BAB I PENDAHULUAN 1.

1 Latar Belakang Masalah Budaya belajar pada siswa SMP Negeri 2 Baturraden khususnya siswa kelas IX tergolong rendah. Hal ini dapat disimpulkan dari diskusi-diskusi kecil para guru pada saat jam istirahat. Para guru rata-rata mengeluhkan rendahnya kesadaran siswa untuk mengerjakan pekerjaan rumah dan tugas-tugas mandiri.Pada saat kegiatan belajar di kelas sebagian besar siswa cenderung pasif. Hal ini juga terjadi pada kegiatan belajar mengajar matematika. Akibat dari kondisi ini ratarata prestasi belajar siswa menjadi rendah. Rendahnya motivasi belajar siswa khususnya pada siswa kelas IX berakibat pada hasil Ujian Nasional yang kurang memuaskan, bahkan tingkat kelulusan kelulusan tiga tahun terakhir kurang dari 90%. Dari hasil Ujian Nasional dapat diketahui terdapat kesenjangan antara siswa yang bernilai rendah dan yang bernilai tinggi. Hal ini menununjukkan adanya ketidak merataan pemahaman materi pelajaran pada siswa.Pada siswa yang aktif relatif mendapat nilai yang tingi sedang pada siswa yang pasif rata-rata nilainya rendah. Hasil Ujian Nasional Siswa SMP Negeri 2 Baturraden Dari Tahun Pelajaran 2005/2006 s.d 2007/2008
MATA PELAJARAN TAHUN PELAJARAN

B.Indonesia

B. Inggris Matematika I P A

RATA- %KELULUSAN RATA

2005 / 2006 7,65 2006 / 2007 7,58 2007 / 2008 7,14

5,47 5,31 5,05

5,44 5,71 5,33

_

6.19

60,98 83,25 83,00

– 6.20 5,71 5.81

Jika dilihat pada tabel di atas rata- rata nilai matematika masih di bawah 6. Bahkan siswa yang tidak lulus rata-rata dikarenakan nilai mata pelajaran matematika masih di bawah nilai standar kelulusan. Sebenarnya materi uji matematka pada UN tahun 2007 dan 2008 lebih simpel karena mengacu Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan ( KTSP ), dimana pada kurikulum KTSP muatan materinya lebih ringkas dibanding kurikulum 1994 . Adapun bentuk perilaku pasif yang sering ditunjukkan siswa pada saat KBM diantaranya adalah, kurang berani bertanya, takut menjawab pertanyaan yang diberikan guru, lebih senang berdiam diri daripada memberikan pendapatnya , bahkan berbicara atau bercanda dengan teman sebangku. Berangkat dari kondisi tersebut tersebut muncul gagasan sebuah strategi pembelajaran yang diharapkan dapat meminimalisasi permasalahan di atas. . 1.2 Identifikasi Masalah Berdasarkan uraian di atas, masalah utama yang mendesak untuk diselesaikan adalah mebangun kesadaran belajar dan sikap aktif yang dimiliki siswa kelas 9 SMP Negeri 2 Baturraden dalam kegiatan belajar mengajar. Berdasarkan hasil angket yang diberikan kepad siswa diperoleh informasi hanya sekitar 45% siswa yang mempunyai sikap aktif dalam kegiatan pembelajaran di kelas. Berdasarkan analisis penyebab terjadinya masalah (probable causes) dengan menggunakan, brainstorming dengan

Dari hasil laporan inilah yang akan digunakan oleh guru untuk melakukan tindak lanjut kegiatan belajar . Selama proses pembelajaran matematika berlangsung. takut atau kesuliatn secara verbal berkomunikasi dengan guru. yang tidak hanya membimbing siswa yang mempunyai kemampuan di bawahnya juga melakukan pengamatan perkembangan hasil belajar temannya yangs selanjutnya dilaporkan secara berkala kepada guru. Siswa tidak berani bertanya kepada guru karena takut dianggap bodoh oleh temantemannya. Untuk menyelesaikan masalah dia atas perlu dilihat dari penyebab utama yang ada.3 Perumusan Masalah Berdasarkan identifikasi masalah di atas maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah: Sekurang-kurangnya 45% siswa kelas 9 A SMP Negeri 2 Baturraden Tahun Pelajaran 2008/2009 kurang berperan secara aktif dalam kegiatan belajar mengajar.Dalam penggunaan strategi tersebut penulis mengembangkan menjadi peer tutor plus Strategy. Siswa yang pandai cenderung enggan untuk membantu teman yang masih belum paham materi yang diajarkan guru 5. Siswa yang pandai lebih senang mengelompok dengan teman-teman yang prestasinya setara. Dalam prosese belajar mengajar tampaknya perlu memberikan tanggung jawab kepada siswa yang pandai untuk membantu guru dalam membimbing temannya yang mengalami kesulitan belajar dalam pembelajaran matematika.4 Tujuan Penelitian Tujuan umum penelitian Meningkatkan kualitas pembelajaran Matematika di SMP Negeri 2 Baturrdaen ditunjukkan dengan meningkatnya prosentase siswa yang berpartisipasi aktif dalam kegiatan belajar mengajar diikuti dengan meningkatnya prestasi belajar siswa. Dengan strategi ini diharapkan tidak hanya keaktifan siswa yang meningkat juga penilian autentik juga dapat terlaksana. b. Salah satu strtegi pembelajaran yang diyakini mampu mengatasi permaslahan di atas adalah strategi pembelajarn tutor sebaya atau peer tutor. Siswa sebagai tutor menginventarisasi perkembangan siswa baik yang berupa nilai tugas. sehinga terjadi prosese belajar yang bersifat kolaboratif. 4. Dalam strategi ini siswa yang berperan sebagai tutor diberi peran layaknya seorang guru. Strategi yang juga mendororng siswa yang pandai untuk peduli kepada temannya. 4. 2. 3. Sehingga keaktifan siswa menjadi rendah. Biasanya siswa dengan kesulitan semacam ini akan lebih mengkomunikasikan kesulitannya kepada teman sebayanya. Guru jarang menggunkan model pembelajaran kooperatif atau belajar berkelompok. Tujuan khusus penelitian . Perlu strategi pembelajaran yang mampu meminimalisasi permasalahan di atas. 2. Kurang berani mengeluarkan pendapatnya karena takut salah. ulangan maupun sikap siswa saat mengikuti kegiatan belajar mengajar. Permasalahan ini bisa disebabkan karena faktor malu. Masalah yang bersumber dari siswa : 1. 1.mengajar berikutnya. Hal ini dirasa perlu dilakukan dikarenakan masih banyaknya siswa kurang terbuka menyatakan kesulitan yang dialami kepada guru. guru masih dominan menggunakan metode ceramah. Guru beranggapan pembelajaran kooperatif akan memakan waktu dan tenaga sehingga ketuntasan materi dikhawatirkan tidak tercapai. penyebab yang paling mungkin munculnya masalah tersebut adalah sebagai berikut : a. dan pengalaman peneliti sebagai guru matematika. . 3.guru sejawat. 1. Guru yang menggunakan model pembelajaran koopertif sering bersifat kompetitif sehinga siswa yang berprestasi rendah semakin tersingkir. Masalah yang bersumber dari guru : 1. Suatu strategi diharapkan mampu menggerakkan siswa untuk lebih aktif saat mengikuti kegiatan belajar mengajar. Sebagian besar siswa masih beranggapan guru sebagai orang yang harus ditakuti bukan orang yang harus didekati..

Pendekatan Kolaboratif Pada kegiatan pembelajaran saat ini berkembang pendekatan pembelajaran kooperatif yang bersifat kompetitif. Menurut Syaiful Bahri dan Aswan Zain (2006) ada beberapa manfaat dari kegiatan Tutoring ini. b. Akibat dari pendekatan ini tidak jarang terjadi kesenjangan kemampuan yang dipero. Bagi masyarakat Karena siswa siswa dibiasakan untuk selalu aktif dalam kegiatan belajar mengajar dan selalu didorong untuk peduli kepada teman. Bagi Tutor. Siswa merasa senang dengan pembelajaran matematika karena tidak merasa canggung untuk bertanya. belajar ketrampilan-ketrampilan sosial. Bagi sekolah Memberikan sumbangan dalam peningkatan kualitas pembelajaran di SMP Negeri 2 Baturraden. Adakalanya hasilnya lebih baik bagi beberapa anak yang mempunya perasaan takut atau enggan kepada guru.1 Landasan Teori Peer – Tutor ( Tutor Sebaya ) Kelompok sebaya merupakan wadah yang sangat penting bagi terselesaikannya tugas-tugas perkembanganyang dihadapi para siswa.. Di sinilah peran-perannya menurut jenis kelamin masing-masing. sehingga dapat meminimalisasi egoisme siswa. Mereka belajar berkooperasi. ( Oemar Hamalik. Dalam kegiatan belajar di kelas sering guru merasa kesulitan untuk menanganai siswa yang mengalami kesulitan belajar. Dimana dalam pembelajaran tersebut tiap kelompok didorong untuk saling mengungguli satu dengan yang lain. 3. Bagi guru Strategi belajar ini dapat menjadi alternatif bagi guru yang mempunyai permaslahan siswa dengan keaktifan dan prestasi belajar yang relatif rendah . hidup bergotong royong dalam kehidupan bersama menuju tujuan-tiujuan bersama-sama. diikuti dengan peningkatan prestasi belajar berupa peningkatan kualitas dan kuantitas lulusan.eh tiap-tiap kelompok pada saaat kegiatan pembelajaran. Kelompok yang unggul menganggap kelompok lain sebagi pesaing. d. belajar tentang nilai-nilai.5 Manfaat Penelitian Penelitian Tindakan Kelas ini telah memberi manfaat bagi beberapa pihak. yaitu : a. maka sifat dan perilaku tersebut diharapkan akan terbawa dalam kehidupan bermasyara BAB II LANDASAN TEORI DAN HIPOTESIS 2. maka seolah-olah ia menelaah serta menghapalkannya lagi. c. berkompetisi.2003). Hal ini dimungkin rata-rata kelas yang ada adalah kelas gemuk yaitu kelas dengan jumlah siswa rata-rata dia atas 35 siswa. 1. . meminta penjelasan berkaitan dengan kesulitan belajar yang dialaminya . Mempererat hubungan anatara sesama siswa sehingga mempertebal perasaan sosial. 2. Tumbuhnya kesadaran siswa untuk selalu brepartispasi aktif dalam setiap kegiatan belajar mengajar. di antaranya : Bagi peserta didik 1. Untuk mensiasati kondisi tesebut guru dapat meminta bantuan kepad siswa yang semsetinya memperoleh program pengayaan untuk menjadi Peer – Tutor atau Tutor sebaya. perkerjaan tutoring akan mempunyai akibat memperkuat konsep yang sedang di bahas. Dapat melatih kepedulian siswa yang prestasi matematikanya di atas rata-rata kepada siswa yang pretasinya masih rendah.Pada akhir siklus pada semester genap tahun 2008/2009 siswa kelas 9 SMP Negeri 2 Baturraden yang berpartisipasi aktif dalam kegiatan belajar matematika meningkat secara signifikan . Bagi Tutor merupakan kesempatan untuk melatih diri memegang tanggung jawab dalam mengemban tugas dan melatih kesabaran. Kelompok yang unggul cenderung tidak mau berbagi pnegetahuan terhadap kelompok yang lain. Dengan memberitahukan kepada anak lain. Kabupaten Banyumas.

hanya menerima informasi dari guru harus berubah menjadi pebelajar yang bekerja dalam kelompok. Sejalan dengan pemikiran di atas. dan pertanyaan –pertanyaan cermat yang diajukan oleh guru atau teman sekelas bisa memancing mereka untuk meninjau kembali penalaran mereka. Dengan pengalaman . istilah. mengandalkan bakat setiap anggota kelompok. Dimana terjadi siswa atau kelompok yang sudah menguasai materi pelajaran mengajar kepada siswa yang belum menguasai.(Prof. 2007 ) Pembelajaran Matematika Refleksi dan komunikasi adalah proses yang saling terjalin dalam belajar matematika. 2008) 2. Kerja sama dapat menghilangkan hambatan mental akibat terbatasnya dan cara pandang yang sempit. mendengarkan dengan pikiran terbuka. Lebih lanjut dari kondisi tersebut adalah kelompok dengan kemampuan rendah selalu tertingga.komunikasi untuk tujuan-tujuan refleksi bisa menjadi suatu bagian yang alamiah dari belajar matematika. Dengan perencanaan dan dan perhatian yang eksplisit oleh para guru .Akibatnya kelompok yamng mempunyai kemampuan rendah sulit untuk mengikuti kemampiuan kelompok yang unggul. Pebelajar tradisional bekerja sendiri. dan frustasi. Di tingkat SMP siswa cenderung tidak mau menonjolkan diri dalam kelompoknya. para anggota kelompok kecilakan mampu mengatasi berbagi rintangan. berkompetisi satu dengan lainnya. Melalui kelompok tersebut diharapkan mampu memecahkan kebuntuan komunikasi yang terjadi antara siswa dengan siswa maupun siswa dan guru. dan isi harus berubah menjadi siswa mampu memahami. para siswa akan memperoleh pengalaman dalam mengatur dan menacatat pemikiran mereka. learning to be. berkolaborasi dengan lainnya. ( Elaine B. berkontribusi. bertindak mandiri dan dengan penuh tanggung jawab. belajar menghargai orang lain. Perlu pembentukan kelompok komunitas yang bersifat heterogen khususnya pada kemampuan akademik . Wahyudin. Untuk menghindari kondisi dia atas perlu dilakukan pendekatan yang tidak hanya menekankan pada persaingan. Hal lain yang mungkin terjadi adalah guru cenderung memperhatikan kleompok siswa yang memiliki kemampuan yang baik.Dalam komunitas tersebut siswa dapat saling berbagi gagasan – gagasan matematis dalam cara-cara yang cukup jelas dimengerti dalam kominitas siswa tersebut. Paradigma dan orientasi yang demikian dipandang menuntut wawasan dan cara pandang baru dalam mengelola proses pembelajaran. guru membentuk situasi kelas yang mendukung terbentuknya komunitas diamaa dalam komunitas tersebut para siswa akan merasa bebas mengekspresikan gagasan-gagasan mereka. Empat pilar pendidikan sejagat yang dicanangkan oleh UNESCO dan menopang imperatif pendidikan bagi semua (education for all) adalah learning to know. sehingga strategi pembelajaran yang disarankan adalah . Johnson. 2002). Menurut Tim Widiaiswara LPMP Jateng ( 2008 ) dalam pendekatan Kolaboratof dimungkinkan terjadi saling belajar membelajarkan antar siswa sehingga pencapain belajar siswa relatif sama. dan melakukan sintesa informasi pada pebelajar modern ( Kistono. mempercayai orang lain. Pebelajar mengkonstruksi. learning to do. dan membangun persetujuan bersama. Jadi akan lebih mungkin untuk menemukan kekuatan dan kelemahan diri. dan mengaplikasikan ide dan proses yang lebih kompleks. cara pandang pembelajaran tradisional yang mengedepankan penguasaan siswa terhadap pengetahuan tentang fakta. Suatu pendekatan yang memungkinkan terjadinya interaksi antar siswa yang saling bekerja sama dalam pencapaian penguasaan materi pelajara. Dengan bekerja sama. Untuk itu guru mempunyai peran yang sangat penting dalam penciptaan komunitas kelas yang mampu merangsang adanya komunikasi antar siswa. bahkan ada siswa yang cenderung menarik diri dalam kelompoknya. dan learning to live together. Pendekatan kerja sama ini sering disebut dengan Pendekatan Kolaboratif. mengeluarkan pendapat dan mengambil keputusan.2 Kerangka Berpikir Untuk medukung terwujudnya komunikasi anatar siswa yang dapat membangun pemahaman dalam pembelajaran matematika.Para siswa yang masih anak-anak dapat diminta untuk ”berpikir dengan keras” .

Pemikiran senada adalah teori baru dalam psikologi pendidikan di antaranya teori pembelajaran konstruktivisme (constructivist theories of learning). investigasi.. 3. discovery. Penugasan oleh guru Guru memberi kan tugas kelompok dari buku siswa atau Lembar Kerja Siswa. Pengamatan dan inventarisasi masalah individu oleh tutor Tutor melakukan pengamatan sikap teman dalam kelompoknya dan perkembangan hasil belajarnya. Diskusi Kelompok Upaya untuk mendapatkan penyelesaian yang tepat dari pemecahan masalah atau soal yang telah diberikan. 2004). mereka harus bekerja memecahkan masalah. Untuk menciptakan kondisi seperti di atas guru membutuhkan bantuan siswa kelompok atas yang seharusnya mendapatkan pengayaan untuk menjadi tutor bagi kelomponya yang biasa disebut dengan peer tutor atau tutor sebaya. Pendampingan oleh Tutor Bekerja dalam kelompok kooperatif untuk memecahkan soal atau masalah yang diberikan oleh guru. Adapun langkah-langkah strategi pembelajarn Peer Tutor plus adalah sebagai berikut: 1.Dalam hal ini guru melakukan pembimbingan seperlunya. Teori ini menyatakan bahwa siswa harus menemukan. 2. Siswa yang berperan sebagai tutor melakukan pembimbingan kepad siswa yang kurang memahami penjelasan atau masialah yang diberikan oleh guru.Perlu dibentuk komunitas atau kelompok-kelompok dalam kelas yang dapat merangsang komunikasi aktif antar siswa dan siswa dengan guru. Disamping diskusi dalam kelompok juga dilakukan diskusi antar kelompok agar hasil masing kelompok dapay terkomunikasikan. Bagi siswa agar benar-benar memahami dan dapat menerapkan pengetahuannya. . Pembentukan Kelompok Dibentuk kelompok heterogen baik dalam kemampuan akademis maupun jenis kelamin. 5. 4. (Gafur. Sehingga dapat saling membantu antar siswa dalam memahami konsep-konsep dan masalah dalam belajar matematika. berusaha dengan susah payah dengan ide-ide. membangun sendiri pengetahuan di dalam benaknya.. Oleh karena itu model pembelajaran ini disebut dengan strategi pmebelajaran Peer Tutor plus.pembelajaran yang memberi ruang bagi pebelajar untuk mengaplikasikan gagasan-gagasannya sendiri. Peer Tutor Plus Strategy Berdasarkan uraian di atas.. Tutor melakukan pembimbing kepada siswa yang mengalami kesulitan. Adapun dalam model pembelajaran ini tutor selain bertugas membantu siswa yang mempunyai kemampuan di bawahnya juga diberi tugas mengamati perkembangan kemampuan siswa baik secara kademik maupun secara sikap diaman tutor melaporkan perkembangan temannya kepada guru secara berkala. untuk menyelesaikan masalah dalam penelitian ini diperlukan strategi pembelajaran yang mampu menumbuhkan partisipasi aktif siswa dalam kegiatan belajar mengajar di sekolah. inventory. 2003). Dalam hal ini yang perlu diinventarisir oleh tutor masalah yang dihadapi tiap individu dalam kelompoknya. memperoleh pengalaman langsung melalui kegiatan-kegiatan explorasi. Bagi tutor yang tidak dapat menjawab pertanyaan teman dalam kelompoknya dapat meminta bantuan guru. .Hal ini dilakukan agar siswa terbiasa dalam berinteraksi seacar social tanpa mebeda-bedakan kemampuan dan jenis kelamin sehingga mempunyai sikap terbukap dan toleran keopada sesame. dan guru dapat memberi kesempatan untuk menemukan atau menerapkan ide-ide mereka sendiri dan membimbing siswa menjadi sadar dan secara sadar pula menggunakan strategi mereka sendiri untuk belajar (Wartono dkk. untuk kemudian dilaporakan kepada guru baik secar lesan maupun tertulis. Implementasi PEER TUTOR Plus Strategy PEER TUTOR Plus Strategy adalah strategi pembelajaran yang memanfaatkan siswa yang mempunyai kemampuan di atas rata-rata di kelasnya sebagi tutor teman sebaya dalam kelompoknya dan juga melaporkan perkembangan belajar teman-teman dalam kelompoknya secara berkala kepada guru.

Disamping itu juga untuk mengetahui sejauh mana perkembanagan prestasi belajar tiap-tiap siswa 2. 3. dan Reflecting (Refleksi) (Kemmis dan Mc Taggart. Karena penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas maka metode penelitian yang digunakan adalah metode deskriptif. Sehingga rancangan dalam penelitian ini dilaksanakan dalam 2 siklus. Acting (Tindakan). 3. 1992).2 Metode dan Rancangan Penelitian Metode penelitian berhubungan dengan tata urutan penelitian ini akan dilakukan. Kelas ini tergolong kelompok siswa dengan prestasi sedang bahkan cenderung rendah. suatu objek dengan tujuan membuat deskripsi yang sistematis.3 Subjek Penelitian Subjek penelitian tindakan kelas ini adalah siswa kelas 9 A SMP Negeri 2 Baturrden pada semester genap Tahun Pelajaran 2008/2009.6.3 Hipotesis Penelitian Berdasarkan kajian pustaka dan kerangka berpikir di atas maka hipotesis tindakan pada penelitian ini adalah:” Peer tutor plus Strategy“ dapat meningkatkan peran serta aktif dan prestasi belajar siswa dalam kegiatan belajar matematika. Classroom Action Research dapat dikelompokkan dalam penelitian dengan metode deskriptif sekaligus metode eksperimen.1 Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilakukan di SMP Negeri 2 Baturraden Kabupaten Banyumas. Metode deskriptif adalah suatu metode dalam meneliti status sekelompok manusia. berlokasi di jalan Raya Kemutug Kidul. Pos Tes Diberikan tes secara individu. Kondisi tersebut turut berakibat pada munculnya kesenjangan partisipasi dan prestasi dalam kegiatan pembelajaran. Observing (Pengamatan). sifat-sifat serta hubungan antar fenomena yang diselidiki (Nazir. Penelitian ini dilaksanakan pada semester genap Tahun Pelajaran 2008/2009. Kabupaten Banyumas”. kecamatan Baturtraden.pada siswa kelas 9 SMP Negeri 2 Baturraden . . sebuah kelas yang terdiri dari kombinasi antara siswa dengan dengan prestasi belajar yang rendah dan siswa dengan prestasi belajar peringkat sepuluh besa. di kaki gunung Slamet. khususnya mata pelajaran matematika. 1988). Setiap siklus melalui fase-fase Planning (Perencanaan). untuk mengetahu sejauh mana perbedaan hasil dari nilai kelompok dan nilai indivdu . 3. Salah satu ciri Classroom Action Research adalah cyclic atau adanya langkah-langkah yang terukur dan terencana dalam sebuah siklus. Berlangsung pada bulan januari sampai dengan April 2009. BAB III METODOLOGI PENELITIAN 3.4 Teknik dan Alat Pengumpulan data Teknik Pengumpulan Data . SMP Negeri 2 Baturraden adalah salah satu sekolah di Kabupaten Banyumas. berjarak ± 7 km ke arah utara dari kota Purwokerto. faktual dan akurat mengenai fakta-fakta. juga terdapat siswa yang aktif dalam organisasi OSIS.

c. Learning Logs siswa Untuk mengetahui. 3. Quesioner b. Teknik pemberian tugas kelompok Untuk mengukur aktifitas kelompok terhadap tugas yang diberikan. b. Face validity. Teknik angket dan wawancara untuk data sikap Untuk mengetahui perkembangan proses dan atau pencapaian kompetensi sikap peduli siswa. maka alat pengumpul data yang digunakan sebagai berikut : a. Jurnal peneliti g. Data kemampuan pengelolaan kelas guru diambil pada setiap fase acting pada siklus. Teknik Observasi Digunakan untuk mengamati kemampuan guru dalam mengelola kelas pembelajaran e. Setiap anggota saling menilai/memutuskan validitas suatu instrument/data dalam proses kolaborasi. tanggapan. yakni: 1.5 Validasi Data Validasi dan reabilitas instrumen/data digunakan practically validity/reability. Learning log siswa digunakan pada tahap refleksi setiap siklus dalam rangka Data Triangulation dan Source Triangulation. kerjasama dan sikap peduli siswa terhadap teman . d. Untuk meningkatkan validasi akan digunakan pula strategi berikut. Triangulation.Fokus penelitian ini adalah partisipasi belajar siswa. Panduan wawancara c. 2. Dalam penelitian ini siswa melakukan melakukan kegiatan belajar yang bersifat kolaboratif. Penilaian ini mencakup hasil akhir serta proses pembelajaran. dan kepedulian tutor terhadap teman yang mengalami kesulitan belajar. artinya sepanjang peneliti dan guru mitra memutuskan bahwa istrumen layak digunakan maka instrumen/data tersebut dapat dinyatakan valid dan reliabel. Catatan siswa Pengumpulan data dilaksanakan secara bertahap. Menggunakan berbagai sumber data untuk meningkatkan kualitas penilaian. Rubrik unjuk kerja d. perasaan. Rubrik tugas f. Data kemampuan pemecahan masalah siswa. Teknik tes unjuk kerja (performance test) Digunakan untuk mengukur kinerja siswa di kelas . Untuk memperoleh data-data tersebut digunakan beberapa teknik dan alat pengumpul data di antaranya: a. Skematik Triangulation . gagasan siswa yang sebenarnya tentang proses pembelajaran yang dialaminya. Perhatikan Gambar 4. Data sikap partisipasi dan prestasi diambil pada saat pra siklus untuk memperoleh data awal sebelum treatment pembelajaran dilakukan dan diambil pada akhir sikulus. Alat Pengumpul data Sesuai dengan data yang ingin diperoleh dan teknik yang digunakan. Lembar Observasi e.

3.8 Prosedur Penelitian Sesuai dengan rancangan penelitian maka prosedur penelitian ini melalui 2 siklus. 2. Fokus pengamatan adalah aktifitas siswa dan guru serta interaksinya. sebagaimana dijelaskan berikut ini : Siklus I 1. Tahap Pelakasanaan (Acting) Pada siklus I. Skematik Triangulation 3. seperti pada lampiran. 3. Langkah-langkah analisis data dalam penelitian ini yakni: (1). Pendampingan oleh tutor c. Pengamatan dilakukan dengan menggunakan alat pengumpul data berupa rubrik kinerja ilmiah. peningkatan kinerja guru. maka perlu dilihat dari berbagai sudut pandang. Sejalan pula dengan Tripp dalam Priyono (2001) menyatakan analisis data merupakan proses mengurai sesuatu ke dalam bagian-bagiannya. Tahap Refleksi (reflecting) . membuang. Data triangulation. Instrumental triangulation. 4. Lembar kerja Siswa dan rubrik. Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) Peer Tutor plus Strategy dan Sistem Penilaian Peer Tutor plus Strategy. Lembar Observasi. kegiatan tahap perencanaan ini menyiapkan rencana pembelajaran meliputi: pembuatan Silabus Peer Tutor plus Strategy. Penelitian ini bertujuan meningkatkan mutu pembelajaran Matematika SMPN 2 Baturraden ditunjukkan dengan meningkatnya jumlah siswa yang yang berperan aktif dalam kegiatan pembelajaran matematika dan prestasi belajar siswa. mengambil data dari berbagai suasana. yakni : 3. menggolongkan data untuk menjawab rumusan masalah penelitian. menggunakan berbagai macam alat/instrumen seperti telah disampaikan pada teknik pengumpulan data 3. dan perubahan sauasana kelas. memilah. lembar observasi proses pembelajaran untuk melihat urutan kegiatan. Tahap Pengamatan (Observing) Kegiatan pengamatan dilakukan secara kolaboratif dengan guru mitra sebagai observer. Theoritical triangulation. Source triangulation. Identifikasi data. menggunakan berbagai teori dalam menelaah setiap perubahan 4.7 Indikator Kinerja Penelitian ini dianggap berhasil jika telah memenuhi indikator kinerja berikut: 1. Persiapan lain adalah pembuatan alat pengumpulan data meliputi: Quesioner. dan untuk menjamin validasi data dengan teknik triangulasi. mengambil data dari berbagai nara sumber 6. 2. dan tempat 5. 3. waktu.Gambar 4. dan (3) membuat interpretasi. Untuk memastikan adanya perubahan berupa peningkatan peran aktif siswa. Pos tes. Pengelompokan siswa b. apa yang terjadi selama proses pembelajaran. Melihat pola-pola. Sekurang-kurangnya 75% siswa menunjukkan peran aktif dalam kegiatan pembelajaran matematika di kelas. Sekurang-kurangnya 75% tutor aktif memberi bimbingan kepada teman dalam kelompoknya. Tahap Perencanaan (Planning) Setelah merumuskan cara pemecahan masalah. (2). Diskusi Kelompok e.6 Analisis Data Analisis data merupakan usaha (proses) memilih. Sekurang-kurangnya 75% siswa mendapat nilai ulangan di atas krteria ketuntasan minimal ( KKM ) yang telah ditentukan. Penigasan oleh guru d. Pengamatan dan inventarisasi maslah individu oleh tutor f. dengan menggunakan beberapa teknik triangulasi. dilakukan pembelajaran dengan Peer Tutor plus Strategy yaitu: a.

Hasil refleksi pada siklus I menjadi bahan untuk memperbaiki kinerja pada siklus berikutnya. interpretasi. Fokus pengamatan masih tetap yakni aktifitas siswa. Tahap Refleksi ( Reflecting ) Secara umum kegitan tahap ini sama dengan kegiatan refleksi pada siklus I. Kegiatan yang dilakukan meliputi analisis. interpretasi. Kegiatan yang dilakukan meliputi analisis. Sistem Penilaian dengan Peer Tutor plus Strategy. Tahap Pelaksanaan (Acting) Pada siklus II. sintesis. RPP. dan untuk menjamin trianggulasi data serta validasi data. guru dan interaksinya. menjelaskan dan menyimpulkan data temuan. Siklus II 1. apa yang terjadi selama proses pembelajaran. sintesis. 2. pembelajaran dilakukann dengan Peer Tutor plus Strategy. Pengamatan dilakukan dengan menggunakan semua alat pengumpulan data dan untuk melihat urutan kegiatan.. menjelaskan dan menyimpulkan langkah berikutnya. . Tahap Perencanaan (Planning) Merencanakan kegiatan pembelajaran pada siklus II.Kegiatan refleksi dilakukan dalam waktu 1 x 24 jam setelah fase Acting dan Observing untuk menjamin akurasi dan kesegaran data. Merencanakan perbaikan kinerja pada siklus II. Tahap Pengamatan (Observing) Kegiatan pengamatan dilakukan secara kolaboratif dengan guru mitra. 4. 3. Membuat persiapan pembelajaran meliputi Silabus.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful