Hewan yang Haram Dimakan

Beberapa waktu yang lalu, dalam sebuah acara "kuliner" di salah satu mass media, ditampilkan menu masakan yang tidak biasa. Apa itu? Katak. Ya, seekor hewan yang kita kenal sebagai hewan amphibi itu, dimasak, digoreng, ditumis layaknya daging sapi, kambing atau ayam. Bagi sebagian masyarakat suku Jawa, menu masakan ini merupakan menu favorit karena rasanya yang lezat kata mereka . Bahkan sebagian mereka mempercayai bahwa daging katak dapat menyebuhkan penyakit tertentu. Tetapi, sebagai seorang muslim yang senantiasa berhati - hati terhadap makanan yang akan masuk ke dalam perutnya, tentu harus tahu dan memastikan kehalalan makanan tersebut untuk dikonsumsi. Bukankah, mengkonsumsi makanan yang haram baik secara dzatiyah maupun sumber makanan itu sendiri, merupakan salah satu penyebab tidak dikabulkannya doa - doa kita kepada Allah Azza Wa Jalla ? Maka pada kesempatan kali ini, kami menuliskan materi tentang beberapa jenis hewan / binatang yang haram dikonsumsi menurut syariat. Semoga Allah senantiasa menambahkan ilmu yang bermanfaat bagi kita sekalian. Amin. 1. DAGING HEWAN DALAM QS. AL-MAIDAH : 3 DAN AL BAQARAH : 173 Artinya : “Diharamkan atasmu bangkai, darah, daging babi, binatang yang disembelih tidak dengan nama Allah, yang mati dicekik, mati dipukul, mati jatuh, mati berlaga, binatang yang telah dimakan binatang buas, kecuali yang dapat kamu sembelih,dan dilarang memakan binatang yang disembelih atas nama berhala. (Qs. Al-Maidah : 3). Artinya : “Sesungguhnya diharamkan atasmu memakan bangkai, darah, daging babi, binatang yang disembelih bukan dengan nama Allah. Maka barang siapa yang terpaksa memakannya sedang ia tidak menginginkan dan tidak pula melampaui batas, tidaklah ada dosa atasnya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun dan Maha Penyayang “ (Qs. Al-Baqarah : 173). 2. DAGING KELEDAI JINAK. Jumhur Ulama berpendapat tentang haramnya memakan daging keledai jinak berdasarkan sabda Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam : Hadits dari Salamah bin Akwa radiallahuanhu, ketika menceritakan tentang daging yang mereka masak saat perang Khaibar. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bertanya : “Daging apakah itu? “. Mereka menjawab: Daging keledai piaraan. Maka Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. Bersabda : Tumpahkanlah masakan itu dan pecahkanlah periuknya! Seorang lelaki bertanya : Wahai Rasulullah, atau cukup kami tumpahkan isinya lalu kami cuci periuknya? Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. menjawab: Atau begitu juga boleh” (HR Muslim 3592). Hadits Abu Tsa’labah, “Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam mengharamkan daging keledai piaraan” (HR Muslim 3582). Dan larangan dari riwayat yang lain Seperti Ali, Ibnu Umar dan sahabat yang lainnya. Dalam hadits lainnya, dari Jabir radhiallahu ‘anhuma berkata : “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam- mengharamkan -yakni saat perang Khaibar- daging keledai jinak dan daging bighol. (HR. Ahmad dan At-Tirmidzy) *) Bighol : hewan hasil peranakan antara kuda dan keledai. Faidah : Daging Keledai Liar Hukumnya Halal Karena daging keledai piaraan (jinak) telah diharamkan maka mafhum mukhafalah-nya (kebalikan) berarti daging keledai liar adalah boleh untuk dimakan. Hal ini sudah menjadi ijma Ulama. Konsumsi daging ini telah diriwayatkan dari Nabi dan para sahabat beliau. Disebutkan dalam hadits Qatadah, bahwa dia bersama orang-orang yang ihram -sedangkan ia dalan keadaan halal (tidak ihram)kemudian nampaklah oleh mereka keledai-keledai liar. Abu Qatadah langsung menangkap salah satu dari keledai tersebut dan menyembelihnya, lalu membawanya kepada mereka. Merekapun memakan sebagian daging tersebut dan berkata “(Bolehkan) kita memakan daging buruan padahal kita sedang ihram ?” mereka pun membawa daging yang tersisa ke pada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, dan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda, “Makanlah yang tersisa dari dagingnya.” (HR Bukhari dan Muslim ). Dalam riwayat lain disebutkan bahwasannya Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam berkata kepada mereka, “Apakah kalian membawa sebagian daging keledai tersebut ?” Mereka menjawab, “Kami membawa kakinya (oahanya).” Ibnu Qatadah berkata, Kemudia Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam pun memakannya. 3. SEGALA JENIS BINATANG BUAS YANG BERTARING Setiap hewan yang memiliki taring untuk membunuh mangsanya baik hewan itu liar (singa, macan, srigala dll) maupun hewan tersebut jinak (kucing, anjing dll) maka menurut jumhur Ulama hal tersebut tidak boleh/diharamkan, berdasarkan dalil-dalil berikut ini : Hadits Abu Hurairah radhiallahu ’anhu, bahwasannya Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda : “Segala jenis binatang buas yang bertaring haram dimakan.” (HR Muslim). Hadits Ibnu Abbas radhiallahu anhuma, dia berkata, “Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam melarang setiap binatang buas yang bertaring dan setiap burug yang bercakar tajam.” (HR Muslim, Abu Dawud dan An-Nasa’i).

“Seorang tabib menyebut resep obat di hadapan Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dan menyebut katak sebagai salah satu resepnya. jika dia membunuhnya pada pukulan kedua maka dia mendapatkan pahala kurang dari itu. Kemudian aku mengambilnya dan membawanya kepada Abu Thalhah. Burung gagak dan sejenisnya/burung layang-layang d. Faidah : Kelinci adalah Halal Menurut Jumhur Ulama.Diriwayatkan dari Ibnu Az-Zubair. artinya : “Ada lima binatang yang boleh dibunuh ditanah haram: Tikus. Tokek/Cicak f. Bukhari dan Muslim). lebah. burung gagak yang berwarna belang-belang. artinya :“Barangsiapa yang membunuh cicak pada pukulan pertama maka dituliskan untuknya seratus kebaikan. yakni : a. burung hudhud dan burung shurad. Dalam riwayat lainnya. Kalajengking c.” Dari haramnya memakan binatang yang dilarang untuk dibunuh dapat disimpulkan mengenai larangan menyembelihnya. Burung layang-layang/Sejenis gagak dan anjing predator.” (HR Bukhari dan Muslim). dia berkata. Burung HudHud d. Kalajengking. bahwasannya Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam pernah bersabda. lalau dia menjawab. Sedangkan hewan yang dilarang dibunuh menurut syariat. dia berkata. “Rasulullah melarang kami membunuh empat macam binatang: Semut. sehingga hewan-hewan ini tidak halal disembelih. gagak. dan burung hudaya (sejenis rajawali). 2240). artinya : ” Ada lima hewan membahayakan yang boleh dibunuh di tempat halal dan haram. • Binatang-binatang ini diperintahkan untuk dibunuh karena termasuk bainatang yang menjijikkan dan tidak diterima oleh tabiat yang sehat. tikus. Tikus b.” (HR Shahih Muslim). Orang-orang berhasil mengepungnya dan menangkapnya. termasuk di dalamnya burung jenis predator seperti elang. 2238) Dalam riwayat lainnya Nabi Alaihishshalatu Wassalam bersabda. Beliaupun bersabda. tiba-tiba muncul seekor ular dihadapan kami.dari Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda. Wallahu A’lam. dia berkata “Kami tengah bersama Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam di sebuah gua. Muslim no. Ketika kami mengambil air dari mulut goa.” (HR. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda. dan beliau menyebutnya sebagai fuwaisiq (fasik kecil). tentu tidak dilarang untuk dibunuh. rajawali dan sejenisnya yang memangsa/melukai buruannya dengan cakarnya yang tajam. Katak Hewan-hewan dilarang dibunuh berdasarkan hadits-hadits berikut : • • Diriwayatkan dari Ibnu Abbas radhiallahu anhuma. Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda. “Sesungguhnya jika Allah mengharamkan pada suatu kaum untuk memakan sesuatu.” (HR Bukhari dan Muslim). “Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam mengecam (melarang) hal itu. Berdasarkan hadits – haduts berikut ini : • • • • Diriwayatkan dari Aisyah –radiallahu ’anha. Anjing predator e. An-Nasa’i dan Ahmad). Diriwayatkan dari Abdullah bin Mas’ud radhiallahu ’anhu. Dari Sa’ad bin Abi Waqqash dia berkata: “Sesungguhnya Nabi shallallahu alaihi wa sallam memerintahkan untuk membunuh cicak. Sebab seandainya ia halal dimakan. ‘Semoga Allah melindungi dari kejahatan kalian sebagaiman Dia melindungi kalian dari kejahatannya. dan pada pukulan ketiga maka dia mendapatkan pahala kurang dari itu. dan aku berhasil mendahului.” (HR. KELOMPOK BINATANG YANG DIPERINTAHKAN UNTUK DIBUNUH DAN DILARANG DIBUNUH Hewan yang diperintahkan untuk dibunuh. Ia lantas menyembelihnya dan mengirimkan pahanya kepada Rasulullah lalu beliau menerimanya. Diriwayatkan dari Abdurrahman bin Utsman radhiallah anhu. yaitu ular. dia berkata. Ular. maka Dia mengharamkan juga harga (jualbelinya) pada mereka. Semut b. Saya pernah bertanya kepada Jabir radhiallahu anhu mengenai harga anjing dan kucing. Dan hewan jenis ini . berdasarkan hadits Anas radhiallahu anhu dia berkata : “Kami mengejar seekor kelinci. Burung Shurad e. Diriwayatkan pula oleh Ibnu Abbas radhiallahu anhuma.” (HR. yakni : a. anjing yang suka menggigit. dan saat itu turun pada beliau ayat ‘Demi Malaikat-malaikat yang diutus untuk membawa kebaikan‘ (QS Al-Mursalaat:1). Banyak di antara ulama yang menyebutkan sebuah kaidah yang berbunyi : .” (HR.” (HR Abu Dawud). Muslim no. daging kelinci adalah halal. 4. Muslim).” (HR. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam pun melarang membunuh katak. ‘Bunuhlah ular itu‘ Kami pun berebut membunuhnya. Lebah c.

ikan lele. . 5. Namun yang rajih insya Allah adalah tidak ada ukuran pasti tentang hal itu.seperti Unta. Wallahu A’lam. unta atau jenis unggas seperti burung.Semua hewan yang boleh dibunuh maka dia haram untuk dimakan. ayam. Para ulama menyatakan bahwa Hewan jallalah ini dapat berubah kembali kepada asalnya dan boleh dimakan kembali daging dan susunya setelah dikurung (karantina) dan diberi makan makanan yang halal dan baik. menunjukkan kalau dia adalah haram. Para ulama berselisih tentang hukum mengkonsumsi hewan jallalah. atau yang lainnya yang banyak dijumpai di negeri kita ini. kambing. kambing dll jika diberi makan barang-barang najis. Dari definisi ini jelaslah bahwa seluruh binatang yang diberi makanan kotoran masuk dalam kategori Jallalah baik itu sapi. Namun yang rajih (kuat) -insya Allah. beliau berkata :“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah melarang memakan daging hewan jallalah dan susunya. bebek. sehingga kapan diperkirakan dengan perhitungan yang benar hilangnya pengaruh najis kotoran tersebut dari daging dan susu hewan tersebut. Sholeh Al Fauzan dalam kitab Al Ath’imah dan ini merupakan salah satu pendapat mazhab As Syafi’iyah. Kemudian. Ibnu Majah dan Al Tirmidzi dan dinilai hasan olehnya). dan hal itu menunjukkan pengharaman. Berdasarkan hadits Ibnu Umar radhiallahu anhuma. JALLALAH Jallalah adalah hewan pemakan barang-barang najis atau sebagian besar makanannya adalah barang-barang najis . Karena seandainya dia bisa dimanfaatkan dengan dimakan maka beliau pasti tidak akan mengizinkan untuk membunuhnya.” (HR Abu Daud. yang nampak dan yang langsung dipahami bahwa semua hewan yang Rasulullah izinkan untuk membunuhnya tanpa melalui jalur penyembelihan yang syar’iyah adalah hewan yang haram untuk dibunuh. karena perintah untuk membunuhnya hewan ternak yang boleh dimakan tapi bukan bertujuan untuk dimakan-. sebagaimana yang jelas terlihat. ada yang menyatakan tiga hari dan ada yang lebih. Sebagaimana dirojihkan Syeikh DR. sapi. Sebab tidak ada satu pun dalil pasti tentang hal ini dan yang terpenting adalah hilangnya pengaruh kotoran yang dikonsumsi tersebut dari daging atau susu hewan tersebut. Namun mereka bersilang pendapat tentang ukuran waktu mengurungnya tersebut. Lihat Bidayah Al-Mujtahid (1/344) dan Tafsir Asy-Syinqithi (1/273).adalah pengharaman memakan daging dan susu hewan jallalah.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful