MAKALAH PRAKTIKUM FARMASI FISIKA II

MIKROMERITIK (PENENTUAN UKURAN PARTIKEL)

Disusun Oleh : Nama/ NIM: Maria Jessica Suhartati Mentari Vivian Theresia Aftria Cindy Tiara Sari (108114138) (108114139) (108114140) (108114141) (108114142)

LABORATORIUM FARMASI FISIKA FAKULTAS FARMASI UNIVERSITAS SANATA DHARMA YOGYAKARTA

2011
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Zat-zat yang digunakan dalam kefarmasian sebagai bahan obat kebanyakan berukuran kecil dan jarang yang berada dalam keadaan optimum. Ukuran partikel bahan obat padat mempunyai peranan penting dalam bidang farmasi karena merupakan penentu bagi sifat-sifat, baik sifat fisika, kimia dan farmakologis dari bahan obat tersebut. Ilmu pengetahuan dan teknologi tentang partikel oleh Dalla Valle dinamakan “Mikromeritika”. Dispersi koloidal mempunyai sifat karakteristik yaitu partikel-partikelnya tidak dapat dilihat di bawah mikroskop biasa, sedangkan partikel-partikel dari emulsi dan suspensi farmasi serta serbuk-serbuk halus ukurannya berada dalam jarak panglihatan mikroskop. Mikromeritik merupakan ilmu yang mempelajari tentang ilmu dan teknologi partikel kecil. Dalam bidang kefarmasian, informasi yang perlu diperoleh dari partikel (obat) ada 2 macam, yaitu informasi tentang ukuran partikel dan informasi tentang bentuk partikel. Data tentang ukuran partikel diungkapkan dalam diameter (ukuran partikel). Sedangkan informasi bentuk partikel memberikan gambaran luas permukaan spesifik partikel yang bersangkutan. Semua data tersebut berkaitan dengan efek obat. Secara klinik, ukuran partikel suatu obat dapat mempengaruhi pelepasannya dari bentuk-bentuk sediaan yang diberikan secara oral, parenteral, rectal, dan topikal. Formulasi yang berhasil dari suspensi, emulsi dan tablet, dari segi kestabilan fisik, dan respon farmakologis, juga bergantung pada ukuran partikel yang dicapai dari produk itu. Dalam bidang pembuatan tablet dan kapsul, pengendalian ukuran partikel sangat penting dalam mencapai sifat alir yang diperlukan dan pencampuran yang benar dari granul dan serbuk. B. TUJUAN 1. metode 2. 3. 2|Page Menerapkan statistik pada hitungan Mengetahui kegunaan mikromeritik bagi sediaan farmasi Memahami prinsip dan melakukan penentuan ukuran partikel melalui berbagai

D. diletakkan mikrometer dan hemocytometer untuk melihat ukuran partikel.C.  Metode mikroskopi Menggunakan mikroskop untuk mengukur ukuran partikel yang berkisar dari 0. di mana pada bagian bawah mikroskop tempat partikel terlihat. suntikan dan topikal. Menghitung luas permukaan partikel. 4. Mempelajari pelepasan obat yang diberikan secara per oral. PRINSIP KERJA  Metode pengayakan Pengukuran pertikel dari serbuk berdasarkan atas penimbangan residu yang tertinggal pada tiap ayakan yaitu dengan melewatkan serbuk pada ayakan dari nomor mesh rendah ke nomor mesh tinggi yang digerakkan oleh mesin penggetar dengan waktu dan kecepatan tertentu. 2. 3. Mengetahui sifat kimia dan fisika dalam formulasi obat. Mengetahui stabilitas obat (tergantung dari ukuran partikel).2 mm – 100 mm. MANFAAT 1. 3|Page .

Dimensi partikel serbuk dapat ditentukan meenurut sifat-sifatnya. pengendalian ukuran partikel sangat penting dan banyak membantu dalam mencapai sifat aliran yang diperlukan dan pencampuran yang benar dari granul dan serbuk. yaitu sediaan (obat jadi) berupa suspensi.BAB II TINJAUAN PUSTAKA Satuan ukuran partikel yang sering dipakai dalam mikromeritik adalah micrometer (µm) juga disebut micron dan µ. maupun tablet. dilihat dari segi kestabilannya secara fisik maupun farmakologik (efek. Secara klinik ukuran partikel suatu obat dapat mempengaruhi pelepasan zat aktif dari berbagai bentuk sediaan yang diberikan baik secara oral (melalui mulut). 3. Bentuk dan luas permukaan dari masing-masing partikelnya b. khasiat obat) akan tergantung pada ukuran partikel yang terdapat dalam obat jadi tersebut. Di bidang pembuatan pembuatan tablet dan kapsul. serta kisaran ukuran partikel sangat penting dalam farmasi. Suatu formulasi yang baik. Jarak ukuran dan jumlah atau bobot partikelnya yang berarti juga luas permukaan totalnya. seperti luas permukaan. Dalam partikel yang heterogen. Untuk menyatakan dimensi partikel-partikel tersebut digunakan parameter • Diameter bola ekivalen. daerah proyeksinya atau kecepatan pengenapannya (sedimentasi). volume. rectal (melalui anus) maupun topical (melalui kulit). parenteral (injeksi). Pengetahuan dan pengendalian ukuran. misalnya diselidiki. yaitu: a. 1. emulsi. ada dua sifat yang penting untuk diketahui. diameter permukaan (ds ) yang dimaksud adalah diameter partikel yang berbentuk bola yang luas permukaan partikel yang 4|Page . misalnya serbuk. 2. sama dengan 10-6 m. Partikel merupakan fasa terdispersi dan dapat berupa padatan.

Bahan yang akan diayak dibawa pada ayakan teratas dengan lebar jala paling besar. membentuk bahan kasar. Kelemahan dari metode mikroskopi adalah diameternya diperoleh dari dua dimensi partikel saja yaitu panjang dan lebar. Selain itu. Metode-metode yang digunakan untuk menentukan ukuran partikel: • Mikroskopi Optik Pada metode ini dapat digunakan mikroskop biasa untuk pengukuran partikel dalam jarak 0. yaitu diameter partikel berbentuk bola yang mempunyai kecepatan sedimentasi sama dengan kecepatan sedimentasi partikel yang diselidiki. jumlah partikel yang harus dihitung sekitar 300-500 partikel agar diperoleh perkiraan yang baik dari distribusi membuat metode menjadi lamban dan melelahkan. • Diameter terproyeksi (dp) adalah diameter partikel berbentuk bola yang mempunyai daerah pengamatan sama dengan daerah pengamatan partikel yang diselidiki. Merupakan suatu metode yang paling sederhana. Di sini penentunya adalah pengukuran geometrik partikel.2μ sampai kira-kira 100μ. dinaikkan pada suatu slide dan ditempatkan pada pentas mekanik. Suatu emulsi atau suspensi. Partikel yang tinggal kembali pada ayakan. Mereka • membentuk bahan halus (lolos). diencerkan atau tidak diencerkan. Di mana pada bagian bawah mikroskop tempat partikel terlihat. • Pengayakan Metode ini menggunakan satu seri ayakan yang telah dikalibrasi oleh Nasional Bureau of Standards. berjatuhan melewatinya. Sampel diayak melalui sebuah susunan menurut meningginya lebarnya jala ayakan penguji yang disusun ke atas. • Diameter Stokes. tetapi relatif lama dari penentuan ukuran partikel.• Diameter volume (dv) diameter partikel berbentuk bola yang mempunyai volume sama dengan volume partikel yang diselidiki. Partikel yang ukurannya lebih kecil daripada lebar jala yang dijumpai. Dengan cara sedimentasi 5|Page . Tidak ada perkiraan dari tebal partikel. diletakan mikrometer dan hemocytometer untuk melihat ukuran partikel.

Ukuran partikel dalam kisaran ukuran yang terayak bisa diperoleh dengan sedimentasi gravitasi. h adalah jarak jauh dalam waktu t. Persamaan tersebut hanya berlaku untuk partikelpartikel berbentuk bola yang dapat jatuh bebas tanpa hambatan dan pada suatu kecepatan yang konstan. yang dinyatakan dalam hukum Stokes. Partikel-partikel tidak boleh manggumpal. ρs adalah kerapatan partikel dan ρ0 adalah kerapatan dari medium. Sampel dikeringkan dan ditimbang.Cara ini mempergunakan alat (pipet) Andreasen.5% atau lebih kecil) dan dibiarkan memisah (mengendap). dengan v adalah kecepatan pengendapan. Hukum tersebut dapat diterapkan untuk partikel-partikel dengan bentuk tidak teratur dari bermacam-macam ukuran asal ukuran partikel relatif ekivalen dengan diameter dari sebuah bola yang jatuh pada kecepatan yang sama. dst adalah diameter rata-rata dari partikel didasarkan pada kecepatan pengendapan. Setiap sample yang diambil pada waktu tertentu tersebut akan mempunyai garis tengah atau jari-jari yang lebih kecil daripada garis tengah yang dihitung berdasarkan hukum Stokes. g adalah percepatan sesuai dengan gravitasi dan η0 adalah viskoditas medium. Sampel serbuk yang akan diuji disuspensikan dalam cairan pembawa dengan kadar yang kecil (0. Agar partikel tetap terpisah dan bebas. atau . Maka harus dipakai "defloculating agent" yang sesuai. karena gumpalan akan jatuh lebih cepat daripada jika partikel tersebut individual. Suspensi encer dalam pipet Andreasen dikocok. lalu pada rentang waktu tertentu sample diambil. yang pada kedua sisinya ada elektroda di mana akan terjadi suatu perubahan tahanan listrik. • Metode Elutriasi 6|Page . • Pengukuran Volume Partikel Alat yang mengukur volume partikel adalah Coulter Counter. Coulter Counter bekerja berdasarkan prinsip bahwa jika suatu partikel disuspensikan dalam suatu cairan yang mengkonduksi melalui suatu lubang kecil.

Partikel-partikel serbuk umumnya bisa mempunyai tiap susunan antara kedua pengepakan ideal dan kebanyakan serbu-serbuk dalam praktek mempunyai porositas antara 30-50 %. b.Metode elutriasi merupakan metode pengukuran partikel yang merupakan kebalikan daripada merode pengendapan. Kerapatan sebenarnya dari serbuk-serbuk dapat ditentukan dengan menggunakan suatu Densitometer Helium. sebagian besar terbuka atau pengepakan kubus atau most open. Kerapatan sebenarnya (r) Merupakan kerapatan dari bahan padat yang nyata (sebenarnya). lalu serbuk ditimbang. Volume bulk (Vb) merupakan volume yang ditempatkan oleh serbuk. Porositas dinyatakan dalam persen. Kerapatan Granul (rg) Dapat ditentukan dengan suatu metoda yang serupa dengan metoda pemindahan cairan. Paling dekat atau Rhombohedral. Kerapatan Bulk (rb) 7|Page . Udara dimasukkan ke dalam bagian bawah kolom yang berisi sample yang akan diukur. Paling longar. Sifat-sifat turunan serbuk  Porositas Porositas atau rongga (Î) dari serbuk didefisisikan sebagai perbandingan volume rongga terhadap volume bulk dari suatu pengepakan. dengan menggunakan air raksa yang dapat mengisi ruang-ruang kosong tetapi tidak berpenetrasi kedalam pori-pori dalam dari partikel-partikel. c. c. Udara akan membawa partikel yang halus ke bagian atas dan akan terkumpul pada penyaring. Pada kolom sebelah atas terdapat saringan yang dipasangkan untuk mengumpulkan partikulat.  Susunan Pengepakan Susunan pengepakan yang ideal yakni : a.  Kerapatan Partikel Kerapatan secara umum didefinisikan sebagai berat per satuan volume. Ada 3 tipe kerapatan yakni : a. Kecepatan udara yang masuk ke dalam kolom sudah tertentu.

partikel –partikel dipengaruhi oleh gaya tarik-menarik sampai derajat yang bervariasi. Untuk memperbaiki karakteristik aliran dapat ditambahkan pelincir (glidant) pada serbuk glanular seperti Magnesium Stearat. Faktor-faktor yang mempengaruhi sifat aliran dari serbuk yakni ukuran partikel. Kerapatan bulk dari suatu serbuk bergantung pada distribusi ukuran partikel. 8|Page . oleh karena itu serbuk dapat mengalir bebas ataupun melekat. Bulk merupakan suatu hal yang perlu dipertimbangkan dalam pengemasan serbuk. Kerapatan bulk dapat ditentukan dari volume bulk dan berat suatu serbuk kering dalam sebuah gelas ukur. dan kecenderungan partikel untuk melekat satu dengan lainnya. dan kerapatan serta kehalusan permukaan. dan talk.  Bulkiness Volume bulk spesifik merupakan kebalikan dari kerapatan bulk yang biasa disebut bulkiness atau bulk saja. Amilum. Untuk mengukur serbuk yang mengalir per satuan waktu melalui lubang corong dapat menggunakan suatu pencatat pengukuran aliran serbuk sehingga dapat diperoleh konsenterasi pelincir optimum yakni 1 % atau kurang.  Pengompakan Jika serbuk dikompakan pada tekanan kira-kira 5 kg/cm2.Dapat didefinisikan sebagai massa dari suatu serbuk dibagi dengan volume bulk. porositas serbuk yang tersusun dari partikel-partikel yang kaku akan lebih tinggi daripada porsitas serbukserbuk dalam packing yang sangat berdekatan seperti ditentukan oleh percobaan pengetukkan sehingga serbuk-serbuk ini akan dilatan yakni menunjukan pengembangan yang tidak diharapkan. porositas. bukan kontraksi dibawah pengaruh tekanan. bentuk partikel.  Sifat Aliran Serbuk Bulk agak analog dengan cairan Non Newton yang menunjukan aliran plastik dan kadang-kadang dilatasi.

9|Page . beras) • Granul B. Menentuan ukuran partikel yang terkecil dan terbesar. Metode Mikroskopi Menyiapkan alat. dengan cara mengelompokkan. dipreparasi di gelas objek). SKEMA KERJA 1. ALAT DAN BAHAN Alat: • Mikroskop biologis Olimpus Model CHS / CHT • Pengayak elektris dengan berbagai ukuran ayakan Bahan: • Amylum (jagung. membagi dalam interval kelas. mengkalibrasi lensa mikroskop Menyiapkan Bahan (pembuatan suspensi encer.BAB III METODE KERJA A.

ayakan disusun dengan nomor berurutan dari atas ke bawah makin besar Bahan disiapkan. bahan dimasukkan ke dalam ayakan yang teratas Bahan diayak selama 5 menit Ayakan ditimbang beserta bahan secara hati-hati supaya tidak kehilangan bahan Bobot sampel ditentukan pada penampung ayakan Ayakan disusun kembali dan langkah 4 – 6 diulangi sampai selisih dengan penimbangan sebelumnya kurang dari 5% Kurva dibuat dengan distribusi persen bobot di atas dan di bawah ayakan 10 | P a g e .Mengukur partikel dan menggolongkan ke dalam kelompok yang telah ditentukan dari hasil Pengukuran minimal 500 partikel. ditimbang dengan teliti. 2. Metode Pengayakan Ayakan kosong ditimbang Alat disiapkan. Membuat kurva distribusi ukuran partikel dan ditentukan nilai beberapa jenis diameter partikelnya.

Metode Mikroskopi ᴥ Ukuran partikel terukur (500 partikel) 11 | P a g e .BAB IV HASIL PENGAMATAN 1.

322 log 500 = 9. 2 12 | P a g e .322 log n(jumlah total partikel) = 1 + 3.ᴥ Kalibrasi skala mikrometer Skala 1 2 3 4 5 Diameter (μm) Jumlah frekuensi (n) nxd n x d2 n x d3 Jumlah (Σ) ᴥ Diameter rata-rata partikel  ᴥ Surface volume mean diameter (dsv)  ᴥ Luas permukaan (A)  ᴥ Volume (V)  Perhitungan %frekuensi. %frekuensi kumulatif atas dan bawah  Perhitungan jumlah dan interval kelas Jumlah kelas = 1 + 3.96 10  Interval kelas = ukuran partikel terbesar – ukuran partikel terkecil Jumlah kelas Interval Nilai tengah (d) Frekuensi % frekuensi % frekuensi kumulatif Atas ukuran Bawah ukuran .

a = 6/1.NB: Perhitungan nilai median = nilai tertinggi – nilai terendah dalam interval 2 Perhitungan % frekuensi = frekuensi tiap kelas x 100% frekuensi total 2. Metode Pengayakan Berat Selisih Berat granu l1 Berat granu l2 Selisih 2 % (2-1/1) x 100% Berat granu l3 Selisih 3 % (3-2/2) x 100% Nomor ayakan ayakan 1 NB: pengayakan dilakukan sampai selisih dengan penimbangan sebelumnya kurang dari 5 %. Nomor ayakan Diameter Mesh (μm) Berat ayakan (gram) Diameter ratarata (μm) wxd a = 4 x w/d (cm2) Keterangan: a = luas permukaan sampel pada tiap ayakan = b/e x w/d .5 g/cm3 Maka. di mana e= 1.5 x w/d  a = 4 x w/d   Weight mean diameter (dvm)  Geometric surface area (A)  13 | P a g e .

Nomor ayakan Ukuran mash (μm) Ukuran partikel rata-rata Log ukuran partikel Berat yang diujikan % bobot % bobot kumulatif Atas Bawah ukuran ukuran 14 | P a g e .

BAB V PEMBAHASAN Tujuan dari praktikum ini adalah Memahami prinsip dan melakukan penentuan ukuran partikel melalui berbagai metode. bentuk partikel. Kemudian dikali lebar kelas dan jumlah kelas untuk membuat distribusi partikel. Partikel Amylum Manihot dapat dengan mudah diamati dengan melarutkannya dalam aquadest hingga terbentuk suspensi encer. Jumlah partikel yang diamati ada 500 partikel karena dianggap telah mewakili distribusi ukuran seluruh partikel dalam suspensi amilum. Dalam pengamatan dengan mikroskop pengamat hanya boleh 1 orang karena akomodasi mata setiap orang berbeda dengan cara pembacaan skala juga berbeda. Lalu mencari titik-titik selain titik nol yang berhimpitan. Kalibrasi mikroskop dilakukan dengan cara menghimpitkan titik nol pada mikrometer obyektif dengan lensa okuler. Pada bagian ini akan dibicarakan metode pengukuran yaitu mikroskopi dan pengayakan. dan mengetahui kegunaan mikromeritik bagi sediaan farmasi Ukuran partikel dapat dinyatakan dengan berbagai cara. Pengamatan ukuran partikel dilakukan searah dengan tujuan agar partikel yang sudah dihitung tidak dihitung lagi untuk memperkecil kesalahan. Amylum Manihot bersifat polydispers yaitu memiliki ukuran partikel yang beragam (heterogen). Tujuan pembuatan suspensi ini adalah agar butiran-butiran partikel Amylum Manihot tidak saling menyatu atau tertumpuk satu sama lain untuk memudahkan pengamatan.01 mm) skala okuler Setelah pengkalibrasian mikroskop dilakukan pembuatan suspensi Amylum Manihot. maupun ukuran pori. Mikroskopi Optik merupakan metode dasar yang menggunakan alat yang paling sederhana. Masing-masing metode memiliki kelebihan dan kekurangan. Alat yang digunakan pada metode ini adalah mikroskop Biologis Olympus Mode CHS/CHT. luas permukaan partikel. Banyak metode yang tersedia untuk menentukan ukuran partikel. Ada beberapa metode yang digunakan untuk menentukan ukuran partikel. Untuk memperoleh diameter yang sesungguhnya maka angka pada skala dikali dengan diameter. menerapkan statistik pada hitungan. Pengkalibrasian bertujuan untuk mengetahui ukuran partikel yang sebenarnya. Tujuan membuat distribusi adalah untuk mempermudah pengolahan data karena data 15 | P a g e . Kemudian menentukkan faktor kalibrasi dengan rumus: Faktor kalibrasi = skala obyektif x jarak tiap skala obyektif (0.

16 | P a g e . Dan sebaliknya ayakan dengan nomor mesh besar memiliki lubang ayakan kecil berarti ukuran partikel yang melewatinya kecil. yaitu: ♠ Dapat langsung melihat ukuran partikel. ♠ Gumpalan dan partikel-partikel lebih dari satu komponen seringkali bisa dideteksi dengan metode ini.2.dst..  Membutuhkan ketelitian yang tinggi. Ayakan dengan nomor mesh kecil memiliki lubang ayakan yang besar berarti ukuran partikel yang melewatinya juga berukuran besar. yaitu:  Membutuhkan waktu yang lama untuk pengamatannya. Setelah itu dicari diameter rata-rata dari partikel. frekuensi komulatif bawah digunakan untuk mengetahui % data yang nilai diameternya kurang dari batas bawah interval. dengan begitu akan terjadi ketidakvalidan data. Pengayakan.  Tidak ada perkiraan yang bisa diperoleh untuk mengetahui ketebalan dari partikel.. S. Kemudian dicari surface volume mean diameternya Keuntungan dari metode mikroskopik. Menurut metode U. Jika kurang dari 5 menit partikel belum terayak sempurna.4. ♠ Dapat langsung melihat bentuk partikel. Saat pengayakan sebaiknya granul tidak menumpuk pada satu sisi saja agar kesempatan granul untuk lolos dari ayakan berjalan dengan baik. Tujuannya adalah untuk mengetahui seberapa banyak data yang nilainya lebih dari 1. Waktu pengayakan dilakukan selama 5 menit karena waktu tersebut dianggap waktu optimum untuk mendapatkan keseragaman bobot pada tiap ayakan (nomor mesh). P untuk menguji kehalusan serbuk suatu massa sampel tertentu ditaruh suatu ayakan yang cocok dan digoyangkan secara mekanik.yang dihasilkan banyak ada 500 partikel. Setelah itu dicari % frekuensi dari distribusi tersebut. Kelemahan dari metode mikroskopik. Dan dicari luas permukaan partikel dengan menggunakan rumus luas lingkaran karena partikelnya berbentuk lingkaran.3. Tujuan penyusunan ayakan adalah memisahkan partikel sesuai dengan ukuran partikel masing-masing sehingga bahan yang lolos ayakan pertama akan tersaring pada ayakan kedua dan seterusnya hingga partikel itu tidak dapat lagi melewati ayakan dengan nomor mesh tertentu. Nomor mesh menyatakan banyaknya lubang dalam 1 inchi.. Bila waktu lebih dari 5 menit dikhawatirkan partikel terlalu sering bertumbukan sehingga pecah dan lolos keayakan berikutnya. metode ini digunakan suatu seri ayakan standar yang dikalibrasi oleh The National Bureau of Standard.

Jika sampel sedikit maka akan lebih mudah untuk turun dan terayak. Pengambilan sampel yang mewakili populasi Sampel yang baik mewakili semua unsur yang ada dalam populasi. 4. Massa sampel Jika sampel terlalu banyak maka sampel susah terayak. Waktu/ lama pengayakan Waktu optimum. Atas ukuran maksudnya untuk mengetahui bobot granul yang ada pada pengayakan paling atas atau menghitung seluruh jumlah % partikel yang berada diatas ayakan. jika pengayakan terlalu lama akan menyebabkan hancurnya serbuk sehingga seharusnya tidak terayak akan menjadi terayak. populasi yang dimaksud adalah keanekaragaman ukuran partikel. Kerugian dari metode pengayakan: 17 | P a g e . Faktor-faktor yang mempengaruhi pengayakan 1. Dengan demikian partikel tidak terayak dengan ukuran tertentu. Dalam selisih bobot 5% menandakan bahwa granul telah berada pada tempat ayakan yang sesuai dan tidak melewati ayakan yang lebih kecil. Secara statistik dihitung %bobot kumulatif bobot atas dan bobot bawah.Setelah diayak perlu dilakukan penimbangan untuk setiap ayakan untuk mengetahui besar bobot yang hilang selama pengayakan. Keuntungan dari metode pengayakan: ᴥ Lebih cepat dan praktis ᴥ Dapat diketahui ukuran partikel dari kecil sampai besar ᴥ Dalam waktu relatif singkat dapat diperoleh hasil yang diinginkan. Intensitas getaran Semakin tinggi intensitas getaran maka akan semakin banyak terjadi tumbukan antar partikel yang menyebabkan terkikisnya partikel. sedangkan bobot kumulatif bawah dihitung berdasarkan perhitungan 100 nomor mesh. 3. Jika waktunya terlalu lama maka tidak terayak sempurna. Pengayakan dilakukan sampai selisih dengan bobot sebelumnya tidak lebih dari 5% untuk meminimalisir kesalahan karena jika lebih dari 5% berarti tidak homogen. hilang saat pemindahan bahan dari ayakan ketimbangan maupun hilang saat pemindahan berlangsung. 2. yang dapat disebabkan tertinggalnya dalam pengayakan. mulai yang sangat halus sampai ke yang paling kasar.

♠ Absorbsi Makin kecil ukuran partikel makin mudah partikel diabsorbsi dan memberikan efek yang cepat. dan topical. Kegunaan Mikromeritik bagi Farmasi: 1. parental. Makin besar partikel memiliki sifat alir yang baik daripada partikel berukuran sehingga mempengaruhi validasi yang berpengaruh dalam pelepasan obat dari bentuk sediaannya didalam tubuh (waktu hancur). Untuk memperoleh informasi tentang lama absorbsi obat dalam tubuh. 18 | P a g e Dalam Biofarmasetika berhubungan dengan absorbsi obat. Untuk memperoleh informasi mengenai bentuk dan ukuran partikel Biovailabilitas Sifat alir Makin kecil partikel. 2. rectal.♠ Tidak dapat mengetahui bentuk partikel secara pasti seperti pada metode mikroskopi. semakin kecil ukuran partikel semakin mudah diabsorbsi karena luas permukaannya . Kegunaan metode pengayakan dalam kefarmasian : ♠ ♠ kecil. Dalam Sediaan Farmasi     Untuk mengetahui dan menentukan bentuk sediaan obat yang cocok. Dalam Teknologi Farmasi berhubungan dengan sifat alir dan dalam pelepasan zat aktif dari bentuk –bentuk sedian yang diberikan secara oral. ♠ Pencampuran lebih mudah Pencampuran lebih mudah pada pertikel yang lebih kecil karena adanya pendekatan yang mudah satu sama lain. kasar. 3. bioavailabilitas obatnya semakin baik. ♠ Ukuran partikel tidak pasti karena ditentukan secara kelompok (berdasarkan keseragaman). Untuk mengetahui efek dan stabilitas obat. ♠ Adanya agregasi karena adanya getaran data.

3. 4.BAB VI PENUTUP ♣ Prinsip dari metode mikromeritik adalah mempelajari partikel-partikel kecil ukuran partikel mempengaruhi pelepasan obat dan bentuk sediaan tertentu. Untuk memperoleh informasi tentang lama absorbsi obat dalam tubuh. 19 | P a g e . Untuk menentukan bentuk sedian obat yang cocok Untuk mengetahui efek dari stabilitas obat Untuk memperoleh informasi mengenai bentuk dan ukuran partikel yang berpengaruh dalam pelepasan obat dari bentuk sediaannya didalam tubuh (waktu hancur). ♣ Kegunaan mikromeritik dalam bidang kefarmasian antara lain 1. 2. Ada 2 metode dasar dalam menentukan ukuran partikel yaitu metode mikroskopi dan metode pengayakan.

R. Cetakan I. Burgess Publishing Company. Yogyakarta 20 | P a g e . 51. 47. 1970. Buku Pelajaran teknologi Farmasi. UGM Press. 11. UGM Press. 1994. 169. L.. Pharmaceutical Technologi. 45. Farmasi Fisika.. Jakarta Moechtar. 1990. 12. UI Press.DAFTAR PUSTAKA Martin. Farmasi Fisika. Yogyakarta Parrot. 1036-1038. Edisi V. Mineapolish Voigt..E. A. 1022-1023. 1990.