MATRIKS PERBANDINGAN UNDANG-UNDANG NO.5 TAHUN 1974 TENTANG POKOK-POKOK PEMERINTAHAN DI DAERAH , UNDANG-UNDANG NO.

22 TAHUN 1999 TENTANG PEMERINTAHAN DAERAH DAN UNDANG-UNDANG NO.32 TAHUN 2004 TENTANG PEMERINTAHAN DAERAH
NO UNDANG-UNDANG NO.5 TAHUN 1974 TENTANG POKOK-POKOK PEMERINTAHAN DI DAERAH (sudah tidak berlaku) Menimbang • Untuk mengganti Undang-Undang No. 18 Tahun 1965 tentang Pokok-Pokok Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Tahun 1965 Nomor 83; Tambahan Lembaran Negara Nomor 2778). • UNDANG-UNDANG NO.22 TAHUN 1999 TENTANG PEMERINTAHAN DAERAH (sudah tidak berlaku) UNDANG-UNDANG NO.32 TAHUN 2004 TENTANG PEMERINTAHAN DAERAH KETERANGAN

1.

Untuk mengganti Undang-Undang No. 5 Tahun 1974 tentang Pokok-Pokok Pemerintahan Daerah dan Undang-Undang tentang Pokok-Pokok Pemerintahan di Daerah dan Undang-Undang No. 5 Tahun 1979 tentang Pemerintahan Desa, karena tidak sesuai lagi dengan prinsip penyelenggaraan otonomi daerah, keadaan

• Untuk mengganti Undang-Undang No. 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah yang tidak sesuai lagi dengan perkembangan Keadaan, ketatanegaraan, dan tuntutan penyelenggaraan otonomi daerah

Undang-Undang No 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah merupakan pengganti dari Undang-Undang No.22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Derah. Undang-Undang No. Tahun 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah merupakan pengganti dari Undang Undang No.5 Tahun 1979 tentang Pemerintahan Desa dan Undang-Undang No. 5 Tahun 1974 tentang Pokok-Pokok Pemerintahan di Daerah.

2.

Mengingat

• • •

Pasal 5 ayat (1), 18, dan 20 Ayat (1) UUD RI Tahun 1945; Ketetapan MPR RI No. IV/MPR/1973 tentang GBHN ; Ketapan MPR RI No. V/MPR/1973 tentang Peninjauan Produk-Produk yang berupa Ketatapan-Ketatapan MPRS-RI; UU No. 10 Tahun 1964 tentang Pernyataan daerah Khusus Ibukota Jakarta Raya sebagai Ibukota Negara Republik Indonesia dengan nama Jakarta; UU Nomor 6 Tahun 1969 tentang Pernyataan tidak berlakunya berbagai Undang-Undang dan Peraturan Pemerintah Pengganti UndangUndang;

• Pasal 1 ayat (1), Pasal 5 ayat (1), Pasal 18, dan Pasal 20 ayat (1) UUD 1945; • Ketetapan MPR- RI No. X/MPR/1998 tentang Pokok-Pokok Reformasi Pembangunan dalam Rangka Penyelamatan dan Normalisasi Kehidupan Nasional sebagai Haluan Negara; • Ketetapan MPR-RI No XI/MPR/1998 tentang Penyelenggara Negara yang Bersih dan Bebas Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme; • Ketetapan MPR-RI No XV/MPR/1998 tentang Penyelenggaraan Otonomi Daerah; Pengaturan, Pembagian dan Pemanfaatan Sumber Daya Nasional yang Berkeadilan; serta Perimbangan Keuangan Pusat dan Daerah dalam Kerangka Negara Kesatuan Republik Indonesia; • UU Nomor 4 Tahun 1999 tentang Susunan dan Kedudukan Majelis Permusyawaratan Rakyat, Dewan Perwakilan Rakyat, dan

• Pasal 1, Pasal 4, Pasal 5, Pasal 18, Pasal 18 A, Pasal 18 B, Pasal 20, Pasal 21, Pasal 22 D, Pasal 23E ayat (2), Pasal 24A ayat (1), Pasal 31 ayat (4), Pasal 33 dan Pasal 34 UUD 1945; • UU No. 28 Tahun 1999 tentang Penyelenggara Negara yang Bersihdan Bebas dari Korupsi, Kolusi dan Nepotismo • UU No. 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara • UU No. 22 Tahun 2003 tentang Susunan Kedudukan Majelis Permusyawaratan Rakyat, Dewan Perwakilan Rakyat, Dewan Perwakilan Daerah dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah • UU No. 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara • UU No. 10 Tahun 2004 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan

-

UU Nomor 16 tahun 1969 tentang Susunan dan Kedudukan MPR, DPR dan DPRD;

Dewan Perwakilan Rakyat Daerah)

• UU No. 15 Tahun 2004 tentang Pemeriksaan Pengelolaan dan Tanggung Jawab Keuangan Negara

3

Pengertian

Pasal 1 1. Pemerintah Pusat; 2. Desentralisasi; 3. Otonomii Daerah; 4. Tugas Pembantuan; 5. Derah Otonom; 6. Dekonsentrasi; 7. Wilayah Administratip; 8. Instansi Vertikal; 9. Pejabat yang Berwenang; 10. Urusan Pemerintahan Umum; 11. Polisi Pamong Praja; 12. Investasi.

Terdapat Semua pengertian yang terdapat dalam UU No.5 Tahun 1974 tentang Pemerintahan Daerah, akan tetapi terdapat penabahan, Pengurangan dan perubahan, yaitu: • Pejabat yang berwenang (perubahan) • Urusan Pemerintahan Umum (pengurangan): • Polisi Pamong Praja (pengurangan); • Pemerintah Daerah (penambahan) ; • Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (penambahan); • Pemerintah Daerah (penambahan) ; • Kecamatan (penambahan) ; • Kelurahan (penambahan) ; • Desa (penambahan) ; • Kawasan Perdesaan (penambahan) ; • Kawasan Perkotaan (penambahan).

Terdapat semua pengertian yang terdapat dalam UU N0. 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah, akan tetapi terdapat beberapa perubahan dan penambahan pengertian, yaitu : • Pejabat yang berwenang (perubahan) ; • Kawasan Perkotaan (perubahan) • Kawasan Pedesaan ( perubahan) • Pemerintah Desa (penambahan) • Badan Perwakilan Desa (penambahan) ; • Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Daerah (penambahan) ; • Dana Perimbangan (penambahan) ; • Keuangan Daerah (penambahan) • APBD (penambahan) ; • Pendapatan Daerah (penambahan) ; • Belanja Daerah (penambahan) ; • Pembiayaan (penambahan) • Pinjaman Daerah (penambahan) • Kawasan Khusus (penambahan) ; • Bakal calon Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah (penambahan) ; • Pasangan Calon Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah (penambahan) ; • Komisi Pemilihan Umum Daerah (penambahan); • Panitia Pemilihan Kecamatan (penambahan); • Kampanye pemilihan kepala daerah dan wakil kepala daerah (penambahan)

Selain adanya tambahan pengertian-pengertian yang secara teknis digunakan dalam Pemerintahan Daerah, terdapat juga perbedaan pendefinisian tentang : Pejabat yang berwenang : • dalam UU Nomor 5 Tahun 1974, Pejabat Yang Berwenang adalah pejabat yang berwenang mensahkan, membatalkan dan menangguhkan Peraturan Daerah atau Keputusan Kepala Daerah, yaitu Mendagri bagi Daerah Tingkat I dan Gubernur Kepala Daerah bagi daerah Tingkat II, sesuai peraturan perundang-perundangan yang berlaku ; • dalam UU No 22 Tahun 1999 Pejabat Yang Berwenang adalah , pejabat Pemerintah di tingkat Pusat dan atau pejabat Pemerintah di Daerah Propinsi yang berwenang membina dan mengawasi penyelenggaraan Pemerintahan Daerah • dalam UU No 32 Tahun 2004 Pejabat Yang Berwenang adalah Pejabat Pemerintah yang berwenang mengesahkan atau menyetujui, menangguhkan dan membatalkan kebijakan daerah dan/atau mengangkat, memberhentikan, mengesahkan, menyetujui, membina dan mengawasi pelaksana penyelenggaraan Pemerintah Daerah dan/atau pejabat pemerintah pada pemerintahan Daerah Provinsi yang berwenang membina dan mengwasai pelaksanaan penyelenggaraan pemerintahan daerah Kabupaten dan Kota. UU No. 32 tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah memberikan pengertian yang lebih lengkap dan jelas dari Undang-Undang sebelumnya sehingga tidak menimbulkan penafsiran yang berbeda.

4

Pembagian Wilayah

Pasal 2 Pembagian Wilayah : Dalam menyelenggarakan Pemerintahan, wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia dibagi dalam Daerah-Daerah Otonom dan Wilayah-Wilayah Administratip. Pasal 72 (1) Dalam rangka pelaksanaan azas dekonsentrasi, wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia dibagi dalam Wilayah-wilayah Propinsi dan Ibu kota Negara. (2) Wilayah Propinsi dibagi dalam Wilayahwilayah Kabupaten dan Kota madya. (3) Wilayah Kabupaten dan Kotamadya dibagi dalam Wilayah-wilayah Kecamatan. (4) Apabila dipandang perlu sesuai dengan pertumbuhan dan perkembangannya, dalam Wilayah Kabupaten dapat dibentuk Kota Administratip yang pengaturannya ditetapkan dengan Peraturan Pemerintah. Pasal 73 Apabila dipandang perlu, Menteri Dalam Negeri dapat menunjuk Pembantu Gubernur, Pembantu Bupati atau Pembantu Walikotamadya yang mempunyai wilayah kerja tertentu dalam rangka dekonsentrasi. Pasal 74 (1) Nama dan batas Daerah Tingkat I adalah sama dengan nama dan batas Wilayah Propinsi atau Ibukota Negara. (2) Nama dan batas Daerah Tingkat II adalah sama dengan nama dan batas Wilayah Kabupaten atau Kotamadya. (3) Ibukota Daerah Tingkat I adalah ibukota Wilayah Propinsi. (4) Ibukota Daerah Tingkat II adalah ibukota Wilayah Kabupaten. Pasal 75 Dengan tidak mengurangi ketentuan yang dimaksud dalam Pasal 74 Undang-undang

Pasal 2 Pembagian Wilayah : (1). Wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia dibagi dalam Daerah Propinsi, Daerah Kabupaten, dan Daerah Kota yang bersifat otonom. (2). Daerah Propinsi berkedudukan juga sebagai Wilayah Administrasi. Pasal 3 Wilayah Daerah Propinsi, sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (1), terdiri atas wilayah darat dan wilayah laut sejauh dua belas mil laut yang diukur dari garis pantai ke arah laut lepas dan atau ke arah perairan kepulauan.

Pasal 2 : Negara Kesatuan republik Indonesia dibagi atas daerah-daerah provinsi dan daerah provinsi itu dibagi atas kabupaten dan kota yang masingmasing mempunyai pemerintahan daerah. Pemerintah daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) mengatur dan mengurus sendiri urusan pemerintah menurut asas otonomi dan tugas pembantuan.

• Dalam UU No.5 tahun 1974 mengenai pembagian wilayah diuraikan secara lebih lanjut dalam pasal-pasal dan ayat-ayat tersendiri

cakupan wilayah. dan dokumen. jumlah penduduk.ini. peralatan. ditetapkan dengan Undang-Undang. (2) Daerah dapat dimekarkan menjadi lebih dari satu Daerah. ibukota. pengalihan kepegawaian. nama. (3) Perubahan batas yang tidak mengakibatkan penghapuan suatu Daerah. pertahanan dan kemanan nasional dan syarat-syarat lain yang memungkinkan Daerah melaksanakan pembangunan. Pasal 5 (1) Pembentukan daerah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 harus memenuhi syarat administratif. Daerah Kabupaten. batas. pendanaan. nama. sosial-budaya serta pertahanan dan keamanan nasional Pasal 4 (1) Daerah dibentuk dengan memperhatikan syarat-syarat kemampuan ekonomi. persetujuan DPRD provinsi induk dan Gubernur. Syarat administratif sebagaimana dimaksud pada ayat (1) untuk kabupaten/kota meliputi adanya persetujuan DPRD kabupaten/kota • Ketiga undang-undang tersebut menyebutkan secara tegas bahwa pembentukan daerah otonom dlakukan dalam rangka pelaksanaan asas desentralisasi. potensi Daerah. ditetapkan dengan Peraturan Pemerintah. masing-masing berdiri sendiri dan tidak mempunyai hubungan hierarki satu sama lain. hak dan wewenang urusan serta modal pangkal Daerah yang dimaksud pada ayat (1) pasal ini. (3) Perubahan batas yang tidak mengakibatkan penghapusan suatu Daerah. sosial-budaya. jumlah penduduk. (3) Kriteria tentang penghapusan. sebutan. (3) Pembentukan daerah dapat berupa penggabungan beberapa daerah atau bagian daerah yang bersandingan atau pemekaran dari satu daerah menjadi dua daerah atau lebih. Syarat administratif sebagaimana dimaksud pada ayat (1) untuk provinsi meliputi adanya persetujuan DPRD kabupaten/kota dan Bupati/Walikota yang akan menjadi cakupan wilayah provinsi. ibukota. 5 Pembentukan dan Susunan daerah otonom Pasal 3 Dalam rangka pelaksanaan asas desentralisasi dibentuk dan disusun Daerah Tingkat I dan Daerah Tingkat II Perkembangan dan pengembangan otonomi selanjutnya didasarkan pada kondisi politik. serta perubahan nama dan pemindahan ibukota Daerah ditetapkan dengan Peraturan Pemerintah. dan fisik kewilayahan. dan ibukota sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditetapkan dengan Undang-Undang. Pasal 6 (1) Daerah yang tidak mampu menyelenggarakan Otonomi Daerah dapat dihapus dan atau digabung dengan Daerah lain. Pasal 5 (1) Daerah dibentuk berdasarkan pertimbangan kemampuan ekonomi. penunjukan penjabat kepala daerah. (4) Syarat-syarat pembentukan Daerah. (2) Daerah-daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1). dan penghapusan Wilayah Umumnya diatur dengan Peraturan Pemerintah. • Dalam UU No. Pasal 4 (1) Pembentukan daerah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (1) ditetapkan dengan undang-undang. (4) Pemekaran dari satu daerah menjadi 2 (dua) daerah atau lebih sebagaimana dimaksud pada ayat (3) dapat dilakukan setelah mencapai batas minimal usia penyelenggaraan pemerintahan. serta perubahan nama dan pemindahan ibukotanya ditetapkan dengan Peraturan Daerah. teknis. batas. luas daerah. maka pembentukan. dan pertimbangan lain yang memungkinkan terselenggaranya Otonomi Daerah. (2) Pembentukan. Pasal 4 (1) Dalam rangka pelaksanaan asas Desentralisasi dibentuk dan disusun Daerah Propinsi. pembinaan kestabilan politik dan kesatuan Bangsa dalam rangka pelaksanaan Otonomi Daerah yang nyata dan bertanggunggjawab. serta rekomendasi Menteri Dalam Negeri. batas. ibukota. ekonomi. (2) Pembentukan nama. kewenangan menyelenggarakan urusan pemerintahan. 34 Tahun 2004 diatur secara lebih terperinci dan jelas mengani syarat-syarat pembentukan suatu daerah otonom. perubahan nama Daerah. (2) (3) . batas. dn tujuan dari pembentukan daerah otonom tresbut. sebagaimana dimaksud pada ayat (1). dan Daerah Kota yang berwenang mengatur dan mengurus kepentingan masyarakat setempat menurut prakarsa sendiri berdasarkan aspirasi masyarakat. perubahan nama daerah. sosial-politik. pengisian keanggotaan DPRD. serta perangkat daerah. luas Daerah. (2) Undang-undang pembentukan daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) antara lain mencakup nama.

sosial politik. Penghapusan. sosial budaya. perubahan nama daerah. luas daerah. penggabungan dan pemekaran Daerah. persetujuan DPRD provinsi dan Gubernur serta rekomendasi Menteri Dalam Negeri. sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2). Syarat teknis sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi faktor yang menjadi dasar pembentukan daerah yang mencakup faktor kemampuan ekonomi. sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2). Penghapusan dan penggabungan daerah otonom dilakukan setelah melalui proses evaluasi terhadap penyelenggaraan pemerintahan daerah. ditetapkan dengan Peraturan Pemerintah. dan 4 (empat) kecamatan untuk pembentukan kota. pemberian nama bagian rupa bumi serta perubahan nama. Pasal 6 (1) Daerah dapat dihapus dan digabung dengan daerah lain apabila daerah yang bersangkutan tidak mampu menyelenggarakan otonomi daerah. Perubahan batas suatu daerah. lokasi calon ibukota. sarana. dan faktor lain yang memungkinkan terselenggaranya otonomi daerah. ditetapkan dengan Undang-undang (4) (5) dan Bupati/Walikota yang bersangkutan. (2) (3) Pasal 7 (1) Penghapusan dan penggabungan daerah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 ayat (2) beserta akibatnya ditetapkan dengan undang-undang.(4) penggabungan. potensi daerah. Syarat fisik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi paling sedikit 5 (lima) kabupaten/kota untuk pembentukan provinsi dan paling sedikit 5 (lima) kecamatan untuk pembentukan kabupaten. dan prasarana pemerintahan. dan pemekaran Daerah. kependudukan. (2) . keamanan. atau pemindahan ibukota yang tidak mengakibatkan penghapusan suatu daerah ditetapkan dengan Peraturan Pemerintah. Pedoman evaluasi sebagaimana dimaksud pada ayat (2) diatur dalam Peraturan Pemerintah. pertahanan.

Penambahan pemerintahan penyerahan kepala urusan Daerah Pasal 7 (1). Pasal 9 (1) Untuk menyelenggarakan fungsi pemerintahan tertentu yang bersifat khusus bagi kepentingan nasional. Fungsi pemerintahan tertentu sebagaimana dimaksud pada ayat (1) untuk Perdagangan bebas dan/atau pelabuhan bebas ditetapkan dengan undang-undang. ayat (2). pemerintahan daerah (2) . Untuk membentuk kawasan khusus sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dan ayat (3). • UU No 22 Tahun 1999 dan UU No. Pemerintah dapat menetapkan kawasan khusus dalam wilayah provinsi dan/atau kabupaten/kota. dan penggabungan daerah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4. meliputi kebijakan Pasal 10 (1) Pemerintahan daerah menyelenggarakan urusan pemerintahan yang menjadi kewenangannya. Daerah dapat mengusulkan pembentukan kawasan khusus sebagaimana dimaksud pada ayat (1) kepada Pemerintah. agama. Pasal 8 Tata cara pembentukan. dan Pasal 6 diatur dengan Peraturan Pemerintah. Dalam menyelenggarakan urusan pemerintahan yang menjadi kewenangan daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1). Fungsi pemerintahan tertentu selain sebagaimana dimaksud pada ayat (2) diatur dengan Peraturan Pemerintah. Kewenangan bidang lain. pertahanan keamanan. Tata cara penetapan kawasan khusus sebagaimana dimaksud pada ayat (1). Kewenangan Daerah mencakup kewenangan dalam seluruh bidang pemerintahan. berwenang dan berkewajiban mengatur dan mengurus rumah tangganya sendiri sesuai dengan ketentuan perundangundangan yang berlaku. • UU No 32 Tahun 2004 disebutkan secara tegas pembagian urusan pemerintahan yang menjadi kewenangan Propinsi dan yang menjadi kewenangan Kabupaten/Kota. (2).(3) Perubahan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dilakukan atas usul dan persetujuan daerah yang bersangkutan. peradilan. Pemerintah mengikutsertakan daerah yang bersangkutan. 32 Tahun 2004 mengatur lebih rinci mengenai urusan pemerintahan yang menjadi kewenangan daerah. sebagaimana dimaksud pada ayat (1). Pasal 5. dan mengatur pula (2) (3) (4) (5) (6) 5 Penyelenggaraan Otonomi Daerah Pasal 7 Daerah berhak. dan ayat (5) diatur dalam Peraturan Pemerintah. kecuali kewenangan dalam bidang politik luar negeri. penghapusan. ayat (4). serta kewenangan bidang lain. moneter dan fiskal. kecuali urusan pemerintahan yang oleh Undang-Undang ini ditentukan menjadi urusan Pemerintah. Pasal 8 (1). ayat (3).

yustisi. Pasal 9 (1). agama. pembinaan dan pemberdayaan sumber daya manusia. c. Pemerintah menyelenggarakan sendiri atau dapat melimpahkan sebagian urusan pemerintahan kepada perangkat Pemerintah atau wakil Pemerintah di daerah atau dapat menugaskan kepada pemerintahan daerah dan/atau pemerintahan desa. (2). Kewenangan Propinsi sebagai Daerah Otonom termasuk juga kewenangan yang tidak atau belum dapat dilaksanakan Daerah Kabupaten dan Daerah Kota. (2). keamanan. kabupaten dan .5. e. b. Titik berat Otonomi Daerah diletakkan pada Daerah Tingkat II (2). pertahanan.ditetapkan dengan Peraturan Pemerintah. Dalam urusan pemerintahan yang menjadi kewenangan Pemerintah di luar urusan pemerintahan sebagaimana dimaksud pada ayat (3). Kewenangan Pemerintahan yang diserahkan kepada Daerah dalam rangka desentralisasi harus disertai dengan penyerahan dan pengalihan pembiayaan. Pemerintah dapat: a. disertai dengan pembiayaanya. alat perlengkapan dan sumber pembiayaannya. Dengan peraturan perundangundangan. Pasal 8 (1). sarana dan prasarana. Pasal 11 (1) Penyelenggaraan urusan pemerintahan dibagi berdasarkan kriteria eksternalitas. atau c. sistem administrasi negara dan lembaga perekonomian negara. (3) (4) (5) menjalankan otonomi seluas-luasnya untuk mengatur dan mengurus sendiri urusan pemerintahan berdasarkan asas otonomi dan tugas pembantuan. dan efisiensi dengan memperhatikan keserasian hubungan antar susunan pemerintahan. Pemerintah dapat menugaskan kepada Pemerintah Daerah untuk melaksanakan urusan tugas pembantuan. Pasal 10 (1). Pasal 9 Sesuatu urusan pemerintahan yang telah diserahkan kepada Daerah dapat ditarik kembali dengan peraturan perundangundangan yang setingkat. Kewenangan Pemerintahan yang dilimpahkan kepada Gubernur dalam rangka dekonsentrasi harus disertai dengan pembiayaan sesuai dengan kewenangan yang dilimpahkan tersebut. tentang perencanaan nasional dan pengendalian pembangunan nasional secara makro. Pelaksanaan ketentuan yang dimaksud dalam ayat (1) pasal ini diatur dengan Peraturan Pemerintah. Pasal 10 (1) Daerah berwenang mengelola sumber daya nasional yang tersedia di wilayahnya dan bertanggung jawab memelihara kelestarian lingkungan sesuai dengan peraturan perundang-undangan. Pemerintah Daerah Tingkat I dapat menugaskan kepada Pemerintah Daerah Tingkat II untuk melaksanakan urusan tugas pembantuan.8 dan 9 Undang-Undang ini dibentuk Dewan Otonomi Daerah. konservasi. mengenai hubungan antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah. Untuk memberikan pertimbangan – pertimbangan kepada presiden tentang hal-hal yang dimaksud dalam pasal 4. dan standardisasi nasional. Pasal 12 (1). (2). (3). menyelenggarakan sendiri sebagian urusan pemerintahan. Dalam menyelenggarakan urusan pemerintahan sebagaimana dimaksud pada ayat (3). Penambahan penyerahan urusan yang dimaksud dalam ayat (1) pasal ini. dana perimbangan keuangan. Pemberian urusan tugas pembantuan yang dimaksud dalam ayat-ayat (1) dan (2) pasal ini. (3). f. pendayagunaan sumber daya alam serta teknologi tinggi yang strategis. Dengan Peraturan Daerah. Kewenangan Propinsi sebagai Wilayah Administrasi mencakup kewenangan dalam bidang pemerintahan yang dilimpahkan kepada Gubernur selaku wakil Pemerintah. Peraturan mengenai Dewan Pertimbangan Otonomi Daerah ditetapkan dengan Peraturan Perundang-undangan Pasal 11 (1). serta kewenangan dalam bidang pemerintahan tertentu lainnya. (2). Urusan pemerintahan yang menjadi urusan Pemerintah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi: a. (2) Penyelenggaraan urusan pemerintahan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) merupakan pelaksanaan hubungan kewenangan antara Pemerintah dan pemerintahan daerah provinsi. (2). moneter dan fiskal nasional. Kewenangan Propinsi sebagai Daerah Otonom mencakup kewenangan dalam bidang pemerintahan yang bersifat lintas Kabupaten dan Kota. disertai perangkat. akuntabilitas. b. melimpahkan sebagian urusan pemerintahan kepada Gubernur selaku wakil Pemerintah. menugaskan sebagian urusan kepada pemerintahan daerah dan/atau pemerintahan desa berdasarkan asas tugas pembantuan. d. politik luar negeri. serta sumber daya manusia sesuai dengan kewenangan yang diserahkan tersebut.

eksploitasi. e. b. usaha kecil. dan sinergis sebagai satu sistem pemerintahan. pengalihan sarana dan prasarana. pertanian. Pasal 13 (1) Pemerintah dapat menugaskan kepada Daerah tugas-tugas tertentu dalam rangka tugas pembantuan disertai pembiayaan. (4) Penyelenggaraan urusan pemerintahan yang bersifat wajib yang berpedoman pada standar pelayanan minimal dilaksanakan secara bertahap dan ditetapkan oleh Pemerintah. (3) Urusan pemerintahan yang menjadi kewenangan pemerintahan daerah. pengendalian lingkungan hidup. i. h. f. (2). pengaturan tata ruang. perencanaan. yang diselenggarakan berdasarkan kriteria sebagaimana dimaksud pada ayat (1). koperasi. Pasal 11 (1). pemanfaatan. penanaman modal. adalah sejauh sepertiga dari batas laut Daerah Propinsi. d. Bidang pemerintahan yang wajib dilaksanakan oleh Daerah Kabupaten dan Daerah Kota meliputi pekerjaan umum. (3) Kewenangan Daerah Kabupaten dan Daerah Kota di wilayah laut. dan tenaga kerja.(2) Kewenangan Daerah di wilayah laut. sebagaimana dimaksud pada ayat (2). Pasal 12 Pengaturan lebih lanjut mengenai ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 dan Pasal 9 ditetapkan dengan Peraturan Pemerintah. terdiri atas urusan wajib dan urusan pilihan. fasilitasi pengembangan koperasi. Pasal 12 (1) Urusan pemerintahan yang diserahkan kepada daerah disertai dengan sumber pendanaan. g. dan pengawasan tata ruang. serta kepegawaian sesuai dengan urusan yang didesentralisasikan. perhubungan. meliputi : a. pengaturan kepentingan administratif. penanggulangan masalah sosial lintas kabupaten/kota. sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3. penyelenggaraan pendidikan dan alokasi sumber daya manusia potensial. penanganan bidang kesehatan. dan pengelolaan kekayaan laut sebatas wilayah laut tersebut. penyelenggaraan ketertiban umum dan ketentraman masyarakat. perencanaan dan pengendalian pembangunan. kota atau antarpemerintahan daerah yang saling terkait. bantuan penegakan keamanan dan kedaulatan negara. c. d. pertanahan. lingkungan hidup. (2) Urusan pemerintahan yang dilimpahkan kepada Gubernur disertai dengan pendanaan sesuai dengan urusan yang didekonsentrasikan. j. pendidikan dan kebudayaan. b. konservasi. . Kewenangan Daerah Kabupaten dan Daerah Kota mencakup semua kewenangan pemerintahan selain kewenangan yang dikecualikan dalam Pasal 7 dan yang diatur dalam Pasal 9. dan e. industri dan perdagangan. c. penegakan hukum terhadap peraturan yang dikeluarkan oleh Daerah atau yang dilimpahkan kewenangannya oleh Pemerintah. (4) Pengaturan lebih lanjut mengenai ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) ditetapkan dengan Peraturan Pemerintah. tergantung. pelayanan bidang ketenagakerjaan lintas kabupaten/kota. Pasal 13 (1) Urusan wajib yang menjadi kewenangan pemerintahan daerah provinsi merupakan urusan dalam skala provinsi yang meliputi: a. dan menengah termasuk lintas kabupaten/kota. penyediaan sarana dan prasarana umum. kesehatan. eksplorasi.

dan catatan sipil. kekhasan. penanganan bidang kesehatan. i. b. penanggulangan masalah sosial. pelayanan administrasi penanaman modal termasuk lintas kabupaten/kota. penyediaan sarana dan prasarana umum. sebagaimana dimaksud pada ayat (1). pelayanan pertanahan termasuk lintas kabupaten/kota. j. perencanaan dan pengendalian pembangunan. (2) Urusan pemerintahan provinsi yang bersifat pilihan meliputi urusan pemerintahan yang secara nyata ada dan berpotensi untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat sesuai dengan kondisi. m. perencanaan. pelayanan kependudukan. o. penyelenggaraan ketertiban umum dan ketentraman masyarakat. pelayanan pertanahan. g. l. e. usaha kecil dan menengah. Setiap penugasan. n. dan pengawasan tata ruang. l. m. c. dan catatan sipil. fasilitasi pengembangan koperasi. pelayanan administrasi penanaman modal. o. pengendalian lingkungan hidup. f.(2) sarana dan prasarana. penyelenggaraan pelayanan dasar lainnya. k. pelayanan administrasi umum pemerintahan. penyelenggaraan pendidikan. pelayanan kependudukan. ditetapkan dengan peraturan perundang-undangan k. h. n. urusan wajib lainnya yang diamanatkan oleh peraturan perundangundangan. Pasal 14 (1) Urusan wajib yang menjadi kewenangan pemerintahan daerah untuk kabupaten/kota merupakan urusan yang berskala kabupaten/kota meliputi: a. dan potensi unggulan daerah yang bersangkutan. dan . serta sumber daya manusia dengan kewajiban melaporkan pelaksanaannya dan mempertanggungjawabkannya kepada Pemerintah. pemanfaatan.pelayanan administrasi umum pemerintahan. pelayanan bidang ketenagakerjaan. penyelenggaraan pelayanan dasar lainnya yang belum dapat dilaksanakan oleh kabupaten/kota. d.

c. bagi hasil pajak dan nonpajak antara pemerintahan daerah provinsi dan pemerintahan daerah kabupaten/kota. b. d. dan c. (2) Hubungan dalam bidang keuangan antarpemerintahan daerah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (4) dan ayat (5) meliputi: a. Pasal 13 dan Pasal 14 ayat (1) dan ayat (2) diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah. kekhasan. Hubungan dalam bidang keuangan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) diatur dalam peraturan perundangundangan. Pasal 12. pembiayaan bersama atas kerja sama antardaerah. Urusan pemerintahan kabupaten/kota yang bersifat pilihan meliputi urusan pemerintahan yang secara nyata ada dan berpotensi untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat sesuai dengan kondisi. pemberian sumber-sumber keuangan untuk menyelenggarakan urusan pemerintahan yang menjadi kewenangan pemerintahan daerah. pemberian pinjaman dan/atau hibah kepada pemerintahan daerah. Pasal 11. b. Pasal 15 (1) Hubungan dalam bidang keuangan antara Pemerintah dan pemerintahan daerah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (4) dan ayat (5) meliputi: a. urusan wajib lainnya yang diamanatkan oleh peraturan perundang-undangan. pendanaan urusan pemerintahan yang menjadi tanggung jawab bersama. pengalokasian dana perimbangan kepada pemerintahan daerah. Pelaksanaan ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 10. dan potensi unggulan daerah yang bersangkutan. pinjaman dan/atau hibah antar pemerintahan daerah.(2) (3) p. (3) Pasal 16 .

(1) Hubungan dalam bidang pelayanan umum antara Pemerintah dan pemerintahan daerah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (4) dan ayat (5) meliputi: a. pengelolaan perizinan bersama bidang pelayanan umum. Pasal 17 (1) Hubungan dalam bidang pemanfaatan sumber daya alam dan sumber daya lainnya antara Pemerintah dan pemerintahan daerah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (4) dan ayat (5) meliputi: a. kewenangan. dan c. (2) Hubungan dalam bidang pelayanan umum antarpemerintahan daerah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (4) dan ayat (5) meliputi: a. pemanfaatan. kewenangan. pe-ngendalian dampak. fasilitasi pelaksanaan kerja sama antarpemerintahan daerah dalam penyelenggaraan pelayanan umum. tanggung jawab. b. kerja sama antarpemerintahan daerah dalam penyelenggaraan pelayanan umum. (3) Hubungan dalam bidang pelayanan umum sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) diatur dalam peraturan perundangundangan. budidaya.tanggungjawab. dan c. dan penentuan standar pelayanan minimal. dan c. pelaksanaan bidang pelayanan umum yang menjadi kewenangan daerah. b. b. penyerasian lingkungan dan tata ruang serta rehabilitasi lahan. pemeliharaan. (2) Hubungan dalam bidang pemanfaatan sumber daya alam dan sumber daya lainnya antarpemerintahan daerah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (4) dan ayat (5) meliputi: . dan pelestarian. bagi hasil atas pemanfaatan sumber daya alam dan sumber daya lainnya. pengalokasian pendanaan pelayanan umum yang menjadi kewenangan daerah.

c. . penegakan hukum terhadap pera-turan yang dikeluarkan oleh daerah atau yang dilimpahkan kewenangannya oleh Pemerintah. (3) Kewenangan daerah untuk mengelola sumber daya di wilayah laut sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi: a. kerja sama dan bagi hasil atas pemanfaatan sumber daya alam dan sumber daya lainnya antarpemerintahan daerah. pengaturan tata ruang. (3) Hubungan dalam bidang pemanfaatan sumber daya alam dan sumber daya lainnya sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) diatur dalam peraturan perundangundangan. b. dan c. dan f. pengaturan administratif. d. (2) Daerah mendapatkan bagi hasil atas pengelolaan sumber daya alam di bawah dasar dan/atau di dasar laut sesuai dengan peraturan perundang-undangan. pelaksanaan pemanfaatan sumber daya alam dan sumber daya lainnya yang menjadi kewenangan daerah. Pasal 18 (1) Daerah yang memiliki wilayah laut diberikan kewenangan untuk mengelola sumber daya di wilayah laut. eksploitasi.a. (4) Kewenangan untuk mengelola sumber daya di wilayah laut sebagaimana dimaksud pada ayat (3) paling jauh 12 (dua belas) mil laut diukur dari garis pantai ke arah laut lepas dan/atau ke arah perairan kepulauan untuk provinsi dan 1/3 (sepertiga) dari wilayah kewenangan provinsi untuk kabupaten/kota. eksplorasi. b. e. konser-vasi. dan pengelolaan kekayaan laut. pengelolaan perizinan bersama dalam pemanfaatan sumber daya alam dan sumber daya lainnya. ikut serta dalam pertahanan kedaulatan negara. ikut serta dalam pemeliharaan keamanan.

32 Tahun 2004 mengatur mengenai asas umum dalam penyelenggaraan negara dan hak dan kewajiban dari setiap daerah yang menyelenggarakan otonomi daerah . b. asas efisiensi. Pemerintah menggunakan asas desentralisasi. d. ayat (3). pemerintahan daerah menggunakan asas otonomi dan tugas pembantuan. dan untuk kabupaten/kota memperoleh 1/3 (sepertiga) dari wilayah kewenangan provinsi dimaksud. dan ayat (5) diatur lebih lanjut dalam peraturan perundang-undangan 6 Penyelenggara Pemerintahan Pasal 13 (1) Pemerintah Daerah adalah Kepala Daerah dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah. (6) Ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (4) dan ayat (5) tidak berlaku terhadap penangkapan ikan oleh nelayan kecil. asas efektivitas. c. asas kepastian hukum. • UU No. asas keterbukaan. f. asas profesionalitas. (7) Pelaksanaan ketentuan sebagai-mana dimaksud pada ayat (1). tugas pembantuan. dan i. Pasal 19 (1) Penyelenggara pemerintahan adalah Presiden dibantu oleh 1 (satu) orang wakil Presiden. g. dan oleh menteri negara. h. (2) Dalam menyelenggarakan pemerintahan. asas tertib penyelenggara negara. dan dekonsentrasi sesuai dengan peraturan perundang-undangan. asas proporsionalitas. (2) Penyelenggara pemerintahan daerah adalah pemerintah daerah dan DPRD. ayat (4). (2) Dalammenyelenggarakan pemerintahan Daerah dibentuk Sekretariat Daerah dan Dinas-dinas Daerah. asas kepentingan umum.(5) Apabila wilayah laut antara 2 (dua) provinsi kurang dari 24 (dua puluh empat) mil. kewenangan untuk mengelola sumber daya di wilayah laut dibagi sama jarak atau diukur sesuai prinsip garis tengah dari wilayah antar 2 (dua) provinsi tersebut. asas akuntabilitas. e. (3) Dalam menyelenggarakan pemerintahan daerah. Pasal 20 (1) Penyelenggaraan pemerintahan berpedoman pada Asas Umum Penyelenggaraan Negara yang terdiri atas: a.

menyediakan fasilitas pelayanan kesehatan. dan . dan h. d. menyusun perencanaan dan tata ruang daerah. mengatur dan mengurus sendiri urusan pemerintahannya. melindungi masyarakat. melestarikan lingkungan hidup.Pasal 21 Dalam menyelenggarakan otonomi. menyediakan fasilitas sosial dan fasilitas umum yang layak. mengelola administrasi kepen-dudukan. b. g. mendapatkan sumber-sumber pendapatan lain yang sah. serta keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia. mengembangkan kehidupan demokrasi. c. g. m. mengembangkan sistem jaminan sosial. l. meningkatkan pelayanan dasar pendidikan. mengelola kekayaan daerah. e. melestarikan nilai sosial budaya. b. e. memilih pimpinan daerah. i. memungut pajak daerah dan retribusi daerah. f. daerah mempunyai kewajiban: a. mendapatkan hak lainnya yang di-atur dalam peraturan perundang-undangan. mewujudkan keadilan dan pemerataan. mendapatkan bagi hasil dari pengelolaan sumber daya alam dan sumber daya lainnya yang berada di daerah. membentuk dan menerapkan peraturan perundang-undangan sesuai dengan kewenangannya. f. Pasal 22 Dalam menyelenggarakan otonomi. daerah mempunyai hak: a. meningkatkan kualitas kehidupan masyarakat. j. d. n. mengelola aparatur daerah. menjaga persatuan. mengembangkan sumber daya produktif di daerah. c. k. h. kesatuan dan kerukunan nasional.

dan taat pada peraturan perundang-undangan. sebagaimana dimaksud pada ayat (2). (5) Kepala daerah dan wakil kepala daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dan ayat (3) dipilih dalam satu pasangan secara langsung oleh rakyat di daerah yang bersangkutan. bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. (3) Tata cara pelaksanaan pertanggungjawaban. • Dalam ketiga undang-undang tersebut terdapat perbedaan mengenai syarat-syarat calon kepala daerah diantaranya: 1. sebagaimana dimaksud pada ayat (4). dan pembiayaan daerah yang dikelola dalam sistem pengelolaan keuangan daerah. Pasal 31 (1) Kepala Daerah Propinsi disebut Gubernur. Kecamatan bertanggungjawab kepada Kepala Wilayah Kabupaten atau Kotamadya atau Kota Administratip yang bersangkutan b. Pembatasan umur minimum Dalam Undang-Undang No 5 Tahun 1974 dijelaskan bahwa umur minimum kepala daerah hádala 35 tahun bagi calon kepala daerah tingkat I dan 30 tahun bagi calon kepala daerah tingkat II. untuk kabupaten disebut bupati. Pasal 78 Dalam menjalankan tugasnya. c. d. sedangkan dalam Undang-Undang No 22 Tahun 1999 dan Undang-Undang No 32 Tahun 2004 mensyaratkan bahwa umur minimum calon kepala daerah ádalah 30 tahun 2.o. Dalam Undang-Undang No 5 Tahun 1974 disebutkan bahwa minimum pendidikan ádalah Sarjana bagi calon kepala daerah Tingkat I dan SMU bagi calon kepala daerah tingkat II. Pembatasan masa jabatan Dalam UU No 5 Tahun 1974 dan UU No 22 Tahun 1999 tidak ada pembatasan masa jabatan sedangkan dalam UndangUndang No 32 Tahun 2004 terdapat pembatasan masa jabatan adalah 2 kali dalam jabatan yang sama 3. Kota Administratip bertanggung jawab kepada Kepala Wilayah Kabupaten yang bersangkutan . (3) Kepala daerah sebagaimana di-maksud pada ayat (1) dibantu oleh satu orang wakil kepala daerah. efektif. Kecamatan disebut Camat. b. (4) Wakil kepala daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (3) untuk provinsi disebut wakil Gubernur. yang karena jabatannya adalah juga sebagai wakil Pemerintah. ditetapkan oleh Pemerintah. tertib. Propinsi atau Ibukota Negara bertanggung jawab kepada Presiden Pasal 30 Setiap Daerah dipimpin oleh seorang Kepala Daerah sebagai kepala eksekutif yang dibantu oleh seorang Wakil Kepala Daerah. (2) Kepala daerah sebagaimana di-maksud pada ayat (1) untuk provinsi disebut Gubernur. Kota Administratip disebut Walikota. kewajiban lain yang diatur dalam peraturan perundang-undangan. (2) Dalam menjalankan tugas dan kewenangan sebagai Kepala Daerah. akuntabel. adil. Pasal 32 (1) Kepala Daerah Kabupaten disebut Bupati. dan untuk kota disebut walikota. c. (5) Tata cara pelaksanaan pertanggungjawaban. untuk kabupaten disebut wakil bupati dan untuk kota disebut wakil walikota. (3) Dalam menjalankan tugas dan kewenangan Pasal 24 (1) Setiap daerah dipimpin oleh kepala pemerintah daerah yang disebut kepala daerah. patut. Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Kotamadya disebut Wahkotamadya. transparan. b. belanja. Pasal 58 Calon Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah adalah warga negara Republik Indonesia yang memenuhi syarat: a. Kabupaten disebut Bupati. setia kepada Pancasila sebagai Dasar Negara. ditetapkan dengan Peraturan Tata Tertib DPRD sesuai dengan pedoman yang ditetapkan oleh Pemerintah. d. cita-cita . (2) Kepala Daerah Kota disebut Walikota. Kepala Wilayah: a. Pembatasan minimum pendidikan. Gubernur berada di bawah dan bertanggung jawab kepada Presiden. b. Kabupaten atau Kotamadya bertanggung jawab kepada Kepala Wilayah Propinsi yang bersangkutan . (2) Pengelolaan keuangan daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan secara efisien. Pasal 77 Kepala Wilayah : a. Propinsi dan Ibukota Negara disebut Gubernur. Dalam UU No 22 Tahun 1999 dan UU No 32 syarat minimum 7 Kepala Daerah Pasal 76 Setiap Wilayah dipimpin oleh seorang Kepala Wilayah. (4) Dalam kedudukan sebagai wakil Pemerintah. Gubernur bertanggung jawab kepada DPRD Propinsi. Pasal 23 (1) Hak dan kewajiban daerah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 21 dan Pasal 22 diwujudkan dalam bentuk rencana kerja pemerintahan daerah dan dijabarkan dalam bentuk pendapatan.

tidak pernah dijatuhi pidana penjara berdasarkan putusan pengadilan yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap karena melakukan tindak pidana yang diancam dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun atau lebih. f.melalui Menteri Dalam Negeri. e. tidak sedang dicabut hak pilihnya berdasarkan keputusan pengadilan negeri. Pasal 79 (1) Kepala Daerah Tingkat I karena jabatannya adalah Kepala Wilayah Propinsi atau Ibukota Negara. setia dan taat kepada Negara Kesatuan Republik Indonesia dan Pemerintah yang sah. tidak pernah dihukum penjara karena melakukan tindak pidana. berumur sekurang-kurangnya 35 selaku Kepala Daerah. j. n. dan kepada Negara Kesatuan Republik Indonesia serta Pemerintah. memegang teguh Pancasila dan UndangUndang Dasar 1945. Pasal 14 Yang dapat diangkat menjadi Kepala Daerah ialah Warganegara Indonesia yang memenuhi syarat-syarat sebagai berikut : a. • Dalam UU No 5 Tahun 1974 menjelaskan bahwa wakil kepala daerah diangkat oleh Presiden sedangkan dalam UU No 23 Tahun 1999 dan UU No 32 Tahun 2004 calon kepala daerah dan wakilnya merupakan satu kesatuan dan tidak terpisahkan. seperti gerak an G-30-S/PKI dan atau Organisasi terlarang lainnya . tidak pernah terlibat dalam kegiatan yang mengkhianati Negara Kesatuan Republik Indonesia yang berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945 yang dinyatakan dengan surat keterangan Ketua Pengadilan Negeri. cerdas. d. menyerahkan daftar kekayaan pribadi dan bersedia untuk diumumkan. f. sehat jasmani dan rohani berdasarkan hasil pemeriksaan kesehatan menyeluruh dari tim dokter. j. mempunyai kepribadian dan kepemimpinan . mengenal daerahnya dan dikenal oleh masyarakat di daerahnya. setia dan taat kepada PANCASILA dan Undang-Undang Dasar 1945. i. c. k. sebagaimana dimaksud pada ayat (3). c. c. menghormati kedaulatan rakyat. m. g. (4) Tata cara pelaksanaan pertanggungjawaban. tidak sedang dicabut hak pilihnya berdasarkan putusan pengadilan yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap. tidak sedang memiliki tanggungan utang secara perseorangan dan/atau secara badan hukum yang menjadi tanggungjawabnya yang merugikan keuangan negara. i. menyerahkan daftar kekayaan pribadi. o. jujur . g. l. e. berwibawa . h. (3) Ketentuan tentang pengangkatan dan pemberhentian Kepala Wilayah Kota Administratip dan Kepala Wilayah Kecamatan diatur dengan Peraturan Menteri Dalam Negeri. dan trampil . suami atau istri. sehat jasmani dan rohani. tidak pernah terlibat baik langsung maupun tidak langsung dalam setiap kegiatan yang mengkhianati Negara Kesatuan Republik Indonesia yang berdasarkan PANCASILA dan Undang-Undang Dasar 1945. setia dan taat kepada Nega dan Pemerintah . k. tidak dicabut hak pilihnya berdasarkan keputusan Pengadilan yang mempunyai kekuatan pasti sehat jasmani dan rokhani . f. berumur sekurang-kurangnya tiga puluh tahun. b. b. bersedia dicalonkan menjadi Kepala Daerah. bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. (2) Kepala Daerah Tingkat II karena jabatannya adalah Kepala Wilayah Kabupaten atau Kotamadya. g. berusia sekurang-kurangnya 30 (tiga puluh) tahun. d. Proklamasi 17 Agustus 1945. berkemampuan. berpendidikan sekurang-kurangnya sekolah lanjutan tingkat atas dan/atau sederajat. Bupati/Walikota bertanggung jawab kepada DPRD Kabupaten/Kota. memiliki Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP) atau bagi yang belum mempunyai NPWP wajib mempunyai bukti pembayaran pajak menyerahkan daftar riwayat hidup lengkap yang memuat antara lain riwayat pendidikan dan pekerjaan serta keluarga kandung. k. e. d. adil . mempunyai rasa pengabdian terhadap Nusa dari Bangsa . h. j. dan l. i. ditetapkan dalam Peraturan Tata Tertib DPRD sesuai dengan pedoman yang ditetapkan oleh Pemerintah Pasal 33 Yang dapat ditetapkan menjadi Kepala Daerah adalah warga negara Republik Indonesia dengan syarat-syarat : a. b. tidak pernah melakukan perbuatan tercela. b. berpendidikan sekurang-kurangnya Sekolah Lanjutan Tingkat Atas dan/atau sederajat. mempertahankan dan memelihara keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia sebagaimana cita-cita Proklamasi Kemerdekaan tanggal 17 Agustus 1945. taqwa kepada Tuhan Yang Maha esa. belum pernah menjabat sebagai kepala daerah atau wakil kepala daerah selama 2 (dua) kali masa jabatan dalam jabatan yang sama. • UU No 32 Tahun 2004 mengatur lebih rinci tentang tata cara pemberhentian kepala daerah . Pasal 43 Kepala Daerah mempunyai kewajiban : a. mengenal daerahnya dan dikenal oleh masyarakat di daerahnya. dan pendidikan adalah SMU. tidak sedang dinyatakan pailit berdasarkan putusan pengadilan yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap. h. nyata-nyata tidak terganggu jiwa/ingatannya.

f. berpengetahuan yang sederajat dengan Perguruan Tinggi atau sekurang-kurangnya berpendidikan yang dapat dipersamakan dengan Sarjana Muda bagi Kepala Daerah Tingkat I dan berpengetahuan sederajat dengan Akademi atau sekurang-kurangnya berpendidikan yang dapat dipersamakan dengan Sekolah Lanjutan Atas bagi Kepala Daerah Tingkat II. sebagaimana dimaksud dalam Pasal 45. dan dapat menunjuk kuasa hukum untuk mewakilinya sesuai dengan peraturan perundang-undangan. mengupayakan terlaksananya ke-wajiban daerah. d. b. atas permintaan sendiri . d. (3) Kepala Daerah wajib menyampaikan laporan atas penyelenggaraan Pemerintahan Daerah kepada Presiden melalui Menteri Dalam Negeri dengan tembusan kepada Gubernur bagi Kepala Daerah Kabupaten dan Kepala Daerah Kota. menindaklanjuti laporan dan/atau temuan hasil pengawasan aparat pengawasan. menyusun dan mengajukan rancangan Perda tentang APBD kepada DPRD untuk dibahas dan ditetapkan bersama. atau jika dipandang perlu oleh Kepala Daerah atau apabila diminta oleh Presiden. berakhir masa jabatannya dan telah dilantik Kepala Daerah yang baru. d. turut serta dalam sesuatu perusahaan . e. karena : a. melakukan pekerjaan-pekerjaan lain yang memberikan keuntungan baginya dalam hal-hal yang berhubungan langsung dengan. Pasal 20 Kepala Daerah dilarang : a. Daerah. melaksanakan tugas dan wewenang lain sesuai dengan peraturan perundangundangan. dengan sengaja melakukan kegiatan-kegiatan yang merugikan kepentingan Negara. (tiga puluh lima) tahun bagi Kepala Daerah Tingkat I dan 30 (tiga puluh) tahun bagi Kepala Daerah Tingkat II . c. p. harus melengkapi dan/atau menyempurnakannya dalam jangka waktu paling lama tiga puluh hari. dan atau Rakyat . kelurahan dan/atau desa bagi wakil kepala daerah kabupaten/kota. c. b. membantu kepala daerah dalam menyelenggarakan pemerintahan daerah. melanggar sumpah/janji yang dimaksud dalam pasal 18 ayat (4) Undang-undang ini . b. (2) Dalam menjalankan tugas dan kewajibannya. Kepala Daerah bertanggung jawab kepada DPRD. e. tidak lagi memenuhi sesuatu syarat Pasal 25 Kepala daerah mempunyai tugas dan wewenang: a. Pasal 21 Kepala Daerah berhanti atau diberhentikan oleh pejabat yang berhak mengangkat. melaksanakan pemberdayaan perempuan dan pemuda. Pasal 45 (1) Kepala Daerah wajib menyampaikan pertanggungjawaban kepada DPRD pada setiap akhir tahun anggaran. meningkatkan taraf kesejahteraan rakyat. tidak dalam status sebagai penjabat kepala daerah. baik pertanggungjawaban kebijakan pemerintahan maupun pertanggungjawaban keuangan. c. c. membantu kepala daerah dalam mengkoordinasikan kegiatan instansi vertikal di daerah. memimpin penyelenggaraan pe-merintahan daerah berdasarkan kebijakan yang ditetapkan ber-sama DPRD. e. meninggal dunia . menjadi advokat atau kuasa dalam perkara di muka Pengadilan. memelihara ketenteraman dan ketertiban masyarakat. m. b. Pemerintah. menetapkan Perda yang telah mendapat persetujuan bersama DPRD. mempunyai kecakapan dan pengalaman pekerjaan yang cukup di bidang pemerintahan . memantau dan mengevaluasi penyelenggaraan pemerintahan kabupaten dan kota bagi wakil kepala daerah provinsi. Pasal 26 (1) Wakil kepala daerah mempunyai tugas: a. memberikan saran dan pertimbangan kepada kepala daerah dalam . mewakili daerahnya di dalam dan di luar pengadilan. (2) Kepala Daerah wajib memberikan pertanggungjawaban kepada DPRD untuk hal tertentu atas permintaan DPRD sebagaimana dimaksud dalam Pasal 44 ayat (2). d. dan f. Pasal 44 (1) Kepala Daerah memimpin penyelenggaraan Pemerintahan Daerah berdasarkan kebijakan yang ditetapkan bersama DPRD. Daerah yang bersangkutan . mengajukan rancangan Perda. b. d. g. menegakkan seluruh peraturan perundangundangan. memantau dan mengevaluasi penyelenggaraan pemerintahan di wilayah kecamatan. Pasal 46 (1) Kepala Daerah yang ditolak pertanggungjawabannya. sekurang-kurangnya sekali dalam satu tahun. serta mengupayakan pengembangan dan pelestarian sosial budaya dan lingkungan hidup. wmengajukan Rancangan Peraturan Daerah dan menetapkannya sebagai Peraturan Daerah bersama dengan DPRD. c.l.

wewenang. menerima uang. d. turut serta dalam suatu perusahaan. c. Pasal 48 Kepala Daerah dilarang : a. memajukan dan mengembangkan daya saing daerah. menjadi advokat atau kuasa hukum dalam suatu perkara di pengadilan. dan g. . meninggal dunia. Dalam melaksanakan tugas se-bagaimana dimaksud pada ayat (1). h. DPRD dapat mengusulkan pemberhentiannya kepada Presiden. melaksanakan prinsip tata pemerintahan yang bersih dan baik. j. wewenang. Bagi Kepala Daerah yang pertanggungjawabannya ditolak untuk kedua kalinya. atau tidak dapat melakukan kewajibannya selama 6 (enam) bulan secara terus menerus dalam masa jabatannya. menaati dan menegakkan seluruh peraturan perundang-undangan. Gubernur Kepala Daerah mengajukan calon Wakil Kepala Daerah Tingkat I kepada Presiden melalui (2) (3) (4) Kepala Daerah yang sudah melengkapi dan/atau menyempurnakan pertanggungjawabannya menyampaikannya kembali kepada DPRD. Wakil kepala daerah menggantikan kepala daerah sampai habis masa jabatannya apabila kepala daerah meninggal dunia. d. meningkatkan kesejahteraan rakyat. baik milik swasta maupun milik Negara/Daerah. sebagaimana dimaksud pada ayat (3). berhenti. melaksanakan tugas dan kewajiban pemerintahan lainnya yang diberikan oleh kepala daerah. selain yang dimaksud dalam Pasal 47. dan kewajiban pemerintahan Daerah. f. golongan tertentu. e. baik secara langsung maupun tidak langsung. mengajukan berhenti atas permintaan penyelenggaraan kegiatan pemerintah daerah. (2) Dengan memperoleh persetujuan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah tanpa melalui pemilihan. b. anggota keluarganya. Pasal 22 (1) Kepala Daerah menjalankan hak. dan/atau jasa dari pihak lain yang patut dapat diduga akan mempengaruhi keputusan atau tindakan yang akan dilakukannya. atau jika dipandang perlu olehnya. kepala daerah dan wakil kepala daerah mempunyai kewajiban: a. sebab-sebab lain. perlu Kepala Daerah dapat menunjuk seorang kuasa atau lebih untuk mewakilinya. wakil kepala daerah bertanggung jawab kepada kepala daerah. (2) Dalam menjalankan hak. sebagaimana dimaksud pada ayat (1). melanggar ketentuan yang dimaksud dalam pasal 20 Undangundang ini . c. yang berhubungan dengan Daerah yang bersangkutan. barang. atau dalam yayasan bidang apa pun juga. dan e. menjalin hubungan kerja dengan seluruh instansi vertikal di daerah dan semua perangkat daerah. Kepala Daerah berkewajiban memberikan keterangan pertanggung jawaban kepada Dewan Perwakilan Rakyat Daerah sekurang-kurangnya sekali setahun. wewenang. melaksanakan tugas dan wewenang kepala daerah apabila kepala daerah berhalangan. dan dapat menunjuk kuasa untuk mewakilinya. memegang teguh dan mengamalkan Pancasila. (2) (3) Pasal 47 Kepala Daerah mewakili daerahnya di dalam dan di luar pengadilan. ditetapkan oleh Pemerintah. Pasal 24 (1) Wakil Kepala Daerah Tingkat I diangkat oleh Presiden dari Pegawai Negeri yang memenuhi persyaratan. memelihara ketenteraman dan ketertiban masyarakat. ata cara. Pasal 23 (1) Kepala Daerah mewakili Daerahnya di dalam dan di luar Pengadilan. melaksanakan dan mempertanggungjawabkan pengelolaan ke-uangan daerah. b. dan kewajiban pimpinan pemerintahan Daerah. atau apabila diminta oteh Dewan Perwakilan Rakyat Daerah. f. b. diberhentikan. melaksanakan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 serta mempertahankan dan memelihara keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia. (2) Apabila dipandang. Pasal 27 (1) Dalam melaksanakan tugas dan wewenang sebagaimana dimaksud dalam Pasal 25 dan Pasal 26. i. menjaga etika dan norma dalam penyelenggaraan pemerintahan daerah. f. Kepala Daerah menurut hierarkhi bertanggungjawab kepada Presiden melalui Menteri Dalam Negeri. kroninya. atau kelompok politiknya yang secara nyata merugikan kepentingan umum atau mendiskriminasikan warga negara dan golongan masyarakat lain. g. e. (4) Pedoman tentang pemberian keterangan pertanggung jawaban yang dimaksud dalam ayat (3) pasal ini. melaksanakan kehidupan demokrasi. (3) Dalam menjalankan hak. melakukan pekerjaan lain yang memberikan keuntungan bagi dirinya. Pasal 49 Kepala Daerah berhenti atau diberhentikan karena : a. dan kewajiban pemerintahan Daerah.yang dimaksud dalam Pasal 14 Undang-undang ini . membuat keputusan yang secara khusus memberikan keuntungan bagi dirinya. ditetapkan oleh Menteri Dalam Negeri.

merugikan kepentingan umum. atau kelompok politiknya yang bertentangan dengan peraturan perundang-undangan. f. (4) Dengan memperoleh persetujuan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah tanpa melalui pemilihan. Laporan sebagaimana dimaksud pada ayat (3) digunakan Pemerintah sebagai dasar melakukan evaluasi penyelenggaraan pemerintahan daerah dan sebagai bahan pembinaan lebih lanjut sesuai dengan peraturan perundangundangan. (3) Wakil Kepala Daerah Tingkat II diangkat oleh Menteri Dalam Negeri atas nama Presiden dari Pegawai Negeri yang memenuhi persyaratan. b. Bupati/Walikotamadya Kepala Daerah mengajukan calon Wakil Kepala Daerah Tingkat II kepada Menteri Dalam Negeri melalui Gubernur Kepala Daerah. (2) Apabila Kepala Daerah berhalangan. berakhir masa jabatannya dan telah dilantik pejabat yang baru. c. tidak lagi memenuhi syarat sebagaimana dimaksud dalam Pasal 33. atau dalam yayasan bidang apapun. dan keterangannya atas kasus itu ditolak oleh DPRD. Selain mempunyai kewajiban se-bagaimana dimaksud pada ayat (1). 19. dan mengalami krisis kepercayaan publik yang luas akibat kasus yang melibatkan tanggung jawabnya. (8) Wakil Kepala Daerah diambil sumpahnya/janjinya dan dilantik oleh Menteri Dalam Negeri atas nama Presiden bagi Wakil Kepala Daerah Tingkat I dan oleh Gubernur Kepala Daerah atas nama Menteri Dalam Negeri bagi Wakil Kepala Daerah Tingkat II. melanggar ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 48.Menteri Dalam Negeri. e. atau diancam dengan hukuman mati sebagaimana yang diatur dalam Kitab Undang-undang Hukum Pidana. Pasal 26 Dengan Peraturan Menteri Dalam Negeri diatur tentang penjabat yang mewakili Kepala c. serta menginformasikan laporan penyeleng-garaan pemerintahan daerah kepada masyarakat. kroni. ayat (2). melanggar sumpah/janji sebagaimana dimaksud dalam Pasal 42 ayat (3). dan meresahkan sekelompok masyarakat. (2) Kepala Daerah yang terbukti melakukan makar dan perbuatan yang dapat memecah belah Negara Kesatuan Republik Indonesia (4) (5) k. g. d. dan kepada Menteri Dalam Negeri melalui Gubernur untuk Bupati/Walikota 1 (satu) kali dalam 1 (satu) tahun. menyampaikan rencana strategis penyelenggaraan pemerintahan daerah di hadapan Rapat Paripurna DPRD. turut serta dalam suatu perusahaan. 20 dan 21 Undang-undang ini berlaku juga untuk Wakil Kepala Daerah. kepala daerah mempunyai kewajiban juga untuk memberikan laporan penyelenggaraan pemerintahan daerah kepada Pemerintah. baik secara langsung maupun tidak langsung. ayat (3). dan memberikan laporan keterangan pertanggungjawaban kepada DPRD. harus dihadiri oleh sekurangkurangnya dua pertiga dari jumlah anggota DPRD dan putusan diambil dengan persetujuan sekurang-kurangnya dua pertiga dari jumlah anggota yang hadir. Pelaksanaan ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1). baik milik swasta maupun milik negara/daerah. (7) Ketentuan-ketentuan yang dimaksud dalam Pasal-pasal 14. (2) Keputusan DPRD. anggota keluarga. Pasal 25 (1) Wakil Kepala Daerah membantu Kepala Daerah dalam menjalankan tugas dan wewenangnya sehari-hari sesuai dengan pedoman yang ditetapkan oleh Menteri Dalam Negeri. melakukan pekerjaan lain yang memberikan keuntungan bagi dirinya. dan ayat (4) diatur dalam Peraturan Pemerintah. sebagaimana dimaksud pada ayat (1). (2) (3) Pasal 50 (1) Pemberhentian Kepala Daerah karena alasan-alasan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 49 ditetapkan dengan Keputusan DPRD dan disahkan oleh Presiden. golongan tertentu. Laporan penyelenggaraan peme-rintahan daerah kepada Pemerintah sebagaimana dimaksud pada ayat (2) disampaikan kepada Presiden melalui Menteri Dalam Negeri untuk Gubernur. yang . sendiri. Pasal 52 (1) Kepala Daerah yang diduga melakukan makar dan/atau perbuatan lain yang dapat memecah belah Negara Kesatuan Republik Indonesia diberhentikan untuk sementara dari jabatannya oleh Presiden tanpa melalui Keputusan DPRD. membuat keputusan yang secara khusus memberikan keuntungan bagi diri. Pasal 51 Kepala Daerah diberhentikan oleh Presiden tanpa melalui Keputusan DPRD apabila terbukti melakukan tindak pidana kejahatan yang diancam dengan hukuman lima tahun atau lebih. (9) Tatacara pelaksanaan ketentuan yang dimaksud dalam ayat-ayat (2) dan (4) pasal ini diatur lebih lanjut dengan Peraturan Menteri Dalam Negeri. (6) Wakil Kepala Daerah adalah Pejabat Negara. Wakil Kepala Daerah menjalankan tugas dan wewenang Kepala Daerah seharihari. (5) Pengisian jabatan Wakil Kepala Daerah dilakukan menurut kebutuhan. Pasal 28 Kepala daerah dan wakil kepala daerah dilarang: a. atau mendiskriminasikan warga negara dan/atau golongan masyarakat lain.

diaktifkan kembali dan direhabilitasi selaku Kepala Daerah sampai akhir masa jabatannya. meninggal dunia. g. tidak dapat dicalonkan kembali sebagai Kepala Daerah dalam masa jabatan berikutnya. menyalahgunakan wewenang dan melanggar sumpah/janji jabatan-nya. permintaan sendiri. atau c. (3) Kepala Daerah yang setelah melalui proses peradilan ternyata tidak terbukti melakukan makar dan perbuatan yang dapat memecah belah Negara Kesatuan Republik Indonesia. melaksanakan segala usaha dan kegiatan di bidang pembinaan ideologi Negara dan politik dalam negeri serta pembinaan kesatuan Bangsa sesuai dengan kebijaksanaan yang ditetapkan oleh Pemerintah c. ketentraman dan ketertiban yang ditetapkan oleh Pemerintah . membina ketentraman dan ketertiban di wilayahnya sesuai dengan kebijaksanaan. yang dinyatakan dengan keputusan pengadilan yang telah memperoleh kekuatan hukum yang tetap diberhentikan dari jabatannya oleh Presiden. f. Pasal 81 Wewenang. baik dalam perencanaan maupun dalam pelaksanaan untuk mencapai dayaguna dan hasilguna yang sebesar-besarnya. mengkordinasikan pembangunan dan membina kehidupan masyarakat di segala bidang. enam bulan sebelumnya. (2) Kepala daerah dan/atau wakil kepala daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf c diberhentikan karena: a. tidak dapat melaksanakan tugas secara berkelanjutan atau berhalangan tetap secara berturut-turut selama 6 (enam) bulan. melakukan korupsi. tanpa persetujuan DPRD. kolusi. d. sebagaimana dimaksud pada ayat (1). sebagai anggota DPRD sebagaimana yang ditetapkan dalam peraturan perundang-undangan. barang dan/atau jasa dari pihak lain yang mempengaruhi keputusan atau tindakan yang akan dilakukannya. sebagaimana dimaksud dalam Pasal 53. diberhentikan. d. Pasal 29 (1) Kepala daerah dan/atau wakil kepala daerah berhenti karena: a. (2) Hal-hal yang dikecualikan dari ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) adalah: berhubungan dengan daerah yang bersangkutan. e. Pasal 80 Kepala Wilayah sebagai Wakil Pemerintah adalah Penguasa Tunggal di bidang pemerintahan dalam wilayahnya dalam arti memimpin pemerintahan. b. b. tidak melaksanakan kewajiban kepala daerah dan/atau wakil kepala daerah. menjadi advokat atau kuasa hukum dalam suatu perkara di pengadilan selain yang dimaksud dalam Pasal 25 huruf f. e. berakhir masa jabatannya dan telah dilantik pejabat yang baru. dan menerima uang. membimbing dan mengawasi penyelenggaraan pemerintahan Daerah. (2) Dengan adanya pemberitahuan. melanggar larangan bagi kepala daerah dan/atau wakil kepala daerah. b. merangkap jabatan sebagai pejabat negara lainnya. nepotisme. Pasal 53 (1) DPRD memberitahukan akan berakhirnya masa jabatan Kepala Daerah secara tertulis kepada yang bersangkutan. tidak lagi memenuhi syarat sebagai kepala daerah dan/atau wakil kepala daerah. c. e. (3) Selambat-lambatnya satu bulan sebelum masa jabatan Kepala Daerah berakhir. tugas dan kewajiban Kepala Wilayah adalah : a. Kepala Daerah mempersiapkan pertanggungjawaban akhir masa jabatannya kepada DPRD dan menyampaikan pertanggungjawaban tersebut selambatlambatnya empat bulan setelah pemberitahuan. d. Pasal 54 Kepala Daerah yang ditolak pertanggungjawabannya oleh DPRD. (3) Pemberhentian kepala daerah dan/atau wakil kepala daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a dan huruf b serta ayat (2) huruf a dan huruf b diberitahukan oleh pimpinan DPRD untuk diputuskan dalam Rapat Paripurna dan diusulkan oleh pimpinan . Pasal 55 (1) Tindakan penyidikan terhadap Kepala Daerah dilaksanakan setelah adanya persetujuan tertulis dari Presiden. sebagaimana dimaksud pada ayat (1).Daerah dalam hal Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah berhalangan. mengusahakan secara terus-menerus agar segala peraturan-perundangundangan dan Peraturan Daerah dijalankan oleh Instansi-instansi Pemerintah dan Pemerintah Daerah serta pejabat-pejabat yang ditugaskan untuk itu serta mengambil segata tindakan yang dianggap perlu untuk menjamin kelancaran penyelenggaraan pemerintahan. DPRD mulai memproses pemilihan Kepala Daerah yang baru. dinyatakan melanggar sumpah/janji jabatan kepala daerah dan/atau wakil kepala daerah. menyelenggarakan kordinasi atas kegiatan-kegiatan Instansi-instansi Vertikal dan antara Instansi-instansi Vertikal dengan Dinas-dinas Daerah. f.

saya bersumpah/berjanji bahwa saya akan memenuhi kewajiban saya selaku Wakil Gubernur/ Wakil Bupati/Wakil Walikota dengan sebaik-baiknya. mengadili. bahwa saya akan selalu taat dalam mengamalkan dan mempertahankan Pancasila sebagai *9617 dasar negara. sebagaimana dimaksud dalam Pasal 33. (4) Susunan kata-kata sumpah/janji dimaksud adalah sebagai berikut : "Demi Allah (Tuhan). dan bahwa saya akan menegakkan kehidupan demokrasi dan Undang-Undang Dasar 1945 sebagai konstitusi negara serta segala peraturan perundang-undangan yang berlaku bagi Daerah dan Negara Kesatuan Republik Indonesia". g. d. berlaku juga bagi Wakil Kepala Daerah. (4) DPRD. dituduh telah melakukan tindak pidana kejahatan yang diancam dengan hukuman mati. Pasal 56 (1) Di setiap Daerah terdapat seorang Wakil Kepala Daerah. Pasal 83 (1) Tindakan Kepolisian terhadap Kepala Wilayah Propinsi/Ibukota Negara hanya dapat dilakukan atas persetujuan Presiden. Apabila Mahkamah Agung memutuskan bahwa kepala daerah dan/atau wakil kepala daerah terbukti melanggar sumpah/janji jabatan dan/atau tidak melaksanakan kewajiban. Pasal 47 sampai dengan Pasal 54. dan memutus pendapat DPRD tersebut paling lambat 30 (tigapuluh) hari setelah permintaan DPRD itu diterima Mahkamah Agung dan putusannya bersifat final. bersamaan dengan pelantikan Kepala Daerah. dan seadil-adilnya. c. (5) Ketentuan-ketentuan. (6) Wakil Kepala Daerah Propinsi disebut Wakil Gubernur. Wakil Kepala Daerah Kabupaten disebut Wakil Bupati dan Wakil Kepala Daerah Kota disebut Wakil Walikota. b. dituduh telah melakukan tindak pidana kejahatan yang diancam dengan hukuman mati. Pendapat DPRD sebagaimana dimaksud pada huruf a diputuskan melalui Rapat Paripurna DPRD yang dihadiri oleh sekurang-kurangnya 3/4 (tiga perempat) dari jumlah anggota DPRD dan putusan diambil dengan persetujuan sekurangkurangnya 2/3 (dua pertiga) dari jumlah anggota DPRD yang hadir. .f. Pasal 41. (3) Sebelum memangku jabatannya. e. tertangkap tangan melakukan tindak pidana kejahatan yang diancam dengan pidana penjara lima tahun atau lebih. Pemberhentian kepala daerah dan wakil kepala daerah diusulkan kepada Presiden berdasarkan putusan Mahkamah Agung atas pendapat DPRD bahwa kepala daerah dan/atau wakil kepala daerah dinyatakan melanggar sumpah/janji jabatan dan/atau tidak melaksanakan kewajiban kepala daerah dan wakil kepala daerah. sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dilakukan. Mahkamah Agung wajib memeriksa. DPRD menyelenggarakan Rapat Paripurna DPRD yang dihadiri oleh sekurang-kurangnya 3/4 (tiga perempat) dari jumlah anggota DPRD dan putusan diambil dengan persetujuan sekurangkurangnya 2/3 (dua pertiga) dari jumlah anggota DPRD yang hadir untuk memutuskan usul pemberhentian kepala daerah dan/atau wakil kepala daerah kepada Presiden. dituduh telah melakukan tindak pidana kejahatan yang termaktub dalam Kitab Undang-undang Hukum Pidana BUKU KEDUA BAB I. b. (3) Tindakan kepolisian yang dimaksud dalam ayat (2) pasal ini selambatlambatnya dalam waktu 2 (dua) kali 24 (duapuluh empat) jam sesudahnya harus dilaporkan kepada Jaksa Agung atau kepada Menteri Pertahanan Keamanan/Panglima Angkatan Bersenjata. Wakil Kepala Daerah mengucapkan sumpah/janji. (2) Wakil Kepala Daerah Tingkat II karena jabatannya adalah Wakil Kepala Wilayah Kabupaten atau Kotamadya. sejujur-jujurnya. Pasal 82 (1) Wakil Kepala Daerah Tingkat I karena jabatannya adalah Wakil Kepala Wilayah Propinsi atau Ibukota Negara dan disebut Wakil Gubernur. dan b. tertangkap tangan melakukan sesuatu tindak pidana. melaksanakan segala tugas pemerintahan yang tidak termasuk dalam tugas sesuatu Instansi lainnya. hal itu harus dilaporkan kepada Presiden selambatlambatnya dalam 2 kali 24 jam. yang pada gilirannya harus melaporkan kepada Presiden selambat- a. (3) Setelah tindakan penyidikan. c. Pasal 43 kecuali huruf g. melaksanakan segala tugas pemerintahan yang dengan atau berdasarkan peraturan perundangundangan diberikan kepadanya. dan disebut Wakil Bupati atau Wakil Walikotamadya. Presiden wajib memroses usul pemberhentian kepala daerah dan/atau wakil kepala daerah tersebut paling lambat 30 (tiga puluh) hari sejak DPRD menyampaikan usul tersebut. (2) Hal-hal yang dikecualikan terhadap ketentuan yang dimaksud dalam ayat (1) pasal ini adalah: a. Pemberhentian kepala daerah dan/atau wakil kepala daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf d dan huruf e dilaksanakan dengan ketentuan: a. (2) Wakil Kepala Daerah dilantik oleh Presiden atau pejabat lain yang ditunjuk.

(3) Apabila Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah berhalangan tetap. jabatan Kepala Daerah diganti oleh Wakil Kepala Daerah sampai habis masa jabatannya. (2) Penggunaan hak angket sebagai-mana dimaksud pada ayat (1) dilaksanakan setelah mendapatkan persetujuan Rapat Paripurna DPRD yang dihadiri oleh sekurang-kurangnya 3/4 (tiga perempat) dari jumlah anggota DPRD dan putusan diambil dengan persetujuan sekurang-kurangnya 2/3 (dua pertiga) dari jumlah anggota DPRD yang hadir untuk melakukan penyelidikan terhadap . dan/atau tindak pidana terhadap keamanan negara.lambatnya dalam waktu 2 (dua) kali 24 (duapuluh empat) jam. (5) Tindakan kepolisian yang dimaksud dalam ayat (4) pasal ini diberitahukan selambat-lambatnya 2 (dua) kali 24 (duapuluh empat) jam sesudahnya kepada Kepala Wilayah atasan dari yang bersangkutan. Pasal 59 Kedudukan keuangan Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah ditetapkan dengan Peraturan Pemerintah. (4) Apabila Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah berhalangan tetap. membantu Kepala Daerah dalam melaksanakan kewajibannya. Pasal 31 (1) Kepala daerah dan/atau wakil kepala daerah diberhentikan sementara oleh Presiden tanpa melalui usulan DPRD karena didakwa melakukan tindak pidana korupsi. DPRD menggunakan hak angket untuk menanggapinya. dan c. Pasal 30 (1) Kepala daerah dan/atau wakil kepala daerah diberhentikan sementara oleh Presiden tanpa melalui usulan DPRD apabila dinyatakan melakukan tindak pidana kejahatan yang diancam dengan pidana penjara paling singkat 5 (lima) tahun atau lebih berdasarkan putusan pengadilan. (2) Kepala daerah dan/atau wakil kepala daerah diberhentikan oleh Presiden tanpa melalui usulan DPRD apabila terbukti melakukan tindak pidana sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berdasarkan putusan pengadilan yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap. apabila menyangkut hal-hal yang dimaksud dalam ayat (2) pasal ini. (3) Wakil Kepala Daerah melaksanakan tugas dan wewenang Kepala Daerah apabila Kepala Daerah berhalangan. Pasal 57 (1) Wakil Kepala Daerah mempunyai tugas : a. melaksanakan tugas-tugas lain yang diberikan oleh Kepala Daerah. (2) Apabila Wakil Kepala Daerah berhalangan tetap. tindak pidana terorisme. (2) Kepala daerah dan/atau wakil kepala daerah diberhentikan oleh Presiden tanpa melalui usulan DPRD karena terbukti melakukan makar dan/atau perbuatan lain yang dapat memecah belah Negara Kesatuan Republik Indonesia yang dinyatakan dengan putusan pengadilan yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap. Pasal 58 (1) Apabila Kepala Daerah berhalangan tetap. (4) Tindakan kepolisian terhadap Kepala Wilayah lainnya dilakukan dengan memberitahukan sebelumnya kepada Kepala Wilayah atasan dari yang bersangkutan. DPRD menyelenggarakan pemilihan Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah selambatlambatnya dalam waktu tiga bulan. mengkoordinasikan kegiatan instansi pemerintahan di Daerah. Sekretaris Daerah melaksanakan tugas Kepala Daerah untuk sementara waktu. Pasal 32 (1) Dalam hal kepala daerah dan/atau wakil kepala daerah menghadapi krisis kepercayaan publik yang meluas karena dugaan melakukan tindak pidana dan melibatkan tanggung jawabnya. b. jabatan Wakil Kepala Daerah tidak diisi. (2) Wakil Kepala Daerah bertanggung jawab kepada Kepala Daerah. makar.

kepala daerah dan/atau wakil kepala daerah. (3) Dalam hal ditemukan bukti me-lakukan tindak pidana sebagaimana dimaksud pada ayat (1), DPRD menyerahkan proses penyelesaiannya kepada aparat penegak hukum sesuai dengan peraturan perundang-undangan. (4) Apabila kepala daerah dan/atau wakil kepala daerah dinyatakan bersalah karena melakukan tindak pidana dengan ancaman pidana penjara paling singkat 5 (lima) tahun atau lebih berdasarkan putusan pengadilan yang belum memperoleh kekuatan hukum tetap sebagaimana dimaksud pada ayat (3), DPRD mengusulkan pemberhentian sementara dengan keputusan DPRD. (5) Berdasarkan keputusan DPRD se-bagaimana dimaksud pada ayat (4), Presiden menetapkan pember-hentian sementara kepala daerah dan/atau wakil kepala daerah. (6) Apabila kepala daerah dan/atau wakil kepala daerah dinyatakan bersalah berdasarkan putusan pengadilan yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap sebagaimana dimaksud pada ayat (4), pimpinan DPRD mengusulkan pemberhentian berdasarkan keputusan Rapat Paripurna DPRD yang dihadiri oleh sekurang-kurangnya 3/4 (tiga perempat) dari jumlah anggota DPRD dan putusan diambil dengan persetujuan sekurang-kurangnya 2/3 (dua pertiga) dari jumlah anggota DPRD yang hadir. (7) Berdasarkan keputusan DPRD se-bagaimana dimaksud pada ayat (6), Presiden memberhentikan kepala daerah dan/atau wakil kepala daerah. Pasal 33 (1) Kepala daerah dan/atau wakil kepala daerah yang diberhentikan sementara sebagaimana dimaksud dalam Pasal 30 ayat (1), Pasal 31 ayat (1), dan Pasal 32 ayat (5) setelah melalui proses peradilan ternyata terbukti tidak bersalah berdasarkan putusan pengadilan yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap, paling lambat 30 (tiga puluh) hari Presiden telah merehabilitasikan dan mengaktifkan kembali kepala daerah dan/atau

wakil kepala daerah yang bersangkutan sampai dengan akhir masa jabatannya. (2) Apabila kepala daerah dan/atau wakil kepala daerah yang diberhentikan sementara sebagaimana dimaksud pada ayat (1) telah berakhir masa jabatannya, Presiden merehabilitasikan kepala daerah dan/atau wakil kepala daerah yang bersangkutan dan tidak mengaktifkannya kembali. (3) Tata cara pelaksanaan ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 30, Pasal 31, dan Pasal 32 diatur dalam Peraturan Pemerintah. Pasal 34 (1) Apabila kepala daerah diberhentikan sementara sebagaimana dimaksud dalam Pasal 30 ayat (1), Pasal 31 ayat (1), dan Pasal 32 ayat (5), wakil kepala daerah melaksanakan tugas dan kewajiban kepala daerah sampai dengan adanya putusan pengadilan yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap. (2) Apabila wakil kepala daerah di-berhentikan sementara sebagai-mana dimaksud Pasal 30 ayat (1), Pasal 31 ayat (1), dan Pasal 32 ayat (5), tugas dan kewajiban wakil kepala daerah dilaksanakan oleh kepala daerah sampai dengan adanya putusan pengadilan yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap. (3) Apabila kepala daerah dan wakil kepala daerah diberhentikan sementara sebagaimana dimaksud dalam Pasal 30 ayat (1), Pasal 31 ayat (1), dan Pasal 32 ayat (5), Presiden menetapkan penjabat Gubernur atas usul Menteri Dalam Negeri atau penjabat Bupati/ Walikota atas usul Gubernur dengan pertimbangan DPRD sampai dengan adanya putusan pengadilan yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap. (4) Tata cara penetapan, kriteria calon, dan masa jabatan penjabat sebagaimana dimaksud pada ayat (3) diatur dalam Peraturan Peme-rintah.

Pasal 35 (1) Apabila kepala daerah diberhentikan berdasarkan putusan pengadilan yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap sebagaimana dimaksud dalam Pasal 30 ayat (2), Pasal 31 ayat (2), dan Pasal 32 ayat (7) jabatan kepala daerah diganti oleh wakil kepala daerah sampai berakhir masa jabatannya dan proses pelaksanaannya dilakukan berdasarkan keputusan Rapat Paripurna DPRD dan disahkan oleh Presiden. (2) Apabila terjadi kekosongan jabatan wakil kepala daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) yang sisa masa jabatannya lebih dari 18 (delapan belas) bulan, kepala daerah mengusulkan 2 (dua) orang calon wakil kepala daerah untuk dipilih oleh Rapat Paripurna DPRD berdasarkan usul partai politik atau gabungan partai politik yang pasangan calonnya terpilih dalam pemilihan kepala daerah dan wakil kepala daerah. (3) Dalam hal kepala daerah dan wakil kepala daerah berhenti atau diberhentikan secara bersamaan dalam masa jabatannya, Rapat Paripurna DPRD memutuskan dan menugaskan KPUD untuk menyelenggarakan pemilihan kepala daerah dan wakil kepala daerah paling lambat 6 (enam) bulan terhitung sejak ditetapkannya penjabat kepala daerah. (4) Dalam hal terjadi kekosongan jabatan kepala daerah dan wakil kepala daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (3), sekretaris daerah melaksanakan tugas sehari-hari kepala daerah sampai dengan Presiden mengangkat penjabat kepala daerah. (5) Tata cara pengisian kekosongan, persyaratan dan masa jabatan penjabat sebagaimana dimaksud pada ayat (4) diatur dalam Peraturan Pemerintah. Pasal 36 (1) Tindakan penyelidikan dan penyidi-kan terhadap kepala daerah dan/atau wakil kepala daerah dilaksanakan setelah adanya persetujuan tertulis dari Presiden atas permintaan penyidik.

tertangkap tangan melakukan tindak pidana kejahatan. Pasal 37 (1) Gubernur yang karena jabatannya berkedudukan juga sebagai wakil Pemerintah di wilayah provinsi yang bersangkutan. Gubernur bertanggung jawab kepada Presiden. (4) Hal-hal yang dikecualikan dari ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) adalah: a. Pasal 38 (1) Gubernur dalam kedudukannya se-bagaimana dimaksud dalam Pasal 37 memiliki tugas dan wewenang: a. koordinasi pembinaan dan pengawasan penyelenggaraan tugas pembantuan di daerah provinsi dan kabupaten/kota. pembinaan dan pengawasan penyelenggaraan pemerintahan daerah kabupaten/kota. atau telah melakukan tindak pidana kejahatan terhadap keamanan negara. proses penyelidikan dan penyidikan dapat dilakukan. (5) Tindakan penyidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (4) setelah dilakukan wajib dilaporkan kepada Presiden paling lambat dalam waktu 2 (dua) kali 24 (dua puluh empat) jam. (3) Tindakan penyidikan yang dilanjutkan dengan penahanan diperlukan persetujuan tertulis sesuai dengan ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2). (2) . c. (2) Dalam kedudukannya sebagaimana dimaksud pada ayat (1). koordinasi penyelenggaraan urusan Pemerintah di daerah provinsi dan kabupaten/kota. b. disangka telah melakukan tindak pidana kejahatan yang diancam dengan pidana mati.Dalam hal persetujuan tertulis sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tidak diberikan oleh Presiden dalam waktu paling lambat 60 (enam puluh) hari terhitung sejak diterimanya permohonan. atau b.

(3) Kedudukan keuangan Gubernur se-bagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dalam Peraturan Pemerintah. mengajukan pertanyaan bagi masing-masing Anggota. Pasal 15 Kedudukan. c. b. keanggotaan. (4) Tata cara pelaksanaan tugas dan wewenang Gubernur sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dalam Peraturan Pemerintah. wewenang. Pasal 28 (1) Kedudukan keuangan Ketua. dan Anggota bewan Perwakilan Rakyat Daerah diatur denpn Peraturan Daerah. masa keanggotaan. • Terdapat perbedaan dalam tugas dan wewenang anggota DPRD dimana dalam UU No 5 Tahun 1974 dan UU No 22 Tahun 1999 DPRD berwenang memilih calon kepala daerah sedangkan UU No 32 Tahun 2004 DPRD hanya berhak menetapkan kepala daerah setelah dilakukan pemilihan secara langsung. dan larangan rangkapan jabatan bagi Anggotaanggotanya diatur dengan Undang-undang. e. sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dan ayat (3). pimpinan. APBD.(2) Pendanaan tugas dan wewenang Gubernur sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dibebankan kepada APBN. dan alat kelengkapan DPRD diatur dengan Undang-undang. dan pimpinan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah. hakim pada badan peradilan dan pegawai negeri sipil. Wakil Ketua. komisi-komisi. Wakil Ketua. (3) DPRD membentuk fraksi-fraksi yang bukan merupakan alat kelengkapan DPRD. • Terdapat perbedaan hak DPRD diantara ketiga peraturan tersebut dimana dalam UU No 32 Tahun 2004 hanya menyebutkan hakhak tersebut antara lain hak interpelasi. DPR. angket dan menyatakan pendapat. dan DPRD. Pasal 17 (1) Keanggotaan DPRD dan jumlah anggota DPRD ditetapkan sesuai dengan peraturan perundang-undangan. Pasal 16 (1) DPRD sebagai lembaga perwakilan rakyat di Daerah merupakan wahana untuk melaksanakan demokrasi berdasarkan Pancasila. tugas. Pasal 29 (1) Untuk dapat melaksanakan fungsinya. • Dalam UU No 32 Tahun 2004 anggota DPRD dilarang untukmerangkap jabatan sebagai pejabat negara lainnya. DPD. Pasal 40 DPRD merupakan lembaga perwakilan daerah dan berkedudukan sebagai penyelenggaraan pemerintahan daerah. dan pengawasan. d. meminta keterangan. keanggotaan. 8 Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Pasal 27 Susunan. begitu juga sumpah/janji. anggota TNI/Polri. badan usaha milik daerah dan/atau badan lain yang anggarannya bersumber dari APBN/APBD • UU No 32 Tahun 2004 mewajibkan DPRD untuk menyusun kode etik untuk menjaga martabat dan kehormatan anggota DPRD dalam menjalankan tugas dan wewenangnya. mengadakan perubahan. peraturan kepala daerah. • Menurut UU No 32 Tahun 2004. mengusulkan pengangkatan dan pemberhentian kepala daerah/wakil kepala daerah kepada Presiden melalui Menteri Dalam Negeri bagi DPRD provinsi dan kepada Menteri Dalam Negeri melalui . melaksanakan pengawasan ter-hadap pelaksanaan Perda dan peraturan perundang-undangan lainnya. Dewan Perwakilan Rakyat Daerah mempunyai hak : a. (3) Peraturan Daerah yang dimaksud dalam ayat-ayat (1) dan (2) pasal ini dibuat sesuai dengan pedoman yang ditetapkan oleh Menteri Dalam Negeri. (2) Kedudukan protokoler Ketua. Anggaran. dan panitia-panitia. membahas dan menyetujui rancangan Perda tentang APBD bersama dengan kepala daerah. c. dan kerja sama internasional di daerah. diatur dengan Peraturan Tata Tertib DPRD. (2) DPRD sebagai Badan Legislatif Daerah berkedudukan sejajar dan menjadi mitra dari Pemerintah Daerah. badan kehormatan disebutkan secara tegas dalam salah satu alat kelengkapan DPRD yang mempunyai tugas-tugas tertentu. mengajukan pernyataan pendapat. berlaku sesudah ada pengesahan pejabat yang berwenang. rakyat unsur Pasal 41 DPRD memiliki fungsi legislasi. (2) Pemerintah Daerah terdiri atas Kepala Daerah beserta perangkat Daerah lainnya. hak. (4) Pelaksanaan ketentuan. (2) Alat kelengkapan DPRD terdiri atas pimpinan. Pasal 42 (1) DPRD mempunyai tugas dan wewenang: a. Pasal 18 (1) DPRD mempunyai tugas dan wewenang : Pasal 39 Ketentuan tentang DPRD sepanjang tidak diatur dalam Undang-Undang ini berlaku ketentuan Undang-Undang tentang Susunan dan Kedudukan MPR. membentuk Perda yang dibahas dengan kepala daerah untuk mendapat persetujuan bersama. Pasal 14 (1) Di Daerah dibentuk DPRD sebagai Badan Legislatif Daerah dan Pemerintah Daerah sebagai Badan Eksekutif Daerah. susunan. pegawai pada badan usaha milik negara. d. b. kebijakan pemerintah daerah dalam melaksanakan program pembangunan daerah. dan Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah diatur dengan Peraturan Daerah. (4) Peraturan Daerah yang dimaksud dalam ayat-ayat (1) dan (2) pasal ini. anggaran.

memberikan persetujuan terhadap rencana kerja sama antardaerah dan dengan pihak ketiga yang membebani masyarakat dan daerah. dan h. c. atau Walikota membentuk Peraturan Daerah. memilih wakil kepala daerah dalam hal terjadi kekosongan jabatan wakil kepala daerah. diatur dengan Undangundang. 3. interpelasi. Bupati. b. b. mengusulkan pengangkatan dan pemberhentian Gubernur/ Wakil Gubernur. g. melakukan pengawasan dan meminta laporan KPUD dalam penyelenggaraan pemilihan kepala daerah. bersama dengan Gubernur.f. bersama-sama Kepala Daerah menyusun Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah dan Peraturanperaturan Daerah untuk kepentingan Daerah dalam batasbatas wewenang yang diserahkan kepada Daerah atau untuk melaksanakan peraturan perundang-undangan yang pelaksanaannya ditugaskan kepada Daerah . d. menjunjung tinggi dan melaksanakan secara konsekwen Garis-garis Besar Haluan Negara. pelaksanaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah. serta mengamalkan PANCASILA dan Undang-Undang Dasar 1945 . Pasal 31 (1) Dewan Perwakilan Rakyat Daerah bersidang sekurang-kurangnya 2 (dua) a. DPRD melaksanakan tugas dan wewenang lain yang diatur dalam peraturan perundang-undangan. pelaksanaan kerja sama internasional di Daerah. Pasal 30 Kewajiban Dewan Perwakilan Rakyat Daerah adalah : a. h. f. Ketetapan-ketetapan Majelis Permusyawaratan Rakyat serta mentaati segala peraturan perundang-undangan yang berlaku. Pasal 19 (1) DPRD mempunyai hak : a. bersama dengan Gubernur. b. c. memperhatikan aspirasi dan memajukan tingkat kehidupan Rakyat dengan berpegang pada program pembangunan Pemerintah. (2) Pelaksanaan tugas dan wewenang. d. penyelidikan. kebijakan Pemerintah Daerah. mempertahankan. Bupati. g. f. mengadakan penyelidikan. meminta laporan keterangan pertanggungjawaban kepala daerah dalam penyelenggaraan pemerintahan daerah. e. memberikan persetujuan terhadap rencana kerja sama internasional yang dilakukan oleh pemerintah daerah. 4. memberikan pendapat dan pertimbangan kepada Pemerintah terhadap rencana perjanjian internasional yang menyangkut kepentingan Daerah. (2) Pelaksanaan hak angket sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b dilakukan setelah diajukan hak interpelasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a dan mendapatkan persetujuan dari Rapat Paripurna DPRD yang dihadiri sekurang-kurangnya 3/4 (tiga perempat) dari jumlah anggota DPRD dan putusan diambil dengan persetujuan sekurangkurangnya 2/3 (dua pertiga) dari jumlah anggota DPRD yang hadir. dan Walikota. angket. 2. dan Walikota/Wakil Walikota. mengadakan perubahan atas Rancangan Peraturan Daerah. menampung dan menindaklanjuti aspirasi Daerah dan masyarakat. Selain tugas dan wewenang sebagaimana dimaksud pada ayat (1). h. membentuk panitia pengawas pemilihan kepala daerah. g. i. c. mengajukan Rancangan Peraturan (2) Gubernur bagi DPRD kabupaten/kota. atau Walikota menetapkan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah. Bupati. d. diatur dalam Peraturan Tata Tertib DPRD. j. meminta keterangan kepada Pemerintah Daerah. Bupati/Wakil Bupati. f. meminta pertanggungjawaban Gubernur. mengamankan. diatur dalam Peraturan Tata Tertib Dewan Perwakilan Rakyat Daerah sesuai dengan pedoman yang ditetapkan oleh Menteri Dalam Negeri. prakarsa. Pasal 43 (1) DPRD mempunyai hak: a. k. dan 5. atau Walikota/ Wakil Walikota. menyatakan pendapat. dan c. melaksanakan pengawasan terhadap : 1. memberikan pendapat dan pertimbangan kepada pemerintah daerah terhadap rencana perjanjian internasional di daerah. dan Walikota. sebagaimana dimaksud dalam ayat (1). (3) Dalam menggunakan hak angket se-bagaimana dimaksud pada ayat (2) dibentuk panitia angket yang terdiri atas semua unsur fraksi DPRD yang bekerja dalam waktu paling lama 60 . pelaksanaan Peraturan Daerah dan peraturan perundang-undangan lain. e. (3) Cara pelaksanaan hak penyelidikan yang dimaksud dalam ayat (1) huruf g pasal ini. e. memilih Gubernur/Wakil Gubernur. pelaksanaan Keputusan Gubernur. (2) Cara pelaksanaan ketentuan yang dimaksud dalam ayat (1) huruf a sampai dengan huruf f pasal ini. b. mengajukan pernyataan pendapat. Bupati. memilih anggota Majelis Permusyawaratan Rakyat dari Utusan Daerah. Bupati/Wakil Bupati.

pejabat pemerintah. c. jual beli barang-barang. kecuali mengenai : a. d. diancam dengan pidana kurungan paling lama satu tahun karena merendahkan martabat dan kehormatan DPRD. mengamalkan Pancasila dan UndangUndang Dasar 1945. dan pemborongan pengangkutan tanpa mengadakan penawaran umum . sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2). dan penghapusan pajak dan retribusi . c. Setiap orang yang dipanggil. serta mentaati segala peraturan perundang-undangan. meningkatkan kesejahteraan rakyat di Daerah berdasarkan demokrasi (4) (5) (6) (7) (8) (enam puluh) hari telah menyampaikan hasil kerjanya kepada DPRD. Pasal 21 (1) Anggota DPRD mempunyai hak : a. imunitas. (4) Semua yang hadir dalam rapat tertutup Daerah. pejabat pemerintah. Pasal 44 (1) Anggota DPRD mempunyai hak: a. Seluruh hasil kerja panitia angket bersifat rahasia. g. b. (4) Pelaksanaan ketentuan yang dimaksud dalam ayat-ayat (1). b. dan h. protokoler. sebagaimana dimaksud pada ayat (1). Pasal 22 DPRD mempunyai kewajiban : a. Pasal 20 (1) DPRD dalam melaksanakan tugasnya berhak meminta pejabat negara. Dalam melaksanakan tugasnya. keuangan dan administratif. c. e. diatur dalam Peraturan Tata Tertib DPRD. diatur dalam Peraturan Tata Tertib DPRD. dapat diadakan rapat tertutup. b. pemilihan Ketua dan Wakil Ketua dan pelantikan Anggota baru Dewan Perwakilan Rakyat Daerah. (2) Kedudukan protokoler dan keuangan pimpinan dan anggota DPRD diatur dalam Peraturan Pemerintah. keuangan/administrasi. menentukan Anggaran Belanja DPRD. sebagaimana dimaksud pada ayat (1). membela diri. penghapusan tagihan sebagian atau seluruhnya . penetapan. (2) dan (3) pasal ini diatur dalam Peraturan Tata Tertib Dewan Perwakilan Rakyat Daerah. atas permintaan sekurangkurangnya seperlima jumlah Anggota atau atas permintaan Kepala Daerah. f. dan hak menyatakan pendapat diatur dalam Peraturan Tata Tertib DPRD yang berpedoman pada peraturan perundangundangan. didengar. protokoler. persetujuan penyelesaian perkara perdata secara damai .kali dalam setahun. g. d. mengajukan pertanyaan. (2) Pejabat negara. Tata cara penggunaan hak interpelasi. b. e. atau warga masyarakat untuk memberikan keterangan tentang suatu hal yang perlu ditangani demi kepentingan negara. g. Pasal 45 Anggota DPRD mempunyai kewajiban: a. (3) Pelaksanaan hak. diatur dalam Peraturan Tata Tertib DPRD. dan diperiksa sebagaimana dimaksud pada ayat (5) wajib memenuhi panggilan panitia angket kecuali ada alasan yang sah menurut peraturan perundang-undangan. f. atau warga masyarakat yang menolak permintaan. dan memeriksa seseorang yang dianggap mengetahui atau patut mengetahui masalah yang sedang diselidiki serta untuk meminta menunjukkan surat atau dokumen yang berkaitan dengan hal yang sedang diselidiki. pemborongan pekerjaan. (3) Dewan Perwakilan Rakyat Daerah bersidang atas panggilan Ketua. h. mempertahankan dan memelihara keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Dalam hal telah dipanggil dengan patut secara berturut-turut tidak memenuhi panggilan sebagaimana dimaksud pada ayat (5). menyampaikan usul dan pendapat. perusahaan Daerah . panitia angket dapat memanggil secara paksa dengan bantuan Kepolisian Negara Republik Indonesia sesuai dengan peraturan perundang-undangan. hutang piutang dan menanggung pinjaman . atau atas permintaan sekurang-kurangnya seperlima jumlah Anggota atau apabila dipandang perlu oleh Pimpinan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah. dan h. hak angket. Pasal 32 (1) Rapat-rapat Dewan Perwakilan Rakyat Daerah pada dasarnya bersifat terbuka untuk umum. pemerintahan. Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah serta perhitungannya. dan pembangunan. (2) Pelaksanaan hak. (2) Pelaksanaan hak. Ketua memanggil Anggota-anggota untuk bersidang dalam waktu 1 (satu) bulan setelah permintaan itu diterima. pa-nitia angket sebagaimana dimaksud pada ayat (3) dapat memanggil. memilih dan dipilih. menetapkan Peraturan Tata Tertib DPRD. mengamalkan Pancasila. mengajukan rancangan Perda. dan c. mendengar. sebagaimana dimaksud pada ayat (1). bangsa. me-laksanakan . d. perubahan. pengajuan pertanyaan. (2) Kecuali yang dimaksud dalam ayat (1) pasal ini. (2) Atas permintaan Kepala Daerah. membina demokrasi dalam penyelenggaraan Pemerintahan Daerah. (3) Rapat tertutup dapat mengambil keputusan.

dan ayat (3). ditetapkan dengan Peraturan Tata Tertib DPRD.wajib merahasiakan segala hal yang dibicarakan dan kewajiban itu berlangsung terus baik bagi Anggota maupun pegawai/pekerja yang mengetahui halnya dengan jalan apapun. meng-himpun. sebagaimana dimaksud pada ayat (1). Pasal 23 (1) DPRD mengadakan rapat secara berkala sekurang-kurangnya enam kali dalam setahun. (3) DPRD mengadakan rapat atas undangan Ketua DPRD. i. pemilihan Ketua/Wakil Ketua DPRD. ekonomi. Pasal 35 (1) Apabila ternyata Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Tingkat I melalaikan atau karena sesuatu hal tidak dapat menjalankan fungsi dan kewajibannya e. penetapan perubahan dan penghapusan pajak dan retribusi. panitia musyawarah. e. f. dan golongan. d.dan memperhatikan dan menyalurkan aspirasi. sampai Dewan membebaskannya. Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah. pemilihan anggota Majelis Permusyawaratan Rakyat Utusan Daerah. Badan Kehormatan. tugas. Pasal 26 Rapat tertutup dapat mengambil keputusan. menampung. alat kelengkapan lain yang diperlukan. dan f. Pasal 25 Rapat-rapat DPRD bersifat terbuka untuk umum. Pasal 24 Peraturan Tata Tertib DPRD ditetapkan dengan Keputusan DPRD. c. kecuali yang dinyatakan tertutup berdasarkan Peraturan Tata Tertib DPRD atau atas kesepakatan di antara pimpinan DPRD. baik dalam rapat terbuka maupun dalam rapat tertutup. untuk DPRD kabupaten/kota yang beranggotakan sampai dengan 34 (tiga puluh . memperjuangkan peningkatan kesejahteraan rakyat di daerah. berlaku sesudah ada pengesahan pejabat yang berwenang. (2) Kecuali yang dimaksud pada ayat (1). c. (2) Anggota Badan Kehormatan DPRD sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dipilih dari dan oleh anggota DPRD dengan ketentuan: a. menaati Peraturan Tata Tertib. dan sumpah/janji anggota DPRD. panitia anggaran. pemilihan Kepala Daerah/Wakil Kepala Daerah. b. mempertahankan dan memelihara kerukunan nasional serta keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia. b. d. kecuali jika dengan pernyataan itu ia membocorkan apa yang disepakati dalam rapat tertutup untuk dirahasiakan atau hal-hal yang dimaksud oleh ketentuan-ketentuan mengenai pengumuman rahasia Negara dalam BUKU KEDUA BAB I Kitab Undang-undang Hukum Pidana. yang diajukan secara lisan maupun tertulis kepada Pimpinan Dewan Perwakilna Rakyat Daerah. Kode Etik. (4) Pelaksanaan ketentuan. kecuali mengenai : a. (2) Tatacara tindakan kepolisian terhadap Anggota-anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah diatur dengan Undangundang. menerima keluhan dan pengaduan masyarakat. (2) Peraturan Tata Tertib yang dimaksud dalam ayat (1) pasal ini. Kepala Daerah atau Pemerintah. pimpinan. komisi. d. dan menindaklanjuti aspi-rasi masyarakat. Ketua DPRD dapat mengundang anggotanya untuk mengadakan rapat selambat-lambatnya dalam waktu satu bulan setelah permintaan itu diterima. b. kelompok. c. g. e. Pasal 47 (1) Badan Kehormatan DPRD dibentuk dan ditetapkan dengan keputusan DPRD. melaksanakan kehidupan demo-krasi dalam penyelenggaraan pemerintahan daerah. (2) Pembentukan. mendahulukan kepentingan negara di atas kepentingan pribadi. menjaga norma dan etika dalam hubungan kerja dengan lembaga yang terkait. Pasal 46 (1) Alat kelengkapan DPRD terdiri atas: a. Pasal 34 (1) Peraturan Tata Tertib Dewan Perwakilan Rakyat Daerah diatur dengan Keputusan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah sesuai dengan pedoman yang ditetapkan oleh Menteri Dalam Negeri. dan wewenang alat kelengkapan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dalam Peraturan Tata Tertib DPRD dengan berpedoman pada peraturan perundang-undangan. Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. menyerap. Pasal 33 (1) Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah tidak dapat dituntut dimuka Pengadilan karena pernyataanpernyataan yang dikemukakan dalam rapat Dewan Perwakilan Rakyat Daerah. serta memfasilitasi tindak lanjut penyelesaiannya. susunan. memberikan pertanggungjawaban atas tugas dan kinerjanya selaku anggota DPRD sebagai wujud tanggung jawab moral dan politis terhadap daerah pemilihannya. atas permintaan sekurang-kurangnya seperlima dari jumlah anggota atau atas permintaan Kepala Daerah. ayat (2). h. dan menaati segala peraturan perundang-undangan.

dilakukan oleh Gubernur Kepala Daerah setelah mendengar pertimbangan Bupati/Walikotamadya Kepala Daerah yang bersangkutan. verifikasi. dan kewajiban Dewan Perwakilan Rakyat Daerah itu dijalankan. melakukan penyelidikan. Pasal 27 Anggota DPRD tidak dapat dituntut di pengadilan karena pernyataan dan atau pendapat yang dikemukakan dalam rapat DPRD. kecuali jika yang bersangkutan tertangkap tangan melakukan tindak pidana kejahatan. (2) Dalam hal anggota DPRD tertangkap tangan melakukan tindak pidana. utang piutang. Badan Usaha Milik Daerah. Gubernur Kepala Daerah mengajukan calon Sekretaris Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Tingkat I kepada Menteri Dalam Negeri. Pimpinan Badan Kehormatan DPRD sebagaimana dimaksud pada ayat (2) terdiri atas seorang Ketua dan seorang Wakil Ketua yang dipilih dari dan oleh anggota Badan Kehormatan. kecuali jika yang bersangkutan mengumumkan apa yang disepakati dalam rapat tertutup untuk dirahasiakan atau hal-hal yang dimaksud oleh ketentuan mengenai pengumuman rahasia negara dalam buku kedua Bab I Kitab Undang-undang Hukum Pidana. (3) Sekretaris DPRD dalam melaksanakan tugasnya berada di bawah dan bertanggung (3) (4) empat) berjumlah 3 (tiga) orang. Menteri Dalam Negeri menentukan cara bagaimana hak. (2) Bagi Daerah Tingkat II penentuan cara yang dimaksud dalam ayat (1) pasal ini. verifikasi. (2) Kode etik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) sekurang-kurangnya meliputi: . (2) Pembentukan. b. mengevaluasi disiplin. pinjaman. c. untuk DPRD provinsi yang beranggotakan sampai dengan 74 (tujuh puluh empat) berjumlah 5 (lima) orang. Pasal 37 (1) Sekretariat Dewan Perwakilan Rakyat Daerah dipimpin oleh seorang Sekretaris Dewan Perwakilan Rakyat Daerah. Pasal 29 (1) Sekretariat DPRD membantu DPRD dalam menyelenggarakan tugas dan kewenangannya. Badan Kehormatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dibantu oleh sebuah sekretariat yang secara fungsional dilaksanakan oleh Sekretariat DPRD. kebijakan tata ruang. dan klarifikasi sebagaimana dimaksud pada huruf c sebagai rekomendasi untuk ditindaklanjuti oleh DPRD. menyampaikan kesimpulan atas hasil penyelidikan. selambat-lambatnya dalam tempo 2 kali 24 jam diberitahukan secara tertulis kepada Menteri Dalam Negeri dan/atau Gubernur. meneliti dugaan pelanggaran yang dilakukan anggota DPRD terhadap Peraturan Tata Tertib dan Kode Etik DPRD serta sumpah/janji. berlaku sesudah ada pengesahan pejabat yang berwenang. Pasal 49 (1) DPRD wajib menyusun kode etik untuk menjaga martabat dan kehormatan anggota DPRD dalam menjalankan tugas dan wewenangnya. setelah mendengar pertimbangan Gubernur Kepala Daerah. dan untuk DPRD yang beranggotakan 75 (tujuh puluh lima) sampai dengan 100 (seratus) berjumlah 7 (tujuh) orang. (2) Sekretaris Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Tingkat I diangkat oleh Menteri Dalam Negeri dari Pegawai Negeri yang memenuhi persyaratan. yang diajukannya secara lisan atau tertulis. Pasal 48 Badan Kehormatan mempunyai tugas: a. wewenang. dan moral para anggota DPRD dalam rangka menjaga martabat dan kehormatan sesuai dengan Kode Etik DPRD. (3) Peraturan Daerah yang dimaksud dalam ayat (2) pasal ini. Pasal 36 (1) Sekretariat Dewan Perwakilan Rakyat Daerah adalah unsur staf yang membantu Pimpinan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah dalam menyelenggarakan tugas dan kewajibannya. d. penghapusan tagihan sebagian atau seluruhnya. dan formasi Sekretariat Dewan Perwakilan Rakyat Daerah diatur dengan Peraturan Daerah sesuai dengan pedoman yang ditetapkan oleh Menteri Dalam Negeri. f. baik terbuka maupun tertutup. Pasal 28 (1) Tindakan penyidikan terhadap anggota DPRD dapat dilaksanakan atas persetujuan tertulis Menteri Dalam Negeri bagi anggota DPRD Propinsi dan Gubernur bagi anggota DPRD Kabupaten dan Kota. etika. (4) Sekretaris Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Tingkat II diangkat oleh e. b. dan i. h. sebagaimana dimaksud pada ayat (1). (3) Dengan memperoleh persetujuan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah tanpa melalui pemilihan. (2) Sekretariat DPRD dipimpin oleh seorang Sekretaris DPRD yang diangkat oleh Kepala Daerah dari Pegawai Negeri Sipil yang memenuhi syarat atas persetujuan pimpinan DPRD. dan pembebanan kepada Daerah. dan klarifikasi atas pengaduan Pimpinan DPRD. g.sehingga dapat merugikan Daerah atau Negara. persetujuan penyelesaian perkara perdata secara damai. dan untuk DPRD yang beranggotakan 35 (tiga puluh lima) sampai dengan 45 (empat puluh lima) berjumlah 5 (lima) orang. mengamati. susunan organisasi. masyarakat dan/atau pemilih.

(2) Jumlah anggota setiap fraksi se-bagaimana dimaksud pada ayat (1) sekurang-kurangnya sama dengan jumlah komisi di DPRD. tanggapan. Pasal 50 (1) Setiap anggota DPRD wajib terhimpun dalam fraksi. pengertian kode etik. sanggahan. Pasal 30 Setiap Daerah dipimpin oleh seorang Kepala Daerah sebagai kepala eksekutif yang dibantu oleh seorang Wakil Kepala Daerah. b. (7) Fraksi gabungan dapat dibentuk oleh partai politik dengan syarat sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dan ayat (5). seluruh anggota fraksi gabungan tersebut wajib bergabung dengan fraksi dan/atau fraksi ga-bungan lain yang memenuhi syarat. (6) Parpol yang memenuhi persyaratan untuk membentuk fraksi hanya dapat membentuk satu fraksi. sanksi dan rehabilitasi. tujuan kode etik. dan f. (5) Dalam hal fraksi gabungan sebagaimana dimaksud pada ayat (3) setelah dibentuk. wajib bergabung dengan fraksi yang ada atau membentuk fraksi gabungan.Gubernur Kepala Daerah atas nama Menteri Dalam Negeri dari Pegawai Negeri yang memenuhi persyaratan. Bupati/Walikotamadya Kepala Daerah mengajukan calon Sekretaris Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Tingkat II kepada Gubernur Kepala Daerah. (3). dan tata hubungan antarpenyelenggara pemerintahan daerah dan antaranggota serta antara anggota DPRD dan pihak lain. yang beranggotakan lebih dari 75 (tujuh puluh lima) orang membentuk 5 (lima) komisi. etika dalam penyampaian pendapat. . hal yang baik dan sepantasnya dilakukan oleh anggota DPRD. (6) Persyaratan dan tatacara pelaksanaan ketentuan yang dimaksud dalam ayatayat (2). jawab kepada pimpinan DPRD. c. tata kerja. a. kemudian tidak lagi memenuhi syarat sebagai fraksi ga-bungan. Pasal 51 (1) DPRD provinsi yang beranggotakan 35 (tiga puluh lima) sampai dengan 75 (tujuh puluh lima) orang membentuk 4 (empat) komi-si. (4) dan (5) pasal ini diatur dengan Peraturan Manteri Dalam Negeri. (5) Dengan memperoleh persetujuan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah tanpa melalui pemilihan. (3) Anggota DPRD sebagaimana di-maksud pada ayat (1) dari 1 (satu) partai politik yang tidak memenuhi syarat untuk membentuk 1 (satu) fraksi. (4) Sekretaris DPRD dapat menyediakan tenaga ahli dengan tugas membantu anggota DPRD dalam menjalankan fungsinya. (5) Anggaran Belanja Sekretariat DPRD ditetapkan dengan Keputusan DPRD dan dicantumkan dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah. d. jawaban. pengaturan sikap. (4) Fraksi yang ada wajib menerima anggota DPRD dari partai politik lain yang tidak memenuhi syarat untuk dapat membentuk satu fraksi. e.

pertanyaan dan/atau pendapat yang dikemukakan dalam rapat DPRD. yang beranggotakan lebih dari 35 (tiga puluh lima) orang membentuk 4 (empat) komisi. atau . (4) Hal-hal yang dikecualikan dari ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) adalah: a. Pasal 52 (1) Anggota DPRD tidak dapat dituntut dihadapan pengadilan karena pernyataan. pertanyaan dan/atau pendapat yang dikemukakan secara lisan ataupun tertulis dalam rapat DPRD. (2) Ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tidak berlaku dalam hal anggota yang bersangkutan mengumumkan materi yang telah disepakati dalam rapat tertutup untuk dirahasiakan. (3) Anggota DPRD tidak dapat diganti antarwaktu karena pernyataan. proses penyidikan dapat dilakukan. tertangkap tangan melakukan tindak pidana kejahatan. atau hal-hal yang dimaksud oleh ketentuan mengenai pengumuman rahasia negara dalam peraturan perundang-undangan. (2) Dalam hal persetujuan tertulis sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tidak diberikan dalam waktu paling lambat 60 (enam puluh) hari semenjak diterimanya permohonan. Pasal 53 (1) Tindakan penyidikan terhadap anggota DPRD dilaksanakan setelah adanya persetujuan tertulis dari Menteri Dalam Negeri atas nama Presiden bagi anggota DPRD provinsi dan dari Gubernur atas nama Menteri Dalam Negeri bagi anggota DPRD kabupaten/kota.(2) DPRD kabupaten/kota yang beranggotakan 20 (dua puluh) sampai dengan 35 (tiga puluh lima) orang membentuk 3 (tiga) komisi. (3) Tindakan penyidikan yang dilanjutkan dengan penahanan diperlukan persetujuan tertulis dengan cara sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2). sepanjang tidak bertentangan dengan Peraturan Tata Tertib dan kode etik DPRD.

Pasal 54 (1) Anggota DPRD dilarang merangkap jabatan sebagai: a. Setelah tindakan sebagaimana dimaksud pada ayat (4) dilakukan. hakim pada badan peradilan. ayat (4). anggota TNI/Polri. dan nepotisme. (6) Pelaksanaan ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1). wewenang. kolusi. ayat (3). disangka melakukan tindak pidana kejahatan yang diancam dengan pidana mati. dokter praktik dan pekerjaan lain yang ada hubungannya dengan tugas. notaris.(5) b. (4) Anggota DPRD yang melakukan pekerjaan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) wajib melepaskan pekerjaan tersebut selama menjadi anggota DPRD. atau tindak pidana kejahatan terhadap keamanan negara. akuntan publik. b. pegawai negeri sipil. dan ayat (5) diatur dalam Peraturan Tata Tertib DPRD yang berpedoman pada peraturan perundang-undangan. ayat (2). advokat/pengacara. pegawai pada badan usaha milik negara. (3) Anggota DPRD dilarang melakukan korupsi. Pasal 55 (1) Anggota DPRD berhenti antarwaktu sebagai . dan hak sebagai anggota DPRD. (5) Anggota DPRD yang tidak memenuhi kewajiban sebagaimana dimaksud pada ayat (4) diberhentikan oleh pimpinan berdasarkan hasil pemeriksaan Badan Kehormatan DPRD. c. pejabat negara lainnya. (2) Anggota DPRD dilarang melakukan pekerjaan sebagai pejabat struktural pada lembaga pendidikan swasta. tindakan penyidikan harus dilaporkan kepada pejabat yang memberikan izin sebagaimana dimaksud pada ayat (1) paling lambat 2 (dua kali) 24 (dua puluh empat) jam. konsultan. badan usaha milik daerah dan/atau badan lain yang anggarannya bersumber dari APBN/APBD.

dan ayat (4) diatur dalam Peraturan Tata Tertib DPRD berpedoman pada peraturan perundang-undangan. tidak melaksanakan kewajiban anggota DPRD.(2) (3) (4) (5) anggota karena: a. d. dan c. melanggar larangan bagi anggota DPRD. Pemberhentian anggota DPRD yang telah memenuhi ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) disampaikan oleh Pimpinan DPRD kepada Menteri Dalam Negeri melalui Gubernur bagi anggota DPRD provinsi dan kepada Gubernur melalui Bupati/Walikota bagi anggota DPRD kabupaten/kota untuk diresmikan pemberhentiannya. dan huruf e dilaksanakan setelah ada keputusan DPRD berdasarkan rekomendasi dari Badan Kehormatan DPRD. huruf d. karena: a. e. meninggal dunia. hal ini berbeda dengan yang diatur dalam UU No. mengundurkan diri atas permintaan sendiri secara tertulis. Pasal 56 (1) Kepala daerah dan wakil kepala daerah dipilih dalam satu pasangan calon yang dilaksanakan secara demokratis berdasarkan . huruf b. ayat (3). b. dinyatakan melanggar sumpah/janji jabatan. dan/atau melanggar kode etik DPRD. f. Pemberhentian anggota DPRD sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf a. ayat (2). 32 Tahun 2004 mengatur bahwa Pemilihan Kepala Daerah dilakukan secara langsung. Pelaksanaan ketentuan sebagai-mana dimaksud pada ayat (1). dinyatakan bersalah berdasarkan putusan pengadilan yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap karena melanggar tindak pidana dengan ancaman pidana paling singkat 5 (lima) tahun penjara atau lebih. c. tidak dapat melaksanakan tugas secara berkelanjutan atau berhalangan tetap secara berturut-turut selama 6 (enam) bulan.22 tahun 1999 9 Pemilihan Kepala Daerah Pasal 15 (1) Kepala Daerah Tingkat I dicalonkan dan dipilih oleh Dewan Perwakilan Rakyat Daerah dari sedikit-dikitnya 3 Pasal 34 : (1) Pengisian jabatan Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah dilakukan oleh DPRD melalui pemilihan secara bersamaan. Anggota DPRD diberhentikan antarwaktu. • Dalam UU No. b. tidak lagi memenuhi syarat sebagai anggota DPRD. diusulkan oleh partai politik yang bersangkutan. huruf c.

Pasal 59 (1) Peserta pemilihan kepala daerah dan wakil kepala daerah adalah pasangan calon yang diusulkan secara berpasangan oleh partai politik atau gabungan partai politik. Pasal 35 (1) Panitia pemilihan. dibentuk panitia pengawas pemilihan kepala daerah dan wakil kepala daerah yang keanggotaannya terdiri atas unsur kepolisian. b. (3) Dua fraksi atau lebih dapat secara bersamasama mengajukan pasangan bakal calon asas langsung. 5 (lima) orang untuk kabupaten/kota dan 3 (tiga) orang untuk kecamatan. KPUD menyampaikan laporan penyelenggaraan pemilihan kepala daerah dan wakil kepala daerah kepada DPRD. (2) Hasil pemilihan yang dimaksud dalam ayat (1) pasal ini diajukan oleh Dewan Perwakilan Rakyat Daerah yang bersangkutan kepada Menteri Dalam Negeri melalui Gubernur Kepala Daerah sedikit-dikitnya 2 (dua) orang untuk diangkat salah seorang diantaranya. tetapi bukan anggota. rahasia. panitia pengawas kabupaten/kota/kecamatan dapat diisi oleh unsur yang lainnya. ditetapkan oleh DPRD melalui tahap pencalonan dan pemilihan. melakukan pemeriksaan berkas identitas mengenai bakal calon berdasarkan persyaratan yang telah ditetapkan dalam Pasal 33. 5 Tahun 1974 pemilihan kepala daerah dilakukan oleh DPRD. dan c. sebagaimana dimaksud dalam Pasal 34 ayat (3). (3) Untuk pencalonan dan pemilihan Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah. (5) Panitia pengawas kecamatan diusulkan oleh panitia pengawas kabupaten/kota untuk ditetapkan oleh DPRD. kejaksaan. (4) Ketua dan para Wakil Ketua DPRD karena jabatannya adalah Ketua dan Wakil Ketua Panitia Pemilihan merangkap sebagai anggota. dibentuk Panitia Pemilihan. (2) Partai politik atau gabungan partai politik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat mendaftarkan pasangan calon apabila dan UU No. perguruan tinggi. Pasal 57 (1) Pemilihan kepala daerah dan wakil kepala daerah diselenggarakan oleh KPUD yang bertanggungjawab kepada DPRD. (2) Setiap fraksi menetapkan pasangan bakal calon Kepala Daerah dan bakal calon Wakil Kepala Daerah dan menyampaikannya dalam rapat paripurna kepada pimpinan DPRD. pers. (2) Bakal calon Kepala Daerah dan bakal calon Wakil Kepala Daerah yang memenuhi persyaratan sesuai dengan hasil pemeriksaan yang dilakukan oleh Panitia Pemilihan. sebagaimana dimaksud pada ayat (1). (3) Tatacara pelaksanaan ketentuan yang dimaksud dalam ayat (1) pasal ini diatur dengan peraturan Menteri Dalam Negeri. jujur. bertugas : a.(tiga) orang dan sebanyak-banyknya 5 (lima) orang calon yang telah dimusyawarahkan dan disepakati bersama antara Pimpinan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah/ Pimpinan Fraksi-fraksi depan Menteri Dalam Negeri. melakukan kegiatan teknis pemilihan calon. Pasal 17 (1) Kepala Daerah diangkat untuk masa jabatan 5 (lima) tahun terhitung mulai (2) Calon Kepala Daerah dan calon Wakil Kepala Daerah. (7) Panitia pengawas pemilihan kepala daerah dan wakil kepala daerah dibentuk oleh dan bertanggungjawab kepada DPRD dan berkewajiban menyampaikan laporannya. (3) Dalam mengawasi penyelenggaraan pemilihan kepala daerah dan wakil kepala daerah. (4) Anggota panitia pengawas sebagaimana dimaksud pada ayat (3) berjumlah 5 (lima) orang untuk provinsi. (3) Tatacara pelaksanaan ketentuan yang dimaksud dalam ayat (1) pasal ini diatur dengan Peraturan Menteri Dalam Negeri. (2) Pasangan calon sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diajukan oleh partai politik atau gabungan partai politik. menjadi penanggung jawab penyelenggaraan pemilihan. (2) Hasil pemilihan yang dimaksud dalam ayat (1) pasal ini diajukan oleh Dewan Perwakilan Rakyat Daerah yang bersangkutan kepada Presiden melalui Menteri Dalam Negeri sedikit-dikitnya 2 (dua) orang untuk diangkat salah seorang diantaranya. (2) Dalam melaksanakan tugasnya. . bebas. dan adil. Pasal 36 (1) Setiap fraksi melakukan kegiatan penyaringan pasangan bakal calon sesuai dengan syarat yang ditetapkan dalam Pasal 33. umum. (5) Sekretaris DPRD karena jabatannya adalah Sekretaris Panitia Pemilihan. dan tokoh masyarakat. (6) Dalam hal tidak didapatkan unsur sebagaimana dimaksud pada ayat (3). Pasal 16 (1) Kepala Daerah Tingkat II dicalonkan dan dipilih oleh Dewan Perwakilan Rakyat Daerah dari sedikit-dikitnya 3 (tiga) orang dan sebanyak-banyaknya 5 (lima) orang calon yang telah dimusyawarahkan dan disepakati bersama antara Pimpinan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah/Pimpinan Fraksi-fraksi dengan Gubernur Kepala Daerah. diajukan kepada DPRD untuk ditetapkan sebagai calon Kepala Daerah dan calon Wakil Kepala Daerah.

(3) Partai politik atau gabungan partai politik wajib membuka kesempatan yang seluas-luasnya bagi bakal calon perseorangan yang memenuhi syarat sebagaimana dimaksud dalam Pasal 58 dan selanjutnya memproses bakal calon dimaksud melalui mekanisme yang demokratis dan transparan. . surat pernyataan mengundurkan diri dari jabatan negeri bagi calon yang berasal dari pegawai negeri sipil. tidak sekali-kali akan menerima langsung ataupun tidak langsung dari siapapun juga sesuatu janji atau pemberian. sebagaimana dimaksud pada ayat (1). Pasal 37 (1) Dalam Rapat Paripurna DPRD. surat pernyataan tidak akan mengundurkan diri sebagai pasangan calon. serta rencana-rencana kebijakan apabila bakal calon dimaksud terpilih sebagai Kepala Daerah. setiap fraksi atau beberapa fraksi memberikan penjelasan mengenai bakal calonnya. untuk 1 (satu) kali masa jabatan berikutnya. Presiden bagi Kepala Daerah Tingkat I . Pasal 18 (1) Sebelum memangku jabatannya Kepala Daerah diambil sumpahnya/ janjinya dan dilantik oleh : a. (3) Anggota DPRD dapat melakukan tanya jawab dengan para bakal calon. b. surat pernyataan kesediaan yang bersangkutan sebagai calon kepala daerah dan wakil kepala daerah secara berpasangan. b. Saya bersumpah/berjanji. (2) Nama-nama calon Bupati dan calon Wakil Bupati serta calon Walikota dan calon Wakil Walikota yang akan dipilih oleh DPRD ditetapkan dengan keputusan pimpinan DPRD. kesepakatan tertulis antarpartai politik yang bergabung untuk mencalonkan pasangan calon. c. Pasal 39 (1) Pemilihan calon Kepala Daerah dan calon Wakil Kepala Daerah dilaksanakan dalam Rapat Paripurna DPRD yang dihadiri oleh sekurang-kurangnya dua pertiga dari jumlah anggota DPRD. (4) Dalam proses penetapan pasangan calon. surat pernyataan kesanggupan mengundurkan diri dari jabatan apabila terpilih menjadi kepala daerah atau wakil kepala daerah sesuai dengan peraturan perundang-undangan. bahwa saya untuk diangkat menjadi Kepala Daerah. g. (2) Kepala Daerah adalah Pejabat Negara. partai politik atau gabungan partai politik memperhatikan pendapat dan tanggapan masyarakat. Menteri Dalam Negeri bagi Kepala Daerah Tingkat II. bahwa saya untuk melakukan atau tidak melakukan sesuatu dalam jabatan ini. adalah sebagai berikut : "Saya bersumpah/berjanji. (2) Presiden dapat menunjuk Menteri Dalam Negeri untuk mengambil sumpah/janji dan melantik Kepala Daerah Tingkat I atas nama Presiden. memenuhi persyaratan perolehan sekurangkurangnya 15% (lima belas persen) dari jumlah kursi DPRD atau 15% (lima belas persen) dari akumulasi perolehan suara sah dalam Pemilihan Umum anggota DPRD di daerah yang bersangkutan. (2) Pimpinan DPRD mengundang bakal calon dimaksud untuk menjelaskan visi. bahwa saya akan taat dan akan Kepala Daerah dan bakal calon Wakil Kepala Daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1). d. (3) Menteri Dalam Negeri dapat menunjuk Gubernur Kepala Daerah untuk mengambil sumpah/janji dan melantik Kepala Daerah Tingkat II atas nama Menteri Dalam Negeri. misi. e. anggota Tentara Nasional Indonesia. (2) Apabila jumlah anggota DPRD belum mencapai kuorum. surat pencalonan yang ditandatangani oleh pimpinan partai politik atau pimpinan partai politik yang bergabung. wajib menyerahkan: a. (4) Pimpinan DPRD dan pimpinan fraksi-fraksi melakukan penilaian atas kemampuan dan kepribadian para bakal calon dan melalui musyawarah atau pemungutan suara menetapkan sekurang-kurangnya dua pasang calon Kepala Daerah dan calon Wakil Kepala Daerah yang akan dipilih satu pasang di antaranya oleh DPRD. f. pimpinan rapat dapat menunda rapat paling lama satu jam. bahwa saya akan memenuhi kewajiban saya sebagai Kepala Daerah dengan sebaik-baiknya dan sejujur-jujurnya. (5) Partai politik atau gabungan partai politik pada saat mendaftarkan pasangan calon. (4) Susunan kata-kata sumpah/janji yang dimaksud dalam ayat (1) pasal ini. tidak memberikan atau menjanjikan atau akan memberikan sesuatu kepada siapapun juga. langsung atau tidak langsung dengan nama atau dalih apapun. Pasal 38 (1) Nama-nama calon Gubernur dan calon Wakil Gubernur yang telah ditetapkan oleh pimpinan DPRD dikonsultasikan dengan Presiden. Saya bersumpah/berjanji.tanggal pelantikannya dan dapat diangkat kembali. dan anggota Kepolisian Negara Republik Indonesia. surat pernyataan tidak akan menarik pencalonan atas pasangan yang dicalonkan yang ditandatangani oleh pimpinan partai politik atau para pimpinan partai politik yang bergabung.

bahwa saya dalam menjalankan jabatan atau pekerjaan saya. bahwa saya senantiasa akan menegakkan UndangUndang Dasar 1945 dan segala peraturan perundang-undangan yang berlaku bagi Negara Republik Indonesia. sebagaimana dimaksud pada ayat (2). j. dan martabat Pejabat Negara. Saya bersumpah/berjanji. (3) Apabila pasangan calon belum memenuhi syarat atau ditolak karena tidak memenuhi syarat sebagaimana dimaksud dalam Pasal 58 dan/atau Pasal 59. (2) Hasil penelitian sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diberitahukan secara tertulis kepada pimpinan partai politik atau gabungan partai politik yang mengusulkan. dan DPRD yang mencalonkan diri sebagai calon kepala daerah dan wakil kepala daerah. naskah visi. DPD. senantiasa akan lebih mengutamakan kepentingan Negara dan Daerah daripada kepentingan saya sendiri. Saya bersumpah/berjanji. surat pemberitahuan kepada pimpinan bagi anggota DPR. kelengkapan persyaratan calon kepala daerah dan wakil kepala daerah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 58. Saya bersumpah/berjanji. h. misi. i. Daerah. bahwa saya akan memegang rahasia sesuatu yang menurut sifatnya atau menurut perintah harus saya rahasiakan. dan program dari pasangan calon secara tertulis. (5) Tatacara pengambilan sumpah/janji dan pelantikan bagi Kepala Daerah diatur dengan Peraturan Pemerintah. (6) Partai politik atau gabungan partai politik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) hanya dapat mengusulkan satu pasangan calon dan pasangan calon tersebut tidak dapat diusulkan lagi oleh partai politik atau gabungan partai politik lainnya. (7) Masa pendaftaran pasangan calon sebagaimana dimaksud pada ayat (1) paling lama 7 (tujuh) hari terhitung sejak pengumuman pendaftaran pasangan calon.mempertahankan PANCASILA sebagai dasar dan ideologi Negara. Pemerintah. paling lambat 7 (tujuh) hari terhitung sejak tanggal penutupan pendaftaran. rapat paripurna diundur paling lama satu jam lagi dan selanjutnya pemilihan calon Kepala Daerah dan calon Wakil Kepala Daerah tetap dilaksanakan. belum dicapai. bahwa saya akan berusaha sekuat tenaga membantu memajukan kesejahteraan Rakyat Indonesia pada umumnya dan memajukan kesejahteraan Rakyat Indonesia di Daerah pada khususnya dan akan setia kepada Bangsa dan Negara Kesatuan Republik Indonesia. (3) Apabila ketentuan. dan k. Pasal 60 (1) Pasangan calon sebagaimana dimaksud dalam Pasal 59 ayat (1) diteliti persyaratan administrasinya dengan melakukan klarifikasi kepada instansi pemerintah yang berwenang dan menerima masukan dari masyarakat terhadap persyaratan pasangan calon. surat pernyataan tidak aktif dari jabatannya bagi pimpinan DPRD tempat yang bersangkutan menjadi calon di daerah yang menjadi wilayah kerjanya. seseorang atau sesuatu golongan dan akan menjunjung tinggi kehormatan Negara. partai politik atau gabungan partai politik yang mengajukan calon diberi kesempatan untuk melengkapi dan/atau memperbaiki surat pencalonan beserta persyaratan pasangan calon atau .

dan pasangan calon atau salah seorang dari pasangan calon dilarang mengundurkan diri terhitung sejak ditetapkan sebagai pasangan calon oleh KPUD.(4) (5) mengajukan calon baru paling lambat 7 (tujuh) hari sejak saat pemberitahuan hasil penelitian persyaratan oleh KPUD. KPUD menetapkan pasangan calon paling kurang 2 (dua) pasangan calon yang dituangkan dalam Berita Acara Penetapan pasangan calon. Apabila hasil penelitian berkas pasangan calon sebagaimana dimaksud pada ayat (3) tidak memenuhi syarat dan ditolak oleh KPUD. partai politik dan atau gabungan partai politik. tidak dapat lagi mengajukan pasangan calon. Pasal 61 (1) Hasil penelitian sebagaimana dimaksud dalam Pasal 60 ayat (2) dan ayat (4). selanjutnya dilakukan undian secara terbuka untuk menetapkan nomor urut pasangan calon. KPUD melakukan penelitian ulang kelengkapan dan atau perbaikan persyaratan pasangan calon sebagaimana dimaksud pada ayat (3) dan sekaligus memberitahukan hasil penelitian tersebut paling lambat 7 (tujuh) hari kepada pimpinan partai politik atau gabungan partai politik yang mengusulkan. partai politik atau . (3) Terhadap pasangan calon yang telah ditetapkan dan diumumkan. (4) Penetapan dan pengumuman pasangan calon sebagaimana dimaksud pada ayat (3) bersifat final dan mengikat. (2) Apabila partai politik atau gabungan partai politik menarik calonnya dan/atau pasangan calon dan/atau salah seorang dari pasangan calon mengundurkan diri sebagaimana dimaksud pada ayat (1). (2) Pasangan calon yang telah ditetapkan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diumumkan secara luas paling lambat 7 (tujuh) hari sejak selesainya penelitian. Pasal 62 (1) Partai politik atau gabungan partai politik dilarang menarik calonnya dan/atau pasangan calonnya.

Pasal 63 (1) Dalam hal salah satu calon atau pasangan calon berhalangan tetap sejak penetapan calon sampai pada saat dimulainya hari kampanye.gabungan partai politik yang mencalonkan tidak dapat mengusulkan calon pengganti. (2) Dalam hal salah 1 (satu) calon atau pasangan calon berhalangan tetap pada saat dimulainya kampanye sampai hari pemungutan suara dan masih terdapat 2 (dua) pasangan calon atau lebih. tahapan . Pasal 64 (1) Dalam hal salah satu calon atau pasangan calon berhalangan tetap setelah pemungutan suara putaran pertama sampai dimulainya hari pemungutan suara putaran kedua. tahapan pelaksanaan pemilihan kepala daerah dan wakil kepala daerah dilanjutkan dan pasangan calon yang berhalangan tetap tidak dapat diganti serta dinyatakan gugur. (3) Dalam hal salah satu calon atau pasangan calon berhalangan tetap pada saat dimulainya kampanye sampai hari pemungutan suara sehingga jumlah pasangan calon kurang dari 2 (dua) pasangan. tahapan pelaksanaan pemilihan kepala daerah dan wakil kepala daerah ditunda paling lambat 30 (tiga puluh) hari dan partai politik atau gabungan partai politik yang pasangan calonnya berhalangan tetap mengusulkan pasangan calon pengganti paling lambat 3 (tiga) hari sejak pasangan calon berhalangan tetap dan KPUD melakukan penelitian persyaratan administrasi dan menetapkan pasangan calon pengganti paling lambat 4 (empat) hari sejak pasangan calon pengganti didaftarkan. partai politik atau gabungan partai politik yang pasangan calonnya berhalangan tetap dapat mengusulkan pasangan calon pengganti paling lambat 3 (tiga) hari sejak pasangan calon berhalangan tetap dan KPUD melakukan penelitian persyaratan administrasi dan menetapkan pasangan calon pengganti paling lambat 4 (empat) hari sejak pasangan calon pengganti didaftarkan.

Pasal 65 (1) Pemilihan kepala daerah dan wakil kepala daerah dilaksanakan melalui masa persiapan. Pendaftaran dan Penetapan calon kepala daerah/ wakil kepala daerah. dan f. Penghitungan suara. Penetapan pasangan calon kepala daerah/wakil kepala daerah terpilih. Pembentukan Panitia Pengawas. Penetapan daftar pemilih. Pemberitahuan dan pendaftaran pemantau. (4) Tata cara pelaksanaan masa persiapan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dan tahap pelaksanaan sebagaimana dimaksud . PPK. pengesahan. c. Pemungutan suara. b. meliputi penetapan tata cara dan jadwal tahapan pelaksanaan pemilihan kepala daerah. dan tahap pelaksanaan. Perencanaan penyelenggaraan. d. b. Pemberitahuan DPRD kepada kepala daerah mengenai berakhirnya masa jabatan. e. Partai politik atau gabungan partai politik yang pasangan calonnya berhalangan tetap mengusulkan pasangan calon pengganti paling lambat 3 (tiga) hari sejak pasangan calon berhalangan tetap sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan KPUD melakukan penelitian persyaratan administrasi dan menetapkan pasangan calon pengganti paling lambat 4 (empat) hari sejak pasangan calon pengganti didaftarkan. c. Kampanye.(2) pelaksanaan pemilihan kepala daerah dan wakil kepala daerah ditunda paling lambat 30 (tiga puluh) hari. PPS dan KPPS. dan pelantikan. d. Pemberitahuan DPRD kepada KPUD mengenai berakhirnya masa jabatan kepala daerah. (2) Masa persiapan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi: a. (3) Tahap pelaksanaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi: a. e.

mengumumkan laporan sumbangan dana kampanye. d. k. meneliti persyaratan calon kepala daerah dan wakil kepala daerah yang diusulkan. f. menetapkan tata cara pelaksanaan pemilihan kepala daerah dan wakil kepala daerah sesuai dengan tahapan yang diatur dalam peraturan perundang-undangan. g. melakukan evaluasi dan pelaporan pelaksanaan pemilihan kepala daerah dan wakil kepala daerah.pada ayat (3) diatur KPUD dengan berpedoman pada Peraturan Pemerintah. b. e. mengkoordinasikan. menetapkan tanggal dan tata cara pelaksanaan kampanye. m. menetapkan hasil rekapitulasi penghitungan suara dan mengumumkan hasil pemilihan kepala daerah dan wakil kepala daerah.menyelenggarakan. menetapkan kantor akuntan publik untuk mengaudit dana kampanye dan mengumumkan hasil audit. h. dan mengendalikan semua tahapan pelaksanaan pemilihan kepala daerah dan wakil kepala daerah. melaksanakan tugas dan wewenang lain yang diatur oleh peraturan perundangundangan. i. c. Pasal 66 (1) Tugas dan wewenang KPUD dalam penyelenggaraan pemilihan kepala daerah dan wakil kepala daerah adalah: a. j. serta pe-mungutan suara pemilihan kepala daerah dan wakil kepala daerah. Merencanakan penyelenggara-an pemilihan kepala daerah dan wakil kepala daerah. menetapkan pasangan calon yang telah memenuhi persyaratan. meneliti persyaratan partai politik atau gabungan partai politik yang me-ngusulkan calon. . l. menerima pendaftaran dan me-ngumumkan tim kampanye.

mengatur hubungan koordinasi antar panitia pengawasan pada semua tingkatan. e. membentuk panitia pengawas. mengawasi semua tahapan penyelenggaraan pemilihan kepala daerah dan wakil kepala daerah. misi. c. menyelesaikan sengketa yang timbul dalam penyelenggaraan pemilihan kepala daerah dan wakil kepala daerah. meminta pertanggungjawaban pelaksanaan tugas KPUD. d. meneruskan temuan dan laporan yang tidak dapat diselesaikan kepada instansi yang berwenang. menyelenggarakan rapat paripurna un-tuk mendengarkan penyampaian visi. dan e. b. Panitia pengawas pemilihan mempunyai tugas dan wewenang: a. b. c. melakukan pengawasan pada semua tahapan pelaksanaan pemilihan. d. dan f. Pasal 67 (1) KPUD berkewajiban: a. memberitahukan kepada kepala daerah mengenai akan berakhirnya masa jabatan. Tugas dan wewenang DPRD dalam penyelenggaraan pemilihan kepala daerah dan wakil kepala daerah adalah: a. dan program dari pasangan calon kepala daerah dan wakil kepala daerah. memperlakukan pasangan calon secara adil dan setara. b. menerima laporan pelanggaran peraturan perundang-undangan pemilihan kepala daerah dan wakil kepala daerah. menetapkan standarisasi serta kebutuhan .(2) (3) (4) Dalam penyelenggaran pemilihan gubernur dan wakil gubernur KPUD kabupaten/kota adalah bagian pelaksana tahapan penyelenggaraan pemilihan yang ditetapkan oleh KPUD provinsi. mengusulkan pemberhentian kepala daerah dan wakil kepala daerah yang berakhir masa jabatannya dan mengusulkan pengangkatan kepala daerah dan wakil kepala daerah terpilih.

memelihara arsip dan dokumen pemilihan serta mengelola barang inventaris milik KPUD berdasarkan peraturan perundangundangan. f. 10 Penetapan Pemilih Pasal 68 Warga negara Republik Indonesia yang pada hari pemungutan suara pemilihan kepala daerah dan wakil kepala daerah sudah berumur 17 (tujuh belas) tahun atau sudah/pernah kawin mempunyai hak memilih. melaksanakan semua tahapan pemilihan kepala daerah dan wakil kepala daerah secara tepat waktu. nyata-nyata tidak sedang terganggu jiwa/ingatannya. mempertanggungjawabkan pengguna-an anggaran kepada DPRD. b. warga negara Republik Indonesia harus terdaftar sebagai pemilih. tidak sedang dicabut hak pilihnya berdasarkan putusan pengadilan yang telah mempunyai kekuatan hukum tetap. Pasal 69 (1) Untuk dapat menggunakan hak memilih. (3) Seorang warga negara Republik Indonesia yang telah terdaftar dalam daftar pemilih ternyata tidak lagi memenuhi syarat sebagaimana dimaksud pada ayat (2) tidak dapat menggunakan hak memilihnya. e.barang dan jasa yang berkaitan dengan penyelenggaraan pemilihan kepala daerah dan wakil kepala daerah berdasarkan peraturan perundang-undangan. (2) Untuk dapat didaftar sebagai pemilih. c. menyampaikan laporan kepada DPRD untuk setiap tahap pelaksanaan pemilihan dan menyampaikan informasi kegiatannya kepada masyarakat . warga negara Republik Indonesia sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus memenuhi syarat: a. d. .

Pasal 72 (1) Seorang pemilih hanya didaftar 1 (satu) kali dalam daftar pemilih. (2) Apabila seorang pemilih mempunyai lebih dari 1 (satu) tempat tinggal. (2) PPS sebagaimana dimaksud pada ayat (1) mencatat nama pemilih dari daftar pemilih dan memberikan surat keterangan pindah tempat memilih. (2) Daftar pemilih sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditambah dengan daftar pemilih tambahan yang telah memenuhi persyaratan sebagai pemilih ditetapkan sebagai daftar pemilih sementara. Pasal 71 Pemilih yang telah terdaftar sebagai pemilih sebagaimana dimaksud dalam Pasal 70 diberi tanda bukti pendaftaran untuk ditukarkan dengan kartu pemilih untuk setiap pemungutan suara. yang bersangkutan dapat menggunakan hak pilihnya di tempat lain dengan menunjukkan kartu pemilih. pemilih tersebut harus menentukan satu di antaranya untuk ditetapkan sebagai tempat tinggal yang dicantumkan dalam daftar pemilih. (4) Pemilih terdaftar yang karena sesuatu hal terpaksa tidak dapat menggunakan hak pilihnya di TPS yang sudah ditetapkan. . pemilih yang bersangkutan harus melapor kepada PPS setempat. (3) Pemilih melaporkan kepindahannya ke-pada PPS di tempat pemilihan yang baru.Pasal 70 (1) Daftar pemilih pada saat pelaksanaan pemilihan umum terakhir di daerah digunakan sebagai daftar pemilih untuk pemilihan kepala daerah dan wakil kepala daerah. Pasal 73 (1) Pemilih yang telah terdaftar dalam daftar pemilih sebagaimana dimaksud dalam Pasal 70 kemudian berpindah tempat tinggal atau karena ingin menggunakan hak pilihnya di tempat lain.

kabupaten/kota bagi pasangan calon Gubernur dan Wakil .Pasal 74 (1) Berdasarkan daftar pemilih sebagaimana diaksud dalam Pasal 70 dan Pasal 73 PPS menyusun dan menetapkan daftar pemilih sementara. yang pelaksanaannya dipertanggungjawabkan oleh tim kampanye. (4) Tim kampanye sebagaimana dimaksud pada ayat (3) didaftarkan ke KPUD bersamaan dengan pendaftaran pasangan calon. (2) Kampanye sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan selama 14 (empat belas) hari dan berakhir 3 (tiga) hari sebelum hari pemungutan suara. (7) Tim kampanye dapat dibentuk secara berjenjang di provinsi. (6) Penanggung jawab kampanye adalah pasangan calon. (3) Kampanye sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diselenggarakan oleh tim kampanye yang dibentuk oleh pasangan calon bersama-sama partai politik atau gabungan partai politik yang mengusulkan pasangan calon. (3) Pemilih yang belum terdaftar dalam daftar peilih sementara dapat mendaftarkan diri ke PPS dan dicatat dalam daftar pemilih tambahan. (2) Daftar pemilih sementara sebagaimana diaksud pada ayat (1) diumumkan oleh PPS untuk mendapat tanggapan masyarakat. (5) Daftar pemilih tetap disahkan dan d-umumkan oleh PPS. (5) Kampanye sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan secara bersama-sama atau secara terpisah oleh pasangan calon dan/atau oleh tim kampanye. (4) Daftar pemilih sementara dan daftar pemilih tambahan ditetapkan sebagai daftar pemilih tetap. (6) Tata cara pelaksanaan pendaftaran pemilih ditetapkan oleh KPUD. 11 Kampanye Pasal 75 (1) Kampanye dilaksanakan sebagai bagian dari penyelenggaraan pemilihan kepala daerah dan wakil kepala daerah.

Pasal 77 (1) Media cetak dan media elektronik memberikan kesempatan yang sama kepada pasangan calon untuk menyampaikan tema dan materi kampanye. (2) Pasangan calon wajib menyampaikan visi. (8) Dalam kampanye. pemasangan alat peraga di tempat umum. tatap muka dan dialog. (3) Calon kepala daerah dan wakil kepala daerah berhak untuk mendapatkan informasi atau data dari pemerintah daerah sesuai dengan ketentuan perundang-undangan. penyebaran melalui media cetak dan media elektronik. dan program secara lisan maupun tertulis kepada masyarakat. h.Gubernur dan kabupaten/kota dan kecamatan bagi pasangan calon Bupati/Wakil Bupati dan Walikota/Wakil Walikota. g. dan bersifat edukatif. . c. rapat umum. penyebaran bahan kampanye kepada umum. (4) Penyampaian materi kampanye dilakukan dengan cara yang sopan. dan/atau i. e. f. Pasal 76 (1) Kampanye dapat dilaksanakan melalui: a. debat publik/debat terbuka antarcalon. misi. b. d. (9) Jadwal pelaksanaan kampanye ditetapkan oleh KPUD dengan memperhatikan usul dari pasangan calon. rakyat mempunyai kebebasan untuk menghadiri kampanye. penyiaran melalui radio dan/atau televisi. pertemuan terbatas. tertib. kegiatan lain yang tidak melanggar peraturan perundang-undangan. (5) Penyelenggaraan kampanye dilakukan di seluruh wilayah provinsi untuk pemilihan gubernur dan wakil gubernur dan diseluruh wilayah kabupaten/kota untuk pemilihan bupati dan wakil bupati dan walikota dan wakil walikota.

b. menghina seseorang. KPUD berkoordinasi dengan pemerintah daerah untuk menetapkan lokasi pemasangan alat peraga untuk keperluan kampanye. perseorangan. ancaman kekerasan atau menganjurkan . ras. dan keindahan kota atau kawasan setempat sesuai dengan peraturan perundang-undangan. calon kepala daerah/wakil kepala daerah dan/atau partai politik. mempersoalkan dasar negara Pancasila dan Pembukaan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.(2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) Media elektronik dan media cetak wajib memberikan kesempatan yang sama kepada pasangan calon untuk memasang iklan pemilihan kepala daerah dan wakil kepala daerah dalam rangka kampanye. agama. golongan. d. suku. Alat peraga kampanye harus sudah dibersihkan paling lambat 3 (tiga) hari sebelum hari pemungutan suara. Pemasangan alat peraga kampanye pada tempat yang menjadi milik perseorangan atau badan swasta harus seizin pemilik tempat tersebut. Pemerintah daerah memberikan kesempatan yang sama kepada pasangan calon untuk menggunakan fasilitas umum. menghasut atau mengadu domba partai politik. Pemasangan alat peraga kampanye sebagaimana dimaksud pada ayat (5) oleh pasangan calon dilaksanakan dengan memper-timbangkan etika. Pasal 78 Dalam kampanye dilarang: a. dan/atau kelompok masyarakat. menggunakan kekerasan. estetika. Semua yang hadir dalam pertemuan terbatas atau rapat umum yang diadakan oleh pasangan calon hanya dibenarkan membawa atau menggunakan tanda gambar dan/atau atribut pasangan calon yang bersangkutan. kebersihan. c.

kelompok masyarakat dan/atau partai politik. dilarang melibatkan: a. tidak menggunakan fasilitas yang terkait dengan jabatannya. dan anggota Kepolisian Negara Republik Indonesia sebagai peserta . anggota Tentara Nasional Indonesia. hakim pada semua peradilan. d. f. merusak dan/atau menghilangkan alat peraga kampanye pasangan calon lain. pejabat BUMN/BUMD. ketenteraman. mengancam dan menganjurkan penggunaan kekerasan untuk mengambil alih kekuasaan dari pemerintahan yang sah. b. pejabat struktural dan fungsional dalam jabatan negeri. c. b. menggunakan fasilitas dan anggaran pemerintah dan pemerintah daerah. dan ketertiban umum. dan c. menjalani cuti di luar tanggungan negara. Pasal 79 (1) Dalam kampanye. h. g. i. (3) Pejabat negara yang menjadi calon ke-pala daerah dan wakil kepala daerah dalam melaksanakan kampanye harus memenuhi ketentuan: a. kepala desa. menggunakan tempat ibadah dan tempat pendidikan. dan j. (2) Larangan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tidak berlaku apabila pejabat tersebut menjadi calon kepala daerah dan wakil kepala daerah.penggunaan kekerasan kepada perseorangan. (4) Pasangan calon dilarang melibatkan pegawai negeri sipil. e. pengaturan lama cuti dan jadwal cuti dengan memperhatikan keberlangsungan tugas penyelenggaraan pemerin-tahan daerah. mengganggu keamanan. melakukan pawai atau arak-arakan yang dilakukan dengan berjalan kaki dan/atau dengan kendaraan di jalan raya.

penghentian kegiatan kampanye di tempat terjadinya pelanggaran atau di seluruh daerah pemilihan yang bersangkutan apabila terjadi gangguan terhadap keamanan yang berpotensi menyebar ke daerah pemilihan lain. huruf b.kampanye dan juru kampanye dalam pemilihan kepala daerah dan wakil kepala daerah. huruf d. huruf c. (2) Pelanggaran atas ketentuan larangan pelaksanaan kampanye sebagaimana dimaksud dalam Pasal 78 huruf g. (3) Tata cara pengenaan sanksi terhadap pelanggaran larangan pelaksanaan kampanye sebagaimana dimaksud pada ayat (2) ditetapkan oleh KPUD. dan huruf f. dan kepala desa dilarang membuat keputusan dan/atau tindakan yang menguntungkan atau merugikan salah satu pasangan calon selama masa kampanye. huruf i dan huruf j. b. huruf h. (4) Pelanggaran atas ketentuan larangan pelaksanaan kampanye sebagaimana dimaksud dalam Pasal 79 dikenai sanksi penghentian kampanye selama masa kampanye oleh KPUD. yang merupakan pelanggaran tata cara kampanye dikenai sanksi: a. pejabat struktural dan fungsional dalam jabatan negeri. Pasal 80 Pejabat negara. merupakan tindak pidana dan dikenai sanksi sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. Pasal 81 (1) Pelanggaran atas ketentuan larangan pelaksanaan kampanye sebagaimana dimaksud dalam Pasal 78 huruf a. peringatan tertulis apabila penyelenggara kampanye melanggar larangan walaupun belum terjadi gangguan. . huruf e.

(3) Sumbangan dana kampanye sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf c dari perseorangan dilarang melebihi Rp 50.000.00 (dua juta lima ratus ribu rupiah) baik dalam bentuk uang maupun bukan dalam bentuk uang yang dapat dikonversikan ke dalam nilai uang wajib dilaporkan kepada KPUD mengenai jumlah dan identitas pemberi sumbangan. (6) Laporan sumbangan dana kampanye sebagaimana dimaksud pada ayat (3). sumbangan pihak-pihak lain yang tidak mengikat yang meliputi sumbangan perseorangan dan/atau badan hukum swasta.00 (tiga ratus lima puluh juta rupiah). (4) Pasangan calon dapat menerima dan/atau menyetujui pembiayaan bukan dalam bentuk uang secara langsung untuk kegiatan kampanye. (5) Sumbangan kepada pasangan calon yang lebih dari Rp 2.000.00 (lima puluh juta rupiah) dan dari badan hukum swasta dilarang melebihi Rp 350. b. (2) Pasangan calon dan/atau tim kampanye yang terbukti melakukan pelanggaran sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berdasarkan putusan pengadilan yang telah mempunyai kekuatan hukum tetap dikenai sanksi pembatalan sebagai pasangan calon oleh DPRD.Pasal 82 (1) Pasangan calon dan/atau tim kampanye dilarang menjanjikan dan/atau memberikan uang atau materi lainnya untuk mempengaruhi pemilih. Pasal 83 (1) Dana kampanye dapat diperoleh dari: a.000.500. partai politik dan/atau gabungan partai politik yang mengusulkan.000.000. pasangan calon. c. dan ayat (5) disampaikan oleh pasangan calon . (2) Pasangan calon wajib memiliki rekening khusus dana kampanye dan rekening yang dimaksud didaftarkan kepada KPUD.

(2) Dana kampanye sebagaimana dimaksud pada ayat (1) wajib dilaporkan oleh pasangan calon kepada KPUD paling lambat 3 (tiga) hari setelah hari pemungutan suara. . yang teknis pelaksanaannya dilakukan oleh tim kampanye. lembaga swadaya masyarakat asing dan warga negara asing.kepada KPUD dalam waktu 1 (satu) hari sebelum masa kampanye dimulai dan 1 (satu) hari sesudah masa kampanye berakhir. (7) KPUD mengumumkan melalui media massa laporan sumbangan dana kampanye setiap pasangan calon sebagaimana dimaksud pada ayat (6) kepada masyarakat satu hari setelah menerima laporan dari pasangan calon. (5) Hasil audit sebagaimana dimaksud pada ayat (4) diumumkan oleh KPUD paling lambat 3 (tiga) hari setelah KPUD menerima laporan hasil audit dari kantor akuntan publik. (6) Laporan dana kampanye yang diterima KPUD wajib dipelihara dan terbuka untuk umum. negara asing. lembaga swasta asing. Pasal 84 (1) Dana kampanye digunakan oleh pasangan calon. Pasal 85 (1) Pasangan calon dilarang menerima sumbangan atau bantuan lain untuk kampanye yang berasal dari: a. (4) Kantor akuntan publik wajib menyelesaikan audit paling lambat 15 (lima belas) hari setelah diterimanya laporan dana kampanye dari KPUD. (3) KPUD wajib menyerahkan laporan dana kampanye sebagaimana dimaksud pada ayat (2) kepada kantor akuntan publik paling lambat 2 (dua) hari setelah KPUD menerima laporan dana kampanye dari pasangan calon.

(3) Pemungutan suara dilakukan pada hari libur atau hari yang diliburkan. penyumbang atau pemberi bantuan yang tidak jelas identitasnya. BUMN. 12 Pemungutan Suara Pasal 86 (1) Pemungutan suara pemilihan pasangan calon kepala daerah dan wakil kepala daerah diselenggarakan paling lambat 1 (satu) bulan sebelum masa jabatan kepala daerah berakhir. (3) Pasangan calon yang melanggar ketentu-an sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dikenai sanksi pembatalan sebagai pasangan calon oleh KPUD. (2) Tambahan surat suara sebagaimana dimaksud pada ayat (1) digunakan sebagai cadangan di setiap TPS untuk mengganti surat suara pemilih yang keliru memilih pilihannya serta surat suara yang rusak. c.b.5% (dua setengah perseratus) dari jumlah pemilih tersebut. . (2) Pasangan calon yang menerima sumba-ngan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tidak dibenarkan menggunakan dana tersebut dan wajib melaporkannya kepada KPUD paling lambat 14 (empat belas) hari setelah masa kampanye berakhir dan menyerahkan sumbangan tersebut kepada kas daerah. (2) Pemungutan suara dilakukan dengan memberikan suara melalui surat suara yang berisi nomor. foto. dan BUMD. pemerintah. Pasal 87 (1) Jumlah surat suara sebagaimana dimaksud dalam Pasal 86 ayat (2) dicetak sama dengan jumlah pemilih tetap dan ditambah 2. (3) Penggunaan tambahan surat suara sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dibuatkan berita acara. dan nama pasangan calon.

serta menjamin setiap pemilih dapat memberikan suaranya secara langsung. tunadaksa. dan rahasia. atau yang mempunyai halangan fisik lain pada saat memberikan suaranya di TPS dapat dibantu oleh petugas KPPS atau orang lain atas permintaan pemilih. ukuran. lokasi. . (2) TPS sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditentukan lokasinya di tempat yang mudah dijangkau. bentuk. bebas. (2) Jumlah. (2) Petugas KPPS atau orang lain yang membantu pemilih sebagaimana dimaksud pada ayat (1) wajib merahasiakan pilihan pemilih yang dibantunya. dan warna kotak suara sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditetapkan oleh KPUD dengan berpedoman pada peraturan perundangundangan. termasuk oleh penyandang cacat. (3) Ketentuan lebih lanjut mengenai pemberi-an bantuan kepada pemilih sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) diatur dalam Peraturan Pemerintah. (3) Jumlah. Pasal 89 (1) Pemilih tunanetra. bahan. Pasal 90 (1) Jumlah pemilih di setiap TPS sebanyakbanyaknya 300 (tiga ratus) orang.Pasal 88 Pemberian suara untuk pemilihan kepala daerah dan wakil kepala daerah dilakukan dengan mencoblos salah satu pasangan calon dalam surat suara. dan tata letak TPS ditetapkan oleh KPUD. Pasal 91 (1) Untuk keperluan pemungutan suara dalam pemilihan kepala daerah dan wakil kepala daerah disediakan kotak suara sebagai tempat surat suara yang digunakan oleh pemilih. bentuk.

(2) Dalam memberikan suara. kemudian KPPS memberikan surat suara pengganti hanya satu kali. (2) Tanda khusus sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditetapkan oleh KPUD dengan . (3) Apabila menerima surat suara yang ternyata rusak. pemantau. b. (2) Kegiatan KPPS sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat dihadiri oleh saksi dari pasangan calon. pembukaan kotak suara. serta d. pemilih dapat meminta surat suara pengganti kepada KPPS. pemilih dapat meminta surat suara pengganti kepada KPPS. penghitungan jumlah setiap jenis dokumen dan peralatan.Pasal 92 (1) Sebelum melaksanakan pemungutan suara. panitia pengawas. Pasal 93 (1) Setelah melakukan kegiatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 92. Pasal 94 (1) Pemilih yang telah memberikan suara di TPS diberi tanda khusus oleh KPPS. (3) Kegiatan KPPS sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dibuatkan berita acara yang ditandatangani oleh Ketua KPPS. pengidentifikasian jenis dokumen dan peralatan. c. kemudian KPPS memberikan surat suara pengganti hanya satu kali. KPPS melakukan: a. pemilih diberi kesempatan oleh KPPS berdasarkan prinsip urutan kehadiran pemilih. dan warga masyarakat. pengeluaran seluruh isi kotak suara. (4) Apabila terdapat kekeliruan dalam cara memberikan suara. KPPS memberikan penjelasan mengenai tata cara pemungutan suara. (5) Penentuan waktu dimulai dan berakhirnya pemungutan suara ditetapkan oleh KPUD. dan sekurang-kurangnya 2 (dua) anggota KPPS dan dapat ditandatangani oleh saksi dari pasangan calon.

jumlah pemilih dari TPS lain. pemantau. tanda coblos terdapat dalam salah satu kotak segi empat yang memuat nomor. foto dan nama pasangan calon yang telah ditentukan. (3) Penggunaan surat suara tambahan dibuatkan berita acara yang ditandatangani oleh Ketua KPPS dan sekurang-kurangnya 2 (dua) anggota KPPS. atau e. foto dan nama pasangan calon. jumlah surat suara yang dikembalikan oleh pemilih karena rusak atau keliru dicoblos. (5) Saksi pasangan calon harus membawa surat mandat dari tim kampanye yang . atau c. Pasal 95 Suara untuk pemilihan kepala daerah dan wakil kepala daerah dinyatakan sah apabila: a. atau d. (4) Penghitungan suara dilakukan dan selesai di TPS oleh KPPS dan dapat dihadiri oleh saksi pasangan calon. foto dan nama pasangan calon. tetapi masih di dalam salah satu kotak segi empat yang memuat nomor. jumlah surat suara yang tidak terpakai. c. (2) Sebelum penghitungan suara dimulai. tanda coblos hanya terdapat pada 1 (satu) kotak segi empat yang memuat satu pasangan calon. KPPS menghitung: a. tanda coblos lebih dari satu. jumlah pemilih yang memberikan suara berdasarkan salinan daftar pemilih tetap untuk TPS. b. dan warga masyarakat. surat suara ditandatangani oleh Ketua KPPS.berpedoman pada Peraturan Pemerintah. panitia pengawas. dan b. tanda coblos terdapat pada salah satu garis kotak segi empat yang memuat nomor. Pasal 96 (1) Penghitungan suara di TPS dilakukan oleh KPPS setelah pemungutan suara berakhir. dan d.

surat suara. PPS membuat berita acara penerimaan dan melakukan rekapitulasi jumlah suara untuk tingkat desa/kelurahan dan dapat dihadiri oleh saksi pasangan calon. (10) KPPS memberikan 1 (satu) eksemplar salinan berita acara dan sertifikat hasil penghitungan suara kepada saksi pasangan calon yang hadir dan menempelkan 1 (satu) eksemplar sertifikat hasil penghitungan suara di tempat umum. panitia pengawas. pemantau. (6) Penghitungan suara dilakukan dengan ca-ra yang memungkinkan saksi pasangan calon. (11) KPPS menyerahkan berita acara. dan alat kelengkapan administrasi pemungutan dan penghitungan suara kepada PPS segera setelah selesai penghitungan suara.bersangkutan dan menyerahkannya kepada Ketua KPPS. Pasal 97 (1) Setelah menerima berita acara dan ser-tifikat hasil penghitungan suara. pemantau. panitia pengawas. (7) Pasangan calon dan warga masyarakat melalui saksi pasangan calon yang hadir dapat mengajukan keberatan terhadap jalannya penghitungan suara oleh KPPS apabila ternyata terdapat hal-hal yang tidak sesuai dengan peraturan perundangundangan. . KPPS seketika itu juga mengadakan pembetulan. (9) Segera setelah selesai penghitungan su-ara di TPS. dan warga masyarakat yang hadir dapat menyaksikan secara jelas proses penghitungan suara. sertifikat hasil penghitungan suara. (8) Dalam hal keberatan yang diajukan oleh saksi pasangan calon atau warga masyarakat sebagaimana dimaksud pada ayat (7) dapat diterima. KPPS membuat berita acara dan sertifikat hasil penghitungan suara yang ditandatangani oleh ketua dan sekurangkurangnya 2 (dua) orang anggota KPPS serta dapat ditandatangani oleh saksi pasangan calon. dan warga masyarakat.

(6) PPS wajib memberikan 1 (satu) eksemplar salinan berita acara dan sertifikat rekapitulasi hasil penghitungan suara di PPS kepada saksi pasangan calon yang hadir dan menempelkan 1 (satu) eksemplar sertifikat hasil penghitungan suara di tempat umum . PPS seketika itu juga mengadakan pembetulan. pemantau. PPK membuat berita acara penerimaan dan melakukan rekapitulasi jumlah suara untuk tingkat kecamatan dan dapat dihadiri oleh saksi pasangan calon. (5) Setelah selesai melakukan rekapitulasi hasil penghitungan suara di semua TPS dalam wilayah kerja desa/kelurahan yang bersangkutan. PPS membuat berita acara dan sertifikat rekapitulasi hasil penghitungan suara yang ditandatangani oleh ketua dan paling sedikit 2 (dua) orang anggota PPS serta ditandatangani oleh saksi pasangan calon. . Pasal 98 (1) Setelah menerima berita acara dan ser-tifikat hasil penghitungan suara. (3) Pasangan calon dan warga masyarakat melalui saksi pasangan calon yang hadir dapat mengajukan keberatan terhadap jalannya penghitungan suara oleh PPS apabila ternyata terdapat hal-hal yang tidak sesuai dengan peraturan perundangundangan. (7) PPS wajib menyerahkan 1 (satu) eksemplar berkas berita acara dan sertifikat rekapitulasi hasil penghitungan suara di PPS kepada PPK setempat. panitia pengawas. dan warga masyarakat. (4) Dalam hal keberatan yang diajukan oleh saksi pasangan calon atau warga masyarakat sebagaimana dimaksud pada ayat (3) dapat diterima.(2) Saksi pasangan calon harus membawa surat mandat dari Tim Kampanye yang bersangkutan dan menyerahkannya kepada PPS.

KPU kabupaten/kota membuat berita acara penerimaan dan melakukan rekapitulasi jumlah suara untuk tingkat kabupaten/kota dan dapat dihadiri oleh saksi pasangan calon. sebagaimana dimaksud pada ayat (3) dapat diterima. panitia pengawas. dan warga masyarakat. . PPK membuat berita acara dan sertifikat rekapitulasi hasil penghitungan suara yang ditandatangani oleh ketua dan sekurang-kurangnya 2 (dua) orang anggota PPK serta ditandatangani oleh saksi pasangan calon. (4) Dalam hal keberatan yang diajukan oleh atau melalui saksi pasangan calon. PPK seketika itu juga mengadakan pembetulan. (6) PPK wajib memberikan 1 (satu) eksemplar salinan berita acara dan sertifikat rekapitulasi hasil penghitungan suara di PPK kepada saksi pasangan calon yang hadir dan menempelkan 1 (satu) eksemplar sertifikat hasil penghitungan suara di tempat umum.(2) Saksi pasangan calon harus membawa surat mandat dari Tim Kampanye yang bersangkutan dan menyerahkannya kepada PPK. pemantau. (3) Pasangan calon dan warga masyarakat melalui saksi pasangan calon yang hadir dapat mengajukan keberatan terhadap jalannya penghitungan suara oleh PPK apabila ternyata terdapat hal-hal yang tidak sesuai dengan peraturan perundangundangan. (5) Setelah selesai melakukan rekapitulasi hasil penghitungan suara di semua PPS dalam wilayah kerja kecamatan yang bersangkutan. Pasal 99 (1) Setelah menerima berita acara dan ser-tifikat hasil penghitungan suara. (7) PPK wajib menyerahkan 1 (satu) eksem-plar berkas berita acara dan sertifikat rekapitulasi hasil penghitungan suara di PPK kepada KPU kabupaten/kota.

(6) KPU kabupaten/kota wajib memberikan 1 (satu) eksemplar salinan berita acara dan sertifikat rekapitulasi hasil penghitungan suara di KPU kabupaten/kota kepada saksi pasangan calon yang hadir dan menempelkan 1 (satu) eksemplar sertifikat hasil penghitungan suara di tempat umum. KPU kabupaten/kota membuat berita acara dan sertifikat rekapitulasi hasil penghitungan suara yang ditandatangani oleh ketua dan sekurangkurangnya 2 (dua) orang anggota KPU kabupaten/kota serta ditandatangani oleh saksi pasangan calon. (3) Pasangan calon dan warga masyarakat melalui saksi pasangan calon yang hadir dapat mengajukan keberatan terhadap jalannya penghitungan suara oleh KPU kabupaten/kota apabila ternyata terdapat hal-hal yang tidak sesuai dengan peraturan perundang-undangan. (5) Setelah selesai melakukan rekapitulasi hasil penghitungan suara di semua PPK dalam wilayah kerja kecamatan yang bersangkutan. berita acara dan rekapitulasi hasil peng-hitungan suara selanjutnya diputuskan da-lam pleno KPU kabupaten/kota untuk me-netapkan pasangan calon terpilih. Pasal 100 (1) Dalam hal pemilihan kepala daerah dan wakil kepala daerah kabupaten/kota.(2) Saksi pasangan calon harus membawa surat mandat dari Tim Kampanye yang bersangkutan dan menyerahkannya kepada KPU kabupaten/kota. sebagaimana dimaksud pada ayat (3) dapat diterima. KPU kabupaten/kota seketika itu juga mengadakan pembetulan. (4) Dalam hal keberatan yang diajukan oleh atau melalui saksi pasangan calon. . (7) KPU kabupaten/kota wajib menyerahkan 1 (satu) eksemplar berkas berita acara dan sertifikat rekapitulasi hasil penghitungan suara di KPU kabupaten/kota kepada KPU provinsi.

KPU provinsi membuat berita acara penerimaan dan melakukan rekapitulasi jumlah suara untuk tingkat provinsi dan dapat dihadiri oleh saksi pasangan calon. dan warga masyarakat. KPU provinsi seketika itu juga mengadakan pembetulan. pemantau. (4) Dalam hal keberatan yang diajukan oleh atau melalui saksi pasangan calon. panitia pengawas. Pasal 101 (1) Setelah menerima berita acara dan ser-tifikat hasil penghitungan suara. (6) KPU provinsi wajib memberikan 1 (satu) eksemplar salinan berita acara dan sertifikat rekapitulasi hasil penghitungan suara di KPU provinsi kepada saksi pasangan calon yang hadir dan menempelkan 1 (satu) eksemplar sertifikat hasil penghitungan suara di tempat umum. . KPU provinsi membuat berita acara dan sertifikat rekapitulasi hasil penghitungan suara yang ditandatangani oleh ketua dan sekurang-kurangnya 2 (dua) orang anggota KPU provinsi serta ditandatangani oleh saksi pasangan calon. (3) Pasangan calon dan warga masyarakat melalui saksi pasangan calon yang hadir dapat mengajukan keberatan terhadap jalannya penghitungan suara oleh KPU provinsi apabila ternyata terdapat hal-hal yang tidak sesuai dengan peraturan perundang-undangan. (2) Saksi pasangan calon harus membawa surat mandat dari Tim Kampanye yang bersangkutan dan menyerahkannya kepada KPU provinsi. (5) Setelah selesai melakukan rekapitulasi hasil penghitungan suara di semua KPU kabupaten/kota.(2) Penetapan pasangan calon terpilih sebagaimana dimaksud pada ayat (1) disampaikan kepada DPRD kabu-paten/kota untuk diproses pengesahan dan pengangkatannya sesuai dengan peraturan perundang-undangan. sebagaimana dimaksud pada ayat (3) dapat diterima.

panitia pe-ngawas. saksi pasangan calon. c. dilakukan pengecekan ulang terhadap sertifikat rekapitulasi hasil penghitungan suara pada 1 (satu) tingkat di bawahnya. (3) Penghitungan ulang surat suara dilakukan pada tingkat PPK apabila terjadi perbedaan data jumlah suara dari PPS. terjadi ketidakkonsistenan dalam menentukan surat suara yang sah dan surat suara yang tidak sah. d. dan KPU Provinsi.Pasal 102 (1) Berita acara dan rekapitulasi hasil penghitungan suara sebagaimana dimaksud dalam Pasal 101 ayat (5) selanjutnya diputuskan dalam pleno KPU provinsi untuk menetapkan pasangan calon terpilih. penghitungan suara dilakukan di tempat lain di luar tempat dan waktu yang telah ditentukan. pemantau. dan warga mas-yarakat tidak dapat menyaksikan proses penghitungan suara secara jelas. . (2) Penetapan pasangan calon terpilih sebagaimana dimaksud pada ayat (1) oleh KPU provinsi disampaikan kepada DPRD provinsi untuk diproses pengesahan pengangkatannya sesuai dengan peraturan perundang-undangan. Pasal 103 (1) Penghitungan ulang surat suara di TPS dilakukan apabila dari hasil penelitian dan pemeriksaan terbukti terdapat satu atau lebih penyimpangan sebagai berikut: a. penghitungan suara dilakukan di tempat yang kurang penerangan cahaya. dan/atau e. b. (4) Apabila terjadi perbedaan data jumlah suara pada tingkat KPU Kabupaten/Kota. penghitungan suara dilakukan secara tertutup. (2) Penghitungan ulang surat suara dilakukan pada tingkat PPS apabila terjadi perbedaan data jumlah suara dari TPS.

petugas KPPS meminta pemilih memberi tanda khusus. menandatangani. (2) Pemungutan suara di TPS dapat diulang apabila dari hasil penelitian dan pemeriksaan Panitia Pengawas Kecamatan terbukti terdapat satu atau lebih dari keadaan sebagai berikut: a. b.Pasal 104 (1) Pemungutan suara di TPS dapat diulang apabila terjadi kerusuhan yang mengakibatkan hasil pemungutan suara tidak dapat digunakan atau penghitungan suara tidak dapat dilakukan. pembukaan kotak suara dan/atau berkas pemungutan dan penghitungan suara tidak dilakukan menurut tata cara yang ditetapkan dalam peraturan perundangundangan. atau menulis nama atau alamatnya pada surat suara yang sudah digunakan. Pasal 106 (1) Keberatan terhadap penetapan hasil pemilihan kepala daerah dan wakil kepala daerah hanya dapat diajukan oleh pasangan calon kepada Mahkamah Agung dalam waktu paling lambat 3 (tiga) . Pasal 105 Penghitungan suara dan pemungutan suara ulang sebagaimana dimaksud dalam Pasal 103 dan Pasal 104 diputuskan oleh PPK dan dilaksanakan selambat-lambatnya 7 (tujuh) hari sesudah hari pemungutan suara. d. lebih dari seorang pemilih yang tidak terdaftar sebagai pemilih mendapat kesempatan memberikan suara pada TPS. lebih dari seorang pemilih menggunakan hak pilih lebih dari satu kali pada TPS yang sama atau TPS yang berbeda. dan/atau e. c. petugas KPPS merusak lebih dari satu surat suara yang sudah digunakan oleh pemilih sehingga surat suara tersebut menjadi tidak sah.

. Putusan Pengadilan Tinggi sebagaimana dimaksud pada ayat (6) bersifat final. Pengajuan keberatan kepada Mahkamah Agung sebagaimana dimaksud pada ayat (1) disampaikan kepada pengadilan tinggi untuk pemilihan kepala daerah dan wakil kepala daerah provinsi dan kepada pengadilan negeri untuk pemilihan kepala daerah dan wakil kepala daerah kabupaten/kota. pasangan calon kepala daerah dan wakil kepala daerah yang memperoleh suara lebih dari 25% (dua puluh lima persen) dari jumlah suara sah. (2) Apabila ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tidak terpenuhi. pasangan calon yang perolehan suaranya terbesar dinyatakan sebagai pasangan calon terpilih. Mahkamah Agung dalam melaksanakan kewenangannya sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat mendelegasikan kepada Pengadilan Tinggi untuk memutus sengketa hasil penghitungan suara pemilihan kepala daerah dan wakil kepala daerah kabupaten dan kota. Putusan Mahkamah Agung sebagaimana dimaksud pada ayat (4) bersifat final dan mengikat.(2) (3) (4) (5) (6) (7) Keberatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) hanya berkenaan dengan hasil penghitungan suara yang mempengaruhi terpilihnya pasangan calon.ed 13 Penetapan Calon Terpilih dan Pelantikan Pasal 107 (1) Pasangan calon kepala daerah dan wakil kepala daerah yang memperoleh suara lebih dari 50 % (lima puluh persen) jumlah suara sah ditetapkan sebagai pasangan calon terpilih. Mahkamah Agung memutus sengketa hasil penghitungan suara sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) paling lambat 14 (empat belas) hari sejak diterimanya permohonan keberatan oleh Pengadilan Negeri/Pengadilan Tinggi/ Mahkamah Agung.

Pasal 108 (1) Dalam hal calon wakil kepala daerah terpilih berhalangan tetap. (7) Apabila pemenang kedua sebagaimana dimaksud pada ayat (4) diperoleh oleh lebih dari satu pasangan calon. penentuannya dilakukan berdasarkan wilayah perolehan suara yang lebih luas. penentuan peringkat pertama dan kedua dilakukan berdasarkan wilayah perolehan suara yang lebih luas. (6) Apabila pemenang pertama sebagaimana dimaksud pada ayat (4) diperoleh oleh tiga pasangan calon atau lebih. . penentuan pasangan calon terpilih dilakukan berdasarkan wilayah perolehan suara yang lebih luas. dilakukan pemilihan putaran kedua yang diikuti oleh pemenang pertama dan pemenang kedua. (2) Kepala daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) mengusulkan dua calon wakil kepala daerah kepada DPRD untuk dipilih. (8) Pasangan calon kepala daerah dan wakil kepala daerah yang memperoleh suara terbanyak pada putaran kedua dinyatakan sebagai pasangan calon terpilih. (5) Apabila pemenang pertama sebagaimana dimaksud pada ayat (4) diperoleh dua pasangan calon. (3) Dalam hal calon kepala daerah terpilih berhalangan tetap. atau tidak ada yang mencapai 25 % (dua puluh lima persen) dari jumlah suara sah. (4) Apabila ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) tidak terpenuhi. calon wakil kepala daerah terpilih dilantik menjadi kepala daerah. calon kepala daerah terpilih dilantik menjadi kepala daerah.(3) Dalam hal pasangan calon yang perolehan suara terbesar sebagaimana dimaksud pada ayat (2) terdapat lebih dari satu pasangan calon yang perolehan suaranya sama. kedua pasangan calon tersebut berhak mengikuti pemilihan putaran kedua.

partai politik atau gabungan partai politik yang pasangan calonnya meraih suara terbanyak pertama dan kedua mengusulkan pasangan calon kepada DPRD untuk dipilih menjadi kepala daerah dan wakil kepala daerah selambatlambatnya dalam waktu 60 (enam puluh) hari. (2) Pengesahan pengangkatan pasangan calon bupati dan wakil bupati atau walikota dan wakil walikota terpilih dilakukan oleh Menteri Dalam Negeri atas nama Presiden selambat-lambatnya dalam waktu 30 (tiga puluh) hari. pemilihannya dilakukan selambatlambatnya dalam waktu 60 (enam puluh) hari. (4) Pasangan calon bupati dan wakil bupati atau walikota dan wakil walikota diusulkan oleh DPRD kabupaten/kota. Pasal 109 (1) Pengesahan pengangkatan pasangan ca-lon Gubernur dan wakil Gubernur terpilih dilakukan oleh Presiden selambatlambatnya dalam waktu 30 (tiga puluh) hari. (5) Dalam hal pasangan calon terpilih berhalangan tetap. . kepada Menteri Dalam Negeri melalui Gubernur berdasarkan berita acara penetapan pasangan calon terpilih dari KPU kabupaten/kota untuk mendapatkan pengesahan pengangkatan. (6) Untuk memilih wakil kepala daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dan ayat (4). (3) Pasangan calon Gubernur dan wakil Gubernur terpilih diusulkan oleh DPRD provinsi. selambatlambatnya dalam waktu 3 (tiga) hari. selambat-lambatnya dalam waktu 3 (tiga) hari. kepada Presiden melalui Menteri Dalam Negeri berdasarkan berita acara penetapan pasangan calon terpilih dari KPU provinsi untuk mendapatkan pengesahan pengangkatan.(4) Kepala daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (3) mengusulkan dua calon wakil kepala daerah kepada DPRD untuk dipilih.

memegang teguh Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 dan menjalankan segala undang-undang dan peraturannya dengan selurus-lurusnya serta berbakti kepada masyarakat. (2) Bupati dan wakil bupati atau walikota dan wakil walikota dilantik oleh Gubernur atas nama Presiden. saya bersumpah/berjanji akan memenuhi kewajiban saya sebagai kepala daerah/ wakil kepala daerah dengan sebaik-baiknya dan seadil-adilnya. Pasal 112 Biaya kegiatan Pemilihan kepala daerah dan wakil kepala daerah dibebankan pada APBD . Pasal 111 (1) Gubernur dan wakil Gubernur dilantik oleh Menteri Dalam Negeri atas nama Presiden. (3) Pelantikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) dilaksanakan dalam Rapat Paripurna DPRD.Pasal 110 (1) Kepala daerah dan wakil kepala daerah sebelum memangku jabatannya dilantik dengan mengucapkan sumpah/janji yang dipandu oleh pejabat yang melantik. nusa dan bangsa.” (3) Kepala daerah dan wakil kepala daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) memegang jabatan selama 5 (lima) tahun terhitung sejak pelantikan dan sesudahnya dapat dipilih kembali dalam jabatan yang sama hanya untuk satu kali masa jabatan. (2) Sumpah/janji kepala daerah dan wakil kepala daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) adalah sebagai berikut: “Demi Allah (Tuhan). (4) Tata cara pelantikan dan pengaturan selanjutnya diatur dalam Peraturan Pemerintah.

(2) Pemantau pemilihan wajib mematuhi se-gala peraturan perundang-undangan. (4) Tata cara untuk menjadi pemantau pemilihan dan pemantauan pemilihan serta pencabutan hak sebagai pemantau diatur dalam Peraturan Pemerintah. 15 Ketentuan Pidana Pemilihan Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah Pasal 115 (1) Setiap orang yang dengan sengaja memberikan keterangan yang tidak benar mengenai diri sendiri atau diri orang lain tentang suatu hal yang diperlukan untuk pengisian daftar pemilih. mempunyai sumber dana yang jelas. . (3) Pemantau pemilihan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) harus mendaftarkan dan memperoleh akreditasi dari KPUD. (3) Pemantau pemilihan yang tidak memenuhi kewajiban sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dan/atau tidak lagi memenuhi persyaratan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 113 dicabut haknya sebagai pemantau pemilihan dan/atau dikenai sanksi sesuai peraturan perundang-undangan. Pasal 114 (1) Pemantau pemilihan wajib menyampaikan laporan hasil pemantauannya kepada KPUD paling lambat 7 (tujuh) hari setelah pelantikan kepala daerah dan wakil kepala daerah terpilih.14 Pemantauan Pemilihan Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah Pasal 113 (1) Pemantauan pemilihan kepala daerah dan wakil kepala daerah dapat dilakukan oleh pemantau pemilihan yang meliputi lembaga swadaya masyarakat. bersifat independen. dan b. dan badan hukum dalam negeri. diancam dengan pidana penjara paling singkat 15 (lima belas) hari dan paling lama 3 (tiga) bulan dan/atau denda paling sedikit Rp. (2) Pemantau pemilihan sebagaimana dimak-sud pada ayat (2) harus memenuhi persyaratan yang meliputi: a.

000.00 (enam juta rupiah).000.000. atau menyuruh orang lain menggunakannya sebagai surat sah. 600.000.00 (seratus ribu rupiah) dan paling banyak Rp.000.000. 1.00 (satu juta rupiah). 600. 2.00 (enam ratus ribu rupiah) dan paling banyak Rp 6. diancam dengan pidana penjara paling singkat 1 (satu) bulan dan paling lama 6 (enam) bulan dan/atau denda paling sedikit Rp. diancam dengan pidana penjara paling singkat 3 (tiga) bulan dan paling lama 18 (delapan belas) bulan dan/atau denda paling sedikit Rp.000.000.00 (enam juta rupiah). Setiap orang yang dengan sengaja memalsukan surat yang menurut suatu aturan dalam Undang-Undang ini diperlukan untuk menjalankan suatu perbuatan dengan maksud untuk digunakan sendiri atau orang lain sebagai seolah-olah surat sah atau tidak dipalsukan. Setiap orang yang dengan kekerasan atau dengan ancaman kekuasaan yang ada padanya saat pendaftaran pemilih menghalang-halangi seseorang untuk terdaftar sebagai pemilih dalam Pemilihan kepala daerah menurut undang-undang ini.00 (enam ratus ribu .00 (dua juta rupiah).00 (enam ratus ribu rupiah) dan paling banyak Rp.000. 6. diancam dengan pidana penjara paling singkat 3 (tiga) bulan dan paling lama 18 (delapan belas) bulan dan/atau denda paling sedikit Rp.000.000.000. diancam dengan pidana penjara paling singkat 3 (tiga) bulan dan paling lama 18 (delapan belas) bulan dan/atau denda paling sedikit Rp. Setiap orang yang dengan sengaja dan mengetahui bahwa suatu surat sebagaimana dimaksud pada ayat (3) adalah tidak sah atau dipalsukan. 200.(2) (3) (4) (5) 100.00 (dua ratus ribu rupiah) dan paling banyak Rp. Setiap orang yang dengan sengaja menyebabkan orang lain kehilangan hak pilihnya dan orang yang kehilangan hak pilihnya tersebut mengadukan. menggunakannya. 600.000.

Pasal 116 (1) Setiap orang yang dengan sengaja melakukan kampanye di luar jadwal waktu yang telah ditetapkan oleh KPUD untuk masingmasing pasangan calon sebagaimana dimaksud dalam Pasal 75 ayat (2) diancam dengan pidana penjara paling singkat 15 (lima belas) hari atau paling lama 3 (tiga) bulan dan/atau denda paling sedikit Rp100. huruf e dan huruf f diancam dengan pidana penjara paling singkat 3 (tiga) bulan atau paling lama 18 (delapan belas) bulan dan/atau denda paling sedikit Rp600.00 (enam juta rupiah). huruf d.00 (enam ratus ribu rupiah) dan paling banyak Rp. diancam dengan pidana penjara paling singkat 3 (tiga) bulan atau paling lama 18 (delapan belas) bulan dan/atau denda paling sedikit Rp. huruf c. huruf h. 6.00 (enam juta rupiah). 6.000.000. 600.000.00 (enam ratus ribu rupiah) atau paling banyak Rp6.000.000. huruf b.(6) rupiah) dan paling banyak Rp. huruf i dan huruf j dan Pasal 79 ayat (1). diancam dengan pidana penjara paling singkat 1 (satu) bulan .000.000.00 (seratus ribu rupiah) atau paling banyak Rp1. (2) Setiap orang yang dengan sengaja melanggar ketentuan larangan pelaksanaan kampanye sebagaimana dimaksud dalam Pasal 78 huruf a.00 (enam juta rupiah).00 (satu juta rupiah).000. dan ayat (4).000. (3) Setiap orang yang dengan sengaja melanggar ketentuan larangan pelaksanaan kampanye pemilihan kepala daerah dan wakil kepala daerah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 78 huruf g.000. Setiap orang yang dengan sengaja memberikan keterangan yang tidak benar atau menggunakan surat palsu seolah-olah sebagai surat yang sah tentang suatu hal yang diperlukan bagi persyaratan untuk menjadi Pasangan calon kepala daerah/wakil kepala daerah.000. ayat (3).

000. 6.000. Setiap orang yang dengan sengaja mengacaukan.00 (seratus ribu rupiah) atau paling banyak Rp1.00 (satu miliar rupiah). diancam dengan pidana penjara paling singkat 1 (satu) bulan atau paling lama 6 (enam) bulan dan/atau denda paling sedikit Rp.000.00 (enam ratus ribu rupiah) atau paling banyak Rp. 600.00 (enam juta rupiah). 600.00 (satu juta rupiah).000.00 (dua ratus juta rupiah) atau paling banyak Rp1.000.00 (enam ratus ribu rupiah) atau paling banyak Rp. 6.000.000.000.000. pejabat struktural dan fungsional dalam jabatan negeri dan kepala desa yang dengan sengaja melanggar ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 83 diancam dengan pidana penjara paling singkat 1 (satu) bulan atau paling lama 6 (enam) bulan dan/atau denda paling sedikit Rp.000.000. atau mengganggu jalannya kampanye. Setiap orang yang dengan sengaja menerima atau memberi dana kampanye dari atau kepada pihak-pihak yang dilarang sebagaimana dimaksud dalam Pasal 85 ayat (1).00 (enam juta rupiah).000. diancam dengan pidana penjara paling singkat 4 (empat) bulan atau paling lama 24 (dua puluh empat) bulan dan/atau denda paling sedikit Rp 200.00 (satu miliar rupiah). diancam dengan pidana penjara paling singkat 4 (empat) bulan atau paling lama 24 (dua puluh empat) bulan dan/atau denda paling sedikit Rp200.000. . Setiap orang yang memberi atau menerima dana kampanye melebihi batas yang ditentukan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 83 ayat (3).000. Setiap pejabat negara.000.000. menghalangi.000.00 (dua ratus juta rupiah) atau paling banyak Rp 1.(4) (5) (6) (7) atau paling lama 6 (enam) bulan dan/atau denda paling sedikit Rp100. dan/atau tidak memenuhi kewajiban sebagaimana dimaksud dalam Pasal 85 ayat (2).000.000.

dipidana dengan pidana penjara paling singkat 2 (dua) bulan dan paling lama 12 (dua belas) bulan dan/atau denda paling sedikit Rp. diancam dengan pidana penjara paling singkat 2 (dua) bulan dan paling lama 12 (dua belas) bulan dan/atau denda paling sedikit Rp.000.000.000.00 (sepuluh juta rupiah).000.00 ( satu juta rupiah).(8) Setiap orang yang dengan sengaja memberikan keterangan yang tidak benar dalam laporan dana kampanye sebagaimana diwajibkan oleh UndangUndang ini.000.000.000.00 (satu juta rupiah) dan paling banyak Rp. 1.000. atau memilih Pasangan calon tertentu.000.000. 10.000. diancam dengan pidana penjara paling singkat 2 (dua) bulan atau paling lama 12 (dua belas) bulan dan/atau denda paling sedikit Rp1.000. 100.00 (satu juta rupiah) dan paling banyak Rp. Pasal 117 (1) Setiap orang yang dengan sengaja menggunakan kekerasan atau ancaman kekerasan dan menghalang-halangi seseorang yang akan melakukan haknya untuk memilih.000. 1. atau menggunakan hak pilihnya dengan cara tertentu sehingga surat suaranya menjadi tidak sah. diancam dengan pidana penjara paling singkat 15 (lima belas) hari dan paling lama 60 (enam puluh) hari dan/atau denda paling sedikit Rp.00 (sepuluh juta rupiah). (3) Setiap orang yang pada waktu pemungutan suara dengan sengaja mengaku dirinya sebagai orang lain untuk menggunakan hak pilih.00 (seratus ribu rupiah) dan paling banyak Rp.00 (satu juta rupiah) atau paling banyak Rp10. 1. . (2) Setiap orang yang dengan sengaja memberi atau menjanjikan uang atau materi lainnya kepada seseorang supaya tidak menggunakan hak pilihnya.00 (sepuluh juta rupiah).000. 10.000.

diancam dengan pidana penjara paling singkat 2 (dua) bulan dan paling lama 12 (dua belas) bulan dan/atau denda paling sedikit Rp.(4) Setiap orang yang pada waktu pemungutan suara dengan sengaja memberikan suaranya lebih dari satu kali di satu atau lebih TPS. diancam dengan pidana penjara paling singkat 1 (satu) bulan dan paling lama 4 (empat) bulan dan/atau denda paling sedikit Rp.00 (satu juta rupiah) dan paling banyak Rp.000. 1.000. 1. 10. 1. kecuali dengan alasan bahwa pekerjaan tersebut tidak bisa ditinggalkan.000.00 .000. (8) Setiap orang yang bertugas membantu pemilih sebagaimana dimaksud dalam Pasal 89 ayat (2) dengan sengaja memberitahukan pilihan si pemilih kepada orang lain.00 (satu juta rupiah) dan paling banyak Rp. 2.000.000.00 (sepuluh juta rupiah).000. diancam dengan pidana penjara paling singkat 2 (dua) bulan dan paling lama 12 (dua belas) bulan dan/atau denda paling sedikit Rp.000.00 (sepuluh juta rupiah). diancam dengan pidana penjara paling singkat 2 (dua) bulan dan paling lama 12 (dua belas) bulan dan/atau denda paling sedikit Rp.00 (sepuluh juta rupiah).00 (satu juta rupiah) dan paling banyak Rp.000.000.000. (7) Setiap orang yang dengan sengaja pada waktu pemungutan suara mendampingi seorang pemilih selain yang diatur sebagaimana dimaksud dalam Pasal 89 ayat (1).000. 200.000.00 ( dua ratus ribu rupiah) dan paling banyak Rp.00 (dua juta rupiah).000.000.000. 10. 10. 1. (5) Setiap orang yang dengan sengaja menggagalkan pemungutan suara diancam dengan pidana penjara paling singkat 6 (enam) bulan dan paling lama 3 (tiga) tahun dan/atau denda paling sedikit Rp.000. (6) Seorang majikan atau atasan yang tidak memberikan kesempatan kepada seorang pekerja untuk memberikan suaranya.

000.000.(satu juta rupiah) dan paling banyak Rp.000.000. diancam dengan pidana penjara paling singkat 15 (lima belas) hari dan paling lama 2 (dua) bulan dan/atau denda paling sedikit Rp.00 (sepuluh juta rupiah). (4) Setiap orang yang dengan sengaja mengubah hasil penghitungan suara dan/atau berita acara dan sertifikat hasil penghitungan suara.000.000.00 (sepuluh juta rupiah). .000.000.000.000.00 (satu juta rupiah).000.00 (seratus ribu rupiah) dan paling banyak Rp. 20.000.000.00 (dua puluh juta rupiah). diancam dengan pidana penjara paling singkat 4 (empat) bulan atau paling lama 2 (dua) tahun dan/atau denda paling sedikit Rp. 1. diancam dengan pidana penjara paling singkat 2 (dua) bulan dan paling lama 1 (satu) tahun dan/atau denda paling sedikit Rp.00 (dua juta rupiah) dan paling banyak Rp.000.000.00 (satu juta rupiah) dan paling banyak Rp. 2.000.00 (seratus juta rupiah) dan paling banyak Rp.00 (satu miliar rupiah).000. 1. 10. diancam dengan pidana penjara paling singkat 6 (enam) bulan dan paling lama 3 (tiga) tahun dan/atau denda paling sedikit Rp. (3) Setiap orang yang karena kelalaiannya menyebabkan rusak atau hilangnya hasil pemungutan suara yang sudah disegel. 1. 100. 10. (2) Setiap orang yang dengan sengaja merusak atau menghilangkan hasil pemungutan suara yang sudah disegel. 100.000. Pasal 118 (1) Setiap orang yang dengan sengaja melakukan perbuatan yang menyebabkan suara seorang pemilih menjadi tidak berharga atau menyebabkan Pasangan calon tertentu mendapat tambahan suara atau perolehan suaranya berkurang.

32 Tahun 2004 disebutkan secara lebih rinci mengani tugas dari Camat dan Lurah • Pasal 62 (1) Dinas Daerah adalah unsur pelaksana Pemerintah Daerah. (3) Sekretaris Daerah Propinsi karena jabatannya adalah Sekretaris Wilayah Administrasi. (2) Pembentukan. dan Pasal 118. Pasal 47 (1) Sekretariat Daerah adalah unsur staf yang membantu Kepala Daerah dalam menyelenggarakan pemerintahan Daerah. (2) Sekretaris Daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) untuk provinsi diangkat dan diberhentikan oleh Presiden atas usul Gubernur sesuai dengan peraturan perundang-undangan. Pasal 61 (1) Sekretariat Daerah dipimpin oleh Sekretaris Daerah. (3) Peraturan Daerah yang dimaksud dalam ayat (2) pasal ini. dan kelurahan. susunan organisasi dan formasi Sekretariat Wilayah lainnya serta pengangkatan dan pemberhentian pejabatnya diatur oleh Menteri Dalam Negeri. ancaman pidananya ditambah 1/3 (satu pertiga) dari pidana yang diatur dalam Pasal 115. sekretaris daerah bertanggung jawab kepada kepala daerah. dinas daerah. berlaku sesudah ada pengesahan pejabat yang berwenang. sekretariat DPRD. dan unit pelaksana lainnya. (2) Pelaksanaan ketentuan yang dimaksud dalam ayat (1) pasal ini. (3) Sekretaris Daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) untuk kabupaten/kota diangkat dan diberhentikan oleh Gubernur atas usul Dalam Undang-Undang No. Pasal 117. sesuai dengan kebutuhan Daerah. Dinas Daerah dan lembaga teknis Daerah lainnya. Kepala Instansi Vertikal berada dibawah kordinasi Kepala Wilayah yang bersangkutan. Pasal 60 Perangkat Daerah terdiri atas Sekretariat Daerah. (4) Sekretaris Daerah Kabupaten atau Sekretaris Daerah Kota diangkat oleh Bupati atau Walikota atas persetujuan pimpinan DPRD dari Pegawai Negeri Sipil yang memenuhi syarat. (2) Perangkat daerah kabupaten/kota terdiri atas sekretariat daerah. dan lembaga teknis daerah. Pasal 120 (1) Perangkat daerah provinsi terdiri atas sekretariat daerah. tugas sekretaris daerah dilaksanakan oleh pejabat yang ditunjuk oleh kepala daerah. (2) Dinas dipimpin oleh seorang Kepala Dinas . (4) Apabila sekretaris daerah berhalangan melaksanakan tugasnya. kecamatan. diatur dengan Peraturan Pemerintah. (2) Sekretaris Daerah Propinsi diangkat oleh Gubernur atas persetujuan pimpinan DPRD dari Pegawai Negeri Sipil yang memenuhi syarat. (7) Apabila Sekretaris Daerah berhalangan melaksanakan tugasnya. Pasal 116. lembaga teknis.Pasal 119 Jika tindak pidana dilakukan dengan sengaja oleh penyelenggara atau pasangan calon. susunan organisasi dan formasi Sekretariat Daerah ditetapkan dengan Peraturan Daerah sesuai dengan pedoman yang ditetapkan oleh Menteri Dalam Negeri. (5) Sekretaris Daerah berkewajiban membantu Kepala Daerah dalam menyusun kebijakan serta membina hubungan kerja dengan dinas.32 Tahun 2004 ditambahkan bahwa Sekertariat DPRD termasuk dalam perangkat daerah Dalam Undang-Undang No. lembaga teknis daerah. • 16` Aparatur dan Kepegawaian Daerah Pasal 84 (1) Sekretariat Daerah adalah Sekretariat Wilayah. (3) Dengan tidak mengurangi ketentuan yang dimaksud dalam ayat (1) ini.l Pasal 85 (1) Dalam menjalankan tugasnya. dinas daerah. sekretariat DPRD. (3) Dalam pelaksanaan tugas dan kewajiban sebagaimana dimaksud pada ayat (2). Pasal 121 (1) Sekretariat daerah dipimpin oleh Sekretaris Daerah. (2) Sekretaris daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) mempunyai tugas dan kewajiban membantu kepala daerah dalam menyusun kebijakan dan mengkoordinasikan dinas daerah dan lembaga teknis daerah. (6) Sekretaris Daerah bertanggung jawab kepada Kepala Daerah. tugas Sekretaris Daerah dilaksanakan oleh pejabat yang ditunjuk oleh Kepala Daerah. Pasal 122 (1) Sekretaris Daerah diangkat dari pegawai negeri sipil yang memenuhi persyaratan. (2) Sekretaris Daerah karena jabatannya adalah Sekretaris Wilayah.

(4) Sekretaris DPRD dalam menyediakan tenaga ahli sebagaimana dimaksud pada ayat (3) huruf d wajib meminta pertimbangan pimpinan DPRD. pemberhentian sementara. dan d. (2) Pembentukan susunan organisasi dan formasi Dinas Daerah ditetapkan dengan Peraturan Daerah sesuai dengan pedoman yang ditetapkan oleh Menteri Dalam Negeri. menyelenggarakan administrasi kesekretariatan DPRD. (3) Sekretaris Daerah tingkat II diangkat oleh Gubernur Kepala Daerah atas nama Menteri Dalam Negeri dari Pegawai Negeri yang memenuhi persyaratan atas usul Bupati/Walikotamadya Kepala Daerah setelah mendengar pertimbangan Pimpinan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah. sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9 ayat (3). Pasal 67 (1) Kelurahan merupakan perangkat Kecamatan yang dipimpin oleh Kepala Kelurahan. (6) Susunan organisasi sekretariat DPRD ditetapkan dalam peraturan daerah berpedoman pada Peraturan Pemerintah. Pasal 65 Di Daerah dapat dibentuk lembaga teknis sesuai dengan kebutuhan Daerah. Pasal 123 (1) Sekretariat DPRD dipimpin oleh Sekretaris DPRD. b.Pasal 48 (1) Sekretariat Daerah dipimpin oleh seorang Sekretaris Daerah. pensiun. Pasal 49 (1) Dinas Daerah adalah unsur pelaksana Pemerintah Daerah. dan tata laksananya. pemberhentian. sebagaimana dimaksud pada ayat (1). (4) Camat menerima pelimpahan sebagian kewenangan pemerintahan dari Bupati/Walikota. dilaksanakan oleh Dinas Propinsi. ditetapkan dengan Keputusan Presiden. (2) Dinas daerah dipimpin oleh kepala dinas yang diangkat dan diberhentikan oleh kepala daerah dari pegawai negeri sipil yang memenuhi syarat atas usul Sekretaris Daerah. (4) Persyaratan dan tatacara pelaksanaan ketentuan yang dimaksud dalam ayatayat (2) dan (3) pasal ini diatur dengan Peraturan Menteri Dalam Negeri. c. Pasal 64 (1) Penyelenggaraan bidang pemerintahan yang menjadi wewenang Pemerintah. dilakukan oleh instansi vertikal. (2) Pembentukan. dan hal-hal lain yang diangkat oleh Kepala Daerah dari Pegawai Negeri Sipil yang memenuhi syarat atas usul Sekretaris Daerah. gaji. formasi. Pasal 124 (1) Dinas daerah merupakan unsur pelaksana otonomi daerah. Sekretaris Daerah karena kedudukannya sebagai pembina pengawai negeri sipil di daerahnya. susunan organisasi. mendukung pelaksanaan tugas dan fungsi DPRD. . (3) Sekretaris DPRD mempunyai tugas: a. Pasal 66 (1) Kecamatan merupakan perangkat Daerah Kabupaten dan Daerah Kota yang dipimpin oleh Kepala Kecamatan. (5) Sekretaris DPRD dalam melaksanakan tugasnya secara teknis operasional berada dibawah dan bertanggung jawab kepada pimpinan DPRD dan secara administratif bertanggung jawab kepada kepala daerah melalui Sekretaris Daerah. berlaku sesudah ada pengesahan pejabat yang berwenang. (2) Sekretaris Daerah Tingkat I diangkat oleh Menteri Dalam Negeri dari Pegawai Negeri yang memenuhi persyaratan atas usul Gubernur Kepala Daerah setelah mendengar pertimbangan Pimpinan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah. Pasal 63 Penyelenggaraan wewenang yang dilimpahkan oleh Pemerintah kepada Gubernur selaku wakil Pemerintah dalam rangka dekonsentrasi. (5) Camat bertanggung jawab kepada Bupati atau Walikota. maka tugas Sekretaris Daerah dijalankan oleh pejabat yang ditunjuk oleh Kepala Daerah. (2) Kepala Kecamatan disebut Camat. (3) Kepala Dinas bertanggung jawab kepada Kepala Daerah melalui Sekretaris Daerah. (6) Pembentukan Kecamatan ditetapkan dengan Peraturan Daerah. (3) Peraturan Daerah yang dimaksud dalam ayat (2) pasal ini. (5) Apabila Sekretaris Daerah berhalangan menjalankan tugasnya. (3) Camat diangkat oleh Bupati/Walikota atas usul Sekretaris Daerah Kabupaten/Kota dari Pegawai Negeri Sipil yang memenuhi syarat. menyelenggarakan administrasi keuangan DPRD. menyediakan dan mengkoordinasi tenaga ahli yang diperlukan oleh DPRD dalam melaksanakan fungsinya sesuai dengan kemampuan keuangan daerah. Pasal 50 (1) Pengangkatan. (4) Bupati/Walikota sesuai dengan peraturan perundang-undangan. (2) Sekretaris DPRD sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diangkat dan diberhentikan oleh Gubernur/Bupati/Walikota dengan persetujuan DPRD. uang tunggu. sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7.

standar. (2) Dalam Keputusan yang dimaksud dalam ayat (1) pasal ini. kantor atau rumah sakit umum daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dipimpin oleh kepala badan. mengkoordinasikan upaya penyelenggaraan ketentraman dan ketertiban umum. tunjangan. (2) Kecamatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dipimpin oleh camat yang dalam pelaksanaan tugasnya memperoleh pelimpahan sebagian wewenang bupati atau walikota untuk menangani sebagian urusan otonomi daerah. kepala kantor. atau kepala rumah sakit umum daerah yang diangkat oleh kepala daerah dari pegawai negeri sipil yang memenuhi syarat atas usul Sekretaris Daerah. Pasal 53 Semua pegawai. Pasal 54 (1) Pembinaan kepegawaian terhadap Pegawai Daerah di atur oleh Kepala Daerah sesuai dengan peraturan (2) Kepala Kelurahan disebut Lurah. Pasal 76 Daerah mempunyai kewenangan untuk melakukan pengangkatan. (5) Lurah bertanggung jawab kepada Camat. atas permintaan Kepala Daerah Tingkat II yang bersangkutan. berlaku sesudah ada pengesahan pejabat yang berwenang. serta pendidikan dan pelatihan sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan Daerah yang ditetapkan dengan Peraturan Daerah. mengkoordinasikan pemeliharaan prasarana dan fasilitas pelayanan . c. (4) Lurah menerima pelimpahan sebagian kewenangan pemerintahan dari Camat. Pasal 52 (1) Pegawai Daerah Tingkat I dapat diperbantukan atau dipekerjakan kepada Daerah Tingkat II dengan Keputusan Kepala Daerah Tingkat I. berdasarkan peraturan perundang-undangan. dan prosedur mengenai pengangkatan. pemindahan. diatur syarat dan hubungan kerja Pegawai Negeri yang bersangkutan dengan perangkat Daerah sepanjang diperlukan. kantor. dan kewajiban. ditetapkan dengan peraturan perundang-undangan. Pasal 126 (1) Kecamatan dibentuk di wilayah kabupaten/kota dengan Perda berpedoman pada Peraturan Pemerintah. diatur dengan Peraturan Daerah sesuai dengan pedoman yang ditetapkan oleh Menteri Dalam Negeri. gaji. gaji. atau rumah sakit umum daerah. pemberhentian. tunjangan. d. Pasal 51 (1) Pegawai Negeri dari sesuatu Departemen dapat diperbantukan atau dipekerjakan kepada Daerah. (6) Pembentukan Kelurahan ditetapkan dengan Peraturan Daerah. mengkoordinasikan kegiatan pemberdayaan masyarakat. dan kesejahteraan pegawai. baik Pegawai Negeri maupun Pegawai Daerah. Pasal 77 Pemerintah Wilayah Propinsi melakukan pengawasan pelaksanaan administrasi kepegawaian dan karir pegawai di wilayahnya sesuai dengan peraturan perundang-undangan. penetapan pensiun. (2) Formasi dan persyaratan jabatan perangkat Daerah ditetapkan dengan Keputusan Kepala Daerah sesuai dengan pedoman yang ditetapkan Pemerintah. mengkoordinasikan penerapan dan penegakan peraturan perundangundangan. penetapan pensiun. (2) Peraturan Daerah yang dimaksud dalam ayat (1) pasal ini. (3) Kepala dinas daerah bertanggung jawab kepada kepala daerah melalui Sekretaris Daerah. kesejahteraan.mengenai kedudukan hukum Pegawai Daerah. (3) Lurah diangkat dari Pegawai Negeri Sipil yang memenuhi syarat oleh Walikota/Bupati atas usul Camat. (2) Dalam Keputusan yang dimaksud dalam ayat (1) pasal ini. Pasal 68 (1) Susunan organisasi perangkat Daerah ditetapkan dengan Peraturan Daerah sesuai dengan pedoman yang ditetapkan Pemerintah. pemberhentian. (3) Kepala badan. serta *9621 kedudukan hukum Pegawai Negeri Sipil di Daerah dan Pegawai Negeri Sipil Daerah. Pasal 125 (1) Lembaga teknis daerah merupakan unsur pendukung tugas kepala daerah dalam penyusunan dan pelaksanaan kebijakan daerah yang bersifat spesifik berbentuk badan. (2) Badan. yang diperbantukan atau dipekerjakan kepada sesuatu Daerah berada di bawah pimpinan Kepala Daerah yang bersangkutan. atau rumah sakit umum daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (2) bertanggung jawab kepada kepala daerah melalui Sekretaris Daerah. (3) Selain tugas sebagaimana dimaksud pada ayat (2) camat juga menyelenggarakan tugas umum pemerintahan meliputi: a. dengan Keputusan Menteri atas permintaan Kepala Daerah yang bersangkutan. pemindahan. b. Pasal 75 Norma. diatur syarat dan hubungan kerja Pegawai Daerah yang bersangkutan dengan perangkat Daerah Tingkat II sepanjang diperlukan. kantor. hak.

perundang-undangan yang berlaku. (2) Pembinaan kepegawaian terhadap Pegawai Negeri yang diperbantukan atau dipekerjakan kepada Daerah di atur dengan peraturan perundangundangan. Pasal 85 (1) Dalam menjalankan tugasnya, Kepala Instansi Vertikal berada dibawah kordinasi Kepala Wilayah yang bersangkutan. (2) Pelaksanaan ketentuan yang dimaksud dalam ayat (1) pasal ini, diatur dengan Peraturan Pemerintah.

(4)

(5)

(6)

(7)

umum; e. mengkoordinasikan penyelenggaraan kegiatan pemerintahan di tingkat kecamatan; f. membina penyelenggaraan pemerintahan desa dan/atau kelurahan; g. melaksanakan pelayanan masyarakat yang menjadi ruang lingkup tugasnya dan/atau yang belum dapat dilaksanakan pemerintahan desa atau kelurahan. Camat sebagaimana dimaksud pada ayat (2) diangkat oleh Bupati/Walikota atas usul sekretaris daerah kabupaten/kota dari pegawai negeri sipil yang menguasai pengetahuan teknis pemerintahan dan memenuhi persyaratan sesuai dengan peraturan perundang-undangan. Camat dalam menjalankan tugastugasnya sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dan ayat (3) dibantu oleh perangkat kecamatan dan bertanggung jawab kepada Bupati/Walikota melalui Sekretaris Daerah kabupaten/kota. Perangkat kecamatan sebagaimana dimaksud pada ayat (5) bertanggung jawab kepada camat. Pelaksanaan ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (2), ayat (3), ayat (4), ayat (5), dan ayat (6) ditetapkan dengan peraturan bupati atau walikota dengan berpedoman pada Peraturan Pemerintah.

Pasal 127 (1) Kelurahan dibentuk di wilayah kecamatan dengan Perda berpedoman pada Peraturan Pemerintah. (2) Kelurahan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dipimpin oleh lurah yang dalam pelaksanaan tugasnya memperoleh pelimpahan dari Bupati/Walikota. (3) Selain tugas sebagaimana dimaksud pada ayat (2) lurah mempunyai tugas: a. pelaksanaan kegiatan pemerintahan kelurahan; b. pemberdayaan masyarakat;

(4)

(5)

(6)

(7)

(8)

(9)

c. pelayanan masyarakat; d. penyelenggaraan ketenteraman dan ketertiban umum; dan e. pemeliharaan prasarana dan fasilitas pelayanan umum. Lurah sebagaimana dimaksud pada ayat (2) diangkat oleh Bupati/Walikota atas usul Camat dari pegawai negeri sipil yang menguasai pengetahuan teknis pemerintahan dan memenuhi persyaratan sesuai dengan peraturan perundangundangan. Dalam melaksanakan tugas sebagaimana dimaksud pada ayat (3), Lurah bertanggung jawab kepada Bupati/Walikota melalui Camat. Lurah dalam melaksanakan tugasnya sebagaimana dimaksud pada ayat (3) dibantu oleh perangkat kelurahan. Perangkat kelurahan sebagaimana dimaksud pada ayat (6) bertanggung jawab kepada Lurah. Untuk kelancaran pelaksanaan tugas Lurah sebagaimana dimaksud pada ayat (3), dapat dibentuk lembaga lainnya sesuai dengan kebutuhan yang ditetapkan dengan Perda. Pelaksanaan ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (2), ayat (3), ayat (4), ayat (5), ayat (6), dan ayat (7) ditetapkan dengan peraturan bupati atau walikota sesuai dengan peraturan perundang-undangan.

Pasal 128 (1) Susunan organisasi perangkat daerah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 120 ayat (1) dan ayat (2) ditetapkan dalam Perda dengan memperhatikan faktorfaktor tertentu dan berpedoman pada Peraturan Pemerintah. (2) Pengendalian organisasi perangkat daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan oleh Pemerintah untuk provinsi dan oleh Gubernur untuk kabupaten/kota dengan berpedoman pada Peraturan Pemerintah.

(3) Formasi dan persyaratan jabatan perangkat daerah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 120 ayat (1) dan ayat (2) ditetapkan dengan Peraturan Kepala Daerah dengan berpedoman pada Peraturan Pemerintah. Pasal 129 (1) Pemerintah melaksanakan pembinaan manajemen pegawai negeri sipil daerah dalam satu kesatuan penyelenggaraan manajemen pegawai negeri sipil secara nasional. (2) Manajemen pegawai negeri sipil daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi penetapan formasi, pengadaan, pengangkatan, pemindahan, pemberhentian, penetapan pensiun, gaji, tunjangan, kesejahteraan, hak dan kewajiban kedudukan hukum, pengembangan kompetensi, dan pengendalian jumlah. Pasal 130 (1) Pengangkatan, pemindahan dan pemberhentian dari dan dalam jabatan eselon II pada pemerintah daerah provinsi ditetapkan oleh Gubernur. (2) Pengangkatan, pemindahan, dan pemberhentian dari dan dalam jabatan eselon II pada pemerintah daerah kabupaten/kota ditetapkan oleh Bupati/Walikota setelah berkonsultasi kepada Gubernur. Pasal 131 (1) Perpindahan pegawai negeri sipil antar kabupaten/kota dalam satu provinsi ditetapkan oleh Gubernur setelah memperoleh pertimbangan Kepala Badan Kepegawaian Negara. (2) Perpindahan pegawai negeri sipil antar kabupaten/kota antar provinsi, dan antar provinsi ditetapkan oleh Menteri Dalam Negeri setelah memperoleh pertimbangan Kepala Badan Kepegawaian Negara.

mutasi antar daerah. (4) Pemerintah melakukan pemutakhiran data pengangkatan. dan pemindahan pegawai negeri sipil daerah dilaksanakan setiap tahun. (3) Penghitungan alokasi dasar sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) diatur dalam Undang-Undang tentang Perimbangan Keuangan Antara Pemerintah Pusat Dan Pemerintahan Daerah. pemberhentian. Pasal 132 Penetapan formasi pegawai negeri sipil daerah provinsi/ kabupaten/kota setiap tahun anggaran dilaksanakan oleh Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara atas usul Gubernur. dan pemindahan pegawai negeri sipil daerah untuk penghitungan dan penyesuaian alokasi dasar sebagaimana dimaksud pada ayat (3). (2) Penghitungan dan penyesuaian besaran alokasi dasar sebagaimana dimaksud pada ayat (1) akibat pengangkatan. Pasal 133 Pengembangan karir pegawai negeri sipil daerah mempertimbangkan integritas dan moralitas. Pasal 134 (1) Gaji dan tunjangan pegawai negeri sipil daerah dibebankan pada APBD yang bersumber dari alokasi dasar dalam dana alokasi umum. dan kompetensi. mutasi jabatan. pemberhentian.(3) Perpindahan pegawai negeri sipil provinsi/kabupaten/kota ke departemen/lembaga pemerintah non departemen atau sebaliknya. pendidikan dan pelatihan. pangkat. Pasal 135 (1) Pembinaan dan pengawasan manajemen pegawai negeri sipil daerah . ditetapkan oleh Menteri Dalam Negeri setelah memperoleh pertimbangan Kepala Badan Kepegawaian Negara.

kecuali jika ditentukan lain dalam peraturan perundang-undangan. kejelasan tujuan.00 (lima juta rupiah) dengan atau tidak merampas barang tertentu untuk Daerah.000. kelembagaan atau organ pembentuk yang tepat. Pasal 136 (1) Perda ditetapkan oleh kepala daerah setelah mendapat persetujuan bersama DPRD. kejelasan rumusan. Pasal 72 (1) Untuk melaksanakan Peraturan Daerah dan atas kuasa peraturan perundang-undangan lain yang berlaku. berlaku setelah diundangkan dalam lembaran daerah.32 Tahun 2004 disebutkan secara rinci mengenai asas dan materi pembuatan suatu peraturan Daerah . c. (3) Perda sebagaimana dimaksud pada ayat (1) merupakan penjabaran lebih lanjut dari peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi dengan memperhatikan ciri khas masing-masing daerah. Pasal 40 (1) Peraturan Daerah diundangkan dengan menempatkannya dalam Lembaran Daerah yang bersangkutan. (5) Perda sebagaimana dimaksud pada ayat (1). dan g. kedayagunaan dan kehasilgunaan. (2) Peraturan Daerah tidak boleh mengatur sesuatu hal yang telah diatur dalam peraturan perundang-undangan atau Peraturan Daerah yang lebih tinggi tingkatannya. Kepala Daerah menetapkan keputusan Kepala Daerah. • Dalam UU No. b. Pasal 70 Peraturan Daerah tidak boleh bertentangan dengan kepentingan umum. dan peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi. Pasal 71 (1) Peraturan Daerah dapat memuat ketentuan tentang pembebanan biaya paksaan penegakan hukum. 22 Tahun 1999 dan UU No. (2) Keputusan. Pasal 69 Kepala Daerah menetapkan Peraturan Daerah atas persetujuan DPRD dalam rangka penyelenggaraan Otonomi Daerah dan penjabaran lebih lanjut dari peraturan perundangundangan yang lebih tinggi. (2) Perda dibentuk dalam rangka penyelenggaraan otonomi daerah provinsi/ kabupaten/kota dan tugas pembantuan. Pasal 39 (1) Peraturan Daerah dan atau Keputusan Kepala Daerah tidak boleh bertentangan dengan kepentingan umum dan peraturan perundang-undangan atau Peraturan Daerah yang lebih tinggi tingkatannya. sebagaimana dimaksud pada ayat (1). Pasal 137 Perda dibentuk berdasarkan pada asas pembentukan peraturan perundang-undangan yang meliputi: a. dapat dilaksanakan. (3) Peraturan Daerah tidak boleh mengatur sesuatu hal yang termasuk urusan rumah tangga Daerah tingkat bawahnya. (3) Peraturan Daerah yang tidak memerlukan pengesahan mulai berlaku pada tanggal yang ditentukan dalam Peraturan Daerah yang bersangkutan. Peraturan Daerah lain dan peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi. (4) Peraturan Daerah yang memerlukan pengesahan mulai berlaku pada tanggal pengundangannya atau pada tanggal yang ditentukan dalam Peraturan Daerah yang bersangkutan.32 Tahun 2004 disebutkan bahwa Perda dibentuk dalam rangka penyelenggaraan Otonomi Daerah. Pasal 38 Kepala Daerah dengan persetujuan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah menetapkan Peraturan Daerah.000. (2) Peraturan Daerah dapat memuat ancaman pidana kurungan paling lama enam bulan atau denda sebanyak-banyaknya Rp5. kesesuaian antara jenis dan materi muatan. f.dikoordinasikan pada tingkat nasional oleh Menteri Dalam Negeri dan pada tingkat daerah oleh Gubernur. (4) Perda sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilarang bertentangan dengan kepentingan umum dan/atau peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi. dan dalam UU No. tidak boleh bertentangan dengan kepentingan umum. (2) Peraturan Daerah mempunyai kekuatan hukum dan mengikat setelah diundangkan dalam Lembaran Daerah yang bersangkutan. d. e. 17 Peraturan Daerah dan Peraturan Kepala Daerah . keterbukaan. dan prosedur pembinaan dan pengawasan manajemen pegawai negeri sipil daerah diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah. norma. (2) Standar. seluruhnya atau sebagian kepada pelanggar. peraturan daerah.

50. kenusantaraan. g. Gubernur. mempunyai kekuatan hukum dan mengikat setelah diundangkan dalam Lembaran Daerah. ketertiban dan kepastian hukum. DPRD dan Gubernur atau Bupati/Walikota menyampaikan rancangan Perda mengenai materi yang sama maka yang dibahas adalah rancangan Perda yang disampaikan oleh DPRD. (2) Persiapan pembentukan.-(Limapuluh ribu. Peraturan Daerah atau Keputusan Kepala Daerah tersebut dibatalkan pelaksanaannya. Pasal 140 (1) Rancangan Perda dapat berasal dari DPRD. (4) Daerah yang tidak dapat menerima keputusan pembatalan Peraturan Daerah dan Keputusan Kepala Daerah. (2) Keputusan pembatalan Peraturan Daerah dan Keputusan Kepala Daerah.rupiah) dengan atau tidak dengan merampas barang tertentu untuk Negara. diberitahukan kepada Daerah yang bersangkutan dengan menyebutkan alasan-alasannya. dan pengesahan rancangan Perda berpedoman kepada peraturan perundang-undangan. (3) Selambat-lambatnya satu minggu setelah keputusan pembatalan Peraturan Daerah dan Keputusan Kepala Daerah. sedangkan rancangan Perda yang disampaikan Gubernur atau Bupati/Walikota digunakan sebagai bahan untuk dipersandingkan. bhineka tunggal ika. b. kekeluargaan. keadilan. berlaku sesudah ada pengesahan pejabat yang berwenang.(5) Peraturan Daerah yang memerlukan pengesahan tidak boleh diundangkan sebelum pengesahan itu diperoleh atau sebelum jangka waktu yang ditentukan untuk pengesahannya berakhir. . Pasal 139 (1) Masyarakat berhak memberikan masukan secara lisan atau tertulis dalam rangka penyiapan atau pembahasan rancangan Perda. f. Pasal 41 (1) Peraturan Daerah Tingkat I dan Peraturan Daerah Tingkat II dapat memuat ketentuan ancaman pidana kurungan selama-lamanya 6 (enam) bulan atau denda sebanyak-banyaknya Rp. (2) Ketentuan. (2) Selain asas sebagaimana dimaksud pada ayat (1). dan/atau j. Pasal 74 (1) Penyidikan dan penuntutan terhadap pelanggaran atas ketentuan Peraturan Daerah dilakukan oleh pejabat penyidik dan penuntut sesuai dengan peraturan perundang-undangan. (3) Tindak pidana yang dimaksud dalam ayat (1) pasal ini adalah pelanggaran. sebagaimana dimaksud pada ayat (2). c. (2) Peraturan Daerah yang dimaksud dalam ayat (1) pasal ini. Pasal 43 (1) Penyidikan dan penuntutan terhadap pelanggaran atas ketentuan-ketentuan Peraturan Daerah. keserasian. keseimbangan. pembahasan. seluruhnya atau sebagian kepada pelanggar. Pasal 114 (1) Pemerintah dapat membatalkan Peraturan Daerah dan Keputusan Kepala Daerah yang bertentangan dengan kepentingan umum atau peraturan perundangundangan yang lebih tinggi dan/atau peraturan perundang-undangan lainnya. pengayoman. (2) Dengan Peraturan Daerah dapat ditunjuk Pegawai-pegawai Daerah yang diberi tugas untuk melakukan Pasal 73 (1) Peraturan Daerah dan Keputusan Kepala Daerah yang bersifat mengatur diundangkan dengan menempatkannya dalam Lembaran Daerah.000. berlaku sesudah ada pengesahan pejabat yang berwenang. kebangsaan. Pasal 42 (1) Peraturan Daerah dapat memuat ketentuan tentang pembebanan biaya paksaan penegakan hukum. sebagaimana dimaksud pada ayat (1). dapat mengajukan keberatan kepada Pasal 138 (1) Materi muatan Perda mengandung asas: a. d. (2) Peraturan Daerah yang dimaksud dalam ayat (1) pasal ini. h. atau Bupati/Walikota. dan keselarasan. sebagaimana dimaksud pada ayat (1). (2) Dengan Peraturan Daerah dapat juga ditunjuk pejabat lain yang diberi tugas untuk melakukan penyidikan terhadap pelanggaran atas ketentuan Peraturan Daerah. e. i. (2) Apabila dalam satu masa sidang. kecuali jika ditentukan lain dalam peraturan perundang-undangan. Perda dapat memuat asas lain sesuai dengan substansi Perda yang bersangkutan. kemanusiaan. dilakukan oleh alatalat penyidik dan penuntut sesuai dengan peraturan perundangundangan yang berlaku. (3) Tata cara mempersiapkan rancangan Perda yang berasal dari Gubernur atau Bupati/Walikota diatur dengan Peraturan Presiden. kesamaan kedudukan dalam hukum dan pemerintahan. sebagaimana dimaksud pada ayat (2).

000. (3) Rancangan Perda sebagaimana dimaksud . atau apabila setelah 3 (tiga) bulan sejak diterimanya Peraturan Daerah dan atau Keputusan Kepala Daerah tersebut. atau alat kelengkapan DPRD yang khusus menangani bidang legislasi. Pasal 69 (1) Peraturan Daerah dan atau Keputusan Kepala Daerah yang memerlukan pengesahan. Pasal 68 Dengan Peraturan Pemerintah dapat ditentukan bahwa Peraturar. (2) Perda dapat memuat ancaman pidana kurungan paling lama 6 (enam) bulan atau denda edspaling banyak Rp50. sesuai dengan yang diatur dalam peraturan perundangan lainnya. (2) Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara mempersiapkan rancangan Perda sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dalam Peraturan Tata Tertib DPRD. komisi.\ (2) Peraturan Daerah ditandatangani oleh Kepala Daerah dan ditandatangani serta oleh Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Daerah. dengan memberitahukannya kepada Pemerintah Daerah yang bersangkutan sebelum jangka waktu yang dimaksud dalam ayat (1) pasal ini berakhir. (3) Penolakan pengesahan Peraturan Daerah dan atau Keputusan Kepala Mahkamah Agung setelah mengajukannya kepada Pemerintah. seluruhnya atau sebagian kepada pelanggar sesuai dengan peraturan perundangan. Pasal 142 (1) Penyebarluasan rancangan Perda yang berasal dari DPRD dilaksanakan oleh sekretariat DPRD. pejabat yang berwenang tidak mengambil sesuatu keputusan. (2) Penyampaian rancangan Perda sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan dalam jangka waktu paling lama 7 (tujuh) hari terhitung sejak tanggal persetujuan bersama. Pasal 45 Kepala Daerah dapat menetapkan Keputusan Kepala Daerah untuk melaksanakan Peraturan Daerah atau urusan-urusan dalam rangka tugas pembantuan. Daerah dan Keputusan Kepala Daerah mengenai hal-hal tertentu. (2) Jangka waktu 3 (tiga) bulan yang dimaksud dalam ayat (1) pasal ini. Pasal 143 (1) Perda dapat memuat ketentuan tentang pembebanan biaya paksaan penegakan hukum.000. (2) Penyebarluasan rancangan Perda yang berasal dari Gubernur. atau Bupati/Walikota dilaksanakan oleh sekretariat daerah. Pasal 44 (1) Bentuk Peraturan Daerah ditentukan oleh Menteri Dalam Negeri. Pasal 144 (1) Rancangan Perda yang telah disetujui bersama oleh DPRD dan Gubernur atau Bupati/Walikota disampaikan oleh pimpinan DPRD kepada Gubernur atau Bupati/Walikota untuk ditetapkan sebagai Perda. oleh pejabat yang berwenang dapat diperpanjang 3 (tiga) bulan lagi. dapat dijalankan sesudah ada pengesahan pejabat yang berwenang.00 (lima puluh juta rupiah).penyidikan terhadap pelanggaran atas ketentuan-ketentuan Peraturan Daerah. gabungan komisi. Pasal 141 (1) Rancangan Perda disampaikan oleh anggota. baru berlaku sesudah ada pengesahan pejabat yang berwenang. (3) Perda dapat memuat ancaman pidana atau denda selain sebagaimana dimaksud pada ayat (2).

peraturan perundang-undangan atau Peraturan Daerah Tingkat atasnya. “Perda ini dinyatakan sah. (2) Perda sebagaimana dimaksud pada ayat (1) yang bertentangan dengan kepentingan umum dan/atau peraturan perundangundangan yang lebih tinggi dapat dibatalkan oleh Pemerintah. dapat mengajukan keberatan kepada pejabat setingkat lebih atas dari pejabat yang menolak. (2) Apabila Gubernur Kepala Daerah tidak menjalankan haknya untuk menangguhkan atau membatalkan Peraturan Daerah Tingkat II dan atau Keputusan Kepala Daerah Tingkat II sesuai dengan yang dimaksud dalam ayat (1) pasal ini. kepala daerah harus memberhentikan pelaksanaan Perda dan selanjutnya DPRD bersama kepala daerah mencabut Perda dimaksud. mengakibatkan batalnya semua akibat dari Peraturan Daerah dan atau Keputusan Kepala Daerah yang dimaksud. (3) Pembatalan Peraturan Daerah dan atau Keputusan Kepala Daerah yang dimaksud dalam ayat-ayat (1) dan (2) pasal ini. (3) Keputusan pembatalan Perda sebagaimana dimaksud pada ayat (2) ditetapkan dengan Peraturan Presiden paling lama 60 (enam puluh) hari sejak diterimanya Perda sebagaimana dimaksud pada ayat (1). kepala daerah dapat mengajukan keberatan kepada Mahkamah . Pasal 145 (1) Perda disampaikan kepada Pemerintah paling lama 7 (tujuh) hari setelah ditetapkan. (4) Paling lama 7 (tujuh) hari setelah keputusan pembatalan sebagaimana dimaksud pada ayat (3). Pasal 70 (1) Peraturan Daerah dan atau Keputusan Kepala Daerah yang bertentangan dengan kepentingan umum.Daerah yang dimaksud dalam ayat (1) pasal ini. Daerah yang bersangkutan dalam waktu 1 (satu) bulan terhitung mulai saat pemberitahuan penolakan pengesahan itu diterima. (5) Apabila provinsi/kabupaten/kota tidak dapat menerima keputusan pembatalan Perda sebagaimana dimaksud pada ayat (3) dengan alasan yang dapat dibenarkan oleh peraturan perundang-undangan. rumusan kalimat pengesahannya berbunyi.” dengan mencantumkan tanggal sahnya. (4) Terhadap penolakan pengesahan yang dimaksud dalam ayat (3) pasal ini. (4) Keputusan penangguhan atau pembatalan yang dimaksud dalam ayatayat (1) dan (2) pasal ini. sepanjang masih dapat dibatalkan. Dalam hal rancangan Perda tidak ditetapkan Gubernur atau Bupati/Walikota dalam waktu sebagaimana dimaksud pada ayat (3) rancangan Perda tersebut sah menjadi Perda dan wajib diundangkan dengan memuatnya dalam lembaran daerah. Dalam hal sahnya rancangan Perda sebagaimana dimaksud pada ayat (4). oleh pejabat yang berwenang diberitahukan kepada Pemerintah Daerah yang bersangkutan disertai alasan-alasannya. maka penangguhannya dan atau pembatalannya dapat dilakukan oleh Menteri Dalam Negeri. karena bertentangan dengan kepentingan umum. disertai alasan- (4) (5) (6) pada ayat (1) dan ayat (2) ditetapkan oleh Gubernur atau Bupati/Walikota paling lama 30 (tiga puluh) hari sejak rancangan tersebut disetujui bersama. Kalimat pengesahan sebagaimana dimaksud pada ayat (5) harus dibubuhkan pada halaman terakhir Perda sebelum pengundangan naskah Perda ke dalam lembaran daerah. peraturan perundang-undangan atau Peraturan Daerah tingkat atasnya ditangguhkan berlakunya atau dibatalkan oleh pejabat yang berwenang.

demikian pula mengenai perubahan dan pencabutannya. Apabila keberatan sebagaimana dimaksud pada ayat (5) dikabulkan sebagian atau seluruhnya. Perda. (3) Dalam hal tidak tercapai kata sepakat mengenai perubahan dan atau pencabutan yang dimaksud dalam ayat (2) pasal ini. . (2) Peraturan kepala daerah dan atau keputusan kepala daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1). Apabila Pemerintah tidak mengeluarkan Peraturan Presiden untuk membatalkan Perda sebagaimana dimaksud pada ayat (3). (4) Menteri Dalam Negeri menetapkan Peraturan untuk melancarkan pelaksanaan kerjasama antar Pemerintah Daerah. diumumkan dalam Berita Negara Republik Indonesia dan atau Lembaran Daerah yang bersangkutan. (2) Peraturan Bersama yang dimaksud dalam ayat (1) pasal ini. maka pejabat yang berwenang mengambil keputusan. berlaku sesudah ada pengesahan pejabat yang berwenang. tidak boleh melebihi 6 (enam) bulan dan sojak saat penangguhannya. dilarang bertentangan dengan kepentingan umum. Pasal 65 (1) Beberapa Pemerintah Daerah dapat menetapkan Peraturan Bersama untuk mengatur kepentingan Daerahnya secara bersama-sama. (6) (7) Agung. (6) Jika dalam jangka waktu 6 (enam) bulan setelah pcnangguhan itu tidak disusul dengan keputusan pembatalannya. maka Peraturan Daerah dan atau Keputusan-Kepala Daerah itu memperolah kembali kekuatan berlakunya. Pasal 146 (1) Untuk melaksanakan Perda dan atas kuasa peraturan perundang-undangan. (7) Keputusan mengenai pembatalan yang dimaksud dalam ayat-ayat (4) dan (6) pasal ini. (2) Pengundangan Perda dalam Lembaran Daerah dan Peraturan Kepala Daerah dalam Berita Daerah dilakukan oleh Sekretaris Daerah. (5) Lamanya penangguhan yang dinyatakan dalam Keputusan yang dimaksud dalam ayat (4) pasal ini. kepala daerah menetapkan peraturan kepala daerah dan atau keputusan kepala daerah. Peraturan Daerah dan atau Keputusan Kepala Daerah yang bersangkutan kehilangan kakuatan berlakunya.alasannya diberitahukan kepada Kepala Daerah yang bersangkutan dalam jangka waktu 2 (dua) minggu sesudah tanggal keputusan itu. putusan Mahkamah Agung tersebut menyatakan Peraturan Presiden menjadi batal dan tidak mempunyai kekuatan hukum. Perda dimaksud dinyatakan berlaku. (3) Pemerintah daerah wajib menyebarluaskan Perda yang telah diundangkan dalam Lembaran Daerah dan Peraturan Kepala Daerah yang telah diundangkan dalam Berita Daerah. Pasal 147 (1) Perda diundangkan dalam Lembaran Daerah dan Peraturan Kepala Daerah diundangkan dalam Berita Daerah. dan peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi.

ditetapkan oleh Menteri Dalam Negeri. (2) Pembentukan dan susunan organisasi Satuan Polisi Pamong Praja sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berpedoman pada Peraturan Pemerintah. (3) Susunan organisasi dan formasi satuan Polisi Pamong Praja yang dimaksud dalam ayat (1) pasal ini. wewenang. diatur dengan Peraturan Pemerintah. (2) Kedudukan.32 Tahun 2004 disebutkan bahwa anggota dari satua Polisi Pamong Praja dapat diangkat sebagai penyidik pegawai negeri sipil. (3) Dengan Perda dapat juga ditunjuk pejabat lain yang diberi tugas untuk melakukan penyidikan terhadap pelanggaran atas ketentuan Perda. dan arah pembangunan daerah yang mengacu - . misi. sesuai dengan ketentuan yang ditetapkan oleh Pemerintah. hak. Pasal 148 (1) Untuk membantu kepala daerah dalam menegakkan Perda dan penyelenggaraan ketertiban umum dan ketentraman masyarakat dibentuk Satuan Polisi Pamong Praja. (2) Perencanaan pembangunan daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) disusun oleh pemerintahan daerah provinsi. kedudukan. dan kewajiban Polisi Pamong Praja ditetapkan dengan Peraturan Daerah. • Dalam UU No. 19 Perencanaan Pembangunan Daerah Pasal 150 (1) Dalam rangka penyelenggaraan pemerintahan daerah disusun perencanaan pembangunan daerah sebagai satu kesatuan dalam sistem perencanaan pembangunan nasional. Pasal 120 (1) Dalam rangka menyelenggarakan ketenteraman dan ketertiban umum serta untuk menegakkan Peraturan Daerah dibentuk Satuan Polisi Pamong Praja sebagai perangkat Pemerintah Daerah. tugas. Rencana pembangunan jangka panjang daerah disingkat dengan RPJP daerah untuk jangka waktu 20 (dua puluh) tahun yang memuat visi. tugas. (2) Susunan organisasi. Pasal 149 (1) Anggota Satuan Polisi Pamong Praja dapat diangkat sebagai penyidik pegawai negeri sipil sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. formasi.18 Polisi Pamong Praja Pasal 86 (1) Untuk membantu Kepala Wilayah dalam menyelenggarakan pemerintahan umum diadakan satuan Polisi Pamong Praja. hak dan wewenang Polisi Pamong Praja yang dimaksud dalam ayat (1) pasal ini. (3) Perencanaan pembangunan daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (2). (2) Penyidikan dan penuntutan terhadap pelanggaran atas ketentuan Perda dilakukan oleh pejabat penyidik dan penuntut umum sesuai dengan peraturan perundangundangan. kabupaten/kota sesuai dengan kewenangannya yang dilaksanakan oleh Badan Perencanaan Pembangunan Daerah. disusun secara berjangka meliputi: a.

(2) Renstra-SKPD sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dirumuskan dalam bentuk rencana kerja satuan kerja perangkat . dan program kewilayahan disertai dengan rencana kerja dalam kerangka regulasi dan kerangka pendanaan yang bersifat indikatif. kebijakan umum. misi. tujuan. dengan mengacu kepada rencana kerja Pemerintah. prioritas pembangunan daerah. dan program satuan kerja perangkat daerah.kepada RPJP nasional. b. Pasal 151 (1) Satuan kerja perangkat daerah menyusun rencana stratregis yang selanjutnya disebut Renstra-SKPD memuat visi. strategi pembangunan daerah. strategi. rencana kerja dan pendanaannya. dan program kepala daerah yang penyusunannya berpedoman kepada RPJP daerah dengan memperhatikan RPJM nasional. c. merupakan penjabaran dari RPJM daerah untuk jangka waktu 1 (satu) tahun. kebijakan. baik yang dilaksanakan langsung oleh pemerintah daerah maupun ditempuh dengan mendorong partisipasi masyarakat. RPJP daerah dan RJMD sebagaimana dimaksud pada ayat (3) huruf a dan b ditetapkan dengan Perda berpedoman pada Peraturan Pemerintah. d. Rencana pembangunan jangka menengah daerah yang selanjutnya disebut RPJM daerah untuk jangka waktu 5 (lima) tahun merupakan penjabaran dari visi. RPJM daerah sebagaimana dimaksud pada huruf b memuat arah kebijakan keuangan daerah. e. yang memuat rancangan kerangka ekonomi daerah. Rencana kerja pembangunan daerah. misi. lintas satuan kerja perangkat daerah. berpedoman pada RPJM Daerah dan bersifat indikatif. program dan kegiatan pembangunan sesuai dengan tugas dan fungsinya. selanjutnya disebut RKPD.

penganggaran. dan pengawasan. dan i. organisasi dan tata laksana pemerintahan daerah. informasi lain terkait dengan penyelenggaraan pemerintahan daerah. perangkat daerah. . informasi dasar kewilayahan. e. (2) Data dan informasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) mencakup: a. c.daerah yang memuat kebijakan. program. untuk tercapainya daya guna dan hasil guna. g. dan PNS daerah. kependudukan. DPRD. Pasal 154 Tahapan. keuangan daerah. (3) Dalam rangka penyelenggaraan pemerintahan daerah. dan evaluasi pelaksanaan rencana pembangunan daerah diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah yang berpedoman pada perundangundangan. Pasal 152 (1) Perencanaan pembangunanan daerah didasarkan pada data dan informasi yang akurat dan dapat dipertanggungjawabkan. b. produk hukum daerah. f. h. kepala daerah. potensi sumber daya daerah. penyelenggaraan pemerintahan daerah. Pasal 153 Perencanaan pembangunan daerah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 152 disusun untuk menjamin keterkaitan dan konsistensi antara perencanaan. pelaksanaan. pengendalian. d. tata cara penyusunan. pemanfaatan data dan informasi sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dikelola dalam sistem informasi daerah yang terintegrasi secara nasional. dan kegiatan pembangunan baik yang dilaksanakan langsung oleh pemerintah daerah maupun yang ditempuh dengan mendorong partisipasi masyarakat.

3. lain-lain PAD yang sah. dan b. 3. hasil retribusi Daerah. dan pengawasan keuangan Daerah berdasarkan Peraturan Daerah dan peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi. Pasal 157 Sumber pendapatan daerah terdiri atas: a.32 Tahun 2004) Dalam UU No. Belanja. hasil pajak Daerah. 2. pembayaran atau penyerahan uang.22 Tahun 1999 dan UU No. dan yang menerima/mengeluarkan uang. (3) Pelimpahan sebagian atau seluruh kekuasaan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) didasarkan pada prinsip pemisahan kewenangan antara yang memerintahkan. (3) Selama belum ada Kas Daerah atau Bank Pembangunan Daerah. 2. hasil retribusi daerah. lain-lain hasil usaha Daerah yang sah. dan 4. hasil retribusi Daerah . 2. hasil perusahaan milik Daerah. c. pelaporan dan pertanggungjawaban. (2) Penyelenggaraan urusan pemerintahan yang menjadi kewenangan Pemerintah di daerah didanai dari dan atas beban anggaran pendapatan dan belanja negara. dan Pembiayaan Daerah Pasal 55 Sumber pendapatan Daerah adalah : a. hasil pengelolaan kekayaan daerah yang dipisahkan. pendapatan asli daerah yang selanjutnya disebut PAD. atas permintaan Pemerintah Daerah. b.32 Tahun 2004 ditambahkan bahwa sumber pendapatan daerah berasal dari dana perimbangan dan pinjaman daerah (UU N0 22 Tahun 1999. hasil pajak Daerah . Pendapatan asli Daerah sendiri. pelaksanaan.32 tahun 2004. 4. Pendapatan berasal dari pemberian Pasal 79 Sumber pendapatan Daerah terdiri atas: a. hasil perusahaan Daerah . hasil pajak daerah. (2) Uang Daerah disimpan pada Kas Daerah atau Bank Pembangunan Daerah. Pasal 156 (1) Kepala daerah adalah pemegang kekuasaan pengelolaan keuangan daerah. dana perimbangan. serta pengawasan keuangan daerah kepada para pejabat perangkat daerah. Pasal 155 (1) Penyelenggaraan urusan pemerintahan yang menjadi kewenangan daerah didanai dari dan atas beban anggaran pendapatan dan belanja daerah. Menteri Keuangan dapat menugaskan Kas Negara atau Bank Pemerintah tertentu untuk melaksanakan pekerjaan mengenai penerimaan. 3. untuk pinjaman daerah tidak disebutkan dalam UU No. menguji. yaitu : 1. lain-lain pendapatan asli Daerah yang sah. (2) Penyelenggaraan tugas Pemerintah di Daerah dibiayai dari dan atas beban Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara. (3) Administrasi pendanaan penyelenggaraan urusan pemerintahan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan secara terpisah dari administrasi pendanaan penyelenggaraan urusan pemerintahan sebagaimana dimaksud pada ayat (2). diatur lebih terperinci mengenai Dana Alokasi Umum dan . Pasal 78 (1) Penyelenggaraan tugas Pemerintah Daerah dan DPRD dibiayai dari dan atas beban Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah. dan • • Terdapat perbedaan dalam pengaturan mengenai sumber pendapatan daerah dalam UU No. penyimpanan. yaitu: 1. pertanggungjawaban. b. yang terdiri dari : 1. kepala daerah melimpahkan sebagian atau seluruh kekuasaannya yang berupa perencanaan. surat bernilai uang dan atau barang untuk kepentingan Daerah. pendapatan asli Daerah. penatausahaan. dan hasil pengelolaan kekayaan Daerah yang dipisahkan. dana perimbangan. (2) Dalam melaksanakan kekuasaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1). - 21 Pendapatan.20 Keuangan Daerah Pasal 62 (1) Kepala Daerah menyelenggarakan pengurusan.

(3) Hasil pengelolaan kekayaan daerah yang dipisahkan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 157 huruf a angka 3 dan lain-lain PAD yang sah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 157 huruf a angka 4 ditetapkan dengan Perda berpedoman pada peraturan perundangundangan. Dana Alokasi Umum. Pasal 158 (1) retribusi daerah ditetapkan dengan UndangUndang yang pelaksanaannya di daerah diatur lebih lanjut dengan Perda. dan c. Pasal 159 Dana perimbangan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 157 huruf b terdiri atas: a. (2) Bagian Daerah dari penerimaan Pajak Bumi dan Bangunan sektor perdesaan. (4) Ketentuan lebih lanjut. (4) Pengembalian atau pembebasan pajak Daerah dan atau retribusi Daerah hanya dapat dilakukan berdasarkan Peraturan Daerah. pinjaman Daerah. ayat (2). Dana Bagi Hasil. sebagaimana dimaksud dalam Pasal 79. Pasal 25. Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan. b. (2) Pinjaman dari dalam negeri diberitahukan kepada Pemerintah dan dilaksanakan sesuai dengan pedoman yang ditetapkan oleh Pemerintah. dan c. Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) sektor perdesaan. perkotaan. pertambangan serta kehutanan. b. sumbangan dari Pemerintah. Pasal 160 (1) Dana Bagi Hasil sebagaimana dimaksud dalam Pasal 159 huruf a bersumber dari pajak dan sumber daya alam. (3) Peminjaman dan sumber dana pinjaman yang berasal dari luar negeri. sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a. harus mendapatkan persetujuan Pemerintah. Penerimaan kehutanan yang berasal dari iuran hak pengusahaan hutan (IHPH). (2) Dana Bagi Hasil yang bersumber dari pajak sebagaimana dimaksud pada ayat (1) terdiri dari: a. (2) Dengan Peraturan Daerah ditetapkan pungutan pajak dan retribusi Daerah. dan Pasal 29 wajib pajak orang pribadi dalam negeri.c. dan perkebunan serta Bea Perolehan Hak Atas Tanah dan Bangunan. sebagaimana dimaksud pada ayat (1). perkotaan. perkotaan. Pemerintah yang terdiri dari : 1. sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a. perkebunan. Bea Perolehan Atas Hak Tanah dan Bangunan (BPHTB) sektor perdesaan. terdiri atas: a. (2) Pemerintahan daerah dilarang melakukan pungutan atau dengan sebutan lain di luar yang telah ditetapkan undang-undang. menurut cara yang diatur dalam Undang-undang dan tidak boleh berlaku surut. d. pertambangan serta kehutanan. Pasal 58 (1) Dengan Undang-undang ditetapkan ketentuan pokok tentang pajak dan retribusi Daerah. e. 2. Pajak Penghasilan (PPh) Pasal 21. b. Dana Alokasi Khusus Pasal 56 Dengan Undang-undang sesuatu pajak Negara dapat diserahkan kepada Daerah. Dana Alokasi Khusus. dan ayat (3). diterima langsung oleh Daerah penghasil. Pasal 80 (1) Dana perimbangan. lain-lain pendapatan daerah yang sah. sebagaimana dimaksud pada ayat (1). (3) Bagian Daerah dari penerimaan Pajak Bumi dan Bangunan sektor pertambangan serta kehutanan dan penerimaan dari sumber daya alam. perkebunan. c. Lain-lain pendapatan yang sah. (3) Peraturan Daerah yang dimaksud dalam ayat (2) pasal ini berlaku sesudah ada pengesahan pejabat yang berwenang. sesuai dengan ketentuan . sumbangan-sumbangan lain. dana alokasi khusus. dana alokasi umum. bagian Daerah dari penerimaan Pajak Bumi dan Bangunan. Pasal 57 Perimbangan keuangan antara Pemerintah dan Daerah diatur dengan Undang-undang. yang diatur dengan peraturan perundangundangan . dan lain-lain pendapatan Daerah yang sah. dan penerimaan dari sumber daya alam. (3) Dana Bagi Hasil yang bersumber dari sumber daya alam sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berasal dari: a. Pasal 81 (1) Pemerintah Daerah dapat melakukan peminjaman dari sumber dalam negeri dan/atau dari sumber luar negeri untuk membiayai kegiatan pemerintahan dengan persetujuan DPRD. diterima oleh Daerah penghasil dan Daerah lainnya untuk pemerataan sesuai dengan peraturan perundang-undangan. c. ditetapkan dengan Undang-undang.

Penerimaan pertambangan umum yang berasal dari penerimaan iuran tetap (landrent) dan penerimaan iuran eksplorasi dan iuran eksploitasi (royalty) yang dihasilkan dari wilayah daerah yang bersangkutan. f. Pasal 161 (1) DAU sebagaimana dimaksud dalam Pasal 159 huruf b dialokasikan berdasarkan persentase tertentu dari pendapatan dalam negeri neto yang ditetapkan dalam APBN. ditetapkan oleh Pemerintah. e. Penerimaan pertambangan minyak yang dihasilkan dari wilayah daerah yang bersangkutan. ditetapkan oleh Menteri Dalam Negeri berdasarkan pertimbangan dari menteri teknis terkait. sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2). c.peraturan perundang-undangan. (2) DAU untuk suatu daerah ditetapkan berdasarkan kriteria tertentu yang menekankan pada aspek pemerataan dan keadilan yang . Dasar penghitungan bagian daerah dari daerah penghasil sumber daya alam ditetapkan oleh Menteri Teknis terkait setelah memperoleh pertimbangan Menteri Dalam Negeri. Penerimaan pertambangan panas bumi yang berasal dari penerimaan setoran bagian Pemerintah. dan ayat (5) diatur lebih lanjut dalam Peraturan Pemerintah. (2) Penentuan tarif dan tata cara pemungutan pajak dan retribusi Daerah ditetapkan dengan Peraturan Daerah sesuai dengan peraturan perundangundangan. ayat (2). Penerimaan perikanan yang diterima secara nasional yang dihasilkan dari penerimaan pungutan pengusahaan perikanan dan penerimaan pungutan hasil perikanan. ayat (3). ayat (4). Pelaksanaan ketentuan pada ayat (1). iuran tetap dan iuran produksi yang dihasilkan dari wilayah daerah yang bersangkutan. b. Daerah penghasil sumber daya alam sebagaimana dimaksud pada ayat (3). Penerimaan pertambangan gas alam yang dihasilkan dari wilayah daerah yang bersangkutan. Pasal 82 (1) Pajak dan retribusi Daerah ditetapkan dengan Undang-undang. (4) Tata cara peminjaman. (4) (5) (6) provisi sumber daya hutan (PSDH) dan dana reboisasi yang dihasilkan dari wilayah daerah yang bersangkutan. d.

(4) Ketentuan lebih lanjut mengenai DAK diatur dengan Peraturan Pemerintah. Pasal 162 (1) Dana Alokasi Khusus (DAK) sebagaimana dimaksud dalam Pasal 159 huruf c dialokasikan dari APBN kepada daerah tertentu dalam rangka pendanaan pelaksanaan desentralisasi untuk: a. dan evaluasi atas dana bagi hasil pajak. (2) Penyusunan kegiatan khusus yang ditentukan oleh Pemerintah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a dikoordinasikan dengan Gubernur. dana bagi hasil sumber daya alam. Pasal 163 (1) Pedoman penggunaan. (3) Penyusunan kegiatan khusus sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b dilakukan setelah dikoordinasikan oleh daerah yang bersangkutan. (2) Hibah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) . monitoring.selaras dengan penyelenggaraan urusan pemerintahan yang formula dan penghitungan DAU-nya ditetapkan sesuai Undang-Undang. dan DAK diatur dalam Peraturan Menteri Dalam Negeri. b. dana darurat. Pasal 164 (1) Lain-lain pendapatan daerah yang sah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 156 huruf c merupakan seluruh pendapatan daerah selain PAD dan dana perimbangan. Mendanai kegiatan khusus yang ditentukan Pemmerintah atas dasar prioritas nasional. mendanai kegiatan khusus yang diusulkan daerah tertentu. supervisi. (2) Pengaturan lebih lanjut mengenai pembagian dana perimbangan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 157 huruf b ditetapkan dalam Undang-Undang tentang Perimbangan Keuangan Antara Pemerintah Pusat dan Pemerintahan Daerah. dan lain-lain pendapatan yang ditetapkan Pemerintah. DAU. yang meliputi hibah.

masyarakat. fasilitas sosial dan fasilitas umum yang layak. serta mengembangkan sistem jaminan sosial. . Pendapatan dana darurat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) merupakan bantuan Pemerintah dari APBN kepada pemerintah daerah untuk mendanai keperluan mendesak yang diakibatkan peristiwa tertentu yang tidak dapat ditanggulangi APBD. dan pengalokasian dana darurat di atur dalam Peraturan Pemerintah. Pasal 167 (1) Belanja daerah diprioritaskan untuk melindungi dan meningkatkan kualitas kehidupan masyarakat dalam upaya memenuhi kewajiban daerah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 22. (3) Tata cara pengelolaan dan pertanggungjawaban penggunaan dana darurat diatur dalam Peraturan Pemerintah. sehingga mengancam keberadaannya sebagai daerah otonom. evaluasi oleh Pemerintah. Pasal 165 (1) Keadaan yang dapat digolongkan sebagai peristiwa tertentu sebagaimana dimaksud dalam Pasal 164 ayat (3) ditetapkan dengan Peraturan Presiden. dan/atau jasa yang berasal dari Pemerintah. (2) Besarnya alokasi dana darurat ditetapkan oleh Menteri Keuangan dengan memperhatikan pertimbangan Menteri Dalam Negeri dan Menteri teknis terkait. (2) Perlindungan dan peningkatan kualitas kehidupan masyarakat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diwujudkan dalam bentuk peningkatan pelayanan dasar. pendidikan. (2) Tata cara pengajuan permohonan. yang tidak mampu diatasi sendiri. barang. Pasal 166 (1) Pemerintah dapat mengalokasikan dana darurat kepada daerah yang dinyatakan mengalami krisis keuangan daerah.(3) merupakan bantuan berupa uang. dan badan usaha dalam negeri atau luar negeri. penyediaan fasilitas pelayanan kesehatan.

tolok ukur kinerja. standar harga. b. (2) Peraturan Pemerintah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) sekurang-kurangnya mengatur tentang: a. dan standar pelayanan minimal yang ditetapkan sesuai dengan peraturan perundang-undangan. Pasal 171 (1) Ketentuan mengenai pinjaman daerah dan obligasi daerah diatur dengan Peraturan Pemerintah. persyaratan bagi pemerintah daerah dalam melakukan pinjaman. Pasal 170 (1) Pemerintah daerah dapat melakukan pinjaman yang berasal dari penerusan pinjaman hutang luar negeri dari Menteri Keuangan atas nama Pemerintah setelah memperoleh pertimbangan Menteri Dalam Negeri.(3) Belanja daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) mempertimbangkan analisis standar belanja. pemerintah daerah lain. penganggaran kewajiban pinjaman daerah . (2) Belanja pimpinan dan anggota DPRD diatur dalam Perda yang berpedoman pada Peraturan Pemerintah. pemerintah daerah dapat melakukan pinjaman yang bersumber dari Pemerintah. (2) Perjanjian penerusan pinjaman sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan antara Menteri Keuangan dan kepala daerah. Pasal 168 (1) Belanja kepala daerah dan wakil kepala daerah diatur dalam Perda yang berpedoman pada Peraturan Pemerintah. Pasal 169 (1) Untuk membiayai penyelenggaraan pemerintahan daerah. lembaga keuangan bukan bank. (2) Pemerintah daerah dengan persetujuan DPRD dapat menerbitkan obligasi daerah untuk membiayai investasi yang menghasilkan penerimaan daerah. dan masyarakat. lembaga keuangan bank.

serta lembaga keuangan bukan bank dan masyarakat. pengenaaan sanksi dalam hal pemerintah daerah tidak memenuhi kewajiban membayar pinjaman kepada Pemerintah. . pembayaran bunga dan pokok obligasi. dan/atau dapat dialihkan kepada badan usaha milik daerah. Pasal 173 (1) Pemerintah daerah dapat melakukan penyertaan modal pada suatu Badan Usaha Milik Pemerintah dan/atau milik swasta. persyaratan penerbitan obligasi daerah. Pasal 172 (1) Pemerintah daerah dapat membentuk dana cadangan guna membiayai kebutuhan tertentu yang dananya tidak dapat disediakan dalam satu tahun anggaran. d. dikurangi. pelunasan dan penganggaran dalam APBD. penjualan dan pembelian obligasi. pengelolaan obligasi daerah yang mencakup pengendalian risiko. tata cara pelaporan posisi kumulatif pinjaman dan kewajiban pinjaman setiap semester dalam tahun anggaran berjalan. serta pengelolaan dan pertanggungjawabannya. f. lembaga perbankan. (2) Pengaturan tentang dana cadangan daerah ditetapkan dengan Peraturan Pemerintah. (3) Penyertaan modal sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilaksanakan sesuai dengan peraturan perundang-undangan. c.yang jatuh tempo dalam APBD. pemerintah daerah lain. (3) Peraturan Pemerintah sebagaimana dimaksud pada ayat (2) sekurangkurangnya mengatur persyaratan pembentukan dana cadangan. dijual kepada pihak lain. e. (2) Penyertaan modal sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat ditambah.

transfer ke rekening dana cadangan. penyertaan modal (investasi daerah). 5 Tahun 1974 dan UU No. prasana.22 Surplus dan Defisit APBD - - Pasal 174 (1) Dalam hal APBD diperkirakan surplus. penggunaannya ditetapkan dalam Perda tentang APBD. pinjaman daerah. (2) Pemerintah daerah wajib melaporkan posi-si surplus/defisit APBD kepada Menteri Dalam Negeri dan Menteri Keuangan setiap semester dalam tahun anggaran berjalan. • Materi tentang pemberian insentif dan kemudahan investasi ada perubahan bahwa dalam UU No. Pemerintah dapat melakukan penundaan atas penyaluran dana perimbangan. ditetapkan dengan Peraturan Pemerintah. . dan hal tersebut diatur dalam Peraturan Daerah tidak lagi dituangkan dalam Peraturan Pemerintah. (3) Dalam hal pemerintah daerah tidak memenuhi kewajiban sebagaimana dimaksud pada ayat (2). dapat didanai dari sumber pembiayaan daerah yang ditetapkan dalam Perda tentang APBD. • Hal ini merupakan materi baru yang tidak diatur sebelumnya dalam UU No. Pasal 175 (1) Menteri Dalam Negeri melakukan pengendalian defisit anggaran setiap daerah. dan d. sisa lebih perhitungan anggaran tahun lalu.32 tahun 2004 23 Pemberian Insentif dan Kemudahan Investasi - Pasal 83 (1) Untuk mendorong pemberdayaan Daerah. pembayaran cicilan pokok utang yang jatuh tempo. (2) Surplus sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat digunakan untuk: a. c. (4) Pembiayaan daerah sebagaimana di-maksud pada ayat (3) bersumber dari: a. Pemerintah memberi insentif fiskal dan nonfiskal tertentu. transfer dari dana cadangan. c. hasil penjualan kekayaan daerah yang dipisahkan. b. (2) Ketentuan.32 Tahun 2004 disebutkan bahwa insentif tidak hanya berupa insentif fiskal dan non fiskal tetapi dalam penjelasannya disebutkan insentif tersebut berupa penyediaan sarana. b. (3) Dalam hal APBD diperkirakan defisit. sebagaimana dimaksud pada ayat (1). Pasal 176 Pemerintah daerah dalam meningkatkan perekonomian daerah dapat memberikan insentif dan/atau kemudahan kepada masyarakat dan/atau investor yang diatur dalam Perda dengan berpedoman pada peraturan perundang-undangan.

hanya dapat dilakukan dimuka umum. - 25 Pengelolaan Barang Daerah Pasal 63 (1) Barang milik Daerah yang dipergunakan untuk melayani kepentingan umum tidak dapat dijual. dan nilai ekonomis yang dilakukan secara transparan sesuai dengan peraturan perundang-undangan. penghapusan tagihan Daerah sebagian atau seluruhnya . Pasal 60 (1) Dengan Peraturan Daerah dapat diadakan usaha-usaha sebagai sumber pendapatan Daerah. (2) Penjualan dan penyerahan yang dimaksud dalam ayat (1) pasal ini.Tindakan hukum lain mengenai barang milik daerah (2) (3) (4) . penghapusan tagihan Daerah sebagian atau seluruhnya. diserahkan haknya kepada pihak lain.24 BUMD Pasal 59 (1) Pemerintah Daerah dapat mengadakan Perusahaan Daerah yang penyelenggaraan dan pembinaannya dilakukan berdasarkan azas ekonomi perusahaan. (2) Peraturan Daerah yang dimaksud dalam ayat (1) pasal ini. Pelaksanaan penghapusan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dilakukan berdasarkan kebutuhan daerah. dijadikan tanggungan atau digadaikan. usia pakai. persetujuan penyelesaian perkara perdata secara damai . Barang milik daerah dapat dihapuskan dari daftar inventaris barang daerah untuk dijual. Pelaksanaan pengadaan barang dilakukan sesuai dengan kemampuan keuangan dan kebutuhan daerah berdasarkan prinsip efisiensi. berlaku sesudah ada pengesahan Mendagri Pasal 85 (1) Barang milik Daerah yang digunakan untuk melayani kepentingan umum tidak dapat digadaikan. Pasal 84 Daerah dapat memiliki Badan Usaha Milik Daerah sesuai dengan peraturan perundang-undangan dan pembentukannya diatur dengan Peraturan Daerah. • UU No. dihibahkan. kecuali apabila ditentukan lain dalam Keputusan Kepala Daerah yang dimaksud dalam ayat (1) pasal ini. (3) Dengan persetujuan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kepala Daerah dapat menetapkan Keputusan tentang : a.Persetujuan penyelesaian sengketa perdata secara damai . kecuali dengan Keputusan Kepala Daerah dengan persetujuan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah. (2) Kepala Daerah dengan persetujuan DPRD dapat menetapkan keputusan tentang: a. pelepasan kepemilikan. c. (4) Keputusan yang dimaksud dalam ayatayat (1). mengenai barang milik atau hak Daerah . (2) Dengan Undang-undang ditetapkan ketentuan pokok tentang Perusahaan Daerah.Penghapusan tagihan daerah sebagian atau seluruhnya . berlaku sesudah ada pengesahan pejabat yang berwenang. diserahkan haknya kepada pihak lain. penggabungan. (2). Pasal 177 Pemerintah daerah dapat memiliki BUMD yang pembentukan. tindakan hukum lain mengenai barang milik Daerah. dan transparansi dengan mengutamakan produk dalam negeri sesuai dengan peraturan perundangundangan. dibebani hak tanggungan. dijadikan tanggungan. 32 tahun 2004 menghapuskan wewenang dari kepala daerah untuk menetapkan keputusan mengenai : . b. b. mutu barang. dan (3) pasal ini. dan/atau pembubarannya ditetapkan dengan Perda yang berpedoman pada peraturan perundang-undangan. atau digadaikan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. dan c. persetujuan penyelesaian sengketa perdata secara damai. Pasal 178 (1) Barang milik daerah yang dipergunakan untuk melayani kepentingan umum tidak dapat dijual. dan/atau dipindahtangankan. tindakan hukum lain. dan/atau dimusnahkan sesuai dengan ketentuan peraturan perundangundangan. efektivitas.

Pasal 181 (1) Kepala daerah mengajukan rancangan Perda tentang APBD disertai penjelasan dan dokumen-dokumen pendukungnya kepada DPRD untuk memperoleh persetujuan bersama. dan pengawasan keuangan Daerah serta tata cara penyusunan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah. (3) Perhitungan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah ditetapkan dengan Peraturan Daerah selambat-lambatnya tiga bulan setelah berakhirnya tahun anggaran yang bersangkutan. tiap tahun. (5) Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah yang telah ditetapkan dengan Peraturan Daerah disampaikan kepada Gubernur bagi Pemerintah Kabupaten/Kota dan kepada Presiden melalui Menteri Dalam Negeri bagi Pemerintah Propinsi untuk diketahui. Pasal 86 (1) Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah ditetapkan dengan Peraturan Daerah selambat-lambatnya satu bulan setelah ditetapkannya Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara. (7) Pengesahan atau penolakan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah oleh pejabat yang berwenang dapat dilakukan pos demi pos atau secara keseluruhan. serta prioritas dan plafon anggaran. (2) Rancangan Perda sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dibahas pemerintah daerah bersama DPRD berdasarkan kebijakan umum APBD. (6) Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah serta perubahannya. (2) Perubahan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah ditetapkan dengan Peraturan Daerah selambat-lambatnya tiga bulan sebelum tahun anggaran berakhir. pelaksanaan tata usaha keuangan Daerah dan penyusunan perhitungan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah ditetapkan sesuai dengan peraturan perundang-undangan. Pasal 180 (1) Kepala daerah dalam penyusunan rancangan APBD menetapkan prioritas dan plafon anggaran sebagai dasar penyusunan rencana kerja dan anggaran satuan kerja perangkat daerah. (4) Apabila Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah pada permulaan tahun anggaran yang bersangkutan belum mendapat pengesahan dari pejabat yang berwenang dan belum diundangkan. dan perhitungan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah ditetapkan dengan Peraturan Pemerintah. (5) Pemerintah Daerah wajib berusaha mencukupi anggaran belanja rutin dengan pendapatan sendiri. sepanjang tidak dikuasakan sendiri oleh Anggaran itu. (4) Pedoman tentang penyusunan. perubahan. tiap tahun. (2) Berdasarkan prioritas dan plafon anggaran sebagaimana dimaksud pada ayat (1) kepala satuan kerja perangkat daerah menyusun rencana kerja dan anggaran satuan kerja perangkat daerah dengan pendekatan berdasarkan prestasi kerja yang akan dicapai. Pasal 179 APBD merupakan dasar pengelolaan keuangan daerah dalam masa 1 (satu) tahun anggaran terhitung mulai 1 Januari sampai dengan tanggal 31 Desember. pertanggungjawaban. kepala • Materi mengani Aggaran Pendapatan dan Belanja Daerah diatur lebih rinci dalam UU No. (3) Dengan Peraturan Daerah. dilaksanakan sesudah ada pengesahan pejabat yang berwenang. (4) Atas dasar persetujuan DPRD sebagaimana dimaksud pada ayat (3). ditetapkan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah. selambat-lambatnya 3 (tiga) bulan setelah ditetapkan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara untuk tahun anggaran tertentu. (2) Dengan Peraturan Daerah. (3) Pengambilan keputusan DPRD untuk menyetujui rancangan Perda sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dilakukan selambatlambatnya 1 (satu) bulan sebelum tahun anggaran dilaksanakan. (3) Rencana kerja dan anggaran satuan kerja perangkat daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (2) disampaikan kepada pejabat pengelola keuangan daerah sebagai bahan penyusunan rancangan Perda tentang APBD tahun berikutnya. (6) Pedoman tentang pengurusan. ditetapkan perhitungan atas Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah tahun anggaran sebelumnya. penyusunan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah. (8) Dengan Peraturan Pemerintah diatur ketentuan-ketentuan tentang cara: a.32 Tahun 2004 seperti adanya kewajiban Kepala daerah menyampaikan rancangan Perda tentang pertanggungjawaban pelaksanaan APBD kepada DPRD berupa laporan keuangan yang telah diperiksa oleh Badan Pemeriksa Keuangan paling lambat 6 (enam) bulan setelah tahun anggaran berakhir.26 APBD Pasal 64 (1) Tahun anggaran Daerah adalah sama dengan tahun anggaran Negara. maka Pemerintah Daerah menggunakan anggaran tahun sebelumnya sebagai dasar pengurusan keuangannya. . selambat-lambatnya 6 (enam) bulan setelah ditetapkan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara untuk tahun anggaran tertentu.

keadaan yang menyebabkan harus dilakukan pergeseran anggaran antar unit organisasi. dan c. keadaan yang menyebabkan sisa lebih perhitungan anggaran tahun sebelumnya harus digunakan untuk pembiayaan dalam tahun anggaran berjalan. Pasal 183 (1) Perubahan APBD dapat dilakukan apabila terjadi: a. Pasal 182 Tata cara penyusunan rencana kerja dan anggaran satuan kerja perangkat daerah serta tata cara penyusunan dokumen pelaksanaan anggaran satuan kerja perangkat daerah diatur dalam Perda yang berpedoman pada peraturan perundangundangan. (9) Dengan Peraturan Menteri Dalam Negeri diatur lebih lanjut cara melaksanakan ketentuan yang dimaksud dalam ayat (8) pasal ini. (2) Laporan keuangan sebagaimana dimaksud . antarkegiatan. disertai penjelasan dan dokumen-dokumen pendukungnya kepada DPRD. daerah menyiapkan rancangan peraturan kepala daerah tentang penjabaran APBD dan rancangan dokumen pelaksanaan anggaran satuan kerja perangkat daerah. perkembangan yang tidak sesuai dengan asumsi kebijakan umum APBD. Pasal 184 (1) Kepala daerah menyampaikan rancangan Perda tentang pertanggungjawaban pelaksanaan APBD kepada DPRD berupa laporan keuangan yang telah diperiksa oleh Badan Pemeriksa Keuangan paling lambat 6 (enam) bulan setelah tahun anggaran berakhir. b. dan antarjenis belanja. penyusunan permtungan atas Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah.b. c. pertanggungjawaban dan pengawasan keuangan Daerah. pengurusan. (2) Pemerintah daerah mengajukan rancang-an Perda tentang perubahan APBD. (3) Pengambilan keputusan mengenai rancangan Perda tentang perubahan APBD sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dilakukan oleh DPRD paling lambat 3 (tiga) bulan sebelum tahun anggaran yang bersangkutan berakhir.

neraca. (3) Apabila Menteri Dalam Negeri menyatakan hasil evaluasi rancangan Perda tentang APBD dan rancangan Peraturan Gubernur tentang penjabaran APBD sudah sesuai dengan kepentingan umum dan peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi. Pasal 185 (1) Rancangan Perda provinsi tentang APBD yang telah disetujui bersama dan rancangan Peraturan Gubernur tentang penjabaran APBD sebelum ditetapkan oleh Gubernur paling lambat 3 (tiga) hari disampaikan kepada Menteri Dalam Negeri untuk dievaluasi. (2) Hasil evaluasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) disampaikan oleh Menteri Dalam Negeri kepada Gubernur paling lambat 15 (lima belas) hari terhitung sejak diterimanya rancangan dimaksud.pada ayat (1) sekurang-kurangnya meliputi laporan realisasi APBD. yang dilampiri dengan laporan keuangan badan usaha milik daerah. dan Gubernur tetap menetapkan rancangan Perda tentang APBD dan rancangan Peraturan Gubernur . Gubernur bersama DPRD melakukan penyempurnaan paling lama 7 (tujuh) hari terhitung sejak diterimanya hasil evaluasi. Gubernur menetapkan rancangan dimaksud menjadi Perda dan Peraturan Gubernur. (5) Apabila hasil evaluasi tidak ditindaklanjuti oleh Gubernur dan DPRD. (3) Laporan keuangan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) disusun dan disajikan sesuai dengan standar akuntansi pemerintahan yang ditetapkan dengan Peraturan Pemerintah. dan catatan atas laporan keuangan. laporan arus kas. (4) Apabila Menteri Dalam Negeri menyata-kan hasil evaluasi rancangan Perda tentang APBD dan rancangan Peraturan Gubernur tentang penjabaran APBD bertentangan dengan kepentingan umum dan peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi.

dan Bupati/Walikota tetap menetapkan rancangan Perda tentang APBD dan rancangan Peraturan Bupati/Walikota tentang penjabaran APBD menjadi Perda dan Peraturan Bupati/Walikota.tentang penjabaran APBD menjadi Perda dan Peraturan Gubernur. Menteri Dalam Negeri membatalkan Perda dan Peraturan Gubernur dimaksud sekaligus menyatakan berlakunya pagu APBD tahun sebelumnya. (5) Apabila hasil evaluasi tidak ditindaklanjuti oleh Bupati/Walikota dan DPRD. Gubernur . (3) Apabila Gubernur menyatakan hasil evaluasi rancangan Perda tentang APBD dan rancangan Peraturan Bupati/Walikota tentang Penjabaran APBD sudah sesuai dengan kepentingan umum dan peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi. Pasal 186 (1) Rancangan Perda kabupaten/kota tentang APBD yang telah disetujui bersama dan rancangan Peraturan Bupati/Walikota tentang Penjabaran APBD sebelum ditetapkan oleh Bupati/Walikota paling lama 3 (tiga) hari disampaikan kepada Gubernur untuk dievaluasi. (2) Hasil evaluasi disampaikan oleh Gubernur kepada Bupati/Walikota paling lama 15 (lima belas) hari terhitung sejak diterimanya rancangan Perda kabupaten/kota dan rancangan Peraturan Bupati/Walikota tentang Penjabaran APBD sebagaimana dimaksud pada ayat (1). (4) Apabila Gubernur menyatakan hasil evaluasi rancangan Perda tentang APBD dan rancangan Peraturan Bupati/Walikota tentang Penjabaran APBD tidak sesuai dengan kepentingan umum dan peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi. Bupati/Walikota bersama DPRD melakukan penyempurnaan paling lama 7 (tujuh) hari sejak diterimanya hasil evaluasi. Bupati/Walikota menetapkan ran-cangan dimaksud menjadi Perda dan Peraturan Bupati/Walikota.

kepala daerah melaksanakan pengeluaran setinggi-tingginya sebesar angka APBD tahun anggaran sebelumnya untuk membiayai keperluan setiap bulan yang disusun dalam rancangan peraturan kepala daerah tentang APBD. kepala daerah menetapkan rancangan peraturan kepala daerah dimaksud menjadi peraturan kepala daerah. Pasal 187 (1) Apabila DPRD sampai batas waktu sebagaimana dimaksud dalam Pasal 181 ayat (3) tidak mengambil keputusan bersama dengan kepala daerah terhadap rancangan peraturan kepala daerah tentang APBD. Gubernur menyampaikan hasil evaluasi rancangan Perda kabupaten/kota tentang APBD dan rancangan Peraturan Bupati/Walikota tentang Penjabaran APBD kepada Menteri Dalam Negeri.(6) membatalkan Perda dan Peraturan Bupati/Walikota dimaksud sekaligus menyatakan berlakunya pagu APBD tahun sebelumnya. rancangan peraturan kepala daerah tentang APBD beserta lampirannya disampaikan paling lambat 15 (lima belas) hari terhitung sejak DPRD tidak mengambil keputusan bersama dengan kepala daerah terhadap rancangan Perda tentang APBD. (4) Apabila dalam batas waktu 30 (tiga puluh) hari Menteri Dalam Negeri atau Gubernur tidak mengesahkan rancangan peraturan kepala daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (2). (2) Rancangan peraturan kepala daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat dilaksanakan setelah memperoleh pengesahan dari Menteri Dalam Negeri bagi provinsi dan Gubernur bagi kabupaten/kota. Pasal 188 Proses penetapan rancangan Perda tentang . (3) Untuk memperoleh pengesahan sebagaimana dimaksud pada ayat (2).

Pasal 191 Dalam rangka evaluasi pengelolaan keuangan daerah dikembangkan sistem informasi keuangan daerah yang menjadi satu kesatuan dengan sistem informasi pemerintahan daerah. (2) Untuk setiap pengeluaran atas beban APBD. (3) Pengeluaran tidak dapat dibebankan pada anggaran belanja daerah jika untuk pengeluaran tersebut tidak tersedia atau tidak cukup tersedia dalam APBD. Pasal 190 Peraturan kepala daerah tentang Penjabaran APBD dan peraturan kepala daerah tentang Penjabaran Perubahan APBD dijadikan dasar penetapan dokumen pelaksanaan anggaran satuan kerja perangkat daerah. retribusi daerah. berlaku Pasal 185 dan Pasal 186. dan pejabat daerah . wakil kepala daerah. Pasal 192 (1) Semua penerimaan dan pengeluaran pemerintahan daerah dianggarkan dalam APBD dan dilakukan melalui rekening kas daerah yang dikelola oleh Bendahara Umum Daerah. dengan ketentuan untuk pajak daerah dan retribusi daerah dikoordinasikan terlebih dahulu dengan Menteri Keuangan. pimpinan DPRD. Pasal 189 Proses penetapan rancangan Perda yang berkaitan dengan pajak daerah. diterbitkan surat keputusan otorisasi oleh kepala daerah atau surat keputusan lain yang berlaku sebagai surat keputusan otorisasi.Perubahan APBD dan rancangan peraturan kepala daerah tentang Penjabaran Perubahan APBD menjadi Perda dan peraturan kepala daerah berlaku ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 185. (4) Kepala daerah. dan Pasal 187. dan tata ruang daerah menjadi Perda. Pasal 186. dan untuk tata ruang daerah dikoordinasikan dengan menteri yang membidangi urusan tata ruang.

32 tahun 2004 merubah ketentuan yang terdapat dalam UU No. penghapusan tagihan daerah. • UU No. (2) Perangkat desa terdiri dari sekretaris dan perangkat desa lainnya.undang Desa Pasal 93 (1) Desa dapat dibentuk. (3) Sekretaris desa sebagaimana dimaksud ayat (2) diisi dari pegawai negeri sipil memenuhi persyaratan. (2) Pembentukan. penghapusan. sebagaimana dimaksud pada ayat (1). sebagian atau seluruhnya. Pasal 94 Di Desa dibentuk Pemerintah Desa dan Badan Perwakilan Desa. pengawasan dan pertanggungjawaban keuangan daerah diatur lebih lanjut dengan Perda yang berpedoman pada Peraturan Pemerintah. Pasal 194 Penyusunan. dan/atau digabung dengan memperhatikan asalusulnya atas prakarsa masyarakat dengan persetujuan Pemerintah Kabupaten dan DPRD.22 Tahun 1999 mengenai masa jabatan Kepala Daerah dari sepuluh tahun menjadi enam tahun. bunga atas penempatan uang di bank. penyelesaian masalah Perdata.22 Tahun 1999 mengatur secara lebih rinci mengenai syarat dan tata cara jabatan kepala desa 27 Pemerintahan Desa Pasal 88 Pengaturan tentang Pemerintahan ditetapkan dengan Undang. jasa giro. dan b. desa desa pada yang Pasal 203 (1) Kepala desa sebagaimana dimaksud dalam Pasal 202 ayat (1) dipilih langsung oleh dan dari penduduk desa warga negara Republik Indonesia yang syarat selanjutnya dan tata cara pemilihannya diatur dengan Perda yang . pelaksanaan. • UU No. (3) Kepala daerah dengan persetujuan DPRD dapat menetapkan peraturan tentang : a. dilarang melakukan pengeluaran atas beban anggaran belanja daerah untuk tujuan lain dari yang telah ditetapkan dalam APBD.lainnya. Pasal 193 (1) Uang milik pemerintahan daerah yang sementara belum digunakan dapat didepositokan dan/atau diinvestasikan dalam investasi jangka pendek sepanjang tidak mengganggu likuiditas keuangan daerah. yang merupakan Pemerintahan Desa. Pasal 95 Pasal 202 (1) Pemerintah desa terdiri atas kepala dan perangkat desa. pelaporan. (2) Bunga deposito. penatausahaan. dan/atau penggabungan Desa. dihapus. dan/atau bunga atas investasi jangka pendek merupakan pendapatan daerah. ditetapkan dengan Peraturan Daerah.

sehat jasmani dan rohani. Pasal 206 Urusan pemerintahan yang menjadi kewenangan desa mencakup: (1) urusan pemerintahan yang sudah ada . d. tidak pernah dihukum penjara karena melakukan tindak pidana. bahwa saya akan selalu taat dalam mengamalkan dan mempertahankan Pancasila sebagai dasar negara. k. dan seadil-adilnya. Pasal 204 Masa jabatan kepala desa adalah 6 (enam) tahun dan dapat dipilih kembali hanya untuk 1 (satu) kali masa jabatan berikutnya. daerah. memenuhi syarat-syarat lain yang sesuai dengan adat istiadat yang diatur berpedoman kepada Peraturan Pemerintah. setia dan taat kepada Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945. h. (3) Susunan kata-kata sumpah/janji dimaksud adalah sebagai berikut: “Demi Allah (Tuhan). berkelakuan baik. dan bahwa saya akan menegakkan kehidupan demokrasi dan Undang-Undang Dasar 1945 serta melaksanakan segala peraturan perundang-undangan dengan seluruslurusnya yang berlaku bagi desa. sejujurjujurnya.(1) Pemerintah Desa terdiri atas Kepala Desa atau yang disebut dengan nama lain dan perangkat Desa. mengenal daerahnya dan dikenal oleh masyarakat di Desa setempat. (2) Sebelum memangku jabatannya. bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. ditetapkan sebagai kepala desa. g. dan adil. nyata-nyata tidak terganggu jiwa/ingatannya. dan m. berpendidikan sekurang-kurangnya Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama dan/atau berpengetahuan yang sederajat. l. e. jujur. kepala desa mengucapkan sumpah/janji. berumur sekurang-kurangnya 25 tahun. f. Pasal 96 Masa jabatan Kepala Desa paling lama sepuluh tahun atau dua kali masa jabatan terhitung sejak tanggal ditetapkan. b. tidak dicabut hak pilihnya berdasarkan keputusan pengadilan yang mempunyai kekuatan hukum tetap. (2) Calon kepala desa yang memperoleh suara terbanyak dalam pemilihan kepala desa sebagaimana dimaksud pada ayat (1). (3) Calon Kepala Desa yang terpilih dengan mendapatkan dukungan suara terbanyak. Pasal 97 Yang dapat dipilih menjadi Kepala Desa adalah penduduk Desa warga negara Republik Indonesia dengan syarat-syarat: a. G30S/PKI dan/atau kegiatan organisasi terlarang lainnya. i. ditetapkan oleh Badan Perwakilan Desa dan disahkan oleh Bupati. tidak pernah terlibat langsung atau tidak langsung dalam kegiatan yang mengkhianati Pancasila dan UndangUndang Dasar 1945. sebagaimana dimaksud pada ayat (2). j. bersedia dicalonkan menjadi Kepala Desa. (2) Kepala Desa dipilih langsung oleh penduduk Desa dari calon yang memenuhi syarat. saya bersumpah/berjanji bahwa saya akan memenuhi kewajiban saya selaku kepala desa dengan sebaik-baiknya. c. dan Negara Kesatuan Republik Indonesia”. Pasal 205 (1) Kepala desa terpilih dilantik oleh Bupati/Walikota paling lambat 30 (tiga puluh) hari setelah pemilihan. (3) Pemilihan kepala desa dalam kesatuan masyarakat hukum adat beserta hak tradisionalnya sepanjang masih hidup dan yang diakui keberadaannya berlaku ketentuan hukum adat setempat yang ditetapkan dalam Perda dengan berpedoman pada Peraturan Pemerintah.

memimpin penyelenggaraan Pemerintah Desa. kewenangan yang sudah ada berdasarkan hak asal-usul Desa. (3) (4) berdasarkan hak asal-usul desa. Pemerintah Propinsi. (2) Sebelum memangku jabatannya. Kepala Desa mengucapkan sumpah/janji. Tugas Pembantuan dari Pemerintah. dan Negara Kesatuan Republik Indonesia. (3) Susunan kata-kata sumpah/janji dimaksud adalah sebagai berikut : "Demi Allah (Tuhan). dan bahwa saya akan menegakkan kehidupan demokrasi dan Undang-Undang Dasar 1945 sebagai konstitusi negara serta segala peraturan perundang-undangan yang berlaku bagi Desa. urusan pemerintahan yang menjadi kewenangan kabupaten/kota yang diserahkan pengaturannya kepada desa. Pasal 99 Kewenangan Desa mencakup : a. (2) Pasal 98 (1) Kepala Desa dilantik oleh Bupati atau pejabat lain yang ditunjuk. pemerintah provinsi. serta sumber daya manusia. Pasal 101 Tugas dan kewajiban Kepala Desa adalah : a. sarana dan prasarana. dan/atau Pemerintah Kabupaten.dalam Peraturan Daerah. Pasal 208 Tugas dan kewajiban kepala desa dalam memimpin penyelenggaraan pemerintahan desa diatur lebih lanjut dengan Perda berdasarkan Peraturan Pemerintah. b. dan/atau pemerintah kabupaten/kota. pemerintah provinsi. kewenangan yang oleh peraturan perundang-perundangan yang berlaku belum dilaksanakan oleh Daerah dan Pemerintah. tugas pembantuan dari Pemerintah. sarana dan prasarana. dan c. dan/atau pemerintah kabupaten/kota kepada desa disertai dengan pembiayaan. Daerah. bahwa saya akan selalu taat dalam mengamalkan dan mempertahankan Pancasila sebagai dasar negara. Pemerintah Propinsi. serta sumber daya manusia. urusan pemerintahan lainnya yang oleh peraturan perundang-perundangan diserahkan kepada desa. Pasal 100 Tugas Pembantuan dari Pemerintah. . saya bersumpah/berjanji bahwa saya akan memenuhi kewajiban saya selaku Kepala Desa dengan sebaik-baiknya. Pasal 207 Tugas pembantuan dari Pemerintah. dan seadil-adilnya. sejujurjujurnya. dan/atau Pemerintah Kabupaten kepada Desa disertai dengan pembiayaan.

membina perekonomian Desa. tidak lagi memenuhi syarat dan/atau melanggar sumpah/ janji. c. sebagaimana dimaksud pada ayat (1). Pasal 209 Badan Permusyawaratan Desa berfungsi menetapkan peraturan desa bersama kepala desa. b. dan e.b. serta melakukan pengawasan terhadap penyelenggaraan Pemerintahan Desa.32 Tahun 2004 terdapat perubahan istilah dari lembaga perwakilan desa menjadi lembaga permusyawaratan desa dan diatur mengenai pembatasan masa jabatan dari anggota Badan Permusyawaratan Desa. Pasal 102 Dalam melaksanakan tugas dan kewajiban. Kepala Desa : a. (2) Pemberhentian Kepala Desa. d. menyampaikan laporan mengenai pelaksanaan tugasnya kepada Bupati. berakhir masa jabatan dan telah dilantik Kepala Desa yang baru. membina kehidupan masyarakat Desa. meninggal dunia. melakukan perbuatan yang bertentangan dengan ketentuan peraturan perundangundangan yang berlaku dan/atau norma yang hidup dan berkembang dalam masyarakat Desa. dan mewakili Desanya di dalam dan di luar pengadilan dan dapat menunjuk kuasa hukumnya. 28 Badan Permusyawaratan Desa dan Lembaga Lainnya Pasal 104 Badan Perwakilan Desa atau yang disebut dengan nama lain berfungsi mengayomi adat istiadat. membuat Peraturan Desa. mendamaikan perselisihan masyarakat di Desa. mengajukan berhenti atas permintaan sendiri. memelihara ketenteraman dan ketertiban masyarakat Desa. Pasal 210 (1) Anggota adalah badan permusyawaratan wakil dari penduduk desa desa . menampung dan menyalurkan aspirasi masyarakat. dilakukan oleh Bupati atas usul Badan Perwakilan Desa. sebagaimana dimaksud dalam Pasal 101. • Dalam UU No. bertanggung jawab kepada rakyat melalui Badan Perwakilan Desa b. Pasal 103 (1) Kepala Desa berhenti karena : a. menampung dan menyalurkan aspirasi masyarakat.

(3) (4) Pasal 211 (1) Di desa dapat dibentuk lembaga kemasyarakatan yang ditetapkan dengan peraturan desa dengan berpedoman pada peraturan perundang-undangan. d. (2) Lembaga kemasyarakatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) bertugas membantu pemerintah desa dan merupakan mitra dalam memberdayakan masyarakat desa. 2. c. Pasal 106 Di Desa dapat dibentuk lembaga lainnya sesuai dengan kebutuhan Desa dan ditetapkan dengan Peraturan Desa. bagian dari dana perimbangan keuangan pusat dan daerah yang diterima oleh kabupaten/kota. • Terdapat perbedaan mengenai sumber pendapatan desa dimana dalam UU No. hasil usaha Desa. bantuan dari Pemerintah. pendapatan asli Desa yang meliputi : 1. dan 2. hasil gotong royong. 3. pemerintah . b. pendapatan asli desa.32 Tahun 2004 pinjaman desa bukan lagi termasuk dalam sumber pendapatan desa dan diatur secara lebih rinci mengenai Badan Usaha Milik Desa. bantuan dari Pemerintah dan Pemerintah Propinsi. 29 Keuangan Desa Pasal 107 (1) Sumber pendapatan Desa terdiri atas : a. hasil kekayaan Desa. Masa jabatan anggota badan permusyawaratan desa adalah 6 (enam) tahun dan dapat dipilih lagi untuk 1 (satu) kali masa jabatan berikutnya. (3) Sumber pendapatan desa sebagaimana dimaksud pada ayat (2) terdiri atas: a.Pasal 105 (1) Anggota Badan Perwakilan Desa dipilih dari dan oleh penduduk Desa yang memenuhi persyaratan. bagian dari perolehan pajak dan retribusi Daerah. Pasal 212 (1) Keuangan desa adalah semua hak dan kewajiban desa yang dapat dinilai dengan uang. (2) Pimpinan badan permusyawaratan desa dipilih dari dan oleh anggota badan permusyawaratan desa. (2) Hak dan kewajiban sebagaimana dimaksud pada ayat (1) menimbulkan pendapatan. hasil swadaya dan partisipasi. bersangkutan yang ditetapkan dengan cara musyawarah dan mufakat. c. bagian dari dana perimbangan keuangan Pusat dan Daerah yang diterima oleh Pemerintah Kabupaten. lain-lain pendapatan asli Desa yang sah. bagi hasil pajak daerah dan retribusi daerah kabupaten/kota. (4) Pelaksanaan Peraturan Desa ditetapkan dengan Keputusan Kepala Desa. (2) Pimpinan Badan Perwakilan Desa dipilih dari dan oleh anggota. Syarat dan tata cara penetapan anggota dan pimpinan badan permusyawaratan desa diatur dalam Perda yang berpedoman pada Peraturan Pemerintah. bantuan dari Pemerintah Kabupaten yang meliputi : 1. serta segala sesuatu baik berupa uang maupun berupa barang yang dapat dijadikan milik desa berhubung dengan pelaksanaan hak dan kewajiban. dan 5. belanja dan pengelolaan keuangan desa. 4. b. (3) Badan Perwakilan Desa bersama dengan Kepala Desa menetapkan Peraturan Desa.

Sumber pendapatan Desa. dikelola melalui Anggaran Pendapatan dan Belanja Desa. (5) Pengelolaan keuangan desa sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dilakukan oleh kepala desa yang dituangkan dalam peraturan desa tentang anggaran pendapatan dan belanja desa. dapat dibentuk Badan Kerja Sama. ayat (2). hibah dan sumbangan dari pihak ketiga. (3) Kerjasama desa dengan pihak ketiga sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat dilakukan sesuai dengan peraturan perundangundangan. Pasal 108 Desa dapat memiliki badan usaha sesuai dengan peraturan perundang-undangan. e. (3) Badan usaha milik desa sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat melakukan pinjaman sesuai peraturan perundangundangan. dan jasa wajib mengikutsertakan Pemerintah Desa dan Badan Perwakilan Desa dalam perencanaan. (4) Untuk pelaksanaan kerja sama. (2) Badan usaha milik desa sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berpedoman pada peraturan perundang-undangan.(2) (3) (4) (5) d. sebagaimana dimaksud pada ayat (1). Pasal 213 (1) Desa dapat mendirikan badan usaha milik desa sesuai dengan kebutuhan dan potensi desa. pelaksanaan. - . dan e. sebagaimana dimaksud pada ayat (1). provinsi. (6) Pedoman pengelolaan keuangan desa sebagaimana dimaksud pada ayat (5) ditetapkan oleh Bupati/Walikota dengan berpedoman pada peraturan perundangundangan. Tata cara dan pungutan objek pendapatan dan belanja Desa ditetapkan bersama antara Kepala Desa dan Badan Perwakilan Desa. Pasal 110 Pemerintah Kabupaten dan/atau pihak ketiga yang merencanakan pembangunan bagian wilayah Desa menjadi wilayah permukiman. pinjaman Desa. sumbangan dari pihak ketiga. (2) Kerjasama antar desa dan desa dengan pihak ketiga sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan sesuai dengan kewenangannya. dan Pasal 214 (1) Desa dapat mengadakan kerja sama untuk kepentingan desa yang diatur dengan keputusan bersama dan dilaporkan kepada Bupati/Walikota melalui camat. dan ayat (3) dapat dibentuk badan kerja sama. 30 Kerja Sama Desa Pasal 109 (1) Beberapa Desa dapat mengadakan kerja sama untuk kepentingan Desa yang diatur dengan keputusan bersama dan diberitahukan kepada Camat. dan pemerintah kabupaten/kota. Pedoman penyusunan Anggaran Pendapatan dan Belanja Desa ditetapkan oleh Bupati. industri. Kepala Desa bersama Badan Perwakilan Desa menetapkan Anggaran Pendapatan dan Belanja Desa setiap tahun dengan Peraturan Desa. (4) Belanja desa sebagaimana dimaksud pada ayat (2) digunakan untuk mendanai penyelenggaraan pemerintahan desa dan pemberdayaan masyarakat desa. (2) Untuk pelaksanaan kerja sama. sebagaimana dimaksud pada ayat (1).

(3) Pemberian pedoman dan standar sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b mencakup aspek perencanaan. wajib mengakui dan menghormati hak. dan evaluasi pelaksanaan urusan pemerintahan. penelitian. koordinasi pemerintahan antarsusunan pemerintahan.32 Tahun 2004 31 Pembinaan dan Pengawasan Pemerintahaan Daerah Pasal 112 (1) Dalam rangka pembinaan. . d. Pasal 216 (1) Pengaturan lebih lanjut mengenai desa ditetapkan dalam Perda dengan berpedoman pada Peraturan Pemerintah.pengawasannya. • Materi mengenai Pembinaan dan Pengawasan Daerah diatur secara lebih rinci dalam UU No. dan adat istiadat desa. c. kewenangan desa. sebagaimana dimaksud pada ayat (1). Pasal 215 (1) Pembangunan kawasan perdesaan yang dilakukan oleh kabupaten/kota dan atau pihak ketiga mengikutsertakan pemerintah desa dan badan permusyawaratan desa. pemberian pedoman dan standar pelaksanaan urusan pemerintahan. b. (2) Pelaksanaan ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dengan Perda. kepentingan masyarakat desa. dan konsultasi pelaksanaan urusan pemerintahan. (2) Koordinasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a dilaksanakan secara berkala pada tingkat nasional. Pasal 111 (1) Pengaturan lebih lanjut mengenai Desa ditetapkan dalam Peraturan Daerah Kabupaten. kelancaran pelaksanaan investasi. Pemerintah memfasilitasi penyelenggaraan Otonomi Daerah. d. Peraturan Daerah dan Keputusan Kepala Daerah disampaikan kepada Pemerintah selambat-lambatnya lima belas hari setelah ditetapkan. (2) Perda. atau provinsi. asal-usul. e. pendidikan dan pelatihan. kelestarian lingkungan hidup. (2) Peraturan Daerah. keserasian kepentingan antar kawasan dan kepentingan umum. b. regional. asal-usul. dengan memperhatikan: a. pengembangan. dan adat istiadat Desa. (2) Pedoman mengenai pembinaan dan pengawasan atas penyelenggaraan Otonomi Daerah ditetapkan dengan Peraturan Pemerintah. tata laksana. pelaksanaan. dan e. Pasal 217 (1) Pembinaan atas penyelenggaraan pemerintahan daerah dilaksanakan oleh Pemerintah yang meliputi : a. perencanaan. Pasal 113 Dalam rangka pengawasan. supervisi. pemantauan. c. sesuai dengan pedoman umum yang ditetapkan oleh Pemerintah berdasarkan undang-undang ini. sebagaimana dimaksud pada ayat (1). wajib mengakui dan menghormati hak. pemberian bimbingan.

Pengawasan terhadap peraturan daerah dan peraturan kepala daerah. dan evaluasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf e dilaksanakan secara berkala ataupun sewaktu-waktu dengan memperhatikan susunan pemerintahan. pegawai negeri sipil daerah. dan masyarakat.(4) (5) (6) (7) pendanaan. Pendidikan dan pelatihan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf d dilaksanakan secara berkala bagi kepala daerah atau wakil kepala daerah. Pasal 218 (1) Pengawasan atas penyelenggaraan pemerintahan daerah dilaksanakan oleh Pemerintah yang meliputi: a. kualitas. anggota badan permusyawaratan desa. . (2) Pengawasan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a dilaksanakan oleh aparat pengawas intern Pemerintah sesuai peraturan perundang-undangan. dan kepala desa. Pasal 219 (1) Pemerintah memberikan penghargaan dalam penyelenggaraan pemerintahan daerah. anggota DPRD. penelitian. anggota DPRD. Pengawasan atas pelaksanaan urusan pemerintahan di daerah. (2) Penghargaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diberikan kepada pemerintahan daerah. PNS daerah. perangkat daerah. Pelaksanaan ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf d dan huruf e dapat dilakukan kerja sama dengan perguruan tinggi dan/atau lembaga penelitian. Perencanaan. supervisi dan konsultasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf c dilaksanakan secara berkala dan/atau sewaktuwaktu. pengendalian dan pengawasan. Pemberian bimbingan. kepala desa. pemantauan. b. kepala daerah dan/atau wakil kepala daerah. baik secara menyeluruh kepada seluruh daerah maupun kepada daerah tertentu sesuai dengan kebutuhan. pengembangan. perangkat daerah.

prosedur. akan tetapi dalam Undang-undang ini 32 Pertimbangan dalam Kebijakan Otonomi Daerah Pasal 115 (1) Dewan Pertimbangan Otonomi Daerah bertugas memberikan pertimbangan kepada Presiden mengenai: Pasal 224 (1) Dalam rangka penyelenggaraan pemerintahan daerah. anggota DPRD. • Dalam UU No. (2) Pembinaan dan pengawasan penyelenggaraan pemerintahan daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) untuk kabupaten/kota dikoordinasikan oleh Gubernur. (3) Pembinaan dan pengawasan penyelenggaraan pemerintahan desa dikoordinasikan oleh Bupati/Walikota. Presiden dapat membentuk suatu dewan yang bertugas memberikan saran dan . penghargaan. (2) Sanksi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diberikan kepada pemerintahan daerah. Pasal 222 (1) Pembinaan dan pengawasan penyelenggaraan pemerintahan daerah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 217 dan Pasal 218 secara nasional dikoordinasikan oleh Menteri Dalam Negeri. kepala daerah atau wakil kepala daerah. Pasal 221 Hasil pembinaan dan pengawasan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 217 dan Pasal 218 digunakan sebagai bahan pembinaan selanjutnya oleh Pemerintah dan dapat digunakan sebagai bahan pemeriksaan oleh Badan Pemeriksa Keuangan.Pasal 220 (1) Sanksi diberikan oleh Pemerintah dalam rangka pengawasan penyelenggaraan pemerintahan daerah. dan sanksi diatur dalam Peraturan Pemerintah. Pasal 223 Pedoman pembinaan dan pengawasan yang meliputi standar. dan kepala desa. perangkat daerah. norma. PNS daerah.32 Tahun 2004 tidak disebutkan lagi mengenai anggota dari Dewan Perimbangan Otonomi Daerah. (4) Bupati dan walikota dalam pembinaan dan pengawasan sebagaimana dimaksud pada ayat (3) dapat melimpahkan kepada camat.

Menteri Sekretaris Negara. dan wakil-wakil Daerah yang dipilih oleh DPRD . Dewan Pertimbangan Otonomi Daerah mengadakan rapat sekurang-kurangnya satu kali dalam enam bulan. Dewan Pertimbangan Otonomi Daerah ditetapkan dengan Keputusan Presiden. formula dan perhitungan DAU masingmasing daerah berdasarkan besaran pagu DAU sesuai dengan peraturan perundangan. dan c. diatur lebih rinci mengenai tugas dari dewan tersebut. DAK masing-masing daerah untuk setiap tahun anggaran berdasarkan besaran pagu DAK dengan menggunakan kriteria sesuai dengan peraturan perundangan. kemampuan Daerah Kabupaten dan Daerah Kota untuk melaksanakan kewenangan tertentu. perimbangan keuangan antara Pemerintah dan pemerintahan daerah. penghapusan dan penggabungan daerah serta pembentukan kawasan khusus. menteri lain sesuai dengan kebutuhan. yang meliputi: 1. pertimbangan terhadap kebijakan otonomi daerah. dan pemekaran Daerah. (3) Dewan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dipimpin oleh Menteri Dalam Negeri yang susunan organisasi keanggotaan dan tata laksananya diatur lebih lanjut dengan Peraturan Presiden. perwakilan Asosiasi Pemerintah Daerah. penggabungan. perimbangan keuangan Pusat dan Daerah. (2) Dewan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) bertugas memberikan saran dan pertimbangan kepada Presiden antara lain mengenai rancangan kebijakan: a. Menteri Dalam Negeri dan Menteri Keuangan karena jabatannya adalah Ketua dan Wakil Ketua Dewan Pertimbangan Otonomi Daerah. 2. 3. Menteri Keuangan. pembentukan. Dewan Pertimbangan Otonomi Daerah bertanggung jawab kepada Presiden. penghapusan. Pasal 116 Dalam melaksanakan tugasnya Dewan Pertimbangan Otonomi Daerah dibantu oleh Kepala Sekretariat yang membawahkan Bidang Otonomi Daerah dan Bidang Perimbangan Keuangan Pusat dan Daerah. b. sebagaimana dimaksud dalam Pasal 11. a. b.(2) (3) (4) (5) (6) pembentukan. . Dewan Pertimbangan Otonomi Daerah terdiri atas Menteri Dalam Negeri. perhitungan bagian masing-masing daerah atas dana bagi hasil pajak dan sumber daya alam sesuai dengan peraturan perundang-undangan.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful