BAB I PENDAHULUAN 1.

1 Latar Belakang Masalah Budaya belajar pada siswa SMP Negeri 2 Baturraden khususnya siswa kelas IX tergolong rendah. Hal ini dapat disimpulkan dari diskusi-diskusi kecil para guru pada saat jam istirahat. Para guru rata-rata mengeluhkan rendahnya kesadaran siswa untuk mengerjakan pekerjaan rumah dan tugas-tugas mandiri.Pada saat kegiatan belajar di kelas sebagian besar siswa cenderung pasif. Hal ini juga terjadi pada kegiatan belajar mengajar matematika. Akibat dari kondisi ini ratarata prestasi belajar siswa menjadi rendah. Rendahnya motivasi belajar siswa khususnya pada siswa kelas IX berakibat pada hasil Ujian Nasional yang kurang memuaskan, bahkan tingkat kelulusan kelulusan tiga tahun terakhir kurang dari 90%. Dari hasil Ujian Nasional dapat diketahui terdapat kesenjangan antara siswa yang bernilai rendah dan yang bernilai tinggi. Hal ini menununjukkan adanya ketidak merataan pemahaman materi pelajaran pada siswa.Pada siswa yang aktif relatif mendapat nilai yang tingi sedang pada siswa yang pasif rata-rata nilainya rendah. Hasil Ujian Nasional Siswa SMP Negeri 2 Baturraden Dari Tahun Pelajaran 2005/2006 s.d 2007/2008
MATA PELAJARAN TAHUN PELAJARAN

B.Indonesia

B. Inggris Matematika I P A

RATA- %KELULUSAN RATA

2005 / 2006 7,65 2006 / 2007 7,58 2007 / 2008 7,14

5,47 5,31 5,05

5,44 5,71 5,33

_

6.19

60,98 83,25 83,00

– 6.20 5,71 5.81

Jika dilihat pada tabel di atas rata- rata nilai matematika masih di bawah 6. Bahkan siswa yang tidak lulus rata-rata dikarenakan nilai mata pelajaran matematika masih di bawah nilai standar kelulusan. Sebenarnya materi uji matematka pada UN tahun 2007 dan 2008 lebih simpel karena mengacu Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan ( KTSP ), dimana pada kurikulum KTSP muatan materinya lebih ringkas dibanding kurikulum 1994 . Adapun bentuk perilaku pasif yang sering ditunjukkan siswa pada saat KBM diantaranya adalah, kurang berani bertanya, takut menjawab pertanyaan yang diberikan guru, lebih senang berdiam diri daripada memberikan pendapatnya , bahkan berbicara atau bercanda dengan teman sebangku. Berangkat dari kondisi tersebut tersebut muncul gagasan sebuah strategi pembelajaran yang diharapkan dapat meminimalisasi permasalahan di atas. . 1.2 Identifikasi Masalah Berdasarkan uraian di atas, masalah utama yang mendesak untuk diselesaikan adalah mebangun kesadaran belajar dan sikap aktif yang dimiliki siswa kelas 9 SMP Negeri 2 Baturraden dalam kegiatan belajar mengajar. Berdasarkan hasil angket yang diberikan kepad siswa diperoleh informasi hanya sekitar 45% siswa yang mempunyai sikap aktif dalam kegiatan pembelajaran di kelas. Berdasarkan analisis penyebab terjadinya masalah (probable causes) dengan menggunakan, brainstorming dengan

Masalah yang bersumber dari siswa : 1.guru sejawat. Dalam prosese belajar mengajar tampaknya perlu memberikan tanggung jawab kepada siswa yang pandai untuk membantu guru dalam membimbing temannya yang mengalami kesulitan belajar dalam pembelajaran matematika. guru masih dominan menggunakan metode ceramah. Selama proses pembelajaran matematika berlangsung. 1. . takut atau kesuliatn secara verbal berkomunikasi dengan guru. Kurang berani mengeluarkan pendapatnya karena takut salah. yang tidak hanya membimbing siswa yang mempunyai kemampuan di bawahnya juga melakukan pengamatan perkembangan hasil belajar temannya yangs selanjutnya dilaporkan secara berkala kepada guru. Dalam strategi ini siswa yang berperan sebagai tutor diberi peran layaknya seorang guru.mengajar berikutnya.3 Perumusan Masalah Berdasarkan identifikasi masalah di atas maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah: Sekurang-kurangnya 45% siswa kelas 9 A SMP Negeri 2 Baturraden Tahun Pelajaran 2008/2009 kurang berperan secara aktif dalam kegiatan belajar mengajar. Permasalahan ini bisa disebabkan karena faktor malu. 2. ulangan maupun sikap siswa saat mengikuti kegiatan belajar mengajar. Masalah yang bersumber dari guru : 1. Siswa yang pandai cenderung enggan untuk membantu teman yang masih belum paham materi yang diajarkan guru 5. Guru yang menggunakan model pembelajaran koopertif sering bersifat kompetitif sehinga siswa yang berprestasi rendah semakin tersingkir. Sehingga keaktifan siswa menjadi rendah. Tujuan khusus penelitian .Dalam penggunaan strategi tersebut penulis mengembangkan menjadi peer tutor plus Strategy. 4. Perlu strategi pembelajaran yang mampu meminimalisasi permasalahan di atas. Guru jarang menggunkan model pembelajaran kooperatif atau belajar berkelompok. Siswa tidak berani bertanya kepada guru karena takut dianggap bodoh oleh temantemannya. Siswa sebagai tutor menginventarisasi perkembangan siswa baik yang berupa nilai tugas. Siswa yang pandai lebih senang mengelompok dengan teman-teman yang prestasinya setara. Biasanya siswa dengan kesulitan semacam ini akan lebih mengkomunikasikan kesulitannya kepada teman sebayanya. Suatu strategi diharapkan mampu menggerakkan siswa untuk lebih aktif saat mengikuti kegiatan belajar mengajar. 4. Untuk menyelesaikan masalah dia atas perlu dilihat dari penyebab utama yang ada. b. Guru beranggapan pembelajaran kooperatif akan memakan waktu dan tenaga sehingga ketuntasan materi dikhawatirkan tidak tercapai. dan pengalaman peneliti sebagai guru matematika..4 Tujuan Penelitian Tujuan umum penelitian Meningkatkan kualitas pembelajaran Matematika di SMP Negeri 2 Baturrdaen ditunjukkan dengan meningkatnya prosentase siswa yang berpartisipasi aktif dalam kegiatan belajar mengajar diikuti dengan meningkatnya prestasi belajar siswa. 2. sehinga terjadi prosese belajar yang bersifat kolaboratif. Sebagian besar siswa masih beranggapan guru sebagai orang yang harus ditakuti bukan orang yang harus didekati. Dengan strategi ini diharapkan tidak hanya keaktifan siswa yang meningkat juga penilian autentik juga dapat terlaksana. Hal ini dirasa perlu dilakukan dikarenakan masih banyaknya siswa kurang terbuka menyatakan kesulitan yang dialami kepada guru. Salah satu strtegi pembelajaran yang diyakini mampu mengatasi permaslahan di atas adalah strategi pembelajarn tutor sebaya atau peer tutor. penyebab yang paling mungkin munculnya masalah tersebut adalah sebagai berikut : a. Strategi yang juga mendororng siswa yang pandai untuk peduli kepada temannya. 3.Dari hasil laporan inilah yang akan digunakan oleh guru untuk melakukan tindak lanjut kegiatan belajar . 3. 1.

Siswa merasa senang dengan pembelajaran matematika karena tidak merasa canggung untuk bertanya. c. belajar tentang nilai-nilai. b.1 Landasan Teori Peer – Tutor ( Tutor Sebaya ) Kelompok sebaya merupakan wadah yang sangat penting bagi terselesaikannya tugas-tugas perkembanganyang dihadapi para siswa. Dalam kegiatan belajar di kelas sering guru merasa kesulitan untuk menanganai siswa yang mengalami kesulitan belajar.. hidup bergotong royong dalam kehidupan bersama menuju tujuan-tiujuan bersama-sama. .5 Manfaat Penelitian Penelitian Tindakan Kelas ini telah memberi manfaat bagi beberapa pihak. belajar ketrampilan-ketrampilan sosial. Akibat dari pendekatan ini tidak jarang terjadi kesenjangan kemampuan yang dipero. berkompetisi. maka seolah-olah ia menelaah serta menghapalkannya lagi. Kelompok yang unggul menganggap kelompok lain sebagi pesaing. di antaranya : Bagi peserta didik 1. Di sinilah peran-perannya menurut jenis kelamin masing-masing. maka sifat dan perilaku tersebut diharapkan akan terbawa dalam kehidupan bermasyara BAB II LANDASAN TEORI DAN HIPOTESIS 2. Dimana dalam pembelajaran tersebut tiap kelompok didorong untuk saling mengungguli satu dengan yang lain. Dengan memberitahukan kepada anak lain. perkerjaan tutoring akan mempunyai akibat memperkuat konsep yang sedang di bahas. Hal ini dimungkin rata-rata kelas yang ada adalah kelas gemuk yaitu kelas dengan jumlah siswa rata-rata dia atas 35 siswa. Untuk mensiasati kondisi tesebut guru dapat meminta bantuan kepad siswa yang semsetinya memperoleh program pengayaan untuk menjadi Peer – Tutor atau Tutor sebaya. 3. Menurut Syaiful Bahri dan Aswan Zain (2006) ada beberapa manfaat dari kegiatan Tutoring ini. ( Oemar Hamalik.Pada akhir siklus pada semester genap tahun 2008/2009 siswa kelas 9 SMP Negeri 2 Baturraden yang berpartisipasi aktif dalam kegiatan belajar matematika meningkat secara signifikan . Adakalanya hasilnya lebih baik bagi beberapa anak yang mempunya perasaan takut atau enggan kepada guru. Tumbuhnya kesadaran siswa untuk selalu brepartispasi aktif dalam setiap kegiatan belajar mengajar. d. Mempererat hubungan anatara sesama siswa sehingga mempertebal perasaan sosial. Bagi Tutor merupakan kesempatan untuk melatih diri memegang tanggung jawab dalam mengemban tugas dan melatih kesabaran.2003). 2. Kabupaten Banyumas. Dapat melatih kepedulian siswa yang prestasi matematikanya di atas rata-rata kepada siswa yang pretasinya masih rendah. Pendekatan Kolaboratif Pada kegiatan pembelajaran saat ini berkembang pendekatan pembelajaran kooperatif yang bersifat kompetitif. meminta penjelasan berkaitan dengan kesulitan belajar yang dialaminya . sehingga dapat meminimalisasi egoisme siswa. diikuti dengan peningkatan prestasi belajar berupa peningkatan kualitas dan kuantitas lulusan. Bagi masyarakat Karena siswa siswa dibiasakan untuk selalu aktif dalam kegiatan belajar mengajar dan selalu didorong untuk peduli kepada teman. 1. Bagi Tutor. Kelompok yang unggul cenderung tidak mau berbagi pnegetahuan terhadap kelompok yang lain. Mereka belajar berkooperasi. yaitu : a.eh tiap-tiap kelompok pada saaat kegiatan pembelajaran. Bagi guru Strategi belajar ini dapat menjadi alternatif bagi guru yang mempunyai permaslahan siswa dengan keaktifan dan prestasi belajar yang relatif rendah . Bagi sekolah Memberikan sumbangan dalam peningkatan kualitas pembelajaran di SMP Negeri 2 Baturraden.

komunikasi untuk tujuan-tujuan refleksi bisa menjadi suatu bagian yang alamiah dari belajar matematika. Dimana terjadi siswa atau kelompok yang sudah menguasai materi pelajaran mengajar kepada siswa yang belum menguasai. hanya menerima informasi dari guru harus berubah menjadi pebelajar yang bekerja dalam kelompok. mendengarkan dengan pikiran terbuka. dan pertanyaan –pertanyaan cermat yang diajukan oleh guru atau teman sekelas bisa memancing mereka untuk meninjau kembali penalaran mereka. Dengan bekerja sama. Dengan perencanaan dan dan perhatian yang eksplisit oleh para guru . berkolaborasi dengan lainnya. Untuk itu guru mempunyai peran yang sangat penting dalam penciptaan komunitas kelas yang mampu merangsang adanya komunikasi antar siswa. sehingga strategi pembelajaran yang disarankan adalah . Pebelajar tradisional bekerja sendiri. Menurut Tim Widiaiswara LPMP Jateng ( 2008 ) dalam pendekatan Kolaboratof dimungkinkan terjadi saling belajar membelajarkan antar siswa sehingga pencapain belajar siswa relatif sama. dan mengaplikasikan ide dan proses yang lebih kompleks. ( Elaine B. guru membentuk situasi kelas yang mendukung terbentuknya komunitas diamaa dalam komunitas tersebut para siswa akan merasa bebas mengekspresikan gagasan-gagasan mereka. Sejalan dengan pemikiran di atas. berkontribusi.Dalam komunitas tersebut siswa dapat saling berbagi gagasan – gagasan matematis dalam cara-cara yang cukup jelas dimengerti dalam kominitas siswa tersebut. 2008) 2. learning to be. Johnson. belajar menghargai orang lain. 2002).2 Kerangka Berpikir Untuk medukung terwujudnya komunikasi anatar siswa yang dapat membangun pemahaman dalam pembelajaran matematika. mengeluarkan pendapat dan mengambil keputusan. Dengan pengalaman . berkompetisi satu dengan lainnya. bahkan ada siswa yang cenderung menarik diri dalam kelompoknya. Pebelajar mengkonstruksi. Jadi akan lebih mungkin untuk menemukan kekuatan dan kelemahan diri.(Prof. learning to do. mempercayai orang lain. Lebih lanjut dari kondisi tersebut adalah kelompok dengan kemampuan rendah selalu tertingga. mengandalkan bakat setiap anggota kelompok. bertindak mandiri dan dengan penuh tanggung jawab. dan isi harus berubah menjadi siswa mampu memahami. dan frustasi. cara pandang pembelajaran tradisional yang mengedepankan penguasaan siswa terhadap pengetahuan tentang fakta. istilah. Pendekatan kerja sama ini sering disebut dengan Pendekatan Kolaboratif. Wahyudin. Melalui kelompok tersebut diharapkan mampu memecahkan kebuntuan komunikasi yang terjadi antara siswa dengan siswa maupun siswa dan guru.Para siswa yang masih anak-anak dapat diminta untuk ”berpikir dengan keras” . para anggota kelompok kecilakan mampu mengatasi berbagi rintangan. dan melakukan sintesa informasi pada pebelajar modern ( Kistono. Perlu pembentukan kelompok komunitas yang bersifat heterogen khususnya pada kemampuan akademik . 2007 ) Pembelajaran Matematika Refleksi dan komunikasi adalah proses yang saling terjalin dalam belajar matematika. Kerja sama dapat menghilangkan hambatan mental akibat terbatasnya dan cara pandang yang sempit. Hal lain yang mungkin terjadi adalah guru cenderung memperhatikan kleompok siswa yang memiliki kemampuan yang baik. Di tingkat SMP siswa cenderung tidak mau menonjolkan diri dalam kelompoknya. Suatu pendekatan yang memungkinkan terjadinya interaksi antar siswa yang saling bekerja sama dalam pencapaian penguasaan materi pelajara. para siswa akan memperoleh pengalaman dalam mengatur dan menacatat pemikiran mereka. Empat pilar pendidikan sejagat yang dicanangkan oleh UNESCO dan menopang imperatif pendidikan bagi semua (education for all) adalah learning to know. dan membangun persetujuan bersama. Untuk menghindari kondisi dia atas perlu dilakukan pendekatan yang tidak hanya menekankan pada persaingan. Paradigma dan orientasi yang demikian dipandang menuntut wawasan dan cara pandang baru dalam mengelola proses pembelajaran.Akibatnya kelompok yamng mempunyai kemampuan rendah sulit untuk mengikuti kemampiuan kelompok yang unggul. dan learning to live together.

. membangun sendiri pengetahuan di dalam benaknya. Bagi siswa agar benar-benar memahami dan dapat menerapkan pengetahuannya. Oleh karena itu model pembelajaran ini disebut dengan strategi pmebelajaran Peer Tutor plus. discovery. Pemikiran senada adalah teori baru dalam psikologi pendidikan di antaranya teori pembelajaran konstruktivisme (constructivist theories of learning). Bagi tutor yang tidak dapat menjawab pertanyaan teman dalam kelompoknya dapat meminta bantuan guru. Tutor melakukan pembimbing kepada siswa yang mengalami kesulitan. 2.Dalam hal ini guru melakukan pembimbingan seperlunya. . Siswa yang berperan sebagai tutor melakukan pembimbingan kepad siswa yang kurang memahami penjelasan atau masialah yang diberikan oleh guru. . Pembentukan Kelompok Dibentuk kelompok heterogen baik dalam kemampuan akademis maupun jenis kelamin. investigasi. 3. Penugasan oleh guru Guru memberi kan tugas kelompok dari buku siswa atau Lembar Kerja Siswa.Hal ini dilakukan agar siswa terbiasa dalam berinteraksi seacar social tanpa mebeda-bedakan kemampuan dan jenis kelamin sehingga mempunyai sikap terbukap dan toleran keopada sesame. untuk menyelesaikan masalah dalam penelitian ini diperlukan strategi pembelajaran yang mampu menumbuhkan partisipasi aktif siswa dalam kegiatan belajar mengajar di sekolah. Sehingga dapat saling membantu antar siswa dalam memahami konsep-konsep dan masalah dalam belajar matematika. Teori ini menyatakan bahwa siswa harus menemukan.pembelajaran yang memberi ruang bagi pebelajar untuk mengaplikasikan gagasan-gagasannya sendiri. Peer Tutor Plus Strategy Berdasarkan uraian di atas.Perlu dibentuk komunitas atau kelompok-kelompok dalam kelas yang dapat merangsang komunikasi aktif antar siswa dan siswa dengan guru. Untuk menciptakan kondisi seperti di atas guru membutuhkan bantuan siswa kelompok atas yang seharusnya mendapatkan pengayaan untuk menjadi tutor bagi kelomponya yang biasa disebut dengan peer tutor atau tutor sebaya.. Adapun langkah-langkah strategi pembelajarn Peer Tutor plus adalah sebagai berikut: 1. inventory. berusaha dengan susah payah dengan ide-ide. untuk kemudian dilaporakan kepada guru baik secar lesan maupun tertulis. 5. 2004). 2003). dan guru dapat memberi kesempatan untuk menemukan atau menerapkan ide-ide mereka sendiri dan membimbing siswa menjadi sadar dan secara sadar pula menggunakan strategi mereka sendiri untuk belajar (Wartono dkk. Implementasi PEER TUTOR Plus Strategy PEER TUTOR Plus Strategy adalah strategi pembelajaran yang memanfaatkan siswa yang mempunyai kemampuan di atas rata-rata di kelasnya sebagi tutor teman sebaya dalam kelompoknya dan juga melaporkan perkembangan belajar teman-teman dalam kelompoknya secara berkala kepada guru. memperoleh pengalaman langsung melalui kegiatan-kegiatan explorasi. Disamping diskusi dalam kelompok juga dilakukan diskusi antar kelompok agar hasil masing kelompok dapay terkomunikasikan. Pengamatan dan inventarisasi masalah individu oleh tutor Tutor melakukan pengamatan sikap teman dalam kelompoknya dan perkembangan hasil belajarnya. 4. Pendampingan oleh Tutor Bekerja dalam kelompok kooperatif untuk memecahkan soal atau masalah yang diberikan oleh guru. Dalam hal ini yang perlu diinventarisir oleh tutor masalah yang dihadapi tiap individu dalam kelompoknya. (Gafur. Adapun dalam model pembelajaran ini tutor selain bertugas membantu siswa yang mempunyai kemampuan di bawahnya juga diberi tugas mengamati perkembangan kemampuan siswa baik secara kademik maupun secara sikap diaman tutor melaporkan perkembangan temannya kepada guru secara berkala.. Diskusi Kelompok Upaya untuk mendapatkan penyelesaian yang tepat dari pemecahan masalah atau soal yang telah diberikan. mereka harus bekerja memecahkan masalah.

khususnya mata pelajaran matematika. . Acting (Tindakan). SMP Negeri 2 Baturraden adalah salah satu sekolah di Kabupaten Banyumas. kecamatan Baturtraden. dan Reflecting (Refleksi) (Kemmis dan Mc Taggart. Kondisi tersebut turut berakibat pada munculnya kesenjangan partisipasi dan prestasi dalam kegiatan pembelajaran. 1992). Metode deskriptif adalah suatu metode dalam meneliti status sekelompok manusia. Pos Tes Diberikan tes secara individu. untuk mengetahu sejauh mana perbedaan hasil dari nilai kelompok dan nilai indivdu . 3. sifat-sifat serta hubungan antar fenomena yang diselidiki (Nazir. Berlangsung pada bulan januari sampai dengan April 2009. Karena penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas maka metode penelitian yang digunakan adalah metode deskriptif.6. Kabupaten Banyumas”. berlokasi di jalan Raya Kemutug Kidul. Classroom Action Research dapat dikelompokkan dalam penelitian dengan metode deskriptif sekaligus metode eksperimen. faktual dan akurat mengenai fakta-fakta. suatu objek dengan tujuan membuat deskripsi yang sistematis. BAB III METODOLOGI PENELITIAN 3. sebuah kelas yang terdiri dari kombinasi antara siswa dengan dengan prestasi belajar yang rendah dan siswa dengan prestasi belajar peringkat sepuluh besa. di kaki gunung Slamet. 1988). Sehingga rancangan dalam penelitian ini dilaksanakan dalam 2 siklus. Observing (Pengamatan). Setiap siklus melalui fase-fase Planning (Perencanaan). juga terdapat siswa yang aktif dalam organisasi OSIS.3 Hipotesis Penelitian Berdasarkan kajian pustaka dan kerangka berpikir di atas maka hipotesis tindakan pada penelitian ini adalah:” Peer tutor plus Strategy“ dapat meningkatkan peran serta aktif dan prestasi belajar siswa dalam kegiatan belajar matematika.4 Teknik dan Alat Pengumpulan data Teknik Pengumpulan Data . Penelitian ini dilaksanakan pada semester genap Tahun Pelajaran 2008/2009.2 Metode dan Rancangan Penelitian Metode penelitian berhubungan dengan tata urutan penelitian ini akan dilakukan. 3.1 Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilakukan di SMP Negeri 2 Baturraden Kabupaten Banyumas. Kelas ini tergolong kelompok siswa dengan prestasi sedang bahkan cenderung rendah. berjarak ± 7 km ke arah utara dari kota Purwokerto. 3.3 Subjek Penelitian Subjek penelitian tindakan kelas ini adalah siswa kelas 9 A SMP Negeri 2 Baturrden pada semester genap Tahun Pelajaran 2008/2009.pada siswa kelas 9 SMP Negeri 2 Baturraden . Salah satu ciri Classroom Action Research adalah cyclic atau adanya langkah-langkah yang terukur dan terencana dalam sebuah siklus. Disamping itu juga untuk mengetahui sejauh mana perkembanagan prestasi belajar tiap-tiap siswa 2.

d. Teknik Observasi Digunakan untuk mengamati kemampuan guru dalam mengelola kelas pembelajaran e. maka alat pengumpul data yang digunakan sebagai berikut : a. tanggapan. Menggunakan berbagai sumber data untuk meningkatkan kualitas penilaian. yakni: 1. Face validity. gagasan siswa yang sebenarnya tentang proses pembelajaran yang dialaminya. Teknik tes unjuk kerja (performance test) Digunakan untuk mengukur kinerja siswa di kelas . Triangulation. 2. Learning log siswa digunakan pada tahap refleksi setiap siklus dalam rangka Data Triangulation dan Source Triangulation. b. Setiap anggota saling menilai/memutuskan validitas suatu instrument/data dalam proses kolaborasi. Alat Pengumpul data Sesuai dengan data yang ingin diperoleh dan teknik yang digunakan. Data sikap partisipasi dan prestasi diambil pada saat pra siklus untuk memperoleh data awal sebelum treatment pembelajaran dilakukan dan diambil pada akhir sikulus. artinya sepanjang peneliti dan guru mitra memutuskan bahwa istrumen layak digunakan maka instrumen/data tersebut dapat dinyatakan valid dan reliabel. Untuk meningkatkan validasi akan digunakan pula strategi berikut. Perhatikan Gambar 4.Fokus penelitian ini adalah partisipasi belajar siswa. Learning Logs siswa Untuk mengetahui. Skematik Triangulation . 3. kerjasama dan sikap peduli siswa terhadap teman . c. dan kepedulian tutor terhadap teman yang mengalami kesulitan belajar. Data kemampuan pemecahan masalah siswa. Rubrik unjuk kerja d. Catatan siswa Pengumpulan data dilaksanakan secara bertahap. Data kemampuan pengelolaan kelas guru diambil pada setiap fase acting pada siklus. perasaan. Lembar Observasi e. Teknik pemberian tugas kelompok Untuk mengukur aktifitas kelompok terhadap tugas yang diberikan. Untuk memperoleh data-data tersebut digunakan beberapa teknik dan alat pengumpul data di antaranya: a. Dalam penelitian ini siswa melakukan melakukan kegiatan belajar yang bersifat kolaboratif.5 Validasi Data Validasi dan reabilitas instrumen/data digunakan practically validity/reability. Quesioner b. Panduan wawancara c. Jurnal peneliti g. Rubrik tugas f. Teknik angket dan wawancara untuk data sikap Untuk mengetahui perkembangan proses dan atau pencapaian kompetensi sikap peduli siswa. Penilaian ini mencakup hasil akhir serta proses pembelajaran.

Melihat pola-pola. Tahap Pelakasanaan (Acting) Pada siklus I. Persiapan lain adalah pembuatan alat pengumpulan data meliputi: Quesioner. Penelitian ini bertujuan meningkatkan mutu pembelajaran Matematika SMPN 2 Baturraden ditunjukkan dengan meningkatnya jumlah siswa yang yang berperan aktif dalam kegiatan pembelajaran matematika dan prestasi belajar siswa. apa yang terjadi selama proses pembelajaran. memilah. Pengamatan dan inventarisasi maslah individu oleh tutor f. dan perubahan sauasana kelas. seperti pada lampiran. mengambil data dari berbagai nara sumber 6. Untuk memastikan adanya perubahan berupa peningkatan peran aktif siswa. Diskusi Kelompok e. Penigasan oleh guru d. Fokus pengamatan adalah aktifitas siswa dan guru serta interaksinya. sebagaimana dijelaskan berikut ini : Siklus I 1. membuang. menggunakan berbagai macam alat/instrumen seperti telah disampaikan pada teknik pengumpulan data 3. Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) Peer Tutor plus Strategy dan Sistem Penilaian Peer Tutor plus Strategy. Instrumental triangulation. 2.6 Analisis Data Analisis data merupakan usaha (proses) memilih. Sekurang-kurangnya 75% siswa mendapat nilai ulangan di atas krteria ketuntasan minimal ( KKM ) yang telah ditentukan. peningkatan kinerja guru. Source triangulation. menggunakan berbagai teori dalam menelaah setiap perubahan 4. dan tempat 5. waktu. dilakukan pembelajaran dengan Peer Tutor plus Strategy yaitu: a. dan (3) membuat interpretasi. Identifikasi data. 3. Tahap Refleksi (reflecting) . mengambil data dari berbagai suasana. 2.8 Prosedur Penelitian Sesuai dengan rancangan penelitian maka prosedur penelitian ini melalui 2 siklus. Tahap Pengamatan (Observing) Kegiatan pengamatan dilakukan secara kolaboratif dengan guru mitra sebagai observer. maka perlu dilihat dari berbagai sudut pandang. Sekurang-kurangnya 75% siswa menunjukkan peran aktif dalam kegiatan pembelajaran matematika di kelas. Langkah-langkah analisis data dalam penelitian ini yakni: (1). yakni : 3. lembar observasi proses pembelajaran untuk melihat urutan kegiatan. 3. Tahap Perencanaan (Planning) Setelah merumuskan cara pemecahan masalah. Data triangulation. dengan menggunakan beberapa teknik triangulasi. Pos tes. Pendampingan oleh tutor c. (2). menggolongkan data untuk menjawab rumusan masalah penelitian. Lembar Observasi. Pengamatan dilakukan dengan menggunakan alat pengumpul data berupa rubrik kinerja ilmiah. Skematik Triangulation 3. Theoritical triangulation. kegiatan tahap perencanaan ini menyiapkan rencana pembelajaran meliputi: pembuatan Silabus Peer Tutor plus Strategy. Lembar kerja Siswa dan rubrik.7 Indikator Kinerja Penelitian ini dianggap berhasil jika telah memenuhi indikator kinerja berikut: 1. 4. dan untuk menjamin validasi data dengan teknik triangulasi. Pengelompokan siswa b. 3. Sejalan pula dengan Tripp dalam Priyono (2001) menyatakan analisis data merupakan proses mengurai sesuatu ke dalam bagian-bagiannya. Sekurang-kurangnya 75% tutor aktif memberi bimbingan kepada teman dalam kelompoknya.Gambar 4.

sintesis. Tahap Pengamatan (Observing) Kegiatan pengamatan dilakukan secara kolaboratif dengan guru mitra. dan untuk menjamin trianggulasi data serta validasi data. interpretasi.Kegiatan refleksi dilakukan dalam waktu 1 x 24 jam setelah fase Acting dan Observing untuk menjamin akurasi dan kesegaran data. Siklus II 1. Pengamatan dilakukan dengan menggunakan semua alat pengumpulan data dan untuk melihat urutan kegiatan. Fokus pengamatan masih tetap yakni aktifitas siswa. Membuat persiapan pembelajaran meliputi Silabus. RPP. apa yang terjadi selama proses pembelajaran. Kegiatan yang dilakukan meliputi analisis. interpretasi. sintesis. pembelajaran dilakukann dengan Peer Tutor plus Strategy. Sistem Penilaian dengan Peer Tutor plus Strategy. menjelaskan dan menyimpulkan data temuan. 4. Hasil refleksi pada siklus I menjadi bahan untuk memperbaiki kinerja pada siklus berikutnya. Kegiatan yang dilakukan meliputi analisis. Merencanakan perbaikan kinerja pada siklus II. Tahap Refleksi ( Reflecting ) Secara umum kegitan tahap ini sama dengan kegiatan refleksi pada siklus I.. 2. Tahap Perencanaan (Planning) Merencanakan kegiatan pembelajaran pada siklus II. . menjelaskan dan menyimpulkan langkah berikutnya. 3. guru dan interaksinya. Tahap Pelaksanaan (Acting) Pada siklus II.