APLIKASI FILSAFAT ILMU DALAM METODOLOGI PENELITIAN

============================ Oleh : Prof.Dr.H.Imam Bawani,MA Kata metodologi berasal dari perbendaharaan bahasa Inggris methodology,1 gabungan dari method yang berarti cara dan logy atau logos (latin) artinya ilmu. Berarti, metodologi adalah ilmu yang membicarakan tentang cara, maksudnya cara melakukan sesuatu. Karena terkait dengan bagaimana “cara melakukan,” maka sesuatu tersebut pastilah berwujud pekerjaan, aktifitas atau kegiatan, dalam hal ini penelitian. Jadi, bagaimana cara melakukan pene-litian dengan baik dan membuahkan hasil maksimal, itulah yang menjadi fokus pembicaraan metodologi. Dan memang, prosedur atau tata cara yang harus ditempuh sebagai dimaksud, bu-kanlah sesuatu yang mudah, atau dengan sertamerta bisa dijalani oleh siapa saja tanpa per-siapan dan bekal apapun. Melainkan, untuk dapat melakukan penelitian dengan baik, perlu didukung oleh pengetahuan serta ketrampilan yang tersusun secara logis dan sistematis, dipel-ajari dengan penuh minat dan kesungguhan. Karena memenuhi sifat dan syarat demikian itu-lah, maka pengetahuan dan ketrampilan tentang tata cara melakukan penelitian, dikenal de-ngan sebutan logos atau ilmu. Dalam khazanah bahasa Indonesia, kata metode diartikan sebagai cara yang teratur dan terfikir baik-baik untuk mencapai maksud tertentu seperti di bidang ilmu pengetahuan, atau cara kerja yang bersistem untuk memudahkan pelaksanaan suatu kegiatan guna mencapai tujuan yang ditentukan.4 Maksud atau tujuan yang ingin dicapai melalui metode (cara) terse-but, dalam kaitan ini dan sebagaimana telah dikemukakan
John M.Echols dan Hassan Shadily, Kamus Inggris-Indonesia: An EnglishIndonesian Dictionary, Jakarta : Penerbit Gramedia, cetakan ke 20, 1992, hal.379 2 Loc.cit. 3 Ibid., hal.65 4 Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Jakarta : Penerbit Balai Pustaka, cetakan ke tiga, 1990, hal.580-581 9
1 2 3

terdahulu, adalah kegitan peneli-tian. Apa yang dimaksud dengan penelitian? Sementara penulis memaknai penelitian dengan pemeriksaan atau penyelidikan, misalnya berupa aktifitas pengumpulan, pengolahan, analisis dan penyajian data keilmuan yang dilakukan secara hati-hati, sistematis dan obyektif untuk memecahkan suatu persoalan atau menguji hipotesis guna mengembangkan prinisp-prinsip ilmiah secara umum.5 Dengan mencermati segi kebahasaan tersebut, kiranya dapat dirumuskan pengertian secara utuh, bahwa metodologi penelitian adalah ilmu yang membahas tata cara yang seharusnya ditempuh dalam penyelidikan dan pengembangan ilmu pengetahuan, dilakukan dengan cermat, hati-hati, kritis, logis, dan sistematis, misalnya diawali dari menyusun rancangan ju-dul beserta inti permasalahannya, diikuti studi kepustakaan secara mendalam tentang hal-ihwal terkait dengan itu, kemudian mencari dan mengumpulkan data yang relevan, menyusun dan mengolahnya, menganalisis dan akhirnya menarik kesimpulan, guna memecahkan per-soalan atau menjawab pertanyaan yang diajukan pada rumusan masalah. Tentu saja, banyak variasi pengertian di luar formulasi tersebut, masingmasing bergantung siapa yang menge-mukakan, berlatar belakang keahlian apa, dan melalui sudut pandang mana melihat, mencer- mati, dan merumuskannya. Namun ada sesuatu yang bersifat pasti, bahwa istilah “penelitian” bertumpu pada akar kata teliti, yang biasa dimaknai dengan cermat, saksama, ingat-ingat, dan hati-hati. 6 Artinya, tidak boleh gegabah atau sembarangan dalam melakukan aktifitas keilmuan tersebut, karena dapat mengurangi atau bahkan menggagalkan langkah dan upaya seseorang untuk mencapai kebenaran ilmiah yang diinginkan. Bagi mereka yang baru dalam tahap awal mempelajari ihwal dunia penelitian, sangat penting merenungkan,
5 6

Ibid., hal.920 Loc.cit.

(1)

1 0

Bagaimana memaknai kata “teliti” dengan rincian pengertian sebagaimana tersebut di atas. hal. dalam menyusun rancangan dan melaksanakan penelitian. Prinsip berfikir logis diper-lukan. pada hakikat-nya tidak berbeda.. atau disertasi. dengan cara yang diatur baik-baik. tidak lekas puas atau percaya begitu saja. 9 Sedemikian urgen mematok kegiatan penelitian pada kokohnya kesadaran untuk ber-pegang-teguh pada sifat dan sikap “teliti” dalam melakukan segala hal yang terkait dengan-nya. padahal hasilnya jelek sekali. Pondok Pesantren al-Munawwir Krapyak. penggeledahan.14 Jika re diartikan kembali atau berulang-ulang. John M.Echols dan Hassan Shadily. Kamus Arab-Indonesia al-Munawwir. artinya berurutan. masuk akal. dan berulang-ulang. hal. hal. pengejaran.. Yogyakarta : Unit Pengadaan Buku -buku Ilmiah Keagamaan.7 tidak sembrono (jawa) dan acakacakan semaunya ketika melakukan penelitian. al-bahts-lah yang lebih terkenal dan sering digunakan. mestilah diatur tata kerja dan urutan langkah operasionalnya. Hati-hati. Antara pembahasan masalah keagamaan (bahstul masail) dan pengkajian ilmu pengetahuan (bahstul ilmi). misalnya ketika menentukan sumber data. jenis instrumen yang dipakai.Logis. hal. re artinya perihal. kembali.11 Contoh. 7 8 10 11 Ibid. misalnya ketika memilih dan menyusun rumusan mas. Dalam format terpisah. 1984. mengingat fungsinya amat sentral dalam memberi arah bagi seluruh aktifitas keilmuan tersebut. sehingga terlihat jelas tahap-tahapnya dari awal sampai ber-akhir seluruh kegiatan tersebut. hal. yang menurut studi ini adalah muatan rinci dari istilah “teliti” sebagai kata dasar pe-nelitian.. biasa diartikan dengan pemeriksaan atau penyelidikan.cit.467 Ibid. Kritis.16 Di antara ketiganya.64 13 12 untuk selanjutnya mencari alternatif kebenarannya. hal. dan search ada-lah pencarian atau penyelidikan.13 se-dangkan search berarti pencarian.kata yang sepadan maknanya dengan research atau penelitian adalah albahts. hal. maka timbul pertanyaan : Mengapa sesuatu harus dicari atau diselidiki berulang-ulang ? Jawabnya : Supaya mencapai keadaan atau memenuhi syarat kete-litian. agar terbangun pada dirinya sikap cermat. logis. misalnya dalam bentuk kata majemuk bahtsul masail (pembahasan berbagai masalah keagamaan). dan benar menurut penalaran10 atau jalan fikiran yang jernih dan lurus. tesis. dapat pula dicermati dari penggunaan kata “research” 12 menurut perbendaharaan bahasa Inggris. Sikap hati-hati sangat penting. pemeriksaan. research biasa dimak-nai dengan penyelidikan atau penelitian ilmiah (scientific research).alah atau fokus penelitian. pengambilan sampel jika diperlukan.nya. hal. Bisa dikatakan. Selaras dengan alur fikir tersebut. artinya bersungguh-sungguh dan selalu ingat. Dalam bahasa Arab. Sikap kritis diperlukan. artinya penuh minat dan perhatian. bahstul masail adalah bagian atau dilakukan dalam rangka kegiatan bahtsul ilmi. dalam bahasa Arab digunakan istilah bahstul ilmi. dan penelitian.. al-fahsh. dan al-taftis. dan dengan ketajaman analisis ber.. teknik pengumpulan dan analisis data penelitian. Sistematis.15 yang hanya berhasil manakala dilakukan dengan penuh ketelitian.472-473 14 Ibid. mi-salnya ketika mencari..480 16 Ahmad Warson Munawwir..507 15 Ibid.165 Ibid. pe-nyelidikan.530 Ibid.8 tidak grusagrusu (jawa) untuk sekedar cepat selesai. karena sama-sama dilakukan atas dasar dan bertujuan mencapai kebenaran ilmiah. misalnya dalam rangka menyusun skripsi. lagi. cetakan pertama. hal.usaha mencermati dan menemukan titik kesalahan. dan mengformulasikan judul penelitian ke dalam susunan kalimat yang baik dan benar menurut bahasa ilmiah. artinya selalu mempertanyakan sesuatu. menentukan pilihan. kritis.466 Ibid. Selaras dengan itu. maka untuk menyebut aktifitas keilmuan se-perti dalam wujud research atau penelitian di perguruan tinggi.. kiranya perlu diuraikan satupersatu. Op.849 9 1 0 . .301 9 Ibid. artinya sesuai dengan prinsip logika. dan sis-tematis. hal. sesuai dengan sistem berfikir ilmiah. penelusuran. Cermat. dan juga istilah bahtsul ilmi (pembahasan atau pengkajian ilmu pengetahuan).mencamkan dan menginternalisasi kai-dah pokok tersebut.. hati-hati. dalam kemandiriannya sebagai sebuah kata.

mengelompokkan atas dasar ciri khas masing-masing. dan membahas bersama-sama. menjelajahi. Op. maka ditemukanlah aneka jenis benda seperti biji batu. kemudian mengambil dan memanfaat-kannya untuk keperluan tertentu. 363. hal. cetakan ke tiga. kemudian diambil dan dimanfaatkan sebagai barang berharga yang dihasilkan dari penggalian atau pe-nambangan tersebut. artinya melihat-lihat. sehingga pembahasan tentangnya pastilah merujuk pada apa esensi atau hakikat ilmu. Bisa disebut. menguji. and to dis-cuss together. termasuk riset atau penelitian. Mirip dengan pencermatan tersebut. hal. tulisan (ejaan) aslinya ‘ilmiyyah dengan huruf ya’ dobel (tasydid). hal. kata al-bahts mengandung pengertian sangat luas dan mendalam. bahwa posisi dan fungsi metodologi peneli-tian bagi aktifitas atau dunia ilmiah. 225. Op. bahwa penelitian ilmiah adalah pe-nyelidikan atau pengkajian tentang 20 21 Ahmad Warson Munawwir. ilmu tentang cara atau prosedur melakukan penelitian.365. 186. dalam pengertian ini tampak adanya upaya mencari sesuatu. masuk akal kira-nya jika dalam kehidupan akademis dikenal sebutan “metodologi ilmiah.cit.Echols & Hassan Shadily. bisa disusun pengertian bahwa penelitian ilmiah merupakan penelitian dalam bidang ilmu dan dilakukan secara atau dengan metodologi keilmuan. masingmasing dicermati sifat dan ciri khasnya.cit. ilmiah merupakan kata jadian dari ‘lmu. mengidentifikasi satu-persatu. 221. Kalau dicermati.20 Dalam bahasa Inggris.” Maksudnya. tembaga. timah. Maka berarti.Echols & Hassan Shadily. metodologi penelitian itu pada hakikatnya adalah “ilmu tentang tata cara pengembangan ilmu. 510. ketika metodologi penelitian didudukkan sebagai obyek kajian ilmiah dan menghasilkan sistem pe-ngetahuan yang tertata secara logis dan sistematis. Lagi-lagi akar katanya juga tetap ilmu. menelusuri.. kurang-lebih tersimpul dalam ungkapan “dengan ilmu dan untuk ilmu. search. to investigate.. meneliti. mencari.19 Bertambah jelas melalui rangkaian kata-kata itu. ilmu penelitian tersebut dipergunakan sebagai acuan atau pegangan teoritis dan sa-rana ilmiah untuk mengkaji serta mengembangkan ilmu. menyelidiki. Akhirnya dapat ditarik pemahaman lanjut. 507. Maka dapat dirumuskan formulasi yang lebih mencakup unsurunsur pokoknya. 1986. membicarakan.cit. melainkan lebih jauh lagi menunjukkan betapa erat kaitannya dengan Louis Ma’luf. mengusut. maka posisinya adalah sebagai ilmu. dan biasa dimaknai : sesuatu yang terkait dengan.21 artinya bersifat atau secara keilmuan. mendiskusikan. bahwa kandungan manka al-bahts mencakup wilayah sedemikian luas. dikenal istilah scientific.cit. memeriksa. hal. al-Munjid : Fi al-Lughah wa al. Jelas kiranya.” Karena posisi dan fungsinya terkait erat dengan ihwal penyelidikan dan pengembangan ilmu. mempelajari. Dalam formulasi kalimat berbahasa Arab dinyatakan al-bahts bima’na hafara al-syaia fi al-ardhi aw thalabaha tahta al-turab. 1974. rasional kiranya jika dunia pendidikan tinggi Islam menempatkan bahts al-‘ilmi sebagai padanan istilah berbahasa Arab bagi semua bentuk kegiatan ilmiah. study. cetakan ke dua puluh delapan. Lobanon : Penerbit Dar al-Masyriq. atau berdasar ilmu. examine. edited by J. dan emas. Atas dasar itulah.” demikian pula istilah “penelitian ilmiah.635 22 John M. London : Penerbit Macdonald & Evans Ltd. bersifat.Milton Cowan. seek. Beirut. Op. menemukan. 9 17 18 setiap langkah pengkajian dan pengembang-an ilmu pengetahuan. Op. Atas dasar itu. sumber lain mengartikan al-bahts dalam bentuk kata kerja dengan to look about. mirip aktifitas pertambangan dewasa ini. 578.22 Jadi. unsur ketelitian memegang peranan sangat menentukan bagi keberhasilan jenis pekerjaan seperti itu.42 19 John M. 330.. berwujud eksplorasi aneka jenis benda.504 1 0 . pasir. hal. 480. lalu dikelompokkan.1037 Hans Wehr.17 artinya menggali sesuatu di dalam perut bumi atau mencarinya di celah-celah tumpukan debu (tanah). bukan saja mengarah pada ter-simpulnya sikap teliti sebagai prasyarat utama dalam aktifitas penelitian. explore. to do research. besi. hal. perak. dan dipilih sesuai kebutuhan. mengenai.” Kata “ilmiah” berasal dari bahasa Arab.Menurut tradisi keilmuan Islam. dipilah. meng-analisisnya dengan penuh semangat dan berhati-hati. A Dictionary of Modern Written Arabic.. have a talk about.A’lam. karena berasal dari gambaran seseorang yang tengah menggali tanah sampai kedalaman tertentu. to have a discussion. atau berlandaskan ilmu dan untuk pengembangan ilmu. to discuss a subject or question. Sementara menurut fungsi po-koknya.27 18 Hans Wehr.

artinya berkenaan atau terterkait dengan ilmu dan diwujudkan atas dasar kaidah atau prinsip-prinsip keilmuan. dan gejalanya memiliki pola yang te-tap dengan urut-urutan kejadian yang sama. Ke tiga. ciri-ciri atau kriterianya apa.23 Atas dasar itu. dengan ciri khas terjadinya perubahan menurut perbe-daan waktu. apalagi ilmu agama. besi dan air. cita-cita. hal. tanah. dikumpulkan terus sampai berjumlah cukup atau bahkan sangat banyak. tidak ada yang membantah atau mempermasalahkannya. atau ditimbang beratnya.24 Di antara argumentasinya. yakni pengetahuan yang tersusun secara logis dan sistematis tentang wahyu Tuhan dan perwujud-annya dalam kehidupan manusia. mengenai apa yang dimaksud dengan ilmu. Ilmu-ilmu Alam dan Ilmu-ilmu Sosial : Beberapa Perbedaan. maka dalam hal seperti inilah perbedaan atau malah pertikaian faham terjadi. besar-kecil. Pertama. yang memiliki perasaan. terus berubah-ubah. logis. juga dilakukan eksperimen secara bebas tanpa hambatan. dapat dicek ketepatan dan diulangulang penelitiannya oleh fihak lain yang ingin membukti-kan atau mengujinya.dak mengalami perubahan dalam jangka waktu tertentu. Ibid. dalam arti sama saja kejadiannya di mana dan kapanpun juga. dan sistematis atas dasar prosedur. humaniora. kelompok ilmuwan yang membatasi pengertian ilmu hanya pada pengetahuan yang tersusun secara logis dan sistematis tentang benda-benda alam yang bersifat tetap. dan sebagainya. dipilah-pilah dan dianalisis sesuai landasan teorinya. kepastian datanya dicatat dalam wujud angka-angka. Mengingat kenyataan de-mikian. hatihati. seperti batu. dikelompokkan. digunakan rumus sta-tistika sedemikian rupa. otomatis menga-rah dan berujung pada silang pendapat mengenai ukuran atau kriteria apakah sesuatu termasuk kategori ilmiah atau bukan ilmiah. juga memegangi kebenaran ilmu sosial dan hu-maniora. Jakarta : Penerbit Gramedia.kembang juga meskipun tak akan mencapai derajat keilmuan seperti apa yang dicapai ilmu-ilmu alam. angan-angan. ti. kha-yalan. Ada tiga kelompok pandangan ilmuwan tentang definisi atau batasan ilmu. mengenai ilmu atau sesuatu yang terkait dengan il-mu. Bahwa istilah ilmiah. sehingga mustahil atau minimal sulit sekali untuk diobservasi kepastikan pola tingkah lakunya. dalam Jujun S. bisa di-ukur panjang-lebar. Begitu terkesan anggun dan wibawanya kata “ilmiah. Di antara me-reka berpendapat. juga mengakui keberadaan ilmu agama. Pandangan yang lebih moderat menyatakan. kaidah atau prinsi-prinsip keilmuan.. yakni pengetahuan yang tersusun secara logis dan sistematis tentang prilaku manusia sebagai individu maupun kelompok. cenderung meragukan atau bahkan menolak kebenaran dan keterandalan ilmu-ilmu sosial.” khususnya bagi dunia akademis di perguruan tinggi. Ilmu Dalam Perspektif : Sebuah Kumpulan Karangan Tentang Hakekat Ilmu.7-8 24 Deobold B. maka dalam aktifitas pengkajian atau penelitian ilmiah dapat ditempuh observasi (pengamatan) langsung dengan indera atau memakai peralatan tertentu. Ke dua. bahwa ilmu-ilmu sosial takkan pernah menjadi ilmu dalam arti yang sepe-nuhnya. sesekali bergembira dan di saat lain sedih luar biasa. atau yang dikenal sebagai ilmu eksakta. 1985. tidak berubah-ubah. kemauan. kelompok ilmuwan yang selain memandang penting ilmu eksakta dan sosial (humaniora). Akan tetapi. dilakukan secara cermat. tempat.Van Dalen. beralasan karena obyek kajian atau penelitiannya adalah benda-benda fisik yang mempunyai keserupaan sifat antara satu sama lain misalnya dalam hal bentuk dan struktur. ilmu eksakta atau ilmu pasti.ilmu. Tentang Hakekat Ilmu. karena cenderung berbeda antara kejadian di suatu tempat dengan tempat yang lain. untuk pada akhirnya ditarik kesimpulan dalam bentuk generalisasi yang berlaku secara umum.Suriasumantri. Perselisihan faham tentang apa itu ilmu. sangat berat kiranya Jujun Suriasumantri. obyek kajian ilmu-ilmu sosial adalah kehidupan ma-nusia sebagai makhluk multi dimensi. dan cara memperoleh serta mengembangkannya bagaimana. sehingga laik diandalkan hasil finalnya dan diyakini serta dipegang-teguh sebagai kebenaran ilmiah. Kelompok yang cenderung hanya mengakui keberadaan ilmu alam. antara keadaan zaman dahulu yang diliputi kesederhanaan dan realitas zaman sekarang yang penuh kemajuan.Suriasumantri. Para ahli ilmu eksakta kelompok tersebut. cakupannya menyangkut bidang apa saja. tak ada yang tetap kecuali perubahan tanpa henti itu sendiri. namun tidak berarti kehadiran dan penggunaannya telah diterima sebagai kesepakatan tuntas di kalangan semua ilmuwan.134 1 0 23 9 . hal. kelompok il-muwan yang selain mengakui ilmu eksakta. dalam Jujun S. kritis. cetakan ke enam. secara lambat laun ilmu-ilmu sosial ber.

Terhadap ilmu agama lebih-lebih. bahwa pengetahuan yang di-peroleh manusia tanpa melewati daur hipotetik. sesungguhnya bukanlah persoalan gampang. ilmu syari’ah (hukum kehidupan). seorang failosuf dan ilmuwan yang sangat terkenal itu. kendaraan mewah. Jadi. nomor 9 1 0 . Sementara. Imam alGhazali.Wilardjo.laikkah memasukkan tokoh sekaliber al-Ghazali ke da. sangat memerlukan dukungan ilmu sosial dan humaniora. L. lalu dengan serta-merta dinyatakan sebagai bukan ilmu dan hasil jerih payah kerja ilmuwannya dikategorikan tidak ilmiah ? Bukankah ilmu-ilmu keagamaan juga diperlukan untuk mencapai kesejahteraan hi-dup. keyakinan. minimal oleh kalangan yang meyakininya ? Kalau pandangan seperti ini diterima. Di antara mereka ada yang menyatakan. itu tidak termasuk ilmu.untuk memperoleh kepastian data ilmu-ilmu sosial misalnya da-lam wujud angka-angka statistika. harus dinyatakan sebagai bukan ilmu. apa itu hakikat ilmu dan kegiatan ilmiah. sosial. surga. Untuk mem-peroleh jalan keluar. dan aneka jenis makanan yang melimpah. wasilahnya tidak bisa lain kecuali membangun keseimbangan tuntas dalam hal penguasaan dan pemanfaatan semua jenis ilmu : eksakta. dikembalikan saja titik berangkatnya pada fungsi utama ilmu sebagai wahana kesejahteraan hidup manusia seutuhnya : material-spiritual. Semuanya adalah ilmu. pastilah menimbulkan persoalan di kalangan fihak-fihak yang menekuni aneka bidang keilmuan khususnya di lingkungan Perguruan Ting-gi yang berlabel keagamaan. dengan program Tri Dharmanya ( pendidikan. mengingat di dalamnya mengandung kerumitan seperti terlihat di atas. humaniora. penelitian. untuk mencapai kebahagiaan hidup secara hakiki di dunia dan seka-ligus di akhirat. sehingga muncul anggapan kurang atau bahkan tidak memenuhi syarat sebagai ilmu yang benar-benar ilmiah. menghi-dupkan ilmu-ilmu keagamaan. Padahal jelas. dunia ma-upun akhirat. neraka dan seterusnya. akhirat. maupun agama. jelas tidak mungkin perwujudan-nya ditempuh melalui pendayagunaan ilmu eksakta semata. sebaliknya terhindar dari permusuhan dan tindak kekerasan katakanlah. Dalam perspektif keseimbangan semacam ini. Tanggung Jawab Sosial Seorang Ilmuwan. Logiskah semisal Perguruan Tinggi Islam. il-mu tarbiyah (pendidikan) dan sebagainya. Majalah Pustaka. para ahli ilmu sosialpun banyak yang meragukan kebenaran dan posisinya sebagai ilmu. yang telah bergulat di bi-dang ilmu dan melahirkan ribuan 25 25 sarjana dengan karya tulis final masing-masing dalam bentuk skripsi sarjana. Apakah karena obyek kajiannya ada yang bersifat abstrak dan tidak tersentuh indera. juga melakukan generalisasi yang berlaku secara umum. ada yang bernama ilmu ‘aqidah (keyakinan). bahkan disertasi doktor. apalagi jika aspek kajiannya menyangkut suasana kejiwaan yang begitu abstrak dan bersifat sangat pribadi atau sarat kerahasiaan. misalnya untuk membangun ge-dung megah. yang tidak mung-kin diobservai langsung atau melalui alat manapun oleh seorang ilmuwan. memiliki keharusan untuk terus meningkatkan kualitas dan keterandalan ilmiah masing-masing. mengingat toh kenyataannya di samping berbagai jenis keilmuan yang lain. dan berdasarkan metodologi yang boleh jadi agak berbeda karena memang obyek kajiannya tidak sama. Akibatnya. lahir dan batin. tesis magister. dalam ilmu-ilmu keagamaan ada yang namanya tuhan. bahkan menulis sebuah kitab berjudul Ihya ‘Ulum al-Din.lam predikat bukan ilmuwan ? Walhasil. deduktif. dan pengabdian masyarakat). dengan begitu saja dikategori-kan sebagai institusi non ilmiah ? Juga. bukan sekedar kalangan ilmuwan eksakta yang cen-derung kukuh menolaknya. Bagaimana men-ciptakan tata kehidupan yang indah dan tenteram di masyarakat. dan verifikatif. pengetahuan atau lebih tepatnya keyakinan yang sifatnya dogmatis atau terlalu spekulatif. sulit meng-analisis guna memperoleh keterandalan hasilnya.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful