PERAWATAN LUKA GANGREN

...........................BY YENI YULIANTI, S.KEP, NS

Pendahuluan
 Komplikasi Diabetes Mellitus (DM) yang

paling berbahaya adalah komplikasi pada pembuluh darah. Pembuluh darah besar maupun kecil ataupun kapiler penderita DM mudah menyempit dan tersumbat oleh gumpalan darah (angiopati diabetik)  Jika sumbatan terjadi di pembuluh darah sedang atau besar di tungkai (makroangopati diabetik) tungkai akan lebih mudah mengalami gangren diabetik

bullae dan kalus. . diikuti penurunan sirkulasi darah dan penurunan imunitas tubuh.  Akibat neuropati yg menyebabkan hilangnya sensasi.Gangren diabetik  Luka kaki merupakan mrpkn kejadian yg paling sering terjadi pada DM.

dapat terjadi akibat proses inflamasi yg memanjang. .Pengertian Gangren Diabetik  Gangren adalah luka yang terinfeksi disertai dengan adanya jaringan yang mati. darah besar arteri pada bagian tubuh sehingga supplay darah berhenti.  Jaringan nekrotik atau jaringan mati yg disebabkan adanya emboli p. perlukaan atau gangguan metabolik seperti DM.

 Gangren adalah proses atau keadaan yang ditandai dengan adanya jaringan mati atau nekrosis. ( Askandar.  Gangren Kaki Diabetik adalah luka pada kaki yang merah kehitam-hitaman dan berbau busuk akibat sumbatan yang terjadi di pembuluh darah sedang atau besar ditungkai. 2001). ( Askandar. . namun secara mikrobiologis adalah proses nekrosis yang disebabkan oleh infeksi. 2001 ).

Pengkajian  Dilakukan secara holistik. . perkusi dan auskultasi. palpasi. komprehensif dan menyeluruh dengan menerapkan metoda inspeksi.

Misalnya : pasien dating ke RS dengan letak luka pada ibu jari kaki. kemungkinan penyebabnya adalah pemakaian sepatu yang terlalu sempit ( ketat) sehingga terjadi penekanan oleh sepatu .Pengkajian 1 Lokasi & Letak luka:  Pengkajian lokas & letak luka penting dikaji sebagai indikator terhadap kemungkinan penyebab tejadinya luka .

B Full thickness yaitu hilangnya lapisan dermis hingga lapisan subcutan. .2 Stadium Luka  Secara umum stadium luka dibedakan sebagai berikut:  Berdasarkan anatomi kulit ( Pressure ulcers panel. 1990) A Partial thickness yaitu hilangnya lapisan epidermis hingga lapisan dermis paling atas.

.  Stadium IV : Rusaknya lapisan subcutan hingga otot dan tulang.  Stadium II : Rusaknya lapisan dermis bagian bawah hingga lapisan subcutan. belum tampak adanya lapisan epidermis yang hilang  Stadium II : Hilangnya lapisan epidermis / lecet sampai batas dermis paling atas.Full thickness  Stadium I : Kulit berwarna merah.

granulasi / epitilisasi.  Yellow ( kuning) : Luka berwarna kuning muda. merupakan jaringan mati yang lunak.1984) :  Red ( Merah) : merupakan jaringan sehat.Berdasarkan warna dasar luka ( Netherlands wounncare consultant society. dan avaskulerisasi. kuning tua ataupun kuning kecoklatan. fibrinolitik.  Black ( Hitam) : jaringan nekrotik dan avskularisasi. merah. merah tua. vaskuler baik mungkin luka akan berwarna pink. kuning kehijauan. .

 Stadium I: Hilangnya lapisan kulit hingga dermis & kadang tampak tulang menonjol. .Stadium wagner ( khusus luka ganggren diabetic) : A Superficial ulcers:  Stadium 0: Tidak terdapat lesi. tetapi dengan bentuk tulang kaki yang menonjol / charcot arthropathies. kulit dalam keadaan baik.

Lanjutan B Deep Ulcers :  Stadium II : Lesi terbuka dengan penetrasi ke tulang atau tendo disertai goa. plantar abses atau infeksi hingga tendon C Ganggren :  Stadium IV : Seluruh kaki dalam kondisi nekrotik ( ganggren ). osteomylitis. .  Stadium III : Penetrasi dalam.

Bentuk & Ukuran Luka :  Pengkajian bentuk & ukuran luka dilakukan dengan pengukuran 3 dimensi atau dengan photographer untuk mengevaluasi kemajuan proses penyembuhan luka. . hindari infeksi nosokomial bila alat ukur tersebut digunakan berulang kali. Hal yang harus diperhatikan dalam pengkajian bentuk & ukuran luka adalah alat ukur yang tepat.

.Status Vaskuler.  Palpasi. setelah tampak kemerahan atau putih bila dilakukan penekanan pada ujung kuku.  Status perfusi dinilai dengan melakukan palpasi pada daerah tibia dan dorsalis pedis untuk menilai ada / tidaknya denyut nadi ( arteri dorsalis pedis )  Capillery Refill Time  Merupakan waktu pengisian kaviler dan di evaluasi dengan memberi tekanan pada ujung jari atau ujung kuku kaki ( ektremitas bawa.

25 detik  Iskemia berat: 25.  Iskemia : 15.40detik  Iskemia sangat berat: lebih dari 40 dtk .Capillery repill Time ( dasar memperkirakan kecepatan aliran darah/ perfusi)  Normal : 10-15 detik.

Edema  Merupakan penilaian ada/ tidaknya edema dengan melakukan penekanan dengan jari tangan pada tulang yang menonjol umumnya pada tibia malleolus. adanya edema menunjukkan gangguan aliran darah balik vena. .Kulit / jaringan yang mengalami edema tampak lebih coklat kemerahan atau mengkilat.

Odema Pitting  +1: Setelah dipalpasi oleh pemeriksa (dengan jari telunjuk) maka daerah yang odema akan menampakkan/memperlihatkan cekungan sedalam 2 mm  +2: Setelah dipalpasi oleh pemeriksa (dengan jari telunjuk) maka daerah yang odema akan menampakkan/memperlihatkan cekungan sedalam 4 mm  +3: Setelah dipalpasi oleh pemeriksa (dengan jari telunjuk) maka daerah yang odema akan menampakkan/memperlihatkan cekungan sedalam 6 mm  +4: Setelah dipalpasi oleh pemeriksa (dengan jari telunjuk) maka daerah yang odema akan menampakkan/memperlihatkan cekungan sedalam 8 mm .

Cara melakukan penilaian dengan melakukan palpasi / menempelkan punggung tangan pada kulit sekitar luka & membandingkan dengan kulit bagian lain yang sehat. .Temperatur Kulit  Temperatur pada kulit memberi informasi tentang kondisi perfusi jaringan dan fase inflamasi serta merupakan variable penting dalam menilai adanya peningkatan atau penurunan perfusi jaringan terhadap tekanan ( ransangan tekanan ).

. adanya kallus karena penekanan secara terus menerus yang dapat menjadi luka. dan saraf otonom.  Pada motorik lakukan inspeksi pada bentuk kaki seperti jari2 telapak kaki yg menonjol.Status Neurologi  Pengkajian status neurologi penting pada pasien diabetis melirus untuk menilai fungsi motorik. sensorik.

selanjutnya penilaian otonom dilakukan dg cara inspeksi pada kaki secara seksama terhadap adanya kekeringan. Penilaian sensorik dapat berupa baal. hal ini dilakukan untuk menilai sensitivitas pada ekstremitas bawah. dilakukan dengan cara melakukan palpasi / sentuhan pada jari2 satu persatu . kesemutan. telapak kaki dan anjurkan pasien untuk memejamkan mata. luka/lecet kulit terkelupas akibat berkurangnya pengeluaran keringat ( kekeringan) .

Infeksi.  Psedomonas dan Stapilococcus aureus merupakan mikroorganisme patogn yang paling sering muncul pada luka ganggren & merupakan jenis luka kronis yang terkontaminasi. Luka yang telah terinfeksi menunjukkan adanya infeksi secara: . adanya kolonisasi bakteri mengindikasikan luka tersebut telah terinfeksi.

9%& diamkan 5-10 mnt sampai cairan eksudat keluar  Lakukan teknik pengambilan pus dg zig-zag ( 10X swab) dg tehnik steril ( dg lidi kapas steril)  Simpan dlm tempat steril & segera kirim ke laboratorium .Tehnik Pengambilan Kultur Pus  Cuci luka dg Nacl 0.

Gangguan perfusi berhubungan dengan melemahnya/menurunnya aliran darah ke 3. 1. resiko amputasi. menurunnya kemampuan lekosit dalam menghancurkan mikroorganisme.Diagnosa keperawatan yang mungkin muncul pada pasien dengan luka ganggren diabetic : Ganguan rasa nyaman ( nyeri ) berhubungan dengan iskemik jaringan. daerah gangren akibat adanya obstruksi pembuluh darah.Infeksi b/d neuropati. . 4. 2. Cemas b/ d kurangnya pengetahuan terhadap perawatan kaki/ luka gangren diabetic. gg vaskularisasi sekunder terhadap diabetis mellitus.

1995) 3. 1. Optimalisasi suasana lingkungan luka dalam kondisi lembab ( Chevy et al. control gula darah. Mengurangi atau menghilangkan factor penyebab 2.Implementasi ( penatalaksanaan luka)  Tujuan penatalaksanaan luka ganggren diabetic adalah. control factor penyerta) 4. Support the host ( nutrisi. Tingkatkan edukasi pada pasien .

.  Kolaborasi dengan dokter untuk pemberian analgesik.  Atur posisi pasien senyaman mungkin sesuai keinginan pasien. Ajarkan teknik distraksi dan relaksasi.

\`S_S_ _aS_SZS ZYaZYSZ aS VSS [ZV_ WTST Wb W`S # # a\\[^``W[_`Za`^_U[Z`^[YaS VS^SU[Z`^[XSU`[^\WZ W^`S # ZYS`SZ WVaS_ \SVS \S_WZ .

S^SZ`WZV_`^S_VSZ^WS_S_ `a^\[__\S_WZ_WZ SSZaZYZ_W_aS WZYZSZ\S_WZ [ST[^S_VWZYSZV[`W^aZ`a\WTW^SZ SZSYW_ .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful