P. 1
Konflik nelayan

Konflik nelayan

|Views: 899|Likes:
Published by adi_pradipta

More info:

Published by: adi_pradipta on Nov 22, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

03/07/2013

pdf

text

original

1

Konflik-konflik Sumberdaya Alam di Kalangan Nelayan (Studi Kasus di Balikpapan, Kalimantan Timur)
PENDAHULUAN A. Latar Belakang Indonesia memiliki wilayah perairan laut seluas 5.8 juta km2 dengan garis pantai 81 000 km dan 17 508 gugusan pulau yang menyebabkan Indonesia menjadi negara kepulauan terbesar di dunia. Dengan wilayah laut yang luas, Indonesia menyimpan keragaman hayati laut yang sangat tinggi. Keanekaragaman hayati pesisir dan laut adalah seluruh keanekaragaman bentuk kehidupan di pesisir dan laut, beserta interaksi di antara kehidupan tersebut dan antara bentuk kehidupan dengan lingkungannya. Potensi pesisir dan laut Indonesia yang dapat dimanfaatkan oleh masyarakat Indonesia antara lain adalah ikan, rumput laut, terumbu karang, mangrove, tambang, mineral, dan lain sebagainya. Produksi perikanan laut Indonesia diperkirakan mencapai 4 701 933 ton pada tahun 2008 (BPS 2009). Laut adalah sumberdaya yang bersifat milik umum atau disebut juga dengan common-pool resources (CPRs) yaitu sumberdaya yang dimiliki bersama dan dapat diakses secara umum tanpa ada kepemilikan secara pribadi, karenanya dikenal sebagai open access. Jika tidak dikelola secara seksama maka dalam pemanfaatannya dapat timbul kehancuran bersama (collective destructive mechanism) dan kemudian hal ini menjadi tantangan dalam mewujudkan pembangunan keberlanjutan pada pengelolaan sumberdaya laut. Karena sifatnya yang terbuka dan milik umum maka seringkali terjadi konflik dalam pemanfaatan sumberdaya laut. Nelayan sebagai pihak yang memanfaatkan sumberdaya laut tidak selalu memiliki hubungan yang harmonis, baik dengan sesama nelayan maupun dengan pihak-pihak lain yang bukan nelayan. Di berbagai daerah di Indonesia sering terjadi konflik kenelayanan baik yang bersifat laten maupun terbuka. Di perairan Bangkalan terjadi konflik antara dua kelompok nelayan akibat perebutan daerah penangkapan ikan hingga melibatkan bentrok fisik (Kusnadi 2000). Peristiwa ini terjadi pada tanggal 12 Juli 1995 di perairan Karangjamuang, Bangkalan Utara. Konflik terjadi antara nelayan lokal dengan nelayan Lamongan. Di Bangka pun pernah terjadi konflik sumberdaya alam yang melibatkan kalangan nelayan. Meluasnya penggunaan peralatan sondong tarik telah menimbulkan protes nelayan yang menggunakan alat tangkap tradisional. Salah satu kasus protes kehadiran sondong tarik adalah protes yang dilakukan oleh nelayan Desa Kundi terhadap Desa Sungaiselan pada tahun 1998 (Wahyono & Adhuri 2004). Mengingat pentingnya mencegah konflik di kalangan nelayan menjadi bersifat destruktif, maka perlu dilakukan kajian-kajian mengenai konflik-konflik tersebut. Hal ini dimaksudkan untuk mengetahui pola konflik serta pengelolaan yang tepat untuk mengatasinya. B. Rumusan Masalah Kalimantan Timur adalah provinsi yang menduduki peringkat kedua dalam hal jumlah produksi sektor perikanan laut (tangkap) tertinggi setelah Kalimantan Selatan di Pulau Kalimantan yaitu sebesar 92 176 ton pada tahun 2008 (BPS 2009). Jumlah ini jauh lebih rendah jika dibandingkan dengan jumlah produksi sektor perikanan laut Kalimantan Timur pada tahun 2005 yaitu 99 692 ton. Hal ini menunjukkan telah adanya penurunan jumlah sumberdaya perikanan laut yang dapat dimanfaatkan oleh masyarakat. Balikpapan sebagai salah satu kota di provinsi Kalimantan Timur yang sebagian penduduknya bermata pencaharian sebagai nelayan tentunya tidak terlepas dari isu ini.

aspek psikologis yang berkenaan dengan persepsi mengenai perbedaan kepentingandan perbedaan cara pandang terhadap suatu objek tertentu (konflik laten). Pertama. Sedangkan Fisher et al. Kedua. peperangan. Selain itu. Kajian mengenai konflik yang terjadi di kalangan nelayan Balikpapan perlu dilakukan untuk memperoleh pemahaman mendalam mengenai konflik sehingga dapat diambil langkah yang tepat dalam penanganannya. yaitu: 1. Nelayan di Balikpapan terbagi menjadi beberapa kelompok sesuai dengan alat tangkap yang digunakan untuk menangkap ikan. menghancurkan. Biasanya yang terjadi adalah ketidaksukaan nelayan “tradisional” terhadap nelayan “modern”. Masing-masing individu nelayan berjuang untuk memenuhi kebutuhan hidupnya dari sumberdaya yang sama yaitu laut. Kalimantan Timur? 3. Selain itu terdapat juga konflik eksternal yang merupakan konflik antara kalangan nelayan dengan pihak lain non-nelayan. Sesuai dengan uraian di atas. . Kalimantan Timur? 2. Pengelolaan konflik nelayan di Balikpapan dimaksudkan untuk mencegah konflik menjadi bersifat destruktif. Bagaimana pengelolaan konflik sosial dalam pemanfaatan sumberdaya alam perikanan laut tangkap di Balikpapan. sasaran-sasaran yang tidak sejalan. Kalimantan Timur? TEORI KONFLIK Menurut Pruitt dan Rubin (2004) konflik adalah persepsi mengenai perbedaan kepentingan (perceived divergence of interest). Bagaimana variasi konflik sosial dalam pemanfaatan sumberdaya alam perikanan laut tangkap di Balikpapan. Apa penyebab konflik sosial yang terjadi dalam pemanfaatan sumberdaya perikanan laut tangkap di Balikpapan. Kalimantan Timur.2 Berkurangnya sumberdaya perikanan laut dapat meningkatkan intensitas konflik sosial di kalangan nelayan di Indonesia di masa yang akan datang. Kalimantan Timur? 4. Dari berbagai definisi konflik di atas. Perbedaan teknologi yang digunakan juga menimbulkan perbedaan hasil tangkapan sehingga hal ini dapat memicu kecemburuan terhadap kelompok lain. Dalam kata lain konflik adalah bentuk ekstrim dan keras dari persaingan. Apa akibat dari konflik sosial dalam pemanfaatan sumberdaya alam perikanan laut tangkap di Balikpapan. (2001) berpendapat bahwa konflik adalah hubungan antara dua pihak atau lebih (individu atau kelompok) yang memiliki. Hal ini juga dapat menjadi pemicu pecahnya konflik. Tidak jarang terjadi persinggungan wilayah penangkapan ikan (fishing ground) yang kemudian memicu terjadinya konflik. Wiradi (2003) memberikan definisi konflik sebagai suatu situasi proses interaksi antara dua atau lebih individu atau kelompok dalam memperebutkan objek yang sama demi kepentingannya. aspek konfrontasi fisik berupa perkelahian. Konflik yang terjadi antar kelompok-kelompok ini merupakan kelompok internal karena melibatkan sesama nelayan. dan perjuangan di mana ada upaya untuk menyingkirkan . dan membuat tidak berdaya oleh pihak yang satu kepada pihak yang lain (konflik terbuka/manifes). Beberapa faktor yang kerap kali menjadi dasar pecahnya konflik sosial di kalangan nelayan Balikpapan adalah adanya perbedaan penggunaan teknologi penangkapan ikan dan adanya kekuatan lain di luar kalangan nelayan yang mendesak kepentingan nelayan. maka dapat disusun beberapa pertanyaan terkait dengan studi kasus konflik sosial di kalangan nelayan di Balikpapan. dalam hal ini adalah pihak swasta. atau merasa memiliki. atau suatu kepercayaan bahwa aspirasi pihak-pihak yang berkonflik tidak dapat dicapai secara simultan. Berbagai faktor di atas mengarah kepada satu isu yaitu terganggunya aktivitas dan keberadaan para nelayan di Balikpapan dalam usaha meningkatkan perekonomian hidupnya. maka pemahaman konflik secara umum melibatkan dua aspek.

di mana semakin banyak orang dalam satu ruang akan menyebabkan kesesakan dan ketidaknyamanan. maka dapat diperkirakan bahwa akan terjadi peningkatan intensitas konflik sosial di kalangan nelayan di Indonesia. PEMBAHASAN Berdasarkan penelitian Kinseng (2007). tuntutan ganti rugi bagi nelayan Ganti rugi bagi nelayan yang dirugikan Tipe konflik Kedalaman konflik Terbuka Bentrok/ clash Usaha Melibatkan penyelesaian aparat yang diambil keamanan Keterangan - - - Nelayan modern adalah nelayan Alat tangkap yang dimaksud adalah bagan tancap. Sedangkan menurut Hardin (1970) tragedy of commons dapat terjadi ketika seseorang/kelompok membatasi penggunaan sumberdaya yang terbatas namun tetangganya (pihak lain) tidak melakukannya. Pertama. Mengingat ketersediaan sumberdaya perikanan laut yang kian hari kian berkurang. Hal ini sesuai dengan teori MacNeill et al. Kedua. pembentukan forum bersama nelayan. Akibatnya sumberdaya akan mengalami penurunan dan orang yang membatasi penggunaan sumberdaya tadi akan tetap kehilangan keuntungan jangka pendek akibat alokasi yang dilakukannya. environmental disruption. Uraian mengenai kasus-kasus konflik sumberdaya perairan di kalangan nelayan Balikpapan disajikan pada Tabel 1. dalam arti setiap konsumsi seseorang atas sumberdaya akan mengurangi kemampuan/jatah orang lain dalam memanfaatkan sumberdaya tersebut. konflik di kalangan nelayan di Balikpapan terdiri dari dua kategori utama yaitu konflik internal dan konflik eksternal. jaring - . Selain itu. Kalimantan Timur (Kinseng 2007) Konflik internal Nelayan mini trawl/dogol vs perengge Nelayan pejala vs pebagan perahu Konflik eksternal Nelayan Nelayan Penabrakan Pembangunan Survei seismik pemancing vs “tradisional” perahu & alat dermaga PT perusahaan pembom vs “modern” tangkap THS multinasional (nelayan vs (nelayan vs PT Uncl kapal besar) THS) (nelayan vs Uncl) Laten Terbuka Terbuka Terbuka Terbuka Terbuka Ketegangan/ Clash Clash Terbuka/clash Terbuka/clash Terbuka/clash ancaman Kesepakatan Pelaporan wilayah kasus ke tangkap DPRD. memiliki sifat substractibility atau rivalness di dalam pemanfaatannya. pelaporan kasus ke DPRD Pertemuan antara nelayan dengan PT THS. Tabel 1 Kasus-kasus konflik sosial di kalangan nelayan di Balikpapan. and water and other resource scarcities could well become endemic in the world of the future”. (1991) yang menyebutkan bahwa: “Conflict based on climate change. keterlibatan tokoh masyarakat nelayan Melibatkan Polres Balikapapan dan polisi perairan Munculnya gerakan perjuangan kolektif. konflik tersebut kemungkinan melibatkan kekerasan pula (HomerDixon 1999).3 Istilah common-pool resources menjelaskan bahwa sumberdaya memiliki dua karakteristik utama (Ostrom 1990). adanya biaya yang harus dikeluarkan untuk membatasi akses sumberdaya pada pihak-pihak lain untuk menjadi pemanfaat.

Terkait dengan sifat sumberdaya laut yang merupakan sumberdaya alam milik bersama (common-pool resources). melainkan adanya perbedaan yang mengandung unsur hierarkis yaitu ada pihak yang lebih superior dan ada yang lebih inferior dalam kemampuan memanfaatkan sumberdaya alam. menurut para nelayan di Balikpapan pada jarak lima mil perngaruh nelayan purse seine masih sangat terasa. kasus antara nelayan pejala dan pebagan perahu sangat berpotensi untuk berubah menjadi konflik terbuka yang sewaktu-waktu dapat meledak. dan demonstrasi. dan Serikat Nelayan Balikpapan (SNB). melibatkan aparat keamanan. pengurangan atau penghilangan penggunaan alat tangkap yang dianggap mendominasi. walikota. Hal ini adalah puncak dari ketidaksenangan nelayan terhadap keberadaan kapal-kapal “modern” tersebut di wilayah tangkap mereka (fishing ground). rengge. Hal ini kan mendorong terjadinya the tragedy of common seperti yang diungkapkan oleh Garret Hardin (Hardin 1970). Inilah yang sebenarnya memicu sebagian besar konflik sosial dalam pemanfaatan sumberdaya alam di kalangan nelayan di Indonesia. maka pihak yang merasa dirugikan cenderung akan mengambil jalan kekerasan. maka konsep jarak dominasi menjadi penting. Hal ini berarti jarak dominasi nelayan purse seine itu lebih dari lima mil. Kedalaman konflik pada kasus-kasus konflik terbuka semuanya telah sampai pada tahap clash atau bentrok. Dalam konteks ini. Hal ini menunjukkan bahwa telah terjadi dominasi satu kelompok nelayan atas kelompok nelayan lain. Jarak dominasi adalah jarak spasial di mana dominasi nelayan “kelas atas/superior” terhadap nelayan “kelas bawah/inferior” masih terjadi. Bailey (1988) menyebutkan . KM Mutiara Sakti. sebagai contoh tidak ingin adanya persinggungan wilayah tangkap (fishing ground) masingmasing kelompok. Pada konflik internal sebenarnya persoalan pokok bukan terletak pada perbedaan jenis alat tangkap. Biasanya satu kelompok nelayan memiliki tuntutan yang harus dipenuhi oleh pihak yang berkonflik dengannya. camat). Sedangkan pada konflik eksternal. Pada tahun 1985 bisa terjadi pembakaran dua atau tiga dogol/mini trawl setiap hari dalam kasus konflik antara nelayan dogol/mini trawl dengan perengge. penikaman oleh pisau. tokoh masyarakat nelayan. Penyelesaian yang berlarut-larut cenderung memicu konflik kekerasan. hingga membentuk dan melibatkan gerakan perjuangan kolektif nelayan. bentrokan yang terjadi ditunjukkan dalam bentuk penyanderaan dan pemblokiran kapal perusahaan. Sebagai contoh. pemukulan. Mulai dari perundingan antara kedua belah pihak yang bertikai. Berbagai cara dilakukan baik oleh masing-masing kelompok nelayan maupun pihak di luar kalangan nelayan untuk mengakhiri konflik yang terjadi. jika jalan damai tidak berhasil. maka baik nelayan “besar” maupun “kecil” samasama berhak mengambil ikan dari sumber yang saling berhubungan erat satu sama lain bahkan yang sama sekalipun. Gerakan perjuangan kolektif nelayan yang terlibat dalam kasus konflik eksternal yaitu Amanat Aliansi Masyarakat Nelayan (AAMN). oleh nelayan lokal pada tanggal 16 Januari 2006. dan tuntutan ganti rugi atas rusak atau hilangnya wilayah tangkap dan alat tangkap. pemerintah setempat (DPRD. Hal ini sejalan dengan pendapat White (1989). pihak kepolisian. Forum Bersama Nelayan Korban THS (FBNKT). Bentrokan terbesar yang terjadi dari contoh-contoh kasus konflik nelayan di Balikpapan di atas kemungkinan adalah peristiwa dibakarnya kapal milik nelayan purse seine dari Juwana (Jawa Tengah). dan perahu nelayan Dari tabel di atas dapat dilihat bahwa sebagian besar kasus konflik yang terjadi di kalangan nelayan Balikpapan adalah bersifat konflik terbuka atau manifes dan hanya satu kasus saja yang merupakan konflik laten.4 dengan kapal purse seine dogol. penghancuran rumah nelayan. Meskipun bersifat laten. hingga diperkirakan dogol/mini trawl yang dibakar mencapai 50 buah pada saat itu.

Nelayan di Balikpapan juga menghadapi dominasi kekuatan eksternal yang mengganggu mata pencaharian mereka.. Hardin G. Ekol Manusia 1(1): 87-104. 1991. Macneill J. 2007. Kinseng RA.the situation in fisheries is even worse than in agriculture because fishers directly compete with one another over a finite resource”. Komunikasi. 46 (Oct). Beyond Interdependence: The Meshing of the World’s Economy and the Earth’s Ecology. Konflik Sosial Nelayan: Kemiskinan dan Perebutan Sumberdaya Perikanan. Yogyakarta: LKIS. Mengelola Konflik: Keterampilan dan Strategi untuk Bertindak. Yakushiji T. Jakarta: BPS. 1970. Kesamaan yang didapatkan dari kasus-kasus konflik eksternal di kalangan nelayan Balikpapan adalah terganggunya aktivitas atau kegiatan para nelayan dalam usaha memanfaatkan sumberdaya alam. and Violence. Kombinasi penguasaan pribadi/swasta dengan kolektivisme negara. 2000. mulai dari perundingan damai. J Sosio. Pemberian pengakuan secara legal hak khusus sekelompok nelayan atas wilayah tangkap tertentu (pemberian status property right). Sebagian besar konflik tersebut bersifat terbuka dan melibatkan bentrokan atau kekerasan. Environment. DAFTAR PUSTAKA Bailey C. 2009. Dari uraian di atas dapat ditarik persamaan dari konflik internal dan eksternal di dalam pemanfaatan sumberdaya alam oleh kalangan nelayan di Balikpapan yaitu mengenai pemicu terjadinya konflik. Cornell Southeast Asia Program. Homer-Dixon. KESIMPULAN Konflik yang terjadi di kalangan nelayan di Balikpapan.5 bahwa “. Kesenjangan teknologi alat tangkap telah menimbulkan dominasi nelayan “besar/modern” terhadap nelayan “kecil/tradisional”. The Environmental Book. Penguatan organisasi nelayan 5. TF. 1988. 2005-2008. Indonesia No. Di dalam: Bell G de. New York: Intext. hingga tindakan kekerasan seperti pembakaran atau pemukulan. Penurunan ini berakibat pada memburuknya kehidupan atau “life chances” para nelayan tersebut. Dengan hal ini semua pihak dihargai kehadirannya dalam menguasai dan mengelola sumberdaya alam. Fisher S et al. Persoalan pokok yang mendasari terjadinya konflik di kalangan nelayan adalah terganggunya mata pencaharian atau aktivitas nelayan dalam mencari penghidupan sehingga menyebabkan penurunan pendapatan mereka. 2001. New Jersey: Princeton Univ Pr.. New York: Oxford Univ Pr. Berbagai strategi telah dilakukan oleh nelayan dalam usaha mempertahankan haknya. Konflik-konflik sumberdaya alam di kalangan nelayan di Indonesia. Produksi perikanan tangkap menurut provinsi dan subsektor. 1999. Pengaturan zona penangkapan yaitu dengan memperhatikan jarak dominasi 2. Kusnadi. editor. demo. [BPS] Badan Pusat Statistik. Kalimantan Timur terbagi menjadi konflik internal dan konflik eksternal. The Political Economy of Marine Fisheries Development in Indonesia.. Winsemius P. Perlu adanya badan yang mengawasi usaha penangkapan di setiap wilayah tangkap 4. . Scarcity. Dengan kata lain telah terjadi marginalisasi kaum nelayan oleh kekuatan di luar kalangan nelayan yang lebih kuat atau mendominasi. penyanderaan. Beberapa solusi alternatif yang dapat diterapkan dalam kasus-kasus konflik di kalangan nelayan Balikpapan antara lain adalah: 1. Hal ini merupakan langkah awal dari pengakuan secara legal “hak pemanfaatan tradisional” nelayan lokal 3. Jakarta: British Council. The tragedy of commons.

Jakarta: LIPI. Konflik-konflik Kenelayanan di Bangka Belitung. 2004. White RW. Adhuri DS. The Evolution of Institutions for Collective Action. 83-118. dan Resolusinya. Konflik Agraria Topik Relevan untuk Diteliti. Governing the Commons. 2003. 1989. 1990. Teori Konflik Sosial. Yogyakarta: Pustaka Belajar. Pola Akar Masalah. Rubin JZ. 2004. Cambridge: Cambridge Univ Pr. Di dalam: Adhuri et al. Jakarta: Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia. . Wiradi G.6 Ostrom E. Pruitt DG. American J Socio 94(6). Wahyono A. From peaceful protest to Guerrilla War: micromobilization of the provisional Irish Republican Army. Konflik-konflik Kenelayanan: Distribusi.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->