Percobaan dan Penyertaan

BAB I

PERCOBAAN (POGING)
A. Pengertian Percobaan Percobaan melakukan kejahatan diatur dalam Buku I tentang Aturan Umum, Bab IV pasal 53 dan 54 KUHP. Adapun bunyi dari pasal 53 dan 54 KUHP berdasarkan terjemahan Badan Pembina Hukum Nasional Departemen Kehakiman adalah sebagai berikut: Pasal 53: (1) Mencoba melakukan kejahatan dipidana, jika niat untuk itu telah ternyata dari adanya permulaan pelaksanaan, dan tidak selesainya pelaksanaan itu, bukan semata-mata disebabkan karena kehendaknya sendiri. (2) Maksimum pidana pokok terhadap kejahatan, dalam percobaan dikurangi sepertiga. (3) Jika kejahatan diancam dengan pidana mati atau pidana penjara seumur hidup, dijatuhkan pidana penjara paling lama lima belas tahun. (4) Pidana tambahan bagi percobaan sama dengan kejahatan selesai. Pasal 54: Mencoba melakukan pelanggaran tidak dipidana. Kedua pasal tersebut tidak memberikan defenisi tentang apa yang dimaksud dengan percobaan melakukan kejahatan (poging), yang selanjutnya dalam tulisan ini disebut dengan percobaan. Pengertian percobaan tidak dijelaskan oleh undang-undang, namun yang ditetapkan bahwa percobaan melakukan tindak pidana diancam dengan pidana jika telah memenuhi sejumah persyaratan tertentu. Jika mengacu kepada arti kata sehari-hari, percobaan itu diartikan sebagai menuju ke sesuatu hal, akan tetapi tidak sampai kepada hal yang dituju itu, atau dengan kata lain hendak berbuat sesuatu, sudah dimulai tetapi tidak selesai. Misalnya seseorang bermaksud membunuh orang tetapi orangnya tidak mati, seseorang

1

Bab I. Percobaan (Poging)

hendak mencuri barang tetapi tidak sampai dapat mengambil barang itu.1 Menurut Jan Remmelink,2 dalam bahasa sehari-hari, percobaan dimengerti sebagai upaya untuk mencapai tujuan tertentu tanpa (keberhasilan) mewujudkannya. “Upaya tanpa keberhasilan”, demikian dirumuskan oleh Pompe, guru besar dari Utrecht. Jika kita mengikuti jalan pikiran di atas, percobaan melakukan kejahatan dapat digambarkan sebagai suatu tindakan yang diikhtiarkan untuk mewujudkan apa yang oleh undang-undang dikategorikan sebagai kejahatan, namun tindakan tersebut tidak berhasil mewujudkan tujuan yang semula hendak dicapai. Syarat bagi percobaan yang dapat dikenai pidana, seperti yang dituntut oleh undang-undang, adalah bahwa ikhtiar pelaku harus sudah terwujud melalui (rangkaian) tindakan permulaan dan bahwa tidak terwujudnya akibat dari tindakan tersebut berada di luar kehendak si pelaku. Menurut Wirjono Prodjodikoro, pada umumnya kata percobaan atau poging berarti suatu usaha mencapai suatu tujuan yang pada akhirnya tidak atau belum tercapai.3 Jonkers menyatakan bahwa mencoba berarti berusaha untuk mencapai sesuatu tapi tidak tercapai.4 Satu-satunya penjelasan yang dapat diperoleh tentang pembentukan Pasal 53 ayat (1) KUHP adalah bersumber dari MvT yang menyatakan: Poging tot misdrijf is dan de begonnen maar niet voltooide uitvoering van het misdrijf, of wel de door een begin van uitvoering geopenbaarde wil om een bepaald misdrijf te plegen. (Dengan demikian, maka percobaan untuk melakukan kejahatan itu adalah pelaksanaan untuk melakukan suatu kejahatan yang telah dimulai akan tetapi ternyata tidak selesai, ataupun suatu kehendak untuk melakukan suatu kejahatan tertentu yang telah diwujudkan di dalam suatu permulaan pelaksanaan).5
Soesilo, Kitab Undang Undang Hukum Pidana (KUHP) serta Komentar Komentarnya Lengkap Pasal Demi Pasal, (Bogor: Politea, 1980), hal. 59. 2 Jan Remmelink, Hukum Pidana, Komentar atas pasal pasal terpenting dari Kitab Undang Undang Hukum Pidana Belanda dan padanannya dalam Kitab Undang Undang Hukum Pidana Indonesia, (Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2003), hal. 285. 3 Wirjono Prodjodikoro, Asas Asas Hukum Pidana di Indonesia, (Bandung: Eresco, 1969), hal. 81 4 J.E. Jonkers, Buku Pedoman Hukum Pidana Hindia Belanda, (Jakarta: Bina Aksara, 1987), hal. 155. 5 P.A.F. Lamintang, Dasar Dasar Hukum Pidana Indonesia, (Bandung: Sinar Baru, 1984), hal. 511.
1

2

Percobaan dan Penyertaan

Pasal 53 KUHP hanya menentukan bila (kapan) percobaan melakukan kejahatan itu terjadi atau dengan kata lain Pasal 53 KUHP hanya menentukan syarat-syarat yang harus dipenuhi agar seorang pelaku dapat dihukum karena bersalah telah melakukan suatu percobaan. Syarat-syarat tersebut adalah sebagai berikut: a. Adanya niat/kehendak dari pelaku; b. Adanya permulaan pelaksanaan dari niat/kehendak itu; c. Pelaksanaan tidak selesai semata-mata bukan karena kehendak dari pelaku. Oleh karena itu agar seseorang dapat dihukum melakukan percobaan melakukan kejahatan, ketiga syarat tersebut harus terbukti ada padanya. Suatu percobaan dianggap telah terjadi jika memenuhi ketiga syarat tersebut. Pada umumnya menurut bunyi rumusan suatu delik, pelaku dipidana jika tindak pidana yang dilakukannya itu telah selesai diwujudkan, artinya perbuatan yang dilakukan oleh pelaku telah memenuhi semua unsur tindak pidana (delik). Namun pembentuk undang-undang juga merasa perlu mengancam pidana karena telah melakukan suatu percobaan (poging) kepada seorang yang melakukan suatu perbuatan walaupun perbuatan tersebut belum memenuhi semua unsur delik sebagaimana yang telah dirumuskan dalam suatu undangundang, jika syarat-syarat suatu percobaan sebagaimana diatur dalam Pasal 53 KUHP tersebut telah terpenuhi, sehingga undang-undang perlu merumuskan secara tersendiri tentang syarat-syarat untuk dapat dipidananya suatu percobaan kejahatan. Menurut Jonkers ada dua alasan bagi pembuat undang-undang untuk memberi pidana pada percobaan melakukan tindak pidana pada umumnya, yaitu:6 a. Pemberantasan kehendak yang jahat yang ternyata dalam perbuatan-perbuatan; b. Perlindungan terhadap barang hukum, yang diancam dengan bahaya. Berdasarkan hal tersebut dapat diketahui bahwa seseorang yang melakukan suatu percobaan tindak pidana perlu diancam dengan pidana dengan alasan: a. Dilihat dari sudut subjektif, bahwa pada diri orang tersebut telah menunjukkan suatu perilaku yang tidak bermoral, yang bersifat jahat;

6

J.E. Jonkers, Op.Cit., hal. 155.

3

ketimbang pada tuntutan perasaan hukum.7 Pemberian pidana hanya terbatas kepada kejahatan. 9 Jan Remmelink.. 10 Soesilo.10 Jonkers11 menyebutkan.9 penjelasan tentang pembatasan ancaman pidana hanya pada percobaan melakukan kejahatan dapat ditemukan pada kenyataan bahwa dalam hal pelanggaran. dan Gabungan Tindak Pidana. Sebagaimana kebanyakan delik (yang memunculkan ancaman) bahaya abstrak. hal.Cit. 7 Tahun 1955 tentang Tindak Pidana Ekonomi. hanya saja percobaan pelanggaran terhadap ketentuan-ketentuan pidana khusus dapat juga dihukum. hal. Selain itu ada juga beberapa kejahatan yang percobaannya tidak dapat dihukum. sedangkan percobaan terhadap delik pelanggaran tidak dipidana. hal. 156.Cit. Dianggap sebagai kejahatan ekonomi jika perbuatan tersebut dilakukan dengan sengaja. Op. hal. 287. Op. 61. Percobaan seperti yang diatur dalam KUHP yang berlaku saat ini menentukan. dapat dipidana. bahwa alasan untuk kedua delik yang pertama adalah Loebby Loqman. 156. pelanggaran pun ditujukan pada upaya-upaya (tidak tertentu) yang mengancam kebendaan hukum tertentu. Pelanggaran dianggap lebih ringan ketimbang kejahatan. 3. jadi pada utilitas. (Jakarta: Universitas Taruma nagara. Percobaan (Poging) b. bahwa perbuatan percobaan melakukan tindak pidana ini dipandang telah membahayakan suatu kepentingan hukum. bahwa yang dapat dipidana adalah seseorang yang melakukan percobaan suatu delik kejahatan. Sebagai contoh seseorang yang melakukan percobaan pelanggaran (mencoba melakukan pelanggaran) terhadap hal-hal yang telah diatur dalam UU (drt) No.Cit. kualifikasi sebagai pidana sering bersumber pada kebutuhan untuk menata/ menertibkan. Menurut Loebby Loqman. dan percobaan perang tanding yang diatur dalam Pasal 184 ayat (5). sehingga percobaan melakukan pelanggaran dianggap tidak perlu diancam pidana. Dilihat dari sudut objektif. 7 4 . pembedaan antara kejahatan ekonomi dengan pelanggaran ekonomi ditentukan oleh apakah perbuatan tersebut dilakukan dengan sengaja atau dengan tidak sengaja..8 Menurut Jan Remmelink. 1996). Penyertaan.. Op.Cit. misalnya percobaan menganiaya Pasal 351 ayat (5). 8 Jonkers. percobaan menganiaya binatang Pasal 302 ayat (3). Op. Percobaan.Bab I. hal ini berdasarkan kepada bahwa pelanggaran pada umumnya tidak dianggap cukup penting untuk dapat dipidana apabila masih dalam keadaan belum selesai. tetapi jika perbuatan tersebut dilakukan karena kelalaian pelaku maka hal ini dianggap sebagai pelanggaran ekonomi. hal. 11 Jonkers..

seperti penganiayaan berat. Mengenai hal ini ada dua pandangan: 1. Jadi pendirian ini menyatakan bahwa sifat percobaan adalah memperluas lingkungan dapat dipidananya orang. apakah percobaan itu merupakan suatu bentuk delik khusus yang berdiri sendiri ataukah hanya merupakan suatu delik yang tidak sempurna. Percobaan untuk melakukan penganiayaan yang bersifat istimewa. Percobaan bukanlah bentuk delik yang tidak sempurna. tetapi merupakan delik sempurna hanya dalam bentuk khusus/istimewa. Para pakar yang termasuk ke dalam pandangan ini antara lain adalah Hazewinkel Suringa dan Oemar Seno Adji. 2. Jika hal ini terjadi dikhawatirkan dalam banyak hal tidak akan dilakukan pelaporan. maka pihak-pihak yang bersangkutan (terlibat) akan diberikan pidana karena percobaan. percobaan bukan memperluas rumusan-rumusan delik dan tidak dipandang sebagai jenis atau bentuk delik yang tersendiri tetapi dipandang sebagai bentuk delik yang tidak sempurna.Percobaan dan Penyertaan bahwa kedua-duanya dianggap kurang penting untuk memberi pidana pada percobaan-percobaan untuk melakukan kejahatan tersebut. Menurut pandangan ini bahwa. (Surakarta: Program Kekhususan Hukum Kepidanaan Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah. hal. seseorang yang melakukan percobaan untuk melakukan suatu tindak pidana meskipun tidak memenuhi semua unsur delik. ia dipidana karena telah memenuhi rumusan Pasal 53 KUHP. 16. 1987).12 Menurut pandangan ini. Pengancaman dengan pidana terhadap percobaan untuk melakukan perang tanding telah dihapuskan. bahwa dengan pemberitahuan kepada polisi dengan maksud untuk mencegah perang tanding yang akan dilakukan. penganiayaan dengan perencanaan lebih dahulu. Ada perbedaan pandangan tentang sifat delik percobaan menurut para ahli. dapat dipidana karena alasan-alasan yang bermanfaat. Jadi merupakan delik tersendiri. Percobaan melakukan suatu tindak pidana dipandang merupakan satu kesatuan yang bulat dan lengkap. Sudarto dan Wonosutanto. Percobaan dipandang sebagai dasar/alasan memperluas dapat dipidananya seseorang. Catatan Kuliah Hukum Pidana II. 12 5 . Para pakar yang termasuk ke dalam pandangan ini diantaranya adalah Pompe dan Moeljatno. karena untuk mencegah.

(Jakarta: Raja Grafindo. 15 Topo Santoso. 11 12. yang ada hanya delik selesai. tetapi dapat direka-reka akan timbul. hal. 2002). hal. 153. Perbuatan percobaan dalam KUHP beberapa kali dirumuskan sebagai delik selesai dan berdiri sendiri. 14 Adami Chazawi. Contoh putusan Pengadilan Adat di Palembang dimana seorang laki-laki telah mengaku menangkap/ mendekap badan seorang gadis dengan maksud mencoba bersetubuh. Hukum Pidana Delik Delik Percobaan Dan Delik Delik Penyertaan. Misalnya Pasal 104. 106. 1985). c. hal. Maka jika rencana tadi dilaksanakan dapat menjadi kesengajaan sebagai maksud. Dalam hukum adat tidak dikenal percobaan sebagai bentuk delik yang tidak sempurna. (Bandung: Asy Syaamil. Hazewinkel-Suringa mengemukakan bahwa niat adalah kurang lebih suatu rencana untuk mengadakan suatu perbuatan tertentu dalam keadaan tertentu pula. niat jika dipandang dari sudut bahasa adalah sikap batin seseorang yang memberi arah kepada apa yang akan diperbuatnya.14 Menurut Memori Penjelasan KUHP Belanda (MvT) niat sama dengan kehendak atau maksud. Tidak mungkin ada pertanggungjawaban. B. 2000). 107 KUHP. tetapi dipidana karena menangkap/mendekap badan si gadis. 14. Percobaan (Poging) Alasan Moeljatno memasukkan percobaan sebagai delik tersendiri antara lain adalah:13 a. Pelajaran Hukum Pidana 3 Percobaan & Penyertaan. Dalam rencana itu selalu mengandung suatu yang dikehendaki mungkin pula mengandung bayangan-bayangan tentang cara mewujudkannya yaitu akibat-akibat tambahan yang tidak dikehendaki.15 Moeljatno. tetapi mungkin pula menjadi kesengajaan dalam corak lain (sengaja sebagai keinsyafan kepastian ataupun sengaja sebagai keinsyafan kemungkinan). 13 6 . kalau seseorang itu tidak melakukan suatu delik. b. Menggagas Hukum Pidana Islam. Niat/Kehendak (Voornemen) Menurut Moeljatno dalam Adami Chazawi. Laki-laki itu tidak dipidana karena melakukan percobaan persetubuhan dengan paksa. (Jakarta: Bina Aksara.Bab I. contohnya adalah delik makar.

niat dalam hal percobaan ini menganut pandangan yang sama dengan para pakar hukum pada umumnya yaitu kesengajaan dengan semua bentuknya. Masalahnya apakah kesengajaan ini diartikan secara luas atau sempit.Percobaan dan Penyertaan Para pakar hukum pada umumnya berpendapat bahwa niat diartikan sama dengan kesengajaan (opzettelijk).Cit. Berbeda dengan pendapat sarjana lainnya Vos menyatakan bahwa jika niat disamakan dengan kesengajaan. maka niat masih ada dan merupakan sifat batin yang memberi arah kepada perbuatan. van Hamel. tetapi niat secara potensial bisa berubah menjadi kesengajaan apabila sudah diwujudkan menjadi perbuatan yang dituju. 7 . hal. tetapi akibat yang dilarang tidak timbul. van Hattum. 21 22. Pada umumnya para pakar menganut pendapat bahwa yang dimaksud dengan niat dalam percobaan (poging) adalah kesengajaan dalam arti luas. Untuk itu perlu ada pembuktian tersendiri bahwa isi yang tertentu tadi juga sudah ada sejak niat belum diwujudkan menjadi perbuatan. di sinilah niat sepenuhnya menjadi kesengajaan. Niat jangan disamakan dengan kesengajaan. Dalam arti sempit opzet adalah kesengajaan sebagai maksud. 16. dan van Bemmelen. maka niat tersebut hanya merupakan kesengajaan sebagai maksud saja.. b. Moeljatno.. Op. dalam hal ini Memori Penjelasan (MvT) WvS Belanda 1886 yang merupakan sumber dari KUHP Indonesia yang berlaku saat ini.16 Moeljatno memberikan pendapat hubungan niat dan kesengajaan adalah sebagai berikut: a. Op. Oleh karena niat tidak dapat disamakan dengan kesengajaan. c. kesengajaan berinsyaf kepastian. Sama halnya dalam delik yang telah selesai. maka isi niat itu jangan diambil dari isinya kejahatan apabila kejahatan timbul. Dalam hal semua perbuatan yang diperlukan untuk kejahatan telah dilakukan. sedangkan dalam arti luas opzet adalah semua bentuk kesengajaan yaitu kesengajaan sebagai maksud. disebutkan bahwa sengaja (opzet) 16 17 Loebby Loqman. Jika mengacu kepada penafsiran otentik atau penafsiran pada waktu suatu undang-undang disusun. hal. Jonkers. Tetapi apabila niat itu belum semua diwujudkan menjadi kejahatan. dan kesadaran berinsyaf kemungkinan. yaitu “subjektif onrechts-element”.Cit. pendapat ini demikian dianut antara lain oleh Hazewinkel-Suringa.17 Dalam praktik hukum berdasarkan kepada berbagai yurisprudensi.

ini mirip dengan arrest “Kue Tart dari Kota Hoornse. 20 Loebby Loqman. 19 Adami Chazawi.. Lamintang. Menurut Hazewinkel-Suringa dalam Loebby Loqman. Op. ternyata apa yang telah diniatkan (perbuatan yang dituju) itu tidak terjadi hal ini adalah persoalan lain.20 Hal di atas sesuai pula dengan putusan Hoge Raad tanggal 6 Februari 1951. Asas Asas Hukum Pidana. 475. Menurut penjelasan tersebut “sengaja” (opzet) sama dengan willens en wetens (dikehendaki dan diketahui). Percobaan (Poging) berarti: ‘de (bewuste) richting van den will op een bepaald wisdrijf (kehendak yang disadari yang ditujukan untuk melakukan kejahatan tertentu). yang kasus posisinya adalah sebagai berikut: 21 Seorang anggota polisi untuk keperluan pemeriksaan telah memerintahkan pengemudi mobil tersebut untuk berhenti. meskipun secara sepintas mungkin tidak ada rencana untuk membunuh anggota polisi itu. Dalam hal ini termasuk juga keinsyafannya bahwa kemungkinan sekali seluruh penghuni rumah orang yang dikirim roti tersebut ikut menjadi korban. hal. dan hanya karena anggota polisi tersebut pada saat yang tepat sempat menyelamatkan dirinya dengan melompat ke pinggir. hal. Hoge Raad mempersalahkan pengemudi dengan percobaan pembunuhan.Cit.Bab I.F.18 Sikap batin (niat) seorang pelaku percobaan kejahatan (poging) pada dasarnya diarahkan untuk melakukan kejahatan (tindak pidana) yang sempurna. (Jakarta: Rineka Cipta. yang dikenal dengan automobilist-arrest yang pada tingkat kasasi telah menyatakan seorang pengemudi mobil terbukti bersalah telah melakukan suatu percobaan pembunuhan terhadap seorang anggota polisi. 1951 No. maka terhindarlah ia dari kematian.R.Cit. bukan lagi masuk kepada hal mengenai sikap batin tetapi adalah persoalan apa sebab sikap batin (niat) semula itu tidak tercapai. Kemungkinan orang lain ikut menjadi korban termasuk pula apa yang disebut sebagai niat (kehendak) pada syarat percobaan.V. 16. bahwa kemudian setelah sikap batin itu diwujudkan dalam suatu pelaksanaan. 519.A. bahkan dengan kecepatan yang tinggi mengarahkan mobil yang dikendarainya langsung ke arah anggota polisi tersebut. Tetapi kemungkinan yang diinsyafi (disadari) dapat Andi Hamzah.o. 18 8 . 1991). Op.. 15. N. 84.A. Op.19 Sebagai contoh.J. hal. Namun pengemudi itu ternyata tidak mentaati perintah yang diberikan oleh anggota polisi tersebut. B. 21 P. m.. dalam suatu niat (kehendak) untuk melakukan pembunuhan dengan memberikan roti yang mengandung racun kepada seseorang.Cit. hal.

Adami Chazawi. 17.. Namun niat itu juga dapat diketahui dari tindakan (perbuatan) yang merupakan permulaan dari pelaksanaan niat. bukan dengan maksud untuk membunuhnya.Percobaan dan Penyertaan diterima juga sebagai niat. dan ia berada di alam batiniah seseorang. Oleh Hoge Raad orang itu dipidana karena bersalah telah melakukan tindak pidana percobaan pembunuhan. 18. hal.Cit. Niat seseorang akan dapat diketahui jika ia mengatakannya kepada orang lain.Cit. yang kasusnya sebagai berikut:23 Seorang penumpang kereta api yang membawa barang-barang selundupan. Pada kasus ini kesengajaan orang tersebut menendang kondektur adalah agar dia terhindar dari pemeriksaan barang-barang selundupan yang dibawanya. adalah suatu hal yang musykil apabila seseorang akan mengutarakan niatnya melakukan suatu kejahatan. 14. Menurut Loebby Loqman. tetapi kondektur itu tidak terjatuh melainkan bergantung dengan berpegang kuat pada pintu kereta api. C. hal. Sangat sulit bagi seseorang untuk mengetahui apa niat yang ada di dalam hati orang lain. Dalam hal ini niat terwujud dalam sengaja bersyarat (dolus eventualis) atau disebut juga dengan sengaja berinsyaf kemungkinan (opzet bij mogelijkheid bewustzinjn). Permulaan pelaksanaan Niat merupakan suatu keinginan untuk melakukan suatu perbuatan. berdasarkan kepada Pasal 53 KUHP adalah unsur niat yang ada itu harus diwujudkan dalam suatu permulaan pelaksanaan (begin van uitvoering). Op. Loebby Loqman. 9 .24 Syarat (unsur) kedua yang harus dipenuhi agar seseorang dapat dihukum karena melakukan percobaan. Tetapi orang itu seharusnya memiliki keinsyafan bahwa dengan perbuatannya menendang kondektur itu memungkinkan ia terjatuh dari kereta api dan berakibat kematiannya. Oleh karena itu dalam percobaan..Cit. Permulaan Pelaksanaan (Begin van Uitvoering) 1.. hal. niat seseorang untuk melakukan kejahatan dihubungkan dengan permulaan pelaksanaan. Op. 22 23 24 Loebby Loqman. ketika kereta api sedang bergerak cepat dan barangbarangnya akan diperiksa ia menendang kondektur yang akan memeriksanya itu keluar pintu kereta api. Op.22 Selain itu ada arrest Hoge Raad lain yang secara jelas juga menganut paham niat dalam arti luas yaitu arrest HR tanggal 26 Maret 1946.

Berdasarkan Memori Penjelasan (MvT) mengenai pembentukan Pasal 53 ayat (1) KUHP. hal. Soesilo mempergunakan istilah permulaan perbuatan). Sejak seseorang mempunyai niat sampai kepada tujuan perbuatan yang dikehendaki. P. hal.Cit. Menurut Moeljatno. telah diberikan beberapa penjelasan yaitu antara lain:26 a. tidak ada keraguan baik menurut MvT maupun pendapat para penulis bahwa permulaan pelaksanaan dalam hal ini adalah merupakan permulaan pelaksanaan dari kejahatan. Lamintang. b. 528. biasanya terdiri dari suatu rangkaian perbuatan..Cit. Dalam hal ini apakah permulaan pelaksanaan harus diartikan sebagai “permulaan pelaksanaan dari niat” ataukah “permulaan pelaksanaan dari kejahatan”.F. Sedangkan pengertian 25 26 Moeljatno.A. c.Bab I. Dalam ilmu pengetahuan hukum pidana timbul permasalahan tentang apa sebenarnya yang dimaksud dengan permulaan pelaksanaan (begin van uitvoering). Op. Yang dimaksud dengan uitvoeringshandelingen itu adalah tindakan-tindakan yang mempunyai hubungan sedemikian langsung dengan kejahatan yang dimaksud untuk dilakukan dan telah dimulai dengan pelaksanaannya. 10 . Batas antara percobaan yang belum dapat dihukum dengan percobaan yang telah dapat dihukum itu terdapat diantara apa yang disebut voorbereidingshandelingen (tindakan-tindakan persiapan) dengan apa yang disebut uitvoeringshandelingen (tindakantindakan pelaksanaan). 21.. Op. MvT hanya memberikan pengertian uitvoeringshandelingen (tindakantindakan pelaksanaan) yaitu berupa tindakan-tindakan yang mempunyai hubungan sedemikian langsung dengan kejahatan yang dimaksud untuk dilakukan dan telah dimulai pelaksanaannya. Pembentuk undang-undang tidak bermaksud menjelaskan lebih lanjut tentang batas-batas antara uitvoeringshandelingen seperti dimaksud di atas. dapat diketahui bahwa batas antara percobaan yang belum dapat dihukum dengan percobaan yang telah dapat dihukum itu adalah terletak diantara voorbereidingshandelingen (tindakan-tindakan persiapan) dengan uitvoeringshandelingen (tindakan-tindakan pelaksanaan). Percobaan (Poging) Permulaan pelaksanaan sangat penting diketahui untuk menentukan apakah telah terjadi suatu percobaan melakukan kejahatan atau belum.25 Dalam Memori Penjelasan (MvT) mengenai pembentukan Pasal 53 ayat (1) KUHP. Sehingga dalam hal ini dapat dilihat perbedaan antara perbuatan persiapan dengan permulaan pelaksanaan (R.

dan oleh karena itulah paham mereka itu disebut sebagai paham subjektif. menurutnya sangat sulit untuk dapat memastikan batas-batas antara tindakan-tindakan persiapan (perbuatan persiapan) dengan tindakantindakan pelaksanaan. P. sebagai contoh: seseorang yang tidak biasa berhubungan dengan senjata tajam tiba-tiba pada suatu hari terlihat sedang mengasah sebuah pisau yang akan digunakannya untuk membunuh seseorang.Cit.. Menurut MvT batas yang tegas antara perbuatan persiapan dengan permulaan pelaksanaan tidak dapat ditetapkan oleh wet (undangundang). hal. Oleh karena itu untuk menentukan perbuatan mana dari serangkaian perbuatan yang merupakan permulaan pelaksanaan dapat didasarkan kepada dua teori yaitu teori subjektif (subjectieve pogingstheori) dan teori objektif (objectieve pogingstheori). Op. 11 . Para penganut paham subjektif menggunakan subjek dari si pelaksana sebagai dasar dapat dihukumnya seseorang yang melakukan suatu percobaan. Persoalan tersebut diserahkan kepada Hakim dan ilmu pengetahuan untuk melaksanakan asas yang ditetapkan dalam undangundang. Para penganut paham objektif menggunakan tindakan dari si pelaku sebagai dasar peninjauan. contoh: seseorang yang mempunyai dendam dengan orang lain mengokang pistolnya dan mengarahkan pistol 27 28 Sudarto dan Wonosutanto.27 KUHP tidak ada menentukan kapankah suatu perbuatan itu merupakan perbuatan persiapan dari kapankah perbuatan itu telah merupakan permulaan pelaksanaan yang merupakan unsur dari delik percobaan. 17.28 Memang sulit untuk menentukan perbuatan mana dari serangkaian perbuatan yang dianggap sebagai perbuatan permulaan pelaksanaan. Hal senada juga dikemukakan oleh van Hattum dalam Lamintang. Op.Percobaan dan Penyertaan voorbereidingshandelingen (tindakan-tindakan persiapan) tidak diberikan.. Lamintang.F. permulaan pelaksanaan (begin van uitvoering) berada diantara tindakan-tindakan persiapan (voorbereidingshandelingen) dengan tindakan-tindakan pelaksanaan (uitvoeringshandelingen). Berdasarkan MvT hanya dapat diketahui. sebab undang-undang sendiri tidak dapat dijadikan pedoman.A. hal. 531. dari wujud perbuatannya yang berupa mengasah pisau ini telah terlihat adanya niat untuk melaksanakan kejahatan yang berhubungan dengan pisau tersebut. walaupun hubungan antara perbuatan itu dengan akibat akhirnya masih terlalu jauh atau tindakan mereka itu tidak mendatangkan bahaya yang begitu besar untuk dapat menimbulkan suatu akibat yang dilarang oleh undang-undang. dan oleh karena itu paham mereka juga disebut sebagai paham objektif. Cit.

. hal. yang bersifat jahat ataupun yang bersifat berbahaya. Dari seluruh rangkaian perbuatan tersebut. yakni: 1. P adalah seorang pegawai suatu kantor pos. 12 .Cit.F. 2. Op. Untuk itu sewaktu teman-teman sekerjanya pulang P menyelinap dan bersembunyi di kamar kecil. 3. sedangkan menarik pelatuk pistol merupakan perbuatan pelaksanaan kejahatan. hal. Akan tetapi apakah A pergi ke rumah C sudah dianggap permulaan dari pelaksanaan pembunuhan? Contoh lain. Lamintang..Bab I. A mengisi pistol dengan peluru. Dalam hal ini Loebby Loqman memberikan contoh sebagai berikut:30 A mempunyai niat untuk membunuh B. A menarik pelatuk pistol. A membawa pistol tersebut menuju ke rumah B. untuk itu ada serangkaian perbuatan yang dilakukannya. Akan tetapi ternyata kepala kantor P masih belum pulang dan tertangkaplah P. akan tetapi tembakannya meleset sehingga B masih hidup. 5. Op. Dari kasus P tersebut. A pergi ke rumah C untuk meminjam pistol. Menurut paham objektif perbuatan mengokang pistol dianggap merupakan permulaan pelaksanaan dari kejahatan. biasanya terdiri dari suatu rangkaian perbuatan. perbuatan manakah yang dianggap sebagai perbuatan permulaan pelaksanaan. sedangkan menurut penganut paham subjektif seseorang yang melakukan percobaan untuk melakukan suatu kejahatan itu pantas dihukum karena orang tersebut telah menunjukkan perilaku yang tidak bermoral. Loebby Loqman. Menurut para penganut paham objektif seseorang yang melakukan percobaan untuk melakukan suatu kejahatan itu dapat dihukum karena tindakannya bersifat membahayakan kepentingan hukum. P berkehendak untuk mencuri pos paket. 18 19. Percobaan (Poging) itu ke kepala B.Cit.A. apakah masuknya P ke kamar kecil sudah dianggap sebagai permulaan pelaksanaan? 29 30 P. 531 532. A membidikkan pistol ke arah B.29 Sejak seorang mempunyai niat hingga sampai kepada tujuan perbuatan yang dikehendaki. 4. memang perbuatan A pergi ke rumah C untuk meminjam pistol adalah dalam kaitan pelaksanaan niatnya untuk membunuh B. Apakah perbuatan A pergi ke rumah C untuk meminjam pistol sudah dianggap sebagai permulaan pelaksanaan? Apabila melihat niatnya.

Oleh karena kesengajaan (niat) dalam Loebby Loqman. Pada contoh pertama.Percobaan dan Penyertaan 2.F. Karena dengan masuknya P ke kamar kecil sudah merupakan permulaan pelaksanaan niatnya.A.32 Ajaran yang subjektif lebih menafsirkan istilah permulaan pelaksanaan dalam Pasal 53 KUHP sebagai permulaan pelaksanaan dari niat dan karena itu bertolak dari sikap batin yang berbahaya dari pembuat dan menamakan perbuatan pelaksanaan: tiap perbuatan yang menunjukkan bahwa pembuat secara psikis sanggup melakukannya. Sudarto dan Wonosutanto.. Jadi unsur sikap batin itulah yang merupakan pegangan bagi teori ini. 534.A. maka perbuatan tersebut sudah dianggap sebagai permulaan pelaksanaan. hal.F. Op. 17. Op. A pergi ke rumah C untuk meminjam pistol.). Apabila suatu perbuatan sudah merupakan permulaan dari niatnya. Teori subjektif Teori ini didasarkan kepada niat seseorang. dimana orang menganggap yang dapat dihukum itu hanyalah tindakantindakan yang menurut sifatnya secara langsung dapat menimbulkan akibat. sudah merupakan permulaan dari niatnya yakni ingin membunuh B.Cit. hal. 1995).. 33 D. Schaffmeister. P masuk ke kamar kecil sudah dianggap sebagai permulaan pelaksanaan melakukan percobaan pencurian.apabila niat itu telah terwujud dari adanya permulaan pelaksanaan”. (et.Cit. (Yogyakarta: Liberty. Sehingga A pergi ke rumah C untuk meminjam pistol sudah dianggap sebagai permulaan pelaksanaan melakukan percobaan membunuh B.. Hukum Pidana. 32 31 13 . Lamintang.. Bukan saja karena aliran ini sesuai dengan nieuwere strafrechtsleer (ajaran hukum pidana yang lebih baru) yang bertujuan untuk memberantas kejahatan sampai kepada akarnya. Lamintang tidak tepat pemikiran mereka yang mensyaratkan adanya suatu rectstreeks verband atau suatu hubungan yang langsung antara tindakan dengan akibat.Cit.33 Menurut van Hamel dalam P. Demikian juga dalam contoh kedua. yaitu manusia yang berwatak jahat (demisdadige mens) akan tetapi juga karena dalam mengenakan pidana menurut rumus umum (algemene formule) sebagaimana halnya dalam percobaan. 19.. 215. Jadi dikatakan sebagai permulaan pelaksanaan adalah semua perbuatan yang merupakan perwujudan dari niat pelaku. Op. 34 P.31 Menurut teori subjektif dasar patut dipidananya percobaan (strafbare poging) itu terletak pada watak yang berbahaya dari si pembuat.34 Menurut van Hamel aliran subjektiflah yang benar. sebagaimana yang disebutkan dalam Pasal 53 KUHP bahwa “.al. hal. unsur kesengajaan (niat) itulah unsur satu-satunya yang memberi pegangan kepada kita.

d.35 Jan Remmelink36 menyebutkan bahwa... A melakukan rangkaian perbuatan sebagai berikut: a. Dia kembali ke rumah. Maka menurut van Hamel jika ditinjau dari sudut niat si pembuat. sehingga pembunuhan yang sudah direncanakan tidak terjadi. Yang relevan adalah adagium voluntas reputabatur pro facto (the intent is equivalent to the fact). Ia membeli pistol. c. Apabila dengan kesengajaan untuk membunuh orang mengarahkan senapan kepada sasaran. Dilihatnya pedang itu tumpul lalu ia mengasah pedang tersebut. ajaran subjektif menyatakan bahwa syarat untuk menjatuhkan pidana adalah ukuran atau penilaian apakah dalam tindakan pelaksanaan pelaku telah memanifestasikan niatnya yang berbahaya. padahal pelatuk senapan tidak terpasang. dan pada larut malam menungu di tempat gelap sampai Pietersen lewat. hal. Yang penting adalah anggapan pelaku bahwa ia telah melakukan tindakan permulaan untuk mewujudkan niatnya tersebut. Op. Masuk ke sebuah toko. Jan Remmelink. Dalam ajaran subjektif. e. yakni ia siap menuntaskan tindakannya tersebut. 14 . 22. Dan juga justru dengan adanya kesengajaan (niat) itu perbuatan terdakwa lalu menjadi berbahaya. sebagai berikut: Jansen berniat membunuh Pietersen.Cit. Tetapi malam itu Pietersen sakit gigi dan tidak keluar untuk berjalan-jalan. kenyataan bahwa pelaku yang mencoba benar-benar atau secara nyata dapat menuntaskan tindakannya tidaklah bersifat menentukan. Op. maka perbuatan tersebut hanya bersifat berbahaya karena perbuatan dilakukan oleh orang yang mempunyai kesengajaan (niat) tadi. Adami Chazawi. padahal kalau perbuatan dipandang tersendiri dan terlepas dari hal ikhwal yang mungkin akan timbul sama sekali tidak berbahaya. Untuk melihat dimana letak batas antara perbuatan persiapan dengan perbuatan permulaan pelaksanaan menurut teori subjektif diberikan contoh:37 A hendak membunuh B musuhnya.Cit. Op. 21 22. hal. dikatakan ada perbuatan permulaan pelaksanaan jika dari apa yang telah dilakukan sudah ternyata kepastiannya niat untuk melakukan kejahatan tadi. Di toko itu dia membeli sebuah pedang. Untuk hal ini.Cit. Percobaan (Poging) perbuatan percobaan adalah lebih jauh arahnya dari pada bahaya yang ditimbulkan pada suatu ketika tetapi kemudian menjadi hilang. Contoh klasik adalah konflik mendalam antara Jansen dan Pietersen. hal. 290 291. 35 36 37 Moeljatno.. mengisinya.Bab I. b. Suatu hari ia pergi naik taksi menuju pasar.

Cit. 216. g. 15 . A dipersilahkan masuk dan duduk di salah satu kursi. Perbuatan yang paling mungkin dianggap sebagai permulaan pelaksanaan dalam teori objektif 38 D. sebab pada tahap perbuatan itu telah tampak kehendak (niat) untuk membunuh. Dari uraian tersebut dapat disimpulkan bahwa berdasarkan teori subjektif dapat dipidananya percobaan. Schaffmeister.Percobaan dan Penyertaan f. karena niat seseorang untuk melakukan kejahatan itu dianggap sudah membahayakan kepentingan hukum.38 Jika mengacu kepada contoh kasus yang diberikan oleh Loebby Loqman di atas.al. lalu isteri B berteriak meminta pertolongan sehingga A melarikan diri. A mencabut pedang dari balik bajunya. Selanjutnya A mengetuk pintu. hal. 3. dari contoh pertama peristiwa yang menjadi tujuan A adalah membunuh B. sedangkan rangkaian tingkah laku sebelumnya yaitu perbuatan dari urutan A sampai dengan F adalah merupakan perbuatan persiapan. (et. h. A mengayunkan pedang ke arah leher B namun hanya mengenai bahu B dan tidak menyebabkan kematian B. Dari rangkaian peristiwa di atas menurut paham subjektif perbuatan membawa pedang yang telah diasah tajam dapat dinilai telah menunjukkan adanya niat untuk melakukan pembunuhan pada B. Op. dan menamakan perbuatan pelaksanaan sebagai tiap perbuatan yang membahayakan kepentingan hukum. yaitu perbuatan. Pada malam harinya dengan membawa pedang itu dia berjalan menuju rumah calon korban (B). dan pintu dibuka oleh isteri B. Ajaran yang objektif menafsirkan istilah permulaan pelaksanaan dalam Pasal 53 KUHP lebih sebagai permulaan pelaksanaan dari kejahatan dan karena itu bertolak dari berbahayanya perbuatan bagi tertib hukum. Ketika B masuk ruang tamu dan duduk di kursi. Sehingga niat untuk melakukan kejahatan yang telah diwujudkan menjadi suatu perbuatan dianggap telah membahayakan. Maka dari fakta itu tidak diragukan lagi bahwa perbuatan A menuju ke rumah B adalah merupakan permulaan pelaksanaan dari kejahatan. Menurut teori ini seseorang yang melakukan suatu percobaan itu dapat dihukum karena tindakannya bersifat membahayakan kepentingan hukum. A pergi ke rumah C untuk meminjam pistol bukanlah permulaan pelaksanaan agar orang meninggal dunia. j. i.). Teori objektif Teori ini disebut dengan teori objektif karena mencari sandaran pada objek dari tindak pidana. Kemudian disimpannya di dalam lemari..

534. 36. P. Lamintang dan C.41 Perkataan “permulaan pelaksanaan” itu bukan berarti hanya ditujukan kepada “pelaksanaan dari maksud jahat si pelaku”. Hukum Pidana Indonesia. Perkataan tersebut terutama harus dihubungkan dengan “pelaksanaan dari kejahatan” itu. 40 39 16 . dan bukan seperti kerap dikesankan pada niat pelaku. Demikian pula pada kasus P. dengan alasan bahwa paham tersebut telah mengabaikan syarat tentang harus adanya suatu permulaan pelaksanaan untuk melakukan kejahatan dan telah membuat segala sesuatunya menjadi tergantung pandangan yang bersifat subjektif hakim. Op. hal. 291 292.Cit. Menurut Yurisprudensi HR. 538.F. (Bandung: Sinar Baru.A. Istilah “van uitvoering” di dalam Pasal 53 KUHP ditafsirkan dalam kaitan dengan kejahatan itu sendiri.39 Menurut Simons. Unsur utama dari mencuri adalah mengambil. hal. Oleh karena itu menurut teori objektif P dianggap belum melakukan perbuatan yang dianggap sebagai permulaan pelaksanaan. hal. bahwa Hoge Raad memilih berpihak kepada objektif. 1983). W. Op. 8372.40 Pendapat Hoge Raad tentang hal permulaan pelaksanaan (begin van uitvoering) ini dapat dilihat di arrest tanggal 7 Mei 1906. Op. 41 I b i d. hal.. hal. karena “permulaan pelaksanaan dari maksud untuk melakukan kejahatan” itu kadang-kadang jatuh pada waktu yang bersamaan dengan “permulaan pelaksanaan dari kejahatannya itu sendiri”42 Jan Remmelink43 menyebutkan. Percobaan (Poging) dalam kasus ini adalah pada saat A menarik pelatuk pistol untuk membunuh B. Lamintang. pada dasarnya “van uitvoering” dapat dirangkum dalam satu rumusan: Loebby Loqman. pendapat dari para penganut paham subjektif itu adalah tidak tepat. 43 Jan Remmelink.Cit. yaitu apabila seseorang telah menjulurkan tangannya untuk mengangkat/memindahkan suatu barang. sehingga perkataan “permulaan pelaksanaan” itu terutama harus diartikan sebagai “permulaan pelaksanaan dari perbuatan untuk melakukan kejahatan”.. yang menyatakan bahwa perkataan “begin van uitvoering” di dalam Pasal 53 ayat (1) KUHP itu terutama harus dihubungkan dengan uitvoering van hetmisdrijf (pelaksanaan dari kejahatannya itu sendiri). Djisman Samosir.Cit.A.F. 42 P. Perbedaan antara “permulaan pelaksanaan dari maksud si pelaku” dengan “permulaan pelaksanaan dari kejahatannya itu sendiri” sebenarnya tidak terdapat perbedaan yang terlalu jauh (besar).Bab I.. P menyelinap ke kamar kecil bukanlah permulaan pelaksanaan terhadap perbuatan yang diniatkan. 20 21. Perbuatan yang diniatkan adalah mencuri..

tanpa pelakunya tersebut harus melakukan suatu tindakan yang lain. N. 17 .. 12731. W. Sebagian besar dari arrest Hoge Raad yang berkenaan dengan percobaan yang dapat dihukum sebagaimana yang dimaksud dalam Pasal 53 KUHP itu sangat dipengaruhi oleh pendapat Simons. yaitu segera setelah pelakunya menggunakan alat atau cara yang bersangkutan untuk melakukan kejahatannya. hal. yang dikenal dengan Eindhovense Brandstichting-arrest atau arrest pembakaran rumah di kota Endhoven.J. maka suatu percobaan yang dapat dihukum untuk melakukan delik-delik seperti itu dianggap telah terjadi. Ajaran yang mengatakan bahwa pada delik-delik yang oleh undang-undang telah ditentukan bahwa untuk melakukan delikdelik tersebut harus dipergunakan alat atau cara-cara tertentu. 1934 halaman 450. 1920 halaman 458. Ajaran yang mengatakan bahwa pada delik-delik yang oleh undang-undang telah dirumuskan secara formil. menurut sifatnya langsung dapat menimbulkan akibat yang terlarang oleh undang-undang. 10554 yang menyatakan antara lain: perbuatan menawarkan untuk dibeli dan perbuatan menghitung uang kertas yang telah dipalsukan di depan orang lain dengan maksud untuk melakukan suatu pemalsuan. ataupun dimana penggunaan alat atau cara-cara semacam itu oleh undang-undang telah dinyatakan sebagai unsur yang memberatkan hukuman. Ajaran ini telah dianut oleh Hoge Raad yaitu antara lain dalam arrest yang terkenal tanggal 19 Maret 1934.J.Percobaan dan Penyertaan tindakan tersebut harus terwujud sedemikian rupa sehingga penuntasan tindakan itu merupakan suatu kemungkinan konkret. Ajaranajaran Simons mengenai percobaan yang dapat dihukum yang mempunyai pengaruh cukup signifikan terhadap pandangan (pendapat) para anggota Hoge Raad antara lain:44 a. N. suatu percobaan yang dapat dihukum dianggap telah terjadi yaitu segera setelah tindakan yang dilakukan oleh pelakunya itu. menurut arrest ini merupakan suatu permulaan dari tindakan pemalsuan yang dapat dihukum. b. c. suatu permulaan pelaksanaan untuk melakukan suatu kejahatan dianggap telah terjadi yaitu segera setelah kejahatan tersebut mulai dilakukan oleh pelakunya. Ajaran yang mengatakan bahwa pada delik-delik yang oleh undang-undang telah dirumuskan secara materil. Ajaran ini telah dianut oleh Hoge Raad yaitu sebagaimana yang dapat 44 I b i d. Ajaran ini telah dianut oleh Hoge Raad dalam arrest tanggal 8 Maret 1920. W. 539 542.

J. Percobaan (Poging) kita lihat antara lain di dalam arrest-arrest-nya masing-masing: tanggal 12 Januari 1891. Dan di dalam arrest-arrest-nya masing-masing tanggal 20 Januari 1919. tanggal 4 April 1932. 1941 No. para tetangga yang melewati rumah tersebut mencium bau bensin yang menusuk hidung. akan terjadi api yang akan membakar sumbu yang telah dipersiapkan. W. 10424 yang pada dasarnya menyatakan bahwa: pencurian dengan perusakan itu merupakan suatu kejahatan. dimulailah sudah pelaksanaan pencurian tersebut.J.hal. 883 yang pada dasarnya mengatakan bahwa: pembongkaran. A dan B meninggalkan rumah tersebut.Bab I.J. W. dan tanggal 19 Mei 1919. 10389. W. Dengan merusak penutup sebuah rumah. Sementara C bepergian ke luar kota. Eindhovense Brandstichting arrest. N. sedangkan tahap berikutnya 45 Loebby Loqman. 18 . Op. 12515. Sumbu tersebut dihubungkan dengan pemantik kompor gas yang disambung dengan tali sedemikian rupa.J. 25 27. A dan B membuat sumbu panjang dari kain-kain bekas yang telah disiram bensin dan menaruhnya di seluruh rumah. 5990. N. 1932 halaman 786. Sementara A dan B meninggalkan rumah itu. N. tanggal 9 Juni 1941. Jika diperinci. W. Namun akhirnya perkara tersebut sampai ke pengadilan dengan tuduhan mencoba melakukan pembakaran. Penyertaan dan Gabungan Tindak Pidana memberikan beberapa contoh kasus tentang penentuan permulaan pelaksanaan menurut perspektif teori objektif: 1. sehingga mereka curiga dan memberitahukan kepada polisi. dilihatnya telah banyak orang sehingga mereka melarikan diri. Tahap pertama adalah perbuatan membuat rumah siap bakar. perusakan. maka perbuatan-perbuatan terdakwa dapat diperinci menjadi dua tahap. Dalam hal ini telah terjadi suatu percobaan untuk melakukan suatu pencurian dengan perusakan. Loebby Loqman dalam bukunya Percobaan. kasus posisinya adalah sebagai berikut: 45 A dan B bersepakat dengan C untuk membakar rumah C guna mendapatkan santunan asuransi. atau pembukaan dengan kunci-kunci palsu dan pemanjatan itu merupakan permulaan pelaksanaan kejahatan pencurian dengan pemberatan. 1919 halaman 634. N. Pada saat A dan B datang untuk melaksanakan pembakaran.. 1919 halaman 269. Sementara menunggu malam hari untuk melaksanakannya. sehingga nantinya hanya dengan menarik tali dari luar rumah.Cit.

. MvT menyerahkan penentuan perbuatan yang merupakan permulaan pelaksanaan kepada praktik. Persoalan dalam kasus ini adalah apakah telah ada perbuatan yang dianggap sebagai permulaan pelaksanaan. Apabila diperhatikan ternyata dalam kasus di atas Hoge Raad lebih menggunakan teori objektif. ada kemungkinan untuk perbuatan-perbuatan lain kecuali pembakaran rumah. dianggap merupakan tindak lanjut dari pelaku. dengan menyebutkan alasan yang pertama (1) di atas. Di samping itu juga menyebutkan 19 .Pemantik kompor gas menjadi macet. meskipun sebagian sumbu telah menyala. Tindakan menarik tali sam-bungan dari pemantik kompor gas. Adapun pertimbangan Hoge Raad bahwa kasus tersebut dianggap bukan sebagai permulaan pelaksanaan adalah: (1) Perbuatan yang telah dilakukan A dan B bukan hanya merupakan kemungkinan untuk pembakaran rumah tersebut. dan bukan permulaan pelaksanaan seperti yang dimaksud dalam Pasal 53 KUHP.Ada yang menepiskan tangan sewaktu tangan itu sedang akan menarik tali.Api tidak merambat. (3) Perbuatan yang dimaksud sebagai permulaan pelaksanaan seharusnya merupakan suatu perbuatan yang tidak diperlukan lagi adanya suatu tindakan lanjutan dari pelakunya. ataukah baru merupakan persiapan pelaksanaan untuk melakukan pembakaran rumah. . . yang semestinya tindakan menarik tali tersebut tidak perlu ada dalam perbuatan permulaan pelaksanaan (dalam hal ini permulaan pelaksanaan dianggap ada jika A atau B menarik tali tersebut). (4) Mungkin saja dalam kasus ini terjadi hal-hal yang tidak terduga sehingga pembakaran tidak akan terjadi. Jadi bukan merupakan percobaan.Percobaan dan Penyertaan menarik tali pemantik kompor gas untuk pembakaran rumah tersebut. (2) Perbuatan A dan B lebih bersifat sebagai perbuatan persiapan pelaksanaan. Ternyata Hoge Raad tidak memasukkan kasus ini sebagai percobaan melakukan pembakaran. sehingga dalam hal ini Hoge Raad dimungkinkan untuk mencari pertimbangan dalam tiap kasus tentang apa yang dimaksud dengan permulaan pelaksanaan dalam suatu percobaan.Sumbu yang diberi bensin tidak mau menyala. umpamanya: .

Bab I. N. 27 29. sehingga C akan meninggal karena keracunan gas. pertimbangan Pengadilan Tinggi yang menyatakan perbuatan A dianggap sebagai permulaan pelaksanaan dalam suatu niat untuk pembunuhan adalah tidak tepat. dan setelah C pingsan akan menempatkannya di dapur dan akan dibuka saluran gas di dapur. 480 yang kasus posisinya sebagai berikut:46 A seorang pria yang menjalin hubungan asmara dengan B seorang wanita yang telah bersuami. karena kebetulan C menggeser badannya/kepalanya pada saat yang tepat. Percobaan (Poging) bahwa apa yang dilakukan A dan B merupakan persiapan pelaksanaan (2) seperti yang dianut dalam teori objektif. yakni C. Pada suatu malam yang telah ditentukan. A memukul C beberapa kali dan melarikan diri dari rumah tersebut. Dalam perkara tersebut Hoge Raad ternyata memutuskan bahwa apa yang dilakukan terdakwa telah dianggap sebagai permulaan pelaksanaan. apalagi sebelumnya telah dipersiapkan pemukul dan masuk ke rumah korban dengan kunci yang telah dipersiapkan sebelumnya. Hammer Arrest (Kasus Palu) yaitu putusan Hoge Raad tanggal 21 Mei 1951.. hal itu sudah merupakan perwujudan dari pembunuhan yang diniati. 20 . Apabila seseorang dengan pertimbangan yang masak dan dengan tenang sebelumnya untuk melakukan pembunuhan. A menghempaskan palu ke arah kepala namun tidak mengenai kepala C. B memberikan kunci rumah kepada A sehingga A dapat masuk ke rumah B dan selanjutnya masuk ke kamar tidur. hal. Karena dianggap rencana pembunuhannya adalah dengan cara menempatkan korban di dapur dan saluran gas akan dibuka agar korban meninggal karena keracunan. Yang pertama adalah memukul korban hingga pingsan. lalu masuk ke kamar tidur. C terbangun dan melakukan perlawanan. 2. Dalam tingkat kasasi terdakwa mengutarakan bahwa. bukan dengan memukul palu.J. 1951. tahap kedua adalah menempatkan 46 I b i d. A dan B bersepakat untuk membunuh C dengan jalan akan memukul C pada waktu C tidur. Telah direncanakan sebelumnya ada dua tahap dalam melaksanakan pembunuhan. Alasan (3) dan (4) Hoge Raad malah memberikan contoh-contoh tentang kapan suatu perbuatan dianggap sebagai permulaan pelaksanaan.

hal. tetapi dalam memecahkan masalah apakah seseorang dapat dihukum atau tidak seharusnya jawabannya mengarah kepada hasil yang sama. tidak dapat diragukan lagi bahwa objectieve pogingsleer (paham objektif dan paham subjektif) telah dilaksanakan secara menyimpang sehingga keluar dari batas-batas semestinya.Percobaan dan Penyertaan korban di dapur.dalam tahun 1934: tahap I belum permulaan pelaksanaan . Walaupun cara memandang suatu masalah oleh kedua paham (paham objektif dan paham subjektif) itu berbeda. Dengan demikian Hoge Raad dalam kedua putusannya itu telah memakai teori objektif. Jika dibandingan kasus Eindhovense Brandstichting dan kasus palu ini digambarkan dalam suatu bagan pertahapan akan terlihat seperti berikut ini:47 Putusan Pembakaran 1934 Kasus Palu 1951 Tahap I Membuat rumah siap bakar (belum) Memukul pingsan dengan martil Tahap II Menarik tali Meracuni di dapur Keterangan: Hoge Raad memutuskan: . membuka selang gas..al. P.Cit. 221. terhadap kedua-duanya dipakai teori objektif. Apabila dibandingkan antara putusan perkara Eindhovense Brandstichting dan Kasus Palu. Op. Op.Cit..48 47 48 D. dianggap telah merupakan perwujudan dari perbuatan yang diniatinya. Dengan demikian tahap pertama sudah dianggap sebagai perbuatan permulaan pelaksanaan dari perbuatan yang diniati. Menurut van Bemmelen berdasarkan putusan Hoge Raad terhadap kasus Eindhovense Brandstichting itu. mendapat tantangan dari beberapa penulis. Lamintang. sehingga korban akan meninggal karena keracunan gas. 21 . Sedangkan dalam kasus Palu perbuatan tahap pertama yaitu pemukulan dengan palu agar korban jatuh pingsan.). meskipun dengan menggunakan rumusan yang disesuaikan dengan keadaan yang konkrit. 543.A. Khusus terhadap arrest Hoge Raad dalam Eindhovense Brandstichting. Namun dalam perkara Eindhovense Brandstichting perbuatan tahap pertama yaitu perbuatan rumah siap dibakar dianggap belum merupakan perbuatan yang dianggap permulaan pelaksanaan.dalam tahun 1951: tahap I sudah permulaan pelaksanaan. Schaffmeister.F. (et. hal.

dalam peristiwa-peristiwa pembakaran seperti yang dimaksud di atas. Delik yang dikualifikasi didahului oleh bayangannya. dalam pandangan obyektif. Percobaan (Poging) Dalam perkembangan selanjutnya Hoge Raad telah memperlunak syarat zonder enig nader ingrijpen van de dader (tanpa suatu tindakan yang lain dari si pelaku).J. Loebby Loqman. dan membunyikan bel adalah permulaan pelaksanaan dari suatu kejahatan pencurian dengan kekerasan.. tidak bertopeng dan membunyikan bel dianggap bukan sebagai permulaan pelaksanaan dari pencurian biasa. 1979-52 memberikan pertimbangan bahwa perbuatan tersebut merupakan perbuatan permulaan pelaksanaan. bahwa pada delik yang dikualifikasikan lebih banyak terdapat permulaan pelaksanaan daripada delik pokoknya.49 Loebby Loqman dalam hal ini juga menyatakan bahwa dalam perkembangan yang terjadi di Belanda. Jadi dalam hal ini telah terjadi percobaan yang dapat dipidana yaitu kejahatan dari Pasal 365 KUHP.al. Menurut bentuk perwujudannya dari luar mengebel demikian belum tentu tertuju pada penyelesaian kejahatan. yang kasus posisinya adalah sebagai berikut:50 Dua orang bertopeng dan bersenjata dengan membawa tas menuju ke Biro Penyiaran Cito dengan maksud melakukan perampokan.Cit. tetapi jika tidak bersenjata. yaitu permulaan pelaksanaan (begin van uitvoering) dan yang kedua perbuatan 49 50 51 I b i d.. dalam hal menetapkan wujud perbuatan mana yang berupa permulaan pelaksanaan. Op. N. Mereka membunyikan bel akan tetapi pintu tidak dibuka. (et. 544.51 Jika melihat contoh dari Adami Chazawi seperti telah disebutkan di atas.. hal. Op. 22 .. yaitu dengan mempertimbangkan bahwa perbuatan mencoba menarik ujung tali semacam itu dapat dianggap sebagai suatu begin van uitvoerings-handelingen (permulaan pelaksanaan) yang telah dapat dihukum.). pencurian dengan kekerasan. Berdasarkan pada tata urutan ini. D. Van Veen dalam D. (et. Schaffmeister. 226. bertopeng. ada dua perbuatan berurutan yang harus dilakukan.Cit. Dalam putusan Hoge Raad bulan Oktober 1978. maka untuk menyelesaikan kejahatan.al) memberikan catatan tentang putusan ini. Schaffmeister. dengan kata lain bersenjata. hal. 29 30. Karena menurut bentuk perwujudannya harus dipandang sebagai diarahkan untuk menyelesaikan kejahatan pencurian dengan kekerasan. yakni dalam kasus Cito. dengan melihat dari proses atau tata urutan dalam melakukan kejahatan.Bab I. ternyata didapati teori objektif yang diperlunak (gematigd objectieveleer). hal. Pada saat itu mereka ditangkap.

53 Sebagai contoh umpamanya A ingin membunuh B. hal. hal. yang memandang suatu uitvoeringshandelingen (tindakan pelaksanaan) itu sebagai tindakan yang mendatangkan bahaya bagi kemungkinan timbulnya akibat yang 52 53 54 Adami Chazawi.F.A. Dalam hal ini apakah perbuatan A membeli karcis kereta api sudah dianggap sebagai permulaan pelaksanaan? Perbuatan membeli karcis merupakan perbuatan yang masih jauh dari kejahatan yang menjadi niat A. Lamintang. 23 . yang untuk lebih jelasnya akan dibicarakan di belakang. Sebaliknya paham objektif murni tidak akan menghukum mereka yang telah menunjukkan adanya sifat berbahaya dan telah diwujudkan dengan tindakan-tindakan nyata. baik di Belanda maupun di Hindia Belanda. Padahal hubungan antara tindakan mereka dengan akibat akhirnya itu terlalu jauh atau tindakan mereka itu tidak mendatangkan bahaya yang begitu besar untuk dapat menimbulkan suatu akibat itu.F.54 Oleh karena itu menurut van Bemmelen dalam P. oleh sebab itu hubungannya sangat erat dan langsung dengan kejahatan. ialah perbuatan mencabut pedang dari balik bajunya. sehingga seseorang telah dapat dihukum sebagai seorang pelaku atau dalam masalah poging sebagai orang yang telah melakukan percobaan.. Op. Menurut pandangan obyektif ada dua perbuatan yang dipandang telah membahayakan kepentingan hukum atas nyawa korban. perlu adanya suatu tussenopvatting (paham antara) diantara paham subjektif dan paham objektif. hal. adalah perbuatan pelaksanaan. ternyata A dan B ini berada di kota yang berbeda.A. dan kedua perbuatan mengayunkan pedang ke arah tubuh korban.Cit. jika diberlakukan secara terlalu kaku akan menjurus kepada ketidakbenaran.F. tetapi jelas ada hubungannya dengan niat A tersebut. Lamintang.A. Untuk melakukan pembunuhan A harus membeli karcis kereta api menuju ke kota dimana B bertempat tinggal.. 23 24.Percobaan dan Penyertaan pelaksanaan (uitvoeringshandelingen). Sedangkan perbuatan mengayunkan pedang ke arah tubuh korban. Op. kedua metode baik metode objektif maupun metode subjektif. Ukuran perbuatan pelaksanaan ialah berupa perbuatan satu-satunya untuk menyelesaikan kejahatan itu. Dalam hal ini van Bemmelen memberikan contoh seperti kasus Eindhovense Brandstichting. Karena paham subjektif itu telah mengartikan hubungan kausal secara terlalu luas. 543.Cit.Cit. yaitu membunuh B. Lamintang. Loebby Loqman.52 Menurut van Bemmelen dalam P. 22. Ukuran ini sesuai dengan yang dianut dalam praktik hukum. Op.. P. Perbuatan mencabut pedang dari balik bajunya telah bisa dianggap merupakan permulaan pelaksanaan dari pembunuhan.

Percobaan (Poging) tidak dikehendaki oleh undang-undang. Jika sejumlah keadaan telah tercipta. Menurut Moeljatno bahwa. dikenal juga teori gabungan.55 4. patut dipidananya perbuatan adalah bila memenuhi syarat yaitu sikap batin yang berbahaya dan sikap perbuatan yang berbahaya.A. Op. tentunya harus ditetapkan lebih dulu. hal. Lamintang. untuk mengetahui permulaan pelaksanaan dari kejahatan apa. 24 . maka sebenarnya tindakan seorang pelaku itu telah mencapai suatu tingkat tertentu dimana tindakannya itu telah dapat disebut sebagai suatu uitvoeringshandelingen atau tindakan pelaksanaan. bahwa permulaan pelaksanaan dari pembunuhan misalnya. Sebab isi niat ini harus ternyata dari perbuatan-perbuatan atau apa yang telah dilakukan. Lange Meyer dalam Sudarto dan Wonosutanto56 menyebutkan bahwa.Bab I. 5. Op.Cit.Cit. Permulaan pelaksanaan menurut Moeljatno57 Moeljatno tidak setuju dengan pandangan teori subjektif yang didukung oleh van Hamel maupun teori objektif yang didukung oleh Simons tentang permulaan pelaksanaan. Sehingga isinya niat dan adanya permulaan pelaksanaan dari 55 56 57 P.F. perlu menarik unsur yang pertama. Jadi lengkapnya adalah permulaan pelaksanaan dari kejahatan yang diniatkan atau yang dituju. 18. Moeljatno. yang mencoba menggabungkan dua pandangan yang berbeda itu. adalah lain sekali dengan permulaan pelaksanaan dari pencurian. Bahaya yang dimaksud itu haruslah dianggap telah ada yaitu jika pelakunya telah menciptakan sejumlah keadaan yang menurut pengalaman manusia.. Oleh karena itu. Sudarto dan Wono Sutanto. hal. dimana keadaan semacam itu telah menimbulkan suatu bahaya bagi kemungkinan timbulnya keadaan yang lain. Namun karena pelaksanaan dari pandangan Lange Meyer ini menemui kesukaran pada kenyataannya. 543 544. permulaan pelaksanaan dari kejahatan apa? Sebab adalah wajar. dapat menimbulkan keadaan yang lain lagi. Op. maka tidak mengherankan apabila pandangan ini cenderung pada teori objektif semata-mata. Salah seorang ahli yang mempunyai pandangan seperti ini adalah Lange Meyer.. tanpa masih diperlukan lebih banyak hal yang lain. Teori gabungan Selain teori sujektif dan teori objektif.Cit. yaitu niat. sebelum dapat menentukan apakah yang dilakukan oleh terdakwa sudah merupakan permulaan pelaksanaan atau belum. 28 29.

ditujukan atau diarahkan pada delik yang tertentu tadi. yang dapat dipidana menurut Pasal 53 KUHP. yaitu sebagai berikut: a. Pelaksanaan Tidak Selesai Bukan Disebabkan Kehendak Pelaku Syarat ketiga agar seseorang dapat dikatakan telah melakukan percobaan menurut KUHP adalah pelaksanaan itu tidak selesai bukan semata-mata disebabkan karena kehendak pelaku. yang memaksanya untuk mengurungkan niatnya semula. 25 . Oleh karena delik yang dituju tidak diketahui lebih dahulu bahkan harus ditetapkan antara lain dengan mengingat perbuatan yang telah dilakukan. Di situ ada hubungan timbal-balik. Secara obyektif. b. c. apakah sudah ada percobaan yang dapat dipidana atau belum. tetapi disebabkan oleh sesuatu hal yang timbul dari dalam diri orang tersebut yang secara sukarela mengundurkan diri dari niatnya semula. apa yang telah dilakukan terdakwa harus mendekatkan kepada delik yang dituju. Bahwa apa yang telah dilakukan oleh terdakwa merupakan perbuatan yang bersifat melawan hukum. juga perbuatannya (batas antara persiapan dan pelaksanaan) harus memenuhi tiga syarat. D. Untuk ini (yaitu untuk menentukan delik yang dituju) diperlukan adanya bukti-bukti di luar wet. Syarat pertama dan kedua diambil dari rumusan percobaan. Atau dengan kata lain. Tidak terlaksananya tindak pidana yang hendak dilakukannya itu bukan karena adanya faktor keadaan dari luar diri orang tersebut. Menurut Moeljatno pada permulaan pelaksanaan dari delik yang dituju. maka istilah permulaan pelaksanaan dalam pasal 53 KUHP tak mungkin mempunyai arti yang tetap. Karenanya juga tak mungkin dipakai pegangan untuk menentukan.Percobaan dan Penyertaan kejahatan yang dituju berhubungan erat sekali bahwa yang satu tak bisa ditentukan terlepas dari yang lain. sedangkan syarat yang ketiga diambil dari sifat tiap-tiap delik. Secara subyektif. harus tidak ada keraguan lagi. dipandang dari sudut niat. Dalam hal ini tidak merupakan suatu percobaan jika seseorang yang semula telah berkeinginan untuk melakukan suatu tindak pidana dan niatnya itu telah diwujudkan dalam suatu bentuk perbuatan permulaan pelaksanaan. bahwa yang telah dilakukan oleh terdakwa itu. harus mengandung potensi untuk mewujudkan delik tersebut.

atau tidak sempurna memenuhi unsurunsur dari kejahatan menurut rumusannya.59 Selanjutnya disebutkan bahwa.R. 1982). Sianturi58 menyebutkan bahwa. Rasa takut sebagai penyebab tidak diselesaikannya tindakan itu dalam hukum pidana dianggap sebagai keadaan yang berada di luar kehendak petindak. mendadak diserbu oleh seekor kucing. 59 I b i d. hanya mengakibatkan luka ringan. hal. yang karenanya ia mengurungkan niatnya dengan sukarela. yang menyebabkan dia tidak meneruskan tindakannya itu. 58 26 . maka percobaan tidak terjadi. sehingga tidak terselesaikan hal itu berada di luar kehendak pelaku. Asas Asas Hukum Pidana di Indonesia dan Penerapannya. Keadaan fisik dalam hal pembunuhan yang hendak dilakukan oleh A terhadap B misalnya: . (Jakarta: Alumni AHM PTHM. keadaan-keadaan psikis misalnya pada saat ia hendak menembakkan pistolnya. Kalau misalnya rasa takut itu telah mempengaruhi. Kanter dan S.Y. Dapat juga dikatakan bahwa tindakan untuk merugikan sesuatu kepentingan hukum yang dilindungi oleh undang-undang hukum pidana itu terhenti sebelum terjadi kerugian yang sesuai dengan perumusan undangundang. adalah tergantung kepada sampai dimana rasa takut itu telah mempengaruhi pelaku.Pada saat A membidikkan pistolnya. Tegasnya tenggang waktu yang masih dapat dibenarkan untuk menyatakan rasa penyesalan dihubungkan dengan E.Teh beracun yang disediakan A ketika hendak diminum oleh B. Keadaan di luar kehendak pelaku maksudnya adalah. tetapi juga perbuatan makhluk lainnya.Bab I. yang tidak selesai itu adalah kejahatan. Dengan kata lain niat petindak (pelaku) untuk melaksanakan kejahatan tertentu yang sudah dinyatakan dengan tindakannya terhenti sebelum sempurna terjadi kejahatan itu. Keadaan itu bukan hanya tindakan manusia saja. Sianturi.Tembakan yang mengenai B. . sehingga tumpah.Y. Percobaan (Poging) E. maupun karena peristiwa alam. Bahkan keadaan psikis yang datangnya dari luar. Kanter dan S. atau kejahatan itu tidak terjadi sesuai dengan ketentuan dalam undang-undang. atau B tidak apa-apa karena tembakannya meleset. tangan A dipukul oleh C. ia merasa takut karena jangan-jangan di sekitarnya itu ada petugas hukum yang akan memergoki perbuatannya. Tetapi apakah rasa takut itu selalu dapat dianggap sebagai pemenuhan syarat ketiga dari percobaan yang dengan demikian dapat dipidana. 324.R. setiap keadaan baik badaniah (fisik) maupun rohaniah (psikis) yang datangnya dari luar yang menghalangi atau menyebabkan tidak sempurna terselesaikan kejahatan itu. .

31. Dengan berjalan membungkuk dan dengan pisau di tangan A menuju ke arah B berada. hal. perlu diperhatikan pula. Apakah tidak selesainya perbuatan itu karena keadaan yang terdapat di dalam diri si pelaku yang dengan sukarela mengurungkan niatnya itu atau karena ada faktor lain di luar dari dalam diri si pelaku yang mungkin menurut dugaan atau perkiraannya dapat membahayakan dirinya sehingga memaksanya untuk mengurungkan niatnya itu. Akan tetapi perbuatan A sempat ditahan oleh beberapa orang yang berada di dalam ruangan.60 Penggunaan istilah semata-mata.61 Dalam hal ini ada kesulitan untuk menentukan apakah memang benar tidak selesainya perbuatan yang dikehendaki itu berasal dari kehendak pelaku dengan sukarela. 27 . maka dalam hal seperti ini pelaku tetap masih dapat dipidana karena percobaan. 325. Berkaitan dengan hal ini Loebby Loqman memberikan contoh sebagai berikut:62 1. 670 tentang percobaan pembunuhan atau percobaan penganiayaan berat. A pada tanggal 5 Mei 1951 ingin membunuh B. Akan tetapi yang menyebabkan tidak selesainya 60 61 62 I b i d.. Terdakwa dalam kasus di atas dituduh melakukan percobaan pembunuhan.. hal. Terdakwa dalam pembelaannya mengatakan sebenarnya orang yang hadir pada saat perbuatan dilakukan bukanlah sebagai penyebab tidak terlaksananya kejahatan yang semula dikehendakinya.Cit. Untuk itu A dengan menarik pisau yang telah dipersiapkan memasuki ruangan dimana B pada waktu itu berada. dan subsidair melakukan percobaan penganiayaan berat.Percobaan dan Penyertaan syarat kedua dan ketiga. Putusan Pengadilan Arnhem tanggal 31 Juli 1951. tetapi disertai dengan perasaan takut. N. Suatu hal yang dapat dilakukan dalam pembuktian adalah dengan menentukan keadaan apa yang menyebabkan tidak selesainya perbuatan itu. harus selalu menjadi perhatian dan menilainya secara kasuistis pada setiap kejadian. Op. 1952 No. sedangkan B lari meninggalkan ruangan tersebut.J. Hal ini berarti meskipun pengurungan niat atau tidak meneruskan pelaksanaan tindakan tersebut secara sukarela dan karena penyesalan. Dalam surat dakwaan dikatakan bahwa tidak selesainya pembunuhan atau penganiayaan berat oleh karena “setidaktidaknya hanya karena satu atau lebih keadaan di luar kehendaknya”. Loebby Loqman. I b i d.

Di samping peristiwa yang diuraikan di atas terdapat pula suatu keadaan seorang yang melakukan suatu percobaan kejahatan. Karena dianggap memberikan kesaksian yang tidak benar. sebagai contoh: Seseorang dalam suatu pemeriksaan di pengadilan sedang memberikan keterangannya. 3. akan tetapi kadangkadang dari luar memaksanya untuk mengundurkan diri. 2. Meskipun demikian Pengadilan Arnhem dalam pertimbangannya memberikan putusan bahwa kasus tersebut tetap sebagai percobaan. Adakalanya bahwa seseorang tidak mempunyai kesempatan lagi untuk mengundurkan diri dari niatnya secara sukarela. Percobaan (Poging) kejahatan itu karena A melihat adanya perubahan wajah B pada saat itu dan karena jeritan orang banyak sehingga A tidak “tega” meneruskan perbuatan yang dikehendakinya semula. sementara itu telah terjadi delik lain yang telah selesai. Meskipun dikaitkan dengan percobaan.Bab I. akan tetapi timbul niatnya untuk secara sukarela mengundurkan diri dari kehendak semula. Yakni delik kesaksian palsu terhadap keterangan sebelumnya yang telah diberikan dalam sidang itu. Hakim memperingatkan dapat dipidananya orang yang memberikan keterangan tidak benar karena delik “kesaksian palsu”. sebagai contoh: Seorang yang berniat melakukan pencurian terhadap barang-barang dalam sebuah rumah. sebenarnya orang tersebut ingin menarik diri secara sukarela terhadap perbuatan memberikan keterangan yang tidak benar di depan sidang pengadilan. Peristiwa ini disebut dengan guequalificeerde poging atau percobaan yang dikualifikasi. artinya meskipun seseorang telah mulai melakukan permulaan pelaksanaan. Jadi dianggap bukan merupakan percobaan. Putusan Hoge Raad tahun 1889 dalam menghadapi kasus seperti di atas. Pengunduran diri dalam kasus di atas meskipun ada faktor yang datang dari dalam diri pelaku. namun ternyata hal tersebut tidak dapat lagi dilakukan. Dalam hal demikian dianggap orang tersebut telah melakukan delik. Akan tetapi melihat putusan Hoge Raad tahun 1952 memutuskan bahwa telah melakukan suatu delik selesai (delik kesaksian palsu) terhadap seseorang yang menarik kembali keterangannya setelah penundaan sidang. karena dengan sukarela orang tersebut menarik kembali keterangan yang tidak benar. Percobaan seperti ini disebut sebagai voltooide. Untuk itu orang tersebut telah memasuki 28 . dianggap sebagai pengunduran secara sukarela.

. 3. dapat terjadi dalam hal-hal sebagai berikut:63 1. bom waktu yang jamnya rusak. 63 29 . Menurut Barda Nawawi Arief tidak selesainya pelaksanaan kejahatan yang dituju bukan karena kehendak sendiri. 2. 64 I b i d. Yakni delik memasuki halaman tanpa izin (huisvredebruik) seperti yang diatur dalam Pasal 167 KUHP. Contoh: Daya tahan orang yang ditembak cukup kuat sehingga tidak mati atau yang tertembak bagian yang tidak membahayakan. Adanya penghalang yang disebabkan oleh faktor-faktor/keadaankeadaan khusus pada objek yang menjadi sasaran. Dalam hal ini orang tersebut disamping dianggap melakukan percobaan pencurian (jika dilihat dari teori subjektif) juga telah melakukan delik yang selesai. 15. Penyesalan (tatiger reue) yaitu meskipun perbuatan pelaksanaan sudah diselesaikan. ia masih dapat meneruskan perbuatannya. Sari Kuliah Hukum Pidana II. hal. Jika tidak selesainya perbuatan itu disebabkan oleh kehendaknya sendiri. Contoh: takut segera ditangkap karena gerak-geriknya untuk mencuri telah diketahui oleh orang lain. Sering dirumuskan bahwa ada pengunduran diri sukarela. Termasuk dalam pengertian ini ialah jika ada kerusakan pada alat yang digunakan misalnya. 16.Percobaan dan Penyertaan halaman rumah tersebut. barang yang akan dicuri terlalu berat walaupun si pencuri telah berusaha mengangkat-nya sekuat tenaga. Walaupun tidak ada penghalang fisik. Adanya penghalang fisik. Contoh: tidak matinya orang yang ditembak. hal. Pengunduran diri secara sukarela (rucktritt) yaitu tidak menyelesaikan perbuatan pelaksanaan yang diperlukan untuk delik yang bersangkutan. tetapi dengan sukarela menghalau timbulnya akibat mutlak untuk delik tersebut. Tidak selesainya perbuatan karena kehendak sendiri secara teori dapat dibedakan antara:64 a. dan b. jika menurut pandangannya. maka dapat dikatakan bahwa ada pengunduran diri secara sukarela. Barda Nawawi Arief. karena tangannya disentakkan orang sehingga tembakan menyimpang atau pistolnya terlepas. tetapi tidak selesainya itu disebabkan karena akan adanya penghalang fisik. tetapi ia tidak mau meneruskannya. Akan tetapi sebelum masuk ke dalam rumah ia sudah tertangkap. 1984). pelurunya macet/tidak meletus. (Semarang: Badan Penyediaan Bahan Kuliah Fakultas Hukum Universitas Diponegoro.

. Barda Nawawi Arief. akan tetapi melihat sifat dari peristiwa itu. 545. hal. Op.67 Ada dua hal yang mengakibatkan tidak sempurnanya percobaan tersebut.Cit. hal. Loebby Loqman. Op. Op. 35.F.. yaitu tidak sempurna secara mutlak (absolut) dan tidak sempurna secara nisbi (relatif). bagaimanapun perbuatan yang diniatkan itu tidak mungkin akan terlaksana.Bab I. Op. Ondeugdelijke poging Ondeugdelijke poging adalah suatu perbuatan yang meskipun telah ada perbuatan yang dianggap permulaan pelaksanaan tetapi oleh karena sesuatu hal.A. Percobaan (Poging) Misal: orang memberi racun pada minuman si korban. tidak mungkin pelaksanaan perbuatan yang diniatkan akan terlaksana sesuai dengan harapannya.Cit. Perbuatan-Perbuatan yang Mirip dengan Percobaan 1. 30 . Lamintang.Cit. dan b. Masing-masing ketidaksempurnaan itu dapat dibagi pula atas dua macam. Karena jaminan semacam itu merupakan suatu sarana yang paling pasti untuk menghentikan pelaksanaan suatu kejahatan yang sedang ber-langsung. hal. Loebby Loqman memberikan contoh sebagai berikut:68 65 66 67 68 P.66 Ondeug-delijke Poging (percobaan tidak memadai) ini timbul sehubungan dengan telah dilakukannya perbuatan pelaksanaan tetapi delik yang dituju tidak selesai atau akibat yang terlarang menurut undang-undang tidak timbul.. pertama karena alat (sarana) yang dipergunakan tidak sempurna dan yang kedua objek (sasaran) tidak sempurna.Cit.18. 35 36.. E. Loebby Loqman. tetapi setelah diminumnya ia segera memberikan obat penawar racun sehingga si korban tidak jadi meninggal. hal. Dengan kata lain suatu perbuatan yang merupakan percobaan. Memberikan jaminan bahwa seseorang yang membatalkan niatnya secara sukarela tidak dapat dihukum. Adapun maksud dicantumkannya syarat pengunduran secara sukarela menurut MvT tentang pembentukan Pasal 53 ayat (1) adalah untuk:65 a. Jika ia dapat membuktikan bahwa pada waktu yang tepat ia masih mempunyai keinginan untuk membatalkan niatnya yang jahat.

sehingga B selalu keluar rumah dengan menggunakan rompi anti peluru di dalam bajunya. Pada saat B lengah A memasukkan arsenicum ke dalam minuman B.. b. maka juga tidak ada percobaan”. Ketidaksempurnaan sarana (alat) a.Cit. 2. B mengetahui bahwa dirinya terancam oleh A. Pada suatu malam A masuk ke kamar tidur B dan menikam B. Jika untuk terwujudnya kejahatan tertentu tersebut diperlukan adanya objek. 69 Barda Nawawi Arief. Ketidaksempurnaan sarana secara mutlak Contoh: A ingin membunuh B dengan menggunakan racun arsenicum. 31 . Ketidaksempurnaan sarana secara nisbi Contoh: Peristiwanya seperti di atas. Namun B tetap hidup karena ternyata yang dimasukkan ke dalam minuman B bukan arsenicum tetapi gula pasir. meskipun mengenai dada B. yang ada hanya percobaan yang tidak mampu pada alatnya saja. maka percobaan melakukan kejahatan itupun harus ada objeknya. Ketika terjadi penembakan oleh A. Ketidaksempurnaan sasaran secara nisbi Contoh: A ingin membunuh B. Ketidaksempurnaan sasaran (objek) a.Percobaan dan Penyertaan 1. hal. Jadi A menikam mayat. 18 19. Ketidaksempurnaan sasaran secara mutlak Contoh: A ingin membunuh B. b. Ternyata bahwa B telah meninggal dunia sebelum ditikam A. bahwa menurut MvT tidak mungkin ada percobaan pada objek yang tidak mampu (tidak memadai). Op. sebagaimana disebutkan dalam MvT sebagai berikut:69 “Syarat-syarat umum percobaan menurut Pasal 53 KUHP ialah syarat-syarat percobaan untuk melakukan kejahatan yang tertentu di dalam Buku II KUHP. Kalau tidak ada objeknya. Dalam hal ini A tidak mengetahui karena kamar tidur B dalam keadaan gelap. karena menggunakan rompi anti peluru B tidak mati. tetapi A memberikan racun arsenicum ke dalam minuman B dalam dosis yang tidak mencukupi sehingga A tetap hidup. Barda Nawawi Arief menyebutkan.

hanya ketidaksempurnaan mutlak saja yang tidak dapat 70 71 I b i d. Tetapi delik yang dituju itu tidak selesai (tidak terjadi) karena adanya faktor eksternal dari diri orang itu. Keadaan tertentu dari orang yang dituju. Percobaan (Poging) Selanjutnya MvT membedakan antara percobaan yang tidak mampu karena alatnya. Jika dilihat dari syarat-syarat terjadinya suatu percobaan maka pelaku telah memenuhi tiga syarat percobaan. Hal penting untuk diketahui adalah apakah dengan tidak sempurnanya alat ataupun objek. bila dengan alat itu tidak ditimbulkan delik selesai karena justru hal ikhwal yang tertentu dalam mana si pembuat melakukan perbuatan atau justru karena keadaan tertentu dalam mana orang yang dituju itu berada. Bagi mereka yang menggunakan teori subjektif. Tidak mampu relatif. dalam hal ini tidak mungkin ada delik percobaan. dengan cara memberikan racun ke dalam minuman D yang ternyata racun tersebut adalah gula? Dalam hal seperti ini menurut Loebby Loqman. yaitu karena alatnya atau objeknya itu tidak sempurna. yaitu ada niat untuk melakukan suatu kejahatan. I b i d. 19. dapat dianggap telah terjadi suatu percobaan. 32 . sebagai berikut:70 1. 2. Untuk itu pelaku telah mewujudkan dengan adanya perbuatan yang dianggap permulaan pelaksanaan. Tidak mampu mutlak. yang ternyata B telah mati terlebih dahulu disebabkan oleh hal lain? Atau apakah dapat dihukum C yang hendak membunuh D.. Karni memberi contoh: meracuni dengan air kelapa. Mr. yaitu bila dengan alat itu tidak pernah mungkin timbul delik selesai. Berdasarkan apa yang dikemukakan MvT di atas terlihat bahwa ketidakmampuan relatif dapat dilihat dari dua segi. Apakah dapat dikatakan telah terjadi suatu percobaan melakukan pembunuhan jika A menghujamkan pisau ke dada B. Keadaan tertentu dari alat pada waktu si pembuat melakukan perbuatan. yaitu:71 1. tergantung dari teori mana kita melihatnya. hal. karena dianggap dari semula pelaku sudah mempunyai niat untuk melakukan kejahatan. 2. tidak ada perbedaan antara ketidaksempurnaan mutlak maupun ketidaksempurnaan nisbi. apakah kejadian tersebut dapat dipidana. Dalam hal ini mungkin ada delik percobaan. Sehingga dengan demikian peristiwa tersebut sudah merupakan suatu perbuatan percobaan melakukan kejahatan.Bab I. dan sudah mewujudkan niat tersebut ke dalam suatu bentuk perbuatan permulaan pelaksanaan. Namun tidak demikian halnya dengan teori objektif.

baik sasaran maupun sarana.A. hal demikian telah membahayakan kepentingan hukum sehingga pelaku perlu dipidana.72 Dengan melihat putusan perkara “Uang Sen Logam” Hoge Raad ternyata mempergunakan teori objektif. dianggap tidak merupa-kan hal yang membahayakan kepentingan hukum sehingga tidak perlu pelaku dipidana.W. Campuran ini tidak dianggap memunculkan tindak percobaan. No.. Lamintang. Mangel am tatbestand Van Hattum dalam P. Sebab dalam keadaan bagaimanapun tidak mungkin menyelesaikan kejahan yang menjadi niat pelaku. bahwa Mangel am Tatbestand merupakan suatu kesalahpahaman.73 2. hal. Karena nyata-nyata sarana ataupun sasarannya mutlak salah.Percobaan dan Penyertaan dipidana. Bagi teori objektif. 295.F.8372. kasusnya berkenaan dengan seorang pemilik/pengelola toko yang mencoba meracuni suaminya yang sakit dengan campuran teh dan bir dengan tambahan residu obat dan koin tembaga. Contohnya: orang yang melaksanakan kehendak untuk mencuri dengan mengambil suatu barang yang dikiranya barang milik orang lain. Menurut teori objektif. Apa yang dilakukan pelaku tidak sampai kepada hal yang dimaksudkan untuk kejahatan itu. akan tetapi berbeda dengan putatief delict dimana orang yang melakukan suatu perbuatan itu telah mengira bahwa apa yang telah dilakukannya itu merupakan suatu delik.. Op. Sedangkan untuk ketidaksempurnaan mutlak. Harus diakui bahwa campuran tersebut merupakan sarana yang tidak mampu (mutlak). ketidaksempurnaan nisbi sebenarnya telah sampai kepada penyelesaiaan kejahatan yang diniatkan pelaku. hal.74 Mangel am Tatbestand adalah suatu perbuatan yang diarahkan untuk mewujudkan tindak pidana tetapi ternyata kekurangan atau tidak memenuhi salah satu unsur tindak pidana yang dituju. Hanya saja ada suatu keadaan sedemikian rupa sehingga kemungkinan penyelesaiannya berkurang. Op. 33 . hal..F. P. ternyata miliknya sendiri. Lamintang menyebutkan. 552. Karena itu dianggap tidak mungkin membahayakan kepentingan hukum. 37. maka pada apa yang disebut dengan Mangel am Tatbestand itu adalah berkenaan dengan de bijzonderheden van de fetelijke situatie atau dengan kekhususan-kekhususan dari keadaan yang sebenarnya. Putusan Hoge Raad tanggal 7 Mei 1906.Cit. Op. Di sini telah terjadi kesesatan atau kesalahpahaman terhadap salah satu unsur tindak pidana.Cit.A. padahal kenyataannya tidak demikian. Seorang laki-laki yang kawin lagi yang dia 72 73 74 Loebby Loqman. Jan Remmelink.Cit.

Tidaklah mungkin mencuri barang yang pada kenyataannya milik sendiri. dan dengan demikian juga tidak mungkin terjadi percobaannya. I b i d. ternyata istrinya itu sebelumnya telah meninggal dunia. D. (et. walaupun pada keadaan yang sebenarnya orang itu telah selesai melakukan perbuatan. 224 225.77 Mangel am tatbestand ini hanya dikenal dalam doktrin hukum.al. Op.76 Keanehan dari Mangel am Tatbestand adalah bahwa hasil yang dikehendaki pembuat terwujud di luar dirinya.A.. Menurut Simmons.. oleh karena itu tindakan-tindakan semacam itu sebenarnya tidak lain daripada tindakan-tindakan yang tidak terlarang. hal. Di sini tidak terjadi kesesatan hukum yang dikiranya ada. melainkan merupakan kesalahpahaman dari seseorang 75 76 77 78 Adami Chazawi. Lamintang. di luar kehendaknya. Pada tahun 1897 Hoge Raad menetapkan bahwa pengguguran dalam Pasal 348 KUHP hanya dapat dipidana kalau kandungan hidup waktu perbuatan pengguguran dilakukan.Cit. Demikian juga tidak mungkin melakukan poligami dimana kenyataannya isterinya terdahulu sebelumnya telah meninggal dunia. Hal yang sama berlaku untuk seseorang yang menembak orang mati yang dikiranya masih hidup. si pembuat berada di luar pemenuhan seluruhnya dari rumusan delik. juga tidak ada percobaan karena perbuatan telah selesai. seharusnya tidak dibicarakan dalam pembahasan mengenai poging. melainkan kesesatan mengenai suatu keadaan yang diperlukan untuk dapatnya perbuatan itu dipidana. tetapi tidaklah terjadi kejahatan. Percobaan (Poging) mengira telah melanggar larangan poligami. Op. Orang itu tidak mengetahui bahwa (unsur) barang itu miliknya sendiri. dan laki-laki itu tidak mengetahui jika istrinya terdahulu telah meninggal dunia. Namun dalam hal percobaan tujuan yang hendak dicapai tidak terjadi sedangkan pada Mangel am Tatbestand tujuan tersebut telah tercapai. Schaffmeister. Jika tidak. tindakan-tindakan yang telah selesai dilakukan dan ternyata tidak memenuhi salah satu unsur dari unsur-unsur yang telah disyaratkan oleh undang-undang itu. hal. maka tidak ada pengguguran sama sekali. 58. Op.F.75 Pada kedua contoh di atas. Tetapi dihubungkannya itu dengan percobaan dapat dimengerti karena dalam kedua hal. Di sini tidak terjadi kejahatan.Cit.).Bab I.78 3. Putatief delict Putatief delict itu sebenarnya bukan merupakan suatu delik ataupun suatu percobaan untuk melakukan apa yang disebut putatief delict tersebut.. 552 553. hal.Cit. P. 34 .

berlawanan dengan perkiraan pembuat waktu dia berbuat. karena tidak adanya larangan. percobaan tertunda (geschorste poging). 552. percobaan tertunda. padahal perbuatan seperti itu tidak diatur dalam suatu undang-undang pidana. padahal sebenarnya perbuatan itu bukan merupakan tindak pidana. hal. 60.. Adami Chazawi. 225. Dapat dipikirkan bahwa dua orang asing dewasa melakukan hubungan homo di Belanda dan mengira mereka telah melakukan perbuatan pidana. Op.Percobaan dan Penyertaan yang mengira bahwa perbuatan yang telah ia lakukan di dalam suatu keadaan tertentu itu merupakan suatu perbuatan yang terlarang dan diancam dengan suatu hukuman. Kesesatan tentang norma yang bersangkutan atau tentang dapat dipidana pelanggarannya inilah yang mirip dengan percobaan.al. (et. tetapi di sini bukan merupakan tindak pidana. melainkan suatu kesalahpahaman bagi orang yang melakukan suatu perbuatan yang dikiranya telah melakukan tindak pidana. dan demikian juga tidak ada percobaan yang dipidana pada sesuatu yang bukan tindak pidana. Putatief delict ini bukanlah suatu tindak pidana dan juga bukan percobaan. Schaffmeister.Cit.). Op. D.. bahwa delik putatif ada kalau apa yang telah dilakukan ternyata sama sekali tidak dilarang oleh undang-undang. 79 80 81 82 I b i d. menyebutkan. hal.81 D. 59 I b i d..79 Berbeda dengan Mangel am Tatbestand yang berupa kesalahpahaman terhadap salah satu unsur tindak pidana. yaitu percobaan yang tidak pernah akan menimbulkan hasil yang dapat dipidana. Jelaslah bahwa tidak dapat dihukumnya orang tersebut adalah karena tidak adanya suatu ketentuan pidana yang melarang perbuatannya.). 35 . Schaffmeister. dan oleh karena itu orang tersebut tidak dapat dihukum.80 Misalnya. Tidak dipidananya si pembuat dalam hal putatief delict ini karena perbuatannya itu bukan tindak pidana. tetapi pada putatief delict ini adalah terjadinya kesesatan hukum (rechtsdwaling) pada seseorang yang melakukan perbuatan dalam usahanya untuk mewujudkan tindak pidana. Percobaan selesai.. orang asing yang melakukan perbuatan yang menurut hukum negaranya merupakan tindak pidana kesusilaan.Cit. dan percobaan yang dikualifisir Dalam hal percobaan.82 4. maka disini tidak dapat dipidana menurut hukum Indonesia.al. hal. Oleh karena di sini bukan tindak pidana. hal. dibicarakan pula apa yang dimaksud dengan percobaan selesai (delik manque). dan percobaan yang dikualifisir (gequalificeerde poging). (et.

akibatnya (yang ia harapkan) ternyata tidak terjadi. pelatuk telah ditariknya. jika kelakuan yang diperlukan untuk kejahatan belum semua dilaksanakan karena ada penghalang dari luar atau karena tidak mungkinnya tindakan itu dilengkapkan. dan dikatakan selesai oleh sebab pelaksanaannya sesungguhnya sama dengan pelaksanaan yang dapat menimbulkan tindak pidana selesai. 61 Sudarto dan Wonosutanto.83 Jan Remmelink dalam hal ini memberikan sebuah ilustrasi sebagai berikut: 84 Terdakwa meracuni istrinya. Misalnya. 60. ia telah melakukan segala daya upaya untuk menuntaskan tujuan akhir delik yang hendak diperbuatnya. seorang pencopet yang telah mengulurkan dan memasukkan tangannya dan telah 83 84 85 86 I b i d.85 b. sebagai contohnya orang yang berkehendak membunuh musuhnya.. 287. semata-mata dilihat dari hasil akhir dari pelaksanaan yang telah selesai saja. Cit. karena baik niat. Adami Chazawi.Bab I. Percobaan tertunda. senapan telah meletup. hal. Dikatakan percobaan. bahwa dikatakan ada percobaan tertunda (percobaan terhenti atau percobaan yang tidak lengkap atau Incompleted attempt). Sekalipun di sini terdakwa telah secara tuntas menempuh jalur kriminal (iter criminis). 36 . hal.. dan tidak mencapai apa yang dikehendaki. dan ia ‘kebetulan’ tidak meninggal. yang menyebabkan persoalan ini masih dapat dikategorikan pada percobaan. tetapi tidak mengenai sasaran. dia telah mengarahkan moncong senapan ke tubuh musuhnya itu. Pada percobaan selesai. oleh karena tindak pidana yang dituju tidak terjadi. peluru telah melesat. h.. Cit. sama seperti tindak pidana selesai akan tetapi oleh sebab sesuatu hal tindak pidana itu tidak terjadi. yaitu pembunuhan. Op. adalah percobaan yang perbuatan pelaksanaannya terhenti pada saat mendekati selesainya kejahatan. ‘tindak pidana yang dilakukan tuntas. jika dilihat dari perbuatannya sebenarnya bukan lagi percobaan. Hanya oleh sebab tindak pidana yang dituju tidak terjadi. Percobaan tertunda Sudarto dan Wonosutanto86 menyebutkan. Op. namun kebetulan tidak berhasil’).. 25. permulaan pelaksanaan dan pelaksanaannya telah selesai. Dalam hal ini kita berbicara tentang delik manque (beendigter Versuch. Op. hal. Percobaan (Poging) a.Cit. atau karena urungnya dilakukan tindakan itu secara sukarela. Percobaan selesai Percobaan selesai (disebut juga dengan delik manque) adalah melakukan perbuatan yang ditujukan untuk melakukan tindak pidana yang pelaksanaannya sudah begitu jauh. Jan Remmelink. Ternyata istrinya mempunyai daya tahan fisik luar biasa.

Y. 332. ia merasa menyesal (secara sukarela).. Misalnya. contohnya A hendak membunuh B sekeluarga. dasar penyebutan percobaan yang dikualifisir dengan contohnya tersebut di atas. bahwa percobaan yang dikualifisir adalah percobaan yang perbuatan pelaksanaannya merupakan tindak pidana selesai yang lain daripada yang dituju. E. seluruh syarat atau unsur dari Pasal 53 ayat (1) KUHP telah terpenuhi. 61. Adami Chazawi. Op. dan tidak mati tetapi hanya luka-luka berat. tikaman pisau itu diarahkan pada matinya korban. hanyalah dilihat dari sudut pada kenyataan riil semata. atau penganiayaan berencana yang menimbulkan luka berat (Pasal 353 ayat 2 KUHP). lalu ia mendobrak salah satu pintu yang belum terbakar dan turut mengusahakan supaya B dan keluarganya selamat. sedangkan untuk percobaan pembunuhan tidak. Pada orang ini terdapat kehendak untuk membunuh. Sianturi.88 Adami Chazawi menyebutkan. dirubah menjadi pembakaran. artinya pembunuhan tidak terjadi. dan terlepas dompet yang telah dipegangnya. Akhirnya B dan keluarganya selamat. Pada kasus ini benar-benar percobaan kejahatan yang dapat dipidana.R. Kanter dan S. akan tetapi kematian tidak timbul. pada tengah malam A menyiram rumah B dengan bensin dan membakarnya dengan maksud supaya B dan keluarganya mati terbakar. Untuk melaksanakan niatnya itu. tetapi hanya luka87 88 89 Adami Chazawi. hal. atau penganiayaan berat berencana (Pasal 355 ayat 1 KUHP). Tetapi setelah terjadi kebakaran. hal. Artinya percobaan untuk membunuh yang tidak dipidana.Cit.89 Selanjutnya disebutkan bahwa. tiba-tiba perempuan itu memukul tangan pencopet itu. yang terjadi adalah penganiayaan yang menimbulkan luka berat (Pasal 351 ayat 3 KUHP). Juga terdapat pada contoh orang telah membidik dengan senapan terhadap orang yang hendak dibunuhnya.87 c. seorang dengan maksud membunuh orang yang dibencinya dengan tusukan pisau. 37 . dengan tiba-tiba ada orang lain memukul tangannya dan terlepaslah senapan dari tangannya. tetapi telah memenuhi unsur-unsur tindak pidana lainnya. 61. tetapi rumah B tetap terbakar. artinya sudut obyektif. Dalam hal ini A dipersalahkan melakukan pembakaran rumah. Percobaan yang dikualifisir Percobaan yang dikualifisir terjadi jika pelaku membatalkan lanjutan tindakan yang diniatkannya secara sukarela untuk melakukan suatu kejahatan tertentu. Dalam hal ini pelaku dapat dituntut berdasarkan tindak pidana lainnya itu.Percobaan dan Penyertaan memegang dompet dalam tas seorang perempuan. hal. atau mungkin penganiayaan berat (Pasal 351 ayat 1 KUHP). Pada pembunuhan dimana akibat kematian tidak timbul.

bisa sematamata rasa sakit atau bisa juga pada rasa sakit berupa luka-luka. 62. dari tikaman tidak menimbulkan kematian tetapi hanya luka-luka saja. syarat batin si pembuat. ternyata hanya luka-luka saja. Kasus itu tetap percobaan pembunuhan (Pasal 338 jo. disebut atau dikualifisir sebagai tindak pidana lain hanya oleh sebab penglihatan dari luar saja. disebut dengan penganiayaan berat (Pasal 354 KUHP). Percobaan (Poging) luka saja. Karena dari sudut batin sungguh berbeda antara pembunuhan dengan penganiayaan. tidaklah dapat menjadi tindak pidana lain yang selesai.Bab I.90 90 I b i d. Jika kesengajaan penganiayaan sekedar pada rasa sakit semata-mata disebut dengan penganiayaan biasa (Pasal 351 KUHP). sesungguhnya kasus seorang yang hendak membunuh dengan pelaksanaannya menikam. Tetapi pada penganiayaan kesengajaan hanya ditujukan pada penderitaan fisik belaka. 38 . hal. sedangkan apabila kesengajaan itu ditujukan pada rasa sakit yang berupa luka berat. misalnya penganiayaan biasa yang menimbulkan luka berat (Pasal 351 ayat 2 KUHP). Pada pembunuhan sikap batin ialah kehendak selalu ditujukan pada hilangnya nyawa (kematian) korban. O1eh sebab itu orang yang berkehendak untuk membunuh. dan tidak dapat disebut penganiayaan yang menimbulkan luka berat.. 53 KUHP). Akan tetapi jika dilihat dari sudut subyektif. yang perbuatan pelaksanaannya (misalnya menusuk). tidak dapat dikualifisir sebagai penganiayaan yang menimbulkan luka berat.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful

Master Your Semester with Scribd & The New York Times

Special offer for students: Only $4.99/month.

Master Your Semester with a Special Offer from Scribd & The New York Times

Cancel anytime.