbangan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 157 huruf b ditetapkan dalam Undang-Undang tentang Perimbangan Keuangan Antara Pemerintah Pusat dan Pemerintahan Daerah. b. Pasal 162 (1) Dana Alokasi Khusus (DAK) sebagaimana dimaksud dalam Pasal 159 huruf c dialokasikan dari APBN kepada daerah tertentu dalam rangka pendanaan pelaksanaan desentralisasi untuk: a. supervisi. monitoring. Mendanai kegiatan khusus yang ditentukan Pemmerintah atas dasar prioritas nasional. dan DAK diatur dalam Peraturan Menteri Dalam Negeri. (2) Penyusunan kegiatan khusus yang ditentukan oleh Pemerintah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a dikoordinasikan dengan Gubernur. dan lain-lain pendapatan yang ditetapkan Pemerintah. dana darurat. (4) Ketentuan lebih lanjut mengenai DAK diatur dengan Peraturan Pemerintah. DAU. dana bagi hasil sumber daya alam. dan evaluasi atas dana bagi hasil pajak. Pasal 163 (1) Pedoman penggunaan.

dan pengalokasian dana darurat di atur dalam Peraturan Pemerintah. Pasal 165 (1) Keadaan yang dapat digolongkan sebagai peristiwa tertentu sebagaimana dimaksud dalam Pasal 164 ayat (3) ditetapkan dengan Peraturan Presiden. Pendapatan dana darurat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) merupakan bantuan Pemerintah dari APBN kepada pemerintah daerah untuk mendanai keperluan mendesak yang diakibatkan peristiwa tertentu yang tidak dapat ditanggulangi APBD. dan badan usaha dalam negeri atau luar negeri. sehingga mengancam keberadaannya sebagai daerah otonom. Pasal 167 (1) Belanja daerah diprioritaskan untuk melindungi dan meningkatkan kualitas kehidupan masyarakat dalam upaya memenuhi kewajiban daerah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 22. (2) Tata cara pengajuan permohonan. serta mengembangkan sistem jaminan sosial. dan/atau jasa yang berasal dari Pemerintah. penyediaan fasilitas pelayanan kesehatan. yang tidak mampu diatasi sendiri. (2) Perlindungan dan peningkatan kualitas kehidupan masyarakat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diwujudkan dalam bentuk peningkatan pelayanan dasar. Pasal 166 (1) Pemerintah dapat mengalokasikan dana darurat kepada daerah yang dinyatakan mengalami krisis keuangan daerah. masyarakat. . fasilitas sosial dan fasilitas umum yang layak. (2) Besarnya alokasi dana darurat ditetapkan oleh Menteri Keuangan dengan memperhatikan pertimbangan Menteri Dalam Negeri dan Menteri teknis terkait. (3) Tata cara pengelolaan dan pertanggungjawaban penggunaan dana darurat diatur dalam Peraturan Pemerintah. evaluasi oleh Pemerintah.(3) merupakan bantuan berupa uang. pendidikan. barang.

pemerintah daerah lain. Pasal 171 (1) Ketentuan mengenai pinjaman daerah dan obligasi daerah diatur dengan Peraturan Pemerintah. lembaga keuangan bukan bank. dan masyarakat. (2) Belanja pimpinan dan anggota DPRD diatur dalam Perda yang berpedoman pada Peraturan Pemerintah. (2) Peraturan Pemerintah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) sekurang-kurangnya mengatur tentang: a. lembaga keuangan bank.(3) Belanja daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) mempertimbangkan analisis standar belanja. penganggaran kewajiban pinjaman daerah . tolok ukur kinerja. Pasal 168 (1) Belanja kepala daerah dan wakil kepala daerah diatur dalam Perda yang berpedoman pada Peraturan Pemerintah. standar harga. Pasal 169 (1) Untuk membiayai penyelenggaraan pemerintahan daerah. dan standar pelayanan minimal yang ditetapkan sesuai dengan peraturan perundang-undangan. persyaratan bagi pemerintah daerah dalam melakukan pinjaman. pemerintah daerah dapat melakukan pinjaman yang bersumber dari Pemerintah. (2) Perjanjian penerusan pinjaman sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan antara Menteri Keuangan dan kepala daerah. Pasal 170 (1) Pemerintah daerah dapat melakukan pinjaman yang berasal dari penerusan pinjaman hutang luar negeri dari Menteri Keuangan atas nama Pemerintah setelah memperoleh pertimbangan Menteri Dalam Negeri. b. (2) Pemerintah daerah dengan persetujuan DPRD dapat menerbitkan obligasi daerah untuk membiayai investasi yang menghasilkan penerimaan daerah.

persyaratan penerbitan obligasi daerah.yang jatuh tempo dalam APBD. lembaga perbankan. serta pengelolaan dan pertanggungjawabannya. pembayaran bunga dan pokok obligasi. Pasal 173 (1) Pemerintah daerah dapat melakukan penyertaan modal pada suatu Badan Usaha Milik Pemerintah dan/atau milik swasta. f. pengenaaan sanksi dalam hal pemerintah daerah tidak memenuhi kewajiban membayar pinjaman kepada Pemerintah. dan/atau dapat dialihkan kepada badan usaha milik daerah. pemerintah daerah lain. . dikurangi. e. (3) Penyertaan modal sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilaksanakan sesuai dengan peraturan perundang-undangan. d. (2) Penyertaan modal sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat ditambah. (2) Pengaturan tentang dana cadangan daerah ditetapkan dengan Peraturan Pemerintah. dijual kepada pihak lain. Pasal 172 (1) Pemerintah daerah dapat membentuk dana cadangan guna membiayai kebutuhan tertentu yang dananya tidak dapat disediakan dalam satu tahun anggaran. penjualan dan pembelian obligasi. c. (3) Peraturan Pemerintah sebagaimana dimaksud pada ayat (2) sekurangkurangnya mengatur persyaratan pembentukan dana cadangan. serta lembaga keuangan bukan bank dan masyarakat. pengelolaan obligasi daerah yang mencakup pengendalian risiko. tata cara pelaporan posisi kumulatif pinjaman dan kewajiban pinjaman setiap semester dalam tahun anggaran berjalan. pelunasan dan penganggaran dalam APBD.

pinjaman daerah. b. . sebagaimana dimaksud pada ayat (1). hasil penjualan kekayaan daerah yang dipisahkan. Pemerintah memberi insentif fiskal dan nonfiskal tertentu. Pemerintah dapat melakukan penundaan atas penyaluran dana perimbangan. ditetapkan dengan Peraturan Pemerintah. c. sisa lebih perhitungan anggaran tahun lalu. (3) Dalam hal APBD diperkirakan defisit.32 Tahun 2004 disebutkan bahwa insentif tidak hanya berupa insentif fiskal dan non fiskal tetapi dalam penjelasannya disebutkan insentif tersebut berupa penyediaan sarana. dan d. prasana. (4) Pembiayaan daerah sebagaimana di-maksud pada ayat (3) bersumber dari: a. (2) Pemerintah daerah wajib melaporkan posi-si surplus/defisit APBD kepada Menteri Dalam Negeri dan Menteri Keuangan setiap semester dalam tahun anggaran berjalan. 5 Tahun 1974 dan UU No. penyertaan modal (investasi daerah). transfer ke rekening dana cadangan. Pasal 176 Pemerintah daerah dalam meningkatkan perekonomian daerah dapat memberikan insentif dan/atau kemudahan kepada masyarakat dan/atau investor yang diatur dalam Perda dengan berpedoman pada peraturan perundang-undangan. transfer dari dana cadangan. (2) Surplus sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat digunakan untuk: a. b. • Materi tentang pemberian insentif dan kemudahan investasi ada perubahan bahwa dalam UU No. pembayaran cicilan pokok utang yang jatuh tempo. • Hal ini merupakan materi baru yang tidak diatur sebelumnya dalam UU No.32 tahun 2004 23 Pemberian Insentif dan Kemudahan Investasi - Pasal 83 (1) Untuk mendorong pemberdayaan Daerah. penggunaannya ditetapkan dalam Perda tentang APBD. (3) Dalam hal pemerintah daerah tidak memenuhi kewajiban sebagaimana dimaksud pada ayat (2). (2) Ketentuan. c. dan hal tersebut diatur dalam Peraturan Daerah tidak lagi dituangkan dalam Peraturan Pemerintah.22 Surplus dan Defisit APBD - - Pasal 174 (1) Dalam hal APBD diperkirakan surplus. dapat didanai dari sumber pembiayaan daerah yang ditetapkan dalam Perda tentang APBD. Pasal 175 (1) Menteri Dalam Negeri melakukan pengendalian defisit anggaran setiap daerah.

dihibahkan. persetujuan penyelesaian perkara perdata secara damai . dan c. dan/atau dipindahtangankan. efektivitas. dan nilai ekonomis yang dilakukan secara transparan sesuai dengan peraturan perundang-undangan. c. Barang milik daerah dapat dihapuskan dari daftar inventaris barang daerah untuk dijual. • UU No. Pasal 177 Pemerintah daerah dapat memiliki BUMD yang pembentukan. penghapusan tagihan Daerah sebagian atau seluruhnya . Pelaksanaan penghapusan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dilakukan berdasarkan kebutuhan daerah. dan/atau dimusnahkan sesuai dengan ketentuan peraturan perundangundangan. berlaku sesudah ada pengesahan pejabat yang berwenang. (2) Dengan Undang-undang ditetapkan ketentuan pokok tentang Perusahaan Daerah. Pelaksanaan pengadaan barang dilakukan sesuai dengan kemampuan keuangan dan kebutuhan daerah berdasarkan prinsip efisiensi. dibebani hak tanggungan. mutu barang. (3) Dengan persetujuan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kepala Daerah dapat menetapkan Keputusan tentang : a. kecuali dengan Keputusan Kepala Daerah dengan persetujuan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah. penggabungan.Penghapusan tagihan daerah sebagian atau seluruhnya . usia pakai.24 BUMD Pasal 59 (1) Pemerintah Daerah dapat mengadakan Perusahaan Daerah yang penyelenggaraan dan pembinaannya dilakukan berdasarkan azas ekonomi perusahaan. dan/atau pembubarannya ditetapkan dengan Perda yang berpedoman pada peraturan perundang-undangan. kecuali apabila ditentukan lain dalam Keputusan Kepala Daerah yang dimaksud dalam ayat (1) pasal ini. hanya dapat dilakukan dimuka umum. dan (3) pasal ini. berlaku sesudah ada pengesahan Mendagri Pasal 85 (1) Barang milik Daerah yang digunakan untuk melayani kepentingan umum tidak dapat digadaikan. mengenai barang milik atau hak Daerah .Persetujuan penyelesaian sengketa perdata secara damai . b. (2) Penjualan dan penyerahan yang dimaksud dalam ayat (1) pasal ini. 32 tahun 2004 menghapuskan wewenang dari kepala daerah untuk menetapkan keputusan mengenai : . (2) Kepala Daerah dengan persetujuan DPRD dapat menetapkan keputusan tentang: a. penghapusan tagihan Daerah sebagian atau seluruhnya. (4) Keputusan yang dimaksud dalam ayatayat (1).Tindakan hukum lain mengenai barang milik daerah (2) (3) (4) . (2) Peraturan Daerah yang dimaksud dalam ayat (1) pasal ini. pelepasan kepemilikan. persetujuan penyelesaian sengketa perdata secara damai. dijadikan tanggungan atau digadaikan. diserahkan haknya kepada pihak lain. b. - 25 Pengelolaan Barang Daerah Pasal 63 (1) Barang milik Daerah yang dipergunakan untuk melayani kepentingan umum tidak dapat dijual. (2). dijadikan tanggungan. diserahkan haknya kepada pihak lain. dan transparansi dengan mengutamakan produk dalam negeri sesuai dengan peraturan perundangundangan. tindakan hukum lain mengenai barang milik Daerah. Pasal 178 (1) Barang milik daerah yang dipergunakan untuk melayani kepentingan umum tidak dapat dijual. tindakan hukum lain. atau digadaikan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. Pasal 60 (1) Dengan Peraturan Daerah dapat diadakan usaha-usaha sebagai sumber pendapatan Daerah. Pasal 84 Daerah dapat memiliki Badan Usaha Milik Daerah sesuai dengan peraturan perundang-undangan dan pembentukannya diatur dengan Peraturan Daerah.

(2) Perubahan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah ditetapkan dengan Peraturan Daerah selambat-lambatnya tiga bulan sebelum tahun anggaran berakhir.32 Tahun 2004 seperti adanya kewajiban Kepala daerah menyampaikan rancangan Perda tentang pertanggungjawaban pelaksanaan APBD kepada DPRD berupa laporan keuangan yang telah diperiksa oleh Badan Pemeriksa Keuangan paling lambat 6 (enam) bulan setelah tahun anggaran berakhir. sepanjang tidak dikuasakan sendiri oleh Anggaran itu. dan perhitungan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah ditetapkan dengan Peraturan Pemerintah. Pasal 179 APBD merupakan dasar pengelolaan keuangan daerah dalam masa 1 (satu) tahun anggaran terhitung mulai 1 Januari sampai dengan tanggal 31 Desember. ditetapkan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah. Pasal 86 (1) Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah ditetapkan dengan Peraturan Daerah selambat-lambatnya satu bulan setelah ditetapkannya Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara. dan pengawasan keuangan Daerah serta tata cara penyusunan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah. serta prioritas dan plafon anggaran. (3) Pengambilan keputusan DPRD untuk menyetujui rancangan Perda sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dilakukan selambatlambatnya 1 (satu) bulan sebelum tahun anggaran dilaksanakan. Pasal 181 (1) Kepala daerah mengajukan rancangan Perda tentang APBD disertai penjelasan dan dokumen-dokumen pendukungnya kepada DPRD untuk memperoleh persetujuan bersama. tiap tahun. selambat-lambatnya 6 (enam) bulan setelah ditetapkan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara untuk tahun anggaran tertentu. Pasal 180 (1) Kepala daerah dalam penyusunan rancangan APBD menetapkan prioritas dan plafon anggaran sebagai dasar penyusunan rencana kerja dan anggaran satuan kerja perangkat daerah. (5) Pemerintah Daerah wajib berusaha mencukupi anggaran belanja rutin dengan pendapatan sendiri. (4) Pedoman tentang penyusunan. (2) Dengan Peraturan Daerah. dilaksanakan sesudah ada pengesahan pejabat yang berwenang. kepala • Materi mengani Aggaran Pendapatan dan Belanja Daerah diatur lebih rinci dalam UU No. pelaksanaan tata usaha keuangan Daerah dan penyusunan perhitungan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah ditetapkan sesuai dengan peraturan perundang-undangan. ditetapkan perhitungan atas Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah tahun anggaran sebelumnya. perubahan. (6) Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah serta perubahannya. (3) Dengan Peraturan Daerah. (3) Perhitungan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah ditetapkan dengan Peraturan Daerah selambat-lambatnya tiga bulan setelah berakhirnya tahun anggaran yang bersangkutan. pertanggungjawaban. (2) Rancangan Perda sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dibahas pemerintah daerah bersama DPRD berdasarkan kebijakan umum APBD. (3) Rencana kerja dan anggaran satuan kerja perangkat daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (2) disampaikan kepada pejabat pengelola keuangan daerah sebagai bahan penyusunan rancangan Perda tentang APBD tahun berikutnya. (6) Pedoman tentang pengurusan. maka Pemerintah Daerah menggunakan anggaran tahun sebelumnya sebagai dasar pengurusan keuangannya. (7) Pengesahan atau penolakan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah oleh pejabat yang berwenang dapat dilakukan pos demi pos atau secara keseluruhan. tiap tahun. (5) Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah yang telah ditetapkan dengan Peraturan Daerah disampaikan kepada Gubernur bagi Pemerintah Kabupaten/Kota dan kepada Presiden melalui Menteri Dalam Negeri bagi Pemerintah Propinsi untuk diketahui. selambat-lambatnya 3 (tiga) bulan setelah ditetapkan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara untuk tahun anggaran tertentu. (4) Atas dasar persetujuan DPRD sebagaimana dimaksud pada ayat (3).26 APBD Pasal 64 (1) Tahun anggaran Daerah adalah sama dengan tahun anggaran Negara. penyusunan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah. . (8) Dengan Peraturan Pemerintah diatur ketentuan-ketentuan tentang cara: a. (4) Apabila Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah pada permulaan tahun anggaran yang bersangkutan belum mendapat pengesahan dari pejabat yang berwenang dan belum diundangkan. (2) Berdasarkan prioritas dan plafon anggaran sebagaimana dimaksud pada ayat (1) kepala satuan kerja perangkat daerah menyusun rencana kerja dan anggaran satuan kerja perangkat daerah dengan pendekatan berdasarkan prestasi kerja yang akan dicapai.

dan antarjenis belanja. (2) Laporan keuangan sebagaimana dimaksud . disertai penjelasan dan dokumen-dokumen pendukungnya kepada DPRD. (9) Dengan Peraturan Menteri Dalam Negeri diatur lebih lanjut cara melaksanakan ketentuan yang dimaksud dalam ayat (8) pasal ini. c. Pasal 183 (1) Perubahan APBD dapat dilakukan apabila terjadi: a. perkembangan yang tidak sesuai dengan asumsi kebijakan umum APBD. penyusunan permtungan atas Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah.b. Pasal 184 (1) Kepala daerah menyampaikan rancangan Perda tentang pertanggungjawaban pelaksanaan APBD kepada DPRD berupa laporan keuangan yang telah diperiksa oleh Badan Pemeriksa Keuangan paling lambat 6 (enam) bulan setelah tahun anggaran berakhir. pertanggungjawaban dan pengawasan keuangan Daerah. pengurusan. daerah menyiapkan rancangan peraturan kepala daerah tentang penjabaran APBD dan rancangan dokumen pelaksanaan anggaran satuan kerja perangkat daerah. Pasal 182 Tata cara penyusunan rencana kerja dan anggaran satuan kerja perangkat daerah serta tata cara penyusunan dokumen pelaksanaan anggaran satuan kerja perangkat daerah diatur dalam Perda yang berpedoman pada peraturan perundangundangan. dan c. keadaan yang menyebabkan harus dilakukan pergeseran anggaran antar unit organisasi. b. (3) Pengambilan keputusan mengenai rancangan Perda tentang perubahan APBD sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dilakukan oleh DPRD paling lambat 3 (tiga) bulan sebelum tahun anggaran yang bersangkutan berakhir. keadaan yang menyebabkan sisa lebih perhitungan anggaran tahun sebelumnya harus digunakan untuk pembiayaan dalam tahun anggaran berjalan. (2) Pemerintah daerah mengajukan rancang-an Perda tentang perubahan APBD. antarkegiatan.

pada ayat (1) sekurang-kurangnya meliputi laporan realisasi APBD. Gubernur menetapkan rancangan dimaksud menjadi Perda dan Peraturan Gubernur. Pasal 185 (1) Rancangan Perda provinsi tentang APBD yang telah disetujui bersama dan rancangan Peraturan Gubernur tentang penjabaran APBD sebelum ditetapkan oleh Gubernur paling lambat 3 (tiga) hari disampaikan kepada Menteri Dalam Negeri untuk dievaluasi. yang dilampiri dengan laporan keuangan badan usaha milik daerah. (5) Apabila hasil evaluasi tidak ditindaklanjuti oleh Gubernur dan DPRD. (2) Hasil evaluasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) disampaikan oleh Menteri Dalam Negeri kepada Gubernur paling lambat 15 (lima belas) hari terhitung sejak diterimanya rancangan dimaksud. dan catatan atas laporan keuangan. (3) Apabila Menteri Dalam Negeri menyatakan hasil evaluasi rancangan Perda tentang APBD dan rancangan Peraturan Gubernur tentang penjabaran APBD sudah sesuai dengan kepentingan umum dan peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi. laporan arus kas. Gubernur bersama DPRD melakukan penyempurnaan paling lama 7 (tujuh) hari terhitung sejak diterimanya hasil evaluasi. dan Gubernur tetap menetapkan rancangan Perda tentang APBD dan rancangan Peraturan Gubernur . (3) Laporan keuangan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) disusun dan disajikan sesuai dengan standar akuntansi pemerintahan yang ditetapkan dengan Peraturan Pemerintah. (4) Apabila Menteri Dalam Negeri menyata-kan hasil evaluasi rancangan Perda tentang APBD dan rancangan Peraturan Gubernur tentang penjabaran APBD bertentangan dengan kepentingan umum dan peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi. neraca.

(4) Apabila Gubernur menyatakan hasil evaluasi rancangan Perda tentang APBD dan rancangan Peraturan Bupati/Walikota tentang Penjabaran APBD tidak sesuai dengan kepentingan umum dan peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi. (3) Apabila Gubernur menyatakan hasil evaluasi rancangan Perda tentang APBD dan rancangan Peraturan Bupati/Walikota tentang Penjabaran APBD sudah sesuai dengan kepentingan umum dan peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi. Bupati/Walikota menetapkan ran-cangan dimaksud menjadi Perda dan Peraturan Bupati/Walikota. dan Bupati/Walikota tetap menetapkan rancangan Perda tentang APBD dan rancangan Peraturan Bupati/Walikota tentang penjabaran APBD menjadi Perda dan Peraturan Bupati/Walikota.tentang penjabaran APBD menjadi Perda dan Peraturan Gubernur. (5) Apabila hasil evaluasi tidak ditindaklanjuti oleh Bupati/Walikota dan DPRD. Menteri Dalam Negeri membatalkan Perda dan Peraturan Gubernur dimaksud sekaligus menyatakan berlakunya pagu APBD tahun sebelumnya. Gubernur . Pasal 186 (1) Rancangan Perda kabupaten/kota tentang APBD yang telah disetujui bersama dan rancangan Peraturan Bupati/Walikota tentang Penjabaran APBD sebelum ditetapkan oleh Bupati/Walikota paling lama 3 (tiga) hari disampaikan kepada Gubernur untuk dievaluasi. (2) Hasil evaluasi disampaikan oleh Gubernur kepada Bupati/Walikota paling lama 15 (lima belas) hari terhitung sejak diterimanya rancangan Perda kabupaten/kota dan rancangan Peraturan Bupati/Walikota tentang Penjabaran APBD sebagaimana dimaksud pada ayat (1). Bupati/Walikota bersama DPRD melakukan penyempurnaan paling lama 7 (tujuh) hari sejak diterimanya hasil evaluasi.

(2) Rancangan peraturan kepala daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat dilaksanakan setelah memperoleh pengesahan dari Menteri Dalam Negeri bagi provinsi dan Gubernur bagi kabupaten/kota. Pasal 187 (1) Apabila DPRD sampai batas waktu sebagaimana dimaksud dalam Pasal 181 ayat (3) tidak mengambil keputusan bersama dengan kepala daerah terhadap rancangan peraturan kepala daerah tentang APBD. kepala daerah menetapkan rancangan peraturan kepala daerah dimaksud menjadi peraturan kepala daerah. Pasal 188 Proses penetapan rancangan Perda tentang . rancangan peraturan kepala daerah tentang APBD beserta lampirannya disampaikan paling lambat 15 (lima belas) hari terhitung sejak DPRD tidak mengambil keputusan bersama dengan kepala daerah terhadap rancangan Perda tentang APBD.(6) membatalkan Perda dan Peraturan Bupati/Walikota dimaksud sekaligus menyatakan berlakunya pagu APBD tahun sebelumnya. Gubernur menyampaikan hasil evaluasi rancangan Perda kabupaten/kota tentang APBD dan rancangan Peraturan Bupati/Walikota tentang Penjabaran APBD kepada Menteri Dalam Negeri. (3) Untuk memperoleh pengesahan sebagaimana dimaksud pada ayat (2). (4) Apabila dalam batas waktu 30 (tiga puluh) hari Menteri Dalam Negeri atau Gubernur tidak mengesahkan rancangan peraturan kepala daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (2). kepala daerah melaksanakan pengeluaran setinggi-tingginya sebesar angka APBD tahun anggaran sebelumnya untuk membiayai keperluan setiap bulan yang disusun dalam rancangan peraturan kepala daerah tentang APBD.

Perubahan APBD dan rancangan peraturan kepala daerah tentang Penjabaran Perubahan APBD menjadi Perda dan peraturan kepala daerah berlaku ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 185. berlaku Pasal 185 dan Pasal 186. dan Pasal 187. retribusi daerah. Pasal 191 Dalam rangka evaluasi pengelolaan keuangan daerah dikembangkan sistem informasi keuangan daerah yang menjadi satu kesatuan dengan sistem informasi pemerintahan daerah. Pasal 189 Proses penetapan rancangan Perda yang berkaitan dengan pajak daerah. dan tata ruang daerah menjadi Perda. diterbitkan surat keputusan otorisasi oleh kepala daerah atau surat keputusan lain yang berlaku sebagai surat keputusan otorisasi. pimpinan DPRD. (2) Untuk setiap pengeluaran atas beban APBD. Pasal 192 (1) Semua penerimaan dan pengeluaran pemerintahan daerah dianggarkan dalam APBD dan dilakukan melalui rekening kas daerah yang dikelola oleh Bendahara Umum Daerah. dengan ketentuan untuk pajak daerah dan retribusi daerah dikoordinasikan terlebih dahulu dengan Menteri Keuangan. dan untuk tata ruang daerah dikoordinasikan dengan menteri yang membidangi urusan tata ruang. dan pejabat daerah . Pasal 190 Peraturan kepala daerah tentang Penjabaran APBD dan peraturan kepala daerah tentang Penjabaran Perubahan APBD dijadikan dasar penetapan dokumen pelaksanaan anggaran satuan kerja perangkat daerah. Pasal 186. (3) Pengeluaran tidak dapat dibebankan pada anggaran belanja daerah jika untuk pengeluaran tersebut tidak tersedia atau tidak cukup tersedia dalam APBD. (4) Kepala daerah. wakil kepala daerah.

penghapusan.32 tahun 2004 merubah ketentuan yang terdapat dalam UU No. bunga atas penempatan uang di bank. pelaporan. dan/atau bunga atas investasi jangka pendek merupakan pendapatan daerah.22 Tahun 1999 mengatur secara lebih rinci mengenai syarat dan tata cara jabatan kepala desa 27 Pemerintahan Desa Pasal 88 Pengaturan tentang Pemerintahan ditetapkan dengan Undang. • UU No. dihapus. penyelesaian masalah Perdata. dilarang melakukan pengeluaran atas beban anggaran belanja daerah untuk tujuan lain dari yang telah ditetapkan dalam APBD. dan/atau digabung dengan memperhatikan asalusulnya atas prakarsa masyarakat dengan persetujuan Pemerintah Kabupaten dan DPRD.undang Desa Pasal 93 (1) Desa dapat dibentuk. Pasal 94 Di Desa dibentuk Pemerintah Desa dan Badan Perwakilan Desa. pelaksanaan. • UU No. desa desa pada yang Pasal 203 (1) Kepala desa sebagaimana dimaksud dalam Pasal 202 ayat (1) dipilih langsung oleh dan dari penduduk desa warga negara Republik Indonesia yang syarat selanjutnya dan tata cara pemilihannya diatur dengan Perda yang . yang merupakan Pemerintahan Desa. penghapusan tagihan daerah. (2) Pembentukan. Pasal 95 Pasal 202 (1) Pemerintah desa terdiri atas kepala dan perangkat desa. Pasal 193 (1) Uang milik pemerintahan daerah yang sementara belum digunakan dapat didepositokan dan/atau diinvestasikan dalam investasi jangka pendek sepanjang tidak mengganggu likuiditas keuangan daerah. sebagaimana dimaksud pada ayat (1). (3) Kepala daerah dengan persetujuan DPRD dapat menetapkan peraturan tentang : a. penatausahaan. (2) Bunga deposito. Pasal 194 Penyusunan. ditetapkan dengan Peraturan Daerah. dan/atau penggabungan Desa. (2) Perangkat desa terdiri dari sekretaris dan perangkat desa lainnya. (3) Sekretaris desa sebagaimana dimaksud ayat (2) diisi dari pegawai negeri sipil memenuhi persyaratan. dan b. jasa giro.lainnya. pengawasan dan pertanggungjawaban keuangan daerah diatur lebih lanjut dengan Perda yang berpedoman pada Peraturan Pemerintah. sebagian atau seluruhnya.22 Tahun 1999 mengenai masa jabatan Kepala Daerah dari sepuluh tahun menjadi enam tahun.

dan adil. bersedia dicalonkan menjadi Kepala Desa. kepala desa mengucapkan sumpah/janji. daerah. (3) Pemilihan kepala desa dalam kesatuan masyarakat hukum adat beserta hak tradisionalnya sepanjang masih hidup dan yang diakui keberadaannya berlaku ketentuan hukum adat setempat yang ditetapkan dalam Perda dengan berpedoman pada Peraturan Pemerintah. ditetapkan sebagai kepala desa. tidak dicabut hak pilihnya berdasarkan keputusan pengadilan yang mempunyai kekuatan hukum tetap. h. bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. G30S/PKI dan/atau kegiatan organisasi terlarang lainnya. Pasal 206 Urusan pemerintahan yang menjadi kewenangan desa mencakup: (1) urusan pemerintahan yang sudah ada . g. l. sebagaimana dimaksud pada ayat (2). j. (3) Calon Kepala Desa yang terpilih dengan mendapatkan dukungan suara terbanyak. dan bahwa saya akan menegakkan kehidupan demokrasi dan Undang-Undang Dasar 1945 serta melaksanakan segala peraturan perundang-undangan dengan seluruslurusnya yang berlaku bagi desa. (2) Kepala Desa dipilih langsung oleh penduduk Desa dari calon yang memenuhi syarat. (3) Susunan kata-kata sumpah/janji dimaksud adalah sebagai berikut: “Demi Allah (Tuhan). b. memenuhi syarat-syarat lain yang sesuai dengan adat istiadat yang diatur berpedoman kepada Peraturan Pemerintah. bahwa saya akan selalu taat dalam mengamalkan dan mempertahankan Pancasila sebagai dasar negara. setia dan taat kepada Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945.(1) Pemerintah Desa terdiri atas Kepala Desa atau yang disebut dengan nama lain dan perangkat Desa. dan seadil-adilnya. nyata-nyata tidak terganggu jiwa/ingatannya. (2) Sebelum memangku jabatannya. berpendidikan sekurang-kurangnya Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama dan/atau berpengetahuan yang sederajat. ditetapkan oleh Badan Perwakilan Desa dan disahkan oleh Bupati. sehat jasmani dan rohani. saya bersumpah/berjanji bahwa saya akan memenuhi kewajiban saya selaku kepala desa dengan sebaik-baiknya. sejujurjujurnya. mengenal daerahnya dan dikenal oleh masyarakat di Desa setempat. d. e. dan m. Pasal 205 (1) Kepala desa terpilih dilantik oleh Bupati/Walikota paling lambat 30 (tiga puluh) hari setelah pemilihan. f. Pasal 204 Masa jabatan kepala desa adalah 6 (enam) tahun dan dapat dipilih kembali hanya untuk 1 (satu) kali masa jabatan berikutnya. tidak pernah dihukum penjara karena melakukan tindak pidana. dan Negara Kesatuan Republik Indonesia”. Pasal 97 Yang dapat dipilih menjadi Kepala Desa adalah penduduk Desa warga negara Republik Indonesia dengan syarat-syarat: a. tidak pernah terlibat langsung atau tidak langsung dalam kegiatan yang mengkhianati Pancasila dan UndangUndang Dasar 1945. berkelakuan baik. Pasal 96 Masa jabatan Kepala Desa paling lama sepuluh tahun atau dua kali masa jabatan terhitung sejak tanggal ditetapkan. (2) Calon kepala desa yang memperoleh suara terbanyak dalam pemilihan kepala desa sebagaimana dimaksud pada ayat (1). k. berumur sekurang-kurangnya 25 tahun. i. jujur. c.

serta sumber daya manusia. kewenangan yang oleh peraturan perundang-perundangan yang berlaku belum dilaksanakan oleh Daerah dan Pemerintah. dan/atau Pemerintah Kabupaten. (3) Susunan kata-kata sumpah/janji dimaksud adalah sebagai berikut : "Demi Allah (Tuhan). memimpin penyelenggaraan Pemerintah Desa. (3) (4) berdasarkan hak asal-usul desa. Tugas Pembantuan dari Pemerintah. saya bersumpah/berjanji bahwa saya akan memenuhi kewajiban saya selaku Kepala Desa dengan sebaik-baiknya. dan/atau Pemerintah Kabupaten kepada Desa disertai dengan pembiayaan. Pasal 208 Tugas dan kewajiban kepala desa dalam memimpin penyelenggaraan pemerintahan desa diatur lebih lanjut dengan Perda berdasarkan Peraturan Pemerintah. urusan pemerintahan yang menjadi kewenangan kabupaten/kota yang diserahkan pengaturannya kepada desa. sarana dan prasarana. (2) Sebelum memangku jabatannya. Pasal 101 Tugas dan kewajiban Kepala Desa adalah : a. urusan pemerintahan lainnya yang oleh peraturan perundang-perundangan diserahkan kepada desa. tugas pembantuan dari Pemerintah. sejujurjujurnya. Kepala Desa mengucapkan sumpah/janji. dan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Pemerintah Propinsi. . bahwa saya akan selalu taat dalam mengamalkan dan mempertahankan Pancasila sebagai dasar negara. sarana dan prasarana. dan bahwa saya akan menegakkan kehidupan demokrasi dan Undang-Undang Dasar 1945 sebagai konstitusi negara serta segala peraturan perundang-undangan yang berlaku bagi Desa. dan/atau pemerintah kabupaten/kota kepada desa disertai dengan pembiayaan. dan c. serta sumber daya manusia. Pasal 207 Tugas pembantuan dari Pemerintah. Daerah. Pasal 99 Kewenangan Desa mencakup : a. pemerintah provinsi. dan/atau pemerintah kabupaten/kota. Pasal 100 Tugas Pembantuan dari Pemerintah. pemerintah provinsi. Pemerintah Propinsi. b. kewenangan yang sudah ada berdasarkan hak asal-usul Desa. (2) Pasal 98 (1) Kepala Desa dilantik oleh Bupati atau pejabat lain yang ditunjuk. dan seadil-adilnya.dalam Peraturan Daerah.

32 Tahun 2004 terdapat perubahan istilah dari lembaga perwakilan desa menjadi lembaga permusyawaratan desa dan diatur mengenai pembatasan masa jabatan dari anggota Badan Permusyawaratan Desa. dan e. d. b. memelihara ketenteraman dan ketertiban masyarakat Desa. membina perekonomian Desa. Pasal 102 Dalam melaksanakan tugas dan kewajiban. sebagaimana dimaksud pada ayat (1). meninggal dunia. berakhir masa jabatan dan telah dilantik Kepala Desa yang baru. Kepala Desa : a. (2) Pemberhentian Kepala Desa. serta melakukan pengawasan terhadap penyelenggaraan Pemerintahan Desa. mendamaikan perselisihan masyarakat di Desa. membuat Peraturan Desa.b. menyampaikan laporan mengenai pelaksanaan tugasnya kepada Bupati. 28 Badan Permusyawaratan Desa dan Lembaga Lainnya Pasal 104 Badan Perwakilan Desa atau yang disebut dengan nama lain berfungsi mengayomi adat istiadat. tidak lagi memenuhi syarat dan/atau melanggar sumpah/ janji. sebagaimana dimaksud dalam Pasal 101. menampung dan menyalurkan aspirasi masyarakat. melakukan perbuatan yang bertentangan dengan ketentuan peraturan perundangundangan yang berlaku dan/atau norma yang hidup dan berkembang dalam masyarakat Desa. Pasal 103 (1) Kepala Desa berhenti karena : a. dilakukan oleh Bupati atas usul Badan Perwakilan Desa. Pasal 209 Badan Permusyawaratan Desa berfungsi menetapkan peraturan desa bersama kepala desa. menampung dan menyalurkan aspirasi masyarakat. mengajukan berhenti atas permintaan sendiri. dan mewakili Desanya di dalam dan di luar pengadilan dan dapat menunjuk kuasa hukumnya. membina kehidupan masyarakat Desa. • Dalam UU No. bertanggung jawab kepada rakyat melalui Badan Perwakilan Desa b. c. Pasal 210 (1) Anggota adalah badan permusyawaratan wakil dari penduduk desa desa .

(3) Badan Perwakilan Desa bersama dengan Kepala Desa menetapkan Peraturan Desa. c. b. c. (3) (4) Pasal 211 (1) Di desa dapat dibentuk lembaga kemasyarakatan yang ditetapkan dengan peraturan desa dengan berpedoman pada peraturan perundang-undangan. (2) Pimpinan Badan Perwakilan Desa dipilih dari dan oleh anggota.Pasal 105 (1) Anggota Badan Perwakilan Desa dipilih dari dan oleh penduduk Desa yang memenuhi persyaratan. dan 5. (3) Sumber pendapatan desa sebagaimana dimaksud pada ayat (2) terdiri atas: a. bagian dari dana perimbangan keuangan pusat dan daerah yang diterima oleh kabupaten/kota. pendapatan asli Desa yang meliputi : 1. Masa jabatan anggota badan permusyawaratan desa adalah 6 (enam) tahun dan dapat dipilih lagi untuk 1 (satu) kali masa jabatan berikutnya. bantuan dari Pemerintah. serta segala sesuatu baik berupa uang maupun berupa barang yang dapat dijadikan milik desa berhubung dengan pelaksanaan hak dan kewajiban. bersangkutan yang ditetapkan dengan cara musyawarah dan mufakat. bagian dari dana perimbangan keuangan Pusat dan Daerah yang diterima oleh Pemerintah Kabupaten. hasil kekayaan Desa. hasil gotong royong. (2) Pimpinan badan permusyawaratan desa dipilih dari dan oleh anggota badan permusyawaratan desa. (4) Pelaksanaan Peraturan Desa ditetapkan dengan Keputusan Kepala Desa. • Terdapat perbedaan mengenai sumber pendapatan desa dimana dalam UU No. bantuan dari Pemerintah dan Pemerintah Propinsi. 4. pendapatan asli desa. pemerintah .32 Tahun 2004 pinjaman desa bukan lagi termasuk dalam sumber pendapatan desa dan diatur secara lebih rinci mengenai Badan Usaha Milik Desa. hasil usaha Desa. b. 3. hasil swadaya dan partisipasi. d. Syarat dan tata cara penetapan anggota dan pimpinan badan permusyawaratan desa diatur dalam Perda yang berpedoman pada Peraturan Pemerintah. (2) Hak dan kewajiban sebagaimana dimaksud pada ayat (1) menimbulkan pendapatan. 29 Keuangan Desa Pasal 107 (1) Sumber pendapatan Desa terdiri atas : a. bantuan dari Pemerintah Kabupaten yang meliputi : 1. 2. lain-lain pendapatan asli Desa yang sah. bagi hasil pajak daerah dan retribusi daerah kabupaten/kota. bagian dari perolehan pajak dan retribusi Daerah. dan 2. belanja dan pengelolaan keuangan desa. Pasal 106 Di Desa dapat dibentuk lembaga lainnya sesuai dengan kebutuhan Desa dan ditetapkan dengan Peraturan Desa. (2) Lembaga kemasyarakatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) bertugas membantu pemerintah desa dan merupakan mitra dalam memberdayakan masyarakat desa. Pasal 212 (1) Keuangan desa adalah semua hak dan kewajiban desa yang dapat dinilai dengan uang.

dan jasa wajib mengikutsertakan Pemerintah Desa dan Badan Perwakilan Desa dalam perencanaan. Pasal 110 Pemerintah Kabupaten dan/atau pihak ketiga yang merencanakan pembangunan bagian wilayah Desa menjadi wilayah permukiman. - . (3) Kerjasama desa dengan pihak ketiga sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat dilakukan sesuai dengan peraturan perundangundangan. (6) Pedoman pengelolaan keuangan desa sebagaimana dimaksud pada ayat (5) ditetapkan oleh Bupati/Walikota dengan berpedoman pada peraturan perundangundangan. (4) Untuk pelaksanaan kerja sama. (3) Badan usaha milik desa sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat melakukan pinjaman sesuai peraturan perundangundangan. (2) Untuk pelaksanaan kerja sama.(2) (3) (4) (5) d. (4) Belanja desa sebagaimana dimaksud pada ayat (2) digunakan untuk mendanai penyelenggaraan pemerintahan desa dan pemberdayaan masyarakat desa. Sumber pendapatan Desa. dan pemerintah kabupaten/kota. (2) Kerjasama antar desa dan desa dengan pihak ketiga sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan sesuai dengan kewenangannya. provinsi. pinjaman Desa. (5) Pengelolaan keuangan desa sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dilakukan oleh kepala desa yang dituangkan dalam peraturan desa tentang anggaran pendapatan dan belanja desa. sebagaimana dimaksud pada ayat (1). Pedoman penyusunan Anggaran Pendapatan dan Belanja Desa ditetapkan oleh Bupati. industri. dapat dibentuk Badan Kerja Sama. dan e. e. sebagaimana dimaksud pada ayat (1). dan Pasal 214 (1) Desa dapat mengadakan kerja sama untuk kepentingan desa yang diatur dengan keputusan bersama dan dilaporkan kepada Bupati/Walikota melalui camat. 30 Kerja Sama Desa Pasal 109 (1) Beberapa Desa dapat mengadakan kerja sama untuk kepentingan Desa yang diatur dengan keputusan bersama dan diberitahukan kepada Camat. pelaksanaan. hibah dan sumbangan dari pihak ketiga. dan ayat (3) dapat dibentuk badan kerja sama. dikelola melalui Anggaran Pendapatan dan Belanja Desa. Pasal 108 Desa dapat memiliki badan usaha sesuai dengan peraturan perundang-undangan. (2) Badan usaha milik desa sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berpedoman pada peraturan perundang-undangan. ayat (2). sumbangan dari pihak ketiga. Kepala Desa bersama Badan Perwakilan Desa menetapkan Anggaran Pendapatan dan Belanja Desa setiap tahun dengan Peraturan Desa. sebagaimana dimaksud pada ayat (1). Pasal 213 (1) Desa dapat mendirikan badan usaha milik desa sesuai dengan kebutuhan dan potensi desa. Tata cara dan pungutan objek pendapatan dan belanja Desa ditetapkan bersama antara Kepala Desa dan Badan Perwakilan Desa.

atau provinsi. d. kepentingan masyarakat desa. dan e. pelaksanaan. Pasal 111 (1) Pengaturan lebih lanjut mengenai Desa ditetapkan dalam Peraturan Daerah Kabupaten. sebagaimana dimaksud pada ayat (1). (2) Pelaksanaan ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dengan Perda. Pasal 113 Dalam rangka pengawasan. (2) Pedoman mengenai pembinaan dan pengawasan atas penyelenggaraan Otonomi Daerah ditetapkan dengan Peraturan Pemerintah. Pemerintah memfasilitasi penyelenggaraan Otonomi Daerah. koordinasi pemerintahan antarsusunan pemerintahan. regional. • Materi mengenai Pembinaan dan Pengawasan Daerah diatur secara lebih rinci dalam UU No. pemberian pedoman dan standar pelaksanaan urusan pemerintahan. dengan memperhatikan: a. dan konsultasi pelaksanaan urusan pemerintahan. keserasian kepentingan antar kawasan dan kepentingan umum. pemberian bimbingan. dan adat istiadat desa. penelitian. asal-usul. Pasal 216 (1) Pengaturan lebih lanjut mengenai desa ditetapkan dalam Perda dengan berpedoman pada Peraturan Pemerintah. dan adat istiadat Desa. (2) Koordinasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a dilaksanakan secara berkala pada tingkat nasional. tata laksana.32 Tahun 2004 31 Pembinaan dan Pengawasan Pemerintahaan Daerah Pasal 112 (1) Dalam rangka pembinaan. (2) Perda.pengawasannya. sesuai dengan pedoman umum yang ditetapkan oleh Pemerintah berdasarkan undang-undang ini. wajib mengakui dan menghormati hak. pendidikan dan pelatihan. d. b. (2) Peraturan Daerah. sebagaimana dimaksud pada ayat (1). pengembangan. Peraturan Daerah dan Keputusan Kepala Daerah disampaikan kepada Pemerintah selambat-lambatnya lima belas hari setelah ditetapkan. c. (3) Pemberian pedoman dan standar sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b mencakup aspek perencanaan. . kelancaran pelaksanaan investasi. Pasal 217 (1) Pembinaan atas penyelenggaraan pemerintahan daerah dilaksanakan oleh Pemerintah yang meliputi : a. wajib mengakui dan menghormati hak. asal-usul. kelestarian lingkungan hidup. kewenangan desa. Pasal 215 (1) Pembangunan kawasan perdesaan yang dilakukan oleh kabupaten/kota dan atau pihak ketiga mengikutsertakan pemerintah desa dan badan permusyawaratan desa. dan evaluasi pelaksanaan urusan pemerintahan. b. perencanaan. supervisi. pemantauan. e. c.

Pemberian bimbingan. dan kepala desa. baik secara menyeluruh kepada seluruh daerah maupun kepada daerah tertentu sesuai dengan kebutuhan. anggota DPRD. (2) Pengawasan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a dilaksanakan oleh aparat pengawas intern Pemerintah sesuai peraturan perundang-undangan.(4) (5) (6) (7) pendanaan. . perangkat daerah. anggota badan permusyawaratan desa. pengembangan. supervisi dan konsultasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf c dilaksanakan secara berkala dan/atau sewaktuwaktu. kualitas. kepala desa. Pasal 218 (1) Pengawasan atas penyelenggaraan pemerintahan daerah dilaksanakan oleh Pemerintah yang meliputi: a. dan evaluasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf e dilaksanakan secara berkala ataupun sewaktu-waktu dengan memperhatikan susunan pemerintahan. kepala daerah dan/atau wakil kepala daerah. Perencanaan. pemantauan. Pasal 219 (1) Pemerintah memberikan penghargaan dalam penyelenggaraan pemerintahan daerah. Pengawasan terhadap peraturan daerah dan peraturan kepala daerah. Pelaksanaan ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf d dan huruf e dapat dilakukan kerja sama dengan perguruan tinggi dan/atau lembaga penelitian. pegawai negeri sipil daerah. penelitian. anggota DPRD. Pendidikan dan pelatihan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf d dilaksanakan secara berkala bagi kepala daerah atau wakil kepala daerah. perangkat daerah. PNS daerah. pengendalian dan pengawasan. b. dan masyarakat. Pengawasan atas pelaksanaan urusan pemerintahan di daerah. (2) Penghargaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diberikan kepada pemerintahan daerah.

(2) Sanksi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diberikan kepada pemerintahan daerah. PNS daerah. anggota DPRD. Pasal 222 (1) Pembinaan dan pengawasan penyelenggaraan pemerintahan daerah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 217 dan Pasal 218 secara nasional dikoordinasikan oleh Menteri Dalam Negeri. perangkat daerah. prosedur. dan kepala desa. (3) Pembinaan dan pengawasan penyelenggaraan pemerintahan desa dikoordinasikan oleh Bupati/Walikota. (4) Bupati dan walikota dalam pembinaan dan pengawasan sebagaimana dimaksud pada ayat (3) dapat melimpahkan kepada camat. • Dalam UU No. Pasal 221 Hasil pembinaan dan pengawasan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 217 dan Pasal 218 digunakan sebagai bahan pembinaan selanjutnya oleh Pemerintah dan dapat digunakan sebagai bahan pemeriksaan oleh Badan Pemeriksa Keuangan.Pasal 220 (1) Sanksi diberikan oleh Pemerintah dalam rangka pengawasan penyelenggaraan pemerintahan daerah. kepala daerah atau wakil kepala daerah. dan sanksi diatur dalam Peraturan Pemerintah. (2) Pembinaan dan pengawasan penyelenggaraan pemerintahan daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) untuk kabupaten/kota dikoordinasikan oleh Gubernur. Presiden dapat membentuk suatu dewan yang bertugas memberikan saran dan . akan tetapi dalam Undang-undang ini 32 Pertimbangan dalam Kebijakan Otonomi Daerah Pasal 115 (1) Dewan Pertimbangan Otonomi Daerah bertugas memberikan pertimbangan kepada Presiden mengenai: Pasal 224 (1) Dalam rangka penyelenggaraan pemerintahan daerah. norma. Pasal 223 Pedoman pembinaan dan pengawasan yang meliputi standar. penghargaan.32 Tahun 2004 tidak disebutkan lagi mengenai anggota dari Dewan Perimbangan Otonomi Daerah.

perwakilan Asosiasi Pemerintah Daerah. . Dewan Pertimbangan Otonomi Daerah bertanggung jawab kepada Presiden. perhitungan bagian masing-masing daerah atas dana bagi hasil pajak dan sumber daya alam sesuai dengan peraturan perundang-undangan. penghapusan. yang meliputi: 1. DAK masing-masing daerah untuk setiap tahun anggaran berdasarkan besaran pagu DAK dengan menggunakan kriteria sesuai dengan peraturan perundangan. b. Menteri Sekretaris Negara. b. penghapusan dan penggabungan daerah serta pembentukan kawasan khusus. menteri lain sesuai dengan kebutuhan. formula dan perhitungan DAU masingmasing daerah berdasarkan besaran pagu DAU sesuai dengan peraturan perundangan. (3) Dewan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dipimpin oleh Menteri Dalam Negeri yang susunan organisasi keanggotaan dan tata laksananya diatur lebih lanjut dengan Peraturan Presiden. Dewan Pertimbangan Otonomi Daerah terdiri atas Menteri Dalam Negeri.(2) (3) (4) (5) (6) pembentukan. 2. a. pertimbangan terhadap kebijakan otonomi daerah. kemampuan Daerah Kabupaten dan Daerah Kota untuk melaksanakan kewenangan tertentu. dan pemekaran Daerah. dan wakil-wakil Daerah yang dipilih oleh DPRD . perimbangan keuangan antara Pemerintah dan pemerintahan daerah. penggabungan. Menteri Dalam Negeri dan Menteri Keuangan karena jabatannya adalah Ketua dan Wakil Ketua Dewan Pertimbangan Otonomi Daerah. diatur lebih rinci mengenai tugas dari dewan tersebut. sebagaimana dimaksud dalam Pasal 11. Dewan Pertimbangan Otonomi Daerah ditetapkan dengan Keputusan Presiden. perimbangan keuangan Pusat dan Daerah. pembentukan. Dewan Pertimbangan Otonomi Daerah mengadakan rapat sekurang-kurangnya satu kali dalam enam bulan. 3. (2) Dewan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) bertugas memberikan saran dan pertimbangan kepada Presiden antara lain mengenai rancangan kebijakan: a. dan c. Menteri Keuangan. Pasal 116 Dalam melaksanakan tugasnya Dewan Pertimbangan Otonomi Daerah dibantu oleh Kepala Sekretariat yang membawahkan Bidang Otonomi Daerah dan Bidang Perimbangan Keuangan Pusat dan Daerah.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful