P. 1
Prospek Peternakan

Prospek Peternakan

|Views: 174|Likes:

More info:

Published by: Linda Langitshabrina on Nov 16, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as RTF, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

10/08/2015

pdf

text

original

Agribisnis komoditas ternak kambing dan domba (kado) di Indonesia mempunyai prospek yang sangat besar, mengingat dalam

10 tahun mendatang akan ada 5 juta kepala keluarga muslim yang masing-masing kepala keluarga akan menyembelih satu ekor ternak kambing ataupun domba untuk kurban, satu ekor untuk setiap anak perempuan dan dua ekor untuk anak laki-laki untuk akikah. Disamping itu untuk keperluan ibadah haji di tanah suci akan dibutuhkan 2,5 juta ekor kado untuk keperluan membayar dam ataupun untuk kurban para jemaah haji.

Profil usaha-ternak kado di sektor usaha primer menunjukkan bahwa usaha tersebut memberikan keuntungan yang relatif baik, masing-masing dengan nilai B/C sebesar 1.17 dan 1.39 untuk usaha pembesaran dan penggemukan.

Untuk itu diperlukan dukungan investasi dalam pengembangan agribisnis kado baik dari pemerintah, swasta, maupun masyarakat/komunitas peternak. Investasi tersebut meliputi aspek: (i) pelayanan kesehatan hewan, (ii) dukungan penyediaan bibit (pejantan) unggul dan induk berkualitas, (iii) kegiatan penelitian, pengkajian dan pengembangan yang terkait dengan aspek pakan dan manajemen pemeliharaan, serta (iv) pengembangan kelembagaan untuk mempercepat arus informasi, pemasaran, promosi, permodalan, (v) penyediaan infrastruktur untuk memudahkan arus barang input-output serta pemasaran produk, (vi) ketersediaan laboratorium keswan, pakan dan reproduksi, serta (vii) penyiapan lahan usaha peternakan dan penetapan tata ruang agar pengembangan ternak tidak terganggu oleh masalah keswan, sosial, hukum dan lingkungan.

Secara mandiri swasta dapat bergerak di sektor hulu (usaha penyediaan calon induk, penyediaan pejantan, penyediaan semen, pabrik pakan mini,dll), serta di kegiatan hilir (RPH, industri pengolahan daging, susu, kulit, kompos dll.). Usaha-ternak budidaya oleh swasta dilakukan melalui pendekatan pola kemitraan, dimana peternak menghasilkan bakalan dan inti membeli untuk digemukkan atau langsung dipasarkan. Variasi dari pola kemitraan dan investasi dalam pengembangan kado sistem integrasi mungkin cukup beragam, dan harus disesuaikan dengan kondisi setempat.

Namun ke depan kegiatan ini justru harus dilakukan oleh swasta atau peternak kecil yang maju. yang berarti diperlukan penambahan populasi induk sedikitnya 4 juta ekor. atau sumber pendanaan baru yang berasal dari lembaga keuangan. dapat disesuaikan dengan kapasitas yang diperlukan. Pusat pembibitan ternak milik pemerintah yang sudah ada belum mampu untuk merespon perkembangan yang terjadi di masyarakat. Sementara itu investasi untuk pabrik pakan. 0. kerjasama dengan swasta (inti) atau bantuan keluarga/kelompok.52 trilyun (63 persen). 0. Usaha-ternak kado akan mampu menciptakan lapangan kerja baru. sedikitnya akan mendorong penciptaan lapangan kerja baru untuk satu juta orang di perdesaan maupun di kawasan industri pendukung. Investasi untuk usaha ini dapat dimulai dengan skala sedang 200500 ekor untuk kemudian dikembangkan menjadi usaha yang besar. Angka-angka ini belum memperhitungkan bila sebagian ternak ditujukan untuk menghasilkan susu..56 trilyun (14 persen). untuk calon induk maupun pejantan adalah sangat strategis. maka investasi swasta yang dibutuhkan sedikitnya sekitar Rp. 400 ribu/ekor. 4 trilyun. Untuk mendukung pembangunan/ revitalisasi pertanian dan menciptakan iklim investasi guna . yang bernilai setara dengan nilai investasi pada ternak lainnya. Bila rata-rata harga kado sekitar Rp. bantuan pemerintah. karena saat ini praktis belum ada pihak yang tertarik. yang akan berdampak pada penambahan populasi sekitar 10 juta ekor. untuk menghasilkan anak 6 juta ekor/tahun.Sasaran pengembangan kado dalam 10 tahun mendatang ditujukan untuk menambah produksi sampai 5 juta ekor/tahun. masyarakat sebesar 2. Diharapkan usaha ini dapat dikembangkan di kawasan perkebunan yang sudah tersedia bahan pakan yang memadai.5-1 milyar. Dukungan kebijakan investasi perlu menyertakan petani sebagai end user dan pada akhirnya memberikan titik terang dalam pemberdayaan petani. tidak termasuk kebutuhan lahan. Investasi yang diperlukan usaha ini sedikitnya sekitar Rp. pabrik obat. Investasi penyediaan bibit unggul. peningkatan kesejahteraan disamping penambahan devisa dari ekspor bila pasar ekspor ke negara-negara jiran dapat dimanfaatkan. Investasi masyarakat sebagian besar berasal dari pemanfaatan aset yang telah dimiliki. Bila ada penambahan populasi sekitar 12 juta ekor. Bila diasumsikan pemerintah akan berinvestasi sebesar 0. pabrik kompos. baik peluang untuk menjadi peternak mandiri maupun lowongan pekerjaan yang terlibat pada sektor hulu dan hilir. pabrik pengolahan susu.92 trilyun (23 persen). maka total investasi yang diperlukan sekitar Rp. dll.

seirama dengan pertambahan penduduk dan perkembangan perekonomian nasional. Namun sangat disayangkan karena dalam beberapa dasawarsa terakhir ini impor ketiga produk tersebut cenderung terus meningkat. dengan pertimbangan . kacang-kacangan. Indonesia tidak memiliki padang pangonan yang memadai. karena permintaan produk daging. Bahkan biaya pakan yang diperlukan untuk menghasilkan produk tersebut sangat kompetitif. Pengembangan ternak ruminansia dengan demikian harus dilakukan dengan pola integrasi secara in-situ maupun ex-situ. Sampai saat ini sebagian masyarakat Indonesia dapat menerima daging kerbau sebagai layaknya daging sapi. manajemen dan kesehatan hewan. dan juga sangat terbatas dalam kemampuannya menyediakan biji-bijian (jagung. baik yang bersifat horizontal maupun vertikal. disamping faktor bibit. Daya saing industri peternakan ditentukan pada ketersediaan pakan. Sementara itu pengembangan sapi potong. perkebunan. kedelai. dll. dan rerumputan yang tumbuh sebagai cover crop. pengembangan kerbau dapat juga dilakukan. agroindustri. sapi tipe dwiguna atau sapi perah sangat tergantung pada kondisi daerah. walaupun terjadi fluktuasi sebagai akibat adanya perubahan global maupun dinamika nasional. Sedangkan untuk tujuan penggemukan dan ternak perah dapat menggunakan teknologi yang padat modal.pengembangan dan peningkatan mutu ternak kado diperlukan berbagai kebijakan. tetapi negara ini mempunyai sumberdaya pakan yang masih belum dimanfaatkan secara optimal. antara lain: (a) penyederhanaan prosedur dan persyaratan untuk investasi usaha pengembangan peternakan kado. serta inovasi teknologi dan faktor-faktor eksternal lainnya. Sapi Agribisnis sapi di Indonesia mempunyai prospek yang sangat besar. yaitu biomasa yang dihasilkan dalam usahatani. susu maupun kulit terus meningkat. Inovasi teknologi Badan Litbang Pertanian telah membuktikan bahwa bahan-bahan tersebut dapat dimanfaatkan sebagai sumber pakan untuk mencukupi kebutuhan pakan ternak ruminansia. Oleh karenanya untuk kondisi agroekologi dan sosial budaya tertentu. crop livestock system melalui pendekatan low external input merupakan pola yang harus ditempuh. (b)penyediaan kredit bagi hasil dan (c) penyediaan informasi (harga dan teknologi). Untuk tujuan menghasilkan sapi bakalan.).

1.31. dan penyediaan informasi. permodalan. Sedangkan secara teknis perbedaannya relatif tidak besar. Kebijakan tersebut diharapkan dapat mendorong investasi yang mampu . (ii) dukungan dalam hal kepastian berusaha. Sedangkan profil usaha pabrik pakan skala 10 ton per hari. akan diperoleh keuntungan sebesar Rp. promosi. Kebijakan pemerintah untuk mendorong agar usaha ini dapat berkembang pesat antara lain adalah: (i) dukungan untuk menghindari dari ancaman produk luar yang tidak ASUH.42 miliar dengan R/C ratio 1. (iii) dukungan dalam hal pembangunan sarana pendukung. yang berasal dari: (i) pemerintah sekitar 10 persen berupa pembangunan saranaprasarana.83 miliar dengan R/C ratio 1. kelembagaan. kecuali dalam hal kesehatan/kebersihan dan intensitas manajemen. Profil usaha cow-calf operation (pembibitan) sapi skala 1500 ekor induk untuk menghasilkan 1000 ekor sapi bakalan per tahun. budidaya sapi perah dan penggemukan. melalui pola kemitraan. intiplasma.5 miliar per tahun dengan R/C ratio 1. serta pada usaha penyediaan bibit. dan penambahan ternak. Profil usaha penggemukan sapi skala 1000 ekor sapi bakalan setiap siklus dengan tiga siklus per tahun. ilegal.pada aspek kemudahan dalam mengelola dan memasarkan susu. 24 trilyun. litbang. akan diperoleh keuntungan sebesar Rp. kelembagaan. persaingan usaha yang adil.18. 0. keamanan. penyuluhan. dan dukungan akses atas sumber permodalan. (iii) sedangkan investasi dari swasta sekitar 20-30 persen untuk kegiatan hulu dan hilir. melalui kebijakan tarif maupun non-tarif. dan memposisikan yang besar maupun kecil dapat tumbuh dan berkembang secara adil. akan diperoleh keuntungan bersih sebesar Rp. promosi. Untuk merespon perkembangan agribisnis sapi di Indonesia dalam 10 tahun ke depan agar 90 persen kebutuhan daging dapat dipenuhi dari produk domestik diperlukan dukungan investasi sebesar Rp. pemasaran. serta (iv) dukungan agar usaha peternakan dapat berkembang secara integratif dari hulu-hilir. dan barang-barang dumping. pengamanan dari ancaman penyakit berbahaya. (ii) investasi dari peternak kecil sekitar 60-70 persen melalui pemanfaatan sumberdaya yang dimiliki. perbibitan. 0.21. terhindar dari pungutan liar dan pajak yang berlebihan.

Dengan demikian pengembangan agribisnis sapi di Indonesia akan mampu menjawab tantangan yang dihadapi bangsa dalam hal ketahanan pangan. kesejahteraan masyarakat. serta perekonomian nasional. Litbang Menpan 2010 . devisa.menciptakan lapangan kerja untuk kegiatan budidaya bagi 200.000 tenaga kerja. serta satu juta tenaga kerja dalam kegiatan hulu dan hilir. lapangan kerja.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->