P. 1
kendala perbankan syariah

kendala perbankan syariah

|Views: 181|Likes:
Published by Abi Nya Umi

More info:

Published by: Abi Nya Umi on Nov 17, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

11/04/2015

pdf

text

original

KENDALA PERBANKAN SYARIAH DI INDONESIA

Tugas Diajukan untuk memenuhi persyaratan mata kuliah Bank dan Lembaga Keuangan Lainnya semester 3

Dosen Pembimbing Zuhairan Y. Yunan

Penyusun M. Sybromalesi (1110084000051)

ILMU EKONOMI STUDI PEMBANGUNAN FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS UIN SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA 1432 H/2011 M

mengingat akan kemampuan yang dimiliki penulis. Dalam penulisan makalah ini penulis merasa masih banyak kekurangankekurangan baik pada teknis penulisan maupun materi. khususnya kepada Allah SWT. Akhirnya penulis berharap semoga Allah memberikan imbalan yang setimpal pada mereka yang telah memberikan bantuan. Untuk itu kritik dan saran dari semua pihak sangat penulis harapkan demi penyempurnaan pembuatan makalah ini. i . Dalam penulisan makalah ini penulis menyampaikan ucapan terima kasih yang tak terhingga kepada pihak-pihak yang membantu dalam menyelesaikan penelitian ini. yang atas rahmat-Nya maka penulis dapat menyelesaikan penyusunan makalah yang berjudul “Kendala Perbankan Syariah”.KATA PENGANTAR Puji syukur penulis penjatkan kehadirat Allah SWT. Penulisan makalah adalah merupakan salah satu tugas dan persyaratan untuk menyelesaikan tugas mata kuliah Bank dan Lembaga Keuangan Lainnya di Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta. dan dapat menjadikan semua bantuan ini sebagai ibadah.

............................................................9 ii ......................................................................................................5 2.....................................................................................................................................................................................................................................................................................................2 2.........................................................7 BAB III PENUTUP................................i Daftar Isi ......................................................DAFTAR ISI Kata Pengantar ..........................................................................................................1 BAB II SUMBER HUKUM EKONOMI SYARIAH.........................................................................2 Problem Hukum .................................................................................................4 2.........................................................4 Kendala-Kendala Operasional ..ii BAB I PENDAHULUAN..........................................................................................................................................1 Kesimpulan ............................1 Latar Belakang .................8 3...............3 2............3 Rendah nya Sosialisasi Perbankan Syariah......8 DAFTAR PUSTAKA...............................................................1 Kendala Fiqih............................................................1 1........

806 trilyun. Dari hasil analisis terhadap kendala kendala tersebut penulis sudah sampai pada sebuah kenyataan bahwa kendala-kendala yang dianggap bisa menghambat perkembangan perbankan Syari’ah bisa diubah menjadi sebu ah motivasi dalam mengoreksi diri dan mendorong perbankan Syari’ah untuk meraih kemajuanyang lebih besar dari pada yang sudah diraih selama ini. secara garis besar terdapat empat kendala yang dihadapi bank Syari’ah di Indonesia yaitu: kendala fiqh. kendala hukum. Keadaan ini didukung oleh karakteristik kegiatan usaha bank Syari’ah yang melarang pemberlakuan bunga.BAB I PENDAHULUAN 1.26% dibandingkan total aset bank umum. Menurut penulis. Sedangkan dana pihak ketiga yang dikelola pada periode yang sama mengalami kenaikan dari Rp 392 trilyun menjadi Rp 1. Perkembangan besar yang dialami perbankan Syari’ah di In donesia bukan berarti bahwa kendala yang dihadapi serta penghambat perkembangan tersebut sudah tidak ada. kendala sosial isasi perbankan Syari’ah. 1 . antara tahun 1998-2001 total aset yang dimiliki Bank Syari’ah mengalami perkembangan sebesar 74% per tahun yaitu dari Rp 479 trilyun menjadi Rp 2.718 trilyun di tahun 2001 atau sekitar 0. dan kendala operasional. Menurut data BI.1 Latar Belakang Krisis perbankan yang terjadi sejak tahun 1997 telah membuktikan bahwa bank yang beroperasi dengan prinsip syari’ah dapat bertahan di tengah gejolak nilai tukar dan tingkat suku bunga yang tinggi.

7 tahun 1992. Belum ada langkah nyata yang memungkinkan implementasi praktis gagasan tersebut. yaitu menerapkan dua sistem perbankan (konvensional dan syari’ah) secara berdampingan adalah Filipina dengan pendirian The Philliphine AmanahBank (1973). telah mengganti UU Perbankan No. Hingga tahun 1960-an. dengan mengacu kepada Al Quran dan As Sunnah sebagai landasan dasar hukum dan operasional. Padahal. danyang kemudian diakui sebagai pelopor pembentukan perbankan Syari’ah modern adalah Ahmed el Najjar. yang menyebutkan dengan diperbolehkannya operasi perbankan dengan sistem bagi hasil selain dengan sistem bunga (Republika Online. 26 Oktober 2001). Sedangkan bank Syari’ah dalam arti komersial yang sesungguhnya adalah Dubai Islamic Bank yang didirikan di Dubai tahun 1975. yaitu ada upaya mengelola dana jamaah haji secara non konvensional. dan karena itu rumusan yang paling lazim untuk mendefinisikan Bank Syari’ah adalah bank yang beroperasi sesuai dengan pri nsip-prinsip syari’at Islam. negara yang pertama kali memakai Dual Banking System. maka pemerintah Indonesia dengan persetujuan DPR RI. Sedangkan Malaysia mulai resmi mendirikan Bank Syari’ah pada tahun 1983 dengan nama Bank Syari’ah Malaysia Berhard (BIMB ).Bank sejenis itupun berkembang hingga mencapai 9 bank di Mesir waktu itu. Kondisi stagnan ini muncul karena beberapa hal. yaitu: 2 . Hal ini diawalinya dengan mendirikanbank sejenis bank tabungan yang berbasis mudarabah. bank Syari’ah hanya merupakan bahan diskusi teoritis. Karena itulah sistem Bank Syari’ah menerapkan sistem bebas bunga (interest free) dalam operasionalnya. Untuk kawasan Asia Tenggara. Berdasarkan UU Perbankan No.BAB II KENDALA-KENDALA PERBANKAN SYARIAH DI INDONESIA Istilah Bank Isl am atau Bank Syari’ah merupakan fenomena baru dalam dunia ekonomi modern. Selama periode tahu n 1992 sampai dengan 1998 perkembangan perbankan Syari’ah di Indonesia tidak menunjukkan suatu kemajuan yang cukup menggembirakan. telah muncul kesadaran bahwa bank Syari’ah merupakan solusi masalah ekonomi untuk menghasilkan kesejahteraa n sosial di negaranegara Islam. 14 tahun 1967 dengan UU Perbankan No. Upaya awal penerapan sistem profit and loss sharing tercatat di Pakistan dan Malaysia sekitar tahun 1940an. kemunculannya seiring dengan upaya gencar yang dilakukan oleh para pakar Islam dalam mendukung ekonomi Islam yang diyakini akan mampu mengganti dan memperbaiki sistem ekonomi konvensional yang berbasis pada bunga. sedangkan pemberian kreditnya di kota Mit Ghamr Mesir pada tahun 1963 dan berakhir pada tahun 1967 karena masalah politik di masa Abdul Nasir. Bank-bank ini memfokuskan usahanya pada pembiayaan usaha dagang dan industri skala kecil. Perkembangan perbankan Syari’ah telah memberi pengaruh luas terhadap perbaikan ekonomi umat dan kesadaran baru untuk mengadopsi dan ekspansi lembaga keuangan Islam. 7 tahun 1992 maka Bank Syari’ah pertama di Indonesia yang didirikan pada tanggal 3 Oktober 1991 dengan nama PT Bank Muamalah Indonesia dan mulai beroperasi pada tanggal 1 Mei 1992 dengan modal sebanyak Rp 84 milyar.

Keterbatasan jaringan kantor bank Syari’ah. Krisis perbankan yang terjadi sejak tahun 1997 telah membuktikan bahwa bank yang beroperasi dengan prinsip syari’ah dapat bertahan di tengah gejolak nilai tukar dan tingkat suku bunga yang tinggi.718 trilyun di tahun 2001 atau sekitar 0. 3. Oktober 2001).806 trilyun. 2. dan kurangnya SDM. Ketentuan operasional perbankan. dan haram. Makalah ini bertujuan untuk membahas kendala-kendala yang menghambat perkembangan perbankan Syari’ah di Indonesia dan bagaimana bisa menghadapinya di masa yang akan datang. atau sebaliknya selama berlaku termasuk ke dalam perkara syubhat. instrumen moneter dan pasar keuangan syar’iah yang belum tersedia. pemungut bunga bank tidak membuat bank itu sendiri dan nasabahnya memperoleh keuntungan besar atau sebaliknya tidak akan merasa dirugikan dengan pemberian bunga. Pertama. tujuan pengambilan kredit dari debitor pada jaman jahiliyah adalah untuk konsumsi. Akan tetapi dari faktor tersebut. sementara pada saat ini bertujuan produktif.26% dibandingkan total aset bank umum. syubhat. Kedua. 3 . salah seorang ulama NU (Nahdatul Ulama) sebagai representasi ulama berpendapat bahwa bunga bank adalah halal. Sementara itu Majelas Tarjih Muhammadiyah memutuskan bahwa bunga bank yang diberikan oleh bank milik negara kepada nasabahnya. 10 tahun 1998 yang mengubah UU Perbankan No. KENDALA-KENDALA FIQH Adanya perbedaan pandangan di kalangan ulama Indonesia mengenai bunga yang secara garis besar terbagi pada tiga pendapat yaitu. serta melarang transaksi keuangan yang bersifat spekulatif (al-garar) dan tanpa didasarkan pada kegiatan usaha yang riil. didasarkan pendapatnya pada beberapa alasan. telah memberi landasan hukum ya ng lebih kuat dan kesempatan yang lebih luas lagi bagi pengembangan perbankan Syari’ah di Indonesia (Bank Indonesia. Sedangkan dana pihak ketiga yang digelola pada periode yang sama naik dari Rp 392 trilyun menjadi Rp 1. Keadaan ini didukung oleh karakteristik kegiatan usaha bank Syari’ah yang melarang bunga bank konvensional dan nisbah bagi hasil sebagai penggantinya. Ketiga. Umar Syihab. halal. Perkembangan perbankan Syari’ah di Indone sia terjadi setelah diberlakukan UU Perbankan No.1. adanya kerelaan antara kedua belah pihakyang bertransaksi sebagaimana halnya kebolehan dalam jual-beli dengan asas kerelaan. Hal ini sangat menentukan respon masyarakat terhadap bank Syari’ah. 7 tahun 1992 dan diikuti dengan dikeluarkannya sejumlah ketentuan pelaksanaan dalam bentuk SK Direksi BI/PeraturanBank Indonesia. Keempat. jumlah bunga uang yang dipungut dan diberikan oleh bank kepada nasabah jauh lebih kecil dibandingkan dengan riba yang diberlakukan di jaman jahiliyah. hanya menyinggung bunga bank yang diberikan oleh bank negara.1. 2. Rendahnya pengetahuan dan kesalahpahaman masyarakat mengenai perba nkan Syari’ah. Menurut data BI bahwa diantara tahun 1998 sampai tahun 2001 total aset yang dimiliki Bank Syari’ah mengalami perkembangan se besar 74% per tahun yaitu dari Rp 479 trilyun menjadi Rp 2.

Masalah ini bisa menghambat perkembangan perbankan Syari’ah di Indonesia dan membuat nasabah cenderung memilih perbankan konvensional dan secara empiris berlawanan dengan teori keuntungan perbankan Syari’ah yang menganggap bahwa keuntungan perbankan Syari’ah lebih dari tingkat suku bunga yang ditawarkan oleh perbankan konvensional dan bisa dibuktikan secara matematis seperti berikut: 2. 10 tahun 1998 yang mengubah UU No. Namun demikian. dan Iran. 7 Tahun 1992 belum mencakup secara tetap pengertian B ank Syari’ah yang memiliki cakupan lebih luas dari bagi hasil.dengan menyatakan bahwa bunga yang diberikan oleh negara diperbolehkan. Pemberlakuan UU Perbankan No. telah memberi landasan hukum yang lebih kuat dan kesempatan yang lebih luas lagi bagi pengembangan perbankan Syari’ah di Indonesia. Perundang -undangan tersebut memberi kesempatan yang luas untuk pengembangan jaringan perbankan Syari’ah antara lain melalui ijin pembukaan Kantor Cabang Syari’ah (KCS) oleh bank konvensional. karena bunga yang diberikan masih tergolong rendah. sehingga untuk menghadapinya perlu menggunakan pendekatan ilmiah dan normatif untuk menyakinkan para ulama yang menghalalkan bunga atas madarat-nya. di samping Muhammadiyah. kontroversial mengenai bunga bukan hanya terjadi di Indonesia tetapi juga terjadi di beberapa negara Islam seperti Mesir. Pengertian Bank Bagi Hasil yang dimaksudkan dalam UU Perbankan No. memutuskan masalah bunga bank tersebut dengan beberapa kali sidang.2. Irak. 7 tahun 1992 yang diikuti dengan dikeluarkannya sejumlah ketentuan pelaksanan dalam bentuk SK Direksi BI/Peraturan Bank Indonesia. dengan memberi bukti-bukti empiris mengenai kehancuran yang mengancam perekonomian Negara-negara sedang Berkembang karena praktek bunga yang ditawarkan oleh perbankan konvensional. UU tersebut belum memberi landasan hukum yang kuat terhada p pengembangan bank Syari’ah karena belum secara tegas mengatur keberadaan bank berdasarkan prinsip Syari’ah melainkan Bank Bagi Hasil. yakni bunga bank haram. meskipun terdapat perbedaan pandangan. PROBLEM HUKUM Bank Syari’ah / Islam dalam sistem perbankan Indonesia secara formal telah dikembangkan sejak tahun 1992 sejalan dengan diberlakukannya UU No. dengan terjadinya polarisasi pendapat pada tiga kelompok yaitu. 7 tahun 1992 tentang Perbankan. dan alasan-alasan yang menjadi dasar untuk menghalalkan bunga tidak benar secara empiris. Nahdatul Ulama sebagai organisasi Islam terbesar di Indonesia. jika dibandingkan dengan bunga pada bank swasta. Hal lain yang perlu diperhatikan oleh perbankan Syari’ah di Indonesia bahwa t ingkat profit dan loss sharing yang ditawarkan masih terlalu rendah dibandingkan dengan tingkat suku bunga. halal. Namun. hingga tahun 1998 belum terdapat ketentuan operasional yang lengkap yang secara khusus mengatur kegi atan usaha Bank Syari’ah. Bank Umum dimungkinkan untuk 4 . haram. dan kalau kita amati perbankan Syari’ah yang beroperasi di beberapa negara Islam dan non Islam bisa dilihat bahwa tingkat profit dan loss sharing yang ditawarkan lebih tinggi dari tingkat suku bunga hingga perbankan Syari’ah menjadi lebih menarik bagi para nasabah non Muslim. dan Syubhat. Dengan kata la in. Lajnah Bahsul Masa’il memutuskan bahwa yang l ebih berhati-hati adalah pendapat pertama. Demikian pula dengan ketentuan operasional. Menurut pengamatan pada sejarah perkembangan perbankan syariah.

BI dalam fungsinya sebagai The Leader of Last Resort adalah membantu bank-bank yang mengalami kesulitan likuiditas. Berdasarkan latar belakang di atas. tetapi juga terjadi pada diri Ulama. Oktober 2001). Bagi bank syari’ah untuk dapat menyediakan agunan berupa surat-surat berharga dan/atau tagihan yang tidak berbunga. 23/1999 tentang Bank Indonesia adalah bahwa BI dapat memberi kredit atau pembiayaan berdasarkan prinsip Syari’ah untuk jangka waktu paling lama 90 (sembilan puluh) hari kepada bank untuk mengatasi kesulitan pendanaan jangka pendek bank tersebut. Meskipun sistem ekonomi Islam telah jelas dan mudah dipahami. kepentingan untuk membentuk lembaga permanen yang berfungsi untuk menyelesaikan kemungkinan terjadinya sengketa perdata di antara bank-bank Syari’ah dengan para nasabah sudah sangat mendesak. Kyai dan Para tokoh masyarakat lainnya. sedangkan wewenang Pengadilan Agama telah dibatasi UU No. yaitu melarang menggandakan uang secara tidak produktif dan konsentrasi kekayaan pada satu pihak dan secara tidak adil. hibah. dan sedekah. waqaf. Dual Banking System yang dimaksud adalah terselenggaranya dua sistem perbankan (konve nsional dan syari’ah) secara berdampingan dalam melayani perekonomian nasional yang pelaksanaannya diatur dalam berbagai peraturan yang berlaku (Bank Indonesia.menjalankan kegiatan usahanya secara konvensional dan sekaligus dapat melakukannya berdasarkan prinsip Syari’ah. 23/1999 tentang Bank Indonesia (BI) juga menugaskan BI untuk mempersiapkan perangkat peraturan atau fasilitas-fasilitas penunjang yang mendukung operasional Bank Syari’ah. yang didirikan secara bersama oleh Kejaksaan Agung Republik Indonesia dan MUI (Muhamad Syafii Antonio. Di Indonesia. Akan tetapi badan tersebut sampai sekarang belum bekerja dan sengketa perdata di antara bank-bank Syari’ah dengan para nasabah diselesaikan di Pengadilan Negeri. prinsip-prinsip dasar hubungan 5 . Hal demikian bukan hanya terdapat pada masyarakat awam. Namun secara praktis bentuk produk dan pelayanan jasa. pp. belum mungkin karena pasar uang (financial market) yang berdasarkan prinsip syari’ah belum berkembang di Indonesia. prinsip pelayanan dan produk perbankan yang berdasarkan syari’ah Islam sebagian besar masih kurang tepat. RENDAHNYA SOSIALISASI PERBANKAN SYARI’AH Isu sentral yang sering kita dengar adalah bahwa pemahaman masyarakat mengenai sistem. Hanya saja kesulitan terjadi ketika UU tersebut juga menentukan bahwa bank konvensional maupun bank syari’ah wajib memberikan jaminan berupa agunan yang berkualitas tinggi dan mudah dicairkan serta nilainya minimal sebesar jumlah kredit atau pembiayaan yang diterimanya. 1999. Kendala h ukum yang lain ialah di Indonesia. Pengadilan Agama tidak dapat memeriksa perkaraperkara di luar kelima bidang tersebut. 303-305).3. warisan. Pengadilan Negeri tidak menggunakan syari’ah sebagai landasan hukum bagi penyelesaian perkara. Kedua UU tersebut di atas menjadi dasar hukum penerapan Dual Banking System di Indonesia. 11 (1) UU No. 2. badan ini di kenal dengan nama Badan Arbitrase Muamalah Indonesia atau BAMUI. Institusi ini hanya dapat memeriksa dan mengadili perkara-perkara yang menyangkut perkawinan. maka didirikan suatu lembaga yang mengatur hukum materi dan/atau berdasarkan prinsip syari’ah. Selain itu UU No. 7 Tahun 1989. Menurut ps. Sedangkan maksud agunan yang berkualitas tinggi dan mudah dicairkan adalah meliputi surat berharga atau tagihan yang diterbitkan oleh pemerintah atau badan hukum lain yang mempunyai otorit as untuk itu.

Sedangkan faktor pertimbangan keagamaan. pemuka masyarakat. a) untuk wilayah Jawa Barat. pengusaha. f. e. Menurut penulis bahwa kegiatan sosialisasi perbankan Syari’ah amat diperlukan dalam rangka penyebarluasan informasi dan meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai perbankan Syari’ah. Lebih dari 4000 responden yang tersebar di empat propinsi. c. Namun. 69 % menyatakan tidak bertentangan dengan ajaran agama Islam. Dari penelitian wilayah Jawa Barat diperoleh informasi bahwa masyarakat non nasabah bank Syari’ah yang diberi penjelasan mengenai sistem produk dan jasa serta kehalalan bank Syari’ah mem punyai kecenderungan kuat memilih bank Syari’ah. Meskipun demikian pemahaman mengenai keunikan sistem produk/ jasa bank Syari’ah secara umum masih rendah. Jawa Tengah-DIY 71. 48 % menyatakan bertentangan dengan ajaran agama Islam. b. serta cara-cara berusaha yang halal dalam bank Syari’ah masih terasa awam dan belum dipahami secara benar. alim ulama.2 % menyatakan bahwa bank Syari’ah sama saja dengan bank kovensional. untuk masyarakat Jateng pertimbangan agama adalah motivasi terpenting untuk mendorong penggunaan jasa bank Syari’ah. dan 16. Untuk bertentangan/tidaknya Bank Syari’ah dengan ajaran agama Islam dapat dijelaskan sebagai berikut. Pengetahuan masyarakat mengenai sistem perbankan Syari’ah relatif tinggi (Jawa Barat 88.6 %. 31 % menyatakan bertentangan dengan ajaran agama Islam. Di masa mendatang bentuk 6 . 62 % menyatakan bertentangan dengan ajaran agama Islam. nasabah yang telah menggunakan jasa bank Syari’ah. Hasilnya sebagai berikut (Bank Indonesia. sistem bagi hasil adalah sistem yang dinilai universal dapat diterima (94%) karena bersifat menguntungkan bagi bank maupun bagi nasabah. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Bank Indonesia tahun 2000 di empat wilayah yang terdiri dari Jawa Barat bekerja sama dengan LP-IPB. bukanlah menjadi faktor penting dalam mempengaruhi kecenderungan menggunakan jasa bank Syari’ah. sebagian besar (lebih dari 95 %) berpendapat bahwa sistem perbankan penting dan dibutuhkan dalam mendukung kelancaran transaksi ekonomi. Namun sebaliknya. Pandangan masyarakat mengenai sistem bunga: 1. c) untuk wilayah Jawa Timur. Namun demikian. 2. 21 % menyatakan tidak tahu. Analisis faktor-faktor yang memotivasi penggunaan jasa perbankan Syari’ah ternyata untuk masyarakat Jabar dan Jatim yang lebih dominan adalah faktor kualitas pelayanan dan kedekatan lokasi bank dari pusat kegiatan. 16 % menyatakan tidak tahu.5 % menyatakan bahwa bagi hasil sama saja dengan bunga. 8. Untuk responden wilayah Jawa Timur: 10. Kesan umum yang ditangkap oleh masyarakat tentang bank Syari’ah: 1) bank Syari’ah identik dengan bank dengan sistem bagi hasil.1 % pihak responden menyatakan bahwa bank Syari’ah secara eksklusif hanya khusus untuk umat Islam. 2) Bank Syari’ah adalah bank yang Islami. Desember 2000): a. Jawa Timur bekerjasama dengan PPBEI-UNIBRAW.antara bank dengan nasabah. sebagian memiliki kecenderungan untuk berhanti jadi nasabah antara lain karena kualitas pelayanan yang kurang baik dan/atau keraguan akan konsistensi penerapan prinsip-prinsip Islam.2 %). Jawa Tengah dan DIY bekerjasama dengan LP-UNDIP Semarang. d. Hal ini dapat dilakukan secara terus-menerus dengan cara tatap muka dengan para bankir. namun berdasarkan survei yang dilakukan di wilayah Jawa Barat. b) untuk wilayah Jawa Tengah dan DIY. akademisi dan masyarakat secara umum.

KENDALA-KENDALA OPERASIONAL Terdapat beberapa kendala operasional menghadapi perb ankan Syari’ah seperti berikut: 1. Hanya saja kesulitan terjadi ketika UU tersebut juga menentukan bahwa bank konvensio nal maupun bank syari’ah wajib memberikan jaminan berupa agunan yang berkualitas tinggi dan mudah dicairkan dan nilainya minimal sebesar jumlah kredit atau pembiayaan yang diterimanya. 3. faktor ini yang menyebabkan nasabah perbankan Syari’ah seringkali pindah ke ban k lain karena menganggap pelayanan dari pihak perbankan Syari’ah kurang profesional. serta kegiatan ekonomi. 2001. 11 (1) UU No.kegiatan sosialisasi diharapkan dapat lebih beragam dengan menggunakan berbagai media massa dan bekerja sama dengan pihak-pihak yang memiliki akses kepada masyarakat luas. pp. Kurangnya SDM dan Keahlian: kendala di bidang sumber daya manusia dalam pengembangan perbankan Syari’ah antara lain disebabkan oleh karena sistem perbankan Syari’ah masih belum lama dikembangkan di Indonesia. 7 . 23/1999 tentang Bank Indonesia adalah bahwa BI dapat memberi kredit atau p embiayaan berdasarkan prinsip syari’ah untuk jangka waktu paling lama 90 (sembilan puluh) hari kepada bank untuk mengatasi kesulitan pendanaan jangka pendek bank tersebut. Faktor-faktor tersebut meliputi skala pasar. Kesulitan Likuiditas: BI dalam fungsinya sebagai The Leader of Last Resort adalah membantu bankbank yang mengalami kesulitan likuiditas. sehingga tenaga terdidik dan pengalaman di bidang perbankan Syari’ah baik dari sisi bank pelaksana maupun dari bank sentral masih terasa kurang. ada beberapa faktor penting yang diperlukan sebagai dasar pengembangan jaringan. maka pengembangan SDM bidang perbankan Syari’ah menjadi hal penting karena keberhasilan pengembangan bank Syari’ah pada level Mikro ditentukan oleh kualitas manajemen dan tingkat pengetahuan dan ketrampilan pengelola bank. Bagi bank syari’ah untuk dapat menyediakan agunan berupa surat -surat berharga dan/atau tagihan yang tidak berbunga belum mungkin karena pasar uang (financial market) yang berdasarkan prinsip syari’ah belum berkembang di Indonesia (Syamsul Anwar. Sedangkan maksud agunan yang berkualitas tinggi dan mudah dicairkan adalah meliputi surat berharga atau tagihan yang diterbitkan oleh pemerintah atau badan hukum lain yang mempunyai otoritas untuk itu. Menurut ps. 2. Terjadinya Asimetri Informasi: Asimetri informasi terjadi karena bank Syari’ah kurang transparan dengan nasabahnya karena nasabah perbankan Syari’ah seringkali tidak mengetahui tentang kegiatan investasi yang dijalankan oleh bank serta beberapa resiko yang terdapat dalam kegiatan tersebut. hal ini juga bertentangan dengan kaidah-kaidah fiqh yang mewajibkan untuk memberi informasi lengkap mengenai kegiatan usaha kepada mitra kerja/nasabah. 485). Disamping itu. Pengembangan SDM bisa dilakukan melalui kerjasama antara perbankan Syari’ah dengan lembaga lembaga pendidikan yang berada di luar maupun di Indonesia sendiri. sistem dan teknologi. Dalam upaya pengembangan dan perluasan jaringan kantor bank Syari’ah. ketimpangan dalam distribusi dana.4. Di samping itu lembaga akademi dan pelatihan di bidang ini masih terbatas. SDM. kurangnya jumlah bank Syari’ah yang ada juga dapat menghambat perkembangan kerjasama diantara bank Syari’ah. Hambatan ini bisa diselesaiakan dengan mendirikan Bursa Efek Syari’ah di Indonesia. 2. 4. Keterbatasan Jaringan Kantor Bank Syari’ah: pengembangan jaringan kantor bank Syari’ah diperlukan dalam rangka perluasan jangkauan pelayanan kepada masyarakat.

Rendahn ya Sosialisasi Perbankan Syari’ah. Kendala fiqh. Dalam makalah ini penulis sudah membagi kendala perbankan Syari’ah di Indonesia meliputi empat kendala yaitu. dan adanya beberapa permasalahan yang terkait dengan likuiditas perbankan Syari’ah yang berkaitan dengan UU Bank Indonesia No. Selanjutnya kalau kita amati perbankan Syari’ah yang beroperasi di beberapa negara Islam dan non Islam bisa dilihat bahwa tingkat profit dan loss sharing yang ditawa rkan lebih tinggi dari tingkat suku bunga hingga perbankan Syari’ah menjadi lebih menarik bagi para nasabah non Muslim. kesulitan likuiditas. Kendala-kendala Operasional. 3. keterbatasan ja ringan kantor bank Syari’ah. 23 Tahun 1999 serta tidak ada badan yang jelas untuk penyelesaian perkara antarabank Syari’ah dengan nasabah. pengusaha. alim ulama. Terdapat beberapa kendala operasiona l menghadapi perbankan Syari’ah yaitu: Kurangnya SDM dan keahlian. tidak adanya UU yang memberi penjelasan mengenai cara operasional perbankan Syari’ah di Indonesia antara tahun 1992 – 1998. pemuka masyarakat. akademisi dan masyarakat secara umum. 4. adanya kontroversial mengenai bunga dan produk jasa perbankan Syari’ah yang dianggap berbau bunga. Hal lain yang harus diperhatikan bahwa salah satu misi penting bank Syari’ah adalah mengatasi kemiskinan dimana sebagian besar kantong-kantong kemiskinan berada di daerah pedesaan maka perbankan Syari’ah perlu memperluas jaringannya sampai ke pedesaan. Problem Hukum. 2.1 KESIMPULAN Perbankan Syari’ah di Indonesia sebuah fenomena yang baru dan pasti mempunyai kekurangan dan kelebihan selama umurnya relatif pendek serta mempunyai kendala-kendala yang menghambat eksistensinya. dan terjadinya asimetri informasi. 1. dengan memberi bukti-bukti Ilmiah (empiris) mengenai kehancuran yang mengancam perekonomian Negara-negara sedang Berkembang. Menurut penulis bahwa untuk menghadapi kontroversial tersebut perlu memakai pendekatan empiris untuk menyakinkan para ulama yang menghalalkan bunga atas madaratnya.BAB III PENUTUP 3. Hal lain yang perlu diperhatikan oleh perbankan Syari’ah di Indonesia bahwa tingkat profit dan loss sharing yang ditawarkan masih terlalu rendah dibandingkan dengan tingkat suku bunga. Hal ini dapat dilakukan secara terus -menerus dengan cara tatap muka dengan para bankir. Kegiatan sosialisasi perbankan Syari’ah amat diperlukan dalam rangka penyebarluasan informasi dan meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai perbankan Syari’ah. 8 .

DAFTAR PUSTAKA Sumitro. Jakarta. Warkum.H. Situs internet : http://ib-bloggercompetition. Takaful Dan Pasar Modal Syariah) Di Indonesia. 2004. RajaGrafindo Persada.com/2010/01/05/kendala-%E2%80%93-kendalayang-dihadapi-perbankan-syariah-di-indonesia/ http://www.htm http://abbinoto. .com/harian/0402/07/kha1.suaramerdeka. Asas-Asas Perbankan Islam Dan Lembaga-Lembaga Terkait (Bamui..kompasiana.com/2010/04/14/permasalahan-perbankan-syariah-di-indonesia/ 9 . PT.wordpress. M. SH.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->