APLIKASI FILSAFAT ILMU DALAM METODOLOGI PENELITIAN

============================ Oleh : Prof.Dr.H.Imam Bawani,MA Kata metodologi berasal dari perbendaharaan bahasa Inggris methodology,1 gabungan dari method yang berarti cara dan logy atau logos (latin) artinya ilmu. Berarti, metodologi adalah ilmu yang membicarakan tentang cara, maksudnya cara melakukan sesuatu. Karena terkait dengan bagaimana “cara melakukan,” maka sesuatu tersebut pastilah berwujud pekerjaan, aktifitas atau kegiatan, dalam hal ini penelitian. Jadi, bagaimana cara melakukan pene-litian dengan baik dan membuahkan hasil maksimal, itulah yang menjadi fokus pembicaraan metodologi. Dan memang, prosedur atau tata cara yang harus ditempuh sebagai dimaksud, bu-kanlah sesuatu yang mudah, atau dengan sertamerta bisa dijalani oleh siapa saja tanpa per-siapan dan bekal apapun. Melainkan, untuk dapat melakukan penelitian dengan baik, perlu didukung oleh pengetahuan serta ketrampilan yang tersusun secara logis dan sistematis, dipel-ajari dengan penuh minat dan kesungguhan. Karena memenuhi sifat dan syarat demikian itu-lah, maka pengetahuan dan ketrampilan tentang tata cara melakukan penelitian, dikenal de-ngan sebutan logos atau ilmu. Dalam khazanah bahasa Indonesia, kata metode diartikan sebagai cara yang teratur dan terfikir baik-baik untuk mencapai maksud tertentu seperti di bidang ilmu pengetahuan, atau cara kerja yang bersistem untuk memudahkan pelaksanaan suatu kegiatan guna mencapai tujuan yang ditentukan.4 Maksud atau tujuan yang ingin dicapai melalui metode (cara) terse-but, dalam kaitan ini dan sebagaimana telah dikemukakan
John M.Echols dan Hassan Shadily, Kamus Inggris-Indonesia: An EnglishIndonesian Dictionary, Jakarta : Penerbit Gramedia, cetakan ke 20, 1992, hal.379 2 Loc.cit. 3 Ibid., hal.65 4 Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Jakarta : Penerbit Balai Pustaka, cetakan ke tiga, 1990, hal.580-581 9
1 2 3

terdahulu, adalah kegitan peneli-tian. Apa yang dimaksud dengan penelitian? Sementara penulis memaknai penelitian dengan pemeriksaan atau penyelidikan, misalnya berupa aktifitas pengumpulan, pengolahan, analisis dan penyajian data keilmuan yang dilakukan secara hati-hati, sistematis dan obyektif untuk memecahkan suatu persoalan atau menguji hipotesis guna mengembangkan prinisp-prinsip ilmiah secara umum.5 Dengan mencermati segi kebahasaan tersebut, kiranya dapat dirumuskan pengertian secara utuh, bahwa metodologi penelitian adalah ilmu yang membahas tata cara yang seharusnya ditempuh dalam penyelidikan dan pengembangan ilmu pengetahuan, dilakukan dengan cermat, hati-hati, kritis, logis, dan sistematis, misalnya diawali dari menyusun rancangan ju-dul beserta inti permasalahannya, diikuti studi kepustakaan secara mendalam tentang hal-ihwal terkait dengan itu, kemudian mencari dan mengumpulkan data yang relevan, menyusun dan mengolahnya, menganalisis dan akhirnya menarik kesimpulan, guna memecahkan per-soalan atau menjawab pertanyaan yang diajukan pada rumusan masalah. Tentu saja, banyak variasi pengertian di luar formulasi tersebut, masingmasing bergantung siapa yang menge-mukakan, berlatar belakang keahlian apa, dan melalui sudut pandang mana melihat, mencer- mati, dan merumuskannya. Namun ada sesuatu yang bersifat pasti, bahwa istilah “penelitian” bertumpu pada akar kata teliti, yang biasa dimaknai dengan cermat, saksama, ingat-ingat, dan hati-hati. 6 Artinya, tidak boleh gegabah atau sembarangan dalam melakukan aktifitas keilmuan tersebut, karena dapat mengurangi atau bahkan menggagalkan langkah dan upaya seseorang untuk mencapai kebenaran ilmiah yang diinginkan. Bagi mereka yang baru dalam tahap awal mempelajari ihwal dunia penelitian, sangat penting merenungkan,
5 6

Ibid., hal.920 Loc.cit.

(1)

1 0

Bisa dikatakan. al-fahsh. logis. Pondok Pesantren al-Munawwir Krapyak. re artinya perihal.8 tidak grusagrusu (jawa) untuk sekedar cepat selesai. hal. mengingat fungsinya amat sentral dalam memberi arah bagi seluruh aktifitas keilmuan tersebut. dan juga istilah bahtsul ilmi (pembahasan atau pengkajian ilmu pengetahuan). agar terbangun pada dirinya sikap cermat. 9 Sedemikian urgen mematok kegiatan penelitian pada kokohnya kesadaran untuk ber-pegang-teguh pada sifat dan sikap “teliti” dalam melakukan segala hal yang terkait dengan-nya. dan mengformulasikan judul penelitian ke dalam susunan kalimat yang baik dan benar menurut bahasa ilmiah. misalnya ketika menentukan sumber data.480 16 Ahmad Warson Munawwir. dan penelitian. dalam kemandiriannya sebagai sebuah kata. artinya sesuai dengan prinsip logika. hal.alah atau fokus penelitian.15 yang hanya berhasil manakala dilakukan dengan penuh ketelitian..mencamkan dan menginternalisasi kai-dah pokok tersebut. artinya selalu mempertanyakan sesuatu. . karena sama-sama dilakukan atas dasar dan bertujuan mencapai kebenaran ilmiah. yang menurut studi ini adalah muatan rinci dari istilah “teliti” sebagai kata dasar pe-nelitian. biasa diartikan dengan pemeriksaan atau penyelidikan.530 Ibid. mi-salnya ketika mencari.. pe-nyelidikan. masuk akal.. Hati-hati. bahstul masail adalah bagian atau dilakukan dalam rangka kegiatan bahtsul ilmi.7 tidak sembrono (jawa) dan acakacakan semaunya ketika melakukan penelitian.507 15 Ibid. kiranya perlu diuraikan satupersatu.466 Ibid. tidak lekas puas atau percaya begitu saja. sesuai dengan sistem berfikir ilmiah. pengambilan sampel jika diperlukan. maka untuk menyebut aktifitas keilmuan se-perti dalam wujud research atau penelitian di perguruan tinggi. hal. pada hakikat-nya tidak berbeda. 7 8 10 11 Ibid. mestilah diatur tata kerja dan urutan langkah operasionalnya. al-bahts-lah yang lebih terkenal dan sering digunakan. dan dengan ketajaman analisis ber. Cermat. Sikap kritis diperlukan. lagi. hal. John M. research biasa dimak-nai dengan penyelidikan atau penelitian ilmiah (scientific research).. pemeriksaan..11 Contoh. Bagaimana memaknai kata “teliti” dengan rincian pengertian sebagaimana tersebut di atas.Echols dan Hassan Shadily. maka timbul pertanyaan : Mengapa sesuatu harus dicari atau diselidiki berulang-ulang ? Jawabnya : Supaya mencapai keadaan atau memenuhi syarat kete-litian. penggeledahan. dan berulang-ulang. dalam bahasa Arab digunakan istilah bahstul ilmi. dapat pula dicermati dari penggunaan kata “research” 12 menurut perbendaharaan bahasa Inggris. Prinsip berfikir logis diper-lukan. Kamus Arab-Indonesia al-Munawwir. misalnya dalam rangka menyusun skripsi.usaha mencermati dan menemukan titik kesalahan.472-473 14 Ibid. dan sis-tematis. Dalam format terpisah. Yogyakarta : Unit Pengadaan Buku -buku Ilmiah Keagamaan. Op. artinya bersungguh-sungguh dan selalu ingat. Kritis. padahal hasilnya jelek sekali. teknik pengumpulan dan analisis data penelitian. hal..301 9 Ibid. artinya penuh minat dan perhatian. misalnya ketika memilih dan menyusun rumusan mas. pengejaran. sehingga terlihat jelas tahap-tahapnya dari awal sampai ber-akhir seluruh kegiatan tersebut. hal. hal. Selaras dengan itu..16 Di antara ketiganya.13 se-dangkan search berarti pencarian.cit.. kembali. cetakan pertama. tesis. dan benar menurut penalaran10 atau jalan fikiran yang jernih dan lurus. hati-hati.. dalam menyusun rancangan dan melaksanakan penelitian. jenis instrumen yang dipakai. Antara pembahasan masalah keagamaan (bahstul masail) dan pengkajian ilmu pengetahuan (bahstul ilmi). 1984. kritis. misalnya dalam bentuk kata majemuk bahtsul masail (pembahasan berbagai masalah keagamaan). penelusuran. Sistematis. Dalam bahasa Arab. hal. dan al-taftis. hal.kata yang sepadan maknanya dengan research atau penelitian adalah albahts.467 Ibid.Logis. dengan cara yang diatur baik-baik.14 Jika re diartikan kembali atau berulang-ulang. Sikap hati-hati sangat penting. menentukan pilihan. Selaras dengan alur fikir tersebut. dan search ada-lah pencarian atau penyelidikan. artinya berurutan.nya.849 9 1 0 .64 13 12 untuk selanjutnya mencari alternatif kebenarannya. hal.165 Ibid. atau disertasi.

cit. menelusuri.cit.. menguji. rasional kiranya jika dunia pendidikan tinggi Islam menempatkan bahts al-‘ilmi sebagai padanan istilah berbahasa Arab bagi semua bentuk kegiatan ilmiah. dipilah. dan emas. Op.” demikian pula istilah “penelitian ilmiah. artinya melihat-lihat. hal. to do research. mengelompokkan atas dasar ciri khas masing-masing.. bukan saja mengarah pada ter-simpulnya sikap teliti sebagai prasyarat utama dalam aktifitas penelitian. 221. melainkan lebih jauh lagi menunjukkan betapa erat kaitannya dengan Louis Ma’luf. Atas dasar itulah. dalam pengertian ini tampak adanya upaya mencari sesuatu.1037 Hans Wehr. Lobanon : Penerbit Dar al-Masyriq. kemudian diambil dan dimanfaatkan sebagai barang berharga yang dihasilkan dari penggalian atau pe-nambangan tersebut. cetakan ke tiga. hal. atau berdasar ilmu. pasir.. dan membahas bersama-sama. 1974. 510. Mirip dengan pencermatan tersebut. mencari. termasuk riset atau penelitian. metodologi penelitian itu pada hakikatnya adalah “ilmu tentang tata cara pengembangan ilmu. perak. Op. kata al-bahts mengandung pengertian sangat luas dan mendalam.504 1 0 . cetakan ke dua puluh delapan. 507. menyelidiki. Jelas kiranya. kurang-lebih tersimpul dalam ungkapan “dengan ilmu dan untuk ilmu.365. 363. membicarakan. 330.27 18 Hans Wehr.cit. menemukan.” Kata “ilmiah” berasal dari bahasa Arab. and to dis-cuss together. A Dictionary of Modern Written Arabic. to have a discussion. lalu dikelompokkan.19 Bertambah jelas melalui rangkaian kata-kata itu. hal. unsur ketelitian memegang peranan sangat menentukan bagi keberhasilan jenis pekerjaan seperti itu. have a talk about. dan dipilih sesuai kebutuhan. to investigate. Kalau dicermati. bisa disusun pengertian bahwa penelitian ilmiah merupakan penelitian dalam bidang ilmu dan dilakukan secara atau dengan metodologi keilmuan. search. mempelajari. ilmu penelitian tersebut dipergunakan sebagai acuan atau pegangan teoritis dan sa-rana ilmiah untuk mengkaji serta mengembangkan ilmu. Lagi-lagi akar katanya juga tetap ilmu. al-Munjid : Fi al-Lughah wa al. masuk akal kira-nya jika dalam kehidupan akademis dikenal sebutan “metodologi ilmiah.20 Dalam bahasa Inggris. maka posisinya adalah sebagai ilmu.635 22 John M. karena berasal dari gambaran seseorang yang tengah menggali tanah sampai kedalaman tertentu. 578. 225. dan biasa dimaknai : sesuatu yang terkait dengan.Echols & Hassan Shadily. meneliti. hal.17 artinya menggali sesuatu di dalam perut bumi atau mencarinya di celah-celah tumpukan debu (tanah). to discuss a subject or question. ilmiah merupakan kata jadian dari ‘lmu. Op. timah. London : Penerbit Macdonald & Evans Ltd. Akhirnya dapat ditarik pemahaman lanjut. berwujud eksplorasi aneka jenis benda. Maka berarti. sumber lain mengartikan al-bahts dalam bentuk kata kerja dengan to look about. meng-analisisnya dengan penuh semangat dan berhati-hati. edited by J. bahwa penelitian ilmiah adalah pe-nyelidikan atau pengkajian tentang 20 21 Ahmad Warson Munawwir. hal. dikenal istilah scientific. memeriksa. 480. explore. Dalam formulasi kalimat berbahasa Arab dinyatakan al-bahts bima’na hafara al-syaia fi al-ardhi aw thalabaha tahta al-turab. menjelajahi. study. bahwa posisi dan fungsi metodologi peneli-tian bagi aktifitas atau dunia ilmiah. Op. besi. sehingga pembahasan tentangnya pastilah merujuk pada apa esensi atau hakikat ilmu.22 Jadi. Maka dapat dirumuskan formulasi yang lebih mencakup unsurunsur pokoknya. 1986. Beirut. mengenai. ilmu tentang cara atau prosedur melakukan penelitian. 9 17 18 setiap langkah pengkajian dan pengembang-an ilmu pengetahuan. mengidentifikasi satu-persatu.” Maksudnya. Sementara menurut fungsi po-koknya. tembaga.Echols & Hassan Shadily. kemudian mengambil dan memanfaat-kannya untuk keperluan tertentu. tulisan (ejaan) aslinya ‘ilmiyyah dengan huruf ya’ dobel (tasydid). bahwa kandungan manka al-bahts mencakup wilayah sedemikian luas. hal. seek. mendiskusikan. masingmasing dicermati sifat dan ciri khasnya.Menurut tradisi keilmuan Islam. maka ditemukanlah aneka jenis benda seperti biji batu. mengusut.” Karena posisi dan fungsinya terkait erat dengan ihwal penyelidikan dan pengembangan ilmu. 186. atau berlandaskan ilmu dan untuk pengembangan ilmu. bersifat. ketika metodologi penelitian didudukkan sebagai obyek kajian ilmiah dan menghasilkan sistem pe-ngetahuan yang tertata secara logis dan sistematis.. Bisa disebut.42 19 John M. Atas dasar itu.21 artinya bersifat atau secara keilmuan.Milton Cowan.A’lam. mirip aktifitas pertambangan dewasa ini.cit. examine.

cakupannya menyangkut bidang apa saja. kelompok ilmuwan yang membatasi pengertian ilmu hanya pada pengetahuan yang tersusun secara logis dan sistematis tentang benda-benda alam yang bersifat tetap. yakni pengetahuan yang tersusun secara logis dan sistematis tentang wahyu Tuhan dan perwujud-annya dalam kehidupan manusia.. namun tidak berarti kehadiran dan penggunaannya telah diterima sebagai kesepakatan tuntas di kalangan semua ilmuwan. Pertama.dak mengalami perubahan dalam jangka waktu tertentu. sehingga laik diandalkan hasil finalnya dan diyakini serta dipegang-teguh sebagai kebenaran ilmiah. kepastian datanya dicatat dalam wujud angka-angka. dengan ciri khas terjadinya perubahan menurut perbe-daan waktu. mengenai ilmu atau sesuatu yang terkait dengan il-mu.Suriasumantri. angan-angan. terus berubah-ubah. seperti batu. 1985. dan gejalanya memiliki pola yang te-tap dengan urut-urutan kejadian yang sama. cenderung meragukan atau bahkan menolak kebenaran dan keterandalan ilmu-ilmu sosial. beralasan karena obyek kajian atau penelitiannya adalah benda-benda fisik yang mempunyai keserupaan sifat antara satu sama lain misalnya dalam hal bentuk dan struktur. untuk pada akhirnya ditarik kesimpulan dalam bentuk generalisasi yang berlaku secara umum. dikelompokkan. dikumpulkan terus sampai berjumlah cukup atau bahkan sangat banyak.ilmu.kembang juga meskipun tak akan mencapai derajat keilmuan seperti apa yang dicapai ilmu-ilmu alam. Kelompok yang cenderung hanya mengakui keberadaan ilmu alam. apalagi ilmu agama. ilmu eksakta atau ilmu pasti. cetakan ke enam. secara lambat laun ilmu-ilmu sosial ber. dalam Jujun S. bisa di-ukur panjang-lebar.Suriasumantri. yang memiliki perasaan.” khususnya bagi dunia akademis di perguruan tinggi. dan cara memperoleh serta mengembangkannya bagaimana. Akan tetapi. maka dalam hal seperti inilah perbedaan atau malah pertikaian faham terjadi. Ilmu-ilmu Alam dan Ilmu-ilmu Sosial : Beberapa Perbedaan. dilakukan secara cermat. sesekali bergembira dan di saat lain sedih luar biasa. kelompok ilmuwan yang selain memandang penting ilmu eksakta dan sosial (humaniora).134 1 0 23 9 . Ibid. kaidah atau prinsi-prinsip keilmuan. artinya berkenaan atau terterkait dengan ilmu dan diwujudkan atas dasar kaidah atau prinsip-prinsip keilmuan. Perselisihan faham tentang apa itu ilmu. ti. hal. tempat. kha-yalan. Ilmu Dalam Perspektif : Sebuah Kumpulan Karangan Tentang Hakekat Ilmu.24 Di antara argumentasinya. kelompok il-muwan yang selain mengakui ilmu eksakta. atau yang dikenal sebagai ilmu eksakta. hatihati.Van Dalen. obyek kajian ilmu-ilmu sosial adalah kehidupan ma-nusia sebagai makhluk multi dimensi. sehingga mustahil atau minimal sulit sekali untuk diobservasi kepastikan pola tingkah lakunya. dan sebagainya. Tentang Hakekat Ilmu. sangat berat kiranya Jujun Suriasumantri. dapat dicek ketepatan dan diulangulang penelitiannya oleh fihak lain yang ingin membukti-kan atau mengujinya. kritis. dalam Jujun S. bahwa ilmu-ilmu sosial takkan pernah menjadi ilmu dalam arti yang sepe-nuhnya. Ke dua.7-8 24 Deobold B. mengenai apa yang dimaksud dengan ilmu. tak ada yang tetap kecuali perubahan tanpa henti itu sendiri. dipilah-pilah dan dianalisis sesuai landasan teorinya. antara keadaan zaman dahulu yang diliputi kesederhanaan dan realitas zaman sekarang yang penuh kemajuan. besi dan air. tidak ada yang membantah atau mempermasalahkannya. juga memegangi kebenaran ilmu sosial dan hu-maniora. besar-kecil. digunakan rumus sta-tistika sedemikian rupa. ciri-ciri atau kriterianya apa. karena cenderung berbeda antara kejadian di suatu tempat dengan tempat yang lain. Bahwa istilah ilmiah. Mengingat kenyataan de-mikian. atau ditimbang beratnya. juga dilakukan eksperimen secara bebas tanpa hambatan. Para ahli ilmu eksakta kelompok tersebut. Di antara me-reka berpendapat. dalam arti sama saja kejadiannya di mana dan kapanpun juga. otomatis menga-rah dan berujung pada silang pendapat mengenai ukuran atau kriteria apakah sesuatu termasuk kategori ilmiah atau bukan ilmiah. dan sistematis atas dasar prosedur. tanah. Jakarta : Penerbit Gramedia. Ada tiga kelompok pandangan ilmuwan tentang definisi atau batasan ilmu. yakni pengetahuan yang tersusun secara logis dan sistematis tentang prilaku manusia sebagai individu maupun kelompok. maka dalam aktifitas pengkajian atau penelitian ilmiah dapat ditempuh observasi (pengamatan) langsung dengan indera atau memakai peralatan tertentu. tidak berubah-ubah. juga mengakui keberadaan ilmu agama. kemauan. hal. humaniora. Ke tiga. cita-cita. logis. Pandangan yang lebih moderat menyatakan. Begitu terkesan anggun dan wibawanya kata “ilmiah.23 Atas dasar itu.

yang telah bergulat di bi-dang ilmu dan melahirkan ribuan 25 25 sarjana dengan karya tulis final masing-masing dalam bentuk skripsi sarjana. kendaraan mewah. dalam ilmu-ilmu keagamaan ada yang namanya tuhan. maupun agama. seorang failosuf dan ilmuwan yang sangat terkenal itu. pastilah menimbulkan persoalan di kalangan fihak-fihak yang menekuni aneka bidang keilmuan khususnya di lingkungan Perguruan Ting-gi yang berlabel keagamaan. Padahal jelas.lam predikat bukan ilmuwan ? Walhasil. dikembalikan saja titik berangkatnya pada fungsi utama ilmu sebagai wahana kesejahteraan hidup manusia seutuhnya : material-spiritual. pengetahuan atau lebih tepatnya keyakinan yang sifatnya dogmatis atau terlalu spekulatif. Tanggung Jawab Sosial Seorang Ilmuwan. misalnya untuk membangun ge-dung megah. akhirat. sulit meng-analisis guna memperoleh keterandalan hasilnya. Akibatnya. sebaliknya terhindar dari permusuhan dan tindak kekerasan katakanlah. para ahli ilmu sosialpun banyak yang meragukan kebenaran dan posisinya sebagai ilmu. dan aneka jenis makanan yang melimpah. sesungguhnya bukanlah persoalan gampang. bahkan menulis sebuah kitab berjudul Ihya ‘Ulum al-Din. memiliki keharusan untuk terus meningkatkan kualitas dan keterandalan ilmiah masing-masing. sehingga muncul anggapan kurang atau bahkan tidak memenuhi syarat sebagai ilmu yang benar-benar ilmiah. apalagi jika aspek kajiannya menyangkut suasana kejiwaan yang begitu abstrak dan bersifat sangat pribadi atau sarat kerahasiaan. wasilahnya tidak bisa lain kecuali membangun keseimbangan tuntas dalam hal penguasaan dan pemanfaatan semua jenis ilmu : eksakta. yang tidak mung-kin diobservai langsung atau melalui alat manapun oleh seorang ilmuwan. deduktif. ada yang bernama ilmu ‘aqidah (keyakinan). Dalam perspektif keseimbangan semacam ini. sosial. penelitian. bahwa pengetahuan yang di-peroleh manusia tanpa melewati daur hipotetik. bahkan disertasi doktor. dan berdasarkan metodologi yang boleh jadi agak berbeda karena memang obyek kajiannya tidak sama. mengingat toh kenyataannya di samping berbagai jenis keilmuan yang lain. dan pengabdian masyarakat). Sementara. Logiskah semisal Perguruan Tinggi Islam. mengingat di dalamnya mengandung kerumitan seperti terlihat di atas. Untuk mem-peroleh jalan keluar. harus dinyatakan sebagai bukan ilmu. humaniora. Bagaimana men-ciptakan tata kehidupan yang indah dan tenteram di masyarakat. tesis magister. neraka dan seterusnya. Di antara mereka ada yang menyatakan.laikkah memasukkan tokoh sekaliber al-Ghazali ke da. minimal oleh kalangan yang meyakininya ? Kalau pandangan seperti ini diterima. lahir dan batin. menghi-dupkan ilmu-ilmu keagamaan. keyakinan. juga melakukan generalisasi yang berlaku secara umum. dan verifikatif. L. itu tidak termasuk ilmu. sangat memerlukan dukungan ilmu sosial dan humaniora. dengan program Tri Dharmanya ( pendidikan. apa itu hakikat ilmu dan kegiatan ilmiah. ilmu syari’ah (hukum kehidupan). Apakah karena obyek kajiannya ada yang bersifat abstrak dan tidak tersentuh indera. Terhadap ilmu agama lebih-lebih. Semuanya adalah ilmu.untuk memperoleh kepastian data ilmu-ilmu sosial misalnya da-lam wujud angka-angka statistika.Wilardjo. jelas tidak mungkin perwujudan-nya ditempuh melalui pendayagunaan ilmu eksakta semata. il-mu tarbiyah (pendidikan) dan sebagainya. lalu dengan serta-merta dinyatakan sebagai bukan ilmu dan hasil jerih payah kerja ilmuwannya dikategorikan tidak ilmiah ? Bukankah ilmu-ilmu keagamaan juga diperlukan untuk mencapai kesejahteraan hi-dup. surga. nomor 9 1 0 . dengan begitu saja dikategori-kan sebagai institusi non ilmiah ? Juga. Imam alGhazali. bukan sekedar kalangan ilmuwan eksakta yang cen-derung kukuh menolaknya. Majalah Pustaka. dunia ma-upun akhirat. untuk mencapai kebahagiaan hidup secara hakiki di dunia dan seka-ligus di akhirat. Jadi.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful