ARTIKEL HASIL PENELITIAN

Oleh: Ardhi Prabowo, NIM. 4101504011

BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG MASALAH Dalam pandangan siswa sekolah dasar secara umum, mata pelajaran matematika adalah mata pelajaran yang susah untuk dimengerti. Indikasi yang paling mudah ditemukan adalah hasil belajar siswa yang cenderung kurang memuaskan. Terutama pada perolehan nilai yang rata-rata berada di bawah mata pelajaran lain. Hal tersebut dirasakan oleh guru, orang tua dan bahkan oleh siswa itu sendiri. Rendahnya hasil belajar siswa lebih terlihat khususnya pada pokok bahasan yang bersifat abstrak sehingga memerlukan visualisasi, yaitu pada pokok bahasan geometri. Selain itu rendahnya hasil belajar siswa sekolah dapat ditemukan pula pada pokok bahasan pengukuran luas, keliling dan berat serta pengukuran waktu. Ada beberapa faktor yang berkaitan dengan rendahnya hasil belajar siswa, yang paling utama adalah rendahnya minat siswa untuk mengikuti pelajaran dengan baik dan bersungguh-sungguh. Faktor yang lain adalah kurangnya motivasi siswa dalam belajar, sehingga menyebabkan rendahnya minat belajar siswa, serta kurang menariknya guru dalam melakukan tugas mengajar. Selain itu lingkungan serta sarana dan prasara pendukung juga ikut berpengaruh terhadap rendahnya hasil belajar siswa. Penelitian Hidayah/Sugiman (1998 : 32) dan Sugiarto/Hidayah (1999 : 4) mengemukakan bahwa untuk meningkatkan minat dan hasil belajar siswa sekolah dapat dilakukan dengan beberapa hal. Dalam kesimpulan penelitiannya

namun tetap terdapat kekurangan jika digunakan untuk kegiatan praktik siswa. Kepentingan akan alat peraga disebabkan karena cara berpikir siswa sekolah dasar yang masih bersifat konkret. khususnya mata pelajaran matematika. pemberian pelatihan mengajar untuk para guru dan pemberian hadiah bagi siswa berprestasi. siswa mengolah informasi dan menemukan pemecahannya. Dengan alat peraga siswa dapat langsung berhadapan dengan masalah yang nyata. Rumusan penyelesaian yang sesuai dengan kondisi di atas adalah bagaimana caranya agar siswa dan guru bersama-sama tertarik dan berperan dalam proses pembelajaran. 1999 : 32).2 dikemukakan bahwa pendayagunaan alat peraga sebagai alat bantu ajar dalam pembelajaran matematika membuat pembelajaran lebih bermakna dan siswa aktif. permasalahan seperti penjelasan di atas memang masih terjadi. Sarana dan prasarana di sekolah tersebut layak jika digunakan untuk kegiatan belajarmengajar. . Antara lain. dengan bantuan alat peraga ini. rendahnya hasil belajar siswa dapat diatasi secara perlahan dan siswa dapat menjadi aktif. Di sekolah tersebut tidak terdapat laboratorium atau alat peraga yang layak untuk pelaksanaan kegiatan belajar-mengajar. Untuk itulah kemudian dicari sebuah media pembelajaran yang dapat menjangkau siswa dan gurunya. Tujuannya agar siswa dan guru sama-sama tertarik dan berperan dalam proses pembelajaran dalam kelas. Berbagai cara sudah diusahakan untuk mengatasi permasalahan tersebut. Akan tetapi hasil yang diperoleh belum sesuai dengan apa yang diharapkan. lalu dengan menggunakan kemampuan dan ketrampilannya. Harapannya. Dalam pengamatan penulis di SD Petompon 5. 7 Semarang. 6. Siswa menjadi tertarik mengikuti pelajaran dan guru tertarik untuk terus mengajar dan senantiasa berusaha meningkatkan kualitas mengajarnya. Bahkan pemerintah pun sudah berusaha dengan cara memberi subsidi dana pendidikan untuk peningkatan sarana dan prasarana sekolah. Demikianlah kondisi yang dapat ditemukan di beberapa sekolah dasar di Kota Semarang. Dengan demikian transfer belajar telah dilaksanakan (Nur/Wikandari.

Apakah hasil belajar siswa pada pelajaran matematika dengan memanfaatkan VCD dalam tugas terstruktur lebih baik dibanding tugas terstruktur menggunakan LKS buatan peneliti dan tugas terstruktur menggunakan buku paket? C. VCD sudah memenuhi persyaratan untuk dijadikan media pembelajaran. siswa akan merasa nyaman ketika memperoleh mata pelajaran matematika. Sebagian besar masyarakat bahkan sudah memiliki playernya. Bagaimana bentuk pelajaran pengukuran luas. Setelah itu tentunya siswa akan menjadi tertarik sehingga secara perlahan perasaan takut terhadap mata pelajaran matematika akan luntur dan akhirnya hilang.3 Dalam hal ini media pembelajaran yang dibutuhkan juga harus sudah familier di masyarakat. Berdasarkan penjelasan diatas. keliling dan berat. RUMUSAN MASALAH Permasalahan yang diteliti dalam penelitian ini adalah : 1. Menurut Piaget (Tim MKPBM. Visual Compact Disc (VCD) adalah sebuah alat yang sudah familier di masyarakat umum. Dengan media VCD. maka diperlukan sebuah penelitian yang menyelidiki mengenai tingkat keberhasilan siswa sekolah dasar dalam memahami materi dengan menggunakan media VCD. Selain itu dengan media VCD siswa diharapkan akan menjadi lebih mudah mengerti mata pelajaran matematika. 2001) siswa sekolah dasar masih pada tahap operasi konkret. Sebagai sebuah media. serta pengukuran waktu yang dikembangkan dengan komputer. Mereka masih memerlukan visualisasi untuk mengerti sebuah konsep dalam matematika. dalam bentuk Visual Compact Disc (VCD) ? 2. Dengan VCD inilah maka siswa diharapkan akan menjadi lebih memahami mata pelajaran matematika secara mandiri. BELAJAR . B. LANDASAN TEORI 1. khususnya dikalangan siswa dan guru.

pemahaman.  tepat. Usaha-usaha yang perlu dilakukan oleh guru untuk meningkatkan prestasi belajar siswa dengan memanfaatkan fasilitas-fasilitas serta kelebihankelebihan yang ada baik di lingkungan sekolah antara lain :  Meningkatkan ketrampilan guru atau siswa dalam menggunakan Meningkatkan ketrampilan guru dalam menggunakan metode yang Memanfaatan alat atau bahan yang tersedia dan mudah didapat Selain itu. Belajar akan mengubah perilaku mental siswa yang belajar (Dimyati/Mudjiono. Prestasi belajar adalah hasil belajar seseorang yang dicapai dengan kemampuan maksimal yang akhirnya mangalami perubahan tingkah laku secara tetap baik kognitif.4 Belajar dan pembelajaran merupakan kegiatan yang tidak terpisahkan dalam kehidupan manusia. MEDIA PEMBELAJARAN MATEMATIKA alat bantu ajar. 2000 : 4) menyatakan belajar adalah aktivitas mental atau psikis yang berlangsung dalam interaksi aktif dengan lingkungan yang menghasilkan perubahan dalam pengetahuan. Tanpa belajar manusia tidak mungkin dapat memenuhi kebutuhan-kebutuhannya. Perubahan itu bisa terjadi dengan sengaja bisa juga tidak sengaja. . Agar belajar dapat berkualitas dengan baik. afektif dan psikomotorik. Dengan belajar manusia dapat mengembangkan potensi-potensi yang dimilikinya. ketrampilan dan nilai sikap. Winkel dalam Darsono (Darsono.  sebagai sumber belajar. bisa lebih baik juga bisa lebih buruk. 2. 2002 : 5). perubahan itu harus dilahirkan oleh pengalaman dan oleh interaksi antara orang dengan lingkungannya. untuk menghadapi dan menyikapi kurikulum yang berbasis kompetensi diperlukan kemampuan yang kompeten baik dari siswa maupun guru dalam menghadapi dunia global.

dimana perantara ini merupakan jalan atau alat untuk lalu lintas suatu pesan antara komunikator dengan komunikan. media adalah saluran komunikasi atau perantara yang digunakan untuk membawa atau menyampaikan sesuatu pesan. TV. namun ketika siswa diberi contoh tentang salah satu bentuk balok. OHP disebut media pembelajaran. tape. proyektor. Media pembelajaran adalah sarana dan prasarana yang dapat berupa software atau hardware yang digunakan untuk membantu proses belajar-mengajar. Sedangkan alat peraga matematika didefinisikan sebagai suatu alat yang penggunaannya diintegrasikan dengan tujuan dan isi pengajaran yang telah dituangkan dalam Garis Besar Program Pengajaran (GBPP) mata pelajaran matematika dan bertujuan untuk mempertinggi mutu kegiatan belajar mengajar (Darhim. Hamidjojo. Menurut Blake dan Horalsen. recorder. Menurut Santoso S. Ada perbedaan mendasar dari istilah alat peraga matematika dengan media pembelajaran secara umum. radio.5 Salah satu usaha untuk memberikan variasi dalam hal pembelajaran matematika adalah dengan menggunakan media pembelajaran matematika. Hardware yang dimaksud antara lain : OHP. b. maka OHP disebut alat peraga. namun OHP dapat juga sebagai alat peraga bangun ruang balok. 1994 : 5). Pada waktu digunakan menjelaskan materi. media adalah semua bentuk perantara yang dipakai orang penyebar idea. dan film. Alat peraga memiliki beberapa nilai praktis diantaranya : . Secara sederhana perbedaan antara alat peraga dengan media dapat dijelaskan dengan contoh singkat berikut : OHP dapat digunakan sebagai media untuk menjelaskan sebuah materi. sehingga gagasannya sampai pada penerima. Sedangkan software yang dimaksud adalah informasi atau cerita yang terdapat dalam film dan bahan pelajaran yang terdapat dalam slide. slide. Terdapat beberapa pendapat mengenai media dalam arti umum : a.

Artinya alat peraga membantu siswa sekolah dasar untuk menemukan bentuk abstrak dari permasalahan konkretnya. 1994 : 11) 3. Alat peraga dapat mempengaruhi abstraksi d. yaitu : (1) kesanggupan guru menyajikan. METODE PEMBERIAN TUGAS Menurut Tabrani Rusyan (Rusyan. Garam bukanlah tujuan utama dalam kegiatan makan. Dari uraian di atas dapat dituliskan tiga komponen pokok agar pemakaian alat peraga dapat dirasakan oleh siswa. yaitu menempati kedudukan dalam tingkatan “MENGAMATI”. . Namun. Jadi peran guru tetap yang utama. Jika siswa diumpamakan sebagai orang yang memakan makanan. Guru memberi tugas kepada siswa. Alat peraga dapat mengatasi perbedaan pengalaman siswa b. dan memperjelas pengertian konsep dan fakta Darhim menjelaskan bahwa alat peraga menjembatani berpikir abstrak. meningkatkan. memperbaiki. maka ketrampilan juru masak dalam mengolah pun tetap penting. makanan yang kita makan terasa kurang sedap dan kurang menyelerakan. langkah-langkah yang harus ditempuh apabila akan menggunakan metode pemberian tugas adalah sebagai berikut: a. Media audio visual sudah memiliki strata yang cukup tinggi di dalam piramida Dale. dan (3) sifat bahan yang akan diajarkan. Alat peraga dapat memperkenalkan. Dalam penelitian ini media pembelajaran yang digunakan difokuskan pada media audio visual. Alat peraga dapat membangkitkan semangat belajar yang baru dan membangkitkan motivasi serta merangsang kegiatan siswa dalam belajar c. (2) minat belajar siswa. Permasalahan di atas dapat diumpamakan sebagai garam dalam makanan.6 a. 1992 : 71). Akan tetapi tanpa garam. hal ini belumlah cukup untuk dapat menerima kemampuan dan mengerti hal-hal yang bersifat verbal dan abstrak (Darhim.

tanggung jawab dan melatih kemandirian. Siswa mempertanggungjawabkan atau melaporkan hasil usahanya dalam mengerjakan tugas d. bila pengawasan dan pemantauan guru kurang. Siswa mempelajari atau mengerjakan tugas c. Sumber yang digunakan siswa dalam mengerjakan tugas harus dikemukakan d. Namun ini juga tidak terlepas dari kemungkinan-kemungkinan yang tidak diinginkan seperti siswa hanya meniru pekerjaan temannya. Tugas harus jelas b. Bentuk pertanggungjawaban atau laporan dibuat dan cara mempertanggungjawabkan e. daya kreatif. Guru dengan siswa menilai hasil yang telah dicapai e. Cara mengerjakan tugas harus jelas c. Apalagi dalam melaksanakan tugas ditunjang dengan minat dan perhatian siswa serta kejelasan tujuan mereka bekerja. Hasil pekerjaan harus diperiksa atau dinilai serta dikoreksi (apabila ada yang salah) Kelebihan metode pemberian tugas anrata lain siswa mengalami dan mendalami sendiri pengetahuan yang didapatkannya. Dalam hal ini siswa juga mengembangkan daya berfikirnya sendiri. yaitu suatu alat yang digunakan untuk mengetahui sejauh mana pemahaman siswa terhadap materi yang baru saja diajarkan. Dalam pengertian yang lain disebutkan bahwa tugas terstruktur adalah cara mengajar yang diberikan oleh guru dengan jalan memberikan . daya inisiatif.7 b. Dalam penelitian ini tugas yang dimaksud adalah tugas terstruktur. Siswa dengan guru mengecek kebenaran atau kesalahan tertentu (dari sumber asli) atau mengulangi pelajaran Menurut Tabrani Rusyan (Rusyan. sehingga pengetahuan itu akan tinggal lama dalam jiwanya. 1992 : 74) ada beberapa hal yang harus diperhatikan oleh guru dalam memberikan tugas kepada siswa antara lain: a.

hasil belajar siswa yang diberi tugas menggunakan LKS . hasil belajar siswa yang diberi tugas terstruktur menggunakan VCD. dan 7 sebanyak 110 siswa. BAB II METODE A.8 tugas khusus untuk mengerjakan sesuatu di luar pelajaran. 2. Teknik Sampling Penelitian ini menggunakan teknik cluster random sampling. 3. VARIABEL PENELITIAN Variabel yang digunakan dalam penelitian ini adalah hasil belajar siswa. Dalam hal ini tugas terstruktur disebut juga Pekerjaan Rumah atau PR (Alipandie. 6. Dan setelah diadakan sampling. 6. Variabel tersebut dirinci yaitu. terpilihlah SD Negeri Petompon 5. maka sampel yang digunakan pun siswa Sekolah Dasar Negeri kelas V di Kecamatan Gajahmungkur Kota Semarang. dan 7. Sampel Sesuai dengan populasi yang dipakai dalam penelitian ini. Populasi Dalam penelitian ini peneliti mengadakan penelitian di Kelurahan Gajahmungkur Kota Semarang. Jadi populasi dalam penelitian ini adalah siswa kelas V Sekolah Dasar Negeri se-Kecamatan Gajahmungkur Kota Semarang. Jadi sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah siswa kelas V Sekolah Dasar Negeri Petompon 5. 1984 : 54). POPULASI DAN SAMPEL 1. B. Penggunaan metode ini disebabkan pertimbangan efektifitas dan efisiensi biaya dan waktu serta pertimbangan dari ahli.

C. Metode Pengumpulan data Tes dilakukan untuk memperoleh data setelah eksperimen diadakan. B = ( log S )∑( ni −1) Keterangan : s2 : varians dari semua sampel .9 buatan peneliti dan hasil belajar siswa yang diberi tugas menggunakan buku paket.3 =σ 2. Sampel diberikan perlakuan dengan pemberian VCD. LKS dan tugas dengan buku paket setelah sampel dinyatakan homogen. ANALISIS DATA Untuk mendapatkan asumsi bahwa sampel/data berangkat dari kondisi yang sama digunakan uji homogenitas dari ketiga kelompok. 6 dan 7 Semarang 2. dengan menggunakan uji Barlett.2 Tahap Eksperimen Tahap Tes =σ 2 1. Data Data dalam penelitian ini adalah hasil tes siswa kelas V Sekolah Dasar Negeri Petompon 5.3 : paling sedikit satu tanda sama dengan tidak berlaku. Pengambilan data tes dilaksanakan melalui dua tahap : D. DATA DAN METODE PENGUMPULAN DATA 1. Prosedur penelitian awal ini adalah sebagai berikut : H0 H1 :σ 1.s = ∑ ( n − 1) i i i 2 . Tes ini digunakan sebagai cara memperoleh data kuantitatif yang selanjutnya diolah untuk menguji hipotesis. dengan s 2 ∑ ( n − 1).

P Box dan Gwilym M. Sample dinyatakan normal jika hasil tes dalam SPSS menyatakan bahwa sample berdistribusi normal. Jenkins.2 =σ 1. dengan ∑ ( n − 1).10 si2 ni : varians data ke-i : banyaknya data ke-I kemudian digunakan rumus chi-kuadrat χ 2 = ln10 B − ∑ ( ni − 1) log si χ 2≥ χ 2 (1-α )(k-1) [ 2 ] Kriteria pengujian adalah tolak H0 jika (Sudjana.s s = ∑ ( n − 1) B = ( log S )∑( n 2 i i i 2 i −1) .1 Uji Normalitas Sampel Uji normalitas sampel dalam penelitian ini menggunakan tes Kolmogorov-Smirnov dalam SPSS.3 =σ 2 2. 1992 : 263) Selanjutnya. Jika uji normalitas sampel dengan tes KS dalam SPSS menyatakan bahwa sampel tidak normal. (Box/Jenkins. data yang diperoleh dalam penelitian akan dianalisis dengan Analisis Varians (ANAVA). Sebagai syarat melakukan ANAVA maka perlu diujikan beberapa uji seperti berikut ini : 1. Box dan Jenkins mengemukakan bahwa untuk sampel dengan N sebanyak lebih dari 50 (N ≥ 50) maka sampel tersebut berdistribusi normal. dengan menggunakan uji Barlett : H0 : σ 1.2 Uji Homogenitas Untuk menentukan rumus yang dipakai dalam uji lanjut. maka digunakan klaim kenormalan oleh George E. diperlukan uji homogenitas dari ketiga kelompok. 1970) 1.3 H1 : paling sedikit satu tanda sama dengan tidak berlaku.

3 Pengujian Hipotesis Untuk pengujian hipotesis digunakan rumus ANAVA sebagai berikut Sumber varians (SV) Rata-rata Antar Kelompok dk 1 k–1 Ry = JK J2 ∑ni KT R= A= D= Ry 1 Ay ( k −1) F  Ji2 Ay = ∑   n  i   − Ry   A D Dalam Σ (ni – 1) Kelompok Total Σ ni Dy = Σ Y2 – Ry – Ay Σ Y 2 Dy Σ( ni −1) - - Dengan : J = J1 + J2 + … + Jk. ( Sudjana. Keterangan : nK k N : jumlah subyek dalam kelompok : banyaknya kelompok : jumlah subyek seluruhnya .11 (Sudjana. 1992 : 305 ). Jika H0 ditolak maka rumus yang digunakan dalam uji lanjut adalah rumus t’.1992:263) kemudian digunakan rumus chi-kuadrat χ 2 = ln10 B − ∑ ( ni − 1) log si [ 2 ] Kriteria pengujian adalah tolak H0 jika χ 2≥ χ 2 (1-α )(k-1) (Sudjana. 1992 : 263) Jika H0 diterima maka rumus yang digunakan dalam uji lanjut adalah rumus t. 1.

yaitu uji t.12 kemudian dihitung F0 = A dengan dbF = dbd.α ) . Apabila harga F0 signifikan maka pekerjaan dilanjutkan dengan pengujian lanjutan. D Uji ini berdasarkan analisis varians dengan kriteria pengujian adalah tolak H0 jika F0 ≥ Ft.05 taraf kepercayaan. Dengan H0 : µ1 = µ2 H1 : µ1 > µ 2 Rumus t yang digunakan adalah : t= x1 − x 2 1 1 s + n1 n 2 . Jika varians tidak homogen maka rumus t yang digunakan adalah : t' = x1 − x 2 s s s 1 + 2 n1 n2 2 2 Kriteria pengujian adalah H0 ditolak apabila : t' ≥ ( w1t1 ) + ( w 2 t 2 ) w 1 + w2 . dengan p taraf kepercayaan. 1992 :239) Kriteria pengujian adalah tolak H0 jika t < t ( ( 1 . ( n1 + n 2 ) −2 ) dengan 0.(p). dengan dk = (n 1 + n 2 ) − 2 S2 = ( n1 − 1) s12 + ( n 2 − 1) s 2 2 n1 + n 2 − 2 (Sudjana.

adalah 5.13 BAB III HASIL PENELITIAN A. Dari perhitungan uji Bartlett. UJI HOMOGENITAS Setelah diberi perlakuan. χ lanjut adalah rumus t. maka untuk menunjukkan kenormalan sampel tidak perlu digunakan klaim Box dan Jenkins (Box/Jenkins). Dengan berpedoman pada hasil tes KS.99.05. Dengan hasil perhitungan ini berarti rumus yang dipakai dalam uji . UJI HIPOTESIS 2 tabel 2 hitung adalah sebesar 2.59. Dari perhitungan SPSS diperoleh hasil ZKS = 3. dihasilkan χ Dengan mengambil α sebesar 0. kesimpulan yang diambil dari analisis sampel. C. maka diperlukan uji homogenitas untuk menentukan rumus yang dipakai. Dan untuk melakukan uji lanjut.384. berlaku pula untuk populasinya. B. UJI NORMALITAS Kenormalan sample ditentukan dengan uji Kolmogorov-Smirnov dalam SPSS. dan SPSS menyatakan bahwa sampel berdistribusi normal. Sehingga. sampel akan dianalisis menggunakan ANAVA.

maka diadakan uji lanjut.70. Hal ini berarti bahwa rata-rata hasil belajar siswa setelah diberi tugas terstruktur dengan menggunakan LKS buatan peneliti tidak lebih baik daripada hasil belajar siswa yang diberi tugas menggunakan buku paket.07. maka dilakukan ANAVA satu arah untuk menguji rata-rata kelompok.05. diperoleh ttabel sebesar 1. Jika α yang diambil sebesar 0.05. Komparasi antara hasil tes kelas VCD dan kelas dengan tugas menggunakan buku paket menghasilkan thitung 7.05. Hal ini berarti bahwa rata-rata hasil belajar siswa setelah diberi tugas terstruktur menggunakan VCD lebih baik daripada hasil belajar siswa yang diberi tugas menggunakan buku paket. diperoleh Fhitung sebesar 19.76. secara mutlak. D. Hal ini berarti bahwa rata-rata hasil tes siswa setelah diberi tugas terstruktur menggunakan . Dari perhitungan singkat. diperoleh ttabel sebesar 1.01. Komparasi antara hasil tes kelas LKS dan dengan tugas menggunakan buku paket menghasilkan thitung –0.14 Setelah diketahui bahwa ketiga kelompok berdistribuasi normal dan mempunyai varians yang homogen.70. Dengan α sebesar 0. Dengan α sebesar 0. maka dapat dilakukan uji lanjut dengan menganalisis variansnya (ANAVA). kelas dengan tugas menggunakan LKS dan kelas dengan tugas menggunakan buku paket. UJI T Dari uji hipotesis telah diketahui bahwa ada perbedaan yang signifikan antara hasil tes kelas dengan VCD.69. Komparasi antara hasil tes kelas VCD dan kelas LKS menghasilkan thitung 8.70. kelas dengan LKS dan kelas dengan tugas menggunakan buku paket.53. Ftabel sebesar 3. Dengan α sebesar 0. Dengan kondisi sampel. diperoleh ttabel sebesar 1.78. Ftabel adalah sebesar 4.05. yaitu dengan uji t.76. Untuk mengetahui komparasi dari ketiga kelas tersebut. Dengan hasil perhitungan tersebut disimpulkan bahwa ada perbedaan yang signifikan antara hasil tes kelas dengan tugas terstruktur menggunakan VCD. Dengan mengambil α sebesar 0.

Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan maka disimpulkan bahwa hasil belajar siswa yang memperoleh tugas terstruktur menggunakan VCD memberikan hasil yang lebih baik dibandingkan dengan hasil belajar siswa yang memperoleh tugas terstruktur menggunakan media LKS dan siswa yang memperoleh tugas terstruktur menggunakan buku paket. . disimpulkan bahwa media pembelajaran matematika yang ada saat ini dapat diwujudkan dengan menggunakan media VCD yang lebih familier dan lebih mudah digunakan. pelaksanaan penelitian sampai dengan pasca penelitian.15 VCD lebih baik daripada hasil belajar siswa yang diberi tugas menggunakan LKS buatan peneliti. BAB IV PENUTUP A. serta penentu kebijakan pendidikan dasar. penulis merumuskan beberapa saran-saran untuk kesempurnaan penelitian ini atau barangkali bahan-bahan yang dapat digunakan untuk penelitian lebih lanjut. B. baik itu dari penelitian awal. Untuk para guru Sekolah Dasar. SARAN Setelah melaksanakan penelitian. SIMPULAN Berdasarkan hasil pembuatan film. Saran tersebut adalah : 1. pemerhati pendidikan dasar. bahwa penggunaan media pembelajaran untuk siswa sekolah dasar cukup penting.

1992. Dimyati dan Mudjiono. Jakarta : Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Tim MKPBM Jurusan Pendidikan Matematika FMIPA UPI. 2000. Pengembangan Model Pengajaran Matematika SD Bercirikan Pendayagunaan Alat Peraga. Belajar dan Pembelajaran. Nur. Hidayah. Bandung : JICA. Box. Pengajaran Berpusat Pada Siswa dan Pendekatan Konstruktivis dalam Pengajaran.. Bandung : Remaja Erlangga. P. terutama pelajaran matematika.P. Oxford Advanced Learner’s. 1999. Team Oxford. Untuk tiap-tiap Sekolah Dasar dan Dinas Pendidikan di semua tingkatan. & Wikandari. T.R. I. dan Sugiman. Surabaya : Usaha Nasional. Belajar dan Pembelajaran. Time Series Analysis (Forecasting and Control). Darsono. Pelajaran Matematika Gemar Berhitung 5A. 1998. I. 1970. . M. G. Implementasi dan Pengembangan Model Pembelajaran Matematika SD Bercirikan Pendayagunaan Alat Peraga di Kabupaten Semarang. 2003.E. (Penelitian Dosen Muda Tahap II).M. Sudjana.16 mengingat manfaat yang diperoleh dengan adanya peraga. Semarang : IKIP Semarang Press. 1994. M. California. 2001. Solo : Tiga Serangkai. DAFTAR PUSTAKA Alipandie.. 1995. 1999. Bandung : Tarsito. Buku Pedoman Guru Dedaktik Metodik Pendidikan Umum. 1984. Metode Statistika... Surabaya : Unesa. (Laporan Penelitian Dosen Muda Tahap I). dalam rangka meningkatkan kreativitas guru dalam membuat media pembelajaran mandiri. Strategi Pembelajaran Matematika Kontemporer. Jadi penggunaan media pembelajaran tetap harus dilakukan oleh sekolah dasar di manapun. England : Oxford Univercity Press. Darhim. USA : Holden Day. 2002. Work Shop Matematika. Proses Belajar Mengajar. perlu adanya peningkatan ketrampilan berupa pelatihan-pelatihan untuk para guru sekolah dasar. 1992. dan Jenkins. Supardjo. G. Sugiarto dan Hidayah. 2. Jakarta : Rineka Cipta. Semarang : IKIP Semarang. Semarang : IKIP Semarang.. Rusyan.

Matematika Berhitung 5A. Semarang : Aneka Ilmu.17 Tim Penyusun Kamus Pembinaan dan Pengambangan Bahasa. . 2003. Jakarta : Balai Pustaka. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Tim Prestasi. 1997.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful