ANALISIS PENDAPATAN DAN FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PRODUKSI CABANG USAHATANI PADI LADANG DI KABUPATEN KARAWANG

HENDRI METRO PURBA A07498176

FAKULTAS PERTANIAN INSTITUT PERTANIAN BOGOR 2005

RINGKASAN

HENDRI METRO PURBA. Analisis Pendapatan dan Faktor- faktor Yang Mempengaruhi Produksi Cabang Usahatani Padi Ladang Di Kabupaten Karawang (Di bawah bimbingan NUNUNG KUSNADI). Kebutuhan bahan pangan masyarakat Indonesia masih sangat tergantung pada beras. Produksi beras nasional sebagian besar disumbangkan oleh produksi padi sawah, sementara itu ketersediaan lahan sawah dan efisiensi usahatani padi sawah cenderung mengalami penurunan. Sumbangan padi ladang terhadap produksi padi nasional masih sangat rendah karena produktivitas padi ladang yang jauh lebih rendah daripada produktivitas padi sawah. Jika dibandingkan dari segi laju pertumbuhan produksi, padi ladang juga masih jauh lebih rendah daripada padi sawah. Mengingat ketersediaan lahan kering bagi usahatani padi ladang masih sangat besar, maka pengembangan produktivitas usahatani padi ladang memiliki potensi yang sangat menjanjikan. Oleh karena itu menarik untuk dikaji bagaimana meningkatkan produktivitas cabang usahatani padi ladang. Penelitian ini bertujuan untuk (1) menganalisis penyebab rendahnya produktivitas padi ladang, (2) m enganalisis faktor- faktor yang mempengaruhi produksi padi ladang (3) menganalisis efisiensi ekonomis penggunaan faktor-faktor produksi pada cabang usahatani padi ladang. Pengumpulan data dilakukan dari bulan Mei hingga Juni 2005 di Desa Wanajaya, Kecamatan Teluk Jambe, Kabupaten Karawang. Data yang digunakan adalah data primer dan data sekunder. Data primer dikumpulkan dengan melakukan pengamatan dan wawancara langsung dengan petani responden dengan mengajukan pertanyaan yang dibuat dalam bentuk kuesioner yang telah dipersiapkan sebelumnya. Data sekunder diperoleh dengan cara penelusuran kepustakaan buku, laporan penelitian, artikel, majalah, karya ilmiah yang berkaitan dengan masalah penelitian dan melalui internet. Selain itu data

sekunder juga diperoleh dari Biro Pusat Statistik, Departemen Pertanian, Balai Penelitian Tanaman Pangan, Pusat Pengembangan Sosial Ekonomi Pertanian, dan Pemerintah Daerah di lokasi penelitian. Pengolahan data dilakukan dengan menggunakan analisis imbangan penerimaan dan biaya (analisis R/C ratio),

pendekatan fungsi produksi Cobb-Douglas, dan analisis efisiensi ekonomi dengan rasio Nilai Produk Marjinal (NPM) dan Biaya Korbanan Marjinal (BKM). Pengolahan data dilakukan dengan me nggunakan program Microsoft Excel dan Minitab 13 for Windows. Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) dengan analisis imbangan penerimaan dan biaya (analisis R/C ratio), diperoleh nilai rasio R/C atas biaya total sebesar 0.76 (lebih kecil dari satu), sehingga dapat disimpulkan bahwa cabang usahatani padi ladang di Desa Wanajaya tidak menguntungkan bagi petani, (2) faktor- faktor produksi yang berpengaruh nyata terhadap produksi padi ladang adalah tenaga kerja luar keluarga dan tenaga kerja dalam keluarga, yang signifikan pada taraf kepercayaan 99 persen. Sedangkan faktor pupuk, benih, dan pestisida tidak berpengaruh nyata pada taraf kepercayaan yang ditetapkan, (3) penggunaan faktor-faktor produksi yang efisien secara ekonomis dicapai pada saat penggunaan faktor pupuk sebesar 282.51, faktor tenaga kerja luar keluarga sebesar 146.33 HOK, penggunaan benih yang semula sebesar 60 kilogram harus ditingkatkan menjadi 69.69 kilogram, penggunaan tenaga kerja dalam keluarga harus dikurangi dari yang semula sebesar 237.37 HOK menjadi sebesar 59.94 HOK, faktor produksi pestisida harus ditingkatkan dari sebesar 1.7 liter dalam penggunaan aktualnya menjadi sebesar 2.47 liter. Berdasarkan hasil penelitian di atas maka disarankan agar (1) penggunaan faktor produksi pupuk, benih, pestisida tenaga kerja luar harus ditingkatkan dari penggunaan aktualnya supaya usahatani padi ladang yang dilakukan lebih efisie n dan menguntungkan bagi petani, (2) pemberian bimbingan dan penyuluhan dari instansi terkait mengenai teknik budidaya padi ladang yang tepat seperti kombinasi penggunaan pupuk dan pestisida yang tepat dan pola tanam yang tepat untuk mencapai usahatani padi ladang yang lebih produktif dan menguntungkan.

ANALISIS PENDAPATAN DAN FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PRODUKSI CABANG USAHATANI PADI LADANG DI KABUPATEN KARAWANG

Oleh

HENDRI METRO PURBA A07498176

Skripsi Sebagai Bagian Persyaratan Untuk Memperoleh Gelar Sarjana Pertanian

pada Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor

FAKULTAS PERTANIAN INSTITUT PERTANIAN BOGOR 2005

DEPARTEMEN ILMU-ILMU SOSIAL EKONOMI PERTANIAN FAKULTAS PERTANIAN INSTITUT PERTANIAN BOGOR

Dengan ini menyatakan bahwa skripsi yang disusun oleh : Nama NRP : : Hendri Metro Purba A07498176 Manajemen Agribisnis Analisis Pendapatan dan Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Produksi Cabang Usahatani Padi Ladang Di Kabupaten Karawang dapat diterima sebagai syarat kelulusan untuk memperoleh gelar Sarjana Pertanian pada Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor.

Program Studi : Judul Skripsi :

Menyetujui, Dosen Pembimbing

Dr. Ir. Nunung Kusnadi.MS NIP. 131 415 082

Mengetahui, Fakultas Pertanian Dekan

Prof. Dr. Ir. H. Supiandi Sabiham, M.Agr NIP. 130 422 698

Tanggal Lulus : 20 Desember 2005

PERNYATAAN

DENGAN INI SAYA MENYATAKAN BAHWA SKRIPSI YANG BERJUDUL “ANALISIS PENDAPATAN DAN FAKTOR-FAKTOR YANG

MEMPENGARUHI PRODUKSI CABANG USAHATANI PADI LADANG DI KABUPATEN KARAWANG” BELUM PERNAH DIAJUKAN PADA

PERGURUAN TINGGI LAIN ATAU LEMBAGA LAIN MANAPUN UNTUK TUJUAN MEMPEROLEH GELAR AKADEMIK TERTENTU. SAYA JUGA MENYATAKAN BAHWA SKRIPSI INI BENAR-BENAR HASIL KARYA SAYA SENDIRI DAN TIDAK MENGANDUNG BAHAN-BAHAN YANG PERNAH DITULIS ATAU DITERBITKAN OLEH PIHAK LAIN KECUALI SEBAGAI BAHAN RUJUKAN YANG DINYATAKAN DALAM NASKAH.

Bogor, Desember 2005

Hendri Metro Purba A07498176

Situmorang. dan menyelesaikannya pada tahun 1992. Fakultas Pertanian. dan lulus tahun 1995. penulis diterima di SMU Katolik Santo Agustinus Jakarta. Penulis melanjutkan pendidikan menengah pertama di SMP Negeri 1 Dolok Sanggul. dan lulus pada tahun 1998. Kemudian. . Institut Pertanian Bogor. Purba dan Ibu H. Penulis diterima sebagai mahasiswa Program Studi Manajemen Agrinisnis.RIWAYAT HIDUP Penulis dilahirkan di Dolok Sanggul pada tanggal 16 Juli 1980. pada tahun 1998 melalui jalur UMPTN (Ujian Masuk Perguruan Tinggi Negeri). Penulis adalah anak pertama dari enam bersaudara pasangan Bapak T. Penulis memulai pendidikan dasarnya pada tahun 1986 di SD Negeri 3 Dolok Sanggul.

Penulis menyadari kekurangan dalam penulisan skripsi ini sehingga diperlukan kritik dan saran untuk perbaikan skripsi ini. Sesuai dengan judul tersebut. Desember 2005 Penulis . Bogor. skripsi ini menganalisis pendapatan yang diperoleh petani dari kegiatan berusahatani padi ladang. dan melakukan analisis efisiensi ekonomis penggunaan faktor produksi pada cabang usahatani padi ladang. Judul skripsi ini adalah “Analisis Pendapatan dan Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Produksi Cabang Usahatani Padi Ladang di Kabupaten Karawang”.KATA PENGANTAR Puji syukur penulis panjatkan kepada Tuhan Allah Yang Maha Kuasa atas berkat dan karunia-Nya yang besar yang memberikan segala hikmat dan kekuatan sehingga penulis dapat menyelesaikan penulisan skripsi ini. mengana lisis faktorfaktor yang mempengaruhi produiksi dalam usahatani padi ladang. Penulis berharap penelitian yang dilakukan dapat diterima dan dimanfaatkan bagi perkembangan ilmu pengetahuan dan pihak lain yang berkepentingan.

Nita. dan semua keluarga besar di Dolok Sanggul. 10. makan gratis. 12. 4. Victor. Amzul Rifin. Donal. Gaga. 6. atas kesediaannya menjadi dosen penguji komisi pendidikan. Ucok. Pak Enong sebagai penerjemah dan pendamping penulis selama turun lapang. 2. dan Ompung Josua di Pekan Baru. Ir. Marta Sundari atas bantuannya selama mengolah data dan penulisan skripsi. Dr. Halashon. Bapa dan Uma dan adik-adikku Duddy. 13. 8. atas kesediaan menjadi dosen penguji utama. Rikky Sitorus. Tulang Suci. teman satu bimbingan dan seperjuangan selama kuliah dan penulisan skripsi. Nunung Kusnadi. Orang Tuaku. selaku dosen pembimbing yang dengan kesabaran telah memberikan bimbingan. 7. John Freddy. Appara Frenky. Keluarga Amangboru Mario. 9. Sartika. MA. 11. Ogem. SP. Sahabat-sahabatku yang tak tergantikan di Base One : Cay. dan dukungan berharga selama turun lapang di Karawang. Arif Karya Kusuma.UCAPAN TERIMA KASIH Dalam kesempatan ini penulis ingin mengucapkan terima kasih dan penghargaan kepada : 1. 3. 5. Bang Tamlin. Echa . Keluarga Ompung Berthold di Depok. beserta semua teman-teman di Parmasi. Nipar. arahan. doa dan dukungannya. Lae Viston. Namboru Patar. Ompung Arif di Bandung. John Wisnu. kritik dan saran dalam melakukan penelitian dan penyusunan skripsi ini. . Keluarga Tulang Donal. Markos. dan Kardinal atas keberadaan. Edo. Ir. MS. dan Amangboru Sagala di Jakarta. Ompung Suhut. Namboru. dan Maria Margareth. MS. dan Tulang Hendra. dan Chamber yang telah menyediakan fasilitas penginapan. Ramaijon Purba atas bimbingan dan bantuannya. Bang Ivan. 14. Anna Fariyanti.

Tulus. Bray. Teman-teman di Darmaga. beserta semua kawan sesama Himaba. .15. penghuni Perwira 100. 16. Semua pihak lain yang belum saya sebutkan yang telah membantu saya selama mengikuti perkuliahan dan penulisan skripsi.

.......3....... Pengolahan Tanah ..............................1...................................................................... 2...................DAFTAR ISI Halaman KATA PENGANTAR ..1......................... Perilaku Ekonomi Petani.. 2............... TINJAUAN PUSTAKA ..................... Tujuan Penelitian ........................................................................................................... Latar Belakang ..... DAFTAR ISI ...................3.............................3................3..................... 3..........4....................................................6.......................................... Karakteristik Biologis Tanaman Padi Ladang ............ Konsep Usahatani .......................... 3........................ 2............................................... 1...................... Perumusan Masalah ................................ PENDAHULUAN .................................. Pemeliharaan ..................4. 2............................................................. Hasil Penelitian Terdahulu........................................ Penanaman ................................... 1...........7................ Pemilihan Benih ...................... BAB III............................................................................ 2.................................. Kegunaan Penelitian ......................................3................. DAFTAR LAMPIRAN ...........................................................5....................................1...........2....4........ BAB II..... i ii iv vii viii ix 1 1 3 7 8 9 9 9 11 11 12 12 13 15 15 16 16 21 22 29 29 30 ....... Pemupukan ...................... Hama dan Penyakit ............................. 2....................... Panen dan Pengolahan Hasil Panen............2....................................1..3.........5................................................. DAFTAR TABEL ............................ Budidaya Padi Ladang ........3.....................3........... Syarat Tumbuh dan Kelayakan Lahan Tanaman Padi Ladang.... 2.................. KERANGKA PEMIKIRAN ...... UCAPAN TERIMA KASIH ..... 1.......................................................3......... Sistem Perladangan di Indonesia dan Perkembangannya .......................................................................... 2.......................................... 2...................................................................6............................................... 2........2. Pendapatan Usahatani........................................................................ 2............. BAB I.......3... DAFTAR GAMBAR ..2...... 2......... 1................ 2............................................................................

.............................. Analisis Pendapatan.............................. 6. Penyiangan .....3......................................................3...............3.2..............5......Pemanenan.... Metode Pengumpulan Data dan Penentuan Sampel .......4........ Analisis Pendapatan Usahatani .....................................2.......1......... 4........................6.......... BAB IV.........1.................... 5.... Analisis Imbangan Penerimaan dan Biaya (R/C Ratio)......................................4.. Lokasi dan Waktu Penelitian ...... Analisis Fungsi Produksi ......... METODE PENELITIAN ................ 7................3......................3........ Metode Analisis Data ....1.... 6............ 6...................3......................1................................ BAB VI.....1......... 4.............................................. Gambaran Umum Lokasi Penelitian............... BAB V.................................................................... 7..... Persiapan Lahan............................... 4.... Definisi Operasional .................. Pendugaan Fungsi Produksi....................................3......................................................... GAMBARAN USAHATANI PADI LADANG DI DESA WANAJAYA ............. Analisis Imbangan Penerimaan dan Biaya (R/C Ratio) ... GAMBARAN UMUM DAERAH PENELITIAN .............................................. Struktur Biaya .............................2.......................................1............... Efisiensi Ekonomi ............... Karakteristik Petani Responden..................... Pengobatan .................1.............3... Analisis Efisiensi Ekonomi. 6.......2.........3.........1................................ 32 33 37 40 40 40 41 41 41 43 48 50 54 54 58 66 66 66 68 69 70 71 71 72 73 74 76 76 78 83 ..2...................................... 4........................ 4................................................. 6....................... ANALISIS FAKTOR-FAKTOR PRODUKSI DAN EFISIENSI EKONOMI CABANG USAHATANI PADI LADANG ................................. 6..............4.................3..............5....................... Analisis Efisiensi Ekonomi ..................4........................................................... BAB VII.............................. 6........... 4... Analisis Imbangan Penerimaan dan Biaya (Analisis R/C ratio) .. 4..................... Elastisitas Produksi dan Skala Usaha ....................................................... 6............ 5... 4................................ Penanaman.......1............................. Teori Produksi .............. 7.... 6...........3....................1....... 6.. 3.......................... Budidaya Padi Ladang ........................................ Pemupukan..................4........2............................................ 3..........................1.........1....

.BAB VIII....................................................................... DAFTAR PUSTAKA ...........................................................................................................................................2...1.......... LAMPIRAN ...... KESIMPULAN DAN SARAN . 8........................ Saran ......................................................................................... 88 88 89 90 93 ........................ Kesimpulan ........... 8...................................................

...... Rasio Nilai Produk Marjinal (NPM) dengan Biaya Korbanan Marjinal (BKM) Usahatani Padi Ladang di Desa Wanajaya Tahun 2005 .......... Produksi............... Kombinasi Optimal Penggunaan Faktor-faktor Produksi ... 77 19........................ 15....................................... Karakteristik Penduduk Desa Wanajaya Berdasarkan Mata Pencaharian............... 6 9 54 55 4............ Analisis Pendapatan Cabang Usahatani Padi Ladang per Hektar per Musim Tanam di Desa Wanajaya Tahun 2005 .......................... Biaya-biaya yang Dikeluarkan Petani Padi Ladang per Hektar per Musim Tanam di Desa Wanajaya Tahun 2005 .................. 56 57 58 58 59 61 62 63 8.................... Topografi atau Bentang Lahan Desa Wanajaya ......................... Karakteristik Petani Responden Berdasarkan Umur ................... 84 86 20. Hasil Analisis Pendugaan Fungsi Produksi Usahatani Padi Ladang di Desa Wanajaya ..................................... Karakteristik Penduduk Desa Wanajaya Be rdasarkan Tingkat Pendidikan.............. Produksi Gabah Kering Giling di Kabupaten Karawang........................................... 6.......................... Analisis Ragam Produktivitas Cabang Usahatani Padi Ladang di Desa Wanajaya ......................... Karakteristik Petani Responden Berdasarkan Tingkat Pendidikan ...... Karakteristik Petani Responden Berdasarkan Luas Lahan Garapan .............. 13......................... Karakteristik Petani Responden Berdasarkan Jumlah Anggota Keluarga .................... 73 16... 11.. dan Produktivitas Padi Indonesia Tahun 2004......... 2 4 2.. 5................................... Volume Beras yang Diperdagangkan di Dunia dan Impor Beras Indonesia Tahun 1990-2001 ... dan Indonesia Tahun 2004.............................. Karakteristik Penduduk Desa Wanajaya Berdasarkan Kelompok Umur Tahun 2005 ............. 9.......... 7............................... Jawa Barat.............. 14....................................... 3............. 76 18.DAFTAR TABEL Nomor Halaman 1..... .............................................. Karakteristik Petani Responden Berdasarkan Pengalaman Usahatani ............................... 74 17..................... Penggunaan Lahan di desa Wanajaya Tahun 2004 ......... 10.. Klasifikasi Kriteria Lingkungan Tumbuh Tanaman Padi Ladang........ Luas Panen... 12.......................

............. 34 2..........faktor Yang Mempengaruhi Produksi Cabang Usahatani Padi Ladang ............ Bagan Prosedur Analisis Pendapatan dan Faktor....................... 53 ...... Kurva Fungsi Produksi Total dan Hubungannya Dengan Produk Marjinal Halaman dan Produk Rata-rata (Doll dan Orazem...... 1984) ......DAFTAR GAMBAR Nomor 1.......

............ 5.........................DAFTAR LAMPIRAN Nomor 1............... Luas Panen..... Kuesioner Analisis Pendapatan dan Faktor..... Produktivitas Padi Ladang Menurut Propinsi Di Indonesia.... 3.......faktor yang Mempengaruhi Produksi Cabang Usahatani Padi Ladang Di Kabupaten Karawang .......................faktor Produksi Cabang Usahatani Padi Ladang Di Desa Wanajaya............ Produktivitas Padi Ladang Menurut Propinsi Di Indonesia. 4......... Penggunaan Faktor.... Tahun 2001-2005 (Dalam Ton) .... Analisis Regresi Faktor...................................... Pertumb uhan Produksi...................... Tahun 2001-2005 . dan Produktivitas Padi Di Indonesia..... Pengeluaran Cabang Usahatani Padi Ladang Di Desa Wanajaya Musim Tanam November-April Tahun 2005 ....... 7....... 6............ Musim Tanam November-April Tahun 2005 ...... Tahun 2001-2005 (Kwintal/Ha) ............................................faktor Yang Mempengaruhi Produktivitas Halaman Cabang Usahatani Padi Ladang Di Desa Wanajaya ....................................................................... 2............. 94 95 96 97 98 99 100 ................................

maka harga beras dunia akan segera mengalami kenaikan secara signifikan.7 juta ton beras 1 .I.fao.faostat. PENDAHULUAN 1.7 juta ton beras meskipun harus membayar 280 Dollar AS per ton beras untuk mencukupi kebutuhan beras domestik. 2004). Pemerintah karenanya harus mengeluarkan biaya sekitar 1. Impor beras nasional cenderung meningkat misalnya dari 615 ribu ton pada tahun 1991 menjadi sekitar 3 juta ton pada tahun 1995 dan pada tahun 1996 mencapai sekitar 3 juta ton akibat musim kemarau panjang dan bahkan sempat meningkat drastis hingga sekitar 6 juta ton pada tahun 1998 akibat terjadinya krisis moneter yang mengakibatkan kenaikan secara drastis pada harga input pertanian seperti pupuk dan pestisida yang bahan bakunya sebagian besar diimpor. Apabila salah satu dari negara tersebut mengalami penurunan produksi dan harus mengimpor untuk mencukupi kebutuhan domestiknya.3 miliar Dollar AS untuk mengimpor 4. Laju peningkatan produksi padi cenderung menurun. sedangkan laju permintaan beras akan selalu meningkat seiring peningkatan laju pertumbuhan penduduk. Latar Belakang Indonesia merupakan negara konsumen beras terbesar ketiga di dunia setelah China dan India1 . Permintaan terhadap beras terus meningkat sejalan dengan pertambahan populasi dan kenaikan tingkat pendapatan penduduk.org.1. 2005 . 1 www. Impor beras terbesar dialami Indonesia pada tahun 1999 dimana Indonesia mengimpor sekitar 4. Sedangkan pertambahan produksi beras senderung lebih kecil dan tidak mampu mengimbangi pertambahan tingkat permintaan beras (Sidik.

480.02 25. pemerintah mulai mengarahkan perhatiannya kepada pengembangan pertanian di daerah lahan kering.org/trade/balance).70 16.750 6.70 Sumber : Situs FAO (http//www.948 5. 80 persen dari luas lahan pertanian .000 4.856. 1993 dalam Maryono.389.846 1.304 3.Belum berhasilnya upaya diversifikasi.924 3.000 615.68 61.080.000 10.121 4.212 5.263.000 1.188 28.44 21.293. 2000.486.51 49. mengingat ketersediaan lahannya yang cukup luas (Ruchyat. Volume Beras yang Diperdagangkan di Dunia dan Impor Beras Indonesia Tahun 1991-2000 Perdagangan Beras Dunia (Ton) Impor Beras Indonesia (Ton) Persentase Terhadap Beras Dunia Tahun 1991 1992 1993 1994 1995 1996 1997 1998 1999 2000 58.50 6. Berdasarkan potensi.43 29. Menurut FAO (2004)1 . Oleh karena itu upaya untuk meningkatkan produksi dan produktivitas beras dianggap masih relevan untuk mengatasi masalah peningkatan tingkat permintaan beras dan tingginya impor beras Indonesia. baik dari sisi produksi maupun konsumsi pangan. Untuk memenuhi kebutuhan beras dalam jangka panjang.615.000 25.08 47.000 22.513.615.440 15.385 2. 1996).350. Hingga saat ini lebih dari setengah jumlah kalori dan lebih dari 40 persen karbohidrat yang dikonsumsi oleh masyarakat Indonesia berasal dari beras.076. rata-rata penduduk Indonesia mengkonsumsi sekitar 200 kilogram beras per kapita per tahun .924 4.150.384 156.940 252. menyebabkan sebagian besar masyarakat Indonesia masih sangat tergantung pada satu jenis bahan pangan yaitu beras.99 59.138 6.076.578.025. Tabel 1.183.FAO.

3 . 1991 dalam Maryono. (b) Lahan kering diperkirakan seluas 123 juta hektar atau 62 persen dari luas total daratan Indonesia. rawa. maka corak pertanian di masa yang akan datang adalah pertanian lahan kering (Dwijatmiko.2. (d) Pemanfaatan lahan kering yang semakin meningkat merupakan pertimbangan penting dalam program pemerintah selanjutnya. (c) Lahan kering merupakan sumber utama penghasil komoditi pertanian untuk tanaman pangan. sandang. 1.lain. perumahan. 1996). Selain itu lahan kering memiliki kedudukan strategis karena : (a) Lahan kering menempati areal terluas dibandingkan dengan lahan jenis air seperti sawah. Untuk tetap mempertahankan swasembada pangan.68 kwintal per hektar. Produktivitas rata-rata padi ladang pada tahun 2004 baru mencapai 25. sementara sumbangan padi ladang terhadap produksi padi nasional pada tahun yang sama hanya sekitar 5. dan pasang surut. dan lain. Perumusan Masalah Produksi padi nasional masih didominasi padi sawah sedangkan sumbangan padi ladang masih sangat rendah karena produktivitas dan luas tanam padi ladang yang jauh lebih rendah daripada produktivitas dan luas tanam padi sawah.Indonesia adalah lahan kering. Sutari (1982) dalam Netty (1996) mengatakan bahwa lahan kering y ang diusahakan dengan tepat dapat menghasilkan berbagai komoditas dengan produktivitas yang lebih besar dibandingkan lahan sawah (basah).

2004 * ) Gabah Kering Giling Jika dibandingkan dari segi laju pertumbuhan produksi. Di samping itu kenyataan juga menunjukkan bahwa keterbatasan faktor produksi usahatani (lahan. rendahnya produktivitas padi ladang tidak terlepas dari keterbatasan faktor tanah.112 54. Menurut Ruchyat (1993) dalam Maryono (1996). (3) curah hujan rendah.345 ribu ton pada tahun 1989.038 Produktivitas* (Ku/Ha) 47. Dari kenyataan tersebut adalah hal yang wajar bila produktivitas rata-rata padi ladang jauh lebih rendah daripada produktivitas rata2 www. dan Produktivitas Padi Indonesia Tahun 2004 Jenis Padi Sawah Padi Ladang Padi Total Luas Panen (Ha) 10. topografi dan iklim pada lahan kering. Produksi.127.895. Tabel 2.45 25.go. (2) topografi umumnya berlereng sehingga mudah tererosi.341.deptan.034 11.303 Sumber : Situs Deptan (www. padi ladang juga masih jauh lebih rendah daripada padi sawah.191 2.id/ditjentp). 2004 .go.40 Produksi* (Ton) 51.622 ribu ton pada tahun 1969 menjadi 2.68 45. Lahan kering mempunyai karakteristik antara lain : (1) tanah kurang subur.persen dengan luas panen sekitar 9.id/ditjentp.446.deptan.970. Luas Panen. tenaga kerja dan modal) serta pengetahuan petani di daerah lahan kering menyebabkan pola tanam yang selama ini diusahakan masih bersifat subsisten. sementara produksi padi sawah mengalami peningkatan kira-kira sebesar 140 persen atau meningkat sebesar 24.4 persen dari total luas panen padi nasional2 .004 1.6 juta ton.843. dimana dari tahun 1969 hingga 1989 produksi padi ladang hanya mengalami peningkatan kira-kira sebesar 45 persen yaitu dari 1.

Usahatani padi ladang memerlukan identifikasi lebih rinci dan jelas pada masing. Kebijakan pemerintah yang lebih berpihak pada peningkatan produksi dan produktivitas padi sawah dibandingkan padi ladang merupakan salah satu contohnya. Berdasarkan uraian di atas. Meskipun sumbangan padi ladang terhadap produksi nasional relatif kecil. Tingkat produktivitas padi ladang yang rendah dan laju perkembangan produksi padi ladang yang relatif lamban juga diakibatkan permasalaha n yang dihadapi usahatani padi ladang relatif lebih kompleks daripada permasalahan padi sawah. 2000). Identifikasi yang dimaksud antara lain meliputi penelitian tentang peningkatan teknik budidaya yang ada supaya produktivitas lahan kering .rata padi sawah dengan tingkat kesuburan tanah yang jauh lebih tinggi. tetapi padi ladang ditanam hampir di seluruh propinsi di Indonesia. meskipun hal ini merupakan sesuatu yang wajar mengingat produktivitas padi sawah yang jauh lebih tinggi dengan kendala peningkatan produktivitas padi sawah yang jauh lebih ringan daripada kendala peningkatan produktivitas padi ladang. pengairan yang lebih teratur. maka posisi usahatani padi ladang akan semakin penting bagi m depan pertanian Indonesia secara umum dan sangat asa potensial bagi peningkatan ketahanan pangan nasional. Permasalahan usahatani padi ladang relatif lebih kompleks daripada padi sawah. dan topografi yang lebih baik untuk usahatani padi.masing daerah produsen padi ladang. Bahkan sebagian daerah sangat menggantungkan ketersediaan dan kebutuhan berasnya pada produksi padi ladang. Pertanian padi ladang banyak dijumpai di daerah transmigrasi lahan kering dan daerah yang topografi lahannya didominasi perbukitan atau lahan kering dan tidak mendapat fasilitas irigasi (Wana.

Tabel 5 menunjukkan perbandingan produksi gabah kering giling Kabupaten Karawang dengan Propinsi Jawa Barat dan produksi total keseluruhan di Indonesia.087 46.506 . Produksi Padi Gabah Kering Giling di Kabupaten Karawang.188.421 10.007 juta ton atau mencapai 8.masing daerah produksi disamping karakteristik sosial ekonominya.524 49.628 Indonesia (Ton) 48.735 11.744.009 48.152.689 997.89 persen total produksi Jawa Barat dan 2. Analisis terhadap aspek produksi merupakan salah satu pendekatan yang penting dalam kebijaksanaan pangan untuk memenuhi kebutuhan pangan terutama yang menjadi makanan pokok masyarakat.320. Dengan pendekatan ini akan diketahui alternatif produksi yang paling tepat dalam waktu yang telah ditentukan sehingga nantinya dapat menjadi salah satu informasi yang berguna dalam pembuatan kebijakan pertanian seperti halnya dalam usahatani padi ladang.terutama padi ladang dapat ditingkatkan hingga dapat mengimbangi produktivitas padi sawah bahkan mungkin melampauinya. Tabel 3.071 Jawa Barat (Ton) 11.007.094.08 persen dari seluruh total produksi di Indonesia.499 1.796 991.445 11.218. Karawang merupakan salah satu sentra produksi padi di Indonesia.744 11.101. Penentuan alternatif produksi padi ladang tentu juga harus mempertimbangkan karakteristik agroklimat yang khas atau unik pada masing.007.140 51.240.181.641. Pada tahun 1992 total produksi Kabupaten Karawang mencapai 1.974 997. Jawa Barat. dan Indonesia Tahun 2004 Tahun 1992 1993 1994 1995 1996 Karawang (Ton) 1.faktor yang mempengaruhi produktivitas dan efisiensi ekonomi pengusahaan padi ladang. Pendekatan ini dilakukan untuk mengetahui faktor.

2.id/ditjentp). Mengapa produktivitas padi ladang lebih rendah dari padi sawah ? Faktor-faktor apa yang mempengaruhi produktivitas padi ladang ? Bagaimana mencapai tingkat penggunaan faktor.000 49. maka permasalahan yang akan dibahas pada penelitian ini adalah : 1.304 737.000 50.730 10.411 11. 3.852 Sumber : Situs Deptan (www.faktor produksi yang efisien secara ekonomis pada cabang usahatani padi ladang ? . c.000 51. Beberapa faktor yang mempengaruhi antara lain2 : a.898.267 49.866.8 juta ton.400.237. 2004 Pada tahun 2000 produksi Kabupaten Karawang mencapai 917 ribu ton sehingga memberikan kontribusi sebesar 8. Berdasarkan uraian diatas.499 10.879 917.1997 1998 1999 2000 989. Belum berfungsinya saluran irigasi secara maksimal untuk mengairi lahan sawah dengan merata. Dari tabel tersebut juga dapat dilihat mengenai adanya fluktuasi produksi yang terjadi tahun demi tahun yang menggambarkan adanya ketidakstabilan produksi padi yang disebabkan oleh banyak faktor.377.746.951 10. Pengaruh faktor cuaca dan iklim yang terus berfluktuasi. Hal ini disebabkan oleh kurangnya pengawasan yang ketat sehingga saluran irigasi banyak dikuasai oleh beberapa orang untuk kepentingan sendiri dan kelompok tertentu.209.22 persen dari produksi Jawa Barat dan 1.154. Semakin berkurangnya lahan pertanian yang ada yang disebabkan oleh berubah fungsinya lahan pertanian menjadi kawasan perumahan dan industri.429 917. b.go.76 persen dari seluruh total produksi padi nasional yang mencapai 51.deptan.

.faktor produksi pada cabang usahatani padi ladang.3. 2. Sebagai masukan bagi petani agar dapat mengelola usahataninya secara efektif dan efisien. 2.Tujuan Penelitian Berdasarkan latar belakang dan perumusan masalah maka tujuan penelitian ini adalah : 1. Menganalisis efisiensi ekonomis penggunaan faktor. Sebagai bahan kajian bagi pemerintah dalam merumuskan program dan kebijakan di bidang pertanian dalam usaha penyempurnaan sistem pertanian terutama untuk usahatani padi ladang. Menganalisis penyebab rendahnya produktivitas padi ladang. Sebagai bahan rujukan bagi penelitian yang akan datang agar dapat memperbaiki kesalahan dan kekurangan yang ada. 3. Menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi produktivitas padi ladang. 1.1.4. Kegunaan Penelitian Penelitian ini diharapkan dapat berguna bagi beberapa pihak. 3. sebagai berikut: 1.

Fase vegetatif merupakan masa pertumbuhan batang dan daun (55 hari). 2. sementara tahapan yang dilalui adalah masak susu sekitar 92 hingga 110 hari setelah tanam. dan (3) fase pemasakan. (2) fase reproduktif.. berumur sedang. Fase pemasakan adalah masa keluarnya bunga sampai gabah masak.) yang diusahakan di tanah tegalan kering secara menetap dan kebanyakan ditanam di daerah tropika. anakan sedikit. tergantung pada varietasnya. hasil . Pada fase ini tanaman padi ladang sangat sensitif terhadap cekaman lingkungan. 2000).2. Tanaman ini merupakan tanaman semusim jenis padi (Oryza sativa L. Jenis tradisional (varietas Genjah) memiliki ciri-ciri : berbatang tinggi. Syarat Tumbuh dan Kelayakan Lahan Tanaman Padi Ladang Keberhasilan budidaya tanaman padi ladang ditentukan oleh penyesuaian tanaman terhadap lingkungan. Karakteristik Biologis Tanaman Padi Ladang Padi ladang merupakan tanaman yang biasa ditanam di lahan kering.1. dan masa penuh sekitar 112 hingga 120 hari setelah tanam. Jika pertumbuhannya baik. Masa pertumbuhan padi ladang terdiri dari tiga fase : (1) fase vegetatif. bentuk gabah bulat dan tahan terhadap kekeringan (Chang dan Vergara dalam Setiawan. (1995) mengemukakan bahwa siklus hidup tanaman padi ladang berkisar antara 90 hingga 140 hari. masak padat sekitar 102 hingga 120 hari setelah tanam. Fase reproduktif adalah masa dari tahap munculnya primordia bunga sampai waktu keluar bunga (35 hari).II. iklim. dan cuaca. TINJAUAN PUSTAKA 2. sejak masa perkecambahan benih sampai pembentukan primordial bunga pada ujung batangnya. Basyir et al.

kering. Klasifikasi Kriteria Lingkungan Tumbuh Tanaman Padi Ladang Nilai No 1 2 3 4 Kelas Kesesuaian Sangat Sesuai Sesuai Sesuai Agak Sesuai Elevasi (m dpl) < 700 < 700 < 700 < 700 Lereng (%) <5 <5 <5 20 May MT (Bulan) 9 8-May >4 >4 CH (mm/th) 1500-3500 1500-3500 1500-3500 1500-3500 Jenis Tanah Med. Med = mediteran. And = andosol. Menurut Bey dan Las dalam Setiawan (2000). Gru. Gupta dan O’Toole (1986) menyatakan bahwa curah hujan merupakan unsur agroklimat berpengaruh dominan terhadap pertumbuhan dan produkisi padi ladang. periode saat air tanah cukup bagi pertumbuhan tanaman. CH = curah hujan. lahan tanaman padi ladang dikelompokkan menjadi empat kelas yaitu : sesuai. Gru. dan topografi Fisik dan kimia tanah Suhu dan radiasi Kekurangan air 5 6 7 8 Agak Sesuai Tidak Sesuai Tidak Sesuai Tidak Sesuai 700-900 < 900 > 900 - < 20 20 > 20 - >4 >4 <4 > 1500 > 1800 > 3500 < 1500 Sumber Keterangan : Jones and Garrity dalam Setiawan (2000) : MT = musim tanam. Al Med. dan tekstur tanah. Pada Lahan tersebut padi ladang lebih banyak ditanam pada musim hujan karena kebutuhan air bagi tanaman tergantung sepenuhnya pada curah hujan. Al Reg Faktor Pembatas Tidak ada MT pendek Kesuburan tanah rendah-sedang Keterbatasan air Suhu. Kelayakan lahan untuk pertanaman padi ladang menurut Jones dan Garrity dalam Setiawan (2000) didasarkan pada kecukupan dan ketersediaan air. La. kemiringan lahan. Pod. And. Reg = regosol. And. curah hujan merupakan unsur iklim yang besar pengaruhnya terhadap suatu sistem usahatani. La = latosol. Pod. lamanya musim tanam. La. Atas dasar keempat faktor tersebut. Kecukupan dan ketersediaan air ditentukan oleh empat faktor yaitu : curah hujan. Gru And. Pod = podsolik. agak sesuai. Pod. Al = aluvial. dan sangat kering. And. Al Med. terutama pada lahan kering dan tadah hujan. . Gru. Gru = grumosol. Al Med. RH.panen juga akan baik. Tabel 4. La.

Lingkungan tumbuh akan mendukung pertumbuhan padi ladang apabila memiliki tekstur tanah halus hingga sedang. pertumbuhan dan hasil padi ladang dipengaruhi oleh tekstur. Unsur iklim yang berperan dalam keberhasilan budidaya tanaman padi ladang adalah radiasi dan suhu udara (Basyir et al. yaitu 5 hingga 12 bulan per tahun. Menurut Madkar et al. unsur hara. Tanah dengan kemamp uan menyimpan air yang rendah dapat menimbulkan masalah kelembabam yang rendah setelah hujan berhenti. Sedangkan suhu udara berkorelasi positif dengan produksi padi selama fase vegetatif melalui jumlah tunas yang dihasilkan. menurut Gupta dan O’Toole (1986) merupakan penyebab rendahnya produksi padi ladang. dalam Setiawan (2000). dan berbukit. PH tanah yang sesuai untuk pertumbuhan padi ladang . Menurut De Datta dalam Setiawan (2000). 1995). 1986).. curah hujan tinggi (lebih besar dari 1500 mm per tahun) dan musim tanaman panjang. Tekstur tanah dengan kemampuan menyimpan air yang tinggi merupakan kondisi yang sesuai bagi tanaman padi ladang. struktur. Padi ladang dapat tumbuh hampir pada semua jenis tanah. tetapi berkorelasi negatif dengan produksi gabah selama fase pengisian gabah hingga masa panen (Murata 1976 dalam Setiawan.. dan pH tanah. bertopografi datar. 2000). Ketinggian areal pertanaman padi ladang bervariasi mulai dari dataran rendah sampai dataran dengan ketinggian 1500 meter di atas permukaan laut. bergelombang. Intensitas radiasi matahari yang rendah. perubahan unsur hara dalam tanah merupakan salah satu faktor yang membatasi produktivitas tanaman pada lahan kering. kemiringan lahan 0 sampai 8 persen. Hal ini dapat menyebabkan ketersediaan unsur hara dalam tanah akan menurun (Gupta dan O’Toole.

Pengolahan tanah Pengolahan tanah dilakukan pada musim kering sebelum hujan turun. keracunan Fe dan Al.3. dengan cara membuat petakan-petakan berukuran 10 × 5 meter atau dengan membuat bagian tengah tegalan lebih tinggi daripada pinggirannya. Pengolahan tanah harus sampai kedalaman sedikitnya 25 sentimeter. atau segera setelah tanaman yang mendahuluinya dipanen. Tanah lapisan bawah sedapat mungkin terangkat dan dibalik ke bagian atas. (4) Dijaga agar tidak terjadi penggenangan air. (3) Setelah tanah dibajak. pupuk organik ditebarkan sebanyak sekitar 20 ton per hektar dengan menggunakan pupuk hijau. dilakukan pengolahan pendahuluan dengan menggunakan garpu. .0 dapat menyebabkan tanaman padi ladang mengalami kekahatan unsur Zn (Gupta dan O’Toole. 1986). Pada tanah yang berat (tanah padat dan keras). Teknih pengolahan tanah adalah sebagai berikut : (1) Tanah dibajak atau dicangkul dua kali atau lebih hingga tanah cukup gembur dan bersih dari rerumputan. (2) Pada waktu membajak atau mencangkul yang kedua kali.5 hingga 6. pupuk kandang atau kompos. pada pH yang lebih rendah dari 5.3. sedangkan bila lebih dari 7.5. tanah harus dihaluskan dengan garpu atau cangkul satu atau dua kali hingga tanah cukup halus.berkisar antara 5. karena dapat mengancam kehidupan sekeliling petak.0 padi ladang dapat mengalami gangguan kekahatan unsur P. Budidaya Padi Ladang 2.1. 2.

diantaranya adalah : 1. tetapi tergantung pada awal musim penghujan. segar dan daya berkecambah tinggi (minimal 80 %). Benih yang dipilih adalah benih yang tenggelam apabila benih dimasukkan dalam larutan garam atau larutan abu dapur.3. Cara ini kurang lazim karena membutuhkan banyak benih yaitu sekitar 50 sampai 100 kilogram per hektar. Jika menanamnya bersamaan periode berlangsungnya hujan yang terus menerus.3.2. b. Penanaman a.01. yang berat jenisnya sekitar 1. Cara menanam Ada berbagai cara yang dapat digunakan dala m menanam. 2.(5) Tanah dibiarkan saja sambil menunggu benih ditanam pada waktu permulaan musim hujan. 2. Waktu tanam Waktu tanam sebaiknya dalam bulan Oktober dan November. Pemilihan Benih Benih yang bermutu adalah yang murni dengan kandungan air maksimal 14 persen. bebas dari hama dan penyakit. yaitu setelah dua atau tiga kali turun hujan. ada kemungkinan benih tersebut terbawa air atau terdorong lebih jauh masuk ke dalam tanah dan juga dapat berakibat kurang baik untuk tanaman muda karena akan mengakibatkan gangguan hama dan penyakit yang hebat. Benih yang melayang atau terapung jangan dijadikan benih. Membuat aluran dengan kayu berujung runcing yang digariskan di atas tanah atau dengan cangkul atau kored dengan jarak antara aluran sekitar 60 . bersih dari campuran atau kotoran-kotoran.3. Disebar merata langsung ke permukaan tanah. 2.

Pupuk hijau misalnya dengan menggunakan Crotalaria juncea ditanam 4 hingga 6 bulan sebelum tanah ditanami padi ladang. lubang benih ditutup dengan campuran pupuk P. Untuk tiap lubang ditanam benih sebanyak 5 hingga 7 butir. Pupuk hijau ini ditanam berbaris dengan jarak antar barisan sekitar 90 hingga 120 sentimeter. dan pupuk kandang. pemberantasan hama. juga akan memudahkan dalam melakukan kegiatan lain di dalam pertanaman seperti penyiangan.sentimeter sedalam 3 sentimeter. Pemupukan a. Pemakaian benih kurang lebih 30 sampai 40 kilogram per hektar. pupuk kandang atau pupuk kompos). K. 3. ketela. dan lain. Ke dalam aluran ditaburkan benih kemudian ditutup dengan tanah.3. Tumpangsari dengan jagung dapat diatur dengan jarak tanam jagung 150 × 60 sentimeter. setelah benih dimasukkan. kacang hijau dan sebagainya. 2. dan abu (debu atau tanah halus). Pada permulaan musim hujan pupuk hijau ditebang dan dikuburkan pada waktu pengolahan tanah. Pengaturan jarak tanam yang sebaik-baiknya disamping akan mempertinggi hasil. K. 4.lain. jarak tanam yang terbaik adalah 20 × 20 sentimeter. sedalam 3 hingga 5 sentimeter. sedangkan pada tanah yang kurang subur 15 × 40 sentimeter. Pada jarak tertentu dibuat lubang dengan tugal. . Jarak tanam pada tanah yang subur 15 × 20 sentimeter. atau campuran antara pupuk P. Dengan tugal. Di sela-selanya dapat ditanami jagung. Pemupukan dapat dilakukan dengan menggunakan pupuk organik (pupuk hijau. Tumpangsari dengan tanaman lain dengan pengaturan sebaik-baiknya sehingga tidak merugikan tanaman pokok.4.

Pupuk organik sangat bermanfaat pada tanah-tanah kering untuk memperbaiki struktur tanah. maka perbandingannya adalah 1 : 1 : 5. Pupuk organik meliputi sisa-sisa tanaman atau hewan. Pupuk organik terdiri dari kompos ataupun pupuk kandang.75 kwintal TSP + 1 kwintal ZK + 20 kwintal pupuk kandang). Pupuk organik ( upuk buatan) pada umumnya diberikan dengan dosis 60 p sampai 90 kilogram N.masing pada saat dilakukan penyiangan (dua bulan sejak benih ditugalkan). Perbandingan campuran pupuk fosfat. Kebutuhan pupuk kandang atau kompos sekitar 15 hingga 20 ton setiap hektar. diisi dengan pupuk lalu ditutup lagi dengan tanah.b. yaitu masing.75 : 1 : 20 (0.5 kwintal KCl) diberikan waktu penanaman sebagai pupuk dasar setelah dicampur dengan pupuk kandang. Pupuk kandang dan kompos diberikan dengan pengolahan tanah karena pupuk tersebut lama hancurnya. c. kalium. Cara pemberiannya adalah dengan membuat garitan sepanjang barisan tanaman. dan 30 kilogram K2 O tiap hektar. Tanah yang cukup mengandung bahan organik akan lebih remah dan memiliki daya menahan air yang lebih besar. Pupuk fosfat (0. Salah satu kelemahan pupuk organik . 30 kilogram P2 O5 . setengah pada saat 3 sampai 4 minggu sesudah benih ditugalkan dan setengah sisanya pada umur 6 sampai 7 minggu.5 hingga 2 kwintal urea per hektar) diberikan dua kali. Bila pada pemberian pertama di sisi yang satu dari tanaman. maka pada pemberian kedua hendaklah pada sisi lain yang berlawanan. Tanah dengan sifat yang demikian sangat sibutuhkan untuik tanaman padi ladang. Jika abu atau debu halus sebagai campuran digunakan. dan pupuk kandang adalah 0.75 kwintal TSP) bersama dengan pupuk K (0. Pupuk N (1. abu atau debu atau tanah halus.

3. Kompos disebar pada waktu pembajakan terakhir. dan pupuk buatan disebar pada waktu penggaruan terakhir. Penyiangan kedua pada saat tanaman berumur 60 hari. Tanah di sela-sela tanaman dicangkul supaya renggang dan ge mbur. kadang-kadang sesudah umur satu bulan masih disulam.adalah kadar haranya yang rendah. Kirakira satu hingga dua minggu sebelum malai padi keluar. Isi gabah sudah mengeras tetapi bila dipijit dengan . diperlukan sekitar 10 sampai 30 ton bahan organik. Penyiangan Penyiangan atau pemberantasan gulma dapat dilakukan dengan cara mekanis atau dengan cara kimiawi. kecuali buku-buku sebelah atas yang masih hijau. b. tanaman sebaiknya dibumbun. Setelah penyiangan. 2. 2. panen dilakukan pada stadia masak kuning yaitu apabila seluruh pertanaman nampak kuning. Untuk me ncukupi kebutuhan hara bagi tanaman dalam satu hektar. Penyiangan pertama dilakukan pada waktu tanaman berumur tiga sampai empat minggu. Panen dan Pengolahan Hasil Panen Untuk jenis-jenis yang mudah rontok. tanah di sekeliling tanaman padi dibumbun (didangir) atau dihancurkan sedikit agar pembuangan air lebih mudah. Di samping itu pupuk organik sering mengandung biji-biji gulma sehingga dapat mengganggu pertumbuhan tanaman.5. tetapi ya ng digunakan untuk menyulam adalah bibit yang diambil dari rumpun yang besar. Pemeliharaan a.6.3. Penyulaman Sejak tanaman berumur seminggu sampai umur tiga minggu tanaman padi ladang masih boleh disulam.

penggerek batang. 2. kepik padi hijau. penyakit bercak daun Helminthosporium oryzae. Hama dan Penyakit Hama yang sering mendatangkan bahaya pada tanaman padi ladang dan perlu diperhatikan antara lain: lalat bibit yang dapat mengurangi kemampuan bertunas bahkan mematikan tanaman berumur setengah hingga satu setengah bulan.3.4. ulat tentara. Cara mengetam. Sistem Perladangan di Indonesia dan Perkembangannya Menurut Soekartawi (1986). tikus. mengeringkan dan mengolahnya selanjutnya sama dengan caracara pada padi sawah.lain. babi hutan. jagung. dan lain. tanaman jenis kacang-kacangan dan umbi.tangan isi gabah mudah pecah. walang sangit yang menyebabkan kosongnya sebagian dari malai. burung. 2. ladang atau tegalan adalah suatu lahan usahatani pada lahan kering yang biasa dipakai untuk usaha bercocok tanam. Sedangkan untuk jenis-jenis yang tidak mudah rontok. Tanaman yang biasa dibudidayakan adalah tanaman yang berumur pendek seperti padi ladang. dan lain.lain. Perladangan merupakan wujud dari peradaban jaman dulu yang berlangsung turun temurun dan masih berkembang hingga sekarang. Phytium sp. menggabahkan. . Sedangkan penyakit yang umumnya menyerang padi ladang adalah penyakit bercak daun (Pyricularia oryzae). panen dilakukan pada stadia masak penuh. Praktek perladangan menurut data arkeologi sudah dimulai pada saat manusia pertama kali mengubah jaman berburu dan mengumpulkan tanaman liar ke sistem berproduksi tanaman dan beternak dengan budidaya yang masih primitif.7.umbian.

d. terkadang memiliki kebun. e. mengelompokkan pola perladangan menjadi: a. c.Demikian pula Pelzer dalam Geertz (1963) mengatakan bahwa perladangan itu ditandai oleh tidak adanya pembajakan. 1978 dalam Hariyanto. input tenaga-tenaga sedikit dibandingkan dengan bercocok tanam yang lain. Dinas Kehutanan Kalimantan Barat (1981) dalam Hariyanto (1994). Hal ini bukan karena sifat peladang yang enggan untuk hidup berdekatan. yang merupakan sistem yang paling sederhana. 1994). baik karena . terkadang memiliki pemukiman tetap. tidak menggunakan tenaga hewan ataupun pemupukan dan tidak adanya konsep pemilikan tanah pribadi. memiliki pemukiman tetap dan kebun. Berdasarkan jangka waktu rotasinya. baik antara tempat tinggal di dalam desa maupun antar desa yang satu dengan lainnya. Berladang setiap tahun. Peladang pada umumnya hidup berpencar berjauhan satu dengan yang lain. Menurut Ditjen Kehutanan Direktorat Reboisasi dan Rehabilitasi (1981) dalam Hariyanto (1994) beberapa sistem perladangan yang ada di Indonesia adalah : a. Sistem rotasi alami. Berladang dengan siklus pendek sekitar lima tahun. melainkan merupakan usaha ntuk menyesuaikan antara kepentingan beercocok tanam dengan keadaan alamnya (Soemarwoto. Berladang dengan siklus panjang. b. Berladang berpindah tanpa siklus dan tidak memiliki pemukiman tetap. Berladang dengan siklus sedang diatas tujuh tahun dan memiliki pemukiman tetap. Lahanlahan bekas perladangan yang sedang menurun produktivitasnya.

. yang merupakan perkembangan dari sistem rotasi alami. Yang dimaksud dengan talun adalah lapangan yang ditanami dengan berbagai macam pohon. Sistem ini terdapat dipedalaman Kalimantan. Lampung dan Sumatera Selatan. c. Sistem tumpang sari. sebagai akibat masuknya pertimbangan pemilihan jenis tanaman yang disesuaikan dengan keadaan pasar dan kondisi fisik lahannya. sehingga dapat berfungsi sebagai pencegah erosi serta penyubur tanah. b. Sistem talun ini muncul atau dikenal terdapat di daerah Jawa Barat. kelapa. Sistem ini ditemui di Nusa Tenggara Timur terutama Kupang. baik kayu-kayuan maupun buah-buahan. diserahkan begitu saja kepada kekuatan alam untuk merehabilitasi dirinya melalui suksesi alami. Sistem tanaman sela. Sistem ini terdapat di Sulawesi Selatan dan Sulawesi Tenggara. Sistem talun. Sejak saat pertama penggarapan ladangnya. kopi dan cengkeh. Jenis dan susunan pepohonan tersebut dibuat sedemikian sehingga mempunyai prospek ekonomis serta sesuai dengan kebutuhan pemiliknya.tingkat kesuburannya sudah berkurang atau besarnya gangguan gulma. merupakan suatu peningkatan dari sistem rotasi alami. lada.lahan perladangan pada saat penggarapan pertama sudah ditanami tanaman sela yang ditanam dalam bentuk larikan sejajar kontur. Lahan. Tanaman sela itupun dibiarkan tumbuh sehingga suksesi alami berjalan lebih cepat. d. Jenis-jenis tanaman keras yang dipilih adalah yang mempunyai prospek ekonomis baik seperti karet. para peladang menanam tanaman keras secara bersamaan dengan tanaman pangan.

Secara kronologis pekerjaan yang dilakukan adalah : a. c. Pembakaran ini selain ditujukan untuk membersihkan lahan dari sisa-sisa penebasan dan penebangan. d.lubang pada permukaan tanah dengan menggunakan ranting atau dahan yang diruncingkan ujungnya (tuga l) dimana biji-biji padi kemudian dimasukkan. hutan sekunder. Rendahnya produksi yang dihasilkan oleh peladang . dengan urutan prioritas dari yang paling disukai : hutan perawan.Simon (1981) dalam Hariyanto (1994). juga berguna untuk mengurangi keasaman tanah. yaitu : pemotongan belukar kecil dengan menggunakan parang Menebang. pada dasarnya tidak berurutan yaitu : (a) memanen hasil tanaman bukan padi. h. Menugal adalah membuat lubang. g. (c) membuat alat-alat untuk bekerja di ladang. Menebas. Membakar daun dan ranting yang sudah kering. maka tanaman padi akan tertekan sehingga hasilnya sangat rendah. b. yaitu : pekerjaan mencabut/membunuh rumput-rmput yang tumbuh diantara tanaman padi. mengemukakan bahwa perladangan hampir selalu dilakukan dengan cara yang sama. Bila ditinjau dari aspek ekonomi peladang berpindah (perladangan) dicirikan oleh produktivitas yang rendah. Mengetam atau memanen hasil padi. Merumput. Menjaga tanaman dari serangan hama seperti babi hutan. (b) membat pondok diladang. f. Menugal dan menanam biji. Selain itu ada kegiatan lain yang menurut Dove (1988) dalam Hariyanto (1994). Pemilihan tempat. karena bila rumput dibiarkan tumbuh lebat. yaitu : memotong pohon berdiameter besar dengan menggunakan kapak (beliung). belukar dan yang terakhir padang alang-alang. e.

faktor di atas menyebabkan rendahnya tingkat pendapatan usahatani peladang berpindah (Simon. Produktivitas yang rendah cenderung diikuti pula oleh rendahnya kualitas produksi yang dihasilkan. tingkat ketrampilan dan pengetahuan yang dimiliki peladang dalam pengelolaan lahan serta tingginya angka kelahiran dan kematian penduduk karena masih rendahnya tingkat kesehatan. hama dan penyakit. 1981 dalam Hariyanto.juga ditunjukkan oleh ketidakpastian hasil ya ng disebabkan tingginya pengaruh iklim. Dengan sifat perladangan yang masih tradisional upaya pengendalian terhadap hama dan penyakit juga dilaksanakan dengan cara yang sederhana. Keseluruhan faktor. Oleh karena itu sebagian dari peladang tidak berpendidikan sama sekali. menyebabkan anak-anak peladang sangat sulit untuk mengikuti pendidikan formal secara teratur. 1994). Dari aspek sosial peladang dicirikan oleh rendahnya tingkat pendidikan. Bagi pemerintah pun tidak mudah untuk menyelenggarakan fasilitas pendidikan dan fasilitas sosial lainnya. 61 persen tidak . tetapi juga kegunaannya tidak mencapai tingkat optimal yang diharapkan. ditambah lagi dengan belum adanya prospek pemasaran hasil produksi dan sifat komoditi yang dihasilkan masih bersifat musiman. Masyarakat di Kalimantan Timur. Akibatnya harga jual produksi yang dihasilkan rendah. Padahal bila dilihat dari lingkungan sistem perladangan kemungkinan uuntuk terserang hama dan penyakit sangat tinggi dan upaya pengendalian lebih sulit. Tempat tinggal yang berpencar dan kemungkinan pindah mengikuti rotasi perladangan. bukan karena biayanya yang menjadi mahal. seperti yang dikemukakan Simon (1981) dalam Hariyanto (1994).

Perilaku Ekonomi Petani Perilaku ekonomi mempunyai tiga hal yang patut diperhatikan (Scott. Scott (1981). Pada petani kecil perolehan pendapatan usahataninya akan lebih banyak digunakan untuk mengembangkan usahataninya. Dillon et al. sedang 27 persen hanya pernah sekolah tidak lebih dari kelas tiga sekolah dasar. 1995).5. dan karena itu kondisi tersebut menyebabkan rumah tangga petani tidak banyak mempunyai peluang untuk menerapkan keuntungan maksimal dalam berusahatani. menjelaskan adanya perilaku enggan menerima resiko dalam pengambilan keputusan petani disebabkan oleh adanya dilema ekonomi petani sentral yang dihadapi oleh kebanyakan rumah tangga petani. karena kelebihan pendapatan sering digunakan untuk kepentingan lainnya. dalam Soekartawi (1986) memberikan indikasi bahwa sebagian besar petani subsistem mempunyai keengganan memikul resiko. dalam Satria. serta selalu mengalami ketidakpastian cuaca dan tuntutan-tuntutan dari pihak luar. serta keuntungan. 1981). Kehidupan petani di pedesaan begitu dekat dengan batas subsistensi. ketidakpastian. Sifat khas yang . dengan kecenderungan yang lebih besar pada pemilik lahan sempit dan umumnya dari petani penyakap. Istilah resiko dimaksudkan kepada terjadinya kemungkinan merugi atau possibility of loss. jadi peluang akan terjadinya merugi akan diketahui terlebih dahulu. sering ditemui bahwa semakin kecil petani melakukan capital formation dalam usahataninya. Dalam banyak hal. karena peluang terjadinya merugi belum diketahui sebelumnya (Soekartawi et al.. 2. yaitu resiko.pernah sekolah. Sedangkan ketidakpastian adalah sesuatu yang tidak bisa diramalkan sebelumnya.

Dengan komposisi biaya seperti ini.1.683.450.-. Bukan saja petani miskin yang memiliki perilaku tersebut. Perilaku demikian yang disebut juga perilaku safety first atau mendahulukan keamanan merupakan ciri umum petani.109. Biaya tunai yang dikeluarkan dalam usahatani padi ladang tumpangsari dengan jagung sebesar Rp.per kilogram dan produksi padi ladang per hektar rata-rata sebesar 793 kilogram dalam bentuk gabah kering panen.100.1. Jadi.sedangkan pendapatan atas biaya total .6.091.438 kilogram dengan harga jual rata-rata Rp.1. sehingga penerimaan dari produksi jagung sebesar Rp.824. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata penerimaan petani dari produksi padi ladang per hektar per musim tanam sebesar Rp.348.100.995....-. Sedangkan ratarata jagung yang dihasilkan per hektar sebesar 1.312.sedangkan biaya total sebesar Rp. Kabupaten Tasikmalaya.700.575. total penerimaan petani dari usahatani padi ladang yang ditumpangsari dengan jagung sebesar Rp. 2..senantiasa ada pada diri petani ialah berusaha menghindari kegagalan yang akan menghancurkan kehidupannya dan bukan berusaha memperoleh keuntungan besar dengan mengambil resiko.200. tetapi sebagian besar petani menengah juga bertindak serupa.647. Penelitian ini melakukan analisis tentang pendapatan dan efisiensi penggunaan faktor produksi usahatani padi ladang secara tumpangsari dengan jagung di Kecamatan Kadipaten.1.per kilogram.1.. Hasil Penelitian Terdahulu Penelitian terdahulu mengenai usahatani padi ladang atau padi gogo dilakukan oleh Susanto (2004). Dengan kata lain petani berusaha meminimumkan keuntungan subjektif dari kerugian maksimum.dengan harga jual rata-rata sebesar Rp. pendapatan atas biaya tunai yang diperoleh petani adalah sebesar Rp.

Sedangkan penggunaan faktor produksi luas lahan dan jumlah benih masih kurang untuk mencapai level efisien. diperoleh hasil bahwa faktor produksi jumlah benih. intensitas serangan hama. KCl.5 dengan nilai koefisien determinasi terkoreksi (R2 -adjusted) sebesar 67.625. Sedangkan faktor produksi luas lahan. dan tenaga kerja tidak efisien (berlebihan).. dan faktor iklim. Berdasarkan analisis efisiensi dengan rasio NPM dan BKM. Nilai R2 -adjusted sebesar 67. puuk KCl dan tenaga kerja tidak berpengaruh nyata terhadap nilai produksi pada taraf kepercayaan yang ditentukan.2 persen lainnya dari keragaman nilai produksi dipengruhi faktor.Jadi rasio R/C atas biaya tunai diperoleh sebesar 2. Hal ini berarti dari segi analisis pendapatan usahatani padi ladang secara tumpangsari dengan jagung menguntungkan karena penerimaan yang lebih besar dari biaya total yang dikeluarkan. pupuk Urea.09. diperoleh hasil bahwa penggunaan faktor produksi pupuk Urea. diperoleh hasil F-hitung yang nyata pada taraf kepercayaan 95 persen.sebesar Rp. pupuk Urea. Dari analisis model fungsi produksi Cobb-Douglas yang dilakukan Susanto (2004). dan tenaga kerja. pupuk TSP. dan nilai koefisien determinasi (R2 ) sebesar 74.8 persen kergaman pada nilai produksi dapat dijelaskan oleh variabel bebas yang digunakan dalam fungsi produksi yaitu luas lahan. jumlah benih. TSP.faktor lain di luar model yang diduga berpengaruh tersebut adalah tingkat kesuburan lahan. dan pupuk TSP berpengaruh nyata terhadap nilai produksi. Sedangkan 32.92. Penggunaan faktor produksi .8 berarti bahwa 67.170.8. dan rasio R/C atas biaya total sebesar 1. pupuk KCl. Berdasarkan hasil uji-t yang dilakukan Susanto (2004). Faktor. yang ditunjukkan oleh rasio NPM dan BKM yang lebih kecil dari satu.faktor lain di luar model regresi.

luas lahan garapan. Penelitian ini menyimpulkan bahwa teknologi usahatani padi ladang yang digunakan di wilayah Luar Baduy (Jalupang Mulya) lebih maju dibandingkan dengan Baduy Luar. Rendahnya nilai rasio R/C untuk usahatani padi ladang di wilayah Luar Baduy diduga disebabkan oleh : (1) Tingkat kesuburan lahan di wilayah Baduy Luar yang lebih subur dibandingkan dengan wilayah Luar Baduy.26 sedangkan R/C atas biaya total untuk luar baduy sebesar 0. Namun dari segi analisis pendapatan dengan menggunakan analisis rasio R/C. Penelitian lain mengenai padi ladang dilakukan oleh Rahayu (2001) dengan judul “Perbandingan Usahatani Padi Ladang Baduy Luar dan Luar Baduy Dilihat Dari Tingkat Efisiensi dan Subsistensi Usahatani” di Desa Kanekes dan Desa Jalupang Mulya.22. pupuk. dilihat dari segi intensitas penggunaan lahan. Banten. . obat dan cara pengobatan hama dan penyakit tanaman. usahatani padi ladang di wilayah Baduy Luar (Kanekes) menghasilkan nilai rasio R/C yang lebih tinggi daripada Luar Baduy (Jalupang Mulya).39. dimana rasio R/C atas biaya total untuk Baduy Luar sebesar 0. jenis alat pengolahan lahan. lebih besar daripada R/C atas biaya tunai untuk Luar Baduy yang sebesar 0. Kabupaten Lebak. Demikian juga dengan R/C atas biaya tunai untuk wilayah Baduy Luar sebesar 1. Hal ini dilihat dari : tingkat pendidikan.yang tidak efisien ini diduga disebabkan oleh pengetahuan petani yang terbatas akibat tingkat pendidikan dan tingkat ekonomi yang rendah serta status penguasaan lahan.11. serta alat pengolahan padi. pengalaman bertani. Kecamatan Leuwi Damar. jenis varietas padi. status penguasaan lahan.

(3) Kondisi lingkungan usahatani padi ladang di wilayah Luar Baduy yang sedang terserang hama dan penyakit.(2) Tingkat upah tenaga kerja luar keluarga di wilayah Luar Baduy lebih tinggi daripada wilayah Baduy Luar. Timtim. Wana (2000) mengelompokkan Indonesia menjadi tiga daerah regional yaitu : Regional I meliputi seluruh provinsi Jawa. Penelitian yang dilakukan Wana (2000) dengan judul “Analisis Faktorfaktor Produksi Padi Lahan Kering di Indonesia”. Regional III meliputi seluruh provinsi di pulau Sulawesi. Regional II meliputi seluruh provinsi di pulau Sumatera dan Kalimantan. Kesimpulan ini diambil berdasarkan analisis terhadap : tujuan produksi. nilai rasio upah tenaga kerja dan rasio faktor input.faktor yang mempengaruhi produksi luas areal panen padi lahan kering (ladang) di seluruh regional adalah : . Penelitian ini menyimpulkan bahwa faktor. melakukan analisis pendugaan model respon areal luas panen dan produktivitas padi lahan kering di seluruh Indonesia. (4) Penggunaan pupuk dan pestisida yang belum tepat untuk wilayah Luar Baduy. sedangkan usahatani padi ladang untuk wilayah termasuk dalam usahatani semi-subsisten mengarah ke subsisten (Transisi-Statis). sementara usahatani padi ladang di wilayah Baduy Luar tidak menggunakan pupuk dan pestisida sama sekali. serta tingkat pendayagunaan lembaga pertanian. usahatani padi ladang di wilayah Luar Baduy tergolong usahatani semi. dan Nusa Tenggara Barat. Bali. Dilihat dari segi tingkat subsistensi. NTT.subsisten mengarah ke komersial (TransisiDinamis). dan Irian Jaya. Maluku.

947 kwintal dalam satu tahun (dua musim tanam). varietas unggul. Akan tetapi dalam upaya memenuhi kebutuhan beras nasional dan mengurangi impor beras. harga jagung. sedangkan di Desa Losari (irigasi sederhana) sebesar 2. Kabupaten Banyumas. yang memberi indikasi bahwa di Indonesia terutama di Jawa peningkatan luas areal panen dan produktivitas sudah hampir mendekati level optimum. kegiatan produksi harus tetap ditingkatkan. Penelitian ini menyimpulkan bahwa tingkat produksi per hektar di daerah irigasi teknis lebih tinggi daripada daerah irigasi sederhana. harga ubikayu.7554. harga kedelai. Sedangkan faktor. Pendapatan atas biaya tunai dan biaya total yang diperoleh daerah dengan lahan sawah yang menggunakan irigasi teknis juga lebih tinggi daripada lahan sawah beririgasi sederhana.4193.faktor yang mempengaruhi produksi dan pendapatan usahatani padi sawah pada jaringan irigasi teknis (Desa Tinggar Jaya. dan harga pupuk TSP. dan luas areal panen padi tahun sebelumnya. Penelitian ini juga memperoleh kesimpulan bahwa peningkatan produksi dengan mengupayakan peningkatan luas areal dan produktivitas padi ladang pada umumnya tidak responsif terhadap faktor.faktor yang mempengaruhi produktivitas padi lahan kering (ladang) di seluruh regional adalah harga pupuk urea.5574 dan di Desa Losari (irigasi sederhana) sebesar 1.faktor yang berpengaruh.4637. Perbedaan tingkat produksi tersebut 24. luas lahan kering.harga beras. Berdasarkan analisis model fungsi produksi . Jawa Tengah. curah hujan. Rasio R/C atas biaya tunai di Desa Tinggar Jaya (irigasi teknis) sebesar 2. Rasio R/C atas biaya total di Desa Tinggar Jaya (irigasi teknis) sebesar 1. Kecamatan Jatilawang) dan irigasi sederhana (Desa Losari. Yelni (1999) meneliti tentang faktor. Kecamatan Rawalo).

. faktor. Kabupaten Karawang. sedangkan faktor. pestisida butir. faktor-faktor yang berpengaruh nyata pada a = 0. dan penggunaan tenaga kerja. sedangkan rasio R/C atas biaya tunai dan atas biaya total pada usahatani padi sawah konvensional sebesar 2. jumlah pupuk TSP yang digunakan. Berdasarkan analisis fungsi produksi dengan menggunakan model fungsi produksi Cobb-Douglas. Penelitian ini menyimpulkan bahwa produktivitas padi organik (input rendah) lebih kecil dibandingkan padi konvensional. Sedangkan faktor.faktor yang berpengaruh nyata pada 0.faktor yang berpengaruh nyata terhadap produksi pada usahatani padi sawah konvensional adalah luas lahan.dengan menggunakan analisis model Cobb-Douglas.14 dan 1. Faktor. diperoleh hasil bahwa untuk usahatani padi sawah di Desa Tinggar Jaya (irigasi teknis). disimpulkan bahwa usahatani padi organik berada pada kondisi decreasing return to scale (hasil yang semakin menurun). Produktivitas padi organik sebesar 4.10 adalah penggunaan pestisida dan dummy luas lahan.63.569 kg/ha sedangkan produktivitas padi sawah konvensional sebesar 5.68 dan 1.05 adalah benih dan pupuk. Sedangkan untuk usahatani padi sawah di Desa Losari (irigasi sederhana). dan tenaga kerja. Rasio R/C atas biaya tunai dan atas biaya total pada usahatani padi sawah organik didapat sebesar 2.263 kg/ha. jumlah benih yang digunakan.72. pupuk urea. Wijaya (2002) melakukan penelitian tentang perbandingan pendapatan dan efisiensi usahatani padi sawah organik (input rendah) dan usahatani padi sawah konvensional di Kecamatan Tempuran.05 < a = 0.faktor yang berpengaruh nyata terhadap produksi pada usahatani padi sawah organik luas lahan.faktor yang berpengaruh nyata adalah penggunaan tenaga kerja dan dummy luas lahan.

dan tenaga kerja.Berdasarkan analisis efisiensi ekonomi dengan menggunakan rasio Nilai Produk Marjinal dan Biaya Korbanan Marjinal (NPM/BKM) untuk usahatani padi sawah organik. Faktor-faktor yang penggunaannya harus ditingkatkan agar dicapai level efisien adalah luas lahan. Untuk faktor benih dan pestisida cair didapat nilai rasio NPM dan BKM yang negatif.faktor yang penggunaannya berlebihan adalah pupuk urea dan TSP. pupuk organik. pupuk daun. pestisida butir. Hal ini terbukti dari nilai NPM/BKM semua faktor produksi yang tidak sama dengan satu. Sedangkan faktor. diketahui bahwa penggunaan faktor-faktor produksi belum efisien. . artinya syarat keharusan untuk mencapai level efisien tidak teroenuhi sehingga penggunaannya untuk mencapai efisien tidak dapat diramalkan karena rasio NPM dan BKM tidak akan pernah sama dengan satu (NPM/BKM ? 1).

lantai jemur. Adanya lahan dalam luasan dan produk yang tertentu. maka suatu usahatani dapat digambarkan lebih rinci sebagai berikut : a. Adanya bangunan yang berupa rumah petani. b. d. traktor. pompa air dan lain.B. penyemprot. . dan lain.lain. garpu. KERANGKA PEMIKIRAN 3. Berdasarkan pengertian di atas. kandang. pemeliharaan hewan ternak dan tempat keluarga tani bermukim. Adanya pencurahan kerja untuk mengolah tanah. Adanya alat-alat pertanian seperti cangkul.1. kerja dan modal yang ditujukan kepada produksi di lapangan pertanian (T.lain. linggis. 1988). unsur ini dalam usahatani mempunyai fungsi sebagai usaha tempat bercocok diselenggarakannya tanam. menanam. memelihara dan lain. gudang.III. parang.lain. Bachtiar Rifai dalam Hernanto. c. Konsep Usahatani Usahatani adalah setiap kombinasi yang tersusun (terorganisasi) dari alam.

unsur produksi. dan (3) bentuk campuran yaitu usahatani yang memadukan beberapa cabang usaha secara bercampur. menyewakan lahan dan lain sebagainya. Soeharjo dan Patong (1973) dalam Soekartawi (1986). Pendapatan Usahatani Pemenuhan kebutuhan hidup rumahtangga usahatani dicukupi dari pendapatan usahatani. modal dan jasa pengelolaan. 3.2. Keluarga usaha menghasilkan produksi. baik yang dijual maupun untuk dikonsumsi keluarga atau dipergunakan lagi dalam proses produksi selanjutnya. Soeharjo dan Patong (1973) menyatakan bahwa pendapatan adalah balas jasa dari kerjasama faktor. .faktor produksi lahan. Sedangkan bentuk usahatani terdapat tiga jenis yang menunjukkan bagaimana suatu kondisi diusahakan yaitu : (1) bentuk khusus dimana petani hanya mengusahakan satu jenis usaha dari sebidang tanah. mengawasi jalanya usahatani dan menikmati hasil usahataninya. Adanya kegiatan petani yang menetapkan rencana usahataninya. (2) bentuk tidak khusus yaitu usahatani yang terdiri dari berbagai cabang usaha pada berbagai bidang tanah.e. misalnya menjual kelebihan alat-alat produksi. Pendapatan usahatani tidak hanya berasal dari kegiatan produksi saja tetapi dapat juga diperoleh dari hasil menyewakan atau menjual unsur. mengatakan bahwa ada dua pola usahatani yang sangat pokok yaitu pola usahatani lahan basah dan lahan kering. dimana penggunaan faktor. Secara umum dalam setiap rumahtangga usahatani pada hakekatnya terdapat dua kegiatan ekonomi yaitu kegiatan usaha dan kegiatan rumahtangga atau keluarga.faktor produksi cenderung bersaing dan batas pemisahan antara cabang usahatani kurang jelas. tenaga kerja. Untuk kegiatan rumahtangga pada umumnya bersifat konsumtif.

Soekartawi (1986) mengemukakan beberapa definisi : a. .Berkaitan dengan ukuran pendapatan dan keuntungan. e. Pengeluaran total usahatani merupakan selisih antara penerimaan kotor usahatani dan pengeluaran total usahatani. Penerimaan tunai usahatani merupakan nilai uang yang diterima dari penjualan b. d. meskipun besar pendapatan tidak selalu mencerminkan efisiensi yang tinggi karena pendapatan yang besar mungkin juga diperoleh dari investasi yang jumlahnya besar pula. Penerimaan total usahatani merupakan nilai semua yang habis terpakai atau dikeluarkan dalam produksi termasuk biaya yang diperhitungkan. Pendapatan tunai usahatani adalah produk usahatani dalam jangka waktu tertentu. baik yang dijual maupun tidak dijual. Pendapatan yang diharapkan tentu saja memiliki nilai positif dan semakin besar nilainya semakin baik. produk usahatani. Untuk mengukur keberhasilan usahatani biasanya dilakukan dengan melakukan analisis pendapatan usahatani. Dengan melakukan analisis pendapatan usahatani dapat diketahui gambaran keadaan aktual usahatani sehingga dapat melakukan evaluasi dengan perencanaan kegiatan usahatani pada masa yang akan datang. c. Secara harfiah pendapatan dapat didefenisikan sebagai sisa dari pengurangan nilai penerimaan yang diperoleh dengan biaya yang dikeluarkan. Pengeluaran tunai usahatani adalah jumlah uang yang dibayarkan untuk pembelian barang dan jasa bagi usahatani.

Pengeluaran usahatani secara umum meliputi biaya tetap (fixed cost) dan biaya variabel (variable cost). pestisida dan upah tenaga kerja. penggunaan tenaga kerja dalam keluarga. Biaya dalam usahatani dapat dibedakan menjadi biaya tunai dan biaya yang diperhitungkan. Biaya tetap adalah biaya yang sifatnya tidak dipengaruhi oleh jumlah produksi yang dihasilkan. penggunaan benih dari hasil produksi dan penyusutan dari sarana produksi. biaya ini dapat berupa faktor produksi yang digunakan petani tanpa mengeluarkan uang tunai seperti sewa lahan yang diperhitungkan atas lahan milik sendiri. Pendapatan kotor usahatani mengukur pendapatan kerja petani tanpa memasukkan biaya yang diperhitungkan sebaga i komponen biaya.faktor produksi dalam melakukan proses produksi usahatani. Pendapatan usahatani terbagi atas pendapatan kotor usahatani dan pendapatan bersih usahatani.Untuk menganalisis pendapatan usahatani diperlukan informasi mengenai keadaan penerimaan dan pengeluaran selama jangka waktu yang ditetapkan. Biaya tetap dapat berupa biaya sewa lahan. Sedangkan biaya atau pengeluaran usahatani adalah nilai penggunaan faktor. Penerimaan usahatani adalah nilai produksi yang diperoleh dalam jangka waktu tertentu dan merupakan hasil perkalian antara jumlah produksi total dengan harga satuan dari hasil produksi tersebut. Sedangkan biaya yang diperhitungkan merupakan pengeluaran yang secara tidak tunai dikeluarkan petani. pupuk. Biaya variabel adalah biaya yang sifatnya dipengaruhi jumlah produksi yag dihasilkan. Biaya variabel dapat berupa biaya yang dikeluarkan unt uk benih. Pendapatan kotor usahatani merupakan selisih dari penerimaan usahatani . Biaya tunai usahatani merupakan pengeluaran tunai yang dikeluarkan oleh petani. pajak dan bunga pinjaman.

Pendapatan bersih usahatani diperoleh dari selisih penerimaan usahatani dengan biaya total usahatani.3. Analisis ini menunjukkan besar penerimaan usahatani yang akan diperoleh petani untuk setiap rupiah biaya yang dikeluarkan untuk kegiatan usahatani.dengan biaya tunai usahatani. Suatu usahatani dikatakan layak apabila memiliki tingkat efisiensi penerimaan yang diperoleh atas setiap biaya yang dikeluarkan hingga mencapai perbandingan tertentu. Kriteria kelayakan usahatani dapat diukur dengan menggunakan analisis imbangan penerimaan dan biaya (R/C ratio analysis) yang didasarkan pada perhitungan secara finansial. 3. Semakin besar nilai R/C maka akan semakin besar pula . Analisis Imbangan Penerimaan dan Biaya (R/C Ratio Analysis) Menurut Soeharjo dan Patong (1973). Sedangkan pendapatan bersih usahatani mengukur pendapatan kerja petani dari seluruh biaya usahatani yang dikeluarkan. pendapatan yang besar bukanlah sebagai petunjuk bahwa usahatani efisien.

penerimaan usahatani yang diperoleh untuk setiap rupiah biaya yang dikeluarkan atau usahatani dikatakan menguntungkan. Kegiatan usahatani dikategorikan layak jika memiliki nilai R/C ratio lebih besar dari satu, artinya setiap tambahan biaya yang dikeluarkan akan menghasilkan tambahan penerimaan yang lebih besar daripada tambahan biaya atau secara sederhana kegiatan usahatani menguntungkan. Sebaliknya kegiatan usahatani dikategorikan tidak layak jika memiliki nilai R/C ratio lebih kecil dari satu, yang artinya untuk setiap tambahan biaya yang dikeluarkan akan menghasilkan tambahan penerimaan yang lebih kecil daripada tambahan biaya atau kegiatan usahatani merugikan. Sedangkan untuk kegiatan usahatani yang

memiliki nilai R/C ratio sama dengan satu berarti kegiatan usahatani berada pada keuntungan normal. 3.4. Teori Produksi Setiap proses produksi melibatkan suatu hubungan yang erat antara faktorfaktor produksi yang digunakan dengan produk yang dihasilkan . Faktor- faktor produksi seperti lahan, pupuk, tenaga kerja, modal dan sebagainya sangat mempengaruhi terhadap besar kecilnya produksi yang diperoleh. Keputusan penggunaan sumber daya atau input, baik dalam kuantitas maupun kombinasi yang dibutuhkan dalam suatu tingkat produksi ditentukan oleh petani (produsen).
Y (Produksi)

TP

I

II

III

Keterangan

: TP MP AP

= Total Produksi = Marginal Product (Produk Marjinal) = Average Product (Produk Rata-rata)

Fungsi produksi secara sederhana dapat digambarkan sebagai hubungan fisik atau hubungan teknis antara jumlah faktor produksi yang digunakan dengan jumlah produk yang dihasilkan per satuan waktu tanpa memperhatikan faktor harga.

Seperti ditunjukkan dalam Gambar 1, fungsi produksi didefinisikan sebagai hubungan antara input dengan output yang menunjukkan suatu tingkat dimana sumberdaya dapat diubah sehingga menghasilkan produk tertentu (Doll dan Orazem, 1984). Dengan kata lain fungsi produksi menggambarkan kombinasi penggunaan beberapa faktor produksi untuk menghasilkan suatu tingkat produksi tertentu. Secara matematis, fungsi produksi dapat dinyatakan sebagai berikut (Doll dan Orazem, 1984) : Y = f(X1 , X2 , X3 ,…,Xn ) .......................................................... (3.1) Keterangan : Y X1 ,X2 ,..,Xn f : Jumlah produksi yang dihasilkan dalam proses produksi : Faktor- faktor produksi yang digunakan dalam proses produksi : Bentuk hubungan yang mentransformasikan faktor- faktor produksi ke-n dalam hasil produksi

Menurut Doll dan Orazem (1984), suatu fungsi produksi dapat dibagi ke dalam tiga daerah produksi. dapat Daerah

produksi

tersebut

dibedakan dari

berdasarkan

elastisitas

produksi

faktor-faktor produksi. Pada Gambar 1,

elastisitas produksi bernilai antara nol dan satu. Pada tingkat tertentu dari penggunaan faktor-faktor produksi di daerah ini akan memberikan keuntungan maksimum. artinya setiap penambahan faktor produksi sebesar satu persen akan menyebabkan penambahan produksi paling tinggi satu persen dan paling rendah nol. Pada daerah ini yang terletak antara X2 dan X3. antara nol dan satu (daerah II).faktor produksi sudah . yang berarti bahwa penambahan faktor produksi sebesar satu persen akan menyebabkan penambahan produksi yang selalu lebih besar dari satu persen. karena produksi masih dapat diperbesar dengan pemakaian faktor produksi yang lebih banyak. Syarat keharusan untuk tercapainya keuntungan maksimum adalah tingkat produksi yang terjadi harus berada pada daerah II dalam kurva fungsi produksi.ketiga daerah tersebut adalah daerah dengan elastisitas produksi yang lebih besar dari satu (daerah I). Daerah ini dicirikan oleh penambahan hasil produksi yang peningkatannya makin berkurang (decreasing return to scale). Keuntungan maksimum belum tercapai. Oleh karena itu daerah I disebut sebagai daerah irrasional (irrational region atau irrational stage of production). Daerah produksi I yang terletak antara 0 dan X2. dan lebih kecil dari nol (daerah III). Hal ini berarti bahwa penggunaan faktor. mempunyai nilai elastisitas produksi lebih besar dari satu.

.….. sehingga daerah ini disebut juga sebagai daerah irrasional. Daerah Produksi III mempunyai elastisitas produksi lebih kecil dari nol. artinya setiap penambahan faktor.optimal.i yang digunakan dalam proses produksi TFC = Total Fixed Cost (Biaya Tetap Total) Dengan demikian untuk memenuhi syarat tercapainya keuntungan maksimum. Efisiensi Ekonomi Usahatani akan mencapai efisiensi ekonomi jika tercapai keuntungan maksimum. Syarat untuk mencapai keuntungan maksimum adalah turunan pertama dari fungsi keuntungan terhadap masing.faktor produksi yang sudah tidak efisien.X i + TFC  ……………………………………….2)  i =1  Keterangan : π = pendapatan usahatani Py = harga per unit produksi i = 1. (3. Fungsi keuntungan yang diperoleh usahatani dapat dinyatakan sebagai berikut : n  π = Py . maka turunan pertama dari fungsi keuntungan adalah : ∂π ∂Y = Py − Px i = 0 ∂X i ∂X i = ∂Y − Px i = 0 ∂X i .3.masing faktor produksi sama dengan nol (Doll dan Orazem. 3.faktor produksi akan menyebabkan penurunan jumlah produksi yang dihasilkan. Daerah produksi ini mencerminkan pemakaian faktor.n Y = hasil produksi Px i = harga pembelian faktor produksi ke –i Xi = jumlah faktor produksi ke. Oleh karena itu daerah II disebut sebagai daerah rasional (rational region atau rational stage of production).2.5. 1984).Y − ∑ Px i .

4) Dengan mengetahui ∂Y ∂X i sebagai Marginal Product (MPxi) faktor produksi ke-i. Penambahan penggunaan faktor produksi berhenti ketika Py.i dan jumlah output yang dihasilkan.6) . Pxi keterangan : Py.3) ∂X i Dari persamaan tersebut dapat diketahui bahwa level penggunaan faktor produksi ke-i yang efisien merupakan fungsi dari harga output. maka persamaan diatas menjadi : Py.MP x i ) harus lebih besar daripada tambahan biaya yang dikeluarkan untuk pembelian faktor produksi ke.5) Sesuai dengan prinsip keseimbangan marjinal (equi-marginal principle). Y) ……………………………………………………… (3.MP x i = Nilai Produk Marjinal (NPM) faktor produksi ke-i P xi = Biaya Korbanan Marjinal (BKM) faktor produksi ke-i (3..i tersebut (P x i ). bahwa untuk mencapai keuntungan maksimal. Px i . Pada saat inilah keuntungan maksimal tercapai. atau secara matematis dapat dituliskan : Xi = f (Py .MPx i = Pxi ……………………………………………………… (3.MP x i = P x i .i (Py.MPxi = 1 ………………………………………………………. Secara matematis keuntungan maksimum dari penggunaan faktor produksi ke-i dinyatakan sebagai berikut : Py.. (3.Py ∂Y = Px i …………………………………………………………. harga faktor produksi ke. tambahan nilai produksi akibat tambahan penggunaan faktor produksi ke.

7) Dengan asumsi Py dan P x i merupakan nilai yang konstan. Px1 Px2 Px3 Pxn (3. maka hanya ∂Y yang mengalami perubahan .MP x i > P x i .. .Artinya keuntungan maksimum tercapai pada saat tambahan nilai produksi akibat tambahan penggunaan faktor produksi ke-i harus sama dengan biaya korbanan marjinal atas faktor produksi ke-i tersebut atau rasio keduanya sama dengan satu. Ketika Py. Jadi secara umum keuntungan maksimum dari penggunaan n faktor produksi akan diperoleh pada saat : PyMPx1 PyMPx2 PyMPx3 PyMPxn = = = . = = 1 ………………. maka penggunaan ∂X i faktor produksi harus ditambah agar tercapai keuntungan maksimum.MPxi < Pxi maka penggunaan faktor produksi harus dikurangi... Sebaliknya. jika Py.

Lokasi dan Waktu Penelitian PENELITIAN Pengumpulan data dilakukan dari bulan Mei hingga Juni 2005 sekitar satu bulan setelah musim panen padi ladang di lokasi penelitian.IV.1. . Kabupaten Karawang. Kecamatan Teluk Jambe. Pemilihan lokasi dilakukan secara purposive yaitu di Desa Wanajaya. Desa Wanajaya Alasan memilih desa tempat sebagai pengambilan data adalah karena desa tersebut memiliki luas lahan padi ladang yang paling besar diantara desa-desa lain di Kecamatan Teluk Jambe. METODE 4.

2. selain itu juga untuk mengetahui tingkat efisiensi penggunaan faktor-faktor produksi agar usahatani berada pada skala optimal. petani penggarap dan petani pemilik penggarap. 4. Pemilihan petani contoh . Penelitian ini didesain untuk mengetahui tingkat pendapatan usahatani padi di lahan kering. Jumlah petani contoh sebanyak 40 orang yang merupakan petani pemilik. Metode Pengumpulan Data dan Penentuan Sampel Data yang digunakan dalam penelitian ini meliputi data primer dan sekunder . Data primer yang dikumpulkan dengan melakukan pengamatan dan wawancara langsung dengan petani responden dengan mengajukan pertanyaan yang dibuat dalam bentuk kuesioner yang telah dipersiapkan sebelumnya.Pemilihan Kecamatan Teluk Jambe didasarkan pada pertimbangan bahwa kecamatan penghasil ini padi merupakan ladang di salah satu Kabupaten Karawang.

dilaksanakan pula wawancara tidak terstruktur dengan sejumlah perangkat desa. Analisis kualitatif digunakan untuk mengetahui gambaran umum usahatani padi dan keragaan usahatani padi lahan kering di Desa Wanajaya.3. Kecamatan Teluk Jambe. karya ilmiah yang berkaitan dengan masalah penelitian dan melalui internet. Metode Analisis Data Analisis data dilakukan secara kualitatif dan kuantitatif. analisis fungsi produksi dan analisis efisiensi. laporan penelitian. Kabupaten Karawang.1. Di samping wawancara terstruktur. dan Pemerintah Daerah di lokasi penelitian. Analisis Pendapatan Usahatani . Balai Penelitian Tanaman Pangan.3. Selain itu data sekunder juga diperoleh dari Biro Pusat Statistik. 4.faktor yang mempengaruhi produksi dan tingkat efisiensi usahatani padi ladang dengan menggunakan analisis pendapatan usahatani. majalah. pengolahan dan penyusunan dalam bentuk tabulasi untuk selanjutnya dianalisis. Sedangkan analisis kuantitatif dilakukan untuk mengetahui faktor. Data yang telah terkumpul kemudian mengalami tahapan pengeditan. artikel. 4. Departemen Pertanian. Data sekunder diperoleh dengan cara penelusuran kepustakaan buku.dilakukan secara acak sederhana (simple random) dari suatu daftar petani yang telah dipersiapkan sebelumnya. Pengolahan data dilakukan dengan menggunakan program Microsoft Excel dan Minitab 13 for Windows. Pusat Penelitian dan Pengembangan Sosial Ekonomi Pertanian. anggota Badan Perwakilan Desa (BPD) serta kelembagaan lain di desa.

Untuk menganalisis pendapatan usahatani dilakukan pencatatan terhadap seluruh penerimaan dan pengeluaran usahatani dalam satu musim tanam. NFI = NP . yaitu biaya tunai dan biaya yang diperhitungkan.1) (4. Data pengeluaran biaya dikelompokkan menjadi dua bagian. Dalam analisis ini data penerimaan usahatani dan pengeluaran usahatani dibandingkan ke dalam satu rasio.BT ……………………………………………………. Kemudian dilakukan penghitungan pendapatan usahatani atas biaya tunai atau pendapatan kotor usahatani dan penghitungan pendapatan usahatani atas biaya total atau pendapatan bersih..3. 4. Analisis Imbangan Penerimaan dan Biaya (R/C Ratio Analysis) Analisis imbangan penerimaan dan biaya (R/C ratio analysis) digunakan sebagai alat untuk mengukur kriteria kelayakan dari kegiatan usahatani yang dilakukan.3) dimana Pendapatan Bersih Usahatani (NFI) merupakan hasil pengurangan biaya diperhitungkan dari Pendapatan Kotor Usahatani (GFI). yaitu dibedakan menjadi R/C atas biaya tunai dan R/C atas biaya total. . Keterangan : GFI = Gross Farm Income (Pendapatan kotor usahatani) NFI = Net Farm Income (Pendapatan bersih usahatani) NP = Nilai Produksi BT = Biaya Tunai Usahatani BD = Biaya yang Diperhitungkan (4. (4.2) atau bisa juga ditulis secara singkat sebagai berikut : NFI = GFI – BD ………………………………………………….(BT + BD) …………………………………………….2. Penghitungan pendapatan usahatani dirumuskan secara matematis seperti pada persamaan berikut : GFI = NP . Analisis imbangan penerimaan dan biaya dilakukan berdasarkan jenis biaya yang dikeluarkan..

.3…...masing input sehingga informasi yang diperoleh dapat digunakan untuk melakukan upaya agar setiap penambahan input dapat menghasilkan tambahan output yang lebih besar.. Pendugaan Fungsi Produksi Analisis fungsi produksi adalah analisis yang menjelaskan hubungan antara produksi dengan faktor... n = bilangan natural (e = 2. .Secara matematis R/C ratio dapat dirumuskan dalam persamaan sebagai berikut : R/C ratio = Keterangan : TR = Total Revenue (Total Penerimaan) TC = Total Cost (Total Biaya) TR TC ………………………………………………………… (4.. Fungsi produksi Cobb-Douglas dapat dirumuskan sebagai berikut : Y = bo X 1 X 2 X 3 X 4 .2.3. Fungsi produksi yang dipakai untuk menjelaskan parameter Y dan X adalah analisis fungsi Cobb-Douglas....faktor produksi yang mempengaruhinya. Penggunaan fungsi Cobb-Douglas adalah dalam keadaan The Law of Diminishing Return untuk masing..7182) = unsur sisa (galat) Penggunaan fungsi ini didasarkan pada pertimbangan-pertimbangan sebagai berikut : 1..4) 4. X n e u …………………..3. dimana i =1...5) Keterangan : Y b0 bi Xi e u = produksi = intersep = koefisien regresi penduga variable ke-i = jenis faktor produksi ke-i. b1 b2 b3 b4 bn (4.

2. Menurut Gujarati (1978). maka proses produksi berada pada skala yang menurun.nilai sisa pada setiap pengamatan. Parameter penduga (bi ) dapat langsung menunjukkan elastisitas produksi dari input yang bersangkutan (Xi). Bentuk fungsi Cobb-Douglas dapat mengurangi kemungkinan terjadinya masalah heterokedastisitas. 6. Fungsi produksi Cobb-Douglas merupakan fungsi produksi yang sering digunakan dalam penelitian optimalisasi produksi usahatani.faktor produksi dan produksi digunakan analisis regresi dengan metode Ordinary Least Square (OLS). 3. metode ini dapat dipakai jika asumsi-asumsi sebagai berikut : 1. 4. maka proses produksi terjadi pada skala yang menaik. Bila jumlah bi < 1. Untuk menganalisis hubungan antara faktor. Perhitungan fungsi produksi Cobb-Douglas sederhana karena dapat ditransfer dengan mudah ke dalam bentuk linier. Tidak ada korelasi berangkai/autokorelasi antara nilai.masing faktor produksi yang diduga merupakan pendugaan skala usaha (return to scale). 4. Nilai rata-rata dari unsur sisa sama dengan nol. Variasi unsur sisa menyebar normal. Homoskedastisitas atau ragam merupakan bilangan tetap. Bila jumlah bi = 1. 2. 5. maka proses produksi terjadi pada skala yang konstan. Dan bila jumlah bi > 1. 3. Jumlah elastisitas dari masing. .

moluskisida atau herbisida untuk memudahkan pencacatan satuan pestisida tersebut yang berbeda. secara teori bila jumlah benih yang digunakan bertambah sebesar satu persen maka akan meningkatkan produksi padi sebesar nilai elastisitasnya (ceteris paribus). Benih diduga berpengaruh positif terhadap produksi padi. Pestisida diduga berpengaruh positif terhadap produksi padi. 2. Pupuk Penggunaan pupuk dalam satu musim tanam diukur dalam satuan kilogram (kg). Tidak ada korelasi diri (multikolinearitas). Pestisida Penggunaan pestisida tidak dibedakan berdasarkan jenisnya seperti insektisida. secara teori bila jumlah pupuk yang digunakan meningkat sebesar satu pesen maka akan meningkatkan produksi padi sebesar nilai elastisitasnya (ceteris paribus). Variabel-variabel dugaan yang digunakan dalam menganalisis fungsi produksi dan penggunaan faktor-faktor produksi usahatani padi adalah sebagai berikut : 1. secara teori bila jumlah pestisida yang digunakan . rodentisida.5. Pupuk diduga berpengaruh positif terhadap produksi padi. 6. Tidak ada hubungan linier sempurna antara peubah bebas. Benih Penggunaan benih dalam satu musim tanam diukur dalam satuan kilogram (kg). 3. Penggunaan pestisida dalam satu musim tanam diukur dalam satuan liter (l).

secara teori bila jumlah penggunaan tenaga kerja dalam keluarga ditingkatkan sebesar satu persen maka akan meningkatkan produksi padi sebesar elastisitasnya (ceteris paribus). Tenaga kerja luar keluarga diduga berpengaruh positif terhadap produksi padi. secara teori bila jumlah penggunaan tenaga kerja luar keluarga ditingkatkan sebesar satu persen maka akan meningkatkan produksi padi sebesar elastisitasnya (ceteris paribus). Faktor.langkah dalam menganalisis fungsi produksi adalah sebagai berikut : 1. 5.faktor . Tenaga Kerja Dalam Keluarga Penggunaan tenaga kerja dalam keluarga diukur dalam satuan hari orang kerja (HOK). Tenaga Kerja Luar Keluarga Penggunaan tenaga kerja luar keluarga diukur dalam satuan hari orang kerja (HOK). Tenaga kerja dalam keluarga diduga berpengaruh positif terhadap produksi padi.faktor produksi yang digunakan dalam proses produksi padi di lahan kering. Adapun langkah.faktor produksi optimal.meningkat sebesar satu persen maka akan meningkatan produksi padi sebesar nilai elastisitasnya (ceteris paribus). Dalam analisis ini dilakukan analisis fungsi produksi dan analisis regresi untuk mengetahui pengaruh faktor-faktor produksi terhadap produksi padi di lahan kering. 4. Analisis fungsi produksi digunakan untuk melihat tingkat penggunaan faktor. Identifikasi variabel bebas dan variabel terikat Identifikasi variabel dilakukan dengan mendaftar faktor.

tenaga kerja dalam keluarga. Dari analisis dengan OLS (Ordinary Least Square) ini diperoleh nilai P (P-value) untuk uji t dan uji F. b 7 = koefisien regresi masing-masing variabel 3. Faktor-faktor produksi ini merupakan variabel bebas yang akan diuji pengaruhnya terhadap variabel terikat yaitu hasil produksi. b 5 . P-value untuk uji t digunakan untuk mengetahui secara statistik apakah masingmasing variabel bebas ( X i ) secara terpisah berpengaruh nyata terhadap variabel terikat (Y). juga dapat diketahui nilai R 2 . pupuk. pestisida. b 4 . Analisis regresi Analisis regresi bertujuan untuk mengetahui hubungan antara variabel terikat dengan variabel bebas.produksi tersebut adalah benih.6) Keterangan : Y = Hasil produksi padi lahan kering (Kilogram) X 1 = Benih (Kilogram) X 2 = Pupuk (Kilogram) X 3 = Pestisida (Liter) X 4 = Tenaga Kerja Dalam Keluarga (HOK) X 5 = Tenaga Kerja Luar Keluarga (HOK) b 0 = Variabel intersep u = Unsur galat b1 . b 2 . yaitu : Y = b0 X 1 X 2 X 3 X 4 X 5b5 b1 b2 b3 b4 Model fungsi produksi ditransformasikan ke dalam bentuk linier logamatrik untuk menduga fungsi produksi. 2. Pendugaan fungsi produksi Dalam analisis fungsi produksi digunakan pendekatan Cobb-Douglas. (4. LnY = ln b0 + b1 ln X 1 + b2 ln X 2 + b3 ln X 3 + b4 ln X 4 + b5 ln X 5 + u ……. b 3 . Apabila P-value untuk uji t lebih kecil daripada nilai α yang . b 6 . dan tenaga kerja luar keluarga.

X i + TFC  ……………………………………. tetapi sebaliknya jika P-value untuk uji t lebih besar daripada nilai α yang ditentukan maka variabel bebas dugaan berpengaruh nyata terhadap variabel terikat.…. Syarat untuk mencapai keuntungan maksimum adalah turunan pertama dari fungsi keuntungan terhadap masing.7) .n (4.  i=1  Keterangan : π = pendapatan usahatani Py = harga per unit produksi Y = hasil produksi i = 1. 4. Jika P-value untuk uji F lebih kecil daripada nilai α yang ditentukan (selang kepercayaan tertentu) maka variabel bebas dugaan berpengaruh nyata terhadap variabel terikat..4.Y − ∑ Pxi .ditentukan (selang kepercayaan tertentu) maka variabel bebas dugaan berpengaruh nyata terhadap variabel terikat..2.masing faktor produksi sama dengan nol (Doll dan Orazem. tetapi sebaliknya jika P-value untuk uji F lebih besar daripada nilai α yang ditentukan maka variabel bebas dugaan tidak berpengaruh nyata terhadap variabel terikat. Sedangkan R 2 merupakan koefisien determinasi yang menunjukkan keragaman model produksi dilapangan yang dapat diterangkan oleh model terpilih. 1984). Fungsi keuntungan yang diperoleh usahatani dapat dinyatakan sebagai berikut : n  π = Py. Analisis Efisiensi Ekonomi Usahatani akan mencapai efisiensi ekonomi jika tercapai keuntungan maksimum.. P-value untuk uji F digunakan untuk mengetahui kelayakan model dari parameter dan fungsi produksi atau untuk mengetahui apakah variabel bebas ( X i ) secara bersamaan berpengaruh nyata terhadap variabel terikat.3.3...

. tambahan nilai produksi akibat tambahan penggunaan faktor produksi ke.9) ∂Y sebagai Marginal Product (MP) faktor produksi ∂X i ke-i. bahwa untuk mencapai keuntungan maksimal. maka turunan pertama dari fungsi keuntungan adalah : ∂π ∂Y = Py − Pxi = 0 ∂X i ∂X i = ∂Y − Pxi = 0 ∂X i Py ∂Y = Pxi ……………………………………………………. (4.MPxi = Pxi ………………………………………………………… (4.8) ∂X i Dari persamaan tersebut dapat diketahui bahwa level penggunaan faktor produksi ke-i yang efisien merupakan fungsi dari harga output.Pxi = harga pembelian faktor produksi ke-i X i = jumlah faktor produksi ke-i yang digunakan dalam proses produksi TFC = Total Fixed Cost (Biaya Tetap Total) Dengan demikian untuk memenuhi syarat tercapainya keuntungan maksimum. Penambahan penggunaan faktor produksi berhenti ketika VMP xi =MFC xi . harga faktor produksi ke-i dan jumlah output yang dihasilkan. Pxi .i (PyMP xi ) harus lebih besar daripada tambahan biaya yang dikeluarkan untuk pembelian faktor produksi ke-i tersebut (P xi ). maka persamaan diatas menjadi : Py. atau secara matematis dapat dituliskan : X i = f ( Py. Y ) ……………………………………………………… Dengan mengetahui (4. .10) Sesuai dengan prinsip keseimbangan marjinal (equi-marginal principle).

12) Dengan asumsi Py dan P xi merupakan nilai yang konstan... satuannya orang. Px1 Px2 Px3 Pxn (4.. Ketika PyMP xi > P xi . = = 1 …………………. maka hanya ∂Y yang mengalami perubahan. Secara matematis keuntungan maksimum dari penggunaan faktor produksi ke-i dinyatakan sebagai berikut : PyMPx i = 1 …………………………………………………………. Definisi Operasional Untuk menghindari ketidaksamaan pandangan dalam pengertian. Batasan-batasan tersebut meliputi : 1.4. maka agar diperoleh ∂X i tingkat keuntungan maksimum penggunaan faktor produksi harus ditingkatkan. Petani padi di lahan kering adalah petani yang melaksanakan budidaya pada areal tanam berupa ladang (lahan kering/upland). maka terdapat beberapa hal yang perlu diberi batasan sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai dari penelitian.. Sebaliknya.Pada saat inilah keuntungan maksimal tercapai. jika PyMPx i < Px i maka penggunaan faktor produksi harus dikurangi.11) Artinya keuntungan maksimum tercapai pada saat tambahan nilai produksi akibat tambahan penggunaan faktor produksi ke-i harus sama dengan biaya korbanan marjinal atas faktor produksi ke-i tersebut atau rasio keduanya sama dengan satu. 4. . Jadi secara umum keuntungan maksimum dari penggunaan n faktor produksi akan diperoleh pada saat : PyMPx1 PyMPx2 PyMPx3 PyMPxn = = = . Px i keterangan : PyMP xi = Nilai Produk Marjinal (NPM) faktor produksi ke-i P xi = Biaya Korbanan Marjinal (BKM) faktor produksi ke-i (4.

6. 3. satuannya kilogram. dan lain. benih. 5. 4. Biaya tunai adalah besarnya nilai uang tunai yang dikeluarkan petani untuk membeli pupuk. 10. Produktivitas adalah hasil bagi antara jumlah panen dengan luas lahan dengan satuannya Ton per Hektar. yaitu tenaga kerja dalam keluarga (TKDK) dan tenaga kerja luar keluarga (TKLK). pestisida. . Jumlah produksi adalah jumlah panen padi ladang yang dihasilkan dari luas lahan. sewa traktor/ternak. Satuannya Rupiah. satuannya Hektar (ha). Biaya yang diperhitungkan adalah pengeluaran untuk input milik sendiri meliputi tenaga kerja dalam keluarga dan penyusutan.2. 9. Satuannya orang.lain. Tenaga kerja ini dibedakan menjadi dua. Satuannya orang. Tenaga kerja adalah tenaga kerja yang digunakan dalam proses produksi. Biaya usahatani total adalah merupakan penjumlahan antara biaya tunai dan biaya yang diperhitungkan . Penyakap adalah petani yang menggarap lahan milik orang lain denga n pembayaran sewanya berdasarkan bagi hasil. Seluruh tenaga kerja disetarakan dengan ukuran Hari Orang Kerja (HOK). 7. Pemilik penggarap adalah petani yang menggarap lahan miliknya sendiri. 8. Untuk petani penyakap maka komponen biaya tunainya ditambah dengan biaya sakap. Satuannya adalah Rupiah. upah tenaga kerja luar keluarga. Luas lahan garapan areal usahatani padi ladang merupakan lahan yang digunakan untuk menanam padi ladang. Satuannya adalah Rupiah.

Penerimaan (nilai produksi) adalah nilai yang diperoleh dari hasil kali antara jumlah produksi dengan dengan harga jualnya.11. 13. Satuannya adalah Rupiah. Satuannya Rupiah. Pendapatan kotor usahatani adalah selisih antara penerimaan usahatani dan biaya tunai usahatani. Satuannya Rupiah. Pendapatan bersih usahatani adalah selisih antara penerimaan usahatani dengan biaya usahatani total (biaya tunai dan diperhitungkan). . 12.

Produktivitas Padi Ladang • Pupuk • Benih • Pestisida • Tenaga Kerja dalam Rumah Tangga Rumah Tangga • Tenaga Kerja Luar Analisis Fungsi Produksi Cobb-Douglas Elastisitas Faktor-faktor Produksi Analisis Pendapatan Analisis R/C Analisis Efisiensi Ekonomis Faktor-faktor Produksi Kesimpulan Gambar 2. Bagan Prosedur Analisis Pendapatan dan Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Produksi Cabang Usahatani Padi Ladang .

19 100.07 0.00 .92 0.20 0.19 %) lahan terlantar. Jarak desa Wanajaya dengan ibukota kecamatan sekitar 11 kilometer dengan waktu tempuh selama kurang lebih satu jam.75 1.02 0. Penggunaan Lahan di Desa Wanajaya Tahun 2004 Penggunaan Lahan Sawah irigasi teknis Sawah irigasi 1/2 teknis Sawah tadah hujan Tegalan/Ladang Pemukiman umum Pasar Tempat ibadah Kuburan/makam Tempat rekreasi dan olahraga Perkantoran pemerintah Sekolah/lainnya Lahan Terlantar Total Sumber : Profil Desa Wanajaya.065. Secara keseluruhan luas wilayah Desa Wanajaya adalah sekitar 1.07 Persentase 1.V. Jawa Barat.00 0.12 86.23 918. Luas (Ha) 18. Tabel 5.69 0. Desa Taman Mekar di sebelah selatan. Batas-batas administrasi Desa Wanajaya adalah Desa Wanakerta di sebelah utara.09 0.50 38.809 %) lahan yang telah digunakan dan sekitar 918 hektar merupakan (86. Kabupaten Karawang.17 0. GAMBARAN UMUM DAERAH PENELITIAN 5.07 hektar yang terdiri atas 147.61 13.02 0.00 1.1. dan Kehutanan di sebelah timur. Gambaran secara rinci mengenai luas Desa Wanajaya berdasarkan penggunaan lahan ditunjukkan dalam Tabel 5.78 0.02 3. Sedangkan jarak ke ibukota kabupaten sekitar 13 kilometer dengan waktu tempuh kurang lebih selama satu setengah jam. Gambaran Umum Lokasi Penelitian Desa Wanajaya termasuk dalam wilayah Kecamatan Teluk Jambe.58 4.80 21. Kali Cibeet Bekasi di sebelah barat.065.30 2.07 hektar (13.17 1. 2004.74 1.10 50.

Desa Wanajaya berada pada ketinggian sekitar 700 meter di atas permukaan laut dengan kemiringan lahan 30 sampai 40 persen yang merupakan daerah perbukitan. Jumlah bulan basah rata-rata tujuh bulan.5 mm per tahun berdasarkan data tahun 2002 dan termasuk dalam kelas iklim B atau daerah beriklim basah dengan vegetasi hujan tropis berdasarkan standar Schmidt dan Ferguson (BAPPEDA Kabupaten Karawang.00 1065. bulan lembab rata-rata dua bulan. 2004. Desa Wanajaya terdiri atas daerah dataran seluas sekitar 187.56 82. 2003). disimpulkan bahwa tingkat kesuburan tanah di Desa Wanajaya termasuk dalam golongan rendah dan memiliki ciri-ciri bertekstur lempung.00 Dari kondisi geografis.07 Persentase 17.44 100. Curah hujan rata-rata sekitar 1454. Topografi atau Bentang Lahan Desa Wanajaya Tahun 2004 Jenis daratan Dataran Perbukitan/pegunungan Total Sumber : Profil Desa Wanajaya. Luas (Ha) 187.07 878. Tabel 6. denga n kapasitas tukar kation (KTK) dan kejenuhan basa (KB) yang tergolong sedang. dan solum dalam. Tanah di Desa Wanajaya memiliki pH sekitar empat sampai lima. Jumlah penduduk desa Wanajaya hingga Januari 2005 tercatat sebanyak 4024 jiwa (1237 kepala keluarga) dan komposisi penduduk tergolong merata antara laki.Secara umum topografi Desa Wanajaya sebagian besar merupakan daerah perbukitan.laki dan perempuan dimana penduduk dengan jenis kelamin laki. Berdasarkan ketiga indikator kesuburan tanah tersebut.laki .07 hektar dan daerah perbukitan sekitar 878 hektar seperti ditunjukkan dalam Tabel 6 berikut. dan jumlah bulan kering rata-rata tiga bulan dengan suhu rata-rata sekitar 27°C dan intensitas penyinaran matahari sekitar 66 persen. struktur gumpal atau keras.

Tabel 7.91 4.39 %) angkatan kerja sehingga dari segi jumlah angkatan kerja Desa Wanajaya tergolo ng cukup potensial.26 19. Persentase 22.65 100.23 %) masih bekerja di bidang pertanian baik sebagai petani ataupun buruh tani. Karakteristik Penduduk Desa Wanajaya Berdasarkan Kelompok Umur Tahun 2005 Kelompok Umur Jumlah (Tahun) (orang) 0-9 910 10 . (1997) dalam BAPPEDA Kabupaten Karawang (2003).34 6.48 %).00 Dari segi mata pencahariannya.024 Sumber : Monogafi Desa Wanajaya. Kelompok penduduk lain yang proporsinya tergolong cukup besar adalah kelompok penduduk yang bermata pencaharian sebagai buruh swasta yaitu .66 16. Penduduk yang bermata pencaharian sebagai buruh tani sebanyak 748 orang (18.59 %) sementara penduduk yang bermata pencaharian sebagai petani (pemilik) sebanyak 1595 orang (39.58 10. Berdasarkan Sensus Penduduk tahun 1971 Tarigan JJ.19 775 20 – 29 791 30 – 39 667 40 – 49 416 50 – 59 278 = 59 187 Total 4. dan penduduk jenis kelamin perempuan berjumlah 1991 orang (49.64 %) dan sebagian kecil penduduk atau sebanyak 125 orang (3. penduduk Desa Wanajaya cukup beragam tetapi sebagian besar penduduk desa atau sebanyak 2343 orang (58.52 %).11 %) bekerja sebagai peternak. 2004.61 19. Dalam Tabel 7 dapat dilihat bahwa dari seluruh penduduk di Desa Wanajaya terdapat 3114 orang (77. batas usia 10 tahun ke atas digunakan untuk menentukan apakah seseorang termasuk dalam angkatan kerja atau bukan.berjumlah 2033 orang (50.

00 Dari segi pendidikan Desa Wanajaya tergolong rendah karena sebagia n besar penduduk atau sekitar 80 persen penduduk hanya mengikuti pendidikan formal hingga tamat sekolah dasar. Sisanya sekitar 20 persen dari penduduk menyelesaikan pendidikan hingga tamat sekolah lanjutan pertama atau sederajat dan memenuhi program pendidikan wajib 9 tahun yang digerakkan pemerintah.20 4.06 %).64 18. Penduduk lainnya bekerja di berbagai bidang diantaranya PNS. Karakteristik Penduduk Desa Wanajaya Berdasarkan Mata Pencaharian Tahun 2005 Jenis Mata Pencaharian Jumlah (orang) Petani 1595 Buruh Tani 748 Buruh/swasta 879 PNS 75 Pengrajin 8 Pedagang 175 Peternak 125 Montir 3 Dokter 1 Bidan Desa 2 Mantri Kesehatan 2 Polisi 6 Pengangguran 405 Total 4024 Sumber Monografi Desa Wanajaya.35 3.sebanyak 879 orang (21. Tabel 8.06 100. Gambaran penduduk Desa Wanajaya berdasarkan mata pencaharian disajikan dalam Tabel 8.07 0.59 21. Persentase 39. mantri kesehatan. Gambaran secara rinci tentang penduduk Desa Wanajaya berdasarkan tingkat pendidikan ditunjukkan dalam Tabel 9.84 1. dokter. TNI/POLRI.02 0. pengrajin. montir. 2004. pedagang.05 0. dan kelompok yang tergolo ng berstatus sebagai pengangguran sebanyak 405 orang (10.84 %) karena lokasi Desa Wanajaya masih dekat dengan kawasan industri Kabupaten Karawang. .11 0.86 0.05 0. Bidan desa.15 10.

keputusan bertani padi ladang.49 44.25 100.50 100. pengalaman berusahatani padi gogo atau padi ladang. Tabel 10. status usahatani padi ladang. status dan luas lahan garapan.50 32.00 . Umur Petani Tenaga kerja produktif umumnya berada pada selang 25 hingga 40 tahun. Jumlah (orang) 502 30 905 1785 455 332 2 3 5 5 4024 Persentase 12.24 5.25 0. Karakteristik petani responden berdasarkan umur ditunjukkan pada Tabel 10.07 0.2. Karakteristik Petani Responden Berdasarkan Umur Kelompok Umur (tahun) 20-30 31-45 46-50 51-60 > 60 Total Jumlah Responden (orang) 5 13 6 1 15 40 Persentase 12. jumlah anggota keluarga. Karakteristik Penduduk Desa Wanajaya Berdasarkan Tingkat Pendidikan Tahun 2004 Tingkat Pendidikan Belum Sekolah Usia 7-45 thn tidak pernah sekolah Pernah sekolah SD tetapi tidak tamat Tamat SD/sederajat SLTP/sederajat SLTA/sederajat D-1 D-2 D-3 S-1 Total Sumber : Monografi desa Wanajaya.48 0. pekerjaan sampingan. dan kondisi tempat tinggal. Karakteristik petani responden selengkapnya sebagai berikut : 1.31 8.50 37.Tabel 9. Karakteristik Petani Responden Karakteristik petani responden akan diuraikan berdasarkan umur petani. tingkat pendidikan. 2004.05 0.24 0.36 11.75 22.00 2.50 15. sedangkan jika kurang atau lebih dari selang umur tersebut akan tergolong sebagai tenaga kerja kurang produktif tetapi masih termasuk dalam usia kerja.

maka proses adopsi teknologi akan semakin cepat.00 . Karakteristik petani responden berdasarkan tingkat pendidikan selengkapnya disajikan dalam Tabel 11. Hanya satu orang diantara petani responden yang menyelesaikan pendidikan SLTP hingga tamat.50 2. Adapun tujuan teknologi dan inovasi adalah untuk memperbaiki usahatani baik dari segi produksi atau produktivitas. sebagian besar responden terdiri atas petani dari kelompok umur di atas 60 tahun atau yang sudah berusia lanjut yaitu sebanyak 15 orang atau 37.00 100. Sedangkan petani responden yang paling sedikit berasal dari kelompok umur antara 51 hingga 60 yaitu hanya sebanyak 1 orang (2.5 %). 2.00 22.00 45. Berdasarkan tingkat pendidikan.5 %). Petani responden lainnya yang juga jumlahnya tergolong sedikit berasal dari kelompok umur 20 hingga 30 tahun yang berjumlah 5 orang (12. Karakteristik Petani Responden Berdasarkan Tingkat Pendidikan Tingkat Pendidikan Tidak Pernah Sekolah Tidak Tamat SD Tamat SD Tamat SLTP Tamat SLTA Total Jumlah Responden (Orang) 12 18 9 1 0 40 Persentase 30. petani responden lebih banyak terkonsentrasi pada kelompok tidak tamat SD yaitu sebanyak 18 orang (45 %) dan kelompok yang tidak pernah mengikuti sekolah formal sama sekali yaitu sebanyak 12 orang (30 %).50 0. Pada umumnya. Tingkat Pendidikan Tingkat pendidikan akan berpengaruh terhadap tingkat adopsi teknologi dan inovasi yang sedang berkembang. semakin tinggi tingkat pendidikan.Berdasarkan umur. Tabel 11.5 persen dari keseluruhan responden.

Petani responden berdasarkan status pemilikan lahan dikelompokkan atas petani pemilik dan petani penggarap.5 sampai 1 hektar yaitu sebanyak 25 orang (62. Petani responden yang memiliki luas lahan garapan kurang dari 0. Status dan Luas Lahan Garapan Status lahan garapan berpengaruh kepada produktivitas usahatani. Luas lahan garapan petani responden bervariasi mulai dari petani yang memiliki luas lahan garapan kurang dari 0.5 %).3. Sementara luas lahan garapan berpengaruh positif terhadap produktivitas usahatani dimana usahatani dengan luas lahan yang lebih besar akan memiliki produktivitas yang relatif lebih tinggi daripada usahatani dengan luas lahan yang lebih kecil.5 %). Sedangkan petani yang memiliki luas lahan garapan lebih dari satu hektar hanya sebanyak 7 orang (17. Lahan berstatus sewa menyebabkan petani penyewa akan lebih terpacu untuk selalu lebih efisien dalam mengelola lahan agar produktivitas lahan lebih tinggi. Hal ini disebabkan karena petani penyewa mempunyai kewajiban untuk memperhatikan nilai biaya sewa yang harus dibayar kepada pemilik lahan.5 hektar hingga petani yang memiliki luas lahan garapan lebih dari satu hektar. dan tidak ada diantara petani responden yang memiliki luas lahan garapan lebih dari 2 hektar. Sebagian besar petani responden memiliki luas lahan garapan antara 0.5 hektar sebanyak 8 orang (20 %). Data secara rinci . Sementara itu lahan yang berstatus milik send iri pada umumnya relatif kurang produktif daripada lahan yang berstatus sewa karena petani pemilik tidak pernah memperhitungkan biaya sewa lahan yang harus dikeluarkan. Semua petani responden merupakan petani pemilik karena petani responden menggarap lahan tanpa mengeluarkan biaya sewa lahan.

Hanya sebagian kecil dari petani responden yang memiliki pengalaman berusahatani padi ladang kurang dari 5 tahun yaitu sebanyak 2 orang (5 %).00 4. Demikian juga dengan berbagai masalah non teknis yang biasanya dihadapi dalam berusahatani sehingga pada akhirnya produktivitasnya akan lebih tinggi. Kelompok petani responden dengan jumlah yang paling banyak berdasarkan pengalaman berusahatani adalah kelompok petani yang telah berusahatani padi ladang selama lebih dari 20 tahun yaitu sebanyak 15 orang (37. dan kelompok antara 16 hingga 20 tahun sebanyak 8 orang (20 %).5 0. Pengalaman Berusahatani Padi Ladang Petani yang memiliki pengalaman berusahatani lebih lama akan lebih baik dan lebih matang dalam hal perencanaan usahatani karena lebih memahami berbagai aspek teknis dalam berusahatani. Gambaran petani berdasarkan pengalaman berusahatani secara rinci disajikan dalam Tabel 13.5 %).mengenai karakteristik petani responden berdasarkan luas lahan garapan disajikan dalam Tabel 12.00 62.00 100. Karakteristik Petani Responden Berdasarkan Luas Lahan Garapan Luas Lahan (ha) < 0. . Sedangkan petani yang lain selebihnya tersebar dalam kelompok dengan pengalaman berusahatani padi ladang antara 5 hingga 10 tahun sebanyak 6 orang (15 %). Kelompok antara 11 hingga 15 tahun sebanyak 9 orang (22.5 %).50 0. Tabel 12.5 .50 17.1 1–2 >2 Total Jumlah Responden (orang) 8 25 7 0 40 Persentase 20.

Tabel 13. . Petani yang memiliki usaha sampingan selain usahatani padi ladang memiliki usaha sampingan sebagai perangkat desa seperti Ketua RT ataupun sebagai Hansip atau Linmas (Perlindungan Masyarakat). Selain itu para petani juga berusahatani padi ladang karena tidak memiliki keahlian lain selain bertani dan juga karena kondisi alam seperti ketersediaan air. Jumlah anggota keluarga juga akan berpengaruh terhadap jumlah tanggungan keluarga atau tingkat konsumsi rumahtangga.00 22. dan ketersediaan modal yang hanya sesuai dengan komoditas padi ladang.00 15. Jumlah Anggota Keluarga Jumlah anggota keluarga akan mempengaruhi tingkat produktivitas kerja dikaitkan dengan jumlah penggunaan (sumbangan) tenaga kerja terhadap kegiatan produksi usahatani. Bertani padi ladang juga dilakukan secara turun temurun juga oleh karena faktor – faktor yang telah disebutkan di atas. 5.50 20.00 Seluruh petani responden menyatakan bahwa berusahatani padi ladang merupakan usaha pokok untuk memenuhi kebutuhan beras sehingga rumah tangga petani tidak perlu membeli beras untuk pangan sehari.hari.50 100. dan demikian juga sebaliknya. kesuburan tanah.00 37. Karakteristik Petani Responden Berdasarkan Pengalaman Usahatani Pengalaman Berusahatani Padi Ladang (Tahun) <5 5 -10 11-15 16-20 > 20 Total Jumlah Responden (Orang) 2 6 9 8 15 40 Persentase 5. Semakin banyak jumlah anggota keluarga maka semakin banyak pula tenaga kerja yang dapat digunakan dalam kegiatan produksi usahatani sehingga produktivitas akan lebih tinggi.

5 % ) dari keseluruhan responden yang memiliki anggota keluarga lebih dari 5 orang.00 6. dan hanya sebanyak 5 rumah tangga (12. Tabel 14. Petani yang bermatapencaharian utama usahatani padi ladang akan lebih memfokuskan pekerjaan atau sumberdayanya terhadap usahatani padi ladang. . sehingga petani akan lebih mengusahakan peningkatan produksi dan produktivitas padi ladang daripada komoditi yang menjadi usahatani sampingan. akan mempengaruhi sikap petani dalam menentukaan komoditi usahatani mana yang akan menjadi prioritas (fokus) yang mendapat perhatian atau alokasi sumberdaya yang relatif lebih besar dan yang lebih kecil.Sebagian besar responden atau sebanyak 27 rumahtangga (67.5 %) tergolong ke dalam kelompok dengan anggota keluarga antara 3 hingga 5 orang. Karakteristik Petani Responden Berdasarkan Jumlah Anggota Keluarga Kelompok < 3 orang 3 . sedangkan rata-rata rumah tangga petani responden memiliki sebanyak sekitar 4 orang.00 67.5 orang > 5 orang Total Jumlah Anggota RT 8 27 5 40 Persentase 20.50 100. dalam artian apakah usahatani padi ladang merupakan mata pencaharian utama atau sampingan. Gambaran secara rinci mengenai karakteristik petani responden berdasarkan jumlah anggita keluarga disajikan dalam Tabel 14. Seluruh petani yang menjadi responden menyatakan bahwa mereka memilih berusahatani padi ladang sebagai matapencaharian utama sehingga sumberdaya yang dimiliki petani dialokasikan terutama untuk usahatani padi ladang.50 12. Status Usahatani Padi Ladang Status Usahatani padi ladang.

sehingga tingkat pendapatan tersebut akan berpengaruh terhadap produktivitas usahatani. Sehingga sumber pendapatan yang menjadi penunjang usahatani padi ladang adalah dengan dengan berkebun tetapi umumnya tidak dikelola secara baik atau tidak diusahakan secara kontinyu. pola tanam. Pekerjaan Sampingan Jenis pekerjaan sampingan yang dimiliki petani akan berpengaruh terhadap pendapatan tambahan yang diperoleh rumahtangga. 8. dan teknik produksi lainnya petani bebas menentukan sendiri atau dipengaruhi adat istiadat setempat yang me ngikat kebebasan petani dalam mengambil keputusan usahatani. Teknologi dan inovasi bertujuan untuk meningkatkan produktivitas padi ladang dan taraf hidup petani. Segala usaha yang bertujuan untuk peningkatan produktivitas usahatani terutama .7. Keputusan yang diambil akan berpengaruh terhadap produktivitas dan kemajuan usahatani karena petani yang dinamis akan lebih mampu mengadopsi teknologi usahatani. Selain bertani. Keputusan Bertani Padi Ladang Keputusan bertani padi ladang dalam menentukan jenis. Keseluruhan petani responden menyatakan bahwa keputusan dalam berusahatani diambil sendiri dengan kebebasan berdasarkan pemahaman dan pengalaman petani dan tidak terikat dengan aturan atau adat istiadat setempat. Pendapatan dari pekerjaan sampingan akan digunakan sebagai tambahan modal dalam penyediaan sarana produksi yang lebih banyak sehingga hasil produksi yang diperoleh akan lebih besar. responden pada umumnya tidak memiliki pekerjaan sampingan untuk menambah pendapatan rumahtangga karena tidak mempunyai keahlian lain selain bertani.

semen atau ubin. Dinding atau tembok rumah petani responden dibedakan menjadi dinding permanen. Atap petani responden seluruhnya masih menggunakan atap rumbia. dan tanah. semi permanen. Semua petani responden memiliki tempat tinggal dengan lantai beralaskan tanah.padi ladang akan dilakukan petani sesuai dengan kemampuan sumberdayanya tanpa dipengaruhi faktor adat istiadat setempat. Kondisi tempat tinggal petani responden dilihat berdasarkan kondisi lantai dibedakan menjadi lantai keramik. dinding. Semua petani responden mempunyai tempat tinggal dengan dinding yang terbuat dari bilik bambu. kayu atau papan. 9. dan lantai rumah. dan bilik bambu. . Kondisi Tempat Tinggal Karakteristik petani responden berdasarkan kondisi tempat tinggal dilihat berdasarkan kondisi atap. papan/kayu. Dari semua petani responden juga tidak ada yang mempunyai fasilitas kamar mandi atau WC yang tergolong layak.

. kacang panjang. Berdasarkan pengalaman tersebut jika petani memperkirakan bahwa musim hujan akan mulai berlangsung secara merata pada bulan tertentu. Varietas jenis Ciherang juga dianggap sesuai dengan kondisi tanah dan iklim di Desa Wanajaya oleh para petani. ubi kayu. maka sekitar dua minggu hingga satu bulan sebelum bulan tersebut merupakan saat yang paling tepat untuk melakukan pengolahan lahan. Budidaya Padi Ladang Kegiatan berusahatani padi ladang di Desa Wanajaya dilakukan mulai dari kegiatan persiapan lahan dalam dengan mengolah lahan pada saat datangnya musim hujan sekitar bukan Oktober atau November tergantung perkiraan petani berdasarkan pengalamannya sampai dengan masa panen sekitar bulan Maret atau April. 6. Berdasarkan pengalaman petani di Desa Wanajaya varietas padi sawah jenis Ciherang dapat memberikan hasil yang relatif lebih tinggi jika ditanam di lahan kering daripada varietas pai ladang lainnya. Persiapan Lahan Penentuan waktu yang paling tepat untuk mengolah tanah dilakukan petani berdasarkan pengalaman dari masa tanam sebelumnya.VI.1.1. Jenis tanaman yang biasanya ditanam setelah padi ladang antara lain kacang tanah. Varietas padi ladang yang digunakan petani adalah jenis Ciherang yang sebenarnya merupakan varietas padi sawah.1. GAMBARAN USAHATANI PADI LADANG DI DESA WANAJAYA 6. Kegiatan berusahatani padi ladang di Desa Wanajaya umumnya dilakukan dengan sistem monokultur dan tanam gilir. dan tanaman palawija lainnya.

yaitu yang semula di atas atau di permukaan menjadi di bagian bawah dan demikian sebaliknya yang semula di bagian bawah menjadi di bagian atas. Bagian atas tanah juga diolah sedemikian rupa dengan menggunakan garpu atau garu sehingga lahan yang akan ditanami padi menjadi sedatar mungkin. Pengolahan ini dimaksudkan untuk mematikan dan membusukkan rerumputan yang semula terdapat di permukaan tanah dan kemudian akan terbenam ke bagian bawah tanah.Pengolahan tanah dilakukan petani responden dengan cara me ncangkul dengan menggunakan cangkul dan tidak ada petani responden yang menggunakan mesin atau ternak untuk membajak karena biaya penggunaan mesin pembajak (traktor) yang sangat tinggi dan karena tidak ada petani memiliki ternak pembajak sehingga kegiatan mencangkul tanah dilakukan hanya dengan mengandalkan tenaga manusia dari dalam maupun dari luar keluarga. Keadaaan ini dibiarkan selama dua minggu hingga rerumputan yang terbenam dianggap sudah membusuk atau melapuk dan racun-racun yang ada sudah menguap ke udara. Pembalikan tanah bagian bawah ke atas betujuan untuk menganginkan tanah memberikan kesempatan bagi tanah untuk melepaskan racun-racun yang sangat mungkin terbentuk dalam tanah. Pada pengolahan pertama. Kemudian sekitar dua minggu setelah pengolahan kedua. mencangkul dilakukan sedemikian rupa sehingga tanahnya terbalik. dilakukan pengolahan ketiga yang merupakan kegiatan . Pengolahan kedua merupakan penyisiran tanah yaitu mengusahakan agar tanah yang sebelumnya merupakan bongkahan atau gumpalan-gumpalan besar dipecahkan dan diremukkan hingga sekecil-kecilnya.

20 ribu per hari dengan jam kerja selama 6 jam. lahan dibuat berbentuk terasering untuk mencegah pengendapan air dan membentuk parit-parit untuk mencegah erosi agar kesuburan tanah tetap terjaga.1.mencangkul tanah yang sebelumnya telah diremukkan dan diratakan pada pengolahan pertama dan kedua. Pengolahan ketiga ini dilakukan sedemikian rupa sehingga arah dari pembajakan tanah pertama membentuk siku dengan arah dari pembajakan tanah kedua. 6.lubang tanam pada kedalaman sekitar 2 hingga 5 cm pada lahan yang sebelumnya sudah diolah terlebih dahulu.2. kemudian ke dalam lubang dimasukkan sekitar 5 sampai 7 bulir padi jenis Ciherang dengan jarak tanam pada umumnya kira-kira 20 X 20 sentimeter hingga 30 X 30 sentimeter. Penanaman Penanaman dilakukan dengan menggunakan alat tugal yang terbuat dari kayu untuk membuat lubang. sebab walaupun padi ladang sangat tergantung pada air hujan dalam pertumbuhannya namun air yang berlebihan juga akan menyebabkan kerusakan pada padi ladang. Untuk lahan yang permukaannya miring. Setelah bulir ditugalkan ke dalam tiap-tiap lubang tanam kemudian ditutup kembali dengan maksud agar bulir yang ditugalkan tidak diganggu oleh burung atau binatang-binatang perusak atau pemakan bulir lainnya. . terutama pada daerah berbukit. Biaya upah yang berlaku secara umum bagi para buruh tani untuk proses pengolahan tanah adalah Rp. Kemudian pada tahap pengolahan ini juga diusahakan sedemikian rupa sehingga bagian tengah dari lahan yang diolah sedikit lebih tinggi daripada bagian pinggir lahan dengan maksud agar bagian tengah lahan tidak tergenang air jika hujan turun secara berlebihan tetapi akan mengalir ke bagian pinggir lahan.

Pemupukan pertama dilakukan dengan menggunakan pupuk Urea dan TSP umumnya diberikan dengan cara disebarkan ke dalam lahan secara merata setelah penanaman benih. Penanaman padi ladang pada umumnya dilakukan dengan sistem padi-palawija atau padi-bera.3.Pola tanam yang umumnya digunakan petani responden adalah dengan sistem tanam gilir dan monokultur dengan menanam padi ladang kemudian menanam pisang di sekeliling lahan sebagai tanaman pencegah erosi. dan sebagian petani memberikan pupuk Urea dan TSP dalam bentuk campuran dengan cara mencampurkan pupuk dengan benih padi pada saat penanaman. dan agar laha n tetap subur dan hasil gabah tetap tinggi maka jerami juga harus dikembalikan ke lahan dan tanaman harus dipupuk (Hermawan. Sementara untuk meningkatkan efisiensi pemupukan pupuk . 2000). Pemupukan Pemupukan sangat perlu dilakukan untuk memperoleh hasil gabah yang maksimal terutama di lahan kering yang memiliki karakteristik marjinal. Pola tanam padi-bera yang dilakukan sebagian petani responden disebabkan modal awal untuk penanaman palawija setelah panen padi yang tidak mencukupi sehingga setelah masa panen padi ladang para petani lebih banyak yang memberakan lahannya untuk kemudian ditanami padi lagi pada musim hujan berikutnya. dan 75 kilogram K yang setara dengan 180 kilogram pupuk KCl per hektar per musim tanam. 10 kilogram P yang setara dengan 50 kilogram pupuk TSP.1. 6. Pertanaman padi ladang yang ideal yaitu yang mampu menghasilkan padi dalam bentuk gabah kering sebanyak 5 ton per hektar menyerap unsur h dari dalam ara tanah antara lain sebanyak 40 kilogram N yang setara dengan 90 kilogram pupuk Urea.

Pestisida jenis decis dibeli petani sekitar Rp.1. Pengobatan Pengobatan dilakukan untuk mencegah atau membasmi hama dan penyakit yang menyerang tanaman padi ladang. bahkan sebagian petani tidak menggunakan pupuk sama sekali.lain.4. Jenis pestisida yang banyak digunakan petani responden adalah decis untuk mencegah penyakit “kungkang” atau blast yang sering menyerang tanaman padi ladang di Desa Wanajaya. Pengobatan dilakukan dengan cara penyemprotan antara sekali hingga dua kali penyemprotan dalam satu masa tanam tergantung kemampuan keuangan petani. 1989). Jenis obat lain yang juga digunakan petani adalah sidametrin. trobos. Petani di Desa Wanajaya umumnya membeli pupuk dalam bentuk campuran pupuk Urea dan TSP dan tidak ada petani responden yang menggunakan pupuk TSP. Harga pupuk yang sangat tinggi bagi petani menyebabkan penggunaan pupuk yang tidak optimal karena tidak sesuai dengan dosis pupuk ideal. dan lain.nitrogen harus diberikan secara split atau terpisah (Puslitbang Tanaman Pangan. akodan. 6. 22 ribu per 100 mililiter di kios tani yang terletak di ibukota kecamatan. elsan. . “mentul”. Jenis penyakit lain yang sering menyerang tanaman padi ladang di desa ini adalah “wereng”. azodrin. Jenis penyakit ini menyebakan pembusukan pada batang padi sehingga mematikan tanaman padi. dan hanya sebagian kecil petani yang menggunakan furadan. Harga pupuk campuran Urea dan TSP rata-rata sekitar Rp 1400 per kilogram dengan cara membeli petani di kios tani yang terletak di ibukota kecamatan dengan uang tunai.

Pada periode ini benih mulai bertumbuh sehingga pertumbuhan tanaman pengganggu seperti rerumputan.5. semak belukar. Penyiangan Penyiangan dilakukan untuk membersihkan lahan dari gulma atau tanaman pengganggu tanaman utama (padi ladang). Petani melakukan penyiangan antara satu kali hingga dua kali berdasarkan intensitas serangan gulma.1. Hasil panen padi ladang digunakan untuk kebutuhan makanan pokok dan sebagian disimpan di lumbung padi untuk nantinya digunakan sebagai benih di musim tanam berikutnya jika tidak memiliki uang tunai untuk membeli benih dari kios atau toko dengan resiko kualitas yang jelas lebih rendah. 6. akan menjadi saingan berat bagi tanaman utama dalam memperoleh unsur hara dari dalam tanah bahkan dapat mematikan tanaman utama. Upah yang berlaku secara umum untuk proses penyiangan adalah sekitar Rp. Pemanenan Umur panen untuk varietas Ciherang yang digunakan petani responden rata-rata berumur 120 hingga 150 hari sejak ditanam. Proses penyiangan sebagian besar dilakukan oleh tenaga kerja wanita baik dari dalam maupuan dari luar keluarga.1. per hari dengan jam kerja selama 6 jam kerja per hari. Proses penyiangan dilakukan sekitar sebulan setelah benih ditanamkan atau ditugalkan dengan menggunakan sabit atau “kored” dan cangkul. atau gulma jika tidak segera dimusnahkan.6000 untuk setiap tenaga kerja yang umumnya adalah wanita.6.6. Sebagian padi yang disimpan juga digunakan untuk tujuan berjaga-jaga atau untuk mengantisipasi kebutuhan mendesak rumah .

Proses pemanenan dilakukan dengan menggunakan alat-alat yang masih tradisional seperti sabit atau “kored”. Pengeluaran usahatani yang termasuk dalam biaya diperhitungkan adalah pengeluaran usahatani yang dikeluarkan petani tetapi tidak secara tunai seperti biaya benih. Struktur Biaya Biaya yang dikeluarkan petani terdiri dari biaya tunai dan biaya diperhitungkan. pestisida atau obat-obatan pemberantas hama dan penyakit tanaman. dan penyusutan alat-alat pertanian. biaya pengobatan dan kebutuhan-kebutuhan lainnya.lain. tenaga kerja luar keluarga.hari seperti biaya pendidikan anak. . dan pajak usahatani yang dikeluarkan petani selama proses produksi padi ladang. nilai tenaga kerja dalam keluarga. Biaya-biaya yang dikeluarkan petani padi ladang dapat dilihat dalam Tabel 15. Biaya tunai didefinisikan sebagai biaya untuk pupuk. dan lain.2. Proses pengeringan padi dilakukan pada media tikar atau kuda-kuda bambu atau plastik terval di halaman rumah masing.tangga sehari. cangkul.masing petani. Pemanenan biasanya dilakukan dengan mengupah buruh tani dengan sistem “bawon” yaitu dengan menggunakan seperlima dari hasil panen keseluruhan sebagai upah keseluruhan pekerja pemanen dalam bentuk gabah kering panen. 6. Padi yang sudah kering dan siap untuk digiling dibawa ke tempat penggilingan padi dan diolah hingga dalam bentuk beras dengan biaya pengolahan sebesar 100 kilogram beras untuk setiap satu ton beras yang telah diolah dengan menyesuaikan harga beras pada saat itu atau dalam bentuk uang tunai.

33 6.414. dalam satu tahun.144.173.34 Harga/satuan (Rp) 1.Tabel 15.49 74.000.424.54.64 65. Perhitungan pendapatan usahatani padi ladang ini dilakukan untuk rata-rata per satu hektar lahan.1.103.65 13.20. Karena sifat padi ladang yang menggantungkan pengairan pada curah hujan.34 0. .67 100.622.2.420.200.Nilai (Rp) 161.79.724.41 3.00 60 237.46.000.53 2.000.431. Biaya-biaya yang Dikeluarkan Petani Padi Ladang per Hektar per Musim Tanam di Desa Wanajaya Tahun 2005 Komponen BIAYA TUNAI Pupuk Pestisida Tenaga Kerja Luar Keluarga Pajak Usahatani Total Biaya Tunai BIAYA DIPERHITUNGKAN Benih Tenaga Kerja Dalam Keluarga Penyusutan Peralatan Total Biaya Diperhitungkan BIAYA TOTAL Satuan Kg Liter HOK Rp Rp Kg HOK Rp Rp Rp Jumlah 110.- 6.3. Kegiatan usahatani padi ladang dimulai dari awal musim hujan sekitar bulan Oktober dan November hingga masa panen pada bulan April.040.37 2.Persentase 7.454.6. analisis pendapatan dilakukan untuk satu musim tanam.92 25.574. Dalam penelitian ini.840.290.8 1.7 48. seperti di daerah lain pada umumnya.220. Analisis Pendapatan Analisis pendapatan dilakukan untuk menentukan nilai yang diperoleh petani dari kegiatan berusahatani padi ladang.6.1. Analisis yang dilakukan meliputi analisis pendapatan atas biaya total dan analisis pendapatan atas biaya tunai.407.550. maka kegiatan usahatani padi ladang di Desa Wanajaya dilakukan dalam satu musim tanam.

574.-520.900.854.76. sehingga ratarata penerimaan petani sebesar Rp 1.76.1.180.574 per hektar per musim tanam sehingga pendapatan atas biaya tunai sebesar Rp 1.104.104. 6.01 0.175.326.01 yang berarti bahwa untuk setiap satu rupiah biaya tunai yang .Tabel 16.1.754. Sedangkan rasio R/C atas biaya tunai adalah sebesar 3.625.900 per hektar per musim tanam. Sedangkan.654. besar rata-rata biaya tunai yang dikeluarkan petani di daerah penelitian sebesar Rp 550.175.4.654.854. Artinya bahwa untuk setiap satu rupiah biaya total yang dikeluarkan dalam usahatani padi ladang. Analisis Pendapatan Cabang Usahatani Padi Ladang per Hektar per Musim Tanam di Desa Wanajaya Tahun 2005 Komponen TOTAL PENERIMAAN Total Biaya Tunai Total Biaya Diperhitungkan BIAYA TOTAL USAHATANI PENDAPATAN ATAS BIAYA TOTAL PENDAPATAN ATAS BIAYA TUNAI R/C ATAS BIAYA TUNAI R/C ATAS BIAYA TOTAL Nilai (Rupiah) 1. maka usahatani padi ladang tidak menguntungkan bagi petani. Biaya total yang dikeluarkan petani dalam proses produksi rata-rata sebesar Rp 2. maka petani akan memperoleh penerimaan sebesar Rp 0. Sehingga jika dilihat dari sisi pendapatan atas biaya total. Harga jual gabah kering pada masa panen rata-rata sebesar Rp 1.754 per hektar per musim tanam sehingga pendapatan atas biaya totalnya sebesar Rp -520.326.76 Produksi rata-rata padi ladang yang dihasilkan sebesar 1.273 kilogram per hektar per musim tanam dalam bentuk gabah kering giling.3.550.2.300 per kilogram. Analisis Imbangan Penerimaan dan Biaya (Analisis R/C ratio) Dari hasil analisis pendapatan dan biaya usahatani padi ladang didapat rasio R/C atas biaya total sebesar 0.

dikeluarkan untuk usahatani padi ladang. maka dapat disimpulkan bahwa usahatani padi ladang di daerah penelitian tidak menguntungkan bagi petani. .76. maka petani akan memperoleh penerimaan sebesar Rp 3. Berdasarkan nilai rasio R/ C atas biaya total yang lebih kecil dari 1 yaitu sebesar 0. Syarat suatu usahatani dikatakan menguntungkan jika rasio R/C atas biaya total lebih besar dari 1.01.

faktor produksi yang digunakan secara bersama-sama berpengaruh signifikan terhadap produksi padi ladang.83 yang signifikan pada taraf kepercayaan 95 persen. ANALISIS FAKTOR-FAKTOR PRODUKSI DAN EFISIENSI EKONOMI CABANG USAHATANI PADI LADANG 7. dan pestisida.2539 F . Hasil pendugaan model dan hubungan antara variabel bebas yaitu faktor. Ini berarti bahwa faktor.hitung 8. seperti yang ditunjukkan dalam Tabel 17. benih. tenaga kerja luar keluarga.faktor produksi yang diduga berpengaruh dalam usahatani padi ladang adalah pupuk.6180 18. Analisis Fungsi Produksi Model fungsi produksi yang digunakan untuk menduga fungsi produksi dalam penelitian ini adalah model fungsi produksi Cobb-Douglas.faktor produksi dengan variabel dependen yaitu produksi padi ladang dapat dilihat dalam Tabel 17.VII. Tabel 17. .000 Berdasarkan pendugaan model produksi yang diperoleh.2161 7.2432 0. didapat nilai F.hitung sebesar 8. Analisis Ragam Produksi Cabang Usahatani Padi Ladang di Desa Wanajaya Sumber Ragam Regresi Galat Total Derajat Bebas 5 30 35 Jumlah Kuadrat 11.8341 Kuadrat Tengah 2. Faktor.1. tenaga kerja dalam keluarga.83 Peluang 0.

632 0.3 1.003 0.004 1.Tabel 18.1013 Ln Benih + 0. Di samping itu faktor iklim.248 0.19 0. maka model fungsi produksi padi ladang per hektar dapat diduga dengan persamaan sebagai berikut : Ln Produktivitas = 0.48 1.6 persen dengan nilai koefisien determinasi terkoreksi (R2 -adjusted) sebesar 52.217 0. Nilai koefisien determinasi (R2 ) tersebut berarti bahwa sebesar 59. Berdasarkan pengamatan di lokasi penelitian.8 1. intensitas serangan hama dan penyakit tanaman.069 0. dan pestisida sedangkan sebesar 40. tenaga kerja luar keluarga.5302 Ln Tenaga Kerja Luar Keluarga + 0.011 0.989 Konstanta 0.61 2. benih.2 2.405 Ln Pupuk 0. Hasil Analisis Pendugaan Fungsi Produksi Usahatani Padi Ladang di Desa Wanajaya Simpangan Baku Koefisien 0.209 Ln Benih 0.8% Variabel Koefisien Regresi T Hitung 0.296 VIF 1.530 0.3 Berdasarkan data pada Tabel 18.999 0.00 0. dan ketertarikan petani yang kurang untuk meningkatkan produksi dan produktivitas usahatani padi ladang akibat ketidakjelasan status kepemilikan atas lahan yang diusahakan petani dan karena .3 1.545 0. faktor.faktor lain di luar model fungsi produksi yang diduga juga berpengaruh terhadap produksi padi ladang adalah tingkat kesuburan lahan.004 + 0.06968 Ln Pestisida Dari hasil pendugaan model ditunjukkan juga bahwa nilai koefisien determinasi (R2 ) didapat sebesar 59.068 Ln Tenaga Kerja Dalam RT 0.6% R-Sq (adjusted) = 52.69 3. tenaga kerja dalam keluarga.2484 Ln Pupuk + 0.4 persen lagi dipengaruhi oleh faktor.21728 Ln Tenaga Kerja Dalam Keluarga + 0.faktor lain di luar model.065 Ln Pestisida R-Sq = 59.6 persen dari variasi produksi dapat dijelaskan secara bersama-sama oleh faktor pupuk.8 persen.06 Pvalue 0.101 0.196 Ln Tenaga Kerja Luar RT 0.

Sedangkan pengaruh faktor pupuk.2.2484 persen dengan asumsi ceteris paribus. berarti setiap penambahan faktor produksi secara bersama-sama sebesar 1 persen.masing variabel tersebut.masing variabel terhadap produksi adalah sebagai berikut : Berdasarkan Tabel 18 didapat bahwa jumlah nilai elastisitas faktor-faktor produksi sebesar 1. Angka ini merupakan penjumlahan dari koefisien regresi faktor produksi yang dalam hal ini dianggap sebagai nilai elastisitas dari faktor tersebut. Nilai t hitung untuk tenaga kerja dalam keluarga dan tenaga kerja luar keluarga berpengaruh nyata terhadap nilai produksi pada taraf kepercayaan 99 persen (a = 0. Elastisitas Produksi dan Skala Usaha Dalam model fungsi produksi Cobb-Douglas nilai koefisien regresi merupakan nilai elastisitas dari masing. Namun berdasarkan uji t diperoleh bahwa faktor produksi pupuk tidak berpengaruh nyata terhadap produksi padi l dang. benih.17. Hal ini dikarenakan penggunaan pupuk diantara petani a .17. maka dapat disimpulkan bahwa usahatani padi ladang berada dalam daerah produksi increasing return to scale. Pengaruh masing. maka produksi padi ladang akan meningkat sebesar 0.cabang usahatani padi ladang tidak menguntungkan turut mempengaruhi produksi padi ladang.2484. maka akan meningkatkan produksi sebesar 1. dan pestisida tidak signifikan pada taraf kepercayaan yang ditetapkan. Nilai elastisitas pupuk sebesar 0. 7. Karena jumlah nilai elastisitas faktor produksi lebih besar dari 1. Dengan nilai elastisitas produksi sebesar 1.05).17 persen. berarti jika penggunaan pupuk ditingkatkan sebesar satu persen.

Dengan menggunakan ketiga indikator tersebut. Sedangkan kapasitas tukar kation (KTK) dan kejenuhan basa (KB) di lokasi penelitian termasuk dalam kelompok sedang. kapasitas tukar kation (KTK). Kesuburan tanah diukur dengan menggunakan tiga indikator yaitu nilai pH. Selain itu dapat juga dilakukan dengan . Unsur Al ini selain bersifat racun bagi tanaman juga bersifat mengikat fosfor (P2 O5 ). nilai pH di lokasi penelitian adalah 4 sampai 5 sehingga termasuk tanah asam. Pada tanah asam biasa dijumpai gejala keracunan unsur Fe yang dicirikan adanya bercak-bercak pada daun berwarna kuning kemerahan. Tindakan untuk mengatasi masalah KTK (Kapasitas Tukar Kation). Pada tanah-tanah asam banyak ditemukan unsur Aluminium dapat ditukar (Aldd). sehingga menjadi tidak tersedia atau tidak dapat diserap tanaman. tanah di daerah penelitian termasuk jenis latosol.cenderung sama. Jenis latosol merah coklat kekuningan. dan kejenuhan basa (KB). dan pH (derajat keasaman) yang merupakan tiga indikator kesuburan tanah. KB (Kejenuhan Basa). Menurut Badan Perencana Pembangunan Daerah (BAPPEDA) Kabupaten Karawang dalam Laporan Studi Penanganan dan Pemanfaatan Lahan Kritis di Kabupaten Karawang Tahun 2003. Derajat keasaman (pH) tanah yang rendah dapat ditingkatakan dengan program pengapuran. struktur gumpal/keras. bertekstur lempung. sehingga tidak ditemukan adanya variasi data penggunaan pupuk. cukup dengan tindakan yang sama yaitu dengan pemupukan bahan organik (pupuk kandang). dan solum dalam. Sehingga secara keseluruhan disimpulkan bahwa tingkat kesuburan tanah di lokasi penelitian tergolong rendah.

masing sepertiga bagian untuk pupuk dasar.5302.pengapuran menggunakan jenis kapur tanah CaCO3 sebelum penanaman karena ketiga parameter kesuburan tersebut intinya saling berhubungan. Berdasarkan uji t diperoleh bahwa faktor tenaga kerja luar keluarga berpengaruh nyata terhadap produksi padi ladang pada taraf kepercayaan 98 persen. sedangkan untuk pupuk kandang nilai rata-ratanya adalah tiga kali dari dosis pengapuran.4 sampai 0. dan 49 hari setelah tanam).8 kilogram per hektar Urea dan TSP dalam bentuk campuran yang diberikan sekaligus pada saat penanaman.5 ton per hektar. pada stadia vegetatif (umur tanaman 14. Sedangkan untuk dosis atau takaran pupuk yang dianjurkan BAPPEDA dalam budidaya padi ladang adalah Urea sebanyak 100 kilogram per hektar dengan tiga kali pemberian. tetapi bila sudah diberi kapur tidak perlu lagi menggunakan pupuk kandang. Pupuk yang digunakan di lokasi penelitian rata-rata sebanyak 110. Tenaga kerja luar keluarga mempunyai nilai elastisitas sebesar 0. berarti setiap penambahan faktor tenaga kerja luar keluarga (ceteris paribus) sebesar satu persen. Pupuk TSP sebanyak 100 kilogram per hektar.masing diberikan sekaligus saat tanam. Pemberian pupuk kandang atau pengapuran sebelum penanaman juga tidak dilakukan petani. Hal ini menyebabkan faktor produksi pupuk tidak elastis terhadap peningkatan hasil produksi padi ladang. dan tidak ada petani yang menggunakan pupuk KCl. maka produksi padi ladang akan meningkat sebesar 0. Dosis pemberian kapur adalah 0. Budaya gotong royong para petani dalam melakukan penanaman di lokasi .5302 persen. dan KCl 100 kilogram per hektar yang masing. masing.35.

tenaga kerja dalam keluarga juga berpengaruh nyata terhadap produksi padi ladang pada taraf kepercayaan 99 persen. Adapun nilai elastisitas tenaga kerja dalam keluarga adalah sebesar 0. Petani di lokasi penelitian menggunakan benih jenis Ciherang yang sebenarnya adalah benih yang umumnya digunakan dalam padi sawah. Penambahan faktor produksi benih sebesar satu persen akan cenderung meningkatkan produksi padi ladang sebesar 0. Elastisitas faktor produksi benih yang rendah terhadap peningkatan produksi diduga disebabkan karena penggunaan varietas benih yang tidak tepat. maka produksi padi ladang akan meningkat sebesar 2.penelitian diduga menjadi penyebab elastisnya peningkatan faktor tenaga kerja luar keluarga terhadap peningkatan produksi. Dalam melakukan pengolahan mulai dari persiapan lahan. Namun tidak demikian halnya dengan faktor produksi benih.21728. demikian .1728 persen (ceteris paribus). penyiangan. Menurut petani setempat benih jenis ini menghasilkan gabah yang lebih banyak daripada varietas padi yang disarankan untuk padi ladang dalam kondisi normal. Penyakit blast merupakan jenis penyakit yang paling penting dan paling sering dijumpai dalam budidaya padi ladang pada umumnya.1013 persen dengan asumsi ceteris paribus. hingga pemanenan petani lebih banyak mengandalkan tenaga kerja dalam keluarga. Faktor ini tidak berpengaruh nyata terhadap produksi padi ladang pada taraf kepercayaan sebesar 90 persen. yang berarti jika faktor tenaga kerja dalam keluarga ditingkatkan sebesar sepuluh persen. tetapi kelembaban yang tinggi dan periode pengembunan yang panjang akan menyebabkan resiko untuk terserang penyakit blast (bercak putih pada akar) menjadi lebih besar. Seperti halnya tenaga kerja luar keluarga.

Rendahnya elastisitas faktor produksi pestisida terhadap peningkatan produksi menunjukkan bahwa penggunaan pestisida oleh petani tidak berfungsi secara efektif dalam mengurangi atau membasmi hama dan penyakit yang menyerang padi ladang karena jumlah atau jenis pestisida yang belum tepat. yang berarti setiap kenaikan penggunaan pestisida sebesar satu persen akan cenderung meningkatkan produksi padi ladang sebesar 0.juga di lokasi penelitian. Dan jika dilihat dari besaran nilai elastisitas. Tenaga kerja luar keluarga melakukan pekerjaan dengan jam kerja yang telah ditentukan sebelumnya. Penyakit blast dapat menurunkan hasil panen bahkan menggagalkan pertanaman padi ladang. maka faktor yang paling responsif terhadap produksi padi ladang adalah tenaga kerja luar keluarga dengan nilai elastisitas sebesar 0. upah yang telah disepakati.5302. Tenaga kerja luar keluarga akan bekerja lebih optimal dibandingkan dengan tenaga kerja dalam keluarga. Elastisitas faktor produksi pestisida adalah sebesar 0. Petani yang . Hal ini disebabkan oleh tenaga kerja luar keluarga akan bekerja lebih optimal dibandingkan dengan tenaga kerja dalam keluarga. dan juga target kerja yang ditentukan sebelumnya. Jadi jika dilihat secara keseluruhan. Petani tidak menggunakan varietas padi ladang karena produktivitas yang lebih rendah. Faktor produksi pestisida tidak berpengaruh nyata pada taraf kepercayaan 90 persen tetapi berpengaruh nyata pada taraf kepercayaan 70 persen terhadap produksi padi ladang.06968.06986 persen dengan asumsi ceteris paribus. maka faktor yang berpengaruh nyata terhadap produksi padi ladang di Desa Wanajaya adalah faktor tenaga kerja dalam dan luar keluarga.

syarat kecukupan dapat berbeda pada setiap usahatani atau individu dan merupakan efisiensi yang subjektif. Analisis Efisiensi Ekonomi Menurut Doll dan Orazem (1984).faktor .faktor produksi yang dapat dianalisis adalah faktorfaktor produksi yang bersifat fisik dan yang dapat dinilai dengan rupiah. dan Marginal Factor Cost (MFC) atau yang sering disebut dengan Biaya Korbanan Marjinal (BKM). Syarat keharusan (Necessary Condition) dipenuhi pada saat tidak ada lagi kemungkinan lain dalam penggunaan input yang lebih sedikit untuk menghasilkan nilai produksi yang sama. suatu usaha tani harus memenuhi dua syarat yaitu syarat keharusan (Necessary Condition) dan syarat kecukupan (Sufficient Condition). Terpenuhi atau tidaknya kedua syarat tersebut dapat diketahui dengan menggunakan sebuah persamaan yaitu perbandingan antara Value Marginal Product (PyMPxi) atau disebut juga Nilai Produk Marjinal (NPM). Berbeda dengan syarat keharusan yang objektif. Jika rasio NPM dengan BKM lebih besar dari satu.3. Nilai Produk Marjinal merupakan hasil kali antara harga produk dengan Produk Marjinal (PM) sementara Biaya Korbanan Marjinal (BKM) sama dengan harga dari masing. atau ketika elastisitas produksi lebih besar atau sama dengan nol dan lebih lebih kecil atau sama dengan satu (≤ εp ≤ 1).masing faktor produksi itu sendiri. maka penggunaan faktor. Tingkat efisiensi ekonomis dari penggunaan faktor. untuk mencapai keuntungan yang maksimal.menggunakan tenaga kerja luar keluarga akan mengoptimalkan kerja buruh tani agar target kerja yang diinginkan tercapai. Faktor.faktor produksi dapat dilihat dari besarnya rasio Nilai Produk Marjinal dengan Biaya Korbanan Marjinal per periode produksi. 7.

faktor produksi dalam usahatani padi ladang di Desa Wanajaya tidak efisien secara ekonomis.252 1. Rasio . Tabel 19.50 BKM 1454 6000 6000 2407 46724 NPM/ BKM 2. Rasio NPM dengan BKM yang sama dengan satu untuk semua faktorfaktor produksi menunjukkan bahwa penggunaan faktor.34 0.22 2795.553 3.nilai rasio NPM dan BKM tidak ada yang sama dengan satu.faktor produksi telah melebihi batas optimal sehingga untuk mencapai keuntungan maksimum maka penggunaannya harus dikurangi. Rasio-rasio NPM dengan BKM dari setiap faktor produksi menunjukkan bahwa penggunaan faktor. karena nilai.0696 Produksi Rata-rata (Kg/Ha) 1273.2172 Benih 60.79 Harga Rata -rata/unit Output (Rp/Kg) 1300 Keterangan : NPM = Nilai Produk Marjinal BKM = Biaya Korbanan Marjinal Variabel NPM 3712.05 18162.faktor produksi dalam usahatani tersebut tepat berada pada kondisi optimal dan telah mencapai keuntungam maksimum sehingga usahatani dapat dikatakan telah efisien secara ekonomis. Rasio NPM dengan BKM yang lebih kecil dari satu menunjukkan bahwa penggunaan faktor.5302 Tenaga Kerja Dalam RT 237.00 0.37 0.75 67873. Rasio NPM dan BKM usahatani padi ladang di Desa Wanajaya ditunjukkan dalam Tabel 21.produksi disebut belum efisien dan perlu ditingkatkan penggunaannya untuk mencapai keuntungan maksimum. Rasio Nilai Produk Marjinal dengan Biaya Korbanan Marjinal Usahatani Padi Ladang Di Desa Wanajaya Penggunaan Koefisien Rata-rata Regresi Aktual Pupuk 110.453 Tabel 19 menunjukkan penggunaan faktor-faktor produksi aktual dan rasio Nilai Produk Marjinal (NPM) dengan Biaya Korbanan Marjinal (BKM) pada usahatani padi ladang di Desa Wanajaya.1013 Pestisida 1.44 1515.70 0.81 0.162 1.027 0.2484 Tenaga Kerja Luar RT 48.

masing lebih besar dari satu. Penggunaan faktor produksi pestisida dan pupuk yang rendah ini disebabkan oleh keterbatasan modal yang dimiliki petani untuk membeli pupuk dan pestisida dalam jumlah yang lebih besar yang sesuai dengan kebutuhan usahatani berdasarkan kondisi kesuburan dan kandungan hara tanah. tenaga kerja luar keluarga. sehingga pupuk dan pestisida hanya digunakan berdasarkan kemampuan finansial petani. yang berarti bahwa penggunaan faktor .faktor produksi pada usahatani padi ladang belum optimal pada jumlah produksi yang sama.ini juga berarti bahwa penggunaan faktor. Rasio NPM dan BKM yang paling besar adalah pada faktor tenaga kerja luar keluarga yaitu sebesar 3. Penggunaan benih yang tidak efisien juga disebabkan oleh ketidakmampuan petani secara finansial untuk membeli benih yang memiliki harga beli yang tinggi. sehingga benih yang digunakan petani adalah gabah yang merupakan sisa hasil panen dari musim tanam sebelumnya dengan mutu yang lebih rendah daripada benih komersial. dan pestisida masing. Rendahnya penggunaan tenaga kerja luar keluarga disebabkan oleh keterbatasan modal petani untuk mengupah tenaga kerja luar keluarga yang lebih besar. maka penggunaan tenaga kerja luar keluarga memerlukan penambahan yang relatif lebih besar agar dicapai tingkat efisien. Sedangkan untuk faktor tenaga kerja dalam keluarga didapat nilai rasio NPM dan BKM yang lebih kecil dari satu. Nilai rasio ini mengandung arti bahwa penggunaan faktor– faktor produksi tersebut masih kurang dan masih dapat ditingkatkan lagi agar dicapai tingkat penggunaan yang efisien atau optimal. Pada Tabel 19 dapat dilihat bahwa rasio NPM dan BKM untuk faktor produksi pupuk. benih.027. Berdasarkan nilai rasio ini.

51 146. Nilai ini berarti untuk mencapai tingkat efisien.1013 Pestisida 0.0696 Produksi Rata-rata (Kg/Ha) 1273.2484 Tenaga Kerja Luar RT 0. Kombinasi optimal dari penggunaan faktor-faktor produksi akan diperoleh jika Nilai Produk Marjinal sama dengan Biaya Korbanan Marjinal atau jika rasio Nilai Produk Marjinal dan Biaya Korbanan Marjinal sama dengan satu. maka penggunaan tenaga kerja dalam keluarga harus dikurangi.79 Harga Rata -rata/unit Output (Rp/Kg) 1300 Keterangan : NPM = Nilai Produk Marjinal BKM = Biaya Korbanan Marjinal Variabel Penggunaan Optimal 282. sehingga untuk mencapai tingkat efisien. Rendahnya tingkat pendidikan petani menyebabkan mereka tidak memiliki keahlian atau pekerjaan lain selain berusahatani padi ladang sehingga tenaga kerja dalam keluarga yang digunakan dalam usahatani menjadi relatif lebih besar.51.69 2.94 69.2172 Benih 0. Kombinasi Optimal dari Faktor-Faktor Produksi Usahatani Padi Ladang Di Desa Wanajaya Koefisien Regresi Pupuk 0.faktor produksi dapat dicapai dengan menggunakan kombinasi optimal dari faktor-faktor produksi. Efisiensi penggunaan faktor. Tabel 20. Pada Tabel 20 dapat dilihat kombinasi faktor.47 NPM 1454 6000 6000 2407 46724 BKM 1454 6000 6000 2407 46724 NPM/ BKM 1 1 1 1 1 Berdasarkan Tabel 20 di atas diperoleh nilai penggunaan optimal dari faktor pupuk sebesar 282. Penggunaan yang berlebih ini terjadi karena usahatani padi ladang merupakan usahatani utama dan sumber makanan pokok keluarga petani sehingga alokasi tenaga kerja untuk usahatani padi ladang relatif lebih besar.5302 Tenaga Kerja Dalam RT 0.faktor produksi yang menghasilkan penggunaan input yang efisien. .33 59.produksi ini berlebihan atau tidak efisien.

47 liter agar dicapai tingkat efisiensi.penggunaan pupuk harus ditingkatkan dari penggunaan aktualnya sebesar 110.7 liter dalam penggunaan aktualnya menjadi sebesar 2.69 kilogram agar dicapai tingkat efisiensi.33.51 kilogram.81 kilogram menjadi sebesar 282. Jika dilihat dari segi rasio NPM dan BKM. Sementara nilai penggunaan tenaga kerja dalam keluarga harus dikurangi dari yang semula sebesar 237.34 HOK harus ditingkatkan menjadi 146.37 HOK menjadi sebesar 59. . penggunaan benih yang semula sebesar 60 kilogram harus ditingkatkan menjadi 69.94 HOK agar penggunaan faktor produksi ini efisien. Nilai penggunaan optimal dari faktor tenaga kerja luar keluarga adalah sebesar 146. Untuk faktor produksi pestisida.34 HOK agar dicapai tingkat efisien. penggunaannya harus ditingkatkan dari sebesar 1. yang berarti bahwa penggunaan tenaga kerja luar keluarga yang semula sebesar 48.

47 liter. diperoleh nilai rasio R/C atas biaya total sebesar 0. penggunaan benih yang semula sebesar 60 kilogram harus ditingkatkan menjadi 69..1.7 liter dalam penggunaan aktualnya menjadi sebesar 2.326. benih. maka dapat diambil beberapa kesimpulan yaitu : 1.69 kilogram. KESIMPULAN DAN SARAN 8. Penggunaan faktor-faktor produksi yang efisien secara ekonomis dicapai pada saat penggunaan faktor pupuk sebesar 282. sehingga dapat disimpulkan bahwa cabang usahatani padi ladang di Desa Wanajaya tidak menguntungkan bagi petani.VIII.-.1. Pendapatan atas biaya tunai adalah Rp.51. dan pestisida tidak berpengaruh nyata pada taraf kepercayaan yang ditetapkan. Faktor-faktor produksi yang berpengaruh nyata terhadap produksi padi ladang adalah tenaga kerja luar keluarga dan tenaga kerja dalam keluarga.33 HOK.94 HOK. penggunaan tenaga kerja dalam keluarga harus dikurangi dari yang semula sebesar 237.104.854.-520. 3. Sedangkan faktor pupuk. faktor produksi pestisida harus ditingkatkan dari sebesar 1. Kesimpulan Berdasarkan hasil dan pembahasan dalam penelitian ini. yang nyata pada taraf kepercayaan 99 persen.sedangkan pendapatan atas biaya total adalah Rp. . Kemudian dengan analisis imbangan penerimaan dan biaya (analisis R/C ratio). faktor tenaga kerja luar keluarga sebesar 146. 2.37 HOK menjadi sebesar 59.76 (lebih kecil dari satu).

Pemberian bimbingan dan penyuluhan dari instansi terkait mengenai teknik budidaya padi ladang yang tepat seperti kombinasi penggunaan pupuk dan pestisida yang tepat dan pola tanam yang tepat untuk mencapai usahatani padi ladang yang lebih produktif dan menguntungkan. 2.8. Saran Berdasarkan hasil dan pembahasan serta simpulan. benih.2. maka disarankan untuk: 1. Penggunaan faktor produksi pupuk. . pestisida tenaga kerja luar harus ditingkatkan dari penggunaan aktualnya supaya usahatani padi ladang yang dilakukan lebih efisien dan menguntungkan bagi petani.

. Jakarta. . Damodar N. Institut Pertanian Bogor. 1983. Yayasan Obor Bhratara Karya Aksara. sayur-sayuran. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian. Vademekum Sumberdaya. Mc. Diana. Laporan Draft Final Studi Penanganan dan Pemanfaatan Lahan Kritis Di Kabupaten Karawang Tahun Anggaran 2003. Padi Gogo. Interna tional Rice Research Institute. 1963. Skripsi. Skripsi. Jakarta. Basic Econometric. Basyir. John dan Frank Orazem. 1986. Produktivitas dan Pendapatan Petani Padi Dihubungkan Dengan Kebijaksanaan Harga Dasar Gabah dan Harga Sarana Produksi (Studi Kasus : Desa Sukatani. Upland rice : a global perspective. Kecamatan Cimalaya. Fakultas Petanian. Institut Pertanian Bogor. Punarto S. Bogor. 2003. New York.B. Karawang. Hariyanto. C. Los Banos. Skripsi. Ariyanti. Sadhya Grahacara. Noorsanti Uceu. Bogor. palawija. 1998. Fakultas Pertanian. Pedoman bercocok tanam padi. Kanada. 1995-1998. Fakultas Pertanian.Graw –Hill. Philippines. Sumatera Selatan. 1995. Analisis Pendapatan Usahatani Padi dan Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Marketed Supply Gabah di Kabupaten Magelang dan Kabupaten Klaten. Doll. Tesis. 1999. Jakarta. Fakultas Pertanian. PT. Geertz. Involusi Pertanian : Proses Perubahan Ekologi di Indonesia. Institut Pertanian Bogor. Gupta PC. Departemen Pertanian. Malang. Production Economic Theory with Aplications. Tauhid. Suyamto dan Supriyatin. Kabupaten Karawang. Direktorat Jenderal Pertanian. Pola Adaptasi Peladang Berpindah di Pemukiman (Kasus Peladang Berpindah di Perkebunan HTI. Jawa Barat). Institut Pertanian Bogor. Dahlia. Analisis Peningkatan Pendapatan Petani Melalui Penyimpanan Gabah di Kabupaten Indramayu dan Kabupaten Karawang. Jawa Tengah. Balai Penelitian Tanaman Pangan Malang. O’Toole JC. Second Edition.DAFTAR PUSTAKA Ahmad. P. Gujarati. Badan Perencana Pembangunan Daerah Pemerintah Kabupaten Karawang. A.. Amir. Departemen Pertanian Satuan Pengendali Bimas. Bogor. 2002. Perkembangan Tingkat Produksi. John Wiley and Sons. 1994. Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan. Edisi Kedua. Propinsi Jawa Barat. 1988. Bogor. 1984.

Program Pascasarjana. James. PILMITANAS (Pekan Ilmiah Mahasiswa Ilmu Tanah Nasional). Program Studi Agroklimatologi. Perbandingan Usahatani Padi Ladang Baduy Luar dan Luar Baduy Dilihat Dari Tingkat Efisiensi dan Subsistensi Usahatani (Studi Kasus di D Kanekes dan Desa Jalupang Mulya. Kabupaten Pekalongan. Skripsi. 1995. Scott. Leuwi esa Damar. Kab. Institut Pertanian Bogor. Sidik. Mubyarto. Penebar Swadaya. Skripsi. Bogor. Sendi-Sendi Pokok Ilmu Usahatani. Analisis Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Keputusan Petani Dalam Pemasaran Gabah (Kasus Desa Majosen. Jawa Tengah). 1981. Netty. Fakultas Pertanian. Institut Pertanian Bogor. Rahardjo. Budidaya Tanaman Padi di Indonesia. Fadholi. Jakarta. Analisis Pendapatan dan Efisiensi Penggunaan Faktor Produksi Usahatani Padi Gogo Secara Tumpangsari Dengan Jagung di Kecamatan Kadipaten Tasikmalaya Propinsi Jawa Barat. Jakarta. Potensi Lahan Kering Dalam Pembangunan Pertanian di Indonesia. Harry. Bogor. Ilmu Usahatani dan Penelitian Untuk Pengembangan Petani Kecil. Tenggeng Kulon dan Yosorejo. Jakarta. Chandra Arief. 1981. 1973. Penerbit LP3S. Institut Pertanian Bogor. Tesis. Soekartawi. Fakultas Pertanian. (5): 13-12. Prisma. Indonesia Rice Policy In View of Trade Liberalization. Kecamatan sragi. Yayu Sri. Bogor. 1988. Institut Pertanian Bogor. UI-Press. 2004. Satria. IKAPI. PS. 1989. 1993. Bogor. D. 12-13 February. Soeharjo. Setiawan. Fakultas Pertanian. Jakarta. Hernanto. Jakarta. Institut Pertanian Bogor. Skripsi. Rome. Institut Pertanian Bogor. D. 2004. Arif. 2001. M. Hadrian. 1996. FAO Rice Conference. S. 1996. Jawa Barat). Jakarta. Ilmu Usahatani. Analisis Wilayah Rawan Kekeringan Untuk Pengembangan Sistem Usaha Pertanian Padi Gogo di Sulawesi Tenggara. Bogor. Bogor. Sambutan Menteri Negara Agraria/Kepala BPN. Jurusan Ilmu. Kec. LP3ES. Siregar. . Jurusan Ilmu. 2000. Susanto. 1995. Bogor. Rahayu. Penerbit Sustra Hudaya. 1986. Fakultas Pertanian. Pengantar Ekonomi Pertanian.Harsono. Pemanfaatan dan Peranan Lahan Kering Dalam Pembangunan Pertanian. Politik Pangan dan Industri Pangan di Indonesia. Maryono. Bogor. Italy. Moral Ekonomi Petani. Cetakan kedua. Mulyo.ilmu Sosial Ekonomi Pertanian. Institut Pertanian Bogor.ilmu Sosial Ekonomi Pertanian. Ahmad dan Dahlan Patong. Lebak.

Kecamatan Tounom. Kabupaten Aceh Barat). Institut Pertanian Bogor. 2002. Yanuar. Skripsi. Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Produksi dan Pendapatan Usahatani Padi Sawah Pada Jaringan Irigasi Teknis dan Irigasi Sederhana. Kabupaten Karawang. Rahmat. Analisis Pendapatan dan Efisiensi Usahatani Padi Input Rendah di Kecamatan Tempuran.Wana. Tesis. Yelni. Bogor. Fakultas Pertanian. Fakultas Pertanian. Institut Pertanian Bogor. Bogor. Analisis Faktor. Skripsi. Analisis Pendapatan dan Produksi Usahatani Padi Lahan Gambut (Studi Kasus : Desa Blang Ramee. Fakultas Pertanian. 2000. Program Pascasarjana. Bogor. . Institut Pertanian Bogor. Hermawan.faktor Produksi Padi Lahan Kering di Indonesia.ilmu Sosial Ekonomi Pertanian. 1999. Andri. Institut Pertanian Bogor. Bogor.ilmu Sosial Ekonomi Pertanian. Skripsi. Jurusan Ilmu. Wijaya. 1999. Jurusan Ilmu.

LAMPIRAN .

3 1.06819 0.1803 Residual -1.3 S = 0.77 Fit 6.83 P 0.06548 T 0.69 3.00 0.989 0.2712 0.Lampiran 1.2539 F 8.72R 7 4.011 0.8846 5.61 2.1619 0.2092 0.3 1.3546 Analysis of Variance Source Regression Residual Error Total Source DF Ln Pupuk 1 Ln TK Luar 1 Ln TK Dalam 1 Ln Benih 1 Ln Pestisida 1 DF 5 30 35 R-Sq = 59.2221 0.5302 0.61 7.2875 MS 2.8% SS 11.06 P 0.248 Ln Pupuk + 0.2 2.19 0.61 5.545 0.6% R-Sq(pred) = 45.8 1.1969 0.21728 0.48 1.6180 18.06968 SE Coef 1.0697 Ln Pestisida Predictor Konstanta Ln Pupuk Ln TK Luar Ln TK Dalam Ln Benih Ln Pestisida Coef 0.6600 3.9949 St - .5039 PRESS = 10. Analisis Regresi Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Produktivitas Cabang Usahatani Padi Ladang Di Desa Wanajaya The regression equation is Ln Produktivitas = 0.3000 2.4056 0.00 + 0.11R Durbin-Watson statistic = 1.632 0.1013 0.000 Unusual Observations Obs Ln Pupuk Ln Prod Resid 6 4.296 VIF 1.101 Ln Benih + 0.530 Ln TK Luar + 0.2484 0.5712 6.8341 Seq SS 1.999 0.003 0.2432 0.8200 2.8251 SE Fit 0.1876 0.02% R-Sq(adj) = 52.2161 7.004 0.217 Ln TK Dalam + 0.

bps.67 0.68 Pertumbuhan (2004-2005) -2.00 -2.56 -0.565 1.088 11. 2005 2.79 0.488 45.879 1.38 2004 54.80 3 Padi Ladang Produksi (000 Ton) Luas Panen (000 Ha) Produktivitas (Ku/Ha) Sumber : www.008 11.209 10.36 2005 53. Pertumbuhan Produksi.id.081 23.88 2002 51.521 44.591 1.42 50.23 2.490 11.500 43.50 51.419 45.498 47. Luas Panen.52 -1.123 25.395 47.896 10.604 45.138 11.34 2.71 2 47. dan Produktivitas Padi di Indonesia.69 Tahun 2003 52.799 47.457 46.105 25.go.43 .97 48.63 2.461 11.822 1. Tahun 2001-2005 No 1 Komoditi Padi Produksi (000 Ton) Luas Panen (000 Ha) Produktivitas (Ku/Ha) Padi Sawah Produksi (000 Ton) Luas Panen (000 Ha) Produktivitas (Ku/Ha) 2001 50.759 1.185 10.80 -2.094 25.922 45.064 24.74 2.95 -1.Lampiran 2.899 10.00 -2.378 10.76 49.

18 23.86 0.37 16.19 20.99 19.85 24.35 -0.52 22.57 23.73 2.21 24.95 20.23 2004 2005*) 22.99 23.33 27.14 26.7 18.65 19.87 16.27 22.46 -14. 2005 *) Angka ramalan -) Data tidak tersedia .55 23.8 30.89 20.22 24.9 35.33 23.32 21.77 18.03 -0.35 21.54 4.go.72 30 29.33 20.96 20.5 26.8 28.id.3 28.Lampiran 3.75 20.15 22.95 22.31 23. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 Propinsi NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Maluku Maluku Utara Papua Indonesia 2001 22.89 21.78 0.01 37.9 24.28 18.21 25. Tahun 2001-2005 (Kwintal/Ha) No. Produktivitas Padi Ladang Menurut Propinsi Di Indonesia.56 23.27 -3.44 0.09 25.97 20.66 30.06 22.45 23.58 23.42 34.19 26.70 0.86 26.76 18.55 24.97 -1.62 20.23 -10.53 21.94 20.04 0.65 22.22 20.35 21.36 31.16 35.43 Sumber : www.14 25.62 8.55 17.57 19.03 23.3 19.47 26.63 -0.72 2.53 24.47 23.41 20.67 0 0 25.76 23.78 20 24.41 26.84 29.75 26.11 23.66 20.45 23.63 25.56 26.73 2.52 Pertumbuhan (2004-2005) 0.54 24.45 0.85 20.82 32.66 21.57 24.75 24.42 34.45 24.12 20.33 20.21 21.03 26.8 19.02 22.06 19.07 18.86 28.47 23.6 25.31 31.19 20.12 19.74 2002 21.15 26.04 1.71 22.16 24.25 25.84 21.89 21.49 31.93 20.66 20.61 24.49 22.92 17.03 25.85 22.27 33.59 23.88 -0.18 23.26 8.31 24.01 4.56 25.bps.82 23.83 22.44 0.13 17.50 -8.21 25.11 27.21 35.52 -3.53 31.21 22.69 0.75 22.34 Tahun 2003 22.67 23.36 23.15 19.27 20.88 21.53 5.60 -9.2 21.29 35.32 24.29 -2.31 21.84 20.25 21.17 19.

681 167.270 2.64 -4.id.91 -10.468 1.162 Sulawesi Selatan 29.182 132.450 17.676 2.290 80.663 25.281 4.194 22.806 8.54 -1.365 10.175 Riau 44.659 2.615 27.053 13.144 1.692 77.187 4.656 6.465 1.323 26.35 -35.29 5.774 Pertumbuhan -8.go.331 132.842 143.618 107.957 46.333 185.576 304.291 61.25 -6.404 NTB 78.771 Bengkulu 34.900 171.055 60.908 8.915 2.95 .925 Jambi 59.910 1.69 -2.814 16.838 Gorontalo 1.203 Sulawesi Tenggara 11.Lampiran 4.69 -25.246 13.945 37.486 137.578 184.962 195.434 121.307 44.659 99.882 Sumatera Selatan 158.32 25.998 2.240 8.35 10.226 306.699 DI Yogyakarta 119.560 121.414 3.016 40.951 Sulawesi Utara 12.68 -3.898 209.27 0.031 Indonesia 2. 2005 Tahun 2003 2.788 Bali 1.60 5.773 36.177 7.621 39.66 -2.000 23.590.500 113.693 82.308 302.518 2004 7.052 94.347 231.204 116.181 113.386 Kalimantan Selatan 110.035 2005 6.423 39.248 5.363 183.06 1.85 11.970 3.622 Jawa Timur 303.892 83.073 128.726 16.861 56.882 227.530 200.796 198.967 14.612 59.09 9.301 59.79 -16.629 Sumber : www.848 Kalimantan Barat 175.574 1.108 356.036 86.822.879.647 58.016 20.72 -3.530 181.778 1.093.754 39.418 Banten 73.556 Bangka Belitung 11.43 -0.878 115.bps.892 169.702 DKI Jakarta Jawa Barat 340.491 Jawa Tengah 192.522 Kalimantan Tengah 111.190 NTT 102.889 Sulawesi Tengah 7.978 215.844 5.97 -9. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 Propinsi 2001 2002 NAD 4.903 10.199 6.621 1.454 26.827 11.872 5.375 100.66 39.333 995 Maluku 13.288 10.50 26.750 4.725 219.717 358.20 -17.190 134.88 7.978 Maluku Utara Papua 12.763 Sumatera Utara 180.565.801 31.497 20.614 139.234 16.136 105.550 204.076 6.67 -1.254 133.567 1.225 9.042 295.938 Lampung 252.90 15.917 16.086 Kalimantan Timur 107.24 -5.26 -15.723 115.959 41.368 28.407 65.416 Sumatera Barat 13. Produksi Padi Ladang Menurut Propinsi Di Indonesia Tahun 2001-2005 (Dalam Ton) No.169 154.

75 15 Icis 0.5 23 Mamat 0.2 178.6 141.5 37 Narmin 0.500 400 400 200 2.2 141.000 900 900 400 1.2 26 Benih (Kg) 50 25 50 50 50 50 50 25 40 100 40 30 80 50 25 50 50 50 50 50 20 50 30 20 50 60 50 30 80 50 40 50 40 50 30 40 30 30 80 20 45 60 Pestisida (Liter) 1.1 0.6 43.16 0.4 413 162.500 .8 192.6 117.2 173.15 0.5 Rata-rata 0.500 400 800 500 800 200 500 280 1.6 30 Dulhamid 1 31 Sadum 0.5 19 Asmur 1 20 Karsim 0.6 2 0.1 28 Ganda 0.000 1.2 26 27.15 2.5 0.4 155.1 0.2 125.2 36 154 26.15 0.6 48 15.000 200 500 150 500 700 200 954.74 0.4 35 28 17.8 172.2 0.4 172 150 84.7 Pupuk (Kg) 100 70 100 100 100 100 100 150 250 25 30 100 100 100 200 40 100 200 30 100 150 50 200 200 30 100 100 200 80 80 80 200 80 36.6 109 114.1 0.6 196.1 2.5 36 Walim 0.8 269.75 2 Acim 3 Madhari 1 4 Ladi 0.000 1.6 28 37 29 38.4 409.37 TK Luar (HOK) 44 26 27.2 26 20.24 1.500 1.5 29 Keming 0.2 112 390.34 83.1 2.4 46 18.4 82.27 1.2 1.6 195.5 27 Hardi 0.1 1.25 48.1 1.6 38 Neman 0.8 21 Madhawi 0.4 33 45.25 0.Lampiran 5.75 1273 TK Dlm (HOK) 186.5 39 Namun 1 40 Samad 0.8 146.2 311. Musim Tanam November-April Tahun 2005 Luas (Ha) 1 Sakam 1.8 . Penggunaan Faktor-faktor Produksi Cabang Usahatani Padi Ladang Di Desa Wanajaya.5 16 Cilan 1 17 Hidayat 1 18 Enan 0.5 34 Iwan 2 35 Sahir 0.4 30.75 Rata-rata per Hektar No Nama Produksi (Kg) 1.500 800 1.05 0.5 0.4 155.000 900 500 800 1.32 0.4 13 Aman 1 14 Adon 0.4 32 Kadim 0.8 174.4 25 Amud 1 26 Murdi 0.24 0.03 237.24 0.8 150.15 0.2 141.6 125.1 0.4 40 31 48 35.15 0.1 0.16 0.4 166.4 22 Asim 0.6 105.1 5.5 6 Walim 1 7 Kamin 1 8 Natong 1 9 Onang 1 10 Rakim 2 11 Bodeh 0.4 24 Enong 0.24 4.8 220.8 231.2 7 0.4 33 Misjah 0.4 157.300 500 500 800 1.000 900 400 1.4 174.05 2.5 5 Kiwan 0.4 37.1 110.5 12 Ayat 0.6 142 104.16 0.15 2.08 0.

000.000.000.60.33.000.600.000.120.848.156.000.000.000.627.634.2.000.- 1 Sakam 1.6 30 Dulhamid 1 31 Sadum 0.72.200.800.60.150.200.000.600.000.430.183.400.000.496.120.200.5 36 Walim 0.- .276.997.21.000.156.000.300.1.753.000.000.000.1.150.000.000.000.355.600.000.288.000.000.175.000.000.175.Lampiran 6.500 400 400 200 2.400.342.72.73.119.672.045.4 24 Enong 0.000.035.250.5 29 Keming 0.4 22 Asim 0.943.508.600.288.192.240.033.5 2 Acim 0.902.000.240.323.000.000.000 200 500 150 500 700 200 954 1273 Tenaga Dalam RT 1.175.000.210.000.000.120.200.042.754.75 3 Madhari 1 4 Ladi 0.119.000.22.1.5 12 Ayat 0.400.22.186.000.000.Benih 120.400.112.75 Rata-rata per Hektar 60.55.56.Kerja Luar RT 264.192.130.22.11.104.000.5 23 Mamat 0.000.271.000.000.60.800.000.156.924.400.309.000 900 500 800 1.30.000.6 38 Neman 0.800.000.272.000.60. Pengeluaran Cabang Usahatani Padi Ladang Di Desa Wanajaya Musim Tanam November-April Tahun 2005 No Nama Luas (ha) Produksi (Kg) 1.000.1.600.168.164.213.932.000.42.89.33.54.104.160.5 39 Namun 1 40 Samad 0.000.000.164.4 13 Aman 1 14 Adon 0.000.934.156.400.108.30.1.000.315.000.195.000.000.70.000.33.275.69.868.000.72.198.852.000.800.000.120.000.22.40.000.600.600.4 32 Kadim 0.400.154.500 800 1.000.032.1.000.15.000.4 25 Amud 1 26 Murdi 0.000 1.178.112.72.48.56.687.000.51.4 33 Misjah 0.313.880.130.973.000.000.200.000.200.617.135.30.000.800.000.000.140.259.000.848.70.1.400.1 28 Ganda 0.28.000.- 168.174.400.800.- 146.1.000.000.300.74.120.600.000.389.500 400 800 500 800 200 500 280 1.5 16 Cilan 1 17 Hidayat 1 18 Enan 0.847.000.140.122.2.1.60.000.1.000.5 34 Iwan 2 35 Sahir 0.000.000.045.000.600.000.225.985.400.72.500.000.8 21 Madhawi 0.000.000 900 400 1.500 500 1.42.56.400.158.5 Rata-rata 0.600.000.000.000.000.654.000 900 900 400 1.72.000.200.150.48.000 1.000.000.000.400.000.5 27 Hardi 0.000.60.400.45.000.000.000.000.703.000.120.478.56.200.33.109.75.89.200.800.000.56.000.000.1.48.- 70.400.70.000.29.200.000.000.60.216.000.1.240.000.482.Pupuk 130.000.000.30.120.5 6 Walim 1 7 Kamin 1 8 Natong 1 9 Onang 1 10 Rakim 2 11 Bodeh 0.000.000.000.144.70.000.80.172.120.70.016.000.2.Saprotan Pestisida 46.91.000.48.7.000.122.000.5 37 Narmin 0.600.70.800.175.000.168.5 19 Asmur 1 20 Karsim 0.000.15 15 Icis 0.400.80.150.000.1.74.000.200.458.000.000.224.300 500 500 800 1.000.000.000.800.000.44.000.44.000.60.600.300.230.900.5 5 Kiwan 0.222.1.