KENDALA PERBANKAN SYARIAH DI INDONESIA

Tugas Diajukan untuk memenuhi persyaratan mata kuliah Bank dan Lembaga Keuangan Lainnya semester 3

Dosen Pembimbing Zuhairan Y. Yunan

Penyusun M. Sybromalesi (1110084000051)

ILMU EKONOMI STUDI PEMBANGUNAN FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS UIN SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA 1432 H/2011 M

khususnya kepada Allah SWT. Dalam penulisan makalah ini penulis merasa masih banyak kekurangankekurangan baik pada teknis penulisan maupun materi. yang atas rahmat-Nya maka penulis dapat menyelesaikan penyusunan makalah yang berjudul “Kendala Perbankan Syariah”. dan dapat menjadikan semua bantuan ini sebagai ibadah. Untuk itu kritik dan saran dari semua pihak sangat penulis harapkan demi penyempurnaan pembuatan makalah ini. Akhirnya penulis berharap semoga Allah memberikan imbalan yang setimpal pada mereka yang telah memberikan bantuan. i . mengingat akan kemampuan yang dimiliki penulis. Penulisan makalah adalah merupakan salah satu tugas dan persyaratan untuk menyelesaikan tugas mata kuliah Bank dan Lembaga Keuangan Lainnya di Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta. Dalam penulisan makalah ini penulis menyampaikan ucapan terima kasih yang tak terhingga kepada pihak-pihak yang membantu dalam menyelesaikan penelitian ini.KATA PENGANTAR Puji syukur penulis penjatkan kehadirat Allah SWT.

................................................................................................................................8 3............2 Problem Hukum .........................................................................................................................................3 2...............3 Rendah nya Sosialisasi Perbankan Syariah.................................1 Latar Belakang .....................................................................9 ii .......................5 2.............................................................................................................1 1................................................................1 Kesimpulan .........................................DAFTAR ISI Kata Pengantar .............4 Kendala-Kendala Operasional ..................................................1 Kendala Fiqih.................................................................................................ii BAB I PENDAHULUAN......8 DAFTAR PUSTAKA.........................................................................1 BAB II SUMBER HUKUM EKONOMI SYARIAH.......................7 BAB III PENUTUP...............................................2 2............................................................................................................i Daftar Isi .....................................................................................................................................................4 2...................................................................................

kendala sosial isasi perbankan Syari’ah. kendala hukum. Dari hasil analisis terhadap kendala kendala tersebut penulis sudah sampai pada sebuah kenyataan bahwa kendala-kendala yang dianggap bisa menghambat perkembangan perbankan Syari’ah bisa diubah menjadi sebu ah motivasi dalam mengoreksi diri dan mendorong perbankan Syari’ah untuk meraih kemajuanyang lebih besar dari pada yang sudah diraih selama ini.26% dibandingkan total aset bank umum. dan kendala operasional. Sedangkan dana pihak ketiga yang dikelola pada periode yang sama mengalami kenaikan dari Rp 392 trilyun menjadi Rp 1.1 Latar Belakang Krisis perbankan yang terjadi sejak tahun 1997 telah membuktikan bahwa bank yang beroperasi dengan prinsip syari’ah dapat bertahan di tengah gejolak nilai tukar dan tingkat suku bunga yang tinggi. Perkembangan besar yang dialami perbankan Syari’ah di In donesia bukan berarti bahwa kendala yang dihadapi serta penghambat perkembangan tersebut sudah tidak ada. Menurut data BI. Menurut penulis.BAB I PENDAHULUAN 1.718 trilyun di tahun 2001 atau sekitar 0. secara garis besar terdapat empat kendala yang dihadapi bank Syari’ah di Indonesia yaitu: kendala fiqh. antara tahun 1998-2001 total aset yang dimiliki Bank Syari’ah mengalami perkembangan sebesar 74% per tahun yaitu dari Rp 479 trilyun menjadi Rp 2. 1 . Keadaan ini didukung oleh karakteristik kegiatan usaha bank Syari’ah yang melarang pemberlakuan bunga.806 trilyun.

Hingga tahun 1960-an. Kondisi stagnan ini muncul karena beberapa hal. sedangkan pemberian kreditnya di kota Mit Ghamr Mesir pada tahun 1963 dan berakhir pada tahun 1967 karena masalah politik di masa Abdul Nasir. danyang kemudian diakui sebagai pelopor pembentukan perbankan Syari’ah modern adalah Ahmed el Najjar. 7 tahun 1992. bank Syari’ah hanya merupakan bahan diskusi teoritis. negara yang pertama kali memakai Dual Banking System. yaitu ada upaya mengelola dana jamaah haji secara non konvensional. kemunculannya seiring dengan upaya gencar yang dilakukan oleh para pakar Islam dalam mendukung ekonomi Islam yang diyakini akan mampu mengganti dan memperbaiki sistem ekonomi konvensional yang berbasis pada bunga. telah mengganti UU Perbankan No.BAB II KENDALA-KENDALA PERBANKAN SYARIAH DI INDONESIA Istilah Bank Isl am atau Bank Syari’ah merupakan fenomena baru dalam dunia ekonomi modern. 26 Oktober 2001). Sedangkan Malaysia mulai resmi mendirikan Bank Syari’ah pada tahun 1983 dengan nama Bank Syari’ah Malaysia Berhard (BIMB ). Sedangkan bank Syari’ah dalam arti komersial yang sesungguhnya adalah Dubai Islamic Bank yang didirikan di Dubai tahun 1975. Upaya awal penerapan sistem profit and loss sharing tercatat di Pakistan dan Malaysia sekitar tahun 1940an. dengan mengacu kepada Al Quran dan As Sunnah sebagai landasan dasar hukum dan operasional. yaitu: 2 . telah muncul kesadaran bahwa bank Syari’ah merupakan solusi masalah ekonomi untuk menghasilkan kesejahteraa n sosial di negaranegara Islam. Hal ini diawalinya dengan mendirikanbank sejenis bank tabungan yang berbasis mudarabah. Perkembangan perbankan Syari’ah telah memberi pengaruh luas terhadap perbaikan ekonomi umat dan kesadaran baru untuk mengadopsi dan ekspansi lembaga keuangan Islam. yang menyebutkan dengan diperbolehkannya operasi perbankan dengan sistem bagi hasil selain dengan sistem bunga (Republika Online. Berdasarkan UU Perbankan No. Belum ada langkah nyata yang memungkinkan implementasi praktis gagasan tersebut. Selama periode tahu n 1992 sampai dengan 1998 perkembangan perbankan Syari’ah di Indonesia tidak menunjukkan suatu kemajuan yang cukup menggembirakan. Padahal. Untuk kawasan Asia Tenggara. maka pemerintah Indonesia dengan persetujuan DPR RI. Karena itulah sistem Bank Syari’ah menerapkan sistem bebas bunga (interest free) dalam operasionalnya.Bank sejenis itupun berkembang hingga mencapai 9 bank di Mesir waktu itu. 14 tahun 1967 dengan UU Perbankan No. yaitu menerapkan dua sistem perbankan (konvensional dan syari’ah) secara berdampingan adalah Filipina dengan pendirian The Philliphine AmanahBank (1973). Bank-bank ini memfokuskan usahanya pada pembiayaan usaha dagang dan industri skala kecil. dan karena itu rumusan yang paling lazim untuk mendefinisikan Bank Syari’ah adalah bank yang beroperasi sesuai dengan pri nsip-prinsip syari’at Islam. 7 tahun 1992 maka Bank Syari’ah pertama di Indonesia yang didirikan pada tanggal 3 Oktober 1991 dengan nama PT Bank Muamalah Indonesia dan mulai beroperasi pada tanggal 1 Mei 1992 dengan modal sebanyak Rp 84 milyar.

tujuan pengambilan kredit dari debitor pada jaman jahiliyah adalah untuk konsumsi. 2. Sedangkan dana pihak ketiga yang digelola pada periode yang sama naik dari Rp 392 trilyun menjadi Rp 1. 7 tahun 1992 dan diikuti dengan dikeluarkannya sejumlah ketentuan pelaksanaan dalam bentuk SK Direksi BI/PeraturanBank Indonesia. 2.806 trilyun. Menurut data BI bahwa diantara tahun 1998 sampai tahun 2001 total aset yang dimiliki Bank Syari’ah mengalami perkembangan se besar 74% per tahun yaitu dari Rp 479 trilyun menjadi Rp 2. Rendahnya pengetahuan dan kesalahpahaman masyarakat mengenai perba nkan Syari’ah. instrumen moneter dan pasar keuangan syar’iah yang belum tersedia. Makalah ini bertujuan untuk membahas kendala-kendala yang menghambat perkembangan perbankan Syari’ah di Indonesia dan bagaimana bisa menghadapinya di masa yang akan datang. Kedua.1. Hal ini sangat menentukan respon masyarakat terhadap bank Syari’ah. atau sebaliknya selama berlaku termasuk ke dalam perkara syubhat. Perkembangan perbankan Syari’ah di Indone sia terjadi setelah diberlakukan UU Perbankan No. halal.1. Keadaan ini didukung oleh karakteristik kegiatan usaha bank Syari’ah yang melarang bunga bank konvensional dan nisbah bagi hasil sebagai penggantinya. Akan tetapi dari faktor tersebut. salah seorang ulama NU (Nahdatul Ulama) sebagai representasi ulama berpendapat bahwa bunga bank adalah halal. jumlah bunga uang yang dipungut dan diberikan oleh bank kepada nasabah jauh lebih kecil dibandingkan dengan riba yang diberlakukan di jaman jahiliyah. dan haram. didasarkan pendapatnya pada beberapa alasan. adanya kerelaan antara kedua belah pihakyang bertransaksi sebagaimana halnya kebolehan dalam jual-beli dengan asas kerelaan. syubhat. serta melarang transaksi keuangan yang bersifat spekulatif (al-garar) dan tanpa didasarkan pada kegiatan usaha yang riil. 3. hanya menyinggung bunga bank yang diberikan oleh bank negara. Oktober 2001). Keempat. 3 . sementara pada saat ini bertujuan produktif. Sementara itu Majelas Tarjih Muhammadiyah memutuskan bahwa bunga bank yang diberikan oleh bank milik negara kepada nasabahnya. Ketentuan operasional perbankan.26% dibandingkan total aset bank umum. Krisis perbankan yang terjadi sejak tahun 1997 telah membuktikan bahwa bank yang beroperasi dengan prinsip syari’ah dapat bertahan di tengah gejolak nilai tukar dan tingkat suku bunga yang tinggi. Ketiga. telah memberi landasan hukum ya ng lebih kuat dan kesempatan yang lebih luas lagi bagi pengembangan perbankan Syari’ah di Indonesia (Bank Indonesia. pemungut bunga bank tidak membuat bank itu sendiri dan nasabahnya memperoleh keuntungan besar atau sebaliknya tidak akan merasa dirugikan dengan pemberian bunga. KENDALA-KENDALA FIQH Adanya perbedaan pandangan di kalangan ulama Indonesia mengenai bunga yang secara garis besar terbagi pada tiga pendapat yaitu. Keterbatasan jaringan kantor bank Syari’ah. dan kurangnya SDM. 10 tahun 1998 yang mengubah UU Perbankan No. Umar Syihab. Pertama.718 trilyun di tahun 2001 atau sekitar 0.

dengan menyatakan bahwa bunga yang diberikan oleh negara diperbolehkan. PROBLEM HUKUM Bank Syari’ah / Islam dalam sistem perbankan Indonesia secara formal telah dikembangkan sejak tahun 1992 sejalan dengan diberlakukannya UU No. haram. halal. dan Iran. yakni bunga bank haram. Demikian pula dengan ketentuan operasional. Bank Umum dimungkinkan untuk 4 . Dengan kata la in. jika dibandingkan dengan bunga pada bank swasta. Hal lain yang perlu diperhatikan oleh perbankan Syari’ah di Indonesia bahwa t ingkat profit dan loss sharing yang ditawarkan masih terlalu rendah dibandingkan dengan tingkat suku bunga. dengan memberi bukti-bukti empiris mengenai kehancuran yang mengancam perekonomian Negara-negara sedang Berkembang karena praktek bunga yang ditawarkan oleh perbankan konvensional. 7 tahun 1992 yang diikuti dengan dikeluarkannya sejumlah ketentuan pelaksanan dalam bentuk SK Direksi BI/Peraturan Bank Indonesia. dan kalau kita amati perbankan Syari’ah yang beroperasi di beberapa negara Islam dan non Islam bisa dilihat bahwa tingkat profit dan loss sharing yang ditawarkan lebih tinggi dari tingkat suku bunga hingga perbankan Syari’ah menjadi lebih menarik bagi para nasabah non Muslim. Lajnah Bahsul Masa’il memutuskan bahwa yang l ebih berhati-hati adalah pendapat pertama. dan Syubhat.2. meskipun terdapat perbedaan pandangan. dengan terjadinya polarisasi pendapat pada tiga kelompok yaitu. sehingga untuk menghadapinya perlu menggunakan pendekatan ilmiah dan normatif untuk menyakinkan para ulama yang menghalalkan bunga atas madarat-nya. hingga tahun 1998 belum terdapat ketentuan operasional yang lengkap yang secara khusus mengatur kegi atan usaha Bank Syari’ah. 10 tahun 1998 yang mengubah UU No. Nahdatul Ulama sebagai organisasi Islam terbesar di Indonesia. memutuskan masalah bunga bank tersebut dengan beberapa kali sidang. dan alasan-alasan yang menjadi dasar untuk menghalalkan bunga tidak benar secara empiris. Namun demikian. 7 tahun 1992 tentang Perbankan. UU tersebut belum memberi landasan hukum yang kuat terhada p pengembangan bank Syari’ah karena belum secara tegas mengatur keberadaan bank berdasarkan prinsip Syari’ah melainkan Bank Bagi Hasil. 7 Tahun 1992 belum mencakup secara tetap pengertian B ank Syari’ah yang memiliki cakupan lebih luas dari bagi hasil. Irak. di samping Muhammadiyah. telah memberi landasan hukum yang lebih kuat dan kesempatan yang lebih luas lagi bagi pengembangan perbankan Syari’ah di Indonesia. Pemberlakuan UU Perbankan No. kontroversial mengenai bunga bukan hanya terjadi di Indonesia tetapi juga terjadi di beberapa negara Islam seperti Mesir. Pengertian Bank Bagi Hasil yang dimaksudkan dalam UU Perbankan No. Namun. Perundang -undangan tersebut memberi kesempatan yang luas untuk pengembangan jaringan perbankan Syari’ah antara lain melalui ijin pembukaan Kantor Cabang Syari’ah (KCS) oleh bank konvensional. karena bunga yang diberikan masih tergolong rendah. Menurut pengamatan pada sejarah perkembangan perbankan syariah. Masalah ini bisa menghambat perkembangan perbankan Syari’ah di Indonesia dan membuat nasabah cenderung memilih perbankan konvensional dan secara empiris berlawanan dengan teori keuntungan perbankan Syari’ah yang menganggap bahwa keuntungan perbankan Syari’ah lebih dari tingkat suku bunga yang ditawarkan oleh perbankan konvensional dan bisa dibuktikan secara matematis seperti berikut: 2.

11 (1) UU No. Hal demikian bukan hanya terdapat pada masyarakat awam. waqaf. warisan. 23/1999 tentang Bank Indonesia (BI) juga menugaskan BI untuk mempersiapkan perangkat peraturan atau fasilitas-fasilitas penunjang yang mendukung operasional Bank Syari’ah. 7 Tahun 1989. Menurut ps. yang didirikan secara bersama oleh Kejaksaan Agung Republik Indonesia dan MUI (Muhamad Syafii Antonio. Sedangkan maksud agunan yang berkualitas tinggi dan mudah dicairkan adalah meliputi surat berharga atau tagihan yang diterbitkan oleh pemerintah atau badan hukum lain yang mempunyai otorit as untuk itu. Kyai dan Para tokoh masyarakat lainnya. Meskipun sistem ekonomi Islam telah jelas dan mudah dipahami. pp. RENDAHNYA SOSIALISASI PERBANKAN SYARI’AH Isu sentral yang sering kita dengar adalah bahwa pemahaman masyarakat mengenai sistem. 1999. 303-305). Institusi ini hanya dapat memeriksa dan mengadili perkara-perkara yang menyangkut perkawinan. Bagi bank syari’ah untuk dapat menyediakan agunan berupa surat-surat berharga dan/atau tagihan yang tidak berbunga. maka didirikan suatu lembaga yang mengatur hukum materi dan/atau berdasarkan prinsip syari’ah. Di Indonesia. Hanya saja kesulitan terjadi ketika UU tersebut juga menentukan bahwa bank konvensional maupun bank syari’ah wajib memberikan jaminan berupa agunan yang berkualitas tinggi dan mudah dicairkan serta nilainya minimal sebesar jumlah kredit atau pembiayaan yang diterimanya. Berdasarkan latar belakang di atas.3. sedangkan wewenang Pengadilan Agama telah dibatasi UU No. yaitu melarang menggandakan uang secara tidak produktif dan konsentrasi kekayaan pada satu pihak dan secara tidak adil. BI dalam fungsinya sebagai The Leader of Last Resort adalah membantu bank-bank yang mengalami kesulitan likuiditas. prinsip-prinsip dasar hubungan 5 . 2. kepentingan untuk membentuk lembaga permanen yang berfungsi untuk menyelesaikan kemungkinan terjadinya sengketa perdata di antara bank-bank Syari’ah dengan para nasabah sudah sangat mendesak. Pengadilan Agama tidak dapat memeriksa perkaraperkara di luar kelima bidang tersebut. Selain itu UU No. dan sedekah. Dual Banking System yang dimaksud adalah terselenggaranya dua sistem perbankan (konve nsional dan syari’ah) secara berdampingan dalam melayani perekonomian nasional yang pelaksanaannya diatur dalam berbagai peraturan yang berlaku (Bank Indonesia. badan ini di kenal dengan nama Badan Arbitrase Muamalah Indonesia atau BAMUI. Akan tetapi badan tersebut sampai sekarang belum bekerja dan sengketa perdata di antara bank-bank Syari’ah dengan para nasabah diselesaikan di Pengadilan Negeri. Pengadilan Negeri tidak menggunakan syari’ah sebagai landasan hukum bagi penyelesaian perkara. belum mungkin karena pasar uang (financial market) yang berdasarkan prinsip syari’ah belum berkembang di Indonesia. tetapi juga terjadi pada diri Ulama.menjalankan kegiatan usahanya secara konvensional dan sekaligus dapat melakukannya berdasarkan prinsip Syari’ah. Namun secara praktis bentuk produk dan pelayanan jasa. 23/1999 tentang Bank Indonesia adalah bahwa BI dapat memberi kredit atau pembiayaan berdasarkan prinsip Syari’ah untuk jangka waktu paling lama 90 (sembilan puluh) hari kepada bank untuk mengatasi kesulitan pendanaan jangka pendek bank tersebut. Kedua UU tersebut di atas menjadi dasar hukum penerapan Dual Banking System di Indonesia. hibah. prinsip pelayanan dan produk perbankan yang berdasarkan syari’ah Islam sebagian besar masih kurang tepat. Oktober 2001). Kendala h ukum yang lain ialah di Indonesia.

8. pengusaha. 31 % menyatakan bertentangan dengan ajaran agama Islam.2 %). c. 21 % menyatakan tidak tahu. 2. 2) Bank Syari’ah adalah bank yang Islami. Namun demikian.5 % menyatakan bahwa bagi hasil sama saja dengan bunga. Jawa Tengah-DIY 71. alim ulama. 16 % menyatakan tidak tahu. Hal ini dapat dilakukan secara terus-menerus dengan cara tatap muka dengan para bankir. sebagian besar (lebih dari 95 %) berpendapat bahwa sistem perbankan penting dan dibutuhkan dalam mendukung kelancaran transaksi ekonomi. Di masa mendatang bentuk 6 . Lebih dari 4000 responden yang tersebar di empat propinsi.1 % pihak responden menyatakan bahwa bank Syari’ah secara eksklusif hanya khusus untuk umat Islam. namun berdasarkan survei yang dilakukan di wilayah Jawa Barat. nasabah yang telah menggunakan jasa bank Syari’ah.6 %. d. sebagian memiliki kecenderungan untuk berhanti jadi nasabah antara lain karena kualitas pelayanan yang kurang baik dan/atau keraguan akan konsistensi penerapan prinsip-prinsip Islam. Menurut penulis bahwa kegiatan sosialisasi perbankan Syari’ah amat diperlukan dalam rangka penyebarluasan informasi dan meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai perbankan Syari’ah. c) untuk wilayah Jawa Timur. 62 % menyatakan bertentangan dengan ajaran agama Islam. Dari penelitian wilayah Jawa Barat diperoleh informasi bahwa masyarakat non nasabah bank Syari’ah yang diberi penjelasan mengenai sistem produk dan jasa serta kehalalan bank Syari’ah mem punyai kecenderungan kuat memilih bank Syari’ah. Namun. Analisis faktor-faktor yang memotivasi penggunaan jasa perbankan Syari’ah ternyata untuk masyarakat Jabar dan Jatim yang lebih dominan adalah faktor kualitas pelayanan dan kedekatan lokasi bank dari pusat kegiatan. f. sistem bagi hasil adalah sistem yang dinilai universal dapat diterima (94%) karena bersifat menguntungkan bagi bank maupun bagi nasabah. Hasilnya sebagai berikut (Bank Indonesia.2 % menyatakan bahwa bank Syari’ah sama saja dengan bank kovensional. Desember 2000): a. Untuk bertentangan/tidaknya Bank Syari’ah dengan ajaran agama Islam dapat dijelaskan sebagai berikut. serta cara-cara berusaha yang halal dalam bank Syari’ah masih terasa awam dan belum dipahami secara benar. b) untuk wilayah Jawa Tengah dan DIY. Pengetahuan masyarakat mengenai sistem perbankan Syari’ah relatif tinggi (Jawa Barat 88. 48 % menyatakan bertentangan dengan ajaran agama Islam. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Bank Indonesia tahun 2000 di empat wilayah yang terdiri dari Jawa Barat bekerja sama dengan LP-IPB. akademisi dan masyarakat secara umum. Jawa Timur bekerjasama dengan PPBEI-UNIBRAW. Jawa Tengah dan DIY bekerjasama dengan LP-UNDIP Semarang. dan 16. 69 % menyatakan tidak bertentangan dengan ajaran agama Islam. Meskipun demikian pemahaman mengenai keunikan sistem produk/ jasa bank Syari’ah secara umum masih rendah. e. pemuka masyarakat. a) untuk wilayah Jawa Barat. Untuk responden wilayah Jawa Timur: 10. Pandangan masyarakat mengenai sistem bunga: 1. b.antara bank dengan nasabah. untuk masyarakat Jateng pertimbangan agama adalah motivasi terpenting untuk mendorong penggunaan jasa bank Syari’ah. Sedangkan faktor pertimbangan keagamaan. bukanlah menjadi faktor penting dalam mempengaruhi kecenderungan menggunakan jasa bank Syari’ah. Namun sebaliknya. Kesan umum yang ditangkap oleh masyarakat tentang bank Syari’ah: 1) bank Syari’ah identik dengan bank dengan sistem bagi hasil.

Hanya saja kesulitan terjadi ketika UU tersebut juga menentukan bahwa bank konvensio nal maupun bank syari’ah wajib memberikan jaminan berupa agunan yang berkualitas tinggi dan mudah dicairkan dan nilainya minimal sebesar jumlah kredit atau pembiayaan yang diterimanya. 2. Menurut ps.kegiatan sosialisasi diharapkan dapat lebih beragam dengan menggunakan berbagai media massa dan bekerja sama dengan pihak-pihak yang memiliki akses kepada masyarakat luas. Pengembangan SDM bisa dilakukan melalui kerjasama antara perbankan Syari’ah dengan lembaga lembaga pendidikan yang berada di luar maupun di Indonesia sendiri. KENDALA-KENDALA OPERASIONAL Terdapat beberapa kendala operasional menghadapi perb ankan Syari’ah seperti berikut: 1. 23/1999 tentang Bank Indonesia adalah bahwa BI dapat memberi kredit atau p embiayaan berdasarkan prinsip syari’ah untuk jangka waktu paling lama 90 (sembilan puluh) hari kepada bank untuk mengatasi kesulitan pendanaan jangka pendek bank tersebut.4. ada beberapa faktor penting yang diperlukan sebagai dasar pengembangan jaringan. Kurangnya SDM dan Keahlian: kendala di bidang sumber daya manusia dalam pengembangan perbankan Syari’ah antara lain disebabkan oleh karena sistem perbankan Syari’ah masih belum lama dikembangkan di Indonesia. Dalam upaya pengembangan dan perluasan jaringan kantor bank Syari’ah. 7 . Kesulitan Likuiditas: BI dalam fungsinya sebagai The Leader of Last Resort adalah membantu bankbank yang mengalami kesulitan likuiditas. SDM. Faktor-faktor tersebut meliputi skala pasar. ketimpangan dalam distribusi dana. Keterbatasan Jaringan Kantor Bank Syari’ah: pengembangan jaringan kantor bank Syari’ah diperlukan dalam rangka perluasan jangkauan pelayanan kepada masyarakat. 3. 2001. Hambatan ini bisa diselesaiakan dengan mendirikan Bursa Efek Syari’ah di Indonesia. sehingga tenaga terdidik dan pengalaman di bidang perbankan Syari’ah baik dari sisi bank pelaksana maupun dari bank sentral masih terasa kurang. faktor ini yang menyebabkan nasabah perbankan Syari’ah seringkali pindah ke ban k lain karena menganggap pelayanan dari pihak perbankan Syari’ah kurang profesional. hal ini juga bertentangan dengan kaidah-kaidah fiqh yang mewajibkan untuk memberi informasi lengkap mengenai kegiatan usaha kepada mitra kerja/nasabah. Disamping itu. pp. 485). kurangnya jumlah bank Syari’ah yang ada juga dapat menghambat perkembangan kerjasama diantara bank Syari’ah. sistem dan teknologi. serta kegiatan ekonomi. Sedangkan maksud agunan yang berkualitas tinggi dan mudah dicairkan adalah meliputi surat berharga atau tagihan yang diterbitkan oleh pemerintah atau badan hukum lain yang mempunyai otoritas untuk itu. 2. Di samping itu lembaga akademi dan pelatihan di bidang ini masih terbatas. 4. Terjadinya Asimetri Informasi: Asimetri informasi terjadi karena bank Syari’ah kurang transparan dengan nasabahnya karena nasabah perbankan Syari’ah seringkali tidak mengetahui tentang kegiatan investasi yang dijalankan oleh bank serta beberapa resiko yang terdapat dalam kegiatan tersebut. 11 (1) UU No. Bagi bank syari’ah untuk dapat menyediakan agunan berupa surat -surat berharga dan/atau tagihan yang tidak berbunga belum mungkin karena pasar uang (financial market) yang berdasarkan prinsip syari’ah belum berkembang di Indonesia (Syamsul Anwar. maka pengembangan SDM bidang perbankan Syari’ah menjadi hal penting karena keberhasilan pengembangan bank Syari’ah pada level Mikro ditentukan oleh kualitas manajemen dan tingkat pengetahuan dan ketrampilan pengelola bank.

1. 3. alim ulama. 4. adanya kontroversial mengenai bunga dan produk jasa perbankan Syari’ah yang dianggap berbau bunga. keterbatasan ja ringan kantor bank Syari’ah. Selanjutnya kalau kita amati perbankan Syari’ah yang beroperasi di beberapa negara Islam dan non Islam bisa dilihat bahwa tingkat profit dan loss sharing yang ditawa rkan lebih tinggi dari tingkat suku bunga hingga perbankan Syari’ah menjadi lebih menarik bagi para nasabah non Muslim. akademisi dan masyarakat secara umum. Rendahn ya Sosialisasi Perbankan Syari’ah.BAB III PENUTUP 3. dan terjadinya asimetri informasi. Kendala fiqh. Hal lain yang harus diperhatikan bahwa salah satu misi penting bank Syari’ah adalah mengatasi kemiskinan dimana sebagian besar kantong-kantong kemiskinan berada di daerah pedesaan maka perbankan Syari’ah perlu memperluas jaringannya sampai ke pedesaan. kesulitan likuiditas. Dalam makalah ini penulis sudah membagi kendala perbankan Syari’ah di Indonesia meliputi empat kendala yaitu. Problem Hukum. Kegiatan sosialisasi perbankan Syari’ah amat diperlukan dalam rangka penyebarluasan informasi dan meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai perbankan Syari’ah. dengan memberi bukti-bukti Ilmiah (empiris) mengenai kehancuran yang mengancam perekonomian Negara-negara sedang Berkembang. pengusaha. Terdapat beberapa kendala operasiona l menghadapi perbankan Syari’ah yaitu: Kurangnya SDM dan keahlian. Menurut penulis bahwa untuk menghadapi kontroversial tersebut perlu memakai pendekatan empiris untuk menyakinkan para ulama yang menghalalkan bunga atas madaratnya. 2. dan adanya beberapa permasalahan yang terkait dengan likuiditas perbankan Syari’ah yang berkaitan dengan UU Bank Indonesia No. tidak adanya UU yang memberi penjelasan mengenai cara operasional perbankan Syari’ah di Indonesia antara tahun 1992 – 1998. Hal ini dapat dilakukan secara terus -menerus dengan cara tatap muka dengan para bankir. 8 . Hal lain yang perlu diperhatikan oleh perbankan Syari’ah di Indonesia bahwa tingkat profit dan loss sharing yang ditawarkan masih terlalu rendah dibandingkan dengan tingkat suku bunga. pemuka masyarakat.1 KESIMPULAN Perbankan Syari’ah di Indonesia sebuah fenomena yang baru dan pasti mempunyai kekurangan dan kelebihan selama umurnya relatif pendek serta mempunyai kendala-kendala yang menghambat eksistensinya. 23 Tahun 1999 serta tidak ada badan yang jelas untuk penyelesaian perkara antarabank Syari’ah dengan nasabah. Kendala-kendala Operasional.

PT.htm http://abbinoto.wordpress.. Warkum. M. .DAFTAR PUSTAKA Sumitro. SH. 2004.com/2010/04/14/permasalahan-perbankan-syariah-di-indonesia/ 9 . RajaGrafindo Persada. Jakarta. Asas-Asas Perbankan Islam Dan Lembaga-Lembaga Terkait (Bamui.suaramerdeka.com/2010/01/05/kendala-%E2%80%93-kendalayang-dihadapi-perbankan-syariah-di-indonesia/ http://www. Situs internet : http://ib-bloggercompetition.kompasiana.com/harian/0402/07/kha1. Takaful Dan Pasar Modal Syariah) Di Indonesia.H.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful