KEPEMILIKAN DALAM EKONOMI ISLAM Oleh: Agus Arwani, SE, M.Ag.

Dosen STAIN Pekalongan Kepala Perpustakaan PonPes Modern Al Qur’an Buaran Guru MA KH. Syafi’i Buaran A. Pendahuluan Memahami sistem ekonomi Islam secara utuh dan komprehensif, selain memerlukan pemahaman tentang Islam juga memerlukan pemahaman yang memadai tentang pengetahuan ekonomi umum mutakhir. Sebaliknva, keterbatasan dalam pemahaman tentang ekonomi umum mutakhir (kapitalis dan sosialis) akan berakibat pada anggapan bahwa sistem ekonomi Islam tidak memiliki konsep operasional, namun hanya memiliki konsep-konsep teoritis dan moral seperti yang terdapat pada hukum-hukum fikih tentang muamalah, seperti perdagangan, sewamenyewa, simpan-pinjam dan lain-lain. Dengan kata lain sistem ekonomi Islam hanya berada pada tatanan konsep teoritis namun tidak memiliki konsep operasional praktis seperti halnya sistem ekonomi lainnya. Sistem ekonomi Islam mempunyai perbedaan yang mendasar dengan sistem ekonomi manapun termasuk kapitalis maupun sosialis. Perbedaan itu tidak hanya mencakup falsafah ekonominya, namun juga pada konsepkonsep pokoknya serta pada tataran praktisnya. Meskipun terdapat perbedaan yang fundamental antara sistem ekonomi Islam dengan sistem ekonomi lainnya, namun tidak dipungkiri bahwa pada tataran rincian praktis dijumpai beberapa persamaan. Namun pada hakikatnya terdapat perbedaan antara sistem ekonomi Islam dengan sistem ekonomi lainnya karena landasan sistem ekonominya berbeda . Diantara perbedaan yang mendasar berkaitan masalah kepemilikan harta kekayaan. B. Konsep Kepemilikan Harta kekayaan. Perbedaan antara sistem ekonomi Islam dengan sistem ekonomi lainnya adalah dalam hal konsep kepemilikan harta. Pandangan tentang kepemilikan harta berbeda antara sistem ekonomi Sosialis dengan sistem ekonomi Kapitalis serta berbeda juga dengan sistem ekonomi Islam. Kepemilikan harta (barang dan jasa) dalam Sistem Sosialis dibatasi dari segi jumlah (kuantitas), namun dibebaskan dari segi cara (kualitas) memperoleh harta yang dimiliki. Artinya cara memperolehnya dibebaskan dengan cara apapun yang dapat dilakukan. Sedangkan menurut pandangan Sistem Ekonomi Kapitalis jumlah (kuantitas) kepemilikan harta individu berikut cara memperolehnya (kualitas) tidak dibatasi, yakni dibolehkan dengan cara apapun selama tidak mengganggu kebebasan orang lain. Sedangkan menurut sistem ekonomi Islam kepemilikan harta dari segi jumlah (kuantitas) tidak dibatasi namun dibatasi dengan cara-cara tertentu (kualitas) dalam memperoleh harta (ada aturan halal dan haram). Demikian juga pandangan tentang jenis kepemilikan harta. Di dalam sistem ekonomi sosialis tidak dikenal kepemilikan individu (private property). Yang ada hanya kepemilikan negara (state property) yang dibagikan secara merata kepada seluruh individu masyarakat. Kepemilikan negara selamanya tidak bisa dirubah menjadi kepemilikan individu. Berbeda dengan itu di dalam Sistem Ekonomi Kapitalis dikenal kepemilikan individu (private property) serta kepemilikan umum (public property). Berbeda lagi dengan Sistem Ekonomi Islam, yang mempunyai pandangan bahwa ada kepemilikan individu (private property), kepemilikan umum (public property) serta kepemilikan negara (state property). C. Konsep Pengelolaan Kepemilikan Harta kekayaan Perbedaan lainnya antara sistem ekonomi Islam dengan sistem ekonomi lainnya adalah dalam hal konsep pengelolaan kepemilikan harta, baik dari segi nafkah maupun upaya pengembangan kepemilikan. Menurut sistem ekonomi konvensional, harta yang telah

dimiliki dapat dipergunakan (konsumsi) ataupun di kembangkan (investasi) secara bebas tanpa memperhatikan aspek halal dan haram serta bahayanya bagi masyarakat. Sebagai contoh, membeli dan mengkonsumsi minuman keras (khamr) adalah sesuatu yang dibolehkan, bahkan upaya pembuatannya dalam bentuk pendirian pabrik-pabrik minuman keras dilegalkan dan tidak dilarang. Sedangkan menurut Islam harta yang telah dimiliki, pemanfaatan (konsumsi) maupun pengembangannya (investasi) wajib terikat dengan ketentuan halal dan haram. Dengan demikian maka membeli, mengkonsumsi barang-barang yang haram adalah tidak diperkenankan (dilarang). Termasuk juga upaya investasi berupa pendirian pabrik barang-barang haram juga dilarang. Karena itulah memproduksi, menjual, membeli dan mengkonsumsi minuman keras adalah sesuatu yang dilarang dalam sistem ekonomi Islam. D. Konsep Distribusi Harta kekayaan di Tengah Masyarakat. Perbedaan lainnya antara sistem ekonomi Islam dengan sistem ekonomi lainnya adalah dalam hal konsep distribusi kekayaan di tengah masyarakat. Menurut sistem ekonomi konvensional, distribusi kekayaan di tengah masyarakat dilakukan oleh negara secara mutlak. Negara akan membagikan harta kekayaan kepada individu rakyat dengan sama rata, tanpa memperhatikan lagi kedudukan dan status sosial mereka. Akibatnya adalah meskipun seluruh anggota masyarakat memperoleh harta yang sama, namun penghargaan yang adil terhadap jerih payah setiap orang menjadi tidak ada. Sebab berapapun usaha dan produktivitas yang mereka hasilkan, tetap saja mereka memperoleh pembagian harta (distribusi) yang sama dengan orang lain, meskipun orang tersebut memberikan jerih payah yang kecil atau bahkan sama sekali tidak bekerja. Karena itulah sistem ekonomi sosialis menolak mekanisme pasar (harga) dalam distribusi kekayaan. Berbeda juga dengan sistem ekonomi kapitalis yang lebih mengandalkan pada mekanisme pasar (harga) dan menolak sejauh mungkin peranan negara secara langsung dalam mendistribusikan harta di tengah masyarakat. Menurut mereka mekanisme harga (pasar) dengan invisible hands-nya akan secara otomatis membuat distribusi kekayaan di tengah masyarakat. Karena itulah maka sistem ekonomi kapitalis akan mengabaikan setiap orang yang tidak mampu mengikuti mekanisme pasar dengan baik. Seolah-olah menurut mereka hanya orang-orang yang mampu mengikuti makanisme pasar artinya mampu mengikuti persaingan pasarlah yang layak hidup. Sedangkan orang-orang lemah, jompo, cacat tidaklah layak untuk hidup, sebab hanya menjadi beban masyarakat. Sedangkan sistem ekonomi Islam, dalam hal distribusi kekayaan di tengah masyarakat, selain mengandalkan mekanisme ekonomi yang wajar juga mengandalkan mekanisme non ekonomi. Mekanisme distribusi yang ada dalam sistem ekonomi Islam secara garis besar dapat dikelompokkan menjadi dua kelompok mekanisme, yaitu (1) apa yang disebut mekanisme ekonomi dan (2) mekanisme non-ekonomi. Mekanisme ekonomi adalah mekanisme utama yang ditempuh oleh Sistem Ekonomi Islam untuk mengatasi persoalan distribusi kekayaan. Mekanisme dijalankan dengan jalan membuat berbagai ketentuan yang menyangkut kegiatan ekonomi yang berkaitan dengan distribusi kekayaan. Dengan sejumlah ketentuan-ketentuan yang menyangkut berbagai kegiatan ekonomi tertentu, diyakini distribusi kekayaan itu akan berlangsung normal. Namun jika mekanisme ekonomi tidak dapat atau belum mampu berjalan untuk mengatasi persoalan distribusi, baik karena sebab-sebab alamiah yang menimbulkan kesenjangan, atau pun kondisi-kondisi khusus seperti karena bencana alam, kerusuhan dan lain sebagainya, maka Islam memiliki sejumlah mekanisme non-ekonomi yang dapat digunakan untuk mengatasi persoalan distribusi kekayaan. Dengan demikian dapat diketahui bahwa Sistem Ekonomi Islam sangat berbeda dengan Sistem Ekonomi Kapitalis yang untuk terjadinya distribusi kekayaan mengandalkan kepada mekanisme (harga) pasar. Tegasnya, distribusi kekayaan secara lebih baik tidak

Menurut Zallum (1983). At-Taubah : 24) “Dan hartanya tidak bermanfaat baginya. serta sebabsebab pemilikannya dan kepemilikan tersebut berasal dari adanya izin yang diberikan Allah SWT untuk memiliki zat tersebut. harta (milik) Allah yang telah Dia berikan kepada kalian. kepemilikan tersebut hanya ditentukan berdasarkan ketetapan dari As-Syari’ (Allah SWT) terhadap zat tersebut. Nuh : 12) Dari sinilah kita temukan. bila ia telah binasa. Macam-Macam Kepemilikan Zallum (1983). “(QS.bisa dilakukan bila hanya mengandalkan mekanisme ekonomi saja (itupun banyak kegiatan seperti berbagai jenis kegiatan ribawi. Al-Hadid : 7) “Dan (Allah) membanyakkan harta dan anak-anakmu.” (QS.”(QS. yang memungkinkan siapa saja yang mendapatkannya untuk . maka Allah menyandarkan kepemilikan tersebut kepada manusia. sehingga melahirkan akibatnya. “(QS. Dimana Allah SWT menyatakan dengan firman-Nya : “Maka berikanlah kepada mereka harta-hartanya. Pilar Pertama : Pandangan Tentang Kepemilikan (AI-Milkiyyah) An-Nabhaniy (1990) mengatakan. An-Nabhaniy (1990). Karena itulah maka sebenarnya manusia telah diberi hak untuk memiliki dan menguasai harta tersebut. Al-Lail :11) Ayat-ayat di atas menunjukkan bahwa hak milik yang telah diserahkan kepada manusia (istikhlaf) tersebut bersifat umum bagi setiap manusia secara keseluruhan. Dalam hal ini Allah SWT berfirman : “Dan berikanlah kepada mereka. An-Nabhaniy (1990). Oleh karena itu. yang bila dicermati justru menimbulkan hambatan terhadap lancarnya distribusi kekayaan). Az-Zain (1981). dimana Allah SWT adalah Pemilik kepemilikan tersebut sekaligus juga Allahlah sebagai Dzat Yang memiliki kekayaan.” (QS. atas dasar pandangan di atas maka asas yang dipergunakan menurut pandangan Islam berdiri di atas tiga pilar (fundamental) yakni : 1. dari segi kepemilikan itu sendiri. kepemilikan merupakan izin As-Syari’ (Allah SWT) untuk memanfaatkan zat tertentu. juga judi. harta kekayaan itu adalah milik Allah semata. Az-Zein (1981). yang kalian telah dijadikan (oleh Allah) berkuasa terhadapnya.” (QS. Kemudian Allah SWT telah menyerahkan harta kekayaan kepada manusia untuk diatur dan dibagikan kepada mereka. maka Islam memberikan syarat yaitu harus ada izin dari Allah SWT kepada orang tersebut untuk memiliki harta kekayaan tersebut dan hanya bisa dimiliki oleh seseorang apabila orang yang bersangkutan mendapat izin dari Allah SWT untuk memilikinya. Sementara ketika Allah SWT menjelaskan tentang perubahan kepemilikan kepada manusia. bahwa ketika Allah SWT menjelaskan tentang status asal kepemilikan harta kekayaan tersebut. yaitu : 1) Kepemilikan Individu (private property) Kepemilikan individu adalah ketetapan hukum syara’ yang berlaku bagi zat ataupun manfaat (jasa) tertentu. Makna Kepemilikan Kepemilikan (property). Maka mestinya harus ada pula mekanisme non ekonomi yang dapat diterapkan untuk mengatasi persoalan distribusi. dimana Allah SWT menyatakan “Maalillah” (harta kekayaan milik Allah). Oleh karena itu agar manusia benar-benar memiliki harta kekayaan (hak milik). Al-Baqarah : 279) “Dan harta-harta yang kalian usahakan. “(QS. yaitu adanya pemilikan atas zat tersebut menjadi sah menurut hukum Islam. Abdullah (1990) mengemukakan bahwa kepemilikan (property) menurut pandangan Islam dibedakan menjadi tiga kelompok. An-Nuur : 33) Oleh karena itu. An-Nisaa` : 6) “Ambillah dari harta-harta mereka. Sebagaimana firman-Nya : “Dan nafkahkanlah apa saja. Abdullah (1990). pada hakikatnya merupakan milik Allah SWT. Allah SWT menyandarkan kepada diri-Nya.

”(HR. Yang juga dapat dikategorikan sebagai kepemilikan umum yaitu jalan raya. dan api. Berkaitan dengan pemilikan umum ini. bahwa Nabi saw bersabda : “Tiga hal yang tidak akan pemah dilarang (untuk dimiliki siapapun) yaitu air. serta memperoleh kompensasi – jika barangnya diambil kegunaannya oleh orang lain seperti disewa. lbnu Majah juga meriwayatkan dari Abu Hurairah. Dan pengertian di atas maka benda-benda yang termasuk dalam kepemilikan umum dapat dikelompokkan menjadi tiga kelompok : a. Adapun bahan tambang yang sangat banyak (hampir tidak terbatas) jumlahnya. Benda-benda ini dari segi bahwa merupakan fasilitas umum adalah hampir sama dengan kelompok pertama. dengan mengkaji secara komprehemsif hukumhukum syara’ yang menentukan pemilikan seseorang atas harta tersebut. Abu Daud) Anas ra meriwayatkan hadits dari lbnu Abbas ra. yang darinya harus dikeluarkan khumus. Sedangkan benda-benda yang termasuk dalam kategori kepemilikan umum adalah benda-benda yang telah dinyatakan oleh Allah SWT dan Rasulullah saw bahwa benda-benda tersebut untuk suatu komunitas dimana mereka masing-masing saling membutuhkan. An-Nabhaniy (1990) mengemukakan. bahwa Nabi saw bersabda: “Kaum muslimin berserikat dalam tiga barang. Kepemilikan Umum (collective property) Kepemilikan umum adalah izin As-Syari’ kepada suatu komunitas untuk sama-sama memanfaatkan benda. Benda-benda yang merupakan fasilitas umum Yang merupakan fasilitas umum adalah apa saja yang dianggap sebagai kepentingan manusia secara umum. Bahan tambang yang jumlahnya sangat besar Bahan tambang dapat dikiasifikasikan menjadi dua. Berbeda dengan jalan raya. hukum Islam melarang benda tersebut dikuasai hanya oleh seseorang akan sekelompok kecil orang. (5) Harta-harta yang diperoleh oleh seseorang dengan tanpa mengeluarkan harta atau tenaga apapun.” (HR. sungai. yang tidak mungkin dihabiskan oleh individu. (3) Kebutuhan akan harta untuk menyambung hidup. yaitu air. masjid dan fasilitas umunn lainnya. yakni 1/5 bagiannya (20%). yaitu: Barang tambang yang sedikit (terbatas) jumlahnya termasuk milik pribadi.memanfaatkan barang tersebut. dan tidak boleh dimiliki secara pribadi. Dari lbnu Abbas. Namun meskipun benda-benda tersebut seperti jenis vang pertama. serta boleh dimiliki secara pribadi. Barang-barang kelompok pertama dapat dimiliki oleh individu jika jumlahnya kecil dan tidak menjadi sumber kebutuhan suatu komunitas. Misalnya sumur air. mungkin saja dimiliki oleh individu. maka akan nampak bahwa sebab-sebab kepemilikan tersebut terbatas pada lima sebab berikut ini : (1) Bekerja. (2) Warisan. yang berarti dilarang untuk diperjualbelikan. padang rumput. dan terhadap bahan tambang tersebut diberlakukan hukum rikaz (barang temuan). Rasulullah saw telah menjelaskan dalam sebuah hadits bagaimana sifat fasilitas umum tersebut. dari segi sifatnya. b. namun jika sumur air tersebut dibutuhkan oleh suatu komunitas maka individu tersebut dilarang memilikinya. (4) Harta pemberian negara yang diberikan kepada rakyat. namun benda-benda tersebut berbeda dengan kelompok yang pertama. Benda-benda yang sifat pembentukannya menghalangi untuk dimiliki hanya oleh individu secara perorangan. maka bahan tambang tersebut termasuk milik umum (collective property). c. ataupun karena dikonsumsi untuk dihabiskan zatnya seperti dibeli – dari barang tersebut. tersebut dengan menambahkan : Wa tsamanuhu haram (dan harganya haram). padang rumput. bahwa benda tersebut tidak bisa dimiliki oleh individu. . dan api. Ibnu Majah). 2).

sesuai dengan kebijakannya. Makna pengelolaan oleh negara ini adalah adanya kekuasaan yang dimiliki negara untuk mengelolanya semisal harta fai. Memberikan kesempatan seluas-luasnya bagi berlangsungnya pengembangan kepemilikan (tanmiyah al-milkiyah) melalui kegiatan investasi. Meskipun harta milik umum dan milik negara pengelolaannya dilakukan oleh negara. kharaj. Membuka kesempatan seluas-luasnya bagi berlangsungnya sebab-sebab kepemilikan dalam kepemilikan individu. syara’ melarang perputaran kekayaan hanya di antara orang-orang kaya namun mewajibkan perputaran tersebut terjadi di antara semua orang. 3. kemudian Allah telah menyerahkannya kepada manusia untuk menguasi harta tersebut melalui izin-Nya sehingga orang tersebut sah memiliki harta tersebut. 2. maka Islam memberikan juga berbagai ketentuan yang berkaitan dengan hal ini. 3). Hanya saja dalam memanfaatkan dan mengembangkan harta yang telah dimilikinya tersebut ia tetap wajib terikat dengan ketentuan-ketentuan hukum Islam yang berkaitan dengan pemanfaatan dan pengembangan harta. meskipun negara dapat membolehkan kepada orang-orang untuk mengambil dan memanfaatkannya. Kemudian kesalahan tersebut akan membawa konsekuensi terdistribusikannya kekayaan kepada segelintir orang saja. yakni : 1. Penutup Secara umum mekanisme yang ditempuh oleh sistem ekonomi Islam dikelompokkan menjadi dua. 2. bisa juga menyebabkan perbedaan distribusi kekayaan tersebut di antara mereka. dilakukan dengan mengikuti ketentuan sebab-sebab kepemilikan serta transaksi-transaksi yang wajar. dimana negara dapat memberikan kepada sebagian warga negara. Mekanisme distribusi kekayaan kepada individu. Selain itu perbedaan antara masing-masing individu mungkin saja menyebabkan terjadinya kesalahan dalam distribusi kekayaan. Larangan menimbun harta benda walaupun telah dikeluarkan zakatnya. Allah SWT berfirman : “Supaya harta itu jangan hanya beredar di antara orang-orang kaya saja di antara kamu. 3. Hanya saja. Mekanisme ekonomi yang ditempuh sistem ekonomi Islam dalam rangka mewujudkan distribusi kekayaan diantara manusia yang seadil-adilnya. Setiap muslim yang telah secara sah memiliki harta tertentu maka ia berhak memanfaatkan dan mengembangkan hartanya. sungai dan lain-lain yang memang tidak mungkin dimiliki oleh individu. Adanya pemilikan seseorang atas harta kepemilikian individu tertentu mencakup juga kegiatan memanfaatkan dan mengembangkan kepemilikan harta yang telah dimilikinya tersebut. adalah dengan sejumlah cara. Oleh karena itu. jizyah dan sebagainya. Pilar Ketiga : Distribusi Kekayaan di Tengah-tengah Manusia Karena distribusi kekayaan termasuk masalah yang sangat penting. Kepemilikan Negara (state property) Harta-harta yang terrnasuk milik negara adalah harta yang merupakan hak seluruh kaum muslimin yang pengelolaannya menjadi wewenang negara. sebagaimana yang terjadi akibat penimbunan alat tukar yang fixed. yakni mekanisme ekonomi dan mekanisme non-ekonomi. Pada gilirannya akan menghambat distribusi . Harta yang ditimbun tidak akan berfungsi ekonomi.” (QS. namun ada perbedaan antara kedua bentuk hak milik tersebut. Berbeda dengan hak milik negara dimana negara berhak untuk memberikan harta tersebut kepada individu tertentu sesuai dengan kebijakan negara. sementara yang lain kekurangan. Al-Hasyr : 7) E.mesjid. seperti emas dan perak. Harta yang termasuk milik umum pada dasamya tidak boleh diberikan negara kepada siapapun. Pilar Kedua : Pengelolaan Kepemilikan (at-tasharruf fi al milkiyah) Harta dalam pandangan Islam pada hakikatnya adalah milik Allah SWT. perbedaan individu dalam masalah kemampuan dan pemenuhan terhadap suatu kebutuhan.

Info and Rating Follow KEPEMILIKAN DALAM EKONOMI ISLAM Oleh: Agus Arwani. Sistem ekonomi Islam mempunyai perbedaan yang mendasar dengan sistem ekonomi manapun termasuk kapitalis maupun sosialis. Dosen STAIN Pekalongan Kepala Perpustakaan PonPes Modern Al Qur’an Buaran Guru MA KH. barang tambang. dimungkinkan terjadinya kesenjangan ekonomi dan terhambatnya distribusi kekayaan kepada orang-orang yang memiliki keadaan tersebut. seperti perdagangan.milkiyah al-amah) yang dikelola negara seperti hasil hutan. Mengatasi peredaran kekayaan di satu daerah tertentu saja dengan menggalakkan berbagai kegiatan syirkah dan mendorong pusat-pusat pertumbuhan. Bila dibiarkan saja. SE. M. namun hanya memiliki konsep-konsep teoritis dan moral seperti yang terdapat pada hukum-hukum fikih tentang muamalah. 7. korupsi. misalnya keadaan alam yang tandus. listrik. Didorong oleh sebab-sebab tertentu yang bersifat alamiah. minyak. selain memerlukan pemahaman tentang Islam juga memerlukan pemahaman yang memadai tentang pengetahuan ekonomi umum mutakhir. Meskipun terdapat perbedaan yang fundamental antara sistem ekonomi Islam dengan sistem ekonomi lainnya. Namun pada . pemberian suap dan hadiah kepada penguasa. Dengan kata lain sistem ekonomi Islam hanya berada pada tatanan konsep teoritis namun tidak memiliki konsep operasional praktis seperti halnya sistem ekonomi lainnya. namun juga pada konsepkonsep pokoknya serta pada tataran praktisnya. 5. Dengan mekanisme ekonomi biasa. Sebaliknva. termasuk mereka yang tertimpa musibah (kecelakaan. simpan-pinjam dan lain-lain. Pemanfaatan secara optimal hasil dari barang-barang (SDA) milik umum (al. serta berbagai penipuan yang dapat mendistorsi pasar. badan yang cacat. keterbatasan dalam pemahaman tentang ekonomi umum mutakhir (kapitalis dan sosialis) akan berakibat pada anggapan bahwa sistem ekonomi Islam tidak memiliki konsep operasional. namun tidak dipungkiri bahwa pada tataran rincian praktis dijumpai beberapa persamaan. sewamenyewa.karena tidak terjadi perputaran harta. 4. 6. Perbedaan itu tidak hanya mencakup falsafah ekonominya. Pendahuluan Memahami sistem ekonomi Islam secara utuh dan komprehensif. riba. Larangan judi. Syafi’i Buaran A.Ag. distribusi kekayaan dapat saja tidak berjalan karena orang-orang yang memiliki hambatan yang bersifat alamiah tadi tidak dapat mengikuti derap kegiatan ekonomi secara normal sebagaimana orang lain. akal yang lemah atau terjadinya musibah bencana alam. air dan sebagainya demi kesejahteraan rakyat. bencana alam dan sebagainya) makin terpinggirkan secara Kepemilikan Dalam Ekonomi Islam Download this Document for FreePrintMobileCollectionsReport Document This is a private document. orang-orang itu. Larangan kegiatan monopoli.

yang mempunyai pandangan bahwa ada kepemilikan individu (private property). Negara akan membagikan harta kekayaan kepada individu rakyat dengan sama rata. Akibatnya adalah meskipun seluruh anggota masyarakat memperoleh harta yang sama. Pandangan tentang kepemilikan harta berbeda antara sistem ekonomi Sosialis dengan sistem ekonomi Kapitalis serta berbeda juga dengan sistem ekonomi Islam. B. Berbeda dengan itu di dalam Sistem Ekonomi Kapitalis dikenal kepemilikan individu (private property) serta kepemilikan umum (public property). pemanfaatan (konsumsi) maupun pengembangannya (investasi) wajib terikat dengan ketentuan halal dan haram. Termasuk juga upaya investasi berupa pendirian pabrik barang-barang haram juga dilarang. D. Di dalam sistem ekonomi sosialis tidak dikenal kepemilikan individu (private property). tanpa memperhatikan lagi kedudukan dan status sosial mereka. Sedangkan menurut Islam harta yang telah dimiliki. namun dibebaskan dari segi cara (kualitas) memperoleh harta yang dimiliki. Perbedaan antara sistem ekonomi Islam dengan sistem ekonomi lainnya adalah dalam hal konsep kepemilikan harta.hakikatnya terdapat perbedaan antara sistem ekonomi Islam dengan sistem ekonomi lainnya karena landasan sistem ekonominya berbeda . Kepemilikan negara selamanya tidak bisa dirubah menjadi kepemilikan individu. tetap saja mereka memperoleh pembagian harta . bahkan upaya pembuatannya dalam bentuk pendirian pabrik-pabrik minuman keras dilegalkan dan tidak dilarang. Yang ada hanya kepemilikan negara (state property) yang dibagikan secara merata kepada seluruh individu masyarakat. Konsep Distribusi Harta kekayaan di Tengah Masyarakat. Karena itulah memproduksi. membeli dan mengkonsumsi minuman keras (khamr) adalah sesuatu yang dibolehkan. mengkonsumsi barang-barang yang haram adalah tidak diperkenankan (dilarang). Dengan demikian maka membeli. Artinya cara memperolehnya dibebaskan dengan cara apapun yang dapat dilakukan. Diantara perbedaan yang mendasar berkaitan masalah kepemilikan harta kekayaan. C. Konsep Pengelolaan Kepemilikan Harta kekayaan Perbedaan lainnya antara sistem ekonomi Islam dengan sistem ekonomi lainnya adalah dalam hal konsep pengelolaan kepemilikan harta. Sedangkan menurut pandangan Sistem Ekonomi Kapitalis jumlah (kuantitas) kepemilikan harta individu berikut cara memperolehnya (kualitas) tidak dibatasi. menjual. Sedangkan menurut sistem ekonomi Islam kepemilikan harta dari segi jumlah (kuantitas) tidak dibatasi namun dibatasi dengan cara-cara tertentu (kualitas) dalam memperoleh harta (ada aturan halal dan haram). Kepemilikan harta (barang dan jasa) dalam Sistem Sosialis dibatasi dari segi jumlah (kuantitas). Konsep Kepemilikan Harta kekayaan. membeli dan mengkonsumsi minuman keras adalah sesuatu yang dilarang dalam sistem ekonomi Islam. baik dari segi nafkah maupun upaya pengembangan kepemilikan. Sebagai contoh. Demikian juga pandangan tentang jenis kepemilikan harta. yakni dibolehkan dengan cara apapun selama tidak mengganggu kebebasan orang lain. namun penghargaan yang adil terhadap jerih payah setiap orang menjadi tidak ada. Berbeda lagi dengan Sistem Ekonomi Islam. kepemilikan umum (public property) serta kepemilikan negara (state property). Menurut sistem ekonomi konvensional. distribusi kekayaan di tengah masyarakat dilakukan oleh negara secara mutlak. harta yang telah dimiliki dapat dipergunakan (konsumsi) ataupun di kembangkan (investasi) secara bebas tanpa memperhatikan aspek halal dan haram serta bahayanya bagi masyarakat. Perbedaan lainnya antara sistem ekonomi Islam dengan sistem ekonomi lainnya adalah dalam hal konsep distribusi kekayaan di tengah masyarakat. Sebab berapapun usaha dan produktivitas yang mereka hasilkan. Menurut sistem ekonomi konvensional.

atau pun kondisi-kondisi khusus seperti karena bencana alam. maka Islam memiliki sejumlah mekanisme non-ekonomi yang dapat digunakan untuk mengatasi persoalan distribusi kekayaan. distribusi kekayaan secara lebih baik tidak bisa dilakukan bila hanya mengandalkan mekanisme ekonomi saja (itupun banyak kegiatan seperti berbagai jenis kegiatan ribawi. Mekanisme ekonomi adalah mekanisme utama yang ditempuh oleh Sistem Ekonomi Islam untuk mengatasi persoalan distribusi kekayaan. diyakini distribusi kekayaan itu akan berlangsung normal. Sedangkan sistem ekonomi Islam. Seolah-olah menurut mereka hanya orang-orang yang mampu mengikuti makanisme pasar artinya mampu mengikuti persaingan pasarlah yang layak hidup. Abdullah (1990). Pilar Pertama : Pandangan Tentang Kepemilikan (AI-Milkiyyah) An-Nabhaniy (1990) mengatakan. Berbeda juga dengan sistem ekonomi kapitalis yang lebih mengandalkan pada mekanisme pasar (harga) dan menolak sejauh mungkin peranan negara secara langsung dalam mendistribusikan harta di tengah masyarakat. Namun jika mekanisme ekonomi tidak dapat atau belum mampu berjalan untuk mengatasi persoalan distribusi. meskipun orang tersebut memberikan jerih payah yang kecil atau bahkan sama sekali tidak bekerja. selain mengandalkan mekanisme ekonomi yang wajar juga mengandalkan mekanisme non ekonomi. Karena itulah maka sistem ekonomi kapitalis akan mengabaikan setiap orang yang tidak mampu mengikuti mekanisme pasar dengan baik. Mekanisme dijalankan dengan jalan membuat berbagai ketentuan yang menyangkut kegiatan ekonomi yang berkaitan dengan distribusi kekayaan. jompo. yang bila dicermati justru menimbulkan hambatan terhadap lancarnya distribusi kekayaan). Dengan sejumlah ketentuan-ketentuan yang menyangkut berbagai kegiatan ekonomi tertentu. dimana Allah SWT adalah Pemilik kepemilikan tersebut sekaligus juga Allahlah sebagai Dzat Yang memiliki kekayaan. Dalam hal ini Allah SWT berfirman : “Dan berikanlah kepada mereka. Tegasnya. yaitu (1) apa yang disebut mekanisme ekonomi dan (2) mekanisme non-ekonomi.(distribusi) yang sama dengan orang lain. An-Nuur : 33) . pada hakikatnya merupakan milik Allah SWT. Dengan demikian dapat diketahui bahwa Sistem Ekonomi Islam sangat berbeda dengan Sistem Ekonomi Kapitalis yang untuk terjadinya distribusi kekayaan mengandalkan kepada mekanisme (harga) pasar. Az-Zein (1981). sehingga melahirkan akibatnya. Menurut Zallum (1983). dalam hal distribusi kekayaan di tengah masyarakat. cacat tidaklah layak untuk hidup. baik karena sebab-sebab alamiah yang menimbulkan kesenjangan.”(QS. Oleh karena itu. Mekanisme distribusi yang ada dalam sistem ekonomi Islam secara garis besar dapat dikelompokkan menjadi dua kelompok mekanisme. An-Nabhaniy (1990). serta sebabsebab pemilikannya dan kepemilikan tersebut berasal dari adanya izin yang diberikan Allah SWT untuk memiliki zat tersebut. harta (milik) Allah yang telah Dia berikan kepada kalian. yaitu adanya pemilikan atas zat tersebut menjadi sah menurut hukum Islam. dari segi kepemilikan itu sendiri. Karena itulah sistem ekonomi sosialis menolak mekanisme pasar (harga) dalam distribusi kekayaan. kepemilikan tersebut hanya ditentukan berdasarkan ketetapan dari As-Syari’ (Allah SWT) terhadap zat tersebut. atas dasar pandangan di atas maka asas yang dipergunakan menurut pandangan Islam berdiri di atas tiga pilar (fundamental) yakni : 1. sebab hanya menjadi beban masyarakat. kerusuhan dan lain sebagainya. Menurut mereka mekanisme harga (pasar) dengan invisible hands-nya akan secara otomatis membuat distribusi kekayaan di tengah masyarakat. Maka mestinya harus ada pula mekanisme non ekonomi yang dapat diterapkan untuk mengatasi persoalan distribusi. juga judi. Makna Kepemilikan Kepemilikan (property). kepemilikan merupakan izin As-Syari’ (Allah SWT) untuk memanfaatkan zat tertentu. Sedangkan orang-orang lemah.

Nuh : 12) Dari sinilah kita temukan. Abdullah (1990) mengemukakan bahwa kepemilikan (property) menurut pandangan Islam dibedakan menjadi tiga kelompok. Al-Lail :11) Ayat-ayat di atas menunjukkan bahwa hak milik yang telah diserahkan kepada manusia (istikhlaf) tersebut bersifat umum bagi setiap manusia secara keseluruhan. Oleh karena itu agar manusia benar-benar memiliki harta kekayaan (hak milik). (5) Harta-harta yang diperoleh oleh seseorang dengan tanpa mengeluarkan harta atau tenaga apapun. Sebagaimana firman-Nya : “Dan nafkahkanlah apa saja. Dan pengertian di atas maka benda-benda yang termasuk dalam kepemilikan umum dapat dikelompokkan menjadi tiga kelompok : . Macam-Macam Kepemilikan Zallum (1983). hukum Islam melarang benda tersebut dikuasai hanya oleh seseorang akan sekelompok kecil orang. maka Islam memberikan syarat yaitu harus ada izin dari Allah SWT kepada orang tersebut untuk memiliki harta kekayaan tersebut dan hanya bisa dimiliki oleh seseorang apabila orang yang bersangkutan mendapat izin dari Allah SWT untuk memilikinya. “(QS. bila ia telah binasa.” (QS. Karena itulah maka sebenarnya manusia telah diberi hak untuk memiliki dan menguasai harta tersebut. Berkaitan dengan pemilikan umum ini. harta kekayaan itu adalah milik Allah semata. An-Nisaa` : 6) “Ambillah dari harta-harta mereka. Sementara ketika Allah SWT menjelaskan tentang perubahan kepemilikan kepada manusia. “(QS. Dimana Allah SWT menyatakan dengan firman-Nya : “Maka berikanlah kepada mereka harta-hartanya. yang kalian telah dijadikan (oleh Allah) berkuasa terhadapnya. “(QS. Al-Baqarah : 279) “Dan harta-harta yang kalian usahakan. maka Allah menyandarkan kepemilikan tersebut kepada manusia. maka akan nampak bahwa sebab-sebab kepemilikan tersebut terbatas pada lima sebab berikut ini : (1) Bekerja.” (QS. Kepemilikan Umum (collective property) Kepemilikan umum adalah izin As-Syari’ kepada suatu komunitas untuk sama-sama memanfaatkan benda. An-Nabhaniy (1990) mengemukakan. Al-Hadid : 7) “Dan (Allah) membanyakkan harta dan anak-anakmu. (2) Warisan. An-Nabhaniy (1990). Az-Zain (1981). yang memungkinkan siapa saja yang mendapatkannya untuk memanfaatkan barang tersebut. (3) Kebutuhan akan harta untuk menyambung hidup. yaitu : 1) Kepemilikan Individu (private property) Kepemilikan individu adalah ketetapan hukum syara’ yang berlaku bagi zat ataupun manfaat (jasa) tertentu. dimana Allah SWT menyatakan “Maalillah” (harta kekayaan milik Allah). serta memperoleh kompensasi – jika barangnya diambil kegunaannya oleh orang lain seperti disewa.Oleh karena itu. Sedangkan benda-benda yang termasuk dalam kategori kepemilikan umum adalah benda-benda yang telah dinyatakan oleh Allah SWT dan Rasulullah saw bahwa benda-benda tersebut untuk suatu komunitas dimana mereka masing-masing saling membutuhkan. bahwa ketika Allah SWT menjelaskan tentang status asal kepemilikan harta kekayaan tersebut. ataupun karena dikonsumsi untuk dihabiskan zatnya seperti dibeli – dari barang tersebut. Allah SWT menyandarkan kepada diri-Nya. (4) Harta pemberian negara yang diberikan kepada rakyat. At-Taubah : 24) “Dan hartanya tidak bermanfaat baginya. dengan mengkaji secara komprehemsif hukumhukum syara’ yang menentukan pemilikan seseorang atas harta tersebut.” (QS. 2). Kemudian Allah SWT telah menyerahkan harta kekayaan kepada manusia untuk diatur dan dibagikan kepada mereka.

b. Makna pengelolaan oleh negara ini adalah adanya kekuasaan yang dimiliki negara untuk mengelolanya semisal harta fai. Harta yang termasuk milik umum pada dasamya tidak boleh diberikan negara kepada siapapun. dan api. padang rumput. kharaj. bahwa Nabi saw bersabda: “Kaum muslimin berserikat dalam tiga barang. Hanya saja dalam memanfaatkan dan mengembangkan harta . Benda-benda yang sifat pembentukannya menghalangi untuk dimiliki hanya oleh individu secara perorangan. dan api. Setiap muslim yang telah secara sah memiliki harta tertentu maka ia berhak memanfaatkan dan mengembangkan hartanya. Bahan tambang yang jumlahnya sangat besar Bahan tambang dapat dikiasifikasikan menjadi dua. yang berarti dilarang untuk diperjualbelikan. Kepemilikan Negara (state property) Harta-harta yang terrnasuk milik negara adalah harta yang merupakan hak seluruh kaum muslimin yang pengelolaannya menjadi wewenang negara. bahwa benda tersebut tidak bisa dimiliki oleh individu. maka bahan tambang tersebut termasuk milik umum (collective property). meskipun negara dapat membolehkan kepada orang-orang untuk mengambil dan memanfaatkannya. mesjid. padang rumput. namun ada perbedaan antara kedua bentuk hak milik tersebut. sungai. Benda-benda yang merupakan fasilitas umum Yang merupakan fasilitas umum adalah apa saja yang dianggap sebagai kepentingan manusia secara umum. Misalnya sumur air. Rasulullah saw telah menjelaskan dalam sebuah hadits bagaimana sifat fasilitas umum tersebut. yang tidak mungkin dihabiskan oleh individu. sungai dan lain-lain yang memang tidak mungkin dimiliki oleh individu. jizyah dan sebagainya. Berbeda dengan jalan raya. Adapun bahan tambang yang sangat banyak (hampir tidak terbatas) jumlahnya. Berbeda dengan hak milik negara dimana negara berhak untuk memberikan harta tersebut kepada individu tertentu sesuai dengan kebijakan negara. 2. Benda-benda ini dari segi bahwa merupakan fasilitas umum adalah hampir sama dengan kelompok pertama.a. Dari lbnu Abbas. dan tidak boleh dimiliki secara pribadi. lbnu Majah juga meriwayatkan dari Abu Hurairah. dimana negara dapat memberikan kepada sebagian warga negara. c. Yang juga dapat dikategorikan sebagai kepemilikan umum yaitu jalan raya. dan terhadap bahan tambang tersebut diberlakukan hukum rikaz (barang temuan). tersebut dengan menambahkan : Wa tsamanuhu haram (dan harganya haram). Adanya pemilikan seseorang atas harta kepemilikian individu tertentu mencakup juga kegiatan memanfaatkan dan mengembangkan kepemilikan harta yang telah dimilikinya tersebut. mungkin saja dimiliki oleh individu. Meskipun harta milik umum dan milik negara pengelolaannya dilakukan oleh negara. yang darinya harus dikeluarkan khumus. yakni 1/5 bagiannya (20%). yaitu: Barang tambang yang sedikit (terbatas) jumlahnya termasuk milik pribadi. Barang-barang kelompok pertama dapat dimiliki oleh individu jika jumlahnya kecil dan tidak menjadi sumber kebutuhan suatu komunitas. 3). bahwa Nabi saw bersabda : “Tiga hal yang tidak akan pemah dilarang (untuk dimiliki siapapun) yaitu air. sesuai dengan kebijakannya.” (HR. Ibnu Majah). masjid dan fasilitas umunn lainnya. Abu Daud) Anas ra meriwayatkan hadits dari lbnu Abbas ra. Namun meskipun benda-benda tersebut seperti jenis vang pertama. namun benda-benda tersebut berbeda dengan kelompok yang pertama. yaitu air.”(HR. serta boleh dimiliki secara pribadi. kemudian Allah telah menyerahkannya kepada manusia untuk menguasi harta tersebut melalui izin-Nya sehingga orang tersebut sah memiliki harta tersebut. dari segi sifatnya. Pilar Kedua : Pengelolaan Kepemilikan (at-tasharruf fi al milkiyah) Harta dalam pandangan Islam pada hakikatnya adalah milik Allah SWT. namun jika sumur air tersebut dibutuhkan oleh suatu komunitas maka individu tersebut dilarang memilikinya.

Mengatasi peredaran kekayaan di satu daerah tertentu saja dengan menggalakkan berbagai kegiatan syirkah dan mendorong pusat-pusat pertumbuhan. Allah SWT berfirman : “Supaya harta itu jangan hanya beredar di antara orang-orang kaya saja di antara kamu.” (QS. dimungkinkan terjadinya kesenjangan ekonomi dan terhambatnya distribusi kekayaan kepada orang-orang yang memiliki keadaan tersebut. Hanya saja. Al-Hasyr : 7) E. Memberikan kesempatan seluas-luasnya bagi berlangsungnya pengembangan kepemilikan (tanmiyah al-milkiyah) melalui kegiatan investasi. 3. Bila dibiarkan saja. sebagaimana yang terjadi akibat penimbunan alat tukar yang fixed. Mekanisme distribusi kekayaan kepada individu. minyak. listrik. adalah dengan sejumlah cara. 7. sementara yang lain kekurangan. Kemudian kesalahan tersebut akan membawa konsekuensi terdistribusikannya kekayaan kepada segelintir orang saja. akal yang lemah atau terjadinya musibah bencana alam. Pemanfaatan secara optimal hasil dari barang-barang (SDA) milik umum (al. pemberian suap dan hadiah kepada penguasa.milkiyah al-amah) yang dikelola negara seperti hasil hutan. badan yang cacat.yang telah dimilikinya tersebut ia tetap wajib terikat dengan ketentuan-ketentuan hukum Islam yang berkaitan dengan pemanfaatan dan pengembangan harta. bisa juga menyebabkan perbedaan distribusi kekayaan tersebut di antara mereka. 2. Harta yang ditimbun tidak akan berfungsi ekonomi. 4. distribusi kekayaan dapat saja tidak berjalan karena orang-orang yang memiliki hambatan yang bersifat alamiah tadi tidak dapat mengikuti derap kegiatan ekonomi secara normal sebagaimana orang lain. Pada gilirannya akan menghambat distribusi karena tidak terjadi perputaran harta. Larangan kegiatan monopoli. termasuk mereka yang tertimpa musibah (kecelakaan. barang tambang. air dan sebagainya demi kesejahteraan rakyat. Dengan mekanisme ekonomi biasa. Mekanisme ekonomi yang ditempuh sistem ekonomi Islam dalam rangka mewujudkan distribusi kekayaan diantara manusia yang seadil-adilnya. yakni mekanisme ekonomi dan mekanisme non-ekonomi. Selain itu perbedaan antara masing-masing individu mungkin saja menyebabkan terjadinya kesalahan dalam distribusi kekayaan. orang-orang itu. 6. perbedaan individu dalam masalah kemampuan dan pemenuhan terhadap suatu kebutuhan. 5. syara’ melarang perputaran kekayaan hanya di antara orang-orang kaya namun mewajibkan perputaran tersebut terjadi di antara semua orang. korupsi. seperti emas dan perak. yakni : 1. serta berbagai penipuan yang dapat mendistorsi pasar. riba. 3. Oleh karena itu. Larangan judi. Didorong oleh sebab-sebab tertentu yang bersifat alamiah. Penutup Secara umum mekanisme yang ditempuh oleh sistem ekonomi Islam dikelompokkan menjadi dua. Larangan menimbun harta benda walaupun telah dikeluarkan zakatnya. Membuka kesempatan seluas-luasnya bagi berlangsungnya sebab-sebab kepemilikan dalam kepemilikan individu. maka Islam memberikan juga berbagai ketentuan yang berkaitan dengan hal ini. misalnya keadaan alam yang tandus. dilakukan dengan mengikuti ketentuan sebab-sebab kepemilikan serta transaksi-transaksi yang wajar. bencana alam dan sebagainya) makin terpinggirkan secara Kepemilikan Dalam Ekonomi Islam . Pilar Ketiga : Distribusi Kekayaan di Tengah-tengah Manusia Karena distribusi kekayaan termasuk masalah yang sangat penting.

p. .Download this Document for FreePrintMobileCollectionsReport Document This is a private document. Info and Rating Follow aubhrey Share & Embed Related Documents PreviousNext 1. p.

p. . 2.p. p. 3. p. p.

4. p. p. p. .p.

5. p. p. 6. p.p. p. .

p. 7. p. More from this user PreviousNext . p.p.

1 p. and occasional account related communications. Add a Comment Submit Characters: 400 Send me the Scribd Newsletter.1. Discover and connect with people of similar interests. Share your reading interests on Scribd and social sites. Publish your documents quickly and easily. . 7 p.

. aubhrey Share & Embed Related Documents PreviousNext 1.com/scribd About Press Blog Partners Scribd 101 Web Stuff Support FAQ Developers / API Jobs Terms Copyright Privacy Copyright © 2011 Scribd Inc. Language: English scribd.com/scribd facebook.Email address: þÿ Submit Upload a Document þÿ Search Documents • • • • • • • • • • • • • • • • • Follow Us! scribd.com/scribd twitter.

p. p. . 2.p. p. p.

. 4. p.p. p. 3. p.

p.p. p. p. . p. 5.

p. . 7. p. 6. p.p.

p.p. Add a Comment . 7 p. 1 p. More from this user PreviousNext 1.

Discover and connect with people of similar interests.com/scribd twitter. Publish your documents quickly and easily. Share your reading interests on Scribd and social sites. Email address: þÿ Submit Upload a Document þÿ Search Documents • • • • • • • • • • • • • • Follow Us! scribd.com/scribd facebook.com/scribd About Press Blog Partners Scribd 101 Web Stuff Support FAQ Developers / API Jobs . and occasional account related communications.Submit Characters: 400 Send me the Scribd Newsletter.

• • • Terms Copyright Privacy Copyright © 2011 Scribd Inc. . Language: English scribd.