P. 1
Makalah Belajar dan Pembelajaran Teori Kognitivisme

Makalah Belajar dan Pembelajaran Teori Kognitivisme

|Views: 2,492|Likes:
Published by Sumadiyasa
Makalah Belajar dan Pembelajaran Teori Kognitivisme
Makalah Belajar dan Pembelajaran Teori Kognitivisme

More info:

Published by: Sumadiyasa on Nov 21, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

04/29/2013

pdf

text

original

BELAJAR DAN PEMBELAJARAN “TEORI BELAJAR KOGNITIVISME”

Oleh Kelompok 2 Kelas B

Ni Kadek Ayu Trisnayani I Made Sumadiyasa I Wayan Andika Sari Putra Ni Putu Wiadnyani

( 1011011073 ) ( 1011011103 ) ( 1011011105 ) ( 1011011156 )

JURUSAN BIMBINGAN KONSELING FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS PENDIDIKAN GANESHA 2011

KATA PENGANTAR Puja dan puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena berkat rahmat beliaulah kami dapat menyelesaikan makalah ini. Berdasarkan mata kuliah yang telah diberikan, kami memberi judul makalah ini Belajar dan Pembelajaran dengan membahas secara khusus “Teori Belajar Kognitivisme”. Individu yang terlahir ke dunia ini pada awalnya dapat dikatakan sebagai sebuah kertas kosong, agar ia dapat menjalani hidup ini dengan baik dan sesuai dengan kebutuhan lingkungannya, maka individu tersebut perlu melakukan sesuatu yang disebut dengan belajar. Individu akan semakin mudah dibentuk pada lingkungan pertama mereka yaitu lingkungan keluarga dan mereka akan mengikuti kebiasaan atau kebudayaan yang terdapat pada lingkungan keluarga tersebut. Kemudian melangkah pada lingkungan selanjutnya yaitu pada lingkungan sekolah, dimana yang cukup berperan pada lingkungan ini adalah para pendidik atau guru. Atas dasar inilah seorang pendidik atau calon pendidik perlu mengetahui teori-teori dalam belajar peserta didik, mampu membuat perencanaan pembelajaran, mampu membuat langkah perencanaan pendidikan, melaksanakan pendidikan, menilai proses dan hasil belajar dengan langkah penilaian pendidikan atau pembelajaran. Terselesaikannya makalah ini tidak lepas dari bantuan dan dorongan dari pihak-pihak yang terlibat langsung maupun tidak langsung dalam proses penyusunan dan pembuatan makalah ini. Rasa terimakasih kami sampaikan kepada ibu dosen pembimbing Luh Putu Sri Lestari, S.Pd yang telah bersedia menuntun dan membantu kami dalam pembuatan makalah ini serta narasumber dan pihak-pihak lainnya yang turut serta membantu demi terselesaikannya makalah ini sesuai dengan apa yang telah diharapkan sebelumnya. Kami sebagai manusia yang banyak memiliki kekurangan menyadari bahwa apa yang kami sampaikan dalam makalah ini masih jauh dari kesempurnaan baik dalam proses penyampaiannya maupun isi atau hal-hal yang terkandung di dalamnya. Maka dari itu kami selaku penulis dan penyusun

ii

makalah ini sangat mengharapkan kritik dan saran dari para pembaca yang kami banggakan yang bersifat membangun sehingga dapat membantu kami untuk dapat lebih menyempurnakan lagi makalah yang kami buat ini. Kami sangat berharap apa yang kami sajikan dan apa yang kami sajikan dalam makalah ini dapat memberikan manfaat-manfaat yang sedianya dapat berguna pagi pembaca pada umumnya dan para penyelenggara pendidikan pada khususnya sehingga apa yang menjadi tujuan pendidikan di Indonesia serta tujuan Bangsa Indonesia dapat tercapai sebagaimana yang diharapkan.

Singaraja, 17 Maret 2011

Kelompok 2,

iii

DAFTAR ISI KATA PENGANTAR.............................................................................. DAFTAR ISI............................................................................................ BAB I PENDAHULUAN........................................................................ Latar Belakang Masalah................................................................ Tujuan............................................................................................ Rumusan Masalah.......................................................................... BAB II PEMBAHASAN.......................................................................... Teori Belajar Kognitif................................................................... Teori Perkembangan Kognitif....................................................... Teori Kognitif Sosial...................................................................... ii iv 1 1 2 2 3 3 4 9

Teori Pemrosesan Informasi........................................................... 10 BAB III PENUTUP................................................................................... 13

Kesimpulan..................................................................................... 13 DAFTAR PUSTAKA................................................................................. 14

iv

BAB I PENDAHULUAN 1. Latar Belakang Masalah. Individu yang terlahir ke dunia ini pada awalnya dapat dikatakan sebagai sebuah kertas kosong, agar ia dapat menjalani hidup ini dengan baik dan sesuai dengan kebutuhan lingkungannya, maka individu tersebut perlu melakukan sesuatu yang disebut dengan belajar. Individu akan semakin mudah dibentuk pada lingkungan pertama mereka yaitu lingkungan keluarga dan mereka akan mengikuti kebiasaan atau kebudayaan yang terdapat pada lingkungan keluarga tersebut. Kemudian melangkah pada lingkungan selanjutnya yaitu pada lingkungan sekolah, dimana yang cukup berperan pada lingkungan ini adalah para pendidik atau guru. Atas dasar inilah seorang pendidik atau calon pendidik perlu mengetahui teori-teori dalam belajar peserta didik, mampu membuat perencanaan pembelajaran, mampu membuat langkah perencanaan pendidikan, melaksanakan pendidikan, menilai proses dan hasil belajar dengan langkah penilaian pendidikan atau pembelajaran. Namun sebelum melangkah lebih lanjut, seorang pendidik atau calon pendidik perlu mengetahui teori-teori belajar peserta didik yang salah satunya adalah teori belajar kognitivisme. Teori ini perlu dipahami karena di dalamnya termuat perkembangan kognitif individu, dengan pemahaman terhadap perkembangan tersebut diharapkan dapat membantu pendidik dalam memberikan pelayanan pendidikan yang tepat atau sesuai dengan tingkat perkembangan peserta didik. Kemudian konsep tentang perkembangan peserta didik dalam hal ini kognitifnya yang diperoleh melalui hubungan sosial juga tentunya perlu untuk dipahami karena di dalamnya menyangkut tentang bagaimana individu tersebut belajar melalui hubungan sosial baik dengan orang tuanya, saudara, teman maupun pihak lain yang terdapat di dalam Life Space-nya. Kemudian konsep yan gjuga tidak kalah penting untuk dipahami atau diketahui adalah bagaimana suatu informasi yang diperoleh oleh individu tersebut dikembangkan atau diolah sampai pada akhirnya menghasilkan suatu Output. Selain itu, beberapa teori atau konsep yang terdapat dalam teori belajar kognitif juga tidak kalah pentingnya untuk diketahui dan dipahami oleh pendidik maupun calon pendidik.

1

2. Tujuan. Berdasarkan pada uraian yang terdapat dalam latar belakang masalah tersebut, maka tujuan penulisan makalah ini adalah : Memberikan pengetahuan kepada calon pendidik tentang teori belajar kognitif. Diharapkan dapat membantu pendidik dalam memberikan pelayanan pendidikan setelah memperoleh informasi yang disampaikan. Dapat membantu pengembangan profesi prajabatan. Memenuhi tugas mata kuliah Belajar dan Pembelajaran Jurusan Bimbingan Konseling FIP UNDIKSHA. 3. Rumusan Masalah. Berdasarkan uraian pada latar belakang masalah dan tujuan maka yang menjadi rumusan masalah di sini adalah : konsep atau hal-hal apa saja yang terdapat di dalam teori belajar kognitivisme tersebut ?

2

BAB II PEMBAHASAN

TEORI BELAJAR KOGNITIF Teori Kognitivisme mengacu pada wacana psikologi kognitif, dan berupaya menganalisis secara ilmiah prosesmental dan struktur ingatatn atau cognition dalam aktififtas belajar. Cognition diartikan sebagai aktifitas mengetahui, memeperoleh, mengorganisasikan, dan menggunakan pengetahuan (Lefrancois, 1985). Teori belajar ini lebih menekankan pada belajar adalah suatu proses yang terjadi di dalam alam pikiran mereka, seperti halnya yang diungkapkan oleh Winkel ( 1996 : 53 ) bahwa belajar adalah suatu aktivitas mental atau psikis yang berlangsung dalam interaksi aktif dengan lingkungan yang menghasilkan perubahan-perubahan dalam pengetahuan, keterampilan, pemahaman nilai dan sikap perubahan tersebut bersifat secara relatif dan berbekas. Tekanan utama psikologi kognitif adalah struktur kognitif, yaitu pembendaharaan pengutahuan pribadi individu yang mencangkup ingatan jangka panjang (Longtern memory). Psikologi kognitif memandang manusia sebagai makhluk yang selalu aktif mencari dan menyeleksi informasi untuk diproses. Perhatian utama psikologi kognitif adalah ada upaya memahami proses individu mencari, menyeleksi, mengorganisasikan, dan menyimpan informasi. Belajar kognitif berlangsung berdasarkan skema atau struktur mental individu yang mengorganisasikan hasil penganatannya.

3

1. Teori Perkembangan Kognitif. Teori ini dikemukakan oleh Jean Piaget, yang memandang individu sebagai struktur kognitif, peta mental, skema atau jaringan konsep guna menahami dan menanggapi pengalamannya berinteraksi dengan lingkungan, pandangan Piaget digambarkan lewat bagan prilaku inteligen sebagai berikut.

Prilaku

Struktur kognitif Fungsi asimilasi-akomodasi Tuntutan lingkungan Individu bereaksi pada lingkungan melalui upaya mengasimilasikan

berbagai informasi ke dalam struktur kognitifnya. Dalam proses asimilasi tersebut, prilaku individu diperintah struktur kognitifnya. Waktu mengakomodasi lingkungan, struktur kognitif diubah lingkungan. Asimilasi ditempuh ketika individu menyatukan informasi baru ke dalam pembendaharan informasi yang sudah dimiliki atau diketahuinya kemudian mengantikannya dengan informasi terbaru. Individu menggorganisasikan makna informasi itu ke dalam ingatan jangka panjang (Long-tern memory). Ingatan jangka panjang yang terorganisasikan inilah yang diartikan sebagi struktur kognitif. Struktur Kognitif berisi sejumlak coding yang mengan dung segi-segi intelek yang mengatur atau memerintah prilaku individu; perubahan perilaku mendasari penempatan thapantahapan penkembangan kognitif. Tiap tahapan perkembangan menggambarkan isi struktur kognitif yang khas sesuai perbedaan antara tahapan.

4

Pada bagian berikut dirangkum garis besar tahapan perkembangan kognitif versi Piaget : 1) Sensorimotor intelegence (lahir s.d usia 2 tahun): perilaku terikat pada panca indra dan gerak motorik. Bayi belum mampu berpikir konseptual namun perkembangan kognitif telah dapat diamati.

2) Preopreratiaon thought (2-7 tahun): tampak kemampuan berbahasa, berkembang pesat penguasaan konsep. Bayi belum mampu berfikir konseptual namun perkembangan kognitif telah dapat diamati.

3) Concrete Operation (7-11 tahun): berkembang daya mampu anak berfikir logis untuk memecahkan masalah konkrit. Konsep dasar benda, jumlah waktu, ruang, kausalitas.

4) Folmal Operation (11-15 tahun):kecakapan kognitif mencapai puncak perkembangan. Anak mampu memprediksi, berfikir tentang situasi hipotesis, tentang hakekat berfikir serta mangepresikan struktur bahasa dan berdialog. Sarkasme, bahasa gaul, mendebat, berdalih adalah sisi remaja cerminan kecakapan berpikir abstrak dalam/melalui bahasa.

-

Sensorimotor Intelegence : Dalam dua tahun pertama kehidupan bayi ini, dia dapat sedikit memahami lingkungannya dengan jalan melihat, meraba atau memegang, mengecap, mencium dan menggerakan. Dengan kata lain mereka mengandalkan kemampuan sensorik serta motoriknya. Beberapa kemampuan kognitif yang penting muncul pada saat ini. Anak tersebut mengetahui bahwa perilaku yang tertentu menimbulkan akibat tertentu pula bagi dirinya. Misalnya dengan menendang-nendang dia tahu bahwa selimutnya akan bergeser darinya.

-

Preoperation

Thought

: Dalam

tahap

ini

sangat

menonjol

sekali

kecenderungan anak-anak itu untuk selalu mengandalkan dirinya pada persepsinya mengenai realitas. Dengan adanya perkembangan bahasa dan ingatan anakpun mampu mengingat banyak hal tentang lingkungannya.

5

Intelek anak dibatasi oleh egosentrisnya yaitu ia tidak menyadari orang lain mempunyai pandangan yang berbeda dengannya. Concrete Operation : Dalam tahap ini anak-anak sudah mengembangkan pikiran logis. Dalam upaya mengerti tentang alam sekelilingnya mereka tidak terlalu menggantungkan diri pada informasi yang datang dari pancaindra. Anak-anak yang sudah mampu berpikir secara operasi konkrit sudah menguasai sebuah pelajaran yang penting yaitu bahwa ciri yang ditangkap oleh pancaindra seperti besar dan bentuk sesuatu, dapat saja berbeda tanpa harus mempengaruhi misalnya kuantitas. Anak-anak sering kali dapat mengikuti logika atau penalaran, tetapi jarang mengetahui bila membuat kesalahan. Formal Operations : Selama tahap ini anak sudah mampu berpikir abstrak yaitu berpikir mengenai gagasan. Anak dengan operasi formal ini sudah dapat memikirkan beberapa alternatif pemecahan masalah. Mereka dapat mengembangkan hukum-hukum yang berlaku umum dan pertimbangan ilmiah. Pemikirannya tidak jauh karena selalu terikat kepada hal-hal yang besifat konkrit, mereka dapat membuat hipotesis dan membuat kaidah mengenai halhal yang bersifat abstrak.
1) Sensorimotor inteligance (lahir s.d usis 2 tahun): prilaku terikat pada panca indra dan gerak motorik. Bayi belum mampu berpikr konseptual namun perkembangan kognitif telah dapat diamati.

2) Preoperation thought (2-7 tahun): tampak kemampuan berbahasa, berkembang pesat penguasaan konsep. Bayi belum mampu berpikir konseptual namun perkenbangan kognitif telah dapat diamati.

3) Concrete Operation (7-11 tahun): berkembang daya mampu anak berpikir logis untuk memecahkan masalah kongkrit. Konsep dasar benda, jumlah waktu, ruang, kausalitas.

4) formal Operation (11-15 tahun ): kecakapan kognitif mencapai puncak perkembangan. Anak mampu memprediksi, berpikr tentang situasi hipotesis, tentang hakekat berpikir serta mengapresiasi struktur bahasa dan berdialog. Sarkasme, merupakan cerminan kecakapan berpikir abstrak dalam atau melalui bahasa.

6

Selanjutnya terdapat beberapa pendapat pada ahli tetang teori belajar kognitif yang sebagian besar adalah pendapat yang merupakan pengembangan dari penemuan para ahli sebelumnya. A. Teori kognitif Gestalt. Teori kognitif mulai berkembang dengan lahirnya teori belajar gestalt. Peletak dasar teori Gestalt adalah Merx Wertheimer (1880-1943) yang meneliti tentang pengamatan dan problem solving. Sumbangannya diikuti oleh Kurt Koffka (1886-1941) yang menguraikan secara terperinci tentang hokum-hukum pengamatan, kemudian Wolfgang Kohler (18871959) yang meneliti tentang insight pada simpase. Kaum Gestaltis berpendapat bahwa pengalaman itu berstuktur yang terbentuk dalam suatu keseluruhan. Menurut pandangan Gestaltis, semua kegiatan belajar menggunakan pemahaman terhadap hubungan-hubungan, terutama hubungan antara bagian dan keseluruhan. Intinya, menurut mereka, tingkat kejelasan dan keberartian dari apa yang diamati dalam situasi belajar adalah lebih meningkatkan kemampuan belajar seseorang dari pada dengan hukuman dan ganjaran. B. Teori belajar Cognitive-field dari Lewin. Kurt Lewin (1892-1947) mengembangkan suatu teori belajar Cognitiv-field dengan menaruh perhatian kepada kepribadian dan psikologi sosial. Lewin memandang masing-masing individu berada di dalam suatu medan kekuatan yang bersifat psikologis. Medan dimana individu bereaksi disebut life space. Life space mencankup perwujudan lingkungan di mana individu bereaksi, misalnya ; orang – orang yang dijumpainya, objek material yang ia hadapi serta fungsi kejiwaan yang ia miliki. Jadi menurut Lewin, belajar berlangsung sebagai akibat dari perubahan dalam struktur kognitif. Perubahan sruktur kognitif itu adalah hasil dari dua macam kekuatan, satu dari stuktur medan kognisi itu sendiri, yang lainya dari kebutuhan motivasi internal individu. Lewin memberikan peranan lebih penting pada motivasi dari reward.

7

C. Teori Belajar Cognitive Developmental dari Piaget. Dalam teorinya, Piaget memandang bahwa proses berpikir sebagai aktivitas gradual dari fungsi intelektual dari konkret menuju abstrak. Piaget adalah ahli psikolog developmentat karena penelitiannya mengenai tahap-tahap perkembangan kemampuan pribadi belajar serta perubahan umur yang Piaget, mempengaruhi individu. Menurut

pertumbuhan kapasitas mental memberikan kemampuan-kemapuan mental yang sebelumnya tidak ada. Pertumbuhan intelektuan adalah tidak kuantitatif, melainkan kualitatif. Pada intinya, perkembangan kognitif bergantung kepada akomodasi. Dalam proses kognitif Piaget dimulai dari Skema ( kerangka kognitif ), Asimilasi ( proses memasukan pengetahuan yang baru ke dalam pengetahuan yang ada ), Akomodasi ( menyesuaikan diri dengan informasi yang baru ), Organisai ( proses pengelompokan konsep/prilaku ke dalam kelompok-kelompok yang terpisah ), Ekulibirasi ( bergerak dari satu tahap ke tahap yang lain ). Kepada siswa harus diberikan suatu area yang belum diketahui agar ia dapat belajar, karena ia tak dapat belajar dari apa yang telah diketahuinya. D. Jerome Bruner dengan Discovery Learningnya. Yang menjadikan dasar ide J. Bruner ialah pendapat dari Piaget yang menyatakan bahwa anak harus berperan secara aktif di dalam belajar di kelas. Untuk itu bruner memakai cara dengan apa yang disebutnya discovery learning, yaitu dimana murid mengorganisasi bahan pelajaran yang dipelajarai dengan suatu bentuk akhir yang sesuai dengan tingkat kemajuan anak tersebut. Bruner menyebutkan hendaknya guru harus memberikan kesempatan kepada muridnya untuk menjadi seorang problem solver, seorang scientist, historian atau ahli matematika. Biarkan murid kita menemukan arti bagi diri mereka sendiri dan memungkinkan mereka mempelajari konsep-konsep di dalam bahasa yang mereka mengerti.

8

2. Teori Kognitif Sosial. Teori ini dikembangkan oleh L.S. Vygotsky, yang didasari oleh pemikiran bahwa budaya berperan penting dalam belajar seseorang. Budaya adalah penentu perkembangan, tiap individu berkembang dalam konteks budaya, sehingga proses belajar individu dipengaruhi oleh lingkungan utama budaya keluarga. Budaya lingkungan individu membelajarkannya apa dan bagaiman berpikir. Konsep dasar teori ini diringkas sebagai berikut : 1. Budaya memberi sumbangan perkembangan intelektual individu melalui 2 cara, yaitu melalui (i) budaya dan (ii) lingkungan budaya. Melalui budaya banyak isi pikiran (pengetahuan) individu diperoleh seseorang, dan melalui lingkungan budaya sarana adaptasi intelektual bagi individu berupa proses dan sarana berpikir bagi individu dapat tersedia. 2. Perkembangan kognitif dihasilkan dari proses dialektis ( proses percakapan ) denagn cara berbagai pengalaman belajar dan pemecahan masalah bersama orang lain, terutama orang tua, guru, saudara sekandung dan teman sebaya. 3. Awalnya orang yang berinteraksi dengan individu memikul tanggung jawab membimbing pemecahan masalah lambat-laun tanggung jawab itu diambil alih sendiri oleh individu yang bersangkutan. 4. Bahasa adalah sarana primer interaksi orang dewasa untuk menyalurkan sebagian besar perbendaharaan pengetahuan yang hidup dalam budayanya. 5. Seraya bertumbuh kembang, bahasa individu sendiri adalah sarana primer adaptasi intelektual; ia berbahasa batiniah (Internal language) untuk mengendalikan perilaku. 6. Internalisasi merujuk pada proses belajar. Menginternalisasikan pengetahuan dan alat berpikir adalah hal yang pertama kali hadir ke kehidupan individu melalui bahasa. 7. Terjadi zone of proximal development bantuan orang dewasa. atau kesenjangan antara yang sanggup dilakukan individu sendiri dengan yang dapat dilakukan dengan

9

8. Karena apa yang dipelajari individu berasal dari budaya dan banyak di antara pemecahan masalahnya ditopang orang dewasa, maka pendidikan hendaknya tidak berpuasat pada individu dalam isolasi dari budayanya. 9. Interaksi dengan budaya sekeliling dan lembaga-lembaga sosial sebagaimana orang tua, saudara sekandung, individu dan teman sebaya yang lebih cakap sangat memberi sumbangan secara nyata pada perkembangan intelektual individu. Konsep zone of proximal development merujuk pada zona yang mana individu memerlukan bimbingan guna melanjutkan belajarnya, perlu identifikasi zona itu dan memastikan tuntutan pembelajaran tidak melampaui atau lebih rendah dari kapasitas belajar individu. Dalam pembelajaran ada Scaffoding (contingent teaching), yaitu pendekatan pembelajaran yang bertitik tolak dari pemahaman dan kecakapan peserta didik saat ini. Pendekatan ini menghasilkan balikan (feedback) segera serta memacu peserta didik menguasai kecakapan pemecahan masalah secara mendiri. 3. Teori Pemrosesan Informasi. Menurut Gagne bahwa dalam pembelajaran terjadi proses penerimaan informasi, untuk kemudian diolah sehingga menghasilkan keluaran dalam bentuk hasil belajar. Dalam pemrosesan informasi terjadi adanya interaksi antara kondisikondisi internal dan kondisi-kondisi eksternal individu. Kondisi internal yaitu keadaan dalam diri individu yang diperlukan untuk mencapai hasil belajar dan proses kognitif yang terjadi dalam individu. Sedangkan kondisi eksternal adalah rangsangan dari lingkungan yang mempengaruhi individu dalam proses pembelajaran. Asumsi yang mendasari teori ini adalah bahwa pembelajaran merupakan faktor yang sangat penting dalam perkembangan. Perkembangan merupakan hasil kumulatif dari pembelajaran. Berdasarkan temuan riset linguistik, psikologi, antropologi dan ilmu komputer, dikembangkan model berpikir, pusat kajiannya pada proses belajar dan menggambarkan cara individu memanipulasi simbol dan memproses informasi.

10

Model belajar pemrosesan informasi Anita E. Woolfolk (Parkay & Stanford, 1992) disajikan melalui skema yang dikutip berikut ini.
EXECUTIF CONTROL PROCESSES

Recognition Rehearsal

Attention Strategis

Monitoring Routines, Etc

Environmental Stimuli (Input)

Sensory Register

Working Memory

Long-Term Memory

Response (Output) Gambar 1. Skema pemrosesan informasi

Model belajar pemrosesan informasi ini sering pila disebut model kognitif Information processing, kareana dalam proses belajar ini tersedia tiga taraf struktural sistem informasi, yaitu : 1. Sensory atau intake register : informasi masuk ke sistem melalui sensory register, tetapi hanya disimpan untuk periode waktu terbatas. Agar tetap dalam sistem, informasi masuk ke working memory yang digabungkan dengan informasi di long-term memory. 2. Working memory : pengerjaan atau operasi informasi berlangsung di working memory, dan disisni berlangsung berpikir yang sadar, kelemahan working memory sangat terbatas kapasitas isinya dan memperhatikan sejumlah kecil informasi secara serempak. 3. Long-term memory, yang secara potensial tidak terbatas kapasitasnya isinya sehingga mampu menampung seluruh informasi yang sudah dimiliki peserta didik. Kelemahannya adalah betapa sulit mengakses informasi yang tersimpan di dalamnya.

11

Diasumsikan, ketika individu belajar, di dalam dirinya berlangsung proses kendali atau pemantau bekerjanya sistem yang berupa prosedur strategi mengingat, untuk menyimpan informasi ke dalam long-term memory ( materi memory atau ingatan ) dan strategi umum pemencahan masalah ( materi kreativitas ).

12

BAB III PENUTUP

Kesimpulan. Berdasarkan uraian sebelumnya, maka kami dapat mengambil kesimpulan bahwa di dalam seorang individu belajar, baik melalui lingkungan maupun melalui hubungan sosial, mereka menggunakan kognisi atau kemampuan berpikir untuk semakin mengembangkan diri mereka. Menurut seorang ahli yang menganut teori belajar kognitif ini menyatakan bahwa seorang individu adalah suatu struktur kognitif, peta mental, skema atau jaringan konsep guna memahami dan menanggapi pengalamannya berinteraksi dengan lingkungan. Kemudian terdapat pula pendapat bahwa seorang individu tersebut belajar melalui hubungan sosial dimana budaya memegang peranan penting dalam belajar seseorang. Dan teori yang berkembang selanjutnya adalah dimana individu dalam proses belajar dan menggambarkan dengan cara individu memanipulasi simbol dan memperoses informasi. Dari pendapat atau teori-teori tersebut, terpapar jelas bahwa individu dapat belajar melalui berbagai cara untuk memperoleh, menerima, memproses, menyimpan dan menguraikan kembali informasi yang diperolehnya baik melalui hubungan sosial maupun tidak.

13

DAFTAR PUSTAKA

Lapono, Nabisi. et al. 2009. Belajar dan Pembelajaran SD 2 SKS. Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi. Perwira, Ari. 2011. Teori Belajar Kognitif dan Proses Informasi. Diambil pada 12 Maret 2011 dari http://kuliah.ariperwira.co.cc/. User. 2009. Teori Belajar Kognitif Bruner. Diambil pada 12 Maret 2011 dari http://kuliahpsikologi.dekrizky.com/. Yeyen. 2005. Teori Belajar Kognitif. Diambil pada 12 Maret 2011 dari http://docs.docstoc.com/. Morteza, Momo. 2009. Teori Belajar Kognitif. Diambil pada 12 Maret 2011 dari http://hasanahworld.wordpress.com/.

14

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->