P. 1
Contoh RAB: Polsek Kuta

Contoh RAB: Polsek Kuta

3.0

|Views: 627|Likes:
Published by nusantara knowledge

More info:

Published by: nusantara knowledge on Nov 19, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

09/18/2013

pdf

text

original

BAB 1 Pendahuluan 1.

1 Latar Belakang
Bangunan Polsek Kuta Lama sudah tidak memadai baik dari segi kualitas maupun dari kuantitas untuk menampung seluruh kegiatan pengguna didalamnya dengan baik dan lancar. Dari segi kualitas, bangunan Polsek lama telah berumur cukup tua dan kondisi bangunannya sudah memprihatinkan. Sedangkan dari segi kuantitas, bertambahnya civitas yang ada didalamnya, dan diperlukannya penambahan ruangan yang lebih kompleks, menuntut adanya bangunan baru yang lebih dapat menunjang segala kebutuhan dan aktivitas didalamnya. Pembangunan satu unit kantor mako Polsek Kuta baru, yang berlokasi di jalan Tuban –Kuta, dimaksudkan untuk menggantikan fungsi bangunan lama. Polsek Kuta ini bertingkat tiga dengan luas lantai 948 m². Bangunan Polsek Kuta baru, diperkirakan akan menghabiskan dana sebesar tiga miliar rupiah.

1.2 Maksud dan Tujuan
Kerangka acuan pekerjaan ( Term of Reference ) penugasan ini dimaksudkan diperhatikan sebagai dan petunjuk bagi konsultan dalam perencana yang tugas memuat pedoman dan kriteria serta proses yang harus dipatuhi atau diinterpretasikan melaksanakan sehingga diperoleh hasil rancangan yang optimal. Adapun tujuan dari proyek ini antara lain :

a. Untuk

mendapatkan

suatu hasil

perencanaan

dan

perancangan bangunan Polsek yang optimal dari segi fungsi, arsitektural, dan teknologi. b. Untuk menggantikan fungsi bangunan Polsek lama, karena bangunan lagi Polsek dari yang segi lama sudah tidak memadai baik kualitas maupun

kuantitasnya. c. Untuk meningkatkan segi kenyamanan dan ketenangan civitas dalam beraktivitas didalamnya.

1.3 Identitas Proyek
a. Nama Pekerjaan Polsek Kuta b. Dipa Nomor, Tanggal : 0031,0/060-01,/--/2007, tanggal 31 Desember 2006 c. Pemimpin Proyek d. Lokasi Proyek e. Nama Perusahaan f. Pekerjaan Dimulai : Ir. Suhendro : Tuban, Kuta-Bali : PT. Prambanan Dwipaka : 4 Juli 2007 : Pembangunan 1 Unit Kantor Mako

1.4

Biaya Proyek

Biaya yang dikeluarkan untuk pembangunan Kantor Mako Polsek Kuta ini sebesar tiga miliar empat ratus empat puluh tiga juta empat ratus empat puluh tujuh ribu rupiah ( Rp. 3.443.447.000 ).

1.5

Waktu Pelaksanaan Proyek

Waktu penyelesaian untuk keseluruhan pekerjaan ini adalah sesuai dan mengikuti master schedule yaitu 180 hari kalender terhitung sejak dikeluarkannya surat perintah mulai kerja dari pemberi tugas.

Pekerjaan dianggap telah selesai dan dapat dibuatkan berita acara serah terima pertama apabila kontraktor telah : a. Menyerahkan seluruh pekerjaan dan menyelesaikan seluruh defect pekerjaan yang ada b. Menyerahkan laporan mengenai seluruh pengetesan yang diaksanakan sesuai petunjuk direksi atau pengawas. c. Menyerahkan foto-foto dokumentasi d. Semuanya itu harus sudah disetujui oleh direksi atau pengawas secara tertulis. • Penyerahan pertama harus dilaksanakan selambat-

lambatnya pada tanggal 20 Desember 2007

BAB III 3.1 Masukkan
e.

Untuk

melaksanakan Pemberi

tugasnya Tugas

Konsultan

Perencanaan Acuan

harus Kerja /

mencari informasi diberikan

yang dibutuhkan dalam

selain dari informasi yang Kerangka

Pengarahan Penugasan .

f.

Konsultan

Perencana

harus

memeriksa

kebenaran informasi

yang digunakan dalam pelaksanaan tugasnya, baik yang berasal dari Pemberian Tugas, maupun yang dicari sendiri
g.
no

Adapun informasi berdasarkan adalah sebagai berikut :
Unit Kerja Jml SDM Out s Tot al SD M Luas Total Luas Ket

1.

R. Fron office R. SKCK / RPK R. SPK R. Taud R. Kanit lantas R. Kamin lantas R. Kanit patrol R. Lobby R. toilet R. staf lantas R. staf patrol R. bina mitra

32,4 16 16 11,6 11,6 12 12 18,7 17,25 47,2 47,2 59 36 36 16 47,5 35 12 12 4,82 18,4 102 27,6

2.

R. kanit intelkom R. kanit reskrim R. wakapolsek R. rapat R. tunggu R. gudang R. server R. istirahat Toilet R. kapolsek

3.

R. jemur

Sel khusus Sel wanita Sel pria Sel anak R. besuk R. istirahat R. jaga R. tunggu besuk R. satreskrim R. interogasi Sirkulasi 20%

20,8 20,6 20,6 20,8 10,3 3,5 3,5 6 11,6 11,6 777,8 155,5 933,30 6

VI

KRITERIA PERENCANAAN

Dalam kegiatan perencanaan detail yang dimaksud dengan penugasan ini , Konsultan Perencana harus memperhatikan kreteria umum yaitu :
1. Persyaratan guna bangunan yaitu bahwa bangunan yang

direncanakan sesuai dengan kriteria penggunaanya dan dapat berfungsi secara baik sesuai dengan fungsinya .
2. Selain itu, dalam perencanaan harus didasarkan pada ketentuan –

ketentuan seperti standar, pedoman dan peraturan yang

berlaku, antara lain : Normalisasi Teknis, Ketentuan –ketentuan konservasi, Aspek Arsiktetur Bali.

PERATURAN TEKNIS PEMBANGUNAN YANG DIGUNAKAN

Dalam melaksanakan pekerjaan berlaku dan mengikuti ketentuan – ketentuan dibawah ini termasuk segala perubahan dan tambahannya : a. Keppres 80 tahun 2003 dan Keppres 61 tahun 2004 dengan lampiran – lampirannya b. Peraturan – peraturan Umum tentang Pelaksanaan Pembangunan di Indonesia c. Keputusan – keputusan dari Majelis Indonesia untuk Arbitrage Teknik dari Dewan Teknik Pembangunan Indonesia ( DTPI ) d. Peraturn Beton Bertulang Indonesia 1971 ( PBI – 1971 ) e. Peraturan Umum dari Dinas Kesehatan Kerja Departemen Tenaga Kerja f. Peraturan Umum tentang Pelaksanaan Instalasi Listrik ( PUIL ) 1979 dan PLN setempat. g. Peraturan Umum tentang Pelaksanaan Instalasi Air Minum serta Instalasi Pembuangan dan Perusahaan Air Minum h. Peraturan Konstruksi Kayu Indonesia ( PKKI – 1961 ) i. PERATURAN Bata Merah sebagai Bahan Bangunan j. Peraturan dan ketentuan lain yang dikeluarkan oleh Jawatan/ Instansi Pemerintah setempat, yang bersangkutan dengan permasalahan bangunan.

KERANGKA UMUM PELESTARIAN DAN PENGEMBANGAN ARSITEKTUR TRADISIONAL BALI

Pola Pelestarian Arsitektur Bali Pelestarian arsitektur tradisional Bali dapat berupa pelestarian dalam berbagai wujud arsitektur, baik dalam wujud ide ( falsafah, konsep, aturan ), aktifitas dalam proses pembangunan yang menyangkut rituan dan tradisi membangun, dan hasil karya berupa fisik arsitektur, yang merupakan warisan bernilai tinggi. Sedangkan dilain pihak, arsitektur tradisional Bali sebagai wadah kehidupan manusia berbudaya bali tidak dapat dihindari akan perubahan karena adanya perkembangan tuntutan pemakai, iptek dan budaya luar. Saat ini di Bali terdapat 4 kategori arsitektur yaitu : arsitektur kuno atau warisan, arsitektur tradisional bali, arsitektur non tradisional dengan gaya arsitektur tradisional bali dan arsitektur non tradisional yang tidak bergaya arsitektur tradisional Bali. Dimana menurut perda No. 5 tahun 2005 tentang persyaratan arsirektur bangunan gedung, arsitektur non tradisional yang tidak bergaya arsitektur tradisional Bali, tidak diharapkan dan harus dibenahi untuk disesuaikan dengan amanat yang tercantum dalam perda No. 5 tahun 2005. Pelestarian arsitektur Bali dapat menempuh setidaknya tiga jalan yaitu : konservasi, modifikasi dan repetisi

a. Konservasi atau pelestarian arsitektur kuno/ warisan Peninggalan peninggalan arsitektu yang bernilai tinggi dari segi purbakala, sejarah, budaya dan ilmu pengetahuan layak untuk diamankan atau dikonservasi. Proses pelestarian arsitektur ini melalui beberapa tahap, yaitu identifikasi, inventarisasi, evaluasi, penetapan status, dan operasi pemeliharaan. Landasan nasional yang dipakai untuk menetapkan

status dan tindak lanjutnya diatur dalam undang – undang No. 5 tahun 1995 tentang benda cagar budaya yang kemudian pelaksanaannya diatur dalam pp No. 10 tahun 1993. Konservasi arsitektur kuno atau warisan menyangkut 2 aspek yaitu konservasi tata letak bangunan dan konservasi arsitektur bangunan. Konservasi tata letak bangunan Arsitektur warisan yang rusak dapat dibedakan dalam dua status : kesatu, sebagai warisan budaya yang sudah tak terpakai tetapi memiliki nilai – nilai penting. Kedua sebagai warisan budaya yang difungsikan bagi masyarakat pendukungnya. Untuk kategori kedua, konsep perancangan tapak sebagai rambu – rambu penataan terdiri atas :
a) Struktur didasarkan atas konsep pelapisan ruang dalam fisik Buana Agung. Dari lima

belas lapisan alam seperti yang dipaparkan dalam Buana Kosa, yang lazim diejawantahkan adalah konsepsi eka Buana diejawantahkan ke dalam pola eka mandala, akasa-pretiwi ke dalam pola sapta mandal, triloka kedalam pola tri mandala, sapta loka ke dalam pola sapta mandala. Pemilihan jumlah dan penataan mandala sangat tergantung dari kondisi lingkungan.
b) Orientasi arah Utama ( hulu ) mengikuti orientasi eksisting. Bila diperlukan adanya

perubahan orientasi dapat mengambil pilihan – pilihan berikut : gunung ( sebagai kawasan suci ), terbit matahari, atau arah – arah lain sesuai dengan persemayaman sungsungan ( batara yang dipuja ) disuatu pura atau rasa kesucian yang diyakini oleh masyarakat setempat ( laut, goa,dll ) c) Penempatan bangunan mengikuti eksisting atau bila diperlukan pengembangan kalau objeknya adalah pura dapat mengambil pola garis disisi utama, pola leter “ L “ di sisi – sisi utama, atau pola leter “U”
d) Jarak jarak antar bangunan dengan penyengker didasarkan atas norma – norma yang

tercantum dalam asta bumi atau norma – norma tradisi setempat. Konservasi arsitektur bangunan

Bali kaya akan corak atau langgam arsitektur bangunan. Denpasar ( khususnya kelompok kami mendapat tugas observasi di daerad Denpasar Barat ) dengan bentuk yang khas menampilkan lekukan postur bangunan dengan dominasi bahan batu gosok produksi jamatang, Denpasar. Hiasan – hiasan berupa simbar dan karang tidak begitu mencolok, tetapi profil bebaturan dengan palih yang cukup dalam. Dari kenyataan – kenyataan di lapangan tersebut, adanya kebikjaksanaan nasional dalam arsitektur seperti tertuang dalam Undang-undang No. 28 tahun 2002, dan potensi lingkungan setempat, maka dapat dibangun konsep arsitektur bangunan dalam pemugaran kayangan yang bukan cagar budaya adalah sbb :

a.

Menampilkan langgam dan karakter arsitektur setempat yang telah diwarisi secara turun temurun

b. c.

Memanfaatkan potensi bahan bangunan setempat Memanfaatkan insan–insan/ ahli bangunan setempat

Untuk pemugaran arsitektur warisan yang berstatus cagar budaya, seperti diatur dalam pasal 27 Peraturan Pemerintah RI. No. 10 tahun 1993, pemugaran dilakukan dengan memperhatikan keaslian bentuk, bahan, pengerjaan dan tata letak, serta nilai sejarahnya. Pemugaran benda cagar budaya merupakan serangkaian kegiatanyang bertujuan untuk mengembalikan keaslian bentuk benda cagar budaya dan memperkuat strukturnya bila diperlukan, yang dapat dipertanggungjawabkan dari segi arkeologis, historis, dan teknis dalam upaya pelestarian benda cagar budaya. Pemugaran meliputi kegiatan restorasi, rekonstruksi, rehabilitasi, dan konsolidasi

2.1.1 Repetisi / Pembangunan Dengan Norma-Norma Dan Proses Tradisional

Dalam masyarakat bali terjadi kecenderungan untuk membangun kembali bangunan – bangunan tradisional yang didasarkan atas kebutuhan untuk kehidupan berbudaya Bali dan sebagai suatu kebanggaan untuk menunjukkan jati diri sebagai orang atau pencinta budaya tradisional bali. Reinkarnasi ini dijumpai dalam pembangunan bangunan – bangunan untuk tempat suci, untuk upacara adat/keagamaan atau pun bangunan-bangunan yang dapat menunjang identitas walaupun sudah berubah fungsi seperti jineng dan bale bengong.

2.1.3 Modefikasi/ pembangunan arsitektur non tradisional Bali Arsitektur non tradisional yang diharapkan mengisi kasanah arsitektur di Bali dapat dibedakan atas dua jenis. Pertama, arsitektur non tradisional yang berpijak pada pengembangan arsitektur tradisional Bali sehingga dapat mengatasi tantangan baik dari dalam maupun dari luar. Tantangan dan dari dalam dari merupakan luar tuntutan perkembangan teknologi, pemakai, tantangan berupa kemajuan

peningkatan ekonmi dan pengaruh budaya luar. Kedua, arsitektur “modern” yang menerapkan prinsip-prinsip arsitektur tradisional bali sehingga dapat menampilkan arsitektur yang bergaya/ bernuansa arsitektur tradisional Bali. Penerapan prinsip arsitektur tradisional Bali dalam bangunan tergantung dari peluang yang memungkinkan dan juga tergantung dari jenis fungsi dan tempat dimana bangunan dibangun Wujud fisik arsitektur dalam pengembangan ini tergantung dari proses pendekatan apakah filosopi, sosial budaya, fungsi dan bentuk. Pendekatan filosofi akan mengarahkan pengembangan dari inti yang mendalam yang agak sulit diidentifikasikan secara visual, karena bersifat abstrak, keagamaan. namun mengandung sosial nilai-nilai hakiki kehidupan mengarahkan Pendekatan budaya akan

pengembangan agar kehidupan budaya Bali tetap berlangsung dengan

baik.pendekatan akan diarahkan

fungsi

akan

mengarahkan arsitektur yang

pengembangan bercitra

ke

perluasan atau perubahan fungsi. Melalui pendekatan bentuk, arsitektur terciptanya arsirektur tradisional melalui penerapan prinsip-prinsip bentuk dari berbagai aspek arsitektur tradisional Bali.

2.2 Peraturan-Peraturan Yang Mengatur Tentang Pelestarian Arsitektur Tradisional Bali Adapun peraturan perundang-undangan yang terkait dalam pelestarian arsitektur antara lain adalah sebagai berikut : a. Undang-Undang Nomor 5 tahun 1992 tentang Benda Cagar Budaya Menurut Pasal 1 ayat 1, benda cagar budaya adalah: • Benda buatan manusia, bergerak atau tidak bergerak yang berupa kesatuan atau kelompok, atau bagian bagiannya atau sisa-sisanya, yang berumur sekurangkurangnya 50 tahun, atau mewakili gaya yang khas dan mewakili masa gaya sekurang-kurangnya 50 tahun, serta dianggap mempunyai nilai penting bagi sejarah, ilmu pengetahuan, dan kebudayaan. • Benda alam yang dianggap mempunyai nilai penting bagi sejarah, ilmu pengetahuan, dan kebudayaan Pasal 1 ayat 2 • Situs adalah lokasi yang mengandung benda cagar budaya termasuk lingkungannya yang diperlukan bagi pengamanannya Pasal 2 • Perlindungan benda cagar budaya dan situs bertujuan melestarikan dan memanfaatkannya untuk memajukan kebudayaan nasional Indonesia b. Peraturan Pemerintah Nomor 10 tahun 1993 tantang Peraturan Pelaksanaan UndangUndang Nomor 5 tahun 1992 tentang Benda Cagar Budaya

Perlindungan dan pemeliharaan benda cagar budaya dilakukan dengan cara penyelamatan, penganmanan, perawatan, dan pemugaran (Pasal 23 ayat 1). Untuk kepentinan perlindungan benda cagar budaya dan situs diatur batas-batas situs dan lingkunannya sesuai kebutuhan (Pasal 1 ayat 2). Batas-batas situs dan lingkungannya ditetapkan dengan sistem pemintakatan yang yang terdiri dari mintakat inti, penyangga dan pembangunan (Pasal 1 ayat 3). Pemugaran hanya dapat dilakukan atas dasar ijin tertulis yang diberikan oleh Menteri (Pasal 27 ayat 1). Pemugaran dilakukan dengan memperhatikan keaslian bentuk, bahan, pengerjaan dan tata letak, serta nilai sejarahnya (Pasal 27 ayat 2). Terhadap benda-benda cagar budaya yang masih dimanfaatkan untuk kepentingan agama, masyarakat dapat tetap melakukan pemanfaatan dan pemeliharaan sesuai fungsinya (Pasal 37 ayat 1). Pemanfaatan dan pemeliharaan yang dimaksud dilakukan dengan tetap memperhatikan kelestarian benda cagar budaya (Pasal 37 ayat 2). Benda cagar budaya yang pada saat ditemukan ternyata sudah tidak dimanfaatkan lagi seperti fungsi semula dilarang untuk dimanfaatkan kembali. c. Undang-Undang Nomor 28 tahun 2002 tentang Bangunan Gedung Menurut pasal 28 UU RI no 28 tahun 2002 terkait dengan pelestarian bangunan gedung dinyatakan bahwa : • Bangunan gedung dan lingkungannya yang ditetapkan sebagai cagar budaya harus dilindungi dan dilestarukan • Penetapan bangunan gedung yang dilindungi dan dilestarikan dilakukan oleh Pemerintah Daerah dan/atau Pemerintah dengan memperhatikan ketentuan perundang-undangan • Pelaksanaan perbaikan, pemugaran, perlindungan, serta pemeliharaan dapat dilakukan sepanjang tidak mengubah nilai dan/atau karakter cagar budaya yang dikandungnya • Perbaikan, pemugaran, dan pemanfaatan bangunan gedung dan lingkungan cagar budaya yang dilakukan menyalahi ketentuan fungsi dan/atau karakter cagar budaya, harus dikembalikan sesuai dengan peraturan perundang-undangan

d.

Peraturan Pemerintah Nomor 36 tahun 2005 tentang Peraturan Pelaksanaan UndangUndang Nomor 28 tahun 2002 tentang Bangunan Gedung. Bangunan gedungdan lingkungannya sebelum diusulkan penetapanya harus telah mendapat pertimbangan dari tim ahli pelestarian bangunan gedung dan hasil dengar pendapat publik (pasal 1 PP no 36 tahun 2005).

e.

Peraturan Daerah Provinsi Bali Nomor 5 tahun 2005 tentang Persyaratan Arsitektur Bangunan Gedung Arsitektur warisan, baik yang berada di bawah kepemilikan dan/atau penguasaan oleh pribadi, badan pemerintah dan non pemerintah harus dilindungi dan diperhatikan. Setiap pemugaran dan/atau pengembangan arsitektur warisa harus menaati prinsip-prinsip pelestarian baik dri segi desain, bahan, maupun cara pengerjaannya. Pemanfaatan arsitektur warisan harus sesuai dengan fungsinya (Pasal 17)

VII AZAS –AZAS

Selain dari kreteria diatas dalam melaksanakan tugasnya Konsultan Perencana hendaknya memperhatikan azas –azas sebagai berikut :

Kreatifitas desain hendaknya tidak ditekankan kepada kemewahan material, tetapi nilai estetika, keindahan dan kenyamanan serta kemampuan mengadakan sublemasi antara teknik dan aspek arsitektur Bali serta fungsi sosial bangunan.

Dengan batasan tidak mengganggu aktifitas sehari hari, biaya investasi dan pemeliharaan bangunan sepanjang umurnya diusahakan serendah mungkin.

Desain hendaknya dibuat sedemikian rupa, sehingga bangunan dapat diselesaikan dalam kurun waktu yang relative pendek dan bisa dimanfaatkan secepatnya.

Pekerjaan Pondasi Batu Kali Lingkup Pekerjaan A. Pekerjaan ini meliputi penyediaan tenaga, bahan-bahan, peralatan, dan alat-alat bantu yang dibutuhkan dalam melaksanakan pekerjaan untuk mendapatkan hasil yang baik B. Pekerjaan pondasi ini meliputi seluruh detail yang ditunjukkan dalam gambar Bahan • Semen Portland • Pasir

• Batu kali • Air Pelaksanaan • Batu kali digunakan untuk pondasi harus batu pecah, sudut runcing, berwarna abu-abu hitam, keras, tidak porous • Sebelum pondasi dipasang terlebih dahulu dibuat profilprofil pondasi dari kayu pada setiap pojok galian, yang bentuk dan ukurannya sesuai dengan penampang pondasi • Permukaan dasar galian harus ditimbun dengan pasir urug setebal minimum 10 cm, disiram dan diratakan, pemadatan tanah dasar harus sedikitnya mencapai 80 % conpacted. • Pondasi batu kali menggunakan adukan campuran 1 pc : 5 pasir pasang • Untuk sloof dibagian atas pondasi batu kali dibuat stekstek sedalam 30 cm tiap 1 m dengan diameter besi minimum 10 mm.

Pekerjaan Dinding

Lingkup Pekerjaan • Pekerjaan ini meliputi tenaga kerja, bahan-bahan peralatan, dan alat-alat bantu yang diperlukan dalam pelaksanaan pekerjaan ini, hingga dapat tercapai hasil pekerjaan yang bermutu baik • Pekerjaan pasangan batako ini meliputi pekerjaan dinding bangunan dan seluruh detail yang disebutkan dalam gambar, dan sesuai dengan konsultan pengawas atau PPK • Pekerjaan pasangan batako dipasang sebagai dinding partisi diarea kantor dan seluruh detail yang disebutkan dalam gambar dan sesuai dengan konsultan pengawas dan PPK.

Syarat-syarat Pelaksanaan a. Bahan-bahan yang digunakan, sebelum dipasang terlebih dahulu harus diserahkan contoh-contohnya kepada PPK minimal tiga contoh dari hasil produk yang berlainan untuk mendapat persetujuan b. Seluruh dinding dari pasangan batako, dengan adukan campuran 1 Pc : 4 pasir pasang, kecuali pasangan batako semen trasram

c. Untuk dinding trasram, dengan adukan campuran 1 pc : 2 pasir pasang, yakni pada dinding dari atas permukaan sloof sampai minimum 200 cm diatas permukaan lantai setempat dan sampai setinggi 150 cm diatas permukaan lantai setempat untuk sekeliling dinding ruang-ruang basah ( toilet kamar mandi ) serta pasangan batako dibawah permukaan tanah. d. Dinding batako sebelum diplester harus dibasahi dengan air terlebih dahulu dan siar-siar dibersihkan e. Pasangan batako trasram bawah permukan tanah atau lantai harus diisi dengan adukan dengan adukan 1 pc : 3 pasir

Pekerjaan Plesteran Dinding Lingkup Pekerjaan • Termasuk dalam pekerjaan ini adalah pengadaan tenaga kerja, bahan-bahan, peralatan, dan alat-alat bantu lainnya yang diperlikan dalam pelaksanaan pekerjaan ini sehingga dapat tercapainya hasil pekerjaan yang bermutu baik.

• Lingkup pekerjaan ini meliputi seluruh plesteran dinding batako bagian dalam dan bagian luar bangunan serta detail yang ditunjukkan pada gambar.

Syarat-syarat pelaksanaan a. Seluruh plesteran dinding batako denga adukan campuran 1 pc : 4 pasir, kecuali pada dinding batako semen raam atau rapat air
b.

Pada dinding batako dinding raam diplester dengan adukan campuran 1 pc : 2 pasir ( yang dilakukan pada sekeliling dinding pada dinding toilet, kamar mandi, wc )

c. Pasir pasang yang digunakan harus diayak terlebih dahulu dengan mata ayakan seperti yang diisyaratkan d. Material lain yang terdapat dalam persyaratan diatas tetapi dibutuhkan dalam pekerjaan ini, harus bermutu baik dari jenisnya dan distujui PPK.

Pekerjaan Penutup Atap Genteng Lingkup Pekerjaan

Pekerjaan ini meliputi : penyediaan tenaga kerja, bahan-bahan, peralatan, dan alat-alat bantu yang dibutuhkan Syarat-syarat pelaksanaan a. Kaso Ukuran kaso 5 X 7 cm, jarak kaso 50 cm ( jarak as ke as ). Pemasangan kaso terletak pada gording dengan jarak antar gording 1,5 m. Pemasangan kaso harus didasarkan pada tarikan benang untuk mendapatkan bidang atap yang rata. b. Reng Ukuran reng 3 X 4 cm, jarak reng 36,85 cm ( jarak sisi atas ke sisi atas ) atau ditentukan sesuai spesifikasi bahan, jarak yang terbawah 19 – 23 cm ke tepi listplank dan dipasang tegak. Pemasangan reng didasarkan kepada tarikan benang diagonal, vertical dan horizontal untuk mendapatkan bidang atap yang rata c. Genteng Pemasangan genteng dari kanan kebawah dan harus diperhatikan detail interlacking, serta tepi

bawah yang lurus dengan jarak horizontal antara genteng sesuai spesifikasi bahan. d. Padan Nok Papan nok diusahakan rata dengan kaso, agar reng teratas lebih dekat sehingga bubungan dapat menutup bidang genteng dengan baik. Sebelum pemasangan bubungan, lebih dahulu dupasang aluminium foil, kawat ayam, adukan 1 semen, 3 pasir, ditambah dengan aqua pel dan dilapisi sealant kemudian diisi adukan 3 semen dengan 1 pasir. Pada akhir ujung bawah penutup nok atap harus digunakan bubungann khusus. e. Jurai Talang Lebar talang jurai harus diperhitungkan terhadap volume air yang ditampung. Patokan rumus adalah 1 m2 luar bidang atap sama denga 1 m2 panjang talang. Potongan-potongan genteng pada tepi talang jurai haru digantung pada tepi kawat tembaga keatas sehingga bertemu reng

Pekerjaan Elektrical Lingkup Pekerjaan

• Pekerjaan ini meliputi seluruh penerangan dan stop kontak, serta panel listrik secara lengkap, sehingga instalasi ini dapat bekerja secara sempurna dan aman • Pekerjaan tersebut harus dapat menjamin bahwa pada saat penyerahan pertama, seluruh instalasi pekerjaan tersebut sudah dapat digunakan pemilik • Pengadaan dan penyambungan daya PLN sesuai gambar rencana • Biaya resmi ditanggung oleh pemborong.

Plumbing Lingkup Pekerjaan Spesifikasi ini melingkupi kebutuhan untuk pelaksanaan pekerjaan ini sebagai mana yang ditunjukkan pada gambar rencana yang terdiri dari : • Pengadaan dan pemasangan pompa jetpump kap 100 watt dan kap 250 watt • Pengadaan dan pemasangan seluruh instalasi air bersih dan air kotor.

• Pengadaan dan pemasangan peralatan-peralatan bantu bagi seluruh peralatan plumbing • Pengetesan dan pengujian dari seluruh instalasi plumbing yang terpasang kecuali sanitary • Mengadakan masa pemeliharaan selama waktu yang ditentukan oleh pemberi tugas.

System 1. Air bersih Air bersih yang didapatkan dari sumur pantek dari kedalaman minimal 15 meterr, sumur ini untuk lokasi rumdin type 36, 45, dan 54 sedangkan tipe 70 sumur pantek kedalamannya minimal 25 meter ditampung pada suatun tangki air 2. Air kotor atau air bekas Pada dasarnya air buangan yang berasal dari toilet seperti dari floor drain dan lavatory dipisah dengan air kotor yang berasal dari WC dan urinoir. Untuk itu digunakan dua pipa datar dan dua pipa tegak untuk air buangan dan air kotor. Air kotor disalurkan pada

septictang , sedangkan air buangan disalurkan kesaluran air hujan.

Laporan a. Laporan harian Pemborong wajib membuat “ Laporan Harian “ dan “ Laporan Mingguan “ yang memberikan gambaran dari kegiatan-kegiatan yang dilakukan di lapangan secara jelas. Laporan tersebut dibuat dalam rangkap tiga meiputi : 1. Kegiatan fisik 2. Catatan dan perintah pemberi tugas dan PPK/Waslap yang disampaikan baik secara lisan maupun tertulis. 3. Hal-hal yang menyangkut masalah : - Material ( diterima/ditolak) - Jumlah tenaga kerja - Keadaan cuaca - Pekerjaan tambah/kurang

Berdasarkan laporan harian dibuat laporan mingguan dimana laporan tersebut berisi iktisar dan catatan prestasi atas pekerjaan minggu lalu dan rencana pekerjaan minggu depan. Laporan ini harus ditandatangani oleh manager dari pemborong proyek dan diserahkan kepada PPK/Waslap untuk diketahui atau disetujui. b. Laporan pengetesan Pemborong harus menyerahkan kepada pemberi tugas dan PPK/Waslap dalam rangkap lima mengenai hal-hal sebagai berikut : 1. Hasil pengetesan kabel-kabel instalasi elektronik ( mengetes dan pemberian tegangan dan grouping ). 2. Hasil pengetesan peralatan-peralatan instalasi. 3. Hasil pengukuran-pengukuran dan lain-lain. Semua pengetesan dan pengukuran tersebut harus disaksikan oleh PPK/Waslap.

LAMPIRAN
PERHITUNGAN BIAYA PEMBANGUNAN MAKO POLSEK KUTA BERTINGKAT 3 LANTAI LUAS 1253 M² Nilai Proyek = Rp. 2.957.437.000,00 Biaya Konstruk si Fisik ( JUTA ) 2000 5000 Pengawas an Konstruks i (%) 3,80 3,25 engelola an Proyek (%) 0,88 0,53

Perencanaan konstruksi (%) 4,55 - 3,92

Jumla h (%) 100

I. Biaya Perencanaan Konstruksi = BKF₁ - BKF₀ BKF₂ - BKF₀ x ( FD₂ - FD₀ ) + FD₀

2.957.437.000,00 = 2.000.000.000

= = = =

Fee Desain : = = II. Pengawasan Konstruksi = BKF₁ - BKF₀ BKF₂ - BKF₀ x ( FP₂ - FP₀ ) + FP₀

=

= = = = Fee Pengawas : = = III. Pengelolaan Proyek = BKF₁ - BKF₀ BKF₂ - BKF₀ x ( P₂ - P₀ ) + P₀

=

= = = = Biaya Pengelolaan Proyek : = =

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->