Dampak Globalisasi Terhadap Budaya Lokal dan Prilaku Masyarakat

Wednesday, 05 October 2011 02:05 administrator
Oleh : I Komang Suarnatha SH A .Pendahuluan Situasi sosial politik di suatu negara baik yang positif maupun negatif, tidaklah bisa dilepaskan dari pengaruh berbagai gejolak yang terjadi di tingkat global ditentukan oleh citra diri dan identitas bangsa itu sendiri yang mana masing-masing bangsa di dunia sudah pasti memiliki citra diri dan identitas masing-masing sehingga setiap pengaruh global yang diterima setiap bangsa dan negarapun akan berbeda. Era globalisasi yang diboncengi neolibralisme dan modernisasi menuju diiringi revolusi IPTEK. Dimana manusia akan terus akan mengalami revolusi tour ti (technologi, telekomunication,transportation,tourism)yang memiliki globalizing force yang dominan sehingga batas antar daerah dan antar negara semakin kabul, yang mengakibatkan dunia tanpa batas yang menganut aliran kebebasan, kebebasan nerkreatifitas, kebebasan berpendapat, dan kebebasan berkreatifitas, kebebasan berpendapat, dan kebebasan berekpresi. Seperti contoh bila kita duduk di satu kursi dan berkomunikasi dengan orang di tempat yang paling jauh ditempat diluar sana, maka kemajuan tehnologi informasi dan telekomonikasi mendekatkan jarak dan waktu. Kondisi tersebut secara tidak langsung dapat mempengaruhi tantangan budaya masyarakat khususnya I ndonesia. Hal ini sangatlah berbahaya bila kita tidak memfilter serta membedakan mana budaya asing yang dapat diserap dan mana yang tidak. Jika kita melihat kondisi riil masyarat Indonesia sekarang ini, ternyata daya serap masyarakat terhadap budaya global lebih cepat dibanding daya serapnya terhadap budaya lokal. Bukti nyata dari pengaruh globalisasi itu, antara lain dapat disaksikan dari gaya berpakaian, dan gaya berbahasa masyarakat Indonesia, khususnya generasi muda yang sudah berubah yang kesemuanya itu diperoleh karena kemajuan tehnologi iformatika dan komunikasi khususnya pada media masa. Globalisasi media dengan segala nilai yang dibawanya seperti lewat televisi, radio, majalah, koran, buku, film, VCD, HP, dan kini lewat internet sedikit banyak akan berdampak pada budaya dan kehidupan masyarakat Indonesia. B. Konsep Budaya dan Globalisasi Budaya Dalam pranata Wikipedia, didapatkan arti dari pada budaya sebagai berikut: ” budaya atau kebudayaan berasal dari bahasa sansekerta yaitu buddhayah, yang merupakan bentuk jamak dari buddhi (budi atau akal) diartikan dengan hal-hal yang berkaitan dengan budi dan akal manusia”. Sedangkan para ahli mengemukakan pendapatnya masing-masing mengenai budaya. Menurut Edwar B. Taylor: ” Kebudayaan merupakan keseluruhan yang kompleks,yang didalamnya mengandung kepercayaan,kesenian ,moral, hukum, adat istiadat, dan kemampuan- kemampuan lain yang didapat seorang sebagai anggota masyarakat ”. Sementara itu Selo Soemardjan dan Seelaiman Soemardi , menurut mereka ” kebudayaan adalah sarana hasil karya, rasa dan cipta masyarakat”. Dalam definisi globalisasi menurut beberapa ahli, salah satunya adalah Jan Aart Scholte mengatakan globalisasi adalah: ”serangkaian proses dimana relasi sosial menjadi relatif terlepas dari wilayah geografis”. Sementara bila mana menilik definisi budaya diatas, maka bisa diartikan bahwa globalisasi budaya adalah : ”serangkaian proses dimana relasi akal dan budi manusia relatif terlepas dari wilayah geografis”. Hal ini memunculkan jalinan situasi yang integratif antara akal dan budi manusia disuatu belahan bumi yang satu dengan yang lainnya. Sementara itu dalam pandangan hiperglobalis mereka berpendapat tentang definisi globalisasi budaya adalah: “homogenization of the wold under the uauspices of American popular culture or Western consumerism in general “. Ini berarti bahwa globalisasi budaya adalah proses homogenisasi dunia dibawah bantuan budaya popular Amerika atau paham komsumsi budaya barat pada umumnya.

definisi dari hiperglobalis tidak bisa terlepas dari pada sifat-sifat yang cenderumg mengandung pikiran ekonomi. budaya barat adalah budaya yang diperjualbelikan. Atau media merupakan sarana belajar untuk mengetahui berbagai peristiwa. atau alternative yang beragam. tetapi isi dan informasi yang disajikan. Namu. ada enam perspektif dalam hal melihat peran media. Keenam. terutama dalam kehidupan modern tidak ada yang menyangkal. Pertama. Baik itu konsumsi terhadap bentuk pemerintahan atau sistim politik. . melihat media masa sebagai window on event and experriece. jika bisa disamakan dengan keanekaragaman istilah globalisasi pada umumnya. mempunyai peran yang signifikan dalam kehidupan sosial. D.Definisi hiperglobalis tersebut. Gambaran tentang realitas yang dibentuk oleh isi media masa inilah yang nantinya mendasari respond an sikap terhadap berbagai objek social. sehingga apa yang ada di media masa akan mempengaruhi realitas subyektif pelaku interaksi sossial. bahkan hingga bentuk celana jeans atau kebudayaan. Isi media masa merupakan konsumsi otak bagi khalayaknya. Jadi bisa juga diartikan bahwa. Kualitas informasi inilah yang merupakan tuntutan etis dan moral penyajian media masa. Peran Media Masa Peran media masa dalam kehidupan sosial. Ketiga. Media senantiasa memilih issue. Sehingga munculah kondisi dimana istilah Westernisasi digunaklan sebagai simbolis terhadap sifat konsumerisme tersebut. memandang media masa sebagai filter. sementara masyarakat dunia pada umumnya adalah konsumen yang menikmati. konflik. pornografi. Dimana ada penyebaran budaya barat terutama kebudayaan Amerika. jika dilihat lebih lanjut. sebagai guide atau gatekeeper yang menyeleksi berbagai hal untuk diberi perhatian atau tidak. media masa acapkali juga dipandang sebagai guide. media hanya sebagai refleksi fakta. terlepas dari suka atau tidak suka. Dampak Globalisasi Media Terhadap Budaya dan Prilaku Masyarakat Indonesia. Hal itu jelas dapat dilihat dan dinilai dari penekanan paham konsumsi terhadap budaya Barat pada umumnya. angle. Media dipandang sebagai jendela yang memungkinkan khalayak melihat apa yang sedang terjadi disana. C. yang tidak hanya sekadar tempat berlalu lalangnya informasi. karena memang menurut mereka faktanya demikian. media juga sering dianggap a mirror of event in society and the word implying a faithful reflection. pelepas ketegangan atau hiburan. menurut Mc Quail dalam bukunya Mass Communication Theories(2000 : 66). yang menerjemahkan atau menunjukkan arah atas berbagai ketidakpastian . Karenanya media masa dituntut menyampaikan informasi secara akurat dan berkualitas. Kedua. yang salah satunya adalah Westernisasi. dan berbagai keburukan lain. arah framing dari isi yang dianggap sebagai cermin realitas tersebut diputuskan oleh para professional media. Padahal sesungguhnya. informasi atau bentuk content yang lain berdasar standar para pengelolanya. Kelima. sehingga memungkinkan terjadinya tanggapan dan umpan balik. Informasi yang salah dari media masa akan memunculkan gambaran yang salah pula terhadap obyek sosial itu. media masa sebagai interlocutor. melihat media sebagai forum untuk mempresentasikan berbagai informasi danide-ide kepada khalayak. dan khalayak tidak sepenuhnya bebas untuk mengetahwi apa yang mereka inginkan. Keempat. mekanisme pasar atau paham ekonomi . peran media dalam kehidupan sosial bukan sekedar sarana divercion. tetapi juga parthner komunikasi yang memungkinkan terjadinya komunikasi interaktif. Pendeknya semua ini ingin menunjukkan. penunjuk jalan atau interpreter. Disini khalayak “dipilihkan“ oleh media tentang apa-apa yang layak diketahwi dan mendapat perhatian. Cermin berbagai peristiwa yang ada di masyarakat dan dunia yang merefleksikan apa adanya. Karenanya para pengelola sering merasa tidak “bersalah” jika isi media penuh dengan kekerasan .berorientasi ekonomi.

terjadi benturan antar budaya dari luar negeri yang tak dikenal oleh bangsa Indonesia. Pasal 19 dari UU ini menyatakan bahwa : ”LSF (Lembaga Sensor Film)harus menolak sebuah film yang menonjolkan adegan seks lebih dari 50 % jam tayang”. Mereka menganggap pers mempunyai kemerdekaan yang dijamin sebagai hak asasi warga Negara dan tidak dikenakan penyensoran dan pembredelan. masyarakat menerima berbagai informasi tenteng peradaban baru yang datang dari seluruh penjuru dunia. Dalam media audio visualpun ada Undang-Undang yang secara spesifik mengatur pornografi yaitu Undang-undang perfilman dan Undang-undang Penyiaran. Kebebasan pers yang muncul pada awal reformasi ternyata dimanfaatkan oleh sebagian masyarakat yang tidak bertanggung jawab. namun tidak pernah dalam skala seluas sekarang.Bertolak dari besarnya peran media massa dalam mempengaruhi pemikiran khayalaknya. sebagaimana jatuhnya hujan atau meteor. Walaupun media pernografi bukan barang baru bagi Indonesia. dan terutama adalah peredaran bebas VCD. Imbasnya adlah munculnya majalah-majalah Amerika dan Eropa versi Indonesia seperti : Bazaar . dan sebagainya. Apalagi menghadapi globalisasi media massa yang tak terelakan lagi. buku bacaan di media cetak. sebagaimana jatuhnya sinar matahari. Melalui media yang kian terbuka dan kian terjangkau.titik tertentu. majalah. Terbukti dengan adanya video porno yang pemerannya adalah orang-orang Indonesia. tentulah perkembangan media massa di Indonesia pada masa yang akan datang harus dipikirkan lagi.Cosmopolitan . masalah dasarnya mudah diterka. (for Him Magazine) . Begitu juga membanjirnya program tayangan dan produk tanpa dapat dibendung. dan kini lewat internet sedikit banyak akan berdampak pada kehidupan masyarakat. radio. Jadi kehawatiran besar terasakan benar adanya ancaman.FHM.Belum lagi maraknya kehidupan free sex di kalangan remaja masa kini. HP. Saat ini masyarakat sedang mengalami serbuan yang hebat dari berbagai produk poernografi berupa tabloitd. Begitulah.Trax. .yang kemudian ditiru habis-habisan.Good Housekeeping . buku film.karena globalisasi media dengan segala yang dibawanya seperti lewat televisi. Dalam Undang-undang perflman 1992 pasal 33 dinyatakan bahwa : ”setiap film dan reklame film yang akan diedarkan atau dipertujuklkan di Indonesia. kita menyadari belum semua warga degara mampu menilai sampai dimana kita sebagai bangsa berada. pelunturan karena nilai – nilai luhur dalam paham kebangsaan. rasio.Sehingga bagaimana bagi negara berkembang seperti Indonesia menyikapi penomena traspormasi media terhadap prilaku masyarakat dan budaya lokal. melecehkan dan/atau mengabaikan nilai-nilai agama dan martabat manusia Indonesia ”. serbuan. Menurut Afdjani (2007 bahwa: Globalisasi pada hakikatnya ternyata telah membawa nuansa budaya dan nilai yang mempengaruhi selera dan gaya hidup masyarakat. misalnya banjir informasi dan budaya baru yang dibawa media tak jarang teramat asing dari sikap hidup dan norma yang berlaku.Spice. Pendekatan profesional menjadi kata kunci. Pada titik . Dalam UU Penyiaran pasal 36 ayat 6 dinyatakan bahwa: ” isi siaran televisi dan radio dilarang menonjolkan unsur cabul (ayat 5) dan dilarang merendahkan.Baik yang datang dari uar negeri maupun yang diproduksi sendiri. koran. Bahkan beberapa orang asing menganggap Indonesia sebagai ”surga pornografi” karena sangat mudahnya mendapat produk-produk pornografi dan harganya pun murah. Padahal. Globalisasi media massa merupakan proses yang secara nature terjadi. wajib sensor terlebih dahulu”. Terutama masalah pornografi dimana sekarang wanita–wanita Indonesia sangat terpengaruh oleh trend mode dari Amerika dan Eropa yang dalam berbusana cenderung minim. mencantumkan bahwa: ”pers berkewajiban memberikan peristiwa dan opini dengan menghormati norma-norma agama dan rasa kesusilaan masyarakat”. televisi. Padahal dalam pasal 5 ayat 1 Undang-undang pers No 40 tahun 1999itu sendiri. vcd. untuk menerbitkan produk-produk pornografi. majalah. penaklukan. Sehingga kalau kita berjalan-jalan di mal atau di tempat publik sangat mudah menemui wanita Indonesia yang berpakaian serba minim dan mengumbar aurat.Dimana budaya itu sangat bertentangan dengan dengan norma yang ada di Indonesia.

tetapi dapat bersinergi dengan nilai-nilai universal dan nilai-nilai modern yang dibawa globalisasi. Kesenjangan sosial yang semakin melebar itu menyebabkan orang kehilangan harga diri. bagaimana harus bersikap dan berperilaku yang selalu mengutamakan harmoni. Undang-Undang Perfilman dan Undang-Undang Penyiaran secara tegas dan konsisten disamping tentu saja partisipasi dari masyarakat untuk bersama-sama mencegah dampak buruk dari globalisasi media yang kalau dibiarkan bisa menghancurkan negeri ini. lingkungan hidup menjadi agenda pembangunan di setiap negara.Dalam kenyataannya didalam struktur masyarakat terjadi ketimpangan sosial. Melalui hubungan sosial yang intim. keselarasan. Kemudian hal yang tidak kalah pentingnya dalam menghadapi globalisasi budaya adalah nilai-nilai kearifan lokal bukanlah nilai usang yang harus dimatikan. Komentar para ahli dan tokoh-tokoh masyarakat yang anti pornogrfi dan anti media pornografi serta tulisan-tulisan. dan manusia dengan Tuhan Yang Maha Esa dalam melaksanakan hidup. hak asasi manusia. manusia dengan manusia. Isu-isu tersebut dapat bersinergi dengan aktualisasi dari filosofi lokal yang dimiliki Indonesia. Tapi yang lebih penting lagi adalah ketegasan Pemerintah dalam menerapkan hukum baik UndangUndang Pers. kepala desa. Mereka mempunyai kemampuan untuk mempengaruhi orang lain untuk bertindak laku dalam cita-cita tertentu. gambar dan surat pembaca yang berisikan realitas yang dihadapi masyarakat dengan maraknya pornografi. Ternyata dampaknya cukup terasa. banyak televisi yang tidak menayangkan artis yang berpakaian minim E Antisipasi Strategis Menanggulagi Dampak Negatif Globalisasi Budaya Ketidakberdayaan tradisi dalam menghadapi kekuatan-kekuatan lain di luar dirinya tidak boleh dibiarkan begitu saja . Misalnya ketika Presiden Susilo Bambang Yudoyono menyarankan agar televisi tidak merayakan goyang erotis denga puser atau perut kelihatan. dikenal adanya opinion leader atau pembuka pendapat atau tokoh masyarakat. maka media dapat dengan cepat mengkontruksikan masyarakat secara luas karena jangkauannya jauh. Budaya lokal yang lebih sesuai dengan karakter bangsa semakin sulit dicernakan sementara itu budaya global lebih mudah merasuk.Di sini pemerintah dituntut untuk bersikap aktif tidak masa bodoh melihat perkembangan kehidupan masyarakat Indonesia. sekarang di Indonesia bermunculan lembaga-lembaga media watch yang keras sebai pers sebagai jawaban terhadap kian maraknya terhadap penerbitan yang tidak memperhitungkan masalah etika dan kode etik. nilai-nilai solidaritas sosial. para pemuka pendapat berperan menyampaikan pesan-pesan.Upaya-upaya pembakuan dan modernisasi yang mengarah pada proses pembunuhan tradisi harus dilawan. misalnya di Bali yang dikenal dengan ”Tri Hita Karana”. Upaya-upaya pembangunan jati diri bangsa Indonesia. karena itu berarti pelenyapan atas sumber lokal yang diawali dengan krisis identitas lokal. Dunia internasional sangat menuntut demokrasi. Upaya memperkuat jati diri daerah dapat dilakukan . Dalam kasus Globalisasi Media. Dimana melalui media massapun. baik dilihat dari status maupun tingkat pendapatan. kita dapat membangun media publik. Melalui pemuka pendapat seperti tokoh agama. Dalam masyarakat terutama di daerah pedesaan . Oleh karena itu globalisasi yang tidak terhindarkan harus diantisipasi dengan pembangunan budaya yang berkarakter penguatan jati diri dan kearifan lokal yang dijadikan sebagai dasar pijakan dalam penyusunan strategi dalam pelestarian dan pengembangan budaya. yang mengajarkan pada masyarakat Bali. karena media mempunyai kekuatan mengkonstruksi masyarakat. Menghimbau dan kalau perlu melarang berbagai sepak terjang masyarakat yabg berperilaku yang tidak semestinya. Menurut Rogers (1983): ”pemuka pendapat memainkan peranan penting dalam penyebaran informasi. ide-ide dan informasi-informasi baru kepada masyarakat”. Misalnya melalui pemberitaan tentang dampak negatif pornografi. kekeluargaan dan cinta tanah air yang dirasakan semakin memudar dapat disebabkan oleh beberapa faktor. sesepuh desa. keserasian dan keseimbangan hubungan antara manusia dengan alam. pesan-pesan tentang bahaya media pornografi dapat disampaikan. termasuk didalamnya penghargaan nilai budaya dan bahasa.

melalui penanaman nilai-nilai budaya dan kesejarahan senasib dan sepenanggungan diantara warga sehingga perlu dilakukan revitalisasi budaya daerah dan perkuatan budaya daerah. Namun kita tidak boleh lengah dan terlena. meningkatkan nilai-nilai keagamaaan. Karangasem . karena era keterbukaan dan kebebasan itu juga menimbulkan pengaruh negatif yang akan merusak budaya bangsa.Jati diri daerah harus terus tertanam dijiwa masyarskat Indonesia. serta harus terus. Artikel ini pernah dimuat di majalah Sinar Agung Edisi IV/2008 terbitan Dinas Komunikasi dan Informatika Kab. dapat ditarik kesimpulan bahwa dampak globalisasi kenyataannya sangat berpengaruh terhadap prilaku dan budaya masyarakat Indonesia dimana fenomena peng. Akses kemajuan tehnologi informatka dan komunikasi dapat dimanfaatkan sebagai pelestari dan pengembang nilai-nilai budaya lokal. karena itu berarti menghambat kemajuan ilmu pengetahwan dan teknologi. Akan tetapi perlu kecerdasan dalam menyaring efek globalisasi. Menolak globalisasi bukanlah pilihan tepat. F.globalan dunia harus disikapi dengan arif dan positif thinking karena globalisasi dan modernisasi sangat diperlukan dan bermanfaat bagi kemajuan. Penutup Dari uraian dan penjelasan diatas.

sangat diperlukan dan bermanfaat bagi kemajuan. karena era keterbukaan dan kebebasan itu juga menimbulkan pengaruh negatif yang akan merusak budaya bangsa. meningkatkan nilai-nilai keagamaaan.Jati diri daerah harus terus tertanam dijiwa masyarskat Indonesia. Artikel ini pernah dimuat di majalah Sinar Agung Edisi IV/2008 terbitan Dinas Komunikasi dan Informatika Kab. serta harus terus. karena itu berarti menghambat kemajuan ilmu pengetahwan dan teknologi. Akan tetapi perlu kecerdasan dalam menyaring efek globalisasi. Karangasem . Menolak globalisasi bukanlah pilihan tepat. Namun kita tidak boleh lengah dan terlena. Akses kemajuan tehnologi informatka dan komunikasi dapat dimanfaatkan sebagai pelestari dan pengembang nilai-nilai budaya lokal.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful