P. 1
Proposal Penelitian Tindakan Kelas A

Proposal Penelitian Tindakan Kelas A

|Views: 129|Likes:
Published by HadiPrasetyo

More info:

Published by: HadiPrasetyo on Nov 17, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

11/17/2011

pdf

text

original

http://www.docstoc.

com/docs/83166795/PROPOSAL-PENELITIAN-TINDAKANKELAS
PROPOSAL PENELITIAN TINDAKAN KELAS A. JUDUL: Meningkatkan Prestasi Belajar Siswa Kelas VIII A MTsN Amuntai Utara Melalui Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Learning Together (LT) Tahun Pelajaran 2011/2012 B. LATAR BELAKANG MASALAH Salah satu masalah yang dihadapi dunia pendidikan kita adalah masalah lemahnya proses pembelajaran. Dalam proses pembelajaran, anak kurang didorong untuk mengembangkan kemampuan berpikir. Proses pembelajaran di kelas diarahkan kepada kemampuan anak untuk menghafal informasi, otak anak dipaksa untuk mengingat dan menimbun informasi tanpa dituntut untuk memahami informasi yang diingatnya itu untuk menghubungkannya dengan kehidupan sehari-hari. Pendidikan di sekolah terlalu menjejali otak anak dengan berbagai bahan ajar yang harus dihafal, pendidikan kita tidak diarahkan untuk membangun dan mengembangkan karakter serta potensi yang dimiliki. Dengan kata lain, proses pendidikan kita tidak diarahkan membentuk manusia yang cerdas, memiliki kemampuan memecahkan masalah hidup, serta tidak diarahkan untuk membentuk manusia yang kreatif dan inovatif. Kenyataan ini berlaku untuk semua mata pelajaran termasuk matematika. Upaya peningkatan kualitas pendidikan matematika di Indonesia telah dilakukan melalui berbagai cara, antara lain dengan pembaharuan kurikulum dan penyediaan perangkat pendukungnya seperti silabus, buku siswa dan buku pedoman untuk guru, penyediaan alat peraga, dan memberikan pelatihan bagi guru-guru matematika. Namun, berbagai upaya tersebut belum memberikan hasil yang menggembirakan terhadap kualitas pendidikan matematika di tanah air. Banyak faktor yang bisa menyebabkan suatu proses pengajaran matematika menjadi kurang efektif. Faktorfaktor tersebut dapat berasal dari minat dan motivasi siswa yang rendah, kinerja guru yang rendah, serta sarana dan prasarana yang kurang memadai. Keberhasilan pembelajaran juga sangat ditentukan oleh pemilihan model pembelajaran yang digunakan oleh guru. Penyajian pembelajaran yang menarik akan dapat membangkitkan motivasi belajar siswa. Sebaliknya jika pembelajaran itu disajikan dengan cara yang kurang menarik, maka akan membuat siswa kurang termotivasi. Prestasi belajar matematika siswa kelas VIII A MTsN Amuntai Utara masih rendah. Hal ini dapat dilihat dari hasil belajar siswa yang diperoleh saat mereka berada di kelas VII. Prestasi siswa yang rendah ini disebabkan karena model pembelajaran langsung yang dilaksanakan oleh guru matematika di kelas menyebabkan siswa kurang termotivasi untuk belajar. Pembelajaran lebih terfokus pada pencapaian target kurikulum daripada pemahaman siswa. Pembelajaran lebih didominasi oleh guru sehingga siswa menjadi pasif. Keadaan ini menyebabkan prestasi belajar mereka secara klasikal rendah. Peneliti menilai bahwa pembelajaran yang selama ini diterapkan tidak memotivasi mereka untuk lebih aktif dan kreatif dalam mengikuti kegiatan belajar mengajar matematika. Hal inilah yang diperkirakan menjadi penyebab utama rendahnya prestasi belajar matematika siswa. Keadaan ini hendaknya segera direspon secara positif oleh guru dengan mencari alternatif model pembelajaran yang efektif sehingga dapat membuat siswa mudah memahami materi pelajaran matematika dan aktif dalam mengikuti kegiatan belajar mengajar. Berdasarkan uraian di atas maka peneliti ingin memberikan suatu alternatif dalam mengatasi permasalahan tersebut yaitu dengan menerapkan model pembelajaran kooperatif. Pembelajaran kooperatif merupakan model pembelajaran yang meliputi suatu kelompok kecil siswa yang bekerja sebagai sebuah tim untuk menyelesaikan sebuah masalah, menyelesaikan suatu tugas atau mengerjakan sesuatu untuk tujuan bersama lainnya (TIM MKPBM, 2001). Pembelajaran kooperatif menjadi pilihan karena pembelajaran ini dirancang untuk meningkatkan motivasi belajar siswa dan kelas dirancang sedemikian rupa agar terjadi interaksi positif antarsiswa. Pembelajaran kooperatif terdiri dari beberapa tipe, salah satunya adalah tipe Learning Together (LT). Model pembelajaran kooperatif model Learning Together (LT) merupakan suatu model pembelajaran kooperatif yang dikembangkan oleh David dan Roger Johnson beserta rekan-rekan mereka di University of Minnesota. Hasil penelitian Rija (2011) pada siswa kelas VIII SMP Negeri 5 Barabai tahun pelajaran 2010/2011 menunjukkan bahwa dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe Learning Together (LT) pada materi pokok kubus dan balok dapat meningkatkan prestasi siswa. Selain itu, berdasarkan hasil wawancara dengan bapak Drs. Barkatullah selaku guru mata pelajaran matematika kelas VIII di MTsN Amuntai Utara bahwa model kooperatif tipe Learning Together (LT) dengan pendekatan kontekstual tidak pernah digunakan dalam pembelajaran matematika di sekolah tersebut. Berdasarkan uraian latar belakang tersebut, maka peneliti tertarik untuk melakukan penelitian yang berjudul: “Meningkatkan Prestasi Belajar Siswa Kelas VIII A MTsN Amuntai Utara Melalui Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Learning Together (LT) Tahun Pelajaran 2011/2012 ”.

D.BATASAN MASALAH Agar pembahasan dalam penelitian ini tidak meluas, maka masalah dalam penelitian ini dibatasi sebagai berikut : (1) siswa yang diteliti adalah siswa kelas VIII A MTsN Amuntai Utara tahun pelajaran 2011/2012, dan; (2) materi pengajaran dilakukan pada materi kubus dan balok. E.RENCANA PEMECAHAN MASALAH Alternatif tindakan yang akan dilakukan untuk meningkatkan prestasi belajar siswa adalah dengan cara menerapkan model pembelajaran kooperatif tipe Learning Together (LT) pada proses belajar mengajar. Hasil penelitian Rija (2011) telah menunjukkan hasil yang positif dalam meningkatkan prestasi belajar siswa. Dengan menerapkan model pembelajaran ini, diharapkan prestasi belajar siswa kelas VIII A MTsN Amuntai Utara dapat ditingkatkan dan siswa dapat terlibat aktif dalam proses belajar mengajar. F.TUJUAN PENELITIAN Berdasarkan permasalahan di atas, maka tujuan dari penelitian ini adalah sebagai berikut: (1) Mengetahui aktivitas siswa kelas VIII A MTsN Amuntai Utara tahun pelajaran 2011/2012 dalam pembelajaran matematika menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe Learning Together (LT) dengan pendekatan kontekstual, dan; (2) mengetahui hasil belajar siswa kelas VIII A MTsN Amuntai Utara tahun pelajaran 2011/2012 dalam pembelajaran matematika dengan model pembelajaran kooperatif tipe Learning Together (LT) dengan pendekatan kontekstual. G. MANFAAT PENELITIAN Adapun manfaat dari penelitian ini adalah sebagai berikut: (1)Bagi siswa, sebagai upaya menumbuhkan motivasi belajar dan melatih siswa bekerja sama dengan siswa lain. (2) Bagi guru, sebagai bahan masukan dan informasi untuk dapat digunakan dalam perbaikan dan peningkatan kualitas pembelajaran matematika. (3) Bagi sekolah, sebagai bahan masukan dan informasi untuk meningkatkan kualitas pengajaran matematika di sekolah. (4) Bagi peneliti, sebagai bahan masukan untuk meningkatkan kemampuan dan pengetahuan dalam bidang pendidikan. (5) Sebagai bahan acuan untuk penelitian lebih lanjut, khususnya penelitian mengenai model kooperatif tipe Learning Together (LT) dengan pendekatan kontekstual apabila ada yang melakukan kegiatan penelitian yang berkaitan. H. ANGGAPAN DASAR Dalam penelitian ini diasumsikan bahwa: (1) siswa yang diteliti mempunyai kemampuan dasar serta tingkat emosional dan mental yang relatif sama. (2) alat evaluasi yang digunakan memenuhi kriteria alat ukur yang baik. I. TINJAUAN PUSTAKA 1. Belajar dan Pembelajaran Belajar adalah suatu proses perubahan tingkah laku individu melalui interaksi dengan lingkungan. Belajar merupakan suatu proses, suatu kegiatan dan bukan suatu hasil atau tujuan. Belajar bukan hanya mengingat, akan tetapi lebih luas dari itu, yakni mengalami. Belajar adalah suatu proses perubahan tingkah laku individu melalui interaksi dengan lingkungan (Hamalik, 2003). Menurut Sanjaya (2006) belajar bukan hanya menyampaikan materi pelajaran saja, akan tetapi merupakan pekerjaan yang bertujuan dan bersifat kompleks. Belajar bukanlah sekadar mengumpulkan pengetahuan. Belajar adalah proses mental yang terjadi dalam diri seseorang, sehingga menyebabkan munculnya perubahan perilaku. Aktivitas mental itu terjadi karena adanya interaksi individu dengan lingkungan yang disadari. Dimyati dan Mudjiono (2006) berpendapat bahwa belajar merupakan tindakan dan perilaku siswa yang kompleks. sebagai tindakan maka belajar hanya dialami oleh siswa sendiri. Belajar merupakan proses internal siswa dan pembelajaran merupakan kondisi eksternal belajar. Dari segi siswa, belajar merupakan kegiatan peningkatan

kemampuan kognitif, afektif, dan psikomotorik menjadi lebih baik. Dari segi guru, belajar merupakan akibat tindakan pembelajaran. Djamarah (2002) berpendapat bahwa belajar adalah serangkaian kegiatan jiwa raga untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku sebagai hasil dari pengalaman individu dalam interaksi dengan lingkungannya yang menyangkut kognitif, afektif dan psikomotorik. Sedangkan menurut Syah (2004), belajar dapat dipahami sebagai tahapan perubahan seluruh tingkah laku individu yang relatif menetap sebagai hasil pengalaman dan interaksi dengan lingkungan yang melibatkan proses kognitif. Belajar adalah proses perubahan tingkah laku individu yang relatif tetap sebagai hasil dari pengalaman. Sedangkan pembelajaran merupakan penataan lingkungan yang memberi nuansa agar program belajar tumbuh dan berkembang secara optimal. Dengan demikian proses belajar bersifat internal dan unik dalam diri individu siswa, sedang proses pembelajaran bersifat eksternal yang sengaja direncanakan dan bersifat rekayasa perilaku (Fontana, Tim MKPBM, 2001). Pembelajaran merupakan perpaduan antara kegiatan pengajaran yang dilakukan guru dan kegiatan belajar yang dilakukan oleh siswa. Dalam kegiatan pembelajaran tersebut, terjadi interaksi antara siswa dengan siswa, interaksi antara guru dan siswa, maupun interaksi antara siswa dengan sumber belajar. Diharapkan dengan adanya interaksi tersebut, siswa dapat membangun pengetahuan secara aktif, pembelajaran berlangsung secara interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang, serta dapat memotivasi peserta didik sehingga mencapai kompetensi yang diharapkan (Widyantini, 2006). Dalam arti sempit proses pembelajaran adalah proses pendidikan dalam lingkup persekolahan, sehingga arti dari proses pembelajaran adalah proses sosialisasi individu siswa dengan lingkungan sekolah seperti guru, sumber atau fasilitas, dan teman sesama siswa (Tim MKPBM, 2001). Menurut Ivor K. Devais (Sanjaya, 2006), salah satu kecenderungan yang sering dilupakan adalah melupakan bahwa hakikat pembelajaran adalah belajarnya siswa dan bukan mengajarnya guru. Menurut Hamalik (2003), dalam proses pengajaran, unsur proses belajar memegang peranan vital. Mengajar adalah proses membimbing kegiatan belajar, kegiatan mengajar akan bermakna apabila terjadi kegiatan belajar murid. Menurut Sudjana (1996), mengajar adalah membimbing kegiatan siswa belajar. Mengajar adalah mengatur dan mengorganisasi lingkungan yang ada di sekitar siswa sehingga dapat mendorong dan menumbuhkan siswa melakukan kegiatan belajar. Secara deskriptif mengajar diartikan sebagai proses penyampaian informasi atau pengetahuan dari guru kepada siswa. Proses penyampaian itu sering juga dianggap sebagai proses mentransfer ilmu. Untuk proses mengajar, sebagai proses menyampaikan pengetahuan, akan lebih tepat diartikan dengan menanamkan ilmu pengetahuan seperti yang dikemukakan Smith bahwa mengajar adalah menanamkan pengetahuan atau keterampilan (Sanjaya, 2006). Menurut Sanjaya (2006), mengajar jangan diartikan sebagai proses menyampaikan materi pembelajaran, atau memberikan stimulus sebanyakbanyaknya kepada siswa, akan tetapi lebih dipandang sebagai proses mengatur lingkungan agar siswa belajar sesuai dengan kemampuan dan potensi yang dimilikinya. Istilah mengajar bergeser pada istilah pembelajaran, yang dapat diartikan sebagai proses pengaturan lingkungan yang diarahkan untuk mengubah perilaku siswa ke arah yang positif dan lebih baik sesuai dengan potensi dan perbedaan yang dimiliki siswa. Menurut Gagne (Sanjaya, 2006), mengajar atau teaching merupakan bagian dari pembelajaran (instruction), di mana peran guru lebih ditekankan kepada bagaimana merancang atau mengaransemen berbagai sumber dan fasilitas yang tersedia untuk digunakan atau dimanfaatkan siswa dalam mempelajari sesuatu. Pembelajaran menurut makna leksikal berarti proses, cara, perbuatan mempelajari. Perbedaan esensiil istilah ini dengan pengajaran adalah pada tindak ajar. Pada pengajaran guru mengajar, peserta didik belajar, sementara pada pembelajaran guru mengajar diartikansebagai upaya guru mengorganisir lingkungan terjadinya belajar. Guru mengajar dalam perspektif pembelajaran adalah guru menyediakan fasilitas belajar bagi peserta didiknya untuk mempelajarinya. Jadi, subjek pembelajaran adalah peserta didik (Suprijono, 2010). 2. Pembelajaran Matematika Istilah matematics (Inggris), mathematik (Jerman), mathematique (Perancis), matematico (Itali). matematiceski (Rusia), atau mathematick/wiskunde (Belanda) berasal dari perkataan Latin mathematica , yang mulanya diambil dari perkatan Yunani, mathematike, yang berarti ” relating to learning ”. Perkataan itu mempunyai akar kata mathema yang berarti pengetahuan atau ilmu (knowledge, science). Perkataan mathematike berkaitan sangat erat dengan sebuah kata lainnya yang serupa, yaitu mathenein yang mengandung arti belajar (berpikir). Berdasarkan etimologis, matematika berarti ”ilmu pengetahuan yang diperoleh dengan bernalar” (Tim MKPBM, 2001). Dinyatakan dalam GBPP bahwa pengajaran matematika di sekolah terutama bertujuan untuk mempersiapkan peserta didik menghadapi perubahan dunia yang dinamis dengan menekankan pada penalaran logis, rasional dan kritis, serta memberikan keterampilan kepada mereka untuk mampu menggunakan matematika dan penalaran matematika dalam memecahkan berbagai masalah dalam kehidupan sehari-hari maupun

dalam mempelajari bidang ilmu lain (Hadi, 2005). Menurut Niss (Hadi, 2005), salah satu alasan utama diberikan matematika kepada siswa-siswa di sekolah adalah untuk memberikan kepada setiap individu pengetahuan yang dapat membantu mereka untuk mengatasi berbagai hal dalam kehidupan, seperti pendidikan atau pekerjaan, kehidupan pribadi, kehidupan sosial, dan kehidupan sebagai warga negara. Menurut Gagne (TIM MKPBM, 2001), dalam belajar matematika ada dua objek yang dapat diperoleh siswa, yaitu objek langsung dan objek tak langsung. Objek tak langsung antara lain kemampuan menyelidiki dan memcahkan masalah, belajar mandiri, bersikap positif terhadap matematika, dan tahu bagaimana semestinya belajar. Sedangkan objek langsung berupa fakta, keterampilan, konsep dan aturan. Dua hal penting yang merupakan bagian dari tujuan pembelajaran matematika adalah pembentukan sifat dengan berpikir kritis dan kreatif. Untuk pembinaan hal tersebut, kita perlu memperhatikan daya imajinasi dan rasa ingin tahu siswa. Siswa harus diberi kesempatan bertanya dan berpendapat, sehingga diharapkan proses pembelajaran matematika lebih bermakna. Dalam pembelajaran matematika di sekolah, guru hendaknya memilih dan menggunakan strategi, pendekatan, metode, dan teknik yang banyak melibatkan siswa aktif dalam belajar, baik secara mental, fisik maupun sosial. Prinsip belajar aktif inilah yang diharapkan dapat menumbuhkan sasaran pembelajaran matematika yang kreatif dan kritis. Strategi yang dipilih dalam pengajaran matematika haruslah bertumpu pada dua hal, yaitu optimalisasi interaksi semua unsur pembelajaran serta optimalisasi keterlibatan seluruh indra siswa. Penekanan pembelajaran matematika tidak hanya pada melatih keterampilan dan hafal fakta, tetapi pada pemahaman konsep. 3. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Hasil Belajar Belajar dipengaruhi oleh beberapa faktor, Nasution (Djamarah, 2002) mengemukakan berbagai faktor yang mempengaruhi proses dan hasil belajar sebagai berikut: (1) Faktor Lingkungan, yang terdiri dari: (a) Lingkungan alami Lingkungan hidup adalah tempat tinggal anak didik, hidup dan berusaha di dalamnya. Kesejukan udara dan ketenangan suasana kelas diakui sebagai kondisi lingkungan kelas yang kondusif untuk terlaksananya kegiatan belajar mengajar yang menyenangkan. (b) Lingkungan sosial budaya Lingkungan sosial budaya di luar sekolah ternyata sisi kehidupan yang mendatangkan problem tersendiri bagi kehidupan anak didik di sekolah. Anak didik tidak dapat berkonsentrasi dengan baik apabila berbagai gangguan seperti kebisingan lalu lintas, keributan suasana pasar dan sebagainya selalu terjadi di sekitar anak didik. (2) Faktor instrumental, yang terdiri dari: (a) Kurikulum Muatan kurikulum akan mempengaruhi intensitas dan frekuensi belajar anak didik. Pemadatan kurikulum dengan alokasi waktu yang disediakan relatif sedikit secara psikologis menggiring guru pada pilihan untuk melaksanakan percepatan belajar anak didik untuk mencapai target kurikulum. Hal ini tidak harus terjadi bila ingin meningkatkan kualitas belajar mengajar. perkatan Yunani, mathematike, yang berarti ” relating to learning ”. Perkataan itu mempunyai akar kata mathema yang berarti pengetahuan atau ilmu ( knowledge, science ). Perkataan mathematike berkaitan sangat erat dengan sebuah kata lainnya yang serupa, yaitu mathenein yang mengandung arti belajar (berpikir). Berdasarkan etimologis, matematika berarti ”ilmu pengetahuan yang diperoleh dengan bernalar” (Tim MKPBM, 2001). Dinyatakan dalam GBPP bahwa pengajaran matematika di sekolah terutama bertujuan untuk mempersiapkan peserta didik menghadapi perubahan dunia yang dinamis dengan menekankan pada penalaran logis, rasional dan kritis, serta memberikan keterampilan kepada mereka untuk mampu menggunakan matematika dan penalaran matematika dalam memecahkan berbagai masalah dalam kehidupan sehari-hari maupun dalam mempelajari bidang ilmu lain (Hadi, 2005). Menurut Niss (Hadi, 2005), salah satu alasan utama diberikan matematika kepada siswa-siswa di sekolah adalah untuk memberikan kepada setiap individu pengetahuan yang dapat membantu mereka untuk mengatasi berbagai hal dalam kehidupan, seperti pendidikan atau pekerjaan, kehidupan pribadi, kehidupan sosial, dan kehidupan sebagai warga negara. Menurut Gagne (TIM MKPBM, 2001), dalam belajar matematika ada dua objek yang dapat diperoleh siswa, yaitu objek langsung dan objek tak langsung. Objek tak langsung antara lain kemampuan menyelidiki dan memcahkan masalah, belajar mandiri, bersikap positif terhadap

matematika, dan tahu bagaimana semestinya belajar. Sedangkan objek langsung berupa fakta, keterampilan, konsep dan aturan. Dua hal penting yang merupakan bagian dari tujuan pembelajaran matematika adalah pembentukan sifat dengan berpikir kritis dan kreatif. Untuk pembinaan hal tersebut, kita perlu memperhatikan daya imajinasi dan rasa ingin tahu siswa. Siswa harus diberi kesempatan bertanya dan berpendapat, sehingga diharapkan proses pembelajaran matematika lebih bermakna. Dalam pembelajaran matematika di sekolah, guru hendaknya memilih dan menggunakan strategi, pendekatan, metode, dan teknik yang banyak melibatkan siswa aktif dalam belajar, baik secara mental, fisik maupun sosial. Prinsip belajar aktif inilah yang diharapkan dapat menumbuhkan sasaran pembelajaran matematika yang kreatif dan kritis. Strategi yang dipilih dalam pengajaran matematika haruslah bertumpu pada dua hal, yaitu optimalisasi interaksi semua unsur pembelajaran serta optimalisasi keterlibatan seluruh indra siswa. Penekanan pembelajaran matematika tidak hanya pada melatih keterampilan dan hafal fakta, tetapi pada pemahaman konsep. 3. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Hasil Belajar Belajar dipengaruhi oleh beberapa faktor, Nasution (Djamarah, 2002) mengemukakan berbagai faktor yang mempengaruhi proses dan hasil belajar sebagai berikut: (1) Faktor Lingkungan, yang terdiri dari: (a) Lingkungan alami Lingkungan hidup adalah tempat tinggal anak didik, hidup dan berusaha di dalamnya. Kesejukan udara dan ketenangan suasana kelas diakui sebagai kondisi lingkungan kelas yang kondusif untuk terlaksananya kegiatan belajar mengajar yang menyenangkan. (b) Lingkungan sosial budaya Lingkungan sosial budaya di luar sekolah ternyata sisi kehidupan yang mendatangkan problem tersendiri bagi kehidupan anak didik di sekolah. Anak didik tidak dapat berkonsentrasi dengan baik apabila berbagai gangguan seperti kebisingan lalu lintas, keributan suasana pasar dan sebagainya selalu terjadi di sekitar anak didik. (2) Faktor instrumental, yang terdiri dari: (a) Kurikulum Muatan kurikulum akan mempengaruhi intensitas dan frekuensi belajar anak didik. Pemadatan kurikulum dengan alokasi waktu yang disediakan relatif sedikit secara psikologis menggiring guru pada pilihan untuk melaksanakan percepatan belajar anak didik untuk mencapai target kurikulum. Hal ini tidak harus terjadi bila ingin meningkatkan kualitas belajar mengajar. (b) Program Setiap sekolah mempunyai program pendidikan. Program pendidikan disusun untuk dijalankan demi kemajuan pendidikan. Keberhasilan pendidikan di sekolah tergantung dari baik tidaknya program pendidikan yang dirancang. Program pendidikan disusun berdasarkan potensi sekolah yang tersedia baik tenaga, finansial dan sarana prasarana. (c) Sarana dan fasilitas Sarana dan fasilitas mempengaruhi kegiatan belajar mengajar di sekolah. Anak didik tentu dapat belajar lebih baik dan menyenangkan bila suatu sekolah dapat memenuhi segala kebutuhan belajar anak didik. (d) Guru Guru yang profesional lebih mengedepankan kualitas pengajaran daripada materiil oriented. (3) Kondisi Fisiologis Kondisi fisiologis pada umumnya sangat berpengaruh terhadap kemampuan belajar seseorang. Orang yang dalam keadaan segar jasmaninya akan berlainan belajarnya dari orang yang dalam keadaan kelelahan. (4) Kondisi Psikologis, yang terdiri dari: (a) Minat Minat belajar yang besar cenderung menghasilkan prestasi yang tinggi, dan sebaliknya. (b) Kecerdasan Berbagai hasil penelitian menunjukkan hubungan yang erat antara IQ dengan hasil belajar di sekolah. Sekitar 25% hasil belajar di sekolah dapat dijelaskan dari IQ, yaitu kecerdasan sebagaimana diukur oleh tes intelegensi. (c) Bakat Bakat merupakan faktor yang besar pengaruhnya terhadap proses dan hasil belajar seseorang. Hampir tidak ada orang yang membantahbahwa belajar pada bidang yang sesuai dengan bakat memperbesar kemungkinan berhasilnya usaha itu. (d) Motivasi Motivasi untuk belajar adalah kondisi psikologis yang mendorong seseorang untuk belajar. (e)

Kemampuan kognitif Ada tiga tujuan pendidikan yang sangat dikenal dan diakui oleh para ahli pendidikan, yaitu ranah kognitif, afektif dan psikomotor. Ranah kognitif merupakan kemampuan yang selalu dituntut kepada anak didik untuk dikuasai. Karena penguasaan kemampuan pada tingkatan ini menjadi dasar bagi penguasaan ilmu pengetahuan. 4. Model Pembelajaran Menurut Ismail (Widyantini, 2008), istilah model pembelajaran mempunyai makna yang lebih luas daripada strategi, metode, atau prosedur. Suatu model pembelajaran mempunyai empat ciri khusus yang tidak dipunyai oleh strategi atau metode tertentu, yaitu rasional teoritik yang logis yang disusun oleh penciptanya, tujuan pembelajaran yang akan dicapai, tingkah laku mengajar yang diperlukan agar model tersebut dapat dilaksanakan, serta lingkungan belajar yang diperlukan agar tujuan pembelajaran dapat tercapai. Menurut Tim MKPBM (2001), model pembelajaran adalah pola interaksi siswa dengan guru di dalam kelas yang menyangkut strategi, pendekatan, metode, dan teknik pembelajaran yang diterapkan dalam pelaksanaan kegiatan belajar mengajar di kelas. Menurut Suprijono (2010), model pembelajaran merupakan landasan praktik pembelajaran hasil penurunan teori psikologi pendidikan dan teori belajar yang dirancang berdasarkan analisis terhadap implementasi kurikulum dan implikasinya pada tingkat operasional di kelas. Model pembelajaran dapat diartikan pula sebagai pola yang digunakan untuk penyusunan kurikulum, mengatur materi, dan memberi petunjuk kepada guru di kelas. Menurut Arends (Suprijono, 2010), model pembelajaran mengacu pada pendekatan yang akan digunakan, termasuk di dalamnya tujuan-tujuan pembelajaran, tahap-tahap dalam kegiatan pembelajaran, lingkungan pembelajaran, dan pengelolaan kelas. Beberapa model pembelajaran menurut Widdiharto (2004) antara lain yaitu model penemuan terbimbing, model pemecahan masalah, model pembelajaran kooperatif, model pembelajaran kontekstual, model Missouri Mathematics Project dan model pengajaran langsung. 5. Model Pembelajaran Kooperatif Model pembelajaran kooperatif dikembangkan berdasarkan teori belajar kooperatif kontruktivis. Hal ini terlihat pada salah satu teori Vigotsky yaitu penekanan pada hakikat sosiokultural dari pembelajaran Vigotsky yakni bahwa fase mental yang lebih tinggi pada umumnya muncul pada percakapan atau kerjasama antara individu sebelum fungsi mental yang lebih tinggi terserap dalam individu tersebut. Implikasi dari teori Vigotsky adalah dikehendakinya susunan kelas berbentuk kooperatif (Ratnasari, 2010). John Dewey (Dimyati dan Mudjiono, 2006) mengemukakan bahwa belajar adalah menyangkut apa yang harus dikerjakan siswa untuk dirinya sendiri, maka inisiatif harus datang dari siswa sendiri. Guru sekadar pembimbing dan pengarah. Belajar sebaiknya dialami dengan melakukan perbuatan langsung. Belajar harus dilakukan siswa secara aktif, baik individual maupun kelompok, dengan cara memecahkan masalah ( problem solving ). Piaget (Sanjaya, 2006) berpendapat bahwa pada dasarnya setiap individu sejak kecil sudah memiliki kemampuan untuk mengkonstruksi pengetahuannya sendiri. Pengetahuan yang dikonstruksi oleh anak sebagai subjek, maka akan menjadi pengetahuan yang bermakna, sedangkan pengetahuan yang hanya diperoleh melalui proses pemberitahuan tidak akan menjadi pengetahuan yang bermakna. Pembelajaran kooperatif merupakan salah satu model pembelajaran yaitu siswa belajar dalam kelompok kecil yang heterogen dan dikelompokkan dengan tingkat kemampuan berbeda. Dalam menyelesaikan tugas, anggota saling bekerja sama dan membantu untuk memahami bahan pembelajaran. Belajar belum selesai jika salah satu teman belum menguasai bahan pembelajaran (Amiroh, 2009). Menurut Nurhadi dan Senduk (Wena, 2009), pembelajaran kooperatif adalah pembelajaran yang secara sadar menciptakan interaksi yang silih asah sehingga sumber belajar bagi siswa bukan hanya guru dan buku ajar, tetapi juga sesama siswa. Menurut Lie (Wena, 2009), pembelajaran kooperatif adalah sistem pembelajaran yang memberikan kesempatan kepada siswa untuk bekerja sama dengan sesama siswa dalam tugas-tugas yang terstruktur dan dalam sistem ini guru bertindak sebagai fasilitator. Wena (2009) berpendapat bahwa pembelajaran kooperatif adalah sistem pembelajaran yang berusaha memanfaatkan teman sejawat (siswa lain) sebagai sumber belajar, di samping guru dan sumber belajar yang lain. Model pembelajaran kooperatif memiliki ciri-ciri sebagai berikut :(Ibrahim dkk, 2000) (1) Siswa bekerja dalam kelompok secara kooperatif untuk menuntaskan materi (2) belajarnya,

Kelompok dibentuk dari siswa yang memiliki kemampuan tinggi, sedang dan rendah, (3) Bilamana mungkin, anggota kelompok berasal dari ras, budaya, suku dan jenis kelamin berbeda-beda, (4) Penghargaan lebih berorientasi kelompok ketimbang individu. Menurut Ismail (2003) pengelolaan pembelajaran dengan model pembelajaran kooperatif, paling tidak ada tiga tujuan yang ingin dicapai, yaitu: (1) Hasil belajar akademik, (2) Pengakuan adanya keragaman, (3)

Pengembangan keterampilan sosial. Roger dan David Johnson (Suprijono, 2009) mengatakan bahwa tidak semua belajar kelompok dapat dianggap pembelajaran kooperatif. Untuk mencapai hasil yang maksimal, lima unsur dalam model pembelajaran kooperatif harus diterapkan, yaitu: 1) Saling ketergantungan positif Dalam sistem pembelajaran kooperatif, guru dituntut untuk mampu menciptakan suasana belajar yang mendorong agar siswa merasa saling membutuhkan. Siswa yang satu membutuhkan siswa yang lain, demikian pula sebaliknya. Dalam hal ini kebutuhan antara siswa tentu terkait dengan pembelajaran. Hubungan yang saling membutuhkan antara siswa satu dengansiswa yang lain inilah yang disebut dengan saling ketergantungan positif (Wena, 2009). Untuk terciptanya kelompok kerja yang efektif, setiap anggota kelompok masing-masing perlu membagi tugas sesuai denga tujuan kelompoknya. Tugas tersebut tentu saja disesuaikan dengan tujuan kelompoknya. Inilah hakikat ketergantungan positif, artinya tugas kelompok tidak mungkin bisa diselesaikan manakala ada anggota yang tak bisa menyelesaikan tugasnya, dan semua ini memerlukan kerja sama yang baik dari masing-masing anggota kelompok. Anggota kelompok yang mempunyai kemampuan lebih, diharapkan mau dan mampu membantu temannya untuk menyelesaikan tugas (Sanjaya, 2006). Suprijono (2009) menguraikan beberapa cara membangun saling ketergantungan positif, yaitu: a) Menumbuhkan perasaan peserta didik bahwa dirinya terintegrasi dalam kelompok, pencapaian tujuan terjadi jika semua anggota kelompok mencapai tujuan. Peserta didik harus bekerja sama untuk dapat mencapai tujuan. Tanpa kebersamaan, tujuan mereka tidak akan tercapai. b) Mengusahakan agar semua anggota kelompok mendapatkan penghargaan yang sama jika kelompok mereka berhasil mencapai tujuan. c) Mengatur sedemikian rupa sehingga setiap peserta didik dalam kelompok hanya mendapatkan sebagian dari keseluruhan tugas kelompok. Artinya, mereka belum dapat menyelesaikan tugas sebelum mereka menyatukan perolehan tugas mereka menjadi satu. d) Setiap peserta didik ditugasi dengan tugas atau peran yang saling mendukung dan saling berhubungan, saling melengkapi, dan saling terikat dengan peserta didik lain dalam kelompok. 2) Tanggung jawab perseorangan Mengingat pembelajaran kooperatif adalah pembelajaran dalam bentuk kelompok, maka setiap anggota harus belajar dan menyumbangkan pikiran demi keberhasilan pekerjaan kelompok. Untuk mencapai tujuan kelompok (hasil belajar kelompok), setiap siswa harus bertanggung jawab terhadap penguasaan materi pembelajaran secara maksimal karena hasil belajar kelompok didasari atas rata-rata nilai anggota kelompok. Kondisi belajar yang demikian akan mampu menumbuhkan tanggung jawab (akuntabilitas) pada masing-masing individu. Tanpa adanya tanggung jawab individu, keberhasilan kelompok akan sulit tercapai (Wena, 2009). Beberapa cara menumbuhkan tanggung jawab perseorangan menurut Suprijono (2009) adalah: a) kelompok belajar jangan terlalu besar; b) melakukan assesmen terhadap setiap siswa; c) memberi tugas kepada siswa yang dipilih secara random untuk mempresentasikan hasil kelompoknya kepada guru maupun kepada seluruh peserta didik di depan kelas; d) mengamati setiap kelompok dan mencatat frekuensi individu dalam membentuk kelompok; e) menugasi seorang peserta didik untuk berperan sebagai pemeriksa di kelompoknya; f) menugasi peserta didik mengajar temannya. 3) Interaksi tatap muka Dalam pembelajaran kooperatif, setiap kelompok harus diberikan kesempatan untuk bertatap muka dan berdiskusi. Kegiatan interaksi ini akan memberikan para pembelajar untuk membentuk sinergi yang menguntungkan semua anggota. Inti dari sinergi ini adalah menghargai perbedaan, memanfaatkan kelebihan, dan mengisi kekurangan (Wahib, 2009). Kelompok belajar kooperatif dibentuk secara heterogen, yang berasal dari budaya, latar belakang sosial, dan kemampuan akademik yang berbeda. Perbedaan semacam ini akan menjadi modal utama dalam proses saling memperkaya antar anggota kelompok (Sanjaya, 2006). Dalam interaksi tatap muka, antar anggota kelompok melaksanakan aktivitasaktivitas dasar seperti bertanya, menjawab pertanyaan, menunggu dengan sabar teman

yang sedang memberi penjelasan, berkata sopan, meminta bantuan, memberi penjelasan, dan sebagainya. Pada proses pembelajaran yang demikian, para siswa dapat saling menjadi sumber belajar sehingga sumber belajar lebih bervariasi (Wena, 2009). 4) Komunikasi antar anggota Pembelajaran kooperatif melatih siswa untuk dapat mampu berpartisipasi aktif dan berkomunikasi. Kemampuan ini sangat penting sebagai bekal mereka dalam kehidupan di masyarakat kelak. Oleh sebab itu, sebelum melakukan kooperatif, guru perlu membekali siswa dengan kemampuan berkomunikasi. Tidak setiap siswa mempunyai kemampuan berkomunikasi, misalnya kemampuan mendengarkan dan kemampuan berbicara, padahal keberhasilan kelompok ditentukan oleh partisipasi setiap anggotanya. Untuk dapat melakukan partisipasi dan komunikasi, siswa perlu dibekali dengan kemampuankemampuan berkomunikasi. Misalnya, cara menyatakan ketidaksetujuan atau cara menyanggah pendapat orang lain secara santun, tidak memojokkan, cara menyampaikan gagasan dan ide-ide yang dianggapnya baik dan berguna. Keterampilan berkomunikasi memang memerlukan waktu. Siswa tak mungkin dapat menguasainya dalam waktu sekejap. Oleh sebab itu, guru perlu terus melatih dan melatih, sampai pada akhirnya siswa memiliki kamampuan untuk menjadi komunikator yang baik (Sanjaya, 2006). 5) Evaluasi proses kelompok Dalam melaksanakan evaluasi proses kelompok, guru hendaknya menjadwalkan waktu khusus bagi kelompok untuk mengevaluasi proses kerja kelompok dan hasil kerja sama mereka agar selanjutnya bisa bekerja sama dengan lebih efektif. Waktu evaluasi ini tidak perlu dilaksanakan setiap kali ada kerja kelompok, melainkan bisa diadakan selang beberapa waktu setelah beberapa kali siswa terlibat dalam pembelajaran kooperatif. Adapun unsur-unsur dasar dalam pembelajaran kooperatif yang diuraikan oleh Muslimin Ibrahim (Purkoni, 2010) adalah sebagai berikut: (1) Siswa dalam kelompoknya haruslah beranggapan bahwa mereka ”sehidup sepenanggungan bersama”. (2) Siswa bertanggung jawab atas segala sesuatu di dalam kelompoknya seperti milik mereka sendiri. (3) Siswa haruslah melihat bahwa semua anggota di dalam kelompoknya memiliki tujuan yang sama. Pembelajaran kooperatif melatih siswa untuk dapat mampu berpartisipasi aktif dan berkomunikasi. Kemampuan ini sangat penting sebagai bekal mereka dalam kehidupan di masyarakat kelak. Oleh sebab itu, sebelum melakukan kooperatif, guru perlu membekali siswa dengan kemampuan berkomunikasi. Tidak setiap siswa mempunyai kemampuan berkomunikasi, misalnya kemampuan mendengarkan dan kemampuan berbicara, padahal keberhasilan kelompok ditentukan oleh partisipasi setiap anggotanya. Untuk dapat melakukan partisipasi dan komunikasi, siswa perlu dibekali dengan kemampuankemampuan berkomunikasi. Misalnya, cara menyatakan ketidaksetujuan atau cara menyanggah pendapat orang lain secara santun, tidak memojokkan, cara menyampaikan gagasan dan ide-ide yang dianggapnya baik dan berguna. Keterampilan berkomunikasi memang memerlukan waktu. Siswa tak mungkin dapat menguasainya dalam waktu sekejap. Oleh sebab itu, guru perlu terus melatih dan melatih, sampai pada akhirnya siswa memiliki kamampuan untuk menjadi komunikator yang baik (Sanjaya, 2006). 5) Evaluasi proses kelompok Dalam melaksanakan evaluasi proses kelompok, guru hendaknya menjadwalkan waktu khusus bagi kelompok untuk mengevaluasi proses kerja kelompok dan hasil kerja sama mereka agar selanjutnya bisa bekerja sama dengan lebih efektif. Waktu evaluasi ini tidak perlu dilaksanakan setiap kali ada kerja kelompok, melainkan bisa diadakan selang beberapa waktu setelah beberapa kali siswa terlibat dalam pembelajaran kooperatif. Adapun unsur-unsur dasar dalam pembelajaran kooperatif yang diuraikan oleh Muslimin Ibrahim (Purkoni, 2010) adalah sebagai berikut: (1) Siswa dalam kelompoknya haruslah beranggapan bahwa mereka ”sehidup sepenanggungan bersama”. (2) Siswa bertanggung jawab atas segala sesuatu di dalam kelompoknya seperti milik mereka sendiri. (3) Siswa haruslah melihat bahwa semua anggota di dalam kelompoknya memiliki tujuan yang sama. b. Functioning (pengaturan) yaitu keterampilan yang dibutuhkan untuk mengatur aktivitas kelompok dalam menyelesaikan tugas dan membina hubungan kerja sama diantara anggota kelompok. c. Formating (perumusan) yaitu keterampilan yang dibutuhkan untuk pembentukan pemahaman yang lebih dalam terhadap bahan-bahan yang dipelajari, merangsang penggunaan tingkat

berpikir yang lebih tinggi, dan menekankan penguasaan serta pemahaman dari materi yang diberikan. d. Fermenting (penyerapan) yaitu keterampilan yang dibutuhkan untuk merangsang pemahaman konsep sebelum pembelajaran, konflik kognitif, mencari lebih banyak informasi, dan mengkomunikasikan pemikiran untuk memperoleh kesimpulan. Beberapa ahli berpendapat bahwa model ini unggul dalarn membantu siswa memahami konsep-konsep yang sulit. Para pengembang model ini telah menunjukkan bahwa model struktur penghargaan kooperatif telah dapat meningkatkan penilaian siswa pada belajar akademik dan perubahan norma yang berhubungan dengan hasil belajar. Di samping itu, pembelajaran kooperatif dapat memberikan keuntungan baik pada siswa kelompok bawah maupun kelompok atas. Dalam bekerja sama menyelesaikan tugas-tugas akademik, siswa kelompok atas akan menjadi tutor bagi siswa kelompok bawah. Sementara itu, siswa kelompok bawah memperoleh bantuan khusus dari teman sebaya, yang memiliki orientasi dan bahasa yang sama. Dalam proses tutorial ini, siswa kelompok atas akan meningkat kemampuan akademiknya karena memberi pelayanan sebagai tutor rnembutuhkan pemikiran lebih dalam tentang hubungan ide-ide yang terdapat di dalam materi tertentu (Ratnasari, 2010). Menurut Muslimin Ibrahim (Widyantini, 2008), hasil penelitian menunjukkan manfaat pembelajaran kooperatif bagi siswa dengan hasil belajar yang rendah antara lain: a. meningkatkan pencurahan waktu pada tugas; b. rasa harga diri menjadi lebih tinggi; c. memperbaiki kehadiran; d. penerimaan terhadap perbedaan individu menjadi lebih besar; e. perilaku mengganggu menjadi lebih kecil; b. Functioning (pengaturan) yaitu keterampilan yang dibutuhkan untuk mengatur aktivitas kelompok dalam menyelesaikan tugas dan membina hubungan kerja sama diantara anggota kelompok. c. Formating (perumusan) yaitu keterampilan yang dibutuhkan untuk pembentukan pemahaman yang lebih dalam terhadap bahan-bahan yang dipelajari, merangsang penggunaan tingkat berpikir yang lebih tinggi, dan menekankan penguasaan serta pemahaman dari materi yang diberikan. d. Fermenting (penyerapan) yaitu keterampilan yang dibutuhkan untuk merangsang pemahaman konsep sebelum pembelajaran, konflik kognitif, mencari lebih banyak informasi, dan mengkomunikasikan pemikiran untuk memperoleh kesimpulan. Beberapa ahli berpendapat bahwa model ini unggul dalarn membantu siswa memahami konsep-konsep yang sulit. Para pengembang model ini telah menunjukkan bahwa model struktur penghargaan kooperatif telah dapat meningkatkan penilaian siswa pada belajar akademik dan perubahan norma yang berhubungan dengan hasil belajar. Di samping itu, pembelajaran kooperatif dapat memberikan keuntungan baik pada siswa kelompok bawah maupun kelompok atas. Dalam bekerja sama menyelesaikan tugas-tugas akademik, siswa kelompok atas akan menjadi tutor bagi siswa kelompok bawah. Sementara itu, siswa kelompok bawah memperoleh bantuan khusus dari teman sebaya, yang memiliki orientasi dan bahasa yang sama. Dalam proses tutorial ini, siswa kelompok atas akan meningkat kemampuan akademiknya karena memberi pelayanan sebagai tutor rnembutuhkan pemikiran lebih dalam tentang hubungan ide-ide yang terdapat di dalam materi tertentu (Ratnasari, 2010). Menurut Muslimin Ibrahim (Widyantini, 2008), hasil penelitian menunjukkan manfaat pembelajaran kooperatif bagi siswa dengan hasil belajar yang rendah antara lain: a. meningkatkan pencurahan waktu pada tugas; b. rasa harga diri menjadi lebih tinggi; c. memperbaiki kehadiran; d. penerimaan terhadap perbedaan individu menjadi lebih besar; e. perilaku mengganggu menjadi lebih kecil; f. konflik antar pribadi berkurang; g. sikap apatis berkurang; h.

motivasi lebih besar atau meningkat; i. hasil belajar lebih tinggi; j. meningkatkan kebaikan budi, kepekaan, dan toleransi. Pembelajaran kooperatif juga mempunyai kelemahan yang harus dihindari, yakni adanya anggota kelompok yang tidak aktif atau disebut difusi tanggung jawab. Kelemahan ini dapat dihindari dengan cara sebagaimana dikatakan oleh Slavin (Sanjaya, 2006), yaitu: (1) Masing-masing anggota kelompok bertanggung jawab atas unit yang berbeda dalam tugas kelompok. (2) Membuat para siswa bertanggung jawab secara individual atas pembelajaran mereka. Masing-masing kelompok dihargai berdasarkan jumlah skor kuis individual atau hasil kerja individual lainnya. Dengan cara ini, tugas-tugas kelompok adalah memastikan bahwa tiap orang telah mempelajari materi pelajaran. Selain itu kelemahan dalam model pembelajaran kooperatif antara lain terkait dengan kesiapan guru dan siswa untuk terlibat dalam suatu strategi pembelajaran yang memang berbeda dengan pembelajaran yang selama ini diterapkan. Guru dapat secara berangsur-angsur mengubah kebiasaan tersebut. Ketidaksiapan guru untuk mengelola pembelajaran demikian dapat diatasi dengan cara pemberian pelatihan yang kemudian disertai dengan kemauan yang kuat untuk mencobanya. Sementara itu, ketidaksiapan siswa dapat diatasi dengan cara menyediakan panduan yang memuat cara kerja yang jelas, petunjuk tentang sumber yang dapat dieksplorasi, serta deskripsi tentang hasil akhir yang diharapkan, sistem evaluasi, dan sebagainya. Kendala lain adalah waktu. Strategi pembelajaran kooperatif memerlukan waktu yang cukup panjang dan fleksibel, meskipun untuk topik-topik tertentu waktu yang diperlukan mungkin cukup dua kali tatap muka ditambah dengan kegiatan-kegiatan di luar jam pelajaran (Aryawan, 2009). 6. Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Learning Together (LT) Slavin (2008) mengungkapkan bahwa David dan Roger Johnson dari Universitas Minnesota mengembangkan model Learning Together dari pembelajaran kooperatif (Jhonson and Jhonson 1987; Jhonson dan Jhonson & Smith, 1991). David dan Roger Johnson menekankan pada empat unsur yakni : (1) Interaksi tatap muka : para siswa bekerja dalam kelompok-kelompok yang beranggotakan empat sampai lima orang, (2) Interdependensi positif : para siswa bekerja bersama untuk mencapai tujuan kelompok, (3) Tanggung jawab individual : para siswa harus memperlihatkan bahwa mereka secara individual telah menguasai materinya, (4) Kemampuan-kemampuan interpersonal dan kelompok kecil : para siswa diajari mengenai sarana-sarana yang efektif untuk bekerja sama dan mendiskusikan seberapa baik kelompok mereka bekerja dalam mencapai tujuan mereka. Dalam hal ini penggunaan kelompok pembelajaran heterogen dan penekanan terhadap interdependensi positif, serta tanggung jawab individual metode-metode Johnson ini sama dengan STAD. Akan tetapi, mereka juga menyoroti perihal pembangunan kelompok dan menilai sendiri kinerja kelompok, dan merekomendasikan penggunaan penilaian tim ketimbang pemberian sertifikat atau bentuk rekognisi lainnya. Metode ini membagi siswa dalam kelompok heterogen dengan 4 - 5 anggota. Setiap kelompok ini menerima satu lembar tugas, menerima pujian dan penghargaan berdasarkan hasil kerja kelompok (Slavin, 1997). Adapun sintaks dari Learning Together (Slavin, 2008) adalah: (1) Guru menyajikan pelajaran. (2) Membentuk kelompok yang anggotanya 4 sampai 5 orang secara heterogen (campuran menurut prestasi, jenis kelamin, suku dan lain-lain). (3) Masing-masing kelompok menerima lembar tugas dan menyelesaikannya. (4) Beberapa kelompok mempresentasikan hasil pekerjaannya. (5) Pemberian pujian dan penghargaan berdasarkan hasil kerja kelompok. Metode ini menekankan pada kegiatan-kegiatan pembinaan kerjasama tim sebelum siswa mulai bekerja sama dan melakukan diskusi terjadwal di dalam kelompok tentang seberapa jauh mereka berhasil dalam bekerjasama. Menurut Slavin (1997) langkah-langkah pembelajaran kooperatif tipe belajar bersama, yaitu: (1) Menyampaikan tujuan pembelajaran yang diiringi dengan memotivasi siswa dalam belajar. (2) Menyajikan informasi kepada siswa tentang materi pembelajaran. (3)

Membimbing kelompok-kelompok belajar pada saat siswa mengerjakan tugas. (4) Mengevaluasi hasil belajar tentang materi yang dipelajari dan mempresentasikan hasil kerjanya. 7. Pendekatan Pembelajaran Kontekstual Pembelajaran kontekstual merupakan prosedur pendidikan yang bertujuan membantu peserta didik memahami makna bahan pelajaran yang mereka pelajari dengan cara menghubungkannya dengan konteks kehidupan mereka sendiri dalam lingkungan sosial dan budaya masyarakat. Melalui pembelajaran yang kontekstual ini, siswa didorong untuk mengerti apa makna belajar, apa manfaat dan bagaimana mencapainya. Diharapkan mereka sadar bahwa yang mereka pelajari itu berguna bagi hidupnya. Dengan demikian mereka akan memosisikan dirinya sebagai pihak yang memerlukan bekal untuk hidupnya nanti (Sardiman, 2010). Berdasarkan pengertian di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa pembelajaran kontekstual adalah konsep belajar yang membantu guru menghubungkan antara materi pelajaran yang diajarkannya dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sehari-hari. 8. Pembelajaran Matematika di Sekolah Menengah Pertama Sekolah Menengah Pertama adalah salah satu pendidikan formal yang merupakan kelanjutan dari SD atau sederajat. Dengan adanya program pemerintah yaitu ”wajib belajar 9 tahun” merupakan awal dari serangkai an kebijakan yang akan bermuara pada peningkatan sumber daya manusia. Pembelajaran matematika di SMP disebut pembelajaran matematika sekolah artinya matematika terdiri atas bagian-bagian matematika yang dipilih guna menumbuhkembangkan kemampuan dan membentuk pribadi serta berpandu pada perkembangan IPTEK. Matematika yang diajarkan di SMP berfungsi untuk mengembangkan kemampuan menghitung, mengukur, menurunkan dan menggunakan rumus matematika yang diperlukan. 9. Kubus dan Balok Perhatikan benda-benda di sekitar kita. Dalam kehidupan sehari-hari kita sering menemukan benda-benda seperti kardus bekas mainan, dadu, kotak kue, dan sebagainya. Berbentuk apakah benda-benda tersebut? Dari benda-benda tersebut manakah yang berbentuk kubus? Mana pula yang berbentuk balok? Dapatkah kalian tentukan sisi, rusuk, dan titik sudutnya? 9.1. Kubus 1. Pengertian kubus Sebuah bangun ruang yang semua sisinya berbentuk persegi dan semua rusuknya sama panjang. Bangun ruang seperti itu dinamakan kubus. (Gambar kubus) Dari kubus PQRS.TUVW, diperoleh a. sisi : PQRS, TUVW, PQUT, QRVU, SRVW, dan PSWT. b. rusuk : PQ, QR, RS, SP, TU, UV, VW, WT, PT, QU, RV, SW. c. titik sudut : P, Q, R, S, T, U, V, dan W. d. diagonal bidang : PU, QT, QV, RV, RU, RW, SV, ST, PW, PR, QS, TV, dan UW. e. diagonal ruang : PV, QW, RT, dan SU. f. bidang diagonal : PRVT, QSWU, PSVU, QRWT, SRTU, dan RSTU. 2. Jaring-jaring kubus Jika suatu kubus, bila diiris (digunting) pada rusuk-rusuk tertentu dan direbahkan, sehingga terjadi bangun datar, maka bangun datar itu dinamakan jaring-jaring kubus. gambar 3. Luas permukaan kubus Dari Gambar di atas terlihat suatu kubus beserta jaring-jaringnya. Untuk mencari luas permukaan kubus, berarti sama saja dengan menghitung luas jaring-jaring kubus tersebut. Oleh karena jaring-jaring kubus merupakan 6 buah persegi yang sama dan kongruen maka luas permuakaan kubus sama dengan luas jaring-jaring kubus. Maka Rumus L=6s 2, dengan L =luas permukaan kubus S = panjang rusuk kubus

4. Volume kubus Gambar di atas menunjukkan bentuk-bentuk kubus dengan ukuran berbeda. Kubus pada Gambar (a) merupakan kubus satuan. Untuk membuat kubus satuan pada Gambar (b) , diperlukan 2 × 2 × 2 = 8 kubus satuan, sedangkan untuk membuat kubus pada Gambar (c) , diperlukan 3 × 3 × 3 = 27 kubus satuan. Dengan demikian, volume atau isi suatu kubus dapat ditentukan dengan cara mengalikan panjang rusuk kubus tersebut sebanyak tiga kali. Sehingga : volume kubus = panjang rusuk × panjang rusuk × panjang rusuk = s×s×s = s3 Jadi, volume kubus dapat dinyatakan sebagai berikut. 9.2. Balok 1. Pengertian balok Banyak sekali benda-benda di sekitar kita yang memiliki bentuk seperti balok. Misalnya, kotak korek api, dus air mineral, dus mie instan, batu bata, dan lain-lain. Mengapa bendabenda tersebut dikatakan berbentuk balok? Untuk menjawabnya, cobalah perhatikan dan pelajari uraian berikut. Perhatikan gambar kotak korek api. Jika kotak korek api tersebut digambarkan secara geometris, hasilnya akan tampak seperti bangun ruang ABCD.EFGH, pada gambar tersebut memiliki tiga pasang sisi berhadapan yang sama bentuk dan ukurannya, di mana setiap sisinya berbentuk persegipanjang. Bangun ruang seperti ini disebut balok. Dari balok ABCD.EFGH, diperoleh : a. sisi/bidang: ABCD, EFGH, ABFE, DCGH, BCGF dan ADHE b. rusuk: AB, BC, CD, DA, EF, FG, GH, HE, AE, BF, CG, dan HD. c. titik sudut: A, B, C, D, E, F, G, dan H. d. diagonal bidang: AC, BD, EG, FH, CF, BG, AH, ED, AF, BE, CH, dan DG. e. diagonal ruang: AG, BH, CE, dan DB. f. bidang diagonal: ACGE, FBDH, FGAD, ABGH, BCEH, dan CDEF. 2. Jaring-jaring balok Sama halnya dengan kubus, jaring-jaring balok diperoleh dengan cara membuka balok tersebut sehingga terlihat seluruh permukaan balok. Coba kamu perhatikan alur pembuatan jaring-jaring balok di bawah ini : 3. Luas permukaan balok Cara menghitung luas permukaan balok sama dengan cara menghitung luas permukaan kubus, yaitu dengan menghitung semua luas jaring-jaringnya. Coba kamu perhatikan gambar di bawah ini : Segi-p misalkan, rusuk-rusuk pada balok diberi nama p (panjang), l (lebar), dan t (tinggi) seperti pada gambar .Dengan demikian, luas permukaan balok tersebut adalah luas permukaan balok = luas persegipanjang 1 + luas persegipanjang 2 + luas peranjang 3 + luas persegipanjang 4 + luas persegipanjang 5 + luas persegipanjang 6 Jadi, luas permukaan balok dapat dinyatakan dengan rumus : 4. Volume balok Proses penurunan rumus balok memiliki cara yang sama seperti pada kubus. Caranya adalah dengan menentukan satu balok satuan yang dijadikan acuan untuk balok yang lain. Proses ini digambarkan pada di bawah ini. Coba cermati dengan saksama. Gambar di atas menunjukkan pembentukan berbagai balok dari balok satuan. Gambar (a) adalah balok satuan. Untuk membuat balok seperti pad Gambar (b) ,diperlukan 2 × 1 × 2 = 4 balok satuan, sedangkan untuk membuat balok seperti pada Gambar (c) diperlukan 2 × 2 × 3 = 12 balok satuan. Hal ini menunjukan bahwa volume suatu balok diperoleh dengan cara mengalikan ukuran panjang, lebar, dan tinggi balok tersebut. J. HIPOTESIS PENELITIAN Hipotesis dalam penelitian ini adalah model pembelajaran kooperatif tipe Learning Together (LT) dapat meningkatkan prestasi belajar matematika siswa di kelas VIII A MTsN Amuntai Utara. K. METODE PENELITIAN 1. Pendekatan Penelitian Penelitian yang akan dilakukan adalah Penelitian Tindakan Kelas. PTK merupakan jenis penelitian deskriptif, yaitu suatu metode dalam meneliti status kelompok manusia, suatu objek, suatu set kondisi, suatu sistem pemikiran ataupun suatu kelas peristiwa pada masa

sekarang. Tujuannya adalah untuk membuat deskripsi, gambaran atau lukisan secara sistematis, faktual dan akurat mengenai fakta-fakta, sifat-sifat serta hubungan antar fenomena yang diselidiki (Nazir, 2003). 2. Setting Penelitian (a) Tempat Penelitian Penelitian tindakan kelas ini dilaksanakan di MTsN Amuntai Utara untuk mata pelajaran matematika. Subyek penelitian adalah kelas VIII A tahun pelajaran 2011/2012. (b) Waktu Penelitian Penelitian ini akan dilaksanakan pada awal tahun ajaran 2011/2012, yaitu bulan September sampai dengan bulan Desember 2011. Penentuan waktu penelitian ini mengacu pada kalender pendidikan karena PTK memerlukan beberapa siklus yang membutuhkan proses belajar mengajar yang efektif di kelas. 3. Faktor yang Diselidiki a.Minat siswa dalam proses belajar mengajar b.Keaktifan dan sifat kooperatif siswa dalam proses belajar mengajar c.Kerjasama dalam mengomunikasikan hasil belajarnya 4.Skenario Tindakan Gambar 1. Siklus Penelitian Tindakan Kelas Siklus I a. Perencanaan (Planning) Kegiatan-kegiatan pada tahap ini adalah merencanakan dan mempersiapkan pembelajaran yang akan diterapkan dalam proses belajar mengajar. Kegiatan-kegiatan yang dilakukan pada tahap perencanaan, yaitu: (a)Melakukan analisis kurikulum untuk mengetahui standar kompetensi dan kompetensi dasar yang akan disampaikan kepada siswa pada proses pembelajaran. (b)membuat rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP), (c)menyusun lembar kerja siswa (LKS) untuk kegiatan diskusi kelompok siswa, (d)menyiapkan instrumen penelitian (soal tes, lembar observasi, panduan wawancara dan angket), (e)Mengadakan pembagian tugas antara peneliti, pengajar, dan pengamat (observer). b. Pelaksanaan Tindakan (Acting) Tahap ini merupakan implementasi dari semua rencana yang telah dibuat. Tahapan ini berlangsung di dalam kelas. Tahapan ini adalah realisasi dari segala rencana yang telah dipersiapkan sebelumnya, meliputi rencana pelaksanaan pembelajaran, lembar kerja siswa, serta instrumen lainnya yang telah disiapkan. c.Observasi (Observing) Pada tahap ini dilakukan observasi sebagai upaya merekam segala peristiwa dan kegiatan yang terjadi selama pelaksanaan tindakan berlangsung. Hal ini dilakukan dengan menggunakan lembar observasi aktivitas siswa dalam proses pembelajaran. d.Refleksi (Reflecting) Peneliti melakukan evaluasi tindakan yang telah dilakukan yang meliputi evaluasi mutu, jumlah dan waktu dari setiap macam tindakan. Selain itu juga melakukan diskusi dengan guru untuk membahas hasil evaluasi tentang skenario rancangan tindakan dan pelaksanaannya. Peneliti melakukan perbaikan tindakan sesuai dengan hasil observasi yang diperoleh untuk menyusun rencana siklus berikutnya. Tahap ini merupakan tahapan untuk memproses data yang didapat pada saat dilakukan pengamatan. Refleksi juga merupakan upaya untuk mengkaji apa yang telah dihasilkan atau yang belum berhasil dituntaskan dengan pelaksanaan tindakan yang telah dilakukan. Berdasarkan hasil observasi dari observer dan hasil evaluasi di akhir siklus maka akan dijadikan pertimbangan memasuki siklus

berikutnya.
Siklus II Siklus II merupakan tindak lanjut dari siklus I dengan memperhatikan hasil observasi dari pengamat ( observer ), hasil diskusi dengan pengajar selaku pelaksana tindakan serta prestasi belajar siswa yang dilihat dari ketuntasan belajar siswa secara individu maupun klasikal. Apabila prestasi belajar siswa sudah memenuhi atau mencapai indikator keberhasilan dari penelitian maka siklus II tidak dilaksanakan. Tahapan pada Siklus II sama seperti pada Siklus I. Jika hasil yang diperoleh dalam Siklus II telah mencapai indikator keberhasilan, maka peneliti dapat menganalisis data dan menyusun laporan. Jika hasil yang diperoleh dalam Siklus II belum mencapai indikator keberhasilan, maka peneliti dapat melanjutkan dengan siklus berikutnya dengan tahapan yang sama. 5.

Data dan Cara Pengambilannya Sumber data yang diperlukan dalam penelitian ini berasal dari siswa dan guru. (a) Siswa Untuk mendapatkan data tentang hasil belajar dan aktivitas siswa dalam proses belajar mengajar. (b) Guru Untuk mengetahui tingkat keberhasilan implementasi pembelajaran kooperatif tipe Learning Together (LT) serta sikap guru terhadap proses pembelajaran. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini adalah tes, observasi, angket dan wawancara. (a) Tes Tertulis Tes tertulis dipergunakan untuk mendapatkan data tentang hasil belajar siswa. Tes yang diberikan terbagi dua, yaitu tes individu dan tugas kelompok. (b) Observasi Observasi dilakukan untuk memperoleh data mengenai aktivitas siswa dan guru selama proses pembelajaran berlangsung. Observasi dilakukan oleh pengamat yang merupakan teman sejawat peneliti dengan menggunakan lembar pengamatan. Sebelum digunakan, lembar ini terlebih dahulu dikonsultasikan dengan dosen pembimbing. (c) Angket Dipergunakan untuk mendapatkan data tentang sikap dan minat siswa dalam implementasi pembelajaran kooperatif tipe Learning Together (LT). (d) Wawancara Dilakukan untuk mendapatkan data tentang tingkat keberhasilan implementasi pembelajaran kooperatif tipe Learning Together (LT). Alat pengumpulan data dalam penelitian ini adalah sebagai berikut: (a) Soal Tes Peneliti menggunakan instrumen soal tes untuk mengukur hasil belajar siswa setelah mengikuti pembelajaran kooperatif tipe Learning Together (LT). (b) lembar Observasi Lembar observasi digunakan untuk mengukur tingkat partisipasi siswa dalam proses belajar mengajar. (c) Angket / kuesioner Angket atau kuesioner digunakan untuk mengetahui pendapat atau sikap siswa tentang implementasi pembelajaran kooperatif tipe Learning Together (LT). (d) Panduan Wawancara Digunakan untuk mengetahui pendapat atau sikap siswa dan guru tentang pembelajaran kooperatif tipe Learning Together (LT). 6. Teknik Analisis Data Analisis data hasil penelitian yang tergolong data kuantitatif dilakukan secara deskriptif dengan menggunakan teknik persentase, yakni dengan menghitung ketuntasan klasikal dan ketuntasan individual dengan rumus sebagai berikut: Ketuntasan individual skor = %100maksimalskor Jumlah skorJumlah Ketuntasan klasikal = %100siswaseluruh Jumlah belajar tuntasyang siswaJumlah Keterangan: Ketuntasan individual : J ika siswa mencapai ketuntasan ≥ 60 % Ketuntasan klasikal : Jika ≥ 80% dari seluruh siswa yang mencapai ketuntasan ≥ 60 %. Analisis data hasil penelitian yang tergolong data kualitatif dianalisis secara deskriptif melalui tahapan reduksi data, pemaparan data, dan analisis data. L. INDIKATOR PENELITIAN Penelitian ini dikatakan berhasil optimal dengan ketentuan sebagai berikut: 1. Tercapainya ketuntasan klasikal ≥ 80% dan ketuntasan individual ≥ 60%. 2. Bila respon siswa menunjukkan keaktifan ≥ 90% dan guru mengurangi keaktifan dalam pengelolaan pembelajaran. M. JADWAL PENELITIAN Kegiatan Bulan (minggu ke) September Oktober November

Desember 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 Observasi lapangan X

Menyusun proposal X

Menyepakati jadwal dan tugas

X

Menyusun instrumen

X

Menyiapkan kelas dan alat

X

Melaksanakan penelitian Siklus I

X X

X

Melaksanakan penelitian Siklus II

X X X

Mengolah data hasil penelitian

X

Menulis draf laporan

X X

Seminar hasil

X Perbaikan laporan X Menulis laporan akhir

X X N. DAFTAR PUSTAKA Amiroh. 2009. Pembelajaran Inovatif . http://blog.unila.ac.id/sinung/2009/09/17/ cooperative-learning-untuk-meningkatkanmotivasi-belajar-matematika-siswa/ Arikunto, S. 2006. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik . Rineka Cipta, Jakarta. Aryawan, B. 2009. Pembelajaran kooperatif Learning (Cooperative Learning) Untuk Membangun Pengetahuan Siswa. http://riyadi.purworejo.asia/2009/07/pembelajaran-kooperatif-cooperative.html Djamarah, S. B. 2002. Psikologi Belajar. Rineka Cipta, Jakarta. Dimyati dan Mudjiono. 2003. Belajar dan Pembelajaran . PT Rineka Cipta, Jakarta. Endah Budi Rahaju. 2008. Contextual Teaching and Learning Matematika: Sekolah Menengah Pertama/Madrasah Tsanawiyah Kelas VIII Edisi 4 . Departemen Pendidikan Nasional, Jakarta. Fahlifi, Rija.2010. Implementasi Pembelajaran Matematika Menggunakan Model Kooperatif Tipe Learning Together (Lt) Dengan Pendekatan Kontekstual Di Smp Negeri 5 Barabai Tahun Pelajaran 2010/2011. Bjm:Unlam . Hadi, S. 2005. Pendidikan Matematika Realistik dan Implementasinya

. Tulip, Banjarmasin. Hamalik, O. 2003. Proses Belajar Mengajar . Bumi Aksara, Jakarta. Ibrahim, M., Fida R., Mohamad N., dan Ismono. 2000. Pembelajaran Kooperatif. Pusat Sains dan Matematika Sekolah Program Pascasarjana UNESA, University Press. Ismail. 2003. Model-Model Pembelajaran . Dit. Pendidikan Lanjutan Pertama, Jakarta:http://www.puskur.net/download/naskahakademik/bidangketram pilan/lifeskills/matematikasmk/modelpembelajaran2.doc Jumberi,H.2009. Meningkatkan Hasil Belajar Siswa Dengan Model Kooperatif Tipe Think-PairShare (Tps) Pada Pokok Bahasan Garis Singgung Lingkaran Di Kelas Viii A Smp Negeri 2 Daha Utara Tahun Pelajaran 2008/2009. Bjm:STIKIP PGRI. Kunandar. 2010. Langkah Mudah Penelitian Tindakan Kelas sebagai Pengembangan Profesi Guru . PT RajaGrafindo Persada, Jakarta. Nadiya, M.Z.2010 .Proposal Tindakan Kelas .Banjarmasin:Unlam. Nazir, M. 2003. Metode Penelitian . Ghalia Indonesia, Jakarta. Nuharini, Dewi. 2008. Matematika Konsep dan Aplikasinya: untuk SMP/MTs Kelas VIII . Departemen Pendidikan Nasional, Jakarta. Purkoni, H. 2010. Pola Pembelajaran Yang Berbasis Student and Process Oriented . http://hadikomarapurkoni.blogspot.com/2010/01/pola-pembelajaran-yangberbasis-student.html Ratnasari. 2010. Pembelajaran Kooperatif (Cooperative Learning) Part 1. http://ratnasari.student.fkip.uns.ac.id/2010/01/21/pembelajaran-kooperatifcooperative-learning/ Sanjaya, W. 2006. Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses Pendidikan . Kencana Prenada Media Group, Jakarta. Slavin, Robert E. 2008.

Cooperative Learning. Nusa Media, Bandung. ---------, R.E. 1997. Cooperatitive Learning Teori, Riset dan Praktik . Nusa Media, Bandung. Sardiman. 2007. Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar. Raja Grafindo Persada, Jakarta. Sudjana, N. 1996. Cara Belajar Siswa Aktif dalam Proses Belajar Mengajar. Sinar Baru Algensindo, Bandung. Suprijono, A. 2010. Cooperative Learning Teori dan Aplikasi PAIKEM . Pustaka Pelajar, Yogyakarta. Syah, M. 2004. Psikologi Belajar . PT Raja Grafindo Persada, Jakarta. Tim MKPBM. 2001. Strategi Pembelajaran Matematika Kontemporer. Universitas Pendidikan Indonesia, Bandung. Wahib, M. 2009. Cooperative Learning- Teknik Jigsaw . http://www.wahib-dr.com/pembelajaran/295-_c_o_o_p_e_r_a_t_i_v_e__l_e_a_r_n_i_n_g_-_t_e_k_n_i_k_-_j_i_g_s_a_w.html Wena, M. 2009. Strategi Pembelajaran Inovatif Kontemporer: Suatu Tinjauan Konseptual Operasional . Bumi Aksara, Jakarta. Widdiharto, R. 2004. Model-Model Pembelajaran Matematika SMP . Depdiknas, Yogyakarta. Widyantini. 2008. PAKET FASILITASI PEMBERDAYAAN KKG/MGMP MATEMATIKA: Penerapan Pendekatan Kooperatif STAD dalam Pembelajaran Matematika SMP . Pusat Pengembangan dan Pemberdayaan Pendidik dan Tenaga Kependidikan Matematika, Depdiknas, Yogyakarta.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->