ANALISIS PENDAPATAN DAN FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PRODUKSI CABANG USAHATANI PADI LADANG DI KABUPATEN KARAWANG

HENDRI METRO PURBA A07498176

FAKULTAS PERTANIAN INSTITUT PERTANIAN BOGOR 2005

RINGKASAN

HENDRI METRO PURBA. Analisis Pendapatan dan Faktor- faktor Yang Mempengaruhi Produksi Cabang Usahatani Padi Ladang Di Kabupaten Karawang (Di bawah bimbingan NUNUNG KUSNADI). Kebutuhan bahan pangan masyarakat Indonesia masih sangat tergantung pada beras. Produksi beras nasional sebagian besar disumbangkan oleh produksi padi sawah, sementara itu ketersediaan lahan sawah dan efisiensi usahatani padi sawah cenderung mengalami penurunan. Sumbangan padi ladang terhadap produksi padi nasional masih sangat rendah karena produktivitas padi ladang yang jauh lebih rendah daripada produktivitas padi sawah. Jika dibandingkan dari segi laju pertumbuhan produksi, padi ladang juga masih jauh lebih rendah daripada padi sawah. Mengingat ketersediaan lahan kering bagi usahatani padi ladang masih sangat besar, maka pengembangan produktivitas usahatani padi ladang memiliki potensi yang sangat menjanjikan. Oleh karena itu menarik untuk dikaji bagaimana meningkatkan produktivitas cabang usahatani padi ladang. Penelitian ini bertujuan untuk (1) menganalisis penyebab rendahnya produktivitas padi ladang, (2) m enganalisis faktor- faktor yang mempengaruhi produksi padi ladang (3) menganalisis efisiensi ekonomis penggunaan faktor-faktor produksi pada cabang usahatani padi ladang. Pengumpulan data dilakukan dari bulan Mei hingga Juni 2005 di Desa Wanajaya, Kecamatan Teluk Jambe, Kabupaten Karawang. Data yang digunakan adalah data primer dan data sekunder. Data primer dikumpulkan dengan melakukan pengamatan dan wawancara langsung dengan petani responden dengan mengajukan pertanyaan yang dibuat dalam bentuk kuesioner yang telah dipersiapkan sebelumnya. Data sekunder diperoleh dengan cara penelusuran kepustakaan buku, laporan penelitian, artikel, majalah, karya ilmiah yang berkaitan dengan masalah penelitian dan melalui internet. Selain itu data

sekunder juga diperoleh dari Biro Pusat Statistik, Departemen Pertanian, Balai Penelitian Tanaman Pangan, Pusat Pengembangan Sosial Ekonomi Pertanian, dan Pemerintah Daerah di lokasi penelitian. Pengolahan data dilakukan dengan menggunakan analisis imbangan penerimaan dan biaya (analisis R/C ratio),

pendekatan fungsi produksi Cobb-Douglas, dan analisis efisiensi ekonomi dengan rasio Nilai Produk Marjinal (NPM) dan Biaya Korbanan Marjinal (BKM). Pengolahan data dilakukan dengan me nggunakan program Microsoft Excel dan Minitab 13 for Windows. Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) dengan analisis imbangan penerimaan dan biaya (analisis R/C ratio), diperoleh nilai rasio R/C atas biaya total sebesar 0.76 (lebih kecil dari satu), sehingga dapat disimpulkan bahwa cabang usahatani padi ladang di Desa Wanajaya tidak menguntungkan bagi petani, (2) faktor- faktor produksi yang berpengaruh nyata terhadap produksi padi ladang adalah tenaga kerja luar keluarga dan tenaga kerja dalam keluarga, yang signifikan pada taraf kepercayaan 99 persen. Sedangkan faktor pupuk, benih, dan pestisida tidak berpengaruh nyata pada taraf kepercayaan yang ditetapkan, (3) penggunaan faktor-faktor produksi yang efisien secara ekonomis dicapai pada saat penggunaan faktor pupuk sebesar 282.51, faktor tenaga kerja luar keluarga sebesar 146.33 HOK, penggunaan benih yang semula sebesar 60 kilogram harus ditingkatkan menjadi 69.69 kilogram, penggunaan tenaga kerja dalam keluarga harus dikurangi dari yang semula sebesar 237.37 HOK menjadi sebesar 59.94 HOK, faktor produksi pestisida harus ditingkatkan dari sebesar 1.7 liter dalam penggunaan aktualnya menjadi sebesar 2.47 liter. Berdasarkan hasil penelitian di atas maka disarankan agar (1) penggunaan faktor produksi pupuk, benih, pestisida tenaga kerja luar harus ditingkatkan dari penggunaan aktualnya supaya usahatani padi ladang yang dilakukan lebih efisie n dan menguntungkan bagi petani, (2) pemberian bimbingan dan penyuluhan dari instansi terkait mengenai teknik budidaya padi ladang yang tepat seperti kombinasi penggunaan pupuk dan pestisida yang tepat dan pola tanam yang tepat untuk mencapai usahatani padi ladang yang lebih produktif dan menguntungkan.

ANALISIS PENDAPATAN DAN FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PRODUKSI CABANG USAHATANI PADI LADANG DI KABUPATEN KARAWANG

Oleh

HENDRI METRO PURBA A07498176

Skripsi Sebagai Bagian Persyaratan Untuk Memperoleh Gelar Sarjana Pertanian

pada Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor

FAKULTAS PERTANIAN INSTITUT PERTANIAN BOGOR 2005

DEPARTEMEN ILMU-ILMU SOSIAL EKONOMI PERTANIAN FAKULTAS PERTANIAN INSTITUT PERTANIAN BOGOR

Dengan ini menyatakan bahwa skripsi yang disusun oleh : Nama NRP : : Hendri Metro Purba A07498176 Manajemen Agribisnis Analisis Pendapatan dan Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Produksi Cabang Usahatani Padi Ladang Di Kabupaten Karawang dapat diterima sebagai syarat kelulusan untuk memperoleh gelar Sarjana Pertanian pada Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor.

Program Studi : Judul Skripsi :

Menyetujui, Dosen Pembimbing

Dr. Ir. Nunung Kusnadi.MS NIP. 131 415 082

Mengetahui, Fakultas Pertanian Dekan

Prof. Dr. Ir. H. Supiandi Sabiham, M.Agr NIP. 130 422 698

Tanggal Lulus : 20 Desember 2005

PERNYATAAN

DENGAN INI SAYA MENYATAKAN BAHWA SKRIPSI YANG BERJUDUL “ANALISIS PENDAPATAN DAN FAKTOR-FAKTOR YANG

MEMPENGARUHI PRODUKSI CABANG USAHATANI PADI LADANG DI KABUPATEN KARAWANG” BELUM PERNAH DIAJUKAN PADA

PERGURUAN TINGGI LAIN ATAU LEMBAGA LAIN MANAPUN UNTUK TUJUAN MEMPEROLEH GELAR AKADEMIK TERTENTU. SAYA JUGA MENYATAKAN BAHWA SKRIPSI INI BENAR-BENAR HASIL KARYA SAYA SENDIRI DAN TIDAK MENGANDUNG BAHAN-BAHAN YANG PERNAH DITULIS ATAU DITERBITKAN OLEH PIHAK LAIN KECUALI SEBAGAI BAHAN RUJUKAN YANG DINYATAKAN DALAM NASKAH.

Bogor, Desember 2005

Hendri Metro Purba A07498176

pada tahun 1998 melalui jalur UMPTN (Ujian Masuk Perguruan Tinggi Negeri). . penulis diterima di SMU Katolik Santo Agustinus Jakarta. dan lulus pada tahun 1998. Penulis adalah anak pertama dari enam bersaudara pasangan Bapak T. Penulis melanjutkan pendidikan menengah pertama di SMP Negeri 1 Dolok Sanggul. Institut Pertanian Bogor. dan menyelesaikannya pada tahun 1992. Penulis diterima sebagai mahasiswa Program Studi Manajemen Agrinisnis. Penulis memulai pendidikan dasarnya pada tahun 1986 di SD Negeri 3 Dolok Sanggul.RIWAYAT HIDUP Penulis dilahirkan di Dolok Sanggul pada tanggal 16 Juli 1980. Situmorang. Fakultas Pertanian. dan lulus tahun 1995. Kemudian. Purba dan Ibu H.

Penulis menyadari kekurangan dalam penulisan skripsi ini sehingga diperlukan kritik dan saran untuk perbaikan skripsi ini. Judul skripsi ini adalah “Analisis Pendapatan dan Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Produksi Cabang Usahatani Padi Ladang di Kabupaten Karawang”. Desember 2005 Penulis .KATA PENGANTAR Puji syukur penulis panjatkan kepada Tuhan Allah Yang Maha Kuasa atas berkat dan karunia-Nya yang besar yang memberikan segala hikmat dan kekuatan sehingga penulis dapat menyelesaikan penulisan skripsi ini. Penulis berharap penelitian yang dilakukan dapat diterima dan dimanfaatkan bagi perkembangan ilmu pengetahuan dan pihak lain yang berkepentingan. Sesuai dengan judul tersebut. skripsi ini menganalisis pendapatan yang diperoleh petani dari kegiatan berusahatani padi ladang. dan melakukan analisis efisiensi ekonomis penggunaan faktor produksi pada cabang usahatani padi ladang. mengana lisis faktorfaktor yang mempengaruhi produiksi dalam usahatani padi ladang. Bogor.

John Wisnu. Keluarga Amangboru Mario. dan Amangboru Sagala di Jakarta. Markos. Orang Tuaku. 2. Keluarga Ompung Berthold di Depok. dan Chamber yang telah menyediakan fasilitas penginapan. teman satu bimbingan dan seperjuangan selama kuliah dan penulisan skripsi. Echa . Ucok. 4. SP. Namboru Patar. arahan. dan Ompung Josua di Pekan Baru. 7. Bang Ivan. Edo. beserta semua teman-teman di Parmasi. 8. kritik dan saran dalam melakukan penelitian dan penyusunan skripsi ini. Ramaijon Purba atas bimbingan dan bantuannya. Nita. MS. John Freddy. Nipar. dan semua keluarga besar di Dolok Sanggul. Ompung Arif di Bandung. Lae Viston. 13. Victor. Tulang Suci. 5. Rikky Sitorus. Ogem. Pak Enong sebagai penerjemah dan pendamping penulis selama turun lapang. 12. dan dukungan berharga selama turun lapang di Karawang. Ompung Suhut. 10. dan Maria Margareth. Namboru. Nunung Kusnadi. atas kesediaan menjadi dosen penguji utama. Sahabat-sahabatku yang tak tergantikan di Base One : Cay. 9. 14. Donal.UCAPAN TERIMA KASIH Dalam kesempatan ini penulis ingin mengucapkan terima kasih dan penghargaan kepada : 1. 3. MS. Ir. Halashon. makan gratis. dan Tulang Hendra. Dr. dan Kardinal atas keberadaan. Appara Frenky. Marta Sundari atas bantuannya selama mengolah data dan penulisan skripsi. selaku dosen pembimbing yang dengan kesabaran telah memberikan bimbingan. Anna Fariyanti. doa dan dukungannya. Amzul Rifin. Sartika. Gaga. MA. Ir. Keluarga Tulang Donal. 6. . atas kesediaannya menjadi dosen penguji komisi pendidikan. Bang Tamlin. Bapa dan Uma dan adik-adikku Duddy. Arif Karya Kusuma. 11.

Bray.15. . 16. Teman-teman di Darmaga. penghuni Perwira 100. beserta semua kawan sesama Himaba. Tulus. Semua pihak lain yang belum saya sebutkan yang telah membantu saya selama mengikuti perkuliahan dan penulisan skripsi.

............................................................................. 2.................3.................................. Syarat Tumbuh dan Kelayakan Lahan Tanaman Padi Ladang.. Pemilihan Benih . DAFTAR GAMBAR ...................3............................. BAB III....................................2..................... DAFTAR LAMPIRAN .................................... Sistem Perladangan di Indonesia dan Perkembangannya ... Pemupukan .............. 2...................... 3............................... UCAPAN TERIMA KASIH ......2........ 2................................................ Perilaku Ekonomi Petani...................................... Kegunaan Penelitian ...... 1.......................................... 2.......... 1.....3.......... Konsep Usahatani ................................................. 1....................4................................ Tujuan Penelitian .........................4..........................3................................................................................4... 2..... Pengolahan Tanah ............ 2...... 3.. Perumusan Masalah ........................................................ Penanaman .......................................... KERANGKA PEMIKIRAN ...............1.............. 2....................3.........................3..............................................1................ Panen dan Pengolahan Hasil Panen.......... 2........ 1........ 2............. Karakteristik Biologis Tanaman Padi Ladang ........ Budidaya Padi Ladang ......... BAB II. Hasil Penelitian Terdahulu................... Hama dan Penyakit ..................................................5........................................... 2...............................6............................7..................6....................................1.................. i ii iv vii viii ix 1 1 3 7 8 9 9 9 11 11 12 12 13 15 15 16 16 21 22 29 29 30 ....................................................... BAB I.................5.......... 2........3....................................................................... Latar Belakang .3... 2...............................................DAFTAR ISI Halaman KATA PENGANTAR .............2........................................................................................ 2........................................................................ DAFTAR TABEL .... DAFTAR ISI ........................................................1............................................................... Pemeliharaan ...3...............2.......................... Pendapatan Usahatani................................. PENDAHULUAN ............................................................... TINJAUAN PUSTAKA ...................3.........

.............................. 6..5..................2..1........................ BAB V..................... 7................ 6...... 6....1...................................... Karakteristik Petani Responden................................................................................................................................................. 6......1. Teori Produksi ...............3............................................................ METODE PENELITIAN .......1............ Analisis Pendapatan Usahatani ....................... Analisis Fungsi Produksi ................................5..4.............................................. 32 33 37 40 40 40 41 41 41 43 48 50 54 54 58 66 66 66 68 69 70 71 71 72 73 74 76 76 78 83 .... 7.......... Struktur Biaya .......4......... 4............................................ 6.........2. BAB VI.................1................................1.......... Penanaman.................................1................................................... 4.................................. 6.................................... 5........................ GAMBARAN UMUM DAERAH PENELITIAN ... Metode Analisis Data .......................................................3........1...........................3..2......................... Pemupukan.. ANALISIS FAKTOR-FAKTOR PRODUKSI DAN EFISIENSI EKONOMI CABANG USAHATANI PADI LADANG ........................... Definisi Operasional ......................... 6.......... 4....1.. Pendugaan Fungsi Produksi................... 3...............................3................................................. 4................................... 4.. 6.................................. Analisis Pendapatan....1....... 4... 4............................................2...................................... Analisis Efisiensi Ekonomi .Pemanenan............................3..................................... Gambaran Umum Lokasi Penelitian.3....... 6...... 3.3..... 4............. Persiapan Lahan....4....................3................. GAMBARAN USAHATANI PADI LADANG DI DESA WANAJAYA .....1....................... Lokasi dan Waktu Penelitian ......1....................... BAB VII........................... Efisiensi Ekonomi ................ 6................3......... Analisis Imbangan Penerimaan dan Biaya (Analisis R/C ratio) ............ Penyiangan ... Analisis Imbangan Penerimaan dan Biaya (R/C Ratio) ................. BAB IV..2.........4........ Analisis Efisiensi Ekonomi...................................................... Metode Pengumpulan Data dan Penentuan Sampel ...........6...2.... Budidaya Padi Ladang ...... 7...3........................................................................... Elastisitas Produksi dan Skala Usaha ................ Analisis Imbangan Penerimaan dan Biaya (R/C Ratio)...... 5............ Pengobatan .......3...4....................

...................................1............ DAFTAR PUSTAKA .............BAB VIII.......................................2........ Kesimpulan .............................................. LAMPIRAN ..... KESIMPULAN DAN SARAN ................................ 8.................................................................................. Saran ............ 8............................................................................................................................... 88 88 89 90 93 ...................

Karakteristik Penduduk Desa Wanajaya Be rdasarkan Tingkat Pendidikan... Karakteristik Petani Responden Berdasarkan Jumlah Anggota Keluarga ........ Luas Panen............................. 3........ Karakteristik Petani Responden Berdasarkan Luas Lahan Garapan ......... Klasifikasi Kriteria Lingkungan Tumbuh Tanaman Padi Ladang.................................... 11....................... 2 4 2.............. dan Produktivitas Padi Indonesia Tahun 2004.... 77 19.......................................................................... Karakteristik Penduduk Desa Wanajaya Berdasarkan Kelompok Umur Tahun 2005 .......... 5................................... 84 86 20..... .. Karakteristik Penduduk Desa Wanajaya Berdasarkan Mata Pencaharian........ 76 18...... Hasil Analisis Pendugaan Fungsi Produksi Usahatani Padi Ladang di Desa Wanajaya ........... 10. Kombinasi Optimal Penggunaan Faktor-faktor Produksi ...........................................................................DAFTAR TABEL Nomor Halaman 1................. 14....................... Rasio Nilai Produk Marjinal (NPM) dengan Biaya Korbanan Marjinal (BKM) Usahatani Padi Ladang di Desa Wanajaya Tahun 2005 .. Karakteristik Petani Responden Berdasarkan Umur ............................. Topografi atau Bentang Lahan Desa Wanajaya .. 74 17................................................................... Produksi............. 56 57 58 58 59 61 62 63 8.................. 9............... 7............................... 12............... Volume Beras yang Diperdagangkan di Dunia dan Impor Beras Indonesia Tahun 1990-2001 .... Penggunaan Lahan di desa Wanajaya Tahun 2004 ....... Jawa Barat..... Biaya-biaya yang Dikeluarkan Petani Padi Ladang per Hektar per Musim Tanam di Desa Wanajaya Tahun 2005 .. dan Indonesia Tahun 2004.. 6 9 54 55 4................................ 73 16...... 13........................... Analisis Ragam Produktivitas Cabang Usahatani Padi Ladang di Desa Wanajaya ........................ Analisis Pendapatan Cabang Usahatani Padi Ladang per Hektar per Musim Tanam di Desa Wanajaya Tahun 2005 .......... Produksi Gabah Kering Giling di Kabupaten Karawang............. Karakteristik Petani Responden Berdasarkan Pengalaman Usahatani ........ Karakteristik Petani Responden Berdasarkan Tingkat Pendidikan .............. 6.......................................... 15.......

...DAFTAR GAMBAR Nomor 1.... 53 .................. Bagan Prosedur Analisis Pendapatan dan Faktor..... 34 2....................faktor Yang Mempengaruhi Produksi Cabang Usahatani Padi Ladang . 1984) ............... Kurva Fungsi Produksi Total dan Hubungannya Dengan Produk Marjinal Halaman dan Produk Rata-rata (Doll dan Orazem.................

.... 6.................. Musim Tanam November-April Tahun 2005 ......................DAFTAR LAMPIRAN Nomor 1...................................................... 7.................................. dan Produktivitas Padi Di Indonesia................. 94 95 96 97 98 99 100 ..faktor Yang Mempengaruhi Produktivitas Halaman Cabang Usahatani Padi Ladang Di Desa Wanajaya ........ Penggunaan Faktor.... Tahun 2001-2005 (Kwintal/Ha) ..................... Analisis Regresi Faktor.... Kuesioner Analisis Pendapatan dan Faktor. 4. 3................. Luas Panen...... Pertumb uhan Produksi............................... Tahun 2001-2005 .................... Produktivitas Padi Ladang Menurut Propinsi Di Indonesia.... 5................ Produktivitas Padi Ladang Menurut Propinsi Di Indonesia..... 2..........................................................faktor yang Mempengaruhi Produksi Cabang Usahatani Padi Ladang Di Kabupaten Karawang ......... Tahun 2001-2005 (Dalam Ton) ..... Pengeluaran Cabang Usahatani Padi Ladang Di Desa Wanajaya Musim Tanam November-April Tahun 2005 .....................faktor Produksi Cabang Usahatani Padi Ladang Di Desa Wanajaya..

1 www.fao.faostat.7 juta ton beras 1 . Pemerintah karenanya harus mengeluarkan biaya sekitar 1. Impor beras terbesar dialami Indonesia pada tahun 1999 dimana Indonesia mengimpor sekitar 4. Permintaan terhadap beras terus meningkat sejalan dengan pertambahan populasi dan kenaikan tingkat pendapatan penduduk.1.org.I.3 miliar Dollar AS untuk mengimpor 4. Impor beras nasional cenderung meningkat misalnya dari 615 ribu ton pada tahun 1991 menjadi sekitar 3 juta ton pada tahun 1995 dan pada tahun 1996 mencapai sekitar 3 juta ton akibat musim kemarau panjang dan bahkan sempat meningkat drastis hingga sekitar 6 juta ton pada tahun 1998 akibat terjadinya krisis moneter yang mengakibatkan kenaikan secara drastis pada harga input pertanian seperti pupuk dan pestisida yang bahan bakunya sebagian besar diimpor. Sedangkan pertambahan produksi beras senderung lebih kecil dan tidak mampu mengimbangi pertambahan tingkat permintaan beras (Sidik. Laju peningkatan produksi padi cenderung menurun.7 juta ton beras meskipun harus membayar 280 Dollar AS per ton beras untuk mencukupi kebutuhan beras domestik. sedangkan laju permintaan beras akan selalu meningkat seiring peningkatan laju pertumbuhan penduduk. Latar Belakang Indonesia merupakan negara konsumen beras terbesar ketiga di dunia setelah China dan India1 . maka harga beras dunia akan segera mengalami kenaikan secara signifikan. PENDAHULUAN 1. Apabila salah satu dari negara tersebut mengalami penurunan produksi dan harus mengimpor untuk mencukupi kebutuhan domestiknya. 2004). 2005 .

138 6.350.70 Sumber : Situs FAO (http//www.948 5.513.000 22. Berdasarkan potensi.150.000 25.000 615. menyebabkan sebagian besar masyarakat Indonesia masih sangat tergantung pada satu jenis bahan pangan yaitu beras.FAO. 80 persen dari luas lahan pertanian .856. 1996).43 29.000 10.940 252. Tabel 1.212 5.183.389.924 3.188 28.076.000 4.121 4.578.440 15. Hingga saat ini lebih dari setengah jumlah kalori dan lebih dari 40 persen karbohidrat yang dikonsumsi oleh masyarakat Indonesia berasal dari beras.385 2.486.750 6.68 61.org/trade/balance).99 59. baik dari sisi produksi maupun konsumsi pangan. Oleh karena itu upaya untuk meningkatkan produksi dan produktivitas beras dianggap masih relevan untuk mengatasi masalah peningkatan tingkat permintaan beras dan tingginya impor beras Indonesia.615.304 3. Untuk memenuhi kebutuhan beras dalam jangka panjang. rata-rata penduduk Indonesia mengkonsumsi sekitar 200 kilogram beras per kapita per tahun .70 16. Menurut FAO (2004)1 .480.08 47.025.615.44 21.263.080.51 49.Belum berhasilnya upaya diversifikasi.293.02 25. mengingat ketersediaan lahannya yang cukup luas (Ruchyat.924 4. 2000. Volume Beras yang Diperdagangkan di Dunia dan Impor Beras Indonesia Tahun 1991-2000 Perdagangan Beras Dunia (Ton) Impor Beras Indonesia (Ton) Persentase Terhadap Beras Dunia Tahun 1991 1992 1993 1994 1995 1996 1997 1998 1999 2000 58.076.50 6. pemerintah mulai mengarahkan perhatiannya kepada pengembangan pertanian di daerah lahan kering.846 1. 1993 dalam Maryono.384 156.000 1.

perumahan. (c) Lahan kering merupakan sumber utama penghasil komoditi pertanian untuk tanaman pangan. dan lain. Produktivitas rata-rata padi ladang pada tahun 2004 baru mencapai 25. rawa. Sutari (1982) dalam Netty (1996) mengatakan bahwa lahan kering y ang diusahakan dengan tepat dapat menghasilkan berbagai komoditas dengan produktivitas yang lebih besar dibandingkan lahan sawah (basah).2. maka corak pertanian di masa yang akan datang adalah pertanian lahan kering (Dwijatmiko. dan pasang surut. 1. sandang. (b) Lahan kering diperkirakan seluas 123 juta hektar atau 62 persen dari luas total daratan Indonesia.lain.3 .68 kwintal per hektar. Selain itu lahan kering memiliki kedudukan strategis karena : (a) Lahan kering menempati areal terluas dibandingkan dengan lahan jenis air seperti sawah. 1991 dalam Maryono. Perumusan Masalah Produksi padi nasional masih didominasi padi sawah sedangkan sumbangan padi ladang masih sangat rendah karena produktivitas dan luas tanam padi ladang yang jauh lebih rendah daripada produktivitas dan luas tanam padi sawah. Untuk tetap mempertahankan swasembada pangan. (d) Pemanfaatan lahan kering yang semakin meningkat merupakan pertimbangan penting dalam program pemerintah selanjutnya. 1996). sementara sumbangan padi ladang terhadap produksi padi nasional pada tahun yang sama hanya sekitar 5.Indonesia adalah lahan kering.

895.4 persen dari total luas panen padi nasional2 .127. (3) curah hujan rendah.191 2. padi ladang juga masih jauh lebih rendah daripada padi sawah.622 ribu ton pada tahun 1969 menjadi 2.id/ditjentp). topografi dan iklim pada lahan kering. tenaga kerja dan modal) serta pengetahuan petani di daerah lahan kering menyebabkan pola tanam yang selama ini diusahakan masih bersifat subsisten.970.persen dengan luas panen sekitar 9. 2004 * ) Gabah Kering Giling Jika dibandingkan dari segi laju pertumbuhan produksi. sementara produksi padi sawah mengalami peningkatan kira-kira sebesar 140 persen atau meningkat sebesar 24.843. dan Produktivitas Padi Indonesia Tahun 2004 Jenis Padi Sawah Padi Ladang Padi Total Luas Panen (Ha) 10. Tabel 2.341.45 25.112 54. Produksi. Di samping itu kenyataan juga menunjukkan bahwa keterbatasan faktor produksi usahatani (lahan. (2) topografi umumnya berlereng sehingga mudah tererosi.go.303 Sumber : Situs Deptan (www.go. Menurut Ruchyat (1993) dalam Maryono (1996). dimana dari tahun 1969 hingga 1989 produksi padi ladang hanya mengalami peningkatan kira-kira sebesar 45 persen yaitu dari 1.deptan. Lahan kering mempunyai karakteristik antara lain : (1) tanah kurang subur. rendahnya produktivitas padi ladang tidak terlepas dari keterbatasan faktor tanah. Dari kenyataan tersebut adalah hal yang wajar bila produktivitas rata-rata padi ladang jauh lebih rendah daripada produktivitas rata2 www.446.004 1.034 11.6 juta ton. Luas Panen.40 Produksi* (Ton) 51. 2004 .68 45.038 Produktivitas* (Ku/Ha) 47.345 ribu ton pada tahun 1989.id/ditjentp.deptan.

Berdasarkan uraian di atas.masing daerah produsen padi ladang. Bahkan sebagian daerah sangat menggantungkan ketersediaan dan kebutuhan berasnya pada produksi padi ladang. Pertanian padi ladang banyak dijumpai di daerah transmigrasi lahan kering dan daerah yang topografi lahannya didominasi perbukitan atau lahan kering dan tidak mendapat fasilitas irigasi (Wana. dan topografi yang lebih baik untuk usahatani padi. 2000). Permasalahan usahatani padi ladang relatif lebih kompleks daripada padi sawah. meskipun hal ini merupakan sesuatu yang wajar mengingat produktivitas padi sawah yang jauh lebih tinggi dengan kendala peningkatan produktivitas padi sawah yang jauh lebih ringan daripada kendala peningkatan produktivitas padi ladang. Tingkat produktivitas padi ladang yang rendah dan laju perkembangan produksi padi ladang yang relatif lamban juga diakibatkan permasalaha n yang dihadapi usahatani padi ladang relatif lebih kompleks daripada permasalahan padi sawah. pengairan yang lebih teratur. Meskipun sumbangan padi ladang terhadap produksi nasional relatif kecil. Kebijakan pemerintah yang lebih berpihak pada peningkatan produksi dan produktivitas padi sawah dibandingkan padi ladang merupakan salah satu contohnya. tetapi padi ladang ditanam hampir di seluruh propinsi di Indonesia. maka posisi usahatani padi ladang akan semakin penting bagi m depan pertanian Indonesia secara umum dan sangat asa potensial bagi peningkatan ketahanan pangan nasional. Usahatani padi ladang memerlukan identifikasi lebih rinci dan jelas pada masing. Identifikasi yang dimaksud antara lain meliputi penelitian tentang peningkatan teknik budidaya yang ada supaya produktivitas lahan kering .rata padi sawah dengan tingkat kesuburan tanah yang jauh lebih tinggi.

140 51.087 46.974 997.181.007.689 997.445 11.89 persen total produksi Jawa Barat dan 2. Dengan pendekatan ini akan diketahui alternatif produksi yang paling tepat dalam waktu yang telah ditentukan sehingga nantinya dapat menjadi salah satu informasi yang berguna dalam pembuatan kebijakan pertanian seperti halnya dalam usahatani padi ladang.152. Analisis terhadap aspek produksi merupakan salah satu pendekatan yang penting dalam kebijaksanaan pangan untuk memenuhi kebutuhan pangan terutama yang menjadi makanan pokok masyarakat.240. Jawa Barat.628 Indonesia (Ton) 48.735 11. Pada tahun 1992 total produksi Kabupaten Karawang mencapai 1.188.744. Produksi Padi Gabah Kering Giling di Kabupaten Karawang.101.744 11.007 juta ton atau mencapai 8. Tabel 5 menunjukkan perbandingan produksi gabah kering giling Kabupaten Karawang dengan Propinsi Jawa Barat dan produksi total keseluruhan di Indonesia. dan Indonesia Tahun 2004 Tahun 1992 1993 1994 1995 1996 Karawang (Ton) 1.641. Karawang merupakan salah satu sentra produksi padi di Indonesia.524 49.faktor yang mempengaruhi produktivitas dan efisiensi ekonomi pengusahaan padi ladang.506 . Tabel 3.007.009 48.071 Jawa Barat (Ton) 11.terutama padi ladang dapat ditingkatkan hingga dapat mengimbangi produktivitas padi sawah bahkan mungkin melampauinya.421 10.320.masing daerah produksi disamping karakteristik sosial ekonominya.796 991. Penentuan alternatif produksi padi ladang tentu juga harus mempertimbangkan karakteristik agroklimat yang khas atau unik pada masing.499 1.08 persen dari seluruh total produksi di Indonesia. Pendekatan ini dilakukan untuk mengetahui faktor.218.094.

faktor produksi yang efisien secara ekonomis pada cabang usahatani padi ladang ? .866.898. b.746. 2004 Pada tahun 2000 produksi Kabupaten Karawang mencapai 917 ribu ton sehingga memberikan kontribusi sebesar 8. Hal ini disebabkan oleh kurangnya pengawasan yang ketat sehingga saluran irigasi banyak dikuasai oleh beberapa orang untuk kepentingan sendiri dan kelompok tertentu.000 51. c.22 persen dari produksi Jawa Barat dan 1. maka permasalahan yang akan dibahas pada penelitian ini adalah : 1.411 11.id/ditjentp).1997 1998 1999 2000 989. Pengaruh faktor cuaca dan iklim yang terus berfluktuasi.499 10.951 10.879 917.304 737. Berdasarkan uraian diatas.730 10.429 917.8 juta ton.237. Dari tabel tersebut juga dapat dilihat mengenai adanya fluktuasi produksi yang terjadi tahun demi tahun yang menggambarkan adanya ketidakstabilan produksi padi yang disebabkan oleh banyak faktor.267 49.76 persen dari seluruh total produksi padi nasional yang mencapai 51. 3.209.deptan.000 50. Semakin berkurangnya lahan pertanian yang ada yang disebabkan oleh berubah fungsinya lahan pertanian menjadi kawasan perumahan dan industri.852 Sumber : Situs Deptan (www. Belum berfungsinya saluran irigasi secara maksimal untuk mengairi lahan sawah dengan merata.000 49.377.go.154. Beberapa faktor yang mempengaruhi antara lain2 : a. Mengapa produktivitas padi ladang lebih rendah dari padi sawah ? Faktor-faktor apa yang mempengaruhi produktivitas padi ladang ? Bagaimana mencapai tingkat penggunaan faktor. 2.400.

2. 1. Sebagai bahan kajian bagi pemerintah dalam merumuskan program dan kebijakan di bidang pertanian dalam usaha penyempurnaan sistem pertanian terutama untuk usahatani padi ladang.1. sebagai berikut: 1. . Menganalisis efisiensi ekonomis penggunaan faktor.3. 3.Tujuan Penelitian Berdasarkan latar belakang dan perumusan masalah maka tujuan penelitian ini adalah : 1. Menganalisis penyebab rendahnya produktivitas padi ladang. Sebagai bahan rujukan bagi penelitian yang akan datang agar dapat memperbaiki kesalahan dan kekurangan yang ada.4. 2.faktor produksi pada cabang usahatani padi ladang. Menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi produktivitas padi ladang. Kegunaan Penelitian Penelitian ini diharapkan dapat berguna bagi beberapa pihak. Sebagai masukan bagi petani agar dapat mengelola usahataninya secara efektif dan efisien. 3.

Syarat Tumbuh dan Kelayakan Lahan Tanaman Padi Ladang Keberhasilan budidaya tanaman padi ladang ditentukan oleh penyesuaian tanaman terhadap lingkungan. Basyir et al. bentuk gabah bulat dan tahan terhadap kekeringan (Chang dan Vergara dalam Setiawan. (1995) mengemukakan bahwa siklus hidup tanaman padi ladang berkisar antara 90 hingga 140 hari. Jenis tradisional (varietas Genjah) memiliki ciri-ciri : berbatang tinggi. dan masa penuh sekitar 112 hingga 120 hari setelah tanam.1. sementara tahapan yang dilalui adalah masak susu sekitar 92 hingga 110 hari setelah tanam. hasil . masak padat sekitar 102 hingga 120 hari setelah tanam. iklim. Pada fase ini tanaman padi ladang sangat sensitif terhadap cekaman lingkungan.. sejak masa perkecambahan benih sampai pembentukan primordial bunga pada ujung batangnya. Jika pertumbuhannya baik. dan cuaca.) yang diusahakan di tanah tegalan kering secara menetap dan kebanyakan ditanam di daerah tropika. berumur sedang. (2) fase reproduktif. anakan sedikit. Karakteristik Biologis Tanaman Padi Ladang Padi ladang merupakan tanaman yang biasa ditanam di lahan kering. Tanaman ini merupakan tanaman semusim jenis padi (Oryza sativa L. dan (3) fase pemasakan.II. 2000). TINJAUAN PUSTAKA 2. Fase pemasakan adalah masa keluarnya bunga sampai gabah masak. 2. tergantung pada varietasnya. Masa pertumbuhan padi ladang terdiri dari tiga fase : (1) fase vegetatif. Fase vegetatif merupakan masa pertumbuhan batang dan daun (55 hari). Fase reproduktif adalah masa dari tahap munculnya primordia bunga sampai waktu keluar bunga (35 hari).2.

dan topografi Fisik dan kimia tanah Suhu dan radiasi Kekurangan air 5 6 7 8 Agak Sesuai Tidak Sesuai Tidak Sesuai Tidak Sesuai 700-900 < 900 > 900 - < 20 20 > 20 - >4 >4 <4 > 1500 > 1800 > 3500 < 1500 Sumber Keterangan : Jones and Garrity dalam Setiawan (2000) : MT = musim tanam. And = andosol. dan tekstur tanah. Al Med. agak sesuai. Pod. . Tabel 4. Kelayakan lahan untuk pertanaman padi ladang menurut Jones dan Garrity dalam Setiawan (2000) didasarkan pada kecukupan dan ketersediaan air. RH. Al = aluvial. Menurut Bey dan Las dalam Setiawan (2000). Kecukupan dan ketersediaan air ditentukan oleh empat faktor yaitu : curah hujan. CH = curah hujan. And. lamanya musim tanam. Gupta dan O’Toole (1986) menyatakan bahwa curah hujan merupakan unsur agroklimat berpengaruh dominan terhadap pertumbuhan dan produkisi padi ladang. And. Al Med. dan sangat kering. kemiringan lahan. Pod. And. Al Reg Faktor Pembatas Tidak ada MT pendek Kesuburan tanah rendah-sedang Keterbatasan air Suhu.panen juga akan baik. Gru = grumosol. terutama pada lahan kering dan tadah hujan. Reg = regosol. La. periode saat air tanah cukup bagi pertumbuhan tanaman. Gru. Al Med. Pod = podsolik. lahan tanaman padi ladang dikelompokkan menjadi empat kelas yaitu : sesuai. Gru. Gru And. Gru. La. La. Med = mediteran. La = latosol. Pod. kering. Klasifikasi Kriteria Lingkungan Tumbuh Tanaman Padi Ladang Nilai No 1 2 3 4 Kelas Kesesuaian Sangat Sesuai Sesuai Sesuai Agak Sesuai Elevasi (m dpl) < 700 < 700 < 700 < 700 Lereng (%) <5 <5 <5 20 May MT (Bulan) 9 8-May >4 >4 CH (mm/th) 1500-3500 1500-3500 1500-3500 1500-3500 Jenis Tanah Med. Pada Lahan tersebut padi ladang lebih banyak ditanam pada musim hujan karena kebutuhan air bagi tanaman tergantung sepenuhnya pada curah hujan. Atas dasar keempat faktor tersebut. curah hujan merupakan unsur iklim yang besar pengaruhnya terhadap suatu sistem usahatani.

. Unsur iklim yang berperan dalam keberhasilan budidaya tanaman padi ladang adalah radiasi dan suhu udara (Basyir et al. Menurut De Datta dalam Setiawan (2000). Padi ladang dapat tumbuh hampir pada semua jenis tanah. Intensitas radiasi matahari yang rendah. tetapi berkorelasi negatif dengan produksi gabah selama fase pengisian gabah hingga masa panen (Murata 1976 dalam Setiawan. perubahan unsur hara dalam tanah merupakan salah satu faktor yang membatasi produktivitas tanaman pada lahan kering. yaitu 5 hingga 12 bulan per tahun. bertopografi datar. Ketinggian areal pertanaman padi ladang bervariasi mulai dari dataran rendah sampai dataran dengan ketinggian 1500 meter di atas permukaan laut.Lingkungan tumbuh akan mendukung pertumbuhan padi ladang apabila memiliki tekstur tanah halus hingga sedang. unsur hara. dan pH tanah. 1995). kemiringan lahan 0 sampai 8 persen. 2000). curah hujan tinggi (lebih besar dari 1500 mm per tahun) dan musim tanaman panjang. PH tanah yang sesuai untuk pertumbuhan padi ladang . 1986). dalam Setiawan (2000). bergelombang.. menurut Gupta dan O’Toole (1986) merupakan penyebab rendahnya produksi padi ladang. pertumbuhan dan hasil padi ladang dipengaruhi oleh tekstur. Tekstur tanah dengan kemampuan menyimpan air yang tinggi merupakan kondisi yang sesuai bagi tanaman padi ladang. struktur. Sedangkan suhu udara berkorelasi positif dengan produksi padi selama fase vegetatif melalui jumlah tunas yang dihasilkan. dan berbukit. Tanah dengan kemamp uan menyimpan air yang rendah dapat menimbulkan masalah kelembabam yang rendah setelah hujan berhenti. Hal ini dapat menyebabkan ketersediaan unsur hara dalam tanah akan menurun (Gupta dan O’Toole. Menurut Madkar et al.

Tanah lapisan bawah sedapat mungkin terangkat dan dibalik ke bagian atas. sedangkan bila lebih dari 7. Teknih pengolahan tanah adalah sebagai berikut : (1) Tanah dibajak atau dicangkul dua kali atau lebih hingga tanah cukup gembur dan bersih dari rerumputan. dilakukan pengolahan pendahuluan dengan menggunakan garpu.0 dapat menyebabkan tanaman padi ladang mengalami kekahatan unsur Zn (Gupta dan O’Toole. 1986). Pada tanah yang berat (tanah padat dan keras). (4) Dijaga agar tidak terjadi penggenangan air. Pengolahan tanah Pengolahan tanah dilakukan pada musim kering sebelum hujan turun. pada pH yang lebih rendah dari 5. 2.1.0 padi ladang dapat mengalami gangguan kekahatan unsur P.3. pupuk kandang atau kompos.berkisar antara 5. atau segera setelah tanaman yang mendahuluinya dipanen. tanah harus dihaluskan dengan garpu atau cangkul satu atau dua kali hingga tanah cukup halus. (3) Setelah tanah dibajak.5 hingga 6.5. pupuk organik ditebarkan sebanyak sekitar 20 ton per hektar dengan menggunakan pupuk hijau. karena dapat mengancam kehidupan sekeliling petak. Pengolahan tanah harus sampai kedalaman sedikitnya 25 sentimeter. (2) Pada waktu membajak atau mencangkul yang kedua kali. dengan cara membuat petakan-petakan berukuran 10 × 5 meter atau dengan membuat bagian tengah tegalan lebih tinggi daripada pinggirannya. .3. Budidaya Padi Ladang 2. keracunan Fe dan Al.

Pemilihan Benih Benih yang bermutu adalah yang murni dengan kandungan air maksimal 14 persen.2.3. Cara ini kurang lazim karena membutuhkan banyak benih yaitu sekitar 50 sampai 100 kilogram per hektar. Waktu tanam Waktu tanam sebaiknya dalam bulan Oktober dan November. 2.(5) Tanah dibiarkan saja sambil menunggu benih ditanam pada waktu permulaan musim hujan. Benih yang dipilih adalah benih yang tenggelam apabila benih dimasukkan dalam larutan garam atau larutan abu dapur. Cara menanam Ada berbagai cara yang dapat digunakan dala m menanam.01. 2. 2. bersih dari campuran atau kotoran-kotoran. yang berat jenisnya sekitar 1. b.3. Membuat aluran dengan kayu berujung runcing yang digariskan di atas tanah atau dengan cangkul atau kored dengan jarak antara aluran sekitar 60 . Disebar merata langsung ke permukaan tanah. Jika menanamnya bersamaan periode berlangsungnya hujan yang terus menerus. Penanaman a. Benih yang melayang atau terapung jangan dijadikan benih. ada kemungkinan benih tersebut terbawa air atau terdorong lebih jauh masuk ke dalam tanah dan juga dapat berakibat kurang baik untuk tanaman muda karena akan mengakibatkan gangguan hama dan penyakit yang hebat. yaitu setelah dua atau tiga kali turun hujan.3. bebas dari hama dan penyakit. diantaranya adalah : 1. segar dan daya berkecambah tinggi (minimal 80 %). tetapi tergantung pada awal musim penghujan.

lubang benih ditutup dengan campuran pupuk P. sedalam 3 hingga 5 sentimeter. Pupuk hijau misalnya dengan menggunakan Crotalaria juncea ditanam 4 hingga 6 bulan sebelum tanah ditanami padi ladang. Pupuk hijau ini ditanam berbaris dengan jarak antar barisan sekitar 90 hingga 120 sentimeter. pupuk kandang atau pupuk kompos). dan pupuk kandang. atau campuran antara pupuk P. jarak tanam yang terbaik adalah 20 × 20 sentimeter. Pemupukan a. sedangkan pada tanah yang kurang subur 15 × 40 sentimeter. pemberantasan hama. Pada permulaan musim hujan pupuk hijau ditebang dan dikuburkan pada waktu pengolahan tanah. Tumpangsari dengan tanaman lain dengan pengaturan sebaik-baiknya sehingga tidak merugikan tanaman pokok. 3. 4. . dan lain. dan abu (debu atau tanah halus). ketela. Pengaturan jarak tanam yang sebaik-baiknya disamping akan mempertinggi hasil. Pemupukan dapat dilakukan dengan menggunakan pupuk organik (pupuk hijau. Pemakaian benih kurang lebih 30 sampai 40 kilogram per hektar. 2. Pada jarak tertentu dibuat lubang dengan tugal.4. juga akan memudahkan dalam melakukan kegiatan lain di dalam pertanaman seperti penyiangan.sentimeter sedalam 3 sentimeter. setelah benih dimasukkan. kacang hijau dan sebagainya.lain. K. Dengan tugal. K. Jarak tanam pada tanah yang subur 15 × 20 sentimeter.3. Di sela-selanya dapat ditanami jagung. Untuk tiap lubang ditanam benih sebanyak 5 hingga 7 butir. Tumpangsari dengan jagung dapat diatur dengan jarak tanam jagung 150 × 60 sentimeter. Ke dalam aluran ditaburkan benih kemudian ditutup dengan tanah.

dan pupuk kandang adalah 0. 30 kilogram P2 O5 . maka pada pemberian kedua hendaklah pada sisi lain yang berlawanan. Salah satu kelemahan pupuk organik . Tanah dengan sifat yang demikian sangat sibutuhkan untuik tanaman padi ladang. yaitu masing. Kebutuhan pupuk kandang atau kompos sekitar 15 hingga 20 ton setiap hektar. Bila pada pemberian pertama di sisi yang satu dari tanaman. maka perbandingannya adalah 1 : 1 : 5. Perbandingan campuran pupuk fosfat. Pupuk organik terdiri dari kompos ataupun pupuk kandang.b. setengah pada saat 3 sampai 4 minggu sesudah benih ditugalkan dan setengah sisanya pada umur 6 sampai 7 minggu. Tanah yang cukup mengandung bahan organik akan lebih remah dan memiliki daya menahan air yang lebih besar. Cara pemberiannya adalah dengan membuat garitan sepanjang barisan tanaman.5 kwintal KCl) diberikan waktu penanaman sebagai pupuk dasar setelah dicampur dengan pupuk kandang. Pupuk fosfat (0.75 : 1 : 20 (0. Pupuk organik sangat bermanfaat pada tanah-tanah kering untuk memperbaiki struktur tanah. diisi dengan pupuk lalu ditutup lagi dengan tanah. dan 30 kilogram K2 O tiap hektar. abu atau debu atau tanah halus. Jika abu atau debu halus sebagai campuran digunakan. Pupuk organik ( upuk buatan) pada umumnya diberikan dengan dosis 60 p sampai 90 kilogram N.5 hingga 2 kwintal urea per hektar) diberikan dua kali. Pupuk organik meliputi sisa-sisa tanaman atau hewan. c.masing pada saat dilakukan penyiangan (dua bulan sejak benih ditugalkan).75 kwintal TSP + 1 kwintal ZK + 20 kwintal pupuk kandang). Pupuk N (1.75 kwintal TSP) bersama dengan pupuk K (0. kalium. Pupuk kandang dan kompos diberikan dengan pengolahan tanah karena pupuk tersebut lama hancurnya.

5. 2. Kompos disebar pada waktu pembajakan terakhir. Di samping itu pupuk organik sering mengandung biji-biji gulma sehingga dapat mengganggu pertumbuhan tanaman. kadang-kadang sesudah umur satu bulan masih disulam. tanaman sebaiknya dibumbun. b. Setelah penyiangan. Penyiangan Penyiangan atau pemberantasan gulma dapat dilakukan dengan cara mekanis atau dengan cara kimiawi. Isi gabah sudah mengeras tetapi bila dipijit dengan . Tanah di sela-sela tanaman dicangkul supaya renggang dan ge mbur. diperlukan sekitar 10 sampai 30 ton bahan organik. kecuali buku-buku sebelah atas yang masih hijau. Pemeliharaan a. tanah di sekeliling tanaman padi dibumbun (didangir) atau dihancurkan sedikit agar pembuangan air lebih mudah.3.3.6.adalah kadar haranya yang rendah. Panen dan Pengolahan Hasil Panen Untuk jenis-jenis yang mudah rontok. Penyiangan pertama dilakukan pada waktu tanaman berumur tiga sampai empat minggu. Penyiangan kedua pada saat tanaman berumur 60 hari. dan pupuk buatan disebar pada waktu penggaruan terakhir. panen dilakukan pada stadia masak kuning yaitu apabila seluruh pertanaman nampak kuning. tetapi ya ng digunakan untuk menyulam adalah bibit yang diambil dari rumpun yang besar. Kirakira satu hingga dua minggu sebelum malai padi keluar. Untuk me ncukupi kebutuhan hara bagi tanaman dalam satu hektar. Penyulaman Sejak tanaman berumur seminggu sampai umur tiga minggu tanaman padi ladang masih boleh disulam. 2.

penggerek batang. menggabahkan. Hama dan Penyakit Hama yang sering mendatangkan bahaya pada tanaman padi ladang dan perlu diperhatikan antara lain: lalat bibit yang dapat mengurangi kemampuan bertunas bahkan mematikan tanaman berumur setengah hingga satu setengah bulan. Phytium sp. Sistem Perladangan di Indonesia dan Perkembangannya Menurut Soekartawi (1986). Praktek perladangan menurut data arkeologi sudah dimulai pada saat manusia pertama kali mengubah jaman berburu dan mengumpulkan tanaman liar ke sistem berproduksi tanaman dan beternak dengan budidaya yang masih primitif. dan lain.4. panen dilakukan pada stadia masak penuh. Cara mengetam.lain. walang sangit yang menyebabkan kosongnya sebagian dari malai. babi hutan.7.tangan isi gabah mudah pecah. Sedangkan untuk jenis-jenis yang tidak mudah rontok. kepik padi hijau. 2.lain.3. ulat tentara. jagung. burung. ladang atau tegalan adalah suatu lahan usahatani pada lahan kering yang biasa dipakai untuk usaha bercocok tanam. tikus. penyakit bercak daun Helminthosporium oryzae. mengeringkan dan mengolahnya selanjutnya sama dengan caracara pada padi sawah. tanaman jenis kacang-kacangan dan umbi. . Sedangkan penyakit yang umumnya menyerang padi ladang adalah penyakit bercak daun (Pyricularia oryzae). Tanaman yang biasa dibudidayakan adalah tanaman yang berumur pendek seperti padi ladang. dan lain. 2.umbian. Perladangan merupakan wujud dari peradaban jaman dulu yang berlangsung turun temurun dan masih berkembang hingga sekarang.

yang merupakan sistem yang paling sederhana. Dinas Kehutanan Kalimantan Barat (1981) dalam Hariyanto (1994). Berladang dengan siklus panjang. terkadang memiliki kebun. 1978 dalam Hariyanto. Berladang berpindah tanpa siklus dan tidak memiliki pemukiman tetap. Lahanlahan bekas perladangan yang sedang menurun produktivitasnya. tidak menggunakan tenaga hewan ataupun pemupukan dan tidak adanya konsep pemilikan tanah pribadi. mengelompokkan pola perladangan menjadi: a. Menurut Ditjen Kehutanan Direktorat Reboisasi dan Rehabilitasi (1981) dalam Hariyanto (1994) beberapa sistem perladangan yang ada di Indonesia adalah : a. Sistem rotasi alami. c. baik antara tempat tinggal di dalam desa maupun antar desa yang satu dengan lainnya. terkadang memiliki pemukiman tetap. Berdasarkan jangka waktu rotasinya.Demikian pula Pelzer dalam Geertz (1963) mengatakan bahwa perladangan itu ditandai oleh tidak adanya pembajakan. melainkan merupakan usaha ntuk menyesuaikan antara kepentingan beercocok tanam dengan keadaan alamnya (Soemarwoto. Berladang dengan siklus pendek sekitar lima tahun. e. memiliki pemukiman tetap dan kebun. Peladang pada umumnya hidup berpencar berjauhan satu dengan yang lain. baik karena . 1994). input tenaga-tenaga sedikit dibandingkan dengan bercocok tanam yang lain. Berladang setiap tahun. Berladang dengan siklus sedang diatas tujuh tahun dan memiliki pemukiman tetap. Hal ini bukan karena sifat peladang yang enggan untuk hidup berdekatan. b. d.

sehingga dapat berfungsi sebagai pencegah erosi serta penyubur tanah. yang merupakan perkembangan dari sistem rotasi alami. kopi dan cengkeh. c. Sistem ini ditemui di Nusa Tenggara Timur terutama Kupang. Sistem tumpang sari. Jenis-jenis tanaman keras yang dipilih adalah yang mempunyai prospek ekonomis baik seperti karet.lahan perladangan pada saat penggarapan pertama sudah ditanami tanaman sela yang ditanam dalam bentuk larikan sejajar kontur. merupakan suatu peningkatan dari sistem rotasi alami. kelapa. b. Sistem ini terdapat di Sulawesi Selatan dan Sulawesi Tenggara. Lampung dan Sumatera Selatan. d. Sistem tanaman sela. Sejak saat pertama penggarapan ladangnya. lada. Sistem talun. Yang dimaksud dengan talun adalah lapangan yang ditanami dengan berbagai macam pohon. Jenis dan susunan pepohonan tersebut dibuat sedemikian sehingga mempunyai prospek ekonomis serta sesuai dengan kebutuhan pemiliknya. Tanaman sela itupun dibiarkan tumbuh sehingga suksesi alami berjalan lebih cepat. sebagai akibat masuknya pertimbangan pemilihan jenis tanaman yang disesuaikan dengan keadaan pasar dan kondisi fisik lahannya. Lahan.tingkat kesuburannya sudah berkurang atau besarnya gangguan gulma. baik kayu-kayuan maupun buah-buahan. Sistem ini terdapat dipedalaman Kalimantan. para peladang menanam tanaman keras secara bersamaan dengan tanaman pangan. Sistem talun ini muncul atau dikenal terdapat di daerah Jawa Barat. . diserahkan begitu saja kepada kekuatan alam untuk merehabilitasi dirinya melalui suksesi alami.

yaitu : pekerjaan mencabut/membunuh rumput-rmput yang tumbuh diantara tanaman padi. Merumput. pada dasarnya tidak berurutan yaitu : (a) memanen hasil tanaman bukan padi. (b) membat pondok diladang. yaitu : memotong pohon berdiameter besar dengan menggunakan kapak (beliung). c.lubang pada permukaan tanah dengan menggunakan ranting atau dahan yang diruncingkan ujungnya (tuga l) dimana biji-biji padi kemudian dimasukkan. Pemilihan tempat. maka tanaman padi akan tertekan sehingga hasilnya sangat rendah. Mengetam atau memanen hasil padi. h. hutan sekunder. Rendahnya produksi yang dihasilkan oleh peladang . mengemukakan bahwa perladangan hampir selalu dilakukan dengan cara yang sama. Bila ditinjau dari aspek ekonomi peladang berpindah (perladangan) dicirikan oleh produktivitas yang rendah. Selain itu ada kegiatan lain yang menurut Dove (1988) dalam Hariyanto (1994). g. Membakar daun dan ranting yang sudah kering. yaitu : pemotongan belukar kecil dengan menggunakan parang Menebang. dengan urutan prioritas dari yang paling disukai : hutan perawan. Menugal adalah membuat lubang. juga berguna untuk mengurangi keasaman tanah. karena bila rumput dibiarkan tumbuh lebat. (c) membuat alat-alat untuk bekerja di ladang. d. Menugal dan menanam biji. Pembakaran ini selain ditujukan untuk membersihkan lahan dari sisa-sisa penebasan dan penebangan. belukar dan yang terakhir padang alang-alang. b. Secara kronologis pekerjaan yang dilakukan adalah : a. Menjaga tanaman dari serangan hama seperti babi hutan. Menebas. f.Simon (1981) dalam Hariyanto (1994). e.

seperti yang dikemukakan Simon (1981) dalam Hariyanto (1994). Dari aspek sosial peladang dicirikan oleh rendahnya tingkat pendidikan. Bagi pemerintah pun tidak mudah untuk menyelenggarakan fasilitas pendidikan dan fasilitas sosial lainnya. Keseluruhan faktor. Akibatnya harga jual produksi yang dihasilkan rendah. tingkat ketrampilan dan pengetahuan yang dimiliki peladang dalam pengelolaan lahan serta tingginya angka kelahiran dan kematian penduduk karena masih rendahnya tingkat kesehatan. Produktivitas yang rendah cenderung diikuti pula oleh rendahnya kualitas produksi yang dihasilkan. tetapi juga kegunaannya tidak mencapai tingkat optimal yang diharapkan. Padahal bila dilihat dari lingkungan sistem perladangan kemungkinan uuntuk terserang hama dan penyakit sangat tinggi dan upaya pengendalian lebih sulit. menyebabkan anak-anak peladang sangat sulit untuk mengikuti pendidikan formal secara teratur. 1981 dalam Hariyanto.faktor di atas menyebabkan rendahnya tingkat pendapatan usahatani peladang berpindah (Simon. Tempat tinggal yang berpencar dan kemungkinan pindah mengikuti rotasi perladangan. Dengan sifat perladangan yang masih tradisional upaya pengendalian terhadap hama dan penyakit juga dilaksanakan dengan cara yang sederhana. 1994). Oleh karena itu sebagian dari peladang tidak berpendidikan sama sekali. Masyarakat di Kalimantan Timur.juga ditunjukkan oleh ketidakpastian hasil ya ng disebabkan tingginya pengaruh iklim. 61 persen tidak . hama dan penyakit. ditambah lagi dengan belum adanya prospek pemasaran hasil produksi dan sifat komoditi yang dihasilkan masih bersifat musiman. bukan karena biayanya yang menjadi mahal.

Sedangkan ketidakpastian adalah sesuatu yang tidak bisa diramalkan sebelumnya. ketidakpastian. 1981). Dillon et al. karena kelebihan pendapatan sering digunakan untuk kepentingan lainnya. menjelaskan adanya perilaku enggan menerima resiko dalam pengambilan keputusan petani disebabkan oleh adanya dilema ekonomi petani sentral yang dihadapi oleh kebanyakan rumah tangga petani. Perilaku Ekonomi Petani Perilaku ekonomi mempunyai tiga hal yang patut diperhatikan (Scott. Sifat khas yang . serta keuntungan. karena peluang terjadinya merugi belum diketahui sebelumnya (Soekartawi et al. dalam Soekartawi (1986) memberikan indikasi bahwa sebagian besar petani subsistem mempunyai keengganan memikul resiko. 2. dengan kecenderungan yang lebih besar pada pemilik lahan sempit dan umumnya dari petani penyakap. 1995). Istilah resiko dimaksudkan kepada terjadinya kemungkinan merugi atau possibility of loss. sedang 27 persen hanya pernah sekolah tidak lebih dari kelas tiga sekolah dasar. yaitu resiko.pernah sekolah.. jadi peluang akan terjadinya merugi akan diketahui terlebih dahulu. dan karena itu kondisi tersebut menyebabkan rumah tangga petani tidak banyak mempunyai peluang untuk menerapkan keuntungan maksimal dalam berusahatani. dalam Satria. Pada petani kecil perolehan pendapatan usahataninya akan lebih banyak digunakan untuk mengembangkan usahataninya. sering ditemui bahwa semakin kecil petani melakukan capital formation dalam usahataninya.5. serta selalu mengalami ketidakpastian cuaca dan tuntutan-tuntutan dari pihak luar. Dalam banyak hal. Scott (1981). Kehidupan petani di pedesaan begitu dekat dengan batas subsistensi.

6.senantiasa ada pada diri petani ialah berusaha menghindari kegagalan yang akan menghancurkan kehidupannya dan bukan berusaha memperoleh keuntungan besar dengan mengambil resiko..-. sehingga penerimaan dari produksi jagung sebesar Rp. 2.824.100. Sedangkan ratarata jagung yang dihasilkan per hektar sebesar 1. Biaya tunai yang dikeluarkan dalam usahatani padi ladang tumpangsari dengan jagung sebesar Rp.. total penerimaan petani dari usahatani padi ladang yang ditumpangsari dengan jagung sebesar Rp.sedangkan biaya total sebesar Rp. Jadi. Hasil Penelitian Terdahulu Penelitian terdahulu mengenai usahatani padi ladang atau padi gogo dilakukan oleh Susanto (2004).sedangkan pendapatan atas biaya total .647.700. Dengan kata lain petani berusaha meminimumkan keuntungan subjektif dari kerugian maksimum. tetapi sebagian besar petani menengah juga bertindak serupa.450.109..per kilogram. Perilaku demikian yang disebut juga perilaku safety first atau mendahulukan keamanan merupakan ciri umum petani. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata penerimaan petani dari produksi padi ladang per hektar per musim tanam sebesar Rp.348.1.312. Kabupaten Tasikmalaya.per kilogram dan produksi padi ladang per hektar rata-rata sebesar 793 kilogram dalam bentuk gabah kering panen. Dengan komposisi biaya seperti ini..100.995. pendapatan atas biaya tunai yang diperoleh petani adalah sebesar Rp.091.1.1.438 kilogram dengan harga jual rata-rata Rp.1.683..575.200. Bukan saja petani miskin yang memiliki perilaku tersebut.-.1.dengan harga jual rata-rata sebesar Rp. Penelitian ini melakukan analisis tentang pendapatan dan efisiensi penggunaan faktor produksi usahatani padi ladang secara tumpangsari dengan jagung di Kecamatan Kadipaten.

Dari analisis model fungsi produksi Cobb-Douglas yang dilakukan Susanto (2004).8 berarti bahwa 67. TSP. dan faktor iklim. diperoleh hasil F-hitung yang nyata pada taraf kepercayaan 95 persen.170.09.faktor lain di luar model regresi. Hal ini berarti dari segi analisis pendapatan usahatani padi ladang secara tumpangsari dengan jagung menguntungkan karena penerimaan yang lebih besar dari biaya total yang dikeluarkan. Sedangkan faktor produksi luas lahan. Nilai R2 -adjusted sebesar 67.92. Sedangkan penggunaan faktor produksi luas lahan dan jumlah benih masih kurang untuk mencapai level efisien. pupuk KCl. yang ditunjukkan oleh rasio NPM dan BKM yang lebih kecil dari satu. Sedangkan 32. dan tenaga kerja tidak efisien (berlebihan). dan pupuk TSP berpengaruh nyata terhadap nilai produksi.8. intensitas serangan hama. pupuk TSP. diperoleh hasil bahwa penggunaan faktor produksi pupuk Urea.sebesar Rp. Faktor.5 dengan nilai koefisien determinasi terkoreksi (R2 -adjusted) sebesar 67.8 persen kergaman pada nilai produksi dapat dijelaskan oleh variabel bebas yang digunakan dalam fungsi produksi yaitu luas lahan. diperoleh hasil bahwa faktor produksi jumlah benih. pupuk Urea. KCl. dan nilai koefisien determinasi (R2 ) sebesar 74..625. Penggunaan faktor produksi . dan tenaga kerja. Berdasarkan hasil uji-t yang dilakukan Susanto (2004).2 persen lainnya dari keragaman nilai produksi dipengruhi faktor. Berdasarkan analisis efisiensi dengan rasio NPM dan BKM. jumlah benih.faktor lain di luar model yang diduga berpengaruh tersebut adalah tingkat kesuburan lahan. puuk KCl dan tenaga kerja tidak berpengaruh nyata terhadap nilai produksi pada taraf kepercayaan yang ditentukan. dan rasio R/C atas biaya total sebesar 1.Jadi rasio R/C atas biaya tunai diperoleh sebesar 2. pupuk Urea.

11. status penguasaan lahan. pengalaman bertani. pupuk. serta alat pengolahan padi. Hal ini dilihat dari : tingkat pendidikan. .39. Penelitian ini menyimpulkan bahwa teknologi usahatani padi ladang yang digunakan di wilayah Luar Baduy (Jalupang Mulya) lebih maju dibandingkan dengan Baduy Luar.22. Kecamatan Leuwi Damar. dimana rasio R/C atas biaya total untuk Baduy Luar sebesar 0. luas lahan garapan. Namun dari segi analisis pendapatan dengan menggunakan analisis rasio R/C. Rendahnya nilai rasio R/C untuk usahatani padi ladang di wilayah Luar Baduy diduga disebabkan oleh : (1) Tingkat kesuburan lahan di wilayah Baduy Luar yang lebih subur dibandingkan dengan wilayah Luar Baduy.yang tidak efisien ini diduga disebabkan oleh pengetahuan petani yang terbatas akibat tingkat pendidikan dan tingkat ekonomi yang rendah serta status penguasaan lahan. usahatani padi ladang di wilayah Baduy Luar (Kanekes) menghasilkan nilai rasio R/C yang lebih tinggi daripada Luar Baduy (Jalupang Mulya). Banten. Kabupaten Lebak. obat dan cara pengobatan hama dan penyakit tanaman. lebih besar daripada R/C atas biaya tunai untuk Luar Baduy yang sebesar 0. jenis alat pengolahan lahan. jenis varietas padi. dilihat dari segi intensitas penggunaan lahan. Demikian juga dengan R/C atas biaya tunai untuk wilayah Baduy Luar sebesar 1.26 sedangkan R/C atas biaya total untuk luar baduy sebesar 0. Penelitian lain mengenai padi ladang dilakukan oleh Rahayu (2001) dengan judul “Perbandingan Usahatani Padi Ladang Baduy Luar dan Luar Baduy Dilihat Dari Tingkat Efisiensi dan Subsistensi Usahatani” di Desa Kanekes dan Desa Jalupang Mulya.

Penelitian yang dilakukan Wana (2000) dengan judul “Analisis Faktorfaktor Produksi Padi Lahan Kering di Indonesia”.faktor yang mempengaruhi produksi luas areal panen padi lahan kering (ladang) di seluruh regional adalah : . Penelitian ini menyimpulkan bahwa faktor. dan Nusa Tenggara Barat. Wana (2000) mengelompokkan Indonesia menjadi tiga daerah regional yaitu : Regional I meliputi seluruh provinsi Jawa. sedangkan usahatani padi ladang untuk wilayah termasuk dalam usahatani semi-subsisten mengarah ke subsisten (Transisi-Statis). Dilihat dari segi tingkat subsistensi. usahatani padi ladang di wilayah Luar Baduy tergolong usahatani semi. dan Irian Jaya. nilai rasio upah tenaga kerja dan rasio faktor input. Regional III meliputi seluruh provinsi di pulau Sulawesi. Timtim. sementara usahatani padi ladang di wilayah Baduy Luar tidak menggunakan pupuk dan pestisida sama sekali. (3) Kondisi lingkungan usahatani padi ladang di wilayah Luar Baduy yang sedang terserang hama dan penyakit. Bali. NTT. (4) Penggunaan pupuk dan pestisida yang belum tepat untuk wilayah Luar Baduy. Maluku. melakukan analisis pendugaan model respon areal luas panen dan produktivitas padi lahan kering di seluruh Indonesia.(2) Tingkat upah tenaga kerja luar keluarga di wilayah Luar Baduy lebih tinggi daripada wilayah Baduy Luar. Regional II meliputi seluruh provinsi di pulau Sumatera dan Kalimantan. Kesimpulan ini diambil berdasarkan analisis terhadap : tujuan produksi.subsisten mengarah ke komersial (TransisiDinamis). serta tingkat pendayagunaan lembaga pertanian.

Pendapatan atas biaya tunai dan biaya total yang diperoleh daerah dengan lahan sawah yang menggunakan irigasi teknis juga lebih tinggi daripada lahan sawah beririgasi sederhana.7554.947 kwintal dalam satu tahun (dua musim tanam).faktor yang mempengaruhi produksi dan pendapatan usahatani padi sawah pada jaringan irigasi teknis (Desa Tinggar Jaya.5574 dan di Desa Losari (irigasi sederhana) sebesar 1. Rasio R/C atas biaya total di Desa Tinggar Jaya (irigasi teknis) sebesar 1. Perbedaan tingkat produksi tersebut 24. luas lahan kering. Kecamatan Jatilawang) dan irigasi sederhana (Desa Losari. harga jagung. yang memberi indikasi bahwa di Indonesia terutama di Jawa peningkatan luas areal panen dan produktivitas sudah hampir mendekati level optimum. Kecamatan Rawalo). Rasio R/C atas biaya tunai di Desa Tinggar Jaya (irigasi teknis) sebesar 2.4193.harga beras. Kabupaten Banyumas. Yelni (1999) meneliti tentang faktor. Penelitian ini juga memperoleh kesimpulan bahwa peningkatan produksi dengan mengupayakan peningkatan luas areal dan produktivitas padi ladang pada umumnya tidak responsif terhadap faktor. harga kedelai. varietas unggul. Berdasarkan analisis model fungsi produksi . Sedangkan faktor. Penelitian ini menyimpulkan bahwa tingkat produksi per hektar di daerah irigasi teknis lebih tinggi daripada daerah irigasi sederhana. Jawa Tengah. dan luas areal panen padi tahun sebelumnya.4637. kegiatan produksi harus tetap ditingkatkan. Akan tetapi dalam upaya memenuhi kebutuhan beras nasional dan mengurangi impor beras.faktor yang mempengaruhi produktivitas padi lahan kering (ladang) di seluruh regional adalah harga pupuk urea. sedangkan di Desa Losari (irigasi sederhana) sebesar 2. harga ubikayu. dan harga pupuk TSP.faktor yang berpengaruh. curah hujan.

jumlah pupuk TSP yang digunakan. Rasio R/C atas biaya tunai dan atas biaya total pada usahatani padi sawah organik didapat sebesar 2. dan tenaga kerja. Sedangkan untuk usahatani padi sawah di Desa Losari (irigasi sederhana).63.faktor yang berpengaruh nyata pada 0.dengan menggunakan analisis model Cobb-Douglas.10 adalah penggunaan pestisida dan dummy luas lahan. pestisida butir. sedangkan faktor.68 dan 1.05 < a = 0. sedangkan rasio R/C atas biaya tunai dan atas biaya total pada usahatani padi sawah konvensional sebesar 2. Berdasarkan analisis fungsi produksi dengan menggunakan model fungsi produksi Cobb-Douglas.72. Sedangkan faktor. faktor. Faktor.faktor yang berpengaruh nyata terhadap produksi pada usahatani padi sawah konvensional adalah luas lahan. pupuk urea.14 dan 1.569 kg/ha sedangkan produktivitas padi sawah konvensional sebesar 5. Produktivitas padi organik sebesar 4. diperoleh hasil bahwa untuk usahatani padi sawah di Desa Tinggar Jaya (irigasi teknis). jumlah benih yang digunakan.faktor yang berpengaruh nyata adalah penggunaan tenaga kerja dan dummy luas lahan.263 kg/ha. . Penelitian ini menyimpulkan bahwa produktivitas padi organik (input rendah) lebih kecil dibandingkan padi konvensional. faktor-faktor yang berpengaruh nyata pada a = 0. Kabupaten Karawang. Wijaya (2002) melakukan penelitian tentang perbandingan pendapatan dan efisiensi usahatani padi sawah organik (input rendah) dan usahatani padi sawah konvensional di Kecamatan Tempuran.05 adalah benih dan pupuk. dan penggunaan tenaga kerja.faktor yang berpengaruh nyata terhadap produksi pada usahatani padi sawah organik luas lahan. disimpulkan bahwa usahatani padi organik berada pada kondisi decreasing return to scale (hasil yang semakin menurun).

artinya syarat keharusan untuk mencapai level efisien tidak teroenuhi sehingga penggunaannya untuk mencapai efisien tidak dapat diramalkan karena rasio NPM dan BKM tidak akan pernah sama dengan satu (NPM/BKM ? 1). Hal ini terbukti dari nilai NPM/BKM semua faktor produksi yang tidak sama dengan satu. diketahui bahwa penggunaan faktor-faktor produksi belum efisien. pupuk organik. Faktor-faktor yang penggunaannya harus ditingkatkan agar dicapai level efisien adalah luas lahan. . pupuk daun.Berdasarkan analisis efisiensi ekonomi dengan menggunakan rasio Nilai Produk Marjinal dan Biaya Korbanan Marjinal (NPM/BKM) untuk usahatani padi sawah organik. pestisida butir. Sedangkan faktor. dan tenaga kerja. Untuk faktor benih dan pestisida cair didapat nilai rasio NPM dan BKM yang negatif.faktor yang penggunaannya berlebihan adalah pupuk urea dan TSP.

B. linggis. c. Adanya pencurahan kerja untuk mengolah tanah. Adanya lahan dalam luasan dan produk yang tertentu. unsur ini dalam usahatani mempunyai fungsi sebagai usaha tempat bercocok diselenggarakannya tanam. d.lain. dan lain. pompa air dan lain. parang. Konsep Usahatani Usahatani adalah setiap kombinasi yang tersusun (terorganisasi) dari alam. Berdasarkan pengertian di atas. garpu. memelihara dan lain. kandang. maka suatu usahatani dapat digambarkan lebih rinci sebagai berikut : a. 1988). Adanya alat-alat pertanian seperti cangkul.1. penyemprot. Bachtiar Rifai dalam Hernanto. KERANGKA PEMIKIRAN 3. menanam. b.lain. kerja dan modal yang ditujukan kepada produksi di lapangan pertanian (T. . traktor. gudang. lantai jemur.III. pemeliharaan hewan ternak dan tempat keluarga tani bermukim.lain. Adanya bangunan yang berupa rumah petani.

Adanya kegiatan petani yang menetapkan rencana usahataninya. mengawasi jalanya usahatani dan menikmati hasil usahataninya.faktor produksi lahan. dan (3) bentuk campuran yaitu usahatani yang memadukan beberapa cabang usaha secara bercampur. Sedangkan bentuk usahatani terdapat tiga jenis yang menunjukkan bagaimana suatu kondisi diusahakan yaitu : (1) bentuk khusus dimana petani hanya mengusahakan satu jenis usaha dari sebidang tanah. baik yang dijual maupun untuk dikonsumsi keluarga atau dipergunakan lagi dalam proses produksi selanjutnya. Keluarga usaha menghasilkan produksi. Soeharjo dan Patong (1973) menyatakan bahwa pendapatan adalah balas jasa dari kerjasama faktor. Untuk kegiatan rumahtangga pada umumnya bersifat konsumtif. menyewakan lahan dan lain sebagainya. 3. . mengatakan bahwa ada dua pola usahatani yang sangat pokok yaitu pola usahatani lahan basah dan lahan kering. misalnya menjual kelebihan alat-alat produksi.e. Secara umum dalam setiap rumahtangga usahatani pada hakekatnya terdapat dua kegiatan ekonomi yaitu kegiatan usaha dan kegiatan rumahtangga atau keluarga.unsur produksi. Pendapatan Usahatani Pemenuhan kebutuhan hidup rumahtangga usahatani dicukupi dari pendapatan usahatani. tenaga kerja.2.faktor produksi cenderung bersaing dan batas pemisahan antara cabang usahatani kurang jelas. modal dan jasa pengelolaan. dimana penggunaan faktor. Pendapatan usahatani tidak hanya berasal dari kegiatan produksi saja tetapi dapat juga diperoleh dari hasil menyewakan atau menjual unsur. (2) bentuk tidak khusus yaitu usahatani yang terdiri dari berbagai cabang usaha pada berbagai bidang tanah. Soeharjo dan Patong (1973) dalam Soekartawi (1986).

Berkaitan dengan ukuran pendapatan dan keuntungan. Pengeluaran total usahatani merupakan selisih antara penerimaan kotor usahatani dan pengeluaran total usahatani. Penerimaan tunai usahatani merupakan nilai uang yang diterima dari penjualan b. Soekartawi (1986) mengemukakan beberapa definisi : a. Penerimaan total usahatani merupakan nilai semua yang habis terpakai atau dikeluarkan dalam produksi termasuk biaya yang diperhitungkan. . Dengan melakukan analisis pendapatan usahatani dapat diketahui gambaran keadaan aktual usahatani sehingga dapat melakukan evaluasi dengan perencanaan kegiatan usahatani pada masa yang akan datang. Pendapatan yang diharapkan tentu saja memiliki nilai positif dan semakin besar nilainya semakin baik. Secara harfiah pendapatan dapat didefenisikan sebagai sisa dari pengurangan nilai penerimaan yang diperoleh dengan biaya yang dikeluarkan. produk usahatani. c. Pengeluaran tunai usahatani adalah jumlah uang yang dibayarkan untuk pembelian barang dan jasa bagi usahatani. meskipun besar pendapatan tidak selalu mencerminkan efisiensi yang tinggi karena pendapatan yang besar mungkin juga diperoleh dari investasi yang jumlahnya besar pula. d. Pendapatan tunai usahatani adalah produk usahatani dalam jangka waktu tertentu. baik yang dijual maupun tidak dijual. e. Untuk mengukur keberhasilan usahatani biasanya dilakukan dengan melakukan analisis pendapatan usahatani.

Pengeluaran usahatani secara umum meliputi biaya tetap (fixed cost) dan biaya variabel (variable cost). Sedangkan biaya atau pengeluaran usahatani adalah nilai penggunaan faktor. biaya ini dapat berupa faktor produksi yang digunakan petani tanpa mengeluarkan uang tunai seperti sewa lahan yang diperhitungkan atas lahan milik sendiri.faktor produksi dalam melakukan proses produksi usahatani. Penerimaan usahatani adalah nilai produksi yang diperoleh dalam jangka waktu tertentu dan merupakan hasil perkalian antara jumlah produksi total dengan harga satuan dari hasil produksi tersebut. Biaya tetap adalah biaya yang sifatnya tidak dipengaruhi oleh jumlah produksi yang dihasilkan. penggunaan tenaga kerja dalam keluarga.Untuk menganalisis pendapatan usahatani diperlukan informasi mengenai keadaan penerimaan dan pengeluaran selama jangka waktu yang ditetapkan. pajak dan bunga pinjaman. Pendapatan kotor usahatani merupakan selisih dari penerimaan usahatani . penggunaan benih dari hasil produksi dan penyusutan dari sarana produksi. Sedangkan biaya yang diperhitungkan merupakan pengeluaran yang secara tidak tunai dikeluarkan petani. pupuk. pestisida dan upah tenaga kerja. Pendapatan kotor usahatani mengukur pendapatan kerja petani tanpa memasukkan biaya yang diperhitungkan sebaga i komponen biaya. Biaya tunai usahatani merupakan pengeluaran tunai yang dikeluarkan oleh petani. Pendapatan usahatani terbagi atas pendapatan kotor usahatani dan pendapatan bersih usahatani. Biaya tetap dapat berupa biaya sewa lahan. Biaya variabel dapat berupa biaya yang dikeluarkan unt uk benih. Biaya variabel adalah biaya yang sifatnya dipengaruhi jumlah produksi yag dihasilkan. Biaya dalam usahatani dapat dibedakan menjadi biaya tunai dan biaya yang diperhitungkan.

Kriteria kelayakan usahatani dapat diukur dengan menggunakan analisis imbangan penerimaan dan biaya (R/C ratio analysis) yang didasarkan pada perhitungan secara finansial. Analisis ini menunjukkan besar penerimaan usahatani yang akan diperoleh petani untuk setiap rupiah biaya yang dikeluarkan untuk kegiatan usahatani. Semakin besar nilai R/C maka akan semakin besar pula . Suatu usahatani dikatakan layak apabila memiliki tingkat efisiensi penerimaan yang diperoleh atas setiap biaya yang dikeluarkan hingga mencapai perbandingan tertentu. Pendapatan bersih usahatani diperoleh dari selisih penerimaan usahatani dengan biaya total usahatani.3.dengan biaya tunai usahatani. Sedangkan pendapatan bersih usahatani mengukur pendapatan kerja petani dari seluruh biaya usahatani yang dikeluarkan. 3. Analisis Imbangan Penerimaan dan Biaya (R/C Ratio Analysis) Menurut Soeharjo dan Patong (1973). pendapatan yang besar bukanlah sebagai petunjuk bahwa usahatani efisien.

penerimaan usahatani yang diperoleh untuk setiap rupiah biaya yang dikeluarkan atau usahatani dikatakan menguntungkan. Kegiatan usahatani dikategorikan layak jika memiliki nilai R/C ratio lebih besar dari satu, artinya setiap tambahan biaya yang dikeluarkan akan menghasilkan tambahan penerimaan yang lebih besar daripada tambahan biaya atau secara sederhana kegiatan usahatani menguntungkan. Sebaliknya kegiatan usahatani dikategorikan tidak layak jika memiliki nilai R/C ratio lebih kecil dari satu, yang artinya untuk setiap tambahan biaya yang dikeluarkan akan menghasilkan tambahan penerimaan yang lebih kecil daripada tambahan biaya atau kegiatan usahatani merugikan. Sedangkan untuk kegiatan usahatani yang

memiliki nilai R/C ratio sama dengan satu berarti kegiatan usahatani berada pada keuntungan normal. 3.4. Teori Produksi Setiap proses produksi melibatkan suatu hubungan yang erat antara faktorfaktor produksi yang digunakan dengan produk yang dihasilkan . Faktor- faktor produksi seperti lahan, pupuk, tenaga kerja, modal dan sebagainya sangat mempengaruhi terhadap besar kecilnya produksi yang diperoleh. Keputusan penggunaan sumber daya atau input, baik dalam kuantitas maupun kombinasi yang dibutuhkan dalam suatu tingkat produksi ditentukan oleh petani (produsen).
Y (Produksi)

TP

I

II

III

Keterangan

: TP MP AP

= Total Produksi = Marginal Product (Produk Marjinal) = Average Product (Produk Rata-rata)

Fungsi produksi secara sederhana dapat digambarkan sebagai hubungan fisik atau hubungan teknis antara jumlah faktor produksi yang digunakan dengan jumlah produk yang dihasilkan per satuan waktu tanpa memperhatikan faktor harga.

Seperti ditunjukkan dalam Gambar 1, fungsi produksi didefinisikan sebagai hubungan antara input dengan output yang menunjukkan suatu tingkat dimana sumberdaya dapat diubah sehingga menghasilkan produk tertentu (Doll dan Orazem, 1984). Dengan kata lain fungsi produksi menggambarkan kombinasi penggunaan beberapa faktor produksi untuk menghasilkan suatu tingkat produksi tertentu. Secara matematis, fungsi produksi dapat dinyatakan sebagai berikut (Doll dan Orazem, 1984) : Y = f(X1 , X2 , X3 ,…,Xn ) .......................................................... (3.1) Keterangan : Y X1 ,X2 ,..,Xn f : Jumlah produksi yang dihasilkan dalam proses produksi : Faktor- faktor produksi yang digunakan dalam proses produksi : Bentuk hubungan yang mentransformasikan faktor- faktor produksi ke-n dalam hasil produksi

Menurut Doll dan Orazem (1984), suatu fungsi produksi dapat dibagi ke dalam tiga daerah produksi. dapat Daerah

produksi

tersebut

dibedakan dari

berdasarkan

elastisitas

produksi

faktor-faktor produksi. Pada Gambar 1,

Daerah ini dicirikan oleh penambahan hasil produksi yang peningkatannya makin berkurang (decreasing return to scale). elastisitas produksi bernilai antara nol dan satu. antara nol dan satu (daerah II).ketiga daerah tersebut adalah daerah dengan elastisitas produksi yang lebih besar dari satu (daerah I). mempunyai nilai elastisitas produksi lebih besar dari satu. Syarat keharusan untuk tercapainya keuntungan maksimum adalah tingkat produksi yang terjadi harus berada pada daerah II dalam kurva fungsi produksi. karena produksi masih dapat diperbesar dengan pemakaian faktor produksi yang lebih banyak. Daerah produksi I yang terletak antara 0 dan X2. Pada tingkat tertentu dari penggunaan faktor-faktor produksi di daerah ini akan memberikan keuntungan maksimum. artinya setiap penambahan faktor produksi sebesar satu persen akan menyebabkan penambahan produksi paling tinggi satu persen dan paling rendah nol.faktor produksi sudah . Oleh karena itu daerah I disebut sebagai daerah irrasional (irrational region atau irrational stage of production). yang berarti bahwa penambahan faktor produksi sebesar satu persen akan menyebabkan penambahan produksi yang selalu lebih besar dari satu persen. Hal ini berarti bahwa penggunaan faktor. Keuntungan maksimum belum tercapai. dan lebih kecil dari nol (daerah III). Pada daerah ini yang terletak antara X2 dan X3.

optimal. sehingga daerah ini disebut juga sebagai daerah irrasional. Daerah produksi ini mencerminkan pemakaian faktor. Fungsi keuntungan yang diperoleh usahatani dapat dinyatakan sebagai berikut : n  π = Py .masing faktor produksi sama dengan nol (Doll dan Orazem. Efisiensi Ekonomi Usahatani akan mencapai efisiensi ekonomi jika tercapai keuntungan maksimum.i yang digunakan dalam proses produksi TFC = Total Fixed Cost (Biaya Tetap Total) Dengan demikian untuk memenuhi syarat tercapainya keuntungan maksimum.faktor produksi akan menyebabkan penurunan jumlah produksi yang dihasilkan. Oleh karena itu daerah II disebut sebagai daerah rasional (rational region atau rational stage of production). Daerah Produksi III mempunyai elastisitas produksi lebih kecil dari nol. maka turunan pertama dari fungsi keuntungan adalah : ∂π ∂Y = Py − Px i = 0 ∂X i ∂X i = ∂Y − Px i = 0 ∂X i .5. artinya setiap penambahan faktor.n Y = hasil produksi Px i = harga pembelian faktor produksi ke –i Xi = jumlah faktor produksi ke...….2)  i =1  Keterangan : π = pendapatan usahatani Py = harga per unit produksi i = 1.X i + TFC  ……………………………………….2.3.Y − ∑ Px i .faktor produksi yang sudah tidak efisien. (3. 3. 1984). Syarat untuk mencapai keuntungan maksimum adalah turunan pertama dari fungsi keuntungan terhadap masing.

Penambahan penggunaan faktor produksi berhenti ketika Py. atau secara matematis dapat dituliskan : Xi = f (Py . Px i ..MPx i = Pxi ……………………………………………………… (3.MP x i = P x i .MP x i ) harus lebih besar daripada tambahan biaya yang dikeluarkan untuk pembelian faktor produksi ke.i (Py.5) Sesuai dengan prinsip keseimbangan marjinal (equi-marginal principle).i dan jumlah output yang dihasilkan.MP x i = Nilai Produk Marjinal (NPM) faktor produksi ke-i P xi = Biaya Korbanan Marjinal (BKM) faktor produksi ke-i (3. Secara matematis keuntungan maksimum dari penggunaan faktor produksi ke-i dinyatakan sebagai berikut : Py. Pada saat inilah keuntungan maksimal tercapai. harga faktor produksi ke. bahwa untuk mencapai keuntungan maksimal. tambahan nilai produksi akibat tambahan penggunaan faktor produksi ke.3) ∂X i Dari persamaan tersebut dapat diketahui bahwa level penggunaan faktor produksi ke-i yang efisien merupakan fungsi dari harga output..Py ∂Y = Px i ………………………………………………………….6) . Pxi keterangan : Py.4) Dengan mengetahui ∂Y ∂X i sebagai Marginal Product (MPxi) faktor produksi ke-i.i tersebut (P x i ). maka persamaan diatas menjadi : Py. (3.MPxi = 1 ………………………………………………………. Y) ……………………………………………………… (3.

.MPxi < Pxi maka penggunaan faktor produksi harus dikurangi.MP x i > P x i . = = 1 ………………. Px1 Px2 Px3 Pxn (3.. Sebaliknya.Artinya keuntungan maksimum tercapai pada saat tambahan nilai produksi akibat tambahan penggunaan faktor produksi ke-i harus sama dengan biaya korbanan marjinal atas faktor produksi ke-i tersebut atau rasio keduanya sama dengan satu. . Ketika Py. Jadi secara umum keuntungan maksimum dari penggunaan n faktor produksi akan diperoleh pada saat : PyMPx1 PyMPx2 PyMPx3 PyMPxn = = = .7) Dengan asumsi Py dan P x i merupakan nilai yang konstan. maka hanya ∂Y yang mengalami perubahan . maka penggunaan ∂X i faktor produksi harus ditambah agar tercapai keuntungan maksimum.. jika Py.

Desa Wanajaya Alasan memilih desa tempat sebagai pengambilan data adalah karena desa tersebut memiliki luas lahan padi ladang yang paling besar diantara desa-desa lain di Kecamatan Teluk Jambe.IV.1. . Pemilihan lokasi dilakukan secara purposive yaitu di Desa Wanajaya. METODE 4. Kecamatan Teluk Jambe. Kabupaten Karawang. Lokasi dan Waktu Penelitian PENELITIAN Pengumpulan data dilakukan dari bulan Mei hingga Juni 2005 sekitar satu bulan setelah musim panen padi ladang di lokasi penelitian.

2. 4. Penelitian ini didesain untuk mengetahui tingkat pendapatan usahatani padi di lahan kering. Metode Pengumpulan Data dan Penentuan Sampel Data yang digunakan dalam penelitian ini meliputi data primer dan sekunder . selain itu juga untuk mengetahui tingkat efisiensi penggunaan faktor-faktor produksi agar usahatani berada pada skala optimal. Jumlah petani contoh sebanyak 40 orang yang merupakan petani pemilik. Pemilihan petani contoh .Pemilihan Kecamatan Teluk Jambe didasarkan pada pertimbangan bahwa kecamatan penghasil ini padi merupakan ladang di salah satu Kabupaten Karawang. petani penggarap dan petani pemilik penggarap. Data primer yang dikumpulkan dengan melakukan pengamatan dan wawancara langsung dengan petani responden dengan mengajukan pertanyaan yang dibuat dalam bentuk kuesioner yang telah dipersiapkan sebelumnya.

4. Analisis kualitatif digunakan untuk mengetahui gambaran umum usahatani padi dan keragaan usahatani padi lahan kering di Desa Wanajaya.faktor yang mempengaruhi produksi dan tingkat efisiensi usahatani padi ladang dengan menggunakan analisis pendapatan usahatani. artikel. anggota Badan Perwakilan Desa (BPD) serta kelembagaan lain di desa. Metode Analisis Data Analisis data dilakukan secara kualitatif dan kuantitatif. pengolahan dan penyusunan dalam bentuk tabulasi untuk selanjutnya dianalisis. karya ilmiah yang berkaitan dengan masalah penelitian dan melalui internet. majalah. Data sekunder diperoleh dengan cara penelusuran kepustakaan buku. Data yang telah terkumpul kemudian mengalami tahapan pengeditan.dilakukan secara acak sederhana (simple random) dari suatu daftar petani yang telah dipersiapkan sebelumnya. Kabupaten Karawang. analisis fungsi produksi dan analisis efisiensi. 4. dan Pemerintah Daerah di lokasi penelitian. Kecamatan Teluk Jambe. Balai Penelitian Tanaman Pangan. Sedangkan analisis kuantitatif dilakukan untuk mengetahui faktor. Pusat Penelitian dan Pengembangan Sosial Ekonomi Pertanian. Selain itu data sekunder juga diperoleh dari Biro Pusat Statistik. Departemen Pertanian. Di samping wawancara terstruktur. Analisis Pendapatan Usahatani .3.1. dilaksanakan pula wawancara tidak terstruktur dengan sejumlah perangkat desa.3. Pengolahan data dilakukan dengan menggunakan program Microsoft Excel dan Minitab 13 for Windows. laporan penelitian.

(4. Kemudian dilakukan penghitungan pendapatan usahatani atas biaya tunai atau pendapatan kotor usahatani dan penghitungan pendapatan usahatani atas biaya total atau pendapatan bersih.3.2.Untuk menganalisis pendapatan usahatani dilakukan pencatatan terhadap seluruh penerimaan dan pengeluaran usahatani dalam satu musim tanam. 4. Penghitungan pendapatan usahatani dirumuskan secara matematis seperti pada persamaan berikut : GFI = NP .BT ……………………………………………………. Dalam analisis ini data penerimaan usahatani dan pengeluaran usahatani dibandingkan ke dalam satu rasio.2) atau bisa juga ditulis secara singkat sebagai berikut : NFI = GFI – BD …………………………………………………. . Data pengeluaran biaya dikelompokkan menjadi dua bagian.. yaitu dibedakan menjadi R/C atas biaya tunai dan R/C atas biaya total..(BT + BD) …………………………………………….1) (4. NFI = NP . Analisis imbangan penerimaan dan biaya dilakukan berdasarkan jenis biaya yang dikeluarkan. Keterangan : GFI = Gross Farm Income (Pendapatan kotor usahatani) NFI = Net Farm Income (Pendapatan bersih usahatani) NP = Nilai Produksi BT = Biaya Tunai Usahatani BD = Biaya yang Diperhitungkan (4.3) dimana Pendapatan Bersih Usahatani (NFI) merupakan hasil pengurangan biaya diperhitungkan dari Pendapatan Kotor Usahatani (GFI). yaitu biaya tunai dan biaya yang diperhitungkan. Analisis Imbangan Penerimaan dan Biaya (R/C Ratio Analysis) Analisis imbangan penerimaan dan biaya (R/C ratio analysis) digunakan sebagai alat untuk mengukur kriteria kelayakan dari kegiatan usahatani yang dilakukan.

Pendugaan Fungsi Produksi Analisis fungsi produksi adalah analisis yang menjelaskan hubungan antara produksi dengan faktor. .. Fungsi produksi Cobb-Douglas dapat dirumuskan sebagai berikut : Y = bo X 1 X 2 X 3 X 4 .. Penggunaan fungsi Cobb-Douglas adalah dalam keadaan The Law of Diminishing Return untuk masing..3….7182) = unsur sisa (galat) Penggunaan fungsi ini didasarkan pada pertimbangan-pertimbangan sebagai berikut : 1.3.2.... dimana i =1.. n = bilangan natural (e = 2..Secara matematis R/C ratio dapat dirumuskan dalam persamaan sebagai berikut : R/C ratio = Keterangan : TR = Total Revenue (Total Penerimaan) TC = Total Cost (Total Biaya) TR TC ………………………………………………………… (4..5) Keterangan : Y b0 bi Xi e u = produksi = intersep = koefisien regresi penduga variable ke-i = jenis faktor produksi ke-i.masing input sehingga informasi yang diperoleh dapat digunakan untuk melakukan upaya agar setiap penambahan input dapat menghasilkan tambahan output yang lebih besar.. b1 b2 b3 b4 bn (4.....4) 4. X n e u …………………. Fungsi produksi yang dipakai untuk menjelaskan parameter Y dan X adalah analisis fungsi Cobb-Douglas.3..faktor produksi yang mempengaruhinya.

Bila jumlah bi < 1. 5. Bila jumlah bi = 1. 2. maka proses produksi berada pada skala yang menurun. Parameter penduga (bi ) dapat langsung menunjukkan elastisitas produksi dari input yang bersangkutan (Xi). Nilai rata-rata dari unsur sisa sama dengan nol. Dan bila jumlah bi > 1. Variasi unsur sisa menyebar normal. 4. 4. Untuk menganalisis hubungan antara faktor.masing faktor produksi yang diduga merupakan pendugaan skala usaha (return to scale). Homoskedastisitas atau ragam merupakan bilangan tetap. maka proses produksi terjadi pada skala yang menaik. 6. 3.nilai sisa pada setiap pengamatan. Jumlah elastisitas dari masing.2. 3. metode ini dapat dipakai jika asumsi-asumsi sebagai berikut : 1.faktor produksi dan produksi digunakan analisis regresi dengan metode Ordinary Least Square (OLS). Bentuk fungsi Cobb-Douglas dapat mengurangi kemungkinan terjadinya masalah heterokedastisitas. . Tidak ada korelasi berangkai/autokorelasi antara nilai. Perhitungan fungsi produksi Cobb-Douglas sederhana karena dapat ditransfer dengan mudah ke dalam bentuk linier. Menurut Gujarati (1978). Fungsi produksi Cobb-Douglas merupakan fungsi produksi yang sering digunakan dalam penelitian optimalisasi produksi usahatani. maka proses produksi terjadi pada skala yang konstan.

Tidak ada korelasi diri (multikolinearitas).5. 6. rodentisida. Tidak ada hubungan linier sempurna antara peubah bebas. Penggunaan pestisida dalam satu musim tanam diukur dalam satuan liter (l). Pupuk Penggunaan pupuk dalam satu musim tanam diukur dalam satuan kilogram (kg). 2. secara teori bila jumlah pestisida yang digunakan . moluskisida atau herbisida untuk memudahkan pencacatan satuan pestisida tersebut yang berbeda. secara teori bila jumlah benih yang digunakan bertambah sebesar satu persen maka akan meningkatkan produksi padi sebesar nilai elastisitasnya (ceteris paribus). 3. secara teori bila jumlah pupuk yang digunakan meningkat sebesar satu pesen maka akan meningkatkan produksi padi sebesar nilai elastisitasnya (ceteris paribus). Variabel-variabel dugaan yang digunakan dalam menganalisis fungsi produksi dan penggunaan faktor-faktor produksi usahatani padi adalah sebagai berikut : 1. Pupuk diduga berpengaruh positif terhadap produksi padi. Pestisida diduga berpengaruh positif terhadap produksi padi. Benih diduga berpengaruh positif terhadap produksi padi. Benih Penggunaan benih dalam satu musim tanam diukur dalam satuan kilogram (kg). Pestisida Penggunaan pestisida tidak dibedakan berdasarkan jenisnya seperti insektisida.

Tenaga Kerja Luar Keluarga Penggunaan tenaga kerja luar keluarga diukur dalam satuan hari orang kerja (HOK). secara teori bila jumlah penggunaan tenaga kerja dalam keluarga ditingkatkan sebesar satu persen maka akan meningkatkan produksi padi sebesar elastisitasnya (ceteris paribus). 5. Dalam analisis ini dilakukan analisis fungsi produksi dan analisis regresi untuk mengetahui pengaruh faktor-faktor produksi terhadap produksi padi di lahan kering. Identifikasi variabel bebas dan variabel terikat Identifikasi variabel dilakukan dengan mendaftar faktor. Tenaga Kerja Dalam Keluarga Penggunaan tenaga kerja dalam keluarga diukur dalam satuan hari orang kerja (HOK).meningkat sebesar satu persen maka akan meningkatan produksi padi sebesar nilai elastisitasnya (ceteris paribus).faktor . 4.faktor produksi yang digunakan dalam proses produksi padi di lahan kering. secara teori bila jumlah penggunaan tenaga kerja luar keluarga ditingkatkan sebesar satu persen maka akan meningkatkan produksi padi sebesar elastisitasnya (ceteris paribus). Tenaga kerja luar keluarga diduga berpengaruh positif terhadap produksi padi. Adapun langkah. Tenaga kerja dalam keluarga diduga berpengaruh positif terhadap produksi padi.langkah dalam menganalisis fungsi produksi adalah sebagai berikut : 1.faktor produksi optimal. Faktor. Analisis fungsi produksi digunakan untuk melihat tingkat penggunaan faktor.

dan tenaga kerja luar keluarga. b 6 . tenaga kerja dalam keluarga. Faktor-faktor produksi ini merupakan variabel bebas yang akan diuji pengaruhnya terhadap variabel terikat yaitu hasil produksi. Dari analisis dengan OLS (Ordinary Least Square) ini diperoleh nilai P (P-value) untuk uji t dan uji F. juga dapat diketahui nilai R 2 . pestisida. Apabila P-value untuk uji t lebih kecil daripada nilai α yang . LnY = ln b0 + b1 ln X 1 + b2 ln X 2 + b3 ln X 3 + b4 ln X 4 + b5 ln X 5 + u ……. P-value untuk uji t digunakan untuk mengetahui secara statistik apakah masingmasing variabel bebas ( X i ) secara terpisah berpengaruh nyata terhadap variabel terikat (Y). Pendugaan fungsi produksi Dalam analisis fungsi produksi digunakan pendekatan Cobb-Douglas. b 4 . (4. 2. b 2 . Analisis regresi Analisis regresi bertujuan untuk mengetahui hubungan antara variabel terikat dengan variabel bebas.produksi tersebut adalah benih. pupuk. b 7 = koefisien regresi masing-masing variabel 3.6) Keterangan : Y = Hasil produksi padi lahan kering (Kilogram) X 1 = Benih (Kilogram) X 2 = Pupuk (Kilogram) X 3 = Pestisida (Liter) X 4 = Tenaga Kerja Dalam Keluarga (HOK) X 5 = Tenaga Kerja Luar Keluarga (HOK) b 0 = Variabel intersep u = Unsur galat b1 . yaitu : Y = b0 X 1 X 2 X 3 X 4 X 5b5 b1 b2 b3 b4 Model fungsi produksi ditransformasikan ke dalam bentuk linier logamatrik untuk menduga fungsi produksi. b 5 . b 3 .

tetapi sebaliknya jika P-value untuk uji t lebih besar daripada nilai α yang ditentukan maka variabel bebas dugaan berpengaruh nyata terhadap variabel terikat.7) .masing faktor produksi sama dengan nol (Doll dan Orazem.ditentukan (selang kepercayaan tertentu) maka variabel bebas dugaan berpengaruh nyata terhadap variabel terikat. Syarat untuk mencapai keuntungan maksimum adalah turunan pertama dari fungsi keuntungan terhadap masing.n (4.4...X i + TFC  ……………………………………. Sedangkan R 2 merupakan koefisien determinasi yang menunjukkan keragaman model produksi dilapangan yang dapat diterangkan oleh model terpilih.  i=1  Keterangan : π = pendapatan usahatani Py = harga per unit produksi Y = hasil produksi i = 1.….3.2. Jika P-value untuk uji F lebih kecil daripada nilai α yang ditentukan (selang kepercayaan tertentu) maka variabel bebas dugaan berpengaruh nyata terhadap variabel terikat.3... Analisis Efisiensi Ekonomi Usahatani akan mencapai efisiensi ekonomi jika tercapai keuntungan maksimum.. P-value untuk uji F digunakan untuk mengetahui kelayakan model dari parameter dan fungsi produksi atau untuk mengetahui apakah variabel bebas ( X i ) secara bersamaan berpengaruh nyata terhadap variabel terikat. 4.Y − ∑ Pxi . 1984). tetapi sebaliknya jika P-value untuk uji F lebih besar daripada nilai α yang ditentukan maka variabel bebas dugaan tidak berpengaruh nyata terhadap variabel terikat. Fungsi keuntungan yang diperoleh usahatani dapat dinyatakan sebagai berikut : n  π = Py.

8) ∂X i Dari persamaan tersebut dapat diketahui bahwa level penggunaan faktor produksi ke-i yang efisien merupakan fungsi dari harga output. maka persamaan diatas menjadi : Py. harga faktor produksi ke-i dan jumlah output yang dihasilkan. Pxi .10) Sesuai dengan prinsip keseimbangan marjinal (equi-marginal principle). atau secara matematis dapat dituliskan : X i = f ( Py. bahwa untuk mencapai keuntungan maksimal.9) ∂Y sebagai Marginal Product (MP) faktor produksi ∂X i ke-i. Y ) ……………………………………………………… Dengan mengetahui (4. . tambahan nilai produksi akibat tambahan penggunaan faktor produksi ke. maka turunan pertama dari fungsi keuntungan adalah : ∂π ∂Y = Py − Pxi = 0 ∂X i ∂X i = ∂Y − Pxi = 0 ∂X i Py ∂Y = Pxi ……………………………………………………. (4..MPxi = Pxi ………………………………………………………… (4.i (PyMP xi ) harus lebih besar daripada tambahan biaya yang dikeluarkan untuk pembelian faktor produksi ke-i tersebut (P xi ). Penambahan penggunaan faktor produksi berhenti ketika VMP xi =MFC xi .Pxi = harga pembelian faktor produksi ke-i X i = jumlah faktor produksi ke-i yang digunakan dalam proses produksi TFC = Total Fixed Cost (Biaya Tetap Total) Dengan demikian untuk memenuhi syarat tercapainya keuntungan maksimum.

.11) Artinya keuntungan maksimum tercapai pada saat tambahan nilai produksi akibat tambahan penggunaan faktor produksi ke-i harus sama dengan biaya korbanan marjinal atas faktor produksi ke-i tersebut atau rasio keduanya sama dengan satu. 4.12) Dengan asumsi Py dan P xi merupakan nilai yang konstan. Petani padi di lahan kering adalah petani yang melaksanakan budidaya pada areal tanam berupa ladang (lahan kering/upland). = = 1 ………………….. . jika PyMPx i < Px i maka penggunaan faktor produksi harus dikurangi. maka terdapat beberapa hal yang perlu diberi batasan sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai dari penelitian. Definisi Operasional Untuk menghindari ketidaksamaan pandangan dalam pengertian. Jadi secara umum keuntungan maksimum dari penggunaan n faktor produksi akan diperoleh pada saat : PyMPx1 PyMPx2 PyMPx3 PyMPxn = = = . Px i keterangan : PyMP xi = Nilai Produk Marjinal (NPM) faktor produksi ke-i P xi = Biaya Korbanan Marjinal (BKM) faktor produksi ke-i (4. maka agar diperoleh ∂X i tingkat keuntungan maksimum penggunaan faktor produksi harus ditingkatkan. Ketika PyMP xi > P xi .Pada saat inilah keuntungan maksimal tercapai. Batasan-batasan tersebut meliputi : 1. satuannya orang.. Sebaliknya. Px1 Px2 Px3 Pxn (4.. Secara matematis keuntungan maksimum dari penggunaan faktor produksi ke-i dinyatakan sebagai berikut : PyMPx i = 1 ………………………………………………………….4. maka hanya ∂Y yang mengalami perubahan.

7. 5. Satuannya adalah Rupiah. Penyakap adalah petani yang menggarap lahan milik orang lain denga n pembayaran sewanya berdasarkan bagi hasil. 9. 4. upah tenaga kerja luar keluarga. Satuannya Rupiah. Seluruh tenaga kerja disetarakan dengan ukuran Hari Orang Kerja (HOK). Produktivitas adalah hasil bagi antara jumlah panen dengan luas lahan dengan satuannya Ton per Hektar. benih. Biaya yang diperhitungkan adalah pengeluaran untuk input milik sendiri meliputi tenaga kerja dalam keluarga dan penyusutan. Satuannya orang. 8. sewa traktor/ternak. Luas lahan garapan areal usahatani padi ladang merupakan lahan yang digunakan untuk menanam padi ladang. 6. Untuk petani penyakap maka komponen biaya tunainya ditambah dengan biaya sakap. Jumlah produksi adalah jumlah panen padi ladang yang dihasilkan dari luas lahan. 3. Biaya usahatani total adalah merupakan penjumlahan antara biaya tunai dan biaya yang diperhitungkan . Satuannya adalah Rupiah. dan lain. yaitu tenaga kerja dalam keluarga (TKDK) dan tenaga kerja luar keluarga (TKLK). satuannya kilogram. pestisida.lain.2. Pemilik penggarap adalah petani yang menggarap lahan miliknya sendiri. 10. Tenaga kerja ini dibedakan menjadi dua. Biaya tunai adalah besarnya nilai uang tunai yang dikeluarkan petani untuk membeli pupuk. Satuannya orang. Tenaga kerja adalah tenaga kerja yang digunakan dalam proses produksi. . satuannya Hektar (ha).

Penerimaan (nilai produksi) adalah nilai yang diperoleh dari hasil kali antara jumlah produksi dengan dengan harga jualnya. Satuannya Rupiah. 12. Satuannya Rupiah. 13. . Pendapatan bersih usahatani adalah selisih antara penerimaan usahatani dengan biaya usahatani total (biaya tunai dan diperhitungkan). Satuannya adalah Rupiah.11. Pendapatan kotor usahatani adalah selisih antara penerimaan usahatani dan biaya tunai usahatani.

Produktivitas Padi Ladang • Pupuk • Benih • Pestisida • Tenaga Kerja dalam Rumah Tangga Rumah Tangga • Tenaga Kerja Luar Analisis Fungsi Produksi Cobb-Douglas Elastisitas Faktor-faktor Produksi Analisis Pendapatan Analisis R/C Analisis Efisiensi Ekonomis Faktor-faktor Produksi Kesimpulan Gambar 2. Bagan Prosedur Analisis Pendapatan dan Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Produksi Cabang Usahatani Padi Ladang .

12 86. Batas-batas administrasi Desa Wanajaya adalah Desa Wanakerta di sebelah utara.V. Sedangkan jarak ke ibukota kabupaten sekitar 13 kilometer dengan waktu tempuh kurang lebih selama satu setengah jam. Gambaran secara rinci mengenai luas Desa Wanajaya berdasarkan penggunaan lahan ditunjukkan dalam Tabel 5.00 1. Tabel 5. Secara keseluruhan luas wilayah Desa Wanajaya adalah sekitar 1.61 13.07 Persentase 1.00 .1.09 0.58 4.17 0. dan Kehutanan di sebelah timur.78 0.02 3. Kali Cibeet Bekasi di sebelah barat.75 1.69 0.23 918.07 0. Gambaran Umum Lokasi Penelitian Desa Wanajaya termasuk dalam wilayah Kecamatan Teluk Jambe. Jarak desa Wanajaya dengan ibukota kecamatan sekitar 11 kilometer dengan waktu tempuh selama kurang lebih satu jam.74 1.065. GAMBARAN UMUM DAERAH PENELITIAN 5. Luas (Ha) 18.19 100.07 hektar (13.20 0.02 0.92 0. Jawa Barat.065.809 %) lahan yang telah digunakan dan sekitar 918 hektar merupakan (86.19 %) lahan terlantar. Kabupaten Karawang.07 hektar yang terdiri atas 147. Desa Taman Mekar di sebelah selatan.30 2.02 0.17 1.80 21.00 0. 2004.10 50.50 38. Penggunaan Lahan di Desa Wanajaya Tahun 2004 Penggunaan Lahan Sawah irigasi teknis Sawah irigasi 1/2 teknis Sawah tadah hujan Tegalan/Ladang Pemukiman umum Pasar Tempat ibadah Kuburan/makam Tempat rekreasi dan olahraga Perkantoran pemerintah Sekolah/lainnya Lahan Terlantar Total Sumber : Profil Desa Wanajaya.

00 Dari kondisi geografis.5 mm per tahun berdasarkan data tahun 2002 dan termasuk dalam kelas iklim B atau daerah beriklim basah dengan vegetasi hujan tropis berdasarkan standar Schmidt dan Ferguson (BAPPEDA Kabupaten Karawang. dan solum dalam. 2003). Tanah di Desa Wanajaya memiliki pH sekitar empat sampai lima.laki dan perempuan dimana penduduk dengan jenis kelamin laki.56 82. Topografi atau Bentang Lahan Desa Wanajaya Tahun 2004 Jenis daratan Dataran Perbukitan/pegunungan Total Sumber : Profil Desa Wanajaya.44 100.Secara umum topografi Desa Wanajaya sebagian besar merupakan daerah perbukitan.07 878. Curah hujan rata-rata sekitar 1454. Desa Wanajaya terdiri atas daerah dataran seluas sekitar 187. Desa Wanajaya berada pada ketinggian sekitar 700 meter di atas permukaan laut dengan kemiringan lahan 30 sampai 40 persen yang merupakan daerah perbukitan. Jumlah penduduk desa Wanajaya hingga Januari 2005 tercatat sebanyak 4024 jiwa (1237 kepala keluarga) dan komposisi penduduk tergolong merata antara laki. 2004. disimpulkan bahwa tingkat kesuburan tanah di Desa Wanajaya termasuk dalam golongan rendah dan memiliki ciri-ciri bertekstur lempung.07 Persentase 17. bulan lembab rata-rata dua bulan. dan jumlah bulan kering rata-rata tiga bulan dengan suhu rata-rata sekitar 27°C dan intensitas penyinaran matahari sekitar 66 persen.laki .07 hektar dan daerah perbukitan sekitar 878 hektar seperti ditunjukkan dalam Tabel 6 berikut.00 1065. Tabel 6. Berdasarkan ketiga indikator kesuburan tanah tersebut. denga n kapasitas tukar kation (KTK) dan kejenuhan basa (KB) yang tergolong sedang. struktur gumpal atau keras. Jumlah bulan basah rata-rata tujuh bulan. Luas (Ha) 187.

19 775 20 – 29 791 30 – 39 667 40 – 49 416 50 – 59 278 = 59 187 Total 4.61 19.64 %) dan sebagian kecil penduduk atau sebanyak 125 orang (3. Kelompok penduduk lain yang proporsinya tergolong cukup besar adalah kelompok penduduk yang bermata pencaharian sebagai buruh swasta yaitu .59 %) sementara penduduk yang bermata pencaharian sebagai petani (pemilik) sebanyak 1595 orang (39.91 4.66 16.39 %) angkatan kerja sehingga dari segi jumlah angkatan kerja Desa Wanajaya tergolo ng cukup potensial.23 %) masih bekerja di bidang pertanian baik sebagai petani ataupun buruh tani.26 19.024 Sumber : Monogafi Desa Wanajaya.34 6.48 %). Berdasarkan Sensus Penduduk tahun 1971 Tarigan JJ.00 Dari segi mata pencahariannya. Dalam Tabel 7 dapat dilihat bahwa dari seluruh penduduk di Desa Wanajaya terdapat 3114 orang (77. 2004. batas usia 10 tahun ke atas digunakan untuk menentukan apakah seseorang termasuk dalam angkatan kerja atau bukan. Tabel 7. dan penduduk jenis kelamin perempuan berjumlah 1991 orang (49. penduduk Desa Wanajaya cukup beragam tetapi sebagian besar penduduk desa atau sebanyak 2343 orang (58.58 10.11 %) bekerja sebagai peternak. (1997) dalam BAPPEDA Kabupaten Karawang (2003).berjumlah 2033 orang (50. Penduduk yang bermata pencaharian sebagai buruh tani sebanyak 748 orang (18. Karakteristik Penduduk Desa Wanajaya Berdasarkan Kelompok Umur Tahun 2005 Kelompok Umur Jumlah (Tahun) (orang) 0-9 910 10 .52 %). Persentase 22.65 100.

Bidan desa.35 3.sebanyak 879 orang (21. Gambaran secara rinci tentang penduduk Desa Wanajaya berdasarkan tingkat pendidikan ditunjukkan dalam Tabel 9.86 0. dan kelompok yang tergolo ng berstatus sebagai pengangguran sebanyak 405 orang (10.02 0.84 1.06 100. Persentase 39. dokter.20 4.06 %). montir. mantri kesehatan. Sisanya sekitar 20 persen dari penduduk menyelesaikan pendidikan hingga tamat sekolah lanjutan pertama atau sederajat dan memenuhi program pendidikan wajib 9 tahun yang digerakkan pemerintah. Penduduk lainnya bekerja di berbagai bidang diantaranya PNS.07 0. TNI/POLRI.84 %) karena lokasi Desa Wanajaya masih dekat dengan kawasan industri Kabupaten Karawang.15 10.59 21.05 0. .11 0. Gambaran penduduk Desa Wanajaya berdasarkan mata pencaharian disajikan dalam Tabel 8. 2004. pengrajin. Tabel 8.64 18. pedagang.05 0. Karakteristik Penduduk Desa Wanajaya Berdasarkan Mata Pencaharian Tahun 2005 Jenis Mata Pencaharian Jumlah (orang) Petani 1595 Buruh Tani 748 Buruh/swasta 879 PNS 75 Pengrajin 8 Pedagang 175 Peternak 125 Montir 3 Dokter 1 Bidan Desa 2 Mantri Kesehatan 2 Polisi 6 Pengangguran 405 Total 4024 Sumber Monografi Desa Wanajaya.00 Dari segi pendidikan Desa Wanajaya tergolong rendah karena sebagia n besar penduduk atau sekitar 80 persen penduduk hanya mengikuti pendidikan formal hingga tamat sekolah dasar.

status usahatani padi ladang.50 37. Karakteristik petani responden selengkapnya sebagai berikut : 1.25 0. pekerjaan sampingan.49 44. 2004.31 8.50 32.25 100. Karakteristik Petani Responden Berdasarkan Umur Kelompok Umur (tahun) 20-30 31-45 46-50 51-60 > 60 Total Jumlah Responden (orang) 5 13 6 1 15 40 Persentase 12.24 5. pengalaman berusahatani padi gogo atau padi ladang. Karakteristik Penduduk Desa Wanajaya Berdasarkan Tingkat Pendidikan Tahun 2004 Tingkat Pendidikan Belum Sekolah Usia 7-45 thn tidak pernah sekolah Pernah sekolah SD tetapi tidak tamat Tamat SD/sederajat SLTP/sederajat SLTA/sederajat D-1 D-2 D-3 S-1 Total Sumber : Monografi desa Wanajaya. Jumlah (orang) 502 30 905 1785 455 332 2 3 5 5 4024 Persentase 12.2. Tabel 10. Karakteristik Petani Responden Karakteristik petani responden akan diuraikan berdasarkan umur petani.75 22. dan kondisi tempat tinggal. Umur Petani Tenaga kerja produktif umumnya berada pada selang 25 hingga 40 tahun.05 0.50 15. Karakteristik petani responden berdasarkan umur ditunjukkan pada Tabel 10. jumlah anggota keluarga.00 .36 11.50 100.24 0.Tabel 9. tingkat pendidikan.48 0. status dan luas lahan garapan.00 2. keputusan bertani padi ladang.07 0. sedangkan jika kurang atau lebih dari selang umur tersebut akan tergolong sebagai tenaga kerja kurang produktif tetapi masih termasuk dalam usia kerja.

00 22. semakin tinggi tingkat pendidikan. Petani responden lainnya yang juga jumlahnya tergolong sedikit berasal dari kelompok umur 20 hingga 30 tahun yang berjumlah 5 orang (12. Karakteristik Petani Responden Berdasarkan Tingkat Pendidikan Tingkat Pendidikan Tidak Pernah Sekolah Tidak Tamat SD Tamat SD Tamat SLTP Tamat SLTA Total Jumlah Responden (Orang) 12 18 9 1 0 40 Persentase 30.00 45. sebagian besar responden terdiri atas petani dari kelompok umur di atas 60 tahun atau yang sudah berusia lanjut yaitu sebanyak 15 orang atau 37.50 2. Tabel 11. Karakteristik petani responden berdasarkan tingkat pendidikan selengkapnya disajikan dalam Tabel 11.00 100. Berdasarkan tingkat pendidikan.5 %).Berdasarkan umur.50 0. maka proses adopsi teknologi akan semakin cepat. 2.5 persen dari keseluruhan responden. Pada umumnya.00 . Sedangkan petani responden yang paling sedikit berasal dari kelompok umur antara 51 hingga 60 yaitu hanya sebanyak 1 orang (2. Tingkat Pendidikan Tingkat pendidikan akan berpengaruh terhadap tingkat adopsi teknologi dan inovasi yang sedang berkembang. Adapun tujuan teknologi dan inovasi adalah untuk memperbaiki usahatani baik dari segi produksi atau produktivitas. Hanya satu orang diantara petani responden yang menyelesaikan pendidikan SLTP hingga tamat.5 %). petani responden lebih banyak terkonsentrasi pada kelompok tidak tamat SD yaitu sebanyak 18 orang (45 %) dan kelompok yang tidak pernah mengikuti sekolah formal sama sekali yaitu sebanyak 12 orang (30 %).

5 sampai 1 hektar yaitu sebanyak 25 orang (62. Status dan Luas Lahan Garapan Status lahan garapan berpengaruh kepada produktivitas usahatani. Luas lahan garapan petani responden bervariasi mulai dari petani yang memiliki luas lahan garapan kurang dari 0. Petani responden yang memiliki luas lahan garapan kurang dari 0. dan tidak ada diantara petani responden yang memiliki luas lahan garapan lebih dari 2 hektar. Hal ini disebabkan karena petani penyewa mempunyai kewajiban untuk memperhatikan nilai biaya sewa yang harus dibayar kepada pemilik lahan.5 hektar hingga petani yang memiliki luas lahan garapan lebih dari satu hektar.5 %). Sedangkan petani yang memiliki luas lahan garapan lebih dari satu hektar hanya sebanyak 7 orang (17. Data secara rinci . Semua petani responden merupakan petani pemilik karena petani responden menggarap lahan tanpa mengeluarkan biaya sewa lahan. Sementara luas lahan garapan berpengaruh positif terhadap produktivitas usahatani dimana usahatani dengan luas lahan yang lebih besar akan memiliki produktivitas yang relatif lebih tinggi daripada usahatani dengan luas lahan yang lebih kecil. Sebagian besar petani responden memiliki luas lahan garapan antara 0. Sementara itu lahan yang berstatus milik send iri pada umumnya relatif kurang produktif daripada lahan yang berstatus sewa karena petani pemilik tidak pernah memperhitungkan biaya sewa lahan yang harus dikeluarkan.5 %).5 hektar sebanyak 8 orang (20 %). Petani responden berdasarkan status pemilikan lahan dikelompokkan atas petani pemilik dan petani penggarap. Lahan berstatus sewa menyebabkan petani penyewa akan lebih terpacu untuk selalu lebih efisien dalam mengelola lahan agar produktivitas lahan lebih tinggi.3.

00 62.5 . Sedangkan petani yang lain selebihnya tersebar dalam kelompok dengan pengalaman berusahatani padi ladang antara 5 hingga 10 tahun sebanyak 6 orang (15 %). .00 100.00 4.5 0. Karakteristik Petani Responden Berdasarkan Luas Lahan Garapan Luas Lahan (ha) < 0. Kelompok antara 11 hingga 15 tahun sebanyak 9 orang (22.50 17.1 1–2 >2 Total Jumlah Responden (orang) 8 25 7 0 40 Persentase 20.50 0.5 %). Demikian juga dengan berbagai masalah non teknis yang biasanya dihadapi dalam berusahatani sehingga pada akhirnya produktivitasnya akan lebih tinggi. Hanya sebagian kecil dari petani responden yang memiliki pengalaman berusahatani padi ladang kurang dari 5 tahun yaitu sebanyak 2 orang (5 %).mengenai karakteristik petani responden berdasarkan luas lahan garapan disajikan dalam Tabel 12. Kelompok petani responden dengan jumlah yang paling banyak berdasarkan pengalaman berusahatani adalah kelompok petani yang telah berusahatani padi ladang selama lebih dari 20 tahun yaitu sebanyak 15 orang (37. Gambaran petani berdasarkan pengalaman berusahatani secara rinci disajikan dalam Tabel 13. Tabel 12. dan kelompok antara 16 hingga 20 tahun sebanyak 8 orang (20 %). Pengalaman Berusahatani Padi Ladang Petani yang memiliki pengalaman berusahatani lebih lama akan lebih baik dan lebih matang dalam hal perencanaan usahatani karena lebih memahami berbagai aspek teknis dalam berusahatani.5 %).

Jumlah Anggota Keluarga Jumlah anggota keluarga akan mempengaruhi tingkat produktivitas kerja dikaitkan dengan jumlah penggunaan (sumbangan) tenaga kerja terhadap kegiatan produksi usahatani.50 100.00 Seluruh petani responden menyatakan bahwa berusahatani padi ladang merupakan usaha pokok untuk memenuhi kebutuhan beras sehingga rumah tangga petani tidak perlu membeli beras untuk pangan sehari.hari.00 37. Semakin banyak jumlah anggota keluarga maka semakin banyak pula tenaga kerja yang dapat digunakan dalam kegiatan produksi usahatani sehingga produktivitas akan lebih tinggi. .50 20. Jumlah anggota keluarga juga akan berpengaruh terhadap jumlah tanggungan keluarga atau tingkat konsumsi rumahtangga. Selain itu para petani juga berusahatani padi ladang karena tidak memiliki keahlian lain selain bertani dan juga karena kondisi alam seperti ketersediaan air. Karakteristik Petani Responden Berdasarkan Pengalaman Usahatani Pengalaman Berusahatani Padi Ladang (Tahun) <5 5 -10 11-15 16-20 > 20 Total Jumlah Responden (Orang) 2 6 9 8 15 40 Persentase 5. kesuburan tanah. 5.00 15. Petani yang memiliki usaha sampingan selain usahatani padi ladang memiliki usaha sampingan sebagai perangkat desa seperti Ketua RT ataupun sebagai Hansip atau Linmas (Perlindungan Masyarakat). Bertani padi ladang juga dilakukan secara turun temurun juga oleh karena faktor – faktor yang telah disebutkan di atas. dan ketersediaan modal yang hanya sesuai dengan komoditas padi ladang. dan demikian juga sebaliknya.00 22.Tabel 13.

50 100.00 6.5 %) tergolong ke dalam kelompok dengan anggota keluarga antara 3 hingga 5 orang. Petani yang bermatapencaharian utama usahatani padi ladang akan lebih memfokuskan pekerjaan atau sumberdayanya terhadap usahatani padi ladang. Seluruh petani yang menjadi responden menyatakan bahwa mereka memilih berusahatani padi ladang sebagai matapencaharian utama sehingga sumberdaya yang dimiliki petani dialokasikan terutama untuk usahatani padi ladang. Karakteristik Petani Responden Berdasarkan Jumlah Anggota Keluarga Kelompok < 3 orang 3 . akan mempengaruhi sikap petani dalam menentukaan komoditi usahatani mana yang akan menjadi prioritas (fokus) yang mendapat perhatian atau alokasi sumberdaya yang relatif lebih besar dan yang lebih kecil. dalam artian apakah usahatani padi ladang merupakan mata pencaharian utama atau sampingan.5 orang > 5 orang Total Jumlah Anggota RT 8 27 5 40 Persentase 20. dan hanya sebanyak 5 rumah tangga (12.00 67. sedangkan rata-rata rumah tangga petani responden memiliki sebanyak sekitar 4 orang.Sebagian besar responden atau sebanyak 27 rumahtangga (67.50 12. Gambaran secara rinci mengenai karakteristik petani responden berdasarkan jumlah anggita keluarga disajikan dalam Tabel 14. Status Usahatani Padi Ladang Status Usahatani padi ladang. sehingga petani akan lebih mengusahakan peningkatan produksi dan produktivitas padi ladang daripada komoditi yang menjadi usahatani sampingan. Tabel 14. .5 % ) dari keseluruhan responden yang memiliki anggota keluarga lebih dari 5 orang.

responden pada umumnya tidak memiliki pekerjaan sampingan untuk menambah pendapatan rumahtangga karena tidak mempunyai keahlian lain selain bertani. Segala usaha yang bertujuan untuk peningkatan produktivitas usahatani terutama . Selain bertani. dan teknik produksi lainnya petani bebas menentukan sendiri atau dipengaruhi adat istiadat setempat yang me ngikat kebebasan petani dalam mengambil keputusan usahatani. Keputusan yang diambil akan berpengaruh terhadap produktivitas dan kemajuan usahatani karena petani yang dinamis akan lebih mampu mengadopsi teknologi usahatani. Pendapatan dari pekerjaan sampingan akan digunakan sebagai tambahan modal dalam penyediaan sarana produksi yang lebih banyak sehingga hasil produksi yang diperoleh akan lebih besar. Sehingga sumber pendapatan yang menjadi penunjang usahatani padi ladang adalah dengan dengan berkebun tetapi umumnya tidak dikelola secara baik atau tidak diusahakan secara kontinyu. Keseluruhan petani responden menyatakan bahwa keputusan dalam berusahatani diambil sendiri dengan kebebasan berdasarkan pemahaman dan pengalaman petani dan tidak terikat dengan aturan atau adat istiadat setempat.7. Keputusan Bertani Padi Ladang Keputusan bertani padi ladang dalam menentukan jenis. Teknologi dan inovasi bertujuan untuk meningkatkan produktivitas padi ladang dan taraf hidup petani. Pekerjaan Sampingan Jenis pekerjaan sampingan yang dimiliki petani akan berpengaruh terhadap pendapatan tambahan yang diperoleh rumahtangga. sehingga tingkat pendapatan tersebut akan berpengaruh terhadap produktivitas usahatani. pola tanam. 8.

Kondisi Tempat Tinggal Karakteristik petani responden berdasarkan kondisi tempat tinggal dilihat berdasarkan kondisi atap. semen atau ubin. Semua petani responden memiliki tempat tinggal dengan lantai beralaskan tanah. Kondisi tempat tinggal petani responden dilihat berdasarkan kondisi lantai dibedakan menjadi lantai keramik. Dari semua petani responden juga tidak ada yang mempunyai fasilitas kamar mandi atau WC yang tergolong layak. Dinding atau tembok rumah petani responden dibedakan menjadi dinding permanen. dan tanah. dan bilik bambu. semi permanen. kayu atau papan. papan/kayu. Semua petani responden mempunyai tempat tinggal dengan dinding yang terbuat dari bilik bambu. 9. .padi ladang akan dilakukan petani sesuai dengan kemampuan sumberdayanya tanpa dipengaruhi faktor adat istiadat setempat. dinding. dan lantai rumah. Atap petani responden seluruhnya masih menggunakan atap rumbia.

1. Jenis tanaman yang biasanya ditanam setelah padi ladang antara lain kacang tanah.1. Budidaya Padi Ladang Kegiatan berusahatani padi ladang di Desa Wanajaya dilakukan mulai dari kegiatan persiapan lahan dalam dengan mengolah lahan pada saat datangnya musim hujan sekitar bukan Oktober atau November tergantung perkiraan petani berdasarkan pengalamannya sampai dengan masa panen sekitar bulan Maret atau April. Kegiatan berusahatani padi ladang di Desa Wanajaya umumnya dilakukan dengan sistem monokultur dan tanam gilir. maka sekitar dua minggu hingga satu bulan sebelum bulan tersebut merupakan saat yang paling tepat untuk melakukan pengolahan lahan. Berdasarkan pengalaman petani di Desa Wanajaya varietas padi sawah jenis Ciherang dapat memberikan hasil yang relatif lebih tinggi jika ditanam di lahan kering daripada varietas pai ladang lainnya.VI. dan tanaman palawija lainnya. 6. . kacang panjang.1. ubi kayu. Persiapan Lahan Penentuan waktu yang paling tepat untuk mengolah tanah dilakukan petani berdasarkan pengalaman dari masa tanam sebelumnya. Varietas padi ladang yang digunakan petani adalah jenis Ciherang yang sebenarnya merupakan varietas padi sawah. GAMBARAN USAHATANI PADI LADANG DI DESA WANAJAYA 6. Berdasarkan pengalaman tersebut jika petani memperkirakan bahwa musim hujan akan mulai berlangsung secara merata pada bulan tertentu. Varietas jenis Ciherang juga dianggap sesuai dengan kondisi tanah dan iklim di Desa Wanajaya oleh para petani.

Pada pengolahan pertama. Keadaaan ini dibiarkan selama dua minggu hingga rerumputan yang terbenam dianggap sudah membusuk atau melapuk dan racun-racun yang ada sudah menguap ke udara. yaitu yang semula di atas atau di permukaan menjadi di bagian bawah dan demikian sebaliknya yang semula di bagian bawah menjadi di bagian atas. Bagian atas tanah juga diolah sedemikian rupa dengan menggunakan garpu atau garu sehingga lahan yang akan ditanami padi menjadi sedatar mungkin. Pengolahan kedua merupakan penyisiran tanah yaitu mengusahakan agar tanah yang sebelumnya merupakan bongkahan atau gumpalan-gumpalan besar dipecahkan dan diremukkan hingga sekecil-kecilnya. Pembalikan tanah bagian bawah ke atas betujuan untuk menganginkan tanah memberikan kesempatan bagi tanah untuk melepaskan racun-racun yang sangat mungkin terbentuk dalam tanah. Kemudian sekitar dua minggu setelah pengolahan kedua. Pengolahan ini dimaksudkan untuk mematikan dan membusukkan rerumputan yang semula terdapat di permukaan tanah dan kemudian akan terbenam ke bagian bawah tanah. dilakukan pengolahan ketiga yang merupakan kegiatan .Pengolahan tanah dilakukan petani responden dengan cara me ncangkul dengan menggunakan cangkul dan tidak ada petani responden yang menggunakan mesin atau ternak untuk membajak karena biaya penggunaan mesin pembajak (traktor) yang sangat tinggi dan karena tidak ada petani memiliki ternak pembajak sehingga kegiatan mencangkul tanah dilakukan hanya dengan mengandalkan tenaga manusia dari dalam maupun dari luar keluarga. mencangkul dilakukan sedemikian rupa sehingga tanahnya terbalik.

lahan dibuat berbentuk terasering untuk mencegah pengendapan air dan membentuk parit-parit untuk mencegah erosi agar kesuburan tanah tetap terjaga. Setelah bulir ditugalkan ke dalam tiap-tiap lubang tanam kemudian ditutup kembali dengan maksud agar bulir yang ditugalkan tidak diganggu oleh burung atau binatang-binatang perusak atau pemakan bulir lainnya. Kemudian pada tahap pengolahan ini juga diusahakan sedemikian rupa sehingga bagian tengah dari lahan yang diolah sedikit lebih tinggi daripada bagian pinggir lahan dengan maksud agar bagian tengah lahan tidak tergenang air jika hujan turun secara berlebihan tetapi akan mengalir ke bagian pinggir lahan. . 20 ribu per hari dengan jam kerja selama 6 jam. terutama pada daerah berbukit.mencangkul tanah yang sebelumnya telah diremukkan dan diratakan pada pengolahan pertama dan kedua. Untuk lahan yang permukaannya miring.1. Penanaman Penanaman dilakukan dengan menggunakan alat tugal yang terbuat dari kayu untuk membuat lubang. Biaya upah yang berlaku secara umum bagi para buruh tani untuk proses pengolahan tanah adalah Rp.2.lubang tanam pada kedalaman sekitar 2 hingga 5 cm pada lahan yang sebelumnya sudah diolah terlebih dahulu. Pengolahan ketiga ini dilakukan sedemikian rupa sehingga arah dari pembajakan tanah pertama membentuk siku dengan arah dari pembajakan tanah kedua. sebab walaupun padi ladang sangat tergantung pada air hujan dalam pertumbuhannya namun air yang berlebihan juga akan menyebabkan kerusakan pada padi ladang. kemudian ke dalam lubang dimasukkan sekitar 5 sampai 7 bulir padi jenis Ciherang dengan jarak tanam pada umumnya kira-kira 20 X 20 sentimeter hingga 30 X 30 sentimeter. 6.

1. dan agar laha n tetap subur dan hasil gabah tetap tinggi maka jerami juga harus dikembalikan ke lahan dan tanaman harus dipupuk (Hermawan. Pertanaman padi ladang yang ideal yaitu yang mampu menghasilkan padi dalam bentuk gabah kering sebanyak 5 ton per hektar menyerap unsur h dari dalam ara tanah antara lain sebanyak 40 kilogram N yang setara dengan 90 kilogram pupuk Urea. Pola tanam padi-bera yang dilakukan sebagian petani responden disebabkan modal awal untuk penanaman palawija setelah panen padi yang tidak mencukupi sehingga setelah masa panen padi ladang para petani lebih banyak yang memberakan lahannya untuk kemudian ditanami padi lagi pada musim hujan berikutnya.3. Sementara untuk meningkatkan efisiensi pemupukan pupuk . Penanaman padi ladang pada umumnya dilakukan dengan sistem padi-palawija atau padi-bera. Pemupukan Pemupukan sangat perlu dilakukan untuk memperoleh hasil gabah yang maksimal terutama di lahan kering yang memiliki karakteristik marjinal. 6. dan sebagian petani memberikan pupuk Urea dan TSP dalam bentuk campuran dengan cara mencampurkan pupuk dengan benih padi pada saat penanaman.Pola tanam yang umumnya digunakan petani responden adalah dengan sistem tanam gilir dan monokultur dengan menanam padi ladang kemudian menanam pisang di sekeliling lahan sebagai tanaman pencegah erosi. 10 kilogram P yang setara dengan 50 kilogram pupuk TSP. dan 75 kilogram K yang setara dengan 180 kilogram pupuk KCl per hektar per musim tanam. 2000). Pemupukan pertama dilakukan dengan menggunakan pupuk Urea dan TSP umumnya diberikan dengan cara disebarkan ke dalam lahan secara merata setelah penanaman benih.

Harga pupuk campuran Urea dan TSP rata-rata sekitar Rp 1400 per kilogram dengan cara membeli petani di kios tani yang terletak di ibukota kecamatan dengan uang tunai. Pengobatan dilakukan dengan cara penyemprotan antara sekali hingga dua kali penyemprotan dalam satu masa tanam tergantung kemampuan keuangan petani. Jenis penyakit lain yang sering menyerang tanaman padi ladang di desa ini adalah “wereng”.lain. dan lain. Harga pupuk yang sangat tinggi bagi petani menyebabkan penggunaan pupuk yang tidak optimal karena tidak sesuai dengan dosis pupuk ideal.4.1. 1989). Jenis penyakit ini menyebakan pembusukan pada batang padi sehingga mematikan tanaman padi. Petani di Desa Wanajaya umumnya membeli pupuk dalam bentuk campuran pupuk Urea dan TSP dan tidak ada petani responden yang menggunakan pupuk TSP. Jenis obat lain yang juga digunakan petani adalah sidametrin. akodan. bahkan sebagian petani tidak menggunakan pupuk sama sekali. trobos. Pengobatan Pengobatan dilakukan untuk mencegah atau membasmi hama dan penyakit yang menyerang tanaman padi ladang. Pestisida jenis decis dibeli petani sekitar Rp. . azodrin. dan hanya sebagian kecil petani yang menggunakan furadan. 22 ribu per 100 mililiter di kios tani yang terletak di ibukota kecamatan. 6.nitrogen harus diberikan secara split atau terpisah (Puslitbang Tanaman Pangan. elsan. Jenis pestisida yang banyak digunakan petani responden adalah decis untuk mencegah penyakit “kungkang” atau blast yang sering menyerang tanaman padi ladang di Desa Wanajaya. “mentul”.

atau gulma jika tidak segera dimusnahkan.6. Proses penyiangan sebagian besar dilakukan oleh tenaga kerja wanita baik dari dalam maupuan dari luar keluarga. 6.1. per hari dengan jam kerja selama 6 jam kerja per hari.6. Penyiangan Penyiangan dilakukan untuk membersihkan lahan dari gulma atau tanaman pengganggu tanaman utama (padi ladang).1. Proses penyiangan dilakukan sekitar sebulan setelah benih ditanamkan atau ditugalkan dengan menggunakan sabit atau “kored” dan cangkul. Pemanenan Umur panen untuk varietas Ciherang yang digunakan petani responden rata-rata berumur 120 hingga 150 hari sejak ditanam. Sebagian padi yang disimpan juga digunakan untuk tujuan berjaga-jaga atau untuk mengantisipasi kebutuhan mendesak rumah . semak belukar. Pada periode ini benih mulai bertumbuh sehingga pertumbuhan tanaman pengganggu seperti rerumputan.6000 untuk setiap tenaga kerja yang umumnya adalah wanita. Upah yang berlaku secara umum untuk proses penyiangan adalah sekitar Rp. Hasil panen padi ladang digunakan untuk kebutuhan makanan pokok dan sebagian disimpan di lumbung padi untuk nantinya digunakan sebagai benih di musim tanam berikutnya jika tidak memiliki uang tunai untuk membeli benih dari kios atau toko dengan resiko kualitas yang jelas lebih rendah. akan menjadi saingan berat bagi tanaman utama dalam memperoleh unsur hara dari dalam tanah bahkan dapat mematikan tanaman utama. Petani melakukan penyiangan antara satu kali hingga dua kali berdasarkan intensitas serangan gulma.5.

tenaga kerja luar keluarga. .hari seperti biaya pendidikan anak. dan lain. Biaya-biaya yang dikeluarkan petani padi ladang dapat dilihat dalam Tabel 15. Proses pemanenan dilakukan dengan menggunakan alat-alat yang masih tradisional seperti sabit atau “kored”.lain. dan penyusutan alat-alat pertanian.masing petani. Pengeluaran usahatani yang termasuk dalam biaya diperhitungkan adalah pengeluaran usahatani yang dikeluarkan petani tetapi tidak secara tunai seperti biaya benih. Padi yang sudah kering dan siap untuk digiling dibawa ke tempat penggilingan padi dan diolah hingga dalam bentuk beras dengan biaya pengolahan sebesar 100 kilogram beras untuk setiap satu ton beras yang telah diolah dengan menyesuaikan harga beras pada saat itu atau dalam bentuk uang tunai. dan pajak usahatani yang dikeluarkan petani selama proses produksi padi ladang. cangkul. Proses pengeringan padi dilakukan pada media tikar atau kuda-kuda bambu atau plastik terval di halaman rumah masing. Biaya tunai didefinisikan sebagai biaya untuk pupuk. nilai tenaga kerja dalam keluarga.tangga sehari. 6. biaya pengobatan dan kebutuhan-kebutuhan lainnya. pestisida atau obat-obatan pemberantas hama dan penyakit tanaman. Struktur Biaya Biaya yang dikeluarkan petani terdiri dari biaya tunai dan biaya diperhitungkan.2. Pemanenan biasanya dilakukan dengan mengupah buruh tani dengan sistem “bawon” yaitu dengan menggunakan seperlima dari hasil panen keseluruhan sebagai upah keseluruhan pekerja pemanen dalam bentuk gabah kering panen.

6.424.65 13.2.103.46. Biaya-biaya yang Dikeluarkan Petani Padi Ladang per Hektar per Musim Tanam di Desa Wanajaya Tahun 2005 Komponen BIAYA TUNAI Pupuk Pestisida Tenaga Kerja Luar Keluarga Pajak Usahatani Total Biaya Tunai BIAYA DIPERHITUNGKAN Benih Tenaga Kerja Dalam Keluarga Penyusutan Peralatan Total Biaya Diperhitungkan BIAYA TOTAL Satuan Kg Liter HOK Rp Rp Kg HOK Rp Rp Rp Jumlah 110.54.144.37 2.414.3.420. maka kegiatan usahatani padi ladang di Desa Wanajaya dilakukan dalam satu musim tanam. dalam satu tahun. Analisis Pendapatan Analisis pendapatan dilakukan untuk menentukan nilai yang diperoleh petani dari kegiatan berusahatani padi ladang.550.840.622.407.000.33 6.200. Dalam penelitian ini.8 1.92 25.79.Tabel 15.Nilai (Rp) 161. Perhitungan pendapatan usahatani padi ladang ini dilakukan untuk rata-rata per satu hektar lahan.000. .1. Kegiatan usahatani padi ladang dimulai dari awal musim hujan sekitar bulan Oktober dan November hingga masa panen pada bulan April.173. Analisis yang dilakukan meliputi analisis pendapatan atas biaya total dan analisis pendapatan atas biaya tunai.454.000.20.431.49 74.67 100.1.220.00 60 237.Persentase 7. seperti di daerah lain pada umumnya.040.724.34 0.7 48.41 3.- 6. Karena sifat padi ladang yang menggantungkan pengairan pada curah hujan.290.34 Harga/satuan (Rp) 1.6. analisis pendapatan dilakukan untuk satu musim tanam.53 2.574.64 65.

Artinya bahwa untuk setiap satu rupiah biaya total yang dikeluarkan dalam usahatani padi ladang.76 Produksi rata-rata padi ladang yang dihasilkan sebesar 1. Analisis Pendapatan Cabang Usahatani Padi Ladang per Hektar per Musim Tanam di Desa Wanajaya Tahun 2005 Komponen TOTAL PENERIMAAN Total Biaya Tunai Total Biaya Diperhitungkan BIAYA TOTAL USAHATANI PENDAPATAN ATAS BIAYA TOTAL PENDAPATAN ATAS BIAYA TUNAI R/C ATAS BIAYA TUNAI R/C ATAS BIAYA TOTAL Nilai (Rupiah) 1.01 0. besar rata-rata biaya tunai yang dikeluarkan petani di daerah penelitian sebesar Rp 550.76.326. 6. Sedangkan.1.2.754 per hektar per musim tanam sehingga pendapatan atas biaya totalnya sebesar Rp -520.175.104.854. Biaya total yang dikeluarkan petani dalam proses produksi rata-rata sebesar Rp 2.574 per hektar per musim tanam sehingga pendapatan atas biaya tunai sebesar Rp 1.1. Sedangkan rasio R/C atas biaya tunai adalah sebesar 3.326.300 per kilogram. Harga jual gabah kering pada masa panen rata-rata sebesar Rp 1. Sehingga jika dilihat dari sisi pendapatan atas biaya total.754.-520.104. maka petani akan memperoleh penerimaan sebesar Rp 0.574.180.3.273 kilogram per hektar per musim tanam dalam bentuk gabah kering giling.900 per hektar per musim tanam. maka usahatani padi ladang tidak menguntungkan bagi petani.625.76.Tabel 16.4.654.550. Analisis Imbangan Penerimaan dan Biaya (Analisis R/C ratio) Dari hasil analisis pendapatan dan biaya usahatani padi ladang didapat rasio R/C atas biaya total sebesar 0. sehingga ratarata penerimaan petani sebesar Rp 1.01 yang berarti bahwa untuk setiap satu rupiah biaya tunai yang .175.654.854.900.

Berdasarkan nilai rasio R/ C atas biaya total yang lebih kecil dari 1 yaitu sebesar 0. Syarat suatu usahatani dikatakan menguntungkan jika rasio R/C atas biaya total lebih besar dari 1. maka petani akan memperoleh penerimaan sebesar Rp 3.76.dikeluarkan untuk usahatani padi ladang. .01. maka dapat disimpulkan bahwa usahatani padi ladang di daerah penelitian tidak menguntungkan bagi petani.

Faktor.faktor produksi yang diduga berpengaruh dalam usahatani padi ladang adalah pupuk. ANALISIS FAKTOR-FAKTOR PRODUKSI DAN EFISIENSI EKONOMI CABANG USAHATANI PADI LADANG 7. Analisis Ragam Produksi Cabang Usahatani Padi Ladang di Desa Wanajaya Sumber Ragam Regresi Galat Total Derajat Bebas 5 30 35 Jumlah Kuadrat 11.hitung 8.000 Berdasarkan pendugaan model produksi yang diperoleh. tenaga kerja dalam keluarga. Ini berarti bahwa faktor.2539 F . dan pestisida. benih. . Tabel 17. Hasil pendugaan model dan hubungan antara variabel bebas yaitu faktor.1.8341 Kuadrat Tengah 2.83 yang signifikan pada taraf kepercayaan 95 persen.VII.6180 18. tenaga kerja luar keluarga.83 Peluang 0.faktor produksi dengan variabel dependen yaitu produksi padi ladang dapat dilihat dalam Tabel 17. Analisis Fungsi Produksi Model fungsi produksi yang digunakan untuk menduga fungsi produksi dalam penelitian ini adalah model fungsi produksi Cobb-Douglas. seperti yang ditunjukkan dalam Tabel 17.2161 7. didapat nilai F.faktor produksi yang digunakan secara bersama-sama berpengaruh signifikan terhadap produksi padi ladang.2432 0.hitung sebesar 8.

8 1.6% R-Sq (adjusted) = 52.3 1. Nilai koefisien determinasi (R2 ) tersebut berarti bahwa sebesar 59.248 0.19 0. Berdasarkan pengamatan di lokasi penelitian. benih.069 0. Hasil Analisis Pendugaan Fungsi Produksi Usahatani Padi Ladang di Desa Wanajaya Simpangan Baku Koefisien 0.003 0.632 0.8% Variabel Koefisien Regresi T Hitung 0.068 Ln Tenaga Kerja Dalam RT 0.8 persen. Di samping itu faktor iklim.06968 Ln Pestisida Dari hasil pendugaan model ditunjukkan juga bahwa nilai koefisien determinasi (R2 ) didapat sebesar 59.989 Konstanta 0.00 0.48 1.06 Pvalue 0.545 0.6 persen dengan nilai koefisien determinasi terkoreksi (R2 -adjusted) sebesar 52.196 Ln Tenaga Kerja Luar RT 0. faktor. maka model fungsi produksi padi ladang per hektar dapat diduga dengan persamaan sebagai berikut : Ln Produktivitas = 0.004 + 0.296 VIF 1.3 Berdasarkan data pada Tabel 18.1013 Ln Benih + 0.Tabel 18.4 persen lagi dipengaruhi oleh faktor.011 0.530 0.004 1.209 Ln Benih 0.101 0.065 Ln Pestisida R-Sq = 59.21728 Ln Tenaga Kerja Dalam Keluarga + 0. tenaga kerja dalam keluarga. dan ketertarikan petani yang kurang untuk meningkatkan produksi dan produktivitas usahatani padi ladang akibat ketidakjelasan status kepemilikan atas lahan yang diusahakan petani dan karena .2484 Ln Pupuk + 0.5302 Ln Tenaga Kerja Luar Keluarga + 0. intensitas serangan hama dan penyakit tanaman.2 2.6 persen dari variasi produksi dapat dijelaskan secara bersama-sama oleh faktor pupuk.217 0.61 2.faktor lain di luar model. tenaga kerja luar keluarga.faktor lain di luar model fungsi produksi yang diduga juga berpengaruh terhadap produksi padi ladang adalah tingkat kesuburan lahan.69 3.3 1. dan pestisida sedangkan sebesar 40.999 0.405 Ln Pupuk 0.

7. Karena jumlah nilai elastisitas faktor produksi lebih besar dari 1.2484 persen dengan asumsi ceteris paribus.2484. maka dapat disimpulkan bahwa usahatani padi ladang berada dalam daerah produksi increasing return to scale. Dengan nilai elastisitas produksi sebesar 1. Hal ini dikarenakan penggunaan pupuk diantara petani a . Sedangkan pengaruh faktor pupuk. berarti jika penggunaan pupuk ditingkatkan sebesar satu persen. maka produksi padi ladang akan meningkat sebesar 0. benih.masing variabel terhadap produksi adalah sebagai berikut : Berdasarkan Tabel 18 didapat bahwa jumlah nilai elastisitas faktor-faktor produksi sebesar 1.17 persen.cabang usahatani padi ladang tidak menguntungkan turut mempengaruhi produksi padi ladang. Elastisitas Produksi dan Skala Usaha Dalam model fungsi produksi Cobb-Douglas nilai koefisien regresi merupakan nilai elastisitas dari masing. Nilai t hitung untuk tenaga kerja dalam keluarga dan tenaga kerja luar keluarga berpengaruh nyata terhadap nilai produksi pada taraf kepercayaan 99 persen (a = 0. Angka ini merupakan penjumlahan dari koefisien regresi faktor produksi yang dalam hal ini dianggap sebagai nilai elastisitas dari faktor tersebut.masing variabel tersebut. Pengaruh masing.17.05). Nilai elastisitas pupuk sebesar 0.2.17. maka akan meningkatkan produksi sebesar 1. berarti setiap penambahan faktor produksi secara bersama-sama sebesar 1 persen. dan pestisida tidak signifikan pada taraf kepercayaan yang ditetapkan. Namun berdasarkan uji t diperoleh bahwa faktor produksi pupuk tidak berpengaruh nyata terhadap produksi padi l dang.

sehingga tidak ditemukan adanya variasi data penggunaan pupuk. Sehingga secara keseluruhan disimpulkan bahwa tingkat kesuburan tanah di lokasi penelitian tergolong rendah. Pada tanah asam biasa dijumpai gejala keracunan unsur Fe yang dicirikan adanya bercak-bercak pada daun berwarna kuning kemerahan. kapasitas tukar kation (KTK). Unsur Al ini selain bersifat racun bagi tanaman juga bersifat mengikat fosfor (P2 O5 ). struktur gumpal/keras. sehingga menjadi tidak tersedia atau tidak dapat diserap tanaman. dan pH (derajat keasaman) yang merupakan tiga indikator kesuburan tanah. Menurut Badan Perencana Pembangunan Daerah (BAPPEDA) Kabupaten Karawang dalam Laporan Studi Penanganan dan Pemanfaatan Lahan Kritis di Kabupaten Karawang Tahun 2003. Dengan menggunakan ketiga indikator tersebut. bertekstur lempung. Sedangkan kapasitas tukar kation (KTK) dan kejenuhan basa (KB) di lokasi penelitian termasuk dalam kelompok sedang. KB (Kejenuhan Basa). tanah di daerah penelitian termasuk jenis latosol. Kesuburan tanah diukur dengan menggunakan tiga indikator yaitu nilai pH. nilai pH di lokasi penelitian adalah 4 sampai 5 sehingga termasuk tanah asam. Tindakan untuk mengatasi masalah KTK (Kapasitas Tukar Kation). Selain itu dapat juga dilakukan dengan . Pada tanah-tanah asam banyak ditemukan unsur Aluminium dapat ditukar (Aldd). Jenis latosol merah coklat kekuningan. Derajat keasaman (pH) tanah yang rendah dapat ditingkatakan dengan program pengapuran.cenderung sama. dan kejenuhan basa (KB). dan solum dalam. cukup dengan tindakan yang sama yaitu dengan pemupukan bahan organik (pupuk kandang).

5302.4 sampai 0. tetapi bila sudah diberi kapur tidak perlu lagi menggunakan pupuk kandang.5302 persen. dan 49 hari setelah tanam). maka produksi padi ladang akan meningkat sebesar 0. sedangkan untuk pupuk kandang nilai rata-ratanya adalah tiga kali dari dosis pengapuran. Pupuk TSP sebanyak 100 kilogram per hektar. Pemberian pupuk kandang atau pengapuran sebelum penanaman juga tidak dilakukan petani. Hal ini menyebabkan faktor produksi pupuk tidak elastis terhadap peningkatan hasil produksi padi ladang. pada stadia vegetatif (umur tanaman 14.5 ton per hektar. Tenaga kerja luar keluarga mempunyai nilai elastisitas sebesar 0. Pupuk yang digunakan di lokasi penelitian rata-rata sebanyak 110.masing sepertiga bagian untuk pupuk dasar. berarti setiap penambahan faktor tenaga kerja luar keluarga (ceteris paribus) sebesar satu persen.35. Dosis pemberian kapur adalah 0. Berdasarkan uji t diperoleh bahwa faktor tenaga kerja luar keluarga berpengaruh nyata terhadap produksi padi ladang pada taraf kepercayaan 98 persen. Budaya gotong royong para petani dalam melakukan penanaman di lokasi . Sedangkan untuk dosis atau takaran pupuk yang dianjurkan BAPPEDA dalam budidaya padi ladang adalah Urea sebanyak 100 kilogram per hektar dengan tiga kali pemberian. dan tidak ada petani yang menggunakan pupuk KCl. masing.masing diberikan sekaligus saat tanam. dan KCl 100 kilogram per hektar yang masing.pengapuran menggunakan jenis kapur tanah CaCO3 sebelum penanaman karena ketiga parameter kesuburan tersebut intinya saling berhubungan.8 kilogram per hektar Urea dan TSP dalam bentuk campuran yang diberikan sekaligus pada saat penanaman.

Penambahan faktor produksi benih sebesar satu persen akan cenderung meningkatkan produksi padi ladang sebesar 0. Adapun nilai elastisitas tenaga kerja dalam keluarga adalah sebesar 0. Menurut petani setempat benih jenis ini menghasilkan gabah yang lebih banyak daripada varietas padi yang disarankan untuk padi ladang dalam kondisi normal. penyiangan. tetapi kelembaban yang tinggi dan periode pengembunan yang panjang akan menyebabkan resiko untuk terserang penyakit blast (bercak putih pada akar) menjadi lebih besar. Faktor ini tidak berpengaruh nyata terhadap produksi padi ladang pada taraf kepercayaan sebesar 90 persen.1728 persen (ceteris paribus). tenaga kerja dalam keluarga juga berpengaruh nyata terhadap produksi padi ladang pada taraf kepercayaan 99 persen. Elastisitas faktor produksi benih yang rendah terhadap peningkatan produksi diduga disebabkan karena penggunaan varietas benih yang tidak tepat.penelitian diduga menjadi penyebab elastisnya peningkatan faktor tenaga kerja luar keluarga terhadap peningkatan produksi. maka produksi padi ladang akan meningkat sebesar 2. Dalam melakukan pengolahan mulai dari persiapan lahan.21728. yang berarti jika faktor tenaga kerja dalam keluarga ditingkatkan sebesar sepuluh persen.1013 persen dengan asumsi ceteris paribus. Seperti halnya tenaga kerja luar keluarga. demikian . Petani di lokasi penelitian menggunakan benih jenis Ciherang yang sebenarnya adalah benih yang umumnya digunakan dalam padi sawah. Penyakit blast merupakan jenis penyakit yang paling penting dan paling sering dijumpai dalam budidaya padi ladang pada umumnya. Namun tidak demikian halnya dengan faktor produksi benih. hingga pemanenan petani lebih banyak mengandalkan tenaga kerja dalam keluarga.

maka faktor yang paling responsif terhadap produksi padi ladang adalah tenaga kerja luar keluarga dengan nilai elastisitas sebesar 0.06968. Tenaga kerja luar keluarga melakukan pekerjaan dengan jam kerja yang telah ditentukan sebelumnya.juga di lokasi penelitian. Petani yang . Faktor produksi pestisida tidak berpengaruh nyata pada taraf kepercayaan 90 persen tetapi berpengaruh nyata pada taraf kepercayaan 70 persen terhadap produksi padi ladang.5302. Dan jika dilihat dari besaran nilai elastisitas. Penyakit blast dapat menurunkan hasil panen bahkan menggagalkan pertanaman padi ladang. dan juga target kerja yang ditentukan sebelumnya. Jadi jika dilihat secara keseluruhan. yang berarti setiap kenaikan penggunaan pestisida sebesar satu persen akan cenderung meningkatkan produksi padi ladang sebesar 0. Hal ini disebabkan oleh tenaga kerja luar keluarga akan bekerja lebih optimal dibandingkan dengan tenaga kerja dalam keluarga. Petani tidak menggunakan varietas padi ladang karena produktivitas yang lebih rendah. Tenaga kerja luar keluarga akan bekerja lebih optimal dibandingkan dengan tenaga kerja dalam keluarga. Rendahnya elastisitas faktor produksi pestisida terhadap peningkatan produksi menunjukkan bahwa penggunaan pestisida oleh petani tidak berfungsi secara efektif dalam mengurangi atau membasmi hama dan penyakit yang menyerang padi ladang karena jumlah atau jenis pestisida yang belum tepat. Elastisitas faktor produksi pestisida adalah sebesar 0.06986 persen dengan asumsi ceteris paribus. upah yang telah disepakati. maka faktor yang berpengaruh nyata terhadap produksi padi ladang di Desa Wanajaya adalah faktor tenaga kerja dalam dan luar keluarga.

suatu usaha tani harus memenuhi dua syarat yaitu syarat keharusan (Necessary Condition) dan syarat kecukupan (Sufficient Condition). untuk mencapai keuntungan yang maksimal. atau ketika elastisitas produksi lebih besar atau sama dengan nol dan lebih lebih kecil atau sama dengan satu (≤ εp ≤ 1). maka penggunaan faktor. syarat kecukupan dapat berbeda pada setiap usahatani atau individu dan merupakan efisiensi yang subjektif.menggunakan tenaga kerja luar keluarga akan mengoptimalkan kerja buruh tani agar target kerja yang diinginkan tercapai. Faktor. Terpenuhi atau tidaknya kedua syarat tersebut dapat diketahui dengan menggunakan sebuah persamaan yaitu perbandingan antara Value Marginal Product (PyMPxi) atau disebut juga Nilai Produk Marjinal (NPM).3. Berbeda dengan syarat keharusan yang objektif. 7.faktor produksi dapat dilihat dari besarnya rasio Nilai Produk Marjinal dengan Biaya Korbanan Marjinal per periode produksi. Nilai Produk Marjinal merupakan hasil kali antara harga produk dengan Produk Marjinal (PM) sementara Biaya Korbanan Marjinal (BKM) sama dengan harga dari masing. dan Marginal Factor Cost (MFC) atau yang sering disebut dengan Biaya Korbanan Marjinal (BKM). Tingkat efisiensi ekonomis dari penggunaan faktor. Jika rasio NPM dengan BKM lebih besar dari satu.masing faktor produksi itu sendiri. Analisis Efisiensi Ekonomi Menurut Doll dan Orazem (1984). Syarat keharusan (Necessary Condition) dipenuhi pada saat tidak ada lagi kemungkinan lain dalam penggunaan input yang lebih sedikit untuk menghasilkan nilai produksi yang sama.faktor .faktor produksi yang dapat dianalisis adalah faktorfaktor produksi yang bersifat fisik dan yang dapat dinilai dengan rupiah.

Rasio NPM dengan BKM yang sama dengan satu untuk semua faktorfaktor produksi menunjukkan bahwa penggunaan faktor.0696 Produksi Rata-rata (Kg/Ha) 1273. karena nilai.553 3.5302 Tenaga Kerja Dalam RT 237.027 0.162 1.453 Tabel 19 menunjukkan penggunaan faktor-faktor produksi aktual dan rasio Nilai Produk Marjinal (NPM) dengan Biaya Korbanan Marjinal (BKM) pada usahatani padi ladang di Desa Wanajaya. Tabel 19.75 67873.34 0.00 0.44 1515.produksi disebut belum efisien dan perlu ditingkatkan penggunaannya untuk mencapai keuntungan maksimum.81 0.37 0.2172 Benih 60.2484 Tenaga Kerja Luar RT 48.70 0. Rasio NPM dengan BKM yang lebih kecil dari satu menunjukkan bahwa penggunaan faktor.50 BKM 1454 6000 6000 2407 46724 NPM/ BKM 2. Rasio-rasio NPM dengan BKM dari setiap faktor produksi menunjukkan bahwa penggunaan faktor.252 1.1013 Pestisida 1. Rasio Nilai Produk Marjinal dengan Biaya Korbanan Marjinal Usahatani Padi Ladang Di Desa Wanajaya Penggunaan Koefisien Rata-rata Regresi Aktual Pupuk 110.faktor produksi telah melebihi batas optimal sehingga untuk mencapai keuntungan maksimum maka penggunaannya harus dikurangi. Rasio NPM dan BKM usahatani padi ladang di Desa Wanajaya ditunjukkan dalam Tabel 21.05 18162.nilai rasio NPM dan BKM tidak ada yang sama dengan satu.79 Harga Rata -rata/unit Output (Rp/Kg) 1300 Keterangan : NPM = Nilai Produk Marjinal BKM = Biaya Korbanan Marjinal Variabel NPM 3712.faktor produksi dalam usahatani tersebut tepat berada pada kondisi optimal dan telah mencapai keuntungam maksimum sehingga usahatani dapat dikatakan telah efisien secara ekonomis.22 2795.faktor produksi dalam usahatani padi ladang di Desa Wanajaya tidak efisien secara ekonomis. Rasio .

Pada Tabel 19 dapat dilihat bahwa rasio NPM dan BKM untuk faktor produksi pupuk. Sedangkan untuk faktor tenaga kerja dalam keluarga didapat nilai rasio NPM dan BKM yang lebih kecil dari satu. sehingga pupuk dan pestisida hanya digunakan berdasarkan kemampuan finansial petani. Nilai rasio ini mengandung arti bahwa penggunaan faktor– faktor produksi tersebut masih kurang dan masih dapat ditingkatkan lagi agar dicapai tingkat penggunaan yang efisien atau optimal.027. dan pestisida masing.masing lebih besar dari satu. maka penggunaan tenaga kerja luar keluarga memerlukan penambahan yang relatif lebih besar agar dicapai tingkat efisien.ini juga berarti bahwa penggunaan faktor. Berdasarkan nilai rasio ini. Rasio NPM dan BKM yang paling besar adalah pada faktor tenaga kerja luar keluarga yaitu sebesar 3. Penggunaan benih yang tidak efisien juga disebabkan oleh ketidakmampuan petani secara finansial untuk membeli benih yang memiliki harga beli yang tinggi. yang berarti bahwa penggunaan faktor . Penggunaan faktor produksi pestisida dan pupuk yang rendah ini disebabkan oleh keterbatasan modal yang dimiliki petani untuk membeli pupuk dan pestisida dalam jumlah yang lebih besar yang sesuai dengan kebutuhan usahatani berdasarkan kondisi kesuburan dan kandungan hara tanah.faktor produksi pada usahatani padi ladang belum optimal pada jumlah produksi yang sama. benih. sehingga benih yang digunakan petani adalah gabah yang merupakan sisa hasil panen dari musim tanam sebelumnya dengan mutu yang lebih rendah daripada benih komersial. Rendahnya penggunaan tenaga kerja luar keluarga disebabkan oleh keterbatasan modal petani untuk mengupah tenaga kerja luar keluarga yang lebih besar. tenaga kerja luar keluarga.

sehingga untuk mencapai tingkat efisien. maka penggunaan tenaga kerja dalam keluarga harus dikurangi.faktor produksi yang menghasilkan penggunaan input yang efisien. Penggunaan yang berlebih ini terjadi karena usahatani padi ladang merupakan usahatani utama dan sumber makanan pokok keluarga petani sehingga alokasi tenaga kerja untuk usahatani padi ladang relatif lebih besar. Tabel 20.produksi ini berlebihan atau tidak efisien.69 2.94 69. Efisiensi penggunaan faktor. Kombinasi optimal dari penggunaan faktor-faktor produksi akan diperoleh jika Nilai Produk Marjinal sama dengan Biaya Korbanan Marjinal atau jika rasio Nilai Produk Marjinal dan Biaya Korbanan Marjinal sama dengan satu.51 146. Pada Tabel 20 dapat dilihat kombinasi faktor.51. Nilai ini berarti untuk mencapai tingkat efisien.1013 Pestisida 0.5302 Tenaga Kerja Dalam RT 0.33 59.faktor produksi dapat dicapai dengan menggunakan kombinasi optimal dari faktor-faktor produksi.2484 Tenaga Kerja Luar RT 0.0696 Produksi Rata-rata (Kg/Ha) 1273. .47 NPM 1454 6000 6000 2407 46724 BKM 1454 6000 6000 2407 46724 NPM/ BKM 1 1 1 1 1 Berdasarkan Tabel 20 di atas diperoleh nilai penggunaan optimal dari faktor pupuk sebesar 282.79 Harga Rata -rata/unit Output (Rp/Kg) 1300 Keterangan : NPM = Nilai Produk Marjinal BKM = Biaya Korbanan Marjinal Variabel Penggunaan Optimal 282. Rendahnya tingkat pendidikan petani menyebabkan mereka tidak memiliki keahlian atau pekerjaan lain selain berusahatani padi ladang sehingga tenaga kerja dalam keluarga yang digunakan dalam usahatani menjadi relatif lebih besar. Kombinasi Optimal dari Faktor-Faktor Produksi Usahatani Padi Ladang Di Desa Wanajaya Koefisien Regresi Pupuk 0.2172 Benih 0.

69 kilogram agar dicapai tingkat efisiensi. Nilai penggunaan optimal dari faktor tenaga kerja luar keluarga adalah sebesar 146.33. yang berarti bahwa penggunaan tenaga kerja luar keluarga yang semula sebesar 48.47 liter agar dicapai tingkat efisiensi.37 HOK menjadi sebesar 59.penggunaan pupuk harus ditingkatkan dari penggunaan aktualnya sebesar 110. .51 kilogram. Untuk faktor produksi pestisida.7 liter dalam penggunaan aktualnya menjadi sebesar 2.34 HOK agar dicapai tingkat efisien. penggunaannya harus ditingkatkan dari sebesar 1. Sementara nilai penggunaan tenaga kerja dalam keluarga harus dikurangi dari yang semula sebesar 237.94 HOK agar penggunaan faktor produksi ini efisien. penggunaan benih yang semula sebesar 60 kilogram harus ditingkatkan menjadi 69.34 HOK harus ditingkatkan menjadi 146. Jika dilihat dari segi rasio NPM dan BKM.81 kilogram menjadi sebesar 282.

KESIMPULAN DAN SARAN 8.. . Sedangkan faktor pupuk. faktor produksi pestisida harus ditingkatkan dari sebesar 1.7 liter dalam penggunaan aktualnya menjadi sebesar 2. 3.sedangkan pendapatan atas biaya total adalah Rp.37 HOK menjadi sebesar 59.-520. dan pestisida tidak berpengaruh nyata pada taraf kepercayaan yang ditetapkan. Kemudian dengan analisis imbangan penerimaan dan biaya (analisis R/C ratio).104. diperoleh nilai rasio R/C atas biaya total sebesar 0.69 kilogram. Faktor-faktor produksi yang berpengaruh nyata terhadap produksi padi ladang adalah tenaga kerja luar keluarga dan tenaga kerja dalam keluarga. Kesimpulan Berdasarkan hasil dan pembahasan dalam penelitian ini.326. 2. faktor tenaga kerja luar keluarga sebesar 146. penggunaan tenaga kerja dalam keluarga harus dikurangi dari yang semula sebesar 237.1. penggunaan benih yang semula sebesar 60 kilogram harus ditingkatkan menjadi 69. yang nyata pada taraf kepercayaan 99 persen. benih.76 (lebih kecil dari satu).VIII.1.-.51.47 liter. sehingga dapat disimpulkan bahwa cabang usahatani padi ladang di Desa Wanajaya tidak menguntungkan bagi petani. Pendapatan atas biaya tunai adalah Rp. Penggunaan faktor-faktor produksi yang efisien secara ekonomis dicapai pada saat penggunaan faktor pupuk sebesar 282.33 HOK.94 HOK.854. maka dapat diambil beberapa kesimpulan yaitu : 1.

2. Penggunaan faktor produksi pupuk. benih. pestisida tenaga kerja luar harus ditingkatkan dari penggunaan aktualnya supaya usahatani padi ladang yang dilakukan lebih efisien dan menguntungkan bagi petani.8. . Pemberian bimbingan dan penyuluhan dari instansi terkait mengenai teknik budidaya padi ladang yang tepat seperti kombinasi penggunaan pupuk dan pestisida yang tepat dan pola tanam yang tepat untuk mencapai usahatani padi ladang yang lebih produktif dan menguntungkan. Saran Berdasarkan hasil dan pembahasan serta simpulan.2. maka disarankan untuk: 1.

Sadhya Grahacara. Malang.. Basyir. C. Damodar N.Graw –Hill.B. Upland rice : a global perspective. Padi Gogo. 1986. Involusi Pertanian : Proses Perubahan Ekologi di Indonesia. Pola Adaptasi Peladang Berpindah di Pemukiman (Kasus Peladang Berpindah di Perkebunan HTI. Perkembangan Tingkat Produksi. 1999. Fakultas Pertanian. Institut Pertanian Bogor. . Jawa Tengah. Sumatera Selatan. Analisis Peningkatan Pendapatan Petani Melalui Penyimpanan Gabah di Kabupaten Indramayu dan Kabupaten Karawang. Kanada. Philippines. Tauhid. 2003. palawija. 1995-1998.DAFTAR PUSTAKA Ahmad. Dahlia. Fakultas Pertanian. PT. Departemen Pertanian Satuan Pengendali Bimas. Vademekum Sumberdaya. Basic Econometric. Geertz. Laporan Draft Final Studi Penanganan dan Pemanfaatan Lahan Kritis Di Kabupaten Karawang Tahun Anggaran 2003. Punarto S. Noorsanti Uceu. 1983. Departemen Pertanian. Hariyanto. Los Banos. Interna tional Rice Research Institute. Pedoman bercocok tanam padi. Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan. Ariyanti. Bogor. Kabupaten Karawang. Balai Penelitian Tanaman Pangan Malang. Bogor. Institut Pertanian Bogor. John dan Frank Orazem. A. Jakarta. Tesis. Propinsi Jawa Barat. Amir. Karawang. Fakultas Pertanian. Fakultas Petanian. O’Toole JC. Analisis Pendapatan Usahatani Padi dan Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Marketed Supply Gabah di Kabupaten Magelang dan Kabupaten Klaten. P. Gujarati. Doll.. Skripsi. Diana. sayur-sayuran. 1995. New York. Suyamto dan Supriyatin. Badan Perencana Pembangunan Daerah Pemerintah Kabupaten Karawang. Skripsi. 2002. Direktorat Jenderal Pertanian. Mc. 1988. Jakarta. Yayasan Obor Bhratara Karya Aksara. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian. Bogor. Edisi Kedua. Jawa Barat). Kecamatan Cimalaya. John Wiley and Sons. 1994. Gupta PC. 1963. Bogor. Institut Pertanian Bogor. Production Economic Theory with Aplications. Skripsi. Institut Pertanian Bogor. Produktivitas dan Pendapatan Petani Padi Dihubungkan Dengan Kebijaksanaan Harga Dasar Gabah dan Harga Sarana Produksi (Studi Kasus : Desa Sukatani. 1984. Jakarta. 1998. Second Edition.

Politik Pangan dan Industri Pangan di Indonesia. Institut Pertanian Bogor. 2001. Netty. Siregar. Jurusan Ilmu. Yayu Sri. Bogor. IKAPI. Kab. Penebar Swadaya. Prisma. Program Pascasarjana. Harry. Bogor. Rome. Jakarta. 1981. Penerbit LP3S. Leuwi esa Damar. Fakultas Pertanian. Analisis Pendapatan dan Efisiensi Penggunaan Faktor Produksi Usahatani Padi Gogo Secara Tumpangsari Dengan Jagung di Kecamatan Kadipaten Tasikmalaya Propinsi Jawa Barat. (5): 13-12. Sambutan Menteri Negara Agraria/Kepala BPN. Mubyarto. Soekartawi. Susanto. Institut Pertanian Bogor. PS. M. Jawa Tengah). Skripsi. FAO Rice Conference. Mulyo. Ilmu Usahatani. Satria.Harsono. 1981. Jakarta. Fakultas Pertanian. Institut Pertanian Bogor. Budidaya Tanaman Padi di Indonesia. Rahayu. D. D. Fadholi. James. 12-13 February. Bogor. Bogor. 2000. 2004. Institut Pertanian Bogor. Kecamatan sragi. Institut Pertanian Bogor. Setiawan. Fakultas Pertanian. 1995. Jurusan Ilmu. 1996. Perbandingan Usahatani Padi Ladang Baduy Luar dan Luar Baduy Dilihat Dari Tingkat Efisiensi dan Subsistensi Usahatani (Studi Kasus di D Kanekes dan Desa Jalupang Mulya. . Tenggeng Kulon dan Yosorejo. Bogor. Chandra Arief. 2004. Jakarta. Skripsi. Soeharjo. Jakarta. Arif. Institut Pertanian Bogor. Analisis Wilayah Rawan Kekeringan Untuk Pengembangan Sistem Usaha Pertanian Padi Gogo di Sulawesi Tenggara. Potensi Lahan Kering Dalam Pembangunan Pertanian di Indonesia. Penerbit Sustra Hudaya. Scott. 1973. Kabupaten Pekalongan. Jakarta. Sendi-Sendi Pokok Ilmu Usahatani. Hernanto.ilmu Sosial Ekonomi Pertanian. PILMITANAS (Pekan Ilmiah Mahasiswa Ilmu Tanah Nasional). Sidik. 1989. Program Studi Agroklimatologi. Pengantar Ekonomi Pertanian. S. LP3ES. Bogor. Moral Ekonomi Petani. Analisis Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Keputusan Petani Dalam Pemasaran Gabah (Kasus Desa Majosen. Tesis. Skripsi. Pemanfaatan dan Peranan Lahan Kering Dalam Pembangunan Pertanian. Rahardjo. Institut Pertanian Bogor. Ahmad dan Dahlan Patong. 1996. Lebak. 1986.ilmu Sosial Ekonomi Pertanian. Jawa Barat). Bogor. Maryono. Ilmu Usahatani dan Penelitian Untuk Pengembangan Petani Kecil. 1988. Jakarta. 1993. Hadrian. UI-Press. Bogor. 1995. Kec. Italy. Cetakan kedua. Indonesia Rice Policy In View of Trade Liberalization. Fakultas Pertanian.

2000. 1999. Skripsi.ilmu Sosial Ekonomi Pertanian. Institut Pertanian Bogor. Jurusan Ilmu. 1999. Skripsi. Hermawan. Fakultas Pertanian. Tesis. Program Pascasarjana. Institut Pertanian Bogor. Kabupaten Aceh Barat). Yanuar. Bogor. Analisis Faktor. Jurusan Ilmu. Yelni. Bogor. Rahmat.Wana.ilmu Sosial Ekonomi Pertanian. Skripsi. Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Produksi dan Pendapatan Usahatani Padi Sawah Pada Jaringan Irigasi Teknis dan Irigasi Sederhana. Wijaya. Institut Pertanian Bogor. Bogor. . Analisis Pendapatan dan Produksi Usahatani Padi Lahan Gambut (Studi Kasus : Desa Blang Ramee. Analisis Pendapatan dan Efisiensi Usahatani Padi Input Rendah di Kecamatan Tempuran. Kecamatan Tounom. Fakultas Pertanian. Kabupaten Karawang. Bogor. Andri. Fakultas Pertanian. Institut Pertanian Bogor.faktor Produksi Padi Lahan Kering di Indonesia. 2002.

LAMPIRAN .

8846 5.11R Durbin-Watson statistic = 1.530 Ln TK Luar + 0.8251 SE Fit 0.3546 Analysis of Variance Source Regression Residual Error Total Source DF Ln Pupuk 1 Ln TK Luar 1 Ln TK Dalam 1 Ln Benih 1 Ln Pestisida 1 DF 5 30 35 R-Sq = 59.2484 0.61 7.9949 St - .00 + 0.83 P 0.72R 7 4.101 Ln Benih + 0.6180 18.989 0.21728 0.5302 0.61 5.217 Ln TK Dalam + 0.2161 7.2712 0.06548 T 0.06 P 0.545 0.2432 0.5712 6.1619 0.2875 MS 2.6600 3.1876 0.2539 F 8.00 0.2221 0.2092 0.1969 0.6% R-Sq(pred) = 45.5039 PRESS = 10.999 0.011 0.06968 SE Coef 1.3 S = 0.3000 2.8 1.4056 0.02% R-Sq(adj) = 52.1803 Residual -1.248 Ln Pupuk + 0.8200 2.8% SS 11.003 0.77 Fit 6.1013 0. Analisis Regresi Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Produktivitas Cabang Usahatani Padi Ladang Di Desa Wanajaya The regression equation is Ln Produktivitas = 0.61 2.Lampiran 1.3 1.48 1.0697 Ln Pestisida Predictor Konstanta Ln Pupuk Ln TK Luar Ln TK Dalam Ln Benih Ln Pestisida Coef 0.06819 0.8341 Seq SS 1.000 Unusual Observations Obs Ln Pupuk Ln Prod Resid 6 4.632 0.004 0.69 3.296 VIF 1.19 0.2 2.3 1.

38 2004 54.461 11.395 47.63 2.42 50.50 51. Pertumbuhan Produksi.52 -1.68 Pertumbuhan (2004-2005) -2.105 25.80 -2.id.185 10.457 46. dan Produktivitas Padi di Indonesia.899 10.521 44.43 .604 45.822 1.498 47.88 2002 51.591 1.088 11.500 43.74 2.565 1.922 45. Tahun 2001-2005 No 1 Komoditi Padi Produksi (000 Ton) Luas Panen (000 Ha) Produktivitas (Ku/Ha) Padi Sawah Produksi (000 Ton) Luas Panen (000 Ha) Produktivitas (Ku/Ha) 2001 50. Luas Panen.97 48.71 2 47.064 24.Lampiran 2.56 -0.00 -2.488 45.23 2.209 10.879 1.bps.094 25.80 3 Padi Ladang Produksi (000 Ton) Luas Panen (000 Ha) Produktivitas (Ku/Ha) Sumber : www.95 -1.67 0.081 23.008 11.34 2.76 49.go.419 45.378 10.69 Tahun 2003 52.00 -2.123 25.759 1.36 2005 53.79 0.138 11. 2005 2.490 11.896 10.799 47.

32 24.18 23.21 22.42 34.63 -0.28 18.46 -14.99 23.93 20.8 30.56 23.06 19.41 20.58 23.74 2002 21.76 18.52 -3.35 -0.15 26.22 20.47 23.82 23.13 17.Lampiran 3.57 23.52 22.31 31.45 0.92 17.27 33.67 23.45 24.85 22.27 -3.63 25.31 23.04 1.72 30 29.21 35.6 25.53 21.16 24.44 0.8 19.37 16.03 23.99 19.55 23.54 24.52 Pertumbuhan (2004-2005) 0.bps.45 23.61 24.02 22.86 26.95 20.87 16.03 25.14 26.23 -10.36 23.25 25.66 21.43 Sumber : www.73 2.72 2.25 21.33 20.75 20.78 0.60 -9.65 22.34 Tahun 2003 22.44 0.31 21.54 4.55 17.33 27.66 30.16 35.42 34.41 26.33 20.27 20.56 26. 2005 *) Angka ramalan -) Data tidak tersedia .75 22.27 22.78 20 24.12 20.84 20.88 21.14 25.66 20.55 24.85 24.85 20.84 21.2 21.47 26.97 20.56 25.89 21.26 8.36 31.97 -1.22 24.06 22.03 26.76 23.35 21.09 25. Produktivitas Padi Ladang Menurut Propinsi Di Indonesia.15 22.50 -8.94 20.57 19.11 27.03 -0.67 0 0 25.86 0.62 20.53 24.49 31.35 21.21 21.65 19.5 26.75 26.57 24.53 5.19 26.19 20.23 2004 2005*) 22.89 20.8 28.04 0.07 18.53 31.32 21.84 29.12 19.75 24.9 24.33 23.96 20.71 22.77 18.69 0.15 19.31 24.29 -2.45 23.go.70 0.id.21 24.82 32.17 19.89 21.86 28.95 22.11 23.21 25.62 8.18 23. Tahun 2001-2005 (Kwintal/Ha) No.83 22. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 Propinsi NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Maluku Maluku Utara Papua Indonesia 2001 22.3 19.21 25.19 20.01 37.3 28.47 23.9 35.01 4.66 20.29 35.7 18.73 2.49 22.88 -0.59 23.

226 306.848 Kalimantan Barat 175.827 11.889 Sulawesi Tengah 7.500 113.331 132.788 Bali 1.486 137.35 10.60 5.052 94.24 -5.72 -3.615 27.773 36.016 40.25 -6.861 56.66 -2.882 227.717 358.468 1.699 DI Yogyakarta 119.347 231.763 Sumatera Utara 180.622 Jawa Timur 303.000 23.574 1.796 198.872 5.67 -1.54 -1.093.723 115.035 2005 6.838 Gorontalo 1.246 13.629 Sumber : www.Lampiran 4.288 10.938 Lampung 252.423 39.693 82.725 219.308 302.576 304.879.281 4.434 121.998 2.750 4.404 NTB 78.50 26.407 65.036 86.578 184.169 154.663 25.291 61.43 -0.822.497 20.681 167.254 133.925 Jambi 59.450 17.333 995 Maluku 13.967 14.962 195.79 -16.031 Indonesia 2.842 143.910 1.270 2.386 Kalimantan Selatan 110.182 132.614 139.203 Sulawesi Tenggara 11.136 105.659 2.702 DKI Jakarta Jawa Barat 340.491 Jawa Tengah 192.91 -10.659 99.814 16.882 Sumatera Selatan 158.97 -9. Produksi Padi Ladang Menurut Propinsi Di Indonesia Tahun 2001-2005 (Dalam Ton) No.621 39.676 2.951 Sulawesi Utara 12.978 215.95 .774 Pertumbuhan -8.692 77.053 13.27 0.416 Sumatera Barat 13.565.365 10.900 171.248 5.915 2.560 121.878 115.908 8.09 9.35 -35.290 80.073 128.778 1.726 16.162 Sulawesi Selatan 29.612 59.204 116.086 Kalimantan Timur 107.181 113.190 134.90 15.518 2004 7. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 Propinsi 2001 2002 NAD 4.801 31.530 181.042 295.64 -4. 2005 Tahun 2003 2.898 209.590.187 4.806 8.234 16.454 26.bps.959 41.323 26.771 Bengkulu 34.892 83.240 8.055 60.970 3.26 -15.69 -25.945 37.917 16.903 10.621 1.076 6.567 1.20 -17.301 59.190 NTT 102.363 183.368 28.go.307 44.88 7.522 Kalimantan Tengah 111.85 11.66 39.957 46.016 20.id.465 1.194 22.175 Riau 44.177 7.69 -2.32 25.618 107.754 39.550 204.647 58.68 -3.375 100.656 6.06 1.530 200.225 9.418 Banten 73.144 1.333 185.199 6.108 356.29 5.892 169.844 5.556 Bangka Belitung 11.414 3.978 Maluku Utara Papua 12.

2 125.4 32 Kadim 0.1 5.8 269.2 141.000 1.000 900 900 400 1.4 25 Amud 1 26 Murdi 0.4 37.74 0.15 2.8 146.2 26 27.2 178.2 36 154 26.8 .500 800 1.75 1273 TK Dlm (HOK) 186.5 29 Keming 0.6 109 114.25 0.000 900 400 1.4 172 150 84. Penggunaan Faktor-faktor Produksi Cabang Usahatani Padi Ladang Di Desa Wanajaya.500 400 400 200 2.24 0.8 172.24 1.6 105.4 166.2 7 0.75 15 Icis 0.15 0.5 5 Kiwan 0.08 0.32 0.05 2.05 0.5 36 Walim 0.4 155.1 110.4 46 18.4 82.6 2 0.4 413 162.1 1.2 26 Benih (Kg) 50 25 50 50 50 50 50 25 40 100 40 30 80 50 25 50 50 50 50 50 20 50 30 20 50 60 50 30 80 50 40 50 40 50 30 40 30 30 80 20 45 60 Pestisida (Liter) 1.500 1.15 0.6 30 Dulhamid 1 31 Sadum 0.5 27 Hardi 0.1 2.4 35 28 17.2 173.8 21 Madhawi 0.1 28 Ganda 0.4 30.24 0.6 28 37 29 38.4 40 31 48 35.6 141.6 48 15.Lampiran 5.5 6 Walim 1 7 Kamin 1 8 Natong 1 9 Onang 1 10 Rakim 2 11 Bodeh 0.5 Rata-rata 0.1 0.8 192.37 TK Luar (HOK) 44 26 27.5 23 Mamat 0.4 155.6 142 104.24 4.4 33 Misjah 0.000 900 500 800 1.7 Pupuk (Kg) 100 70 100 100 100 100 100 150 250 25 30 100 100 100 200 40 100 200 30 100 150 50 200 200 30 100 100 200 80 80 80 200 80 36.8 174.500 .6 38 Neman 0.27 1.300 500 500 800 1.5 16 Cilan 1 17 Hidayat 1 18 Enan 0.5 34 Iwan 2 35 Sahir 0.2 311.1 2.2 26 20.2 1.5 0.1 1.2 141.4 174.000 1.500 400 800 500 800 200 500 280 1.25 48.16 0.15 0.1 0. Musim Tanam November-April Tahun 2005 Luas (Ha) 1 Sakam 1.8 150.8 231.6 117.5 37 Narmin 0.5 0.6 195.34 83.6 43.16 0.75 2 Acim 3 Madhari 1 4 Ladi 0.15 2.6 125.75 Rata-rata per Hektar No Nama Produksi (Kg) 1.8 220.2 112 390.03 237.6 196.4 157.1 0.000 200 500 150 500 700 200 954.5 12 Ayat 0.4 13 Aman 1 14 Adon 0.1 0.1 0.4 409.16 0.4 33 45.2 0.15 0.5 39 Namun 1 40 Samad 0.4 22 Asim 0.5 19 Asmur 1 20 Karsim 0.4 24 Enong 0.

69.000.000.000.200.2.000.56.5 Rata-rata 0.5 34 Iwan 2 35 Sahir 0.000.400.000 1.6 30 Dulhamid 1 31 Sadum 0.80.000.800.000. Pengeluaran Cabang Usahatani Padi Ladang Di Desa Wanajaya Musim Tanam November-April Tahun 2005 No Nama Luas (ha) Produksi (Kg) 1.800.000.91.44.000 1.240.186.135.400.5 2 Acim 0.42.997.1.973.56.458.000.400.000.130.000.035.200.200.70.600.54.902.112.000.600.600.1 28 Ganda 0.430.80.000.000.342.75.000.30.000.183.000.000.000.000 200 500 150 500 700 200 954 1273 Tenaga Dalam RT 1.000.195.224.5 12 Ayat 0.000.5 37 Narmin 0.500 500 1.30.000.70.045.000.272.109.130.200.000.800.000.48.600.70.000.33.000.754.600.934.222.70.Kerja Luar RT 264.000.120.198.156.800.154.60.1.300 500 500 800 1.1.000.868.230.482.55.000.150.000.000.000.288.150.000.000.000.000.600.5 23 Mamat 0.213.000.119.15.000.120.000.000.000.5 19 Asmur 1 20 Karsim 0.000.72.000.22.72.000.4 24 Enong 0.200.000.032.000.932.703.000.000.2.617.1.672.4 22 Asim 0.309.900.48.000.112.496.400.- 1 Sakam 1.016.000.000.313.200.160.500 800 1.000.000.104.240.60.Pupuk 130.72.000.175.400.000.000.74.000.000.000.174.800.42.300.200.1.72.73.000.000.000.120.000.1.8 21 Madhawi 0.323.15 15 Icis 0.156.200.30.000.000.192.216.634.158.48.33.400.120.000.156.000.848.89.250.70.7.000.Benih 120.5 16 Cilan 1 17 Hidayat 1 18 Enan 0.400.500.- 70.000.000.800.74.800.000.259.- .150.000.000.000.000.150.51.5 27 Hardi 0.600.943.000.000.000.22.000.000.654.000.000 900 500 800 1.800.000.40.848.800.000 900 400 1.852.5 6 Walim 1 7 Kamin 1 8 Natong 1 9 Onang 1 10 Rakim 2 11 Bodeh 0.172.60.2.156.56.200.5 36 Walim 0.164.1.1.56.000.72.000.120.478.33.000.000.122.144.400.600.000.000.192.4 33 Misjah 0.48.033.880.000.000.000.75 Rata-rata per Hektar 60.1.000.- 168.122.000.000.200.276.178.000.119.000.120.275.000 900 900 400 1.21.Saprotan Pestisida 46.000.75 3 Madhari 1 4 Ladi 0.753.140.175.400.60.600.400.1.1.000.042.000.168.108.924.000.000.22.- 146.500 400 800 500 800 200 500 280 1.400.175.6 38 Neman 0.400.5 29 Keming 0.72.11.355.000.000.000.000.29.000.000.508.60.627.60.000.271.400.56.600.000.70.000.600.Lampiran 6.000.288.200.45.000.000.4 32 Kadim 0.000.33.000.300.5 5 Kiwan 0.000.000.22.000.4 25 Amud 1 26 Murdi 0.000.44.1.847.104.000.164.600.985.500 400 400 200 2.168.140.000.000.28.240.175.225.120.1.687.120.210.400.300.000.315.389.30.1.000.000.60.89.400.60.000.045.4 13 Aman 1 14 Adon 0.5 39 Namun 1 40 Samad 0.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful