APLIKASI FILSAFAT ILMU DALAM METODOLOGI PENELITIAN

============================ Oleh : Prof.Dr.H.Imam Bawani,MA Kata metodologi berasal dari perbendaharaan bahasa Inggris methodology,1 gabungan dari method yang berarti cara dan logy atau logos (latin) artinya ilmu. Berarti, metodologi adalah ilmu yang membicarakan tentang cara, maksudnya cara melakukan sesuatu. Karena terkait dengan bagaimana “cara melakukan,” maka sesuatu tersebut pastilah berwujud pekerjaan, aktifitas atau kegiatan, dalam hal ini penelitian. Jadi, bagaimana cara melakukan pene-litian dengan baik dan membuahkan hasil maksimal, itulah yang menjadi fokus pembicaraan metodologi. Dan memang, prosedur atau tata cara yang harus ditempuh sebagai dimaksud, bu-kanlah sesuatu yang mudah, atau dengan sertamerta bisa dijalani oleh siapa saja tanpa per-siapan dan bekal apapun. Melainkan, untuk dapat melakukan penelitian dengan baik, perlu didukung oleh pengetahuan serta ketrampilan yang tersusun secara logis dan sistematis, dipel-ajari dengan penuh minat dan kesungguhan. Karena memenuhi sifat dan syarat demikian itu-lah, maka pengetahuan dan ketrampilan tentang tata cara melakukan penelitian, dikenal de-ngan sebutan logos atau ilmu. Dalam khazanah bahasa Indonesia, kata metode diartikan sebagai cara yang teratur dan terfikir baik-baik untuk mencapai maksud tertentu seperti di bidang ilmu pengetahuan, atau cara kerja yang bersistem untuk memudahkan pelaksanaan suatu kegiatan guna mencapai tujuan yang ditentukan.4 Maksud atau tujuan yang ingin dicapai melalui metode (cara) terse-but, dalam kaitan ini dan sebagaimana telah dikemukakan
John M.Echols dan Hassan Shadily, Kamus Inggris-Indonesia: An EnglishIndonesian Dictionary, Jakarta : Penerbit Gramedia, cetakan ke 20, 1992, hal.379 2 Loc.cit. 3 Ibid., hal.65 4 Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Jakarta : Penerbit Balai Pustaka, cetakan ke tiga, 1990, hal.580-581 9
1 2 3

terdahulu, adalah kegitan peneli-tian. Apa yang dimaksud dengan penelitian? Sementara penulis memaknai penelitian dengan pemeriksaan atau penyelidikan, misalnya berupa aktifitas pengumpulan, pengolahan, analisis dan penyajian data keilmuan yang dilakukan secara hati-hati, sistematis dan obyektif untuk memecahkan suatu persoalan atau menguji hipotesis guna mengembangkan prinisp-prinsip ilmiah secara umum.5 Dengan mencermati segi kebahasaan tersebut, kiranya dapat dirumuskan pengertian secara utuh, bahwa metodologi penelitian adalah ilmu yang membahas tata cara yang seharusnya ditempuh dalam penyelidikan dan pengembangan ilmu pengetahuan, dilakukan dengan cermat, hati-hati, kritis, logis, dan sistematis, misalnya diawali dari menyusun rancangan ju-dul beserta inti permasalahannya, diikuti studi kepustakaan secara mendalam tentang hal-ihwal terkait dengan itu, kemudian mencari dan mengumpulkan data yang relevan, menyusun dan mengolahnya, menganalisis dan akhirnya menarik kesimpulan, guna memecahkan per-soalan atau menjawab pertanyaan yang diajukan pada rumusan masalah. Tentu saja, banyak variasi pengertian di luar formulasi tersebut, masingmasing bergantung siapa yang menge-mukakan, berlatar belakang keahlian apa, dan melalui sudut pandang mana melihat, mencer- mati, dan merumuskannya. Namun ada sesuatu yang bersifat pasti, bahwa istilah “penelitian” bertumpu pada akar kata teliti, yang biasa dimaknai dengan cermat, saksama, ingat-ingat, dan hati-hati. 6 Artinya, tidak boleh gegabah atau sembarangan dalam melakukan aktifitas keilmuan tersebut, karena dapat mengurangi atau bahkan menggagalkan langkah dan upaya seseorang untuk mencapai kebenaran ilmiah yang diinginkan. Bagi mereka yang baru dalam tahap awal mempelajari ihwal dunia penelitian, sangat penting merenungkan,
5 6

Ibid., hal.920 Loc.cit.

(1)

1 0

. Sikap hati-hati sangat penting. misalnya ketika menentukan sumber data. maka timbul pertanyaan : Mengapa sesuatu harus dicari atau diselidiki berulang-ulang ? Jawabnya : Supaya mencapai keadaan atau memenuhi syarat kete-litian..849 9 1 0 . 9 Sedemikian urgen mematok kegiatan penelitian pada kokohnya kesadaran untuk ber-pegang-teguh pada sifat dan sikap “teliti” dalam melakukan segala hal yang terkait dengan-nya. John M.7 tidak sembrono (jawa) dan acakacakan semaunya ketika melakukan penelitian.14 Jika re diartikan kembali atau berulang-ulang. re artinya perihal. al-bahts-lah yang lebih terkenal dan sering digunakan. penelusuran. hal.cit.11 Contoh.. Op. hal. artinya berurutan. 7 8 10 11 Ibid. misalnya dalam rangka menyusun skripsi. lagi.. Yogyakarta : Unit Pengadaan Buku -buku Ilmiah Keagamaan. jenis instrumen yang dipakai. artinya sesuai dengan prinsip logika. hal.467 Ibid. padahal hasilnya jelek sekali. pengambilan sampel jika diperlukan. .alah atau fokus penelitian. dengan cara yang diatur baik-baik. hal.usaha mencermati dan menemukan titik kesalahan. dalam kemandiriannya sebagai sebuah kata.. hal. Antara pembahasan masalah keagamaan (bahstul masail) dan pengkajian ilmu pengetahuan (bahstul ilmi). kritis. Cermat.466 Ibid.nya. artinya bersungguh-sungguh dan selalu ingat. hal. Dalam bahasa Arab. dan sis-tematis. penggeledahan.530 Ibid. misalnya dalam bentuk kata majemuk bahtsul masail (pembahasan berbagai masalah keagamaan). dapat pula dicermati dari penggunaan kata “research” 12 menurut perbendaharaan bahasa Inggris.480 16 Ahmad Warson Munawwir. masuk akal. artinya selalu mempertanyakan sesuatu. atau disertasi. tesis.. Kamus Arab-Indonesia al-Munawwir.Logis.mencamkan dan menginternalisasi kai-dah pokok tersebut. Prinsip berfikir logis diper-lukan. dan dengan ketajaman analisis ber.507 15 Ibid. mestilah diatur tata kerja dan urutan langkah operasionalnya.8 tidak grusagrusu (jawa) untuk sekedar cepat selesai.15 yang hanya berhasil manakala dilakukan dengan penuh ketelitian. Kritis. hal. hal. Sistematis. Sikap kritis diperlukan.kata yang sepadan maknanya dengan research atau penelitian adalah albahts. Dalam format terpisah.472-473 14 Ibid.. pemeriksaan. artinya penuh minat dan perhatian.. sehingga terlihat jelas tahap-tahapnya dari awal sampai ber-akhir seluruh kegiatan tersebut. Selaras dengan itu. mi-salnya ketika mencari. dan mengformulasikan judul penelitian ke dalam susunan kalimat yang baik dan benar menurut bahasa ilmiah. dalam menyusun rancangan dan melaksanakan penelitian. logis. dan benar menurut penalaran10 atau jalan fikiran yang jernih dan lurus. karena sama-sama dilakukan atas dasar dan bertujuan mencapai kebenaran ilmiah. agar terbangun pada dirinya sikap cermat. teknik pengumpulan dan analisis data penelitian. pengejaran. yang menurut studi ini adalah muatan rinci dari istilah “teliti” sebagai kata dasar pe-nelitian. tidak lekas puas atau percaya begitu saja. Bagaimana memaknai kata “teliti” dengan rincian pengertian sebagaimana tersebut di atas. research biasa dimak-nai dengan penyelidikan atau penelitian ilmiah (scientific research). Bisa dikatakan. hal. cetakan pertama. hati-hati. bahstul masail adalah bagian atau dilakukan dalam rangka kegiatan bahtsul ilmi.Echols dan Hassan Shadily.. kembali. pe-nyelidikan. kiranya perlu diuraikan satupersatu. Hati-hati. maka untuk menyebut aktifitas keilmuan se-perti dalam wujud research atau penelitian di perguruan tinggi. sesuai dengan sistem berfikir ilmiah. dan penelitian. dan juga istilah bahtsul ilmi (pembahasan atau pengkajian ilmu pengetahuan). dan search ada-lah pencarian atau penyelidikan. dan berulang-ulang. Pondok Pesantren al-Munawwir Krapyak. Selaras dengan alur fikir tersebut. al-fahsh.301 9 Ibid. biasa diartikan dengan pemeriksaan atau penyelidikan.64 13 12 untuk selanjutnya mencari alternatif kebenarannya. hal. pada hakikat-nya tidak berbeda. dalam bahasa Arab digunakan istilah bahstul ilmi.165 Ibid.16 Di antara ketiganya. 1984. mengingat fungsinya amat sentral dalam memberi arah bagi seluruh aktifitas keilmuan tersebut. dan al-taftis. menentukan pilihan. misalnya ketika memilih dan menyusun rumusan mas.13 se-dangkan search berarti pencarian.

dan membahas bersama-sama. bersifat. London : Penerbit Macdonald & Evans Ltd.. tembaga. Bisa disebut. artinya melihat-lihat. mengusut. sehingga pembahasan tentangnya pastilah merujuk pada apa esensi atau hakikat ilmu. mendiskusikan. atau berdasar ilmu. bisa disusun pengertian bahwa penelitian ilmiah merupakan penelitian dalam bidang ilmu dan dilakukan secara atau dengan metodologi keilmuan. 1986.cit. termasuk riset atau penelitian. Op. 480. Lobanon : Penerbit Dar al-Masyriq. 578. seek.. dan dipilih sesuai kebutuhan. bahwa kandungan manka al-bahts mencakup wilayah sedemikian luas. Akhirnya dapat ditarik pemahaman lanjut.1037 Hans Wehr. tulisan (ejaan) aslinya ‘ilmiyyah dengan huruf ya’ dobel (tasydid). and to dis-cuss together. Mirip dengan pencermatan tersebut. 510.19 Bertambah jelas melalui rangkaian kata-kata itu. menjelajahi. cetakan ke dua puluh delapan. bahwa penelitian ilmiah adalah pe-nyelidikan atau pengkajian tentang 20 21 Ahmad Warson Munawwir. 221. sumber lain mengartikan al-bahts dalam bentuk kata kerja dengan to look about. pasir. 9 17 18 setiap langkah pengkajian dan pengembang-an ilmu pengetahuan. Maka dapat dirumuskan formulasi yang lebih mencakup unsurunsur pokoknya.17 artinya menggali sesuatu di dalam perut bumi atau mencarinya di celah-celah tumpukan debu (tanah). masingmasing dicermati sifat dan ciri khasnya. bukan saja mengarah pada ter-simpulnya sikap teliti sebagai prasyarat utama dalam aktifitas penelitian. dalam pengertian ini tampak adanya upaya mencari sesuatu. hal. to discuss a subject or question.cit. 363. edited by J. ilmu penelitian tersebut dipergunakan sebagai acuan atau pegangan teoritis dan sa-rana ilmiah untuk mengkaji serta mengembangkan ilmu. melainkan lebih jauh lagi menunjukkan betapa erat kaitannya dengan Louis Ma’luf. hal. ilmiah merupakan kata jadian dari ‘lmu. Op. dan biasa dimaknai : sesuatu yang terkait dengan.42 19 John M. dikenal istilah scientific.20 Dalam bahasa Inggris. cetakan ke tiga. memeriksa. dipilah. mirip aktifitas pertambangan dewasa ini. hal. 1974.21 artinya bersifat atau secara keilmuan. have a talk about. Sementara menurut fungsi po-koknya. menyelidiki.635 22 John M. ilmu tentang cara atau prosedur melakukan penelitian. mengidentifikasi satu-persatu.A’lam. membicarakan. mengelompokkan atas dasar ciri khas masing-masing.Milton Cowan. Beirut.” demikian pula istilah “penelitian ilmiah. bahwa posisi dan fungsi metodologi peneli-tian bagi aktifitas atau dunia ilmiah. Maka berarti. Atas dasar itulah.. hal. atau berlandaskan ilmu dan untuk pengembangan ilmu.504 1 0 . Atas dasar itu. to do research. perak. rasional kiranya jika dunia pendidikan tinggi Islam menempatkan bahts al-‘ilmi sebagai padanan istilah berbahasa Arab bagi semua bentuk kegiatan ilmiah. A Dictionary of Modern Written Arabic.27 18 Hans Wehr. ketika metodologi penelitian didudukkan sebagai obyek kajian ilmiah dan menghasilkan sistem pe-ngetahuan yang tertata secara logis dan sistematis. metodologi penelitian itu pada hakikatnya adalah “ilmu tentang tata cara pengembangan ilmu. 507. Op. al-Munjid : Fi al-Lughah wa al.. Kalau dicermati. Dalam formulasi kalimat berbahasa Arab dinyatakan al-bahts bima’na hafara al-syaia fi al-ardhi aw thalabaha tahta al-turab. Op. 225.cit. search. masuk akal kira-nya jika dalam kehidupan akademis dikenal sebutan “metodologi ilmiah. dan emas.Menurut tradisi keilmuan Islam.Echols & Hassan Shadily. hal.” Karena posisi dan fungsinya terkait erat dengan ihwal penyelidikan dan pengembangan ilmu. maka ditemukanlah aneka jenis benda seperti biji batu.365. meng-analisisnya dengan penuh semangat dan berhati-hati. to investigate. mempelajari.” Maksudnya. examine. to have a discussion. menelusuri.cit. kata al-bahts mengandung pengertian sangat luas dan mendalam. unsur ketelitian memegang peranan sangat menentukan bagi keberhasilan jenis pekerjaan seperti itu. 330. lalu dikelompokkan. 186. Lagi-lagi akar katanya juga tetap ilmu. mencari. study. kurang-lebih tersimpul dalam ungkapan “dengan ilmu dan untuk ilmu. explore. mengenai. kemudian mengambil dan memanfaat-kannya untuk keperluan tertentu. kemudian diambil dan dimanfaatkan sebagai barang berharga yang dihasilkan dari penggalian atau pe-nambangan tersebut. menemukan.Echols & Hassan Shadily. berwujud eksplorasi aneka jenis benda. maka posisinya adalah sebagai ilmu.22 Jadi. timah. menguji. hal. besi. Jelas kiranya. karena berasal dari gambaran seseorang yang tengah menggali tanah sampai kedalaman tertentu.” Kata “ilmiah” berasal dari bahasa Arab. meneliti.

atau ditimbang beratnya. sesekali bergembira dan di saat lain sedih luar biasa. dikumpulkan terus sampai berjumlah cukup atau bahkan sangat banyak. humaniora. Pertama. tidak berubah-ubah. dikelompokkan.7-8 24 Deobold B. mengenai ilmu atau sesuatu yang terkait dengan il-mu. Kelompok yang cenderung hanya mengakui keberadaan ilmu alam. sangat berat kiranya Jujun Suriasumantri. dan sebagainya. bisa di-ukur panjang-lebar. logis. hal. mengenai apa yang dimaksud dengan ilmu. kritis. Begitu terkesan anggun dan wibawanya kata “ilmiah.134 1 0 23 9 . hal. dipilah-pilah dan dianalisis sesuai landasan teorinya. kelompok ilmuwan yang membatasi pengertian ilmu hanya pada pengetahuan yang tersusun secara logis dan sistematis tentang benda-benda alam yang bersifat tetap.ilmu.Suriasumantri. kemauan. dengan ciri khas terjadinya perubahan menurut perbe-daan waktu. sehingga mustahil atau minimal sulit sekali untuk diobservasi kepastikan pola tingkah lakunya. dan cara memperoleh serta mengembangkannya bagaimana. Ibid. besar-kecil. Ada tiga kelompok pandangan ilmuwan tentang definisi atau batasan ilmu. apalagi ilmu agama.Suriasumantri. otomatis menga-rah dan berujung pada silang pendapat mengenai ukuran atau kriteria apakah sesuatu termasuk kategori ilmiah atau bukan ilmiah. karena cenderung berbeda antara kejadian di suatu tempat dengan tempat yang lain. bahwa ilmu-ilmu sosial takkan pernah menjadi ilmu dalam arti yang sepe-nuhnya. Para ahli ilmu eksakta kelompok tersebut. kelompok ilmuwan yang selain memandang penting ilmu eksakta dan sosial (humaniora). maka dalam hal seperti inilah perbedaan atau malah pertikaian faham terjadi. cenderung meragukan atau bahkan menolak kebenaran dan keterandalan ilmu-ilmu sosial. tempat. seperti batu. cita-cita. Ke tiga. juga memegangi kebenaran ilmu sosial dan hu-maniora. yakni pengetahuan yang tersusun secara logis dan sistematis tentang prilaku manusia sebagai individu maupun kelompok. antara keadaan zaman dahulu yang diliputi kesederhanaan dan realitas zaman sekarang yang penuh kemajuan. yakni pengetahuan yang tersusun secara logis dan sistematis tentang wahyu Tuhan dan perwujud-annya dalam kehidupan manusia. Akan tetapi. Ke dua.24 Di antara argumentasinya. sehingga laik diandalkan hasil finalnya dan diyakini serta dipegang-teguh sebagai kebenaran ilmiah. Bahwa istilah ilmiah. ciri-ciri atau kriterianya apa. Di antara me-reka berpendapat. dalam Jujun S. kelompok il-muwan yang selain mengakui ilmu eksakta. yang memiliki perasaan. dalam Jujun S. cetakan ke enam. Tentang Hakekat Ilmu. untuk pada akhirnya ditarik kesimpulan dalam bentuk generalisasi yang berlaku secara umum. Pandangan yang lebih moderat menyatakan. dilakukan secara cermat. Mengingat kenyataan de-mikian. kepastian datanya dicatat dalam wujud angka-angka. beralasan karena obyek kajian atau penelitiannya adalah benda-benda fisik yang mempunyai keserupaan sifat antara satu sama lain misalnya dalam hal bentuk dan struktur. kha-yalan. 1985. hatihati. cakupannya menyangkut bidang apa saja.23 Atas dasar itu. Perselisihan faham tentang apa itu ilmu. besi dan air.. secara lambat laun ilmu-ilmu sosial ber. atau yang dikenal sebagai ilmu eksakta. juga mengakui keberadaan ilmu agama. obyek kajian ilmu-ilmu sosial adalah kehidupan ma-nusia sebagai makhluk multi dimensi. kaidah atau prinsi-prinsip keilmuan. dalam arti sama saja kejadiannya di mana dan kapanpun juga. Ilmu-ilmu Alam dan Ilmu-ilmu Sosial : Beberapa Perbedaan. tanah. dapat dicek ketepatan dan diulangulang penelitiannya oleh fihak lain yang ingin membukti-kan atau mengujinya. dan sistematis atas dasar prosedur. maka dalam aktifitas pengkajian atau penelitian ilmiah dapat ditempuh observasi (pengamatan) langsung dengan indera atau memakai peralatan tertentu. Ilmu Dalam Perspektif : Sebuah Kumpulan Karangan Tentang Hakekat Ilmu.kembang juga meskipun tak akan mencapai derajat keilmuan seperti apa yang dicapai ilmu-ilmu alam. tidak ada yang membantah atau mempermasalahkannya. ilmu eksakta atau ilmu pasti. Jakarta : Penerbit Gramedia.Van Dalen. dan gejalanya memiliki pola yang te-tap dengan urut-urutan kejadian yang sama.dak mengalami perubahan dalam jangka waktu tertentu. terus berubah-ubah. digunakan rumus sta-tistika sedemikian rupa.” khususnya bagi dunia akademis di perguruan tinggi. tak ada yang tetap kecuali perubahan tanpa henti itu sendiri. ti. artinya berkenaan atau terterkait dengan ilmu dan diwujudkan atas dasar kaidah atau prinsip-prinsip keilmuan. angan-angan. juga dilakukan eksperimen secara bebas tanpa hambatan. namun tidak berarti kehadiran dan penggunaannya telah diterima sebagai kesepakatan tuntas di kalangan semua ilmuwan.

yang tidak mung-kin diobservai langsung atau melalui alat manapun oleh seorang ilmuwan.lam predikat bukan ilmuwan ? Walhasil. Apakah karena obyek kajiannya ada yang bersifat abstrak dan tidak tersentuh indera. deduktif. yang telah bergulat di bi-dang ilmu dan melahirkan ribuan 25 25 sarjana dengan karya tulis final masing-masing dalam bentuk skripsi sarjana. dan aneka jenis makanan yang melimpah. Logiskah semisal Perguruan Tinggi Islam. dunia ma-upun akhirat. Bagaimana men-ciptakan tata kehidupan yang indah dan tenteram di masyarakat. bahkan menulis sebuah kitab berjudul Ihya ‘Ulum al-Din. bahwa pengetahuan yang di-peroleh manusia tanpa melewati daur hipotetik. para ahli ilmu sosialpun banyak yang meragukan kebenaran dan posisinya sebagai ilmu. Di antara mereka ada yang menyatakan. menghi-dupkan ilmu-ilmu keagamaan. sosial.untuk memperoleh kepastian data ilmu-ilmu sosial misalnya da-lam wujud angka-angka statistika. nomor 9 1 0 . dengan program Tri Dharmanya ( pendidikan. sangat memerlukan dukungan ilmu sosial dan humaniora. L. lalu dengan serta-merta dinyatakan sebagai bukan ilmu dan hasil jerih payah kerja ilmuwannya dikategorikan tidak ilmiah ? Bukankah ilmu-ilmu keagamaan juga diperlukan untuk mencapai kesejahteraan hi-dup. keyakinan. Terhadap ilmu agama lebih-lebih. Majalah Pustaka. apalagi jika aspek kajiannya menyangkut suasana kejiwaan yang begitu abstrak dan bersifat sangat pribadi atau sarat kerahasiaan. kendaraan mewah. bahkan disertasi doktor. apa itu hakikat ilmu dan kegiatan ilmiah.Wilardjo. jelas tidak mungkin perwujudan-nya ditempuh melalui pendayagunaan ilmu eksakta semata. harus dinyatakan sebagai bukan ilmu. Imam alGhazali. tesis magister. seorang failosuf dan ilmuwan yang sangat terkenal itu. wasilahnya tidak bisa lain kecuali membangun keseimbangan tuntas dalam hal penguasaan dan pemanfaatan semua jenis ilmu : eksakta. akhirat. il-mu tarbiyah (pendidikan) dan sebagainya. sesungguhnya bukanlah persoalan gampang. pengetahuan atau lebih tepatnya keyakinan yang sifatnya dogmatis atau terlalu spekulatif. penelitian. itu tidak termasuk ilmu. Dalam perspektif keseimbangan semacam ini. Untuk mem-peroleh jalan keluar. mengingat di dalamnya mengandung kerumitan seperti terlihat di atas. Semuanya adalah ilmu. dan verifikatif. minimal oleh kalangan yang meyakininya ? Kalau pandangan seperti ini diterima. misalnya untuk membangun ge-dung megah. ilmu syari’ah (hukum kehidupan). surga. humaniora. dikembalikan saja titik berangkatnya pada fungsi utama ilmu sebagai wahana kesejahteraan hidup manusia seutuhnya : material-spiritual. juga melakukan generalisasi yang berlaku secara umum. sehingga muncul anggapan kurang atau bahkan tidak memenuhi syarat sebagai ilmu yang benar-benar ilmiah. Tanggung Jawab Sosial Seorang Ilmuwan. dengan begitu saja dikategori-kan sebagai institusi non ilmiah ? Juga. sulit meng-analisis guna memperoleh keterandalan hasilnya. dan pengabdian masyarakat). memiliki keharusan untuk terus meningkatkan kualitas dan keterandalan ilmiah masing-masing. sebaliknya terhindar dari permusuhan dan tindak kekerasan katakanlah. Akibatnya. untuk mencapai kebahagiaan hidup secara hakiki di dunia dan seka-ligus di akhirat. Sementara. bukan sekedar kalangan ilmuwan eksakta yang cen-derung kukuh menolaknya. dalam ilmu-ilmu keagamaan ada yang namanya tuhan.laikkah memasukkan tokoh sekaliber al-Ghazali ke da. dan berdasarkan metodologi yang boleh jadi agak berbeda karena memang obyek kajiannya tidak sama. lahir dan batin. pastilah menimbulkan persoalan di kalangan fihak-fihak yang menekuni aneka bidang keilmuan khususnya di lingkungan Perguruan Ting-gi yang berlabel keagamaan. Jadi. mengingat toh kenyataannya di samping berbagai jenis keilmuan yang lain. ada yang bernama ilmu ‘aqidah (keyakinan). neraka dan seterusnya. maupun agama. Padahal jelas.