APLIKASI FILSAFAT ILMU DALAM METODOLOGI PENELITIAN

============================ Oleh : Prof.Dr.H.Imam Bawani,MA Kata metodologi berasal dari perbendaharaan bahasa Inggris methodology,1 gabungan dari method yang berarti cara dan logy atau logos (latin) artinya ilmu. Berarti, metodologi adalah ilmu yang membicarakan tentang cara, maksudnya cara melakukan sesuatu. Karena terkait dengan bagaimana “cara melakukan,” maka sesuatu tersebut pastilah berwujud pekerjaan, aktifitas atau kegiatan, dalam hal ini penelitian. Jadi, bagaimana cara melakukan pene-litian dengan baik dan membuahkan hasil maksimal, itulah yang menjadi fokus pembicaraan metodologi. Dan memang, prosedur atau tata cara yang harus ditempuh sebagai dimaksud, bu-kanlah sesuatu yang mudah, atau dengan sertamerta bisa dijalani oleh siapa saja tanpa per-siapan dan bekal apapun. Melainkan, untuk dapat melakukan penelitian dengan baik, perlu didukung oleh pengetahuan serta ketrampilan yang tersusun secara logis dan sistematis, dipel-ajari dengan penuh minat dan kesungguhan. Karena memenuhi sifat dan syarat demikian itu-lah, maka pengetahuan dan ketrampilan tentang tata cara melakukan penelitian, dikenal de-ngan sebutan logos atau ilmu. Dalam khazanah bahasa Indonesia, kata metode diartikan sebagai cara yang teratur dan terfikir baik-baik untuk mencapai maksud tertentu seperti di bidang ilmu pengetahuan, atau cara kerja yang bersistem untuk memudahkan pelaksanaan suatu kegiatan guna mencapai tujuan yang ditentukan.4 Maksud atau tujuan yang ingin dicapai melalui metode (cara) terse-but, dalam kaitan ini dan sebagaimana telah dikemukakan
John M.Echols dan Hassan Shadily, Kamus Inggris-Indonesia: An EnglishIndonesian Dictionary, Jakarta : Penerbit Gramedia, cetakan ke 20, 1992, hal.379 2 Loc.cit. 3 Ibid., hal.65 4 Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Jakarta : Penerbit Balai Pustaka, cetakan ke tiga, 1990, hal.580-581 9
1 2 3

terdahulu, adalah kegitan peneli-tian. Apa yang dimaksud dengan penelitian? Sementara penulis memaknai penelitian dengan pemeriksaan atau penyelidikan, misalnya berupa aktifitas pengumpulan, pengolahan, analisis dan penyajian data keilmuan yang dilakukan secara hati-hati, sistematis dan obyektif untuk memecahkan suatu persoalan atau menguji hipotesis guna mengembangkan prinisp-prinsip ilmiah secara umum.5 Dengan mencermati segi kebahasaan tersebut, kiranya dapat dirumuskan pengertian secara utuh, bahwa metodologi penelitian adalah ilmu yang membahas tata cara yang seharusnya ditempuh dalam penyelidikan dan pengembangan ilmu pengetahuan, dilakukan dengan cermat, hati-hati, kritis, logis, dan sistematis, misalnya diawali dari menyusun rancangan ju-dul beserta inti permasalahannya, diikuti studi kepustakaan secara mendalam tentang hal-ihwal terkait dengan itu, kemudian mencari dan mengumpulkan data yang relevan, menyusun dan mengolahnya, menganalisis dan akhirnya menarik kesimpulan, guna memecahkan per-soalan atau menjawab pertanyaan yang diajukan pada rumusan masalah. Tentu saja, banyak variasi pengertian di luar formulasi tersebut, masingmasing bergantung siapa yang menge-mukakan, berlatar belakang keahlian apa, dan melalui sudut pandang mana melihat, mencer- mati, dan merumuskannya. Namun ada sesuatu yang bersifat pasti, bahwa istilah “penelitian” bertumpu pada akar kata teliti, yang biasa dimaknai dengan cermat, saksama, ingat-ingat, dan hati-hati. 6 Artinya, tidak boleh gegabah atau sembarangan dalam melakukan aktifitas keilmuan tersebut, karena dapat mengurangi atau bahkan menggagalkan langkah dan upaya seseorang untuk mencapai kebenaran ilmiah yang diinginkan. Bagi mereka yang baru dalam tahap awal mempelajari ihwal dunia penelitian, sangat penting merenungkan,
5 6

Ibid., hal.920 Loc.cit.

(1)

1 0

hal. research biasa dimak-nai dengan penyelidikan atau penelitian ilmiah (scientific research). agar terbangun pada dirinya sikap cermat.. karena sama-sama dilakukan atas dasar dan bertujuan mencapai kebenaran ilmiah. al-bahts-lah yang lebih terkenal dan sering digunakan. dan sis-tematis.466 Ibid.530 Ibid. John M. hal. biasa diartikan dengan pemeriksaan atau penyelidikan. dapat pula dicermati dari penggunaan kata “research” 12 menurut perbendaharaan bahasa Inggris. mestilah diatur tata kerja dan urutan langkah operasionalnya. hal.14 Jika re diartikan kembali atau berulang-ulang.cit.11 Contoh. jenis instrumen yang dipakai. dengan cara yang diatur baik-baik. tesis. 9 Sedemikian urgen mematok kegiatan penelitian pada kokohnya kesadaran untuk ber-pegang-teguh pada sifat dan sikap “teliti” dalam melakukan segala hal yang terkait dengan-nya. menentukan pilihan. dalam kemandiriannya sebagai sebuah kata. dan benar menurut penalaran10 atau jalan fikiran yang jernih dan lurus. masuk akal. Bisa dikatakan. dalam menyusun rancangan dan melaksanakan penelitian.16 Di antara ketiganya. maka untuk menyebut aktifitas keilmuan se-perti dalam wujud research atau penelitian di perguruan tinggi. misalnya dalam rangka menyusun skripsi. hati-hati. Cermat. hal. yang menurut studi ini adalah muatan rinci dari istilah “teliti” sebagai kata dasar pe-nelitian. pengejaran. pe-nyelidikan. Sikap hati-hati sangat penting. maka timbul pertanyaan : Mengapa sesuatu harus dicari atau diselidiki berulang-ulang ? Jawabnya : Supaya mencapai keadaan atau memenuhi syarat kete-litian. Prinsip berfikir logis diper-lukan.mencamkan dan menginternalisasi kai-dah pokok tersebut. pemeriksaan.64 13 12 untuk selanjutnya mencari alternatif kebenarannya.. Dalam format terpisah. Yogyakarta : Unit Pengadaan Buku -buku Ilmiah Keagamaan. re artinya perihal. Selaras dengan itu. dan juga istilah bahtsul ilmi (pembahasan atau pengkajian ilmu pengetahuan). Dalam bahasa Arab. hal. artinya penuh minat dan perhatian. kritis. sehingga terlihat jelas tahap-tahapnya dari awal sampai ber-akhir seluruh kegiatan tersebut. dan search ada-lah pencarian atau penyelidikan. bahstul masail adalah bagian atau dilakukan dalam rangka kegiatan bahtsul ilmi. sesuai dengan sistem berfikir ilmiah. mi-salnya ketika mencari.. tidak lekas puas atau percaya begitu saja. Kamus Arab-Indonesia al-Munawwir. 7 8 10 11 Ibid.nya. al-fahsh. kembali.849 9 1 0 . dan mengformulasikan judul penelitian ke dalam susunan kalimat yang baik dan benar menurut bahasa ilmiah. misalnya ketika memilih dan menyusun rumusan mas.301 9 Ibid. kiranya perlu diuraikan satupersatu. dan al-taftis. logis. dan dengan ketajaman analisis ber.Logis. dan berulang-ulang.15 yang hanya berhasil manakala dilakukan dengan penuh ketelitian. misalnya ketika menentukan sumber data. Op. lagi.. Bagaimana memaknai kata “teliti” dengan rincian pengertian sebagaimana tersebut di atas.kata yang sepadan maknanya dengan research atau penelitian adalah albahts. dan penelitian.alah atau fokus penelitian. padahal hasilnya jelek sekali. penelusuran.8 tidak grusagrusu (jawa) untuk sekedar cepat selesai. hal.. Kritis.7 tidak sembrono (jawa) dan acakacakan semaunya ketika melakukan penelitian. mengingat fungsinya amat sentral dalam memberi arah bagi seluruh aktifitas keilmuan tersebut. Antara pembahasan masalah keagamaan (bahstul masail) dan pengkajian ilmu pengetahuan (bahstul ilmi). pada hakikat-nya tidak berbeda.507 15 Ibid.13 se-dangkan search berarti pencarian. pengambilan sampel jika diperlukan.165 Ibid.. dalam bahasa Arab digunakan istilah bahstul ilmi. hal. Sikap kritis diperlukan. Pondok Pesantren al-Munawwir Krapyak. teknik pengumpulan dan analisis data penelitian. artinya sesuai dengan prinsip logika.467 Ibid. hal. hal. atau disertasi.480 16 Ahmad Warson Munawwir.. Sistematis. artinya berurutan. penggeledahan. misalnya dalam bentuk kata majemuk bahtsul masail (pembahasan berbagai masalah keagamaan).Echols dan Hassan Shadily. hal. artinya bersungguh-sungguh dan selalu ingat. cetakan pertama.. Hati-hati.472-473 14 Ibid. Selaras dengan alur fikir tersebut.usaha mencermati dan menemukan titik kesalahan.. artinya selalu mempertanyakan sesuatu. . 1984.

to investigate. artinya melihat-lihat. tembaga. menguji. cetakan ke tiga. ilmiah merupakan kata jadian dari ‘lmu. menjelajahi. 507.” Karena posisi dan fungsinya terkait erat dengan ihwal penyelidikan dan pengembangan ilmu. 186. karena berasal dari gambaran seseorang yang tengah menggali tanah sampai kedalaman tertentu. Dalam formulasi kalimat berbahasa Arab dinyatakan al-bahts bima’na hafara al-syaia fi al-ardhi aw thalabaha tahta al-turab. hal. hal. Maka dapat dirumuskan formulasi yang lebih mencakup unsurunsur pokoknya.Echols & Hassan Shadily. 1986. Atas dasar itulah. berwujud eksplorasi aneka jenis benda. A Dictionary of Modern Written Arabic. tulisan (ejaan) aslinya ‘ilmiyyah dengan huruf ya’ dobel (tasydid).1037 Hans Wehr. hal. to do research. ilmu tentang cara atau prosedur melakukan penelitian. hal.” demikian pula istilah “penelitian ilmiah. Maka berarti.” Kata “ilmiah” berasal dari bahasa Arab. 9 17 18 setiap langkah pengkajian dan pengembang-an ilmu pengetahuan. Jelas kiranya. maka ditemukanlah aneka jenis benda seperti biji batu. besi.cit.Echols & Hassan Shadily. unsur ketelitian memegang peranan sangat menentukan bagi keberhasilan jenis pekerjaan seperti itu. 225. explore.22 Jadi. kata al-bahts mengandung pengertian sangat luas dan mendalam.27 18 Hans Wehr. Op. maka posisinya adalah sebagai ilmu. membicarakan. Beirut. Mirip dengan pencermatan tersebut. mencari. mendiskusikan.cit. London : Penerbit Macdonald & Evans Ltd. Lagi-lagi akar katanya juga tetap ilmu.cit. sumber lain mengartikan al-bahts dalam bentuk kata kerja dengan to look about. kemudian mengambil dan memanfaat-kannya untuk keperluan tertentu. to discuss a subject or question. bahwa posisi dan fungsi metodologi peneli-tian bagi aktifitas atau dunia ilmiah.635 22 John M.. bisa disusun pengertian bahwa penelitian ilmiah merupakan penelitian dalam bidang ilmu dan dilakukan secara atau dengan metodologi keilmuan. mengidentifikasi satu-persatu.Menurut tradisi keilmuan Islam. melainkan lebih jauh lagi menunjukkan betapa erat kaitannya dengan Louis Ma’luf.. meneliti. 363. Bisa disebut. termasuk riset atau penelitian. edited by J. hal. mempelajari.. bukan saja mengarah pada ter-simpulnya sikap teliti sebagai prasyarat utama dalam aktifitas penelitian.. dan biasa dimaknai : sesuatu yang terkait dengan. mengusut. kurang-lebih tersimpul dalam ungkapan “dengan ilmu dan untuk ilmu. menyelidiki. dalam pengertian ini tampak adanya upaya mencari sesuatu. mengenai. ilmu penelitian tersebut dipergunakan sebagai acuan atau pegangan teoritis dan sa-rana ilmiah untuk mengkaji serta mengembangkan ilmu. bahwa kandungan manka al-bahts mencakup wilayah sedemikian luas. mengelompokkan atas dasar ciri khas masing-masing.Milton Cowan. memeriksa.20 Dalam bahasa Inggris. lalu dikelompokkan. pasir. Akhirnya dapat ditarik pemahaman lanjut. examine. 578. masingmasing dicermati sifat dan ciri khasnya. have a talk about.19 Bertambah jelas melalui rangkaian kata-kata itu. dipilah. dan emas.17 artinya menggali sesuatu di dalam perut bumi atau mencarinya di celah-celah tumpukan debu (tanah). Lobanon : Penerbit Dar al-Masyriq. timah. masuk akal kira-nya jika dalam kehidupan akademis dikenal sebutan “metodologi ilmiah. sehingga pembahasan tentangnya pastilah merujuk pada apa esensi atau hakikat ilmu. dikenal istilah scientific.” Maksudnya. 480. search. and to dis-cuss together. 330. menemukan.42 19 John M. perak. Op. Op. mirip aktifitas pertambangan dewasa ini. meng-analisisnya dengan penuh semangat dan berhati-hati. al-Munjid : Fi al-Lughah wa al. hal. atau berdasar ilmu. menelusuri.504 1 0 . 221.365. Sementara menurut fungsi po-koknya. Kalau dicermati. cetakan ke dua puluh delapan. bahwa penelitian ilmiah adalah pe-nyelidikan atau pengkajian tentang 20 21 Ahmad Warson Munawwir.21 artinya bersifat atau secara keilmuan.A’lam. 1974. dan membahas bersama-sama. dan dipilih sesuai kebutuhan. study. bersifat. Op. ketika metodologi penelitian didudukkan sebagai obyek kajian ilmiah dan menghasilkan sistem pe-ngetahuan yang tertata secara logis dan sistematis. Atas dasar itu. atau berlandaskan ilmu dan untuk pengembangan ilmu. metodologi penelitian itu pada hakikatnya adalah “ilmu tentang tata cara pengembangan ilmu.cit. seek. kemudian diambil dan dimanfaatkan sebagai barang berharga yang dihasilkan dari penggalian atau pe-nambangan tersebut. 510. rasional kiranya jika dunia pendidikan tinggi Islam menempatkan bahts al-‘ilmi sebagai padanan istilah berbahasa Arab bagi semua bentuk kegiatan ilmiah. to have a discussion.

Di antara me-reka berpendapat. Kelompok yang cenderung hanya mengakui keberadaan ilmu alam. Ke tiga.dak mengalami perubahan dalam jangka waktu tertentu. Ilmu-ilmu Alam dan Ilmu-ilmu Sosial : Beberapa Perbedaan. Ibid. logis.134 1 0 23 9 . cita-cita. beralasan karena obyek kajian atau penelitiannya adalah benda-benda fisik yang mempunyai keserupaan sifat antara satu sama lain misalnya dalam hal bentuk dan struktur. untuk pada akhirnya ditarik kesimpulan dalam bentuk generalisasi yang berlaku secara umum.” khususnya bagi dunia akademis di perguruan tinggi. besar-kecil.7-8 24 Deobold B. yakni pengetahuan yang tersusun secara logis dan sistematis tentang prilaku manusia sebagai individu maupun kelompok. angan-angan. kepastian datanya dicatat dalam wujud angka-angka.kembang juga meskipun tak akan mencapai derajat keilmuan seperti apa yang dicapai ilmu-ilmu alam. secara lambat laun ilmu-ilmu sosial ber. cakupannya menyangkut bidang apa saja. tidak berubah-ubah.23 Atas dasar itu. kha-yalan. hal. Akan tetapi. Para ahli ilmu eksakta kelompok tersebut. Pertama. namun tidak berarti kehadiran dan penggunaannya telah diterima sebagai kesepakatan tuntas di kalangan semua ilmuwan. dan gejalanya memiliki pola yang te-tap dengan urut-urutan kejadian yang sama. dan sebagainya. sangat berat kiranya Jujun Suriasumantri. 1985. ilmu eksakta atau ilmu pasti. sehingga laik diandalkan hasil finalnya dan diyakini serta dipegang-teguh sebagai kebenaran ilmiah. mengenai apa yang dimaksud dengan ilmu.. Mengingat kenyataan de-mikian. dikelompokkan.Van Dalen. tempat. humaniora. dalam Jujun S. dengan ciri khas terjadinya perubahan menurut perbe-daan waktu. kemauan. sehingga mustahil atau minimal sulit sekali untuk diobservasi kepastikan pola tingkah lakunya. karena cenderung berbeda antara kejadian di suatu tempat dengan tempat yang lain.ilmu. Jakarta : Penerbit Gramedia. seperti batu. dan sistematis atas dasar prosedur. maka dalam aktifitas pengkajian atau penelitian ilmiah dapat ditempuh observasi (pengamatan) langsung dengan indera atau memakai peralatan tertentu. ti. juga mengakui keberadaan ilmu agama. terus berubah-ubah. ciri-ciri atau kriterianya apa. artinya berkenaan atau terterkait dengan ilmu dan diwujudkan atas dasar kaidah atau prinsip-prinsip keilmuan. Bahwa istilah ilmiah. kritis. Pandangan yang lebih moderat menyatakan. juga dilakukan eksperimen secara bebas tanpa hambatan. Begitu terkesan anggun dan wibawanya kata “ilmiah. Ke dua. dan cara memperoleh serta mengembangkannya bagaimana. atau ditimbang beratnya. tanah. dapat dicek ketepatan dan diulangulang penelitiannya oleh fihak lain yang ingin membukti-kan atau mengujinya. dalam Jujun S. Perselisihan faham tentang apa itu ilmu. Ada tiga kelompok pandangan ilmuwan tentang definisi atau batasan ilmu. juga memegangi kebenaran ilmu sosial dan hu-maniora. maka dalam hal seperti inilah perbedaan atau malah pertikaian faham terjadi. Ilmu Dalam Perspektif : Sebuah Kumpulan Karangan Tentang Hakekat Ilmu. dikumpulkan terus sampai berjumlah cukup atau bahkan sangat banyak. atau yang dikenal sebagai ilmu eksakta. hatihati. Tentang Hakekat Ilmu. cenderung meragukan atau bahkan menolak kebenaran dan keterandalan ilmu-ilmu sosial. apalagi ilmu agama. bisa di-ukur panjang-lebar. kaidah atau prinsi-prinsip keilmuan.Suriasumantri. sesekali bergembira dan di saat lain sedih luar biasa. kelompok ilmuwan yang selain memandang penting ilmu eksakta dan sosial (humaniora). bahwa ilmu-ilmu sosial takkan pernah menjadi ilmu dalam arti yang sepe-nuhnya. hal. kelompok il-muwan yang selain mengakui ilmu eksakta.24 Di antara argumentasinya. yang memiliki perasaan. dilakukan secara cermat. obyek kajian ilmu-ilmu sosial adalah kehidupan ma-nusia sebagai makhluk multi dimensi. kelompok ilmuwan yang membatasi pengertian ilmu hanya pada pengetahuan yang tersusun secara logis dan sistematis tentang benda-benda alam yang bersifat tetap.Suriasumantri. besi dan air. tak ada yang tetap kecuali perubahan tanpa henti itu sendiri. mengenai ilmu atau sesuatu yang terkait dengan il-mu. dipilah-pilah dan dianalisis sesuai landasan teorinya. cetakan ke enam. yakni pengetahuan yang tersusun secara logis dan sistematis tentang wahyu Tuhan dan perwujud-annya dalam kehidupan manusia. otomatis menga-rah dan berujung pada silang pendapat mengenai ukuran atau kriteria apakah sesuatu termasuk kategori ilmiah atau bukan ilmiah. antara keadaan zaman dahulu yang diliputi kesederhanaan dan realitas zaman sekarang yang penuh kemajuan. tidak ada yang membantah atau mempermasalahkannya. dalam arti sama saja kejadiannya di mana dan kapanpun juga. digunakan rumus sta-tistika sedemikian rupa.

Padahal jelas. apa itu hakikat ilmu dan kegiatan ilmiah. keyakinan. il-mu tarbiyah (pendidikan) dan sebagainya. Terhadap ilmu agama lebih-lebih. lahir dan batin.Wilardjo. sangat memerlukan dukungan ilmu sosial dan humaniora. wasilahnya tidak bisa lain kecuali membangun keseimbangan tuntas dalam hal penguasaan dan pemanfaatan semua jenis ilmu : eksakta. Bagaimana men-ciptakan tata kehidupan yang indah dan tenteram di masyarakat. yang telah bergulat di bi-dang ilmu dan melahirkan ribuan 25 25 sarjana dengan karya tulis final masing-masing dalam bentuk skripsi sarjana. Apakah karena obyek kajiannya ada yang bersifat abstrak dan tidak tersentuh indera. bukan sekedar kalangan ilmuwan eksakta yang cen-derung kukuh menolaknya. neraka dan seterusnya. dan berdasarkan metodologi yang boleh jadi agak berbeda karena memang obyek kajiannya tidak sama. Semuanya adalah ilmu.lam predikat bukan ilmuwan ? Walhasil. Akibatnya. Sementara. para ahli ilmu sosialpun banyak yang meragukan kebenaran dan posisinya sebagai ilmu. Tanggung Jawab Sosial Seorang Ilmuwan. penelitian. bahwa pengetahuan yang di-peroleh manusia tanpa melewati daur hipotetik. surga. juga melakukan generalisasi yang berlaku secara umum. jelas tidak mungkin perwujudan-nya ditempuh melalui pendayagunaan ilmu eksakta semata. untuk mencapai kebahagiaan hidup secara hakiki di dunia dan seka-ligus di akhirat. maupun agama. Logiskah semisal Perguruan Tinggi Islam. yang tidak mung-kin diobservai langsung atau melalui alat manapun oleh seorang ilmuwan. sosial. mengingat di dalamnya mengandung kerumitan seperti terlihat di atas. apalagi jika aspek kajiannya menyangkut suasana kejiwaan yang begitu abstrak dan bersifat sangat pribadi atau sarat kerahasiaan. kendaraan mewah. dan verifikatif.laikkah memasukkan tokoh sekaliber al-Ghazali ke da. pengetahuan atau lebih tepatnya keyakinan yang sifatnya dogmatis atau terlalu spekulatif. Untuk mem-peroleh jalan keluar. dan aneka jenis makanan yang melimpah. menghi-dupkan ilmu-ilmu keagamaan. bahkan disertasi doktor.untuk memperoleh kepastian data ilmu-ilmu sosial misalnya da-lam wujud angka-angka statistika. dikembalikan saja titik berangkatnya pada fungsi utama ilmu sebagai wahana kesejahteraan hidup manusia seutuhnya : material-spiritual. sulit meng-analisis guna memperoleh keterandalan hasilnya. Di antara mereka ada yang menyatakan. memiliki keharusan untuk terus meningkatkan kualitas dan keterandalan ilmiah masing-masing. ada yang bernama ilmu ‘aqidah (keyakinan). dan pengabdian masyarakat). ilmu syari’ah (hukum kehidupan). tesis magister. sesungguhnya bukanlah persoalan gampang. deduktif. humaniora. harus dinyatakan sebagai bukan ilmu. lalu dengan serta-merta dinyatakan sebagai bukan ilmu dan hasil jerih payah kerja ilmuwannya dikategorikan tidak ilmiah ? Bukankah ilmu-ilmu keagamaan juga diperlukan untuk mencapai kesejahteraan hi-dup. seorang failosuf dan ilmuwan yang sangat terkenal itu. mengingat toh kenyataannya di samping berbagai jenis keilmuan yang lain. bahkan menulis sebuah kitab berjudul Ihya ‘Ulum al-Din. misalnya untuk membangun ge-dung megah. Dalam perspektif keseimbangan semacam ini. pastilah menimbulkan persoalan di kalangan fihak-fihak yang menekuni aneka bidang keilmuan khususnya di lingkungan Perguruan Ting-gi yang berlabel keagamaan. akhirat. dunia ma-upun akhirat. dengan begitu saja dikategori-kan sebagai institusi non ilmiah ? Juga. sebaliknya terhindar dari permusuhan dan tindak kekerasan katakanlah. itu tidak termasuk ilmu. sehingga muncul anggapan kurang atau bahkan tidak memenuhi syarat sebagai ilmu yang benar-benar ilmiah. dalam ilmu-ilmu keagamaan ada yang namanya tuhan. Imam alGhazali. Jadi. Majalah Pustaka. dengan program Tri Dharmanya ( pendidikan. L. minimal oleh kalangan yang meyakininya ? Kalau pandangan seperti ini diterima. nomor 9 1 0 .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful