APLIKASI FILSAFAT ILMU DALAM METODOLOGI PENELITIAN

============================ Oleh : Prof.Dr.H.Imam Bawani,MA Kata metodologi berasal dari perbendaharaan bahasa Inggris methodology,1 gabungan dari method yang berarti cara dan logy atau logos (latin) artinya ilmu. Berarti, metodologi adalah ilmu yang membicarakan tentang cara, maksudnya cara melakukan sesuatu. Karena terkait dengan bagaimana “cara melakukan,” maka sesuatu tersebut pastilah berwujud pekerjaan, aktifitas atau kegiatan, dalam hal ini penelitian. Jadi, bagaimana cara melakukan pene-litian dengan baik dan membuahkan hasil maksimal, itulah yang menjadi fokus pembicaraan metodologi. Dan memang, prosedur atau tata cara yang harus ditempuh sebagai dimaksud, bu-kanlah sesuatu yang mudah, atau dengan sertamerta bisa dijalani oleh siapa saja tanpa per-siapan dan bekal apapun. Melainkan, untuk dapat melakukan penelitian dengan baik, perlu didukung oleh pengetahuan serta ketrampilan yang tersusun secara logis dan sistematis, dipel-ajari dengan penuh minat dan kesungguhan. Karena memenuhi sifat dan syarat demikian itu-lah, maka pengetahuan dan ketrampilan tentang tata cara melakukan penelitian, dikenal de-ngan sebutan logos atau ilmu. Dalam khazanah bahasa Indonesia, kata metode diartikan sebagai cara yang teratur dan terfikir baik-baik untuk mencapai maksud tertentu seperti di bidang ilmu pengetahuan, atau cara kerja yang bersistem untuk memudahkan pelaksanaan suatu kegiatan guna mencapai tujuan yang ditentukan.4 Maksud atau tujuan yang ingin dicapai melalui metode (cara) terse-but, dalam kaitan ini dan sebagaimana telah dikemukakan
John M.Echols dan Hassan Shadily, Kamus Inggris-Indonesia: An EnglishIndonesian Dictionary, Jakarta : Penerbit Gramedia, cetakan ke 20, 1992, hal.379 2 Loc.cit. 3 Ibid., hal.65 4 Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Jakarta : Penerbit Balai Pustaka, cetakan ke tiga, 1990, hal.580-581 9
1 2 3

terdahulu, adalah kegitan peneli-tian. Apa yang dimaksud dengan penelitian? Sementara penulis memaknai penelitian dengan pemeriksaan atau penyelidikan, misalnya berupa aktifitas pengumpulan, pengolahan, analisis dan penyajian data keilmuan yang dilakukan secara hati-hati, sistematis dan obyektif untuk memecahkan suatu persoalan atau menguji hipotesis guna mengembangkan prinisp-prinsip ilmiah secara umum.5 Dengan mencermati segi kebahasaan tersebut, kiranya dapat dirumuskan pengertian secara utuh, bahwa metodologi penelitian adalah ilmu yang membahas tata cara yang seharusnya ditempuh dalam penyelidikan dan pengembangan ilmu pengetahuan, dilakukan dengan cermat, hati-hati, kritis, logis, dan sistematis, misalnya diawali dari menyusun rancangan ju-dul beserta inti permasalahannya, diikuti studi kepustakaan secara mendalam tentang hal-ihwal terkait dengan itu, kemudian mencari dan mengumpulkan data yang relevan, menyusun dan mengolahnya, menganalisis dan akhirnya menarik kesimpulan, guna memecahkan per-soalan atau menjawab pertanyaan yang diajukan pada rumusan masalah. Tentu saja, banyak variasi pengertian di luar formulasi tersebut, masingmasing bergantung siapa yang menge-mukakan, berlatar belakang keahlian apa, dan melalui sudut pandang mana melihat, mencer- mati, dan merumuskannya. Namun ada sesuatu yang bersifat pasti, bahwa istilah “penelitian” bertumpu pada akar kata teliti, yang biasa dimaknai dengan cermat, saksama, ingat-ingat, dan hati-hati. 6 Artinya, tidak boleh gegabah atau sembarangan dalam melakukan aktifitas keilmuan tersebut, karena dapat mengurangi atau bahkan menggagalkan langkah dan upaya seseorang untuk mencapai kebenaran ilmiah yang diinginkan. Bagi mereka yang baru dalam tahap awal mempelajari ihwal dunia penelitian, sangat penting merenungkan,
5 6

Ibid., hal.920 Loc.cit.

(1)

1 0

maka timbul pertanyaan : Mengapa sesuatu harus dicari atau diselidiki berulang-ulang ? Jawabnya : Supaya mencapai keadaan atau memenuhi syarat kete-litian. dan benar menurut penalaran10 atau jalan fikiran yang jernih dan lurus. Dalam bahasa Arab.472-473 14 Ibid. masuk akal. dengan cara yang diatur baik-baik. artinya bersungguh-sungguh dan selalu ingat. Bagaimana memaknai kata “teliti” dengan rincian pengertian sebagaimana tersebut di atas. al-fahsh. pengejaran. hal. logis. kritis.530 Ibid. mestilah diatur tata kerja dan urutan langkah operasionalnya. pe-nyelidikan. pada hakikat-nya tidak berbeda. misalnya dalam rangka menyusun skripsi. atau disertasi. hal. pemeriksaan. misalnya ketika memilih dan menyusun rumusan mas.. penggeledahan.Logis.. biasa diartikan dengan pemeriksaan atau penyelidikan.507 15 Ibid. Bisa dikatakan.usaha mencermati dan menemukan titik kesalahan. Dalam format terpisah. 1984. re artinya perihal.kata yang sepadan maknanya dengan research atau penelitian adalah albahts. bahstul masail adalah bagian atau dilakukan dalam rangka kegiatan bahtsul ilmi.16 Di antara ketiganya..480 16 Ahmad Warson Munawwir. dalam kemandiriannya sebagai sebuah kata. dan juga istilah bahtsul ilmi (pembahasan atau pengkajian ilmu pengetahuan).13 se-dangkan search berarti pencarian. mengingat fungsinya amat sentral dalam memberi arah bagi seluruh aktifitas keilmuan tersebut. 7 8 10 11 Ibid. dalam bahasa Arab digunakan istilah bahstul ilmi. hal. dan dengan ketajaman analisis ber.466 Ibid. hal. kiranya perlu diuraikan satupersatu. dan penelitian. sehingga terlihat jelas tahap-tahapnya dari awal sampai ber-akhir seluruh kegiatan tersebut.Echols dan Hassan Shadily. . Sistematis. dan mengformulasikan judul penelitian ke dalam susunan kalimat yang baik dan benar menurut bahasa ilmiah. menentukan pilihan.. research biasa dimak-nai dengan penyelidikan atau penelitian ilmiah (scientific research). lagi. Cermat. misalnya dalam bentuk kata majemuk bahtsul masail (pembahasan berbagai masalah keagamaan). artinya sesuai dengan prinsip logika. al-bahts-lah yang lebih terkenal dan sering digunakan. kembali. pengambilan sampel jika diperlukan. Sikap hati-hati sangat penting. hal. Kritis.. artinya berurutan.alah atau fokus penelitian.. tidak lekas puas atau percaya begitu saja.14 Jika re diartikan kembali atau berulang-ulang.11 Contoh. dalam menyusun rancangan dan melaksanakan penelitian.cit. karena sama-sama dilakukan atas dasar dan bertujuan mencapai kebenaran ilmiah. Sikap kritis diperlukan. maka untuk menyebut aktifitas keilmuan se-perti dalam wujud research atau penelitian di perguruan tinggi. dan berulang-ulang. agar terbangun pada dirinya sikap cermat. Yogyakarta : Unit Pengadaan Buku -buku Ilmiah Keagamaan.165 Ibid. Pondok Pesantren al-Munawwir Krapyak. mi-salnya ketika mencari.301 9 Ibid.. dan search ada-lah pencarian atau penyelidikan. hal. tesis. Selaras dengan itu.mencamkan dan menginternalisasi kai-dah pokok tersebut. dan al-taftis. John M. teknik pengumpulan dan analisis data penelitian. artinya selalu mempertanyakan sesuatu. Antara pembahasan masalah keagamaan (bahstul masail) dan pengkajian ilmu pengetahuan (bahstul ilmi).849 9 1 0 . artinya penuh minat dan perhatian.64 13 12 untuk selanjutnya mencari alternatif kebenarannya. hal...nya. yang menurut studi ini adalah muatan rinci dari istilah “teliti” sebagai kata dasar pe-nelitian. Kamus Arab-Indonesia al-Munawwir. hati-hati. 9 Sedemikian urgen mematok kegiatan penelitian pada kokohnya kesadaran untuk ber-pegang-teguh pada sifat dan sikap “teliti” dalam melakukan segala hal yang terkait dengan-nya. misalnya ketika menentukan sumber data. Selaras dengan alur fikir tersebut. dan sis-tematis.467 Ibid. sesuai dengan sistem berfikir ilmiah. Hati-hati. Prinsip berfikir logis diper-lukan. dapat pula dicermati dari penggunaan kata “research” 12 menurut perbendaharaan bahasa Inggris. jenis instrumen yang dipakai.15 yang hanya berhasil manakala dilakukan dengan penuh ketelitian. padahal hasilnya jelek sekali. hal. Op. hal.7 tidak sembrono (jawa) dan acakacakan semaunya ketika melakukan penelitian. penelusuran.8 tidak grusagrusu (jawa) untuk sekedar cepat selesai. cetakan pertama. hal.

masuk akal kira-nya jika dalam kehidupan akademis dikenal sebutan “metodologi ilmiah..17 artinya menggali sesuatu di dalam perut bumi atau mencarinya di celah-celah tumpukan debu (tanah). Op.Echols & Hassan Shadily.cit. maka posisinya adalah sebagai ilmu. bisa disusun pengertian bahwa penelitian ilmiah merupakan penelitian dalam bidang ilmu dan dilakukan secara atau dengan metodologi keilmuan. Maka dapat dirumuskan formulasi yang lebih mencakup unsurunsur pokoknya. membicarakan.cit. mencari. Op. ilmu tentang cara atau prosedur melakukan penelitian.504 1 0 .365. 9 17 18 setiap langkah pengkajian dan pengembang-an ilmu pengetahuan. mengenai. and to dis-cuss together.1037 Hans Wehr. artinya melihat-lihat.cit.cit. seek. Beirut. menjelajahi. dan emas.. menemukan.21 artinya bersifat atau secara keilmuan. ilmu penelitian tersebut dipergunakan sebagai acuan atau pegangan teoritis dan sa-rana ilmiah untuk mengkaji serta mengembangkan ilmu. search. atau berlandaskan ilmu dan untuk pengembangan ilmu. kata al-bahts mengandung pengertian sangat luas dan mendalam. hal. besi. to investigate.19 Bertambah jelas melalui rangkaian kata-kata itu. al-Munjid : Fi al-Lughah wa al. study. mendiskusikan. unsur ketelitian memegang peranan sangat menentukan bagi keberhasilan jenis pekerjaan seperti itu.Milton Cowan.” demikian pula istilah “penelitian ilmiah. 330. Op.A’lam.42 19 John M. kurang-lebih tersimpul dalam ungkapan “dengan ilmu dan untuk ilmu. Jelas kiranya. 225. 363. 186. masingmasing dicermati sifat dan ciri khasnya.635 22 John M. London : Penerbit Macdonald & Evans Ltd. perak. 507. kemudian mengambil dan memanfaat-kannya untuk keperluan tertentu. mempelajari. kemudian diambil dan dimanfaatkan sebagai barang berharga yang dihasilkan dari penggalian atau pe-nambangan tersebut. Atas dasar itulah. Op. maka ditemukanlah aneka jenis benda seperti biji batu. pasir. bahwa penelitian ilmiah adalah pe-nyelidikan atau pengkajian tentang 20 21 Ahmad Warson Munawwir.27 18 Hans Wehr. ilmiah merupakan kata jadian dari ‘lmu. atau berdasar ilmu. mengusut. meneliti. 578. dan biasa dimaknai : sesuatu yang terkait dengan. menguji. memeriksa. A Dictionary of Modern Written Arabic. have a talk about. bahwa kandungan manka al-bahts mencakup wilayah sedemikian luas. 1974. hal. meng-analisisnya dengan penuh semangat dan berhati-hati.22 Jadi.” Karena posisi dan fungsinya terkait erat dengan ihwal penyelidikan dan pengembangan ilmu. dikenal istilah scientific. tembaga. to discuss a subject or question. hal.Menurut tradisi keilmuan Islam.” Kata “ilmiah” berasal dari bahasa Arab. timah.20 Dalam bahasa Inggris. cetakan ke dua puluh delapan. 221. 480. hal. to have a discussion. mengelompokkan atas dasar ciri khas masing-masing. sumber lain mengartikan al-bahts dalam bentuk kata kerja dengan to look about. mengidentifikasi satu-persatu. sehingga pembahasan tentangnya pastilah merujuk pada apa esensi atau hakikat ilmu. edited by J. Dalam formulasi kalimat berbahasa Arab dinyatakan al-bahts bima’na hafara al-syaia fi al-ardhi aw thalabaha tahta al-turab.Echols & Hassan Shadily. to do research. ketika metodologi penelitian didudukkan sebagai obyek kajian ilmiah dan menghasilkan sistem pe-ngetahuan yang tertata secara logis dan sistematis.. berwujud eksplorasi aneka jenis benda. 510. Lagi-lagi akar katanya juga tetap ilmu. hal. termasuk riset atau penelitian. menyelidiki. cetakan ke tiga. Kalau dicermati. metodologi penelitian itu pada hakikatnya adalah “ilmu tentang tata cara pengembangan ilmu. rasional kiranya jika dunia pendidikan tinggi Islam menempatkan bahts al-‘ilmi sebagai padanan istilah berbahasa Arab bagi semua bentuk kegiatan ilmiah. Mirip dengan pencermatan tersebut. Atas dasar itu. hal. tulisan (ejaan) aslinya ‘ilmiyyah dengan huruf ya’ dobel (tasydid). Maka berarti. menelusuri. bahwa posisi dan fungsi metodologi peneli-tian bagi aktifitas atau dunia ilmiah. dan dipilih sesuai kebutuhan. bukan saja mengarah pada ter-simpulnya sikap teliti sebagai prasyarat utama dalam aktifitas penelitian. Lobanon : Penerbit Dar al-Masyriq. explore. 1986. karena berasal dari gambaran seseorang yang tengah menggali tanah sampai kedalaman tertentu.” Maksudnya. dalam pengertian ini tampak adanya upaya mencari sesuatu. melainkan lebih jauh lagi menunjukkan betapa erat kaitannya dengan Louis Ma’luf. Sementara menurut fungsi po-koknya. Akhirnya dapat ditarik pemahaman lanjut. dan membahas bersama-sama. dipilah. examine. Bisa disebut. bersifat. mirip aktifitas pertambangan dewasa ini.. lalu dikelompokkan.

24 Di antara argumentasinya. Mengingat kenyataan de-mikian.kembang juga meskipun tak akan mencapai derajat keilmuan seperti apa yang dicapai ilmu-ilmu alam. mengenai apa yang dimaksud dengan ilmu. besi dan air. juga mengakui keberadaan ilmu agama. otomatis menga-rah dan berujung pada silang pendapat mengenai ukuran atau kriteria apakah sesuatu termasuk kategori ilmiah atau bukan ilmiah. besar-kecil. Pandangan yang lebih moderat menyatakan. ti. Ilmu-ilmu Alam dan Ilmu-ilmu Sosial : Beberapa Perbedaan. Bahwa istilah ilmiah. Ilmu Dalam Perspektif : Sebuah Kumpulan Karangan Tentang Hakekat Ilmu. antara keadaan zaman dahulu yang diliputi kesederhanaan dan realitas zaman sekarang yang penuh kemajuan. sesekali bergembira dan di saat lain sedih luar biasa. maka dalam hal seperti inilah perbedaan atau malah pertikaian faham terjadi. obyek kajian ilmu-ilmu sosial adalah kehidupan ma-nusia sebagai makhluk multi dimensi.” khususnya bagi dunia akademis di perguruan tinggi. dan gejalanya memiliki pola yang te-tap dengan urut-urutan kejadian yang sama. Di antara me-reka berpendapat. tidak ada yang membantah atau mempermasalahkannya. ilmu eksakta atau ilmu pasti. Jakarta : Penerbit Gramedia. yang memiliki perasaan. artinya berkenaan atau terterkait dengan ilmu dan diwujudkan atas dasar kaidah atau prinsip-prinsip keilmuan. hal. dilakukan secara cermat.Van Dalen. bahwa ilmu-ilmu sosial takkan pernah menjadi ilmu dalam arti yang sepe-nuhnya. bisa di-ukur panjang-lebar. dapat dicek ketepatan dan diulangulang penelitiannya oleh fihak lain yang ingin membukti-kan atau mengujinya. Ke dua. angan-angan. dipilah-pilah dan dianalisis sesuai landasan teorinya. ciri-ciri atau kriterianya apa. kelompok il-muwan yang selain mengakui ilmu eksakta. Tentang Hakekat Ilmu. yakni pengetahuan yang tersusun secara logis dan sistematis tentang prilaku manusia sebagai individu maupun kelompok. cenderung meragukan atau bahkan menolak kebenaran dan keterandalan ilmu-ilmu sosial.7-8 24 Deobold B. kepastian datanya dicatat dalam wujud angka-angka. tempat.dak mengalami perubahan dalam jangka waktu tertentu. kha-yalan. dan sebagainya. Begitu terkesan anggun dan wibawanya kata “ilmiah. humaniora.Suriasumantri. sehingga laik diandalkan hasil finalnya dan diyakini serta dipegang-teguh sebagai kebenaran ilmiah. yakni pengetahuan yang tersusun secara logis dan sistematis tentang wahyu Tuhan dan perwujud-annya dalam kehidupan manusia. kelompok ilmuwan yang membatasi pengertian ilmu hanya pada pengetahuan yang tersusun secara logis dan sistematis tentang benda-benda alam yang bersifat tetap. mengenai ilmu atau sesuatu yang terkait dengan il-mu. kritis. kaidah atau prinsi-prinsip keilmuan. Ke tiga. karena cenderung berbeda antara kejadian di suatu tempat dengan tempat yang lain. kemauan.23 Atas dasar itu. dengan ciri khas terjadinya perubahan menurut perbe-daan waktu. juga memegangi kebenaran ilmu sosial dan hu-maniora. Ibid. namun tidak berarti kehadiran dan penggunaannya telah diterima sebagai kesepakatan tuntas di kalangan semua ilmuwan. hatihati. Pertama. atau yang dikenal sebagai ilmu eksakta.ilmu. logis. dalam Jujun S. tak ada yang tetap kecuali perubahan tanpa henti itu sendiri. Perselisihan faham tentang apa itu ilmu. Kelompok yang cenderung hanya mengakui keberadaan ilmu alam. terus berubah-ubah. apalagi ilmu agama. Para ahli ilmu eksakta kelompok tersebut.Suriasumantri. tanah. maka dalam aktifitas pengkajian atau penelitian ilmiah dapat ditempuh observasi (pengamatan) langsung dengan indera atau memakai peralatan tertentu. hal. seperti batu. digunakan rumus sta-tistika sedemikian rupa. untuk pada akhirnya ditarik kesimpulan dalam bentuk generalisasi yang berlaku secara umum. 1985. cakupannya menyangkut bidang apa saja. cita-cita. dan cara memperoleh serta mengembangkannya bagaimana. secara lambat laun ilmu-ilmu sosial ber. cetakan ke enam. tidak berubah-ubah. dikumpulkan terus sampai berjumlah cukup atau bahkan sangat banyak. sangat berat kiranya Jujun Suriasumantri. Akan tetapi. sehingga mustahil atau minimal sulit sekali untuk diobservasi kepastikan pola tingkah lakunya.. dikelompokkan. atau ditimbang beratnya. dalam Jujun S.134 1 0 23 9 . kelompok ilmuwan yang selain memandang penting ilmu eksakta dan sosial (humaniora). dan sistematis atas dasar prosedur. beralasan karena obyek kajian atau penelitiannya adalah benda-benda fisik yang mempunyai keserupaan sifat antara satu sama lain misalnya dalam hal bentuk dan struktur. Ada tiga kelompok pandangan ilmuwan tentang definisi atau batasan ilmu. dalam arti sama saja kejadiannya di mana dan kapanpun juga. juga dilakukan eksperimen secara bebas tanpa hambatan.

nomor 9 1 0 . Untuk mem-peroleh jalan keluar. neraka dan seterusnya. surga. Terhadap ilmu agama lebih-lebih. Semuanya adalah ilmu. humaniora. Sementara. L. sebaliknya terhindar dari permusuhan dan tindak kekerasan katakanlah. juga melakukan generalisasi yang berlaku secara umum. jelas tidak mungkin perwujudan-nya ditempuh melalui pendayagunaan ilmu eksakta semata. dikembalikan saja titik berangkatnya pada fungsi utama ilmu sebagai wahana kesejahteraan hidup manusia seutuhnya : material-spiritual. ilmu syari’ah (hukum kehidupan). Akibatnya. tesis magister. bahkan menulis sebuah kitab berjudul Ihya ‘Ulum al-Din. Bagaimana men-ciptakan tata kehidupan yang indah dan tenteram di masyarakat. dengan begitu saja dikategori-kan sebagai institusi non ilmiah ? Juga. memiliki keharusan untuk terus meningkatkan kualitas dan keterandalan ilmiah masing-masing. dunia ma-upun akhirat. keyakinan. akhirat. yang telah bergulat di bi-dang ilmu dan melahirkan ribuan 25 25 sarjana dengan karya tulis final masing-masing dalam bentuk skripsi sarjana. dengan program Tri Dharmanya ( pendidikan. mengingat toh kenyataannya di samping berbagai jenis keilmuan yang lain. sesungguhnya bukanlah persoalan gampang. para ahli ilmu sosialpun banyak yang meragukan kebenaran dan posisinya sebagai ilmu. pastilah menimbulkan persoalan di kalangan fihak-fihak yang menekuni aneka bidang keilmuan khususnya di lingkungan Perguruan Ting-gi yang berlabel keagamaan. seorang failosuf dan ilmuwan yang sangat terkenal itu. bahkan disertasi doktor. lahir dan batin. yang tidak mung-kin diobservai langsung atau melalui alat manapun oleh seorang ilmuwan. misalnya untuk membangun ge-dung megah. kendaraan mewah. sulit meng-analisis guna memperoleh keterandalan hasilnya. Logiskah semisal Perguruan Tinggi Islam. dan aneka jenis makanan yang melimpah. lalu dengan serta-merta dinyatakan sebagai bukan ilmu dan hasil jerih payah kerja ilmuwannya dikategorikan tidak ilmiah ? Bukankah ilmu-ilmu keagamaan juga diperlukan untuk mencapai kesejahteraan hi-dup. sehingga muncul anggapan kurang atau bahkan tidak memenuhi syarat sebagai ilmu yang benar-benar ilmiah. bukan sekedar kalangan ilmuwan eksakta yang cen-derung kukuh menolaknya. mengingat di dalamnya mengandung kerumitan seperti terlihat di atas. Di antara mereka ada yang menyatakan.lam predikat bukan ilmuwan ? Walhasil. il-mu tarbiyah (pendidikan) dan sebagainya. Imam alGhazali.untuk memperoleh kepastian data ilmu-ilmu sosial misalnya da-lam wujud angka-angka statistika. Dalam perspektif keseimbangan semacam ini.laikkah memasukkan tokoh sekaliber al-Ghazali ke da. penelitian. deduktif. menghi-dupkan ilmu-ilmu keagamaan. minimal oleh kalangan yang meyakininya ? Kalau pandangan seperti ini diterima. untuk mencapai kebahagiaan hidup secara hakiki di dunia dan seka-ligus di akhirat. itu tidak termasuk ilmu. dalam ilmu-ilmu keagamaan ada yang namanya tuhan. Tanggung Jawab Sosial Seorang Ilmuwan.Wilardjo. harus dinyatakan sebagai bukan ilmu. apalagi jika aspek kajiannya menyangkut suasana kejiwaan yang begitu abstrak dan bersifat sangat pribadi atau sarat kerahasiaan. Padahal jelas. sosial. pengetahuan atau lebih tepatnya keyakinan yang sifatnya dogmatis atau terlalu spekulatif. dan pengabdian masyarakat). apa itu hakikat ilmu dan kegiatan ilmiah. sangat memerlukan dukungan ilmu sosial dan humaniora. maupun agama. dan berdasarkan metodologi yang boleh jadi agak berbeda karena memang obyek kajiannya tidak sama. dan verifikatif. Apakah karena obyek kajiannya ada yang bersifat abstrak dan tidak tersentuh indera. ada yang bernama ilmu ‘aqidah (keyakinan). wasilahnya tidak bisa lain kecuali membangun keseimbangan tuntas dalam hal penguasaan dan pemanfaatan semua jenis ilmu : eksakta. Majalah Pustaka. bahwa pengetahuan yang di-peroleh manusia tanpa melewati daur hipotetik. Jadi.