ANALISIS PENDAPATAN DAN FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PRODUKSI CABANG USAHATANI PADI LADANG DI KABUPATEN KARAWANG

HENDRI METRO PURBA A07498176

FAKULTAS PERTANIAN INSTITUT PERTANIAN BOGOR 2005

RINGKASAN

HENDRI METRO PURBA. Analisis Pendapatan dan Faktor- faktor Yang Mempengaruhi Produksi Cabang Usahatani Padi Ladang Di Kabupaten Karawang (Di bawah bimbingan NUNUNG KUSNADI). Kebutuhan bahan pangan masyarakat Indonesia masih sangat tergantung pada beras. Produksi beras nasional sebagian besar disumbangkan oleh produksi padi sawah, sementara itu ketersediaan lahan sawah dan efisiensi usahatani padi sawah cenderung mengalami penurunan. Sumbangan padi ladang terhadap produksi padi nasional masih sangat rendah karena produktivitas padi ladang yang jauh lebih rendah daripada produktivitas padi sawah. Jika dibandingkan dari segi laju pertumbuhan produksi, padi ladang juga masih jauh lebih rendah daripada padi sawah. Mengingat ketersediaan lahan kering bagi usahatani padi ladang masih sangat besar, maka pengembangan produktivitas usahatani padi ladang memiliki potensi yang sangat menjanjikan. Oleh karena itu menarik untuk dikaji bagaimana meningkatkan produktivitas cabang usahatani padi ladang. Penelitian ini bertujuan untuk (1) menganalisis penyebab rendahnya produktivitas padi ladang, (2) m enganalisis faktor- faktor yang mempengaruhi produksi padi ladang (3) menganalisis efisiensi ekonomis penggunaan faktor-faktor produksi pada cabang usahatani padi ladang. Pengumpulan data dilakukan dari bulan Mei hingga Juni 2005 di Desa Wanajaya, Kecamatan Teluk Jambe, Kabupaten Karawang. Data yang digunakan adalah data primer dan data sekunder. Data primer dikumpulkan dengan melakukan pengamatan dan wawancara langsung dengan petani responden dengan mengajukan pertanyaan yang dibuat dalam bentuk kuesioner yang telah dipersiapkan sebelumnya. Data sekunder diperoleh dengan cara penelusuran kepustakaan buku, laporan penelitian, artikel, majalah, karya ilmiah yang berkaitan dengan masalah penelitian dan melalui internet. Selain itu data

sekunder juga diperoleh dari Biro Pusat Statistik, Departemen Pertanian, Balai Penelitian Tanaman Pangan, Pusat Pengembangan Sosial Ekonomi Pertanian, dan Pemerintah Daerah di lokasi penelitian. Pengolahan data dilakukan dengan menggunakan analisis imbangan penerimaan dan biaya (analisis R/C ratio),

pendekatan fungsi produksi Cobb-Douglas, dan analisis efisiensi ekonomi dengan rasio Nilai Produk Marjinal (NPM) dan Biaya Korbanan Marjinal (BKM). Pengolahan data dilakukan dengan me nggunakan program Microsoft Excel dan Minitab 13 for Windows. Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) dengan analisis imbangan penerimaan dan biaya (analisis R/C ratio), diperoleh nilai rasio R/C atas biaya total sebesar 0.76 (lebih kecil dari satu), sehingga dapat disimpulkan bahwa cabang usahatani padi ladang di Desa Wanajaya tidak menguntungkan bagi petani, (2) faktor- faktor produksi yang berpengaruh nyata terhadap produksi padi ladang adalah tenaga kerja luar keluarga dan tenaga kerja dalam keluarga, yang signifikan pada taraf kepercayaan 99 persen. Sedangkan faktor pupuk, benih, dan pestisida tidak berpengaruh nyata pada taraf kepercayaan yang ditetapkan, (3) penggunaan faktor-faktor produksi yang efisien secara ekonomis dicapai pada saat penggunaan faktor pupuk sebesar 282.51, faktor tenaga kerja luar keluarga sebesar 146.33 HOK, penggunaan benih yang semula sebesar 60 kilogram harus ditingkatkan menjadi 69.69 kilogram, penggunaan tenaga kerja dalam keluarga harus dikurangi dari yang semula sebesar 237.37 HOK menjadi sebesar 59.94 HOK, faktor produksi pestisida harus ditingkatkan dari sebesar 1.7 liter dalam penggunaan aktualnya menjadi sebesar 2.47 liter. Berdasarkan hasil penelitian di atas maka disarankan agar (1) penggunaan faktor produksi pupuk, benih, pestisida tenaga kerja luar harus ditingkatkan dari penggunaan aktualnya supaya usahatani padi ladang yang dilakukan lebih efisie n dan menguntungkan bagi petani, (2) pemberian bimbingan dan penyuluhan dari instansi terkait mengenai teknik budidaya padi ladang yang tepat seperti kombinasi penggunaan pupuk dan pestisida yang tepat dan pola tanam yang tepat untuk mencapai usahatani padi ladang yang lebih produktif dan menguntungkan.

ANALISIS PENDAPATAN DAN FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PRODUKSI CABANG USAHATANI PADI LADANG DI KABUPATEN KARAWANG

Oleh

HENDRI METRO PURBA A07498176

Skripsi Sebagai Bagian Persyaratan Untuk Memperoleh Gelar Sarjana Pertanian

pada Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor

FAKULTAS PERTANIAN INSTITUT PERTANIAN BOGOR 2005

DEPARTEMEN ILMU-ILMU SOSIAL EKONOMI PERTANIAN FAKULTAS PERTANIAN INSTITUT PERTANIAN BOGOR

Dengan ini menyatakan bahwa skripsi yang disusun oleh : Nama NRP : : Hendri Metro Purba A07498176 Manajemen Agribisnis Analisis Pendapatan dan Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Produksi Cabang Usahatani Padi Ladang Di Kabupaten Karawang dapat diterima sebagai syarat kelulusan untuk memperoleh gelar Sarjana Pertanian pada Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor.

Program Studi : Judul Skripsi :

Menyetujui, Dosen Pembimbing

Dr. Ir. Nunung Kusnadi.MS NIP. 131 415 082

Mengetahui, Fakultas Pertanian Dekan

Prof. Dr. Ir. H. Supiandi Sabiham, M.Agr NIP. 130 422 698

Tanggal Lulus : 20 Desember 2005

PERNYATAAN

DENGAN INI SAYA MENYATAKAN BAHWA SKRIPSI YANG BERJUDUL “ANALISIS PENDAPATAN DAN FAKTOR-FAKTOR YANG

MEMPENGARUHI PRODUKSI CABANG USAHATANI PADI LADANG DI KABUPATEN KARAWANG” BELUM PERNAH DIAJUKAN PADA

PERGURUAN TINGGI LAIN ATAU LEMBAGA LAIN MANAPUN UNTUK TUJUAN MEMPEROLEH GELAR AKADEMIK TERTENTU. SAYA JUGA MENYATAKAN BAHWA SKRIPSI INI BENAR-BENAR HASIL KARYA SAYA SENDIRI DAN TIDAK MENGANDUNG BAHAN-BAHAN YANG PERNAH DITULIS ATAU DITERBITKAN OLEH PIHAK LAIN KECUALI SEBAGAI BAHAN RUJUKAN YANG DINYATAKAN DALAM NASKAH.

Bogor, Desember 2005

Hendri Metro Purba A07498176

dan lulus tahun 1995. pada tahun 1998 melalui jalur UMPTN (Ujian Masuk Perguruan Tinggi Negeri).RIWAYAT HIDUP Penulis dilahirkan di Dolok Sanggul pada tanggal 16 Juli 1980. Fakultas Pertanian. . Kemudian. Penulis adalah anak pertama dari enam bersaudara pasangan Bapak T. penulis diterima di SMU Katolik Santo Agustinus Jakarta. Penulis melanjutkan pendidikan menengah pertama di SMP Negeri 1 Dolok Sanggul. Penulis diterima sebagai mahasiswa Program Studi Manajemen Agrinisnis. Penulis memulai pendidikan dasarnya pada tahun 1986 di SD Negeri 3 Dolok Sanggul. Purba dan Ibu H. dan lulus pada tahun 1998. Institut Pertanian Bogor. Situmorang. dan menyelesaikannya pada tahun 1992.

Penulis berharap penelitian yang dilakukan dapat diterima dan dimanfaatkan bagi perkembangan ilmu pengetahuan dan pihak lain yang berkepentingan. skripsi ini menganalisis pendapatan yang diperoleh petani dari kegiatan berusahatani padi ladang. Judul skripsi ini adalah “Analisis Pendapatan dan Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Produksi Cabang Usahatani Padi Ladang di Kabupaten Karawang”.KATA PENGANTAR Puji syukur penulis panjatkan kepada Tuhan Allah Yang Maha Kuasa atas berkat dan karunia-Nya yang besar yang memberikan segala hikmat dan kekuatan sehingga penulis dapat menyelesaikan penulisan skripsi ini. Sesuai dengan judul tersebut. Bogor. dan melakukan analisis efisiensi ekonomis penggunaan faktor produksi pada cabang usahatani padi ladang. Desember 2005 Penulis . Penulis menyadari kekurangan dalam penulisan skripsi ini sehingga diperlukan kritik dan saran untuk perbaikan skripsi ini. mengana lisis faktorfaktor yang mempengaruhi produiksi dalam usahatani padi ladang.

Ramaijon Purba atas bimbingan dan bantuannya. Lae Viston. Halashon. John Wisnu. Ir. 7. 13. dan Chamber yang telah menyediakan fasilitas penginapan. 10. makan gratis. MS. Keluarga Tulang Donal. dan Ompung Josua di Pekan Baru. . teman satu bimbingan dan seperjuangan selama kuliah dan penulisan skripsi.UCAPAN TERIMA KASIH Dalam kesempatan ini penulis ingin mengucapkan terima kasih dan penghargaan kepada : 1. Orang Tuaku. Anna Fariyanti. Marta Sundari atas bantuannya selama mengolah data dan penulisan skripsi. Appara Frenky. dan Maria Margareth. Tulang Suci. atas kesediaan menjadi dosen penguji utama. 8. Ir. Bang Tamlin. arahan. Dr. Ompung Suhut. Ompung Arif di Bandung. Ogem. Pak Enong sebagai penerjemah dan pendamping penulis selama turun lapang. 11. Bapa dan Uma dan adik-adikku Duddy. 9. Amzul Rifin. doa dan dukungannya. 12. Namboru Patar. 3. Keluarga Amangboru Mario. dan Tulang Hendra. selaku dosen pembimbing yang dengan kesabaran telah memberikan bimbingan. Echa . kritik dan saran dalam melakukan penelitian dan penyusunan skripsi ini. Sahabat-sahabatku yang tak tergantikan di Base One : Cay. 6. Bang Ivan. Nita. Nunung Kusnadi. atas kesediaannya menjadi dosen penguji komisi pendidikan. Victor. dan Amangboru Sagala di Jakarta. Sartika. Namboru. Rikky Sitorus. 14. Keluarga Ompung Berthold di Depok. Edo. dan semua keluarga besar di Dolok Sanggul. beserta semua teman-teman di Parmasi. Gaga. 5. Nipar. 2. SP. MS. Ucok. dan dukungan berharga selama turun lapang di Karawang. Markos. MA. Donal. 4. dan Kardinal atas keberadaan. Arif Karya Kusuma. John Freddy.

. penghuni Perwira 100. Teman-teman di Darmaga. beserta semua kawan sesama Himaba. 16. Bray. Tulus. Semua pihak lain yang belum saya sebutkan yang telah membantu saya selama mengikuti perkuliahan dan penulisan skripsi.15.

.. Perumusan Masalah ............... 3... 2.............................................. 2....3.................................3.................................................. Hasil Penelitian Terdahulu..... Karakteristik Biologis Tanaman Padi Ladang ................... Pemilihan Benih ........2........................... 2.........................................5........ Kegunaan Penelitian .............3........................... PENDAHULUAN . Tujuan Penelitian ....................................................................................................... 1.............2........4.3.............................. 2.................................. Pemeliharaan ......................................... Perilaku Ekonomi Petani........6..................................... DAFTAR GAMBAR ...........................................................................4... 3................. TINJAUAN PUSTAKA .... Pengolahan Tanah ........ Sistem Perladangan di Indonesia dan Perkembangannya ................. 2............... 2.......... Budidaya Padi Ladang .....................1................ 2......... BAB II.................. 1.. Pemupukan ................................. KERANGKA PEMIKIRAN ........ i ii iv vii viii ix 1 1 3 7 8 9 9 9 11 11 12 12 13 15 15 16 16 21 22 29 29 30 ....3............................3............................. 1............................................DAFTAR ISI Halaman KATA PENGANTAR ............................................................................ 2..................... Panen dan Pengolahan Hasil Panen......................................................................3...................................................................4... BAB I.....................3.................................. 2...........................3.................................. DAFTAR TABEL ............. UCAPAN TERIMA KASIH .....................................................................1...................................... Penanaman ..................... 2.............................. Latar Belakang .......................5.......................................................................1..................7...... Pendapatan Usahatani................................................................................ 2.... Syarat Tumbuh dan Kelayakan Lahan Tanaman Padi Ladang...................................................... DAFTAR ISI ..... 2. 1...................................................... 2...... Konsep Usahatani ..................................6.....2........2......................................................1..............................3............ Hama dan Penyakit ............................ DAFTAR LAMPIRAN ....... BAB III.......................

..... BAB V............ 3.............2......3..... 4..............................4.............................1............. 6.......................................1................................................1....... 6......... Efisiensi Ekonomi ............................................................ Karakteristik Petani Responden... 4.......... Pemupukan..................... 7........................... BAB VII.......... 6................................. Analisis Imbangan Penerimaan dan Biaya (Analisis R/C ratio) ........1.................... 4................................... Lokasi dan Waktu Penelitian .............................................5.......... GAMBARAN UMUM DAERAH PENELITIAN ... 5. Analisis Pendapatan................ Metode Analisis Data ... 4.............................................. Analisis Fungsi Produksi ......1...................................................................5....... 6.4..........2............................................................................1..1........................... 32 33 37 40 40 40 41 41 41 43 48 50 54 54 58 66 66 66 68 69 70 71 71 72 73 74 76 76 78 83 .... 4...............3...................2.............. Elastisitas Produksi dan Skala Usaha ........................ 6... 6......... BAB VI. Analisis Imbangan Penerimaan dan Biaya (R/C Ratio) ...2................... Pendugaan Fungsi Produksi................................ Persiapan Lahan..... Analisis Imbangan Penerimaan dan Biaya (R/C Ratio)..........3...........................................1........ 3.................................3....................... ANALISIS FAKTOR-FAKTOR PRODUKSI DAN EFISIENSI EKONOMI CABANG USAHATANI PADI LADANG ...................... 6.................1.... 4.... 6..................2............................................1. 6..... Analisis Pendapatan Usahatani ......... Struktur Biaya ...............6. 5. 7. Penyiangan .................Pemanenan...................1..............3...................................................................3................................................... Penanaman.............................. Definisi Operasional .... BAB IV.................. Analisis Efisiensi Ekonomi ...4................... GAMBARAN USAHATANI PADI LADANG DI DESA WANAJAYA ......2.......... Metode Pengumpulan Data dan Penentuan Sampel .1.......... 4........ Budidaya Padi Ladang ................................... Pengobatan .. 4.4....................................3........................................ Analisis Efisiensi Ekonomi......3................................................................. METODE PENELITIAN ............................................. 6.............4................................ 7..............3.................................................3............. Teori Produksi .......... Gambaran Umum Lokasi Penelitian..........3.....

.................................................... Kesimpulan ........................BAB VIII.........................................1. 8............................................................ 88 88 89 90 93 ........................................2...................................................................................................... LAMPIRAN ........... 8... Saran ....................................................... KESIMPULAN DAN SARAN ............................ DAFTAR PUSTAKA .............

...... 2 4 2..................... Produksi. 3........ 13............................................. Karakteristik Petani Responden Berdasarkan Pengalaman Usahatani ... Hasil Analisis Pendugaan Fungsi Produksi Usahatani Padi Ladang di Desa Wanajaya .................. 11.......................................................................... Karakteristik Petani Responden Berdasarkan Tingkat Pendidikan ............................................................ .................... Rasio Nilai Produk Marjinal (NPM) dengan Biaya Korbanan Marjinal (BKM) Usahatani Padi Ladang di Desa Wanajaya Tahun 2005 .......... Karakteristik Petani Responden Berdasarkan Luas Lahan Garapan ................................ dan Produktivitas Padi Indonesia Tahun 2004................................. Karakteristik Penduduk Desa Wanajaya Berdasarkan Mata Pencaharian.............................. 76 18.. 9........ 7... Karakteristik Penduduk Desa Wanajaya Be rdasarkan Tingkat Pendidikan................... Volume Beras yang Diperdagangkan di Dunia dan Impor Beras Indonesia Tahun 1990-2001 ................. 5....................... Analisis Pendapatan Cabang Usahatani Padi Ladang per Hektar per Musim Tanam di Desa Wanajaya Tahun 2005 ............ Jawa Barat...............DAFTAR TABEL Nomor Halaman 1................. 15............. 73 16................ 74 17...................... Karakteristik Petani Responden Berdasarkan Jumlah Anggota Keluarga ............... Karakteristik Penduduk Desa Wanajaya Berdasarkan Kelompok Umur Tahun 2005 ................................. 14.. 56 57 58 58 59 61 62 63 8....... 77 19....................... Topografi atau Bentang Lahan Desa Wanajaya ......................... Karakteristik Petani Responden Berdasarkan Umur ............................. 6 9 54 55 4........ dan Indonesia Tahun 2004...... Produksi Gabah Kering Giling di Kabupaten Karawang... Analisis Ragam Produktivitas Cabang Usahatani Padi Ladang di Desa Wanajaya .... 12..... 6....................... Kombinasi Optimal Penggunaan Faktor-faktor Produksi .......... 10..... Penggunaan Lahan di desa Wanajaya Tahun 2004 ........................... Klasifikasi Kriteria Lingkungan Tumbuh Tanaman Padi Ladang...... 84 86 20.. Luas Panen............ Biaya-biaya yang Dikeluarkan Petani Padi Ladang per Hektar per Musim Tanam di Desa Wanajaya Tahun 2005 .......................

.................. Bagan Prosedur Analisis Pendapatan dan Faktor.......... Kurva Fungsi Produksi Total dan Hubungannya Dengan Produk Marjinal Halaman dan Produk Rata-rata (Doll dan Orazem................DAFTAR GAMBAR Nomor 1.... 53 .......... 34 2.....faktor Yang Mempengaruhi Produksi Cabang Usahatani Padi Ladang ......... 1984) ...........

............ Penggunaan Faktor..................... 6.. 3................................. Kuesioner Analisis Pendapatan dan Faktor................faktor yang Mempengaruhi Produksi Cabang Usahatani Padi Ladang Di Kabupaten Karawang ............ Pengeluaran Cabang Usahatani Padi Ladang Di Desa Wanajaya Musim Tanam November-April Tahun 2005 ............. Analisis Regresi Faktor........................ Luas Panen. 5..... Produktivitas Padi Ladang Menurut Propinsi Di Indonesia... 94 95 96 97 98 99 100 ....... 4.......................................... Musim Tanam November-April Tahun 2005 .............................................. Tahun 2001-2005 (Dalam Ton) ............. Pertumb uhan Produksi.... 2................. 7..................... Tahun 2001-2005 (Kwintal/Ha) .................. Produktivitas Padi Ladang Menurut Propinsi Di Indonesia.......faktor Yang Mempengaruhi Produktivitas Halaman Cabang Usahatani Padi Ladang Di Desa Wanajaya . dan Produktivitas Padi Di Indonesia..................faktor Produksi Cabang Usahatani Padi Ladang Di Desa Wanajaya................ Tahun 2001-2005 ..........................DAFTAR LAMPIRAN Nomor 1......

Impor beras nasional cenderung meningkat misalnya dari 615 ribu ton pada tahun 1991 menjadi sekitar 3 juta ton pada tahun 1995 dan pada tahun 1996 mencapai sekitar 3 juta ton akibat musim kemarau panjang dan bahkan sempat meningkat drastis hingga sekitar 6 juta ton pada tahun 1998 akibat terjadinya krisis moneter yang mengakibatkan kenaikan secara drastis pada harga input pertanian seperti pupuk dan pestisida yang bahan bakunya sebagian besar diimpor. Pemerintah karenanya harus mengeluarkan biaya sekitar 1.faostat.fao. 2005 . sedangkan laju permintaan beras akan selalu meningkat seiring peningkatan laju pertumbuhan penduduk.I. Latar Belakang Indonesia merupakan negara konsumen beras terbesar ketiga di dunia setelah China dan India1 . Permintaan terhadap beras terus meningkat sejalan dengan pertambahan populasi dan kenaikan tingkat pendapatan penduduk. PENDAHULUAN 1. 1 www. Apabila salah satu dari negara tersebut mengalami penurunan produksi dan harus mengimpor untuk mencukupi kebutuhan domestiknya. maka harga beras dunia akan segera mengalami kenaikan secara signifikan.7 juta ton beras 1 .org. Sedangkan pertambahan produksi beras senderung lebih kecil dan tidak mampu mengimbangi pertambahan tingkat permintaan beras (Sidik.1. Laju peningkatan produksi padi cenderung menurun. Impor beras terbesar dialami Indonesia pada tahun 1999 dimana Indonesia mengimpor sekitar 4.7 juta ton beras meskipun harus membayar 280 Dollar AS per ton beras untuk mencukupi kebutuhan beras domestik.3 miliar Dollar AS untuk mengimpor 4. 2004).

384 156.000 615.025. menyebabkan sebagian besar masyarakat Indonesia masih sangat tergantung pada satu jenis bahan pangan yaitu beras. Tabel 1.000 25.350.121 4.385 2.389.513.304 3. Untuk memenuhi kebutuhan beras dalam jangka panjang.948 5. pemerintah mulai mengarahkan perhatiannya kepada pengembangan pertanian di daerah lahan kering. Volume Beras yang Diperdagangkan di Dunia dan Impor Beras Indonesia Tahun 1991-2000 Perdagangan Beras Dunia (Ton) Impor Beras Indonesia (Ton) Persentase Terhadap Beras Dunia Tahun 1991 1992 1993 1994 1995 1996 1997 1998 1999 2000 58. 1993 dalam Maryono.183.150.846 1.615. 1996).000 10.51 49.480.68 61.188 28.000 4.Belum berhasilnya upaya diversifikasi. Berdasarkan potensi.000 1.08 47.99 59.50 6. 80 persen dari luas lahan pertanian . rata-rata penduduk Indonesia mengkonsumsi sekitar 200 kilogram beras per kapita per tahun . 2000.924 3.70 Sumber : Situs FAO (http//www.293.076.263.578.org/trade/balance). Hingga saat ini lebih dari setengah jumlah kalori dan lebih dari 40 persen karbohidrat yang dikonsumsi oleh masyarakat Indonesia berasal dari beras.076.440 15.615.940 252.486. Oleh karena itu upaya untuk meningkatkan produksi dan produktivitas beras dianggap masih relevan untuk mengatasi masalah peningkatan tingkat permintaan beras dan tingginya impor beras Indonesia.02 25.70 16.44 21. baik dari sisi produksi maupun konsumsi pangan.000 22.750 6. mengingat ketersediaan lahannya yang cukup luas (Ruchyat.924 4.138 6.856.FAO.212 5.43 29. Menurut FAO (2004)1 .080.

1991 dalam Maryono. Sutari (1982) dalam Netty (1996) mengatakan bahwa lahan kering y ang diusahakan dengan tepat dapat menghasilkan berbagai komoditas dengan produktivitas yang lebih besar dibandingkan lahan sawah (basah). 1996). (d) Pemanfaatan lahan kering yang semakin meningkat merupakan pertimbangan penting dalam program pemerintah selanjutnya.Indonesia adalah lahan kering.68 kwintal per hektar. Selain itu lahan kering memiliki kedudukan strategis karena : (a) Lahan kering menempati areal terluas dibandingkan dengan lahan jenis air seperti sawah. Produktivitas rata-rata padi ladang pada tahun 2004 baru mencapai 25. sementara sumbangan padi ladang terhadap produksi padi nasional pada tahun yang sama hanya sekitar 5. sandang. (c) Lahan kering merupakan sumber utama penghasil komoditi pertanian untuk tanaman pangan. dan lain. Perumusan Masalah Produksi padi nasional masih didominasi padi sawah sedangkan sumbangan padi ladang masih sangat rendah karena produktivitas dan luas tanam padi ladang yang jauh lebih rendah daripada produktivitas dan luas tanam padi sawah. maka corak pertanian di masa yang akan datang adalah pertanian lahan kering (Dwijatmiko. perumahan. dan pasang surut. Untuk tetap mempertahankan swasembada pangan.3 .lain. (b) Lahan kering diperkirakan seluas 123 juta hektar atau 62 persen dari luas total daratan Indonesia. 1.2. rawa.

topografi dan iklim pada lahan kering.191 2.id/ditjentp. 2004 .622 ribu ton pada tahun 1969 menjadi 2.004 1. (2) topografi umumnya berlereng sehingga mudah tererosi.341. padi ladang juga masih jauh lebih rendah daripada padi sawah.446. Produksi. dan Produktivitas Padi Indonesia Tahun 2004 Jenis Padi Sawah Padi Ladang Padi Total Luas Panen (Ha) 10.6 juta ton.303 Sumber : Situs Deptan (www. Luas Panen. dimana dari tahun 1969 hingga 1989 produksi padi ladang hanya mengalami peningkatan kira-kira sebesar 45 persen yaitu dari 1. rendahnya produktivitas padi ladang tidak terlepas dari keterbatasan faktor tanah. Dari kenyataan tersebut adalah hal yang wajar bila produktivitas rata-rata padi ladang jauh lebih rendah daripada produktivitas rata2 www.deptan.345 ribu ton pada tahun 1989.go. tenaga kerja dan modal) serta pengetahuan petani di daerah lahan kering menyebabkan pola tanam yang selama ini diusahakan masih bersifat subsisten.112 54.970. Tabel 2. sementara produksi padi sawah mengalami peningkatan kira-kira sebesar 140 persen atau meningkat sebesar 24.deptan.4 persen dari total luas panen padi nasional2 .843.go.038 Produktivitas* (Ku/Ha) 47.id/ditjentp). 2004 * ) Gabah Kering Giling Jika dibandingkan dari segi laju pertumbuhan produksi.persen dengan luas panen sekitar 9. Menurut Ruchyat (1993) dalam Maryono (1996).895. Di samping itu kenyataan juga menunjukkan bahwa keterbatasan faktor produksi usahatani (lahan.127.034 11.68 45.40 Produksi* (Ton) 51.45 25. Lahan kering mempunyai karakteristik antara lain : (1) tanah kurang subur. (3) curah hujan rendah.

masing daerah produsen padi ladang. Usahatani padi ladang memerlukan identifikasi lebih rinci dan jelas pada masing. Permasalahan usahatani padi ladang relatif lebih kompleks daripada padi sawah. Berdasarkan uraian di atas. maka posisi usahatani padi ladang akan semakin penting bagi m depan pertanian Indonesia secara umum dan sangat asa potensial bagi peningkatan ketahanan pangan nasional. Pertanian padi ladang banyak dijumpai di daerah transmigrasi lahan kering dan daerah yang topografi lahannya didominasi perbukitan atau lahan kering dan tidak mendapat fasilitas irigasi (Wana.rata padi sawah dengan tingkat kesuburan tanah yang jauh lebih tinggi. Bahkan sebagian daerah sangat menggantungkan ketersediaan dan kebutuhan berasnya pada produksi padi ladang. Meskipun sumbangan padi ladang terhadap produksi nasional relatif kecil. Kebijakan pemerintah yang lebih berpihak pada peningkatan produksi dan produktivitas padi sawah dibandingkan padi ladang merupakan salah satu contohnya. Tingkat produktivitas padi ladang yang rendah dan laju perkembangan produksi padi ladang yang relatif lamban juga diakibatkan permasalaha n yang dihadapi usahatani padi ladang relatif lebih kompleks daripada permasalahan padi sawah. Identifikasi yang dimaksud antara lain meliputi penelitian tentang peningkatan teknik budidaya yang ada supaya produktivitas lahan kering . meskipun hal ini merupakan sesuatu yang wajar mengingat produktivitas padi sawah yang jauh lebih tinggi dengan kendala peningkatan produktivitas padi sawah yang jauh lebih ringan daripada kendala peningkatan produktivitas padi ladang. 2000). tetapi padi ladang ditanam hampir di seluruh propinsi di Indonesia. dan topografi yang lebih baik untuk usahatani padi. pengairan yang lebih teratur.

218. Penentuan alternatif produksi padi ladang tentu juga harus mempertimbangkan karakteristik agroklimat yang khas atau unik pada masing.240. Tabel 5 menunjukkan perbandingan produksi gabah kering giling Kabupaten Karawang dengan Propinsi Jawa Barat dan produksi total keseluruhan di Indonesia.152.terutama padi ladang dapat ditingkatkan hingga dapat mengimbangi produktivitas padi sawah bahkan mungkin melampauinya. Pendekatan ini dilakukan untuk mengetahui faktor. Tabel 3.499 1.087 46.094.faktor yang mempengaruhi produktivitas dan efisiensi ekonomi pengusahaan padi ladang. Pada tahun 1992 total produksi Kabupaten Karawang mencapai 1.974 997.071 Jawa Barat (Ton) 11.009 48.181.628 Indonesia (Ton) 48.89 persen total produksi Jawa Barat dan 2. dan Indonesia Tahun 2004 Tahun 1992 1993 1994 1995 1996 Karawang (Ton) 1.007. Jawa Barat.641.744.08 persen dari seluruh total produksi di Indonesia.140 51.masing daerah produksi disamping karakteristik sosial ekonominya. Produksi Padi Gabah Kering Giling di Kabupaten Karawang.188.796 991.421 10.320.101.506 .689 997.445 11. Karawang merupakan salah satu sentra produksi padi di Indonesia.007 juta ton atau mencapai 8.007. Analisis terhadap aspek produksi merupakan salah satu pendekatan yang penting dalam kebijaksanaan pangan untuk memenuhi kebutuhan pangan terutama yang menjadi makanan pokok masyarakat. Dengan pendekatan ini akan diketahui alternatif produksi yang paling tepat dalam waktu yang telah ditentukan sehingga nantinya dapat menjadi salah satu informasi yang berguna dalam pembuatan kebijakan pertanian seperti halnya dalam usahatani padi ladang.744 11.524 49.735 11.

Mengapa produktivitas padi ladang lebih rendah dari padi sawah ? Faktor-faktor apa yang mempengaruhi produktivitas padi ladang ? Bagaimana mencapai tingkat penggunaan faktor.000 49.898. Pengaruh faktor cuaca dan iklim yang terus berfluktuasi. maka permasalahan yang akan dibahas pada penelitian ini adalah : 1.76 persen dari seluruh total produksi padi nasional yang mencapai 51. 2.499 10.209.267 49. 2004 Pada tahun 2000 produksi Kabupaten Karawang mencapai 917 ribu ton sehingga memberikan kontribusi sebesar 8.951 10.000 50.22 persen dari produksi Jawa Barat dan 1.000 51.866.377. Semakin berkurangnya lahan pertanian yang ada yang disebabkan oleh berubah fungsinya lahan pertanian menjadi kawasan perumahan dan industri.go.304 737.429 917. c. Belum berfungsinya saluran irigasi secara maksimal untuk mengairi lahan sawah dengan merata.411 11. Beberapa faktor yang mempengaruhi antara lain2 : a. b.400.852 Sumber : Situs Deptan (www. 3.730 10.faktor produksi yang efisien secara ekonomis pada cabang usahatani padi ladang ? .deptan.746. Berdasarkan uraian diatas.1997 1998 1999 2000 989.id/ditjentp).237.879 917.8 juta ton. Hal ini disebabkan oleh kurangnya pengawasan yang ketat sehingga saluran irigasi banyak dikuasai oleh beberapa orang untuk kepentingan sendiri dan kelompok tertentu. Dari tabel tersebut juga dapat dilihat mengenai adanya fluktuasi produksi yang terjadi tahun demi tahun yang menggambarkan adanya ketidakstabilan produksi padi yang disebabkan oleh banyak faktor.154.

faktor produksi pada cabang usahatani padi ladang. 3. 2. 2.3. sebagai berikut: 1. Menganalisis efisiensi ekonomis penggunaan faktor. Menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi produktivitas padi ladang.1. 1. Sebagai masukan bagi petani agar dapat mengelola usahataninya secara efektif dan efisien. Menganalisis penyebab rendahnya produktivitas padi ladang.4. Sebagai bahan kajian bagi pemerintah dalam merumuskan program dan kebijakan di bidang pertanian dalam usaha penyempurnaan sistem pertanian terutama untuk usahatani padi ladang. 3. Kegunaan Penelitian Penelitian ini diharapkan dapat berguna bagi beberapa pihak.Tujuan Penelitian Berdasarkan latar belakang dan perumusan masalah maka tujuan penelitian ini adalah : 1. . Sebagai bahan rujukan bagi penelitian yang akan datang agar dapat memperbaiki kesalahan dan kekurangan yang ada.

Basyir et al. Tanaman ini merupakan tanaman semusim jenis padi (Oryza sativa L. dan cuaca. Jika pertumbuhannya baik. tergantung pada varietasnya. bentuk gabah bulat dan tahan terhadap kekeringan (Chang dan Vergara dalam Setiawan. Fase vegetatif merupakan masa pertumbuhan batang dan daun (55 hari).II.1.. berumur sedang.) yang diusahakan di tanah tegalan kering secara menetap dan kebanyakan ditanam di daerah tropika. 2. Jenis tradisional (varietas Genjah) memiliki ciri-ciri : berbatang tinggi. sementara tahapan yang dilalui adalah masak susu sekitar 92 hingga 110 hari setelah tanam. Fase pemasakan adalah masa keluarnya bunga sampai gabah masak. anakan sedikit. Masa pertumbuhan padi ladang terdiri dari tiga fase : (1) fase vegetatif. Karakteristik Biologis Tanaman Padi Ladang Padi ladang merupakan tanaman yang biasa ditanam di lahan kering. (1995) mengemukakan bahwa siklus hidup tanaman padi ladang berkisar antara 90 hingga 140 hari. Pada fase ini tanaman padi ladang sangat sensitif terhadap cekaman lingkungan. Syarat Tumbuh dan Kelayakan Lahan Tanaman Padi Ladang Keberhasilan budidaya tanaman padi ladang ditentukan oleh penyesuaian tanaman terhadap lingkungan. dan masa penuh sekitar 112 hingga 120 hari setelah tanam. masak padat sekitar 102 hingga 120 hari setelah tanam. dan (3) fase pemasakan. 2000).2. (2) fase reproduktif. hasil . iklim. TINJAUAN PUSTAKA 2. sejak masa perkecambahan benih sampai pembentukan primordial bunga pada ujung batangnya. Fase reproduktif adalah masa dari tahap munculnya primordia bunga sampai waktu keluar bunga (35 hari).

lamanya musim tanam. curah hujan merupakan unsur iklim yang besar pengaruhnya terhadap suatu sistem usahatani. Al Med. Pada Lahan tersebut padi ladang lebih banyak ditanam pada musim hujan karena kebutuhan air bagi tanaman tergantung sepenuhnya pada curah hujan. CH = curah hujan. La. Gru. agak sesuai. dan tekstur tanah. Pod. lahan tanaman padi ladang dikelompokkan menjadi empat kelas yaitu : sesuai. Pod = podsolik. Gru. And. And. Gupta dan O’Toole (1986) menyatakan bahwa curah hujan merupakan unsur agroklimat berpengaruh dominan terhadap pertumbuhan dan produkisi padi ladang. terutama pada lahan kering dan tadah hujan. Tabel 4. Pod. Al Reg Faktor Pembatas Tidak ada MT pendek Kesuburan tanah rendah-sedang Keterbatasan air Suhu. Atas dasar keempat faktor tersebut. dan topografi Fisik dan kimia tanah Suhu dan radiasi Kekurangan air 5 6 7 8 Agak Sesuai Tidak Sesuai Tidak Sesuai Tidak Sesuai 700-900 < 900 > 900 - < 20 20 > 20 - >4 >4 <4 > 1500 > 1800 > 3500 < 1500 Sumber Keterangan : Jones and Garrity dalam Setiawan (2000) : MT = musim tanam. La. Al = aluvial. kemiringan lahan. dan sangat kering. periode saat air tanah cukup bagi pertumbuhan tanaman. And. Gru = grumosol. Al Med. Al Med. And = andosol. RH. Reg = regosol. La = latosol. Gru And. Kecukupan dan ketersediaan air ditentukan oleh empat faktor yaitu : curah hujan. Menurut Bey dan Las dalam Setiawan (2000). Pod. Gru. Kelayakan lahan untuk pertanaman padi ladang menurut Jones dan Garrity dalam Setiawan (2000) didasarkan pada kecukupan dan ketersediaan air. . Klasifikasi Kriteria Lingkungan Tumbuh Tanaman Padi Ladang Nilai No 1 2 3 4 Kelas Kesesuaian Sangat Sesuai Sesuai Sesuai Agak Sesuai Elevasi (m dpl) < 700 < 700 < 700 < 700 Lereng (%) <5 <5 <5 20 May MT (Bulan) 9 8-May >4 >4 CH (mm/th) 1500-3500 1500-3500 1500-3500 1500-3500 Jenis Tanah Med.panen juga akan baik. kering. La. Med = mediteran.

Lingkungan tumbuh akan mendukung pertumbuhan padi ladang apabila memiliki tekstur tanah halus hingga sedang. unsur hara. menurut Gupta dan O’Toole (1986) merupakan penyebab rendahnya produksi padi ladang.. Padi ladang dapat tumbuh hampir pada semua jenis tanah. Menurut De Datta dalam Setiawan (2000). PH tanah yang sesuai untuk pertumbuhan padi ladang . Unsur iklim yang berperan dalam keberhasilan budidaya tanaman padi ladang adalah radiasi dan suhu udara (Basyir et al. dan berbukit. Menurut Madkar et al. dan pH tanah. struktur. dalam Setiawan (2000). 1995). Tanah dengan kemamp uan menyimpan air yang rendah dapat menimbulkan masalah kelembabam yang rendah setelah hujan berhenti. pertumbuhan dan hasil padi ladang dipengaruhi oleh tekstur. bergelombang. Tekstur tanah dengan kemampuan menyimpan air yang tinggi merupakan kondisi yang sesuai bagi tanaman padi ladang. curah hujan tinggi (lebih besar dari 1500 mm per tahun) dan musim tanaman panjang. kemiringan lahan 0 sampai 8 persen. Sedangkan suhu udara berkorelasi positif dengan produksi padi selama fase vegetatif melalui jumlah tunas yang dihasilkan. yaitu 5 hingga 12 bulan per tahun. 2000). 1986). bertopografi datar. tetapi berkorelasi negatif dengan produksi gabah selama fase pengisian gabah hingga masa panen (Murata 1976 dalam Setiawan. Hal ini dapat menyebabkan ketersediaan unsur hara dalam tanah akan menurun (Gupta dan O’Toole. perubahan unsur hara dalam tanah merupakan salah satu faktor yang membatasi produktivitas tanaman pada lahan kering.. Intensitas radiasi matahari yang rendah. Ketinggian areal pertanaman padi ladang bervariasi mulai dari dataran rendah sampai dataran dengan ketinggian 1500 meter di atas permukaan laut.

Pengolahan tanah harus sampai kedalaman sedikitnya 25 sentimeter. Pengolahan tanah Pengolahan tanah dilakukan pada musim kering sebelum hujan turun.0 padi ladang dapat mengalami gangguan kekahatan unsur P.3.berkisar antara 5. dilakukan pengolahan pendahuluan dengan menggunakan garpu. Tanah lapisan bawah sedapat mungkin terangkat dan dibalik ke bagian atas. atau segera setelah tanaman yang mendahuluinya dipanen. keracunan Fe dan Al.5 hingga 6. sedangkan bila lebih dari 7. pupuk kandang atau kompos.3.5. pada pH yang lebih rendah dari 5.1. pupuk organik ditebarkan sebanyak sekitar 20 ton per hektar dengan menggunakan pupuk hijau. Teknih pengolahan tanah adalah sebagai berikut : (1) Tanah dibajak atau dicangkul dua kali atau lebih hingga tanah cukup gembur dan bersih dari rerumputan.0 dapat menyebabkan tanaman padi ladang mengalami kekahatan unsur Zn (Gupta dan O’Toole. Pada tanah yang berat (tanah padat dan keras). . 1986). dengan cara membuat petakan-petakan berukuran 10 × 5 meter atau dengan membuat bagian tengah tegalan lebih tinggi daripada pinggirannya. (3) Setelah tanah dibajak. (2) Pada waktu membajak atau mencangkul yang kedua kali. (4) Dijaga agar tidak terjadi penggenangan air. Budidaya Padi Ladang 2. karena dapat mengancam kehidupan sekeliling petak. tanah harus dihaluskan dengan garpu atau cangkul satu atau dua kali hingga tanah cukup halus. 2.

ada kemungkinan benih tersebut terbawa air atau terdorong lebih jauh masuk ke dalam tanah dan juga dapat berakibat kurang baik untuk tanaman muda karena akan mengakibatkan gangguan hama dan penyakit yang hebat. Benih yang dipilih adalah benih yang tenggelam apabila benih dimasukkan dalam larutan garam atau larutan abu dapur. yaitu setelah dua atau tiga kali turun hujan. Cara ini kurang lazim karena membutuhkan banyak benih yaitu sekitar 50 sampai 100 kilogram per hektar. Cara menanam Ada berbagai cara yang dapat digunakan dala m menanam. Penanaman a. Membuat aluran dengan kayu berujung runcing yang digariskan di atas tanah atau dengan cangkul atau kored dengan jarak antara aluran sekitar 60 . 2.3. diantaranya adalah : 1. bersih dari campuran atau kotoran-kotoran.(5) Tanah dibiarkan saja sambil menunggu benih ditanam pada waktu permulaan musim hujan. Waktu tanam Waktu tanam sebaiknya dalam bulan Oktober dan November. Jika menanamnya bersamaan periode berlangsungnya hujan yang terus menerus.2.3. 2. tetapi tergantung pada awal musim penghujan. b. Disebar merata langsung ke permukaan tanah. segar dan daya berkecambah tinggi (minimal 80 %).01. yang berat jenisnya sekitar 1. bebas dari hama dan penyakit. 2. Benih yang melayang atau terapung jangan dijadikan benih.3. Pemilihan Benih Benih yang bermutu adalah yang murni dengan kandungan air maksimal 14 persen.

setelah benih dimasukkan. Jarak tanam pada tanah yang subur 15 × 20 sentimeter. Di sela-selanya dapat ditanami jagung. Pemupukan dapat dilakukan dengan menggunakan pupuk organik (pupuk hijau.3. dan pupuk kandang. juga akan memudahkan dalam melakukan kegiatan lain di dalam pertanaman seperti penyiangan. dan abu (debu atau tanah halus). Pemakaian benih kurang lebih 30 sampai 40 kilogram per hektar.sentimeter sedalam 3 sentimeter. sedalam 3 hingga 5 sentimeter.lain. ketela. Tumpangsari dengan tanaman lain dengan pengaturan sebaik-baiknya sehingga tidak merugikan tanaman pokok. dan lain. pupuk kandang atau pupuk kompos). kacang hijau dan sebagainya. Pada jarak tertentu dibuat lubang dengan tugal. 2. sedangkan pada tanah yang kurang subur 15 × 40 sentimeter. . Ke dalam aluran ditaburkan benih kemudian ditutup dengan tanah. 4. K. K.4. pemberantasan hama. Pupuk hijau misalnya dengan menggunakan Crotalaria juncea ditanam 4 hingga 6 bulan sebelum tanah ditanami padi ladang. Dengan tugal. Untuk tiap lubang ditanam benih sebanyak 5 hingga 7 butir. jarak tanam yang terbaik adalah 20 × 20 sentimeter. 3. lubang benih ditutup dengan campuran pupuk P. Pemupukan a. atau campuran antara pupuk P. Pupuk hijau ini ditanam berbaris dengan jarak antar barisan sekitar 90 hingga 120 sentimeter. Pengaturan jarak tanam yang sebaik-baiknya disamping akan mempertinggi hasil. Tumpangsari dengan jagung dapat diatur dengan jarak tanam jagung 150 × 60 sentimeter. Pada permulaan musim hujan pupuk hijau ditebang dan dikuburkan pada waktu pengolahan tanah.

dan 30 kilogram K2 O tiap hektar. Salah satu kelemahan pupuk organik . diisi dengan pupuk lalu ditutup lagi dengan tanah.masing pada saat dilakukan penyiangan (dua bulan sejak benih ditugalkan).75 kwintal TSP) bersama dengan pupuk K (0.75 : 1 : 20 (0. maka pada pemberian kedua hendaklah pada sisi lain yang berlawanan. Cara pemberiannya adalah dengan membuat garitan sepanjang barisan tanaman. abu atau debu atau tanah halus. dan pupuk kandang adalah 0. Tanah yang cukup mengandung bahan organik akan lebih remah dan memiliki daya menahan air yang lebih besar. Kebutuhan pupuk kandang atau kompos sekitar 15 hingga 20 ton setiap hektar.b. Jika abu atau debu halus sebagai campuran digunakan. Pupuk organik sangat bermanfaat pada tanah-tanah kering untuk memperbaiki struktur tanah. Pupuk organik meliputi sisa-sisa tanaman atau hewan. c. Pupuk organik terdiri dari kompos ataupun pupuk kandang. kalium. Perbandingan campuran pupuk fosfat. setengah pada saat 3 sampai 4 minggu sesudah benih ditugalkan dan setengah sisanya pada umur 6 sampai 7 minggu.75 kwintal TSP + 1 kwintal ZK + 20 kwintal pupuk kandang).5 kwintal KCl) diberikan waktu penanaman sebagai pupuk dasar setelah dicampur dengan pupuk kandang. Bila pada pemberian pertama di sisi yang satu dari tanaman. 30 kilogram P2 O5 . Pupuk kandang dan kompos diberikan dengan pengolahan tanah karena pupuk tersebut lama hancurnya. Pupuk fosfat (0. Tanah dengan sifat yang demikian sangat sibutuhkan untuik tanaman padi ladang. maka perbandingannya adalah 1 : 1 : 5. Pupuk organik ( upuk buatan) pada umumnya diberikan dengan dosis 60 p sampai 90 kilogram N.5 hingga 2 kwintal urea per hektar) diberikan dua kali. yaitu masing. Pupuk N (1.

Untuk me ncukupi kebutuhan hara bagi tanaman dalam satu hektar. panen dilakukan pada stadia masak kuning yaitu apabila seluruh pertanaman nampak kuning.5. dan pupuk buatan disebar pada waktu penggaruan terakhir. Penyiangan kedua pada saat tanaman berumur 60 hari.3. kecuali buku-buku sebelah atas yang masih hijau. b.6. 2. Kirakira satu hingga dua minggu sebelum malai padi keluar. Penyiangan Penyiangan atau pemberantasan gulma dapat dilakukan dengan cara mekanis atau dengan cara kimiawi. Panen dan Pengolahan Hasil Panen Untuk jenis-jenis yang mudah rontok. kadang-kadang sesudah umur satu bulan masih disulam. tanah di sekeliling tanaman padi dibumbun (didangir) atau dihancurkan sedikit agar pembuangan air lebih mudah. Penyiangan pertama dilakukan pada waktu tanaman berumur tiga sampai empat minggu. Penyulaman Sejak tanaman berumur seminggu sampai umur tiga minggu tanaman padi ladang masih boleh disulam.3. Setelah penyiangan. 2. Tanah di sela-sela tanaman dicangkul supaya renggang dan ge mbur. tetapi ya ng digunakan untuk menyulam adalah bibit yang diambil dari rumpun yang besar. Pemeliharaan a. Isi gabah sudah mengeras tetapi bila dipijit dengan . Kompos disebar pada waktu pembajakan terakhir. Di samping itu pupuk organik sering mengandung biji-biji gulma sehingga dapat mengganggu pertumbuhan tanaman.adalah kadar haranya yang rendah. tanaman sebaiknya dibumbun. diperlukan sekitar 10 sampai 30 ton bahan organik.

4. Tanaman yang biasa dibudidayakan adalah tanaman yang berumur pendek seperti padi ladang.lain. 2. babi hutan. burung. ladang atau tegalan adalah suatu lahan usahatani pada lahan kering yang biasa dipakai untuk usaha bercocok tanam. dan lain. mengeringkan dan mengolahnya selanjutnya sama dengan caracara pada padi sawah.tangan isi gabah mudah pecah. menggabahkan.7.umbian. tanaman jenis kacang-kacangan dan umbi. tikus. dan lain. penyakit bercak daun Helminthosporium oryzae. Sistem Perladangan di Indonesia dan Perkembangannya Menurut Soekartawi (1986). 2. walang sangit yang menyebabkan kosongnya sebagian dari malai. Sedangkan untuk jenis-jenis yang tidak mudah rontok. kepik padi hijau. ulat tentara. Praktek perladangan menurut data arkeologi sudah dimulai pada saat manusia pertama kali mengubah jaman berburu dan mengumpulkan tanaman liar ke sistem berproduksi tanaman dan beternak dengan budidaya yang masih primitif. Sedangkan penyakit yang umumnya menyerang padi ladang adalah penyakit bercak daun (Pyricularia oryzae). Perladangan merupakan wujud dari peradaban jaman dulu yang berlangsung turun temurun dan masih berkembang hingga sekarang. jagung. Cara mengetam. . Phytium sp. penggerek batang. panen dilakukan pada stadia masak penuh. Hama dan Penyakit Hama yang sering mendatangkan bahaya pada tanaman padi ladang dan perlu diperhatikan antara lain: lalat bibit yang dapat mengurangi kemampuan bertunas bahkan mematikan tanaman berumur setengah hingga satu setengah bulan.3.lain.

1978 dalam Hariyanto. Berdasarkan jangka waktu rotasinya. Berladang dengan siklus panjang.Demikian pula Pelzer dalam Geertz (1963) mengatakan bahwa perladangan itu ditandai oleh tidak adanya pembajakan. yang merupakan sistem yang paling sederhana. melainkan merupakan usaha ntuk menyesuaikan antara kepentingan beercocok tanam dengan keadaan alamnya (Soemarwoto. Berladang dengan siklus pendek sekitar lima tahun. terkadang memiliki kebun. Dinas Kehutanan Kalimantan Barat (1981) dalam Hariyanto (1994). Menurut Ditjen Kehutanan Direktorat Reboisasi dan Rehabilitasi (1981) dalam Hariyanto (1994) beberapa sistem perladangan yang ada di Indonesia adalah : a. 1994). mengelompokkan pola perladangan menjadi: a. input tenaga-tenaga sedikit dibandingkan dengan bercocok tanam yang lain. terkadang memiliki pemukiman tetap. memiliki pemukiman tetap dan kebun. baik karena . e. b. tidak menggunakan tenaga hewan ataupun pemupukan dan tidak adanya konsep pemilikan tanah pribadi. d. Peladang pada umumnya hidup berpencar berjauhan satu dengan yang lain. Berladang berpindah tanpa siklus dan tidak memiliki pemukiman tetap. Hal ini bukan karena sifat peladang yang enggan untuk hidup berdekatan. baik antara tempat tinggal di dalam desa maupun antar desa yang satu dengan lainnya. c. Lahanlahan bekas perladangan yang sedang menurun produktivitasnya. Berladang setiap tahun. Berladang dengan siklus sedang diatas tujuh tahun dan memiliki pemukiman tetap. Sistem rotasi alami.

Sistem ini terdapat dipedalaman Kalimantan. Lahan. c. Sistem tumpang sari. baik kayu-kayuan maupun buah-buahan. yang merupakan perkembangan dari sistem rotasi alami. Sistem talun. . d. Lampung dan Sumatera Selatan. kelapa. diserahkan begitu saja kepada kekuatan alam untuk merehabilitasi dirinya melalui suksesi alami. Sistem tanaman sela. Tanaman sela itupun dibiarkan tumbuh sehingga suksesi alami berjalan lebih cepat. Sistem ini ditemui di Nusa Tenggara Timur terutama Kupang. b. Sistem ini terdapat di Sulawesi Selatan dan Sulawesi Tenggara. lada. Sejak saat pertama penggarapan ladangnya. sebagai akibat masuknya pertimbangan pemilihan jenis tanaman yang disesuaikan dengan keadaan pasar dan kondisi fisik lahannya. kopi dan cengkeh. Jenis-jenis tanaman keras yang dipilih adalah yang mempunyai prospek ekonomis baik seperti karet. Jenis dan susunan pepohonan tersebut dibuat sedemikian sehingga mempunyai prospek ekonomis serta sesuai dengan kebutuhan pemiliknya. para peladang menanam tanaman keras secara bersamaan dengan tanaman pangan. merupakan suatu peningkatan dari sistem rotasi alami. sehingga dapat berfungsi sebagai pencegah erosi serta penyubur tanah. Sistem talun ini muncul atau dikenal terdapat di daerah Jawa Barat.tingkat kesuburannya sudah berkurang atau besarnya gangguan gulma. Yang dimaksud dengan talun adalah lapangan yang ditanami dengan berbagai macam pohon.lahan perladangan pada saat penggarapan pertama sudah ditanami tanaman sela yang ditanam dalam bentuk larikan sejajar kontur.

(c) membuat alat-alat untuk bekerja di ladang. Menugal adalah membuat lubang. Menebas. Membakar daun dan ranting yang sudah kering. Pembakaran ini selain ditujukan untuk membersihkan lahan dari sisa-sisa penebasan dan penebangan. Merumput. belukar dan yang terakhir padang alang-alang. Menjaga tanaman dari serangan hama seperti babi hutan. Menugal dan menanam biji. pada dasarnya tidak berurutan yaitu : (a) memanen hasil tanaman bukan padi. hutan sekunder. yaitu : pekerjaan mencabut/membunuh rumput-rmput yang tumbuh diantara tanaman padi. Pemilihan tempat. yaitu : memotong pohon berdiameter besar dengan menggunakan kapak (beliung). yaitu : pemotongan belukar kecil dengan menggunakan parang Menebang. Secara kronologis pekerjaan yang dilakukan adalah : a. d. h. karena bila rumput dibiarkan tumbuh lebat.lubang pada permukaan tanah dengan menggunakan ranting atau dahan yang diruncingkan ujungnya (tuga l) dimana biji-biji padi kemudian dimasukkan. mengemukakan bahwa perladangan hampir selalu dilakukan dengan cara yang sama. dengan urutan prioritas dari yang paling disukai : hutan perawan. c. e. Rendahnya produksi yang dihasilkan oleh peladang . Mengetam atau memanen hasil padi. maka tanaman padi akan tertekan sehingga hasilnya sangat rendah. g. f. Selain itu ada kegiatan lain yang menurut Dove (1988) dalam Hariyanto (1994).Simon (1981) dalam Hariyanto (1994). juga berguna untuk mengurangi keasaman tanah. b. (b) membat pondok diladang. Bila ditinjau dari aspek ekonomi peladang berpindah (perladangan) dicirikan oleh produktivitas yang rendah.

1994).faktor di atas menyebabkan rendahnya tingkat pendapatan usahatani peladang berpindah (Simon. Bagi pemerintah pun tidak mudah untuk menyelenggarakan fasilitas pendidikan dan fasilitas sosial lainnya. Produktivitas yang rendah cenderung diikuti pula oleh rendahnya kualitas produksi yang dihasilkan.juga ditunjukkan oleh ketidakpastian hasil ya ng disebabkan tingginya pengaruh iklim. 1981 dalam Hariyanto. Masyarakat di Kalimantan Timur. bukan karena biayanya yang menjadi mahal. menyebabkan anak-anak peladang sangat sulit untuk mengikuti pendidikan formal secara teratur. Oleh karena itu sebagian dari peladang tidak berpendidikan sama sekali. Tempat tinggal yang berpencar dan kemungkinan pindah mengikuti rotasi perladangan. Akibatnya harga jual produksi yang dihasilkan rendah. tetapi juga kegunaannya tidak mencapai tingkat optimal yang diharapkan. seperti yang dikemukakan Simon (1981) dalam Hariyanto (1994). tingkat ketrampilan dan pengetahuan yang dimiliki peladang dalam pengelolaan lahan serta tingginya angka kelahiran dan kematian penduduk karena masih rendahnya tingkat kesehatan. 61 persen tidak . Padahal bila dilihat dari lingkungan sistem perladangan kemungkinan uuntuk terserang hama dan penyakit sangat tinggi dan upaya pengendalian lebih sulit. ditambah lagi dengan belum adanya prospek pemasaran hasil produksi dan sifat komoditi yang dihasilkan masih bersifat musiman. Dari aspek sosial peladang dicirikan oleh rendahnya tingkat pendidikan. Keseluruhan faktor. hama dan penyakit. Dengan sifat perladangan yang masih tradisional upaya pengendalian terhadap hama dan penyakit juga dilaksanakan dengan cara yang sederhana.

. Pada petani kecil perolehan pendapatan usahataninya akan lebih banyak digunakan untuk mengembangkan usahataninya. sedang 27 persen hanya pernah sekolah tidak lebih dari kelas tiga sekolah dasar. Sedangkan ketidakpastian adalah sesuatu yang tidak bisa diramalkan sebelumnya. dalam Satria.pernah sekolah. dengan kecenderungan yang lebih besar pada pemilik lahan sempit dan umumnya dari petani penyakap. 1981). yaitu resiko. Sifat khas yang . Istilah resiko dimaksudkan kepada terjadinya kemungkinan merugi atau possibility of loss. 1995). Dillon et al. karena peluang terjadinya merugi belum diketahui sebelumnya (Soekartawi et al. jadi peluang akan terjadinya merugi akan diketahui terlebih dahulu. dalam Soekartawi (1986) memberikan indikasi bahwa sebagian besar petani subsistem mempunyai keengganan memikul resiko. menjelaskan adanya perilaku enggan menerima resiko dalam pengambilan keputusan petani disebabkan oleh adanya dilema ekonomi petani sentral yang dihadapi oleh kebanyakan rumah tangga petani. dan karena itu kondisi tersebut menyebabkan rumah tangga petani tidak banyak mempunyai peluang untuk menerapkan keuntungan maksimal dalam berusahatani. 2.5. karena kelebihan pendapatan sering digunakan untuk kepentingan lainnya. sering ditemui bahwa semakin kecil petani melakukan capital formation dalam usahataninya. Scott (1981). ketidakpastian. Perilaku Ekonomi Petani Perilaku ekonomi mempunyai tiga hal yang patut diperhatikan (Scott. Dalam banyak hal. Kehidupan petani di pedesaan begitu dekat dengan batas subsistensi. serta keuntungan. serta selalu mengalami ketidakpastian cuaca dan tuntutan-tuntutan dari pihak luar.

348. pendapatan atas biaya tunai yang diperoleh petani adalah sebesar Rp.091.6.995. Jadi.450.-. total penerimaan petani dari usahatani padi ladang yang ditumpangsari dengan jagung sebesar Rp. Penelitian ini melakukan analisis tentang pendapatan dan efisiensi penggunaan faktor produksi usahatani padi ladang secara tumpangsari dengan jagung di Kecamatan Kadipaten..sedangkan pendapatan atas biaya total . Kabupaten Tasikmalaya..dengan harga jual rata-rata sebesar Rp. Biaya tunai yang dikeluarkan dalam usahatani padi ladang tumpangsari dengan jagung sebesar Rp. sehingga penerimaan dari produksi jagung sebesar Rp.438 kilogram dengan harga jual rata-rata Rp.100.-.1.683. tetapi sebagian besar petani menengah juga bertindak serupa.1. Dengan komposisi biaya seperti ini. 2.200.647.sedangkan biaya total sebesar Rp.per kilogram dan produksi padi ladang per hektar rata-rata sebesar 793 kilogram dalam bentuk gabah kering panen.per kilogram.109..1.824.700.575.312. Dengan kata lain petani berusaha meminimumkan keuntungan subjektif dari kerugian maksimum. Perilaku demikian yang disebut juga perilaku safety first atau mendahulukan keamanan merupakan ciri umum petani.100..1. Sedangkan ratarata jagung yang dihasilkan per hektar sebesar 1. Bukan saja petani miskin yang memiliki perilaku tersebut.1.. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata penerimaan petani dari produksi padi ladang per hektar per musim tanam sebesar Rp.senantiasa ada pada diri petani ialah berusaha menghindari kegagalan yang akan menghancurkan kehidupannya dan bukan berusaha memperoleh keuntungan besar dengan mengambil resiko. Hasil Penelitian Terdahulu Penelitian terdahulu mengenai usahatani padi ladang atau padi gogo dilakukan oleh Susanto (2004).

pupuk TSP.8 berarti bahwa 67. Hal ini berarti dari segi analisis pendapatan usahatani padi ladang secara tumpangsari dengan jagung menguntungkan karena penerimaan yang lebih besar dari biaya total yang dikeluarkan. dan nilai koefisien determinasi (R2 ) sebesar 74.09. jumlah benih. dan rasio R/C atas biaya total sebesar 1. TSP. Sedangkan 32.5 dengan nilai koefisien determinasi terkoreksi (R2 -adjusted) sebesar 67. pupuk Urea. intensitas serangan hama. Dari analisis model fungsi produksi Cobb-Douglas yang dilakukan Susanto (2004). dan faktor iklim. yang ditunjukkan oleh rasio NPM dan BKM yang lebih kecil dari satu. dan tenaga kerja tidak efisien (berlebihan).8.2 persen lainnya dari keragaman nilai produksi dipengruhi faktor. Sedangkan faktor produksi luas lahan. pupuk KCl.170. diperoleh hasil bahwa penggunaan faktor produksi pupuk Urea. Faktor. puuk KCl dan tenaga kerja tidak berpengaruh nyata terhadap nilai produksi pada taraf kepercayaan yang ditentukan. diperoleh hasil bahwa faktor produksi jumlah benih. Penggunaan faktor produksi .Jadi rasio R/C atas biaya tunai diperoleh sebesar 2. Sedangkan penggunaan faktor produksi luas lahan dan jumlah benih masih kurang untuk mencapai level efisien. Berdasarkan analisis efisiensi dengan rasio NPM dan BKM. KCl. dan tenaga kerja.sebesar Rp.625. Nilai R2 -adjusted sebesar 67. pupuk Urea. Berdasarkan hasil uji-t yang dilakukan Susanto (2004). diperoleh hasil F-hitung yang nyata pada taraf kepercayaan 95 persen..8 persen kergaman pada nilai produksi dapat dijelaskan oleh variabel bebas yang digunakan dalam fungsi produksi yaitu luas lahan.92.faktor lain di luar model yang diduga berpengaruh tersebut adalah tingkat kesuburan lahan. dan pupuk TSP berpengaruh nyata terhadap nilai produksi.faktor lain di luar model regresi.

dilihat dari segi intensitas penggunaan lahan. usahatani padi ladang di wilayah Baduy Luar (Kanekes) menghasilkan nilai rasio R/C yang lebih tinggi daripada Luar Baduy (Jalupang Mulya). Penelitian ini menyimpulkan bahwa teknologi usahatani padi ladang yang digunakan di wilayah Luar Baduy (Jalupang Mulya) lebih maju dibandingkan dengan Baduy Luar.22. . pupuk. pengalaman bertani. status penguasaan lahan.11. Rendahnya nilai rasio R/C untuk usahatani padi ladang di wilayah Luar Baduy diduga disebabkan oleh : (1) Tingkat kesuburan lahan di wilayah Baduy Luar yang lebih subur dibandingkan dengan wilayah Luar Baduy. luas lahan garapan. Demikian juga dengan R/C atas biaya tunai untuk wilayah Baduy Luar sebesar 1.26 sedangkan R/C atas biaya total untuk luar baduy sebesar 0. dimana rasio R/C atas biaya total untuk Baduy Luar sebesar 0. serta alat pengolahan padi. lebih besar daripada R/C atas biaya tunai untuk Luar Baduy yang sebesar 0. jenis alat pengolahan lahan. Kabupaten Lebak. Hal ini dilihat dari : tingkat pendidikan. Banten.yang tidak efisien ini diduga disebabkan oleh pengetahuan petani yang terbatas akibat tingkat pendidikan dan tingkat ekonomi yang rendah serta status penguasaan lahan. Namun dari segi analisis pendapatan dengan menggunakan analisis rasio R/C.39. jenis varietas padi. Kecamatan Leuwi Damar. Penelitian lain mengenai padi ladang dilakukan oleh Rahayu (2001) dengan judul “Perbandingan Usahatani Padi Ladang Baduy Luar dan Luar Baduy Dilihat Dari Tingkat Efisiensi dan Subsistensi Usahatani” di Desa Kanekes dan Desa Jalupang Mulya. obat dan cara pengobatan hama dan penyakit tanaman.

Timtim. Maluku. Regional III meliputi seluruh provinsi di pulau Sulawesi. Kesimpulan ini diambil berdasarkan analisis terhadap : tujuan produksi. (4) Penggunaan pupuk dan pestisida yang belum tepat untuk wilayah Luar Baduy.faktor yang mempengaruhi produksi luas areal panen padi lahan kering (ladang) di seluruh regional adalah : . Wana (2000) mengelompokkan Indonesia menjadi tiga daerah regional yaitu : Regional I meliputi seluruh provinsi Jawa. Dilihat dari segi tingkat subsistensi.(2) Tingkat upah tenaga kerja luar keluarga di wilayah Luar Baduy lebih tinggi daripada wilayah Baduy Luar. usahatani padi ladang di wilayah Luar Baduy tergolong usahatani semi. Bali. melakukan analisis pendugaan model respon areal luas panen dan produktivitas padi lahan kering di seluruh Indonesia. Penelitian ini menyimpulkan bahwa faktor. serta tingkat pendayagunaan lembaga pertanian. Penelitian yang dilakukan Wana (2000) dengan judul “Analisis Faktorfaktor Produksi Padi Lahan Kering di Indonesia”. dan Nusa Tenggara Barat. sedangkan usahatani padi ladang untuk wilayah termasuk dalam usahatani semi-subsisten mengarah ke subsisten (Transisi-Statis). Regional II meliputi seluruh provinsi di pulau Sumatera dan Kalimantan. (3) Kondisi lingkungan usahatani padi ladang di wilayah Luar Baduy yang sedang terserang hama dan penyakit. NTT. dan Irian Jaya. nilai rasio upah tenaga kerja dan rasio faktor input. sementara usahatani padi ladang di wilayah Baduy Luar tidak menggunakan pupuk dan pestisida sama sekali.subsisten mengarah ke komersial (TransisiDinamis).

faktor yang berpengaruh.7554.947 kwintal dalam satu tahun (dua musim tanam). varietas unggul.4637. dan harga pupuk TSP.faktor yang mempengaruhi produksi dan pendapatan usahatani padi sawah pada jaringan irigasi teknis (Desa Tinggar Jaya. curah hujan. Penelitian ini menyimpulkan bahwa tingkat produksi per hektar di daerah irigasi teknis lebih tinggi daripada daerah irigasi sederhana. harga kedelai. Kecamatan Rawalo). Jawa Tengah. harga ubikayu. Rasio R/C atas biaya tunai di Desa Tinggar Jaya (irigasi teknis) sebesar 2. Rasio R/C atas biaya total di Desa Tinggar Jaya (irigasi teknis) sebesar 1. Perbedaan tingkat produksi tersebut 24.4193. Penelitian ini juga memperoleh kesimpulan bahwa peningkatan produksi dengan mengupayakan peningkatan luas areal dan produktivitas padi ladang pada umumnya tidak responsif terhadap faktor. Sedangkan faktor. Kecamatan Jatilawang) dan irigasi sederhana (Desa Losari. yang memberi indikasi bahwa di Indonesia terutama di Jawa peningkatan luas areal panen dan produktivitas sudah hampir mendekati level optimum. Yelni (1999) meneliti tentang faktor. kegiatan produksi harus tetap ditingkatkan.faktor yang mempengaruhi produktivitas padi lahan kering (ladang) di seluruh regional adalah harga pupuk urea. dan luas areal panen padi tahun sebelumnya. harga jagung. sedangkan di Desa Losari (irigasi sederhana) sebesar 2. Berdasarkan analisis model fungsi produksi . Kabupaten Banyumas. luas lahan kering. Pendapatan atas biaya tunai dan biaya total yang diperoleh daerah dengan lahan sawah yang menggunakan irigasi teknis juga lebih tinggi daripada lahan sawah beririgasi sederhana.harga beras.5574 dan di Desa Losari (irigasi sederhana) sebesar 1. Akan tetapi dalam upaya memenuhi kebutuhan beras nasional dan mengurangi impor beras.

diperoleh hasil bahwa untuk usahatani padi sawah di Desa Tinggar Jaya (irigasi teknis).dengan menggunakan analisis model Cobb-Douglas.68 dan 1. disimpulkan bahwa usahatani padi organik berada pada kondisi decreasing return to scale (hasil yang semakin menurun). Rasio R/C atas biaya tunai dan atas biaya total pada usahatani padi sawah organik didapat sebesar 2.05 < a = 0. Faktor.14 dan 1. sedangkan faktor.faktor yang berpengaruh nyata terhadap produksi pada usahatani padi sawah organik luas lahan.faktor yang berpengaruh nyata pada 0. faktor.63. pestisida butir. jumlah pupuk TSP yang digunakan. dan tenaga kerja.faktor yang berpengaruh nyata terhadap produksi pada usahatani padi sawah konvensional adalah luas lahan. Kabupaten Karawang.05 adalah benih dan pupuk.72. Produktivitas padi organik sebesar 4. sedangkan rasio R/C atas biaya tunai dan atas biaya total pada usahatani padi sawah konvensional sebesar 2. Penelitian ini menyimpulkan bahwa produktivitas padi organik (input rendah) lebih kecil dibandingkan padi konvensional.263 kg/ha. jumlah benih yang digunakan. faktor-faktor yang berpengaruh nyata pada a = 0. Berdasarkan analisis fungsi produksi dengan menggunakan model fungsi produksi Cobb-Douglas. .569 kg/ha sedangkan produktivitas padi sawah konvensional sebesar 5.10 adalah penggunaan pestisida dan dummy luas lahan. Wijaya (2002) melakukan penelitian tentang perbandingan pendapatan dan efisiensi usahatani padi sawah organik (input rendah) dan usahatani padi sawah konvensional di Kecamatan Tempuran. dan penggunaan tenaga kerja. Sedangkan untuk usahatani padi sawah di Desa Losari (irigasi sederhana).faktor yang berpengaruh nyata adalah penggunaan tenaga kerja dan dummy luas lahan. Sedangkan faktor. pupuk urea.

diketahui bahwa penggunaan faktor-faktor produksi belum efisien. pestisida butir. Sedangkan faktor. artinya syarat keharusan untuk mencapai level efisien tidak teroenuhi sehingga penggunaannya untuk mencapai efisien tidak dapat diramalkan karena rasio NPM dan BKM tidak akan pernah sama dengan satu (NPM/BKM ? 1).Berdasarkan analisis efisiensi ekonomi dengan menggunakan rasio Nilai Produk Marjinal dan Biaya Korbanan Marjinal (NPM/BKM) untuk usahatani padi sawah organik. . pupuk organik.faktor yang penggunaannya berlebihan adalah pupuk urea dan TSP. dan tenaga kerja. Untuk faktor benih dan pestisida cair didapat nilai rasio NPM dan BKM yang negatif. Faktor-faktor yang penggunaannya harus ditingkatkan agar dicapai level efisien adalah luas lahan. Hal ini terbukti dari nilai NPM/BKM semua faktor produksi yang tidak sama dengan satu. pupuk daun.

maka suatu usahatani dapat digambarkan lebih rinci sebagai berikut : a. lantai jemur. unsur ini dalam usahatani mempunyai fungsi sebagai usaha tempat bercocok diselenggarakannya tanam. kandang. KERANGKA PEMIKIRAN 3. Adanya lahan dalam luasan dan produk yang tertentu. kerja dan modal yang ditujukan kepada produksi di lapangan pertanian (T.lain. b. pompa air dan lain. menanam. penyemprot.lain.lain. Berdasarkan pengertian di atas. linggis. Konsep Usahatani Usahatani adalah setiap kombinasi yang tersusun (terorganisasi) dari alam. d. Adanya bangunan yang berupa rumah petani.1.B. parang. gudang. garpu. dan lain. . pemeliharaan hewan ternak dan tempat keluarga tani bermukim. traktor.III. Adanya alat-alat pertanian seperti cangkul. Bachtiar Rifai dalam Hernanto. memelihara dan lain. Adanya pencurahan kerja untuk mengolah tanah. c. 1988).

Sedangkan bentuk usahatani terdapat tiga jenis yang menunjukkan bagaimana suatu kondisi diusahakan yaitu : (1) bentuk khusus dimana petani hanya mengusahakan satu jenis usaha dari sebidang tanah.faktor produksi cenderung bersaing dan batas pemisahan antara cabang usahatani kurang jelas. . modal dan jasa pengelolaan. baik yang dijual maupun untuk dikonsumsi keluarga atau dipergunakan lagi dalam proses produksi selanjutnya. Adanya kegiatan petani yang menetapkan rencana usahataninya. Untuk kegiatan rumahtangga pada umumnya bersifat konsumtif.unsur produksi.e. (2) bentuk tidak khusus yaitu usahatani yang terdiri dari berbagai cabang usaha pada berbagai bidang tanah. mengawasi jalanya usahatani dan menikmati hasil usahataninya. misalnya menjual kelebihan alat-alat produksi. tenaga kerja. mengatakan bahwa ada dua pola usahatani yang sangat pokok yaitu pola usahatani lahan basah dan lahan kering. dimana penggunaan faktor. 3. menyewakan lahan dan lain sebagainya. Soeharjo dan Patong (1973) menyatakan bahwa pendapatan adalah balas jasa dari kerjasama faktor.2. Pendapatan Usahatani Pemenuhan kebutuhan hidup rumahtangga usahatani dicukupi dari pendapatan usahatani. Keluarga usaha menghasilkan produksi. Secara umum dalam setiap rumahtangga usahatani pada hakekatnya terdapat dua kegiatan ekonomi yaitu kegiatan usaha dan kegiatan rumahtangga atau keluarga. Pendapatan usahatani tidak hanya berasal dari kegiatan produksi saja tetapi dapat juga diperoleh dari hasil menyewakan atau menjual unsur.faktor produksi lahan. Soeharjo dan Patong (1973) dalam Soekartawi (1986). dan (3) bentuk campuran yaitu usahatani yang memadukan beberapa cabang usaha secara bercampur.

d. Penerimaan total usahatani merupakan nilai semua yang habis terpakai atau dikeluarkan dalam produksi termasuk biaya yang diperhitungkan. Untuk mengukur keberhasilan usahatani biasanya dilakukan dengan melakukan analisis pendapatan usahatani. produk usahatani. Pendapatan tunai usahatani adalah produk usahatani dalam jangka waktu tertentu. Pengeluaran total usahatani merupakan selisih antara penerimaan kotor usahatani dan pengeluaran total usahatani.Berkaitan dengan ukuran pendapatan dan keuntungan. meskipun besar pendapatan tidak selalu mencerminkan efisiensi yang tinggi karena pendapatan yang besar mungkin juga diperoleh dari investasi yang jumlahnya besar pula. Secara harfiah pendapatan dapat didefenisikan sebagai sisa dari pengurangan nilai penerimaan yang diperoleh dengan biaya yang dikeluarkan. Penerimaan tunai usahatani merupakan nilai uang yang diterima dari penjualan b. baik yang dijual maupun tidak dijual. Pengeluaran tunai usahatani adalah jumlah uang yang dibayarkan untuk pembelian barang dan jasa bagi usahatani. . Pendapatan yang diharapkan tentu saja memiliki nilai positif dan semakin besar nilainya semakin baik. c. e. Dengan melakukan analisis pendapatan usahatani dapat diketahui gambaran keadaan aktual usahatani sehingga dapat melakukan evaluasi dengan perencanaan kegiatan usahatani pada masa yang akan datang. Soekartawi (1986) mengemukakan beberapa definisi : a.

pajak dan bunga pinjaman. Biaya dalam usahatani dapat dibedakan menjadi biaya tunai dan biaya yang diperhitungkan. Pendapatan usahatani terbagi atas pendapatan kotor usahatani dan pendapatan bersih usahatani. biaya ini dapat berupa faktor produksi yang digunakan petani tanpa mengeluarkan uang tunai seperti sewa lahan yang diperhitungkan atas lahan milik sendiri. pupuk. Sedangkan biaya yang diperhitungkan merupakan pengeluaran yang secara tidak tunai dikeluarkan petani. penggunaan tenaga kerja dalam keluarga. Biaya tetap adalah biaya yang sifatnya tidak dipengaruhi oleh jumlah produksi yang dihasilkan. Biaya tunai usahatani merupakan pengeluaran tunai yang dikeluarkan oleh petani. Biaya tetap dapat berupa biaya sewa lahan.faktor produksi dalam melakukan proses produksi usahatani. Pengeluaran usahatani secara umum meliputi biaya tetap (fixed cost) dan biaya variabel (variable cost). pestisida dan upah tenaga kerja. Sedangkan biaya atau pengeluaran usahatani adalah nilai penggunaan faktor. Pendapatan kotor usahatani merupakan selisih dari penerimaan usahatani .Untuk menganalisis pendapatan usahatani diperlukan informasi mengenai keadaan penerimaan dan pengeluaran selama jangka waktu yang ditetapkan. Penerimaan usahatani adalah nilai produksi yang diperoleh dalam jangka waktu tertentu dan merupakan hasil perkalian antara jumlah produksi total dengan harga satuan dari hasil produksi tersebut. Biaya variabel adalah biaya yang sifatnya dipengaruhi jumlah produksi yag dihasilkan. Pendapatan kotor usahatani mengukur pendapatan kerja petani tanpa memasukkan biaya yang diperhitungkan sebaga i komponen biaya. Biaya variabel dapat berupa biaya yang dikeluarkan unt uk benih. penggunaan benih dari hasil produksi dan penyusutan dari sarana produksi.

3. Analisis Imbangan Penerimaan dan Biaya (R/C Ratio Analysis) Menurut Soeharjo dan Patong (1973). Kriteria kelayakan usahatani dapat diukur dengan menggunakan analisis imbangan penerimaan dan biaya (R/C ratio analysis) yang didasarkan pada perhitungan secara finansial. Sedangkan pendapatan bersih usahatani mengukur pendapatan kerja petani dari seluruh biaya usahatani yang dikeluarkan. Suatu usahatani dikatakan layak apabila memiliki tingkat efisiensi penerimaan yang diperoleh atas setiap biaya yang dikeluarkan hingga mencapai perbandingan tertentu. Analisis ini menunjukkan besar penerimaan usahatani yang akan diperoleh petani untuk setiap rupiah biaya yang dikeluarkan untuk kegiatan usahatani. 3.dengan biaya tunai usahatani. Pendapatan bersih usahatani diperoleh dari selisih penerimaan usahatani dengan biaya total usahatani. Semakin besar nilai R/C maka akan semakin besar pula . pendapatan yang besar bukanlah sebagai petunjuk bahwa usahatani efisien.

penerimaan usahatani yang diperoleh untuk setiap rupiah biaya yang dikeluarkan atau usahatani dikatakan menguntungkan. Kegiatan usahatani dikategorikan layak jika memiliki nilai R/C ratio lebih besar dari satu, artinya setiap tambahan biaya yang dikeluarkan akan menghasilkan tambahan penerimaan yang lebih besar daripada tambahan biaya atau secara sederhana kegiatan usahatani menguntungkan. Sebaliknya kegiatan usahatani dikategorikan tidak layak jika memiliki nilai R/C ratio lebih kecil dari satu, yang artinya untuk setiap tambahan biaya yang dikeluarkan akan menghasilkan tambahan penerimaan yang lebih kecil daripada tambahan biaya atau kegiatan usahatani merugikan. Sedangkan untuk kegiatan usahatani yang

memiliki nilai R/C ratio sama dengan satu berarti kegiatan usahatani berada pada keuntungan normal. 3.4. Teori Produksi Setiap proses produksi melibatkan suatu hubungan yang erat antara faktorfaktor produksi yang digunakan dengan produk yang dihasilkan . Faktor- faktor produksi seperti lahan, pupuk, tenaga kerja, modal dan sebagainya sangat mempengaruhi terhadap besar kecilnya produksi yang diperoleh. Keputusan penggunaan sumber daya atau input, baik dalam kuantitas maupun kombinasi yang dibutuhkan dalam suatu tingkat produksi ditentukan oleh petani (produsen).
Y (Produksi)

TP

I

II

III

Keterangan

: TP MP AP

= Total Produksi = Marginal Product (Produk Marjinal) = Average Product (Produk Rata-rata)

Fungsi produksi secara sederhana dapat digambarkan sebagai hubungan fisik atau hubungan teknis antara jumlah faktor produksi yang digunakan dengan jumlah produk yang dihasilkan per satuan waktu tanpa memperhatikan faktor harga.

Seperti ditunjukkan dalam Gambar 1, fungsi produksi didefinisikan sebagai hubungan antara input dengan output yang menunjukkan suatu tingkat dimana sumberdaya dapat diubah sehingga menghasilkan produk tertentu (Doll dan Orazem, 1984). Dengan kata lain fungsi produksi menggambarkan kombinasi penggunaan beberapa faktor produksi untuk menghasilkan suatu tingkat produksi tertentu. Secara matematis, fungsi produksi dapat dinyatakan sebagai berikut (Doll dan Orazem, 1984) : Y = f(X1 , X2 , X3 ,…,Xn ) .......................................................... (3.1) Keterangan : Y X1 ,X2 ,..,Xn f : Jumlah produksi yang dihasilkan dalam proses produksi : Faktor- faktor produksi yang digunakan dalam proses produksi : Bentuk hubungan yang mentransformasikan faktor- faktor produksi ke-n dalam hasil produksi

Menurut Doll dan Orazem (1984), suatu fungsi produksi dapat dibagi ke dalam tiga daerah produksi. dapat Daerah

produksi

tersebut

dibedakan dari

berdasarkan

elastisitas

produksi

faktor-faktor produksi. Pada Gambar 1,

Syarat keharusan untuk tercapainya keuntungan maksimum adalah tingkat produksi yang terjadi harus berada pada daerah II dalam kurva fungsi produksi. dan lebih kecil dari nol (daerah III).ketiga daerah tersebut adalah daerah dengan elastisitas produksi yang lebih besar dari satu (daerah I). Keuntungan maksimum belum tercapai. Daerah produksi I yang terletak antara 0 dan X2. karena produksi masih dapat diperbesar dengan pemakaian faktor produksi yang lebih banyak. elastisitas produksi bernilai antara nol dan satu. mempunyai nilai elastisitas produksi lebih besar dari satu. Pada daerah ini yang terletak antara X2 dan X3. antara nol dan satu (daerah II). Pada tingkat tertentu dari penggunaan faktor-faktor produksi di daerah ini akan memberikan keuntungan maksimum. yang berarti bahwa penambahan faktor produksi sebesar satu persen akan menyebabkan penambahan produksi yang selalu lebih besar dari satu persen. Daerah ini dicirikan oleh penambahan hasil produksi yang peningkatannya makin berkurang (decreasing return to scale). artinya setiap penambahan faktor produksi sebesar satu persen akan menyebabkan penambahan produksi paling tinggi satu persen dan paling rendah nol.faktor produksi sudah . Oleh karena itu daerah I disebut sebagai daerah irrasional (irrational region atau irrational stage of production). Hal ini berarti bahwa penggunaan faktor.

1984).….3.masing faktor produksi sama dengan nol (Doll dan Orazem.n Y = hasil produksi Px i = harga pembelian faktor produksi ke –i Xi = jumlah faktor produksi ke.X i + TFC  ………………………………………. Efisiensi Ekonomi Usahatani akan mencapai efisiensi ekonomi jika tercapai keuntungan maksimum.faktor produksi akan menyebabkan penurunan jumlah produksi yang dihasilkan.faktor produksi yang sudah tidak efisien. artinya setiap penambahan faktor.5.2)  i =1  Keterangan : π = pendapatan usahatani Py = harga per unit produksi i = 1. Daerah produksi ini mencerminkan pemakaian faktor. (3.. Fungsi keuntungan yang diperoleh usahatani dapat dinyatakan sebagai berikut : n  π = Py . sehingga daerah ini disebut juga sebagai daerah irrasional. Syarat untuk mencapai keuntungan maksimum adalah turunan pertama dari fungsi keuntungan terhadap masing. Daerah Produksi III mempunyai elastisitas produksi lebih kecil dari nol.2. Oleh karena itu daerah II disebut sebagai daerah rasional (rational region atau rational stage of production)..Y − ∑ Px i .optimal. maka turunan pertama dari fungsi keuntungan adalah : ∂π ∂Y = Py − Px i = 0 ∂X i ∂X i = ∂Y − Px i = 0 ∂X i .i yang digunakan dalam proses produksi TFC = Total Fixed Cost (Biaya Tetap Total) Dengan demikian untuk memenuhi syarat tercapainya keuntungan maksimum. 3.

Secara matematis keuntungan maksimum dari penggunaan faktor produksi ke-i dinyatakan sebagai berikut : Py. Pada saat inilah keuntungan maksimal tercapai. Px i .3) ∂X i Dari persamaan tersebut dapat diketahui bahwa level penggunaan faktor produksi ke-i yang efisien merupakan fungsi dari harga output.6) . harga faktor produksi ke.MP x i = Nilai Produk Marjinal (NPM) faktor produksi ke-i P xi = Biaya Korbanan Marjinal (BKM) faktor produksi ke-i (3. Pxi keterangan : Py.MP x i = P x i .i (Py.MPxi = 1 ……………………………………………………….5) Sesuai dengan prinsip keseimbangan marjinal (equi-marginal principle).Py ∂Y = Px i ………………………………………………………….. bahwa untuk mencapai keuntungan maksimal. Penambahan penggunaan faktor produksi berhenti ketika Py.MP x i ) harus lebih besar daripada tambahan biaya yang dikeluarkan untuk pembelian faktor produksi ke.i tersebut (P x i ). tambahan nilai produksi akibat tambahan penggunaan faktor produksi ke.4) Dengan mengetahui ∂Y ∂X i sebagai Marginal Product (MPxi) faktor produksi ke-i.i dan jumlah output yang dihasilkan. atau secara matematis dapat dituliskan : Xi = f (Py .MPx i = Pxi ……………………………………………………… (3. maka persamaan diatas menjadi : Py. (3. Y) ……………………………………………………… (3..

Sebaliknya. = = 1 ……………….Artinya keuntungan maksimum tercapai pada saat tambahan nilai produksi akibat tambahan penggunaan faktor produksi ke-i harus sama dengan biaya korbanan marjinal atas faktor produksi ke-i tersebut atau rasio keduanya sama dengan satu. jika Py.. maka penggunaan ∂X i faktor produksi harus ditambah agar tercapai keuntungan maksimum. Jadi secara umum keuntungan maksimum dari penggunaan n faktor produksi akan diperoleh pada saat : PyMPx1 PyMPx2 PyMPx3 PyMPxn = = = .. Ketika Py. maka hanya ∂Y yang mengalami perubahan . Px1 Px2 Px3 Pxn (3.MPxi < Pxi maka penggunaan faktor produksi harus dikurangi.. .7) Dengan asumsi Py dan P x i merupakan nilai yang konstan.MP x i > P x i .

METODE 4. Lokasi dan Waktu Penelitian PENELITIAN Pengumpulan data dilakukan dari bulan Mei hingga Juni 2005 sekitar satu bulan setelah musim panen padi ladang di lokasi penelitian. Kabupaten Karawang.IV.1. Pemilihan lokasi dilakukan secara purposive yaitu di Desa Wanajaya. Kecamatan Teluk Jambe. Desa Wanajaya Alasan memilih desa tempat sebagai pengambilan data adalah karena desa tersebut memiliki luas lahan padi ladang yang paling besar diantara desa-desa lain di Kecamatan Teluk Jambe. .

Pemilihan Kecamatan Teluk Jambe didasarkan pada pertimbangan bahwa kecamatan penghasil ini padi merupakan ladang di salah satu Kabupaten Karawang. petani penggarap dan petani pemilik penggarap.2. Data primer yang dikumpulkan dengan melakukan pengamatan dan wawancara langsung dengan petani responden dengan mengajukan pertanyaan yang dibuat dalam bentuk kuesioner yang telah dipersiapkan sebelumnya. selain itu juga untuk mengetahui tingkat efisiensi penggunaan faktor-faktor produksi agar usahatani berada pada skala optimal. Pemilihan petani contoh . Penelitian ini didesain untuk mengetahui tingkat pendapatan usahatani padi di lahan kering. 4. Jumlah petani contoh sebanyak 40 orang yang merupakan petani pemilik. Metode Pengumpulan Data dan Penentuan Sampel Data yang digunakan dalam penelitian ini meliputi data primer dan sekunder .

Data sekunder diperoleh dengan cara penelusuran kepustakaan buku. Analisis kualitatif digunakan untuk mengetahui gambaran umum usahatani padi dan keragaan usahatani padi lahan kering di Desa Wanajaya. Sedangkan analisis kuantitatif dilakukan untuk mengetahui faktor.3.faktor yang mempengaruhi produksi dan tingkat efisiensi usahatani padi ladang dengan menggunakan analisis pendapatan usahatani.dilakukan secara acak sederhana (simple random) dari suatu daftar petani yang telah dipersiapkan sebelumnya. Pusat Penelitian dan Pengembangan Sosial Ekonomi Pertanian. dilaksanakan pula wawancara tidak terstruktur dengan sejumlah perangkat desa. Kabupaten Karawang. anggota Badan Perwakilan Desa (BPD) serta kelembagaan lain di desa.1. Selain itu data sekunder juga diperoleh dari Biro Pusat Statistik. Data yang telah terkumpul kemudian mengalami tahapan pengeditan. Metode Analisis Data Analisis data dilakukan secara kualitatif dan kuantitatif. Analisis Pendapatan Usahatani . laporan penelitian. Kecamatan Teluk Jambe. analisis fungsi produksi dan analisis efisiensi.3. 4. Pengolahan data dilakukan dengan menggunakan program Microsoft Excel dan Minitab 13 for Windows. majalah. artikel. dan Pemerintah Daerah di lokasi penelitian. pengolahan dan penyusunan dalam bentuk tabulasi untuk selanjutnya dianalisis. Di samping wawancara terstruktur. 4. karya ilmiah yang berkaitan dengan masalah penelitian dan melalui internet. Balai Penelitian Tanaman Pangan. Departemen Pertanian.

4.(BT + BD) ……………………………………………. Keterangan : GFI = Gross Farm Income (Pendapatan kotor usahatani) NFI = Net Farm Income (Pendapatan bersih usahatani) NP = Nilai Produksi BT = Biaya Tunai Usahatani BD = Biaya yang Diperhitungkan (4.3) dimana Pendapatan Bersih Usahatani (NFI) merupakan hasil pengurangan biaya diperhitungkan dari Pendapatan Kotor Usahatani (GFI).. Analisis imbangan penerimaan dan biaya dilakukan berdasarkan jenis biaya yang dikeluarkan. Kemudian dilakukan penghitungan pendapatan usahatani atas biaya tunai atau pendapatan kotor usahatani dan penghitungan pendapatan usahatani atas biaya total atau pendapatan bersih.1) (4.. yaitu dibedakan menjadi R/C atas biaya tunai dan R/C atas biaya total.BT ……………………………………………………. Penghitungan pendapatan usahatani dirumuskan secara matematis seperti pada persamaan berikut : GFI = NP . NFI = NP . .2.3. (4. Analisis Imbangan Penerimaan dan Biaya (R/C Ratio Analysis) Analisis imbangan penerimaan dan biaya (R/C ratio analysis) digunakan sebagai alat untuk mengukur kriteria kelayakan dari kegiatan usahatani yang dilakukan.2) atau bisa juga ditulis secara singkat sebagai berikut : NFI = GFI – BD ………………………………………………….Untuk menganalisis pendapatan usahatani dilakukan pencatatan terhadap seluruh penerimaan dan pengeluaran usahatani dalam satu musim tanam. Data pengeluaran biaya dikelompokkan menjadi dua bagian. yaitu biaya tunai dan biaya yang diperhitungkan. Dalam analisis ini data penerimaan usahatani dan pengeluaran usahatani dibandingkan ke dalam satu rasio.

.Secara matematis R/C ratio dapat dirumuskan dalam persamaan sebagai berikut : R/C ratio = Keterangan : TR = Total Revenue (Total Penerimaan) TC = Total Cost (Total Biaya) TR TC ………………………………………………………… (4. X n e u ………………….7182) = unsur sisa (galat) Penggunaan fungsi ini didasarkan pada pertimbangan-pertimbangan sebagai berikut : 1...5) Keterangan : Y b0 bi Xi e u = produksi = intersep = koefisien regresi penduga variable ke-i = jenis faktor produksi ke-i. Fungsi produksi yang dipakai untuk menjelaskan parameter Y dan X adalah analisis fungsi Cobb-Douglas.. b1 b2 b3 b4 bn (4..faktor produksi yang mempengaruhinya...2.3. Penggunaan fungsi Cobb-Douglas adalah dalam keadaan The Law of Diminishing Return untuk masing.. . Fungsi produksi Cobb-Douglas dapat dirumuskan sebagai berikut : Y = bo X 1 X 2 X 3 X 4 .3….. Pendugaan Fungsi Produksi Analisis fungsi produksi adalah analisis yang menjelaskan hubungan antara produksi dengan faktor. dimana i =1...3.masing input sehingga informasi yang diperoleh dapat digunakan untuk melakukan upaya agar setiap penambahan input dapat menghasilkan tambahan output yang lebih besar.....4) 4. n = bilangan natural (e = 2.

Dan bila jumlah bi > 1. maka proses produksi terjadi pada skala yang menaik. Untuk menganalisis hubungan antara faktor. 4. Perhitungan fungsi produksi Cobb-Douglas sederhana karena dapat ditransfer dengan mudah ke dalam bentuk linier.2.faktor produksi dan produksi digunakan analisis regresi dengan metode Ordinary Least Square (OLS). 5. Menurut Gujarati (1978). metode ini dapat dipakai jika asumsi-asumsi sebagai berikut : 1. 4. Tidak ada korelasi berangkai/autokorelasi antara nilai. 2. Jumlah elastisitas dari masing. Homoskedastisitas atau ragam merupakan bilangan tetap. . maka proses produksi terjadi pada skala yang konstan.nilai sisa pada setiap pengamatan. Bila jumlah bi = 1. Bila jumlah bi < 1. maka proses produksi berada pada skala yang menurun.masing faktor produksi yang diduga merupakan pendugaan skala usaha (return to scale). 3. Bentuk fungsi Cobb-Douglas dapat mengurangi kemungkinan terjadinya masalah heterokedastisitas. 3. 6. Parameter penduga (bi ) dapat langsung menunjukkan elastisitas produksi dari input yang bersangkutan (Xi). Fungsi produksi Cobb-Douglas merupakan fungsi produksi yang sering digunakan dalam penelitian optimalisasi produksi usahatani. Nilai rata-rata dari unsur sisa sama dengan nol. Variasi unsur sisa menyebar normal.

Tidak ada hubungan linier sempurna antara peubah bebas. moluskisida atau herbisida untuk memudahkan pencacatan satuan pestisida tersebut yang berbeda. 2.5. secara teori bila jumlah benih yang digunakan bertambah sebesar satu persen maka akan meningkatkan produksi padi sebesar nilai elastisitasnya (ceteris paribus). 3. Pestisida Penggunaan pestisida tidak dibedakan berdasarkan jenisnya seperti insektisida. Benih Penggunaan benih dalam satu musim tanam diukur dalam satuan kilogram (kg). Penggunaan pestisida dalam satu musim tanam diukur dalam satuan liter (l). rodentisida. Pestisida diduga berpengaruh positif terhadap produksi padi. 6. Benih diduga berpengaruh positif terhadap produksi padi. Pupuk Penggunaan pupuk dalam satu musim tanam diukur dalam satuan kilogram (kg). Tidak ada korelasi diri (multikolinearitas). Pupuk diduga berpengaruh positif terhadap produksi padi. Variabel-variabel dugaan yang digunakan dalam menganalisis fungsi produksi dan penggunaan faktor-faktor produksi usahatani padi adalah sebagai berikut : 1. secara teori bila jumlah pestisida yang digunakan . secara teori bila jumlah pupuk yang digunakan meningkat sebesar satu pesen maka akan meningkatkan produksi padi sebesar nilai elastisitasnya (ceteris paribus).

Identifikasi variabel bebas dan variabel terikat Identifikasi variabel dilakukan dengan mendaftar faktor. Dalam analisis ini dilakukan analisis fungsi produksi dan analisis regresi untuk mengetahui pengaruh faktor-faktor produksi terhadap produksi padi di lahan kering.langkah dalam menganalisis fungsi produksi adalah sebagai berikut : 1. Tenaga kerja dalam keluarga diduga berpengaruh positif terhadap produksi padi. secara teori bila jumlah penggunaan tenaga kerja luar keluarga ditingkatkan sebesar satu persen maka akan meningkatkan produksi padi sebesar elastisitasnya (ceteris paribus).faktor . Tenaga Kerja Dalam Keluarga Penggunaan tenaga kerja dalam keluarga diukur dalam satuan hari orang kerja (HOK). Tenaga kerja luar keluarga diduga berpengaruh positif terhadap produksi padi. Analisis fungsi produksi digunakan untuk melihat tingkat penggunaan faktor.faktor produksi yang digunakan dalam proses produksi padi di lahan kering.meningkat sebesar satu persen maka akan meningkatan produksi padi sebesar nilai elastisitasnya (ceteris paribus). Adapun langkah. Faktor. 4.faktor produksi optimal. secara teori bila jumlah penggunaan tenaga kerja dalam keluarga ditingkatkan sebesar satu persen maka akan meningkatkan produksi padi sebesar elastisitasnya (ceteris paribus). 5. Tenaga Kerja Luar Keluarga Penggunaan tenaga kerja luar keluarga diukur dalam satuan hari orang kerja (HOK).

b 4 . juga dapat diketahui nilai R 2 . dan tenaga kerja luar keluarga. yaitu : Y = b0 X 1 X 2 X 3 X 4 X 5b5 b1 b2 b3 b4 Model fungsi produksi ditransformasikan ke dalam bentuk linier logamatrik untuk menduga fungsi produksi.produksi tersebut adalah benih. LnY = ln b0 + b1 ln X 1 + b2 ln X 2 + b3 ln X 3 + b4 ln X 4 + b5 ln X 5 + u …….6) Keterangan : Y = Hasil produksi padi lahan kering (Kilogram) X 1 = Benih (Kilogram) X 2 = Pupuk (Kilogram) X 3 = Pestisida (Liter) X 4 = Tenaga Kerja Dalam Keluarga (HOK) X 5 = Tenaga Kerja Luar Keluarga (HOK) b 0 = Variabel intersep u = Unsur galat b1 . b 2 . Dari analisis dengan OLS (Ordinary Least Square) ini diperoleh nilai P (P-value) untuk uji t dan uji F. b 7 = koefisien regresi masing-masing variabel 3. Analisis regresi Analisis regresi bertujuan untuk mengetahui hubungan antara variabel terikat dengan variabel bebas. Apabila P-value untuk uji t lebih kecil daripada nilai α yang . b 3 . tenaga kerja dalam keluarga. Faktor-faktor produksi ini merupakan variabel bebas yang akan diuji pengaruhnya terhadap variabel terikat yaitu hasil produksi. P-value untuk uji t digunakan untuk mengetahui secara statistik apakah masingmasing variabel bebas ( X i ) secara terpisah berpengaruh nyata terhadap variabel terikat (Y). b 5 . pupuk. 2. (4. Pendugaan fungsi produksi Dalam analisis fungsi produksi digunakan pendekatan Cobb-Douglas. pestisida. b 6 .

. Sedangkan R 2 merupakan koefisien determinasi yang menunjukkan keragaman model produksi dilapangan yang dapat diterangkan oleh model terpilih.2. 1984).ditentukan (selang kepercayaan tertentu) maka variabel bebas dugaan berpengaruh nyata terhadap variabel terikat.4. Jika P-value untuk uji F lebih kecil daripada nilai α yang ditentukan (selang kepercayaan tertentu) maka variabel bebas dugaan berpengaruh nyata terhadap variabel terikat.3.Y − ∑ Pxi .3.X i + TFC  ……………………………………. Syarat untuk mencapai keuntungan maksimum adalah turunan pertama dari fungsi keuntungan terhadap masing.. tetapi sebaliknya jika P-value untuk uji F lebih besar daripada nilai α yang ditentukan maka variabel bebas dugaan tidak berpengaruh nyata terhadap variabel terikat. P-value untuk uji F digunakan untuk mengetahui kelayakan model dari parameter dan fungsi produksi atau untuk mengetahui apakah variabel bebas ( X i ) secara bersamaan berpengaruh nyata terhadap variabel terikat...7) . 4.  i=1  Keterangan : π = pendapatan usahatani Py = harga per unit produksi Y = hasil produksi i = 1. Fungsi keuntungan yang diperoleh usahatani dapat dinyatakan sebagai berikut : n  π = Py. Analisis Efisiensi Ekonomi Usahatani akan mencapai efisiensi ekonomi jika tercapai keuntungan maksimum.….n (4.. tetapi sebaliknya jika P-value untuk uji t lebih besar daripada nilai α yang ditentukan maka variabel bebas dugaan berpengaruh nyata terhadap variabel terikat.masing faktor produksi sama dengan nol (Doll dan Orazem.

tambahan nilai produksi akibat tambahan penggunaan faktor produksi ke. Penambahan penggunaan faktor produksi berhenti ketika VMP xi =MFC xi .9) ∂Y sebagai Marginal Product (MP) faktor produksi ∂X i ke-i. Y ) ……………………………………………………… Dengan mengetahui (4.Pxi = harga pembelian faktor produksi ke-i X i = jumlah faktor produksi ke-i yang digunakan dalam proses produksi TFC = Total Fixed Cost (Biaya Tetap Total) Dengan demikian untuk memenuhi syarat tercapainya keuntungan maksimum. (4. maka turunan pertama dari fungsi keuntungan adalah : ∂π ∂Y = Py − Pxi = 0 ∂X i ∂X i = ∂Y − Pxi = 0 ∂X i Py ∂Y = Pxi …………………………………………………….8) ∂X i Dari persamaan tersebut dapat diketahui bahwa level penggunaan faktor produksi ke-i yang efisien merupakan fungsi dari harga output. harga faktor produksi ke-i dan jumlah output yang dihasilkan.10) Sesuai dengan prinsip keseimbangan marjinal (equi-marginal principle). maka persamaan diatas menjadi : Py.i (PyMP xi ) harus lebih besar daripada tambahan biaya yang dikeluarkan untuk pembelian faktor produksi ke-i tersebut (P xi ).MPxi = Pxi ………………………………………………………… (4. Pxi . bahwa untuk mencapai keuntungan maksimal.. atau secara matematis dapat dituliskan : X i = f ( Py. .

Px1 Px2 Px3 Pxn (4.. jika PyMPx i < Px i maka penggunaan faktor produksi harus dikurangi. maka agar diperoleh ∂X i tingkat keuntungan maksimum penggunaan faktor produksi harus ditingkatkan.. Petani padi di lahan kering adalah petani yang melaksanakan budidaya pada areal tanam berupa ladang (lahan kering/upland).Pada saat inilah keuntungan maksimal tercapai. 4. Definisi Operasional Untuk menghindari ketidaksamaan pandangan dalam pengertian.12) Dengan asumsi Py dan P xi merupakan nilai yang konstan. maka hanya ∂Y yang mengalami perubahan. Secara matematis keuntungan maksimum dari penggunaan faktor produksi ke-i dinyatakan sebagai berikut : PyMPx i = 1 …………………………………………………………..11) Artinya keuntungan maksimum tercapai pada saat tambahan nilai produksi akibat tambahan penggunaan faktor produksi ke-i harus sama dengan biaya korbanan marjinal atas faktor produksi ke-i tersebut atau rasio keduanya sama dengan satu. Jadi secara umum keuntungan maksimum dari penggunaan n faktor produksi akan diperoleh pada saat : PyMPx1 PyMPx2 PyMPx3 PyMPxn = = = .4.. = = 1 …………………. Px i keterangan : PyMP xi = Nilai Produk Marjinal (NPM) faktor produksi ke-i P xi = Biaya Korbanan Marjinal (BKM) faktor produksi ke-i (4. satuannya orang. . Sebaliknya. maka terdapat beberapa hal yang perlu diberi batasan sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai dari penelitian. Ketika PyMP xi > P xi . Batasan-batasan tersebut meliputi : 1.

Jumlah produksi adalah jumlah panen padi ladang yang dihasilkan dari luas lahan. Produktivitas adalah hasil bagi antara jumlah panen dengan luas lahan dengan satuannya Ton per Hektar. pestisida. Untuk petani penyakap maka komponen biaya tunainya ditambah dengan biaya sakap. satuannya kilogram. dan lain. Tenaga kerja adalah tenaga kerja yang digunakan dalam proses produksi. satuannya Hektar (ha). 10. benih. Penyakap adalah petani yang menggarap lahan milik orang lain denga n pembayaran sewanya berdasarkan bagi hasil. Pemilik penggarap adalah petani yang menggarap lahan miliknya sendiri. 8. Seluruh tenaga kerja disetarakan dengan ukuran Hari Orang Kerja (HOK). yaitu tenaga kerja dalam keluarga (TKDK) dan tenaga kerja luar keluarga (TKLK). Tenaga kerja ini dibedakan menjadi dua.lain. sewa traktor/ternak. Satuannya adalah Rupiah. Biaya tunai adalah besarnya nilai uang tunai yang dikeluarkan petani untuk membeli pupuk. upah tenaga kerja luar keluarga. Luas lahan garapan areal usahatani padi ladang merupakan lahan yang digunakan untuk menanam padi ladang. . 3. Satuannya orang. 6. 4. 5. Biaya usahatani total adalah merupakan penjumlahan antara biaya tunai dan biaya yang diperhitungkan .2. Satuannya orang. Satuannya Rupiah. 7. Biaya yang diperhitungkan adalah pengeluaran untuk input milik sendiri meliputi tenaga kerja dalam keluarga dan penyusutan. 9. Satuannya adalah Rupiah.

Pendapatan kotor usahatani adalah selisih antara penerimaan usahatani dan biaya tunai usahatani. Penerimaan (nilai produksi) adalah nilai yang diperoleh dari hasil kali antara jumlah produksi dengan dengan harga jualnya. Satuannya adalah Rupiah. 13. . Satuannya Rupiah. Pendapatan bersih usahatani adalah selisih antara penerimaan usahatani dengan biaya usahatani total (biaya tunai dan diperhitungkan).11. Satuannya Rupiah. 12.

Produktivitas Padi Ladang • Pupuk • Benih • Pestisida • Tenaga Kerja dalam Rumah Tangga Rumah Tangga • Tenaga Kerja Luar Analisis Fungsi Produksi Cobb-Douglas Elastisitas Faktor-faktor Produksi Analisis Pendapatan Analisis R/C Analisis Efisiensi Ekonomis Faktor-faktor Produksi Kesimpulan Gambar 2. Bagan Prosedur Analisis Pendapatan dan Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Produksi Cabang Usahatani Padi Ladang .

10 50. Gambaran secara rinci mengenai luas Desa Wanajaya berdasarkan penggunaan lahan ditunjukkan dalam Tabel 5.69 0.50 38.23 918. Batas-batas administrasi Desa Wanajaya adalah Desa Wanakerta di sebelah utara.19 %) lahan terlantar.07 hektar (13.1.02 3.75 1.61 13. GAMBARAN UMUM DAERAH PENELITIAN 5.02 0.19 100.00 0.809 %) lahan yang telah digunakan dan sekitar 918 hektar merupakan (86. Sedangkan jarak ke ibukota kabupaten sekitar 13 kilometer dengan waktu tempuh kurang lebih selama satu setengah jam. Jarak desa Wanajaya dengan ibukota kecamatan sekitar 11 kilometer dengan waktu tempuh selama kurang lebih satu jam. Gambaran Umum Lokasi Penelitian Desa Wanajaya termasuk dalam wilayah Kecamatan Teluk Jambe.00 .065.30 2.17 0.17 1.07 hektar yang terdiri atas 147. Penggunaan Lahan di Desa Wanajaya Tahun 2004 Penggunaan Lahan Sawah irigasi teknis Sawah irigasi 1/2 teknis Sawah tadah hujan Tegalan/Ladang Pemukiman umum Pasar Tempat ibadah Kuburan/makam Tempat rekreasi dan olahraga Perkantoran pemerintah Sekolah/lainnya Lahan Terlantar Total Sumber : Profil Desa Wanajaya.02 0.92 0. Luas (Ha) 18. Tabel 5.78 0. Secara keseluruhan luas wilayah Desa Wanajaya adalah sekitar 1. dan Kehutanan di sebelah timur.20 0.74 1.07 0.80 21.58 4. 2004.00 1.065.07 Persentase 1. Desa Taman Mekar di sebelah selatan.12 86.V. Kabupaten Karawang. Kali Cibeet Bekasi di sebelah barat.09 0. Jawa Barat.

Topografi atau Bentang Lahan Desa Wanajaya Tahun 2004 Jenis daratan Dataran Perbukitan/pegunungan Total Sumber : Profil Desa Wanajaya. Curah hujan rata-rata sekitar 1454. Desa Wanajaya terdiri atas daerah dataran seluas sekitar 187.44 100. Tabel 6. bulan lembab rata-rata dua bulan. Berdasarkan ketiga indikator kesuburan tanah tersebut. Jumlah bulan basah rata-rata tujuh bulan. disimpulkan bahwa tingkat kesuburan tanah di Desa Wanajaya termasuk dalam golongan rendah dan memiliki ciri-ciri bertekstur lempung. 2004.5 mm per tahun berdasarkan data tahun 2002 dan termasuk dalam kelas iklim B atau daerah beriklim basah dengan vegetasi hujan tropis berdasarkan standar Schmidt dan Ferguson (BAPPEDA Kabupaten Karawang. Tanah di Desa Wanajaya memiliki pH sekitar empat sampai lima. dan jumlah bulan kering rata-rata tiga bulan dengan suhu rata-rata sekitar 27°C dan intensitas penyinaran matahari sekitar 66 persen. denga n kapasitas tukar kation (KTK) dan kejenuhan basa (KB) yang tergolong sedang. 2003). Desa Wanajaya berada pada ketinggian sekitar 700 meter di atas permukaan laut dengan kemiringan lahan 30 sampai 40 persen yang merupakan daerah perbukitan. dan solum dalam.00 Dari kondisi geografis. Luas (Ha) 187.Secara umum topografi Desa Wanajaya sebagian besar merupakan daerah perbukitan.laki .07 hektar dan daerah perbukitan sekitar 878 hektar seperti ditunjukkan dalam Tabel 6 berikut.00 1065.07 878. Jumlah penduduk desa Wanajaya hingga Januari 2005 tercatat sebanyak 4024 jiwa (1237 kepala keluarga) dan komposisi penduduk tergolong merata antara laki. struktur gumpal atau keras.laki dan perempuan dimana penduduk dengan jenis kelamin laki.56 82.07 Persentase 17.

52 %).024 Sumber : Monogafi Desa Wanajaya.61 19.00 Dari segi mata pencahariannya. Dalam Tabel 7 dapat dilihat bahwa dari seluruh penduduk di Desa Wanajaya terdapat 3114 orang (77.39 %) angkatan kerja sehingga dari segi jumlah angkatan kerja Desa Wanajaya tergolo ng cukup potensial.66 16. 2004. penduduk Desa Wanajaya cukup beragam tetapi sebagian besar penduduk desa atau sebanyak 2343 orang (58.48 %).26 19.23 %) masih bekerja di bidang pertanian baik sebagai petani ataupun buruh tani.65 100. (1997) dalam BAPPEDA Kabupaten Karawang (2003).64 %) dan sebagian kecil penduduk atau sebanyak 125 orang (3.11 %) bekerja sebagai peternak.34 6.berjumlah 2033 orang (50. Tabel 7. Berdasarkan Sensus Penduduk tahun 1971 Tarigan JJ.58 10.59 %) sementara penduduk yang bermata pencaharian sebagai petani (pemilik) sebanyak 1595 orang (39. batas usia 10 tahun ke atas digunakan untuk menentukan apakah seseorang termasuk dalam angkatan kerja atau bukan. Kelompok penduduk lain yang proporsinya tergolong cukup besar adalah kelompok penduduk yang bermata pencaharian sebagai buruh swasta yaitu . Persentase 22. Penduduk yang bermata pencaharian sebagai buruh tani sebanyak 748 orang (18. Karakteristik Penduduk Desa Wanajaya Berdasarkan Kelompok Umur Tahun 2005 Kelompok Umur Jumlah (Tahun) (orang) 0-9 910 10 .91 4. dan penduduk jenis kelamin perempuan berjumlah 1991 orang (49.19 775 20 – 29 791 30 – 39 667 40 – 49 416 50 – 59 278 = 59 187 Total 4.

pengrajin. Gambaran penduduk Desa Wanajaya berdasarkan mata pencaharian disajikan dalam Tabel 8. Penduduk lainnya bekerja di berbagai bidang diantaranya PNS.35 3. dan kelompok yang tergolo ng berstatus sebagai pengangguran sebanyak 405 orang (10.02 0. pedagang.64 18.07 0. TNI/POLRI. dokter. Karakteristik Penduduk Desa Wanajaya Berdasarkan Mata Pencaharian Tahun 2005 Jenis Mata Pencaharian Jumlah (orang) Petani 1595 Buruh Tani 748 Buruh/swasta 879 PNS 75 Pengrajin 8 Pedagang 175 Peternak 125 Montir 3 Dokter 1 Bidan Desa 2 Mantri Kesehatan 2 Polisi 6 Pengangguran 405 Total 4024 Sumber Monografi Desa Wanajaya.06 100. Gambaran secara rinci tentang penduduk Desa Wanajaya berdasarkan tingkat pendidikan ditunjukkan dalam Tabel 9. montir. Tabel 8.06 %). mantri kesehatan.00 Dari segi pendidikan Desa Wanajaya tergolong rendah karena sebagia n besar penduduk atau sekitar 80 persen penduduk hanya mengikuti pendidikan formal hingga tamat sekolah dasar. Bidan desa. . 2004.84 1.05 0. Sisanya sekitar 20 persen dari penduduk menyelesaikan pendidikan hingga tamat sekolah lanjutan pertama atau sederajat dan memenuhi program pendidikan wajib 9 tahun yang digerakkan pemerintah.59 21.05 0.15 10.sebanyak 879 orang (21. Persentase 39.86 0.11 0.20 4.84 %) karena lokasi Desa Wanajaya masih dekat dengan kawasan industri Kabupaten Karawang.

50 15. Karakteristik petani responden selengkapnya sebagai berikut : 1. sedangkan jika kurang atau lebih dari selang umur tersebut akan tergolong sebagai tenaga kerja kurang produktif tetapi masih termasuk dalam usia kerja.07 0. status usahatani padi ladang.48 0. Umur Petani Tenaga kerja produktif umumnya berada pada selang 25 hingga 40 tahun. pengalaman berusahatani padi gogo atau padi ladang.36 11.00 .50 32.50 37. keputusan bertani padi ladang.00 2. Karakteristik petani responden berdasarkan umur ditunjukkan pada Tabel 10. Karakteristik Petani Responden Berdasarkan Umur Kelompok Umur (tahun) 20-30 31-45 46-50 51-60 > 60 Total Jumlah Responden (orang) 5 13 6 1 15 40 Persentase 12.05 0.25 100. Jumlah (orang) 502 30 905 1785 455 332 2 3 5 5 4024 Persentase 12. status dan luas lahan garapan.49 44. jumlah anggota keluarga.50 100.75 22. Karakteristik Petani Responden Karakteristik petani responden akan diuraikan berdasarkan umur petani. Karakteristik Penduduk Desa Wanajaya Berdasarkan Tingkat Pendidikan Tahun 2004 Tingkat Pendidikan Belum Sekolah Usia 7-45 thn tidak pernah sekolah Pernah sekolah SD tetapi tidak tamat Tamat SD/sederajat SLTP/sederajat SLTA/sederajat D-1 D-2 D-3 S-1 Total Sumber : Monografi desa Wanajaya. 2004.31 8.2.24 5. Tabel 10.Tabel 9.25 0. tingkat pendidikan. dan kondisi tempat tinggal. pekerjaan sampingan.24 0.

maka proses adopsi teknologi akan semakin cepat.00 . Petani responden lainnya yang juga jumlahnya tergolong sedikit berasal dari kelompok umur 20 hingga 30 tahun yang berjumlah 5 orang (12.5 persen dari keseluruhan responden. semakin tinggi tingkat pendidikan.50 2. Pada umumnya.00 100. Adapun tujuan teknologi dan inovasi adalah untuk memperbaiki usahatani baik dari segi produksi atau produktivitas. sebagian besar responden terdiri atas petani dari kelompok umur di atas 60 tahun atau yang sudah berusia lanjut yaitu sebanyak 15 orang atau 37. petani responden lebih banyak terkonsentrasi pada kelompok tidak tamat SD yaitu sebanyak 18 orang (45 %) dan kelompok yang tidak pernah mengikuti sekolah formal sama sekali yaitu sebanyak 12 orang (30 %). Tingkat Pendidikan Tingkat pendidikan akan berpengaruh terhadap tingkat adopsi teknologi dan inovasi yang sedang berkembang. Tabel 11. Karakteristik petani responden berdasarkan tingkat pendidikan selengkapnya disajikan dalam Tabel 11.Berdasarkan umur.5 %).00 45. Berdasarkan tingkat pendidikan. Karakteristik Petani Responden Berdasarkan Tingkat Pendidikan Tingkat Pendidikan Tidak Pernah Sekolah Tidak Tamat SD Tamat SD Tamat SLTP Tamat SLTA Total Jumlah Responden (Orang) 12 18 9 1 0 40 Persentase 30.5 %). 2. Hanya satu orang diantara petani responden yang menyelesaikan pendidikan SLTP hingga tamat.50 0.00 22. Sedangkan petani responden yang paling sedikit berasal dari kelompok umur antara 51 hingga 60 yaitu hanya sebanyak 1 orang (2.

dan tidak ada diantara petani responden yang memiliki luas lahan garapan lebih dari 2 hektar.5 hektar hingga petani yang memiliki luas lahan garapan lebih dari satu hektar.5 %). Semua petani responden merupakan petani pemilik karena petani responden menggarap lahan tanpa mengeluarkan biaya sewa lahan.5 %). Petani responden yang memiliki luas lahan garapan kurang dari 0. Sedangkan petani yang memiliki luas lahan garapan lebih dari satu hektar hanya sebanyak 7 orang (17. Lahan berstatus sewa menyebabkan petani penyewa akan lebih terpacu untuk selalu lebih efisien dalam mengelola lahan agar produktivitas lahan lebih tinggi. Hal ini disebabkan karena petani penyewa mempunyai kewajiban untuk memperhatikan nilai biaya sewa yang harus dibayar kepada pemilik lahan.5 sampai 1 hektar yaitu sebanyak 25 orang (62. Sebagian besar petani responden memiliki luas lahan garapan antara 0. Status dan Luas Lahan Garapan Status lahan garapan berpengaruh kepada produktivitas usahatani. Petani responden berdasarkan status pemilikan lahan dikelompokkan atas petani pemilik dan petani penggarap. Data secara rinci . Sementara luas lahan garapan berpengaruh positif terhadap produktivitas usahatani dimana usahatani dengan luas lahan yang lebih besar akan memiliki produktivitas yang relatif lebih tinggi daripada usahatani dengan luas lahan yang lebih kecil. Sementara itu lahan yang berstatus milik send iri pada umumnya relatif kurang produktif daripada lahan yang berstatus sewa karena petani pemilik tidak pernah memperhitungkan biaya sewa lahan yang harus dikeluarkan.3.5 hektar sebanyak 8 orang (20 %). Luas lahan garapan petani responden bervariasi mulai dari petani yang memiliki luas lahan garapan kurang dari 0.

50 17.00 62. Karakteristik Petani Responden Berdasarkan Luas Lahan Garapan Luas Lahan (ha) < 0. Hanya sebagian kecil dari petani responden yang memiliki pengalaman berusahatani padi ladang kurang dari 5 tahun yaitu sebanyak 2 orang (5 %).1 1–2 >2 Total Jumlah Responden (orang) 8 25 7 0 40 Persentase 20. Pengalaman Berusahatani Padi Ladang Petani yang memiliki pengalaman berusahatani lebih lama akan lebih baik dan lebih matang dalam hal perencanaan usahatani karena lebih memahami berbagai aspek teknis dalam berusahatani. Sedangkan petani yang lain selebihnya tersebar dalam kelompok dengan pengalaman berusahatani padi ladang antara 5 hingga 10 tahun sebanyak 6 orang (15 %).00 4.5 . .00 100. Tabel 12. Gambaran petani berdasarkan pengalaman berusahatani secara rinci disajikan dalam Tabel 13. Demikian juga dengan berbagai masalah non teknis yang biasanya dihadapi dalam berusahatani sehingga pada akhirnya produktivitasnya akan lebih tinggi.mengenai karakteristik petani responden berdasarkan luas lahan garapan disajikan dalam Tabel 12.5 %).50 0.5 %).5 0. Kelompok petani responden dengan jumlah yang paling banyak berdasarkan pengalaman berusahatani adalah kelompok petani yang telah berusahatani padi ladang selama lebih dari 20 tahun yaitu sebanyak 15 orang (37. Kelompok antara 11 hingga 15 tahun sebanyak 9 orang (22. dan kelompok antara 16 hingga 20 tahun sebanyak 8 orang (20 %).

Tabel 13.50 20.50 100.hari. dan demikian juga sebaliknya. Jumlah anggota keluarga juga akan berpengaruh terhadap jumlah tanggungan keluarga atau tingkat konsumsi rumahtangga. Semakin banyak jumlah anggota keluarga maka semakin banyak pula tenaga kerja yang dapat digunakan dalam kegiatan produksi usahatani sehingga produktivitas akan lebih tinggi.00 37.00 22. Jumlah Anggota Keluarga Jumlah anggota keluarga akan mempengaruhi tingkat produktivitas kerja dikaitkan dengan jumlah penggunaan (sumbangan) tenaga kerja terhadap kegiatan produksi usahatani.00 15. Bertani padi ladang juga dilakukan secara turun temurun juga oleh karena faktor – faktor yang telah disebutkan di atas. . 5. Karakteristik Petani Responden Berdasarkan Pengalaman Usahatani Pengalaman Berusahatani Padi Ladang (Tahun) <5 5 -10 11-15 16-20 > 20 Total Jumlah Responden (Orang) 2 6 9 8 15 40 Persentase 5. dan ketersediaan modal yang hanya sesuai dengan komoditas padi ladang.00 Seluruh petani responden menyatakan bahwa berusahatani padi ladang merupakan usaha pokok untuk memenuhi kebutuhan beras sehingga rumah tangga petani tidak perlu membeli beras untuk pangan sehari. Selain itu para petani juga berusahatani padi ladang karena tidak memiliki keahlian lain selain bertani dan juga karena kondisi alam seperti ketersediaan air. Petani yang memiliki usaha sampingan selain usahatani padi ladang memiliki usaha sampingan sebagai perangkat desa seperti Ketua RT ataupun sebagai Hansip atau Linmas (Perlindungan Masyarakat). kesuburan tanah.

.5 %) tergolong ke dalam kelompok dengan anggota keluarga antara 3 hingga 5 orang.00 6. Status Usahatani Padi Ladang Status Usahatani padi ladang. akan mempengaruhi sikap petani dalam menentukaan komoditi usahatani mana yang akan menjadi prioritas (fokus) yang mendapat perhatian atau alokasi sumberdaya yang relatif lebih besar dan yang lebih kecil.5 orang > 5 orang Total Jumlah Anggota RT 8 27 5 40 Persentase 20.50 100. dan hanya sebanyak 5 rumah tangga (12. Gambaran secara rinci mengenai karakteristik petani responden berdasarkan jumlah anggita keluarga disajikan dalam Tabel 14. Petani yang bermatapencaharian utama usahatani padi ladang akan lebih memfokuskan pekerjaan atau sumberdayanya terhadap usahatani padi ladang. dalam artian apakah usahatani padi ladang merupakan mata pencaharian utama atau sampingan. Karakteristik Petani Responden Berdasarkan Jumlah Anggota Keluarga Kelompok < 3 orang 3 . sedangkan rata-rata rumah tangga petani responden memiliki sebanyak sekitar 4 orang. Tabel 14.Sebagian besar responden atau sebanyak 27 rumahtangga (67.00 67.5 % ) dari keseluruhan responden yang memiliki anggota keluarga lebih dari 5 orang. Seluruh petani yang menjadi responden menyatakan bahwa mereka memilih berusahatani padi ladang sebagai matapencaharian utama sehingga sumberdaya yang dimiliki petani dialokasikan terutama untuk usahatani padi ladang.50 12. sehingga petani akan lebih mengusahakan peningkatan produksi dan produktivitas padi ladang daripada komoditi yang menjadi usahatani sampingan.

Keputusan Bertani Padi Ladang Keputusan bertani padi ladang dalam menentukan jenis. dan teknik produksi lainnya petani bebas menentukan sendiri atau dipengaruhi adat istiadat setempat yang me ngikat kebebasan petani dalam mengambil keputusan usahatani. pola tanam. Teknologi dan inovasi bertujuan untuk meningkatkan produktivitas padi ladang dan taraf hidup petani. Keputusan yang diambil akan berpengaruh terhadap produktivitas dan kemajuan usahatani karena petani yang dinamis akan lebih mampu mengadopsi teknologi usahatani. Pekerjaan Sampingan Jenis pekerjaan sampingan yang dimiliki petani akan berpengaruh terhadap pendapatan tambahan yang diperoleh rumahtangga. responden pada umumnya tidak memiliki pekerjaan sampingan untuk menambah pendapatan rumahtangga karena tidak mempunyai keahlian lain selain bertani. 8. Sehingga sumber pendapatan yang menjadi penunjang usahatani padi ladang adalah dengan dengan berkebun tetapi umumnya tidak dikelola secara baik atau tidak diusahakan secara kontinyu. sehingga tingkat pendapatan tersebut akan berpengaruh terhadap produktivitas usahatani. Keseluruhan petani responden menyatakan bahwa keputusan dalam berusahatani diambil sendiri dengan kebebasan berdasarkan pemahaman dan pengalaman petani dan tidak terikat dengan aturan atau adat istiadat setempat. Segala usaha yang bertujuan untuk peningkatan produktivitas usahatani terutama . Selain bertani.7. Pendapatan dari pekerjaan sampingan akan digunakan sebagai tambahan modal dalam penyediaan sarana produksi yang lebih banyak sehingga hasil produksi yang diperoleh akan lebih besar.

. kayu atau papan. Kondisi tempat tinggal petani responden dilihat berdasarkan kondisi lantai dibedakan menjadi lantai keramik. dan lantai rumah. 9. Kondisi Tempat Tinggal Karakteristik petani responden berdasarkan kondisi tempat tinggal dilihat berdasarkan kondisi atap. semen atau ubin. dan bilik bambu. dinding. Atap petani responden seluruhnya masih menggunakan atap rumbia. Dinding atau tembok rumah petani responden dibedakan menjadi dinding permanen. papan/kayu. Dari semua petani responden juga tidak ada yang mempunyai fasilitas kamar mandi atau WC yang tergolong layak. dan tanah. Semua petani responden mempunyai tempat tinggal dengan dinding yang terbuat dari bilik bambu. Semua petani responden memiliki tempat tinggal dengan lantai beralaskan tanah. semi permanen.padi ladang akan dilakukan petani sesuai dengan kemampuan sumberdayanya tanpa dipengaruhi faktor adat istiadat setempat.

6. Berdasarkan pengalaman petani di Desa Wanajaya varietas padi sawah jenis Ciherang dapat memberikan hasil yang relatif lebih tinggi jika ditanam di lahan kering daripada varietas pai ladang lainnya. Berdasarkan pengalaman tersebut jika petani memperkirakan bahwa musim hujan akan mulai berlangsung secara merata pada bulan tertentu.1.1.1. Budidaya Padi Ladang Kegiatan berusahatani padi ladang di Desa Wanajaya dilakukan mulai dari kegiatan persiapan lahan dalam dengan mengolah lahan pada saat datangnya musim hujan sekitar bukan Oktober atau November tergantung perkiraan petani berdasarkan pengalamannya sampai dengan masa panen sekitar bulan Maret atau April. GAMBARAN USAHATANI PADI LADANG DI DESA WANAJAYA 6. Kegiatan berusahatani padi ladang di Desa Wanajaya umumnya dilakukan dengan sistem monokultur dan tanam gilir.VI. Varietas padi ladang yang digunakan petani adalah jenis Ciherang yang sebenarnya merupakan varietas padi sawah. dan tanaman palawija lainnya. Varietas jenis Ciherang juga dianggap sesuai dengan kondisi tanah dan iklim di Desa Wanajaya oleh para petani. maka sekitar dua minggu hingga satu bulan sebelum bulan tersebut merupakan saat yang paling tepat untuk melakukan pengolahan lahan. . Jenis tanaman yang biasanya ditanam setelah padi ladang antara lain kacang tanah. ubi kayu. Persiapan Lahan Penentuan waktu yang paling tepat untuk mengolah tanah dilakukan petani berdasarkan pengalaman dari masa tanam sebelumnya. kacang panjang.

Bagian atas tanah juga diolah sedemikian rupa dengan menggunakan garpu atau garu sehingga lahan yang akan ditanami padi menjadi sedatar mungkin. Keadaaan ini dibiarkan selama dua minggu hingga rerumputan yang terbenam dianggap sudah membusuk atau melapuk dan racun-racun yang ada sudah menguap ke udara. Pada pengolahan pertama. Kemudian sekitar dua minggu setelah pengolahan kedua. Pengolahan ini dimaksudkan untuk mematikan dan membusukkan rerumputan yang semula terdapat di permukaan tanah dan kemudian akan terbenam ke bagian bawah tanah. dilakukan pengolahan ketiga yang merupakan kegiatan . Pengolahan kedua merupakan penyisiran tanah yaitu mengusahakan agar tanah yang sebelumnya merupakan bongkahan atau gumpalan-gumpalan besar dipecahkan dan diremukkan hingga sekecil-kecilnya.Pengolahan tanah dilakukan petani responden dengan cara me ncangkul dengan menggunakan cangkul dan tidak ada petani responden yang menggunakan mesin atau ternak untuk membajak karena biaya penggunaan mesin pembajak (traktor) yang sangat tinggi dan karena tidak ada petani memiliki ternak pembajak sehingga kegiatan mencangkul tanah dilakukan hanya dengan mengandalkan tenaga manusia dari dalam maupun dari luar keluarga. yaitu yang semula di atas atau di permukaan menjadi di bagian bawah dan demikian sebaliknya yang semula di bagian bawah menjadi di bagian atas. Pembalikan tanah bagian bawah ke atas betujuan untuk menganginkan tanah memberikan kesempatan bagi tanah untuk melepaskan racun-racun yang sangat mungkin terbentuk dalam tanah. mencangkul dilakukan sedemikian rupa sehingga tanahnya terbalik.

sebab walaupun padi ladang sangat tergantung pada air hujan dalam pertumbuhannya namun air yang berlebihan juga akan menyebabkan kerusakan pada padi ladang. kemudian ke dalam lubang dimasukkan sekitar 5 sampai 7 bulir padi jenis Ciherang dengan jarak tanam pada umumnya kira-kira 20 X 20 sentimeter hingga 30 X 30 sentimeter. 20 ribu per hari dengan jam kerja selama 6 jam. lahan dibuat berbentuk terasering untuk mencegah pengendapan air dan membentuk parit-parit untuk mencegah erosi agar kesuburan tanah tetap terjaga. Pengolahan ketiga ini dilakukan sedemikian rupa sehingga arah dari pembajakan tanah pertama membentuk siku dengan arah dari pembajakan tanah kedua. Penanaman Penanaman dilakukan dengan menggunakan alat tugal yang terbuat dari kayu untuk membuat lubang. . Setelah bulir ditugalkan ke dalam tiap-tiap lubang tanam kemudian ditutup kembali dengan maksud agar bulir yang ditugalkan tidak diganggu oleh burung atau binatang-binatang perusak atau pemakan bulir lainnya.lubang tanam pada kedalaman sekitar 2 hingga 5 cm pada lahan yang sebelumnya sudah diolah terlebih dahulu. Biaya upah yang berlaku secara umum bagi para buruh tani untuk proses pengolahan tanah adalah Rp. Kemudian pada tahap pengolahan ini juga diusahakan sedemikian rupa sehingga bagian tengah dari lahan yang diolah sedikit lebih tinggi daripada bagian pinggir lahan dengan maksud agar bagian tengah lahan tidak tergenang air jika hujan turun secara berlebihan tetapi akan mengalir ke bagian pinggir lahan. Untuk lahan yang permukaannya miring.mencangkul tanah yang sebelumnya telah diremukkan dan diratakan pada pengolahan pertama dan kedua.2. 6.1. terutama pada daerah berbukit.

Pola tanam yang umumnya digunakan petani responden adalah dengan sistem tanam gilir dan monokultur dengan menanam padi ladang kemudian menanam pisang di sekeliling lahan sebagai tanaman pencegah erosi. Penanaman padi ladang pada umumnya dilakukan dengan sistem padi-palawija atau padi-bera. Pertanaman padi ladang yang ideal yaitu yang mampu menghasilkan padi dalam bentuk gabah kering sebanyak 5 ton per hektar menyerap unsur h dari dalam ara tanah antara lain sebanyak 40 kilogram N yang setara dengan 90 kilogram pupuk Urea. Sementara untuk meningkatkan efisiensi pemupukan pupuk . dan agar laha n tetap subur dan hasil gabah tetap tinggi maka jerami juga harus dikembalikan ke lahan dan tanaman harus dipupuk (Hermawan.3. Pemupukan pertama dilakukan dengan menggunakan pupuk Urea dan TSP umumnya diberikan dengan cara disebarkan ke dalam lahan secara merata setelah penanaman benih. 10 kilogram P yang setara dengan 50 kilogram pupuk TSP. 6. Pemupukan Pemupukan sangat perlu dilakukan untuk memperoleh hasil gabah yang maksimal terutama di lahan kering yang memiliki karakteristik marjinal. Pola tanam padi-bera yang dilakukan sebagian petani responden disebabkan modal awal untuk penanaman palawija setelah panen padi yang tidak mencukupi sehingga setelah masa panen padi ladang para petani lebih banyak yang memberakan lahannya untuk kemudian ditanami padi lagi pada musim hujan berikutnya. dan 75 kilogram K yang setara dengan 180 kilogram pupuk KCl per hektar per musim tanam. dan sebagian petani memberikan pupuk Urea dan TSP dalam bentuk campuran dengan cara mencampurkan pupuk dengan benih padi pada saat penanaman.1. 2000).

“mentul”. azodrin. bahkan sebagian petani tidak menggunakan pupuk sama sekali. trobos. Harga pupuk yang sangat tinggi bagi petani menyebabkan penggunaan pupuk yang tidak optimal karena tidak sesuai dengan dosis pupuk ideal. Petani di Desa Wanajaya umumnya membeli pupuk dalam bentuk campuran pupuk Urea dan TSP dan tidak ada petani responden yang menggunakan pupuk TSP. Jenis penyakit ini menyebakan pembusukan pada batang padi sehingga mematikan tanaman padi. 22 ribu per 100 mililiter di kios tani yang terletak di ibukota kecamatan. Pengobatan Pengobatan dilakukan untuk mencegah atau membasmi hama dan penyakit yang menyerang tanaman padi ladang. dan hanya sebagian kecil petani yang menggunakan furadan. Jenis pestisida yang banyak digunakan petani responden adalah decis untuk mencegah penyakit “kungkang” atau blast yang sering menyerang tanaman padi ladang di Desa Wanajaya. elsan. Harga pupuk campuran Urea dan TSP rata-rata sekitar Rp 1400 per kilogram dengan cara membeli petani di kios tani yang terletak di ibukota kecamatan dengan uang tunai. .1. Jenis penyakit lain yang sering menyerang tanaman padi ladang di desa ini adalah “wereng”.nitrogen harus diberikan secara split atau terpisah (Puslitbang Tanaman Pangan.lain. 6.4. akodan. dan lain. 1989). Pestisida jenis decis dibeli petani sekitar Rp. Pengobatan dilakukan dengan cara penyemprotan antara sekali hingga dua kali penyemprotan dalam satu masa tanam tergantung kemampuan keuangan petani. Jenis obat lain yang juga digunakan petani adalah sidametrin.

semak belukar. 6. Hasil panen padi ladang digunakan untuk kebutuhan makanan pokok dan sebagian disimpan di lumbung padi untuk nantinya digunakan sebagai benih di musim tanam berikutnya jika tidak memiliki uang tunai untuk membeli benih dari kios atau toko dengan resiko kualitas yang jelas lebih rendah.6000 untuk setiap tenaga kerja yang umumnya adalah wanita.6. atau gulma jika tidak segera dimusnahkan.5. Petani melakukan penyiangan antara satu kali hingga dua kali berdasarkan intensitas serangan gulma. Pada periode ini benih mulai bertumbuh sehingga pertumbuhan tanaman pengganggu seperti rerumputan. Proses penyiangan sebagian besar dilakukan oleh tenaga kerja wanita baik dari dalam maupuan dari luar keluarga. Pemanenan Umur panen untuk varietas Ciherang yang digunakan petani responden rata-rata berumur 120 hingga 150 hari sejak ditanam.1. Sebagian padi yang disimpan juga digunakan untuk tujuan berjaga-jaga atau untuk mengantisipasi kebutuhan mendesak rumah .6. Upah yang berlaku secara umum untuk proses penyiangan adalah sekitar Rp. Penyiangan Penyiangan dilakukan untuk membersihkan lahan dari gulma atau tanaman pengganggu tanaman utama (padi ladang).1. akan menjadi saingan berat bagi tanaman utama dalam memperoleh unsur hara dari dalam tanah bahkan dapat mematikan tanaman utama. per hari dengan jam kerja selama 6 jam kerja per hari. Proses penyiangan dilakukan sekitar sebulan setelah benih ditanamkan atau ditugalkan dengan menggunakan sabit atau “kored” dan cangkul.

hari seperti biaya pendidikan anak.2. . dan lain. Struktur Biaya Biaya yang dikeluarkan petani terdiri dari biaya tunai dan biaya diperhitungkan.lain. Biaya tunai didefinisikan sebagai biaya untuk pupuk. dan penyusutan alat-alat pertanian.masing petani. pestisida atau obat-obatan pemberantas hama dan penyakit tanaman. cangkul. tenaga kerja luar keluarga. Proses pengeringan padi dilakukan pada media tikar atau kuda-kuda bambu atau plastik terval di halaman rumah masing. nilai tenaga kerja dalam keluarga. dan pajak usahatani yang dikeluarkan petani selama proses produksi padi ladang. Proses pemanenan dilakukan dengan menggunakan alat-alat yang masih tradisional seperti sabit atau “kored”. 6. biaya pengobatan dan kebutuhan-kebutuhan lainnya. Padi yang sudah kering dan siap untuk digiling dibawa ke tempat penggilingan padi dan diolah hingga dalam bentuk beras dengan biaya pengolahan sebesar 100 kilogram beras untuk setiap satu ton beras yang telah diolah dengan menyesuaikan harga beras pada saat itu atau dalam bentuk uang tunai. Biaya-biaya yang dikeluarkan petani padi ladang dapat dilihat dalam Tabel 15.tangga sehari. Pemanenan biasanya dilakukan dengan mengupah buruh tani dengan sistem “bawon” yaitu dengan menggunakan seperlima dari hasil panen keseluruhan sebagai upah keseluruhan pekerja pemanen dalam bentuk gabah kering panen. Pengeluaran usahatani yang termasuk dalam biaya diperhitungkan adalah pengeluaran usahatani yang dikeluarkan petani tetapi tidak secara tunai seperti biaya benih.

724.20. Perhitungan pendapatan usahatani padi ladang ini dilakukan untuk rata-rata per satu hektar lahan.64 65.420. Biaya-biaya yang Dikeluarkan Petani Padi Ladang per Hektar per Musim Tanam di Desa Wanajaya Tahun 2005 Komponen BIAYA TUNAI Pupuk Pestisida Tenaga Kerja Luar Keluarga Pajak Usahatani Total Biaya Tunai BIAYA DIPERHITUNGKAN Benih Tenaga Kerja Dalam Keluarga Penyusutan Peralatan Total Biaya Diperhitungkan BIAYA TOTAL Satuan Kg Liter HOK Rp Rp Kg HOK Rp Rp Rp Jumlah 110. Karena sifat padi ladang yang menggantungkan pengairan pada curah hujan.431.3.Tabel 15.220.53 2. Analisis Pendapatan Analisis pendapatan dilakukan untuk menentukan nilai yang diperoleh petani dari kegiatan berusahatani padi ladang.144.840.34 Harga/satuan (Rp) 1.200.- 6.040.79.Persentase 7.7 48.92 25.Nilai (Rp) 161. Dalam penelitian ini.173.574.424.46. dalam satu tahun.54. maka kegiatan usahatani padi ladang di Desa Wanajaya dilakukan dalam satu musim tanam.000. Analisis yang dilakukan meliputi analisis pendapatan atas biaya total dan analisis pendapatan atas biaya tunai.000. analisis pendapatan dilakukan untuk satu musim tanam.1.34 0.41 3.37 2.103.6.33 6.6.8 1.622.65 13.1.67 100.49 74. .414. Kegiatan usahatani padi ladang dimulai dari awal musim hujan sekitar bulan Oktober dan November hingga masa panen pada bulan April.550. seperti di daerah lain pada umumnya.290.2.00 60 237.407.000.454.

273 kilogram per hektar per musim tanam dalam bentuk gabah kering giling.2.Tabel 16. Harga jual gabah kering pada masa panen rata-rata sebesar Rp 1.900.76.754 per hektar per musim tanam sehingga pendapatan atas biaya totalnya sebesar Rp -520.300 per kilogram.3.01 yang berarti bahwa untuk setiap satu rupiah biaya tunai yang .654.854.1.4.175.76 Produksi rata-rata padi ladang yang dihasilkan sebesar 1.754. Sedangkan.574.-520. Sehingga jika dilihat dari sisi pendapatan atas biaya total.175. besar rata-rata biaya tunai yang dikeluarkan petani di daerah penelitian sebesar Rp 550. maka usahatani padi ladang tidak menguntungkan bagi petani.76.326.625. Sedangkan rasio R/C atas biaya tunai adalah sebesar 3.180. sehingga ratarata penerimaan petani sebesar Rp 1.104.550. Analisis Imbangan Penerimaan dan Biaya (Analisis R/C ratio) Dari hasil analisis pendapatan dan biaya usahatani padi ladang didapat rasio R/C atas biaya total sebesar 0. Analisis Pendapatan Cabang Usahatani Padi Ladang per Hektar per Musim Tanam di Desa Wanajaya Tahun 2005 Komponen TOTAL PENERIMAAN Total Biaya Tunai Total Biaya Diperhitungkan BIAYA TOTAL USAHATANI PENDAPATAN ATAS BIAYA TOTAL PENDAPATAN ATAS BIAYA TUNAI R/C ATAS BIAYA TUNAI R/C ATAS BIAYA TOTAL Nilai (Rupiah) 1.900 per hektar per musim tanam.854.654. Biaya total yang dikeluarkan petani dalam proses produksi rata-rata sebesar Rp 2. maka petani akan memperoleh penerimaan sebesar Rp 0.574 per hektar per musim tanam sehingga pendapatan atas biaya tunai sebesar Rp 1.1.326. 6. Artinya bahwa untuk setiap satu rupiah biaya total yang dikeluarkan dalam usahatani padi ladang.01 0.104.

maka dapat disimpulkan bahwa usahatani padi ladang di daerah penelitian tidak menguntungkan bagi petani. Berdasarkan nilai rasio R/ C atas biaya total yang lebih kecil dari 1 yaitu sebesar 0.dikeluarkan untuk usahatani padi ladang.01. Syarat suatu usahatani dikatakan menguntungkan jika rasio R/C atas biaya total lebih besar dari 1.76. . maka petani akan memperoleh penerimaan sebesar Rp 3.

8341 Kuadrat Tengah 2.hitung sebesar 8. Analisis Ragam Produksi Cabang Usahatani Padi Ladang di Desa Wanajaya Sumber Ragam Regresi Galat Total Derajat Bebas 5 30 35 Jumlah Kuadrat 11.2432 0. Tabel 17. tenaga kerja luar keluarga.83 Peluang 0. didapat nilai F.000 Berdasarkan pendugaan model produksi yang diperoleh. benih.2539 F . dan pestisida. Analisis Fungsi Produksi Model fungsi produksi yang digunakan untuk menduga fungsi produksi dalam penelitian ini adalah model fungsi produksi Cobb-Douglas. ANALISIS FAKTOR-FAKTOR PRODUKSI DAN EFISIENSI EKONOMI CABANG USAHATANI PADI LADANG 7. seperti yang ditunjukkan dalam Tabel 17. Ini berarti bahwa faktor.1. . Hasil pendugaan model dan hubungan antara variabel bebas yaitu faktor.faktor produksi dengan variabel dependen yaitu produksi padi ladang dapat dilihat dalam Tabel 17.faktor produksi yang diduga berpengaruh dalam usahatani padi ladang adalah pupuk.VII. Faktor.6180 18.2161 7.faktor produksi yang digunakan secara bersama-sama berpengaruh signifikan terhadap produksi padi ladang.83 yang signifikan pada taraf kepercayaan 95 persen.hitung 8. tenaga kerja dalam keluarga.

69 3.196 Ln Tenaga Kerja Luar RT 0.8% Variabel Koefisien Regresi T Hitung 0.209 Ln Benih 0.5302 Ln Tenaga Kerja Luar Keluarga + 0.068 Ln Tenaga Kerja Dalam RT 0.248 0.069 0.61 2.3 1.530 0.989 Konstanta 0. faktor.1013 Ln Benih + 0.00 0.Tabel 18.011 0.06968 Ln Pestisida Dari hasil pendugaan model ditunjukkan juga bahwa nilai koefisien determinasi (R2 ) didapat sebesar 59. Berdasarkan pengamatan di lokasi penelitian.06 Pvalue 0.48 1.8 1. intensitas serangan hama dan penyakit tanaman.21728 Ln Tenaga Kerja Dalam Keluarga + 0.004 + 0. dan pestisida sedangkan sebesar 40. Di samping itu faktor iklim.217 0.6 persen dari variasi produksi dapat dijelaskan secara bersama-sama oleh faktor pupuk.2 2.6% R-Sq (adjusted) = 52.3 1. Hasil Analisis Pendugaan Fungsi Produksi Usahatani Padi Ladang di Desa Wanajaya Simpangan Baku Koefisien 0. tenaga kerja luar keluarga.003 0.faktor lain di luar model fungsi produksi yang diduga juga berpengaruh terhadap produksi padi ladang adalah tingkat kesuburan lahan.405 Ln Pupuk 0. Nilai koefisien determinasi (R2 ) tersebut berarti bahwa sebesar 59.2484 Ln Pupuk + 0.101 0.004 1.296 VIF 1.19 0.545 0.faktor lain di luar model.065 Ln Pestisida R-Sq = 59.3 Berdasarkan data pada Tabel 18. maka model fungsi produksi padi ladang per hektar dapat diduga dengan persamaan sebagai berikut : Ln Produktivitas = 0. dan ketertarikan petani yang kurang untuk meningkatkan produksi dan produktivitas usahatani padi ladang akibat ketidakjelasan status kepemilikan atas lahan yang diusahakan petani dan karena .6 persen dengan nilai koefisien determinasi terkoreksi (R2 -adjusted) sebesar 52. tenaga kerja dalam keluarga. benih.8 persen.999 0.632 0.4 persen lagi dipengaruhi oleh faktor.

05). Nilai elastisitas pupuk sebesar 0. benih.2484 persen dengan asumsi ceteris paribus. dan pestisida tidak signifikan pada taraf kepercayaan yang ditetapkan. maka dapat disimpulkan bahwa usahatani padi ladang berada dalam daerah produksi increasing return to scale.masing variabel terhadap produksi adalah sebagai berikut : Berdasarkan Tabel 18 didapat bahwa jumlah nilai elastisitas faktor-faktor produksi sebesar 1. berarti setiap penambahan faktor produksi secara bersama-sama sebesar 1 persen.cabang usahatani padi ladang tidak menguntungkan turut mempengaruhi produksi padi ladang.17 persen. Hal ini dikarenakan penggunaan pupuk diantara petani a . Elastisitas Produksi dan Skala Usaha Dalam model fungsi produksi Cobb-Douglas nilai koefisien regresi merupakan nilai elastisitas dari masing.17. berarti jika penggunaan pupuk ditingkatkan sebesar satu persen. Dengan nilai elastisitas produksi sebesar 1. 7. Karena jumlah nilai elastisitas faktor produksi lebih besar dari 1. Angka ini merupakan penjumlahan dari koefisien regresi faktor produksi yang dalam hal ini dianggap sebagai nilai elastisitas dari faktor tersebut.masing variabel tersebut. Nilai t hitung untuk tenaga kerja dalam keluarga dan tenaga kerja luar keluarga berpengaruh nyata terhadap nilai produksi pada taraf kepercayaan 99 persen (a = 0.17. maka produksi padi ladang akan meningkat sebesar 0.2. maka akan meningkatkan produksi sebesar 1. Pengaruh masing. Sedangkan pengaruh faktor pupuk. Namun berdasarkan uji t diperoleh bahwa faktor produksi pupuk tidak berpengaruh nyata terhadap produksi padi l dang.2484.

Derajat keasaman (pH) tanah yang rendah dapat ditingkatakan dengan program pengapuran. dan pH (derajat keasaman) yang merupakan tiga indikator kesuburan tanah. KB (Kejenuhan Basa). cukup dengan tindakan yang sama yaitu dengan pemupukan bahan organik (pupuk kandang). bertekstur lempung. kapasitas tukar kation (KTK). dan kejenuhan basa (KB). Sehingga secara keseluruhan disimpulkan bahwa tingkat kesuburan tanah di lokasi penelitian tergolong rendah. Selain itu dapat juga dilakukan dengan . Sedangkan kapasitas tukar kation (KTK) dan kejenuhan basa (KB) di lokasi penelitian termasuk dalam kelompok sedang. sehingga menjadi tidak tersedia atau tidak dapat diserap tanaman. Menurut Badan Perencana Pembangunan Daerah (BAPPEDA) Kabupaten Karawang dalam Laporan Studi Penanganan dan Pemanfaatan Lahan Kritis di Kabupaten Karawang Tahun 2003. struktur gumpal/keras. dan solum dalam. Tindakan untuk mengatasi masalah KTK (Kapasitas Tukar Kation). Kesuburan tanah diukur dengan menggunakan tiga indikator yaitu nilai pH. tanah di daerah penelitian termasuk jenis latosol. sehingga tidak ditemukan adanya variasi data penggunaan pupuk.cenderung sama. Pada tanah asam biasa dijumpai gejala keracunan unsur Fe yang dicirikan adanya bercak-bercak pada daun berwarna kuning kemerahan. Dengan menggunakan ketiga indikator tersebut. Unsur Al ini selain bersifat racun bagi tanaman juga bersifat mengikat fosfor (P2 O5 ). Jenis latosol merah coklat kekuningan. nilai pH di lokasi penelitian adalah 4 sampai 5 sehingga termasuk tanah asam. Pada tanah-tanah asam banyak ditemukan unsur Aluminium dapat ditukar (Aldd).

Pupuk yang digunakan di lokasi penelitian rata-rata sebanyak 110. masing. Sedangkan untuk dosis atau takaran pupuk yang dianjurkan BAPPEDA dalam budidaya padi ladang adalah Urea sebanyak 100 kilogram per hektar dengan tiga kali pemberian. Tenaga kerja luar keluarga mempunyai nilai elastisitas sebesar 0. Pemberian pupuk kandang atau pengapuran sebelum penanaman juga tidak dilakukan petani. Budaya gotong royong para petani dalam melakukan penanaman di lokasi .5302 persen. dan 49 hari setelah tanam). maka produksi padi ladang akan meningkat sebesar 0. dan KCl 100 kilogram per hektar yang masing. berarti setiap penambahan faktor tenaga kerja luar keluarga (ceteris paribus) sebesar satu persen. Dosis pemberian kapur adalah 0.5 ton per hektar. pada stadia vegetatif (umur tanaman 14. Berdasarkan uji t diperoleh bahwa faktor tenaga kerja luar keluarga berpengaruh nyata terhadap produksi padi ladang pada taraf kepercayaan 98 persen.pengapuran menggunakan jenis kapur tanah CaCO3 sebelum penanaman karena ketiga parameter kesuburan tersebut intinya saling berhubungan.masing diberikan sekaligus saat tanam.masing sepertiga bagian untuk pupuk dasar.8 kilogram per hektar Urea dan TSP dalam bentuk campuran yang diberikan sekaligus pada saat penanaman.35. sedangkan untuk pupuk kandang nilai rata-ratanya adalah tiga kali dari dosis pengapuran. Pupuk TSP sebanyak 100 kilogram per hektar. tetapi bila sudah diberi kapur tidak perlu lagi menggunakan pupuk kandang.4 sampai 0. Hal ini menyebabkan faktor produksi pupuk tidak elastis terhadap peningkatan hasil produksi padi ladang. dan tidak ada petani yang menggunakan pupuk KCl.5302.

Namun tidak demikian halnya dengan faktor produksi benih. demikian .21728.1013 persen dengan asumsi ceteris paribus. Penambahan faktor produksi benih sebesar satu persen akan cenderung meningkatkan produksi padi ladang sebesar 0. Penyakit blast merupakan jenis penyakit yang paling penting dan paling sering dijumpai dalam budidaya padi ladang pada umumnya. penyiangan. tetapi kelembaban yang tinggi dan periode pengembunan yang panjang akan menyebabkan resiko untuk terserang penyakit blast (bercak putih pada akar) menjadi lebih besar. tenaga kerja dalam keluarga juga berpengaruh nyata terhadap produksi padi ladang pada taraf kepercayaan 99 persen.1728 persen (ceteris paribus).penelitian diduga menjadi penyebab elastisnya peningkatan faktor tenaga kerja luar keluarga terhadap peningkatan produksi. Seperti halnya tenaga kerja luar keluarga. maka produksi padi ladang akan meningkat sebesar 2. yang berarti jika faktor tenaga kerja dalam keluarga ditingkatkan sebesar sepuluh persen. hingga pemanenan petani lebih banyak mengandalkan tenaga kerja dalam keluarga. Dalam melakukan pengolahan mulai dari persiapan lahan. Adapun nilai elastisitas tenaga kerja dalam keluarga adalah sebesar 0. Menurut petani setempat benih jenis ini menghasilkan gabah yang lebih banyak daripada varietas padi yang disarankan untuk padi ladang dalam kondisi normal. Faktor ini tidak berpengaruh nyata terhadap produksi padi ladang pada taraf kepercayaan sebesar 90 persen. Elastisitas faktor produksi benih yang rendah terhadap peningkatan produksi diduga disebabkan karena penggunaan varietas benih yang tidak tepat. Petani di lokasi penelitian menggunakan benih jenis Ciherang yang sebenarnya adalah benih yang umumnya digunakan dalam padi sawah.

Hal ini disebabkan oleh tenaga kerja luar keluarga akan bekerja lebih optimal dibandingkan dengan tenaga kerja dalam keluarga. Faktor produksi pestisida tidak berpengaruh nyata pada taraf kepercayaan 90 persen tetapi berpengaruh nyata pada taraf kepercayaan 70 persen terhadap produksi padi ladang. upah yang telah disepakati. Penyakit blast dapat menurunkan hasil panen bahkan menggagalkan pertanaman padi ladang. Petani yang . Petani tidak menggunakan varietas padi ladang karena produktivitas yang lebih rendah. Dan jika dilihat dari besaran nilai elastisitas.juga di lokasi penelitian.5302. Elastisitas faktor produksi pestisida adalah sebesar 0. Tenaga kerja luar keluarga melakukan pekerjaan dengan jam kerja yang telah ditentukan sebelumnya.06968. maka faktor yang paling responsif terhadap produksi padi ladang adalah tenaga kerja luar keluarga dengan nilai elastisitas sebesar 0. maka faktor yang berpengaruh nyata terhadap produksi padi ladang di Desa Wanajaya adalah faktor tenaga kerja dalam dan luar keluarga.06986 persen dengan asumsi ceteris paribus. dan juga target kerja yang ditentukan sebelumnya. Rendahnya elastisitas faktor produksi pestisida terhadap peningkatan produksi menunjukkan bahwa penggunaan pestisida oleh petani tidak berfungsi secara efektif dalam mengurangi atau membasmi hama dan penyakit yang menyerang padi ladang karena jumlah atau jenis pestisida yang belum tepat. yang berarti setiap kenaikan penggunaan pestisida sebesar satu persen akan cenderung meningkatkan produksi padi ladang sebesar 0. Tenaga kerja luar keluarga akan bekerja lebih optimal dibandingkan dengan tenaga kerja dalam keluarga. Jadi jika dilihat secara keseluruhan.

faktor produksi yang dapat dianalisis adalah faktorfaktor produksi yang bersifat fisik dan yang dapat dinilai dengan rupiah. Syarat keharusan (Necessary Condition) dipenuhi pada saat tidak ada lagi kemungkinan lain dalam penggunaan input yang lebih sedikit untuk menghasilkan nilai produksi yang sama. atau ketika elastisitas produksi lebih besar atau sama dengan nol dan lebih lebih kecil atau sama dengan satu (≤ εp ≤ 1). suatu usaha tani harus memenuhi dua syarat yaitu syarat keharusan (Necessary Condition) dan syarat kecukupan (Sufficient Condition). Tingkat efisiensi ekonomis dari penggunaan faktor. Berbeda dengan syarat keharusan yang objektif. Jika rasio NPM dengan BKM lebih besar dari satu.faktor . Nilai Produk Marjinal merupakan hasil kali antara harga produk dengan Produk Marjinal (PM) sementara Biaya Korbanan Marjinal (BKM) sama dengan harga dari masing. Terpenuhi atau tidaknya kedua syarat tersebut dapat diketahui dengan menggunakan sebuah persamaan yaitu perbandingan antara Value Marginal Product (PyMPxi) atau disebut juga Nilai Produk Marjinal (NPM). Faktor. syarat kecukupan dapat berbeda pada setiap usahatani atau individu dan merupakan efisiensi yang subjektif.faktor produksi dapat dilihat dari besarnya rasio Nilai Produk Marjinal dengan Biaya Korbanan Marjinal per periode produksi. 7. Analisis Efisiensi Ekonomi Menurut Doll dan Orazem (1984).3.masing faktor produksi itu sendiri. dan Marginal Factor Cost (MFC) atau yang sering disebut dengan Biaya Korbanan Marjinal (BKM). maka penggunaan faktor. untuk mencapai keuntungan yang maksimal.menggunakan tenaga kerja luar keluarga akan mengoptimalkan kerja buruh tani agar target kerja yang diinginkan tercapai.

553 3.75 67873.nilai rasio NPM dan BKM tidak ada yang sama dengan satu. Rasio NPM dengan BKM yang lebih kecil dari satu menunjukkan bahwa penggunaan faktor.162 1.453 Tabel 19 menunjukkan penggunaan faktor-faktor produksi aktual dan rasio Nilai Produk Marjinal (NPM) dengan Biaya Korbanan Marjinal (BKM) pada usahatani padi ladang di Desa Wanajaya.50 BKM 1454 6000 6000 2407 46724 NPM/ BKM 2.027 0. Rasio .2172 Benih 60.22 2795.252 1. Rasio-rasio NPM dengan BKM dari setiap faktor produksi menunjukkan bahwa penggunaan faktor.faktor produksi dalam usahatani tersebut tepat berada pada kondisi optimal dan telah mencapai keuntungam maksimum sehingga usahatani dapat dikatakan telah efisien secara ekonomis.0696 Produksi Rata-rata (Kg/Ha) 1273. Rasio Nilai Produk Marjinal dengan Biaya Korbanan Marjinal Usahatani Padi Ladang Di Desa Wanajaya Penggunaan Koefisien Rata-rata Regresi Aktual Pupuk 110.81 0.70 0.2484 Tenaga Kerja Luar RT 48.5302 Tenaga Kerja Dalam RT 237.79 Harga Rata -rata/unit Output (Rp/Kg) 1300 Keterangan : NPM = Nilai Produk Marjinal BKM = Biaya Korbanan Marjinal Variabel NPM 3712.34 0.05 18162. Rasio NPM dan BKM usahatani padi ladang di Desa Wanajaya ditunjukkan dalam Tabel 21.00 0. Rasio NPM dengan BKM yang sama dengan satu untuk semua faktorfaktor produksi menunjukkan bahwa penggunaan faktor.1013 Pestisida 1.faktor produksi dalam usahatani padi ladang di Desa Wanajaya tidak efisien secara ekonomis.44 1515.produksi disebut belum efisien dan perlu ditingkatkan penggunaannya untuk mencapai keuntungan maksimum. karena nilai.faktor produksi telah melebihi batas optimal sehingga untuk mencapai keuntungan maksimum maka penggunaannya harus dikurangi. Tabel 19.37 0.

dan pestisida masing. Sedangkan untuk faktor tenaga kerja dalam keluarga didapat nilai rasio NPM dan BKM yang lebih kecil dari satu. Rasio NPM dan BKM yang paling besar adalah pada faktor tenaga kerja luar keluarga yaitu sebesar 3. sehingga benih yang digunakan petani adalah gabah yang merupakan sisa hasil panen dari musim tanam sebelumnya dengan mutu yang lebih rendah daripada benih komersial. Berdasarkan nilai rasio ini. Pada Tabel 19 dapat dilihat bahwa rasio NPM dan BKM untuk faktor produksi pupuk.ini juga berarti bahwa penggunaan faktor.027. Rendahnya penggunaan tenaga kerja luar keluarga disebabkan oleh keterbatasan modal petani untuk mengupah tenaga kerja luar keluarga yang lebih besar. sehingga pupuk dan pestisida hanya digunakan berdasarkan kemampuan finansial petani. Nilai rasio ini mengandung arti bahwa penggunaan faktor– faktor produksi tersebut masih kurang dan masih dapat ditingkatkan lagi agar dicapai tingkat penggunaan yang efisien atau optimal. tenaga kerja luar keluarga.masing lebih besar dari satu.faktor produksi pada usahatani padi ladang belum optimal pada jumlah produksi yang sama. Penggunaan faktor produksi pestisida dan pupuk yang rendah ini disebabkan oleh keterbatasan modal yang dimiliki petani untuk membeli pupuk dan pestisida dalam jumlah yang lebih besar yang sesuai dengan kebutuhan usahatani berdasarkan kondisi kesuburan dan kandungan hara tanah. Penggunaan benih yang tidak efisien juga disebabkan oleh ketidakmampuan petani secara finansial untuk membeli benih yang memiliki harga beli yang tinggi. benih. yang berarti bahwa penggunaan faktor . maka penggunaan tenaga kerja luar keluarga memerlukan penambahan yang relatif lebih besar agar dicapai tingkat efisien.

Penggunaan yang berlebih ini terjadi karena usahatani padi ladang merupakan usahatani utama dan sumber makanan pokok keluarga petani sehingga alokasi tenaga kerja untuk usahatani padi ladang relatif lebih besar. Nilai ini berarti untuk mencapai tingkat efisien.94 69.0696 Produksi Rata-rata (Kg/Ha) 1273.faktor produksi yang menghasilkan penggunaan input yang efisien.produksi ini berlebihan atau tidak efisien.47 NPM 1454 6000 6000 2407 46724 BKM 1454 6000 6000 2407 46724 NPM/ BKM 1 1 1 1 1 Berdasarkan Tabel 20 di atas diperoleh nilai penggunaan optimal dari faktor pupuk sebesar 282.79 Harga Rata -rata/unit Output (Rp/Kg) 1300 Keterangan : NPM = Nilai Produk Marjinal BKM = Biaya Korbanan Marjinal Variabel Penggunaan Optimal 282.5302 Tenaga Kerja Dalam RT 0. Kombinasi Optimal dari Faktor-Faktor Produksi Usahatani Padi Ladang Di Desa Wanajaya Koefisien Regresi Pupuk 0.69 2.33 59. maka penggunaan tenaga kerja dalam keluarga harus dikurangi. Efisiensi penggunaan faktor.51. Pada Tabel 20 dapat dilihat kombinasi faktor. Tabel 20.1013 Pestisida 0.faktor produksi dapat dicapai dengan menggunakan kombinasi optimal dari faktor-faktor produksi. .51 146.2172 Benih 0. sehingga untuk mencapai tingkat efisien. Rendahnya tingkat pendidikan petani menyebabkan mereka tidak memiliki keahlian atau pekerjaan lain selain berusahatani padi ladang sehingga tenaga kerja dalam keluarga yang digunakan dalam usahatani menjadi relatif lebih besar.2484 Tenaga Kerja Luar RT 0. Kombinasi optimal dari penggunaan faktor-faktor produksi akan diperoleh jika Nilai Produk Marjinal sama dengan Biaya Korbanan Marjinal atau jika rasio Nilai Produk Marjinal dan Biaya Korbanan Marjinal sama dengan satu.

Jika dilihat dari segi rasio NPM dan BKM. Sementara nilai penggunaan tenaga kerja dalam keluarga harus dikurangi dari yang semula sebesar 237.34 HOK agar dicapai tingkat efisien.81 kilogram menjadi sebesar 282.33.penggunaan pupuk harus ditingkatkan dari penggunaan aktualnya sebesar 110. Untuk faktor produksi pestisida.94 HOK agar penggunaan faktor produksi ini efisien. penggunaannya harus ditingkatkan dari sebesar 1.47 liter agar dicapai tingkat efisiensi.34 HOK harus ditingkatkan menjadi 146.37 HOK menjadi sebesar 59.7 liter dalam penggunaan aktualnya menjadi sebesar 2. Nilai penggunaan optimal dari faktor tenaga kerja luar keluarga adalah sebesar 146. .51 kilogram. penggunaan benih yang semula sebesar 60 kilogram harus ditingkatkan menjadi 69. yang berarti bahwa penggunaan tenaga kerja luar keluarga yang semula sebesar 48.69 kilogram agar dicapai tingkat efisiensi.

37 HOK menjadi sebesar 59. Pendapatan atas biaya tunai adalah Rp.sedangkan pendapatan atas biaya total adalah Rp.854. KESIMPULAN DAN SARAN 8. penggunaan benih yang semula sebesar 60 kilogram harus ditingkatkan menjadi 69.94 HOK. . dan pestisida tidak berpengaruh nyata pada taraf kepercayaan yang ditetapkan. faktor tenaga kerja luar keluarga sebesar 146. benih. maka dapat diambil beberapa kesimpulan yaitu : 1. Kesimpulan Berdasarkan hasil dan pembahasan dalam penelitian ini.1.-. yang nyata pada taraf kepercayaan 99 persen. Penggunaan faktor-faktor produksi yang efisien secara ekonomis dicapai pada saat penggunaan faktor pupuk sebesar 282.7 liter dalam penggunaan aktualnya menjadi sebesar 2.47 liter. 3. Kemudian dengan analisis imbangan penerimaan dan biaya (analisis R/C ratio). faktor produksi pestisida harus ditingkatkan dari sebesar 1.69 kilogram.1.33 HOK. penggunaan tenaga kerja dalam keluarga harus dikurangi dari yang semula sebesar 237.VIII.. 2.76 (lebih kecil dari satu). diperoleh nilai rasio R/C atas biaya total sebesar 0.326. Faktor-faktor produksi yang berpengaruh nyata terhadap produksi padi ladang adalah tenaga kerja luar keluarga dan tenaga kerja dalam keluarga. sehingga dapat disimpulkan bahwa cabang usahatani padi ladang di Desa Wanajaya tidak menguntungkan bagi petani. Sedangkan faktor pupuk.-520.104.51.

maka disarankan untuk: 1. Penggunaan faktor produksi pupuk. pestisida tenaga kerja luar harus ditingkatkan dari penggunaan aktualnya supaya usahatani padi ladang yang dilakukan lebih efisien dan menguntungkan bagi petani. . 2.8. benih.2. Pemberian bimbingan dan penyuluhan dari instansi terkait mengenai teknik budidaya padi ladang yang tepat seperti kombinasi penggunaan pupuk dan pestisida yang tepat dan pola tanam yang tepat untuk mencapai usahatani padi ladang yang lebih produktif dan menguntungkan. Saran Berdasarkan hasil dan pembahasan serta simpulan.

Vademekum Sumberdaya. Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan. Balai Penelitian Tanaman Pangan Malang. Doll. Jakarta. Gupta PC. Upland rice : a global perspective. Institut Pertanian Bogor.DAFTAR PUSTAKA Ahmad. O’Toole JC. Produktivitas dan Pendapatan Petani Padi Dihubungkan Dengan Kebijaksanaan Harga Dasar Gabah dan Harga Sarana Produksi (Studi Kasus : Desa Sukatani. 1983. 1999. 2003. Damodar N. Jakarta. palawija. 1984. Sumatera Selatan. Skripsi. 1995. Perkembangan Tingkat Produksi. Los Banos. Malang. Direktorat Jenderal Pertanian. Amir. 1998. . Kanada. 1995-1998. Fakultas Pertanian. Jawa Tengah. Institut Pertanian Bogor. Skripsi. Mc. C. Philippines. Departemen Pertanian. Skripsi. Analisis Pendapatan Usahatani Padi dan Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Marketed Supply Gabah di Kabupaten Magelang dan Kabupaten Klaten. Bogor. Diana. Bogor. John dan Frank Orazem.B. 1988. Kecamatan Cimalaya. Punarto S. Hariyanto. Pedoman bercocok tanam padi. Laporan Draft Final Studi Penanganan dan Pemanfaatan Lahan Kritis Di Kabupaten Karawang Tahun Anggaran 2003. Edisi Kedua. PT. Basyir. Fakultas Pertanian. John Wiley and Sons. Basic Econometric. Gujarati. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian. 1986. Production Economic Theory with Aplications. Involusi Pertanian : Proses Perubahan Ekologi di Indonesia. 1994. Ariyanti. sayur-sayuran. Analisis Peningkatan Pendapatan Petani Melalui Penyimpanan Gabah di Kabupaten Indramayu dan Kabupaten Karawang. Noorsanti Uceu. 1963. Fakultas Petanian. Padi Gogo. Bogor.. Badan Perencana Pembangunan Daerah Pemerintah Kabupaten Karawang. Pola Adaptasi Peladang Berpindah di Pemukiman (Kasus Peladang Berpindah di Perkebunan HTI.. P. Geertz. Institut Pertanian Bogor. Jakarta. New York. Kabupaten Karawang. Tesis. 2002. Suyamto dan Supriyatin. Interna tional Rice Research Institute. Bogor. Dahlia. Fakultas Pertanian. Yayasan Obor Bhratara Karya Aksara. Propinsi Jawa Barat. A. Jawa Barat). Karawang. Tauhid. Departemen Pertanian Satuan Pengendali Bimas. Sadhya Grahacara. Second Edition. Institut Pertanian Bogor.Graw –Hill.

Perbandingan Usahatani Padi Ladang Baduy Luar dan Luar Baduy Dilihat Dari Tingkat Efisiensi dan Subsistensi Usahatani (Studi Kasus di D Kanekes dan Desa Jalupang Mulya. Jakarta. 1986. Soeharjo. Jakarta. 1989. Sidik. Kab. Bogor. 2001. Rahayu. Leuwi esa Damar. 2004. Jawa Barat). Penerbit LP3S. Fakultas Pertanian. Netty. Indonesia Rice Policy In View of Trade Liberalization. Penerbit Sustra Hudaya. Mubyarto. D. Bogor. Politik Pangan dan Industri Pangan di Indonesia. 1996. 2004. Analisis Wilayah Rawan Kekeringan Untuk Pengembangan Sistem Usaha Pertanian Padi Gogo di Sulawesi Tenggara. Penebar Swadaya. Potensi Lahan Kering Dalam Pembangunan Pertanian di Indonesia. Institut Pertanian Bogor. Soekartawi. . Pemanfaatan dan Peranan Lahan Kering Dalam Pembangunan Pertanian. S. Susanto. Pengantar Ekonomi Pertanian. Fakultas Pertanian. Moral Ekonomi Petani. Institut Pertanian Bogor. Institut Pertanian Bogor. 1996. Analisis Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Keputusan Petani Dalam Pemasaran Gabah (Kasus Desa Majosen. M. Program Studi Agroklimatologi. 1988. PS. Jurusan Ilmu. 1995. Yayu Sri. Analisis Pendapatan dan Efisiensi Penggunaan Faktor Produksi Usahatani Padi Gogo Secara Tumpangsari Dengan Jagung di Kecamatan Kadipaten Tasikmalaya Propinsi Jawa Barat. Rome. Maryono.ilmu Sosial Ekonomi Pertanian. Bogor. 1981. FAO Rice Conference. Institut Pertanian Bogor. Hernanto. LP3ES. Setiawan. James. Skripsi. Hadrian. Mulyo. Cetakan kedua. Institut Pertanian Bogor. Sambutan Menteri Negara Agraria/Kepala BPN. Sendi-Sendi Pokok Ilmu Usahatani. Skripsi. Budidaya Tanaman Padi di Indonesia. Program Pascasarjana. 1993. Chandra Arief. Lebak. Jakarta. Jakarta. Kabupaten Pekalongan. Jakarta. Ilmu Usahatani. Prisma. UI-Press. 1981. Institut Pertanian Bogor. Tesis. D. 1973. 12-13 February. Tenggeng Kulon dan Yosorejo. Scott.ilmu Sosial Ekonomi Pertanian. Institut Pertanian Bogor. Jakarta. Fakultas Pertanian. Ilmu Usahatani dan Penelitian Untuk Pengembangan Petani Kecil. Satria. Fakultas Pertanian. Italy. Kecamatan sragi. Arif. Bogor. Harry. Ahmad dan Dahlan Patong. PILMITANAS (Pekan Ilmiah Mahasiswa Ilmu Tanah Nasional). Jawa Tengah). Siregar.Harsono. Bogor. Fadholi. Jurusan Ilmu. Rahardjo. Kec. Skripsi. (5): 13-12. Bogor. 1995. Bogor. Bogor. IKAPI. 2000.

2002. Bogor. Skripsi. Bogor. Skripsi.faktor Produksi Padi Lahan Kering di Indonesia. Fakultas Pertanian. Kecamatan Tounom. Fakultas Pertanian. Institut Pertanian Bogor. Bogor. Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Produksi dan Pendapatan Usahatani Padi Sawah Pada Jaringan Irigasi Teknis dan Irigasi Sederhana. Hermawan.ilmu Sosial Ekonomi Pertanian. Program Pascasarjana. Skripsi. Tesis. Wijaya. Jurusan Ilmu. 1999. Fakultas Pertanian.ilmu Sosial Ekonomi Pertanian. Bogor. Yanuar. Institut Pertanian Bogor. 2000. Yelni. Analisis Pendapatan dan Produksi Usahatani Padi Lahan Gambut (Studi Kasus : Desa Blang Ramee. Jurusan Ilmu. Analisis Faktor. . Institut Pertanian Bogor. Analisis Pendapatan dan Efisiensi Usahatani Padi Input Rendah di Kecamatan Tempuran. Kabupaten Aceh Barat). Kabupaten Karawang. Andri.Wana. Rahmat. 1999. Institut Pertanian Bogor.

LAMPIRAN .

2484 0.69 3.101 Ln Benih + 0.296 VIF 1.8846 5.6% R-Sq(pred) = 45.2221 0.48 1.0697 Ln Pestisida Predictor Konstanta Ln Pupuk Ln TK Luar Ln TK Dalam Ln Benih Ln Pestisida Coef 0.61 5.999 0.1013 0.19 0.1803 Residual -1.2875 MS 2.2092 0.Lampiran 1. Analisis Regresi Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Produktivitas Cabang Usahatani Padi Ladang Di Desa Wanajaya The regression equation is Ln Produktivitas = 0.6180 18.5712 6.217 Ln TK Dalam + 0.3 1.61 2.8251 SE Fit 0.06968 SE Coef 1.989 0.3000 2.000 Unusual Observations Obs Ln Pupuk Ln Prod Resid 6 4.83 P 0.530 Ln TK Luar + 0.2161 7.011 0.5302 0.61 7.02% R-Sq(adj) = 52.11R Durbin-Watson statistic = 1.632 0.8341 Seq SS 1.9949 St - .2 2.72R 7 4.004 0.4056 0.77 Fit 6.8 1.1969 0.6600 3.2539 F 8.003 0.06548 T 0.3 S = 0.1876 0.00 + 0.2432 0.3546 Analysis of Variance Source Regression Residual Error Total Source DF Ln Pupuk 1 Ln TK Luar 1 Ln TK Dalam 1 Ln Benih 1 Ln Pestisida 1 DF 5 30 35 R-Sq = 59.00 0.8200 2.06 P 0.06819 0.8% SS 11.2712 0.545 0.1619 0.5039 PRESS = 10.248 Ln Pupuk + 0.21728 0.3 1.

064 24.76 49.95 -1.395 47.899 10.80 3 Padi Ladang Produksi (000 Ton) Luas Panen (000 Ha) Produktivitas (Ku/Ha) Sumber : www. dan Produktivitas Padi di Indonesia.185 10.71 2 47.565 1.00 -2.43 . Tahun 2001-2005 No 1 Komoditi Padi Produksi (000 Ton) Luas Panen (000 Ha) Produktivitas (Ku/Ha) Padi Sawah Produksi (000 Ton) Luas Panen (000 Ha) Produktivitas (Ku/Ha) 2001 50.88 2002 51.56 -0.63 2.38 2004 54.922 45.209 10.488 45.521 44.36 2005 53.69 Tahun 2003 52.604 45.Lampiran 2.80 -2.799 47.759 1.457 46.498 47.68 Pertumbuhan (2004-2005) -2.79 0.23 2.490 11.52 -1.896 10.378 10.bps.081 23.008 11.088 11.822 1.461 11. 2005 2. Pertumbuhan Produksi.42 50.go.97 48.591 1.67 0.id.419 45.105 25.879 1.74 2.123 25.500 43.138 11.34 2. Luas Panen.50 51.094 25.00 -2.

01 37.17 19.76 23.78 20 24.28 18.53 31.07 18.53 5.84 20.13 17.55 24.03 26.92 17.89 21.97 20.46 -14.75 20.16 24.35 21.36 23.70 0.29 35.33 20.8 19.86 28.59 23.11 27.18 23.65 19.7 18.04 0.66 20.15 22.56 26.67 23.25 25.9 24.47 23.06 22.66 20.54 4.55 17.14 25.62 20.34 Tahun 2003 22.49 22.3 19.78 0.86 26.31 21.76 18.37 16.25 21.50 -8.11 23.19 26.09 25.89 21.82 32.66 30.18 23.99 23.27 33.71 22.85 20.93 20.21 22.95 22.03 23.Lampiran 3.go.id.33 27.75 22.84 29.02 22.58 23.54 24.55 23.60 -9.44 0.21 35.89 20.19 20.36 31.67 0 0 25.61 24.35 -0.21 24.5 26.12 19.53 21.31 24.96 20.8 30.23 -10.86 0.2 21.31 23.57 24.56 23.52 Pertumbuhan (2004-2005) 0.75 26.87 16.32 21.85 22.66 21.83 22.32 24.72 2. 2005 *) Angka ramalan -) Data tidak tersedia .75 24.bps. Produktivitas Padi Ladang Menurut Propinsi Di Indonesia.47 23.69 0.27 22.21 25.03 25.9 35.45 23.21 25.57 19.65 22.01 4.31 31.56 25. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 Propinsi NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Maluku Maluku Utara Papua Indonesia 2001 22.6 25.8 28.63 25.27 20.97 -1. Tahun 2001-2005 (Kwintal/Ha) No.84 21.45 0.77 18.47 26.22 20.94 20.41 20.23 2004 2005*) 22.72 30 29.35 21.43 Sumber : www.74 2002 21.15 26.29 -2.14 26.73 2.57 23.82 23.26 8.19 20.44 0.45 24.27 -3.53 24.63 -0.85 24.52 -3.42 34.45 23.33 23.95 20.42 34.15 19.99 19.3 28.62 8.41 26.33 20.16 35.52 22.06 19.88 -0.04 1.21 21.73 2.03 -0.12 20.88 21.22 24.49 31.

872 5.66 39.962 195.647 58.773 36.676 2.578 184.848 Kalimantan Barat 175.945 37.09 9.497 20.35 -35.Lampiran 4.136 105.889 Sulawesi Tengah 7.844 5.530 200.204 116. Produksi Padi Ladang Menurut Propinsi Di Indonesia Tahun 2001-2005 (Dalam Ton) No.629 Sumber : www.959 41.838 Gorontalo 1.108 356.331 132.827 11.35 10.248 5.97 -9.978 215.270 2.90 15.031 Indonesia 2.574 1.659 99.06 1.66 -2.368 28.878 115.822.726 16.702 DKI Jakarta Jawa Barat 340.50 26.199 6.000 23.778 1.938 Lampung 252.692 77.434 121.925 Jambi 59.240 8.788 Bali 1.016 40.418 Banten 73.190 134.91 -10.612 59.465 1.386 Kalimantan Selatan 110. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 Propinsi 2001 2002 NAD 4.801 31.796 198.290 80.288 10.036 86.814 16.468 1.162 Sulawesi Selatan 29.900 171.614 139.615 27.234 16.363 183.052 94.43 -0.375 100.618 107.576 304.693 82.763 Sumatera Utara 180.id.042 295.750 4.79 -16.842 143.246 13.565.414 3.681 167.055 60.086 Kalimantan Timur 107.016 20.053 13.347 231.951 Sulawesi Utara 12.998 2.187 4.308 302.774 Pertumbuhan -8.560 121.754 39.491 Jawa Tengah 192.967 14.882 Sumatera Selatan 158.500 113.25 -6.908 8.910 1.416 Sumatera Barat 13.24 -5.806 8.892 83.69 -25.203 Sulawesi Tenggara 11.72 -3.590.88 7.450 17.957 46.69 -2.26 -15.85 11.307 44.404 NTB 78.567 1.20 -17.bps.29 5.978 Maluku Utara Papua 12.254 133.291 61.621 1.67 -1.861 56.903 10.423 39.32 25.556 Bangka Belitung 11.175 Riau 44.622 Jawa Timur 303.093.68 -3.323 26.333 185.95 .60 5.177 7.194 22.301 59.879.225 9.892 169. 2005 Tahun 2003 2.go.190 NTT 102.182 132.717 358.970 3.723 115.882 227.522 Kalimantan Tengah 111.486 137.226 306.621 39.333 995 Maluku 13.281 4.659 2.771 Bengkulu 34.035 2005 6.550 204.898 209.144 1.656 6.407 65.076 6.169 154.725 219.518 2004 7.917 16.64 -4.181 113.699 DI Yogyakarta 119.27 0.365 10.530 181.54 -1.915 2.663 25.073 128.454 26.

1 0.5 Rata-rata 0.16 0.05 0.2 141.4 157.5 37 Narmin 0.6 195.5 39 Namun 1 40 Samad 0.2 26 20.5 34 Iwan 2 35 Sahir 0.000 900 400 1.24 0.5 23 Mamat 0.03 237.25 48.4 30.5 36 Walim 0.500 800 1.8 174.500 400 400 200 2.2 141.74 0.7 Pupuk (Kg) 100 70 100 100 100 100 100 150 250 25 30 100 100 100 200 40 100 200 30 100 150 50 200 200 30 100 100 200 80 80 80 200 80 36.05 2.1 0.4 24 Enong 0.500 1.4 166.27 1.2 7 0.15 0.2 1.15 0.2 26 27.4 37.6 43.5 16 Cilan 1 17 Hidayat 1 18 Enan 0.75 Rata-rata per Hektar No Nama Produksi (Kg) 1.4 33 Misjah 0.1 2.75 15 Icis 0.000 200 500 150 500 700 200 954.25 0.15 2.32 0.6 125.1 28 Ganda 0.1 1.2 178.6 105.4 22 Asim 0.8 192.34 83.15 0.2 26 Benih (Kg) 50 25 50 50 50 50 50 25 40 100 40 30 80 50 25 50 50 50 50 50 20 50 30 20 50 60 50 30 80 50 40 50 40 50 30 40 30 30 80 20 45 60 Pestisida (Liter) 1.4 172 150 84.1 2.000 1.5 0.16 0. Penggunaan Faktor-faktor Produksi Cabang Usahatani Padi Ladang Di Desa Wanajaya.4 413 162.5 12 Ayat 0.6 48 15.8 231.000 900 900 400 1.6 28 37 29 38. Musim Tanam November-April Tahun 2005 Luas (Ha) 1 Sakam 1.8 21 Madhawi 0.300 500 500 800 1.8 146.24 4.6 196.4 155.6 141.4 35 28 17.4 40 31 48 35.6 30 Dulhamid 1 31 Sadum 0.5 29 Keming 0.1 1.2 173.4 409.15 2.1 0.8 269.500 .4 174.24 0.4 25 Amud 1 26 Murdi 0.6 2 0.500 400 800 500 800 200 500 280 1.000 1.000 900 500 800 1.6 142 104.6 109 114.1 0.4 82.37 TK Luar (HOK) 44 26 27.1 5.4 33 45.08 0.5 0.Lampiran 5.4 155.8 .1 110.2 0.6 117.4 46 18.16 0.4 13 Aman 1 14 Adon 0.75 1273 TK Dlm (HOK) 186.8 220.2 125.2 112 390.5 19 Asmur 1 20 Karsim 0.75 2 Acim 3 Madhari 1 4 Ladi 0.8 150.5 5 Kiwan 0.2 36 154 26.24 1.2 311.1 0.5 6 Walim 1 7 Kamin 1 8 Natong 1 9 Onang 1 10 Rakim 2 11 Bodeh 0.6 38 Neman 0.15 0.8 172.5 27 Hardi 0.4 32 Kadim 0.

000.1.30.482.120.000.000.222.000.000.496.- .300 500 500 800 1.7.- 168.000.000.- 70.000.000.627.000.000.5 36 Walim 0.000 200 500 150 500 700 200 954 1273 Tenaga Dalam RT 1.000.000.5 29 Keming 0.654.000.5 Rata-rata 0.315.89.5 6 Walim 1 7 Kamin 1 8 Natong 1 9 Onang 1 10 Rakim 2 11 Bodeh 0.- 146.Lampiran 6.Benih 120.508.109.122.154.1.1.200.6 38 Neman 0.000.56.259.4 24 Enong 0.175.30.000.1.000.902.120.932.000.672.150.800.175.500 400 800 500 800 200 500 280 1.400.000.33.703.617.275.29.5 12 Ayat 0.000.400.45.5 23 Mamat 0.000.240.70.70.000.75 3 Madhari 1 4 Ladi 0.400.183.600.000.000.000.4 32 Kadim 0.200.000.000.000.5 2 Acim 0.000.000.200.400.000.200.000.500.54.000.300.Kerja Luar RT 264.60.175.323.800.000.168.1.868.240.44.000.104.000.120.000.000.130.000.000.30.800.80.924.600.313.48.973.192.5 16 Cilan 1 17 Hidayat 1 18 Enan 0.000.5 5 Kiwan 0.2.900.168.035.120.000.045.33.000.72.80.1.000.210.175.70.213.119.400.112.271.800.1.174.045.200.000.847.72.200.200.000.195.000.400.000.033.000.000.70.4 33 Misjah 0.000.000.56.000.75.89.000.600.400.848.000.000 1.112.230.48.72.22.400.70.30.224.500 500 1. Pengeluaran Cabang Usahatani Padi Ladang Di Desa Wanajaya Musim Tanam November-April Tahun 2005 No Nama Luas (ha) Produksi (Kg) 1.5 27 Hardi 0.33.000.985.51.000.000.000.21.042.1.400.000.28.40.389.000.800.8 21 Madhawi 0.200.600.192.000.000.119.22.000.000.000.000.754.2.000.42.- 1 Sakam 1.000.943.130.11.56.478.000.000.60.000.60.430.60.309.000 900 400 1.000.120.000.33.000.000.1.91.60.600.032.000.300.56.000.000.000.200.2.156.300.70.600.600.000.000.250.000.150.135.000.6 30 Dulhamid 1 31 Sadum 0.400.164.600.60.1.500 400 400 200 2.156.000.800.225.400.72.160.74.934.000.458.800.000.000.198.22.56.75 Rata-rata per Hektar 60.4 22 Asim 0.600.000.880.600.000.272.000.288.5 19 Asmur 1 20 Karsim 0.1.72.000 900 900 400 1.164.1.000.000.000.73.500 800 1.342.1.15.000.Pupuk 130.000.140.5 34 Iwan 2 35 Sahir 0.000.000.000.140.600.000.000.200.108.178.48.000.000.240.600.000.15 15 Icis 0.22.288.200.55.000.4 13 Aman 1 14 Adon 0.156.000.5 37 Narmin 0.172.000.000.000.60.848.634.000.120.186.150.000.5 39 Namun 1 40 Samad 0.000.158.355.753.120.000 1.122.156.72.60.000.400.997.000.800.74.1 28 Ganda 0.120.48.000.000.4 25 Amud 1 26 Murdi 0.000.44.000.104.000.144.000.000.150.852.69.000.800.000.216.000.400.000.42.Saprotan Pestisida 46.400.000 900 500 800 1.000.400.016.687.000.276.1.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful