HAK-HAK ASASI MANUSIA

(HUMAN RIGHTS) Muhammad Imran 05 HUKI 896 Dosen Pembimbing : DR. Katimin, MA DR. Syukur Kholil,P.hd. MA DR. Pagar Hasibuan, MA A. Pendahuluan. Ketika manusia lahir ke muka bumi, jeritan dibarengi tangisan menghiasi perjalanan hidup manusia, hal ini menandakan bahwa setiap individu telah merasakan secara naluri bagaimana hak dan kewajibannya ketika lahir. Penyelewengan, penipuan, pembunuhan karakter dan sebagainya telah mewarnai kehidupan yang dimiliki manusia itu sendiri. Hak manusia secara sederhana merupakan sesuatu proses atau sistem yang sudah terdapat dalam diri manusia, dan untuk merealisasikannya diperlukan suatu pola yang akurat dan jitu agar hak-hak tersebut dapat berjalan sesuai dengan fitrah dan kodratnya masing-masing. Katagori hak manusia dewasa ini selalu diartikan sempit, padahal banyak pakar yang berkomentar luwes tentang hal tersebut. Islam mendukung sepenuhnya eksistensi hak anak manusia mulai dari penciptaan hingga kematiannya. Pembodohan hak inilah akan menimbulkan secercah fenomena sosial masyarakat kita, ketika diaplikasikan. Dalam mendeskripsikan hak azasi manusia, penulis membuat suatu stressing yang dianggap layak untuk dibahas dalam paparan makalah ini, antara lain : Lahirnya Deklarasi universal Hak-hak asasi manusia, Hak dalam pandangan Islam, Deskripsi Hak Manusia

menurut Deklarasi PBB, Fenomena sosial dalam tatanan Hak Manusia secara global, Persoalan rakyat menyangkut status dan hak-haknya. B. Lahirnya Deklarasi Universal Hak-Hak Manusia. Piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa setelah menegaskan akan perlunya memelihara perdamaian dan keamanan dunia, menegaskan pula tentang pentingnya bangsa-bangsa di dunia ini untuk memperhatikan tentang hak-hak manusia, martabat dan kehormatan individu, kesamaan hak-hak manusia baik laki-laki maupun perempuan, juga perlakuan negara-nagara besar kepada yang kecil secara wajar. Tujuan utama dari Piagam perserikatan Bangsa-Bangsa tersebut adalah untuk merealisasikan kerjasama internasional dalam mengatasi masalah-masalah dunia di bidang ekonomi, sosial, kebudayaan dan kemanusiaan serta untuk menghormati hak-hak seluruh umat manusia dan mendukung ke arah itu secara mutlak tanpa membeda-bedakan bangsa, bahasa, agama dan juga tanpa membeda-bedakan laki-laki ataupun perempuan. Meskipun Piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa mengakui adanya lebih dulu fenomena yang dikenal sebagai hak-hak manusia, tetapi piagam tersebut tidak merinci dan tidak memuat daftar hak-hak manusia yang mesti dihormati, dan juga tidak mengacu pada suatu sumber yang menyebutkan secara tepat hakhak yang perlu dihormati itu. Pada waktu perumusan Piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa dirancang, pernah ada beberapa usul dari beberapa negara agar dicantumkan daftar hak-hak beberapa negara. Namun demikian , Perserikatan Bangsa-Bangsa

Mejelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa mengesahkan rancangan deklarasi universal tentang hak-hak asasi manusia dalam sidangnya di Paris.memandang. larangan diskriminasi yang didasarkan kepada ras. Komisi Hak Asasi Manusia telah bersidang dan membentuk beberapa komisi menurut tugas yang diberikan kepadanya. diserahkan kepada Commision of Human Rights (Komisi Hak Asasi Manusia) yang merupakan aparat dari Economic and Sosial Council (ECOSOC). Komisi ini bertugas membuat rincian tentang hak-hak asasi yang mesti dihormati oleh setiap manusia di muka bumi ini. sosioal dan budaya yang menjadi hak semua orang tanpa terkecuali. di samping itu komisi ini juga diberi wewenang untuk mempersiapkan rancangan program internasional tentang hak-hak asasi manusia dalam piagam PBB. kecuali empat negara absen. Tugas menyusun Bill of Rights international sebagaimana tersebut di atas. dan memberikan penjelasan persetujuan mengenai hak-hak sipil. Deklarasi ini sama sekali tidak memuat lembaga atau mekanisme yang akan menjamin diindahkannya hak-hak itu. bangsa. ditetapkan pada sidang dan menetapkannya pula atas dasar persetujuan anggota-anggotanya. Akhirnya pada tanggal 10 Desember 1948. perlu untuk menyusun suatu Bill of Rights International dalam waktu setahun setelah piagam itu diberlakukan. Kemudian pada hari berikutnya sidang UNESCO menyetujui pula seluruh isi deklarasi tersebut. hak ekonomi. Setelah melalui perdebatan yang panjang maka lahirlah “Universal Declaratiaon of Human Rights” atau disebut Deklarasi Internasional tentang hak-hak asasi manusia. Deklarasi universal tentang hak-hak asasi manusia di dalam bentuknya yang terakhir memuat daftar hak-hak sipil dan politik. . bahasa dan agama. kedudukan wanita.

walaupun status hukumnya masih terjadi pro dan kontra. masih sangat sementara sifatnya dan membingungkan. Meskipun banyak kesulitan yang dijumpai PBB dalam upaya memantapkan sistem universal untuk melindungi hak asasi manusia. dan kadang-kadang merupakan kesangsian . tetapi dalam prakteknya di kemuduan hari telah mengubahnya menjadi sebuah alat yang mempunyai kekuatan yuridis.Pada mula disahkan deklarasi tersebut. Lebih dari 50 perangkat hak-hak asasi manusia yang sudah dirundingkan di bawah pengawasan PBB. Sebagian besar dirancang oleh kelompok kerja dari komisi PBB mengenai hak-hak asasi manusia (badan yang berada di bawah Dewan Ekonomi dan Sosial). Ini khususnya terlihat pada gerakan-gerakan untuk hak-hak manusia. Meskipun kesadaran mengenai pentingnya HAM semakin tumbuh dan berkembang luas. Literarur yang kini ada. Keadaan yang mendesak dan kesempatan tampaknya pengalaman dapat dan menimbulkan jawaban-jawaban yang diperlukan jauh sebelum kita dapat membenarkan mereka. semua meteri yang ada dalam bentuk mengikat secara non hukum. Teori sosial sering berkembang lebih pesat dari prakteknya. tetapi PBB telah berbuat banyak guna menangani masalah ini secara khusus. Adapun yang paling baru adalah Konvensi mengenai hak-hak anak yang dicetuskan oleh komisi awal 1989. Akan tetapi sering pula teori itu tertinggal jauh ke belakang. dan gerakan-gerakan serta sebab-sebab yang menyuarakan HAM ataupun hak-hak lainnya menjadi beragam-ragam. jika dibandingkan dengan literarur lain yang bertemakan filsafat. kurang literatur teoritis di bidang ini masih dirasakan.

Namun demikian. teori manapun ideologi alasan mengenai dari HAM adalah kecenderungan yang mendorong kita untuk melihat teori itu topeng hubungan-hubungan diberikan untuk manusia itu ada atau kekuasaan Sejumlah telah membenarkan penolakan : 1. realitas. Semakin luasnya tuntutan tersebut kelihatannya bukan dipengaruhi oleh kesulitan dalam analisis matematika. Pandangan ini tersirat dalam beberapa pakar . Konsekuensi yang paling penting dari kesangsian mengenai kesahihan sekadar dari sebagai belaka. 2. tak bersyarat. Atau realisasinya tidak bergantung pada hal-hal semacam itu melainkan berpengaruh pada kekuasaan yang relatif dari orang-orang yang mendukung atau yang menentang tuntutan-tuntutan ini.dalam memandang hakikat. bahwa hak-hak bisa kita ketahui keberadaannya. serta apa yang disebut dasardasar hak-hak manusia. kecuali kalau hak tersebut ditafsirkan secara muthlak. atau tidak dapat dipisahkan. dan memang seharusnya menjadi lebih baik dari keadaan kini. Sebagaimana jerit tangis untuk mencari keadilan dalam makna apapun. Kadang-kadang orang berpendapat bahwa tidak ada HAM di dalam sistem moral manapun. Tuntutan-tuntutan itu bermuara dari adanya rasa tertekan dan ketidakpuasan yang turut mendorong keputusan bahwa segala sesuatu. Dan ini artinya bahwa kita tidak akan pernah bisa memberikan landasan-landasan yang sahih dan obyektif untuk keputusan moral apapun. Alasan-alasan tersebut antara lain Kadang kala orang mempunyai pandangan bahwa HAM tidak pernah ada karena tidak ada hal-hal seperti itu sebagai hak-hak moral secara keseluruhan. tuntutan atas hak-hak manusia itu terus berlangsung.

8. 1987). sehingga tidak ada hirarki yang dapat ditegakkan sebelumnya untuk membimbing kita untuk masuk ke semua lini situasi yang konstruktif. 3. hal itu terlihat dalam berbagai deklarasi hak- Harun Nasution dan Bahtiar Effendy. Kita tidak bisa mengatakan hak yang mana secara pasti mengikat. Semua hak manusia memiliki validitas prima facie di dalam situasi di mana hak tersebut relevan. karena kita tidak dapat mengetahui mana yang lebih dulu suatu hak bertentangan dengan hak lain.hukum yang berpikiran liberal. Sumber kesangsian lainnya tentang HAM muncul oleh karena adanya perbedaan-perbedaan dalam daftar hak sebagaimana 1 manusia. 7. Asumsi ini tidak mengandung pengertian apa-apa dalam istilah yang digunakan. Pustaka Firdaus. kecuali atas dasar anggapan bahwa hanya ada satu hak yang muthlak atau jika adapun lebih dari satu. Hak Azasi Manusia Dalam Islam. h. . Cet. meskipun hak-hak itu harus dipertimbangan.1 kemudian kewajiban dan hak muthlak tampaknya merupakan sebuah analisis yang sudah memadai terhadap persoalan yang kita hadapi. tetapi hak-hak itu tidak secara muthlak dan pasti mengikat tingkah laku dalam setiap kasus khusus apapun. bahwa kita bisa memberikan alasan yang kuat untuk mempercayai bahwa semua HAM dapat selaras satu sama lain dan dalam keadaan yang tak dapat diperkirakan atau dipercaya hak-hak tersebut akan saling bertentangan. I (Jakarta: Yayasan Obor Indonesia. Perbedaan yang jelas antara kewajiban dan hak prima facie. Di sisi lain konsekuensikonsekuensi ketaatan dan pelanggaran terhadap hak dan kewajiban demikian kompleks dalam tatanan bobot yang tidak stabil dan tidak konstan.

Kita cenderung berpendapat bahwa . 10. maka mereka mengambil budaya dan norma-norma mereka sebagai rujukan dan menjadikannya sebagai modal dalam memperbandingkan peradaban dan tatanan lain. kita lantas berpikir mengenai metodologi yang digunakan dalam menyingkapi persolaan yang terjadi. Upaya apapun menyebutkan hak-hak referensi sejarah. Daftar tersebut tidak terlepas pengaruh historis-fungsional. Menjadikan Islam sebagai dalih atau penyebab tradisionalisme di satu sisi. merupakan kecenderungan yang sudah berlangsung dan telah mencapai puncaknya sejak jatuhnya rezim 2 Syah Ibid. atau revolusi di segi lain. Berbicara tentang hak-hak manusia dalam Islam secara langsung.2 C. Masalah utama yang yang dihadapi berasal dari pendekatan orientalis. di Iran. mereka cenderung dan hampir selalu menggunakan istilah-istilah keagamaan. Hak-Hak Asasi Dalam Pandangan Islam. Namun dalam menerangkan peristiwa-peristiwa di negara-negara Muslim. Keberatan ini menunjukkan kesalahan konsep yang amat besar tentang tujuan atau kegunaan penempatan hak-hak semacam itu. Parameter moral. oleh para analis berpendapat bahwa jika Barat dan Islam dihadapkan dalam polemik hak manusia. hukum.hak manusia. Sarjana Barat jarang mengunakan agama Kristen sebagai titik tolak untuk menjelaskan perkembangan-perkebangan yang berlaku di Eropa beberapa dekade yang lalu. h. politik yang dibentuk Islam sebagai tujuan pemberian penghargaan kepada disusun dengan bentuk-bentuk dari untuk manusia satu persatu memberikan istemewa yang meragukan.

lebih baik memandang kita memandang negara. Baik hak-hak manusia maupun kodifikasi kemanusian bukanlah merupakan pengecualian bagi para pemikir Muslim. meskipun baru saja dilembagakan hak-hak manusia dan kodifikasi kemanusian tersebut. Human Rights in Islam. h. pengalaman-pengalaman politik. sejarah Islam bukan saja rangkaian peristiwa yang tak dapat dipisahkan (yakni terdapat suatu perkembangan historis tunggal yang memiliki kaitan dengan semua masyarakat yang memiliki agama sama). sikap mengagungkan Islam sudah menjadi semacam apologi hingga mencapai titik di mana mereka menghendaki bahwa apapun yang ditemukan diluat batas-batas orang-orang Islam pasti mempunyai batasan dalam diri mereka. tradisi dan hal-hal lain dinilai tabu tidak dapatdianggap bertanggung jawab atas apa yang terjadi di dunia Islam sekarang. hal-hal semacam ini bahkan sudah dilaksanakan pada zaman permulaan Muhammad Saw. Masalah kedua berasal dari interpretasi yang berlawanan sebagaimana ditawarkan oleh para sarjana Islam sendiri. seperti : gagasan intelektual. yang keinginannya membantah pandangan orientalis telah bergeser menjadi penolakan. Bagi sementara sarjana Islam. yang dengan segara dapat menunjukkan bahwa. 1980). dalam Philosophy and Public Policy (Southen Illinois: University Press. Jean Claude Vatin.kepercayaan dan praktek-praktek keagamaan. 359. Sebenarnya daripada melihat Islam sebagai kesatuan yang independen dari satu hakikat mistik. konsep-konsep dan penemuan ilmiah. gaya kognitif dan sistem ekonomi yang berlainan. 3 .3 Menurut pandang sarjana Muslim ainnya. pemerintahan atau masyarakat Islam sebagai satu komponen kekuasan yang solid mengenai soasial-politik dengan perubahan dengan berbagai rezim politik.

hak mendapatkan sesuatu. Hak tersebut termasuk dalam katagori kebebasan dan kemerdekaan. “Hak Azasi Manusia : Suatu konstruksi Barat dengan keberlakuan yang terbatas dengan penonjolan keberatan yang lazim terhadap etnosentrisme. melainan ada kecenderungan untuk Adamantia Pollis dan Peter Schwab. Human Rights: Cultural and Ideological Perspectives (New York: Praeger. Islam sejak dini telah melihat aspek yang fundamental tersebut dalam kaitan hak-hak manusia. kebebasan bersikap tanpa ada yang menghalangi. h. Al-qur’an dan sunnah merupan cerminan hak asasi manusia yang up to date . dapatlah disimpulkan bahwa hak-hak asasi manusia adalah suatu tanggung jawab yang telah ada semenjak manusia lahir atau dengan kata lain hak dasar yang dimiliki manusia. Malah mereka menggunakan masyarakat kecil sebagai batu loncatan agar terkenal dan berkuasa. Yang meliputi hak hidup. Deskripsi Hak Asasi Manusia Menurut Deklarasi Hak Universal PBB.Namun demikian negara-negara modern dewasa ini tidak mempunyai kesamaan dengan masyarakat kecil dalam melihat aspek yang diperlukan masyarakat dalam tatanan kebutuhan yang primer. tanpa melihat perbedaan di kalangan masyarakat sosial walaupun di sana-sini masih ada. Dari beberapa literatur. . 1979).4 Sayangnya tidak hanya hak-hak azasi manusia yang diajukan dalam Deklarasi Universal yang diprakarsai sebagai bias barat 4 yang kaut. D. 17. Dalam Islam hak asasi ini harus sesuai dengan prinsip-prinsip kemanusian yang selaran dan seimbang. Pollis dan Schwab menyimpulkan dalam esai mereka.

apakah ukuran standar dari pemerintah dan budaya. I (Yogyakarta: Academia dan Pustaka Pelajar. Riyanto.5 Kritik seperti itu sering ditujukan pada pernyataan-pernyataan tentang hak-hak pribadi. atau pemerintahan dan budaya yang merupakan barometer hak azasi manusia?. atau berapakah hak yang tunduk pada kebijaksaan kultural dan nasional. hiburan. singkatnya dari sejumlah kendala itu. Terj. xi. seperti prosedur-prosedur pemilihan yang dimuat dalam beberapa dokumen hak-hak azasi manusia yang diakui secara internasional. perjanjian perkawinan. dan menentukan hak-hak mana yang mengikat dan tidak. Sachedina. Human Rights and the Complict of Cultures: Western and Islamic Perspectives on Religious Liberty. hukum. 1997). Para pembela hak-hak manusia menghadapi secara jujur dan menanggapinya secara teliti dan seksama. dan ekonomi. dan beberapa jaminan politik dan perdata. h. Persoalan itu juga mewarnai teori moral. Fenomena demikian merupakan persoalan-persoalan besar yang mengejutkan. Cet. .memandang hak tersebut secara ahistoris dan dipisahkan begitu saja dari konteks lingkungan sosial. status. termasuk studi etika perbandingan. mungkinkah masing-masing pemerintah dan budaya memilih dengan sederhana di antara daftar-daftar hak dalam hak-hak manusia. bentuk-bentuk hukuman. politik dan ekonomi. dan sejauhmana kebijaksaan tersebut diaplikasikan. Penulis 5 tidak memulai dan memberikan jawaban yang David Little. Kecaman tersebut merupakan manifestasi dari budaya yang terlalu sempit dan pengalaman sejarah dalam hal-hal tertentu saja. Tudingan lain muncul karena adanya tuduhan asasi serius dan perlu menantang. Apakah semua hak yang dimuat dalam dokumendokumen itu sama-sama mengikat semua orang dimanapun. politik. John Kelsey dan Abdul al-Azis A.

baik sendiri atau dalam masyarakat yang lain. Dan dari dalih pasal itu. ibadah dan ketaatan agama atau keyakinannya dalam pengajaran”6 Dalam tanggapannya. dan bahkan tidak ragu terhadap argumentasi jawaban dari pakar-pakar hak azasi manusia selama rasional dengan tidak mengeyampingkan sikap hormat terhadap refleksi persoalan hak azasi manusia. Sejumlah keberatan umat Islam untuk pertama kalinya tercatat pada tahun 1948. . hak ini termasuk kebebasan untuk merubah agama dan kenyakinan. h. mereka beranggapan bahwa hak-hak kaum Muslim Libanon akan rusak oleh kata-kata dalam pasal itu. nurani. mereka menunjukkan kambing hitam yang lain– Libanon. Keberatan-keberatan yang sama diajukan oleh beberapa negara terhadap pasal itu yang lebih rinci dari versi kebebasan agama yang dimuat dalam naskah Konsep Kovenan Internasional tentang Hak-hak Sipil dan Politik.komprehensif. sejumlah negara Islam (khususnya Arab Saudi) berusaha untuk menghapus pasal tersebut. dan kebebasan. xiii. Dan pasal 26 Kovenan itu menambahkan ketentuan baru lain yang menjamin 6 Ibid. praktek. selama pembahasan sekitar Pasal 18 Deklarasi Universal yang dinyatakan: “Setiap orang mempunyai hak kebebasan berpikir. yang belakangan disetujui dan dinyatakan bahwa: “Tak seorangpun boleh tunduk pada paksaan yang akan merusak kebebasan untuk menganut agama atau kenyakinan yang menjadi pilihannya” (Pasal 18 ayat 2). baik dalam urusan publik atau privaat dalam mengungkapkan ajaran. dan agama. misalnyauntuk mendukung pernyataan Saudi tersebut.

Karena tujuan utamanya adalah untuk melayani kepentingan yang berkuasa. Alasannya yang cukup kuat. katakata jebakan yang diciptakan untuk melanggengkan pola dominasi dan kontrol Barat yang satu atau lain bentuk.perlindungan hukum yang sama terhadap bentuk deskriminasi atas dasar apapun seperti ras. Ketika sebuah sistem diorientasikan kepada yang kuat atau James P. (ed) Kenneth W. Thompson (Washington: University Press of America. teknologi dan budaya berada di tangan elite.7 E. Melindungi Hak Asasi Manusia mayoritas dan minoritas di atas permukaan bumi harus dipertahankan. dan karena pasal-pasal tertentu dari Deklarasi itu mengarah pada persoalan-persoalan yang berkaitan dengan kebebasan agama secara langsungkhususnya pasal 18. agama dan sebagainya. Moral Imperative of Human Rights. Hal ini bersifat diskusi Internasional. 7 . h. Kekuasaan politik. Persoalan ini merupakan ketetapan yang paling menimbulkan perselisihan antara negaranegara Islam Saudi Arabia dan Pakistan. Pembahasan sekitar Deklarasi Universal Hak-hak Asasi Manusia di Perserikatan Bangsa-Bangsa memberikan titik pangkal yang unik terhadap penelitian mengenai Islam dan kebebasan agama. ekonomi. Human Rights and Islamic Political Culture. Fenomena Sosial Dalam Tatanan Hak Asasi Manusia Secara Global. Tata dunia baru sesungguhnya hanyalah slogan. jenis kelamin. struktur kekuasaan tata dunia baru sangat tidak seimbang. termasuk hak untuk pindah agama. 1980). Piscatory. militer. yang memberikan hak tehadap kebebasan nurani dalan memilih dan mempraktekkan keyakinan agama. dimana telah bercokol selama hampir sepanjang dua ratus tahun terakhir. dunia akan terus menyangkal dan mencabut kemanusiaan dari hakhaknya. 144.

jika kekuasaan terpusat pada level elite masyarakat. Disamping itu. kepentingan demi kepentingan merupan faktor yang sangan dominan terjadi dalam kasus-kasus pelanggaran hak asasi manusia dewasa ini. Lembaga-lembaga kekuasaan yang mendominasi sistem global tidak bertanggung jawab terhadap rakyat. Sebaliknya. tidak seperti banyak negara sekarang ini yang mematuhi sejumlah kecil amanat akibat dari politik perwakilan. Apabila kekuasaan terdistribusi secara merata. terdapat pula unsur rasis yang lembut namun kuat dalam apartheid global. Sebagian bahkan berpendapat bahwa seperti apartheid konvensional. dan nilai yang sesuai dengan kepentingannya. Betapapun komprehensipnya hak yang dijanjikan kepada rakyat dalam konstitusi sebuah negara. realisasi aktualnya tergantung pada sejauhmana struktur kekuasaan yang terdapat dalam masyarakat tersebut melaksanakannya. institusi.yang memiliki hak istemewa. maka hak orang akan biasa berada dalam bahaya. Ini adalah fakta yang terjadi berulang kali pada tingkat negara-kebangsaan. Ketika kita melihat hak asasi manusia dipermainkan dengan hal-hal yang dianggap legal. sistem global tidak memiliki tanggung jawab terhadap ras manusia. kita tidak menyadari bahwa setelah kebijakan yang diterapkan berlainan dengan apa yang telah diformulasikan. Era modern sebagai wadah yang cukup . Apartheid global bukan hanya menganugerahkan kekuasaan dan kekayaan kepada minoritas istemewa melainkan juga menjamin bahwa mereka yang memegang kendali (control) akan dapat mempertahankan dan melanggengkan posisi mereka melalui hukum. maka hak azasi manusia lebih memungkinkan untuk dilanggar ketimbang ditaati. amat boleh jadi warga negara akan menikmati hak-hak yang diberikan kepadanya.

tanpa memekirkan akabat yang akan terjadi belakangan. Indonesia sendiri yang 60 tahun merdeka. Lembaga tak peradilan yang kompeten sekalipun tidak akan mampu secara jujur mengungkapkan kejahatan-kejahatan tersebut. jiwa. pembunuhan. pelanggaran HAM di Indonesia siapa yang harus dikambing hitamkan. maka ia akan berontak dan langsung sadar apa yang harus dilakukan. telah banyak meyepelekan hak yang ada pada manusia. pembantaian massal kaum Muslim BosniaHerzigovina siapa yang bertanggung jawab. Banyaknya korban HAM yang rela mengorbankan sesuatu untuk ibu pertiwi ini. disinilah letak kebobrokan hukum negara kita. baik secara halus maupun terang-terangan. perkosaan. Masyarakat kita kurang tersentuh hatinya ketika melihat problem orang lain. Dugaan bersalah merupakan senjata ampuh untuk mengelabui masyakat yang awam akan hakekat dimensi hukum dan keadilan yang terselubung itu. tapi apa yang mereka dapatkan setelah darah.signifikan terjadi gejala sosial masyarakat baik itu dari individu sampai lembaga yang kompeten sekalipun. Kesengsaraan dan kegetiran hidup selalu menjadi fenomena sosial yang kerap kita lihat dimana-mana melalui media-media atau di lapangan. Konflik yang terjadi dilingkungan kita disebabkan oleh berbagai ketidak puasaan yang dilakukan sekelompok orang yang iri terhadap kesenangan orang lain. akan tetapi jika masalah tersebut ada sangkut pautnya dengan keluarganya baik secara kekerabatan. Stratifikasi sosial salah satu andil masyarakat kita melihat sesuatu persoalan. air mata serta kepedihan dipertaruhkan. . Pelanggaran HAM di dunia Barat siapa yang dapat menghentikannya. Menanti terus menanti merupakan suatu kemunafikan yang sama membuat persepsi kita berpaling untuk memdapatkan kebenaran dan keadilan.

Pasal-pasal tentang kebebasan agama dan nurani dalam berbagai dokumen hak asasi manusia nampak berbenturan. Dengan demikian konflik itu sangat jelas. Kita dapat saja mendukung ditariknya kembali semua pernyataan yang mendukung kebebasan beragama dan nurani (atau barangkali kita dapat menyempurnakannya dengan tujuan yang sama. Kita dapat mencoba untuk membantah bahwa ketaatan terhadap pernyataan-pernyataan kebebasan agama yang ada memerlukan perizinan negara-negara Muslim. Banyak problem dengan tanggapan seperti ini. sepanjang hak-hak itu dibatasi sebagaimana mestinya sesuai dengan ajaran tradisional. sebenarnya ada sedikit dalam masyarakat internasional. nampaknya bisa saja menerima status hak azasi manusia tentang kebebasan dan nurani. Orang-orang Islam. Apakah semua pernyataan hak azasi manusia harus ditarik kembali atau dikebiri kapan saja ketika berhadapan dengan oposisi. bersama-sama dengan setiap orang yang selain Muslim. Akan tetapi lebih tepat lagi. bahkan di kalangan orangorang Islam. 2.pencurian dan beberbagai penyelewengan bagaian kecil dari bentuk-bentuk pelanggaran HAM. seperti halnya yang lain. dalam mengambilangkah-langkah radikalsemacam itu. dengan cara menulis kembali pernyataan-pernyataan itu dengan maksud supaya tidak berbahaya). hal-hal yang penting dari banyak persoalan yang sudah ditetapkan dan ajaran Islam yang resmi tentang pemberlakuan terhadap orang-orang murtad dan orang-orang non Islam yang dilindungi. kebijaksanaa untuk membatasi toleransi agama dan batas-batasnya dengan cara . Ada sekurang-kurangnya empat strategi yang mungkin bisa kita gunakan dalam menghadapi konflik tersebut : 1.

Ada dua problem di sini. Maka kita akan membolehkan hak-hak orang Islam mengikutu hati nurani mereka sendiri. tindakan terhadap hak kebebasan agama mereka dijamin secara internasional. Di samping itu. Pertama adalah dengan membiarkan semua ketika pandangan sikap tidak yang toleran sangat tidak toleran. pada akan menghasilkan kebijaksanaan yang sebaliknya. 3. Kita dapat berpegang teguh pada pernyataan tentang hak kebebasan agama yang yang ada sama dan mencoba dengan dilakukan untuk PBB menetapkannya secara internasional memakai kebijakan- perangkat-perangkat seperti umpamanya. khususnya mengarah keyakinan keyakinan tertentu yang dapat dilaksanakan. seperti penganiyaan yang kasar terhadap para tahanan. sosial dan hak-hak penduduk lainnya.apa saja yang mereka tentukan. dan oleh karena itu. lawan politik dan lain sebagainya. Kedua adalah adanya fakta bahwa pernyataan-pernyataan tentang hak kebebasan agama yang ada secara eksplisit mencakup larangan-larangan yang bertentangan dengan kebijakan Islam tertentu. ekonomi. . agama memerlukan toleransi keyakinan apapun. dari waktu ke waktu telah melakukan upaya memperkuat hak-hak politik. tanpa ada persetujuan bahwa suatu yang ini keyakinan memaksa menciptakan dengan sikap kebebasan intoleran. bahkan keyakinankeyakinan masalah berkenaan betul-betul dan lebih menunjukkan bahwa perbedaan-perbedaan kultural mengenai kerumitan-kerumitan yang kebingungan bagi para pendukung HAM yang tidak tercantum dengan pelangaran-pelangaran terkenal.

9 ajaran Islam mencakup sistem pemikiran dan pedoman tingkah laku manusia dan bertujuan untuk mendirikan negara berlandaskan Ideologi Islam sendiri. Ini dapat David Litle. h. kata al. xx. 8 . John Kelsay dan Abdu Azis A. 9 Abu al-A’la al. 263-270. F. secara terus terang dan jujur membedakan warganya secara jelas dalam struktur politiknya. Menurut alMaududi. Kita dapat mengatakan perdebatan kontemporer antara orang-orang Barat dan orang-orang Islam tentang kebebasan agama dan nurani sebagai kesempatan dan sifat dari untuk suatu mempertimbangkan dasar-dasar keyakinan tentang kebebasan tersebut baik dalam tradisi Barat maupun Islam. konflik antara pandangan Barat dan Islam mengenai sesuatu yang sedemikian dalam penting dan mendasar. Islamic Law and Constitution (Lahore: Islamic Publication LTD. Untuk itu Islam membagi dua tipe kewarganegaraan : Muslim dan Dzimmi.4. Persoalan Rakyat : Status dan Hak-Haknya. namun dalam kenyataannya. Jika dengan teliti.Maududi. sebagaimana diduga banyak orang. 1967). sepanjang masa mempraktekkan diskriminasi terhadap sejumlah penting warga negaranya.Maududi. nurani seperti menjadi hak lebih kebebasab beragama dan konsisten dari yang diduga. memiliki banyak alasan untuk mulai menyerukan “ penerapan yang tanpa batas”8 dari Deklarasi Hak Munusia. tanpa bersembunyi dibalik hiasan kata-kata belaka. Misalnya sebagaimana yang banyak dilakukan oleh negara-negara yang di atas kertas menjamin persamaan hak antara warga negaranya. Human Rights and the Conflict of Cultures: Westren and Islamic Perspectives on Religious Liberty. Sachedina. dievalusi secara kritis. h. Dalam hal ini.

Ibid. praktek perkawinan terhadap sesama TKI di luar negari menjadi suatu kajian hukum mengenai status anak yang dlahirkan yang tersebut baik itu tentang status kewarganegaraan gencar-gencarnya maupun aspek-aspek yang timbul di kemudian hari. Lihat juga. 265.disaksikan misalnya dalam perlakuan tehadap kaum Negro (penduduk kulit hitam) di Amerika Serikat atau perlakuan terhadap orang-orang non komunis di Rusia. Islam meletakkan itu semua dalam pada segala mereka dan meminta dapat pengorbanan mereka bentuknya agar mempertahankan ajaran tersebut. moral. semua negara modern sekarang terdapat perlakuan yang semacam itu dalam berbagai tingkatannya. Cet. Jalan tersebut bagi al. Di kewajiban atas setiap pundak warga negara seluruh Muslim ajaran terletak Islam. h.Maududi10. Hukum Anak Indonesia. 2004). Citra Aditya Bakti. hal. kebudayaan dan politik. untuk menyelenggarakan Merekalah yang memikul kewajiban untuk melaksanakan hukumhukumnya dan secara bersama-sama untuk merealisasikan ajaran Islam dalam bidang keagamaan. Dalam hal ini ajaran Islam menempuh jalan paling rasional. Rusjdi Ali Muhammad. I (Banda Acah: Ar-raniry Press. Dalam kenyataannya. kata al. Cet. Hasan Basri. 10 Darwan Prinst. 2003). (Ed). 11 . Hak Asasi Manusia Dalam Perspektif Syari’at Islam. II (Bandung: PT. h. 98. adil dan terhormat. Di segi lain.11 Status buruh bekerja diluar negeripun semakin diperjuangkan agar kepastian hukum kita sebanding dengan hukum negara lain. 60.Maududi bahwa sejak awal dan terang-terangan ajaran Islam mengklasifikasikan dua lapisan warga negara berdasarkan ukuran agama : Islam dan non-Islam.

penegakan demokratisasi. Penutup. Hak-hak asasi manusia menghendaki adanya kebebasan atau kemerdekan. pembunuhan.G. Islam jauh hari telah membuat suatu legitimasi hukum yang kuat tentang hak-hak individu manusia. Pelanggaran berbagai kepentingan dari kebijakan penguasa yang kurang meperhatikan aspek-aspek nilai yang berkembang dalam masyarakat. Akhir akhir ini persoalan Hak Manusia kembali mencuat ke permukaan dan banyak dibicarakan di mana-mana. HAM itu sendiri Di saat masyarakat dunia sedang galau ditenggarai sebagai bagian dari proses menghadapi terpaan arus globalisasi dan modernisasi. sejak dari alam rahim hingga dapat berinteraksi sesamanya. Hak untuk beragama dan berkeyakinan merupakan HAM hak dewasa mutlak ini setiap kerena insan ada dalam memahami dan menjalankan ajarannya. terutama di negara-negara sedang berkembang. perkosaan. banyak kasus-kasus pencemaran nama baik. Ajaran Islam dan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya menjadi solusi alternatif. . penganiayaan dan kreativitas dalam berkreasi menjadi persoalan HAM semakin kompleks. Ini menandakan bahwa manusia sedang menuju kepada pemahaman jati dirinya sendiri. Amin.

yogyakarta: Academia dan Pustaka Pelajar. Thompson. Islamic Law and Constitution. Pustaka Firdaus. New York: Praeger. Pollis. 1980. Vatin.DAFTAR PUSTAKA Little. Banda Aceh: Ar-Raniry Press. Citra Aditya Bakti. 2004. Harun dan Bahtiar Effendy. Hak Manusia. . Washington: University Press of America. Moral Imperative of Human Rights. Human Rights and Islamic Political Culture. 1979. dalam Philosophy and Public Policy. Southen Illinois: University Press. I Jakarta: Yayasan Obor Indonesia. Piscatory. Lahore: Islamic Publication LTD. Terj. Hukum Anak Indonesia. Bandung: PT. Muhammad. Dalam Perspektif Syari’at Islam. I. Nasution. Cet. al. Cet. Abu al-A’la. Jean Claude. II. James P. 1980. 1967. Sachedina. Cet. Darwan. Human Rights and the Complict of Cultures: Western and Islamic Perspectives on Religious Liberty. 1987.Maududi. 1997. (ed) Kenneth W. John Kelsey dan Abdul al-Azis A. Rusjdi Ali. I. Adamantia dan Peter Schwab. David. Prinst. Human Rights in Islam. Human Rights: Cultural and Ideological Perspectives. Cet. Riyanto. Hak Azasi Manusia Dalam Islam. 2003.

Syukur Kholil. MA PROGRAM STUDI HUKUM ISLAM PROGRAM PASCASARJANA INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI SUMATERA UTARA MEDAN 2006 . Pagar Hasibuan. Katimin. MA DR. MA DR. P.Makalah Revisi HAK-HAK ASASI MANUSIA (HUMAN RIGHTS) Diajukan Untuk Memenuhi Tugas Individu Pada Mata Kuliah Isu-Isu Kontemporer Disusun Oleh: Muhammad Imran 05 HUKI 896 Pembimbing: DR.hd.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful