HAK-HAK ASASI MANUSIA

(HUMAN RIGHTS) Muhammad Imran 05 HUKI 896 Dosen Pembimbing : DR. Katimin, MA DR. Syukur Kholil,P.hd. MA DR. Pagar Hasibuan, MA A. Pendahuluan. Ketika manusia lahir ke muka bumi, jeritan dibarengi tangisan menghiasi perjalanan hidup manusia, hal ini menandakan bahwa setiap individu telah merasakan secara naluri bagaimana hak dan kewajibannya ketika lahir. Penyelewengan, penipuan, pembunuhan karakter dan sebagainya telah mewarnai kehidupan yang dimiliki manusia itu sendiri. Hak manusia secara sederhana merupakan sesuatu proses atau sistem yang sudah terdapat dalam diri manusia, dan untuk merealisasikannya diperlukan suatu pola yang akurat dan jitu agar hak-hak tersebut dapat berjalan sesuai dengan fitrah dan kodratnya masing-masing. Katagori hak manusia dewasa ini selalu diartikan sempit, padahal banyak pakar yang berkomentar luwes tentang hal tersebut. Islam mendukung sepenuhnya eksistensi hak anak manusia mulai dari penciptaan hingga kematiannya. Pembodohan hak inilah akan menimbulkan secercah fenomena sosial masyarakat kita, ketika diaplikasikan. Dalam mendeskripsikan hak azasi manusia, penulis membuat suatu stressing yang dianggap layak untuk dibahas dalam paparan makalah ini, antara lain : Lahirnya Deklarasi universal Hak-hak asasi manusia, Hak dalam pandangan Islam, Deskripsi Hak Manusia

menurut Deklarasi PBB, Fenomena sosial dalam tatanan Hak Manusia secara global, Persoalan rakyat menyangkut status dan hak-haknya. B. Lahirnya Deklarasi Universal Hak-Hak Manusia. Piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa setelah menegaskan akan perlunya memelihara perdamaian dan keamanan dunia, menegaskan pula tentang pentingnya bangsa-bangsa di dunia ini untuk memperhatikan tentang hak-hak manusia, martabat dan kehormatan individu, kesamaan hak-hak manusia baik laki-laki maupun perempuan, juga perlakuan negara-nagara besar kepada yang kecil secara wajar. Tujuan utama dari Piagam perserikatan Bangsa-Bangsa tersebut adalah untuk merealisasikan kerjasama internasional dalam mengatasi masalah-masalah dunia di bidang ekonomi, sosial, kebudayaan dan kemanusiaan serta untuk menghormati hak-hak seluruh umat manusia dan mendukung ke arah itu secara mutlak tanpa membeda-bedakan bangsa, bahasa, agama dan juga tanpa membeda-bedakan laki-laki ataupun perempuan. Meskipun Piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa mengakui adanya lebih dulu fenomena yang dikenal sebagai hak-hak manusia, tetapi piagam tersebut tidak merinci dan tidak memuat daftar hak-hak manusia yang mesti dihormati, dan juga tidak mengacu pada suatu sumber yang menyebutkan secara tepat hakhak yang perlu dihormati itu. Pada waktu perumusan Piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa dirancang, pernah ada beberapa usul dari beberapa negara agar dicantumkan daftar hak-hak beberapa negara. Namun demikian , Perserikatan Bangsa-Bangsa

memandang. sosioal dan budaya yang menjadi hak semua orang tanpa terkecuali. Komisi Hak Asasi Manusia telah bersidang dan membentuk beberapa komisi menurut tugas yang diberikan kepadanya. bangsa. hak ekonomi. Komisi ini bertugas membuat rincian tentang hak-hak asasi yang mesti dihormati oleh setiap manusia di muka bumi ini. Deklarasi ini sama sekali tidak memuat lembaga atau mekanisme yang akan menjamin diindahkannya hak-hak itu. dan memberikan penjelasan persetujuan mengenai hak-hak sipil. di samping itu komisi ini juga diberi wewenang untuk mempersiapkan rancangan program internasional tentang hak-hak asasi manusia dalam piagam PBB. Akhirnya pada tanggal 10 Desember 1948. diserahkan kepada Commision of Human Rights (Komisi Hak Asasi Manusia) yang merupakan aparat dari Economic and Sosial Council (ECOSOC). kedudukan wanita. . larangan diskriminasi yang didasarkan kepada ras. Tugas menyusun Bill of Rights international sebagaimana tersebut di atas. Setelah melalui perdebatan yang panjang maka lahirlah “Universal Declaratiaon of Human Rights” atau disebut Deklarasi Internasional tentang hak-hak asasi manusia. ditetapkan pada sidang dan menetapkannya pula atas dasar persetujuan anggota-anggotanya. Kemudian pada hari berikutnya sidang UNESCO menyetujui pula seluruh isi deklarasi tersebut. Mejelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa mengesahkan rancangan deklarasi universal tentang hak-hak asasi manusia dalam sidangnya di Paris. bahasa dan agama. perlu untuk menyusun suatu Bill of Rights International dalam waktu setahun setelah piagam itu diberlakukan. Deklarasi universal tentang hak-hak asasi manusia di dalam bentuknya yang terakhir memuat daftar hak-hak sipil dan politik. kecuali empat negara absen.

jika dibandingkan dengan literarur lain yang bertemakan filsafat. walaupun status hukumnya masih terjadi pro dan kontra. tetapi PBB telah berbuat banyak guna menangani masalah ini secara khusus. Teori sosial sering berkembang lebih pesat dari prakteknya. semua meteri yang ada dalam bentuk mengikat secara non hukum. kurang literatur teoritis di bidang ini masih dirasakan. dan kadang-kadang merupakan kesangsian . Akan tetapi sering pula teori itu tertinggal jauh ke belakang. tetapi dalam prakteknya di kemuduan hari telah mengubahnya menjadi sebuah alat yang mempunyai kekuatan yuridis. Keadaan yang mendesak dan kesempatan tampaknya pengalaman dapat dan menimbulkan jawaban-jawaban yang diperlukan jauh sebelum kita dapat membenarkan mereka.Pada mula disahkan deklarasi tersebut. dan gerakan-gerakan serta sebab-sebab yang menyuarakan HAM ataupun hak-hak lainnya menjadi beragam-ragam. Meskipun banyak kesulitan yang dijumpai PBB dalam upaya memantapkan sistem universal untuk melindungi hak asasi manusia. Sebagian besar dirancang oleh kelompok kerja dari komisi PBB mengenai hak-hak asasi manusia (badan yang berada di bawah Dewan Ekonomi dan Sosial). Lebih dari 50 perangkat hak-hak asasi manusia yang sudah dirundingkan di bawah pengawasan PBB. Meskipun kesadaran mengenai pentingnya HAM semakin tumbuh dan berkembang luas. Ini khususnya terlihat pada gerakan-gerakan untuk hak-hak manusia. Literarur yang kini ada. Adapun yang paling baru adalah Konvensi mengenai hak-hak anak yang dicetuskan oleh komisi awal 1989. masih sangat sementara sifatnya dan membingungkan.

Semakin luasnya tuntutan tersebut kelihatannya bukan dipengaruhi oleh kesulitan dalam analisis matematika.dalam memandang hakikat. Pandangan ini tersirat dalam beberapa pakar . Alasan-alasan tersebut antara lain Kadang kala orang mempunyai pandangan bahwa HAM tidak pernah ada karena tidak ada hal-hal seperti itu sebagai hak-hak moral secara keseluruhan. Namun demikian. Atau realisasinya tidak bergantung pada hal-hal semacam itu melainkan berpengaruh pada kekuasaan yang relatif dari orang-orang yang mendukung atau yang menentang tuntutan-tuntutan ini. Tuntutan-tuntutan itu bermuara dari adanya rasa tertekan dan ketidakpuasan yang turut mendorong keputusan bahwa segala sesuatu. Dan ini artinya bahwa kita tidak akan pernah bisa memberikan landasan-landasan yang sahih dan obyektif untuk keputusan moral apapun. Kadang-kadang orang berpendapat bahwa tidak ada HAM di dalam sistem moral manapun. bahwa hak-hak bisa kita ketahui keberadaannya. Sebagaimana jerit tangis untuk mencari keadilan dalam makna apapun. teori manapun ideologi alasan mengenai dari HAM adalah kecenderungan yang mendorong kita untuk melihat teori itu topeng hubungan-hubungan diberikan untuk manusia itu ada atau kekuasaan Sejumlah telah membenarkan penolakan : 1. serta apa yang disebut dasardasar hak-hak manusia. realitas. tuntutan atas hak-hak manusia itu terus berlangsung. Konsekuensi yang paling penting dari kesangsian mengenai kesahihan sekadar dari sebagai belaka. atau tidak dapat dipisahkan. kecuali kalau hak tersebut ditafsirkan secara muthlak. tak bersyarat. dan memang seharusnya menjadi lebih baik dari keadaan kini. 2.

7. hal itu terlihat dalam berbagai deklarasi hak- Harun Nasution dan Bahtiar Effendy. I (Jakarta: Yayasan Obor Indonesia. kecuali atas dasar anggapan bahwa hanya ada satu hak yang muthlak atau jika adapun lebih dari satu. sehingga tidak ada hirarki yang dapat ditegakkan sebelumnya untuk membimbing kita untuk masuk ke semua lini situasi yang konstruktif. karena kita tidak dapat mengetahui mana yang lebih dulu suatu hak bertentangan dengan hak lain. h. Perbedaan yang jelas antara kewajiban dan hak prima facie. Sumber kesangsian lainnya tentang HAM muncul oleh karena adanya perbedaan-perbedaan dalam daftar hak sebagaimana 1 manusia. Hak Azasi Manusia Dalam Islam. Kita tidak bisa mengatakan hak yang mana secara pasti mengikat.hukum yang berpikiran liberal. . Pustaka Firdaus. meskipun hak-hak itu harus dipertimbangan. bahwa kita bisa memberikan alasan yang kuat untuk mempercayai bahwa semua HAM dapat selaras satu sama lain dan dalam keadaan yang tak dapat diperkirakan atau dipercaya hak-hak tersebut akan saling bertentangan.8.1 kemudian kewajiban dan hak muthlak tampaknya merupakan sebuah analisis yang sudah memadai terhadap persoalan yang kita hadapi. Cet. tetapi hak-hak itu tidak secara muthlak dan pasti mengikat tingkah laku dalam setiap kasus khusus apapun. 3. 1987). Di sisi lain konsekuensikonsekuensi ketaatan dan pelanggaran terhadap hak dan kewajiban demikian kompleks dalam tatanan bobot yang tidak stabil dan tidak konstan. Asumsi ini tidak mengandung pengertian apa-apa dalam istilah yang digunakan. Semua hak manusia memiliki validitas prima facie di dalam situasi di mana hak tersebut relevan.

10. oleh para analis berpendapat bahwa jika Barat dan Islam dihadapkan dalam polemik hak manusia. Berbicara tentang hak-hak manusia dalam Islam secara langsung.2 C. kita lantas berpikir mengenai metodologi yang digunakan dalam menyingkapi persolaan yang terjadi. Menjadikan Islam sebagai dalih atau penyebab tradisionalisme di satu sisi. politik yang dibentuk Islam sebagai tujuan pemberian penghargaan kepada disusun dengan bentuk-bentuk dari untuk manusia satu persatu memberikan istemewa yang meragukan. Namun dalam menerangkan peristiwa-peristiwa di negara-negara Muslim. maka mereka mengambil budaya dan norma-norma mereka sebagai rujukan dan menjadikannya sebagai modal dalam memperbandingkan peradaban dan tatanan lain. Parameter moral. hukum. di Iran. Masalah utama yang yang dihadapi berasal dari pendekatan orientalis. Upaya apapun menyebutkan hak-hak referensi sejarah. Sarjana Barat jarang mengunakan agama Kristen sebagai titik tolak untuk menjelaskan perkembangan-perkebangan yang berlaku di Eropa beberapa dekade yang lalu. h. merupakan kecenderungan yang sudah berlangsung dan telah mencapai puncaknya sejak jatuhnya rezim 2 Syah Ibid. Daftar tersebut tidak terlepas pengaruh historis-fungsional. Keberatan ini menunjukkan kesalahan konsep yang amat besar tentang tujuan atau kegunaan penempatan hak-hak semacam itu. Kita cenderung berpendapat bahwa . mereka cenderung dan hampir selalu menggunakan istilah-istilah keagamaan.hak manusia. atau revolusi di segi lain. Hak-Hak Asasi Dalam Pandangan Islam.

Human Rights in Islam. pemerintahan atau masyarakat Islam sebagai satu komponen kekuasan yang solid mengenai soasial-politik dengan perubahan dengan berbagai rezim politik. konsep-konsep dan penemuan ilmiah. Baik hak-hak manusia maupun kodifikasi kemanusian bukanlah merupakan pengecualian bagi para pemikir Muslim. yang keinginannya membantah pandangan orientalis telah bergeser menjadi penolakan. h. seperti : gagasan intelektual. pengalaman-pengalaman politik. Masalah kedua berasal dari interpretasi yang berlawanan sebagaimana ditawarkan oleh para sarjana Islam sendiri. sikap mengagungkan Islam sudah menjadi semacam apologi hingga mencapai titik di mana mereka menghendaki bahwa apapun yang ditemukan diluat batas-batas orang-orang Islam pasti mempunyai batasan dalam diri mereka. meskipun baru saja dilembagakan hak-hak manusia dan kodifikasi kemanusian tersebut. 3 . dalam Philosophy and Public Policy (Southen Illinois: University Press.kepercayaan dan praktek-praktek keagamaan. tradisi dan hal-hal lain dinilai tabu tidak dapatdianggap bertanggung jawab atas apa yang terjadi di dunia Islam sekarang. Jean Claude Vatin. sejarah Islam bukan saja rangkaian peristiwa yang tak dapat dipisahkan (yakni terdapat suatu perkembangan historis tunggal yang memiliki kaitan dengan semua masyarakat yang memiliki agama sama). yang dengan segara dapat menunjukkan bahwa. gaya kognitif dan sistem ekonomi yang berlainan.3 Menurut pandang sarjana Muslim ainnya. 359. lebih baik memandang kita memandang negara. hal-hal semacam ini bahkan sudah dilaksanakan pada zaman permulaan Muhammad Saw. Sebenarnya daripada melihat Islam sebagai kesatuan yang independen dari satu hakikat mistik. 1980). Bagi sementara sarjana Islam.

4 Sayangnya tidak hanya hak-hak azasi manusia yang diajukan dalam Deklarasi Universal yang diprakarsai sebagai bias barat 4 yang kaut. . Yang meliputi hak hidup. Hak tersebut termasuk dalam katagori kebebasan dan kemerdekaan. Malah mereka menggunakan masyarakat kecil sebagai batu loncatan agar terkenal dan berkuasa. Dalam Islam hak asasi ini harus sesuai dengan prinsip-prinsip kemanusian yang selaran dan seimbang.Namun demikian negara-negara modern dewasa ini tidak mempunyai kesamaan dengan masyarakat kecil dalam melihat aspek yang diperlukan masyarakat dalam tatanan kebutuhan yang primer. Islam sejak dini telah melihat aspek yang fundamental tersebut dalam kaitan hak-hak manusia. h. melainan ada kecenderungan untuk Adamantia Pollis dan Peter Schwab. Deskripsi Hak Asasi Manusia Menurut Deklarasi Hak Universal PBB. Dari beberapa literatur. tanpa melihat perbedaan di kalangan masyarakat sosial walaupun di sana-sini masih ada. Al-qur’an dan sunnah merupan cerminan hak asasi manusia yang up to date . dapatlah disimpulkan bahwa hak-hak asasi manusia adalah suatu tanggung jawab yang telah ada semenjak manusia lahir atau dengan kata lain hak dasar yang dimiliki manusia. hak mendapatkan sesuatu. 17. Pollis dan Schwab menyimpulkan dalam esai mereka. “Hak Azasi Manusia : Suatu konstruksi Barat dengan keberlakuan yang terbatas dengan penonjolan keberatan yang lazim terhadap etnosentrisme. Human Rights: Cultural and Ideological Perspectives (New York: Praeger. kebebasan bersikap tanpa ada yang menghalangi. 1979). D.

dan ekonomi. politik. Para pembela hak-hak manusia menghadapi secara jujur dan menanggapinya secara teliti dan seksama. Penulis 5 tidak memulai dan memberikan jawaban yang David Little. Sachedina. Cet. hiburan. Riyanto. Fenomena demikian merupakan persoalan-persoalan besar yang mengejutkan. Persoalan itu juga mewarnai teori moral. apakah ukuran standar dari pemerintah dan budaya. dan menentukan hak-hak mana yang mengikat dan tidak. mungkinkah masing-masing pemerintah dan budaya memilih dengan sederhana di antara daftar-daftar hak dalam hak-hak manusia. dan sejauhmana kebijaksaan tersebut diaplikasikan. Human Rights and the Complict of Cultures: Western and Islamic Perspectives on Religious Liberty. 1997). xi. Kecaman tersebut merupakan manifestasi dari budaya yang terlalu sempit dan pengalaman sejarah dalam hal-hal tertentu saja. Terj. I (Yogyakarta: Academia dan Pustaka Pelajar. termasuk studi etika perbandingan. bentuk-bentuk hukuman. status.memandang hak tersebut secara ahistoris dan dipisahkan begitu saja dari konteks lingkungan sosial. singkatnya dari sejumlah kendala itu. John Kelsey dan Abdul al-Azis A. Apakah semua hak yang dimuat dalam dokumendokumen itu sama-sama mengikat semua orang dimanapun. dan beberapa jaminan politik dan perdata. atau pemerintahan dan budaya yang merupakan barometer hak azasi manusia?. politik dan ekonomi.5 Kritik seperti itu sering ditujukan pada pernyataan-pernyataan tentang hak-hak pribadi. hukum. atau berapakah hak yang tunduk pada kebijaksaan kultural dan nasional. seperti prosedur-prosedur pemilihan yang dimuat dalam beberapa dokumen hak-hak azasi manusia yang diakui secara internasional. h. Tudingan lain muncul karena adanya tuduhan asasi serius dan perlu menantang. . perjanjian perkawinan.

mereka beranggapan bahwa hak-hak kaum Muslim Libanon akan rusak oleh kata-kata dalam pasal itu. misalnyauntuk mendukung pernyataan Saudi tersebut. xiii. dan bahkan tidak ragu terhadap argumentasi jawaban dari pakar-pakar hak azasi manusia selama rasional dengan tidak mengeyampingkan sikap hormat terhadap refleksi persoalan hak azasi manusia. dan kebebasan. ibadah dan ketaatan agama atau keyakinannya dalam pengajaran”6 Dalam tanggapannya. Keberatan-keberatan yang sama diajukan oleh beberapa negara terhadap pasal itu yang lebih rinci dari versi kebebasan agama yang dimuat dalam naskah Konsep Kovenan Internasional tentang Hak-hak Sipil dan Politik. baik sendiri atau dalam masyarakat yang lain. Sejumlah keberatan umat Islam untuk pertama kalinya tercatat pada tahun 1948. yang belakangan disetujui dan dinyatakan bahwa: “Tak seorangpun boleh tunduk pada paksaan yang akan merusak kebebasan untuk menganut agama atau kenyakinan yang menjadi pilihannya” (Pasal 18 ayat 2).komprehensif. dan agama. Dan dari dalih pasal itu. baik dalam urusan publik atau privaat dalam mengungkapkan ajaran. hak ini termasuk kebebasan untuk merubah agama dan kenyakinan. mereka menunjukkan kambing hitam yang lain– Libanon. nurani. sejumlah negara Islam (khususnya Arab Saudi) berusaha untuk menghapus pasal tersebut. . h. praktek. selama pembahasan sekitar Pasal 18 Deklarasi Universal yang dinyatakan: “Setiap orang mempunyai hak kebebasan berpikir. Dan pasal 26 Kovenan itu menambahkan ketentuan baru lain yang menjamin 6 Ibid.

dan karena pasal-pasal tertentu dari Deklarasi itu mengarah pada persoalan-persoalan yang berkaitan dengan kebebasan agama secara langsungkhususnya pasal 18. Piscatory. 144. dimana telah bercokol selama hampir sepanjang dua ratus tahun terakhir. Karena tujuan utamanya adalah untuk melayani kepentingan yang berkuasa. struktur kekuasaan tata dunia baru sangat tidak seimbang. 7 . Pembahasan sekitar Deklarasi Universal Hak-hak Asasi Manusia di Perserikatan Bangsa-Bangsa memberikan titik pangkal yang unik terhadap penelitian mengenai Islam dan kebebasan agama. Persoalan ini merupakan ketetapan yang paling menimbulkan perselisihan antara negaranegara Islam Saudi Arabia dan Pakistan. Alasannya yang cukup kuat. Tata dunia baru sesungguhnya hanyalah slogan. agama dan sebagainya. Moral Imperative of Human Rights. h. (ed) Kenneth W. dunia akan terus menyangkal dan mencabut kemanusiaan dari hakhaknya. Kekuasaan politik. militer. 1980). Melindungi Hak Asasi Manusia mayoritas dan minoritas di atas permukaan bumi harus dipertahankan. jenis kelamin. katakata jebakan yang diciptakan untuk melanggengkan pola dominasi dan kontrol Barat yang satu atau lain bentuk. ekonomi. teknologi dan budaya berada di tangan elite. Thompson (Washington: University Press of America. Ketika sebuah sistem diorientasikan kepada yang kuat atau James P.perlindungan hukum yang sama terhadap bentuk deskriminasi atas dasar apapun seperti ras. Fenomena Sosial Dalam Tatanan Hak Asasi Manusia Secara Global.7 E. Hal ini bersifat diskusi Internasional. termasuk hak untuk pindah agama. Human Rights and Islamic Political Culture. yang memberikan hak tehadap kebebasan nurani dalan memilih dan mempraktekkan keyakinan agama.

kepentingan demi kepentingan merupan faktor yang sangan dominan terjadi dalam kasus-kasus pelanggaran hak asasi manusia dewasa ini. Sebagian bahkan berpendapat bahwa seperti apartheid konvensional. Ini adalah fakta yang terjadi berulang kali pada tingkat negara-kebangsaan.yang memiliki hak istemewa. Sebaliknya. Ketika kita melihat hak asasi manusia dipermainkan dengan hal-hal yang dianggap legal. Lembaga-lembaga kekuasaan yang mendominasi sistem global tidak bertanggung jawab terhadap rakyat. Apabila kekuasaan terdistribusi secara merata. sistem global tidak memiliki tanggung jawab terhadap ras manusia. tidak seperti banyak negara sekarang ini yang mematuhi sejumlah kecil amanat akibat dari politik perwakilan. realisasi aktualnya tergantung pada sejauhmana struktur kekuasaan yang terdapat dalam masyarakat tersebut melaksanakannya. terdapat pula unsur rasis yang lembut namun kuat dalam apartheid global. Era modern sebagai wadah yang cukup . Apartheid global bukan hanya menganugerahkan kekuasaan dan kekayaan kepada minoritas istemewa melainkan juga menjamin bahwa mereka yang memegang kendali (control) akan dapat mempertahankan dan melanggengkan posisi mereka melalui hukum. kita tidak menyadari bahwa setelah kebijakan yang diterapkan berlainan dengan apa yang telah diformulasikan. institusi. maka hak azasi manusia lebih memungkinkan untuk dilanggar ketimbang ditaati. maka hak orang akan biasa berada dalam bahaya. dan nilai yang sesuai dengan kepentingannya. Disamping itu. Betapapun komprehensipnya hak yang dijanjikan kepada rakyat dalam konstitusi sebuah negara. jika kekuasaan terpusat pada level elite masyarakat. amat boleh jadi warga negara akan menikmati hak-hak yang diberikan kepadanya.

Konflik yang terjadi dilingkungan kita disebabkan oleh berbagai ketidak puasaan yang dilakukan sekelompok orang yang iri terhadap kesenangan orang lain. baik secara halus maupun terang-terangan. Menanti terus menanti merupakan suatu kemunafikan yang sama membuat persepsi kita berpaling untuk memdapatkan kebenaran dan keadilan. Dugaan bersalah merupakan senjata ampuh untuk mengelabui masyakat yang awam akan hakekat dimensi hukum dan keadilan yang terselubung itu. Lembaga tak peradilan yang kompeten sekalipun tidak akan mampu secara jujur mengungkapkan kejahatan-kejahatan tersebut. maka ia akan berontak dan langsung sadar apa yang harus dilakukan. telah banyak meyepelekan hak yang ada pada manusia. pembantaian massal kaum Muslim BosniaHerzigovina siapa yang bertanggung jawab. Stratifikasi sosial salah satu andil masyarakat kita melihat sesuatu persoalan. pembunuhan. Indonesia sendiri yang 60 tahun merdeka. pelanggaran HAM di Indonesia siapa yang harus dikambing hitamkan. disinilah letak kebobrokan hukum negara kita.signifikan terjadi gejala sosial masyarakat baik itu dari individu sampai lembaga yang kompeten sekalipun. air mata serta kepedihan dipertaruhkan. Masyarakat kita kurang tersentuh hatinya ketika melihat problem orang lain. Pelanggaran HAM di dunia Barat siapa yang dapat menghentikannya. akan tetapi jika masalah tersebut ada sangkut pautnya dengan keluarganya baik secara kekerabatan. . tapi apa yang mereka dapatkan setelah darah. Kesengsaraan dan kegetiran hidup selalu menjadi fenomena sosial yang kerap kita lihat dimana-mana melalui media-media atau di lapangan. jiwa. perkosaan. tanpa memekirkan akabat yang akan terjadi belakangan. Banyaknya korban HAM yang rela mengorbankan sesuatu untuk ibu pertiwi ini.

Akan tetapi lebih tepat lagi. bahkan di kalangan orangorang Islam. bersama-sama dengan setiap orang yang selain Muslim.pencurian dan beberbagai penyelewengan bagaian kecil dari bentuk-bentuk pelanggaran HAM. Orang-orang Islam. Dengan demikian konflik itu sangat jelas. Pasal-pasal tentang kebebasan agama dan nurani dalam berbagai dokumen hak asasi manusia nampak berbenturan. nampaknya bisa saja menerima status hak azasi manusia tentang kebebasan dan nurani. dalam mengambilangkah-langkah radikalsemacam itu. Kita dapat saja mendukung ditariknya kembali semua pernyataan yang mendukung kebebasan beragama dan nurani (atau barangkali kita dapat menyempurnakannya dengan tujuan yang sama. 2. seperti halnya yang lain. Apakah semua pernyataan hak azasi manusia harus ditarik kembali atau dikebiri kapan saja ketika berhadapan dengan oposisi. kebijaksanaa untuk membatasi toleransi agama dan batas-batasnya dengan cara . sebenarnya ada sedikit dalam masyarakat internasional. Banyak problem dengan tanggapan seperti ini. dengan cara menulis kembali pernyataan-pernyataan itu dengan maksud supaya tidak berbahaya). sepanjang hak-hak itu dibatasi sebagaimana mestinya sesuai dengan ajaran tradisional. Kita dapat mencoba untuk membantah bahwa ketaatan terhadap pernyataan-pernyataan kebebasan agama yang ada memerlukan perizinan negara-negara Muslim. Ada sekurang-kurangnya empat strategi yang mungkin bisa kita gunakan dalam menghadapi konflik tersebut : 1. hal-hal yang penting dari banyak persoalan yang sudah ditetapkan dan ajaran Islam yang resmi tentang pemberlakuan terhadap orang-orang murtad dan orang-orang non Islam yang dilindungi.

dari waktu ke waktu telah melakukan upaya memperkuat hak-hak politik. ekonomi. Pertama adalah dengan membiarkan semua ketika pandangan sikap tidak yang toleran sangat tidak toleran. khususnya mengarah keyakinan keyakinan tertentu yang dapat dilaksanakan.apa saja yang mereka tentukan. Di samping itu. sosial dan hak-hak penduduk lainnya. tindakan terhadap hak kebebasan agama mereka dijamin secara internasional. Kedua adalah adanya fakta bahwa pernyataan-pernyataan tentang hak kebebasan agama yang ada secara eksplisit mencakup larangan-larangan yang bertentangan dengan kebijakan Islam tertentu. Maka kita akan membolehkan hak-hak orang Islam mengikutu hati nurani mereka sendiri. . lawan politik dan lain sebagainya. 3. Ada dua problem di sini. tanpa ada persetujuan bahwa suatu yang ini keyakinan memaksa menciptakan dengan sikap kebebasan intoleran. pada akan menghasilkan kebijaksanaan yang sebaliknya. Kita dapat berpegang teguh pada pernyataan tentang hak kebebasan agama yang yang ada sama dan mencoba dengan dilakukan untuk PBB menetapkannya secara internasional memakai kebijakan- perangkat-perangkat seperti umpamanya. seperti penganiyaan yang kasar terhadap para tahanan. dan oleh karena itu. agama memerlukan toleransi keyakinan apapun. bahkan keyakinankeyakinan masalah berkenaan betul-betul dan lebih menunjukkan bahwa perbedaan-perbedaan kultural mengenai kerumitan-kerumitan yang kebingungan bagi para pendukung HAM yang tidak tercantum dengan pelangaran-pelangaran terkenal.

Human Rights and the Conflict of Cultures: Westren and Islamic Perspectives on Religious Liberty.Maududi. Ini dapat David Litle.4. tanpa bersembunyi dibalik hiasan kata-kata belaka. sepanjang masa mempraktekkan diskriminasi terhadap sejumlah penting warga negaranya. John Kelsay dan Abdu Azis A. konflik antara pandangan Barat dan Islam mengenai sesuatu yang sedemikian dalam penting dan mendasar. Misalnya sebagaimana yang banyak dilakukan oleh negara-negara yang di atas kertas menjamin persamaan hak antara warga negaranya. xx. 9 Abu al-A’la al. Dalam hal ini. h. Kita dapat mengatakan perdebatan kontemporer antara orang-orang Barat dan orang-orang Islam tentang kebebasan agama dan nurani sebagai kesempatan dan sifat dari untuk suatu mempertimbangkan dasar-dasar keyakinan tentang kebebasan tersebut baik dalam tradisi Barat maupun Islam. sebagaimana diduga banyak orang.Maududi. dievalusi secara kritis. h. Islamic Law and Constitution (Lahore: Islamic Publication LTD. F. Sachedina. Jika dengan teliti. kata al.9 ajaran Islam mencakup sistem pemikiran dan pedoman tingkah laku manusia dan bertujuan untuk mendirikan negara berlandaskan Ideologi Islam sendiri. 8 . nurani seperti menjadi hak lebih kebebasab beragama dan konsisten dari yang diduga. secara terus terang dan jujur membedakan warganya secara jelas dalam struktur politiknya. Untuk itu Islam membagi dua tipe kewarganegaraan : Muslim dan Dzimmi. 1967). memiliki banyak alasan untuk mulai menyerukan “ penerapan yang tanpa batas”8 dari Deklarasi Hak Munusia. Persoalan Rakyat : Status dan Hak-Haknya. namun dalam kenyataannya. Menurut alMaududi. 263-270.

10 Darwan Prinst. Dalam kenyataannya. 265. praktek perkawinan terhadap sesama TKI di luar negari menjadi suatu kajian hukum mengenai status anak yang dlahirkan yang tersebut baik itu tentang status kewarganegaraan gencar-gencarnya maupun aspek-aspek yang timbul di kemudian hari. kata al.disaksikan misalnya dalam perlakuan tehadap kaum Negro (penduduk kulit hitam) di Amerika Serikat atau perlakuan terhadap orang-orang non komunis di Rusia. untuk menyelenggarakan Merekalah yang memikul kewajiban untuk melaksanakan hukumhukumnya dan secara bersama-sama untuk merealisasikan ajaran Islam dalam bidang keagamaan.Maududi10. Hak Asasi Manusia Dalam Perspektif Syari’at Islam. h. moral. Di kewajiban atas setiap pundak warga negara seluruh Muslim ajaran terletak Islam. Islam meletakkan itu semua dalam pada segala mereka dan meminta dapat pengorbanan mereka bentuknya agar mempertahankan ajaran tersebut. Rusjdi Ali Muhammad. Dalam hal ini ajaran Islam menempuh jalan paling rasional. Ibid. (Ed).Maududi bahwa sejak awal dan terang-terangan ajaran Islam mengklasifikasikan dua lapisan warga negara berdasarkan ukuran agama : Islam dan non-Islam. 2003).11 Status buruh bekerja diluar negeripun semakin diperjuangkan agar kepastian hukum kita sebanding dengan hukum negara lain. Jalan tersebut bagi al. 98. kebudayaan dan politik. I (Banda Acah: Ar-raniry Press. Di segi lain. II (Bandung: PT. Cet. adil dan terhormat. 11 . 2004). h. Cet. 60. hal. Lihat juga. Citra Aditya Bakti. Hukum Anak Indonesia. Hasan Basri. semua negara modern sekarang terdapat perlakuan yang semacam itu dalam berbagai tingkatannya.

Penutup. penganiayaan dan kreativitas dalam berkreasi menjadi persoalan HAM semakin kompleks. HAM itu sendiri Di saat masyarakat dunia sedang galau ditenggarai sebagai bagian dari proses menghadapi terpaan arus globalisasi dan modernisasi. pembunuhan. Ini menandakan bahwa manusia sedang menuju kepada pemahaman jati dirinya sendiri.G. Islam jauh hari telah membuat suatu legitimasi hukum yang kuat tentang hak-hak individu manusia. terutama di negara-negara sedang berkembang. Pelanggaran berbagai kepentingan dari kebijakan penguasa yang kurang meperhatikan aspek-aspek nilai yang berkembang dalam masyarakat. Amin. . banyak kasus-kasus pencemaran nama baik. sejak dari alam rahim hingga dapat berinteraksi sesamanya. Ajaran Islam dan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya menjadi solusi alternatif. Hak untuk beragama dan berkeyakinan merupakan HAM hak dewasa mutlak ini setiap kerena insan ada dalam memahami dan menjalankan ajarannya. Akhir akhir ini persoalan Hak Manusia kembali mencuat ke permukaan dan banyak dibicarakan di mana-mana. Hak-hak asasi manusia menghendaki adanya kebebasan atau kemerdekan. perkosaan. penegakan demokratisasi.

Nasution. 1980. yogyakarta: Academia dan Pustaka Pelajar. I. Banda Aceh: Ar-Raniry Press. Abu al-A’la. David. Cet. 1980. Moral Imperative of Human Rights. Cet. 1967. Harun dan Bahtiar Effendy. Darwan. I. Pollis. Vatin. dalam Philosophy and Public Policy. Hak Azasi Manusia Dalam Islam. Lahore: Islamic Publication LTD. New York: Praeger. John Kelsey dan Abdul al-Azis A. Hak Manusia. 1997. Rusjdi Ali. Islamic Law and Constitution. Human Rights and the Complict of Cultures: Western and Islamic Perspectives on Religious Liberty. James P. I Jakarta: Yayasan Obor Indonesia. Jean Claude. Human Rights and Islamic Political Culture. 1987. 2003. Southen Illinois: University Press. Bandung: PT. 2004. Cet. Adamantia dan Peter Schwab. II. (ed) Kenneth W. al. Thompson. Hukum Anak Indonesia. Washington: University Press of America. Human Rights in Islam.Maududi. Prinst. Sachedina. 1979. Muhammad. Terj. Pustaka Firdaus. Cet.DAFTAR PUSTAKA Little. Human Rights: Cultural and Ideological Perspectives. . Riyanto. Dalam Perspektif Syari’at Islam. Piscatory. Citra Aditya Bakti.

Syukur Kholil. P. MA DR.hd. Katimin. MA PROGRAM STUDI HUKUM ISLAM PROGRAM PASCASARJANA INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI SUMATERA UTARA MEDAN 2006 . Pagar Hasibuan.Makalah Revisi HAK-HAK ASASI MANUSIA (HUMAN RIGHTS) Diajukan Untuk Memenuhi Tugas Individu Pada Mata Kuliah Isu-Isu Kontemporer Disusun Oleh: Muhammad Imran 05 HUKI 896 Pembimbing: DR. MA DR.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful