http://asriepdbgt.blogspot.com/2010/11/v-behaviorurldefaultvmlo.html perhitungan angka kuman BAB I PENDAHULUAN A. TINJAUAN PUSTAKA A.

Perhitungsn angka kuman Menghitung atau menentukan banyaknya mikroba dalam suatu bahan (makanan, minuman, dan lain-lain) dilakukan untuk mengetahui sampai seberapa jauh bahan itu tercemar oleh mikroba. Dengan mengetahui jumlah mikroba, maka dapat diketahui kualitas mikrobiologi dari bahan tersebut. Bahan yang dapat dikatakan baik jika jumlah mikroba yang terkandung dalam bahan tersebut masih di bawah jumlah standar yang ditentukan oleh suatu lambaga. Kandungan mikroba pada suatu bahan juga sangat menentukan tingkat kerusakannya, serta dapat ditentukan oleh tingkat kelayakan untuk dikonsumsi. Jumlah mikroba dalam suatu bahan dapat dihitung menggunakan beberapa cara. Namun secara garis besar dibedakan menjadi : 1. Cara perhitungan langsung Cara perhitungan langsung berarti kita dapat mengetahui beberapa jumlah mikroba pada saat dilakukan perhitungan. Hasil perhitungan secara langsung menunjukkan seluruh jumlah mikroba yang masih hidup maupun yang sudah mati. Adapun caranya: a. Pembuatan preparat sederhana yang diwarnai b. Menggunakan ruang hitung 2. Cara perhitungan tidak langsung Cara perhitungan tidak langsung, hasil perhitungan jumlah mikroba baru dapat diperoleh kemudian setelah dilakukan perlakuan terlebih dahulu. Hasil perhitungan tidak langsung akan menunjukan jumlah mikroba yang masih hidup saja. Adapun caranya : a. Menghitung jumlah total mikroba (Total plate count = angka lempeng total) b. Cara pengenceran c. Memperkirakan jumlah terkecil mikroba yang ada (MPN = Most Probable Number) d. Cara kekeruhan (turbiditas) Cara perhitungan tidak langsung dapat digunakan baik untuk bahan padat maupun cair. Khusus untuk bahan padat maka sebelum dilakukan perhitungan bahan itu perlu dilakukan pelarutan atau dibuat suspense, dengan memperhitungkan factor pengencerannya. Tujuan pengenceran Menghitung jumlah kuman aerob yang terdapat dalam produk obat, obat tradisional, makanan, kosmetik dan alat kesehatan. Prinsip pengenceran Sediaan yang telah dihomogenkan dan diencerkan dengan pengenceran yang sesuai ditanam pada media agar (PCA= plate count agar), setelah inkubasi pada suhu 370c selama 24-48 jam dihitung jumlah koloni yang tumbuh. Satuan perhitungan jumlah mikroba dikenal dengan istilah Colony Forming Units(CFUs) untuk perhitungan bakteri dan kapang/khamir. Factor pengenceran = pengenceran x jumlah yang ditumbuhkan Jumlah koloni = jumlah x 1/ factor pengenceran

5 x 104 (rata-rata 1. Koloni yang terlalu besar (lebih besar dari setengah luas cawan) tidak dihitung 6. Dua koloni yang berhimpitan dan masih dapat dibedakan dihitung 2 koloni 5.Syarat koloni yang ditentukan untuk dihitung adalah sebagai berikut: 1. Hasilnya dilaporkan sebagai kurang dari 30 koloni dikalikan dengan factor pengenceran tetapi jumlah sebenarnya harus dicantumkan dalam tanda kurung. Standar perhitungan Cawan yang dipilih adalah yang mengandung jumlah koloni 30-300 koloni. Jika angka ketiga lebih besar dari 5 maka harus dibulatkan satu angka lebih tinggi pada angka kedua. Hasil yang dilaporkan terdiri dari 2 angka.4 = <2) 1.3x104 125 10 2.4 x 104 (rata-rata 2.0 x 103 (1. Berikut contoh duplo :10-2 10-3 10-4 SPC (standar plate count) 175 16 4 1. Koloni yang besarnya kurang dari setengah luas cawan dihitung 1 koloni. Dua koloni yang bertumpuk dihitung 1 koloni 3.10-2 10-3 10-4 SPC (standar plate count) 16 1 <3.3x105 jijika semua pengenceran menghasilkan angka kurang dari 30 koloni pada cawan petri maka hanya koloni pada pengenceran terendah yang dihitung. beberapa koloni yang bergabung menjadi satu dihitung sebagai satu koloni.102 10-3 10-4 SPC (standar plate count) 234 700 2.10-2 10-3 10-4 SPC (standar plate count) TBUD 355 <3. meskipun salah satu dari cawan duplo tidak memenuhi syarat 30-300 koloni. Jika perbandingan antara hasil pengenceran tertinggi dan terendah hasilnya lebih dari 2 maka yang dilaporkan hanya hasil yang terkecil.9 x 104 .6 x 103) Jika semua pengenceran menghasilkan angka lebih dari 300 koloni pada cawan petri maka hanya koloni pada pengenceran tertinggi yang dihitung.3= >2) 28 1 Perhitungan duplo Jika digunakan dua cawan petri (duplo) perpengenceran. Perbandingan dari pengenceran tertinggi dan terendah dari kedua pengenceran lebih kecil atau sama dengan 2. Hasilnya dilaporkan sebagai lebih dari 300 koloni dikalikan dengan factor pengenceran tetapi jumlah sebenarnya harus dicantumkan didalam kurung. data yang diambil harus dari kedua cawan tersebut.6 x 106) Jika semua pengenceran menghasilkan angka antara 30-300 koloni pada cawan petri. Cara perhitungan hanya ¼ bagian saja kemudian hasilnya dikalikan. Beberapa koloni yang berhubungan dihitung 1 koloni 4. tidak boleh diambil salah satu. Satu koloni dihitung 1 koloni 2.10-2 10-3 10-4 SPC (standar plate count) 293 140 41 32 4 2 3. yaitu angka pertama didepan koma dan angka dibelakang koma. maupun koloni yang seperti sederetan garis tebal. tentukan rata-rata dari kedua pengenceran tersebut dengan memperhitungkan pengencerannya.0 x 106 (3.

karbol fuchsin. pewarnaan acid-fast 3. oleh karena umumnya bakteri diwarnai menggunakan lebih dari satu zat warna.5 x 104 Rata-rata pengenceran 10-2 Karena perbandingan pengenceran 10-3 dan 10-2 = 2.4 SPC (standar plate count) 2 4 2 3. Kadang bagian tertentu dari sel bakteri harus diberi penawaran khusus untuk dapat dilihat. Tehnik pewarnaan merupakan cara yang banyak dipergunakan untuk melihat struktur dan morfologi bakteri. Zat –zat itu akan bereaksi dengan zat warna asam atau basa dengan hasil kenampakan yang bebeda.1 x 104 rata-rata pengenceran 10-2 Karena perbandingan pengenceran 4 10-3 10-4 36 32 10-3 dan 10-2 -= 1. Sel bakteri mengandung bermacam-macam senyawa kimia antara lain lipida. Selain itu dengan fiksasi. sehingga sulit dilihat dengan menggunakan mikroskop cahaya. karena tibak mengabsorbsi ataupun membiaskan cahaya. asam nukleat dan protein. . pewarnaan endosprora b. maka afinitas sel terhadap zat warna menjadi meningkat sehingga zat warna lebih kuat melekat pada sel. pewarnaan flagelia c. pewarnaan tidak langsung 2. Asam nukleat kuman mengandung gugus fosfat bermuatan negative yang dapat mengikat warna basa yang bermuatan positif. pewarnaan langsung b. Kristal-ungu. Akan tetapi umumnya zat warna digunakan untuk pewarna bakteri adalah zat warna basa seperti : metilen-blue.208 10-2 138 162 10-2 290 280 10-3 17 10-4 42 43 2 rata-rata pengenceran 10-2 SPC (standar plate count) 1. Sebelum diberi zat warna sel bakteri perlu difiksasi yaitu mematikan sel pada preparat ulas tanpa mengakibatkan perubahan bentuk dan struktur yang ada didalam sel. Zat warna asam terikat dengan prostoplasma bakteri secara kimia dan zat warna yang digunakan berbentuk garam. MAKSUD dan TUJUAN Praktikum Mikrobiologi .2 B. pewarnaan kapsul C. pewarnaan struktur a.Virologi kali ini membahas tentang perhitungan angka kuman dan pewarnaan bakteri. pewarnaan sederhana a. pewarnaan gram b. pewarnaan diferensial a.pewarnaan bakteri ada beberapa cara yang dapat dikelompokan : 1. Penggunaan satu macam zat warna untuk pewarna bakteri sering tidak menghasilkan pengamatan yang baik. pewarnaan Bakteri Bakteri adalah mikroba uniseluler bersifat transparan dan tidak berwarna. Tujuan dari praktikum ini adalah mengetahui jumlah koloni dan membedakan bakteri gam (+) dan gram (-).

Tabung reaksi 3. Tanah seberat 1g dimasukkan kedalam aquadest steril 9ml (tabung pengenceran 10-1) secara aseptis dan divortex. Lampu Bunsen 6. Buatlah preparat ulas bakteri biakan murni 2. Preparat diteteskan dengan safranin (gram D) diamkan selama 1-2 menit. Teteskan lugol (gram B). Amati di mikroskop. 5. Mikroskop 5. Pipet volume 4. Tanah 7. Dari masing-masing 3 pengenceran terakhir (pengenceran 10-5. Cawan petri 2. 7. Lampu Bunsen 4. Koloni akan tumbuh pada ketiga cawan tersebut 6. 10-6. Timbang tanah seberat 1 gram 2. 3. 10-7) diambil 0. Pewarna Prosedur praktikum : 1. diamkan 5 menit cuci dengan air mengalir. Hitung jumlah mikroba pada masing-masing petri tersebut. Inkubasi pada suhu 370c selama 24-48 jam. Aquadest steril 8. Medium petri PCA Prosedur praktikum : 1.1ml untuk ditanam secara spread pleate pada medium petri PCA.BAB II METODOLOGI PRAKTIKUM Praktikum Perhitungan Angka Kuman Alat dan bahan : 1. Cuci dengan air mengalir 6. keringkan 3. diamkan 1 menit cuci dengan air mengalir 4. Cuci dengan alcohol 96% (gram C) sambil digoyang-goyangkan selama 30 detik atau sampai zat warna luntur mengalir dari preparat 5. Vortex 5. Teteskan larutan cat utama sebanyak 2 tetes. . Objek glass 3. 4. Praktikum Pewarnaan Bakteri Alat dan bahan : 1. Jarum ose 2. lalu ambil 1ml larutan masukkan dalam 9ml aquadest steril (pengenceran 10-2) dan selanjutnya dilakukan pengenceran bertingkat sampai 10-7. Biakan kuman 6. Cuci dengan air mengalir keringkan diantara kertas kering atau di udara.

Hitung angka kuman semua bakteri yang tumbuh pada plate dihitung.4 x 101 x 105) = <30 x 106 (1. Pengenceran 10-5 yang dipilih karena hasil pengenceran yang kami dapat menghasilkan angka kurang dari 30 koloni. Nilai yang didapat adalah Jumlah Angka Kuman dari Sampel yang di Periksa. Perhitungan : Angka kuman S . Media agar yang digunakan berbeda(menggunakan Baird Parker) dengan Hitung Angka Kuman sehingga bakteri jenis lain dapat ditekan pertumbuhanya. jumlah koloni dari tiap plate dikali dengan pengenceran dan dicari rata-rata dari semua plate.Jumlah koloni control) X pengenceran /Banyak plate Gambar : Angka Kuman Staphylococcus aureus Pemeriksaan Angka kuman Staphylococcus aureus sama dengan Hitung Angka Kuman. Hitung angka kuman dilakukan pengenceran bertingkat bertujuan agar koloni tiap plate dapat dihitung. Tahap akhir. Hal ini disebabkan karena pada saat melakukan isolasi tindakan yang dilakukan kurang aseptis dan alat-alat yang digunakan kurang steril dan jumlah bakteri terdapat pada sampel tanah yang kami ambil juga sedikit sehingga jumlah yang kami hitung dalam perhitungan kuman juga kecil jumlahnya.4 x 106 CFUs) Pembahasan : Jumlah kuman yang terdapat pada pengenceran 10-5 adalah <30 x 106 (1. Prinsip dari pemeriksaan ini menghitung jumlah koloni yang tumbuh pada Plate Count Agar. Jumlah koloni = < 30 x 1/10-5 ( 14 x 1/10-5) = <30 x 101 x 10 5 ( 1.4 x 106 CFUs). Metode perhitungan sangat banyak. hanya biasanya metode yang dipilih adalah disesuaikan .BAB III HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Praktikum Angka Perhitungan Bakteri Tanggal Praktikum : 02 November 2010 Tujuan Praktikum : untuk mengetahui jumlah koloni10-5 10-6 SPC (standar plate count) 10-7 14 5 ? Perhitungan : Semua pengenceran menghasilkan angka kurang dari 30 koloni. Perhitungan Angka Kuman : Σ (Jumlah koloni . proses pembuatan dan tingkat kerusakan suatu bahan mekanan. jumlah bakteri akan menggambarkan mutu bahan baku. sementara Hitung Angka Kuman Staphylococcus aureus jenis bakteri spesifik untuk bakteri S. aureus = Banyak koloni X pengenceran X penipisan Gambar : Perhitungan Bakteri Pada pemeriksaan suatu produk. aureus.

dimensi dari yang kita tahu. (d) hitung dengan mikroskop langsung. Most Probable Number (MPN) (c) aktifitas metabolik. dan dibungkus dengan yang kecil. Dari sejumlah metode di atas beberapa saja yang sering digunakan untuk pemeriksaan rutin yaitu. berdasarkan jumlah sinar yang diserap pada panjang gelombang tertentu. apakah dijumlahkan nomor dari organisme di beberapa area. kecepatan dan ketepatan hasil pemeriksaan. metode ini dapat dikerjakan tergantung dari jumlah bakteri yang hidup dengan aktifitas metabolisme (a) angka lempengan total. jika sel tidak ditandai dan karena itu tidak terlalu mencolok oleh pengujian terang-lapang. Semuanya adalah dibutuhkan. rata-rata mendapatkan bilangan untuk menghitung per area. Slide spesial-counting Chambers sebagaimana penghitung bakteri Petroff-Hausser juga digunakan untuk membuat perhitungan langsung.dengan kepentingan pemeriksaan. Apabila kurang maka dihitung jumlah koloni yang ada. Metode perhitungan itu adalah: (1) metode hitung bakteri. Hasil Praktikum Pewarnaan Bakteri Tanggal Praktikum : 02 November 2010 Tujuan Praktikum : membedakan bakteri Gram (+) dan Gram (-)Pengamatan Gram positif Gram negatif Nama Bakteri Stophylococcus aureus Pseudomonas auriginosa Bentuk sel Bulat bergerumul (anggur) Batang. berarti bahwa di atas volume lain daerah yang diatus dapat dijumlahkan. Pengujian dapat di buat dengan lebih banyak kepuasan dengan lapangan-gelap atau fase mikroskopis. prinsip hitung bakteri dengan metode ini adalah meratakan bakteri yang terdapat di dalam sampel dengan volume tertentu di atas permukaan media yang sesuai. oleh karena itu. dan juga mengalikan rata-rata ini oleh sebuah faktor yang tepat memasukkan penjumlahan ke nomor bakteri per millimeter. banyak falgel (rambut) Warna sel Warna ungu Warna merah Pembahasan : . (b) pengenceran. (c) dihitung jumlah koloni antar 30-300 koloni. (e) Volume sel. (b) satu sel hidup dari sampel akan mampu membentuk koloni bakteri dalam lempeng petri dish. (c) hitung partikel elektronik. Sejak counting cahmber diputuskan mati di dalam area yang pasti dan sejak kedalaman dari perhitungan pada ruangan diperhitungkan di ketahui. (2) Metode total bakteri hidup dan bakteri mati meliputi (a) berat kering bakteri. adalah perhitungan bakteri dengan cara menggunakan variasi jumlah tabung yang sudah ada di dalam standard. (b) kekeruhan. (1) angka lempeng total ”Pour Plate” digunakan untuk menghitung bakteri dengan ketentuan yaitu : (a) satu koloni bakteri dihitung satu sel bakteri hidup. (2) penghitungan bakteri dengan bakteri ”Spread Plate”. sedang apabila lebih dari 300 maka perlu dilakukan pengenceran. Perhitungan bakteri ditempatkan pada sebuah jalur ruangan. (3) Most Probable Number (MPN).

bila warna tidak tercuci maka warna pembanding akan terlihat. walaupun biakannya secara keseluruhan mungkin berwarna. Reagen terakhir adalah warna pembanding. Reagen pertama disebut warna dasar. yang terlihat pada hasil akhir tetap warna dasar. Zat warna basa lebih banyak digunakan karena muatan negatif banyak banyak ditemukan pada permukaan sel. bentuk. Malachite Green dll. bagian yang berperan dalam memberikan warna disebut kromofor dan mempunyai muatan positif. Base Fuchsin. Contoh zat warna asam antara lain Crystal Violet. Bakteri akan berwarna ungu. jadi pewarna ini akan mewarnai dengan jelas. Bakteri hidup sulit untuk dilihat dengan mikroskop cahaya terang biasa karena bakteri itu tampak tidak berwarna jika diamati secara sendiri. Jika dibuat preparat ulas tanpa pewarnaan. Sebaliknya pada zat warna asam bagian yang berperan memberikan zat warna memiliki muatan negatif. Tercuci tidaknya warna dasar tergantung pada komposisi dinding sel. bilakomponen dinding sel kuat mengikat warna. Oleh karena itu ketika penambahan gram D (safranin) dilakukan pada gram positif tetap berwarna ungu. Sel-sel mikroorganisme yang tidak diwarnai umumnya tampak hampir tembus pandang (transparan) bila diamati dengan mikroskop cahaya biasa hingga sukar dilihat karena sitoplasma selnya mempunyai indeks bias yang hampir sama dengan indeks bias lingkungannya yang bersifat cair. Zat warna yang digunakan bersifat asam atau basa. berupa pewarna basa. Hal ini menandakan bahwa pada gram positif kandungan peptidoglikannya lebih banyak sedangkan lipidnya lebih sedikit. Sel bakteri dapat teramati dengan jelas jika digunakan mikroskop dengan perbesaran 100x10 yang ditambah minyak imersi. sehingga kontras sel bakteri dengan sekelilingnya ditingkatka. sel bakteri sulit terlihat. yaitu bakteri gram positif dan bakteri gram negatif. Bakteri terbagi atas dua kelompok berdasarkan pewarnaan ini. Begitu pula dengan gram negative pada saat ditambahkan gram B (iodine) sama halnya dengan penambahan gram A. olesan bakteri terwarnai mengungkapkan ukuran. Kontras antara sel dan latar belakangnya dapat dipertajam dengan cara mewarnai sel-sel tersebut dengan zat-zat warna. dan hal-hal terperinci tertentu di dalam sel. Pada umumnya. Reagen kedua disebut bahan pencuci warna (decolorizing agent). susunan dan adanya struktur internal seperti spora dan butiran zat pewarna khusus diperlukan untuk melihat bentuk kapsul ataupun flagella. . Methylene Blue. Yang dimaksud dengan bakteri terwarnai adalah oganisme yang telah diwarnai dengan zat pewarna kimia agar mudah dilihat dan dipelajari. maka warna akan tercuci. Bakteri sering diamati dalam keadaan olesan terwarnai daripada dalam keadaan hidup. ketika ditambahkan gram C (alcohol-aceton) gram positif tetap berwarna ungu. Zat pewarna adalah garam yang terdiri atas ion positif dan ion negatif. yang salah satu diantaranya berwarna. Namun. maka warna tidak akan tercuci sedangkan bila komponen dinding sel tidak kuat menelan warna dasar. Sedangkan pada gram negative kandungan lipidnya yang lebih banyak ikut hilang. Sedangkan zat warna basa antara lain Eosin. Sehingga lipid yang larut tidak berpengaruh pada warna yang menempel pada bakteri. Safranin. Pada zat warna basa. Congo Red. sedangkan gram negative warna ungunya melarut dan setelah dicuci dengan aquadest warna ungunya menghilang.Pada saat pewarnaan gram positif jika ditambahkan gram A (Kristal violet) akan berwarna ungu. Zat warna dapat mengabsorbsi dan membiaskan cahaya. Proses pewarnaan diferensial ini memerlukan 4 jenis reagen. Pewarnaan bertujuan untuk memperjelas sel bakteri dengan menempelkan zat warna ke permukaan sel bakteri. sedangkan pada gram negative berwarna merah karena safranin berwarna merah. Perbedaan ini berdasarkan warna yang dapat dipertahankan bakteri.

ragi ataupun fungi. Jenis bakteri berdasarkan pewarnaan gram dibagi menjadi dua yaitu gram positif dan gram negatif. Karena pewarnaan tersebut berbentuk ion yang bermuatan positif ataupun negative. Berikut merupakan berbagai bentuk sel bakteri. Pewarnaan atau pengecatan terhadap mikroba. Beberapa bakteri sulit diwarnai dengan zat warna basa. Tapi mudah dilihat dengan pewarnaan negatif.Mempermudah melihat bentuk jasad baik bakteri.Aplikasi pewarna tunggal (pewarnaan sederhana) atau serangkaian larutan pewarna atau reagen (pewarnaan diferensial. maka akan tampak bentuk sel bakteri. Bakteri gram positif memiliki dinding sel yang tebal dan membran sel selapis.Mengamati dengan baik morfologi mikroorganisme secara kasar. tapi jika suspensi bakteri terlalu encer.Mengidentifikasi bagian-bagian struktural sel mikroorganisme. Sedangkan baktri gram negatif mempunyai dinding sel tipis yang berada di antara dua lapis membran sel.Fiksasi olesan pada kaca objek. Fase yang paling kritis dari prosedur di atas adalah tahap dekolorisasi yang mengakibatkan CV-iodine lepas dari sel.Penempatan olesan atau lapisan spesimen pada kaca objek. Pewarnaan Sederhana (Pewarnaan Positif).Memperjelas ukuran dan bentuk jasad . Pemberian ethanol jangan sampai berlebih yang akan menyebabkan overdecolorization sehingga sel gram positif tampak seperti gram negatif.Membantu mengidentifikasi atau membedakan organisme yang serupa. Pewarna yang digunakan pada umumnya berbentuk senyawa kimia khusus yang akan memberikan reaksi kalu mengenai bagian tubuh jasad. Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam pewarnaan gram adalah sebagai berikut a. . Sehingga kalau kita memberikan pewarnaan yang bermuatan positif ataupun negative). Namun juga jangan sampai terlalu sedikit dalam penetesan etanol . . Pewarnaan ini didasarkan pada tebal atau tipisnya lapisan peptidoglikan di dinding sel dan banyak sedikitnya lapisan lemak pada membran sel bakteri.Melihat reaksi jasad terhadap pewarna yang diberikan sehingga sifat fisik dan kimia yang ada akan dapat diketahui. .Melihat struktur luar dan kalau memungkinkan juga struktur dalam jasad. Pewarnaan Negatif. sehingga sel tampak transparan dengan latar belakang hitam. . banyak dilakukan baik secara langsung (bersama bahan yang ada) ataupun secara tidak langsung (melalui biakan murni). Fiksasi bertujuan untuk mematikan bakteri dan melekatkan sel bakteri pada object glass tanpa merusak struktur. . Sel bakteri bermuatan mendekati negatif kalau dalam keadaan pH mendekati netral. Tujuan dari pewarnaan tersebut adalah : . Setelah dilihat di mikroskop. Zat warna tidak akan mewarnai sel melainkan mewarnai lingkungan sekitarnya. Jangan menggunakan suspensi bakteri yang terlalu padat. Pewarnaan Gram adalah pewarnaan diferensial yang sangat berguna dan paling banyak digunakan dalam laboratorium mikrobiologi. Sebelum dilakukan pewarnaan dibuat ulasan bakteri di atas object glass yang kemudian difiksasi. . karena merupakan tahapan penting dalam langkah awal identifikasi. maka akan diperoleh kesulitan saat mencari bakteri dengan mikroskop.Banyak senyawa organik berwarna (zat warna) digunakan untuk mewarnai mikroorganisme untuk pemeriksaan mikroskopik dan telah dikembangkan prosedur pewarnaan untuk : . Langkah-langkah utama dalam persiapan spesimen mikroba untuk pemeriksaan mikroskopik adalah : .

sehingga metabolismenya bersifat inaktif dan mampu bertahan dalam tekanan fisik dan kimia seperti panas. Jakarta. dan Margareth F. U. Volk.wordpress. kering. Suriawiria. Jakarta. Walaupun ada beberapa species yang memang bersifat gram variabel seperti pada genus Acinetobacter dan Arthrobacter. N. http://wordbiology. 2005.. DAFTAR PUSTAKA Campbell. sel vegetatif berwarna). W. Dasar-Dasar Mikrobiologi 1. Berikut merupakan beberapa tipe endospora dan contohnya. Halini berkaitan dengan kandungan peptidoglikan dan lipid yang berbeda. endospora sulit dibedakan dengan badan inklusi (kedua-duanya transparan. sehingga pembedaannya tampak jelas. Mikrobiologi Dasar Dalam Praktek. kandungan peptidoglikan lebih banyak dan kandungan lipidnya sedikit. Jakarta : Erlangga. Gramedia. A. Namun jika dengan pewarnaan sederhana. Dan Reece. b. khususnya pada gram positif. UI Press. Pada gram positif. Hadioetomo. 1990. Biologi Jilid 2. Pewarnaan Endospora. Gramedia. 2008. 1986. Anggota dari genus Clostridium. A. Desulfomaculatum dan Bacillus adalah bakteri yang memproduksi endospora dalam siklus hidupnya. 1998. Pelczar. Teknik Pewarnaan Mikroba.. M. BAB IV KESIMPULAN Jumlah kuman perhitungan kuman yang didapat tergantung pada jumlah bakteri yang terdapat saat pengenceran. . Tujuan dilakukannya pewarnaan endospora adalah membedakan endospora dengan sel vegetatif. R. radiasi dan bahan kimia. Mungkin akan menampakkan gram variabel yaitu satu jenis sel. Endospora merupakan bentuk dorman dari sel vegetatif. Jakarta. B. sebagian berwarna ungu dan sebagian merah karena pengaruh umur. S. sehingga diperlukan teknik pewarnaan endospora.. Endospora tetap dapat dilihat di bawah mikroskop meskipun tanpa pewarnaan dan tampak sebagai bulatan transparan dan sangat refraktil. Pada saat pewarnaan gram. W.. W. Mikrobiologi Dasar Jilid I.com. Sedangkan gram negative sebaliknya. 1985. bakteri gram posif berwarna ungu dan gram negative berwarna merah. Irawan. Pewarnaan bakteri dilakukan dengan tujuan untuk melihat struktur dan morfologi bakteri. Jakarta.. Mikrobiologi Dasar dalam Praktek. karena maerupakan mikroba uniseluler yang bersifat transparan atau tidak berwarna. Erlangga. Umur kultur akan berpengaruh pada kemampuan sel menyerap warna utama (CV). J. dingin.(underdecolorization) yang tidak akan melarutkan CV-iodine secara sempurna sehingga sel gram negatif seperti gram positif. Preparasi pewarnaan gram terbaik adalah menggunakan kultur muda yang tidak lebih lama dari 24 jam.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful