ANALISIS PENDAPATAN DAN FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PRODUKSI CABANG USAHATANI PADI LADANG DI KABUPATEN KARAWANG

HENDRI METRO PURBA A07498176

FAKULTAS PERTANIAN INSTITUT PERTANIAN BOGOR 2005

RINGKASAN

HENDRI METRO PURBA. Analisis Pendapatan dan Faktor- faktor Yang Mempengaruhi Produksi Cabang Usahatani Padi Ladang Di Kabupaten Karawang (Di bawah bimbingan NUNUNG KUSNADI). Kebutuhan bahan pangan masyarakat Indonesia masih sangat tergantung pada beras. Produksi beras nasional sebagian besar disumbangkan oleh produksi padi sawah, sementara itu ketersediaan lahan sawah dan efisiensi usahatani padi sawah cenderung mengalami penurunan. Sumbangan padi ladang terhadap produksi padi nasional masih sangat rendah karena produktivitas padi ladang yang jauh lebih rendah daripada produktivitas padi sawah. Jika dibandingkan dari segi laju pertumbuhan produksi, padi ladang juga masih jauh lebih rendah daripada padi sawah. Mengingat ketersediaan lahan kering bagi usahatani padi ladang masih sangat besar, maka pengembangan produktivitas usahatani padi ladang memiliki potensi yang sangat menjanjikan. Oleh karena itu menarik untuk dikaji bagaimana meningkatkan produktivitas cabang usahatani padi ladang. Penelitian ini bertujuan untuk (1) menganalisis penyebab rendahnya produktivitas padi ladang, (2) m enganalisis faktor- faktor yang mempengaruhi produksi padi ladang (3) menganalisis efisiensi ekonomis penggunaan faktor-faktor produksi pada cabang usahatani padi ladang. Pengumpulan data dilakukan dari bulan Mei hingga Juni 2005 di Desa Wanajaya, Kecamatan Teluk Jambe, Kabupaten Karawang. Data yang digunakan adalah data primer dan data sekunder. Data primer dikumpulkan dengan melakukan pengamatan dan wawancara langsung dengan petani responden dengan mengajukan pertanyaan yang dibuat dalam bentuk kuesioner yang telah dipersiapkan sebelumnya. Data sekunder diperoleh dengan cara penelusuran kepustakaan buku, laporan penelitian, artikel, majalah, karya ilmiah yang berkaitan dengan masalah penelitian dan melalui internet. Selain itu data

sekunder juga diperoleh dari Biro Pusat Statistik, Departemen Pertanian, Balai Penelitian Tanaman Pangan, Pusat Pengembangan Sosial Ekonomi Pertanian, dan Pemerintah Daerah di lokasi penelitian. Pengolahan data dilakukan dengan menggunakan analisis imbangan penerimaan dan biaya (analisis R/C ratio),

pendekatan fungsi produksi Cobb-Douglas, dan analisis efisiensi ekonomi dengan rasio Nilai Produk Marjinal (NPM) dan Biaya Korbanan Marjinal (BKM). Pengolahan data dilakukan dengan me nggunakan program Microsoft Excel dan Minitab 13 for Windows. Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) dengan analisis imbangan penerimaan dan biaya (analisis R/C ratio), diperoleh nilai rasio R/C atas biaya total sebesar 0.76 (lebih kecil dari satu), sehingga dapat disimpulkan bahwa cabang usahatani padi ladang di Desa Wanajaya tidak menguntungkan bagi petani, (2) faktor- faktor produksi yang berpengaruh nyata terhadap produksi padi ladang adalah tenaga kerja luar keluarga dan tenaga kerja dalam keluarga, yang signifikan pada taraf kepercayaan 99 persen. Sedangkan faktor pupuk, benih, dan pestisida tidak berpengaruh nyata pada taraf kepercayaan yang ditetapkan, (3) penggunaan faktor-faktor produksi yang efisien secara ekonomis dicapai pada saat penggunaan faktor pupuk sebesar 282.51, faktor tenaga kerja luar keluarga sebesar 146.33 HOK, penggunaan benih yang semula sebesar 60 kilogram harus ditingkatkan menjadi 69.69 kilogram, penggunaan tenaga kerja dalam keluarga harus dikurangi dari yang semula sebesar 237.37 HOK menjadi sebesar 59.94 HOK, faktor produksi pestisida harus ditingkatkan dari sebesar 1.7 liter dalam penggunaan aktualnya menjadi sebesar 2.47 liter. Berdasarkan hasil penelitian di atas maka disarankan agar (1) penggunaan faktor produksi pupuk, benih, pestisida tenaga kerja luar harus ditingkatkan dari penggunaan aktualnya supaya usahatani padi ladang yang dilakukan lebih efisie n dan menguntungkan bagi petani, (2) pemberian bimbingan dan penyuluhan dari instansi terkait mengenai teknik budidaya padi ladang yang tepat seperti kombinasi penggunaan pupuk dan pestisida yang tepat dan pola tanam yang tepat untuk mencapai usahatani padi ladang yang lebih produktif dan menguntungkan.

ANALISIS PENDAPATAN DAN FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PRODUKSI CABANG USAHATANI PADI LADANG DI KABUPATEN KARAWANG

Oleh

HENDRI METRO PURBA A07498176

Skripsi Sebagai Bagian Persyaratan Untuk Memperoleh Gelar Sarjana Pertanian

pada Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor

FAKULTAS PERTANIAN INSTITUT PERTANIAN BOGOR 2005

DEPARTEMEN ILMU-ILMU SOSIAL EKONOMI PERTANIAN FAKULTAS PERTANIAN INSTITUT PERTANIAN BOGOR

Dengan ini menyatakan bahwa skripsi yang disusun oleh : Nama NRP : : Hendri Metro Purba A07498176 Manajemen Agribisnis Analisis Pendapatan dan Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Produksi Cabang Usahatani Padi Ladang Di Kabupaten Karawang dapat diterima sebagai syarat kelulusan untuk memperoleh gelar Sarjana Pertanian pada Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor.

Program Studi : Judul Skripsi :

Menyetujui, Dosen Pembimbing

Dr. Ir. Nunung Kusnadi.MS NIP. 131 415 082

Mengetahui, Fakultas Pertanian Dekan

Prof. Dr. Ir. H. Supiandi Sabiham, M.Agr NIP. 130 422 698

Tanggal Lulus : 20 Desember 2005

PERNYATAAN

DENGAN INI SAYA MENYATAKAN BAHWA SKRIPSI YANG BERJUDUL “ANALISIS PENDAPATAN DAN FAKTOR-FAKTOR YANG

MEMPENGARUHI PRODUKSI CABANG USAHATANI PADI LADANG DI KABUPATEN KARAWANG” BELUM PERNAH DIAJUKAN PADA

PERGURUAN TINGGI LAIN ATAU LEMBAGA LAIN MANAPUN UNTUK TUJUAN MEMPEROLEH GELAR AKADEMIK TERTENTU. SAYA JUGA MENYATAKAN BAHWA SKRIPSI INI BENAR-BENAR HASIL KARYA SAYA SENDIRI DAN TIDAK MENGANDUNG BAHAN-BAHAN YANG PERNAH DITULIS ATAU DITERBITKAN OLEH PIHAK LAIN KECUALI SEBAGAI BAHAN RUJUKAN YANG DINYATAKAN DALAM NASKAH.

Bogor, Desember 2005

Hendri Metro Purba A07498176

dan lulus pada tahun 1998. Situmorang. pada tahun 1998 melalui jalur UMPTN (Ujian Masuk Perguruan Tinggi Negeri). Kemudian. Penulis melanjutkan pendidikan menengah pertama di SMP Negeri 1 Dolok Sanggul. dan lulus tahun 1995.RIWAYAT HIDUP Penulis dilahirkan di Dolok Sanggul pada tanggal 16 Juli 1980. penulis diterima di SMU Katolik Santo Agustinus Jakarta. Penulis adalah anak pertama dari enam bersaudara pasangan Bapak T. Fakultas Pertanian. dan menyelesaikannya pada tahun 1992. Purba dan Ibu H. Institut Pertanian Bogor. Penulis diterima sebagai mahasiswa Program Studi Manajemen Agrinisnis. . Penulis memulai pendidikan dasarnya pada tahun 1986 di SD Negeri 3 Dolok Sanggul.

dan melakukan analisis efisiensi ekonomis penggunaan faktor produksi pada cabang usahatani padi ladang. Penulis menyadari kekurangan dalam penulisan skripsi ini sehingga diperlukan kritik dan saran untuk perbaikan skripsi ini.KATA PENGANTAR Puji syukur penulis panjatkan kepada Tuhan Allah Yang Maha Kuasa atas berkat dan karunia-Nya yang besar yang memberikan segala hikmat dan kekuatan sehingga penulis dapat menyelesaikan penulisan skripsi ini. Desember 2005 Penulis . Penulis berharap penelitian yang dilakukan dapat diterima dan dimanfaatkan bagi perkembangan ilmu pengetahuan dan pihak lain yang berkepentingan. Sesuai dengan judul tersebut. Bogor. skripsi ini menganalisis pendapatan yang diperoleh petani dari kegiatan berusahatani padi ladang. Judul skripsi ini adalah “Analisis Pendapatan dan Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Produksi Cabang Usahatani Padi Ladang di Kabupaten Karawang”. mengana lisis faktorfaktor yang mempengaruhi produiksi dalam usahatani padi ladang.

MS. atas kesediaannya menjadi dosen penguji komisi pendidikan. Markos. Nunung Kusnadi. beserta semua teman-teman di Parmasi. dan Kardinal atas keberadaan. dan semua keluarga besar di Dolok Sanggul. John Freddy. Ompung Suhut. 10. . Sartika. SP. 7. Nipar. makan gratis. Amzul Rifin. Donal. Lae Viston. Ogem. Namboru. Gaga. Edo. John Wisnu. dan Maria Margareth. Ramaijon Purba atas bimbingan dan bantuannya. 13. arahan. Bang Tamlin. selaku dosen pembimbing yang dengan kesabaran telah memberikan bimbingan. 6. teman satu bimbingan dan seperjuangan selama kuliah dan penulisan skripsi. MA. 8. dan Ompung Josua di Pekan Baru. Bapa dan Uma dan adik-adikku Duddy. 12. Sahabat-sahabatku yang tak tergantikan di Base One : Cay. Victor. dan dukungan berharga selama turun lapang di Karawang. Keluarga Tulang Donal. Ir. 14. dan Amangboru Sagala di Jakarta. kritik dan saran dalam melakukan penelitian dan penyusunan skripsi ini. Anna Fariyanti. Bang Ivan. Appara Frenky. 5. 2. Rikky Sitorus. Echa . Pak Enong sebagai penerjemah dan pendamping penulis selama turun lapang. Marta Sundari atas bantuannya selama mengolah data dan penulisan skripsi. Nita. Keluarga Ompung Berthold di Depok. Dr. Tulang Suci. Ompung Arif di Bandung. 9. Ir. MS. Ucok. dan Chamber yang telah menyediakan fasilitas penginapan. Arif Karya Kusuma. atas kesediaan menjadi dosen penguji utama. 11. Orang Tuaku. Halashon. Keluarga Amangboru Mario. 3. dan Tulang Hendra. doa dan dukungannya. Namboru Patar.UCAPAN TERIMA KASIH Dalam kesempatan ini penulis ingin mengucapkan terima kasih dan penghargaan kepada : 1. 4.

Semua pihak lain yang belum saya sebutkan yang telah membantu saya selama mengikuti perkuliahan dan penulisan skripsi. Teman-teman di Darmaga. Bray.15. Tulus. 16. . penghuni Perwira 100. beserta semua kawan sesama Himaba.

...6........................... 1........... 3...... DAFTAR LAMPIRAN .................3............... BAB III......................... KERANGKA PEMIKIRAN ................................................................................................................1........................................................... 2..... Kegunaan Penelitian ........................................ 2...............................................................................1...............3................................. UCAPAN TERIMA KASIH .........4...................................................... 2.................................................. Perumusan Masalah .............................1............................................................ Pengolahan Tanah ............................... 2..........................3... 2............... i ii iv vii viii ix 1 1 3 7 8 9 9 9 11 11 12 12 13 15 15 16 16 21 22 29 29 30 .................................... 2..................................... Panen dan Pengolahan Hasil Panen....3................................. Sistem Perladangan di Indonesia dan Perkembangannya ........................2.............4.... Tujuan Penelitian ...... BAB I........................... 2............................................................................. 2............................7.............. Konsep Usahatani ................... Pemilihan Benih ................................................... TINJAUAN PUSTAKA ..... Pendapatan Usahatani.......................... Hasil Penelitian Terdahulu.........................................................3....................................3.. DAFTAR GAMBAR ................. Syarat Tumbuh dan Kelayakan Lahan Tanaman Padi Ladang.......... 1..............3........... 2.... 1....................................................4....................................................6.3................. 2..................... 2........................................................... Penanaman .........................2.................................. 3......................... BAB II................. Hama dan Penyakit .............................2.......................................5.............................. 2.......... Budidaya Padi Ladang .... Pemeliharaan ... Perilaku Ekonomi Petani................... Karakteristik Biologis Tanaman Padi Ladang .......2....................5.DAFTAR ISI Halaman KATA PENGANTAR ......... Pemupukan ....3.............1....3................. DAFTAR TABEL .... PENDAHULUAN .............................. 2..................................................... Latar Belakang ............................................ 1........................ DAFTAR ISI .......................................

....................................................................................................... 6..4.............................3........... Struktur Biaya ..........3. 4............. Budidaya Padi Ladang ....... Gambaran Umum Lokasi Penelitian....... 4.. Persiapan Lahan.........1.......2................3............. Metode Pengumpulan Data dan Penentuan Sampel .............. BAB VII. 6... 5.. Pemupukan.... GAMBARAN USAHATANI PADI LADANG DI DESA WANAJAYA ... 4...........2...1...............................................................................2.................. 6...................... Penanaman...... 6...... Analisis Imbangan Penerimaan dan Biaya (R/C Ratio)...................... 7......1......... 6................ Analisis Efisiensi Ekonomi ......1....................3............................ BAB V.......4................. Analisis Fungsi Produksi ..Pemanenan...3......................2...........................................4....3.2.........................3............1.................... 3.............1......................................................................................................................................................... Pengobatan ....................................... Efisiensi Ekonomi ..............3..... Analisis Imbangan Penerimaan dan Biaya (Analisis R/C ratio) ...3............................ 4....................................................1.3......... 6........3.. 7.......................................................................................... Karakteristik Petani Responden..............................................................1... Analisis Efisiensi Ekonomi...... Metode Analisis Data ......1......................... 32 33 37 40 40 40 41 41 41 43 48 50 54 54 58 66 66 66 68 69 70 71 71 72 73 74 76 76 78 83 ....1..........1........................ 4........................ Penyiangan ...... 6...............4.................................................. 6.............................. ANALISIS FAKTOR-FAKTOR PRODUKSI DAN EFISIENSI EKONOMI CABANG USAHATANI PADI LADANG .....5........................... 4..... 6..... BAB VI.................. 3.... Definisi Operasional ......... Teori Produksi .............................. Elastisitas Produksi dan Skala Usaha .. GAMBARAN UMUM DAERAH PENELITIAN ... 4..... 4............................... 7................................ 5... 6.....6.......... METODE PENELITIAN .................................2.. Lokasi dan Waktu Penelitian ....... Pendugaan Fungsi Produksi............................................ BAB IV.......................... Analisis Pendapatan Usahatani ................................. Analisis Pendapatan................................................................................................1................5......... Analisis Imbangan Penerimaan dan Biaya (R/C Ratio) ..4..............

........................................ DAFTAR PUSTAKA .................................................................................................. Saran ..2............ 88 88 89 90 93 .............................................................................. KESIMPULAN DAN SARAN .................BAB VIII................... 8................................................................................................. Kesimpulan ............ LAMPIRAN ... 8...............................1.....................

............... Produksi................ 15........ Karakteristik Penduduk Desa Wanajaya Berdasarkan Mata Pencaharian......................................... Penggunaan Lahan di desa Wanajaya Tahun 2004 ....... Topografi atau Bentang Lahan Desa Wanajaya ...................................... dan Indonesia Tahun 2004.................... ......... Analisis Ragam Produktivitas Cabang Usahatani Padi Ladang di Desa Wanajaya ......... Kombinasi Optimal Penggunaan Faktor-faktor Produksi ................................................ Hasil Analisis Pendugaan Fungsi Produksi Usahatani Padi Ladang di Desa Wanajaya .............................. Karakteristik Penduduk Desa Wanajaya Berdasarkan Kelompok Umur Tahun 2005 .DAFTAR TABEL Nomor Halaman 1.. 12............... Karakteristik Petani Responden Berdasarkan Jumlah Anggota Keluarga ................... Volume Beras yang Diperdagangkan di Dunia dan Impor Beras Indonesia Tahun 1990-2001 ................... Karakteristik Petani Responden Berdasarkan Umur ...... Luas Panen............................ 5............. 77 19............................. 74 17.......... 6 9 54 55 4.......... dan Produktivitas Padi Indonesia Tahun 2004.......................... Biaya-biaya yang Dikeluarkan Petani Padi Ladang per Hektar per Musim Tanam di Desa Wanajaya Tahun 2005 . Karakteristik Petani Responden Berdasarkan Pengalaman Usahatani ...... 2 4 2....... 76 18................................................ 10........... 6.......... 11............................... Karakteristik Penduduk Desa Wanajaya Be rdasarkan Tingkat Pendidikan. 9............................. Karakteristik Petani Responden Berdasarkan Luas Lahan Garapan .............................. 84 86 20.................. 3... Produksi Gabah Kering Giling di Kabupaten Karawang................. 7............ 14.............................. 73 16....... Rasio Nilai Produk Marjinal (NPM) dengan Biaya Korbanan Marjinal (BKM) Usahatani Padi Ladang di Desa Wanajaya Tahun 2005 ......... Klasifikasi Kriteria Lingkungan Tumbuh Tanaman Padi Ladang....... Analisis Pendapatan Cabang Usahatani Padi Ladang per Hektar per Musim Tanam di Desa Wanajaya Tahun 2005 .................... 56 57 58 58 59 61 62 63 8...................................... Karakteristik Petani Responden Berdasarkan Tingkat Pendidikan ....................... 13............ Jawa Barat.......

............ Bagan Prosedur Analisis Pendapatan dan Faktor............................... 53 ............... 34 2...DAFTAR GAMBAR Nomor 1........... Kurva Fungsi Produksi Total dan Hubungannya Dengan Produk Marjinal Halaman dan Produk Rata-rata (Doll dan Orazem....... 1984) ...faktor Yang Mempengaruhi Produksi Cabang Usahatani Padi Ladang .

.. dan Produktivitas Padi Di Indonesia.............. 6.. Produktivitas Padi Ladang Menurut Propinsi Di Indonesia............ Tahun 2001-2005 (Kwintal/Ha) ................... Pengeluaran Cabang Usahatani Padi Ladang Di Desa Wanajaya Musim Tanam November-April Tahun 2005 ........ 3....... Tahun 2001-2005 (Dalam Ton) .faktor Produksi Cabang Usahatani Padi Ladang Di Desa Wanajaya......faktor yang Mempengaruhi Produksi Cabang Usahatani Padi Ladang Di Kabupaten Karawang ................. 2................... Penggunaan Faktor................................DAFTAR LAMPIRAN Nomor 1................ Pertumb uhan Produksi....... 4............... Tahun 2001-2005 ........................faktor Yang Mempengaruhi Produktivitas Halaman Cabang Usahatani Padi Ladang Di Desa Wanajaya ...................... Produktivitas Padi Ladang Menurut Propinsi Di Indonesia................................................... Luas Panen....... 94 95 96 97 98 99 100 ...... Musim Tanam November-April Tahun 2005 ...... Kuesioner Analisis Pendapatan dan Faktor.................. 5............................. Analisis Regresi Faktor.............. 7..............................

Impor beras nasional cenderung meningkat misalnya dari 615 ribu ton pada tahun 1991 menjadi sekitar 3 juta ton pada tahun 1995 dan pada tahun 1996 mencapai sekitar 3 juta ton akibat musim kemarau panjang dan bahkan sempat meningkat drastis hingga sekitar 6 juta ton pada tahun 1998 akibat terjadinya krisis moneter yang mengakibatkan kenaikan secara drastis pada harga input pertanian seperti pupuk dan pestisida yang bahan bakunya sebagian besar diimpor. Laju peningkatan produksi padi cenderung menurun. 1 www.fao. 2004). Permintaan terhadap beras terus meningkat sejalan dengan pertambahan populasi dan kenaikan tingkat pendapatan penduduk. 2005 .1. maka harga beras dunia akan segera mengalami kenaikan secara signifikan. Sedangkan pertambahan produksi beras senderung lebih kecil dan tidak mampu mengimbangi pertambahan tingkat permintaan beras (Sidik. Apabila salah satu dari negara tersebut mengalami penurunan produksi dan harus mengimpor untuk mencukupi kebutuhan domestiknya. sedangkan laju permintaan beras akan selalu meningkat seiring peningkatan laju pertumbuhan penduduk.I.7 juta ton beras 1 .org.7 juta ton beras meskipun harus membayar 280 Dollar AS per ton beras untuk mencukupi kebutuhan beras domestik. Impor beras terbesar dialami Indonesia pada tahun 1999 dimana Indonesia mengimpor sekitar 4.faostat. Latar Belakang Indonesia merupakan negara konsumen beras terbesar ketiga di dunia setelah China dan India1 . Pemerintah karenanya harus mengeluarkan biaya sekitar 1.3 miliar Dollar AS untuk mengimpor 4. PENDAHULUAN 1.

150.99 59.263.FAO.924 4.70 Sumber : Situs FAO (http//www.000 615.293.000 10. 2000.440 15.615.948 5.615.750 6.486. menyebabkan sebagian besar masyarakat Indonesia masih sangat tergantung pada satu jenis bahan pangan yaitu beras.org/trade/balance). 1993 dalam Maryono.43 29.578. Oleh karena itu upaya untuk meningkatkan produksi dan produktivitas beras dianggap masih relevan untuk mengatasi masalah peningkatan tingkat permintaan beras dan tingginya impor beras Indonesia. Volume Beras yang Diperdagangkan di Dunia dan Impor Beras Indonesia Tahun 1991-2000 Perdagangan Beras Dunia (Ton) Impor Beras Indonesia (Ton) Persentase Terhadap Beras Dunia Tahun 1991 1992 1993 1994 1995 1996 1997 1998 1999 2000 58.480.138 6. pemerintah mulai mengarahkan perhatiannya kepada pengembangan pertanian di daerah lahan kering.000 1.000 25. Tabel 1.000 4.68 61.188 28.350.385 2.513.08 47. baik dari sisi produksi maupun konsumsi pangan.304 3.121 4.02 25. Menurut FAO (2004)1 .212 5.384 156. 80 persen dari luas lahan pertanian . Hingga saat ini lebih dari setengah jumlah kalori dan lebih dari 40 persen karbohidrat yang dikonsumsi oleh masyarakat Indonesia berasal dari beras.025.846 1.44 21.389. mengingat ketersediaan lahannya yang cukup luas (Ruchyat. rata-rata penduduk Indonesia mengkonsumsi sekitar 200 kilogram beras per kapita per tahun .076.Belum berhasilnya upaya diversifikasi.940 252.50 6.856.183.076.080.51 49. Untuk memenuhi kebutuhan beras dalam jangka panjang.924 3. Berdasarkan potensi.70 16. 1996).000 22.

rawa. sementara sumbangan padi ladang terhadap produksi padi nasional pada tahun yang sama hanya sekitar 5.lain. 1991 dalam Maryono.2. dan pasang surut.68 kwintal per hektar. sandang. (b) Lahan kering diperkirakan seluas 123 juta hektar atau 62 persen dari luas total daratan Indonesia. Sutari (1982) dalam Netty (1996) mengatakan bahwa lahan kering y ang diusahakan dengan tepat dapat menghasilkan berbagai komoditas dengan produktivitas yang lebih besar dibandingkan lahan sawah (basah). maka corak pertanian di masa yang akan datang adalah pertanian lahan kering (Dwijatmiko. Produktivitas rata-rata padi ladang pada tahun 2004 baru mencapai 25. 1996). dan lain. 1. perumahan.Indonesia adalah lahan kering.3 . (d) Pemanfaatan lahan kering yang semakin meningkat merupakan pertimbangan penting dalam program pemerintah selanjutnya. (c) Lahan kering merupakan sumber utama penghasil komoditi pertanian untuk tanaman pangan. Perumusan Masalah Produksi padi nasional masih didominasi padi sawah sedangkan sumbangan padi ladang masih sangat rendah karena produktivitas dan luas tanam padi ladang yang jauh lebih rendah daripada produktivitas dan luas tanam padi sawah. Untuk tetap mempertahankan swasembada pangan. Selain itu lahan kering memiliki kedudukan strategis karena : (a) Lahan kering menempati areal terluas dibandingkan dengan lahan jenis air seperti sawah.

id/ditjentp). Produksi.go. Di samping itu kenyataan juga menunjukkan bahwa keterbatasan faktor produksi usahatani (lahan. Luas Panen.deptan.622 ribu ton pada tahun 1969 menjadi 2.191 2.303 Sumber : Situs Deptan (www. rendahnya produktivitas padi ladang tidak terlepas dari keterbatasan faktor tanah. topografi dan iklim pada lahan kering. 2004 .843. (2) topografi umumnya berlereng sehingga mudah tererosi.034 11. 2004 * ) Gabah Kering Giling Jika dibandingkan dari segi laju pertumbuhan produksi. Menurut Ruchyat (1993) dalam Maryono (1996).004 1. sementara produksi padi sawah mengalami peningkatan kira-kira sebesar 140 persen atau meningkat sebesar 24.038 Produktivitas* (Ku/Ha) 47.id/ditjentp.go. tenaga kerja dan modal) serta pengetahuan petani di daerah lahan kering menyebabkan pola tanam yang selama ini diusahakan masih bersifat subsisten.895. dimana dari tahun 1969 hingga 1989 produksi padi ladang hanya mengalami peningkatan kira-kira sebesar 45 persen yaitu dari 1.deptan.6 juta ton. padi ladang juga masih jauh lebih rendah daripada padi sawah.345 ribu ton pada tahun 1989. Tabel 2.persen dengan luas panen sekitar 9. Dari kenyataan tersebut adalah hal yang wajar bila produktivitas rata-rata padi ladang jauh lebih rendah daripada produktivitas rata2 www.4 persen dari total luas panen padi nasional2 .127.446.341.68 45.40 Produksi* (Ton) 51.970. (3) curah hujan rendah.112 54. dan Produktivitas Padi Indonesia Tahun 2004 Jenis Padi Sawah Padi Ladang Padi Total Luas Panen (Ha) 10. Lahan kering mempunyai karakteristik antara lain : (1) tanah kurang subur.45 25.

dan topografi yang lebih baik untuk usahatani padi. meskipun hal ini merupakan sesuatu yang wajar mengingat produktivitas padi sawah yang jauh lebih tinggi dengan kendala peningkatan produktivitas padi sawah yang jauh lebih ringan daripada kendala peningkatan produktivitas padi ladang. pengairan yang lebih teratur. Kebijakan pemerintah yang lebih berpihak pada peningkatan produksi dan produktivitas padi sawah dibandingkan padi ladang merupakan salah satu contohnya. Pertanian padi ladang banyak dijumpai di daerah transmigrasi lahan kering dan daerah yang topografi lahannya didominasi perbukitan atau lahan kering dan tidak mendapat fasilitas irigasi (Wana. Meskipun sumbangan padi ladang terhadap produksi nasional relatif kecil. maka posisi usahatani padi ladang akan semakin penting bagi m depan pertanian Indonesia secara umum dan sangat asa potensial bagi peningkatan ketahanan pangan nasional.masing daerah produsen padi ladang. Berdasarkan uraian di atas.rata padi sawah dengan tingkat kesuburan tanah yang jauh lebih tinggi. Identifikasi yang dimaksud antara lain meliputi penelitian tentang peningkatan teknik budidaya yang ada supaya produktivitas lahan kering . tetapi padi ladang ditanam hampir di seluruh propinsi di Indonesia. Tingkat produktivitas padi ladang yang rendah dan laju perkembangan produksi padi ladang yang relatif lamban juga diakibatkan permasalaha n yang dihadapi usahatani padi ladang relatif lebih kompleks daripada permasalahan padi sawah. Permasalahan usahatani padi ladang relatif lebih kompleks daripada padi sawah. 2000). Bahkan sebagian daerah sangat menggantungkan ketersediaan dan kebutuhan berasnya pada produksi padi ladang. Usahatani padi ladang memerlukan identifikasi lebih rinci dan jelas pada masing.

974 997.421 10.faktor yang mempengaruhi produktivitas dan efisiensi ekonomi pengusahaan padi ladang.240.89 persen total produksi Jawa Barat dan 2.445 11.506 . dan Indonesia Tahun 2004 Tahun 1992 1993 1994 1995 1996 Karawang (Ton) 1.007.181.744 11.087 46.08 persen dari seluruh total produksi di Indonesia. Produksi Padi Gabah Kering Giling di Kabupaten Karawang.140 51.320.101. Pada tahun 1992 total produksi Kabupaten Karawang mencapai 1.641. Analisis terhadap aspek produksi merupakan salah satu pendekatan yang penting dalam kebijaksanaan pangan untuk memenuhi kebutuhan pangan terutama yang menjadi makanan pokok masyarakat.masing daerah produksi disamping karakteristik sosial ekonominya.007.499 1. Karawang merupakan salah satu sentra produksi padi di Indonesia. Penentuan alternatif produksi padi ladang tentu juga harus mempertimbangkan karakteristik agroklimat yang khas atau unik pada masing.689 997.071 Jawa Barat (Ton) 11.188.009 48.735 11.524 49.218.094.terutama padi ladang dapat ditingkatkan hingga dapat mengimbangi produktivitas padi sawah bahkan mungkin melampauinya. Tabel 3.628 Indonesia (Ton) 48.007 juta ton atau mencapai 8.152. Dengan pendekatan ini akan diketahui alternatif produksi yang paling tepat dalam waktu yang telah ditentukan sehingga nantinya dapat menjadi salah satu informasi yang berguna dalam pembuatan kebijakan pertanian seperti halnya dalam usahatani padi ladang.744. Jawa Barat.796 991. Pendekatan ini dilakukan untuk mengetahui faktor. Tabel 5 menunjukkan perbandingan produksi gabah kering giling Kabupaten Karawang dengan Propinsi Jawa Barat dan produksi total keseluruhan di Indonesia.

411 11.852 Sumber : Situs Deptan (www.400. Dari tabel tersebut juga dapat dilihat mengenai adanya fluktuasi produksi yang terjadi tahun demi tahun yang menggambarkan adanya ketidakstabilan produksi padi yang disebabkan oleh banyak faktor.730 10.237.deptan. b.1997 1998 1999 2000 989.951 10. 2.879 917.209.000 50. c.898.76 persen dari seluruh total produksi padi nasional yang mencapai 51. Semakin berkurangnya lahan pertanian yang ada yang disebabkan oleh berubah fungsinya lahan pertanian menjadi kawasan perumahan dan industri. 2004 Pada tahun 2000 produksi Kabupaten Karawang mencapai 917 ribu ton sehingga memberikan kontribusi sebesar 8.154.faktor produksi yang efisien secara ekonomis pada cabang usahatani padi ladang ? .377.304 737.go.267 49. maka permasalahan yang akan dibahas pada penelitian ini adalah : 1.000 51.746.000 49.866. Berdasarkan uraian diatas. Beberapa faktor yang mempengaruhi antara lain2 : a.8 juta ton.22 persen dari produksi Jawa Barat dan 1.id/ditjentp). Pengaruh faktor cuaca dan iklim yang terus berfluktuasi. 3. Hal ini disebabkan oleh kurangnya pengawasan yang ketat sehingga saluran irigasi banyak dikuasai oleh beberapa orang untuk kepentingan sendiri dan kelompok tertentu. Mengapa produktivitas padi ladang lebih rendah dari padi sawah ? Faktor-faktor apa yang mempengaruhi produktivitas padi ladang ? Bagaimana mencapai tingkat penggunaan faktor.429 917. Belum berfungsinya saluran irigasi secara maksimal untuk mengairi lahan sawah dengan merata.499 10.

2. Sebagai bahan kajian bagi pemerintah dalam merumuskan program dan kebijakan di bidang pertanian dalam usaha penyempurnaan sistem pertanian terutama untuk usahatani padi ladang. 3.faktor produksi pada cabang usahatani padi ladang.4.1. Kegunaan Penelitian Penelitian ini diharapkan dapat berguna bagi beberapa pihak. sebagai berikut: 1. Menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi produktivitas padi ladang. Menganalisis efisiensi ekonomis penggunaan faktor. Sebagai bahan rujukan bagi penelitian yang akan datang agar dapat memperbaiki kesalahan dan kekurangan yang ada. 2. Menganalisis penyebab rendahnya produktivitas padi ladang. 1. 3.Tujuan Penelitian Berdasarkan latar belakang dan perumusan masalah maka tujuan penelitian ini adalah : 1. .3. Sebagai masukan bagi petani agar dapat mengelola usahataninya secara efektif dan efisien.

1. bentuk gabah bulat dan tahan terhadap kekeringan (Chang dan Vergara dalam Setiawan. tergantung pada varietasnya. Fase pemasakan adalah masa keluarnya bunga sampai gabah masak. Karakteristik Biologis Tanaman Padi Ladang Padi ladang merupakan tanaman yang biasa ditanam di lahan kering. (2) fase reproduktif. Tanaman ini merupakan tanaman semusim jenis padi (Oryza sativa L. Syarat Tumbuh dan Kelayakan Lahan Tanaman Padi Ladang Keberhasilan budidaya tanaman padi ladang ditentukan oleh penyesuaian tanaman terhadap lingkungan. dan (3) fase pemasakan. anakan sedikit.. masak padat sekitar 102 hingga 120 hari setelah tanam. sementara tahapan yang dilalui adalah masak susu sekitar 92 hingga 110 hari setelah tanam. iklim. dan masa penuh sekitar 112 hingga 120 hari setelah tanam. Pada fase ini tanaman padi ladang sangat sensitif terhadap cekaman lingkungan. hasil . sejak masa perkecambahan benih sampai pembentukan primordial bunga pada ujung batangnya. 2. berumur sedang. (1995) mengemukakan bahwa siklus hidup tanaman padi ladang berkisar antara 90 hingga 140 hari.) yang diusahakan di tanah tegalan kering secara menetap dan kebanyakan ditanam di daerah tropika. dan cuaca. Fase vegetatif merupakan masa pertumbuhan batang dan daun (55 hari). Basyir et al.2.II. 2000). Jika pertumbuhannya baik. Masa pertumbuhan padi ladang terdiri dari tiga fase : (1) fase vegetatif. TINJAUAN PUSTAKA 2. Jenis tradisional (varietas Genjah) memiliki ciri-ciri : berbatang tinggi. Fase reproduktif adalah masa dari tahap munculnya primordia bunga sampai waktu keluar bunga (35 hari).

Al Reg Faktor Pembatas Tidak ada MT pendek Kesuburan tanah rendah-sedang Keterbatasan air Suhu. Gru And. Gru. lamanya musim tanam. Kecukupan dan ketersediaan air ditentukan oleh empat faktor yaitu : curah hujan. Al Med. Gupta dan O’Toole (1986) menyatakan bahwa curah hujan merupakan unsur agroklimat berpengaruh dominan terhadap pertumbuhan dan produkisi padi ladang. La. La. Reg = regosol. CH = curah hujan. kemiringan lahan. RH. Pod. Med = mediteran. Gru. Atas dasar keempat faktor tersebut. Tabel 4. La = latosol. curah hujan merupakan unsur iklim yang besar pengaruhnya terhadap suatu sistem usahatani. Al Med. Pada Lahan tersebut padi ladang lebih banyak ditanam pada musim hujan karena kebutuhan air bagi tanaman tergantung sepenuhnya pada curah hujan. And = andosol. periode saat air tanah cukup bagi pertumbuhan tanaman. Klasifikasi Kriteria Lingkungan Tumbuh Tanaman Padi Ladang Nilai No 1 2 3 4 Kelas Kesesuaian Sangat Sesuai Sesuai Sesuai Agak Sesuai Elevasi (m dpl) < 700 < 700 < 700 < 700 Lereng (%) <5 <5 <5 20 May MT (Bulan) 9 8-May >4 >4 CH (mm/th) 1500-3500 1500-3500 1500-3500 1500-3500 Jenis Tanah Med. . kering. Pod. Al Med. Gru = grumosol. And. dan sangat kering. dan tekstur tanah. agak sesuai. Gru. terutama pada lahan kering dan tadah hujan. dan topografi Fisik dan kimia tanah Suhu dan radiasi Kekurangan air 5 6 7 8 Agak Sesuai Tidak Sesuai Tidak Sesuai Tidak Sesuai 700-900 < 900 > 900 - < 20 20 > 20 - >4 >4 <4 > 1500 > 1800 > 3500 < 1500 Sumber Keterangan : Jones and Garrity dalam Setiawan (2000) : MT = musim tanam. Al = aluvial.panen juga akan baik. And. Kelayakan lahan untuk pertanaman padi ladang menurut Jones dan Garrity dalam Setiawan (2000) didasarkan pada kecukupan dan ketersediaan air. La. And. Pod = podsolik. Pod. lahan tanaman padi ladang dikelompokkan menjadi empat kelas yaitu : sesuai. Menurut Bey dan Las dalam Setiawan (2000).

Intensitas radiasi matahari yang rendah. tetapi berkorelasi negatif dengan produksi gabah selama fase pengisian gabah hingga masa panen (Murata 1976 dalam Setiawan. struktur. 1995). perubahan unsur hara dalam tanah merupakan salah satu faktor yang membatasi produktivitas tanaman pada lahan kering. Menurut Madkar et al. Tekstur tanah dengan kemampuan menyimpan air yang tinggi merupakan kondisi yang sesuai bagi tanaman padi ladang.. Menurut De Datta dalam Setiawan (2000). dan pH tanah. curah hujan tinggi (lebih besar dari 1500 mm per tahun) dan musim tanaman panjang. Sedangkan suhu udara berkorelasi positif dengan produksi padi selama fase vegetatif melalui jumlah tunas yang dihasilkan. PH tanah yang sesuai untuk pertumbuhan padi ladang . unsur hara. 2000). 1986). pertumbuhan dan hasil padi ladang dipengaruhi oleh tekstur. bergelombang. dalam Setiawan (2000). Tanah dengan kemamp uan menyimpan air yang rendah dapat menimbulkan masalah kelembabam yang rendah setelah hujan berhenti.Lingkungan tumbuh akan mendukung pertumbuhan padi ladang apabila memiliki tekstur tanah halus hingga sedang. dan berbukit. menurut Gupta dan O’Toole (1986) merupakan penyebab rendahnya produksi padi ladang. Ketinggian areal pertanaman padi ladang bervariasi mulai dari dataran rendah sampai dataran dengan ketinggian 1500 meter di atas permukaan laut. yaitu 5 hingga 12 bulan per tahun. kemiringan lahan 0 sampai 8 persen. Hal ini dapat menyebabkan ketersediaan unsur hara dalam tanah akan menurun (Gupta dan O’Toole. Unsur iklim yang berperan dalam keberhasilan budidaya tanaman padi ladang adalah radiasi dan suhu udara (Basyir et al. Padi ladang dapat tumbuh hampir pada semua jenis tanah.. bertopografi datar.

1986). dilakukan pengolahan pendahuluan dengan menggunakan garpu.berkisar antara 5. 2. pupuk kandang atau kompos. dengan cara membuat petakan-petakan berukuran 10 × 5 meter atau dengan membuat bagian tengah tegalan lebih tinggi daripada pinggirannya.0 dapat menyebabkan tanaman padi ladang mengalami kekahatan unsur Zn (Gupta dan O’Toole. (4) Dijaga agar tidak terjadi penggenangan air.5.3. Pengolahan tanah Pengolahan tanah dilakukan pada musim kering sebelum hujan turun. sedangkan bila lebih dari 7. Budidaya Padi Ladang 2. (2) Pada waktu membajak atau mencangkul yang kedua kali. tanah harus dihaluskan dengan garpu atau cangkul satu atau dua kali hingga tanah cukup halus.5 hingga 6. . pada pH yang lebih rendah dari 5. Pengolahan tanah harus sampai kedalaman sedikitnya 25 sentimeter. Pada tanah yang berat (tanah padat dan keras).0 padi ladang dapat mengalami gangguan kekahatan unsur P. keracunan Fe dan Al. karena dapat mengancam kehidupan sekeliling petak.3. (3) Setelah tanah dibajak.1. pupuk organik ditebarkan sebanyak sekitar 20 ton per hektar dengan menggunakan pupuk hijau. Teknih pengolahan tanah adalah sebagai berikut : (1) Tanah dibajak atau dicangkul dua kali atau lebih hingga tanah cukup gembur dan bersih dari rerumputan. atau segera setelah tanaman yang mendahuluinya dipanen. Tanah lapisan bawah sedapat mungkin terangkat dan dibalik ke bagian atas.

3. segar dan daya berkecambah tinggi (minimal 80 %). 2. Cara menanam Ada berbagai cara yang dapat digunakan dala m menanam. Jika menanamnya bersamaan periode berlangsungnya hujan yang terus menerus. Benih yang dipilih adalah benih yang tenggelam apabila benih dimasukkan dalam larutan garam atau larutan abu dapur. 2.3.(5) Tanah dibiarkan saja sambil menunggu benih ditanam pada waktu permulaan musim hujan.2. Disebar merata langsung ke permukaan tanah. yang berat jenisnya sekitar 1. b. Benih yang melayang atau terapung jangan dijadikan benih. Cara ini kurang lazim karena membutuhkan banyak benih yaitu sekitar 50 sampai 100 kilogram per hektar. Waktu tanam Waktu tanam sebaiknya dalam bulan Oktober dan November.01. bebas dari hama dan penyakit. 2. tetapi tergantung pada awal musim penghujan. Membuat aluran dengan kayu berujung runcing yang digariskan di atas tanah atau dengan cangkul atau kored dengan jarak antara aluran sekitar 60 . Pemilihan Benih Benih yang bermutu adalah yang murni dengan kandungan air maksimal 14 persen. bersih dari campuran atau kotoran-kotoran.3. diantaranya adalah : 1. ada kemungkinan benih tersebut terbawa air atau terdorong lebih jauh masuk ke dalam tanah dan juga dapat berakibat kurang baik untuk tanaman muda karena akan mengakibatkan gangguan hama dan penyakit yang hebat. Penanaman a. yaitu setelah dua atau tiga kali turun hujan.

pupuk kandang atau pupuk kompos). pemberantasan hama. sedangkan pada tanah yang kurang subur 15 × 40 sentimeter. 4. ketela. . dan abu (debu atau tanah halus). 3. setelah benih dimasukkan.3. Dengan tugal. Pemakaian benih kurang lebih 30 sampai 40 kilogram per hektar. dan pupuk kandang. Tumpangsari dengan tanaman lain dengan pengaturan sebaik-baiknya sehingga tidak merugikan tanaman pokok. Pada permulaan musim hujan pupuk hijau ditebang dan dikuburkan pada waktu pengolahan tanah. Pemupukan dapat dilakukan dengan menggunakan pupuk organik (pupuk hijau. lubang benih ditutup dengan campuran pupuk P. sedalam 3 hingga 5 sentimeter. K. Ke dalam aluran ditaburkan benih kemudian ditutup dengan tanah.lain. dan lain. Pada jarak tertentu dibuat lubang dengan tugal. Pupuk hijau misalnya dengan menggunakan Crotalaria juncea ditanam 4 hingga 6 bulan sebelum tanah ditanami padi ladang. juga akan memudahkan dalam melakukan kegiatan lain di dalam pertanaman seperti penyiangan. jarak tanam yang terbaik adalah 20 × 20 sentimeter.sentimeter sedalam 3 sentimeter.4. Jarak tanam pada tanah yang subur 15 × 20 sentimeter. 2. Pupuk hijau ini ditanam berbaris dengan jarak antar barisan sekitar 90 hingga 120 sentimeter. Di sela-selanya dapat ditanami jagung. Untuk tiap lubang ditanam benih sebanyak 5 hingga 7 butir. kacang hijau dan sebagainya. Tumpangsari dengan jagung dapat diatur dengan jarak tanam jagung 150 × 60 sentimeter. atau campuran antara pupuk P. K. Pengaturan jarak tanam yang sebaik-baiknya disamping akan mempertinggi hasil. Pemupukan a.

abu atau debu atau tanah halus. c.b. Cara pemberiannya adalah dengan membuat garitan sepanjang barisan tanaman. Pupuk organik terdiri dari kompos ataupun pupuk kandang. Pupuk organik meliputi sisa-sisa tanaman atau hewan.5 hingga 2 kwintal urea per hektar) diberikan dua kali. Tanah yang cukup mengandung bahan organik akan lebih remah dan memiliki daya menahan air yang lebih besar. maka pada pemberian kedua hendaklah pada sisi lain yang berlawanan. Pupuk organik ( upuk buatan) pada umumnya diberikan dengan dosis 60 p sampai 90 kilogram N.75 : 1 : 20 (0. Salah satu kelemahan pupuk organik . 30 kilogram P2 O5 . Tanah dengan sifat yang demikian sangat sibutuhkan untuik tanaman padi ladang. maka perbandingannya adalah 1 : 1 : 5. Bila pada pemberian pertama di sisi yang satu dari tanaman.masing pada saat dilakukan penyiangan (dua bulan sejak benih ditugalkan). setengah pada saat 3 sampai 4 minggu sesudah benih ditugalkan dan setengah sisanya pada umur 6 sampai 7 minggu. Pupuk N (1.75 kwintal TSP + 1 kwintal ZK + 20 kwintal pupuk kandang). Pupuk organik sangat bermanfaat pada tanah-tanah kering untuk memperbaiki struktur tanah.75 kwintal TSP) bersama dengan pupuk K (0. Pupuk fosfat (0. Pupuk kandang dan kompos diberikan dengan pengolahan tanah karena pupuk tersebut lama hancurnya. dan 30 kilogram K2 O tiap hektar. Kebutuhan pupuk kandang atau kompos sekitar 15 hingga 20 ton setiap hektar. yaitu masing. diisi dengan pupuk lalu ditutup lagi dengan tanah. Perbandingan campuran pupuk fosfat. kalium. dan pupuk kandang adalah 0.5 kwintal KCl) diberikan waktu penanaman sebagai pupuk dasar setelah dicampur dengan pupuk kandang. Jika abu atau debu halus sebagai campuran digunakan.

Penyiangan Penyiangan atau pemberantasan gulma dapat dilakukan dengan cara mekanis atau dengan cara kimiawi.adalah kadar haranya yang rendah.3. Panen dan Pengolahan Hasil Panen Untuk jenis-jenis yang mudah rontok. Setelah penyiangan. Kompos disebar pada waktu pembajakan terakhir. tanaman sebaiknya dibumbun. Isi gabah sudah mengeras tetapi bila dipijit dengan . Tanah di sela-sela tanaman dicangkul supaya renggang dan ge mbur.5. Untuk me ncukupi kebutuhan hara bagi tanaman dalam satu hektar. b. dan pupuk buatan disebar pada waktu penggaruan terakhir. Penyiangan kedua pada saat tanaman berumur 60 hari. Di samping itu pupuk organik sering mengandung biji-biji gulma sehingga dapat mengganggu pertumbuhan tanaman. kecuali buku-buku sebelah atas yang masih hijau. 2. kadang-kadang sesudah umur satu bulan masih disulam. Penyulaman Sejak tanaman berumur seminggu sampai umur tiga minggu tanaman padi ladang masih boleh disulam.3. Pemeliharaan a. Penyiangan pertama dilakukan pada waktu tanaman berumur tiga sampai empat minggu. diperlukan sekitar 10 sampai 30 ton bahan organik. 2. tanah di sekeliling tanaman padi dibumbun (didangir) atau dihancurkan sedikit agar pembuangan air lebih mudah. panen dilakukan pada stadia masak kuning yaitu apabila seluruh pertanaman nampak kuning.6. Kirakira satu hingga dua minggu sebelum malai padi keluar. tetapi ya ng digunakan untuk menyulam adalah bibit yang diambil dari rumpun yang besar.

tikus. kepik padi hijau. Phytium sp. Sedangkan penyakit yang umumnya menyerang padi ladang adalah penyakit bercak daun (Pyricularia oryzae).lain.tangan isi gabah mudah pecah. 2. . burung. dan lain. mengeringkan dan mengolahnya selanjutnya sama dengan caracara pada padi sawah. Hama dan Penyakit Hama yang sering mendatangkan bahaya pada tanaman padi ladang dan perlu diperhatikan antara lain: lalat bibit yang dapat mengurangi kemampuan bertunas bahkan mematikan tanaman berumur setengah hingga satu setengah bulan. penyakit bercak daun Helminthosporium oryzae.4. 2. ulat tentara.3. menggabahkan. panen dilakukan pada stadia masak penuh.umbian. dan lain. Cara mengetam. ladang atau tegalan adalah suatu lahan usahatani pada lahan kering yang biasa dipakai untuk usaha bercocok tanam. babi hutan. Perladangan merupakan wujud dari peradaban jaman dulu yang berlangsung turun temurun dan masih berkembang hingga sekarang. Sedangkan untuk jenis-jenis yang tidak mudah rontok.lain. Praktek perladangan menurut data arkeologi sudah dimulai pada saat manusia pertama kali mengubah jaman berburu dan mengumpulkan tanaman liar ke sistem berproduksi tanaman dan beternak dengan budidaya yang masih primitif. Tanaman yang biasa dibudidayakan adalah tanaman yang berumur pendek seperti padi ladang. penggerek batang. Sistem Perladangan di Indonesia dan Perkembangannya Menurut Soekartawi (1986). walang sangit yang menyebabkan kosongnya sebagian dari malai.7. tanaman jenis kacang-kacangan dan umbi. jagung.

tidak menggunakan tenaga hewan ataupun pemupukan dan tidak adanya konsep pemilikan tanah pribadi. Menurut Ditjen Kehutanan Direktorat Reboisasi dan Rehabilitasi (1981) dalam Hariyanto (1994) beberapa sistem perladangan yang ada di Indonesia adalah : a. d. baik antara tempat tinggal di dalam desa maupun antar desa yang satu dengan lainnya. Dinas Kehutanan Kalimantan Barat (1981) dalam Hariyanto (1994). Berladang berpindah tanpa siklus dan tidak memiliki pemukiman tetap. e. b. melainkan merupakan usaha ntuk menyesuaikan antara kepentingan beercocok tanam dengan keadaan alamnya (Soemarwoto. Berladang dengan siklus pendek sekitar lima tahun. Sistem rotasi alami. terkadang memiliki kebun. input tenaga-tenaga sedikit dibandingkan dengan bercocok tanam yang lain. mengelompokkan pola perladangan menjadi: a. Berladang dengan siklus panjang. Berladang dengan siklus sedang diatas tujuh tahun dan memiliki pemukiman tetap. 1994). terkadang memiliki pemukiman tetap. baik karena .Demikian pula Pelzer dalam Geertz (1963) mengatakan bahwa perladangan itu ditandai oleh tidak adanya pembajakan. Berladang setiap tahun. Berdasarkan jangka waktu rotasinya. memiliki pemukiman tetap dan kebun. Peladang pada umumnya hidup berpencar berjauhan satu dengan yang lain. 1978 dalam Hariyanto. c. yang merupakan sistem yang paling sederhana. Hal ini bukan karena sifat peladang yang enggan untuk hidup berdekatan. Lahanlahan bekas perladangan yang sedang menurun produktivitasnya.

. Sistem ini ditemui di Nusa Tenggara Timur terutama Kupang. Sistem ini terdapat di Sulawesi Selatan dan Sulawesi Tenggara. sebagai akibat masuknya pertimbangan pemilihan jenis tanaman yang disesuaikan dengan keadaan pasar dan kondisi fisik lahannya. kelapa. para peladang menanam tanaman keras secara bersamaan dengan tanaman pangan. Lampung dan Sumatera Selatan. Jenis-jenis tanaman keras yang dipilih adalah yang mempunyai prospek ekonomis baik seperti karet. Sistem ini terdapat dipedalaman Kalimantan. b. Tanaman sela itupun dibiarkan tumbuh sehingga suksesi alami berjalan lebih cepat.tingkat kesuburannya sudah berkurang atau besarnya gangguan gulma. lada. Yang dimaksud dengan talun adalah lapangan yang ditanami dengan berbagai macam pohon. Sejak saat pertama penggarapan ladangnya. merupakan suatu peningkatan dari sistem rotasi alami. sehingga dapat berfungsi sebagai pencegah erosi serta penyubur tanah. Sistem tumpang sari. diserahkan begitu saja kepada kekuatan alam untuk merehabilitasi dirinya melalui suksesi alami. baik kayu-kayuan maupun buah-buahan. Jenis dan susunan pepohonan tersebut dibuat sedemikian sehingga mempunyai prospek ekonomis serta sesuai dengan kebutuhan pemiliknya. yang merupakan perkembangan dari sistem rotasi alami. Sistem tanaman sela.lahan perladangan pada saat penggarapan pertama sudah ditanami tanaman sela yang ditanam dalam bentuk larikan sejajar kontur. kopi dan cengkeh. d. Lahan. Sistem talun ini muncul atau dikenal terdapat di daerah Jawa Barat. Sistem talun. c.

Pembakaran ini selain ditujukan untuk membersihkan lahan dari sisa-sisa penebasan dan penebangan. yaitu : pekerjaan mencabut/membunuh rumput-rmput yang tumbuh diantara tanaman padi. Membakar daun dan ranting yang sudah kering. e. Menugal adalah membuat lubang. yaitu : memotong pohon berdiameter besar dengan menggunakan kapak (beliung). mengemukakan bahwa perladangan hampir selalu dilakukan dengan cara yang sama. Menjaga tanaman dari serangan hama seperti babi hutan. pada dasarnya tidak berurutan yaitu : (a) memanen hasil tanaman bukan padi. g. belukar dan yang terakhir padang alang-alang. Rendahnya produksi yang dihasilkan oleh peladang . yaitu : pemotongan belukar kecil dengan menggunakan parang Menebang. Menugal dan menanam biji. Menebas. d. Mengetam atau memanen hasil padi. maka tanaman padi akan tertekan sehingga hasilnya sangat rendah. Bila ditinjau dari aspek ekonomi peladang berpindah (perladangan) dicirikan oleh produktivitas yang rendah. Selain itu ada kegiatan lain yang menurut Dove (1988) dalam Hariyanto (1994). b. c. Secara kronologis pekerjaan yang dilakukan adalah : a. karena bila rumput dibiarkan tumbuh lebat.lubang pada permukaan tanah dengan menggunakan ranting atau dahan yang diruncingkan ujungnya (tuga l) dimana biji-biji padi kemudian dimasukkan. h. dengan urutan prioritas dari yang paling disukai : hutan perawan. hutan sekunder. juga berguna untuk mengurangi keasaman tanah. (b) membat pondok diladang.Simon (1981) dalam Hariyanto (1994). Pemilihan tempat. (c) membuat alat-alat untuk bekerja di ladang. f. Merumput.

1994). Padahal bila dilihat dari lingkungan sistem perladangan kemungkinan uuntuk terserang hama dan penyakit sangat tinggi dan upaya pengendalian lebih sulit. Keseluruhan faktor. menyebabkan anak-anak peladang sangat sulit untuk mengikuti pendidikan formal secara teratur. Produktivitas yang rendah cenderung diikuti pula oleh rendahnya kualitas produksi yang dihasilkan. 61 persen tidak .juga ditunjukkan oleh ketidakpastian hasil ya ng disebabkan tingginya pengaruh iklim. Masyarakat di Kalimantan Timur. ditambah lagi dengan belum adanya prospek pemasaran hasil produksi dan sifat komoditi yang dihasilkan masih bersifat musiman. Oleh karena itu sebagian dari peladang tidak berpendidikan sama sekali. Dari aspek sosial peladang dicirikan oleh rendahnya tingkat pendidikan. Akibatnya harga jual produksi yang dihasilkan rendah. hama dan penyakit. Bagi pemerintah pun tidak mudah untuk menyelenggarakan fasilitas pendidikan dan fasilitas sosial lainnya. Tempat tinggal yang berpencar dan kemungkinan pindah mengikuti rotasi perladangan.faktor di atas menyebabkan rendahnya tingkat pendapatan usahatani peladang berpindah (Simon. tetapi juga kegunaannya tidak mencapai tingkat optimal yang diharapkan. 1981 dalam Hariyanto. Dengan sifat perladangan yang masih tradisional upaya pengendalian terhadap hama dan penyakit juga dilaksanakan dengan cara yang sederhana. tingkat ketrampilan dan pengetahuan yang dimiliki peladang dalam pengelolaan lahan serta tingginya angka kelahiran dan kematian penduduk karena masih rendahnya tingkat kesehatan. seperti yang dikemukakan Simon (1981) dalam Hariyanto (1994). bukan karena biayanya yang menjadi mahal.

1981). Sedangkan ketidakpastian adalah sesuatu yang tidak bisa diramalkan sebelumnya. jadi peluang akan terjadinya merugi akan diketahui terlebih dahulu. menjelaskan adanya perilaku enggan menerima resiko dalam pengambilan keputusan petani disebabkan oleh adanya dilema ekonomi petani sentral yang dihadapi oleh kebanyakan rumah tangga petani. sedang 27 persen hanya pernah sekolah tidak lebih dari kelas tiga sekolah dasar.. Perilaku Ekonomi Petani Perilaku ekonomi mempunyai tiga hal yang patut diperhatikan (Scott. dan karena itu kondisi tersebut menyebabkan rumah tangga petani tidak banyak mempunyai peluang untuk menerapkan keuntungan maksimal dalam berusahatani. dengan kecenderungan yang lebih besar pada pemilik lahan sempit dan umumnya dari petani penyakap. yaitu resiko.5. serta keuntungan.pernah sekolah. serta selalu mengalami ketidakpastian cuaca dan tuntutan-tuntutan dari pihak luar. dalam Satria. Pada petani kecil perolehan pendapatan usahataninya akan lebih banyak digunakan untuk mengembangkan usahataninya. Sifat khas yang . Istilah resiko dimaksudkan kepada terjadinya kemungkinan merugi atau possibility of loss. 1995). Kehidupan petani di pedesaan begitu dekat dengan batas subsistensi. ketidakpastian. karena kelebihan pendapatan sering digunakan untuk kepentingan lainnya. Dalam banyak hal. karena peluang terjadinya merugi belum diketahui sebelumnya (Soekartawi et al. 2. sering ditemui bahwa semakin kecil petani melakukan capital formation dalam usahataninya. dalam Soekartawi (1986) memberikan indikasi bahwa sebagian besar petani subsistem mempunyai keengganan memikul resiko. Scott (1981). Dillon et al.

438 kilogram dengan harga jual rata-rata Rp. total penerimaan petani dari usahatani padi ladang yang ditumpangsari dengan jagung sebesar Rp. Sedangkan ratarata jagung yang dihasilkan per hektar sebesar 1.1.sedangkan biaya total sebesar Rp.348. Jadi.1.per kilogram dan produksi padi ladang per hektar rata-rata sebesar 793 kilogram dalam bentuk gabah kering panen.109. Hasil Penelitian Terdahulu Penelitian terdahulu mengenai usahatani padi ladang atau padi gogo dilakukan oleh Susanto (2004).100.senantiasa ada pada diri petani ialah berusaha menghindari kegagalan yang akan menghancurkan kehidupannya dan bukan berusaha memperoleh keuntungan besar dengan mengambil resiko.sedangkan pendapatan atas biaya total . Dengan komposisi biaya seperti ini.700.450...1. Bukan saja petani miskin yang memiliki perilaku tersebut.6.100.per kilogram...995.1.dengan harga jual rata-rata sebesar Rp.824.575. Kabupaten Tasikmalaya.312. sehingga penerimaan dari produksi jagung sebesar Rp..-. 2. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata penerimaan petani dari produksi padi ladang per hektar per musim tanam sebesar Rp. Dengan kata lain petani berusaha meminimumkan keuntungan subjektif dari kerugian maksimum.647. Perilaku demikian yang disebut juga perilaku safety first atau mendahulukan keamanan merupakan ciri umum petani. pendapatan atas biaya tunai yang diperoleh petani adalah sebesar Rp. Penelitian ini melakukan analisis tentang pendapatan dan efisiensi penggunaan faktor produksi usahatani padi ladang secara tumpangsari dengan jagung di Kecamatan Kadipaten. Biaya tunai yang dikeluarkan dalam usahatani padi ladang tumpangsari dengan jagung sebesar Rp.091.683. tetapi sebagian besar petani menengah juga bertindak serupa.1.200.-.

diperoleh hasil bahwa faktor produksi jumlah benih. dan tenaga kerja.8 persen kergaman pada nilai produksi dapat dijelaskan oleh variabel bebas yang digunakan dalam fungsi produksi yaitu luas lahan. yang ditunjukkan oleh rasio NPM dan BKM yang lebih kecil dari satu. jumlah benih. Sedangkan faktor produksi luas lahan.92. dan rasio R/C atas biaya total sebesar 1.8.Jadi rasio R/C atas biaya tunai diperoleh sebesar 2. KCl. Sedangkan penggunaan faktor produksi luas lahan dan jumlah benih masih kurang untuk mencapai level efisien. dan faktor iklim. Hal ini berarti dari segi analisis pendapatan usahatani padi ladang secara tumpangsari dengan jagung menguntungkan karena penerimaan yang lebih besar dari biaya total yang dikeluarkan..sebesar Rp.170. intensitas serangan hama. Penggunaan faktor produksi . Nilai R2 -adjusted sebesar 67. dan tenaga kerja tidak efisien (berlebihan). Faktor. diperoleh hasil F-hitung yang nyata pada taraf kepercayaan 95 persen.2 persen lainnya dari keragaman nilai produksi dipengruhi faktor.09. Sedangkan 32. pupuk TSP. pupuk Urea.8 berarti bahwa 67. dan pupuk TSP berpengaruh nyata terhadap nilai produksi. dan nilai koefisien determinasi (R2 ) sebesar 74.5 dengan nilai koefisien determinasi terkoreksi (R2 -adjusted) sebesar 67. diperoleh hasil bahwa penggunaan faktor produksi pupuk Urea. Dari analisis model fungsi produksi Cobb-Douglas yang dilakukan Susanto (2004). Berdasarkan analisis efisiensi dengan rasio NPM dan BKM. pupuk Urea.625.faktor lain di luar model regresi.faktor lain di luar model yang diduga berpengaruh tersebut adalah tingkat kesuburan lahan. puuk KCl dan tenaga kerja tidak berpengaruh nyata terhadap nilai produksi pada taraf kepercayaan yang ditentukan. pupuk KCl. TSP. Berdasarkan hasil uji-t yang dilakukan Susanto (2004).

11. serta alat pengolahan padi. status penguasaan lahan. pupuk.yang tidak efisien ini diduga disebabkan oleh pengetahuan petani yang terbatas akibat tingkat pendidikan dan tingkat ekonomi yang rendah serta status penguasaan lahan. jenis varietas padi. . obat dan cara pengobatan hama dan penyakit tanaman. Kecamatan Leuwi Damar. Banten.26 sedangkan R/C atas biaya total untuk luar baduy sebesar 0. Penelitian lain mengenai padi ladang dilakukan oleh Rahayu (2001) dengan judul “Perbandingan Usahatani Padi Ladang Baduy Luar dan Luar Baduy Dilihat Dari Tingkat Efisiensi dan Subsistensi Usahatani” di Desa Kanekes dan Desa Jalupang Mulya. luas lahan garapan. dilihat dari segi intensitas penggunaan lahan. dimana rasio R/C atas biaya total untuk Baduy Luar sebesar 0. usahatani padi ladang di wilayah Baduy Luar (Kanekes) menghasilkan nilai rasio R/C yang lebih tinggi daripada Luar Baduy (Jalupang Mulya).22. Penelitian ini menyimpulkan bahwa teknologi usahatani padi ladang yang digunakan di wilayah Luar Baduy (Jalupang Mulya) lebih maju dibandingkan dengan Baduy Luar. Demikian juga dengan R/C atas biaya tunai untuk wilayah Baduy Luar sebesar 1. lebih besar daripada R/C atas biaya tunai untuk Luar Baduy yang sebesar 0. Hal ini dilihat dari : tingkat pendidikan. Namun dari segi analisis pendapatan dengan menggunakan analisis rasio R/C. Kabupaten Lebak.39. Rendahnya nilai rasio R/C untuk usahatani padi ladang di wilayah Luar Baduy diduga disebabkan oleh : (1) Tingkat kesuburan lahan di wilayah Baduy Luar yang lebih subur dibandingkan dengan wilayah Luar Baduy. pengalaman bertani. jenis alat pengolahan lahan.

sedangkan usahatani padi ladang untuk wilayah termasuk dalam usahatani semi-subsisten mengarah ke subsisten (Transisi-Statis). Regional III meliputi seluruh provinsi di pulau Sulawesi. Regional II meliputi seluruh provinsi di pulau Sumatera dan Kalimantan. dan Irian Jaya. Maluku. Kesimpulan ini diambil berdasarkan analisis terhadap : tujuan produksi. NTT. nilai rasio upah tenaga kerja dan rasio faktor input. Bali. Dilihat dari segi tingkat subsistensi.faktor yang mempengaruhi produksi luas areal panen padi lahan kering (ladang) di seluruh regional adalah : . (3) Kondisi lingkungan usahatani padi ladang di wilayah Luar Baduy yang sedang terserang hama dan penyakit. (4) Penggunaan pupuk dan pestisida yang belum tepat untuk wilayah Luar Baduy. serta tingkat pendayagunaan lembaga pertanian. Penelitian ini menyimpulkan bahwa faktor. sementara usahatani padi ladang di wilayah Baduy Luar tidak menggunakan pupuk dan pestisida sama sekali. Timtim. usahatani padi ladang di wilayah Luar Baduy tergolong usahatani semi. Wana (2000) mengelompokkan Indonesia menjadi tiga daerah regional yaitu : Regional I meliputi seluruh provinsi Jawa. melakukan analisis pendugaan model respon areal luas panen dan produktivitas padi lahan kering di seluruh Indonesia.subsisten mengarah ke komersial (TransisiDinamis). Penelitian yang dilakukan Wana (2000) dengan judul “Analisis Faktorfaktor Produksi Padi Lahan Kering di Indonesia”. dan Nusa Tenggara Barat.(2) Tingkat upah tenaga kerja luar keluarga di wilayah Luar Baduy lebih tinggi daripada wilayah Baduy Luar.

dan harga pupuk TSP. dan luas areal panen padi tahun sebelumnya. Kecamatan Jatilawang) dan irigasi sederhana (Desa Losari. harga kedelai. yang memberi indikasi bahwa di Indonesia terutama di Jawa peningkatan luas areal panen dan produktivitas sudah hampir mendekati level optimum. sedangkan di Desa Losari (irigasi sederhana) sebesar 2. Jawa Tengah. Pendapatan atas biaya tunai dan biaya total yang diperoleh daerah dengan lahan sawah yang menggunakan irigasi teknis juga lebih tinggi daripada lahan sawah beririgasi sederhana. Yelni (1999) meneliti tentang faktor. harga ubikayu.4637. Kabupaten Banyumas.7554. Akan tetapi dalam upaya memenuhi kebutuhan beras nasional dan mengurangi impor beras. Rasio R/C atas biaya tunai di Desa Tinggar Jaya (irigasi teknis) sebesar 2.faktor yang mempengaruhi produktivitas padi lahan kering (ladang) di seluruh regional adalah harga pupuk urea. Rasio R/C atas biaya total di Desa Tinggar Jaya (irigasi teknis) sebesar 1.faktor yang berpengaruh.faktor yang mempengaruhi produksi dan pendapatan usahatani padi sawah pada jaringan irigasi teknis (Desa Tinggar Jaya. varietas unggul. Sedangkan faktor. Kecamatan Rawalo). harga jagung. Penelitian ini menyimpulkan bahwa tingkat produksi per hektar di daerah irigasi teknis lebih tinggi daripada daerah irigasi sederhana.harga beras. curah hujan.947 kwintal dalam satu tahun (dua musim tanam). kegiatan produksi harus tetap ditingkatkan. luas lahan kering.5574 dan di Desa Losari (irigasi sederhana) sebesar 1. Berdasarkan analisis model fungsi produksi .4193. Perbedaan tingkat produksi tersebut 24. Penelitian ini juga memperoleh kesimpulan bahwa peningkatan produksi dengan mengupayakan peningkatan luas areal dan produktivitas padi ladang pada umumnya tidak responsif terhadap faktor.

. pupuk urea. Sedangkan faktor. dan penggunaan tenaga kerja. pestisida butir. dan tenaga kerja. Produktivitas padi organik sebesar 4. disimpulkan bahwa usahatani padi organik berada pada kondisi decreasing return to scale (hasil yang semakin menurun).05 adalah benih dan pupuk.05 < a = 0. faktor-faktor yang berpengaruh nyata pada a = 0. jumlah benih yang digunakan.14 dan 1. sedangkan rasio R/C atas biaya tunai dan atas biaya total pada usahatani padi sawah konvensional sebesar 2. Faktor.faktor yang berpengaruh nyata terhadap produksi pada usahatani padi sawah organik luas lahan. Penelitian ini menyimpulkan bahwa produktivitas padi organik (input rendah) lebih kecil dibandingkan padi konvensional.263 kg/ha.63. Kabupaten Karawang.10 adalah penggunaan pestisida dan dummy luas lahan. faktor. sedangkan faktor. Sedangkan untuk usahatani padi sawah di Desa Losari (irigasi sederhana). jumlah pupuk TSP yang digunakan. diperoleh hasil bahwa untuk usahatani padi sawah di Desa Tinggar Jaya (irigasi teknis). Wijaya (2002) melakukan penelitian tentang perbandingan pendapatan dan efisiensi usahatani padi sawah organik (input rendah) dan usahatani padi sawah konvensional di Kecamatan Tempuran. Rasio R/C atas biaya tunai dan atas biaya total pada usahatani padi sawah organik didapat sebesar 2.dengan menggunakan analisis model Cobb-Douglas. Berdasarkan analisis fungsi produksi dengan menggunakan model fungsi produksi Cobb-Douglas.faktor yang berpengaruh nyata adalah penggunaan tenaga kerja dan dummy luas lahan.faktor yang berpengaruh nyata terhadap produksi pada usahatani padi sawah konvensional adalah luas lahan.faktor yang berpengaruh nyata pada 0.68 dan 1.72.569 kg/ha sedangkan produktivitas padi sawah konvensional sebesar 5.

artinya syarat keharusan untuk mencapai level efisien tidak teroenuhi sehingga penggunaannya untuk mencapai efisien tidak dapat diramalkan karena rasio NPM dan BKM tidak akan pernah sama dengan satu (NPM/BKM ? 1). . pupuk organik. Untuk faktor benih dan pestisida cair didapat nilai rasio NPM dan BKM yang negatif. Hal ini terbukti dari nilai NPM/BKM semua faktor produksi yang tidak sama dengan satu.Berdasarkan analisis efisiensi ekonomi dengan menggunakan rasio Nilai Produk Marjinal dan Biaya Korbanan Marjinal (NPM/BKM) untuk usahatani padi sawah organik. pupuk daun. diketahui bahwa penggunaan faktor-faktor produksi belum efisien. dan tenaga kerja.faktor yang penggunaannya berlebihan adalah pupuk urea dan TSP. pestisida butir. Faktor-faktor yang penggunaannya harus ditingkatkan agar dicapai level efisien adalah luas lahan. Sedangkan faktor.

Adanya lahan dalam luasan dan produk yang tertentu.lain. Bachtiar Rifai dalam Hernanto. Konsep Usahatani Usahatani adalah setiap kombinasi yang tersusun (terorganisasi) dari alam.lain. traktor. Adanya pencurahan kerja untuk mengolah tanah. pemeliharaan hewan ternak dan tempat keluarga tani bermukim.III. kerja dan modal yang ditujukan kepada produksi di lapangan pertanian (T. Adanya bangunan yang berupa rumah petani. Adanya alat-alat pertanian seperti cangkul. gudang. kandang. c. KERANGKA PEMIKIRAN 3. lantai jemur. linggis.lain. unsur ini dalam usahatani mempunyai fungsi sebagai usaha tempat bercocok diselenggarakannya tanam.B. b. pompa air dan lain. parang. penyemprot.1. menanam. . 1988). Berdasarkan pengertian di atas. maka suatu usahatani dapat digambarkan lebih rinci sebagai berikut : a. d. memelihara dan lain. garpu. dan lain.

Untuk kegiatan rumahtangga pada umumnya bersifat konsumtif. 3. baik yang dijual maupun untuk dikonsumsi keluarga atau dipergunakan lagi dalam proses produksi selanjutnya. modal dan jasa pengelolaan. Pendapatan usahatani tidak hanya berasal dari kegiatan produksi saja tetapi dapat juga diperoleh dari hasil menyewakan atau menjual unsur. tenaga kerja.e. Adanya kegiatan petani yang menetapkan rencana usahataninya. Pendapatan Usahatani Pemenuhan kebutuhan hidup rumahtangga usahatani dicukupi dari pendapatan usahatani.unsur produksi. mengatakan bahwa ada dua pola usahatani yang sangat pokok yaitu pola usahatani lahan basah dan lahan kering. dimana penggunaan faktor.faktor produksi lahan. menyewakan lahan dan lain sebagainya.faktor produksi cenderung bersaing dan batas pemisahan antara cabang usahatani kurang jelas. . Soeharjo dan Patong (1973) dalam Soekartawi (1986). Secara umum dalam setiap rumahtangga usahatani pada hakekatnya terdapat dua kegiatan ekonomi yaitu kegiatan usaha dan kegiatan rumahtangga atau keluarga. (2) bentuk tidak khusus yaitu usahatani yang terdiri dari berbagai cabang usaha pada berbagai bidang tanah. dan (3) bentuk campuran yaitu usahatani yang memadukan beberapa cabang usaha secara bercampur. Soeharjo dan Patong (1973) menyatakan bahwa pendapatan adalah balas jasa dari kerjasama faktor. mengawasi jalanya usahatani dan menikmati hasil usahataninya. misalnya menjual kelebihan alat-alat produksi. Keluarga usaha menghasilkan produksi. Sedangkan bentuk usahatani terdapat tiga jenis yang menunjukkan bagaimana suatu kondisi diusahakan yaitu : (1) bentuk khusus dimana petani hanya mengusahakan satu jenis usaha dari sebidang tanah.2.

Untuk mengukur keberhasilan usahatani biasanya dilakukan dengan melakukan analisis pendapatan usahatani. d. Pendapatan tunai usahatani adalah produk usahatani dalam jangka waktu tertentu. Penerimaan tunai usahatani merupakan nilai uang yang diterima dari penjualan b. meskipun besar pendapatan tidak selalu mencerminkan efisiensi yang tinggi karena pendapatan yang besar mungkin juga diperoleh dari investasi yang jumlahnya besar pula. Pendapatan yang diharapkan tentu saja memiliki nilai positif dan semakin besar nilainya semakin baik. Dengan melakukan analisis pendapatan usahatani dapat diketahui gambaran keadaan aktual usahatani sehingga dapat melakukan evaluasi dengan perencanaan kegiatan usahatani pada masa yang akan datang. produk usahatani. c. Penerimaan total usahatani merupakan nilai semua yang habis terpakai atau dikeluarkan dalam produksi termasuk biaya yang diperhitungkan. . Soekartawi (1986) mengemukakan beberapa definisi : a. e. Pengeluaran tunai usahatani adalah jumlah uang yang dibayarkan untuk pembelian barang dan jasa bagi usahatani. Secara harfiah pendapatan dapat didefenisikan sebagai sisa dari pengurangan nilai penerimaan yang diperoleh dengan biaya yang dikeluarkan.Berkaitan dengan ukuran pendapatan dan keuntungan. baik yang dijual maupun tidak dijual. Pengeluaran total usahatani merupakan selisih antara penerimaan kotor usahatani dan pengeluaran total usahatani.

faktor produksi dalam melakukan proses produksi usahatani. Pengeluaran usahatani secara umum meliputi biaya tetap (fixed cost) dan biaya variabel (variable cost). penggunaan benih dari hasil produksi dan penyusutan dari sarana produksi. Biaya variabel adalah biaya yang sifatnya dipengaruhi jumlah produksi yag dihasilkan. Biaya tetap dapat berupa biaya sewa lahan. Sedangkan biaya yang diperhitungkan merupakan pengeluaran yang secara tidak tunai dikeluarkan petani. Biaya dalam usahatani dapat dibedakan menjadi biaya tunai dan biaya yang diperhitungkan. biaya ini dapat berupa faktor produksi yang digunakan petani tanpa mengeluarkan uang tunai seperti sewa lahan yang diperhitungkan atas lahan milik sendiri. pupuk. penggunaan tenaga kerja dalam keluarga. pestisida dan upah tenaga kerja. Pendapatan usahatani terbagi atas pendapatan kotor usahatani dan pendapatan bersih usahatani. pajak dan bunga pinjaman. Biaya tunai usahatani merupakan pengeluaran tunai yang dikeluarkan oleh petani.Untuk menganalisis pendapatan usahatani diperlukan informasi mengenai keadaan penerimaan dan pengeluaran selama jangka waktu yang ditetapkan. Biaya variabel dapat berupa biaya yang dikeluarkan unt uk benih. Penerimaan usahatani adalah nilai produksi yang diperoleh dalam jangka waktu tertentu dan merupakan hasil perkalian antara jumlah produksi total dengan harga satuan dari hasil produksi tersebut. Pendapatan kotor usahatani mengukur pendapatan kerja petani tanpa memasukkan biaya yang diperhitungkan sebaga i komponen biaya. Pendapatan kotor usahatani merupakan selisih dari penerimaan usahatani . Biaya tetap adalah biaya yang sifatnya tidak dipengaruhi oleh jumlah produksi yang dihasilkan. Sedangkan biaya atau pengeluaran usahatani adalah nilai penggunaan faktor.

Analisis ini menunjukkan besar penerimaan usahatani yang akan diperoleh petani untuk setiap rupiah biaya yang dikeluarkan untuk kegiatan usahatani. Suatu usahatani dikatakan layak apabila memiliki tingkat efisiensi penerimaan yang diperoleh atas setiap biaya yang dikeluarkan hingga mencapai perbandingan tertentu. Sedangkan pendapatan bersih usahatani mengukur pendapatan kerja petani dari seluruh biaya usahatani yang dikeluarkan.3.dengan biaya tunai usahatani. Semakin besar nilai R/C maka akan semakin besar pula . Kriteria kelayakan usahatani dapat diukur dengan menggunakan analisis imbangan penerimaan dan biaya (R/C ratio analysis) yang didasarkan pada perhitungan secara finansial. Pendapatan bersih usahatani diperoleh dari selisih penerimaan usahatani dengan biaya total usahatani. pendapatan yang besar bukanlah sebagai petunjuk bahwa usahatani efisien. Analisis Imbangan Penerimaan dan Biaya (R/C Ratio Analysis) Menurut Soeharjo dan Patong (1973). 3.

penerimaan usahatani yang diperoleh untuk setiap rupiah biaya yang dikeluarkan atau usahatani dikatakan menguntungkan. Kegiatan usahatani dikategorikan layak jika memiliki nilai R/C ratio lebih besar dari satu, artinya setiap tambahan biaya yang dikeluarkan akan menghasilkan tambahan penerimaan yang lebih besar daripada tambahan biaya atau secara sederhana kegiatan usahatani menguntungkan. Sebaliknya kegiatan usahatani dikategorikan tidak layak jika memiliki nilai R/C ratio lebih kecil dari satu, yang artinya untuk setiap tambahan biaya yang dikeluarkan akan menghasilkan tambahan penerimaan yang lebih kecil daripada tambahan biaya atau kegiatan usahatani merugikan. Sedangkan untuk kegiatan usahatani yang

memiliki nilai R/C ratio sama dengan satu berarti kegiatan usahatani berada pada keuntungan normal. 3.4. Teori Produksi Setiap proses produksi melibatkan suatu hubungan yang erat antara faktorfaktor produksi yang digunakan dengan produk yang dihasilkan . Faktor- faktor produksi seperti lahan, pupuk, tenaga kerja, modal dan sebagainya sangat mempengaruhi terhadap besar kecilnya produksi yang diperoleh. Keputusan penggunaan sumber daya atau input, baik dalam kuantitas maupun kombinasi yang dibutuhkan dalam suatu tingkat produksi ditentukan oleh petani (produsen).
Y (Produksi)

TP

I

II

III

Keterangan

: TP MP AP

= Total Produksi = Marginal Product (Produk Marjinal) = Average Product (Produk Rata-rata)

Fungsi produksi secara sederhana dapat digambarkan sebagai hubungan fisik atau hubungan teknis antara jumlah faktor produksi yang digunakan dengan jumlah produk yang dihasilkan per satuan waktu tanpa memperhatikan faktor harga.

Seperti ditunjukkan dalam Gambar 1, fungsi produksi didefinisikan sebagai hubungan antara input dengan output yang menunjukkan suatu tingkat dimana sumberdaya dapat diubah sehingga menghasilkan produk tertentu (Doll dan Orazem, 1984). Dengan kata lain fungsi produksi menggambarkan kombinasi penggunaan beberapa faktor produksi untuk menghasilkan suatu tingkat produksi tertentu. Secara matematis, fungsi produksi dapat dinyatakan sebagai berikut (Doll dan Orazem, 1984) : Y = f(X1 , X2 , X3 ,…,Xn ) .......................................................... (3.1) Keterangan : Y X1 ,X2 ,..,Xn f : Jumlah produksi yang dihasilkan dalam proses produksi : Faktor- faktor produksi yang digunakan dalam proses produksi : Bentuk hubungan yang mentransformasikan faktor- faktor produksi ke-n dalam hasil produksi

Menurut Doll dan Orazem (1984), suatu fungsi produksi dapat dibagi ke dalam tiga daerah produksi. dapat Daerah

produksi

tersebut

dibedakan dari

berdasarkan

elastisitas

produksi

faktor-faktor produksi. Pada Gambar 1,

Pada tingkat tertentu dari penggunaan faktor-faktor produksi di daerah ini akan memberikan keuntungan maksimum.ketiga daerah tersebut adalah daerah dengan elastisitas produksi yang lebih besar dari satu (daerah I). artinya setiap penambahan faktor produksi sebesar satu persen akan menyebabkan penambahan produksi paling tinggi satu persen dan paling rendah nol. antara nol dan satu (daerah II). Daerah ini dicirikan oleh penambahan hasil produksi yang peningkatannya makin berkurang (decreasing return to scale). mempunyai nilai elastisitas produksi lebih besar dari satu. Syarat keharusan untuk tercapainya keuntungan maksimum adalah tingkat produksi yang terjadi harus berada pada daerah II dalam kurva fungsi produksi. Keuntungan maksimum belum tercapai. dan lebih kecil dari nol (daerah III). Pada daerah ini yang terletak antara X2 dan X3.faktor produksi sudah . Hal ini berarti bahwa penggunaan faktor. Oleh karena itu daerah I disebut sebagai daerah irrasional (irrational region atau irrational stage of production). Daerah produksi I yang terletak antara 0 dan X2. yang berarti bahwa penambahan faktor produksi sebesar satu persen akan menyebabkan penambahan produksi yang selalu lebih besar dari satu persen. elastisitas produksi bernilai antara nol dan satu. karena produksi masih dapat diperbesar dengan pemakaian faktor produksi yang lebih banyak.

(3. 1984).2)  i =1  Keterangan : π = pendapatan usahatani Py = harga per unit produksi i = 1. Oleh karena itu daerah II disebut sebagai daerah rasional (rational region atau rational stage of production).i yang digunakan dalam proses produksi TFC = Total Fixed Cost (Biaya Tetap Total) Dengan demikian untuk memenuhi syarat tercapainya keuntungan maksimum. Syarat untuk mencapai keuntungan maksimum adalah turunan pertama dari fungsi keuntungan terhadap masing. Daerah produksi ini mencerminkan pemakaian faktor.3.faktor produksi akan menyebabkan penurunan jumlah produksi yang dihasilkan.faktor produksi yang sudah tidak efisien. maka turunan pertama dari fungsi keuntungan adalah : ∂π ∂Y = Py − Px i = 0 ∂X i ∂X i = ∂Y − Px i = 0 ∂X i .masing faktor produksi sama dengan nol (Doll dan Orazem.5.…. Fungsi keuntungan yang diperoleh usahatani dapat dinyatakan sebagai berikut : n  π = Py .n Y = hasil produksi Px i = harga pembelian faktor produksi ke –i Xi = jumlah faktor produksi ke. Daerah Produksi III mempunyai elastisitas produksi lebih kecil dari nol.optimal. Efisiensi Ekonomi Usahatani akan mencapai efisiensi ekonomi jika tercapai keuntungan maksimum.Y − ∑ Px i .2. artinya setiap penambahan faktor.. sehingga daerah ini disebut juga sebagai daerah irrasional. 3.X i + TFC  ………………………………………..

Pada saat inilah keuntungan maksimal tercapai. harga faktor produksi ke.5) Sesuai dengan prinsip keseimbangan marjinal (equi-marginal principle). maka persamaan diatas menjadi : Py.i dan jumlah output yang dihasilkan. Y) ……………………………………………………… (3. Penambahan penggunaan faktor produksi berhenti ketika Py. Px i . (3.MPx i = Pxi ……………………………………………………… (3.i tersebut (P x i ).3) ∂X i Dari persamaan tersebut dapat diketahui bahwa level penggunaan faktor produksi ke-i yang efisien merupakan fungsi dari harga output. Pxi keterangan : Py. bahwa untuk mencapai keuntungan maksimal.MP x i = P x i .Py ∂Y = Px i …………………………………………………………. tambahan nilai produksi akibat tambahan penggunaan faktor produksi ke.4) Dengan mengetahui ∂Y ∂X i sebagai Marginal Product (MPxi) faktor produksi ke-i.MPxi = 1 ……………………………………………………….MP x i = Nilai Produk Marjinal (NPM) faktor produksi ke-i P xi = Biaya Korbanan Marjinal (BKM) faktor produksi ke-i (3. Secara matematis keuntungan maksimum dari penggunaan faktor produksi ke-i dinyatakan sebagai berikut : Py.6) ...i (Py. atau secara matematis dapat dituliskan : Xi = f (Py .MP x i ) harus lebih besar daripada tambahan biaya yang dikeluarkan untuk pembelian faktor produksi ke.

Sebaliknya. Jadi secara umum keuntungan maksimum dari penggunaan n faktor produksi akan diperoleh pada saat : PyMPx1 PyMPx2 PyMPx3 PyMPxn = = = .. . Ketika Py.. = = 1 ……………….MPxi < Pxi maka penggunaan faktor produksi harus dikurangi.Artinya keuntungan maksimum tercapai pada saat tambahan nilai produksi akibat tambahan penggunaan faktor produksi ke-i harus sama dengan biaya korbanan marjinal atas faktor produksi ke-i tersebut atau rasio keduanya sama dengan satu. maka penggunaan ∂X i faktor produksi harus ditambah agar tercapai keuntungan maksimum.MP x i > P x i . jika Py. Px1 Px2 Px3 Pxn (3. maka hanya ∂Y yang mengalami perubahan ..7) Dengan asumsi Py dan P x i merupakan nilai yang konstan.

Lokasi dan Waktu Penelitian PENELITIAN Pengumpulan data dilakukan dari bulan Mei hingga Juni 2005 sekitar satu bulan setelah musim panen padi ladang di lokasi penelitian.1. Desa Wanajaya Alasan memilih desa tempat sebagai pengambilan data adalah karena desa tersebut memiliki luas lahan padi ladang yang paling besar diantara desa-desa lain di Kecamatan Teluk Jambe. Kecamatan Teluk Jambe. METODE 4.IV. Kabupaten Karawang. . Pemilihan lokasi dilakukan secara purposive yaitu di Desa Wanajaya.

4. Pemilihan petani contoh . selain itu juga untuk mengetahui tingkat efisiensi penggunaan faktor-faktor produksi agar usahatani berada pada skala optimal. Data primer yang dikumpulkan dengan melakukan pengamatan dan wawancara langsung dengan petani responden dengan mengajukan pertanyaan yang dibuat dalam bentuk kuesioner yang telah dipersiapkan sebelumnya.Pemilihan Kecamatan Teluk Jambe didasarkan pada pertimbangan bahwa kecamatan penghasil ini padi merupakan ladang di salah satu Kabupaten Karawang. Metode Pengumpulan Data dan Penentuan Sampel Data yang digunakan dalam penelitian ini meliputi data primer dan sekunder . Penelitian ini didesain untuk mengetahui tingkat pendapatan usahatani padi di lahan kering. Jumlah petani contoh sebanyak 40 orang yang merupakan petani pemilik. petani penggarap dan petani pemilik penggarap.2.

dan Pemerintah Daerah di lokasi penelitian. Pengolahan data dilakukan dengan menggunakan program Microsoft Excel dan Minitab 13 for Windows. Metode Analisis Data Analisis data dilakukan secara kualitatif dan kuantitatif. dilaksanakan pula wawancara tidak terstruktur dengan sejumlah perangkat desa. 4.3.1. karya ilmiah yang berkaitan dengan masalah penelitian dan melalui internet. Pusat Penelitian dan Pengembangan Sosial Ekonomi Pertanian. Departemen Pertanian. anggota Badan Perwakilan Desa (BPD) serta kelembagaan lain di desa. 4. Data sekunder diperoleh dengan cara penelusuran kepustakaan buku.3.faktor yang mempengaruhi produksi dan tingkat efisiensi usahatani padi ladang dengan menggunakan analisis pendapatan usahatani. laporan penelitian. analisis fungsi produksi dan analisis efisiensi. Selain itu data sekunder juga diperoleh dari Biro Pusat Statistik. majalah. Di samping wawancara terstruktur. Balai Penelitian Tanaman Pangan. Analisis kualitatif digunakan untuk mengetahui gambaran umum usahatani padi dan keragaan usahatani padi lahan kering di Desa Wanajaya. Data yang telah terkumpul kemudian mengalami tahapan pengeditan. pengolahan dan penyusunan dalam bentuk tabulasi untuk selanjutnya dianalisis. Kabupaten Karawang. Sedangkan analisis kuantitatif dilakukan untuk mengetahui faktor. Analisis Pendapatan Usahatani . Kecamatan Teluk Jambe.dilakukan secara acak sederhana (simple random) dari suatu daftar petani yang telah dipersiapkan sebelumnya. artikel.

Penghitungan pendapatan usahatani dirumuskan secara matematis seperti pada persamaan berikut : GFI = NP . yaitu biaya tunai dan biaya yang diperhitungkan.1) (4. (4.(BT + BD) ……………………………………………. Data pengeluaran biaya dikelompokkan menjadi dua bagian. 4. Analisis imbangan penerimaan dan biaya dilakukan berdasarkan jenis biaya yang dikeluarkan. Keterangan : GFI = Gross Farm Income (Pendapatan kotor usahatani) NFI = Net Farm Income (Pendapatan bersih usahatani) NP = Nilai Produksi BT = Biaya Tunai Usahatani BD = Biaya yang Diperhitungkan (4.Untuk menganalisis pendapatan usahatani dilakukan pencatatan terhadap seluruh penerimaan dan pengeluaran usahatani dalam satu musim tanam. Kemudian dilakukan penghitungan pendapatan usahatani atas biaya tunai atau pendapatan kotor usahatani dan penghitungan pendapatan usahatani atas biaya total atau pendapatan bersih.2) atau bisa juga ditulis secara singkat sebagai berikut : NFI = GFI – BD …………………………………………………. Analisis Imbangan Penerimaan dan Biaya (R/C Ratio Analysis) Analisis imbangan penerimaan dan biaya (R/C ratio analysis) digunakan sebagai alat untuk mengukur kriteria kelayakan dari kegiatan usahatani yang dilakukan. NFI = NP . Dalam analisis ini data penerimaan usahatani dan pengeluaran usahatani dibandingkan ke dalam satu rasio.2.3) dimana Pendapatan Bersih Usahatani (NFI) merupakan hasil pengurangan biaya diperhitungkan dari Pendapatan Kotor Usahatani (GFI).3. yaitu dibedakan menjadi R/C atas biaya tunai dan R/C atas biaya total.BT ……………………………………………………... .

Secara matematis R/C ratio dapat dirumuskan dalam persamaan sebagai berikut : R/C ratio = Keterangan : TR = Total Revenue (Total Penerimaan) TC = Total Cost (Total Biaya) TR TC ………………………………………………………… (4. Fungsi produksi yang dipakai untuk menjelaskan parameter Y dan X adalah analisis fungsi Cobb-Douglas...5) Keterangan : Y b0 bi Xi e u = produksi = intersep = koefisien regresi penduga variable ke-i = jenis faktor produksi ke-i..7182) = unsur sisa (galat) Penggunaan fungsi ini didasarkan pada pertimbangan-pertimbangan sebagai berikut : 1.... Penggunaan fungsi Cobb-Douglas adalah dalam keadaan The Law of Diminishing Return untuk masing.3. X n e u …………………..2. dimana i =1.....faktor produksi yang mempengaruhinya.masing input sehingga informasi yang diperoleh dapat digunakan untuk melakukan upaya agar setiap penambahan input dapat menghasilkan tambahan output yang lebih besar.. . n = bilangan natural (e = 2... b1 b2 b3 b4 bn (4..3….4) 4. Fungsi produksi Cobb-Douglas dapat dirumuskan sebagai berikut : Y = bo X 1 X 2 X 3 X 4 . Pendugaan Fungsi Produksi Analisis fungsi produksi adalah analisis yang menjelaskan hubungan antara produksi dengan faktor.3.

masing faktor produksi yang diduga merupakan pendugaan skala usaha (return to scale).faktor produksi dan produksi digunakan analisis regresi dengan metode Ordinary Least Square (OLS). Dan bila jumlah bi > 1. Bila jumlah bi = 1. maka proses produksi terjadi pada skala yang konstan. Variasi unsur sisa menyebar normal. metode ini dapat dipakai jika asumsi-asumsi sebagai berikut : 1. Untuk menganalisis hubungan antara faktor. 5. Menurut Gujarati (1978). 4. Fungsi produksi Cobb-Douglas merupakan fungsi produksi yang sering digunakan dalam penelitian optimalisasi produksi usahatani. Jumlah elastisitas dari masing. Nilai rata-rata dari unsur sisa sama dengan nol. 6. Bila jumlah bi < 1. 3.2. Perhitungan fungsi produksi Cobb-Douglas sederhana karena dapat ditransfer dengan mudah ke dalam bentuk linier. 4.nilai sisa pada setiap pengamatan. maka proses produksi terjadi pada skala yang menaik. 3. Tidak ada korelasi berangkai/autokorelasi antara nilai. 2. Parameter penduga (bi ) dapat langsung menunjukkan elastisitas produksi dari input yang bersangkutan (Xi). Bentuk fungsi Cobb-Douglas dapat mengurangi kemungkinan terjadinya masalah heterokedastisitas. Homoskedastisitas atau ragam merupakan bilangan tetap. . maka proses produksi berada pada skala yang menurun.

Benih diduga berpengaruh positif terhadap produksi padi. 6. 3.5. secara teori bila jumlah pupuk yang digunakan meningkat sebesar satu pesen maka akan meningkatkan produksi padi sebesar nilai elastisitasnya (ceteris paribus). Pupuk Penggunaan pupuk dalam satu musim tanam diukur dalam satuan kilogram (kg). secara teori bila jumlah pestisida yang digunakan . Tidak ada korelasi diri (multikolinearitas). secara teori bila jumlah benih yang digunakan bertambah sebesar satu persen maka akan meningkatkan produksi padi sebesar nilai elastisitasnya (ceteris paribus). Pestisida diduga berpengaruh positif terhadap produksi padi. rodentisida. Variabel-variabel dugaan yang digunakan dalam menganalisis fungsi produksi dan penggunaan faktor-faktor produksi usahatani padi adalah sebagai berikut : 1. moluskisida atau herbisida untuk memudahkan pencacatan satuan pestisida tersebut yang berbeda. 2. Benih Penggunaan benih dalam satu musim tanam diukur dalam satuan kilogram (kg). Tidak ada hubungan linier sempurna antara peubah bebas. Penggunaan pestisida dalam satu musim tanam diukur dalam satuan liter (l). Pestisida Penggunaan pestisida tidak dibedakan berdasarkan jenisnya seperti insektisida. Pupuk diduga berpengaruh positif terhadap produksi padi.

Adapun langkah. secara teori bila jumlah penggunaan tenaga kerja luar keluarga ditingkatkan sebesar satu persen maka akan meningkatkan produksi padi sebesar elastisitasnya (ceteris paribus). Tenaga Kerja Dalam Keluarga Penggunaan tenaga kerja dalam keluarga diukur dalam satuan hari orang kerja (HOK). Analisis fungsi produksi digunakan untuk melihat tingkat penggunaan faktor. Tenaga Kerja Luar Keluarga Penggunaan tenaga kerja luar keluarga diukur dalam satuan hari orang kerja (HOK). secara teori bila jumlah penggunaan tenaga kerja dalam keluarga ditingkatkan sebesar satu persen maka akan meningkatkan produksi padi sebesar elastisitasnya (ceteris paribus).faktor produksi optimal. Faktor.langkah dalam menganalisis fungsi produksi adalah sebagai berikut : 1. 4.faktor produksi yang digunakan dalam proses produksi padi di lahan kering.faktor . 5. Dalam analisis ini dilakukan analisis fungsi produksi dan analisis regresi untuk mengetahui pengaruh faktor-faktor produksi terhadap produksi padi di lahan kering.meningkat sebesar satu persen maka akan meningkatan produksi padi sebesar nilai elastisitasnya (ceteris paribus). Identifikasi variabel bebas dan variabel terikat Identifikasi variabel dilakukan dengan mendaftar faktor. Tenaga kerja luar keluarga diduga berpengaruh positif terhadap produksi padi. Tenaga kerja dalam keluarga diduga berpengaruh positif terhadap produksi padi.

b 6 . yaitu : Y = b0 X 1 X 2 X 3 X 4 X 5b5 b1 b2 b3 b4 Model fungsi produksi ditransformasikan ke dalam bentuk linier logamatrik untuk menduga fungsi produksi. LnY = ln b0 + b1 ln X 1 + b2 ln X 2 + b3 ln X 3 + b4 ln X 4 + b5 ln X 5 + u ……. juga dapat diketahui nilai R 2 . P-value untuk uji t digunakan untuk mengetahui secara statistik apakah masingmasing variabel bebas ( X i ) secara terpisah berpengaruh nyata terhadap variabel terikat (Y). b 4 . pupuk. Dari analisis dengan OLS (Ordinary Least Square) ini diperoleh nilai P (P-value) untuk uji t dan uji F. b 5 . pestisida. b 7 = koefisien regresi masing-masing variabel 3. Faktor-faktor produksi ini merupakan variabel bebas yang akan diuji pengaruhnya terhadap variabel terikat yaitu hasil produksi. (4. dan tenaga kerja luar keluarga. b 2 . 2.6) Keterangan : Y = Hasil produksi padi lahan kering (Kilogram) X 1 = Benih (Kilogram) X 2 = Pupuk (Kilogram) X 3 = Pestisida (Liter) X 4 = Tenaga Kerja Dalam Keluarga (HOK) X 5 = Tenaga Kerja Luar Keluarga (HOK) b 0 = Variabel intersep u = Unsur galat b1 . Pendugaan fungsi produksi Dalam analisis fungsi produksi digunakan pendekatan Cobb-Douglas.produksi tersebut adalah benih. tenaga kerja dalam keluarga. Analisis regresi Analisis regresi bertujuan untuk mengetahui hubungan antara variabel terikat dengan variabel bebas. b 3 . Apabila P-value untuk uji t lebih kecil daripada nilai α yang .

.Y − ∑ Pxi . Jika P-value untuk uji F lebih kecil daripada nilai α yang ditentukan (selang kepercayaan tertentu) maka variabel bebas dugaan berpengaruh nyata terhadap variabel terikat. Analisis Efisiensi Ekonomi Usahatani akan mencapai efisiensi ekonomi jika tercapai keuntungan maksimum.3. 1984). 4.. Syarat untuk mencapai keuntungan maksimum adalah turunan pertama dari fungsi keuntungan terhadap masing.7) .2.n (4..…. P-value untuk uji F digunakan untuk mengetahui kelayakan model dari parameter dan fungsi produksi atau untuk mengetahui apakah variabel bebas ( X i ) secara bersamaan berpengaruh nyata terhadap variabel terikat.. tetapi sebaliknya jika P-value untuk uji F lebih besar daripada nilai α yang ditentukan maka variabel bebas dugaan tidak berpengaruh nyata terhadap variabel terikat.ditentukan (selang kepercayaan tertentu) maka variabel bebas dugaan berpengaruh nyata terhadap variabel terikat.4.X i + TFC  …………………………………….3.masing faktor produksi sama dengan nol (Doll dan Orazem.  i=1  Keterangan : π = pendapatan usahatani Py = harga per unit produksi Y = hasil produksi i = 1. Fungsi keuntungan yang diperoleh usahatani dapat dinyatakan sebagai berikut : n  π = Py.. Sedangkan R 2 merupakan koefisien determinasi yang menunjukkan keragaman model produksi dilapangan yang dapat diterangkan oleh model terpilih. tetapi sebaliknya jika P-value untuk uji t lebih besar daripada nilai α yang ditentukan maka variabel bebas dugaan berpengaruh nyata terhadap variabel terikat.

.8) ∂X i Dari persamaan tersebut dapat diketahui bahwa level penggunaan faktor produksi ke-i yang efisien merupakan fungsi dari harga output.i (PyMP xi ) harus lebih besar daripada tambahan biaya yang dikeluarkan untuk pembelian faktor produksi ke-i tersebut (P xi ).MPxi = Pxi ………………………………………………………… (4.9) ∂Y sebagai Marginal Product (MP) faktor produksi ∂X i ke-i. maka turunan pertama dari fungsi keuntungan adalah : ∂π ∂Y = Py − Pxi = 0 ∂X i ∂X i = ∂Y − Pxi = 0 ∂X i Py ∂Y = Pxi ……………………………………………………. maka persamaan diatas menjadi : Py. (4. tambahan nilai produksi akibat tambahan penggunaan faktor produksi ke.10) Sesuai dengan prinsip keseimbangan marjinal (equi-marginal principle). Pxi . atau secara matematis dapat dituliskan : X i = f ( Py. Y ) ……………………………………………………… Dengan mengetahui (4. bahwa untuk mencapai keuntungan maksimal. . Penambahan penggunaan faktor produksi berhenti ketika VMP xi =MFC xi . harga faktor produksi ke-i dan jumlah output yang dihasilkan.Pxi = harga pembelian faktor produksi ke-i X i = jumlah faktor produksi ke-i yang digunakan dalam proses produksi TFC = Total Fixed Cost (Biaya Tetap Total) Dengan demikian untuk memenuhi syarat tercapainya keuntungan maksimum.

Pada saat inilah keuntungan maksimal tercapai. satuannya orang. Jadi secara umum keuntungan maksimum dari penggunaan n faktor produksi akan diperoleh pada saat : PyMPx1 PyMPx2 PyMPx3 PyMPxn = = = .11) Artinya keuntungan maksimum tercapai pada saat tambahan nilai produksi akibat tambahan penggunaan faktor produksi ke-i harus sama dengan biaya korbanan marjinal atas faktor produksi ke-i tersebut atau rasio keduanya sama dengan satu.4. Sebaliknya. Ketika PyMP xi > P xi . = = 1 …………………. .12) Dengan asumsi Py dan P xi merupakan nilai yang konstan. jika PyMPx i < Px i maka penggunaan faktor produksi harus dikurangi. maka hanya ∂Y yang mengalami perubahan. 4. Secara matematis keuntungan maksimum dari penggunaan faktor produksi ke-i dinyatakan sebagai berikut : PyMPx i = 1 …………………………………………………………. Px i keterangan : PyMP xi = Nilai Produk Marjinal (NPM) faktor produksi ke-i P xi = Biaya Korbanan Marjinal (BKM) faktor produksi ke-i (4. maka agar diperoleh ∂X i tingkat keuntungan maksimum penggunaan faktor produksi harus ditingkatkan. Definisi Operasional Untuk menghindari ketidaksamaan pandangan dalam pengertian.. Petani padi di lahan kering adalah petani yang melaksanakan budidaya pada areal tanam berupa ladang (lahan kering/upland)... Batasan-batasan tersebut meliputi : 1. maka terdapat beberapa hal yang perlu diberi batasan sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai dari penelitian. Px1 Px2 Px3 Pxn (4..

9. dan lain. pestisida. Biaya tunai adalah besarnya nilai uang tunai yang dikeluarkan petani untuk membeli pupuk. Pemilik penggarap adalah petani yang menggarap lahan miliknya sendiri. . Tenaga kerja adalah tenaga kerja yang digunakan dalam proses produksi. 3. Satuannya orang. satuannya Hektar (ha). sewa traktor/ternak.lain. Satuannya adalah Rupiah. Seluruh tenaga kerja disetarakan dengan ukuran Hari Orang Kerja (HOK). 4. 10. satuannya kilogram. 6. Biaya yang diperhitungkan adalah pengeluaran untuk input milik sendiri meliputi tenaga kerja dalam keluarga dan penyusutan. Tenaga kerja ini dibedakan menjadi dua. Jumlah produksi adalah jumlah panen padi ladang yang dihasilkan dari luas lahan. 8. 5. yaitu tenaga kerja dalam keluarga (TKDK) dan tenaga kerja luar keluarga (TKLK). Satuannya Rupiah. Luas lahan garapan areal usahatani padi ladang merupakan lahan yang digunakan untuk menanam padi ladang. upah tenaga kerja luar keluarga. Satuannya orang. Untuk petani penyakap maka komponen biaya tunainya ditambah dengan biaya sakap. Biaya usahatani total adalah merupakan penjumlahan antara biaya tunai dan biaya yang diperhitungkan . Produktivitas adalah hasil bagi antara jumlah panen dengan luas lahan dengan satuannya Ton per Hektar. Penyakap adalah petani yang menggarap lahan milik orang lain denga n pembayaran sewanya berdasarkan bagi hasil. benih. 7.2. Satuannya adalah Rupiah.

11. 13. Pendapatan kotor usahatani adalah selisih antara penerimaan usahatani dan biaya tunai usahatani. Satuannya Rupiah. 12. Satuannya adalah Rupiah. . Penerimaan (nilai produksi) adalah nilai yang diperoleh dari hasil kali antara jumlah produksi dengan dengan harga jualnya. Pendapatan bersih usahatani adalah selisih antara penerimaan usahatani dengan biaya usahatani total (biaya tunai dan diperhitungkan). Satuannya Rupiah.

Bagan Prosedur Analisis Pendapatan dan Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Produksi Cabang Usahatani Padi Ladang .Produktivitas Padi Ladang • Pupuk • Benih • Pestisida • Tenaga Kerja dalam Rumah Tangga Rumah Tangga • Tenaga Kerja Luar Analisis Fungsi Produksi Cobb-Douglas Elastisitas Faktor-faktor Produksi Analisis Pendapatan Analisis R/C Analisis Efisiensi Ekonomis Faktor-faktor Produksi Kesimpulan Gambar 2.

809 %) lahan yang telah digunakan dan sekitar 918 hektar merupakan (86.09 0.10 50.07 0.00 0.92 0. Desa Taman Mekar di sebelah selatan.69 0. dan Kehutanan di sebelah timur.78 0.00 . Secara keseluruhan luas wilayah Desa Wanajaya adalah sekitar 1.17 1.00 1. Kali Cibeet Bekasi di sebelah barat.07 hektar yang terdiri atas 147.30 2. Penggunaan Lahan di Desa Wanajaya Tahun 2004 Penggunaan Lahan Sawah irigasi teknis Sawah irigasi 1/2 teknis Sawah tadah hujan Tegalan/Ladang Pemukiman umum Pasar Tempat ibadah Kuburan/makam Tempat rekreasi dan olahraga Perkantoran pemerintah Sekolah/lainnya Lahan Terlantar Total Sumber : Profil Desa Wanajaya.07 hektar (13.065.19 100.07 Persentase 1.20 0.50 38.02 0.V.1. Sedangkan jarak ke ibukota kabupaten sekitar 13 kilometer dengan waktu tempuh kurang lebih selama satu setengah jam.02 3.02 0. GAMBARAN UMUM DAERAH PENELITIAN 5. Gambaran Umum Lokasi Penelitian Desa Wanajaya termasuk dalam wilayah Kecamatan Teluk Jambe. Tabel 5. Batas-batas administrasi Desa Wanajaya adalah Desa Wanakerta di sebelah utara. Kabupaten Karawang.75 1. Jarak desa Wanajaya dengan ibukota kecamatan sekitar 11 kilometer dengan waktu tempuh selama kurang lebih satu jam.065.61 13. Luas (Ha) 18.58 4. Gambaran secara rinci mengenai luas Desa Wanajaya berdasarkan penggunaan lahan ditunjukkan dalam Tabel 5.74 1.23 918.12 86.19 %) lahan terlantar.80 21.17 0. Jawa Barat. 2004.

struktur gumpal atau keras. dan jumlah bulan kering rata-rata tiga bulan dengan suhu rata-rata sekitar 27°C dan intensitas penyinaran matahari sekitar 66 persen. denga n kapasitas tukar kation (KTK) dan kejenuhan basa (KB) yang tergolong sedang. Curah hujan rata-rata sekitar 1454. dan solum dalam. Desa Wanajaya berada pada ketinggian sekitar 700 meter di atas permukaan laut dengan kemiringan lahan 30 sampai 40 persen yang merupakan daerah perbukitan.laki . Luas (Ha) 187.5 mm per tahun berdasarkan data tahun 2002 dan termasuk dalam kelas iklim B atau daerah beriklim basah dengan vegetasi hujan tropis berdasarkan standar Schmidt dan Ferguson (BAPPEDA Kabupaten Karawang. Desa Wanajaya terdiri atas daerah dataran seluas sekitar 187. Berdasarkan ketiga indikator kesuburan tanah tersebut.56 82.00 1065.00 Dari kondisi geografis. Topografi atau Bentang Lahan Desa Wanajaya Tahun 2004 Jenis daratan Dataran Perbukitan/pegunungan Total Sumber : Profil Desa Wanajaya. Jumlah penduduk desa Wanajaya hingga Januari 2005 tercatat sebanyak 4024 jiwa (1237 kepala keluarga) dan komposisi penduduk tergolong merata antara laki.07 878. disimpulkan bahwa tingkat kesuburan tanah di Desa Wanajaya termasuk dalam golongan rendah dan memiliki ciri-ciri bertekstur lempung.Secara umum topografi Desa Wanajaya sebagian besar merupakan daerah perbukitan.07 Persentase 17. Jumlah bulan basah rata-rata tujuh bulan. Tabel 6.44 100.07 hektar dan daerah perbukitan sekitar 878 hektar seperti ditunjukkan dalam Tabel 6 berikut. bulan lembab rata-rata dua bulan. Tanah di Desa Wanajaya memiliki pH sekitar empat sampai lima. 2004. 2003).laki dan perempuan dimana penduduk dengan jenis kelamin laki.

Karakteristik Penduduk Desa Wanajaya Berdasarkan Kelompok Umur Tahun 2005 Kelompok Umur Jumlah (Tahun) (orang) 0-9 910 10 . (1997) dalam BAPPEDA Kabupaten Karawang (2003).00 Dari segi mata pencahariannya. 2004. dan penduduk jenis kelamin perempuan berjumlah 1991 orang (49.58 10.19 775 20 – 29 791 30 – 39 667 40 – 49 416 50 – 59 278 = 59 187 Total 4.11 %) bekerja sebagai peternak.39 %) angkatan kerja sehingga dari segi jumlah angkatan kerja Desa Wanajaya tergolo ng cukup potensial. Berdasarkan Sensus Penduduk tahun 1971 Tarigan JJ.024 Sumber : Monogafi Desa Wanajaya.52 %). Kelompok penduduk lain yang proporsinya tergolong cukup besar adalah kelompok penduduk yang bermata pencaharian sebagai buruh swasta yaitu .59 %) sementara penduduk yang bermata pencaharian sebagai petani (pemilik) sebanyak 1595 orang (39.23 %) masih bekerja di bidang pertanian baik sebagai petani ataupun buruh tani. batas usia 10 tahun ke atas digunakan untuk menentukan apakah seseorang termasuk dalam angkatan kerja atau bukan.65 100. penduduk Desa Wanajaya cukup beragam tetapi sebagian besar penduduk desa atau sebanyak 2343 orang (58. Penduduk yang bermata pencaharian sebagai buruh tani sebanyak 748 orang (18.26 19.64 %) dan sebagian kecil penduduk atau sebanyak 125 orang (3. Tabel 7.48 %).berjumlah 2033 orang (50. Dalam Tabel 7 dapat dilihat bahwa dari seluruh penduduk di Desa Wanajaya terdapat 3114 orang (77.91 4.34 6.61 19.66 16. Persentase 22.

Tabel 8.07 0.00 Dari segi pendidikan Desa Wanajaya tergolong rendah karena sebagia n besar penduduk atau sekitar 80 persen penduduk hanya mengikuti pendidikan formal hingga tamat sekolah dasar. TNI/POLRI. mantri kesehatan. 2004.35 3. Gambaran secara rinci tentang penduduk Desa Wanajaya berdasarkan tingkat pendidikan ditunjukkan dalam Tabel 9. Penduduk lainnya bekerja di berbagai bidang diantaranya PNS.sebanyak 879 orang (21.06 100.64 18. Sisanya sekitar 20 persen dari penduduk menyelesaikan pendidikan hingga tamat sekolah lanjutan pertama atau sederajat dan memenuhi program pendidikan wajib 9 tahun yang digerakkan pemerintah. Karakteristik Penduduk Desa Wanajaya Berdasarkan Mata Pencaharian Tahun 2005 Jenis Mata Pencaharian Jumlah (orang) Petani 1595 Buruh Tani 748 Buruh/swasta 879 PNS 75 Pengrajin 8 Pedagang 175 Peternak 125 Montir 3 Dokter 1 Bidan Desa 2 Mantri Kesehatan 2 Polisi 6 Pengangguran 405 Total 4024 Sumber Monografi Desa Wanajaya.84 %) karena lokasi Desa Wanajaya masih dekat dengan kawasan industri Kabupaten Karawang.05 0.59 21.06 %).02 0.84 1.05 0. Gambaran penduduk Desa Wanajaya berdasarkan mata pencaharian disajikan dalam Tabel 8. dokter.20 4.11 0. pedagang. Persentase 39. montir. pengrajin. .86 0. dan kelompok yang tergolo ng berstatus sebagai pengangguran sebanyak 405 orang (10. Bidan desa.15 10.

Tabel 9.36 11. Karakteristik Petani Responden Berdasarkan Umur Kelompok Umur (tahun) 20-30 31-45 46-50 51-60 > 60 Total Jumlah Responden (orang) 5 13 6 1 15 40 Persentase 12. Umur Petani Tenaga kerja produktif umumnya berada pada selang 25 hingga 40 tahun.31 8. sedangkan jika kurang atau lebih dari selang umur tersebut akan tergolong sebagai tenaga kerja kurang produktif tetapi masih termasuk dalam usia kerja. status usahatani padi ladang.50 32. Karakteristik Penduduk Desa Wanajaya Berdasarkan Tingkat Pendidikan Tahun 2004 Tingkat Pendidikan Belum Sekolah Usia 7-45 thn tidak pernah sekolah Pernah sekolah SD tetapi tidak tamat Tamat SD/sederajat SLTP/sederajat SLTA/sederajat D-1 D-2 D-3 S-1 Total Sumber : Monografi desa Wanajaya.00 2.05 0. pekerjaan sampingan. Karakteristik petani responden selengkapnya sebagai berikut : 1.50 15. Karakteristik petani responden berdasarkan umur ditunjukkan pada Tabel 10. jumlah anggota keluarga.25 100. Tabel 10.75 22.2. keputusan bertani padi ladang.24 5. status dan luas lahan garapan. Jumlah (orang) 502 30 905 1785 455 332 2 3 5 5 4024 Persentase 12. tingkat pendidikan.50 37.00 .25 0. dan kondisi tempat tinggal. 2004.48 0. pengalaman berusahatani padi gogo atau padi ladang.49 44.07 0.50 100.24 0. Karakteristik Petani Responden Karakteristik petani responden akan diuraikan berdasarkan umur petani.

Karakteristik petani responden berdasarkan tingkat pendidikan selengkapnya disajikan dalam Tabel 11. 2.00 22.50 0. Berdasarkan tingkat pendidikan. Tabel 11. Adapun tujuan teknologi dan inovasi adalah untuk memperbaiki usahatani baik dari segi produksi atau produktivitas. maka proses adopsi teknologi akan semakin cepat.00 100. Hanya satu orang diantara petani responden yang menyelesaikan pendidikan SLTP hingga tamat.00 . Tingkat Pendidikan Tingkat pendidikan akan berpengaruh terhadap tingkat adopsi teknologi dan inovasi yang sedang berkembang.5 persen dari keseluruhan responden. Sedangkan petani responden yang paling sedikit berasal dari kelompok umur antara 51 hingga 60 yaitu hanya sebanyak 1 orang (2.00 45.5 %).Berdasarkan umur. Pada umumnya. Petani responden lainnya yang juga jumlahnya tergolong sedikit berasal dari kelompok umur 20 hingga 30 tahun yang berjumlah 5 orang (12. Karakteristik Petani Responden Berdasarkan Tingkat Pendidikan Tingkat Pendidikan Tidak Pernah Sekolah Tidak Tamat SD Tamat SD Tamat SLTP Tamat SLTA Total Jumlah Responden (Orang) 12 18 9 1 0 40 Persentase 30.50 2. sebagian besar responden terdiri atas petani dari kelompok umur di atas 60 tahun atau yang sudah berusia lanjut yaitu sebanyak 15 orang atau 37. petani responden lebih banyak terkonsentrasi pada kelompok tidak tamat SD yaitu sebanyak 18 orang (45 %) dan kelompok yang tidak pernah mengikuti sekolah formal sama sekali yaitu sebanyak 12 orang (30 %).5 %). semakin tinggi tingkat pendidikan.

Lahan berstatus sewa menyebabkan petani penyewa akan lebih terpacu untuk selalu lebih efisien dalam mengelola lahan agar produktivitas lahan lebih tinggi. dan tidak ada diantara petani responden yang memiliki luas lahan garapan lebih dari 2 hektar. Data secara rinci . Semua petani responden merupakan petani pemilik karena petani responden menggarap lahan tanpa mengeluarkan biaya sewa lahan.3. Sementara luas lahan garapan berpengaruh positif terhadap produktivitas usahatani dimana usahatani dengan luas lahan yang lebih besar akan memiliki produktivitas yang relatif lebih tinggi daripada usahatani dengan luas lahan yang lebih kecil.5 hektar hingga petani yang memiliki luas lahan garapan lebih dari satu hektar.5 sampai 1 hektar yaitu sebanyak 25 orang (62. Sementara itu lahan yang berstatus milik send iri pada umumnya relatif kurang produktif daripada lahan yang berstatus sewa karena petani pemilik tidak pernah memperhitungkan biaya sewa lahan yang harus dikeluarkan. Petani responden berdasarkan status pemilikan lahan dikelompokkan atas petani pemilik dan petani penggarap.5 %). Luas lahan garapan petani responden bervariasi mulai dari petani yang memiliki luas lahan garapan kurang dari 0. Sedangkan petani yang memiliki luas lahan garapan lebih dari satu hektar hanya sebanyak 7 orang (17. Status dan Luas Lahan Garapan Status lahan garapan berpengaruh kepada produktivitas usahatani. Sebagian besar petani responden memiliki luas lahan garapan antara 0. Petani responden yang memiliki luas lahan garapan kurang dari 0.5 hektar sebanyak 8 orang (20 %).5 %). Hal ini disebabkan karena petani penyewa mempunyai kewajiban untuk memperhatikan nilai biaya sewa yang harus dibayar kepada pemilik lahan.

5 %).00 4. Gambaran petani berdasarkan pengalaman berusahatani secara rinci disajikan dalam Tabel 13. Demikian juga dengan berbagai masalah non teknis yang biasanya dihadapi dalam berusahatani sehingga pada akhirnya produktivitasnya akan lebih tinggi. Hanya sebagian kecil dari petani responden yang memiliki pengalaman berusahatani padi ladang kurang dari 5 tahun yaitu sebanyak 2 orang (5 %). Tabel 12.1 1–2 >2 Total Jumlah Responden (orang) 8 25 7 0 40 Persentase 20.5 0.00 100. Pengalaman Berusahatani Padi Ladang Petani yang memiliki pengalaman berusahatani lebih lama akan lebih baik dan lebih matang dalam hal perencanaan usahatani karena lebih memahami berbagai aspek teknis dalam berusahatani.50 0. Sedangkan petani yang lain selebihnya tersebar dalam kelompok dengan pengalaman berusahatani padi ladang antara 5 hingga 10 tahun sebanyak 6 orang (15 %). . Kelompok antara 11 hingga 15 tahun sebanyak 9 orang (22. Kelompok petani responden dengan jumlah yang paling banyak berdasarkan pengalaman berusahatani adalah kelompok petani yang telah berusahatani padi ladang selama lebih dari 20 tahun yaitu sebanyak 15 orang (37.5 %).00 62. dan kelompok antara 16 hingga 20 tahun sebanyak 8 orang (20 %). Karakteristik Petani Responden Berdasarkan Luas Lahan Garapan Luas Lahan (ha) < 0.mengenai karakteristik petani responden berdasarkan luas lahan garapan disajikan dalam Tabel 12.5 .50 17.

Karakteristik Petani Responden Berdasarkan Pengalaman Usahatani Pengalaman Berusahatani Padi Ladang (Tahun) <5 5 -10 11-15 16-20 > 20 Total Jumlah Responden (Orang) 2 6 9 8 15 40 Persentase 5. Semakin banyak jumlah anggota keluarga maka semakin banyak pula tenaga kerja yang dapat digunakan dalam kegiatan produksi usahatani sehingga produktivitas akan lebih tinggi.hari. Jumlah anggota keluarga juga akan berpengaruh terhadap jumlah tanggungan keluarga atau tingkat konsumsi rumahtangga.00 37. Bertani padi ladang juga dilakukan secara turun temurun juga oleh karena faktor – faktor yang telah disebutkan di atas. Petani yang memiliki usaha sampingan selain usahatani padi ladang memiliki usaha sampingan sebagai perangkat desa seperti Ketua RT ataupun sebagai Hansip atau Linmas (Perlindungan Masyarakat). kesuburan tanah. dan ketersediaan modal yang hanya sesuai dengan komoditas padi ladang. Selain itu para petani juga berusahatani padi ladang karena tidak memiliki keahlian lain selain bertani dan juga karena kondisi alam seperti ketersediaan air.00 15.50 100.00 Seluruh petani responden menyatakan bahwa berusahatani padi ladang merupakan usaha pokok untuk memenuhi kebutuhan beras sehingga rumah tangga petani tidak perlu membeli beras untuk pangan sehari.50 20. dan demikian juga sebaliknya.00 22.Tabel 13. Jumlah Anggota Keluarga Jumlah anggota keluarga akan mempengaruhi tingkat produktivitas kerja dikaitkan dengan jumlah penggunaan (sumbangan) tenaga kerja terhadap kegiatan produksi usahatani. 5. .

sehingga petani akan lebih mengusahakan peningkatan produksi dan produktivitas padi ladang daripada komoditi yang menjadi usahatani sampingan.5 %) tergolong ke dalam kelompok dengan anggota keluarga antara 3 hingga 5 orang. sedangkan rata-rata rumah tangga petani responden memiliki sebanyak sekitar 4 orang.50 12.00 67.00 6. . Gambaran secara rinci mengenai karakteristik petani responden berdasarkan jumlah anggita keluarga disajikan dalam Tabel 14.5 % ) dari keseluruhan responden yang memiliki anggota keluarga lebih dari 5 orang.50 100. Karakteristik Petani Responden Berdasarkan Jumlah Anggota Keluarga Kelompok < 3 orang 3 . Status Usahatani Padi Ladang Status Usahatani padi ladang. Petani yang bermatapencaharian utama usahatani padi ladang akan lebih memfokuskan pekerjaan atau sumberdayanya terhadap usahatani padi ladang. akan mempengaruhi sikap petani dalam menentukaan komoditi usahatani mana yang akan menjadi prioritas (fokus) yang mendapat perhatian atau alokasi sumberdaya yang relatif lebih besar dan yang lebih kecil.Sebagian besar responden atau sebanyak 27 rumahtangga (67. Seluruh petani yang menjadi responden menyatakan bahwa mereka memilih berusahatani padi ladang sebagai matapencaharian utama sehingga sumberdaya yang dimiliki petani dialokasikan terutama untuk usahatani padi ladang. Tabel 14. dalam artian apakah usahatani padi ladang merupakan mata pencaharian utama atau sampingan.5 orang > 5 orang Total Jumlah Anggota RT 8 27 5 40 Persentase 20. dan hanya sebanyak 5 rumah tangga (12.

sehingga tingkat pendapatan tersebut akan berpengaruh terhadap produktivitas usahatani. dan teknik produksi lainnya petani bebas menentukan sendiri atau dipengaruhi adat istiadat setempat yang me ngikat kebebasan petani dalam mengambil keputusan usahatani.7. Sehingga sumber pendapatan yang menjadi penunjang usahatani padi ladang adalah dengan dengan berkebun tetapi umumnya tidak dikelola secara baik atau tidak diusahakan secara kontinyu. Segala usaha yang bertujuan untuk peningkatan produktivitas usahatani terutama . Keseluruhan petani responden menyatakan bahwa keputusan dalam berusahatani diambil sendiri dengan kebebasan berdasarkan pemahaman dan pengalaman petani dan tidak terikat dengan aturan atau adat istiadat setempat. 8. Selain bertani. Teknologi dan inovasi bertujuan untuk meningkatkan produktivitas padi ladang dan taraf hidup petani. Pekerjaan Sampingan Jenis pekerjaan sampingan yang dimiliki petani akan berpengaruh terhadap pendapatan tambahan yang diperoleh rumahtangga. pola tanam. Pendapatan dari pekerjaan sampingan akan digunakan sebagai tambahan modal dalam penyediaan sarana produksi yang lebih banyak sehingga hasil produksi yang diperoleh akan lebih besar. Keputusan Bertani Padi Ladang Keputusan bertani padi ladang dalam menentukan jenis. responden pada umumnya tidak memiliki pekerjaan sampingan untuk menambah pendapatan rumahtangga karena tidak mempunyai keahlian lain selain bertani. Keputusan yang diambil akan berpengaruh terhadap produktivitas dan kemajuan usahatani karena petani yang dinamis akan lebih mampu mengadopsi teknologi usahatani.

semen atau ubin. . Semua petani responden mempunyai tempat tinggal dengan dinding yang terbuat dari bilik bambu. dan bilik bambu. Kondisi Tempat Tinggal Karakteristik petani responden berdasarkan kondisi tempat tinggal dilihat berdasarkan kondisi atap. 9. semi permanen. Dari semua petani responden juga tidak ada yang mempunyai fasilitas kamar mandi atau WC yang tergolong layak. Semua petani responden memiliki tempat tinggal dengan lantai beralaskan tanah. papan/kayu.padi ladang akan dilakukan petani sesuai dengan kemampuan sumberdayanya tanpa dipengaruhi faktor adat istiadat setempat. dinding. Atap petani responden seluruhnya masih menggunakan atap rumbia. dan lantai rumah. kayu atau papan. dan tanah. Kondisi tempat tinggal petani responden dilihat berdasarkan kondisi lantai dibedakan menjadi lantai keramik. Dinding atau tembok rumah petani responden dibedakan menjadi dinding permanen.

dan tanaman palawija lainnya. Varietas padi ladang yang digunakan petani adalah jenis Ciherang yang sebenarnya merupakan varietas padi sawah. kacang panjang. Berdasarkan pengalaman petani di Desa Wanajaya varietas padi sawah jenis Ciherang dapat memberikan hasil yang relatif lebih tinggi jika ditanam di lahan kering daripada varietas pai ladang lainnya.VI. Berdasarkan pengalaman tersebut jika petani memperkirakan bahwa musim hujan akan mulai berlangsung secara merata pada bulan tertentu. GAMBARAN USAHATANI PADI LADANG DI DESA WANAJAYA 6.1. ubi kayu. 6. Kegiatan berusahatani padi ladang di Desa Wanajaya umumnya dilakukan dengan sistem monokultur dan tanam gilir. Persiapan Lahan Penentuan waktu yang paling tepat untuk mengolah tanah dilakukan petani berdasarkan pengalaman dari masa tanam sebelumnya. Jenis tanaman yang biasanya ditanam setelah padi ladang antara lain kacang tanah.1. Budidaya Padi Ladang Kegiatan berusahatani padi ladang di Desa Wanajaya dilakukan mulai dari kegiatan persiapan lahan dalam dengan mengolah lahan pada saat datangnya musim hujan sekitar bukan Oktober atau November tergantung perkiraan petani berdasarkan pengalamannya sampai dengan masa panen sekitar bulan Maret atau April. Varietas jenis Ciherang juga dianggap sesuai dengan kondisi tanah dan iklim di Desa Wanajaya oleh para petani. maka sekitar dua minggu hingga satu bulan sebelum bulan tersebut merupakan saat yang paling tepat untuk melakukan pengolahan lahan.1. .

Pengolahan ini dimaksudkan untuk mematikan dan membusukkan rerumputan yang semula terdapat di permukaan tanah dan kemudian akan terbenam ke bagian bawah tanah. Pada pengolahan pertama.Pengolahan tanah dilakukan petani responden dengan cara me ncangkul dengan menggunakan cangkul dan tidak ada petani responden yang menggunakan mesin atau ternak untuk membajak karena biaya penggunaan mesin pembajak (traktor) yang sangat tinggi dan karena tidak ada petani memiliki ternak pembajak sehingga kegiatan mencangkul tanah dilakukan hanya dengan mengandalkan tenaga manusia dari dalam maupun dari luar keluarga. yaitu yang semula di atas atau di permukaan menjadi di bagian bawah dan demikian sebaliknya yang semula di bagian bawah menjadi di bagian atas. Keadaaan ini dibiarkan selama dua minggu hingga rerumputan yang terbenam dianggap sudah membusuk atau melapuk dan racun-racun yang ada sudah menguap ke udara. mencangkul dilakukan sedemikian rupa sehingga tanahnya terbalik. Bagian atas tanah juga diolah sedemikian rupa dengan menggunakan garpu atau garu sehingga lahan yang akan ditanami padi menjadi sedatar mungkin. Pembalikan tanah bagian bawah ke atas betujuan untuk menganginkan tanah memberikan kesempatan bagi tanah untuk melepaskan racun-racun yang sangat mungkin terbentuk dalam tanah. dilakukan pengolahan ketiga yang merupakan kegiatan . Pengolahan kedua merupakan penyisiran tanah yaitu mengusahakan agar tanah yang sebelumnya merupakan bongkahan atau gumpalan-gumpalan besar dipecahkan dan diremukkan hingga sekecil-kecilnya. Kemudian sekitar dua minggu setelah pengolahan kedua.

Setelah bulir ditugalkan ke dalam tiap-tiap lubang tanam kemudian ditutup kembali dengan maksud agar bulir yang ditugalkan tidak diganggu oleh burung atau binatang-binatang perusak atau pemakan bulir lainnya. 20 ribu per hari dengan jam kerja selama 6 jam. Untuk lahan yang permukaannya miring. sebab walaupun padi ladang sangat tergantung pada air hujan dalam pertumbuhannya namun air yang berlebihan juga akan menyebabkan kerusakan pada padi ladang. kemudian ke dalam lubang dimasukkan sekitar 5 sampai 7 bulir padi jenis Ciherang dengan jarak tanam pada umumnya kira-kira 20 X 20 sentimeter hingga 30 X 30 sentimeter. 6. Pengolahan ketiga ini dilakukan sedemikian rupa sehingga arah dari pembajakan tanah pertama membentuk siku dengan arah dari pembajakan tanah kedua. Kemudian pada tahap pengolahan ini juga diusahakan sedemikian rupa sehingga bagian tengah dari lahan yang diolah sedikit lebih tinggi daripada bagian pinggir lahan dengan maksud agar bagian tengah lahan tidak tergenang air jika hujan turun secara berlebihan tetapi akan mengalir ke bagian pinggir lahan. terutama pada daerah berbukit. .2. Penanaman Penanaman dilakukan dengan menggunakan alat tugal yang terbuat dari kayu untuk membuat lubang.mencangkul tanah yang sebelumnya telah diremukkan dan diratakan pada pengolahan pertama dan kedua. Biaya upah yang berlaku secara umum bagi para buruh tani untuk proses pengolahan tanah adalah Rp.lubang tanam pada kedalaman sekitar 2 hingga 5 cm pada lahan yang sebelumnya sudah diolah terlebih dahulu. lahan dibuat berbentuk terasering untuk mencegah pengendapan air dan membentuk parit-parit untuk mencegah erosi agar kesuburan tanah tetap terjaga.1.

1. 2000). Pemupukan Pemupukan sangat perlu dilakukan untuk memperoleh hasil gabah yang maksimal terutama di lahan kering yang memiliki karakteristik marjinal. dan 75 kilogram K yang setara dengan 180 kilogram pupuk KCl per hektar per musim tanam.Pola tanam yang umumnya digunakan petani responden adalah dengan sistem tanam gilir dan monokultur dengan menanam padi ladang kemudian menanam pisang di sekeliling lahan sebagai tanaman pencegah erosi. Pemupukan pertama dilakukan dengan menggunakan pupuk Urea dan TSP umumnya diberikan dengan cara disebarkan ke dalam lahan secara merata setelah penanaman benih. Pertanaman padi ladang yang ideal yaitu yang mampu menghasilkan padi dalam bentuk gabah kering sebanyak 5 ton per hektar menyerap unsur h dari dalam ara tanah antara lain sebanyak 40 kilogram N yang setara dengan 90 kilogram pupuk Urea. dan sebagian petani memberikan pupuk Urea dan TSP dalam bentuk campuran dengan cara mencampurkan pupuk dengan benih padi pada saat penanaman. Pola tanam padi-bera yang dilakukan sebagian petani responden disebabkan modal awal untuk penanaman palawija setelah panen padi yang tidak mencukupi sehingga setelah masa panen padi ladang para petani lebih banyak yang memberakan lahannya untuk kemudian ditanami padi lagi pada musim hujan berikutnya. Penanaman padi ladang pada umumnya dilakukan dengan sistem padi-palawija atau padi-bera. Sementara untuk meningkatkan efisiensi pemupukan pupuk . 6.3. dan agar laha n tetap subur dan hasil gabah tetap tinggi maka jerami juga harus dikembalikan ke lahan dan tanaman harus dipupuk (Hermawan. 10 kilogram P yang setara dengan 50 kilogram pupuk TSP.

1.lain. Petani di Desa Wanajaya umumnya membeli pupuk dalam bentuk campuran pupuk Urea dan TSP dan tidak ada petani responden yang menggunakan pupuk TSP. dan hanya sebagian kecil petani yang menggunakan furadan.4. akodan. Harga pupuk campuran Urea dan TSP rata-rata sekitar Rp 1400 per kilogram dengan cara membeli petani di kios tani yang terletak di ibukota kecamatan dengan uang tunai. Jenis pestisida yang banyak digunakan petani responden adalah decis untuk mencegah penyakit “kungkang” atau blast yang sering menyerang tanaman padi ladang di Desa Wanajaya. dan lain. Harga pupuk yang sangat tinggi bagi petani menyebabkan penggunaan pupuk yang tidak optimal karena tidak sesuai dengan dosis pupuk ideal.nitrogen harus diberikan secara split atau terpisah (Puslitbang Tanaman Pangan. . Pestisida jenis decis dibeli petani sekitar Rp. 22 ribu per 100 mililiter di kios tani yang terletak di ibukota kecamatan. “mentul”. Jenis penyakit lain yang sering menyerang tanaman padi ladang di desa ini adalah “wereng”. elsan. Jenis penyakit ini menyebakan pembusukan pada batang padi sehingga mematikan tanaman padi. Pengobatan dilakukan dengan cara penyemprotan antara sekali hingga dua kali penyemprotan dalam satu masa tanam tergantung kemampuan keuangan petani. bahkan sebagian petani tidak menggunakan pupuk sama sekali. trobos. Jenis obat lain yang juga digunakan petani adalah sidametrin. 6. azodrin. 1989). Pengobatan Pengobatan dilakukan untuk mencegah atau membasmi hama dan penyakit yang menyerang tanaman padi ladang.

6000 untuk setiap tenaga kerja yang umumnya adalah wanita. Penyiangan Penyiangan dilakukan untuk membersihkan lahan dari gulma atau tanaman pengganggu tanaman utama (padi ladang). Upah yang berlaku secara umum untuk proses penyiangan adalah sekitar Rp. akan menjadi saingan berat bagi tanaman utama dalam memperoleh unsur hara dari dalam tanah bahkan dapat mematikan tanaman utama. Petani melakukan penyiangan antara satu kali hingga dua kali berdasarkan intensitas serangan gulma.1. per hari dengan jam kerja selama 6 jam kerja per hari. Hasil panen padi ladang digunakan untuk kebutuhan makanan pokok dan sebagian disimpan di lumbung padi untuk nantinya digunakan sebagai benih di musim tanam berikutnya jika tidak memiliki uang tunai untuk membeli benih dari kios atau toko dengan resiko kualitas yang jelas lebih rendah. Sebagian padi yang disimpan juga digunakan untuk tujuan berjaga-jaga atau untuk mengantisipasi kebutuhan mendesak rumah .6. 6. semak belukar. Pada periode ini benih mulai bertumbuh sehingga pertumbuhan tanaman pengganggu seperti rerumputan.5. Pemanenan Umur panen untuk varietas Ciherang yang digunakan petani responden rata-rata berumur 120 hingga 150 hari sejak ditanam.6. Proses penyiangan dilakukan sekitar sebulan setelah benih ditanamkan atau ditugalkan dengan menggunakan sabit atau “kored” dan cangkul.1. Proses penyiangan sebagian besar dilakukan oleh tenaga kerja wanita baik dari dalam maupuan dari luar keluarga. atau gulma jika tidak segera dimusnahkan.

dan lain. 6. dan penyusutan alat-alat pertanian.masing petani. Biaya-biaya yang dikeluarkan petani padi ladang dapat dilihat dalam Tabel 15.hari seperti biaya pendidikan anak. pestisida atau obat-obatan pemberantas hama dan penyakit tanaman.2.tangga sehari. Biaya tunai didefinisikan sebagai biaya untuk pupuk.lain. cangkul. tenaga kerja luar keluarga. biaya pengobatan dan kebutuhan-kebutuhan lainnya. Proses pengeringan padi dilakukan pada media tikar atau kuda-kuda bambu atau plastik terval di halaman rumah masing. dan pajak usahatani yang dikeluarkan petani selama proses produksi padi ladang. Pengeluaran usahatani yang termasuk dalam biaya diperhitungkan adalah pengeluaran usahatani yang dikeluarkan petani tetapi tidak secara tunai seperti biaya benih. nilai tenaga kerja dalam keluarga. Struktur Biaya Biaya yang dikeluarkan petani terdiri dari biaya tunai dan biaya diperhitungkan. . Padi yang sudah kering dan siap untuk digiling dibawa ke tempat penggilingan padi dan diolah hingga dalam bentuk beras dengan biaya pengolahan sebesar 100 kilogram beras untuk setiap satu ton beras yang telah diolah dengan menyesuaikan harga beras pada saat itu atau dalam bentuk uang tunai. Pemanenan biasanya dilakukan dengan mengupah buruh tani dengan sistem “bawon” yaitu dengan menggunakan seperlima dari hasil panen keseluruhan sebagai upah keseluruhan pekerja pemanen dalam bentuk gabah kering panen. Proses pemanenan dilakukan dengan menggunakan alat-alat yang masih tradisional seperti sabit atau “kored”.

000.724.6.49 74.420.000. Dalam penelitian ini.46.200. Karena sifat padi ladang yang menggantungkan pengairan pada curah hujan.220. .574. Biaya-biaya yang Dikeluarkan Petani Padi Ladang per Hektar per Musim Tanam di Desa Wanajaya Tahun 2005 Komponen BIAYA TUNAI Pupuk Pestisida Tenaga Kerja Luar Keluarga Pajak Usahatani Total Biaya Tunai BIAYA DIPERHITUNGKAN Benih Tenaga Kerja Dalam Keluarga Penyusutan Peralatan Total Biaya Diperhitungkan BIAYA TOTAL Satuan Kg Liter HOK Rp Rp Kg HOK Rp Rp Rp Jumlah 110.040. seperti di daerah lain pada umumnya.53 2.92 25.454.Nilai (Rp) 161.1.67 100.3.407.414.54.173.622.00 60 237. Perhitungan pendapatan usahatani padi ladang ini dilakukan untuk rata-rata per satu hektar lahan.34 0.64 65. Kegiatan usahatani padi ladang dimulai dari awal musim hujan sekitar bulan Oktober dan November hingga masa panen pada bulan April.144.20.2. analisis pendapatan dilakukan untuk satu musim tanam.1.6.34 Harga/satuan (Rp) 1.550. Analisis Pendapatan Analisis pendapatan dilakukan untuk menentukan nilai yang diperoleh petani dari kegiatan berusahatani padi ladang.79.000. maka kegiatan usahatani padi ladang di Desa Wanajaya dilakukan dalam satu musim tanam.Tabel 15.Persentase 7.8 1.431.33 6.37 2.41 3.290.- 6. dalam satu tahun.840.65 13.424. Analisis yang dilakukan meliputi analisis pendapatan atas biaya total dan analisis pendapatan atas biaya tunai.7 48.103.

Sedangkan rasio R/C atas biaya tunai adalah sebesar 3.300 per kilogram.76.1.654.104.175. Sedangkan.180.76 Produksi rata-rata padi ladang yang dihasilkan sebesar 1. Artinya bahwa untuk setiap satu rupiah biaya total yang dikeluarkan dalam usahatani padi ladang.01 yang berarti bahwa untuk setiap satu rupiah biaya tunai yang .625.4.574 per hektar per musim tanam sehingga pendapatan atas biaya tunai sebesar Rp 1. maka petani akan memperoleh penerimaan sebesar Rp 0.854.104.2.Tabel 16.-520.326.3.574.900. Analisis Pendapatan Cabang Usahatani Padi Ladang per Hektar per Musim Tanam di Desa Wanajaya Tahun 2005 Komponen TOTAL PENERIMAAN Total Biaya Tunai Total Biaya Diperhitungkan BIAYA TOTAL USAHATANI PENDAPATAN ATAS BIAYA TOTAL PENDAPATAN ATAS BIAYA TUNAI R/C ATAS BIAYA TUNAI R/C ATAS BIAYA TOTAL Nilai (Rupiah) 1.326.01 0.76.1. Sehingga jika dilihat dari sisi pendapatan atas biaya total.273 kilogram per hektar per musim tanam dalam bentuk gabah kering giling. Biaya total yang dikeluarkan petani dalam proses produksi rata-rata sebesar Rp 2.854. sehingga ratarata penerimaan petani sebesar Rp 1. Analisis Imbangan Penerimaan dan Biaya (Analisis R/C ratio) Dari hasil analisis pendapatan dan biaya usahatani padi ladang didapat rasio R/C atas biaya total sebesar 0.900 per hektar per musim tanam.754 per hektar per musim tanam sehingga pendapatan atas biaya totalnya sebesar Rp -520. maka usahatani padi ladang tidak menguntungkan bagi petani.175. Harga jual gabah kering pada masa panen rata-rata sebesar Rp 1. besar rata-rata biaya tunai yang dikeluarkan petani di daerah penelitian sebesar Rp 550. 6.654.754.550.

01. maka petani akan memperoleh penerimaan sebesar Rp 3. .dikeluarkan untuk usahatani padi ladang. Syarat suatu usahatani dikatakan menguntungkan jika rasio R/C atas biaya total lebih besar dari 1. maka dapat disimpulkan bahwa usahatani padi ladang di daerah penelitian tidak menguntungkan bagi petani.76. Berdasarkan nilai rasio R/ C atas biaya total yang lebih kecil dari 1 yaitu sebesar 0.

VII.hitung sebesar 8.1.83 Peluang 0.000 Berdasarkan pendugaan model produksi yang diperoleh. tenaga kerja luar keluarga. Hasil pendugaan model dan hubungan antara variabel bebas yaitu faktor.faktor produksi yang diduga berpengaruh dalam usahatani padi ladang adalah pupuk. Faktor.83 yang signifikan pada taraf kepercayaan 95 persen.faktor produksi dengan variabel dependen yaitu produksi padi ladang dapat dilihat dalam Tabel 17. tenaga kerja dalam keluarga. Analisis Ragam Produksi Cabang Usahatani Padi Ladang di Desa Wanajaya Sumber Ragam Regresi Galat Total Derajat Bebas 5 30 35 Jumlah Kuadrat 11.8341 Kuadrat Tengah 2. Ini berarti bahwa faktor.2432 0. benih.faktor produksi yang digunakan secara bersama-sama berpengaruh signifikan terhadap produksi padi ladang. Analisis Fungsi Produksi Model fungsi produksi yang digunakan untuk menduga fungsi produksi dalam penelitian ini adalah model fungsi produksi Cobb-Douglas.2161 7.6180 18. didapat nilai F. ANALISIS FAKTOR-FAKTOR PRODUKSI DAN EFISIENSI EKONOMI CABANG USAHATANI PADI LADANG 7.2539 F .hitung 8. dan pestisida. seperti yang ditunjukkan dalam Tabel 17. Tabel 17. .

405 Ln Pupuk 0.69 3.248 0.101 0.8% Variabel Koefisien Regresi T Hitung 0.48 1. Hasil Analisis Pendugaan Fungsi Produksi Usahatani Padi Ladang di Desa Wanajaya Simpangan Baku Koefisien 0. tenaga kerja luar keluarga.068 Ln Tenaga Kerja Dalam RT 0.3 1.5302 Ln Tenaga Kerja Luar Keluarga + 0. Berdasarkan pengamatan di lokasi penelitian. intensitas serangan hama dan penyakit tanaman.06968 Ln Pestisida Dari hasil pendugaan model ditunjukkan juga bahwa nilai koefisien determinasi (R2 ) didapat sebesar 59.003 0.1013 Ln Benih + 0.19 0.faktor lain di luar model.217 0.3 1.00 0.4 persen lagi dipengaruhi oleh faktor.8 persen.21728 Ln Tenaga Kerja Dalam Keluarga + 0.8 1.004 + 0. dan ketertarikan petani yang kurang untuk meningkatkan produksi dan produktivitas usahatani padi ladang akibat ketidakjelasan status kepemilikan atas lahan yang diusahakan petani dan karena .Tabel 18.545 0.6 persen dari variasi produksi dapat dijelaskan secara bersama-sama oleh faktor pupuk.2484 Ln Pupuk + 0.011 0.209 Ln Benih 0.989 Konstanta 0. tenaga kerja dalam keluarga.61 2.196 Ln Tenaga Kerja Luar RT 0. benih.065 Ln Pestisida R-Sq = 59. dan pestisida sedangkan sebesar 40.3 Berdasarkan data pada Tabel 18.296 VIF 1.2 2. maka model fungsi produksi padi ladang per hektar dapat diduga dengan persamaan sebagai berikut : Ln Produktivitas = 0.6% R-Sq (adjusted) = 52.069 0.530 0.6 persen dengan nilai koefisien determinasi terkoreksi (R2 -adjusted) sebesar 52.06 Pvalue 0.999 0. Di samping itu faktor iklim. faktor. Nilai koefisien determinasi (R2 ) tersebut berarti bahwa sebesar 59.faktor lain di luar model fungsi produksi yang diduga juga berpengaruh terhadap produksi padi ladang adalah tingkat kesuburan lahan.004 1.632 0.

berarti setiap penambahan faktor produksi secara bersama-sama sebesar 1 persen.masing variabel tersebut. 7. Hal ini dikarenakan penggunaan pupuk diantara petani a .17 persen. Nilai elastisitas pupuk sebesar 0.2484 persen dengan asumsi ceteris paribus.2484. Namun berdasarkan uji t diperoleh bahwa faktor produksi pupuk tidak berpengaruh nyata terhadap produksi padi l dang.2. Dengan nilai elastisitas produksi sebesar 1.cabang usahatani padi ladang tidak menguntungkan turut mempengaruhi produksi padi ladang. Elastisitas Produksi dan Skala Usaha Dalam model fungsi produksi Cobb-Douglas nilai koefisien regresi merupakan nilai elastisitas dari masing. maka akan meningkatkan produksi sebesar 1.17. Nilai t hitung untuk tenaga kerja dalam keluarga dan tenaga kerja luar keluarga berpengaruh nyata terhadap nilai produksi pada taraf kepercayaan 99 persen (a = 0. Karena jumlah nilai elastisitas faktor produksi lebih besar dari 1. dan pestisida tidak signifikan pada taraf kepercayaan yang ditetapkan. maka produksi padi ladang akan meningkat sebesar 0.05).masing variabel terhadap produksi adalah sebagai berikut : Berdasarkan Tabel 18 didapat bahwa jumlah nilai elastisitas faktor-faktor produksi sebesar 1. maka dapat disimpulkan bahwa usahatani padi ladang berada dalam daerah produksi increasing return to scale. Pengaruh masing. berarti jika penggunaan pupuk ditingkatkan sebesar satu persen. Sedangkan pengaruh faktor pupuk.17. Angka ini merupakan penjumlahan dari koefisien regresi faktor produksi yang dalam hal ini dianggap sebagai nilai elastisitas dari faktor tersebut. benih.

struktur gumpal/keras. cukup dengan tindakan yang sama yaitu dengan pemupukan bahan organik (pupuk kandang). Menurut Badan Perencana Pembangunan Daerah (BAPPEDA) Kabupaten Karawang dalam Laporan Studi Penanganan dan Pemanfaatan Lahan Kritis di Kabupaten Karawang Tahun 2003. Selain itu dapat juga dilakukan dengan . Derajat keasaman (pH) tanah yang rendah dapat ditingkatakan dengan program pengapuran. dan pH (derajat keasaman) yang merupakan tiga indikator kesuburan tanah.cenderung sama. kapasitas tukar kation (KTK). Pada tanah asam biasa dijumpai gejala keracunan unsur Fe yang dicirikan adanya bercak-bercak pada daun berwarna kuning kemerahan. Sehingga secara keseluruhan disimpulkan bahwa tingkat kesuburan tanah di lokasi penelitian tergolong rendah. Unsur Al ini selain bersifat racun bagi tanaman juga bersifat mengikat fosfor (P2 O5 ). bertekstur lempung. Jenis latosol merah coklat kekuningan. sehingga menjadi tidak tersedia atau tidak dapat diserap tanaman. nilai pH di lokasi penelitian adalah 4 sampai 5 sehingga termasuk tanah asam. Kesuburan tanah diukur dengan menggunakan tiga indikator yaitu nilai pH. Pada tanah-tanah asam banyak ditemukan unsur Aluminium dapat ditukar (Aldd). tanah di daerah penelitian termasuk jenis latosol. Tindakan untuk mengatasi masalah KTK (Kapasitas Tukar Kation). Dengan menggunakan ketiga indikator tersebut. dan solum dalam. Sedangkan kapasitas tukar kation (KTK) dan kejenuhan basa (KB) di lokasi penelitian termasuk dalam kelompok sedang. sehingga tidak ditemukan adanya variasi data penggunaan pupuk. dan kejenuhan basa (KB). KB (Kejenuhan Basa).

dan KCl 100 kilogram per hektar yang masing. pada stadia vegetatif (umur tanaman 14. sedangkan untuk pupuk kandang nilai rata-ratanya adalah tiga kali dari dosis pengapuran. maka produksi padi ladang akan meningkat sebesar 0. Berdasarkan uji t diperoleh bahwa faktor tenaga kerja luar keluarga berpengaruh nyata terhadap produksi padi ladang pada taraf kepercayaan 98 persen. Pupuk yang digunakan di lokasi penelitian rata-rata sebanyak 110.5 ton per hektar. Pupuk TSP sebanyak 100 kilogram per hektar. berarti setiap penambahan faktor tenaga kerja luar keluarga (ceteris paribus) sebesar satu persen. masing. Pemberian pupuk kandang atau pengapuran sebelum penanaman juga tidak dilakukan petani. tetapi bila sudah diberi kapur tidak perlu lagi menggunakan pupuk kandang.masing sepertiga bagian untuk pupuk dasar.35.4 sampai 0. dan tidak ada petani yang menggunakan pupuk KCl. Dosis pemberian kapur adalah 0. Tenaga kerja luar keluarga mempunyai nilai elastisitas sebesar 0. Budaya gotong royong para petani dalam melakukan penanaman di lokasi .masing diberikan sekaligus saat tanam.pengapuran menggunakan jenis kapur tanah CaCO3 sebelum penanaman karena ketiga parameter kesuburan tersebut intinya saling berhubungan. dan 49 hari setelah tanam).5302 persen. Sedangkan untuk dosis atau takaran pupuk yang dianjurkan BAPPEDA dalam budidaya padi ladang adalah Urea sebanyak 100 kilogram per hektar dengan tiga kali pemberian. Hal ini menyebabkan faktor produksi pupuk tidak elastis terhadap peningkatan hasil produksi padi ladang.5302.8 kilogram per hektar Urea dan TSP dalam bentuk campuran yang diberikan sekaligus pada saat penanaman.

penyiangan. Dalam melakukan pengolahan mulai dari persiapan lahan. Penambahan faktor produksi benih sebesar satu persen akan cenderung meningkatkan produksi padi ladang sebesar 0. maka produksi padi ladang akan meningkat sebesar 2. hingga pemanenan petani lebih banyak mengandalkan tenaga kerja dalam keluarga. Menurut petani setempat benih jenis ini menghasilkan gabah yang lebih banyak daripada varietas padi yang disarankan untuk padi ladang dalam kondisi normal. Petani di lokasi penelitian menggunakan benih jenis Ciherang yang sebenarnya adalah benih yang umumnya digunakan dalam padi sawah. Seperti halnya tenaga kerja luar keluarga.penelitian diduga menjadi penyebab elastisnya peningkatan faktor tenaga kerja luar keluarga terhadap peningkatan produksi. Elastisitas faktor produksi benih yang rendah terhadap peningkatan produksi diduga disebabkan karena penggunaan varietas benih yang tidak tepat.1728 persen (ceteris paribus). tenaga kerja dalam keluarga juga berpengaruh nyata terhadap produksi padi ladang pada taraf kepercayaan 99 persen.21728. Faktor ini tidak berpengaruh nyata terhadap produksi padi ladang pada taraf kepercayaan sebesar 90 persen. Namun tidak demikian halnya dengan faktor produksi benih. Penyakit blast merupakan jenis penyakit yang paling penting dan paling sering dijumpai dalam budidaya padi ladang pada umumnya.1013 persen dengan asumsi ceteris paribus. tetapi kelembaban yang tinggi dan periode pengembunan yang panjang akan menyebabkan resiko untuk terserang penyakit blast (bercak putih pada akar) menjadi lebih besar. Adapun nilai elastisitas tenaga kerja dalam keluarga adalah sebesar 0. yang berarti jika faktor tenaga kerja dalam keluarga ditingkatkan sebesar sepuluh persen. demikian .

Penyakit blast dapat menurunkan hasil panen bahkan menggagalkan pertanaman padi ladang. Tenaga kerja luar keluarga melakukan pekerjaan dengan jam kerja yang telah ditentukan sebelumnya. dan juga target kerja yang ditentukan sebelumnya. Elastisitas faktor produksi pestisida adalah sebesar 0.5302. Petani yang .06968. maka faktor yang paling responsif terhadap produksi padi ladang adalah tenaga kerja luar keluarga dengan nilai elastisitas sebesar 0. yang berarti setiap kenaikan penggunaan pestisida sebesar satu persen akan cenderung meningkatkan produksi padi ladang sebesar 0. Rendahnya elastisitas faktor produksi pestisida terhadap peningkatan produksi menunjukkan bahwa penggunaan pestisida oleh petani tidak berfungsi secara efektif dalam mengurangi atau membasmi hama dan penyakit yang menyerang padi ladang karena jumlah atau jenis pestisida yang belum tepat.juga di lokasi penelitian. Jadi jika dilihat secara keseluruhan.06986 persen dengan asumsi ceteris paribus. Faktor produksi pestisida tidak berpengaruh nyata pada taraf kepercayaan 90 persen tetapi berpengaruh nyata pada taraf kepercayaan 70 persen terhadap produksi padi ladang. Dan jika dilihat dari besaran nilai elastisitas. Petani tidak menggunakan varietas padi ladang karena produktivitas yang lebih rendah. Hal ini disebabkan oleh tenaga kerja luar keluarga akan bekerja lebih optimal dibandingkan dengan tenaga kerja dalam keluarga. Tenaga kerja luar keluarga akan bekerja lebih optimal dibandingkan dengan tenaga kerja dalam keluarga. upah yang telah disepakati. maka faktor yang berpengaruh nyata terhadap produksi padi ladang di Desa Wanajaya adalah faktor tenaga kerja dalam dan luar keluarga.

Nilai Produk Marjinal merupakan hasil kali antara harga produk dengan Produk Marjinal (PM) sementara Biaya Korbanan Marjinal (BKM) sama dengan harga dari masing.menggunakan tenaga kerja luar keluarga akan mengoptimalkan kerja buruh tani agar target kerja yang diinginkan tercapai.3.masing faktor produksi itu sendiri. 7. dan Marginal Factor Cost (MFC) atau yang sering disebut dengan Biaya Korbanan Marjinal (BKM).faktor produksi yang dapat dianalisis adalah faktorfaktor produksi yang bersifat fisik dan yang dapat dinilai dengan rupiah. maka penggunaan faktor. Terpenuhi atau tidaknya kedua syarat tersebut dapat diketahui dengan menggunakan sebuah persamaan yaitu perbandingan antara Value Marginal Product (PyMPxi) atau disebut juga Nilai Produk Marjinal (NPM). atau ketika elastisitas produksi lebih besar atau sama dengan nol dan lebih lebih kecil atau sama dengan satu (≤ εp ≤ 1).faktor . Analisis Efisiensi Ekonomi Menurut Doll dan Orazem (1984). Tingkat efisiensi ekonomis dari penggunaan faktor. untuk mencapai keuntungan yang maksimal. Jika rasio NPM dengan BKM lebih besar dari satu. syarat kecukupan dapat berbeda pada setiap usahatani atau individu dan merupakan efisiensi yang subjektif. Faktor. suatu usaha tani harus memenuhi dua syarat yaitu syarat keharusan (Necessary Condition) dan syarat kecukupan (Sufficient Condition).faktor produksi dapat dilihat dari besarnya rasio Nilai Produk Marjinal dengan Biaya Korbanan Marjinal per periode produksi. Syarat keharusan (Necessary Condition) dipenuhi pada saat tidak ada lagi kemungkinan lain dalam penggunaan input yang lebih sedikit untuk menghasilkan nilai produksi yang sama. Berbeda dengan syarat keharusan yang objektif.

1013 Pestisida 1. Rasio Nilai Produk Marjinal dengan Biaya Korbanan Marjinal Usahatani Padi Ladang Di Desa Wanajaya Penggunaan Koefisien Rata-rata Regresi Aktual Pupuk 110. karena nilai.0696 Produksi Rata-rata (Kg/Ha) 1273.79 Harga Rata -rata/unit Output (Rp/Kg) 1300 Keterangan : NPM = Nilai Produk Marjinal BKM = Biaya Korbanan Marjinal Variabel NPM 3712.162 1.50 BKM 1454 6000 6000 2407 46724 NPM/ BKM 2.027 0. Rasio NPM dengan BKM yang sama dengan satu untuk semua faktorfaktor produksi menunjukkan bahwa penggunaan faktor.00 0.produksi disebut belum efisien dan perlu ditingkatkan penggunaannya untuk mencapai keuntungan maksimum. Rasio NPM dengan BKM yang lebih kecil dari satu menunjukkan bahwa penggunaan faktor.34 0. Tabel 19.faktor produksi dalam usahatani padi ladang di Desa Wanajaya tidak efisien secara ekonomis.70 0.22 2795.5302 Tenaga Kerja Dalam RT 237. Rasio NPM dan BKM usahatani padi ladang di Desa Wanajaya ditunjukkan dalam Tabel 21.nilai rasio NPM dan BKM tidak ada yang sama dengan satu.faktor produksi telah melebihi batas optimal sehingga untuk mencapai keuntungan maksimum maka penggunaannya harus dikurangi.553 3.81 0.44 1515.2484 Tenaga Kerja Luar RT 48.75 67873.faktor produksi dalam usahatani tersebut tepat berada pada kondisi optimal dan telah mencapai keuntungam maksimum sehingga usahatani dapat dikatakan telah efisien secara ekonomis. Rasio .2172 Benih 60.05 18162.37 0.252 1.453 Tabel 19 menunjukkan penggunaan faktor-faktor produksi aktual dan rasio Nilai Produk Marjinal (NPM) dengan Biaya Korbanan Marjinal (BKM) pada usahatani padi ladang di Desa Wanajaya. Rasio-rasio NPM dengan BKM dari setiap faktor produksi menunjukkan bahwa penggunaan faktor.

Berdasarkan nilai rasio ini.masing lebih besar dari satu. benih. tenaga kerja luar keluarga. Rendahnya penggunaan tenaga kerja luar keluarga disebabkan oleh keterbatasan modal petani untuk mengupah tenaga kerja luar keluarga yang lebih besar. dan pestisida masing.027. Pada Tabel 19 dapat dilihat bahwa rasio NPM dan BKM untuk faktor produksi pupuk. sehingga pupuk dan pestisida hanya digunakan berdasarkan kemampuan finansial petani. sehingga benih yang digunakan petani adalah gabah yang merupakan sisa hasil panen dari musim tanam sebelumnya dengan mutu yang lebih rendah daripada benih komersial.faktor produksi pada usahatani padi ladang belum optimal pada jumlah produksi yang sama. Penggunaan faktor produksi pestisida dan pupuk yang rendah ini disebabkan oleh keterbatasan modal yang dimiliki petani untuk membeli pupuk dan pestisida dalam jumlah yang lebih besar yang sesuai dengan kebutuhan usahatani berdasarkan kondisi kesuburan dan kandungan hara tanah. Penggunaan benih yang tidak efisien juga disebabkan oleh ketidakmampuan petani secara finansial untuk membeli benih yang memiliki harga beli yang tinggi. Nilai rasio ini mengandung arti bahwa penggunaan faktor– faktor produksi tersebut masih kurang dan masih dapat ditingkatkan lagi agar dicapai tingkat penggunaan yang efisien atau optimal. yang berarti bahwa penggunaan faktor .ini juga berarti bahwa penggunaan faktor. Rasio NPM dan BKM yang paling besar adalah pada faktor tenaga kerja luar keluarga yaitu sebesar 3. Sedangkan untuk faktor tenaga kerja dalam keluarga didapat nilai rasio NPM dan BKM yang lebih kecil dari satu. maka penggunaan tenaga kerja luar keluarga memerlukan penambahan yang relatif lebih besar agar dicapai tingkat efisien.

69 2. Kombinasi optimal dari penggunaan faktor-faktor produksi akan diperoleh jika Nilai Produk Marjinal sama dengan Biaya Korbanan Marjinal atau jika rasio Nilai Produk Marjinal dan Biaya Korbanan Marjinal sama dengan satu. Kombinasi Optimal dari Faktor-Faktor Produksi Usahatani Padi Ladang Di Desa Wanajaya Koefisien Regresi Pupuk 0. Rendahnya tingkat pendidikan petani menyebabkan mereka tidak memiliki keahlian atau pekerjaan lain selain berusahatani padi ladang sehingga tenaga kerja dalam keluarga yang digunakan dalam usahatani menjadi relatif lebih besar. Efisiensi penggunaan faktor.produksi ini berlebihan atau tidak efisien.79 Harga Rata -rata/unit Output (Rp/Kg) 1300 Keterangan : NPM = Nilai Produk Marjinal BKM = Biaya Korbanan Marjinal Variabel Penggunaan Optimal 282. Nilai ini berarti untuk mencapai tingkat efisien.2484 Tenaga Kerja Luar RT 0. .0696 Produksi Rata-rata (Kg/Ha) 1273.faktor produksi dapat dicapai dengan menggunakan kombinasi optimal dari faktor-faktor produksi.faktor produksi yang menghasilkan penggunaan input yang efisien.33 59. maka penggunaan tenaga kerja dalam keluarga harus dikurangi. Tabel 20.47 NPM 1454 6000 6000 2407 46724 BKM 1454 6000 6000 2407 46724 NPM/ BKM 1 1 1 1 1 Berdasarkan Tabel 20 di atas diperoleh nilai penggunaan optimal dari faktor pupuk sebesar 282.94 69.2172 Benih 0. Penggunaan yang berlebih ini terjadi karena usahatani padi ladang merupakan usahatani utama dan sumber makanan pokok keluarga petani sehingga alokasi tenaga kerja untuk usahatani padi ladang relatif lebih besar.51 146.5302 Tenaga Kerja Dalam RT 0. Pada Tabel 20 dapat dilihat kombinasi faktor. sehingga untuk mencapai tingkat efisien.51.1013 Pestisida 0.

Untuk faktor produksi pestisida. penggunaannya harus ditingkatkan dari sebesar 1.34 HOK harus ditingkatkan menjadi 146.33. Jika dilihat dari segi rasio NPM dan BKM.94 HOK agar penggunaan faktor produksi ini efisien.51 kilogram.47 liter agar dicapai tingkat efisiensi.37 HOK menjadi sebesar 59.81 kilogram menjadi sebesar 282.69 kilogram agar dicapai tingkat efisiensi.penggunaan pupuk harus ditingkatkan dari penggunaan aktualnya sebesar 110. .7 liter dalam penggunaan aktualnya menjadi sebesar 2. penggunaan benih yang semula sebesar 60 kilogram harus ditingkatkan menjadi 69. Nilai penggunaan optimal dari faktor tenaga kerja luar keluarga adalah sebesar 146. Sementara nilai penggunaan tenaga kerja dalam keluarga harus dikurangi dari yang semula sebesar 237. yang berarti bahwa penggunaan tenaga kerja luar keluarga yang semula sebesar 48.34 HOK agar dicapai tingkat efisien.

Kemudian dengan analisis imbangan penerimaan dan biaya (analisis R/C ratio). Kesimpulan Berdasarkan hasil dan pembahasan dalam penelitian ini.37 HOK menjadi sebesar 59. 3.1.1.76 (lebih kecil dari satu).VIII. yang nyata pada taraf kepercayaan 99 persen.33 HOK. faktor tenaga kerja luar keluarga sebesar 146.104. faktor produksi pestisida harus ditingkatkan dari sebesar 1.. . dan pestisida tidak berpengaruh nyata pada taraf kepercayaan yang ditetapkan.sedangkan pendapatan atas biaya total adalah Rp. maka dapat diambil beberapa kesimpulan yaitu : 1.-.-520.7 liter dalam penggunaan aktualnya menjadi sebesar 2. Pendapatan atas biaya tunai adalah Rp.69 kilogram. penggunaan benih yang semula sebesar 60 kilogram harus ditingkatkan menjadi 69.47 liter.94 HOK.326. 2. Sedangkan faktor pupuk. penggunaan tenaga kerja dalam keluarga harus dikurangi dari yang semula sebesar 237. KESIMPULAN DAN SARAN 8. sehingga dapat disimpulkan bahwa cabang usahatani padi ladang di Desa Wanajaya tidak menguntungkan bagi petani. diperoleh nilai rasio R/C atas biaya total sebesar 0.51. Penggunaan faktor-faktor produksi yang efisien secara ekonomis dicapai pada saat penggunaan faktor pupuk sebesar 282. Faktor-faktor produksi yang berpengaruh nyata terhadap produksi padi ladang adalah tenaga kerja luar keluarga dan tenaga kerja dalam keluarga. benih.854.

benih. Saran Berdasarkan hasil dan pembahasan serta simpulan. Penggunaan faktor produksi pupuk. 2.2.8. pestisida tenaga kerja luar harus ditingkatkan dari penggunaan aktualnya supaya usahatani padi ladang yang dilakukan lebih efisien dan menguntungkan bagi petani. Pemberian bimbingan dan penyuluhan dari instansi terkait mengenai teknik budidaya padi ladang yang tepat seperti kombinasi penggunaan pupuk dan pestisida yang tepat dan pola tanam yang tepat untuk mencapai usahatani padi ladang yang lebih produktif dan menguntungkan. . maka disarankan untuk: 1.

Bogor. Edisi Kedua. 2002.. Damodar N. Second Edition. Produktivitas dan Pendapatan Petani Padi Dihubungkan Dengan Kebijaksanaan Harga Dasar Gabah dan Harga Sarana Produksi (Studi Kasus : Desa Sukatani. New York. Laporan Draft Final Studi Penanganan dan Pemanfaatan Lahan Kritis Di Kabupaten Karawang Tahun Anggaran 2003. Basyir. Hariyanto. A. Bogor. Pola Adaptasi Peladang Berpindah di Pemukiman (Kasus Peladang Berpindah di Perkebunan HTI. Fakultas Pertanian. P. 1995-1998. Suyamto dan Supriyatin. Geertz. Sadhya Grahacara. Kecamatan Cimalaya. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian. 1995. Gupta PC. John dan Frank Orazem. Skripsi. Diana. Skripsi. Fakultas Pertanian. Bogor. Propinsi Jawa Barat. Ariyanti. Perkembangan Tingkat Produksi. sayur-sayuran. Sumatera Selatan. 1994. John Wiley and Sons. Philippines. Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan. Mc. Gujarati.Graw –Hill. Tauhid. 2003. Analisis Peningkatan Pendapatan Petani Melalui Penyimpanan Gabah di Kabupaten Indramayu dan Kabupaten Karawang. Amir. Kabupaten Karawang. 1984. Interna tional Rice Research Institute. Yayasan Obor Bhratara Karya Aksara. Involusi Pertanian : Proses Perubahan Ekologi di Indonesia. Noorsanti Uceu. Skripsi. Punarto S. Pedoman bercocok tanam padi. Badan Perencana Pembangunan Daerah Pemerintah Kabupaten Karawang. Balai Penelitian Tanaman Pangan Malang. Fakultas Pertanian. PT. palawija. Jawa Tengah. Jakarta. Institut Pertanian Bogor.. Analisis Pendapatan Usahatani Padi dan Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Marketed Supply Gabah di Kabupaten Magelang dan Kabupaten Klaten. Los Banos. 1998. Karawang. 1963. 1988. Departemen Pertanian. Tesis. Doll. Kanada. 1983.DAFTAR PUSTAKA Ahmad. Departemen Pertanian Satuan Pengendali Bimas. Institut Pertanian Bogor. Jakarta. Institut Pertanian Bogor. Vademekum Sumberdaya. Jawa Barat). Bogor. Fakultas Petanian. . Malang. 1999. Padi Gogo.B. O’Toole JC. C. 1986. Dahlia. Jakarta. Direktorat Jenderal Pertanian. Basic Econometric. Institut Pertanian Bogor. Production Economic Theory with Aplications. Upland rice : a global perspective.

Analisis Wilayah Rawan Kekeringan Untuk Pengembangan Sistem Usaha Pertanian Padi Gogo di Sulawesi Tenggara. Penebar Swadaya. 12-13 February. Analisis Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Keputusan Petani Dalam Pemasaran Gabah (Kasus Desa Majosen. 2000. . Bogor. Tenggeng Kulon dan Yosorejo. Fakultas Pertanian. Penerbit LP3S. Kecamatan sragi. UI-Press. Fakultas Pertanian. Jakarta. Arif. Cetakan kedua. IKAPI. Politik Pangan dan Industri Pangan di Indonesia. Bogor. Soekartawi. Fakultas Pertanian. Prisma. (5): 13-12. Kec. S. Ilmu Usahatani. Sambutan Menteri Negara Agraria/Kepala BPN.ilmu Sosial Ekonomi Pertanian. 1989. Bogor. Setiawan. Italy. 1996.Harsono. Hernanto. Mubyarto. 2004.ilmu Sosial Ekonomi Pertanian. Ilmu Usahatani dan Penelitian Untuk Pengembangan Petani Kecil. Perbandingan Usahatani Padi Ladang Baduy Luar dan Luar Baduy Dilihat Dari Tingkat Efisiensi dan Subsistensi Usahatani (Studi Kasus di D Kanekes dan Desa Jalupang Mulya. Sidik. PILMITANAS (Pekan Ilmiah Mahasiswa Ilmu Tanah Nasional). Tesis. Moral Ekonomi Petani. Jakarta. D. Skripsi. Ahmad dan Dahlan Patong. Maryono. Fakultas Pertanian. Leuwi esa Damar. Institut Pertanian Bogor. Susanto. FAO Rice Conference. 2004. Bogor. Institut Pertanian Bogor. 1993. Budidaya Tanaman Padi di Indonesia. Institut Pertanian Bogor. Program Studi Agroklimatologi. LP3ES. Jakarta. Institut Pertanian Bogor. Bogor. Pengantar Ekonomi Pertanian. Siregar. Sendi-Sendi Pokok Ilmu Usahatani. Analisis Pendapatan dan Efisiensi Penggunaan Faktor Produksi Usahatani Padi Gogo Secara Tumpangsari Dengan Jagung di Kecamatan Kadipaten Tasikmalaya Propinsi Jawa Barat. 1981. Yayu Sri. Bogor. Bogor. Kabupaten Pekalongan. Kab. Potensi Lahan Kering Dalam Pembangunan Pertanian di Indonesia. Jakarta. Jurusan Ilmu. Soeharjo. D. 1995. Rome. M. Jakarta. Scott. Jakarta. Jawa Barat). Pemanfaatan dan Peranan Lahan Kering Dalam Pembangunan Pertanian. Mulyo. 2001. Rahardjo. 1996. Netty. Hadrian. Program Pascasarjana. Satria. Institut Pertanian Bogor. Skripsi. 1986. Penerbit Sustra Hudaya. Jurusan Ilmu. Bogor. 1995. Fadholi. Indonesia Rice Policy In View of Trade Liberalization. Lebak. Skripsi. Rahayu. James. 1981. 1988. 1973. Harry. PS. Institut Pertanian Bogor. Institut Pertanian Bogor. Chandra Arief. Jawa Tengah).

2002. 2000. 1999. Institut Pertanian Bogor. Kecamatan Tounom. Jurusan Ilmu. Yelni. Fakultas Pertanian. Analisis Faktor. Skripsi. Bogor. Bogor.Wana. Yanuar. Institut Pertanian Bogor. Jurusan Ilmu. Bogor. Analisis Pendapatan dan Efisiensi Usahatani Padi Input Rendah di Kecamatan Tempuran. Skripsi.faktor Produksi Padi Lahan Kering di Indonesia. Kabupaten Aceh Barat). Kabupaten Karawang. Bogor. 1999.ilmu Sosial Ekonomi Pertanian. . Program Pascasarjana. Rahmat. Wijaya. Andri.ilmu Sosial Ekonomi Pertanian. Institut Pertanian Bogor. Fakultas Pertanian. Analisis Pendapatan dan Produksi Usahatani Padi Lahan Gambut (Studi Kasus : Desa Blang Ramee. Fakultas Pertanian. Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Produksi dan Pendapatan Usahatani Padi Sawah Pada Jaringan Irigasi Teknis dan Irigasi Sederhana. Hermawan. Tesis. Skripsi. Institut Pertanian Bogor.

LAMPIRAN .

19 0.2539 F 8.2221 0.6% R-Sq(pred) = 45.1619 0.06548 T 0. Analisis Regresi Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Produktivitas Cabang Usahatani Padi Ladang Di Desa Wanajaya The regression equation is Ln Produktivitas = 0.296 VIF 1.06 P 0.632 0.83 P 0.217 Ln TK Dalam + 0.2161 7.2712 0.3000 2.530 Ln TK Luar + 0.3 S = 0.02% R-Sq(adj) = 52.3546 Analysis of Variance Source Regression Residual Error Total Source DF Ln Pupuk 1 Ln TK Luar 1 Ln TK Dalam 1 Ln Benih 1 Ln Pestisida 1 DF 5 30 35 R-Sq = 59.21728 0.1876 0.999 0.48 1.Lampiran 1.8% SS 11.1803 Residual -1.8 1.6600 3.8200 2.8846 5.545 0.5712 6.3 1.8251 SE Fit 0.2875 MS 2.1013 0.77 Fit 6.003 0.00 0.004 0.6180 18.61 2.3 1.0697 Ln Pestisida Predictor Konstanta Ln Pupuk Ln TK Luar Ln TK Dalam Ln Benih Ln Pestisida Coef 0.9949 St - .1969 0.000 Unusual Observations Obs Ln Pupuk Ln Prod Resid 6 4.101 Ln Benih + 0.72R 7 4.61 5.2432 0.06968 SE Coef 1.2484 0.989 0.011 0.11R Durbin-Watson statistic = 1.4056 0.5039 PRESS = 10.2092 0.2 2.00 + 0.69 3.5302 0.06819 0.61 7.248 Ln Pupuk + 0.8341 Seq SS 1.

488 45.395 47.00 -2.081 23.591 1.896 10.185 10.00 -2.80 -2.138 11.094 25.088 11.565 1.799 47.498 47.74 2.500 43.79 0.63 2.490 11.604 45. Tahun 2001-2005 No 1 Komoditi Padi Produksi (000 Ton) Luas Panen (000 Ha) Produktivitas (Ku/Ha) Padi Sawah Produksi (000 Ton) Luas Panen (000 Ha) Produktivitas (Ku/Ha) 2001 50.71 2 47.419 45.76 49.899 10.378 10.69 Tahun 2003 52.88 2002 51.68 Pertumbuhan (2004-2005) -2.461 11.105 25.23 2. dan Produktivitas Padi di Indonesia. 2005 2.759 1.922 45.95 -1.879 1.008 11.36 2005 53.id.43 .bps.52 -1.123 25.go.34 2.457 46.521 44.209 10.50 51.56 -0.97 48. Luas Panen. Pertumbuhan Produksi.80 3 Padi Ladang Produksi (000 Ton) Luas Panen (000 Ha) Produktivitas (Ku/Ha) Sumber : www.Lampiran 2.38 2004 54.822 1.064 24.42 50.67 0.

73 2.59 23.53 31.65 22.43 Sumber : www.bps.99 19.52 -3.77 18.22 24.37 16.11 23.3 28.54 4. 2005 *) Angka ramalan -) Data tidak tersedia .15 22.31 24.47 26.8 19.3 19.21 22.18 23.86 0.55 17.83 22.72 2.01 37.55 24.01 4.75 24.06 19.14 25.id.42 34.31 21.53 21.09 25.57 24.28 18.53 24.84 20.31 23.34 Tahun 2003 22.42 34.03 26.Lampiran 3.15 26.31 31.33 23.76 18.27 20.19 26.84 29.35 21.19 20.8 28.07 18.33 20.76 23.58 23.35 21.29 -2.56 23.85 22.75 20.47 23.27 22.18 23.45 23.82 32.02 22.86 26.6 25.16 24.49 31.62 20.44 0.66 30.21 21.21 35.5 26.06 22.27 -3.21 25.36 23.2 21.95 20.75 22.66 21.74 2002 21.21 25.12 20.86 28.41 26.49 22.25 25.47 23.94 20.04 0.44 0.23 -10.78 0. Tahun 2001-2005 (Kwintal/Ha) No.29 35.69 0.85 24.36 31.03 25.57 19.45 24.62 8.17 19.45 0.7 18.27 33.50 -8.35 -0.89 21.23 2004 2005*) 22.32 21.66 20.56 26.25 21.03 23.84 21.72 30 29.16 35.9 35.96 20.99 23.89 21. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 Propinsi NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Maluku Maluku Utara Papua Indonesia 2001 22.57 23.88 -0.11 27.65 19.61 24.33 20.53 5.85 20.14 26.56 25.9 24.32 24.67 0 0 25.03 -0.15 19.97 -1.93 20.71 22.33 27.26 8.21 24.52 22.63 -0.55 23.41 20.92 17.60 -9.04 1.78 20 24.66 20.73 2.46 -14.45 23.82 23.22 20.67 23.87 16.88 21.97 20.63 25.95 22.89 20.12 19.19 20.70 0.54 24.75 26.go.52 Pertumbuhan (2004-2005) 0.8 30. Produktivitas Padi Ladang Menurut Propinsi Di Indonesia.13 17.

88 7.32 25.962 195.892 169.035 2005 6.576 304.50 26.162 Sulawesi Selatan 29.565.307 44.848 Kalimantan Barat 175.66 -2.20 -17.917 16.656 6.407 65.702 DKI Jakarta Jawa Barat 340.288 10.60 5.248 5.66 39.910 1.416 Sumatera Barat 13.663 25.882 Sumatera Selatan 158.970 3.822.647 58.621 39.72 -3.190 134.194 22. Produksi Padi Ladang Menurut Propinsi Di Indonesia Tahun 2001-2005 (Dalam Ton) No.915 2.842 143.951 Sulawesi Utara 12.187 4.177 7.925 Jambi 59.872 5.25 -6.169 154.468 1.363 183.016 40.774 Pertumbuhan -8.750 4.64 -4.036 86.578 184.95 .486 137.908 8.333 185.938 Lampung 252.06 1.68 -3.086 Kalimantan Timur 107.85 11.773 36.id.254 133.414 3.778 1.190 NTT 102.522 Kalimantan Tengah 111.574 1.331 132.016 20.978 215.882 227. 2005 Tahun 2003 2.031 Indonesia 2.465 1.323 26.717 358.699 DI Yogyakarta 119.618 107.900 171.35 -35.246 13.333 995 Maluku 13.35 10.24 -5.073 128.181 113.368 28.347 231.796 198.290 80.497 20.903 10.144 1.go.550 204.567 1.556 Bangka Belitung 11.055 60.270 2.693 82.97 -9.615 27.69 -2.878 115.204 116.889 Sulawesi Tengah 7.827 11.27 0.91 -10.69 -25.54 -1.43 -0.182 132.423 39.234 16.998 2.291 61.136 105.042 295.434 121. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 Propinsi 2001 2002 NAD 4.301 59.175 Riau 44.978 Maluku Utara Papua 12.bps.093.79 -16.763 Sumatera Utara 180.90 15.450 17.723 115.199 6.108 356.26 -15.629 Sumber : www.076 6.612 59.09 9.454 26.754 39.67 -1.530 200.518 2004 7.844 5.806 8.838 Gorontalo 1.053 13.892 83.560 121.959 41.226 306.000 23.814 16.725 219.386 Kalimantan Selatan 110.500 113.404 NTB 78.957 46.203 Sulawesi Tenggara 11.879.240 8.052 94.614 139.967 14.622 Jawa Timur 303.801 31.308 302.530 181.898 209.771 Bengkulu 34.861 56.365 10.676 2.491 Jawa Tengah 192.681 167.281 4.788 Bali 1.659 2.621 1.945 37.659 99.726 16.418 Banten 73.590.375 100.29 5.692 77.Lampiran 4.225 9.

4 409.16 0.75 15 Icis 0.05 2.000 1.5 Rata-rata 0. Musim Tanam November-April Tahun 2005 Luas (Ha) 1 Sakam 1.8 269.32 0.4 155.25 48.5 0.4 46 18.4 33 Misjah 0.5 36 Walim 0.27 1.16 0.2 26 20.4 25 Amud 1 26 Murdi 0.4 37.2 26 Benih (Kg) 50 25 50 50 50 50 50 25 40 100 40 30 80 50 25 50 50 50 50 50 20 50 30 20 50 60 50 30 80 50 40 50 40 50 30 40 30 30 80 20 45 60 Pestisida (Liter) 1.4 172 150 84.4 174.8 174.6 38 Neman 0.2 36 154 26.5 27 Hardi 0.1 28 Ganda 0.2 141.6 195.1 2.4 155.25 0.500 .2 26 27.7 Pupuk (Kg) 100 70 100 100 100 100 100 150 250 25 30 100 100 100 200 40 100 200 30 100 150 50 200 200 30 100 100 200 80 80 80 200 80 36.8 220.2 112 390.000 900 400 1.8 231.1 2.6 30 Dulhamid 1 31 Sadum 0.75 2 Acim 3 Madhari 1 4 Ladi 0.5 23 Mamat 0.6 109 114.24 4.4 33 45.2 178.4 13 Aman 1 14 Adon 0.15 0.500 400 800 500 800 200 500 280 1.5 6 Walim 1 7 Kamin 1 8 Natong 1 9 Onang 1 10 Rakim 2 11 Bodeh 0.4 413 162.15 2.500 800 1.2 1.2 0.74 0.5 39 Namun 1 40 Samad 0.6 105.300 500 500 800 1.08 0.6 141.16 0.1 0.000 1.24 1.03 237.05 0.37 TK Luar (HOK) 44 26 27.000 900 900 400 1.2 7 0.6 48 15.6 28 37 29 38.5 29 Keming 0.500 1.8 146.8 192.24 0.6 43.6 196.4 30.4 35 28 17.2 311.000 900 500 800 1.Lampiran 5.1 0.1 0.5 34 Iwan 2 35 Sahir 0.75 1273 TK Dlm (HOK) 186.4 24 Enong 0.5 12 Ayat 0.8 172.2 125.75 Rata-rata per Hektar No Nama Produksi (Kg) 1.1 0.5 19 Asmur 1 20 Karsim 0.4 22 Asim 0. Penggunaan Faktor-faktor Produksi Cabang Usahatani Padi Ladang Di Desa Wanajaya.000 200 500 150 500 700 200 954.6 2 0.15 0.1 0.2 141.8 21 Madhawi 0.6 142 104.24 0.6 117.8 150.4 82.500 400 400 200 2.2 173.1 110.4 157.6 125.15 0.5 16 Cilan 1 17 Hidayat 1 18 Enan 0.1 1.15 2.1 1.1 5.5 5 Kiwan 0.4 40 31 48 35.15 0.4 32 Kadim 0.34 83.5 37 Narmin 0.5 0.8 .4 166.

5 Rata-rata 0.69.000.45.72.000.754.000.600.5 6 Walim 1 7 Kamin 1 8 Natong 1 9 Onang 1 10 Rakim 2 11 Bodeh 0.000.600.000.15 15 Icis 0.045.300.000.70.22.800.000.634.154.000.175. Pengeluaran Cabang Usahatani Padi Ladang Di Desa Wanajaya Musim Tanam November-April Tahun 2005 No Nama Luas (ha) Produksi (Kg) 1.5 2 Acim 0.44.000.259.000.000.000.80.240.70.1.240.753.458.72.000.91.213.000.6 30 Dulhamid 1 31 Sadum 0.500.120.75 3 Madhari 1 4 Ladi 0.200.400.156.627.000.000.868.000.687.000.28.104.000.000.183.60.000.Benih 120.216.200.000.000.175.224.000 1.2.175.943.56.000.75 Rata-rata per Hektar 60.5 19 Asmur 1 20 Karsim 0.33.000.000.8 21 Madhawi 0.- 70.500 400 800 500 800 200 500 280 1.1.156.496.000.60.042.2.56.72.800.000.900.5 16 Cilan 1 17 Hidayat 1 18 Enan 0.6 38 Neman 0.22.210.74.000.172.56.300.934.- 168.122.045.4 32 Kadim 0.600.672.120.508.309.272.000.130.108.000.70.70.1.000.4 13 Aman 1 14 Adon 0.54.800.44.000.000.400.000.000.000 900 500 800 1.000.313.48.355.1.847.500 800 1.21.000.600.000.400.000 900 900 400 1.000.000.Saprotan Pestisida 46.33.000.122.70.000.000.000.200.400.- 146.000.000.30.89.482.276.000.880.000.000.430.29.000.000.400.Kerja Luar RT 264.73.000.119.478.000.4 24 Enong 0.112.2.000.198.1.000.112.178.48.1 28 Ganda 0.156.75.186.000.035.158.400.000.000.600.600.400.33.323.1.200.600.300 500 500 800 1.- .1.Pupuk 130.000.000 200 500 150 500 700 200 954 1273 Tenaga Dalam RT 1.400.400.000.000.000.130.000.150.800.1.140.1.120.140.000.400.000.192.033.000.5 29 Keming 0.72.7.5 27 Hardi 0.1.000.4 22 Asim 0.848.230.000.164.000.156.000.654.852.000.119.150.848.000.703.000.144.200.000.000.30.985.000.400.288.72.000.000.222.150.60.000.160.000.000.000 900 400 1.300.500 400 400 200 2.000.600.120.200.51.000.120.200.174.000.5 5 Kiwan 0.000.55.000.164.150.30.250.200.104.000.400.288.72.15.924.200.600.4 33 Misjah 0.5 12 Ayat 0.600.902.60.5 23 Mamat 0.000.168.74.000.000.275.11.800.60.000.33.42.000.22.56.000.1.1.973.000.600.000.109.175.400.800.5 34 Iwan 2 35 Sahir 0.500 500 1.5 37 Narmin 0.000.932.400.48.800.192.Lampiran 6.22.000.000.000.000.40.56.000.000.4 25 Amud 1 26 Murdi 0.200.80.200.42.60.1.120.000.000.000.800.000.89.120.000.000.000.000.000.5 36 Walim 0.168.400.5 39 Namun 1 40 Samad 0.342.000.389.240.000.000.032.617.800.000.000.70.000.195.000.000.000.60.271.016.60.1.000 1.000.000.000.120.135.225.30.997.315.000.000.48.- 1 Sakam 1.000.600.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful