RANCANGAN PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR .… TAHUN ....

TENTANG PENGELOLAAN DAN PENYELENGGARAAN PENDIDIKAN

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : bahwa dalam rangka melaksanakan ketentuan Pasal 12 ayat (4), Pasal 17 ayat (3), Pasal 18 ayat (4), Pasal 20 ayat (4), Pasal 21 ayat (7), Pasal 24 ayat (4), Pasal 25 ayat (3), Pasal 26 ayat (7), Pasal 27 ayat (3), Pasal 28 ayat (6), Pasal 31 ayat (4), Pasal 32 ayat (3), Pasal 50 ayat (7), Pasal 51 ayat (3), Pasal 52 ayat (2), Pasal 54 ayat (3), Pasal 55 ayat (5), Pasal 56 ayat (4), Pasal 62 ayat (4), Pasal 65 ayat (5), dan Pasal 66 ayat (3), Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, perlu menetapkan Peraturan Pemerintah tentang Pengelolaan dan Penyelenggaraan Pendidikan; : Pasal 5 ayat (2) Undang-Undang Republik Indonesia Tahun 1945; Dasar Negara

Mengingat

Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2003 Nomor 78 Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4301); MEMUTUSKAN: Menetapkan : PERATURAN PEMERINTAH TENTANG PENGELOLAAN DAN PENYELENGGARAAN PENDIDIKAN.

76461668.doc

1

BAB I KETENTUAN UMUM Pasal 1 Dalam Peraturan Pemerintah ini yang dimaksud dengan: 1. Pengelolaan pendidikan adalah pengaturan kewenangan dalam penyelenggaraan sistem pendidikan nasional oleh Pemerintah, Pemerintah Provinsi, Pemerintah Kabupaten/Kota, badan hukum pendidikan, dan satuan pendidikan agar proses pendidikan dapat berlangsung sesuai dengan tujuan pendidikan nasional. Penyelenggaraan pendidikan adalah penyediaan sumberdaya pendidikan, yang meliputi prasarana, sarana, pendidik dan tenaga kependidikan, dana, serta sumberdaya lainnya, yang disinergikan secara sistematis melalui suatu organisasi satuan pendidikan. Pengelolaan pendidikan adalah pengaturan sistemik perencanaan, pelaksanaan, dan pengawasan pendidikan. 2. atas

Penyelenggaraan pendidikan adalah kegiatan pelaksanaan komponen-komponen sistem pendidikan pada satuan/program pendidikan pada jalur, jenjang, dan jenis pendidikan agar proses pendidikan dapat berlangsung sesuai dengan tujuan pendidikan nasional. Badan hukum pendidikan masyarakat adalah yayasan, wakaf, perkumpulan, atau badan hukum lainnya yang didirikan oleh masyarakat yang menyelenggarakan satuan atau program pendidikan. Pendidikan anak usia dini yang selanjutnya disebut PAUD adalah suatu upaya pembinaan yang ditujukan kepada anak sejak lahir sampai dengan usia 6 (enam) tahun yang dilakukan melalui pemberian rangsangan pendidikan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani agar anak memiliki kesiapan dalam memasuki pendidikan lebih lanjut, yang diselenggarakan pada jalur formal, nonformal, dan informal. Taman Kanak-kanak yang selanjutnya disebut TK adalah salah satu bentuk satuan pada jalur pendidikan formal yang menyelenggarakan program pendidikan bagi anak berusia 4 (empat) tahun sampai dengan 6 (enam) tahun. Raudhatul Athfal yang selanjutnya disebut RA dan Bustanul Athfal yang selanjutnya disebut BA adalah salah satu bentuk satuan PAUD pada jalur pendidikan formal yang menyelenggarakan program pendidikan dengan kekhasan agama Islam bagi anak
2

3.

4.

5.

6.

76461668.doc

berusia 4 (empat) tahun sampai dengan 6 (enam) tahun. 7. Taman Penitipan Anak yang selanjutnya disebut TPA adalah salah satu bentuk satuan PAUD pada jalur pendidikan nonformal yang menyelenggarakan program pendidikan dan program kesejahteraan sosial bagi anak sejak lahir sampai dengan berusia 6 (enam) tahun. Kelompok Bermain yang selanjutnya disebut KB adalah salah satu bentuk satuan PAUD pada jalur pendidikan nonformal yang menyelenggarakan program pendidikan dan program kesejahteraan sosial bagi anak berusia 2 (dua) tahun sampai dengan 6 (enam) tahun dengan prioritas bagi anak berusia 2 (dua) tahun sampai dengan 4 (empat) tahun. Pendidikan dasar adalah jenjang pendidikan pada jalur pendidikan formal yang melandasi jenjang pendidikan menengah yang diselenggarakan pada satuan pendidikan yang berbentuk Sekolah Dasar (SD) dan Madrasah Ibtidaiyah (MI) atau bentuk lain yang sederajat serta menjadi satu kesatuan kelanjutan pendidikan pada satuan pendidikan yang berbentuk Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan Madrasah Tsanawiyah (MTs), atau bentuk lain yang sederajat.

8.

9.

10. Sekolah Dasar yang selanjutnya disebut SD adalah salah satu bentuk satuan pendidikan formal yang menyelenggarakan pendidikan umum pada jenjang pendidikan dasar. 11. Madrasah Ibtidaiyah yang selanjutnya disebut MI adalah salah satu bentuk satuan pendidikan formal dalam binaan Menteri Agama yang menyelenggarakan pendidikan umum dengan kekhasan agama Islam pada jenjang pendidikan dasar. Sekolah Menengah Pertama yang selanjutnya disebut SMP adalah salah satu bentuk satuan pendidikan formal yang menyelenggarakan pendidikan umum pada jenjang pendidikan dasar sebagai lanjutan dari SD, MI, atau bentuk lain yang sederajat atau lanjutan dari hasil belajar yang diakui sama/setara SD/MI. Madrasah Tsanawiyah yang selanjutnya disebut MTs adalah salah satu bentuk satuan pendidikan formal dalam binaan Menteri Agama yang menyelenggarakan pendidikan umum dengan kekhasan agama Islam pada jenjang pendidikan dasar sebagai lanjutan dari SD, MI, atau bentuk lain yang sederajat atau lanjutan dari hasil belajar yang diakui sama/setara SD/MI. Pendidikan menengah adalah jenjang pendidikan pada jalur pendidikan formal yang merupakan lanjutan pendidikan dasar, berbentuk Sekolah Menengah Atas (SMA), Madrasah Aliyah (MA), Sekolah Menengah Kejuruan (SMK), dan Madrasah Aliyah
3

12.

13.

14.

76461668.doc

Kejuruan (MAK) atau bentuk lain yang sederajat . 15. Sekolah Menengah Atas yang selanjutnya disebut SMA adalah salah satu bentuk satuan pendidikan formal yang menyelenggarakan pendidikan umum pada jenjang pendidikan menengah sebagai lanjutan dari SMP, MTs, atau bentuk lain yang sederajat atau lanjutan dari hasil belajar yang diakui sama/setara SMP/MTs. Madrasah Aliyah yang selanjutnya disebut MA adalah salah satu bentuk satuan pendidikan formal dalam binaan Menteri Agama yang menyelenggarakan pendidikan umum dengan kekhasan agama Islam pada jenjang pendidikan menengah sebagai lanjutan dari SMP, MTs, atau bentuk lain yang sederajat atau lanjutan dari hasil belajar yang diakui sama/setara SMP/MTs. Sekolah Menengah Kejuruan yang selanjutnya disebut SMK adalah salah satu bentuk satuan pendidikan formal yang menyelenggarakan pendidikan kejuruan pada jenjang pendidikan menengah sebagai lanjutan dari SMP, MTs, atau bentuk lain yang sederajat atau lanjutan dari hasil belajar yang diakui sama/setara SMP/MTs. Madrasah Aliyah Kejuruan yang selanjutnya disebut MAK adalah salah satu bentuk satuan pendidikan formal di bawah tanggung jawab Menteri Agama yang menyelenggarakan pendidikan kejuruan dengan kekhasan agama Islam pada jenjang pendidikan menengah sebagai lanjutan dari SMP, MTs, atau bentuk lain yang sederajat atau lanjutan dari hasil belajar yang diakui sama/setara SMP/MTs. Pendidikan tinggi adalah jenjang pendidikan pada jalur pendidikan formal setelah pendidikan menengah yang dapat berupa program pendidikan diploma, sarjana, magister, doktor, dan spesialis yang diselenggarakan oleh perguruan tinggi.

16.

17.

18.

19.

20. Akademi adalah perguruan tinggi yang menyelenggarakan pendidikan vokasi dalam satu cabang atau sebagian cabang ilmu pengetahuan, teknologi, dan/atau seni tertentu. 21. Politeknik adalah perguruan tinggi yang menyelenggarakan pendidikan vokasi dalam sejumlah bidang pengetahuan khusus. 22. Sekolah tinggi adalah perguruan tinggi yang menyelenggarakan pendidikan akademik dan/atau vokasi dalam lingkup satu disiplin ilmu tertentu dan jika memenuhi syarat dapat menyelenggarakan pendidikan profesi. 23. Institut adalah perguruan tinggi yang menyelenggarakan pendidikan akademik dan/atau pendidikan vokasi dalam sekelompok disiplin ilmu pengetahuan, teknologi, dan/atau seni
76461668.doc

4

dan jika memenuhi syarat dapat menyelenggarakan pendidikan profesi. teknologi. teknologi. 26. Program studi adalah unsur pelaksana akademik yang menyelenggarakan dan mengelola jenis pendidikan akademik. dan/atau olah raga. mengembangkan. dan pengabdian kepada masyarakat. isi. dan menyebarluaskan ilmu pengetahuan.doc 5 . 28. Kurikulum adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan. seni. yang dapat dikelompokkan menurut jurusan. dan bahan pelajaran. penelitian. vokasi atau profesi dalam sebagian atau satu bidang ilmu pengetahuan. dan/atau olah raga. dan/atau seni dan jika memenuhi syarat dapat menyelenggarakan pendidikan profesi. vokasi atau profesi dalam satu rumpun disiplin ilmu pengetahuan. teknologi. 76461668. serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan. yang menyelenggarakan dan mengelola pendidikan akademik. Universitas menyelenggarakan pendidikan akademik dan/atau pendidikan vokasi dalam sejumlah ilmu pengetahuan. Jurusan atau nama lain yang sejenis adalah himpunan sumberdaya pendukung program studi dalam satu rumpun disiplin ilmu pengetahuan. dan/atau olah raga tertentu. 25. Pendidikan nonformal adalah jalur pendidikan di luar pendidikan formal yang dapat dilaksanakan secara terstruktur dan berjenjang. Dosen adalah pendidik profesional dan ilmuwan pada perguruan tinggi dengan tugas utama mentransformasikan. Sivitas akademika adalah komunitas dosen dan mahasiswa pada perguruan tinggi. 30. dan seni melalui pendidikan. 27. seni. Fakultas atau nama lain yang sejenis adalah himpunan sumberdaya pendukung. 32. Standar Nasional Pendidikan adalah kriteria minimal tentang sistem pendidikan di seluruh wilayah hukum Negara Kesatuan Republik Indonesia. Standar pelayanan minimal adalah kriteria minimal berupa nilai kumulatif pemenuhan Standar Nasional Pendidikan yang harus dipenuhi oleh setiap satuan pendidikan. 31. teknologi. 24. Mahasiswa adalah peserta didik yang terdaftar dan belajar pada perguruan tinggi. teknologi. 34. 33. seni. 29.

Program pengayaan belajar adalah pembelajaran tambahan untuk memperluas wawasan dan kemampuan bagi peserta didik yang telah mencapai standar kompetensi yang dipersyaratkan. sosial. Pendidikan lintas jalur dan jenis pendidikan adalah penyelenggaraan pendidikan sistem terbuka dimana peserta didik mengambil mata pelajaran pada satuan pendidikan yang tidak sejenis pada jalur pendidikan formal. oleh. dan budaya masyarakat daerah setempat. informasi. Pendidikan berbasis masyarakat adalah penyelenggaraan pendidikan berdasarkan kekhasan agama. aspirasi. Pendidikan informal lingkungan. dan media lain. 39. budaya.35. 76461668. 45. Kelompok belajar adalah satuan pendidikan nonformal yang terdiri atas sekumpulan warga masyarakat yang saling membelajarkan pengalaman dan kemampuan dalam rangka meningkatkan mutu dan taraf kehidupannya. Pendidikan berbasis keunggulan lokal adalah satuan pendidikan dasar dan menengah yang menyelenggarakan pendidikan dengan acuan kurikulum yang menunjang upaya pengembangan potensi. Pendidikan jarak jauh adalah pendidikan yang peserta didiknya terpisah dari pendidik dan pembelajarannya menggunakan berbagai sumber belajar melalui teknologi komunikasi. 42. Pusat kegiatan belajar masyarakat adalah satuan pendidikan nonformal yang menyelenggarakan berbagai kegiatan belajar sesuai dengan kebutuhan masyarakat atas dasar prakarsa dari. ekonomi. oleh dan untuk masyarakat. 44. 41. Program percepatan belajar adalah pengaturan program pendidikan bagi peserta didik yang mencapai standar kompetensi yang dipersyaratkan lebih cepat dari waktu yang ditentukan. adalah jalur pendidikan keluarga dan 37. dan informal. 40. dan potensi masyarakat sebagai perwujudan pendidikan dari. sosial. Pembelajaran adalah proses interaksi peserta didik dengan pendidik dan/atau sumber belajar pada suatu lingkungan belajar. Pendidikan bertaraf internasional adalah pendidikan yang diselenggarakan dengan menggunakan Standar Nasional Pendidikan dan diperkaya dengan standar pendidikan negara maju. 38. nonformal. 43. dan untuk masyarakat. 36.doc 6 .

pendidikan. badan hukum pendidikan. dan Pasal 3 akuntabilitas pengelolaan 76461668. Pemerintah adalah Pemerintah Pusat. 49. Pemerintah. (2) Pengelolaan pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditujukan untuk menjamin: a. 48. b. 50. atau Pemerintah Kota. efisiensi. dan e. Pemerintah Kabupaten/Kota. Pemerintah Kabupaten. pendidikan yang mutu dan daya saing pendidikan serta relevansinya dengan kebutuhan dan/atau kondisi masyarakat. c. Komite sekolah/madrasah adalah lembaga mandiri yang beranggotakan orang tua/wali peserta didik. satuan pendidikan. 47. merata. b. Organisasi profesi adalah kumpulan anggota masyarakat yang memiliki keahlian tertentu yang berbadan hukum dan bersifat non-komersial. serta tokoh masyarakat yang peduli pendidikan. c. komunitas sekolah. Menteri adalah menteri yang menangani urusan pemerintahan di bidang pendidikan. 51. BAB II PENGELOLAAN PENDIDIKAN Bagian Kesatu Umum Pasal 2 (1) Pengelolaan pendidikan dilakukan oleh: a. Departemen adalah departemen yang bertanggung jawab di bidang pendidikan.46. akses masyarakat atas pelayanan mencukupi. Pemerintah Provinsi. Pemerintah daerah adalah Pemerintah Provinsi. d.doc 7 . 52. Dewan pendidikan adalah lembaga mandiri yang beranggotakan berbagai unsur masyarakat yang peduli pendidikan. dan terjangkau. dan efektivitas.

(4) Sistem pendidikan nasional dan kebijakan nasional pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1). j. f. badan hukum pendidikan. e. ayat (2) dan ayat (3) mengikat bagi: a. komite sekolah/madrasah atau nama lain yang peserta didik. rencana strategis pendidikan nasional. 76461668. pendidik dan tenaga kependidikan. sejenis. (2) Sistem pendidikan nasional sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diselenggarakan dan dikelola sesuai peraturan perundangundangan. rencana kerja dan anggaran tahunan (RKAT). Departemen Agama. d. rencana pembangunan jangka panjang (RPJP). b. k. Bagian Kedua Pengelolaan oleh Pemerintah Pasal 4 (1) Menteri bertanggung jawab mengelola sistem pendidikan nasional serta merumuskan dan/atau menetapkan kebijakan nasional bidang pendidikan. 8 . rencana pembangunan jangka menengah (RPJM). Pemerintah kabupaten/kota. departemen lain atau lembaga pemerintah nondepartemen yang menyelenggarakan satuan pendidikan. c. f. i. c.doc Pemerintah Provinsi. (3) Kebijakan nasional bidang pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dituangkan dalam: a. rencana kerja Pemerintah (RKP). b. g. Departemen. l. satuan pendidikan. d. orang tua/wali peserta didik. dewan pendidikan. h.Pengelolaan pendidikan didasarkan pada rencana yang disusun sesuai peraturan perundang-undangan. e. dan peraturan perundang-undangan di bidang pendidikan.

antara kabupaten dan kota. Pasal 7 (1) Menteri menetapkan target tingkat pendidikan pada tingkat nasional: a. (3) Dalam memenuhi target tingkat partisipasi pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1). dan akuntabel sesuai dengan kebijakan nasional sebagaimana dimaksud pada ayat (3). Pasal 5 Pemerintah mengarahkan. Pasal 8 pemerataan partisipasi 76461668. mensupervisi. pihak lain yang terkait dengan pendidikan di Indonesia. (2) Menteri menetapkan kebijakan untuk menjamin peserta didik miskin. c. dan jenis pendidikan secara nasional sesuai dengan kebijakan nasional bidang pendidikan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 ayat (3). mengawasi mengkoordinasi. dan/atau peserta didik di daerah khusus dapat memperoleh akses pelayanan pendidikan.doc 9 . jalur. masyarakat. mengevaluasi. dan e. antar kabupaten. memantau. Pemerintah mengutamakan perluasan dan pemerataan akses pendidikan melalui jalur pendidikan formal. Pasal 6 (1) Menteri menetapkan target tingkat partisipasi pendidikan pada semua jenjang dan jenis pendidikan yang harus dicapai pada tingkat nasional.m. (2) Target tingkat partisipasi pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dipenuhi melalui jalur pendidikan formal dan nonformal. (5) Pemerintah mengalokasikan anggaran pendidikan agar sistem pendidikan nasional dapat dilaksanakan secara efektif. dan n. efisien. dan mengendalikan penyelenggara. b. antar provinsi. jenjang. peserta didik khusus. antara laki-laki dan perempuan. satuan. antar kota. membimbing. d.

(1) (2) Menteri menetapkan standar pelayanan minimal pendidikan sesuai peraturan perundang-undangan. sertifikasi kompetensi tenaga kependidikan. satuan dan/atau program (2) e. (4) Standar pelayanan minimal bidang pendidikan untuk satuan pendidikan ditetapkan sebagai syarat awal yang harus dipenuhi dalam mencapai Standar Nasional Pendidikan secara bertahap dengan menerapkan otonomi satuan pendidikan atau manajemen berbasis sekolah/madrasah. sertifikasi kompetensi peserta didik. Pasal 10 (1) Pemerintah melakukan dan/atau memfasilitasi penjaminan mutu pendidikan dengan berpedoman pada kebijakan nasional bidang pendidikan dan Standar Nasional Pendidikan. d. dan/atau g.doc 10 . menyelenggarakan atau memfasilitasi penyelenggaraan satuan pendidikan sesuai Standar Nasional Pendidikan secara bertahap. Catatan: 76461668. akreditasi satuan pendidikan. sertifikasi kompetensi pendidik. Satuan pendidikan. Pemerintah menyelenggarakan dan/atau memfasilitasi: a. Pemerintah daerah. dan b. bidang Standar pelayanan minimal sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditetapkan masing-masing untuk: a. b. mencapai target tingkat partisipasi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 secara bertahap. c. (3) Standar pelayanan minimal bidang pendidikan untuk pemerintah daerah merupakan syarat awal yang harus dipenuhi untuk: a. Dalam rangka penjaminan mutu pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1). b. akreditasi program pendidikan. sertifikasi unit pelaksana pendidikan terkait. sertifikasi satuan dan/atau program pendidikan terkait. f. Pasal 9 Menteri menetapkan Standar Nasional Pendidikan sesuai peraturan perundang-undangan.

Pasal 12 (1) Pemerintah melakukan pembinaan berkelanjutan kepada peserta didik yang memiliki potensi kecerdasan dan/atau bakat istimewa untuk mencapai prestasi puncak di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi. peserta didik. pendidik dan tenaga kependidikan. ilmu pengetahuan dan teknologi. dan c. seni. seni. (3) Pemerintah memfasilitasi akreditasi internasional program dan/atau satuan pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2). (3) Pemerintah memberikan penghargaan kepada peserta didik yang meraih prestasi puncak sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) sesuai peraturan perundang-undangan. dan/atau olahraga pada tingkat satuan pendidikan. 11 (4) (2) 76461668.Penjelasan untuk Sertifikasi kompetensi satuan pendidikan. kabupaten/kota.. membina. dan internasional. nasional. Pasal 11 (1) Pemerintah mengakui.doc .. b. (4) Ketentuan lebih lanjut mengenai pelaksanaan ayat (1) dan ayat (2) diatur dengan peraturan Menteri. Untuk menumbuhkan iklim kompetitif yang kondusif bagi pencapaian prestasi puncak sebagaimana dimaksud pada ayat (1) Pemerintah menyelenggarakan dan/atau memfasilitasi secara teratur dan berjenjang kompetisi di bidang: a. provinsi. unit pelaksana teknis satuan pendidikan. (2) Pemerintah memfasilitasi perintisan program dan/atau satuan pendidikan yang sudah atau hampir memenuhi Standar Nasional Pendidikan untuk dikembangkan menjadi program dan/atau satuan pendidikan bertaraf internasional. (3) Akreditasi dan sertifikasi sebagaimana dimaksud pada ayat (2) yang diselenggarakan Pemerintah atau masyarakat didasarkan pada Standar Nasional Pendidikan. memfasilitasi. olahraga. Pemerintah memfasilitasi sertifikasi internasional pada program dan/atau satuan pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2). dan melindungi program dan/atau satuan pendidikan bertaraf internasional sesuai peraturan perundang-undangan.

Departemen Agama. Pemerintah provinsi. Badan hukum pendidikan. b. sistem informasi pendidikan di semua provinsi. dan sistem informasi pendidikan di semua kabupaten/kota. Pemerintah kabupaten/kota. dan akuntabilitas pengelolaan pendidikan yang mengikat: a. f. Bagian Ketiga Pengelolaan oleh Pemerintah Provinsi Pasal 15 (1) Gubernur bertanggung jawab mengelola sistem pendidikan nasional di daerahnya serta merumuskan dan menetapkan kebijakan daerah bidang pendidikan sesuai kewenangannya. Program dan/atau satuan pendidikan. Departemen lain atau lembaga pemerintah nondepartemen yang menyelenggarakan program dan/atau satuan pendidikan. Sistem informasi pendidikan nasional sebagaimana dimaksud pada ayat (1) difasilitasi oleh jejaring informasi nasional yang terhubung dengan sistem informasi pendidikan di departemen lain atau lembaga pemerintah non departemen yang menyelenggarakan pendidikan. Sistem informasi pendidikan nasional sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) memberikan akses informasi administrasi pendidikan dan akses sumber pembelajaran kepada satuan pendidikan pada semua jenjang. 76461668. jenis.doc 12 . Departemen. dan jalur pendidikan. Pasal 14 (1) Dalam menyelenggarakan dan mengelola sistem pendidikan nasional Departemen mengembangkan dan melaksanakan sistem informasi pendidikan nasional berbasis teknologi informasi dan komunikasi.Pasal 13 Menteri menetapkan kebijakan tatakelola pendidikan untuk menjamin efisiensi. d. c. e. efektifitas. (2) (3) (2) Kebijakan daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) konsisten dengan serta merupakan penjabaran dari kebijakan pendidikan nasional sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4. dan g.

peserta didik di provinsi yang bersangkutan. f. f. pendidik dan bersangkutan. badan hukum pendidikan di provinsi yang bersangkutan.doc 13 . pihak lain yang terkait dengan pendidikan di provinsi yang bersangkutan. kerja dan anggaran tahunan provinsi e. komite sekolah atau nama lain yang sejenis di provinsi yang bersangkutan.(3) Kebijakan daerah bidang pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dituangkan dalam: a. tenaga kependidikan di provinsi yang j. masyarakat di provinsi yang bersangkutan. rencana pembangunan jangka panjang provinsi (RPJPP). mengawasi. rencana pembangunan jangka menengah provinsi (RPJMP). h. rencana strategis pendidikan provinsi. d. Pemerintah Kabupaten/Kota di provinsi yang bersangkutan. b. jenjang. mengkoordinasi. satuan pendidikan di provinsi yang bersangkutan. membimbing. efisien. memantau. mengevaluasi. dan akuntabel sesuai dengan kebijakan daerah bidang pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1). (5) Pemerintah provinsi mengalokasikan anggaran pendidikan agar sistem pendidikan nasional di provinsi yang bersangkutan dapat dilaksanakan secara efektif. mensupervisi. b. jalur. orang tua/wali peserta didik di provinsi yang bersangkutan. e. g. satuan. i. ayat (2) dan ayat (3) mengikat bagi: a. dan jenis pendidikan di provinsi yang bersangkutan sesuai 76461668. dan g. dan mengendalikan penyelenggara. dewan pendidikan di provinsi yang bersangkutan. rencana kerja pemerintah provinsi (RKPP). dan ayat (3). Pasal 16 Pemerintah provinsi sesuai kewenangannya mengarahkan. peraturan daerah di bidang pendidikan. peraturan gubernur di bidang pendidikan. ayat (2). d. c. semua jajaran Pemerintah Provinsi. c. dan k. rencana (RKATP). (4) Kebijakan daerah bidang pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1).

kebijakan daerah bidang pendidikan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 15. (2) Target tingkat partisipasi pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dipenuhi melalui jalur pendidikan formal dan nonformal. antar kabupaten. (2) Gubernur menetapkan kebijakan untuk menjamin peserta didik miskin. Pasal 20 (1) Pemerintah provinsi sesuai kewenangannya melakukan dan/atau memfasilitasi penjaminan mutu pendidikan di daerahnya dengan berpedoman pada kebijakan nasional bidang pendidikan dan Standar Nasional Pendidikan. pemerintah provinsi mengutamakan perluasan dan pemerataan akses pendidikan melalui jalur pendidikan formal. antara laki-laki dan perempuan. (2) 76461668. pemerintah provinsi berkoordinasi dengan unit pelaksana teknis Pemerintah yang melaksanakan tugas penjaminan mutu pendidikan. antar kota. Pasal 17 (1) Gubernur menetapkan target tingkat partisipasi pendidikan pada semua jenjang dan jenis pendidikan yang harus dicapai pada tingkat provinsi. c. b. Pasal 18 (1) Gubernur menetapkan target tingkat pemerataan partisipasi pendidikan pada tingkat provinsi: a. (3) Dalam memenuhi target tingkat partisipasi pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1). peserta didik khusus.doc 14 . dan d. Dalam melaksanakan tugasnya sebagaimana dimaksud pada ayat (1). dan/atau peserta didik di daerah khusus dapat memperoleh akses pelayanan pendidikan. antara kabupaten dan kota. Pasal 19 Gubernur melaksanakan dan mengkoordinasikan pelaksanaan standar pelayanan minimal bidang pendidikan sesuai peraturan perundangundangan.

membina. dan/atau pemindahan kepala sekolah dan/atau guru pada satuan pendidikan yang sedang dirintis atau sudah bertaraf internasional harus seizin gubernur. pemerintah provinsi mengkoordinasikan dan memfasilitasi: a. memfasilitasi. akreditasi satuan pendidikan. mengakui.doc 15 . Pengangkatan. d. Pasal 22 (2) (3) (4) (5) 76461668. memfasilitasi. satuan dan/atau program c. b. e. sertifikasi pendidikan terkait. akreditasi program pendidikan.(3) Dalam rangka penjaminan mutu pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1). sertifikasi unit pelaksana satuan dan/atau program pendidikan terkait. sertifikasi kompetensi pendidik. f. sertifikasi kompetensi peserta didik. pemberhentian. (4) Untuk melaksanakan tugasnya sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf a dan huruf b. Pemerintah provinsi memfasilitasi akreditasi internasional program dan/atau satuan pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2). Pemerintah provinsi memfasilitasi sertifikasi internasional pada program dan/atau satuan pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2). dan melindungi program dan/atau satuan pendidikan bertaraf internasional sesuai dengan peraturan perundang-undangan. dan melindungi program dan/atau satuan pendidikan yang sudah atau hampir memenuhi Standar Nasional Pendidikan untuk dirintis dan dikembangkan menjadi bertaraf internasional sesuai dengan peraturan perundang-undangan. sertifikasi kependidikan. membina. Pemerintah provinsi sesuai dengan kewenangannya menyelenggarakan. Pasal 21 (1) Pemerintah provinsi sesuai dengan kewenangannya menyelenggarakan. mengakui. dan/atau kompetensi tenaga g. Gubernur membentuk Badan Akreditasi Provinsi Sekolah/Madrasah dan Badan Akreditasi Provinsi Pendidikan Nonformal untuk membantu Badan Akreditasi Nasional Sekolah/Madrasah dan Badan Akreditasi Nasional Pendidikan Nonformal dalam melaksanakan tugasnya.

olahraga. kabupaten/kota. ayat (2). peserta didik di provinsi yang bersangkutan. (2) Untuk menumbuhkan iklim kompetitif yang kondusif bagi pencapaian prestasi puncak sebagaimana dimaksud pada ayat (1) pemerintah provinsi menyelenggarakan dan/atau memfasilitasi secara teratur dan berjenjang kompetisi di bidang: a. seni.(1) Pemerintah provinsi melakukan pembinaan berkelanjutan kepada peserta didik yang memiliki potensi kecerdasan dan/atau bakat istimewa untuk mencapai prestasi puncak di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi. b. (3) Pemerintah provinsi memberikan penghargaan kepada peserta didik yang meraih prestasi puncak sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) sesuai peraturan perundang-undangan. h. dan ayat (3) diatur dengan peraturan gubernur. tenaga kependidikan di provinsi yang j. masyarakat di provinsi yang bersangkutan. orang tua/wali peserta didik di provinsi yang bersangkutan. nasional. Pasal 23 Gubernur menetapkan kebijakan tatakelola pendidikan untuk menjamin efisiensi. pendidik dan bersangkutan. dan internasional. e. f. dan/atau olahraga pada tingkat satuan pendidikan. satuan pendidikan di provinsi yang bersangkutan. ilmu pengetahuan dan teknologi. dan akuntabilitas pengelolaan pendidikan yang mengikat: a. g. dan c. Pemerintah Kabupaten/Kota di provinsi yang bersangkutan. b. komite sekolah atau nama lain yang sejenis di provinsi yang bersangkutan. dewan pendidikan di provinsi yang bersangkutan. semua jajaran Pemerintah Provinsi. pihak lain yang terkait dengan pendidikan di provinsi yang bersangkutan. seni. Pasal 24 76461668. d. c. dan k. (4) Ketentuan lebih lanjut mengenai pelaksanaan ayat (1). i. provinsi. badan hukum pendidikan di provinsi yang bersangkutan.doc 16 . efektifitas.

(2) (3) Bagian Keempat Pengelolaan oleh Pemerintah Kabupaten/Kota Pasal 25 (1) Bupati/Walikota bertanggung jawab mengelola sistem pendidikan nasional di daerahnya serta merumuskan dan menetapkan kebijakan daerah bidang pendidikan sesuai kewenangannya. e. Sistem informasi pendidikan provinsi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) merupakan subsistem dari sistem informasi pendidikan nasional.(1) Dalam menyelenggarakan dan mengelola sistem pendidikan nasional di daerahnya. (4) Kebijakan daerah bidang pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1). Sistem informasi pendidikan provinsi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) memberikan akses informasi administrasi pendidikan dan akses sumber pembelajaran kepada satuan pendidikan pada semua jenjang. g. pemerintah provinsi mengembangkan dan melaksanakan sistem informasi pendidikan provinsi berbasis teknologi informasi dan komunikasi. rencana kerja pemerintah kabupaten/kota. rencana strategis pendidikan kabupaten/kota. rencana pembangunan jangka panjang kabupaten/kota. dan jalur pendidikan sesuai kewenangan pemerintah provinsi. rencana pembangunan jangka menengah kabupaten/kota. c. rencana kerja dan anggaran tahunan kabupaten/kota. ayat (2) dan ayat (3) mengikat bagi: 76461668.doc 17 . (3) Kebijakan daerah bidang pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) dituangkan dalam: a. b. (2) Kebijakan daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) konsisten dengan serta merupakan penjabaran dari kebijakan pendidikan nasional sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 dan penjabaran dari kebijakan pendidikan pemerintah provinsi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 15. dan peraturan bupati/walikota di bidang pendidikan. d. jenis. f. peraturan daerah di bidang pendidikan.

Pasal 27 (1)Bupati/Walikota menetapkan target tingkat partisipasi pendidikan pada semua jenjang dan jenis pendidikan yang harus dicapai pada tingkat kabupaten/kota. badan hukum bersangkutan. membimbing. dewan pendidikan di kabupaten/kota yang bersangkutan. komite sekolah atau nama lain kabupaten/kota yang bersangkutan. mengawasi. jenjang. ayat (2). dan mengendalikan penyelenggara. (2)Target tingkat partisipasi pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dipenuhi melalui jalur pendidikan formal dan nonformal. orang tua/wali peserta didik di kabupaten/kota yang bersangkutan. b. dan ayat (3). pendidikan di kabupaten/kota yang satuan pendidikan di kabupaten/kota yang bersangkutan. e. pemerintah kabupaten/kota mengutamakan perluasan dan pemerataan akses pendidikan melalui jalur pendidikan formal. c. Pasal 28 76461668.a. jalur. mengkoordinasi. i. f. dan pihak lain yang terkait dengan kabupaten/kota yang bersangkutan. semua jajaran pemerintah kabupaten/kota. dan jenis pendidikan di kabupaten/kota yang bersangkutan sesuai kebijakan daerah bidang pendidikan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 25. pendidik dan tenaga kependidikan di kabupaten/kota yang bersangkutan. j. Pasal 26 Pemerintah kabupaten/kota sesuai kewenangannya mengarahkan. efisien.doc 18 . masyarakat di kabupaten/kota yang bersangkutan. mengevaluasi. satuan. dan akuntabel sesuai dengan kebijakan daerah bidang pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1). d. g. pendidikan di (5) Pemerintah kabupaten/kota mengalokasikan anggaran pendidikan agar sistem pendidikan nasional di kabupaten/kota yang bersangkutan dapat dilaksanakan secara efektif. h. memantau. mensupervisi. yang sejenis di peserta didik di kabupaten/kota yang bersangkutan. (3) Dalam memenuhi target tingkat partisipasi pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1).

antar kecamatan atau sebutan lainnya yang sejenis. c. akreditasi satuan pendidikan. Pasal 31 76461668. f. sertifikasi kompetensi peserta didik. sertifikasi kompetensi pendidik. Pasal 29 Bupati/Walikota melaksanakan dan mengkoordinasikan pelaksanaan standar pelayanan minimal bidang pendidikan sesuai peraturan perundang-undangan. peserta didik khusus. antar desa/kelurahan atau sebutan lainnya yang sejenis. Dalam melaksanakan tugasnya sebagaimana dimaksud pada ayat (1). dan/atau peserta didik di daerah khusus dapat memperoleh akses pelayanan pendidikan. b. akreditasi program pendidikan. Pasal 30 (1) Pemerintah kabupaten/kota sesuai kewenangannya melakukan dan/atau memfasilitasi penjaminan mutu pendidikan di daerahnya dengan berpedoman pada kebijakan nasional bidang pendidikan. sertifikasi kependidikan. pemerintah kabupaten/kota berkoordinasi dengan unit pelaksana teknis Pemerintah yang melaksanakan tugas penjaminan mutu pendidikan. (2) Bupati/Walikota menetapkan kebijakan untuk menjamin peserta didik miskin. pemerintah kabupaten/kota memfasilitasi: a. Dalam rangka penjaminan mutu pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1). b. d. dan antara laki-laki dan perempuan. satuan dan/atau program (2) (3) c. dan/atau kompetensi tenaga g. kebijakan provinsi bidang pendidikan. e.doc 19 .(1) Bupati/Walikota menetapkan target tingkat pemerataan partisipasi pendidikan pada tingkat kabupaten/kota: a. dan Standar Nasional Pendidikan. sertifikasi unit pelaksana satuan dan/atau program pendidikan terkait. sertifikasi pendidikan terkait.

doc 20 . membina. dan/atau olahraga pada tingkat satuan pendidikan. c. seni. Untuk menumbuhkan iklim kompetitif yang kondusif bagi pencapaian prestasi puncak sebagaimana dimaksud pada ayat (1) pemerintah kabupaten/kota menyelenggarakan dan/atau memfasilitasi secara teratur dan berjenjang kompetisi di bidang: a. Pemerintah kabupaten/kota melaksanakan dan/atau memfasilitasi perintisan program dan/atau satuan pendidikan yang sudah atau hampir memenuhi Standar Nasional Pendidikan untuk dikembangkan menjadi program dan/atau satuan pendidikan bertaraf internasional dan/atau berbasis keunggulan lokal. Ketentuan lebih lanjut mengenai pelaksanaan ayat (1). b. ayat (2). (3) ilmu pengetahuan dan teknologi. nasional. seni.(1) Pemerintah kabupaten/kota mengakui. (2) Pemerintah kabupaten/kota memberikan penghargaan kepada peserta didik yang meraih prestasi puncak sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) sesuai peraturan perundang-undangan. Pemerintah kabupaten/kota memfasilitasi sertifikasi internasional pada program dan/atau satuan pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2). memfasilitasi. provinsi. kecamatan. dan ayat (3) diatur dengan peraturan bupati/walikota. dan olahraga. (2) (3) (4) Pasal 32 (1) Pemerintah kabupaten/kota melakukan pembinaan berkelanjutan kepada peserta didik yang memiliki potensi kecerdasan dan/atau bakat istimewa untuk mencapai prestasi puncak di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi. Pemerintah kabupaten/kota memfasilitasi akreditasi internasional program dan/atau satuan pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2). dan internasional. Pasal 33 (4) 76461668. dan melindungi program dan/atau satuan pendidikan bertaraf internasional dan/atau berbasis keunggulan lokal sesuai peraturan perundang-undangan. kabupaten/kota.

Bupati/Walikota menetapkan kebijakan tatakelola pendidikan untuk menjamin efisiensi, efektifitas, dan akuntabilitas pengelolaan pendidikan yang mengikat: a. semua jajaran pemerintah kabupaten/kota; b. badan hukum pendidikan di kabupaten/kota yang bersangkutan; c. satuan pendidikan bersangkutan; d. dewan pendidikan bersangkutan; di di kabupaten/kota kabupaten/kota yang yang

e. komite sekolah atau nama lain yang sejenis di kabupaten/kota yang bersangkutan; f. peserta didik di kabupaten/kota yang bersangkutan; g. orang tua/wali peserta didik di kabupaten/kota yang bersangkutan; h. pendidik dan tenaga kabupaten/kota yang bersangkutan; i. dan kependidikan di

masyarakat di kabupaten/kota yang bersangkutan; pendidikan di

j. pihak lain yang terkait dengan kabupaten/kota yang bersangkutan. Pasal 34 (1)

Dalam menyelenggarakan dan mengelola sistem pendidikan nasional di daerahnya, pemerintah kabupaten/kota mengembangkan dan melaksanakan sistem informasi pendidikan kabupaten/kota berbasis teknologi informasi dan komunikasi. Sistem informasi pendidikan kabupaten/kota sebagaimana dimaksud pada ayat (1) merupakan subsistem dari sistem informasi pendidikan nasional. Sistem informasi pendidikan kabupaten/kota sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) memberikan akses informasi administrasi pendidikan dan akses sumber pembelajaran kepada satuan pendidikan pada semua jenjang, jenis, dan jalur pendidikan sesuai kewenangan pemerintah kabupaten/kota. Bagian Kelima Pengelolaan oleh Badan Hukum Pendidikan Pasal 35 (1) Badan hukum pendidikan bertanggung jawab mengelola sistem pendidikan nasional di badan hukum pendidikannya serta
76461668.doc

(2)

(3)

21

merumuskan dan kewenangannya. (2)

menetapkan kebijakan pendidikan sesuai

Kebijakan pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) konsisten dengan serta merupakan penjabaran dari kebijakan pendidikan nasional sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4, kebijakan pendidikan pemerintah provinsi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 15, dan/atau kebijakan pendidikan pemerintah kabupaten/kota sebagaimana dimaksud dalam Pasal 25, sesuai peraturan perundang-undangan. Kebijakan pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) dituangkan dalam peraturan badan hukum pendidikan.

(3)

(4) Kebijakan pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1), ayat (2) dan ayat (3) mengikat bagi: a. badan hukum pendidikan yang bersangkutan; b. satuan dan/atau program pendidikan yang terkait; c. lembaga representasi pemangku kepentingan dan/atau program pendidikan yang terkait; satuan

d. peserta didik di satuan dan/atau program pendidikan yang terkait; e. orang tua/wali peserta didik di satuan dan/atau program pendidikan yang terkait; f. pendidik dan tenaga kependidikan di satuan dan/atau program pendidikan yang terkait; g. pihak lainnya yang terikat dengan program pendidikan yang terkait. satuan dan/atau

(5) Badan hukum pendidikan mengalokasikan anggaran pendidikan agar sistem pendidikan nasional di satuan dan/atau program pendidikan yang terkait dapat dilaksanakan secara efektif, efisien, dan akuntabel sesuai dengan kebijakan pendidikan nasional sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4, kebijakan pendidikan pemerintah provinsi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 15, kebijakan pendidikan pemerintah kabupaten/kota sebagaimana dimaksud dalam Pasal 25, dan/atau kebijakan pendidikan badan hukum pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1), ayat (2), ayat (3), dan ayat (4), dan sesuai peraturan perundang-undangan. Pasal 36 Badan hukum pendidikan sesuai kewenangannya mengarahkan, membimbing, mensupervisi, mengawasi, mengkoordinasi, memantau, mengevaluasi, dan mengendalikan satuan dan/atau program pendidikan yang terkait sesuai dengan kebijakan pendidikan nasional sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4, kebijakan pendidikan
76461668.doc

22

pemerintah provinsi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 15, kebijakan pendidikan pemerintah kabupaten/kota sebagaimana dimaksud dalam Pasal 25, dan/atau kebijakan pendidikan badan hukum pendidikan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 35, dan sesuai peraturan perundang-undangan. Pasal 37 Badan hukum pendidikan menetapkan kebijakan untuk menjamin peserta didik miskin, peserta didik khusus, dan/atau peserta didik di daerah khusus dapat memperoleh akses pelayanan pendidikan. Pasal 38 Badan hukum pendidikan menjamin pelaksanaan Standar Pelayanan Minimal bidang pendidikan pada satuan dan/atau program pendidikan terkait sesuai peraturan perundang-undangan. Pasal 39 (1) Badan hukum pendidikan sesuai kewenangannya melakukan dan/atau memfasilitasi penjaminan mutu pendidikan di satuan dan/atau program pendidikan terkait dengan berpedoman pada kebijakan pendidikan nasional sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4, kebijakan pendidikan pemerintah provinsi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 15, kebijakan pendidikan pemerintah kabupaten/kota sebagaimana dimaksud dalam Pasal 25, dan/atau kebijakan pendidikan badan hukum pendidikan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 35, dan Standar Nasional Pendidikan. (2) Dalam melaksanakan tugasnya sebagaimana dimaksud pada ayat (1), badan hukum pendidikan yang merupakan dan/atau menyelenggarakan satuan dan/atau program pendidikan anak usia dini, pendidikan dasar dan/atau pendidikan menengah bekerja sama dengan unit pelaksana teknis Pemerintah yang melaksanakan tugas penjaminan mutu pendidikan. (3) Dalam rangka penjaminan mutu pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1), badan hukum pendidikan memfasilitasi: a. akreditasi program pendidikan terkait; b. akreditasi satuan pendidikan terkait; c. sertifikasi satuan dan/atau program pendidikan terkait; d. sertifikasi unit pelaksana pendidikan terkait; satuan dan/atau program

e. sertifikasi kompetensi peserta didik; f. sertifikasi kompetensi pendidik; dan/atau g. sertifikasi kompetensi tenaga kependidikan.
76461668.doc

23

Pasal 40 (1) Badan hukum pendidikan memfasilitasi, membina, dan melindungi program dan/atau satuan pendidikan terkait yang bertaraf internasional dan/atau berbasis keunggulan lokal sesuai peraturan perundang-undangan. Badan hukum pendidikan melaksanakan dan/atau memfasilitasi perintisan program dan/atau satuan pendidikan terkait yang sudah atau hampir memenuhi Standar Nasional Pendidikan untuk dikembangkan menjadi program dan/atau satuan pendidikan bertaraf internasional dan/atau berbasis keunggulan lokal. Badan hukum pendidikan memfasilitasi akreditasi internasional program dan/atau satuan pendidikan terkait sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2). Badan hukum pendidikan memfasilitasi sertifikasi internasional pada program dan/atau satuan pendidikan terkait sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2). Pasal 41 (1) Badan hukum pendidikan memfasilitasi pembinaan berkelanjutan kepada peserta didik yang memiliki potensi kecerdasan dan/atau bakat istimewa untuk mencapai prestasi puncak di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi, seni, dan/atau olahraga pada tingkat satuan pendidikan, kecamatan, kabupaten/kota, provinsi, nasional, dan internasional. Untuk menumbuhkan iklim kompetitif yang kondusif bagi pencapaian prestasi puncak sebagaimana dimaksud pada ayat (1) badan hukum pendidikan memfasilitasi secara teratur kompetisi di satuan dan/atau program pendidikan terkait dalam bidang: a. b. c. (3) ilmu pengetahuan dan teknologi; seni; dan olahraga.

(2)

(3)

(4)

(2)

Ketentuan lebih lanjut mengenai pelaksanaan ayat (1), ayat (2), dan ayat (3) diatur dengan peraturan badan hukum pendidikan. Pasal 42

Badan hukum pendidikan menetapkan kebijakan tatakelola pendidikan untuk menjamin efisiensi, efektifitas, dan akuntabilitas pengelolaan pendidikan yang mengikat: a. b.
76461668.doc

badan hukum pendidikan yang bersangkutan; satuan dan/atau program pendidikan terkait;
24

Bagian Keenam Pengelolaan oleh Satuan dan/atau Program Pendidikan Pasal 44 (2) (3) (1) Satuan dan/atau program pendidikan bertanggung jawab mengelola sistem pendidikan nasional di satuan dan/atau program pendidikannya serta merumuskan dan menetapkan kebijakan pendidikan sesuai kewenangannya. f.doc 25 . dan sesuai peraturan perundangundangan. g. e. badan hukum pendidikan mengembangkan dan melaksanakan sistem informasi pendidikan badan hukum pendidikan berbasis teknologi informasi dan komunikasi. 76461668. Sistem informasi pendidikan badan hukum pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) merupakan subsistem dari sistem informasi pendidikan nasional. Sistem informasi pendidikan badan hukum pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) memberikan akses informasi administrasi pendidikan dan akses sumber pembelajaran kepada satuan dan/atau program pendidikan terkait. kebijakan pendidikan pemerintah provinsi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 15. kebijakan pendidikan pemerintah kabupaten/kota sebagaimana dimaksud dalam Pasal 25. (2) Kebijakan pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) konsisten dengan serta merupakan penjabaran dari kebijakan pendidikan nasional sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4.c. dan/atau kebijakan pendidikan badan hukum pendidikan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 35. lembaga representasi pemangku kepentingan pendidikan pada satuan dan/atau program pendidikan terkait. peserta pendidikan terkait. didik satuan dan/atau program d. pendidik dan tenaga kependidikan di satuan dan/atau program pendidikan terkait. Pasal 43 (1) Dalam menyelenggarakan dan mengelola sistem pendidikan nasional di satuan dan/atau program pendidikan terkait. pihak lain yang terikat dengan satuan dan/atau program pendidikan terkait. orang tua/wali peserta didik di satuan dan/atau program pendidikan terkait.

d. peserta didik di satuan dan/atau program pendidikan yang bersangkutan.doc sebagaimana sebagaimana pendidikan 26 . Kebijakan pemerintah kabupaten/kota dimaksud dalam Pasal 25. Pemerintah sebagaimana dimaksud dalam b. pendidik dan tenaga kependidikan di satuan dan/atau program pendidikan yang bersangkutan. dan peraturan pimpinan perguruan tinggi lainnya. satuan c. Kebijakan pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2). e. peraturan satuan dan/atau program pendidikan. dan dan belanja tahunan satuan c. e. b. anggaran tahunan perguruan tinggi. Kebijakan Pasal 4. rencana strategis perguruan tinggi. rencana kerja tahunan perguruan tinggi. orang tua/wali peserta didik di satuan dan/atau program pendidikan yang bersangkutan. d. anggaran pendapatan pendidikan. f. 76461668. oleh satuan pendidikan anak usia dini. satuan pendidikan dasar. satuan dan/atau program pendidikan yang bersangkutan. c. pihak lainnya yang terikat dengan satuan dan/atau program pendidikan yang bersangkutan. (6) Kebijakan satuan pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (3) merupakan penjabaran dan selaras dengan: a. f. b. peraturan pemimpin perguruan tinggi. rencana kerja tahunan satuan pendidikan. (5) Kebijakan pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1). (4) a. c. dan satuan pendidikan menengah dituangkan dalam: a. lembaga representasi pemangku kepentingan dan/atau program pendidikan yang bersangkutan. b. Kebijakan badan hukum dimaksud dalam Pasal 35. Kebijakan pemerintah provinsi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 15. dan d. ayat (2) dan ayat (3) mengikat bagi: a. oleh perguruan tinggi dituangkan dalam: rencana pembangunan jangka panjang perguruan tinggi.(3) Kebijakan pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2).

dan sesuai peraturan perundang-undangan. Pasal 45 Satuan dan/atau program pendidikan mengelola pendidikan sesuai dengan kebijakan pendidikan nasional sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4. dan akuntabel sesuai dengan kebijakan pendidikan nasional sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4. dan/atau kebijakan pendidikan badan hukum pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1). kebijakan pendidikan pemerintah provinsi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 15. dan/atau kebijakan pendidikan badan hukum pendidikan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 35. Kebijakan badan hukum dimaksud dalam Pasal 35. ayat (3). dan/atau peserta didik di daerah khusus dapat memperoleh akses pelayanan pendidikan. peserta didik khusus. kebijakan pendidikan pemerintah provinsi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 15.(7) Kebijakan perguruan tinggi sebagaimana dimaksud pada ayat (4) merupakan penjabaran dan selaras dengan: a. kebijakan pendidikan pemerintah kabupaten/kota sebagaimana dimaksud dalam Pasal 25. kebijakan pendidikan pemerintah provinsi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 15. kebijakan pendidikan pemerintah kabupaten/kota sebagaimana dimaksud dalam Pasal 25. dan sebagaimana dimaksud dalam b. dan sesuai peraturan perundangundangan. ayat (2). Pasal 46 Satuan dan/atau program pendidikan sesuai kewenangannya menetapkan kebijakan untuk menjamin peserta didik miskin. efisien. dan/atau kebijakan 27 76461668. Pasal 47 Satuan dan/atau program pendidikan menjamin terpenuhinya Standar Pelayanan Minimal bidang pendidikan. Pasal 48 (1) Satuan dan/atau program pendidikan melakukan penjaminan mutu pendidikan dengan berpedoman pada kebijakan pendidikan nasional sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4.doc . Kebijakan Pemerintah Pasal 4. dan ayat (4). (8) pendidikan sebagaimana Satuan dan/atau program pendidikan mengalokasikan anggaran pendidikan agar sistem pendidikan nasional di satuan dan/atau program pendidikan yang bersangkutan dapat dilaksanakan secara efektif. kebijakan pendidikan pemerintah kabupaten/kota sebagaimana dimaksud dalam Pasal 25.

satuan dan/atau program pendidikan anak usia dini. dan/atau g. atau pendidikan menengah bekerja sama dengan unit pelaksana teknis Pemerintah yang melaksanakan tugas penjaminan mutu pendidikan. sertifikasi kompetensi peserta didik terkait. b. sertifikasi kompetensi pendidik terkait.doc . sertifikasi kompetensi tenaga kependidikan terkait. akreditasi satuan pendidikan yang bersangkutan. Satuan dan/atau program pendidikan yang sudah atau hampir memenuhi Standar Nasional Pendidikan dapat mengikuti akreditasi internasional program dan/atau satuan pendidikan. dan Standar Nasional Pendidikan.pendidikan badan hukum pendidikan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 35. sertifikasi satuan dan/atau program pendidikan yang bersangkutan. Dalam rangka penjaminan mutu pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1). sertifikasi unit pelaksana satuan pendidikan yang bersangkutan. c. f. Satuan dan/atau program pendidikan dapat mengikuti sertifikasi internasional program atau satuan pendidikan. dan/atau program (3) e. Pasal 49 (1) Satuan dan/atau program pendidikan yang sudah atau hampir memenuhi Standar Nasional Pendidikan dapat merintis dirinya untuk dikembangkan menjadi program dan/atau satuan pendidikan bertaraf internasional dan/atau berbasis keunggulan lokal. sesuai peraturan perundang-undangan. akreditasi program pendidikan yang bersangkutan. pendidikan dasar. d. (2) Dalam melaksanakan tugasnya sebagaimana dimaksud pada ayat (1). Pasal 50 (1) Satuan dan/atau program pendidikan melakukan pembinaan berkelanjutan kepada peserta didik yang memiliki potensi kecerdasan dan/atau bakat istimewa untuk mencapai prestasi 28 (2) (3) 76461668. mengikuti: a. satuan dan/atau program pendidikan.

ilmu pengetahuan dan teknologi. dan akuntabilitas pengelolaan pendidikan yang mengikat: a. satuan dan/atau program pendidikan mengembangkan dan melaksanakan sistem informasi pendidikan berbasis teknologi informasi dan komunikasi. peserta didik satuan dan/atau program pendidikan yang bersangkutan. orang tua/wali peserta didik di satuan dan/atau program pendidikan yang bersangkutan. dan/atau program pendidikan yang lembaga representasi pemangku kepentingan pendidikan pada satuan dan/atau program pendidikan yang bersangkutan. 76461668.puncak di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi. pendidik dan tenaga kependidikan di dan/atau program pendidikan yang bersangkutan. c. satuan c. (4) Ketentuan lebih lanjut mengenai pelaksanaan ayat (1). (3) Satuan dan/atau program pendidikan memberikan penghargaan kepada peserta didik yang meraih prestasi puncak sesuai peraturan perundang-undangan. seni. dan olahraga. Pasal 52 (1) Dalam menyelenggarakan dan mengelola pendidikan. (2) Untuk menumbuhkan iklim kompetitif yang kondusif bagi pencapaian prestasi puncak sebagaimana dimaksud pada ayat (1) satuan dan/atau program pendidikan melakukan secara teratur kompetisi di satuan dan/atau program pendidikan terkait dalam bidang: a. b. f. kecamatan. b. provinsi. e. efektifitas. ayat (2). dan ayat (3) diatur dengan peraturan satuan dan/atau program pendidikan. pihak lain yang terikat dengan satuan dan/atau program pendidikan yang bersangkutan. satuan bersangkutan. Pasal 51 Satuan dan/atau program pendidikan menetapkan kebijakan tatakelola pendidikan untuk menjamin efisiensi.doc 29 . kabupaten/kota. seni. dan internasional. nasional. dan/atau olahraga pada tingkat satuan pendidikan. d.

b. membangun landasan bagi berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. kritis. tenaga kependidikan. berkepribadian luhur. (2) PAUD bertujuan: a. dan mengembangkan seluruh potensi anak usia dini secara optimal sehingga terbentuk perilaku dan kemampuan dasar sesuai dengan tahap perkembangannya agar memiliki kesiapan untuk memasuki pendidikan selanjutnya. dan peserta didik. percaya diri. mengembangkan potensi kecerdasan spiritual. TK. sehat.doc . Paragraf 2 Bentuk dan Jenis Satuan Pendidikan Pasal 54 (1) PAUD pada jalur pendidikan formal berbentuk Taman Kanakkanak (TK). atau bentuk lain yang sederajat. 30 (2) 76461668. Sistem informasi pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) memberikan akses informasi administrasi pendidikan dan akses sumber pembelajaran kepada pendidik. berakhlak mulia. kreatif. inovatif. intelektual. berilmu. menumbuhkan.(2) Sistem informasi pendidikan satuan dan/atau program pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) merupakan subsistem dari sistem informasi pendidikan nasional. dan sosial peserta didik pada masa emas pertumbuhannya dalam lingkungan bermain yang edukatif dan menyenangkan. BAB III PENYELENGGARAAN PENDIDIKAN FORMAL Bagian Kesatu Pendidikan Anak Usia Dini Paragraf 1 Fungsi dan Tujuan Pasal 53 (3) (1) PAUD berfungsi membina. RA. Raudathul Athfal (RA). cakap. kinestetis. mandiri. Bustanul Athfal (BA). emosional. BA atau bentuk lain yang sederajat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) memiliki program pembelajaran 1 (satu) tahun atau 2 (dua) tahun. dan menjadi warga negara yang demokratis dan bertanggung jawab.

(3)

TK, RA, BA atau bentuk lain yang sederajat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat diselenggarakan menyatu dengan SD, MI, atau bentuk lain yang sederajat. Paragraf 3 Penerimaan Peserta Didik Pasal 55

Peserta didik TK, RA, BA, atau bentuk lain yang sederajat berusia 4 (empat) tahun sampai dengan 6 (enam) tahun. Pasal 56 (1) (2) Penerimaan peserta didik pada satuan pendidikan anak usia dini dilakukan secara objektif, transparan, dan akuntabel. Penerimaan peserta didik pada satuan pendidikan anak usia dini dilakukan tanpa diskriminasi atas dasar pertimbangan gender, agama, etnis, status sosial, kemampuan ekonomi, dan kondisi fisik atau mental anak. Keputusan penerimaan calon peserta didik menjadi peserta didik dilakukan secara mandiri oleh rapat dewan guru yang dipimpin oleh kepala satuan pendidikan. Paragraf 4 Program Pembelajaran Pasal 57 (1) Program pembelajaran TK, RA, BA dan bentuk lain yang sederajat dikembangkan untuk mempersiapkan peserta didik memasuki SD, MI, atau bentuk lain yang sederajat. Program pembelajaran TK, RA, BA dan bentuk lain yang sederajat dilaksanakan dalam konteks bermain dan dapat dikelompokan dalam: a. bermain dalam rangka pembelajaran agama dan ahlak mulia; b. bermain dalam kepribadian; rangka pembelajaran sosial dan

(3)

(2)

c. bermain dalam rangka pembelajaran estetika; d. bermain dalam rangka pembelajaran jasmani, olahraga dan kesehatan; dan e. bermain dalam rangka pembelajaran pengenalan pengetahuan dan teknologi. (3) orientasi dan

Semua permainan pembelajaran sebagaimana dimaksud pada
31

76461668.doc

ayat (2) dirancang dan diselenggarakan: a. secara interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang, dan mendorong kreativitas serta kemandirian, b. sesuai dengan tahap pertumbuhan fisik perkembangan mental anak serta kebutuhan kepentingan terbaik anak; dan dan

c. dengan memperhatikan perbedaan bakat, minat, dan kemampuan masing-masing anak; d. dengan mengintegrasikan kebutuhan anak kesehatan, gizi, dan stimulasi psikososial; dan terhadap

e. dengan memperhatikan latar belakang ekonomi, sosial, dan budaya anak. Bagian Kedua Pendidikan Dasar Paragraf 1 Fungsi dan Tujuan Pasal 58 (1) Pendidikan dasar tingkat SD/MI atau yang sederajat berfungsi: a. menanamkan dan mengamalkan nilai-nilai keimanan, ahlak mulia, dan kepribadian luhur; b. menanamkan dan mengamalkan nilai-nilai kebangsaan dan cinta tanah air; c. memberikan dasar-dasar kemampuan intelektual dalam bentuk kemampuan dan kecakapan membaca, menulis, dan berhitung; d. melatih dan merangsang kepekaan dan kemampuan mengapresiasi serta mengekspresikan keindahan, kehalusan, dan harmoni; e. menumbuhkan minat pada olah raga, kesehatan, dan kebugaran jasmani; dan f. mengembangkan kesiapan fisik dan mental untuk melanjutkan pendidikan ke SMP/MTs atau yang sederajat. (2) Pendidikan dasar tingkat SMP/MTs atau yang sederajat berfungsi: a. Mengembangkan, menghayati, dan mengamalkan nilainilai keimanan, ahlak mulia, dan kepribadian luhur yang telah dikenalinya; b. Mengembangkan, menghayati, dan mengamalkan nilainilai kebangsaan dan cinta tanah air yang telah dikenalinya;
76461668.doc

32

c. mempelajari dasar-dasar ilmu pengetahuan dan secara terbatas mulai mengenali teknologi; d. melatih dan mengembangkan kepekaan dan kemampuan mengapresiasi serta mengekspresikan keindahan, kehalusan, dan harmoni; e. mengembangkan bakat dan kemampuan di bidang olah raga, baik untuk kesehatan dan kebugaran jasmani maupun prestasi; dan f. mengembangkan kesiapan fisik dan mental untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang pendidikan menengah dan/atau untuk hidup mandiri di masyarakat. (3) Pendidikan dasar bertujuan membangun landasan bagi berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang: a. beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, dan berkepribadian luhur; b. berilmu, cakap, kritis, kreatif, dan inovatif; c. sehat, mandiri, dan percaya diri; dan d. toleran, peka sosial, demokratis, dan bertanggung jawab. Paragraf 2 Bentuk Satuan Pendidikan Pasal 59 (1) Pendidikan dasar kelas 1 (satu) sampai dengan kelas 6 (enam) adalah Sekolah Dasar (SD), Madrasah Ibtidaiyah (MI), atau bentuk lain yang sederajat. Pendidikan dasar kelas 7 (tujuh) sampai dengan kelas 9 (sembilan) adalah Sekolah Menengah Pertama (SMP), Madrasah Tsanawiyah (MTs), atau bentuk lain yang sederajat. Paragraf 3 Penerimaan Peserta Didik Pasal 60 (1) Peserta didik pada SD/MI atau bentuk lain yang sederajat sekurang-kurangnya berusia 6 (enam) tahun.

(2)

(2) Pengecualian terhadap ketentuan pada ayat (1) dapat dilakukan atas dasar rekomendasi tertulis dari psikolog. (3) Satuan pendidikan SD/MI atau bentuk lain yang sederajat wajib menerima warga negara berusia 7 (tujuh) sampai 12 (dua belas) tahun sebagai peserta didik sampai dengan batas daya
33

76461668.doc

tampungnya. (4) Penerimaan peserta didik kelas 1 (satu) SD/MI atau bentuk lain yang sederajat tidak didasarkan pada hasil tes kemampuan membaca, menulis, dan berhitung, atau bentuk seleksi lainnya. Pasal 61 (1) Pemilihan peserta didik pada SD/MI yang diselenggarakan oleh Pemerintah atau pemerintah daerah didasarkan pada urutan ketuaan usia calon peserta didik apabila jumlah calon peserta didik melebihi daya tampung satuan pendidikan. Jika usia calon peserta didik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) sama, maka penentuan peserta didik didasarkan pada urutan kedekatan tempat tinggal peserta didik dengan satuan pendidikan. Jika usia dan/atau urutan kedekatan tempat tinggal peserta didik dengan satuan pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) sama, maka peserta didik yang mendaftar lebih awal diprioritaskan. Pasal 62 (1) Peserta didik pada SMP/MTs atau bentuk lain yang sederajat sudah menyelesaikan pendidikannya pada SD, MI, Paket A, atau bentuk lain yang sederajat. Satuan pendidikan SMP/MTs atau bentuk lain yang sederajat wajib menerima warga negara berusia 13 (tiga belas) sampai 15 (lima belas) tahun sebagai peserta didik sampai dengan batas daya tampungnya. Pasal 63 (1) Satuan pendidikan SD/MI dan SMP/MTs yang memiliki jumlah calon peserta didik melebihi daya tampungnya wajib melaporkan kelebihan calon peserta didik tersebut kepada pemerintah kabupaten/kota yang bersangkutan. Pemerintah kabupaten/kota wajib menyalurkan kelebihan calon peserta didik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) pada satuan pendidikan dasar lain. Pasal 64 (1) Peserta didik jalur nonformal dan informal dapat diterima di SD, MI, atau bentuk lain yang sederajat tidak pada awal kelas 1 (satu) setelah lulus tes kelayakan dan penempatan yang diselenggarakan oleh satuan pendidikan formal.

(2)

(3)

(2)

(2)

76461668.doc

34

atau bentuk lain yang sederajat di Indonesia setelah lulus tes kelayakan dan penempatan yang diselenggarakan oleh satuan pendidikan yang ingin dimasukinya.doc 35 . Peserta didik jalur nonformal dan informal dapat diterima di SMP. SMP. (8) 76461668. (3) (4) Peserta didik pendidikan dasar setara SD di negara lain dapat pindah ke SD. b. MTs.(2) Peserta didik jalur nonformal dan informal dapat diterima di SMP. sosial. lulus tes kelayakan dan penempatan yang diselenggarakan oleh satuan pendidikan yang ingin dimasukinya. ayat (5). lulus tes kelayakan dan penempatan yang diselenggarakan oleh satuan pendidikan formal yang bersangkutan. lulus ujian kesetaraan Paket A. atau b. tidak benar. dan b. MTs. dan ayat (6) huruf b apabila setelah dilakukan pemeriksaan oleh Inspektorat Jenderal Departemen atas instruksi Menteri terbukti bahwa keputusan tersebut melanggar peraturan perundang-undangan. MTs. atau bentuk lain yang sederajat sesudah awal kelas 7 (tujuh) setelah: a. (5) (6) Peserta didik pendidikan dasar setara SD yang mengikuti sistem dan/atau standar pendidikan negara lain dapat diterima di SMP/MTs atau bentuk lain yang sederajat pada awal tahun kelas 7 (tujuh) setelah: a. MI. dan/atau tidak jujur. Satuan pendidikan SD. atau bentuk lain yang sederajat di Indonesia dengan syarat: a. MI. atau bentuk lain yang sederajat sejak awal kelas 7 (tujuh) setelah lulus ujian kesetaraan Paket A. atau bentuk lain yang sederajat memberikan bantuan penyesuaian akademik. (7) Menteri dapat membatalkan keputusan satuan pendidikan tentang syarat sebagaimana dimaksud pada ayat (3) huruf b. Peserta didik pendidikan dasar setara SMP di negara lain dapat pindah ke SMP. dapat menunjukkan ijazah atau dokumen lain yang membuktikan bahwa yang bersangkutan telah menyelesaikan pendidikan dasar yang memberikan kompetensi lulusan setara SD. lulus ujian kesetaraan Paket A. menunjukkan ijazah atau dokumen lain yang membuktikan bahwa yang bersangkutan telah menyelesaikan pendidikan dasar setara SD. dan/atau mental yang diperlukan oleh peserta didik pindahan dari satuan pendidikan formal lain atau jalur pendidikan lain. MTs. ayat (4).

menghayati. Pasal 65 (1) (2) Penerimaan peserta didik pada satuan pendidikan dilakukan secara objektif. menghayati. mempelajari ilmu pengetahuan dan teknologi. dan f. dasar Penerimaan peserta didik pada satuan pendidikan dasar dilakukan tanpa diskriminasi atas dasar pertimbangan gender. dan kondisi fisik atau mental peserta didik. (3) Keputusan penerimaan calon peserta didik menjadi peserta didik dilakukan secara mandiri oleh rapat dewan guru yang dipimpin oleh kepala satuan pendidikan. meningkatkan. dan kepribadian luhur. status sosial. kehalusan. agama. meningkatkan kesiapan fisik dan mental untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang pendidikan tinggi dan/atau untuk hidup mandiri di masyarakat. meningkatkan. dan mengamalkan nilai-nilai keimanan. transparan. e. menyalurkan bakat dan kemampuan di bidang olah raga. Bagian Ketiga Pendidikan Menengah Paragraf 1 Fungsi dan Tujuan Pasal 66 (1) Pendidikan menengah umum berfungsi: a. Di samping memenuhi ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (4). kecuali bagi lulusan satuan pendidikan sebagaimana dimaksud pada Pasal 64 ayat (2) dan ayat (6). satuan pendidikan dapat melakukan tes bakat skolastik untuk seleksi penerimaan peserta didik baru di kelas 7 (tujuh). d.doc (5) 36 . dan akuntabel. dan harmoni. b. kemampuan ekonomi. 76461668. ahlak mulia. meningkatkan kepekaan dan kemampuan mengapresiasi serta mengekspresikan keindahan. (4) Seleksi penerimaan peserta didik baru di kelas 7 (tujuh) pada satuan pendidikan dasar setingkat SMP didasarkan pada hasil Ujian Nasional. dan mengamalkan nilai-nilai kebangsaan dan cinta tanah air. c. etnis.(9) Ketentuan lebih lanjut mengenai pelaksanaan ayat (1) sampai dengan ayat (6) diatur dengan peraturan Menteri. baik untuk kesehatan dan kebugaran jasmani maupun prestasi.

dalam rangka mengantarkan peserta didik agar mampu hidup produktif dan beretika dalam masyarakat majemuk.doc . b. c. peka sosial. dan Madrasah Aliyah Kejuruan (MAK). serta menjadi warga negara yang taat hukum dalam konteks kehidupan global yang senantiasa berubah. dan percaya diri. ahlak mulia. meningkatkan. Paragraf 2 Bentuk Satuan Pendidikan Pasal 68 (1) Pendidikan menengah berbentuk Sekolah Menengah Atas (SMA). sehat. beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. dan bertanggung jawab. mandiri. toleran. dan mengamalkan nilai-nilai kebangsaan dan cinta tanah air. Madrasah Aliyah (MA). Pendidikan menengah terdiri atas 3 (tiga) tingkatan kelas. dan mengamalkan nilai-nilai keimanan. dan d. dan kepribadian luhur. cakap. dan f. berilmu. dan berkepribadian luhur. meningkatkan. yaitu 37 (2) 76461668. d. menghayati.(2) Pendidikan menengah kejuruan berfungsi: a. kehalusan. Sekolah Menengah Kejuruan (SMK). menghayati. kreatif. meningkatkan kepekaan dan kemampuan mengapresiasi serta mengekspresikan keindahan. b. dan harmoni. berakhlak mulia. meningkatkan kesiapan fisik dan mental untuk hidup mandiri di masyarakat dan/atau melanjutkan pendidikan ke jenjang pendidikan tinggi. dan inovatif. c. membekali peserta didik dengan kemampuan ilmu pengetahuan dan teknologi serta kecakapan kejuruan paraprofesi sesuai dengan kebutuhan masyarakat. menyalurkan bakat dan kemampuan di bidang olah raga. demokratis. baik untuk kesehatan dan kebugaran jasmani maupun prestasi. e. atau bentuk lain yang sederajat. kritis. Pasal 67 Pendidikan menengah bertujuan membentuk peserta didik menjadi insan yang: a.

Bidang studi keahlian sebagaimana dimaksud pada ayat (1) terdiri atas: a. (3) SMK dan MAK dapat terdiri atas 4 (empat) tingkatan kelas. f. Program studi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) terdiri atas: a. d. 76461668. dan pariwisata. kelas 11 (sebelas). b.kelas 10 (sepuluh). Setiap program studi keahlian sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dapat terdiri dari satu atau lebih kompetensi keahlian. bidang studi keahlian teknologi informasi dan komunikasi. b. bidang studi keahlian bisnis dan manajemen. Setiap bidang studi keahlian sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat terdiri atas 1 (satu) atau lebih program studi keahlian. program studi program studi lain 38 . bidang studi keahlian kesehatan. yaitu kelas 10 (sepuluh). kerajinan. atau e. (3) Ketentuan lebih lanjut tentang pelaksanaan ayat (1) dan ayat (2) diatur dengan peraturan Menteri. dan kelas 12 (dua belas). atau bentuk lain yang sederajat berbentuk bidang studi keahlian. bidang studi keahlian agribisnis dan agroteknologi. e. bidang studi keahlian seni. pengetahuan sosial. Pasal 69 (1) Penjurusan pada SMA/MA atau bentuk lain yang sederajat berbentuk program studi yang memfasilitasi kebutuhan pembelajaran serta kompetensi yang diperlukan peserta didik untuk melanjutkan pendidikan pada jenjang pendidikan tinggi. Pasal 70 (1) (2) (3) (4) Penjurusan pada SMK/MAK. d. keagamaan. yang diperlukan masyarakat. sesuai dengan tuntutan dunia kerja. bidang studi keahlian teknologi dan rekayasa. c.doc (2) program studi ilmu program studi ilmu program studi bahasa. c. dan kelas 13 (tiga belas). kelas 11 (sebelas). pengetahuan alam. kelas 12 (dua belas).

menunjukkan ijazah atau dokumen lain yang membuktikan bahwa yang bersangkutan telah menyelesaikan pendidikan dasar setara SMP. lulus ujian kesetaraan Paket B. lulus tes kelayakan dan penempatan diselenggarakan oleh satuan pendidikan yang dimasukinya. b. (4) Peserta didik pendidikan dasar setara SMP yang mengikuti sistem dan/atau standar pendidikan negara lain dapat diterima di SMA/MA/SMK/MAK atau bentuk lain yang sederajat pada awal tahun kelas 10 (sepuluh) setelah: a. Paragraf 3 Penerimaan Peserta Didik Pasal 71 (1) Peserta didik pada SMA/MA/SMK/MAK atau bentuk lain yang sederajat sudah menyelesaikan pendidikannya pada SMP. lulus ujian kesetaraan Paket B. atau bentuk lain yang sederajat. (5) Ketentuan lebih lanjut tentang pelaksanaan ayat (1) sampai dengan ayat (4) diatur dengan peraturan Menteri.g. (2) Peserta didik jalur nonformal dan informal dapat diterima di SMA/ MA/SMK/MAK atau bentuk lain yang sederajat sejak awal kelas 10 (sepuluh) setelah lulus ujian kesetaraan Paket B. ayat (4) huruf b. bidang studi keahlian lain yang diperlukan masyarakat. dan ayat (5). apabila setelah dilakukan 39 76461668. dan b. Paket B. atau b. MTs. (6) yang ingin Menteri dapat membatalkan keputusan satuan pendidikan tentang syarat sebagaimana dimaksud pada ayat (3) huruf b. lulus tes kelayakan dan penempatan yang diselenggarakan oleh satuan pendidikan formal yang bersangkutan.doc . (3) Peserta didik jalur nonformal dan informal dapat diterima di di SMA/MA/SMK/MAK atau bentuk lain yang sederajat sesudah awal kelas 10 (sepuluh) setelah: a. (5) Peserta didik pendidikan menengah setara SMA/SMK di negara lain dapat pindah ke SMA/MA/SMK/MAK atau bentuk lain yang sederajat di Indonesia dengan syarat: a. dapat menunjukkan ijazah atau dokumen lain yang membuktikan bahwa yang bersangkutan telah menyelesaikan pendidikan dasar yang memberikan kompetensi lulusan setara SMP.

agama. Keputusan penerimaan calon peserta didik menjadi peserta didik dilakukan secara mandiri oleh rapat dewan guru yang dipimpin oleh kepala satuan pendidikan. Penerimaan peserta didik pada satuan pendidikan menengah dilakukan tanpa diskriminasi atas pertimbangan gender.doc 40 . (7) Satuan pendidikan SMA/MA/SMK/MAK atau bentuk lain yang sederajat memberikan bantuan penyesuaian akademik. dan kondisi fisik atau mental. etnis. Di samping memenuhi ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (4). dan akuntabel. satuan pendidikan dapat melakukan tes bakat skolastik untuk seleksi penerimaan peserta didik baru di kelas 10 (sepuluh). Ketentuan lebih lanjut mengenai pelaksanaan ayat (1) sampai dengan ayat (5) diatur dengan peraturan Menteri. sosial. tidak benar. status sosial. dan/atau mental yang diperlukan oleh peserta didik pindahan dari satuan pendidikan formal lain atau jalur pendidikan lain.pemeriksaan oleh Inspektorat Jenderal Departemen atas instruksi Menteri terbukti bahwa keputusan tersebut melanggar peraturan perundang-undangan. Pasal 72 (1) (2) Penerimaan peserta didik pada satuan pendidikan menengah dilakukan secara objektif. transparan. Bagian Kempat Pendidikan Tinggi Paragraf 1 76461668. dan/atau tidak jujur. kemampuan ekonomi. (8) (3) (4) (5) (6) Penerimaan peserta didik baru dapat dilaksanakan pada setiap semester bagi satuan pendidikan yang menyelenggarakan sistem kredit semester. Seleksi penerimaan peserta didik baru di kelas 10 (sepuluh) pada satuan pendidikan menengah didasarkan pada hasil Ujian Nasional. kecuali bagi lulusan satuan pendidikan sebagaimana dimaksud pada Pasal 71 ayat (2) dan ayat (4).

serta d. b. dan/atau doktor. mampu beradaptasi dan berinteraksi positif dalam masyarakat majemuk dan global yang dinamis.doc 41 . institut. teknologi. percaya diri dan berjiwa enterprenur. inovatif. dan olahraga. (2) Perguruan tinggi dapat berbentuk akademi. dharma penelitian untuk menemukan. Maha Esa. mengembangkan. politeknik. ilmu pengetahuan. dan olahraga dalam rangka pemberdayaan masyarakat. dan menyebarluaskan nilai-nilai luhur. dan kepribadian manusia melalui: a. teknologi. beretika. ilmu pengetahuan. produktif. dan menjadi agen pembaharu untuk mewujudkan masyarakat madani. Paragraf 2 Jenis. cakap. dan Program Pendidikan Pasal 74 (1) Perguruan tinggi dapat menyelenggarakan pendidikan akademik. dharma pendidikan untuk menguasai. (3) Perguruan tinggi dapat menyelenggarakan program pendidikan diploma. dan/atau mengadaptasi nilai-nilai luhur. peka sosial. seni. dan/atau pendidikan vokasi. taat hukum. pendidikan profesi. kepada Tuhan Yang berkepribadian luhur. Paragraf 3 76461668. mandiri. dan c. dan sehat. b. (2) Pendidikan tinggi bertujuan membentuk insan yang: a. watak. seni. magister. dan olahraga. ilmu pengetahuan. seni. dharma pengabdian kepada masyarakat untuk menerapkan nilai-nilai luhur. dan c. dalam rangka membentuk manusia berwawasan luas. kreatif. spesialis. beriman dan bertakwa berakhlak mulia. menerapkan. sarjana. dan bertanggung jawab. Bentuk. kritis.Fungsi dan Tujuan Pasal 73 (1) Pendidikan tinggi berfungsi mengembangkan atau membentuk kemampuan. teknologi. atau universitas. mengadopsi. demokratis. sekolah tinggi. toleran. berilmu.

profesi dan/atau vokasi dalam 1 (satu) atau kelompok cabang ilmu pengetahuan. kepersonaliaan. yang mencakup program pendidikan diploma. jurusan. Fakultas berfungsi mengkoordinasikan pendidikan akademik. spesialis. Setiap program studi memiliki kurikulum yang dikembangkan sesuai dengan tujuan program studi dan peraturan perundangundangan. (2) (3) (4) (5) (6) (2) 76461668. Pelayanan teknis dan administratif sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilaksanakan berbasis teknologi informasi dan komunikasi.doc 42 .Organisasi Perguruan Tinggi Pasal 75 Perguruan tinggi memiliki unsur-unsur pelaksana administrasi. dan/atau doktor. komunikasi. dan/atau olah raga tertentu yang mencakup program pendidikan diploma. Penyelenggaraan penelitian dan/atau pengabdian kepada masyarakat pada tingkat operasional dilaksanakan oleh sivitas akademika baik secara individual maupun berkelompok melalui program studi. dan fungsi administrasi lainnya sesuai dengan kebutuhan. teknologi. magister. Pasal 76 (1) Unsur pelaksana akademik sebagaimana dimaksud dalam Pasal 75 merupakan unit penyelenggara pendidikan. keuangan. spesialis. kemahasiswaan. Penyelenggaraan pendidikan pada tingkat operasional dilaksanakan oleh program studi yang menurut jenisnya dapat berupa pendidikan akademik. hukum. dan pengabdian kepada masyarakat. Ketentuan lebih lanjut mengenai ayat (1) sampai dengan ayat (5) diatur dalam anggaran dasar dan anggaran rumah tangga perguruan tinggi. pusat pengabdian masyarakat. Pasal 77 (1) Unsur pelaksana administrasi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 75 menyelenggarakan pelayanan teknis dan administratif yang meliputi fungsi administrasi akademik. pusat penelitian. sarjana. pelaksana akademik. atau fakultas. sarjana. profesi dan/atau vokasi. penelitian. dan penunjang. seni. dan doktor. magister. perlengkapan.

dan/atau doktor sebagaimana dimaksud pada ayat (1) yang bersifat lintas disiplin yang melibatkan lebih dari satu fakultas dikelola oleh unit organisasi yang dibentuk atau ditunjuk oleh pemimpin perguruan tinggi. profesi. Program magister.(3) Jenis. dan/atau doktor sebagaimana dimaksud pada ayat (1) yang bersifat monodisiplin atau lintas disiplin dalam satu fakultas dikelola oleh fakultas yang terkait. atau sebaliknya. fungsi.doc 43 . unit layanan penjaminan mutu penelitian. Pasal 79 (2) (3) (4) (5) (6) (7) (1) Unsur penunjang pada perguruan tinggi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 75 merupakan perangkat pelengkap di bidang pendidikan. profesi. tugas pokok. atau sebaliknya. unit layanan penjaminan mutu pendidikan. Pasal 78 (1) Program studi tingkat pascasarjana dibentuk untuk menyelenggarakan dan melaksanakan program magister. spesialis. penelitian dan pengabdian kepada masyarakat yang ada di luar fakultas dan jurusan. dan/atau doktor. (2) 76461668. jumlah. Mata kuliah yang diambil oleh peserta didik program spesialis dapat diperhitungkan sebagai mata kuliah terkait pada program magister atau doktor terkait. b. Unsur penunjang sebagaimana dimaksud pada ayat (1) sekurang –kurangnya terdiri atas: a. Program magister. Ketentuan lebih lanjut mengenai pelaksanaan ayat (4) dan ayat (5) diatur dengan peraturan Menteri. spesialis. Mata kuliah yang diambil oleh peserta didik program profesi dapat diperhitungkan sebagai mata kuliah terkait pada program magister profesi terkait. Organisasi dan tata kerja penyelenggaraan program studi tingkat pascasarjana sebagaimana dimaksud pada ayat (1). profesi. dan mekanisme kerja unsur pelaksana administrasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dalam anggaran dasar dan anggaran rumah tangga perguruan tinggi. spesialis. ayat (2) dan ayat (3) diatur dalam anggaran dasar dan/atau anggaran rumah tangga perguruan tinggi.

f. kenyamanan. magister. d.doc 44 . g. sarana dan prasarana olah raga. toko buku. kedudukan. dan kesehatan lingkungan. (4) (7) Paragraf 3 Penerimaan Mahasiswa Pasal 80 (1) Persyaratan untuk menjadi mahasiswa pada program sarjana. memiliki ijazah atau surat keterangan lulus pendidikan menengah atau yang sederajat. memenuhi persyaratan masuk yang ditetapkan oleh perguruan tinggi yang bersangkutan. poliklinik. fungsi dan mekanisme kerja dari unsur-unsur penunjang akademik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) diatur dalam anggaran dasar dan anggaran rumah tangga perguruan tinggi. apotik. penerbitan. Lingkungan kampus ditata dengan mempertimbangkan faktor keamanan. dan 76461668. dan unit lain yang dipandang perlu. perpustakaan. Jenis dan jumlah. laboratorium/bengkel/studio. (2) Persyaratan untuk menjadi mahasiswa pada program vokasi adalah: a. keindahan. unit layanan bimbingan dan konseling. tugas pokok. dan h. penjaminan mutu pengabdian kepada e. dan b. pusat jejaring teknologi informasi dan komunikasi. dan doktor adalah: a. sarana dan prasarana kesenian. memiliki ijazah atau surat keterangan lulus pendidikan 1 (satu) jenjang atau tingkat pendidikan di bawahnya. (3) Unsur penunjang sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat dilengkapi dengan rumah sakit pendidikan. unit layanan masyarakat.c.

transparan. (3) memenuhi persyaratan masuk yang perguruan tinggi yang bersangkutan. Tes seleksi penerimaan mahasiswa baru program sarjana dan program vokasi pada perguruan tinggi tidak menduplikasi ujian nasional pendidikan menengah. 45 (3) (4) (5) (2) 76461668. Penerimaan mahasiswa baru pada perguruan tinggi dilakukan secara objektif. kemampuan ekonomi. dan b. agama.doc . ditetapkan oleh Persyaratan untuk menjadi mahasiswa pada program profesi adalah: a. memiliki ijazah atau surat keterangan lulus program pendidikan sarjana atau diploma IV. memiliki ijazah atau surat keterangan lulus pendidikan 1 (satu) jenjang atau tingkat pendidikan di bawahnya. memenuhi persyaratan masuk yang ditetapkan oleh perguruan tinggi yang bersangkutan. memenuhi persyaratan masuk yang ditetapkan oleh perguruan tinggi yang bersangkutan. dan kondisi fisik atau mental. Pasal 82 (1) Perguruan tinggi dapat melakukan penerimaan bersyarat mahasiswa baru untuk calon mahasiswa yang telah memenuhi sebagian besar persyaratan penerimaan. etnis. Perguruan tinggi menetapkan persyaratan kelayakan penerimaan mahasiswa baru pada setiap program studi yang diselenggarakannya. (4) Persyaratan untuk menjadi mahasiswa pada program spesialis adalah: a. dan b. status sosial. dan akuntabel. Pasal 81 (1) (2) Perguruan tinggi dapat menyelenggarakan seleksi penerimaan mahasiswa baru pada setiap semester. Penerimaan bersyarat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dipenuhi selambat-lambatnya dalam waktu 6 (enam) bulan.b. Penerimaan mahasiswa baru perguruan tinggi dilakukan tanpa diskriminasi atas pertimbangan gender.

(3) Ketentuan lebih lanjut mengenai penerimaan bersyarat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dalam anggaran rumah tangga perguruan tinggi. praktikum. simposium. seminar. tidak benar. 76461668.doc (2) Pembelajaran dapat dilakukan dalam bentuk diskusi. 46 . Pengumuman penerimaan mahasiswa baru program sarjana dan program vokasi yang bersyarat sebagaimana dimaksud dalam Pasal 82 dapat dilakukan sebelum pengumuman hasil ujian nasional pendidikan menengah tahun ajaran sebelumnya. psikomotorik. Pasal 83 (1) Pengumuman penerimaan mahasiswa baru program sarjana dan program vokasi yang bersifat final pada perguruan tinggi dilakukan setelah pengumuman hasil ujian nasional pendidikan menengah tahun ajaran sebelumnya. kuliah. dan/atau tidak jujur. dan kemampuan konfluen mahasiswa. (2) (2) Pelanggaran terhadap perjanjian sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat berakibat dikeluarkannya mahasiswa yang bersangkutan dari perguruan tinggi. Pasal 85 Menteri dapat membatalkan keputusan perguruan tinggi tentang penerimaan mahasiswa baru apabila setelah dilakukan pemeriksaan oleh Inspektorat Jenderal Departemen atas instruksi Menteri terbukti bahwa keputusan tersebut melanggar peraturan perundangundangan. lokakarya. afektif. Paragraf 4 Sistem Pembelajaran Pasal 86 (1) Pendidikan tinggi diselenggarakan melalui proses pembelajaran yang berpusat pada mahasiswa sebagai subjek pembelajaran dalam rangka mengembangkan kemampuan kognitif. Pasal 84 (1) Seorang calon mahasiswa secara resmi menjadi mahasiswa perguruan tinggi setelah menandatangani perjanjian dengan perguruan tinggi yang memuat secara jelas hak-hak dan kewajiban mahasiswa yang diatur dalam anggaran dasar atau anggaran rumah tangga perguruan tinggi.

(2) (3) (4) (5) (3) (4) (5) 76461668. yang pelaksanaannya diselenggarakan di kampus induk dan kampus lain. ayat (2). Perguruan tinggi dapat menyelenggarakan semester pendek antara semester genap dan ganjil. ayat (3). dapat menyelenggarakan program studi di kampus lain. pengabdian kepada masyarakat dan/atau kegiatan lainnya dengan mengacu pada prinsip otonomi keilmuan. Semester pendek sebagaimana dimaksud pada ayat (3) sekurang-kurangnya diselenggarakan selama 8 (delapan) minggu. Pasal 87 (1) Pendidikan tinggi diselenggarakan dengan menerapkan Sistem Kredit Semester (SKS) yang bobot belajarnya dinyatakan dalam satuan kredit semester (sks). dan penilaian pendidikan pada kampus lain sekurang-kurangnya sama dengan kampus induk. Sistem multikampus sebagaimana dimaksud pada ayat (1) merupakan sistem pengelolaan perguruan tinggi yang menerapkan 1 (satu) sistem pendidikan tinggi secara utuh. Pasal 88 (1) (2) Pengelolaan pembelajaran pada perguruan tinggi dapat diselenggarakan melalui sistem multikampus. Tahun akademik dibagi dalam 2 (dua) semester yang masing-masing terdiri atas 16 (enam belas) minggu. Isi kurikulum. proses pembelajaran.penelitian. atau lebih dari 30% (tiga puluh persen) program studinya berakreditasi dari badan akreditasi negara anggota OECD. dan ayat (4) diatur oleh masingmasing perguruan tinggi dalam anggaran dasar dan/atau anggaran rumah tangga. kompetensi lulusan.doc 47 . Kampus induk dan kampus lainnya sebagaimana dimaksud pada ayat (2) terhubung dengan sistem informasi berbasis teknologi informasi dan komunikasi. pembiayaan. Pelaksanaan ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1). Fakultas yang lebih dari 75% (tujuh puluh lima persen) program studinya berakreditasi A dari Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi. pengelolaan. sarana dan prasarana. tenaga pendidik dan tenaga kependidikan.

Pasal 90 (1) Perguruan tinggi dapat menjalin kerja sama akademik dan/atau non-akademik dengan perguruan tinggi lain. memenuhi seluruh persyaratan program sarjana atau diploma empat kependidikan sesuai dengan peraturan perundang-undangan. (2) Program sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diselenggarakan sebagai berikut: a. dunia usaha. (5) Ketentuan sebagaimana diatur dalam Pasal ini berlaku sampai berakhirnya masa peralihan sebagaimana diatur dalam UndangUndang Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen. dilaksanakan oleh perguruan tinggi yang memiliki program studi sarjana atau diploma empat kependidikan berakreditasi dari Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi dan telah memperoleh izin untuk menyelenggarakan program sarjana atau diploma empat kependidikan khusus bagi guru tetap dalam jabatan dari Departemen. b. atau pihak lain yang dipandang perlu. dapat dilaksanakan di pusat kegiatan Kelompok Kerja Guru atau Musyawarah Guru Mata Pelajaran. mengawasi.doc 48 . dan memfasilitasi penyelenggaraan program sebagaimana dimaksud pada ayat (2) sehingga guru tetap dalam jabatan yang bersangkutan memperoleh kualifikasi akademik sarjana atau diploma empat kependidikan sesuai peraturan perundang-undangan.Pasal 89 (1) Perguruan tinggi dapat menyelenggarakan program studi sarjana atau diploma empat kependidikan khusus bagi guru tetap dalam jabatan yang belum memiliki ijazah sarjana atau diploma empat dengan program sarjana atau diploma empat kependidikan khusus bagi guru tetap dalam jabatan. Pasal 82 ayat (2). 76461668. (3) Izin sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf a diberikan oleh Departemen setelah memperoleh jaminan dari pemerintah daerah kabupaten/kota yang bersangkutan untuk bertanggung jawab melindungi. c. (4) Menteri dapat membatalkan izin program sebagaimana dimaksud pada ayat (2) apabila setelah dilakukan pemeriksaan oleh Inspektorat Jenderal Departemen atas instruksi Menteri terbukti bahwa pelaksanaan program yang bersangkutan telah melanggar peraturan perundang-undangan.

c. pemanfaatan bersama berbagai sumberdaya. kreatifitas. dan/atau bentuk-bentuk lain yang dianggap perlu. e. pendidikan. produktifitas. usaha penggalangan dana.(2) Kerja sama perguruan tinggi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) bertujuan untuk meningkatkan efisiensi. e.doc . pertukaran dosen dan/atau mahasiswa. b. program kembaran. d. pengalihan dan/atau perolehan kredit. penerbitan jurnal ilmiah. inovasi. dan/atau bentuk-bentuk lain yang dianggap perlu. b. dan dilandasi oleh etika. f. Paragraf 5 Kebebasan Akademik dan Otonomi Keilmuan Pasal 91 (1) Pimpinan perguruan tinggi mengupayakan dan menjamin agar setiap sivitas akademika perguruan tinggi melaksanakan kebebasan akademik dan kebebasan mimbar akademik secara mandiri sesuai dengan peraturan perundang-undangan. kontrak manajemen. dan pengabdian kepada masyarakat. mutu. penelitian. jasa dan royalti hak atas kekayaan intelektual. (5) Semua bentuk kerjasama sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dengan pihak asing dilaporkan kepada Departemen. 49 76461668. (7) Menteri dapat membatalkan kerjasama sebagaimana dimaksud pada ayat (1) apabila setelah dilakukan pemeriksaan oleh Inspektorat Jenderal Departemen atas instruksi Menteri terbukti bahwa kerjasama yang bersangkutan telah melanggar peraturan perundang-undangan. j. penugasan dosen senior sebagai pembina pada perguruan tinggi yang membutuhkan pembinaan. efektifitas. dan relevansi pelaksanaan tri dharma perguruan tinggi. c. i. norma serta kaidah keilmuan. penyelenggaraan seminar bersama. h. g. (6) Ketentuan lebih lanjut mengenai kerjasama sebagaimana yang dimaksud pada ayat (1) diatur dalam peraturan Menteri. (3) Kerja sama akademik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat berbentuk: a. (4) Kerja sama non-akademik sebagaimana yang dimaksud pada ayat (1) dapat berbentuk: a. pemagangan. d. pendayagunaan aset.

c. Pelaksanaan kebebasan mimbar akademik dimaksud pada ayat (1). Pelaksanaan kebebasan akademik sebagaimana dimaksud pada ayat (1). seminar. menerapkan. dan taat etika. tidak mengganggu ketertiban umum. serta kaidah keilmuan. ketua pusat penelitian. c. berada di bawah tanggung jawab dan secara resmi dikoordinasikan oleh pimpinan perguruan tinggi. ceramah. (3) kebebasan mengupayakan agar kegiatan dan hasilnya dapat meningkatkan mutu akademik perguruan tinggi yang bersangkutan. serta akibatnya pada diri sendiri atau orang lain. ujian. simposium. dan/atau olah raga melalui kegiatan pendidikan. penelitian. ayat (2) dan ayat (3): a. bertanggung jawab secara pribadi atas pelaksanaan dan hasilnya. atau ketua pusat pengabdian kepada masyarakat. publikasi ilmiah. bangsa. setiap individu sivitas akademika: a. diskusi. d. dan pertemuan ilmiah lainnya yang relevan. secara bertanggungjawab dan mandiri. (4) (5) Kebebasan mimbar akademik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) merupakan kebebasan sivitas akademika dalam menyebarluaskan hasil penelitian dan menyampaikan pandangan akademik dalam rangka pembelajaran sivitas akademika dan/atau masyarakat melalui kegiatan perkuliahan. e. baik di dalam maupun di luar kampus. dan d. sebagaimana (6) merupakan tanggung jawab setiap individu 50 76461668. seni. dan tidak melanggar hukum dan tidak mengganggu kepentingan umum. b. dan pengabdian kepada masyarakat.doc . dan kemanusiaan. melakukannya dengan cara yang tidak bertentangan dengan nilai-nilai agama. ayat (2). negara. nilai-nilai etika. sesuai dengan peraturan perundang-undangan. serendah-rendahnya ketua program studi. dan ayat (5): a. dan mengembangkan ilmu. b. teknologi. dan kaidah akademik. Kebebasan akademik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) merupakan kebebasan sivitas akademika dalam mendalami. norma.(2) Dalam melaksanakan kebebasan akademik dan mimbar akademik. mengupayakan agar kegiatan dan hasilnya bermanfaat bagi masyarakat. tidak menimbulkan keresahan masyarakat.

sosial. Pelaksanaan otonomi keilmuan di perguruan tinggi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) diatur lebih lanjut oleh perguruan tinggi dalam anggaran rumah tangga perguruan tinggi. dan/atau olah raga yang bersangkutan. b. seni. dan/atau olah raga dengan berpedoman pada otonomi keilmuan. dan sekolah tinggi wajib melaksanakan penelitian dasar.doc . d. teknologi. teknologi. dan taat etika. dalam menemukan. dan c. dan/atau mempertahankan kebenaran menurut kaidah keilmuannya untuk menjamin keberlanjutan perkembangan cabang ilmu pengetahuan. Pasal 92 (1) Sivitas akademika perguruan tinggi mengembangkan ilmu pengetahuan. mimbar akademik melindungi dan mempertahankan kekayaan intelektual. serta kaidah keilmuan. memperkuat daya saing bangsa dan negara Indonesia. b. c. dan budaya bangsa dan negara Indonesia. seni.sivitas akademika yang terlibat. (7) Kebebasan akademik dan kebebasan dimanfaatkan oleh perguruan tinggi untuk: a. menjadi tanggung jawab perguruan tinggi. mengungkapkan. Otonomi keilmuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) merupakan kemandirian dan kebebasan sivitas akademika suatu cabang ilmu pengetahuan. dan/atau olah raga yang melekat pada kekhasan/keunikan cabang ilmu pengetahuan. teknologi. dan/atau olah raga. Paragraf 6 Penelitian Pasal 93 (1) Universitas. hayati. atau unit organisasi di dalam perguruan tinggi. dan/atau penelitian 51 (2) (3) 76461668. sesuai dengan peraturan perundangundangan. institut. seni. melindungi dan mempertahankan kekayaan dan keragaman alami. apabila perguruan tinggi atau unit organisasi tersebut secara resmi terlibat dalam pelaksanaannya. mengembangkan. menambah dan/atau meningkatkan mutu kekayaan intelektual bangsa dan negara Indonesia. norma. seni. teknologi. penelitian terapan.

apabila dilakukan oleh mahasiswa untuk memenuhi persyaratan lulus program magister. disetujui dosen pembimbing. Penelitian sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) dilaksanakan untuk: a.pengembangan. apabila dilakukan oleh dosen untuk memenuhi dharma penelitian. c. dan diuji secara tertutup di hadapan sekurang-kurangnya 3 (tiga) dosen penguji. dan/atau olah raga. (4) Kegiatan penelitian sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (3) dilaksanakan dengan mematuhi kaidah dan etika akademik sesuai dengan prinsip otonomi keilmuan. dan/atau model yang sudah menjadi kandungan ilmu pengetahuan. prosedur. dan/atau olah raga. (8) Penelitian sebagaimana dimaksud pada ayat (5) huruf b dan huruf c dipublikasikan pada jurnal ilmiah dalam negeri 76461668.doc 52 . b. disetujui dosen pembimbing. apabila dilakukan oleh mahasiswa untuk memenuhi persyaratan lulus program sarjana. disetujui dosen pembimbing. konsep. prinsip. apabila dilakukan oleh mahasiswa untuk memenuhi persyaratan lulus program doktor. (7) Sekurang-kurangnya 1 (satu) dosen penguji sebagaimana dimaksud pada ayat (5) huruf c berasal dari program studi terkait berakreditasi A dari perguruan tinggi lain. seni. (2) (3) Dosen pada akademi dan politeknik wajib melaksanakan penelitian terapan dan/atau penelitian pengembangan. b. diuji secara tertutup dan terbuka di hadapan sekurang-kurangnya 5 (lima) penguji. metode. seni. Penelitian sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilaksanakan dengan memenuhi standar penjaminan mutu sebagai berikut: a. teknologi. dan d. diseminarkan dan dipublikasikan pada jurnal ilmiah dalam negeri berakreditasi atau jurnal internasional yang diakui Departemen. teknologi. mencari dan/atau menemukan kebaruan kandungan ilmu pengetahuan. dan/atau menguji ulang teori. (5) (6) Sekurang-kurangnya 1 (satu) dosen penguji sebagaimana dimaksud pada ayat (5) huruf b berasal dari program studi terkait berakreditasi sekurang-kurangnya B dari perguruan tinggi lain.

apabila dilakukan oleh dosen untuk memenuhi dharma penelitian. Jurnal ilmiah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) memuat artikel hasil penelitian. (10) Hasil penelitian sebagaimana dimaksud pada ayat (2) diseminarkan dan dipublikasikan pada jurnal terakreditasi yang diakui Departemen. program studi.doc . (3) Penelitian sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dapat berupa penelitian empirik maupun penelitian pustaka. Jurnal ilmiah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat diterbitkan dalam bahasa resmi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). (4) Sekurang-kurangnya 60% (enam puluh persen) dari artikel hasil penelitian sebagaimana dimaksud pada ayat (2) merupakan hasil penelitian empirik. dan perpustakaan Departemen. masing-masing sekurang-kurangnya 2 (dua) eksemplar. Jurnal ilmiah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diterbitkan secara tercetak dan secara elektronik melalui jejaring teknologi 53 (5) (6) (7) 76461668. (9) Dalam mempublikasikan pada jurnal ilmiah sebagaimana dimaksud pada ayat (5) huruf b dan huruf c. (13) Prosedur penjaminan mutu penelitian perguruan tinggi diatur dalam anggaran rumah tangga perguruan tinggi. (12) Hasil penelitian perguruan tinggi yang dilaksanakan oleh dosen dimanfaatkan untuk memperkaya materi pembelajaran mata kuliah yang relevan. mahasiswa yang bersangkutan mengikutsertakan dosen pembimbing sebagai penulis pendamping. Pasal 94 (1) (2) Perguruan tinggi. atau pusat studi dapat menerbitkan jurnal ilmiah. Setiap terbitan jurnal ilmiah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dikirimkan kepada pusat dokumentasi ilmiah pada Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia. Perpustakaan Nasional.berakreditasi atau jurnal internasional yang diakui Departemen selambat-lambatnya 1 (satu) tahun setelah mahasiswa yang bersangkutan dinyatakan lulus dari program studi. fakultas. (11) Hasil penelitian perguruan tinggi diakui sebagai penemuan baru setelah dimuat dalam jurnal ilmiah terakreditasi yang diakui Departemen dan/atau mendapatkan hak kekayaan intelektual.

keteladanan. Pengabdian kepada masyarakat diselenggarakan dan dilaksanakan berbasis pada dharma pendidikan dan penelitian atas dasar prinsip: a. (3) Pelaksanaan kegiatan pengabdian kepada masyarakat sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dilaksanakan oleh dosen dan mahasiswa. dosen. kreatifitas. b. Paragraf 7 Pengabdian kepada Masyarakat Pasal 95 (1) (2) Perguruan tinggi wajib melaksanakan pengabdian kepada masyarakat. masyarakat yang berdampak pada jiwa kepemimpinan mahasiswa dan masyarakat yang berdampak pada jiwa kewirausahaan mahasiswa dan c. (8) Departemen mengakreditasi jurnal ilmiah sebagaimana dimaksud pada ayat (1). Ketentuan lebih lanjut mengenai pelaksanaan pengabdian 54 (5) (6) 76461668. kepekaan dan kepedulian sosial dan budaya. Hasil pengabdian kepada masyarakat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) sampai dengan ayat (4) dimanfaatkan untuk pengayaan pembelajaran yang relevan. dan masyarakat. dan ayat (3) merupakan penerapan hasil pendidikan dan/atau hasil penelitian dalam upaya pemberdayaan. dosen. pemberdayaan masyarakat yang mendorong kemampuan bekerja sama dalam tim bagi mahasiswa. baik secara individual maupun berkelompok. dan masyarakat. pemberdayaan pengembangan dosen. (4) Pengabdian kepada masyarakat sebagaimana dimaksud pada ayat (1). dan d. serta toleransi sosial dan budaya bagi mahasiswa.informasi dan komunikasi Departemen. pemberdayaan masyarakat yang merangsang tumbuhnya kemandirian. atau pemadanian kehidupan masyarakat. ayat (2). pemodernan.doc . pemberdayaan pengembangan dosen.

dan jujur. ujian. dan/atau bentuk penilaian lainnya. b. Pelaksanaan ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dalam anggaran rumah tangga perguruan tinggi. Penilaian hasil objektif. evaluasi berkala atas pencapaian kompetensi mahasiswa program diploma. (2) Sistem penjaminan mutu sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilaksanakan melalui: a. 76461668. Pasal 98 (1) Departemen mengembangkan suatu sistem penjaminan mutu hasil belajar program studi perguruan tinggi secara nasional. program sarjana. diatur dalam Paragraf 8 anggaran rumah tangga Pengalihan Kredit Pasal 96 (1) Perguruan tinggi dapat mengakui hasil belajar yang diperoleh mahasiswa pada perguruan tinggi lain atau satuan/program pendidikan nonformal untuk memenuhi persyaratan kelulusan program studi.kepada masyarakat perguruan tinggi. Paragraf 9 Penjaminan Mutu Hasil Belajar Pasal 97 (1) Penilaian hasil belajar mahasiswa dilakukan secara berkala melalui penilaian proses belajar. keterlibatan dosen dari perguruan tinggi lain dalam ujian tesis program magister dan disertasi program doktor sebagaimana dimaksud dalam Pasal 93. belajar dilaksanakan secara (2) (2) (3) Ketentuan lebih lanjut mengenai pelaksanaan ayat (1) dan ayat (2) diatur dalam anggaran rumah tangga perguruan tinggi. penilaian tugas terstruktur dan mandiri. dan program magister yang tidak mensyaratkan tesis sebagaimana dimaksud pada huruf a.doc 55 . transparan.

hasil evaluasi digunakan oleh Departemen untuk menetapkan hak menyelenggarakan ujian secara mandiri. Ketentuan lebih lanjut mengenai pelaksanaan evaluasi berkala diatur dalam peraturan Menteri. c.doc 56 . Persyaratan kelulusan untuk pendidikan profesi ditetapkan dengan cara: a.(3) Evaluasi berkala sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf b dilaksanakan sebagai berikut: a. ditetapkan oleh organisasi profesi. (2) (3) Penetapan persyaratan kelulusan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) diatur oleh perguruan tinggi yang bersangkutan. e. diterapkan pada berakreditasi kurang dari B. program studi yang b. atau c. dilaksanakan oleh penelaah sejawat. diterapkan pada soal ujian dan jawaban ujian mata kuliah inti program studi. ditetapkan oleh perguruan tinggi setelah memperhatikan pertimbangan dari organisasi profesi. ditetapkan oleh perguruan tinggi bersama-sama dengan organisasi profesi. b. d. (4) Penelaah sejawat sebagaimana dimaksud pada ayat (3) huruf d berasal dari program studi sejenis berakreditasi sekurangkurangnya B dari perguruan tinggi lain. dilaksanakan atas dasar sampel. April 2008 (5) ==============================28 ================ Pasal 99 (1) Persyaratan kelulusan untuk pendidikan akademik dan pendidikan vokasi diatur oleh masing-masing perguruan tinggi. Paragraf 10 Gelar Lulusan Pendidikan Tinggi Pasal 81 76461668.

ditulis di depan nama mencantumkan singkatan Dr. (4) Gelar untuk lulusan pendidikan profesi adalah Spesialis dengan mencantumkan singkatan Sp. ditulis di belakang nama yang berhak dengan mencantumkan singkatan SST diikuti dengan inisial program studi atau bidang ilmu.Ma diikuti dengan inisial program studi atau bidang ilmu. (2) Gelar untuk lulusan pendidikan akademik terdiri atas: a. ahli muda.(1) Lulusan pendidikan akademik. doktor. untuk lulusan program diploma II. Pasal 82 (1). sarjana. untuk lulusan program diploma I. ditulis di belakang nama yang berhak dengan mencantumkan huruf M. 57 76461668. untuk lulusan program diploma III. b. magister. yang berhak dengan (3) Gelar untuk pendidikan vokasi terdiri atas: a. dan c. diikuti dengan inisial program studi atau bidang ilmu. vokasi. ditulis di belakang nama yang berhak dengan mencantumkan singkatan A.Md diikuti dengan inisial program studi atau bidang ilmu. dan inisial program studi atau bidang ilmu sebagaimana dimaksud pada ayat (2). diikuti dengan inisial program studi atau bidang keahlian khusus. b. dan d. gelar vokasi. atau profesi berhak untuk menggunakan gelar akademik. ayat (3). atau gelar profesi. diikuti dengan inisial program studi atau bidang ilmu. ditulis di belakang nama yang berhak dengan mencantumkan singkatan A. ahli madya.doc . ditulis di belakang nama yang berhak dengan mencantumkan singkatan A. (5) Ketentuan lebih lanjut mengenai gelar. vokasi. dan profesi hanya boleh diberikan oleh perguruan tinggi yang memenuhi persyaratan pendirian dan dinyatakan berhak menyelenggarakan program pendidikan yang relevan. ahli pratama.P diikuti dengan inisial program studi atau bidang ilmu. sarjana sains terapan. c. ditulis di belakang nama yang berhak dengan mencantumkan huruf S. Gelar akademik. untuk program diploma IV. dan ayat (4) diatur dengan Peraturan Menteri. singkatan.

(2) (3) (4) 76461668. atau vokasi didasarkan atas bidang keahlian dan dicantumkan dalam ijazah yang diberikan kepada lulusan perguruan tinggi. kebudayaan. Penetapan jenis gelar akademik.doc 58 . singkatan. Pasal 84 (2) (1) Gelar doktor kehormatan (doctor honoris causa) diberikan kepada seseorang yang telah berjasa luar biasa bagi ilmu pengetahuan. Pasal 83 (3). atau seni dan digunakan dengan mencantumkan atau menuliskan Dr (HC) di depan nama pemilik serta hanya dipergunakan dalam upacara akademik. Ketentuan tentang pemberian dan pengukuhan gelar doktor kehormatan diatur oleh senat akademik perguruan tinggi masing-masing. teknologi. (1) Pencantuman jenis. Pemberian gelar doktor kehormatan ditetapkan oleh senat akademik perguruan tinggi. profesi. dan penempatan gelar lulusan perguruan tinggi luar negeri tetap menggunakan gelar sesuai dengan jenis. Bidang keahlian sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditentukan berdasarkan bidang studi atau kelompok bidang studi.(2). keagamaan. Menteri atau Menteri Agama sesuai kewenangan masing-masing menetapkan kesetaraan ijazah perguruan tinggi luar negeri dengan ijazah dan gelar perguruan tinggi Indonesia yang memenuhi Standar Nasional Pendidikan. kemasyarakatan. Gelar doktor kehormatan hanya dapat diberikan oleh perguruan tinggi yang berwenang menyelenggarakan program doktor terakreditasi dalam bidang ilmu terkait. dan penempatan yang berlaku di negara asal. singkatan.

doc 59 . bagi perguruan tinggi yang memiliki komitmen untuk bertaraf internasional. c. (6) Akreditasi wajib bagi setiap program studi dan/atau satuan pendidikan tinggi yang dilaksanakan oleh Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi atau lembaga mandiri lain yang memenuhi persyaratan. kesesuaian penyelenggaraan pendidikan tinggi dengan standar mutu internasional.Bagian Kelima Penjaminan Mutu Pasal 85 (1) Penjaminan mutu dilakukan oleh setiap perguruan tinggi untuk memenuhi Standar Nasional Pendidikan jenjang pendidikan tinggi secara konsisten dan berkelanjutan sebagai wujud akuntabilitas publik perguruan tinggi kepada para pemangku kepentingan. ketanggapan perguruan tinggi terhadap aspirasi pihak-pihak yang berkepentingan. (5) Kelayakan sebagaimana dimaksud pada ayat (4) diukur atas dasar mutu sebagaimana dimaksud pada ayat (3). (4) Keberhasilan penjaminan mutu diukur dengan akreditasi yang menentukan kelayakan program dan/atau satuan pendidikan tinggi. BAB IV PENYELENGGARAAN PENDIDIKAN NONFORMAL Bagian Kesatu Fungsi dan Tujuan 76461668. Penjaminan mutu dilakukan secara berkelanjutan oleh perguruan itu sendiri dan dapat dibantu oleh lembaga lain. kesesuaian penyelenggaraan pendidikan Standar Nasional Pendidikan. dan tujuan perguruan tinggi secara nyata. dan kebutuhan tinggi dan (2) (3) dengan d. misi. pelaksanaan visi. Mutu sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) dijamin dengan memperhatikan: a. b.

keterampilan. (2) Paragraf 1 Lembaga Kursus dan Lembaga Pelatihan Pasal 88 (1) Lembaga kursus dan lembaga pelatihan menyelenggarakan pendidikan bagi warga masyarakat yang memerlukan bekal pengetahuan. f. sikap wirausaha. serta pengembangan sikap dan kepribadian profesional dalam rangka mendukung pendidikan sepanjang hayat. c.Pasal 86 (1) Pendidikan nonformal berfungsi sebagai pengganti. e. penambah. keterampilan. atau satuan pendidikan lain yang sejenis. lembaga pelatihan. dan kompetensi untuk bekerja dalam bidang tertentu. d. pusat kegiatan belajar masyarakat. taman penitipan anak (TPA). kelompok bermain (KB). h. lembaga kursus. dan/atau melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi dalam rangka mewujudkan tujuan pendidikan nasional.doc . Bagian Kedua Bentuk Satuan Pendidikan Pasal 87 Satuan pendidikan nonformal berbentuk: a. berusaha mandiri dan/atau melanjutkan pendidikan ke tingkat 60 76461668. kelompok belajar. sikap dan kecakapan hidup untuk mengembangkan diri. bekerja. mengembangkan profesi. Pendidikan nonformal bertujuan untuk membentuk manusia yang memiliki kecakapan hidup. b. majelis taklim. dan/atau pelengkap pendidikan formal bagi warga masyarakat yang memerlukan layanan pendidikan untuk mengembangkan potensinya dengan penekanan pada penguasaan pengetahuan dan keterampilan fungsional. g.

Paragraf 4 Majelis Taklim Pasal 91 (1) Majelis taklim menyelenggarakan pembelajaran agama Islam untuk memenuhi berbagai kebutuhan belajar masyarakat pada jalur pendidikan nonformal. (2) (2) (3) Majelis taklim sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diselenggarakan sesuai dengan peraturan perundang-undangan. Paragraf 2 Kelompok Belajar Pasal 89 (1) Kelompok belajar menyelenggarakan kegiatan untuk menampung dan memenuhi kebutuhan belajar sekelompok warga masyarakat yang belajar melalui jalur pendidikan nonformal. dan untuk masyarakat. menjadi pekerja/buruh dan/atau melanjutkan pendidikan ke tingkat yang lebih tinggi. (2) Peserta didik pada kelompok belajar adalah warga masyarakat yang belajar untuk mengembangkan diri.yang lebih tinggi. Peserta didik pada pusat kegiatan belajar masyarakat adalah warga masyarakat yang belajar untuk mengembangkan diri.doc 61 . dan berazaskan prinsip dari. bekerja dan/atau melanjutkan ke tingkat pendidikan yang lebih tinggi. Peserta didik pada majelis taklim adalah masyarakat muslim yang ingin belajar dan mendalami ajaran Islam dan untuk meningkatkan keimanan dan ketakwaan. Paragraf 3 Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat Pasal 90 (1) Pusat kegiatan belajar masyarakat memfasilitasi penyelenggaraan berbagai program pendidikan nonformal untuk mewujudkan masyarakat gemar belajar dalam rangka mengakomodasi kebutuhannya akan pendidikan sepanjang hayat. 76461668. (2) Peserta didik pada lembaga kursus dan lembaga pelatihan adalah warga masyarakat yang memerlukan bekal untuk mengembangkan diri. bekerja dan/atau melanjutkan ke tingkat pendidikan yang lebih tinggi. oleh.

f.doc . b. (3) Peserta didik KB atau bentuk lain yang sederajat berusia 2 (dua) tahun sampai dengan 4 (empat) tahun. e. kelompok bermain (KB).Paragraf 5 Taman Penitipan Anak dan Kelompok Bermain Pasal 92 (1) Satuan pendidikan anak usia dini jalur nonformal berbentuk taman penitipan anak (TPA). kecakapan sosial. h. (2) Peserta didik TPA atau bentuk lain yang sederajat berusia sejak lahir sampai dengan berusia 6 (enam) tahun. g. d. atau bentuk lain yang sejenis. dan kecakapan vokasional untuk bekerja. pendidikan pemberdayaan perempuan. pendidikan keterampilan dan pelatihan kerja. pendidikan kesetaraan. pendidikan keaksaraan. pendidikan kecakapan hidup. serta pendidikan lainnya. pendidikan anak usia dini. Bagian Ketiga Program Pendidikan Pasal 93 Program pendidikan nonformal meliputi : a. kecakapan intelektual. berusaha dan/atau hidup mandiri. Paragraf 1 Pendidikan Kecakapan Hidup Pasal 94 (1) Pendidikan kecakapan hidup merupakan pendidikan yang memberikan kecakapan personal. c. Pendidikan kecakapan hidup berfungsi meningkatkan 62 (2) 76461668. pendidikan kepemudaan.

minat. sosial budaya. dan perkembangan anak. (2) Program pembelajaran sebagaimana dimaksud pada ayat (1) bagi peserta didik yang berusia 1 (satu) sampai 6 (enam) tahun diselenggarakan dengan mengupayakan kesiapan belajar peserta didik untuk memasuki pendidikan dasar. gizi. Paragraf 2 Pendidikan Anak Usia Dini Pasal 95 (1) Pendidikan anak usia dini jalur nonformal merupakan seperangkat program pembelajaran yang dilaksanakan secara fleksibel berdasarkan tahap perkembangan anak. kecakapan sosial. (3) Program pembelajaran sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilaksanakan secara terpadu dengan memperhatikan kebutuhan dan kepentingan terbaik anak serta memperhatikan kecerdasan anak. (6) Penyelenggaraan program pendidikan pada PAUD jalur nonformal dapat diintegrasikan dengan progam layanan lain yang sudah berkembang di masyarakat sebagai upaya untuk memperluas layanan PAUD kepada seluruh lapisan masyarakat. serta kondisi dan kebutuhan masyarakat setempat. berusaha dan/atau hidup mandiri. Pengembangan program pembelajaran sebagaimana dimaksud pada ayat (1) didasarkan pada prinsip bermain sambil belajar dan belajar seraya bermain dengan memperhatikan perbedaan bakat. Paragraf 3 Pendidikan Kepemudaan 76461668. kecakapan intelektual dan kecakapan vokasional untuk menyiapkan peserta didik agar mampu bekerja. termasuk kesejahteraannya. dan kemampuan masing-masing peserta didik. usia. (5) Pengembangan program pembelajaran sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus mengintegrasikan kebutuhan peserta didik terhadap kesehatan.doc (4) 63 . (7) Pengelompokan peserta didik untuk program pendidikan pada PAUD jalur nonformal disesuaikan dengan kebutuhan. (3) Pendidikan kecakapan hidup dapat dilaksanakan secara terintegrasi dengan program-program pendidikan nonformal lainnya dan/atau tersendiri. dan stimulasi psikososial.kecakapan personal.

(2) (3) (4) (2) Pendidikan pemberdayaan perempuan berfungsi meningkatkan kemampuan perempuan dalam pengembangan potensi diri. peningkatan perempuan. kecakapan hidup. Pendidikan kepemudaan berfungsi mengembangkan potensi pemuda dengan penekanan pada penguatan nilai keimanan dan ketaqwaan. seni dan budaya. (3) Pendidikan pemberdayaan perempuan bertujuan untuk: a. ilmu pengetahuan dan teknologi.doc terhadap pelanggaran hak-hak dasar 64 . dan estetika perempuan agar mampu memperoleh hak dasar kehidupan yang setara dan adil gender dalam kehidupan berkeluarga. pencegahan perempuan. peningkatan akses dan partisipasi perempuan terhadap pendidikan.Pasal 96 (1) Pendidikan kepemudaan merupakan pendidikan yang diselenggarakan untuk mempersiapkan kader pemimpin bangsa. Peserta didik pendidikan kepemudaan adalah warga masyarakat yang berusia antara 18 (delapan belas) sampai dengan 35 (tiga puluh lima) tahun. sikap. serta kecakapan hidup bagi pemuda sebagai kader pemimpin bangsa. kepeloporan. kepanduan/kepramukaan. organisasi pemuda. wawasan kebangsaan. ilmu pengetahuan dan teknologi. kepemimpinan. sikap kewirausahaan. kesehatan dan keolahragaan. etika dan kepribadian. dan c. harkat. dan martabat b. kedudukan. estetika. bermasyarakat. Paragraf 4 Pendidikan Pemberdayaan Perempuan Pasal 97 (1) Pendidikan pemberdayaan perempuan merupakan pendidikan untuk mengangkat harkat dan martabat perempuan. 76461668. wawasan. kepeloporan. etika dan kepribadian. dan kewirausahaan. pecinta alam dan lingkungan hidup. Pendidikan kepemudaan mencakup berbagai bentuk pendidikan dan pelatihan di bidang keagamaan. palang merah. nilai. kebangsaan. berbangsa dan bernegara.

yang dapat dimanfaatkan dalam kehidupan sehari-hari. berhitung dan berkomunikasi dalam bahasa Indonesia kepada peserta didik. berhitung.(4) Ketentuan lebih lanjut mengenai pendidikan pemberdayaan perempuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) diatur dengan Peraturan Menteri. Pendidikan keaksaraan berfungsi memberikan kemampuan dasar membaca. (2) (3) Peserta didik pendidikan keaksaraan adalah warga masyarakat usia 15 (lima belas) tahun ke atas yang belum dapat membaca. berhitung dan/atau berkomunikasi dalam bahasa Indonesia.doc . menulis. terintegrasi dengan Paragraf 6 Pendidikan Keterampilan dan Pelatihan Kerja Pasal 99 (1) Pendidikan keterampilan dan pelatihan kerja dilaksanakan untuk meningkatkan kemampuan peserta didik dengan penekanan pada penguasaan keterampilan fungsional yang sesuai kebutuhan dunia kerja atau kebutuhannya untuk menjadi manusia produktif. Paragraf 5 Pendidikan Keaksaraan Pasal 98 (1) Pendidikan keaksaraan merupakan pendidikan bagi warga masyarakat yang buta aksara latin agar mereka dapat membaca. menulis. (3) Ketentuan mengenai pendidikan keterampilan dan pelatihan 65 76461668. (4) Pendidikan keaksaraan dilaksanakan pendidikan kecakapan hidup. berbahasa Indonesia dan berpengetahuan dasar untuk meningkatkan kualitas hidupnya. (2) Pendidikan keterampilan dan pelatihan kerja berfungsi untuk meningkatkan dan mengembangkan kemampuan peserta didik dengan penekanan pada penguasaan keterampilan fungsional serta pengembangan sikap dan kepribadian profesional sesuai dengan kebutuhan dunia kerja atau kebutuhannya untuk menjadi manusia produktif. menulis.

yang menekankan pada pengetahuan dan keterampilan fungsional serta sikap dan kepribadian profesional. dan SMA/MA yang mencakup program Paket A.kerja untuk memperoleh. SMP/MTs. Program Paket B berfungsi memberikan pendidikan umum setara SMP/MTs.doc 66 . Peserta didik program Paket C merupakan anggota masyarakat yang telah lulus program Paket B atau SMP/MTs yang berminat menempuh pendidikan setara SMA/MA. yang menekankan pada pengetahuan dan keterampilan fungsional serta sikap dan kepribadian profesional. Paket B. yang menekankan pada pengetahuan dan keterampilan fungsional serta sikap dan kepribadian profesional. terintegrasi dengan (4) (5) (6) (7) (8) (9) Pendidikan kesetaraan dilaksanakan pendidikan kecakapan hidup. Peserta didik program Paket B merupakan anggota masyarakat yang telah lulus program Paket A atau SD/MI yang berminat menempuh pendidikan setara SMP/MTs. meningkatkan dan/atau mengembangkan kompetensi tenaga kerja dilaksanakan sesuai dengan peraturan perundang-undangan. Peserta didik program Paket A merupakan anggota masyarakat yang berminat menempuh pendidikan setara SD/MI. Program Paket C berfungsi memberikan pendidikan umum setara SMA/MA. dan Paket C. (3) Program Paket A berfungsi memberikan pendidikan umum setara SD/MI. Paragraf 7 Pendidikan Kesetaraan Pasal 100 (1) Pendidikan kesetaraan merupakan program pendidikan nonformal yang menyelenggarakan pendidikan umum setara SD/MI. Bagian Ketiga (keempat) Penyetaraan Hasil Pendidikan Pasal 101 76461668. kesetaraan berfungsi sebagai dasar dan menengah pada layanan jenjang jalur pendidikan (2) Pendidikan pendidikan nonformal.

etika dan kepribadian. hasil pendidikan nonformal diakui sama dengan hasil satuan atau program pendidikan formal melalui tes penempatan dan/atau penilaian portofolio oleh satuan pendidikan formal yang bersangkutan. (3) Pendidikan yang dilakukan oleh keluarga mencakup pendidikan yang dilakukan oleh orang tua. estetika. dengan mengacu pada Standar Nasional Pendidikan. pengakuan hasil pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (3). (3) Pengakuan hasil pendidikan nonformal dalam bidang tertentu sebagai pengganti mata pelajaran/mata kuliah dilakukan melalui penilaian terhadap bukti penguasaan kompetensi tertentu yang diperoleh dari lembaga pendidikan nonformal. (5) Ketentuan lebih lanjut mengenai penilaian penyetaraan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2). menanamkan nilai budaya.doc 67 . anggota keluarga. (2) Proses penilaian penyetaraan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan melalui ujian sesuai yang dipersyaratkan dalam Standar Nasional Pendidikan dan dinyatakan lulus setara dengan lulusan satuan pendidikan formal. nilai moral.(1) Hasil pendidikan nonformal dapat dihargai setara dengan hasil satuan atau program pendidikan formal setelah melalui proses penilaian penyetaraan oleh lembaga yang ditunjuk oleh Pemerintah atau pemerintah daerah. BAB V PENYELENGGARAAN PENDIDIKAN INFORMAL Pasal 102 (1) Pendidikan informal bertujuan memberikan keyakinan agama. dan/atau perseorangan yang dilibatkan dalam proses belajar secara mandiri. 76461668. dan tes penempatan dan/atau penilaian portofolio sebagaimana dimaksud pada ayat (4) diatur dengan Peraturan Menteri. (4) Untuk penempatan pada tingkat dalam satuan pendidikan. serta meningkatkan pengetahuan dan keterampilan peserta didik dalam rangka mencapai tujuan pendidikan nasional dan tujuan pendirian Negara Kesatuan Republik Indonesia. (2) Pendidikan informal mencakup pendidikan yang dilakukan oleh keluarga atau lingkungan berbentuk kegiatan belajar secara mandiri.

dengan mengacu pada Standar Nasional Pendidikan. (7) Pasal 103 (1) Peserta didik pada pendidikan informal adalah setiap warga masyarakat.doc 68 . lingkungan sosial. dan/atau masyarakat. anggota masyarakat. pendidikan masyarakat melalui berbagai kegiatan hiburan. (5) Pendidikan informal dilaksanakan secara bertanggung jawab. pendidikan oleh media massa. (3) Penyelenggaraan pembelajaran pendidikan informal menjadi tanggung jawab setiap orang. atau lingkungan alam. (3) Untuk penempatan pada tingkat dalam satuan pendidikan formal atau nonformal. pendidikan sosial dan budaya melalui interaksi dengan masyarakat. pendidikan alam melalui interaksi dengan alam. hasil pendidikan informal diakui sama melalui tes penempatan dan/atau penilaian portofolio oleh satuan pendidikan formal atau nonformal yang bersangkutan. (2) Pendidik pada pendidikan informal terdiri dari anggota keluarga. (2) Hasil pendidikan informal dapat diakui sama dengan hasil pendidikan nonformal setelah lulus ujian atau uji kompetensi pada satuan pendidikan nonformal atau lembaga yang ditunjuk oleh Pemerintah atau pemerintah daerah. Pasal 104 (1) Hasil pendidikan informal dapat diakui sama dengan hasil pendidikan formal setelah lulus ujian pada satuan pendidikan formal atau lembaga yang ditunjuk oleh Pemerintah atau pemerintah daerah.(4) Pendidikan yang dilakukan oleh lingkungan mencakup pendidikan yang dilakukan oleh masyarakat adat. 76461668. dan lain-lain pendidikan yang tidak termasuk dalam jalur formal dan nonformal. (6) Penyampaian informasi atau hiburan oleh media masa atau pihak lain kepada masyarakat harus secara serius mempertimbangkan implikasi pendidikannya. keluarga. Pemerintah dapat melarang penyampaian informasi atau hiburan sebagaimana dimaksud pada ayat (5) yang tidak sesuai dengan tujuan pendidikan nasional dan/atau tujuan pendirian Negara Kesatuan Republik Indonesia. dengan mengacu pada Standar Nasional Pendidikan.

dan jenis pendidikan. serta tes penempatan dan/atau penilaian portofolio sebagaimana dimaksud pada ayat (3) diatur dengan Peraturan Menteri. 76461668. Pasal 105 (1) Peserta didik pendidikan informal dapat mengajukan uji kompetensi untuk menentukan tingkat pendidikan pada satuan atau program pendidikan formal atau nonformal yang terakreditasi. b.doc (2) (2) (3) 69 . Hasil uji kompetensi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) digunakan untuk penempatan sebagai peserta didik pada tingkat satuan atau program pendidikan formal atau nonformal yang bersangkutan. status peserta didik pada satuan pendidikan formal atau nonformal tertentu yang dapat dijadikan dasar untuk melanjutkan pendidikan ke tingkat atau jenjang pada satuan atau program pendidikan yang lebih tinggi. Pasal 107 (1) Pendidikan jarak jauh dapat diselenggarakan pada semua jalur. BAB VI PENYELENGGARAAN PENDIDIKAN JARAK JAUH Pasal 106 (1) Pendidikan jarak jauh berfungsi memberikan layanan pendidikan kepada kelompok masyarakat yang tidak dapat mengikuti pendidikan secara tatap muka atau reguler. dan kesesuaian persyaratan pada bidang pekerjaan tertentu. Pendidikan jarak jauh bertujuan meningkatkan dan memeratakan akses masyarakat terhadap pendidikan. serta meningkatkan mutu dan relevansi pendidikan secara lebih efisien. (5) Ketentuan lebih lanjut mengenai ujian atau uji kompetensi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2). belajar tuntas.(4) Pengakuan sama terhadap hasil pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) digunakan untuk menentukan: a. dan berbasis teknologi pendidikan. belajar mandiri. Pendidikan jarak jauh mempunyai karakteristik terbuka. jenjang.

program studi/pendidikan. dan terbimbing dengan menggunakan berbagai sumber belajar berbasis teknologi informasi dan komunikasi. atau konsorsium. Pengorganisasian modus ganda sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berbentuk satuan pendidikan yang menyelenggarakan program pendidikan baik secara tatap muka maupun jarak jauh. terstruktur. atau satuan pendidikan.doc 70 . Cakupan pendidikan berbasis satuan pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) mencakup penyelenggaraan pendidikan (2) (3) (4) 76461668. belajar secara mandiri. Cakupan pendidikan berbasis mata pelajaran sebagaimana dimaksud pada ayat (1) terbatas untuk 1 (satu) atau beberapa mata pelajaran atau mata kuliah. tutorial. registrasi.(2) Penyelenggaraan pendidikan jarak jauh sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilaksanakan secara terpisah dari pendidik secara spasial. cakupan. (3) (4) (5) Struktur organisasi satuan pendidikan jarak jauh ditentukan berdasarkan modus. Cakupan pendidikan berbasis program studi/pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) terbatas untuk 1 (satu) program studi/pendidikan secara utuh. Pengorganisasian pendidikan jarak jauh modus tunggal sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berbentuk satuan pendidikan yang menyelenggarakan program pendidikan hanya secara jarak jauh. Pasal 108 (1) (2) Pengorganisasian pendidikan jarak jauh dapat diselenggarakan dalam modus tunggal. (3) Pendidikan jarak jauh memberikan layanan administrasi. serta layanan penyediaan dan distribusi bahan ajar dengan sistem operasional berbasis teknologi informasi dan komunikasi. ganda. Pengorganisasian modus konsorsium sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berbentuk jejaring penyelenggaraan pendidikan jarak jauh secara kolaboratif atau kerja sama secara lintas satuan pendidikan dengan lingkup wilayah nasional dan/atau internasional. dan sistem operasional yang diterapkan. praktik/praktikum. dan ujian. Pasal 109 (1) Pendidikan jarak jauh dapat diselenggarakan dengan cakupan pendidikan berbasis mata pelajaran.

(3) Pengaturan lebih lanjut tentang penyelenggaraan pendidikan jarak jauh diatur dengan Peraturan Menteri. Pasal 111 (3) (1) Pendidikan jarak jauh dilaksanakan dengan mengacu pada Standar Nasional Pendidikan. jaringan komputer. 76461668. informasi. dan/atau jaringan komunikasi dan informasi lainnya. (2) Penyelenggara satuan pendidikan jarak jauh berkewajiban untuk secara mandiri mengembangkan sistem operasional dengan dukungan jaringan radio. dan media lain serta sesuai dengan Standar Nasional Pendidikan dan standar keamanan komunikasi dan informasi. Pasal 110 (1) Sarana dan prasarana pendidikan pada satuan pendidikan jarak jauh harus berbasis teknologi komunikasi. Izin penyiaran radio/TV untuk penyelenggaraan pendidikan jarak jauh diberikan oleh menteri yang menangani urusan pemerintahan di bidang penyiaran atas usul Menteri.jarak jauh secara utuh pada 1 (satu) satuan pendidikan. jaringan TV.doc 71 . (2)Pemerintah dan/atau pemerintah daerah memfasilitasi penyelenggaraan pendidikan jarak jauh dalam rangka penuntasan wajib belajar dan program pembangunan pendidikan sesuai kebutuhan daerah.

jenjang. sosial. dan tidak mampu dari segi ekonomi.doc 72 . mental.BAB VII PENYELENGGARAAN PENDIDIKAN KHUSUS DAN PENDIDIKAN LAYANAN KHUSUS Bagian Kesatu Umum Pasal 112 Pendidikan khusus merupakan pendidikan bagi peserta didik yang memiliki tingkat kesulitan dalam mengikuti proses pembelajaran karena kelainan fisik. emosional. Bagian Kedua Pendidikan Khusus Paragraf 1 Pendidikan Khusus bagi Peserta Didik Berkelainan Pasal 114 (1) Pendidikan khusus bagi peserta didik berkelainan berfungsi memberikan pelayanan pendidikan khusus bagi peserta didik yang memiliki tingkat kesulitan dalam mengikuti proses pembelajaran karena kelainan fisik. dan/atau mengalami bencana alam. emosional. Pasal 115 (1) Pendidikan khusus bagi peserta didik berkelainan dapat diselenggarakan pada semua jalur. dan/atau sosial. dan jenis pendidikan. serta memiliki potensi kecerdasan dan/atau bakat istimewa. mental. Pasal 113 Pendidikan layanan khusus merupakan pendidikan bagi peserta didik di daerah terpencil atau terbelakang. masyarakat adat yang terpencil. intelektual. bencana sosial. intelektual. (2) Penyelenggaraan pendidikan khusus dapat dilakukan melalui 76461668. (2) Pendidikan khusus bagi peserta didik berkelainan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) bertujuan untuk mengembangkan potensi peserta didik seoptimal mungkin dalam rangka mencapai tujuan pendidikan nasional.

satuan pendidikan khusus, program pendidikan terpadu, atau program pendidikan inklusi. (3) Ketentuan lebih lanjut mengenai program pendidikan terpadu dan program pendidikan inklusi sebagaimana dimaksud pada ayat (2) diatur dengan Peraturan Menteri. Pasal 116 (6) Pemerintah menyelenggarakan sekurang-kurangnya 1 (satu) satuan pendidikan khusus untuk setiap jenis kelainan yang digunakan sebagai model ideal pendidikan khusus bagi peserta didik yang berkelainan. (7) Pemerintah kabupaten/kota sekurangkurangnya menunjuk 1 (satu) satuan pendidikan untuk menyelenggarakan pendidikan khusus secara inklusif apabila pada kabupaten/kota tersebut belum ada satu satuan pendidikan khusus. Pasal 117 Pendidikan khusus bagi peserta didik berkelainan pada jalur formal diselenggarakan melalui satuan pendidikan anak usia dini, satuan pendidikan dasar, satuan pendidikan menengah, dan satuan pendidikan tinggi. Pasal 118 (1) Satuan pendidikan khusus bagi peserta didik berkelainan untuk pendidikan anak usia dini dapat berbentuk Taman Penitipan Anak Luar Biasa (TPALB), Kelompok Bermain Luar Biasa (KBLB), atau Taman Kanak-kanak Luar Biasa (TKLB). (2) Satuan pendidikan khusus bagi peserta didik berkelainan pada jenjang pendidikan dasar terdiri atas: a. Sekolah Dasar Luar Biasa (SDLB), Madrasah Ibtidaiyah Luar Biasa (MILB), atau bentuk lain yang sederajat; b. Sekolah Menengah Pertama Luar Biasa (SMPLB), Madrasah Tsanawiyah Luar Biasa (MTsLB), atau bentuk lain yang sederajat. (3) Satuan pendidikan khusus bagi peserta didik berkelainan pada jenjang pendidikan menengah adalah Sekolah Menengah Atas Luar Biasa (SMALB), Madrasah Aliyah Luar Biasa (MALB), atau
76461668.doc

73

bentuk lain yang sederajat. (4) Penyelenggaraan satuan pendidikan khusus dapat menggunakan sistem unit. (5) Satuan pendidikan khusus untuk peserta didik berkelainan dapat menyelenggarakan pendidikan untuk 1 (satu) atau beberapa jenis peserta didik berkelainan.

Pasal 119 (1) Peserta didik pendidikan khusus bagi peserta didik berkelainan yaitu peserta didik yang memiliki kelainan fisik, emosional, mental, intelektual, dan/atau sosial. (2) Kelainan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat berupa: a. tunanetra; b. tunarungu; c. tunawicara; d. tunagrahita; e. tunadaksa; f. tunalaras; g. berkesulitan belajar; h. lamban belajar; i. autistik; j. gangguan motorik;

k. korban penyalahgunaan narkotika, obat terlarang, dan zat adiktif lainnya; dan l. kelainan lainnya.

(3) Kelainan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dapat juga berwujud gabungan dari 2 (dua) atau lebih jenis-jenis kelainan di atas yang disebut tunaganda.

Paragraf 2 Pendidikan Khusus bagi Peserta Didik yang Memiliki
76461668.doc

74

Potensi Kecerdasan dan/atau Bakat Istimewa Pasal 120 (1) Pendidikan khusus bagi peserta didik yang memiliki potensi kecerdasan dan/atau bakat istimewa berfungsi mengembangkan potensi keunggulan peserta didik menjadi prestasi nyata sesuai dengan karakteristik dan kebutuhannya, dalam rangka mencapai tujuan pendidikan nasional. (2) Pendidikan khusus bagi peserta didik yang memiliki potensi kecerdasan dan/atau bakat istimewa bertujuan: a. membentuk manusia berkualitas yang memiliki kecerdasan spiritual, emosional, sosial, dan intelektual serta memiliki ketahanan dan kebugaran fisik; b. membentuk manusia berkualitas yang kompeten dalam pengetahuan dan seni, berkeahlian dan berketerampilan, menjadi anggota masyarakat yang bertanggung jawab, serta untuk mempersiapkan peserta didik mengikuti pendidikan lebih lanjut dalam rangka mewujudkan tujuan pendidikan nasional. Pasal 121 (1) Pendidikan khusus bagi peserta didik yang memiliki potensi kecerdasan dan/atau bakat istimewa dapat diselenggarakan pada satuan pendidikan SD/MI, SMP/MTs, SMA/MA, SMK/MAK, atau bentuk lain yang sederajat. (2) Program pendidikan khusus bagi peserta didik yang memiliki potensi kecerdasan dan/atau bakat istimewa dapat berupa: a. program percepatan; b. program pengayaan; atau c. gabungan program percepatan dan program pengayaan. (3) Penyelenggaraan program pendidikan khusus bagi peserta didik yang memiliki potensi kecerdasan dan/atau bakat istimewa sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dapat dilakukan dalam bentuk: a. kelas inklusi; b. kelas khusus; c. satuan pendidikan khusus; atau d. satuan pendidikan inklusi.
76461668.doc

75

(4)

Ketentuan lebih lanjut mengenai program pendidikan khusus bagi peserta didik yang memiliki potensi kecerdasan dan/atau bakat istimewa sebagaimana dimaksud pada ayat (2) diatur dengan Peraturan Menteri. Pasal 122

Pemerintah menyelenggarakan sekurang-kurangnya 1 (satu) satuan pendidikan khusus untuk dipakai sebagai model ideal pendidikan khusus bagi peserta didik yang memiliki kecerdasan dan/atau bakat istimewa. Pasal 123 (1) Peserta didik yang memiliki potensi kecerdasan dan/atau bakat istimewa adalah peserta didik yang secara ekstrim memiliki potensi jauh di atas rata-rata dalam salah satu atau lebih kemampuan: a. b. c. d. e. akademik; seni; olahraga; kepemimpinan; dan lainnya yang relevan. (2) Penetapan peserta didik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan oleh ahli yang relevan.

Bagian Ketiga Pendidikan Layanan Khusus

Pasal 121 (1) Pendidikan layanan khusus berfungsi memberikan kesempatan untuk memperoleh pendidikan kepada peserta didik di daerah terpencil atau terbelakang, daerah perbatasan, daerah kepulauan kecil, masyarakat adat yang terpencil, dan/atau mengalami bencana alam, bencana sosial, dan tidak mampu dari segi ekonomi dalam rangka mencapai tujuan pendidikan nasional. (2) Pendidikan layanan khusus bertujuan membentuk manusia berkualitas secara spiritual, emosional, intelektual, dan fisik, hidup sehat; memperluas pengetahuan dan seni, memiliki

76461668.doc

76

dan bentuk satuan pendidikan nonformal lainnya. (2) Penyelenggaraan pendidikan layanan khusus pendidikan formal dapat dilaksanakan melalui: a. taman penitipan anak. f. satuan pendidikan terbuka untuk kelompok bermain. kursus dan pelatihan. g. Pasal 122 (1) Pendidikan layanan khusus dapat diselenggarakan pada jalur pendidikan formal dan nonformal. Pasal 123 76461668. madrasah kecil. gabungan dari 2 (dua) atau lebih dari huruf a sampai dengan huruf e. program tugas belajar ke daerah lain yang pelayanan pendidikannya dapat dilaksanakan secara normal. e. d.doc 77 . dan bentuk satuan pendidikan nonformal lainnya. dan bentuk satuan pendidikan nonformal lainnya. satuan pendidikan kecil untuk kelompok bermain. b. kursus dan pelatihan. c. kelompok belajar. dan/atau bentuk lain yang tidak bertentangan dengan ketentuan peraturan perundangan-undangan yang berlaku. satuan pendidikan darurat untuk kelompok bermain. kelompok belajar. taman penitipan anak. madrasah darurat. kelompok belajar. b. serta mempersiapkan peserta didik untuk mengikuti pendidikan lebih lanjut dalam rangka mewujudkan pendidikan nasional. dan/atau c. madrasah terbuka. jauh. kursus dan pelatihan. taman penitipan anak.keahlian dan keterampilan. khusus pada jalur penyelenggaraan sekolah atau penyelenggaraan pendidikan jarak penyelenggaraan sekolah atau penyelenggaraan pada jalur atau sekolah (3) Penyelenggaraan pendidikan layanan pendidikan nonformal dapat berbentuk: a. menjadi anggota masyarakat yang bertanggung jawab.

Masyarakat membantu Pemerintah dan pemerintah dalam penyelenggaraan pendidikan layanan khusus. peserta didik di daerah perbatasan. peserta didik yang berasal dari keluarga yang tidak mampu dari segi ekonomi. daerah menyelenggarakan Pembagian beban pembiayaan pendidikan layanan khusus sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur lebih lanjut dalam Peraturan Menteri. c. peserta didik di daerah terpencil dan/atau terbelakang. e. b. (4)Dalam hal pemerintah kabupaten/kota tidak menyelenggarakan 76461668. peserta didik di daerah kepulauan kecil. BAB VIII PENYELENGGARAAN PENDIDIKAN BERTARAF INTERNASIONAL DAN PENDIDIKAN BERBASIS KEUNGGULAN LOKAL Pasal 125 (1) Pemerintah dan/atau pemerintah daerah menyelenggarakan sekurang-kurangnya 1 (satu) satuan pendidikan dasar dan menengah untuk dikembangkan menjadi satuan pendidikan yang bertaraf internasional. Pasal 124 daerah (3) (1) Peserta didik yang memerlukan pendidikan layanan khusus adalah: a. peserta didik dalam masyarakat adat yang terpencil.(1) (2) Pemerintah dan pemerintah pendidikan layanan khusus.doc 78 . peserta didik yang berada di daerah yang mengalami bencana alam dan/atau bencana sosial. (2)Pemerintah menunjuk atau mendirikan madrasah pada jenjang pendidikan dasar dan menengah untuk dikembangkan menjadi satuan pendidikan yang bertaraf internasional. (3) Pemerintah kabupaten/kota menunjuk atau mendirikan sekurangkurangnya 1 (satu) satuan pendidikan dasar dan menengah untuk dikembangkan menjadi satuan pendidikan dasar dan menengah yang bertaraf internasional. d. dan f.

pengembangan. (6)Masyarakat dapat menyelenggarakan satuan pendidikan pada semua jenjang pendidikan untuk dikembangkan menjadi satuan pendidikan yang bertaraf internasional setelah memperoleh izin dari Pemerintah atau pemerintah kabupaten/kota sesuai kewenangannya. c. 76461668.doc 79 .satuan pendidikan dasar dan menengah untuk dikembangkan menjadi satuan pendidikan dasar dan menengah yang bertaraf internasional. pemerintah provinsi bersama pemerintah kabupaten/kota wajib mendirikannya. dan/atau (2) (3) (4) a. Pasal 126 (1) Satuan pendidikan dasar dan menengah bertaraf internasional diselenggarakan setelah memenuhi Standar Nasional Pendidikan yang diperkaya dengan standar pendidikan/standar kompetensi negara lain yang mempunyai keunggulan dalam bidang ilmu pengetahuan. dan pembangunan sumberdaya nasional. serta menunjang pelestarian. lulus sertifikasi internasional yang dikeluarkan oleh negara lain yang memiliki keunggulan tertentu dalam bidang ilmu pengetahuan. teknologi. Pengembangan dengan mengacu standar pendidikan di negara yang memiliki keunggulan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan melalui cara penyesuaian atau penambahan terhadap unsur-unsur tertentu yang sudah ada atau belum ada dalam Standar Nasional Pendidikan. Satuan pendidikan dasar dan menengah bertaraf internasional menghasilkan lulusan yang memiliki kemampuan dan daya saing di forum internasional. Pemerintah bersama pemerintah kabupaten/kota dan pemerintah provinsi wajib mendirikannya. b. (5)Dalam hal pemerintah kabupaten/kota dan pemerintah provinsi tidak menyelenggarakan satuan pendidikan dasar dan menengah untuk dikembangkan menjadi satuan pendidikan dasar dan menengah yang bertaraf internasional. dan seni. dan seni. diterima bekerja pada lembaga internasional atau negara lain. Kemampuan dan daya saing lulusan di forum internasional sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditunjukkan dengan: diterima pada satuan pendidikan bertaraf internasional di dalam negeri atau satuan pendidikan di luar negeri yang terakreditasi atau yang diakui di negaranya. teknologi.

SMK. e. penilaian. dan perpustakaan. melaksanakan proses pembelajaran yang diperkaya dengan model proses pembelajaran di negara lain yang mempunyai keunggulan tertentu dalam bidang ilmu pengetahuan. MA. termasuk yang berkaitan dengan kurikulum. d. MTs. g. sudah beroperasi sekurang-kurangnya 3 tahun sejak didirikan dan telah meluluskan peserta didik. menerapkan sistem administrasi pendidikan berbasis teknologi informasi dan komunikasi. dan teknologi. mampu berperan aktif dan berkomunikasi langsung di forum internasional.d. f. dan seni sehingga peserta didik memiliki akses untuk mengikuti ujian akhir di negara tersebut. Pasal 127 Satuan pendidikan dasar dan menengah yang dapat dikembangkan menjadi bertaraf internasional harus memenuhi persyaratan sebagai berikut: a. dan MAK. b. j. memperoleh akreditasi A dari lembaga akreditasi dalam negeri. SMA. teknologi.doc 80 . proses pembelajaran. melaksanakan kurikulum sesuai standar isi yang diperkaya dengan kurikulum negara lain yang mempunyai keunggulan tertentu dalam bidang ilmu pengetahuan. menerapkan standar kelulusan yang lebih tinggi dari standar kompetensi lulusan. dan seni. i. dan seni. menerapkan Sistem Kredit Semester (SKS) untuk SMP. memberlakukan bahasa inggris atau bahasa lain yang sering digunakan dalam forum internasional sekurangkurangnya untuk pembelajaran kelompok mata pelajaran sains. memenuhi standar penilaian yang diperkaya dengan sistem penilaian pendidikan di negara lain yang mempunyai keunggulan tertentu dalam bidang ilmu pengetahuan. mempunyai pendidik yang memiliki sertifikat pendidik dengan kualifikasi akademik magister (S2) dari perguruan tinggi terakreditasi dalam bidang kependidikan atau bidang studi yang relevan dengan mata pelajaran atau rumpun 76461668. h. teknologi. c. matematika. teknologi.

n. 20% untuk SMP. media pendidikan. ruang pimpinan satuan pendidikan. tempat beribadah. bahan habis pakai. 2). MI. atau bidang nonkependidikan yang relevan. 3). m. MTs. l. atau guru bimbingan dan konseling/konselor. ruang kantin. buku dan sumber belajar lainnya.mata pelajaran yang diampunya.MAK. sekurang-kurangnya: 1). dan ruang/tempat lain yang diperlukan untuk menunjang proses pembelajaran yang teratur dan berkelanjutan. mampu berbahasa Inggris. telah menempuh pelatihan kepala satuan pendidikan dari lembaga pelatihan yang diakui oleh Pemerintah atau pemerintah daerah. 3). ruang pendidik. peralatan pendidikan. dan k. tempat berkreasi. khusus sarana dan prasarana yang berwujud: 1). atau guru kelas. atau guru bimbingan dan konseling/konselor. atau yang SMK. memiliki visi internasional. atau yang sederajat. ruang unit produksi. instalasi daya dan jasa. atau bidang nonkependidikan yang relevan. sekurangkurangnya: 1).MA. mempunyai prasarana yang sekurang-kurangnya meliputi lahan. memiliki kepala satuan pendidikan yang memiliki sertifikat pendidik dengan kualifikasi akademik magister (S2) dari perguruan tinggi terakreditasi dalam bidang kependidikan atau bidang studi yang relevan dengan mata pelajaran atau rumpun mata pelajaran yang diampunya. atau memiliki sertifikat kepala sekolah/madrasah. seta perlengkapan lain yang diperlukan untuk menunjang proses pembelajaran yang teratur dan berkelanjutan. 2). atau guru kelas. atau yang sederajat. tempat bermain. ruang laboratorium. memiliki jiwa kepemimpinan dan kewirausahaan. ruang bengkel kerja. 10% untuk SD. tempat berolahraga. dan 4). dan/atau bahasa asing lainnya secara aktif. mempunyai sarana yang sekurang-kurangnya meliputi perabot. sarana pembelajaran dilengkapi dengan fasilitas teknologi 76461668. sederajat. ruang kelas. ruang tata usaha. 30% untuk SMA.doc 81 . ruang perpustakaan. atau yang sederajat.

Dalam hal pemerintah kabupaten/kota tidak menyelenggarakan sekolah pada jenjang pendidikan dasar dan 82 (2) (3) (4) (5) 76461668. Pemerintah kabupaten/kota menunjuk atau mendirikan sekolah pada jenjang pendidikan dasar dan pendidikan menengah untuk dikembangkan menjadi satuan pendidikan yang berbasis keunggulan lokal. perpustakaan dilengkapi dengan sarana teknologi informasi dan komunikasi yang memberikan akses ke sumber pembelajaran di seluruh dunia. fasilitas multi media. dan ruang unjuk seni budaya. sekurang-kurangnya untuk mata pelajaran Pendidikan Agama. Pendidikan Kewarganegaraan. sarana dan prasarana untuk pemeliharaan kesehatan dan pengembangan diri dilengkapi dengan klinik. fasilitas olah raga. dan p. Satuan pendidikan berbasis keunggulan lokal sebagaimana dimaksud ayat (1) merupakan satuan pendidikan yang dikembangkan sesuai dengan keunggulan potensi daerah/karakteristik daerah dan sosial budaya masyarakat setempat. Pasal 129 (1) Pemerintah dan pemerintah kabupaten/kota menyelenggarakan satuan pendidikan jenjang pendidikan dasar dan pendidikan menengah untuk dikembangkan menjadi satuan pendidikan yang berbasis keunggulan lokal. memenuhi standar pembiayaan dengan menerapkan model pembiayaan yang telah diaudit oleh akuntan publik dengan memperoleh predikat wajar tanpa syarat. o. Pemerintah menunjuk atau mendirikan madrasah pada jenjang pendidikan dasar dan pendidikan menengah untuk dikembangkan menjadi satuan pendidikan yang berbasis keunggulan lokal. dan Bahasa Indonesia.informasi dan komunikasi di setiap ruang kelas.doc . dan 2). Pasal 128 (1) Satuan pendidikan dasar dan menengah bertaraf internasional wajib menggunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa pengantar.

doc (7) menerapkan sistem administrasi pendidikan berbasis 83 . b. (3) Pengembangan potensi daerah/karakteristik daerah dan sosial budaya masyarakat setempat dilakukan melalui cara penyesuaian atau penambahan terhadap unsur-unsur tertentu yang sudah ada atau belum ada dalam Standar Nasional Pendidikan. sudah beroperasi sekurang-kurangnya 3 tahun sejak didirikan dan telah meluluskan peserta didik. Pasal 130 (1) Satuan pendidikan dasar dan menengah berbasis keunggulan lokal diselenggarakan setelah memenuhi Standar Nasional Pendidikan yang diperkaya dan dikembangkan sesuai dengan potensi daerah/karakteristik daerah dan sosial budaya masyarakat setempat. pemerintah provinsi bersama pemerintah kabupaten/kota wajib mendirikannya. memperoleh akreditasi dari lembaga akreditasi dalam negeri. (6) Dalam hal pemerintah kabupaten/kota dan pemerintah provinsi tidak menyelenggarakan satuan pendidikan dasar dan menengah untuk dikembangkan menjadi satuan pendidikan dasar dan menengah berbasis keunggulan lokal. c. dan promosi keunggulan lokal. pengembangan. 76461668. (2) Satuan pendidikan dasar dan menengah berbasis keunggulan lokal menghasilkan lulusan yang memiliki kemampuan mengolah dan/atau mengembangkan sumber daya lingkungan di daerahnya dan menghasilkan produk yang mempunyai nilai ekonomis serta menunjang pelestarian. Pasal 131 Satuan pendidikan dasar dan menengah yang dapat dikembangkan menjadi berbasis keunggulan lokal harus memenuhi persyaratan sebagai berikut: a. Pemerintah bersama pemerintah kabupaten/kota dan pemerintah provinsi wajib mendirikannya. Masyarakat dapat menyelenggarakan satuan pendidikan pada semua jenjang pendidikan untuk dikembangkan menjadi satuan pendidikan yang berbasis keunggulan lokal setelah memperoleh izin dari Pemerintah atau pemerintah kabupaten/kota sesuai kewenangannya.pendidikan menengah untuk dikembangkan menjadi satuan pendidikan berbasis keunggulan lokal.

satuan pendidikan dasar. menerapkan standar kelulusan dengan keunggulan lokal yang lebih tinggi dari standar kompetensi lulusan. terpisah-satu sistem-tidak satu atap. d. g. dan/atau satuan pendidikan menengah bagi warga negaranya atas persetujuan Pemerintah. terpisah-beda sistem-tidak satu atap. proses pembelajaran. c. b. termasuk yang berkaitan dengan kurikulum. dan perpustakaan. BAB IX PENYELENGGARAAN PENDIDIKAN OLEH LEMBAGA NEGARA LAIN DAN KERJASAMA SATUAN PENDIDIKAN INDONESIA DENGAN SATUAN PENDIDIKAN NEGARA LAIN Pasal 133 (1) Perwakilan negara asing di wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia dapat menyelenggarakan satuan pendidikan anak usia dini. penilaian. dan h. terpadu-satu sistem-satu atap. melaksanakan kurikulum sesuai standar isi yang diperkaya sesuai dengan potensi daerah/karakteristik daerah dan sosial budaya masyarakat setempat. mempunyai sarana dan prasarana pendidikan yang memadai dan relevan dalam mendukung terselenggaranya pendidikan berbasis keunggulan lokal.doc 84 .teknologi informasi dan komunikasi. melaksanakan proses pembelajaran dengan memperhatikan potensi daerah/karakteristik daerah dan sosial budaya masyarakat setempat. d. dan keluar-masuk (entry-exit). e. mempunyai pendidik yang memiliki keahlian relevan dengan mata pelajaran keunggulan lokal. 76461668. f. Pasal 132 Satuan pendidikan dasar dan menengah bertaraf internasional atau berbasis keunggulan lokal dapat diselenggarakan dengan model: a. (2) Satuan pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tidak boleh menerima peserta didik warga negara Indonesia.

Pasal 135 (1) Bahasa pengantar utama pada satuan pendidikan yang diselenggarakan oleh lembaga pendidikan asing adalah bahasa Indonesia. Menteri memberikan izin setelah memperoleh (2) (3) (4) (5) (2) (3) (2) 76461668. Dalam bekerja sama sebagaimana dimaksud pada ayat (2). kepemilikan lembaga asing sebanyak-banyaknya 49% (empat puluh sembilan persen). Penyelenggaraan pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus bekerja sama dengan lembaga penyelenggara pendidikan Indonesia. Satuan pendidikan yang diselenggarakan oleh lembaga pendidikan asing wajib menerapkan sistem penggajian yang tidak diskriminatif bagi warga negara asing maupun warga negara Indonesia. Dalam hal penggunaan sistem pendidikan negara lain sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dalam disiplin ilmu agama.Pasal 134 (1) Lembaga pendidikan asing yang terakreditasi atau yang diakui di negaranya dapat menyelenggarakan pendidikan di wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia sesuai dengan peraturan perundang-undangan.doc 85 . Pendidik dan tenaga kependidikan warga negara asing pada satuan pendidikan yang diselenggarakan oleh lembaga pendidikan asing wajib menguasai bahasa Indonesia dan memahami budaya Indonesia. Dalam bekerja sama sebagaimana dimaksud pada ayat (2) pendidikan asing wajib mengikutsertakan sekurang-kurangnya 30% (tiga puluh persen) pendidik warga negara Indonesia. Dalam bekerja sama sebagaimana dimaksud pada ayat (2) pendidikan oleh lembaga pendidikan asing wajib mengikutsertakan sekurang-kurangnya 80% (delapan puluh persen) tenaga kependidikan warga negara Indonesia. Pasal 136 (1) Pendidikan yang diselenggarakan oleh lembaga pendidikan asing sebagaimana dimaksud dalam Pasal 134 yang menggunakan sistem pendidikan negara lain yang diselenggarakan di wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia wajib memperoleh izin dari Menteri.

Pasal 137 (1). b. Kerja sama pendidikan anak usia dini sebagaimana dimaksud pada ayat (1) bertujuan untuk meningkatkan mutu program pendidikan anak usia dini. Pendidikan agama sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diajarkan sesuai dengan agama yang dianut peserta didik dan diajarkan oleh pendidik yang seagama. d. Kerja sama penyelenggaraan pendidikan anak usia dini sebagaimana yang dimaksud pada ayat (3) pada tingkat Taman Kanak-kanak atau yang sederajat hanya dapat dilakukan oleh penyelenggara satuan pendidikan yang memiliki satuan pendidikan Taman Kanak-kanak atau yang sederajat berakreditasi A. dan/atau bentuk-bentuk lain yang dianggap perlu. pemanfaatan bersama berbagai sumberdaya. penyelenggaraan pertemuan ilmiah bersama. (3). c. Kerja sama akademik pada ayat (1) dapat berbentuk: a. Penyelenggaraan pendidikan oleh lembaga asing sebagaimana dimaksud dalam Pasal 134 dan Pasal 136 yang menerima peserta didik warga negara Indonesia wajib memberikan pendidikan agama. dan bahasa Indonesia kepada peserta didik warga negara Indonesia. Pasal 138 (1) Satuan pendidikan anak usia dini Indonesia dapat menjalin kerja sama akademik dengan satuan pendidikan anak usia dini negara lain. Warga negara Indonesia yang menjadi peserta didik pada satuan pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) wajib mengikuti Ujian Nasional. 86 76461668.pertimbangan dari Menteri Agama. Pasal 139 (1) Satuan pendidikan dasar atau satuan pendidikan menengah Indonesia dapat menjalin kerja sama akademik dengan satuan pendidikan sederajat negara lain. (4) sebagaimana dimaksud (2). (2) (3) pertukaran guru dan/atau tenaga kependidikan.doc . pendidikan kewarganegaraan.

dan/atau c. c. menyelenggarakan pendidikan menengah bertaraf internasional. g. (4) Kerja sama satuan pendidikan dasar atau pendidikan menengah sebagaimana yang dimaksud pada ayat (3) hanya dapat dilakukan oleh satuan pendidikan dasar atau pendidikan menengah berakreditasi A. pendidikan tinggi bertaraf 76461668.(2) Kerja sama untuk: sebagaimana dimaksud pada ayat (1) bertujuan a. f. meningkatkan pembinaan dan/atau pelaksanaan program pendidikan tinggi. (3) dasar atau pendidikan Kerja sama akademik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat berbentuk: a. dan/atau bentuk-bentuk lain yang dianggap perlu. Kerja sama perguruan tinggi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) bertujuan untuk: b. penelitian. Pasal 140 (3) (4) Perguruan tinggi Indonesia dapat menjalin kerja sama akademik dan/atau non-akademik dengan perguruan tinggi negara lain. menyelenggarakan internasional. memperluas pengabdian kepada masyarakat oleh perguruan tinggi. pertukaran peserta didik. pemanfaatan bersama berbagai sumberdaya. d. h. program kembaran. memperluas jaringan kemitraan untuk kepentingan satuan pendidikan. meningkatkan mutu penyelenggaraan pendidikan dasar atau pendidikan menengah. b. e.doc 87 . program pemindahan dan perolehan kredit. pertukaran guru dan/atau tenaga kependidikan. pemagangan khusus pendidikan menengah kejuruan. i. dan/atau b. penyelenggaraan seminar bersama. dan memperluas jaringan kemitraan untuk kepentingan perguruan tinggi.

c.doc 88 . b. b. dan/atau bentuk-bentuk lain yang dianggap perlu. dan/atau d. jasa dan royalti hak atas kekayaan intelektual. j. kontrak manajemen. usaha penggalangan dana. (5) (6) (7) (8) Kerja sama non-akademik sebagaimana yang dimaksud pada ayat (1) dapat dilakukan oleh setiap perguruan tinggi yang sudah memiliki izin pendirian dari Departemen. penelitian. pengabdian kepada masyarakat. e. g. penyelenggaraan seminar bersama. Kerja sama akademik dengan perguruan tinggi di luar negeri sebagaimana dimaksud pada ayat (3) huruf b sampai dengan huruf j hanya dapat dilaksanakan oleh program studi di Indonesia yang terakreditasi A. pendayagunaan aset. program kembaran. f. d. Program studi dari perguruan tinggi di luar negeri yang bekerja sama dengan program studi di Indonesia sebagaimana yang dimaksud pada ayat (5) harus terakreditasi atau diakui di negaranya dan terdaftar di Departemen. penerbitan jurnal ilmiah. c. pertukaran dosen dan/atau mahasiswa. pemagangan. h. 76461668. i. (4) Kerja sama pendidikan tinggi sebagaimana yang dimaksud pada ayat (3) hanya dapat dilakukan oleh perguruan tinggi di Indonesia yang lebih dari 60% (enam puluh persen) program studinya berakreditasi A. Kerja sama non-akademik sebagaimana yang dimaksud pada ayat (1) dapat berbentuk: a.(3) Kerja sama akademik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat berbentuk: a. pemanfaatan bersama berbagai sumberdaya. program pemindahan dan perolehan kredit.

139. b. memperoleh layanan pendidikan sesuai dengan bakat.Pasal 141 (1) Satuan pendidikan nonformal Indonesia dapat menjalin kerja sama akademik dan/atau non-akademik dengan lembaga pendidikan dari negara lain. Kerja sama satuan pendidikan nonformal sebagaimana dimaksud pada ayat (1) bertujuan untuk meningkatkan mutu pendidikan dan/atau memperluas jaringan kemitraan untuk kepentingan satuan pendidikan nonformal. (2) (3) (2) BAB X HAK DAN KEWAJIBAN PESERTA DIDIK Pasal 144 (1)Peserta didik mempunyai hak: a. Kerja sama sebagaimana yang dimaksud pada ayat (1) hanya dapat dilakukan oleh satuan pendidikan nonformal yang memiliki izin sesuai peraturan perundang-undangan dan terakreditasi. kemampuan. dan kecepatan belajar. c.doc 89 . dan 141 selama tidak bertentangan dengan tujuan pendidikan nasional. 140. Ketentuan lebih lanjut mengenai pelaksanaan berbagai bentuk kerja sama pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur lebih lanjut dengan Peraturan Menteri. 138. minat. serta kebutuhan khususnya. memperoleh bantuan fasilitas belajar atau bantuan lain sesuai dengan persyaratan dan ketentuan yang berlaku. kecerdasan. Pasal 143 Pemerintah secara teratur mengadakan evaluasi dan pengawasan terhadap semua bentuk pelayanan pendidikan yang melibatkan partisipasi asing. mendapatkan pendidikan agama sesuai dengan agama yang dianutnya dan diajarkan oleh pendidik yang seagama. Pasal 142 (1) Pemerintah mengakui bentuk-bentuk kerja sama sebagaimana dimaksud dalam Pasal 134. 76461668.

peserta didik pada pendidikan layanan khusus berhak: a. b. ikut serta dalam kegiatan organisasi peserta didik di satuan pendidikan yang bersangkutan. menggunakan kebebasan akademik secara bertanggung jawab untuk menuntut ilmu dan mengkaji ilmu sesuai dengan norma dan etika yang berlaku dalam lingkungan akademik. dan h. Pasal 145 (1) Selain hak peserta didik sebagaimana dimaksud dalam Pasal 144 ayat (1). atau bantuan lain sesuai dengan kemampuan Pemerintah. dan 90 76461668. e. pindah ke jalur atau satuan pendidikan lain yang sederajat atau melanjutkan ke satuan pendidikan yang lebih tinggi. dan/atau masyarakat bagi mereka yang berprestasi dan/atau orang tuanya tidak mampu membiayai pendidikan. (3)Selain hak peserta didik sebagaimana dimaksud pada ayat (1). f. memperoleh bantuan fasilitas belajar.d. memperoleh kemudahan dari pihak terkait untuk menggunakan sarana dan prasarana fisik dan nonfisik untuk menunjang kelancaran pembelajaran. menyelesaikan program pendidikan layanan khusus lebih cepat atau lebih lambat dari waktu yang ditentukan. b. peserta didik di perguruan tinggi berhak: h. pemerintah daerah. c. Pemerintah Kabupaten/Kota serta masyarakat. menyelesaikan program pendidikan lebih cepat atau lebih lambat dari waktu yang ditentukan. Pemerintah Provinsi. g. dan c. memperoleh layanan informasi yang berkaitan dengan proses pembelajaran yang diikuti termasuk hasil belajar. (2)Selain hak peserta didik sebagaimana dimaksud pada ayat (1). memperoleh jaminan hukum yang sama seperti peserta didik pada umumnya. mengikuti pendidikan di luar batas usia yang berlaku bagi peserta didik biasa. mendapatkan jaminan kelangsungan pendidikan. peserta didik pada pendidikan khusus berhak: a. mendapatkan beasiswa atau biaya pendidikan dari Pemerintah.doc .

menjaga kewibawaan dan nama baik satuan pendidikan yang bersangkutan. dan j. f. menjalankan ibadah sesuai agama yang dianutnya. ketertiban. ikut menjaga dan memelihara sarana dan prasarana. serta pembiasaan peserta didik. c. dan negara. (2) Kewajiban sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan dengan bimbingan dan keteladanan pendidik dan tenaga kependidikan. g. dan keamanan sekolah. serta menyayangi sesama. (2)Pelaksanaan ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur oleh perguruan tinggi yang bersangkutan. mematuhi semua peraturan yang berlaku. ikut menanggung biaya penyelenggaraan pendidikan. memelihara kerukunan dan kedamaian untuk mewujudkan harmoni sosial di antara sesama. Pasal 146 (1) Peserta didik berkewajiban menjaga ketentuan sebagai berikut: a. kebersihan. menghormati pendidik dan tenaga kependidikan.doc 91 . masyarakat. e. (4) Kegiatan mahasiswa dalam organisasi sebagaimana dimaksud pada ayat (3) tidak boleh mengatasnamakan perguruan tingginya. d. mengambil mata kuliah di luar program studi baik di dalam maupun di luar perguruan tinggi yang bersangkutan dan perolehan kreditnya dapat diperhitungkan dalam penyelesaian studi sesuai dengan peraturan akademik yang ditetapkan. (3) Pelaksanaan ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan 76461668. (3) Keterlibatan mahasiswa dalam organisasi di luar perguruan tingginya merupakan tanggung jawab perseorangan yang bersangkutan. h. kecuali yang dibebaskan dari kewajiban. i. mencintai lingkungan.i. mencintai keluarga. mengikuti proses pembelajaran dengan menjunjung tinggi norma dan etika akademik. b. bangsa.

serta berpartisipasi dalam menyelenggarakan pendidikan. melatih peserta didik. dan pengabdian kepada masyarakat. pendidikan menengah. d. konselor. mengajar.doc 92 . menilai. konselor bertugas dan bertanggung jawab memberikan layanan konseling kepada peserta didik di satuan pendidikan pada jenjang pendidikan dasar. penitipan anak dan bentuk lain yang sejenis. pamong bertugas dan bertanggung jawab membimbing dan melatih anak usia dini pada kelompok bermain. melatih. dan sebutan lain yang sesuai dengan kekhususanya. dan Tanggung Jawab Pasal 147 (1) Pendidik mencakup guru. dan seni melalui pendidikan. (2) Pendidik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) mempunyai tugas dan tanggung jawab sebagai berikut: a. pendidikan dasar. membimbing. Tugas. membimbing. guru bertugas dan bertanggung jawab sebagai pendidik profesional dengan tugas utama mendidik. penelitian. pamong belajar. dan pendidikan tinggi. widyaiswara. dan pendidikan menengah. pamong belajar bertugas dan bertanggung jawab menyuluh. yang berfungsi sebagai agen pembelajaran peserta didik. alat pembelajaran. dosen. mengembangkan. e. pamong. 76461668. c.ayat (2) serta sanksi atas pelanggarannya diatur oleh satuan pendidikan yang bersangkutan. teknologi. dan pengelolaan pembelajaran pada jalur pendidikan nonformal. instruktur. b. dosen bertugas dan bertanggung jawab sebagai pendidik profesional dan ilmuwan dengan tugas utama mentransformasikan. dan menyebarluaskan ilmu pengetahuan. dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal. mengajar. dan mengembangkan: model program pembelajaran. fasilitator. BAB XI PENDIDIK DAN TENAGA KEPENDIDIKAN Bagian Kesatu Jenis. tutor. mengarahkan.

tenaga lapangan pendidikan. Pasal 149 (1). dan sebutan lain untuk petugas sejenis yang bekerja pada satuan pendidikan. tenaga laboratorium. b. c. terapis. instruktur bertugas dan bertanggung jawab memberikan pelatihan teknis kepada peserta didik pada kursus dan/atau pelatihan. teknisi sumber belajar. tutor bertugas dan bertanggung jawab memberikan bantuan belajar kepada peserta didik dalam proses pembelajaran jarak jauh dan/atau pembelajaran tatap muka pada satuan pendidikan jalur formal dan nonformal. mengajar dan melatih peserta didik pada program pendidikan dan pelatihan prajabatan dan/atau dalam jabatan yang diselenggarakan oleh Pemerintah dan/atau pemerintah daerah. h. Tenaga kependidikan mencakup pimpinan satuan pendidikan.f. 93 . pekerja sosial. tenaga perpustakaan. g. pengawas satuan pendidikan formal. widyaiswara bertugas dan bertanggung jawab mendidik. psikolog.doc (2). Kualifikasi akademik dan sertifikat pendidik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) bagi guru dan dosen diatur dalam Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen. penilik satuan pendidikan nonformal. pimpinan satuan pendidikan bertugas dan bertanggung jawab mengelola satuan pendidikan pada pendidikan formal atau nonformal. Tenaga kependidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) mempunyai tugas dan tanggung jawab sebagai berikut: a. fasilitator bertugas dan bertanggung jawab memberikan pelayanan pembelajaran pada lembaga pendidikan dan pelatihan. penilaian. (2). Pasal 148. dan i. (1). pengawas bertugas dan bertanggung jawab melakukan 76461668. dan pembinaan pada satuan pendidikan nonformal. tenaga administrasi. penilik bertugas dan bertanggung jawab melakukan pemantauan. tenaga kebersihan sekolah. Pendidik harus memiliki kualifikasi akademik dan sertifikat pendidik.

h. dan pendidikan menengah.doc 94 . pemantauan. merawat. tenaga kebersihan sekolah bertugas dan bertanggung jawab memberikan layanan kebersihan lingkungan sekolah. tenaga lapangan pendidikan bertugas dan bertanggung jawab melakukan pendataan. satuan pendidikan dasar. tenaga perpustakaan bertugas dan bertanggung jawab melaksanakan pengelolaan perpustakaan pada satuan pendidikan. f. tenaga laboratorium bertugas dan bertanggung jawab membantu pendidik mengelola kegiatan praktikum di laboratorium satuan pendidikan. teknisi sumber belajar bertugas dan bertanggung jawab mempersiapkan. dan l. e. psikolog bertugas dan bertanggung jawab memberikan layanan bantuan psikologis-pedagogis kepada peserta didik dan pendidik pada pendidikan khusus dan pendidikan anak usia dini. g. penilaian. i. tenaga administrasi bertugas dan bertanggung jawab menyelenggarakan pelayanan administratif pada satuan pendidikan.pemantauan. pembimbingan. k. d. dan pembinaan pada satuan pendidikan anak usia dini jalur formal. pekerja sosial bertugas dan bertanggung jawab memberikan layanan bantuan sosiologis-pedagogis kepada peserta didik dan pendidik pada pendidikan khusus dan pendidikan anak usia dini. 76461668. terapis bertugas dan bertanggung jawab memberikan layanan bantuan fisiologis-kinesiologis kepada peserta didik pada pendidikan khusus dan pendidikan anak usia dini. j. memperbaiki sarana dan prasarana pembelajaran pada satuan pendidikan. dan pelaporan pelaksanaan pendidikan nonformal.

Bagian Kedua Pengangkatan. Pemindahan. (3). dan pemberhentian pendidik dan tenaga kependidikan pada satuan pendidikan yang diselenggarakan oleh Pemerintah atau pemerintah daerah dilaksanakan berdasarkan peraturan perundang-undangan. (4). penempatan. Pasal 151 (1). 76461668. Pengangkatan. pemindahan. penempatan. dan pemberhentian pendidik dan tenaga kependidikan oleh Pemerintah dan pemerintah daerah dilaksanakan dalam rangka pemerataan dan/atau penjaminan mutu pendidikan. Pemerintah merencanakan kebutuhan pendidik dan tenaga kependidikan yang memenuhi Standar Nasional Pendidikan pada satuan pendidikan secara nasional. dan Pemberhentian Pasal 150 (1). (3). 95 (2). Pengangkatan. dan pemberhentian pendidik dan tenaga kependidikan pada satuan pendidikan yang diselenggarakan oleh masyarakat dilakukan oleh badan hukum pendidikan berdasarkan perjanjian kerja atau kesepakatan kerja bersama. Pengangkatan. Pemerintah daerah merencanakan kebutuhan pendidik dan tenaga kependidikan yang memenuhi Standar Nasional Pendidikan atas dasar persyaratan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan rencana kebutuhan pendidik dan tenaga kependidikan nasional sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dan kebutuhan pendidik dan tenaga kependidikan daerah masingmasing. pemindahan.doc . Pemerintah dan pemerintah daerah memfasilitasi penyediaan pendidik dan tenaga kependidikan sesuai perencanaan kebutuhan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dan ayat (3) untuk menjamin pelayanan pendidikan yang bermutu. (2). Pemerintah menetapkan persyaratan pendidik dan tenaga kependidikan yang memenuhi Standar Nasional Pendidikan. pemindahan. penempatan. Penempatan.

masa kerja berdasarkan kompetensi yang dimiliki. 76461668. Promosi. pola Pemerintah dan/atau pemerintah daerah wajib melakukan pembinaan karir pendidik dan tenaga kependidikan sesuai dengan pola pembinaan karir sebagaimana dimaksud pada ayat (1). Paragraf 2 Promosi dan Penghargaan Pasal 153 (3). (1). dan Penghargaan Paragraf 1 Pembinaan Karir Pasal 152 (1). (3). (5). dan/atau bentuk promosi lainnya. Promosi bagi pendidik dan tenaga kependidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dilaksanakan sesuai dengan peraturan perundang-undangan. Pembinaan karir tenaga kependidikan dilaksanakan dalam bentuk peningkatan kualifikasi akademik dan/atau kompetensi manajerial dan/atau teknis sebagai tenaga kependidikan dengan mengacu pada Standar Nasional Pendidikan. Badan hukum pendidikan masyarakat wajib melakukan pembinaan karir pendidik dan tenaga kependidikan pada satuan pendidikan yang diselenggarakannya sesuai dengan pola pembinaan karir sebagaimana dimaksud pada ayat (1). Pemerintah mengembangkan dan menetapkan pembinaan karir pendidik dan tenaga kependidikan. Pembinaan karir pendidik dilaksanakan dalam bentuk peningkatan kualifikasi akademik dan/atau kompetensi sebagai agen pembelajaran dengan mengacu pada Standar Nasional Pendidikan. dan/atau penghargaan. (2). Pendidik dan tenaga kependidikan dipromosikan atas dasar prestasi kerja. (2). (4).doc 96 . Promosi bagi pendidik dan tenaga kependidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diberikan dalam bentuk kenaikan pangkat/golongan. kenaikan jabatan.Bagian Ketiga Pembinaan Karir.

pada tingkat provinsi oleh Pemerintah Provinsi.(4). c. Promosi bagi pendidik dan tenaga kependidikan yang berkedudukan sebagai pegawai lembaga pendidikan yang dikelola oleh masyarakat dan berstatus bukan pegawai negeri sipil dilaksanakan sesuai dengan ketentuan peraturan yang ditetapkan oleh badan hukum pendidikan yang bersangkutan. pada tingkat nasional oleh Pemerintah. Pasal 155 (1) Pemerintah dan pemerintah daerah memberikan penghargaan kepada pendidik dan/atau tenaga kependidikan teladan yang bertugas di daerah terpencil. dan e. (4) Pemerintah memberikan penghargaan kepada pendidik yang hasil penelitiannya memberikan kontribusi terhadap perluasan dan pendalaman kandungan atau penerapan ilmu. daerah tertinggal atau daerah bermasalah lainnya. pada tingkat Kabupaten/Kota. (2) Penghargaan kepada pendidik dan tenaga kependidikan dapat diberikan oleh masyarakat dan organisasi profesi pada tingkat internasional. pada tingkat desa oleh pemerintah desa. (5) Pendidik atau tenaga kependidikan yang gugur dalam melaksanakan tugas memperoleh penghargaan dari Pemerintah dan/atau pemerintah daerah dan/atau penyelenggara satuan 76461668. kabupaten/kota oleh Pemerintah d. (3) Pemerintah memberikan penghargaan kepada pendidik yang berhasil menulis buku teks bahan belajar dan/atau menemukan teknologi pembelajaran baru yang dinilai bermutu tinggi. propinsi. (2) Pemerintah dan pemerintah daerah memberikan penghargaan kepada pendidik dan/atau tenaga kependidikan yang dinilai berprestasi dan berdedikasi luar biasa. b. atau seni.doc 97 . Pasal 154 (1) Penghargaan diberikan: kepada pendidik dan tenaga kependidikan a. daerah bencana. daerah perbatasan. kabupaten/kota. pada tingkat satuan pendidikan oleh satuan pendidikan. dan/atau tingkat satuan pendidikan. dengan memperhatikan peraturan perundang-undangan. nasional. daerah konflik. teknologi.

ayat (3). dilarang menjual buku pelajaran.doc (2). dan ayat (4) diberikan pada Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia. piagam. kenaikan pangkat bagi yang menemukan penemuan baru yang bermanfaat bagi negara. dilarang melakukan pungutan kepada peserta didik baik secara langsung maupun tidak langsung yang bertentangan 76461668. Masyarakat dapat memberi penghargaan kepada pendidik dan/atau tenaga kependidikan yang dinilai berprestasi. (2) Pendidik dan tenaga kependidikan.pendidikan sesuai peraturan perundang-undangan. ayat (3). dan b. Hari Guru Nasional. dan berjasa luar biasa dalam pendidikan. Pendidik dan/atau tenaga kependidikan dapat menerima penghargaan dari pihak asing sepanjang tidak bertentangan dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. baik perseorangan maupun kolektif. baik perseorangan maupun kolektif. berdedikasi. (3) Pendidik dan tenaga kependidikan. pakaian seragam atau bahan pakaian seragam di satuan pendidikan. atau hari besar lainnya. harganya lebih murah dari harga di pasaran. (6) Penghargaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1). ayat (2). kenaikan pangkat berdasarkan prestasi kerja luar biasa baiknya. atau bentuk penghargaan lainnya yang dilaksanakan sesuai dengan peraturan perundang-undangan. (7) Penghargaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1). kenaikan pangkat setingkat lebih tinggi. dan berjasa luar biasa dalam pendidikan. Bagian Keempat Larangan Pasal 157 (1) Pendidik dan tenaga kependidikan. ayat (4). 98 . berdedikasi. Pasal 156 (1). dan ayat (5) dapat diberikan dalam bentuk tanda jasa. (3). ayat (2). kecuali melalui koperasi satuan pendidikan yang: a. baik perseorangan maupun kolektif dilarang memberikan bimbingan belajar atau les kepada peserta didiknya dengan memungut biaya. Hari Pendidikan Nasional. Pemerintah atau pemerintah daerah memberi penghargaan kepada pendidik dan/atau tenaga kependidikan yang dinilai berprestasi. tidak mewajibkan peserta didik untuk membelinya.

(5) Pendidik dan tenaga kependidikan. sosial. dan ekologis. BAB XII PENDIRIAN SATUAN PENDIDIKAN Pasal 158 (1)Syarat-syarat untuk memperoleh izin pendirian satuan pendidikan meliputi: a. sarana dan prasarana yang memungkinkan terselenggaranya kegiatan pembelajaran. dilarang melakukan segala sesuatu baik secara langsung maupun tidak langsung yang menciderai integritas evaluasi hasil belajar peserta didik.doc 99 . geografis. baik perseorangan maupun kolektif.sumber pembiayaan untuk kelangsungan program pendidikan sekurang-kurangnya untuk 1 (satu) tahun akademik berikutnya. hasil studi kelayakan tentang prospek pendirian satuan pendidikan dari segi tata ruang. perimbangan antara jumlah satuan pendidikan dengan penduduk usia satuan pendidikan di wilayah tersebut. dilarang menjadi tim sukses salah satu kontestan pemilihan umum pemilihan kepala daerah dan/atau pemilihan kepala desa. manajemen dan proses pendidikan. dan e. (4) Pendidik dan tenaga kependidikan. baik perseorangan maupun kolektif. b. dan budaya. b. isi pendidikan/kurikulum. d. (2) Syarat-syarat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berpedoman pada Standar Nasional Pendidikan. c. keuangan. 76461668. jumlah dan kualifikasi pendidik dan tenaga kependidikan. hasil studi kelayakan tentang prospek pendirian satuan pendidikan dari segi prospek pendaftar. c.dengan peraturan perundang-undangan. (3) Syarat manajemen dan proses pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf e mencakup: a.

pendirian satuan pendidikan khusus bagi peserta didik berkelainan harus menyediakan sarana dan prasarana pendidikan khusus yang memungkinkan terselenggaranya kegiatan pembelajaran bagi peserta didik berkelainan. menyebarluaskan. dan ujian secara elektronik. c. 76461668. tutorial.d. sumberdaya manusia untuk merancang. dan e. akses khusus pada jaringan informasi dan komunikasi untuk melaksanakan layanan bahan ajar.doc 100 . kapasitas daya tampung dan lingkup jangkauan satuan pendidikan yang ada. harus memenuhi persyaratan: a. memproduksi. pendirian perguruan tinggi yang diselenggarakan oleh departemen lain atau lembaga pemerintah nondepartemen. pendirian satuan pendidikan jarak jauh harus memiliki: a. dukungan sistem operasional pendidikan jarak jauh serta jaringan kerja sama dengan pihak terkait. Pasal 159 Selain memenuhi persyaratan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 158. Pasal 160 (1) Selain memenuhi persyaratan pendirian satuan pendidikan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 158. menyusun. dan melaksanakan pendidikan jarak jauh. dan b. Pasal 161 (1). undang-undang sektor terkait yang menyatakan perlu adanya pendidikan sebagaimana dimaksud dalam huruf a. (2) Ketentuan lebih lanjut mengenai persyaratan dan program studi pada perguruan tinggi yang diselenggarakan oleh departemen lain atau lembaga pemerintah nondepartemen sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dengan Peraturan Menteri. pustaka. b. jarak satuan pendidikan yang diusulkan di tengah klaster satuan pendidikan sejenis. Selain memenuhi persyaratan pendirian satuan pendidikan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 158. program-program studi yang diselenggarakan secara khas terkait dengan tugas dan fungsi departemen atau lembaga pemerintah nondepartemen yang bersangkutan.

Pasal 162 (1) Pendirian TK. atau bentuk lain yang sederajat. e. jenjang.doc 101 . MAK. dan satuan pendidikan nonformal wajib memperoleh izin dari Pemerintah Kabupaten/Kota. (2) Izin pendirian RA. (3)Pendirian satuan pendidikan Indonesia di luar negeri diatur oleh Menteri. SD. atau satuan pendidikan lain yang berada dalam pembinaan departemen yang menangani urusan pemerintahan di bidang agama dikeluarkan oleh Pemerintah Kabupaten/Kota setelah mendapat rekomendasi persetujuan dari kantor departemen agama kabupaten/kota. (2). MI. MA. Ketentuan lebih lanjut mengenai persyaratan pendirian satuan pendidikan jarak jauh sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dengan Peraturan Menteri. satuan pendidikan khusus. akses ke sarana dan prasarana untuk kegiatan tutorial. SMA.d. dan jenis pendidikan wajib memperoleh izin dari Menteri. BAB XIII PENDIDIKAN LINTAS SATUAN DAN JALUR PENDIDIKAN Pasal 164 76461668. (3)Ketentuan lebih lanjut tentang pendirian satuan pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan (2) diatur dengan Peraturan Menteri. dan f. oleh lembaga asing wajib (2) Pendirian satuan pendidikan nonformal yang diselenggarakan oleh lembaga asing hanya diberikan di ibukota provinsi. RA. MAK sebagaimana dimaksud pada ayat (1). proyeksi ketersediaan calon peserta didik untuk setiap program studi. MTs. MTs. SMP. SMK. (4) Pendirian perguruan tinggi dan/atau program pendidikan jarak jauh pada semua jalur. Pasal 163 (1) Pendirian satuan pendidikan memperoleh izin dari Menteri. unsur penunjang untuk melaksanakan proses manajerial pendidikan jarak jauh. atau bentuk lain yang sederajat. MA. atau bentuk lain yang sederajat. MI.

Peserta didik nonformal dan informal dapat: a. 102 76461668. SD/MI. pindah satuan atau program pendidikan. b. SMPLB. Ketentuan lebih lanjut tentang pindah satuan atau program pendidikan atau pengambilan program atau mata pelajaran sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) diatur dengan peraturama Menteri. pindah ke satuan atau program pendidikan. SMALB. SMK/MAK. Satuan pendidikan umum yang menerima peserta didik dari satuan pendidikan khusus bagi peserta didik berkelainan Pemerintah dan pemerintah daerah harus menyediakan guru pembimbing khusus serta sarana dan prasarana pendidikan khusus yang memungkinkan terselenggaranya kegiatan pembelajaran bagi peserta didik berkelainan. atau mengambil program atau mata pelajaran pada jenis dan/atau jalur pendidikan yang sama atau berbeda sesuai dengan persyaratan akademik satuan pendidikan penerima. SMP/MTs. atau bentuk lain yang sederajat dapat: a.Peserta didik dapat belajar atau mengambil program-program pendidikan pada jenis dan jalur pendidikan yang berbeda secara terpadu dan berkelanjutan melalui pembelajaran tatap muka atau jarak jauh dengan fleksibilitas pilihan dan waktu penyelesaian program lintas satuan dan jalur pendidikan. (4) (5) Pasal 166 (1) Peserta didik suatu program studi pada perguruan tinggi tertentu dapat mengambil mata kuliah pada program studi yang sama atau berbeda pada perguruan tinggi yang sama atau perguruan tinggi lain yang terakreditasi. (2) (3) Perpindahan satuan atau program pendidikan atau pengambilan program atau mata pelajaran sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat dilakukan melalui tes penempatan yang diselenggarakan oleh satuan pendidikan yang dituju. Pasal 165 (1) Peserta didik TK/RA. TKLB.doc . b. SMA/MA. SDLB. atau mengambil program atau mata pelajaran pada jenis dan/atau jalur pendidikan yang sama atau berbeda sesuai dengan persyaratan akademik satuan pendidikan penerima.

pengusaha. Satuan kredit semester (sks) yang diperoleh peserta didik atau lulusan program studi tertentu dapat ditransfer untuk memenuhi persyaratan beban sks program studi lain.doc . pelaksana. Ketentuan lebih lanjut mengenai ayat (1). dan ayat (4) diatur oleh masing-masing perguruan tinggi. dan pengguna hasil pendidikan. Peranserta masyarakat dalam penyelenggaraan 103 (2) (3) 76461668. (3) (4) (5) BAB XIV PERANSERTA MASYARAKAT Bagian Kesatu Fungsi Pasal 167 Peranserta masyarakat dalam pendidikan berfungsi meningkatkan kualitas penyelenggaraan pendidikan dan pengendalian mutu pelayanan pendidikan dalam rangka mencapai tujuan pendidikan nasional. Kompetensi yang diperoleh peserta didik dari suatu satuan atau program pendidikan nonformal terakreditasi dapat diperhitungkan untuk memenuhi sks program studi yang diambil. keluarga. ayat (2). ayat (3). Peranserta masyarakat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat berupa sumber. organisasi profesi.(2) Peserta didik suatu program studi pada perguruan tinggi tertentu dapat pindah program studi yang sama atau berbeda pada perguruan tinggi yang sama atau perguruan tinggi lain yang terakreditasi sesuai persyaratan akademik program studi penerima. dan organisasi kemasyarakatan dalam penyelenggaraan dan pengendalian mutu pelayanan pendidikan. kelompok. Bagian Kedua Komponen Peranserta Masyarakat Pasal 168 (1) Peranserta masyarakat dalam pendidikan meliputi peranserta perseorangan.

dan narasumber dalam penyelenggaraan pendidikan formal maupun nonformal secara terus menerus maupun sesekali waktu. pengawasan. dan evaluasi program pendidikan yang dilaksanakan melalui: a. majelis wali amanah pada jalur pendidikan formal jenjang pendidikan tinggi. dana. pemberian beasiswa kepada peserta didik. Peranserta pengusaha sebagai sumber pendidikan dapat berupa penyediaan fasilitas sarana dan prasarana pendidikan. sarana dan prasarana dalam penyelenggaraan pendidikan dan pengendalian mutu pelayanan pendidikan kepada satuan pendidikan baik formal maupun nonformal. dewan pendidikan tingkat nasional untuk semua jalur. (1) Peranserta perseorangan. Peranserta organisasi profesi sebagai sumber pendidikan dapat berupa penyediaan tenaga ahli dalam bidangnya dan narasumber dalam penyelenggaraan pendidikan formal maupun nonformal.pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat penyelenggaraan pendidikan berbasis masyarakat. sumbangan dana. dan jenis pendidikan. Peranserta organisasi kemasyarakatan sebagai sumber pendidikan dapat berupa pemberian beasiswa kepada peserta didik. b. dan narasumber dalam penyelenggaraan pendidikan formal maupun nonformal. jenjang. kelompok. (2) (3) (4) Pasal 170 76461668.doc 104 . dan keluarga sebagai sumber pendidikan dapat berupa kontribusi pendidik dan tenaga kependidikan. dan dewan pendidikan tingkat provinsi dan kabupaten/kota dan komite pendidikan nonformal pada jalur pendidikan nonformal. d. (4) (1) berupa Peranserta masyarakat dalam pengendalian mutu pelayanan pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) mencakup partisipasi dalam perencanaan. Pasal 169 c. dewan pendidikan tingkat provinsi dan kabupaten/kota dan komite sekolah/madrasah atau nama lain yang sejenis pada jalur pendidikan formal jenjang pendidikan dasar dan menengah serta pada pendidikan anak usia dini.

pengawasan.doc (2) 105 . pemanfaatan hasil penelitian dan pengembangan dari satuan pendidikan tinggi. kelompok. dan pendanaan satuan pendidikan formal dan nonformal dengan kekhasan agama.(1) Peranserta perseorangan. atau keluarga sebagai pelaksana pendidikan dapat berupa partisipasi dalam pengelolaan pendidikan. Peranserta organisasi profesi sebagai pelaksana pendidikan dapat berupa pembentukan lembaga evaluasi dan/atau lembaga akreditasi mandiri. Masyarakat berhak menyelenggarakan pendidikan formal dan nonformal sesuai dengan kekhasan agama. lingkungan sosialekonomi. dan budaya untuk kepentingan masyarakat. pendidikan sistem ganda. dan budaya dikembangkan oleh satuan pendidikan 76461668. evaluasi. Pengusaha atau perusahaan dapat menyelenggarakan program riset dan pengembangannya bekerja sama dengan perguruan tinggi di perusahaannya atau di perguruan tinggi yang bersangkutan. Pasal 171 (2) (3) (4) (1) Peranserta pengusaha sebagai pengguna hasil pendidikan dapat berupa kerja sama pengusaha dengan satuan pendidikan dalam penyediaan lapangan kerja bagi para lulusan. Pasal 173 Kurikulum. lingkungan sosioekonomi. dan pembinaan satuan pendidikan. dan kerja sama pengembangan jaringan informasi kebutuhan dunia usaha dan dunia industri. (2) Bagian Ketiga Pendidikan Berbasis Masyarakat Pasal 172 (1) Pendidikan berbasis masyarakat dilaksanakan pada satuan pendidikan formal dan nonformal yang diselenggarakan oleh masyarakat pada semua jenjang dan jenis pendidikan. dan/atau kerja sama produksi dengan satuan pendidikan sebagai institusi pasangan. manajemen. Peranserta pengusaha sebagai pelaksana pendidikan dapat berupa pelaksanaan sistem magang. pengelolaan. Peranserta organisasi kemasyarakatan sebagai pelaksana pendidikan dapat berupa penyelenggaraan.

(2) (3) Bagian Keempat Dewan Pendidikan Pasal 175 (1) Dewan Pendidikan Nasional berperan dalam peningkatan mutu pelayanan pendidikan dengan memberikan pertimbangan dan arahan. penyelenggaraan. dukungan tenaga. dalam proses perencanaan. subsidi dana. sarana dan prasarana serta pengawasan kepada bupati/walikota. dalam proses perencanaan. Dewan Pendidikan Provinsi berperan dalam peningkatan mutu pelayanan pendidikan dengan memberikan pertimbangan dan arahan. Dewan Pendidikan Kabupaten/kota berperan dalam peningkatan mutu pelayanan pendidikan dengan memberikan pertimbangan dan arahan. penyelenggaraan. sarana dan prasarana serta pengawasan kepada Menteri. dukungan tenaga. dan sumberdaya lainnya sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dengan Peraturan Menteri. subsidi dana. dan evaluasi hasil pendidikan di tingkat kabupaten/kota. dan evaluasi hasil pendidikan di tingkat nasional. dukungan tenaga. dan/atau bantuan asing. dalam proses perencanaan.doc (2) (3) 106 . dan sumberdaya lain secara adil dan merata dari Pemerintah. subsidi dana. Pasal 176 76461668. Pasal 174 (1) Lembaga pendidikan berbasis masyarakat pada jalur pendidikan formal dan nonformal dapat memperoleh bantuan teknis.sesuai dengan kekhasan masing-masing dengan mengacu pada Standar Nasional Pendidikan. dan evaluasi hasil pendidikan di tingkat provinsi. penyelenggaraan. Bantuan teknis. Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara bantuan teknis. sarana dan prasarana serta pengawasan kepada gubernur. dan sumberdaya lainnya secara adil dan merata sebagaimana dimaksud pada ayat (1) adalah perlakuan yang sama dari Pemerintah dan/atau pemerintah daerah pada satuan-satuan pendidikan dan daerahdaerah yang membutuhkan bantuan tersebut sesuai kemampuan Pemerintah dan pemerintah daerah .

b. dan Dewan Pendidikan Kabupaten/kota memiliki hubungan koordinasi satu sama lain dalam penyelenggaraan pendidikan nasional. pengusaha. 76461668. Masa jabatan keanggotaan dewan pendidikan adalah 5 (lima) tahun dan dapat dipilih kembali 1 (satu) kali masa jabatan. c. kepala satuan pendidikan. Dewan Pendidikan Nasional. dan Dewan Pendidikan Kabupaten/kota. Dewan pendidikan dapat mengadakan koordinasi dan kerja sama dengan Majelis Wali Amanah. Dewan Pendidikan Provinsi. atau 107 . meninggal dunia. Dewan Pendidikan Provinsi. dan kabupaten/kota. Anggota dewan pendidikan diberhentikan sewaktu-waktu apabila: a. Pasal 177 (2) (1) (2) Dewan pendidikan dibentuk provinsi. kritik dan menyalurkan aspirasi dan prakarsa masyarakat dalam upaya meningkatkan mutu pelayanan pendidikan. Dewan pendidikan tidak mempunyai hubungan hirarkhis baik antara Dewan Pendidikan Nasional. pada tingkat nasional. (3) (4) Pasal 178 (1) Keanggotaan dewan pendidikan berasal dari pakar pendidikan. dan/atau pihak-pihak yang dibutuhkan dalam rangka mengupayakan peningkatan mutu layanan pendidikan. komite sekolah/madrasah atau nama lain yang sejenis. mengundurkan diri. praktisi pendidikan. maupun dengan lembaga pemerintahan. saran. organisasi profesi dan organisasi sosial kemasyarakatan yang peduli pendidikan. tokoh masyarakat.(1) Dewan pendidikan harus peka dalam memperhatikan keluhan.doc (2) (3) melakukan perbuatan pidana kejahatan. Dewan pendidikan menyelenggarakan pertemuan dengan masyarakat dalam rangka memperhatikan aspirasi masyarakat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) sekurang-kurangnya 2 (dua) kali dalam setahun.

jenjang. dan 2 (dua) wakil Departemen Pendidikan Nasional (eksekutif). Dalam melaksanakan tugasnya. gubernur untuk tingkat provinsi. tidak dapat melaksanakan tugas karena berhalangan tetap. dan jenis pendidikan.doc 108 . Pasal 180 (2) (3) (4) (5) (6) (1) Pemilihan anggota dewan pendidikan diselenggarakan oleh panitia yang dibentuk oleh Menteri untuk tingkat nasional. Dewan Pendidikan Provinsi ditetapkan oleh gubernur. dan bupati/walikota untuk tingkat kabupaten/kota. 5 (lima) orang untuk tingkat provinsi dan kabupaten/kota dengan komposisi 2 (dua) pakar/tokoh pendidikan. Anggota Dewan Pendidikan Nasional berjumlah paling banyak 23 (dua puluh tiga) orang. dan Ketua dan sekretaris panitia pemilihan dipilih dari dan oleh para anggota. dan Dewan Pendidikan Kabupaten/kota berjumlah paling banyak 13 (tiga belas) orang. c. sekretaris. Pembentukan komisi-komisi pendidikan sesuai dengan jalur. 7 (tujuh) orang untuk tingkat nasional dengan komposisi 3 (tiga) pakar/tokoh pendidikan. 2 (dua) tokoh masyarakat. Panitia pemilihan anggota dewan pendidikan bekerja secara independen yang terdiri atas: a. 2 (dua) tokoh masyarakat. bendahara.d. Anggota dewan pendidikan harus berjumlah gasal. dan Dewan Pendidikan Kabupaten/kota ditetapkan oleh bupati/walikota. dewan pendidikan membentuk sekretariat dan dapat mengikutsertakan tenaga ahli untuk membantu kegiatan komisi-komisi pendidikan. 76461668. (2) b. Pasal 179 (1) Organisasi dan kepengurusan Dewan Pendidikan Nasional ditetapkan oleh Menteri. dan ketua-ketua komisi. Dewan Pendidikan Provinsi berjumlah paling banyak 17 (tujuh belas) orang. dan 1 (satu) wakil Dinas Pendidikan (eksekutif). Susunan kepengurusan dewan pendidikan paling sedikit terdiri atas ketua dewan.

gubernur memilih dan menetapkan anggota Dewan Pendidikan Provinsi atas dasar hasil pemilihan calon anggota Dewan Pendidikan Provinsi sebagaimana dimaksud pada ayat (3). panitia pemilihan dewan pendidikan mengusulkan daftar calon anggota dewan pendidikan kepada pejabat yang berwenang. sekurang-kurangnya 2 (dua) kali jumlah anggota dewan pendidikan. evaluasi program pendidikan. Menteri memilih dan menetapkan anggota Dewan Pendidikan Nasional atas dasar hasil pemilihan calon anggota Dewan Pendidikan Nasional sebagaimana dimaksud pada ayat (3). Pasal 182 (1) Pendanaan dewan pendidikan nasional dapat berasal dari APBN atau sumber lain yang tidak mengikat. dukungan tenaga. Setelah terbentuk kepengurusan.doc 109 . panitia pemilihan Dewan Pendidikan Provinsi melaporkan hasil pemilihan calon anggota Dewan Pendidikan Provinsi kepada gubernur. dewan pendidikan wajib menyusun program kerja yang memuat antara lain tentang perencanaan. Atas dasar daftar nama calon anggota dewan pendidikan yang diidentifikasikannya dan yang merupakan masukan masyarakat.Pasal 181 (1) Panitia pemilihan dewan pendidikan menerima masukan dari masyarakat tentang calon anggota dewan pendidikan sekurang-kurangnya 30 (tiga puluh) hari dan selama-lamanya 60 (enam puluh) hari. Prosedur pemilihan anggota dan kepengurusan dewan pendidikan diinformasikan secara luas kepada masyarakat oleh panitia. dan panitia pemilihan Dewan Pendidikan Kabupaten/kota menyampaikan hasil pemilihan calon anggota Dewan Pendidikan Kabupaten/kota kepada bupati/walikota. Panitia pemilihan Dewan Pendidikan Nasional melaporkan hasil pemilihan calon anggota Dewan Pendidikan Nasional kepada Menteri. (2) (3) (4) (5) (6) (7) 76461668. sarana dan prasarana. Kepengurusan dewan pendidikan dipilih oleh dan dari anggota dewan pendidikan masing-masing. bupati/walikota memilih dan menetapkan anggota Dewan Pendidikan Kabupaten/kota atas dasar hasil pemilihan calon anggota Dewan Pendidikan Kabupaten/kota sebagaimana dimaksud pada ayat (3). serta pengawasan pendidikan. pertimbangan dan arahan.

(2)

Pendanaan dewan pendidikan provinsi dan dewan pendidikan kabupaten/kota dapat berasal dari APBD atau sumber lain yang tidak mengikat. Pasal 183

(1) (2)

Dewan pendidikan bertanggung jawab kepada publik. Mekanisme pertanggungjawaban dewan pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan melalui media komunikasi yang diterbitkan, brosur yang dicetak, atau media lain, dan disebarkan kepada masyarakat. Kegagalan dewan pendidikan dalam pertanggungjawaban publik sebagaimana diatur pada ayat (1) dan ayat (2) dapat berakibat pemberhentian ketua dan/atau anggota dewan pendidikan oleh pejabat yang menetapkannya. Bagian Kelima Komite Sekolah/Madrasah Paragraf 1 Fungsi dan Sifat Pasal 184

(3)

(1) (2)

Komite sekolah/madrasah atau nama lain yang sejenis merupakan mitra satuan pendidikan yang bekerja secara mandiri. Fungsi komite sekolah/madrasah adalah: a. b. c. d. e. memberikan pertimbangan kepada satuan pendidikan dalam pengelolaan pendidikan; memberikan dukungan sumberdaya pendidikan kepada satuan pendidikan; mengawasi penyelenggaraan pendidikan pada satuan pendidikan; menjadi mediator yang melibatkan pendidik dan tenaga kependidikan; dan menjadi mediator hubungan satuan pendidikan dengan berbagai kelompok kepentingan di masyarakat dalam rangka peningkatan mutu pelayanan pendidikan.

(3)

Komite sekolah/madrasah atau nama lain yang sejenis tidak mempunyai hubungan hirarkhis dengan dewan pendidikan
110

76461668.doc

maupun dengan lembaga pemerintahan. (4) Komite sekolah/madrasah dapat mengadakan koordinasi dan kerja sama dengan dewan pendidikan, kepala satuan pendidikan atau pihak-pihak yang dibutuhkan dalam rangka mengupayakan peningkatan mutu layanan pendidikan. Komite sekolah/madrasah atau nama lain yang sejenis menyampaikan laporan akhir masa jabatan kepada orang tua/wali peserta didik, kepala satuan pendidikan, dan/atau pihakpihak yang terkait. Komite sekolah/madrasah atau nama lain yang sejenis dibentuk di satuan pendidikan atau gabungan satuan pendidikan formal atau pada pendidikan nonformal pada jenjang pendidikan dasar dan menengah. Bagi satuan pendidikan yang memiliki peserta didik kurang dari 200 (dua ratus) maka komite sekolah/madrasahnya dapat bergabung dengan komite sekolah/madrasah dari satuan pendidikan lain. Pasal 185 (1) Komite sekolah/madrasah atau nama lain yang sejenis harus peka dalam memperhatikan keluhan, saran dan kritik, serta menyalurkan aspirasi dan prakarsa masyarakat dalam upaya peningkatan mutu layanan pendidikan. Komite sekolah/madrasah atau nama lain yang sejenis menyelenggarakan pertemuan dengan masyarakat dalam rangka memperhatikan aspirasi masyarakat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) sekurang-kurangnya 2 (dua) kali dalam setahun. Komite sekolah/madrasah atau nama lain yang sejenis berperan memberikan pertimbangan dan arahan, dukungan tenaga, sarana dan prasarana kepada penyelenggara satuan pendidikan, kepala satuan pendidikan, atau pihak-pihak yang relevan dalam proses perencanaan, penyelenggaraan, evaluasi hasil pendidikan, dan pengawasan pendidikan di tingkat sekolah. Komite sekolah/madrasah atau nama lain yang sejenis sebagai perwakilan masyarakat menilai pertanggungjawaban kepala satuan pendidikan. Untuk keperluan pertanggungjawaban sebagaiamana dimaksud pada ayat (4) di bidang keuangan, komite sekolah/madrasah atau nama lain yang sejenis dapat menunjuk akuntan publik.

(5)

(6)

(7)

(2)

(3)

(4)

(5)

76461668.doc

111

(6)

Tata cara peranserta komite sekolah/madrasah atau nama lain yang sejenis dalam evaluasi dan pengawasan diatur lebih lanjut dengan Peraturan Menteri. Komite sekolah/madrasah atau nama lain yang sejenis bersama Pemerintah atau dewan pendidikan dapat menyebarluaskan hasil pengawasan secara terbuka sebagai bentuk akuntabilitas publik.

(7)

Paragraf 2 Keanggotaan Pasal 186

(1)

Komite sekolah/madrasah sekurang-kurangnya terdiri atas anggota masyarakat yang mewakili orang tua/wali peserta didik, tokoh masyarakat, praktisi pendidikan, dan pendidik, yang memiliki wawasan, kepedulian dan komitmen terhadap peningkatan mutu pendidikan. Masa bakti anggota komite sekolah/madrasah adalah 4 (empat) tahun. Keanggotaan komite sekolah/madrasah maksimal 2 (dua) masa bakti. Anggota komite sekolah/madrasah atau nama lain yang sejenis tidak boleh merangkap sebagai pejabat kepala satuan pendidikan, pejabat struktural dalam pemerintahan, atau fungsionaris partai politik. Anggota komite sekolah/madrasah atau nama lain yang sejenis dapat diberhentikan sewaktu-waktu karena: a. melakukan perbuatan pidana kejahatan; dan b. melanggar ketentuan anggaran dasar.

(2) (3) (4)

(5)

(6)

Pemberhentian sebagaimana dimaksud pada ayat (5) diatur dalam anggaran dasar komite sekolah/madrasah. Paragraf 3 Persyaratan Anggota Pasal 187

76461668.doc

112

(1)

Persyaratan untuk menjadi anggota komite sekolah/madrasah atau nama lain yang sejenis adalah anggota masyarakat yang mempunyai pengalaman, komitmen, dan tanggung jawab dalam meningkatkan pemerataan, mutu, relevansi, dan efisiensi pada penyelenggaraan pendidikan di tingkat satuan pendidikan. Anggota komite sekolah/madrasah atau nama lain yang sejenis berasal dari perseorangan atau perwakilan organisasi. Paragraf 4 Struktur Organisasi dan Kepengurusan Pasal 188

(2)

(1)

Organisasi dan kepengurusan komite sekolah/madrasah atau nama lain yang sejenis pada jenjang pendidikan dasar dan pendidikan menengah ditetapkan oleh bupati/walikota. Organisasi dan kepengurusan komite sekolah/madrasah atau nama lain yang sejenis pada jenjang dasar dan pendidikan menengah yang dikembangkan oleh Pemerintah Provinsi menjadi bertaraf internasional ditetapkan oleh gubernur. Susunan kepengurusan komite sekolah/madrasah atau nama lain yang sejenis sekurang-kurangnya terdiri atas ketua, sekretaris, bendahara, dan anggota. Jumlah anggota komite sekolah/madrasah atau nama lain yang sejenis harus gasal, disesuaikan dengan kebutuhan, dan jumlahnya sebanyak-banyaknya 9 (sembilan) orang. Masa jabatan kepengurusan komite sekolah/madrasah atau nama lain yang sejenis adalah 4 (empat) tahun dan dapat dipilih kembali maksimal 2 (dua) kali secara berturut-turut. Masa kepengurusan komite sekolah/madrasah atau nama lain yang sejenis sebagaimana dimaksud pada ayat (4) dapat berakhir sebelum 4 (empat) tahun dan dapat diangkat pengurus pengganti. Paragraf 5 Mekanisme Pemilihan Pasal 189

(2)

(3)

(4)

(5)

(6)

(1)

Pemilihan anggota komite sekolah/madrasah diselenggarakan oleh panitia yang dibentuk oleh kepala satuan pendidikan dan orang tua/wali peserta didik.

76461668.doc

113

Proses pemilihan dari awal sampai terbentuknya anggota komite sekolah/madrasah atau nama lain yang sejenis diinformasikan kepada masyarakat oleh panitia. (3) (4) (5) Paragraf 6 Pendanaan Pasal 190 (1) Pendanaan operasional komite sekolah/madrasah atau nama lain yang sejenis dapat berasal dari anggaran pendapatan dan belanja sekolah/madarasah dan sumber lain yang tidak mengikat. Kegagalan komite sekolah/madrasah dalam pertanggungjawaban publik sebagaimana diatur pada ayat (1) dan ayat (2) dapat berakibat pemberhentian ketua dan/atau anggota komite sekolah/madrasah oleh pejabat yang menetapkannya. 114 (3) 76461668. Pemilihan kepengurusan komite sekolah/madrasah dipilih dari dan oleh anggota komite sekolah/madrasah atau nama lain yang sejenis masing-masing. Panitia menyampaikan nama anggota dan susunan kepengurusan komite sekolah/madrasah atau nama lain yang sejenis hasil pemilihan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dan ayat (3) kepada kepala sekolah untuk ditetapkan. atau media lain.doc . 2 (dua) unsur orangtua/wali peserta didik (masyarakat). dan diketuai oleh unsur masyarakat. brosur yang dicetak. dan dilaporkan kepada kantor dinas yang menangani urusan pemerintahan di bidang pendidikan sesuai kewenangannya. dan disebarkan kepada masyarakat. Pengurus komite sekolah/madrasah atau nama lain yang sejenis bersama masyarakat mengusahakan pencarian sumber dana bagi komite sekolah/madrasah atau nama lain yang sejenis.(2) Panitia pemilihan anggota komite sekolah/madrasah atau nama lain yang sejenis bekerja secara independen yang terdiri atas 5 (lima) orang yaitu 2 (dua) unsur pendidik (guru). dan 1 (satu) unsur . Mekanisme pertanggungjawaban komite sekolah/madrasah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan melalui media komunikasi yang diterbitkan. (2) Pasal 191 (1) (2) Komite sekolah/madrasah bertanggung jawab kepada publik.

dilarang melakukan pungutan kepada peserta didik baik secara langsung maupun tidak langsung yang bertentangan dengan peraturan perundang-undangan.Bagian Keenam Larangan Pasal 192 (1) Dewan pendidikan dan/atau komite sekolah/madrasah atau nama lain yang sejenis. baik perseorangan maupun kolektif. dilarang melakukan segala sesuatu baik secara langsung maupun tidak langsung yang menciderai integritas evaluasi hasil belajar. Dewan pendidikan dan/atau komite sekolah/madrasah atau nama lain yang sejenis.doc . BAB XV PENGAWASAN Pasal 193 (2) (3) (4) (5) (1) Pengawasan penyelenggaraan dan pegelolaan pendidikan mencakup pengawasan administratif dan teknis edukatif. dilarang mengintervensi seleksi calon peserta didik dan proses pembelajaran. baik secara perseorangan maupun kolektif dilarang memberikan bimbingan belajar atau les kepada peserta didik baik secara langsung maupun tidak dengan memungut biaya. Dewan pendidikan dan/atau komite sekolah/madrasah atau nama lain yang sejenis. Pemerintah Provinsi melakukan pengawasan 115 (2) (3) 76461668. baik perseorangan maupun kolektif. baik perseorangan maupun kolektif. Dewan pendidikan dan/atau komite sekolah/madrasah atau nama lain yang sejenis. dan jenis pendidikan. dilarang menjual buku pelajaran. jenjang. baik perseorangan maupun kolektif. Dewan pendidikan dan/atau komite sekolah/madrasah atau nama lain yang sejenis. pakaian seragam atau bahan pakaian seragam di satuan pendidikan baik secara langsung maupun tidak langsung. Pemerintah melakukan pengawasan secara nasional terhadap penyelenggaraan dan pegelolaan pendidikan pada semua jalur. serta tidak membebani atau mengambil keuntungan dari satuan pendidikan.

Pemerintah Provinsi. dan jenis pendidikan sesuai dengan kewenangannya. maka Pemerintah menindaklanjuti hasil pengawasan tersebut. (3) Dalam hal hasil pengawasan yang dilakukan oleh Pemerintah Provinsi dan/atau Pemerintah Kabupaten/Kota. oleh Pemerintah Provinsi dipandang kredibel. (5) Dalam hal hasil pengawasan yang dilakukan oleh Pemerintah Kabupaten/Kota. (4) Pemerintah Kabupaten/Kota pengawasan terhadap penyelenggaraan dan pendidikan anak usia dini. Pasal 195 (1) Dewan pendidikan melakukan pengawasan terhadap pelaksanaan penyelenggaraan dan pegelolaan pendidikan pada semua satuan pendidikan. (7) Pemerintah. (6) Dalam hal hasil pengawasan yang dilakukan oleh Pemerintah Kabupaten/Kota. maka Pemerintah melakukan pengawasan ulang.doc 116 . jalur. oleh Pemerintah diduga meragukan. jenjang. maka Pemerintah melakukan pengawasan ulang. (4) Pemerintah provinisi menjalankan tugas pengawasan atas dasar hasil pengawasan yang dilakukan oleh Pemerintah Kabupaten/Kota. oleh Pemerintah dipandang kredibel. serta pendidikan lintas kabupaten/kota di dalam wilayah provinsi tersebut. dan pendidikan nonformal di wilayahnya. Pemerintah Kabupaten/Kota dalam menjalankan tugas pengawasan dapat menunjuk lembaga pengawasan/pemeriksaan independen. menengah. Pasal 194 (1) Pemerintah melakukan pengawasan secara langsung memperhatikan hasil pengawasan yang dilakukan Pemerintah Provinsi dan/atau Pemerintah Kabupaten/Kota. 76461668. oleh Pemerintah Provinsi diduga meragukan. dan oleh melakukan pegelolaan pendidikan (2) Dalam hal hasil pengawasan yang dilakukan oleh Pemerintah Provinsi dan/atau Pemerintah Kabupaten/Kota. maka Pemerintah menindaklanjuti hasil pengawasan tersebut.terhadap penyelenggaraan dan pegelolaan pendidikan dasar dan pendidikan menengah bertaraf internasional. (2) Komite sekolah/madrasah melakukan pengawasan terhadap pelaksanaan penyelenggaraan dan pegelolaan pendidikan pada satuan pendidikan yang bersangkutan. pendidikan dasar.

lembaga pemerintah menyelenggarakan pendidikan. penyimpangan. dan/atau penyalahgunaan wewenang dalam penyelenggaraan dan pegelolaan pendidikan. mengevaluasi. atau masyarakat yang nondepartemen yang pihak lain yang terlibat dalam penyelenggaraan dan pegelolaan pendidikan. dewan pendidikan. j. departemen lain yang menyelenggarakan pendidikan. (3) Pemeriksaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a dan huruf b dapat berbentuk pemeriksaan umum. (2) Objek pengawasan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a adalah: a. unit kerja di lingkungan Departemen. g. h. l. memeriksa. k. menguji. c. f. program pendidikan. menilai. memeriksa. satuan pendidikan. menguji. badan hukum pendidikan. d. Pasal 196 (1) Pengawasan oleh Pemerintah dilakukan dengan cara: a. meneliti. pemeriksaan khusus. keluarga atau anggota/kelompok melaksanakan pendidikan informal. e.doc 117 . Pemerintah Kabupaten/Kota. b. i.(3) Pengawasan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) diinformasikan kepada masyarakat yang berkepentingan secara terbuka sebagai bentuk akuntabilitas publik. b. pemeriksaan investigatif. komite sekolah/madrasah. dan/atau melakukan inspeksi mendadak terhadap objek yang diawasi. memantau. Pemerintah Provinsi. dan/atau pemeriksaan terpadu. 76461668. mengusut. pemeriksaan tematik. dan/atau menilai informasi aduan masyarakat tentang hambatan.

f. k. (2) Objek pengawasan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a adalah: a. Pemerintah Kabupaten/Kota. menilai.doc . ayat (2). keluarga atau anggota/kelompok melaksanakan pendidikan informal. menguji.(4) Pengawasan sebagaimana dimaksud pada ayat (1). mengusut. memeriksa. d. penyelenggara pendidikan pendidikan anak usia dini. dan pendidikan nonformal. j. menguji. dasar. komite sekolah/madrasah. dan/atau menilai informasi aduan masyarakat tentang hambatan. dan/atau melakukan inspeksi mendadak terhadap objek yang diawasi. meneliti. masyarakat lembaga evaluasi pendidikan mandiri yang dibentuk oleh 118 76461668. pendidikan pendidikan menengah. dan pendidikan nonformal. b. satuan pendidikan anak usia dini. memeriksa. lembaga akreditasi mandiri dan/atau asosiasi profesi. mengevaluasi. dan ayat (3) dilaporkan kepada Menteri dan objek yang diawasi. pendidikan menengah. unit kerja di bawah gubernur. badan hukum pendidikan yang melaksanakan atau menyelenggarakan pendidikan dasar dan/atau pendidikan menengah. b. yang masyarakat dibentuk yang dan/atau dewan g. dan/atau penyalahgunaan wewenang dalam penyelenggaraan dan pegelolaan pendidikan. h. i. unit-unit perwakilan departemen lain di provinsi menyelenggarakan atau mengelola pendidikan. l. Pasal 197 (1) Pengawasan oleh Pemerintah Provinsi dilakukan dengan cara: a. pendidikan dasar. e. memantau. yang program pendidikan pada satuan pendidikan menengah dan pendidikan nonformal. dewan pendidikan tingkat provinsi pendidikan tingkat kabupaten/kota. c. penyimpangan.

menguji. unit-unit perwakilan departemen lain di kabupaten/kota yang menyelenggarakan atau mengelola pendidikan. Pasal 198 (1) Pengawasan oleh Pemerintah Kabupaten/Kota dilakukan dengan cara: a. d. sesuai Pemerintah Provinsi.doc 119 . g.masyarakat dan/atau asosiai profesi. (4) Pengawasan sebagaimana dimaksud pada ayat (1). (2) Objek pengawasan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a adalah: a. memeriksa. Menteri. satuan pendidikan anak usia dini. mengevaluasi. ayat (2). pihak lain yang terlibat dalam pegelolaan pendidikan. dan/atau melakukan inspeksi mendadak terhadap objek yang diawasi. dan/atau pemeriksaan terpadu. badan hukum pendidikan yang menyelenggarakan pendidikan dasar. dan/atau penyalahgunaan wewenang dalam penyelenggaraan dan pegelolaan pendidikan. b. atau m. e. 76461668. meneliti. dan ayat (3) dilaporkan kepada gubernur. memeriksa. dan pendidikan nonformal. penyimpangan. dan/atau menilai informasi aduan masyarakat tentang hambatan. komite sekolah/madrasah. memantau. c. mengusut. f. program pendidikan pada satuan pendidikan nonformal. dan pendidikan nonformal. pemeriksaan investigatif. penyelenggaraan dan dengan kewenangan (3) Pemeriksaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a dan b dapat berbentuk pemeriksaan umum. menilai. melaksanakan atau dewan pendidikan tingkat kabupaten/kota. h. menguji. pemeriksaan tematik. pemeriksaan khusus. dan objek yang diawasi. pendidikan dasar. b. penyelenggara pendidikan anak usia dini. pendidikan dasar. unit kerja di bawah bupati/walikota.

b. g. program pendidikan pada satuan pendidikan. dan/atau penyalahgunaan wewenang dalam penyelenggaraan dan pegelolaan pendidikan. (3) badan hukum pendidikan. e. menilai. gubernur. dan/atau pihak lain yang terlibat pegelolaan pendidikan. penyelenggara pendidikan. keluarga atau anggota/kelompok melaksanakan pendidikan informal. (2) Objek pengawasan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a adalah: a.i. Pengawasan sebagaimana dimaksud pada ayat (1).ayat (2). satuan pendidikan. dan objek yang diawasi. atau masyarakat yang pihak lain yang terlibat dalam penyelenggaraan dan pegelolaan pendidikan. pemeriksaan investigatif. pemeriksaan khusus. j. f. dan ayat (3) dilaporkan kepada bupati/walikota. mengevaluasi. komite sekolah/madrasah. dalam penyelenggaraan yang dan Pengawasan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) dilaporkan kepada: 76461668. sesuai dengan kewenangan Pemerintah Kabupaten/Kota. meneliti dan/atau menilai informasi aduan masyarakat tentang hambatan. penyimpangan. dan/atau pemeriksaan terpadu.doc 120 . d. pemeriksaan tematik. (3) Pemeriksaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a dan b dapat berbentuk pemeriksaan umum. Menteri. dan/atau memantau terhadap objek yang diawasi sesuai dengan kewenangannya. keluarga atau anggota/kelompok masyarakat melaksanakan pendidikan informal. b. (4) Pasal 199 (1) Pengawasan oleh dewan pendidikan dilakukan dengan cara: a. c.

dan/atau memantau terhadap objek yang diawasi. untuk dewan pendidikan tingkat provinsi dan kabupaten/kota. objek yang diawasi. Pengawasan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) dilaporkan kepada: a. pelaporan. dan untuk dewan pendidikan tingkat objek yang diawasi. d. satuan pendidikan yang bersangkutan. dan tindak lanjut pengawasan sebagaimana dimaksud 76461668. Menteri mengkoordinasikan perencanaan. Pasal 201 (1). dan/atau penyalahgunaan wewenang dalam penyelenggaraan dan pegelolaan pendidikan. b. dan/atau b. pelaksanaan. menangani urusan pendidikan di b. bupati/walikota. gubernur. Objek pengawasan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a adalah: a. tingkat nasional. c. (2). menilai. dan kabupaten/kota. Pengawasan oleh komite sekolah/madrasah dilakukan dengan cara: a. dan c. mengevaluasi. untuk dewan pendidikan provinsi. Pasal 200 (1). menteri. penyimpangan. meneliti dan/atau menilai informasi aduan masyarakat tentang hambatan.a. badan hukum pendidikan. b. dinas yang kabupaten/kota. program pendidikan bersangkutan. kabupaten/kota.doc 121 . pada satuan pendidikan yang (3).

74. Pemerintah dan/atau pemerintah daerah sesuai dengan kewenangannya dapat menutup satuan pendidikan dan/atau program pendidikan yang telah memperoleh izin pendirian dan/atau izin penyelenggaraan dari pihak yang berwenang tetapi terbukti tidak memenuhi persyaratan pendirian sebagaimana dimaksud dalam Pasal 158. dan/atau badan hukum pendidikan yang melaksanakan pendidikan yang tidak sesuai dengan ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 25. Pasal 161. 82. 30. 28. Pasal 197. program pendidikan. 68. Pemerintah dan/atau pemerintah daerah sesuai dengan kewenangannya menutup satuan pendidikan dan/atau program pendidikan yang beroperasi tanpa izin sebagaimana dimaksud dalam Pasal 159 dan Pasal 160. 55. yang e. 29. Pasal 159. Pasal 198.pada Pasal 196. 122 76461668. memberikan sanksi atas penyimpangan administratif dan/atau pelanggaran hukum yang dilakukan oleh objek yang diawasi baik individu ataupun kelembagaan. (2). c. d. 64. 31. masukan dalam pelaksanaan rencana pendidikan. Pasal 199. dan Pasal 200. (2). 98. BAB XVI SANKSI Pasal 202 (1). Pasal 162. 26. 50. masukan dalam perencanaan pendidikan. menilai kinerja objek yang diawasi. Pengawasan digunakan oleh pihak penerima laporan pengawasan untuk: a. memberikan penghargaan atas kinerja objek diawasi. b.doc . 36. 42. penggabungan atau penutupan satuan pendidikan. satuan pendidikan. 62. Pasal 160. Pasal 203 (1) Pemerintah dan/atau pemerintah daerah sesuai dengan kewenangannya dapat memberikan sanksi administratif berupa peringatan. pembekuan. dan Pasal 163.

138. 144. 36. 68. Menteri berwenang memberhentikan yang bersangkutan dari jabatannya. 107. 140. 142. 108. penutupan. 158. 161. 101. 26. pembekuan. 126. Pemerintah dapat memberikan sanksi administratif berupa teguran tertulis.doc . 30. 137. 28. 130. dan/atau badan hukum pendidikan yang melaksanakan pendidikan yang tidak sesuai dengan ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 25. 152. 159. 144. 139. 136. 142. 118. 151. atau memberhentikan yang bersangkutan dari status kepegawaiannya di perguruan tinggi. 42. Dalam hal perguruan tinggi tidak melakukan pemberhentian sebagaimana dimasuk pada ayat (3). 145. dan/atau dicabut izin penyelenggaraannya. 136. dan/atau penutupan perguruan tinggi yang melaksanakan dharma perguruan tinggi yang tidak sesuai dengan ketentuan sebagaimana diatur dalam Peraturan 123 (2) (3) (4) (5) (6) 76461668. melalaikan ketentuan ayat (1). Pasal 204 (1) Pimpinan perguruan tinggi yang melanggar ketentuan Pasal 68 diberi sanksi oleh pejabat yang berwenang sesuai peraturan perundang-undangan. 152. 140. 29. 165 dan Pasal 164. dikenakan sanksi administratif oleh perguruan tinggi yang bersangkutan berupa teguran tertulis dan/atau diberhentikan dari jabatannya atau diberhentikan dari status kepegawaiannya di perguruan tinggi yang bersangkutan. 130. Perseorangan atau kelompok anggota sivitas akademika perguruan tinggi yang melaksanakan kebebasan akademik dan/atau otonomi keilmuan yang melanggar ketentuan yang diatur dalam Pasal 70. 118. 159. Dalam hal pejabat yang berwenang sebagaimana dimaksud pada ayat (1). 125. 160. 158. Menteri berwenang memberhentikan pimpinan perguruan tinggi yang bersangkutan dari jabatannya. dikenakan sanksi sanksi administratif oleh Pemerintah berupa teguran tertulis. 145. 64. 125. 98. 126. 165 dan Pasal 164. 151. Perguruan tinggi atau unit dari perguruan tinggi yang melaksanakan kebebasan akademik dan/atau otonomi keilmuan yang melanggar ketentuan yang diatur dalam Peraturan Pemerintah ini. 108. 31. 157. 50. 157. 62. 107. 161. (2) Pemerintah dan/atau pemerintah daerah sesuai dengan kewenangannya dapat menunda atau membatalkan pemberian subsidi sumberdaya pendidikan kepada satuan pendidikan. 74. pembekuan. 137. 82. 138. 139. program pendidikan. 160. 55.101.

Pemerintah ini. institusi Pemerintah.doc 124 . kelompok. (3) Pendidik atau tenaga kependidikan nonpegawai negeri sipil yang melanggar ketentuan Pasal 154 dikenakan sanksi administratif sesuai dengan peraturan perundang-undangan. pembekuan. atau organisasi. dan/atau mengeluarkan dari satuan pendidikan terhadap peserta didik yang tidak melaksanakan kewajibannya sebagaimana diatur dalam Pasal 144. Anggota komite sekolah/madrasah. dan Pasal 106. 76461668. Pasal 208 (1) Pendidik atau tenaga kependidikan yang melalaikan tugas dan/atau kewajibannya selama 3 (tiga) bulan atau lebih secara terus menerus tanpa alasan yang dapat dipertanggungjawabkan dikenakan sanksi administratif sesuai dengan peraturan perundang-undangan. (2) Pendidik atau tenaga kependidikan pegawai negeri sipil yang melanggar ketentuan Pasal 154 dikenakan sanksi administratif sesuai dengan peraturan perundang-undangan. Pasal 206 Perseorangan. Pasal 103. yang melaksanakan pendidikan informal baik disengaja maupun tidak disengaja yang melanggar ketentuan Pasal 97 dapat dikenakan sanksi administratif berupa teguran tertulis. Pasal 205 (1). organisasi orang tua peserta didik. Satuan pendidikan dapat memberikan sanksi administratif berupa peringatan. dewan pendidikan. dikenakan sanksi administratif berupa teguran tertulis. dan/atau penutupan oleh Menteri. Pasal 207 Satuan pendidikan jarak jauh yang tidak memenuhi persyaratan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 102. dan/atau penutupan dari Pemerintah dan/atau pemerintah daerah. dan yang menangani pendidikan. pembekuan. (2). Pasal 105. skorsing. serta pihak lain yang terkait dengan satuan pendidikan secara perseorangan ataupun kolektif yang melanggar ketentuan Pasal 187 dikenakan sanksi teguran secara tertulis dari Pemerintah Kabupaten/Kota atau Pemerintah Provinsi sesuai dengan kewenangannya.

dan/atau penutupan satuan 76461668. memindahkan. dan Pasal 136 dikenakan sanksi oleh Menteri berupa teguran tertulis dan/atau penutupan satuan pendidikan. dan Pasal 127 serta pendidikan berbasis keunggulan lokal sebagaimana dimaksud dalam Pasal 129 dan Pasal 131 dikenakan sanksi administratif berupa teguran tertulis hingga pencabutan izin sebagai satuan pendidikan bertaraf internasional atau satuan pendidikan berbasis keunggulan lokal oleh Pemerintah atau pemerintah daerah sesuai kewenangannya. Pasal 26.doc (2) 125 . pemberhentian dengan hormat. dan/atau penutupan satuan pendidikan oleh Menteri. penundaan kenaikan pangkat. penundaan kenaikan gaji berkala. perwakilan negara asing atau lembaga pendidikan asing yang tidak sesuai dengan ketentuan sebagaimana diatur dalam Pasal 133. Pasal 30. organisasi.(4) Badan hukum pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (3) yang melalaikan ketentuan ayat (3) dikenakan sanksi administratif berupa peringatan tertulis atau pembekuan oleh Pemerintah atau sesuai kewenangannya. Pasal 210 (1) Penyelenggaraan pendidikan di wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia oleh perseorangan. Pasal 134. dikenakan sanksi administratif berupa teguran tertulis. Satuan pendidikan Indonesia yang melaksanakan kerja sama dengan satuan pendidikan dari negara lain yang tidak sesuai dengan ketentuan sebagaimana diatur dalam Pasal 138. dan Pasal 31 dikenakan sanksi administratif berupa teguran tertulis. Pasal 28. Pasal 211 Satuan pendidikan yang melanggar ketentuan tentang pengelolaan pendidikan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 25. Pasal 209 (1) Satuan pendidikan yang melanggar ketentuan tentang penyelenggaraan pendidikan bertaraf internasional sebagaimana dimaksud dalam Pasal 125. menempatkan. atau bupati/walikota sesuai dengan kewenangan. dan/atau pemberhentian dengan tidak hormat dari jabatannya. (2) Pencabutan izin sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan setelah diadakan pembinaan paling lama tiga tahun. dan Pasal 140 dikenakan sanksi administratif berupa teguran tertulis. Pasal 139. gubernur. pembekuan. atau memberhentikan pendidik atau tenaga kependidikan yang bertentangan dengan ketentuan Pasal 148 tanpa alasan yang sah. Pasal 126. Pasal 29. pembekuan. pembebasan dari jabatan. (5) Seseorang yang mengangkat.

dan/atau pemberhentian dengan tidak hormat dari jabatannya. penundaan kenaikan pangkat. atau satuan pendidikan sejenis yang telah ada sebelum berlakunya Peraturan Pemerintah ini. sekolah yang dinyatakan oleh pendirinya sebagai sekolah bertaraf internasional.pendidikan oleh Pemerintah atau atau pemerintah daerah kewenangannya sesuai Pasal 212 (1) Perseorangan atau kelompok anggota dewan pendidikan atau komite sekolah/madrasah yang melanggar ketentuan Pasal 190 dikenakan sanksi administratif berupa teguran tertulis oleh Pemerintah atau sesuai kewenangannya Perseorangan atau kelompok anggota dewan pendidikan atau komite sekolah/madrasah yang dalam menjalankan tugasnya melampaui kewenangan atau fungsi/perannya sebagaimana diatur dalam Pasal 175. Pasal 215 Pada saat berlakunya Peraturan Pemerintah ini. peraturan perundangundangan yang terkait dengan penyelenggaraan pendidikan dinyatakan masih tetap berlaku sepanjang tidak bertentangan dan belum diganti berdasarkan Peraturan Pemerintah ini. wajib menyesuaikan dengan Peraturan Pemerintah ini selambat-lambatnya 3 tahun sejak Peraturan Pemerintah ini berlaku. pembebasan dari jabatan. (2) BAB XVII KETENTUAN PERALIHAN Pasal 214 Sekolah internasional. penundaan kenaikan gaji berkala.doc 126 . pemberhentian dengan hormat. dan Pasal 184 dikenakan sanksi administratif berupa teguran tertulis oleh Pemerintah atau sesuai kewenangannya Pasal 213 Perseorangan atau kelompok pegawai Pemerintah atau sesuai kewenangannya yang melanggar atau melalaikan ketentuan yang diatur dalam Pasal 192 atau menggunakan kewenangannya yang melampaui peraturan perundang-undangan dikenakan sanksi administratif berupa teguran tertulis. 76461668.

Peraturan Pemerintah Nomor 38 Tahun 1992 tentang Tenaga Kependidikan (Lembaran Negara Tahun 1992 Nomor 68. c. Peraturan Pemerintah Nomor 73 Tahun 1991 tentang Pendidikan Pendidikan Luar Sekolah (Lembaran Negara Tahun 1991 Nomor 95. Tambahan Lembaran Negara Nomor 3764). Tambahan Lembaran Negara Nomor 3460). Peraturan Pemerintah Nomor 72 Tahun 1991 tentang Pendidikan Luar Biasa (Lembaran Negara Tahun 1991 Nomor 34.BAB XVIII KETENTUAN PENUTUP Pasal 216 Semua peraturan perundang-undangan yang diperlukan untuk melaksanakan Peraturan Pemerintah ini harus diselesaikan paling lambat 2 (dua) tahun terhitung sejak diberlakukan Peraturan Pemerintah ini. sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Pemerintah Nomor 39 Tahun 2000 tentang Perubahan atas Peraturan 127 b. Tambahan Lembaran Negara Nomor 3411). Tambahan Lembaran Negara Nomor 3413). e. Pasal 217 Pada saat mulai berlakunya Peraturan Pemerintah ini: a. Tambahan Lembaran Negara Nomor 3461). sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Pemerintah Nomor 56 Tahun 98 tentang Perubahan atas Peraturan Pemerintah Nomor 29 Tahun 1990 (Lembaran Negara Tahun 1998 Nomor 91. Tambahan Lembaran Negara Nomor 3484). Tambahan Lembaran Negara Nomor 3763). Peraturan Pemerintah Nomor 29 Tahun 1990 tentang Pendidikan Menengah (Lembaran Negara Tahun 1990 Nomor 37. Tambahan Lembaran Negara Nomor 3412). 76461668. Peraturan Pemerintah Nomor 27 Tahun 1990 tentang Pendidikan Prasekolah (Lembaran Negara Tahun 1990 Nomor 35. Peraturan Pemerintah Nomor 28 Tahun 1990 tentang Pendidikan Dasar (Lembaran Negara Tahun 1990 Nomor 36. sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Pemerintah Nomor 55 Tahun 98 tentang Perubahan atas Peraturan Pemerintah Nomor 28 Tahun 1990 (Lembaran Negara Tahun 1998 Nomor 90. d. f.doc .

.. SUSILO BAMBANG YUDHOYONO Ditetapkan di Jakarta Pada tanggal ......TAHUN 2007 76461668... PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA DR... h.. Peraturan Pemerintah Nomor 60 Tahun 1999 tentang Pendidikan Tinggi (Lembaran Negara Tahun 1999 Nomor 115. g. memerintahkan pengundangan Peraturan Pemerintah ini dengan menempatkannya dalam Lembaran Negara Republik Indonesia. Tambahan Lembaran Negara Nomor 3485)... dinyatakan tidak berlaku. MENTERI HUKUM DAN HAK AZASI MANUSIA ANDI MATALATTA LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA NOMOR….. Tambahan Lembaran Negara Nomor 3859)... Agar setiap orang mengetahuinya.. Tambahan Lembaran Negara Nomor 3974). H.Pemerintah Nomor 38 Tahun 1992 (Lembaran Negara Tahun 2000 Nomor 91. Ditetapkan di Jakarta Pada tanggal ... Pasal 218 Peraturan Pemerintah ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan. Peraturan Pemerintah Nomor 39 Tahun 1992 tentang Peranserta Masyarakat dalam Pendidikan Nasional (Lembaran Negara Tahun 1992 Nomor 69...doc 128 ..

melalui sebuah pembaruan yang dapat dipertanggungjawabkan kepada publik (stakeholders) agar mampu mempersiapkan generasi penerus bangsa sejak dini sehingga memiliki unggulan kompetitif dalam tatanan kehidupan nasional dan global. jenjang.doc 129 . Tanggung jawab pendidikan merupakan tanggung jawab bersama Pemerintah. peranserta masyarakat. TENTANG PENGELOLAAN DAN PENYELENGGARAAN PENDIDIKAN I. dan sanksi perlu diatur dalam satu kesatuan sistem pendidikan yang komprehensif. sarana dan prasarana. (2) era global isasi informasi yang muncul di awal milenium ke tiga. bentuk dan jenis pendidikan..PENJELASAN ATAS PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR …… TAHUN …. Pendekatan yang sama berlaku pula dalam pengaturan penyelenggaraan pendidikan pada masing-masing satuan pendidikan. diharapkan dunia pendidikan di Indonesia dapat merespon dan mengimbangi perubahan-perubahan ini secara proporsional. masyarakat dan orang tua. Parameter kualitas pendidikan. baik dilihat dari segi pasokan. bahasa pengantar. Pendidikan merupakan suatu proses yang dinamik sesuai dengan perubahan masyarakat dan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. Oleh sebab itu. dan jenis pendidikan harus berlangsung secara sinergis. UMUM Visi sistem pendidikan nasional sabagai pranata sosial yang kuat dan berwibawa untuk memberdayakan semua warga negara Indonesia agar berkembang menjadi manusia yang berkualitas sehingga mampu dan proaktif menjawab tantangan zaman yang selalu berubah. Perkembangan ini. pengawasan. Dalam era globalisasi dan informasi saat ini. mengisyaratkan bahwa penyelenggaraan pendidikan pada semua jalur. menyebabkan batas-batas negara menjadi semakin maya. dan hal ini membawa dampak pada cepat usangnya kebijakan maupun praksis pendidikan. Untuk mencapai sinergi tersebut pengaturan tentang fungsi. keterbukaan telah menjadi karakteristik kehidupan yang demokratis. dan hasil pendidikan selalu berubah. manajemen. pendidikan harus secara terus-menerus perlu ditingkatkan kualitasnya. Dunia pendidikan khususnya dan tantangan masa depan umumnya telah berubah dan berkembang sedemikian cepatnya. syarat pendirian. tujuan. proses. peserta didik. sementara seorang “futurist” di era globalisasi hanya mereka yang memiliki ilmu 76461668. yang ditandai dengan (1) perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang sangat cepat.

51. penyelenggaraan pendidikan oleh lembaga negara asing. Standar Nasional Pendidikan. dan evaluasi yang transparan. dan sertifikasi.pengetahuan dan teknologi lebih banyak dan mumpuni yang akan memenangkan persaingan global. dan/atau masyarakat. akuntabilitas. perlu dibuat suatu peraturan perundangan tentang pengelolaan dan penyelenggaraan pendidikan yang resposif dan akurat untuk meminimalkan dampak negatif serta memaksimalkan dampak positifnya terhadap sistem pendidikan nasional. pendidikan tinggi. Pasal 50. pengelolaan pendidikan. Pengelolaan satuan pendidikan anak usia dini. kurikulum. pendidikan nonformal. pendidikan menengah. pendanaan pendidikan. Pemerintah Kabupaten/Kota. dan pendidikan menengah dilaksanakan berdasarkan standar pelayanan minimal dengan prinsip manajemen berbasis sekolah/madrasah. 52. Pengaturan selanjutnya adalah mengenai penyelenggaraan wajib belajar. (3) munculnya organisasi internasional seperti WTO. dan ketentuan pidana. pengembangan tenaga kependidikan. Pemerintah dan/atau pemerintah daerah menyelenggarakan paling sedikit satu satuan pendidikan pada semua jenjang pendidikan untuk dikembangkan menjadi satuan pendidikan yang bertaraf internasional. evaluasi. suatu contoh nyata dari keadaan ini adalah bermunculannya “cabang” sekolah luar negeri di kotakota besar di Indonesia. Pemerintah Provinsi melakukan koordinasi atas penyelenggaraan pendidikan. Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional menetapkan komponen sistem pendidikan yang perlu diatur mencakup pendidikan anak usia dini. pendidikan informal. Pengelolaan satuan pendidikan tinggi dilaksanakan berdasarkan prinsip otonomi. dan penyediaan fasilitas penyelenggaraan pendidikan lintas daerah kabupaten/kota untuk tingkat pendidikan dasar dan menengah. Pendidikan Kedinasan. Lingkup pengaturan tentang pengelolaan pendidikan mencakup ketentuan tentang pengelolaan oleh Pemerintah. Sedangkan lingkup pengaturan dalam Peraturan Pemerintah ini mencakup Pengelolaan dan Penyelenggaraan pendidikan berdasarkan jenjang dan jenis pendidikan serta berdasarkan fungsi dalam sistem pendidikan nasional. pemerintah daerah. pendidikan jarak jauh. pengawasan. akreditasi. Pengelolaan pendidikan dalam rangka peningkatan 76461668. pendirian satuan pendidikan. Pengelolaan satuan pendidikan nonformal dilakukan oleh Pemerintah. dan 53 Undang-Undang Nomor 20 Tentang Sistem Pendidikan Nasional menjelaskan antara lain bahwa pengelolaan sistem pendidikan nasional merupakan tanggung jawab Menteri Pendidikan Nasional yang menentukan kebijakan nasional dan standar nasional pendidikan untuk menjamin mutu pendidikan nasional.doc 130 . Wajib Belajar. pendidikan keagamaan. pendidikan kedinasan. jaminan mutu. pendidikan dasar. Pengaturan tentang Standar Nasional Pendidikan. pendidikan dasar. dan pengeloaan oleh badan hukum pendidikan. Perguruan tinggi menentukan kebijakan dan memiliki otonomi dalam mengelola pendidikan di lembaganya. sarana dan prasarana pendidikan. pendidik dan tenaga kependidikan. dan pendidikan khusus dan pendidikan layanan khusus. Pemerintah Provinsi. peranserta masyarakat dalam pendidikan. Untuk mengantisipasi serta merespon pengaruh dari faktor-faktor tersebut. dan Pendanaan Pendidikan diatur secara tersendiri. AFTA menyebabkan terbukanya peluang bagi negara asing untuk menyelenggarakan pendidikan di Indonesia. serta satuan pendidikan yang berbasis keunggulan lokal. Pemerintah Kabupaten/Kota mengelola pendidikan dasar dan pendidikan menengah.

a. bahkan cara-cara belajar anak mulai mengambil bentuk dasarnya.partisipasi masyarakat dalam penyelenggaraan pendidikan mencakup penguatan prinsip penyelenggaraan pendidikan oleh. dan penghargaan terhadap peranserta seluruh komponen pendidikan. Landasan akademik dalam pengaturan tentang pengelolaan dan penyelenggaraan pendidikan pada masing-masing jalur. pendidikan nonformal dan informal.doc 131 . pendidikan oleh negara asing. 76461668. dan jenis pendidikan adalah sebagai berikut. dan tidak mampu dari segi ekonomi. jenjang. pendidikan bertaraf internasional. intelektual maupun sosial berlangsung dengan sangat pesatnya sehingga seringkali disimpulkan bahwa keberhasilan pada masa ini menentukan seluruh masa depan seorang anak. serta pengutan pean Komite Sekolah/Madrasah. pendidikan khusus dan pendidikan layanan khusus pada semua jenjang dan jenis pendidikan. Pendidikan dasar dan menengah. pendidikan jarak jauh. bentuk satuan pendidikan. bencana sosial. Pada kenyataannya sejumlah besar studi mendukung anggapan ini dan mengungkapkan bahwa masa inilah sejumlah besar kemampuan berbahasa. Usia dini merupakan masa peka untuk menerima stimulasi dan sangat menentukan bagi perkembangan selanjutnya. memberikan perhatian khusus kepada peserta didik berkelainan dan peserta didik di daerah terpencil atau terbelakang. Bagi anak yang memperoleh pendidikan. pendidikan lintas jalur dan satuan pendidikan. Pendidikan anak usia dini (PAUD). untuk. Para ahli perkembangan anak berpendapat bahwa masa 0 (nol) sampai dengan 6 (enam) tahun pertama dalam kehidupan seorang manusia merupakan masa di mana perkembangan fisik dan motorik. hak untuk mendapatkan beasiswa bagi yang berprestasi. peserta didik. Keterampilan-keterampilan tersebut merupakan keterampilan dasar yang harus dikembangkan secara optimal agar potensi yang ada pada anak tidak hilang percuma. izin pendirian. PAUD diselenggarakan dalam upaya membantu meletakkan dasar perkembangan anak sebelum memasuki pendidikan dasar. dan kabupaten. Penyelenggaraan pendidikan perlu memberikan perhatian kepada hak peserta didik untuk mendapatkan pendidikan agama sesuai dengan agama yang dianutnynya dan diajar oleh pendidik yang seagama. provinsi. pendidikan berbasis keunggulan lokal. baik orang tua dan keluarganya maupun masyarakat lain. sikap. dan cenderung menetap sampai usia dewasa. stimulasi diberikan juga agar anak dapat mempersiapkan diri memasuki pendidikan dasar dengan lebih baik. dengan mengedepankan nilai-nilai anti diskriminasi. Keterampilan-keterampilan tersebut tidak terjadi secara alamiah tetapi harus didukung oleh lingkungan. nilai-nilai. dan dari masyarakat. pengutamaan pada kebutuhan anak. serta kepada masyarakat adat yang terpencil dan/atau mengalami bencana alam. penghargaan pada keunikan setiap anak. Lingkup pengaturan tentang penyelenggaraan pendidikan mencakup ketentuan tentang fungsi dan tujuan. b. Filosofi dasar PAUD adalah menciptakan lingkungan belajar yang mendorong terbangunnya harga diri yang positif pada anak. dan penguatan peran Dewan Pendidikan di tingkat nasional.

Pendidikan tinggi. Aspek lain yang tidak kalah pentingnya adalah meningkatnya peranserta masyarakat dalam pembangunan pendidikan. Untuk itulah maka Undang-Undang mengamanatkan bahwa Pemerintah dan/atau pemerintah daerah menyelenggarakan sekurangkurangnya 1 (satu) satuan pendidikan pada semua jenjang pendidikan untuk dikembangkan menjadi satuan pendidikan yang bertaraf internasional. Pemerintah Kabupaten/Kota mengelola satuan pendidikan yang berbasis keunggulan lokal. serta pendidikan sejenis lainnya yang ditujukan untuk mengembangkan kemampuan peserta didik dalam memenuhi hak 76461668. Pemerintah dan masyarakat memiliki kewajiban untuk memfasilitasi semua perguruan tinggi dalam bentuk pendanaan atau kebutuhan lainnya (termasuk bantuan pegawai negeri). pendidikan anak usia dini. kursus dan pelatihan. Dalam konteks pengelolaan perguruan tinggi dengan status badan hukum. dan/atau vokasi. pendidikan kesetaraan.doc 132 . pendidikan pemberdayaan perempuan. Disamping itu. Peran Pemerintah dalam pengendalian mutu maupun pengawasan terhadap jalannya perguruan tinggi yang dilakukan melalui lembaga umum dan Pemerintah. pendidikan kepemudaan. di semua bidang ilmu pengetahuan. Kedudukan perguruan tinggi yang diselenggarakan Pemerintah atau yang diselenggarakan masyarakat adalah sama. Peran pemerintah dalam penentuan kebijakan umum perguruan tinggi akan ditentukan berdasarkan besarnya keterlibatan Pemerintah antara lain: besarnya dana untuk kepentingan perguruan yang dianggarkan dan disalurkan kepada pendidikan tinggi. Kewajiban Pemerintah terhadap semua perguruan tinggi yang sangat penting ialah sebagai pengendali mutu perguruan tinggi. serta ilmu agama. Pendidikan tinggi merupakan salah satu pilar penting dalam sistem pendidikan nasional yang bertujuan mengembangkan peserta didik agar memiliki kemampuan akademik. profesi. Salah satu indikator yang menunjukkan hal ini adalah meningkatnya kesadaran masyarakat tentang arti pentingnya pendidikan bagi putra-putri mereka. peran Pemerintah secara bertahap akan beralih dari penyelenggara menjadi fasilitator dan pengelola perguruan tinggi menjadi berbasis masyarakat. pendidikan keaksaraan. c. Kinerja perguruan tinggi dalam menyelenggarakan pendidikan tinggi menjadi salah satu katalisator tinggi rendahnya kualitas sumber daya manusia yang sering dinyatakan sebagai tingkat perkembangan SDM atau Human Development Index (HDI). Peranserta masyarakat dalam penyelenggaraan perguruan tinggi dalam bentuk badan hukum penyelenggara adalah sebagai fasilitator yang bukan merupakan bagian dari perguruan tinggi. Kenyataan tersebut ditambah pula dengan beberapa hasil penelitian yang menemukan bahwa ada hubungan positif antara kemajuan suatu negara dengan peningkatan peranserta masyarakat dalam pendidikan. teknologi dan/atau seni . Pendidikan nonformal dan pendidikan informal. d. Pendidikan nonformal meliputi pendidikan kecakapan hidup.Peraturan Pemerintah tentang pendidikan dasar dan menengah cukup strategis untuk dikembangkan mengingat posisi ketenagakerjaan di Indonesia yang pada umumnya baru mencapai pendidikan menengah ke bawah. tetap besar.

Pendidikan informal berfungsi untuk memberikan keyakinan agama. relevansi. dan efisiensi pada semua jalur. Pendidikan informal merupakan pengalaman berharga bagi setiap individu sesuai dengan kesempatan. pendidikan khusus masih menghadapi tantangan berat yang meliputi persoalan-persoalan yang terkait dengan: (a) perluasan kesempatan belajar bagi peserta didik yang membutuhkan pendidikan khusus. Program pendidikan nonformal yang berorientasi pada kursus dan pelatihan keterampilan merupakan jembatan antara pendidikan formal dan dunia kerja. informasi. Pendidikan informal adalah jalur pendidikan yang dilakukan oleh keluarga dan lingkungan dalam bentuk kegiatan belajar mandiri. tantangan globalisasi. Pendidikan khusus dan pendidikan layanan khusus. Sistem operasional pendidikan jarak jauh yang mencakup layanan registrasi. sehingga dapat memberikan kontribusi terhadap perluasan lapangan kerja dan penurunan pengangguran/kemiskinan. nilai budaya. Kondisi geografis. adil dan bermutu sebagai perwujudan dari salah satu tujuan nasional. Hasil pendidikan informal dapat diakui sama dengan hasil pendidikan formal dan nonformal setelah mengikuti Ujian Nasional dan/atau uji kompetensi sesuai dengan Standar Nasional Pendidikan. dan media lain. dan fisik bagi peserta didik agar dapat belajar sambil bekerja. media. minat. atau menjalankan fungsi kerumahtanggaan bagi ibu rumah tangga. serta pengalaman dalam penyelenggaraan pendidikan jarak jauh menjadi pertimbangan utama dalam penerapan sistem pendidikan jarak jauh untuk meningkatkan akses. (c) relevansi. mutu. tingkat dan jenis pendidikan. Agar biaya penyelenggaraan pendidikan jarak jauh berbasis teknologi informasi dan komunikasi menjadi murah. dan keterampilan peserta didik dalam rangka mencapai tujuan pendidikan nasional. Oleh karena itu.doc 133 . dan informatika (telematika). Tuntutan atas peran strategis pendidikan sebagai suatu pranata sosial yang kuat dan berwibawa untuk mewujudkan tujuan nasional khususnya dalam mencerdaskan kehidupan bangsa telah mendorong pemanfaatan sistem pendidikan jarah jauh sebagai komponen dari sistem pendidikan nasional. Sistem pendidikan jarak jauh ditujukan untuk meningkatkan pemerataan akses terhadap pendidikan bermutu terutama untuk mengatasi hambatan jarak. maka produksi bahan ajar mandiri dan layanan akademiknya harus dirancang berdasarkan prinsip industrialisasi masal. Dalam era globalisasi. yaitu mencerdaskan kehidupan bangsa. nilai moral estetika dan etika serta memberikan pengetahuan. Pendidikan jarak jauh. dan bakatnya. e. dan ujian harus dirancang sedemikan rupa untuk mengatasi hambatan jarak dan waktu dan dapat diakses oleh peserta didik setiap saat. perkembangan teknologi komunikasi. f. waktu. layanan pendidikan jarak jauh diselenggarakan dengan memanfaatkan media belajar melalui teknologi telekomunikasi. untuk membentuk kemampuan dan keahlian yang lebih bermutu. distribusi bahan ajar mandiri. tingkat laju pertumbuhan penduduk. yaitu untuk melayani peserta didik dalam jumlah besar. (b) peningkatan mutu. perhatian.setiap warga negara untuk memperoleh pendidikan yang merata. tutorial. dan (d) efisiensi. 76461668. psikologis.

dan informal yang saling melengkapi dan memperkaya. (b) perintisan dan pengembangan pendidikan inklusi. di samping (e) penyelenggaraan sekolah khusus. (c) penyelenggaraan tingkat khusus. Tantangan dalam perluasan kesempatan belajar perlu segera dijawab melalui kebijakan dan strategi perluasan kesempatan belajar bagi peserta didik yang membutuhkan pendidikan khusus dengan berbagai cara/pendekatan melalui: (a) perintisan dan pengembangan pendidikan terpadu.Kesungguhan pendidikan khusus dalam mengatasi tantangan-tantangan tersebut akan mencerminkan kehidupan berbangsa dan bernegara secara demokratis yang tidak membedakan satu sama lain. Selain itu. 76461668. nonformal. pendidikan khusus dapat diselenggarakan melalui jalur formal.doc 134 .

selain diarahkan pada upaya memenuhi kebutuhan kehidupan global. Untuk menjaga keutuhan sistem pendidikan nasional. UU Sisdiknas mengamanatkan kepada pemerintah dan pemerintah daerah berkewajiban untuk mengembangkan paling sedikit satu satuan pendidikan pada setiap jenis dan jenjang pendidikan menjadi satuan pendidikan berfaraf internasional dan satuan pendidikan berbasis keunggulan lokal. serta menunjang pelestarian. dan seni. Dalam rangka pelaksnaan pembangunan nasional sesuai dengan tuntuan kehidupan global dan pendayagunaan sumberdaya daerah secara optimal. h. Salah satu dampak dari kehidupan global dan penggunaan teknologi informasi dan komunikasi adalah terbukanya akses dari dan ke negara Indonesia. Perwakilan negara asing dapat menyelenggarakan pendidikan di wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia untuk warga negaranya dapat menggunakan ketentuan yang berlaku di negara yang bersangkutan atas persetujuan Pemerintah Republik Indonesia. Pendidikan bertaraf internasional dan berbasis keunggulan lokal. juga harus mampu memberdayakaan sumberdaya dan potensi lokal dalam semangat otonomi daerah. teknologi. penyelenggaraan pendidikan oleh negara lain ataupun kerjasama penyelenggaraan pendidikan asing perlu mendapat pengaturan secara tegas. dan promosi keunggulan lokal. Satuan pendidikan dasar dan menengah berbasis keunggulan lokal menghasilkan lulusan yang memiliki kemampuan mengolah dan/atau mengembangkan sumber daya lingkungan di daerahnya dan menghasilkan produk yang mempunyai nilai ekonomis serta menunjang pelestarian. termasuk dalam hal penyelenggaraan pendidikan. Satuan pendidikan dasar dan menengah yang dikembangkan menjadi bertaraf internasional diselenggarakan dengan mengacu pada Standar Nasional Pendidikan yang diperkaya dengan standar pendidikan/standar kompetensi negara maju dalam bidang ilmu pengetahuan. Penyelenggaraan Pendidikan oleh Negara Lain dan Kerjasama Satuan Pendidikan Indonesia dengan Satuan Pendidikan Negara Lain. dan pembangunan sumberdaya lokal maupun nasional. pengembangan. Tata kehidupan dalam era global abad ke 21 yang ditandai dengan dominasi penggunaan kaedah-kaedah teknologi informasi dan komunikasi dan kompetisi terbuka menuntut persyaratan kompetensi profesional yang berlaku secara internasional. Lembaga pendidikan asing 76461668.doc 135 . Satuan pendidikan dasar dan menengah yang dikembangkan menjadi berbasis keunggulan lokal diselenggarakan dengan mengacu pada Standar Nasional Pendidikan yang diperkaya dan dikembangkan sesuai dengan potensi daerah/karakteristik daerah dan sosial budaya masyarakat setempat. Dampak positifnya adalah dapat memperkaya khasanah pendidikan nasional baik melalui pendirian satuan pendidikan internasional oleh negara lain maupun melalui kerjasama dengan satuan pendidikan di Indonesia. pengembangan. Satuan pendidikan dasar dan menengah bertaraf internasional menghasilkan lulusan yang memiliki kemampuan dan daya saing di forum internasional.g. Di pihak lain upaya untuk melaksanakan pembangunan nasional.

Pendidik merupakan tenaga profesional yang bertugas merencanakan dan melaksanakan proses pembelajaran. Pola penyelenggaraan pendidikan yang selama ini cenderung terpusat pada Pemerintah mengakibatkan kurangnya peranserta masyarakat.doc 136 . Promosi dan penghargaan bagi pendidik dan tenaga kependidikan dilakukan berdasarkan latar belakang pendidikan. reformasi dalam bidang pendidikan harus mencakup upaya pemberdayaan 76461668. penempatan. Penyelenggaraan pendidikan oleh lembaga asing yang menerima peserta didik warga negara Indonesia wajib memberikan pendidikan agama. pengalaman.yang terakreditasi atau yang diakui di negaranya dapat menyelenggarakan pendidikan bagi warga negara asing maupun warga negara Indonesia. Penyelenggaraan pendidikan tersebut harus bekerja sama dengan lembaga penyelenggara pendidikan Indonesia. dan prestasi kerja dalam bidang pendidikan. pengembangan. Pemerintah dan pemerintah daerah wajib membina dan mengembangkan tenaga kependidikan pada satuan pendidikan yang diselenggarakan oleh Pemerintah dan pemerintah daerah. pengalaman. pengelolaan. penyebaran. Pendidik dan tenaga kependidikan. dan pelayanan teknis untuk menunjang proses pendidikan pada satuan pendidikan. diperlukan pendidik dan tenaga kependidikan yang profesional. Pengangkatan. pengawasan. Penyelenggara pendidikan oleh masyarakat berkewajiban membina dan mengembangkan tenaga kependidikan pada satuan pendidikan yang diselenggarakannya. konseling dan layanan serta melakukan penelitian dan pengabdian kepada masyarakat. Visi sistem pendidikan nasional sebagai pranata sosial yang kuat dan berwibawa menyiratkan kemitraan dalam penyelenggaraan pendidikan oleh semua komponen bangsa yaitu Pemerintah. dan bahasa Indonesia kepada peserta didik warga negara Indonesia. Tenaga kependidikan selain pendidik bertugas melaksanakan administrasi. masyarakat dan keluarga sebagai perwujudan dari tatanan kehidupan masyarakat madani. Seiring dengan semangat demokratisasi dan pelaksanaan otonomi daerah. Pendidik dan tenaga kependidikan merupakan salah satu unsur pokok dalam proses penjaminan mutu pendidikan. terutama bagi pendidik pada perguruan tinggi. dan bahkan dapat mematikan inisiatif masyarakat dalam penyelenggaraan pendidikan. pendidikan kewarganegaraan. kemampuan. Pemerintah dan pemerintah daerah wajib membantu pembinaan dan pengembangan tenaga kependidikan pada satuan pendidikan formal yang diselenggarakan oleh masyarakat. melakukan pembimbingan dan pelatihan. Pemerintah dan pemerintah daerah wajib memfasilitasi satuan pendidikan dengan pendidik dan tenaga kependidikan yang diperlukan untuk menjamin terselenggaranya pendidikan yang bermutu. sikap dan nilai berdasarkan standar nasional dan global. keterampilan. Untuk menjadikan lembaga pendidikan sebagai pusat pembudayaan ilmu pengetahuan. dan pemberhentian pendidik dan tenaga kependidikan diatur oleh lembaga yang mengangkatnya berdasarkan kebutuhan satuan pendidikan formal. Peranserta masyarakat dalam pendidikan. i. j. Bahasa pengantar utama pada satuan pendidikan yang diselenggarakan oleh lembaga pendidikan asing adalah bahasa Indonesia. menilai hasil pembelajaran. Pendidik dan tenaga kependidikan dapat bekerja secara lintas daerah.

yaitu pendidikan yang diselenggarakan oleh masyarakat sebagai pemenuhan atas ciri khas yang berkenaan dengan nilai-nilai sosial dan kultural pada masyarakat tertentu. provinsi. Ayat (2) Pengelolaan satuan pendidikan yang dilakukan oleh Menteri lain atau kepala lembaga pemerintahan non departemen sebagaimana dimaksud dalam pasal ini adalah dalam rangka melaksanakan amanat UU. konvensi internasional. dan kabupaten/kota serta pembentukan komite sekolah/madrasah di tingkat satuan pendidikan. Pasal 2 Cukup jelas. Dalam hal ini kepala sekolah/madrasah dan guru dibantu komite sekolah/madrasah atau nama lain yang sejenis/madrasah dalam mengelola sekolah/madrasah. II.doc 137 .peranserta masyarakat baik dalam penyelenggaraan pendidikan berbasis masyarakat maupun dalam pengelolaan pendidikan melalui pembentukan dewan pendidikan di tingkat nasional. Penyelengaraan pendidikan berbasis masyarakat merupakan perwujudan dari prinsip pendidikan yang diselenggarakan oleh. dan dari masyarakat. Pasal 4 Cukup jelas. Pasal 3 Cukup jelas. Pasal 5 Ayat (1) Cukup jelas. untuk. 76461668. Sedangkan pembentukan dewan pendidikan dan komite sekolah/madrasah atau nama lain yang sejenis merupakan perwujudan dari kemitraan masyarakat dalam pengelolaan pendidikan bersama penyelenggara pendidikan baik di tingkat pengambil keputusan pada lembaga eksekutif dan legislatif maupun pada tingkat satuan pendidikan. Ayat (3) Manajemen Berbasis Sekolah/Madrasah adalah bentuk otonomi satuan pendidikan. PASAL DEMI PASAL Pasal 1 Cukup jelas. dan kewajiban negara dalam rangka peningkatan keselamatan manusia serta kesepakatan dengan organisasi internasional.

Pasal 11 Ayat (1) Cukup jelas. Cukup jelas 76461668.doc 138 . Pasal 9 Ayat (1) Potensi kecerdasan dan bakat istimewa meliputi bidang intelektual umum. seni kinestetik. Cukup jelas Huruf d. psikososial/kepemimpinan. kreatif produktif. akademik khusus. Ayat (2) Huruf a. dan psikomotorik/olahraga. Pasal 7 Cukup jelas.Ayat (4) Cukup jelas Pasal 6 Cukup jelas. Pasal 10 Cukup jelas. Cukup jelas Huruf c. Cukup jelas Huruf b. Ayat (2) Cukup jelas. Pasal 8 Cukup jelas.

Cukup jelas Huruf g. Ayat (4) Cukup jelas. Cukup jelas Ayat (3) Cukup jelas. Ayat (3) Cukup jelas. Cukup jelas Huruf h.doc 139 . Pasal 13 Ayat (1) Cukup jelas. Pasal 12 Cukup jelas. 76461668. Pasal 15 Cukup jelas. Cukup jelas Huruf i. Huruf f.Huruf e. Koordinasi dan mensupervisi pengembangan kurikulum untuk MA dan MAK dilakukan oleh Kantor Wilayah Departemen Agama Provinsi. Ayat (2) Cukup jelas. Pasal 14 Cukup jelas.

Cukup jelas Huruf j. Cukup jelas Huruf k.Pasal 16 Ayat (1) Cukup jelas. Cukup jelas Huruf l. Cukup jelas Huruf d. Cukup jelas Huruf b. Cukup jelas Huruf e. Cukup jelas Huruf c. 76461668. Ayat (2) Huruf a. Cukup jelas Huruf f. Koordinasi dan mensupervisi pengembangan kurikulum untuk MI dan MTs dilakukan oleh Kantor Departemen Agama Kabupaten/Kota Huruf h.doc 140 . Cukup jelas Huruf i. Cukup jelas Huruf g.

Pasal 18 Cukup jelas. pembiayaan. Pasal 23 Cukup jelas. Pasal 17 Cukup jelas. tenaga kependidikan. Pasal 25 Ayat (1) Cukup jelas Ayat (2) huruf a Cukup jelas Huruf b 76461668. proses.doc 141 . serta pencapaian target pembangunan pendidikan nasional. sarana dan prasarana. Pasal 22 Cukup jelas. Pasal 21 Cukup jelas. dan penilaian pendidikan yang harus dipenuhi oleh setiap satuan pendidikan dasar dan menengah. kompetensi lulusan. Pasal 20 Cukup jelas. pengelolaan. Pasal 24 Cukup jelas.Cukup jelas Ayat (3) Standar pelayanan minimal merupakan batas minimal pemenuhan standar isi. Pasal 19 Cukup jelas.

Huruf e Cukup jelas Huruf f Cukup jelas 76461668. maka laporan penyelenggaraannya disampaikan kepada Pemerintah Provinsi. maka laporan penyelenggaraannya disampaikan kepada Pemerintah Provinsi.doc 142 .Cukup jelas Huruf c Cukup jelas huruf d Apabila pendidikan dasar dikembangkan oleh Pemerintah Provinsi menjadi bertaraf internasional. huruf e Cukup jelas Huruf f Cukup jelas Pasal 26 Ayat (1) Cukup jelas Ayat (2) Huruf a Cukup jelas Huruf b Cukup jelas Huruf c Cukup jelas Huruf d Apabila pendidikan menengah dikembangkan oleh Pemerintah Provinsi menjadi bertaraf internasional.

Pasal 32 Cukup jelas. Pasal 36 Ayat (1) Cukup jelas Ayat (2) 76461668. Pasal 31 Cukup jelas. Pasal 28 Cukup jelas. Taman Kanak-kanak Al-Qur’an (TKQ). Pasal 33 Cukup jelas.Pasal 27 Cukup jelas. dan Adi Sekha. Pasal 30 Cukup jelas. Ayat (3) Cukup jelas Pasal 35 Cukup jelas. Pasal 29 Cukup jelas.doc 143 . Taman Pendidikan AlQur’an (TPQ). Pasal 34 Ayat (1) Bentuk lain yang sederajat antara lain Tarbiyatul Athfal (TA). Ayat (2) Cukup jelas.

Huruf b. tidak memaksa. atau bentuk lain yang sederajat dimaksudkan untuk mempersiapkan peserta didik secara akademik memasuki SD. mendengarkan. Ayat (3) Cukup jelas. RA. pramenulis dan praberhitung yang harus dilaksanakan secara hati-hati. RA. Ayat (2) Huruf a. baik di dalam maupun di luar sekolah. MI. Program pembelajaran pengetahuan dan teknologi pada TK. sehingga menjadi bagian dari budaya sekolah. atau bentuk lain yang sederajat dengan menekankan pada penyiapan kemampuan berkomunikasi dan berlogika melalui berbicara.Ketentuan ini tidak berlaku bagi satuan pendidikan yang secara khusus dirancang untuk melayani peserta didik dari kelompok gender atau agama tertentu. Huruf c. atau bentuk lain yang sederajat dimaksudkan untuk peningkatan potensi spiritual peserta didik melalui contoh pengamalan dari pendidik agar menjadi kebiasaan sehari-hari. Ayat (4) Cukup jelas Pasal 37 Ayat (1) Cukup jelas. pramembaca. Program pembelajaran agama dan akhlak mulia pada TK.doc 144 . dan menyenangkan sehingga anak menyukai belajar. 76461668. Program pembelajaran sosial dan kepribadian pada TK. RA. atau bentuk lain yang sederajat dimaksudkan untuk pembentukan kesadaran dan wawasan peserta didik atas hak dan kewajibannya sebagai warga masyarakat dan dalam interaksi sosial serta pemahaman terhadap diri dan peningkatan kualitas diri sebagai manusia sehingga memiliki rasa percaya diri.

saudara. dan Majjhima Sekha. pendidikan diniyah menengah pertama.Huruf d. Ayat (5) Cukup jelas. kemampuan mengekspresikan diri dan kemampuan mengapresiasi keindahan dan harmoni yang terwujud dalam tingkah laku keseharian. Bentuk lain yang sederajat dengan SMP dan MTs antara lain Paket B. Ayat (3) Cukup jelas. olahraga dan kesehatan pada TK. Madyama Vidyalaya (MV). Pasal 38 Cukup jelas. pendidikan diniyah dasar. Huruf e. Ayat (7) Cukup jelas. Pasal 39 Ayat (1) Bentuk lain yang sederajat dengan SD dan MI antara lain Paket A. Misalnya memahami dan bersikap sopan kepada orang tua. RA atau bentuk lain yang sederajat dimaksudkan untuk meningkatkan sensitivitas. Ayat (4) Cukup jelas. Adi Vidyalaya (AV). Ayat (6) Stimulasi psikososial adalah rangsangan pendidikan yang menumbuhkan kepekaan memahami dan bersikap terhadap lingkungan sosial sekitarnya. 76461668.doc 145 . dan Culla Sekha. RA atau bentuk lain yang sederajat dimaksudkan untuk meningkatkan potensi fisik dan menanamkan sportivitas serta kesadaran hidup sehat dan bersih. Program pembelajaran jasmani. Program pembelajaran estetika pada TK. dan teman.

Pasal 40 Ayat (1) Cukup jelas. rekomendasi dapat dilakukan oleh dewan guru satuan pendidikan yang bersangkutan. Ayat (2) Cukup jelas.Ayat (2) Cukup jelas. Ayat (2) Lihat penjelasan Pasal 36 ayat (2). Ayat (3) Cukup jelas. Ayat (3) Cukup jelas. sejauh daya tampung memungkinkan. Ayat (4) Cukup jelas. Pasal 42 Ayat (1) Cukup jelas.doc 146 . Ayat (2) Cukup jelas. Pasal 41 Ayat (1) Peserta didik pada SMP atau MTs dapat berasal dari warga negara asing. Ayat (4) Kemudahan akses fisik misalnya jarak tempuh dari tempat 76461668. Ayat (3) Apabila psikolog profesional tidak ada.

dan Maha Sekha. Pasal 43 Cukup jelas. Struktur penjurusan ini akan menentukan 76461668. Jenis program keahlian mengacu kepada jenis pekerjaan. Adapun struktur penjurusan pada pendidikan kejuruan adalah: kelompok kejuruan. Pasal 47 Ayat (1) Cukup jelas. Pasal 45 Cukup jelas. Ayat (6) Cukup jelas. pendidikan diniyah menengah atas. Ayat (5) Cukup jelas. Utama Vidyalaya (UV). Ayat (2) Cukup jelas.doc 147 .tinggal ke satuan pendidikan. Ayat (3) Cukup jelas. bidang kejuruan dan program kejuruan. Ayat (3) Penjurusan pada pendidikan kejuruan dalam bentuk bidang kejuruan yang merupakan unit akademik terkecil dalam pendidikan kejuruan. Pasal 46 Ayat (1) Bentuk lain yang sederajat dengan SMA dan MA antara lain Paket C. Ayat (2) Cukup jelas. Pasal 44 Cukup jelas.

Ayat (5) Karena pendidikan kejuruan berorientasi pada peluang untuk memperoleh pekerjaan. Ayat(2) Cukup jelas.cakupan mata pelajaran pada setiap jenis bidang kejuruan. MAK atau bentuk lain yang sederajat dapat berasal dari warga negara asing. Ayat (6) Cukup jelas. Ayat (7) Cukup jelas. Ayat (4) Cukup jelas. pendidikan kejuruan harus memperhatikan dan mempertimbangkan tren ketenagakerjaan nasional. Ayat (3) pelestarian seni budaya dan atau 76461668. Ayat (2) Lihat penjelasan Pasal 36 ayat (2). Pelestarian meliputi kemahiran tertentu. regional dan global. Pasal 50 Ayat (1) Cukup jelas. Pasal 48 Cukup jelas Pasal 49 Ayat (1) Peserta didik pada SMA atau MA SMK. Ayat(3) Cukup jelas.doc 148 . maka dalam rangka mengantisipasi persaingan global.

76461668. Pasal 52 Ayat (1) Cukup jelas.Cukup jelas. Ayat (8) Cukup jelas. dapat mencakup program spesialis. Pendidikan profesi merupakan pendidikan tinggi setelah program pendidikan sarjana yang mempersiapkan peserta didik untuk memiliki pekerjaan dengan persyaratan keahlian khusus. teknologi. Ayat (7) Cukup jelas. yang mencakup program sarjana. Ayat (2) Pendidikan akademik merupakan pendidikan tinggi yang diarahkan terutama pada penguasaan dan pengembangan disiplin ilmu pengetahuan. Pasal 51 Cukup jelas. Ayat (4) Lulusan dari satuan pendidikan yang mendapatkan pengakuan sama adalah lulusan dari satuan pendidikan formal yang diselenggarakan tidak mengacu pada Standar Nasional Pendidikan akan tetapi telah memperoleh pengakuan dari Pemerintah atas dasar rekomendasi dari Badan Standar Nasional Pendidikan. Ayat (5) Cukup jelas. magister.doc 149 . dan doktor. sesuai ketentuan Pasal 93 Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan. dan/atau seni tertentu. Ayat (6) Cukup jelas.

Lulusan program ini memperoleh kualifikasi akademik sarjana pendidikan guru TK/RA atau SD/MI. yang mencakup program pendidikan diploma. Ayat (2) Program pendidikan bersambungan (consecutive program) adalah program pendidikan guru yang diawali dengan pemerolehan kompetensi profesional (penguasaan substansi keilmuan.Pendidikan vokasi merupakan pendidikan tinggi yang diarahkan pada penguasaan keahlian terapan tertentu. dan kopetensi sosial dalam satu program studi. Penguasaan kompetensi pedagogik. diploma II. teknologi. Pasal 55 Ayat (1) Program pendidikan secara serempak dan utuh (concurrent program) adalah program pendidikan guru yang kurikulumnya memuat pengembangan kompetensi profesional (penguasaan substansi keilmuan. dan/atau seni) dalam program studi nonkependidikan untuk memperoleh kualifikasi akademik sarjana nonkependidikan. dan/atau seni). dan diploma IV. kopetensi kepribadian. Pasal 53 Cukup jelas. setinggi-tingginya setara dengan program pendidikan sarjana. Ayat (3) Cukup jelas. kompetensi pedagogik.`teknologi. Ayat (2) Program pendidikan tenaga kependidikan termasuk program pengadaan guru serta pengembangan ilmu kependidikan dan ilmu dasar. Program pendidikan diploma terdiri atas program pendidikan diploma I. diploma III. kompetensi kepribadian. teknologi. dan kopetensi sosial diperoleh melalui program pendidikan profesi. Pasal 54 Ayat (1) Cukup jelas.doc 150 . 76461668. dan/atau seni pada fakultas tarbiyah dan pada fakultas lain yang sejenis.

Perguruan tinggi yang lebih fokus pada pendidikan profesi dan/atau vokasi menyediakan secara cukup perpustakaan pengajaran. 76461668. Misalnya. dan akses internet. pusat komputerisasi riset.doc 151 . dan memiliki jurnal ilmiah yang secara berkala menerbitkan hasil-hasil penelitian. laboratorium riset. Pasal 57 Ayat (1) Penyediaan unsur penunjang disesuaikan dengan ciri dari perguruan tinggi yang bersangkutan. Pasal 58 Cukup jelas. laboratorium pengajaran. Ayat (4) Cukup jelas. Pasal 62 Cukup jelas. Setiap perguruan tinggi disarankan untuk memiliki sarana olahraga dan kesenian yang memadai untuk menciptakan kehidupan kampus yang manusiawi dan menyenangkan. Ayat (3) Cukup jelas. pusat komputasi pengajaran. Pasal 61 Cukup jelas. akses internet. Pasal 60 Cukup jelas. Ayat (2) Cukup jelas. perguruan tinggi riset harus menyediakan secara cukup perpustakaan riset. Pasal 59 Cukup jelas.Pasal 56 Cukup jelas. Unit pengelola/layanan dapat menjadi unit pelaksana teknis yang membidangi satu atau beberapa objek pengelolaan/layanan.

Ayat (3) Cukup jelas. Ayat (2) Cukup jelas. daerah. Kebijakan semacam ini harus dinyatakan secara terbuka sebagai kebijakan afirmatif. Ayat (4) Lihat penjelasan Pasal 36 ayat (2). Ayat (5) Cukup jelas.doc 152 . 76461668. Cukup jelas. atau kelompok tertentu dari ketertinggalannya.Pasal 63 Ayat (1) Huruf a. Pasal 64 Ayat (1) Cukup jelas. Tingkat pendidikan hanya berlaku untuk persyaratan mengikuti program pendidikan yang lebih rendah ke program yang lebih tinggi dalam satu jenjang pendidikan tinggi. Ayat (4) Cukup jelas. Ayat (2) Cukup jelas. Huruf b. Ayat (3) Perguruan tinggi dapat menerapkan kebijakan afirmatif dalam penerimaan mahasiswa baru untuk mengakomodasi etnik. mahasiswa lulusan program sarjana melanjutkan ke program pascasarjana. Misalnya.

Ayat (2) Cukup jelas. Pengumuman hasil tes tambahan dan/atau penilaian rapor tidak boleh dilakukan sebelum pengumuman Ujian Nasional dimaksudkan untuk menjaga integritas hasil ujian nasional dan pemenuhan syarat kelulusan. Pasal 65 Ayat (1) Perjanjian sebagaimana dimaksud dalam ketentuan ini memuat pula hak dan kewajiban mahasiswa yang diatur dalam anggaran dasar dan anggaran rumah tangga. Pasal 66 Ayat (1) Kemampuan konfluen merupakan kemampuan utuh mahasiswa yang mencerminkan keintegrasian kemampuan kognitif. dan psikomotorik. Tes tambahan tidak boleh menduplikasi Ujian Nasional dimaksudkan untuk efisiensi dalam proses seleksi penerimaan. Ayat (2) Cukup jelas.doc 153 . Pasal 67 Ayat (1) Yang dimaksud dengan Sistem Kredit Semester (SKS) adalah suatu sistem penyelenggaraan pendidikan di mana beban belajar mahasiswa.Ayat (6) Lihat penjelasan Pasal 50 ayat (4) Ayat (7) Tes tambahan misalnya tes skolastik. afektif. beban kerja tenaga pengajar dan penyelenggara program lembaga pendidikan tinggi dinyatakan 76461668. Ayat (8) Cukup jelas.

Pasal 68 Ayat (1) Yang dimaksud dengan kelas jauh adalah sistem pembelajaran yang diselenggarakan di luar kampus induk. atau kegiatan proses belajar mengajar lainnya. Ayat (2) Cukup jelas. dan 1 (satu) jam kegiatan mandiri untuk kurun waktu enam belas (16) minggu efektif. Ayat (5) Cukup jelas. Dalam setiap semester “reguler” 1 (satu) sks sama dengan beban studi setiap minggu berupa 1 (satu) jam tatap muka. Banyaknya sks yang diberikan untuk matakuliah. Ayat (3) Cukup jelas Ayat (4) Cukup jelas. Pasal 70 76461668. Satu matakuliah berbot 3 sks berarti sama dengan kegiatan studi 3 jam tatap muka. dan 3 jam kegiatan mandiri selama 16 minggu. Universitas Al Azhar yang memiliki kampus utama di Cairo dan beberapa kampus cabang di hampir seluruh distrik di Mesir. Ayat (6) Cukup jelas. merupakan pengakuan atas keberhasilan usaha untuk menyelesaikan kegiatan akademik bersangkutan. 3 jam kegiatan terstruktur.dalam satuan kredit semester (sks). 1 (satu) jam kegiatan terstruktur.doc 154 . Pasal 69 Cukup jelas. Ayat (2) Contoh sistem multikampus adalah sistem State University of New York (SUNY) yang memiliki 60 (enam puluh) kampus di seluruh negara bagian New York. Ayat (3) Cukup jelas.

Cukup jelas. Ayat (9) Cukup jelas. tetapi antara penulis dan pihaknya tidak saling mengenal dan tidak saling mengetahui. Pasal 72 Ayat (1) Penelitian dasar adalah penelitian yang berorientasi pada penjelasan pada fenomena alam (penelitian untuk ilmu) yang melandasi penelitian terapan dan penelitian pengembangan. Ayat (3) Cukup jelas. Ayat (7) Sertifikat paten adalah dokumen resmi yang diberikan oleh pemerintah kepada pihak-pihak yang menemukan sesuatu teknologi (inventor). Paten adalah salah satu bentuk dari hak kekayaan intelektual (HKI). 76461668. Ayat (5) Invensi adalah suatu ciptaan atau perancangan baru yang belum ada sebelumnya yang memperkaya khazanah serta dapat digunakan untuk menyempurnakan atau memperbaharui ilmu pengetahuan dan teknologi yang telah ada. Ayat (4) Cukup jelas. kritik dan koreksi terhadap suatu naskah ilmiah agar menjadi lebih sempurna. Ayat (2) Cukup jelas.doc 155 . Ayat (8) Pengayaan materi pembelajaran dapat diartikan bahwa hasil penelitian wajib dijadikan buku ajar hand-out atau tampilan lain yang disajikan pada saat mengajar. Ayat (6) Telaah nirnama (blind review) adalah pakar yang melakukan penelaahan. Pasal 71 Cukup jelas.

Ayat (7) Cukup jelas. pakar keilmuan yang dimiliki oleh perguruan tinggi lain atau lembaga ilmiah lainnya. Anggota dewan penelaah sebagaimana dimaksud pada huruf 1 huruf a tidak melebihi 40% (empat puluh persen) dari jumlah anggota dewan penelaah. tenaga ahli dari organisasi profesi.doc 156 . atau pakar dari luar negeri. Penelaahan dan pemilihan naskah ilmiah yang akan 76461668. 3. Ayat (5) Cukup jelas. Ayat (8) Akreditasi oleh Departemen dilakukan secara objektif dengan prinsipprinsip berikut: 1. pakar keilmuan yang dimiliki oleh perguruan tinggi yang bersangkutan. b. 2.Pasal 73 Ayat (1) Cukup jelas. Dewan penelaah sebagaimana dimaksud pada huruf 1 dapat menunjuk mitra bestari untuk menelaah dan memilih naskah ilmiah yang akan diterbitkan. Jurnal ilmiah harus memiliki dewan penelaah yang terdiri atas: a. 4. Ayat (3) Cukup jelas. Ayat (4) Cukup jelas. Ayat (6) Cukup jelas. Ayat (2) Cukup jelas. dan c.

Pasal 78 Cukup jelas. Pasal 76 Cukup jelas. dan tidak dapat digunakan untuk melengkapi persyaratan kepangkatan dalam sistem 76461668. 5. Pasal 75 Cukup jelas. Pasal 80 Ayat (1) Cukup jelas.doc 157 . Pasal 81 Ayat (1) Gelar Doktor Kehormatan bukanlah gelar akademik namun sebutan kehormatan. Jurnal ilmiah sebagaimana dimaksud pada huruf 1 dapat memuat artikel ilmiah yang berasal dari perguruan tinggi yang bersangkutan sebanyak-banyaknya 20% (dua puluh persen) dari seluruh artikel ilmiah yang diterbitkan pada setiap penerbitan. Ayat (2) Menteri Agama menetapkan kesetaraan ijazah perguruan tinggi luar negeri dengan ijazah gelar perguruan tinggi Indonesia dalam disiplin ilmu agama. Pasal 79 Cukup jelas. Departemen menetapkan status akreditasi yang diperoleh oleh jurnal yang bersangkutan.diterbitkan harus menerapkan sistem telaah nirnama. Pasal 74 Cukup jelas. Pasal 77 Cukup jelas. Atas dasar hasil akreditasi.

Taman Asuh Anak Muslim. PAUD Bina Iman Anak (PAUD-BIA). Jenis-jenis pendidikan nonformal yang mempunyai fungsi pengganti pendidikan formal. keterampilan dan sikap yang diperoleh peserta didik pada satuan pendidikan formal dirasa belum memadai. Pendidikan nonformal berfungsi sebagai pelengkap apabila peserta didik pada satuan pendidikan formal merasa perlu untuk menambah pengetahuan. Pasal 84 Satuan pendidikan lain yang sejenis pada pendidikan nonformal misalnya POS PAUD.doc 158 . PAUD Sekolah Minggu (PAUD-SM). Pasal 83 Ayat (1) Pendidikan nonformal berfungsi sebagai pengganti. keterampilan dan sikap melalui jalur pendidikan nonformal. penambah. Taman Balita. Ayat (2) Cukup jelas. Taman Bermain. Ayat (2) Cukup jelas. dan pelengkap pendidikan formal bagi peserta didik yang karena berbagai hal tidak dapat mengikuti kegiatan pembelajaran pada satuan pendidikan formal atau peserta didik memilih jalur pendidikan nonformal untuk memenuhi kebutuhan belajarnya. Ayat (4) Cukup jelas. Pendidikan nonformal berfungsi sebagai penambah pada pendidikan formal apabila pengetahuan. dan Program Paket C setara SMA serta kursus dan pelatihan. 76461668.kepegawaian pegawai negeri sipil. Pasal 82 Cukup jelas. Taman Pendidikan Al-Quran (TPQ). Taman Pendidikan Anak Sholeh (TAPAS). Ayat (3) Cukup jelas. adalah: Program Paket A setara SD. dan PAUD yang diintegrasikan dengan program layanan yang telah ada seperti Pos Pelayanan Terpadu (Posyandu) dan program bina keluarga balita (BKB). Program Paket B setara SMP.

kecakapan dalam memilih dan menentukan jalan hidup pribadi. percaya diri. kecakapan dalam pengenalan terhadap kondisi dan potensi diri. Pasal 91 Ayat (1) Kecakapan personal atau kecakapan pribadi mencakup kecakapan dalam melakukan ibadah sesuai dengan agama yang dianutnya. kecakapan dalam melakukan koreksi diri. Pasal 86 Cukup jelas. Pasal 85 Cukup jelas. Pasal 89 Cukup jelas. PAUD-BIA adalah salah satu bentuk satuan PAUD pada jalur pendidikan nonformal yang menyelenggarakan program pendidikan keagamaan Katholik bagi anak berusia 2 (dua) tahun sampai dengan 6 (enam) tahun yang berbasis Bina Iman Anak Katholik. Pasal 88 Cukup jelas. Pasal 90 Cukup jelas. PAUD-SM adalah salah satu bentuk satuan PAUD pada jalur pendidikan nonformal yang menyelenggarakan program pendidikan keagamaan Kristen bagi anak berusia 2 (dua) tahun sampai dengan 6 (enam) tahun yang berbasis Sekolah Minggu. Pasal 87 Cukup jelas.POS PAUD adalah salah satu program satuan PAUD pada jalur pendidikan nonformal yang menyelenggarakan program pendidikan bagi anak sejak lahir sampai dengan berusia enam tahun yang dapat diintegrasikan dengan dan TPQ adalah salah satu bentuk satuan PAUD pada jalur pendidikan nonformal yang menyelenggarakan program pendidikan keagamaan Islam bagi anak berusia 2 (dua) tahun sampai dengan 6 (enam) tahun yang berbasis Taman Pendidikan Al-Quran.doc 159 . kecakapan dalam menghadapi tantangan 76461668.

Kecakapan sosial mencakup kecakapan dalam hidup berkeluarga. dan bernegara. Ayat (3) Cukup jelas.doc 160 . berbangsa. Ayat (2) Cukup jelas. teknologi dan/atau seni sesuai dengan bidang yang dipelajari. kecakapan bekerjasama dengan sesama. berpikir kritis dan kreatif. Ayat (4) 76461668. Ayat (2) Cukup jelas. Pasal 93 Ayat (1) Pemuda adalah penduduk yang berusia 15 (lima belas) sampai dengan 35 (tiga puluh lima) tahun. mengembang profesionalitas dan produktivitas kerja dan kode etik bersaing dalam melakukan pekerjaan. kecakapan melakukan penelitian dan percobaan-percobaan dengan pendekatan ilmiah.dan problema serta kecakapan dalam mengatur diri. kecakapan dalam menyesuaikan diri dengan lingkungan. Kecakapan vokasional mencakup kecakapan dalam memilih bidang pekerjaan. bermasyarakat. empati atau tenggang rasa. Kecakapan intelektual mencakup kecakapan terhadap penguasaan ilmu pengetahuan. kepemimpinan dan tanggung jawab sosial. Pasal 92 Cukup jelas. mengelola pekerjaan. Ayat (3) Cukup jelas.

Pasal 96 Cukup jelas. Pasal 95 Cukup jelas. Pasal 94 Cukup jelas. Ayat (2) Cukup jelas.doc 161 . Lembaga yang ditunjuk oleh Pemerintah adalah Badan Standar Nasional Pendidikan atau lembaga lain yang memiliki kompetensi untuk melakukan penilaian secara profesional dan mandiri. Pasal 98 Ayat (1) Khusus untuk penyetaraan hasil pendidikan nonformal Program Paket A sederajat dengan SD/MI. Ayat (4) Cukup jelas. Program Paket B sederajat dengan SMP/MTs. Ayat (3) Cukup jelas.Cukup jelas. Pasal 97 Cukup jelas. Pasal 99 76461668. Ayat (5) Cukup jelas. dan Program Paket C sederajat dengan SMA/MA telah diatur dalam Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2003 tentang Standar Nasional Pendidikan. Lembaga yang ditunjuk oleh pemerintah daerah adalah lembaga yang telah diakui memiliki kompetensi untuk melakukan penilaian secara profesional dan mandiri oleh Badan Standar Nasional Pendidikan dan ditetapkan oleh Menteri.

Ayat (3) Cukup jelas. Ayat (2) Cukup jelas Ayat (3) Yang dimaksud terbuka adalah 76461668. lembaga pelatihan serta ujian atau uji kompetensi pada satuan atau program nonformal yang lain. Ayat (2) Lulus ujian pada satuan pendidikan nonformal dengan mengacu pada standar nasional pendidikan antara lain ujian atau uji kompetensi pada lembaga kursus. Ayat (5) Cukup jelas.Cukup jelas. Pasal 103 Ayat (1) Cukup jelas.doc sistem pendidikan yang 162 . Pasal 100 Cukup jelas. Pasal 102 Cukup jelas. Ayat (4) Cukup jelas. Pasal 101 Ayat (1) Lulus ujian pada satuan pendidikan formal dengan mengacu pada standar nasional pendidikan mencakup ujian sekolah/madrasah dan ujian nasional pada tingkat akhir satuan pendidikan.

Contoh. Peserta didik dapat belajar sambil bekerja. Berbasis teknologi pendidikan adalah pendidikan yang dirancang dan dikembangkan berdasarkan kebutuhan individu dengan memanfaatkan teknologi pembelajaran. Ayat (2) Pengorganisasian modus tunggal adalah penyelenggaraan pendidikan jarak jauh dalam satu satuan pendidikan formal 76461668. teknologi kokunikasi. Peserta didik dapat mencapai tingkat penguasaan kompetensi yang dipersyarakan dengan kecepatan yang berbeda-beda. Pasal 104 Ayat (1) Cukup jelas. dan media lain. informasi. Pasal 105 Ayat (1) Cukup jelas.diselenggarakan dengan fleksibilitas pilihan dan waktu penyelesaian program.doc 163 . atau mengambil program-program pendidikan yang berbeda secara terpadu dan berkelanjutan melalui pembelajaran tatap muka atau jarak jauh. seorang peserta didik baru dapat menempuh kegiatan belajar (learning tasks) berikutnya apabila telah menguasai kompetensi yang telah disyaratkan dalam kegiatab belajar sebelumnya. Yang dimaksud belajar tuntas adalah proses pembelajaraan untuk mencapai taraf penguasaan kompetensi (mastery level) sesuai dengan tuntutan kurikulum. Yang dimaksud dengan belajar mandiri adalah proses belajar yang dilakukan peserta didik secara peseorangan atau kelompok dengan memanfaatkan berbagai sumber belajar dan mendapat bantuan atau bimbingan belajar atau tutorial sesuai kebutuhan. Ayat (2) Sumber belajar Ayat (3) Layanan berbasis teknologi informasi dan komunikasi tanpa mengesampingkan layanan tatap muka. Proses belajar berlangsung secara bertahap dan berkelanjutan.

Pendidikan tatap muka tersebut terikat dengan jadwal waktu dan tempat seperti yang berlangsung pada lembaga pendidikan umumnya. Ayat (4) Cakupan program pendidikan berbasis satuan pendidikan seperti yang diselenggarakan oleh SMP Terbuka dan SMA Terbuka yang menyelenggarakan pendidikan SMP dan SMA. dan University on the Air di China. Shukothai Thammathirat Open University di Thailand. Ayat (5) Cukup jelas. Pasal 106 Ayat (1) Cukup jelas. dan universitas maya (cyber university). jenjang. jenjang.pada berbagai jalur. Ayat (2) Cakupan program pendidikan berbasis mata pelajaran adalah suatu satuan pendidikan yang menyelenggarakan pendidikan jarak jauh hanya untuk satu mata pelajaran. Ayat (3) Pengorganisasian modus ganda adalah penyelenggaraan pendidikan jarak jauh bersamaan dengan pendidikan tatap muka pada berbagai jalur. dan Universitas Terbuka yang menyelenggarakan program 76461668. dan jenis pendidikan. Pada tingkat pendidikan tinggi pengorganisasian modus tunggal adalah seperti yang diselenggarakan oleh Universitas Terbuka di Indonesia. misalnya SMA menyelenggarakan pembelajaran jarak jauh untuk mata pelajaran bahasa Inggris. jenjang.doc 164 . dan jenis pendidikan. Ayat (4) Pengorganisasian modus konsorsium adalah penyelenggaraan pendidikan jarak jauh pada berbagai jalur. Ayat (3) Cukup jelas. Misalnya suatu perguruan tinggi bekerjasama dengan perguruan tinggi lain atau lembaga lain dalam bentuk program pendidikan lapis (sandwich) atau kembaran (twinning) jarak jauh. dan jenis pendidikan oleh beberapa satuan pendidikan secara bersama (kolaboratif).

Pasal 107 Cukup jelas. maupun tenaga kependidikan yang sesuai dengan kebutuhan mereka. Pasal 112 Ayat (1) Cukup jelas. Program pendidikan inklusif adalah program pendidikan yang memberikan kesempatan bagi peserta didik berkelainan untuk belajar bersama-sama dengan peserta didik normal pada satuan pendidikan umum maupun kejuruan. Pasal 108 Cukup jelas. Program pendidikan terpadu adalah program pendidikan yang memberikan kesempatan bagi peserta didik berkelainan untuk belajar bersama-sama dengan peserta didik normal pada satuan pendidikan umum maupun kejuruan. maupun tenaga kependidikan yang sesuai dengan kebutuhan mereka. Pasal 109 Cukup jelas. dan sosial. tenaga pendidik. dimana mereka mengikuti kurikulum yang disesuaikan dengan 76461668. dengan cara menyediakan sarana. Ayat (2) Satuan pendidikan khusus bagi peserta didik berkelainan adalah satuan pendidikan yang dirancang secara eksklusif untuk melayani peserta didik yang memiliki kesulitan dalam proses pembelajaran karena kelainan fisik. tenaga pendidik.pendidikan tinggi. dimana mereka mengikuti kurikulum yang berlaku bagi peserta didik normal. Pasal 111 Cukup jelas. dengan menyediakan sarana.doc 165 . emosional. Pasal 110 Cukup jelas. mental.

Pasal 115 Ayat (1) Cukup jelas. Ayat (3) Cukup jelas. 76461668. Ayat (4) Yang dimaksud dengan sistem unit adalah sistem pelayanan pendidikan yang memadukan pendidikan dasar dan menengah dalam 1 (satu) manajemen karena alasan skala ekonomi. Pasal 116 Cukup jelas. Pasal 118 Ayat (1) Cukup jelas. Ayat (2) Cukup jelas. Ayat (5) Cukup jelas.kebutuhannya.doc 166 . Pasal 114 Cukup jelas. Pasal 113 Cukup jelas. Ayat (3) Cukup jelas. Pasal 117 Cukup jelas.

Pasal 122 Cukup jelas. Pasal 121 Cukup jelas. spiritual. Program percepatan dan pengayaan dilakukan dengan memperhatikan keseluruhan kompetensi kecerdasan yang harus dicapai peserta didik yang meliputi kecerdasan intelektual. 76461668. Pasal 119 Cukup jelas. huruf b Cukup jelas. Ayat (3) huruf a yang dimaksud dengan tingkat inklusi adalah penyelenggaraan pendidikan yang terdiri atas peserta didik normal dan yang memiliki potensi kecerdasan dan/atau bakat istimewa dengan menggunakan kurikulum yang dibedakan. program percepatan dan pengayaan tidak perlu diadakan secara ekslusif karena sudah terintegrasi di dalam sistem. emosional. Pasal 120 Ayat (1) Peserta didik yang secara ekstrim memiliki potensi jauh di atas rata-rata dinyatakan antara lain mempunyai kecerdasan di atas 3 simpangan baku (standar deviasi) populasi anak.Ayat (2) Pada satuan pendidikan yang menerapkan sistem satuan kredit semester (sks). huruf c Cukup jelas.doc 167 . dan kinestetik. Ayat (2) Cukup jelas.

Pasal 129 Cukup jelas Pasal 130 Cukup jelas. Pasal 124 Cukup jelas.Pasal 123 Cukup jelas. dan seni misalnya negara anggota Organisation for Economic Co-Operation and Development (OECD). Ayat (2) Cukup jelas. 76461668. Ayat (3) Cukup jelas. Pasal 125 Cukup jelas Pasal 126 Ayat (1) Negara lain yang mempunyai keunggulan dalam bidang ilmu pengetahuan. Pasal 127 Cukup jelas. teknologi. Pasal 128 Cukup jelas.doc 168 . Ayat (4) Cukup jelas.

Model keluar masuk (entry-exit) dilaksanakan dengan cara mengelola kelas atau satuan pendidikan biasa bersamaan dengan kelas atau satuan pendidikan bertaraf internasional atau berbasis keunggulan lokal yang peserta didik pada kelas atau satuan pendidikan biasa dapat pindah ke kelas atau satuan pendidikan bertaraf internasional atau berbasis keunggulan lokal sebaliknya. Pasal 133 Cukup jelas.Pasal 131 Cukup jelas. Model terpisah-satu sistem-tidak satu atap dilaksanakan dalam lokasi yang berbeda atau terpisah dengan menggunakan sistem pengelolaan pendidikan yang sama. Pasal 132 Model terpadu-satu sistem-satu atap dilaksanakan dalam satu lokasi dengan menggunakan sistem pengelolaan pendidikan yang sama. Pasal 134 Cukup jelas. Untuk pindah dari satuan pendidikan biasa ke satuan pendidikan bertaraf internasional atau berbasis keunggulan lokal harus memenuhi persyaratan yang ditetapkan oleh satuan pendidikan yang dituju. Ayat (2) Cukup jelas. 76461668. Pasal 135 Ayat (1) untuk Bahasa asing dapat digunakan sebagai bahasa pengantar mendukung kemampuan berbahasa asing peserta didik.doc 169 . Model terpisah-beda sistem-tidak satu atap dilaksanakan di lokasi yang berbeda (terpisah) dengan sistem pengelolaan pendidikan yang berbeda.

serta penghasilan lainnya. Pasal 137 Cukup jelas. Pasal 138 Cukup jelas. pembelajaran. Huruf b. penilaian. dan/atau penjenjangan pendidikan yang secara resmi berlaku di negaranya.doc 170 . Ijazah dan gelar yang diberikan dilakukan berdasarkan kesepakatan dari kedua belah pihak dengan memperhatikan berbagai persyaratan pemberian ijazah maupun gelar akademik dari masing-masing perguruan tinggi dalam rangka pengendalian mutu. Cukup jelas. Persetujuan senat akademik dalam hal ini diperlukan untuk menjamin bahwa kerjasama ini telah dikaji dengan baik sebelumnya. Pasal 136 Sistem pendidikan negara lain meliputi kurikulum. Program kembaran ialah program yang dilaksanakan secara bersama oleh dua perguruan tinggi atau lebih untuk melaksanakan suatu program studi. tunjangan.Ayat (3) Sistem penggajian yang tidak diskriminatif antara lain tidak membedakan tata cara dan besaran gaji. Ayat (2) Cukup jelas. Huruf c. Pasal 139 Ayat (1) Cukup jelas. Ayat (3) Huruf a. Pertukaran dosen dapat dilakukan melalui program 76461668.

Cukup jelas. Huruf h. Pasal 140 Cukup jelas. Pasal 143 Cukup jelas. Ayat (4) Cukup jelas. Huruf g. Huruf f.doc 171 . 76461668. Cukup jelas. Pasal 141 Cukup jelas. Cukup jelas. Pasal 142 Cukup jelas. Huruf e. Cukup jelas. Cukup jelas. Cukup jelas. Huruf d. Cukup jelas. Pasal 144 Ayat (1) huruf a. Huruf i.“sabatical leave” yang tata caranya dapat diatur oleh masing-masing perguruan tinggi.

huruf c. dan daya tampung satuan pendidikan atau program studi yang bersangkutan memungkinkan menerimanya. SMK. huruf d. 3) 4) huruf f. huruf e. atau bentuk lain yang sederajat berhak pindah ke jalur atau satuan pendidikan lain yang setara. Cukup jelas. huruf g. Cukup jelas. maka: 1) 2) Peserta didik PAUD berhak pindah ke jalur atau satuan pendidikan lain yang setara. Ayat (2) Cukup jelas. SMP. Peserta didik pada SMA. Peserta didik pada SD.huruf b. MI. Cukup jelas. MAK atau bentuk lain yang sederajat dapat pindah program kejuruan pada jalur dan satuan pendidikan lain yang setara. huruf h. Cukup jelas. Cukup jelas. atau bentuk lain yang sederajat. Ayat (3) Cukup jelas. MTs. Mahasiswa perguruan tinggi berhak pindah ke perguruan tinggi lain atau program studi lain yang setara. Bilamana peserta didik memenuhi persyaratan penerimaan pada satuan pendidikan. MA.doc 172 . 76461668.

76461668. Cukup jelas. Huruf d.Pasal 145 Cukup jelas. dan tutor penanggung jawa mata pelajaran. Cukup jelas. Huruf h. Cukup jelas. tutor penanggung jawab tingkat . paket B. Huruf c. Huruf b. Dan untuk pendidik pada lembaga kursus dan pelatihan antara lain pengajar. Huruf e. Konselor yang dimaksud dalam ayat ini termasuk guru bimbingan dan konseling. Pasal 146 Cukup jelas. Cukup jelas.doc 173 . dan penguji. Cukup jelas. pembimbing. Huruf f. Cukup jelas. dan paket C antara lain nara sumber teknis. Cukup jelas. Pasal 147 Ayat (1) Sebutan lain termasuk pendidik pada program paket A. Ayat (2) Huruf a. pelatih atau instruktur. Huruf g.

Huruf i. Ayat (2) Apabila pendidik merasa bahwa peserta didik memerlukan pembelajaran tambahan maka kebutuhan itu dipenuhi melalui 76461668. Pasal 155 Cukup jelas. Pasal 156 Cukup jelas. Pasal 151 Cukup jelas. Pasal 149 Cukup jelas. Pasal 150 Cukup jelas. Pasal 148 Cukup jelas.doc 174 . Pasal 157 Ayat (1) Sekolah Menengah Kejuruan yang memiliki program studi tata busana dapat menyediakan pakaian seragam untuk peserta didiknya sendiri sebagai bagian dari proses pembelajaran. Pasal 152 Cukup jelas. Pasal 154 Cukup jelas. Cukup jelas. Pasal 153 Cukup jelas.

Pasal 159 Cukup jelas. Pasal 160 Cukup jelas. Ayat (4) Cukup jelas. Ayat (5) Tim sukses adalah sekelompok orang yang direkrut untuk tujuan pemenangan salah satu kontestan tertentu dalam pemilihan umum dan/atau pemilihan kepala daerah sesuai peraturan perundang-undangan. Pasal 161 Cukup jelas. Pasal 162 Cukup jelas. Pasal 163 Cukup jelas. 76461668.doc 175 . Pasal 158 Cukup jelas. Ayat (3) Cukup jelas. Pasal 165 Ayat (1) Huruf a. Pasal 164 Cukup jelas.program remedial sesuai ketentuan kurikulum yang berlaku.

Ayat (2) Cukup jelas.Cukup jelas. Huruf b. Cukup jelas. Pasal 166 Ayat (1) Cukup jelas. Ayat (3) Cukup jelas. SMA/MA. Ayat (4) Cukup jelas. Peserta didik pada satuan pendidikan informal dapat mengambil mata pelajaran atau program pendidikan pada satuan pendidikan formal atau pendidikan nonformal untuk memenuhi beban belajar pendidikan informal yang bersangkutan. nonformal. Peserta didik TK/RA. SMP/MTs. Ayat (2) Huruf a. Ayat (5) Cukup jelas. SD/MI. Peserta didik pada satuan pendidikan nonformal dapat mengambil mata pelajaran atau program pendidikan pada satuan pendidikan formal atau pendidikan informal untuk memenuhi beban belajar pendidikan nonformal yang bersangkutan. atau informal untuk memenuhi ketentuan kurikulum pendidikan formal yang bersangkutan.doc 176 . Huruf b. dan SMK/MAK. atau bentuk lain yang sederajat dapat mengambil mata pelajaran atau program pendidikan pada satuan pendidikan formal. Ayat (3) 76461668.

Himpunan Sarjana Pendidikan Indonesia. Ayat (4) Cukup jelas. Pasal 169 Cukup jelas. Persatuan Guru Republik Indonesia. dan sejenisnya. Pasal 168 Ayat (1) Organisasi profesi pendidikan seperti. Ayat (2) Cukup jelas. Pasal 170 76461668. Pasal 167 Cukup jelas. dan sejenisnya.doc 177 .Satuan pendidikan yang menerapkan sistem kredit semester dapat mengakui hasil belajar dari satuan pendidikan lain baik formal maupun nonformal untuk memenuhi perolehan satuan kredit smester (sks) peserta didik pada satuan pendidikan yang bersangkutan. Ayat (4) Cukup jelas. Majelis Nasional Pendidikan Katolik. Majelis Pendidikan Kristen. Organisasi sosial kemasyarakatan seperti Muhammadiyah. Ma’arif-NU. Ayat (3) Cukup jelas. Pengusaha termasuk perusahaan-perusahaan. Ayat (5) Cukup jelas.

sebagai pekerja di tempat praktik kerja dan sebagai siswa di sekolah.Ayat (1) Cukup jelas. Pabbajja 76461668.doc 178 . MTs. Ayat (4) Cukup jelas. Pesantren. Kekhasan agama satuan pendidikan dapat berupa pendidikan umum yang diselenggarakan oleh kelompok agama tertentu. Pasal 171 Cukup jelas. sosioekonomi. MA. dan sosio-kultural sekaligus. Ayat (3) Sistem magang merupakan kegiatan pembelajaran yang berlangsung di tempat kerja sebagai proses transisi dari peserta didik menjadi pekerja (apprenticeship) Pendidikan sistem ganda (dual system) adalah kegiatan pembelajaran yang memberikan status ganda kepada peserta didik. atau pendidikan keagamaan seperti Pendidikan Diniyah. Pasal 172 Ayat (1) Satuan pendidikan yang diselenggarakan oleh masyarakat adalah satuan pendidikan yang selama ini berstatus swasta. Ayat (2) Satu satuan pendidikan dapat memiliki kekhasan agama. Kerjasama produksi merupakan kerjasama antara satuan pendidikan dan pengusaha/dunia kerja dalam bidang pekerjaan tertentu di mana kerjasama tersebut dilakukan melalui perjanjian timbal balik yang menguntungkan kedua belah pihak. Ayat (2) Cukup jelas. pendidikan umum yang menyelenggarakan pendidikan umum dan ilmu agama seperti MI.

doc 179 . potensi. Pasal 176 Ayat (1) Cukup jelas. Pasal 173 Cukup jelas. Ayat (4) Koordinasi dan kerjasama antara lain menyusun anggaran dasar/anggaran rumah tangga. dan sosio-kultural merupakan muatan pendidikan dan/atau pendekatan pembelajaran yang disesuaikan dengan kebutuhan. Ayat (2) Cukup jelas. Pasal 178 76461668. dan bentuk lain yang sejenis. Pasal 177 Ayat (1) Cukup jelas. dan memecahkan permasalahan pendidikan yang muncul. Ayat (2) Pertemuan 2 (dua) kali setahun yang dimaksud sekurangkurangnya pada awal semester. dan sosio-kultural setempat. Ayat (3) Cukup jelas. dan keadaan sosio-ekonomi. Pendidikan dengan kekhasan sosio-ekonomi. Pasal 174 Cukup jelas. tukar-menukar informasi.Samanera. Pasal 175 Cukup jelas.

dan media lainnya.Ayat (1) Pakar pendidikan adalah perseorangan atau kelompok yang memiliki pengetahuan dan keahlian di bidang pendidikan yang karyanya dipublikasikan di media cetak. Pasal 179 Ayat (1) Cukup jelas. Komisi Pendidikan Khusus dan Pendidikan Layanan Khusus. provinsi. Komisi Pendidikan Tinggi. Komisi Pendidikan Dasar dan Menengah. 76461668. media elektronik. atau melalui produk lain yang menggambarkan keahliannya. dan kabupaten/kota. dan tokoh nonpartisan lainnya yang berpartisipasi dalam kegiatan pendidikan. Ayat (2) Cukup jelas. Ayat (5) Komisi sebagaimana dimaksud pada ayat ini disesuaikan dengan lingkup pengelolaan dan kebutuhan di tingkat nasional. Ayat (3) Cukup jelas. Komisi Pendidikan Keagamaan. Komisi Pendidikan Nonformal dan Informal. Tokoh masyarakat termasuk tokoh agama.doc 180 . Ayat (2) Cukup jelas. Ayat (4) Cukup jelas. Pengusaha misalnya pemilik perusahaan swasta. Komisi Pendidikan Kedinasan. Di tingkat nasional dapat terdiri atas Komisi Pendidikan Anak Usia Dini. dan Komisi Pendidikan Jarak Jauh. Ayat (3) Cukup jelas. pemimpin paguyuban adat (marga atau nagari).

Komisi Pendidikan Dasar dan Menengah. Komisi-komisi tersebut dapat berdiri sendiri atau digabung sesuai dengan kebutuhan. dan Komisi Pendidikan Keagamaan. Di tingkat kabupaten/kota dapat terdiri atas Komisi Pendidikan Anak Usia Dini. Pasal 180 Ayat (1) Cukup jelas. Komisi Pendidikan Tinggi. Ayat (6) Tenaga ahli yang dimaksud terdiri dari tenaga pendidik profesional yang berfungsi sebagai konsultan. Pasal 182 Cukup jelas. Pasal 181 Cukup jelas. menggantikan keberadaan BP3. Komisi Pendidikan Dasar dan Menengah. Komisi Pendidikan Nonformal dan Informal. Pasal 183 Cukup jelas.Di tingkat provinsi dapat terdiri atas Komisi Pendidikan Anak Usia Dini. Pasal 184 Ayat (1) Komite sekolah/madrasah POMG dan yang sejenis. 76461668.doc 181 . Komisi Pendidikan Khusus dan Pendidikan Layanan Khusus. Ayat (2) Dalam melaksanakan tugasnya panitia dapat meminta bantuan konsultan yang berpengalaman melakukan uji kelayakan (fit and proper test) dalam bidang pendidikan. Komisi Pendidikan Khusus dan Pendidikan Layanan Khusus. Komisi Pendidikan Nonformal dan Informal. dan Komisi Pendidikan Keagamaan.

MI. Komite Pendidikan Nonformal. SD. Ayat (7) Pembentukan komite sekolah/madrasah yang terdiri dari beberapa satuan pendidikan hingga memenuhi jumlah 200 peserta didik dimaksudkan untuk mencapai sinergi dan efektivitas dalam memberdayakan peranserta masyarakat terutama pada satuan pendidikan dengan jumlah peserta didik yang kecil. dan SMK. Penggabungan dapat dilakukan karena lokasi berdekatan. SMA. program pendidikan nonformal. dan MAK. tukar-menukar informasi. Ayat (4) Koordinasi dan kerjasama antara lain menyusun anggaran dasar/anggaran rumah tangga. Ayat (2) Cukup jelas. atau RA. atau yang sejenisnya baik yang diselenggarakan oleh Pemerintah. atau satuan-satuan pendidikan dikelola oleh suatu penyelenggara pendidikan. MA.Nama lain yang sejenis seperti Majelis Madrasah. dan memecahkan permasalahan pendidikan yang muncul. 76461668.doc 182 . maupun oleh masyarakat. dan unsur . atau berbeda seperti TK. Komite satuan pendidikan jalur nonformal dibentuk berdasarkan kebutuhan satuan atau gabungan satuan pendidikan nonformal. Ayat (6) Gabungan satuan pendidikan yang dimaksud adalah satu komite sekolah/madrasah atau nama lain yang sejenis terdiri dari sekolah dan madrasah. SMP. atau satuan pendidikan lainnya dalam satu wilayah desa atau kecamatan. Gabungan tersebut dapat terdiri dari beberapa satuan pendidikan pada jenjang yang sama. satuan pendidikan keagamaan. Ayat (3) Cukup jelas. Ayat (5) Pihak-pihak yang terkait misalnya unsur-unsur satuan pendidikan selain kepala satuan pendidikan. atau karena pertimbangan lain. MTs.

Pasal 185 Cukup jelas. jenjang. Pasal 191 Cukup jelas. Pasal 193 Ayat (1) Cukup jelas. departemen yang menangani urusan pemerintah bidang lain. pemerintah daerah. Pasal 190 Cukup jelas. Ayat (2) Menteri melakukan pengawasan pendidikan secara umum baik yang berada di bawah kewenangan Departemen. Departemen Agama melakukan pengawasan pendidikan agama dan pendidikan keagamaan pada semua jalur. akademik. Pasal 186 Cukup jelas. Pasal 192 Cukup jelas. Departemen melakukan pengawasan pendidikan umum. maupun masyarakat. jenjang.doc 183 . dan khusus pada semua jalur. Pasal 189 Cukup jelas. Ayat (3) 76461668. profesi. dan jenis pendidikan. kejuruan. lembaga pemerintah non-departemen. Pasal 187 Cukup jelas. Pasal 188 Cukup jelas. vokasi. dan jenis pendidikan.

Pasal 194 Ayat (1) Cukup jelas. Ayat (3) Pemeriksaan diterapkan secara arif terhadap objek yang diawasi. Ayat (2) Cukup jelas. Ayat (4) Cukup jelas. Ayat (7) Lembaga independen yang melakukan pengawasan/pemeriksaan independen misalnya akuntan publik. Ayat (3) Cukup jelas. Pasal 196 Ayat (1) Cukup jelas. Ayat (5) Cukup jelas. Ayat (4) Cukup jelas. Ayat (2) Cukup jelas. Misalnya pemeriksaan terhadap objek yang diawasi 76461668.doc 184 . Pasal 195 Cukup jelas.Cukup jelas. Ayat (6) Cukup jelas.

j.sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf h. Ayat (3) Pemeriksaan diterapkan secara arif terhadap objek yang diawasi. Pasal 199 76461668. dan m hanya dilakukan apabila terdapat indikasi terjadinya penyimpangan administratif atau pelanggaran hukum. h. i. k. Pasal 198 Ayat (1) Cukup jelas. Ayat (4) Cukup jelas. f. l. g. Ayat (2) Cukup jelas. Ayat (3) Pemeriksaan diterapkan secara arif terhadap objek yang diawasi. Ayat (4) Cukup jelas. Misalnya pemeriksaan terhadap objek yang diawasi sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf f. Ayat (2) Cukup jelas. i. l. i. Pasal 197 Ayat (1) Cukup jelas. j. k. dan j hanya dilakukan apabila terdapat indikasi terjadinya penyimpangan administratif atau pelanggaran hukum. Ayat (4) Cukup jelas. h.doc 185 . g. Misalnya pemeriksaan terhadap objek yang diawasi sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf e. dan m hanya dilakukan apabila terdapat indikasi terjadinya penyimpangan administratif atau pelanggaran hukum.

Ayat (3) Unit dari perguruan tinggi termasuk: a.Cukup jelas.doc 186 . lembaga pengabdian lain yang masyarakat. Ayat (2) Cukup jelas. program pendidikan. Pasal 204 Ayat (1) Cukup jelas. d. b. Ayat (2) Cukup jelas. dan/atau fakultas. unit-unit dharma perguruan tinggi. Pasal 201 Cukup jelas. melaksanakan f. badan hukum pendidikan. program studi. c. Pasal 203 Ayat (1) Pemberian sanksi dilakukan secara arif dan disesuaikan dengan tingkat pelanggaran yang dilakukan oleh satuan pendidikan. dan/atau satuan pendidikan. jurusan. e. lembaga penelitian atau pusat studi. Pasal 200 Cukup jelas. Ayat (4) 76461668. Pasal 202 Cukup jelas.

penempatan. pemindahan. Pasal 210 Cukup jelas. Pasal 209 Cukup jelas. Pasal 211 76461668. Ayat (5) Cukup jelas.Cukup jelas.doc 187 . Ayat (2) Cukup jelas. Ayat (6) Cukup jelas. Pasal 208 Ayat (1) Cukup jelas. Pasal 205 Cukup jelas. Ayat (3) Cukup jelas. Ayat (4) Cukup jelas. Pasal 206 Cukup jelas Pasal 207 Cukup jelas. dan pemberhentian pendidik dan tenaga kependidikan. Ayat (5) Yang dimaksud dengan seseorang adalah pejabat atau pengurus badan hukum pendidikan yang memiliki kewengan dalam pengangkatan.

Pasal 213 Cukup jelas. Pasal 214 Cukup jelas.. TAMBAHAN LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA NOMOR .Cukup jelas. 76461668. Pasal 216 Cukup jelas. Pasal 218 Cukup jelas.doc 188 . Pasal 215 Cukup jelas. Pasal 219 Cukup jelas. Pasal 212 Cukup jelas. Pasal 217 Cukup jelas..

...................................................................................................................Pemerintah provinsi..............................................................12 f................12 a.........................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................12 d............................12 Pengelolaan oleh Pemerintah Provinsi.....................................................................................12 Pasal 16...........................................................................7 Bagian Kesatu..................................................................................................................................................................................................................................................................15 Pasal 23...7 Pasal 2.DAFTAR ISI BAB I.............................. efektifitas....12 Bagian Ketiga.......................................................................................................................................Program dan/atau satuan pendidikan............................................................Departemen Agama.................12 Pasal 15 . .......................................................................................................................................Departemen..................................... dan..................Departemen lain atau lembaga pemerintah nondepartemen yang menyelenggarakan program dan/atau satuan pendidikan...................................doc i .............................................................................................................................................9 Pasal 10..................................................................................................................................................................................................................................................................................................12 e..........................................................................................7 Bagian Kedua................7 Pasal 3..........................8 Pasal 5..................................................................................................................................................................7 Umum....................................................................................................2 Pasal 1..............................................2 KETENTUAN UMUM................................. efektifitas.............................................................11 Pasal 13..............................................................................Badan hukum pendidikan.....................12 g.................12 c.......................................10 Pasal 12.........................12 Pasal 14........................................... dan 76461668................................................................ dan akuntabilitas pengelolaan pendidikan yang mengikat:.....................................7 PENGELOLAAN PENDIDIKAN............................................................13 Pasal 22............................................................................................................................12 b..................................................................................................................................................8 Pengelolaan oleh Pemerintah....................................Pemerintah kabupaten/kota......................................................................................................................................12 Menteri menetapkan kebijakan tatakelola pendidikan untuk menjamin efisiensi..............................................................................................8 Pasal 4..........................................16 Gubernur menetapkan kebijakan tatakelola pendidikan untuk menjamin efisiensi............................................................................................................................................................................................................................................2 BAB II.............................................

............................... efektifitas........................akuntabilitas pengelolaan pendidikan yang mengikat:....30 Pendidikan Anak Usia Dini.................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................17 Pengelolaan oleh Pemerintah Kabupaten/Kota.............................................................................................................................17 Pasal 25...........................24 Pasal 43............................16 Pasal 24................................................................. efektifitas.................................................................................................21 Pengelolaan oleh Badan Hukum Pendidikan .....................................................................20 Bupati/Walikota menetapkan kebijakan tatakelola pendidikan untuk menjamin efisiensi............................................................................................................................. dan akuntabilitas pengelolaan pendidikan yang mengikat:........................................................................21 Pasal 35...................................................................................................................................................................................................21 Pasal 36..............30 Paragraf 2.....25 Pasal 44 ...............................................................................................................................................................................................25 Pasal 45..........................................................................................30 Bentuk dan Jenis Satuan Pendidikan......................................................................................................................................30 PENYELENGGARAAN PENDIDIKAN FORMAL...........30 76461668.....................................................................................................................................................25 Pengelolaan oleh Satuan dan/atau Program Pendidikan..................................................17 Pasal 26..........................................................................................................................................................................................................................................................30 Bagian Kesatu...........................................18 Pasal 32..........22 Pasal 41...........29 BAB III.............................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................. efektifitas.........29 Pasal 52...............................................................21 Bagian Kelima......................................................................................................................................................................................................30 Pasal 54 .....................................................30 Paragraf 1.......30 Fungsi dan Tujuan.............................................20 Pasal 33......................................................................29 Satuan dan/atau program pendidikan menetapkan kebijakan tatakelola pendidikan untuk menjamin efisiensi................... dan akuntabilitas pengelolaan pendidikan yang mengikat:...................................................................................................................................30 Pasal 53 ................................................................doc ii ......................................................................................................24 Badan hukum pendidikan menetapkan kebijakan tatakelola pendidikan untuk menjamin efisiensi......................................................................25 Bagian Keenam........................................24 Pasal 42.........28 Pasal 51..................................................................... dan akuntabilitas pengelolaan pendidikan yang mengikat:........................................16 Bagian Keempat..........................................................................................27 Pasal 50................................................................................21 Pasal 34..............................................................................................................................................................

.................................................................................................................................................................................................33 Bentuk Satuan Pendidikan........................................................................................................................................................33 Pasal 60 ..................................................................................36 Bagian Ketiga...............................................................................................................................39 Pasal 72..................................................................................................37 Pasal 69................................32 Paragraf 2......................................................................................39 Pasal 71..32 Fungsi dan Tujuan..........................................34 Pasal 65...................................................................................................41 76461668..................31 Paragraf 4................................................................................................................................................................................................31 Penerimaan Peserta Didik................31 Bagian Kedua.................................................................................................................................................................................................................................................................................33 Pasal 59 .......................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................40 Bagian Kempat.........................................................................36 Paragraf 2...............................................................36 Fungsi dan Tujuan..................................37 Pasal 68 ................36 Paragraf 1...........................................................................................................33 Penerimaan Peserta Didik...................................................................................................................40 Fungsi dan Tujuan............33 Paragraf 3............................32 Paragraf 1......................................................................................................................................................39 Penerimaan Peserta Didik.........................................................................40 Paragraf 1...........................................................................................40 Pendidikan Tinggi.........................................................................................................................................31 Pasal 57 ............................................33 Pasal 63.....................................................................................................................................................34 Pasal 64 ..................................................................................................................................................................................................32 Pasal 58............................................................37 Bentuk Satuan Pendidikan...........41 Pasal 73................................................................................................................Paragraf 3 ........................................................................................................................................................................................................................31 Pasal 56 ..........................................................................38 Paragraf 3......................................................................................................................................doc iii ..........................................................................................................................................................................31 Pasal 55 ..............................................................................................................................................................................................................................................................36 Pasal 66.................................................................................................................................................................................................................................36 Pendidikan Menengah................................32 Pendidikan Dasar............................................................................................................................................................................31 Program Pembelajaran.......................................................................

..........48 (2)Program sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diselenggarakan sebagai berikut:...........................................................................................................................................................................................................................................memenuhi seluruh persyaratan program sarjana atau diploma empat kependidikan sesuai dengan peraturan perundang-undangan.....................................................................................................................................................42 Pasal 77................... Bentuk...........................................41 Paragraf 3............................................41 Pasal 74.........41 Organisasi Perguruan Tinggi.......................................................................................................................................................................................................................................... mengawasi............................................... dan Program Pendidikan...........................................................................................................................................................................................................................46 Pasal 86....................................................dilaksanakan oleh perguruan tinggi yang memiliki program studi sarjana atau diploma empat kependidikan berakreditasi dari Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi dan telah memperoleh izin untuk menyelenggarakan program sarjana atau diploma empat kependidikan khusus bagi guru tetap dalam jabatan dari Departemen....................................................46 Pasal 87 .........................................................................44 Pasal 80.............................48 a..............................................................48 c..................................................48 (1)Perguruan tinggi dapat menyelenggarakan program studi sarjana atau diploma empat kependidikan khusus bagi guru tetap dalam jabatan yang belum memiliki ijazah sarjana atau diploma empat dengan program sarjana atau diploma empat kependidikan khusus bagi guru tetap dalam jabatan.47 Pasal 89..........Paragraf 2........................................................................................................................ dan memfasilitasi penyelenggaraan program sebagaimana dimaksud pada ayat (2) sehingga guru tetap dalam jabatan yang bersangkutan memperoleh kualifikasi 76461668.....................................................................44 Pasal 81.....47 Pasal 88......................................................... ............................................................................................................................................................................................41 Jenis...............................46 Paragraf 4......................48 (3)Izin sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf a diberikan oleh Departemen setelah memperoleh jaminan dari pemerintah daerah kabupaten/kota yang bersangkutan untuk bertanggung jawab melindungi.............................................................................................................................................................................44 Penerimaan Mahasiswa ................42 Pasal 75 ...........................................................................43 Paragraf 3............................................................................dapat dilaksanakan di pusat kegiatan Kelompok Kerja Guru atau Musyawarah Guru Mata Pelajaran.........48 b..................................................................................46 Sistem Pembelajaran..................................................................................................................................................42 Pasal 79........................................................................................................................................................................doc iv ..............................45 Pasal 84..........................................................................

.............................................................................................................................................55 Pasal 99...............................................................................................................................................................55 Penjaminan Mutu Hasil Belajar...............................................................................................................................54 Paragraf 8.........................................................................................................................................................................................doc v ........................57 Pasal 83.....................51 Paragraf 6............................................................. Pasal 82 ayat (2).....................51 Pasal 94..................................................................56 Pasal 81.....................................................................................48 Paragraf 5.......................................................................................................................................................................58 Pasal 84.........................................................................................................................................akademik sarjana atau diploma empat kependidikan sesuai peraturan perundang-undangan.............................................................................................................................................................................................................................................................................................................................59 PENYELENGGARAAN PENDIDIKAN NONFORMAL ................................................55 Pasal 96...............................................................................................................................................................................................56 Gelar Lulusan Pendidikan Tinggi...........48 (5)Ketentuan sebagaimana diatur dalam Pasal ini berlaku sampai berakhirnya masa peralihan sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen...................................................................................49 Pasal 91................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................59 BAB IV.........................................................................................................................58 Bagian Kelima..............59 Pasal 85.................59 76461668....................................................................................................51 Penelitian......48 (4) Menteri dapat membatalkan izin program sebagaimana dimaksud pada ayat (2) apabila setelah dilakukan pemeriksaan oleh Inspektorat Jenderal Departemen atas instruksi Menteri terbukti bahwa pelaksanaan program yang bersangkutan telah melanggar peraturan perundang-undangan........................................55 Paragraf 9......................................................................59 Bagian Kesatu.............................................56 Paragraf 10.........................49 Pasal 92.................................49 Kebebasan Akademik dan Otonomi Keilmuan........................................................................51 Pasal 93...........................................................................................................................................48 Pasal 90..........................................................................................................................................................................................................................................................................................................59 Penjaminan Mutu................53 Pengabdian kepada Masyarakat..............................................................................................55 Pasal 97.......................................................................................................................................................................................................................................................................54 Pasal 95....................56 Pasal 82.........................................................................................55 Pengalihan Kredit ................

....................................62 Pasal 93 .....62 Bagian Ketiga.............................................................................................................................................................................................................................................................................................Fungsi dan Tujuan ......62 Paragraf 2....................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................62 Program Pendidikan ............................................................................................................................................................................62 Pasal 92.........................................................................................................................................................................................................................................61 Majelis Taklim...................60 Paragraf 2.....65 Pasal 98........................................60 Bentuk Satuan Pendidikan ..............................................................................................................................................................................................................................................................................................................63 Pendidikan Kepemudaan...........................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................62 Taman Penitipan Anak dan Kelompok Bermain ...........................................................................65 Paragraf 6.............................................................................................................................................................................................................................................................................................................60 Pasal 88..............................................60 Paragraf 1...................................................64 Paragraf 5...........................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................65 Pendidikan Keaksaraan...................................................................................................................................................61 Pasal 91.................................................65 76461668.......................................................................................................................60 Pasal 87......................................................................................................64 Pasal 97..................................................................61 Pasal 89.....................................................................................................................doc vi .......................................................................................................61 Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat................63 Pasal 95..64 Pendidikan Pemberdayaan Perempuan.................63 Paragraf 3.........................................62 Pendidikan Kecakapan Hidup............61 Paragraf 5....................................................................................................................59 Pasal 86...........61 Kelompok Belajar ..............64 Paragraf 4..................................60 Lembaga Kursus dan Lembaga Pelatihan .................................................................................61 Pasal 90..............62 Pasal 94..61 Paragraf 4......................................................................................................................................................................................................................................................................................................................60 Bagian Kedua..................................................................................................................................................................................................................................................................................................................63 Pasal 96...................................................................................................61 Paragraf 3........................................................................................................................................................................................................62 Paragraf 1........................................................................................................................................................65 Pendidikan Keterampilan dan Pelatihan Kerja...............

65 Paragraf 7......................................72 PENDIDIKAN LAYANAN KHUSUS.......................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................71 BAB VII.....................................................................................................................................................................................66 Pendidikan Kesetaraan.......................................................................................................................71 Pasal 111.........................................................................................................................................................................................................................67 Pasal 103....................................................................................66 Penyetaraan Hasil Pendidikan..............................................................................................................................................................................................69 PENYELENGGARAAN PENDIDIKAN JARAK JAUH..................................................................................................................................................................................73 Pasal 117...............................................................................................................................................73 Pasal 118..66 Bagian Ketiga (keempat)................72 Pendidikan Khusus bagi Peserta Didik Berkelainan..................................................68 Pasal 105.............................................................................................................................66 BAB V................................................................................................66 Pasal 101..............................................................................................................................................................................72 Pendidikan Khusus..................................................................................................................................................................................................................................................68 Pasal 104............................................................72 Paragraf 1........................72 Pasal 116..........................................................................................................................................................................................................................................................................72 Umum....................................................................................69 Pasal 108.............................................67 Pasal 102............................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................74 Paragraf 2...............................................................................................................................72 Pasal 114............................................................72 PENYELENGGARAAN PENDIDIKAN KHUSUS DAN.....................................................72 Bagian Kedua..............................................................................................................69 Pasal 107................................................................................................................................................................................................................................................................................70 Pasal 110....................72 Pasal 113...............................................................72 Pasal 115........................72 Bagian Kesatu..................................................................................................................69 Pasal 106.................................................................................................................................69 BAB VI....................................................................................................................................................73 Pasal 119....doc vii .........................................................................72 Pasal 112...............................67 PENYELENGGARAAN PENDIDIKAN INFORMAL....................................Pasal 99...................74 76461668...................................66 Pasal 100..........................................................................70 Pasal 109.......................................................................................................

...................................................................................79 Pasal 127...........89 HAK DAN KEWAJIBAN PESERTA DIDIK...............................................................................................................................86 Pasal 140......................................................................................................................82 Pasal 129....................................................................................................................85 Pasal 135...........................89 Pasal 142.......................................................................84 PENYELENGGARAAN PENDIDIKAN OLEH LEMBAGA NEGARA LAIN DAN KERJASAMA SATUAN PENDIDIKAN INDONESIA DENGAN SATUAN PENDIDIKAN NEGARA LAIN...........................75 Pasal 122................................................................................................82 Pasal 130................78 BAB VIII..............................................................................................................................................................................................75 Pasal 120........89 BAB X........................................................................................................84 BAB IX...............................................................................................................................83 Pasal 131..................................................................................................Pendidikan Khusus bagi Peserta Didik yang Memiliki ...................................................................................................................................................84 Pasal 133.....76 Pendidikan Layanan Khusus.........................................................................................................................................................................89 Pasal 143...........................76 Bagian Ketiga................................................................................................................................................................................86 Pasal 139.....................................................................................................................................85 Pasal 138......................................77 Pasal 123................................................................................................................................................76 Pasal 121...........................................................................................................................................................................................................................................................89 76461668........doc viii ..............................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................80 Pasal 128...........................................................................................................................................................................................................................................................................................................87 Pasal 141.........................76 Pasal 122...............................................84 Pasal 134..............................76 Pasal 123.........................................................................................................................................................................75 Pasal 121.....................................................................................................................................................78 DAN PENDIDIKAN BERBASIS KEUNGGULAN LOKAL..................................................................................................................................................................................................................................................................77 Pasal 124........................85 Pasal 136..................74 Potensi Kecerdasan dan/atau Bakat Istimewa.......................................78 PENYELENGGARAAN PENDIDIKAN BERTARAF INTERNASIONAL ............................78 Pasal 126....................................................................................................................................................................................83 Pasal 132..................................................................................................................................................................................78 Pasal 125..................................................................................................................................................................................................................

...................93 Pasal 149........................................101 PENDIDIKAN LINTAS SATUAN DAN JALUR PENDIDIKAN.........................................................................................................................................................doc ix ........................ dan Pemberhentian ............................................................................................................................... dan Tanggung Jawab...........................................101 BAB XIII........................................................................95 Bagian Ketiga...............................................................................................................................................................................................100 Pasal 162..92 PENDIDIK DAN TENAGA KEPENDIDIKAN....................................89 Pasal 145 ......................................................................................................................................97 Pasal 155.................................................95 Pasal 151.......................91 BAB XI.........................................96 Paragraf 2.....101 Pasal 163.........100 Pasal 161................................................................................................................................................95 Pasal 150.......................................96 Pembinaan Karir........101 Pasal 164.................92 Bagian Kesatu...................96 Pasal 152.......................................................................................................................................98 Pasal 157 .........................100 Pasal 160..................................................................................... Tugas........................................................................................................................................................................................................................................ Pemindahan.................................................................................................... Penempatan.........................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................Pasal 144...............................................................................................................96 Pasal 154..............................93 Bagian Kedua................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................90 Pasal 146........................................................................................................................................................................................96 Pembinaan Karir......................................................................................................................................................................96 Promosi dan Penghargaan...........92 Pasal 148................ dan Penghargaan ....................97 Pasal 156............................................................................................................................................................92 Pasal 147............................................................101 76461668...99 PENDIRIAN SATUAN PENDIDIKAN....99 Pasal 158....................... Promosi...........................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................98 Larangan.............................................................................98 Bagian Keempat.............................................................98 BAB XII................................95 Pengangkatan.................................................................................................................................................................................................................................96 Paragraf 1.................99 Pasal 159........................................................................96 Pasal 153....................................................................................................92 Jenis...................................................................................................................................

...................................................................................................................................................107 Pasal 178..................................................................................................................................................106 Dewan Pendidikan..102 Pasal 166.....................................................................................................................................................................................................................................................................110 Komite Sekolah/Madrasah................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................Pasal 165................................................................................106 Pasal 175..........................................................................................................................................................................................................................................................................................................110 Pasal 184............108 Pasal 181..................................................................................................................................................................................................103 PERANSERTA MASYARAKAT..........................................................................................................................................................................................................................................................................................................102 BAB XIV............................105 Pasal 172............107 Pasal 179...................................................................................................................................103 Komponen Peranserta Masyarakat...............................................................................................103 Bagian Kesatu................................................................................................................................................................................................................................................................................112 Pasal 186...........................................108 Pasal 180....................110 Pasal 185.....................................................................................................................................110 Paragraf 1.............................................................................................104 Pasal 170.........103 Pasal 167.............................................................................................................................................................doc x ............................................................................................................................112 Keanggotaan....106 Bagian Keempat............................................................106 Pasal 177...........................................................................................................................................109 Pasal 183..............103 Pasal 168..................................................105 Pasal 174...........................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................106 Pasal 176...................................................................................................................................................................................................103 Fungsi ................................112 76461668.........................................................................................................................................................................................................110 Fungsi dan Sifat......................................................................................................................................................................104 Pasal 171............................105 Bagian Ketiga...................103 Bagian Kedua....................................................................105 Pendidikan Berbasis Masyarakat..........109 Pasal 182..........................................................103 Pasal 169...........................................................................................................................................................................................111 Paragraf 2.....110 Bagian Kelima.........................................................................112 Persyaratan Anggota.......................112 Paragraf 3...................................................................

.............................................................117 Pasal 197.............................116 Pasal 196...........................................................................114 Pasal 190.........................................................................................................................................................Pasal 187...124 Pasal 209......................................................................................................................................................................................................................................................113 Paragraf 6...............................................................................................................................119 Pasal 199.............................................................................................................................................................................115 Pasal 192............................125 Pasal 211................................................................................................................................................................113 Pasal 188..................................................................................................122 Pasal 202......................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................126 Pasal 213................................126 76461668.................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................120 Pasal 200....................................................................................114 Pendanaan..............................................................................................................................125 Pasal 210....................................................................................................................121 Pasal 201...................115 Pasal 194.........................................................................................113 Paragraf 5........................115 BAB XV............................................................................................................................................................................................................................122 SANKSI.....................................113 Pasal 189...........................................124 Pasal 207.............................................................................................................113 Mekanisme Pemilihan.......................114 Bagian Keenam...............................................................................................................................................................................................................................124 Pasal 206........................................................................................................................................................................................................................................115 Pasal 193..............................................115 PENGAWASAN...............113 Struktur Organisasi dan Kepengurusan.............................................................................................................................doc xi ...........................................................................................................................................................122 Pasal 204..................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................114 Pasal 191..........................................................123 Pasal 205.......................................121 BAB XVI........................125 Pasal 212....................................................................................................................................................................................................................................115 Larangan......................118 Pasal 198....................................................................................124 Pasal 208...122 Pasal 203.......................112 Paragraf 4..............................................................................116 Pasal 195............

................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................126 Pasal 215........126 KETENTUAN PERALIHAN............................................126 BAB XVIII................................................................127 Pasal 217.................................................................................................................................................................129 76461668......................................................................................................................................................................................126 Pasal 214 .............127 Pasal 218.........................doc xii ...................................................................................................128 PENJELASAN.........................127 KETENTUAN PENUTUP.................................127 Pasal 216...............................BAB XVII..................................................................................................................................................

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful