RANCANGAN PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR .… TAHUN ....

TENTANG PENGELOLAAN DAN PENYELENGGARAAN PENDIDIKAN

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : bahwa dalam rangka melaksanakan ketentuan Pasal 12 ayat (4), Pasal 17 ayat (3), Pasal 18 ayat (4), Pasal 20 ayat (4), Pasal 21 ayat (7), Pasal 24 ayat (4), Pasal 25 ayat (3), Pasal 26 ayat (7), Pasal 27 ayat (3), Pasal 28 ayat (6), Pasal 31 ayat (4), Pasal 32 ayat (3), Pasal 50 ayat (7), Pasal 51 ayat (3), Pasal 52 ayat (2), Pasal 54 ayat (3), Pasal 55 ayat (5), Pasal 56 ayat (4), Pasal 62 ayat (4), Pasal 65 ayat (5), dan Pasal 66 ayat (3), Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, perlu menetapkan Peraturan Pemerintah tentang Pengelolaan dan Penyelenggaraan Pendidikan; : Pasal 5 ayat (2) Undang-Undang Republik Indonesia Tahun 1945; Dasar Negara

Mengingat

Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2003 Nomor 78 Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4301); MEMUTUSKAN: Menetapkan : PERATURAN PEMERINTAH TENTANG PENGELOLAAN DAN PENYELENGGARAAN PENDIDIKAN.

76461668.doc

1

BAB I KETENTUAN UMUM Pasal 1 Dalam Peraturan Pemerintah ini yang dimaksud dengan: 1. Pengelolaan pendidikan adalah pengaturan kewenangan dalam penyelenggaraan sistem pendidikan nasional oleh Pemerintah, Pemerintah Provinsi, Pemerintah Kabupaten/Kota, badan hukum pendidikan, dan satuan pendidikan agar proses pendidikan dapat berlangsung sesuai dengan tujuan pendidikan nasional. Penyelenggaraan pendidikan adalah penyediaan sumberdaya pendidikan, yang meliputi prasarana, sarana, pendidik dan tenaga kependidikan, dana, serta sumberdaya lainnya, yang disinergikan secara sistematis melalui suatu organisasi satuan pendidikan. Pengelolaan pendidikan adalah pengaturan sistemik perencanaan, pelaksanaan, dan pengawasan pendidikan. 2. atas

Penyelenggaraan pendidikan adalah kegiatan pelaksanaan komponen-komponen sistem pendidikan pada satuan/program pendidikan pada jalur, jenjang, dan jenis pendidikan agar proses pendidikan dapat berlangsung sesuai dengan tujuan pendidikan nasional. Badan hukum pendidikan masyarakat adalah yayasan, wakaf, perkumpulan, atau badan hukum lainnya yang didirikan oleh masyarakat yang menyelenggarakan satuan atau program pendidikan. Pendidikan anak usia dini yang selanjutnya disebut PAUD adalah suatu upaya pembinaan yang ditujukan kepada anak sejak lahir sampai dengan usia 6 (enam) tahun yang dilakukan melalui pemberian rangsangan pendidikan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani agar anak memiliki kesiapan dalam memasuki pendidikan lebih lanjut, yang diselenggarakan pada jalur formal, nonformal, dan informal. Taman Kanak-kanak yang selanjutnya disebut TK adalah salah satu bentuk satuan pada jalur pendidikan formal yang menyelenggarakan program pendidikan bagi anak berusia 4 (empat) tahun sampai dengan 6 (enam) tahun. Raudhatul Athfal yang selanjutnya disebut RA dan Bustanul Athfal yang selanjutnya disebut BA adalah salah satu bentuk satuan PAUD pada jalur pendidikan formal yang menyelenggarakan program pendidikan dengan kekhasan agama Islam bagi anak
2

3.

4.

5.

6.

76461668.doc

berusia 4 (empat) tahun sampai dengan 6 (enam) tahun. 7. Taman Penitipan Anak yang selanjutnya disebut TPA adalah salah satu bentuk satuan PAUD pada jalur pendidikan nonformal yang menyelenggarakan program pendidikan dan program kesejahteraan sosial bagi anak sejak lahir sampai dengan berusia 6 (enam) tahun. Kelompok Bermain yang selanjutnya disebut KB adalah salah satu bentuk satuan PAUD pada jalur pendidikan nonformal yang menyelenggarakan program pendidikan dan program kesejahteraan sosial bagi anak berusia 2 (dua) tahun sampai dengan 6 (enam) tahun dengan prioritas bagi anak berusia 2 (dua) tahun sampai dengan 4 (empat) tahun. Pendidikan dasar adalah jenjang pendidikan pada jalur pendidikan formal yang melandasi jenjang pendidikan menengah yang diselenggarakan pada satuan pendidikan yang berbentuk Sekolah Dasar (SD) dan Madrasah Ibtidaiyah (MI) atau bentuk lain yang sederajat serta menjadi satu kesatuan kelanjutan pendidikan pada satuan pendidikan yang berbentuk Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan Madrasah Tsanawiyah (MTs), atau bentuk lain yang sederajat.

8.

9.

10. Sekolah Dasar yang selanjutnya disebut SD adalah salah satu bentuk satuan pendidikan formal yang menyelenggarakan pendidikan umum pada jenjang pendidikan dasar. 11. Madrasah Ibtidaiyah yang selanjutnya disebut MI adalah salah satu bentuk satuan pendidikan formal dalam binaan Menteri Agama yang menyelenggarakan pendidikan umum dengan kekhasan agama Islam pada jenjang pendidikan dasar. Sekolah Menengah Pertama yang selanjutnya disebut SMP adalah salah satu bentuk satuan pendidikan formal yang menyelenggarakan pendidikan umum pada jenjang pendidikan dasar sebagai lanjutan dari SD, MI, atau bentuk lain yang sederajat atau lanjutan dari hasil belajar yang diakui sama/setara SD/MI. Madrasah Tsanawiyah yang selanjutnya disebut MTs adalah salah satu bentuk satuan pendidikan formal dalam binaan Menteri Agama yang menyelenggarakan pendidikan umum dengan kekhasan agama Islam pada jenjang pendidikan dasar sebagai lanjutan dari SD, MI, atau bentuk lain yang sederajat atau lanjutan dari hasil belajar yang diakui sama/setara SD/MI. Pendidikan menengah adalah jenjang pendidikan pada jalur pendidikan formal yang merupakan lanjutan pendidikan dasar, berbentuk Sekolah Menengah Atas (SMA), Madrasah Aliyah (MA), Sekolah Menengah Kejuruan (SMK), dan Madrasah Aliyah
3

12.

13.

14.

76461668.doc

Kejuruan (MAK) atau bentuk lain yang sederajat . 15. Sekolah Menengah Atas yang selanjutnya disebut SMA adalah salah satu bentuk satuan pendidikan formal yang menyelenggarakan pendidikan umum pada jenjang pendidikan menengah sebagai lanjutan dari SMP, MTs, atau bentuk lain yang sederajat atau lanjutan dari hasil belajar yang diakui sama/setara SMP/MTs. Madrasah Aliyah yang selanjutnya disebut MA adalah salah satu bentuk satuan pendidikan formal dalam binaan Menteri Agama yang menyelenggarakan pendidikan umum dengan kekhasan agama Islam pada jenjang pendidikan menengah sebagai lanjutan dari SMP, MTs, atau bentuk lain yang sederajat atau lanjutan dari hasil belajar yang diakui sama/setara SMP/MTs. Sekolah Menengah Kejuruan yang selanjutnya disebut SMK adalah salah satu bentuk satuan pendidikan formal yang menyelenggarakan pendidikan kejuruan pada jenjang pendidikan menengah sebagai lanjutan dari SMP, MTs, atau bentuk lain yang sederajat atau lanjutan dari hasil belajar yang diakui sama/setara SMP/MTs. Madrasah Aliyah Kejuruan yang selanjutnya disebut MAK adalah salah satu bentuk satuan pendidikan formal di bawah tanggung jawab Menteri Agama yang menyelenggarakan pendidikan kejuruan dengan kekhasan agama Islam pada jenjang pendidikan menengah sebagai lanjutan dari SMP, MTs, atau bentuk lain yang sederajat atau lanjutan dari hasil belajar yang diakui sama/setara SMP/MTs. Pendidikan tinggi adalah jenjang pendidikan pada jalur pendidikan formal setelah pendidikan menengah yang dapat berupa program pendidikan diploma, sarjana, magister, doktor, dan spesialis yang diselenggarakan oleh perguruan tinggi.

16.

17.

18.

19.

20. Akademi adalah perguruan tinggi yang menyelenggarakan pendidikan vokasi dalam satu cabang atau sebagian cabang ilmu pengetahuan, teknologi, dan/atau seni tertentu. 21. Politeknik adalah perguruan tinggi yang menyelenggarakan pendidikan vokasi dalam sejumlah bidang pengetahuan khusus. 22. Sekolah tinggi adalah perguruan tinggi yang menyelenggarakan pendidikan akademik dan/atau vokasi dalam lingkup satu disiplin ilmu tertentu dan jika memenuhi syarat dapat menyelenggarakan pendidikan profesi. 23. Institut adalah perguruan tinggi yang menyelenggarakan pendidikan akademik dan/atau pendidikan vokasi dalam sekelompok disiplin ilmu pengetahuan, teknologi, dan/atau seni
76461668.doc

4

Standar pelayanan minimal adalah kriteria minimal berupa nilai kumulatif pemenuhan Standar Nasional Pendidikan yang harus dipenuhi oleh setiap satuan pendidikan.dan jika memenuhi syarat dapat menyelenggarakan pendidikan profesi. 27. dan bahan pelajaran. yang menyelenggarakan dan mengelola pendidikan akademik. teknologi. seni. Mahasiswa adalah peserta didik yang terdaftar dan belajar pada perguruan tinggi. Standar Nasional Pendidikan adalah kriteria minimal tentang sistem pendidikan di seluruh wilayah hukum Negara Kesatuan Republik Indonesia.doc 5 . Sivitas akademika adalah komunitas dosen dan mahasiswa pada perguruan tinggi. serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan. 34. 76461668. 30. teknologi. isi. Jurusan atau nama lain yang sejenis adalah himpunan sumberdaya pendukung program studi dalam satu rumpun disiplin ilmu pengetahuan. 25. 31. teknologi. vokasi atau profesi dalam sebagian atau satu bidang ilmu pengetahuan. dan/atau olah raga. Fakultas atau nama lain yang sejenis adalah himpunan sumberdaya pendukung. dan/atau olah raga. vokasi atau profesi dalam satu rumpun disiplin ilmu pengetahuan. 26. seni. Kurikulum adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan. 33. teknologi. mengembangkan. Pendidikan nonformal adalah jalur pendidikan di luar pendidikan formal yang dapat dilaksanakan secara terstruktur dan berjenjang. Dosen adalah pendidik profesional dan ilmuwan pada perguruan tinggi dengan tugas utama mentransformasikan. seni. dan menyebarluaskan ilmu pengetahuan. 24. Universitas menyelenggarakan pendidikan akademik dan/atau pendidikan vokasi dalam sejumlah ilmu pengetahuan. dan/atau seni dan jika memenuhi syarat dapat menyelenggarakan pendidikan profesi. Program studi adalah unsur pelaksana akademik yang menyelenggarakan dan mengelola jenis pendidikan akademik. dan seni melalui pendidikan. yang dapat dikelompokkan menurut jurusan. teknologi. penelitian. dan/atau olah raga tertentu. 28. 32. dan pengabdian kepada masyarakat. 29.

Kelompok belajar adalah satuan pendidikan nonformal yang terdiri atas sekumpulan warga masyarakat yang saling membelajarkan pengalaman dan kemampuan dalam rangka meningkatkan mutu dan taraf kehidupannya. Pendidikan jarak jauh adalah pendidikan yang peserta didiknya terpisah dari pendidik dan pembelajarannya menggunakan berbagai sumber belajar melalui teknologi komunikasi. 43. Pendidikan berbasis masyarakat adalah penyelenggaraan pendidikan berdasarkan kekhasan agama. ekonomi.doc 6 . 44. dan potensi masyarakat sebagai perwujudan pendidikan dari. 36. sosial. oleh dan untuk masyarakat. 76461668. aspirasi. dan budaya masyarakat daerah setempat. 38. informasi. Pendidikan informal lingkungan. adalah jalur pendidikan keluarga dan 37. nonformal. dan untuk masyarakat. oleh. Program percepatan belajar adalah pengaturan program pendidikan bagi peserta didik yang mencapai standar kompetensi yang dipersyaratkan lebih cepat dari waktu yang ditentukan. Pendidikan bertaraf internasional adalah pendidikan yang diselenggarakan dengan menggunakan Standar Nasional Pendidikan dan diperkaya dengan standar pendidikan negara maju. 40. dan media lain. 42.35. Program pengayaan belajar adalah pembelajaran tambahan untuk memperluas wawasan dan kemampuan bagi peserta didik yang telah mencapai standar kompetensi yang dipersyaratkan. budaya. 39. Pendidikan lintas jalur dan jenis pendidikan adalah penyelenggaraan pendidikan sistem terbuka dimana peserta didik mengambil mata pelajaran pada satuan pendidikan yang tidak sejenis pada jalur pendidikan formal. 45. Pusat kegiatan belajar masyarakat adalah satuan pendidikan nonformal yang menyelenggarakan berbagai kegiatan belajar sesuai dengan kebutuhan masyarakat atas dasar prakarsa dari. Pendidikan berbasis keunggulan lokal adalah satuan pendidikan dasar dan menengah yang menyelenggarakan pendidikan dengan acuan kurikulum yang menunjang upaya pengembangan potensi. Pembelajaran adalah proses interaksi peserta didik dengan pendidik dan/atau sumber belajar pada suatu lingkungan belajar. dan informal. 41. sosial.

dan Pasal 3 akuntabilitas pengelolaan 76461668. Pemerintah Kabupaten/Kota. Pemerintah Provinsi. pendidikan. 50. Pemerintah Kabupaten. Pemerintah. b. 47. dan terjangkau. pendidikan yang mutu dan daya saing pendidikan serta relevansinya dengan kebutuhan dan/atau kondisi masyarakat. Organisasi profesi adalah kumpulan anggota masyarakat yang memiliki keahlian tertentu yang berbadan hukum dan bersifat non-komersial. satuan pendidikan. 48. Dewan pendidikan adalah lembaga mandiri yang beranggotakan berbagai unsur masyarakat yang peduli pendidikan. c. efisiensi. atau Pemerintah Kota. 49. c. badan hukum pendidikan. dan e. dan efektivitas. Pemerintah adalah Pemerintah Pusat. BAB II PENGELOLAAN PENDIDIKAN Bagian Kesatu Umum Pasal 2 (1) Pengelolaan pendidikan dilakukan oleh: a. komunitas sekolah.46. 51. Departemen adalah departemen yang bertanggung jawab di bidang pendidikan. d. Komite sekolah/madrasah adalah lembaga mandiri yang beranggotakan orang tua/wali peserta didik. Pemerintah daerah adalah Pemerintah Provinsi. akses masyarakat atas pelayanan mencukupi. b. 52. (2) Pengelolaan pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditujukan untuk menjamin: a. serta tokoh masyarakat yang peduli pendidikan. Menteri adalah menteri yang menangani urusan pemerintahan di bidang pendidikan.doc 7 . merata.

departemen lain atau lembaga pemerintah nondepartemen yang menyelenggarakan satuan pendidikan. Bagian Kedua Pengelolaan oleh Pemerintah Pasal 4 (1) Menteri bertanggung jawab mengelola sistem pendidikan nasional serta merumuskan dan/atau menetapkan kebijakan nasional bidang pendidikan. rencana kerja Pemerintah (RKP). rencana kerja dan anggaran tahunan (RKAT). j. e.Pengelolaan pendidikan didasarkan pada rencana yang disusun sesuai peraturan perundang-undangan. 76461668. b. c. l. rencana pembangunan jangka panjang (RPJP). (4) Sistem pendidikan nasional dan kebijakan nasional pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1). 8 . komite sekolah/madrasah atau nama lain yang peserta didik. Departemen Agama. h. f. sejenis. badan hukum pendidikan. f. rencana pembangunan jangka menengah (RPJM). satuan pendidikan. c. Pemerintah kabupaten/kota. (2) Sistem pendidikan nasional sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diselenggarakan dan dikelola sesuai peraturan perundangundangan. k. dan peraturan perundang-undangan di bidang pendidikan. d. dewan pendidikan. i. (3) Kebijakan nasional bidang pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dituangkan dalam: a. Departemen. b. g.doc Pemerintah Provinsi. rencana strategis pendidikan nasional. pendidik dan tenaga kependidikan. orang tua/wali peserta didik. ayat (2) dan ayat (3) mengikat bagi: a. d. e.

masyarakat. peserta didik khusus. dan/atau peserta didik di daerah khusus dapat memperoleh akses pelayanan pendidikan.m. dan n. mengawasi mengkoordinasi. antar kabupaten. dan akuntabel sesuai dengan kebijakan nasional sebagaimana dimaksud pada ayat (3). antara kabupaten dan kota. antar provinsi. dan mengendalikan penyelenggara. d. antara laki-laki dan perempuan. (3) Dalam memenuhi target tingkat partisipasi pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1). Pemerintah mengutamakan perluasan dan pemerataan akses pendidikan melalui jalur pendidikan formal. membimbing. b. pihak lain yang terkait dengan pendidikan di Indonesia. mengevaluasi. jalur. satuan. mensupervisi. efisien. (2) Menteri menetapkan kebijakan untuk menjamin peserta didik miskin. antar kota. (2) Target tingkat partisipasi pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dipenuhi melalui jalur pendidikan formal dan nonformal. c. dan jenis pendidikan secara nasional sesuai dengan kebijakan nasional bidang pendidikan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 ayat (3). Pasal 5 Pemerintah mengarahkan. Pasal 7 (1) Menteri menetapkan target tingkat pendidikan pada tingkat nasional: a. memantau. dan e. Pasal 6 (1) Menteri menetapkan target tingkat partisipasi pendidikan pada semua jenjang dan jenis pendidikan yang harus dicapai pada tingkat nasional.doc 9 . (5) Pemerintah mengalokasikan anggaran pendidikan agar sistem pendidikan nasional dapat dilaksanakan secara efektif. Pasal 8 pemerataan partisipasi 76461668. jenjang.

sertifikasi satuan dan/atau program pendidikan terkait.doc 10 . sertifikasi kompetensi pendidik. Dalam rangka penjaminan mutu pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1). (4) Standar pelayanan minimal bidang pendidikan untuk satuan pendidikan ditetapkan sebagai syarat awal yang harus dipenuhi dalam mencapai Standar Nasional Pendidikan secara bertahap dengan menerapkan otonomi satuan pendidikan atau manajemen berbasis sekolah/madrasah. akreditasi satuan pendidikan. f. c. Pasal 9 Menteri menetapkan Standar Nasional Pendidikan sesuai peraturan perundang-undangan. sertifikasi unit pelaksana pendidikan terkait. dan/atau g. b. Pemerintah menyelenggarakan dan/atau memfasilitasi: a. b. satuan dan/atau program (2) e. bidang Standar pelayanan minimal sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditetapkan masing-masing untuk: a. d. mencapai target tingkat partisipasi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 secara bertahap. akreditasi program pendidikan. dan b.(1) (2) Menteri menetapkan standar pelayanan minimal pendidikan sesuai peraturan perundang-undangan. menyelenggarakan atau memfasilitasi penyelenggaraan satuan pendidikan sesuai Standar Nasional Pendidikan secara bertahap. Catatan: 76461668. Pemerintah daerah. sertifikasi kompetensi tenaga kependidikan. Satuan pendidikan. (3) Standar pelayanan minimal bidang pendidikan untuk pemerintah daerah merupakan syarat awal yang harus dipenuhi untuk: a. sertifikasi kompetensi peserta didik. Pasal 10 (1) Pemerintah melakukan dan/atau memfasilitasi penjaminan mutu pendidikan dengan berpedoman pada kebijakan nasional bidang pendidikan dan Standar Nasional Pendidikan.

unit pelaksana teknis satuan pendidikan. provinsi. (3) Akreditasi dan sertifikasi sebagaimana dimaksud pada ayat (2) yang diselenggarakan Pemerintah atau masyarakat didasarkan pada Standar Nasional Pendidikan. seni.doc . (3) Pemerintah memfasilitasi akreditasi internasional program dan/atau satuan pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2). (3) Pemerintah memberikan penghargaan kepada peserta didik yang meraih prestasi puncak sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) sesuai peraturan perundang-undangan. dan/atau olahraga pada tingkat satuan pendidikan. ilmu pengetahuan dan teknologi. 11 (4) (2) 76461668. peserta didik. seni. Pemerintah memfasilitasi sertifikasi internasional pada program dan/atau satuan pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2)... dan melindungi program dan/atau satuan pendidikan bertaraf internasional sesuai peraturan perundang-undangan. membina. Pasal 12 (1) Pemerintah melakukan pembinaan berkelanjutan kepada peserta didik yang memiliki potensi kecerdasan dan/atau bakat istimewa untuk mencapai prestasi puncak di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi. (2) Pemerintah memfasilitasi perintisan program dan/atau satuan pendidikan yang sudah atau hampir memenuhi Standar Nasional Pendidikan untuk dikembangkan menjadi program dan/atau satuan pendidikan bertaraf internasional. (4) Ketentuan lebih lanjut mengenai pelaksanaan ayat (1) dan ayat (2) diatur dengan peraturan Menteri. dan c. memfasilitasi. olahraga. nasional. dan internasional. Pasal 11 (1) Pemerintah mengakui. Untuk menumbuhkan iklim kompetitif yang kondusif bagi pencapaian prestasi puncak sebagaimana dimaksud pada ayat (1) Pemerintah menyelenggarakan dan/atau memfasilitasi secara teratur dan berjenjang kompetisi di bidang: a.Penjelasan untuk Sertifikasi kompetensi satuan pendidikan. pendidik dan tenaga kependidikan. b. kabupaten/kota.

Departemen Agama. Departemen. Pemerintah kabupaten/kota. Pemerintah provinsi.doc 12 . efektifitas. Departemen lain atau lembaga pemerintah nondepartemen yang menyelenggarakan program dan/atau satuan pendidikan. d. dan jalur pendidikan. Badan hukum pendidikan. e. Pasal 14 (1) Dalam menyelenggarakan dan mengelola sistem pendidikan nasional Departemen mengembangkan dan melaksanakan sistem informasi pendidikan nasional berbasis teknologi informasi dan komunikasi. (2) (3) (2) Kebijakan daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) konsisten dengan serta merupakan penjabaran dari kebijakan pendidikan nasional sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4. Sistem informasi pendidikan nasional sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) memberikan akses informasi administrasi pendidikan dan akses sumber pembelajaran kepada satuan pendidikan pada semua jenjang.Pasal 13 Menteri menetapkan kebijakan tatakelola pendidikan untuk menjamin efisiensi. f. c. Program dan/atau satuan pendidikan. Sistem informasi pendidikan nasional sebagaimana dimaksud pada ayat (1) difasilitasi oleh jejaring informasi nasional yang terhubung dengan sistem informasi pendidikan di departemen lain atau lembaga pemerintah non departemen yang menyelenggarakan pendidikan. sistem informasi pendidikan di semua provinsi. b. Bagian Ketiga Pengelolaan oleh Pemerintah Provinsi Pasal 15 (1) Gubernur bertanggung jawab mengelola sistem pendidikan nasional di daerahnya serta merumuskan dan menetapkan kebijakan daerah bidang pendidikan sesuai kewenangannya. dan sistem informasi pendidikan di semua kabupaten/kota. jenis. dan akuntabilitas pengelolaan pendidikan yang mengikat: a. 76461668. dan g.

semua jajaran Pemerintah Provinsi. ayat (2). mengawasi. rencana (RKATP). peraturan daerah di bidang pendidikan. rencana strategis pendidikan provinsi. dan ayat (3). g. jalur. f. pihak lain yang terkait dengan pendidikan di provinsi yang bersangkutan. ayat (2) dan ayat (3) mengikat bagi: a. d. tenaga kependidikan di provinsi yang j. memantau. mensupervisi. (5) Pemerintah provinsi mengalokasikan anggaran pendidikan agar sistem pendidikan nasional di provinsi yang bersangkutan dapat dilaksanakan secara efektif. peserta didik di provinsi yang bersangkutan. satuan. h. pendidik dan bersangkutan. dan k. satuan pendidikan di provinsi yang bersangkutan. (4) Kebijakan daerah bidang pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1). dan mengendalikan penyelenggara. jenjang.doc 13 . membimbing. c. b. f. dewan pendidikan di provinsi yang bersangkutan. mengkoordinasi. c. rencana kerja pemerintah provinsi (RKPP). Pemerintah Kabupaten/Kota di provinsi yang bersangkutan. i. dan akuntabel sesuai dengan kebijakan daerah bidang pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1). peraturan gubernur di bidang pendidikan. orang tua/wali peserta didik di provinsi yang bersangkutan. efisien. komite sekolah atau nama lain yang sejenis di provinsi yang bersangkutan. d. kerja dan anggaran tahunan provinsi e. Pasal 16 Pemerintah provinsi sesuai kewenangannya mengarahkan. badan hukum pendidikan di provinsi yang bersangkutan. dan jenis pendidikan di provinsi yang bersangkutan sesuai 76461668. e. rencana pembangunan jangka menengah provinsi (RPJMP). masyarakat di provinsi yang bersangkutan.(3) Kebijakan daerah bidang pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dituangkan dalam: a. b. dan g. mengevaluasi. rencana pembangunan jangka panjang provinsi (RPJPP).

dan/atau peserta didik di daerah khusus dapat memperoleh akses pelayanan pendidikan.doc 14 . b. dan d. antara laki-laki dan perempuan. antar kota. antar kabupaten. pemerintah provinsi berkoordinasi dengan unit pelaksana teknis Pemerintah yang melaksanakan tugas penjaminan mutu pendidikan. (2) Gubernur menetapkan kebijakan untuk menjamin peserta didik miskin. Pasal 17 (1) Gubernur menetapkan target tingkat partisipasi pendidikan pada semua jenjang dan jenis pendidikan yang harus dicapai pada tingkat provinsi. Pasal 19 Gubernur melaksanakan dan mengkoordinasikan pelaksanaan standar pelayanan minimal bidang pendidikan sesuai peraturan perundangundangan. Pasal 20 (1) Pemerintah provinsi sesuai kewenangannya melakukan dan/atau memfasilitasi penjaminan mutu pendidikan di daerahnya dengan berpedoman pada kebijakan nasional bidang pendidikan dan Standar Nasional Pendidikan.kebijakan daerah bidang pendidikan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 15. (2) Target tingkat partisipasi pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dipenuhi melalui jalur pendidikan formal dan nonformal. c. (3) Dalam memenuhi target tingkat partisipasi pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1). Pasal 18 (1) Gubernur menetapkan target tingkat pemerataan partisipasi pendidikan pada tingkat provinsi: a. Dalam melaksanakan tugasnya sebagaimana dimaksud pada ayat (1). pemerintah provinsi mengutamakan perluasan dan pemerataan akses pendidikan melalui jalur pendidikan formal. peserta didik khusus. (2) 76461668. antara kabupaten dan kota.

mengakui. Pasal 21 (1) Pemerintah provinsi sesuai dengan kewenangannya menyelenggarakan. akreditasi program pendidikan. dan/atau kompetensi tenaga g. f. sertifikasi kependidikan. memfasilitasi. pemberhentian. b.(3) Dalam rangka penjaminan mutu pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1). memfasilitasi. Gubernur membentuk Badan Akreditasi Provinsi Sekolah/Madrasah dan Badan Akreditasi Provinsi Pendidikan Nonformal untuk membantu Badan Akreditasi Nasional Sekolah/Madrasah dan Badan Akreditasi Nasional Pendidikan Nonformal dalam melaksanakan tugasnya. sertifikasi kompetensi pendidik. Pengangkatan.doc 15 . satuan dan/atau program c. dan/atau pemindahan kepala sekolah dan/atau guru pada satuan pendidikan yang sedang dirintis atau sudah bertaraf internasional harus seizin gubernur. mengakui. e. Pemerintah provinsi memfasilitasi sertifikasi internasional pada program dan/atau satuan pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2). pemerintah provinsi mengkoordinasikan dan memfasilitasi: a. sertifikasi unit pelaksana satuan dan/atau program pendidikan terkait. membina. d. sertifikasi kompetensi peserta didik. akreditasi satuan pendidikan. dan melindungi program dan/atau satuan pendidikan yang sudah atau hampir memenuhi Standar Nasional Pendidikan untuk dirintis dan dikembangkan menjadi bertaraf internasional sesuai dengan peraturan perundang-undangan. (4) Untuk melaksanakan tugasnya sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf a dan huruf b. Pasal 22 (2) (3) (4) (5) 76461668. Pemerintah provinsi memfasilitasi akreditasi internasional program dan/atau satuan pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2). Pemerintah provinsi sesuai dengan kewenangannya menyelenggarakan. membina. sertifikasi pendidikan terkait. dan melindungi program dan/atau satuan pendidikan bertaraf internasional sesuai dengan peraturan perundang-undangan.

provinsi. orang tua/wali peserta didik di provinsi yang bersangkutan. Pasal 24 76461668.doc 16 . c. komite sekolah atau nama lain yang sejenis di provinsi yang bersangkutan. tenaga kependidikan di provinsi yang j. f. peserta didik di provinsi yang bersangkutan. dan/atau olahraga pada tingkat satuan pendidikan. g. dan akuntabilitas pengelolaan pendidikan yang mengikat: a. masyarakat di provinsi yang bersangkutan. efektifitas. dan internasional. seni. e. pendidik dan bersangkutan. h. b. d. dan c. Pasal 23 Gubernur menetapkan kebijakan tatakelola pendidikan untuk menjamin efisiensi. (4) Ketentuan lebih lanjut mengenai pelaksanaan ayat (1). ilmu pengetahuan dan teknologi. nasional. badan hukum pendidikan di provinsi yang bersangkutan. ayat (2). kabupaten/kota. b.(1) Pemerintah provinsi melakukan pembinaan berkelanjutan kepada peserta didik yang memiliki potensi kecerdasan dan/atau bakat istimewa untuk mencapai prestasi puncak di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi. seni. i. (2) Untuk menumbuhkan iklim kompetitif yang kondusif bagi pencapaian prestasi puncak sebagaimana dimaksud pada ayat (1) pemerintah provinsi menyelenggarakan dan/atau memfasilitasi secara teratur dan berjenjang kompetisi di bidang: a. dan ayat (3) diatur dengan peraturan gubernur. olahraga. (3) Pemerintah provinsi memberikan penghargaan kepada peserta didik yang meraih prestasi puncak sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) sesuai peraturan perundang-undangan. dan k. pihak lain yang terkait dengan pendidikan di provinsi yang bersangkutan. dewan pendidikan di provinsi yang bersangkutan. Pemerintah Kabupaten/Kota di provinsi yang bersangkutan. semua jajaran Pemerintah Provinsi. satuan pendidikan di provinsi yang bersangkutan.

rencana strategis pendidikan kabupaten/kota. g. (2) (3) Bagian Keempat Pengelolaan oleh Pemerintah Kabupaten/Kota Pasal 25 (1) Bupati/Walikota bertanggung jawab mengelola sistem pendidikan nasional di daerahnya serta merumuskan dan menetapkan kebijakan daerah bidang pendidikan sesuai kewenangannya. rencana kerja pemerintah kabupaten/kota. Sistem informasi pendidikan provinsi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) memberikan akses informasi administrasi pendidikan dan akses sumber pembelajaran kepada satuan pendidikan pada semua jenjang. rencana pembangunan jangka menengah kabupaten/kota. (2) Kebijakan daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) konsisten dengan serta merupakan penjabaran dari kebijakan pendidikan nasional sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 dan penjabaran dari kebijakan pendidikan pemerintah provinsi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 15. jenis. Sistem informasi pendidikan provinsi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) merupakan subsistem dari sistem informasi pendidikan nasional. (4) Kebijakan daerah bidang pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1).doc 17 . c. dan jalur pendidikan sesuai kewenangan pemerintah provinsi.(1) Dalam menyelenggarakan dan mengelola sistem pendidikan nasional di daerahnya. rencana kerja dan anggaran tahunan kabupaten/kota. ayat (2) dan ayat (3) mengikat bagi: 76461668. b. peraturan daerah di bidang pendidikan. (3) Kebijakan daerah bidang pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) dituangkan dalam: a. dan peraturan bupati/walikota di bidang pendidikan. e. pemerintah provinsi mengembangkan dan melaksanakan sistem informasi pendidikan provinsi berbasis teknologi informasi dan komunikasi. f. rencana pembangunan jangka panjang kabupaten/kota. d.

h. mengawasi. pendidik dan tenaga kependidikan di kabupaten/kota yang bersangkutan. membimbing. jalur. dan ayat (3). Pasal 26 Pemerintah kabupaten/kota sesuai kewenangannya mengarahkan. i. orang tua/wali peserta didik di kabupaten/kota yang bersangkutan. dan pihak lain yang terkait dengan kabupaten/kota yang bersangkutan. (2)Target tingkat partisipasi pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dipenuhi melalui jalur pendidikan formal dan nonformal. dewan pendidikan di kabupaten/kota yang bersangkutan. mengkoordinasi. f. Pasal 27 (1)Bupati/Walikota menetapkan target tingkat partisipasi pendidikan pada semua jenjang dan jenis pendidikan yang harus dicapai pada tingkat kabupaten/kota.doc 18 . j. yang sejenis di peserta didik di kabupaten/kota yang bersangkutan. semua jajaran pemerintah kabupaten/kota. dan mengendalikan penyelenggara. masyarakat di kabupaten/kota yang bersangkutan. komite sekolah atau nama lain kabupaten/kota yang bersangkutan. mengevaluasi. c. dan jenis pendidikan di kabupaten/kota yang bersangkutan sesuai kebijakan daerah bidang pendidikan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 25. pendidikan di (5) Pemerintah kabupaten/kota mengalokasikan anggaran pendidikan agar sistem pendidikan nasional di kabupaten/kota yang bersangkutan dapat dilaksanakan secara efektif. e. memantau.a. d. ayat (2). mensupervisi. g. (3) Dalam memenuhi target tingkat partisipasi pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1). b. efisien. Pasal 28 76461668. pemerintah kabupaten/kota mengutamakan perluasan dan pemerataan akses pendidikan melalui jalur pendidikan formal. jenjang. badan hukum bersangkutan. pendidikan di kabupaten/kota yang satuan pendidikan di kabupaten/kota yang bersangkutan. dan akuntabel sesuai dengan kebijakan daerah bidang pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1). satuan.

f. (2) Bupati/Walikota menetapkan kebijakan untuk menjamin peserta didik miskin. b. sertifikasi pendidikan terkait. c. sertifikasi kompetensi pendidik. dan Standar Nasional Pendidikan. Pasal 30 (1) Pemerintah kabupaten/kota sesuai kewenangannya melakukan dan/atau memfasilitasi penjaminan mutu pendidikan di daerahnya dengan berpedoman pada kebijakan nasional bidang pendidikan. dan/atau kompetensi tenaga g. e. pemerintah kabupaten/kota memfasilitasi: a. peserta didik khusus. akreditasi satuan pendidikan. d.(1) Bupati/Walikota menetapkan target tingkat pemerataan partisipasi pendidikan pada tingkat kabupaten/kota: a. dan/atau peserta didik di daerah khusus dapat memperoleh akses pelayanan pendidikan. akreditasi program pendidikan. pemerintah kabupaten/kota berkoordinasi dengan unit pelaksana teknis Pemerintah yang melaksanakan tugas penjaminan mutu pendidikan. antar desa/kelurahan atau sebutan lainnya yang sejenis. satuan dan/atau program (2) (3) c. Dalam melaksanakan tugasnya sebagaimana dimaksud pada ayat (1). dan antara laki-laki dan perempuan. Dalam rangka penjaminan mutu pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1). Pasal 29 Bupati/Walikota melaksanakan dan mengkoordinasikan pelaksanaan standar pelayanan minimal bidang pendidikan sesuai peraturan perundang-undangan. kebijakan provinsi bidang pendidikan. Pasal 31 76461668. b. antar kecamatan atau sebutan lainnya yang sejenis. sertifikasi kompetensi peserta didik. sertifikasi kependidikan.doc 19 . sertifikasi unit pelaksana satuan dan/atau program pendidikan terkait.

kecamatan. dan melindungi program dan/atau satuan pendidikan bertaraf internasional dan/atau berbasis keunggulan lokal sesuai peraturan perundang-undangan. Pemerintah kabupaten/kota melaksanakan dan/atau memfasilitasi perintisan program dan/atau satuan pendidikan yang sudah atau hampir memenuhi Standar Nasional Pendidikan untuk dikembangkan menjadi program dan/atau satuan pendidikan bertaraf internasional dan/atau berbasis keunggulan lokal. memfasilitasi. nasional. (2) Pemerintah kabupaten/kota memberikan penghargaan kepada peserta didik yang meraih prestasi puncak sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) sesuai peraturan perundang-undangan. ayat (2). Ketentuan lebih lanjut mengenai pelaksanaan ayat (1). dan ayat (3) diatur dengan peraturan bupati/walikota. Untuk menumbuhkan iklim kompetitif yang kondusif bagi pencapaian prestasi puncak sebagaimana dimaksud pada ayat (1) pemerintah kabupaten/kota menyelenggarakan dan/atau memfasilitasi secara teratur dan berjenjang kompetisi di bidang: a. c. membina. seni. provinsi. Pemerintah kabupaten/kota memfasilitasi sertifikasi internasional pada program dan/atau satuan pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2).doc 20 . dan olahraga. dan internasional. b. (3) ilmu pengetahuan dan teknologi.(1) Pemerintah kabupaten/kota mengakui. kabupaten/kota. seni. (2) (3) (4) Pasal 32 (1) Pemerintah kabupaten/kota melakukan pembinaan berkelanjutan kepada peserta didik yang memiliki potensi kecerdasan dan/atau bakat istimewa untuk mencapai prestasi puncak di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi. Pasal 33 (4) 76461668. dan/atau olahraga pada tingkat satuan pendidikan. Pemerintah kabupaten/kota memfasilitasi akreditasi internasional program dan/atau satuan pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2).

Bupati/Walikota menetapkan kebijakan tatakelola pendidikan untuk menjamin efisiensi, efektifitas, dan akuntabilitas pengelolaan pendidikan yang mengikat: a. semua jajaran pemerintah kabupaten/kota; b. badan hukum pendidikan di kabupaten/kota yang bersangkutan; c. satuan pendidikan bersangkutan; d. dewan pendidikan bersangkutan; di di kabupaten/kota kabupaten/kota yang yang

e. komite sekolah atau nama lain yang sejenis di kabupaten/kota yang bersangkutan; f. peserta didik di kabupaten/kota yang bersangkutan; g. orang tua/wali peserta didik di kabupaten/kota yang bersangkutan; h. pendidik dan tenaga kabupaten/kota yang bersangkutan; i. dan kependidikan di

masyarakat di kabupaten/kota yang bersangkutan; pendidikan di

j. pihak lain yang terkait dengan kabupaten/kota yang bersangkutan. Pasal 34 (1)

Dalam menyelenggarakan dan mengelola sistem pendidikan nasional di daerahnya, pemerintah kabupaten/kota mengembangkan dan melaksanakan sistem informasi pendidikan kabupaten/kota berbasis teknologi informasi dan komunikasi. Sistem informasi pendidikan kabupaten/kota sebagaimana dimaksud pada ayat (1) merupakan subsistem dari sistem informasi pendidikan nasional. Sistem informasi pendidikan kabupaten/kota sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) memberikan akses informasi administrasi pendidikan dan akses sumber pembelajaran kepada satuan pendidikan pada semua jenjang, jenis, dan jalur pendidikan sesuai kewenangan pemerintah kabupaten/kota. Bagian Kelima Pengelolaan oleh Badan Hukum Pendidikan Pasal 35 (1) Badan hukum pendidikan bertanggung jawab mengelola sistem pendidikan nasional di badan hukum pendidikannya serta
76461668.doc

(2)

(3)

21

merumuskan dan kewenangannya. (2)

menetapkan kebijakan pendidikan sesuai

Kebijakan pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) konsisten dengan serta merupakan penjabaran dari kebijakan pendidikan nasional sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4, kebijakan pendidikan pemerintah provinsi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 15, dan/atau kebijakan pendidikan pemerintah kabupaten/kota sebagaimana dimaksud dalam Pasal 25, sesuai peraturan perundang-undangan. Kebijakan pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) dituangkan dalam peraturan badan hukum pendidikan.

(3)

(4) Kebijakan pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1), ayat (2) dan ayat (3) mengikat bagi: a. badan hukum pendidikan yang bersangkutan; b. satuan dan/atau program pendidikan yang terkait; c. lembaga representasi pemangku kepentingan dan/atau program pendidikan yang terkait; satuan

d. peserta didik di satuan dan/atau program pendidikan yang terkait; e. orang tua/wali peserta didik di satuan dan/atau program pendidikan yang terkait; f. pendidik dan tenaga kependidikan di satuan dan/atau program pendidikan yang terkait; g. pihak lainnya yang terikat dengan program pendidikan yang terkait. satuan dan/atau

(5) Badan hukum pendidikan mengalokasikan anggaran pendidikan agar sistem pendidikan nasional di satuan dan/atau program pendidikan yang terkait dapat dilaksanakan secara efektif, efisien, dan akuntabel sesuai dengan kebijakan pendidikan nasional sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4, kebijakan pendidikan pemerintah provinsi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 15, kebijakan pendidikan pemerintah kabupaten/kota sebagaimana dimaksud dalam Pasal 25, dan/atau kebijakan pendidikan badan hukum pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1), ayat (2), ayat (3), dan ayat (4), dan sesuai peraturan perundang-undangan. Pasal 36 Badan hukum pendidikan sesuai kewenangannya mengarahkan, membimbing, mensupervisi, mengawasi, mengkoordinasi, memantau, mengevaluasi, dan mengendalikan satuan dan/atau program pendidikan yang terkait sesuai dengan kebijakan pendidikan nasional sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4, kebijakan pendidikan
76461668.doc

22

pemerintah provinsi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 15, kebijakan pendidikan pemerintah kabupaten/kota sebagaimana dimaksud dalam Pasal 25, dan/atau kebijakan pendidikan badan hukum pendidikan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 35, dan sesuai peraturan perundang-undangan. Pasal 37 Badan hukum pendidikan menetapkan kebijakan untuk menjamin peserta didik miskin, peserta didik khusus, dan/atau peserta didik di daerah khusus dapat memperoleh akses pelayanan pendidikan. Pasal 38 Badan hukum pendidikan menjamin pelaksanaan Standar Pelayanan Minimal bidang pendidikan pada satuan dan/atau program pendidikan terkait sesuai peraturan perundang-undangan. Pasal 39 (1) Badan hukum pendidikan sesuai kewenangannya melakukan dan/atau memfasilitasi penjaminan mutu pendidikan di satuan dan/atau program pendidikan terkait dengan berpedoman pada kebijakan pendidikan nasional sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4, kebijakan pendidikan pemerintah provinsi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 15, kebijakan pendidikan pemerintah kabupaten/kota sebagaimana dimaksud dalam Pasal 25, dan/atau kebijakan pendidikan badan hukum pendidikan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 35, dan Standar Nasional Pendidikan. (2) Dalam melaksanakan tugasnya sebagaimana dimaksud pada ayat (1), badan hukum pendidikan yang merupakan dan/atau menyelenggarakan satuan dan/atau program pendidikan anak usia dini, pendidikan dasar dan/atau pendidikan menengah bekerja sama dengan unit pelaksana teknis Pemerintah yang melaksanakan tugas penjaminan mutu pendidikan. (3) Dalam rangka penjaminan mutu pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1), badan hukum pendidikan memfasilitasi: a. akreditasi program pendidikan terkait; b. akreditasi satuan pendidikan terkait; c. sertifikasi satuan dan/atau program pendidikan terkait; d. sertifikasi unit pelaksana pendidikan terkait; satuan dan/atau program

e. sertifikasi kompetensi peserta didik; f. sertifikasi kompetensi pendidik; dan/atau g. sertifikasi kompetensi tenaga kependidikan.
76461668.doc

23

Pasal 40 (1) Badan hukum pendidikan memfasilitasi, membina, dan melindungi program dan/atau satuan pendidikan terkait yang bertaraf internasional dan/atau berbasis keunggulan lokal sesuai peraturan perundang-undangan. Badan hukum pendidikan melaksanakan dan/atau memfasilitasi perintisan program dan/atau satuan pendidikan terkait yang sudah atau hampir memenuhi Standar Nasional Pendidikan untuk dikembangkan menjadi program dan/atau satuan pendidikan bertaraf internasional dan/atau berbasis keunggulan lokal. Badan hukum pendidikan memfasilitasi akreditasi internasional program dan/atau satuan pendidikan terkait sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2). Badan hukum pendidikan memfasilitasi sertifikasi internasional pada program dan/atau satuan pendidikan terkait sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2). Pasal 41 (1) Badan hukum pendidikan memfasilitasi pembinaan berkelanjutan kepada peserta didik yang memiliki potensi kecerdasan dan/atau bakat istimewa untuk mencapai prestasi puncak di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi, seni, dan/atau olahraga pada tingkat satuan pendidikan, kecamatan, kabupaten/kota, provinsi, nasional, dan internasional. Untuk menumbuhkan iklim kompetitif yang kondusif bagi pencapaian prestasi puncak sebagaimana dimaksud pada ayat (1) badan hukum pendidikan memfasilitasi secara teratur kompetisi di satuan dan/atau program pendidikan terkait dalam bidang: a. b. c. (3) ilmu pengetahuan dan teknologi; seni; dan olahraga.

(2)

(3)

(4)

(2)

Ketentuan lebih lanjut mengenai pelaksanaan ayat (1), ayat (2), dan ayat (3) diatur dengan peraturan badan hukum pendidikan. Pasal 42

Badan hukum pendidikan menetapkan kebijakan tatakelola pendidikan untuk menjamin efisiensi, efektifitas, dan akuntabilitas pengelolaan pendidikan yang mengikat: a. b.
76461668.doc

badan hukum pendidikan yang bersangkutan; satuan dan/atau program pendidikan terkait;
24

g. dan sesuai peraturan perundangundangan. didik satuan dan/atau program d. (2) Kebijakan pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) konsisten dengan serta merupakan penjabaran dari kebijakan pendidikan nasional sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4. kebijakan pendidikan pemerintah provinsi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 15. badan hukum pendidikan mengembangkan dan melaksanakan sistem informasi pendidikan badan hukum pendidikan berbasis teknologi informasi dan komunikasi. 76461668.doc 25 . pihak lain yang terikat dengan satuan dan/atau program pendidikan terkait. e. Sistem informasi pendidikan badan hukum pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) merupakan subsistem dari sistem informasi pendidikan nasional. peserta pendidikan terkait. orang tua/wali peserta didik di satuan dan/atau program pendidikan terkait. kebijakan pendidikan pemerintah kabupaten/kota sebagaimana dimaksud dalam Pasal 25. pendidik dan tenaga kependidikan di satuan dan/atau program pendidikan terkait. Bagian Keenam Pengelolaan oleh Satuan dan/atau Program Pendidikan Pasal 44 (2) (3) (1) Satuan dan/atau program pendidikan bertanggung jawab mengelola sistem pendidikan nasional di satuan dan/atau program pendidikannya serta merumuskan dan menetapkan kebijakan pendidikan sesuai kewenangannya.c. f. lembaga representasi pemangku kepentingan pendidikan pada satuan dan/atau program pendidikan terkait. Pasal 43 (1) Dalam menyelenggarakan dan mengelola sistem pendidikan nasional di satuan dan/atau program pendidikan terkait. Sistem informasi pendidikan badan hukum pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) memberikan akses informasi administrasi pendidikan dan akses sumber pembelajaran kepada satuan dan/atau program pendidikan terkait. dan/atau kebijakan pendidikan badan hukum pendidikan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 35.

f.doc sebagaimana sebagaimana pendidikan 26 . (5) Kebijakan pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1). satuan c. peraturan pemimpin perguruan tinggi. satuan dan/atau program pendidikan yang bersangkutan. c. Pemerintah sebagaimana dimaksud dalam b. d. anggaran tahunan perguruan tinggi. dan satuan pendidikan menengah dituangkan dalam: a. c. dan peraturan pimpinan perguruan tinggi lainnya. lembaga representasi pemangku kepentingan dan/atau program pendidikan yang bersangkutan. d. b. ayat (2) dan ayat (3) mengikat bagi: a. rencana strategis perguruan tinggi. pendidik dan tenaga kependidikan di satuan dan/atau program pendidikan yang bersangkutan. anggaran pendapatan pendidikan. pihak lainnya yang terikat dengan satuan dan/atau program pendidikan yang bersangkutan. rencana kerja tahunan perguruan tinggi. Kebijakan pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2). oleh satuan pendidikan anak usia dini. b. Kebijakan Pasal 4. Kebijakan badan hukum dimaksud dalam Pasal 35.(3) Kebijakan pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2). Kebijakan pemerintah provinsi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 15. b. satuan pendidikan dasar. peraturan satuan dan/atau program pendidikan. dan d. 76461668. e. (6) Kebijakan satuan pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (3) merupakan penjabaran dan selaras dengan: a. (4) a. f. e. dan dan belanja tahunan satuan c. oleh perguruan tinggi dituangkan dalam: rencana pembangunan jangka panjang perguruan tinggi. Kebijakan pemerintah kabupaten/kota dimaksud dalam Pasal 25. orang tua/wali peserta didik di satuan dan/atau program pendidikan yang bersangkutan. peserta didik di satuan dan/atau program pendidikan yang bersangkutan. rencana kerja tahunan satuan pendidikan.

Pasal 46 Satuan dan/atau program pendidikan sesuai kewenangannya menetapkan kebijakan untuk menjamin peserta didik miskin. dan sebagaimana dimaksud dalam b. dan akuntabel sesuai dengan kebijakan pendidikan nasional sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4. dan/atau kebijakan 27 76461668. peserta didik khusus. dan/atau peserta didik di daerah khusus dapat memperoleh akses pelayanan pendidikan. Kebijakan badan hukum dimaksud dalam Pasal 35.doc . efisien. Pasal 48 (1) Satuan dan/atau program pendidikan melakukan penjaminan mutu pendidikan dengan berpedoman pada kebijakan pendidikan nasional sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4. kebijakan pendidikan pemerintah provinsi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 15. kebijakan pendidikan pemerintah provinsi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 15. dan/atau kebijakan pendidikan badan hukum pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1). Pasal 45 Satuan dan/atau program pendidikan mengelola pendidikan sesuai dengan kebijakan pendidikan nasional sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4. Kebijakan Pemerintah Pasal 4. Pasal 47 Satuan dan/atau program pendidikan menjamin terpenuhinya Standar Pelayanan Minimal bidang pendidikan. (8) pendidikan sebagaimana Satuan dan/atau program pendidikan mengalokasikan anggaran pendidikan agar sistem pendidikan nasional di satuan dan/atau program pendidikan yang bersangkutan dapat dilaksanakan secara efektif. dan sesuai peraturan perundang-undangan. kebijakan pendidikan pemerintah kabupaten/kota sebagaimana dimaksud dalam Pasal 25. dan sesuai peraturan perundangundangan.(7) Kebijakan perguruan tinggi sebagaimana dimaksud pada ayat (4) merupakan penjabaran dan selaras dengan: a. ayat (3). kebijakan pendidikan pemerintah kabupaten/kota sebagaimana dimaksud dalam Pasal 25. ayat (2). kebijakan pendidikan pemerintah kabupaten/kota sebagaimana dimaksud dalam Pasal 25. dan/atau kebijakan pendidikan badan hukum pendidikan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 35. kebijakan pendidikan pemerintah provinsi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 15. dan ayat (4).

pendidikan badan hukum pendidikan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 35. sertifikasi kompetensi pendidik terkait. d. akreditasi program pendidikan yang bersangkutan. akreditasi satuan pendidikan yang bersangkutan. Pasal 49 (1) Satuan dan/atau program pendidikan yang sudah atau hampir memenuhi Standar Nasional Pendidikan dapat merintis dirinya untuk dikembangkan menjadi program dan/atau satuan pendidikan bertaraf internasional dan/atau berbasis keunggulan lokal. f. (2) Dalam melaksanakan tugasnya sebagaimana dimaksud pada ayat (1). dan Standar Nasional Pendidikan. atau pendidikan menengah bekerja sama dengan unit pelaksana teknis Pemerintah yang melaksanakan tugas penjaminan mutu pendidikan.doc . sertifikasi kompetensi peserta didik terkait. c. Satuan dan/atau program pendidikan dapat mengikuti sertifikasi internasional program atau satuan pendidikan. sertifikasi unit pelaksana satuan pendidikan yang bersangkutan. mengikuti: a. satuan dan/atau program pendidikan. dan/atau g. b. Dalam rangka penjaminan mutu pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1). satuan dan/atau program pendidikan anak usia dini. sertifikasi satuan dan/atau program pendidikan yang bersangkutan. sertifikasi kompetensi tenaga kependidikan terkait. sesuai peraturan perundang-undangan. Satuan dan/atau program pendidikan yang sudah atau hampir memenuhi Standar Nasional Pendidikan dapat mengikuti akreditasi internasional program dan/atau satuan pendidikan. dan/atau program (3) e. pendidikan dasar. Pasal 50 (1) Satuan dan/atau program pendidikan melakukan pembinaan berkelanjutan kepada peserta didik yang memiliki potensi kecerdasan dan/atau bakat istimewa untuk mencapai prestasi 28 (2) (3) 76461668.

ayat (2). efektifitas. provinsi. ilmu pengetahuan dan teknologi. kabupaten/kota. peserta didik satuan dan/atau program pendidikan yang bersangkutan. kecamatan. orang tua/wali peserta didik di satuan dan/atau program pendidikan yang bersangkutan. satuan dan/atau program pendidikan mengembangkan dan melaksanakan sistem informasi pendidikan berbasis teknologi informasi dan komunikasi. pihak lain yang terikat dengan satuan dan/atau program pendidikan yang bersangkutan. e. f. dan olahraga. Pasal 51 Satuan dan/atau program pendidikan menetapkan kebijakan tatakelola pendidikan untuk menjamin efisiensi. (4) Ketentuan lebih lanjut mengenai pelaksanaan ayat (1). satuan bersangkutan. (2) Untuk menumbuhkan iklim kompetitif yang kondusif bagi pencapaian prestasi puncak sebagaimana dimaksud pada ayat (1) satuan dan/atau program pendidikan melakukan secara teratur kompetisi di satuan dan/atau program pendidikan terkait dalam bidang: a. d. dan internasional. seni. seni. Pasal 52 (1) Dalam menyelenggarakan dan mengelola pendidikan. dan ayat (3) diatur dengan peraturan satuan dan/atau program pendidikan. b. dan akuntabilitas pengelolaan pendidikan yang mengikat: a. b. (3) Satuan dan/atau program pendidikan memberikan penghargaan kepada peserta didik yang meraih prestasi puncak sesuai peraturan perundang-undangan. nasional. satuan c. dan/atau olahraga pada tingkat satuan pendidikan. c.doc 29 .puncak di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi. dan/atau program pendidikan yang lembaga representasi pemangku kepentingan pendidikan pada satuan dan/atau program pendidikan yang bersangkutan. pendidik dan tenaga kependidikan di dan/atau program pendidikan yang bersangkutan. 76461668.

percaya diri. Bustanul Athfal (BA). BAB III PENYELENGGARAAN PENDIDIKAN FORMAL Bagian Kesatu Pendidikan Anak Usia Dini Paragraf 1 Fungsi dan Tujuan Pasal 53 (3) (1) PAUD berfungsi membina. berakhlak mulia. dan peserta didik. tenaga kependidikan. atau bentuk lain yang sederajat. kreatif. dan menjadi warga negara yang demokratis dan bertanggung jawab. b. membangun landasan bagi berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. Raudathul Athfal (RA). RA. emosional. dan sosial peserta didik pada masa emas pertumbuhannya dalam lingkungan bermain yang edukatif dan menyenangkan. sehat. kinestetis. TK. 30 (2) 76461668. BA atau bentuk lain yang sederajat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) memiliki program pembelajaran 1 (satu) tahun atau 2 (dua) tahun.(2) Sistem informasi pendidikan satuan dan/atau program pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) merupakan subsistem dari sistem informasi pendidikan nasional. cakap. berilmu. berkepribadian luhur. mandiri. inovatif. kritis. mengembangkan potensi kecerdasan spiritual. menumbuhkan. Sistem informasi pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) memberikan akses informasi administrasi pendidikan dan akses sumber pembelajaran kepada pendidik. (2) PAUD bertujuan: a. Paragraf 2 Bentuk dan Jenis Satuan Pendidikan Pasal 54 (1) PAUD pada jalur pendidikan formal berbentuk Taman Kanakkanak (TK).doc . intelektual. dan mengembangkan seluruh potensi anak usia dini secara optimal sehingga terbentuk perilaku dan kemampuan dasar sesuai dengan tahap perkembangannya agar memiliki kesiapan untuk memasuki pendidikan selanjutnya.

(3)

TK, RA, BA atau bentuk lain yang sederajat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat diselenggarakan menyatu dengan SD, MI, atau bentuk lain yang sederajat. Paragraf 3 Penerimaan Peserta Didik Pasal 55

Peserta didik TK, RA, BA, atau bentuk lain yang sederajat berusia 4 (empat) tahun sampai dengan 6 (enam) tahun. Pasal 56 (1) (2) Penerimaan peserta didik pada satuan pendidikan anak usia dini dilakukan secara objektif, transparan, dan akuntabel. Penerimaan peserta didik pada satuan pendidikan anak usia dini dilakukan tanpa diskriminasi atas dasar pertimbangan gender, agama, etnis, status sosial, kemampuan ekonomi, dan kondisi fisik atau mental anak. Keputusan penerimaan calon peserta didik menjadi peserta didik dilakukan secara mandiri oleh rapat dewan guru yang dipimpin oleh kepala satuan pendidikan. Paragraf 4 Program Pembelajaran Pasal 57 (1) Program pembelajaran TK, RA, BA dan bentuk lain yang sederajat dikembangkan untuk mempersiapkan peserta didik memasuki SD, MI, atau bentuk lain yang sederajat. Program pembelajaran TK, RA, BA dan bentuk lain yang sederajat dilaksanakan dalam konteks bermain dan dapat dikelompokan dalam: a. bermain dalam rangka pembelajaran agama dan ahlak mulia; b. bermain dalam kepribadian; rangka pembelajaran sosial dan

(3)

(2)

c. bermain dalam rangka pembelajaran estetika; d. bermain dalam rangka pembelajaran jasmani, olahraga dan kesehatan; dan e. bermain dalam rangka pembelajaran pengenalan pengetahuan dan teknologi. (3) orientasi dan

Semua permainan pembelajaran sebagaimana dimaksud pada
31

76461668.doc

ayat (2) dirancang dan diselenggarakan: a. secara interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang, dan mendorong kreativitas serta kemandirian, b. sesuai dengan tahap pertumbuhan fisik perkembangan mental anak serta kebutuhan kepentingan terbaik anak; dan dan

c. dengan memperhatikan perbedaan bakat, minat, dan kemampuan masing-masing anak; d. dengan mengintegrasikan kebutuhan anak kesehatan, gizi, dan stimulasi psikososial; dan terhadap

e. dengan memperhatikan latar belakang ekonomi, sosial, dan budaya anak. Bagian Kedua Pendidikan Dasar Paragraf 1 Fungsi dan Tujuan Pasal 58 (1) Pendidikan dasar tingkat SD/MI atau yang sederajat berfungsi: a. menanamkan dan mengamalkan nilai-nilai keimanan, ahlak mulia, dan kepribadian luhur; b. menanamkan dan mengamalkan nilai-nilai kebangsaan dan cinta tanah air; c. memberikan dasar-dasar kemampuan intelektual dalam bentuk kemampuan dan kecakapan membaca, menulis, dan berhitung; d. melatih dan merangsang kepekaan dan kemampuan mengapresiasi serta mengekspresikan keindahan, kehalusan, dan harmoni; e. menumbuhkan minat pada olah raga, kesehatan, dan kebugaran jasmani; dan f. mengembangkan kesiapan fisik dan mental untuk melanjutkan pendidikan ke SMP/MTs atau yang sederajat. (2) Pendidikan dasar tingkat SMP/MTs atau yang sederajat berfungsi: a. Mengembangkan, menghayati, dan mengamalkan nilainilai keimanan, ahlak mulia, dan kepribadian luhur yang telah dikenalinya; b. Mengembangkan, menghayati, dan mengamalkan nilainilai kebangsaan dan cinta tanah air yang telah dikenalinya;
76461668.doc

32

c. mempelajari dasar-dasar ilmu pengetahuan dan secara terbatas mulai mengenali teknologi; d. melatih dan mengembangkan kepekaan dan kemampuan mengapresiasi serta mengekspresikan keindahan, kehalusan, dan harmoni; e. mengembangkan bakat dan kemampuan di bidang olah raga, baik untuk kesehatan dan kebugaran jasmani maupun prestasi; dan f. mengembangkan kesiapan fisik dan mental untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang pendidikan menengah dan/atau untuk hidup mandiri di masyarakat. (3) Pendidikan dasar bertujuan membangun landasan bagi berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang: a. beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, dan berkepribadian luhur; b. berilmu, cakap, kritis, kreatif, dan inovatif; c. sehat, mandiri, dan percaya diri; dan d. toleran, peka sosial, demokratis, dan bertanggung jawab. Paragraf 2 Bentuk Satuan Pendidikan Pasal 59 (1) Pendidikan dasar kelas 1 (satu) sampai dengan kelas 6 (enam) adalah Sekolah Dasar (SD), Madrasah Ibtidaiyah (MI), atau bentuk lain yang sederajat. Pendidikan dasar kelas 7 (tujuh) sampai dengan kelas 9 (sembilan) adalah Sekolah Menengah Pertama (SMP), Madrasah Tsanawiyah (MTs), atau bentuk lain yang sederajat. Paragraf 3 Penerimaan Peserta Didik Pasal 60 (1) Peserta didik pada SD/MI atau bentuk lain yang sederajat sekurang-kurangnya berusia 6 (enam) tahun.

(2)

(2) Pengecualian terhadap ketentuan pada ayat (1) dapat dilakukan atas dasar rekomendasi tertulis dari psikolog. (3) Satuan pendidikan SD/MI atau bentuk lain yang sederajat wajib menerima warga negara berusia 7 (tujuh) sampai 12 (dua belas) tahun sebagai peserta didik sampai dengan batas daya
33

76461668.doc

tampungnya. (4) Penerimaan peserta didik kelas 1 (satu) SD/MI atau bentuk lain yang sederajat tidak didasarkan pada hasil tes kemampuan membaca, menulis, dan berhitung, atau bentuk seleksi lainnya. Pasal 61 (1) Pemilihan peserta didik pada SD/MI yang diselenggarakan oleh Pemerintah atau pemerintah daerah didasarkan pada urutan ketuaan usia calon peserta didik apabila jumlah calon peserta didik melebihi daya tampung satuan pendidikan. Jika usia calon peserta didik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) sama, maka penentuan peserta didik didasarkan pada urutan kedekatan tempat tinggal peserta didik dengan satuan pendidikan. Jika usia dan/atau urutan kedekatan tempat tinggal peserta didik dengan satuan pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) sama, maka peserta didik yang mendaftar lebih awal diprioritaskan. Pasal 62 (1) Peserta didik pada SMP/MTs atau bentuk lain yang sederajat sudah menyelesaikan pendidikannya pada SD, MI, Paket A, atau bentuk lain yang sederajat. Satuan pendidikan SMP/MTs atau bentuk lain yang sederajat wajib menerima warga negara berusia 13 (tiga belas) sampai 15 (lima belas) tahun sebagai peserta didik sampai dengan batas daya tampungnya. Pasal 63 (1) Satuan pendidikan SD/MI dan SMP/MTs yang memiliki jumlah calon peserta didik melebihi daya tampungnya wajib melaporkan kelebihan calon peserta didik tersebut kepada pemerintah kabupaten/kota yang bersangkutan. Pemerintah kabupaten/kota wajib menyalurkan kelebihan calon peserta didik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) pada satuan pendidikan dasar lain. Pasal 64 (1) Peserta didik jalur nonformal dan informal dapat diterima di SD, MI, atau bentuk lain yang sederajat tidak pada awal kelas 1 (satu) setelah lulus tes kelayakan dan penempatan yang diselenggarakan oleh satuan pendidikan formal.

(2)

(3)

(2)

(2)

76461668.doc

34

Peserta didik pendidikan dasar setara SMP di negara lain dapat pindah ke SMP. (7) Menteri dapat membatalkan keputusan satuan pendidikan tentang syarat sebagaimana dimaksud pada ayat (3) huruf b. menunjukkan ijazah atau dokumen lain yang membuktikan bahwa yang bersangkutan telah menyelesaikan pendidikan dasar setara SD. sosial. Satuan pendidikan SD. tidak benar. atau bentuk lain yang sederajat di Indonesia dengan syarat: a. SMP. MTs. dapat menunjukkan ijazah atau dokumen lain yang membuktikan bahwa yang bersangkutan telah menyelesaikan pendidikan dasar yang memberikan kompetensi lulusan setara SD. MI. dan/atau tidak jujur. (5) (6) Peserta didik pendidikan dasar setara SD yang mengikuti sistem dan/atau standar pendidikan negara lain dapat diterima di SMP/MTs atau bentuk lain yang sederajat pada awal tahun kelas 7 (tujuh) setelah: a. ayat (4). (3) (4) Peserta didik pendidikan dasar setara SD di negara lain dapat pindah ke SD. dan/atau mental yang diperlukan oleh peserta didik pindahan dari satuan pendidikan formal lain atau jalur pendidikan lain. lulus tes kelayakan dan penempatan yang diselenggarakan oleh satuan pendidikan yang ingin dimasukinya. atau b. dan ayat (6) huruf b apabila setelah dilakukan pemeriksaan oleh Inspektorat Jenderal Departemen atas instruksi Menteri terbukti bahwa keputusan tersebut melanggar peraturan perundang-undangan. MTs. Peserta didik jalur nonformal dan informal dapat diterima di SMP. atau bentuk lain yang sederajat memberikan bantuan penyesuaian akademik. atau bentuk lain yang sederajat sejak awal kelas 7 (tujuh) setelah lulus ujian kesetaraan Paket A. lulus ujian kesetaraan Paket A. lulus ujian kesetaraan Paket A. b. atau bentuk lain yang sederajat di Indonesia setelah lulus tes kelayakan dan penempatan yang diselenggarakan oleh satuan pendidikan yang ingin dimasukinya. ayat (5). (8) 76461668.(2) Peserta didik jalur nonformal dan informal dapat diterima di SMP. MTs. atau bentuk lain yang sederajat sesudah awal kelas 7 (tujuh) setelah: a. lulus tes kelayakan dan penempatan yang diselenggarakan oleh satuan pendidikan formal yang bersangkutan.doc 35 . MI. MTs. dan b.

meningkatkan. meningkatkan kepekaan dan kemampuan mengapresiasi serta mengekspresikan keindahan. dan mengamalkan nilai-nilai keimanan. transparan. dan f. kecuali bagi lulusan satuan pendidikan sebagaimana dimaksud pada Pasal 64 ayat (2) dan ayat (6). dan harmoni. e. kehalusan. Pasal 65 (1) (2) Penerimaan peserta didik pada satuan pendidikan dilakukan secara objektif. baik untuk kesehatan dan kebugaran jasmani maupun prestasi. Bagian Ketiga Pendidikan Menengah Paragraf 1 Fungsi dan Tujuan Pasal 66 (1) Pendidikan menengah umum berfungsi: a. etnis. agama. dan kepribadian luhur.doc (5) 36 . dasar Penerimaan peserta didik pada satuan pendidikan dasar dilakukan tanpa diskriminasi atas dasar pertimbangan gender. kemampuan ekonomi. ahlak mulia. dan mengamalkan nilai-nilai kebangsaan dan cinta tanah air. dan kondisi fisik atau mental peserta didik. menghayati. meningkatkan kesiapan fisik dan mental untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang pendidikan tinggi dan/atau untuk hidup mandiri di masyarakat. mempelajari ilmu pengetahuan dan teknologi. dan akuntabel. Di samping memenuhi ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (4). (4) Seleksi penerimaan peserta didik baru di kelas 7 (tujuh) pada satuan pendidikan dasar setingkat SMP didasarkan pada hasil Ujian Nasional. satuan pendidikan dapat melakukan tes bakat skolastik untuk seleksi penerimaan peserta didik baru di kelas 7 (tujuh).(9) Ketentuan lebih lanjut mengenai pelaksanaan ayat (1) sampai dengan ayat (6) diatur dengan peraturan Menteri. (3) Keputusan penerimaan calon peserta didik menjadi peserta didik dilakukan secara mandiri oleh rapat dewan guru yang dipimpin oleh kepala satuan pendidikan. meningkatkan. menghayati. menyalurkan bakat dan kemampuan di bidang olah raga. d. status sosial. b. c. 76461668.

Madrasah Aliyah (MA). Paragraf 2 Bentuk Satuan Pendidikan Pasal 68 (1) Pendidikan menengah berbentuk Sekolah Menengah Atas (SMA). dalam rangka mengantarkan peserta didik agar mampu hidup produktif dan beretika dalam masyarakat majemuk. dan mengamalkan nilai-nilai kebangsaan dan cinta tanah air. yaitu 37 (2) 76461668. e. kehalusan. kreatif. berakhlak mulia. demokratis. dan mengamalkan nilai-nilai keimanan. beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. dan harmoni. dan inovatif. meningkatkan kesiapan fisik dan mental untuk hidup mandiri di masyarakat dan/atau melanjutkan pendidikan ke jenjang pendidikan tinggi. c. dan berkepribadian luhur. c. baik untuk kesehatan dan kebugaran jasmani maupun prestasi. d. meningkatkan kepekaan dan kemampuan mengapresiasi serta mengekspresikan keindahan. Sekolah Menengah Kejuruan (SMK). serta menjadi warga negara yang taat hukum dalam konteks kehidupan global yang senantiasa berubah. dan d. dan kepribadian luhur. meningkatkan. toleran. meningkatkan. kritis. dan f. ahlak mulia. dan percaya diri. b.(2) Pendidikan menengah kejuruan berfungsi: a. b. menyalurkan bakat dan kemampuan di bidang olah raga. atau bentuk lain yang sederajat. membekali peserta didik dengan kemampuan ilmu pengetahuan dan teknologi serta kecakapan kejuruan paraprofesi sesuai dengan kebutuhan masyarakat. dan Madrasah Aliyah Kejuruan (MAK). sehat. berilmu. peka sosial. dan bertanggung jawab. menghayati. menghayati. Pendidikan menengah terdiri atas 3 (tiga) tingkatan kelas. Pasal 67 Pendidikan menengah bertujuan membentuk peserta didik menjadi insan yang: a. mandiri. cakap.doc .

c. d.kelas 10 (sepuluh). bidang studi keahlian agribisnis dan agroteknologi. bidang studi keahlian bisnis dan manajemen. e. c. atau bentuk lain yang sederajat berbentuk bidang studi keahlian. Pasal 70 (1) (2) (3) (4) Penjurusan pada SMK/MAK. yang diperlukan masyarakat. kelas 11 (sebelas). bidang studi keahlian teknologi dan rekayasa. (3) Ketentuan lebih lanjut tentang pelaksanaan ayat (1) dan ayat (2) diatur dengan peraturan Menteri. b. Program studi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) terdiri atas: a. b.doc (2) program studi ilmu program studi ilmu program studi bahasa. sesuai dengan tuntutan dunia kerja. dan pariwisata. kerajinan. program studi program studi lain 38 . (3) SMK dan MAK dapat terdiri atas 4 (empat) tingkatan kelas. dan kelas 12 (dua belas). atau e. bidang studi keahlian teknologi informasi dan komunikasi. yaitu kelas 10 (sepuluh). dan kelas 13 (tiga belas). Pasal 69 (1) Penjurusan pada SMA/MA atau bentuk lain yang sederajat berbentuk program studi yang memfasilitasi kebutuhan pembelajaran serta kompetensi yang diperlukan peserta didik untuk melanjutkan pendidikan pada jenjang pendidikan tinggi. pengetahuan alam. Setiap bidang studi keahlian sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat terdiri atas 1 (satu) atau lebih program studi keahlian. pengetahuan sosial. Setiap program studi keahlian sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dapat terdiri dari satu atau lebih kompetensi keahlian. bidang studi keahlian kesehatan. kelas 12 (dua belas). bidang studi keahlian seni. keagamaan. d. kelas 11 (sebelas). 76461668. f. Bidang studi keahlian sebagaimana dimaksud pada ayat (1) terdiri atas: a.

ayat (4) huruf b. (6) yang ingin Menteri dapat membatalkan keputusan satuan pendidikan tentang syarat sebagaimana dimaksud pada ayat (3) huruf b. lulus tes kelayakan dan penempatan diselenggarakan oleh satuan pendidikan yang dimasukinya. atau b. lulus ujian kesetaraan Paket B. bidang studi keahlian lain yang diperlukan masyarakat. b. (2) Peserta didik jalur nonformal dan informal dapat diterima di SMA/ MA/SMK/MAK atau bentuk lain yang sederajat sejak awal kelas 10 (sepuluh) setelah lulus ujian kesetaraan Paket B. menunjukkan ijazah atau dokumen lain yang membuktikan bahwa yang bersangkutan telah menyelesaikan pendidikan dasar setara SMP. (3) Peserta didik jalur nonformal dan informal dapat diterima di di SMA/MA/SMK/MAK atau bentuk lain yang sederajat sesudah awal kelas 10 (sepuluh) setelah: a. MTs. Paragraf 3 Penerimaan Peserta Didik Pasal 71 (1) Peserta didik pada SMA/MA/SMK/MAK atau bentuk lain yang sederajat sudah menyelesaikan pendidikannya pada SMP.doc . (5) Ketentuan lebih lanjut tentang pelaksanaan ayat (1) sampai dengan ayat (4) diatur dengan peraturan Menteri. (5) Peserta didik pendidikan menengah setara SMA/SMK di negara lain dapat pindah ke SMA/MA/SMK/MAK atau bentuk lain yang sederajat di Indonesia dengan syarat: a. apabila setelah dilakukan 39 76461668. lulus ujian kesetaraan Paket B. dan b. atau bentuk lain yang sederajat. dapat menunjukkan ijazah atau dokumen lain yang membuktikan bahwa yang bersangkutan telah menyelesaikan pendidikan dasar yang memberikan kompetensi lulusan setara SMP. dan ayat (5). lulus tes kelayakan dan penempatan yang diselenggarakan oleh satuan pendidikan formal yang bersangkutan. (4) Peserta didik pendidikan dasar setara SMP yang mengikuti sistem dan/atau standar pendidikan negara lain dapat diterima di SMA/MA/SMK/MAK atau bentuk lain yang sederajat pada awal tahun kelas 10 (sepuluh) setelah: a. Paket B.g.

Ketentuan lebih lanjut mengenai pelaksanaan ayat (1) sampai dengan ayat (5) diatur dengan peraturan Menteri. dan kondisi fisik atau mental. status sosial. Keputusan penerimaan calon peserta didik menjadi peserta didik dilakukan secara mandiri oleh rapat dewan guru yang dipimpin oleh kepala satuan pendidikan. dan/atau tidak jujur.doc 40 . tidak benar. (8) (3) (4) (5) (6) Penerimaan peserta didik baru dapat dilaksanakan pada setiap semester bagi satuan pendidikan yang menyelenggarakan sistem kredit semester. Pasal 72 (1) (2) Penerimaan peserta didik pada satuan pendidikan menengah dilakukan secara objektif. etnis. kemampuan ekonomi. Penerimaan peserta didik pada satuan pendidikan menengah dilakukan tanpa diskriminasi atas pertimbangan gender. Di samping memenuhi ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (4). dan/atau mental yang diperlukan oleh peserta didik pindahan dari satuan pendidikan formal lain atau jalur pendidikan lain. satuan pendidikan dapat melakukan tes bakat skolastik untuk seleksi penerimaan peserta didik baru di kelas 10 (sepuluh). agama. sosial. Seleksi penerimaan peserta didik baru di kelas 10 (sepuluh) pada satuan pendidikan menengah didasarkan pada hasil Ujian Nasional. dan akuntabel. Bagian Kempat Pendidikan Tinggi Paragraf 1 76461668.pemeriksaan oleh Inspektorat Jenderal Departemen atas instruksi Menteri terbukti bahwa keputusan tersebut melanggar peraturan perundang-undangan. (7) Satuan pendidikan SMA/MA/SMK/MAK atau bentuk lain yang sederajat memberikan bantuan penyesuaian akademik. kecuali bagi lulusan satuan pendidikan sebagaimana dimaksud pada Pasal 71 ayat (2) dan ayat (4). transparan.

b. b. dan c. kritis. Paragraf 3 76461668. demokratis. politeknik. taat hukum. magister. beretika. atau universitas. teknologi. dan bertanggung jawab. seni. produktif. dalam rangka membentuk manusia berwawasan luas. sekolah tinggi. mengembangkan. toleran. dan olahraga. (2) Perguruan tinggi dapat berbentuk akademi. kepada Tuhan Yang berkepribadian luhur. (3) Perguruan tinggi dapat menyelenggarakan program pendidikan diploma. peka sosial. sarjana. menerapkan. kreatif.doc 41 . dharma penelitian untuk menemukan. inovatif. teknologi. dan sehat. berilmu. percaya diri dan berjiwa enterprenur. dan menyebarluaskan nilai-nilai luhur. pendidikan profesi. ilmu pengetahuan. seni. dan/atau mengadaptasi nilai-nilai luhur. seni. teknologi. ilmu pengetahuan. dan olahraga. (2) Pendidikan tinggi bertujuan membentuk insan yang: a. Maha Esa. institut.Fungsi dan Tujuan Pasal 73 (1) Pendidikan tinggi berfungsi mengembangkan atau membentuk kemampuan. dan c. mengadopsi. Paragraf 2 Jenis. dan menjadi agen pembaharu untuk mewujudkan masyarakat madani. beriman dan bertakwa berakhlak mulia. cakap. dan Program Pendidikan Pasal 74 (1) Perguruan tinggi dapat menyelenggarakan pendidikan akademik. dan kepribadian manusia melalui: a. spesialis. Bentuk. dan/atau pendidikan vokasi. mandiri. dan olahraga dalam rangka pemberdayaan masyarakat. dharma pengabdian kepada masyarakat untuk menerapkan nilai-nilai luhur. serta d. dan/atau doktor. dharma pendidikan untuk menguasai. watak. ilmu pengetahuan. mampu beradaptasi dan berinteraksi positif dalam masyarakat majemuk dan global yang dinamis.

perlengkapan. yang mencakup program pendidikan diploma. dan pengabdian kepada masyarakat. spesialis. profesi dan/atau vokasi. kemahasiswaan. magister. dan/atau doktor. komunikasi. kepersonaliaan. spesialis. Setiap program studi memiliki kurikulum yang dikembangkan sesuai dengan tujuan program studi dan peraturan perundangundangan. teknologi. Penyelenggaraan pendidikan pada tingkat operasional dilaksanakan oleh program studi yang menurut jenisnya dapat berupa pendidikan akademik. penelitian. sarjana. dan penunjang. Penyelenggaraan penelitian dan/atau pengabdian kepada masyarakat pada tingkat operasional dilaksanakan oleh sivitas akademika baik secara individual maupun berkelompok melalui program studi. magister. dan doktor.doc 42 .Organisasi Perguruan Tinggi Pasal 75 Perguruan tinggi memiliki unsur-unsur pelaksana administrasi. sarjana. Pasal 77 (1) Unsur pelaksana administrasi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 75 menyelenggarakan pelayanan teknis dan administratif yang meliputi fungsi administrasi akademik. pusat penelitian. keuangan. pelaksana akademik. jurusan. (2) (3) (4) (5) (6) (2) 76461668. Ketentuan lebih lanjut mengenai ayat (1) sampai dengan ayat (5) diatur dalam anggaran dasar dan anggaran rumah tangga perguruan tinggi. seni. Fakultas berfungsi mengkoordinasikan pendidikan akademik. dan fungsi administrasi lainnya sesuai dengan kebutuhan. pusat pengabdian masyarakat. Pelayanan teknis dan administratif sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilaksanakan berbasis teknologi informasi dan komunikasi. dan/atau olah raga tertentu yang mencakup program pendidikan diploma. atau fakultas. hukum. Pasal 76 (1) Unsur pelaksana akademik sebagaimana dimaksud dalam Pasal 75 merupakan unit penyelenggara pendidikan. profesi dan/atau vokasi dalam 1 (satu) atau kelompok cabang ilmu pengetahuan.

Mata kuliah yang diambil oleh peserta didik program spesialis dapat diperhitungkan sebagai mata kuliah terkait pada program magister atau doktor terkait. tugas pokok. Unsur penunjang sebagaimana dimaksud pada ayat (1) sekurang –kurangnya terdiri atas: a. profesi. Program magister. b. Pasal 79 (2) (3) (4) (5) (6) (7) (1) Unsur penunjang pada perguruan tinggi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 75 merupakan perangkat pelengkap di bidang pendidikan. Pasal 78 (1) Program studi tingkat pascasarjana dibentuk untuk menyelenggarakan dan melaksanakan program magister. Program magister. dan/atau doktor sebagaimana dimaksud pada ayat (1) yang bersifat monodisiplin atau lintas disiplin dalam satu fakultas dikelola oleh fakultas yang terkait. Mata kuliah yang diambil oleh peserta didik program profesi dapat diperhitungkan sebagai mata kuliah terkait pada program magister profesi terkait.(3) Jenis. dan/atau doktor sebagaimana dimaksud pada ayat (1) yang bersifat lintas disiplin yang melibatkan lebih dari satu fakultas dikelola oleh unit organisasi yang dibentuk atau ditunjuk oleh pemimpin perguruan tinggi. jumlah. atau sebaliknya. dan mekanisme kerja unsur pelaksana administrasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dalam anggaran dasar dan anggaran rumah tangga perguruan tinggi. penelitian dan pengabdian kepada masyarakat yang ada di luar fakultas dan jurusan. spesialis.doc 43 . atau sebaliknya. spesialis. (2) 76461668. dan/atau doktor. spesialis. unit layanan penjaminan mutu pendidikan. profesi. profesi. unit layanan penjaminan mutu penelitian. Organisasi dan tata kerja penyelenggaraan program studi tingkat pascasarjana sebagaimana dimaksud pada ayat (1). ayat (2) dan ayat (3) diatur dalam anggaran dasar dan/atau anggaran rumah tangga perguruan tinggi. fungsi. Ketentuan lebih lanjut mengenai pelaksanaan ayat (4) dan ayat (5) diatur dengan peraturan Menteri.

laboratorium/bengkel/studio. (4) (7) Paragraf 3 Penerimaan Mahasiswa Pasal 80 (1) Persyaratan untuk menjadi mahasiswa pada program sarjana. sarana dan prasarana olah raga.c. toko buku. pusat jejaring teknologi informasi dan komunikasi. penerbitan. dan unit lain yang dipandang perlu. d. magister. perpustakaan. memenuhi persyaratan masuk yang ditetapkan oleh perguruan tinggi yang bersangkutan. (2) Persyaratan untuk menjadi mahasiswa pada program vokasi adalah: a. f. sarana dan prasarana kesenian. g. memiliki ijazah atau surat keterangan lulus pendidikan 1 (satu) jenjang atau tingkat pendidikan di bawahnya. Lingkungan kampus ditata dengan mempertimbangkan faktor keamanan. dan doktor adalah: a. (3) Unsur penunjang sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat dilengkapi dengan rumah sakit pendidikan. penjaminan mutu pengabdian kepada e. tugas pokok. unit layanan masyarakat. dan kesehatan lingkungan. kenyamanan. memiliki ijazah atau surat keterangan lulus pendidikan menengah atau yang sederajat. keindahan. kedudukan. dan b. dan h.doc 44 . apotik. unit layanan bimbingan dan konseling. poliklinik. fungsi dan mekanisme kerja dari unsur-unsur penunjang akademik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) diatur dalam anggaran dasar dan anggaran rumah tangga perguruan tinggi. dan 76461668. Jenis dan jumlah.

dan b. status sosial. dan akuntabel. 45 (3) (4) (5) (2) 76461668. Pasal 82 (1) Perguruan tinggi dapat melakukan penerimaan bersyarat mahasiswa baru untuk calon mahasiswa yang telah memenuhi sebagian besar persyaratan penerimaan. Penerimaan bersyarat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dipenuhi selambat-lambatnya dalam waktu 6 (enam) bulan. (4) Persyaratan untuk menjadi mahasiswa pada program spesialis adalah: a. memenuhi persyaratan masuk yang ditetapkan oleh perguruan tinggi yang bersangkutan. dan kondisi fisik atau mental. memiliki ijazah atau surat keterangan lulus pendidikan 1 (satu) jenjang atau tingkat pendidikan di bawahnya. (3) memenuhi persyaratan masuk yang perguruan tinggi yang bersangkutan. ditetapkan oleh Persyaratan untuk menjadi mahasiswa pada program profesi adalah: a. transparan. kemampuan ekonomi.b. memiliki ijazah atau surat keterangan lulus program pendidikan sarjana atau diploma IV.doc . Tes seleksi penerimaan mahasiswa baru program sarjana dan program vokasi pada perguruan tinggi tidak menduplikasi ujian nasional pendidikan menengah. etnis. memenuhi persyaratan masuk yang ditetapkan oleh perguruan tinggi yang bersangkutan. agama. Perguruan tinggi menetapkan persyaratan kelayakan penerimaan mahasiswa baru pada setiap program studi yang diselenggarakannya. Penerimaan mahasiswa baru pada perguruan tinggi dilakukan secara objektif. Pasal 81 (1) (2) Perguruan tinggi dapat menyelenggarakan seleksi penerimaan mahasiswa baru pada setiap semester. dan b. Penerimaan mahasiswa baru perguruan tinggi dilakukan tanpa diskriminasi atas pertimbangan gender.

(3) Ketentuan lebih lanjut mengenai penerimaan bersyarat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dalam anggaran rumah tangga perguruan tinggi. praktikum. dan/atau tidak jujur. tidak benar. 46 . kuliah. psikomotorik. Pasal 83 (1) Pengumuman penerimaan mahasiswa baru program sarjana dan program vokasi yang bersifat final pada perguruan tinggi dilakukan setelah pengumuman hasil ujian nasional pendidikan menengah tahun ajaran sebelumnya. Paragraf 4 Sistem Pembelajaran Pasal 86 (1) Pendidikan tinggi diselenggarakan melalui proses pembelajaran yang berpusat pada mahasiswa sebagai subjek pembelajaran dalam rangka mengembangkan kemampuan kognitif. Pasal 85 Menteri dapat membatalkan keputusan perguruan tinggi tentang penerimaan mahasiswa baru apabila setelah dilakukan pemeriksaan oleh Inspektorat Jenderal Departemen atas instruksi Menteri terbukti bahwa keputusan tersebut melanggar peraturan perundangundangan. afektif. simposium. lokakarya. (2) (2) Pelanggaran terhadap perjanjian sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat berakibat dikeluarkannya mahasiswa yang bersangkutan dari perguruan tinggi. Pasal 84 (1) Seorang calon mahasiswa secara resmi menjadi mahasiswa perguruan tinggi setelah menandatangani perjanjian dengan perguruan tinggi yang memuat secara jelas hak-hak dan kewajiban mahasiswa yang diatur dalam anggaran dasar atau anggaran rumah tangga perguruan tinggi. 76461668. dan kemampuan konfluen mahasiswa. Pengumuman penerimaan mahasiswa baru program sarjana dan program vokasi yang bersyarat sebagaimana dimaksud dalam Pasal 82 dapat dilakukan sebelum pengumuman hasil ujian nasional pendidikan menengah tahun ajaran sebelumnya. seminar.doc (2) Pembelajaran dapat dilakukan dalam bentuk diskusi.

Kampus induk dan kampus lainnya sebagaimana dimaksud pada ayat (2) terhubung dengan sistem informasi berbasis teknologi informasi dan komunikasi. Pasal 87 (1) Pendidikan tinggi diselenggarakan dengan menerapkan Sistem Kredit Semester (SKS) yang bobot belajarnya dinyatakan dalam satuan kredit semester (sks).doc 47 . Pelaksanaan ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1). Tahun akademik dibagi dalam 2 (dua) semester yang masing-masing terdiri atas 16 (enam belas) minggu. dan penilaian pendidikan pada kampus lain sekurang-kurangnya sama dengan kampus induk. atau lebih dari 30% (tiga puluh persen) program studinya berakreditasi dari badan akreditasi negara anggota OECD. Semester pendek sebagaimana dimaksud pada ayat (3) sekurang-kurangnya diselenggarakan selama 8 (delapan) minggu. dan ayat (4) diatur oleh masingmasing perguruan tinggi dalam anggaran dasar dan/atau anggaran rumah tangga. sarana dan prasarana. pengelolaan. ayat (2). kompetensi lulusan. Perguruan tinggi dapat menyelenggarakan semester pendek antara semester genap dan ganjil.penelitian. yang pelaksanaannya diselenggarakan di kampus induk dan kampus lain. proses pembelajaran. Pasal 88 (1) (2) Pengelolaan pembelajaran pada perguruan tinggi dapat diselenggarakan melalui sistem multikampus. (2) (3) (4) (5) (3) (4) (5) 76461668. Isi kurikulum. Sistem multikampus sebagaimana dimaksud pada ayat (1) merupakan sistem pengelolaan perguruan tinggi yang menerapkan 1 (satu) sistem pendidikan tinggi secara utuh. ayat (3). dapat menyelenggarakan program studi di kampus lain. tenaga pendidik dan tenaga kependidikan. pembiayaan. pengabdian kepada masyarakat dan/atau kegiatan lainnya dengan mengacu pada prinsip otonomi keilmuan. Fakultas yang lebih dari 75% (tujuh puluh lima persen) program studinya berakreditasi A dari Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi.

Pasal 89 (1) Perguruan tinggi dapat menyelenggarakan program studi sarjana atau diploma empat kependidikan khusus bagi guru tetap dalam jabatan yang belum memiliki ijazah sarjana atau diploma empat dengan program sarjana atau diploma empat kependidikan khusus bagi guru tetap dalam jabatan. Pasal 82 ayat (2). (2) Program sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diselenggarakan sebagai berikut: a. dapat dilaksanakan di pusat kegiatan Kelompok Kerja Guru atau Musyawarah Guru Mata Pelajaran. dilaksanakan oleh perguruan tinggi yang memiliki program studi sarjana atau diploma empat kependidikan berakreditasi dari Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi dan telah memperoleh izin untuk menyelenggarakan program sarjana atau diploma empat kependidikan khusus bagi guru tetap dalam jabatan dari Departemen. b. dunia usaha. (4) Menteri dapat membatalkan izin program sebagaimana dimaksud pada ayat (2) apabila setelah dilakukan pemeriksaan oleh Inspektorat Jenderal Departemen atas instruksi Menteri terbukti bahwa pelaksanaan program yang bersangkutan telah melanggar peraturan perundang-undangan. c. (3) Izin sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf a diberikan oleh Departemen setelah memperoleh jaminan dari pemerintah daerah kabupaten/kota yang bersangkutan untuk bertanggung jawab melindungi. (5) Ketentuan sebagaimana diatur dalam Pasal ini berlaku sampai berakhirnya masa peralihan sebagaimana diatur dalam UndangUndang Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen. atau pihak lain yang dipandang perlu.doc 48 . 76461668. dan memfasilitasi penyelenggaraan program sebagaimana dimaksud pada ayat (2) sehingga guru tetap dalam jabatan yang bersangkutan memperoleh kualifikasi akademik sarjana atau diploma empat kependidikan sesuai peraturan perundang-undangan. memenuhi seluruh persyaratan program sarjana atau diploma empat kependidikan sesuai dengan peraturan perundang-undangan. mengawasi. Pasal 90 (1) Perguruan tinggi dapat menjalin kerja sama akademik dan/atau non-akademik dengan perguruan tinggi lain.

f. inovasi. kontrak manajemen. norma serta kaidah keilmuan. mutu. (6) Ketentuan lebih lanjut mengenai kerjasama sebagaimana yang dimaksud pada ayat (1) diatur dalam peraturan Menteri. Paragraf 5 Kebebasan Akademik dan Otonomi Keilmuan Pasal 91 (1) Pimpinan perguruan tinggi mengupayakan dan menjamin agar setiap sivitas akademika perguruan tinggi melaksanakan kebebasan akademik dan kebebasan mimbar akademik secara mandiri sesuai dengan peraturan perundang-undangan. (5) Semua bentuk kerjasama sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dengan pihak asing dilaporkan kepada Departemen. g. pemagangan. h. (7) Menteri dapat membatalkan kerjasama sebagaimana dimaksud pada ayat (1) apabila setelah dilakukan pemeriksaan oleh Inspektorat Jenderal Departemen atas instruksi Menteri terbukti bahwa kerjasama yang bersangkutan telah melanggar peraturan perundang-undangan. d. dan dilandasi oleh etika. pemanfaatan bersama berbagai sumberdaya. (4) Kerja sama non-akademik sebagaimana yang dimaksud pada ayat (1) dapat berbentuk: a. j. dan/atau bentuk-bentuk lain yang dianggap perlu. e. b. jasa dan royalti hak atas kekayaan intelektual. pendidikan. penyelenggaraan seminar bersama. kreatifitas. penugasan dosen senior sebagai pembina pada perguruan tinggi yang membutuhkan pembinaan. dan relevansi pelaksanaan tri dharma perguruan tinggi. pengalihan dan/atau perolehan kredit. c. penerbitan jurnal ilmiah. 49 76461668. i. usaha penggalangan dana. program kembaran.doc .(2) Kerja sama perguruan tinggi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) bertujuan untuk meningkatkan efisiensi. d. efektifitas. produktifitas. e. pendayagunaan aset. (3) Kerja sama akademik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat berbentuk: a. c. dan/atau bentuk-bentuk lain yang dianggap perlu. b. dan pengabdian kepada masyarakat. pertukaran dosen dan/atau mahasiswa. penelitian.

teknologi. dan d. atau ketua pusat pengabdian kepada masyarakat. b. simposium. serta kaidah keilmuan. berada di bawah tanggung jawab dan secara resmi dikoordinasikan oleh pimpinan perguruan tinggi. dan pertemuan ilmiah lainnya yang relevan. baik di dalam maupun di luar kampus. serendah-rendahnya ketua program studi. penelitian. dan kaidah akademik. mengupayakan agar kegiatan dan hasilnya bermanfaat bagi masyarakat. (4) (5) Kebebasan mimbar akademik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) merupakan kebebasan sivitas akademika dalam menyebarluaskan hasil penelitian dan menyampaikan pandangan akademik dalam rangka pembelajaran sivitas akademika dan/atau masyarakat melalui kegiatan perkuliahan. dan kemanusiaan. b. ayat (2). Pelaksanaan kebebasan akademik sebagaimana dimaksud pada ayat (1). seminar. Pelaksanaan kebebasan mimbar akademik dimaksud pada ayat (1).doc . secara bertanggungjawab dan mandiri. ayat (2) dan ayat (3): a. c. diskusi. Kebebasan akademik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) merupakan kebebasan sivitas akademika dalam mendalami. publikasi ilmiah. ketua pusat penelitian. sebagaimana (6) merupakan tanggung jawab setiap individu 50 76461668. (3) kebebasan mengupayakan agar kegiatan dan hasilnya dapat meningkatkan mutu akademik perguruan tinggi yang bersangkutan. negara. nilai-nilai etika. bangsa. sesuai dengan peraturan perundang-undangan. ceramah. dan pengabdian kepada masyarakat. norma. serta akibatnya pada diri sendiri atau orang lain. dan/atau olah raga melalui kegiatan pendidikan. dan mengembangkan ilmu. setiap individu sivitas akademika: a.(2) Dalam melaksanakan kebebasan akademik dan mimbar akademik. menerapkan. dan tidak melanggar hukum dan tidak mengganggu kepentingan umum. dan taat etika. tidak mengganggu ketertiban umum. seni. d. c. ujian. dan ayat (5): a. tidak menimbulkan keresahan masyarakat. melakukannya dengan cara yang tidak bertentangan dengan nilai-nilai agama. bertanggung jawab secara pribadi atas pelaksanaan dan hasilnya. e.

b. teknologi. Otonomi keilmuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) merupakan kemandirian dan kebebasan sivitas akademika suatu cabang ilmu pengetahuan. dan budaya bangsa dan negara Indonesia. teknologi. institut. teknologi. memperkuat daya saing bangsa dan negara Indonesia. b. dan/atau olah raga yang melekat pada kekhasan/keunikan cabang ilmu pengetahuan. melindungi dan mempertahankan kekayaan dan keragaman alami. serta kaidah keilmuan. c. menambah dan/atau meningkatkan mutu kekayaan intelektual bangsa dan negara Indonesia. dan/atau olah raga yang bersangkutan. menjadi tanggung jawab perguruan tinggi. norma. seni. dan c. apabila perguruan tinggi atau unit organisasi tersebut secara resmi terlibat dalam pelaksanaannya. dan/atau olah raga. dan/atau mempertahankan kebenaran menurut kaidah keilmuannya untuk menjamin keberlanjutan perkembangan cabang ilmu pengetahuan. d. seni. dalam menemukan. sesuai dengan peraturan perundangundangan.doc .sivitas akademika yang terlibat. hayati. dan sekolah tinggi wajib melaksanakan penelitian dasar. dan/atau penelitian 51 (2) (3) 76461668. mimbar akademik melindungi dan mempertahankan kekayaan intelektual. mengembangkan. atau unit organisasi di dalam perguruan tinggi. seni. sosial. Pasal 92 (1) Sivitas akademika perguruan tinggi mengembangkan ilmu pengetahuan. Pelaksanaan otonomi keilmuan di perguruan tinggi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) diatur lebih lanjut oleh perguruan tinggi dalam anggaran rumah tangga perguruan tinggi. Paragraf 6 Penelitian Pasal 93 (1) Universitas. dan/atau olah raga dengan berpedoman pada otonomi keilmuan. teknologi. dan taat etika. penelitian terapan. (7) Kebebasan akademik dan kebebasan dimanfaatkan oleh perguruan tinggi untuk: a. mengungkapkan. seni.

dan diuji secara tertutup di hadapan sekurang-kurangnya 3 (tiga) dosen penguji. (4) Kegiatan penelitian sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (3) dilaksanakan dengan mematuhi kaidah dan etika akademik sesuai dengan prinsip otonomi keilmuan. prinsip. b. seni. disetujui dosen pembimbing. seni. b. dan/atau olah raga. apabila dilakukan oleh mahasiswa untuk memenuhi persyaratan lulus program doktor. Penelitian sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) dilaksanakan untuk: a. teknologi. konsep. apabila dilakukan oleh mahasiswa untuk memenuhi persyaratan lulus program magister. diuji secara tertutup dan terbuka di hadapan sekurang-kurangnya 5 (lima) penguji. apabila dilakukan oleh mahasiswa untuk memenuhi persyaratan lulus program sarjana. metode. Penelitian sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilaksanakan dengan memenuhi standar penjaminan mutu sebagai berikut: a. dan/atau model yang sudah menjadi kandungan ilmu pengetahuan. dan/atau menguji ulang teori. diseminarkan dan dipublikasikan pada jurnal ilmiah dalam negeri berakreditasi atau jurnal internasional yang diakui Departemen. prosedur.doc 52 . dan d. c. (5) (6) Sekurang-kurangnya 1 (satu) dosen penguji sebagaimana dimaksud pada ayat (5) huruf b berasal dari program studi terkait berakreditasi sekurang-kurangnya B dari perguruan tinggi lain. (7) Sekurang-kurangnya 1 (satu) dosen penguji sebagaimana dimaksud pada ayat (5) huruf c berasal dari program studi terkait berakreditasi A dari perguruan tinggi lain. apabila dilakukan oleh dosen untuk memenuhi dharma penelitian. disetujui dosen pembimbing. (2) (3) Dosen pada akademi dan politeknik wajib melaksanakan penelitian terapan dan/atau penelitian pengembangan. mencari dan/atau menemukan kebaruan kandungan ilmu pengetahuan. teknologi.pengembangan. dan/atau olah raga. (8) Penelitian sebagaimana dimaksud pada ayat (5) huruf b dan huruf c dipublikasikan pada jurnal ilmiah dalam negeri 76461668. disetujui dosen pembimbing.

(10) Hasil penelitian sebagaimana dimaksud pada ayat (2) diseminarkan dan dipublikasikan pada jurnal terakreditasi yang diakui Departemen. fakultas. program studi. (13) Prosedur penjaminan mutu penelitian perguruan tinggi diatur dalam anggaran rumah tangga perguruan tinggi. Perpustakaan Nasional. (11) Hasil penelitian perguruan tinggi diakui sebagai penemuan baru setelah dimuat dalam jurnal ilmiah terakreditasi yang diakui Departemen dan/atau mendapatkan hak kekayaan intelektual. atau pusat studi dapat menerbitkan jurnal ilmiah.berakreditasi atau jurnal internasional yang diakui Departemen selambat-lambatnya 1 (satu) tahun setelah mahasiswa yang bersangkutan dinyatakan lulus dari program studi.doc . Pasal 94 (1) (2) Perguruan tinggi. (12) Hasil penelitian perguruan tinggi yang dilaksanakan oleh dosen dimanfaatkan untuk memperkaya materi pembelajaran mata kuliah yang relevan. (3) Penelitian sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dapat berupa penelitian empirik maupun penelitian pustaka. mahasiswa yang bersangkutan mengikutsertakan dosen pembimbing sebagai penulis pendamping. (9) Dalam mempublikasikan pada jurnal ilmiah sebagaimana dimaksud pada ayat (5) huruf b dan huruf c. (4) Sekurang-kurangnya 60% (enam puluh persen) dari artikel hasil penelitian sebagaimana dimaksud pada ayat (2) merupakan hasil penelitian empirik. dan perpustakaan Departemen. Jurnal ilmiah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diterbitkan secara tercetak dan secara elektronik melalui jejaring teknologi 53 (5) (6) (7) 76461668. apabila dilakukan oleh dosen untuk memenuhi dharma penelitian. Jurnal ilmiah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat diterbitkan dalam bahasa resmi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Jurnal ilmiah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) memuat artikel hasil penelitian. masing-masing sekurang-kurangnya 2 (dua) eksemplar. Setiap terbitan jurnal ilmiah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dikirimkan kepada pusat dokumentasi ilmiah pada Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia.

informasi dan komunikasi Departemen. dan d. (8) Departemen mengakreditasi jurnal ilmiah sebagaimana dimaksud pada ayat (1). dan masyarakat. pemodernan.doc . Hasil pengabdian kepada masyarakat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) sampai dengan ayat (4) dimanfaatkan untuk pengayaan pembelajaran yang relevan. pemberdayaan pengembangan dosen. (4) Pengabdian kepada masyarakat sebagaimana dimaksud pada ayat (1). kreatifitas. dan masyarakat. atau pemadanian kehidupan masyarakat. pemberdayaan masyarakat yang merangsang tumbuhnya kemandirian. pemberdayaan pengembangan dosen. serta toleransi sosial dan budaya bagi mahasiswa. dan ayat (3) merupakan penerapan hasil pendidikan dan/atau hasil penelitian dalam upaya pemberdayaan. keteladanan. baik secara individual maupun berkelompok. dosen. (3) Pelaksanaan kegiatan pengabdian kepada masyarakat sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dilaksanakan oleh dosen dan mahasiswa. ayat (2). pemberdayaan masyarakat yang mendorong kemampuan bekerja sama dalam tim bagi mahasiswa. dosen. Ketentuan lebih lanjut mengenai pelaksanaan pengabdian 54 (5) (6) 76461668. kepekaan dan kepedulian sosial dan budaya. masyarakat yang berdampak pada jiwa kepemimpinan mahasiswa dan masyarakat yang berdampak pada jiwa kewirausahaan mahasiswa dan c. Paragraf 7 Pengabdian kepada Masyarakat Pasal 95 (1) (2) Perguruan tinggi wajib melaksanakan pengabdian kepada masyarakat. Pengabdian kepada masyarakat diselenggarakan dan dilaksanakan berbasis pada dharma pendidikan dan penelitian atas dasar prinsip: a. b.

(2) Sistem penjaminan mutu sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilaksanakan melalui: a. ujian. keterlibatan dosen dari perguruan tinggi lain dalam ujian tesis program magister dan disertasi program doktor sebagaimana dimaksud dalam Pasal 93. Pasal 98 (1) Departemen mengembangkan suatu sistem penjaminan mutu hasil belajar program studi perguruan tinggi secara nasional. program sarjana. 76461668. b. penilaian tugas terstruktur dan mandiri. Paragraf 9 Penjaminan Mutu Hasil Belajar Pasal 97 (1) Penilaian hasil belajar mahasiswa dilakukan secara berkala melalui penilaian proses belajar.kepada masyarakat perguruan tinggi. diatur dalam Paragraf 8 anggaran rumah tangga Pengalihan Kredit Pasal 96 (1) Perguruan tinggi dapat mengakui hasil belajar yang diperoleh mahasiswa pada perguruan tinggi lain atau satuan/program pendidikan nonformal untuk memenuhi persyaratan kelulusan program studi. Pelaksanaan ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dalam anggaran rumah tangga perguruan tinggi. Penilaian hasil objektif. evaluasi berkala atas pencapaian kompetensi mahasiswa program diploma.doc 55 . dan jujur. dan program magister yang tidak mensyaratkan tesis sebagaimana dimaksud pada huruf a. transparan. belajar dilaksanakan secara (2) (2) (3) Ketentuan lebih lanjut mengenai pelaksanaan ayat (1) dan ayat (2) diatur dalam anggaran rumah tangga perguruan tinggi. dan/atau bentuk penilaian lainnya.

Paragraf 10 Gelar Lulusan Pendidikan Tinggi Pasal 81 76461668. diterapkan pada berakreditasi kurang dari B. ditetapkan oleh organisasi profesi. dilaksanakan atas dasar sampel. dilaksanakan oleh penelaah sejawat. Persyaratan kelulusan untuk pendidikan profesi ditetapkan dengan cara: a. b.doc 56 . d. hasil evaluasi digunakan oleh Departemen untuk menetapkan hak menyelenggarakan ujian secara mandiri. (2) (3) Penetapan persyaratan kelulusan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) diatur oleh perguruan tinggi yang bersangkutan. April 2008 (5) ==============================28 ================ Pasal 99 (1) Persyaratan kelulusan untuk pendidikan akademik dan pendidikan vokasi diatur oleh masing-masing perguruan tinggi. ditetapkan oleh perguruan tinggi bersama-sama dengan organisasi profesi. (4) Penelaah sejawat sebagaimana dimaksud pada ayat (3) huruf d berasal dari program studi sejenis berakreditasi sekurangkurangnya B dari perguruan tinggi lain. e.(3) Evaluasi berkala sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf b dilaksanakan sebagai berikut: a. Ketentuan lebih lanjut mengenai pelaksanaan evaluasi berkala diatur dalam peraturan Menteri. c. diterapkan pada soal ujian dan jawaban ujian mata kuliah inti program studi. program studi yang b. ditetapkan oleh perguruan tinggi setelah memperhatikan pertimbangan dari organisasi profesi. atau c.

(4) Gelar untuk lulusan pendidikan profesi adalah Spesialis dengan mencantumkan singkatan Sp. (5) Ketentuan lebih lanjut mengenai gelar. b. ahli madya. doktor. diikuti dengan inisial program studi atau bidang ilmu.doc .P diikuti dengan inisial program studi atau bidang ilmu. ditulis di belakang nama yang berhak dengan mencantumkan singkatan A. diikuti dengan inisial program studi atau bidang ilmu. singkatan. ditulis di belakang nama yang berhak dengan mencantumkan huruf M.(1) Lulusan pendidikan akademik.Md diikuti dengan inisial program studi atau bidang ilmu. vokasi. gelar vokasi. ditulis di belakang nama yang berhak dengan mencantumkan singkatan SST diikuti dengan inisial program studi atau bidang ilmu. magister. ahli pratama. ahli muda. Pasal 82 (1). dan c. ditulis di belakang nama yang berhak dengan mencantumkan huruf S. vokasi. ditulis di depan nama mencantumkan singkatan Dr. Gelar akademik. untuk lulusan program diploma I. atau profesi berhak untuk menggunakan gelar akademik. ditulis di belakang nama yang berhak dengan mencantumkan singkatan A. diikuti dengan inisial program studi atau bidang keahlian khusus. dan inisial program studi atau bidang ilmu sebagaimana dimaksud pada ayat (2). 57 76461668. dan d.Ma diikuti dengan inisial program studi atau bidang ilmu. (2) Gelar untuk lulusan pendidikan akademik terdiri atas: a. dan profesi hanya boleh diberikan oleh perguruan tinggi yang memenuhi persyaratan pendirian dan dinyatakan berhak menyelenggarakan program pendidikan yang relevan. dan ayat (4) diatur dengan Peraturan Menteri. ditulis di belakang nama yang berhak dengan mencantumkan singkatan A. sarjana sains terapan. untuk lulusan program diploma III. atau gelar profesi. c. b. untuk program diploma IV. ayat (3). untuk lulusan program diploma II. sarjana. yang berhak dengan (3) Gelar untuk pendidikan vokasi terdiri atas: a.

Pemberian gelar doktor kehormatan ditetapkan oleh senat akademik perguruan tinggi. kemasyarakatan. Pasal 83 (3). dan penempatan gelar lulusan perguruan tinggi luar negeri tetap menggunakan gelar sesuai dengan jenis. atau vokasi didasarkan atas bidang keahlian dan dicantumkan dalam ijazah yang diberikan kepada lulusan perguruan tinggi. Bidang keahlian sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditentukan berdasarkan bidang studi atau kelompok bidang studi. Gelar doktor kehormatan hanya dapat diberikan oleh perguruan tinggi yang berwenang menyelenggarakan program doktor terakreditasi dalam bidang ilmu terkait. Penetapan jenis gelar akademik. Ketentuan tentang pemberian dan pengukuhan gelar doktor kehormatan diatur oleh senat akademik perguruan tinggi masing-masing. teknologi. dan penempatan yang berlaku di negara asal. singkatan. keagamaan. atau seni dan digunakan dengan mencantumkan atau menuliskan Dr (HC) di depan nama pemilik serta hanya dipergunakan dalam upacara akademik. singkatan. profesi. (1) Pencantuman jenis.(2). Pasal 84 (2) (1) Gelar doktor kehormatan (doctor honoris causa) diberikan kepada seseorang yang telah berjasa luar biasa bagi ilmu pengetahuan. (2) (3) (4) 76461668. Menteri atau Menteri Agama sesuai kewenangan masing-masing menetapkan kesetaraan ijazah perguruan tinggi luar negeri dengan ijazah dan gelar perguruan tinggi Indonesia yang memenuhi Standar Nasional Pendidikan.doc 58 . kebudayaan.

c. kesesuaian penyelenggaraan pendidikan Standar Nasional Pendidikan. Mutu sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) dijamin dengan memperhatikan: a. dan kebutuhan tinggi dan (2) (3) dengan d.doc 59 . (4) Keberhasilan penjaminan mutu diukur dengan akreditasi yang menentukan kelayakan program dan/atau satuan pendidikan tinggi. (6) Akreditasi wajib bagi setiap program studi dan/atau satuan pendidikan tinggi yang dilaksanakan oleh Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi atau lembaga mandiri lain yang memenuhi persyaratan. ketanggapan perguruan tinggi terhadap aspirasi pihak-pihak yang berkepentingan. BAB IV PENYELENGGARAAN PENDIDIKAN NONFORMAL Bagian Kesatu Fungsi dan Tujuan 76461668. (5) Kelayakan sebagaimana dimaksud pada ayat (4) diukur atas dasar mutu sebagaimana dimaksud pada ayat (3). Penjaminan mutu dilakukan secara berkelanjutan oleh perguruan itu sendiri dan dapat dibantu oleh lembaga lain. misi. dan tujuan perguruan tinggi secara nyata.Bagian Kelima Penjaminan Mutu Pasal 85 (1) Penjaminan mutu dilakukan oleh setiap perguruan tinggi untuk memenuhi Standar Nasional Pendidikan jenjang pendidikan tinggi secara konsisten dan berkelanjutan sebagai wujud akuntabilitas publik perguruan tinggi kepada para pemangku kepentingan. pelaksanaan visi. kesesuaian penyelenggaraan pendidikan tinggi dengan standar mutu internasional. bagi perguruan tinggi yang memiliki komitmen untuk bertaraf internasional. b.

lembaga kursus. keterampilan. kelompok belajar. c. dan kompetensi untuk bekerja dalam bidang tertentu. serta pengembangan sikap dan kepribadian profesional dalam rangka mendukung pendidikan sepanjang hayat. sikap dan kecakapan hidup untuk mengembangkan diri. majelis taklim. d. sikap wirausaha. (2) Paragraf 1 Lembaga Kursus dan Lembaga Pelatihan Pasal 88 (1) Lembaga kursus dan lembaga pelatihan menyelenggarakan pendidikan bagi warga masyarakat yang memerlukan bekal pengetahuan. Bagian Kedua Bentuk Satuan Pendidikan Pasal 87 Satuan pendidikan nonformal berbentuk: a. dan/atau pelengkap pendidikan formal bagi warga masyarakat yang memerlukan layanan pendidikan untuk mengembangkan potensinya dengan penekanan pada penguasaan pengetahuan dan keterampilan fungsional. b.doc . kelompok bermain (KB). e. f. mengembangkan profesi. h. keterampilan.Pasal 86 (1) Pendidikan nonformal berfungsi sebagai pengganti. penambah. taman penitipan anak (TPA). berusaha mandiri dan/atau melanjutkan pendidikan ke tingkat 60 76461668. pusat kegiatan belajar masyarakat. g. dan/atau melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi dalam rangka mewujudkan tujuan pendidikan nasional. lembaga pelatihan. atau satuan pendidikan lain yang sejenis. Pendidikan nonformal bertujuan untuk membentuk manusia yang memiliki kecakapan hidup. bekerja.

bekerja dan/atau melanjutkan ke tingkat pendidikan yang lebih tinggi. bekerja dan/atau melanjutkan ke tingkat pendidikan yang lebih tinggi. (2) (2) (3) Majelis taklim sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diselenggarakan sesuai dengan peraturan perundang-undangan.doc 61 . (2) Peserta didik pada kelompok belajar adalah warga masyarakat yang belajar untuk mengembangkan diri. menjadi pekerja/buruh dan/atau melanjutkan pendidikan ke tingkat yang lebih tinggi. (2) Peserta didik pada lembaga kursus dan lembaga pelatihan adalah warga masyarakat yang memerlukan bekal untuk mengembangkan diri. Paragraf 4 Majelis Taklim Pasal 91 (1) Majelis taklim menyelenggarakan pembelajaran agama Islam untuk memenuhi berbagai kebutuhan belajar masyarakat pada jalur pendidikan nonformal. dan berazaskan prinsip dari. dan untuk masyarakat. oleh. Peserta didik pada majelis taklim adalah masyarakat muslim yang ingin belajar dan mendalami ajaran Islam dan untuk meningkatkan keimanan dan ketakwaan. 76461668. Paragraf 2 Kelompok Belajar Pasal 89 (1) Kelompok belajar menyelenggarakan kegiatan untuk menampung dan memenuhi kebutuhan belajar sekelompok warga masyarakat yang belajar melalui jalur pendidikan nonformal.yang lebih tinggi. Paragraf 3 Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat Pasal 90 (1) Pusat kegiatan belajar masyarakat memfasilitasi penyelenggaraan berbagai program pendidikan nonformal untuk mewujudkan masyarakat gemar belajar dalam rangka mengakomodasi kebutuhannya akan pendidikan sepanjang hayat. Peserta didik pada pusat kegiatan belajar masyarakat adalah warga masyarakat yang belajar untuk mengembangkan diri.

berusaha dan/atau hidup mandiri. Pendidikan kecakapan hidup berfungsi meningkatkan 62 (2) 76461668. kecakapan sosial. g. (2) Peserta didik TPA atau bentuk lain yang sederajat berusia sejak lahir sampai dengan berusia 6 (enam) tahun. c. pendidikan kepemudaan. h. d. kelompok bermain (KB). f. pendidikan anak usia dini. pendidikan kesetaraan. Bagian Ketiga Program Pendidikan Pasal 93 Program pendidikan nonformal meliputi : a.Paragraf 5 Taman Penitipan Anak dan Kelompok Bermain Pasal 92 (1) Satuan pendidikan anak usia dini jalur nonformal berbentuk taman penitipan anak (TPA). Paragraf 1 Pendidikan Kecakapan Hidup Pasal 94 (1) Pendidikan kecakapan hidup merupakan pendidikan yang memberikan kecakapan personal. pendidikan keaksaraan. pendidikan kecakapan hidup. pendidikan pemberdayaan perempuan. kecakapan intelektual. (3) Peserta didik KB atau bentuk lain yang sederajat berusia 2 (dua) tahun sampai dengan 4 (empat) tahun. b. dan kecakapan vokasional untuk bekerja.doc . pendidikan keterampilan dan pelatihan kerja. serta pendidikan lainnya. e. atau bentuk lain yang sejenis.

Paragraf 3 Pendidikan Kepemudaan 76461668. (3) Pendidikan kecakapan hidup dapat dilaksanakan secara terintegrasi dengan program-program pendidikan nonformal lainnya dan/atau tersendiri.kecakapan personal. sosial budaya. (5) Pengembangan program pembelajaran sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus mengintegrasikan kebutuhan peserta didik terhadap kesehatan. berusaha dan/atau hidup mandiri. Paragraf 2 Pendidikan Anak Usia Dini Pasal 95 (1) Pendidikan anak usia dini jalur nonformal merupakan seperangkat program pembelajaran yang dilaksanakan secara fleksibel berdasarkan tahap perkembangan anak.doc (4) 63 . serta kondisi dan kebutuhan masyarakat setempat. dan kemampuan masing-masing peserta didik. dan stimulasi psikososial. kecakapan intelektual dan kecakapan vokasional untuk menyiapkan peserta didik agar mampu bekerja. (3) Program pembelajaran sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilaksanakan secara terpadu dengan memperhatikan kebutuhan dan kepentingan terbaik anak serta memperhatikan kecerdasan anak. minat. kecakapan sosial. dan perkembangan anak. (2) Program pembelajaran sebagaimana dimaksud pada ayat (1) bagi peserta didik yang berusia 1 (satu) sampai 6 (enam) tahun diselenggarakan dengan mengupayakan kesiapan belajar peserta didik untuk memasuki pendidikan dasar. usia. Pengembangan program pembelajaran sebagaimana dimaksud pada ayat (1) didasarkan pada prinsip bermain sambil belajar dan belajar seraya bermain dengan memperhatikan perbedaan bakat. (7) Pengelompokan peserta didik untuk program pendidikan pada PAUD jalur nonformal disesuaikan dengan kebutuhan. (6) Penyelenggaraan program pendidikan pada PAUD jalur nonformal dapat diintegrasikan dengan progam layanan lain yang sudah berkembang di masyarakat sebagai upaya untuk memperluas layanan PAUD kepada seluruh lapisan masyarakat. termasuk kesejahteraannya. gizi.

Paragraf 4 Pendidikan Pemberdayaan Perempuan Pasal 97 (1) Pendidikan pemberdayaan perempuan merupakan pendidikan untuk mengangkat harkat dan martabat perempuan. seni dan budaya. kepemimpinan. ilmu pengetahuan dan teknologi. kepeloporan. dan estetika perempuan agar mampu memperoleh hak dasar kehidupan yang setara dan adil gender dalam kehidupan berkeluarga. harkat. kedudukan. kebangsaan. bermasyarakat. dan martabat b. pecinta alam dan lingkungan hidup. estetika.doc terhadap pelanggaran hak-hak dasar 64 . wawasan. Pendidikan kepemudaan mencakup berbagai bentuk pendidikan dan pelatihan di bidang keagamaan. Pendidikan kepemudaan berfungsi mengembangkan potensi pemuda dengan penekanan pada penguatan nilai keimanan dan ketaqwaan. sikap kewirausahaan. wawasan kebangsaan. dan c. etika dan kepribadian. dan kewirausahaan. kepeloporan. palang merah. kesehatan dan keolahragaan. pencegahan perempuan. (2) (3) (4) (2) Pendidikan pemberdayaan perempuan berfungsi meningkatkan kemampuan perempuan dalam pengembangan potensi diri. kepanduan/kepramukaan. Peserta didik pendidikan kepemudaan adalah warga masyarakat yang berusia antara 18 (delapan belas) sampai dengan 35 (tiga puluh lima) tahun. nilai. serta kecakapan hidup bagi pemuda sebagai kader pemimpin bangsa. peningkatan akses dan partisipasi perempuan terhadap pendidikan. kecakapan hidup. 76461668. sikap. ilmu pengetahuan dan teknologi. peningkatan perempuan. berbangsa dan bernegara. etika dan kepribadian. organisasi pemuda. (3) Pendidikan pemberdayaan perempuan bertujuan untuk: a.Pasal 96 (1) Pendidikan kepemudaan merupakan pendidikan yang diselenggarakan untuk mempersiapkan kader pemimpin bangsa.

menulis. (3) Ketentuan mengenai pendidikan keterampilan dan pelatihan 65 76461668. berhitung. menulis. Paragraf 5 Pendidikan Keaksaraan Pasal 98 (1) Pendidikan keaksaraan merupakan pendidikan bagi warga masyarakat yang buta aksara latin agar mereka dapat membaca. (2) (3) Peserta didik pendidikan keaksaraan adalah warga masyarakat usia 15 (lima belas) tahun ke atas yang belum dapat membaca. terintegrasi dengan Paragraf 6 Pendidikan Keterampilan dan Pelatihan Kerja Pasal 99 (1) Pendidikan keterampilan dan pelatihan kerja dilaksanakan untuk meningkatkan kemampuan peserta didik dengan penekanan pada penguasaan keterampilan fungsional yang sesuai kebutuhan dunia kerja atau kebutuhannya untuk menjadi manusia produktif. (2) Pendidikan keterampilan dan pelatihan kerja berfungsi untuk meningkatkan dan mengembangkan kemampuan peserta didik dengan penekanan pada penguasaan keterampilan fungsional serta pengembangan sikap dan kepribadian profesional sesuai dengan kebutuhan dunia kerja atau kebutuhannya untuk menjadi manusia produktif. Pendidikan keaksaraan berfungsi memberikan kemampuan dasar membaca. berbahasa Indonesia dan berpengetahuan dasar untuk meningkatkan kualitas hidupnya. yang dapat dimanfaatkan dalam kehidupan sehari-hari. berhitung dan/atau berkomunikasi dalam bahasa Indonesia. berhitung dan berkomunikasi dalam bahasa Indonesia kepada peserta didik.(4) Ketentuan lebih lanjut mengenai pendidikan pemberdayaan perempuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) diatur dengan Peraturan Menteri. menulis. (4) Pendidikan keaksaraan dilaksanakan pendidikan kecakapan hidup.doc .

Peserta didik program Paket A merupakan anggota masyarakat yang berminat menempuh pendidikan setara SD/MI. Peserta didik program Paket B merupakan anggota masyarakat yang telah lulus program Paket A atau SD/MI yang berminat menempuh pendidikan setara SMP/MTs.kerja untuk memperoleh.doc 66 . Paragraf 7 Pendidikan Kesetaraan Pasal 100 (1) Pendidikan kesetaraan merupakan program pendidikan nonformal yang menyelenggarakan pendidikan umum setara SD/MI. (3) Program Paket A berfungsi memberikan pendidikan umum setara SD/MI. terintegrasi dengan (4) (5) (6) (7) (8) (9) Pendidikan kesetaraan dilaksanakan pendidikan kecakapan hidup. SMP/MTs. dan SMA/MA yang mencakup program Paket A. dan Paket C. yang menekankan pada pengetahuan dan keterampilan fungsional serta sikap dan kepribadian profesional. Peserta didik program Paket C merupakan anggota masyarakat yang telah lulus program Paket B atau SMP/MTs yang berminat menempuh pendidikan setara SMA/MA. yang menekankan pada pengetahuan dan keterampilan fungsional serta sikap dan kepribadian profesional. meningkatkan dan/atau mengembangkan kompetensi tenaga kerja dilaksanakan sesuai dengan peraturan perundang-undangan. yang menekankan pada pengetahuan dan keterampilan fungsional serta sikap dan kepribadian profesional. Program Paket B berfungsi memberikan pendidikan umum setara SMP/MTs. kesetaraan berfungsi sebagai dasar dan menengah pada layanan jenjang jalur pendidikan (2) Pendidikan pendidikan nonformal. Program Paket C berfungsi memberikan pendidikan umum setara SMA/MA. Bagian Ketiga (keempat) Penyetaraan Hasil Pendidikan Pasal 101 76461668. Paket B.

(2) Pendidikan informal mencakup pendidikan yang dilakukan oleh keluarga atau lingkungan berbentuk kegiatan belajar secara mandiri. serta meningkatkan pengetahuan dan keterampilan peserta didik dalam rangka mencapai tujuan pendidikan nasional dan tujuan pendirian Negara Kesatuan Republik Indonesia. dan/atau perseorangan yang dilibatkan dalam proses belajar secara mandiri. anggota keluarga. (2) Proses penilaian penyetaraan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan melalui ujian sesuai yang dipersyaratkan dalam Standar Nasional Pendidikan dan dinyatakan lulus setara dengan lulusan satuan pendidikan formal. nilai moral.doc 67 . etika dan kepribadian. (3) Pengakuan hasil pendidikan nonformal dalam bidang tertentu sebagai pengganti mata pelajaran/mata kuliah dilakukan melalui penilaian terhadap bukti penguasaan kompetensi tertentu yang diperoleh dari lembaga pendidikan nonformal. dan tes penempatan dan/atau penilaian portofolio sebagaimana dimaksud pada ayat (4) diatur dengan Peraturan Menteri. (5) Ketentuan lebih lanjut mengenai penilaian penyetaraan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2). dengan mengacu pada Standar Nasional Pendidikan. 76461668. hasil pendidikan nonformal diakui sama dengan hasil satuan atau program pendidikan formal melalui tes penempatan dan/atau penilaian portofolio oleh satuan pendidikan formal yang bersangkutan. BAB V PENYELENGGARAAN PENDIDIKAN INFORMAL Pasal 102 (1) Pendidikan informal bertujuan memberikan keyakinan agama.(1) Hasil pendidikan nonformal dapat dihargai setara dengan hasil satuan atau program pendidikan formal setelah melalui proses penilaian penyetaraan oleh lembaga yang ditunjuk oleh Pemerintah atau pemerintah daerah. (3) Pendidikan yang dilakukan oleh keluarga mencakup pendidikan yang dilakukan oleh orang tua. estetika. menanamkan nilai budaya. pengakuan hasil pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (3). (4) Untuk penempatan pada tingkat dalam satuan pendidikan.

(3) Untuk penempatan pada tingkat dalam satuan pendidikan formal atau nonformal. 76461668. lingkungan sosial.doc 68 . Pemerintah dapat melarang penyampaian informasi atau hiburan sebagaimana dimaksud pada ayat (5) yang tidak sesuai dengan tujuan pendidikan nasional dan/atau tujuan pendirian Negara Kesatuan Republik Indonesia. dengan mengacu pada Standar Nasional Pendidikan. atau lingkungan alam. anggota masyarakat. (2) Pendidik pada pendidikan informal terdiri dari anggota keluarga. dan lain-lain pendidikan yang tidak termasuk dalam jalur formal dan nonformal. (7) Pasal 103 (1) Peserta didik pada pendidikan informal adalah setiap warga masyarakat. pendidikan sosial dan budaya melalui interaksi dengan masyarakat. pendidikan masyarakat melalui berbagai kegiatan hiburan. hasil pendidikan informal diakui sama melalui tes penempatan dan/atau penilaian portofolio oleh satuan pendidikan formal atau nonformal yang bersangkutan. dengan mengacu pada Standar Nasional Pendidikan. dan/atau masyarakat. (2) Hasil pendidikan informal dapat diakui sama dengan hasil pendidikan nonformal setelah lulus ujian atau uji kompetensi pada satuan pendidikan nonformal atau lembaga yang ditunjuk oleh Pemerintah atau pemerintah daerah. (3) Penyelenggaraan pembelajaran pendidikan informal menjadi tanggung jawab setiap orang. pendidikan oleh media massa. Pasal 104 (1) Hasil pendidikan informal dapat diakui sama dengan hasil pendidikan formal setelah lulus ujian pada satuan pendidikan formal atau lembaga yang ditunjuk oleh Pemerintah atau pemerintah daerah. keluarga. pendidikan alam melalui interaksi dengan alam. (5) Pendidikan informal dilaksanakan secara bertanggung jawab. (6) Penyampaian informasi atau hiburan oleh media masa atau pihak lain kepada masyarakat harus secara serius mempertimbangkan implikasi pendidikannya.(4) Pendidikan yang dilakukan oleh lingkungan mencakup pendidikan yang dilakukan oleh masyarakat adat.

Pasal 105 (1) Peserta didik pendidikan informal dapat mengajukan uji kompetensi untuk menentukan tingkat pendidikan pada satuan atau program pendidikan formal atau nonformal yang terakreditasi. Pasal 107 (1) Pendidikan jarak jauh dapat diselenggarakan pada semua jalur. serta tes penempatan dan/atau penilaian portofolio sebagaimana dimaksud pada ayat (3) diatur dengan Peraturan Menteri.(4) Pengakuan sama terhadap hasil pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) digunakan untuk menentukan: a. b. Hasil uji kompetensi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) digunakan untuk penempatan sebagai peserta didik pada tingkat satuan atau program pendidikan formal atau nonformal yang bersangkutan. jenjang. dan berbasis teknologi pendidikan. 76461668. (5) Ketentuan lebih lanjut mengenai ujian atau uji kompetensi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2). status peserta didik pada satuan pendidikan formal atau nonformal tertentu yang dapat dijadikan dasar untuk melanjutkan pendidikan ke tingkat atau jenjang pada satuan atau program pendidikan yang lebih tinggi. belajar mandiri. BAB VI PENYELENGGARAAN PENDIDIKAN JARAK JAUH Pasal 106 (1) Pendidikan jarak jauh berfungsi memberikan layanan pendidikan kepada kelompok masyarakat yang tidak dapat mengikuti pendidikan secara tatap muka atau reguler. Pendidikan jarak jauh mempunyai karakteristik terbuka. Pendidikan jarak jauh bertujuan meningkatkan dan memeratakan akses masyarakat terhadap pendidikan. belajar tuntas.doc (2) (2) (3) 69 . dan kesesuaian persyaratan pada bidang pekerjaan tertentu. dan jenis pendidikan. serta meningkatkan mutu dan relevansi pendidikan secara lebih efisien.

belajar secara mandiri. Pasal 108 (1) (2) Pengorganisasian pendidikan jarak jauh dapat diselenggarakan dalam modus tunggal. terstruktur. Pasal 109 (1) Pendidikan jarak jauh dapat diselenggarakan dengan cakupan pendidikan berbasis mata pelajaran. cakupan. Pengorganisasian modus ganda sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berbentuk satuan pendidikan yang menyelenggarakan program pendidikan baik secara tatap muka maupun jarak jauh. Cakupan pendidikan berbasis mata pelajaran sebagaimana dimaksud pada ayat (1) terbatas untuk 1 (satu) atau beberapa mata pelajaran atau mata kuliah. program studi/pendidikan.doc 70 . (3) (4) (5) Struktur organisasi satuan pendidikan jarak jauh ditentukan berdasarkan modus. atau konsorsium. dan ujian. ganda. dan sistem operasional yang diterapkan. tutorial. Cakupan pendidikan berbasis program studi/pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) terbatas untuk 1 (satu) program studi/pendidikan secara utuh. Cakupan pendidikan berbasis satuan pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) mencakup penyelenggaraan pendidikan (2) (3) (4) 76461668. Pengorganisasian modus konsorsium sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berbentuk jejaring penyelenggaraan pendidikan jarak jauh secara kolaboratif atau kerja sama secara lintas satuan pendidikan dengan lingkup wilayah nasional dan/atau internasional. praktik/praktikum. dan terbimbing dengan menggunakan berbagai sumber belajar berbasis teknologi informasi dan komunikasi. atau satuan pendidikan. serta layanan penyediaan dan distribusi bahan ajar dengan sistem operasional berbasis teknologi informasi dan komunikasi. Pengorganisasian pendidikan jarak jauh modus tunggal sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berbentuk satuan pendidikan yang menyelenggarakan program pendidikan hanya secara jarak jauh.(2) Penyelenggaraan pendidikan jarak jauh sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilaksanakan secara terpisah dari pendidik secara spasial. registrasi. (3) Pendidikan jarak jauh memberikan layanan administrasi.

dan media lain serta sesuai dengan Standar Nasional Pendidikan dan standar keamanan komunikasi dan informasi. (2) Penyelenggara satuan pendidikan jarak jauh berkewajiban untuk secara mandiri mengembangkan sistem operasional dengan dukungan jaringan radio. Pasal 110 (1) Sarana dan prasarana pendidikan pada satuan pendidikan jarak jauh harus berbasis teknologi komunikasi.jarak jauh secara utuh pada 1 (satu) satuan pendidikan. 76461668. Pasal 111 (3) (1) Pendidikan jarak jauh dilaksanakan dengan mengacu pada Standar Nasional Pendidikan. jaringan komputer. informasi. (3) Pengaturan lebih lanjut tentang penyelenggaraan pendidikan jarak jauh diatur dengan Peraturan Menteri. (2)Pemerintah dan/atau pemerintah daerah memfasilitasi penyelenggaraan pendidikan jarak jauh dalam rangka penuntasan wajib belajar dan program pembangunan pendidikan sesuai kebutuhan daerah.doc 71 . dan/atau jaringan komunikasi dan informasi lainnya. jaringan TV. Izin penyiaran radio/TV untuk penyelenggaraan pendidikan jarak jauh diberikan oleh menteri yang menangani urusan pemerintahan di bidang penyiaran atas usul Menteri.

mental. jenjang. (2) Penyelenggaraan pendidikan khusus dapat dilakukan melalui 76461668. dan/atau mengalami bencana alam. dan/atau sosial. intelektual. dan tidak mampu dari segi ekonomi. Pasal 113 Pendidikan layanan khusus merupakan pendidikan bagi peserta didik di daerah terpencil atau terbelakang.BAB VII PENYELENGGARAAN PENDIDIKAN KHUSUS DAN PENDIDIKAN LAYANAN KHUSUS Bagian Kesatu Umum Pasal 112 Pendidikan khusus merupakan pendidikan bagi peserta didik yang memiliki tingkat kesulitan dalam mengikuti proses pembelajaran karena kelainan fisik. (2) Pendidikan khusus bagi peserta didik berkelainan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) bertujuan untuk mengembangkan potensi peserta didik seoptimal mungkin dalam rangka mencapai tujuan pendidikan nasional. intelektual. dan jenis pendidikan. bencana sosial. masyarakat adat yang terpencil. serta memiliki potensi kecerdasan dan/atau bakat istimewa. Bagian Kedua Pendidikan Khusus Paragraf 1 Pendidikan Khusus bagi Peserta Didik Berkelainan Pasal 114 (1) Pendidikan khusus bagi peserta didik berkelainan berfungsi memberikan pelayanan pendidikan khusus bagi peserta didik yang memiliki tingkat kesulitan dalam mengikuti proses pembelajaran karena kelainan fisik. mental. Pasal 115 (1) Pendidikan khusus bagi peserta didik berkelainan dapat diselenggarakan pada semua jalur. emosional. emosional.doc 72 . sosial.

satuan pendidikan khusus, program pendidikan terpadu, atau program pendidikan inklusi. (3) Ketentuan lebih lanjut mengenai program pendidikan terpadu dan program pendidikan inklusi sebagaimana dimaksud pada ayat (2) diatur dengan Peraturan Menteri. Pasal 116 (6) Pemerintah menyelenggarakan sekurang-kurangnya 1 (satu) satuan pendidikan khusus untuk setiap jenis kelainan yang digunakan sebagai model ideal pendidikan khusus bagi peserta didik yang berkelainan. (7) Pemerintah kabupaten/kota sekurangkurangnya menunjuk 1 (satu) satuan pendidikan untuk menyelenggarakan pendidikan khusus secara inklusif apabila pada kabupaten/kota tersebut belum ada satu satuan pendidikan khusus. Pasal 117 Pendidikan khusus bagi peserta didik berkelainan pada jalur formal diselenggarakan melalui satuan pendidikan anak usia dini, satuan pendidikan dasar, satuan pendidikan menengah, dan satuan pendidikan tinggi. Pasal 118 (1) Satuan pendidikan khusus bagi peserta didik berkelainan untuk pendidikan anak usia dini dapat berbentuk Taman Penitipan Anak Luar Biasa (TPALB), Kelompok Bermain Luar Biasa (KBLB), atau Taman Kanak-kanak Luar Biasa (TKLB). (2) Satuan pendidikan khusus bagi peserta didik berkelainan pada jenjang pendidikan dasar terdiri atas: a. Sekolah Dasar Luar Biasa (SDLB), Madrasah Ibtidaiyah Luar Biasa (MILB), atau bentuk lain yang sederajat; b. Sekolah Menengah Pertama Luar Biasa (SMPLB), Madrasah Tsanawiyah Luar Biasa (MTsLB), atau bentuk lain yang sederajat. (3) Satuan pendidikan khusus bagi peserta didik berkelainan pada jenjang pendidikan menengah adalah Sekolah Menengah Atas Luar Biasa (SMALB), Madrasah Aliyah Luar Biasa (MALB), atau
76461668.doc

73

bentuk lain yang sederajat. (4) Penyelenggaraan satuan pendidikan khusus dapat menggunakan sistem unit. (5) Satuan pendidikan khusus untuk peserta didik berkelainan dapat menyelenggarakan pendidikan untuk 1 (satu) atau beberapa jenis peserta didik berkelainan.

Pasal 119 (1) Peserta didik pendidikan khusus bagi peserta didik berkelainan yaitu peserta didik yang memiliki kelainan fisik, emosional, mental, intelektual, dan/atau sosial. (2) Kelainan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat berupa: a. tunanetra; b. tunarungu; c. tunawicara; d. tunagrahita; e. tunadaksa; f. tunalaras; g. berkesulitan belajar; h. lamban belajar; i. autistik; j. gangguan motorik;

k. korban penyalahgunaan narkotika, obat terlarang, dan zat adiktif lainnya; dan l. kelainan lainnya.

(3) Kelainan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dapat juga berwujud gabungan dari 2 (dua) atau lebih jenis-jenis kelainan di atas yang disebut tunaganda.

Paragraf 2 Pendidikan Khusus bagi Peserta Didik yang Memiliki
76461668.doc

74

Potensi Kecerdasan dan/atau Bakat Istimewa Pasal 120 (1) Pendidikan khusus bagi peserta didik yang memiliki potensi kecerdasan dan/atau bakat istimewa berfungsi mengembangkan potensi keunggulan peserta didik menjadi prestasi nyata sesuai dengan karakteristik dan kebutuhannya, dalam rangka mencapai tujuan pendidikan nasional. (2) Pendidikan khusus bagi peserta didik yang memiliki potensi kecerdasan dan/atau bakat istimewa bertujuan: a. membentuk manusia berkualitas yang memiliki kecerdasan spiritual, emosional, sosial, dan intelektual serta memiliki ketahanan dan kebugaran fisik; b. membentuk manusia berkualitas yang kompeten dalam pengetahuan dan seni, berkeahlian dan berketerampilan, menjadi anggota masyarakat yang bertanggung jawab, serta untuk mempersiapkan peserta didik mengikuti pendidikan lebih lanjut dalam rangka mewujudkan tujuan pendidikan nasional. Pasal 121 (1) Pendidikan khusus bagi peserta didik yang memiliki potensi kecerdasan dan/atau bakat istimewa dapat diselenggarakan pada satuan pendidikan SD/MI, SMP/MTs, SMA/MA, SMK/MAK, atau bentuk lain yang sederajat. (2) Program pendidikan khusus bagi peserta didik yang memiliki potensi kecerdasan dan/atau bakat istimewa dapat berupa: a. program percepatan; b. program pengayaan; atau c. gabungan program percepatan dan program pengayaan. (3) Penyelenggaraan program pendidikan khusus bagi peserta didik yang memiliki potensi kecerdasan dan/atau bakat istimewa sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dapat dilakukan dalam bentuk: a. kelas inklusi; b. kelas khusus; c. satuan pendidikan khusus; atau d. satuan pendidikan inklusi.
76461668.doc

75

(4)

Ketentuan lebih lanjut mengenai program pendidikan khusus bagi peserta didik yang memiliki potensi kecerdasan dan/atau bakat istimewa sebagaimana dimaksud pada ayat (2) diatur dengan Peraturan Menteri. Pasal 122

Pemerintah menyelenggarakan sekurang-kurangnya 1 (satu) satuan pendidikan khusus untuk dipakai sebagai model ideal pendidikan khusus bagi peserta didik yang memiliki kecerdasan dan/atau bakat istimewa. Pasal 123 (1) Peserta didik yang memiliki potensi kecerdasan dan/atau bakat istimewa adalah peserta didik yang secara ekstrim memiliki potensi jauh di atas rata-rata dalam salah satu atau lebih kemampuan: a. b. c. d. e. akademik; seni; olahraga; kepemimpinan; dan lainnya yang relevan. (2) Penetapan peserta didik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan oleh ahli yang relevan.

Bagian Ketiga Pendidikan Layanan Khusus

Pasal 121 (1) Pendidikan layanan khusus berfungsi memberikan kesempatan untuk memperoleh pendidikan kepada peserta didik di daerah terpencil atau terbelakang, daerah perbatasan, daerah kepulauan kecil, masyarakat adat yang terpencil, dan/atau mengalami bencana alam, bencana sosial, dan tidak mampu dari segi ekonomi dalam rangka mencapai tujuan pendidikan nasional. (2) Pendidikan layanan khusus bertujuan membentuk manusia berkualitas secara spiritual, emosional, intelektual, dan fisik, hidup sehat; memperluas pengetahuan dan seni, memiliki

76461668.doc

76

Pasal 123 76461668. (2) Penyelenggaraan pendidikan layanan khusus pendidikan formal dapat dilaksanakan melalui: a.doc 77 . taman penitipan anak. c. dan bentuk satuan pendidikan nonformal lainnya. khusus pada jalur penyelenggaraan sekolah atau penyelenggaraan pendidikan jarak penyelenggaraan sekolah atau penyelenggaraan pada jalur atau sekolah (3) Penyelenggaraan pendidikan layanan pendidikan nonformal dapat berbentuk: a. kelompok belajar. dan/atau bentuk lain yang tidak bertentangan dengan ketentuan peraturan perundangan-undangan yang berlaku. satuan pendidikan kecil untuk kelompok bermain. e. kelompok belajar. g. madrasah darurat. gabungan dari 2 (dua) atau lebih dari huruf a sampai dengan huruf e. b. program tugas belajar ke daerah lain yang pelayanan pendidikannya dapat dilaksanakan secara normal. serta mempersiapkan peserta didik untuk mengikuti pendidikan lebih lanjut dalam rangka mewujudkan pendidikan nasional.keahlian dan keterampilan. kelompok belajar. dan/atau c. dan bentuk satuan pendidikan nonformal lainnya. jauh. satuan pendidikan terbuka untuk kelompok bermain. taman penitipan anak. kursus dan pelatihan. dan bentuk satuan pendidikan nonformal lainnya. b. madrasah kecil. taman penitipan anak. Pasal 122 (1) Pendidikan layanan khusus dapat diselenggarakan pada jalur pendidikan formal dan nonformal. kursus dan pelatihan. madrasah terbuka. f. kursus dan pelatihan. d. menjadi anggota masyarakat yang bertanggung jawab. satuan pendidikan darurat untuk kelompok bermain.

doc 78 . Pasal 124 daerah (3) (1) Peserta didik yang memerlukan pendidikan layanan khusus adalah: a. BAB VIII PENYELENGGARAAN PENDIDIKAN BERTARAF INTERNASIONAL DAN PENDIDIKAN BERBASIS KEUNGGULAN LOKAL Pasal 125 (1) Pemerintah dan/atau pemerintah daerah menyelenggarakan sekurang-kurangnya 1 (satu) satuan pendidikan dasar dan menengah untuk dikembangkan menjadi satuan pendidikan yang bertaraf internasional. peserta didik yang berada di daerah yang mengalami bencana alam dan/atau bencana sosial. (2)Pemerintah menunjuk atau mendirikan madrasah pada jenjang pendidikan dasar dan menengah untuk dikembangkan menjadi satuan pendidikan yang bertaraf internasional. peserta didik di daerah terpencil dan/atau terbelakang. c. d. Masyarakat membantu Pemerintah dan pemerintah dalam penyelenggaraan pendidikan layanan khusus. dan f. peserta didik yang berasal dari keluarga yang tidak mampu dari segi ekonomi.(1) (2) Pemerintah dan pemerintah pendidikan layanan khusus. (4)Dalam hal pemerintah kabupaten/kota tidak menyelenggarakan 76461668. peserta didik dalam masyarakat adat yang terpencil. e. daerah menyelenggarakan Pembagian beban pembiayaan pendidikan layanan khusus sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur lebih lanjut dalam Peraturan Menteri. (3) Pemerintah kabupaten/kota menunjuk atau mendirikan sekurangkurangnya 1 (satu) satuan pendidikan dasar dan menengah untuk dikembangkan menjadi satuan pendidikan dasar dan menengah yang bertaraf internasional. b. peserta didik di daerah kepulauan kecil. peserta didik di daerah perbatasan.

pengembangan. (6)Masyarakat dapat menyelenggarakan satuan pendidikan pada semua jenjang pendidikan untuk dikembangkan menjadi satuan pendidikan yang bertaraf internasional setelah memperoleh izin dari Pemerintah atau pemerintah kabupaten/kota sesuai kewenangannya. b.doc 79 . dan seni. dan/atau (2) (3) (4) a. Satuan pendidikan dasar dan menengah bertaraf internasional menghasilkan lulusan yang memiliki kemampuan dan daya saing di forum internasional. teknologi. teknologi. pemerintah provinsi bersama pemerintah kabupaten/kota wajib mendirikannya. dan pembangunan sumberdaya nasional. Pemerintah bersama pemerintah kabupaten/kota dan pemerintah provinsi wajib mendirikannya.satuan pendidikan dasar dan menengah untuk dikembangkan menjadi satuan pendidikan dasar dan menengah yang bertaraf internasional. serta menunjang pelestarian. lulus sertifikasi internasional yang dikeluarkan oleh negara lain yang memiliki keunggulan tertentu dalam bidang ilmu pengetahuan. c. Pengembangan dengan mengacu standar pendidikan di negara yang memiliki keunggulan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan melalui cara penyesuaian atau penambahan terhadap unsur-unsur tertentu yang sudah ada atau belum ada dalam Standar Nasional Pendidikan. (5)Dalam hal pemerintah kabupaten/kota dan pemerintah provinsi tidak menyelenggarakan satuan pendidikan dasar dan menengah untuk dikembangkan menjadi satuan pendidikan dasar dan menengah yang bertaraf internasional. diterima bekerja pada lembaga internasional atau negara lain. 76461668. Kemampuan dan daya saing lulusan di forum internasional sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditunjukkan dengan: diterima pada satuan pendidikan bertaraf internasional di dalam negeri atau satuan pendidikan di luar negeri yang terakreditasi atau yang diakui di negaranya. Pasal 126 (1) Satuan pendidikan dasar dan menengah bertaraf internasional diselenggarakan setelah memenuhi Standar Nasional Pendidikan yang diperkaya dengan standar pendidikan/standar kompetensi negara lain yang mempunyai keunggulan dalam bidang ilmu pengetahuan. dan seni.

melaksanakan kurikulum sesuai standar isi yang diperkaya dengan kurikulum negara lain yang mempunyai keunggulan tertentu dalam bidang ilmu pengetahuan. memperoleh akreditasi A dari lembaga akreditasi dalam negeri. g. mempunyai pendidik yang memiliki sertifikat pendidik dengan kualifikasi akademik magister (S2) dari perguruan tinggi terakreditasi dalam bidang kependidikan atau bidang studi yang relevan dengan mata pelajaran atau rumpun 76461668. teknologi. dan teknologi. menerapkan Sistem Kredit Semester (SKS) untuk SMP. j. memberlakukan bahasa inggris atau bahasa lain yang sering digunakan dalam forum internasional sekurangkurangnya untuk pembelajaran kelompok mata pelajaran sains. f. MTs. penilaian. memenuhi standar penilaian yang diperkaya dengan sistem penilaian pendidikan di negara lain yang mempunyai keunggulan tertentu dalam bidang ilmu pengetahuan. dan MAK. melaksanakan proses pembelajaran yang diperkaya dengan model proses pembelajaran di negara lain yang mempunyai keunggulan tertentu dalam bidang ilmu pengetahuan. dan seni. mampu berperan aktif dan berkomunikasi langsung di forum internasional. matematika. MA. menerapkan standar kelulusan yang lebih tinggi dari standar kompetensi lulusan. e. dan seni. SMK. Pasal 127 Satuan pendidikan dasar dan menengah yang dapat dikembangkan menjadi bertaraf internasional harus memenuhi persyaratan sebagai berikut: a.d. d. menerapkan sistem administrasi pendidikan berbasis teknologi informasi dan komunikasi. i. h. teknologi. teknologi. sudah beroperasi sekurang-kurangnya 3 tahun sejak didirikan dan telah meluluskan peserta didik. termasuk yang berkaitan dengan kurikulum. b. c. SMA. dan seni sehingga peserta didik memiliki akses untuk mengikuti ujian akhir di negara tersebut. proses pembelajaran. dan perpustakaan.doc 80 .

memiliki jiwa kepemimpinan dan kewirausahaan. atau bidang nonkependidikan yang relevan.MA. tempat berkreasi. mampu berbahasa Inggris. l. media pendidikan.MAK. buku dan sumber belajar lainnya.doc 81 . MI. tempat beribadah. khusus sarana dan prasarana yang berwujud: 1). sekurangkurangnya: 1). mempunyai sarana yang sekurang-kurangnya meliputi perabot. instalasi daya dan jasa. dan k. telah menempuh pelatihan kepala satuan pendidikan dari lembaga pelatihan yang diakui oleh Pemerintah atau pemerintah daerah.mata pelajaran yang diampunya. 20% untuk SMP. MTs. atau guru kelas. 10% untuk SD. seta perlengkapan lain yang diperlukan untuk menunjang proses pembelajaran yang teratur dan berkelanjutan. memiliki visi internasional. ruang kelas. ruang kantin. atau guru bimbingan dan konseling/konselor. sekurang-kurangnya: 1). 3). 2). ruang tata usaha. sarana pembelajaran dilengkapi dengan fasilitas teknologi 76461668. atau yang sederajat. sederajat. 2). dan/atau bahasa asing lainnya secara aktif. dan ruang/tempat lain yang diperlukan untuk menunjang proses pembelajaran yang teratur dan berkelanjutan. atau guru bimbingan dan konseling/konselor. ruang pendidik. atau yang sederajat. memiliki kepala satuan pendidikan yang memiliki sertifikat pendidik dengan kualifikasi akademik magister (S2) dari perguruan tinggi terakreditasi dalam bidang kependidikan atau bidang studi yang relevan dengan mata pelajaran atau rumpun mata pelajaran yang diampunya. mempunyai prasarana yang sekurang-kurangnya meliputi lahan. tempat berolahraga. ruang bengkel kerja. peralatan pendidikan. bahan habis pakai. n. ruang perpustakaan. dan 4). m. 3). atau yang SMK. atau guru kelas. ruang pimpinan satuan pendidikan. 30% untuk SMA. ruang laboratorium. tempat bermain. ruang unit produksi. atau yang sederajat. atau bidang nonkependidikan yang relevan. atau memiliki sertifikat kepala sekolah/madrasah.

o. sekurang-kurangnya untuk mata pelajaran Pendidikan Agama. fasilitas multi media. Pasal 128 (1) Satuan pendidikan dasar dan menengah bertaraf internasional wajib menggunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa pengantar. memenuhi standar pembiayaan dengan menerapkan model pembiayaan yang telah diaudit oleh akuntan publik dengan memperoleh predikat wajar tanpa syarat. Pemerintah kabupaten/kota menunjuk atau mendirikan sekolah pada jenjang pendidikan dasar dan pendidikan menengah untuk dikembangkan menjadi satuan pendidikan yang berbasis keunggulan lokal. perpustakaan dilengkapi dengan sarana teknologi informasi dan komunikasi yang memberikan akses ke sumber pembelajaran di seluruh dunia.doc . Dalam hal pemerintah kabupaten/kota tidak menyelenggarakan sekolah pada jenjang pendidikan dasar dan 82 (2) (3) (4) (5) 76461668. dan ruang unjuk seni budaya. Pasal 129 (1) Pemerintah dan pemerintah kabupaten/kota menyelenggarakan satuan pendidikan jenjang pendidikan dasar dan pendidikan menengah untuk dikembangkan menjadi satuan pendidikan yang berbasis keunggulan lokal. dan Bahasa Indonesia. Pemerintah menunjuk atau mendirikan madrasah pada jenjang pendidikan dasar dan pendidikan menengah untuk dikembangkan menjadi satuan pendidikan yang berbasis keunggulan lokal. fasilitas olah raga. sarana dan prasarana untuk pemeliharaan kesehatan dan pengembangan diri dilengkapi dengan klinik.informasi dan komunikasi di setiap ruang kelas. dan p. Pendidikan Kewarganegaraan. dan 2). Satuan pendidikan berbasis keunggulan lokal sebagaimana dimaksud ayat (1) merupakan satuan pendidikan yang dikembangkan sesuai dengan keunggulan potensi daerah/karakteristik daerah dan sosial budaya masyarakat setempat.

sudah beroperasi sekurang-kurangnya 3 tahun sejak didirikan dan telah meluluskan peserta didik. Pasal 131 Satuan pendidikan dasar dan menengah yang dapat dikembangkan menjadi berbasis keunggulan lokal harus memenuhi persyaratan sebagai berikut: a.pendidikan menengah untuk dikembangkan menjadi satuan pendidikan berbasis keunggulan lokal. (2) Satuan pendidikan dasar dan menengah berbasis keunggulan lokal menghasilkan lulusan yang memiliki kemampuan mengolah dan/atau mengembangkan sumber daya lingkungan di daerahnya dan menghasilkan produk yang mempunyai nilai ekonomis serta menunjang pelestarian. dan promosi keunggulan lokal. pemerintah provinsi bersama pemerintah kabupaten/kota wajib mendirikannya. b.doc (7) menerapkan sistem administrasi pendidikan berbasis 83 . (3) Pengembangan potensi daerah/karakteristik daerah dan sosial budaya masyarakat setempat dilakukan melalui cara penyesuaian atau penambahan terhadap unsur-unsur tertentu yang sudah ada atau belum ada dalam Standar Nasional Pendidikan. c. Masyarakat dapat menyelenggarakan satuan pendidikan pada semua jenjang pendidikan untuk dikembangkan menjadi satuan pendidikan yang berbasis keunggulan lokal setelah memperoleh izin dari Pemerintah atau pemerintah kabupaten/kota sesuai kewenangannya. Pasal 130 (1) Satuan pendidikan dasar dan menengah berbasis keunggulan lokal diselenggarakan setelah memenuhi Standar Nasional Pendidikan yang diperkaya dan dikembangkan sesuai dengan potensi daerah/karakteristik daerah dan sosial budaya masyarakat setempat. 76461668. Pemerintah bersama pemerintah kabupaten/kota dan pemerintah provinsi wajib mendirikannya. memperoleh akreditasi dari lembaga akreditasi dalam negeri. (6) Dalam hal pemerintah kabupaten/kota dan pemerintah provinsi tidak menyelenggarakan satuan pendidikan dasar dan menengah untuk dikembangkan menjadi satuan pendidikan dasar dan menengah berbasis keunggulan lokal. pengembangan.

mempunyai pendidik yang memiliki keahlian relevan dengan mata pelajaran keunggulan lokal. f. penilaian. d. dan keluar-masuk (entry-exit). satuan pendidikan dasar. 76461668. e. d. terpisah-beda sistem-tidak satu atap.doc 84 . BAB IX PENYELENGGARAAN PENDIDIKAN OLEH LEMBAGA NEGARA LAIN DAN KERJASAMA SATUAN PENDIDIKAN INDONESIA DENGAN SATUAN PENDIDIKAN NEGARA LAIN Pasal 133 (1) Perwakilan negara asing di wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia dapat menyelenggarakan satuan pendidikan anak usia dini. melaksanakan proses pembelajaran dengan memperhatikan potensi daerah/karakteristik daerah dan sosial budaya masyarakat setempat. Pasal 132 Satuan pendidikan dasar dan menengah bertaraf internasional atau berbasis keunggulan lokal dapat diselenggarakan dengan model: a. termasuk yang berkaitan dengan kurikulum.teknologi informasi dan komunikasi. b. menerapkan standar kelulusan dengan keunggulan lokal yang lebih tinggi dari standar kompetensi lulusan. terpadu-satu sistem-satu atap. terpisah-satu sistem-tidak satu atap. mempunyai sarana dan prasarana pendidikan yang memadai dan relevan dalam mendukung terselenggaranya pendidikan berbasis keunggulan lokal. c. proses pembelajaran. melaksanakan kurikulum sesuai standar isi yang diperkaya sesuai dengan potensi daerah/karakteristik daerah dan sosial budaya masyarakat setempat. dan h. (2) Satuan pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tidak boleh menerima peserta didik warga negara Indonesia. g. dan perpustakaan. dan/atau satuan pendidikan menengah bagi warga negaranya atas persetujuan Pemerintah.

Satuan pendidikan yang diselenggarakan oleh lembaga pendidikan asing wajib menerapkan sistem penggajian yang tidak diskriminatif bagi warga negara asing maupun warga negara Indonesia. kepemilikan lembaga asing sebanyak-banyaknya 49% (empat puluh sembilan persen). Pasal 135 (1) Bahasa pengantar utama pada satuan pendidikan yang diselenggarakan oleh lembaga pendidikan asing adalah bahasa Indonesia. Pendidik dan tenaga kependidikan warga negara asing pada satuan pendidikan yang diselenggarakan oleh lembaga pendidikan asing wajib menguasai bahasa Indonesia dan memahami budaya Indonesia. Pasal 136 (1) Pendidikan yang diselenggarakan oleh lembaga pendidikan asing sebagaimana dimaksud dalam Pasal 134 yang menggunakan sistem pendidikan negara lain yang diselenggarakan di wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia wajib memperoleh izin dari Menteri. Dalam hal penggunaan sistem pendidikan negara lain sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dalam disiplin ilmu agama. Dalam bekerja sama sebagaimana dimaksud pada ayat (2). Menteri memberikan izin setelah memperoleh (2) (3) (4) (5) (2) (3) (2) 76461668. Penyelenggaraan pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus bekerja sama dengan lembaga penyelenggara pendidikan Indonesia.doc 85 .Pasal 134 (1) Lembaga pendidikan asing yang terakreditasi atau yang diakui di negaranya dapat menyelenggarakan pendidikan di wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia sesuai dengan peraturan perundang-undangan. Dalam bekerja sama sebagaimana dimaksud pada ayat (2) pendidikan oleh lembaga pendidikan asing wajib mengikutsertakan sekurang-kurangnya 80% (delapan puluh persen) tenaga kependidikan warga negara Indonesia. Dalam bekerja sama sebagaimana dimaksud pada ayat (2) pendidikan asing wajib mengikutsertakan sekurang-kurangnya 30% (tiga puluh persen) pendidik warga negara Indonesia.

pemanfaatan bersama berbagai sumberdaya. (2) (3) pertukaran guru dan/atau tenaga kependidikan.doc . Pasal 139 (1) Satuan pendidikan dasar atau satuan pendidikan menengah Indonesia dapat menjalin kerja sama akademik dengan satuan pendidikan sederajat negara lain. c. b. dan bahasa Indonesia kepada peserta didik warga negara Indonesia. Kerja sama akademik pada ayat (1) dapat berbentuk: a. dan/atau bentuk-bentuk lain yang dianggap perlu. (4) sebagaimana dimaksud (2). Pasal 138 (1) Satuan pendidikan anak usia dini Indonesia dapat menjalin kerja sama akademik dengan satuan pendidikan anak usia dini negara lain. Pasal 137 (1). Pendidikan agama sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diajarkan sesuai dengan agama yang dianut peserta didik dan diajarkan oleh pendidik yang seagama. Warga negara Indonesia yang menjadi peserta didik pada satuan pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) wajib mengikuti Ujian Nasional. pendidikan kewarganegaraan. Kerja sama pendidikan anak usia dini sebagaimana dimaksud pada ayat (1) bertujuan untuk meningkatkan mutu program pendidikan anak usia dini. (3). penyelenggaraan pertemuan ilmiah bersama. 86 76461668.pertimbangan dari Menteri Agama. Kerja sama penyelenggaraan pendidikan anak usia dini sebagaimana yang dimaksud pada ayat (3) pada tingkat Taman Kanak-kanak atau yang sederajat hanya dapat dilakukan oleh penyelenggara satuan pendidikan yang memiliki satuan pendidikan Taman Kanak-kanak atau yang sederajat berakreditasi A. d. Penyelenggaraan pendidikan oleh lembaga asing sebagaimana dimaksud dalam Pasal 134 dan Pasal 136 yang menerima peserta didik warga negara Indonesia wajib memberikan pendidikan agama.

program pemindahan dan perolehan kredit. g. pertukaran peserta didik. dan/atau b. Kerja sama perguruan tinggi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) bertujuan untuk: b. pertukaran guru dan/atau tenaga kependidikan. memperluas jaringan kemitraan untuk kepentingan satuan pendidikan. dan memperluas jaringan kemitraan untuk kepentingan perguruan tinggi.(2) Kerja sama untuk: sebagaimana dimaksud pada ayat (1) bertujuan a. memperluas pengabdian kepada masyarakat oleh perguruan tinggi. f. Pasal 140 (3) (4) Perguruan tinggi Indonesia dapat menjalin kerja sama akademik dan/atau non-akademik dengan perguruan tinggi negara lain. (4) Kerja sama satuan pendidikan dasar atau pendidikan menengah sebagaimana yang dimaksud pada ayat (3) hanya dapat dilakukan oleh satuan pendidikan dasar atau pendidikan menengah berakreditasi A. meningkatkan pembinaan dan/atau pelaksanaan program pendidikan tinggi. penelitian. dan/atau c. d. dan/atau bentuk-bentuk lain yang dianggap perlu. h. menyelenggarakan pendidikan menengah bertaraf internasional. e. i.doc 87 . program kembaran. pemanfaatan bersama berbagai sumberdaya. b. pendidikan tinggi bertaraf 76461668. meningkatkan mutu penyelenggaraan pendidikan dasar atau pendidikan menengah. pemagangan khusus pendidikan menengah kejuruan. c. (3) dasar atau pendidikan Kerja sama akademik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat berbentuk: a. penyelenggaraan seminar bersama. menyelenggarakan internasional.

penyelenggaraan seminar bersama. penelitian. dan/atau d. (5) (6) (7) (8) Kerja sama non-akademik sebagaimana yang dimaksud pada ayat (1) dapat dilakukan oleh setiap perguruan tinggi yang sudah memiliki izin pendirian dari Departemen. kontrak manajemen. program kembaran. c. Program studi dari perguruan tinggi di luar negeri yang bekerja sama dengan program studi di Indonesia sebagaimana yang dimaksud pada ayat (5) harus terakreditasi atau diakui di negaranya dan terdaftar di Departemen.(3) Kerja sama akademik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat berbentuk: a. Kerja sama akademik dengan perguruan tinggi di luar negeri sebagaimana dimaksud pada ayat (3) huruf b sampai dengan huruf j hanya dapat dilaksanakan oleh program studi di Indonesia yang terakreditasi A. g. program pemindahan dan perolehan kredit.doc 88 . (4) Kerja sama pendidikan tinggi sebagaimana yang dimaksud pada ayat (3) hanya dapat dilakukan oleh perguruan tinggi di Indonesia yang lebih dari 60% (enam puluh persen) program studinya berakreditasi A. f. b. usaha penggalangan dana. pemagangan. pemanfaatan bersama berbagai sumberdaya. 76461668. jasa dan royalti hak atas kekayaan intelektual. pertukaran dosen dan/atau mahasiswa. pengabdian kepada masyarakat. c. e. pendayagunaan aset. i. penerbitan jurnal ilmiah. h. j. dan/atau bentuk-bentuk lain yang dianggap perlu. b. Kerja sama non-akademik sebagaimana yang dimaksud pada ayat (1) dapat berbentuk: a. d.

c. b. minat. 140. kecerdasan. 138.doc 89 . mendapatkan pendidikan agama sesuai dengan agama yang dianutnya dan diajarkan oleh pendidik yang seagama. Ketentuan lebih lanjut mengenai pelaksanaan berbagai bentuk kerja sama pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur lebih lanjut dengan Peraturan Menteri. memperoleh bantuan fasilitas belajar atau bantuan lain sesuai dengan persyaratan dan ketentuan yang berlaku. Pasal 142 (1) Pemerintah mengakui bentuk-bentuk kerja sama sebagaimana dimaksud dalam Pasal 134. serta kebutuhan khususnya. Pasal 143 Pemerintah secara teratur mengadakan evaluasi dan pengawasan terhadap semua bentuk pelayanan pendidikan yang melibatkan partisipasi asing. 76461668. Kerja sama sebagaimana yang dimaksud pada ayat (1) hanya dapat dilakukan oleh satuan pendidikan nonformal yang memiliki izin sesuai peraturan perundang-undangan dan terakreditasi. dan 141 selama tidak bertentangan dengan tujuan pendidikan nasional. Kerja sama satuan pendidikan nonformal sebagaimana dimaksud pada ayat (1) bertujuan untuk meningkatkan mutu pendidikan dan/atau memperluas jaringan kemitraan untuk kepentingan satuan pendidikan nonformal. dan kecepatan belajar. 139. (2) (3) (2) BAB X HAK DAN KEWAJIBAN PESERTA DIDIK Pasal 144 (1)Peserta didik mempunyai hak: a. kemampuan.Pasal 141 (1) Satuan pendidikan nonformal Indonesia dapat menjalin kerja sama akademik dan/atau non-akademik dengan lembaga pendidikan dari negara lain. memperoleh layanan pendidikan sesuai dengan bakat.

pindah ke jalur atau satuan pendidikan lain yang sederajat atau melanjutkan ke satuan pendidikan yang lebih tinggi. memperoleh kemudahan dari pihak terkait untuk menggunakan sarana dan prasarana fisik dan nonfisik untuk menunjang kelancaran pembelajaran. memperoleh layanan informasi yang berkaitan dengan proses pembelajaran yang diikuti termasuk hasil belajar. c. atau bantuan lain sesuai dengan kemampuan Pemerintah. dan c. mendapatkan jaminan kelangsungan pendidikan. menyelesaikan program pendidikan layanan khusus lebih cepat atau lebih lambat dari waktu yang ditentukan. e. Pemerintah Provinsi. peserta didik pada pendidikan layanan khusus berhak: a. dan/atau masyarakat bagi mereka yang berprestasi dan/atau orang tuanya tidak mampu membiayai pendidikan. peserta didik pada pendidikan khusus berhak: a. Pasal 145 (1) Selain hak peserta didik sebagaimana dimaksud dalam Pasal 144 ayat (1).doc . b. mengikuti pendidikan di luar batas usia yang berlaku bagi peserta didik biasa. mendapatkan beasiswa atau biaya pendidikan dari Pemerintah.d. memperoleh jaminan hukum yang sama seperti peserta didik pada umumnya. g. dan h. menggunakan kebebasan akademik secara bertanggung jawab untuk menuntut ilmu dan mengkaji ilmu sesuai dengan norma dan etika yang berlaku dalam lingkungan akademik. memperoleh bantuan fasilitas belajar. f. Pemerintah Kabupaten/Kota serta masyarakat. (2)Selain hak peserta didik sebagaimana dimaksud pada ayat (1). dan 90 76461668. ikut serta dalam kegiatan organisasi peserta didik di satuan pendidikan yang bersangkutan. (3)Selain hak peserta didik sebagaimana dimaksud pada ayat (1). b. pemerintah daerah. peserta didik di perguruan tinggi berhak: h. menyelesaikan program pendidikan lebih cepat atau lebih lambat dari waktu yang ditentukan.

ikut menanggung biaya penyelenggaraan pendidikan. menghormati pendidik dan tenaga kependidikan. bangsa. mencintai lingkungan. serta pembiasaan peserta didik. kebersihan. i.i. h. memelihara kerukunan dan kedamaian untuk mewujudkan harmoni sosial di antara sesama. dan negara. (3) Pelaksanaan ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan 76461668. c. menjaga kewibawaan dan nama baik satuan pendidikan yang bersangkutan. serta menyayangi sesama. mengambil mata kuliah di luar program studi baik di dalam maupun di luar perguruan tinggi yang bersangkutan dan perolehan kreditnya dapat diperhitungkan dalam penyelesaian studi sesuai dengan peraturan akademik yang ditetapkan. g.doc 91 . (2) Kewajiban sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan dengan bimbingan dan keteladanan pendidik dan tenaga kependidikan. menjalankan ibadah sesuai agama yang dianutnya. mematuhi semua peraturan yang berlaku. masyarakat. mengikuti proses pembelajaran dengan menjunjung tinggi norma dan etika akademik. d. mencintai keluarga. (4) Kegiatan mahasiswa dalam organisasi sebagaimana dimaksud pada ayat (3) tidak boleh mengatasnamakan perguruan tingginya. ketertiban. kecuali yang dibebaskan dari kewajiban. dan j. e. Pasal 146 (1) Peserta didik berkewajiban menjaga ketentuan sebagai berikut: a. f. (2)Pelaksanaan ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur oleh perguruan tinggi yang bersangkutan. dan keamanan sekolah. (3) Keterlibatan mahasiswa dalam organisasi di luar perguruan tingginya merupakan tanggung jawab perseorangan yang bersangkutan. ikut menjaga dan memelihara sarana dan prasarana. b.

pendidikan menengah. serta berpartisipasi dalam menyelenggarakan pendidikan. dan seni melalui pendidikan. 76461668. pamong belajar bertugas dan bertanggung jawab menyuluh.ayat (2) serta sanksi atas pelanggarannya diatur oleh satuan pendidikan yang bersangkutan. pamong belajar. guru bertugas dan bertanggung jawab sebagai pendidik profesional dengan tugas utama mendidik. alat pembelajaran.doc 92 . dan mengembangkan: model program pembelajaran. dan pendidikan menengah. mengembangkan. instruktur. dosen. dan sebutan lain yang sesuai dengan kekhususanya. dan menyebarluaskan ilmu pengetahuan. b. menilai. fasilitator. penitipan anak dan bentuk lain yang sejenis. dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal. e. pamong. c. (2) Pendidik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) mempunyai tugas dan tanggung jawab sebagai berikut: a. dan pengabdian kepada masyarakat. membimbing. penelitian. pamong bertugas dan bertanggung jawab membimbing dan melatih anak usia dini pada kelompok bermain. dan pengelolaan pembelajaran pada jalur pendidikan nonformal. membimbing. teknologi. konselor. melatih. pendidikan dasar. d. dosen bertugas dan bertanggung jawab sebagai pendidik profesional dan ilmuwan dengan tugas utama mentransformasikan. konselor bertugas dan bertanggung jawab memberikan layanan konseling kepada peserta didik di satuan pendidikan pada jenjang pendidikan dasar. Tugas. yang berfungsi sebagai agen pembelajaran peserta didik. tutor. dan Tanggung Jawab Pasal 147 (1) Pendidik mencakup guru. mengarahkan. melatih peserta didik. mengajar. widyaiswara. dan pendidikan tinggi. BAB XI PENDIDIK DAN TENAGA KEPENDIDIKAN Bagian Kesatu Jenis. mengajar.

tenaga lapangan pendidikan. tenaga kebersihan sekolah. Tenaga kependidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) mempunyai tugas dan tanggung jawab sebagai berikut: a. fasilitator bertugas dan bertanggung jawab memberikan pelayanan pembelajaran pada lembaga pendidikan dan pelatihan. c. pekerja sosial. Pendidik harus memiliki kualifikasi akademik dan sertifikat pendidik. terapis. teknisi sumber belajar. penilik satuan pendidikan nonformal. pimpinan satuan pendidikan bertugas dan bertanggung jawab mengelola satuan pendidikan pada pendidikan formal atau nonformal. instruktur bertugas dan bertanggung jawab memberikan pelatihan teknis kepada peserta didik pada kursus dan/atau pelatihan. Pasal 148. mengajar dan melatih peserta didik pada program pendidikan dan pelatihan prajabatan dan/atau dalam jabatan yang diselenggarakan oleh Pemerintah dan/atau pemerintah daerah.doc (2). h. tenaga administrasi. 93 .f. penilik bertugas dan bertanggung jawab melakukan pemantauan. dan pembinaan pada satuan pendidikan nonformal. (1). g. dan sebutan lain untuk petugas sejenis yang bekerja pada satuan pendidikan. pengawas bertugas dan bertanggung jawab melakukan 76461668. penilaian. Tenaga kependidikan mencakup pimpinan satuan pendidikan. b. psikolog. tutor bertugas dan bertanggung jawab memberikan bantuan belajar kepada peserta didik dalam proses pembelajaran jarak jauh dan/atau pembelajaran tatap muka pada satuan pendidikan jalur formal dan nonformal. Pasal 149 (1). tenaga laboratorium. (2). widyaiswara bertugas dan bertanggung jawab mendidik. pengawas satuan pendidikan formal. Kualifikasi akademik dan sertifikat pendidik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) bagi guru dan dosen diatur dalam Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen. tenaga perpustakaan. dan i.

pekerja sosial bertugas dan bertanggung jawab memberikan layanan bantuan sosiologis-pedagogis kepada peserta didik dan pendidik pada pendidikan khusus dan pendidikan anak usia dini. dan pembinaan pada satuan pendidikan anak usia dini jalur formal. e. f. terapis bertugas dan bertanggung jawab memberikan layanan bantuan fisiologis-kinesiologis kepada peserta didik pada pendidikan khusus dan pendidikan anak usia dini. i. g. pemantauan. pembimbingan. psikolog bertugas dan bertanggung jawab memberikan layanan bantuan psikologis-pedagogis kepada peserta didik dan pendidik pada pendidikan khusus dan pendidikan anak usia dini. tenaga administrasi bertugas dan bertanggung jawab menyelenggarakan pelayanan administratif pada satuan pendidikan. h. tenaga lapangan pendidikan bertugas dan bertanggung jawab melakukan pendataan. tenaga kebersihan sekolah bertugas dan bertanggung jawab memberikan layanan kebersihan lingkungan sekolah. tenaga laboratorium bertugas dan bertanggung jawab membantu pendidik mengelola kegiatan praktikum di laboratorium satuan pendidikan. penilaian. k. dan l.doc 94 . d. j. merawat. dan pendidikan menengah. satuan pendidikan dasar. 76461668. memperbaiki sarana dan prasarana pembelajaran pada satuan pendidikan.pemantauan. dan pelaporan pelaksanaan pendidikan nonformal. tenaga perpustakaan bertugas dan bertanggung jawab melaksanakan pengelolaan perpustakaan pada satuan pendidikan. teknisi sumber belajar bertugas dan bertanggung jawab mempersiapkan.

dan Pemberhentian Pasal 150 (1). pemindahan. 95 (2).doc . Pasal 151 (1). Pemerintah dan pemerintah daerah memfasilitasi penyediaan pendidik dan tenaga kependidikan sesuai perencanaan kebutuhan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dan ayat (3) untuk menjamin pelayanan pendidikan yang bermutu. Penempatan. penempatan. (3). 76461668. Pengangkatan. dan pemberhentian pendidik dan tenaga kependidikan pada satuan pendidikan yang diselenggarakan oleh masyarakat dilakukan oleh badan hukum pendidikan berdasarkan perjanjian kerja atau kesepakatan kerja bersama. (3). pemindahan. dan pemberhentian pendidik dan tenaga kependidikan oleh Pemerintah dan pemerintah daerah dilaksanakan dalam rangka pemerataan dan/atau penjaminan mutu pendidikan. (2). Pengangkatan. penempatan. Pemerintah merencanakan kebutuhan pendidik dan tenaga kependidikan yang memenuhi Standar Nasional Pendidikan pada satuan pendidikan secara nasional. Pemerintah menetapkan persyaratan pendidik dan tenaga kependidikan yang memenuhi Standar Nasional Pendidikan. Pemerintah daerah merencanakan kebutuhan pendidik dan tenaga kependidikan yang memenuhi Standar Nasional Pendidikan atas dasar persyaratan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan rencana kebutuhan pendidik dan tenaga kependidikan nasional sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dan kebutuhan pendidik dan tenaga kependidikan daerah masingmasing. pemindahan. (4). dan pemberhentian pendidik dan tenaga kependidikan pada satuan pendidikan yang diselenggarakan oleh Pemerintah atau pemerintah daerah dilaksanakan berdasarkan peraturan perundang-undangan. Pemindahan. Pengangkatan.Bagian Kedua Pengangkatan. penempatan.

Pembinaan karir pendidik dilaksanakan dalam bentuk peningkatan kualifikasi akademik dan/atau kompetensi sebagai agen pembelajaran dengan mengacu pada Standar Nasional Pendidikan. (2).Bagian Ketiga Pembinaan Karir. Promosi bagi pendidik dan tenaga kependidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diberikan dalam bentuk kenaikan pangkat/golongan. Promosi bagi pendidik dan tenaga kependidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dilaksanakan sesuai dengan peraturan perundang-undangan. Pendidik dan tenaga kependidikan dipromosikan atas dasar prestasi kerja. Pembinaan karir tenaga kependidikan dilaksanakan dalam bentuk peningkatan kualifikasi akademik dan/atau kompetensi manajerial dan/atau teknis sebagai tenaga kependidikan dengan mengacu pada Standar Nasional Pendidikan. dan/atau penghargaan. Pemerintah mengembangkan dan menetapkan pembinaan karir pendidik dan tenaga kependidikan.doc 96 . pola Pemerintah dan/atau pemerintah daerah wajib melakukan pembinaan karir pendidik dan tenaga kependidikan sesuai dengan pola pembinaan karir sebagaimana dimaksud pada ayat (1). Badan hukum pendidikan masyarakat wajib melakukan pembinaan karir pendidik dan tenaga kependidikan pada satuan pendidikan yang diselenggarakannya sesuai dengan pola pembinaan karir sebagaimana dimaksud pada ayat (1). (5). (2). (3). dan Penghargaan Paragraf 1 Pembinaan Karir Pasal 152 (1). kenaikan jabatan. masa kerja berdasarkan kompetensi yang dimiliki. (4). dan/atau bentuk promosi lainnya. 76461668. Paragraf 2 Promosi dan Penghargaan Pasal 153 (3). (1). Promosi.

propinsi. atau seni. pada tingkat satuan pendidikan oleh satuan pendidikan. Promosi bagi pendidik dan tenaga kependidikan yang berkedudukan sebagai pegawai lembaga pendidikan yang dikelola oleh masyarakat dan berstatus bukan pegawai negeri sipil dilaksanakan sesuai dengan ketentuan peraturan yang ditetapkan oleh badan hukum pendidikan yang bersangkutan. (2) Penghargaan kepada pendidik dan tenaga kependidikan dapat diberikan oleh masyarakat dan organisasi profesi pada tingkat internasional. daerah perbatasan. daerah konflik. daerah tertinggal atau daerah bermasalah lainnya. pada tingkat provinsi oleh Pemerintah Provinsi. dan e. pada tingkat Kabupaten/Kota. (5) Pendidik atau tenaga kependidikan yang gugur dalam melaksanakan tugas memperoleh penghargaan dari Pemerintah dan/atau pemerintah daerah dan/atau penyelenggara satuan 76461668. pada tingkat nasional oleh Pemerintah. (4) Pemerintah memberikan penghargaan kepada pendidik yang hasil penelitiannya memberikan kontribusi terhadap perluasan dan pendalaman kandungan atau penerapan ilmu. dengan memperhatikan peraturan perundang-undangan. c. kabupaten/kota oleh Pemerintah d. (2) Pemerintah dan pemerintah daerah memberikan penghargaan kepada pendidik dan/atau tenaga kependidikan yang dinilai berprestasi dan berdedikasi luar biasa. nasional. pada tingkat desa oleh pemerintah desa. kabupaten/kota. Pasal 155 (1) Pemerintah dan pemerintah daerah memberikan penghargaan kepada pendidik dan/atau tenaga kependidikan teladan yang bertugas di daerah terpencil. (3) Pemerintah memberikan penghargaan kepada pendidik yang berhasil menulis buku teks bahan belajar dan/atau menemukan teknologi pembelajaran baru yang dinilai bermutu tinggi.(4). dan/atau tingkat satuan pendidikan. Pasal 154 (1) Penghargaan diberikan: kepada pendidik dan tenaga kependidikan a.doc 97 . teknologi. b. daerah bencana.

atau bentuk penghargaan lainnya yang dilaksanakan sesuai dengan peraturan perundang-undangan. baik perseorangan maupun kolektif. Masyarakat dapat memberi penghargaan kepada pendidik dan/atau tenaga kependidikan yang dinilai berprestasi. ayat (2).doc (2). dan berjasa luar biasa dalam pendidikan. Pendidik dan/atau tenaga kependidikan dapat menerima penghargaan dari pihak asing sepanjang tidak bertentangan dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. Pemerintah atau pemerintah daerah memberi penghargaan kepada pendidik dan/atau tenaga kependidikan yang dinilai berprestasi. Pasal 156 (1). Hari Pendidikan Nasional. kenaikan pangkat berdasarkan prestasi kerja luar biasa baiknya. berdedikasi. ayat (4). dan ayat (4) diberikan pada Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia. (3) Pendidik dan tenaga kependidikan. (7) Penghargaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1). dilarang menjual buku pelajaran. pakaian seragam atau bahan pakaian seragam di satuan pendidikan. (6) Penghargaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1). piagam.pendidikan sesuai peraturan perundang-undangan. Hari Guru Nasional. kecuali melalui koperasi satuan pendidikan yang: a. baik perseorangan maupun kolektif. ayat (3). baik perseorangan maupun kolektif dilarang memberikan bimbingan belajar atau les kepada peserta didiknya dengan memungut biaya. dan ayat (5) dapat diberikan dalam bentuk tanda jasa. harganya lebih murah dari harga di pasaran. dilarang melakukan pungutan kepada peserta didik baik secara langsung maupun tidak langsung yang bertentangan 76461668. tidak mewajibkan peserta didik untuk membelinya. kenaikan pangkat setingkat lebih tinggi. Bagian Keempat Larangan Pasal 157 (1) Pendidik dan tenaga kependidikan. (3). kenaikan pangkat bagi yang menemukan penemuan baru yang bermanfaat bagi negara. dan b. ayat (3). dan berjasa luar biasa dalam pendidikan. ayat (2). atau hari besar lainnya. berdedikasi. 98 . (2) Pendidik dan tenaga kependidikan.

hasil studi kelayakan tentang prospek pendirian satuan pendidikan dari segi tata ruang. baik perseorangan maupun kolektif. d. manajemen dan proses pendidikan. hasil studi kelayakan tentang prospek pendirian satuan pendidikan dari segi prospek pendaftar. geografis.sumber pembiayaan untuk kelangsungan program pendidikan sekurang-kurangnya untuk 1 (satu) tahun akademik berikutnya.dengan peraturan perundang-undangan. BAB XII PENDIRIAN SATUAN PENDIDIKAN Pasal 158 (1)Syarat-syarat untuk memperoleh izin pendirian satuan pendidikan meliputi: a. dan budaya. b. perimbangan antara jumlah satuan pendidikan dengan penduduk usia satuan pendidikan di wilayah tersebut. sosial. sarana dan prasarana yang memungkinkan terselenggaranya kegiatan pembelajaran. keuangan. b. dilarang menjadi tim sukses salah satu kontestan pemilihan umum pemilihan kepala daerah dan/atau pemilihan kepala desa. (2) Syarat-syarat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berpedoman pada Standar Nasional Pendidikan.doc 99 . dan e. jumlah dan kualifikasi pendidik dan tenaga kependidikan. (5) Pendidik dan tenaga kependidikan. (3) Syarat manajemen dan proses pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf e mencakup: a. c. dan ekologis. 76461668. c. isi pendidikan/kurikulum. dilarang melakukan segala sesuatu baik secara langsung maupun tidak langsung yang menciderai integritas evaluasi hasil belajar peserta didik. (4) Pendidik dan tenaga kependidikan. baik perseorangan maupun kolektif.

sumberdaya manusia untuk merancang. undang-undang sektor terkait yang menyatakan perlu adanya pendidikan sebagaimana dimaksud dalam huruf a. kapasitas daya tampung dan lingkup jangkauan satuan pendidikan yang ada. Selain memenuhi persyaratan pendirian satuan pendidikan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 158. dan melaksanakan pendidikan jarak jauh. b. Pasal 161 (1). Pasal 159 Selain memenuhi persyaratan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 158. pustaka. akses khusus pada jaringan informasi dan komunikasi untuk melaksanakan layanan bahan ajar. harus memenuhi persyaratan: a.d. dukungan sistem operasional pendidikan jarak jauh serta jaringan kerja sama dengan pihak terkait. jarak satuan pendidikan yang diusulkan di tengah klaster satuan pendidikan sejenis. dan ujian secara elektronik. c. memproduksi. menyebarluaskan. menyusun. dan b. Pasal 160 (1) Selain memenuhi persyaratan pendirian satuan pendidikan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 158.doc 100 . program-program studi yang diselenggarakan secara khas terkait dengan tugas dan fungsi departemen atau lembaga pemerintah nondepartemen yang bersangkutan. pendirian satuan pendidikan khusus bagi peserta didik berkelainan harus menyediakan sarana dan prasarana pendidikan khusus yang memungkinkan terselenggaranya kegiatan pembelajaran bagi peserta didik berkelainan. pendirian perguruan tinggi yang diselenggarakan oleh departemen lain atau lembaga pemerintah nondepartemen. pendirian satuan pendidikan jarak jauh harus memiliki: a. dan e. (2) Ketentuan lebih lanjut mengenai persyaratan dan program studi pada perguruan tinggi yang diselenggarakan oleh departemen lain atau lembaga pemerintah nondepartemen sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dengan Peraturan Menteri. tutorial. 76461668.

MTs. SMK. (3)Pendirian satuan pendidikan Indonesia di luar negeri diatur oleh Menteri. MA. MI. RA. SMA. MAK sebagaimana dimaksud pada ayat (1). jenjang. atau satuan pendidikan lain yang berada dalam pembinaan departemen yang menangani urusan pemerintahan di bidang agama dikeluarkan oleh Pemerintah Kabupaten/Kota setelah mendapat rekomendasi persetujuan dari kantor departemen agama kabupaten/kota. dan jenis pendidikan wajib memperoleh izin dari Menteri. satuan pendidikan khusus.doc 101 . (2). SD.d. proyeksi ketersediaan calon peserta didik untuk setiap program studi. oleh lembaga asing wajib (2) Pendirian satuan pendidikan nonformal yang diselenggarakan oleh lembaga asing hanya diberikan di ibukota provinsi. dan satuan pendidikan nonformal wajib memperoleh izin dari Pemerintah Kabupaten/Kota. (4) Pendirian perguruan tinggi dan/atau program pendidikan jarak jauh pada semua jalur. MA. Ketentuan lebih lanjut mengenai persyaratan pendirian satuan pendidikan jarak jauh sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dengan Peraturan Menteri. BAB XIII PENDIDIKAN LINTAS SATUAN DAN JALUR PENDIDIKAN Pasal 164 76461668. MTs. Pasal 162 (1) Pendirian TK. unsur penunjang untuk melaksanakan proses manajerial pendidikan jarak jauh. (2) Izin pendirian RA. atau bentuk lain yang sederajat. atau bentuk lain yang sederajat. MAK. Pasal 163 (1) Pendirian satuan pendidikan memperoleh izin dari Menteri. MI. dan f. SMP. akses ke sarana dan prasarana untuk kegiatan tutorial. (3)Ketentuan lebih lanjut tentang pendirian satuan pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan (2) diatur dengan Peraturan Menteri. e. atau bentuk lain yang sederajat.

SMK/MAK. atau mengambil program atau mata pelajaran pada jenis dan/atau jalur pendidikan yang sama atau berbeda sesuai dengan persyaratan akademik satuan pendidikan penerima. SDLB. pindah ke satuan atau program pendidikan. (2) (3) Perpindahan satuan atau program pendidikan atau pengambilan program atau mata pelajaran sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat dilakukan melalui tes penempatan yang diselenggarakan oleh satuan pendidikan yang dituju. Peserta didik nonformal dan informal dapat: a. atau bentuk lain yang sederajat dapat: a. SMALB. atau mengambil program atau mata pelajaran pada jenis dan/atau jalur pendidikan yang sama atau berbeda sesuai dengan persyaratan akademik satuan pendidikan penerima. SMP/MTs. b.doc . SMPLB. (4) (5) Pasal 166 (1) Peserta didik suatu program studi pada perguruan tinggi tertentu dapat mengambil mata kuliah pada program studi yang sama atau berbeda pada perguruan tinggi yang sama atau perguruan tinggi lain yang terakreditasi.Peserta didik dapat belajar atau mengambil program-program pendidikan pada jenis dan jalur pendidikan yang berbeda secara terpadu dan berkelanjutan melalui pembelajaran tatap muka atau jarak jauh dengan fleksibilitas pilihan dan waktu penyelesaian program lintas satuan dan jalur pendidikan. Satuan pendidikan umum yang menerima peserta didik dari satuan pendidikan khusus bagi peserta didik berkelainan Pemerintah dan pemerintah daerah harus menyediakan guru pembimbing khusus serta sarana dan prasarana pendidikan khusus yang memungkinkan terselenggaranya kegiatan pembelajaran bagi peserta didik berkelainan. SD/MI. SMA/MA. Ketentuan lebih lanjut tentang pindah satuan atau program pendidikan atau pengambilan program atau mata pelajaran sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) diatur dengan peraturama Menteri. b. 102 76461668. Pasal 165 (1) Peserta didik TK/RA. pindah satuan atau program pendidikan. TKLB.

doc . dan ayat (4) diatur oleh masing-masing perguruan tinggi. pelaksana. Peranserta masyarakat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat berupa sumber. (3) (4) (5) BAB XIV PERANSERTA MASYARAKAT Bagian Kesatu Fungsi Pasal 167 Peranserta masyarakat dalam pendidikan berfungsi meningkatkan kualitas penyelenggaraan pendidikan dan pengendalian mutu pelayanan pendidikan dalam rangka mencapai tujuan pendidikan nasional. Bagian Kedua Komponen Peranserta Masyarakat Pasal 168 (1) Peranserta masyarakat dalam pendidikan meliputi peranserta perseorangan. organisasi profesi. Ketentuan lebih lanjut mengenai ayat (1). Satuan kredit semester (sks) yang diperoleh peserta didik atau lulusan program studi tertentu dapat ditransfer untuk memenuhi persyaratan beban sks program studi lain. ayat (2).(2) Peserta didik suatu program studi pada perguruan tinggi tertentu dapat pindah program studi yang sama atau berbeda pada perguruan tinggi yang sama atau perguruan tinggi lain yang terakreditasi sesuai persyaratan akademik program studi penerima. kelompok. Peranserta masyarakat dalam penyelenggaraan 103 (2) (3) 76461668. Kompetensi yang diperoleh peserta didik dari suatu satuan atau program pendidikan nonformal terakreditasi dapat diperhitungkan untuk memenuhi sks program studi yang diambil. ayat (3). dan organisasi kemasyarakatan dalam penyelenggaraan dan pengendalian mutu pelayanan pendidikan. dan pengguna hasil pendidikan. pengusaha. keluarga.

dewan pendidikan tingkat nasional untuk semua jalur. kelompok. (1) Peranserta perseorangan. (4) (1) berupa Peranserta masyarakat dalam pengendalian mutu pelayanan pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) mencakup partisipasi dalam perencanaan. dan narasumber dalam penyelenggaraan pendidikan formal maupun nonformal. sumbangan dana. Peranserta organisasi kemasyarakatan sebagai sumber pendidikan dapat berupa pemberian beasiswa kepada peserta didik. dewan pendidikan tingkat provinsi dan kabupaten/kota dan komite sekolah/madrasah atau nama lain yang sejenis pada jalur pendidikan formal jenjang pendidikan dasar dan menengah serta pada pendidikan anak usia dini. dana. sarana dan prasarana dalam penyelenggaraan pendidikan dan pengendalian mutu pelayanan pendidikan kepada satuan pendidikan baik formal maupun nonformal. majelis wali amanah pada jalur pendidikan formal jenjang pendidikan tinggi. pengawasan. (2) (3) (4) Pasal 170 76461668. dan narasumber dalam penyelenggaraan pendidikan formal maupun nonformal secara terus menerus maupun sesekali waktu. jenjang. Pasal 169 c.pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat penyelenggaraan pendidikan berbasis masyarakat. dan jenis pendidikan. Peranserta pengusaha sebagai sumber pendidikan dapat berupa penyediaan fasilitas sarana dan prasarana pendidikan.doc 104 . dan evaluasi program pendidikan yang dilaksanakan melalui: a. Peranserta organisasi profesi sebagai sumber pendidikan dapat berupa penyediaan tenaga ahli dalam bidangnya dan narasumber dalam penyelenggaraan pendidikan formal maupun nonformal. pemberian beasiswa kepada peserta didik. dan keluarga sebagai sumber pendidikan dapat berupa kontribusi pendidik dan tenaga kependidikan. dan dewan pendidikan tingkat provinsi dan kabupaten/kota dan komite pendidikan nonformal pada jalur pendidikan nonformal. b. d.

Pasal 173 Kurikulum.(1) Peranserta perseorangan. dan kerja sama pengembangan jaringan informasi kebutuhan dunia usaha dan dunia industri. Peranserta pengusaha sebagai pelaksana pendidikan dapat berupa pelaksanaan sistem magang. lingkungan sosioekonomi. dan/atau kerja sama produksi dengan satuan pendidikan sebagai institusi pasangan. Pengusaha atau perusahaan dapat menyelenggarakan program riset dan pengembangannya bekerja sama dengan perguruan tinggi di perusahaannya atau di perguruan tinggi yang bersangkutan. kelompok. pemanfaatan hasil penelitian dan pengembangan dari satuan pendidikan tinggi. Masyarakat berhak menyelenggarakan pendidikan formal dan nonformal sesuai dengan kekhasan agama. (2) Bagian Ketiga Pendidikan Berbasis Masyarakat Pasal 172 (1) Pendidikan berbasis masyarakat dilaksanakan pada satuan pendidikan formal dan nonformal yang diselenggarakan oleh masyarakat pada semua jenjang dan jenis pendidikan. Peranserta organisasi profesi sebagai pelaksana pendidikan dapat berupa pembentukan lembaga evaluasi dan/atau lembaga akreditasi mandiri. evaluasi. pengawasan. dan pendanaan satuan pendidikan formal dan nonformal dengan kekhasan agama. dan budaya untuk kepentingan masyarakat. Pasal 171 (2) (3) (4) (1) Peranserta pengusaha sebagai pengguna hasil pendidikan dapat berupa kerja sama pengusaha dengan satuan pendidikan dalam penyediaan lapangan kerja bagi para lulusan. manajemen. pendidikan sistem ganda.doc (2) 105 . lingkungan sosialekonomi. Peranserta organisasi kemasyarakatan sebagai pelaksana pendidikan dapat berupa penyelenggaraan. pengelolaan. dan budaya dikembangkan oleh satuan pendidikan 76461668. atau keluarga sebagai pelaksana pendidikan dapat berupa partisipasi dalam pengelolaan pendidikan. dan pembinaan satuan pendidikan.

dan evaluasi hasil pendidikan di tingkat provinsi. Pasal 176 76461668. subsidi dana.doc (2) (3) 106 . penyelenggaraan. dan/atau bantuan asing. subsidi dana. Pasal 174 (1) Lembaga pendidikan berbasis masyarakat pada jalur pendidikan formal dan nonformal dapat memperoleh bantuan teknis. dalam proses perencanaan. sarana dan prasarana serta pengawasan kepada bupati/walikota. Dewan Pendidikan Provinsi berperan dalam peningkatan mutu pelayanan pendidikan dengan memberikan pertimbangan dan arahan. dukungan tenaga. sarana dan prasarana serta pengawasan kepada Menteri. dalam proses perencanaan. sarana dan prasarana serta pengawasan kepada gubernur. dan evaluasi hasil pendidikan di tingkat nasional. Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara bantuan teknis. (2) (3) Bagian Keempat Dewan Pendidikan Pasal 175 (1) Dewan Pendidikan Nasional berperan dalam peningkatan mutu pelayanan pendidikan dengan memberikan pertimbangan dan arahan. penyelenggaraan. dan sumberdaya lainnya secara adil dan merata sebagaimana dimaksud pada ayat (1) adalah perlakuan yang sama dari Pemerintah dan/atau pemerintah daerah pada satuan-satuan pendidikan dan daerahdaerah yang membutuhkan bantuan tersebut sesuai kemampuan Pemerintah dan pemerintah daerah . dan evaluasi hasil pendidikan di tingkat kabupaten/kota. dukungan tenaga. subsidi dana. dan sumberdaya lainnya sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dengan Peraturan Menteri. dan sumberdaya lain secara adil dan merata dari Pemerintah.sesuai dengan kekhasan masing-masing dengan mengacu pada Standar Nasional Pendidikan. dukungan tenaga. Bantuan teknis. penyelenggaraan. dalam proses perencanaan. Dewan Pendidikan Kabupaten/kota berperan dalam peningkatan mutu pelayanan pendidikan dengan memberikan pertimbangan dan arahan.

Dewan Pendidikan Provinsi. c. dan kabupaten/kota. organisasi profesi dan organisasi sosial kemasyarakatan yang peduli pendidikan. pengusaha.(1) Dewan pendidikan harus peka dalam memperhatikan keluhan. Masa jabatan keanggotaan dewan pendidikan adalah 5 (lima) tahun dan dapat dipilih kembali 1 (satu) kali masa jabatan. maupun dengan lembaga pemerintahan.doc (2) (3) melakukan perbuatan pidana kejahatan. Dewan Pendidikan Nasional. b. Pasal 177 (2) (1) (2) Dewan pendidikan dibentuk provinsi. dan Dewan Pendidikan Kabupaten/kota. tokoh masyarakat. saran. mengundurkan diri. pada tingkat nasional. kritik dan menyalurkan aspirasi dan prakarsa masyarakat dalam upaya meningkatkan mutu pelayanan pendidikan. Anggota dewan pendidikan diberhentikan sewaktu-waktu apabila: a. komite sekolah/madrasah atau nama lain yang sejenis. Dewan pendidikan menyelenggarakan pertemuan dengan masyarakat dalam rangka memperhatikan aspirasi masyarakat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) sekurang-kurangnya 2 (dua) kali dalam setahun. atau 107 . dan/atau pihak-pihak yang dibutuhkan dalam rangka mengupayakan peningkatan mutu layanan pendidikan. Dewan pendidikan dapat mengadakan koordinasi dan kerja sama dengan Majelis Wali Amanah. 76461668. kepala satuan pendidikan. Dewan pendidikan tidak mempunyai hubungan hirarkhis baik antara Dewan Pendidikan Nasional. (3) (4) Pasal 178 (1) Keanggotaan dewan pendidikan berasal dari pakar pendidikan. meninggal dunia. praktisi pendidikan. Dewan Pendidikan Provinsi. dan Dewan Pendidikan Kabupaten/kota memiliki hubungan koordinasi satu sama lain dalam penyelenggaraan pendidikan nasional.

dan Dewan Pendidikan Kabupaten/kota berjumlah paling banyak 13 (tiga belas) orang. sekretaris. bendahara. dan 2 (dua) wakil Departemen Pendidikan Nasional (eksekutif). gubernur untuk tingkat provinsi.d. 76461668. Anggota dewan pendidikan harus berjumlah gasal. (2) b. Pasal 179 (1) Organisasi dan kepengurusan Dewan Pendidikan Nasional ditetapkan oleh Menteri. 7 (tujuh) orang untuk tingkat nasional dengan komposisi 3 (tiga) pakar/tokoh pendidikan. 2 (dua) tokoh masyarakat. Pasal 180 (2) (3) (4) (5) (6) (1) Pemilihan anggota dewan pendidikan diselenggarakan oleh panitia yang dibentuk oleh Menteri untuk tingkat nasional. dan 1 (satu) wakil Dinas Pendidikan (eksekutif). Dalam melaksanakan tugasnya. c. jenjang. dan jenis pendidikan.doc 108 . dan Ketua dan sekretaris panitia pemilihan dipilih dari dan oleh para anggota. Dewan Pendidikan Provinsi berjumlah paling banyak 17 (tujuh belas) orang. Susunan kepengurusan dewan pendidikan paling sedikit terdiri atas ketua dewan. dan ketua-ketua komisi. tidak dapat melaksanakan tugas karena berhalangan tetap. Panitia pemilihan anggota dewan pendidikan bekerja secara independen yang terdiri atas: a. dan Dewan Pendidikan Kabupaten/kota ditetapkan oleh bupati/walikota. Anggota Dewan Pendidikan Nasional berjumlah paling banyak 23 (dua puluh tiga) orang. Dewan Pendidikan Provinsi ditetapkan oleh gubernur. Pembentukan komisi-komisi pendidikan sesuai dengan jalur. dan bupati/walikota untuk tingkat kabupaten/kota. dewan pendidikan membentuk sekretariat dan dapat mengikutsertakan tenaga ahli untuk membantu kegiatan komisi-komisi pendidikan. 2 (dua) tokoh masyarakat. 5 (lima) orang untuk tingkat provinsi dan kabupaten/kota dengan komposisi 2 (dua) pakar/tokoh pendidikan.

Menteri memilih dan menetapkan anggota Dewan Pendidikan Nasional atas dasar hasil pemilihan calon anggota Dewan Pendidikan Nasional sebagaimana dimaksud pada ayat (3). Prosedur pemilihan anggota dan kepengurusan dewan pendidikan diinformasikan secara luas kepada masyarakat oleh panitia. pertimbangan dan arahan. Setelah terbentuk kepengurusan. Kepengurusan dewan pendidikan dipilih oleh dan dari anggota dewan pendidikan masing-masing. gubernur memilih dan menetapkan anggota Dewan Pendidikan Provinsi atas dasar hasil pemilihan calon anggota Dewan Pendidikan Provinsi sebagaimana dimaksud pada ayat (3). dewan pendidikan wajib menyusun program kerja yang memuat antara lain tentang perencanaan. (2) (3) (4) (5) (6) (7) 76461668. Pasal 182 (1) Pendanaan dewan pendidikan nasional dapat berasal dari APBN atau sumber lain yang tidak mengikat. evaluasi program pendidikan. sarana dan prasarana. panitia pemilihan dewan pendidikan mengusulkan daftar calon anggota dewan pendidikan kepada pejabat yang berwenang. Atas dasar daftar nama calon anggota dewan pendidikan yang diidentifikasikannya dan yang merupakan masukan masyarakat.Pasal 181 (1) Panitia pemilihan dewan pendidikan menerima masukan dari masyarakat tentang calon anggota dewan pendidikan sekurang-kurangnya 30 (tiga puluh) hari dan selama-lamanya 60 (enam puluh) hari. serta pengawasan pendidikan. dukungan tenaga. Panitia pemilihan Dewan Pendidikan Nasional melaporkan hasil pemilihan calon anggota Dewan Pendidikan Nasional kepada Menteri. dan panitia pemilihan Dewan Pendidikan Kabupaten/kota menyampaikan hasil pemilihan calon anggota Dewan Pendidikan Kabupaten/kota kepada bupati/walikota.doc 109 . panitia pemilihan Dewan Pendidikan Provinsi melaporkan hasil pemilihan calon anggota Dewan Pendidikan Provinsi kepada gubernur. bupati/walikota memilih dan menetapkan anggota Dewan Pendidikan Kabupaten/kota atas dasar hasil pemilihan calon anggota Dewan Pendidikan Kabupaten/kota sebagaimana dimaksud pada ayat (3). sekurang-kurangnya 2 (dua) kali jumlah anggota dewan pendidikan.

(2)

Pendanaan dewan pendidikan provinsi dan dewan pendidikan kabupaten/kota dapat berasal dari APBD atau sumber lain yang tidak mengikat. Pasal 183

(1) (2)

Dewan pendidikan bertanggung jawab kepada publik. Mekanisme pertanggungjawaban dewan pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan melalui media komunikasi yang diterbitkan, brosur yang dicetak, atau media lain, dan disebarkan kepada masyarakat. Kegagalan dewan pendidikan dalam pertanggungjawaban publik sebagaimana diatur pada ayat (1) dan ayat (2) dapat berakibat pemberhentian ketua dan/atau anggota dewan pendidikan oleh pejabat yang menetapkannya. Bagian Kelima Komite Sekolah/Madrasah Paragraf 1 Fungsi dan Sifat Pasal 184

(3)

(1) (2)

Komite sekolah/madrasah atau nama lain yang sejenis merupakan mitra satuan pendidikan yang bekerja secara mandiri. Fungsi komite sekolah/madrasah adalah: a. b. c. d. e. memberikan pertimbangan kepada satuan pendidikan dalam pengelolaan pendidikan; memberikan dukungan sumberdaya pendidikan kepada satuan pendidikan; mengawasi penyelenggaraan pendidikan pada satuan pendidikan; menjadi mediator yang melibatkan pendidik dan tenaga kependidikan; dan menjadi mediator hubungan satuan pendidikan dengan berbagai kelompok kepentingan di masyarakat dalam rangka peningkatan mutu pelayanan pendidikan.

(3)

Komite sekolah/madrasah atau nama lain yang sejenis tidak mempunyai hubungan hirarkhis dengan dewan pendidikan
110

76461668.doc

maupun dengan lembaga pemerintahan. (4) Komite sekolah/madrasah dapat mengadakan koordinasi dan kerja sama dengan dewan pendidikan, kepala satuan pendidikan atau pihak-pihak yang dibutuhkan dalam rangka mengupayakan peningkatan mutu layanan pendidikan. Komite sekolah/madrasah atau nama lain yang sejenis menyampaikan laporan akhir masa jabatan kepada orang tua/wali peserta didik, kepala satuan pendidikan, dan/atau pihakpihak yang terkait. Komite sekolah/madrasah atau nama lain yang sejenis dibentuk di satuan pendidikan atau gabungan satuan pendidikan formal atau pada pendidikan nonformal pada jenjang pendidikan dasar dan menengah. Bagi satuan pendidikan yang memiliki peserta didik kurang dari 200 (dua ratus) maka komite sekolah/madrasahnya dapat bergabung dengan komite sekolah/madrasah dari satuan pendidikan lain. Pasal 185 (1) Komite sekolah/madrasah atau nama lain yang sejenis harus peka dalam memperhatikan keluhan, saran dan kritik, serta menyalurkan aspirasi dan prakarsa masyarakat dalam upaya peningkatan mutu layanan pendidikan. Komite sekolah/madrasah atau nama lain yang sejenis menyelenggarakan pertemuan dengan masyarakat dalam rangka memperhatikan aspirasi masyarakat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) sekurang-kurangnya 2 (dua) kali dalam setahun. Komite sekolah/madrasah atau nama lain yang sejenis berperan memberikan pertimbangan dan arahan, dukungan tenaga, sarana dan prasarana kepada penyelenggara satuan pendidikan, kepala satuan pendidikan, atau pihak-pihak yang relevan dalam proses perencanaan, penyelenggaraan, evaluasi hasil pendidikan, dan pengawasan pendidikan di tingkat sekolah. Komite sekolah/madrasah atau nama lain yang sejenis sebagai perwakilan masyarakat menilai pertanggungjawaban kepala satuan pendidikan. Untuk keperluan pertanggungjawaban sebagaiamana dimaksud pada ayat (4) di bidang keuangan, komite sekolah/madrasah atau nama lain yang sejenis dapat menunjuk akuntan publik.

(5)

(6)

(7)

(2)

(3)

(4)

(5)

76461668.doc

111

(6)

Tata cara peranserta komite sekolah/madrasah atau nama lain yang sejenis dalam evaluasi dan pengawasan diatur lebih lanjut dengan Peraturan Menteri. Komite sekolah/madrasah atau nama lain yang sejenis bersama Pemerintah atau dewan pendidikan dapat menyebarluaskan hasil pengawasan secara terbuka sebagai bentuk akuntabilitas publik.

(7)

Paragraf 2 Keanggotaan Pasal 186

(1)

Komite sekolah/madrasah sekurang-kurangnya terdiri atas anggota masyarakat yang mewakili orang tua/wali peserta didik, tokoh masyarakat, praktisi pendidikan, dan pendidik, yang memiliki wawasan, kepedulian dan komitmen terhadap peningkatan mutu pendidikan. Masa bakti anggota komite sekolah/madrasah adalah 4 (empat) tahun. Keanggotaan komite sekolah/madrasah maksimal 2 (dua) masa bakti. Anggota komite sekolah/madrasah atau nama lain yang sejenis tidak boleh merangkap sebagai pejabat kepala satuan pendidikan, pejabat struktural dalam pemerintahan, atau fungsionaris partai politik. Anggota komite sekolah/madrasah atau nama lain yang sejenis dapat diberhentikan sewaktu-waktu karena: a. melakukan perbuatan pidana kejahatan; dan b. melanggar ketentuan anggaran dasar.

(2) (3) (4)

(5)

(6)

Pemberhentian sebagaimana dimaksud pada ayat (5) diatur dalam anggaran dasar komite sekolah/madrasah. Paragraf 3 Persyaratan Anggota Pasal 187

76461668.doc

112

(1)

Persyaratan untuk menjadi anggota komite sekolah/madrasah atau nama lain yang sejenis adalah anggota masyarakat yang mempunyai pengalaman, komitmen, dan tanggung jawab dalam meningkatkan pemerataan, mutu, relevansi, dan efisiensi pada penyelenggaraan pendidikan di tingkat satuan pendidikan. Anggota komite sekolah/madrasah atau nama lain yang sejenis berasal dari perseorangan atau perwakilan organisasi. Paragraf 4 Struktur Organisasi dan Kepengurusan Pasal 188

(2)

(1)

Organisasi dan kepengurusan komite sekolah/madrasah atau nama lain yang sejenis pada jenjang pendidikan dasar dan pendidikan menengah ditetapkan oleh bupati/walikota. Organisasi dan kepengurusan komite sekolah/madrasah atau nama lain yang sejenis pada jenjang dasar dan pendidikan menengah yang dikembangkan oleh Pemerintah Provinsi menjadi bertaraf internasional ditetapkan oleh gubernur. Susunan kepengurusan komite sekolah/madrasah atau nama lain yang sejenis sekurang-kurangnya terdiri atas ketua, sekretaris, bendahara, dan anggota. Jumlah anggota komite sekolah/madrasah atau nama lain yang sejenis harus gasal, disesuaikan dengan kebutuhan, dan jumlahnya sebanyak-banyaknya 9 (sembilan) orang. Masa jabatan kepengurusan komite sekolah/madrasah atau nama lain yang sejenis adalah 4 (empat) tahun dan dapat dipilih kembali maksimal 2 (dua) kali secara berturut-turut. Masa kepengurusan komite sekolah/madrasah atau nama lain yang sejenis sebagaimana dimaksud pada ayat (4) dapat berakhir sebelum 4 (empat) tahun dan dapat diangkat pengurus pengganti. Paragraf 5 Mekanisme Pemilihan Pasal 189

(2)

(3)

(4)

(5)

(6)

(1)

Pemilihan anggota komite sekolah/madrasah diselenggarakan oleh panitia yang dibentuk oleh kepala satuan pendidikan dan orang tua/wali peserta didik.

76461668.doc

113

brosur yang dicetak. (3) (4) (5) Paragraf 6 Pendanaan Pasal 190 (1) Pendanaan operasional komite sekolah/madrasah atau nama lain yang sejenis dapat berasal dari anggaran pendapatan dan belanja sekolah/madarasah dan sumber lain yang tidak mengikat. Proses pemilihan dari awal sampai terbentuknya anggota komite sekolah/madrasah atau nama lain yang sejenis diinformasikan kepada masyarakat oleh panitia. Kegagalan komite sekolah/madrasah dalam pertanggungjawaban publik sebagaimana diatur pada ayat (1) dan ayat (2) dapat berakibat pemberhentian ketua dan/atau anggota komite sekolah/madrasah oleh pejabat yang menetapkannya. atau media lain. (2) Pasal 191 (1) (2) Komite sekolah/madrasah bertanggung jawab kepada publik. dan 1 (satu) unsur . Pemilihan kepengurusan komite sekolah/madrasah dipilih dari dan oleh anggota komite sekolah/madrasah atau nama lain yang sejenis masing-masing. dan disebarkan kepada masyarakat. Mekanisme pertanggungjawaban komite sekolah/madrasah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan melalui media komunikasi yang diterbitkan.doc . 114 (3) 76461668. dan dilaporkan kepada kantor dinas yang menangani urusan pemerintahan di bidang pendidikan sesuai kewenangannya. Panitia menyampaikan nama anggota dan susunan kepengurusan komite sekolah/madrasah atau nama lain yang sejenis hasil pemilihan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dan ayat (3) kepada kepala sekolah untuk ditetapkan.(2) Panitia pemilihan anggota komite sekolah/madrasah atau nama lain yang sejenis bekerja secara independen yang terdiri atas 5 (lima) orang yaitu 2 (dua) unsur pendidik (guru). 2 (dua) unsur orangtua/wali peserta didik (masyarakat). dan diketuai oleh unsur masyarakat. Pengurus komite sekolah/madrasah atau nama lain yang sejenis bersama masyarakat mengusahakan pencarian sumber dana bagi komite sekolah/madrasah atau nama lain yang sejenis.

Bagian Keenam Larangan Pasal 192 (1) Dewan pendidikan dan/atau komite sekolah/madrasah atau nama lain yang sejenis. Dewan pendidikan dan/atau komite sekolah/madrasah atau nama lain yang sejenis. Pemerintah melakukan pengawasan secara nasional terhadap penyelenggaraan dan pegelolaan pendidikan pada semua jalur. jenjang. serta tidak membebani atau mengambil keuntungan dari satuan pendidikan. Pemerintah Provinsi melakukan pengawasan 115 (2) (3) 76461668. dilarang mengintervensi seleksi calon peserta didik dan proses pembelajaran. baik secara perseorangan maupun kolektif dilarang memberikan bimbingan belajar atau les kepada peserta didik baik secara langsung maupun tidak dengan memungut biaya. Dewan pendidikan dan/atau komite sekolah/madrasah atau nama lain yang sejenis.doc . dilarang melakukan segala sesuatu baik secara langsung maupun tidak langsung yang menciderai integritas evaluasi hasil belajar. baik perseorangan maupun kolektif. pakaian seragam atau bahan pakaian seragam di satuan pendidikan baik secara langsung maupun tidak langsung. Dewan pendidikan dan/atau komite sekolah/madrasah atau nama lain yang sejenis. BAB XV PENGAWASAN Pasal 193 (2) (3) (4) (5) (1) Pengawasan penyelenggaraan dan pegelolaan pendidikan mencakup pengawasan administratif dan teknis edukatif. dilarang melakukan pungutan kepada peserta didik baik secara langsung maupun tidak langsung yang bertentangan dengan peraturan perundang-undangan. dan jenis pendidikan. baik perseorangan maupun kolektif. baik perseorangan maupun kolektif. baik perseorangan maupun kolektif. Dewan pendidikan dan/atau komite sekolah/madrasah atau nama lain yang sejenis. dilarang menjual buku pelajaran.

dan oleh melakukan pegelolaan pendidikan (2) Dalam hal hasil pengawasan yang dilakukan oleh Pemerintah Provinsi dan/atau Pemerintah Kabupaten/Kota. oleh Pemerintah dipandang kredibel. (2) Komite sekolah/madrasah melakukan pengawasan terhadap pelaksanaan penyelenggaraan dan pegelolaan pendidikan pada satuan pendidikan yang bersangkutan. jalur. dan pendidikan nonformal di wilayahnya. dan jenis pendidikan sesuai dengan kewenangannya. oleh Pemerintah Provinsi dipandang kredibel. serta pendidikan lintas kabupaten/kota di dalam wilayah provinsi tersebut. Pemerintah Provinsi. jenjang. maka Pemerintah menindaklanjuti hasil pengawasan tersebut.doc 116 . Pasal 194 (1) Pemerintah melakukan pengawasan secara langsung memperhatikan hasil pengawasan yang dilakukan Pemerintah Provinsi dan/atau Pemerintah Kabupaten/Kota. (3) Dalam hal hasil pengawasan yang dilakukan oleh Pemerintah Provinsi dan/atau Pemerintah Kabupaten/Kota. 76461668. Pasal 195 (1) Dewan pendidikan melakukan pengawasan terhadap pelaksanaan penyelenggaraan dan pegelolaan pendidikan pada semua satuan pendidikan. (7) Pemerintah. maka Pemerintah menindaklanjuti hasil pengawasan tersebut. (4) Pemerintah provinisi menjalankan tugas pengawasan atas dasar hasil pengawasan yang dilakukan oleh Pemerintah Kabupaten/Kota. (5) Dalam hal hasil pengawasan yang dilakukan oleh Pemerintah Kabupaten/Kota.terhadap penyelenggaraan dan pegelolaan pendidikan dasar dan pendidikan menengah bertaraf internasional. Pemerintah Kabupaten/Kota dalam menjalankan tugas pengawasan dapat menunjuk lembaga pengawasan/pemeriksaan independen. menengah. pendidikan dasar. (4) Pemerintah Kabupaten/Kota pengawasan terhadap penyelenggaraan dan pendidikan anak usia dini. oleh Pemerintah Provinsi diduga meragukan. maka Pemerintah melakukan pengawasan ulang. maka Pemerintah melakukan pengawasan ulang. (6) Dalam hal hasil pengawasan yang dilakukan oleh Pemerintah Kabupaten/Kota. oleh Pemerintah diduga meragukan.

pemeriksaan tematik.doc 117 . program pendidikan. d. j. meneliti. memantau. atau masyarakat yang nondepartemen yang pihak lain yang terlibat dalam penyelenggaraan dan pegelolaan pendidikan. memeriksa. g. dan/atau pemeriksaan terpadu. k.(3) Pengawasan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) diinformasikan kepada masyarakat yang berkepentingan secara terbuka sebagai bentuk akuntabilitas publik. e. f. mengevaluasi. c. badan hukum pendidikan. (3) Pemeriksaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a dan huruf b dapat berbentuk pemeriksaan umum. unit kerja di lingkungan Departemen. 76461668. i. pemeriksaan khusus. Pemerintah Provinsi. pemeriksaan investigatif. l. b. dewan pendidikan. departemen lain yang menyelenggarakan pendidikan. mengusut. satuan pendidikan. Pasal 196 (1) Pengawasan oleh Pemerintah dilakukan dengan cara: a. menilai. dan/atau penyalahgunaan wewenang dalam penyelenggaraan dan pegelolaan pendidikan. komite sekolah/madrasah. dan/atau melakukan inspeksi mendadak terhadap objek yang diawasi. h. menguji. (2) Objek pengawasan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a adalah: a. keluarga atau anggota/kelompok melaksanakan pendidikan informal. penyimpangan. dan/atau menilai informasi aduan masyarakat tentang hambatan. Pemerintah Kabupaten/Kota. menguji. b. lembaga pemerintah menyelenggarakan pendidikan. memeriksa.

(2) Objek pengawasan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a adalah: a. dan ayat (3) dilaporkan kepada Menteri dan objek yang diawasi. pendidikan pendidikan menengah. memeriksa. komite sekolah/madrasah. penyimpangan. dan pendidikan nonformal. f. keluarga atau anggota/kelompok melaksanakan pendidikan informal.doc . lembaga akreditasi mandiri dan/atau asosiasi profesi. unit-unit perwakilan departemen lain di provinsi menyelenggarakan atau mengelola pendidikan. dan/atau melakukan inspeksi mendadak terhadap objek yang diawasi. b. dewan pendidikan tingkat provinsi pendidikan tingkat kabupaten/kota. badan hukum pendidikan yang melaksanakan atau menyelenggarakan pendidikan dasar dan/atau pendidikan menengah. h. yang masyarakat dibentuk yang dan/atau dewan g. k. mengusut. Pasal 197 (1) Pengawasan oleh Pemerintah Provinsi dilakukan dengan cara: a. j. e. c. dan/atau penyalahgunaan wewenang dalam penyelenggaraan dan pegelolaan pendidikan. dan/atau menilai informasi aduan masyarakat tentang hambatan. mengevaluasi.(4) Pengawasan sebagaimana dimaksud pada ayat (1). dasar. i. pendidikan menengah. meneliti. menilai. memeriksa. d. satuan pendidikan anak usia dini. menguji. dan pendidikan nonformal. menguji. b. ayat (2). unit kerja di bawah gubernur. penyelenggara pendidikan pendidikan anak usia dini. memantau. pendidikan dasar. masyarakat lembaga evaluasi pendidikan mandiri yang dibentuk oleh 118 76461668. Pemerintah Kabupaten/Kota. yang program pendidikan pada satuan pendidikan menengah dan pendidikan nonformal. l.

b.doc 119 . f. dan/atau pemeriksaan terpadu. pendidikan dasar. dan pendidikan nonformal. komite sekolah/madrasah. badan hukum pendidikan yang menyelenggarakan pendidikan dasar. menguji. penyelenggara pendidikan anak usia dini. (2) Objek pengawasan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a adalah: a. menguji. pemeriksaan investigatif. g. dan/atau penyalahgunaan wewenang dalam penyelenggaraan dan pegelolaan pendidikan. melaksanakan atau dewan pendidikan tingkat kabupaten/kota. atau m. dan ayat (3) dilaporkan kepada gubernur. penyelenggaraan dan dengan kewenangan (3) Pemeriksaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a dan b dapat berbentuk pemeriksaan umum. d. pemeriksaan tematik. dan/atau menilai informasi aduan masyarakat tentang hambatan. dan objek yang diawasi. 76461668. ayat (2). sesuai Pemerintah Provinsi. pendidikan dasar. menilai. pemeriksaan khusus. unit kerja di bawah bupati/walikota. memeriksa. Pasal 198 (1) Pengawasan oleh Pemerintah Kabupaten/Kota dilakukan dengan cara: a. c. satuan pendidikan anak usia dini.masyarakat dan/atau asosiai profesi. memantau. e. Menteri. dan pendidikan nonformal. dan/atau melakukan inspeksi mendadak terhadap objek yang diawasi. h. penyimpangan. meneliti. pihak lain yang terlibat dalam pegelolaan pendidikan. (4) Pengawasan sebagaimana dimaksud pada ayat (1). program pendidikan pada satuan pendidikan nonformal. mengusut. b. memeriksa. mengevaluasi. unit-unit perwakilan departemen lain di kabupaten/kota yang menyelenggarakan atau mengelola pendidikan.

b. gubernur. satuan pendidikan. dan/atau pihak lain yang terlibat pegelolaan pendidikan. keluarga atau anggota/kelompok melaksanakan pendidikan informal. Pengawasan sebagaimana dimaksud pada ayat (1). b. menilai. (4) Pasal 199 (1) Pengawasan oleh dewan pendidikan dilakukan dengan cara: a. (2) Objek pengawasan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a adalah: a. d. dan/atau penyalahgunaan wewenang dalam penyelenggaraan dan pegelolaan pendidikan. komite sekolah/madrasah. g. pemeriksaan khusus. keluarga atau anggota/kelompok masyarakat melaksanakan pendidikan informal. dan ayat (3) dilaporkan kepada bupati/walikota. dan/atau memantau terhadap objek yang diawasi sesuai dengan kewenangannya. atau masyarakat yang pihak lain yang terlibat dalam penyelenggaraan dan pegelolaan pendidikan. dan objek yang diawasi.doc 120 . c. program pendidikan pada satuan pendidikan. penyelenggara pendidikan. dan/atau pemeriksaan terpadu. penyimpangan. e. meneliti dan/atau menilai informasi aduan masyarakat tentang hambatan. pemeriksaan tematik. Menteri. j.i. dalam penyelenggaraan yang dan Pengawasan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) dilaporkan kepada: 76461668. sesuai dengan kewenangan Pemerintah Kabupaten/Kota. (3) Pemeriksaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a dan b dapat berbentuk pemeriksaan umum.ayat (2). pemeriksaan investigatif. (3) badan hukum pendidikan. f. mengevaluasi.

Pengawasan oleh komite sekolah/madrasah dilakukan dengan cara: a. pelaksanaan. tingkat nasional. mengevaluasi. dan kabupaten/kota. dan/atau b. dan/atau memantau terhadap objek yang diawasi. untuk dewan pendidikan provinsi. d. menteri. objek yang diawasi.a. Menteri mengkoordinasikan perencanaan. dan c. badan hukum pendidikan. b. menangani urusan pendidikan di b. pelaporan. Pengawasan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) dilaporkan kepada: a. Objek pengawasan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a adalah: a. meneliti dan/atau menilai informasi aduan masyarakat tentang hambatan. menilai. bupati/walikota. dan/atau penyalahgunaan wewenang dalam penyelenggaraan dan pegelolaan pendidikan. penyimpangan. program pendidikan bersangkutan. satuan pendidikan yang bersangkutan. dinas yang kabupaten/kota. c. Pasal 200 (1).doc 121 . untuk dewan pendidikan tingkat provinsi dan kabupaten/kota. Pasal 201 (1). dan tindak lanjut pengawasan sebagaimana dimaksud 76461668. kabupaten/kota. gubernur. pada satuan pendidikan yang (3). (2). dan untuk dewan pendidikan tingkat objek yang diawasi. b.

122 76461668. Pasal 197. memberikan penghargaan atas kinerja objek diawasi. 29. 64. c. Pasal 199. BAB XVI SANKSI Pasal 202 (1). 50. 55. b. 26. masukan dalam perencanaan pendidikan. Pasal 159. Pasal 160. Pengawasan digunakan oleh pihak penerima laporan pengawasan untuk: a. dan Pasal 200. 74. 31. Pemerintah dan/atau pemerintah daerah sesuai dengan kewenangannya menutup satuan pendidikan dan/atau program pendidikan yang beroperasi tanpa izin sebagaimana dimaksud dalam Pasal 159 dan Pasal 160. memberikan sanksi atas penyimpangan administratif dan/atau pelanggaran hukum yang dilakukan oleh objek yang diawasi baik individu ataupun kelembagaan. (2). 28. 42.pada Pasal 196. d.doc . satuan pendidikan. (2). menilai kinerja objek yang diawasi. 30. program pendidikan. Pasal 162. dan Pasal 163. Pemerintah dan/atau pemerintah daerah sesuai dengan kewenangannya dapat menutup satuan pendidikan dan/atau program pendidikan yang telah memperoleh izin pendirian dan/atau izin penyelenggaraan dari pihak yang berwenang tetapi terbukti tidak memenuhi persyaratan pendirian sebagaimana dimaksud dalam Pasal 158. 68. Pasal 161. pembekuan. 36. dan/atau badan hukum pendidikan yang melaksanakan pendidikan yang tidak sesuai dengan ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 25. 98. Pasal 198. 62. yang e. masukan dalam pelaksanaan rencana pendidikan. Pasal 203 (1) Pemerintah dan/atau pemerintah daerah sesuai dengan kewenangannya dapat memberikan sanksi administratif berupa peringatan. penggabungan atau penutupan satuan pendidikan. 82.

26. 144. 136. 82. 140. 161. 139. 29. 139. 36. 126. 165 dan Pasal 164. 140. (2) Pemerintah dan/atau pemerintah daerah sesuai dengan kewenangannya dapat menunda atau membatalkan pemberian subsidi sumberdaya pendidikan kepada satuan pendidikan. dan/atau badan hukum pendidikan yang melaksanakan pendidikan yang tidak sesuai dengan ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 25. Pemerintah dapat memberikan sanksi administratif berupa teguran tertulis. 142. 98. 151. Perguruan tinggi atau unit dari perguruan tinggi yang melaksanakan kebebasan akademik dan/atau otonomi keilmuan yang melanggar ketentuan yang diatur dalam Peraturan Pemerintah ini. 108. 118. 64. 125. 158. 158. 130. 145. 138. 30. 74. 152. Pasal 204 (1) Pimpinan perguruan tinggi yang melanggar ketentuan Pasal 68 diberi sanksi oleh pejabat yang berwenang sesuai peraturan perundang-undangan. 144. 31. program pendidikan.101. 136. 68. melalaikan ketentuan ayat (1). 130. 142. 159. 161. penutupan. Menteri berwenang memberhentikan yang bersangkutan dari jabatannya. 107. 145. 152. dikenakan sanksi sanksi administratif oleh Pemerintah berupa teguran tertulis. 108. pembekuan. 42. Dalam hal perguruan tinggi tidak melakukan pemberhentian sebagaimana dimasuk pada ayat (3). 55. 62. Perseorangan atau kelompok anggota sivitas akademika perguruan tinggi yang melaksanakan kebebasan akademik dan/atau otonomi keilmuan yang melanggar ketentuan yang diatur dalam Pasal 70. 126. dan/atau penutupan perguruan tinggi yang melaksanakan dharma perguruan tinggi yang tidak sesuai dengan ketentuan sebagaimana diatur dalam Peraturan 123 (2) (3) (4) (5) (6) 76461668. 118. atau memberhentikan yang bersangkutan dari status kepegawaiannya di perguruan tinggi. Menteri berwenang memberhentikan pimpinan perguruan tinggi yang bersangkutan dari jabatannya. 101.doc . 165 dan Pasal 164. dan/atau dicabut izin penyelenggaraannya. 159. 157. pembekuan. 157. 28. 160. 137. Dalam hal pejabat yang berwenang sebagaimana dimaksud pada ayat (1). 125. 107. 151. 50. 137. 138. dikenakan sanksi administratif oleh perguruan tinggi yang bersangkutan berupa teguran tertulis dan/atau diberhentikan dari jabatannya atau diberhentikan dari status kepegawaiannya di perguruan tinggi yang bersangkutan. 160.

dan yang menangani pendidikan. kelompok. yang melaksanakan pendidikan informal baik disengaja maupun tidak disengaja yang melanggar ketentuan Pasal 97 dapat dikenakan sanksi administratif berupa teguran tertulis. dan/atau mengeluarkan dari satuan pendidikan terhadap peserta didik yang tidak melaksanakan kewajibannya sebagaimana diatur dalam Pasal 144. atau organisasi. pembekuan. organisasi orang tua peserta didik. Pasal 205 (1). serta pihak lain yang terkait dengan satuan pendidikan secara perseorangan ataupun kolektif yang melanggar ketentuan Pasal 187 dikenakan sanksi teguran secara tertulis dari Pemerintah Kabupaten/Kota atau Pemerintah Provinsi sesuai dengan kewenangannya. dewan pendidikan. dan/atau penutupan oleh Menteri. Pasal 207 Satuan pendidikan jarak jauh yang tidak memenuhi persyaratan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 102. skorsing. Satuan pendidikan dapat memberikan sanksi administratif berupa peringatan.doc 124 . Pasal 103. Anggota komite sekolah/madrasah. pembekuan. dan/atau penutupan dari Pemerintah dan/atau pemerintah daerah. (3) Pendidik atau tenaga kependidikan nonpegawai negeri sipil yang melanggar ketentuan Pasal 154 dikenakan sanksi administratif sesuai dengan peraturan perundang-undangan. (2) Pendidik atau tenaga kependidikan pegawai negeri sipil yang melanggar ketentuan Pasal 154 dikenakan sanksi administratif sesuai dengan peraturan perundang-undangan. 76461668. Pasal 105. (2).Pemerintah ini. Pasal 206 Perseorangan. dikenakan sanksi administratif berupa teguran tertulis. Pasal 208 (1) Pendidik atau tenaga kependidikan yang melalaikan tugas dan/atau kewajibannya selama 3 (tiga) bulan atau lebih secara terus menerus tanpa alasan yang dapat dipertanggungjawabkan dikenakan sanksi administratif sesuai dengan peraturan perundang-undangan. institusi Pemerintah. dan Pasal 106.

Pasal 29. dan Pasal 127 serta pendidikan berbasis keunggulan lokal sebagaimana dimaksud dalam Pasal 129 dan Pasal 131 dikenakan sanksi administratif berupa teguran tertulis hingga pencabutan izin sebagai satuan pendidikan bertaraf internasional atau satuan pendidikan berbasis keunggulan lokal oleh Pemerintah atau pemerintah daerah sesuai kewenangannya. memindahkan. Pasal 210 (1) Penyelenggaraan pendidikan di wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia oleh perseorangan. Pasal 139. atau memberhentikan pendidik atau tenaga kependidikan yang bertentangan dengan ketentuan Pasal 148 tanpa alasan yang sah. dan/atau penutupan satuan 76461668. (2) Pencabutan izin sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan setelah diadakan pembinaan paling lama tiga tahun. Pasal 26. Pasal 30. Pasal 134. pembebasan dari jabatan. atau bupati/walikota sesuai dengan kewenangan. menempatkan. Pasal 126. gubernur. (5) Seseorang yang mengangkat. dan/atau pemberhentian dengan tidak hormat dari jabatannya.(4) Badan hukum pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (3) yang melalaikan ketentuan ayat (3) dikenakan sanksi administratif berupa peringatan tertulis atau pembekuan oleh Pemerintah atau sesuai kewenangannya.doc (2) 125 . Satuan pendidikan Indonesia yang melaksanakan kerja sama dengan satuan pendidikan dari negara lain yang tidak sesuai dengan ketentuan sebagaimana diatur dalam Pasal 138. dan Pasal 140 dikenakan sanksi administratif berupa teguran tertulis. penundaan kenaikan pangkat. pembekuan. Pasal 209 (1) Satuan pendidikan yang melanggar ketentuan tentang penyelenggaraan pendidikan bertaraf internasional sebagaimana dimaksud dalam Pasal 125. penundaan kenaikan gaji berkala. dan Pasal 136 dikenakan sanksi oleh Menteri berupa teguran tertulis dan/atau penutupan satuan pendidikan. dikenakan sanksi administratif berupa teguran tertulis. perwakilan negara asing atau lembaga pendidikan asing yang tidak sesuai dengan ketentuan sebagaimana diatur dalam Pasal 133. Pasal 211 Satuan pendidikan yang melanggar ketentuan tentang pengelolaan pendidikan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 25. organisasi. pemberhentian dengan hormat. pembekuan. Pasal 28. dan/atau penutupan satuan pendidikan oleh Menteri. dan Pasal 31 dikenakan sanksi administratif berupa teguran tertulis.

sekolah yang dinyatakan oleh pendirinya sebagai sekolah bertaraf internasional. pemberhentian dengan hormat. penundaan kenaikan gaji berkala. (2) BAB XVII KETENTUAN PERALIHAN Pasal 214 Sekolah internasional.doc 126 . penundaan kenaikan pangkat. dan Pasal 184 dikenakan sanksi administratif berupa teguran tertulis oleh Pemerintah atau sesuai kewenangannya Pasal 213 Perseorangan atau kelompok pegawai Pemerintah atau sesuai kewenangannya yang melanggar atau melalaikan ketentuan yang diatur dalam Pasal 192 atau menggunakan kewenangannya yang melampaui peraturan perundang-undangan dikenakan sanksi administratif berupa teguran tertulis. wajib menyesuaikan dengan Peraturan Pemerintah ini selambat-lambatnya 3 tahun sejak Peraturan Pemerintah ini berlaku. 76461668. atau satuan pendidikan sejenis yang telah ada sebelum berlakunya Peraturan Pemerintah ini.pendidikan oleh Pemerintah atau atau pemerintah daerah kewenangannya sesuai Pasal 212 (1) Perseorangan atau kelompok anggota dewan pendidikan atau komite sekolah/madrasah yang melanggar ketentuan Pasal 190 dikenakan sanksi administratif berupa teguran tertulis oleh Pemerintah atau sesuai kewenangannya Perseorangan atau kelompok anggota dewan pendidikan atau komite sekolah/madrasah yang dalam menjalankan tugasnya melampaui kewenangan atau fungsi/perannya sebagaimana diatur dalam Pasal 175. pembebasan dari jabatan. dan/atau pemberhentian dengan tidak hormat dari jabatannya. Pasal 215 Pada saat berlakunya Peraturan Pemerintah ini. peraturan perundangundangan yang terkait dengan penyelenggaraan pendidikan dinyatakan masih tetap berlaku sepanjang tidak bertentangan dan belum diganti berdasarkan Peraturan Pemerintah ini.

Peraturan Pemerintah Nomor 27 Tahun 1990 tentang Pendidikan Prasekolah (Lembaran Negara Tahun 1990 Nomor 35. Tambahan Lembaran Negara Nomor 3484). sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Pemerintah Nomor 56 Tahun 98 tentang Perubahan atas Peraturan Pemerintah Nomor 29 Tahun 1990 (Lembaran Negara Tahun 1998 Nomor 91. f.doc . c. Peraturan Pemerintah Nomor 28 Tahun 1990 tentang Pendidikan Dasar (Lembaran Negara Tahun 1990 Nomor 36. e. Tambahan Lembaran Negara Nomor 3460). Peraturan Pemerintah Nomor 72 Tahun 1991 tentang Pendidikan Luar Biasa (Lembaran Negara Tahun 1991 Nomor 34. sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Pemerintah Nomor 39 Tahun 2000 tentang Perubahan atas Peraturan 127 b. Tambahan Lembaran Negara Nomor 3413). Tambahan Lembaran Negara Nomor 3411). 76461668. Peraturan Pemerintah Nomor 73 Tahun 1991 tentang Pendidikan Pendidikan Luar Sekolah (Lembaran Negara Tahun 1991 Nomor 95. Pasal 217 Pada saat mulai berlakunya Peraturan Pemerintah ini: a. sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Pemerintah Nomor 55 Tahun 98 tentang Perubahan atas Peraturan Pemerintah Nomor 28 Tahun 1990 (Lembaran Negara Tahun 1998 Nomor 90. Tambahan Lembaran Negara Nomor 3763). Peraturan Pemerintah Nomor 38 Tahun 1992 tentang Tenaga Kependidikan (Lembaran Negara Tahun 1992 Nomor 68. Tambahan Lembaran Negara Nomor 3764).BAB XVIII KETENTUAN PENUTUP Pasal 216 Semua peraturan perundang-undangan yang diperlukan untuk melaksanakan Peraturan Pemerintah ini harus diselesaikan paling lambat 2 (dua) tahun terhitung sejak diberlakukan Peraturan Pemerintah ini. Tambahan Lembaran Negara Nomor 3412). Tambahan Lembaran Negara Nomor 3461). Peraturan Pemerintah Nomor 29 Tahun 1990 tentang Pendidikan Menengah (Lembaran Negara Tahun 1990 Nomor 37. d.

Peraturan Pemerintah Nomor 39 Tahun 1992 tentang Peranserta Masyarakat dalam Pendidikan Nasional (Lembaran Negara Tahun 1992 Nomor 69.. Tambahan Lembaran Negara Nomor 3859).. dinyatakan tidak berlaku... Pasal 218 Peraturan Pemerintah ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan. Tambahan Lembaran Negara Nomor 3974).. MENTERI HUKUM DAN HAK AZASI MANUSIA ANDI MATALATTA LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA NOMOR…. Ditetapkan di Jakarta Pada tanggal ...doc 128 . Agar setiap orang mengetahuinya.Pemerintah Nomor 38 Tahun 1992 (Lembaran Negara Tahun 2000 Nomor 91... Tambahan Lembaran Negara Nomor 3485).. PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA DR. h. Peraturan Pemerintah Nomor 60 Tahun 1999 tentang Pendidikan Tinggi (Lembaran Negara Tahun 1999 Nomor 115. H... memerintahkan pengundangan Peraturan Pemerintah ini dengan menempatkannya dalam Lembaran Negara Republik Indonesia.. SUSILO BAMBANG YUDHOYONO Ditetapkan di Jakarta Pada tanggal ..TAHUN 2007 76461668..... g......

PENJELASAN ATAS PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR …… TAHUN …. menyebabkan batas-batas negara menjadi semakin maya. Dunia pendidikan khususnya dan tantangan masa depan umumnya telah berubah dan berkembang sedemikian cepatnya. pengawasan. Pendekatan yang sama berlaku pula dalam pengaturan penyelenggaraan pendidikan pada masing-masing satuan pendidikan. Perkembangan ini. tujuan. dan sanksi perlu diatur dalam satu kesatuan sistem pendidikan yang komprehensif. bentuk dan jenis pendidikan. baik dilihat dari segi pasokan. Tanggung jawab pendidikan merupakan tanggung jawab bersama Pemerintah. jenjang. masyarakat dan orang tua. peserta didik. Pendidikan merupakan suatu proses yang dinamik sesuai dengan perubahan masyarakat dan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. sarana dan prasarana. Untuk mencapai sinergi tersebut pengaturan tentang fungsi. yang ditandai dengan (1) perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang sangat cepat. UMUM Visi sistem pendidikan nasional sabagai pranata sosial yang kuat dan berwibawa untuk memberdayakan semua warga negara Indonesia agar berkembang menjadi manusia yang berkualitas sehingga mampu dan proaktif menjawab tantangan zaman yang selalu berubah. (2) era global isasi informasi yang muncul di awal milenium ke tiga. keterbukaan telah menjadi karakteristik kehidupan yang demokratis. pendidikan harus secara terus-menerus perlu ditingkatkan kualitasnya. TENTANG PENGELOLAAN DAN PENYELENGGARAAN PENDIDIKAN I. peranserta masyarakat. Oleh sebab itu. melalui sebuah pembaruan yang dapat dipertanggungjawabkan kepada publik (stakeholders) agar mampu mempersiapkan generasi penerus bangsa sejak dini sehingga memiliki unggulan kompetitif dalam tatanan kehidupan nasional dan global. dan hal ini membawa dampak pada cepat usangnya kebijakan maupun praksis pendidikan. dan jenis pendidikan harus berlangsung secara sinergis. Dalam era globalisasi dan informasi saat ini. bahasa pengantar. manajemen. mengisyaratkan bahwa penyelenggaraan pendidikan pada semua jalur.. syarat pendirian. Parameter kualitas pendidikan. sementara seorang “futurist” di era globalisasi hanya mereka yang memiliki ilmu 76461668. diharapkan dunia pendidikan di Indonesia dapat merespon dan mengimbangi perubahan-perubahan ini secara proporsional. proses. dan hasil pendidikan selalu berubah.doc 129 .

Sedangkan lingkup pengaturan dalam Peraturan Pemerintah ini mencakup Pengelolaan dan Penyelenggaraan pendidikan berdasarkan jenjang dan jenis pendidikan serta berdasarkan fungsi dalam sistem pendidikan nasional. pendidik dan tenaga kependidikan. pengelolaan pendidikan. Pengaturan tentang Standar Nasional Pendidikan. Pemerintah Provinsi melakukan koordinasi atas penyelenggaraan pendidikan.doc 130 . Pengelolaan satuan pendidikan anak usia dini. Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional menetapkan komponen sistem pendidikan yang perlu diatur mencakup pendidikan anak usia dini. evaluasi. pendidikan kedinasan. Perguruan tinggi menentukan kebijakan dan memiliki otonomi dalam mengelola pendidikan di lembaganya. Standar Nasional Pendidikan. dan sertifikasi. AFTA menyebabkan terbukanya peluang bagi negara asing untuk menyelenggarakan pendidikan di Indonesia. dan pengeloaan oleh badan hukum pendidikan. dan penyediaan fasilitas penyelenggaraan pendidikan lintas daerah kabupaten/kota untuk tingkat pendidikan dasar dan menengah. Pengelolaan satuan pendidikan nonformal dilakukan oleh Pemerintah. 51. pendidikan tinggi. Pasal 50. Pengelolaan satuan pendidikan tinggi dilaksanakan berdasarkan prinsip otonomi. pendidikan jarak jauh.pengetahuan dan teknologi lebih banyak dan mumpuni yang akan memenangkan persaingan global. dan evaluasi yang transparan. Untuk mengantisipasi serta merespon pengaruh dari faktor-faktor tersebut. pendidikan keagamaan. (3) munculnya organisasi internasional seperti WTO. dan ketentuan pidana. penyelenggaraan pendidikan oleh lembaga negara asing. dan pendidikan menengah dilaksanakan berdasarkan standar pelayanan minimal dengan prinsip manajemen berbasis sekolah/madrasah. Pemerintah Provinsi. sarana dan prasarana pendidikan. pendanaan pendidikan. pendidikan dasar. pendidikan nonformal. jaminan mutu. perlu dibuat suatu peraturan perundangan tentang pengelolaan dan penyelenggaraan pendidikan yang resposif dan akurat untuk meminimalkan dampak negatif serta memaksimalkan dampak positifnya terhadap sistem pendidikan nasional. Pemerintah Kabupaten/Kota. Pendidikan Kedinasan. 52. pendidikan informal. pemerintah daerah. Pemerintah dan/atau pemerintah daerah menyelenggarakan paling sedikit satu satuan pendidikan pada semua jenjang pendidikan untuk dikembangkan menjadi satuan pendidikan yang bertaraf internasional. Wajib Belajar. pengawasan. pengembangan tenaga kependidikan. pendidikan dasar. Pemerintah Kabupaten/Kota mengelola pendidikan dasar dan pendidikan menengah. akreditasi. Pengelolaan pendidikan dalam rangka peningkatan 76461668. dan 53 Undang-Undang Nomor 20 Tentang Sistem Pendidikan Nasional menjelaskan antara lain bahwa pengelolaan sistem pendidikan nasional merupakan tanggung jawab Menteri Pendidikan Nasional yang menentukan kebijakan nasional dan standar nasional pendidikan untuk menjamin mutu pendidikan nasional. peranserta masyarakat dalam pendidikan. suatu contoh nyata dari keadaan ini adalah bermunculannya “cabang” sekolah luar negeri di kotakota besar di Indonesia. serta satuan pendidikan yang berbasis keunggulan lokal. dan/atau masyarakat. Pengaturan selanjutnya adalah mengenai penyelenggaraan wajib belajar. kurikulum. Lingkup pengaturan tentang pengelolaan pendidikan mencakup ketentuan tentang pengelolaan oleh Pemerintah. pendirian satuan pendidikan. dan Pendanaan Pendidikan diatur secara tersendiri. akuntabilitas. pendidikan menengah. dan pendidikan khusus dan pendidikan layanan khusus.

pendidikan lintas jalur dan satuan pendidikan. Usia dini merupakan masa peka untuk menerima stimulasi dan sangat menentukan bagi perkembangan selanjutnya. Pendidikan dasar dan menengah. Keterampilan-keterampilan tersebut tidak terjadi secara alamiah tetapi harus didukung oleh lingkungan. pendidikan nonformal dan informal. PAUD diselenggarakan dalam upaya membantu meletakkan dasar perkembangan anak sebelum memasuki pendidikan dasar. dan tidak mampu dari segi ekonomi. peserta didik. Para ahli perkembangan anak berpendapat bahwa masa 0 (nol) sampai dengan 6 (enam) tahun pertama dalam kehidupan seorang manusia merupakan masa di mana perkembangan fisik dan motorik. Pada kenyataannya sejumlah besar studi mendukung anggapan ini dan mengungkapkan bahwa masa inilah sejumlah besar kemampuan berbahasa. Pendidikan anak usia dini (PAUD). bencana sosial. jenjang. pendidikan bertaraf internasional. nilai-nilai. b.doc 131 . memberikan perhatian khusus kepada peserta didik berkelainan dan peserta didik di daerah terpencil atau terbelakang. pengutamaan pada kebutuhan anak. stimulasi diberikan juga agar anak dapat mempersiapkan diri memasuki pendidikan dasar dengan lebih baik. untuk. dengan mengedepankan nilai-nilai anti diskriminasi. Bagi anak yang memperoleh pendidikan. serta kepada masyarakat adat yang terpencil dan/atau mengalami bencana alam. dan kabupaten. serta pengutan pean Komite Sekolah/Madrasah. pendidikan jarak jauh. Landasan akademik dalam pengaturan tentang pengelolaan dan penyelenggaraan pendidikan pada masing-masing jalur. Lingkup pengaturan tentang penyelenggaraan pendidikan mencakup ketentuan tentang fungsi dan tujuan. hak untuk mendapatkan beasiswa bagi yang berprestasi. Keterampilan-keterampilan tersebut merupakan keterampilan dasar yang harus dikembangkan secara optimal agar potensi yang ada pada anak tidak hilang percuma. pendidikan oleh negara asing. dan penghargaan terhadap peranserta seluruh komponen pendidikan. penghargaan pada keunikan setiap anak. dan penguatan peran Dewan Pendidikan di tingkat nasional. bahkan cara-cara belajar anak mulai mengambil bentuk dasarnya. bentuk satuan pendidikan. 76461668. sikap. a. dan cenderung menetap sampai usia dewasa. baik orang tua dan keluarganya maupun masyarakat lain. Filosofi dasar PAUD adalah menciptakan lingkungan belajar yang mendorong terbangunnya harga diri yang positif pada anak. dan dari masyarakat. provinsi. izin pendirian. dan jenis pendidikan adalah sebagai berikut. pendidikan khusus dan pendidikan layanan khusus pada semua jenjang dan jenis pendidikan. pendidikan berbasis keunggulan lokal. Penyelenggaraan pendidikan perlu memberikan perhatian kepada hak peserta didik untuk mendapatkan pendidikan agama sesuai dengan agama yang dianutnynya dan diajar oleh pendidik yang seagama. intelektual maupun sosial berlangsung dengan sangat pesatnya sehingga seringkali disimpulkan bahwa keberhasilan pada masa ini menentukan seluruh masa depan seorang anak.partisipasi masyarakat dalam penyelenggaraan pendidikan mencakup penguatan prinsip penyelenggaraan pendidikan oleh.

profesi. Pemerintah Kabupaten/Kota mengelola satuan pendidikan yang berbasis keunggulan lokal. Pendidikan tinggi. Kinerja perguruan tinggi dalam menyelenggarakan pendidikan tinggi menjadi salah satu katalisator tinggi rendahnya kualitas sumber daya manusia yang sering dinyatakan sebagai tingkat perkembangan SDM atau Human Development Index (HDI). Kewajiban Pemerintah terhadap semua perguruan tinggi yang sangat penting ialah sebagai pengendali mutu perguruan tinggi. Salah satu indikator yang menunjukkan hal ini adalah meningkatnya kesadaran masyarakat tentang arti pentingnya pendidikan bagi putra-putri mereka. Kedudukan perguruan tinggi yang diselenggarakan Pemerintah atau yang diselenggarakan masyarakat adalah sama. kursus dan pelatihan. Pendidikan tinggi merupakan salah satu pilar penting dalam sistem pendidikan nasional yang bertujuan mengembangkan peserta didik agar memiliki kemampuan akademik.doc 132 . Pendidikan nonformal dan pendidikan informal. Peran pemerintah dalam penentuan kebijakan umum perguruan tinggi akan ditentukan berdasarkan besarnya keterlibatan Pemerintah antara lain: besarnya dana untuk kepentingan perguruan yang dianggarkan dan disalurkan kepada pendidikan tinggi. Disamping itu. pendidikan kepemudaan. Aspek lain yang tidak kalah pentingnya adalah meningkatnya peranserta masyarakat dalam pembangunan pendidikan. dan/atau vokasi. Peranserta masyarakat dalam penyelenggaraan perguruan tinggi dalam bentuk badan hukum penyelenggara adalah sebagai fasilitator yang bukan merupakan bagian dari perguruan tinggi. peran Pemerintah secara bertahap akan beralih dari penyelenggara menjadi fasilitator dan pengelola perguruan tinggi menjadi berbasis masyarakat. serta pendidikan sejenis lainnya yang ditujukan untuk mengembangkan kemampuan peserta didik dalam memenuhi hak 76461668. teknologi dan/atau seni . di semua bidang ilmu pengetahuan. Kenyataan tersebut ditambah pula dengan beberapa hasil penelitian yang menemukan bahwa ada hubungan positif antara kemajuan suatu negara dengan peningkatan peranserta masyarakat dalam pendidikan. Peran Pemerintah dalam pengendalian mutu maupun pengawasan terhadap jalannya perguruan tinggi yang dilakukan melalui lembaga umum dan Pemerintah. Untuk itulah maka Undang-Undang mengamanatkan bahwa Pemerintah dan/atau pemerintah daerah menyelenggarakan sekurangkurangnya 1 (satu) satuan pendidikan pada semua jenjang pendidikan untuk dikembangkan menjadi satuan pendidikan yang bertaraf internasional. tetap besar. pendidikan kesetaraan.Peraturan Pemerintah tentang pendidikan dasar dan menengah cukup strategis untuk dikembangkan mengingat posisi ketenagakerjaan di Indonesia yang pada umumnya baru mencapai pendidikan menengah ke bawah. Pemerintah dan masyarakat memiliki kewajiban untuk memfasilitasi semua perguruan tinggi dalam bentuk pendanaan atau kebutuhan lainnya (termasuk bantuan pegawai negeri). pendidikan pemberdayaan perempuan. d. Pendidikan nonformal meliputi pendidikan kecakapan hidup. serta ilmu agama. c. pendidikan anak usia dini. Dalam konteks pengelolaan perguruan tinggi dengan status badan hukum. pendidikan keaksaraan.

doc 133 . (c) relevansi. dan efisiensi pada semua jalur. sehingga dapat memberikan kontribusi terhadap perluasan lapangan kerja dan penurunan pengangguran/kemiskinan. media. 76461668. tingkat laju pertumbuhan penduduk. waktu. dan informatika (telematika). perkembangan teknologi komunikasi. Kondisi geografis. Pendidikan informal berfungsi untuk memberikan keyakinan agama. Sistem operasional pendidikan jarak jauh yang mencakup layanan registrasi. Oleh karena itu. dan (d) efisiensi. Pendidikan khusus dan pendidikan layanan khusus. serta pengalaman dalam penyelenggaraan pendidikan jarak jauh menjadi pertimbangan utama dalam penerapan sistem pendidikan jarak jauh untuk meningkatkan akses. psikologis. Tuntutan atas peran strategis pendidikan sebagai suatu pranata sosial yang kuat dan berwibawa untuk mewujudkan tujuan nasional khususnya dalam mencerdaskan kehidupan bangsa telah mendorong pemanfaatan sistem pendidikan jarah jauh sebagai komponen dari sistem pendidikan nasional. minat. mutu. perhatian. Program pendidikan nonformal yang berorientasi pada kursus dan pelatihan keterampilan merupakan jembatan antara pendidikan formal dan dunia kerja. adil dan bermutu sebagai perwujudan dari salah satu tujuan nasional. dan media lain. pendidikan khusus masih menghadapi tantangan berat yang meliputi persoalan-persoalan yang terkait dengan: (a) perluasan kesempatan belajar bagi peserta didik yang membutuhkan pendidikan khusus. relevansi. Pendidikan informal adalah jalur pendidikan yang dilakukan oleh keluarga dan lingkungan dalam bentuk kegiatan belajar mandiri. Agar biaya penyelenggaraan pendidikan jarak jauh berbasis teknologi informasi dan komunikasi menjadi murah. tutorial. Pendidikan informal merupakan pengalaman berharga bagi setiap individu sesuai dengan kesempatan. (b) peningkatan mutu. Sistem pendidikan jarak jauh ditujukan untuk meningkatkan pemerataan akses terhadap pendidikan bermutu terutama untuk mengatasi hambatan jarak. atau menjalankan fungsi kerumahtanggaan bagi ibu rumah tangga. layanan pendidikan jarak jauh diselenggarakan dengan memanfaatkan media belajar melalui teknologi telekomunikasi. maka produksi bahan ajar mandiri dan layanan akademiknya harus dirancang berdasarkan prinsip industrialisasi masal. untuk membentuk kemampuan dan keahlian yang lebih bermutu. Hasil pendidikan informal dapat diakui sama dengan hasil pendidikan formal dan nonformal setelah mengikuti Ujian Nasional dan/atau uji kompetensi sesuai dengan Standar Nasional Pendidikan. f. nilai budaya. dan fisik bagi peserta didik agar dapat belajar sambil bekerja.setiap warga negara untuk memperoleh pendidikan yang merata. Dalam era globalisasi. distribusi bahan ajar mandiri. dan ujian harus dirancang sedemikan rupa untuk mengatasi hambatan jarak dan waktu dan dapat diakses oleh peserta didik setiap saat. tantangan globalisasi. Pendidikan jarak jauh. dan bakatnya. nilai moral estetika dan etika serta memberikan pengetahuan. yaitu mencerdaskan kehidupan bangsa. yaitu untuk melayani peserta didik dalam jumlah besar. e. informasi. dan keterampilan peserta didik dalam rangka mencapai tujuan pendidikan nasional. tingkat dan jenis pendidikan.

Selain itu. Tantangan dalam perluasan kesempatan belajar perlu segera dijawab melalui kebijakan dan strategi perluasan kesempatan belajar bagi peserta didik yang membutuhkan pendidikan khusus dengan berbagai cara/pendekatan melalui: (a) perintisan dan pengembangan pendidikan terpadu. (b) perintisan dan pengembangan pendidikan inklusi. nonformal. 76461668. (c) penyelenggaraan tingkat khusus. dan informal yang saling melengkapi dan memperkaya. di samping (e) penyelenggaraan sekolah khusus. pendidikan khusus dapat diselenggarakan melalui jalur formal.doc 134 .Kesungguhan pendidikan khusus dalam mengatasi tantangan-tantangan tersebut akan mencerminkan kehidupan berbangsa dan bernegara secara demokratis yang tidak membedakan satu sama lain.

Satuan pendidikan dasar dan menengah yang dikembangkan menjadi bertaraf internasional diselenggarakan dengan mengacu pada Standar Nasional Pendidikan yang diperkaya dengan standar pendidikan/standar kompetensi negara maju dalam bidang ilmu pengetahuan. dan promosi keunggulan lokal. Lembaga pendidikan asing 76461668. dan pembangunan sumberdaya lokal maupun nasional. Perwakilan negara asing dapat menyelenggarakan pendidikan di wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia untuk warga negaranya dapat menggunakan ketentuan yang berlaku di negara yang bersangkutan atas persetujuan Pemerintah Republik Indonesia. Satuan pendidikan dasar dan menengah yang dikembangkan menjadi berbasis keunggulan lokal diselenggarakan dengan mengacu pada Standar Nasional Pendidikan yang diperkaya dan dikembangkan sesuai dengan potensi daerah/karakteristik daerah dan sosial budaya masyarakat setempat. h. Di pihak lain upaya untuk melaksanakan pembangunan nasional. dan seni. Dalam rangka pelaksnaan pembangunan nasional sesuai dengan tuntuan kehidupan global dan pendayagunaan sumberdaya daerah secara optimal. Penyelenggaraan Pendidikan oleh Negara Lain dan Kerjasama Satuan Pendidikan Indonesia dengan Satuan Pendidikan Negara Lain. UU Sisdiknas mengamanatkan kepada pemerintah dan pemerintah daerah berkewajiban untuk mengembangkan paling sedikit satu satuan pendidikan pada setiap jenis dan jenjang pendidikan menjadi satuan pendidikan berfaraf internasional dan satuan pendidikan berbasis keunggulan lokal. Satuan pendidikan dasar dan menengah berbasis keunggulan lokal menghasilkan lulusan yang memiliki kemampuan mengolah dan/atau mengembangkan sumber daya lingkungan di daerahnya dan menghasilkan produk yang mempunyai nilai ekonomis serta menunjang pelestarian. termasuk dalam hal penyelenggaraan pendidikan. Dampak positifnya adalah dapat memperkaya khasanah pendidikan nasional baik melalui pendirian satuan pendidikan internasional oleh negara lain maupun melalui kerjasama dengan satuan pendidikan di Indonesia.doc 135 . Untuk menjaga keutuhan sistem pendidikan nasional. pengembangan. serta menunjang pelestarian.g. Satuan pendidikan dasar dan menengah bertaraf internasional menghasilkan lulusan yang memiliki kemampuan dan daya saing di forum internasional. juga harus mampu memberdayakaan sumberdaya dan potensi lokal dalam semangat otonomi daerah. pengembangan. Tata kehidupan dalam era global abad ke 21 yang ditandai dengan dominasi penggunaan kaedah-kaedah teknologi informasi dan komunikasi dan kompetisi terbuka menuntut persyaratan kompetensi profesional yang berlaku secara internasional. Salah satu dampak dari kehidupan global dan penggunaan teknologi informasi dan komunikasi adalah terbukanya akses dari dan ke negara Indonesia. Pendidikan bertaraf internasional dan berbasis keunggulan lokal. selain diarahkan pada upaya memenuhi kebutuhan kehidupan global. teknologi. penyelenggaraan pendidikan oleh negara lain ataupun kerjasama penyelenggaraan pendidikan asing perlu mendapat pengaturan secara tegas.

Pendidik merupakan tenaga profesional yang bertugas merencanakan dan melaksanakan proses pembelajaran. penempatan. Pemerintah dan pemerintah daerah wajib membina dan mengembangkan tenaga kependidikan pada satuan pendidikan yang diselenggarakan oleh Pemerintah dan pemerintah daerah. Peranserta masyarakat dalam pendidikan. Pola penyelenggaraan pendidikan yang selama ini cenderung terpusat pada Pemerintah mengakibatkan kurangnya peranserta masyarakat. Penyelenggaraan pendidikan oleh lembaga asing yang menerima peserta didik warga negara Indonesia wajib memberikan pendidikan agama. Seiring dengan semangat demokratisasi dan pelaksanaan otonomi daerah. Pemerintah dan pemerintah daerah wajib membantu pembinaan dan pengembangan tenaga kependidikan pada satuan pendidikan formal yang diselenggarakan oleh masyarakat. Pendidik dan tenaga kependidikan merupakan salah satu unsur pokok dalam proses penjaminan mutu pendidikan. dan pemberhentian pendidik dan tenaga kependidikan diatur oleh lembaga yang mengangkatnya berdasarkan kebutuhan satuan pendidikan formal.doc 136 . diperlukan pendidik dan tenaga kependidikan yang profesional. Pengangkatan. pendidikan kewarganegaraan. menilai hasil pembelajaran. Pendidik dan tenaga kependidikan dapat bekerja secara lintas daerah. melakukan pembimbingan dan pelatihan. konseling dan layanan serta melakukan penelitian dan pengabdian kepada masyarakat. terutama bagi pendidik pada perguruan tinggi. kemampuan. reformasi dalam bidang pendidikan harus mencakup upaya pemberdayaan 76461668. Promosi dan penghargaan bagi pendidik dan tenaga kependidikan dilakukan berdasarkan latar belakang pendidikan. sikap dan nilai berdasarkan standar nasional dan global. j. Bahasa pengantar utama pada satuan pendidikan yang diselenggarakan oleh lembaga pendidikan asing adalah bahasa Indonesia. keterampilan. dan bahasa Indonesia kepada peserta didik warga negara Indonesia. Pemerintah dan pemerintah daerah wajib memfasilitasi satuan pendidikan dengan pendidik dan tenaga kependidikan yang diperlukan untuk menjamin terselenggaranya pendidikan yang bermutu. pengalaman.yang terakreditasi atau yang diakui di negaranya dapat menyelenggarakan pendidikan bagi warga negara asing maupun warga negara Indonesia. penyebaran. dan bahkan dapat mematikan inisiatif masyarakat dalam penyelenggaraan pendidikan. Penyelenggara pendidikan oleh masyarakat berkewajiban membina dan mengembangkan tenaga kependidikan pada satuan pendidikan yang diselenggarakannya. masyarakat dan keluarga sebagai perwujudan dari tatanan kehidupan masyarakat madani. Untuk menjadikan lembaga pendidikan sebagai pusat pembudayaan ilmu pengetahuan. pengalaman. pengawasan. Penyelenggaraan pendidikan tersebut harus bekerja sama dengan lembaga penyelenggara pendidikan Indonesia. Tenaga kependidikan selain pendidik bertugas melaksanakan administrasi. dan pelayanan teknis untuk menunjang proses pendidikan pada satuan pendidikan. Pendidik dan tenaga kependidikan. Visi sistem pendidikan nasional sebagai pranata sosial yang kuat dan berwibawa menyiratkan kemitraan dalam penyelenggaraan pendidikan oleh semua komponen bangsa yaitu Pemerintah. pengelolaan. dan prestasi kerja dalam bidang pendidikan. pengembangan. i.

dan kewajiban negara dalam rangka peningkatan keselamatan manusia serta kesepakatan dengan organisasi internasional.peranserta masyarakat baik dalam penyelenggaraan pendidikan berbasis masyarakat maupun dalam pengelolaan pendidikan melalui pembentukan dewan pendidikan di tingkat nasional. Sedangkan pembentukan dewan pendidikan dan komite sekolah/madrasah atau nama lain yang sejenis merupakan perwujudan dari kemitraan masyarakat dalam pengelolaan pendidikan bersama penyelenggara pendidikan baik di tingkat pengambil keputusan pada lembaga eksekutif dan legislatif maupun pada tingkat satuan pendidikan. untuk. 76461668. Dalam hal ini kepala sekolah/madrasah dan guru dibantu komite sekolah/madrasah atau nama lain yang sejenis/madrasah dalam mengelola sekolah/madrasah. yaitu pendidikan yang diselenggarakan oleh masyarakat sebagai pemenuhan atas ciri khas yang berkenaan dengan nilai-nilai sosial dan kultural pada masyarakat tertentu. Pasal 3 Cukup jelas. Pasal 2 Cukup jelas. Ayat (2) Pengelolaan satuan pendidikan yang dilakukan oleh Menteri lain atau kepala lembaga pemerintahan non departemen sebagaimana dimaksud dalam pasal ini adalah dalam rangka melaksanakan amanat UU. dan kabupaten/kota serta pembentukan komite sekolah/madrasah di tingkat satuan pendidikan. Pasal 5 Ayat (1) Cukup jelas. konvensi internasional. dan dari masyarakat. Pasal 4 Cukup jelas. PASAL DEMI PASAL Pasal 1 Cukup jelas. Ayat (3) Manajemen Berbasis Sekolah/Madrasah adalah bentuk otonomi satuan pendidikan. Penyelengaraan pendidikan berbasis masyarakat merupakan perwujudan dari prinsip pendidikan yang diselenggarakan oleh.doc 137 . II. provinsi.

akademik khusus. dan psikomotorik/olahraga. Cukup jelas Huruf b. Ayat (2) Huruf a. Cukup jelas 76461668. Pasal 10 Cukup jelas. Pasal 7 Cukup jelas. seni kinestetik. Pasal 9 Ayat (1) Potensi kecerdasan dan bakat istimewa meliputi bidang intelektual umum.doc 138 . Ayat (2) Cukup jelas. Cukup jelas Huruf d. Pasal 11 Ayat (1) Cukup jelas. Pasal 8 Cukup jelas. Cukup jelas Huruf c.Ayat (4) Cukup jelas Pasal 6 Cukup jelas. kreatif produktif. psikososial/kepemimpinan.

Pasal 12 Cukup jelas. Ayat (3) Cukup jelas.Huruf e. Pasal 14 Cukup jelas. Cukup jelas Huruf h. Ayat (4) Cukup jelas.doc 139 . Cukup jelas Huruf i. Cukup jelas Huruf g. Huruf f. Cukup jelas Ayat (3) Cukup jelas. Koordinasi dan mensupervisi pengembangan kurikulum untuk MA dan MAK dilakukan oleh Kantor Wilayah Departemen Agama Provinsi. 76461668. Ayat (2) Cukup jelas. Pasal 13 Ayat (1) Cukup jelas. Pasal 15 Cukup jelas.

Cukup jelas Huruf c.doc 140 . Cukup jelas Huruf f.Pasal 16 Ayat (1) Cukup jelas. Cukup jelas Huruf j. 76461668. Cukup jelas Huruf l. Koordinasi dan mensupervisi pengembangan kurikulum untuk MI dan MTs dilakukan oleh Kantor Departemen Agama Kabupaten/Kota Huruf h. Cukup jelas Huruf e. Cukup jelas Huruf k. Cukup jelas Huruf i. Cukup jelas Huruf g. Cukup jelas Huruf b. Ayat (2) Huruf a. Cukup jelas Huruf d.

doc 141 . Pasal 22 Cukup jelas. pembiayaan. Pasal 20 Cukup jelas. tenaga kependidikan. Pasal 21 Cukup jelas. pengelolaan. proses. dan penilaian pendidikan yang harus dipenuhi oleh setiap satuan pendidikan dasar dan menengah. Pasal 19 Cukup jelas.Cukup jelas Ayat (3) Standar pelayanan minimal merupakan batas minimal pemenuhan standar isi. Pasal 23 Cukup jelas. Pasal 25 Ayat (1) Cukup jelas Ayat (2) huruf a Cukup jelas Huruf b 76461668. serta pencapaian target pembangunan pendidikan nasional. Pasal 18 Cukup jelas. Pasal 24 Cukup jelas. Pasal 17 Cukup jelas. sarana dan prasarana. kompetensi lulusan.

Cukup jelas Huruf c Cukup jelas huruf d Apabila pendidikan dasar dikembangkan oleh Pemerintah Provinsi menjadi bertaraf internasional. maka laporan penyelenggaraannya disampaikan kepada Pemerintah Provinsi. Huruf e Cukup jelas Huruf f Cukup jelas 76461668. huruf e Cukup jelas Huruf f Cukup jelas Pasal 26 Ayat (1) Cukup jelas Ayat (2) Huruf a Cukup jelas Huruf b Cukup jelas Huruf c Cukup jelas Huruf d Apabila pendidikan menengah dikembangkan oleh Pemerintah Provinsi menjadi bertaraf internasional.doc 142 . maka laporan penyelenggaraannya disampaikan kepada Pemerintah Provinsi.

Pasal 29 Cukup jelas. Ayat (2) Cukup jelas. Pasal 28 Cukup jelas. Taman Kanak-kanak Al-Qur’an (TKQ). dan Adi Sekha. Pasal 36 Ayat (1) Cukup jelas Ayat (2) 76461668. Ayat (3) Cukup jelas Pasal 35 Cukup jelas. Pasal 32 Cukup jelas. Pasal 31 Cukup jelas.doc 143 . Pasal 30 Cukup jelas. Pasal 33 Cukup jelas.Pasal 27 Cukup jelas. Taman Pendidikan AlQur’an (TPQ). Pasal 34 Ayat (1) Bentuk lain yang sederajat antara lain Tarbiyatul Athfal (TA).

Huruf c. Program pembelajaran sosial dan kepribadian pada TK.doc 144 . RA. pramenulis dan praberhitung yang harus dilaksanakan secara hati-hati. Program pembelajaran pengetahuan dan teknologi pada TK. pramembaca. atau bentuk lain yang sederajat dimaksudkan untuk mempersiapkan peserta didik secara akademik memasuki SD.Ketentuan ini tidak berlaku bagi satuan pendidikan yang secara khusus dirancang untuk melayani peserta didik dari kelompok gender atau agama tertentu. atau bentuk lain yang sederajat dimaksudkan untuk pembentukan kesadaran dan wawasan peserta didik atas hak dan kewajibannya sebagai warga masyarakat dan dalam interaksi sosial serta pemahaman terhadap diri dan peningkatan kualitas diri sebagai manusia sehingga memiliki rasa percaya diri. Program pembelajaran agama dan akhlak mulia pada TK. Huruf b. mendengarkan. MI. sehingga menjadi bagian dari budaya sekolah. tidak memaksa. Ayat (2) Huruf a. 76461668. RA. RA. Ayat (3) Cukup jelas. atau bentuk lain yang sederajat dengan menekankan pada penyiapan kemampuan berkomunikasi dan berlogika melalui berbicara. dan menyenangkan sehingga anak menyukai belajar. baik di dalam maupun di luar sekolah. Ayat (4) Cukup jelas Pasal 37 Ayat (1) Cukup jelas. atau bentuk lain yang sederajat dimaksudkan untuk peningkatan potensi spiritual peserta didik melalui contoh pengamalan dari pendidik agar menjadi kebiasaan sehari-hari.

Ayat (6) Stimulasi psikososial adalah rangsangan pendidikan yang menumbuhkan kepekaan memahami dan bersikap terhadap lingkungan sosial sekitarnya. kemampuan mengekspresikan diri dan kemampuan mengapresiasi keindahan dan harmoni yang terwujud dalam tingkah laku keseharian. 76461668.Huruf d. olahraga dan kesehatan pada TK. Pasal 39 Ayat (1) Bentuk lain yang sederajat dengan SD dan MI antara lain Paket A. RA atau bentuk lain yang sederajat dimaksudkan untuk meningkatkan potensi fisik dan menanamkan sportivitas serta kesadaran hidup sehat dan bersih. Ayat (4) Cukup jelas. Misalnya memahami dan bersikap sopan kepada orang tua. Bentuk lain yang sederajat dengan SMP dan MTs antara lain Paket B. RA atau bentuk lain yang sederajat dimaksudkan untuk meningkatkan sensitivitas. dan Culla Sekha. dan Majjhima Sekha. Pasal 38 Cukup jelas. Ayat (7) Cukup jelas. saudara. Program pembelajaran estetika pada TK. Ayat (3) Cukup jelas. pendidikan diniyah menengah pertama. pendidikan diniyah dasar. Huruf e. Madyama Vidyalaya (MV). dan teman.doc 145 . Adi Vidyalaya (AV). Program pembelajaran jasmani. Ayat (5) Cukup jelas.

Ayat (3) Cukup jelas. Ayat (2) Cukup jelas. Pasal 41 Ayat (1) Peserta didik pada SMP atau MTs dapat berasal dari warga negara asing. Ayat (4) Kemudahan akses fisik misalnya jarak tempuh dari tempat 76461668. Ayat (2) Lihat penjelasan Pasal 36 ayat (2). Ayat (2) Cukup jelas. Ayat (4) Cukup jelas. Pasal 42 Ayat (1) Cukup jelas. Ayat (3) Cukup jelas.doc 146 . Pasal 40 Ayat (1) Cukup jelas. sejauh daya tampung memungkinkan. rekomendasi dapat dilakukan oleh dewan guru satuan pendidikan yang bersangkutan.Ayat (2) Cukup jelas. Ayat (3) Apabila psikolog profesional tidak ada.

Pasal 43 Cukup jelas. Jenis program keahlian mengacu kepada jenis pekerjaan. Struktur penjurusan ini akan menentukan 76461668. Adapun struktur penjurusan pada pendidikan kejuruan adalah: kelompok kejuruan. Pasal 44 Cukup jelas. bidang kejuruan dan program kejuruan. dan Maha Sekha. Ayat (3) Cukup jelas. Pasal 45 Cukup jelas.tinggal ke satuan pendidikan.doc 147 . Ayat (2) Cukup jelas. Ayat (6) Cukup jelas. Pasal 47 Ayat (1) Cukup jelas. Utama Vidyalaya (UV). pendidikan diniyah menengah atas. Ayat (3) Penjurusan pada pendidikan kejuruan dalam bentuk bidang kejuruan yang merupakan unit akademik terkecil dalam pendidikan kejuruan. Pasal 46 Ayat (1) Bentuk lain yang sederajat dengan SMA dan MA antara lain Paket C. Ayat (5) Cukup jelas. Ayat (2) Cukup jelas.

Ayat (3) pelestarian seni budaya dan atau 76461668. Ayat (7) Cukup jelas.cakupan mata pelajaran pada setiap jenis bidang kejuruan. Ayat(3) Cukup jelas.doc 148 . maka dalam rangka mengantisipasi persaingan global. Ayat (6) Cukup jelas. Ayat (4) Cukup jelas. Pelestarian meliputi kemahiran tertentu. regional dan global. pendidikan kejuruan harus memperhatikan dan mempertimbangkan tren ketenagakerjaan nasional. Ayat(2) Cukup jelas. Ayat (5) Karena pendidikan kejuruan berorientasi pada peluang untuk memperoleh pekerjaan. MAK atau bentuk lain yang sederajat dapat berasal dari warga negara asing. Pasal 48 Cukup jelas Pasal 49 Ayat (1) Peserta didik pada SMA atau MA SMK. Pasal 50 Ayat (1) Cukup jelas. Ayat (2) Lihat penjelasan Pasal 36 ayat (2).

dapat mencakup program spesialis. Ayat (8) Cukup jelas. teknologi. Pendidikan profesi merupakan pendidikan tinggi setelah program pendidikan sarjana yang mempersiapkan peserta didik untuk memiliki pekerjaan dengan persyaratan keahlian khusus. sesuai ketentuan Pasal 93 Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan. yang mencakup program sarjana. Ayat (7) Cukup jelas. Ayat (6) Cukup jelas.doc 149 . dan/atau seni tertentu. magister.Cukup jelas. Pasal 52 Ayat (1) Cukup jelas. Ayat (2) Pendidikan akademik merupakan pendidikan tinggi yang diarahkan terutama pada penguasaan dan pengembangan disiplin ilmu pengetahuan. 76461668. Ayat (5) Cukup jelas. Ayat (4) Lulusan dari satuan pendidikan yang mendapatkan pengakuan sama adalah lulusan dari satuan pendidikan formal yang diselenggarakan tidak mengacu pada Standar Nasional Pendidikan akan tetapi telah memperoleh pengakuan dari Pemerintah atas dasar rekomendasi dari Badan Standar Nasional Pendidikan. Pasal 51 Cukup jelas. dan doktor.

dan kopetensi sosial diperoleh melalui program pendidikan profesi. Lulusan program ini memperoleh kualifikasi akademik sarjana pendidikan guru TK/RA atau SD/MI. diploma III. dan/atau seni) dalam program studi nonkependidikan untuk memperoleh kualifikasi akademik sarjana nonkependidikan. Ayat (2) Program pendidikan tenaga kependidikan termasuk program pengadaan guru serta pengembangan ilmu kependidikan dan ilmu dasar. kopetensi kepribadian. 76461668. dan/atau seni). diploma II. yang mencakup program pendidikan diploma. kompetensi kepribadian. Penguasaan kompetensi pedagogik.`teknologi. Pasal 55 Ayat (1) Program pendidikan secara serempak dan utuh (concurrent program) adalah program pendidikan guru yang kurikulumnya memuat pengembangan kompetensi profesional (penguasaan substansi keilmuan. Pasal 54 Ayat (1) Cukup jelas. teknologi. teknologi. dan kopetensi sosial dalam satu program studi. Ayat (2) Program pendidikan bersambungan (consecutive program) adalah program pendidikan guru yang diawali dengan pemerolehan kompetensi profesional (penguasaan substansi keilmuan. Ayat (3) Cukup jelas. dan/atau seni pada fakultas tarbiyah dan pada fakultas lain yang sejenis. kompetensi pedagogik. dan diploma IV.doc 150 .Pendidikan vokasi merupakan pendidikan tinggi yang diarahkan pada penguasaan keahlian terapan tertentu. setinggi-tingginya setara dengan program pendidikan sarjana. Pasal 53 Cukup jelas. Program pendidikan diploma terdiri atas program pendidikan diploma I.

76461668. Pasal 57 Ayat (1) Penyediaan unsur penunjang disesuaikan dengan ciri dari perguruan tinggi yang bersangkutan. Ayat (2) Cukup jelas. Setiap perguruan tinggi disarankan untuk memiliki sarana olahraga dan kesenian yang memadai untuk menciptakan kehidupan kampus yang manusiawi dan menyenangkan. laboratorium pengajaran. Perguruan tinggi yang lebih fokus pada pendidikan profesi dan/atau vokasi menyediakan secara cukup perpustakaan pengajaran. akses internet. Pasal 60 Cukup jelas. Pasal 59 Cukup jelas. dan memiliki jurnal ilmiah yang secara berkala menerbitkan hasil-hasil penelitian. Unit pengelola/layanan dapat menjadi unit pelaksana teknis yang membidangi satu atau beberapa objek pengelolaan/layanan. pusat komputerisasi riset. Ayat (3) Cukup jelas. perguruan tinggi riset harus menyediakan secara cukup perpustakaan riset. Misalnya. pusat komputasi pengajaran. laboratorium riset. Ayat (4) Cukup jelas. Pasal 58 Cukup jelas.doc 151 . Pasal 62 Cukup jelas.Pasal 56 Cukup jelas. dan akses internet. Pasal 61 Cukup jelas.

Ayat (4) Cukup jelas. Pasal 64 Ayat (1) Cukup jelas. Ayat (3) Cukup jelas. Cukup jelas.doc 152 . Kebijakan semacam ini harus dinyatakan secara terbuka sebagai kebijakan afirmatif. Ayat (2) Cukup jelas. Tingkat pendidikan hanya berlaku untuk persyaratan mengikuti program pendidikan yang lebih rendah ke program yang lebih tinggi dalam satu jenjang pendidikan tinggi. Ayat (5) Cukup jelas.Pasal 63 Ayat (1) Huruf a. mahasiswa lulusan program sarjana melanjutkan ke program pascasarjana. Huruf b. Ayat (2) Cukup jelas. Misalnya. Ayat (4) Lihat penjelasan Pasal 36 ayat (2). atau kelompok tertentu dari ketertinggalannya. daerah. 76461668. Ayat (3) Perguruan tinggi dapat menerapkan kebijakan afirmatif dalam penerimaan mahasiswa baru untuk mengakomodasi etnik.

Ayat (8) Cukup jelas. afektif.doc 153 . Ayat (2) Cukup jelas. Pengumuman hasil tes tambahan dan/atau penilaian rapor tidak boleh dilakukan sebelum pengumuman Ujian Nasional dimaksudkan untuk menjaga integritas hasil ujian nasional dan pemenuhan syarat kelulusan. Ayat (2) Cukup jelas. Pasal 65 Ayat (1) Perjanjian sebagaimana dimaksud dalam ketentuan ini memuat pula hak dan kewajiban mahasiswa yang diatur dalam anggaran dasar dan anggaran rumah tangga. Pasal 67 Ayat (1) Yang dimaksud dengan Sistem Kredit Semester (SKS) adalah suatu sistem penyelenggaraan pendidikan di mana beban belajar mahasiswa. Tes tambahan tidak boleh menduplikasi Ujian Nasional dimaksudkan untuk efisiensi dalam proses seleksi penerimaan. beban kerja tenaga pengajar dan penyelenggara program lembaga pendidikan tinggi dinyatakan 76461668. dan psikomotorik.Ayat (6) Lihat penjelasan Pasal 50 ayat (4) Ayat (7) Tes tambahan misalnya tes skolastik. Pasal 66 Ayat (1) Kemampuan konfluen merupakan kemampuan utuh mahasiswa yang mencerminkan keintegrasian kemampuan kognitif.

Satu matakuliah berbot 3 sks berarti sama dengan kegiatan studi 3 jam tatap muka. Banyaknya sks yang diberikan untuk matakuliah. Pasal 69 Cukup jelas. Ayat (5) Cukup jelas.doc 154 . Universitas Al Azhar yang memiliki kampus utama di Cairo dan beberapa kampus cabang di hampir seluruh distrik di Mesir. dan 3 jam kegiatan mandiri selama 16 minggu. Ayat (6) Cukup jelas. Ayat (2) Cukup jelas. Dalam setiap semester “reguler” 1 (satu) sks sama dengan beban studi setiap minggu berupa 1 (satu) jam tatap muka.dalam satuan kredit semester (sks). Ayat (3) Cukup jelas Ayat (4) Cukup jelas. Pasal 70 76461668. Ayat (2) Contoh sistem multikampus adalah sistem State University of New York (SUNY) yang memiliki 60 (enam puluh) kampus di seluruh negara bagian New York. Ayat (3) Cukup jelas. 3 jam kegiatan terstruktur. atau kegiatan proses belajar mengajar lainnya. 1 (satu) jam kegiatan terstruktur. dan 1 (satu) jam kegiatan mandiri untuk kurun waktu enam belas (16) minggu efektif. merupakan pengakuan atas keberhasilan usaha untuk menyelesaikan kegiatan akademik bersangkutan. Pasal 68 Ayat (1) Yang dimaksud dengan kelas jauh adalah sistem pembelajaran yang diselenggarakan di luar kampus induk.

Ayat (5) Invensi adalah suatu ciptaan atau perancangan baru yang belum ada sebelumnya yang memperkaya khazanah serta dapat digunakan untuk menyempurnakan atau memperbaharui ilmu pengetahuan dan teknologi yang telah ada.doc 155 . Ayat (9) Cukup jelas. Ayat (3) Cukup jelas. Ayat (7) Sertifikat paten adalah dokumen resmi yang diberikan oleh pemerintah kepada pihak-pihak yang menemukan sesuatu teknologi (inventor). Paten adalah salah satu bentuk dari hak kekayaan intelektual (HKI).Cukup jelas. Ayat (4) Cukup jelas. Ayat (2) Cukup jelas. Pasal 71 Cukup jelas. Ayat (8) Pengayaan materi pembelajaran dapat diartikan bahwa hasil penelitian wajib dijadikan buku ajar hand-out atau tampilan lain yang disajikan pada saat mengajar. Ayat (6) Telaah nirnama (blind review) adalah pakar yang melakukan penelaahan. kritik dan koreksi terhadap suatu naskah ilmiah agar menjadi lebih sempurna. Pasal 72 Ayat (1) Penelitian dasar adalah penelitian yang berorientasi pada penjelasan pada fenomena alam (penelitian untuk ilmu) yang melandasi penelitian terapan dan penelitian pengembangan. tetapi antara penulis dan pihaknya tidak saling mengenal dan tidak saling mengetahui. 76461668.

Ayat (8) Akreditasi oleh Departemen dilakukan secara objektif dengan prinsipprinsip berikut: 1. Ayat (6) Cukup jelas. Ayat (2) Cukup jelas. b. tenaga ahli dari organisasi profesi. 4. atau pakar dari luar negeri. Anggota dewan penelaah sebagaimana dimaksud pada huruf 1 huruf a tidak melebihi 40% (empat puluh persen) dari jumlah anggota dewan penelaah. Ayat (3) Cukup jelas. dan c. pakar keilmuan yang dimiliki oleh perguruan tinggi lain atau lembaga ilmiah lainnya. Ayat (4) Cukup jelas.Pasal 73 Ayat (1) Cukup jelas. Jurnal ilmiah harus memiliki dewan penelaah yang terdiri atas: a. Ayat (7) Cukup jelas. Ayat (5) Cukup jelas. Penelaahan dan pemilihan naskah ilmiah yang akan 76461668. pakar keilmuan yang dimiliki oleh perguruan tinggi yang bersangkutan.doc 156 . Dewan penelaah sebagaimana dimaksud pada huruf 1 dapat menunjuk mitra bestari untuk menelaah dan memilih naskah ilmiah yang akan diterbitkan. 2. 3.

diterbitkan harus menerapkan sistem telaah nirnama. Pasal 76 Cukup jelas. Pasal 81 Ayat (1) Gelar Doktor Kehormatan bukanlah gelar akademik namun sebutan kehormatan. Atas dasar hasil akreditasi. Pasal 74 Cukup jelas. Pasal 80 Ayat (1) Cukup jelas. Pasal 75 Cukup jelas. Pasal 79 Cukup jelas. Pasal 78 Cukup jelas. Pasal 77 Cukup jelas. dan tidak dapat digunakan untuk melengkapi persyaratan kepangkatan dalam sistem 76461668. Ayat (2) Menteri Agama menetapkan kesetaraan ijazah perguruan tinggi luar negeri dengan ijazah gelar perguruan tinggi Indonesia dalam disiplin ilmu agama.doc 157 . Departemen menetapkan status akreditasi yang diperoleh oleh jurnal yang bersangkutan. Jurnal ilmiah sebagaimana dimaksud pada huruf 1 dapat memuat artikel ilmiah yang berasal dari perguruan tinggi yang bersangkutan sebanyak-banyaknya 20% (dua puluh persen) dari seluruh artikel ilmiah yang diterbitkan pada setiap penerbitan. 5.

Taman Bermain. keterampilan dan sikap melalui jalur pendidikan nonformal. Taman Pendidikan Al-Quran (TPQ). Taman Balita.doc 158 . dan PAUD yang diintegrasikan dengan program layanan yang telah ada seperti Pos Pelayanan Terpadu (Posyandu) dan program bina keluarga balita (BKB). Ayat (3) Cukup jelas. keterampilan dan sikap yang diperoleh peserta didik pada satuan pendidikan formal dirasa belum memadai. Pasal 84 Satuan pendidikan lain yang sejenis pada pendidikan nonformal misalnya POS PAUD. Pendidikan nonformal berfungsi sebagai pelengkap apabila peserta didik pada satuan pendidikan formal merasa perlu untuk menambah pengetahuan. Ayat (4) Cukup jelas. Pasal 83 Ayat (1) Pendidikan nonformal berfungsi sebagai pengganti. PAUD Bina Iman Anak (PAUD-BIA). PAUD Sekolah Minggu (PAUD-SM). Ayat (2) Cukup jelas. dan Program Paket C setara SMA serta kursus dan pelatihan. Pendidikan nonformal berfungsi sebagai penambah pada pendidikan formal apabila pengetahuan. Program Paket B setara SMP. penambah. adalah: Program Paket A setara SD. 76461668.kepegawaian pegawai negeri sipil. Taman Pendidikan Anak Sholeh (TAPAS). Taman Asuh Anak Muslim. Jenis-jenis pendidikan nonformal yang mempunyai fungsi pengganti pendidikan formal. Ayat (2) Cukup jelas. dan pelengkap pendidikan formal bagi peserta didik yang karena berbagai hal tidak dapat mengikuti kegiatan pembelajaran pada satuan pendidikan formal atau peserta didik memilih jalur pendidikan nonformal untuk memenuhi kebutuhan belajarnya. Pasal 82 Cukup jelas.

kecakapan dalam memilih dan menentukan jalan hidup pribadi. kecakapan dalam pengenalan terhadap kondisi dan potensi diri. Pasal 87 Cukup jelas. Pasal 91 Ayat (1) Kecakapan personal atau kecakapan pribadi mencakup kecakapan dalam melakukan ibadah sesuai dengan agama yang dianutnya. PAUD-SM adalah salah satu bentuk satuan PAUD pada jalur pendidikan nonformal yang menyelenggarakan program pendidikan keagamaan Kristen bagi anak berusia 2 (dua) tahun sampai dengan 6 (enam) tahun yang berbasis Sekolah Minggu. percaya diri.doc 159 . Pasal 86 Cukup jelas.POS PAUD adalah salah satu program satuan PAUD pada jalur pendidikan nonformal yang menyelenggarakan program pendidikan bagi anak sejak lahir sampai dengan berusia enam tahun yang dapat diintegrasikan dengan dan TPQ adalah salah satu bentuk satuan PAUD pada jalur pendidikan nonformal yang menyelenggarakan program pendidikan keagamaan Islam bagi anak berusia 2 (dua) tahun sampai dengan 6 (enam) tahun yang berbasis Taman Pendidikan Al-Quran. kecakapan dalam melakukan koreksi diri. kecakapan dalam menghadapi tantangan 76461668. Pasal 88 Cukup jelas. Pasal 90 Cukup jelas. PAUD-BIA adalah salah satu bentuk satuan PAUD pada jalur pendidikan nonformal yang menyelenggarakan program pendidikan keagamaan Katholik bagi anak berusia 2 (dua) tahun sampai dengan 6 (enam) tahun yang berbasis Bina Iman Anak Katholik. Pasal 85 Cukup jelas. Pasal 89 Cukup jelas.

kecakapan melakukan penelitian dan percobaan-percobaan dengan pendekatan ilmiah.dan problema serta kecakapan dalam mengatur diri.doc 160 . kecakapan bekerjasama dengan sesama. kecakapan dalam menyesuaikan diri dengan lingkungan. bermasyarakat. dan bernegara. Kecakapan vokasional mencakup kecakapan dalam memilih bidang pekerjaan. Pasal 93 Ayat (1) Pemuda adalah penduduk yang berusia 15 (lima belas) sampai dengan 35 (tiga puluh lima) tahun. Ayat (3) Cukup jelas. mengelola pekerjaan. Ayat (2) Cukup jelas. empati atau tenggang rasa. teknologi dan/atau seni sesuai dengan bidang yang dipelajari. Ayat (4) 76461668. berpikir kritis dan kreatif. Kecakapan sosial mencakup kecakapan dalam hidup berkeluarga. mengembang profesionalitas dan produktivitas kerja dan kode etik bersaing dalam melakukan pekerjaan. Ayat (2) Cukup jelas. kepemimpinan dan tanggung jawab sosial. berbangsa. Pasal 92 Cukup jelas. Ayat (3) Cukup jelas. Kecakapan intelektual mencakup kecakapan terhadap penguasaan ilmu pengetahuan.

Ayat (2) Cukup jelas.doc 161 . Pasal 95 Cukup jelas. Program Paket B sederajat dengan SMP/MTs. Pasal 99 76461668. Ayat (5) Cukup jelas. Pasal 97 Cukup jelas. Pasal 96 Cukup jelas. Ayat (3) Cukup jelas. Pasal 94 Cukup jelas. dan Program Paket C sederajat dengan SMA/MA telah diatur dalam Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2003 tentang Standar Nasional Pendidikan. Lembaga yang ditunjuk oleh pemerintah daerah adalah lembaga yang telah diakui memiliki kompetensi untuk melakukan penilaian secara profesional dan mandiri oleh Badan Standar Nasional Pendidikan dan ditetapkan oleh Menteri.Cukup jelas. Pasal 98 Ayat (1) Khusus untuk penyetaraan hasil pendidikan nonformal Program Paket A sederajat dengan SD/MI. Lembaga yang ditunjuk oleh Pemerintah adalah Badan Standar Nasional Pendidikan atau lembaga lain yang memiliki kompetensi untuk melakukan penilaian secara profesional dan mandiri. Ayat (4) Cukup jelas.

Ayat (4) Cukup jelas. Ayat (2) Cukup jelas Ayat (3) Yang dimaksud terbuka adalah 76461668. Pasal 103 Ayat (1) Cukup jelas. Ayat (5) Cukup jelas. Pasal 101 Ayat (1) Lulus ujian pada satuan pendidikan formal dengan mengacu pada standar nasional pendidikan mencakup ujian sekolah/madrasah dan ujian nasional pada tingkat akhir satuan pendidikan.Cukup jelas. Pasal 102 Cukup jelas. Ayat (3) Cukup jelas. lembaga pelatihan serta ujian atau uji kompetensi pada satuan atau program nonformal yang lain. Ayat (2) Lulus ujian pada satuan pendidikan nonformal dengan mengacu pada standar nasional pendidikan antara lain ujian atau uji kompetensi pada lembaga kursus. Pasal 100 Cukup jelas.doc sistem pendidikan yang 162 .

Peserta didik dapat belajar sambil bekerja. Yang dimaksud belajar tuntas adalah proses pembelajaraan untuk mencapai taraf penguasaan kompetensi (mastery level) sesuai dengan tuntutan kurikulum. Yang dimaksud dengan belajar mandiri adalah proses belajar yang dilakukan peserta didik secara peseorangan atau kelompok dengan memanfaatkan berbagai sumber belajar dan mendapat bantuan atau bimbingan belajar atau tutorial sesuai kebutuhan. Ayat (2) Sumber belajar Ayat (3) Layanan berbasis teknologi informasi dan komunikasi tanpa mengesampingkan layanan tatap muka.doc 163 . Ayat (2) Pengorganisasian modus tunggal adalah penyelenggaraan pendidikan jarak jauh dalam satu satuan pendidikan formal 76461668. Peserta didik dapat mencapai tingkat penguasaan kompetensi yang dipersyarakan dengan kecepatan yang berbeda-beda. Pasal 105 Ayat (1) Cukup jelas. Berbasis teknologi pendidikan adalah pendidikan yang dirancang dan dikembangkan berdasarkan kebutuhan individu dengan memanfaatkan teknologi pembelajaran. seorang peserta didik baru dapat menempuh kegiatan belajar (learning tasks) berikutnya apabila telah menguasai kompetensi yang telah disyaratkan dalam kegiatab belajar sebelumnya. Pasal 104 Ayat (1) Cukup jelas. dan media lain. Contoh.diselenggarakan dengan fleksibilitas pilihan dan waktu penyelesaian program. Proses belajar berlangsung secara bertahap dan berkelanjutan. atau mengambil program-program pendidikan yang berbeda secara terpadu dan berkelanjutan melalui pembelajaran tatap muka atau jarak jauh. informasi. teknologi kokunikasi.

Pasal 106 Ayat (1) Cukup jelas. dan Universitas Terbuka yang menyelenggarakan program 76461668. Ayat (5) Cukup jelas. Ayat (3) Cukup jelas. misalnya SMA menyelenggarakan pembelajaran jarak jauh untuk mata pelajaran bahasa Inggris. Ayat (4) Cakupan program pendidikan berbasis satuan pendidikan seperti yang diselenggarakan oleh SMP Terbuka dan SMA Terbuka yang menyelenggarakan pendidikan SMP dan SMA. Shukothai Thammathirat Open University di Thailand. Ayat (4) Pengorganisasian modus konsorsium adalah penyelenggaraan pendidikan jarak jauh pada berbagai jalur. jenjang. Pendidikan tatap muka tersebut terikat dengan jadwal waktu dan tempat seperti yang berlangsung pada lembaga pendidikan umumnya. Ayat (2) Cakupan program pendidikan berbasis mata pelajaran adalah suatu satuan pendidikan yang menyelenggarakan pendidikan jarak jauh hanya untuk satu mata pelajaran. jenjang. dan University on the Air di China.pada berbagai jalur. dan universitas maya (cyber university). Pada tingkat pendidikan tinggi pengorganisasian modus tunggal adalah seperti yang diselenggarakan oleh Universitas Terbuka di Indonesia. dan jenis pendidikan oleh beberapa satuan pendidikan secara bersama (kolaboratif). dan jenis pendidikan. jenjang. dan jenis pendidikan. Misalnya suatu perguruan tinggi bekerjasama dengan perguruan tinggi lain atau lembaga lain dalam bentuk program pendidikan lapis (sandwich) atau kembaran (twinning) jarak jauh.doc 164 . Ayat (3) Pengorganisasian modus ganda adalah penyelenggaraan pendidikan jarak jauh bersamaan dengan pendidikan tatap muka pada berbagai jalur.

Pasal 107 Cukup jelas.doc 165 . emosional. Program pendidikan terpadu adalah program pendidikan yang memberikan kesempatan bagi peserta didik berkelainan untuk belajar bersama-sama dengan peserta didik normal pada satuan pendidikan umum maupun kejuruan. dengan menyediakan sarana. tenaga pendidik. dengan cara menyediakan sarana. maupun tenaga kependidikan yang sesuai dengan kebutuhan mereka. maupun tenaga kependidikan yang sesuai dengan kebutuhan mereka. dimana mereka mengikuti kurikulum yang berlaku bagi peserta didik normal. Pasal 110 Cukup jelas. Pasal 112 Ayat (1) Cukup jelas. Program pendidikan inklusif adalah program pendidikan yang memberikan kesempatan bagi peserta didik berkelainan untuk belajar bersama-sama dengan peserta didik normal pada satuan pendidikan umum maupun kejuruan. Pasal 111 Cukup jelas. tenaga pendidik. dan sosial. Pasal 109 Cukup jelas. mental. dimana mereka mengikuti kurikulum yang disesuaikan dengan 76461668.pendidikan tinggi. Ayat (2) Satuan pendidikan khusus bagi peserta didik berkelainan adalah satuan pendidikan yang dirancang secara eksklusif untuk melayani peserta didik yang memiliki kesulitan dalam proses pembelajaran karena kelainan fisik. Pasal 108 Cukup jelas.

Ayat (3) Cukup jelas.kebutuhannya. Ayat (3) Cukup jelas. Ayat (2) Cukup jelas. Ayat (4) Yang dimaksud dengan sistem unit adalah sistem pelayanan pendidikan yang memadukan pendidikan dasar dan menengah dalam 1 (satu) manajemen karena alasan skala ekonomi. Pasal 113 Cukup jelas. 76461668. Ayat (5) Cukup jelas.doc 166 . Pasal 114 Cukup jelas. Pasal 117 Cukup jelas. Pasal 115 Ayat (1) Cukup jelas. Pasal 118 Ayat (1) Cukup jelas. Pasal 116 Cukup jelas.

Pasal 122 Cukup jelas. Ayat (3) huruf a yang dimaksud dengan tingkat inklusi adalah penyelenggaraan pendidikan yang terdiri atas peserta didik normal dan yang memiliki potensi kecerdasan dan/atau bakat istimewa dengan menggunakan kurikulum yang dibedakan. dan kinestetik. huruf c Cukup jelas. Pasal 120 Ayat (1) Peserta didik yang secara ekstrim memiliki potensi jauh di atas rata-rata dinyatakan antara lain mempunyai kecerdasan di atas 3 simpangan baku (standar deviasi) populasi anak.doc 167 . Ayat (2) Cukup jelas. emosional. program percepatan dan pengayaan tidak perlu diadakan secara ekslusif karena sudah terintegrasi di dalam sistem.Ayat (2) Pada satuan pendidikan yang menerapkan sistem satuan kredit semester (sks). Pasal 119 Cukup jelas. Program percepatan dan pengayaan dilakukan dengan memperhatikan keseluruhan kompetensi kecerdasan yang harus dicapai peserta didik yang meliputi kecerdasan intelektual. spiritual. huruf b Cukup jelas. Pasal 121 Cukup jelas. 76461668.

Pasal 128 Cukup jelas.doc 168 . dan seni misalnya negara anggota Organisation for Economic Co-Operation and Development (OECD). Pasal 127 Cukup jelas.Pasal 123 Cukup jelas. Pasal 125 Cukup jelas Pasal 126 Ayat (1) Negara lain yang mempunyai keunggulan dalam bidang ilmu pengetahuan. Pasal 129 Cukup jelas Pasal 130 Cukup jelas. Ayat (4) Cukup jelas. teknologi. Pasal 124 Cukup jelas. Ayat (3) Cukup jelas. Ayat (2) Cukup jelas. 76461668.

Model terpisah-beda sistem-tidak satu atap dilaksanakan di lokasi yang berbeda (terpisah) dengan sistem pengelolaan pendidikan yang berbeda. Pasal 132 Model terpadu-satu sistem-satu atap dilaksanakan dalam satu lokasi dengan menggunakan sistem pengelolaan pendidikan yang sama. Pasal 133 Cukup jelas.Pasal 131 Cukup jelas. Model keluar masuk (entry-exit) dilaksanakan dengan cara mengelola kelas atau satuan pendidikan biasa bersamaan dengan kelas atau satuan pendidikan bertaraf internasional atau berbasis keunggulan lokal yang peserta didik pada kelas atau satuan pendidikan biasa dapat pindah ke kelas atau satuan pendidikan bertaraf internasional atau berbasis keunggulan lokal sebaliknya. Model terpisah-satu sistem-tidak satu atap dilaksanakan dalam lokasi yang berbeda atau terpisah dengan menggunakan sistem pengelolaan pendidikan yang sama. Pasal 135 Ayat (1) untuk Bahasa asing dapat digunakan sebagai bahasa pengantar mendukung kemampuan berbahasa asing peserta didik. Ayat (2) Cukup jelas. Untuk pindah dari satuan pendidikan biasa ke satuan pendidikan bertaraf internasional atau berbasis keunggulan lokal harus memenuhi persyaratan yang ditetapkan oleh satuan pendidikan yang dituju. 76461668. Pasal 134 Cukup jelas.doc 169 .

Pertukaran dosen dapat dilakukan melalui program 76461668. Ijazah dan gelar yang diberikan dilakukan berdasarkan kesepakatan dari kedua belah pihak dengan memperhatikan berbagai persyaratan pemberian ijazah maupun gelar akademik dari masing-masing perguruan tinggi dalam rangka pengendalian mutu. serta penghasilan lainnya.Ayat (3) Sistem penggajian yang tidak diskriminatif antara lain tidak membedakan tata cara dan besaran gaji. Pasal 139 Ayat (1) Cukup jelas. tunjangan. Cukup jelas. Pasal 136 Sistem pendidikan negara lain meliputi kurikulum. Pasal 138 Cukup jelas. pembelajaran. penilaian. Program kembaran ialah program yang dilaksanakan secara bersama oleh dua perguruan tinggi atau lebih untuk melaksanakan suatu program studi. dan/atau penjenjangan pendidikan yang secara resmi berlaku di negaranya. Huruf c. Pasal 137 Cukup jelas. Ayat (2) Cukup jelas. Persetujuan senat akademik dalam hal ini diperlukan untuk menjamin bahwa kerjasama ini telah dikaji dengan baik sebelumnya. Huruf b. Ayat (3) Huruf a.doc 170 .

Pasal 144 Ayat (1) huruf a. Cukup jelas. Pasal 143 Cukup jelas. Huruf i. Cukup jelas.doc 171 . Cukup jelas. Ayat (4) Cukup jelas. Huruf h. Huruf e. Huruf g. 76461668. Huruf d.“sabatical leave” yang tata caranya dapat diatur oleh masing-masing perguruan tinggi. Cukup jelas. Pasal 142 Cukup jelas. Cukup jelas. Pasal 141 Cukup jelas. Cukup jelas. Pasal 140 Cukup jelas. Cukup jelas. Huruf f.

3) 4) huruf f. atau bentuk lain yang sederajat. huruf h.huruf b. Ayat (3) Cukup jelas. Peserta didik pada SD. 76461668. Cukup jelas. huruf c. atau bentuk lain yang sederajat berhak pindah ke jalur atau satuan pendidikan lain yang setara. Mahasiswa perguruan tinggi berhak pindah ke perguruan tinggi lain atau program studi lain yang setara. MAK atau bentuk lain yang sederajat dapat pindah program kejuruan pada jalur dan satuan pendidikan lain yang setara.doc 172 . huruf d. MI. Peserta didik pada SMA. Ayat (2) Cukup jelas. huruf e. MTs. SMK. Bilamana peserta didik memenuhi persyaratan penerimaan pada satuan pendidikan. Cukup jelas. maka: 1) 2) Peserta didik PAUD berhak pindah ke jalur atau satuan pendidikan lain yang setara. Cukup jelas. Cukup jelas. huruf g. SMP. dan daya tampung satuan pendidikan atau program studi yang bersangkutan memungkinkan menerimanya. MA. Cukup jelas.

pelatih atau instruktur. Dan untuk pendidik pada lembaga kursus dan pelatihan antara lain pengajar. Huruf h. Huruf f.doc 173 . Cukup jelas. Konselor yang dimaksud dalam ayat ini termasuk guru bimbingan dan konseling. Ayat (2) Huruf a. Pasal 146 Cukup jelas. Huruf d. paket B. Cukup jelas. Cukup jelas. Cukup jelas. pembimbing. Huruf g. 76461668. Huruf e.Pasal 145 Cukup jelas. dan paket C antara lain nara sumber teknis. Cukup jelas. tutor penanggung jawab tingkat . Cukup jelas. dan tutor penanggung jawa mata pelajaran. Pasal 147 Ayat (1) Sebutan lain termasuk pendidik pada program paket A. Huruf b. dan penguji. Cukup jelas. Huruf c.

Huruf i. Pasal 154 Cukup jelas. Pasal 150 Cukup jelas. Ayat (2) Apabila pendidik merasa bahwa peserta didik memerlukan pembelajaran tambahan maka kebutuhan itu dipenuhi melalui 76461668. Cukup jelas. Pasal 156 Cukup jelas. Pasal 148 Cukup jelas.doc 174 . Pasal 153 Cukup jelas. Pasal 152 Cukup jelas. Pasal 151 Cukup jelas. Pasal 155 Cukup jelas. Pasal 149 Cukup jelas. Pasal 157 Ayat (1) Sekolah Menengah Kejuruan yang memiliki program studi tata busana dapat menyediakan pakaian seragam untuk peserta didiknya sendiri sebagai bagian dari proses pembelajaran.

Ayat (3) Cukup jelas. 76461668. Pasal 158 Cukup jelas. Pasal 165 Ayat (1) Huruf a. Pasal 162 Cukup jelas. Ayat (4) Cukup jelas.program remedial sesuai ketentuan kurikulum yang berlaku. Pasal 163 Cukup jelas. Pasal 160 Cukup jelas. Ayat (5) Tim sukses adalah sekelompok orang yang direkrut untuk tujuan pemenangan salah satu kontestan tertentu dalam pemilihan umum dan/atau pemilihan kepala daerah sesuai peraturan perundang-undangan. Pasal 159 Cukup jelas. Pasal 161 Cukup jelas.doc 175 . Pasal 164 Cukup jelas.

Ayat (3) 76461668.Cukup jelas. SMP/MTs. Ayat (3) Cukup jelas. atau informal untuk memenuhi ketentuan kurikulum pendidikan formal yang bersangkutan. Ayat (2) Cukup jelas. atau bentuk lain yang sederajat dapat mengambil mata pelajaran atau program pendidikan pada satuan pendidikan formal. dan SMK/MAK. nonformal. Ayat (5) Cukup jelas. Cukup jelas. Huruf b. Peserta didik TK/RA. SMA/MA. Peserta didik pada satuan pendidikan informal dapat mengambil mata pelajaran atau program pendidikan pada satuan pendidikan formal atau pendidikan nonformal untuk memenuhi beban belajar pendidikan informal yang bersangkutan. Peserta didik pada satuan pendidikan nonformal dapat mengambil mata pelajaran atau program pendidikan pada satuan pendidikan formal atau pendidikan informal untuk memenuhi beban belajar pendidikan nonformal yang bersangkutan. Huruf b.doc 176 . SD/MI. Ayat (4) Cukup jelas. Pasal 166 Ayat (1) Cukup jelas. Ayat (2) Huruf a.

Pasal 170 76461668.Satuan pendidikan yang menerapkan sistem kredit semester dapat mengakui hasil belajar dari satuan pendidikan lain baik formal maupun nonformal untuk memenuhi perolehan satuan kredit smester (sks) peserta didik pada satuan pendidikan yang bersangkutan. Ayat (2) Cukup jelas. Ayat (3) Cukup jelas. dan sejenisnya. Ayat (5) Cukup jelas. Pengusaha termasuk perusahaan-perusahaan. dan sejenisnya.doc 177 . Majelis Pendidikan Kristen. Pasal 167 Cukup jelas. Ayat (4) Cukup jelas. Pasal 169 Cukup jelas. Persatuan Guru Republik Indonesia. Ma’arif-NU. Pasal 168 Ayat (1) Organisasi profesi pendidikan seperti. Majelis Nasional Pendidikan Katolik. Organisasi sosial kemasyarakatan seperti Muhammadiyah. Himpunan Sarjana Pendidikan Indonesia. Ayat (4) Cukup jelas.

MA. Pasal 171 Cukup jelas. sebagai pekerja di tempat praktik kerja dan sebagai siswa di sekolah. Ayat (3) Sistem magang merupakan kegiatan pembelajaran yang berlangsung di tempat kerja sebagai proses transisi dari peserta didik menjadi pekerja (apprenticeship) Pendidikan sistem ganda (dual system) adalah kegiatan pembelajaran yang memberikan status ganda kepada peserta didik. Kerjasama produksi merupakan kerjasama antara satuan pendidikan dan pengusaha/dunia kerja dalam bidang pekerjaan tertentu di mana kerjasama tersebut dilakukan melalui perjanjian timbal balik yang menguntungkan kedua belah pihak. Pabbajja 76461668. sosioekonomi. Kekhasan agama satuan pendidikan dapat berupa pendidikan umum yang diselenggarakan oleh kelompok agama tertentu. Pesantren. Ayat (4) Cukup jelas. atau pendidikan keagamaan seperti Pendidikan Diniyah. MTs.Ayat (1) Cukup jelas.doc 178 . dan sosio-kultural sekaligus. Ayat (2) Cukup jelas. pendidikan umum yang menyelenggarakan pendidikan umum dan ilmu agama seperti MI. Ayat (2) Satu satuan pendidikan dapat memiliki kekhasan agama. Pasal 172 Ayat (1) Satuan pendidikan yang diselenggarakan oleh masyarakat adalah satuan pendidikan yang selama ini berstatus swasta.

Pasal 178 76461668. dan memecahkan permasalahan pendidikan yang muncul. Pasal 175 Cukup jelas. Ayat (3) Cukup jelas.Samanera. dan keadaan sosio-ekonomi. Ayat (4) Koordinasi dan kerjasama antara lain menyusun anggaran dasar/anggaran rumah tangga. tukar-menukar informasi. Ayat (2) Cukup jelas. Pasal 174 Cukup jelas. dan sosio-kultural merupakan muatan pendidikan dan/atau pendekatan pembelajaran yang disesuaikan dengan kebutuhan. Pasal 176 Ayat (1) Cukup jelas. Pendidikan dengan kekhasan sosio-ekonomi. dan sosio-kultural setempat. dan bentuk lain yang sejenis. Ayat (2) Pertemuan 2 (dua) kali setahun yang dimaksud sekurangkurangnya pada awal semester. potensi. Pasal 173 Cukup jelas. Pasal 177 Ayat (1) Cukup jelas.doc 179 .

Ayat (5) Komisi sebagaimana dimaksud pada ayat ini disesuaikan dengan lingkup pengelolaan dan kebutuhan di tingkat nasional. pemimpin paguyuban adat (marga atau nagari). dan kabupaten/kota. Komisi Pendidikan Nonformal dan Informal. dan Komisi Pendidikan Jarak Jauh. media elektronik. Pengusaha misalnya pemilik perusahaan swasta.doc 180 . Ayat (3) Cukup jelas. Di tingkat nasional dapat terdiri atas Komisi Pendidikan Anak Usia Dini.Ayat (1) Pakar pendidikan adalah perseorangan atau kelompok yang memiliki pengetahuan dan keahlian di bidang pendidikan yang karyanya dipublikasikan di media cetak. Ayat (3) Cukup jelas. Komisi Pendidikan Dasar dan Menengah. Komisi Pendidikan Kedinasan. dan media lainnya. Ayat (4) Cukup jelas. 76461668. Komisi Pendidikan Tinggi. Komisi Pendidikan Keagamaan. Tokoh masyarakat termasuk tokoh agama. Ayat (2) Cukup jelas. provinsi. Ayat (2) Cukup jelas. atau melalui produk lain yang menggambarkan keahliannya. Pasal 179 Ayat (1) Cukup jelas. dan tokoh nonpartisan lainnya yang berpartisipasi dalam kegiatan pendidikan. Komisi Pendidikan Khusus dan Pendidikan Layanan Khusus.

doc 181 . Ayat (6) Tenaga ahli yang dimaksud terdiri dari tenaga pendidik profesional yang berfungsi sebagai konsultan. Pasal 182 Cukup jelas. Komisi-komisi tersebut dapat berdiri sendiri atau digabung sesuai dengan kebutuhan. 76461668. Komisi Pendidikan Khusus dan Pendidikan Layanan Khusus. dan Komisi Pendidikan Keagamaan. Pasal 183 Cukup jelas. Komisi Pendidikan Nonformal dan Informal. Pasal 184 Ayat (1) Komite sekolah/madrasah POMG dan yang sejenis.Di tingkat provinsi dapat terdiri atas Komisi Pendidikan Anak Usia Dini. Komisi Pendidikan Nonformal dan Informal. Di tingkat kabupaten/kota dapat terdiri atas Komisi Pendidikan Anak Usia Dini. dan Komisi Pendidikan Keagamaan. Komisi Pendidikan Khusus dan Pendidikan Layanan Khusus. Ayat (2) Dalam melaksanakan tugasnya panitia dapat meminta bantuan konsultan yang berpengalaman melakukan uji kelayakan (fit and proper test) dalam bidang pendidikan. Komisi Pendidikan Dasar dan Menengah. Komisi Pendidikan Tinggi. Pasal 180 Ayat (1) Cukup jelas. Komisi Pendidikan Dasar dan Menengah. Pasal 181 Cukup jelas. menggantikan keberadaan BP3.

tukar-menukar informasi. 76461668. program pendidikan nonformal. Ayat (4) Koordinasi dan kerjasama antara lain menyusun anggaran dasar/anggaran rumah tangga. dan MAK. atau yang sejenisnya baik yang diselenggarakan oleh Pemerintah. MI. atau satuan-satuan pendidikan dikelola oleh suatu penyelenggara pendidikan. atau RA. MA. Komite Pendidikan Nonformal. satuan pendidikan keagamaan. Ayat (5) Pihak-pihak yang terkait misalnya unsur-unsur satuan pendidikan selain kepala satuan pendidikan. SMA. Gabungan tersebut dapat terdiri dari beberapa satuan pendidikan pada jenjang yang sama. Ayat (3) Cukup jelas.Nama lain yang sejenis seperti Majelis Madrasah. dan SMK. MTs. SMP. Ayat (7) Pembentukan komite sekolah/madrasah yang terdiri dari beberapa satuan pendidikan hingga memenuhi jumlah 200 peserta didik dimaksudkan untuk mencapai sinergi dan efektivitas dalam memberdayakan peranserta masyarakat terutama pada satuan pendidikan dengan jumlah peserta didik yang kecil. Ayat (2) Cukup jelas. atau satuan pendidikan lainnya dalam satu wilayah desa atau kecamatan.doc 182 . maupun oleh masyarakat. atau karena pertimbangan lain. Ayat (6) Gabungan satuan pendidikan yang dimaksud adalah satu komite sekolah/madrasah atau nama lain yang sejenis terdiri dari sekolah dan madrasah. atau berbeda seperti TK. SD. Penggabungan dapat dilakukan karena lokasi berdekatan. dan unsur . Komite satuan pendidikan jalur nonformal dibentuk berdasarkan kebutuhan satuan atau gabungan satuan pendidikan nonformal. dan memecahkan permasalahan pendidikan yang muncul.

akademik. dan khusus pada semua jalur. jenjang. Pasal 190 Cukup jelas. Pasal 186 Cukup jelas. Pasal 193 Ayat (1) Cukup jelas. Pasal 191 Cukup jelas. dan jenis pendidikan. profesi. Departemen Agama melakukan pengawasan pendidikan agama dan pendidikan keagamaan pada semua jalur. Departemen melakukan pengawasan pendidikan umum. vokasi. pemerintah daerah.Pasal 185 Cukup jelas. Pasal 192 Cukup jelas. Ayat (2) Menteri melakukan pengawasan pendidikan secara umum baik yang berada di bawah kewenangan Departemen. Pasal 187 Cukup jelas. jenjang. Pasal 188 Cukup jelas. departemen yang menangani urusan pemerintah bidang lain. lembaga pemerintah non-departemen. maupun masyarakat. kejuruan. Pasal 189 Cukup jelas. Ayat (3) 76461668. dan jenis pendidikan.doc 183 .

Ayat (2) Cukup jelas. Ayat (2) Cukup jelas. Misalnya pemeriksaan terhadap objek yang diawasi 76461668. Ayat (4) Cukup jelas. Ayat (3) Pemeriksaan diterapkan secara arif terhadap objek yang diawasi.Cukup jelas. Pasal 196 Ayat (1) Cukup jelas. Ayat (5) Cukup jelas. Ayat (3) Cukup jelas. Pasal 195 Cukup jelas. Pasal 194 Ayat (1) Cukup jelas. Ayat (6) Cukup jelas. Ayat (7) Lembaga independen yang melakukan pengawasan/pemeriksaan independen misalnya akuntan publik. Ayat (4) Cukup jelas.doc 184 .

sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf h. j. Pasal 197 Ayat (1) Cukup jelas. i. Ayat (2) Cukup jelas. h. g. Ayat (3) Pemeriksaan diterapkan secara arif terhadap objek yang diawasi. l. k. i. Ayat (2) Cukup jelas. Ayat (4) Cukup jelas. dan j hanya dilakukan apabila terdapat indikasi terjadinya penyimpangan administratif atau pelanggaran hukum. g. f. dan m hanya dilakukan apabila terdapat indikasi terjadinya penyimpangan administratif atau pelanggaran hukum. Ayat (4) Cukup jelas.doc 185 . Misalnya pemeriksaan terhadap objek yang diawasi sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf e. k. Ayat (4) Cukup jelas. dan m hanya dilakukan apabila terdapat indikasi terjadinya penyimpangan administratif atau pelanggaran hukum. i. Misalnya pemeriksaan terhadap objek yang diawasi sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf f. Ayat (3) Pemeriksaan diterapkan secara arif terhadap objek yang diawasi. h. Pasal 198 Ayat (1) Cukup jelas. l. j. Pasal 199 76461668.

Pasal 200 Cukup jelas. program pendidikan.doc 186 . Ayat (4) 76461668. lembaga penelitian atau pusat studi. Pasal 204 Ayat (1) Cukup jelas. Pasal 203 Ayat (1) Pemberian sanksi dilakukan secara arif dan disesuaikan dengan tingkat pelanggaran yang dilakukan oleh satuan pendidikan. Ayat (2) Cukup jelas. b. dan/atau fakultas. e. jurusan. Pasal 201 Cukup jelas. unit-unit dharma perguruan tinggi. lembaga pengabdian lain yang masyarakat. c. Ayat (2) Cukup jelas. Pasal 202 Cukup jelas. Ayat (3) Unit dari perguruan tinggi termasuk: a.Cukup jelas. melaksanakan f. dan/atau satuan pendidikan. program studi. badan hukum pendidikan. d.

Pasal 205 Cukup jelas. Ayat (6) Cukup jelas. Pasal 211 76461668. Pasal 208 Ayat (1) Cukup jelas. penempatan. Pasal 206 Cukup jelas Pasal 207 Cukup jelas. Pasal 209 Cukup jelas. Ayat (3) Cukup jelas. pemindahan. Ayat (5) Yang dimaksud dengan seseorang adalah pejabat atau pengurus badan hukum pendidikan yang memiliki kewengan dalam pengangkatan. Ayat (5) Cukup jelas.doc 187 . dan pemberhentian pendidik dan tenaga kependidikan. Pasal 210 Cukup jelas. Ayat (2) Cukup jelas. Ayat (4) Cukup jelas.Cukup jelas.

Pasal 217 Cukup jelas. Pasal 219 Cukup jelas. Pasal 213 Cukup jelas.. Pasal 214 Cukup jelas.doc 188 . Pasal 218 Cukup jelas.Cukup jelas. Pasal 215 Cukup jelas.. TAMBAHAN LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA NOMOR . Pasal 212 Cukup jelas. 76461668. Pasal 216 Cukup jelas.

........................................................................9 Pasal 10................................................7 Bagian Kesatu.................................................................... dan.......12 e..................................................................................................................................................................................DAFTAR ISI BAB I............................................................................................................................................................ dan akuntabilitas pengelolaan pendidikan yang mengikat:.....................12 Pengelolaan oleh Pemerintah Provinsi..............12 Pasal 14.............12 g.............................7 Umum............................Departemen lain atau lembaga pemerintah nondepartemen yang menyelenggarakan program dan/atau satuan pendidikan..............................................................................................7 Pasal 2.......................................................15 Pasal 23...................12 Bagian Ketiga.............................................................................................................Pemerintah provinsi.......................................8 Pasal 4..................................................................................................8 Pasal 5.........7 PENGELOLAAN PENDIDIKAN..............12 c................................................................................................................ ...............................................................................................................................12 f............................................................................................12 Pasal 15 ...........................................................................................doc i ...........................................................................................................................................................................................................11 Pasal 13.............................................2 Pasal 1.......................................................................................... dan 76461668....................................................................... efektifitas.....................................................................................................................................................................................................................................................12 Menteri menetapkan kebijakan tatakelola pendidikan untuk menjamin efisiensi...............................................................................................................................................................................................................................Pemerintah kabupaten/kota...............................................................................................................................................................16 Gubernur menetapkan kebijakan tatakelola pendidikan untuk menjamin efisiensi..........................................12 d................................................................ efektifitas...................................................................................................................................................................................................................................................................................12 a...................................................................8 Pengelolaan oleh Pemerintah.....................................2 KETENTUAN UMUM.......................Program dan/atau satuan pendidikan..........................12 b..........................................................................................................................................................................................................................................................10 Pasal 12................................................7 Pasal 3.................................................................................................................Badan hukum pendidikan..............................................12 Pasal 16.................Departemen..........................................7 Bagian Kedua.....................................Departemen Agama.........................................................................13 Pasal 22...................2 BAB II......................................

................................................................................................... dan akuntabilitas pengelolaan pendidikan yang mengikat:................24 Pasal 42.........17 Pengelolaan oleh Pemerintah Kabupaten/Kota..................................doc ii ...............30 Bentuk dan Jenis Satuan Pendidikan...................................................................................................24 Badan hukum pendidikan menetapkan kebijakan tatakelola pendidikan untuk menjamin efisiensi..............................................................................................................................................................................................................................................30 76461668......................................................................21 Pasal 36...................................................................21 Bagian Kelima.....................................20 Bupati/Walikota menetapkan kebijakan tatakelola pendidikan untuk menjamin efisiensi......17 Pasal 26..............21 Pasal 35.............................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................21 Pengelolaan oleh Badan Hukum Pendidikan .................................................................................................25 Pengelolaan oleh Satuan dan/atau Program Pendidikan............................................................................................................................................................................................................................ dan akuntabilitas pengelolaan pendidikan yang mengikat:..........................................................................................................25 Pasal 44 .............................30 Paragraf 2...............................................................................................................................18 Pasal 32.......................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................... efektifitas...............30 Bagian Kesatu..........................................................................................................................................................................................................................................................25 Bagian Keenam.........................................................................................17 Pasal 25.....................................................................................22 Pasal 41....21 Pasal 34. dan akuntabilitas pengelolaan pendidikan yang mengikat:..........................................30 Paragraf 1...................................................................................................20 Pasal 33................30 Pasal 54 .................................................................................25 Pasal 45........ efektifitas...................................................................akuntabilitas pengelolaan pendidikan yang mengikat:...........................................................................29 BAB III...................................................................................30 Pendidikan Anak Usia Dini.................................................................................................................................................................... efektifitas.........................................................................................................................27 Pasal 50.......................................................................................................................................................30 Pasal 53 ..................24 Pasal 43.......................29 Pasal 52........................................30 PENYELENGGARAAN PENDIDIKAN FORMAL...............................................................................................29 Satuan dan/atau program pendidikan menetapkan kebijakan tatakelola pendidikan untuk menjamin efisiensi............................................30 Fungsi dan Tujuan...............................................................................................................................................................................................................16 Bagian Keempat....16 Pasal 24...............................................................................................28 Pasal 51.

..........................................................................................................................................................................................................................................32 Paragraf 2......................................................31 Pasal 55 ......................................................................................33 Pasal 63.........32 Paragraf 1..........................................40 Pendidikan Tinggi..........................................................................39 Pasal 71..........................................................................................................40 Bagian Kempat..................................................................................................................................36 Paragraf 1.................................................32 Pendidikan Dasar......................................................................................................................................................................................................................................................................................................................33 Penerimaan Peserta Didik..............Paragraf 3 ...................................................................................................................................................................................................31 Penerimaan Peserta Didik.......................37 Pasal 68 ..........................................36 Paragraf 2......................................................................................................................................................................................................................................................................................................40 Paragraf 1...................33 Pasal 60 ..................................36 Bagian Ketiga......................................................................................31 Program Pembelajaran.......................................................................................................37 Bentuk Satuan Pendidikan............................................................................................................................................................31 Paragraf 4.....................34 Pasal 65.........................................................................34 Pasal 64 ...................................41 76461668..........................................................................................................................................................................................................................................................................................39 Penerimaan Peserta Didik............38 Paragraf 3.........................................................................................................36 Fungsi dan Tujuan...................36 Pasal 66..........40 Fungsi dan Tujuan.....32 Pasal 58.............................................................................................39 Pasal 72......................................................................31 Pasal 57 ................................................................................................................................................................................................................31 Pasal 56 ........................36 Pendidikan Menengah...................................................................................................................................................................................................33 Paragraf 3..........................................................37 Pasal 69.............................................................................................33 Pasal 59 .....................................................31 Bagian Kedua.................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................doc iii .....................................................................................................................................................................41 Pasal 73..32 Fungsi dan Tujuan..........................................................33 Bentuk Satuan Pendidikan..................................................................................................

...................................................................................................................................................................................................46 Sistem Pembelajaran...................... dan Program Pendidikan...............................................................................................Paragraf 2.........................................................................................................................................41 Organisasi Perguruan Tinggi................................................................................................. dan memfasilitasi penyelenggaraan program sebagaimana dimaksud pada ayat (2) sehingga guru tetap dalam jabatan yang bersangkutan memperoleh kualifikasi 76461668..................................................................................................................................46 Pasal 87 ....................................................................................48 c.............................................................................................................................42 Pasal 77................................................................41 Jenis.41 Paragraf 3...........48 (1)Perguruan tinggi dapat menyelenggarakan program studi sarjana atau diploma empat kependidikan khusus bagi guru tetap dalam jabatan yang belum memiliki ijazah sarjana atau diploma empat dengan program sarjana atau diploma empat kependidikan khusus bagi guru tetap dalam jabatan.42 Pasal 79.. mengawasi...................................................................................................................................44 Pasal 80........................................................46 Paragraf 4........................................................................................................................................................................44 Pasal 81.................................................................................doc iv .....................48 (2)Program sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diselenggarakan sebagai berikut:.......dapat dilaksanakan di pusat kegiatan Kelompok Kerja Guru atau Musyawarah Guru Mata Pelajaran.............................. Bentuk......................................................dilaksanakan oleh perguruan tinggi yang memiliki program studi sarjana atau diploma empat kependidikan berakreditasi dari Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi dan telah memperoleh izin untuk menyelenggarakan program sarjana atau diploma empat kependidikan khusus bagi guru tetap dalam jabatan dari Departemen....................................................................................................46 Pasal 86..42 Pasal 75 ....45 Pasal 84........................................................................................................................................................43 Paragraf 3..........................41 Pasal 74.................................................................................................................................memenuhi seluruh persyaratan program sarjana atau diploma empat kependidikan sesuai dengan peraturan perundang-undangan...................................48 a...........................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................47 Pasal 88.......47 Pasal 89.....................................48 (3)Izin sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf a diberikan oleh Departemen setelah memperoleh jaminan dari pemerintah daerah kabupaten/kota yang bersangkutan untuk bertanggung jawab melindungi............................................................................................ ..................................................................................................................48 b.................................44 Penerimaan Mahasiswa .........

..................................................................................................................59 PENYELENGGARAAN PENDIDIKAN NONFORMAL .............doc v ...................................48 (5)Ketentuan sebagaimana diatur dalam Pasal ini berlaku sampai berakhirnya masa peralihan sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen............................................................................................................................55 Pengalihan Kredit .....55 Pasal 96........................................................................................................................................................................................................................................................................................48 (4) Menteri dapat membatalkan izin program sebagaimana dimaksud pada ayat (2) apabila setelah dilakukan pemeriksaan oleh Inspektorat Jenderal Departemen atas instruksi Menteri terbukti bahwa pelaksanaan program yang bersangkutan telah melanggar peraturan perundang-undangan......................................................................................................................................................................................................................................58 Pasal 84...............................................................55 Penjaminan Mutu Hasil Belajar.......................................................................................................................................................................................49 Kebebasan Akademik dan Otonomi Keilmuan.................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................59 Bagian Kesatu..................................................................................................................................................................................................................................................................................................akademik sarjana atau diploma empat kependidikan sesuai peraturan perundang-undangan..............................................................................................................................59 Pasal 85...............59 76461668................................................................................49 Pasal 91.......................48 Pasal 90.................................................................................................................................................... Pasal 82 ayat (2)......................................48 Paragraf 5.................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................58 Bagian Kelima........................................49 Pasal 92.......54 Pasal 95..............51 Penelitian...........................55 Paragraf 9...............................................................................................................................................54 Paragraf 8............................56 Pasal 81....................56 Pasal 82.................................56 Gelar Lulusan Pendidikan Tinggi......................................................................................................................................................................................................................53 Pengabdian kepada Masyarakat................................................................................59 Penjaminan Mutu..55 Pasal 97.......................................................51 Pasal 93.51 Paragraf 6...........................................................................................................................................................................57 Pasal 83......................56 Paragraf 10...........................................................................................59 BAB IV...................................................55 Pasal 99...........................................................51 Pasal 94...............................

.................................................64 Paragraf 5.........................65 Pendidikan Keaksaraan..................................................................................................60 Bagian Kedua.....................................................................................................................61 Paragraf 4.............................................................................................................................................................................................................................................61 Kelompok Belajar ......................................................................65 Paragraf 6..62 Taman Penitipan Anak dan Kelompok Bermain .........................................................................................................................................................................................60 Paragraf 2..........................................................63 Pasal 95.............................60 Paragraf 1.............................................62 Pasal 93 ..............................................64 Paragraf 4.....................................................................63 Pasal 96..................................................................................................................65 Pasal 98....................................................................................................62 Pasal 94.................................61 Majelis Taklim...........................................................61 Pasal 91.....................64 Pasal 97..............................................................................59 Pasal 86....................................................................................................60 Lembaga Kursus dan Lembaga Pelatihan .................................................................................................................................61 Paragraf 5..................................................................................................61 Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat............................................................................................................................................................................................................................................................65 76461668.....................................................................................................................................................................................................62 Paragraf 2........................................................................61 Paragraf 3.........................................................................................................................................................................62 Pasal 92............................60 Bentuk Satuan Pendidikan ................64 Pendidikan Pemberdayaan Perempuan................................................................................................................................65 Pendidikan Keterampilan dan Pelatihan Kerja...............................................................60 Pasal 87..............................................................................62 Program Pendidikan ...........................................................................................................................................................61 Pasal 90..........................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................Fungsi dan Tujuan ....................................................61 Pasal 89..............63 Paragraf 3..........................60 Pasal 88..62 Paragraf 1...........................................................................................................................................................................................................................................................62 Pendidikan Kecakapan Hidup................................................................................................................................................................................................................................................doc vi .............................................................................................................................................62 Bagian Ketiga........................................................................................................................63 Pendidikan Kepemudaan...................................................................

........................................................72 Pendidikan Khusus................................72 Pendidikan Khusus bagi Peserta Didik Berkelainan.....................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................72 Pasal 114................................................................72 Pasal 112.................................................................................................................................73 Pasal 118..............................71 Pasal 111..............72 Bagian Kesatu................................................................................................................................69 Pasal 107...................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................69 Pasal 106......................................Pasal 99.65 Paragraf 7..72 Umum.......................66 Bagian Ketiga (keempat)......................................................................................................................................................................................................................................................................................................................72 Paragraf 1.....................................................74 76461668......67 PENYELENGGARAAN PENDIDIKAN INFORMAL.......66 BAB V............................................................................68 Pasal 104......................72 PENYELENGGARAAN PENDIDIKAN KHUSUS DAN.............................................................................................doc vii ....69 PENYELENGGARAAN PENDIDIKAN JARAK JAUH..............................................................................................................................................68 Pasal 105........................................................................................................................................................................................70 Pasal 109........................71 BAB VII......................................................................................................................................................72 Bagian Kedua............................................................................................................................................................................................................................................................................................66 Pendidikan Kesetaraan......................................................................................................................................................................................72 Pasal 116.....................................................................................................................................72 PENDIDIKAN LAYANAN KHUSUS...............................66 Penyetaraan Hasil Pendidikan..............................66 Pasal 100..........................................................................................................72 Pasal 113.............................................................................73 Pasal 119.................................................................................................................................................67 Pasal 103...................................................................................................................................................................................................................................................................................66 Pasal 101...................69 BAB VI...............................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................69 Pasal 108....................................................................................................70 Pasal 110...........................................................................................................................................................................................................................................................................67 Pasal 102.................................................72 Pasal 115.74 Paragraf 2.........................................................................................73 Pasal 117.................................................................................................................................

......................................................................................................................................................................................................................................................................82 Pasal 129.......................................................................................................................................................................................76 Pasal 122.............................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................78 BAB VIII.....................................................................................................................................................................................................................................89 Pasal 143..........78 Pasal 125...................................................82 Pasal 130...........................................................................................84 BAB IX.................................................................................................................................85 Pasal 138............................85 Pasal 135.............................................................................................................................................................................................76 Pasal 123.................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................77 Pasal 124.......................................................................................76 Bagian Ketiga............................89 BAB X.................................................................................................77 Pasal 123....................89 Pasal 142..................................................................................................75 Pasal 122.............................................................................................................................76 Pasal 121................................................................................................................................................................................................................Pendidikan Khusus bagi Peserta Didik yang Memiliki ..........................................................................................75 Pasal 120.........................................................................................................................................80 Pasal 128.............................................................................doc viii ........................................................75 Pasal 121....84 Pasal 133.........................................84 PENYELENGGARAAN PENDIDIKAN OLEH LEMBAGA NEGARA LAIN DAN KERJASAMA SATUAN PENDIDIKAN INDONESIA DENGAN SATUAN PENDIDIKAN NEGARA LAIN...78 DAN PENDIDIKAN BERBASIS KEUNGGULAN LOKAL..........................................................................................89 76461668.........................................................89 HAK DAN KEWAJIBAN PESERTA DIDIK..................................................................................................................................................79 Pasal 127.....76 Pendidikan Layanan Khusus......................................................................................................................................................83 Pasal 132..................................................................................................................................................................................................................78 PENYELENGGARAAN PENDIDIKAN BERTARAF INTERNASIONAL ..................................................84 Pasal 134.............................85 Pasal 136.............83 Pasal 131.................................................................................................................................................74 Potensi Kecerdasan dan/atau Bakat Istimewa..........................................................................................87 Pasal 141...........................................86 Pasal 140..........................................78 Pasal 126.......................................................................................................................................................................................................................86 Pasal 139...........................................................................................................................................................

...........................96 Pembinaan Karir.97 Pasal 156............................................................................................................................................99 Pasal 158............96 Pasal 153....................................................................................................98 Larangan.........................................................................................................................................................................................................Pasal 144...................................................................99 Pasal 159..................................................................................................90 Pasal 146..............................................................................................95 Pasal 151......................................92 Pasal 147...................................................................................................92 Pasal 148....................................................................... Promosi.............................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................98 BAB XII...........97 Pasal 155..................................................................... dan Penghargaan .................................................................100 Pasal 160...................................................................................................99 PENDIRIAN SATUAN PENDIDIKAN..................89 Pasal 145 ...........92 Jenis.........................................................................................................93 Bagian Kedua....101 Pasal 164..... dan Pemberhentian .....................................................................................................................................................................................................................................................................................................95 Bagian Ketiga......................................................................................................................................doc ix ...............................101 76461668......93 Pasal 149............................................................................................................................................................................ Penempatan...............................................96 Pasal 152.....................................................................................................................................................92 Bagian Kesatu.........................................................................................................................................................................................................................................................................................................101 BAB XIII..........98 Bagian Keempat........ Pemindahan................................................................................. dan Tanggung Jawab...................................101 PENDIDIKAN LINTAS SATUAN DAN JALUR PENDIDIKAN..............................101 Pasal 163..........................................................................................................................96 Pasal 154.............95 Pengangkatan.....................................................96 Paragraf 2........................96 Pembinaan Karir.......................................96 Paragraf 1...................................................................100 Pasal 161..........................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................98 Pasal 157 ...................................................................................................................100 Pasal 162..............................................................92 PENDIDIK DAN TENAGA KEPENDIDIKAN..96 Promosi dan Penghargaan. Tugas...95 Pasal 150..........................................91 BAB XI.................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................

..............................................................................110 Pasal 184..........................................................................................................................................................................................................................................................................106 Bagian Keempat....................108 Pasal 181.................................................................103 Pasal 168...................................................................................................................................................................106 Pasal 176........................102 Pasal 166.........................................109 Pasal 183..................................................................................................................................................................................106 Dewan Pendidikan..................................................................................................................107 Pasal 178.............................................................................................................................................................doc x .......................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................112 Paragraf 3...................................................................................................106 Pasal 177.............112 Pasal 186....................................................................................................................................................................................................................................105 Pasal 174........................................................................110 Komite Sekolah/Madrasah........................................103 Pasal 167..............................................................103 Pasal 169.........................................................................................................................................................103 PERANSERTA MASYARAKAT...............................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................103 Bagian Kedua...........................................................103 Fungsi ................106 Pasal 175...112 76461668........................................102 BAB XIV.....................................................................................................................................................................................110 Paragraf 1................................................................................................................................................................................................Pasal 165...........................................................112 Keanggotaan..........................................................................................................................................110 Pasal 185........................................................................................110 Bagian Kelima......................................................................................................................................................................105 Bagian Ketiga.....................................................104 Pasal 170......................105 Pasal 172.................................................................................................................................................................................................................................................................110 Fungsi dan Sifat................................................................103 Bagian Kesatu........................................104 Pasal 171.........112 Persyaratan Anggota..........................103 Komponen Peranserta Masyarakat..............................................109 Pasal 182...................................107 Pasal 179.......................................................................................................................105 Pendidikan Berbasis Masyarakat...................................................................................................................................................................................................................108 Pasal 180.......................................................................................................................................................................111 Paragraf 2...................................................................................................................................

............................................................................113 Paragraf 6....................................................................................................................122 Pasal 203....................................................................................122 Pasal 204.....114 Pasal 191.................................................................................125 Pasal 212.....................................................................................115 PENGAWASAN......................................................................................124 Pasal 208............................................114 Bagian Keenam........................................................122 SANKSI..................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................114 Pasal 190..................................................................................................................................................................................................................................................................119 Pasal 199..........................................115 Pasal 194...........................116 Pasal 196................................................................................................................................Pasal 187...............................................................................115 BAB XV.............................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................121 Pasal 201.....................124 Pasal 207..................118 Pasal 198................................113 Mekanisme Pemilihan....................................................................................................................125 Pasal 211...................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................124 Pasal 206.......................................................................................................120 Pasal 200...........................................113 Pasal 188...............................................114 Pendanaan..........................................................................113 Struktur Organisasi dan Kepengurusan.............124 Pasal 209.............................................................................................................................................................................doc xi .............126 76461668...................................................115 Larangan.....................................................................................................................................................................................................123 Pasal 205..................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................117 Pasal 197......................................................................125 Pasal 210...........................................................................................................................................................113 Pasal 189...121 BAB XVI...................................................................................122 Pasal 202..........................................................................................................................................................................................113 Paragraf 5.....................................................................................................................115 Pasal 193.................................................................................126 Pasal 213..............................112 Paragraf 4............................................................................................115 Pasal 192...................................................116 Pasal 195...............................................................................................................................................................................................................................

.....................................................................................................................126 KETENTUAN PERALIHAN.......................................................126 BAB XVIII...............127 Pasal 218............................................................................................127 Pasal 217....................................................................................................................128 PENJELASAN.............................................................................................................................doc xii ..............................127 KETENTUAN PENUTUP....126 Pasal 215....................129 76461668...............................................................................................................................................................................................BAB XVII...........................................................................................................127 Pasal 216.................................................126 Pasal 214 ......................................................................................................................................................................................................................................................

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful