P. 1
padi ladang

padi ladang

|Views: 1,341|Likes:
Published by Reisshaa Alfianti

More info:

Published by: Reisshaa Alfianti on Nov 21, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

07/02/2013

pdf

text

original

ANALISIS PENDAPATAN DAN FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PRODUKSI CABANG USAHATANI PADI LADANG DI KABUPATEN KARAWANG

HENDRI METRO PURBA A07498176

FAKULTAS PERTANIAN INSTITUT PERTANIAN BOGOR 2005

RINGKASAN

HENDRI METRO PURBA. Analisis Pendapatan dan Faktor- faktor Yang Mempengaruhi Produksi Cabang Usahatani Padi Ladang Di Kabupaten Karawang (Di bawah bimbingan NUNUNG KUSNADI). Kebutuhan bahan pangan masyarakat Indonesia masih sangat tergantung pada beras. Produksi beras nasional sebagian besar disumbangkan oleh produksi padi sawah, sementara itu ketersediaan lahan sawah dan efisiensi usahatani padi sawah cenderung mengalami penurunan. Sumbangan padi ladang terhadap produksi padi nasional masih sangat rendah karena produktivitas padi ladang yang jauh lebih rendah daripada produktivitas padi sawah. Jika dibandingkan dari segi laju pertumbuhan produksi, padi ladang juga masih jauh lebih rendah daripada padi sawah. Mengingat ketersediaan lahan kering bagi usahatani padi ladang masih sangat besar, maka pengembangan produktivitas usahatani padi ladang memiliki potensi yang sangat menjanjikan. Oleh karena itu menarik untuk dikaji bagaimana meningkatkan produktivitas cabang usahatani padi ladang. Penelitian ini bertujuan untuk (1) menganalisis penyebab rendahnya produktivitas padi ladang, (2) m enganalisis faktor- faktor yang mempengaruhi produksi padi ladang (3) menganalisis efisiensi ekonomis penggunaan faktor-faktor produksi pada cabang usahatani padi ladang. Pengumpulan data dilakukan dari bulan Mei hingga Juni 2005 di Desa Wanajaya, Kecamatan Teluk Jambe, Kabupaten Karawang. Data yang digunakan adalah data primer dan data sekunder. Data primer dikumpulkan dengan melakukan pengamatan dan wawancara langsung dengan petani responden dengan mengajukan pertanyaan yang dibuat dalam bentuk kuesioner yang telah dipersiapkan sebelumnya. Data sekunder diperoleh dengan cara penelusuran kepustakaan buku, laporan penelitian, artikel, majalah, karya ilmiah yang berkaitan dengan masalah penelitian dan melalui internet. Selain itu data

sekunder juga diperoleh dari Biro Pusat Statistik, Departemen Pertanian, Balai Penelitian Tanaman Pangan, Pusat Pengembangan Sosial Ekonomi Pertanian, dan Pemerintah Daerah di lokasi penelitian. Pengolahan data dilakukan dengan menggunakan analisis imbangan penerimaan dan biaya (analisis R/C ratio),

pendekatan fungsi produksi Cobb-Douglas, dan analisis efisiensi ekonomi dengan rasio Nilai Produk Marjinal (NPM) dan Biaya Korbanan Marjinal (BKM). Pengolahan data dilakukan dengan me nggunakan program Microsoft Excel dan Minitab 13 for Windows. Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) dengan analisis imbangan penerimaan dan biaya (analisis R/C ratio), diperoleh nilai rasio R/C atas biaya total sebesar 0.76 (lebih kecil dari satu), sehingga dapat disimpulkan bahwa cabang usahatani padi ladang di Desa Wanajaya tidak menguntungkan bagi petani, (2) faktor- faktor produksi yang berpengaruh nyata terhadap produksi padi ladang adalah tenaga kerja luar keluarga dan tenaga kerja dalam keluarga, yang signifikan pada taraf kepercayaan 99 persen. Sedangkan faktor pupuk, benih, dan pestisida tidak berpengaruh nyata pada taraf kepercayaan yang ditetapkan, (3) penggunaan faktor-faktor produksi yang efisien secara ekonomis dicapai pada saat penggunaan faktor pupuk sebesar 282.51, faktor tenaga kerja luar keluarga sebesar 146.33 HOK, penggunaan benih yang semula sebesar 60 kilogram harus ditingkatkan menjadi 69.69 kilogram, penggunaan tenaga kerja dalam keluarga harus dikurangi dari yang semula sebesar 237.37 HOK menjadi sebesar 59.94 HOK, faktor produksi pestisida harus ditingkatkan dari sebesar 1.7 liter dalam penggunaan aktualnya menjadi sebesar 2.47 liter. Berdasarkan hasil penelitian di atas maka disarankan agar (1) penggunaan faktor produksi pupuk, benih, pestisida tenaga kerja luar harus ditingkatkan dari penggunaan aktualnya supaya usahatani padi ladang yang dilakukan lebih efisie n dan menguntungkan bagi petani, (2) pemberian bimbingan dan penyuluhan dari instansi terkait mengenai teknik budidaya padi ladang yang tepat seperti kombinasi penggunaan pupuk dan pestisida yang tepat dan pola tanam yang tepat untuk mencapai usahatani padi ladang yang lebih produktif dan menguntungkan.

ANALISIS PENDAPATAN DAN FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PRODUKSI CABANG USAHATANI PADI LADANG DI KABUPATEN KARAWANG

Oleh

HENDRI METRO PURBA A07498176

Skripsi Sebagai Bagian Persyaratan Untuk Memperoleh Gelar Sarjana Pertanian

pada Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor

FAKULTAS PERTANIAN INSTITUT PERTANIAN BOGOR 2005

DEPARTEMEN ILMU-ILMU SOSIAL EKONOMI PERTANIAN FAKULTAS PERTANIAN INSTITUT PERTANIAN BOGOR

Dengan ini menyatakan bahwa skripsi yang disusun oleh : Nama NRP : : Hendri Metro Purba A07498176 Manajemen Agribisnis Analisis Pendapatan dan Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Produksi Cabang Usahatani Padi Ladang Di Kabupaten Karawang dapat diterima sebagai syarat kelulusan untuk memperoleh gelar Sarjana Pertanian pada Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor.

Program Studi : Judul Skripsi :

Menyetujui, Dosen Pembimbing

Dr. Ir. Nunung Kusnadi.MS NIP. 131 415 082

Mengetahui, Fakultas Pertanian Dekan

Prof. Dr. Ir. H. Supiandi Sabiham, M.Agr NIP. 130 422 698

Tanggal Lulus : 20 Desember 2005

PERNYATAAN

DENGAN INI SAYA MENYATAKAN BAHWA SKRIPSI YANG BERJUDUL “ANALISIS PENDAPATAN DAN FAKTOR-FAKTOR YANG

MEMPENGARUHI PRODUKSI CABANG USAHATANI PADI LADANG DI KABUPATEN KARAWANG” BELUM PERNAH DIAJUKAN PADA

PERGURUAN TINGGI LAIN ATAU LEMBAGA LAIN MANAPUN UNTUK TUJUAN MEMPEROLEH GELAR AKADEMIK TERTENTU. SAYA JUGA MENYATAKAN BAHWA SKRIPSI INI BENAR-BENAR HASIL KARYA SAYA SENDIRI DAN TIDAK MENGANDUNG BAHAN-BAHAN YANG PERNAH DITULIS ATAU DITERBITKAN OLEH PIHAK LAIN KECUALI SEBAGAI BAHAN RUJUKAN YANG DINYATAKAN DALAM NASKAH.

Bogor, Desember 2005

Hendri Metro Purba A07498176

penulis diterima di SMU Katolik Santo Agustinus Jakarta. dan menyelesaikannya pada tahun 1992. Situmorang. Penulis memulai pendidikan dasarnya pada tahun 1986 di SD Negeri 3 Dolok Sanggul. Purba dan Ibu H. dan lulus tahun 1995. Penulis diterima sebagai mahasiswa Program Studi Manajemen Agrinisnis. Institut Pertanian Bogor. pada tahun 1998 melalui jalur UMPTN (Ujian Masuk Perguruan Tinggi Negeri). Penulis melanjutkan pendidikan menengah pertama di SMP Negeri 1 Dolok Sanggul. Kemudian. Fakultas Pertanian. dan lulus pada tahun 1998.RIWAYAT HIDUP Penulis dilahirkan di Dolok Sanggul pada tanggal 16 Juli 1980. Penulis adalah anak pertama dari enam bersaudara pasangan Bapak T. .

Penulis menyadari kekurangan dalam penulisan skripsi ini sehingga diperlukan kritik dan saran untuk perbaikan skripsi ini. mengana lisis faktorfaktor yang mempengaruhi produiksi dalam usahatani padi ladang. Sesuai dengan judul tersebut. Judul skripsi ini adalah “Analisis Pendapatan dan Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Produksi Cabang Usahatani Padi Ladang di Kabupaten Karawang”. Penulis berharap penelitian yang dilakukan dapat diterima dan dimanfaatkan bagi perkembangan ilmu pengetahuan dan pihak lain yang berkepentingan. Bogor.KATA PENGANTAR Puji syukur penulis panjatkan kepada Tuhan Allah Yang Maha Kuasa atas berkat dan karunia-Nya yang besar yang memberikan segala hikmat dan kekuatan sehingga penulis dapat menyelesaikan penulisan skripsi ini. Desember 2005 Penulis . skripsi ini menganalisis pendapatan yang diperoleh petani dari kegiatan berusahatani padi ladang. dan melakukan analisis efisiensi ekonomis penggunaan faktor produksi pada cabang usahatani padi ladang.

Marta Sundari atas bantuannya selama mengolah data dan penulisan skripsi. 3. 13. Sartika. Tulang Suci. dan Maria Margareth. Arif Karya Kusuma. 6. Ir. 2. teman satu bimbingan dan seperjuangan selama kuliah dan penulisan skripsi. Keluarga Ompung Berthold di Depok. arahan. dan Amangboru Sagala di Jakarta. 7. 4. Nipar. MA. Edo. Ompung Arif di Bandung. 9. Nunung Kusnadi. Bang Tamlin. Dr. makan gratis. dan Chamber yang telah menyediakan fasilitas penginapan. selaku dosen pembimbing yang dengan kesabaran telah memberikan bimbingan. dan semua keluarga besar di Dolok Sanggul. dan Ompung Josua di Pekan Baru. Keluarga Tulang Donal. Donal. MS. Orang Tuaku. Appara Frenky. 5. 14. . atas kesediaannya menjadi dosen penguji komisi pendidikan. SP. 8. Anna Fariyanti. Pak Enong sebagai penerjemah dan pendamping penulis selama turun lapang. atas kesediaan menjadi dosen penguji utama. Echa . John Wisnu. Markos. Ucok. Rikky Sitorus.UCAPAN TERIMA KASIH Dalam kesempatan ini penulis ingin mengucapkan terima kasih dan penghargaan kepada : 1. Ompung Suhut. Bang Ivan. beserta semua teman-teman di Parmasi. Namboru. Ogem. MS. Nita. Ir. Namboru Patar. Victor. Keluarga Amangboru Mario. Amzul Rifin. Gaga. 10. doa dan dukungannya. Bapa dan Uma dan adik-adikku Duddy. Halashon. dan dukungan berharga selama turun lapang di Karawang. dan Tulang Hendra. 11. kritik dan saran dalam melakukan penelitian dan penyusunan skripsi ini. Ramaijon Purba atas bimbingan dan bantuannya. Sahabat-sahabatku yang tak tergantikan di Base One : Cay. 12. John Freddy. dan Kardinal atas keberadaan. Lae Viston.

. 16.15. Semua pihak lain yang belum saya sebutkan yang telah membantu saya selama mengikuti perkuliahan dan penulisan skripsi. penghuni Perwira 100. Tulus. beserta semua kawan sesama Himaba. Teman-teman di Darmaga. Bray.

................................................ Hama dan Penyakit ........... 1.............1................................ Pemupukan ...2.................... 2.................................. Tujuan Penelitian .................... Latar Belakang ............. Konsep Usahatani ................................................... Penanaman .. 2.. Sistem Perladangan di Indonesia dan Perkembangannya ......3......................................................................................... BAB III....................3..........................5................................................................3................................................................................ 2.................................1........................................ 2.......................... 3................................. DAFTAR ISI ...............................3.......................... DAFTAR TABEL ....7....4.........3................................... Kegunaan Penelitian ................ Pemeliharaan ......... Panen dan Pengolahan Hasil Panen...................................3............................ 2.................................. 2............ 3......... DAFTAR GAMBAR ...... Pengolahan Tanah ............. BAB II................ PENDAHULUAN .......... Perilaku Ekonomi Petani....2...........1...........................2........ Budidaya Padi Ladang .............. Karakteristik Biologis Tanaman Padi Ladang ...............................................................................................................5.................................1.................................. BAB I.................................................................... 2...................................... Perumusan Masalah ............ Pemilihan Benih ......... 1.............. 2.....................4............ i ii iv vii viii ix 1 1 3 7 8 9 9 9 11 11 12 12 13 15 15 16 16 21 22 29 29 30 ............3............... 2.................... 2...................... KERANGKA PEMIKIRAN ............3....................6....................... TINJAUAN PUSTAKA .......................... 2......................................................... 2.............. 1...................................... UCAPAN TERIMA KASIH ...........3........... Pendapatan Usahatani.................4.................. DAFTAR LAMPIRAN ..................DAFTAR ISI Halaman KATA PENGANTAR ....... 1........................................................ 2....................................................................2.6......................... Hasil Penelitian Terdahulu...................................................3.................................. Syarat Tumbuh dan Kelayakan Lahan Tanaman Padi Ladang..............................

.... 5............5....... GAMBARAN USAHATANI PADI LADANG DI DESA WANAJAYA ...........3........4................... Efisiensi Ekonomi .............................. Pengobatan ..... 6....................2. Analisis Imbangan Penerimaan dan Biaya (R/C Ratio)..............................1. Lokasi dan Waktu Penelitian ............................. GAMBARAN UMUM DAERAH PENELITIAN .................2....... 6........ 5................................3................................................................ BAB V. 6................ 3..................................................................................................... BAB VII.... BAB VI....................3................1.. Karakteristik Petani Responden........1............... 4.........3......................... 3.......... 4...3.. 6..............3.........2. Analisis Imbangan Penerimaan dan Biaya (Analisis R/C ratio) ..............................1..................................... BAB IV....................... 4............. Metode Pengumpulan Data dan Penentuan Sampel ............................................................... 6.............. Gambaran Umum Lokasi Penelitian............1.............. Analisis Pendapatan.................. 6...... 32 33 37 40 40 40 41 41 41 43 48 50 54 54 58 66 66 66 68 69 70 71 71 72 73 74 76 76 78 83 ....................... 7.............................. Pemupukan..........1............1................. 6............. ANALISIS FAKTOR-FAKTOR PRODUKSI DAN EFISIENSI EKONOMI CABANG USAHATANI PADI LADANG ... 6.................................................................................... Penanaman...................................... 7.6.. Budidaya Padi Ladang .1....... 4...4..................... Elastisitas Produksi dan Skala Usaha .........1................................... Struktur Biaya ..................2.............................4.Pemanenan.................................... Penyiangan .................................. Persiapan Lahan..................................................3.......3.1......................................... 7....... Metode Analisis Data ............. Definisi Operasional .. 6................................................................................................... Pendugaan Fungsi Produksi.........1. 6..................................................... 4.................... Analisis Efisiensi Ekonomi ....3.............. Analisis Pendapatan Usahatani ...2................ Teori Produksi ...............4.....................................................5..................................... METODE PENELITIAN ....... 4........ Analisis Imbangan Penerimaan dan Biaya (R/C Ratio) ....3....1.... 4......... Analisis Efisiensi Ekonomi.....4.......................... Analisis Fungsi Produksi ..........................................................2.... 4................3...............

...........................................................................................BAB VIII....... KESIMPULAN DAN SARAN ..................2......................................... DAFTAR PUSTAKA . Saran ...........................................................1........................... 88 88 89 90 93 .................................................. LAMPIRAN .......................... 8......................................... Kesimpulan ......................................................... 8............

...... Penggunaan Lahan di desa Wanajaya Tahun 2004 .......................... 7........................................................................ Karakteristik Petani Responden Berdasarkan Jumlah Anggota Keluarga .. dan Produktivitas Padi Indonesia Tahun 2004...................................................... Jawa Barat. 74 17. 10.. 14..... Biaya-biaya yang Dikeluarkan Petani Padi Ladang per Hektar per Musim Tanam di Desa Wanajaya Tahun 2005 ..................... Karakteristik Penduduk Desa Wanajaya Berdasarkan Mata Pencaharian............................... 11............ Analisis Pendapatan Cabang Usahatani Padi Ladang per Hektar per Musim Tanam di Desa Wanajaya Tahun 2005 ....... 73 16...................................................... Luas Panen...................... Karakteristik Penduduk Desa Wanajaya Berdasarkan Kelompok Umur Tahun 2005 ...DAFTAR TABEL Nomor Halaman 1...................... 76 18.... Karakteristik Petani Responden Berdasarkan Umur . 9..................... Karakteristik Petani Responden Berdasarkan Tingkat Pendidikan ...... 2 4 2.... 6.... 84 86 20..................... Karakteristik Petani Responden Berdasarkan Luas Lahan Garapan .................................................... 12................ Produksi. Kombinasi Optimal Penggunaan Faktor-faktor Produksi .......................................... 6 9 54 55 4........... Produksi Gabah Kering Giling di Kabupaten Karawang........ Klasifikasi Kriteria Lingkungan Tumbuh Tanaman Padi Ladang.......... Topografi atau Bentang Lahan Desa Wanajaya .............................. Analisis Ragam Produktivitas Cabang Usahatani Padi Ladang di Desa Wanajaya ..................... Volume Beras yang Diperdagangkan di Dunia dan Impor Beras Indonesia Tahun 1990-2001 . 5...... 77 19.................. Hasil Analisis Pendugaan Fungsi Produksi Usahatani Padi Ladang di Desa Wanajaya ....................... 13.............. 56 57 58 58 59 61 62 63 8..... ................................ 3....................... Karakteristik Penduduk Desa Wanajaya Be rdasarkan Tingkat Pendidikan........................... Rasio Nilai Produk Marjinal (NPM) dengan Biaya Korbanan Marjinal (BKM) Usahatani Padi Ladang di Desa Wanajaya Tahun 2005 ................................... Karakteristik Petani Responden Berdasarkan Pengalaman Usahatani ...... 15........... dan Indonesia Tahun 2004..

.............faktor Yang Mempengaruhi Produksi Cabang Usahatani Padi Ladang .. Bagan Prosedur Analisis Pendapatan dan Faktor..... Kurva Fungsi Produksi Total dan Hubungannya Dengan Produk Marjinal Halaman dan Produk Rata-rata (Doll dan Orazem....... 53 ............... 1984) ..............DAFTAR GAMBAR Nomor 1............ 34 2...............

5.......... Produktivitas Padi Ladang Menurut Propinsi Di Indonesia... 3............DAFTAR LAMPIRAN Nomor 1............................................................. Luas Panen.... Musim Tanam November-April Tahun 2005 ....... 6.................. Pengeluaran Cabang Usahatani Padi Ladang Di Desa Wanajaya Musim Tanam November-April Tahun 2005 ..................... Pertumb uhan Produksi...................... Penggunaan Faktor. Produktivitas Padi Ladang Menurut Propinsi Di Indonesia.......faktor Produksi Cabang Usahatani Padi Ladang Di Desa Wanajaya.................. 7....................................... 4.............. 2..................... Kuesioner Analisis Pendapatan dan Faktor.............. Tahun 2001-2005 ....... Tahun 2001-2005 (Dalam Ton) . 94 95 96 97 98 99 100 ......faktor Yang Mempengaruhi Produktivitas Halaman Cabang Usahatani Padi Ladang Di Desa Wanajaya ........ Tahun 2001-2005 (Kwintal/Ha) ................... Analisis Regresi Faktor...............................faktor yang Mempengaruhi Produksi Cabang Usahatani Padi Ladang Di Kabupaten Karawang ............ dan Produktivitas Padi Di Indonesia............................

Laju peningkatan produksi padi cenderung menurun. Sedangkan pertambahan produksi beras senderung lebih kecil dan tidak mampu mengimbangi pertambahan tingkat permintaan beras (Sidik. 1 www. 2004).fao. Impor beras nasional cenderung meningkat misalnya dari 615 ribu ton pada tahun 1991 menjadi sekitar 3 juta ton pada tahun 1995 dan pada tahun 1996 mencapai sekitar 3 juta ton akibat musim kemarau panjang dan bahkan sempat meningkat drastis hingga sekitar 6 juta ton pada tahun 1998 akibat terjadinya krisis moneter yang mengakibatkan kenaikan secara drastis pada harga input pertanian seperti pupuk dan pestisida yang bahan bakunya sebagian besar diimpor. Latar Belakang Indonesia merupakan negara konsumen beras terbesar ketiga di dunia setelah China dan India1 . Pemerintah karenanya harus mengeluarkan biaya sekitar 1.7 juta ton beras meskipun harus membayar 280 Dollar AS per ton beras untuk mencukupi kebutuhan beras domestik.1.7 juta ton beras 1 .I.org.3 miliar Dollar AS untuk mengimpor 4. Permintaan terhadap beras terus meningkat sejalan dengan pertambahan populasi dan kenaikan tingkat pendapatan penduduk. Impor beras terbesar dialami Indonesia pada tahun 1999 dimana Indonesia mengimpor sekitar 4. Apabila salah satu dari negara tersebut mengalami penurunan produksi dan harus mengimpor untuk mencukupi kebutuhan domestiknya. sedangkan laju permintaan beras akan selalu meningkat seiring peningkatan laju pertumbuhan penduduk.faostat. PENDAHULUAN 1. maka harga beras dunia akan segera mengalami kenaikan secara signifikan. 2005 .

940 252.000 22.Belum berhasilnya upaya diversifikasi.121 4.389.025.846 1. Volume Beras yang Diperdagangkan di Dunia dan Impor Beras Indonesia Tahun 1991-2000 Perdagangan Beras Dunia (Ton) Impor Beras Indonesia (Ton) Persentase Terhadap Beras Dunia Tahun 1991 1992 1993 1994 1995 1996 1997 1998 1999 2000 58. 80 persen dari luas lahan pertanian .076.615. Untuk memenuhi kebutuhan beras dalam jangka panjang. pemerintah mulai mengarahkan perhatiannya kepada pengembangan pertanian di daerah lahan kering.org/trade/balance).856.000 10.350.000 1. 2000.43 29.000 615.70 16.076.384 156.000 25.02 25.615. Hingga saat ini lebih dari setengah jumlah kalori dan lebih dari 40 persen karbohidrat yang dikonsumsi oleh masyarakat Indonesia berasal dari beras.000 4.750 6.44 21.FAO.486.150.924 3. Tabel 1.188 28.99 59. rata-rata penduduk Indonesia mengkonsumsi sekitar 200 kilogram beras per kapita per tahun . baik dari sisi produksi maupun konsumsi pangan.948 5.578.68 61. 1993 dalam Maryono. Menurut FAO (2004)1 .080.385 2.51 49. Berdasarkan potensi.183. menyebabkan sebagian besar masyarakat Indonesia masih sangat tergantung pada satu jenis bahan pangan yaitu beras.440 15.293.70 Sumber : Situs FAO (http//www. mengingat ketersediaan lahannya yang cukup luas (Ruchyat.924 4. 1996).50 6.138 6.513. Oleh karena itu upaya untuk meningkatkan produksi dan produktivitas beras dianggap masih relevan untuk mengatasi masalah peningkatan tingkat permintaan beras dan tingginya impor beras Indonesia.304 3.480.263.08 47.212 5.

Perumusan Masalah Produksi padi nasional masih didominasi padi sawah sedangkan sumbangan padi ladang masih sangat rendah karena produktivitas dan luas tanam padi ladang yang jauh lebih rendah daripada produktivitas dan luas tanam padi sawah. maka corak pertanian di masa yang akan datang adalah pertanian lahan kering (Dwijatmiko. (d) Pemanfaatan lahan kering yang semakin meningkat merupakan pertimbangan penting dalam program pemerintah selanjutnya. dan lain. Untuk tetap mempertahankan swasembada pangan.68 kwintal per hektar. 1991 dalam Maryono. perumahan. 1. rawa.Indonesia adalah lahan kering. 1996). sementara sumbangan padi ladang terhadap produksi padi nasional pada tahun yang sama hanya sekitar 5.lain. Sutari (1982) dalam Netty (1996) mengatakan bahwa lahan kering y ang diusahakan dengan tepat dapat menghasilkan berbagai komoditas dengan produktivitas yang lebih besar dibandingkan lahan sawah (basah). (b) Lahan kering diperkirakan seluas 123 juta hektar atau 62 persen dari luas total daratan Indonesia.2. (c) Lahan kering merupakan sumber utama penghasil komoditi pertanian untuk tanaman pangan. dan pasang surut. Selain itu lahan kering memiliki kedudukan strategis karena : (a) Lahan kering menempati areal terluas dibandingkan dengan lahan jenis air seperti sawah. sandang. Produktivitas rata-rata padi ladang pada tahun 2004 baru mencapai 25.3 .

970.id/ditjentp). dan Produktivitas Padi Indonesia Tahun 2004 Jenis Padi Sawah Padi Ladang Padi Total Luas Panen (Ha) 10.4 persen dari total luas panen padi nasional2 .deptan. padi ladang juga masih jauh lebih rendah daripada padi sawah.895.persen dengan luas panen sekitar 9.446. dimana dari tahun 1969 hingga 1989 produksi padi ladang hanya mengalami peningkatan kira-kira sebesar 45 persen yaitu dari 1.843. Menurut Ruchyat (1993) dalam Maryono (1996).112 54.004 1. Lahan kering mempunyai karakteristik antara lain : (1) tanah kurang subur.127.68 45.038 Produktivitas* (Ku/Ha) 47.go.6 juta ton. rendahnya produktivitas padi ladang tidak terlepas dari keterbatasan faktor tanah. (2) topografi umumnya berlereng sehingga mudah tererosi. Di samping itu kenyataan juga menunjukkan bahwa keterbatasan faktor produksi usahatani (lahan. 2004 * ) Gabah Kering Giling Jika dibandingkan dari segi laju pertumbuhan produksi. Luas Panen.45 25. Dari kenyataan tersebut adalah hal yang wajar bila produktivitas rata-rata padi ladang jauh lebih rendah daripada produktivitas rata2 www.id/ditjentp. topografi dan iklim pada lahan kering. Tabel 2.034 11.341.deptan.303 Sumber : Situs Deptan (www.622 ribu ton pada tahun 1969 menjadi 2.go.40 Produksi* (Ton) 51.191 2. tenaga kerja dan modal) serta pengetahuan petani di daerah lahan kering menyebabkan pola tanam yang selama ini diusahakan masih bersifat subsisten. 2004 . (3) curah hujan rendah. Produksi.345 ribu ton pada tahun 1989. sementara produksi padi sawah mengalami peningkatan kira-kira sebesar 140 persen atau meningkat sebesar 24.

Permasalahan usahatani padi ladang relatif lebih kompleks daripada padi sawah.masing daerah produsen padi ladang. tetapi padi ladang ditanam hampir di seluruh propinsi di Indonesia. 2000). meskipun hal ini merupakan sesuatu yang wajar mengingat produktivitas padi sawah yang jauh lebih tinggi dengan kendala peningkatan produktivitas padi sawah yang jauh lebih ringan daripada kendala peningkatan produktivitas padi ladang. Tingkat produktivitas padi ladang yang rendah dan laju perkembangan produksi padi ladang yang relatif lamban juga diakibatkan permasalaha n yang dihadapi usahatani padi ladang relatif lebih kompleks daripada permasalahan padi sawah. pengairan yang lebih teratur.rata padi sawah dengan tingkat kesuburan tanah yang jauh lebih tinggi. Identifikasi yang dimaksud antara lain meliputi penelitian tentang peningkatan teknik budidaya yang ada supaya produktivitas lahan kering . Berdasarkan uraian di atas. dan topografi yang lebih baik untuk usahatani padi. maka posisi usahatani padi ladang akan semakin penting bagi m depan pertanian Indonesia secara umum dan sangat asa potensial bagi peningkatan ketahanan pangan nasional. Kebijakan pemerintah yang lebih berpihak pada peningkatan produksi dan produktivitas padi sawah dibandingkan padi ladang merupakan salah satu contohnya. Meskipun sumbangan padi ladang terhadap produksi nasional relatif kecil. Usahatani padi ladang memerlukan identifikasi lebih rinci dan jelas pada masing. Pertanian padi ladang banyak dijumpai di daerah transmigrasi lahan kering dan daerah yang topografi lahannya didominasi perbukitan atau lahan kering dan tidak mendapat fasilitas irigasi (Wana. Bahkan sebagian daerah sangat menggantungkan ketersediaan dan kebutuhan berasnya pada produksi padi ladang.

Pendekatan ini dilakukan untuk mengetahui faktor.499 1. Tabel 3.08 persen dari seluruh total produksi di Indonesia.152. Dengan pendekatan ini akan diketahui alternatif produksi yang paling tepat dalam waktu yang telah ditentukan sehingga nantinya dapat menjadi salah satu informasi yang berguna dalam pembuatan kebijakan pertanian seperti halnya dalam usahatani padi ladang.689 997.terutama padi ladang dapat ditingkatkan hingga dapat mengimbangi produktivitas padi sawah bahkan mungkin melampauinya.744 11.009 48.641. Karawang merupakan salah satu sentra produksi padi di Indonesia. Produksi Padi Gabah Kering Giling di Kabupaten Karawang.320.445 11.506 .796 991.094. Analisis terhadap aspek produksi merupakan salah satu pendekatan yang penting dalam kebijaksanaan pangan untuk memenuhi kebutuhan pangan terutama yang menjadi makanan pokok masyarakat.masing daerah produksi disamping karakteristik sosial ekonominya.181.744. dan Indonesia Tahun 2004 Tahun 1992 1993 1994 1995 1996 Karawang (Ton) 1.140 51.007 juta ton atau mencapai 8.628 Indonesia (Ton) 48. Jawa Barat.218.087 46.974 997.89 persen total produksi Jawa Barat dan 2.071 Jawa Barat (Ton) 11.240.188.735 11. Pada tahun 1992 total produksi Kabupaten Karawang mencapai 1.007.101.421 10.007.faktor yang mempengaruhi produktivitas dan efisiensi ekonomi pengusahaan padi ladang. Penentuan alternatif produksi padi ladang tentu juga harus mempertimbangkan karakteristik agroklimat yang khas atau unik pada masing.524 49. Tabel 5 menunjukkan perbandingan produksi gabah kering giling Kabupaten Karawang dengan Propinsi Jawa Barat dan produksi total keseluruhan di Indonesia.

go.faktor produksi yang efisien secara ekonomis pada cabang usahatani padi ladang ? .000 51.429 917.000 50.deptan. Belum berfungsinya saluran irigasi secara maksimal untuk mengairi lahan sawah dengan merata. Hal ini disebabkan oleh kurangnya pengawasan yang ketat sehingga saluran irigasi banyak dikuasai oleh beberapa orang untuk kepentingan sendiri dan kelompok tertentu.866. Beberapa faktor yang mempengaruhi antara lain2 : a.8 juta ton.304 737. Semakin berkurangnya lahan pertanian yang ada yang disebabkan oleh berubah fungsinya lahan pertanian menjadi kawasan perumahan dan industri.237.499 10. 2004 Pada tahun 2000 produksi Kabupaten Karawang mencapai 917 ribu ton sehingga memberikan kontribusi sebesar 8. Pengaruh faktor cuaca dan iklim yang terus berfluktuasi.id/ditjentp).730 10.1997 1998 1999 2000 989. Berdasarkan uraian diatas.000 49.154.746. 3. maka permasalahan yang akan dibahas pada penelitian ini adalah : 1.267 49.22 persen dari produksi Jawa Barat dan 1.898.209.951 10.377.76 persen dari seluruh total produksi padi nasional yang mencapai 51.852 Sumber : Situs Deptan (www. c.879 917.400. Mengapa produktivitas padi ladang lebih rendah dari padi sawah ? Faktor-faktor apa yang mempengaruhi produktivitas padi ladang ? Bagaimana mencapai tingkat penggunaan faktor. Dari tabel tersebut juga dapat dilihat mengenai adanya fluktuasi produksi yang terjadi tahun demi tahun yang menggambarkan adanya ketidakstabilan produksi padi yang disebabkan oleh banyak faktor. 2.411 11. b.

sebagai berikut: 1.3. Sebagai masukan bagi petani agar dapat mengelola usahataninya secara efektif dan efisien.faktor produksi pada cabang usahatani padi ladang. Menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi produktivitas padi ladang. 3. 2.Tujuan Penelitian Berdasarkan latar belakang dan perumusan masalah maka tujuan penelitian ini adalah : 1.4. Sebagai bahan kajian bagi pemerintah dalam merumuskan program dan kebijakan di bidang pertanian dalam usaha penyempurnaan sistem pertanian terutama untuk usahatani padi ladang. Menganalisis efisiensi ekonomis penggunaan faktor. 1.1. 3. Menganalisis penyebab rendahnya produktivitas padi ladang. 2. . Sebagai bahan rujukan bagi penelitian yang akan datang agar dapat memperbaiki kesalahan dan kekurangan yang ada. Kegunaan Penelitian Penelitian ini diharapkan dapat berguna bagi beberapa pihak.

Fase pemasakan adalah masa keluarnya bunga sampai gabah masak. Fase reproduktif adalah masa dari tahap munculnya primordia bunga sampai waktu keluar bunga (35 hari). sementara tahapan yang dilalui adalah masak susu sekitar 92 hingga 110 hari setelah tanam. Tanaman ini merupakan tanaman semusim jenis padi (Oryza sativa L. sejak masa perkecambahan benih sampai pembentukan primordial bunga pada ujung batangnya. masak padat sekitar 102 hingga 120 hari setelah tanam. Pada fase ini tanaman padi ladang sangat sensitif terhadap cekaman lingkungan. Karakteristik Biologis Tanaman Padi Ladang Padi ladang merupakan tanaman yang biasa ditanam di lahan kering.2. Masa pertumbuhan padi ladang terdiri dari tiga fase : (1) fase vegetatif. Syarat Tumbuh dan Kelayakan Lahan Tanaman Padi Ladang Keberhasilan budidaya tanaman padi ladang ditentukan oleh penyesuaian tanaman terhadap lingkungan.1. TINJAUAN PUSTAKA 2. Basyir et al. iklim. Jika pertumbuhannya baik.) yang diusahakan di tanah tegalan kering secara menetap dan kebanyakan ditanam di daerah tropika.II. hasil .. 2000). dan masa penuh sekitar 112 hingga 120 hari setelah tanam. (1995) mengemukakan bahwa siklus hidup tanaman padi ladang berkisar antara 90 hingga 140 hari. dan (3) fase pemasakan. berumur sedang. dan cuaca. (2) fase reproduktif. bentuk gabah bulat dan tahan terhadap kekeringan (Chang dan Vergara dalam Setiawan. 2. Jenis tradisional (varietas Genjah) memiliki ciri-ciri : berbatang tinggi. tergantung pada varietasnya. Fase vegetatif merupakan masa pertumbuhan batang dan daun (55 hari). anakan sedikit.

Reg = regosol. Al Reg Faktor Pembatas Tidak ada MT pendek Kesuburan tanah rendah-sedang Keterbatasan air Suhu. La. dan topografi Fisik dan kimia tanah Suhu dan radiasi Kekurangan air 5 6 7 8 Agak Sesuai Tidak Sesuai Tidak Sesuai Tidak Sesuai 700-900 < 900 > 900 - < 20 20 > 20 - >4 >4 <4 > 1500 > 1800 > 3500 < 1500 Sumber Keterangan : Jones and Garrity dalam Setiawan (2000) : MT = musim tanam. Gru = grumosol. Al Med. CH = curah hujan. Menurut Bey dan Las dalam Setiawan (2000). dan sangat kering. Atas dasar keempat faktor tersebut. And. Al = aluvial. Gru And. Pod. Gupta dan O’Toole (1986) menyatakan bahwa curah hujan merupakan unsur agroklimat berpengaruh dominan terhadap pertumbuhan dan produkisi padi ladang. Al Med. Klasifikasi Kriteria Lingkungan Tumbuh Tanaman Padi Ladang Nilai No 1 2 3 4 Kelas Kesesuaian Sangat Sesuai Sesuai Sesuai Agak Sesuai Elevasi (m dpl) < 700 < 700 < 700 < 700 Lereng (%) <5 <5 <5 20 May MT (Bulan) 9 8-May >4 >4 CH (mm/th) 1500-3500 1500-3500 1500-3500 1500-3500 Jenis Tanah Med. Pod. kering. Med = mediteran. . Pada Lahan tersebut padi ladang lebih banyak ditanam pada musim hujan karena kebutuhan air bagi tanaman tergantung sepenuhnya pada curah hujan. kemiringan lahan. La = latosol. Gru. RH. dan tekstur tanah. terutama pada lahan kering dan tadah hujan. Gru. Gru. La. Pod. lahan tanaman padi ladang dikelompokkan menjadi empat kelas yaitu : sesuai. And. Tabel 4. agak sesuai. And = andosol. Kelayakan lahan untuk pertanaman padi ladang menurut Jones dan Garrity dalam Setiawan (2000) didasarkan pada kecukupan dan ketersediaan air. periode saat air tanah cukup bagi pertumbuhan tanaman. lamanya musim tanam. Kecukupan dan ketersediaan air ditentukan oleh empat faktor yaitu : curah hujan. curah hujan merupakan unsur iklim yang besar pengaruhnya terhadap suatu sistem usahatani. Al Med.panen juga akan baik. La. And. Pod = podsolik.

Sedangkan suhu udara berkorelasi positif dengan produksi padi selama fase vegetatif melalui jumlah tunas yang dihasilkan. dan berbukit. menurut Gupta dan O’Toole (1986) merupakan penyebab rendahnya produksi padi ladang. dan pH tanah. Menurut Madkar et al. Tekstur tanah dengan kemampuan menyimpan air yang tinggi merupakan kondisi yang sesuai bagi tanaman padi ladang. unsur hara. Tanah dengan kemamp uan menyimpan air yang rendah dapat menimbulkan masalah kelembabam yang rendah setelah hujan berhenti.. bertopografi datar. bergelombang. Ketinggian areal pertanaman padi ladang bervariasi mulai dari dataran rendah sampai dataran dengan ketinggian 1500 meter di atas permukaan laut. 2000). Padi ladang dapat tumbuh hampir pada semua jenis tanah. 1986).. Unsur iklim yang berperan dalam keberhasilan budidaya tanaman padi ladang adalah radiasi dan suhu udara (Basyir et al. tetapi berkorelasi negatif dengan produksi gabah selama fase pengisian gabah hingga masa panen (Murata 1976 dalam Setiawan. perubahan unsur hara dalam tanah merupakan salah satu faktor yang membatasi produktivitas tanaman pada lahan kering. pertumbuhan dan hasil padi ladang dipengaruhi oleh tekstur.Lingkungan tumbuh akan mendukung pertumbuhan padi ladang apabila memiliki tekstur tanah halus hingga sedang. kemiringan lahan 0 sampai 8 persen. struktur. Hal ini dapat menyebabkan ketersediaan unsur hara dalam tanah akan menurun (Gupta dan O’Toole. yaitu 5 hingga 12 bulan per tahun. curah hujan tinggi (lebih besar dari 1500 mm per tahun) dan musim tanaman panjang. dalam Setiawan (2000). Menurut De Datta dalam Setiawan (2000). PH tanah yang sesuai untuk pertumbuhan padi ladang . Intensitas radiasi matahari yang rendah. 1995).

(4) Dijaga agar tidak terjadi penggenangan air.0 dapat menyebabkan tanaman padi ladang mengalami kekahatan unsur Zn (Gupta dan O’Toole. sedangkan bila lebih dari 7. 1986). (3) Setelah tanah dibajak. Tanah lapisan bawah sedapat mungkin terangkat dan dibalik ke bagian atas.3. tanah harus dihaluskan dengan garpu atau cangkul satu atau dua kali hingga tanah cukup halus. Pengolahan tanah Pengolahan tanah dilakukan pada musim kering sebelum hujan turun. dengan cara membuat petakan-petakan berukuran 10 × 5 meter atau dengan membuat bagian tengah tegalan lebih tinggi daripada pinggirannya. karena dapat mengancam kehidupan sekeliling petak.1. dilakukan pengolahan pendahuluan dengan menggunakan garpu. keracunan Fe dan Al. Budidaya Padi Ladang 2. pada pH yang lebih rendah dari 5. pupuk kandang atau kompos.5 hingga 6. Pengolahan tanah harus sampai kedalaman sedikitnya 25 sentimeter. atau segera setelah tanaman yang mendahuluinya dipanen.berkisar antara 5. pupuk organik ditebarkan sebanyak sekitar 20 ton per hektar dengan menggunakan pupuk hijau. Teknih pengolahan tanah adalah sebagai berikut : (1) Tanah dibajak atau dicangkul dua kali atau lebih hingga tanah cukup gembur dan bersih dari rerumputan.5. 2. . Pada tanah yang berat (tanah padat dan keras).3. (2) Pada waktu membajak atau mencangkul yang kedua kali.0 padi ladang dapat mengalami gangguan kekahatan unsur P.

Benih yang melayang atau terapung jangan dijadikan benih.3. Waktu tanam Waktu tanam sebaiknya dalam bulan Oktober dan November. tetapi tergantung pada awal musim penghujan. ada kemungkinan benih tersebut terbawa air atau terdorong lebih jauh masuk ke dalam tanah dan juga dapat berakibat kurang baik untuk tanaman muda karena akan mengakibatkan gangguan hama dan penyakit yang hebat. Disebar merata langsung ke permukaan tanah. 2. yaitu setelah dua atau tiga kali turun hujan.3. 2. Pemilihan Benih Benih yang bermutu adalah yang murni dengan kandungan air maksimal 14 persen. 2. b.(5) Tanah dibiarkan saja sambil menunggu benih ditanam pada waktu permulaan musim hujan. bebas dari hama dan penyakit. bersih dari campuran atau kotoran-kotoran. diantaranya adalah : 1. Cara ini kurang lazim karena membutuhkan banyak benih yaitu sekitar 50 sampai 100 kilogram per hektar. segar dan daya berkecambah tinggi (minimal 80 %). Benih yang dipilih adalah benih yang tenggelam apabila benih dimasukkan dalam larutan garam atau larutan abu dapur.2. Cara menanam Ada berbagai cara yang dapat digunakan dala m menanam. Jika menanamnya bersamaan periode berlangsungnya hujan yang terus menerus. Membuat aluran dengan kayu berujung runcing yang digariskan di atas tanah atau dengan cangkul atau kored dengan jarak antara aluran sekitar 60 . Penanaman a. yang berat jenisnya sekitar 1.01.3.

lubang benih ditutup dengan campuran pupuk P. kacang hijau dan sebagainya. Pemupukan a. Pemupukan dapat dilakukan dengan menggunakan pupuk organik (pupuk hijau. dan lain. 2. 4.sentimeter sedalam 3 sentimeter. K. Di sela-selanya dapat ditanami jagung. Pupuk hijau ini ditanam berbaris dengan jarak antar barisan sekitar 90 hingga 120 sentimeter.lain. dan pupuk kandang. K. Pupuk hijau misalnya dengan menggunakan Crotalaria juncea ditanam 4 hingga 6 bulan sebelum tanah ditanami padi ladang. sedangkan pada tanah yang kurang subur 15 × 40 sentimeter. pupuk kandang atau pupuk kompos). sedalam 3 hingga 5 sentimeter. Pada permulaan musim hujan pupuk hijau ditebang dan dikuburkan pada waktu pengolahan tanah. Pemakaian benih kurang lebih 30 sampai 40 kilogram per hektar. ketela. juga akan memudahkan dalam melakukan kegiatan lain di dalam pertanaman seperti penyiangan. jarak tanam yang terbaik adalah 20 × 20 sentimeter. Jarak tanam pada tanah yang subur 15 × 20 sentimeter.3. Untuk tiap lubang ditanam benih sebanyak 5 hingga 7 butir. atau campuran antara pupuk P. Tumpangsari dengan tanaman lain dengan pengaturan sebaik-baiknya sehingga tidak merugikan tanaman pokok. Pada jarak tertentu dibuat lubang dengan tugal. . pemberantasan hama. dan abu (debu atau tanah halus). Ke dalam aluran ditaburkan benih kemudian ditutup dengan tanah. setelah benih dimasukkan. Dengan tugal. Pengaturan jarak tanam yang sebaik-baiknya disamping akan mempertinggi hasil.4. Tumpangsari dengan jagung dapat diatur dengan jarak tanam jagung 150 × 60 sentimeter. 3.

Pupuk organik sangat bermanfaat pada tanah-tanah kering untuk memperbaiki struktur tanah. Bila pada pemberian pertama di sisi yang satu dari tanaman. Tanah dengan sifat yang demikian sangat sibutuhkan untuik tanaman padi ladang. Pupuk kandang dan kompos diberikan dengan pengolahan tanah karena pupuk tersebut lama hancurnya. Tanah yang cukup mengandung bahan organik akan lebih remah dan memiliki daya menahan air yang lebih besar.75 kwintal TSP) bersama dengan pupuk K (0. Salah satu kelemahan pupuk organik .masing pada saat dilakukan penyiangan (dua bulan sejak benih ditugalkan).5 kwintal KCl) diberikan waktu penanaman sebagai pupuk dasar setelah dicampur dengan pupuk kandang. Kebutuhan pupuk kandang atau kompos sekitar 15 hingga 20 ton setiap hektar. Pupuk organik terdiri dari kompos ataupun pupuk kandang. Pupuk organik meliputi sisa-sisa tanaman atau hewan. dan 30 kilogram K2 O tiap hektar. dan pupuk kandang adalah 0. Pupuk fosfat (0. c. kalium. Cara pemberiannya adalah dengan membuat garitan sepanjang barisan tanaman.75 : 1 : 20 (0. abu atau debu atau tanah halus. 30 kilogram P2 O5 . Perbandingan campuran pupuk fosfat. maka pada pemberian kedua hendaklah pada sisi lain yang berlawanan.b. maka perbandingannya adalah 1 : 1 : 5. Jika abu atau debu halus sebagai campuran digunakan. yaitu masing. Pupuk organik ( upuk buatan) pada umumnya diberikan dengan dosis 60 p sampai 90 kilogram N.5 hingga 2 kwintal urea per hektar) diberikan dua kali. Pupuk N (1. diisi dengan pupuk lalu ditutup lagi dengan tanah. setengah pada saat 3 sampai 4 minggu sesudah benih ditugalkan dan setengah sisanya pada umur 6 sampai 7 minggu.75 kwintal TSP + 1 kwintal ZK + 20 kwintal pupuk kandang).

kecuali buku-buku sebelah atas yang masih hijau.3. Penyiangan Penyiangan atau pemberantasan gulma dapat dilakukan dengan cara mekanis atau dengan cara kimiawi. diperlukan sekitar 10 sampai 30 ton bahan organik.adalah kadar haranya yang rendah.5. tetapi ya ng digunakan untuk menyulam adalah bibit yang diambil dari rumpun yang besar. Kompos disebar pada waktu pembajakan terakhir. 2. Pemeliharaan a. dan pupuk buatan disebar pada waktu penggaruan terakhir. panen dilakukan pada stadia masak kuning yaitu apabila seluruh pertanaman nampak kuning. Setelah penyiangan. tanaman sebaiknya dibumbun.3. Untuk me ncukupi kebutuhan hara bagi tanaman dalam satu hektar. Penyiangan pertama dilakukan pada waktu tanaman berumur tiga sampai empat minggu. Isi gabah sudah mengeras tetapi bila dipijit dengan . Kirakira satu hingga dua minggu sebelum malai padi keluar.6. b. kadang-kadang sesudah umur satu bulan masih disulam. Panen dan Pengolahan Hasil Panen Untuk jenis-jenis yang mudah rontok. 2. Penyiangan kedua pada saat tanaman berumur 60 hari. Penyulaman Sejak tanaman berumur seminggu sampai umur tiga minggu tanaman padi ladang masih boleh disulam. tanah di sekeliling tanaman padi dibumbun (didangir) atau dihancurkan sedikit agar pembuangan air lebih mudah. Tanah di sela-sela tanaman dicangkul supaya renggang dan ge mbur. Di samping itu pupuk organik sering mengandung biji-biji gulma sehingga dapat mengganggu pertumbuhan tanaman.

2. walang sangit yang menyebabkan kosongnya sebagian dari malai. ulat tentara. ladang atau tegalan adalah suatu lahan usahatani pada lahan kering yang biasa dipakai untuk usaha bercocok tanam.7.lain. penggerek batang. Phytium sp. dan lain. Sistem Perladangan di Indonesia dan Perkembangannya Menurut Soekartawi (1986). menggabahkan. burung. Hama dan Penyakit Hama yang sering mendatangkan bahaya pada tanaman padi ladang dan perlu diperhatikan antara lain: lalat bibit yang dapat mengurangi kemampuan bertunas bahkan mematikan tanaman berumur setengah hingga satu setengah bulan.lain. tikus. kepik padi hijau. mengeringkan dan mengolahnya selanjutnya sama dengan caracara pada padi sawah. . Tanaman yang biasa dibudidayakan adalah tanaman yang berumur pendek seperti padi ladang. Praktek perladangan menurut data arkeologi sudah dimulai pada saat manusia pertama kali mengubah jaman berburu dan mengumpulkan tanaman liar ke sistem berproduksi tanaman dan beternak dengan budidaya yang masih primitif.3.tangan isi gabah mudah pecah. panen dilakukan pada stadia masak penuh.4. Cara mengetam. Perladangan merupakan wujud dari peradaban jaman dulu yang berlangsung turun temurun dan masih berkembang hingga sekarang. babi hutan. dan lain. 2. tanaman jenis kacang-kacangan dan umbi. penyakit bercak daun Helminthosporium oryzae. Sedangkan penyakit yang umumnya menyerang padi ladang adalah penyakit bercak daun (Pyricularia oryzae). Sedangkan untuk jenis-jenis yang tidak mudah rontok. jagung.umbian.

terkadang memiliki pemukiman tetap. 1994). melainkan merupakan usaha ntuk menyesuaikan antara kepentingan beercocok tanam dengan keadaan alamnya (Soemarwoto.Demikian pula Pelzer dalam Geertz (1963) mengatakan bahwa perladangan itu ditandai oleh tidak adanya pembajakan. Dinas Kehutanan Kalimantan Barat (1981) dalam Hariyanto (1994). input tenaga-tenaga sedikit dibandingkan dengan bercocok tanam yang lain. baik karena . Peladang pada umumnya hidup berpencar berjauhan satu dengan yang lain. Menurut Ditjen Kehutanan Direktorat Reboisasi dan Rehabilitasi (1981) dalam Hariyanto (1994) beberapa sistem perladangan yang ada di Indonesia adalah : a. Berladang dengan siklus panjang. Berladang berpindah tanpa siklus dan tidak memiliki pemukiman tetap. tidak menggunakan tenaga hewan ataupun pemupukan dan tidak adanya konsep pemilikan tanah pribadi. Berladang setiap tahun. Sistem rotasi alami. Lahanlahan bekas perladangan yang sedang menurun produktivitasnya. yang merupakan sistem yang paling sederhana. mengelompokkan pola perladangan menjadi: a. e. d. Berladang dengan siklus sedang diatas tujuh tahun dan memiliki pemukiman tetap. 1978 dalam Hariyanto. b. c. terkadang memiliki kebun. baik antara tempat tinggal di dalam desa maupun antar desa yang satu dengan lainnya. Berdasarkan jangka waktu rotasinya. Berladang dengan siklus pendek sekitar lima tahun. memiliki pemukiman tetap dan kebun. Hal ini bukan karena sifat peladang yang enggan untuk hidup berdekatan.

yang merupakan perkembangan dari sistem rotasi alami. Sistem tumpang sari. sehingga dapat berfungsi sebagai pencegah erosi serta penyubur tanah. kopi dan cengkeh. kelapa. c. Sistem talun ini muncul atau dikenal terdapat di daerah Jawa Barat. baik kayu-kayuan maupun buah-buahan. Jenis-jenis tanaman keras yang dipilih adalah yang mempunyai prospek ekonomis baik seperti karet.tingkat kesuburannya sudah berkurang atau besarnya gangguan gulma. merupakan suatu peningkatan dari sistem rotasi alami. Sistem ini terdapat di Sulawesi Selatan dan Sulawesi Tenggara. d. Sistem talun. b. Sistem tanaman sela. Sejak saat pertama penggarapan ladangnya. Jenis dan susunan pepohonan tersebut dibuat sedemikian sehingga mempunyai prospek ekonomis serta sesuai dengan kebutuhan pemiliknya.lahan perladangan pada saat penggarapan pertama sudah ditanami tanaman sela yang ditanam dalam bentuk larikan sejajar kontur. Sistem ini terdapat dipedalaman Kalimantan. Sistem ini ditemui di Nusa Tenggara Timur terutama Kupang. Tanaman sela itupun dibiarkan tumbuh sehingga suksesi alami berjalan lebih cepat. para peladang menanam tanaman keras secara bersamaan dengan tanaman pangan. . diserahkan begitu saja kepada kekuatan alam untuk merehabilitasi dirinya melalui suksesi alami. Yang dimaksud dengan talun adalah lapangan yang ditanami dengan berbagai macam pohon. Lahan. sebagai akibat masuknya pertimbangan pemilihan jenis tanaman yang disesuaikan dengan keadaan pasar dan kondisi fisik lahannya. Lampung dan Sumatera Selatan. lada.

c. b. Menebas. belukar dan yang terakhir padang alang-alang. juga berguna untuk mengurangi keasaman tanah. Selain itu ada kegiatan lain yang menurut Dove (1988) dalam Hariyanto (1994). yaitu : pekerjaan mencabut/membunuh rumput-rmput yang tumbuh diantara tanaman padi. Menugal dan menanam biji.Simon (1981) dalam Hariyanto (1994). d. g. h. Bila ditinjau dari aspek ekonomi peladang berpindah (perladangan) dicirikan oleh produktivitas yang rendah. (b) membat pondok diladang. yaitu : pemotongan belukar kecil dengan menggunakan parang Menebang. Mengetam atau memanen hasil padi. mengemukakan bahwa perladangan hampir selalu dilakukan dengan cara yang sama. Pembakaran ini selain ditujukan untuk membersihkan lahan dari sisa-sisa penebasan dan penebangan.lubang pada permukaan tanah dengan menggunakan ranting atau dahan yang diruncingkan ujungnya (tuga l) dimana biji-biji padi kemudian dimasukkan. maka tanaman padi akan tertekan sehingga hasilnya sangat rendah. Membakar daun dan ranting yang sudah kering. Secara kronologis pekerjaan yang dilakukan adalah : a. (c) membuat alat-alat untuk bekerja di ladang. Rendahnya produksi yang dihasilkan oleh peladang . dengan urutan prioritas dari yang paling disukai : hutan perawan. hutan sekunder. yaitu : memotong pohon berdiameter besar dengan menggunakan kapak (beliung). Merumput. pada dasarnya tidak berurutan yaitu : (a) memanen hasil tanaman bukan padi. Menugal adalah membuat lubang. f. Menjaga tanaman dari serangan hama seperti babi hutan. karena bila rumput dibiarkan tumbuh lebat. Pemilihan tempat. e.

ditambah lagi dengan belum adanya prospek pemasaran hasil produksi dan sifat komoditi yang dihasilkan masih bersifat musiman. hama dan penyakit. 61 persen tidak . Masyarakat di Kalimantan Timur. Padahal bila dilihat dari lingkungan sistem perladangan kemungkinan uuntuk terserang hama dan penyakit sangat tinggi dan upaya pengendalian lebih sulit. Dengan sifat perladangan yang masih tradisional upaya pengendalian terhadap hama dan penyakit juga dilaksanakan dengan cara yang sederhana.faktor di atas menyebabkan rendahnya tingkat pendapatan usahatani peladang berpindah (Simon. tetapi juga kegunaannya tidak mencapai tingkat optimal yang diharapkan.juga ditunjukkan oleh ketidakpastian hasil ya ng disebabkan tingginya pengaruh iklim. 1994). tingkat ketrampilan dan pengetahuan yang dimiliki peladang dalam pengelolaan lahan serta tingginya angka kelahiran dan kematian penduduk karena masih rendahnya tingkat kesehatan. seperti yang dikemukakan Simon (1981) dalam Hariyanto (1994). Akibatnya harga jual produksi yang dihasilkan rendah. Tempat tinggal yang berpencar dan kemungkinan pindah mengikuti rotasi perladangan. menyebabkan anak-anak peladang sangat sulit untuk mengikuti pendidikan formal secara teratur. Produktivitas yang rendah cenderung diikuti pula oleh rendahnya kualitas produksi yang dihasilkan. Keseluruhan faktor. Dari aspek sosial peladang dicirikan oleh rendahnya tingkat pendidikan. bukan karena biayanya yang menjadi mahal. 1981 dalam Hariyanto. Bagi pemerintah pun tidak mudah untuk menyelenggarakan fasilitas pendidikan dan fasilitas sosial lainnya. Oleh karena itu sebagian dari peladang tidak berpendidikan sama sekali.

Istilah resiko dimaksudkan kepada terjadinya kemungkinan merugi atau possibility of loss. jadi peluang akan terjadinya merugi akan diketahui terlebih dahulu..5. Kehidupan petani di pedesaan begitu dekat dengan batas subsistensi. Perilaku Ekonomi Petani Perilaku ekonomi mempunyai tiga hal yang patut diperhatikan (Scott. 2. dengan kecenderungan yang lebih besar pada pemilik lahan sempit dan umumnya dari petani penyakap. karena peluang terjadinya merugi belum diketahui sebelumnya (Soekartawi et al. yaitu resiko. menjelaskan adanya perilaku enggan menerima resiko dalam pengambilan keputusan petani disebabkan oleh adanya dilema ekonomi petani sentral yang dihadapi oleh kebanyakan rumah tangga petani. sering ditemui bahwa semakin kecil petani melakukan capital formation dalam usahataninya. serta selalu mengalami ketidakpastian cuaca dan tuntutan-tuntutan dari pihak luar. dalam Satria. karena kelebihan pendapatan sering digunakan untuk kepentingan lainnya. Dalam banyak hal.pernah sekolah. Dillon et al. 1981). dan karena itu kondisi tersebut menyebabkan rumah tangga petani tidak banyak mempunyai peluang untuk menerapkan keuntungan maksimal dalam berusahatani. Sifat khas yang . Pada petani kecil perolehan pendapatan usahataninya akan lebih banyak digunakan untuk mengembangkan usahataninya. sedang 27 persen hanya pernah sekolah tidak lebih dari kelas tiga sekolah dasar. dalam Soekartawi (1986) memberikan indikasi bahwa sebagian besar petani subsistem mempunyai keengganan memikul resiko. Sedangkan ketidakpastian adalah sesuatu yang tidak bisa diramalkan sebelumnya. serta keuntungan. 1995). Scott (1981). ketidakpastian.

dengan harga jual rata-rata sebesar Rp.per kilogram dan produksi padi ladang per hektar rata-rata sebesar 793 kilogram dalam bentuk gabah kering panen. Biaya tunai yang dikeluarkan dalam usahatani padi ladang tumpangsari dengan jagung sebesar Rp. Kabupaten Tasikmalaya.senantiasa ada pada diri petani ialah berusaha menghindari kegagalan yang akan menghancurkan kehidupannya dan bukan berusaha memperoleh keuntungan besar dengan mengambil resiko.100.109. Jadi. Hasil Penelitian Terdahulu Penelitian terdahulu mengenai usahatani padi ladang atau padi gogo dilakukan oleh Susanto (2004).sedangkan pendapatan atas biaya total .. Bukan saja petani miskin yang memiliki perilaku tersebut.575.100. Penelitian ini melakukan analisis tentang pendapatan dan efisiensi penggunaan faktor produksi usahatani padi ladang secara tumpangsari dengan jagung di Kecamatan Kadipaten.824. tetapi sebagian besar petani menengah juga bertindak serupa.091.312. Dengan kata lain petani berusaha meminimumkan keuntungan subjektif dari kerugian maksimum. 2.995.700. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata penerimaan petani dari produksi padi ladang per hektar per musim tanam sebesar Rp. sehingga penerimaan dari produksi jagung sebesar Rp..-.348. pendapatan atas biaya tunai yang diperoleh petani adalah sebesar Rp.1. total penerimaan petani dari usahatani padi ladang yang ditumpangsari dengan jagung sebesar Rp.sedangkan biaya total sebesar Rp.. Sedangkan ratarata jagung yang dihasilkan per hektar sebesar 1.200.450.-.1.1.647..438 kilogram dengan harga jual rata-rata Rp..683. Dengan komposisi biaya seperti ini.6.per kilogram.1.1. Perilaku demikian yang disebut juga perilaku safety first atau mendahulukan keamanan merupakan ciri umum petani.

5 dengan nilai koefisien determinasi terkoreksi (R2 -adjusted) sebesar 67. pupuk TSP.92. Berdasarkan analisis efisiensi dengan rasio NPM dan BKM.09. diperoleh hasil bahwa penggunaan faktor produksi pupuk Urea. dan pupuk TSP berpengaruh nyata terhadap nilai produksi. pupuk Urea. puuk KCl dan tenaga kerja tidak berpengaruh nyata terhadap nilai produksi pada taraf kepercayaan yang ditentukan. dan tenaga kerja tidak efisien (berlebihan). Penggunaan faktor produksi . KCl.8 berarti bahwa 67. Hal ini berarti dari segi analisis pendapatan usahatani padi ladang secara tumpangsari dengan jagung menguntungkan karena penerimaan yang lebih besar dari biaya total yang dikeluarkan.sebesar Rp. Berdasarkan hasil uji-t yang dilakukan Susanto (2004).. Dari analisis model fungsi produksi Cobb-Douglas yang dilakukan Susanto (2004). jumlah benih.8.2 persen lainnya dari keragaman nilai produksi dipengruhi faktor. pupuk Urea. diperoleh hasil bahwa faktor produksi jumlah benih. TSP. Nilai R2 -adjusted sebesar 67. Faktor.170. diperoleh hasil F-hitung yang nyata pada taraf kepercayaan 95 persen.8 persen kergaman pada nilai produksi dapat dijelaskan oleh variabel bebas yang digunakan dalam fungsi produksi yaitu luas lahan. dan rasio R/C atas biaya total sebesar 1. dan tenaga kerja.Jadi rasio R/C atas biaya tunai diperoleh sebesar 2. pupuk KCl.faktor lain di luar model yang diduga berpengaruh tersebut adalah tingkat kesuburan lahan. dan faktor iklim.625. dan nilai koefisien determinasi (R2 ) sebesar 74. Sedangkan 32. Sedangkan penggunaan faktor produksi luas lahan dan jumlah benih masih kurang untuk mencapai level efisien. yang ditunjukkan oleh rasio NPM dan BKM yang lebih kecil dari satu.faktor lain di luar model regresi. intensitas serangan hama. Sedangkan faktor produksi luas lahan.

22. obat dan cara pengobatan hama dan penyakit tanaman. Penelitian ini menyimpulkan bahwa teknologi usahatani padi ladang yang digunakan di wilayah Luar Baduy (Jalupang Mulya) lebih maju dibandingkan dengan Baduy Luar. Kecamatan Leuwi Damar.yang tidak efisien ini diduga disebabkan oleh pengetahuan petani yang terbatas akibat tingkat pendidikan dan tingkat ekonomi yang rendah serta status penguasaan lahan. pengalaman bertani. Demikian juga dengan R/C atas biaya tunai untuk wilayah Baduy Luar sebesar 1. Namun dari segi analisis pendapatan dengan menggunakan analisis rasio R/C. luas lahan garapan. jenis alat pengolahan lahan. . Banten. status penguasaan lahan. lebih besar daripada R/C atas biaya tunai untuk Luar Baduy yang sebesar 0. Penelitian lain mengenai padi ladang dilakukan oleh Rahayu (2001) dengan judul “Perbandingan Usahatani Padi Ladang Baduy Luar dan Luar Baduy Dilihat Dari Tingkat Efisiensi dan Subsistensi Usahatani” di Desa Kanekes dan Desa Jalupang Mulya. serta alat pengolahan padi. usahatani padi ladang di wilayah Baduy Luar (Kanekes) menghasilkan nilai rasio R/C yang lebih tinggi daripada Luar Baduy (Jalupang Mulya).26 sedangkan R/C atas biaya total untuk luar baduy sebesar 0. Kabupaten Lebak. Rendahnya nilai rasio R/C untuk usahatani padi ladang di wilayah Luar Baduy diduga disebabkan oleh : (1) Tingkat kesuburan lahan di wilayah Baduy Luar yang lebih subur dibandingkan dengan wilayah Luar Baduy. dilihat dari segi intensitas penggunaan lahan.39.11. pupuk. dimana rasio R/C atas biaya total untuk Baduy Luar sebesar 0. Hal ini dilihat dari : tingkat pendidikan. jenis varietas padi.

sedangkan usahatani padi ladang untuk wilayah termasuk dalam usahatani semi-subsisten mengarah ke subsisten (Transisi-Statis). Timtim. Dilihat dari segi tingkat subsistensi. nilai rasio upah tenaga kerja dan rasio faktor input. usahatani padi ladang di wilayah Luar Baduy tergolong usahatani semi. Maluku. Regional III meliputi seluruh provinsi di pulau Sulawesi. sementara usahatani padi ladang di wilayah Baduy Luar tidak menggunakan pupuk dan pestisida sama sekali. NTT.(2) Tingkat upah tenaga kerja luar keluarga di wilayah Luar Baduy lebih tinggi daripada wilayah Baduy Luar. Regional II meliputi seluruh provinsi di pulau Sumatera dan Kalimantan. dan Irian Jaya. (3) Kondisi lingkungan usahatani padi ladang di wilayah Luar Baduy yang sedang terserang hama dan penyakit.subsisten mengarah ke komersial (TransisiDinamis). Wana (2000) mengelompokkan Indonesia menjadi tiga daerah regional yaitu : Regional I meliputi seluruh provinsi Jawa. Penelitian yang dilakukan Wana (2000) dengan judul “Analisis Faktorfaktor Produksi Padi Lahan Kering di Indonesia”. serta tingkat pendayagunaan lembaga pertanian. Penelitian ini menyimpulkan bahwa faktor.faktor yang mempengaruhi produksi luas areal panen padi lahan kering (ladang) di seluruh regional adalah : . Bali. Kesimpulan ini diambil berdasarkan analisis terhadap : tujuan produksi. melakukan analisis pendugaan model respon areal luas panen dan produktivitas padi lahan kering di seluruh Indonesia. dan Nusa Tenggara Barat. (4) Penggunaan pupuk dan pestisida yang belum tepat untuk wilayah Luar Baduy.

Rasio R/C atas biaya tunai di Desa Tinggar Jaya (irigasi teknis) sebesar 2. curah hujan. sedangkan di Desa Losari (irigasi sederhana) sebesar 2. Akan tetapi dalam upaya memenuhi kebutuhan beras nasional dan mengurangi impor beras.947 kwintal dalam satu tahun (dua musim tanam). Kecamatan Jatilawang) dan irigasi sederhana (Desa Losari. Penelitian ini menyimpulkan bahwa tingkat produksi per hektar di daerah irigasi teknis lebih tinggi daripada daerah irigasi sederhana. Rasio R/C atas biaya total di Desa Tinggar Jaya (irigasi teknis) sebesar 1. Pendapatan atas biaya tunai dan biaya total yang diperoleh daerah dengan lahan sawah yang menggunakan irigasi teknis juga lebih tinggi daripada lahan sawah beririgasi sederhana.harga beras. harga ubikayu. varietas unggul. Berdasarkan analisis model fungsi produksi . Penelitian ini juga memperoleh kesimpulan bahwa peningkatan produksi dengan mengupayakan peningkatan luas areal dan produktivitas padi ladang pada umumnya tidak responsif terhadap faktor.faktor yang mempengaruhi produksi dan pendapatan usahatani padi sawah pada jaringan irigasi teknis (Desa Tinggar Jaya. Kecamatan Rawalo). harga kedelai. Kabupaten Banyumas. Yelni (1999) meneliti tentang faktor. harga jagung. kegiatan produksi harus tetap ditingkatkan. dan luas areal panen padi tahun sebelumnya. dan harga pupuk TSP.faktor yang berpengaruh.4637. Jawa Tengah.7554. Sedangkan faktor.5574 dan di Desa Losari (irigasi sederhana) sebesar 1.faktor yang mempengaruhi produktivitas padi lahan kering (ladang) di seluruh regional adalah harga pupuk urea. luas lahan kering. yang memberi indikasi bahwa di Indonesia terutama di Jawa peningkatan luas areal panen dan produktivitas sudah hampir mendekati level optimum. Perbedaan tingkat produksi tersebut 24.4193.

dan penggunaan tenaga kerja. pupuk urea. jumlah benih yang digunakan.faktor yang berpengaruh nyata terhadap produksi pada usahatani padi sawah organik luas lahan.dengan menggunakan analisis model Cobb-Douglas.10 adalah penggunaan pestisida dan dummy luas lahan. faktor.05 adalah benih dan pupuk. Rasio R/C atas biaya tunai dan atas biaya total pada usahatani padi sawah organik didapat sebesar 2. Produktivitas padi organik sebesar 4. Wijaya (2002) melakukan penelitian tentang perbandingan pendapatan dan efisiensi usahatani padi sawah organik (input rendah) dan usahatani padi sawah konvensional di Kecamatan Tempuran.569 kg/ha sedangkan produktivitas padi sawah konvensional sebesar 5.14 dan 1. . Sedangkan faktor. faktor-faktor yang berpengaruh nyata pada a = 0. Faktor. Penelitian ini menyimpulkan bahwa produktivitas padi organik (input rendah) lebih kecil dibandingkan padi konvensional. diperoleh hasil bahwa untuk usahatani padi sawah di Desa Tinggar Jaya (irigasi teknis). sedangkan rasio R/C atas biaya tunai dan atas biaya total pada usahatani padi sawah konvensional sebesar 2. Sedangkan untuk usahatani padi sawah di Desa Losari (irigasi sederhana). Berdasarkan analisis fungsi produksi dengan menggunakan model fungsi produksi Cobb-Douglas.faktor yang berpengaruh nyata pada 0. Kabupaten Karawang.263 kg/ha.faktor yang berpengaruh nyata terhadap produksi pada usahatani padi sawah konvensional adalah luas lahan.72. pestisida butir. disimpulkan bahwa usahatani padi organik berada pada kondisi decreasing return to scale (hasil yang semakin menurun).faktor yang berpengaruh nyata adalah penggunaan tenaga kerja dan dummy luas lahan.05 < a = 0.68 dan 1. sedangkan faktor.63. jumlah pupuk TSP yang digunakan. dan tenaga kerja.

. diketahui bahwa penggunaan faktor-faktor produksi belum efisien. pupuk organik. dan tenaga kerja.faktor yang penggunaannya berlebihan adalah pupuk urea dan TSP. Sedangkan faktor. pupuk daun. Faktor-faktor yang penggunaannya harus ditingkatkan agar dicapai level efisien adalah luas lahan. Untuk faktor benih dan pestisida cair didapat nilai rasio NPM dan BKM yang negatif. Hal ini terbukti dari nilai NPM/BKM semua faktor produksi yang tidak sama dengan satu.Berdasarkan analisis efisiensi ekonomi dengan menggunakan rasio Nilai Produk Marjinal dan Biaya Korbanan Marjinal (NPM/BKM) untuk usahatani padi sawah organik. artinya syarat keharusan untuk mencapai level efisien tidak teroenuhi sehingga penggunaannya untuk mencapai efisien tidak dapat diramalkan karena rasio NPM dan BKM tidak akan pernah sama dengan satu (NPM/BKM ? 1). pestisida butir.

d. b. linggis. pompa air dan lain. gudang. traktor.lain. pemeliharaan hewan ternak dan tempat keluarga tani bermukim. Berdasarkan pengertian di atas. Adanya bangunan yang berupa rumah petani. Konsep Usahatani Usahatani adalah setiap kombinasi yang tersusun (terorganisasi) dari alam. menanam. penyemprot.1. Adanya alat-alat pertanian seperti cangkul. dan lain. unsur ini dalam usahatani mempunyai fungsi sebagai usaha tempat bercocok diselenggarakannya tanam. 1988). Adanya pencurahan kerja untuk mengolah tanah. c. parang. Adanya lahan dalam luasan dan produk yang tertentu.B. lantai jemur. kandang.lain. . garpu. maka suatu usahatani dapat digambarkan lebih rinci sebagai berikut : a. kerja dan modal yang ditujukan kepada produksi di lapangan pertanian (T. memelihara dan lain.lain. KERANGKA PEMIKIRAN 3. Bachtiar Rifai dalam Hernanto.III.

.unsur produksi. 3. dan (3) bentuk campuran yaitu usahatani yang memadukan beberapa cabang usaha secara bercampur. Pendapatan usahatani tidak hanya berasal dari kegiatan produksi saja tetapi dapat juga diperoleh dari hasil menyewakan atau menjual unsur. misalnya menjual kelebihan alat-alat produksi.2.faktor produksi cenderung bersaing dan batas pemisahan antara cabang usahatani kurang jelas. menyewakan lahan dan lain sebagainya. Untuk kegiatan rumahtangga pada umumnya bersifat konsumtif. Sedangkan bentuk usahatani terdapat tiga jenis yang menunjukkan bagaimana suatu kondisi diusahakan yaitu : (1) bentuk khusus dimana petani hanya mengusahakan satu jenis usaha dari sebidang tanah. Soeharjo dan Patong (1973) menyatakan bahwa pendapatan adalah balas jasa dari kerjasama faktor. (2) bentuk tidak khusus yaitu usahatani yang terdiri dari berbagai cabang usaha pada berbagai bidang tanah.faktor produksi lahan. Secara umum dalam setiap rumahtangga usahatani pada hakekatnya terdapat dua kegiatan ekonomi yaitu kegiatan usaha dan kegiatan rumahtangga atau keluarga. tenaga kerja. Soeharjo dan Patong (1973) dalam Soekartawi (1986). Pendapatan Usahatani Pemenuhan kebutuhan hidup rumahtangga usahatani dicukupi dari pendapatan usahatani. dimana penggunaan faktor. mengatakan bahwa ada dua pola usahatani yang sangat pokok yaitu pola usahatani lahan basah dan lahan kering.e. Adanya kegiatan petani yang menetapkan rencana usahataninya. mengawasi jalanya usahatani dan menikmati hasil usahataninya. baik yang dijual maupun untuk dikonsumsi keluarga atau dipergunakan lagi dalam proses produksi selanjutnya. modal dan jasa pengelolaan. Keluarga usaha menghasilkan produksi.

Pendapatan tunai usahatani adalah produk usahatani dalam jangka waktu tertentu. baik yang dijual maupun tidak dijual. c. Penerimaan tunai usahatani merupakan nilai uang yang diterima dari penjualan b. Pengeluaran total usahatani merupakan selisih antara penerimaan kotor usahatani dan pengeluaran total usahatani. Dengan melakukan analisis pendapatan usahatani dapat diketahui gambaran keadaan aktual usahatani sehingga dapat melakukan evaluasi dengan perencanaan kegiatan usahatani pada masa yang akan datang. meskipun besar pendapatan tidak selalu mencerminkan efisiensi yang tinggi karena pendapatan yang besar mungkin juga diperoleh dari investasi yang jumlahnya besar pula. Secara harfiah pendapatan dapat didefenisikan sebagai sisa dari pengurangan nilai penerimaan yang diperoleh dengan biaya yang dikeluarkan. . Untuk mengukur keberhasilan usahatani biasanya dilakukan dengan melakukan analisis pendapatan usahatani. Pengeluaran tunai usahatani adalah jumlah uang yang dibayarkan untuk pembelian barang dan jasa bagi usahatani. produk usahatani. e. Soekartawi (1986) mengemukakan beberapa definisi : a.Berkaitan dengan ukuran pendapatan dan keuntungan. d. Pendapatan yang diharapkan tentu saja memiliki nilai positif dan semakin besar nilainya semakin baik. Penerimaan total usahatani merupakan nilai semua yang habis terpakai atau dikeluarkan dalam produksi termasuk biaya yang diperhitungkan.

pupuk. Biaya variabel adalah biaya yang sifatnya dipengaruhi jumlah produksi yag dihasilkan. Pendapatan kotor usahatani mengukur pendapatan kerja petani tanpa memasukkan biaya yang diperhitungkan sebaga i komponen biaya. Pendapatan usahatani terbagi atas pendapatan kotor usahatani dan pendapatan bersih usahatani. Penerimaan usahatani adalah nilai produksi yang diperoleh dalam jangka waktu tertentu dan merupakan hasil perkalian antara jumlah produksi total dengan harga satuan dari hasil produksi tersebut. Biaya tunai usahatani merupakan pengeluaran tunai yang dikeluarkan oleh petani. Pendapatan kotor usahatani merupakan selisih dari penerimaan usahatani . Biaya tetap dapat berupa biaya sewa lahan. pajak dan bunga pinjaman. Sedangkan biaya atau pengeluaran usahatani adalah nilai penggunaan faktor.Untuk menganalisis pendapatan usahatani diperlukan informasi mengenai keadaan penerimaan dan pengeluaran selama jangka waktu yang ditetapkan. Pengeluaran usahatani secara umum meliputi biaya tetap (fixed cost) dan biaya variabel (variable cost). Biaya tetap adalah biaya yang sifatnya tidak dipengaruhi oleh jumlah produksi yang dihasilkan. penggunaan benih dari hasil produksi dan penyusutan dari sarana produksi. biaya ini dapat berupa faktor produksi yang digunakan petani tanpa mengeluarkan uang tunai seperti sewa lahan yang diperhitungkan atas lahan milik sendiri. Sedangkan biaya yang diperhitungkan merupakan pengeluaran yang secara tidak tunai dikeluarkan petani. penggunaan tenaga kerja dalam keluarga.faktor produksi dalam melakukan proses produksi usahatani. Biaya dalam usahatani dapat dibedakan menjadi biaya tunai dan biaya yang diperhitungkan. Biaya variabel dapat berupa biaya yang dikeluarkan unt uk benih. pestisida dan upah tenaga kerja.

3. Sedangkan pendapatan bersih usahatani mengukur pendapatan kerja petani dari seluruh biaya usahatani yang dikeluarkan. Kriteria kelayakan usahatani dapat diukur dengan menggunakan analisis imbangan penerimaan dan biaya (R/C ratio analysis) yang didasarkan pada perhitungan secara finansial. Analisis ini menunjukkan besar penerimaan usahatani yang akan diperoleh petani untuk setiap rupiah biaya yang dikeluarkan untuk kegiatan usahatani. pendapatan yang besar bukanlah sebagai petunjuk bahwa usahatani efisien. Suatu usahatani dikatakan layak apabila memiliki tingkat efisiensi penerimaan yang diperoleh atas setiap biaya yang dikeluarkan hingga mencapai perbandingan tertentu. Pendapatan bersih usahatani diperoleh dari selisih penerimaan usahatani dengan biaya total usahatani. Semakin besar nilai R/C maka akan semakin besar pula . Analisis Imbangan Penerimaan dan Biaya (R/C Ratio Analysis) Menurut Soeharjo dan Patong (1973).dengan biaya tunai usahatani. 3.

penerimaan usahatani yang diperoleh untuk setiap rupiah biaya yang dikeluarkan atau usahatani dikatakan menguntungkan. Kegiatan usahatani dikategorikan layak jika memiliki nilai R/C ratio lebih besar dari satu, artinya setiap tambahan biaya yang dikeluarkan akan menghasilkan tambahan penerimaan yang lebih besar daripada tambahan biaya atau secara sederhana kegiatan usahatani menguntungkan. Sebaliknya kegiatan usahatani dikategorikan tidak layak jika memiliki nilai R/C ratio lebih kecil dari satu, yang artinya untuk setiap tambahan biaya yang dikeluarkan akan menghasilkan tambahan penerimaan yang lebih kecil daripada tambahan biaya atau kegiatan usahatani merugikan. Sedangkan untuk kegiatan usahatani yang

memiliki nilai R/C ratio sama dengan satu berarti kegiatan usahatani berada pada keuntungan normal. 3.4. Teori Produksi Setiap proses produksi melibatkan suatu hubungan yang erat antara faktorfaktor produksi yang digunakan dengan produk yang dihasilkan . Faktor- faktor produksi seperti lahan, pupuk, tenaga kerja, modal dan sebagainya sangat mempengaruhi terhadap besar kecilnya produksi yang diperoleh. Keputusan penggunaan sumber daya atau input, baik dalam kuantitas maupun kombinasi yang dibutuhkan dalam suatu tingkat produksi ditentukan oleh petani (produsen).
Y (Produksi)

TP

I

II

III

Keterangan

: TP MP AP

= Total Produksi = Marginal Product (Produk Marjinal) = Average Product (Produk Rata-rata)

Fungsi produksi secara sederhana dapat digambarkan sebagai hubungan fisik atau hubungan teknis antara jumlah faktor produksi yang digunakan dengan jumlah produk yang dihasilkan per satuan waktu tanpa memperhatikan faktor harga.

Seperti ditunjukkan dalam Gambar 1, fungsi produksi didefinisikan sebagai hubungan antara input dengan output yang menunjukkan suatu tingkat dimana sumberdaya dapat diubah sehingga menghasilkan produk tertentu (Doll dan Orazem, 1984). Dengan kata lain fungsi produksi menggambarkan kombinasi penggunaan beberapa faktor produksi untuk menghasilkan suatu tingkat produksi tertentu. Secara matematis, fungsi produksi dapat dinyatakan sebagai berikut (Doll dan Orazem, 1984) : Y = f(X1 , X2 , X3 ,…,Xn ) .......................................................... (3.1) Keterangan : Y X1 ,X2 ,..,Xn f : Jumlah produksi yang dihasilkan dalam proses produksi : Faktor- faktor produksi yang digunakan dalam proses produksi : Bentuk hubungan yang mentransformasikan faktor- faktor produksi ke-n dalam hasil produksi

Menurut Doll dan Orazem (1984), suatu fungsi produksi dapat dibagi ke dalam tiga daerah produksi. dapat Daerah

produksi

tersebut

dibedakan dari

berdasarkan

elastisitas

produksi

faktor-faktor produksi. Pada Gambar 1,

dan lebih kecil dari nol (daerah III). Daerah produksi I yang terletak antara 0 dan X2. artinya setiap penambahan faktor produksi sebesar satu persen akan menyebabkan penambahan produksi paling tinggi satu persen dan paling rendah nol.ketiga daerah tersebut adalah daerah dengan elastisitas produksi yang lebih besar dari satu (daerah I). Oleh karena itu daerah I disebut sebagai daerah irrasional (irrational region atau irrational stage of production). Syarat keharusan untuk tercapainya keuntungan maksimum adalah tingkat produksi yang terjadi harus berada pada daerah II dalam kurva fungsi produksi. Pada daerah ini yang terletak antara X2 dan X3. elastisitas produksi bernilai antara nol dan satu. yang berarti bahwa penambahan faktor produksi sebesar satu persen akan menyebabkan penambahan produksi yang selalu lebih besar dari satu persen. antara nol dan satu (daerah II). Hal ini berarti bahwa penggunaan faktor. Daerah ini dicirikan oleh penambahan hasil produksi yang peningkatannya makin berkurang (decreasing return to scale). Pada tingkat tertentu dari penggunaan faktor-faktor produksi di daerah ini akan memberikan keuntungan maksimum. Keuntungan maksimum belum tercapai.faktor produksi sudah . mempunyai nilai elastisitas produksi lebih besar dari satu. karena produksi masih dapat diperbesar dengan pemakaian faktor produksi yang lebih banyak.

optimal. maka turunan pertama dari fungsi keuntungan adalah : ∂π ∂Y = Py − Px i = 0 ∂X i ∂X i = ∂Y − Px i = 0 ∂X i .faktor produksi akan menyebabkan penurunan jumlah produksi yang dihasilkan.. Efisiensi Ekonomi Usahatani akan mencapai efisiensi ekonomi jika tercapai keuntungan maksimum.Y − ∑ Px i .2. (3.i yang digunakan dalam proses produksi TFC = Total Fixed Cost (Biaya Tetap Total) Dengan demikian untuk memenuhi syarat tercapainya keuntungan maksimum. Syarat untuk mencapai keuntungan maksimum adalah turunan pertama dari fungsi keuntungan terhadap masing.. artinya setiap penambahan faktor.faktor produksi yang sudah tidak efisien. Oleh karena itu daerah II disebut sebagai daerah rasional (rational region atau rational stage of production).masing faktor produksi sama dengan nol (Doll dan Orazem. Daerah Produksi III mempunyai elastisitas produksi lebih kecil dari nol.3. Fungsi keuntungan yang diperoleh usahatani dapat dinyatakan sebagai berikut : n  π = Py .5.X i + TFC  ……………………………………….…. sehingga daerah ini disebut juga sebagai daerah irrasional. 1984).n Y = hasil produksi Px i = harga pembelian faktor produksi ke –i Xi = jumlah faktor produksi ke. 3.2)  i =1  Keterangan : π = pendapatan usahatani Py = harga per unit produksi i = 1. Daerah produksi ini mencerminkan pemakaian faktor.

Py ∂Y = Px i ………………………………………………………….MP x i = Nilai Produk Marjinal (NPM) faktor produksi ke-i P xi = Biaya Korbanan Marjinal (BKM) faktor produksi ke-i (3. Pxi keterangan : Py. Y) ……………………………………………………… (3.MP x i ) harus lebih besar daripada tambahan biaya yang dikeluarkan untuk pembelian faktor produksi ke. atau secara matematis dapat dituliskan : Xi = f (Py . tambahan nilai produksi akibat tambahan penggunaan faktor produksi ke.i tersebut (P x i ). Secara matematis keuntungan maksimum dari penggunaan faktor produksi ke-i dinyatakan sebagai berikut : Py. (3.3) ∂X i Dari persamaan tersebut dapat diketahui bahwa level penggunaan faktor produksi ke-i yang efisien merupakan fungsi dari harga output. Penambahan penggunaan faktor produksi berhenti ketika Py. Pada saat inilah keuntungan maksimal tercapai.MPx i = Pxi ……………………………………………………… (3.MP x i = P x i . bahwa untuk mencapai keuntungan maksimal... Px i .i (Py.i dan jumlah output yang dihasilkan. harga faktor produksi ke.MPxi = 1 ……………………………………………………….5) Sesuai dengan prinsip keseimbangan marjinal (equi-marginal principle).6) .4) Dengan mengetahui ∂Y ∂X i sebagai Marginal Product (MPxi) faktor produksi ke-i. maka persamaan diatas menjadi : Py.

= = 1 ………………. Ketika Py.. maka penggunaan ∂X i faktor produksi harus ditambah agar tercapai keuntungan maksimum..Artinya keuntungan maksimum tercapai pada saat tambahan nilai produksi akibat tambahan penggunaan faktor produksi ke-i harus sama dengan biaya korbanan marjinal atas faktor produksi ke-i tersebut atau rasio keduanya sama dengan satu.MPxi < Pxi maka penggunaan faktor produksi harus dikurangi.7) Dengan asumsi Py dan P x i merupakan nilai yang konstan. Jadi secara umum keuntungan maksimum dari penggunaan n faktor produksi akan diperoleh pada saat : PyMPx1 PyMPx2 PyMPx3 PyMPxn = = = . Sebaliknya. jika Py. .MP x i > P x i . maka hanya ∂Y yang mengalami perubahan .. Px1 Px2 Px3 Pxn (3.

Desa Wanajaya Alasan memilih desa tempat sebagai pengambilan data adalah karena desa tersebut memiliki luas lahan padi ladang yang paling besar diantara desa-desa lain di Kecamatan Teluk Jambe.IV. . Lokasi dan Waktu Penelitian PENELITIAN Pengumpulan data dilakukan dari bulan Mei hingga Juni 2005 sekitar satu bulan setelah musim panen padi ladang di lokasi penelitian. Pemilihan lokasi dilakukan secara purposive yaitu di Desa Wanajaya. Kecamatan Teluk Jambe.1. Kabupaten Karawang. METODE 4.

4. selain itu juga untuk mengetahui tingkat efisiensi penggunaan faktor-faktor produksi agar usahatani berada pada skala optimal. petani penggarap dan petani pemilik penggarap.Pemilihan Kecamatan Teluk Jambe didasarkan pada pertimbangan bahwa kecamatan penghasil ini padi merupakan ladang di salah satu Kabupaten Karawang. Jumlah petani contoh sebanyak 40 orang yang merupakan petani pemilik. Metode Pengumpulan Data dan Penentuan Sampel Data yang digunakan dalam penelitian ini meliputi data primer dan sekunder . Data primer yang dikumpulkan dengan melakukan pengamatan dan wawancara langsung dengan petani responden dengan mengajukan pertanyaan yang dibuat dalam bentuk kuesioner yang telah dipersiapkan sebelumnya.2. Pemilihan petani contoh . Penelitian ini didesain untuk mengetahui tingkat pendapatan usahatani padi di lahan kering.

Kabupaten Karawang. Selain itu data sekunder juga diperoleh dari Biro Pusat Statistik. Analisis Pendapatan Usahatani . artikel. Analisis kualitatif digunakan untuk mengetahui gambaran umum usahatani padi dan keragaan usahatani padi lahan kering di Desa Wanajaya. pengolahan dan penyusunan dalam bentuk tabulasi untuk selanjutnya dianalisis. Balai Penelitian Tanaman Pangan. dan Pemerintah Daerah di lokasi penelitian. laporan penelitian. 4. analisis fungsi produksi dan analisis efisiensi. karya ilmiah yang berkaitan dengan masalah penelitian dan melalui internet. Kecamatan Teluk Jambe. Pusat Penelitian dan Pengembangan Sosial Ekonomi Pertanian.1. 4. Data yang telah terkumpul kemudian mengalami tahapan pengeditan.3. Pengolahan data dilakukan dengan menggunakan program Microsoft Excel dan Minitab 13 for Windows. Metode Analisis Data Analisis data dilakukan secara kualitatif dan kuantitatif. anggota Badan Perwakilan Desa (BPD) serta kelembagaan lain di desa. Sedangkan analisis kuantitatif dilakukan untuk mengetahui faktor.3. Departemen Pertanian.faktor yang mempengaruhi produksi dan tingkat efisiensi usahatani padi ladang dengan menggunakan analisis pendapatan usahatani. Di samping wawancara terstruktur.dilakukan secara acak sederhana (simple random) dari suatu daftar petani yang telah dipersiapkan sebelumnya. dilaksanakan pula wawancara tidak terstruktur dengan sejumlah perangkat desa. majalah. Data sekunder diperoleh dengan cara penelusuran kepustakaan buku.

Analisis Imbangan Penerimaan dan Biaya (R/C Ratio Analysis) Analisis imbangan penerimaan dan biaya (R/C ratio analysis) digunakan sebagai alat untuk mengukur kriteria kelayakan dari kegiatan usahatani yang dilakukan. Data pengeluaran biaya dikelompokkan menjadi dua bagian.3. Kemudian dilakukan penghitungan pendapatan usahatani atas biaya tunai atau pendapatan kotor usahatani dan penghitungan pendapatan usahatani atas biaya total atau pendapatan bersih. (4.BT ……………………………………………………. yaitu biaya tunai dan biaya yang diperhitungkan.(BT + BD) …………………………………………….2. Keterangan : GFI = Gross Farm Income (Pendapatan kotor usahatani) NFI = Net Farm Income (Pendapatan bersih usahatani) NP = Nilai Produksi BT = Biaya Tunai Usahatani BD = Biaya yang Diperhitungkan (4. .3) dimana Pendapatan Bersih Usahatani (NFI) merupakan hasil pengurangan biaya diperhitungkan dari Pendapatan Kotor Usahatani (GFI). Penghitungan pendapatan usahatani dirumuskan secara matematis seperti pada persamaan berikut : GFI = NP . NFI = NP . 4. Dalam analisis ini data penerimaan usahatani dan pengeluaran usahatani dibandingkan ke dalam satu rasio. yaitu dibedakan menjadi R/C atas biaya tunai dan R/C atas biaya total.. Analisis imbangan penerimaan dan biaya dilakukan berdasarkan jenis biaya yang dikeluarkan..2) atau bisa juga ditulis secara singkat sebagai berikut : NFI = GFI – BD ………………………………………………….1) (4.Untuk menganalisis pendapatan usahatani dilakukan pencatatan terhadap seluruh penerimaan dan pengeluaran usahatani dalam satu musim tanam.

Secara matematis R/C ratio dapat dirumuskan dalam persamaan sebagai berikut : R/C ratio = Keterangan : TR = Total Revenue (Total Penerimaan) TC = Total Cost (Total Biaya) TR TC ………………………………………………………… (4....3. Fungsi produksi Cobb-Douglas dapat dirumuskan sebagai berikut : Y = bo X 1 X 2 X 3 X 4 .masing input sehingga informasi yang diperoleh dapat digunakan untuk melakukan upaya agar setiap penambahan input dapat menghasilkan tambahan output yang lebih besar. Pendugaan Fungsi Produksi Analisis fungsi produksi adalah analisis yang menjelaskan hubungan antara produksi dengan faktor. Fungsi produksi yang dipakai untuk menjelaskan parameter Y dan X adalah analisis fungsi Cobb-Douglas.. .3….... X n e u ………………….faktor produksi yang mempengaruhinya..4) 4..3.5) Keterangan : Y b0 bi Xi e u = produksi = intersep = koefisien regresi penduga variable ke-i = jenis faktor produksi ke-i. dimana i =1..2.7182) = unsur sisa (galat) Penggunaan fungsi ini didasarkan pada pertimbangan-pertimbangan sebagai berikut : 1.. Penggunaan fungsi Cobb-Douglas adalah dalam keadaan The Law of Diminishing Return untuk masing... b1 b2 b3 b4 bn (4. n = bilangan natural (e = 2...

Variasi unsur sisa menyebar normal. Perhitungan fungsi produksi Cobb-Douglas sederhana karena dapat ditransfer dengan mudah ke dalam bentuk linier.masing faktor produksi yang diduga merupakan pendugaan skala usaha (return to scale). Bila jumlah bi < 1. maka proses produksi terjadi pada skala yang konstan. 4.faktor produksi dan produksi digunakan analisis regresi dengan metode Ordinary Least Square (OLS). . Fungsi produksi Cobb-Douglas merupakan fungsi produksi yang sering digunakan dalam penelitian optimalisasi produksi usahatani. Dan bila jumlah bi > 1. Homoskedastisitas atau ragam merupakan bilangan tetap. 2. Parameter penduga (bi ) dapat langsung menunjukkan elastisitas produksi dari input yang bersangkutan (Xi). Nilai rata-rata dari unsur sisa sama dengan nol.nilai sisa pada setiap pengamatan. Bila jumlah bi = 1. maka proses produksi terjadi pada skala yang menaik. 3. maka proses produksi berada pada skala yang menurun. Menurut Gujarati (1978). 3. 5. metode ini dapat dipakai jika asumsi-asumsi sebagai berikut : 1.2. Bentuk fungsi Cobb-Douglas dapat mengurangi kemungkinan terjadinya masalah heterokedastisitas. 4. Tidak ada korelasi berangkai/autokorelasi antara nilai. Untuk menganalisis hubungan antara faktor. Jumlah elastisitas dari masing. 6.

2. Benih Penggunaan benih dalam satu musim tanam diukur dalam satuan kilogram (kg). secara teori bila jumlah pestisida yang digunakan . Pupuk diduga berpengaruh positif terhadap produksi padi. 6. Variabel-variabel dugaan yang digunakan dalam menganalisis fungsi produksi dan penggunaan faktor-faktor produksi usahatani padi adalah sebagai berikut : 1. Tidak ada hubungan linier sempurna antara peubah bebas. Penggunaan pestisida dalam satu musim tanam diukur dalam satuan liter (l). secara teori bila jumlah benih yang digunakan bertambah sebesar satu persen maka akan meningkatkan produksi padi sebesar nilai elastisitasnya (ceteris paribus). secara teori bila jumlah pupuk yang digunakan meningkat sebesar satu pesen maka akan meningkatkan produksi padi sebesar nilai elastisitasnya (ceteris paribus). Benih diduga berpengaruh positif terhadap produksi padi. Pestisida diduga berpengaruh positif terhadap produksi padi. moluskisida atau herbisida untuk memudahkan pencacatan satuan pestisida tersebut yang berbeda. Pupuk Penggunaan pupuk dalam satu musim tanam diukur dalam satuan kilogram (kg). rodentisida. 3.5. Tidak ada korelasi diri (multikolinearitas). Pestisida Penggunaan pestisida tidak dibedakan berdasarkan jenisnya seperti insektisida.

Adapun langkah.faktor produksi yang digunakan dalam proses produksi padi di lahan kering. secara teori bila jumlah penggunaan tenaga kerja luar keluarga ditingkatkan sebesar satu persen maka akan meningkatkan produksi padi sebesar elastisitasnya (ceteris paribus). Analisis fungsi produksi digunakan untuk melihat tingkat penggunaan faktor.meningkat sebesar satu persen maka akan meningkatan produksi padi sebesar nilai elastisitasnya (ceteris paribus). Tenaga Kerja Luar Keluarga Penggunaan tenaga kerja luar keluarga diukur dalam satuan hari orang kerja (HOK).faktor . Faktor.faktor produksi optimal. Tenaga kerja luar keluarga diduga berpengaruh positif terhadap produksi padi.langkah dalam menganalisis fungsi produksi adalah sebagai berikut : 1. secara teori bila jumlah penggunaan tenaga kerja dalam keluarga ditingkatkan sebesar satu persen maka akan meningkatkan produksi padi sebesar elastisitasnya (ceteris paribus). Tenaga Kerja Dalam Keluarga Penggunaan tenaga kerja dalam keluarga diukur dalam satuan hari orang kerja (HOK). 5. Tenaga kerja dalam keluarga diduga berpengaruh positif terhadap produksi padi. Identifikasi variabel bebas dan variabel terikat Identifikasi variabel dilakukan dengan mendaftar faktor. 4. Dalam analisis ini dilakukan analisis fungsi produksi dan analisis regresi untuk mengetahui pengaruh faktor-faktor produksi terhadap produksi padi di lahan kering.

yaitu : Y = b0 X 1 X 2 X 3 X 4 X 5b5 b1 b2 b3 b4 Model fungsi produksi ditransformasikan ke dalam bentuk linier logamatrik untuk menduga fungsi produksi. Analisis regresi Analisis regresi bertujuan untuk mengetahui hubungan antara variabel terikat dengan variabel bebas. Pendugaan fungsi produksi Dalam analisis fungsi produksi digunakan pendekatan Cobb-Douglas. b 4 . b 6 . b 5 .6) Keterangan : Y = Hasil produksi padi lahan kering (Kilogram) X 1 = Benih (Kilogram) X 2 = Pupuk (Kilogram) X 3 = Pestisida (Liter) X 4 = Tenaga Kerja Dalam Keluarga (HOK) X 5 = Tenaga Kerja Luar Keluarga (HOK) b 0 = Variabel intersep u = Unsur galat b1 . P-value untuk uji t digunakan untuk mengetahui secara statistik apakah masingmasing variabel bebas ( X i ) secara terpisah berpengaruh nyata terhadap variabel terikat (Y). dan tenaga kerja luar keluarga. pestisida. Dari analisis dengan OLS (Ordinary Least Square) ini diperoleh nilai P (P-value) untuk uji t dan uji F.produksi tersebut adalah benih. pupuk. Faktor-faktor produksi ini merupakan variabel bebas yang akan diuji pengaruhnya terhadap variabel terikat yaitu hasil produksi. Apabila P-value untuk uji t lebih kecil daripada nilai α yang . LnY = ln b0 + b1 ln X 1 + b2 ln X 2 + b3 ln X 3 + b4 ln X 4 + b5 ln X 5 + u ……. juga dapat diketahui nilai R 2 . b 3 . tenaga kerja dalam keluarga. (4. b 2 . 2. b 7 = koefisien regresi masing-masing variabel 3.

.. tetapi sebaliknya jika P-value untuk uji F lebih besar daripada nilai α yang ditentukan maka variabel bebas dugaan tidak berpengaruh nyata terhadap variabel terikat.. Jika P-value untuk uji F lebih kecil daripada nilai α yang ditentukan (selang kepercayaan tertentu) maka variabel bebas dugaan berpengaruh nyata terhadap variabel terikat. Fungsi keuntungan yang diperoleh usahatani dapat dinyatakan sebagai berikut : n  π = Py.. Analisis Efisiensi Ekonomi Usahatani akan mencapai efisiensi ekonomi jika tercapai keuntungan maksimum. P-value untuk uji F digunakan untuk mengetahui kelayakan model dari parameter dan fungsi produksi atau untuk mengetahui apakah variabel bebas ( X i ) secara bersamaan berpengaruh nyata terhadap variabel terikat.ditentukan (selang kepercayaan tertentu) maka variabel bebas dugaan berpengaruh nyata terhadap variabel terikat.2.4.….X i + TFC  ……………………………………. 4.  i=1  Keterangan : π = pendapatan usahatani Py = harga per unit produksi Y = hasil produksi i = 1. 1984).Y − ∑ Pxi . Syarat untuk mencapai keuntungan maksimum adalah turunan pertama dari fungsi keuntungan terhadap masing.7) .3. tetapi sebaliknya jika P-value untuk uji t lebih besar daripada nilai α yang ditentukan maka variabel bebas dugaan berpengaruh nyata terhadap variabel terikat.masing faktor produksi sama dengan nol (Doll dan Orazem..3. Sedangkan R 2 merupakan koefisien determinasi yang menunjukkan keragaman model produksi dilapangan yang dapat diterangkan oleh model terpilih.n (4.

Pxi = harga pembelian faktor produksi ke-i X i = jumlah faktor produksi ke-i yang digunakan dalam proses produksi TFC = Total Fixed Cost (Biaya Tetap Total) Dengan demikian untuk memenuhi syarat tercapainya keuntungan maksimum.i (PyMP xi ) harus lebih besar daripada tambahan biaya yang dikeluarkan untuk pembelian faktor produksi ke-i tersebut (P xi ). (4. atau secara matematis dapat dituliskan : X i = f ( Py.MPxi = Pxi ………………………………………………………… (4. maka persamaan diatas menjadi : Py. .10) Sesuai dengan prinsip keseimbangan marjinal (equi-marginal principle). Y ) ……………………………………………………… Dengan mengetahui (4. harga faktor produksi ke-i dan jumlah output yang dihasilkan. Pxi ..8) ∂X i Dari persamaan tersebut dapat diketahui bahwa level penggunaan faktor produksi ke-i yang efisien merupakan fungsi dari harga output.9) ∂Y sebagai Marginal Product (MP) faktor produksi ∂X i ke-i. maka turunan pertama dari fungsi keuntungan adalah : ∂π ∂Y = Py − Pxi = 0 ∂X i ∂X i = ∂Y − Pxi = 0 ∂X i Py ∂Y = Pxi ……………………………………………………. bahwa untuk mencapai keuntungan maksimal. Penambahan penggunaan faktor produksi berhenti ketika VMP xi =MFC xi . tambahan nilai produksi akibat tambahan penggunaan faktor produksi ke.

satuannya orang. Petani padi di lahan kering adalah petani yang melaksanakan budidaya pada areal tanam berupa ladang (lahan kering/upland).Pada saat inilah keuntungan maksimal tercapai. Batasan-batasan tersebut meliputi : 1. Ketika PyMP xi > P xi . Sebaliknya. maka agar diperoleh ∂X i tingkat keuntungan maksimum penggunaan faktor produksi harus ditingkatkan.4. Px i keterangan : PyMP xi = Nilai Produk Marjinal (NPM) faktor produksi ke-i P xi = Biaya Korbanan Marjinal (BKM) faktor produksi ke-i (4.12) Dengan asumsi Py dan P xi merupakan nilai yang konstan.. Px1 Px2 Px3 Pxn (4.11) Artinya keuntungan maksimum tercapai pada saat tambahan nilai produksi akibat tambahan penggunaan faktor produksi ke-i harus sama dengan biaya korbanan marjinal atas faktor produksi ke-i tersebut atau rasio keduanya sama dengan satu. maka hanya ∂Y yang mengalami perubahan.. Jadi secara umum keuntungan maksimum dari penggunaan n faktor produksi akan diperoleh pada saat : PyMPx1 PyMPx2 PyMPx3 PyMPxn = = = . Secara matematis keuntungan maksimum dari penggunaan faktor produksi ke-i dinyatakan sebagai berikut : PyMPx i = 1 ………………………………………………………….. = = 1 …………………. Definisi Operasional Untuk menghindari ketidaksamaan pandangan dalam pengertian.. 4. jika PyMPx i < Px i maka penggunaan faktor produksi harus dikurangi. maka terdapat beberapa hal yang perlu diberi batasan sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai dari penelitian. .

2. dan lain. satuannya kilogram. Tenaga kerja ini dibedakan menjadi dua. Biaya yang diperhitungkan adalah pengeluaran untuk input milik sendiri meliputi tenaga kerja dalam keluarga dan penyusutan. satuannya Hektar (ha). Tenaga kerja adalah tenaga kerja yang digunakan dalam proses produksi. 4. Jumlah produksi adalah jumlah panen padi ladang yang dihasilkan dari luas lahan. 7.lain. Satuannya orang. 3. yaitu tenaga kerja dalam keluarga (TKDK) dan tenaga kerja luar keluarga (TKLK). Pemilik penggarap adalah petani yang menggarap lahan miliknya sendiri. Untuk petani penyakap maka komponen biaya tunainya ditambah dengan biaya sakap. pestisida. Biaya usahatani total adalah merupakan penjumlahan antara biaya tunai dan biaya yang diperhitungkan . 6. 8. Biaya tunai adalah besarnya nilai uang tunai yang dikeluarkan petani untuk membeli pupuk. benih. upah tenaga kerja luar keluarga. Penyakap adalah petani yang menggarap lahan milik orang lain denga n pembayaran sewanya berdasarkan bagi hasil. 10. 9. . Luas lahan garapan areal usahatani padi ladang merupakan lahan yang digunakan untuk menanam padi ladang. Satuannya adalah Rupiah. Seluruh tenaga kerja disetarakan dengan ukuran Hari Orang Kerja (HOK). 5. Satuannya Rupiah. Satuannya orang. sewa traktor/ternak. Satuannya adalah Rupiah. Produktivitas adalah hasil bagi antara jumlah panen dengan luas lahan dengan satuannya Ton per Hektar.

Satuannya Rupiah. Satuannya adalah Rupiah. . Pendapatan kotor usahatani adalah selisih antara penerimaan usahatani dan biaya tunai usahatani. 13.11. Satuannya Rupiah. 12. Penerimaan (nilai produksi) adalah nilai yang diperoleh dari hasil kali antara jumlah produksi dengan dengan harga jualnya. Pendapatan bersih usahatani adalah selisih antara penerimaan usahatani dengan biaya usahatani total (biaya tunai dan diperhitungkan).

Produktivitas Padi Ladang • Pupuk • Benih • Pestisida • Tenaga Kerja dalam Rumah Tangga Rumah Tangga • Tenaga Kerja Luar Analisis Fungsi Produksi Cobb-Douglas Elastisitas Faktor-faktor Produksi Analisis Pendapatan Analisis R/C Analisis Efisiensi Ekonomis Faktor-faktor Produksi Kesimpulan Gambar 2. Bagan Prosedur Analisis Pendapatan dan Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Produksi Cabang Usahatani Padi Ladang .

75 1.065. Desa Taman Mekar di sebelah selatan. dan Kehutanan di sebelah timur.02 0.19 %) lahan terlantar.1.19 100.07 0.30 2.92 0.20 0.69 0. Batas-batas administrasi Desa Wanajaya adalah Desa Wanakerta di sebelah utara. Kali Cibeet Bekasi di sebelah barat. Kabupaten Karawang. Secara keseluruhan luas wilayah Desa Wanajaya adalah sekitar 1. Jarak desa Wanajaya dengan ibukota kecamatan sekitar 11 kilometer dengan waktu tempuh selama kurang lebih satu jam.00 0.07 hektar (13.065.80 21.07 hektar yang terdiri atas 147. 2004.17 0. Tabel 5.809 %) lahan yang telah digunakan dan sekitar 918 hektar merupakan (86.61 13. Gambaran Umum Lokasi Penelitian Desa Wanajaya termasuk dalam wilayah Kecamatan Teluk Jambe.12 86.02 0. Jawa Barat.50 38.07 Persentase 1.74 1. GAMBARAN UMUM DAERAH PENELITIAN 5. Sedangkan jarak ke ibukota kabupaten sekitar 13 kilometer dengan waktu tempuh kurang lebih selama satu setengah jam. Penggunaan Lahan di Desa Wanajaya Tahun 2004 Penggunaan Lahan Sawah irigasi teknis Sawah irigasi 1/2 teknis Sawah tadah hujan Tegalan/Ladang Pemukiman umum Pasar Tempat ibadah Kuburan/makam Tempat rekreasi dan olahraga Perkantoran pemerintah Sekolah/lainnya Lahan Terlantar Total Sumber : Profil Desa Wanajaya. Gambaran secara rinci mengenai luas Desa Wanajaya berdasarkan penggunaan lahan ditunjukkan dalam Tabel 5.09 0.23 918.V.00 1.10 50.02 3.78 0. Luas (Ha) 18.00 .17 1.58 4.

dan solum dalam. Tabel 6.07 hektar dan daerah perbukitan sekitar 878 hektar seperti ditunjukkan dalam Tabel 6 berikut. 2004.00 1065. struktur gumpal atau keras. Jumlah penduduk desa Wanajaya hingga Januari 2005 tercatat sebanyak 4024 jiwa (1237 kepala keluarga) dan komposisi penduduk tergolong merata antara laki.00 Dari kondisi geografis.Secara umum topografi Desa Wanajaya sebagian besar merupakan daerah perbukitan.07 878. 2003). Jumlah bulan basah rata-rata tujuh bulan. Desa Wanajaya berada pada ketinggian sekitar 700 meter di atas permukaan laut dengan kemiringan lahan 30 sampai 40 persen yang merupakan daerah perbukitan.56 82. disimpulkan bahwa tingkat kesuburan tanah di Desa Wanajaya termasuk dalam golongan rendah dan memiliki ciri-ciri bertekstur lempung.laki .44 100. bulan lembab rata-rata dua bulan. Curah hujan rata-rata sekitar 1454. Tanah di Desa Wanajaya memiliki pH sekitar empat sampai lima. Topografi atau Bentang Lahan Desa Wanajaya Tahun 2004 Jenis daratan Dataran Perbukitan/pegunungan Total Sumber : Profil Desa Wanajaya. dan jumlah bulan kering rata-rata tiga bulan dengan suhu rata-rata sekitar 27°C dan intensitas penyinaran matahari sekitar 66 persen. Desa Wanajaya terdiri atas daerah dataran seluas sekitar 187. Luas (Ha) 187. denga n kapasitas tukar kation (KTK) dan kejenuhan basa (KB) yang tergolong sedang. Berdasarkan ketiga indikator kesuburan tanah tersebut.5 mm per tahun berdasarkan data tahun 2002 dan termasuk dalam kelas iklim B atau daerah beriklim basah dengan vegetasi hujan tropis berdasarkan standar Schmidt dan Ferguson (BAPPEDA Kabupaten Karawang.laki dan perempuan dimana penduduk dengan jenis kelamin laki.07 Persentase 17.

berjumlah 2033 orang (50. Karakteristik Penduduk Desa Wanajaya Berdasarkan Kelompok Umur Tahun 2005 Kelompok Umur Jumlah (Tahun) (orang) 0-9 910 10 .91 4. 2004. Penduduk yang bermata pencaharian sebagai buruh tani sebanyak 748 orang (18.52 %).59 %) sementara penduduk yang bermata pencaharian sebagai petani (pemilik) sebanyak 1595 orang (39.48 %).58 10.19 775 20 – 29 791 30 – 39 667 40 – 49 416 50 – 59 278 = 59 187 Total 4. (1997) dalam BAPPEDA Kabupaten Karawang (2003). Tabel 7. Berdasarkan Sensus Penduduk tahun 1971 Tarigan JJ.61 19.64 %) dan sebagian kecil penduduk atau sebanyak 125 orang (3.39 %) angkatan kerja sehingga dari segi jumlah angkatan kerja Desa Wanajaya tergolo ng cukup potensial.024 Sumber : Monogafi Desa Wanajaya.65 100.00 Dari segi mata pencahariannya. Persentase 22.23 %) masih bekerja di bidang pertanian baik sebagai petani ataupun buruh tani. Dalam Tabel 7 dapat dilihat bahwa dari seluruh penduduk di Desa Wanajaya terdapat 3114 orang (77.26 19. batas usia 10 tahun ke atas digunakan untuk menentukan apakah seseorang termasuk dalam angkatan kerja atau bukan. dan penduduk jenis kelamin perempuan berjumlah 1991 orang (49.66 16.34 6. penduduk Desa Wanajaya cukup beragam tetapi sebagian besar penduduk desa atau sebanyak 2343 orang (58. Kelompok penduduk lain yang proporsinya tergolong cukup besar adalah kelompok penduduk yang bermata pencaharian sebagai buruh swasta yaitu .11 %) bekerja sebagai peternak.

Tabel 8. mantri kesehatan.02 0.00 Dari segi pendidikan Desa Wanajaya tergolong rendah karena sebagia n besar penduduk atau sekitar 80 persen penduduk hanya mengikuti pendidikan formal hingga tamat sekolah dasar. TNI/POLRI. . pengrajin.35 3. Karakteristik Penduduk Desa Wanajaya Berdasarkan Mata Pencaharian Tahun 2005 Jenis Mata Pencaharian Jumlah (orang) Petani 1595 Buruh Tani 748 Buruh/swasta 879 PNS 75 Pengrajin 8 Pedagang 175 Peternak 125 Montir 3 Dokter 1 Bidan Desa 2 Mantri Kesehatan 2 Polisi 6 Pengangguran 405 Total 4024 Sumber Monografi Desa Wanajaya.05 0.84 %) karena lokasi Desa Wanajaya masih dekat dengan kawasan industri Kabupaten Karawang. dan kelompok yang tergolo ng berstatus sebagai pengangguran sebanyak 405 orang (10.06 100. Bidan desa.06 %).15 10.20 4. Penduduk lainnya bekerja di berbagai bidang diantaranya PNS. montir.86 0. Gambaran penduduk Desa Wanajaya berdasarkan mata pencaharian disajikan dalam Tabel 8.59 21. Sisanya sekitar 20 persen dari penduduk menyelesaikan pendidikan hingga tamat sekolah lanjutan pertama atau sederajat dan memenuhi program pendidikan wajib 9 tahun yang digerakkan pemerintah.64 18.05 0. dokter. pedagang. Persentase 39.11 0.07 0.sebanyak 879 orang (21.84 1. 2004. Gambaran secara rinci tentang penduduk Desa Wanajaya berdasarkan tingkat pendidikan ditunjukkan dalam Tabel 9.

tingkat pendidikan.24 0. Jumlah (orang) 502 30 905 1785 455 332 2 3 5 5 4024 Persentase 12.50 32. Umur Petani Tenaga kerja produktif umumnya berada pada selang 25 hingga 40 tahun. pengalaman berusahatani padi gogo atau padi ladang.49 44. sedangkan jika kurang atau lebih dari selang umur tersebut akan tergolong sebagai tenaga kerja kurang produktif tetapi masih termasuk dalam usia kerja.48 0. dan kondisi tempat tinggal. Karakteristik petani responden selengkapnya sebagai berikut : 1.24 5. Karakteristik petani responden berdasarkan umur ditunjukkan pada Tabel 10. Karakteristik Penduduk Desa Wanajaya Berdasarkan Tingkat Pendidikan Tahun 2004 Tingkat Pendidikan Belum Sekolah Usia 7-45 thn tidak pernah sekolah Pernah sekolah SD tetapi tidak tamat Tamat SD/sederajat SLTP/sederajat SLTA/sederajat D-1 D-2 D-3 S-1 Total Sumber : Monografi desa Wanajaya. Karakteristik Petani Responden Karakteristik petani responden akan diuraikan berdasarkan umur petani.31 8. Tabel 10.25 100. keputusan bertani padi ladang.25 0. status dan luas lahan garapan.75 22.2.05 0. Karakteristik Petani Responden Berdasarkan Umur Kelompok Umur (tahun) 20-30 31-45 46-50 51-60 > 60 Total Jumlah Responden (orang) 5 13 6 1 15 40 Persentase 12. status usahatani padi ladang. 2004.00 .36 11.Tabel 9.00 2.50 37.50 15. pekerjaan sampingan. jumlah anggota keluarga.07 0.50 100.

Pada umumnya.5 persen dari keseluruhan responden. 2.00 22. Tingkat Pendidikan Tingkat pendidikan akan berpengaruh terhadap tingkat adopsi teknologi dan inovasi yang sedang berkembang. maka proses adopsi teknologi akan semakin cepat. semakin tinggi tingkat pendidikan.00 45. Sedangkan petani responden yang paling sedikit berasal dari kelompok umur antara 51 hingga 60 yaitu hanya sebanyak 1 orang (2. Karakteristik Petani Responden Berdasarkan Tingkat Pendidikan Tingkat Pendidikan Tidak Pernah Sekolah Tidak Tamat SD Tamat SD Tamat SLTP Tamat SLTA Total Jumlah Responden (Orang) 12 18 9 1 0 40 Persentase 30.Berdasarkan umur. Adapun tujuan teknologi dan inovasi adalah untuk memperbaiki usahatani baik dari segi produksi atau produktivitas.5 %). sebagian besar responden terdiri atas petani dari kelompok umur di atas 60 tahun atau yang sudah berusia lanjut yaitu sebanyak 15 orang atau 37. Hanya satu orang diantara petani responden yang menyelesaikan pendidikan SLTP hingga tamat.5 %).50 2. Karakteristik petani responden berdasarkan tingkat pendidikan selengkapnya disajikan dalam Tabel 11. Petani responden lainnya yang juga jumlahnya tergolong sedikit berasal dari kelompok umur 20 hingga 30 tahun yang berjumlah 5 orang (12. Berdasarkan tingkat pendidikan. petani responden lebih banyak terkonsentrasi pada kelompok tidak tamat SD yaitu sebanyak 18 orang (45 %) dan kelompok yang tidak pernah mengikuti sekolah formal sama sekali yaitu sebanyak 12 orang (30 %).00 100.00 . Tabel 11.50 0.

3. Semua petani responden merupakan petani pemilik karena petani responden menggarap lahan tanpa mengeluarkan biaya sewa lahan.5 %). Status dan Luas Lahan Garapan Status lahan garapan berpengaruh kepada produktivitas usahatani. Hal ini disebabkan karena petani penyewa mempunyai kewajiban untuk memperhatikan nilai biaya sewa yang harus dibayar kepada pemilik lahan. Luas lahan garapan petani responden bervariasi mulai dari petani yang memiliki luas lahan garapan kurang dari 0.5 %). Sementara itu lahan yang berstatus milik send iri pada umumnya relatif kurang produktif daripada lahan yang berstatus sewa karena petani pemilik tidak pernah memperhitungkan biaya sewa lahan yang harus dikeluarkan. Data secara rinci .5 hektar sebanyak 8 orang (20 %). Sebagian besar petani responden memiliki luas lahan garapan antara 0. Sementara luas lahan garapan berpengaruh positif terhadap produktivitas usahatani dimana usahatani dengan luas lahan yang lebih besar akan memiliki produktivitas yang relatif lebih tinggi daripada usahatani dengan luas lahan yang lebih kecil. Petani responden yang memiliki luas lahan garapan kurang dari 0. Sedangkan petani yang memiliki luas lahan garapan lebih dari satu hektar hanya sebanyak 7 orang (17.5 hektar hingga petani yang memiliki luas lahan garapan lebih dari satu hektar. dan tidak ada diantara petani responden yang memiliki luas lahan garapan lebih dari 2 hektar. Lahan berstatus sewa menyebabkan petani penyewa akan lebih terpacu untuk selalu lebih efisien dalam mengelola lahan agar produktivitas lahan lebih tinggi. Petani responden berdasarkan status pemilikan lahan dikelompokkan atas petani pemilik dan petani penggarap.5 sampai 1 hektar yaitu sebanyak 25 orang (62.

Pengalaman Berusahatani Padi Ladang Petani yang memiliki pengalaman berusahatani lebih lama akan lebih baik dan lebih matang dalam hal perencanaan usahatani karena lebih memahami berbagai aspek teknis dalam berusahatani.50 17.5 %).5 .00 4. Karakteristik Petani Responden Berdasarkan Luas Lahan Garapan Luas Lahan (ha) < 0.50 0. Gambaran petani berdasarkan pengalaman berusahatani secara rinci disajikan dalam Tabel 13.00 62.5 %). Kelompok antara 11 hingga 15 tahun sebanyak 9 orang (22. Tabel 12. dan kelompok antara 16 hingga 20 tahun sebanyak 8 orang (20 %).00 100. Sedangkan petani yang lain selebihnya tersebar dalam kelompok dengan pengalaman berusahatani padi ladang antara 5 hingga 10 tahun sebanyak 6 orang (15 %).5 0. Demikian juga dengan berbagai masalah non teknis yang biasanya dihadapi dalam berusahatani sehingga pada akhirnya produktivitasnya akan lebih tinggi.1 1–2 >2 Total Jumlah Responden (orang) 8 25 7 0 40 Persentase 20.mengenai karakteristik petani responden berdasarkan luas lahan garapan disajikan dalam Tabel 12. Kelompok petani responden dengan jumlah yang paling banyak berdasarkan pengalaman berusahatani adalah kelompok petani yang telah berusahatani padi ladang selama lebih dari 20 tahun yaitu sebanyak 15 orang (37. . Hanya sebagian kecil dari petani responden yang memiliki pengalaman berusahatani padi ladang kurang dari 5 tahun yaitu sebanyak 2 orang (5 %).

00 22. Selain itu para petani juga berusahatani padi ladang karena tidak memiliki keahlian lain selain bertani dan juga karena kondisi alam seperti ketersediaan air.Tabel 13. kesuburan tanah. Semakin banyak jumlah anggota keluarga maka semakin banyak pula tenaga kerja yang dapat digunakan dalam kegiatan produksi usahatani sehingga produktivitas akan lebih tinggi. Karakteristik Petani Responden Berdasarkan Pengalaman Usahatani Pengalaman Berusahatani Padi Ladang (Tahun) <5 5 -10 11-15 16-20 > 20 Total Jumlah Responden (Orang) 2 6 9 8 15 40 Persentase 5. Bertani padi ladang juga dilakukan secara turun temurun juga oleh karena faktor – faktor yang telah disebutkan di atas. 5. Petani yang memiliki usaha sampingan selain usahatani padi ladang memiliki usaha sampingan sebagai perangkat desa seperti Ketua RT ataupun sebagai Hansip atau Linmas (Perlindungan Masyarakat). Jumlah anggota keluarga juga akan berpengaruh terhadap jumlah tanggungan keluarga atau tingkat konsumsi rumahtangga.00 Seluruh petani responden menyatakan bahwa berusahatani padi ladang merupakan usaha pokok untuk memenuhi kebutuhan beras sehingga rumah tangga petani tidak perlu membeli beras untuk pangan sehari. Jumlah Anggota Keluarga Jumlah anggota keluarga akan mempengaruhi tingkat produktivitas kerja dikaitkan dengan jumlah penggunaan (sumbangan) tenaga kerja terhadap kegiatan produksi usahatani. .00 15. dan ketersediaan modal yang hanya sesuai dengan komoditas padi ladang.hari.50 100.00 37. dan demikian juga sebaliknya.50 20.

00 6.5 %) tergolong ke dalam kelompok dengan anggota keluarga antara 3 hingga 5 orang. Tabel 14.50 12. dan hanya sebanyak 5 rumah tangga (12. dalam artian apakah usahatani padi ladang merupakan mata pencaharian utama atau sampingan. .5 % ) dari keseluruhan responden yang memiliki anggota keluarga lebih dari 5 orang.00 67.Sebagian besar responden atau sebanyak 27 rumahtangga (67. Petani yang bermatapencaharian utama usahatani padi ladang akan lebih memfokuskan pekerjaan atau sumberdayanya terhadap usahatani padi ladang. Gambaran secara rinci mengenai karakteristik petani responden berdasarkan jumlah anggita keluarga disajikan dalam Tabel 14. Status Usahatani Padi Ladang Status Usahatani padi ladang.50 100. sehingga petani akan lebih mengusahakan peningkatan produksi dan produktivitas padi ladang daripada komoditi yang menjadi usahatani sampingan. Karakteristik Petani Responden Berdasarkan Jumlah Anggota Keluarga Kelompok < 3 orang 3 .5 orang > 5 orang Total Jumlah Anggota RT 8 27 5 40 Persentase 20. Seluruh petani yang menjadi responden menyatakan bahwa mereka memilih berusahatani padi ladang sebagai matapencaharian utama sehingga sumberdaya yang dimiliki petani dialokasikan terutama untuk usahatani padi ladang. akan mempengaruhi sikap petani dalam menentukaan komoditi usahatani mana yang akan menjadi prioritas (fokus) yang mendapat perhatian atau alokasi sumberdaya yang relatif lebih besar dan yang lebih kecil. sedangkan rata-rata rumah tangga petani responden memiliki sebanyak sekitar 4 orang.

Sehingga sumber pendapatan yang menjadi penunjang usahatani padi ladang adalah dengan dengan berkebun tetapi umumnya tidak dikelola secara baik atau tidak diusahakan secara kontinyu. sehingga tingkat pendapatan tersebut akan berpengaruh terhadap produktivitas usahatani. Keputusan yang diambil akan berpengaruh terhadap produktivitas dan kemajuan usahatani karena petani yang dinamis akan lebih mampu mengadopsi teknologi usahatani. Segala usaha yang bertujuan untuk peningkatan produktivitas usahatani terutama . Keputusan Bertani Padi Ladang Keputusan bertani padi ladang dalam menentukan jenis. Selain bertani. Pendapatan dari pekerjaan sampingan akan digunakan sebagai tambahan modal dalam penyediaan sarana produksi yang lebih banyak sehingga hasil produksi yang diperoleh akan lebih besar. dan teknik produksi lainnya petani bebas menentukan sendiri atau dipengaruhi adat istiadat setempat yang me ngikat kebebasan petani dalam mengambil keputusan usahatani. pola tanam. Teknologi dan inovasi bertujuan untuk meningkatkan produktivitas padi ladang dan taraf hidup petani. Pekerjaan Sampingan Jenis pekerjaan sampingan yang dimiliki petani akan berpengaruh terhadap pendapatan tambahan yang diperoleh rumahtangga. responden pada umumnya tidak memiliki pekerjaan sampingan untuk menambah pendapatan rumahtangga karena tidak mempunyai keahlian lain selain bertani. 8. Keseluruhan petani responden menyatakan bahwa keputusan dalam berusahatani diambil sendiri dengan kebebasan berdasarkan pemahaman dan pengalaman petani dan tidak terikat dengan aturan atau adat istiadat setempat.7.

Kondisi tempat tinggal petani responden dilihat berdasarkan kondisi lantai dibedakan menjadi lantai keramik. Semua petani responden memiliki tempat tinggal dengan lantai beralaskan tanah. dan lantai rumah. Atap petani responden seluruhnya masih menggunakan atap rumbia. semen atau ubin. Dinding atau tembok rumah petani responden dibedakan menjadi dinding permanen. Semua petani responden mempunyai tempat tinggal dengan dinding yang terbuat dari bilik bambu. Kondisi Tempat Tinggal Karakteristik petani responden berdasarkan kondisi tempat tinggal dilihat berdasarkan kondisi atap. semi permanen. kayu atau papan.padi ladang akan dilakukan petani sesuai dengan kemampuan sumberdayanya tanpa dipengaruhi faktor adat istiadat setempat. papan/kayu. . dan tanah. dinding. dan bilik bambu. Dari semua petani responden juga tidak ada yang mempunyai fasilitas kamar mandi atau WC yang tergolong layak. 9.

Jenis tanaman yang biasanya ditanam setelah padi ladang antara lain kacang tanah. Berdasarkan pengalaman tersebut jika petani memperkirakan bahwa musim hujan akan mulai berlangsung secara merata pada bulan tertentu. . Budidaya Padi Ladang Kegiatan berusahatani padi ladang di Desa Wanajaya dilakukan mulai dari kegiatan persiapan lahan dalam dengan mengolah lahan pada saat datangnya musim hujan sekitar bukan Oktober atau November tergantung perkiraan petani berdasarkan pengalamannya sampai dengan masa panen sekitar bulan Maret atau April. GAMBARAN USAHATANI PADI LADANG DI DESA WANAJAYA 6. dan tanaman palawija lainnya. Varietas jenis Ciherang juga dianggap sesuai dengan kondisi tanah dan iklim di Desa Wanajaya oleh para petani. Varietas padi ladang yang digunakan petani adalah jenis Ciherang yang sebenarnya merupakan varietas padi sawah. Persiapan Lahan Penentuan waktu yang paling tepat untuk mengolah tanah dilakukan petani berdasarkan pengalaman dari masa tanam sebelumnya.1. Kegiatan berusahatani padi ladang di Desa Wanajaya umumnya dilakukan dengan sistem monokultur dan tanam gilir. ubi kayu. maka sekitar dua minggu hingga satu bulan sebelum bulan tersebut merupakan saat yang paling tepat untuk melakukan pengolahan lahan.VI.1. Berdasarkan pengalaman petani di Desa Wanajaya varietas padi sawah jenis Ciherang dapat memberikan hasil yang relatif lebih tinggi jika ditanam di lahan kering daripada varietas pai ladang lainnya. 6.1. kacang panjang.

yaitu yang semula di atas atau di permukaan menjadi di bagian bawah dan demikian sebaliknya yang semula di bagian bawah menjadi di bagian atas. Pembalikan tanah bagian bawah ke atas betujuan untuk menganginkan tanah memberikan kesempatan bagi tanah untuk melepaskan racun-racun yang sangat mungkin terbentuk dalam tanah. Pada pengolahan pertama. mencangkul dilakukan sedemikian rupa sehingga tanahnya terbalik. Pengolahan ini dimaksudkan untuk mematikan dan membusukkan rerumputan yang semula terdapat di permukaan tanah dan kemudian akan terbenam ke bagian bawah tanah. Keadaaan ini dibiarkan selama dua minggu hingga rerumputan yang terbenam dianggap sudah membusuk atau melapuk dan racun-racun yang ada sudah menguap ke udara.Pengolahan tanah dilakukan petani responden dengan cara me ncangkul dengan menggunakan cangkul dan tidak ada petani responden yang menggunakan mesin atau ternak untuk membajak karena biaya penggunaan mesin pembajak (traktor) yang sangat tinggi dan karena tidak ada petani memiliki ternak pembajak sehingga kegiatan mencangkul tanah dilakukan hanya dengan mengandalkan tenaga manusia dari dalam maupun dari luar keluarga. Bagian atas tanah juga diolah sedemikian rupa dengan menggunakan garpu atau garu sehingga lahan yang akan ditanami padi menjadi sedatar mungkin. dilakukan pengolahan ketiga yang merupakan kegiatan . Pengolahan kedua merupakan penyisiran tanah yaitu mengusahakan agar tanah yang sebelumnya merupakan bongkahan atau gumpalan-gumpalan besar dipecahkan dan diremukkan hingga sekecil-kecilnya. Kemudian sekitar dua minggu setelah pengolahan kedua.

Kemudian pada tahap pengolahan ini juga diusahakan sedemikian rupa sehingga bagian tengah dari lahan yang diolah sedikit lebih tinggi daripada bagian pinggir lahan dengan maksud agar bagian tengah lahan tidak tergenang air jika hujan turun secara berlebihan tetapi akan mengalir ke bagian pinggir lahan. . 20 ribu per hari dengan jam kerja selama 6 jam.1.lubang tanam pada kedalaman sekitar 2 hingga 5 cm pada lahan yang sebelumnya sudah diolah terlebih dahulu. Setelah bulir ditugalkan ke dalam tiap-tiap lubang tanam kemudian ditutup kembali dengan maksud agar bulir yang ditugalkan tidak diganggu oleh burung atau binatang-binatang perusak atau pemakan bulir lainnya.2. Biaya upah yang berlaku secara umum bagi para buruh tani untuk proses pengolahan tanah adalah Rp. Pengolahan ketiga ini dilakukan sedemikian rupa sehingga arah dari pembajakan tanah pertama membentuk siku dengan arah dari pembajakan tanah kedua. terutama pada daerah berbukit.mencangkul tanah yang sebelumnya telah diremukkan dan diratakan pada pengolahan pertama dan kedua. sebab walaupun padi ladang sangat tergantung pada air hujan dalam pertumbuhannya namun air yang berlebihan juga akan menyebabkan kerusakan pada padi ladang. lahan dibuat berbentuk terasering untuk mencegah pengendapan air dan membentuk parit-parit untuk mencegah erosi agar kesuburan tanah tetap terjaga. kemudian ke dalam lubang dimasukkan sekitar 5 sampai 7 bulir padi jenis Ciherang dengan jarak tanam pada umumnya kira-kira 20 X 20 sentimeter hingga 30 X 30 sentimeter. Untuk lahan yang permukaannya miring. Penanaman Penanaman dilakukan dengan menggunakan alat tugal yang terbuat dari kayu untuk membuat lubang. 6.

dan sebagian petani memberikan pupuk Urea dan TSP dalam bentuk campuran dengan cara mencampurkan pupuk dengan benih padi pada saat penanaman. dan 75 kilogram K yang setara dengan 180 kilogram pupuk KCl per hektar per musim tanam. 10 kilogram P yang setara dengan 50 kilogram pupuk TSP. Penanaman padi ladang pada umumnya dilakukan dengan sistem padi-palawija atau padi-bera.3.1. Sementara untuk meningkatkan efisiensi pemupukan pupuk .Pola tanam yang umumnya digunakan petani responden adalah dengan sistem tanam gilir dan monokultur dengan menanam padi ladang kemudian menanam pisang di sekeliling lahan sebagai tanaman pencegah erosi. Pertanaman padi ladang yang ideal yaitu yang mampu menghasilkan padi dalam bentuk gabah kering sebanyak 5 ton per hektar menyerap unsur h dari dalam ara tanah antara lain sebanyak 40 kilogram N yang setara dengan 90 kilogram pupuk Urea. Pola tanam padi-bera yang dilakukan sebagian petani responden disebabkan modal awal untuk penanaman palawija setelah panen padi yang tidak mencukupi sehingga setelah masa panen padi ladang para petani lebih banyak yang memberakan lahannya untuk kemudian ditanami padi lagi pada musim hujan berikutnya. 6. dan agar laha n tetap subur dan hasil gabah tetap tinggi maka jerami juga harus dikembalikan ke lahan dan tanaman harus dipupuk (Hermawan. Pemupukan Pemupukan sangat perlu dilakukan untuk memperoleh hasil gabah yang maksimal terutama di lahan kering yang memiliki karakteristik marjinal. 2000). Pemupukan pertama dilakukan dengan menggunakan pupuk Urea dan TSP umumnya diberikan dengan cara disebarkan ke dalam lahan secara merata setelah penanaman benih.

Jenis pestisida yang banyak digunakan petani responden adalah decis untuk mencegah penyakit “kungkang” atau blast yang sering menyerang tanaman padi ladang di Desa Wanajaya. 22 ribu per 100 mililiter di kios tani yang terletak di ibukota kecamatan.1.nitrogen harus diberikan secara split atau terpisah (Puslitbang Tanaman Pangan. 1989). Pestisida jenis decis dibeli petani sekitar Rp. azodrin. Pengobatan dilakukan dengan cara penyemprotan antara sekali hingga dua kali penyemprotan dalam satu masa tanam tergantung kemampuan keuangan petani. Pengobatan Pengobatan dilakukan untuk mencegah atau membasmi hama dan penyakit yang menyerang tanaman padi ladang. dan lain. 6.4. Jenis obat lain yang juga digunakan petani adalah sidametrin. akodan. . elsan. Jenis penyakit ini menyebakan pembusukan pada batang padi sehingga mematikan tanaman padi. Petani di Desa Wanajaya umumnya membeli pupuk dalam bentuk campuran pupuk Urea dan TSP dan tidak ada petani responden yang menggunakan pupuk TSP. “mentul”. Harga pupuk yang sangat tinggi bagi petani menyebabkan penggunaan pupuk yang tidak optimal karena tidak sesuai dengan dosis pupuk ideal. trobos.lain. bahkan sebagian petani tidak menggunakan pupuk sama sekali. Jenis penyakit lain yang sering menyerang tanaman padi ladang di desa ini adalah “wereng”. Harga pupuk campuran Urea dan TSP rata-rata sekitar Rp 1400 per kilogram dengan cara membeli petani di kios tani yang terletak di ibukota kecamatan dengan uang tunai. dan hanya sebagian kecil petani yang menggunakan furadan.

Pada periode ini benih mulai bertumbuh sehingga pertumbuhan tanaman pengganggu seperti rerumputan. Pemanenan Umur panen untuk varietas Ciherang yang digunakan petani responden rata-rata berumur 120 hingga 150 hari sejak ditanam. Hasil panen padi ladang digunakan untuk kebutuhan makanan pokok dan sebagian disimpan di lumbung padi untuk nantinya digunakan sebagai benih di musim tanam berikutnya jika tidak memiliki uang tunai untuk membeli benih dari kios atau toko dengan resiko kualitas yang jelas lebih rendah.5.1. Sebagian padi yang disimpan juga digunakan untuk tujuan berjaga-jaga atau untuk mengantisipasi kebutuhan mendesak rumah . Proses penyiangan sebagian besar dilakukan oleh tenaga kerja wanita baik dari dalam maupuan dari luar keluarga. akan menjadi saingan berat bagi tanaman utama dalam memperoleh unsur hara dari dalam tanah bahkan dapat mematikan tanaman utama. atau gulma jika tidak segera dimusnahkan. per hari dengan jam kerja selama 6 jam kerja per hari. Upah yang berlaku secara umum untuk proses penyiangan adalah sekitar Rp.6. Proses penyiangan dilakukan sekitar sebulan setelah benih ditanamkan atau ditugalkan dengan menggunakan sabit atau “kored” dan cangkul. Penyiangan Penyiangan dilakukan untuk membersihkan lahan dari gulma atau tanaman pengganggu tanaman utama (padi ladang). Petani melakukan penyiangan antara satu kali hingga dua kali berdasarkan intensitas serangan gulma. semak belukar.6. 6.6000 untuk setiap tenaga kerja yang umumnya adalah wanita.1.

lain. dan pajak usahatani yang dikeluarkan petani selama proses produksi padi ladang. . nilai tenaga kerja dalam keluarga.2. pestisida atau obat-obatan pemberantas hama dan penyakit tanaman. biaya pengobatan dan kebutuhan-kebutuhan lainnya. Proses pengeringan padi dilakukan pada media tikar atau kuda-kuda bambu atau plastik terval di halaman rumah masing. Biaya tunai didefinisikan sebagai biaya untuk pupuk. tenaga kerja luar keluarga. Struktur Biaya Biaya yang dikeluarkan petani terdiri dari biaya tunai dan biaya diperhitungkan.masing petani. 6. cangkul. Pemanenan biasanya dilakukan dengan mengupah buruh tani dengan sistem “bawon” yaitu dengan menggunakan seperlima dari hasil panen keseluruhan sebagai upah keseluruhan pekerja pemanen dalam bentuk gabah kering panen. dan lain. Padi yang sudah kering dan siap untuk digiling dibawa ke tempat penggilingan padi dan diolah hingga dalam bentuk beras dengan biaya pengolahan sebesar 100 kilogram beras untuk setiap satu ton beras yang telah diolah dengan menyesuaikan harga beras pada saat itu atau dalam bentuk uang tunai. Biaya-biaya yang dikeluarkan petani padi ladang dapat dilihat dalam Tabel 15. Pengeluaran usahatani yang termasuk dalam biaya diperhitungkan adalah pengeluaran usahatani yang dikeluarkan petani tetapi tidak secara tunai seperti biaya benih. dan penyusutan alat-alat pertanian.hari seperti biaya pendidikan anak. Proses pemanenan dilakukan dengan menggunakan alat-alat yang masih tradisional seperti sabit atau “kored”.tangga sehari.

6.1.6.000. analisis pendapatan dilakukan untuk satu musim tanam.8 1.454.46.92 25.000.144.420.33 6.54.103.- 6.173. Dalam penelitian ini.431. Kegiatan usahatani padi ladang dimulai dari awal musim hujan sekitar bulan Oktober dan November hingga masa panen pada bulan April. Analisis yang dilakukan meliputi analisis pendapatan atas biaya total dan analisis pendapatan atas biaya tunai.34 Harga/satuan (Rp) 1.200.Tabel 15. Perhitungan pendapatan usahatani padi ladang ini dilakukan untuk rata-rata per satu hektar lahan.550.64 65.7 48.407.20.41 3.622. seperti di daerah lain pada umumnya.49 74.000. Biaya-biaya yang Dikeluarkan Petani Padi Ladang per Hektar per Musim Tanam di Desa Wanajaya Tahun 2005 Komponen BIAYA TUNAI Pupuk Pestisida Tenaga Kerja Luar Keluarga Pajak Usahatani Total Biaya Tunai BIAYA DIPERHITUNGKAN Benih Tenaga Kerja Dalam Keluarga Penyusutan Peralatan Total Biaya Diperhitungkan BIAYA TOTAL Satuan Kg Liter HOK Rp Rp Kg HOK Rp Rp Rp Jumlah 110.424.53 2.Persentase 7. Analisis Pendapatan Analisis pendapatan dilakukan untuk menentukan nilai yang diperoleh petani dari kegiatan berusahatani padi ladang. maka kegiatan usahatani padi ladang di Desa Wanajaya dilakukan dalam satu musim tanam.724.414.290.840.37 2.34 0.574. .Nilai (Rp) 161.67 100.79.040.00 60 237.1.65 13. dalam satu tahun. Karena sifat padi ladang yang menggantungkan pengairan pada curah hujan.2.3.220.

654. maka usahatani padi ladang tidak menguntungkan bagi petani. maka petani akan memperoleh penerimaan sebesar Rp 0.574 per hektar per musim tanam sehingga pendapatan atas biaya tunai sebesar Rp 1.574. Harga jual gabah kering pada masa panen rata-rata sebesar Rp 1. Analisis Imbangan Penerimaan dan Biaya (Analisis R/C ratio) Dari hasil analisis pendapatan dan biaya usahatani padi ladang didapat rasio R/C atas biaya total sebesar 0.76 Produksi rata-rata padi ladang yang dihasilkan sebesar 1.76.104.654.-520.76. 6. besar rata-rata biaya tunai yang dikeluarkan petani di daerah penelitian sebesar Rp 550.1.1.Tabel 16. Sedangkan rasio R/C atas biaya tunai adalah sebesar 3.326.900 per hektar per musim tanam. Biaya total yang dikeluarkan petani dalam proses produksi rata-rata sebesar Rp 2. Artinya bahwa untuk setiap satu rupiah biaya total yang dikeluarkan dalam usahatani padi ladang.175.273 kilogram per hektar per musim tanam dalam bentuk gabah kering giling.4.3.180. Sedangkan.900.625.01 yang berarti bahwa untuk setiap satu rupiah biaya tunai yang .754 per hektar per musim tanam sehingga pendapatan atas biaya totalnya sebesar Rp -520. Analisis Pendapatan Cabang Usahatani Padi Ladang per Hektar per Musim Tanam di Desa Wanajaya Tahun 2005 Komponen TOTAL PENERIMAAN Total Biaya Tunai Total Biaya Diperhitungkan BIAYA TOTAL USAHATANI PENDAPATAN ATAS BIAYA TOTAL PENDAPATAN ATAS BIAYA TUNAI R/C ATAS BIAYA TUNAI R/C ATAS BIAYA TOTAL Nilai (Rupiah) 1. sehingga ratarata penerimaan petani sebesar Rp 1.300 per kilogram.854.854.326.754.104.2.01 0.175.550. Sehingga jika dilihat dari sisi pendapatan atas biaya total.

maka dapat disimpulkan bahwa usahatani padi ladang di daerah penelitian tidak menguntungkan bagi petani. maka petani akan memperoleh penerimaan sebesar Rp 3.01. .dikeluarkan untuk usahatani padi ladang. Syarat suatu usahatani dikatakan menguntungkan jika rasio R/C atas biaya total lebih besar dari 1.76. Berdasarkan nilai rasio R/ C atas biaya total yang lebih kecil dari 1 yaitu sebesar 0.

didapat nilai F. Tabel 17.hitung sebesar 8. . dan pestisida. Faktor.2539 F . ANALISIS FAKTOR-FAKTOR PRODUKSI DAN EFISIENSI EKONOMI CABANG USAHATANI PADI LADANG 7.hitung 8. seperti yang ditunjukkan dalam Tabel 17.2161 7. tenaga kerja dalam keluarga.6180 18. tenaga kerja luar keluarga.2432 0.8341 Kuadrat Tengah 2. benih. Analisis Fungsi Produksi Model fungsi produksi yang digunakan untuk menduga fungsi produksi dalam penelitian ini adalah model fungsi produksi Cobb-Douglas.83 yang signifikan pada taraf kepercayaan 95 persen.faktor produksi yang diduga berpengaruh dalam usahatani padi ladang adalah pupuk.faktor produksi yang digunakan secara bersama-sama berpengaruh signifikan terhadap produksi padi ladang. Hasil pendugaan model dan hubungan antara variabel bebas yaitu faktor.1.faktor produksi dengan variabel dependen yaitu produksi padi ladang dapat dilihat dalam Tabel 17. Ini berarti bahwa faktor.000 Berdasarkan pendugaan model produksi yang diperoleh.83 Peluang 0.VII. Analisis Ragam Produksi Cabang Usahatani Padi Ladang di Desa Wanajaya Sumber Ragam Regresi Galat Total Derajat Bebas 5 30 35 Jumlah Kuadrat 11.

196 Ln Tenaga Kerja Luar RT 0.3 Berdasarkan data pada Tabel 18.61 2.989 Konstanta 0.5302 Ln Tenaga Kerja Luar Keluarga + 0.069 0. tenaga kerja luar keluarga.6% R-Sq (adjusted) = 52.004 + 0.2484 Ln Pupuk + 0.48 1.545 0.011 0.06968 Ln Pestisida Dari hasil pendugaan model ditunjukkan juga bahwa nilai koefisien determinasi (R2 ) didapat sebesar 59.8% Variabel Koefisien Regresi T Hitung 0.8 persen.217 0.faktor lain di luar model fungsi produksi yang diduga juga berpengaruh terhadap produksi padi ladang adalah tingkat kesuburan lahan. Nilai koefisien determinasi (R2 ) tersebut berarti bahwa sebesar 59.69 3. faktor.4 persen lagi dipengaruhi oleh faktor.068 Ln Tenaga Kerja Dalam RT 0.999 0. dan pestisida sedangkan sebesar 40.06 Pvalue 0.632 0.6 persen dengan nilai koefisien determinasi terkoreksi (R2 -adjusted) sebesar 52.405 Ln Pupuk 0.3 1.19 0.530 0. intensitas serangan hama dan penyakit tanaman. dan ketertarikan petani yang kurang untuk meningkatkan produksi dan produktivitas usahatani padi ladang akibat ketidakjelasan status kepemilikan atas lahan yang diusahakan petani dan karena . tenaga kerja dalam keluarga.248 0.296 VIF 1.faktor lain di luar model.8 1.2 2.1013 Ln Benih + 0. benih.00 0. Hasil Analisis Pendugaan Fungsi Produksi Usahatani Padi Ladang di Desa Wanajaya Simpangan Baku Koefisien 0. Berdasarkan pengamatan di lokasi penelitian.21728 Ln Tenaga Kerja Dalam Keluarga + 0.209 Ln Benih 0.004 1.6 persen dari variasi produksi dapat dijelaskan secara bersama-sama oleh faktor pupuk.3 1. maka model fungsi produksi padi ladang per hektar dapat diduga dengan persamaan sebagai berikut : Ln Produktivitas = 0. Di samping itu faktor iklim.101 0.003 0.Tabel 18.065 Ln Pestisida R-Sq = 59.

17. Dengan nilai elastisitas produksi sebesar 1. maka produksi padi ladang akan meningkat sebesar 0. Nilai elastisitas pupuk sebesar 0.17 persen.17. dan pestisida tidak signifikan pada taraf kepercayaan yang ditetapkan. Nilai t hitung untuk tenaga kerja dalam keluarga dan tenaga kerja luar keluarga berpengaruh nyata terhadap nilai produksi pada taraf kepercayaan 99 persen (a = 0.2484 persen dengan asumsi ceteris paribus. 7. Karena jumlah nilai elastisitas faktor produksi lebih besar dari 1. Angka ini merupakan penjumlahan dari koefisien regresi faktor produksi yang dalam hal ini dianggap sebagai nilai elastisitas dari faktor tersebut.cabang usahatani padi ladang tidak menguntungkan turut mempengaruhi produksi padi ladang. maka dapat disimpulkan bahwa usahatani padi ladang berada dalam daerah produksi increasing return to scale. benih.2. berarti jika penggunaan pupuk ditingkatkan sebesar satu persen.masing variabel terhadap produksi adalah sebagai berikut : Berdasarkan Tabel 18 didapat bahwa jumlah nilai elastisitas faktor-faktor produksi sebesar 1. berarti setiap penambahan faktor produksi secara bersama-sama sebesar 1 persen.masing variabel tersebut.2484. maka akan meningkatkan produksi sebesar 1.05). Namun berdasarkan uji t diperoleh bahwa faktor produksi pupuk tidak berpengaruh nyata terhadap produksi padi l dang. Sedangkan pengaruh faktor pupuk. Elastisitas Produksi dan Skala Usaha Dalam model fungsi produksi Cobb-Douglas nilai koefisien regresi merupakan nilai elastisitas dari masing. Hal ini dikarenakan penggunaan pupuk diantara petani a . Pengaruh masing.

Sehingga secara keseluruhan disimpulkan bahwa tingkat kesuburan tanah di lokasi penelitian tergolong rendah. nilai pH di lokasi penelitian adalah 4 sampai 5 sehingga termasuk tanah asam. Pada tanah asam biasa dijumpai gejala keracunan unsur Fe yang dicirikan adanya bercak-bercak pada daun berwarna kuning kemerahan. cukup dengan tindakan yang sama yaitu dengan pemupukan bahan organik (pupuk kandang). bertekstur lempung. struktur gumpal/keras. dan pH (derajat keasaman) yang merupakan tiga indikator kesuburan tanah. Derajat keasaman (pH) tanah yang rendah dapat ditingkatakan dengan program pengapuran. KB (Kejenuhan Basa). Unsur Al ini selain bersifat racun bagi tanaman juga bersifat mengikat fosfor (P2 O5 ). Kesuburan tanah diukur dengan menggunakan tiga indikator yaitu nilai pH. dan kejenuhan basa (KB).cenderung sama. Dengan menggunakan ketiga indikator tersebut. Menurut Badan Perencana Pembangunan Daerah (BAPPEDA) Kabupaten Karawang dalam Laporan Studi Penanganan dan Pemanfaatan Lahan Kritis di Kabupaten Karawang Tahun 2003. Pada tanah-tanah asam banyak ditemukan unsur Aluminium dapat ditukar (Aldd). Tindakan untuk mengatasi masalah KTK (Kapasitas Tukar Kation). tanah di daerah penelitian termasuk jenis latosol. Sedangkan kapasitas tukar kation (KTK) dan kejenuhan basa (KB) di lokasi penelitian termasuk dalam kelompok sedang. Selain itu dapat juga dilakukan dengan . sehingga tidak ditemukan adanya variasi data penggunaan pupuk. sehingga menjadi tidak tersedia atau tidak dapat diserap tanaman. dan solum dalam. Jenis latosol merah coklat kekuningan. kapasitas tukar kation (KTK).

sedangkan untuk pupuk kandang nilai rata-ratanya adalah tiga kali dari dosis pengapuran. tetapi bila sudah diberi kapur tidak perlu lagi menggunakan pupuk kandang. Pupuk TSP sebanyak 100 kilogram per hektar. Berdasarkan uji t diperoleh bahwa faktor tenaga kerja luar keluarga berpengaruh nyata terhadap produksi padi ladang pada taraf kepercayaan 98 persen. Sedangkan untuk dosis atau takaran pupuk yang dianjurkan BAPPEDA dalam budidaya padi ladang adalah Urea sebanyak 100 kilogram per hektar dengan tiga kali pemberian.pengapuran menggunakan jenis kapur tanah CaCO3 sebelum penanaman karena ketiga parameter kesuburan tersebut intinya saling berhubungan. masing. Tenaga kerja luar keluarga mempunyai nilai elastisitas sebesar 0. dan KCl 100 kilogram per hektar yang masing. Pupuk yang digunakan di lokasi penelitian rata-rata sebanyak 110. pada stadia vegetatif (umur tanaman 14.5 ton per hektar.35. dan tidak ada petani yang menggunakan pupuk KCl.5302 persen. Hal ini menyebabkan faktor produksi pupuk tidak elastis terhadap peningkatan hasil produksi padi ladang.8 kilogram per hektar Urea dan TSP dalam bentuk campuran yang diberikan sekaligus pada saat penanaman.4 sampai 0. Budaya gotong royong para petani dalam melakukan penanaman di lokasi . Dosis pemberian kapur adalah 0. dan 49 hari setelah tanam). berarti setiap penambahan faktor tenaga kerja luar keluarga (ceteris paribus) sebesar satu persen.masing sepertiga bagian untuk pupuk dasar. Pemberian pupuk kandang atau pengapuran sebelum penanaman juga tidak dilakukan petani.5302. maka produksi padi ladang akan meningkat sebesar 0.masing diberikan sekaligus saat tanam.

Namun tidak demikian halnya dengan faktor produksi benih. Elastisitas faktor produksi benih yang rendah terhadap peningkatan produksi diduga disebabkan karena penggunaan varietas benih yang tidak tepat. yang berarti jika faktor tenaga kerja dalam keluarga ditingkatkan sebesar sepuluh persen. tetapi kelembaban yang tinggi dan periode pengembunan yang panjang akan menyebabkan resiko untuk terserang penyakit blast (bercak putih pada akar) menjadi lebih besar. Faktor ini tidak berpengaruh nyata terhadap produksi padi ladang pada taraf kepercayaan sebesar 90 persen. Dalam melakukan pengolahan mulai dari persiapan lahan. maka produksi padi ladang akan meningkat sebesar 2. demikian .1013 persen dengan asumsi ceteris paribus. Seperti halnya tenaga kerja luar keluarga.penelitian diduga menjadi penyebab elastisnya peningkatan faktor tenaga kerja luar keluarga terhadap peningkatan produksi. Penyakit blast merupakan jenis penyakit yang paling penting dan paling sering dijumpai dalam budidaya padi ladang pada umumnya.1728 persen (ceteris paribus).21728. Petani di lokasi penelitian menggunakan benih jenis Ciherang yang sebenarnya adalah benih yang umumnya digunakan dalam padi sawah. Menurut petani setempat benih jenis ini menghasilkan gabah yang lebih banyak daripada varietas padi yang disarankan untuk padi ladang dalam kondisi normal. tenaga kerja dalam keluarga juga berpengaruh nyata terhadap produksi padi ladang pada taraf kepercayaan 99 persen. Penambahan faktor produksi benih sebesar satu persen akan cenderung meningkatkan produksi padi ladang sebesar 0. penyiangan. hingga pemanenan petani lebih banyak mengandalkan tenaga kerja dalam keluarga. Adapun nilai elastisitas tenaga kerja dalam keluarga adalah sebesar 0.

Faktor produksi pestisida tidak berpengaruh nyata pada taraf kepercayaan 90 persen tetapi berpengaruh nyata pada taraf kepercayaan 70 persen terhadap produksi padi ladang. Rendahnya elastisitas faktor produksi pestisida terhadap peningkatan produksi menunjukkan bahwa penggunaan pestisida oleh petani tidak berfungsi secara efektif dalam mengurangi atau membasmi hama dan penyakit yang menyerang padi ladang karena jumlah atau jenis pestisida yang belum tepat. maka faktor yang berpengaruh nyata terhadap produksi padi ladang di Desa Wanajaya adalah faktor tenaga kerja dalam dan luar keluarga. Tenaga kerja luar keluarga akan bekerja lebih optimal dibandingkan dengan tenaga kerja dalam keluarga.juga di lokasi penelitian. Elastisitas faktor produksi pestisida adalah sebesar 0. Dan jika dilihat dari besaran nilai elastisitas. Jadi jika dilihat secara keseluruhan. yang berarti setiap kenaikan penggunaan pestisida sebesar satu persen akan cenderung meningkatkan produksi padi ladang sebesar 0. Hal ini disebabkan oleh tenaga kerja luar keluarga akan bekerja lebih optimal dibandingkan dengan tenaga kerja dalam keluarga.06968. maka faktor yang paling responsif terhadap produksi padi ladang adalah tenaga kerja luar keluarga dengan nilai elastisitas sebesar 0. Penyakit blast dapat menurunkan hasil panen bahkan menggagalkan pertanaman padi ladang.06986 persen dengan asumsi ceteris paribus. upah yang telah disepakati. Petani tidak menggunakan varietas padi ladang karena produktivitas yang lebih rendah. Petani yang . Tenaga kerja luar keluarga melakukan pekerjaan dengan jam kerja yang telah ditentukan sebelumnya.5302. dan juga target kerja yang ditentukan sebelumnya.

syarat kecukupan dapat berbeda pada setiap usahatani atau individu dan merupakan efisiensi yang subjektif. Tingkat efisiensi ekonomis dari penggunaan faktor. Terpenuhi atau tidaknya kedua syarat tersebut dapat diketahui dengan menggunakan sebuah persamaan yaitu perbandingan antara Value Marginal Product (PyMPxi) atau disebut juga Nilai Produk Marjinal (NPM).faktor produksi dapat dilihat dari besarnya rasio Nilai Produk Marjinal dengan Biaya Korbanan Marjinal per periode produksi. Jika rasio NPM dengan BKM lebih besar dari satu. Syarat keharusan (Necessary Condition) dipenuhi pada saat tidak ada lagi kemungkinan lain dalam penggunaan input yang lebih sedikit untuk menghasilkan nilai produksi yang sama. Berbeda dengan syarat keharusan yang objektif. Faktor.3.faktor produksi yang dapat dianalisis adalah faktorfaktor produksi yang bersifat fisik dan yang dapat dinilai dengan rupiah. maka penggunaan faktor. untuk mencapai keuntungan yang maksimal. atau ketika elastisitas produksi lebih besar atau sama dengan nol dan lebih lebih kecil atau sama dengan satu (≤ εp ≤ 1).faktor . dan Marginal Factor Cost (MFC) atau yang sering disebut dengan Biaya Korbanan Marjinal (BKM).masing faktor produksi itu sendiri. suatu usaha tani harus memenuhi dua syarat yaitu syarat keharusan (Necessary Condition) dan syarat kecukupan (Sufficient Condition).menggunakan tenaga kerja luar keluarga akan mengoptimalkan kerja buruh tani agar target kerja yang diinginkan tercapai. Analisis Efisiensi Ekonomi Menurut Doll dan Orazem (1984). 7. Nilai Produk Marjinal merupakan hasil kali antara harga produk dengan Produk Marjinal (PM) sementara Biaya Korbanan Marjinal (BKM) sama dengan harga dari masing.

162 1.027 0.2172 Benih 60. Rasio-rasio NPM dengan BKM dari setiap faktor produksi menunjukkan bahwa penggunaan faktor.44 1515.produksi disebut belum efisien dan perlu ditingkatkan penggunaannya untuk mencapai keuntungan maksimum.05 18162. karena nilai.5302 Tenaga Kerja Dalam RT 237. Rasio NPM dengan BKM yang lebih kecil dari satu menunjukkan bahwa penggunaan faktor.79 Harga Rata -rata/unit Output (Rp/Kg) 1300 Keterangan : NPM = Nilai Produk Marjinal BKM = Biaya Korbanan Marjinal Variabel NPM 3712.453 Tabel 19 menunjukkan penggunaan faktor-faktor produksi aktual dan rasio Nilai Produk Marjinal (NPM) dengan Biaya Korbanan Marjinal (BKM) pada usahatani padi ladang di Desa Wanajaya.2484 Tenaga Kerja Luar RT 48.81 0. Rasio .75 67873.34 0. Rasio NPM dengan BKM yang sama dengan satu untuk semua faktorfaktor produksi menunjukkan bahwa penggunaan faktor. Rasio NPM dan BKM usahatani padi ladang di Desa Wanajaya ditunjukkan dalam Tabel 21.nilai rasio NPM dan BKM tidak ada yang sama dengan satu.faktor produksi telah melebihi batas optimal sehingga untuk mencapai keuntungan maksimum maka penggunaannya harus dikurangi. Rasio Nilai Produk Marjinal dengan Biaya Korbanan Marjinal Usahatani Padi Ladang Di Desa Wanajaya Penggunaan Koefisien Rata-rata Regresi Aktual Pupuk 110.faktor produksi dalam usahatani tersebut tepat berada pada kondisi optimal dan telah mencapai keuntungam maksimum sehingga usahatani dapat dikatakan telah efisien secara ekonomis.553 3.00 0. Tabel 19.70 0.252 1.22 2795.50 BKM 1454 6000 6000 2407 46724 NPM/ BKM 2.0696 Produksi Rata-rata (Kg/Ha) 1273.37 0.1013 Pestisida 1.faktor produksi dalam usahatani padi ladang di Desa Wanajaya tidak efisien secara ekonomis.

maka penggunaan tenaga kerja luar keluarga memerlukan penambahan yang relatif lebih besar agar dicapai tingkat efisien. Berdasarkan nilai rasio ini. Rasio NPM dan BKM yang paling besar adalah pada faktor tenaga kerja luar keluarga yaitu sebesar 3. sehingga pupuk dan pestisida hanya digunakan berdasarkan kemampuan finansial petani. Penggunaan benih yang tidak efisien juga disebabkan oleh ketidakmampuan petani secara finansial untuk membeli benih yang memiliki harga beli yang tinggi. Penggunaan faktor produksi pestisida dan pupuk yang rendah ini disebabkan oleh keterbatasan modal yang dimiliki petani untuk membeli pupuk dan pestisida dalam jumlah yang lebih besar yang sesuai dengan kebutuhan usahatani berdasarkan kondisi kesuburan dan kandungan hara tanah.faktor produksi pada usahatani padi ladang belum optimal pada jumlah produksi yang sama. sehingga benih yang digunakan petani adalah gabah yang merupakan sisa hasil panen dari musim tanam sebelumnya dengan mutu yang lebih rendah daripada benih komersial. tenaga kerja luar keluarga. dan pestisida masing. Sedangkan untuk faktor tenaga kerja dalam keluarga didapat nilai rasio NPM dan BKM yang lebih kecil dari satu.ini juga berarti bahwa penggunaan faktor. yang berarti bahwa penggunaan faktor .027.masing lebih besar dari satu. Rendahnya penggunaan tenaga kerja luar keluarga disebabkan oleh keterbatasan modal petani untuk mengupah tenaga kerja luar keluarga yang lebih besar. Nilai rasio ini mengandung arti bahwa penggunaan faktor– faktor produksi tersebut masih kurang dan masih dapat ditingkatkan lagi agar dicapai tingkat penggunaan yang efisien atau optimal. Pada Tabel 19 dapat dilihat bahwa rasio NPM dan BKM untuk faktor produksi pupuk. benih.

51.94 69.33 59. . Kombinasi optimal dari penggunaan faktor-faktor produksi akan diperoleh jika Nilai Produk Marjinal sama dengan Biaya Korbanan Marjinal atau jika rasio Nilai Produk Marjinal dan Biaya Korbanan Marjinal sama dengan satu. Pada Tabel 20 dapat dilihat kombinasi faktor.79 Harga Rata -rata/unit Output (Rp/Kg) 1300 Keterangan : NPM = Nilai Produk Marjinal BKM = Biaya Korbanan Marjinal Variabel Penggunaan Optimal 282.47 NPM 1454 6000 6000 2407 46724 BKM 1454 6000 6000 2407 46724 NPM/ BKM 1 1 1 1 1 Berdasarkan Tabel 20 di atas diperoleh nilai penggunaan optimal dari faktor pupuk sebesar 282. maka penggunaan tenaga kerja dalam keluarga harus dikurangi.1013 Pestisida 0.51 146.2484 Tenaga Kerja Luar RT 0. Kombinasi Optimal dari Faktor-Faktor Produksi Usahatani Padi Ladang Di Desa Wanajaya Koefisien Regresi Pupuk 0.produksi ini berlebihan atau tidak efisien. sehingga untuk mencapai tingkat efisien.5302 Tenaga Kerja Dalam RT 0.69 2. Efisiensi penggunaan faktor. Rendahnya tingkat pendidikan petani menyebabkan mereka tidak memiliki keahlian atau pekerjaan lain selain berusahatani padi ladang sehingga tenaga kerja dalam keluarga yang digunakan dalam usahatani menjadi relatif lebih besar. Tabel 20.faktor produksi dapat dicapai dengan menggunakan kombinasi optimal dari faktor-faktor produksi. Nilai ini berarti untuk mencapai tingkat efisien.faktor produksi yang menghasilkan penggunaan input yang efisien.2172 Benih 0. Penggunaan yang berlebih ini terjadi karena usahatani padi ladang merupakan usahatani utama dan sumber makanan pokok keluarga petani sehingga alokasi tenaga kerja untuk usahatani padi ladang relatif lebih besar.0696 Produksi Rata-rata (Kg/Ha) 1273.

penggunaannya harus ditingkatkan dari sebesar 1.51 kilogram. penggunaan benih yang semula sebesar 60 kilogram harus ditingkatkan menjadi 69.penggunaan pupuk harus ditingkatkan dari penggunaan aktualnya sebesar 110. Jika dilihat dari segi rasio NPM dan BKM.81 kilogram menjadi sebesar 282.69 kilogram agar dicapai tingkat efisiensi.33.34 HOK harus ditingkatkan menjadi 146.7 liter dalam penggunaan aktualnya menjadi sebesar 2.47 liter agar dicapai tingkat efisiensi.37 HOK menjadi sebesar 59. Sementara nilai penggunaan tenaga kerja dalam keluarga harus dikurangi dari yang semula sebesar 237.34 HOK agar dicapai tingkat efisien. Untuk faktor produksi pestisida. yang berarti bahwa penggunaan tenaga kerja luar keluarga yang semula sebesar 48. .94 HOK agar penggunaan faktor produksi ini efisien. Nilai penggunaan optimal dari faktor tenaga kerja luar keluarga adalah sebesar 146.

. Kemudian dengan analisis imbangan penerimaan dan biaya (analisis R/C ratio).7 liter dalam penggunaan aktualnya menjadi sebesar 2.94 HOK.VIII.854. faktor produksi pestisida harus ditingkatkan dari sebesar 1.51.47 liter. 3.1. sehingga dapat disimpulkan bahwa cabang usahatani padi ladang di Desa Wanajaya tidak menguntungkan bagi petani. 2.76 (lebih kecil dari satu). Penggunaan faktor-faktor produksi yang efisien secara ekonomis dicapai pada saat penggunaan faktor pupuk sebesar 282.-520.326.sedangkan pendapatan atas biaya total adalah Rp. penggunaan tenaga kerja dalam keluarga harus dikurangi dari yang semula sebesar 237.33 HOK.37 HOK menjadi sebesar 59. Pendapatan atas biaya tunai adalah Rp.104. faktor tenaga kerja luar keluarga sebesar 146. Faktor-faktor produksi yang berpengaruh nyata terhadap produksi padi ladang adalah tenaga kerja luar keluarga dan tenaga kerja dalam keluarga.69 kilogram.. yang nyata pada taraf kepercayaan 99 persen. KESIMPULAN DAN SARAN 8.-. maka dapat diambil beberapa kesimpulan yaitu : 1. benih. Sedangkan faktor pupuk. dan pestisida tidak berpengaruh nyata pada taraf kepercayaan yang ditetapkan. diperoleh nilai rasio R/C atas biaya total sebesar 0.1. Kesimpulan Berdasarkan hasil dan pembahasan dalam penelitian ini. penggunaan benih yang semula sebesar 60 kilogram harus ditingkatkan menjadi 69.

Saran Berdasarkan hasil dan pembahasan serta simpulan. pestisida tenaga kerja luar harus ditingkatkan dari penggunaan aktualnya supaya usahatani padi ladang yang dilakukan lebih efisien dan menguntungkan bagi petani.2. benih. . Penggunaan faktor produksi pupuk.8. Pemberian bimbingan dan penyuluhan dari instansi terkait mengenai teknik budidaya padi ladang yang tepat seperti kombinasi penggunaan pupuk dan pestisida yang tepat dan pola tanam yang tepat untuk mencapai usahatani padi ladang yang lebih produktif dan menguntungkan. maka disarankan untuk: 1. 2.

Sumatera Selatan. Dahlia. Pola Adaptasi Peladang Berpindah di Pemukiman (Kasus Peladang Berpindah di Perkebunan HTI. Gupta PC. Kabupaten Karawang. Bogor. Kecamatan Cimalaya. Yayasan Obor Bhratara Karya Aksara. Laporan Draft Final Studi Penanganan dan Pemanfaatan Lahan Kritis Di Kabupaten Karawang Tahun Anggaran 2003. 2003. Institut Pertanian Bogor. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian. Direktorat Jenderal Pertanian. Jawa Barat). 1983. Basyir. Basic Econometric. New York. Skripsi. Edisi Kedua. Pedoman bercocok tanam padi. sayur-sayuran. Noorsanti Uceu.B. Perkembangan Tingkat Produksi. Second Edition. Ariyanti.. Production Economic Theory with Aplications. 1995-1998. Jakarta. Fakultas Pertanian. Bogor. Bogor. Tauhid. Skripsi. Bogor. Doll. 1988. Vademekum Sumberdaya. Kanada. Produktivitas dan Pendapatan Petani Padi Dihubungkan Dengan Kebijaksanaan Harga Dasar Gabah dan Harga Sarana Produksi (Studi Kasus : Desa Sukatani. PT. Padi Gogo. Badan Perencana Pembangunan Daerah Pemerintah Kabupaten Karawang. Hariyanto. Los Banos. 1999. C. Sadhya Grahacara. Malang. Departemen Pertanian. O’Toole JC. Fakultas Petanian. Suyamto dan Supriyatin. John Wiley and Sons. Skripsi. Balai Penelitian Tanaman Pangan Malang. Propinsi Jawa Barat. Tesis. Jawa Tengah. Punarto S. 1998. Damodar N. Departemen Pertanian Satuan Pengendali Bimas.. 1984. Involusi Pertanian : Proses Perubahan Ekologi di Indonesia. Mc. . John dan Frank Orazem. P.Graw –Hill.DAFTAR PUSTAKA Ahmad. Institut Pertanian Bogor. Institut Pertanian Bogor. Jakarta. Jakarta. Diana. A. Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan. Interna tional Rice Research Institute. 2002. Gujarati. Philippines. Institut Pertanian Bogor. Fakultas Pertanian. Fakultas Pertanian. 1994. Karawang. 1963. Upland rice : a global perspective. Geertz. 1995. palawija. 1986. Analisis Peningkatan Pendapatan Petani Melalui Penyimpanan Gabah di Kabupaten Indramayu dan Kabupaten Karawang. Analisis Pendapatan Usahatani Padi dan Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Marketed Supply Gabah di Kabupaten Magelang dan Kabupaten Klaten. Amir.

Institut Pertanian Bogor. Institut Pertanian Bogor. Rome. Kecamatan sragi. Mubyarto. Bogor. Satria. 1993. Program Pascasarjana. Program Studi Agroklimatologi. PS. Kec. Sambutan Menteri Negara Agraria/Kepala BPN. 2001. 1996. Kabupaten Pekalongan. Soeharjo. 1996. 12-13 February. Bogor. Moral Ekonomi Petani. Fakultas Pertanian.Harsono. 1989. Jakarta. Tenggeng Kulon dan Yosorejo. Jakarta. Institut Pertanian Bogor. Budidaya Tanaman Padi di Indonesia. Jakarta. Perbandingan Usahatani Padi Ladang Baduy Luar dan Luar Baduy Dilihat Dari Tingkat Efisiensi dan Subsistensi Usahatani (Studi Kasus di D Kanekes dan Desa Jalupang Mulya. Institut Pertanian Bogor. Fadholi. Scott. Harry. 1973. Leuwi esa Damar. Pengantar Ekonomi Pertanian. Prisma. Bogor. Bogor. Potensi Lahan Kering Dalam Pembangunan Pertanian di Indonesia. Fakultas Pertanian. Ilmu Usahatani dan Penelitian Untuk Pengembangan Petani Kecil. FAO Rice Conference. Lebak. Bogor. Bogor. Skripsi. 1981. Penerbit LP3S. Skripsi. S. Kab. Indonesia Rice Policy In View of Trade Liberalization. Rahardjo. Bogor. Maryono. Susanto. Jakarta. Institut Pertanian Bogor. Institut Pertanian Bogor. Netty. Jakarta.ilmu Sosial Ekonomi Pertanian. Penerbit Sustra Hudaya. D. Hernanto.ilmu Sosial Ekonomi Pertanian. . Jakarta. Jawa Tengah). 2000. Jawa Barat). Tesis. Rahayu. James. Pemanfaatan dan Peranan Lahan Kering Dalam Pembangunan Pertanian. 1981. Analisis Pendapatan dan Efisiensi Penggunaan Faktor Produksi Usahatani Padi Gogo Secara Tumpangsari Dengan Jagung di Kecamatan Kadipaten Tasikmalaya Propinsi Jawa Barat. 1988. Analisis Wilayah Rawan Kekeringan Untuk Pengembangan Sistem Usaha Pertanian Padi Gogo di Sulawesi Tenggara. D. (5): 13-12. M. 2004. Skripsi. Arif. LP3ES. Jurusan Ilmu. Yayu Sri. Mulyo. 1995. Setiawan. IKAPI. Cetakan kedua. UI-Press. Italy. 1995. Bogor. Soekartawi. 2004. Jurusan Ilmu. Sidik. Siregar. Institut Pertanian Bogor. Analisis Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Keputusan Petani Dalam Pemasaran Gabah (Kasus Desa Majosen. PILMITANAS (Pekan Ilmiah Mahasiswa Ilmu Tanah Nasional). Politik Pangan dan Industri Pangan di Indonesia. Ahmad dan Dahlan Patong. 1986. Fakultas Pertanian. Fakultas Pertanian. Chandra Arief. Hadrian. Penebar Swadaya. Sendi-Sendi Pokok Ilmu Usahatani. Ilmu Usahatani.

1999. Analisis Faktor. Jurusan Ilmu. Fakultas Pertanian. Kecamatan Tounom. Wijaya. Institut Pertanian Bogor. Analisis Pendapatan dan Efisiensi Usahatani Padi Input Rendah di Kecamatan Tempuran. . Bogor. Yelni. Skripsi. Institut Pertanian Bogor. Kabupaten Aceh Barat). Jurusan Ilmu. Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Produksi dan Pendapatan Usahatani Padi Sawah Pada Jaringan Irigasi Teknis dan Irigasi Sederhana. Bogor. Analisis Pendapatan dan Produksi Usahatani Padi Lahan Gambut (Studi Kasus : Desa Blang Ramee. Yanuar.Wana.faktor Produksi Padi Lahan Kering di Indonesia. Institut Pertanian Bogor. 2000. Fakultas Pertanian. Bogor.ilmu Sosial Ekonomi Pertanian. Program Pascasarjana. Tesis. Institut Pertanian Bogor. Andri. Hermawan. Skripsi. 1999. Bogor.ilmu Sosial Ekonomi Pertanian. Skripsi. Kabupaten Karawang. 2002. Rahmat. Fakultas Pertanian.

LAMPIRAN .

6180 18.5039 PRESS = 10.3546 Analysis of Variance Source Regression Residual Error Total Source DF Ln Pupuk 1 Ln TK Luar 1 Ln TK Dalam 1 Ln Benih 1 Ln Pestisida 1 DF 5 30 35 R-Sq = 59.2712 0.999 0. Analisis Regresi Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Produktivitas Cabang Usahatani Padi Ladang Di Desa Wanajaya The regression equation is Ln Produktivitas = 0.06 P 0.003 0.61 7.06968 SE Coef 1.989 0.1619 0.2221 0.296 VIF 1.2484 0.1969 0.00 + 0.545 0.69 3.83 P 0.72R 7 4.9949 St - .632 0.77 Fit 6.248 Ln Pupuk + 0.3 1.004 0.5302 0.1013 0.6600 3.2161 7.3 1.4056 0.06548 T 0.0697 Ln Pestisida Predictor Konstanta Ln Pupuk Ln TK Luar Ln TK Dalam Ln Benih Ln Pestisida Coef 0.1876 0.217 Ln TK Dalam + 0.06819 0.Lampiran 1.2539 F 8.1803 Residual -1.02% R-Sq(adj) = 52.00 0.011 0.19 0.8251 SE Fit 0.61 2.8 1.000 Unusual Observations Obs Ln Pupuk Ln Prod Resid 6 4.3 S = 0.8341 Seq SS 1.21728 0.11R Durbin-Watson statistic = 1.2 2.8846 5.2432 0.101 Ln Benih + 0.5712 6.2092 0.8200 2.6% R-Sq(pred) = 45.530 Ln TK Luar + 0.8% SS 11.48 1.61 5.2875 MS 2.3000 2.

id.081 23.088 11. 2005 2.71 2 47.42 50. Luas Panen.185 10. dan Produktivitas Padi di Indonesia.896 10.52 -1.74 2.378 10.899 10.123 25.759 1.461 11.88 2002 51.95 -1.bps.500 43.50 51.76 49.565 1.521 44.80 3 Padi Ladang Produksi (000 Ton) Luas Panen (000 Ha) Produktivitas (Ku/Ha) Sumber : www. Pertumbuhan Produksi.38 2004 54.490 11.209 10.498 47.879 1.008 11.go.922 45.23 2.00 -2.105 25.799 47.34 2.43 .591 1.97 48.63 2. Tahun 2001-2005 No 1 Komoditi Padi Produksi (000 Ton) Luas Panen (000 Ha) Produktivitas (Ku/Ha) Padi Sawah Produksi (000 Ton) Luas Panen (000 Ha) Produktivitas (Ku/Ha) 2001 50.138 11.419 45.488 45.064 24.Lampiran 2.457 46.604 45.56 -0.67 0.395 47.094 25.68 Pertumbuhan (2004-2005) -2.69 Tahun 2003 52.79 0.80 -2.36 2005 53.00 -2.822 1.

71 22.62 8.2 21.84 29.49 31.03 25.94 20.95 22.82 23.35 21.63 25.57 19.43 Sumber : www. Produktivitas Padi Ladang Menurut Propinsi Di Indonesia.63 -0.03 -0.15 26. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 Propinsi NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Maluku Maluku Utara Papua Indonesia 2001 22.31 31.14 26.27 20.27 22.75 26.15 19.29 35.22 20.86 26.06 19.22 24.17 19.41 26.75 20.85 22.36 31.14 25. Tahun 2001-2005 (Kwintal/Ha) No.19 20.66 30.35 21.72 30 29.01 4.01 37.12 20.31 24.56 26.33 27.16 24.33 20.52 -3.34 Tahun 2003 22.66 21.67 0 0 25.47 23.52 Pertumbuhan (2004-2005) 0.52 22.25 21.33 23.66 20.47 26.49 22.73 2.go.04 1.50 -8.07 18.65 22.25 25.02 22.45 23.86 0.21 22.21 35.76 23.70 0.88 -0.45 0.33 20.35 -0.06 22.85 24.31 21.27 -3.26 8.89 21.83 22.56 23.75 24.47 23.21 24.60 -9.36 23.9 35.32 24.9 24.21 25.54 24.19 26.18 23.59 23.21 25.45 24.41 20.03 26.8 28.69 0.54 4.44 0.97 -1.62 20.19 20.8 30.93 20.3 28.75 22.46 -14.3 19.53 31.32 21.82 32.53 24.11 27.56 25.96 20. 2005 *) Angka ramalan -) Data tidak tersedia .78 0.09 25.57 23.89 20.85 20.6 25.53 21.99 19.84 21.67 23.87 16.99 23.11 23.42 34.72 2.74 2002 21.bps.86 28.88 21.73 2.id.15 22.65 19.76 18.84 20.21 21.66 20.31 23.44 0.55 23.95 20.97 20.13 17.04 0.03 23.Lampiran 3.12 19.37 16.16 35.57 24.92 17.55 17.28 18.42 34.89 21.78 20 24.58 23.7 18.45 23.53 5.27 33.23 2004 2005*) 22.77 18.5 26.29 -2.55 24.18 23.61 24.8 19.23 -10.

182 132.09 9.978 215.093.32 25.889 Sulawesi Tengah 7.016 20.35 -35.622 Jawa Timur 303.365 10.717 358.144 1.270 2.693 82.486 137.26 -15.915 2.64 -4.970 3.945 37.301 59.108 356.69 -25.778 1.957 46.24 -5.97 -9.978 Maluku Utara Papua 12.692 77.042 295. Produksi Padi Ladang Menurut Propinsi Di Indonesia Tahun 2001-2005 (Dalam Ton) No.363 183.844 5.88 7.618 107.307 44.861 56.bps.878 115.518 2004 7.879.288 10.25 -6.086 Kalimantan Timur 107.190 NTT 102.54 -1.908 8.031 Indonesia 2.754 39.882 227.842 143.614 139.35 10.621 1.838 Gorontalo 1.187 4.925 Jambi 59.900 171.659 2.331 132.68 -3.827 11.27 0.169 154.204 116.454 26.998 2.416 Sumatera Barat 13.407 65.Lampiran 4.763 Sumatera Utara 180.629 Sumber : www.967 14.240 8.386 Kalimantan Selatan 110.69 -2.254 133.308 302.66 -2.910 1.79 -16.814 16.29 5.530 181.647 58.959 41.162 Sulawesi Selatan 29.522 Kalimantan Tengah 111.663 25.951 Sulawesi Utara 12.035 2005 6.892 83.806 8.938 Lampung 252.052 94.465 1.590.323 26.333 185.578 184.612 59.136 105.281 4.774 Pertumbuhan -8.go.771 Bengkulu 34.434 121.90 15.177 7.702 DKI Jakarta Jawa Barat 340.203 Sulawesi Tenggara 11.234 16.450 17.60 5.801 31.291 61. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 Propinsi 2001 2002 NAD 4.882 Sumatera Selatan 158.550 204.225 9.898 209.418 Banten 73.246 13.917 16.333 995 Maluku 13.000 23.903 10.788 Bali 1.750 4.872 5.053 13.556 Bangka Belitung 11.375 100.500 113.248 5.491 Jawa Tengah 192.175 Riau 44.530 200.036 86.560 121.615 27.621 39.723 115.073 128.055 60.06 1.50 26.659 99.726 16.194 22.91 -10.72 -3.656 6.423 39.497 20.368 28.822.016 40.574 1.848 Kalimantan Barat 175.567 1.773 36.796 198.414 3.20 -17.699 DI Yogyakarta 119.66 39.725 219.404 NTB 78.43 -0.95 .681 167.565.576 304.id.076 6.962 195.676 2.190 134. 2005 Tahun 2003 2.468 1.67 -1.290 80.85 11.181 113.199 6.347 231.892 169.226 306.

4 13 Aman 1 14 Adon 0.5 0.5 27 Hardi 0.6 2 0.1 0.Lampiran 5.2 26 20.6 28 37 29 38.2 36 154 26.24 0.000 1.05 2.4 24 Enong 0.1 0. Penggunaan Faktor-faktor Produksi Cabang Usahatani Padi Ladang Di Desa Wanajaya.6 43.8 .8 174.4 33 Misjah 0.2 1.15 2.300 500 500 800 1.24 4.6 105.4 22 Asim 0.5 5 Kiwan 0.500 400 400 200 2.34 83.000 900 900 400 1.5 0.5 23 Mamat 0.000 1.5 12 Ayat 0.2 125.2 0.75 Rata-rata per Hektar No Nama Produksi (Kg) 1.16 0.1 110.16 0.75 15 Icis 0.4 25 Amud 1 26 Murdi 0.74 0.4 166.1 5.1 28 Ganda 0.500 .4 409.5 Rata-rata 0.4 174.6 196.8 269.6 142 104.03 237.500 400 800 500 800 200 500 280 1.37 TK Luar (HOK) 44 26 27.15 0.4 37.8 150.5 37 Narmin 0.05 0.500 800 1.4 155.2 178.1 2.24 1.6 141.5 29 Keming 0.24 0.4 155.2 7 0.5 16 Cilan 1 17 Hidayat 1 18 Enan 0.1 0.1 1.8 220.2 112 390.6 117.8 146.6 109 114.7 Pupuk (Kg) 100 70 100 100 100 100 100 150 250 25 30 100 100 100 200 40 100 200 30 100 150 50 200 200 30 100 100 200 80 80 80 200 80 36.1 0.4 413 162.1 0.8 172. Musim Tanam November-April Tahun 2005 Luas (Ha) 1 Sakam 1.25 0.2 173.32 0.5 39 Namun 1 40 Samad 0.5 34 Iwan 2 35 Sahir 0.6 125.2 141.6 38 Neman 0.6 30 Dulhamid 1 31 Sadum 0.4 157.08 0.75 1273 TK Dlm (HOK) 186.25 48.4 35 28 17.2 26 27.27 1.5 19 Asmur 1 20 Karsim 0.6 195.8 192.1 1.4 30.16 0.15 0.4 32 Kadim 0.000 900 400 1.2 141.2 311.15 2.1 2.000 900 500 800 1.000 200 500 150 500 700 200 954.8 231.2 26 Benih (Kg) 50 25 50 50 50 50 50 25 40 100 40 30 80 50 25 50 50 50 50 50 20 50 30 20 50 60 50 30 80 50 40 50 40 50 30 40 30 30 80 20 45 60 Pestisida (Liter) 1.500 1.4 172 150 84.15 0.75 2 Acim 3 Madhari 1 4 Ladi 0.4 33 45.4 46 18.15 0.5 6 Walim 1 7 Kamin 1 8 Natong 1 9 Onang 1 10 Rakim 2 11 Bodeh 0.5 36 Walim 0.4 40 31 48 35.8 21 Madhawi 0.4 82.6 48 15.

271.000.70.000.045.600.120.156.178.48.000.1.600.33.000.72.000.000.200.000.600.5 Rata-rata 0.000.104.000.60.60.70.5 37 Narmin 0.600.Saprotan Pestisida 46.000.72.154.000.80.30.200.44.195.- 168.75 Rata-rata per Hektar 60.200.198.- 70.1.51.754.15 15 Icis 0.272.22.032.000.000.932.323.56.315.800.60.000.112.400.800.000.000.943.- 146.852.000.72.5 34 Iwan 2 35 Sahir 0.60.000.430.400.164.80.22.000.Lampiran 6.120.000.259.5 16 Cilan 1 17 Hidayat 1 18 Enan 0.342.122.000.250.000.172.902.130.000.56.140.000.183.175.5 5 Kiwan 0.150.000.1.496.276.000.200.- .000.500 800 1.000.800.275.000.2.300 500 500 800 1.000.119.1.703.687.400.000.48.800.985.313.140.000.500.400.000.54.1.192.120.175.389.200.800.000.4 33 Misjah 0.617.5 2 Acim 0.753.200.000.158.000.000.200.119.120.000.000.21.973.000.1.5 27 Hardi 0.000.800.000.200.89.000.2.500 400 800 500 800 200 500 280 1.70.035.033.000.800.045.120.400.000.91.000.22.000.000.60.000.174.144.120.288.000.288.5 36 Walim 0.400.000.30.400.000.30.355.33.60.000.240.600.880.73.164.44.847.000.210.240.56.72.400.000.000 900 400 1.000.5 12 Ayat 0.230.72.Kerja Luar RT 264.309.33.000.600.29.016.000.4 24 Enong 0.192.5 39 Namun 1 40 Samad 0.654.- 1 Sakam 1.000.400.000.1.000.000.000.2.000.997.400.70.240.48.000.000.75.000.150.1.000.000.600.672.000.000.458.000.33.000.000.15.200.000.627.000.000.4 22 Asim 0.70.400.000.600.000 200 500 150 500 700 200 954 1273 Tenaga Dalam RT 1.175.150.000.156.000.000.225.868.1.000. Pengeluaran Cabang Usahatani Padi Ladang Di Desa Wanajaya Musim Tanam November-April Tahun 2005 No Nama Luas (ha) Produksi (Kg) 1.000.000.000.478.000.72.482.000.000.1.000.1.000.000.000.1 28 Ganda 0.1.28.175.4 13 Aman 1 14 Adon 0.42.Benih 120.000.848.156.000 900 500 800 1.848.40.160.186.000.224.000.30.104.200.000.42.222.55.000.200.213.122.60.89.000.600.48.000.000.924.000.000.000.108.300.56.400.Pupuk 130.1.6 30 Dulhamid 1 31 Sadum 0.800.000.000.300.934.75 3 Madhari 1 4 Ladi 0.8 21 Madhawi 0.000.109.634.5 6 Walim 1 7 Kamin 1 8 Natong 1 9 Onang 1 10 Rakim 2 11 Bodeh 0.000.300.900.11.000.4 25 Amud 1 26 Murdi 0.500 400 400 200 2.600.135.042.120.216.000.000.112.000.000.60.000.5 19 Asmur 1 20 Karsim 0.000.000.600.000.000 1.000 900 900 400 1.400.74.000.000.000.000.168.74.4 32 Kadim 0.168.7.130.400.69.156.5 23 Mamat 0.6 38 Neman 0.600.5 29 Keming 0.000.70.800.000.56.000.500 500 1.508.000 1.1.000.000.000.22.45.000.400.120.150.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->