P. 1
Tesis Peran Zakat Sebagai PAD

Tesis Peran Zakat Sebagai PAD

5.0

|Views: 2,088|Likes:
Published by Putroe2

More info:

Published by: Putroe2 on Nov 17, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

08/01/2013

pdf

text

original

Peran Zakat Sebagai Pendapatan Asli Daerah (PAD

)

PERANAN BAITUL MAL SEBAGAI BADAN PENGELOLA ZAKAT DALAM UPAYA MENINGKATKAN PENDAPATAN ASLI DAERAH (PAD) MENURUT UNDANG-UNDANG NOMOR 11 TAHUN 2006 (Studi Pada Baitul Mal Kota Banda Aceh)

Dilema Zakat sebagai PAD di Aceh
Jum'at, 11 Maret 2011

Oleh: Sayed Muhammad Husen Kisah awal zakat sebagai bagian dari PAD (Pendapatan Asli Daerah) di Aceh, termuat dalam UU Nomor 18/2001 tentang Otsus NAD. Selanjutnya dimuat lagi dalam Pasal 180 UU Nomor 11/2006 tentang Pemerintahan Aceh. Ketentuan ini tak dikenal di daerah lain di seluruh Indonesia. Masalah pun muncul. Dalam setiap pemeriksaan BPK atau Inspektorat, zakat sebagai PAD tetap dipersoalkan, apakah ketentuan tersebut telah diimplementasikan oleh Baitul Mal Aceh (BMA) dan Baitul Mal Kabupaten/Kota (BMK) se Aceh. Menurut Ketua Dewan Pertimbangan Syariah (DPS) BMA, Prof DR Al Yasa’ Abubakar MA, ketentuan zakat sebagai PAD sebagai “pelengkap” ketentuan zakat dapat mengurangi pajak penghasilan terhutang (Pasal 192 UUPA). Jika zakat telah diakui sebagai pengurang pajak dan itu artinya pendapatan negara/dearah berkurang, maka penyeimbangnya berupa pemasukan dana negara dalam bentuk zakat sebagai PAD. Dalam implementasinya, tentu, bisa memunculkan masalah, sebab zakat sebagai PAD masih harus dikecualikan dari ketentuan keuangan yang ada. Pada satu sisi pengelolaan zakat sebagai syariat Islam harus tetap independen dan mematuhi ketentuan syariat. Zakat harus disalurkan kepada delapan asnaf. Pada sisi lain, harus pula memperhatikan ketentuan keuangan PAD. “Mematuhi” regulasi dan prosesur keuangan daerah. Di antara masalah yang muncul, misalnya kabupatan/kota tertentu diharuskan menender penyaluran dana zakat untuk pembelian becak mesin kepada mustahik (penerima zakat); zakat yang dicairkan dari dari Bendara Umum Daerah (BUD) diperlakukan sebagai dana hibah; zakat yang disetor tak bisa ditarik ditarik seruhnya; zakat yang ditarik dari BUD bukan dari sumber zakat, tapi sumber lainnya; penarikan zakat mesti menunggu pengesahan APBD yang seringkali terlambat; dan beberapa masalah lainnya. Lebih tragis lagi, karena dianggap tak patuh terhadap ketentuan zakat sebagai PAD, Kepala BMA 2005-2010, Drs H Amrullah, sempat diperiksa oleh Kejaksaan Tinggi Aceh (2010). Beberapa BMK juga secara terburu-buru menyetor zakat sebagai PAD, tanpa menuggu aturan operasional, misalnya Perbub/Perwalkot tentang Tata Cara Penyetoran dan Penarikan Zakat pada BUD, akibat “tekanan” BPK atau inspektorat. Dalam beberapa kesempatan sosialisasi juga muncul gugatan dari kalangan ulama, mengapa zakat harus dicatat dulu sebagai PAD. Apakah dengan begitu, zakat yang suci tak akan bercampur dengan sumber PAD lainnya yang kadang masih syubhat. Bagaimana pula BMA dan BMK mengatur likuiditas zakat, sebab mekanisme pencairan dana zakat yang sangat birokratik. Bahkan, pernah Ketua PW NU Aceh, Tgk H Faisal Ali meminta ketetuan zakat sebagai PAD diamandemen. Sebagai solusi terhadap “kesemrautan” zakat sebagai PAD, maka Pergub Nomor 55/2010 tentang Tata Cara Penyotoran dan Pencairan Zakat pada Bendahara Umum Daerah, telah memberikan beberapa perlakukan khusus, misalnya, zakat dapat dicairkan sebelum APBD disahkan; zakat yang melebihi target pendapatan dapat ditarik seluruhnya; penarikan zakat mengacu kepada data-data terakhir yang disahkan DPS; sisa zakat tahun lalu dapat ditarik

pada tahun berikutnya; pertanggungjawaban zakat tak mengacu pada tahun anggaran; zakat dikelola oleh Badan Pelaksana BMA, walaupun telah dibentuk Sekretariat sebagai Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD). Dan, beberapa pengucualian lainnya dari aturan keuangan yang berlaku secara nasional. Memang, ketentuan zakat sebagai PAD pada tingkat kabupaten/kota di seluruh Aceh, masih harus tindaklanjuti dengan pengesahan Perbub/Perwalkot. Untuk itulah diperlukan sikap proaktif dan kesungguhan BMK dalam mengurusnya. Sebab, membiarkan hal ini berlarut-larut dapat berakibat pada “tercemarnya” kesucian zakat sebagai syariat Islam. Penulis relawan zakat, kini tinggal di Aceh

Zakat Dalam UU Pemerintahan Aceh
Oleh Hendra Saputra, MA Undang-undang No. 11 Tahun 2006 tentang Pemerintahan Aceh (UUPA) merupakan Undang-undang yang sangat spesial bagi masyarakat Aceh. Lahirnya Undang-undang ini punya latar belakang yang panjang dan punya sejarah tersendiri. Lahirnya undang-undang ini diharapkan menjadi solusi dalam tegaknya perdamaian di Bumi Serambi Mekkah yang telah lama mencekam dan seram akibat konflik. Disamping itu, faktor lain yang melatar belakangi lahirnya Undang-undang ini salah satunya ialah semangat dalam mengimplementasikan syariat Islam secara kaffah di Aceh. Zakat merupakan salah satu bagian dari pelaksanaan syariat Islam di Aceh. Dalam UUPA, terdapat tiga pasal yang berkaitan dengan zakat, adalah sebagai berikut: Pasal 180 ayat (1) huruf d menyebutkan: “Zakat merupakan salah satu sumber Penerimaan Daerah (PAD) Aceh dan PAD Kabupaten/Kota” Pasal 191 menyebutkan: “Zakat, harta wakaf, dan harta agama dikelola oleh Baitul Mal Aceh dan Baitul Mal Kabupaten/Kota yang diatur dalam Qanun” lalu Pasal 192 menyebutkan: “Zakat yang dibayar menjadi pengurang terhadap jumlah Pajak Penghasilan (PPh) terhutang dari wajib pajak.”
Derefasi ketiga pasal tersebut di atas, telah diatur dalam qanun No. 10 Tahun 2007 tentang Baitul Mal. Ketiga pasal sebagaimana telah diuraikan di atas, menegaskan bahwa zakat bukan hanya kewajiban syariah semata, melainkan kewajiban yang telah ditetapkan oleh negara. Dengan demikian, pemerintah dapat memaksa warga negara untuk menunaikan zakat, hal ini semakin jelas dengan masuknya zakat sebagai salah satu PAD. Berbagai alasan dapat saja dikemukakan agar terhindar dari kewajiban zakat, namun pemerintah dapat menyelesaikan dan mengambil tindakan tegas dengan menggunakan peraturan yang ada, dengan tidak mengabaikan aturan yang telah ditetapkan syariah. Pemaksaan untuk membayar zakat oleh pemerintah muncul pertama kali pada masa Khalifah Abu Bakar Ash Shiddiq. Pada saat itu, khalifah menyatakan perang terhadap Kabilah Abs dan Zubyan yang membangkang untuk menunaikan zakat. Kemudian setelah itu, tidak muncul lagi masalah pembangkangan zakat, namun lebih cendrung kepada pengelolaannya. Kegemilangan pengelolaan zakat mencapai puncaknya pada masa Khalifah Umar ibn ‘Abdul Azis, dimana pada masa itu tidak didapati seorang pun mustahiq, sehingga dana zakat digunakan untuk membiayai pernikahan bagi pemuda/i yang tidak memiliki biaya untuk melangsungkan pernikahan. Masuknya zakat dalam UUPA, kiranya secara perlahan Pemerintah Aceh dapat mengulang masa kegemilangan pengelolaan zakat sebagaimana pada masa khalifah, hanya saja sekarang diperlukan keberanian, ketegasan dan keseriusan. Bahkan untuk nama lembaganya pun sama seperti pada masa khalifah yaitu Baitul Mal yang mempunyai sejarah tersendiri dalam perjuangan Islam. Kemudian, untuk kewajiban zakat dalam UUPA, Aceh diberikan keistimewaan daripada Provinsi lainnya di Indonesia, yaitu “Zakat yang dibayar menjadi pengurang terhadap jumlah Pajak Penghasilan (PPh) terhutang dari wajib pajak.” Sebagaimana terdapat dalam pasal 192. Saat ini, BAZNAS, Forum Zakat (FOZ) dan lembaga zakat lainnya sedang berjuang untuk revisi UU

No. 38 Tahun 1999 tentang Pengelolaan Zakat, mereka menginginkan zakat yang dibayarkan sama seperti yang terdapat di dalam UUPA. Sementara, Aceh sejak disahkan UUPA pada tahun 2006 lalu, sampai saat sekarang belum dapat diimplementasikan. Masyarakat Aceh terus bertanya-tanya dan sedih mengapa UU yang telah ditetapkan, belum bisa dijalankan. Pemerintah Aceh berupaya untuk mengimplementasikan pasal 192 ini, namun mendapat penolakan dari Departemen Keuangan/DIRJEN Pajak, dengan alasan pajak penghasilan diatur secara tersendiri dalam UU No. 7 Tahun 1983 yang terakhir dirubah dengan UU No. 17 Tahun 2000 yang berlaku secara nasional dan mengikat siapapun tanpa kecuali. Padahal UUPA merupakan UU yang berlaku azas Leg Spesialis, yang hanya berlaku untuk Aceh. Permasalahan ini secara perlahan sepertinya mulai redup, bahkan dalam beberapa pertemuan yang membahas tentang Implementasi UUPA, pasal ini nyaris saja luput dalam pembahasan. Bila terus terjadi, maka dapat dipastikan pasal ini hanya akan menjadi hiasan atau pajangan dalam UUPA semata, tanpa ada implementasi. Semangat untuk menjalankan syariat Islam dengan dukungan UUPA yang merupakan UU yang sangat spesial bagi masyarakat Aceh, sepertinya hanya akan menjadi dongeng belaka tanpa ada keikhlasan dari Pemerintah Pusat dan keseriusan dari Pemerintah Aceh untuk mengimplementasikan pasal-pasal dalam UUPA yang berkaitan dengan syariat Islam, termasuk masalah zakat. Sekiranya masyarakat Aceh secara bersama-sama mendorong dan berdoa, agar aparatur di Pemerintah Pusat dapat terbuka hatinya untuk mencermati kembali pasal 192 UUPA ini, agar kekhususan yang terdapat dalam UUPA ini dapat dirasakan. Kepada Pemerintah Aceh kiranya dapat lebih giat untuk memperjuangkan pasal ini kepada Pemerintah Pusat agar dapat diimplementasikan. Semoga tulisan ini dapat bermanfaat. Wallahu ‘alam bi ash shawaf. Penulis, amil Baitul Mal Aceh SUMBER : http://www.gemabaiturrahman.com/2010/05/zakat-dalam-uu-pa.html

Intensifikasi Zakat Sebagai PAD
April 1, 2011 tags: apba, apbd, PAD, Sayed Muhammad Husen, zakat oleh syukriy Sayed Muhammad Husen Satu dari 18 catatan DPR Aceh terhadap realisasi APBA 2007 adalah, supaya Pemerintah Aceh meningkatkan PAD dengan melakukan intensifikasi dan ekstensifikasi zakat (Kontras, 17/12/ 2008). Catatan ini cukup beralasan, mengingat ketentuan UU No 11/2006 tentang Pemerintahan Aceh (UUPA) Pasal 180, bahwa zakat merupakan salah satu sumber Pendapatan Asli Aceh dan Pendapatan Asli Kabupaten/Kota. Pertanyaanya, bagaimana PAD zakat ini dapat ditingkatkan? Benarkah potensi zakat cukup besar di Aceh? Mengapa PAD zakat belum signifikan? Mengapa pula Baitul Mal sebagai otoritas pengumpulan zakat belum bekerja maksimal dalam mendongkrak pendapatan zakat? Apa pula kendala yang dihadapi Baitul Mal dalam meningkatkan kinerjanya? Peningkatan penghimpunan zakat sebagai PAD terkait erat dengan kebijakan pemerintah (provinsi dan kabupaten/kota) terhadap regulasi dan manajemen Baitul Mal. Dari segi regulasi, memang, ketentuan Pasal 180 UUPA dapat menjadi dasar yang kuat. Regulasi ini telah dilengkapi dengan Qanun No 10/2007 tentang Baitul Mal, Permendagri tentang Sekretariat Baitul Mal dan Lembaga Keistimewaan Aceh lainnya (MPU, MAA dan MPD), Pergub tentang Mekanisme Pengelolaan Zakat dan Pergub tentang Susunan Organisasi dan Tata Kerja Baitul Mal Aceh. Saya mendapatkan informasi, masalah mendasar yang dirasakan Baitul Mal tingkat provinsi dan kabupaten/kota adalah, belum mendukungnya manejemen kelembagaan untuk meningkatkan pendapatan zakat. Hal ini dapat dimaklumi, Baitul Mal Aceh baru beroperasi Januari 2004, sementara Baitul Mal Kabupaten/Kota rata-rata baru beroperasi 2006. Ada Baitul Mal Kabupaten/Kota yang baru diresmikan 2008 (Sabang dan Tamiang). Bahkan, Pemerintah Kabupaten Pidie Jaya dan Kota Sabulussalam hingga Januari 2009 belum membetuk Baitul Mal. Menurut Kepala Baitul Mal Aceh, Amrullah, dari potensi yang ada bisa saja Baitul Mal mengumpul zakat hingga mencapai Rp 1 trilyun. Sumber zakat ini berasal dari berbagai jenis zakat susuai ketentuan Qanun Baitul Mal mencakup zakat fitrah, penghasilan/pendapatan dan jasa, emas, uang, perdagangan, perusahaan, perindustrian, pertanian, perkebunan, perikanan, peternakan, pertambangan, dan rikaz. Menurut ketentuan qanun, yang termasuk PAD hanya zakat yang dipungut oleh Baitul Mal Aceh dan Baitul Mal Kabupaten/Kota. Tidak termasuk zakat mal dan zakat fitrah yang dihimpun oleh Baitul Mal Gampong. Karena itu, potensi Rp 1 trilyun tak seluruhnya menjadi PAD. Baitul Mal Aceh dan Baitul Mal Kabupaten/Kota tahun 2007 baru berhasil mengumpulkan zakat Rp 38 milyar/tahun (Data Baitul Mal Directory 2007). Diperkirakan 2008 meningkat hingga 43 milyar (datanya sedang dikumpulkan). Sementara Baitul Mal Aceh saja baru berhasil menghimpun zakat Rp 3 milyar/tahun. Zakat fitrah dan zakat mal yang dihimpun

Baitul Mal Gampong belum ada datanya, walaupun secara formal 30% Baitul Mal Gampong telah terbentuk. Jadi, untuk dapat meningkatkan penghimpunan zakat sebagai PAD diperlukan langkahlangkah konkret, antara lain: Pertama, perlunya penyamaan persepsi pemerintah dan legislatif terhadap regulasi zakat di Aceh. Kenyataan selama ini, baru sebagian saja pemerintah dan DPRK yang menganggap penting penghimpunan zakat sebagai PAD. Zakat baru dipahami sebagai bagian syariat Islam, belum menjadi otoritas negara. Di tingkat provinsi pun, persepsi ini belum sama, sehingga sinerjisitas antara Baitul Mal Aceh, Sekretariat Daerah dan Dinas Pengelolaan Keuangan dan Kekayaan Aceh belum terwujud. Kedua, perlu segera dituntaskan kerancuan pemahaman terhadap ketentuan Pasal 192 UUPA tentang zakat dapat mengurangi pajak penghasilan. Memang, menurut Amrullah, Pemerintah Aceh pernah menyurati Dirjen Pajak untuk dapat mengeluarkan keputusan supaya ketentuan ini dapat dilaksanakan. Hanya saja, secara tertulis Dirjen Pajak mengatakan, ketentuan tersebut tak dapat dilaksanakan karena bertentangan dengan UU Pajak Penghasilan. Untuk ini, diperlukan advokasi yang tuntas oleh Pemerintah Aceh, dengan cara meminta fatwa Mahkamah Agung atau judicial review melalui Mahkamah Konstitusi. Ketiga, menjadikan Baitul Mal sebagai amil profesional. Ini adalah hal mendesak harus dipenuhi dalam waktu dekat. Lima tahun kiprah Baitul Mal Aceh sudah cukup untuk “memproklamirkan” diri sebagai sebuah badan amil profesional. Demikian juga Baitul Mal Kabupaten/Kota. Pimpinan dan karyawan harus direkrut berdasarkan kualifikasi dan kompetensi yang memadai. Profesionalisme Baitul Mal dapat diwujudkan melalui pembenahan sistem menajemen, akuntansi, merketing/fundraising, teknologi informasi, kualitas SDM dan fasilitasi biaya operasional dengan dana ABBD/APBK. Selain upaya di atas, saya juga menganggap penting pembudayaan zakat melalui pendidikan dan sosialisasi terpadu dan berkelanjutan. Saatnya penghimpunan zakat tidak hanya terfokus pada zakat penghasilan PNS dan kaum profesional saja, tapi patut dipikirkan strategi jangka panjang dengan meningkatkan pengetahuan dan kesadaran umat terhadap kewajiban berzakat. Semoga zakat sebagai PAD dapat diintensifkan 2009 ini sebagaimana harapan DPRA, sehingga zakat menjadi solusi bagi pemberdayaan ekonomi dan sosial keislaman masyarakat Aceh. Sumber: http://www.sayedmuhammadhusen.blogspot.com/

Ketentuan Pidana Zakat di Aceh
Oleh Sayed Muhammad Husen Zakat dan pengelolaannya di Aceh, selain merupakan ketentuan syariat Islam, telah pula menjadi hukum positif. Sebab zakat dan pengelolaannya diatur dengan Undang-Undang Nomor 11 tahun 2006 tentang Pemerintahan Aceh (UUPA) dan Qanun Aceh Nomor 10 tahun 2007 tentang Baitul Mal. Zakat sebagai hukum positif mengikat muzakki (wajib zakat) dan mengatur amil sebagai pemegang otoritas manajemen zakat. UUPA pasal 191 memberi kewenangan pengelolaan zakat kepada Baitul Mal Aceh dan Baitul Mal kabupaten/kota dalam provinsi Aceh, yang selanjutnya diatur dengan Qanun Aceh. Pasal 192 UUPA menjadi landasan zakat sebagai pengurang pajak penghasilan dan pasal 180 menetapkan zakat sebagai salah satu PAD (Pendapatan Asli Daerah). Karena itu, zakat di Aceh dikelola oleh negara (pemerintah). Tak diberi ruang lagi pihak swasta menjadi amil zakat. Pasal 21 ayat (1) Qanun 10/2007 menetapkan, “Setiap orang yang beragama Islam atau badan yang dimiliki oleh orang Islam dan berdomisili dan/atau melakukan kegiatan usaha di Aceh yang memenuhi syarat sebagai muzakki menunaikan zakat melalui Baitul Mal setempat.” Qanun juga telah menetapkan wilayah kerja masing-masing tingkatan Baitu Mal: Baitul Mal Aceh, Baitul Mal Kab/Kota, Baitul Mal Kemukiman (pemerintahan setingkat di bawah kecamatan) dan Baitul Mal Gampong/Desa. Sementara jenis-jenis harta yang wajib dikeluarkan zakat, disebutkan dalam Pasal 18 Qanun 10/2007, yaitu: zakat emas, perak, logam mulia lainnya dan uang; zakat perdagangan dan perusahaan; zakat perindustrian; zakat pertanian, zakat perkebunan dan perikanan; zakat peternakan; zakat pertambangan; zakat pendapatan dan jasa; dan zakat rikaz. Ketentuan pidana Lebih lanjut, terhadap pelanggar zakat di Aceh, dikenakan pidana seperti diatur dalam pasal 50, bahwa setiap muzakki (orang Islam atau badan) yang tidak melaksanakan kewajibannya, dihukum karena melakukan jarimah ta’zir (hukuman denda) dengan ‘uqubat (pidana), berupa denda paling sedikit satu kali nilai zakat yang wajib dibayarkan, paling banyak dua kali nilai zakat yang wajib dibayarkan. Bagi perusahaan yang memerlukan audit khusus oleh Baitul Mal, wajib membayar seluruh biaya yang diperlukan. Qanun 10/2007 juga menetapkan pidana bagi yang membuat surat palsu atau memalsukan surat Baitul Mal yang dapat mengakibatkan gugurnya kewajiban membayar zakat, yaitu dihukum dengan uqubat ta’zir berupa denda paling banyak Rp 3 juta, paling sedikit Rp 1 juta atau hukuman kurungan paling lama tiga bulan atau paling sedikit satu bulan. Kemudian, siapa yang melakukan, turut melakukan atau membantu melakukan penggelapan zakat atau harta agama lainnya, yang seharusnya diserahkan pengelolaannya kepada Baitul Mal, dihukum berupa cambuk di depan umum paling sedikit satu kali, paling banyak tiga kali, dan denda paling sedikit satu kali, paling banyak dua kali dari nilai zakat, waqaf dan harta agama yang digelapkan. Amil (petugas Baitul Mal) yang mengelola zakat fitrah dan zakat mal pada Baitu Mal Gampong dan

nazir waqaf, yang melakuklan penyelewengan pengelolaan zakat dan harta agama dihukum uqubat ta’zir berupa denda Rp 1 juta, paling banyak Rp 3 juta atau hukuman kurungan paling singkat dua bulan atau paling lama enam bulan dan membayar kembali kepada Baitul Mal senilai zakat atau harta gama yang diselewengkan. Sementara jika pelanggaran atau penyelewengan dilakukan oleh badan (perusahaan, PT, CV dan koperasi dan yayasan sebagai wajib zakat) ‘uqubatnya dijatuhkan kepada pimpinan atau pengurus badan tersebut, sesuai dengan tanggungjawabnya. Qanun 10/2007 pasal 45-49 telah pula mengatur tentang mekanisme penyidikan dan penuntutan terhadap pelanggaran zakat dan pengelolaannya di Aceh, sehingga Baitul Mal dapat melaporkan kepada polisi muzakki yang ingkar zakat dan amil yang melakukan penyimpangan zakat dan harta agama. Selanjutnya diadili oleh Mahkamah Syar’iyah. Demikian ketentuan pidana Islam tentang zakat dan pengelolaannya di Aceh, yang telah diatur dalam Qanun 10/2007, sebagai implementsai syariat Islam kaffah. Ketentuan pidana ini lebih maju dibandingkan pengaturan dalam UU Nomor 38 tahun 1999 tentang Pengelolaan Zakat, yang hanya memberi sanksi kepada amil yang melakukan penyimpangan. Semoga dengan ketentuan pidana ini kesadaran muzakki akan terus meningkat dan amil pun lebih amanah dan profesional. Zakat semakin dirasakan manfaatnya dalam mewujudkan keadilan ekonomi dan pembebasan sosial di negeri ini. Sumber: http://www.hidayatullah.com/read/18599/24/08/2011/ketentuan-pidana-zakat-di-aceh.html

Kajian Zakat di Kampus
Oleh Sayed Muhammad Husen

Dalam lima tahun terakhir kajian tentang zakat di kampus perguruan tinggi semakin diminati. Demikian sekilas amatan saya dan berinteraksi langsung dengan beberapa aktivitas kajian dan penelitian tentang zakat. Indikator yang ada menunjukkan dosen dan mahasiswa Universitas Syiah Kuala dan IAIN Ar-Raniry semakin meminati kajian zakat. Yang terbaru, tim dosen Fakultas Ekonomi Unsyiah meneliti tentang desain organisasi, akuntansi dan transparansi pengelolaan zakat pada Baitul Mal Aceh (BMA). Dosen fakultas hukum meneliti implementasi zakat sebagai PAD. Saya sendiri mendapat amanah mengajar mata kuliah Perundang-undangan Zakat pada Fakultas Syariah (2004), kemudian hingga sekarang mengajar mata kuliah Manajemen Zakat, Infaq dan Shadaqah Fakultas Dakwah dan mata kuliah Perundang-undangan Waqaf, Zakat dan Baitul Mal Fakultas Hukum Universitas Muhamadiyah Aceh. Fakta lain menarik kita simak, hampir setiap bulan ada saja mahasiswa konsultasi untuk menulis skipsi dan tugas mata kuliah ke BMA. Ada juga yang magang atau praktek kerja, seperti dari D3 Akuntansi Unsyiah, D3 Perbankan Syariah IAIN Ar-Raniry dan STAIN Malikussaleh. Puluhan orang telah menyelesaikan laporan, skripsi, tesis dan desertasi dengan obyek penelitian BMA. Belum lagi yang di Baitul Mal Kab/Kota (BMK). Para amil BMA juga mendapatkan informasi dari interaksi pribadi dan forum diskusi/seminar yang dihadirinya, bahwa mahasiswa dan dosen semakin sering membahas tema-tema zakat dan baitul mal. Pembahasan itu dilakukan dalam kuliah maupun secara informal dalam obrolan warung kopi. Tentu pembahasannya ada yang positif, ada yang begatif. Ada yang mendukung gerakan zakat di bawah lokomotif baitul mal, ada pula yang mengkritisinya. Maraknya kajian zakat dikalangan intektual tak terlepas dari iklim yang kondusif, yaitu formalisasi syariat Islam di Aceh sejak 2002. Salah satu agenda pelaksanaan syariat Islam kaffah adalah pembentukan baitu mal. Badan amil resmi ini berwenang mengelola zakat, waqaf dan harta agama lainnya. Maka dikeluarkanlah SK Gubernur Nomor 18/2003 tentang Susunan Organisasi dan Tata Kerja Baitul Mal, sebagai dasar hukum pembentukan Baitul Mal Aceh. BMA (ketika itu bernama Badan Baitul Mal Provinsi NAD) mulai beroperasi secara resmi pada 12 Januari 2004, ditadai dengan pelantikan Kepala BMA (Drs HM Yusuf Hasan SH) dan Wakil Kepala (Drs H Nurdin AR) oleh Gubernur Aceh, Abdullah Puteh. Saya memahami gairah dosen dan mahasiswa menulis atau meneliti tentang zakat, telah memberikan kontrubsi cukup berarti bagi gerakan zakat di Aceh. Gerakan zakat mencakup sosialisasi, edukasi, regulasi dan menajemen yang baik. Sementara kontribusi yang diberikan kalangan kampus lebih bersifat sosialisasi dan edukasi spontan dan swadaya. Baitul Mal tak perlu mengeluarkan biaya, kecuali dalam bentuk sponsorship penelitian. Kajian zakat di kampus semakin pentingnya maknanya jika terus berkembang hingga ke perguruan tingga swasta di seluruh Aceh. Untuk ini, baitul mal perlu mendorong kaum intektelual mengkaji, meneliti dan menulis tentang zakat dengan cara mengintensifkan “kampanye” zakat, waqaf dan harta agama lainya di kampus-kampus seluruh Aceh. Kampanye dapat dilakukan dalam dilakukan dalam bentuk seminar, diskusi, warkshop atau sayembara menulis. Bisa juga mensponsori penelitian zakat. Salah satu issue zakat yang dianggap menarik menjadi tema kajian di kampus adalah zakat produktif, yaitu bagaimana mendayagunakan zakat sebagai modal usaha dan memberdayakan ekonomi kaum

dhuafa. Hal ini didukung oleh tesis dan disertasi tentang zakat produktif oleh Hendra Saputra MA dan Dr Armiadi Musa MA. Bahkan, Shafwan Bendadeh juga sedang menulis tesis serupa: pengelolaan zakat produktif oleh BMA. Atau, bisa juga tema bagaimana mewujudkan keadilan ekonomi dan sosial dengan dana zakat. Percayalah, tema zakat tak akan kering dari inspirasi, apalagi jika dilihat dari perspektif delapan asnaf zakat. Sungguh zakat tetap menjadi kajian menarik di perguruan tinggi dan juga di dalam masyarakat.

Zakat Produktif: Memberdayakan Ekonomi Kaum Miskin
Oleh: Sayed Muhammad Husen

Istilah zakat produktif dapat ditemui dalam UU No 38/1999 tentang Pengelolaan Zakat. Istilah ini dimaksudkan, sebagian dana zakat dapat disalurkan dengan pola produktif, selain disalurkan dalam bentuk konsumtif. Zakat menjadi sumber dana pemberdayaan ekonomi fakir miskin. Qanun Aceh No 10/2008 tentang Baitul Mal juga menganut prinsip ini, bahwa zakat di Aceh dapat disalurkan dalam bentuk produktif di antaranya pemberian modal usaha kepada fakir miskin. Dengan ketentuan ini, maka zakat produktif telah menjadi fikih negara, artinya, perbedaan pendapat dikalangan ulama tentang boleh tidaknya penyaluran zakat dalam bentuk bergulir atau diproduktifkan telah berakhir dengan adanya ketentuan UU dan qanun. Baitul Mal atau lembaga zakat lainnya menjadikan regulasi ini sebagai pedoman operasional dalam mendayagunakan zakat.

Sebelum UU dan qanun zakat disahkan, sejak awal tahun 80-an pekerja ekonomi kerakyatan syariah di Indonesia telah mengembangkan konsep lembaga keuangan mikro syariah (LKMS) baitul mal wat tamwil (BMT) atau di Aceh dikenal dengan baitul qiradh. Sebagian dana yang dihimpun dan didayagunakan LKMS ini juga berasal dari sumber zakat, infaq dan sedekah (ZIS). Hanya saja, waktu itu belum ada regulasi negara.

BMT menyalurkan dana yang bersumber dari zakat kepada nasabah/anggota yang baru memulai usaha (wirausaha baru) dan kepada yang usahanya gagal. BMT merasa bertanggungjawab terhadap nasabah yang gagal dan mendukungnya untuk bangkit kembali dengan menyuntikkan dana segar dari sumber zakat. Dengan dana ini nasabah tidak lagi terbebani bagi hasil/margin.

Zakat produktif pernah disalurkan dalam jumlah terbatas oleh Badan Amil Zakat Infaq dan Shadaqah (BAZIS) di Aceh (1993-2003). Hanya saja, penyalurannya belum menggunakan prinsip-prinsip pendampingan dan dalam jumlah dana yang terbatas. Karena, BAZIS belum mampu menghimpun dana dalam jumlah besar.

Pengalaman Baitul Mal Aceh (BMA) yang beroperasi 13 Januari 2004 sejak awal telah menyiapkan Program Zakat Produktif (PZP) dengan melatih pengelola dan pendamping lapangan. Pengelola PZP dilatih oleh Pinbuk Aceh dengan menggali pengalaman teman-teman pekerja baitul qiradh di Aceh yang telah merasakan asam garam dalam mengentaskan kemiskinan melalui LKMS (mulai 1995).

Dalam rangka rehabilitasi Aceh pasca tsunami, BMA menyalurkan zakat produktif melalui kerjasama dengan BPRS Hareukat, BPRS Baiturrahman dan BPRS Hikmah Wakilah. Program ini tidak berlangsung lama, karena BMA ingin mengganti formula penyaluran modal usaha tanpa bagi hasil/margin dengan pola qardhul hasan (tanpa bagi hasil dan margin). Pola ini sangat mungkin dilakukan, karena BMA mendapatkan dana operasional dari APBA.

Sejak 2006 hingga sekarang, BMA menyalurkan zakat produktif melalui badan otonom yang khusus dibentuk yaitu UPZP (Unit Pengelola Zakat Produktif). Unit ini dipimpin oleh seorang manajer, ditambah tenaga administrasi/pembukaan, dan pendamping lapangan. Mereka telah mendapatkan pembekalan dari praktisi zakat, pegiat ekonomi kerakyatan dan pekerja baitul qiradh di Banda Aceh dan Jakarta.

BMA menyalurkan zakat produktif kepada tiga sektor: pertama, peternakan sapi dan kambing; kedua, petani sayur dan holtikultura; dan ketiga, usaha mikro di pasar-pasar tradisional di Banda Aceh dan Aceh. Hingga kini telah membina hampir 500 mustahik dengan total dana bergulir Rp 2 milyar. Mereka menerima modal usaha Rp 500 ribu hingga Rp 5 juta.

Penerima zakat produktif harus memenuhi persyaratan yang telah ditetapkan UPZP antara lain: berasal dari keluarga miskin; punya potensi wirausaha atau pengalaman awal bertani/ternak; komitmen mengembalikan dana dalam periode satu tahun; bersedia mengikuti pengajian bulanan; dan mengikuti aturan-aturan yang telah disepakati dalam kelompok dampingan, termasuk bersedia menanda-tangani perjanjian kerjasama.

Dalam melakukan pendataan, pendamping UPZP menggunakan sistem jemput bola. Calon mustahik didatangai ke lokasi masing-masing untuk diwawancarai dan verifikasi. Demikian juga cicilan angsuran setiap bulan dijemput ke lokasi, saat pengajian bulanan berlangsung di masjid/meunasah sekitar lokasi dampingan UPZP. Bahkan, pernah terjadi pengajian bulanan berlangsung di gubuk lokasi petani cabai.

Penerima zakat produktif dilanjutkan pinjamannya setelah lunas. Namun, tidak dilanjutkan lagi bagi yang tidak punya itikad baik. Misalnya tidak disiplin dalam mengangsur pinjaman dan mengikuti pengajian bulanan. Bagi yang gagal akibat musibah atau hal-hal yang tidak disengaja akan ditambah dengan santunan zakat konsumtif dan tidak perlu dikembalikan. Diberikan juga zakat konsumtif dan peralatan kerja bagi petani sayur/hortikultura sambil menuggu hasil panen/produksi.

Sebelum zakat produktif disalurkan, dilakukan sosialisasi supaya mustahik dapat memahami maksud dan tujuan program, termasuk memahami filosofi zakat produktif dan mengapa pengajian bulanan menjadi penting. Sosialisasi juga diakukan kepada masyarakat sekitar lokasi dan masyarakat luas tentang ketentuan fikih dan regulasi zakat produktif di Aceh. Telah pula dilakukan penyamaan persepsi soal zakat produktif ini bagi amil zakat/karyawan baitul mal seluruh Aceh.

Dari hasil evaluasi pengelola UPZP, 20% dari musthik memang bermasalah, misalnya tidak disiplin mencicil pinjaman, bahkan ada yang macet; tidak rutin mengikuti pengajian bulanan; menganggap zakat produktif tidak perlu dikembalikan; tidak jujur dan amanah; dan sebagian lagi gagal usaha karena belum berpengalaman, faktor cuaca/alam, dan pilihan usaha yang tidak tepat.

Pengembangan Selain Baitul Mal Aceh, Baitul Mal Kabupaten/Kota seluruh Aceh juga melakukan program serupa. Telah ada keputusan bersama antar baitul mal se Aceh untuk menyalurkan zakat produktif 40% dari senif miskin. Untuk pengelolaannya dibentuk UPZP di level kabupaten/kota.

Pengembangan zakat produktif untuk memberdayakan ekonomi kaum miskin ini terjadi perkembangan yang cepat. Sebab, selain zakat produktif juga dapat disalurkan infaq produktif yang sifatnya lebih longgar dari segi fikih. Infaq produktif adalah sejumlah dana yang dihimpun baitul mal dari pengusaha rekanan pemerintah. Setiap pengusaha yang mencairkan dana proyek di kas daerah dipungut infaq 0,5% dari total nilai proyek.

Selain BMA, di antara BMK yang telah mengembangakan infak produktif yaitu Baitul Mal Aceh Besar, Pidie, Aceh Utara dan Abdya. Kabupaten yang terakhir ini malah lebih maju lagi dengan gagasan pengembangan kebun kelapa sawit dan memproduktifkan sebagian anggaran gampong melalui Baitul Mal Gampong (BMG).

Selain mengoptimalkan zakat produktif, sedang dikaji kemungkinan mengelola infak dan sumber dana lainnya dengan pola komersial. Sehingga, baitul mal dapat berperan ganda: fungsi sosial dan fungsi komersial. Fungsi sosial dilakukan dengan optimaliasi zakat, sementara fungsi komersial melalui pendayagunaan dana infak.

Refleksi Zakat produktif diyakini dapat menjadi alternatif sumber dana pemberdayaan ekonomi kaum miskin. Masalahnya sangat tergantung pada kemampuan baitul mal dalam menghimpun, mengelola dan mendayagunakan dana zakat. Baitul Mal dituntut memperkuat kelembagaan, meningkatkan kulitas SDM pengelola (amil) dan melengkapi regulasi yang diperlukan.

Bahkan, untuk jangka panjang, BMG dapat diperankan sebagai satu institusi pemberdayaan ekonomi rakyat. Berbagai program pemberdyaan ekonomi rakyat yang selama ini berlangsung di tingkat paling bawah (gampong) dapat diintegrasikan kepada BMG sebagai satu lembaga yang bekerja secara profesional dan bekelanjutan. Keunggulan baitul mal karena mengembangkan eknonomi kaum miskin dengan mengggunakan pola ekonomi syariah.

Kita mengharapkan, pemberdayaan ekonomi kaum miskin dengan menggunakan dana zakat produktif menjadi satu model pemberdayaan ekonomi yang dapat dikembangkan di seluruh pelosok Aceh.

Selain bentuk memerangi kemiskinan, upaya ini menjadi bagian dari implementasi syariat Islam di bidang ekonomi. Untuk ini, BMA dan BMK menjadi faktor penentu, apakah proram ini dapat dilaksanakan berkelanjutan dengan manajemen yang profesional? Semoga para amil yang telah mengikrarkan diri kebekerja demi perbaikan nasip kaum miskin, dapat terus menerus menginstal energi jihadnya bagi pembebasan kaum miskin dari jeratan kemiskinan.

Pendayagunaan Zakat Fitrah
Oleh Sayed Muhammad Husen Pada umumnya muslimin Aceh menunaikan zakat fitrah pada penghujung bulan suci ramadhan. Mereka menyerahkan kepada panitia yang ada di masjid, meunasah, bahkan ada juga yang membayar zakat fitrah kepada guru pengajian. Hanya sedikit yang menyerahkan masing-masing kepada mustahik atau melalui organisasi keagamaan, Perti dan Muhammadiyah, misalnya. Biasanya, sebuah kampung, sejak malam 27 ramadhan secara otomatis terbentuk panitia penerima zakat fitrah yang dikomandoi oleh imam masjid/meunasah. Dibantu oleh beberapa anggota dari unsur aparatur gampong dan kepemudaan. Mereka berkerja dua hingga tiga malam untuk menerima dan

mendisribusikan zakat ini. Bahkan, bagi gampong yang penduduknya relatif sedikit, mereka mampu menyelesaikannya dalam satu malam. Pada umumnya di Aceh, zakat fitrah dibayar dalam bentuk beras atau uang tunai. Diterima dan dicatat oleh panitia (amil). Bahkan, ada yang disertai dengan bacaan, bahwa zakat telah diserahkan dan panitia pun menerimanya untuk disalurkan kepada yang berhak menerimanya. Terjadilah ijab kabul. Hal menarik dari prosesi penerimaan dan penyaluran zakat fitrah di gampong, semuanya terjadi dalam suasana terbuka dan penuh persaudaraan. Masyarakat dapat menyaksikan dari dekat siapa saja yang menyerahkan dan siapa pula yang menerima zakat fitrah. Dapat pula mengakses pencatatan dan pelaporan zakat yang dibuat oleh panitia. Sungguh transparan. Sungguh pengelolaan zakat fitrah di gampong berlangsung dalam semangat silaturrahim antar warga gampong. Celaknya memang, kita masih menjumpai gampong tertentu yang mendistribusikan zakat fitrah kepada 100% warga. Dengan semangat kebersamaan pula, mereka telah memutuskan, bahwa 100% warga gampong itu terdiri dari fakir miskin. Tak ada upaya untuk memilah mana yang sudah dianggap “mampu” (tak pantas menerima zakat) dan siapa pula yang masih miskin. Seharusnya, pihak berwenang, dalam hal ini Dinas Syariat Islam dan Departemen Agama perlu lebih gencar lagi melakukan sosialisasi, bahwa zakat fitrah hanya diperuntukkan bagi fakir dan miskin. Kemudian pihak kantor statistik, juga dapat melakukan hal serupa dan menjelaskan berapa persen sebenarnya fakir dan miskin pada setiap gampong di Aceh. Dengan demikian, kita harapkan, zakat fitrah akan lebih mendekati sasaran yang ingin dicapai yaitu “memberdayakan” fakir miskin. Andai saja zakat fitrah benar-benar didistribusikan untuk fakir miskin, maka sebagian dari zakat fitrah itu dapat digunakan untuk pemberdayaan ekonomi yang berkelanjutan. Sehingga pemberdayaan tidak hanya berlangsung selama tiga atau empat hari, hanya selama idul fitri saja. Sumber: Gema Baiturrahman

Mengoptimalkan Fungsi DPS Baitul Mal Aceh
Oleh: Sayed Muhammad Husen Dewan Pertimbangan Syariah (DPS) adalah unsur penting dalam kelembagaan Baitul Mal Aceh (BMA), selain dua unsur lainnya: Badan Pelaksana (Bapel) dan Sekretariat. Dikatakan penting, karena kebijakan umum pendayagunaan zakat disahkan oleh DPS. Pendayagunaan zakat tentu berdampak luas terhadap pemberdayaan sosial, ekonomi dan pengembangan citra BMA. DPS yang terdiri dari ulama, pakar zakat dan ahli keuangan Islam mendapatkan mandat “mewakili” gubernur dalam menetapkan penggunaan dana ZISWAF. Keberadaan DPS-BMA menjadi silang pendapat dikalangan legislator DPRA pada 2007, sehingga Qanun Aceh Nomor 10 Tahun 2007 tentang Bitul Mal tidak mengakuai eksistensi DPS. Menurut mereka, peran dan fungsi DPS sebagai pengawas BMA dapat dilakukan oleh Mejelis

Permusyawaratan Ulama (MPU) dengan cara memaksimalkan fungsi lembaga ulama yang telah ada. Pada 2009 dan 2010, Dewan Syariah (DS) yang dibentuk sejak 2004 maka diganti dengan Tim Pembina (TP), yang di-SK-kan oleh MPU Aceh. Sementara sebelumnya DPS di-SK-Kan oleh gubernur. Pembentukan TP dilakukan untuk mengisi kekosongan pembuat kebijkan dan pengawasan fungsional BMA sebagai sebuah lembaga keuangan. Akhirnya, pada 2011 Tim Pembina berubah kembali namanya menjadi DPS yang dibentuk berdasarkan Pergub Nomor 4/2011 dan personalianya di-SK-kan oleh gubernur setelah mendapat rekomendasi MPU Aceh. Selama ini, DS, TP atau DPS telah menjalankan fungsinya, terutama dalam menetapkan dan mengesahkan alokasi pendayagunaan zakat, infak dan sedekah setiap tahun; menetapkan nishab zakat; mengeluarkan Serat Edaran Kriteria Asnaf Zakat dan melakukan pengawasan fungsional terhadap Bapel dan Sekretariat BMA. DPS juga menjadi mendiator dalam mengefektifkan komunikasi antara Bapel dengan Sekretariat. Namun, sebagai bagian dari upaya penguatan kelembagaan zakat se Aceh, patut dipikirkan peningkatan fungsi DPS. Hal ini perlu dilakukan mengingat keputusan-keputusan DPS berlaku seluruh Aceh dan berdampak signifikan terhadap kinerja BMA. Optimalisasi DPS paling dapat dilakukan dengan tiga cara, pertama, meningkatkan peran Sekretaris DPS yang dijabat oleh Kepala Sekretariat BMA. Sekretaris seharusnya memfasilitasi perencanaan dan tindaklanjut berbagai keputusan DPS. Selama ini, banyak pekerjaan DPS dibantu salah seorang Kabid pada Bapel BMA sambilan saja. Kedua, mengefektifkan sidang bulanan DPS seperti diamanahkan oleh Pergub. Tentu sidang bulanan ini diawali dengan konsep/bahan tertulis yang terlebih dahulu disiapkan oleh Bapel atau Sekretaris. Sidang-sidang ini direncanakan agendanya dengan baik untuk sepanjang tahun, sehingga dapat diprediksi agenda apa saja yang mesti dibahas dan akan menjadi keputusan DPS. Ketiga, melibatkan DPS dari proses perencanaan, pelaksanaan hingga tahap evaluasi berbagai program dan kegiatan BMA. Dengan cara ini, Bapel dan Sekretariat mendapatkan arahan, bimbingan dan pengawasan yang lebih konprehensif. Dalam pelaksanaan kegiatan misalnya, DPS lebih maksimal lagi berperan sebagai narasumber dalam mensosialisasilan zakat seluruh Aceh. Bisa juga DPS memberikan nasihat dan pengawasan dalam memperkuat program zakat produktif, fakir uzur dan program lainnya. Kelemahan selama ini yang membuat DPS tak maksimalkan berkerja, bahkan keputusankeputusannya pun sering dianggap terlambat, karena tak adanya “Sekretaris Eksekutif”. Pekerjaan DPS dikerjakakan oleh Sekretari DPS yang juga cukup padat dengan tugas pokok pribadi, sama halnya dengan anggota DPS lainnya. Memfungsikan Sekretaris DPS yang dijabat oleh Kepala Sekretariat BMA bisa menjadi solusi masalah ini. Jika pun Kepala Sekretariat sangat sibuk, dapat menotadinaskan seorang staf yang memiliki kompetensi yang memadai khusus memfasilitasi DPS. Sebagai contoh, hingga akhir Mei 2011, DPS belum berhasil mengesahkan pendayagunaan zakat dan infak yang mencapai Rp 65 milyar. Jika sejak awal telah jelas, siapa “Sekretaris Eksekutif” DPS, dia akan membuat perencanaan keputusan dan mendorong Bapel/Sekretariat menyiapkan bahan-bahan yang diperlukan. Termasuk mengefektifkan komunikasi antar enam personil DPS. Masih ada lagi masalah lain yang mendesak diselesaikan DPS adalah bagaimana mendayagunakan zakat sisa 2009 dan 2010 pada Bendahara Umum Aceh sekitar Rp 7 milyar.

Dengan optimalnya fungsi DPS dan keterpaduan kerja antar unsur di BMA, diharapkan akan lahir gagasan besar dalam pendayagunaan ZISWAF dan akselerasi gerakan zakat dalam mewujudkan keadilan dan kesejahteraan. Sudah saatnya, misalnya, DPS mengkaji perubahan posisi BMA sebagai eksekutor dalam pendayagunaan zakat menjadi lembaga funding. BMA bisa saja hanya sebagai penyandang dana, sementara penyaluran dan pendayagunaannya dilakukan oleh BMK atau mitra lainnya.

Memperkuat Kelembagaan Baitul Mal Gampong
Oleh Sayed Muhammad Husen Baitul Mal Gampong (BMG) adalah tingkatan Baitul Mal paling dekat dengan basis pengumpulan dan pendayagunaan zakat, waqaf dan harta agama lainnya. Muzakki (wajib zakat) diyakini lebih mudah membangun akses ke BMG untuk membayar zakat. Demikian pula akses mustahik (penerima zakat). Masyarakat pun lebih “dekat” dalam mengawasi pengelolaan dana ummat itu. Dalam beberapa kali diskusi dengan Dewan Pertimbangan Syariah Baitul Mal Aceh (DPS-BMA), disepakati BMG diharapkan menjadi ujung tombak manajemen zakat di Aceh. BMG bisa menjadi basis penyadaran, pemberdayaan dan transformasi mustahik menjadi muzakki. BMG menjadi pusat gerakan masyarakat sipil dalam mewujudkan kesejahteraan dan keadilan melalui efektifitas pendayagunaan dana zakat, waqaf dan harta gama lainnya. Masalahnya, hingga tujuh tahun lebih keberadaan Baitul Mal di Aceh, kelembagaan BMG belum diperkuat secara ssungguh-sungguh, baik dari segi peningkatan kapasitas SDM amil, penguatan

menajemen maupun penyediaan fasilitas kantor/sekretariat. Sebagian Baitul Mal Kab/Kota memang sudah membentuk BMG, hanya saja tidak melanjutkan dengan aksi berikutnya. Setelah BMG di-SKkan, dilantik, lalu dibiarkan bangkit sendiri tertatih-tatih. Dari data yang ada, hanya beberapa BMK saja yang melakukan Bimbingan Teknis (Bimtek) dan Rapat Kerja (Raker) dengan BMG. Bemtek sifatnya hanya memberikan gambaran organisasi dan regulasi zakat, belum menjawab masalah-masalah manajemen dan problem solving terhadap masalah perzakatan. Raker masih bersifat koordinatif dan syiar, dibandingkan sebagai media penguatan kelembagaan. Jadi, agenda yang mesti dirancang oleh BMK adalah bagaimana mendesain program dan kegiatan yang mampu memperkuat kelembagaan BMG. Dalam hal ini, paling tidak harus dilakukan tiga hal: Pertama, BMK seharusnya merancang emapat jenis pelatihan dasar bagi personalia BMG yaitu, Pelatihan Fikih Zakat; Pelatihan Manajemen Zakat; Pelatihan Akuntansi Zakat; dan Pelatihan Pengembangan Masyarakat/Pemberdayaan Ekonomi. Kedua, rekrutmen amil. Walaupun Qanun Nomor 10/2007 tentang Baitul Mal menetapkan Imum Gampong secara ex officio sebagai Ketua BMG, namun untuk menggerakkan kelembagaan BMG mestilah direkrut minimal dua orang tenaga muda yang memiliki kemampuan dan kapasitas individual yang memadai. Tenaga amil ini sebelum bertugas dilatih dan dimagangkan pada BMK atau badan amil lainnya. Ketiga, membuat Program BMG Percontohan. Program percontohan diperlukan sebagai model awal BMG untuk dapat ditiru atau “ditularkan” kepada BMG lain. Jadi untuk tahap awal, tak mesti seluruh gampong BMG dibentuk, cukup dimulai dengan gampong-gampong yang potensial saja (potensial dari segi sumber zakat dan SDM masyarakat). Sebab, pengalaman menujukkan, bahwa BMK tertentu telah membentuk hampir 70% BMG, namun tak berhasil mengoperasionalkannya. Untuk itu, sebagai langkah konkret penguatan BMG, maka BMA dan BMK dapat menginisiasi Program Pembentukan BMG Percontohan. Memulai dengan pemilihan gampong sasaran, penyiapan modul, pelatihan dan magang, hingga evaluasi dan monitoring. Pemilihan lokasi mestilah mempertimbangkan kalayakan dari segi potensi zakat, lokasi yang terjangkau dan mendapat dukungan sosial dari warga gampong setempat. Demikian pula, percepatan penguatan BMG dapat dilakukan dengan memberi peran yang besar terhadap gampong dalam pendistribusian dan pendayagunaan zakat. Selama ini, secara tak sadar, BMA dan BMK tak serius melibatkan gampong dalam penyaluran zakat. Gampong hanya dijadikan obyek, bukan sebagai subyek dalam penyaluran zakat. Padahal, gampong dapat diberikan peran yang besar dalam merencanakan dan melakukan pendistribusian/pendayagunaan zakat, sementara BMA atau BMK melalukan pembinaan dan menyiapkan standar pelaporan saja. Upaya penguatan kelembagaan BMG dapat dilakukan lebih cepat dan sungguh-sungguh, bila para petinggi Baitul Mal mamahami, bahwa basis transformasi ekonomi zakat sebenarnya berlangsung pada tingkat paling bawah: gampong. Itupun hanya mampu dilakukan oleh SDM amil profesional dan memiliki perspektif jauh ke depan, yaitu amil yang mendambakan perubahan radikal dalam struktur masyarakat yang belum berdaulat secara ekonomi. Maka BMG kita yakini bisa menjadi gerbong perubahan pada lapisan akar rumput di Aceh.

Melengkapi Regulasi Baitul Mal
Oleh Sayed Muhammad Husen Badan amil zakat Baitul Mal (BM) dibentuk di Aceh dalam rangka pelaksanaan syariat secara kaffah, sebagaimana diatur oleh UU Nomor 44/1999 tentang Penyelengaraan Keistimewaan Aceh. Konstitusi Indonesia melegitimasi empat keistimewaan Aceh: keistimewaan di bidang agama (syariat Islam), pendidikan, adat-itiadat dan peran ulama. BM juga merupakan implementasi UU Nomor 38/1999 tentang Pengelolaan Zakat. Sejarah formalisasi badan amil zakat dan waqaf di Aceh dimulai sejak pembetukan Badan Penertiban Harta Agama (BPHA) oleh Gubernur Aceh tahun 1973, yang kemudian namanya berubah menjadi Badan Harta Agama (BHA) tahun 1975. Badan ini berusia 20 tahun hingga dibentuk Badan Amil Zakat, Infaq dan Shadaqah tahun 1993. BAZIS beroperasi 10 tahun dan digantikan fungsinya oleh BM. Sebenarnya, UU Nomor 38/199 tentang Pengelolaan Zakat menetapkan dua organisasi pengelola zakat sebagai pengganti BAZIS, yaitu Badan Amil Zakat (BAZ) yang difasilitasi pemerintah dan Lembaga Amil Zakat (LAZ) yang dikelola oleh pihak non pemerintah. Namun, dengan hak keistimewaan yang ada, Aceh membuat lembaga baru: BM. Hal ini diatur dengan Perda Nomor 5/2000 tentang Penyelenggaraan Syariat Islam. BM adalah salah satu dari agenda syariat Islam

kaffah. Sebagai bagian dari resolusi konflik politik di Aceh yang berlangsung sejak 1976, pemerintah pusat memberikan otonomi khusus Aceh dengan disahkannya UU Nomor 18/2001 tentang Penyelenggaraan Otonomi Khusus Aceh sebagai Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam. Sering disebut dengan UU Otsus NAD. Pasal 180 UU Otsus NAD menempatkan zakat sebagai salah satu sumber Pendapatan Asli Daerah (PAD). Selanjutnya, dibentuklah BM dengan Surat Keputusan Gubernur Aceh Nomor 18/2003 tentang Susunan Organisasi dan Tata Kerja Baitul Mal Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam. BAZIS dibubarkan dan assetnya diserahkan kepada BM. Pada 12 Januari BM beroperasi secara resmi ditandai dengan pelantikan kepala dan wakil kepala oleh gubernur. “Ini era baru manajemen zakat di Aceh,” sebut banyak pengamat zakat ketika itu. Keberadaan BM diperkuat dengan Qanun Nomor 7/2004 tentang Pengelolaan Zakat. Qanun ini merupakan turunan organik dari UU Otsus NAD, mengatur tentang zakat dan harta agama lainya, kelembagaan baitul mal, dan pidana terhadap pelanggaran zakat oleh amil dan muzakki. Konflik Aceh ternyata tak selesai dengan pemberian Otsus kepada Aceh, bahkan konflik memuncak hingga diberlakukannya Darurat Sipil dan Darurat Militer (2003-2004). Allah Swt pula berkehendak terjadinya gempa dan tsunami 26 Desember 2004, yang mehancurkan sebagian Aceh dan ribuan korban hilang/meninggal. Musibah besar ini pula menjadi kekuatan pendorong pihak bertikai RI dan GAM untuk berdamai. Ditandatanganilah MoU Damai di Helsinky, 15 Agustus 2005. Sebagai kelanjutan Mou Damai itu, disahkannya UU Nomor 11/2006 tentang Pemerintahan Aceh (UUPA). UUPA menjadi dasar hukum yang kuat bagi kelengkapan regulasi BM di Aceh. BM diatur dalam tiga pasal UUPA yaitu pasal 180 menetapkan zakat sebagai salah sumber PAD, pasal 191 zakat, harta waqaf dan harta agama dikelola oleh Baitul Mal Aceh (BMA) dan Baitul Mal Kab/Kota (BMK) dan pasal 192 zakat sebagai pengurang pajak penghasilan. Selanjutnya, disahkanlah Qanun Aceh Nomor 10/2007 tentang Baitul Mal. Qanun 7/2004 tentang Pengelolan Zakat pun dinyatakan tak berlaku lagi. BM dibentuk pada empat tingkatan: tingkat provinsi, kabupaten/kota, kemukiman (hanya mengelola harta agama) dan gampong (desa). Qanun mengatur, bahwa zakat sebagai bagian PAD hanya berlaku pada tingkat provinsi dan kabupaten/kota, sementara zakat pada tingkat gampong tetap dikelola oleh masyarakat. Selain mengelola zakat, harta waqaf dah harta agama, BM diberikan wewenang tambahan sebagai wali pengawas anak yatim/yatim piatu dan pengelola harta (tanah dan rekening bank) tanpa ahli waris. Hal ini diatur dalam UU Nomor 48/2007 tentang Pengesahan Perpu Nomor 2/2007 tentang Penyelesaian Masalah-masalah Hukum dalam Rangka Rehabilitasi Masyarakat Pasca Tsunami. Regulasi BM telah dilengkapi dengan beberapa aturan lainnya seperti Peraturan Gubernur (Purgub) tentang Susunan Organisasi dan Tata Kerja Baitul Mal; Pergub Mekanisme Pengelolaan Zakat; Pergub Susunan Organisasi dan Tata Kerja Sekretariat Baitul Mal; Pergub Tata Cara Penyetoran dan Penarian Zakat pada Kas Umum Daerah; Pergub Harta yang Tidak Diketahui Pemiliknya/Ahli Waris dan Perwalian; dan beberapa regulasi lainnya. Tentu saja regulasi BM mesti terus dilengkapi, disempurnakan atau merefisi aturan yang ada. Untuk

itu, inisiatif DPR Aceh membahas qanun pengaturan zakat, infaq dan shadaqah yang telah menjadi Program Legislasi Aceh 2011 (bahkan telah diprogramkan sejak 2010) sepatutnya direspon serius oleh BMA. Dan, satu regulasi mendesak dikeluarkan adalah bagaimana zakat sebagai pengurang pajak penghasilan dapat segera diberlakukan. Regulasi itu bisa saja dalam bentuk Peraturan Pemerintah atau Keputusan Dirjen Pajak.

TESIS PERAN ZAKAT DALAM OPTIMASI PORTOFOLIO INVESTASI ASET (STUDI KASUS PADA UNIT USAHA SYARIAH BANK X) (PRODI : EKONOMI KEUANGAN SYARIAH)

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Kehidupan manusia didunia ini selalu dipenuhi dengan berbagai persoalan, karenanya agama diturunkan untuk menjawab persoalan-persoalan tersebut. Islam dengan 1,5 milyar pemeluknya (hal.6 Morris, 2001) adalah agama yang mengatur secara komprehensif sendisendi kehidupan didunia melalui kitab sucinya yaitu Al Qur’an dan Hadits. Islam memiliki hukum-hukum yang yang bersifat universal dan berlaku sepanjang masa.

Islam dalam bahasa Arab berarti selamat, damai, tunduk, pasrah dan berserah diri, sehingga Islam berarti penyerahan diri secara total kepada pencipta seluruh alam yaitu Allah SWT. Dengan demikian, bagi pemeluk agama Islam, Al Qur’an dan Hadist adalah petunjuk dari Allah dan Rasulnya dalam pengaturan segala aspek kehidupannya agar selamat. Hal ini berarti tidak ada lagi pemisahan pengaturan antara aspek ekonomi dengan aspek spiritualnya, semua harus merujuk pada Al Qur’an dan Hadist. Perintah ini tertera dalam QS Al Baqarah 2:208 ‘Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu he dalam Islam secara keseluruhan...." Dalam Islam diyakini bahwa segala sesuatu yang ada didunia ini hanyalah milik Allah, pemilik mutlak segala sesuatu, sedangkan manusia adalah khalifatullah. Manusialah yang ditugaskan untuk mengelola bumi. Allah memerintahkan manusia untuk mencari karunia-Nya atau kekayaan dan dalam proses pencarian tersebut manusia tetap diwajibkan untuk terus mengingat Allah. Selanjutnya, jika harta kekayaan telah dimiliki, maka harta tersebut haruslah dikelola dengan baik. Harta kekayaan tidak pernah dianjurkan untuk ditumpuk sebagai harta yang ‘idle’ seperti tertera dalam QS 104:2-3, melainkan hams dimanfaatkan untuk mendapatkan kebaikan dunia dan akhirat. Pemanfaatan atas harta yang dimiliki juga sangat dianjurkan oleh Rasulullah, diriwayatkan bahwa Nabi Muhamad SAW mengatakan "Sesungguhnya Allah tidak menyukai kalian menyia-nyiakan harta" (HR Bukhari). Selanjutnya, Aisyah meriwayatkan bahwa Nabi SAW berkata "Siapa sajayang mengerjakan tanah tak bertuan akan lebih berhakatas tanah itu." (HR.Bukhari) (hal.65 Mannan,1992). Kekayaan yang dibiarkan saja akan lenyap habis dimakan zakat, karena pemiliknya harus membayar zakat tiap tahun yang akan mengurangi jumlah kekayaan yang tidak tumbuh tersebut (hal.16 Sadeq, 2002). Sementara itu Ibnu Khaldun mengatakan bahwa kekayaan tidak tumbuh manakala ditimbun dan disimpan. la akan tumbuh dan berkembang bila dibelanjakan untuk kepentingan kesejahteraan masyarakat, untuk diberikan kepada yang berhak dan menghapuskan kesulitan. (hal.135 Chapra, 2001). Harapan hidup, pendidikan dan pengetahuan serta kesejahteraan yang meningkat telah mendorong manusia untuk berinvestasi. Investasi yang merupakan kegiatan untuk mengembangkan kekayaan (uang) yang dimiliki saat ini untuk mendapatkan keuntungan yang belum pasti dimasa mendatang, pada dasarnya adalah suatu upaya untuk menyiapkan masa depan, karena hal ini juga merupakan perintah dalam Al Qur’an surat al-Hasyr ayat 18 sebagai berikut: ‘Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, Sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan". Nabi Muhammad SAW juga mengingatkan "Tahanlah sebagian hartamu untuk masa depanmu; hal itu lebih baik bagimu" (HR Bukhari, Muslim). Menurut Huda dan Nasution (hal.18, 2007), konsep investasi selain sebagai pengetahuan juga bernuansa spiritual karena menggunakan norma syariah, sekaligus merupakan hakikat dari sebuah ilmu dan amal, oleh karenanya investasi sangat dianjurkan bagi setiap muslim. Investasi dalam Islam pada prinsipnya adalah menggunakan harta untuk suatu kegiatan usaha yang akan meningkatkan jumlahnya melalui cara-cara yang sesuai syariah. Investasi yang Islami bisa dilakukan secara langsung pada sektor riil maupun melalui pasar uang syariah dan pasar modal syariah. Sedangkan rambu-rambu pengembangan harta kekayaan dalam Islam

adalah terhindar dari unsur riba, gharar dan maysir. Harus juga terhindar dari unsur haram, kebathilan dan ketidak adilan. Kemudian harta tersebut harus juga disucikan dengan mengeluarkan zakat harta, jika telah sampai pada nishab dan haul-nya. Dengan demikian, investasi Islami mencakup dimensi dunia dan akhirat. Inilah pembeda antara investasi dalam ekonomi Islam dan investasi konvensional. Dalam ekonomi konvensional, investasi dilakukan hanya untuk keuntungan dunia semata, tidak memasukkan unsur akhirat. Trend pada abad 21 dalam Islamization process yang dikembangkan oleh pemikir kontemporer ekonomi Islam adalah pertama, mengganti ekonomi sistem bunga dengan sistem ekonomi bagi hasil. Kedua, mengoptimalkan sistem zakat dalam perekonomian. Artinya paradigma berinvestasi harus dirubah dari return yang pasti untuk semakin meningkatkan kekayaannya menjadi paradigma profit sharing dan pada saat yang sama harus menyadari adanya kewajiban untuk menyisihkan 2,5% zakat sebagai bagian dari "milik publik". (Mufraini 2006, hal. 9) Metwally (1995 hal.71) menyatakan bahwa besaran zakat sebesar 2,5% diambil dari hasil investasinya saja. Sementara aset yang diinvestasikan tidak terkena zakat. Pendapat inilah yang banyak dipakai oleh lembaga keuangan syariah di Indonesia. Namun demikian, ada pendapat lain yang dikemukakan oleh beberapa ahli fiqih diantaranya Utsaimin (2008, hal.214) maupun Qardhawi (2007, hal.267) menyatakan bahwa dana tunai, sertifikat hutang, obligasi dan sekuritas, sertifikat tabungan atau deposito dan saham, zakatnya diambil dari aset tersebut bukan dari hasilnya saja. Thesis ini mengikuti pendapat yang terakhir bahwa aset yang diinvestasikan akan terkena zakat, termasuk modal pokoknya jika telah memenuhi syarat wajib zakat, dan dihitung sebagai zakat kekayaan. Zakat adalah bagian dari harta yang dimiliki untuk diberikan kepada yang berhak, utamanya kaum fakir dan miskin, karena bagian tersebut adalah milik mereka. Pengeluaran zakat dari harta merupakan suatu kewajiban yang perintahnya diberikan oleh Allah SWT langsung dalam AlQur’an Surat At Taubah 9:103 “Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka dan mendoalah untuk mereka. Sesungguhnya doa kamu itu (menjadi) ketenteraman jiwa bagi mereka. dan Allah Maha mendengar lagi Maha mengetahui.” Begitu pentingnya zakat ini hingga zakat dihubungkan dengan shalat sebanyak 82 kali dalam AlQur’an. Abdullah bin Mas’ud r.a seorang sahabat dan Jabir bin Zayd r.a seorang tabiinpercaya bahwa Allah tidak akan menerima shalat seseorang jika orang tersebut tidak membayar zakat. Pendapat ini ditegaskan khalifah Abu Bakar r.a yang memutuskan untuk memerangi orang orang yang meninggalkan shalat dan tidak membayar zakat (Syaikh 2008). Hadits lain yang diriwayatkan oleh Durrul Mantsur menyatakan dari Ali r.a. Rasulullah SAW, bersabda, "Sesungguhnya Allah Swt, telah mewajibkan atas kaum muslimin yang kaya suatu kadar zakat dalam harta mereka, yang akan mencukupi orang-orang fakir diantara mereka. Dan tidaklah ada sesuatu yang menyusahkan orang-orang fakir itu jika mereka kelaparan atau tidak berpakaian, kecuali karena kehilangan orang-orang kaya yang tidak membayar zakatnya. Ingatlah! Sesungguhnya Allah Swt, akan menghisab mereka dengan hisab yang keras dan akan mengadzab mereka dengan adzab yang sangatpedih." (Al khandhalawi rah.a, hal 277). Jelaslah zakat menjadi penting karena didalamnya terkandung ajaran pendistribusian

kekayaan yang adil sebagai jaminan sosial diantara kaum muslimin disamping menyelamatkan si pembayar zakat dari penyakit moral berupa kecintaan dan ketamakan terhadap kekayaan dan meningkatkan keimanan serta kesadaran moral. Sedangkan panduan berinvestasi terdapat dalam Al Qur’an surat Al Baqarah ayat 261 : “Perumpamaan orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah seumpama sebuah biji yang menumbuhkan tujuh tangkai, pada tiap-tiap tangkai itu berisi seratus biji. Dan Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang dikehendak-Nyai. dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha mengetahui.” Ayat diatas memberikan panduan berinvestasi dijalan Allah, yaitu dari tiap butir benih yang diinvestasikan akan menjadi 700 biji. Sehingga berinvestasi di jalan Allah, melalui zakat, infaq dan shodaqoh diikuti dengan syarat beramal yaitu ikhlas, tidak riya dan tidak menyakiti yang diberi, akan mendapatkan balasan berlipat ganda yaitu sebesar 700 kali karena bagi orang yang beriman, janji Allah adalah benar, dan tidak perlu diragukan lagi. Industri keuangan Islam sedang tumbuh sangat pesat. Sejak permulaan 3 dekade yang lalu, lembaga keuangan Islam terus bermunculan hingga mencapai jumlah 300 buah tersebar di lebih dari 75 negara, mengelola aset sebesar 500 milyar US Dollar (www.global.com.kw). Di Indonesia perkembangan keuangan Islam berawal sejak tahun 1992. Dimulai dengan berdirinya Bank Muamalat yang merupakan bank Islam pertama di Indonesia. Lima belas tahun kemudian, berdasarkan data statistik perbankan syariah Desember 2007, tercatat telah berdiri 3 Bank Umum Syariah, 21 Unit Usaha Syariah dan 114 Bank Perkreditan Rakyat Syariah dengan 482 kantor Pusat dan kantor cabang serta 25 Unit Pelayanan Syariah (www.bi.go.id) Perkembangan Bank Syariah di Indonesia memang cukup pesat, dilihat dari pertumbuhan asset perbankan syariah yang mencapai rata-rata 48,99% pertahun, sejak 2003 hingga 2007. Pada kurun waktu yang sama, perbankan konvensional hanya tumbuh rata-rata 13,22% pertahun. Meskipun demikian, per Desember 2007 market share yang dimiliki baru mencapai 1,76% dari total market share perbankan nasional. Sungguh ironi dengan kenyataan bahwa sebagian besar penduduk Indonesia adalah muslim. Sesuai dengan fungsinya, Bank adalah lembaga intermediasi keuangan antara pihak penyimpan dana (nasabah) dan yang membutuhkan dana. Nasabah mau menyimpan dananya di Bank karena ia percaya bahwa bank dapat memilih alternatif investasi yang menarik yang dapat menghasilkan return yang terbaik. Penelitian yang dilakukan oleh Mangkuto (hal.5376, Eksis 2005) maupun Samsudin (hal.77-91, Eksis 2005) menjelaskan bahwa keputusan nasabah untuk menggunakan jasa bank syariah dan melakukan penempatan dana investasinya secara khusus sangat dipengaruhi oleh tingkat imbal hasil yang akan didapatnya. Oleh karenanya bank hams melakukan pemilihan investasi dengan seksama, karena kesalahan dalam pemilihan investasi akan membawa akibat rendahnya bagi hasil yang diperoleh, yang akhirnya menurunkan tingkat distribusi bagi hasil bagi para nasabahnya. Tampak jelas disini bahwa sebagai lembaga keuangan syariah Bank mempunyai tugas untuk memaksimumkan pertumbuhan aset investasi yang dimilikinya disamping juga menyisihkan 2,5 % zakat dari aset tersebut sebagaimana trend dalam Islamization process yang sedang dikembangkan oleh pemikir kontemporer abad 21 yaitu mengoptimalkan sistem zakat dalam perekonomian. Suatu penelitian kami lakukan pada sebuah Unit Usaha Syariah Bank X untuk mengetahui bagaimana penerapan sistem zakat pada aset investasinya.

Unit Usaha Syariah Bank X adalah suatu unit usaha yang memiliki nilai Return on Asset (ROA) sebesar 2,9% dihitung berdasarkan laporan keuangan bulan Desember 2007. Angka ini cukup tinggi dibandingkan rata-rata statistik perbankan syariah yang berada pada kisaran 1,78%, namun cukup rendah bila dibandingkan dengan ROA bank lain yaitu BPD Jabar yang memiliki angka 3,8% pada periode yang sama. Melalui penelitian awal diketahui bahwa UUS bank X belum menerapkan metode tertentu dalam kebijakan portofolionya. Sampai saat ini yang dipakai adalah perhitungan trial error, sehingga tidak ada rumusan yang jelas, bagaimana menginvestasikan dana yang didapat agar optimum. 1.2 Perumusan Masalah Berinvestasi dalam ekonomi Islam berbeda dengan ekonomi konvensional. Investasi Islami yang menggunakan syariah Islam merupakan kegiatan berinvestasi pada instrumen investasi yang halal saja dengan menghindari unsur riba, gharar, maysir, subhat, haram, kebathilan dan ketidak adilan. Kemudian mengeluarkan zakat dari harta yang diinvestasikan bila harta telah mencapai syarat terpenuhinya wajib zakat. Pengenaan zakat pada aset investasi belum tampak pada UUS Bank X. Metwally yang dikutip oleh Sadeq (2002, hal.16 ) menyatakan bahwa zakat diambil hanya dari return investasi saja. Mereka akan dibebaskan dari zakat atas harta yang diinvestasikan. Pendapat serupa banyak dianut kalangan perbankan syariah di Indonesia, dimana investor akan diberi pilihan apakah bersedia bila bagi hasil yang akan didapat dari suatu investasi akan dipotong zakatnya oleh pihak bank atau tidak. Banyak pula yang mengqiaskan zakat atas aset investasi dengan investasi pada tanaman, dimana zakat diambil dari hasilnya bukan dari pokok investasi. UUS Bank X menghadapi kondisi dimana bagi hasil yang didapat tidak maksimal. Melalui penelitian awal diketahui bahwa sampai saat ini dalam menentukan portofolio investasi aset, UUS Bank X belum mempunyai metode yang dianut dalam membentuk suatu portofolio investasi yang optimum, sehingga mendapatkan bagi hasil yang maksimum. Rumusan masalah dalam thesis ini adalah UUS Bank X dalam investasi portofolio tidak sepenuhnya syar’i, yaitu belum mengenakan ketentuan zakat atas aset investasinya selain tidak optimal dalam membentuk portofolio investasi. Seharusnya sebagai UUS portofolionya hams memperhitungkan ketentuan yang berlandaskan syariah diantaranya masalah zakat. Karenanya dalam thesis ini akan dievaluasi pembentukan portofolio UUS yang memperhitungkan masalah zakat. Dari rumusan permasalahan tersebut dibentuk pertanyaan penelitian sebagai berikut 1. Bagaimana penerapan ketentuan zakat maal dalam manajemen portofolio aset investasi syariah yang dilakukan UUS bank X ? 2. Bagaimana membentuk portofolio yang optimal bagi UUS Bank X setelah adanya zakat maal ? 3. Apakah terdapat peningkatan hasil investasi portofolio optimal yang baru dengan penerapan zakat maal dibandingkan dengan menggunakan portofolio investasi sebelumnya? 1.3 Tujuan Penelitian Dengan identifikasi masalah diatas, penelitian ini dilakukan dengan tujuan sebagai berikut:

1. Membentuk portofolio optimum dengan menerapkan ketentuan zakat maal bagi UUS Bank X. 2. Mengetahui apakah ada peningkatan hasil investasi portofolio optimum yang baru dibentuk dengan memasukkan unsur zakat maal dibandingkan dengan rata-rata hasil investasi portofolio sebelumnya. 3. Memberikan usulan kepada perusahaan berdasarkan portofolio optimum baru yang dibentuk dengan menerapkan ketentuan zakat maal bagi aset investasi. 1.4 Manfaat Penelitian Penelitian yang dilakukan dimaksudkan untuk memperoleh pemahaman yang lebih baik mengenai manajemen portofolio investasi dengan menerapkan ketentuan zakat maal pada aset investasi. Selanjutnya, diharapkan dapat memperoleh gambaran yang jelas mengenai proses memaksimalkan bagi hasil melalui optimasi portofolio menggunakan metode Markowitz berikut penerapan ketentuan zakat maal pada perhitungannya dengan mengambil sample salah satu UUS bank syariah, sehingga dapat menjadi bahan masukan kepada UUS bank syariah lainnya dalam memaksimalkan bagi hasilnya, dengan memasukkan unsur zakat sebesar 2,5% pada aset investasinya. Bagi akademisi tentunya penelitian ini diharapkan dapat menjadi landasan untuk melakukan penelitian selanjutnya. 1.5 Batasan Masalah Pada umumnya investasi dilakukan pada aset yang merupakan kelebihan pendapatan setelah dikurangi konsumsi. Dengan demikian, diasumsikan bahwa aset yang diinvestasikan disini merupakan harta yang telah layak zakat. Penelitian ini dibatasi hanya pada investasi yang dominan pada portofolio investasi UUS bank X. Investasi yang dimaksud adalah pembiayaan murabaha, pembiayaan mudharabah, pembiayaan musharakah dan pembiayaan istisna, serta investasi pada obligasi syariah. Studi kasus pada Bank X dilakukan semata-mata untuk memudahkan penulis mempresentasikan perbedaan sebelum dan sesudah pembentukan portofolio investasi dengan menggunakan teori Markowitz berikut penerapan ketentuan zakat mal karena ketersediaan data. Sehingga, data yang digunakan diasumsikan merupakan representasi aset individu ataupun lembaga. 1.6 Kerangka Pemikiran Pemilihan metode portofolio investasi dimaksudkan untuk mendapatkan portofolio yang efisien yang memberikan bagi hasil yang diharapkan terbesar untuk tingkat risiko tertentu atau dengan kata lain tingkat risiko terendah untuk tingkat pengembalian tertentu. Memilih strategi portofolio merupakan salah satu proses manajemen investasi yang terdiri dari 5 proses yang berkesinambungan (hal 6. Fabozzi, 2002). Jika dinyatakan bahwa bagi hasil portofolio investasi tidak optimal, dan diyakini proses pemilihan portofolio merupakan penyebabnya, maka tahap inilah yang perlu diperbaiki. Investasi yang dilakukan oleh individu muslim maupun lembaga keuangan syariah tentunya hams mengikuti kaidah investasi secara syariah. Selain berinvestasi hanya pada yang halal saja juga menerapkan ketentuan zakat atas harta yang diinvestasikan sesuai dengan petunjuk dalam Al Qur’an dan Hadist. Sehingga keuntungan yang didapat tidak hanya bersifat

monetary value tapi juga spiritual value yaitu keuntungan uchrawi sebesar balasan yang dijanjikan Allah SWT yaitu sebanyak 700 kali sesuai surat Al Baqarah ayat 261. Data-data yang digunakan untuk melakukan penelitian ini adalah data keuangan historis UUS bank X yang merupakan data outstanding pembiayaan murabaha beserta pendapatan marginnya, data outstanding pembiayaan mudharaba beserta pendapatan bagi hasilnya, data outstanding pembiayaan musyarakah beserta pendapatan bagi hasilnya, data outstanding pembiayaan ijarah beserta pendapatan marginnya, data outstanding penempatan obligasi syariah beserta bagi hasilnya dan data penempatan SWBI beserta bonusnya. Penyelesaian permasalahan yang ditawarkan adalah membentuk portofolio investasi dengan metode Markowitz dengan memasukkan unsur zakat. Hasil investasi yang didapat akan dikenakan ketentuan zakat, sehingga investasi yang dilakukan sesuai dengan cara berinvestasi secara syariah. 1.7 Hipotesis Penelitian ini dilakukan untuk melihat jenis investasi yang memiliki bagi hasil tertinggi, kemudian membentuk portofolio optimum bagi UUS bank X yang diharapkan memiliki bagi hasil yang lebih baik dari bagi hasil portofolio saat ini, kemudian mengurangkan zakat dari aset investasi yang terdiri dari pokok dan bagi hasilnya sehingga memenuhi ketentuan syariah. Hipotesis yang dibentuk adalah : H0 : rata-rata return portofolio saat ini sama dengan return portofolio optimal yang baru dibentuk H1 : rata-rata return portofolio saat ini lebih kecil dari return portofolio optimal yang baru dibentuk 1.8 Metode Penelitian Metode yang digunakan dalam penulisan karya akhir ini adalah analisis portofolio optimal yang pembentukannya dilakukan dengan menggunakan model portofolio Markowitz dengan memasukkan unsur zakat pada penghitungannya. Pilihan ini dilakukan karena portofolio dengan model Markowitz mudah dibentuk agar sesuai dengan karakteristik investasi yang diinginkan dan tujuan yang ingin dicapai. Jenis investasi yang digunakan dalam membentuk portofolio optimum adalah jenis investasi yang sesuai syariah yaitu pembiayaan-pembiayaan syariah, obligasi syariah dan penempatan dana pada bank Indonesia dalam bentuk SWBI. Kemudian pada akhir investasi dikeluarkan zakat sebesar 2,5% baik dari hasil investasi maupun pokoknya sesuai ketentuan dalam Islam. Bank syariah pada prinsipnya merupakan investment banking dimana konsep investasinya merupakan equity sharing yang sangat mirip dengan berinvestasi pada saham dibursa efek. (hal. 7 Nawawi, 2006) Asumsi ini membuat teori portofolio Markowitz dapat dipergunakan dalam analisa investasi portofolio bank syariah. Untuk mempermudah perhitungan kombinasi proporsi alokasi investasi dalam pembentukan portofolio efisien akan dipergunakan program solver yang terdapat dalam software excell microsoft office. Uji statistik testing hypothesis untuk dua sample independent akan digunakan untuk menguji apakah tingkat bagi hasil yang dihasilkan masing-masing portofolio berbeda secara statistik pada tingkat kepercayaan tertentu. Uji ini dilakukan untuk melihat apakah ada perbedaan

kinerja dari portofolio yang sudah ada saat ini dengan portofolio optimal yang disusun berdasarkan teori Markowitz dengan memasukkan unsur zakat didalamnya. 1.9 Sistematika Penulisan BAB I Pendahuluan Pada bab ini diuraikan latar belakang permasalahan, perumusan masalah, batasan masalah, tujuan penulisan thesis, kerangka pikir, hipotesis serta metodologi penelitian yang digunakan dalam pengumpulan dan pengolahan data serta uraian mengenai sistimatika penulisan BAB II Tinjauan Pusaka Bab Ini menjelaskan tentang landasan teori yang dijadikan dasar dalam pemecahan masalah. Diuraikan pula berbagai informasi yang yang bersumber dari textbook, journal dan artikel yang berhubungan dengan tujuan pembahasan sebagai bahan pendukung dalam memperoleh hasil pembahasan yang lebih baik. BAB III Metodologi dan Data Penelitian Ruang lingkup penelitian, data yang dibutuhkan, proses pengumpulannya serta metodologi penelitian yang akan digunakan, model penelitian dalam menulis karya akhir diuraikan pada bab ini. Pada bagian akhir bab ini digambarkan alur proses penelitian. BAB IV Analisis dan Pembahasan Bab ini berisi penjelasan mengenai jenis data yang telah dikumpulkan. Pada bab ini juga diuraikan tahap-tahap penelitian serta gambaran hasil pengolahan data menggunakan metode optimasi portofolio Markowitz, dengan mengenakan ketentuan zakat pada aset investasi tersebut. Kemudian membandingkan bagi hasil dari portofolio optimal yang baru dibentuk dengan bagi hasil portofolio UUS Bank X sebelum dibentuk portofolio optimal. BAB V Kesimpulan dan Saran Bab ini menyimpulkan hasil penelitian yang dilakukan serta memberikan masukan dari hasil analisa untuk dapat dipergunakan oleh pihak yang berkepentingan.

TANGGUNGJAWAB BAITUL MAL DALAM MENCERDASKAN KEHIDUPAN BANGSA Oleh Hendra Saputra, MA Kepala Bidang Sosialisasi dan Pengembangan Baitul Mal Aceh I. Pendahuluan Dalam Qanun Aceh No. 10 Tahun 2007 tentang Baitul Mal, Pasal 1, angka 11, dijelaskan bahwa Baitul Mal merupakan Lembaga Daerah Non Struktural yang diberi kewenangan untuk mengelola dan mengembangkan zakat, wakaf, harta agama dengan tujuan untuk kemashlahatan umat serta menjadi wali/wali pengawas terhadap anak yatim piatu dan/atau hartanya serta pengelolaan terhadap harta warisan yang tidak ada wali berdasarkan Syariat Islam. Baitul Mal itu sendiri memiliki empat tingkatan, yaitu Provinsi, Kabupaten/Kota, Kemukiman dan Gampong. Dari keempat tingkatan Baitul Mal, Qanun tersebut telah mengatur tugas dan kewenangannya masing-masing. Khusus untuk Baitul Mal Kemukiman, hanya mengelola harta wakaf saja. Masing-masing tingkatan Baitul Mal bersifat otonom,

artinya dalam mengelola zakat, harta wakaf dan harta agama lainnya di daerahnya masingmasing tanpa harus menyetor ke Baitul Mal di atasnya, seperti Baitul Mal Gampong harus menyetor ke Kabupaten/Kota atau Baitul Mal Kabupaten/Kota menyetor ke Provinsi dan sebagainya. Hubungan kerja antara Baitul Mal Aceh dengan yang dibawahnya hanyalah bersifat pembinaan dalam bentuk koordinasi, konsultasi dan integrasi (KKI). Karenanya, zakat, harta wakaf dan harta agama lainnya dapat dikelola secara optimal di daerah masingmasing. Untuk itu, Dalam makalah ini tidak menguraikan program dan kegiatan yang dilaksanakan Baitul Mal Kabupaten/Kota, Kemukiman dan Gampong, melainkan akan membahas beberapa program dan kegiatan hanya pada Baitul Mal Aceh, atau khususnya fungsi Baitul Mal Aceh yang berkaitan dengan dunia pendidikan sesuai dengan judul yang tersedia. II. Pembahasan A. Sejarah dan Dasar Hukum Pembentukan Baitul Mal di Aceh Pengelolaan zakat di Aceh sebenarnya bukanlah hal baru melainkan sudah lama dipraktekkan di dalam masyarakat. Kebiasaan masyarakat Aceh dalam menunaikan dapat diperhatikan pada saat menjelang akhir ramadhan, masyarakat mendatangi mesjid atau meunasah untuk menunaikan zakatnya. Pengelolaan zakat pada waktu itu, masih bersifat tradisional, artinya zakat belum dikelola dengan manajemen yang baik, sehingga zakat yang diberikan kepada mustahiq belum memberikan bekas. Belajar dari pengalaman masa lalu, seiring dengan pelaksanaan syariat Islam secara kaffah, pemerintah Aceh sepertinya menyadari pentingnya kehadiran sebuah lembaga zakat yang defenitif berdasarkan Undang-undang dengan manajemen yang baik untuk mengelola dana umat ini. Pemerintah terus mencari formulasi yang tepat tentang lembaga pengelolaa zakat ini, sehingga yang terakhir lahirlah lembaga yang diberi nama Baitul Mal. Keberadaan Baitul Mal pada mulanya ditandai dengan dibentuknya Badan Penertiban Harta Agama (BPHA) pada tahun 1973 melalui Keputusan Gubernur No. 05 Tahun 1973. Kemudian pada tahun 1975, BPHA diganti dengan Badan Harta Agama (BHA). Kemudian pada tahun 1993, BHA diganti dengan Badan Amil Zakat, Infaq dan Shadaqah (BAZIS) melalui Keputusan Gubernur Prov. NAD No. 18 Tahun 2003. Kemudian BAZIS, kembali diganti dengan Baitul Mal sehubungan dengan lahirnya Undang-Undang No. 11 Tahun 2006 tentang Pemerintahan Aceh yang merupakan tindak lanjut perjanjian Mou Helsinky. Kehadiran Baitul Mal itu sendiri, tidak hanya terdapat di dalam Undang-Undang No. 11 Tahun 2006 saja, melainkan juga terdapat dalam Undang-Undang No. 48 Tahun 2007 tentang Penetapan Peraturan Pengganti Undang-Undang No. 2 Tahun 2007 tentang Penanganan Masalah Hukum dan Pasca Tsunami di Aceh dan Nias menjadi Undang-Undang. Sebagaimana kita ketahui, pasca terjadinya musibah gempa bumi dan gelombang tsunami yang melanda Aceh beberapa tahun yang lalu, banyak meninggalkan beberapa permasalahan hukum, diantaranya masalah perwalian dan pengelolaan harta yang tidak memiliki ahli waris atau tidak diketahui lagi pemiliknya. Dalam Undang-Undang tersebut, tepatnya dalam pasal 1 angka 6 disebutkan bahwa Baitul Mal adalah lembaga Agama Islam di Provinsi NAD yang berwenang menjaga, memelihara, mengembangkan, mengelola harta agama dengan tujuan untuk kemashalahatan umat serta menjadi wali pengawas berdasarkan syariat Islam. Dengan lahirnya Undang-undang tersebut, berarti tugas Baitul Mal menjadi bertambah, tidak hanya mengelola zakat, harta wakaf dan harta agama lainnya, melainkan juga melaksanakan tugas sebagai wali pengawas. Untuk melaksanakan Undang-Undang No. 11 Tahun 2006 tentang Pemerintahan Aceh dan Undang-Undang No. 48 Tahun 2007 sebagaimana telah diuraikan di atas memerlukan peraturan turunan (derevatif) dalam bentuk Qanun, yaitu Qanun No. 10 Tahun 2007 tentang Baitul Mal. Pelaksanaan Qanun tersebut diatur kembali dalam Peraturan Gubernur

(PERGUB) No. 92 Tahun 2008 tentang Susunan Organisasi dan Tata Kerja Baitul Mal Aceh dan PERGUB No. 60 Tahun 2008 tentang Mekanisme Pengelolaan Zakat. Untuk mendukung lembaga Baitul Mal, pemerintah pusat menerbitkan Peraturan Menteri Dalam Negeri (PERMENDAGRI) No. 18 Tahun 2008 tentang Stuktur Organisasi dan Tata Kerja Lembaga Keistimewaan Aceh, dimana Baitul Mal Aceh termasuk dalam satu satu dari empat Lembaga Keistimewaan Aceh, yaitu Baitul Mal Aceh, MPU, MAA dan MPD. PERMENDAGRI tersebut membentuk sekretariat yang bertugas untuk memfasilitasi kegiatan lembaga keistimewaan Aceh yang bersumber dari dana APBD. Pelaksanaan PERMENDAGRI tersebut diatur dalam Peraturan Gubernur Aceh No. 33 Tahun 2008 tentang Susunan Organisasi dan Tata Kerja Sekretariat Lembaga Keistimewaan Aceh. Untuk Kabupaten/Kota, pemerintah pusat juga menetapkan PERMENDAGRI No. 37 Tahun 2009 tentang Pendoman dan Tata Kerja Lembaga Keistimewaan Aceh untuk Kabupaten/Kota. Namun untuk Kabupaten/Kota sejauh ini ada yang sudah memiliki peraturan turanannya ada yang belum, sehingga bagi yang belum memiliki aturan turunan tidak bisa melaksanakan PERMENDAGRI tersebut. Kemudian untuk menjaga Baitul Mal dalam melaksanakan tugas dan kewenangannya sesuai dengan syariat Islam. Gubernur Aceh mengangkat Dewan Syariah, yang tertuang dalam Surat Keputusan Gubernur No. 451.6/107/2004 tentang Pengangkatan/Penetapan Dewan Syariah Baitul Mal Prov. NAD. Kemudian nama dari Dewan Syariah ini berganti menjadi Tim Pembina Baitul Mal yang merupakan perpanjangan tangan dari MPU Aceh, yang tertuang dalam Surat Keputusan Ketua MPU Aceh, No. 451.12/15/SK/2009 tentang Pengangkatan/Penetapan Tim Pembina Baitul Mal Aceh. Disamping bertugas untuk mengawasi pelaksanaan kegiatan Baitul Mal Aceh, Dewan Syariah, juga memberikan penafsiran, arahan dan menjawab hal-hal berkaitan dengan syariah, dengan demikian diharapkan pengelolaan zakat, harta wakaf dan harta agama lainnya sesuai dengan ketentuan syariat. B. Kewenangan Baitul Mal Kewenangan Baitul Mal sekilas telah diuraikan sebagaimana tersebut di atas, namun untuk lebih jelas tentang kewenangan Baitul Mal ini dapat dilihat dalam beberapa peraturan di bawah ini, yaitu: 1. Pasal 191, Undang-undang No. 11 Tahun 2006 tentang Pemerintahan Aceh, menyebutkan: Zakat, Harta Wakaf dan Harta Agama Lainnya dikelola oleh Baitul Mal Aceh dan Baitul Mal Kabupaten/Kota. 2. Pasal 1 angka 6, disebutkan bahwa Baitul Mal adalah lembaga Agama Islam di Provinsi NAD yang berwenang menjaga, memelihara, mengembangkan, mengelola harta agama dengan tujuan untuk kemashalahatan umat serta menjadi wali pengawas berdasarkan syariat Islam. 3. Pasal 1 angka 11 Qanun Aceh No. 10 Tahun 2007 tentang Baitul Mal, disebutkan Baitul Mal adalah lembaga Daerah Non Stuktural yang diberi kewenangan untuk mengelola dan mengembangkan zakat, wakaf, harta agama dengan tujuan untuk kemashlahatan umat serta menjadi wali/wali pengawas terhadap anak yatim piatu dan/atau hartanya serta pengelolaan terhadap harta warisan yang tidak ada wali berdasarkan syariat Islam. C. Baitul Mal Dan Tanggung Jawab Pada Kecerdasan Anak Bangsa Kemiskinan merupakan permasalahan yang sampai sekarang belum ditemukan formula yang tepat untuk mengatasinya. Setiap tahun pemerintah selalu memberikan perhatian khusus untuk mengurangi tingkat kemiskinan, namun sangat sulit untuk menekan angka kemiskinan ini. Jumlah penduduk miskin di Aceh berdasarkan sensus penduduk tahun 2010 yang dilakukan oleh Badan Pusat Statistik Aceh sampai dengan juli 2010 tercatat 4,4 juta sampai

4,5 juta jiwa. Sementara penduduk yang berada dibawah garis kemiskinan pada bulan maret 2010 sebesar 20,98 % atau 861, 85 ribu jiwa dengan proyeksi jumpah penduduk Aceh sebanyak 4, 363 juta jiwa.[1] Tingginya tingkat kemiskinan berimbas dalam dunia pendidikan, meskipun sudah ada program wajib sembilan tahun, namun dalam realitanya masih terdapat sebahagian masyarakat yang tidak mampu menyekolahkan anaknya dikarenakan tidak mampu dalam segi financial, kalaupun ada yang bersekolah, si anak yang miskin tadi merasa ada beberapa perbedaan antara dia dan teman-temannya, perasaan tersebut membuat ia minder sehingga lamban laut mengundurkan diri dari sekolah. Perasaaan tersebut seperti, masalah perlengkapan sekolah yang kurang, biaya tambahan dari sekolah yang tidak sanggup dipenuhi dan sebagainya. Masalah tersebut semakin menonjol pada saat si anak melanjutkan pendidikannya di perguruan tinggi. Untuk mengatasi masalah pendidikan di Aceh, sebenarnya terdapat beberapa instansi seperti Badan Pemberdayaan Masyarakat, Dinas Pendidikan, Komisi Bea Siswa, Dinas Syariat Islam dan sebagainya. Pemerintah Aceh menyadari betul akan pentingnya pendidikan ini dengan mengalokasikan dana triliunan rupiah agar terciptanya masyarakat Aceh yang cerdas, namun jumlah tersebut dirasa masih kurang karena masih terdapat beberapa anak Aceh yang belum bisa menikmati fasilitas tersebut. Pelaksanaan syariat Islam di Aceh kiranya dapat menjadi salah satu solusi untuk mengatasi masalah kemiskinan dan pendidikan ini. Aceh merupakan satu-satunya Provinsi di Indonesia yang diberikan legitimasi untuk melaksanakan syariat Islam secara kaffah. Zakat merupakan salah satu solusi dalam Islam untuk mengurangi kesenjangan ekonomi antara orang kaya dan miskin. Perintah berzakat mengandung dua demensi, yaitu vertikal kepada sang Khalik sebagai bukti kepatuhan menjalankan perintah-Nya dan bersifat horizontal sesama manusia. Bila zakat dapat diimplementasi secara optimal, ia memiliki peran yang sangat penting dalam mewujudkan masyarakat cerdas, adil dan makmur. Pengelolaan zakat di Aceh sedikit berbeda dengan daerah lainnya di Indonesia. Bila di Indonesia pengelolaan zakat merujuk kepada Undang- Undang No. 38 Tahun 1999 tentang Pengelolaan Zakat, namun Aceh terdapat Undang-Undang khusus yang berkenaan dengan pengelolaan zakat dan hanya berlaku di Aceh (lex specialis). Undang-undang tersebut ialah Undang-Undang No. 11 Tahun 2006 tentang Pemerintahan Aceh (UUPA). Dalam UndangUndang tersebut terdapat 3 pasal yang berkenaan dengan zakat, yaitu: Pasal 180 ayat (1) huruf d “Zakat merupakan salah satu penerimaan daerah Aceh dan Penerimaan Daerah Kabupaten Kota”. Pasal 191 “Zakat, Harta Wakaf dan Harta Agama lainnya dikelola oleh Baitul Mal Aceh dan Baitul Mal Kabupaten/Kota yang diatur dengan Qanun” Pasal 192 “Zakat yang dibayar menjadi pengurang terhadap jumlah pajak penghasilan (Pph) terhutang dari wajib pajak” Dalam melaksanakan kegiatannya, Baitul Mal Aceh selalu mengalokasikan dana dalam dunia pendidikan. Zakat untuk pendidikan sebenarnya bukanlah hal yang baru, sudah banyak Organisasi Pengelola Zakat (OPZ) lainnya mengaktualisasikan program-programnya dalam dunia pendidikan, namun penyaluran zakat untuk dunia pendidikan kiranya harus selalu dikaitkan dan sesuai dengan ketentuan syariat. Dasar penyaluran zakat terdapat ialah sebagaimana terdapat di dalam surat at-Taubah ayat 60 Artinya: Sesungguhnya zakat-zakat itu, hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin, pengurus-pengurus zakat, para muallaf yang dibujuk hatinya, untuk (memerdekakan) budak, orang-orang yang berutang, untuk jalan Allah dan orang-orang yang sedang dalam perjalanan, sebagai sesuatu ketetapan yang diwajibkan Allah; dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.

kemudian terdapat beberapa hadits dan sejarah Islam lain yang bercerita tentang pengelolaan zakat. Ini merupakan landasan awal dalam menyalurkan zakat kepada para mustahiq. Kemudian, karena zakat telah masuk dalam salah satu penerimaan daerah (hukum positif) sebagaimana terdapat dalam UUPA, memerlukan turunan yaitu Qanun Aceh No. 10 Tahun 2007 tentang Baitul Mal dan PERGUB No. 60 Tahun 2008 tentang Mekanisme Pengelolaan Zakat. Semua regulasi tersebut hanya bersifat umum, tidak menjelaskan secara detail tentang asnaf zakat. oleh sebab itu memerlukan pedoman lainnya agar zakat disalurkan sesuai dengan sasaran. Untuk itu, Dewan Syariah Baitul Mal telah menyusun Surat Edaran Dewan Syariah No. 01/SE/V/2006 tentang Pedoman Penetapan Kriteria Asnaf Zakat dan Petunjuk Operasional. Dalam surat edaran tersebut, terdapat tiga senif yang berkaitan dengan pendidikan yaitu: Senif Muallaf, muallaf ialah Orang yang baru masuk Islam/mereka yang diharapkan kecendrungan hatinya terhadap Islam yang diberikan secara selektif. Bantuan yang diberikan: a. Konsumtif, berupa paket yang berisi buku-buku tentang agama Islam dan perlengkapan untuk shalat. b. Produktif, diberikan dalam bentuk bantuan modal usaha dan bea siswa bagi para anak muallaf Untuk senif muallaf ini pada mulanya, diberikan bantuan konsumtif dalam bentuk bantuan untuk konsumsi satu satu dua hari. Namun setelah dievaluasi kembali, bantuan seperti ini tidak efektif, karena kebanyakan muallaf yang mendapatkan bantuan tadi, kembali datang ke kantor Baitul Mal untuk meminta bantuan lagi. Belajar dari pengalaman tersebut, si muallaf tidak lagi diberikan zakat dalam bentuk konsumtif melainkan dalam bentuk produktif. Disamping itu, untuk program jangka panjang, anak-anak dari muallaf tersebut diberikan bea siswa. Fisabilillah, fisabilillah ialah berjuang dijalan Allah dalam rangka menegakkan aqidah umat seperti: 1. Da’i daerah rawan aqidah 2. Bantuan sarana dan operasional lembaga pendidikan pada masyarakat kurang mampu. 3. Membangun tempat peribadatan yang disesuaikan dengan kebutuhan mendesak 4. Bantuan publikasi untuk penguatan aqidah. Bantuan yang diberikan: 1. Bantuan langsung sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan dana yang tersedia. 2 Bantuan tidak langsung seperti suatu kegiatan usaha atau yayasan yang menghasilkan dana untuk mendukung keperluan tersebut. Untuk senif fisabilillah ini, tidak akan dibahas lebih jauh dikarenakan tidak menyentuh langsung kepada dunia pendidikan dan bantuan yang diberikan sangat selektif, seperti bantuan untuk organisasi Islam, pembangunan sarana tempat peribadatan di daerah rawan aqidah dan sebagainya. Disamping itu, terdapat program yang sama dengan instansi lain seperti Dinas Syariat Islam, Dinas Bina Marga, Badan Dayah dan sebagainya. Ibnu Sabil, Ibnu Sabil ialah orang yang kehabisan bekal dalam perjalanan seperti: 1. Pelajar miskin yang berprestasi (bea siswa) 2. Pelajar miskin biasa dari tingkat SD sederajat s/d S3 (bea siswa) 3. Program pelatihan untuk sebuah kegiatan/ketrampilan 4. Bantuan orang yang kehabisan bekal dalam perjalanan. Bantuan yang diberikan: 1. Bantuan langsung sesuai dengan kebutuhan dan pertimbangan jumlah dan yang tersedia. 2. Bantuan tidak langsung seperti mendirikan banda usaha/yayasan yang dananya dimanfaatkan untuk keperluan tersebut. Adapun mekanisme penyaluran bea siwa ialah Baitul Mal Aceh membentuk Tim pendataan calon penerima bea siswa dari dana zakat Baitul Mal Aceh. Setelah itu, Tim melakukan koordinasi dengan pihak sekolah atau perguruan tinggi. Koordinasi disini sangat penting, terutama untuk menekankan kepada pihak sekolah dan perguruan tinggi agar siswa atau

mahasiswa yang dikirimkan namanya ke Baitul Mal Aceh sebagai salah satu penerima bea siswa benar-benar sesuai dengan kriteria yang telah ditentukan oleh Baitul Mal Aceh. Kemudian setelah datanya disampaikan kepada tim dari Baitul Mal Aceh, Tim segera melakukan verifikasi data. Setelah di verifikasi dan dinyatakan tidak ada permasalahan dengan data, Tim kembali menghubungi pihak sekolah atau perguruan tinggi untuk menentukan jadwal wawancara langsung dengan para calon peneriman bea siswa. Upaya ini penting untuk dilaksanakan, karena dari beberapa pengalaman pada saat penyaluran bea siswa, tidak ada permasalahan dengan data, namun permasalahan yang muncul pada saat wawancara langsung dengan siswa atau mahasiswa. Misalnya karena ini uang zakat, tentunya yang terima ialah orang miskin, namun pada saat wawancara, atas pengakuannya sendiri ternyata anak orang kaya, atau bahkan ia punya penghasilan sendiri yang sudah mencapai nisab zakat. Bila terjadi hal seperti ini, maka tim akan langsung membatalkan penerima bea siswa tersebut. Setelah proses wawancara selesai, para penerima bea siswa yang dinyatakan berhak untuk menerima bea siswa dari Baitul Mal Aceh diberikan arahan dan nasehat tentang dana zakat yang akan mereka terima. Upaya ini bertujuan agar para murid dan mahasiswa menyadari betul bahwa yang akan mereka terima ialah dana zakat yang memiliki dua aspek (vertikal dan horizontal) dan penerimanya pun harus dari kalangan keluarga miskin. Setelah semua proses berjalan lancar, pada saat penyerahan dana bea siswa dilakukan aqad ijab dan qabul, yang kemudian diahkhiri dengan do’a agar acara yang dilaksanakan mendapat berkah dari Allah SWT. Adapun penyaluran bea siswa ini, telah berjalan sejak tahun 2005 sampai dengan sekarang, untuk lebih jelas dapat dilihat dibawah ini.

Tahun 2005 Ibnu Sabil sebanyak 200 Orang Tersebar dibeberapa Perguruan Tinggi Negeri & Swasta di Banda Aceh dan Aceh Besar . Jumlah dana bea siswa Rp. 200.000.000,Tahun 2006 Ibnu Sabil sebanyak 763 orang - 200 pelajar SD/Min Tersebar di Banda Aceh dan Aceh Besar . - 119 pelajar SLTP Tersebar di Banda Aceh dan Aceh Besar - 119 pelajar SLTA Tersebar di Banda Aceh dan Aceh Besar - 200 santri tersebar dalam Prov. Aceh - 100 Mahasiswa tingkat akhir, tersebar di Banda Aceh, Aceh Besar dan sebahagiannya di beberapa perguran tinggi di Kab/Kota - 25 Mahasiswa luar negeri Jumlah dana beasiswa Rp. 454.000.000,Tahun 2007, jumlah penerima bantuan 780 orang Muallaf sebanyak 30 Orang - Bantuan Bea siswa untuk anak muallaf sebanyak 30 Orang Ibnu Sabil sebanyak 750 Orang - 400 santri tersebear dalam Prov. Aceh. - 200 siswa di Banda Aceh dan Aceh Besar - 50 Mahasiswa Luar negeri dan luar daerah dalam Prov. Aceh - 100 Mahasiswa S1 tersebar di Banda Aceh dan Aceh Besar Jumlah Dana Bea Siswa Rp. 500.000.000,-

Tahun 2008, Jumlah penerima bantuan 1040 Orang Mullaf sebanyak 50 Orang - Bea siswa untuk anak mullaf sebanyak 50 Orang Ibnu Sabil sebanyak 990 Orang - 600 santri tersebar dalam Prov. Aceh - 200 siswa di Banda Aceh dan Aceh Besar - 50 Mahasiswa luar negeri dan luar daerah dalam Prov. Aceh - 140 Mahasiswa S1 tersebar di Banda Aceh dan Aceh Besar Jumlah Dana Bea Siswa Rp. 640.000.000,Tahun 2009, Jumlah penerima Bantuan 961 Orang Muallaf sebanyak 30 Orang Bantuan Bea siswa untuk anak muallaf sebanyak 30 Orang Ibnu Sabil sebanyak 931 Orang - 200 pelajar SD/Min, SLTP dan SMA Tersebar di Banda Aceh dan Aceh Besar - 571 santri tersebar di Kab/Kota dalam Prov. Aceh - 140 S1 Mahasiswa tingkat akhir, tersebar di Banda Aceh, Aceh Besar dan sebahagiannya di beberapa perguran tinggi di Kab/Kota - 20 Mahasiswa luar negeri Jumlah Dana Bea Siswa Rp. 568.500.000,Tahun 2010, Jumlah penerima Bantuan 1420 Orang Muallaf sebanyak 100 Orang Bantuan Bea siswa untuk anak muallaf sebanyak 100 Orang Ibnu Sabil sebanyak 1320 Orang - 300 pelajar SD/Min, SLTP dan SMA Tersebar di Banda Aceh dan Aceh Besar - 700 santri tersebar di Kab/Kota dalam Prov. Aceh - 50 Mahasiswa S1 luar negeri dan luar daerah - 50 Mahasiswa S2 - 220 Mahasiswa S1 dalam daerah Jumlah Dana Bea Siswa Rp. 920.000.000,REKAPITULASI PENERIMA BEA SISWA DARI BAITUL MAL ACEH Tahun 2005 sebanyak 206 Orang = Rp. 200.000.000, Tahun 2006 sebanyak 763 Orang = Rp. 454.000.000,Tahun 2007 sebanyak 780 Orang = Rp. 500.000.000, Tahun 2008 sebanyak 1040 Orang = Rp. 640.000.000,Tahun 2009 sebanyak 961 Orang = Rp. 568.500.000 <span>Tahun 2010 sebanyak 1420 Orang = Rp. 920.000.000,-</span> Jumlah keseluruhan 5170 Orang = Rp. 3.282.500.000,Disamping dana zakat, Baitul Mal Aceh juga menyalurkan dana infaq dalam dunia pendidikan, namun untuk dana infaq ini tidak disalurkan dalam bentuk bea siswa melainkan program-program yang bersifat monumental sesuai dengan arahan Dewan Syariah. Program tersebut ialah Pengadaan Tanah 5 ha di desa Ladong Kabupaten Aceh Besar direncanakan untuk pembangunan tempat pengasuhan anak korban tsunami dan korban konflik yang dibiayai

oleh BRR NAD-Nias dan Multi donor. Program ini dirintis pasca musibah gempa bumi dan gelombang tsunami, namun gagal dikarenakan BRR NAD – Nias dan Multi donor menarik diri pada tahun 2008 lalu 1. Pembangunan Gedung Baitul Mal Plaza (dalam proses) sebagai tempat: 1. Tempat Pelatihan ketrampilan (BLK) bagi Pemuda/i putus sekolah 2. dari keluarga miskin dan anak yatim 3. Tempat pertemuan yg representatif 4. Counter penyetoran zakat yg mudah dijangkau 5. Bangunan yang menjadi ciri khas tersendiri dalam dalam pengeolalan zakat, harta wakaf dan harta agama lainnya di Aceh. 2. Pembangunan Asrama Mahasiswa/i dari keluarga miskin yang berasal dari Kab/Kota yang mendapat undangan dari perguruan tinggi di Banda Aceh. 3. Pembangunan Aula Baitul Mal yang berdekatan dengan Asrama Mahasiswa/i Baitul Mal Aceh sebagai tempat pelatihan, kursus dan sebagainya. Disamping program bea siswa terdapat beberapa progam unggulan Baitul Mal Aceh, yaitu: 1. Pemberian modal usaha bergulir melalui Unit Pengelolaan Zakat Produktif (UPZP) mulai tahun 2006 2. Pemberian santunan tetap bulanan Rp. 200.000,-/bulan dan pemerikasaan kesehatan kepada fakir uzur melalui Unit Peduli Fakir Uzur (UPFU) mulai tahun 2007. 3. Program Pembangunan Prasarana Ibadah didaerah rawan aqidah dari asnaf Fisabilillah mulai tahun 2006 4. Program santunan untuk keluarga miskin pada setiap hari raya aidul fitri mulai tahun 2006. 5. Program Bantuan Bencana Alam / Kebakaran untuk kebutuhan masa panik mulai tahun 2007. 6. Program Bantuan biaya pengobatan untuk kaum dhuafa (2007) 7. Program Pelatihan keterampilan untuk pemuda putus sekolah dan janda (2010) III. Kesimpulan Dari beberapa uraian sebagaimana tersebut diatas dapat diambil beberapa kesimpulan, yaitu 1. Pelaksanaan zakat di Aceh, tidak hanya melaksanakan kewajiban syariah semata, melainkan sudah diformulasikan dalam hukum positif, sehingga pemerintah daerah harus memberikan pertanggungjawaban pengelolaan zakat. Begitupula halnya dengan harta wakaf dan harta agama lainnya. 2. Dalam menyalurkan bea siswa dari dana zakat Baitul Mal Aceh telah berlangsung sejak tahun 2005 sampai dengan tahun 2010, dengan total penerimanya ialah 5170 Orang dengan jumlah dana Rp. 3.282.500.000,-. Program ini, kiranya dapat dilanjutkan kembali, mengingat masih tingginya angka kemiskinan di Aceh. Disamping itu, terdapat program dengan dana infaq yang kiranya dapat mendukung dalam dunia pendidikan jika dapat direalisasikan. *Disampaikan dalam Muktamar VII Pengurus Besar Persatuan Dayah Inshafuddin 01 - 03 Oktober 2010 M/22 – 24 Syawal 1431 H

Serambi News, Selasa 1 Maret 2011

Raker Komite IV DPD dengan Dua Menteri Pusat Didesak Terbitkan Aturan Pelaksanaan Zakat di Aceh Nusantara
JAKARTA - Anggota Komite IV Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI asal Aceh, Dr Ahmad Farhan Hamid MS, mendesak Pemerintah Pusat segera menerbitkan aturan pelaksana yang tentang zakat sebagai bagian dari pengurangan pembayaran pajak sebagaimana diamanatkan Undang-Undang Pemerintahan Aceh (UUPA) Pasal 192. “Sampai sekarang aturan itu belum ada, karenanya belum bisa diimplimentasikan di Aceh. Padahal UUPA sudah sangat jelas memerintahkan hal tersebut,” kata Farhan Hamid dalam Rapat Kerja (Raker) Komite IV DPD dengan Menteri Keuangan Agus Martowardojo dan Menteri Dalam Negeri Gamawan Fauzi, di Gedung DPD RI, Senayan, Jakarta, Senin (28/2). Dipaparkan Farhan, dalam UUPA terdapat tiga pasal yang berkaitan dengan zakat, yaitu Pasal 180 ayat (1) huruf d menyebutkan: “aakat merupakan salah satu sumber Penerimaan Daerah (PAD) Aceh dan PAD Kabupaten/Kota”. Pasal 191 menyatakan: “zakat, harta wakaf, dan harta agama

dikelola oleh Baitul Mal Aceh dan Baitul Mal Kabupaten/Kota yang diatur dalam Qanun,”. Kemudian, Pasal 192 menyebutkan: “zakat yang dibayar menjadi pengurang terhadap jumlah Pajak Penghasilan (PPh) terhutang dari wajib pajak”. “Tapi, karena sejak disahkan UUPA pada tahun 2006 lalu, pasal tentang zakat ini sampai sekarang belum dapat diimplementasikan, karena belum ada aturan pelaksana,” kata Farhan Hamid yang juga menjabat Wakil Ketua MPR RI. Farhan Hamid mengatakan, masyarakat Aceh sejak lama mempertanyakan mengenai implimentasi zakat sebagai bagian dari pembayaran pajak tersebut. “Kita mendesak agar Pemerintah Pusat mengakomodir segera aspirasi ini. Jangan sampai masyarakat Aceh menilai belum adanya keikhlasan Pusat terhadap seluruh materi UUPA,” ujar Farhan Hamid menjawab Serambi seusai rapat kerja. Ditambahkan dia, Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) dan Forum Zakat (FOZ), serta lembaga zakat lainnya sedang berjuang merevisi UU No. 38 Tahun 1999 tentang Pengelolaan Zakat. Mereka juga menginginkan zakat yang dibayarkan sama seperti yang terdapat di dalam UUPA. Evaluasi Sementara itu, dalam rapat kerja tersebut, Menkeu Agus Martowardoyo mengatakan, akan mengevaluasi UU 28/2009 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah, Pasal 87 ayat (4) yang diduga menjadi penyebab rendahnya penerimaan BPHTB (Bea Perolehan Hal Atas Tanah dan Bangunan) di kabupaten/kota. Masalah ini diangkat oleh Ahmad Farhan Hamid, yang baru saja memimpin kunjungan kerja anggota Komite IV ke Aceh dalam rangkaian pengawasan pelaksanaan undang-undang perpajakan. “Saya diinformasikan masalah ini oleh Kepala Dinas Pendapatan dan Pengelola Kekayaan Daerah dalam pertemuan di Sabang, Banda Aceh, dan Sigli,” tutur Farhan. Menurut Farhan, ketentuan batas bebas BPHTB Rp 60 juta dalam UU tersebut terlalu pukul rata. Daerah dengan harga tanah yang masih murah, terutama di luar Jawa sangat dirugikan, padahal BPHTB sudah menjadi pajak daerah terhitung 1 Januari 2011. Menurut Farhan, daerah seharusnya diberi keleluasaan untuk menetapkan batas harga jual yang bebas BPHTB.(fik)

Negara Perlu Mengoptimalkan Zakat
Keberadaan Zakat di Indonesia belum mampu di optimalkan dengam baik oleh negara, padahal potensi keberadaan zakat yang ada mampu memberikan solusi terhadap pengentasan kemiskinan dan memberikan kesejahteraaan. Terkait dengan itu, pakar ekonomi syariah dari Universitas Indonesia, Yusuf Wibisono dalam meminta kepada pemerintah mengkaji ulang peran zakat sebagai manivestasi dalam pajak. Yusuf mengatakan demikian sebab selama ini potensi zakat yang ada selama ini belum dioptimalkan dan zakat masih bersifat kewajiban yang ditunaikan setiap tahunnya saja. Pada hal dalam Islam sendiri ada beberapa jenis dari zakat. ”Inilah sebenarnya yang harus dipahami oleh pemerintah ketika menerjemahkan zakat sebagai bagian dari zakat,”ungkapnya.

Secara kesamaan, tutur Yusuf ada kesamaan antara Zakat dan pajak dimana diperoleh dari sebuah hasil pendapatan. Tetapi secara esensial memiliki perbedaan tersendiri, jika zakat bersifat kewajiban yang harus ditunaikan sebagai bagian dari nilai-nilai ibadah sementara jika pajak adalah kewajiban yang bersifat wajib ditunaikan sebagai warga negara yang memiliki pendapatan sesuai dengan ketentuan wajib pajak. Sementara, Prof. Dr Amin Suma Dekan Fakultas Syariah, Universitas Islam Negeri (UIN) Jakarta, menambahkan, pada zaman Rasulullah dan para sahabatnya menjadikan peran fungsi zakat telah mampu memberikan peningkatanan kesejahteraan pada diri masyarakat. Terbukti pada saat itu, pendistribusian zakat dilakukan secara optimal dan dikelola secara transparan. Jika itu dilakukan diera modern saat, ia menyakini permasalahan kemiskinan yang saat ini menjadi agenda global dan nasional bisa terpecahkan. ”Tetapi itu semua tergantung dari sejauh mana komitmen pemerintah dalam menerjemahkan peran fungsi zakat sebagai bagian dari pajak,” terangnya.

Sumber artikel: zonaekis.com dan redaksi

PENERAPAN PSAK ZAKAT SEBAGAI SALAH SATU OPTIMALISASI PERAN LEMBAGA ZAKAT PADA UMMAT Diajukan Untuk Memenuhi Ujian Take Home Akuntansi Syariah Dosen Pengampu: Dra.Hj.Falikhatun, MSi., Ak.

Oleh: Sholikha Oktavi K.,S.E. (S 4111019) PROGRAM STUDI MAGISTER MANAJEMEN

UNIVERSITAS NEGERI SEBELAS MARET 2011 I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Akuntansi secara umum mempunyai fungsi sebagai alat untuk menyajikan informasi khususnya yang bersifat keuangan dalam kaitannya dengan kegiatan sosial ekonomi dalam suatu komunitas masyarakat tertentu. Penyusunan laporan keuangan berkaitan erat dengan akuntansi. Akuntansi sendiri tidak dapat terlepas dari cara pandang masyarakat (dimana kegiatan ekonomi itu diselenggarakan) terhadap nilai-nilai kehidupan sosialnya. Hal ini terbukti dari tidak mudahnya melakukan harmonisasi standar akuntansi secara internasional meskipun upaya ke arah sana selalu diusahakan dengan adanya International Accounting Standard, dimana PSAK sebagian juga menggunakan IAS sebagai acuan atau referensi. (Baraba, 2010) Implikasi dari hal tersebut di atas menyebabkan adanya upaya yang keras dari para cendekiawan muslim khususnya di bidang ekonomi dan akuntansi untuk merumuskan sistim ekonomi dan akuntansi yang sesuai dengan tuntunan syariah Islam. Menurut Nurhayati (2009), Kewajiban setiap pribadi muslim untuk menyelenggarakan pencatatan harta kekayaannya serta hutang dan kewajibannya nyata-nyata termuat dalam Al-Quran dengan berbagai dimensinya. Hal ini mencerminkan tertib administrasi merupakan bagian yang sangat penting dalam kehidupan seorang muslim sehingga memungkinkan seorang muslim dengan mudah dapat menunaikan kewajiban-kewajibannya seperti zakat, penyelesaian hutang piutang, perhitungan harta waris dsb. Oleh sebab itu, menurut Muhammad (2008) Standarisasi akuntansi keuangan yang berbasis pada Syariah Islam menjadi obsesi yang realistis bagi komunitas cendekiawan dan praktisi bisnis muslim di seluruh dunia. Meskipun umat islam tidak pada posisi yang kuat dan berpengaruh secara signifikan dalam kehidupan sosial ekonomi dan politik untuk ukuran global yang bahkan akhir-akhir ini sedang menghadapi ujian yang sangat berat. Hal inilah yang menjadi latar belakang penulisan makalah ini, yaitu sejauh mana usaha pemerintah dan cendekiawan muslim dalam menerapkan standar akuntansi syariah yang relevan untuk produk-produk syariah khususnya untuk zakat. Selain itu yang menjadi latar belakang dalam penulian makalah ini adalah artikel surat kabar ‘republika’ yang berjudul PSAK Fee Based Income dan Zakat Kelar 2011. Artikel tersebut menjadi sebuah tanda tanya besar sekaligus tanda seru bagi sejumlah kalangan pengamat akuntansi syariah karena permasalahan mengenai PSAK zakat ini sudah disinggung sejak bertahun-tahun yang lalu tetapi realisasinya tahun ini belum ada. Tahun ini seharusnya sudah harus disahkan PSAK Zakat No 109 tersebut, tetapi baru draft exposure yang dapat diketahui oleh sejumlah kecil dari lembaga zakat. 1.2. Rumusan Masalah Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) tentang produk-produk syariah terus menerus digodok guna memperoleh hasil yang memuaskan tentang pencatatan laporan keuangan dari bisnis keuangan syariah. Akan tetapi, dalam pelaksanaannya khususnya pada

zakat, PSAK ini cenderung lambat. Alasan-alasan birokrasi semakin memperkuat lamanya pengesahan PSAK untuk zakat. Dari uraian di atas, dapat dirumuskan permasalahan sebagai berikut : 1. Bagaimana posisi zakat dalam ekonomi islam? 2. Bagaimana peran zakat dalam kehidupan masyarakat? 3. Bagaimana penerapan PSAK zakat? 4. Bagaimana solusi dalam mengatasi masalah PSAK zakat? 1.3. Tujuan Penulisan Tujuan penulisan makalah ini adalah: 1. Untuk mengetahui posisi zakat dalam ekonomi islam 2. Untuk mengetahui peran zakat dalam kehidupan bermasyarakat 3. Untuk mengetahui dan menganalisis penerapan PSAK zakat 4. Untuk memberikan solusi mengatasi masalah PSAK pada zakat II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1.Pengertian Fee Based Income Pengertian Fee based income menurut Kasmir (2001:109) adalah Fee based income adalah keuntungan yang didapat dari transaksi yang diberikan dalam jasa-jasa bank lainnya atau selain spread based. Dalam PSAK No.31 Bab I huruf A angka 03 dijelaskan bahwa dalam operasinya bank melakukan penanaman dalam aktiva produktif seperti kredit dan surat-surat berharga juga diberikan memberikan komitmen dan jasa-jasa lain yang digolongkan sebagai “fee based operation”, atau “off balance sheet activities”. Karena pengertian fee based income merupakan pendapatan operasional non bunga maka unsur-unsur pendapatan operasional yang masuk ke dalamnya adalah : 1. Pendapatan komisi dan provisi 2. pendapatan dari hasil transaksi valuta asing atau devisa 3. pendapatan operasional lainnya. 2.2. Pengertian Zakat Secara harfiah zakat berarti “tumbuh”, “berkembang”, “menyucikan”, atau “membersihkan”. Sedangkan secara terminologi syari’ah, zakat merujuk pada aktivitas memberikan sebagian kekayaan dalam jumlah dan perhitungan tertentu untuk orang-orang tertentu sebagaimana ditentukan. Zakat (Bahasa Arab transliterasi: Zakah) adalah jumlah harta tertentu yang wajib

dikeluarkan oleh orang yang beragama Islam dan diberikan kepada golongan yang berhak menerimanya (fakir miskin dan sebagainya) menurut ketentuan yang telah ditetapkan oleh syarak. Zakat merupakan salah satu rukun Islam dan menjadi salah satu unsur pokok bagi tegaknya syariat Islam. Oleh sebab itu, hukum zakat adalah wajib (fardhu) atas setiap muslim yang telah memenuhi syarat-syarat tertentu. Zakat termasuk dalam kategori ibadah seperti salat, haji, dan puasa yang telah diatur secara rinci berdasarkan Al-Qur’an dan As Sunnah. Zakat juga merupakan amal sosial kemasyarakatan dan kemanusiaan yang dapat berkembang sesuai dengan perkembangan ummat manusia. Zakat terbagi atas dua jenis yakni: ž Zakat fitrah Zakat yang wajib dikeluarkan muslim menjelang Idul Fitri pada bulan Ramadan . Besar zakat ini setara dengan 3,5 liter (2,5 kilogram) makanan pokok yang ada di daerah bersangkutan. ž Zakat maal (harta) Mencakup hasil perniagaan, pertanian, pertambangan, hasil laut, hasil ternak, harta temuan, emas dan perak. Masing-masing jenis memiliki perhitungannya sendiri-sendiri. Terdapat delapan pihak yang berhak menerima zakat, yakni: 1. Fakir- Mereka yang hampir tidak memiliki apa-apa sehingga tidak mampu memenuhi kebutuhan pokok hidup. 2. Miskin- Mereka yang memiliki harta namun tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan dasar untuk hidup. 3. Amil- Mereka yang mengumpulkan dan membagikan zakat. 4. Mu’allaf- Mereka yang baru masuk Islam dan membutuhkan bantuan untuk menyesuaikan diri dengan keadaan barunya 5. Hamba sahaya yang ingin memerdekakan dirinya 6. Gharimin Mereka yang berhutang untuk kebutuhan yang halal dan tidak sanggup untuk memenuhinya 7. Fisabilillah- Mereka yang berjuang di jalan Allah (misal: dakwah, perang dsb) 8. Ibnus Sabil- Mereka yang kehabisan biaya di perjalanan.

III. PEMBAHASAN 3.1.Posisi Zakat dalam Ekonomi Islam

Dilihat dari kacamata ekonomi, sepintas zakat merupakan pengeluaran (konsumsi) bagi pemilik harta sehingga kemampuan ekonomis yang dimilikinya berkurang. Namun logika tersebut dibantah oleh Allah swt., melalui kitab suci Al-Quran yang menyatakan bahwa segala macam bentuk pengeluaran yang ditujukan untuk mencapai keridhaan Allah, akan digantikan dengan pahala (harta sejenis maupun kebaikan yang lain) yang berlipat (QS. AlBaqarah [2]:251 dan QS. Ar-Ruum [30]:39). Kaitannya dalam ekonomi Islam, zakat merupakan sistem dan instrumen orisinil dari sistem ekonomi Islam sebagai salah satu sumber pendapatan tetap institusi ekonomi Islam (baitul maal). Dalam literatur sejarah peradaban Islam, zakat bersama berbagai instrumen ekonomi yang lain seperti wakaf, infak/sedekah, kharaj (pajak), ushur dan sebagainya senantiasa secara rutin mengisi kas Negara untuk kemudian didistribusikan kepada masyarakat. Kedudukan zakat yakni menjamin tercukupinya kebutuhan minimal kaum lemah (mustadh’afiin) sehingga tetap mampu mengakses perekonomian. Melalui akses ekonomi tersebut, zakat secara langsung telah menjamin keberlangsungan pasar. Dengan sendirinya, produksi bahan-bahan kebutuhan tetap berjalan dan terus membukukan keuntungan. Dan perlu dicatat bahwa produsen tersebut pada umumnya adalah mereka yang memiliki status sebagai muzakki. Dari mekanisme ekonomi seperti di atas-lah, maka kemudian secara filosofis zakat diartikan sebagai berkembang. Belum lagi, zakat juga memiliki potensi yang besar untuk merangsang mustahik untuk keluar dari keterpurukan menuju kemandirian. Dengan kata lain, zakat, jika dikelola dengan baik dan professional oleh lembaga-lembaga (amil) yang amanah, memiliki potensi mengubah mustahik menjadi muzakki atau bermental muzakki atau minimal tidak menjadi mustahik lagi. Dalam konteks Indonesia, implementasi zakat dalam perekonomian sangat relevan terutama jika dikaitkan dengan upaya pengentasan kemiskinan (yang juga merupakan golongan yang berhak menerima zakat) yang terus-menerus diupayakan oleh pemerintah. Dilihat dari aspek ibadah, zakat memiliki posisi yang sangat vital karena merupakan salah satu dari rukun Islam yaitu merupakan rukun islam yang ketiga. Konsekuensi logis dari posisi ini adalah zakat merupakan kewajiban bagi umat Islam yang jika ditinggalkan menyebabkan pelakunya akan menanggung beban dosa. Dari penjelasan yang terdapat dalam sumbersumber hukum agama Islam, yakni Al-Qur’an dan Hadits mengisyaratkan secara tegas bahwa orang-orang yang menahan hartanya dari membayar zakat akan mendapat balasan yang berat. Sejarah mencatat, pada masa khalifah Abu Bakar as-Shidiq ra., orang-orang yang tidak membayar zakat dihukum berat dengan cara diperangi. 3.2.Peran Zakat Bagi Kehidupan Bermasyarakat Potensi zakat di Indonesia mencapai Rp 9,1 triliun per tahun. Tetapi yang berhasil dihimpun tak sampai dari 1 trilliun. Mengarah pada revisi UU Pengelolaan Zakat, campur tangan pemerintah sangat diperlukan untuk bisa merealisasikan perolehan zakat yang monumental. (Riyadi, 2009). Apalagi supaya peran zakat dalam penanggulangan kemiskinan dapat dioptimalkan. Hafidhuddin (2009) menegaskan bahwa zakat sebagai instrument pembangunan ekonomi dan pengentasan kemiskinan umat memiliki banyak keunggulan dibandingkan instrument fisik lainnya. Sebelum berbicara tentang bagaimana mengotimalisasi peran zakat bagi ummat, disini akan dijelaskan lebih lanjut peran zakat bagi kehidupan bermasyarakat diantaranya :

1. Zakat sebagai alat distribusi pendapatan Zakat merupakan kewajiban bagi setiap individu untuk mendistribusikan kelebihan kekayaan yang dimilikinya kepada orang lain yang lebih membutuhkan. Mekanisme distribusi pendapatan dalam Islam dilekatkan kepada kewajiban orang kaya (muzakki) dengan insentif yang sangat besar, baik di dunia maupun di akhirat. Allah menjamin bahwa dengan membayar zakat (sedekah) tidak akan membuat orang miskin, bahkan hartanya di sisi Allah akan di lipat gandakan (QS 2: 276). Kepahaman masyarakat terhadap ajaran Islam akan mendorong pada mekanisme pembayaran zakat ini meskipun peran pemerintah sangatlah kecil. (Suseno, 2009) Oleh karena itu, dengan adanya sistem ekonomi islam ini tidak akan ada yang namanya ‘yang kaya makin kaya dan yang miskin makin miskin’. Zakat akan membuat seorang yang kaya makin kaya dan yang miskin berubah menjadi kaya. Begitulah pemahaman yang seharusnya dipahami oleh setiap muslim. Kehadiran Organisasi Pengelola Zakat (OPZ) baik di pusat maupun di daerah telah menjadi salah satu pendorong terciptanya distribusi pendapatan yang merata antara muzakki dan mustahik. Adanya OPZ ini juga mendorong perubahan paradigma penyaluran zakat yang semula terbatas pada pemenuhan kebutuhan hidup yang cenderung konsumtif, bergeser sebagian menjadi pemberdayaan ekonomi yang sifatnya produktif. (Laela dan Baga, 2011) Kajian yang dilakukan oleh Laela dan Baga (2009) terhadap responden masyarakat miskin yang telah mengikuti program pemberdayaan ekonomi (PE) selama enam bulan dan mengalami peningkatan pendapatan perbulannya. Dari 5.594 orang populasi peserta PE, diambil 385 sampel secara purposive (sengaja), dan sebanyak 255 sampel dijumpai meningkat pendapatannya, yang kemudian dijadikan sebagai responden kajian PE. Kesimpulan dari kajian penelitian PE ini didapatkan bahwa adanya zakat dapat menjadi salah satu alat distribusi pendapatan, selain itu karena pendapatan para responden juga meningkat, zakat disini juga berfungsi untuk meningkatkan kesejahteraan ummat.

2. Zakat sebagai upaya pengentas kemiskinan Banyaknya lembaga yang menaungi zakat menjadi salah satu bukti bahwa potensi zakat sangatlah besar. Mengutip penelitian PIRAC pada 2007, potensi zakat di Indonesia mencapai Rp9,1 triliun. Kalkulasi Forum Zakat (FOZ) dua tahun sebelumnya malah mencapai Rp17,5 triliun. Perkiraan tertinggi datang dari kajian Universitas Islam Negeri (UIN) Jakarta pada 2004, yakni mencapai Rp19,3 triliun. (Riyadi, 2009). Potensi zakat di tingkat nasional mencapai Rp 217 triliun per tahun. Angka tersebut jauh di atas nilai riil zakat yang berhasil dihimpun yaitu sekitar Rp 1,5 triliun. (Nashrullah, 2011). Potensi zakat yang sangat besar tersebut merupakan salah satu bukti bahwa peran zakat sebagai upaya pengentas kemiskinan semakin signifikan. Hal ini disebabkan tujuan utama zakat adalah untuk mengurangi kemiskinan dan ketidakseimbangan pendapatan dalam masyarakat. Peruntukan zakat hanyalah boleh diberikan kepada delapan kelompok (ashnaf) mustahik (penerima zakat) seperti tertera dalam QS at-Taubah (9): 60, dengan prioritas utama saat ini adalah kelompok fakir miskin. Oleh karena itu, jelas sudah bahwa peran zakat dalam mengentaskan kemiskinan begitu besar.

Peran zakat dalam mengentaskan kemiskinan dibuktikan oleh riset dari Indonesia Magnificence Zakat (IMZ) tahun 2011. Riset IMZ menyimpulkan, kinerja pengelolaan zakat yang dilakukan organisasi pengelolaan zakat (OPZ) di Indonesia dapat mengurangi jumlah keluarga miskin sebesar 24,2 persen. Sementara tingkat keparahan kemiskinan dapat ditekan hingga 24,94 persen. Di Malaysia, selain mengacu pada ketentuan syariah yang delapan ashnaf tersebut, mustahik juga diklasifikasikan berdasarkan kategori mustahik produktif dan mustahik nonproduktif (konsumtif) yang disesuaikan berdasarkan kondisi fisik mereka. Untuk mustahik yang masih kuat dan sehat diberikan zakat produktif, sebaliknya mustahik yang sakit atau sudah tua yang secara syariat tidak dimungkinkan melakukan aktivitas fisik secara sehat diberikan zakat konsumtif. Zakat diberikan berdasarkan kebutuhan riil mustahik pada saat akan menerima dana zakat. Ada yang digunakan sebagai modal untuk memulai usaha dengan dana berskala kecil. Di sisi lain, ada juga dana zakat yang digunakan untuk membantu usaha mikro mustahik yang telah berjalan. Jadi, secara informal zakat telah menunjukkan kinerja laiknya lembaga keuangan mikro syariah. Ibrahim dan Ghazali (2011) menjelaskan bahwa bantuan dalam bentuk keuangan mikro telah terbukti sukses membantu mustahik dalam mengatasi permasalahan yang dihadapi dalam meningkatkan perekonomian di sejumlah negara. Lembaga zakat diperbolehkan dan dapat menyediakan bantuan keuangan kepada mustahik dalam bentuk pinjaman lunak atau pinjam an bebas bunga. Ini dimaksudkan untuk membantu orang yang berpendapatan rendah dan orang yang membutuhkan, terutama untuk modal bisnis. 3.3. Penerapan PSAK Zakat Zakat sebagai bagian dari entitas syariah terganjal oleh regulasi zakat itu sendiri. Ketiadaan sistem pengelolaan zakat yang komprehensif di Indonesia menghambat optimalisasi zakat. Dijelaskan oleh Nahasus Surur, Wakil Ketua Badan Amil Zakat Nasional (Baznas), terdapat sejumlah hal yang mesti digarap untuk mewujudkan sistem pengelolaan zakat yang komprehensif, yaitu regulasi, tata kelembagaan, pengawasan, dan sosialisasi yang berkesinambungan. Dalam hal ini regulasi merupakan persoalan mendasar. Ditambah lagi UU Nomor 38 Tahun 1999 tentang Pengelolaan Zakat yang sampai saat ini belum direvisi. Keberadaan regulasi zakat tersebut kelak akan lebih memaksimalkan potensi zakat. Dalam hal ini lembaga-lembaga yang mengelola zakat seperti LAZ, BAZNAS, mempunyai pondasi yang kuat dalam mengatur zakat. Masalah regulasi zakat ini sama dengan masalah penerapan pernyataan standar akuntansi zakat. Penerapan standar PSAK zakat ini merupakan salah satu cara dalam mengoptimalisasi peran lembaga zakat bagi ummat. Dalam hal ini forum Zakat (FOZ) mewajibkan penerapan PSAK zakat bagi seluruh lembaga amil zakat (LAZ) anggota utama dan kehormatan asosiasi tersebut. Pasalnya, penerapan PSAK terkait erat dengan tingkat kepercayaan masyarakat terhadap pengelolaan dana zakat oleh LAZ di Indonesia. (Anonim, 2007) Lembaga zakat adalah lembaga yang berada di tengah-tengah publik sehingga dituntut memiliki transparansi dan akuntabilitas. Dalam menjalankan aktivitasnya sebagai amil, organisasi pengelola zakat mempunyai prinsip-prinsip yang harus dipatuhi, di antaranya organisasi pengelola zakat harus memiliki sistem akuntansi dan manajemen keuangan, audit,

serta publikasi. Ketiga prinsip tersebut menunjukkan bahwa organisasi pengelola zakat harus transparan dalam menjalankan tugasnya. (Najah, 2011) Mengacu pada artikel dalam makalah ini yang berjudul PSAK fee based income dan zakat kelar 2011, masalah penerapan PSAK ini melibatkan lembaga amil zakat, pemerintah dan masyarakat. Ketiga unsur ini saling berkaitan. Adanya pemerintah yang terdiri dari Ikatan Akuntansi Indonesia, Bank Indonesia, Majelis Ulama Indonesia, dan pihak-pihak yang berwenang meregulasi PSAK ini akan menjadi sangat penting peranannya mengingat sampai saat ini kedatangan PSAK zakat ini memang ditunggu. Sedangkan keberadaan lembaga amil zakat yang dapat mengatur pelaksanaan zakat yang baik inipun menjadi sangat penting mengingat masyarakat begitu besar harapannya pada lembaga amil zakat. Banyaknya lembaga amill zakat di Indonesia ini akan semakin membantu peran pemerintah dalam pendistribusian zakat. Tidaklah pantas dipandang apabila seorang mustahik berdesak-desakan mengantri sewaktu zakat itu dibagika secara perorangan oleh muzakki. Hal ini akan lebih membahagiakan dan memuaskan banyak kalangan jika pendistribusian zakat ditangani oleh beberapa lembaga zakat dengan professional. Adanya masyarakat yang turut serta berpartisipasi aktif dalam penerapan PSAK zakat ini menjadi kunci untuk membuka profesionalisme lembaga zakat. Hubungan antara pemerintah, lembaga amil zakat, dan masyarakat jika digambarkan maka akan seperti gambar di bawah ini Pihak yang pertama kali terlibat dalam masalah penerapan PSAK ini yang pertama adalah lembaga zakat. Lembaga zakat di Indonesia di antara ke-24 LAZ anggota utama dan kehormatan FOZ terdapat Badan Amil Zakat Nasional (Baznas), Dompet Dhuafa, Rumah Zakat Indonesia (RZI), dan Pos Keadilan Peduli Umat. Selain itu juga ada Yayasan Dana Sosial Al Falah (YDSF) Surabaya, LAZ Pertamina, LAZ Baiturrahman Pupuk Kaltim, Bamuis BNI, LAZ DPU Daruttauhid, dan Bazis DKI Jakarta. Lembaga zakat ini juga termasuk ke dalam pihak yang dirugikan jika penerapan PSAK ini tersendat. Penerapan PSAK bagi lembaga zakat pada intinya untuk menguatkan sistem entitas syariah di sana. Lembaga zakat akan mendapatkan sertifikat kepercayaan oleh masyarakat lebih tepatnya muzakki yang telah memberikan amanah kepada amil dalam hal ini lembaga zakat dalam menyalurkan zakatnya. Masyarakat akan dapat menilai mana lembaga zakat yang dapat dipertanggungjawabkan penyalurannya melalui laporan ini. Standar penghitungan akuntansi syariah ini memiliki beberapa kendala dalam hal pengesahannya. Terbukti sampai saat ini PSAK zakat belum dapat disahkan bagi publik. Ketua Umum FOZ, Hamy Wahyunianto, mengatakan bahwa penerapan PSAK bagi lembaga zakat penting dilaksanakan oleh lembaga zakat karena terkait dengan tingkat kepercayaan masyarakat. Dengan penerapan PSAK tersebut, maka ada standardisasi bagi auditor independen dalam melakukan audit atas LAZ. Dengan demikian, hasil audit diharapkan merepresentasi laporan pengelolaan dana zakat oleh suatu LAZ bagi masyarakat. Meskipun mengikat, FOZ tidak dapat memberikan sanksi bagi LAZ yang tidak ingin menerapkan PSAK tersebut. Namun, FOZ akan mempublikasikan LAZ yang bersedia dan belum bersedia menerapkan PSAK tersebut. Selain berkaitan dengan tingkat kepercayaan adanya PSAK zakat ini akan membuktikan kepada penikmat syariah terhadap entitas syariah yang sedang mencoba belajar berjalan.

Lembaga zakat akan dapat mengatur laporan keuangannya berdasarkan standar PSAK yang berlaku, jadi tidak perlu lagi menggunakan standar akuntansi PSAK turunan karena PSAKnya sendiri belum jadi. Penerapan PSAK ini menjadi sumber lembaga zakat dalam melangkah. Tentunya, kedepannya PSAK zakat ini dapat segera disahkan dan dilaksanakan oleh lembaga zakat yang bersangkutan. Pihak yang kedua dalam masalah ini adalah masyarakat. Jika penerapan PSAK Zakat ini berlangsung dengan baik dan dilaksanakan sesuai dengan standarnya maka masyarakat akan memperoleh kepuasan dalam hal pelayanan. Keuntungan ini akan diperoleh masyarakat sebagai bagian dari pihak yang menggunakan produk syariah. Publik akan mengetahui sejauh mana penerapan syariah tersebut dilaksanakan. Selain itu, akan terlihat juga bagaimana peran lembaga zakat mengoptimalisasikan perannya dalam memberdayakan dana zakat untuk masyarakat yang tergolong dalam delapan ashnaf. Secara garis besar masyarakat disini adalah sisi yang netral, tetapi pengaruh dari diterapkan atau tidaknya PSAK zakat ini secara tidak langsung akan berimbas ke masyarakat. Sebagai contoh adanya kasus pada PSAK murabahah. PSAK murabahah ternyata hanya memiliki satu opsi dalam pembayaran cicilan murabahah. Padahal secara fikih sebenarnya terdapat dua cara dalam pembayaran cicilan murabahah. Yaitu, apakah nasabah akan mencicil perbulan biaya pokok ditambah margin atau nasabah akan membayar jatuh tempo biaya pokoknya sedangkan biaya marginnya dibayar tiap bulan. Masalah-masalah kecil seperti ini diharapkan tidak terjadi pada PSAK zakat. Oleh karena itu, benarlah adanya jika dikatakan akuntansi zakat harus dikaji secara komprehensif atau menyeluruh supaya tidak terjadi kebingungan publik dalam penerapannya. Sedangkan pihak yang ketiga adalah pemerintah. Potensi zakat tidak akan dapat optimal tanpa peran serta pemerintah. Direktur Operasional dan Keuangan Dompet Dhuafa, Rini Supri Hartanti, mengatakan bahwa meskipun pada porsinya zakat dapat dijadikan sebagai instrument pengurang kemiskinan, tetapi zakat tidak bisa berdiri sendiri. Potensi zakat mesti ditopang dengan peran serta dan sinergi berbagai pihak, tak terkecuali pemerintah. Pemerintah disini bertindak sebagai pemangku kebijakan dan pengawas. Peran pemerintah juga sebagai regulator. Penerapan PSAK Zakat ini tidak akan dapat selesai jika pemerintah tidak cekatan dalam menyelesaikan dan mengesahkan PSAK Zakat. Belum selesainya PSAK Zakat ini tidak membuat lembaga zakat tinggal diam. Dibuktikan oleh Alfiatun Najah dalam skripsinya yang berjudul Analisis Penerapan Akuntansi Zakat Pada Organisasi Pengelola Zakat (Studi Kasus Badan Amil Zakat Daerah Wonogiri). Walaupun PSAK 109 tentang zakat ini belum jadi 100 persen, tapi dalam pelaksanaannya Badan Amil Zakat Daerah Wonogiri sudah menerapkan standar akuntansi yang sesuai dengan draft exposure PSAK Nomor 109. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan akuntansi zakat pada Badan Amil Zakat Daerah Wonogiri menggunakan metode cash basic atau basis kas yaitu pencatatan dari seluruh transaksi hanya dilakukan pada saat mengeluarkan kas dan menerima kas, sedangkan laporan keuangan yang sebaiknya diterapkan oleh para pengelola organisasi zakat mengacu kepada Draft Exposure PSAK No. 109 tentang akuntansi zakat dan infak/sedekah. Akunakun yang tercantum dalam Draft Exposure PSAK No. 109 tentang akuntansi zakat dan infak/sedekah lebih terperinci dan tidak dibatasi, sesuai dengan kebutuhan akuntansi organisasi pengelola zakat. (Najah, 2011) 3.4.Solusi Penerapan PSAK Zakat

Penerapan PSAK Zakat yang katanya akan kelar tahun 2011 menurut Surat kabar Republika sampai saat ini belum disahkan. Pada tahun ini seharusnya PSAK zakat sudah dapat dikeluarkan karena pada tahun 2009 PSAK Zakat sedang mengalami tahap revisi dan sedang menunggu sertifikat halal dari MUI. Solusi untuk masalah ini dapat dibagi menjadi tiga bagian menurut hubungan penerapan PSAK zakat sendiri sesuai dengan Gambar 1., diantaranya : 1. Dari sisi pemerintah Pemerintah harus dapat bertindak secepat mungkin untuk meregulasi zakat. Selain UU Nomor 38 Tahun 1999 yang belum direvisi, tugas pemerintah juga mengesahkan PSAK zakat tahun ini juga. Pemerintah dalam hal ini selain yang membuat undang-undang, ahli akuntan dan ekonom syariah juga harus mengambil bagian. Untuk menghindari kritikan terhadap pelaksanaan dan penerapan PSAK itu sendiri, maka dalam penetapan suatu hal baik itu standar akuntansi di perbankan syariah (PSAK), produk-produk di lembaga keuangan syariah seharusnya diserahkan kepada pihak yang ahli. Dalam penetapan akuntansi, tidak hanya orang yang ahli akuntansi yang dibutuhkan, akan tetapi tenaga ahli syariah juga sangat penting demi menghindari terjadinya dispute di kemudian hari. Oleh karena itu, seharusnya tim penetapan standar akuntansi syariah nasional yang ada harus melibatkan beberapa tenaga ahli syariah yang kompeten (tidak hanya mengerti di bidang syariah, tetapi juga memahami prinsip-prinsip akuntansi dan perbankan syariah, kalau penetapannya terkait di bidang perbankan syariah. Sedangkan jika terkait dengan pasar modal syariah, maka yang ahli di pasar modal syariah harus dilibatkan). Sehingga kritikan terhadap standar akuntansi yang ada tidak menimbulkan permasalahan dan bisa jadi menyebabkan produk tersebut tidak sesuai dengan syariah. 2. Dari sisi Lembaga Amil Zakat Secara kelembagaan, lembaga pengumpul zakat bentukan Pemerintah, BAZIS, masih memiliki kelemahan. Lembaga amil bentukan swasta pun belum bersinergi dengan baik. Karena itu, penataan kelembagaan zakat merupakan keniscayaan. Penataan lembaga zakat perlu dilakukan agar perkembangan lembaga zakat tidak stagnan atau jalan di tempat dalam situasi dimana harapan ummat begitu tinggi kepada lembaga zakat. Penataan lembaga zakat harus dilakukan dalam dua skala berbeda tapi saling berkaitan. Pertama, menata bagian-bagian yang dapat dilakukan sendiri oleh lembaga zakat, yaitu halhal yang bersifat mikro dan teknis. Kedua, hal-hal yang bersifat fundamental dan makro. Pemerintah memiliki kewenangan pada tingkat makro dan fundamental. Kelembagaan zakat yang ideal adalah lembaga khusus yang mampu membangun sistem database dan manajemen informasi zakat yang efektif. Para pengelolanya pun harus profesional dan ahli di bidangnya. Selain itu, lembaga yang menjalankan fungsi pengumpulan zakat harus kredibel. Untuk mengatasi masalah PSAK zakat yang belum selesai maka yang dapat dilakukan oleh lembaga zakat adalah melakukan perhitungan akuntansi sebisa mungkin walaupun tidak menggunakan PSAK Nomor 109. Akan tetapi, bisa menggunakan laporan keuangan yang dapat dipertanggungjawabkan kepada masyarakat khususnya pada muzakki. 3. Dari sisi masyarakat

Adanya kepercayaan masyarakat terhadap lembaga zakat adalah generator bagi lembaga zakat dalam melaksanakan amanahnya. Permasalahan penerapan PSAK Zakat dalam hal ini tidak begitu melibatkan masyarakat. Adanya PSAK zakat tidak lain hanyalah sebagai bentuk pertanggungjawaban lembaga zakat dalam memenuhi amanahnya menyalurkan dana zakat bagi para mustahik. Pada kasus yang lain yaitu pada permasalahan PSAK pada kondisi kasus murabahah, masyarakat seringkali dirugikan dengan adanya penetapan standar PSAK tersebut. Hal ini disebabkan dalam PSAK murabahah hanya terdapat satu opsi untuk membayar cicilan. Padahal secara fikih terdapat dua cara mengenai aspek pembayaran. Yang pertama, nasabah dapat membayar perbulan biaya cicilan termasuk marginnya sampai pada jangka waktu tertentu. Dan yang kedua, nasabah dapat hanya membayar marginnya saja perbulan sedangkan biaya pokoknya dapat dibayar jatuh tempo. Penerapan PSAK tentang zakat yang cenderung terlambat ini dapat meresahkan masyarakat. Hal ini pasti akan menjadi sebuah pertanyaan besar kemana saja dana yang telah disalurkan oleh para muzakki untuk mustahik. Selain itu, apakah pegawai atau karyawan dalam lembaga zakat tersebut memperoleh gaji. Kalau mendapatkan gaji apakah gaji tersebut dari dana para muzakki atau bagaimana. Hal inilah yang seharusnya dijelaskan oleh lembaga zakat nantinya dalam standar akuntansi zakat.

IV. PENUTUP 4.1. Simpulan Zakat (Bahasa Arab transliterasi: Zakah) adalah jumlah harta tertentu yang wajib dikeluarkan oleh orang yang beragama Islam dan diberikan kepada golongan yang berhak menerimanya (fakir miskin dan sebagainya) menurut ketentuan yang telah ditetapkan oleh syarak. Zakat merupakan rukun ketiga dari Rukun Islam. Kaitannya dalam ekonomi Islam, zakat merupakan sistem dan instrumen orisinil dari sistem ekonomi Islam sebagai salah satu sumber pendapatan tetap institusi ekonomi Islam (baitul maal). Dalam literatur sejarah peradaban Islam, zakat bersama berbagai instrumen ekonomi yang lain seperti wakaf, infak/sedekah, kharaj (pajak), ushur dan sebaginya senantiasa secara rutin mengisi kas Negara untuk kemudian didistribusikan kepada masyarakat. Kedudukan zakat yakni menjamin tercukupinya kebutuhan minimal kaum lemah (mustadh’afiin) sehingga tetap mampu mengakses perekonomian. Peran zakat diantaranya sebagai alat distribusi pendapatan dan upaya untuk mengentaskan kemiskinan. Peran zakat ini harus dioptimalisasi melalui penerapan PSAK zakat. Jadi adanya PSAK zakat ini bagi lembaga amil zakat akan semakin memperkuat keberadaan lembaga zakat dalam memenuhi amanah para muzakki. Kasus yang terjadi dalam artikel surat kabar republika yaitu adanya PSAK zakat disini melibatkan tiga unsur dalam kehidupan bermasyarakat. Yaitu adanya keterlibatan pemerintah, lembaga zakat, dan pemerintah. Penerapan PSAK harus dapat mewadahi keraguan masyarakat selama ini mengenai lembaga zakat. Solusi yang dapat diambil dalam masalah ini adalah peran aktif pemerintah sebagai pengawas sekaligus regulator dalam

perundang-undangan dan pembuat kebijakan. Selain itu adanya partisipasi aktif dari masyarakat dan juga lembaga zakat juga akan membantu berlangsungnya penerapan PSAK yang kredibel dan dapat dipercaya. Belum selesainya PSAK Zakat ini tidak membuat lembaga zakat tinggal diam. Dibuktikan oleh Alfiatun Najah dalam skripsinya yang berjudul Analisis Penerapan Akuntansi Zakat Pada Organisasi Pengelola Zakat (Studi Kasus Badan Amil Zakat Daerah Wonogiri). Walaupun PSAK 109 tentang zakat ini belum jadi 100 persen, tapi dalam pelaksanaannya Badan Amil Zakat Daerah Wonogiri sudah menerapkan standar akuntansi yang sesuai dengan draft exposure PSAK Nomor 109. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan akuntansi zakat pada Badan Amil Zakat Daerah Wonogiri menggunakan metode cash basic atau basis kas yaitu pencatatan dari seluruh transaksi hanya dilakukan pada saat mengeluarkan kas dan menerima kas, sedangkan laporan keuangan yang sebaiknya diterapkan oleh para pengelola organisasi zakat mengacu kepada Draft Exposure PSAK No. 109 tentang akuntansi zakat dan infak/sedekah. Akunakun yang tercantum dalam Draft Exposure PSAK No. 109 tentang akuntansi zakat dan infak/sedekah lebih terperinci dan tidak dibatasi, sesuai dengan kebutuhan akuntansi organisasi pengelola zakat. (Najah, 2011) 4.2. Saran Seperti yang diungkapkan pada artikel dalam surat kabar Republika yang berjudul PSAK fee based income dan zakat kelar 2011 bahwa pelaksanaan PSAK zakat itu sulit. Oleh karena itu, diharapkan IAI (Ikatan Akuntansi Indonesia) bersama anggotanya seperti BI harus benarbenar komprehensif dalam mengkaji standar PSAK untuk zakat. Hal ini untuk menghindari kesalahan-kesalahan dan masalah yang tidak ikut dibahas dalam PSAK zakat. Saran untuk pemerintah, lembaga zakat, dan juga masyarakat adalah agar terus berpartisipasi aktif dalam menerapkan standar akuntansi yang berlaku secara baik, jujur, dan dapat dipertanggungjawabkan.

DAFTAR PUSTAKA Anonim. 2011. Jasa-Jasa Bank (Fee Based Income). http://1t4juwita.wordpress.com/2011/03/19/jasa-jasa-bank-fee-base-income/. [28 September 2011] Anonim. 2007. Forum Zakat Wajibkan PSAK. http://beritazakat.wordpress.com/2007/11/15/forum-zakat-wajibkan-psak/. [30 September 2011] Baraba, A. 2010. Perkembangan Akuntansi Bank Syariah. http://zonaekis.com/perkembangan-akuntansi-bank-syariah/#more-1464 . [28 September 2011] Laela, A dan Baga,L. 2011. Zakat dan Program Pemberdayaan Ekonomi. Jurnal. Republika. Jumat 19 Agustus 2011.

Muhammad, R. 2008. Akuntansi Keuangan Syariah. PSEI, Jakarta. Najah, A. 2011. Analisis Penerapan Akuntansi Zakat Pada Organisasi Pengelola Zakat (Studi Kasus Badan Amil Zakat Daerah Wonogiri). Skripsi. UIN sunan kalijaga. Jogjakarta. Nashrullah, N. 2011. Optimalkan Pengelolaan Zakat. Republika. Jumat 19 Agustus 2011. Nurhayati, S. 2009. Akuntansi Syariah di Indonesia. Salemba Empat, Jakarta. Riyadi, S. 2009. Mengoptimalkan Peran Zakat. http://lumbungzakat.blogspot.com/2009/01/mengoptimalkan-peran-zakat.html. [30 September 2011] Suseno, P. 2009. Peranan Zakat dalam Transformasi Ekonomi. http://lazisuii.org/index.php? option=com_content&view=article&id=50:peranan-zakat-dalam-transformasiekonomi&catid=35:article. [30 September 2011]

Dinamika dan Elastisitas Hukum Zakat
7 October 2011 by admimz | 65 views

Ciputat, 7 Oktober 2011 Oleh M. Fuad Nasar, M.Sc Telah dipahami secara luas bahwa zakat merupakan kewajiban keagamaan sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari syariah dan keislaman seseorang. Secara pasti telah ditetapkan nishab (batas harta yang wajib dizakati), kadar zakat yang harus dikeluarkan, syarat-syarat, waktu, dan cara pembayarannya. Dalam pelaksanaan hukum zakat terdapat tiga unsur, yaitu: Pertama, pembayar zakat (muzakki). Kedua, penerima zakat (mustahiq), dan Ketiga, penyalur zakat, dalam hal ini yaitu amilin yang diangkat atau ditugaskan oleh pemerintah. Pengelolaan zakat yang memberi dampak terhadap kesejahteraan masyarakat ditentukan oleh tiga komponen di atas. Selain itu pengumpulan zakat haruslah dapat menampung perkembangan berbagai jenis harta kekayaan yang ada di masyarakat. Prof. T.M. Hasbi Ash Shiddieqy mencatat tiga prinsip yang terkandung di dalam pelaksanaan zakat, ialah: Pertama, zakat dipungut pada sebagian jenis harta yaitu pada jenis harta yang berkembang. Kedua, zakat dipungut setelah mencapai nilai batas kaya (nishab). Nishab tidak

bisa diubah untuk disesuaikan dengan keadaan, sebab ketentuan itu ditetapkan oleh nash syara’, bukan hasil ijtihad. Demikian pula, karena nash menggunakan standar emas, maka tidak dapat diganti dengan yang lain. Ketiga, zakat harta (zakat al-mal) adalah pungutan tahunan (haul). (Nouruzzaman Shiddieqy, Fiqh Indonesia, Penggagas dan Gagasannya, 1997) Harta yang wajib dikeluarkan zakatnya secara garis besar meliputi dua macam harta. Pertama, harta zahir (amwal zhahiriyah) adalah harta yang dimungkinkan mengetahui dan menghitungnya oleh orang yang bukan pemiliknya, meliputi hasil pertanian seperti biji-bijian dan buah-buahan, dan kekayaan hewan ternak, seperti unta, sapi, kambing. Termasuk dalam harta zahir ialah barang tambang dan rikaz. Kedua, harta batin (amwal bathiniyah) adalah berupa uang, emas, perak serta harta perdagangan, termasuk penghasilan yang diperoleh karena kerja dan profesi. Dari berbagai jenis atau macam harta objek zakat, ada yang wajib dikeluarkan zakatnya sebesar 10 %, yaitu tanam-tanaman (hasil pertanian, makanan pokok) yang pengairannya tidak memerlukan ongkos dan tenaga manusia, ada yang sebesar 5 %, yaitu tanam-tanaman yang pengairannya memerlukan ongkos dan tenaga manusia, dan zakatnya dibayarkan pada waktu panen. Ada beberapa jenis harta yang terkena wajib zakat 2, 5 % , yaitu mata uang dengan segala jenisnya, emas, perak dan harta yang diperdagangkan, zakatnya dibayarkan setahun sekali. Ada lagi zakat hewan ternak yang diatur amat rapi pengeluaran zakatnya. Ada pula harta yang ditemukan dari dalam bumi, yakni barang tambang, kekayaan laut, atau harta karun yang disebut rikaz, zakatnya 20 %, tidak mensyaratkan haul (masa satu tahun) dan dikeluarkan sekali saja pada saat diperoleh setelah dibersihkan. Dengan demikian, para pengelola zakat harus memiliki pengetahuan yang memadai tentang harta yang wajib dizakati dan yang tidak wajib dizakati. Juga masalah zakat membutuhkan ijtihad atau upaya penggalian hukum di tengah perkembangan yang terjadi di masyarakat Para ulama menggunakan metode ijtihad (penggalian hukum berdasarkan nash yang ada) dan qiyas (analogi hukum) dalam menetapkan jenis-jenis harta yang wajib dikeluarkan zakatnya di masa kini. Salah satu potensi zakat yang besar dalam perekonomian modern adalah zakat perusahaan. Para ulama di Indonesia dalam menyikapi zakat perusahaan belum mencapai kesatuan pemikiran (unity of tought). Ada yang berpendapat tidak ada zakat pada perusahaan, dengan alasan tidak ada dalil yang bersumber langsung dari Rasulullah SAW. Pendapat kedua memakai alasan keumuman nash tentang zakat. Dengan kata lain, dikembalikan kepada prinsip sumber zakat ialah prinsip an-nama’ atau al istinma (prinsip produktif) dan di luar kebutuhan pokok berdasarkan dalil-dalil umum zakat dalam Al Quran dan Sunnah. Penggunaan ijtihad dalam masalah zakat memang perlu batasan agar tidak terjadi salah kaprah. Bahwa apa yang sudah jelas dalam Al Quran tidak perlu difatwakan lagi. Pada hemat penulis, di sinilah para ulama dituntut untuk menguasai ilmu-ilmu alat sehingga mampu menggali hukum-hukum Al Quran dan Sunnah, lalu mengaitkannya dengan perkembangan kehidupan umat masa kini. Betapa pentingnya zakat dan urgensinya sebagai salah satu pilar kemaslahatan umat terlihat dari banyaknya ayat dalam Al Quran (sekitar 82 ayat) yang menyandingkan perintah menunaikan zakat dengan perintah mendirikan shalat. Oleh karena itu, dalam rangka mengaktualisasikan peran zakat sebagai salah satu ciri dari sistem ekonomi Islam, maka

kajian fiqih tematik berkenaan dengan sumber-sumber zakat dalam perekonomian modern perlu terus ditumbuh- kembangkan, termasuk di dalamnya melibatkan perguruan tinggi. Penetapan kewajiban zakat atas jenis-jenis harta yang tumbuh dan berkembang dalam perekonomian modern menunjukkan betapa hukum Islam sangat responsif terhadap perkembangan zaman. Dinamika dan elastisitas hukum zakat menunjukkan semangat keadilan yang menjiwai keseluruhan ajaran Islam. Prof. Afif Abdul Fatah Thabbarah Ruh alDin al-Islamy mengatakan bahwa aturan dalam Islam itu bukan saja sekedar berdasarkan pada keadilan bagi seluruh ummat manusia, akan tetapi sejalan dengan kemaslahatan dan kebutuhan hidup manusia, sepanjang zaman dan keadaan, walaupun zaman itu bebeda dan berkembang dari waktu ke waktu. Nabi Muhammad SAW dalam beberapa hadits yang sahih menjelaskan kedudukan zakat dalam Islam, yaitu sebagai salah satu ibadah pokok dan rukun Islam yang ketiga, setelah syahadat dan shalat. Dengan demikian keberadaannya diketahui secara otomatis adanya dan merupakan bagian mutlak dari keislaman seseorang. Tidak dapat diabaikan bahwa zakat merupakan kewajiban agama yang dapat dipaksakan terhadap para wajib zakat yang tidak mau menunaikannya. Seluruh ulama salaf (ulama terdahulu) dan ulama khalaf (ulama masa kini/kontemporer) dalam hal ini sepakat mengatakan bahwa mengingkari hukum zakat (mengingkat wajibnya) dihukum kufur dan keluar dari agama Islam. Di dalam beberapa hadits Nabi SAW mengancam orang-orang yang menolak membayar zakat dengan hukuman yang berat di akhirat dan kerugian di dunia. Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Bazzar dan Baihaqi Nabi bersabda yang maksudnya, bila sedekah (dalam arti zakat) yang tidak dikeluarkan bercampur dengan kekayaan lain, maka kekayaan itu akan binasa. Para ulama menggolongkan zakat ke dalam ibadah mâliyah yakni ibadah dengan harta. Zakat sebagai ibadah telah diatur oleh syariat secara rinci dalam pelaksanannya seperti halnya ibadah-ibadah yang lain. Pengaturan syariat atas zakat ini, antara lain menyangkut kekayaan yang wajib dikeluarkan zakatnya, ditentukan batas minimum harta yang sudah wajib dizakati. Di samping itu, ditentukan kapan waktunya zakat harus dibayarkan. Demikian pula kadar zakat yang harus dikeluarkan, dan para penerima zakat (al-Ashnâf al-Tsamâniyah). Islam lebih lanjut memposisikan zakat sebagai ibadah yang mempunyai dimensi sosial dan zakat merupakan salah satu pilar utama untuk menciptakan masyarakat yang sejahtera. Dr. Mustafa As Shiba’i dalam buku Isytirakiyyatul Islam menegaskan, bahwa di samping menghormati hak milik perseorangan, Islam telah menentukan bagian tertentu dari kekayaan menjadi hak umum. Pemerintah dibenarkan dalam hukum syariat untuk menetapkan segala aturan yang diperlukan terkait dengan pemungutan sumber-sumber keuangan sebagai jaminan sosial, berupa pajak dan sebagainya. Penggunaan ijtihad tidak perlu diragukan lagi mendapat tempat dalam pengembangan fiqih zakat, yaitu ijtihad dalam definisi seperti diutarakan Abdul Hamid Hakim dalam kitab ushul fiqih Al Bayan, yaitu mencurahkan segenap upaya untuk mendapatkan hukum syar’i dengan mengistimbatkannya (menggali dan mendapatkannya) dari Kitabullah dan Sunnah. Namun tentu saja perlu ada batasan ijtihad agar tidak salah kaprah. Bahwa apa yang sudah jelas dalam Al Quran tidak perlu difatwakan lagi. Dalam kaitan ini para ulama perlu memiliki pemahaman yang luas tentang syariah untuk bisa menggali hukum-hukum Al Quran dan Sunnah serta menemukan kontekstualisasinya dengan kehidupan kontemporer.

Berkenaan dengan aktualisasi zakat dalam dimensi kekinian, penulis memandang bahwa istimbath dan tarjih terhadap berbagai aspek hukum zakat perlu terus dilakukan oleh para ulama yang berkompeten di bidang hukum Islam. Di lingkungan masyarakat Indonesia, lembaga yang memiliki otoritas dan legitimasi untuk melakukannya istimbath dan tarjih terutama adalah Majelis Ulama Indonesia (MUI). Komisi Fatwa MUI dapat mengambil rujukan berbagai pendapat atau fatwa ulama perorangan yang pernah dikeluarkan melalui karya-karya mereka atau secara organisasi, seperti Muhammadiyah punya Majelis Tarjih, Nahdlatul Ulama punya Lembaga Bahtsul Masail, dan Persatuan Islam (Persis) punya Lembaga Hisbah. Wallahu a’lam bisshawab. Sumber : pelitaonline.com

Peranan Zakat dalam Transformasi Ekonomi
(Priyonggo Suseno) Berbeda dengan konsep sosialisme yang mengandalkan peran pemerintah dalam distribusi ekonomi, Islam telah menciptakan suatu instrumen built-in dalam distribusi, yaitu zakat. Mekanisme pasar yang berjalan secara sempurna sekalipun tidak akan mampu memecahkan masalah distribusi. Allah Maha Mengetahui dan Dia telah mewajibkan kepada setiap orang yang mampu untuk membagikan sebagian pendapatannya kepada orang lain yang membutuhkan (mustahiq). Lebih dari itu, jika zakat ini mampu dilakukan secara berjamaah, maka perubahan dan transformasi ekonomi menuju ekonomi produktif dan merata. 1. Zakat sebagai alat built-in distribusi pendapatan Di dalam sistem perekonoman yang membebaskan diri dari nilai (baca: ekonomi liberal), distribusi pendapatan dan output antar individu dalam masyarakat sepenuhnya dikendalikan oleh mekanisme pasar. Kekuatan permintaan dan penawaran yang akan menentukan barang-barang apa yang dihargai mahal dan barang-barang apa yang akan tidak berharga. Semakin tingginya harga bahan bakar (BBM misalnya) merupakan cermin lemahnya posisi tawar dari konsumen dibandingkan perusahaan. Di sisi lain, harga manusia,

upah misalnya, tidak mengalami kenaikan yang signifikan bahkan secara riil bisa dibilang menurun adalah karena lemahnya posisi penawaran tenaga kerja dan miskinnya lapangan kerja. Dalam perekonomian bebas, adalah menjadi hal yang wajar jika menjadi seorang pegawai susah untuk kaya lantaran rendahnya tingkat upah dan penghasilan yang mereka terima. Pendapatan yang diterima oleh masyarakat tidaklah menerminkan jerih payah atau pengorbanan yang mereka lakukan, namun merupakan hasil kekuatan politik (tawarmenawar). Distribusi atau mengalirnya pendapatan antar masyarakat hanya diwadahi dalam bentuk mekanisme kerja pasar dan tidak ada mekanisme yang secara otomatis meredistribusi pendapatan sehingga mereka yang posisi tawarnya lemah bisa meningkat. Lebih lagi, dalam perekonomian bebas berlaku hukum kesamaan harga, dimana barang/jasa akan mengalir dari suatu pasar yang harganya rendah menuju pasar yang harganya tinggi. Proses ini akan terjadi secara terus menerus sehingga harga di setiap pasar mendekati sama dan tidak menguntungkan bagi setiap pengusaha untuk mengambil keuntungan dari perbedaan harga tersebut. Berlakunya hukum ini juga menjadi penghambat terjadinya proses distribusi pendapatan antar masyarakat. Sebagai misal naiknya tingkat upah di suatu perusahaan atau daerah tidak akan terjadi dalam jangka panjang karena hal ini akan diiukti oleh gelombang aliran tenaga kerja menuju daaerah yang upahnya tinggi hingga upah antar daerah mendekati titik yang sama. Jika sistem ekonomi bebas ini berlangsung terus, salah satu dampaknya adalah macetnya proses distribusi yang bisa berdampak pada banyak hal termasuk aspek sosial dan politik. Ketimpangan pendapatan merupakan gejala awal dari dampak liberalisasi ekonomi yang bisa berujung pada kecemburuan sosial dan konflik sosial. Ekonomi liberal mengatasi masalah ini melalui kebijakan pemerintah dan mengandalkan belas kasihan para jutawan atau pilantropis. Namun apakah hal ini akan berlangsung langgeng? Zakat merupakan kewajiban bagi setiap individu untuk mendistribusikan kelebihan kekayaan yang dimilikinya kepada orang lain yang lebih membutuhkan. Mekanisme distribusi pendapatan dalam Islam dilekatkan kepada kewajiban orang kaya (muzakki) dengan insentif yang sangat besar, baik di dunia maupun di akhirat. Allah menjamin bahwa dengan membayar zakat (sedekah) tidak akan membuat orang miskin, bahkan hartanya di sisi Allah akan di lipat gandakan (QS 2: 276). Kepahaman masyarakat terhadap ajaran Islam akan mendorong pada mekanisme pembayaran zakat ini meskipun peran pemerintah sangatlah kecil. 2. Zakat sebagai Accelerator Transformasi Ekonomi Mengapa secara empiris zakat tidak mampu memiliki dampak ekonomi yang signifikan, masih terkalahkan oleh pajak. Ini tidak lain karena pelaksanaan zakat masih bersifat parsial, mulai dari aspek pemahaman, sosialisasi, dan penerapan kebijakan perzakatan. Jika zakat dipahami secara utuh dan dilaksanakan secara jamaah dalam suatu negara, maka zakat memiliki manfaat ekonomi yang cukup besar. (1) Zakat sebagai jaminan sosial (social security) Zakat adalah jaminan yang mencakup semua asnaf yang membutuhkan, baik kebutuhan fisik, jiwa maupun akal. Kita ketahui bagaimana pernikahan merupakan kebutuhan yang harus dipenuhi, demikian pula buku-buku ilmu pengetahuan bagi orang yang ahlinya.

Jaminan sosial ini bukan hanya khusus bagi kaum muslimin, akan tetapi mencakup semua orang yang hidup di bawah naungan pemerintahan Islam, seperti Yahudi dan Nasrani sebagaimana pernah dilakukan oleh Sayidina Umar memberikan kebutuhan orang Yahudi yang meminta-minta dengan harta dari baitul maal. Hanya saja zakat ini lebih dekat kepada jaminan sosial daripada asuransi sosial. Hal ini karena sistem zakat tidak memberi kepada seseorang berdasarkan kepada apa yang pernah diberikannya sebagaimana asuransi sosial (social insurance), akan tetapi ia memberinya berdasarkan kebutuhannya. (2) Zakat sebagai Insentif Transformasi Ekonomi Secara umum, zakat dikenakan atas tiga ukuran, yaitu (1) volume produksi (2) pendapatan atau keuntungan (3) nilai kekayaan. Misalnya zakat atas barang temuan, pertanian dan peternakan dihitung atas volume produksi setiap periode, sedangkan zakat atas perdagangan dihitungkan atas pendapatan bersih dan zakat atas emas, perak dihitung atas unit simpanan kekayaan. Jika diperhatikan tarif zakah, kekayaan yang dikenai zakat paling tinggi adalah barang temuan (minimal 20%), yaitu kekayaan yang diperoleh hanya dengan mengambil langsung dari alam tanpa adanya peran manusia dalam pengolahan, misalnya hasil tambang (imam Hanafi). Kekayaan hasil dari pertanian merupakan objek zakat dengan tarif zakat tertinggi kedua (5%-10%), dimana manusia mulai berperan dalam pengelolaan alam. Demikian seterusnya, semakin tinggi peran dan kontribusi manusia maka tarif zakat semakin kecil (misalnya zakat ternak kambing 1%). Di sinilah Allah sangat memahami perilaku manusia yang sarat dengan insentif. Manusia yang menginginkan kekayaan dunia akhirat lebih cepat maka akan mencari pencaharian yang dengan tarif zakat rendah, karena dengan membayar zakat yang lebih rendah maka kekayaan di dunia maupun di akhirat bertambah lebih cepat. Jika masyarakat rasional dan sadar akan zakat, maka proses transformasi ekonomi dari sektor alam/primer menuju sektor perdagangan dan jasa akan terjadi dengan sendirinya. Kebijakan industrialisasi yang dewasa ini mendominasi negara berkembang tidaklah sepenuhnya bertentangan dengan Islam. Sistem ekonomi berbasis zakat mampu mendorong proses transformasi ekonomi ini sekaligus mempercepat proses distribusi pendapatan dan kesejahteraan sosial dalam masyarakat. Wallahu a’lam bish showab. Last Updated on Thursday, 19 March 2009 02:23

ANALISIS PERAN ZAKAT DALAM PENGENTASAN KEMISKINAN
(Sebuah Jawaban atas Kegagalan 10 tahun Reformasi Pembangunan Hukum Ekonomi) Oleh: Pratami n Erika

FAKULTAS HUKUM UNIVERSITAS SEBELAS MARET SURAKARTA 2008 BAB I PENDAHULAN A. Latar Belakang Masalah Permasalahan kemiskinan di Indonesia sangat memprihatinkan, sudah lebih dari 63 tahun Indonesia merdeka dan lebih dari 10 tahun reformasi, tetapi masalah kemiskinan menjadi masalah urgent dalam pembangunan Indonesia. Padahal, program pengentasan kemiskinan selalu tercantum dalam program pembangunan dari waktu ke waktu, dengan dana penanggulangan kemiskinan yang terus meningkat. Permasalahan kemiskinan dibicarakan tanpa berujung pada aksi nyata, oleh karena itu hal ini menarik

banyak kalangan untuk dituntaskan dengan cara yang tepat dan cerdas. Setiap orang seolah bergairah untuk membicarakan tentang betapa miskinnya negeri ini, negeri yang konon elok rupawan, alamnya yang subur menghasilkan tetumbuhan yang menggiurkan, tetapi ternyata semuanya itu tinggal sekedar cerita masa lalu. Kemiskinan tetap saja menjadi bagian yang belum terpisahkan dari bangsa yang indah ini. Yang lebih mengenaskan adalah, penyakit akut kemiskinan itu ternyata telah bersarang di tubuh mayoritas ummat Islam, ia menyerang jasad ummat yang sesungguhnya memiliki nilai-nilai perjuangan untuk sukses dunia akhirat, tetapi kemudian harus mengalami sebuah ”bencana” kemiskinan yang sangat dahsyat. Dalam buku World in Figure 2003 yang diterbitkan oleh The Economist, dipaparkan tentang Indonesia sebagai negara yang luar biasa, negeri terluas nomor 15 di dunia ini, ternyata dikenal sebagai pengekspor coklat dengan peringkat nomor 3 di dunia, penghasil sawit terbesar ke 2, dan beragam hasil perkebunan lainnya, dari penghasilan tambang, ternyata Indonesia menghasilkan emas ke 8 di dunia, negeri ini menghasilkan sungguh banyak bauksit, bahan bakar minyak, batubara, marmer, nikel dan kandungan mineral lainnya (sumber: ://demustaine.blogdetik.com/2008/08/27/zakat-dan-kemiskinan). Luar biasa, demikianlah agaknya yang bisa kita ucapkan untuk menunjukkan potensi yang ada di Indonesia, negeri kaya raya. Keluarbiasaannya ternyata tidak hanya karena potensi yang dimilikinya itu saja. Paradoks, itulah kalimat yang tepat untuk menggambarkan situasi yang terjadi, dinegeri yang kaya raya ini, fakta yang amat jelas memperlihatkan kondisi terkini tentang kemiskinan dengan segala ancamannya menghantui anak negeri. Hal tersebut terbukti dengan adanya beban hutang luar negeri kita yang ternyata berada diperingkat 6 didunia, angka korupsi menempatkan Indonesia di posisi ke 3 diantara negara di dunia, penduduk miskinnya sebesar 26 % dan pengangguran terbuka berada di angka 10 juta(sumber://proletar.8m.com). Menurut Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Kondisi penduduk miskin tahun 2007 mencapai 37,2 juta atau sekitar 16,58 persen, dengan garis kemiskinan Rp166.697 per orang per bulan. Dengan adanya kenaikan harga BBM, hingga bulan Desember 2008 diperkirakan kebutuhan hidup layak bagi tiap individu adalah sebesar Rp195 ribu per orang per bulan. Hal ini tentunya akan mempengaruhi kalkulasi jumlah penduduk miskin di Indonesia yang juga dipastikan akan semakin meningkat (sumber://economy.okezone.com). Berdasarkan data tersebut di atas, berbagai cara telah dilakukan pemerintah dalam menanggulangi kemiskinan mulai dari pembagian bantuan langsung tunai sampai pemberian bantuan kompor dan atau tabung gas atas upaya pemerintah mengalihkan (konversi) minyak tanah ke gas. Tetapi upaya yang dilakukan tak urung menyelesaikan masalah karena rakyat justru menolak konversi tersebut dengan berbagai alasan. Terlepas dari itu semua, secara garis besar dapat terlihat bahwa solusi yang dilakukan baru sekadar pemberian ’ikan’ bukan ’kail’. Kebijakan-kebijakan yang dikeluarkan oleh pemerintah seakan memberatkan rakyat. Lantas dengan adanya kekayaan Indonesia yang sangatlah besar kenapa permasalahan kemiskinan selalu menjadi masalah yang seolah-olah tidak ada solusinya? Sebenarnya apakah ada yang salah urus (something wrong) dalam menangani masalah kemiskinan ini? Dalam Islam, peran zakat yang tepat dapat dijadikan salah satu solusi untuk mengentaskan kemiskinan, apakah hal tersebut benar-benar dapat menjadi solusi. Adanya keterkaitan pembangunan ekonomi dan peranan zakat dalam mengentaskan kemiskinan menjadi sebuah ketertarikan bagi penulis untuk mengkaji masalah ini dalam sebuah karya tulis yang berjudul ”ANALISIS PERAN ZAKAT DALAM PENGENTASAN KEMISKINAN (Sebuah Jawaban atas Kegagalan 10 tahun Reformasi Pembangunan Hukum Ekonomi)”. B. Rumusan Masalah

Dari latar belakang yang dikemukakan, maka penulis mengambil rumusan masalah meliputi: 1. Bagaimana peran zakat dalam mengentaskan kemiskinan? 2. Bagaimana strategi pembangunan hukum ekonomi mengawal zakat sebagai solusi pengentasan kemiskinan? C. Tujuan Penelitian 1. Tujuan Obyektif a. Untuk mengetahui konsep peran zakat dalam mengentaskan kemiskinan. b. Untuk mencari jawaban atas kegagalan 10 tahun reformasi pembangunan hukum ekonomi. 2. Tujuan Subyektif a. Untuk memperdalam pengetahuan penulis mengenai peran zakat dalam pengentasan kemiskinan. b. Untuk mengetahui keterkaitan antara kemiskinan, zakat dan adanya sumbangsih hukum ekonomi dalam mengentaskan kemiskinan di Indonesia. D. Manfaat Penelitian 1. Manfaat Teoristis a. Memberikan sumbangan pemikiran terhadap perkembangan ilmu sosial, khususnya mengenai peran zakat dalam memberantas kemiskinan mengingat telah gagalnya reformasi hukum ekonomi. b. Memberikan wacana peran zakat dalam pembangunan hukum ekonomi. 2. Manfaat Praktis a. Guna mengembangkan penalaran dan kemampuan penulis dalam mengkritisi persoalan-persoalan sosial. b. Memberi jawaban atas permasalahan yang diteliti. c. Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan masukan dan tambahan pengetahuan bagi para pihak yang terkait. BAB II LANDASAN TEORI A. Pengertian Peristilahan 1. Pengertian Analisis Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), analisis mempunyai arti 1. Penyelidikan terhadap suatu peristiwa (karangan, perbuatan dan sebagainya) untuk mengetahui keadaan yang sebebarnya (sebab musabab, duduk perkara dan sebagainya); 2. Penguraian suatu pokok atas berbagai bagiannya dan penelaahan bagian itu sendiri serta hubungan antar bagian untuk memperoleh pengertian yang tepat dan pemahanan arti keseluruhan. 2. Pengertian Reformasi Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) istilah reformasi mempunyai arti perubahan radikal untuk perbaikan (bidang sosial, politik, atau agama) di suatu masyarakat atau negara. B. Tinjauan Umum Tentang Zakat 1. Pengertian Zakat Zakat menurut istilah bahasa dapat diartikan membersihkan dan mengembangkan, sedangkan menurut syara’ dapat diartikan sebagai harta yang dikeluarkan sebagai kewajiban atas harta atau badan orang yang bersangkutan dengan cara yang khusus (tertentu) (Manshur Ali Nashif, 2002 : 2). Zakat merupakan salah satu dari rukun islam, tepatnya rukun islam yang ketiga, sebagaimana diungkapkan dalam hadist Nabi sehingga keberadaanya dianggap sebagai ma’luum minad-diin bidh-dharuurah atau diketahui secara otomatis adanya dan merupakan bagian mutlak dari keislaman seseorang (Didin Hafidhuddin,2006:1).

2. Pengaturan Zakat Landasan kewajiban zakat ditegaskan di dalam Al-Qur’an dan Sunah, diantaranya adalah; a. Al-Qur’an Allah SWT berfirman: “Dan dirikanlah salat, tunaikanlah zakat, dan taatlah kalian kepada rasul, agar kalian diberi rahmat (An-Nuur:56). "Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka, dan berdoalah untuk mereka. Sesungguhnya doa kamu itu menjadi ketenteraman jiwa bagi mereka. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui" (At-Taubah :103). “Maka orang-orang yang beriman diantara kalian dan menafkahkan (sebagian) dari hartanya memperoleh pahala yang besar (Al-Hadid:7). Berdasarkan ayat pertama, kedua dan ayat ketiga tersebut memberikan pengertian tentang kefardhuan zakat. Pada garis besarnya zakat merupakan salah satu dari rukun islam, ibadah zakat disyariatkan pada tahun 2 Hijriyah. Hikmah yang terkandung di dalam zakat ialah untuk memelihara harta benda dan menjadikanya berkembang. Zakat berfungsi pula untuk membersihkan jiwa(dari kotoran kekikiran) dan membersihkannya (dari dosa-dosa). Pelakunya akan mendapat pahala yang besar, rahmat Allah yang berlimpah, doa dari Rasul SAW, doa para malaikat, dan rida Allah, Rasul-Nya serta semua makhluk. Dengan demikian maka pelakunya memperoleh kebahagiaan di dunia dan akhirat (Manshur Ali Nashif, 2002 : 2). b. SUNNAH 1. Rasulullah SAW bersabda yang diriwayatkan Bukhari dan Muslim dari Abdullah bin Umar: Artinya: "Islam dibangun atas lima rukun: Syahadat tiada Tuhan kecuali Allah dan Muhammad saw utusan Allah, menegakkan shalat, membayar zakat, menunaikan haji dan puasa Ramadhan". 2. Hadist diriwayatkan oleh Ath-Thabrani dari Ali ra: Artinya: "Sesungguhnya Allah mewajibkan (zakat) atas orang-orang kaya dari umat Islam pada harta mereka dengan batas sesuai kecukupan fuqoro diantara mereka. Orang-orang fakir tidak akan kekurangan pada saat mereka lapar atau tidak berbaju kecuali karena ulah orang-orang kaya diantar mereka. Ingatlah bahwa Allah akan menghisab mereka dengan keras dan mengadzab mereka dengan pedih". 3. Ulama baik salaf (klasik) maupun khalaf (kontemporer) telah sepakat akan kewajiban zakat dan bagi yang mengingkarinya berarti telah kafir dari Islam. C. Tinjauan Umum Tentang Kemiskinan Secara etomoligi, menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) kemiskinan berarti keadaan serba kekurangan. Masalah kemiskinan merupakan salah satu penyebab dari munculnya permasalahan perekonomian masyarakat, karena definisi kemiskinan adalah lemahnya sumber penghasilan yang mampu diciptakan individu masyarakat yang juga mengimplikasikan akan lemahnya sumber penghasilan yang ada dalam masyarakat itu sendiri, dalam memenuhi segala kebutuhan perekonomian dan kehidupanya (sumber: Yusuf Qaradhawi,2005 : 21). Dirumuskan oleh Robert Chambers seorang pakar pembangunan pedesaan Inggris, menjelaskan bahwa masalah kemiskinan terjadi karena adanya faktor Deprivation Trap (jebakan kemiskinan). Jebakan kemiskinan ini terdiri dari lima ketidak beruntungan yang terus melilit keluarga miskin. Pertama; Kemiskinan itu sendiri. Kedua; Kelemahan fisik. Ketiga; Keterasingan. Keempat; Kerentaan. Kelima; Ketidakberdayaan (Rural Development, 1983). Faktor yang paling dominan dari

kelima jebakan tersebut adalah kerentaan dan ketidakberdayaan, karena dari kedua faktor inilah keberadaan kemiskinan seakan memiliki pondasi yang cukup kokoh di dalam masyarakat (sumber:http//demustaine.blogdetik.com/2008/08/27/zakat-kemiskinan). D. Tinjauan Umum Tentang Hukum Ekonomi a. Pengertian 1 . Pengertian Hukum Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia ( KBBI ) istilah hukum mempunyai arti peraturan yang dibuat oleh penguasa (pemerintah) atau adat yang berlaku bagi semua orang disuatu masyarakat ( negara ). Menurut Utrech, hukum dapat didefinisikan sebagai kumpulan peraturan yang berisi larangan dan perintah yang harus dipatuhi oleh masyarakat, yang bersifat memaksa dan memiliki sanksi yang tegas (sumber : Tim Penyusun PHI. 1995 :2). 2. Pengertian Ekonomi Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia ( KBBI ) istilah ekonomi adalah ilmu mengenai asas-asas produksi, distribusi, dan pemakian barang-barang serta kekayaan (seperti hal keuangan, pendistribusian, dan perdagangan). b. Hukum Ekonomi 1. Pengertian Hukum Ekonomi Menurut T. Mulyana Lubis yang dikutip oleh Adi Sulistyono menjelaskan bahwa hukum ekonomi adalah keseluruhan peraturan-perundangan, hukum kebiasaan, putusan pengadilan yang berkaitan dengan kegiatan ekonomi, baik itu menyangkut badan hukum pelaku ekonomi, transaksi pelaku ekonomi, tempat transaksi pelaku ekonomi, sampai dengan intervensi pemerintah untuk menunjang kegiatan ekonomi, dan mekanisme penyelesaian sengketa pelaku ekonomi (Adi Sulistyono,2007:7). 2.Peran dan Harapan Hukum terhadap Ekonomi Peranan dan harapan hukum yang sangat penting dalam kehidupan ekonomi adalah kemampuannya untuk mempengaruhi tingkat kepastian dalam hubungannya antar manusia di dalam masyarakat. Seperti yang dikatakan oleh H.W. Robinson, ekonomi modern semakin berpandangan bahwa pengharapan individu-individu merupakan determinan tindakan-tindakan ekonomi dan oleh karenanya merupakan faktor-faktor yang merajai dalam orang yang menentukan ekwilibrium ekonomi dan stabilitas ekwilibrium yang telah dicapai (Adi Sulistyono,2007:9).

BAB III METODE PENULISAN A. Jenis Penulisan Jenis penelitian dilihat dari sifatnya dibagi menjadi tiga, yaitu penelitian eksploratif, deskriptif, dan eksplanatoris. Menurut Prof. Soerjono Soekanto, S.H. penelilitian diskriptif yaitu penelitian yang bermaksud untuk memberi data yang seteliti mungkin tentang manusia, keadaan, atau gejalagejalanya lainya maksudnya adalah terutama untuk mempertegas hipotesa-hipotesa agar dapat membantu dalam memperkuat teori lama atau didalam kerangka menyusun teori baru (Soerjono Soekanto, 1986:9-10). Berdasarkan definisi di atas, maka penulisan yang digunakan merupakan penulisan yang berdasar pada penelitian deskriptif kualitatif. Penulisan ini bertujuan untuk menggambarkan, meringkaskan berbagai kondisi, berbagai situasi atau berbagai fenomena realitas sosial yang ada dii masyarakat yang menjadi obyek penelitian, dan berupaya menarik realitas itu ke permukaan sebagai suatu ciri,

karakter, sifat, model, tanda, atau gambaran tentang kondisi, situasi, taupun fenomana tertentu (Burhan Bungin, 2008:68). B. Jenis dan Sumber Data 1. Jenis Data Jenis data yang digunakan adalah data sekunder yaitu data yang diperoleh dari bahan pustaka. Data sekunder tersebut diperoleh dari bahan-bahan kepustakaan dari beberapa buku referensi, media masa seperti koran, majalah, internet yang mengulas mengenai peran zakat dalam mengentaskan kemiskinan di Indonesia. Sumber data merupakan tempat dimana sata diperoleh. Sumber data dalam penulisan ini adalah sumber data sekunder yaitu tempat kedua diperolehnya data. Adapun data sekunder yang penulis gunakan meliputi; a. Bahan Primer Bahan primer adalah bahan yang mempunyai kekuatan hukum mengikat. Adapun bahan primer yang kami gunakan adalah Al-Qur’an dan Alhadist, Adendum Undang-undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, UU Nomor 38 Tahun 1999 tentang Pengelolaan Zakat. b. Bahan Sekunder Bahan sekunder sebagai pendukung bahan primer yang penulis gunakan adalah jurnal, literatur, buku, koran, internet, dan sebagainya yang berkaitan dengan peran zakat dalam mengentaskan kemiskinan dewasa ini. c. Bahan Tersier Bahan tersier sebagai pendukung data sekunder dari bahan primer dan tersier yang kami gunakan yaitu Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI). C. Teknik Pengumpulan Data Teknik pengumpulan data dalam penulisan ini adalah studi dokumen (library research) yaitu mengumpulkan data sekunder melalui identifikasi buku referensi dan media massa seperti koran, internet serta bahan lain yang masih ada hubungannya dengan penulisan ini. Kemudian melakukan analisis isi terhadap bahan yang di kumpulkan dan yang bersangkutan dengan permasalahan penulisan selanjutnya dikonstruksikan secara sistematis sehingga menjadi data yang siap pakai. D. Teknik Analisis Data Analisis merupakan proses pencarian dan perencanaan secara sistematik semua data dan bahan lain yang telah terkumpul agar penulis mengerti benar makna yang telah ditemukannya, dan dapat menyajikan kepada orang lain secara benar (HB. Sutopo, 1988 : 38). Adapun teknik analisis yang kami gunakan adalah dengan taknik analisis bingkai (framing Analysis). Teknik analisis bingkai adalah suatu teknik analisis data dengan melihat dan menemukan frame atau media package yaitu suatu perspektif untuk melihat sebuah perspektif yang digunakan untuk melakukan pengamatan, analisis, dan interpretasi terhadap sebuah realitas sosial di masyarakat. Seperti umpamanya frame; reformasi; terorisme; pembangunan; kondisi rawan; pahlawan; perlawanan; arus bawah dan semacamnya adalah bentuk frame yang sering ditemui di masyarakat (Burhan Bungin, 2008:159). Menurut Entman yang dikutip oleh Burhan Bugin, bahwa analisi bingkai pada pada pemberitaan ada empat cara yaitu; 1. Mengidentifikasi masalah (problem identification) Mengidentifikasi masalah yaitu dengan melakukan pelacakan terhadap berbagai masalah yang kemungkinan ada dan mestinya ada. Pada tahap ini masalah ditata berdasarkan lingkungan sosial, jenis masalah, dan peluang-peluang solusi. 2. Mengidentifikasi penyebab masalah (causal identification)

untuk mengidentifikasi penyebab masalah dilakukan dengan mengkategorikan penyebab masalah, faktor pendukung yang mengitari penyebab masalah serta faktor pencetus masalah itu sendiri. 3. Melakukan evaluasi moral (moral evaluation) Evaluasi moral dilkukan dengan cara malakukan penilaian terhadap penyebab-penyebab masalah. 4. Melakukan saran penanggulangan masalah (treatment recommendation) Sedangkan cara penanggulangan adalah cara untuk menawarkan alternatif penanganan masalah dan kemungkinan prediksi hasil penangulangan masalah (Burhan Bungin, 2008:160). BAB IV PEMBAHASAN A. Peran Zakat dalam Pengentasan Kemiskinan Peran zakat dalam mengentaskan kemiskinan adalah peran yang tidak bisa dipungkiri keberadaannya, baik dalam kehidupan muslim atau kehidupan lainnya. Khalayak umum hanya mengetahui bahwasanya tujuan dari zakat adalah mengentaskan kemiskinan dan juga membantu para fakir miskin, tanpa mengetahui gambarannya secara gamblang (Yusuf Qaradhawi,2005:29). Peranan zakat tidak hanya terbatas kepada pengentasan kemiskinan. Akan tetapi bertujuan untuk mengatasi permasalahanpermasalahan masyarakat lainnya. Dapat diketahui bahwa salah satu peranan zakat adalah membantu negara muslim lainnya dalam menyatukan hati para warganya untuk dapat loyal kepada Islam dan juga membantu segala permasalahan yang ada di dalamnya. Al-Qur’an mengisyaratkan agar zakat atau infak dikelola secara profesional. Itu dapat dipahami dari keterangan Al-Qur’an yang menghargai jasa para amil sehingga mereka ditetapkan sebagai salah satu dari delapan golongan yang berhak memperoleh pembagian zakat. Jika prinsip ini dapat dijalankan maka harta yang dikumpulkan melalui zakat dapat menjadi produktif, dapat menciptkan lapangan kerja, membantu peningkatan kualitas SDM secara terencana, ikut mengembangkan usaha yang baik dari sudut pandang agama, dan lainnya. Singkatnya, banyak manfaat yang dapat diraih dari dana zakat yang dikelola secara profesional. Islam memandang kemiskinan merupakan suatu hal yang mampu membahayakan akhidah, akhlak, kelogisan berpikir, keluarga dan juga masyarakat. Islam pun menganggapnya sebagai musibah yang harus segera ditanggulangi (Yusuf Qaradawi,2005:24). Maka dari itu setiap umat Islam didorong untuk menjadi pembayar zakat. Artinya, setiap orang diharapkan dapat mengambil bagian dalam penanggulangan kemiskinan. Harapan tersebut ditujukan kepada orang-orang yang mampu maupun kepada penyandang kemiskinan itu sendiri. Hal tersebut dapat dilihat dari penerapan kewajiban zakat fitrah. Kewajiban tersebut juga diberlakukan bagi orang miskin jika pada malam hari menjelang Idul Fitri ia mempunyai kelebihan bahan makanan. Hal ini mencerminkan kebersamaan di dalam mengatasi persoalan kemiskinan. Tolong menolong dalam kebaikan dan ketakwaan harus dijabarkan dan diimplementasikan dalam kehidupan ekonomi. Berdasarkan prinsip tersebut umat Islam diharapkan saling mendukung sehingga usaha-usaha di bidang ekonomi yang dijalankan mampu bertahan dan berkembang di tengah persaingan yang keras dan bebas. Prinsip ini menjadi semakin penting ketika usaha-usaha yang dijalankan oleh umat masih lemah dan belum mampu bersaing karena berbagai keterbatasan. Dukungan tersebut antara lain dengan memilih produk yang dihasilkan dan memanfaatkan jasa yang ditawarkan serta mendukung terciptanya jaringan bisnis yang kuat dan luas. Pola hidup yang hemat dan sederhana sangat diperlukan untuk menanggulangi kemiskinan. Pola hidup seperti itu diharapkan tumbuh di kalangan semua warga masyarakat, terutama orang kaya atau berpenghasilan tinggi. Kesenjangan antara kaya dan miskin dalam masyarakat dewasa ini cukup menonjol. Kesenjangan tersebut dapat dipersempit dengan mendorong peningkatan amal sosial di kalangan orang kaya dan menjauhkan perilaku boros.

Indonesia adalah salah satu negara dengan penduduk muslim terbesar di dunia, dalam diri setiap muslim tertanam kewajiban untuk menegakkan pilar Agama Islam yang salah satunya adalah zakat. Zakat adalah satu dari kesekian ajaran sosial Islam yang berorientasi pada kemaslahatan kamanusiaan. Suatu bentuk ibadah Maaliyah Ijtimaiyyah yang memiliki posisi yang sangat stategis dalam program penguatan kaum dhuafa. Adanya potensi zakat dapat tersirat dalam kutipan berikut; Menurut Eri Sudewo, (Ketua I BAZNAS) potensi zakat ansich di Indonesia sebesar dalam kisaran antara 1,08-32,4 triliyun pertahun, dengan asumsi terdapat 18 juta Muslim kaya dari 80 juta Muslim yang menunaikan zakat perbulan dengan kisaran 50-150 ribu rupiah. Dengan potensi ideal 32,4 Triliyun pertahun, tentu saja ini adalah angka yang besar dan belum lagi di tambah dari dana infaq, sadaqah dan wakaf. Jika potensi itu berhasil terhimpun dapat diyakini tidak akan ada orang yang meminta-minta di tiap perempatan di Jakarta, tidak akan ada orang yang berprofesi menggalang dana umat di angkutan kota dan tidak ada cerita orang mati karena busung lapar. Namun kenyataannya penghimpunan zakat, infaq dan sadakah tidak lebih dari 286.412 .188.273 (Dua ratus delapan puluh enam milyar, sekian) dari total penghimpunan dana yang dilakukan oleh organisasi pengelola zakat di Indonesia (Data Forum Zakat,2007)(sumber://demustaine.blogdetik.com/2008/08/27/zakat-dankemiskinan). Berdasarkan kutipan tersebut dapat tersirat bahwa posisi zakat di Indonesia sangatlah potensial mengingat jumlah muslim di di Indonesia berjumlah 80 juta. Pada hakekatnya, mengentaskan kemiskinan adalah dengan mengentaskan penyebabnya. Agar seseorang dapat menunaikan zakatnya untuk mengentaskan kemiskinan, maka perlu diketahui penyebab kemiskinan terhadapa individu atau kemiskinan yang terjadi pada satu kelompok masyarakat. Setiap penyebab kemiskinan diobati dengan formula yang berbeda-beda, meliputi: 1. Kemiskinan yang disebabkan oleh kelemahan fisik yang menjadi penghalang dirinya dalam mendapatkan penghasilan yang besar. 2. Kemiskinan yang disebabkan oleh ketidakmampuan untuk mencari pekerjaan, karena ditutupnya pintu-pintu yang halal sesuai dengan keadaan para fakir miskin tersebut. 3. Kemiskinan yang disebabkan oleh kurangnya pendapatan yang ia peroleh untuk mencukupi kebutuhan hidupnya, sekalipun ia mempunyai penghasilan tetap. Untuk mengoptimalkan peran zakat dalam mengentaskan kemiskinan, maka terdapat ketentuan kadar zakat yang dikeluarkan untuk fakir miskin. Yusuf Qaradhawi yang mengutip pendapat Imam Ghazali menyebutkan tiga pendapat dalam permasalahan ini, meliputi: memberikan fakir miskin sejumlah nishab zakat, memberikan fakir miskin kebutuhannya selama setahun, dan memberikan fakir miskin kebutuhan selam sisa hidupnya. Di Indonesia apakah kriteria tersebut yang benar-benar menjadi sasaran zakat (Yusuf qaradhawi.2005:38). Adanya Undang-undang Nomor 38 Tahun 1999 Tentang Pengelolaan Zakat, ternyata belum bisa memaksa wajib zakat untuk menyalurkan zakatnya, hal ini terait pula belum adanya peraturan pelaksana pengelolaan zakat. Potensi zakat yang 42,3 triliyun masih tinggal diangan-angan para praktisi zakat. Dengan berbagai upaya yang terus dilakukan oleh organisasi pengelola zakat (OPZ) Indonesia yang tidak kurang dari 242 lembaga baik dari Badan Amil Zakat (BAZ) yang dibentuk oleh pemerintah maupun Lembaga Amil Zakat (LAZ) yang diinisiasi oleh masyarakat kerja bahumembahu untuk menyadarkan sekaligus menumbuhkan kepercayaan masyarakat dalam menunaikan zakat dan menyalurkannya zakat melalui lembaga-lembaga zakat yang ada(sumber://demustaine.blogdetik.com/2008/08/27/zakat-dakemiskinan). Pada titik jenuh praktisi zakat merasakan keputusasaan dalam mengemban tugas yang sebetulnya adalah kewajiban Pemerintah. Kemiskinan muncul karena rerentaan dan ketidakberdayaan orang miskin berkelanjutan karena kontruksi sosial yang sudah membentuknya. Kontruksi ini adalah akibat

dari kebijakan struktur ekonomi, politik dan budaya yang tidak proporsional dan memihak. Mengentaskan satu keluarga miskin adalah mulia, mengentaskan 100 keluarga miskin adalah tugas CSR, mengentaskan sejuta orang miskin itu kebijakan namanya (Politik ZISWAF, 2008), kemiskinan merajalela adalah karena kebijakan yang salah selama ini (sumber: http://economy.okezone.com). Berdasarkan hal tersebut maka untuk melawan kemiskinan harus dengan kebijakan yang benar. Tanpa kebijakan yang benar, usaha untuk mengentaskan kemiskinan dari awal sudah ditakdirkan akan gagal. Disinilah letak pentingnya sebuah instutusi pemerintah dalam melawan kemiskinan, karena kebijakan suatu negara terletak pada “kekuasaan” yang sedang memerintah. B. Strategi Hukum Ekonomi Mengawal Zakat sebagai Solusi Pengentasan Kemiskinan Dari pembahasan sebelumnya, dapat diketahui bahwa untuk mengoptimalkan peran zakat sangat dibutuhkan kebijakan yang dapat mengawal zakat itu sendiri sebagai solusi mengentaskan kemiskinan. Ahli-ahli ekonomi telah banyak membuat analisis untuk mengetahui faktor-faktor yang menjadi penghambat penting kepada usaha mempercepat pembangunan di negara-negara berkembang termasuk Indonesia. Faktor-faktor tersebut meliputi: pertanian tradisional, kekurangan dana modal dan fiskal, peranan tenaga trampil dan tenaga yang berpendidikan, perkembangan penduduk yang pesat, serta masalah institusi, masalah sosial, masalah kebudayaan dan politik (sumber: ://economy.okezone.com). Pemerintah merupakan pihak yang paling berperan dalam mengeluarkan kebijakan di bidang ekonomi yang tentunya akan berdampak pada masyarakatnya. Sedangkan untuk mewujudkan pertumbuhan ekonomi yang pesat, kestabilan politik dan ekonomi merupakan syarat penting yang perlu dipenuhi. Berdasarkan kepada pengalaman pembangunan di berbagai negara dapat diuraikan kebijakankebijakan yang selalu dijalankan untuk mempercepat pertumbuhan dan pembangunan ekonomi, meliputi: 1. kebijakan diversifikasi ekonomi yaitu dengan memodernkan kegiatan ekonomi yang ada dan yang lebih penting adalah mengembangkan kegiatan ekonomi yang baru yang dapat mempercepat transformasi kegiatan ekonomi dari yang bersifat tradisional pada kegiatan ekonomi yang modern. 2. mengembangkan infrastruktur untuk mempermudah kegiatan ekonomi, perkembangan infrastruktur ini harus selaras dengan pembangunan ekonomi. 3. meningkatkan tabungan dan investasi, dengan meningkatkan tabungan masyarakat maka iklim investasipun juga akan meningkat. 4. meningkatkan taraf pendidikan masyarakat, pendidikan merupakan satu investasi yang sangat berguna untuk pembangunan ekonomi. 5. mengembangkan institusi yang mendorong pembangunan 6. merumuskan dan melaksanakan perencanaan ekonomi (Sadono Sukirno, 1994:438-445). Ditengah kegagalan satu dekade pemerintahan pasca reformasi tersingkap 10 fakta tidak menyenangkan, meliputi: 10 fakta yang tidak menyenangkan pasca era reformasi yang dirasakan oleh masyarakat hingga saat ini adalah sebagai berikut; harga sembako kian mahal, tingkat korupsi masih tinggi, meningkatnya angka kriminalitas, ekonomi tidak stabil, kerusuhan meningkat, banyaknya demonstrasi, BBM langka dan mahal, sistem politik semrawut, kebebasan yang tidak bertanggungjawab, dan jumlah pengangguran yang terus semakin bertambah (sumber://simpanglima.wordpress.com/2008/05/12/10-fakta-tidak-menyenangkan-pasca-reformasi). Berdasarkan fakta tersebut, maka untuk melakukan transformasi ekonomi secara cepat yang dapat mengurangi jumlah kemiskinan, sangat berkaitan antara hukum ekonomi yang lebih menitik beratkan pada adanya kebijakan-kebijakan dari pemerintah. Maka kita perlu belajar bagaimana Umar bin Abdul Aziz dalam masa kekhalifahan beliau yang singkat (2 tahun 5 bulan) bisa menjalankan kerja besar meredusir kemiskinan bahkan mengentaskan kemiskinan.

Menurut Monzer Kahf (1999), setidaknya ada tiga faktor penting yang menyebabkan surplus zakat sebagai penanda terentaskannya kemiskinan dalam masyarakat muslim periode tersebut. Pertama, terjadi penambahan kekayaan masyarakat dari redistribusi aset dan kemakmuran internal yang sebagian besar disebabkan oleh adanya perbesaran pasar dan meningkatnya keamanan di negara tersebut (sumber://www.mailarchive.com/ekonomisyariah@yahoogroups.com/msg00641.html). Peningkatan kekayaan masyarakat miskin terutama dimulai dari kebijakan redistribusi aset yang dilakukan secara besar-besaran dari kekayaan keluarga khalifah dan pejabat yang dianggap diperoleh secara tidak sah. Kekayaan keluarga khalifah dan pejabat yang terindikasi diperoleh secara tidak sah tersebut terutama melalui korupsi dan kolusi segera diambil alih oleh pemerintah dan dikembalikan kepada masyarakat. Adapun pelajaran bagi Indonesia, dalam pembuatan kebijakan penanggulangan kemiskinan selama ini sangat ditabukan adanya konsep redistribusi aset. Bahkan aset pejabat yang jelas terlihat oleh publik dari hasil KKN tidak ada sedikitpun yang diambil negara. Selama ini yang dijalankan hanya menuntut bagaimana meningkatkan produktivitas masyarakat miskin daripada bagaimana memberi mereka akses pada aset-aset produksi yang akan memungkinkan mereka menaikan produktivitas. Belajar dari Umar bin Abdul Aziz, pengentasan kemiskinan paling efektif seharusnya dimulai secara tegas dari penyitaan aset-aset pejabat dan kroni pejabat yang diperoleh secara tidak sah dan kemudian didisitribusikan kembali ke masyarakat. Menegakkan amanah dan pelayanan umat (khadimul umah) menyebabkan reduksi korupsi dalam birokrasi dan badan administrasi yang merupakan prestasi penting dalam masa dua tahun pemerintahan beliau. Hasilnya, kebanyakan dari dana publik dan dana zakat, dikumpulkan dan didistribusikan dengan jumlah yang optimal (sumber://www.mailarchive.com/ekonomisyariah@yahoogroups.com/msg00641.html). Dengan kata lain, peningkatan efisiensi manajemen pendapatan publik dan manajemen zakat serta pendapatan yang lain, juga telah menjadi faktor pendukung dalam memelihara porsi prioritas anggaran untuk memenuhi kebutuhan publik lebih besar, mencakup pemberantasan kemiskinan dan kesejahteraan masyarkat. Sebaiknya dalam porsi anggaran untuk penyelenggara negara juga disederhanakan. Saat ini kita menyaksikan pejabat publik yang semakin kaya setelah menjabat. Yang terjadi, menjadi pejabat publik bukan untuk melayani masyarakat, tetapi sarana untuk meningkatkan status diri dan memupuk kesejahteraan pribadi. Hal ini dibuktikan oleh (korupsi legal) APBN dan APBD dengan tingginya budget belanja untuk pengeluaran eksekutif dan legislatif dengan berbagai alasan diberbagai tingkatan(sumber://www.mailarchive.com/ekonomisyariah@yahoogroups.com/msg00641.html). Dampaknya porsi anggaran untuk pembangunan dan kesejahteraan sosial sangat minim. Dengan kondisi demikian, jelas sangat sulit bagi kita untuk melakukan transformasi ekonomi secara cepat, terutama dalam upaya pengentasan kemiskinan. Pengentasan ekonomi paling efektif seharusnya juga dimulai dari birokrasi yang bersih dengan anggaran penyelenggara negara yang sederhana dan tersedianya dana untuk pembangunan dan kesejahteraan sosial yang optimal. Kedua, Umar bin Abdul Aziz berhasil membangkitkan kembali kukuhnya perasaan qana'ah, menahan diri, dan semangat berkarya masyarakat disebabkan oleh kuatnya keyakinan dan iman kepada Allah SWT. Beliau memulai dari diri sendiri dengan sikap zuhud dan kerja keras beliau. Qana’ah dan menahan diri menjadi sebuah pondasi yang sangat penting dalam kehidupan masyarakat muslim pada waktu itu (sumber://www.mailarchive.com/ekonomisyariah@yahoogroups.com/msg00641.html). Adanya sikap qana’ah dan menahan diri, membuat masyarakat mengerti dan menolak untuk mengambil zakat meski sesungguhnya mereka berhak untuk mendapatkanya. Prinsip qanaah dan kepuasan diri melahirkan ketergantungan pada sumber daya sendiri. Dalam rangka pengentasan kemiskinan di Indonesia, sikap qana’ah, menahan diri dan semangat berkarya perlu ditumbuhkan kembali. Tentu ini membutuhkan figur, dan yang tepat adalah dimulai

dari presiden, kepala daerah, pejabat negara, seluruh aparatur negara, dan juga tokoh-tokoh umat. Satu hal yang juga penting diikuti dalam meneladani kebijakan Umar bin Abdul Aziz adalah perlu segera dilakukan pemangkasan ekonomi biaya tinggi, sehingga muncul insentif yang besar untuk berusaha dan berkarya. Ketiga, faktor dasar yang mendukung pengentasan kemiskinan masa dua Umar adalah bahwa wilayah yang berhasil mengentaskan kemiskinan (masa Umar bin Khattab provinsi Yaman dan masa Umar bin Abdul Aziz terutama provinsi Mesir) tersebut adalah wilayah yang kaya dengan tanah yang subur dan tanaman panenan berlimpah-limpah (sumber://www.mailarchive.com/ekonomisyariah@yahoogroups.com/msg00641.html). Bagi Indonesia prasyarat ketiga ini jelas sangat tersedia. Dimana Indinesia memiliki ketersediaan tanah yang sangat-sangat subur, iklim yang sangat kondusif, dan kekayaan alam yang berlimpah ruah. Fakta Indonesia sempat memiliki pondasi perekonomian yang sangat ”kropos” pada Pemerintahan Orde Baru, yang terbukti dengan adanya window dressing yang diperlihatkan oleh Pemerintahan Soeharto yang digunakan untuk mengelabuhi mata dunia dan masyarakat Indonesia (Adi Sulistyono,2007:7). Berdasarkan hal tersebut, guna mendukung pencapaian pembangunan hukum ekonomi yang berkualitas ”reformasi” maka pembangunan hukum harus dilakukan secara revolusioner, berkelanjutan, dengan tetap mengacu pada fundamental hukum. Pembangunan hukum yang bersifat revolusioner yaitu merubah secara sadar dan mendasar sistem hukum ekonomi yang selama ini berkualitas liberal dan dibawah kendali negara-negara maju menjadi sistem hukum ekonomi yang berkualitas kekeluargaan (ukhuwah) (Adi Sulistyono,2007:27). Sistem hukum ekonomi yang berkualitas kekeluargaan bukan sekedar mengandalkan pada rule of law, namun juga menaruh perhatian pada rule of moral. Strategi pembangunan ekonomi di Indonesia perlu memperhatikan konsep pembangunan hukum ekonomi berkelanjutan (sustainable economic law development), yang melakukan pembangunan tidak sekedar melakukan “bongkar pasang” pasal-pasal dalam suatu undang-undang saja, tetapi juga mempehatikan dan memberdayakan daya dukung aspek yang lain, yaitu: 1. Pendidikan hukum, 2. Reformasi substansi hukum, 3. Mekanisme penyelsaian sengketa yang berwibawa dan efisien, 4. Pemberdayaan etika bisnis, 5. Menumbuhkan jiwa nasionalis pada anggota legislative, 6. Komitmen Presiden dan Wakil Presiden, yang aktifasinya dilakukan secara kait mengkait, bersama-sama, dan terus menerus saling dukung mendukung (Adi Sulistyono,2007:29). Dengan pendekatan tersebut diharapkan pembangunan hukum ekonomi akan mampu menghasilkan pembangunan hukum yang tinggi, dan mampu menjadikan hukum sebagai pemandu atau pengarah agar pertumbuhan itu bukan sekedar angka-angka, namun juga berkualitas untuk mengurangi kemiskinan, menekan angka pengangguran, dan memakmurkan rakyat. Dengan belajar dari Umar bin Abdul Aziz dan pembanguan hukum ekonomi di Indonesia bahwa pengentasan kemiskinan tidak perlu membutuhkan waktu lama. Bagi Indonesia prasyarat dasarnya sudah memenuhi, tinggalah kesungguhan menjalankan kebijakan dan kemauan mengambil resiko. Dengan demikian jika kemiskinan dan kelaparan begitu banyak dinegeri ini, maka bangsa ini sendiri yang membuat dirinya miskin. Terutama akibat pemimpinnya yang melakukan pemiskinan terhadap rakyat. Rakyat miskin karena kekayaannya untuk membiayai kemewahan pejabat. Rakyat miskin karena ‘bersedekah’ untuk para koruptor dan konglomerat jahat sehingga dapat menyebabkan kemiskinan rakyat karena haknya dicuri.

BAB V PENUTUP

A. KESIMPULAN 1. Islam memandang kemiskinan sebagai sesuatu yang dapat membahayakan akidah maka kemiskinan harus segera diatasi. Mengentaskan kemiskinan adalah dengan mengentaskan penyebabnya, maka dari itu setiap umat Islam didorong untuk menjadi pembayar zakat. artinya, setiap orang diharapkan dapat mengambil bagian dalam penanggulangan kemiskinan. Harapan tersebut ditujukan kepada orangorang yang mampu maupun kepada penyandang kemiskinan itu sendiri. 2. Pengawalan zakat melalui pembangunan hukum ekonomi adalah akibat dari kegagalan 1 dekade reformasi hukum ekonomi. Dalam rangka pengawalan tersebut maka dapat ditempuh melalui adanya birokrasi yang bersih, keimanan penyelenggara negara dan pengobtimalisasian potensi yang dimiliki oleh negara itu sendiri. B. SARAN 1. Adanya pengobtimalisasian zakat baik dalam pengelolaan, ditribusi dan sosialisasi zakat secara komprehensif dalam masyarakat. 2. Adanya upaya penggalian sumber-sumber zakat yang harus terus dilakukan, terutama oleh Badan Amil Zakat maupun oleh Lembaga Amil Zakat. Serta perlu adanya kerjasama antar kedua lembaga tersebut agar hasil dan daya guna zakat dapat lebih diobtimalkan. 3. Adanya payung hukum yang tegas dalam hal pengadaan peraturan pelaksana (PP) dari UU No. 38 Tahun 1999 Tentang Pengelolaan Zakat. Diharapkan pemerintah memiliki kemampuan politik yang kuat untuk menindak lanjuti Undang-undang tersebut. 4. Diperlukan adanya kebijakan dari pemerintah terkait adanya penegakan birokrasi yang bersih. Referensi; BUKU; • Al-Qur’an dan Terjemahanya. Semarang: PT Karya Toha. • Ali Nashif, Manshur. 2002. Mahkota Pokok-pokok Hadist Rasulullah SAW. Bandung: Sinar Baru Algensindo. • Bugin, Burgan. 2008. Penelitian Kualitatif. Jakarta: Kencana Prenada Media Group. • Hafidhuddin, Didin. 2002. Zakat dalam Perekonomian Moderen. Jakarta. Gema Insani Press. • Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI). • Qaradhawi, Yusuf. 2005. Spektrum Zakat. Jakarta: Zikrul Hakim. • Sukirno, Sadono. 1994. Makroekonomi Teori Pengantar. Jakarta: Rajawali Pers. • Sulistyono, Adi. 2007. Pembangunan Hukum Ekonomi untuk Mendukung Pencapaian Visi Indonesia 2030. Surakarta.UNS Press • Sutopo, HB, 1988, Pengantar Penelitian Kualitatif (Dasar-dasar Teoritis dan Praktis), Surakarta : UNS Press. • Tim Penyusun PHI. 1995, Pengantar Hukum Indonesia, Surakarta: UNS Press. Produk Hukum • Adendum Undang-undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 • Undang-undang Nomor 38 Tahun 1999 Tentang Pengelolaan Zakat Internet; • http://proletar.8m.com diakses pada tanggal 5 September 2008 • http://economy.okezone.com diakses pada tanggal 5 September 2008). • http://demustaine.blogdetik.com/2008/08/27/zakat-dan-kemiskinan diakses pada tanggal 5 September 2008 ). • http://simpanglima.wordpress.com/2008/05/12/10-fakta-tidakmenyenangkan-pasca-reformasi diakses pada tanggal 5 September 2008 ).

• http://www.mailarchive.com/ekonomisyariah@yahoogroups.com/msg00641.html diakses pada tanggal 5 September 2008). Majalah; • Nusantoro, Adi. 1995. Masalah Kemiskinan, Mengapa yang Miskin Tetap Miskin. Majalah Ilmiah Atma nan Jaya Universitas Katolik Atma Jaya Jakarta Bulan April halaman 32

Info Buku

Gani Inayah Teori Komprehensif tentang Zakat dan Pajak xxi + 286 hlm; 14,5 x 21 cm ISBN: 979-9340-45-4 Harga: Rp.39.500 Pada awal tahun 1990-an, Masdar F. Mas?udi pernah bikin heboh dengan pertanyaannya tentang zakat dan pajak yang berbeda dengan keyakinan umum. Menurutnya zakat dan pajak adalah satu kewajiban. Jika zakat merupakan aspek spiritual dari perntah Allah untuk menafkahkan harta secara baik dan benar, maka pajak merupakan upaya institusional perintah Allah tersebut. Buku ini dengan berbagai dalil baru dan menarik memberikan wawasan yang komprehensif melalui pendekatan deskriptif-analisis mengenai konsep dan teori zakat dan pajak. Daftar Isi:
• • •

Pengantar Redaksi Kata Pengantar Pengatar : Zakat dan Pajak Dalam Polemik (Drs. Akh. Minhaji, MA., Ph.D.)

BAB I PENGERTIAN PAJAK DAN ZAKAT o A. Pajak dalam Perspektif Hukum Ekonomi o B. Zakat dalam Perspektif Ekonomi Islam o C. Posisi Zakat dan Pajak dalam Perspektif Ekonomi Islam BAB II TEORI KEKUASAAN NEGARA DALAM MENARIK PAJAK DAN ZAKAT o A. Teori Kewajiban Pajak dalam Perspektif Hukum Ekonomi o B. Teori Kewajiban Zakat dalam Perspektif Ekonomi Islam BAB III KAIDAH-KAIDAH BEBAN PAJAK DAN ZAKAT o A. Kaidah-kaidah Beban Pajak Manurut Perspektif Hukum Ekonomi o B. Kaidah Beban Zakat dalam Perspektif Ekonomi Islam BAB IV SISTEM PAJAK DAN ZAKAT o A. Sistem Pajak Tunggal dan Pajak Ganda o B. Sistem Pajak dan Zakat Pribadi o C. Sistem Pajak dan Zakat Harta BAB V PERSAMAAN PAJAK DAN ZAKAT o A. Ketentuan Pajak dan Zakat o B. Hubungan antara Pajak dan Zakat o C. Penghasilan Pajak dan Zakat BAB VI PAJAK DAN ZAKAT GANDA o A. Pajak Ganda dalam Perspektif Hukum Ekonomi o B. Zakat Ganda dalam Perspektif Ekonomi Islam BAB VII MENGHINDARI PAJAK DAN ZAKAT o A. Menghindari Pajak menurut Hukum Ekonomi o B. Menghindari Pajak menurut Ekonomi Islam BAB VIII PEMBERDAYAAN ZAKAT MENURUT PERSPEKTIF EKONOMI ISLAM o A. Pemberdayaan Ekonomi melalui Zakat o B. Fungsi Zakat Bagi Kehidupan Sosial INDEKS

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->