APLIKASI FILSAFAT ILMU DALAM METODOLOGI PENELITIAN

============================ Oleh : Prof.Dr.H.Imam Bawani,MA Kata metodologi berasal dari perbendaharaan bahasa Inggris methodology,1 gabungan dari method yang berarti cara dan logy atau logos (latin) artinya ilmu. Berarti, metodologi adalah ilmu yang membicarakan tentang cara, maksudnya cara melakukan sesuatu. Karena terkait dengan bagaimana “cara melakukan,” maka sesuatu tersebut pastilah berwujud pekerjaan, aktifitas atau kegiatan, dalam hal ini penelitian. Jadi, bagaimana cara melakukan pene-litian dengan baik dan membuahkan hasil maksimal, itulah yang menjadi fokus pembicaraan metodologi. Dan memang, prosedur atau tata cara yang harus ditempuh sebagai dimaksud, bu-kanlah sesuatu yang mudah, atau dengan sertamerta bisa dijalani oleh siapa saja tanpa per-siapan dan bekal apapun. Melainkan, untuk dapat melakukan penelitian dengan baik, perlu didukung oleh pengetahuan serta ketrampilan yang tersusun secara logis dan sistematis, dipel-ajari dengan penuh minat dan kesungguhan. Karena memenuhi sifat dan syarat demikian itu-lah, maka pengetahuan dan ketrampilan tentang tata cara melakukan penelitian, dikenal de-ngan sebutan logos atau ilmu. Dalam khazanah bahasa Indonesia, kata metode diartikan sebagai cara yang teratur dan terfikir baik-baik untuk mencapai maksud tertentu seperti di bidang ilmu pengetahuan, atau cara kerja yang bersistem untuk memudahkan pelaksanaan suatu kegiatan guna mencapai tujuan yang ditentukan.4 Maksud atau tujuan yang ingin dicapai melalui metode (cara) terse-but, dalam kaitan ini dan sebagaimana telah dikemukakan
John M.Echols dan Hassan Shadily, Kamus Inggris-Indonesia: An EnglishIndonesian Dictionary, Jakarta : Penerbit Gramedia, cetakan ke 20, 1992, hal.379 2 Loc.cit. 3 Ibid., hal.65 4 Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Jakarta : Penerbit Balai Pustaka, cetakan ke tiga, 1990, hal.580-581 9
1 2 3

terdahulu, adalah kegitan peneli-tian. Apa yang dimaksud dengan penelitian? Sementara penulis memaknai penelitian dengan pemeriksaan atau penyelidikan, misalnya berupa aktifitas pengumpulan, pengolahan, analisis dan penyajian data keilmuan yang dilakukan secara hati-hati, sistematis dan obyektif untuk memecahkan suatu persoalan atau menguji hipotesis guna mengembangkan prinisp-prinsip ilmiah secara umum.5 Dengan mencermati segi kebahasaan tersebut, kiranya dapat dirumuskan pengertian secara utuh, bahwa metodologi penelitian adalah ilmu yang membahas tata cara yang seharusnya ditempuh dalam penyelidikan dan pengembangan ilmu pengetahuan, dilakukan dengan cermat, hati-hati, kritis, logis, dan sistematis, misalnya diawali dari menyusun rancangan ju-dul beserta inti permasalahannya, diikuti studi kepustakaan secara mendalam tentang hal-ihwal terkait dengan itu, kemudian mencari dan mengumpulkan data yang relevan, menyusun dan mengolahnya, menganalisis dan akhirnya menarik kesimpulan, guna memecahkan per-soalan atau menjawab pertanyaan yang diajukan pada rumusan masalah. Tentu saja, banyak variasi pengertian di luar formulasi tersebut, masingmasing bergantung siapa yang menge-mukakan, berlatar belakang keahlian apa, dan melalui sudut pandang mana melihat, mencer- mati, dan merumuskannya. Namun ada sesuatu yang bersifat pasti, bahwa istilah “penelitian” bertumpu pada akar kata teliti, yang biasa dimaknai dengan cermat, saksama, ingat-ingat, dan hati-hati. 6 Artinya, tidak boleh gegabah atau sembarangan dalam melakukan aktifitas keilmuan tersebut, karena dapat mengurangi atau bahkan menggagalkan langkah dan upaya seseorang untuk mencapai kebenaran ilmiah yang diinginkan. Bagi mereka yang baru dalam tahap awal mempelajari ihwal dunia penelitian, sangat penting merenungkan,
5 6

Ibid., hal.920 Loc.cit.

(1)

1 0

misalnya dalam rangka menyusun skripsi. sesuai dengan sistem berfikir ilmiah.849 9 1 0 . Hati-hati.8 tidak grusagrusu (jawa) untuk sekedar cepat selesai. hal. pengambilan sampel jika diperlukan. re artinya perihal. artinya bersungguh-sungguh dan selalu ingat. logis. 7 8 10 11 Ibid.16 Di antara ketiganya. dan berulang-ulang... hal. Cermat. kritis. artinya berurutan. al-bahts-lah yang lebih terkenal dan sering digunakan.Logis. mestilah diatur tata kerja dan urutan langkah operasionalnya. misalnya ketika memilih dan menyusun rumusan mas. Sikap kritis diperlukan. research biasa dimak-nai dengan penyelidikan atau penelitian ilmiah (scientific research). penggeledahan. dalam menyusun rancangan dan melaksanakan penelitian. Dalam bahasa Arab. Sistematis. Antara pembahasan masalah keagamaan (bahstul masail) dan pengkajian ilmu pengetahuan (bahstul ilmi). bahstul masail adalah bagian atau dilakukan dalam rangka kegiatan bahtsul ilmi. dan sis-tematis.507 15 Ibid. hal. pada hakikat-nya tidak berbeda. 1984. Pondok Pesantren al-Munawwir Krapyak.alah atau fokus penelitian.. hal. hal.64 13 12 untuk selanjutnya mencari alternatif kebenarannya.14 Jika re diartikan kembali atau berulang-ulang.Echols dan Hassan Shadily.. Yogyakarta : Unit Pengadaan Buku -buku Ilmiah Keagamaan. dan mengformulasikan judul penelitian ke dalam susunan kalimat yang baik dan benar menurut bahasa ilmiah.165 Ibid. karena sama-sama dilakukan atas dasar dan bertujuan mencapai kebenaran ilmiah. Prinsip berfikir logis diper-lukan..530 Ibid. hal. Selaras dengan alur fikir tersebut. agar terbangun pada dirinya sikap cermat. hal. dan dengan ketajaman analisis ber. penelusuran. misalnya dalam bentuk kata majemuk bahtsul masail (pembahasan berbagai masalah keagamaan). John M. Sikap hati-hati sangat penting. tidak lekas puas atau percaya begitu saja. artinya sesuai dengan prinsip logika. dan search ada-lah pencarian atau penyelidikan. dan benar menurut penalaran10 atau jalan fikiran yang jernih dan lurus.472-473 14 Ibid. mi-salnya ketika mencari. . menentukan pilihan. dalam bahasa Arab digunakan istilah bahstul ilmi. artinya penuh minat dan perhatian.7 tidak sembrono (jawa) dan acakacakan semaunya ketika melakukan penelitian. dalam kemandiriannya sebagai sebuah kata.kata yang sepadan maknanya dengan research atau penelitian adalah albahts.13 se-dangkan search berarti pencarian. Bisa dikatakan. sehingga terlihat jelas tahap-tahapnya dari awal sampai ber-akhir seluruh kegiatan tersebut. misalnya ketika menentukan sumber data. cetakan pertama. teknik pengumpulan dan analisis data penelitian.466 Ibid. yang menurut studi ini adalah muatan rinci dari istilah “teliti” sebagai kata dasar pe-nelitian. Kritis. artinya selalu mempertanyakan sesuatu. al-fahsh.. hal. kiranya perlu diuraikan satupersatu. Kamus Arab-Indonesia al-Munawwir. maka timbul pertanyaan : Mengapa sesuatu harus dicari atau diselidiki berulang-ulang ? Jawabnya : Supaya mencapai keadaan atau memenuhi syarat kete-litian. 9 Sedemikian urgen mematok kegiatan penelitian pada kokohnya kesadaran untuk ber-pegang-teguh pada sifat dan sikap “teliti” dalam melakukan segala hal yang terkait dengan-nya. lagi. tesis. mengingat fungsinya amat sentral dalam memberi arah bagi seluruh aktifitas keilmuan tersebut. dapat pula dicermati dari penggunaan kata “research” 12 menurut perbendaharaan bahasa Inggris. padahal hasilnya jelek sekali.mencamkan dan menginternalisasi kai-dah pokok tersebut..cit. Bagaimana memaknai kata “teliti” dengan rincian pengertian sebagaimana tersebut di atas. masuk akal.301 9 Ibid. jenis instrumen yang dipakai. kembali. Selaras dengan itu. Op.11 Contoh... dengan cara yang diatur baik-baik. hati-hati. biasa diartikan dengan pemeriksaan atau penyelidikan. pe-nyelidikan. dan al-taftis.467 Ibid. pengejaran.nya.15 yang hanya berhasil manakala dilakukan dengan penuh ketelitian. hal. atau disertasi. dan penelitian. pemeriksaan. dan juga istilah bahtsul ilmi (pembahasan atau pengkajian ilmu pengetahuan).480 16 Ahmad Warson Munawwir. hal. maka untuk menyebut aktifitas keilmuan se-perti dalam wujud research atau penelitian di perguruan tinggi. Dalam format terpisah.usaha mencermati dan menemukan titik kesalahan.

42 19 John M. atau berlandaskan ilmu dan untuk pengembangan ilmu. mengelompokkan atas dasar ciri khas masing-masing. Op. 9 17 18 setiap langkah pengkajian dan pengembang-an ilmu pengetahuan. ilmu tentang cara atau prosedur melakukan penelitian. Lagi-lagi akar katanya juga tetap ilmu. tembaga.. edited by J. kata al-bahts mengandung pengertian sangat luas dan mendalam. al-Munjid : Fi al-Lughah wa al. pasir. 225. seek. maka ditemukanlah aneka jenis benda seperti biji batu. hal.635 22 John M. bukan saja mengarah pada ter-simpulnya sikap teliti sebagai prasyarat utama dalam aktifitas penelitian. search. 330. Sementara menurut fungsi po-koknya. Op. Akhirnya dapat ditarik pemahaman lanjut.cit. mencari. 578.Echols & Hassan Shadily. dan biasa dimaknai : sesuatu yang terkait dengan. bisa disusun pengertian bahwa penelitian ilmiah merupakan penelitian dalam bidang ilmu dan dilakukan secara atau dengan metodologi keilmuan. Mirip dengan pencermatan tersebut. Beirut. artinya melihat-lihat. bahwa penelitian ilmiah adalah pe-nyelidikan atau pengkajian tentang 20 21 Ahmad Warson Munawwir. dan emas. London : Penerbit Macdonald & Evans Ltd. maka posisinya adalah sebagai ilmu. Lobanon : Penerbit Dar al-Masyriq. 1986.A’lam. tulisan (ejaan) aslinya ‘ilmiyyah dengan huruf ya’ dobel (tasydid). cetakan ke dua puluh delapan. Dalam formulasi kalimat berbahasa Arab dinyatakan al-bahts bima’na hafara al-syaia fi al-ardhi aw thalabaha tahta al-turab. perak. menelusuri. besi. rasional kiranya jika dunia pendidikan tinggi Islam menempatkan bahts al-‘ilmi sebagai padanan istilah berbahasa Arab bagi semua bentuk kegiatan ilmiah. ilmiah merupakan kata jadian dari ‘lmu. meneliti. explore. Atas dasar itulah. Atas dasar itu. bersifat. 510. menjelajahi.cit. mendiskusikan. Kalau dicermati. mengenai. kemudian mengambil dan memanfaat-kannya untuk keperluan tertentu. melainkan lebih jauh lagi menunjukkan betapa erat kaitannya dengan Louis Ma’luf. Op.” demikian pula istilah “penelitian ilmiah.20 Dalam bahasa Inggris. dikenal istilah scientific. masuk akal kira-nya jika dalam kehidupan akademis dikenal sebutan “metodologi ilmiah. lalu dikelompokkan. have a talk about. dipilah. kurang-lebih tersimpul dalam ungkapan “dengan ilmu dan untuk ilmu. sehingga pembahasan tentangnya pastilah merujuk pada apa esensi atau hakikat ilmu.” Maksudnya.22 Jadi.” Kata “ilmiah” berasal dari bahasa Arab. masingmasing dicermati sifat dan ciri khasnya. memeriksa.21 artinya bersifat atau secara keilmuan. hal.Echols & Hassan Shadily.. to discuss a subject or question. kemudian diambil dan dimanfaatkan sebagai barang berharga yang dihasilkan dari penggalian atau pe-nambangan tersebut. 186. Jelas kiranya. menguji. menyelidiki. meng-analisisnya dengan penuh semangat dan berhati-hati.” Karena posisi dan fungsinya terkait erat dengan ihwal penyelidikan dan pengembangan ilmu. to do research. timah.Menurut tradisi keilmuan Islam. hal.365.19 Bertambah jelas melalui rangkaian kata-kata itu.27 18 Hans Wehr. Maka berarti. to investigate. mengidentifikasi satu-persatu. ilmu penelitian tersebut dipergunakan sebagai acuan atau pegangan teoritis dan sa-rana ilmiah untuk mengkaji serta mengembangkan ilmu. 221. and to dis-cuss together. 1974. mirip aktifitas pertambangan dewasa ini. 480. dan dipilih sesuai kebutuhan. hal. dalam pengertian ini tampak adanya upaya mencari sesuatu. metodologi penelitian itu pada hakikatnya adalah “ilmu tentang tata cara pengembangan ilmu. atau berdasar ilmu. mempelajari. menemukan.1037 Hans Wehr. examine. termasuk riset atau penelitian. unsur ketelitian memegang peranan sangat menentukan bagi keberhasilan jenis pekerjaan seperti itu. bahwa posisi dan fungsi metodologi peneli-tian bagi aktifitas atau dunia ilmiah. mengusut. 363. to have a discussion. berwujud eksplorasi aneka jenis benda. study.504 1 0 . sumber lain mengartikan al-bahts dalam bentuk kata kerja dengan to look about.Milton Cowan. ketika metodologi penelitian didudukkan sebagai obyek kajian ilmiah dan menghasilkan sistem pe-ngetahuan yang tertata secara logis dan sistematis.. 507. Maka dapat dirumuskan formulasi yang lebih mencakup unsurunsur pokoknya. hal. bahwa kandungan manka al-bahts mencakup wilayah sedemikian luas.cit. A Dictionary of Modern Written Arabic.. hal. dan membahas bersama-sama. Bisa disebut.17 artinya menggali sesuatu di dalam perut bumi atau mencarinya di celah-celah tumpukan debu (tanah). Op. karena berasal dari gambaran seseorang yang tengah menggali tanah sampai kedalaman tertentu.cit. cetakan ke tiga. membicarakan.

otomatis menga-rah dan berujung pada silang pendapat mengenai ukuran atau kriteria apakah sesuatu termasuk kategori ilmiah atau bukan ilmiah. dan cara memperoleh serta mengembangkannya bagaimana. maka dalam aktifitas pengkajian atau penelitian ilmiah dapat ditempuh observasi (pengamatan) langsung dengan indera atau memakai peralatan tertentu. cetakan ke enam. Pandangan yang lebih moderat menyatakan. beralasan karena obyek kajian atau penelitiannya adalah benda-benda fisik yang mempunyai keserupaan sifat antara satu sama lain misalnya dalam hal bentuk dan struktur. digunakan rumus sta-tistika sedemikian rupa. Bahwa istilah ilmiah. kha-yalan. tempat. tak ada yang tetap kecuali perubahan tanpa henti itu sendiri. maka dalam hal seperti inilah perbedaan atau malah pertikaian faham terjadi. besar-kecil. kepastian datanya dicatat dalam wujud angka-angka. sehingga mustahil atau minimal sulit sekali untuk diobservasi kepastikan pola tingkah lakunya. sehingga laik diandalkan hasil finalnya dan diyakini serta dipegang-teguh sebagai kebenaran ilmiah. hal. ilmu eksakta atau ilmu pasti. bisa di-ukur panjang-lebar. antara keadaan zaman dahulu yang diliputi kesederhanaan dan realitas zaman sekarang yang penuh kemajuan. kelompok ilmuwan yang membatasi pengertian ilmu hanya pada pengetahuan yang tersusun secara logis dan sistematis tentang benda-benda alam yang bersifat tetap. atau yang dikenal sebagai ilmu eksakta.. mengenai ilmu atau sesuatu yang terkait dengan il-mu. Jakarta : Penerbit Gramedia. Perselisihan faham tentang apa itu ilmu. kelompok il-muwan yang selain mengakui ilmu eksakta. seperti batu. Ke tiga. Ibid. angan-angan. namun tidak berarti kehadiran dan penggunaannya telah diterima sebagai kesepakatan tuntas di kalangan semua ilmuwan. dikelompokkan.7-8 24 Deobold B. yakni pengetahuan yang tersusun secara logis dan sistematis tentang wahyu Tuhan dan perwujud-annya dalam kehidupan manusia. secara lambat laun ilmu-ilmu sosial ber. artinya berkenaan atau terterkait dengan ilmu dan diwujudkan atas dasar kaidah atau prinsip-prinsip keilmuan. juga mengakui keberadaan ilmu agama. logis. Di antara me-reka berpendapat.Suriasumantri. Kelompok yang cenderung hanya mengakui keberadaan ilmu alam.23 Atas dasar itu. hal. 1985. dalam arti sama saja kejadiannya di mana dan kapanpun juga. Tentang Hakekat Ilmu. Ke dua. kaidah atau prinsi-prinsip keilmuan. yakni pengetahuan yang tersusun secara logis dan sistematis tentang prilaku manusia sebagai individu maupun kelompok. Ilmu-ilmu Alam dan Ilmu-ilmu Sosial : Beberapa Perbedaan. cita-cita. hatihati. apalagi ilmu agama. dengan ciri khas terjadinya perubahan menurut perbe-daan waktu. terus berubah-ubah. dan sistematis atas dasar prosedur. bahwa ilmu-ilmu sosial takkan pernah menjadi ilmu dalam arti yang sepe-nuhnya. yang memiliki perasaan. dalam Jujun S. cakupannya menyangkut bidang apa saja.Suriasumantri. dan gejalanya memiliki pola yang te-tap dengan urut-urutan kejadian yang sama. karena cenderung berbeda antara kejadian di suatu tempat dengan tempat yang lain. sesekali bergembira dan di saat lain sedih luar biasa. atau ditimbang beratnya. cenderung meragukan atau bahkan menolak kebenaran dan keterandalan ilmu-ilmu sosial. Pertama. tidak ada yang membantah atau mempermasalahkannya.24 Di antara argumentasinya. ciri-ciri atau kriterianya apa.dak mengalami perubahan dalam jangka waktu tertentu.” khususnya bagi dunia akademis di perguruan tinggi. besi dan air.ilmu. tanah. ti.134 1 0 23 9 . dalam Jujun S.kembang juga meskipun tak akan mencapai derajat keilmuan seperti apa yang dicapai ilmu-ilmu alam. sangat berat kiranya Jujun Suriasumantri. dikumpulkan terus sampai berjumlah cukup atau bahkan sangat banyak. untuk pada akhirnya ditarik kesimpulan dalam bentuk generalisasi yang berlaku secara umum. mengenai apa yang dimaksud dengan ilmu. humaniora. Ada tiga kelompok pandangan ilmuwan tentang definisi atau batasan ilmu. dan sebagainya. kemauan. Para ahli ilmu eksakta kelompok tersebut. juga dilakukan eksperimen secara bebas tanpa hambatan. dilakukan secara cermat.Van Dalen. obyek kajian ilmu-ilmu sosial adalah kehidupan ma-nusia sebagai makhluk multi dimensi. tidak berubah-ubah. Akan tetapi. dapat dicek ketepatan dan diulangulang penelitiannya oleh fihak lain yang ingin membukti-kan atau mengujinya. juga memegangi kebenaran ilmu sosial dan hu-maniora. Mengingat kenyataan de-mikian. Ilmu Dalam Perspektif : Sebuah Kumpulan Karangan Tentang Hakekat Ilmu. Begitu terkesan anggun dan wibawanya kata “ilmiah. kelompok ilmuwan yang selain memandang penting ilmu eksakta dan sosial (humaniora). kritis. dipilah-pilah dan dianalisis sesuai landasan teorinya.

para ahli ilmu sosialpun banyak yang meragukan kebenaran dan posisinya sebagai ilmu. neraka dan seterusnya. maupun agama. mengingat toh kenyataannya di samping berbagai jenis keilmuan yang lain. dunia ma-upun akhirat. yang telah bergulat di bi-dang ilmu dan melahirkan ribuan 25 25 sarjana dengan karya tulis final masing-masing dalam bentuk skripsi sarjana. wasilahnya tidak bisa lain kecuali membangun keseimbangan tuntas dalam hal penguasaan dan pemanfaatan semua jenis ilmu : eksakta. Terhadap ilmu agama lebih-lebih. sesungguhnya bukanlah persoalan gampang. sehingga muncul anggapan kurang atau bahkan tidak memenuhi syarat sebagai ilmu yang benar-benar ilmiah. apa itu hakikat ilmu dan kegiatan ilmiah. itu tidak termasuk ilmu. dan aneka jenis makanan yang melimpah.untuk memperoleh kepastian data ilmu-ilmu sosial misalnya da-lam wujud angka-angka statistika. untuk mencapai kebahagiaan hidup secara hakiki di dunia dan seka-ligus di akhirat. tesis magister. Di antara mereka ada yang menyatakan. minimal oleh kalangan yang meyakininya ? Kalau pandangan seperti ini diterima. menghi-dupkan ilmu-ilmu keagamaan. sosial. misalnya untuk membangun ge-dung megah. dalam ilmu-ilmu keagamaan ada yang namanya tuhan. humaniora. lalu dengan serta-merta dinyatakan sebagai bukan ilmu dan hasil jerih payah kerja ilmuwannya dikategorikan tidak ilmiah ? Bukankah ilmu-ilmu keagamaan juga diperlukan untuk mencapai kesejahteraan hi-dup. bahkan disertasi doktor. sebaliknya terhindar dari permusuhan dan tindak kekerasan katakanlah. mengingat di dalamnya mengandung kerumitan seperti terlihat di atas. ilmu syari’ah (hukum kehidupan). Sementara. sulit meng-analisis guna memperoleh keterandalan hasilnya. Bagaimana men-ciptakan tata kehidupan yang indah dan tenteram di masyarakat. dan verifikatif. Jadi. bahkan menulis sebuah kitab berjudul Ihya ‘Ulum al-Din. il-mu tarbiyah (pendidikan) dan sebagainya. Logiskah semisal Perguruan Tinggi Islam. L.lam predikat bukan ilmuwan ? Walhasil. sangat memerlukan dukungan ilmu sosial dan humaniora. harus dinyatakan sebagai bukan ilmu. pengetahuan atau lebih tepatnya keyakinan yang sifatnya dogmatis atau terlalu spekulatif. Untuk mem-peroleh jalan keluar.Wilardjo. Imam alGhazali. pastilah menimbulkan persoalan di kalangan fihak-fihak yang menekuni aneka bidang keilmuan khususnya di lingkungan Perguruan Ting-gi yang berlabel keagamaan. dikembalikan saja titik berangkatnya pada fungsi utama ilmu sebagai wahana kesejahteraan hidup manusia seutuhnya : material-spiritual. dengan program Tri Dharmanya ( pendidikan. dengan begitu saja dikategori-kan sebagai institusi non ilmiah ? Juga. yang tidak mung-kin diobservai langsung atau melalui alat manapun oleh seorang ilmuwan. Akibatnya. jelas tidak mungkin perwujudan-nya ditempuh melalui pendayagunaan ilmu eksakta semata. surga. keyakinan. ada yang bernama ilmu ‘aqidah (keyakinan). Tanggung Jawab Sosial Seorang Ilmuwan. akhirat.laikkah memasukkan tokoh sekaliber al-Ghazali ke da. Semuanya adalah ilmu. apalagi jika aspek kajiannya menyangkut suasana kejiwaan yang begitu abstrak dan bersifat sangat pribadi atau sarat kerahasiaan. Dalam perspektif keseimbangan semacam ini. kendaraan mewah. Apakah karena obyek kajiannya ada yang bersifat abstrak dan tidak tersentuh indera. juga melakukan generalisasi yang berlaku secara umum. Majalah Pustaka. seorang failosuf dan ilmuwan yang sangat terkenal itu. bukan sekedar kalangan ilmuwan eksakta yang cen-derung kukuh menolaknya. dan berdasarkan metodologi yang boleh jadi agak berbeda karena memang obyek kajiannya tidak sama. dan pengabdian masyarakat). lahir dan batin. penelitian. Padahal jelas. memiliki keharusan untuk terus meningkatkan kualitas dan keterandalan ilmiah masing-masing. deduktif. bahwa pengetahuan yang di-peroleh manusia tanpa melewati daur hipotetik. nomor 9 1 0 .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful