ANALISIS PENDAPATAN DAN FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PRODUKSI CABANG USAHATANI PADI LADANG DI KABUPATEN KARAWANG

HENDRI METRO PURBA A07498176

FAKULTAS PERTANIAN INSTITUT PERTANIAN BOGOR 2005

RINGKASAN

HENDRI METRO PURBA. Analisis Pendapatan dan Faktor- faktor Yang Mempengaruhi Produksi Cabang Usahatani Padi Ladang Di Kabupaten Karawang (Di bawah bimbingan NUNUNG KUSNADI). Kebutuhan bahan pangan masyarakat Indonesia masih sangat tergantung pada beras. Produksi beras nasional sebagian besar disumbangkan oleh produksi padi sawah, sementara itu ketersediaan lahan sawah dan efisiensi usahatani padi sawah cenderung mengalami penurunan. Sumbangan padi ladang terhadap produksi padi nasional masih sangat rendah karena produktivitas padi ladang yang jauh lebih rendah daripada produktivitas padi sawah. Jika dibandingkan dari segi laju pertumbuhan produksi, padi ladang juga masih jauh lebih rendah daripada padi sawah. Mengingat ketersediaan lahan kering bagi usahatani padi ladang masih sangat besar, maka pengembangan produktivitas usahatani padi ladang memiliki potensi yang sangat menjanjikan. Oleh karena itu menarik untuk dikaji bagaimana meningkatkan produktivitas cabang usahatani padi ladang. Penelitian ini bertujuan untuk (1) menganalisis penyebab rendahnya produktivitas padi ladang, (2) m enganalisis faktor- faktor yang mempengaruhi produksi padi ladang (3) menganalisis efisiensi ekonomis penggunaan faktor-faktor produksi pada cabang usahatani padi ladang. Pengumpulan data dilakukan dari bulan Mei hingga Juni 2005 di Desa Wanajaya, Kecamatan Teluk Jambe, Kabupaten Karawang. Data yang digunakan adalah data primer dan data sekunder. Data primer dikumpulkan dengan melakukan pengamatan dan wawancara langsung dengan petani responden dengan mengajukan pertanyaan yang dibuat dalam bentuk kuesioner yang telah dipersiapkan sebelumnya. Data sekunder diperoleh dengan cara penelusuran kepustakaan buku, laporan penelitian, artikel, majalah, karya ilmiah yang berkaitan dengan masalah penelitian dan melalui internet. Selain itu data

sekunder juga diperoleh dari Biro Pusat Statistik, Departemen Pertanian, Balai Penelitian Tanaman Pangan, Pusat Pengembangan Sosial Ekonomi Pertanian, dan Pemerintah Daerah di lokasi penelitian. Pengolahan data dilakukan dengan menggunakan analisis imbangan penerimaan dan biaya (analisis R/C ratio),

pendekatan fungsi produksi Cobb-Douglas, dan analisis efisiensi ekonomi dengan rasio Nilai Produk Marjinal (NPM) dan Biaya Korbanan Marjinal (BKM). Pengolahan data dilakukan dengan me nggunakan program Microsoft Excel dan Minitab 13 for Windows. Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) dengan analisis imbangan penerimaan dan biaya (analisis R/C ratio), diperoleh nilai rasio R/C atas biaya total sebesar 0.76 (lebih kecil dari satu), sehingga dapat disimpulkan bahwa cabang usahatani padi ladang di Desa Wanajaya tidak menguntungkan bagi petani, (2) faktor- faktor produksi yang berpengaruh nyata terhadap produksi padi ladang adalah tenaga kerja luar keluarga dan tenaga kerja dalam keluarga, yang signifikan pada taraf kepercayaan 99 persen. Sedangkan faktor pupuk, benih, dan pestisida tidak berpengaruh nyata pada taraf kepercayaan yang ditetapkan, (3) penggunaan faktor-faktor produksi yang efisien secara ekonomis dicapai pada saat penggunaan faktor pupuk sebesar 282.51, faktor tenaga kerja luar keluarga sebesar 146.33 HOK, penggunaan benih yang semula sebesar 60 kilogram harus ditingkatkan menjadi 69.69 kilogram, penggunaan tenaga kerja dalam keluarga harus dikurangi dari yang semula sebesar 237.37 HOK menjadi sebesar 59.94 HOK, faktor produksi pestisida harus ditingkatkan dari sebesar 1.7 liter dalam penggunaan aktualnya menjadi sebesar 2.47 liter. Berdasarkan hasil penelitian di atas maka disarankan agar (1) penggunaan faktor produksi pupuk, benih, pestisida tenaga kerja luar harus ditingkatkan dari penggunaan aktualnya supaya usahatani padi ladang yang dilakukan lebih efisie n dan menguntungkan bagi petani, (2) pemberian bimbingan dan penyuluhan dari instansi terkait mengenai teknik budidaya padi ladang yang tepat seperti kombinasi penggunaan pupuk dan pestisida yang tepat dan pola tanam yang tepat untuk mencapai usahatani padi ladang yang lebih produktif dan menguntungkan.

ANALISIS PENDAPATAN DAN FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PRODUKSI CABANG USAHATANI PADI LADANG DI KABUPATEN KARAWANG

Oleh

HENDRI METRO PURBA A07498176

Skripsi Sebagai Bagian Persyaratan Untuk Memperoleh Gelar Sarjana Pertanian

pada Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor

FAKULTAS PERTANIAN INSTITUT PERTANIAN BOGOR 2005

DEPARTEMEN ILMU-ILMU SOSIAL EKONOMI PERTANIAN FAKULTAS PERTANIAN INSTITUT PERTANIAN BOGOR

Dengan ini menyatakan bahwa skripsi yang disusun oleh : Nama NRP : : Hendri Metro Purba A07498176 Manajemen Agribisnis Analisis Pendapatan dan Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Produksi Cabang Usahatani Padi Ladang Di Kabupaten Karawang dapat diterima sebagai syarat kelulusan untuk memperoleh gelar Sarjana Pertanian pada Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor.

Program Studi : Judul Skripsi :

Menyetujui, Dosen Pembimbing

Dr. Ir. Nunung Kusnadi.MS NIP. 131 415 082

Mengetahui, Fakultas Pertanian Dekan

Prof. Dr. Ir. H. Supiandi Sabiham, M.Agr NIP. 130 422 698

Tanggal Lulus : 20 Desember 2005

PERNYATAAN

DENGAN INI SAYA MENYATAKAN BAHWA SKRIPSI YANG BERJUDUL “ANALISIS PENDAPATAN DAN FAKTOR-FAKTOR YANG

MEMPENGARUHI PRODUKSI CABANG USAHATANI PADI LADANG DI KABUPATEN KARAWANG” BELUM PERNAH DIAJUKAN PADA

PERGURUAN TINGGI LAIN ATAU LEMBAGA LAIN MANAPUN UNTUK TUJUAN MEMPEROLEH GELAR AKADEMIK TERTENTU. SAYA JUGA MENYATAKAN BAHWA SKRIPSI INI BENAR-BENAR HASIL KARYA SAYA SENDIRI DAN TIDAK MENGANDUNG BAHAN-BAHAN YANG PERNAH DITULIS ATAU DITERBITKAN OLEH PIHAK LAIN KECUALI SEBAGAI BAHAN RUJUKAN YANG DINYATAKAN DALAM NASKAH.

Bogor, Desember 2005

Hendri Metro Purba A07498176

pada tahun 1998 melalui jalur UMPTN (Ujian Masuk Perguruan Tinggi Negeri). dan lulus pada tahun 1998.RIWAYAT HIDUP Penulis dilahirkan di Dolok Sanggul pada tanggal 16 Juli 1980. Institut Pertanian Bogor. Fakultas Pertanian. dan menyelesaikannya pada tahun 1992. Penulis melanjutkan pendidikan menengah pertama di SMP Negeri 1 Dolok Sanggul. Purba dan Ibu H. . penulis diterima di SMU Katolik Santo Agustinus Jakarta. Situmorang. Penulis diterima sebagai mahasiswa Program Studi Manajemen Agrinisnis. Penulis memulai pendidikan dasarnya pada tahun 1986 di SD Negeri 3 Dolok Sanggul. dan lulus tahun 1995. Penulis adalah anak pertama dari enam bersaudara pasangan Bapak T. Kemudian.

skripsi ini menganalisis pendapatan yang diperoleh petani dari kegiatan berusahatani padi ladang. Penulis berharap penelitian yang dilakukan dapat diterima dan dimanfaatkan bagi perkembangan ilmu pengetahuan dan pihak lain yang berkepentingan. dan melakukan analisis efisiensi ekonomis penggunaan faktor produksi pada cabang usahatani padi ladang. Desember 2005 Penulis . Sesuai dengan judul tersebut. Penulis menyadari kekurangan dalam penulisan skripsi ini sehingga diperlukan kritik dan saran untuk perbaikan skripsi ini. mengana lisis faktorfaktor yang mempengaruhi produiksi dalam usahatani padi ladang. Judul skripsi ini adalah “Analisis Pendapatan dan Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Produksi Cabang Usahatani Padi Ladang di Kabupaten Karawang”. Bogor.KATA PENGANTAR Puji syukur penulis panjatkan kepada Tuhan Allah Yang Maha Kuasa atas berkat dan karunia-Nya yang besar yang memberikan segala hikmat dan kekuatan sehingga penulis dapat menyelesaikan penulisan skripsi ini.

13. 6. Ucok. Keluarga Amangboru Mario. 11. Donal. Ramaijon Purba atas bimbingan dan bantuannya. kritik dan saran dalam melakukan penelitian dan penyusunan skripsi ini. Tulang Suci. teman satu bimbingan dan seperjuangan selama kuliah dan penulisan skripsi. 9. makan gratis. Sartika. Lae Viston. dan dukungan berharga selama turun lapang di Karawang. Dr.UCAPAN TERIMA KASIH Dalam kesempatan ini penulis ingin mengucapkan terima kasih dan penghargaan kepada : 1. Ir. Anna Fariyanti. dan Ompung Josua di Pekan Baru. beserta semua teman-teman di Parmasi. Nipar. doa dan dukungannya. atas kesediaan menjadi dosen penguji utama. . Sahabat-sahabatku yang tak tergantikan di Base One : Cay. Appara Frenky. dan Kardinal atas keberadaan. Bang Ivan. dan Amangboru Sagala di Jakarta. Edo. Bang Tamlin. 10. Namboru. Nita. Bapa dan Uma dan adik-adikku Duddy. selaku dosen pembimbing yang dengan kesabaran telah memberikan bimbingan. MS. 14. Orang Tuaku. dan Maria Margareth. Keluarga Tulang Donal. 5. John Freddy. Amzul Rifin. Namboru Patar. 4. Victor. 3. dan semua keluarga besar di Dolok Sanggul. Ompung Suhut. Echa . Marta Sundari atas bantuannya selama mengolah data dan penulisan skripsi. dan Tulang Hendra. Ompung Arif di Bandung. Gaga. SP. Ir. Pak Enong sebagai penerjemah dan pendamping penulis selama turun lapang. dan Chamber yang telah menyediakan fasilitas penginapan. Ogem. John Wisnu. Nunung Kusnadi. Keluarga Ompung Berthold di Depok. MS. 7. 12. 8. Halashon. atas kesediaannya menjadi dosen penguji komisi pendidikan. Markos. 2. Arif Karya Kusuma. Rikky Sitorus. MA. arahan.

15. . penghuni Perwira 100. beserta semua kawan sesama Himaba. Teman-teman di Darmaga. 16. Bray. Tulus. Semua pihak lain yang belum saya sebutkan yang telah membantu saya selama mengikuti perkuliahan dan penulisan skripsi.

...........1......... i ii iv vii viii ix 1 1 3 7 8 9 9 9 11 11 12 12 13 15 15 16 16 21 22 29 29 30 ...................... 2....................................................... Budidaya Padi Ladang ........ 2............. Pendapatan Usahatani................................ UCAPAN TERIMA KASIH ........................2........ 3......7.2....................4..... 1.. DAFTAR GAMBAR ..........3......... Perilaku Ekonomi Petani......3.........................3......................... 1...............................................5..................................................................... Penanaman ... BAB I............ Pemilihan Benih ....... Pemeliharaan ................... Latar Belakang ................ BAB II.........................4.......... Pemupukan ......................................................................................................3.................................................................................1................4... Sistem Perladangan di Indonesia dan Perkembangannya ............................ Hasil Penelitian Terdahulu............ 2..................... 1........3............. 2.................................................................2...........3.... Konsep Usahatani . 2...............................3........................ 1............................................................ DAFTAR ISI . Perumusan Masalah ............... 2.........6...................................... 2...................................................................... Kegunaan Penelitian ......................... 2.............................................. DAFTAR LAMPIRAN ............................................3.............................................................................................................. Hama dan Penyakit ...1............................................. Tujuan Penelitian ...1...................................................................... 3. DAFTAR TABEL .........................3....................................................... 2..........5........................ BAB III........... 2.................................... Syarat Tumbuh dan Kelayakan Lahan Tanaman Padi Ladang.... Panen dan Pengolahan Hasil Panen..... 2................................... PENDAHULUAN .................3......................... TINJAUAN PUSTAKA ...............................................DAFTAR ISI Halaman KATA PENGANTAR ............................................2........... 2............................. KERANGKA PEMIKIRAN .6....................... Pengolahan Tanah .............................................................................................. 2................ Karakteristik Biologis Tanaman Padi Ladang ..............

......................... Analisis Imbangan Penerimaan dan Biaya (R/C Ratio) .............6.. 6............................. 6...... BAB V...... Pemupukan................ ANALISIS FAKTOR-FAKTOR PRODUKSI DAN EFISIENSI EKONOMI CABANG USAHATANI PADI LADANG ............................................................................................................4.................................................. Analisis Efisiensi Ekonomi........................................... 6................................. 4.............2.....................1.............. 7............................................. Lokasi dan Waktu Penelitian ..... Karakteristik Petani Responden.....................................4.........4........................ BAB VII.......................1........ Gambaran Umum Lokasi Penelitian......................3....................................3....... 6................................................3....2. Metode Analisis Data ................. 6........ Pengobatan ...... Analisis Fungsi Produksi ................3............................................. Persiapan Lahan...1...................................2..... Efisiensi Ekonomi ........ Elastisitas Produksi dan Skala Usaha ..... 4.....2............................... 4.. 4... Penyiangan ...................Pemanenan...................2. Analisis Efisiensi Ekonomi . 6............................................ BAB IV..1.........................3...............3................. Struktur Biaya ....1......5......5................................................. Pendugaan Fungsi Produksi........................... Analisis Pendapatan.......................3.... GAMBARAN UMUM DAERAH PENELITIAN . Penanaman................... METODE PENELITIAN ............................... 4................. 3....1................................. 4...................3.4................................. Budidaya Padi Ladang ......... 6.... 7................. 3....................... 7........................................................................3......1............ Metode Pengumpulan Data dan Penentuan Sampel . BAB VI........3...................................................... 4................. 32 33 37 40 40 40 41 41 41 43 48 50 54 54 58 66 66 66 68 69 70 71 71 72 73 74 76 76 78 83 .......................... Teori Produksi ......1....................................................................................4.. 5...3. Definisi Operasional ................. GAMBARAN USAHATANI PADI LADANG DI DESA WANAJAYA ..1......1. 6.......... 4....1...... Analisis Imbangan Penerimaan dan Biaya (R/C Ratio)..................................... 6............................... 5... Analisis Imbangan Penerimaan dan Biaya (Analisis R/C ratio) .........................2............................... 6........................1............... Analisis Pendapatan Usahatani .........

......................................................................................... 8......BAB VIII.................................. DAFTAR PUSTAKA ............................................................. Kesimpulan ......................................................2............................. KESIMPULAN DAN SARAN .................. LAMPIRAN ............................1........ Saran ........................................... 8............................................. 88 88 89 90 93 ...............

.................................... Klasifikasi Kriteria Lingkungan Tumbuh Tanaman Padi Ladang...................... Karakteristik Penduduk Desa Wanajaya Berdasarkan Mata Pencaharian......................................... 7.... Karakteristik Petani Responden Berdasarkan Umur ...... Analisis Pendapatan Cabang Usahatani Padi Ladang per Hektar per Musim Tanam di Desa Wanajaya Tahun 2005 ......................... 10.... 84 86 20.......................... Penggunaan Lahan di desa Wanajaya Tahun 2004 ...................... 6 9 54 55 4..................................... Karakteristik Petani Responden Berdasarkan Tingkat Pendidikan ............................................ 15............ Topografi atau Bentang Lahan Desa Wanajaya . Analisis Ragam Produktivitas Cabang Usahatani Padi Ladang di Desa Wanajaya .... 2 4 2........... Jawa Barat.. Luas Panen................................ 77 19..... 3.......... dan Produktivitas Padi Indonesia Tahun 2004..... 12................................... Kombinasi Optimal Penggunaan Faktor-faktor Produksi ........ dan Indonesia Tahun 2004....................... ... 9........... Volume Beras yang Diperdagangkan di Dunia dan Impor Beras Indonesia Tahun 1990-2001 ............. Karakteristik Penduduk Desa Wanajaya Be rdasarkan Tingkat Pendidikan.............. Karakteristik Petani Responden Berdasarkan Luas Lahan Garapan .... Biaya-biaya yang Dikeluarkan Petani Padi Ladang per Hektar per Musim Tanam di Desa Wanajaya Tahun 2005 ............. Produksi Gabah Kering Giling di Kabupaten Karawang.....................................................DAFTAR TABEL Nomor Halaman 1...................... 13. Karakteristik Petani Responden Berdasarkan Pengalaman Usahatani ..................................... Karakteristik Petani Responden Berdasarkan Jumlah Anggota Keluarga ................ 74 17... 76 18.. 56 57 58 58 59 61 62 63 8......................... 5...... Hasil Analisis Pendugaan Fungsi Produksi Usahatani Padi Ladang di Desa Wanajaya .... Karakteristik Penduduk Desa Wanajaya Berdasarkan Kelompok Umur Tahun 2005 ................ 73 16....... 11... 14............................................. Rasio Nilai Produk Marjinal (NPM) dengan Biaya Korbanan Marjinal (BKM) Usahatani Padi Ladang di Desa Wanajaya Tahun 2005 ........................... Produksi... 6.....................................................

............................faktor Yang Mempengaruhi Produksi Cabang Usahatani Padi Ladang .... 1984) . Bagan Prosedur Analisis Pendapatan dan Faktor.............. 34 2................DAFTAR GAMBAR Nomor 1....... Kurva Fungsi Produksi Total dan Hubungannya Dengan Produk Marjinal Halaman dan Produk Rata-rata (Doll dan Orazem............ 53 .

........DAFTAR LAMPIRAN Nomor 1.................................... Analisis Regresi Faktor................... 94 95 96 97 98 99 100 ............... 6.... 3.... dan Produktivitas Padi Di Indonesia........................ Tahun 2001-2005 (Kwintal/Ha) .......... Produktivitas Padi Ladang Menurut Propinsi Di Indonesia............ Pertumb uhan Produksi.......... Penggunaan Faktor....faktor yang Mempengaruhi Produksi Cabang Usahatani Padi Ladang Di Kabupaten Karawang .................... Produktivitas Padi Ladang Menurut Propinsi Di Indonesia........... 7............................................faktor Yang Mempengaruhi Produktivitas Halaman Cabang Usahatani Padi Ladang Di Desa Wanajaya ......faktor Produksi Cabang Usahatani Padi Ladang Di Desa Wanajaya.................................................... Musim Tanam November-April Tahun 2005 ..... Tahun 2001-2005 (Dalam Ton) . Tahun 2001-2005 ........... Pengeluaran Cabang Usahatani Padi Ladang Di Desa Wanajaya Musim Tanam November-April Tahun 2005 ......... Luas Panen..... 5............... 4........................... 2............................ Kuesioner Analisis Pendapatan dan Faktor....

org. Pemerintah karenanya harus mengeluarkan biaya sekitar 1. 1 www. Sedangkan pertambahan produksi beras senderung lebih kecil dan tidak mampu mengimbangi pertambahan tingkat permintaan beras (Sidik. Apabila salah satu dari negara tersebut mengalami penurunan produksi dan harus mengimpor untuk mencukupi kebutuhan domestiknya.7 juta ton beras meskipun harus membayar 280 Dollar AS per ton beras untuk mencukupi kebutuhan beras domestik.3 miliar Dollar AS untuk mengimpor 4. Latar Belakang Indonesia merupakan negara konsumen beras terbesar ketiga di dunia setelah China dan India1 . 2005 . Impor beras terbesar dialami Indonesia pada tahun 1999 dimana Indonesia mengimpor sekitar 4.1. maka harga beras dunia akan segera mengalami kenaikan secara signifikan.fao. Laju peningkatan produksi padi cenderung menurun. Permintaan terhadap beras terus meningkat sejalan dengan pertambahan populasi dan kenaikan tingkat pendapatan penduduk.7 juta ton beras 1 .I.faostat. Impor beras nasional cenderung meningkat misalnya dari 615 ribu ton pada tahun 1991 menjadi sekitar 3 juta ton pada tahun 1995 dan pada tahun 1996 mencapai sekitar 3 juta ton akibat musim kemarau panjang dan bahkan sempat meningkat drastis hingga sekitar 6 juta ton pada tahun 1998 akibat terjadinya krisis moneter yang mengakibatkan kenaikan secara drastis pada harga input pertanian seperti pupuk dan pestisida yang bahan bakunya sebagian besar diimpor. PENDAHULUAN 1. sedangkan laju permintaan beras akan selalu meningkat seiring peningkatan laju pertumbuhan penduduk. 2004).

948 5.615. pemerintah mulai mengarahkan perhatiannya kepada pengembangan pertanian di daerah lahan kering.70 16. Untuk memenuhi kebutuhan beras dalam jangka panjang.000 4. menyebabkan sebagian besar masyarakat Indonesia masih sangat tergantung pada satu jenis bahan pangan yaitu beras.44 21.924 4.350. 1993 dalam Maryono.856.293.50 6.486.513.02 25.076. Tabel 1.51 49.615. Menurut FAO (2004)1 .480.70 Sumber : Situs FAO (http//www. rata-rata penduduk Indonesia mengkonsumsi sekitar 200 kilogram beras per kapita per tahun . 1996).384 156.000 25. 2000.99 59.000 22.150.121 4.263.08 47.000 1.138 6.188 28.940 252.440 15.076.080.389.212 5. Berdasarkan potensi.Belum berhasilnya upaya diversifikasi. Oleh karena itu upaya untuk meningkatkan produksi dan produktivitas beras dianggap masih relevan untuk mengatasi masalah peningkatan tingkat permintaan beras dan tingginya impor beras Indonesia.org/trade/balance).385 2.578.FAO.183.750 6.924 3. 80 persen dari luas lahan pertanian .846 1.304 3.000 10.43 29. Volume Beras yang Diperdagangkan di Dunia dan Impor Beras Indonesia Tahun 1991-2000 Perdagangan Beras Dunia (Ton) Impor Beras Indonesia (Ton) Persentase Terhadap Beras Dunia Tahun 1991 1992 1993 1994 1995 1996 1997 1998 1999 2000 58. mengingat ketersediaan lahannya yang cukup luas (Ruchyat.68 61.025.000 615. Hingga saat ini lebih dari setengah jumlah kalori dan lebih dari 40 persen karbohidrat yang dikonsumsi oleh masyarakat Indonesia berasal dari beras. baik dari sisi produksi maupun konsumsi pangan.

Produktivitas rata-rata padi ladang pada tahun 2004 baru mencapai 25.3 .2.Indonesia adalah lahan kering. maka corak pertanian di masa yang akan datang adalah pertanian lahan kering (Dwijatmiko. dan lain.lain. perumahan. 1991 dalam Maryono. (b) Lahan kering diperkirakan seluas 123 juta hektar atau 62 persen dari luas total daratan Indonesia. 1996). Sutari (1982) dalam Netty (1996) mengatakan bahwa lahan kering y ang diusahakan dengan tepat dapat menghasilkan berbagai komoditas dengan produktivitas yang lebih besar dibandingkan lahan sawah (basah). Perumusan Masalah Produksi padi nasional masih didominasi padi sawah sedangkan sumbangan padi ladang masih sangat rendah karena produktivitas dan luas tanam padi ladang yang jauh lebih rendah daripada produktivitas dan luas tanam padi sawah. sementara sumbangan padi ladang terhadap produksi padi nasional pada tahun yang sama hanya sekitar 5.68 kwintal per hektar. (d) Pemanfaatan lahan kering yang semakin meningkat merupakan pertimbangan penting dalam program pemerintah selanjutnya. rawa. 1. sandang. Untuk tetap mempertahankan swasembada pangan. dan pasang surut. Selain itu lahan kering memiliki kedudukan strategis karena : (a) Lahan kering menempati areal terluas dibandingkan dengan lahan jenis air seperti sawah. (c) Lahan kering merupakan sumber utama penghasil komoditi pertanian untuk tanaman pangan.

341. 2004 .843.191 2.68 45. dan Produktivitas Padi Indonesia Tahun 2004 Jenis Padi Sawah Padi Ladang Padi Total Luas Panen (Ha) 10.622 ribu ton pada tahun 1969 menjadi 2.6 juta ton. Luas Panen.970. topografi dan iklim pada lahan kering.004 1. Menurut Ruchyat (1993) dalam Maryono (1996).40 Produksi* (Ton) 51. (2) topografi umumnya berlereng sehingga mudah tererosi. Dari kenyataan tersebut adalah hal yang wajar bila produktivitas rata-rata padi ladang jauh lebih rendah daripada produktivitas rata2 www.4 persen dari total luas panen padi nasional2 .038 Produktivitas* (Ku/Ha) 47. sementara produksi padi sawah mengalami peningkatan kira-kira sebesar 140 persen atau meningkat sebesar 24. rendahnya produktivitas padi ladang tidak terlepas dari keterbatasan faktor tanah.303 Sumber : Situs Deptan (www. (3) curah hujan rendah. Tabel 2.127.034 11.895. Produksi.446.go.id/ditjentp).persen dengan luas panen sekitar 9.345 ribu ton pada tahun 1989. 2004 * ) Gabah Kering Giling Jika dibandingkan dari segi laju pertumbuhan produksi.112 54.deptan.deptan.id/ditjentp. dimana dari tahun 1969 hingga 1989 produksi padi ladang hanya mengalami peningkatan kira-kira sebesar 45 persen yaitu dari 1. tenaga kerja dan modal) serta pengetahuan petani di daerah lahan kering menyebabkan pola tanam yang selama ini diusahakan masih bersifat subsisten.go. Di samping itu kenyataan juga menunjukkan bahwa keterbatasan faktor produksi usahatani (lahan.45 25. padi ladang juga masih jauh lebih rendah daripada padi sawah. Lahan kering mempunyai karakteristik antara lain : (1) tanah kurang subur.

Permasalahan usahatani padi ladang relatif lebih kompleks daripada padi sawah. pengairan yang lebih teratur. Berdasarkan uraian di atas. maka posisi usahatani padi ladang akan semakin penting bagi m depan pertanian Indonesia secara umum dan sangat asa potensial bagi peningkatan ketahanan pangan nasional. Meskipun sumbangan padi ladang terhadap produksi nasional relatif kecil. meskipun hal ini merupakan sesuatu yang wajar mengingat produktivitas padi sawah yang jauh lebih tinggi dengan kendala peningkatan produktivitas padi sawah yang jauh lebih ringan daripada kendala peningkatan produktivitas padi ladang. Usahatani padi ladang memerlukan identifikasi lebih rinci dan jelas pada masing. Bahkan sebagian daerah sangat menggantungkan ketersediaan dan kebutuhan berasnya pada produksi padi ladang.rata padi sawah dengan tingkat kesuburan tanah yang jauh lebih tinggi.masing daerah produsen padi ladang. tetapi padi ladang ditanam hampir di seluruh propinsi di Indonesia. Identifikasi yang dimaksud antara lain meliputi penelitian tentang peningkatan teknik budidaya yang ada supaya produktivitas lahan kering . Kebijakan pemerintah yang lebih berpihak pada peningkatan produksi dan produktivitas padi sawah dibandingkan padi ladang merupakan salah satu contohnya. 2000). Tingkat produktivitas padi ladang yang rendah dan laju perkembangan produksi padi ladang yang relatif lamban juga diakibatkan permasalaha n yang dihadapi usahatani padi ladang relatif lebih kompleks daripada permasalahan padi sawah. dan topografi yang lebih baik untuk usahatani padi. Pertanian padi ladang banyak dijumpai di daerah transmigrasi lahan kering dan daerah yang topografi lahannya didominasi perbukitan atau lahan kering dan tidak mendapat fasilitas irigasi (Wana.

320. Karawang merupakan salah satu sentra produksi padi di Indonesia.735 11.744.094.689 997.181.masing daerah produksi disamping karakteristik sosial ekonominya.240.007 juta ton atau mencapai 8.796 991.641.89 persen total produksi Jawa Barat dan 2.152. Dengan pendekatan ini akan diketahui alternatif produksi yang paling tepat dalam waktu yang telah ditentukan sehingga nantinya dapat menjadi salah satu informasi yang berguna dalam pembuatan kebijakan pertanian seperti halnya dalam usahatani padi ladang.terutama padi ladang dapat ditingkatkan hingga dapat mengimbangi produktivitas padi sawah bahkan mungkin melampauinya.071 Jawa Barat (Ton) 11.faktor yang mempengaruhi produktivitas dan efisiensi ekonomi pengusahaan padi ladang.506 .101.007.524 49. Tabel 3.009 48.974 997.087 46. Tabel 5 menunjukkan perbandingan produksi gabah kering giling Kabupaten Karawang dengan Propinsi Jawa Barat dan produksi total keseluruhan di Indonesia.628 Indonesia (Ton) 48. Penentuan alternatif produksi padi ladang tentu juga harus mempertimbangkan karakteristik agroklimat yang khas atau unik pada masing. Jawa Barat. Pada tahun 1992 total produksi Kabupaten Karawang mencapai 1.445 11.188.140 51.744 11. Analisis terhadap aspek produksi merupakan salah satu pendekatan yang penting dalam kebijaksanaan pangan untuk memenuhi kebutuhan pangan terutama yang menjadi makanan pokok masyarakat. Pendekatan ini dilakukan untuk mengetahui faktor.218. Produksi Padi Gabah Kering Giling di Kabupaten Karawang.08 persen dari seluruh total produksi di Indonesia.007.499 1. dan Indonesia Tahun 2004 Tahun 1992 1993 1994 1995 1996 Karawang (Ton) 1.421 10.

746.267 49.76 persen dari seluruh total produksi padi nasional yang mencapai 51. Berdasarkan uraian diatas. Semakin berkurangnya lahan pertanian yang ada yang disebabkan oleh berubah fungsinya lahan pertanian menjadi kawasan perumahan dan industri.898.go. 2. Mengapa produktivitas padi ladang lebih rendah dari padi sawah ? Faktor-faktor apa yang mempengaruhi produktivitas padi ladang ? Bagaimana mencapai tingkat penggunaan faktor.faktor produksi yang efisien secara ekonomis pada cabang usahatani padi ladang ? .8 juta ton.000 49.499 10. Beberapa faktor yang mempengaruhi antara lain2 : a.22 persen dari produksi Jawa Barat dan 1.154. 2004 Pada tahun 2000 produksi Kabupaten Karawang mencapai 917 ribu ton sehingga memberikan kontribusi sebesar 8.deptan.400.304 737. b.429 917.879 917. Belum berfungsinya saluran irigasi secara maksimal untuk mengairi lahan sawah dengan merata. Hal ini disebabkan oleh kurangnya pengawasan yang ketat sehingga saluran irigasi banyak dikuasai oleh beberapa orang untuk kepentingan sendiri dan kelompok tertentu.id/ditjentp). Pengaruh faktor cuaca dan iklim yang terus berfluktuasi.000 50.209.377.237.866.000 51. maka permasalahan yang akan dibahas pada penelitian ini adalah : 1. 3.411 11.951 10.730 10.852 Sumber : Situs Deptan (www.1997 1998 1999 2000 989. c. Dari tabel tersebut juga dapat dilihat mengenai adanya fluktuasi produksi yang terjadi tahun demi tahun yang menggambarkan adanya ketidakstabilan produksi padi yang disebabkan oleh banyak faktor.

3.Tujuan Penelitian Berdasarkan latar belakang dan perumusan masalah maka tujuan penelitian ini adalah : 1. sebagai berikut: 1. . Menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi produktivitas padi ladang.3.4. 3.1. 2. Sebagai bahan kajian bagi pemerintah dalam merumuskan program dan kebijakan di bidang pertanian dalam usaha penyempurnaan sistem pertanian terutama untuk usahatani padi ladang. Menganalisis penyebab rendahnya produktivitas padi ladang. Sebagai bahan rujukan bagi penelitian yang akan datang agar dapat memperbaiki kesalahan dan kekurangan yang ada. 1. 2. Menganalisis efisiensi ekonomis penggunaan faktor. Sebagai masukan bagi petani agar dapat mengelola usahataninya secara efektif dan efisien. Kegunaan Penelitian Penelitian ini diharapkan dapat berguna bagi beberapa pihak.faktor produksi pada cabang usahatani padi ladang.

sementara tahapan yang dilalui adalah masak susu sekitar 92 hingga 110 hari setelah tanam. Fase reproduktif adalah masa dari tahap munculnya primordia bunga sampai waktu keluar bunga (35 hari).1. Tanaman ini merupakan tanaman semusim jenis padi (Oryza sativa L. Fase pemasakan adalah masa keluarnya bunga sampai gabah masak. Karakteristik Biologis Tanaman Padi Ladang Padi ladang merupakan tanaman yang biasa ditanam di lahan kering. 2.) yang diusahakan di tanah tegalan kering secara menetap dan kebanyakan ditanam di daerah tropika. (1995) mengemukakan bahwa siklus hidup tanaman padi ladang berkisar antara 90 hingga 140 hari. Fase vegetatif merupakan masa pertumbuhan batang dan daun (55 hari). TINJAUAN PUSTAKA 2. tergantung pada varietasnya. hasil . 2000). masak padat sekitar 102 hingga 120 hari setelah tanam.2. Syarat Tumbuh dan Kelayakan Lahan Tanaman Padi Ladang Keberhasilan budidaya tanaman padi ladang ditentukan oleh penyesuaian tanaman terhadap lingkungan. dan masa penuh sekitar 112 hingga 120 hari setelah tanam. sejak masa perkecambahan benih sampai pembentukan primordial bunga pada ujung batangnya. Pada fase ini tanaman padi ladang sangat sensitif terhadap cekaman lingkungan. (2) fase reproduktif. Jika pertumbuhannya baik. Jenis tradisional (varietas Genjah) memiliki ciri-ciri : berbatang tinggi. berumur sedang. Masa pertumbuhan padi ladang terdiri dari tiga fase : (1) fase vegetatif. anakan sedikit.II. bentuk gabah bulat dan tahan terhadap kekeringan (Chang dan Vergara dalam Setiawan. Basyir et al.. iklim. dan (3) fase pemasakan. dan cuaca.

kemiringan lahan. dan tekstur tanah. And. Al Med. lahan tanaman padi ladang dikelompokkan menjadi empat kelas yaitu : sesuai. Al Med. kering. Gru = grumosol. La. Gupta dan O’Toole (1986) menyatakan bahwa curah hujan merupakan unsur agroklimat berpengaruh dominan terhadap pertumbuhan dan produkisi padi ladang. Al = aluvial. Menurut Bey dan Las dalam Setiawan (2000). terutama pada lahan kering dan tadah hujan. dan sangat kering. Pada Lahan tersebut padi ladang lebih banyak ditanam pada musim hujan karena kebutuhan air bagi tanaman tergantung sepenuhnya pada curah hujan. Al Reg Faktor Pembatas Tidak ada MT pendek Kesuburan tanah rendah-sedang Keterbatasan air Suhu. lamanya musim tanam. Al Med. RH. Med = mediteran. CH = curah hujan. agak sesuai. curah hujan merupakan unsur iklim yang besar pengaruhnya terhadap suatu sistem usahatani. And. And. Pod. Kelayakan lahan untuk pertanaman padi ladang menurut Jones dan Garrity dalam Setiawan (2000) didasarkan pada kecukupan dan ketersediaan air. Atas dasar keempat faktor tersebut. periode saat air tanah cukup bagi pertumbuhan tanaman. Gru And. And = andosol. Gru. . Pod.panen juga akan baik. Gru. La = latosol. Klasifikasi Kriteria Lingkungan Tumbuh Tanaman Padi Ladang Nilai No 1 2 3 4 Kelas Kesesuaian Sangat Sesuai Sesuai Sesuai Agak Sesuai Elevasi (m dpl) < 700 < 700 < 700 < 700 Lereng (%) <5 <5 <5 20 May MT (Bulan) 9 8-May >4 >4 CH (mm/th) 1500-3500 1500-3500 1500-3500 1500-3500 Jenis Tanah Med. Reg = regosol. Pod = podsolik. Kecukupan dan ketersediaan air ditentukan oleh empat faktor yaitu : curah hujan. La. Gru. Pod. dan topografi Fisik dan kimia tanah Suhu dan radiasi Kekurangan air 5 6 7 8 Agak Sesuai Tidak Sesuai Tidak Sesuai Tidak Sesuai 700-900 < 900 > 900 - < 20 20 > 20 - >4 >4 <4 > 1500 > 1800 > 3500 < 1500 Sumber Keterangan : Jones and Garrity dalam Setiawan (2000) : MT = musim tanam. Tabel 4. La.

Menurut Madkar et al. Tekstur tanah dengan kemampuan menyimpan air yang tinggi merupakan kondisi yang sesuai bagi tanaman padi ladang. 1986). Tanah dengan kemamp uan menyimpan air yang rendah dapat menimbulkan masalah kelembabam yang rendah setelah hujan berhenti. PH tanah yang sesuai untuk pertumbuhan padi ladang . Ketinggian areal pertanaman padi ladang bervariasi mulai dari dataran rendah sampai dataran dengan ketinggian 1500 meter di atas permukaan laut. bergelombang. pertumbuhan dan hasil padi ladang dipengaruhi oleh tekstur.. kemiringan lahan 0 sampai 8 persen. 2000). Intensitas radiasi matahari yang rendah.. 1995). dan pH tanah. bertopografi datar. menurut Gupta dan O’Toole (1986) merupakan penyebab rendahnya produksi padi ladang. curah hujan tinggi (lebih besar dari 1500 mm per tahun) dan musim tanaman panjang. Unsur iklim yang berperan dalam keberhasilan budidaya tanaman padi ladang adalah radiasi dan suhu udara (Basyir et al. Menurut De Datta dalam Setiawan (2000). perubahan unsur hara dalam tanah merupakan salah satu faktor yang membatasi produktivitas tanaman pada lahan kering.Lingkungan tumbuh akan mendukung pertumbuhan padi ladang apabila memiliki tekstur tanah halus hingga sedang. unsur hara. yaitu 5 hingga 12 bulan per tahun. tetapi berkorelasi negatif dengan produksi gabah selama fase pengisian gabah hingga masa panen (Murata 1976 dalam Setiawan. struktur. Sedangkan suhu udara berkorelasi positif dengan produksi padi selama fase vegetatif melalui jumlah tunas yang dihasilkan. dalam Setiawan (2000). Hal ini dapat menyebabkan ketersediaan unsur hara dalam tanah akan menurun (Gupta dan O’Toole. Padi ladang dapat tumbuh hampir pada semua jenis tanah. dan berbukit.

3.0 dapat menyebabkan tanaman padi ladang mengalami kekahatan unsur Zn (Gupta dan O’Toole. keracunan Fe dan Al. (3) Setelah tanah dibajak. Pengolahan tanah Pengolahan tanah dilakukan pada musim kering sebelum hujan turun. atau segera setelah tanaman yang mendahuluinya dipanen.0 padi ladang dapat mengalami gangguan kekahatan unsur P. 2.5 hingga 6. . Tanah lapisan bawah sedapat mungkin terangkat dan dibalik ke bagian atas. Budidaya Padi Ladang 2.3. pada pH yang lebih rendah dari 5. Pada tanah yang berat (tanah padat dan keras). (4) Dijaga agar tidak terjadi penggenangan air.1. pupuk kandang atau kompos. dilakukan pengolahan pendahuluan dengan menggunakan garpu.berkisar antara 5. dengan cara membuat petakan-petakan berukuran 10 × 5 meter atau dengan membuat bagian tengah tegalan lebih tinggi daripada pinggirannya. 1986). karena dapat mengancam kehidupan sekeliling petak. Teknih pengolahan tanah adalah sebagai berikut : (1) Tanah dibajak atau dicangkul dua kali atau lebih hingga tanah cukup gembur dan bersih dari rerumputan. Pengolahan tanah harus sampai kedalaman sedikitnya 25 sentimeter. sedangkan bila lebih dari 7. (2) Pada waktu membajak atau mencangkul yang kedua kali. tanah harus dihaluskan dengan garpu atau cangkul satu atau dua kali hingga tanah cukup halus. pupuk organik ditebarkan sebanyak sekitar 20 ton per hektar dengan menggunakan pupuk hijau.5.

diantaranya adalah : 1. Pemilihan Benih Benih yang bermutu adalah yang murni dengan kandungan air maksimal 14 persen. b. tetapi tergantung pada awal musim penghujan. yang berat jenisnya sekitar 1. Disebar merata langsung ke permukaan tanah.3. 2.2.01. Jika menanamnya bersamaan periode berlangsungnya hujan yang terus menerus. segar dan daya berkecambah tinggi (minimal 80 %). ada kemungkinan benih tersebut terbawa air atau terdorong lebih jauh masuk ke dalam tanah dan juga dapat berakibat kurang baik untuk tanaman muda karena akan mengakibatkan gangguan hama dan penyakit yang hebat.3. bebas dari hama dan penyakit. bersih dari campuran atau kotoran-kotoran. 2. Cara menanam Ada berbagai cara yang dapat digunakan dala m menanam.(5) Tanah dibiarkan saja sambil menunggu benih ditanam pada waktu permulaan musim hujan. Benih yang melayang atau terapung jangan dijadikan benih. Waktu tanam Waktu tanam sebaiknya dalam bulan Oktober dan November. Membuat aluran dengan kayu berujung runcing yang digariskan di atas tanah atau dengan cangkul atau kored dengan jarak antara aluran sekitar 60 . 2. Cara ini kurang lazim karena membutuhkan banyak benih yaitu sekitar 50 sampai 100 kilogram per hektar. yaitu setelah dua atau tiga kali turun hujan. Benih yang dipilih adalah benih yang tenggelam apabila benih dimasukkan dalam larutan garam atau larutan abu dapur. Penanaman a.3.

Jarak tanam pada tanah yang subur 15 × 20 sentimeter. jarak tanam yang terbaik adalah 20 × 20 sentimeter.lain. kacang hijau dan sebagainya. pemberantasan hama. Pupuk hijau ini ditanam berbaris dengan jarak antar barisan sekitar 90 hingga 120 sentimeter. K. dan abu (debu atau tanah halus). pupuk kandang atau pupuk kompos). Di sela-selanya dapat ditanami jagung. 2. dan pupuk kandang. 4. Untuk tiap lubang ditanam benih sebanyak 5 hingga 7 butir. atau campuran antara pupuk P. ketela. lubang benih ditutup dengan campuran pupuk P.3.4. . Pemakaian benih kurang lebih 30 sampai 40 kilogram per hektar. Dengan tugal. sedangkan pada tanah yang kurang subur 15 × 40 sentimeter.sentimeter sedalam 3 sentimeter. setelah benih dimasukkan. K. Pada permulaan musim hujan pupuk hijau ditebang dan dikuburkan pada waktu pengolahan tanah. Ke dalam aluran ditaburkan benih kemudian ditutup dengan tanah. Tumpangsari dengan tanaman lain dengan pengaturan sebaik-baiknya sehingga tidak merugikan tanaman pokok. dan lain. Tumpangsari dengan jagung dapat diatur dengan jarak tanam jagung 150 × 60 sentimeter. Pada jarak tertentu dibuat lubang dengan tugal. juga akan memudahkan dalam melakukan kegiatan lain di dalam pertanaman seperti penyiangan. sedalam 3 hingga 5 sentimeter. Pupuk hijau misalnya dengan menggunakan Crotalaria juncea ditanam 4 hingga 6 bulan sebelum tanah ditanami padi ladang. 3. Pengaturan jarak tanam yang sebaik-baiknya disamping akan mempertinggi hasil. Pemupukan a. Pemupukan dapat dilakukan dengan menggunakan pupuk organik (pupuk hijau.

Tanah yang cukup mengandung bahan organik akan lebih remah dan memiliki daya menahan air yang lebih besar.5 kwintal KCl) diberikan waktu penanaman sebagai pupuk dasar setelah dicampur dengan pupuk kandang. Pupuk organik meliputi sisa-sisa tanaman atau hewan. dan pupuk kandang adalah 0. Kebutuhan pupuk kandang atau kompos sekitar 15 hingga 20 ton setiap hektar. Cara pemberiannya adalah dengan membuat garitan sepanjang barisan tanaman. Pupuk organik terdiri dari kompos ataupun pupuk kandang.5 hingga 2 kwintal urea per hektar) diberikan dua kali. Pupuk fosfat (0. setengah pada saat 3 sampai 4 minggu sesudah benih ditugalkan dan setengah sisanya pada umur 6 sampai 7 minggu. yaitu masing.75 kwintal TSP) bersama dengan pupuk K (0. dan 30 kilogram K2 O tiap hektar. 30 kilogram P2 O5 . Pupuk kandang dan kompos diberikan dengan pengolahan tanah karena pupuk tersebut lama hancurnya. diisi dengan pupuk lalu ditutup lagi dengan tanah. Pupuk organik sangat bermanfaat pada tanah-tanah kering untuk memperbaiki struktur tanah. Tanah dengan sifat yang demikian sangat sibutuhkan untuik tanaman padi ladang. kalium.b. Jika abu atau debu halus sebagai campuran digunakan.75 : 1 : 20 (0.75 kwintal TSP + 1 kwintal ZK + 20 kwintal pupuk kandang). Bila pada pemberian pertama di sisi yang satu dari tanaman.masing pada saat dilakukan penyiangan (dua bulan sejak benih ditugalkan). Salah satu kelemahan pupuk organik . maka perbandingannya adalah 1 : 1 : 5. Pupuk N (1. abu atau debu atau tanah halus. maka pada pemberian kedua hendaklah pada sisi lain yang berlawanan. Perbandingan campuran pupuk fosfat. Pupuk organik ( upuk buatan) pada umumnya diberikan dengan dosis 60 p sampai 90 kilogram N. c.

Kirakira satu hingga dua minggu sebelum malai padi keluar.3. Kompos disebar pada waktu pembajakan terakhir. Isi gabah sudah mengeras tetapi bila dipijit dengan .3. 2. panen dilakukan pada stadia masak kuning yaitu apabila seluruh pertanaman nampak kuning. Penyiangan kedua pada saat tanaman berumur 60 hari.5. Panen dan Pengolahan Hasil Panen Untuk jenis-jenis yang mudah rontok. tanah di sekeliling tanaman padi dibumbun (didangir) atau dihancurkan sedikit agar pembuangan air lebih mudah. diperlukan sekitar 10 sampai 30 ton bahan organik. 2. Untuk me ncukupi kebutuhan hara bagi tanaman dalam satu hektar.adalah kadar haranya yang rendah. Penyulaman Sejak tanaman berumur seminggu sampai umur tiga minggu tanaman padi ladang masih boleh disulam. Pemeliharaan a. Penyiangan pertama dilakukan pada waktu tanaman berumur tiga sampai empat minggu. tetapi ya ng digunakan untuk menyulam adalah bibit yang diambil dari rumpun yang besar. kecuali buku-buku sebelah atas yang masih hijau. Penyiangan Penyiangan atau pemberantasan gulma dapat dilakukan dengan cara mekanis atau dengan cara kimiawi. dan pupuk buatan disebar pada waktu penggaruan terakhir. b.6. kadang-kadang sesudah umur satu bulan masih disulam. Di samping itu pupuk organik sering mengandung biji-biji gulma sehingga dapat mengganggu pertumbuhan tanaman. Tanah di sela-sela tanaman dicangkul supaya renggang dan ge mbur. tanaman sebaiknya dibumbun. Setelah penyiangan.

tikus. mengeringkan dan mengolahnya selanjutnya sama dengan caracara pada padi sawah.umbian.lain. ulat tentara. Cara mengetam. kepik padi hijau. Praktek perladangan menurut data arkeologi sudah dimulai pada saat manusia pertama kali mengubah jaman berburu dan mengumpulkan tanaman liar ke sistem berproduksi tanaman dan beternak dengan budidaya yang masih primitif.lain. 2. dan lain. Sistem Perladangan di Indonesia dan Perkembangannya Menurut Soekartawi (1986). menggabahkan.7. 2. dan lain. burung. Sedangkan penyakit yang umumnya menyerang padi ladang adalah penyakit bercak daun (Pyricularia oryzae). ladang atau tegalan adalah suatu lahan usahatani pada lahan kering yang biasa dipakai untuk usaha bercocok tanam. babi hutan. .4. panen dilakukan pada stadia masak penuh. jagung. penggerek batang. penyakit bercak daun Helminthosporium oryzae. Phytium sp. Sedangkan untuk jenis-jenis yang tidak mudah rontok. Perladangan merupakan wujud dari peradaban jaman dulu yang berlangsung turun temurun dan masih berkembang hingga sekarang. Tanaman yang biasa dibudidayakan adalah tanaman yang berumur pendek seperti padi ladang. walang sangit yang menyebabkan kosongnya sebagian dari malai.3. tanaman jenis kacang-kacangan dan umbi. Hama dan Penyakit Hama yang sering mendatangkan bahaya pada tanaman padi ladang dan perlu diperhatikan antara lain: lalat bibit yang dapat mengurangi kemampuan bertunas bahkan mematikan tanaman berumur setengah hingga satu setengah bulan.tangan isi gabah mudah pecah.

1994). terkadang memiliki pemukiman tetap. terkadang memiliki kebun. c. Berladang dengan siklus sedang diatas tujuh tahun dan memiliki pemukiman tetap. Peladang pada umumnya hidup berpencar berjauhan satu dengan yang lain. baik karena . 1978 dalam Hariyanto. b. mengelompokkan pola perladangan menjadi: a. Hal ini bukan karena sifat peladang yang enggan untuk hidup berdekatan. d. memiliki pemukiman tetap dan kebun. Dinas Kehutanan Kalimantan Barat (1981) dalam Hariyanto (1994). Berladang dengan siklus pendek sekitar lima tahun. baik antara tempat tinggal di dalam desa maupun antar desa yang satu dengan lainnya. Berladang berpindah tanpa siklus dan tidak memiliki pemukiman tetap. Sistem rotasi alami. melainkan merupakan usaha ntuk menyesuaikan antara kepentingan beercocok tanam dengan keadaan alamnya (Soemarwoto. Menurut Ditjen Kehutanan Direktorat Reboisasi dan Rehabilitasi (1981) dalam Hariyanto (1994) beberapa sistem perladangan yang ada di Indonesia adalah : a. Lahanlahan bekas perladangan yang sedang menurun produktivitasnya. e. Berladang dengan siklus panjang. input tenaga-tenaga sedikit dibandingkan dengan bercocok tanam yang lain. Berdasarkan jangka waktu rotasinya. tidak menggunakan tenaga hewan ataupun pemupukan dan tidak adanya konsep pemilikan tanah pribadi. Berladang setiap tahun. yang merupakan sistem yang paling sederhana.Demikian pula Pelzer dalam Geertz (1963) mengatakan bahwa perladangan itu ditandai oleh tidak adanya pembajakan.

Sistem ini terdapat di Sulawesi Selatan dan Sulawesi Tenggara.lahan perladangan pada saat penggarapan pertama sudah ditanami tanaman sela yang ditanam dalam bentuk larikan sejajar kontur. Sejak saat pertama penggarapan ladangnya. sehingga dapat berfungsi sebagai pencegah erosi serta penyubur tanah. merupakan suatu peningkatan dari sistem rotasi alami. Sistem tanaman sela. Lahan. Sistem tumpang sari. Yang dimaksud dengan talun adalah lapangan yang ditanami dengan berbagai macam pohon. yang merupakan perkembangan dari sistem rotasi alami. Tanaman sela itupun dibiarkan tumbuh sehingga suksesi alami berjalan lebih cepat. b. sebagai akibat masuknya pertimbangan pemilihan jenis tanaman yang disesuaikan dengan keadaan pasar dan kondisi fisik lahannya. . diserahkan begitu saja kepada kekuatan alam untuk merehabilitasi dirinya melalui suksesi alami. Sistem ini ditemui di Nusa Tenggara Timur terutama Kupang. Jenis dan susunan pepohonan tersebut dibuat sedemikian sehingga mempunyai prospek ekonomis serta sesuai dengan kebutuhan pemiliknya. Lampung dan Sumatera Selatan. Jenis-jenis tanaman keras yang dipilih adalah yang mempunyai prospek ekonomis baik seperti karet. c.tingkat kesuburannya sudah berkurang atau besarnya gangguan gulma. Sistem talun. baik kayu-kayuan maupun buah-buahan. para peladang menanam tanaman keras secara bersamaan dengan tanaman pangan. Sistem ini terdapat dipedalaman Kalimantan. d. kelapa. kopi dan cengkeh. Sistem talun ini muncul atau dikenal terdapat di daerah Jawa Barat. lada.

(b) membat pondok diladang. hutan sekunder. Rendahnya produksi yang dihasilkan oleh peladang . Merumput. yaitu : memotong pohon berdiameter besar dengan menggunakan kapak (beliung). yaitu : pekerjaan mencabut/membunuh rumput-rmput yang tumbuh diantara tanaman padi. Selain itu ada kegiatan lain yang menurut Dove (1988) dalam Hariyanto (1994). juga berguna untuk mengurangi keasaman tanah. Membakar daun dan ranting yang sudah kering. g. belukar dan yang terakhir padang alang-alang. Secara kronologis pekerjaan yang dilakukan adalah : a. yaitu : pemotongan belukar kecil dengan menggunakan parang Menebang. Mengetam atau memanen hasil padi. Menugal adalah membuat lubang. karena bila rumput dibiarkan tumbuh lebat. c. h. Pembakaran ini selain ditujukan untuk membersihkan lahan dari sisa-sisa penebasan dan penebangan.Simon (1981) dalam Hariyanto (1994). mengemukakan bahwa perladangan hampir selalu dilakukan dengan cara yang sama. (c) membuat alat-alat untuk bekerja di ladang. Pemilihan tempat. dengan urutan prioritas dari yang paling disukai : hutan perawan. maka tanaman padi akan tertekan sehingga hasilnya sangat rendah. b.lubang pada permukaan tanah dengan menggunakan ranting atau dahan yang diruncingkan ujungnya (tuga l) dimana biji-biji padi kemudian dimasukkan. pada dasarnya tidak berurutan yaitu : (a) memanen hasil tanaman bukan padi. e. Bila ditinjau dari aspek ekonomi peladang berpindah (perladangan) dicirikan oleh produktivitas yang rendah. f. Menjaga tanaman dari serangan hama seperti babi hutan. Menebas. Menugal dan menanam biji. d.

Keseluruhan faktor.faktor di atas menyebabkan rendahnya tingkat pendapatan usahatani peladang berpindah (Simon.juga ditunjukkan oleh ketidakpastian hasil ya ng disebabkan tingginya pengaruh iklim. 61 persen tidak . Akibatnya harga jual produksi yang dihasilkan rendah. Oleh karena itu sebagian dari peladang tidak berpendidikan sama sekali. tetapi juga kegunaannya tidak mencapai tingkat optimal yang diharapkan. Bagi pemerintah pun tidak mudah untuk menyelenggarakan fasilitas pendidikan dan fasilitas sosial lainnya. seperti yang dikemukakan Simon (1981) dalam Hariyanto (1994). hama dan penyakit. Produktivitas yang rendah cenderung diikuti pula oleh rendahnya kualitas produksi yang dihasilkan. bukan karena biayanya yang menjadi mahal. menyebabkan anak-anak peladang sangat sulit untuk mengikuti pendidikan formal secara teratur. Masyarakat di Kalimantan Timur. Dengan sifat perladangan yang masih tradisional upaya pengendalian terhadap hama dan penyakit juga dilaksanakan dengan cara yang sederhana. Dari aspek sosial peladang dicirikan oleh rendahnya tingkat pendidikan. 1994). tingkat ketrampilan dan pengetahuan yang dimiliki peladang dalam pengelolaan lahan serta tingginya angka kelahiran dan kematian penduduk karena masih rendahnya tingkat kesehatan. ditambah lagi dengan belum adanya prospek pemasaran hasil produksi dan sifat komoditi yang dihasilkan masih bersifat musiman. 1981 dalam Hariyanto. Tempat tinggal yang berpencar dan kemungkinan pindah mengikuti rotasi perladangan. Padahal bila dilihat dari lingkungan sistem perladangan kemungkinan uuntuk terserang hama dan penyakit sangat tinggi dan upaya pengendalian lebih sulit.

sedang 27 persen hanya pernah sekolah tidak lebih dari kelas tiga sekolah dasar. 1995). yaitu resiko. Sifat khas yang . ketidakpastian. Perilaku Ekonomi Petani Perilaku ekonomi mempunyai tiga hal yang patut diperhatikan (Scott. Pada petani kecil perolehan pendapatan usahataninya akan lebih banyak digunakan untuk mengembangkan usahataninya.pernah sekolah. 2. menjelaskan adanya perilaku enggan menerima resiko dalam pengambilan keputusan petani disebabkan oleh adanya dilema ekonomi petani sentral yang dihadapi oleh kebanyakan rumah tangga petani. Istilah resiko dimaksudkan kepada terjadinya kemungkinan merugi atau possibility of loss. Kehidupan petani di pedesaan begitu dekat dengan batas subsistensi. Sedangkan ketidakpastian adalah sesuatu yang tidak bisa diramalkan sebelumnya. jadi peluang akan terjadinya merugi akan diketahui terlebih dahulu. dalam Soekartawi (1986) memberikan indikasi bahwa sebagian besar petani subsistem mempunyai keengganan memikul resiko. serta selalu mengalami ketidakpastian cuaca dan tuntutan-tuntutan dari pihak luar. dalam Satria. 1981). dengan kecenderungan yang lebih besar pada pemilik lahan sempit dan umumnya dari petani penyakap. karena peluang terjadinya merugi belum diketahui sebelumnya (Soekartawi et al. karena kelebihan pendapatan sering digunakan untuk kepentingan lainnya.5. sering ditemui bahwa semakin kecil petani melakukan capital formation dalam usahataninya. Scott (1981). dan karena itu kondisi tersebut menyebabkan rumah tangga petani tidak banyak mempunyai peluang untuk menerapkan keuntungan maksimal dalam berusahatani. Dalam banyak hal. Dillon et al.. serta keuntungan.

2.1.995.091.1.dengan harga jual rata-rata sebesar Rp.-. tetapi sebagian besar petani menengah juga bertindak serupa.824.1.senantiasa ada pada diri petani ialah berusaha menghindari kegagalan yang akan menghancurkan kehidupannya dan bukan berusaha memperoleh keuntungan besar dengan mengambil resiko.438 kilogram dengan harga jual rata-rata Rp.. Perilaku demikian yang disebut juga perilaku safety first atau mendahulukan keamanan merupakan ciri umum petani.6..647.100.1. Dengan kata lain petani berusaha meminimumkan keuntungan subjektif dari kerugian maksimum. Dengan komposisi biaya seperti ini..700. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata penerimaan petani dari produksi padi ladang per hektar per musim tanam sebesar Rp. Penelitian ini melakukan analisis tentang pendapatan dan efisiensi penggunaan faktor produksi usahatani padi ladang secara tumpangsari dengan jagung di Kecamatan Kadipaten.312. pendapatan atas biaya tunai yang diperoleh petani adalah sebesar Rp.sedangkan pendapatan atas biaya total ..109.. Kabupaten Tasikmalaya.200.450.575.348.683.per kilogram dan produksi padi ladang per hektar rata-rata sebesar 793 kilogram dalam bentuk gabah kering panen. sehingga penerimaan dari produksi jagung sebesar Rp. total penerimaan petani dari usahatani padi ladang yang ditumpangsari dengan jagung sebesar Rp.per kilogram.100.1. Biaya tunai yang dikeluarkan dalam usahatani padi ladang tumpangsari dengan jagung sebesar Rp.-. Hasil Penelitian Terdahulu Penelitian terdahulu mengenai usahatani padi ladang atau padi gogo dilakukan oleh Susanto (2004). Jadi.sedangkan biaya total sebesar Rp. Bukan saja petani miskin yang memiliki perilaku tersebut. Sedangkan ratarata jagung yang dihasilkan per hektar sebesar 1.

faktor lain di luar model yang diduga berpengaruh tersebut adalah tingkat kesuburan lahan. pupuk KCl.. diperoleh hasil bahwa penggunaan faktor produksi pupuk Urea. KCl.8 berarti bahwa 67. puuk KCl dan tenaga kerja tidak berpengaruh nyata terhadap nilai produksi pada taraf kepercayaan yang ditentukan. dan tenaga kerja tidak efisien (berlebihan).sebesar Rp. Penggunaan faktor produksi . Dari analisis model fungsi produksi Cobb-Douglas yang dilakukan Susanto (2004). dan nilai koefisien determinasi (R2 ) sebesar 74.5 dengan nilai koefisien determinasi terkoreksi (R2 -adjusted) sebesar 67. dan rasio R/C atas biaya total sebesar 1.8. diperoleh hasil bahwa faktor produksi jumlah benih. diperoleh hasil F-hitung yang nyata pada taraf kepercayaan 95 persen. jumlah benih. TSP. dan tenaga kerja. pupuk TSP. pupuk Urea. pupuk Urea. Nilai R2 -adjusted sebesar 67. dan faktor iklim.Jadi rasio R/C atas biaya tunai diperoleh sebesar 2.170. Hal ini berarti dari segi analisis pendapatan usahatani padi ladang secara tumpangsari dengan jagung menguntungkan karena penerimaan yang lebih besar dari biaya total yang dikeluarkan. intensitas serangan hama.92.09. Sedangkan faktor produksi luas lahan. yang ditunjukkan oleh rasio NPM dan BKM yang lebih kecil dari satu. Faktor. Berdasarkan analisis efisiensi dengan rasio NPM dan BKM. Berdasarkan hasil uji-t yang dilakukan Susanto (2004). dan pupuk TSP berpengaruh nyata terhadap nilai produksi. Sedangkan penggunaan faktor produksi luas lahan dan jumlah benih masih kurang untuk mencapai level efisien.2 persen lainnya dari keragaman nilai produksi dipengruhi faktor.8 persen kergaman pada nilai produksi dapat dijelaskan oleh variabel bebas yang digunakan dalam fungsi produksi yaitu luas lahan.625.faktor lain di luar model regresi. Sedangkan 32.

pupuk. Namun dari segi analisis pendapatan dengan menggunakan analisis rasio R/C. jenis varietas padi. Penelitian ini menyimpulkan bahwa teknologi usahatani padi ladang yang digunakan di wilayah Luar Baduy (Jalupang Mulya) lebih maju dibandingkan dengan Baduy Luar. pengalaman bertani. jenis alat pengolahan lahan. status penguasaan lahan.11. Hal ini dilihat dari : tingkat pendidikan. lebih besar daripada R/C atas biaya tunai untuk Luar Baduy yang sebesar 0. dilihat dari segi intensitas penggunaan lahan.yang tidak efisien ini diduga disebabkan oleh pengetahuan petani yang terbatas akibat tingkat pendidikan dan tingkat ekonomi yang rendah serta status penguasaan lahan. Kecamatan Leuwi Damar.22. Demikian juga dengan R/C atas biaya tunai untuk wilayah Baduy Luar sebesar 1. luas lahan garapan. . dimana rasio R/C atas biaya total untuk Baduy Luar sebesar 0. Rendahnya nilai rasio R/C untuk usahatani padi ladang di wilayah Luar Baduy diduga disebabkan oleh : (1) Tingkat kesuburan lahan di wilayah Baduy Luar yang lebih subur dibandingkan dengan wilayah Luar Baduy. Kabupaten Lebak.26 sedangkan R/C atas biaya total untuk luar baduy sebesar 0. Penelitian lain mengenai padi ladang dilakukan oleh Rahayu (2001) dengan judul “Perbandingan Usahatani Padi Ladang Baduy Luar dan Luar Baduy Dilihat Dari Tingkat Efisiensi dan Subsistensi Usahatani” di Desa Kanekes dan Desa Jalupang Mulya. usahatani padi ladang di wilayah Baduy Luar (Kanekes) menghasilkan nilai rasio R/C yang lebih tinggi daripada Luar Baduy (Jalupang Mulya). obat dan cara pengobatan hama dan penyakit tanaman.39. serta alat pengolahan padi. Banten.

Bali. sedangkan usahatani padi ladang untuk wilayah termasuk dalam usahatani semi-subsisten mengarah ke subsisten (Transisi-Statis). dan Irian Jaya.(2) Tingkat upah tenaga kerja luar keluarga di wilayah Luar Baduy lebih tinggi daripada wilayah Baduy Luar. sementara usahatani padi ladang di wilayah Baduy Luar tidak menggunakan pupuk dan pestisida sama sekali. Wana (2000) mengelompokkan Indonesia menjadi tiga daerah regional yaitu : Regional I meliputi seluruh provinsi Jawa. dan Nusa Tenggara Barat. (4) Penggunaan pupuk dan pestisida yang belum tepat untuk wilayah Luar Baduy.faktor yang mempengaruhi produksi luas areal panen padi lahan kering (ladang) di seluruh regional adalah : . Timtim. (3) Kondisi lingkungan usahatani padi ladang di wilayah Luar Baduy yang sedang terserang hama dan penyakit. Kesimpulan ini diambil berdasarkan analisis terhadap : tujuan produksi.subsisten mengarah ke komersial (TransisiDinamis). serta tingkat pendayagunaan lembaga pertanian. Regional III meliputi seluruh provinsi di pulau Sulawesi. Penelitian ini menyimpulkan bahwa faktor. usahatani padi ladang di wilayah Luar Baduy tergolong usahatani semi. nilai rasio upah tenaga kerja dan rasio faktor input. Maluku. Penelitian yang dilakukan Wana (2000) dengan judul “Analisis Faktorfaktor Produksi Padi Lahan Kering di Indonesia”. Dilihat dari segi tingkat subsistensi. melakukan analisis pendugaan model respon areal luas panen dan produktivitas padi lahan kering di seluruh Indonesia. Regional II meliputi seluruh provinsi di pulau Sumatera dan Kalimantan. NTT.

Pendapatan atas biaya tunai dan biaya total yang diperoleh daerah dengan lahan sawah yang menggunakan irigasi teknis juga lebih tinggi daripada lahan sawah beririgasi sederhana. Berdasarkan analisis model fungsi produksi . kegiatan produksi harus tetap ditingkatkan. harga ubikayu. Sedangkan faktor. luas lahan kering. dan luas areal panen padi tahun sebelumnya. Penelitian ini juga memperoleh kesimpulan bahwa peningkatan produksi dengan mengupayakan peningkatan luas areal dan produktivitas padi ladang pada umumnya tidak responsif terhadap faktor. Penelitian ini menyimpulkan bahwa tingkat produksi per hektar di daerah irigasi teknis lebih tinggi daripada daerah irigasi sederhana.harga beras.7554. Kecamatan Rawalo). Kecamatan Jatilawang) dan irigasi sederhana (Desa Losari.947 kwintal dalam satu tahun (dua musim tanam). Jawa Tengah. dan harga pupuk TSP. Perbedaan tingkat produksi tersebut 24.faktor yang mempengaruhi produksi dan pendapatan usahatani padi sawah pada jaringan irigasi teknis (Desa Tinggar Jaya. varietas unggul. Kabupaten Banyumas. Rasio R/C atas biaya total di Desa Tinggar Jaya (irigasi teknis) sebesar 1. Akan tetapi dalam upaya memenuhi kebutuhan beras nasional dan mengurangi impor beras.faktor yang berpengaruh.5574 dan di Desa Losari (irigasi sederhana) sebesar 1. Yelni (1999) meneliti tentang faktor.4193. sedangkan di Desa Losari (irigasi sederhana) sebesar 2. curah hujan.faktor yang mempengaruhi produktivitas padi lahan kering (ladang) di seluruh regional adalah harga pupuk urea.4637. yang memberi indikasi bahwa di Indonesia terutama di Jawa peningkatan luas areal panen dan produktivitas sudah hampir mendekati level optimum. Rasio R/C atas biaya tunai di Desa Tinggar Jaya (irigasi teknis) sebesar 2. harga jagung. harga kedelai.

63.05 < a = 0.dengan menggunakan analisis model Cobb-Douglas. Kabupaten Karawang. diperoleh hasil bahwa untuk usahatani padi sawah di Desa Tinggar Jaya (irigasi teknis). Produktivitas padi organik sebesar 4. Faktor. disimpulkan bahwa usahatani padi organik berada pada kondisi decreasing return to scale (hasil yang semakin menurun). jumlah benih yang digunakan. Penelitian ini menyimpulkan bahwa produktivitas padi organik (input rendah) lebih kecil dibandingkan padi konvensional. Sedangkan untuk usahatani padi sawah di Desa Losari (irigasi sederhana). sedangkan faktor. Sedangkan faktor.68 dan 1. sedangkan rasio R/C atas biaya tunai dan atas biaya total pada usahatani padi sawah konvensional sebesar 2. pupuk urea. dan penggunaan tenaga kerja.05 adalah benih dan pupuk.faktor yang berpengaruh nyata adalah penggunaan tenaga kerja dan dummy luas lahan.faktor yang berpengaruh nyata terhadap produksi pada usahatani padi sawah organik luas lahan. Wijaya (2002) melakukan penelitian tentang perbandingan pendapatan dan efisiensi usahatani padi sawah organik (input rendah) dan usahatani padi sawah konvensional di Kecamatan Tempuran. faktor. jumlah pupuk TSP yang digunakan. dan tenaga kerja. faktor-faktor yang berpengaruh nyata pada a = 0. Berdasarkan analisis fungsi produksi dengan menggunakan model fungsi produksi Cobb-Douglas. Rasio R/C atas biaya tunai dan atas biaya total pada usahatani padi sawah organik didapat sebesar 2.569 kg/ha sedangkan produktivitas padi sawah konvensional sebesar 5.14 dan 1.10 adalah penggunaan pestisida dan dummy luas lahan. .faktor yang berpengaruh nyata terhadap produksi pada usahatani padi sawah konvensional adalah luas lahan.faktor yang berpengaruh nyata pada 0. pestisida butir.72.263 kg/ha.

pestisida butir.faktor yang penggunaannya berlebihan adalah pupuk urea dan TSP. pupuk organik. artinya syarat keharusan untuk mencapai level efisien tidak teroenuhi sehingga penggunaannya untuk mencapai efisien tidak dapat diramalkan karena rasio NPM dan BKM tidak akan pernah sama dengan satu (NPM/BKM ? 1). Hal ini terbukti dari nilai NPM/BKM semua faktor produksi yang tidak sama dengan satu. Untuk faktor benih dan pestisida cair didapat nilai rasio NPM dan BKM yang negatif. Faktor-faktor yang penggunaannya harus ditingkatkan agar dicapai level efisien adalah luas lahan. . Sedangkan faktor.Berdasarkan analisis efisiensi ekonomi dengan menggunakan rasio Nilai Produk Marjinal dan Biaya Korbanan Marjinal (NPM/BKM) untuk usahatani padi sawah organik. diketahui bahwa penggunaan faktor-faktor produksi belum efisien. pupuk daun. dan tenaga kerja.

lantai jemur. Bachtiar Rifai dalam Hernanto. traktor. unsur ini dalam usahatani mempunyai fungsi sebagai usaha tempat bercocok diselenggarakannya tanam. Adanya lahan dalam luasan dan produk yang tertentu. garpu. KERANGKA PEMIKIRAN 3. gudang. d. memelihara dan lain.1. dan lain. 1988).III. parang. Adanya pencurahan kerja untuk mengolah tanah. linggis. menanam. .B. kandang. penyemprot.lain. Adanya alat-alat pertanian seperti cangkul. Adanya bangunan yang berupa rumah petani. Konsep Usahatani Usahatani adalah setiap kombinasi yang tersusun (terorganisasi) dari alam.lain. kerja dan modal yang ditujukan kepada produksi di lapangan pertanian (T.lain. pemeliharaan hewan ternak dan tempat keluarga tani bermukim. c. pompa air dan lain. maka suatu usahatani dapat digambarkan lebih rinci sebagai berikut : a. b. Berdasarkan pengertian di atas.

(2) bentuk tidak khusus yaitu usahatani yang terdiri dari berbagai cabang usaha pada berbagai bidang tanah. dimana penggunaan faktor. Soeharjo dan Patong (1973) menyatakan bahwa pendapatan adalah balas jasa dari kerjasama faktor.faktor produksi lahan. Soeharjo dan Patong (1973) dalam Soekartawi (1986). Pendapatan Usahatani Pemenuhan kebutuhan hidup rumahtangga usahatani dicukupi dari pendapatan usahatani. Sedangkan bentuk usahatani terdapat tiga jenis yang menunjukkan bagaimana suatu kondisi diusahakan yaitu : (1) bentuk khusus dimana petani hanya mengusahakan satu jenis usaha dari sebidang tanah. mengatakan bahwa ada dua pola usahatani yang sangat pokok yaitu pola usahatani lahan basah dan lahan kering. menyewakan lahan dan lain sebagainya.e. dan (3) bentuk campuran yaitu usahatani yang memadukan beberapa cabang usaha secara bercampur. baik yang dijual maupun untuk dikonsumsi keluarga atau dipergunakan lagi dalam proses produksi selanjutnya. Secara umum dalam setiap rumahtangga usahatani pada hakekatnya terdapat dua kegiatan ekonomi yaitu kegiatan usaha dan kegiatan rumahtangga atau keluarga. Keluarga usaha menghasilkan produksi.unsur produksi. tenaga kerja. modal dan jasa pengelolaan. Adanya kegiatan petani yang menetapkan rencana usahataninya. misalnya menjual kelebihan alat-alat produksi. Untuk kegiatan rumahtangga pada umumnya bersifat konsumtif. mengawasi jalanya usahatani dan menikmati hasil usahataninya. 3. Pendapatan usahatani tidak hanya berasal dari kegiatan produksi saja tetapi dapat juga diperoleh dari hasil menyewakan atau menjual unsur.faktor produksi cenderung bersaing dan batas pemisahan antara cabang usahatani kurang jelas. .2.

d. . Penerimaan total usahatani merupakan nilai semua yang habis terpakai atau dikeluarkan dalam produksi termasuk biaya yang diperhitungkan. Pengeluaran total usahatani merupakan selisih antara penerimaan kotor usahatani dan pengeluaran total usahatani. Pendapatan tunai usahatani adalah produk usahatani dalam jangka waktu tertentu. Secara harfiah pendapatan dapat didefenisikan sebagai sisa dari pengurangan nilai penerimaan yang diperoleh dengan biaya yang dikeluarkan. Dengan melakukan analisis pendapatan usahatani dapat diketahui gambaran keadaan aktual usahatani sehingga dapat melakukan evaluasi dengan perencanaan kegiatan usahatani pada masa yang akan datang.Berkaitan dengan ukuran pendapatan dan keuntungan. c. Penerimaan tunai usahatani merupakan nilai uang yang diterima dari penjualan b. baik yang dijual maupun tidak dijual. Soekartawi (1986) mengemukakan beberapa definisi : a. e. Pendapatan yang diharapkan tentu saja memiliki nilai positif dan semakin besar nilainya semakin baik. meskipun besar pendapatan tidak selalu mencerminkan efisiensi yang tinggi karena pendapatan yang besar mungkin juga diperoleh dari investasi yang jumlahnya besar pula. produk usahatani. Untuk mengukur keberhasilan usahatani biasanya dilakukan dengan melakukan analisis pendapatan usahatani. Pengeluaran tunai usahatani adalah jumlah uang yang dibayarkan untuk pembelian barang dan jasa bagi usahatani.

penggunaan benih dari hasil produksi dan penyusutan dari sarana produksi. Pendapatan usahatani terbagi atas pendapatan kotor usahatani dan pendapatan bersih usahatani. Pendapatan kotor usahatani merupakan selisih dari penerimaan usahatani . pajak dan bunga pinjaman. Biaya dalam usahatani dapat dibedakan menjadi biaya tunai dan biaya yang diperhitungkan.Untuk menganalisis pendapatan usahatani diperlukan informasi mengenai keadaan penerimaan dan pengeluaran selama jangka waktu yang ditetapkan. Pengeluaran usahatani secara umum meliputi biaya tetap (fixed cost) dan biaya variabel (variable cost). Biaya tetap adalah biaya yang sifatnya tidak dipengaruhi oleh jumlah produksi yang dihasilkan. biaya ini dapat berupa faktor produksi yang digunakan petani tanpa mengeluarkan uang tunai seperti sewa lahan yang diperhitungkan atas lahan milik sendiri.faktor produksi dalam melakukan proses produksi usahatani. Biaya variabel dapat berupa biaya yang dikeluarkan unt uk benih. pestisida dan upah tenaga kerja. Sedangkan biaya yang diperhitungkan merupakan pengeluaran yang secara tidak tunai dikeluarkan petani. penggunaan tenaga kerja dalam keluarga. Biaya tetap dapat berupa biaya sewa lahan. pupuk. Biaya variabel adalah biaya yang sifatnya dipengaruhi jumlah produksi yag dihasilkan. Sedangkan biaya atau pengeluaran usahatani adalah nilai penggunaan faktor. Penerimaan usahatani adalah nilai produksi yang diperoleh dalam jangka waktu tertentu dan merupakan hasil perkalian antara jumlah produksi total dengan harga satuan dari hasil produksi tersebut. Biaya tunai usahatani merupakan pengeluaran tunai yang dikeluarkan oleh petani. Pendapatan kotor usahatani mengukur pendapatan kerja petani tanpa memasukkan biaya yang diperhitungkan sebaga i komponen biaya.

Kriteria kelayakan usahatani dapat diukur dengan menggunakan analisis imbangan penerimaan dan biaya (R/C ratio analysis) yang didasarkan pada perhitungan secara finansial. Analisis Imbangan Penerimaan dan Biaya (R/C Ratio Analysis) Menurut Soeharjo dan Patong (1973). 3.dengan biaya tunai usahatani. Semakin besar nilai R/C maka akan semakin besar pula .3. pendapatan yang besar bukanlah sebagai petunjuk bahwa usahatani efisien. Pendapatan bersih usahatani diperoleh dari selisih penerimaan usahatani dengan biaya total usahatani. Suatu usahatani dikatakan layak apabila memiliki tingkat efisiensi penerimaan yang diperoleh atas setiap biaya yang dikeluarkan hingga mencapai perbandingan tertentu. Analisis ini menunjukkan besar penerimaan usahatani yang akan diperoleh petani untuk setiap rupiah biaya yang dikeluarkan untuk kegiatan usahatani. Sedangkan pendapatan bersih usahatani mengukur pendapatan kerja petani dari seluruh biaya usahatani yang dikeluarkan.

penerimaan usahatani yang diperoleh untuk setiap rupiah biaya yang dikeluarkan atau usahatani dikatakan menguntungkan. Kegiatan usahatani dikategorikan layak jika memiliki nilai R/C ratio lebih besar dari satu, artinya setiap tambahan biaya yang dikeluarkan akan menghasilkan tambahan penerimaan yang lebih besar daripada tambahan biaya atau secara sederhana kegiatan usahatani menguntungkan. Sebaliknya kegiatan usahatani dikategorikan tidak layak jika memiliki nilai R/C ratio lebih kecil dari satu, yang artinya untuk setiap tambahan biaya yang dikeluarkan akan menghasilkan tambahan penerimaan yang lebih kecil daripada tambahan biaya atau kegiatan usahatani merugikan. Sedangkan untuk kegiatan usahatani yang

memiliki nilai R/C ratio sama dengan satu berarti kegiatan usahatani berada pada keuntungan normal. 3.4. Teori Produksi Setiap proses produksi melibatkan suatu hubungan yang erat antara faktorfaktor produksi yang digunakan dengan produk yang dihasilkan . Faktor- faktor produksi seperti lahan, pupuk, tenaga kerja, modal dan sebagainya sangat mempengaruhi terhadap besar kecilnya produksi yang diperoleh. Keputusan penggunaan sumber daya atau input, baik dalam kuantitas maupun kombinasi yang dibutuhkan dalam suatu tingkat produksi ditentukan oleh petani (produsen).
Y (Produksi)

TP

I

II

III

Keterangan

: TP MP AP

= Total Produksi = Marginal Product (Produk Marjinal) = Average Product (Produk Rata-rata)

Fungsi produksi secara sederhana dapat digambarkan sebagai hubungan fisik atau hubungan teknis antara jumlah faktor produksi yang digunakan dengan jumlah produk yang dihasilkan per satuan waktu tanpa memperhatikan faktor harga.

Seperti ditunjukkan dalam Gambar 1, fungsi produksi didefinisikan sebagai hubungan antara input dengan output yang menunjukkan suatu tingkat dimana sumberdaya dapat diubah sehingga menghasilkan produk tertentu (Doll dan Orazem, 1984). Dengan kata lain fungsi produksi menggambarkan kombinasi penggunaan beberapa faktor produksi untuk menghasilkan suatu tingkat produksi tertentu. Secara matematis, fungsi produksi dapat dinyatakan sebagai berikut (Doll dan Orazem, 1984) : Y = f(X1 , X2 , X3 ,…,Xn ) .......................................................... (3.1) Keterangan : Y X1 ,X2 ,..,Xn f : Jumlah produksi yang dihasilkan dalam proses produksi : Faktor- faktor produksi yang digunakan dalam proses produksi : Bentuk hubungan yang mentransformasikan faktor- faktor produksi ke-n dalam hasil produksi

Menurut Doll dan Orazem (1984), suatu fungsi produksi dapat dibagi ke dalam tiga daerah produksi. dapat Daerah

produksi

tersebut

dibedakan dari

berdasarkan

elastisitas

produksi

faktor-faktor produksi. Pada Gambar 1,

Syarat keharusan untuk tercapainya keuntungan maksimum adalah tingkat produksi yang terjadi harus berada pada daerah II dalam kurva fungsi produksi. Hal ini berarti bahwa penggunaan faktor. antara nol dan satu (daerah II). Keuntungan maksimum belum tercapai. karena produksi masih dapat diperbesar dengan pemakaian faktor produksi yang lebih banyak.faktor produksi sudah . Pada tingkat tertentu dari penggunaan faktor-faktor produksi di daerah ini akan memberikan keuntungan maksimum. Oleh karena itu daerah I disebut sebagai daerah irrasional (irrational region atau irrational stage of production). artinya setiap penambahan faktor produksi sebesar satu persen akan menyebabkan penambahan produksi paling tinggi satu persen dan paling rendah nol. elastisitas produksi bernilai antara nol dan satu. mempunyai nilai elastisitas produksi lebih besar dari satu. Daerah produksi I yang terletak antara 0 dan X2.ketiga daerah tersebut adalah daerah dengan elastisitas produksi yang lebih besar dari satu (daerah I). Pada daerah ini yang terletak antara X2 dan X3. Daerah ini dicirikan oleh penambahan hasil produksi yang peningkatannya makin berkurang (decreasing return to scale). dan lebih kecil dari nol (daerah III). yang berarti bahwa penambahan faktor produksi sebesar satu persen akan menyebabkan penambahan produksi yang selalu lebih besar dari satu persen.

1984).optimal.faktor produksi akan menyebabkan penurunan jumlah produksi yang dihasilkan.5. 3. Daerah produksi ini mencerminkan pemakaian faktor..2)  i =1  Keterangan : π = pendapatan usahatani Py = harga per unit produksi i = 1.n Y = hasil produksi Px i = harga pembelian faktor produksi ke –i Xi = jumlah faktor produksi ke.…. maka turunan pertama dari fungsi keuntungan adalah : ∂π ∂Y = Py − Px i = 0 ∂X i ∂X i = ∂Y − Px i = 0 ∂X i .i yang digunakan dalam proses produksi TFC = Total Fixed Cost (Biaya Tetap Total) Dengan demikian untuk memenuhi syarat tercapainya keuntungan maksimum.3. sehingga daerah ini disebut juga sebagai daerah irrasional. Fungsi keuntungan yang diperoleh usahatani dapat dinyatakan sebagai berikut : n  π = Py . Daerah Produksi III mempunyai elastisitas produksi lebih kecil dari nol.faktor produksi yang sudah tidak efisien.X i + TFC  ………………………………………. Syarat untuk mencapai keuntungan maksimum adalah turunan pertama dari fungsi keuntungan terhadap masing. Oleh karena itu daerah II disebut sebagai daerah rasional (rational region atau rational stage of production). artinya setiap penambahan faktor. (3.Y − ∑ Px i .2.masing faktor produksi sama dengan nol (Doll dan Orazem.. Efisiensi Ekonomi Usahatani akan mencapai efisiensi ekonomi jika tercapai keuntungan maksimum.

Px i .6) . maka persamaan diatas menjadi : Py. atau secara matematis dapat dituliskan : Xi = f (Py .i (Py.i tersebut (P x i ).3) ∂X i Dari persamaan tersebut dapat diketahui bahwa level penggunaan faktor produksi ke-i yang efisien merupakan fungsi dari harga output. Pxi keterangan : Py.MP x i = Nilai Produk Marjinal (NPM) faktor produksi ke-i P xi = Biaya Korbanan Marjinal (BKM) faktor produksi ke-i (3.Py ∂Y = Px i ………………………………………………………….5) Sesuai dengan prinsip keseimbangan marjinal (equi-marginal principle)..MPxi = 1 ……………………………………………………….i dan jumlah output yang dihasilkan. Pada saat inilah keuntungan maksimal tercapai. Penambahan penggunaan faktor produksi berhenti ketika Py.MPx i = Pxi ……………………………………………………… (3. Secara matematis keuntungan maksimum dari penggunaan faktor produksi ke-i dinyatakan sebagai berikut : Py.4) Dengan mengetahui ∂Y ∂X i sebagai Marginal Product (MPxi) faktor produksi ke-i.MP x i ) harus lebih besar daripada tambahan biaya yang dikeluarkan untuk pembelian faktor produksi ke.MP x i = P x i . bahwa untuk mencapai keuntungan maksimal. (3. tambahan nilai produksi akibat tambahan penggunaan faktor produksi ke. Y) ……………………………………………………… (3. harga faktor produksi ke..

. Ketika Py. Jadi secara umum keuntungan maksimum dari penggunaan n faktor produksi akan diperoleh pada saat : PyMPx1 PyMPx2 PyMPx3 PyMPxn = = = . Px1 Px2 Px3 Pxn (3.7) Dengan asumsi Py dan P x i merupakan nilai yang konstan. = = 1 ……………….MPxi < Pxi maka penggunaan faktor produksi harus dikurangi. maka penggunaan ∂X i faktor produksi harus ditambah agar tercapai keuntungan maksimum. Sebaliknya.MP x i > P x i . maka hanya ∂Y yang mengalami perubahan ... jika Py.Artinya keuntungan maksimum tercapai pada saat tambahan nilai produksi akibat tambahan penggunaan faktor produksi ke-i harus sama dengan biaya korbanan marjinal atas faktor produksi ke-i tersebut atau rasio keduanya sama dengan satu. .

Kecamatan Teluk Jambe. METODE 4. Pemilihan lokasi dilakukan secara purposive yaitu di Desa Wanajaya. Lokasi dan Waktu Penelitian PENELITIAN Pengumpulan data dilakukan dari bulan Mei hingga Juni 2005 sekitar satu bulan setelah musim panen padi ladang di lokasi penelitian. Desa Wanajaya Alasan memilih desa tempat sebagai pengambilan data adalah karena desa tersebut memiliki luas lahan padi ladang yang paling besar diantara desa-desa lain di Kecamatan Teluk Jambe. .1. Kabupaten Karawang.IV.

Metode Pengumpulan Data dan Penentuan Sampel Data yang digunakan dalam penelitian ini meliputi data primer dan sekunder .2. 4. Jumlah petani contoh sebanyak 40 orang yang merupakan petani pemilik. petani penggarap dan petani pemilik penggarap. selain itu juga untuk mengetahui tingkat efisiensi penggunaan faktor-faktor produksi agar usahatani berada pada skala optimal.Pemilihan Kecamatan Teluk Jambe didasarkan pada pertimbangan bahwa kecamatan penghasil ini padi merupakan ladang di salah satu Kabupaten Karawang. Pemilihan petani contoh . Data primer yang dikumpulkan dengan melakukan pengamatan dan wawancara langsung dengan petani responden dengan mengajukan pertanyaan yang dibuat dalam bentuk kuesioner yang telah dipersiapkan sebelumnya. Penelitian ini didesain untuk mengetahui tingkat pendapatan usahatani padi di lahan kering.

1. Di samping wawancara terstruktur. 4. Balai Penelitian Tanaman Pangan. Departemen Pertanian. Pengolahan data dilakukan dengan menggunakan program Microsoft Excel dan Minitab 13 for Windows. pengolahan dan penyusunan dalam bentuk tabulasi untuk selanjutnya dianalisis. karya ilmiah yang berkaitan dengan masalah penelitian dan melalui internet. majalah.3.dilakukan secara acak sederhana (simple random) dari suatu daftar petani yang telah dipersiapkan sebelumnya. Data sekunder diperoleh dengan cara penelusuran kepustakaan buku. Kecamatan Teluk Jambe. Data yang telah terkumpul kemudian mengalami tahapan pengeditan. Sedangkan analisis kuantitatif dilakukan untuk mengetahui faktor. Metode Analisis Data Analisis data dilakukan secara kualitatif dan kuantitatif. artikel. laporan penelitian. Analisis Pendapatan Usahatani . dilaksanakan pula wawancara tidak terstruktur dengan sejumlah perangkat desa.3. dan Pemerintah Daerah di lokasi penelitian. analisis fungsi produksi dan analisis efisiensi. 4.faktor yang mempengaruhi produksi dan tingkat efisiensi usahatani padi ladang dengan menggunakan analisis pendapatan usahatani. anggota Badan Perwakilan Desa (BPD) serta kelembagaan lain di desa. Selain itu data sekunder juga diperoleh dari Biro Pusat Statistik. Analisis kualitatif digunakan untuk mengetahui gambaran umum usahatani padi dan keragaan usahatani padi lahan kering di Desa Wanajaya. Kabupaten Karawang. Pusat Penelitian dan Pengembangan Sosial Ekonomi Pertanian.

. Penghitungan pendapatan usahatani dirumuskan secara matematis seperti pada persamaan berikut : GFI = NP . (4.Untuk menganalisis pendapatan usahatani dilakukan pencatatan terhadap seluruh penerimaan dan pengeluaran usahatani dalam satu musim tanam. Dalam analisis ini data penerimaan usahatani dan pengeluaran usahatani dibandingkan ke dalam satu rasio.(BT + BD) …………………………………………….1) (4.2) atau bisa juga ditulis secara singkat sebagai berikut : NFI = GFI – BD ………………………………………………….. 4. . Keterangan : GFI = Gross Farm Income (Pendapatan kotor usahatani) NFI = Net Farm Income (Pendapatan bersih usahatani) NP = Nilai Produksi BT = Biaya Tunai Usahatani BD = Biaya yang Diperhitungkan (4.2.3.3) dimana Pendapatan Bersih Usahatani (NFI) merupakan hasil pengurangan biaya diperhitungkan dari Pendapatan Kotor Usahatani (GFI). NFI = NP .BT ……………………………………………………. yaitu dibedakan menjadi R/C atas biaya tunai dan R/C atas biaya total. Kemudian dilakukan penghitungan pendapatan usahatani atas biaya tunai atau pendapatan kotor usahatani dan penghitungan pendapatan usahatani atas biaya total atau pendapatan bersih. yaitu biaya tunai dan biaya yang diperhitungkan. Analisis imbangan penerimaan dan biaya dilakukan berdasarkan jenis biaya yang dikeluarkan. Data pengeluaran biaya dikelompokkan menjadi dua bagian. Analisis Imbangan Penerimaan dan Biaya (R/C Ratio Analysis) Analisis imbangan penerimaan dan biaya (R/C ratio analysis) digunakan sebagai alat untuk mengukur kriteria kelayakan dari kegiatan usahatani yang dilakukan.

. n = bilangan natural (e = 2..5) Keterangan : Y b0 bi Xi e u = produksi = intersep = koefisien regresi penduga variable ke-i = jenis faktor produksi ke-i..masing input sehingga informasi yang diperoleh dapat digunakan untuk melakukan upaya agar setiap penambahan input dapat menghasilkan tambahan output yang lebih besar.Secara matematis R/C ratio dapat dirumuskan dalam persamaan sebagai berikut : R/C ratio = Keterangan : TR = Total Revenue (Total Penerimaan) TC = Total Cost (Total Biaya) TR TC ………………………………………………………… (4. Penggunaan fungsi Cobb-Douglas adalah dalam keadaan The Law of Diminishing Return untuk masing. .. Pendugaan Fungsi Produksi Analisis fungsi produksi adalah analisis yang menjelaskan hubungan antara produksi dengan faktor.3...4) 4.. Fungsi produksi Cobb-Douglas dapat dirumuskan sebagai berikut : Y = bo X 1 X 2 X 3 X 4 .2.3. dimana i =1..7182) = unsur sisa (galat) Penggunaan fungsi ini didasarkan pada pertimbangan-pertimbangan sebagai berikut : 1.. X n e u …………………. b1 b2 b3 b4 bn (4..3…. Fungsi produksi yang dipakai untuk menjelaskan parameter Y dan X adalah analisis fungsi Cobb-Douglas.....faktor produksi yang mempengaruhinya..

5. Bila jumlah bi = 1. Fungsi produksi Cobb-Douglas merupakan fungsi produksi yang sering digunakan dalam penelitian optimalisasi produksi usahatani. Jumlah elastisitas dari masing. Homoskedastisitas atau ragam merupakan bilangan tetap. 6. 3.2. 3. 4.nilai sisa pada setiap pengamatan. 2. Untuk menganalisis hubungan antara faktor. maka proses produksi berada pada skala yang menurun. Tidak ada korelasi berangkai/autokorelasi antara nilai. 4. maka proses produksi terjadi pada skala yang konstan. Nilai rata-rata dari unsur sisa sama dengan nol. Parameter penduga (bi ) dapat langsung menunjukkan elastisitas produksi dari input yang bersangkutan (Xi). Bentuk fungsi Cobb-Douglas dapat mengurangi kemungkinan terjadinya masalah heterokedastisitas.faktor produksi dan produksi digunakan analisis regresi dengan metode Ordinary Least Square (OLS). Variasi unsur sisa menyebar normal. Menurut Gujarati (1978). . Dan bila jumlah bi > 1.masing faktor produksi yang diduga merupakan pendugaan skala usaha (return to scale). Bila jumlah bi < 1. metode ini dapat dipakai jika asumsi-asumsi sebagai berikut : 1. maka proses produksi terjadi pada skala yang menaik. Perhitungan fungsi produksi Cobb-Douglas sederhana karena dapat ditransfer dengan mudah ke dalam bentuk linier.

Pestisida Penggunaan pestisida tidak dibedakan berdasarkan jenisnya seperti insektisida. secara teori bila jumlah benih yang digunakan bertambah sebesar satu persen maka akan meningkatkan produksi padi sebesar nilai elastisitasnya (ceteris paribus). secara teori bila jumlah pupuk yang digunakan meningkat sebesar satu pesen maka akan meningkatkan produksi padi sebesar nilai elastisitasnya (ceteris paribus). Pupuk diduga berpengaruh positif terhadap produksi padi. Penggunaan pestisida dalam satu musim tanam diukur dalam satuan liter (l). Tidak ada hubungan linier sempurna antara peubah bebas. rodentisida. moluskisida atau herbisida untuk memudahkan pencacatan satuan pestisida tersebut yang berbeda. Pupuk Penggunaan pupuk dalam satu musim tanam diukur dalam satuan kilogram (kg). 6. secara teori bila jumlah pestisida yang digunakan . Variabel-variabel dugaan yang digunakan dalam menganalisis fungsi produksi dan penggunaan faktor-faktor produksi usahatani padi adalah sebagai berikut : 1. 2. Pestisida diduga berpengaruh positif terhadap produksi padi. Benih diduga berpengaruh positif terhadap produksi padi.5. 3. Benih Penggunaan benih dalam satu musim tanam diukur dalam satuan kilogram (kg). Tidak ada korelasi diri (multikolinearitas).

Tenaga Kerja Dalam Keluarga Penggunaan tenaga kerja dalam keluarga diukur dalam satuan hari orang kerja (HOK). Identifikasi variabel bebas dan variabel terikat Identifikasi variabel dilakukan dengan mendaftar faktor. secara teori bila jumlah penggunaan tenaga kerja luar keluarga ditingkatkan sebesar satu persen maka akan meningkatkan produksi padi sebesar elastisitasnya (ceteris paribus). secara teori bila jumlah penggunaan tenaga kerja dalam keluarga ditingkatkan sebesar satu persen maka akan meningkatkan produksi padi sebesar elastisitasnya (ceteris paribus).faktor . Adapun langkah. Analisis fungsi produksi digunakan untuk melihat tingkat penggunaan faktor. 5. Tenaga kerja luar keluarga diduga berpengaruh positif terhadap produksi padi.langkah dalam menganalisis fungsi produksi adalah sebagai berikut : 1. Tenaga Kerja Luar Keluarga Penggunaan tenaga kerja luar keluarga diukur dalam satuan hari orang kerja (HOK). Faktor.faktor produksi optimal.meningkat sebesar satu persen maka akan meningkatan produksi padi sebesar nilai elastisitasnya (ceteris paribus). Dalam analisis ini dilakukan analisis fungsi produksi dan analisis regresi untuk mengetahui pengaruh faktor-faktor produksi terhadap produksi padi di lahan kering. Tenaga kerja dalam keluarga diduga berpengaruh positif terhadap produksi padi. 4.faktor produksi yang digunakan dalam proses produksi padi di lahan kering.

Faktor-faktor produksi ini merupakan variabel bebas yang akan diuji pengaruhnya terhadap variabel terikat yaitu hasil produksi. b 3 .produksi tersebut adalah benih. P-value untuk uji t digunakan untuk mengetahui secara statistik apakah masingmasing variabel bebas ( X i ) secara terpisah berpengaruh nyata terhadap variabel terikat (Y). pestisida. b 7 = koefisien regresi masing-masing variabel 3. yaitu : Y = b0 X 1 X 2 X 3 X 4 X 5b5 b1 b2 b3 b4 Model fungsi produksi ditransformasikan ke dalam bentuk linier logamatrik untuk menduga fungsi produksi. (4. Apabila P-value untuk uji t lebih kecil daripada nilai α yang . Dari analisis dengan OLS (Ordinary Least Square) ini diperoleh nilai P (P-value) untuk uji t dan uji F. juga dapat diketahui nilai R 2 . b 5 . dan tenaga kerja luar keluarga. b 2 .6) Keterangan : Y = Hasil produksi padi lahan kering (Kilogram) X 1 = Benih (Kilogram) X 2 = Pupuk (Kilogram) X 3 = Pestisida (Liter) X 4 = Tenaga Kerja Dalam Keluarga (HOK) X 5 = Tenaga Kerja Luar Keluarga (HOK) b 0 = Variabel intersep u = Unsur galat b1 . 2. Pendugaan fungsi produksi Dalam analisis fungsi produksi digunakan pendekatan Cobb-Douglas. tenaga kerja dalam keluarga. Analisis regresi Analisis regresi bertujuan untuk mengetahui hubungan antara variabel terikat dengan variabel bebas. b 6 . LnY = ln b0 + b1 ln X 1 + b2 ln X 2 + b3 ln X 3 + b4 ln X 4 + b5 ln X 5 + u ……. pupuk. b 4 .

 i=1  Keterangan : π = pendapatan usahatani Py = harga per unit produksi Y = hasil produksi i = 1.masing faktor produksi sama dengan nol (Doll dan Orazem.7) . Analisis Efisiensi Ekonomi Usahatani akan mencapai efisiensi ekonomi jika tercapai keuntungan maksimum..X i + TFC  ……………………………………..3.2. Syarat untuk mencapai keuntungan maksimum adalah turunan pertama dari fungsi keuntungan terhadap masing.. tetapi sebaliknya jika P-value untuk uji F lebih besar daripada nilai α yang ditentukan maka variabel bebas dugaan tidak berpengaruh nyata terhadap variabel terikat. tetapi sebaliknya jika P-value untuk uji t lebih besar daripada nilai α yang ditentukan maka variabel bebas dugaan berpengaruh nyata terhadap variabel terikat. Jika P-value untuk uji F lebih kecil daripada nilai α yang ditentukan (selang kepercayaan tertentu) maka variabel bebas dugaan berpengaruh nyata terhadap variabel terikat..….3.n (4. 4. P-value untuk uji F digunakan untuk mengetahui kelayakan model dari parameter dan fungsi produksi atau untuk mengetahui apakah variabel bebas ( X i ) secara bersamaan berpengaruh nyata terhadap variabel terikat.4.. 1984). Fungsi keuntungan yang diperoleh usahatani dapat dinyatakan sebagai berikut : n  π = Py.Y − ∑ Pxi .ditentukan (selang kepercayaan tertentu) maka variabel bebas dugaan berpengaruh nyata terhadap variabel terikat. Sedangkan R 2 merupakan koefisien determinasi yang menunjukkan keragaman model produksi dilapangan yang dapat diterangkan oleh model terpilih.

Pxi . (4. maka turunan pertama dari fungsi keuntungan adalah : ∂π ∂Y = Py − Pxi = 0 ∂X i ∂X i = ∂Y − Pxi = 0 ∂X i Py ∂Y = Pxi …………………………………………………….8) ∂X i Dari persamaan tersebut dapat diketahui bahwa level penggunaan faktor produksi ke-i yang efisien merupakan fungsi dari harga output. maka persamaan diatas menjadi : Py.9) ∂Y sebagai Marginal Product (MP) faktor produksi ∂X i ke-i.10) Sesuai dengan prinsip keseimbangan marjinal (equi-marginal principle). Y ) ……………………………………………………… Dengan mengetahui (4.MPxi = Pxi ………………………………………………………… (4. tambahan nilai produksi akibat tambahan penggunaan faktor produksi ke. atau secara matematis dapat dituliskan : X i = f ( Py. .Pxi = harga pembelian faktor produksi ke-i X i = jumlah faktor produksi ke-i yang digunakan dalam proses produksi TFC = Total Fixed Cost (Biaya Tetap Total) Dengan demikian untuk memenuhi syarat tercapainya keuntungan maksimum. bahwa untuk mencapai keuntungan maksimal. harga faktor produksi ke-i dan jumlah output yang dihasilkan. Penambahan penggunaan faktor produksi berhenti ketika VMP xi =MFC xi ..i (PyMP xi ) harus lebih besar daripada tambahan biaya yang dikeluarkan untuk pembelian faktor produksi ke-i tersebut (P xi ).

4. Jadi secara umum keuntungan maksimum dari penggunaan n faktor produksi akan diperoleh pada saat : PyMPx1 PyMPx2 PyMPx3 PyMPxn = = = . = = 1 …………………. Px1 Px2 Px3 Pxn (4.. Batasan-batasan tersebut meliputi : 1.11) Artinya keuntungan maksimum tercapai pada saat tambahan nilai produksi akibat tambahan penggunaan faktor produksi ke-i harus sama dengan biaya korbanan marjinal atas faktor produksi ke-i tersebut atau rasio keduanya sama dengan satu. satuannya orang. Definisi Operasional Untuk menghindari ketidaksamaan pandangan dalam pengertian.. Petani padi di lahan kering adalah petani yang melaksanakan budidaya pada areal tanam berupa ladang (lahan kering/upland). maka agar diperoleh ∂X i tingkat keuntungan maksimum penggunaan faktor produksi harus ditingkatkan. maka hanya ∂Y yang mengalami perubahan... Secara matematis keuntungan maksimum dari penggunaan faktor produksi ke-i dinyatakan sebagai berikut : PyMPx i = 1 …………………………………………………………. maka terdapat beberapa hal yang perlu diberi batasan sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai dari penelitian. Ketika PyMP xi > P xi .12) Dengan asumsi Py dan P xi merupakan nilai yang konstan. jika PyMPx i < Px i maka penggunaan faktor produksi harus dikurangi. 4. Sebaliknya.Pada saat inilah keuntungan maksimal tercapai. Px i keterangan : PyMP xi = Nilai Produk Marjinal (NPM) faktor produksi ke-i P xi = Biaya Korbanan Marjinal (BKM) faktor produksi ke-i (4. .

Satuannya adalah Rupiah. Untuk petani penyakap maka komponen biaya tunainya ditambah dengan biaya sakap. Seluruh tenaga kerja disetarakan dengan ukuran Hari Orang Kerja (HOK). Satuannya orang. 6. Luas lahan garapan areal usahatani padi ladang merupakan lahan yang digunakan untuk menanam padi ladang. 9. sewa traktor/ternak. 7. 3. satuannya Hektar (ha). Produktivitas adalah hasil bagi antara jumlah panen dengan luas lahan dengan satuannya Ton per Hektar. Biaya tunai adalah besarnya nilai uang tunai yang dikeluarkan petani untuk membeli pupuk. 8. 4. Satuannya orang. Pemilik penggarap adalah petani yang menggarap lahan miliknya sendiri. dan lain. benih. Penyakap adalah petani yang menggarap lahan milik orang lain denga n pembayaran sewanya berdasarkan bagi hasil. Satuannya adalah Rupiah. Satuannya Rupiah. 10.lain.2. 5. Tenaga kerja ini dibedakan menjadi dua. Biaya yang diperhitungkan adalah pengeluaran untuk input milik sendiri meliputi tenaga kerja dalam keluarga dan penyusutan. Biaya usahatani total adalah merupakan penjumlahan antara biaya tunai dan biaya yang diperhitungkan . pestisida. yaitu tenaga kerja dalam keluarga (TKDK) dan tenaga kerja luar keluarga (TKLK). Jumlah produksi adalah jumlah panen padi ladang yang dihasilkan dari luas lahan. satuannya kilogram. upah tenaga kerja luar keluarga. . Tenaga kerja adalah tenaga kerja yang digunakan dalam proses produksi.

Penerimaan (nilai produksi) adalah nilai yang diperoleh dari hasil kali antara jumlah produksi dengan dengan harga jualnya. Satuannya Rupiah.11. 13. Pendapatan bersih usahatani adalah selisih antara penerimaan usahatani dengan biaya usahatani total (biaya tunai dan diperhitungkan). 12. Satuannya adalah Rupiah. Satuannya Rupiah. . Pendapatan kotor usahatani adalah selisih antara penerimaan usahatani dan biaya tunai usahatani.

Bagan Prosedur Analisis Pendapatan dan Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Produksi Cabang Usahatani Padi Ladang .Produktivitas Padi Ladang • Pupuk • Benih • Pestisida • Tenaga Kerja dalam Rumah Tangga Rumah Tangga • Tenaga Kerja Luar Analisis Fungsi Produksi Cobb-Douglas Elastisitas Faktor-faktor Produksi Analisis Pendapatan Analisis R/C Analisis Efisiensi Ekonomis Faktor-faktor Produksi Kesimpulan Gambar 2.

00 1.69 0.09 0.07 Persentase 1. Luas (Ha) 18.75 1.12 86. 2004.58 4.02 3.00 0.065. Secara keseluruhan luas wilayah Desa Wanajaya adalah sekitar 1.10 50. Kabupaten Karawang. GAMBARAN UMUM DAERAH PENELITIAN 5.23 918.07 0.78 0. Desa Taman Mekar di sebelah selatan.30 2. Jawa Barat.1.50 38.80 21. Batas-batas administrasi Desa Wanajaya adalah Desa Wanakerta di sebelah utara. Sedangkan jarak ke ibukota kabupaten sekitar 13 kilometer dengan waktu tempuh kurang lebih selama satu setengah jam.07 hektar yang terdiri atas 147.20 0. dan Kehutanan di sebelah timur. Tabel 5.809 %) lahan yang telah digunakan dan sekitar 918 hektar merupakan (86.02 0.07 hektar (13.92 0. Penggunaan Lahan di Desa Wanajaya Tahun 2004 Penggunaan Lahan Sawah irigasi teknis Sawah irigasi 1/2 teknis Sawah tadah hujan Tegalan/Ladang Pemukiman umum Pasar Tempat ibadah Kuburan/makam Tempat rekreasi dan olahraga Perkantoran pemerintah Sekolah/lainnya Lahan Terlantar Total Sumber : Profil Desa Wanajaya.74 1. Jarak desa Wanajaya dengan ibukota kecamatan sekitar 11 kilometer dengan waktu tempuh selama kurang lebih satu jam.17 0.065.17 1.19 %) lahan terlantar. Gambaran secara rinci mengenai luas Desa Wanajaya berdasarkan penggunaan lahan ditunjukkan dalam Tabel 5. Gambaran Umum Lokasi Penelitian Desa Wanajaya termasuk dalam wilayah Kecamatan Teluk Jambe.61 13.00 .19 100. Kali Cibeet Bekasi di sebelah barat.02 0.V.

Desa Wanajaya terdiri atas daerah dataran seluas sekitar 187. Topografi atau Bentang Lahan Desa Wanajaya Tahun 2004 Jenis daratan Dataran Perbukitan/pegunungan Total Sumber : Profil Desa Wanajaya. denga n kapasitas tukar kation (KTK) dan kejenuhan basa (KB) yang tergolong sedang. Luas (Ha) 187. struktur gumpal atau keras. disimpulkan bahwa tingkat kesuburan tanah di Desa Wanajaya termasuk dalam golongan rendah dan memiliki ciri-ciri bertekstur lempung.laki . Berdasarkan ketiga indikator kesuburan tanah tersebut.07 878. Jumlah penduduk desa Wanajaya hingga Januari 2005 tercatat sebanyak 4024 jiwa (1237 kepala keluarga) dan komposisi penduduk tergolong merata antara laki. Desa Wanajaya berada pada ketinggian sekitar 700 meter di atas permukaan laut dengan kemiringan lahan 30 sampai 40 persen yang merupakan daerah perbukitan. dan solum dalam.07 Persentase 17.00 1065.07 hektar dan daerah perbukitan sekitar 878 hektar seperti ditunjukkan dalam Tabel 6 berikut. Jumlah bulan basah rata-rata tujuh bulan. Curah hujan rata-rata sekitar 1454. Tabel 6. 2003). Tanah di Desa Wanajaya memiliki pH sekitar empat sampai lima.00 Dari kondisi geografis.laki dan perempuan dimana penduduk dengan jenis kelamin laki. dan jumlah bulan kering rata-rata tiga bulan dengan suhu rata-rata sekitar 27°C dan intensitas penyinaran matahari sekitar 66 persen.Secara umum topografi Desa Wanajaya sebagian besar merupakan daerah perbukitan.5 mm per tahun berdasarkan data tahun 2002 dan termasuk dalam kelas iklim B atau daerah beriklim basah dengan vegetasi hujan tropis berdasarkan standar Schmidt dan Ferguson (BAPPEDA Kabupaten Karawang.56 82. bulan lembab rata-rata dua bulan.44 100. 2004.

penduduk Desa Wanajaya cukup beragam tetapi sebagian besar penduduk desa atau sebanyak 2343 orang (58.52 %).23 %) masih bekerja di bidang pertanian baik sebagai petani ataupun buruh tani. Dalam Tabel 7 dapat dilihat bahwa dari seluruh penduduk di Desa Wanajaya terdapat 3114 orang (77.024 Sumber : Monogafi Desa Wanajaya. Tabel 7. (1997) dalam BAPPEDA Kabupaten Karawang (2003).91 4.19 775 20 – 29 791 30 – 39 667 40 – 49 416 50 – 59 278 = 59 187 Total 4. Persentase 22. 2004. batas usia 10 tahun ke atas digunakan untuk menentukan apakah seseorang termasuk dalam angkatan kerja atau bukan.64 %) dan sebagian kecil penduduk atau sebanyak 125 orang (3.34 6.39 %) angkatan kerja sehingga dari segi jumlah angkatan kerja Desa Wanajaya tergolo ng cukup potensial.58 10. Penduduk yang bermata pencaharian sebagai buruh tani sebanyak 748 orang (18. Kelompok penduduk lain yang proporsinya tergolong cukup besar adalah kelompok penduduk yang bermata pencaharian sebagai buruh swasta yaitu . dan penduduk jenis kelamin perempuan berjumlah 1991 orang (49.11 %) bekerja sebagai peternak.59 %) sementara penduduk yang bermata pencaharian sebagai petani (pemilik) sebanyak 1595 orang (39.48 %). Berdasarkan Sensus Penduduk tahun 1971 Tarigan JJ.00 Dari segi mata pencahariannya.65 100.26 19.berjumlah 2033 orang (50.61 19.66 16. Karakteristik Penduduk Desa Wanajaya Berdasarkan Kelompok Umur Tahun 2005 Kelompok Umur Jumlah (Tahun) (orang) 0-9 910 10 .

07 0. pengrajin.64 18. 2004.59 21. montir. dan kelompok yang tergolo ng berstatus sebagai pengangguran sebanyak 405 orang (10. pedagang. Penduduk lainnya bekerja di berbagai bidang diantaranya PNS.05 0. Karakteristik Penduduk Desa Wanajaya Berdasarkan Mata Pencaharian Tahun 2005 Jenis Mata Pencaharian Jumlah (orang) Petani 1595 Buruh Tani 748 Buruh/swasta 879 PNS 75 Pengrajin 8 Pedagang 175 Peternak 125 Montir 3 Dokter 1 Bidan Desa 2 Mantri Kesehatan 2 Polisi 6 Pengangguran 405 Total 4024 Sumber Monografi Desa Wanajaya.05 0.06 %).sebanyak 879 orang (21.35 3.00 Dari segi pendidikan Desa Wanajaya tergolong rendah karena sebagia n besar penduduk atau sekitar 80 persen penduduk hanya mengikuti pendidikan formal hingga tamat sekolah dasar.15 10.20 4.06 100. Tabel 8.84 1.86 0. . mantri kesehatan. Bidan desa. Persentase 39.11 0.02 0. Gambaran penduduk Desa Wanajaya berdasarkan mata pencaharian disajikan dalam Tabel 8. Sisanya sekitar 20 persen dari penduduk menyelesaikan pendidikan hingga tamat sekolah lanjutan pertama atau sederajat dan memenuhi program pendidikan wajib 9 tahun yang digerakkan pemerintah.84 %) karena lokasi Desa Wanajaya masih dekat dengan kawasan industri Kabupaten Karawang. TNI/POLRI. Gambaran secara rinci tentang penduduk Desa Wanajaya berdasarkan tingkat pendidikan ditunjukkan dalam Tabel 9. dokter.

Umur Petani Tenaga kerja produktif umumnya berada pada selang 25 hingga 40 tahun. Karakteristik Petani Responden Karakteristik petani responden akan diuraikan berdasarkan umur petani.48 0.24 0. status dan luas lahan garapan.05 0.50 15. Karakteristik petani responden berdasarkan umur ditunjukkan pada Tabel 10. tingkat pendidikan. dan kondisi tempat tinggal. sedangkan jika kurang atau lebih dari selang umur tersebut akan tergolong sebagai tenaga kerja kurang produktif tetapi masih termasuk dalam usia kerja.50 37.49 44. Karakteristik Petani Responden Berdasarkan Umur Kelompok Umur (tahun) 20-30 31-45 46-50 51-60 > 60 Total Jumlah Responden (orang) 5 13 6 1 15 40 Persentase 12. pekerjaan sampingan.00 .25 0. pengalaman berusahatani padi gogo atau padi ladang.2.31 8.36 11.24 5.25 100.50 100. Karakteristik Penduduk Desa Wanajaya Berdasarkan Tingkat Pendidikan Tahun 2004 Tingkat Pendidikan Belum Sekolah Usia 7-45 thn tidak pernah sekolah Pernah sekolah SD tetapi tidak tamat Tamat SD/sederajat SLTP/sederajat SLTA/sederajat D-1 D-2 D-3 S-1 Total Sumber : Monografi desa Wanajaya. 2004.75 22.Tabel 9.00 2.07 0. Tabel 10.50 32. Karakteristik petani responden selengkapnya sebagai berikut : 1. status usahatani padi ladang. jumlah anggota keluarga. keputusan bertani padi ladang. Jumlah (orang) 502 30 905 1785 455 332 2 3 5 5 4024 Persentase 12.

Karakteristik Petani Responden Berdasarkan Tingkat Pendidikan Tingkat Pendidikan Tidak Pernah Sekolah Tidak Tamat SD Tamat SD Tamat SLTP Tamat SLTA Total Jumlah Responden (Orang) 12 18 9 1 0 40 Persentase 30. sebagian besar responden terdiri atas petani dari kelompok umur di atas 60 tahun atau yang sudah berusia lanjut yaitu sebanyak 15 orang atau 37. Tingkat Pendidikan Tingkat pendidikan akan berpengaruh terhadap tingkat adopsi teknologi dan inovasi yang sedang berkembang. Karakteristik petani responden berdasarkan tingkat pendidikan selengkapnya disajikan dalam Tabel 11.00 . Tabel 11.00 100. 2. Sedangkan petani responden yang paling sedikit berasal dari kelompok umur antara 51 hingga 60 yaitu hanya sebanyak 1 orang (2.Berdasarkan umur. Berdasarkan tingkat pendidikan.00 45.00 22. petani responden lebih banyak terkonsentrasi pada kelompok tidak tamat SD yaitu sebanyak 18 orang (45 %) dan kelompok yang tidak pernah mengikuti sekolah formal sama sekali yaitu sebanyak 12 orang (30 %). Petani responden lainnya yang juga jumlahnya tergolong sedikit berasal dari kelompok umur 20 hingga 30 tahun yang berjumlah 5 orang (12.50 0. Adapun tujuan teknologi dan inovasi adalah untuk memperbaiki usahatani baik dari segi produksi atau produktivitas.5 %).5 %). Pada umumnya. Hanya satu orang diantara petani responden yang menyelesaikan pendidikan SLTP hingga tamat. semakin tinggi tingkat pendidikan.5 persen dari keseluruhan responden. maka proses adopsi teknologi akan semakin cepat.50 2.

5 hektar sebanyak 8 orang (20 %). Semua petani responden merupakan petani pemilik karena petani responden menggarap lahan tanpa mengeluarkan biaya sewa lahan. dan tidak ada diantara petani responden yang memiliki luas lahan garapan lebih dari 2 hektar.3. Status dan Luas Lahan Garapan Status lahan garapan berpengaruh kepada produktivitas usahatani. Sementara luas lahan garapan berpengaruh positif terhadap produktivitas usahatani dimana usahatani dengan luas lahan yang lebih besar akan memiliki produktivitas yang relatif lebih tinggi daripada usahatani dengan luas lahan yang lebih kecil. Lahan berstatus sewa menyebabkan petani penyewa akan lebih terpacu untuk selalu lebih efisien dalam mengelola lahan agar produktivitas lahan lebih tinggi.5 hektar hingga petani yang memiliki luas lahan garapan lebih dari satu hektar. Sedangkan petani yang memiliki luas lahan garapan lebih dari satu hektar hanya sebanyak 7 orang (17. Petani responden berdasarkan status pemilikan lahan dikelompokkan atas petani pemilik dan petani penggarap.5 sampai 1 hektar yaitu sebanyak 25 orang (62. Hal ini disebabkan karena petani penyewa mempunyai kewajiban untuk memperhatikan nilai biaya sewa yang harus dibayar kepada pemilik lahan.5 %). Petani responden yang memiliki luas lahan garapan kurang dari 0. Sementara itu lahan yang berstatus milik send iri pada umumnya relatif kurang produktif daripada lahan yang berstatus sewa karena petani pemilik tidak pernah memperhitungkan biaya sewa lahan yang harus dikeluarkan. Luas lahan garapan petani responden bervariasi mulai dari petani yang memiliki luas lahan garapan kurang dari 0.5 %). Sebagian besar petani responden memiliki luas lahan garapan antara 0. Data secara rinci .

Hanya sebagian kecil dari petani responden yang memiliki pengalaman berusahatani padi ladang kurang dari 5 tahun yaitu sebanyak 2 orang (5 %). Gambaran petani berdasarkan pengalaman berusahatani secara rinci disajikan dalam Tabel 13. Sedangkan petani yang lain selebihnya tersebar dalam kelompok dengan pengalaman berusahatani padi ladang antara 5 hingga 10 tahun sebanyak 6 orang (15 %).50 0. Karakteristik Petani Responden Berdasarkan Luas Lahan Garapan Luas Lahan (ha) < 0.mengenai karakteristik petani responden berdasarkan luas lahan garapan disajikan dalam Tabel 12. dan kelompok antara 16 hingga 20 tahun sebanyak 8 orang (20 %).5 0. Tabel 12.00 4. . Kelompok petani responden dengan jumlah yang paling banyak berdasarkan pengalaman berusahatani adalah kelompok petani yang telah berusahatani padi ladang selama lebih dari 20 tahun yaitu sebanyak 15 orang (37.1 1–2 >2 Total Jumlah Responden (orang) 8 25 7 0 40 Persentase 20. Kelompok antara 11 hingga 15 tahun sebanyak 9 orang (22.5 %). Demikian juga dengan berbagai masalah non teknis yang biasanya dihadapi dalam berusahatani sehingga pada akhirnya produktivitasnya akan lebih tinggi.00 62.5 . Pengalaman Berusahatani Padi Ladang Petani yang memiliki pengalaman berusahatani lebih lama akan lebih baik dan lebih matang dalam hal perencanaan usahatani karena lebih memahami berbagai aspek teknis dalam berusahatani.5 %).50 17.00 100.

50 100.50 20. Karakteristik Petani Responden Berdasarkan Pengalaman Usahatani Pengalaman Berusahatani Padi Ladang (Tahun) <5 5 -10 11-15 16-20 > 20 Total Jumlah Responden (Orang) 2 6 9 8 15 40 Persentase 5. dan ketersediaan modal yang hanya sesuai dengan komoditas padi ladang. Jumlah Anggota Keluarga Jumlah anggota keluarga akan mempengaruhi tingkat produktivitas kerja dikaitkan dengan jumlah penggunaan (sumbangan) tenaga kerja terhadap kegiatan produksi usahatani. Petani yang memiliki usaha sampingan selain usahatani padi ladang memiliki usaha sampingan sebagai perangkat desa seperti Ketua RT ataupun sebagai Hansip atau Linmas (Perlindungan Masyarakat).00 22. Jumlah anggota keluarga juga akan berpengaruh terhadap jumlah tanggungan keluarga atau tingkat konsumsi rumahtangga. .00 37.Tabel 13. kesuburan tanah. dan demikian juga sebaliknya.hari. Bertani padi ladang juga dilakukan secara turun temurun juga oleh karena faktor – faktor yang telah disebutkan di atas. Semakin banyak jumlah anggota keluarga maka semakin banyak pula tenaga kerja yang dapat digunakan dalam kegiatan produksi usahatani sehingga produktivitas akan lebih tinggi. 5.00 Seluruh petani responden menyatakan bahwa berusahatani padi ladang merupakan usaha pokok untuk memenuhi kebutuhan beras sehingga rumah tangga petani tidak perlu membeli beras untuk pangan sehari.00 15. Selain itu para petani juga berusahatani padi ladang karena tidak memiliki keahlian lain selain bertani dan juga karena kondisi alam seperti ketersediaan air.

00 67.Sebagian besar responden atau sebanyak 27 rumahtangga (67. Seluruh petani yang menjadi responden menyatakan bahwa mereka memilih berusahatani padi ladang sebagai matapencaharian utama sehingga sumberdaya yang dimiliki petani dialokasikan terutama untuk usahatani padi ladang.50 12. sedangkan rata-rata rumah tangga petani responden memiliki sebanyak sekitar 4 orang.50 100. Status Usahatani Padi Ladang Status Usahatani padi ladang. Gambaran secara rinci mengenai karakteristik petani responden berdasarkan jumlah anggita keluarga disajikan dalam Tabel 14. Karakteristik Petani Responden Berdasarkan Jumlah Anggota Keluarga Kelompok < 3 orang 3 .5 orang > 5 orang Total Jumlah Anggota RT 8 27 5 40 Persentase 20. .00 6. dan hanya sebanyak 5 rumah tangga (12.5 % ) dari keseluruhan responden yang memiliki anggota keluarga lebih dari 5 orang. dalam artian apakah usahatani padi ladang merupakan mata pencaharian utama atau sampingan. akan mempengaruhi sikap petani dalam menentukaan komoditi usahatani mana yang akan menjadi prioritas (fokus) yang mendapat perhatian atau alokasi sumberdaya yang relatif lebih besar dan yang lebih kecil. Petani yang bermatapencaharian utama usahatani padi ladang akan lebih memfokuskan pekerjaan atau sumberdayanya terhadap usahatani padi ladang.5 %) tergolong ke dalam kelompok dengan anggota keluarga antara 3 hingga 5 orang. Tabel 14. sehingga petani akan lebih mengusahakan peningkatan produksi dan produktivitas padi ladang daripada komoditi yang menjadi usahatani sampingan.

Segala usaha yang bertujuan untuk peningkatan produktivitas usahatani terutama . Pendapatan dari pekerjaan sampingan akan digunakan sebagai tambahan modal dalam penyediaan sarana produksi yang lebih banyak sehingga hasil produksi yang diperoleh akan lebih besar. responden pada umumnya tidak memiliki pekerjaan sampingan untuk menambah pendapatan rumahtangga karena tidak mempunyai keahlian lain selain bertani. Selain bertani. Keputusan Bertani Padi Ladang Keputusan bertani padi ladang dalam menentukan jenis. Keseluruhan petani responden menyatakan bahwa keputusan dalam berusahatani diambil sendiri dengan kebebasan berdasarkan pemahaman dan pengalaman petani dan tidak terikat dengan aturan atau adat istiadat setempat.7. dan teknik produksi lainnya petani bebas menentukan sendiri atau dipengaruhi adat istiadat setempat yang me ngikat kebebasan petani dalam mengambil keputusan usahatani. Keputusan yang diambil akan berpengaruh terhadap produktivitas dan kemajuan usahatani karena petani yang dinamis akan lebih mampu mengadopsi teknologi usahatani. Teknologi dan inovasi bertujuan untuk meningkatkan produktivitas padi ladang dan taraf hidup petani. 8. Pekerjaan Sampingan Jenis pekerjaan sampingan yang dimiliki petani akan berpengaruh terhadap pendapatan tambahan yang diperoleh rumahtangga. Sehingga sumber pendapatan yang menjadi penunjang usahatani padi ladang adalah dengan dengan berkebun tetapi umumnya tidak dikelola secara baik atau tidak diusahakan secara kontinyu. pola tanam. sehingga tingkat pendapatan tersebut akan berpengaruh terhadap produktivitas usahatani.

Semua petani responden memiliki tempat tinggal dengan lantai beralaskan tanah. semi permanen. dinding.padi ladang akan dilakukan petani sesuai dengan kemampuan sumberdayanya tanpa dipengaruhi faktor adat istiadat setempat. Kondisi tempat tinggal petani responden dilihat berdasarkan kondisi lantai dibedakan menjadi lantai keramik. dan bilik bambu. semen atau ubin. 9. dan tanah. Kondisi Tempat Tinggal Karakteristik petani responden berdasarkan kondisi tempat tinggal dilihat berdasarkan kondisi atap. papan/kayu. . Dari semua petani responden juga tidak ada yang mempunyai fasilitas kamar mandi atau WC yang tergolong layak. kayu atau papan. Dinding atau tembok rumah petani responden dibedakan menjadi dinding permanen. dan lantai rumah. Atap petani responden seluruhnya masih menggunakan atap rumbia. Semua petani responden mempunyai tempat tinggal dengan dinding yang terbuat dari bilik bambu.

Jenis tanaman yang biasanya ditanam setelah padi ladang antara lain kacang tanah.1. . Kegiatan berusahatani padi ladang di Desa Wanajaya umumnya dilakukan dengan sistem monokultur dan tanam gilir. Berdasarkan pengalaman petani di Desa Wanajaya varietas padi sawah jenis Ciherang dapat memberikan hasil yang relatif lebih tinggi jika ditanam di lahan kering daripada varietas pai ladang lainnya.1. dan tanaman palawija lainnya. Varietas jenis Ciherang juga dianggap sesuai dengan kondisi tanah dan iklim di Desa Wanajaya oleh para petani. GAMBARAN USAHATANI PADI LADANG DI DESA WANAJAYA 6. Budidaya Padi Ladang Kegiatan berusahatani padi ladang di Desa Wanajaya dilakukan mulai dari kegiatan persiapan lahan dalam dengan mengolah lahan pada saat datangnya musim hujan sekitar bukan Oktober atau November tergantung perkiraan petani berdasarkan pengalamannya sampai dengan masa panen sekitar bulan Maret atau April. Berdasarkan pengalaman tersebut jika petani memperkirakan bahwa musim hujan akan mulai berlangsung secara merata pada bulan tertentu.VI. ubi kayu. kacang panjang. 6. Persiapan Lahan Penentuan waktu yang paling tepat untuk mengolah tanah dilakukan petani berdasarkan pengalaman dari masa tanam sebelumnya. maka sekitar dua minggu hingga satu bulan sebelum bulan tersebut merupakan saat yang paling tepat untuk melakukan pengolahan lahan. Varietas padi ladang yang digunakan petani adalah jenis Ciherang yang sebenarnya merupakan varietas padi sawah.1.

Pembalikan tanah bagian bawah ke atas betujuan untuk menganginkan tanah memberikan kesempatan bagi tanah untuk melepaskan racun-racun yang sangat mungkin terbentuk dalam tanah. Pada pengolahan pertama. Kemudian sekitar dua minggu setelah pengolahan kedua. Keadaaan ini dibiarkan selama dua minggu hingga rerumputan yang terbenam dianggap sudah membusuk atau melapuk dan racun-racun yang ada sudah menguap ke udara. Pengolahan kedua merupakan penyisiran tanah yaitu mengusahakan agar tanah yang sebelumnya merupakan bongkahan atau gumpalan-gumpalan besar dipecahkan dan diremukkan hingga sekecil-kecilnya.Pengolahan tanah dilakukan petani responden dengan cara me ncangkul dengan menggunakan cangkul dan tidak ada petani responden yang menggunakan mesin atau ternak untuk membajak karena biaya penggunaan mesin pembajak (traktor) yang sangat tinggi dan karena tidak ada petani memiliki ternak pembajak sehingga kegiatan mencangkul tanah dilakukan hanya dengan mengandalkan tenaga manusia dari dalam maupun dari luar keluarga. yaitu yang semula di atas atau di permukaan menjadi di bagian bawah dan demikian sebaliknya yang semula di bagian bawah menjadi di bagian atas. Bagian atas tanah juga diolah sedemikian rupa dengan menggunakan garpu atau garu sehingga lahan yang akan ditanami padi menjadi sedatar mungkin. Pengolahan ini dimaksudkan untuk mematikan dan membusukkan rerumputan yang semula terdapat di permukaan tanah dan kemudian akan terbenam ke bagian bawah tanah. mencangkul dilakukan sedemikian rupa sehingga tanahnya terbalik. dilakukan pengolahan ketiga yang merupakan kegiatan .

lahan dibuat berbentuk terasering untuk mencegah pengendapan air dan membentuk parit-parit untuk mencegah erosi agar kesuburan tanah tetap terjaga.1. sebab walaupun padi ladang sangat tergantung pada air hujan dalam pertumbuhannya namun air yang berlebihan juga akan menyebabkan kerusakan pada padi ladang. kemudian ke dalam lubang dimasukkan sekitar 5 sampai 7 bulir padi jenis Ciherang dengan jarak tanam pada umumnya kira-kira 20 X 20 sentimeter hingga 30 X 30 sentimeter. Penanaman Penanaman dilakukan dengan menggunakan alat tugal yang terbuat dari kayu untuk membuat lubang. Setelah bulir ditugalkan ke dalam tiap-tiap lubang tanam kemudian ditutup kembali dengan maksud agar bulir yang ditugalkan tidak diganggu oleh burung atau binatang-binatang perusak atau pemakan bulir lainnya. . Biaya upah yang berlaku secara umum bagi para buruh tani untuk proses pengolahan tanah adalah Rp.lubang tanam pada kedalaman sekitar 2 hingga 5 cm pada lahan yang sebelumnya sudah diolah terlebih dahulu. Pengolahan ketiga ini dilakukan sedemikian rupa sehingga arah dari pembajakan tanah pertama membentuk siku dengan arah dari pembajakan tanah kedua. 6. 20 ribu per hari dengan jam kerja selama 6 jam.2. Kemudian pada tahap pengolahan ini juga diusahakan sedemikian rupa sehingga bagian tengah dari lahan yang diolah sedikit lebih tinggi daripada bagian pinggir lahan dengan maksud agar bagian tengah lahan tidak tergenang air jika hujan turun secara berlebihan tetapi akan mengalir ke bagian pinggir lahan. Untuk lahan yang permukaannya miring. terutama pada daerah berbukit.mencangkul tanah yang sebelumnya telah diremukkan dan diratakan pada pengolahan pertama dan kedua.

Penanaman padi ladang pada umumnya dilakukan dengan sistem padi-palawija atau padi-bera.Pola tanam yang umumnya digunakan petani responden adalah dengan sistem tanam gilir dan monokultur dengan menanam padi ladang kemudian menanam pisang di sekeliling lahan sebagai tanaman pencegah erosi. dan sebagian petani memberikan pupuk Urea dan TSP dalam bentuk campuran dengan cara mencampurkan pupuk dengan benih padi pada saat penanaman. dan agar laha n tetap subur dan hasil gabah tetap tinggi maka jerami juga harus dikembalikan ke lahan dan tanaman harus dipupuk (Hermawan. 2000). dan 75 kilogram K yang setara dengan 180 kilogram pupuk KCl per hektar per musim tanam.3.1. Pemupukan Pemupukan sangat perlu dilakukan untuk memperoleh hasil gabah yang maksimal terutama di lahan kering yang memiliki karakteristik marjinal. Pemupukan pertama dilakukan dengan menggunakan pupuk Urea dan TSP umumnya diberikan dengan cara disebarkan ke dalam lahan secara merata setelah penanaman benih. Sementara untuk meningkatkan efisiensi pemupukan pupuk . 6. 10 kilogram P yang setara dengan 50 kilogram pupuk TSP. Pertanaman padi ladang yang ideal yaitu yang mampu menghasilkan padi dalam bentuk gabah kering sebanyak 5 ton per hektar menyerap unsur h dari dalam ara tanah antara lain sebanyak 40 kilogram N yang setara dengan 90 kilogram pupuk Urea. Pola tanam padi-bera yang dilakukan sebagian petani responden disebabkan modal awal untuk penanaman palawija setelah panen padi yang tidak mencukupi sehingga setelah masa panen padi ladang para petani lebih banyak yang memberakan lahannya untuk kemudian ditanami padi lagi pada musim hujan berikutnya.

akodan.lain. 22 ribu per 100 mililiter di kios tani yang terletak di ibukota kecamatan. . elsan. 6. bahkan sebagian petani tidak menggunakan pupuk sama sekali. dan hanya sebagian kecil petani yang menggunakan furadan. Jenis pestisida yang banyak digunakan petani responden adalah decis untuk mencegah penyakit “kungkang” atau blast yang sering menyerang tanaman padi ladang di Desa Wanajaya. azodrin. Pestisida jenis decis dibeli petani sekitar Rp. Harga pupuk campuran Urea dan TSP rata-rata sekitar Rp 1400 per kilogram dengan cara membeli petani di kios tani yang terletak di ibukota kecamatan dengan uang tunai. Jenis obat lain yang juga digunakan petani adalah sidametrin. “mentul”. dan lain. Jenis penyakit lain yang sering menyerang tanaman padi ladang di desa ini adalah “wereng”.4.1. 1989). Harga pupuk yang sangat tinggi bagi petani menyebabkan penggunaan pupuk yang tidak optimal karena tidak sesuai dengan dosis pupuk ideal. Pengobatan dilakukan dengan cara penyemprotan antara sekali hingga dua kali penyemprotan dalam satu masa tanam tergantung kemampuan keuangan petani. Pengobatan Pengobatan dilakukan untuk mencegah atau membasmi hama dan penyakit yang menyerang tanaman padi ladang.nitrogen harus diberikan secara split atau terpisah (Puslitbang Tanaman Pangan. Petani di Desa Wanajaya umumnya membeli pupuk dalam bentuk campuran pupuk Urea dan TSP dan tidak ada petani responden yang menggunakan pupuk TSP. Jenis penyakit ini menyebakan pembusukan pada batang padi sehingga mematikan tanaman padi. trobos.

Pemanenan Umur panen untuk varietas Ciherang yang digunakan petani responden rata-rata berumur 120 hingga 150 hari sejak ditanam. Petani melakukan penyiangan antara satu kali hingga dua kali berdasarkan intensitas serangan gulma.1. akan menjadi saingan berat bagi tanaman utama dalam memperoleh unsur hara dari dalam tanah bahkan dapat mematikan tanaman utama.6.6. Proses penyiangan sebagian besar dilakukan oleh tenaga kerja wanita baik dari dalam maupuan dari luar keluarga.1. semak belukar. Hasil panen padi ladang digunakan untuk kebutuhan makanan pokok dan sebagian disimpan di lumbung padi untuk nantinya digunakan sebagai benih di musim tanam berikutnya jika tidak memiliki uang tunai untuk membeli benih dari kios atau toko dengan resiko kualitas yang jelas lebih rendah. 6. per hari dengan jam kerja selama 6 jam kerja per hari. Penyiangan Penyiangan dilakukan untuk membersihkan lahan dari gulma atau tanaman pengganggu tanaman utama (padi ladang). Pada periode ini benih mulai bertumbuh sehingga pertumbuhan tanaman pengganggu seperti rerumputan.5.6000 untuk setiap tenaga kerja yang umumnya adalah wanita. Proses penyiangan dilakukan sekitar sebulan setelah benih ditanamkan atau ditugalkan dengan menggunakan sabit atau “kored” dan cangkul. Sebagian padi yang disimpan juga digunakan untuk tujuan berjaga-jaga atau untuk mengantisipasi kebutuhan mendesak rumah . atau gulma jika tidak segera dimusnahkan. Upah yang berlaku secara umum untuk proses penyiangan adalah sekitar Rp.

Biaya-biaya yang dikeluarkan petani padi ladang dapat dilihat dalam Tabel 15. biaya pengobatan dan kebutuhan-kebutuhan lainnya. Struktur Biaya Biaya yang dikeluarkan petani terdiri dari biaya tunai dan biaya diperhitungkan. nilai tenaga kerja dalam keluarga. Proses pengeringan padi dilakukan pada media tikar atau kuda-kuda bambu atau plastik terval di halaman rumah masing.tangga sehari.hari seperti biaya pendidikan anak. Pengeluaran usahatani yang termasuk dalam biaya diperhitungkan adalah pengeluaran usahatani yang dikeluarkan petani tetapi tidak secara tunai seperti biaya benih. Biaya tunai didefinisikan sebagai biaya untuk pupuk.2.lain. Proses pemanenan dilakukan dengan menggunakan alat-alat yang masih tradisional seperti sabit atau “kored”. dan lain. Pemanenan biasanya dilakukan dengan mengupah buruh tani dengan sistem “bawon” yaitu dengan menggunakan seperlima dari hasil panen keseluruhan sebagai upah keseluruhan pekerja pemanen dalam bentuk gabah kering panen. dan pajak usahatani yang dikeluarkan petani selama proses produksi padi ladang. dan penyusutan alat-alat pertanian. pestisida atau obat-obatan pemberantas hama dan penyakit tanaman. Padi yang sudah kering dan siap untuk digiling dibawa ke tempat penggilingan padi dan diolah hingga dalam bentuk beras dengan biaya pengolahan sebesar 100 kilogram beras untuk setiap satu ton beras yang telah diolah dengan menyesuaikan harga beras pada saat itu atau dalam bentuk uang tunai. . cangkul. tenaga kerja luar keluarga. 6.masing petani.

Tabel 15.33 6.622. Analisis yang dilakukan meliputi analisis pendapatan atas biaya total dan analisis pendapatan atas biaya tunai.Persentase 7.290.220.41 3.34 0.Nilai (Rp) 161.454.840.424.37 2.414.1. maka kegiatan usahatani padi ladang di Desa Wanajaya dilakukan dalam satu musim tanam.144. Karena sifat padi ladang yang menggantungkan pengairan pada curah hujan.8 1.103.000. dalam satu tahun.574.431.00 60 237.420.79.67 100.407. seperti di daerah lain pada umumnya.000.65 13. . Dalam penelitian ini.46. analisis pendapatan dilakukan untuk satu musim tanam.- 6.54.040.34 Harga/satuan (Rp) 1.724.000.6.2.1.53 2.6.92 25. Biaya-biaya yang Dikeluarkan Petani Padi Ladang per Hektar per Musim Tanam di Desa Wanajaya Tahun 2005 Komponen BIAYA TUNAI Pupuk Pestisida Tenaga Kerja Luar Keluarga Pajak Usahatani Total Biaya Tunai BIAYA DIPERHITUNGKAN Benih Tenaga Kerja Dalam Keluarga Penyusutan Peralatan Total Biaya Diperhitungkan BIAYA TOTAL Satuan Kg Liter HOK Rp Rp Kg HOK Rp Rp Rp Jumlah 110.200.7 48.173.3.20. Kegiatan usahatani padi ladang dimulai dari awal musim hujan sekitar bulan Oktober dan November hingga masa panen pada bulan April.550.49 74. Perhitungan pendapatan usahatani padi ladang ini dilakukan untuk rata-rata per satu hektar lahan. Analisis Pendapatan Analisis pendapatan dilakukan untuk menentukan nilai yang diperoleh petani dari kegiatan berusahatani padi ladang.64 65.

175.3. Sedangkan.326.1.76.4. maka petani akan memperoleh penerimaan sebesar Rp 0.654.Tabel 16.574 per hektar per musim tanam sehingga pendapatan atas biaya tunai sebesar Rp 1. Biaya total yang dikeluarkan petani dalam proses produksi rata-rata sebesar Rp 2.550. maka usahatani padi ladang tidak menguntungkan bagi petani.104.574.01 0.175. Harga jual gabah kering pada masa panen rata-rata sebesar Rp 1. sehingga ratarata penerimaan petani sebesar Rp 1. Artinya bahwa untuk setiap satu rupiah biaya total yang dikeluarkan dalam usahatani padi ladang.76. Sehingga jika dilihat dari sisi pendapatan atas biaya total. 6.854.754.900 per hektar per musim tanam. Sedangkan rasio R/C atas biaya tunai adalah sebesar 3. besar rata-rata biaya tunai yang dikeluarkan petani di daerah penelitian sebesar Rp 550.654. Analisis Pendapatan Cabang Usahatani Padi Ladang per Hektar per Musim Tanam di Desa Wanajaya Tahun 2005 Komponen TOTAL PENERIMAAN Total Biaya Tunai Total Biaya Diperhitungkan BIAYA TOTAL USAHATANI PENDAPATAN ATAS BIAYA TOTAL PENDAPATAN ATAS BIAYA TUNAI R/C ATAS BIAYA TUNAI R/C ATAS BIAYA TOTAL Nilai (Rupiah) 1.900.76 Produksi rata-rata padi ladang yang dihasilkan sebesar 1. Analisis Imbangan Penerimaan dan Biaya (Analisis R/C ratio) Dari hasil analisis pendapatan dan biaya usahatani padi ladang didapat rasio R/C atas biaya total sebesar 0.273 kilogram per hektar per musim tanam dalam bentuk gabah kering giling.1.-520.854.754 per hektar per musim tanam sehingga pendapatan atas biaya totalnya sebesar Rp -520.326.625.104.300 per kilogram.2.01 yang berarti bahwa untuk setiap satu rupiah biaya tunai yang .180.

maka dapat disimpulkan bahwa usahatani padi ladang di daerah penelitian tidak menguntungkan bagi petani. Berdasarkan nilai rasio R/ C atas biaya total yang lebih kecil dari 1 yaitu sebesar 0. maka petani akan memperoleh penerimaan sebesar Rp 3.dikeluarkan untuk usahatani padi ladang.76. . Syarat suatu usahatani dikatakan menguntungkan jika rasio R/C atas biaya total lebih besar dari 1.01.

didapat nilai F. seperti yang ditunjukkan dalam Tabel 17.faktor produksi yang digunakan secara bersama-sama berpengaruh signifikan terhadap produksi padi ladang. tenaga kerja dalam keluarga. ANALISIS FAKTOR-FAKTOR PRODUKSI DAN EFISIENSI EKONOMI CABANG USAHATANI PADI LADANG 7.faktor produksi yang diduga berpengaruh dalam usahatani padi ladang adalah pupuk. tenaga kerja luar keluarga. Tabel 17. Faktor. .2539 F .1.faktor produksi dengan variabel dependen yaitu produksi padi ladang dapat dilihat dalam Tabel 17. Ini berarti bahwa faktor.8341 Kuadrat Tengah 2. dan pestisida.hitung 8. benih.6180 18. Analisis Fungsi Produksi Model fungsi produksi yang digunakan untuk menduga fungsi produksi dalam penelitian ini adalah model fungsi produksi Cobb-Douglas. Hasil pendugaan model dan hubungan antara variabel bebas yaitu faktor.000 Berdasarkan pendugaan model produksi yang diperoleh.83 Peluang 0.2432 0.VII. Analisis Ragam Produksi Cabang Usahatani Padi Ladang di Desa Wanajaya Sumber Ragam Regresi Galat Total Derajat Bebas 5 30 35 Jumlah Kuadrat 11.2161 7.83 yang signifikan pada taraf kepercayaan 95 persen.hitung sebesar 8.

3 Berdasarkan data pada Tabel 18.209 Ln Benih 0.21728 Ln Tenaga Kerja Dalam Keluarga + 0. tenaga kerja dalam keluarga. dan pestisida sedangkan sebesar 40.405 Ln Pupuk 0.8% Variabel Koefisien Regresi T Hitung 0.069 0.3 1.06968 Ln Pestisida Dari hasil pendugaan model ditunjukkan juga bahwa nilai koefisien determinasi (R2 ) didapat sebesar 59.19 0.6 persen dengan nilai koefisien determinasi terkoreksi (R2 -adjusted) sebesar 52.48 1.196 Ln Tenaga Kerja Luar RT 0.999 0.530 0.8 1.248 0.5302 Ln Tenaga Kerja Luar Keluarga + 0.065 Ln Pestisida R-Sq = 59.011 0.1013 Ln Benih + 0. benih.06 Pvalue 0. Nilai koefisien determinasi (R2 ) tersebut berarti bahwa sebesar 59. Hasil Analisis Pendugaan Fungsi Produksi Usahatani Padi Ladang di Desa Wanajaya Simpangan Baku Koefisien 0.545 0.8 persen. maka model fungsi produksi padi ladang per hektar dapat diduga dengan persamaan sebagai berikut : Ln Produktivitas = 0.6% R-Sq (adjusted) = 52. intensitas serangan hama dan penyakit tanaman.989 Konstanta 0.4 persen lagi dipengaruhi oleh faktor.003 0. dan ketertarikan petani yang kurang untuk meningkatkan produksi dan produktivitas usahatani padi ladang akibat ketidakjelasan status kepemilikan atas lahan yang diusahakan petani dan karena . faktor.69 3.faktor lain di luar model.296 VIF 1.217 0.632 0.2484 Ln Pupuk + 0.faktor lain di luar model fungsi produksi yang diduga juga berpengaruh terhadap produksi padi ladang adalah tingkat kesuburan lahan. Di samping itu faktor iklim.00 0.004 1.Tabel 18.068 Ln Tenaga Kerja Dalam RT 0.3 1.2 2.004 + 0.101 0. Berdasarkan pengamatan di lokasi penelitian.61 2. tenaga kerja luar keluarga.6 persen dari variasi produksi dapat dijelaskan secara bersama-sama oleh faktor pupuk.

Elastisitas Produksi dan Skala Usaha Dalam model fungsi produksi Cobb-Douglas nilai koefisien regresi merupakan nilai elastisitas dari masing. Karena jumlah nilai elastisitas faktor produksi lebih besar dari 1. Nilai elastisitas pupuk sebesar 0.masing variabel terhadap produksi adalah sebagai berikut : Berdasarkan Tabel 18 didapat bahwa jumlah nilai elastisitas faktor-faktor produksi sebesar 1.05).cabang usahatani padi ladang tidak menguntungkan turut mempengaruhi produksi padi ladang. Dengan nilai elastisitas produksi sebesar 1. Sedangkan pengaruh faktor pupuk.2484. Nilai t hitung untuk tenaga kerja dalam keluarga dan tenaga kerja luar keluarga berpengaruh nyata terhadap nilai produksi pada taraf kepercayaan 99 persen (a = 0. Pengaruh masing.17. benih.17 persen. berarti jika penggunaan pupuk ditingkatkan sebesar satu persen. Angka ini merupakan penjumlahan dari koefisien regresi faktor produksi yang dalam hal ini dianggap sebagai nilai elastisitas dari faktor tersebut. maka produksi padi ladang akan meningkat sebesar 0. Hal ini dikarenakan penggunaan pupuk diantara petani a . dan pestisida tidak signifikan pada taraf kepercayaan yang ditetapkan.2484 persen dengan asumsi ceteris paribus. berarti setiap penambahan faktor produksi secara bersama-sama sebesar 1 persen.2. maka dapat disimpulkan bahwa usahatani padi ladang berada dalam daerah produksi increasing return to scale.17. 7. maka akan meningkatkan produksi sebesar 1.masing variabel tersebut. Namun berdasarkan uji t diperoleh bahwa faktor produksi pupuk tidak berpengaruh nyata terhadap produksi padi l dang.

struktur gumpal/keras. dan kejenuhan basa (KB). sehingga menjadi tidak tersedia atau tidak dapat diserap tanaman. sehingga tidak ditemukan adanya variasi data penggunaan pupuk. cukup dengan tindakan yang sama yaitu dengan pemupukan bahan organik (pupuk kandang). Dengan menggunakan ketiga indikator tersebut. nilai pH di lokasi penelitian adalah 4 sampai 5 sehingga termasuk tanah asam. Selain itu dapat juga dilakukan dengan . dan pH (derajat keasaman) yang merupakan tiga indikator kesuburan tanah. Sehingga secara keseluruhan disimpulkan bahwa tingkat kesuburan tanah di lokasi penelitian tergolong rendah. tanah di daerah penelitian termasuk jenis latosol. kapasitas tukar kation (KTK). Jenis latosol merah coklat kekuningan.cenderung sama. Derajat keasaman (pH) tanah yang rendah dapat ditingkatakan dengan program pengapuran. bertekstur lempung. Unsur Al ini selain bersifat racun bagi tanaman juga bersifat mengikat fosfor (P2 O5 ). KB (Kejenuhan Basa). Menurut Badan Perencana Pembangunan Daerah (BAPPEDA) Kabupaten Karawang dalam Laporan Studi Penanganan dan Pemanfaatan Lahan Kritis di Kabupaten Karawang Tahun 2003. Pada tanah asam biasa dijumpai gejala keracunan unsur Fe yang dicirikan adanya bercak-bercak pada daun berwarna kuning kemerahan. Kesuburan tanah diukur dengan menggunakan tiga indikator yaitu nilai pH. Pada tanah-tanah asam banyak ditemukan unsur Aluminium dapat ditukar (Aldd). Sedangkan kapasitas tukar kation (KTK) dan kejenuhan basa (KB) di lokasi penelitian termasuk dalam kelompok sedang. dan solum dalam. Tindakan untuk mengatasi masalah KTK (Kapasitas Tukar Kation).

Pemberian pupuk kandang atau pengapuran sebelum penanaman juga tidak dilakukan petani. dan KCl 100 kilogram per hektar yang masing. dan 49 hari setelah tanam). Sedangkan untuk dosis atau takaran pupuk yang dianjurkan BAPPEDA dalam budidaya padi ladang adalah Urea sebanyak 100 kilogram per hektar dengan tiga kali pemberian.35. dan tidak ada petani yang menggunakan pupuk KCl. pada stadia vegetatif (umur tanaman 14. Hal ini menyebabkan faktor produksi pupuk tidak elastis terhadap peningkatan hasil produksi padi ladang. Budaya gotong royong para petani dalam melakukan penanaman di lokasi . berarti setiap penambahan faktor tenaga kerja luar keluarga (ceteris paribus) sebesar satu persen.8 kilogram per hektar Urea dan TSP dalam bentuk campuran yang diberikan sekaligus pada saat penanaman.masing diberikan sekaligus saat tanam. maka produksi padi ladang akan meningkat sebesar 0.4 sampai 0. Pupuk TSP sebanyak 100 kilogram per hektar.5302.5 ton per hektar. Dosis pemberian kapur adalah 0. Tenaga kerja luar keluarga mempunyai nilai elastisitas sebesar 0.pengapuran menggunakan jenis kapur tanah CaCO3 sebelum penanaman karena ketiga parameter kesuburan tersebut intinya saling berhubungan. sedangkan untuk pupuk kandang nilai rata-ratanya adalah tiga kali dari dosis pengapuran. Berdasarkan uji t diperoleh bahwa faktor tenaga kerja luar keluarga berpengaruh nyata terhadap produksi padi ladang pada taraf kepercayaan 98 persen. Pupuk yang digunakan di lokasi penelitian rata-rata sebanyak 110.5302 persen. tetapi bila sudah diberi kapur tidak perlu lagi menggunakan pupuk kandang. masing.masing sepertiga bagian untuk pupuk dasar.

Faktor ini tidak berpengaruh nyata terhadap produksi padi ladang pada taraf kepercayaan sebesar 90 persen. maka produksi padi ladang akan meningkat sebesar 2. penyiangan. Petani di lokasi penelitian menggunakan benih jenis Ciherang yang sebenarnya adalah benih yang umumnya digunakan dalam padi sawah. Namun tidak demikian halnya dengan faktor produksi benih. Elastisitas faktor produksi benih yang rendah terhadap peningkatan produksi diduga disebabkan karena penggunaan varietas benih yang tidak tepat. demikian .1728 persen (ceteris paribus). tetapi kelembaban yang tinggi dan periode pengembunan yang panjang akan menyebabkan resiko untuk terserang penyakit blast (bercak putih pada akar) menjadi lebih besar. Adapun nilai elastisitas tenaga kerja dalam keluarga adalah sebesar 0.penelitian diduga menjadi penyebab elastisnya peningkatan faktor tenaga kerja luar keluarga terhadap peningkatan produksi.1013 persen dengan asumsi ceteris paribus. Dalam melakukan pengolahan mulai dari persiapan lahan. Penyakit blast merupakan jenis penyakit yang paling penting dan paling sering dijumpai dalam budidaya padi ladang pada umumnya. Seperti halnya tenaga kerja luar keluarga. tenaga kerja dalam keluarga juga berpengaruh nyata terhadap produksi padi ladang pada taraf kepercayaan 99 persen. Penambahan faktor produksi benih sebesar satu persen akan cenderung meningkatkan produksi padi ladang sebesar 0. hingga pemanenan petani lebih banyak mengandalkan tenaga kerja dalam keluarga. Menurut petani setempat benih jenis ini menghasilkan gabah yang lebih banyak daripada varietas padi yang disarankan untuk padi ladang dalam kondisi normal. yang berarti jika faktor tenaga kerja dalam keluarga ditingkatkan sebesar sepuluh persen.21728.

Dan jika dilihat dari besaran nilai elastisitas. yang berarti setiap kenaikan penggunaan pestisida sebesar satu persen akan cenderung meningkatkan produksi padi ladang sebesar 0. maka faktor yang berpengaruh nyata terhadap produksi padi ladang di Desa Wanajaya adalah faktor tenaga kerja dalam dan luar keluarga. Faktor produksi pestisida tidak berpengaruh nyata pada taraf kepercayaan 90 persen tetapi berpengaruh nyata pada taraf kepercayaan 70 persen terhadap produksi padi ladang. Tenaga kerja luar keluarga melakukan pekerjaan dengan jam kerja yang telah ditentukan sebelumnya. upah yang telah disepakati. Tenaga kerja luar keluarga akan bekerja lebih optimal dibandingkan dengan tenaga kerja dalam keluarga.06986 persen dengan asumsi ceteris paribus. Hal ini disebabkan oleh tenaga kerja luar keluarga akan bekerja lebih optimal dibandingkan dengan tenaga kerja dalam keluarga.juga di lokasi penelitian. Petani yang . Rendahnya elastisitas faktor produksi pestisida terhadap peningkatan produksi menunjukkan bahwa penggunaan pestisida oleh petani tidak berfungsi secara efektif dalam mengurangi atau membasmi hama dan penyakit yang menyerang padi ladang karena jumlah atau jenis pestisida yang belum tepat. maka faktor yang paling responsif terhadap produksi padi ladang adalah tenaga kerja luar keluarga dengan nilai elastisitas sebesar 0. Elastisitas faktor produksi pestisida adalah sebesar 0. Penyakit blast dapat menurunkan hasil panen bahkan menggagalkan pertanaman padi ladang. Petani tidak menggunakan varietas padi ladang karena produktivitas yang lebih rendah. Jadi jika dilihat secara keseluruhan.06968.5302. dan juga target kerja yang ditentukan sebelumnya.

Analisis Efisiensi Ekonomi Menurut Doll dan Orazem (1984). Tingkat efisiensi ekonomis dari penggunaan faktor. Faktor.faktor produksi yang dapat dianalisis adalah faktorfaktor produksi yang bersifat fisik dan yang dapat dinilai dengan rupiah. dan Marginal Factor Cost (MFC) atau yang sering disebut dengan Biaya Korbanan Marjinal (BKM).masing faktor produksi itu sendiri.menggunakan tenaga kerja luar keluarga akan mengoptimalkan kerja buruh tani agar target kerja yang diinginkan tercapai. Berbeda dengan syarat keharusan yang objektif.3. atau ketika elastisitas produksi lebih besar atau sama dengan nol dan lebih lebih kecil atau sama dengan satu (≤ εp ≤ 1). 7. maka penggunaan faktor.faktor produksi dapat dilihat dari besarnya rasio Nilai Produk Marjinal dengan Biaya Korbanan Marjinal per periode produksi.faktor . suatu usaha tani harus memenuhi dua syarat yaitu syarat keharusan (Necessary Condition) dan syarat kecukupan (Sufficient Condition). syarat kecukupan dapat berbeda pada setiap usahatani atau individu dan merupakan efisiensi yang subjektif. Jika rasio NPM dengan BKM lebih besar dari satu. untuk mencapai keuntungan yang maksimal. Syarat keharusan (Necessary Condition) dipenuhi pada saat tidak ada lagi kemungkinan lain dalam penggunaan input yang lebih sedikit untuk menghasilkan nilai produksi yang sama. Nilai Produk Marjinal merupakan hasil kali antara harga produk dengan Produk Marjinal (PM) sementara Biaya Korbanan Marjinal (BKM) sama dengan harga dari masing. Terpenuhi atau tidaknya kedua syarat tersebut dapat diketahui dengan menggunakan sebuah persamaan yaitu perbandingan antara Value Marginal Product (PyMPxi) atau disebut juga Nilai Produk Marjinal (NPM).

027 0.34 0.162 1.79 Harga Rata -rata/unit Output (Rp/Kg) 1300 Keterangan : NPM = Nilai Produk Marjinal BKM = Biaya Korbanan Marjinal Variabel NPM 3712. Rasio NPM dan BKM usahatani padi ladang di Desa Wanajaya ditunjukkan dalam Tabel 21. Rasio-rasio NPM dengan BKM dari setiap faktor produksi menunjukkan bahwa penggunaan faktor.faktor produksi telah melebihi batas optimal sehingga untuk mencapai keuntungan maksimum maka penggunaannya harus dikurangi.1013 Pestisida 1.553 3. Rasio NPM dengan BKM yang sama dengan satu untuk semua faktorfaktor produksi menunjukkan bahwa penggunaan faktor.5302 Tenaga Kerja Dalam RT 237.50 BKM 1454 6000 6000 2407 46724 NPM/ BKM 2.faktor produksi dalam usahatani padi ladang di Desa Wanajaya tidak efisien secara ekonomis. Rasio Nilai Produk Marjinal dengan Biaya Korbanan Marjinal Usahatani Padi Ladang Di Desa Wanajaya Penggunaan Koefisien Rata-rata Regresi Aktual Pupuk 110. karena nilai.2484 Tenaga Kerja Luar RT 48.2172 Benih 60. Rasio NPM dengan BKM yang lebih kecil dari satu menunjukkan bahwa penggunaan faktor.37 0.75 67873.00 0.252 1.faktor produksi dalam usahatani tersebut tepat berada pada kondisi optimal dan telah mencapai keuntungam maksimum sehingga usahatani dapat dikatakan telah efisien secara ekonomis.70 0.453 Tabel 19 menunjukkan penggunaan faktor-faktor produksi aktual dan rasio Nilai Produk Marjinal (NPM) dengan Biaya Korbanan Marjinal (BKM) pada usahatani padi ladang di Desa Wanajaya.produksi disebut belum efisien dan perlu ditingkatkan penggunaannya untuk mencapai keuntungan maksimum.81 0. Rasio .05 18162.nilai rasio NPM dan BKM tidak ada yang sama dengan satu.0696 Produksi Rata-rata (Kg/Ha) 1273. Tabel 19.22 2795.44 1515.

benih. Penggunaan faktor produksi pestisida dan pupuk yang rendah ini disebabkan oleh keterbatasan modal yang dimiliki petani untuk membeli pupuk dan pestisida dalam jumlah yang lebih besar yang sesuai dengan kebutuhan usahatani berdasarkan kondisi kesuburan dan kandungan hara tanah. Rendahnya penggunaan tenaga kerja luar keluarga disebabkan oleh keterbatasan modal petani untuk mengupah tenaga kerja luar keluarga yang lebih besar. Penggunaan benih yang tidak efisien juga disebabkan oleh ketidakmampuan petani secara finansial untuk membeli benih yang memiliki harga beli yang tinggi. sehingga pupuk dan pestisida hanya digunakan berdasarkan kemampuan finansial petani.masing lebih besar dari satu. yang berarti bahwa penggunaan faktor . sehingga benih yang digunakan petani adalah gabah yang merupakan sisa hasil panen dari musim tanam sebelumnya dengan mutu yang lebih rendah daripada benih komersial.faktor produksi pada usahatani padi ladang belum optimal pada jumlah produksi yang sama. dan pestisida masing. Sedangkan untuk faktor tenaga kerja dalam keluarga didapat nilai rasio NPM dan BKM yang lebih kecil dari satu.027. Rasio NPM dan BKM yang paling besar adalah pada faktor tenaga kerja luar keluarga yaitu sebesar 3. maka penggunaan tenaga kerja luar keluarga memerlukan penambahan yang relatif lebih besar agar dicapai tingkat efisien. Pada Tabel 19 dapat dilihat bahwa rasio NPM dan BKM untuk faktor produksi pupuk. tenaga kerja luar keluarga. Berdasarkan nilai rasio ini.ini juga berarti bahwa penggunaan faktor. Nilai rasio ini mengandung arti bahwa penggunaan faktor– faktor produksi tersebut masih kurang dan masih dapat ditingkatkan lagi agar dicapai tingkat penggunaan yang efisien atau optimal.

2484 Tenaga Kerja Luar RT 0.faktor produksi dapat dicapai dengan menggunakan kombinasi optimal dari faktor-faktor produksi.69 2.47 NPM 1454 6000 6000 2407 46724 BKM 1454 6000 6000 2407 46724 NPM/ BKM 1 1 1 1 1 Berdasarkan Tabel 20 di atas diperoleh nilai penggunaan optimal dari faktor pupuk sebesar 282.5302 Tenaga Kerja Dalam RT 0.51. Tabel 20. . Nilai ini berarti untuk mencapai tingkat efisien.0696 Produksi Rata-rata (Kg/Ha) 1273. Rendahnya tingkat pendidikan petani menyebabkan mereka tidak memiliki keahlian atau pekerjaan lain selain berusahatani padi ladang sehingga tenaga kerja dalam keluarga yang digunakan dalam usahatani menjadi relatif lebih besar. maka penggunaan tenaga kerja dalam keluarga harus dikurangi. Kombinasi Optimal dari Faktor-Faktor Produksi Usahatani Padi Ladang Di Desa Wanajaya Koefisien Regresi Pupuk 0. sehingga untuk mencapai tingkat efisien.1013 Pestisida 0. Kombinasi optimal dari penggunaan faktor-faktor produksi akan diperoleh jika Nilai Produk Marjinal sama dengan Biaya Korbanan Marjinal atau jika rasio Nilai Produk Marjinal dan Biaya Korbanan Marjinal sama dengan satu.79 Harga Rata -rata/unit Output (Rp/Kg) 1300 Keterangan : NPM = Nilai Produk Marjinal BKM = Biaya Korbanan Marjinal Variabel Penggunaan Optimal 282.faktor produksi yang menghasilkan penggunaan input yang efisien.94 69.51 146.produksi ini berlebihan atau tidak efisien. Efisiensi penggunaan faktor.2172 Benih 0.33 59. Pada Tabel 20 dapat dilihat kombinasi faktor. Penggunaan yang berlebih ini terjadi karena usahatani padi ladang merupakan usahatani utama dan sumber makanan pokok keluarga petani sehingga alokasi tenaga kerja untuk usahatani padi ladang relatif lebih besar.

34 HOK agar dicapai tingkat efisien. Jika dilihat dari segi rasio NPM dan BKM. . penggunaan benih yang semula sebesar 60 kilogram harus ditingkatkan menjadi 69.51 kilogram.34 HOK harus ditingkatkan menjadi 146. Untuk faktor produksi pestisida.37 HOK menjadi sebesar 59. Sementara nilai penggunaan tenaga kerja dalam keluarga harus dikurangi dari yang semula sebesar 237.69 kilogram agar dicapai tingkat efisiensi.penggunaan pupuk harus ditingkatkan dari penggunaan aktualnya sebesar 110. yang berarti bahwa penggunaan tenaga kerja luar keluarga yang semula sebesar 48.7 liter dalam penggunaan aktualnya menjadi sebesar 2.94 HOK agar penggunaan faktor produksi ini efisien.33.81 kilogram menjadi sebesar 282.47 liter agar dicapai tingkat efisiensi. Nilai penggunaan optimal dari faktor tenaga kerja luar keluarga adalah sebesar 146. penggunaannya harus ditingkatkan dari sebesar 1.

yang nyata pada taraf kepercayaan 99 persen. Kesimpulan Berdasarkan hasil dan pembahasan dalam penelitian ini. 2. Pendapatan atas biaya tunai adalah Rp. .1. diperoleh nilai rasio R/C atas biaya total sebesar 0. faktor tenaga kerja luar keluarga sebesar 146.7 liter dalam penggunaan aktualnya menjadi sebesar 2. penggunaan benih yang semula sebesar 60 kilogram harus ditingkatkan menjadi 69. Penggunaan faktor-faktor produksi yang efisien secara ekonomis dicapai pada saat penggunaan faktor pupuk sebesar 282. sehingga dapat disimpulkan bahwa cabang usahatani padi ladang di Desa Wanajaya tidak menguntungkan bagi petani.104.94 HOK.854.-. Kemudian dengan analisis imbangan penerimaan dan biaya (analisis R/C ratio). KESIMPULAN DAN SARAN 8.47 liter.33 HOK.326. Sedangkan faktor pupuk. maka dapat diambil beberapa kesimpulan yaitu : 1. 3. dan pestisida tidak berpengaruh nyata pada taraf kepercayaan yang ditetapkan. penggunaan tenaga kerja dalam keluarga harus dikurangi dari yang semula sebesar 237. Faktor-faktor produksi yang berpengaruh nyata terhadap produksi padi ladang adalah tenaga kerja luar keluarga dan tenaga kerja dalam keluarga..76 (lebih kecil dari satu).69 kilogram.VIII.1.51.sedangkan pendapatan atas biaya total adalah Rp.37 HOK menjadi sebesar 59. faktor produksi pestisida harus ditingkatkan dari sebesar 1.-520. benih.

benih. 2. pestisida tenaga kerja luar harus ditingkatkan dari penggunaan aktualnya supaya usahatani padi ladang yang dilakukan lebih efisien dan menguntungkan bagi petani. Saran Berdasarkan hasil dan pembahasan serta simpulan. Pemberian bimbingan dan penyuluhan dari instansi terkait mengenai teknik budidaya padi ladang yang tepat seperti kombinasi penggunaan pupuk dan pestisida yang tepat dan pola tanam yang tepat untuk mencapai usahatani padi ladang yang lebih produktif dan menguntungkan. .8. maka disarankan untuk: 1.2. Penggunaan faktor produksi pupuk.

Bogor. Diana. Noorsanti Uceu. Sumatera Selatan. Skripsi. Analisis Peningkatan Pendapatan Petani Melalui Penyimpanan Gabah di Kabupaten Indramayu dan Kabupaten Karawang. Tauhid. Bogor.DAFTAR PUSTAKA Ahmad. Upland rice : a global perspective. 2002. Los Banos. 1998. O’Toole JC. 1963. Pedoman bercocok tanam padi. Kabupaten Karawang. Skripsi. Jakarta. 1995-1998.. P. Fakultas Pertanian. Analisis Pendapatan Usahatani Padi dan Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Marketed Supply Gabah di Kabupaten Magelang dan Kabupaten Klaten. Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan. Fakultas Pertanian.Graw –Hill. John Wiley and Sons. palawija. Philippines. 1999. Malang. Karawang. Hariyanto. Fakultas Petanian. Departemen Pertanian Satuan Pengendali Bimas. Basic Econometric.B. Doll. C. Edisi Kedua. PT. Propinsi Jawa Barat. Kecamatan Cimalaya. 1988. 1994. 1986. Mc. Institut Pertanian Bogor. Perkembangan Tingkat Produksi. Laporan Draft Final Studi Penanganan dan Pemanfaatan Lahan Kritis Di Kabupaten Karawang Tahun Anggaran 2003. Bogor. 1984. Direktorat Jenderal Pertanian. Jawa Barat). Jakarta. Yayasan Obor Bhratara Karya Aksara. Skripsi. Geertz. Produktivitas dan Pendapatan Petani Padi Dihubungkan Dengan Kebijaksanaan Harga Dasar Gabah dan Harga Sarana Produksi (Studi Kasus : Desa Sukatani. Amir. Jakarta. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian. Tesis. Padi Gogo. John dan Frank Orazem. New York. Pola Adaptasi Peladang Berpindah di Pemukiman (Kasus Peladang Berpindah di Perkebunan HTI. Institut Pertanian Bogor. Institut Pertanian Bogor. . Damodar N. A. Ariyanti. Institut Pertanian Bogor. Gupta PC. Fakultas Pertanian. Balai Penelitian Tanaman Pangan Malang. Suyamto dan Supriyatin. 1983. Production Economic Theory with Aplications. Bogor. Second Edition. Sadhya Grahacara. 1995. Jawa Tengah. Departemen Pertanian. Basyir. Punarto S. Involusi Pertanian : Proses Perubahan Ekologi di Indonesia. Badan Perencana Pembangunan Daerah Pemerintah Kabupaten Karawang. sayur-sayuran. 2003. Gujarati. Kanada. Interna tional Rice Research Institute. Dahlia.. Vademekum Sumberdaya.

Jawa Barat). Cetakan kedua. Ilmu Usahatani dan Penelitian Untuk Pengembangan Petani Kecil. Bogor. 1988. 1973. S. Bogor. Budidaya Tanaman Padi di Indonesia. Institut Pertanian Bogor. Analisis Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Keputusan Petani Dalam Pemasaran Gabah (Kasus Desa Majosen. Jakarta. Potensi Lahan Kering Dalam Pembangunan Pertanian di Indonesia. 1981. Satria.ilmu Sosial Ekonomi Pertanian. Pengantar Ekonomi Pertanian. Sidik. Institut Pertanian Bogor. Ilmu Usahatani. Mubyarto. LP3ES. Analisis Pendapatan dan Efisiensi Penggunaan Faktor Produksi Usahatani Padi Gogo Secara Tumpangsari Dengan Jagung di Kecamatan Kadipaten Tasikmalaya Propinsi Jawa Barat. Leuwi esa Damar. D. Program Studi Agroklimatologi. Pemanfaatan dan Peranan Lahan Kering Dalam Pembangunan Pertanian. Perbandingan Usahatani Padi Ladang Baduy Luar dan Luar Baduy Dilihat Dari Tingkat Efisiensi dan Subsistensi Usahatani (Studi Kasus di D Kanekes dan Desa Jalupang Mulya. Maryono. Rahayu. Ahmad dan Dahlan Patong. Netty. Fadholi. 2004. Susanto. Fakultas Pertanian. 1996. Skripsi.ilmu Sosial Ekonomi Pertanian. Bogor. Tesis. Indonesia Rice Policy In View of Trade Liberalization. James. Lebak. Jakarta. Fakultas Pertanian. Jurusan Ilmu. Kabupaten Pekalongan.Harsono. Setiawan. Institut Pertanian Bogor. Harry. Bogor. PILMITANAS (Pekan Ilmiah Mahasiswa Ilmu Tanah Nasional). Institut Pertanian Bogor. Skripsi. Bogor. Fakultas Pertanian. Program Pascasarjana. Institut Pertanian Bogor. Mulyo. Bogor. 12-13 February. Yayu Sri. Sambutan Menteri Negara Agraria/Kepala BPN. Politik Pangan dan Industri Pangan di Indonesia. 2001. FAO Rice Conference. Chandra Arief. (5): 13-12. Kab. Fakultas Pertanian. Analisis Wilayah Rawan Kekeringan Untuk Pengembangan Sistem Usaha Pertanian Padi Gogo di Sulawesi Tenggara. Hadrian. Kecamatan sragi. 1986. Jakarta. 1989. UI-Press. M. IKAPI. Penerbit Sustra Hudaya. Hernanto. D. Tenggeng Kulon dan Yosorejo. 1995. Bogor. Jakarta. Penebar Swadaya. Skripsi. Institut Pertanian Bogor. Jawa Tengah). 1995. Jakarta. Penerbit LP3S. Siregar. 2004. Jakarta. 2000. Prisma. 1993. Italy. Kec. PS. Soeharjo. Institut Pertanian Bogor. Arif. . 1981. Sendi-Sendi Pokok Ilmu Usahatani. Rahardjo. Soekartawi. Moral Ekonomi Petani. Scott. Bogor. Rome. 1996. Jurusan Ilmu.

Skripsi. 1999. Jurusan Ilmu. Institut Pertanian Bogor. Kabupaten Karawang. Analisis Pendapatan dan Efisiensi Usahatani Padi Input Rendah di Kecamatan Tempuran. 2002. Bogor. Fakultas Pertanian. Bogor. Andri. Yelni. Program Pascasarjana.ilmu Sosial Ekonomi Pertanian. Kecamatan Tounom. Institut Pertanian Bogor. Skripsi. Hermawan. Analisis Pendapatan dan Produksi Usahatani Padi Lahan Gambut (Studi Kasus : Desa Blang Ramee. 2000. Yanuar. Bogor. 1999. Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Produksi dan Pendapatan Usahatani Padi Sawah Pada Jaringan Irigasi Teknis dan Irigasi Sederhana.faktor Produksi Padi Lahan Kering di Indonesia. Kabupaten Aceh Barat). Institut Pertanian Bogor. Tesis. .Wana. Bogor. Analisis Faktor. Rahmat. Fakultas Pertanian. Wijaya. Jurusan Ilmu. Skripsi.ilmu Sosial Ekonomi Pertanian. Fakultas Pertanian. Institut Pertanian Bogor.

LAMPIRAN .

2712 0.004 0.06819 0.8 1.06968 SE Coef 1.2 2.1876 0.3000 2.06 P 0.217 Ln TK Dalam + 0.77 Fit 6.69 3.61 2.2161 7.61 7.296 VIF 1.21728 0.989 0.5712 6.3 S = 0.3 1.2432 0.9949 St - .2539 F 8.8341 Seq SS 1.6600 3.0697 Ln Pestisida Predictor Konstanta Ln Pupuk Ln TK Luar Ln TK Dalam Ln Benih Ln Pestisida Coef 0.1013 0.06548 T 0.48 1.2092 0.2484 0.83 P 0.011 0.Lampiran 1.61 5.8% SS 11.248 Ln Pupuk + 0.02% R-Sq(adj) = 52.1969 0.1803 Residual -1.19 0.101 Ln Benih + 0.3546 Analysis of Variance Source Regression Residual Error Total Source DF Ln Pupuk 1 Ln TK Luar 1 Ln TK Dalam 1 Ln Benih 1 Ln Pestisida 1 DF 5 30 35 R-Sq = 59.530 Ln TK Luar + 0.00 0.72R 7 4.632 0.8846 5.6% R-Sq(pred) = 45.00 + 0.4056 0.003 0.3 1.2875 MS 2. Analisis Regresi Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Produktivitas Cabang Usahatani Padi Ladang Di Desa Wanajaya The regression equation is Ln Produktivitas = 0.999 0.2221 0.5302 0.8251 SE Fit 0.6180 18.000 Unusual Observations Obs Ln Pupuk Ln Prod Resid 6 4.545 0.5039 PRESS = 10.1619 0.8200 2.11R Durbin-Watson statistic = 1.

604 45. Luas Panen.879 1.50 51.500 43.42 50. Pertumbuhan Produksi.822 1.896 10.67 0.209 10.498 47.69 Tahun 2003 52. dan Produktivitas Padi di Indonesia.008 11.064 24.71 2 47.56 -0.490 11.395 47.00 -2.081 23.79 0.378 10.591 1.go.521 44.bps.094 25.34 2.457 46.088 11.74 2.488 45.105 25. Tahun 2001-2005 No 1 Komoditi Padi Produksi (000 Ton) Luas Panen (000 Ha) Produktivitas (Ku/Ha) Padi Sawah Produksi (000 Ton) Luas Panen (000 Ha) Produktivitas (Ku/Ha) 2001 50.565 1.43 .461 11.185 10.759 1.138 11.799 47.95 -1.419 45.23 2.68 Pertumbuhan (2004-2005) -2. 2005 2.80 -2.97 48.922 45.38 2004 54.88 2002 51.Lampiran 2.63 2.76 49.00 -2.123 25.id.80 3 Padi Ladang Produksi (000 Ton) Luas Panen (000 Ha) Produktivitas (Ku/Ha) Sumber : www.52 -1.36 2005 53.899 10.

42 34.76 23.29 -2.56 25.34 Tahun 2003 22.8 30.66 30.55 17.52 22.36 31.49 31.63 -0.88 -0.35 21.56 26.53 31.11 27.19 26.78 20 24.83 22.55 24.72 30 29.31 31.52 -3.27 22.27 20.23 -10.85 24.84 20.95 22.21 35.41 20.82 32.35 -0.37 16.99 23.go.21 25.56 23.32 24.59 23.3 28.57 23.62 8.6 25. Produktivitas Padi Ladang Menurut Propinsi Di Indonesia.31 21.66 21.82 23.50 -8.78 0.97 -1.85 22.21 25.14 26.06 19.33 27.61 24.84 21.32 21.27 33.15 26.03 23.02 22.06 22.57 24.21 21.92 17.75 20.89 20.45 23.75 26.85 20.9 24.8 19. Tahun 2001-2005 (Kwintal/Ha) No.42 34.25 21.65 22.73 2. 2005 *) Angka ramalan -) Data tidak tersedia .94 20.bps.41 26.60 -9.58 23.21 24.45 23.35 21.69 0.9 35.75 22.74 2002 21.Lampiran 3.13 17.46 -14.22 24.89 21.93 20.25 25.47 23.62 20.45 0.21 22.66 20.04 0.23 2004 2005*) 22.53 21.17 19.73 2.43 Sumber : www.3 19.76 18.36 23.86 0.86 26.22 20.27 -3.03 -0.19 20.67 0 0 25.99 19.33 20.54 4.19 20.63 25.89 21.96 20.33 23.86 28.49 22.12 19.7 18.01 4.54 24.84 29.77 18.18 23.5 26.97 20. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 Propinsi NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Maluku Maluku Utara Papua Indonesia 2001 22.15 19.07 18.8 28.14 25.57 19.12 20.16 24.53 24.52 Pertumbuhan (2004-2005) 0.11 23.31 24.71 22.01 37.55 23.16 35.2 21.65 19.45 24.66 20.95 20.id.67 23.44 0.15 22.18 23.75 24.53 5.87 16.44 0.47 23.09 25.88 21.03 25.72 2.70 0.29 35.47 26.03 26.31 23.33 20.04 1.26 8.28 18.

24 -5.88 7.614 139.530 181.053 13.647 58.375 100.333 995 Maluku 13.822.68 -3.892 169.763 Sumatera Utara 180.838 Gorontalo 1.656 6.878 115.530 200.187 4.093.190 NTT 102.27 0.659 99.076 6.91 -10.879.618 107.970 3.26 -15.194 22.842 143.90 15.622 Jawa Timur 303.69 -25.692 77.66 -2.957 46.450 17.169 154.418 Banten 73.702 DKI Jakarta Jawa Barat 340.773 36.522 Kalimantan Tengah 111.615 27.368 28.796 198.567 1.434 121.959 41.801 31.778 1.910 1.556 Bangka Belitung 11.254 133.889 Sulawesi Tengah 7.386 Kalimantan Selatan 110.663 25.699 DI Yogyakarta 119.726 16.291 61.468 1.900 171.036 86.717 358.182 132.go.06 1.827 11.042 295.181 113.938 Lampung 252.97 -9.723 115.052 94.407 65.788 Bali 1.848 Kalimantan Barat 175.491 Jawa Tengah 192.404 NTB 78.621 1.Lampiran 4.69 -2.423 39.204 116.175 Riau 44.323 26. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 Propinsi 2001 2002 NAD 4.308 302.574 1.67 -1.331 132.750 4.09 9.612 59.108 356.967 14.892 83.978 Maluku Utara Papua 12.486 137.363 183.454 26.565.54 -1.290 80.055 60.725 219.518 2004 7.945 37.771 Bengkulu 34.307 44.29 5. Produksi Padi Ladang Menurut Propinsi Di Indonesia Tahun 2001-2005 (Dalam Ton) No.560 121.978 215.031 Indonesia 2.225 9.621 39.35 10.301 59.43 -0.347 231.917 16.162 Sulawesi Selatan 29.578 184.925 Jambi 59.199 6.203 Sulawesi Tenggara 11.190 134.465 1.903 10.774 Pertumbuhan -8.844 5.908 8.35 -35.814 16.659 2.95 .000 23.035 2005 6.497 20.246 13.416 Sumatera Barat 13.872 5.882 Sumatera Selatan 158.248 5.951 Sulawesi Utara 12.50 26.85 11.32 25.861 56.629 Sumber : www.681 167.144 1.79 -16.281 4.915 2.590.333 185.086 Kalimantan Timur 107.66 39.240 8. 2005 Tahun 2003 2.365 10.754 39.676 2.016 40.bps.998 2.016 20.962 195.25 -6.234 16.693 82.72 -3.226 306.136 105.60 5.64 -4.073 128.288 10.270 2.177 7.550 204.806 8.414 3.576 304.882 227.898 209.id.500 113.20 -17.

Penggunaan Faktor-faktor Produksi Cabang Usahatani Padi Ladang Di Desa Wanajaya.4 13 Aman 1 14 Adon 0.2 36 154 26.05 0. Musim Tanam November-April Tahun 2005 Luas (Ha) 1 Sakam 1.1 1.5 39 Namun 1 40 Samad 0.4 155.1 110.6 48 15.16 0.500 1.1 0.4 166.000 200 500 150 500 700 200 954.6 105.6 141.2 26 27.2 125.4 32 Kadim 0.15 0.4 33 45.75 2 Acim 3 Madhari 1 4 Ladi 0.32 0.7 Pupuk (Kg) 100 70 100 100 100 100 100 150 250 25 30 100 100 100 200 40 100 200 30 100 150 50 200 200 30 100 100 200 80 80 80 200 80 36.Lampiran 5.24 0.500 400 800 500 800 200 500 280 1.4 35 28 17.1 0.2 311.6 117.05 2.2 141.75 1273 TK Dlm (HOK) 186.4 409.15 0.15 2.2 26 20.5 29 Keming 0.1 0.8 172.2 0.5 Rata-rata 0.4 174.15 2.4 33 Misjah 0.5 27 Hardi 0.500 .4 46 18.500 400 400 200 2.15 0.34 83.37 TK Luar (HOK) 44 26 27.000 1.5 5 Kiwan 0.8 .03 237.2 112 390.4 172 150 84.2 7 0.8 146.4 82.4 413 162.5 23 Mamat 0.5 6 Walim 1 7 Kamin 1 8 Natong 1 9 Onang 1 10 Rakim 2 11 Bodeh 0.300 500 500 800 1.4 24 Enong 0.27 1.5 16 Cilan 1 17 Hidayat 1 18 Enan 0.8 220.2 1.8 174.15 0.8 231.000 900 900 400 1.25 0.4 30.5 12 Ayat 0.1 2.5 34 Iwan 2 35 Sahir 0.16 0.000 1.5 37 Narmin 0.4 25 Amud 1 26 Murdi 0.5 19 Asmur 1 20 Karsim 0.4 22 Asim 0.74 0.6 196.1 2.25 48.4 157.6 30 Dulhamid 1 31 Sadum 0.24 0.8 21 Madhawi 0.4 40 31 48 35.6 142 104.000 900 500 800 1.08 0.1 0.6 28 37 29 38.8 269.8 150.6 109 114.6 2 0.8 192.75 Rata-rata per Hektar No Nama Produksi (Kg) 1.000 900 400 1.2 141.4 155.5 36 Walim 0.4 37.5 0.24 4.6 38 Neman 0.1 28 Ganda 0.1 0.6 43.2 26 Benih (Kg) 50 25 50 50 50 50 50 25 40 100 40 30 80 50 25 50 50 50 50 50 20 50 30 20 50 60 50 30 80 50 40 50 40 50 30 40 30 30 80 20 45 60 Pestisida (Liter) 1.1 1.6 195.75 15 Icis 0.24 1.5 0.500 800 1.2 173.6 125.2 178.1 5.16 0.

400.44.600.8 21 Madhawi 0.Kerja Luar RT 264.000.42.430.000.600.30.880.000.033.000.42.200.000.355.5 6 Walim 1 7 Kamin 1 8 Natong 1 9 Onang 1 10 Rakim 2 11 Bodeh 0.000.000.156.500 500 1.1 28 Ganda 0.200.1.000 1.847.5 5 Kiwan 0.000.000.000.22.045.400.200.400.168.000.400.400.5 37 Narmin 0.000.168.000.240.000.30.943.56.216.200.22.192.042.000.000.30.000 200 500 150 500 700 200 954 1273 Tenaga Dalam RT 1.259.000.288.55.000.60.000.4 32 Kadim 0.800.2.000.400.- 146.800.000.140.000.000.108.000.33.000.848.56.60.600.800.183.122.000.000.000.144.389.600.1.000.Benih 120.000.852.458.654.000.000.000.1.48.5 27 Hardi 0.672.600.848.120.508.000.634.172.Lampiran 6.000.000.000.250.934.000.5 34 Iwan 2 35 Sahir 0.120.000.21.150.000.000 900 400 1.120.600.000 900 900 400 1.000.000.Pupuk 130.1.600.600.000.175.000.000.271.1.000.300.89.500.174.000.300.4 25 Amud 1 26 Murdi 0.70.15 15 Icis 0.120.130.000.000.000.75 3 Madhari 1 4 Ladi 0.496.178.000.500 400 400 200 2.400.000 900 500 800 1.51.035.000.617.40.230.70.75.000.000.000.000.1.44.22.150.1.800.600.323.400.000.200.000.4 24 Enong 0.000.60.122.5 19 Asmur 1 20 Karsim 0.60.186.120.Saprotan Pestisida 46.48.1.198.000.5 2 Acim 0.000.902.000.5 Rata-rata 0.4 33 Misjah 0.000.74.000.000.000.74.000.000.200.2.69.000.000.5 39 Namun 1 40 Samad 0.000.000. Pengeluaran Cabang Usahatani Padi Ladang Di Desa Wanajaya Musim Tanam November-April Tahun 2005 No Nama Luas (ha) Produksi (Kg) 1.156.240.89.200.400.000.000.000.032.000.000.1.600.000.175.48.000.112.000.6 38 Neman 0.000.54.130.164.000.60.000.120.140.80.900.000.192.5 23 Mamat 0.70.500 800 1.000.000.56.175.313.5 36 Walim 0.000.000.15.200.60.73.924.- .000.000.135.160.104.72.29.000.000.7.200.60.222.000.195.000.200.000.1.000.400.000.200.000.154.1.164.800.5 16 Cilan 1 17 Hidayat 1 18 Enan 0.30.753.120.6 30 Dulhamid 1 31 Sadum 0.400.000.288.72.997.000.72.342.56.000.500 400 800 500 800 200 500 280 1.000.000.315.60.000.000.75 Rata-rata per Hektar 60.240.000.28.932.225.72.210.33.56.4 13 Aman 1 14 Adon 0.800.000.600.45.158.600.109.400.104.687.000.000.72.000.22.275.300 500 500 800 1.000.2.91.11.150.276.224.5 29 Keming 0.800.4 22 Asim 0.300.- 168.156.000.000.800.000.045.1.000.- 1 Sakam 1.112.1.150.000.119.70.- 70.000.478.000.000.000.000.400.156.80.016.5 12 Ayat 0.33.213.1.000.868.754.175.48.70.33.70.272.120.72.000.703.119.973.482.400.000.000.400.800.985.000.309.627.000.000 1.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful