RANCANGAN PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR .… TAHUN ....

TENTANG PENGELOLAAN DAN PENYELENGGARAAN PENDIDIKAN

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : bahwa dalam rangka melaksanakan ketentuan Pasal 12 ayat (4), Pasal 17 ayat (3), Pasal 18 ayat (4), Pasal 20 ayat (4), Pasal 21 ayat (7), Pasal 24 ayat (4), Pasal 25 ayat (3), Pasal 26 ayat (7), Pasal 27 ayat (3), Pasal 28 ayat (6), Pasal 31 ayat (4), Pasal 32 ayat (3), Pasal 50 ayat (7), Pasal 51 ayat (3), Pasal 52 ayat (2), Pasal 54 ayat (3), Pasal 55 ayat (5), Pasal 56 ayat (4), Pasal 62 ayat (4), Pasal 65 ayat (5), dan Pasal 66 ayat (3), Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, perlu menetapkan Peraturan Pemerintah tentang Pengelolaan dan Penyelenggaraan Pendidikan; : Pasal 5 ayat (2) Undang-Undang Republik Indonesia Tahun 1945; Dasar Negara

Mengingat

Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2003 Nomor 78 Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4301); MEMUTUSKAN: Menetapkan : PERATURAN PEMERINTAH TENTANG PENGELOLAAN DAN PENYELENGGARAAN PENDIDIKAN.

76461668.doc

1

BAB I KETENTUAN UMUM Pasal 1 Dalam Peraturan Pemerintah ini yang dimaksud dengan: 1. Pengelolaan pendidikan adalah pengaturan kewenangan dalam penyelenggaraan sistem pendidikan nasional oleh Pemerintah, Pemerintah Provinsi, Pemerintah Kabupaten/Kota, badan hukum pendidikan, dan satuan pendidikan agar proses pendidikan dapat berlangsung sesuai dengan tujuan pendidikan nasional. Penyelenggaraan pendidikan adalah penyediaan sumberdaya pendidikan, yang meliputi prasarana, sarana, pendidik dan tenaga kependidikan, dana, serta sumberdaya lainnya, yang disinergikan secara sistematis melalui suatu organisasi satuan pendidikan. Pengelolaan pendidikan adalah pengaturan sistemik perencanaan, pelaksanaan, dan pengawasan pendidikan. 2. atas

Penyelenggaraan pendidikan adalah kegiatan pelaksanaan komponen-komponen sistem pendidikan pada satuan/program pendidikan pada jalur, jenjang, dan jenis pendidikan agar proses pendidikan dapat berlangsung sesuai dengan tujuan pendidikan nasional. Badan hukum pendidikan masyarakat adalah yayasan, wakaf, perkumpulan, atau badan hukum lainnya yang didirikan oleh masyarakat yang menyelenggarakan satuan atau program pendidikan. Pendidikan anak usia dini yang selanjutnya disebut PAUD adalah suatu upaya pembinaan yang ditujukan kepada anak sejak lahir sampai dengan usia 6 (enam) tahun yang dilakukan melalui pemberian rangsangan pendidikan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani agar anak memiliki kesiapan dalam memasuki pendidikan lebih lanjut, yang diselenggarakan pada jalur formal, nonformal, dan informal. Taman Kanak-kanak yang selanjutnya disebut TK adalah salah satu bentuk satuan pada jalur pendidikan formal yang menyelenggarakan program pendidikan bagi anak berusia 4 (empat) tahun sampai dengan 6 (enam) tahun. Raudhatul Athfal yang selanjutnya disebut RA dan Bustanul Athfal yang selanjutnya disebut BA adalah salah satu bentuk satuan PAUD pada jalur pendidikan formal yang menyelenggarakan program pendidikan dengan kekhasan agama Islam bagi anak
2

3.

4.

5.

6.

76461668.doc

berusia 4 (empat) tahun sampai dengan 6 (enam) tahun. 7. Taman Penitipan Anak yang selanjutnya disebut TPA adalah salah satu bentuk satuan PAUD pada jalur pendidikan nonformal yang menyelenggarakan program pendidikan dan program kesejahteraan sosial bagi anak sejak lahir sampai dengan berusia 6 (enam) tahun. Kelompok Bermain yang selanjutnya disebut KB adalah salah satu bentuk satuan PAUD pada jalur pendidikan nonformal yang menyelenggarakan program pendidikan dan program kesejahteraan sosial bagi anak berusia 2 (dua) tahun sampai dengan 6 (enam) tahun dengan prioritas bagi anak berusia 2 (dua) tahun sampai dengan 4 (empat) tahun. Pendidikan dasar adalah jenjang pendidikan pada jalur pendidikan formal yang melandasi jenjang pendidikan menengah yang diselenggarakan pada satuan pendidikan yang berbentuk Sekolah Dasar (SD) dan Madrasah Ibtidaiyah (MI) atau bentuk lain yang sederajat serta menjadi satu kesatuan kelanjutan pendidikan pada satuan pendidikan yang berbentuk Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan Madrasah Tsanawiyah (MTs), atau bentuk lain yang sederajat.

8.

9.

10. Sekolah Dasar yang selanjutnya disebut SD adalah salah satu bentuk satuan pendidikan formal yang menyelenggarakan pendidikan umum pada jenjang pendidikan dasar. 11. Madrasah Ibtidaiyah yang selanjutnya disebut MI adalah salah satu bentuk satuan pendidikan formal dalam binaan Menteri Agama yang menyelenggarakan pendidikan umum dengan kekhasan agama Islam pada jenjang pendidikan dasar. Sekolah Menengah Pertama yang selanjutnya disebut SMP adalah salah satu bentuk satuan pendidikan formal yang menyelenggarakan pendidikan umum pada jenjang pendidikan dasar sebagai lanjutan dari SD, MI, atau bentuk lain yang sederajat atau lanjutan dari hasil belajar yang diakui sama/setara SD/MI. Madrasah Tsanawiyah yang selanjutnya disebut MTs adalah salah satu bentuk satuan pendidikan formal dalam binaan Menteri Agama yang menyelenggarakan pendidikan umum dengan kekhasan agama Islam pada jenjang pendidikan dasar sebagai lanjutan dari SD, MI, atau bentuk lain yang sederajat atau lanjutan dari hasil belajar yang diakui sama/setara SD/MI. Pendidikan menengah adalah jenjang pendidikan pada jalur pendidikan formal yang merupakan lanjutan pendidikan dasar, berbentuk Sekolah Menengah Atas (SMA), Madrasah Aliyah (MA), Sekolah Menengah Kejuruan (SMK), dan Madrasah Aliyah
3

12.

13.

14.

76461668.doc

Kejuruan (MAK) atau bentuk lain yang sederajat . 15. Sekolah Menengah Atas yang selanjutnya disebut SMA adalah salah satu bentuk satuan pendidikan formal yang menyelenggarakan pendidikan umum pada jenjang pendidikan menengah sebagai lanjutan dari SMP, MTs, atau bentuk lain yang sederajat atau lanjutan dari hasil belajar yang diakui sama/setara SMP/MTs. Madrasah Aliyah yang selanjutnya disebut MA adalah salah satu bentuk satuan pendidikan formal dalam binaan Menteri Agama yang menyelenggarakan pendidikan umum dengan kekhasan agama Islam pada jenjang pendidikan menengah sebagai lanjutan dari SMP, MTs, atau bentuk lain yang sederajat atau lanjutan dari hasil belajar yang diakui sama/setara SMP/MTs. Sekolah Menengah Kejuruan yang selanjutnya disebut SMK adalah salah satu bentuk satuan pendidikan formal yang menyelenggarakan pendidikan kejuruan pada jenjang pendidikan menengah sebagai lanjutan dari SMP, MTs, atau bentuk lain yang sederajat atau lanjutan dari hasil belajar yang diakui sama/setara SMP/MTs. Madrasah Aliyah Kejuruan yang selanjutnya disebut MAK adalah salah satu bentuk satuan pendidikan formal di bawah tanggung jawab Menteri Agama yang menyelenggarakan pendidikan kejuruan dengan kekhasan agama Islam pada jenjang pendidikan menengah sebagai lanjutan dari SMP, MTs, atau bentuk lain yang sederajat atau lanjutan dari hasil belajar yang diakui sama/setara SMP/MTs. Pendidikan tinggi adalah jenjang pendidikan pada jalur pendidikan formal setelah pendidikan menengah yang dapat berupa program pendidikan diploma, sarjana, magister, doktor, dan spesialis yang diselenggarakan oleh perguruan tinggi.

16.

17.

18.

19.

20. Akademi adalah perguruan tinggi yang menyelenggarakan pendidikan vokasi dalam satu cabang atau sebagian cabang ilmu pengetahuan, teknologi, dan/atau seni tertentu. 21. Politeknik adalah perguruan tinggi yang menyelenggarakan pendidikan vokasi dalam sejumlah bidang pengetahuan khusus. 22. Sekolah tinggi adalah perguruan tinggi yang menyelenggarakan pendidikan akademik dan/atau vokasi dalam lingkup satu disiplin ilmu tertentu dan jika memenuhi syarat dapat menyelenggarakan pendidikan profesi. 23. Institut adalah perguruan tinggi yang menyelenggarakan pendidikan akademik dan/atau pendidikan vokasi dalam sekelompok disiplin ilmu pengetahuan, teknologi, dan/atau seni
76461668.doc

4

yang dapat dikelompokkan menurut jurusan. vokasi atau profesi dalam sebagian atau satu bidang ilmu pengetahuan. 31. mengembangkan. Pendidikan nonformal adalah jalur pendidikan di luar pendidikan formal yang dapat dilaksanakan secara terstruktur dan berjenjang. vokasi atau profesi dalam satu rumpun disiplin ilmu pengetahuan. 28. seni. Standar pelayanan minimal adalah kriteria minimal berupa nilai kumulatif pemenuhan Standar Nasional Pendidikan yang harus dipenuhi oleh setiap satuan pendidikan. serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan. dan pengabdian kepada masyarakat. Fakultas atau nama lain yang sejenis adalah himpunan sumberdaya pendukung. 29. 26. Kurikulum adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan. Sivitas akademika adalah komunitas dosen dan mahasiswa pada perguruan tinggi. 30. 33. 25. Universitas menyelenggarakan pendidikan akademik dan/atau pendidikan vokasi dalam sejumlah ilmu pengetahuan. seni. teknologi. dan bahan pelajaran. dan/atau olah raga. yang menyelenggarakan dan mengelola pendidikan akademik. teknologi. Standar Nasional Pendidikan adalah kriteria minimal tentang sistem pendidikan di seluruh wilayah hukum Negara Kesatuan Republik Indonesia. dan menyebarluaskan ilmu pengetahuan. isi. 76461668. 32. dan/atau olah raga. dan seni melalui pendidikan. dan/atau olah raga tertentu.dan jika memenuhi syarat dapat menyelenggarakan pendidikan profesi. Dosen adalah pendidik profesional dan ilmuwan pada perguruan tinggi dengan tugas utama mentransformasikan. Program studi adalah unsur pelaksana akademik yang menyelenggarakan dan mengelola jenis pendidikan akademik. seni. dan/atau seni dan jika memenuhi syarat dapat menyelenggarakan pendidikan profesi. Mahasiswa adalah peserta didik yang terdaftar dan belajar pada perguruan tinggi.doc 5 . 34. teknologi. 24. penelitian. Jurusan atau nama lain yang sejenis adalah himpunan sumberdaya pendukung program studi dalam satu rumpun disiplin ilmu pengetahuan. 27. teknologi. teknologi.

45. 42. Pendidikan berbasis keunggulan lokal adalah satuan pendidikan dasar dan menengah yang menyelenggarakan pendidikan dengan acuan kurikulum yang menunjang upaya pengembangan potensi. nonformal. Pendidikan lintas jalur dan jenis pendidikan adalah penyelenggaraan pendidikan sistem terbuka dimana peserta didik mengambil mata pelajaran pada satuan pendidikan yang tidak sejenis pada jalur pendidikan formal. Kelompok belajar adalah satuan pendidikan nonformal yang terdiri atas sekumpulan warga masyarakat yang saling membelajarkan pengalaman dan kemampuan dalam rangka meningkatkan mutu dan taraf kehidupannya. Program pengayaan belajar adalah pembelajaran tambahan untuk memperluas wawasan dan kemampuan bagi peserta didik yang telah mencapai standar kompetensi yang dipersyaratkan. budaya. Pendidikan bertaraf internasional adalah pendidikan yang diselenggarakan dengan menggunakan Standar Nasional Pendidikan dan diperkaya dengan standar pendidikan negara maju. Pendidikan jarak jauh adalah pendidikan yang peserta didiknya terpisah dari pendidik dan pembelajarannya menggunakan berbagai sumber belajar melalui teknologi komunikasi. 38. 43.doc 6 . 41. Program percepatan belajar adalah pengaturan program pendidikan bagi peserta didik yang mencapai standar kompetensi yang dipersyaratkan lebih cepat dari waktu yang ditentukan. Pembelajaran adalah proses interaksi peserta didik dengan pendidik dan/atau sumber belajar pada suatu lingkungan belajar. dan potensi masyarakat sebagai perwujudan pendidikan dari. Pendidikan informal lingkungan. sosial. 76461668. adalah jalur pendidikan keluarga dan 37. 44. aspirasi. 39. dan budaya masyarakat daerah setempat.35. Pusat kegiatan belajar masyarakat adalah satuan pendidikan nonformal yang menyelenggarakan berbagai kegiatan belajar sesuai dengan kebutuhan masyarakat atas dasar prakarsa dari. informasi. dan informal. 36. ekonomi. oleh. Pendidikan berbasis masyarakat adalah penyelenggaraan pendidikan berdasarkan kekhasan agama. 40. dan media lain. dan untuk masyarakat. sosial. oleh dan untuk masyarakat.

d. Komite sekolah/madrasah adalah lembaga mandiri yang beranggotakan orang tua/wali peserta didik. dan Pasal 3 akuntabilitas pengelolaan 76461668. badan hukum pendidikan. pendidikan yang mutu dan daya saing pendidikan serta relevansinya dengan kebutuhan dan/atau kondisi masyarakat. Organisasi profesi adalah kumpulan anggota masyarakat yang memiliki keahlian tertentu yang berbadan hukum dan bersifat non-komersial. c. akses masyarakat atas pelayanan mencukupi. merata. atau Pemerintah Kota. dan terjangkau. komunitas sekolah. Pemerintah adalah Pemerintah Pusat. (2) Pengelolaan pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditujukan untuk menjamin: a. BAB II PENGELOLAAN PENDIDIKAN Bagian Kesatu Umum Pasal 2 (1) Pengelolaan pendidikan dilakukan oleh: a. 49. 47. 50. dan e. Dewan pendidikan adalah lembaga mandiri yang beranggotakan berbagai unsur masyarakat yang peduli pendidikan. c. efisiensi. Pemerintah Provinsi. Pemerintah daerah adalah Pemerintah Provinsi. 48. b. Menteri adalah menteri yang menangani urusan pemerintahan di bidang pendidikan. satuan pendidikan. 51. serta tokoh masyarakat yang peduli pendidikan. pendidikan.doc 7 . Pemerintah Kabupaten/Kota. Pemerintah. 52.46. Pemerintah Kabupaten. dan efektivitas. Departemen adalah departemen yang bertanggung jawab di bidang pendidikan. b.

satuan pendidikan. b. e. c. orang tua/wali peserta didik. f. e.Pengelolaan pendidikan didasarkan pada rencana yang disusun sesuai peraturan perundang-undangan. 8 . Departemen. rencana pembangunan jangka menengah (RPJM). Pemerintah kabupaten/kota. departemen lain atau lembaga pemerintah nondepartemen yang menyelenggarakan satuan pendidikan. rencana kerja Pemerintah (RKP). ayat (2) dan ayat (3) mengikat bagi: a. komite sekolah/madrasah atau nama lain yang peserta didik. g. dewan pendidikan. Bagian Kedua Pengelolaan oleh Pemerintah Pasal 4 (1) Menteri bertanggung jawab mengelola sistem pendidikan nasional serta merumuskan dan/atau menetapkan kebijakan nasional bidang pendidikan. sejenis. l. k. d. h. pendidik dan tenaga kependidikan. (4) Sistem pendidikan nasional dan kebijakan nasional pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1). badan hukum pendidikan. j. b. c. rencana pembangunan jangka panjang (RPJP). (3) Kebijakan nasional bidang pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dituangkan dalam: a. (2) Sistem pendidikan nasional sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diselenggarakan dan dikelola sesuai peraturan perundangundangan. rencana kerja dan anggaran tahunan (RKAT). i. 76461668. Departemen Agama. f. dan peraturan perundang-undangan di bidang pendidikan.doc Pemerintah Provinsi. rencana strategis pendidikan nasional. d.

dan akuntabel sesuai dengan kebijakan nasional sebagaimana dimaksud pada ayat (3). Pasal 7 (1) Menteri menetapkan target tingkat pendidikan pada tingkat nasional: a. dan jenis pendidikan secara nasional sesuai dengan kebijakan nasional bidang pendidikan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 ayat (3). dan/atau peserta didik di daerah khusus dapat memperoleh akses pelayanan pendidikan. mengevaluasi. satuan. (3) Dalam memenuhi target tingkat partisipasi pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1).m. masyarakat. (2) Target tingkat partisipasi pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dipenuhi melalui jalur pendidikan formal dan nonformal. antara laki-laki dan perempuan. c. (5) Pemerintah mengalokasikan anggaran pendidikan agar sistem pendidikan nasional dapat dilaksanakan secara efektif. (2) Menteri menetapkan kebijakan untuk menjamin peserta didik miskin. Pemerintah mengutamakan perluasan dan pemerataan akses pendidikan melalui jalur pendidikan formal. membimbing. b. mengawasi mengkoordinasi. antar kota. antar kabupaten. dan mengendalikan penyelenggara. peserta didik khusus. pihak lain yang terkait dengan pendidikan di Indonesia.doc 9 . mensupervisi. dan e. d. memantau. jenjang. dan n. Pasal 8 pemerataan partisipasi 76461668. antar provinsi. jalur. efisien. antara kabupaten dan kota. Pasal 6 (1) Menteri menetapkan target tingkat partisipasi pendidikan pada semua jenjang dan jenis pendidikan yang harus dicapai pada tingkat nasional. Pasal 5 Pemerintah mengarahkan.

akreditasi program pendidikan. Pasal 10 (1) Pemerintah melakukan dan/atau memfasilitasi penjaminan mutu pendidikan dengan berpedoman pada kebijakan nasional bidang pendidikan dan Standar Nasional Pendidikan. c. b. sertifikasi kompetensi peserta didik. Pemerintah daerah. sertifikasi kompetensi tenaga kependidikan. Satuan pendidikan. Catatan: 76461668. sertifikasi kompetensi pendidik.doc 10 . satuan dan/atau program (2) e. Pemerintah menyelenggarakan dan/atau memfasilitasi: a. dan b. b. akreditasi satuan pendidikan.(1) (2) Menteri menetapkan standar pelayanan minimal pendidikan sesuai peraturan perundang-undangan. (4) Standar pelayanan minimal bidang pendidikan untuk satuan pendidikan ditetapkan sebagai syarat awal yang harus dipenuhi dalam mencapai Standar Nasional Pendidikan secara bertahap dengan menerapkan otonomi satuan pendidikan atau manajemen berbasis sekolah/madrasah. d. Dalam rangka penjaminan mutu pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1). (3) Standar pelayanan minimal bidang pendidikan untuk pemerintah daerah merupakan syarat awal yang harus dipenuhi untuk: a. menyelenggarakan atau memfasilitasi penyelenggaraan satuan pendidikan sesuai Standar Nasional Pendidikan secara bertahap. Pasal 9 Menteri menetapkan Standar Nasional Pendidikan sesuai peraturan perundang-undangan. bidang Standar pelayanan minimal sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditetapkan masing-masing untuk: a. mencapai target tingkat partisipasi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 secara bertahap. dan/atau g. sertifikasi satuan dan/atau program pendidikan terkait. f. sertifikasi unit pelaksana pendidikan terkait.

kabupaten/kota. b. olahraga. seni.doc .. provinsi. peserta didik. Pasal 12 (1) Pemerintah melakukan pembinaan berkelanjutan kepada peserta didik yang memiliki potensi kecerdasan dan/atau bakat istimewa untuk mencapai prestasi puncak di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi. (2) Pemerintah memfasilitasi perintisan program dan/atau satuan pendidikan yang sudah atau hampir memenuhi Standar Nasional Pendidikan untuk dikembangkan menjadi program dan/atau satuan pendidikan bertaraf internasional. membina. (4) Ketentuan lebih lanjut mengenai pelaksanaan ayat (1) dan ayat (2) diatur dengan peraturan Menteri. (3) Pemerintah memfasilitasi akreditasi internasional program dan/atau satuan pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2). (3) Pemerintah memberikan penghargaan kepada peserta didik yang meraih prestasi puncak sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) sesuai peraturan perundang-undangan. 11 (4) (2) 76461668.Penjelasan untuk Sertifikasi kompetensi satuan pendidikan.. (3) Akreditasi dan sertifikasi sebagaimana dimaksud pada ayat (2) yang diselenggarakan Pemerintah atau masyarakat didasarkan pada Standar Nasional Pendidikan. Pasal 11 (1) Pemerintah mengakui. memfasilitasi. nasional. dan/atau olahraga pada tingkat satuan pendidikan. pendidik dan tenaga kependidikan. ilmu pengetahuan dan teknologi. Pemerintah memfasilitasi sertifikasi internasional pada program dan/atau satuan pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2). dan melindungi program dan/atau satuan pendidikan bertaraf internasional sesuai peraturan perundang-undangan. dan c. seni. Untuk menumbuhkan iklim kompetitif yang kondusif bagi pencapaian prestasi puncak sebagaimana dimaksud pada ayat (1) Pemerintah menyelenggarakan dan/atau memfasilitasi secara teratur dan berjenjang kompetisi di bidang: a. dan internasional. unit pelaksana teknis satuan pendidikan.

Sistem informasi pendidikan nasional sebagaimana dimaksud pada ayat (1) difasilitasi oleh jejaring informasi nasional yang terhubung dengan sistem informasi pendidikan di departemen lain atau lembaga pemerintah non departemen yang menyelenggarakan pendidikan. Badan hukum pendidikan. Pasal 14 (1) Dalam menyelenggarakan dan mengelola sistem pendidikan nasional Departemen mengembangkan dan melaksanakan sistem informasi pendidikan nasional berbasis teknologi informasi dan komunikasi. (2) (3) (2) Kebijakan daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) konsisten dengan serta merupakan penjabaran dari kebijakan pendidikan nasional sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4. Departemen lain atau lembaga pemerintah nondepartemen yang menyelenggarakan program dan/atau satuan pendidikan. f.Pasal 13 Menteri menetapkan kebijakan tatakelola pendidikan untuk menjamin efisiensi. sistem informasi pendidikan di semua provinsi. dan jalur pendidikan. Bagian Ketiga Pengelolaan oleh Pemerintah Provinsi Pasal 15 (1) Gubernur bertanggung jawab mengelola sistem pendidikan nasional di daerahnya serta merumuskan dan menetapkan kebijakan daerah bidang pendidikan sesuai kewenangannya. Pemerintah provinsi. dan akuntabilitas pengelolaan pendidikan yang mengikat: a.doc 12 . efektifitas. Pemerintah kabupaten/kota. Sistem informasi pendidikan nasional sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) memberikan akses informasi administrasi pendidikan dan akses sumber pembelajaran kepada satuan pendidikan pada semua jenjang. b. Program dan/atau satuan pendidikan. dan g. 76461668. Departemen Agama. Departemen. c. jenis. e. d. dan sistem informasi pendidikan di semua kabupaten/kota.

peserta didik di provinsi yang bersangkutan.doc 13 . b. ayat (2). satuan. (5) Pemerintah provinsi mengalokasikan anggaran pendidikan agar sistem pendidikan nasional di provinsi yang bersangkutan dapat dilaksanakan secara efektif. rencana kerja pemerintah provinsi (RKPP). komite sekolah atau nama lain yang sejenis di provinsi yang bersangkutan. rencana strategis pendidikan provinsi. rencana pembangunan jangka panjang provinsi (RPJPP). dewan pendidikan di provinsi yang bersangkutan. badan hukum pendidikan di provinsi yang bersangkutan. g. memantau. efisien. ayat (2) dan ayat (3) mengikat bagi: a. h. pendidik dan bersangkutan. jalur. d. masyarakat di provinsi yang bersangkutan. Pemerintah Kabupaten/Kota di provinsi yang bersangkutan. f. tenaga kependidikan di provinsi yang j. dan jenis pendidikan di provinsi yang bersangkutan sesuai 76461668. (4) Kebijakan daerah bidang pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1). rencana pembangunan jangka menengah provinsi (RPJMP). dan g. jenjang. b. mengawasi. dan akuntabel sesuai dengan kebijakan daerah bidang pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1). pihak lain yang terkait dengan pendidikan di provinsi yang bersangkutan. c. dan mengendalikan penyelenggara. mengevaluasi. Pasal 16 Pemerintah provinsi sesuai kewenangannya mengarahkan. rencana (RKATP). satuan pendidikan di provinsi yang bersangkutan. peraturan gubernur di bidang pendidikan. i. f. semua jajaran Pemerintah Provinsi. dan k. d. dan ayat (3). c. kerja dan anggaran tahunan provinsi e. mensupervisi. membimbing. mengkoordinasi. peraturan daerah di bidang pendidikan. e.(3) Kebijakan daerah bidang pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dituangkan dalam: a. orang tua/wali peserta didik di provinsi yang bersangkutan.

antara kabupaten dan kota. (2) Gubernur menetapkan kebijakan untuk menjamin peserta didik miskin.kebijakan daerah bidang pendidikan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 15. antar kabupaten. (2) Target tingkat partisipasi pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dipenuhi melalui jalur pendidikan formal dan nonformal. Pasal 18 (1) Gubernur menetapkan target tingkat pemerataan partisipasi pendidikan pada tingkat provinsi: a. Pasal 19 Gubernur melaksanakan dan mengkoordinasikan pelaksanaan standar pelayanan minimal bidang pendidikan sesuai peraturan perundangundangan. dan d. peserta didik khusus. (3) Dalam memenuhi target tingkat partisipasi pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1). pemerintah provinsi berkoordinasi dengan unit pelaksana teknis Pemerintah yang melaksanakan tugas penjaminan mutu pendidikan. dan/atau peserta didik di daerah khusus dapat memperoleh akses pelayanan pendidikan. Pasal 17 (1) Gubernur menetapkan target tingkat partisipasi pendidikan pada semua jenjang dan jenis pendidikan yang harus dicapai pada tingkat provinsi. (2) 76461668. b.doc 14 . antara laki-laki dan perempuan. c. pemerintah provinsi mengutamakan perluasan dan pemerataan akses pendidikan melalui jalur pendidikan formal. Dalam melaksanakan tugasnya sebagaimana dimaksud pada ayat (1). Pasal 20 (1) Pemerintah provinsi sesuai kewenangannya melakukan dan/atau memfasilitasi penjaminan mutu pendidikan di daerahnya dengan berpedoman pada kebijakan nasional bidang pendidikan dan Standar Nasional Pendidikan. antar kota.

Pemerintah provinsi sesuai dengan kewenangannya menyelenggarakan.(3) Dalam rangka penjaminan mutu pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1). mengakui. Pemerintah provinsi memfasilitasi sertifikasi internasional pada program dan/atau satuan pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2). sertifikasi pendidikan terkait. sertifikasi unit pelaksana satuan dan/atau program pendidikan terkait. f. sertifikasi kompetensi pendidik. Pengangkatan. Pasal 22 (2) (3) (4) (5) 76461668. d. membina. b. Pasal 21 (1) Pemerintah provinsi sesuai dengan kewenangannya menyelenggarakan. pemberhentian. memfasilitasi. akreditasi program pendidikan. mengakui. pemerintah provinsi mengkoordinasikan dan memfasilitasi: a. dan melindungi program dan/atau satuan pendidikan yang sudah atau hampir memenuhi Standar Nasional Pendidikan untuk dirintis dan dikembangkan menjadi bertaraf internasional sesuai dengan peraturan perundang-undangan. satuan dan/atau program c. Gubernur membentuk Badan Akreditasi Provinsi Sekolah/Madrasah dan Badan Akreditasi Provinsi Pendidikan Nonformal untuk membantu Badan Akreditasi Nasional Sekolah/Madrasah dan Badan Akreditasi Nasional Pendidikan Nonformal dalam melaksanakan tugasnya. akreditasi satuan pendidikan. sertifikasi kependidikan. dan melindungi program dan/atau satuan pendidikan bertaraf internasional sesuai dengan peraturan perundang-undangan. e. membina. sertifikasi kompetensi peserta didik. dan/atau pemindahan kepala sekolah dan/atau guru pada satuan pendidikan yang sedang dirintis atau sudah bertaraf internasional harus seizin gubernur.doc 15 . Pemerintah provinsi memfasilitasi akreditasi internasional program dan/atau satuan pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2). (4) Untuk melaksanakan tugasnya sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf a dan huruf b. memfasilitasi. dan/atau kompetensi tenaga g.

ilmu pengetahuan dan teknologi. dan ayat (3) diatur dengan peraturan gubernur. Pasal 24 76461668. h. d. provinsi. pendidik dan bersangkutan. b. (3) Pemerintah provinsi memberikan penghargaan kepada peserta didik yang meraih prestasi puncak sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) sesuai peraturan perundang-undangan. ayat (2). seni. Pasal 23 Gubernur menetapkan kebijakan tatakelola pendidikan untuk menjamin efisiensi. g. dan k.doc 16 . badan hukum pendidikan di provinsi yang bersangkutan. (4) Ketentuan lebih lanjut mengenai pelaksanaan ayat (1). orang tua/wali peserta didik di provinsi yang bersangkutan. efektifitas. masyarakat di provinsi yang bersangkutan. peserta didik di provinsi yang bersangkutan. dan internasional. e. f. dan c.(1) Pemerintah provinsi melakukan pembinaan berkelanjutan kepada peserta didik yang memiliki potensi kecerdasan dan/atau bakat istimewa untuk mencapai prestasi puncak di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi. dan/atau olahraga pada tingkat satuan pendidikan. b. (2) Untuk menumbuhkan iklim kompetitif yang kondusif bagi pencapaian prestasi puncak sebagaimana dimaksud pada ayat (1) pemerintah provinsi menyelenggarakan dan/atau memfasilitasi secara teratur dan berjenjang kompetisi di bidang: a. dewan pendidikan di provinsi yang bersangkutan. tenaga kependidikan di provinsi yang j. semua jajaran Pemerintah Provinsi. nasional. pihak lain yang terkait dengan pendidikan di provinsi yang bersangkutan. komite sekolah atau nama lain yang sejenis di provinsi yang bersangkutan. dan akuntabilitas pengelolaan pendidikan yang mengikat: a. c. olahraga. kabupaten/kota. satuan pendidikan di provinsi yang bersangkutan. seni. Pemerintah Kabupaten/Kota di provinsi yang bersangkutan. i.

Sistem informasi pendidikan provinsi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) memberikan akses informasi administrasi pendidikan dan akses sumber pembelajaran kepada satuan pendidikan pada semua jenjang. rencana pembangunan jangka menengah kabupaten/kota. dan jalur pendidikan sesuai kewenangan pemerintah provinsi. (2) (3) Bagian Keempat Pengelolaan oleh Pemerintah Kabupaten/Kota Pasal 25 (1) Bupati/Walikota bertanggung jawab mengelola sistem pendidikan nasional di daerahnya serta merumuskan dan menetapkan kebijakan daerah bidang pendidikan sesuai kewenangannya. pemerintah provinsi mengembangkan dan melaksanakan sistem informasi pendidikan provinsi berbasis teknologi informasi dan komunikasi. dan peraturan bupati/walikota di bidang pendidikan. jenis. (4) Kebijakan daerah bidang pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1). rencana kerja pemerintah kabupaten/kota. c. d. e. ayat (2) dan ayat (3) mengikat bagi: 76461668.doc 17 . b.(1) Dalam menyelenggarakan dan mengelola sistem pendidikan nasional di daerahnya. f. rencana pembangunan jangka panjang kabupaten/kota. rencana kerja dan anggaran tahunan kabupaten/kota. (2) Kebijakan daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) konsisten dengan serta merupakan penjabaran dari kebijakan pendidikan nasional sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 dan penjabaran dari kebijakan pendidikan pemerintah provinsi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 15. (3) Kebijakan daerah bidang pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) dituangkan dalam: a. Sistem informasi pendidikan provinsi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) merupakan subsistem dari sistem informasi pendidikan nasional. rencana strategis pendidikan kabupaten/kota. peraturan daerah di bidang pendidikan. g.

Pasal 26 Pemerintah kabupaten/kota sesuai kewenangannya mengarahkan. (2)Target tingkat partisipasi pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dipenuhi melalui jalur pendidikan formal dan nonformal. ayat (2). mengawasi. jenjang. efisien. mengevaluasi. dan ayat (3). masyarakat di kabupaten/kota yang bersangkutan. mensupervisi. b. dan mengendalikan penyelenggara. membimbing. pemerintah kabupaten/kota mengutamakan perluasan dan pemerataan akses pendidikan melalui jalur pendidikan formal. f. dan jenis pendidikan di kabupaten/kota yang bersangkutan sesuai kebijakan daerah bidang pendidikan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 25. e. komite sekolah atau nama lain kabupaten/kota yang bersangkutan. yang sejenis di peserta didik di kabupaten/kota yang bersangkutan. c. pendidikan di (5) Pemerintah kabupaten/kota mengalokasikan anggaran pendidikan agar sistem pendidikan nasional di kabupaten/kota yang bersangkutan dapat dilaksanakan secara efektif. mengkoordinasi. (3) Dalam memenuhi target tingkat partisipasi pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1). pendidikan di kabupaten/kota yang satuan pendidikan di kabupaten/kota yang bersangkutan. semua jajaran pemerintah kabupaten/kota. memantau. jalur. i. badan hukum bersangkutan. dewan pendidikan di kabupaten/kota yang bersangkutan. satuan. Pasal 28 76461668. j. Pasal 27 (1)Bupati/Walikota menetapkan target tingkat partisipasi pendidikan pada semua jenjang dan jenis pendidikan yang harus dicapai pada tingkat kabupaten/kota. g. dan pihak lain yang terkait dengan kabupaten/kota yang bersangkutan. dan akuntabel sesuai dengan kebijakan daerah bidang pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1).a. orang tua/wali peserta didik di kabupaten/kota yang bersangkutan.doc 18 . h. d. pendidik dan tenaga kependidikan di kabupaten/kota yang bersangkutan.

(2) Bupati/Walikota menetapkan kebijakan untuk menjamin peserta didik miskin. pemerintah kabupaten/kota memfasilitasi: a. peserta didik khusus. b. dan/atau kompetensi tenaga g. dan Standar Nasional Pendidikan. satuan dan/atau program (2) (3) c. akreditasi program pendidikan. dan/atau peserta didik di daerah khusus dapat memperoleh akses pelayanan pendidikan. sertifikasi kompetensi pendidik. kebijakan provinsi bidang pendidikan. f. Pasal 29 Bupati/Walikota melaksanakan dan mengkoordinasikan pelaksanaan standar pelayanan minimal bidang pendidikan sesuai peraturan perundang-undangan. Pasal 31 76461668. sertifikasi kependidikan. Pasal 30 (1) Pemerintah kabupaten/kota sesuai kewenangannya melakukan dan/atau memfasilitasi penjaminan mutu pendidikan di daerahnya dengan berpedoman pada kebijakan nasional bidang pendidikan. sertifikasi kompetensi peserta didik. b. c. Dalam rangka penjaminan mutu pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1). e. antar kecamatan atau sebutan lainnya yang sejenis. antar desa/kelurahan atau sebutan lainnya yang sejenis. d. Dalam melaksanakan tugasnya sebagaimana dimaksud pada ayat (1). sertifikasi unit pelaksana satuan dan/atau program pendidikan terkait. dan antara laki-laki dan perempuan. akreditasi satuan pendidikan.doc 19 . sertifikasi pendidikan terkait. pemerintah kabupaten/kota berkoordinasi dengan unit pelaksana teknis Pemerintah yang melaksanakan tugas penjaminan mutu pendidikan.(1) Bupati/Walikota menetapkan target tingkat pemerataan partisipasi pendidikan pada tingkat kabupaten/kota: a.

ayat (2). (2) (3) (4) Pasal 32 (1) Pemerintah kabupaten/kota melakukan pembinaan berkelanjutan kepada peserta didik yang memiliki potensi kecerdasan dan/atau bakat istimewa untuk mencapai prestasi puncak di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi. seni. memfasilitasi. Pemerintah kabupaten/kota memfasilitasi sertifikasi internasional pada program dan/atau satuan pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2). nasional. Pasal 33 (4) 76461668. b. dan melindungi program dan/atau satuan pendidikan bertaraf internasional dan/atau berbasis keunggulan lokal sesuai peraturan perundang-undangan. provinsi. dan olahraga.doc 20 . Untuk menumbuhkan iklim kompetitif yang kondusif bagi pencapaian prestasi puncak sebagaimana dimaksud pada ayat (1) pemerintah kabupaten/kota menyelenggarakan dan/atau memfasilitasi secara teratur dan berjenjang kompetisi di bidang: a. dan internasional.(1) Pemerintah kabupaten/kota mengakui. Pemerintah kabupaten/kota memfasilitasi akreditasi internasional program dan/atau satuan pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2). seni. dan/atau olahraga pada tingkat satuan pendidikan. Ketentuan lebih lanjut mengenai pelaksanaan ayat (1). kecamatan. Pemerintah kabupaten/kota melaksanakan dan/atau memfasilitasi perintisan program dan/atau satuan pendidikan yang sudah atau hampir memenuhi Standar Nasional Pendidikan untuk dikembangkan menjadi program dan/atau satuan pendidikan bertaraf internasional dan/atau berbasis keunggulan lokal. kabupaten/kota. dan ayat (3) diatur dengan peraturan bupati/walikota. (3) ilmu pengetahuan dan teknologi. c. membina. (2) Pemerintah kabupaten/kota memberikan penghargaan kepada peserta didik yang meraih prestasi puncak sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) sesuai peraturan perundang-undangan.

Bupati/Walikota menetapkan kebijakan tatakelola pendidikan untuk menjamin efisiensi, efektifitas, dan akuntabilitas pengelolaan pendidikan yang mengikat: a. semua jajaran pemerintah kabupaten/kota; b. badan hukum pendidikan di kabupaten/kota yang bersangkutan; c. satuan pendidikan bersangkutan; d. dewan pendidikan bersangkutan; di di kabupaten/kota kabupaten/kota yang yang

e. komite sekolah atau nama lain yang sejenis di kabupaten/kota yang bersangkutan; f. peserta didik di kabupaten/kota yang bersangkutan; g. orang tua/wali peserta didik di kabupaten/kota yang bersangkutan; h. pendidik dan tenaga kabupaten/kota yang bersangkutan; i. dan kependidikan di

masyarakat di kabupaten/kota yang bersangkutan; pendidikan di

j. pihak lain yang terkait dengan kabupaten/kota yang bersangkutan. Pasal 34 (1)

Dalam menyelenggarakan dan mengelola sistem pendidikan nasional di daerahnya, pemerintah kabupaten/kota mengembangkan dan melaksanakan sistem informasi pendidikan kabupaten/kota berbasis teknologi informasi dan komunikasi. Sistem informasi pendidikan kabupaten/kota sebagaimana dimaksud pada ayat (1) merupakan subsistem dari sistem informasi pendidikan nasional. Sistem informasi pendidikan kabupaten/kota sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) memberikan akses informasi administrasi pendidikan dan akses sumber pembelajaran kepada satuan pendidikan pada semua jenjang, jenis, dan jalur pendidikan sesuai kewenangan pemerintah kabupaten/kota. Bagian Kelima Pengelolaan oleh Badan Hukum Pendidikan Pasal 35 (1) Badan hukum pendidikan bertanggung jawab mengelola sistem pendidikan nasional di badan hukum pendidikannya serta
76461668.doc

(2)

(3)

21

merumuskan dan kewenangannya. (2)

menetapkan kebijakan pendidikan sesuai

Kebijakan pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) konsisten dengan serta merupakan penjabaran dari kebijakan pendidikan nasional sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4, kebijakan pendidikan pemerintah provinsi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 15, dan/atau kebijakan pendidikan pemerintah kabupaten/kota sebagaimana dimaksud dalam Pasal 25, sesuai peraturan perundang-undangan. Kebijakan pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) dituangkan dalam peraturan badan hukum pendidikan.

(3)

(4) Kebijakan pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1), ayat (2) dan ayat (3) mengikat bagi: a. badan hukum pendidikan yang bersangkutan; b. satuan dan/atau program pendidikan yang terkait; c. lembaga representasi pemangku kepentingan dan/atau program pendidikan yang terkait; satuan

d. peserta didik di satuan dan/atau program pendidikan yang terkait; e. orang tua/wali peserta didik di satuan dan/atau program pendidikan yang terkait; f. pendidik dan tenaga kependidikan di satuan dan/atau program pendidikan yang terkait; g. pihak lainnya yang terikat dengan program pendidikan yang terkait. satuan dan/atau

(5) Badan hukum pendidikan mengalokasikan anggaran pendidikan agar sistem pendidikan nasional di satuan dan/atau program pendidikan yang terkait dapat dilaksanakan secara efektif, efisien, dan akuntabel sesuai dengan kebijakan pendidikan nasional sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4, kebijakan pendidikan pemerintah provinsi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 15, kebijakan pendidikan pemerintah kabupaten/kota sebagaimana dimaksud dalam Pasal 25, dan/atau kebijakan pendidikan badan hukum pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1), ayat (2), ayat (3), dan ayat (4), dan sesuai peraturan perundang-undangan. Pasal 36 Badan hukum pendidikan sesuai kewenangannya mengarahkan, membimbing, mensupervisi, mengawasi, mengkoordinasi, memantau, mengevaluasi, dan mengendalikan satuan dan/atau program pendidikan yang terkait sesuai dengan kebijakan pendidikan nasional sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4, kebijakan pendidikan
76461668.doc

22

pemerintah provinsi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 15, kebijakan pendidikan pemerintah kabupaten/kota sebagaimana dimaksud dalam Pasal 25, dan/atau kebijakan pendidikan badan hukum pendidikan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 35, dan sesuai peraturan perundang-undangan. Pasal 37 Badan hukum pendidikan menetapkan kebijakan untuk menjamin peserta didik miskin, peserta didik khusus, dan/atau peserta didik di daerah khusus dapat memperoleh akses pelayanan pendidikan. Pasal 38 Badan hukum pendidikan menjamin pelaksanaan Standar Pelayanan Minimal bidang pendidikan pada satuan dan/atau program pendidikan terkait sesuai peraturan perundang-undangan. Pasal 39 (1) Badan hukum pendidikan sesuai kewenangannya melakukan dan/atau memfasilitasi penjaminan mutu pendidikan di satuan dan/atau program pendidikan terkait dengan berpedoman pada kebijakan pendidikan nasional sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4, kebijakan pendidikan pemerintah provinsi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 15, kebijakan pendidikan pemerintah kabupaten/kota sebagaimana dimaksud dalam Pasal 25, dan/atau kebijakan pendidikan badan hukum pendidikan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 35, dan Standar Nasional Pendidikan. (2) Dalam melaksanakan tugasnya sebagaimana dimaksud pada ayat (1), badan hukum pendidikan yang merupakan dan/atau menyelenggarakan satuan dan/atau program pendidikan anak usia dini, pendidikan dasar dan/atau pendidikan menengah bekerja sama dengan unit pelaksana teknis Pemerintah yang melaksanakan tugas penjaminan mutu pendidikan. (3) Dalam rangka penjaminan mutu pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1), badan hukum pendidikan memfasilitasi: a. akreditasi program pendidikan terkait; b. akreditasi satuan pendidikan terkait; c. sertifikasi satuan dan/atau program pendidikan terkait; d. sertifikasi unit pelaksana pendidikan terkait; satuan dan/atau program

e. sertifikasi kompetensi peserta didik; f. sertifikasi kompetensi pendidik; dan/atau g. sertifikasi kompetensi tenaga kependidikan.
76461668.doc

23

Pasal 40 (1) Badan hukum pendidikan memfasilitasi, membina, dan melindungi program dan/atau satuan pendidikan terkait yang bertaraf internasional dan/atau berbasis keunggulan lokal sesuai peraturan perundang-undangan. Badan hukum pendidikan melaksanakan dan/atau memfasilitasi perintisan program dan/atau satuan pendidikan terkait yang sudah atau hampir memenuhi Standar Nasional Pendidikan untuk dikembangkan menjadi program dan/atau satuan pendidikan bertaraf internasional dan/atau berbasis keunggulan lokal. Badan hukum pendidikan memfasilitasi akreditasi internasional program dan/atau satuan pendidikan terkait sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2). Badan hukum pendidikan memfasilitasi sertifikasi internasional pada program dan/atau satuan pendidikan terkait sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2). Pasal 41 (1) Badan hukum pendidikan memfasilitasi pembinaan berkelanjutan kepada peserta didik yang memiliki potensi kecerdasan dan/atau bakat istimewa untuk mencapai prestasi puncak di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi, seni, dan/atau olahraga pada tingkat satuan pendidikan, kecamatan, kabupaten/kota, provinsi, nasional, dan internasional. Untuk menumbuhkan iklim kompetitif yang kondusif bagi pencapaian prestasi puncak sebagaimana dimaksud pada ayat (1) badan hukum pendidikan memfasilitasi secara teratur kompetisi di satuan dan/atau program pendidikan terkait dalam bidang: a. b. c. (3) ilmu pengetahuan dan teknologi; seni; dan olahraga.

(2)

(3)

(4)

(2)

Ketentuan lebih lanjut mengenai pelaksanaan ayat (1), ayat (2), dan ayat (3) diatur dengan peraturan badan hukum pendidikan. Pasal 42

Badan hukum pendidikan menetapkan kebijakan tatakelola pendidikan untuk menjamin efisiensi, efektifitas, dan akuntabilitas pengelolaan pendidikan yang mengikat: a. b.
76461668.doc

badan hukum pendidikan yang bersangkutan; satuan dan/atau program pendidikan terkait;
24

pihak lain yang terikat dengan satuan dan/atau program pendidikan terkait. (2) Kebijakan pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) konsisten dengan serta merupakan penjabaran dari kebijakan pendidikan nasional sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4. lembaga representasi pemangku kepentingan pendidikan pada satuan dan/atau program pendidikan terkait. Pasal 43 (1) Dalam menyelenggarakan dan mengelola sistem pendidikan nasional di satuan dan/atau program pendidikan terkait. dan sesuai peraturan perundangundangan. badan hukum pendidikan mengembangkan dan melaksanakan sistem informasi pendidikan badan hukum pendidikan berbasis teknologi informasi dan komunikasi. g. orang tua/wali peserta didik di satuan dan/atau program pendidikan terkait. kebijakan pendidikan pemerintah kabupaten/kota sebagaimana dimaksud dalam Pasal 25.c. peserta pendidikan terkait. 76461668. Bagian Keenam Pengelolaan oleh Satuan dan/atau Program Pendidikan Pasal 44 (2) (3) (1) Satuan dan/atau program pendidikan bertanggung jawab mengelola sistem pendidikan nasional di satuan dan/atau program pendidikannya serta merumuskan dan menetapkan kebijakan pendidikan sesuai kewenangannya.doc 25 . didik satuan dan/atau program d. pendidik dan tenaga kependidikan di satuan dan/atau program pendidikan terkait. kebijakan pendidikan pemerintah provinsi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 15. f. dan/atau kebijakan pendidikan badan hukum pendidikan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 35. Sistem informasi pendidikan badan hukum pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) merupakan subsistem dari sistem informasi pendidikan nasional. Sistem informasi pendidikan badan hukum pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) memberikan akses informasi administrasi pendidikan dan akses sumber pembelajaran kepada satuan dan/atau program pendidikan terkait. e.

peserta didik di satuan dan/atau program pendidikan yang bersangkutan. satuan dan/atau program pendidikan yang bersangkutan. (4) a. (6) Kebijakan satuan pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (3) merupakan penjabaran dan selaras dengan: a. anggaran pendapatan pendidikan. dan d. f. Kebijakan pemerintah kabupaten/kota dimaksud dalam Pasal 25. peraturan pemimpin perguruan tinggi. satuan pendidikan dasar. orang tua/wali peserta didik di satuan dan/atau program pendidikan yang bersangkutan. Kebijakan Pasal 4. satuan c. 76461668. oleh satuan pendidikan anak usia dini. pendidik dan tenaga kependidikan di satuan dan/atau program pendidikan yang bersangkutan. anggaran tahunan perguruan tinggi. Pemerintah sebagaimana dimaksud dalam b. rencana strategis perguruan tinggi. c. dan peraturan pimpinan perguruan tinggi lainnya. dan dan belanja tahunan satuan c. d. rencana kerja tahunan perguruan tinggi. b. peraturan satuan dan/atau program pendidikan. e. d. pihak lainnya yang terikat dengan satuan dan/atau program pendidikan yang bersangkutan. lembaga representasi pemangku kepentingan dan/atau program pendidikan yang bersangkutan.(3) Kebijakan pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2). rencana kerja tahunan satuan pendidikan. (5) Kebijakan pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1). ayat (2) dan ayat (3) mengikat bagi: a. b.doc sebagaimana sebagaimana pendidikan 26 . dan satuan pendidikan menengah dituangkan dalam: a. b. Kebijakan badan hukum dimaksud dalam Pasal 35. e. f. Kebijakan pemerintah provinsi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 15. c. oleh perguruan tinggi dituangkan dalam: rencana pembangunan jangka panjang perguruan tinggi. Kebijakan pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2).

peserta didik khusus. Kebijakan Pemerintah Pasal 4. ayat (2). dan/atau peserta didik di daerah khusus dapat memperoleh akses pelayanan pendidikan. kebijakan pendidikan pemerintah provinsi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 15. kebijakan pendidikan pemerintah provinsi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 15. kebijakan pendidikan pemerintah provinsi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 15. kebijakan pendidikan pemerintah kabupaten/kota sebagaimana dimaksud dalam Pasal 25. dan/atau kebijakan 27 76461668. Pasal 46 Satuan dan/atau program pendidikan sesuai kewenangannya menetapkan kebijakan untuk menjamin peserta didik miskin.doc . dan/atau kebijakan pendidikan badan hukum pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1). Pasal 48 (1) Satuan dan/atau program pendidikan melakukan penjaminan mutu pendidikan dengan berpedoman pada kebijakan pendidikan nasional sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4. ayat (3). dan ayat (4). Pasal 47 Satuan dan/atau program pendidikan menjamin terpenuhinya Standar Pelayanan Minimal bidang pendidikan. dan akuntabel sesuai dengan kebijakan pendidikan nasional sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4. dan sesuai peraturan perundangundangan. dan sebagaimana dimaksud dalam b. (8) pendidikan sebagaimana Satuan dan/atau program pendidikan mengalokasikan anggaran pendidikan agar sistem pendidikan nasional di satuan dan/atau program pendidikan yang bersangkutan dapat dilaksanakan secara efektif. kebijakan pendidikan pemerintah kabupaten/kota sebagaimana dimaksud dalam Pasal 25.(7) Kebijakan perguruan tinggi sebagaimana dimaksud pada ayat (4) merupakan penjabaran dan selaras dengan: a. kebijakan pendidikan pemerintah kabupaten/kota sebagaimana dimaksud dalam Pasal 25. Pasal 45 Satuan dan/atau program pendidikan mengelola pendidikan sesuai dengan kebijakan pendidikan nasional sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4. dan/atau kebijakan pendidikan badan hukum pendidikan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 35. dan sesuai peraturan perundang-undangan. Kebijakan badan hukum dimaksud dalam Pasal 35. efisien.

Pasal 50 (1) Satuan dan/atau program pendidikan melakukan pembinaan berkelanjutan kepada peserta didik yang memiliki potensi kecerdasan dan/atau bakat istimewa untuk mencapai prestasi 28 (2) (3) 76461668. c. mengikuti: a. Satuan dan/atau program pendidikan dapat mengikuti sertifikasi internasional program atau satuan pendidikan. satuan dan/atau program pendidikan. dan/atau program (3) e. sertifikasi kompetensi peserta didik terkait. sertifikasi satuan dan/atau program pendidikan yang bersangkutan. Satuan dan/atau program pendidikan yang sudah atau hampir memenuhi Standar Nasional Pendidikan dapat mengikuti akreditasi internasional program dan/atau satuan pendidikan. akreditasi satuan pendidikan yang bersangkutan. Pasal 49 (1) Satuan dan/atau program pendidikan yang sudah atau hampir memenuhi Standar Nasional Pendidikan dapat merintis dirinya untuk dikembangkan menjadi program dan/atau satuan pendidikan bertaraf internasional dan/atau berbasis keunggulan lokal. f. d.pendidikan badan hukum pendidikan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 35. sertifikasi unit pelaksana satuan pendidikan yang bersangkutan. sesuai peraturan perundang-undangan. akreditasi program pendidikan yang bersangkutan. b. pendidikan dasar. satuan dan/atau program pendidikan anak usia dini. dan/atau g. dan Standar Nasional Pendidikan. atau pendidikan menengah bekerja sama dengan unit pelaksana teknis Pemerintah yang melaksanakan tugas penjaminan mutu pendidikan. Dalam rangka penjaminan mutu pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1). (2) Dalam melaksanakan tugasnya sebagaimana dimaksud pada ayat (1).doc . sertifikasi kompetensi tenaga kependidikan terkait. sertifikasi kompetensi pendidik terkait.

doc 29 . seni. (2) Untuk menumbuhkan iklim kompetitif yang kondusif bagi pencapaian prestasi puncak sebagaimana dimaksud pada ayat (1) satuan dan/atau program pendidikan melakukan secara teratur kompetisi di satuan dan/atau program pendidikan terkait dalam bidang: a. b. satuan c. Pasal 52 (1) Dalam menyelenggarakan dan mengelola pendidikan. dan internasional. ayat (2). dan olahraga. dan/atau olahraga pada tingkat satuan pendidikan. c. kabupaten/kota. dan ayat (3) diatur dengan peraturan satuan dan/atau program pendidikan. kecamatan. orang tua/wali peserta didik di satuan dan/atau program pendidikan yang bersangkutan. (4) Ketentuan lebih lanjut mengenai pelaksanaan ayat (1). dan akuntabilitas pengelolaan pendidikan yang mengikat: a. satuan dan/atau program pendidikan mengembangkan dan melaksanakan sistem informasi pendidikan berbasis teknologi informasi dan komunikasi. e.puncak di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi. d. nasional. (3) Satuan dan/atau program pendidikan memberikan penghargaan kepada peserta didik yang meraih prestasi puncak sesuai peraturan perundang-undangan. f. pendidik dan tenaga kependidikan di dan/atau program pendidikan yang bersangkutan. efektifitas. Pasal 51 Satuan dan/atau program pendidikan menetapkan kebijakan tatakelola pendidikan untuk menjamin efisiensi. pihak lain yang terikat dengan satuan dan/atau program pendidikan yang bersangkutan. ilmu pengetahuan dan teknologi. 76461668. provinsi. peserta didik satuan dan/atau program pendidikan yang bersangkutan. b. satuan bersangkutan. seni. dan/atau program pendidikan yang lembaga representasi pemangku kepentingan pendidikan pada satuan dan/atau program pendidikan yang bersangkutan.

RA. berilmu.(2) Sistem informasi pendidikan satuan dan/atau program pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) merupakan subsistem dari sistem informasi pendidikan nasional. Paragraf 2 Bentuk dan Jenis Satuan Pendidikan Pasal 54 (1) PAUD pada jalur pendidikan formal berbentuk Taman Kanakkanak (TK). 30 (2) 76461668. intelektual. kritis. sehat. BAB III PENYELENGGARAAN PENDIDIKAN FORMAL Bagian Kesatu Pendidikan Anak Usia Dini Paragraf 1 Fungsi dan Tujuan Pasal 53 (3) (1) PAUD berfungsi membina. atau bentuk lain yang sederajat. TK. cakap. emosional. dan peserta didik. mengembangkan potensi kecerdasan spiritual. Sistem informasi pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) memberikan akses informasi administrasi pendidikan dan akses sumber pembelajaran kepada pendidik. percaya diri. (2) PAUD bertujuan: a. kinestetis. menumbuhkan. BA atau bentuk lain yang sederajat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) memiliki program pembelajaran 1 (satu) tahun atau 2 (dua) tahun. Bustanul Athfal (BA). b. membangun landasan bagi berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. dan sosial peserta didik pada masa emas pertumbuhannya dalam lingkungan bermain yang edukatif dan menyenangkan. dan menjadi warga negara yang demokratis dan bertanggung jawab. Raudathul Athfal (RA). mandiri. tenaga kependidikan. inovatif. berakhlak mulia. dan mengembangkan seluruh potensi anak usia dini secara optimal sehingga terbentuk perilaku dan kemampuan dasar sesuai dengan tahap perkembangannya agar memiliki kesiapan untuk memasuki pendidikan selanjutnya.doc . berkepribadian luhur. kreatif.

(3)

TK, RA, BA atau bentuk lain yang sederajat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat diselenggarakan menyatu dengan SD, MI, atau bentuk lain yang sederajat. Paragraf 3 Penerimaan Peserta Didik Pasal 55

Peserta didik TK, RA, BA, atau bentuk lain yang sederajat berusia 4 (empat) tahun sampai dengan 6 (enam) tahun. Pasal 56 (1) (2) Penerimaan peserta didik pada satuan pendidikan anak usia dini dilakukan secara objektif, transparan, dan akuntabel. Penerimaan peserta didik pada satuan pendidikan anak usia dini dilakukan tanpa diskriminasi atas dasar pertimbangan gender, agama, etnis, status sosial, kemampuan ekonomi, dan kondisi fisik atau mental anak. Keputusan penerimaan calon peserta didik menjadi peserta didik dilakukan secara mandiri oleh rapat dewan guru yang dipimpin oleh kepala satuan pendidikan. Paragraf 4 Program Pembelajaran Pasal 57 (1) Program pembelajaran TK, RA, BA dan bentuk lain yang sederajat dikembangkan untuk mempersiapkan peserta didik memasuki SD, MI, atau bentuk lain yang sederajat. Program pembelajaran TK, RA, BA dan bentuk lain yang sederajat dilaksanakan dalam konteks bermain dan dapat dikelompokan dalam: a. bermain dalam rangka pembelajaran agama dan ahlak mulia; b. bermain dalam kepribadian; rangka pembelajaran sosial dan

(3)

(2)

c. bermain dalam rangka pembelajaran estetika; d. bermain dalam rangka pembelajaran jasmani, olahraga dan kesehatan; dan e. bermain dalam rangka pembelajaran pengenalan pengetahuan dan teknologi. (3) orientasi dan

Semua permainan pembelajaran sebagaimana dimaksud pada
31

76461668.doc

ayat (2) dirancang dan diselenggarakan: a. secara interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang, dan mendorong kreativitas serta kemandirian, b. sesuai dengan tahap pertumbuhan fisik perkembangan mental anak serta kebutuhan kepentingan terbaik anak; dan dan

c. dengan memperhatikan perbedaan bakat, minat, dan kemampuan masing-masing anak; d. dengan mengintegrasikan kebutuhan anak kesehatan, gizi, dan stimulasi psikososial; dan terhadap

e. dengan memperhatikan latar belakang ekonomi, sosial, dan budaya anak. Bagian Kedua Pendidikan Dasar Paragraf 1 Fungsi dan Tujuan Pasal 58 (1) Pendidikan dasar tingkat SD/MI atau yang sederajat berfungsi: a. menanamkan dan mengamalkan nilai-nilai keimanan, ahlak mulia, dan kepribadian luhur; b. menanamkan dan mengamalkan nilai-nilai kebangsaan dan cinta tanah air; c. memberikan dasar-dasar kemampuan intelektual dalam bentuk kemampuan dan kecakapan membaca, menulis, dan berhitung; d. melatih dan merangsang kepekaan dan kemampuan mengapresiasi serta mengekspresikan keindahan, kehalusan, dan harmoni; e. menumbuhkan minat pada olah raga, kesehatan, dan kebugaran jasmani; dan f. mengembangkan kesiapan fisik dan mental untuk melanjutkan pendidikan ke SMP/MTs atau yang sederajat. (2) Pendidikan dasar tingkat SMP/MTs atau yang sederajat berfungsi: a. Mengembangkan, menghayati, dan mengamalkan nilainilai keimanan, ahlak mulia, dan kepribadian luhur yang telah dikenalinya; b. Mengembangkan, menghayati, dan mengamalkan nilainilai kebangsaan dan cinta tanah air yang telah dikenalinya;
76461668.doc

32

c. mempelajari dasar-dasar ilmu pengetahuan dan secara terbatas mulai mengenali teknologi; d. melatih dan mengembangkan kepekaan dan kemampuan mengapresiasi serta mengekspresikan keindahan, kehalusan, dan harmoni; e. mengembangkan bakat dan kemampuan di bidang olah raga, baik untuk kesehatan dan kebugaran jasmani maupun prestasi; dan f. mengembangkan kesiapan fisik dan mental untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang pendidikan menengah dan/atau untuk hidup mandiri di masyarakat. (3) Pendidikan dasar bertujuan membangun landasan bagi berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang: a. beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, dan berkepribadian luhur; b. berilmu, cakap, kritis, kreatif, dan inovatif; c. sehat, mandiri, dan percaya diri; dan d. toleran, peka sosial, demokratis, dan bertanggung jawab. Paragraf 2 Bentuk Satuan Pendidikan Pasal 59 (1) Pendidikan dasar kelas 1 (satu) sampai dengan kelas 6 (enam) adalah Sekolah Dasar (SD), Madrasah Ibtidaiyah (MI), atau bentuk lain yang sederajat. Pendidikan dasar kelas 7 (tujuh) sampai dengan kelas 9 (sembilan) adalah Sekolah Menengah Pertama (SMP), Madrasah Tsanawiyah (MTs), atau bentuk lain yang sederajat. Paragraf 3 Penerimaan Peserta Didik Pasal 60 (1) Peserta didik pada SD/MI atau bentuk lain yang sederajat sekurang-kurangnya berusia 6 (enam) tahun.

(2)

(2) Pengecualian terhadap ketentuan pada ayat (1) dapat dilakukan atas dasar rekomendasi tertulis dari psikolog. (3) Satuan pendidikan SD/MI atau bentuk lain yang sederajat wajib menerima warga negara berusia 7 (tujuh) sampai 12 (dua belas) tahun sebagai peserta didik sampai dengan batas daya
33

76461668.doc

tampungnya. (4) Penerimaan peserta didik kelas 1 (satu) SD/MI atau bentuk lain yang sederajat tidak didasarkan pada hasil tes kemampuan membaca, menulis, dan berhitung, atau bentuk seleksi lainnya. Pasal 61 (1) Pemilihan peserta didik pada SD/MI yang diselenggarakan oleh Pemerintah atau pemerintah daerah didasarkan pada urutan ketuaan usia calon peserta didik apabila jumlah calon peserta didik melebihi daya tampung satuan pendidikan. Jika usia calon peserta didik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) sama, maka penentuan peserta didik didasarkan pada urutan kedekatan tempat tinggal peserta didik dengan satuan pendidikan. Jika usia dan/atau urutan kedekatan tempat tinggal peserta didik dengan satuan pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) sama, maka peserta didik yang mendaftar lebih awal diprioritaskan. Pasal 62 (1) Peserta didik pada SMP/MTs atau bentuk lain yang sederajat sudah menyelesaikan pendidikannya pada SD, MI, Paket A, atau bentuk lain yang sederajat. Satuan pendidikan SMP/MTs atau bentuk lain yang sederajat wajib menerima warga negara berusia 13 (tiga belas) sampai 15 (lima belas) tahun sebagai peserta didik sampai dengan batas daya tampungnya. Pasal 63 (1) Satuan pendidikan SD/MI dan SMP/MTs yang memiliki jumlah calon peserta didik melebihi daya tampungnya wajib melaporkan kelebihan calon peserta didik tersebut kepada pemerintah kabupaten/kota yang bersangkutan. Pemerintah kabupaten/kota wajib menyalurkan kelebihan calon peserta didik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) pada satuan pendidikan dasar lain. Pasal 64 (1) Peserta didik jalur nonformal dan informal dapat diterima di SD, MI, atau bentuk lain yang sederajat tidak pada awal kelas 1 (satu) setelah lulus tes kelayakan dan penempatan yang diselenggarakan oleh satuan pendidikan formal.

(2)

(3)

(2)

(2)

76461668.doc

34

doc 35 . lulus tes kelayakan dan penempatan yang diselenggarakan oleh satuan pendidikan formal yang bersangkutan. dapat menunjukkan ijazah atau dokumen lain yang membuktikan bahwa yang bersangkutan telah menyelesaikan pendidikan dasar yang memberikan kompetensi lulusan setara SD. MTs. dan/atau mental yang diperlukan oleh peserta didik pindahan dari satuan pendidikan formal lain atau jalur pendidikan lain. Satuan pendidikan SD. Peserta didik jalur nonformal dan informal dapat diterima di SMP. atau b. atau bentuk lain yang sederajat sesudah awal kelas 7 (tujuh) setelah: a. atau bentuk lain yang sederajat memberikan bantuan penyesuaian akademik. MTs. dan b. SMP. (7) Menteri dapat membatalkan keputusan satuan pendidikan tentang syarat sebagaimana dimaksud pada ayat (3) huruf b. dan/atau tidak jujur. (3) (4) Peserta didik pendidikan dasar setara SD di negara lain dapat pindah ke SD. atau bentuk lain yang sederajat sejak awal kelas 7 (tujuh) setelah lulus ujian kesetaraan Paket A. tidak benar. lulus ujian kesetaraan Paket A. b. Peserta didik pendidikan dasar setara SMP di negara lain dapat pindah ke SMP. MI. (8) 76461668. lulus ujian kesetaraan Paket A. MTs. atau bentuk lain yang sederajat di Indonesia setelah lulus tes kelayakan dan penempatan yang diselenggarakan oleh satuan pendidikan yang ingin dimasukinya. (5) (6) Peserta didik pendidikan dasar setara SD yang mengikuti sistem dan/atau standar pendidikan negara lain dapat diterima di SMP/MTs atau bentuk lain yang sederajat pada awal tahun kelas 7 (tujuh) setelah: a. MTs. ayat (5). dan ayat (6) huruf b apabila setelah dilakukan pemeriksaan oleh Inspektorat Jenderal Departemen atas instruksi Menteri terbukti bahwa keputusan tersebut melanggar peraturan perundang-undangan.(2) Peserta didik jalur nonformal dan informal dapat diterima di SMP. lulus tes kelayakan dan penempatan yang diselenggarakan oleh satuan pendidikan yang ingin dimasukinya. atau bentuk lain yang sederajat di Indonesia dengan syarat: a. ayat (4). menunjukkan ijazah atau dokumen lain yang membuktikan bahwa yang bersangkutan telah menyelesaikan pendidikan dasar setara SD. MI. sosial.

satuan pendidikan dapat melakukan tes bakat skolastik untuk seleksi penerimaan peserta didik baru di kelas 7 (tujuh).(9) Ketentuan lebih lanjut mengenai pelaksanaan ayat (1) sampai dengan ayat (6) diatur dengan peraturan Menteri. 76461668. Pasal 65 (1) (2) Penerimaan peserta didik pada satuan pendidikan dilakukan secara objektif. dan kondisi fisik atau mental peserta didik. transparan. d. b. baik untuk kesehatan dan kebugaran jasmani maupun prestasi. kehalusan. dan akuntabel. etnis. (4) Seleksi penerimaan peserta didik baru di kelas 7 (tujuh) pada satuan pendidikan dasar setingkat SMP didasarkan pada hasil Ujian Nasional.doc (5) 36 . dasar Penerimaan peserta didik pada satuan pendidikan dasar dilakukan tanpa diskriminasi atas dasar pertimbangan gender. meningkatkan kesiapan fisik dan mental untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang pendidikan tinggi dan/atau untuk hidup mandiri di masyarakat. menghayati. dan mengamalkan nilai-nilai keimanan. status sosial. Di samping memenuhi ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (4). e. dan kepribadian luhur. menghayati. meningkatkan. ahlak mulia. Bagian Ketiga Pendidikan Menengah Paragraf 1 Fungsi dan Tujuan Pasal 66 (1) Pendidikan menengah umum berfungsi: a. menyalurkan bakat dan kemampuan di bidang olah raga. meningkatkan kepekaan dan kemampuan mengapresiasi serta mengekspresikan keindahan. dan f. meningkatkan. c. kecuali bagi lulusan satuan pendidikan sebagaimana dimaksud pada Pasal 64 ayat (2) dan ayat (6). agama. kemampuan ekonomi. dan harmoni. mempelajari ilmu pengetahuan dan teknologi. (3) Keputusan penerimaan calon peserta didik menjadi peserta didik dilakukan secara mandiri oleh rapat dewan guru yang dipimpin oleh kepala satuan pendidikan. dan mengamalkan nilai-nilai kebangsaan dan cinta tanah air.

berilmu. meningkatkan kesiapan fisik dan mental untuk hidup mandiri di masyarakat dan/atau melanjutkan pendidikan ke jenjang pendidikan tinggi. meningkatkan. kehalusan. dan mengamalkan nilai-nilai kebangsaan dan cinta tanah air. ahlak mulia. dan Madrasah Aliyah Kejuruan (MAK). membekali peserta didik dengan kemampuan ilmu pengetahuan dan teknologi serta kecakapan kejuruan paraprofesi sesuai dengan kebutuhan masyarakat. menghayati. serta menjadi warga negara yang taat hukum dalam konteks kehidupan global yang senantiasa berubah. meningkatkan kepekaan dan kemampuan mengapresiasi serta mengekspresikan keindahan. mandiri. dan f. toleran. beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. dan inovatif. cakap. dan berkepribadian luhur. dan kepribadian luhur. peka sosial. dan d. Pendidikan menengah terdiri atas 3 (tiga) tingkatan kelas. Sekolah Menengah Kejuruan (SMK). b. atau bentuk lain yang sederajat. b. sehat. dan bertanggung jawab. berakhlak mulia. yaitu 37 (2) 76461668. Madrasah Aliyah (MA). d.(2) Pendidikan menengah kejuruan berfungsi: a. e. dan harmoni. demokratis. meningkatkan.doc . Paragraf 2 Bentuk Satuan Pendidikan Pasal 68 (1) Pendidikan menengah berbentuk Sekolah Menengah Atas (SMA). kritis. baik untuk kesehatan dan kebugaran jasmani maupun prestasi. c. kreatif. dan percaya diri. menghayati. menyalurkan bakat dan kemampuan di bidang olah raga. dan mengamalkan nilai-nilai keimanan. c. dalam rangka mengantarkan peserta didik agar mampu hidup produktif dan beretika dalam masyarakat majemuk. Pasal 67 Pendidikan menengah bertujuan membentuk peserta didik menjadi insan yang: a.

f. sesuai dengan tuntutan dunia kerja. (3) SMK dan MAK dapat terdiri atas 4 (empat) tingkatan kelas. Bidang studi keahlian sebagaimana dimaksud pada ayat (1) terdiri atas: a. bidang studi keahlian bisnis dan manajemen. pengetahuan sosial. 76461668. b. c. e. d. pengetahuan alam. atau e. kelas 12 (dua belas). c. bidang studi keahlian teknologi dan rekayasa. bidang studi keahlian agribisnis dan agroteknologi. Program studi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) terdiri atas: a. dan kelas 13 (tiga belas). Setiap bidang studi keahlian sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat terdiri atas 1 (satu) atau lebih program studi keahlian. yang diperlukan masyarakat. d. Pasal 70 (1) (2) (3) (4) Penjurusan pada SMK/MAK. Setiap program studi keahlian sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dapat terdiri dari satu atau lebih kompetensi keahlian. bidang studi keahlian teknologi informasi dan komunikasi. dan kelas 12 (dua belas). kelas 11 (sebelas). bidang studi keahlian kesehatan. (3) Ketentuan lebih lanjut tentang pelaksanaan ayat (1) dan ayat (2) diatur dengan peraturan Menteri. b. kerajinan. Pasal 69 (1) Penjurusan pada SMA/MA atau bentuk lain yang sederajat berbentuk program studi yang memfasilitasi kebutuhan pembelajaran serta kompetensi yang diperlukan peserta didik untuk melanjutkan pendidikan pada jenjang pendidikan tinggi. dan pariwisata. atau bentuk lain yang sederajat berbentuk bidang studi keahlian.doc (2) program studi ilmu program studi ilmu program studi bahasa. kelas 11 (sebelas).kelas 10 (sepuluh). yaitu kelas 10 (sepuluh). bidang studi keahlian seni. program studi program studi lain 38 . keagamaan.

g. b. dan ayat (5). (2) Peserta didik jalur nonformal dan informal dapat diterima di SMA/ MA/SMK/MAK atau bentuk lain yang sederajat sejak awal kelas 10 (sepuluh) setelah lulus ujian kesetaraan Paket B. lulus tes kelayakan dan penempatan yang diselenggarakan oleh satuan pendidikan formal yang bersangkutan. Paket B. bidang studi keahlian lain yang diperlukan masyarakat. (5) Peserta didik pendidikan menengah setara SMA/SMK di negara lain dapat pindah ke SMA/MA/SMK/MAK atau bentuk lain yang sederajat di Indonesia dengan syarat: a. (4) Peserta didik pendidikan dasar setara SMP yang mengikuti sistem dan/atau standar pendidikan negara lain dapat diterima di SMA/MA/SMK/MAK atau bentuk lain yang sederajat pada awal tahun kelas 10 (sepuluh) setelah: a. lulus tes kelayakan dan penempatan diselenggarakan oleh satuan pendidikan yang dimasukinya. dapat menunjukkan ijazah atau dokumen lain yang membuktikan bahwa yang bersangkutan telah menyelesaikan pendidikan dasar yang memberikan kompetensi lulusan setara SMP. (5) Ketentuan lebih lanjut tentang pelaksanaan ayat (1) sampai dengan ayat (4) diatur dengan peraturan Menteri. MTs. (6) yang ingin Menteri dapat membatalkan keputusan satuan pendidikan tentang syarat sebagaimana dimaksud pada ayat (3) huruf b. (3) Peserta didik jalur nonformal dan informal dapat diterima di di SMA/MA/SMK/MAK atau bentuk lain yang sederajat sesudah awal kelas 10 (sepuluh) setelah: a. menunjukkan ijazah atau dokumen lain yang membuktikan bahwa yang bersangkutan telah menyelesaikan pendidikan dasar setara SMP. lulus ujian kesetaraan Paket B. lulus ujian kesetaraan Paket B.doc . atau bentuk lain yang sederajat. apabila setelah dilakukan 39 76461668. Paragraf 3 Penerimaan Peserta Didik Pasal 71 (1) Peserta didik pada SMA/MA/SMK/MAK atau bentuk lain yang sederajat sudah menyelesaikan pendidikannya pada SMP. atau b. dan b. ayat (4) huruf b.

kemampuan ekonomi. kecuali bagi lulusan satuan pendidikan sebagaimana dimaksud pada Pasal 71 ayat (2) dan ayat (4). Seleksi penerimaan peserta didik baru di kelas 10 (sepuluh) pada satuan pendidikan menengah didasarkan pada hasil Ujian Nasional. Pasal 72 (1) (2) Penerimaan peserta didik pada satuan pendidikan menengah dilakukan secara objektif. satuan pendidikan dapat melakukan tes bakat skolastik untuk seleksi penerimaan peserta didik baru di kelas 10 (sepuluh). dan kondisi fisik atau mental. (7) Satuan pendidikan SMA/MA/SMK/MAK atau bentuk lain yang sederajat memberikan bantuan penyesuaian akademik.doc 40 . (8) (3) (4) (5) (6) Penerimaan peserta didik baru dapat dilaksanakan pada setiap semester bagi satuan pendidikan yang menyelenggarakan sistem kredit semester. transparan. status sosial. etnis. Bagian Kempat Pendidikan Tinggi Paragraf 1 76461668. Di samping memenuhi ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (4). Penerimaan peserta didik pada satuan pendidikan menengah dilakukan tanpa diskriminasi atas pertimbangan gender. sosial.pemeriksaan oleh Inspektorat Jenderal Departemen atas instruksi Menteri terbukti bahwa keputusan tersebut melanggar peraturan perundang-undangan. tidak benar. agama. dan/atau tidak jujur. dan akuntabel. Ketentuan lebih lanjut mengenai pelaksanaan ayat (1) sampai dengan ayat (5) diatur dengan peraturan Menteri. Keputusan penerimaan calon peserta didik menjadi peserta didik dilakukan secara mandiri oleh rapat dewan guru yang dipimpin oleh kepala satuan pendidikan. dan/atau mental yang diperlukan oleh peserta didik pindahan dari satuan pendidikan formal lain atau jalur pendidikan lain.

teknologi. mampu beradaptasi dan berinteraksi positif dalam masyarakat majemuk dan global yang dinamis. (3) Perguruan tinggi dapat menyelenggarakan program pendidikan diploma. serta d. mengembangkan. teknologi. dharma penelitian untuk menemukan. sarjana. mandiri. kreatif. menerapkan. toleran. b. teknologi. kepada Tuhan Yang berkepribadian luhur. dan olahraga. cakap. peka sosial. taat hukum. seni. dan menyebarluaskan nilai-nilai luhur. dalam rangka membentuk manusia berwawasan luas. dan olahraga dalam rangka pemberdayaan masyarakat. dan c. dharma pendidikan untuk menguasai. dan menjadi agen pembaharu untuk mewujudkan masyarakat madani. dan/atau pendidikan vokasi. ilmu pengetahuan.doc 41 . produktif. seni. politeknik. inovatif. seni. demokratis. dan sehat. Paragraf 2 Jenis. dan/atau mengadaptasi nilai-nilai luhur. percaya diri dan berjiwa enterprenur. magister. Bentuk. dan c. ilmu pengetahuan. mengadopsi. atau universitas. dan Program Pendidikan Pasal 74 (1) Perguruan tinggi dapat menyelenggarakan pendidikan akademik. institut. beretika. b. ilmu pengetahuan. beriman dan bertakwa berakhlak mulia. (2) Perguruan tinggi dapat berbentuk akademi. pendidikan profesi. dan kepribadian manusia melalui: a. spesialis. kritis. watak. dan/atau doktor.Fungsi dan Tujuan Pasal 73 (1) Pendidikan tinggi berfungsi mengembangkan atau membentuk kemampuan. (2) Pendidikan tinggi bertujuan membentuk insan yang: a. Maha Esa. dharma pengabdian kepada masyarakat untuk menerapkan nilai-nilai luhur. Paragraf 3 76461668. dan olahraga. dan bertanggung jawab. sekolah tinggi. berilmu.

jurusan. Fakultas berfungsi mengkoordinasikan pendidikan akademik. dan pengabdian kepada masyarakat. perlengkapan. teknologi. Penyelenggaraan pendidikan pada tingkat operasional dilaksanakan oleh program studi yang menurut jenisnya dapat berupa pendidikan akademik. pelaksana akademik. pusat penelitian. penelitian. Ketentuan lebih lanjut mengenai ayat (1) sampai dengan ayat (5) diatur dalam anggaran dasar dan anggaran rumah tangga perguruan tinggi. komunikasi. Pelayanan teknis dan administratif sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilaksanakan berbasis teknologi informasi dan komunikasi. (2) (3) (4) (5) (6) (2) 76461668. yang mencakup program pendidikan diploma. hukum. spesialis. profesi dan/atau vokasi. Penyelenggaraan penelitian dan/atau pengabdian kepada masyarakat pada tingkat operasional dilaksanakan oleh sivitas akademika baik secara individual maupun berkelompok melalui program studi. dan/atau doktor. kemahasiswaan. dan doktor. keuangan. Setiap program studi memiliki kurikulum yang dikembangkan sesuai dengan tujuan program studi dan peraturan perundangundangan. spesialis. seni.Organisasi Perguruan Tinggi Pasal 75 Perguruan tinggi memiliki unsur-unsur pelaksana administrasi. Pasal 76 (1) Unsur pelaksana akademik sebagaimana dimaksud dalam Pasal 75 merupakan unit penyelenggara pendidikan. magister.doc 42 . sarjana. Pasal 77 (1) Unsur pelaksana administrasi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 75 menyelenggarakan pelayanan teknis dan administratif yang meliputi fungsi administrasi akademik. pusat pengabdian masyarakat. dan penunjang. profesi dan/atau vokasi dalam 1 (satu) atau kelompok cabang ilmu pengetahuan. magister. atau fakultas. kepersonaliaan. dan/atau olah raga tertentu yang mencakup program pendidikan diploma. dan fungsi administrasi lainnya sesuai dengan kebutuhan. sarjana.

tugas pokok. Mata kuliah yang diambil oleh peserta didik program profesi dapat diperhitungkan sebagai mata kuliah terkait pada program magister profesi terkait. fungsi. spesialis. dan/atau doktor. atau sebaliknya. atau sebaliknya. spesialis. dan/atau doktor sebagaimana dimaksud pada ayat (1) yang bersifat monodisiplin atau lintas disiplin dalam satu fakultas dikelola oleh fakultas yang terkait. jumlah. (2) 76461668. Unsur penunjang sebagaimana dimaksud pada ayat (1) sekurang –kurangnya terdiri atas: a. penelitian dan pengabdian kepada masyarakat yang ada di luar fakultas dan jurusan. profesi.(3) Jenis. Program magister.doc 43 . profesi. unit layanan penjaminan mutu penelitian. Mata kuliah yang diambil oleh peserta didik program spesialis dapat diperhitungkan sebagai mata kuliah terkait pada program magister atau doktor terkait. dan/atau doktor sebagaimana dimaksud pada ayat (1) yang bersifat lintas disiplin yang melibatkan lebih dari satu fakultas dikelola oleh unit organisasi yang dibentuk atau ditunjuk oleh pemimpin perguruan tinggi. unit layanan penjaminan mutu pendidikan. Pasal 78 (1) Program studi tingkat pascasarjana dibentuk untuk menyelenggarakan dan melaksanakan program magister. ayat (2) dan ayat (3) diatur dalam anggaran dasar dan/atau anggaran rumah tangga perguruan tinggi. Pasal 79 (2) (3) (4) (5) (6) (7) (1) Unsur penunjang pada perguruan tinggi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 75 merupakan perangkat pelengkap di bidang pendidikan. dan mekanisme kerja unsur pelaksana administrasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dalam anggaran dasar dan anggaran rumah tangga perguruan tinggi. spesialis. Program magister. Ketentuan lebih lanjut mengenai pelaksanaan ayat (4) dan ayat (5) diatur dengan peraturan Menteri. Organisasi dan tata kerja penyelenggaraan program studi tingkat pascasarjana sebagaimana dimaksud pada ayat (1). profesi. b.

Lingkungan kampus ditata dengan mempertimbangkan faktor keamanan. memiliki ijazah atau surat keterangan lulus pendidikan 1 (satu) jenjang atau tingkat pendidikan di bawahnya. dan b. sarana dan prasarana kesenian. memenuhi persyaratan masuk yang ditetapkan oleh perguruan tinggi yang bersangkutan. sarana dan prasarana olah raga. tugas pokok.doc 44 . penjaminan mutu pengabdian kepada e. dan unit lain yang dipandang perlu. unit layanan masyarakat. kedudukan. pusat jejaring teknologi informasi dan komunikasi. memiliki ijazah atau surat keterangan lulus pendidikan menengah atau yang sederajat. (2) Persyaratan untuk menjadi mahasiswa pada program vokasi adalah: a. keindahan. g. (4) (7) Paragraf 3 Penerimaan Mahasiswa Pasal 80 (1) Persyaratan untuk menjadi mahasiswa pada program sarjana. d. poliklinik. dan kesehatan lingkungan. toko buku. fungsi dan mekanisme kerja dari unsur-unsur penunjang akademik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) diatur dalam anggaran dasar dan anggaran rumah tangga perguruan tinggi. apotik.c. dan 76461668. perpustakaan. penerbitan. dan doktor adalah: a. kenyamanan. dan h. unit layanan bimbingan dan konseling. magister. (3) Unsur penunjang sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat dilengkapi dengan rumah sakit pendidikan. f. Jenis dan jumlah. laboratorium/bengkel/studio.

Penerimaan mahasiswa baru pada perguruan tinggi dilakukan secara objektif. kemampuan ekonomi.b. memiliki ijazah atau surat keterangan lulus program pendidikan sarjana atau diploma IV. dan b. Tes seleksi penerimaan mahasiswa baru program sarjana dan program vokasi pada perguruan tinggi tidak menduplikasi ujian nasional pendidikan menengah. Perguruan tinggi menetapkan persyaratan kelayakan penerimaan mahasiswa baru pada setiap program studi yang diselenggarakannya. dan b. Pasal 81 (1) (2) Perguruan tinggi dapat menyelenggarakan seleksi penerimaan mahasiswa baru pada setiap semester. Penerimaan bersyarat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dipenuhi selambat-lambatnya dalam waktu 6 (enam) bulan. transparan. dan akuntabel. (4) Persyaratan untuk menjadi mahasiswa pada program spesialis adalah: a. 45 (3) (4) (5) (2) 76461668. (3) memenuhi persyaratan masuk yang perguruan tinggi yang bersangkutan. agama. memiliki ijazah atau surat keterangan lulus pendidikan 1 (satu) jenjang atau tingkat pendidikan di bawahnya. memenuhi persyaratan masuk yang ditetapkan oleh perguruan tinggi yang bersangkutan. etnis. ditetapkan oleh Persyaratan untuk menjadi mahasiswa pada program profesi adalah: a. Pasal 82 (1) Perguruan tinggi dapat melakukan penerimaan bersyarat mahasiswa baru untuk calon mahasiswa yang telah memenuhi sebagian besar persyaratan penerimaan. memenuhi persyaratan masuk yang ditetapkan oleh perguruan tinggi yang bersangkutan. dan kondisi fisik atau mental. status sosial.doc . Penerimaan mahasiswa baru perguruan tinggi dilakukan tanpa diskriminasi atas pertimbangan gender.

doc (2) Pembelajaran dapat dilakukan dalam bentuk diskusi. Pasal 85 Menteri dapat membatalkan keputusan perguruan tinggi tentang penerimaan mahasiswa baru apabila setelah dilakukan pemeriksaan oleh Inspektorat Jenderal Departemen atas instruksi Menteri terbukti bahwa keputusan tersebut melanggar peraturan perundangundangan.(3) Ketentuan lebih lanjut mengenai penerimaan bersyarat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dalam anggaran rumah tangga perguruan tinggi. dan kemampuan konfluen mahasiswa. 46 . tidak benar. dan/atau tidak jujur. Paragraf 4 Sistem Pembelajaran Pasal 86 (1) Pendidikan tinggi diselenggarakan melalui proses pembelajaran yang berpusat pada mahasiswa sebagai subjek pembelajaran dalam rangka mengembangkan kemampuan kognitif. kuliah. praktikum. psikomotorik. lokakarya. (2) (2) Pelanggaran terhadap perjanjian sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat berakibat dikeluarkannya mahasiswa yang bersangkutan dari perguruan tinggi. simposium. seminar. Pasal 83 (1) Pengumuman penerimaan mahasiswa baru program sarjana dan program vokasi yang bersifat final pada perguruan tinggi dilakukan setelah pengumuman hasil ujian nasional pendidikan menengah tahun ajaran sebelumnya. Pengumuman penerimaan mahasiswa baru program sarjana dan program vokasi yang bersyarat sebagaimana dimaksud dalam Pasal 82 dapat dilakukan sebelum pengumuman hasil ujian nasional pendidikan menengah tahun ajaran sebelumnya. afektif. Pasal 84 (1) Seorang calon mahasiswa secara resmi menjadi mahasiswa perguruan tinggi setelah menandatangani perjanjian dengan perguruan tinggi yang memuat secara jelas hak-hak dan kewajiban mahasiswa yang diatur dalam anggaran dasar atau anggaran rumah tangga perguruan tinggi. 76461668.

dan ayat (4) diatur oleh masingmasing perguruan tinggi dalam anggaran dasar dan/atau anggaran rumah tangga. tenaga pendidik dan tenaga kependidikan. Kampus induk dan kampus lainnya sebagaimana dimaksud pada ayat (2) terhubung dengan sistem informasi berbasis teknologi informasi dan komunikasi. ayat (2). Pasal 88 (1) (2) Pengelolaan pembelajaran pada perguruan tinggi dapat diselenggarakan melalui sistem multikampus. dapat menyelenggarakan program studi di kampus lain. proses pembelajaran. Sistem multikampus sebagaimana dimaksud pada ayat (1) merupakan sistem pengelolaan perguruan tinggi yang menerapkan 1 (satu) sistem pendidikan tinggi secara utuh. Fakultas yang lebih dari 75% (tujuh puluh lima persen) program studinya berakreditasi A dari Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi.penelitian. Semester pendek sebagaimana dimaksud pada ayat (3) sekurang-kurangnya diselenggarakan selama 8 (delapan) minggu. Isi kurikulum. Pelaksanaan ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1). atau lebih dari 30% (tiga puluh persen) program studinya berakreditasi dari badan akreditasi negara anggota OECD. yang pelaksanaannya diselenggarakan di kampus induk dan kampus lain. ayat (3).doc 47 . pengelolaan. Pasal 87 (1) Pendidikan tinggi diselenggarakan dengan menerapkan Sistem Kredit Semester (SKS) yang bobot belajarnya dinyatakan dalam satuan kredit semester (sks). kompetensi lulusan. pengabdian kepada masyarakat dan/atau kegiatan lainnya dengan mengacu pada prinsip otonomi keilmuan. Perguruan tinggi dapat menyelenggarakan semester pendek antara semester genap dan ganjil. dan penilaian pendidikan pada kampus lain sekurang-kurangnya sama dengan kampus induk. Tahun akademik dibagi dalam 2 (dua) semester yang masing-masing terdiri atas 16 (enam belas) minggu. (2) (3) (4) (5) (3) (4) (5) 76461668. pembiayaan. sarana dan prasarana.

dapat dilaksanakan di pusat kegiatan Kelompok Kerja Guru atau Musyawarah Guru Mata Pelajaran. Pasal 82 ayat (2). (4) Menteri dapat membatalkan izin program sebagaimana dimaksud pada ayat (2) apabila setelah dilakukan pemeriksaan oleh Inspektorat Jenderal Departemen atas instruksi Menteri terbukti bahwa pelaksanaan program yang bersangkutan telah melanggar peraturan perundang-undangan. b. atau pihak lain yang dipandang perlu. mengawasi. dan memfasilitasi penyelenggaraan program sebagaimana dimaksud pada ayat (2) sehingga guru tetap dalam jabatan yang bersangkutan memperoleh kualifikasi akademik sarjana atau diploma empat kependidikan sesuai peraturan perundang-undangan. (2) Program sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diselenggarakan sebagai berikut: a. (3) Izin sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf a diberikan oleh Departemen setelah memperoleh jaminan dari pemerintah daerah kabupaten/kota yang bersangkutan untuk bertanggung jawab melindungi. 76461668. dunia usaha. c. dilaksanakan oleh perguruan tinggi yang memiliki program studi sarjana atau diploma empat kependidikan berakreditasi dari Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi dan telah memperoleh izin untuk menyelenggarakan program sarjana atau diploma empat kependidikan khusus bagi guru tetap dalam jabatan dari Departemen. Pasal 90 (1) Perguruan tinggi dapat menjalin kerja sama akademik dan/atau non-akademik dengan perguruan tinggi lain.doc 48 . (5) Ketentuan sebagaimana diatur dalam Pasal ini berlaku sampai berakhirnya masa peralihan sebagaimana diatur dalam UndangUndang Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen. memenuhi seluruh persyaratan program sarjana atau diploma empat kependidikan sesuai dengan peraturan perundang-undangan.Pasal 89 (1) Perguruan tinggi dapat menyelenggarakan program studi sarjana atau diploma empat kependidikan khusus bagi guru tetap dalam jabatan yang belum memiliki ijazah sarjana atau diploma empat dengan program sarjana atau diploma empat kependidikan khusus bagi guru tetap dalam jabatan.

dan/atau bentuk-bentuk lain yang dianggap perlu. e. (3) Kerja sama akademik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat berbentuk: a. c. kontrak manajemen. usaha penggalangan dana. penugasan dosen senior sebagai pembina pada perguruan tinggi yang membutuhkan pembinaan. norma serta kaidah keilmuan. dan dilandasi oleh etika. d. Paragraf 5 Kebebasan Akademik dan Otonomi Keilmuan Pasal 91 (1) Pimpinan perguruan tinggi mengupayakan dan menjamin agar setiap sivitas akademika perguruan tinggi melaksanakan kebebasan akademik dan kebebasan mimbar akademik secara mandiri sesuai dengan peraturan perundang-undangan. (5) Semua bentuk kerjasama sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dengan pihak asing dilaporkan kepada Departemen. inovasi. pendayagunaan aset. g. b. (7) Menteri dapat membatalkan kerjasama sebagaimana dimaksud pada ayat (1) apabila setelah dilakukan pemeriksaan oleh Inspektorat Jenderal Departemen atas instruksi Menteri terbukti bahwa kerjasama yang bersangkutan telah melanggar peraturan perundang-undangan.(2) Kerja sama perguruan tinggi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) bertujuan untuk meningkatkan efisiensi. efektifitas. pertukaran dosen dan/atau mahasiswa. produktifitas. d. kreatifitas. dan relevansi pelaksanaan tri dharma perguruan tinggi. pendidikan. pemagangan. penelitian. penyelenggaraan seminar bersama. e. c.doc . pengalihan dan/atau perolehan kredit. i. j. mutu. f. h. b. jasa dan royalti hak atas kekayaan intelektual. (6) Ketentuan lebih lanjut mengenai kerjasama sebagaimana yang dimaksud pada ayat (1) diatur dalam peraturan Menteri. (4) Kerja sama non-akademik sebagaimana yang dimaksud pada ayat (1) dapat berbentuk: a. dan pengabdian kepada masyarakat. penerbitan jurnal ilmiah. program kembaran. pemanfaatan bersama berbagai sumberdaya. dan/atau bentuk-bentuk lain yang dianggap perlu. 49 76461668.

dan ayat (5): a. ayat (2) dan ayat (3): a. mengupayakan agar kegiatan dan hasilnya bermanfaat bagi masyarakat. baik di dalam maupun di luar kampus. c. b. seni.doc . publikasi ilmiah. dan pengabdian kepada masyarakat. (3) kebebasan mengupayakan agar kegiatan dan hasilnya dapat meningkatkan mutu akademik perguruan tinggi yang bersangkutan. bangsa. tidak menimbulkan keresahan masyarakat. dan taat etika. sesuai dengan peraturan perundang-undangan. teknologi. dan kaidah akademik. seminar. bertanggung jawab secara pribadi atas pelaksanaan dan hasilnya.(2) Dalam melaksanakan kebebasan akademik dan mimbar akademik. dan tidak melanggar hukum dan tidak mengganggu kepentingan umum. dan d. d. tidak mengganggu ketertiban umum. ceramah. e. simposium. serta kaidah keilmuan. Kebebasan akademik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) merupakan kebebasan sivitas akademika dalam mendalami. negara. berada di bawah tanggung jawab dan secara resmi dikoordinasikan oleh pimpinan perguruan tinggi. dan/atau olah raga melalui kegiatan pendidikan. Pelaksanaan kebebasan mimbar akademik dimaksud pada ayat (1). dan pertemuan ilmiah lainnya yang relevan. (4) (5) Kebebasan mimbar akademik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) merupakan kebebasan sivitas akademika dalam menyebarluaskan hasil penelitian dan menyampaikan pandangan akademik dalam rangka pembelajaran sivitas akademika dan/atau masyarakat melalui kegiatan perkuliahan. dan mengembangkan ilmu. sebagaimana (6) merupakan tanggung jawab setiap individu 50 76461668. c. serendah-rendahnya ketua program studi. Pelaksanaan kebebasan akademik sebagaimana dimaksud pada ayat (1). penelitian. diskusi. serta akibatnya pada diri sendiri atau orang lain. nilai-nilai etika. secara bertanggungjawab dan mandiri. b. setiap individu sivitas akademika: a. dan kemanusiaan. norma. melakukannya dengan cara yang tidak bertentangan dengan nilai-nilai agama. ketua pusat penelitian. ayat (2). atau ketua pusat pengabdian kepada masyarakat. ujian. menerapkan.

sivitas akademika yang terlibat. menambah dan/atau meningkatkan mutu kekayaan intelektual bangsa dan negara Indonesia. mengembangkan. memperkuat daya saing bangsa dan negara Indonesia. institut. dan/atau penelitian 51 (2) (3) 76461668. dan c. serta kaidah keilmuan. seni. teknologi. b. Otonomi keilmuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) merupakan kemandirian dan kebebasan sivitas akademika suatu cabang ilmu pengetahuan. apabila perguruan tinggi atau unit organisasi tersebut secara resmi terlibat dalam pelaksanaannya. dan taat etika. melindungi dan mempertahankan kekayaan dan keragaman alami. teknologi. menjadi tanggung jawab perguruan tinggi. c. dan/atau mempertahankan kebenaran menurut kaidah keilmuannya untuk menjamin keberlanjutan perkembangan cabang ilmu pengetahuan. mengungkapkan. mimbar akademik melindungi dan mempertahankan kekayaan intelektual. hayati. Paragraf 6 Penelitian Pasal 93 (1) Universitas. norma. dan/atau olah raga dengan berpedoman pada otonomi keilmuan. d. dan sekolah tinggi wajib melaksanakan penelitian dasar. dan/atau olah raga yang melekat pada kekhasan/keunikan cabang ilmu pengetahuan. Pasal 92 (1) Sivitas akademika perguruan tinggi mengembangkan ilmu pengetahuan. teknologi. seni. (7) Kebebasan akademik dan kebebasan dimanfaatkan oleh perguruan tinggi untuk: a. dan/atau olah raga. dalam menemukan. sesuai dengan peraturan perundangundangan. sosial. dan budaya bangsa dan negara Indonesia. teknologi. penelitian terapan. seni. atau unit organisasi di dalam perguruan tinggi. dan/atau olah raga yang bersangkutan. Pelaksanaan otonomi keilmuan di perguruan tinggi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) diatur lebih lanjut oleh perguruan tinggi dalam anggaran rumah tangga perguruan tinggi. b. seni.doc .

(5) (6) Sekurang-kurangnya 1 (satu) dosen penguji sebagaimana dimaksud pada ayat (5) huruf b berasal dari program studi terkait berakreditasi sekurang-kurangnya B dari perguruan tinggi lain. apabila dilakukan oleh mahasiswa untuk memenuhi persyaratan lulus program magister. (7) Sekurang-kurangnya 1 (satu) dosen penguji sebagaimana dimaksud pada ayat (5) huruf c berasal dari program studi terkait berakreditasi A dari perguruan tinggi lain. mencari dan/atau menemukan kebaruan kandungan ilmu pengetahuan. diuji secara tertutup dan terbuka di hadapan sekurang-kurangnya 5 (lima) penguji. prosedur. Penelitian sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) dilaksanakan untuk: a. apabila dilakukan oleh dosen untuk memenuhi dharma penelitian. disetujui dosen pembimbing. disetujui dosen pembimbing. seni.pengembangan. seni. apabila dilakukan oleh mahasiswa untuk memenuhi persyaratan lulus program sarjana. prinsip. b. apabila dilakukan oleh mahasiswa untuk memenuhi persyaratan lulus program doktor. disetujui dosen pembimbing.doc 52 . dan/atau menguji ulang teori. (2) (3) Dosen pada akademi dan politeknik wajib melaksanakan penelitian terapan dan/atau penelitian pengembangan. dan/atau model yang sudah menjadi kandungan ilmu pengetahuan. dan diuji secara tertutup di hadapan sekurang-kurangnya 3 (tiga) dosen penguji. dan/atau olah raga. b. c. diseminarkan dan dipublikasikan pada jurnal ilmiah dalam negeri berakreditasi atau jurnal internasional yang diakui Departemen. (4) Kegiatan penelitian sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (3) dilaksanakan dengan mematuhi kaidah dan etika akademik sesuai dengan prinsip otonomi keilmuan. konsep. Penelitian sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilaksanakan dengan memenuhi standar penjaminan mutu sebagai berikut: a. dan d. teknologi. teknologi. (8) Penelitian sebagaimana dimaksud pada ayat (5) huruf b dan huruf c dipublikasikan pada jurnal ilmiah dalam negeri 76461668. dan/atau olah raga. metode.

mahasiswa yang bersangkutan mengikutsertakan dosen pembimbing sebagai penulis pendamping. Jurnal ilmiah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diterbitkan secara tercetak dan secara elektronik melalui jejaring teknologi 53 (5) (6) (7) 76461668. (4) Sekurang-kurangnya 60% (enam puluh persen) dari artikel hasil penelitian sebagaimana dimaksud pada ayat (2) merupakan hasil penelitian empirik. masing-masing sekurang-kurangnya 2 (dua) eksemplar. Perpustakaan Nasional. Setiap terbitan jurnal ilmiah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dikirimkan kepada pusat dokumentasi ilmiah pada Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia. (9) Dalam mempublikasikan pada jurnal ilmiah sebagaimana dimaksud pada ayat (5) huruf b dan huruf c. program studi.berakreditasi atau jurnal internasional yang diakui Departemen selambat-lambatnya 1 (satu) tahun setelah mahasiswa yang bersangkutan dinyatakan lulus dari program studi.doc . atau pusat studi dapat menerbitkan jurnal ilmiah. (12) Hasil penelitian perguruan tinggi yang dilaksanakan oleh dosen dimanfaatkan untuk memperkaya materi pembelajaran mata kuliah yang relevan. (10) Hasil penelitian sebagaimana dimaksud pada ayat (2) diseminarkan dan dipublikasikan pada jurnal terakreditasi yang diakui Departemen. (3) Penelitian sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dapat berupa penelitian empirik maupun penelitian pustaka. dan perpustakaan Departemen. Jurnal ilmiah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) memuat artikel hasil penelitian. (13) Prosedur penjaminan mutu penelitian perguruan tinggi diatur dalam anggaran rumah tangga perguruan tinggi. Jurnal ilmiah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat diterbitkan dalam bahasa resmi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). (11) Hasil penelitian perguruan tinggi diakui sebagai penemuan baru setelah dimuat dalam jurnal ilmiah terakreditasi yang diakui Departemen dan/atau mendapatkan hak kekayaan intelektual. fakultas. Pasal 94 (1) (2) Perguruan tinggi. apabila dilakukan oleh dosen untuk memenuhi dharma penelitian.

doc . b. dan masyarakat. (8) Departemen mengakreditasi jurnal ilmiah sebagaimana dimaksud pada ayat (1). Pengabdian kepada masyarakat diselenggarakan dan dilaksanakan berbasis pada dharma pendidikan dan penelitian atas dasar prinsip: a. pemberdayaan pengembangan dosen. pemberdayaan masyarakat yang mendorong kemampuan bekerja sama dalam tim bagi mahasiswa. Paragraf 7 Pengabdian kepada Masyarakat Pasal 95 (1) (2) Perguruan tinggi wajib melaksanakan pengabdian kepada masyarakat. dosen. atau pemadanian kehidupan masyarakat. serta toleransi sosial dan budaya bagi mahasiswa. Ketentuan lebih lanjut mengenai pelaksanaan pengabdian 54 (5) (6) 76461668. pemberdayaan masyarakat yang merangsang tumbuhnya kemandirian. masyarakat yang berdampak pada jiwa kepemimpinan mahasiswa dan masyarakat yang berdampak pada jiwa kewirausahaan mahasiswa dan c. Hasil pengabdian kepada masyarakat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) sampai dengan ayat (4) dimanfaatkan untuk pengayaan pembelajaran yang relevan. kreatifitas. dan d. (4) Pengabdian kepada masyarakat sebagaimana dimaksud pada ayat (1).informasi dan komunikasi Departemen. ayat (2). pemodernan. dan masyarakat. (3) Pelaksanaan kegiatan pengabdian kepada masyarakat sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dilaksanakan oleh dosen dan mahasiswa. dan ayat (3) merupakan penerapan hasil pendidikan dan/atau hasil penelitian dalam upaya pemberdayaan. pemberdayaan pengembangan dosen. keteladanan. kepekaan dan kepedulian sosial dan budaya. dosen. baik secara individual maupun berkelompok.

dan program magister yang tidak mensyaratkan tesis sebagaimana dimaksud pada huruf a. penilaian tugas terstruktur dan mandiri. 76461668. belajar dilaksanakan secara (2) (2) (3) Ketentuan lebih lanjut mengenai pelaksanaan ayat (1) dan ayat (2) diatur dalam anggaran rumah tangga perguruan tinggi. diatur dalam Paragraf 8 anggaran rumah tangga Pengalihan Kredit Pasal 96 (1) Perguruan tinggi dapat mengakui hasil belajar yang diperoleh mahasiswa pada perguruan tinggi lain atau satuan/program pendidikan nonformal untuk memenuhi persyaratan kelulusan program studi. ujian. transparan. dan jujur. b.kepada masyarakat perguruan tinggi. evaluasi berkala atas pencapaian kompetensi mahasiswa program diploma. Pasal 98 (1) Departemen mengembangkan suatu sistem penjaminan mutu hasil belajar program studi perguruan tinggi secara nasional. Pelaksanaan ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dalam anggaran rumah tangga perguruan tinggi. keterlibatan dosen dari perguruan tinggi lain dalam ujian tesis program magister dan disertasi program doktor sebagaimana dimaksud dalam Pasal 93.doc 55 . program sarjana. (2) Sistem penjaminan mutu sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilaksanakan melalui: a. Penilaian hasil objektif. dan/atau bentuk penilaian lainnya. Paragraf 9 Penjaminan Mutu Hasil Belajar Pasal 97 (1) Penilaian hasil belajar mahasiswa dilakukan secara berkala melalui penilaian proses belajar.

Paragraf 10 Gelar Lulusan Pendidikan Tinggi Pasal 81 76461668. ditetapkan oleh perguruan tinggi setelah memperhatikan pertimbangan dari organisasi profesi. ditetapkan oleh perguruan tinggi bersama-sama dengan organisasi profesi. ditetapkan oleh organisasi profesi. dilaksanakan atas dasar sampel. Ketentuan lebih lanjut mengenai pelaksanaan evaluasi berkala diatur dalam peraturan Menteri. (4) Penelaah sejawat sebagaimana dimaksud pada ayat (3) huruf d berasal dari program studi sejenis berakreditasi sekurangkurangnya B dari perguruan tinggi lain. diterapkan pada berakreditasi kurang dari B. Persyaratan kelulusan untuk pendidikan profesi ditetapkan dengan cara: a. hasil evaluasi digunakan oleh Departemen untuk menetapkan hak menyelenggarakan ujian secara mandiri.(3) Evaluasi berkala sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf b dilaksanakan sebagai berikut: a. April 2008 (5) ==============================28 ================ Pasal 99 (1) Persyaratan kelulusan untuk pendidikan akademik dan pendidikan vokasi diatur oleh masing-masing perguruan tinggi. diterapkan pada soal ujian dan jawaban ujian mata kuliah inti program studi.doc 56 . program studi yang b. dilaksanakan oleh penelaah sejawat. b. (2) (3) Penetapan persyaratan kelulusan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) diatur oleh perguruan tinggi yang bersangkutan. c. e. atau c. d.

atau gelar profesi. singkatan. b. ditulis di belakang nama yang berhak dengan mencantumkan singkatan A. ditulis di belakang nama yang berhak dengan mencantumkan singkatan A. ahli pratama. vokasi. diikuti dengan inisial program studi atau bidang keahlian khusus.doc . doktor. (4) Gelar untuk lulusan pendidikan profesi adalah Spesialis dengan mencantumkan singkatan Sp. ditulis di belakang nama yang berhak dengan mencantumkan huruf S. ditulis di belakang nama yang berhak dengan mencantumkan huruf M. 57 76461668. ditulis di belakang nama yang berhak dengan mencantumkan singkatan A. c. sarjana sains terapan. ahli muda. dan profesi hanya boleh diberikan oleh perguruan tinggi yang memenuhi persyaratan pendirian dan dinyatakan berhak menyelenggarakan program pendidikan yang relevan.Ma diikuti dengan inisial program studi atau bidang ilmu. dan inisial program studi atau bidang ilmu sebagaimana dimaksud pada ayat (2). dan ayat (4) diatur dengan Peraturan Menteri. untuk program diploma IV. vokasi. diikuti dengan inisial program studi atau bidang ilmu.(1) Lulusan pendidikan akademik. untuk lulusan program diploma II. (2) Gelar untuk lulusan pendidikan akademik terdiri atas: a.Md diikuti dengan inisial program studi atau bidang ilmu. ditulis di depan nama mencantumkan singkatan Dr. magister. untuk lulusan program diploma I. ayat (3). Gelar akademik. diikuti dengan inisial program studi atau bidang ilmu. (5) Ketentuan lebih lanjut mengenai gelar. Pasal 82 (1). dan c. gelar vokasi. atau profesi berhak untuk menggunakan gelar akademik.P diikuti dengan inisial program studi atau bidang ilmu. untuk lulusan program diploma III. sarjana. ditulis di belakang nama yang berhak dengan mencantumkan singkatan SST diikuti dengan inisial program studi atau bidang ilmu. dan d. b. yang berhak dengan (3) Gelar untuk pendidikan vokasi terdiri atas: a. ahli madya.

Gelar doktor kehormatan hanya dapat diberikan oleh perguruan tinggi yang berwenang menyelenggarakan program doktor terakreditasi dalam bidang ilmu terkait. dan penempatan gelar lulusan perguruan tinggi luar negeri tetap menggunakan gelar sesuai dengan jenis. Penetapan jenis gelar akademik. kebudayaan. atau seni dan digunakan dengan mencantumkan atau menuliskan Dr (HC) di depan nama pemilik serta hanya dipergunakan dalam upacara akademik.doc 58 . Bidang keahlian sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditentukan berdasarkan bidang studi atau kelompok bidang studi. Pemberian gelar doktor kehormatan ditetapkan oleh senat akademik perguruan tinggi. singkatan. (1) Pencantuman jenis. singkatan. Pasal 83 (3). Ketentuan tentang pemberian dan pengukuhan gelar doktor kehormatan diatur oleh senat akademik perguruan tinggi masing-masing. Menteri atau Menteri Agama sesuai kewenangan masing-masing menetapkan kesetaraan ijazah perguruan tinggi luar negeri dengan ijazah dan gelar perguruan tinggi Indonesia yang memenuhi Standar Nasional Pendidikan. keagamaan. atau vokasi didasarkan atas bidang keahlian dan dicantumkan dalam ijazah yang diberikan kepada lulusan perguruan tinggi. kemasyarakatan. dan penempatan yang berlaku di negara asal. teknologi. (2) (3) (4) 76461668.(2). Pasal 84 (2) (1) Gelar doktor kehormatan (doctor honoris causa) diberikan kepada seseorang yang telah berjasa luar biasa bagi ilmu pengetahuan. profesi.

c. BAB IV PENYELENGGARAAN PENDIDIKAN NONFORMAL Bagian Kesatu Fungsi dan Tujuan 76461668. Mutu sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) dijamin dengan memperhatikan: a.doc 59 . misi. ketanggapan perguruan tinggi terhadap aspirasi pihak-pihak yang berkepentingan. pelaksanaan visi. kesesuaian penyelenggaraan pendidikan Standar Nasional Pendidikan. bagi perguruan tinggi yang memiliki komitmen untuk bertaraf internasional. dan kebutuhan tinggi dan (2) (3) dengan d. Penjaminan mutu dilakukan secara berkelanjutan oleh perguruan itu sendiri dan dapat dibantu oleh lembaga lain. (5) Kelayakan sebagaimana dimaksud pada ayat (4) diukur atas dasar mutu sebagaimana dimaksud pada ayat (3). kesesuaian penyelenggaraan pendidikan tinggi dengan standar mutu internasional. (6) Akreditasi wajib bagi setiap program studi dan/atau satuan pendidikan tinggi yang dilaksanakan oleh Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi atau lembaga mandiri lain yang memenuhi persyaratan. b.Bagian Kelima Penjaminan Mutu Pasal 85 (1) Penjaminan mutu dilakukan oleh setiap perguruan tinggi untuk memenuhi Standar Nasional Pendidikan jenjang pendidikan tinggi secara konsisten dan berkelanjutan sebagai wujud akuntabilitas publik perguruan tinggi kepada para pemangku kepentingan. (4) Keberhasilan penjaminan mutu diukur dengan akreditasi yang menentukan kelayakan program dan/atau satuan pendidikan tinggi. dan tujuan perguruan tinggi secara nyata.

berusaha mandiri dan/atau melanjutkan pendidikan ke tingkat 60 76461668. kelompok bermain (KB). f. g. atau satuan pendidikan lain yang sejenis. penambah. d. serta pengembangan sikap dan kepribadian profesional dalam rangka mendukung pendidikan sepanjang hayat. lembaga pelatihan.Pasal 86 (1) Pendidikan nonformal berfungsi sebagai pengganti. bekerja. h. dan/atau pelengkap pendidikan formal bagi warga masyarakat yang memerlukan layanan pendidikan untuk mengembangkan potensinya dengan penekanan pada penguasaan pengetahuan dan keterampilan fungsional. lembaga kursus. keterampilan. dan/atau melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi dalam rangka mewujudkan tujuan pendidikan nasional. keterampilan. dan kompetensi untuk bekerja dalam bidang tertentu. majelis taklim. pusat kegiatan belajar masyarakat. kelompok belajar. b. Pendidikan nonformal bertujuan untuk membentuk manusia yang memiliki kecakapan hidup. e. sikap wirausaha. mengembangkan profesi.doc . (2) Paragraf 1 Lembaga Kursus dan Lembaga Pelatihan Pasal 88 (1) Lembaga kursus dan lembaga pelatihan menyelenggarakan pendidikan bagi warga masyarakat yang memerlukan bekal pengetahuan. sikap dan kecakapan hidup untuk mengembangkan diri. taman penitipan anak (TPA). c. Bagian Kedua Bentuk Satuan Pendidikan Pasal 87 Satuan pendidikan nonformal berbentuk: a.

bekerja dan/atau melanjutkan ke tingkat pendidikan yang lebih tinggi. Paragraf 2 Kelompok Belajar Pasal 89 (1) Kelompok belajar menyelenggarakan kegiatan untuk menampung dan memenuhi kebutuhan belajar sekelompok warga masyarakat yang belajar melalui jalur pendidikan nonformal. dan untuk masyarakat. dan berazaskan prinsip dari. (2) (2) (3) Majelis taklim sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diselenggarakan sesuai dengan peraturan perundang-undangan. bekerja dan/atau melanjutkan ke tingkat pendidikan yang lebih tinggi.yang lebih tinggi. Peserta didik pada pusat kegiatan belajar masyarakat adalah warga masyarakat yang belajar untuk mengembangkan diri.doc 61 . Paragraf 4 Majelis Taklim Pasal 91 (1) Majelis taklim menyelenggarakan pembelajaran agama Islam untuk memenuhi berbagai kebutuhan belajar masyarakat pada jalur pendidikan nonformal. menjadi pekerja/buruh dan/atau melanjutkan pendidikan ke tingkat yang lebih tinggi. (2) Peserta didik pada lembaga kursus dan lembaga pelatihan adalah warga masyarakat yang memerlukan bekal untuk mengembangkan diri. (2) Peserta didik pada kelompok belajar adalah warga masyarakat yang belajar untuk mengembangkan diri. Paragraf 3 Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat Pasal 90 (1) Pusat kegiatan belajar masyarakat memfasilitasi penyelenggaraan berbagai program pendidikan nonformal untuk mewujudkan masyarakat gemar belajar dalam rangka mengakomodasi kebutuhannya akan pendidikan sepanjang hayat. Peserta didik pada majelis taklim adalah masyarakat muslim yang ingin belajar dan mendalami ajaran Islam dan untuk meningkatkan keimanan dan ketakwaan. 76461668. oleh.

pendidikan keterampilan dan pelatihan kerja. berusaha dan/atau hidup mandiri. h. (2) Peserta didik TPA atau bentuk lain yang sederajat berusia sejak lahir sampai dengan berusia 6 (enam) tahun. atau bentuk lain yang sejenis. pendidikan kesetaraan. Bagian Ketiga Program Pendidikan Pasal 93 Program pendidikan nonformal meliputi : a. d. dan kecakapan vokasional untuk bekerja. Pendidikan kecakapan hidup berfungsi meningkatkan 62 (2) 76461668. f. kecakapan sosial. kecakapan intelektual. pendidikan keaksaraan. pendidikan pemberdayaan perempuan. (3) Peserta didik KB atau bentuk lain yang sederajat berusia 2 (dua) tahun sampai dengan 4 (empat) tahun. pendidikan kecakapan hidup.Paragraf 5 Taman Penitipan Anak dan Kelompok Bermain Pasal 92 (1) Satuan pendidikan anak usia dini jalur nonformal berbentuk taman penitipan anak (TPA). serta pendidikan lainnya. pendidikan kepemudaan. b. pendidikan anak usia dini. kelompok bermain (KB). Paragraf 1 Pendidikan Kecakapan Hidup Pasal 94 (1) Pendidikan kecakapan hidup merupakan pendidikan yang memberikan kecakapan personal. e.doc . g. c.

Paragraf 2 Pendidikan Anak Usia Dini Pasal 95 (1) Pendidikan anak usia dini jalur nonformal merupakan seperangkat program pembelajaran yang dilaksanakan secara fleksibel berdasarkan tahap perkembangan anak.kecakapan personal. sosial budaya. dan perkembangan anak. kecakapan intelektual dan kecakapan vokasional untuk menyiapkan peserta didik agar mampu bekerja. (7) Pengelompokan peserta didik untuk program pendidikan pada PAUD jalur nonformal disesuaikan dengan kebutuhan. gizi. (3) Pendidikan kecakapan hidup dapat dilaksanakan secara terintegrasi dengan program-program pendidikan nonformal lainnya dan/atau tersendiri. berusaha dan/atau hidup mandiri. dan kemampuan masing-masing peserta didik. dan stimulasi psikososial. Paragraf 3 Pendidikan Kepemudaan 76461668. (3) Program pembelajaran sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilaksanakan secara terpadu dengan memperhatikan kebutuhan dan kepentingan terbaik anak serta memperhatikan kecerdasan anak. termasuk kesejahteraannya. serta kondisi dan kebutuhan masyarakat setempat. (2) Program pembelajaran sebagaimana dimaksud pada ayat (1) bagi peserta didik yang berusia 1 (satu) sampai 6 (enam) tahun diselenggarakan dengan mengupayakan kesiapan belajar peserta didik untuk memasuki pendidikan dasar.doc (4) 63 . usia. kecakapan sosial. Pengembangan program pembelajaran sebagaimana dimaksud pada ayat (1) didasarkan pada prinsip bermain sambil belajar dan belajar seraya bermain dengan memperhatikan perbedaan bakat. minat. (6) Penyelenggaraan program pendidikan pada PAUD jalur nonformal dapat diintegrasikan dengan progam layanan lain yang sudah berkembang di masyarakat sebagai upaya untuk memperluas layanan PAUD kepada seluruh lapisan masyarakat. (5) Pengembangan program pembelajaran sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus mengintegrasikan kebutuhan peserta didik terhadap kesehatan.

dan martabat b. palang merah. kesehatan dan keolahragaan. Pendidikan kepemudaan berfungsi mengembangkan potensi pemuda dengan penekanan pada penguatan nilai keimanan dan ketaqwaan. kedudukan. kepeloporan. sikap kewirausahaan. peningkatan perempuan. dan c. kebangsaan. (3) Pendidikan pemberdayaan perempuan bertujuan untuk: a.doc terhadap pelanggaran hak-hak dasar 64 . etika dan kepribadian. kepemimpinan. ilmu pengetahuan dan teknologi. (2) (3) (4) (2) Pendidikan pemberdayaan perempuan berfungsi meningkatkan kemampuan perempuan dalam pengembangan potensi diri. pecinta alam dan lingkungan hidup. Paragraf 4 Pendidikan Pemberdayaan Perempuan Pasal 97 (1) Pendidikan pemberdayaan perempuan merupakan pendidikan untuk mengangkat harkat dan martabat perempuan. seni dan budaya. bermasyarakat. peningkatan akses dan partisipasi perempuan terhadap pendidikan. etika dan kepribadian. nilai. ilmu pengetahuan dan teknologi. serta kecakapan hidup bagi pemuda sebagai kader pemimpin bangsa. kepanduan/kepramukaan. wawasan. wawasan kebangsaan. estetika. dan estetika perempuan agar mampu memperoleh hak dasar kehidupan yang setara dan adil gender dalam kehidupan berkeluarga.Pasal 96 (1) Pendidikan kepemudaan merupakan pendidikan yang diselenggarakan untuk mempersiapkan kader pemimpin bangsa. pencegahan perempuan. organisasi pemuda. dan kewirausahaan. kecakapan hidup. 76461668. kepeloporan. berbangsa dan bernegara. Peserta didik pendidikan kepemudaan adalah warga masyarakat yang berusia antara 18 (delapan belas) sampai dengan 35 (tiga puluh lima) tahun. harkat. sikap. Pendidikan kepemudaan mencakup berbagai bentuk pendidikan dan pelatihan di bidang keagamaan.

(4) Pendidikan keaksaraan dilaksanakan pendidikan kecakapan hidup. Pendidikan keaksaraan berfungsi memberikan kemampuan dasar membaca. menulis. menulis. berbahasa Indonesia dan berpengetahuan dasar untuk meningkatkan kualitas hidupnya. (2) Pendidikan keterampilan dan pelatihan kerja berfungsi untuk meningkatkan dan mengembangkan kemampuan peserta didik dengan penekanan pada penguasaan keterampilan fungsional serta pengembangan sikap dan kepribadian profesional sesuai dengan kebutuhan dunia kerja atau kebutuhannya untuk menjadi manusia produktif. yang dapat dimanfaatkan dalam kehidupan sehari-hari. (3) Ketentuan mengenai pendidikan keterampilan dan pelatihan 65 76461668. berhitung dan berkomunikasi dalam bahasa Indonesia kepada peserta didik. (2) (3) Peserta didik pendidikan keaksaraan adalah warga masyarakat usia 15 (lima belas) tahun ke atas yang belum dapat membaca. berhitung dan/atau berkomunikasi dalam bahasa Indonesia. Paragraf 5 Pendidikan Keaksaraan Pasal 98 (1) Pendidikan keaksaraan merupakan pendidikan bagi warga masyarakat yang buta aksara latin agar mereka dapat membaca. berhitung. menulis. terintegrasi dengan Paragraf 6 Pendidikan Keterampilan dan Pelatihan Kerja Pasal 99 (1) Pendidikan keterampilan dan pelatihan kerja dilaksanakan untuk meningkatkan kemampuan peserta didik dengan penekanan pada penguasaan keterampilan fungsional yang sesuai kebutuhan dunia kerja atau kebutuhannya untuk menjadi manusia produktif.(4) Ketentuan lebih lanjut mengenai pendidikan pemberdayaan perempuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) diatur dengan Peraturan Menteri.doc .

Peserta didik program Paket C merupakan anggota masyarakat yang telah lulus program Paket B atau SMP/MTs yang berminat menempuh pendidikan setara SMA/MA. kesetaraan berfungsi sebagai dasar dan menengah pada layanan jenjang jalur pendidikan (2) Pendidikan pendidikan nonformal. dan SMA/MA yang mencakup program Paket A. Paragraf 7 Pendidikan Kesetaraan Pasal 100 (1) Pendidikan kesetaraan merupakan program pendidikan nonformal yang menyelenggarakan pendidikan umum setara SD/MI. terintegrasi dengan (4) (5) (6) (7) (8) (9) Pendidikan kesetaraan dilaksanakan pendidikan kecakapan hidup. yang menekankan pada pengetahuan dan keterampilan fungsional serta sikap dan kepribadian profesional. SMP/MTs. Paket B. Peserta didik program Paket B merupakan anggota masyarakat yang telah lulus program Paket A atau SD/MI yang berminat menempuh pendidikan setara SMP/MTs.doc 66 . dan Paket C. (3) Program Paket A berfungsi memberikan pendidikan umum setara SD/MI. Program Paket B berfungsi memberikan pendidikan umum setara SMP/MTs. yang menekankan pada pengetahuan dan keterampilan fungsional serta sikap dan kepribadian profesional. yang menekankan pada pengetahuan dan keterampilan fungsional serta sikap dan kepribadian profesional. Bagian Ketiga (keempat) Penyetaraan Hasil Pendidikan Pasal 101 76461668. Program Paket C berfungsi memberikan pendidikan umum setara SMA/MA.kerja untuk memperoleh. meningkatkan dan/atau mengembangkan kompetensi tenaga kerja dilaksanakan sesuai dengan peraturan perundang-undangan. Peserta didik program Paket A merupakan anggota masyarakat yang berminat menempuh pendidikan setara SD/MI.

dengan mengacu pada Standar Nasional Pendidikan. estetika. (4) Untuk penempatan pada tingkat dalam satuan pendidikan. anggota keluarga. menanamkan nilai budaya. (3) Pendidikan yang dilakukan oleh keluarga mencakup pendidikan yang dilakukan oleh orang tua. dan tes penempatan dan/atau penilaian portofolio sebagaimana dimaksud pada ayat (4) diatur dengan Peraturan Menteri. (3) Pengakuan hasil pendidikan nonformal dalam bidang tertentu sebagai pengganti mata pelajaran/mata kuliah dilakukan melalui penilaian terhadap bukti penguasaan kompetensi tertentu yang diperoleh dari lembaga pendidikan nonformal. (5) Ketentuan lebih lanjut mengenai penilaian penyetaraan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2). 76461668. (2) Pendidikan informal mencakup pendidikan yang dilakukan oleh keluarga atau lingkungan berbentuk kegiatan belajar secara mandiri. (2) Proses penilaian penyetaraan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan melalui ujian sesuai yang dipersyaratkan dalam Standar Nasional Pendidikan dan dinyatakan lulus setara dengan lulusan satuan pendidikan formal.doc 67 . pengakuan hasil pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (3).(1) Hasil pendidikan nonformal dapat dihargai setara dengan hasil satuan atau program pendidikan formal setelah melalui proses penilaian penyetaraan oleh lembaga yang ditunjuk oleh Pemerintah atau pemerintah daerah. dan/atau perseorangan yang dilibatkan dalam proses belajar secara mandiri. etika dan kepribadian. BAB V PENYELENGGARAAN PENDIDIKAN INFORMAL Pasal 102 (1) Pendidikan informal bertujuan memberikan keyakinan agama. serta meningkatkan pengetahuan dan keterampilan peserta didik dalam rangka mencapai tujuan pendidikan nasional dan tujuan pendirian Negara Kesatuan Republik Indonesia. nilai moral. hasil pendidikan nonformal diakui sama dengan hasil satuan atau program pendidikan formal melalui tes penempatan dan/atau penilaian portofolio oleh satuan pendidikan formal yang bersangkutan.

(6) Penyampaian informasi atau hiburan oleh media masa atau pihak lain kepada masyarakat harus secara serius mempertimbangkan implikasi pendidikannya. keluarga. 76461668. pendidikan oleh media massa. atau lingkungan alam. pendidikan sosial dan budaya melalui interaksi dengan masyarakat. dan lain-lain pendidikan yang tidak termasuk dalam jalur formal dan nonformal. dan/atau masyarakat. hasil pendidikan informal diakui sama melalui tes penempatan dan/atau penilaian portofolio oleh satuan pendidikan formal atau nonformal yang bersangkutan. (3) Untuk penempatan pada tingkat dalam satuan pendidikan formal atau nonformal. pendidikan masyarakat melalui berbagai kegiatan hiburan. anggota masyarakat. dengan mengacu pada Standar Nasional Pendidikan. (3) Penyelenggaraan pembelajaran pendidikan informal menjadi tanggung jawab setiap orang. (2) Hasil pendidikan informal dapat diakui sama dengan hasil pendidikan nonformal setelah lulus ujian atau uji kompetensi pada satuan pendidikan nonformal atau lembaga yang ditunjuk oleh Pemerintah atau pemerintah daerah. (5) Pendidikan informal dilaksanakan secara bertanggung jawab.doc 68 . (7) Pasal 103 (1) Peserta didik pada pendidikan informal adalah setiap warga masyarakat. Pemerintah dapat melarang penyampaian informasi atau hiburan sebagaimana dimaksud pada ayat (5) yang tidak sesuai dengan tujuan pendidikan nasional dan/atau tujuan pendirian Negara Kesatuan Republik Indonesia.(4) Pendidikan yang dilakukan oleh lingkungan mencakup pendidikan yang dilakukan oleh masyarakat adat. Pasal 104 (1) Hasil pendidikan informal dapat diakui sama dengan hasil pendidikan formal setelah lulus ujian pada satuan pendidikan formal atau lembaga yang ditunjuk oleh Pemerintah atau pemerintah daerah. (2) Pendidik pada pendidikan informal terdiri dari anggota keluarga. dengan mengacu pada Standar Nasional Pendidikan. lingkungan sosial. pendidikan alam melalui interaksi dengan alam.

b. BAB VI PENYELENGGARAAN PENDIDIKAN JARAK JAUH Pasal 106 (1) Pendidikan jarak jauh berfungsi memberikan layanan pendidikan kepada kelompok masyarakat yang tidak dapat mengikuti pendidikan secara tatap muka atau reguler. belajar mandiri. dan berbasis teknologi pendidikan. 76461668. serta tes penempatan dan/atau penilaian portofolio sebagaimana dimaksud pada ayat (3) diatur dengan Peraturan Menteri. dan jenis pendidikan. jenjang. Pasal 105 (1) Peserta didik pendidikan informal dapat mengajukan uji kompetensi untuk menentukan tingkat pendidikan pada satuan atau program pendidikan formal atau nonformal yang terakreditasi. dan kesesuaian persyaratan pada bidang pekerjaan tertentu. status peserta didik pada satuan pendidikan formal atau nonformal tertentu yang dapat dijadikan dasar untuk melanjutkan pendidikan ke tingkat atau jenjang pada satuan atau program pendidikan yang lebih tinggi. belajar tuntas.doc (2) (2) (3) 69 . serta meningkatkan mutu dan relevansi pendidikan secara lebih efisien. Pasal 107 (1) Pendidikan jarak jauh dapat diselenggarakan pada semua jalur. Pendidikan jarak jauh mempunyai karakteristik terbuka. (5) Ketentuan lebih lanjut mengenai ujian atau uji kompetensi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2). Hasil uji kompetensi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) digunakan untuk penempatan sebagai peserta didik pada tingkat satuan atau program pendidikan formal atau nonformal yang bersangkutan.(4) Pengakuan sama terhadap hasil pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) digunakan untuk menentukan: a. Pendidikan jarak jauh bertujuan meningkatkan dan memeratakan akses masyarakat terhadap pendidikan.

doc 70 . Pengorganisasian modus ganda sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berbentuk satuan pendidikan yang menyelenggarakan program pendidikan baik secara tatap muka maupun jarak jauh. Pengorganisasian modus konsorsium sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berbentuk jejaring penyelenggaraan pendidikan jarak jauh secara kolaboratif atau kerja sama secara lintas satuan pendidikan dengan lingkup wilayah nasional dan/atau internasional. Pasal 109 (1) Pendidikan jarak jauh dapat diselenggarakan dengan cakupan pendidikan berbasis mata pelajaran. (3) Pendidikan jarak jauh memberikan layanan administrasi. atau konsorsium. dan terbimbing dengan menggunakan berbagai sumber belajar berbasis teknologi informasi dan komunikasi. Cakupan pendidikan berbasis program studi/pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) terbatas untuk 1 (satu) program studi/pendidikan secara utuh. Cakupan pendidikan berbasis mata pelajaran sebagaimana dimaksud pada ayat (1) terbatas untuk 1 (satu) atau beberapa mata pelajaran atau mata kuliah. Pasal 108 (1) (2) Pengorganisasian pendidikan jarak jauh dapat diselenggarakan dalam modus tunggal. praktik/praktikum. dan ujian. registrasi. ganda. serta layanan penyediaan dan distribusi bahan ajar dengan sistem operasional berbasis teknologi informasi dan komunikasi. tutorial. program studi/pendidikan. Cakupan pendidikan berbasis satuan pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) mencakup penyelenggaraan pendidikan (2) (3) (4) 76461668. Pengorganisasian pendidikan jarak jauh modus tunggal sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berbentuk satuan pendidikan yang menyelenggarakan program pendidikan hanya secara jarak jauh.(2) Penyelenggaraan pendidikan jarak jauh sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilaksanakan secara terpisah dari pendidik secara spasial. belajar secara mandiri. terstruktur. atau satuan pendidikan. (3) (4) (5) Struktur organisasi satuan pendidikan jarak jauh ditentukan berdasarkan modus. cakupan. dan sistem operasional yang diterapkan.

dan/atau jaringan komunikasi dan informasi lainnya. jaringan komputer. dan media lain serta sesuai dengan Standar Nasional Pendidikan dan standar keamanan komunikasi dan informasi. (2)Pemerintah dan/atau pemerintah daerah memfasilitasi penyelenggaraan pendidikan jarak jauh dalam rangka penuntasan wajib belajar dan program pembangunan pendidikan sesuai kebutuhan daerah. Pasal 110 (1) Sarana dan prasarana pendidikan pada satuan pendidikan jarak jauh harus berbasis teknologi komunikasi. 76461668. jaringan TV.doc 71 . informasi. (3) Pengaturan lebih lanjut tentang penyelenggaraan pendidikan jarak jauh diatur dengan Peraturan Menteri. (2) Penyelenggara satuan pendidikan jarak jauh berkewajiban untuk secara mandiri mengembangkan sistem operasional dengan dukungan jaringan radio. Pasal 111 (3) (1) Pendidikan jarak jauh dilaksanakan dengan mengacu pada Standar Nasional Pendidikan.jarak jauh secara utuh pada 1 (satu) satuan pendidikan. Izin penyiaran radio/TV untuk penyelenggaraan pendidikan jarak jauh diberikan oleh menteri yang menangani urusan pemerintahan di bidang penyiaran atas usul Menteri.

Pasal 113 Pendidikan layanan khusus merupakan pendidikan bagi peserta didik di daerah terpencil atau terbelakang. mental. emosional. jenjang. emosional. dan jenis pendidikan. masyarakat adat yang terpencil. (2) Penyelenggaraan pendidikan khusus dapat dilakukan melalui 76461668. mental. Bagian Kedua Pendidikan Khusus Paragraf 1 Pendidikan Khusus bagi Peserta Didik Berkelainan Pasal 114 (1) Pendidikan khusus bagi peserta didik berkelainan berfungsi memberikan pelayanan pendidikan khusus bagi peserta didik yang memiliki tingkat kesulitan dalam mengikuti proses pembelajaran karena kelainan fisik. intelektual. (2) Pendidikan khusus bagi peserta didik berkelainan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) bertujuan untuk mengembangkan potensi peserta didik seoptimal mungkin dalam rangka mencapai tujuan pendidikan nasional. dan tidak mampu dari segi ekonomi. serta memiliki potensi kecerdasan dan/atau bakat istimewa. dan/atau sosial. dan/atau mengalami bencana alam. bencana sosial.BAB VII PENYELENGGARAAN PENDIDIKAN KHUSUS DAN PENDIDIKAN LAYANAN KHUSUS Bagian Kesatu Umum Pasal 112 Pendidikan khusus merupakan pendidikan bagi peserta didik yang memiliki tingkat kesulitan dalam mengikuti proses pembelajaran karena kelainan fisik.doc 72 . sosial. intelektual. Pasal 115 (1) Pendidikan khusus bagi peserta didik berkelainan dapat diselenggarakan pada semua jalur.

satuan pendidikan khusus, program pendidikan terpadu, atau program pendidikan inklusi. (3) Ketentuan lebih lanjut mengenai program pendidikan terpadu dan program pendidikan inklusi sebagaimana dimaksud pada ayat (2) diatur dengan Peraturan Menteri. Pasal 116 (6) Pemerintah menyelenggarakan sekurang-kurangnya 1 (satu) satuan pendidikan khusus untuk setiap jenis kelainan yang digunakan sebagai model ideal pendidikan khusus bagi peserta didik yang berkelainan. (7) Pemerintah kabupaten/kota sekurangkurangnya menunjuk 1 (satu) satuan pendidikan untuk menyelenggarakan pendidikan khusus secara inklusif apabila pada kabupaten/kota tersebut belum ada satu satuan pendidikan khusus. Pasal 117 Pendidikan khusus bagi peserta didik berkelainan pada jalur formal diselenggarakan melalui satuan pendidikan anak usia dini, satuan pendidikan dasar, satuan pendidikan menengah, dan satuan pendidikan tinggi. Pasal 118 (1) Satuan pendidikan khusus bagi peserta didik berkelainan untuk pendidikan anak usia dini dapat berbentuk Taman Penitipan Anak Luar Biasa (TPALB), Kelompok Bermain Luar Biasa (KBLB), atau Taman Kanak-kanak Luar Biasa (TKLB). (2) Satuan pendidikan khusus bagi peserta didik berkelainan pada jenjang pendidikan dasar terdiri atas: a. Sekolah Dasar Luar Biasa (SDLB), Madrasah Ibtidaiyah Luar Biasa (MILB), atau bentuk lain yang sederajat; b. Sekolah Menengah Pertama Luar Biasa (SMPLB), Madrasah Tsanawiyah Luar Biasa (MTsLB), atau bentuk lain yang sederajat. (3) Satuan pendidikan khusus bagi peserta didik berkelainan pada jenjang pendidikan menengah adalah Sekolah Menengah Atas Luar Biasa (SMALB), Madrasah Aliyah Luar Biasa (MALB), atau
76461668.doc

73

bentuk lain yang sederajat. (4) Penyelenggaraan satuan pendidikan khusus dapat menggunakan sistem unit. (5) Satuan pendidikan khusus untuk peserta didik berkelainan dapat menyelenggarakan pendidikan untuk 1 (satu) atau beberapa jenis peserta didik berkelainan.

Pasal 119 (1) Peserta didik pendidikan khusus bagi peserta didik berkelainan yaitu peserta didik yang memiliki kelainan fisik, emosional, mental, intelektual, dan/atau sosial. (2) Kelainan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat berupa: a. tunanetra; b. tunarungu; c. tunawicara; d. tunagrahita; e. tunadaksa; f. tunalaras; g. berkesulitan belajar; h. lamban belajar; i. autistik; j. gangguan motorik;

k. korban penyalahgunaan narkotika, obat terlarang, dan zat adiktif lainnya; dan l. kelainan lainnya.

(3) Kelainan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dapat juga berwujud gabungan dari 2 (dua) atau lebih jenis-jenis kelainan di atas yang disebut tunaganda.

Paragraf 2 Pendidikan Khusus bagi Peserta Didik yang Memiliki
76461668.doc

74

Potensi Kecerdasan dan/atau Bakat Istimewa Pasal 120 (1) Pendidikan khusus bagi peserta didik yang memiliki potensi kecerdasan dan/atau bakat istimewa berfungsi mengembangkan potensi keunggulan peserta didik menjadi prestasi nyata sesuai dengan karakteristik dan kebutuhannya, dalam rangka mencapai tujuan pendidikan nasional. (2) Pendidikan khusus bagi peserta didik yang memiliki potensi kecerdasan dan/atau bakat istimewa bertujuan: a. membentuk manusia berkualitas yang memiliki kecerdasan spiritual, emosional, sosial, dan intelektual serta memiliki ketahanan dan kebugaran fisik; b. membentuk manusia berkualitas yang kompeten dalam pengetahuan dan seni, berkeahlian dan berketerampilan, menjadi anggota masyarakat yang bertanggung jawab, serta untuk mempersiapkan peserta didik mengikuti pendidikan lebih lanjut dalam rangka mewujudkan tujuan pendidikan nasional. Pasal 121 (1) Pendidikan khusus bagi peserta didik yang memiliki potensi kecerdasan dan/atau bakat istimewa dapat diselenggarakan pada satuan pendidikan SD/MI, SMP/MTs, SMA/MA, SMK/MAK, atau bentuk lain yang sederajat. (2) Program pendidikan khusus bagi peserta didik yang memiliki potensi kecerdasan dan/atau bakat istimewa dapat berupa: a. program percepatan; b. program pengayaan; atau c. gabungan program percepatan dan program pengayaan. (3) Penyelenggaraan program pendidikan khusus bagi peserta didik yang memiliki potensi kecerdasan dan/atau bakat istimewa sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dapat dilakukan dalam bentuk: a. kelas inklusi; b. kelas khusus; c. satuan pendidikan khusus; atau d. satuan pendidikan inklusi.
76461668.doc

75

(4)

Ketentuan lebih lanjut mengenai program pendidikan khusus bagi peserta didik yang memiliki potensi kecerdasan dan/atau bakat istimewa sebagaimana dimaksud pada ayat (2) diatur dengan Peraturan Menteri. Pasal 122

Pemerintah menyelenggarakan sekurang-kurangnya 1 (satu) satuan pendidikan khusus untuk dipakai sebagai model ideal pendidikan khusus bagi peserta didik yang memiliki kecerdasan dan/atau bakat istimewa. Pasal 123 (1) Peserta didik yang memiliki potensi kecerdasan dan/atau bakat istimewa adalah peserta didik yang secara ekstrim memiliki potensi jauh di atas rata-rata dalam salah satu atau lebih kemampuan: a. b. c. d. e. akademik; seni; olahraga; kepemimpinan; dan lainnya yang relevan. (2) Penetapan peserta didik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan oleh ahli yang relevan.

Bagian Ketiga Pendidikan Layanan Khusus

Pasal 121 (1) Pendidikan layanan khusus berfungsi memberikan kesempatan untuk memperoleh pendidikan kepada peserta didik di daerah terpencil atau terbelakang, daerah perbatasan, daerah kepulauan kecil, masyarakat adat yang terpencil, dan/atau mengalami bencana alam, bencana sosial, dan tidak mampu dari segi ekonomi dalam rangka mencapai tujuan pendidikan nasional. (2) Pendidikan layanan khusus bertujuan membentuk manusia berkualitas secara spiritual, emosional, intelektual, dan fisik, hidup sehat; memperluas pengetahuan dan seni, memiliki

76461668.doc

76

madrasah terbuka. taman penitipan anak. kelompok belajar. satuan pendidikan terbuka untuk kelompok bermain. kelompok belajar. dan bentuk satuan pendidikan nonformal lainnya. c. madrasah darurat.doc 77 . dan/atau c. kursus dan pelatihan. kursus dan pelatihan. dan bentuk satuan pendidikan nonformal lainnya. taman penitipan anak. madrasah kecil. program tugas belajar ke daerah lain yang pelayanan pendidikannya dapat dilaksanakan secara normal. kelompok belajar.keahlian dan keterampilan. b. d. b. Pasal 122 (1) Pendidikan layanan khusus dapat diselenggarakan pada jalur pendidikan formal dan nonformal. gabungan dari 2 (dua) atau lebih dari huruf a sampai dengan huruf e. taman penitipan anak. menjadi anggota masyarakat yang bertanggung jawab. (2) Penyelenggaraan pendidikan layanan khusus pendidikan formal dapat dilaksanakan melalui: a. dan bentuk satuan pendidikan nonformal lainnya. serta mempersiapkan peserta didik untuk mengikuti pendidikan lebih lanjut dalam rangka mewujudkan pendidikan nasional. satuan pendidikan kecil untuk kelompok bermain. khusus pada jalur penyelenggaraan sekolah atau penyelenggaraan pendidikan jarak penyelenggaraan sekolah atau penyelenggaraan pada jalur atau sekolah (3) Penyelenggaraan pendidikan layanan pendidikan nonformal dapat berbentuk: a. Pasal 123 76461668. kursus dan pelatihan. jauh. dan/atau bentuk lain yang tidak bertentangan dengan ketentuan peraturan perundangan-undangan yang berlaku. g. satuan pendidikan darurat untuk kelompok bermain. f. e.

peserta didik di daerah terpencil dan/atau terbelakang. peserta didik dalam masyarakat adat yang terpencil. e. peserta didik yang berasal dari keluarga yang tidak mampu dari segi ekonomi. Pasal 124 daerah (3) (1) Peserta didik yang memerlukan pendidikan layanan khusus adalah: a. peserta didik yang berada di daerah yang mengalami bencana alam dan/atau bencana sosial. (4)Dalam hal pemerintah kabupaten/kota tidak menyelenggarakan 76461668. b. BAB VIII PENYELENGGARAAN PENDIDIKAN BERTARAF INTERNASIONAL DAN PENDIDIKAN BERBASIS KEUNGGULAN LOKAL Pasal 125 (1) Pemerintah dan/atau pemerintah daerah menyelenggarakan sekurang-kurangnya 1 (satu) satuan pendidikan dasar dan menengah untuk dikembangkan menjadi satuan pendidikan yang bertaraf internasional. c. (3) Pemerintah kabupaten/kota menunjuk atau mendirikan sekurangkurangnya 1 (satu) satuan pendidikan dasar dan menengah untuk dikembangkan menjadi satuan pendidikan dasar dan menengah yang bertaraf internasional. Masyarakat membantu Pemerintah dan pemerintah dalam penyelenggaraan pendidikan layanan khusus. peserta didik di daerah perbatasan. d.doc 78 . peserta didik di daerah kepulauan kecil. (2)Pemerintah menunjuk atau mendirikan madrasah pada jenjang pendidikan dasar dan menengah untuk dikembangkan menjadi satuan pendidikan yang bertaraf internasional. dan f.(1) (2) Pemerintah dan pemerintah pendidikan layanan khusus. daerah menyelenggarakan Pembagian beban pembiayaan pendidikan layanan khusus sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur lebih lanjut dalam Peraturan Menteri.

dan pembangunan sumberdaya nasional. c. b.satuan pendidikan dasar dan menengah untuk dikembangkan menjadi satuan pendidikan dasar dan menengah yang bertaraf internasional. (6)Masyarakat dapat menyelenggarakan satuan pendidikan pada semua jenjang pendidikan untuk dikembangkan menjadi satuan pendidikan yang bertaraf internasional setelah memperoleh izin dari Pemerintah atau pemerintah kabupaten/kota sesuai kewenangannya. pemerintah provinsi bersama pemerintah kabupaten/kota wajib mendirikannya. dan/atau (2) (3) (4) a. Satuan pendidikan dasar dan menengah bertaraf internasional menghasilkan lulusan yang memiliki kemampuan dan daya saing di forum internasional. teknologi. Kemampuan dan daya saing lulusan di forum internasional sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditunjukkan dengan: diterima pada satuan pendidikan bertaraf internasional di dalam negeri atau satuan pendidikan di luar negeri yang terakreditasi atau yang diakui di negaranya. dan seni. dan seni. 76461668. pengembangan. lulus sertifikasi internasional yang dikeluarkan oleh negara lain yang memiliki keunggulan tertentu dalam bidang ilmu pengetahuan. serta menunjang pelestarian. Pemerintah bersama pemerintah kabupaten/kota dan pemerintah provinsi wajib mendirikannya. teknologi. Pengembangan dengan mengacu standar pendidikan di negara yang memiliki keunggulan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan melalui cara penyesuaian atau penambahan terhadap unsur-unsur tertentu yang sudah ada atau belum ada dalam Standar Nasional Pendidikan. (5)Dalam hal pemerintah kabupaten/kota dan pemerintah provinsi tidak menyelenggarakan satuan pendidikan dasar dan menengah untuk dikembangkan menjadi satuan pendidikan dasar dan menengah yang bertaraf internasional. diterima bekerja pada lembaga internasional atau negara lain.doc 79 . Pasal 126 (1) Satuan pendidikan dasar dan menengah bertaraf internasional diselenggarakan setelah memenuhi Standar Nasional Pendidikan yang diperkaya dengan standar pendidikan/standar kompetensi negara lain yang mempunyai keunggulan dalam bidang ilmu pengetahuan.

e. c. proses pembelajaran. memperoleh akreditasi A dari lembaga akreditasi dalam negeri. j. SMA. menerapkan sistem administrasi pendidikan berbasis teknologi informasi dan komunikasi. f. i. d. matematika. sudah beroperasi sekurang-kurangnya 3 tahun sejak didirikan dan telah meluluskan peserta didik. mempunyai pendidik yang memiliki sertifikat pendidik dengan kualifikasi akademik magister (S2) dari perguruan tinggi terakreditasi dalam bidang kependidikan atau bidang studi yang relevan dengan mata pelajaran atau rumpun 76461668. memberlakukan bahasa inggris atau bahasa lain yang sering digunakan dalam forum internasional sekurangkurangnya untuk pembelajaran kelompok mata pelajaran sains.doc 80 . dan seni sehingga peserta didik memiliki akses untuk mengikuti ujian akhir di negara tersebut. mampu berperan aktif dan berkomunikasi langsung di forum internasional. g. dan seni. teknologi. h. SMK. dan perpustakaan. dan seni. penilaian. Pasal 127 Satuan pendidikan dasar dan menengah yang dapat dikembangkan menjadi bertaraf internasional harus memenuhi persyaratan sebagai berikut: a. dan teknologi. menerapkan Sistem Kredit Semester (SKS) untuk SMP. dan MAK. MTs. termasuk yang berkaitan dengan kurikulum. teknologi. memenuhi standar penilaian yang diperkaya dengan sistem penilaian pendidikan di negara lain yang mempunyai keunggulan tertentu dalam bidang ilmu pengetahuan. melaksanakan proses pembelajaran yang diperkaya dengan model proses pembelajaran di negara lain yang mempunyai keunggulan tertentu dalam bidang ilmu pengetahuan. menerapkan standar kelulusan yang lebih tinggi dari standar kompetensi lulusan. MA.d. melaksanakan kurikulum sesuai standar isi yang diperkaya dengan kurikulum negara lain yang mempunyai keunggulan tertentu dalam bidang ilmu pengetahuan. teknologi. b.

ruang kantin. l. ruang perpustakaan. sekurang-kurangnya: 1). ruang laboratorium. peralatan pendidikan. atau yang sederajat. atau yang sederajat. tempat beribadah. 3). ruang pimpinan satuan pendidikan.doc 81 . 2). atau bidang nonkependidikan yang relevan. tempat bermain. dan 4). media pendidikan. atau yang SMK. m. ruang kelas. memiliki jiwa kepemimpinan dan kewirausahaan. khusus sarana dan prasarana yang berwujud: 1). 3). atau guru kelas. telah menempuh pelatihan kepala satuan pendidikan dari lembaga pelatihan yang diakui oleh Pemerintah atau pemerintah daerah.mata pelajaran yang diampunya. MTs. tempat berolahraga. atau guru bimbingan dan konseling/konselor. instalasi daya dan jasa. atau bidang nonkependidikan yang relevan. mempunyai sarana yang sekurang-kurangnya meliputi perabot. dan/atau bahasa asing lainnya secara aktif. 10% untuk SD. atau memiliki sertifikat kepala sekolah/madrasah. sekurangkurangnya: 1). dan ruang/tempat lain yang diperlukan untuk menunjang proses pembelajaran yang teratur dan berkelanjutan. tempat berkreasi. ruang bengkel kerja. ruang pendidik. buku dan sumber belajar lainnya. seta perlengkapan lain yang diperlukan untuk menunjang proses pembelajaran yang teratur dan berkelanjutan. sarana pembelajaran dilengkapi dengan fasilitas teknologi 76461668. 20% untuk SMP. sederajat. atau guru bimbingan dan konseling/konselor. memiliki kepala satuan pendidikan yang memiliki sertifikat pendidik dengan kualifikasi akademik magister (S2) dari perguruan tinggi terakreditasi dalam bidang kependidikan atau bidang studi yang relevan dengan mata pelajaran atau rumpun mata pelajaran yang diampunya. 2). dan k. n. bahan habis pakai. MI. memiliki visi internasional.MAK. mampu berbahasa Inggris. atau yang sederajat. ruang unit produksi. atau guru kelas. 30% untuk SMA.MA. ruang tata usaha. mempunyai prasarana yang sekurang-kurangnya meliputi lahan.

doc . dan 2). perpustakaan dilengkapi dengan sarana teknologi informasi dan komunikasi yang memberikan akses ke sumber pembelajaran di seluruh dunia. dan p. Pemerintah kabupaten/kota menunjuk atau mendirikan sekolah pada jenjang pendidikan dasar dan pendidikan menengah untuk dikembangkan menjadi satuan pendidikan yang berbasis keunggulan lokal. fasilitas olah raga. Pasal 129 (1) Pemerintah dan pemerintah kabupaten/kota menyelenggarakan satuan pendidikan jenjang pendidikan dasar dan pendidikan menengah untuk dikembangkan menjadi satuan pendidikan yang berbasis keunggulan lokal. Dalam hal pemerintah kabupaten/kota tidak menyelenggarakan sekolah pada jenjang pendidikan dasar dan 82 (2) (3) (4) (5) 76461668. Pemerintah menunjuk atau mendirikan madrasah pada jenjang pendidikan dasar dan pendidikan menengah untuk dikembangkan menjadi satuan pendidikan yang berbasis keunggulan lokal. sekurang-kurangnya untuk mata pelajaran Pendidikan Agama. Pasal 128 (1) Satuan pendidikan dasar dan menengah bertaraf internasional wajib menggunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa pengantar. memenuhi standar pembiayaan dengan menerapkan model pembiayaan yang telah diaudit oleh akuntan publik dengan memperoleh predikat wajar tanpa syarat. Pendidikan Kewarganegaraan.informasi dan komunikasi di setiap ruang kelas. sarana dan prasarana untuk pemeliharaan kesehatan dan pengembangan diri dilengkapi dengan klinik. fasilitas multi media. Satuan pendidikan berbasis keunggulan lokal sebagaimana dimaksud ayat (1) merupakan satuan pendidikan yang dikembangkan sesuai dengan keunggulan potensi daerah/karakteristik daerah dan sosial budaya masyarakat setempat. dan ruang unjuk seni budaya. o. dan Bahasa Indonesia.

Pasal 131 Satuan pendidikan dasar dan menengah yang dapat dikembangkan menjadi berbasis keunggulan lokal harus memenuhi persyaratan sebagai berikut: a. pengembangan. c. (2) Satuan pendidikan dasar dan menengah berbasis keunggulan lokal menghasilkan lulusan yang memiliki kemampuan mengolah dan/atau mengembangkan sumber daya lingkungan di daerahnya dan menghasilkan produk yang mempunyai nilai ekonomis serta menunjang pelestarian. 76461668. pemerintah provinsi bersama pemerintah kabupaten/kota wajib mendirikannya. b. memperoleh akreditasi dari lembaga akreditasi dalam negeri. (6) Dalam hal pemerintah kabupaten/kota dan pemerintah provinsi tidak menyelenggarakan satuan pendidikan dasar dan menengah untuk dikembangkan menjadi satuan pendidikan dasar dan menengah berbasis keunggulan lokal. sudah beroperasi sekurang-kurangnya 3 tahun sejak didirikan dan telah meluluskan peserta didik.pendidikan menengah untuk dikembangkan menjadi satuan pendidikan berbasis keunggulan lokal.doc (7) menerapkan sistem administrasi pendidikan berbasis 83 . Pasal 130 (1) Satuan pendidikan dasar dan menengah berbasis keunggulan lokal diselenggarakan setelah memenuhi Standar Nasional Pendidikan yang diperkaya dan dikembangkan sesuai dengan potensi daerah/karakteristik daerah dan sosial budaya masyarakat setempat. dan promosi keunggulan lokal. (3) Pengembangan potensi daerah/karakteristik daerah dan sosial budaya masyarakat setempat dilakukan melalui cara penyesuaian atau penambahan terhadap unsur-unsur tertentu yang sudah ada atau belum ada dalam Standar Nasional Pendidikan. Pemerintah bersama pemerintah kabupaten/kota dan pemerintah provinsi wajib mendirikannya. Masyarakat dapat menyelenggarakan satuan pendidikan pada semua jenjang pendidikan untuk dikembangkan menjadi satuan pendidikan yang berbasis keunggulan lokal setelah memperoleh izin dari Pemerintah atau pemerintah kabupaten/kota sesuai kewenangannya.

terpadu-satu sistem-satu atap. BAB IX PENYELENGGARAAN PENDIDIKAN OLEH LEMBAGA NEGARA LAIN DAN KERJASAMA SATUAN PENDIDIKAN INDONESIA DENGAN SATUAN PENDIDIKAN NEGARA LAIN Pasal 133 (1) Perwakilan negara asing di wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia dapat menyelenggarakan satuan pendidikan anak usia dini. mempunyai sarana dan prasarana pendidikan yang memadai dan relevan dalam mendukung terselenggaranya pendidikan berbasis keunggulan lokal. proses pembelajaran. g.doc 84 . d. melaksanakan proses pembelajaran dengan memperhatikan potensi daerah/karakteristik daerah dan sosial budaya masyarakat setempat. dan keluar-masuk (entry-exit). dan/atau satuan pendidikan menengah bagi warga negaranya atas persetujuan Pemerintah. menerapkan standar kelulusan dengan keunggulan lokal yang lebih tinggi dari standar kompetensi lulusan. c. terpisah-satu sistem-tidak satu atap. satuan pendidikan dasar.teknologi informasi dan komunikasi. penilaian. (2) Satuan pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tidak boleh menerima peserta didik warga negara Indonesia. melaksanakan kurikulum sesuai standar isi yang diperkaya sesuai dengan potensi daerah/karakteristik daerah dan sosial budaya masyarakat setempat. termasuk yang berkaitan dengan kurikulum. dan perpustakaan. dan h. terpisah-beda sistem-tidak satu atap. e. mempunyai pendidik yang memiliki keahlian relevan dengan mata pelajaran keunggulan lokal. f. 76461668. d. b. Pasal 132 Satuan pendidikan dasar dan menengah bertaraf internasional atau berbasis keunggulan lokal dapat diselenggarakan dengan model: a.

Penyelenggaraan pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus bekerja sama dengan lembaga penyelenggara pendidikan Indonesia. Dalam bekerja sama sebagaimana dimaksud pada ayat (2). Satuan pendidikan yang diselenggarakan oleh lembaga pendidikan asing wajib menerapkan sistem penggajian yang tidak diskriminatif bagi warga negara asing maupun warga negara Indonesia. Dalam bekerja sama sebagaimana dimaksud pada ayat (2) pendidikan asing wajib mengikutsertakan sekurang-kurangnya 30% (tiga puluh persen) pendidik warga negara Indonesia. Pasal 135 (1) Bahasa pengantar utama pada satuan pendidikan yang diselenggarakan oleh lembaga pendidikan asing adalah bahasa Indonesia. Dalam hal penggunaan sistem pendidikan negara lain sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dalam disiplin ilmu agama. Menteri memberikan izin setelah memperoleh (2) (3) (4) (5) (2) (3) (2) 76461668. Pendidik dan tenaga kependidikan warga negara asing pada satuan pendidikan yang diselenggarakan oleh lembaga pendidikan asing wajib menguasai bahasa Indonesia dan memahami budaya Indonesia.doc 85 . Dalam bekerja sama sebagaimana dimaksud pada ayat (2) pendidikan oleh lembaga pendidikan asing wajib mengikutsertakan sekurang-kurangnya 80% (delapan puluh persen) tenaga kependidikan warga negara Indonesia. Pasal 136 (1) Pendidikan yang diselenggarakan oleh lembaga pendidikan asing sebagaimana dimaksud dalam Pasal 134 yang menggunakan sistem pendidikan negara lain yang diselenggarakan di wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia wajib memperoleh izin dari Menteri. kepemilikan lembaga asing sebanyak-banyaknya 49% (empat puluh sembilan persen).Pasal 134 (1) Lembaga pendidikan asing yang terakreditasi atau yang diakui di negaranya dapat menyelenggarakan pendidikan di wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia sesuai dengan peraturan perundang-undangan.

Pendidikan agama sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diajarkan sesuai dengan agama yang dianut peserta didik dan diajarkan oleh pendidik yang seagama. dan/atau bentuk-bentuk lain yang dianggap perlu. pendidikan kewarganegaraan. Kerja sama penyelenggaraan pendidikan anak usia dini sebagaimana yang dimaksud pada ayat (3) pada tingkat Taman Kanak-kanak atau yang sederajat hanya dapat dilakukan oleh penyelenggara satuan pendidikan yang memiliki satuan pendidikan Taman Kanak-kanak atau yang sederajat berakreditasi A. c.doc . dan bahasa Indonesia kepada peserta didik warga negara Indonesia. (4) sebagaimana dimaksud (2). Penyelenggaraan pendidikan oleh lembaga asing sebagaimana dimaksud dalam Pasal 134 dan Pasal 136 yang menerima peserta didik warga negara Indonesia wajib memberikan pendidikan agama. Pasal 137 (1). penyelenggaraan pertemuan ilmiah bersama. Kerja sama akademik pada ayat (1) dapat berbentuk: a. Kerja sama pendidikan anak usia dini sebagaimana dimaksud pada ayat (1) bertujuan untuk meningkatkan mutu program pendidikan anak usia dini. Pasal 138 (1) Satuan pendidikan anak usia dini Indonesia dapat menjalin kerja sama akademik dengan satuan pendidikan anak usia dini negara lain. 86 76461668.pertimbangan dari Menteri Agama. Pasal 139 (1) Satuan pendidikan dasar atau satuan pendidikan menengah Indonesia dapat menjalin kerja sama akademik dengan satuan pendidikan sederajat negara lain. d. pemanfaatan bersama berbagai sumberdaya. (3). Warga negara Indonesia yang menjadi peserta didik pada satuan pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) wajib mengikuti Ujian Nasional. b. (2) (3) pertukaran guru dan/atau tenaga kependidikan.

dan/atau bentuk-bentuk lain yang dianggap perlu. e. penyelenggaraan seminar bersama. f. memperluas jaringan kemitraan untuk kepentingan satuan pendidikan. meningkatkan pembinaan dan/atau pelaksanaan program pendidikan tinggi. menyelenggarakan internasional. i. meningkatkan mutu penyelenggaraan pendidikan dasar atau pendidikan menengah. program pemindahan dan perolehan kredit. d. memperluas pengabdian kepada masyarakat oleh perguruan tinggi. c. penelitian. pertukaran peserta didik. (4) Kerja sama satuan pendidikan dasar atau pendidikan menengah sebagaimana yang dimaksud pada ayat (3) hanya dapat dilakukan oleh satuan pendidikan dasar atau pendidikan menengah berakreditasi A. h. pemagangan khusus pendidikan menengah kejuruan. dan memperluas jaringan kemitraan untuk kepentingan perguruan tinggi. menyelenggarakan pendidikan menengah bertaraf internasional. g. pendidikan tinggi bertaraf 76461668. dan/atau c. b.doc 87 . pemanfaatan bersama berbagai sumberdaya. (3) dasar atau pendidikan Kerja sama akademik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat berbentuk: a.(2) Kerja sama untuk: sebagaimana dimaksud pada ayat (1) bertujuan a. Pasal 140 (3) (4) Perguruan tinggi Indonesia dapat menjalin kerja sama akademik dan/atau non-akademik dengan perguruan tinggi negara lain. Kerja sama perguruan tinggi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) bertujuan untuk: b. pertukaran guru dan/atau tenaga kependidikan. dan/atau b. program kembaran.

pendayagunaan aset. dan/atau d. pemanfaatan bersama berbagai sumberdaya. dan/atau bentuk-bentuk lain yang dianggap perlu. (5) (6) (7) (8) Kerja sama non-akademik sebagaimana yang dimaksud pada ayat (1) dapat dilakukan oleh setiap perguruan tinggi yang sudah memiliki izin pendirian dari Departemen.doc 88 .(3) Kerja sama akademik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat berbentuk: a. Program studi dari perguruan tinggi di luar negeri yang bekerja sama dengan program studi di Indonesia sebagaimana yang dimaksud pada ayat (5) harus terakreditasi atau diakui di negaranya dan terdaftar di Departemen. 76461668. penelitian. b. program pemindahan dan perolehan kredit. (4) Kerja sama pendidikan tinggi sebagaimana yang dimaksud pada ayat (3) hanya dapat dilakukan oleh perguruan tinggi di Indonesia yang lebih dari 60% (enam puluh persen) program studinya berakreditasi A. penerbitan jurnal ilmiah. pertukaran dosen dan/atau mahasiswa. kontrak manajemen. g. h. c. pemagangan. Kerja sama akademik dengan perguruan tinggi di luar negeri sebagaimana dimaksud pada ayat (3) huruf b sampai dengan huruf j hanya dapat dilaksanakan oleh program studi di Indonesia yang terakreditasi A. c. e. f. penyelenggaraan seminar bersama. pengabdian kepada masyarakat. i. d. j. b. Kerja sama non-akademik sebagaimana yang dimaksud pada ayat (1) dapat berbentuk: a. program kembaran. usaha penggalangan dana. jasa dan royalti hak atas kekayaan intelektual.

dan 141 selama tidak bertentangan dengan tujuan pendidikan nasional. minat. kemampuan. 76461668. 139. dan kecepatan belajar. 140. mendapatkan pendidikan agama sesuai dengan agama yang dianutnya dan diajarkan oleh pendidik yang seagama.Pasal 141 (1) Satuan pendidikan nonformal Indonesia dapat menjalin kerja sama akademik dan/atau non-akademik dengan lembaga pendidikan dari negara lain. c. Pasal 143 Pemerintah secara teratur mengadakan evaluasi dan pengawasan terhadap semua bentuk pelayanan pendidikan yang melibatkan partisipasi asing. b. memperoleh layanan pendidikan sesuai dengan bakat. Kerja sama sebagaimana yang dimaksud pada ayat (1) hanya dapat dilakukan oleh satuan pendidikan nonformal yang memiliki izin sesuai peraturan perundang-undangan dan terakreditasi. kecerdasan.doc 89 . memperoleh bantuan fasilitas belajar atau bantuan lain sesuai dengan persyaratan dan ketentuan yang berlaku. serta kebutuhan khususnya. Pasal 142 (1) Pemerintah mengakui bentuk-bentuk kerja sama sebagaimana dimaksud dalam Pasal 134. 138. Ketentuan lebih lanjut mengenai pelaksanaan berbagai bentuk kerja sama pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur lebih lanjut dengan Peraturan Menteri. (2) (3) (2) BAB X HAK DAN KEWAJIBAN PESERTA DIDIK Pasal 144 (1)Peserta didik mempunyai hak: a. Kerja sama satuan pendidikan nonformal sebagaimana dimaksud pada ayat (1) bertujuan untuk meningkatkan mutu pendidikan dan/atau memperluas jaringan kemitraan untuk kepentingan satuan pendidikan nonformal.

mendapatkan beasiswa atau biaya pendidikan dari Pemerintah. dan h. Pemerintah Provinsi. ikut serta dalam kegiatan organisasi peserta didik di satuan pendidikan yang bersangkutan. Pemerintah Kabupaten/Kota serta masyarakat.doc . dan 90 76461668. peserta didik di perguruan tinggi berhak: h. Pasal 145 (1) Selain hak peserta didik sebagaimana dimaksud dalam Pasal 144 ayat (1). dan c. b. memperoleh jaminan hukum yang sama seperti peserta didik pada umumnya. g. memperoleh layanan informasi yang berkaitan dengan proses pembelajaran yang diikuti termasuk hasil belajar. (3)Selain hak peserta didik sebagaimana dimaksud pada ayat (1). menyelesaikan program pendidikan lebih cepat atau lebih lambat dari waktu yang ditentukan.d. memperoleh kemudahan dari pihak terkait untuk menggunakan sarana dan prasarana fisik dan nonfisik untuk menunjang kelancaran pembelajaran. peserta didik pada pendidikan khusus berhak: a. peserta didik pada pendidikan layanan khusus berhak: a. b. e. menggunakan kebebasan akademik secara bertanggung jawab untuk menuntut ilmu dan mengkaji ilmu sesuai dengan norma dan etika yang berlaku dalam lingkungan akademik. memperoleh bantuan fasilitas belajar. atau bantuan lain sesuai dengan kemampuan Pemerintah. menyelesaikan program pendidikan layanan khusus lebih cepat atau lebih lambat dari waktu yang ditentukan. f. (2)Selain hak peserta didik sebagaimana dimaksud pada ayat (1). dan/atau masyarakat bagi mereka yang berprestasi dan/atau orang tuanya tidak mampu membiayai pendidikan. pindah ke jalur atau satuan pendidikan lain yang sederajat atau melanjutkan ke satuan pendidikan yang lebih tinggi. mengikuti pendidikan di luar batas usia yang berlaku bagi peserta didik biasa. pemerintah daerah. mendapatkan jaminan kelangsungan pendidikan. c.

g. f. dan negara. dan keamanan sekolah. (2)Pelaksanaan ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur oleh perguruan tinggi yang bersangkutan. mencintai keluarga. bangsa. c. i. e. (2) Kewajiban sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan dengan bimbingan dan keteladanan pendidik dan tenaga kependidikan.doc 91 . dan j. Pasal 146 (1) Peserta didik berkewajiban menjaga ketentuan sebagai berikut: a. (3) Pelaksanaan ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan 76461668. masyarakat. memelihara kerukunan dan kedamaian untuk mewujudkan harmoni sosial di antara sesama. mencintai lingkungan.i. ikut menanggung biaya penyelenggaraan pendidikan. (4) Kegiatan mahasiswa dalam organisasi sebagaimana dimaksud pada ayat (3) tidak boleh mengatasnamakan perguruan tingginya. ikut menjaga dan memelihara sarana dan prasarana. serta menyayangi sesama. kecuali yang dibebaskan dari kewajiban. mengikuti proses pembelajaran dengan menjunjung tinggi norma dan etika akademik. mematuhi semua peraturan yang berlaku. kebersihan. mengambil mata kuliah di luar program studi baik di dalam maupun di luar perguruan tinggi yang bersangkutan dan perolehan kreditnya dapat diperhitungkan dalam penyelesaian studi sesuai dengan peraturan akademik yang ditetapkan. menjaga kewibawaan dan nama baik satuan pendidikan yang bersangkutan. b. serta pembiasaan peserta didik. ketertiban. menghormati pendidik dan tenaga kependidikan. (3) Keterlibatan mahasiswa dalam organisasi di luar perguruan tingginya merupakan tanggung jawab perseorangan yang bersangkutan. d. h. menjalankan ibadah sesuai agama yang dianutnya.

mengembangkan. (2) Pendidik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) mempunyai tugas dan tanggung jawab sebagai berikut: a. dan pendidikan tinggi. dosen bertugas dan bertanggung jawab sebagai pendidik profesional dan ilmuwan dengan tugas utama mentransformasikan. dan mengembangkan: model program pembelajaran. c. dan seni melalui pendidikan. pamong bertugas dan bertanggung jawab membimbing dan melatih anak usia dini pada kelompok bermain. tutor. instruktur.doc 92 . pamong belajar bertugas dan bertanggung jawab menyuluh. pendidikan menengah. mengajar. melatih peserta didik. membimbing. membimbing. penelitian. dan Tanggung Jawab Pasal 147 (1) Pendidik mencakup guru. dan pengelolaan pembelajaran pada jalur pendidikan nonformal. guru bertugas dan bertanggung jawab sebagai pendidik profesional dengan tugas utama mendidik. serta berpartisipasi dalam menyelenggarakan pendidikan. widyaiswara. BAB XI PENDIDIK DAN TENAGA KEPENDIDIKAN Bagian Kesatu Jenis. mengajar. konselor. pendidikan dasar. dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal.ayat (2) serta sanksi atas pelanggarannya diatur oleh satuan pendidikan yang bersangkutan. dosen. mengarahkan. yang berfungsi sebagai agen pembelajaran peserta didik. menilai. d. dan pengabdian kepada masyarakat. b. dan menyebarluaskan ilmu pengetahuan. Tugas. fasilitator. e. pamong belajar. alat pembelajaran. teknologi. dan sebutan lain yang sesuai dengan kekhususanya. melatih. pamong. dan pendidikan menengah. penitipan anak dan bentuk lain yang sejenis. 76461668. konselor bertugas dan bertanggung jawab memberikan layanan konseling kepada peserta didik di satuan pendidikan pada jenjang pendidikan dasar.

fasilitator bertugas dan bertanggung jawab memberikan pelayanan pembelajaran pada lembaga pendidikan dan pelatihan. pengawas bertugas dan bertanggung jawab melakukan 76461668. Tenaga kependidikan mencakup pimpinan satuan pendidikan. (2). penilaian. tutor bertugas dan bertanggung jawab memberikan bantuan belajar kepada peserta didik dalam proses pembelajaran jarak jauh dan/atau pembelajaran tatap muka pada satuan pendidikan jalur formal dan nonformal. widyaiswara bertugas dan bertanggung jawab mendidik. Pasal 149 (1). teknisi sumber belajar. dan pembinaan pada satuan pendidikan nonformal. instruktur bertugas dan bertanggung jawab memberikan pelatihan teknis kepada peserta didik pada kursus dan/atau pelatihan. tenaga laboratorium. penilik satuan pendidikan nonformal. tenaga perpustakaan. c. terapis. Pasal 148. pengawas satuan pendidikan formal. pimpinan satuan pendidikan bertugas dan bertanggung jawab mengelola satuan pendidikan pada pendidikan formal atau nonformal. (1). dan i. 93 . pekerja sosial. dan sebutan lain untuk petugas sejenis yang bekerja pada satuan pendidikan. penilik bertugas dan bertanggung jawab melakukan pemantauan. h. tenaga lapangan pendidikan. mengajar dan melatih peserta didik pada program pendidikan dan pelatihan prajabatan dan/atau dalam jabatan yang diselenggarakan oleh Pemerintah dan/atau pemerintah daerah.f. Kualifikasi akademik dan sertifikat pendidik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) bagi guru dan dosen diatur dalam Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen. Tenaga kependidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) mempunyai tugas dan tanggung jawab sebagai berikut: a. b. tenaga administrasi. psikolog. tenaga kebersihan sekolah.doc (2). Pendidik harus memiliki kualifikasi akademik dan sertifikat pendidik. g.

psikolog bertugas dan bertanggung jawab memberikan layanan bantuan psikologis-pedagogis kepada peserta didik dan pendidik pada pendidikan khusus dan pendidikan anak usia dini. tenaga lapangan pendidikan bertugas dan bertanggung jawab melakukan pendataan. g. terapis bertugas dan bertanggung jawab memberikan layanan bantuan fisiologis-kinesiologis kepada peserta didik pada pendidikan khusus dan pendidikan anak usia dini. h. e.doc 94 . k. j. tenaga laboratorium bertugas dan bertanggung jawab membantu pendidik mengelola kegiatan praktikum di laboratorium satuan pendidikan. pembimbingan. tenaga perpustakaan bertugas dan bertanggung jawab melaksanakan pengelolaan perpustakaan pada satuan pendidikan. penilaian. tenaga administrasi bertugas dan bertanggung jawab menyelenggarakan pelayanan administratif pada satuan pendidikan. dan l. f. teknisi sumber belajar bertugas dan bertanggung jawab mempersiapkan. dan pelaporan pelaksanaan pendidikan nonformal. memperbaiki sarana dan prasarana pembelajaran pada satuan pendidikan. i. pemantauan. tenaga kebersihan sekolah bertugas dan bertanggung jawab memberikan layanan kebersihan lingkungan sekolah. satuan pendidikan dasar. pekerja sosial bertugas dan bertanggung jawab memberikan layanan bantuan sosiologis-pedagogis kepada peserta didik dan pendidik pada pendidikan khusus dan pendidikan anak usia dini. 76461668. merawat.pemantauan. dan pembinaan pada satuan pendidikan anak usia dini jalur formal. d. dan pendidikan menengah.

Pengangkatan. 76461668. (3). Pengangkatan. Pemerintah menetapkan persyaratan pendidik dan tenaga kependidikan yang memenuhi Standar Nasional Pendidikan. dan pemberhentian pendidik dan tenaga kependidikan pada satuan pendidikan yang diselenggarakan oleh Pemerintah atau pemerintah daerah dilaksanakan berdasarkan peraturan perundang-undangan. dan pemberhentian pendidik dan tenaga kependidikan oleh Pemerintah dan pemerintah daerah dilaksanakan dalam rangka pemerataan dan/atau penjaminan mutu pendidikan. dan pemberhentian pendidik dan tenaga kependidikan pada satuan pendidikan yang diselenggarakan oleh masyarakat dilakukan oleh badan hukum pendidikan berdasarkan perjanjian kerja atau kesepakatan kerja bersama. pemindahan. (3). Pemerintah merencanakan kebutuhan pendidik dan tenaga kependidikan yang memenuhi Standar Nasional Pendidikan pada satuan pendidikan secara nasional. Pemerintah dan pemerintah daerah memfasilitasi penyediaan pendidik dan tenaga kependidikan sesuai perencanaan kebutuhan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dan ayat (3) untuk menjamin pelayanan pendidikan yang bermutu. Pasal 151 (1). pemindahan. 95 (2). Penempatan.doc . Pemindahan. Pengangkatan. (2). dan Pemberhentian Pasal 150 (1). penempatan. (4). penempatan. penempatan. Pemerintah daerah merencanakan kebutuhan pendidik dan tenaga kependidikan yang memenuhi Standar Nasional Pendidikan atas dasar persyaratan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan rencana kebutuhan pendidik dan tenaga kependidikan nasional sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dan kebutuhan pendidik dan tenaga kependidikan daerah masingmasing. pemindahan.Bagian Kedua Pengangkatan.

dan/atau bentuk promosi lainnya. Paragraf 2 Promosi dan Penghargaan Pasal 153 (3). (2). dan/atau penghargaan.doc 96 . dan Penghargaan Paragraf 1 Pembinaan Karir Pasal 152 (1). masa kerja berdasarkan kompetensi yang dimiliki. Pendidik dan tenaga kependidikan dipromosikan atas dasar prestasi kerja. Promosi bagi pendidik dan tenaga kependidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dilaksanakan sesuai dengan peraturan perundang-undangan. pola Pemerintah dan/atau pemerintah daerah wajib melakukan pembinaan karir pendidik dan tenaga kependidikan sesuai dengan pola pembinaan karir sebagaimana dimaksud pada ayat (1).Bagian Ketiga Pembinaan Karir. (1). (2). Pembinaan karir pendidik dilaksanakan dalam bentuk peningkatan kualifikasi akademik dan/atau kompetensi sebagai agen pembelajaran dengan mengacu pada Standar Nasional Pendidikan. 76461668. Promosi. Pembinaan karir tenaga kependidikan dilaksanakan dalam bentuk peningkatan kualifikasi akademik dan/atau kompetensi manajerial dan/atau teknis sebagai tenaga kependidikan dengan mengacu pada Standar Nasional Pendidikan. (4). Pemerintah mengembangkan dan menetapkan pembinaan karir pendidik dan tenaga kependidikan. Badan hukum pendidikan masyarakat wajib melakukan pembinaan karir pendidik dan tenaga kependidikan pada satuan pendidikan yang diselenggarakannya sesuai dengan pola pembinaan karir sebagaimana dimaksud pada ayat (1). (3). Promosi bagi pendidik dan tenaga kependidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diberikan dalam bentuk kenaikan pangkat/golongan. kenaikan jabatan. (5).

Promosi bagi pendidik dan tenaga kependidikan yang berkedudukan sebagai pegawai lembaga pendidikan yang dikelola oleh masyarakat dan berstatus bukan pegawai negeri sipil dilaksanakan sesuai dengan ketentuan peraturan yang ditetapkan oleh badan hukum pendidikan yang bersangkutan. kabupaten/kota oleh Pemerintah d. teknologi. kabupaten/kota. daerah perbatasan. nasional. (4) Pemerintah memberikan penghargaan kepada pendidik yang hasil penelitiannya memberikan kontribusi terhadap perluasan dan pendalaman kandungan atau penerapan ilmu. dan/atau tingkat satuan pendidikan. daerah bencana. daerah tertinggal atau daerah bermasalah lainnya. b. Pasal 154 (1) Penghargaan diberikan: kepada pendidik dan tenaga kependidikan a. c. pada tingkat desa oleh pemerintah desa. atau seni. (2) Pemerintah dan pemerintah daerah memberikan penghargaan kepada pendidik dan/atau tenaga kependidikan yang dinilai berprestasi dan berdedikasi luar biasa. pada tingkat satuan pendidikan oleh satuan pendidikan. Pasal 155 (1) Pemerintah dan pemerintah daerah memberikan penghargaan kepada pendidik dan/atau tenaga kependidikan teladan yang bertugas di daerah terpencil. (3) Pemerintah memberikan penghargaan kepada pendidik yang berhasil menulis buku teks bahan belajar dan/atau menemukan teknologi pembelajaran baru yang dinilai bermutu tinggi. propinsi. (5) Pendidik atau tenaga kependidikan yang gugur dalam melaksanakan tugas memperoleh penghargaan dari Pemerintah dan/atau pemerintah daerah dan/atau penyelenggara satuan 76461668. dengan memperhatikan peraturan perundang-undangan. daerah konflik. pada tingkat Kabupaten/Kota. pada tingkat nasional oleh Pemerintah. (2) Penghargaan kepada pendidik dan tenaga kependidikan dapat diberikan oleh masyarakat dan organisasi profesi pada tingkat internasional. pada tingkat provinsi oleh Pemerintah Provinsi.(4).doc 97 . dan e.

Bagian Keempat Larangan Pasal 157 (1) Pendidik dan tenaga kependidikan. Masyarakat dapat memberi penghargaan kepada pendidik dan/atau tenaga kependidikan yang dinilai berprestasi. dan b. harganya lebih murah dari harga di pasaran. (3).doc (2). Hari Pendidikan Nasional. atau bentuk penghargaan lainnya yang dilaksanakan sesuai dengan peraturan perundang-undangan. dan ayat (4) diberikan pada Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia. berdedikasi. (3) Pendidik dan tenaga kependidikan. kenaikan pangkat berdasarkan prestasi kerja luar biasa baiknya. berdedikasi. ayat (3). (2) Pendidik dan tenaga kependidikan. (7) Penghargaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1). piagam. Pasal 156 (1). dilarang melakukan pungutan kepada peserta didik baik secara langsung maupun tidak langsung yang bertentangan 76461668. dan berjasa luar biasa dalam pendidikan. Hari Guru Nasional. (6) Penghargaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1). pakaian seragam atau bahan pakaian seragam di satuan pendidikan. baik perseorangan maupun kolektif dilarang memberikan bimbingan belajar atau les kepada peserta didiknya dengan memungut biaya. kecuali melalui koperasi satuan pendidikan yang: a. Pemerintah atau pemerintah daerah memberi penghargaan kepada pendidik dan/atau tenaga kependidikan yang dinilai berprestasi. ayat (3). atau hari besar lainnya. dan ayat (5) dapat diberikan dalam bentuk tanda jasa. dan berjasa luar biasa dalam pendidikan. ayat (4). ayat (2). kenaikan pangkat bagi yang menemukan penemuan baru yang bermanfaat bagi negara. tidak mewajibkan peserta didik untuk membelinya. kenaikan pangkat setingkat lebih tinggi. ayat (2).pendidikan sesuai peraturan perundang-undangan. dilarang menjual buku pelajaran. baik perseorangan maupun kolektif. 98 . baik perseorangan maupun kolektif. Pendidik dan/atau tenaga kependidikan dapat menerima penghargaan dari pihak asing sepanjang tidak bertentangan dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.

dilarang melakukan segala sesuatu baik secara langsung maupun tidak langsung yang menciderai integritas evaluasi hasil belajar peserta didik. d. (5) Pendidik dan tenaga kependidikan. c. keuangan. c. BAB XII PENDIRIAN SATUAN PENDIDIKAN Pasal 158 (1)Syarat-syarat untuk memperoleh izin pendirian satuan pendidikan meliputi: a. (2) Syarat-syarat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berpedoman pada Standar Nasional Pendidikan. geografis. jumlah dan kualifikasi pendidik dan tenaga kependidikan. manajemen dan proses pendidikan. b. b. sosial. (3) Syarat manajemen dan proses pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf e mencakup: a.dengan peraturan perundang-undangan. dan e.sumber pembiayaan untuk kelangsungan program pendidikan sekurang-kurangnya untuk 1 (satu) tahun akademik berikutnya. perimbangan antara jumlah satuan pendidikan dengan penduduk usia satuan pendidikan di wilayah tersebut. 76461668. hasil studi kelayakan tentang prospek pendirian satuan pendidikan dari segi prospek pendaftar.doc 99 . baik perseorangan maupun kolektif. hasil studi kelayakan tentang prospek pendirian satuan pendidikan dari segi tata ruang. dilarang menjadi tim sukses salah satu kontestan pemilihan umum pemilihan kepala daerah dan/atau pemilihan kepala desa. dan budaya. (4) Pendidik dan tenaga kependidikan. baik perseorangan maupun kolektif. dan ekologis. isi pendidikan/kurikulum. sarana dan prasarana yang memungkinkan terselenggaranya kegiatan pembelajaran.

Pasal 161 (1). 76461668. dan e. Selain memenuhi persyaratan pendirian satuan pendidikan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 158. pendirian satuan pendidikan jarak jauh harus memiliki: a.d. pendirian satuan pendidikan khusus bagi peserta didik berkelainan harus menyediakan sarana dan prasarana pendidikan khusus yang memungkinkan terselenggaranya kegiatan pembelajaran bagi peserta didik berkelainan. Pasal 159 Selain memenuhi persyaratan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 158. tutorial. jarak satuan pendidikan yang diusulkan di tengah klaster satuan pendidikan sejenis. memproduksi. pustaka. kapasitas daya tampung dan lingkup jangkauan satuan pendidikan yang ada. pendirian perguruan tinggi yang diselenggarakan oleh departemen lain atau lembaga pemerintah nondepartemen. dan melaksanakan pendidikan jarak jauh. undang-undang sektor terkait yang menyatakan perlu adanya pendidikan sebagaimana dimaksud dalam huruf a. menyebarluaskan. sumberdaya manusia untuk merancang. harus memenuhi persyaratan: a. program-program studi yang diselenggarakan secara khas terkait dengan tugas dan fungsi departemen atau lembaga pemerintah nondepartemen yang bersangkutan. dukungan sistem operasional pendidikan jarak jauh serta jaringan kerja sama dengan pihak terkait.doc 100 . (2) Ketentuan lebih lanjut mengenai persyaratan dan program studi pada perguruan tinggi yang diselenggarakan oleh departemen lain atau lembaga pemerintah nondepartemen sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dengan Peraturan Menteri. b. dan b. c. akses khusus pada jaringan informasi dan komunikasi untuk melaksanakan layanan bahan ajar. menyusun. Pasal 160 (1) Selain memenuhi persyaratan pendirian satuan pendidikan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 158. dan ujian secara elektronik.

MA. (2). (3)Ketentuan lebih lanjut tentang pendirian satuan pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan (2) diatur dengan Peraturan Menteri. Ketentuan lebih lanjut mengenai persyaratan pendirian satuan pendidikan jarak jauh sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dengan Peraturan Menteri. RA. akses ke sarana dan prasarana untuk kegiatan tutorial. MAK. oleh lembaga asing wajib (2) Pendirian satuan pendidikan nonformal yang diselenggarakan oleh lembaga asing hanya diberikan di ibukota provinsi. atau bentuk lain yang sederajat. satuan pendidikan khusus. dan jenis pendidikan wajib memperoleh izin dari Menteri. unsur penunjang untuk melaksanakan proses manajerial pendidikan jarak jauh. (4) Pendirian perguruan tinggi dan/atau program pendidikan jarak jauh pada semua jalur. proyeksi ketersediaan calon peserta didik untuk setiap program studi. SMK. dan satuan pendidikan nonformal wajib memperoleh izin dari Pemerintah Kabupaten/Kota. e. atau satuan pendidikan lain yang berada dalam pembinaan departemen yang menangani urusan pemerintahan di bidang agama dikeluarkan oleh Pemerintah Kabupaten/Kota setelah mendapat rekomendasi persetujuan dari kantor departemen agama kabupaten/kota. MI.d. atau bentuk lain yang sederajat. BAB XIII PENDIDIKAN LINTAS SATUAN DAN JALUR PENDIDIKAN Pasal 164 76461668. atau bentuk lain yang sederajat. dan f. SMA. (3)Pendirian satuan pendidikan Indonesia di luar negeri diatur oleh Menteri. MAK sebagaimana dimaksud pada ayat (1). jenjang. Pasal 162 (1) Pendirian TK. MI. MTs. SMP. (2) Izin pendirian RA. Pasal 163 (1) Pendirian satuan pendidikan memperoleh izin dari Menteri.doc 101 . SD. MA. MTs.

doc . SMALB. SMK/MAK. SMPLB. b. (4) (5) Pasal 166 (1) Peserta didik suatu program studi pada perguruan tinggi tertentu dapat mengambil mata kuliah pada program studi yang sama atau berbeda pada perguruan tinggi yang sama atau perguruan tinggi lain yang terakreditasi. pindah satuan atau program pendidikan. SDLB. atau bentuk lain yang sederajat dapat: a. Satuan pendidikan umum yang menerima peserta didik dari satuan pendidikan khusus bagi peserta didik berkelainan Pemerintah dan pemerintah daerah harus menyediakan guru pembimbing khusus serta sarana dan prasarana pendidikan khusus yang memungkinkan terselenggaranya kegiatan pembelajaran bagi peserta didik berkelainan. b. SD/MI. pindah ke satuan atau program pendidikan. Peserta didik nonformal dan informal dapat: a. (2) (3) Perpindahan satuan atau program pendidikan atau pengambilan program atau mata pelajaran sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat dilakukan melalui tes penempatan yang diselenggarakan oleh satuan pendidikan yang dituju. SMP/MTs. SMA/MA. atau mengambil program atau mata pelajaran pada jenis dan/atau jalur pendidikan yang sama atau berbeda sesuai dengan persyaratan akademik satuan pendidikan penerima. TKLB. 102 76461668. atau mengambil program atau mata pelajaran pada jenis dan/atau jalur pendidikan yang sama atau berbeda sesuai dengan persyaratan akademik satuan pendidikan penerima. Ketentuan lebih lanjut tentang pindah satuan atau program pendidikan atau pengambilan program atau mata pelajaran sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) diatur dengan peraturama Menteri. Pasal 165 (1) Peserta didik TK/RA.Peserta didik dapat belajar atau mengambil program-program pendidikan pada jenis dan jalur pendidikan yang berbeda secara terpadu dan berkelanjutan melalui pembelajaran tatap muka atau jarak jauh dengan fleksibilitas pilihan dan waktu penyelesaian program lintas satuan dan jalur pendidikan.

dan ayat (4) diatur oleh masing-masing perguruan tinggi. pelaksana. kelompok. Satuan kredit semester (sks) yang diperoleh peserta didik atau lulusan program studi tertentu dapat ditransfer untuk memenuhi persyaratan beban sks program studi lain. ayat (3). dan pengguna hasil pendidikan. (3) (4) (5) BAB XIV PERANSERTA MASYARAKAT Bagian Kesatu Fungsi Pasal 167 Peranserta masyarakat dalam pendidikan berfungsi meningkatkan kualitas penyelenggaraan pendidikan dan pengendalian mutu pelayanan pendidikan dalam rangka mencapai tujuan pendidikan nasional. keluarga. Bagian Kedua Komponen Peranserta Masyarakat Pasal 168 (1) Peranserta masyarakat dalam pendidikan meliputi peranserta perseorangan. Ketentuan lebih lanjut mengenai ayat (1). Peranserta masyarakat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat berupa sumber. ayat (2).(2) Peserta didik suatu program studi pada perguruan tinggi tertentu dapat pindah program studi yang sama atau berbeda pada perguruan tinggi yang sama atau perguruan tinggi lain yang terakreditasi sesuai persyaratan akademik program studi penerima. pengusaha. Kompetensi yang diperoleh peserta didik dari suatu satuan atau program pendidikan nonformal terakreditasi dapat diperhitungkan untuk memenuhi sks program studi yang diambil. dan organisasi kemasyarakatan dalam penyelenggaraan dan pengendalian mutu pelayanan pendidikan. Peranserta masyarakat dalam penyelenggaraan 103 (2) (3) 76461668.doc . organisasi profesi.

pengawasan. Pasal 169 c. dan keluarga sebagai sumber pendidikan dapat berupa kontribusi pendidik dan tenaga kependidikan. dan jenis pendidikan. (2) (3) (4) Pasal 170 76461668.doc 104 . dewan pendidikan tingkat nasional untuk semua jalur. jenjang. (1) Peranserta perseorangan.pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat penyelenggaraan pendidikan berbasis masyarakat. pemberian beasiswa kepada peserta didik. dan evaluasi program pendidikan yang dilaksanakan melalui: a. kelompok. Peranserta pengusaha sebagai sumber pendidikan dapat berupa penyediaan fasilitas sarana dan prasarana pendidikan. b. d. sumbangan dana. dan narasumber dalam penyelenggaraan pendidikan formal maupun nonformal. Peranserta organisasi profesi sebagai sumber pendidikan dapat berupa penyediaan tenaga ahli dalam bidangnya dan narasumber dalam penyelenggaraan pendidikan formal maupun nonformal. dewan pendidikan tingkat provinsi dan kabupaten/kota dan komite sekolah/madrasah atau nama lain yang sejenis pada jalur pendidikan formal jenjang pendidikan dasar dan menengah serta pada pendidikan anak usia dini. (4) (1) berupa Peranserta masyarakat dalam pengendalian mutu pelayanan pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) mencakup partisipasi dalam perencanaan. sarana dan prasarana dalam penyelenggaraan pendidikan dan pengendalian mutu pelayanan pendidikan kepada satuan pendidikan baik formal maupun nonformal. dan narasumber dalam penyelenggaraan pendidikan formal maupun nonformal secara terus menerus maupun sesekali waktu. dana. dan dewan pendidikan tingkat provinsi dan kabupaten/kota dan komite pendidikan nonformal pada jalur pendidikan nonformal. Peranserta organisasi kemasyarakatan sebagai sumber pendidikan dapat berupa pemberian beasiswa kepada peserta didik. majelis wali amanah pada jalur pendidikan formal jenjang pendidikan tinggi.

lingkungan sosioekonomi. dan pembinaan satuan pendidikan. Masyarakat berhak menyelenggarakan pendidikan formal dan nonformal sesuai dengan kekhasan agama. pemanfaatan hasil penelitian dan pengembangan dari satuan pendidikan tinggi. Pasal 173 Kurikulum. dan pendanaan satuan pendidikan formal dan nonformal dengan kekhasan agama. Pengusaha atau perusahaan dapat menyelenggarakan program riset dan pengembangannya bekerja sama dengan perguruan tinggi di perusahaannya atau di perguruan tinggi yang bersangkutan. atau keluarga sebagai pelaksana pendidikan dapat berupa partisipasi dalam pengelolaan pendidikan. Peranserta organisasi profesi sebagai pelaksana pendidikan dapat berupa pembentukan lembaga evaluasi dan/atau lembaga akreditasi mandiri. Peranserta pengusaha sebagai pelaksana pendidikan dapat berupa pelaksanaan sistem magang. pendidikan sistem ganda. Pasal 171 (2) (3) (4) (1) Peranserta pengusaha sebagai pengguna hasil pendidikan dapat berupa kerja sama pengusaha dengan satuan pendidikan dalam penyediaan lapangan kerja bagi para lulusan. lingkungan sosialekonomi. evaluasi. dan/atau kerja sama produksi dengan satuan pendidikan sebagai institusi pasangan. dan kerja sama pengembangan jaringan informasi kebutuhan dunia usaha dan dunia industri. manajemen. kelompok.(1) Peranserta perseorangan. Peranserta organisasi kemasyarakatan sebagai pelaksana pendidikan dapat berupa penyelenggaraan. dan budaya dikembangkan oleh satuan pendidikan 76461668. (2) Bagian Ketiga Pendidikan Berbasis Masyarakat Pasal 172 (1) Pendidikan berbasis masyarakat dilaksanakan pada satuan pendidikan formal dan nonformal yang diselenggarakan oleh masyarakat pada semua jenjang dan jenis pendidikan.doc (2) 105 . dan budaya untuk kepentingan masyarakat. pengelolaan. pengawasan.

doc (2) (3) 106 . dalam proses perencanaan. dan evaluasi hasil pendidikan di tingkat nasional. subsidi dana. Dewan Pendidikan Kabupaten/kota berperan dalam peningkatan mutu pelayanan pendidikan dengan memberikan pertimbangan dan arahan. dan sumberdaya lainnya secara adil dan merata sebagaimana dimaksud pada ayat (1) adalah perlakuan yang sama dari Pemerintah dan/atau pemerintah daerah pada satuan-satuan pendidikan dan daerahdaerah yang membutuhkan bantuan tersebut sesuai kemampuan Pemerintah dan pemerintah daerah . dalam proses perencanaan. sarana dan prasarana serta pengawasan kepada gubernur. dan sumberdaya lain secara adil dan merata dari Pemerintah. subsidi dana. dalam proses perencanaan. (2) (3) Bagian Keempat Dewan Pendidikan Pasal 175 (1) Dewan Pendidikan Nasional berperan dalam peningkatan mutu pelayanan pendidikan dengan memberikan pertimbangan dan arahan. dan evaluasi hasil pendidikan di tingkat provinsi. sarana dan prasarana serta pengawasan kepada bupati/walikota. Bantuan teknis. Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara bantuan teknis. penyelenggaraan. penyelenggaraan. Dewan Pendidikan Provinsi berperan dalam peningkatan mutu pelayanan pendidikan dengan memberikan pertimbangan dan arahan. Pasal 174 (1) Lembaga pendidikan berbasis masyarakat pada jalur pendidikan formal dan nonformal dapat memperoleh bantuan teknis. dan sumberdaya lainnya sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dengan Peraturan Menteri. subsidi dana. dukungan tenaga. dan evaluasi hasil pendidikan di tingkat kabupaten/kota.sesuai dengan kekhasan masing-masing dengan mengacu pada Standar Nasional Pendidikan. penyelenggaraan. sarana dan prasarana serta pengawasan kepada Menteri. dukungan tenaga. dukungan tenaga. Pasal 176 76461668. dan/atau bantuan asing.

(1) Dewan pendidikan harus peka dalam memperhatikan keluhan. dan Dewan Pendidikan Kabupaten/kota memiliki hubungan koordinasi satu sama lain dalam penyelenggaraan pendidikan nasional. dan kabupaten/kota. dan Dewan Pendidikan Kabupaten/kota. Dewan pendidikan dapat mengadakan koordinasi dan kerja sama dengan Majelis Wali Amanah. atau 107 . maupun dengan lembaga pemerintahan. b. komite sekolah/madrasah atau nama lain yang sejenis. pada tingkat nasional. meninggal dunia. Dewan Pendidikan Provinsi. Anggota dewan pendidikan diberhentikan sewaktu-waktu apabila: a. (3) (4) Pasal 178 (1) Keanggotaan dewan pendidikan berasal dari pakar pendidikan.doc (2) (3) melakukan perbuatan pidana kejahatan. mengundurkan diri. Dewan Pendidikan Provinsi. dan/atau pihak-pihak yang dibutuhkan dalam rangka mengupayakan peningkatan mutu layanan pendidikan. Dewan pendidikan menyelenggarakan pertemuan dengan masyarakat dalam rangka memperhatikan aspirasi masyarakat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) sekurang-kurangnya 2 (dua) kali dalam setahun. kritik dan menyalurkan aspirasi dan prakarsa masyarakat dalam upaya meningkatkan mutu pelayanan pendidikan. Pasal 177 (2) (1) (2) Dewan pendidikan dibentuk provinsi. c. Dewan Pendidikan Nasional. 76461668. praktisi pendidikan. tokoh masyarakat. pengusaha. kepala satuan pendidikan. organisasi profesi dan organisasi sosial kemasyarakatan yang peduli pendidikan. saran. Dewan pendidikan tidak mempunyai hubungan hirarkhis baik antara Dewan Pendidikan Nasional. Masa jabatan keanggotaan dewan pendidikan adalah 5 (lima) tahun dan dapat dipilih kembali 1 (satu) kali masa jabatan.

dewan pendidikan membentuk sekretariat dan dapat mengikutsertakan tenaga ahli untuk membantu kegiatan komisi-komisi pendidikan. dan jenis pendidikan. tidak dapat melaksanakan tugas karena berhalangan tetap. dan 1 (satu) wakil Dinas Pendidikan (eksekutif). dan 2 (dua) wakil Departemen Pendidikan Nasional (eksekutif). Dewan Pendidikan Provinsi ditetapkan oleh gubernur. gubernur untuk tingkat provinsi. Pasal 180 (2) (3) (4) (5) (6) (1) Pemilihan anggota dewan pendidikan diselenggarakan oleh panitia yang dibentuk oleh Menteri untuk tingkat nasional. dan ketua-ketua komisi. sekretaris. dan bupati/walikota untuk tingkat kabupaten/kota. 2 (dua) tokoh masyarakat. Pasal 179 (1) Organisasi dan kepengurusan Dewan Pendidikan Nasional ditetapkan oleh Menteri. 76461668. Dewan Pendidikan Provinsi berjumlah paling banyak 17 (tujuh belas) orang. Anggota Dewan Pendidikan Nasional berjumlah paling banyak 23 (dua puluh tiga) orang. Pembentukan komisi-komisi pendidikan sesuai dengan jalur. Susunan kepengurusan dewan pendidikan paling sedikit terdiri atas ketua dewan. dan Dewan Pendidikan Kabupaten/kota berjumlah paling banyak 13 (tiga belas) orang. 5 (lima) orang untuk tingkat provinsi dan kabupaten/kota dengan komposisi 2 (dua) pakar/tokoh pendidikan.d. bendahara. 2 (dua) tokoh masyarakat. 7 (tujuh) orang untuk tingkat nasional dengan komposisi 3 (tiga) pakar/tokoh pendidikan. jenjang. dan Ketua dan sekretaris panitia pemilihan dipilih dari dan oleh para anggota. Dalam melaksanakan tugasnya. dan Dewan Pendidikan Kabupaten/kota ditetapkan oleh bupati/walikota. (2) b.doc 108 . Anggota dewan pendidikan harus berjumlah gasal. c. Panitia pemilihan anggota dewan pendidikan bekerja secara independen yang terdiri atas: a.

(2) (3) (4) (5) (6) (7) 76461668. serta pengawasan pendidikan. sarana dan prasarana. sekurang-kurangnya 2 (dua) kali jumlah anggota dewan pendidikan. gubernur memilih dan menetapkan anggota Dewan Pendidikan Provinsi atas dasar hasil pemilihan calon anggota Dewan Pendidikan Provinsi sebagaimana dimaksud pada ayat (3).Pasal 181 (1) Panitia pemilihan dewan pendidikan menerima masukan dari masyarakat tentang calon anggota dewan pendidikan sekurang-kurangnya 30 (tiga puluh) hari dan selama-lamanya 60 (enam puluh) hari. dan panitia pemilihan Dewan Pendidikan Kabupaten/kota menyampaikan hasil pemilihan calon anggota Dewan Pendidikan Kabupaten/kota kepada bupati/walikota. Panitia pemilihan Dewan Pendidikan Nasional melaporkan hasil pemilihan calon anggota Dewan Pendidikan Nasional kepada Menteri. dewan pendidikan wajib menyusun program kerja yang memuat antara lain tentang perencanaan. pertimbangan dan arahan. Pasal 182 (1) Pendanaan dewan pendidikan nasional dapat berasal dari APBN atau sumber lain yang tidak mengikat. bupati/walikota memilih dan menetapkan anggota Dewan Pendidikan Kabupaten/kota atas dasar hasil pemilihan calon anggota Dewan Pendidikan Kabupaten/kota sebagaimana dimaksud pada ayat (3). Atas dasar daftar nama calon anggota dewan pendidikan yang diidentifikasikannya dan yang merupakan masukan masyarakat. dukungan tenaga.doc 109 . Menteri memilih dan menetapkan anggota Dewan Pendidikan Nasional atas dasar hasil pemilihan calon anggota Dewan Pendidikan Nasional sebagaimana dimaksud pada ayat (3). Kepengurusan dewan pendidikan dipilih oleh dan dari anggota dewan pendidikan masing-masing. Setelah terbentuk kepengurusan. panitia pemilihan Dewan Pendidikan Provinsi melaporkan hasil pemilihan calon anggota Dewan Pendidikan Provinsi kepada gubernur. Prosedur pemilihan anggota dan kepengurusan dewan pendidikan diinformasikan secara luas kepada masyarakat oleh panitia. panitia pemilihan dewan pendidikan mengusulkan daftar calon anggota dewan pendidikan kepada pejabat yang berwenang. evaluasi program pendidikan.

(2)

Pendanaan dewan pendidikan provinsi dan dewan pendidikan kabupaten/kota dapat berasal dari APBD atau sumber lain yang tidak mengikat. Pasal 183

(1) (2)

Dewan pendidikan bertanggung jawab kepada publik. Mekanisme pertanggungjawaban dewan pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan melalui media komunikasi yang diterbitkan, brosur yang dicetak, atau media lain, dan disebarkan kepada masyarakat. Kegagalan dewan pendidikan dalam pertanggungjawaban publik sebagaimana diatur pada ayat (1) dan ayat (2) dapat berakibat pemberhentian ketua dan/atau anggota dewan pendidikan oleh pejabat yang menetapkannya. Bagian Kelima Komite Sekolah/Madrasah Paragraf 1 Fungsi dan Sifat Pasal 184

(3)

(1) (2)

Komite sekolah/madrasah atau nama lain yang sejenis merupakan mitra satuan pendidikan yang bekerja secara mandiri. Fungsi komite sekolah/madrasah adalah: a. b. c. d. e. memberikan pertimbangan kepada satuan pendidikan dalam pengelolaan pendidikan; memberikan dukungan sumberdaya pendidikan kepada satuan pendidikan; mengawasi penyelenggaraan pendidikan pada satuan pendidikan; menjadi mediator yang melibatkan pendidik dan tenaga kependidikan; dan menjadi mediator hubungan satuan pendidikan dengan berbagai kelompok kepentingan di masyarakat dalam rangka peningkatan mutu pelayanan pendidikan.

(3)

Komite sekolah/madrasah atau nama lain yang sejenis tidak mempunyai hubungan hirarkhis dengan dewan pendidikan
110

76461668.doc

maupun dengan lembaga pemerintahan. (4) Komite sekolah/madrasah dapat mengadakan koordinasi dan kerja sama dengan dewan pendidikan, kepala satuan pendidikan atau pihak-pihak yang dibutuhkan dalam rangka mengupayakan peningkatan mutu layanan pendidikan. Komite sekolah/madrasah atau nama lain yang sejenis menyampaikan laporan akhir masa jabatan kepada orang tua/wali peserta didik, kepala satuan pendidikan, dan/atau pihakpihak yang terkait. Komite sekolah/madrasah atau nama lain yang sejenis dibentuk di satuan pendidikan atau gabungan satuan pendidikan formal atau pada pendidikan nonformal pada jenjang pendidikan dasar dan menengah. Bagi satuan pendidikan yang memiliki peserta didik kurang dari 200 (dua ratus) maka komite sekolah/madrasahnya dapat bergabung dengan komite sekolah/madrasah dari satuan pendidikan lain. Pasal 185 (1) Komite sekolah/madrasah atau nama lain yang sejenis harus peka dalam memperhatikan keluhan, saran dan kritik, serta menyalurkan aspirasi dan prakarsa masyarakat dalam upaya peningkatan mutu layanan pendidikan. Komite sekolah/madrasah atau nama lain yang sejenis menyelenggarakan pertemuan dengan masyarakat dalam rangka memperhatikan aspirasi masyarakat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) sekurang-kurangnya 2 (dua) kali dalam setahun. Komite sekolah/madrasah atau nama lain yang sejenis berperan memberikan pertimbangan dan arahan, dukungan tenaga, sarana dan prasarana kepada penyelenggara satuan pendidikan, kepala satuan pendidikan, atau pihak-pihak yang relevan dalam proses perencanaan, penyelenggaraan, evaluasi hasil pendidikan, dan pengawasan pendidikan di tingkat sekolah. Komite sekolah/madrasah atau nama lain yang sejenis sebagai perwakilan masyarakat menilai pertanggungjawaban kepala satuan pendidikan. Untuk keperluan pertanggungjawaban sebagaiamana dimaksud pada ayat (4) di bidang keuangan, komite sekolah/madrasah atau nama lain yang sejenis dapat menunjuk akuntan publik.

(5)

(6)

(7)

(2)

(3)

(4)

(5)

76461668.doc

111

(6)

Tata cara peranserta komite sekolah/madrasah atau nama lain yang sejenis dalam evaluasi dan pengawasan diatur lebih lanjut dengan Peraturan Menteri. Komite sekolah/madrasah atau nama lain yang sejenis bersama Pemerintah atau dewan pendidikan dapat menyebarluaskan hasil pengawasan secara terbuka sebagai bentuk akuntabilitas publik.

(7)

Paragraf 2 Keanggotaan Pasal 186

(1)

Komite sekolah/madrasah sekurang-kurangnya terdiri atas anggota masyarakat yang mewakili orang tua/wali peserta didik, tokoh masyarakat, praktisi pendidikan, dan pendidik, yang memiliki wawasan, kepedulian dan komitmen terhadap peningkatan mutu pendidikan. Masa bakti anggota komite sekolah/madrasah adalah 4 (empat) tahun. Keanggotaan komite sekolah/madrasah maksimal 2 (dua) masa bakti. Anggota komite sekolah/madrasah atau nama lain yang sejenis tidak boleh merangkap sebagai pejabat kepala satuan pendidikan, pejabat struktural dalam pemerintahan, atau fungsionaris partai politik. Anggota komite sekolah/madrasah atau nama lain yang sejenis dapat diberhentikan sewaktu-waktu karena: a. melakukan perbuatan pidana kejahatan; dan b. melanggar ketentuan anggaran dasar.

(2) (3) (4)

(5)

(6)

Pemberhentian sebagaimana dimaksud pada ayat (5) diatur dalam anggaran dasar komite sekolah/madrasah. Paragraf 3 Persyaratan Anggota Pasal 187

76461668.doc

112

(1)

Persyaratan untuk menjadi anggota komite sekolah/madrasah atau nama lain yang sejenis adalah anggota masyarakat yang mempunyai pengalaman, komitmen, dan tanggung jawab dalam meningkatkan pemerataan, mutu, relevansi, dan efisiensi pada penyelenggaraan pendidikan di tingkat satuan pendidikan. Anggota komite sekolah/madrasah atau nama lain yang sejenis berasal dari perseorangan atau perwakilan organisasi. Paragraf 4 Struktur Organisasi dan Kepengurusan Pasal 188

(2)

(1)

Organisasi dan kepengurusan komite sekolah/madrasah atau nama lain yang sejenis pada jenjang pendidikan dasar dan pendidikan menengah ditetapkan oleh bupati/walikota. Organisasi dan kepengurusan komite sekolah/madrasah atau nama lain yang sejenis pada jenjang dasar dan pendidikan menengah yang dikembangkan oleh Pemerintah Provinsi menjadi bertaraf internasional ditetapkan oleh gubernur. Susunan kepengurusan komite sekolah/madrasah atau nama lain yang sejenis sekurang-kurangnya terdiri atas ketua, sekretaris, bendahara, dan anggota. Jumlah anggota komite sekolah/madrasah atau nama lain yang sejenis harus gasal, disesuaikan dengan kebutuhan, dan jumlahnya sebanyak-banyaknya 9 (sembilan) orang. Masa jabatan kepengurusan komite sekolah/madrasah atau nama lain yang sejenis adalah 4 (empat) tahun dan dapat dipilih kembali maksimal 2 (dua) kali secara berturut-turut. Masa kepengurusan komite sekolah/madrasah atau nama lain yang sejenis sebagaimana dimaksud pada ayat (4) dapat berakhir sebelum 4 (empat) tahun dan dapat diangkat pengurus pengganti. Paragraf 5 Mekanisme Pemilihan Pasal 189

(2)

(3)

(4)

(5)

(6)

(1)

Pemilihan anggota komite sekolah/madrasah diselenggarakan oleh panitia yang dibentuk oleh kepala satuan pendidikan dan orang tua/wali peserta didik.

76461668.doc

113

doc . dan disebarkan kepada masyarakat. atau media lain. Kegagalan komite sekolah/madrasah dalam pertanggungjawaban publik sebagaimana diatur pada ayat (1) dan ayat (2) dapat berakibat pemberhentian ketua dan/atau anggota komite sekolah/madrasah oleh pejabat yang menetapkannya. dan dilaporkan kepada kantor dinas yang menangani urusan pemerintahan di bidang pendidikan sesuai kewenangannya. 114 (3) 76461668. Panitia menyampaikan nama anggota dan susunan kepengurusan komite sekolah/madrasah atau nama lain yang sejenis hasil pemilihan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dan ayat (3) kepada kepala sekolah untuk ditetapkan. dan diketuai oleh unsur masyarakat. Pengurus komite sekolah/madrasah atau nama lain yang sejenis bersama masyarakat mengusahakan pencarian sumber dana bagi komite sekolah/madrasah atau nama lain yang sejenis. Mekanisme pertanggungjawaban komite sekolah/madrasah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan melalui media komunikasi yang diterbitkan. Proses pemilihan dari awal sampai terbentuknya anggota komite sekolah/madrasah atau nama lain yang sejenis diinformasikan kepada masyarakat oleh panitia.(2) Panitia pemilihan anggota komite sekolah/madrasah atau nama lain yang sejenis bekerja secara independen yang terdiri atas 5 (lima) orang yaitu 2 (dua) unsur pendidik (guru). 2 (dua) unsur orangtua/wali peserta didik (masyarakat). brosur yang dicetak. dan 1 (satu) unsur . Pemilihan kepengurusan komite sekolah/madrasah dipilih dari dan oleh anggota komite sekolah/madrasah atau nama lain yang sejenis masing-masing. (3) (4) (5) Paragraf 6 Pendanaan Pasal 190 (1) Pendanaan operasional komite sekolah/madrasah atau nama lain yang sejenis dapat berasal dari anggaran pendapatan dan belanja sekolah/madarasah dan sumber lain yang tidak mengikat. (2) Pasal 191 (1) (2) Komite sekolah/madrasah bertanggung jawab kepada publik.

jenjang. Dewan pendidikan dan/atau komite sekolah/madrasah atau nama lain yang sejenis. pakaian seragam atau bahan pakaian seragam di satuan pendidikan baik secara langsung maupun tidak langsung. dilarang melakukan segala sesuatu baik secara langsung maupun tidak langsung yang menciderai integritas evaluasi hasil belajar. Dewan pendidikan dan/atau komite sekolah/madrasah atau nama lain yang sejenis. serta tidak membebani atau mengambil keuntungan dari satuan pendidikan. BAB XV PENGAWASAN Pasal 193 (2) (3) (4) (5) (1) Pengawasan penyelenggaraan dan pegelolaan pendidikan mencakup pengawasan administratif dan teknis edukatif. baik perseorangan maupun kolektif. dilarang melakukan pungutan kepada peserta didik baik secara langsung maupun tidak langsung yang bertentangan dengan peraturan perundang-undangan. baik secara perseorangan maupun kolektif dilarang memberikan bimbingan belajar atau les kepada peserta didik baik secara langsung maupun tidak dengan memungut biaya.doc . Pemerintah melakukan pengawasan secara nasional terhadap penyelenggaraan dan pegelolaan pendidikan pada semua jalur. dan jenis pendidikan.Bagian Keenam Larangan Pasal 192 (1) Dewan pendidikan dan/atau komite sekolah/madrasah atau nama lain yang sejenis. dilarang mengintervensi seleksi calon peserta didik dan proses pembelajaran. Pemerintah Provinsi melakukan pengawasan 115 (2) (3) 76461668. baik perseorangan maupun kolektif. Dewan pendidikan dan/atau komite sekolah/madrasah atau nama lain yang sejenis. baik perseorangan maupun kolektif. dilarang menjual buku pelajaran. Dewan pendidikan dan/atau komite sekolah/madrasah atau nama lain yang sejenis. baik perseorangan maupun kolektif.

(3) Dalam hal hasil pengawasan yang dilakukan oleh Pemerintah Provinsi dan/atau Pemerintah Kabupaten/Kota. Pasal 194 (1) Pemerintah melakukan pengawasan secara langsung memperhatikan hasil pengawasan yang dilakukan Pemerintah Provinsi dan/atau Pemerintah Kabupaten/Kota. 76461668. dan jenis pendidikan sesuai dengan kewenangannya. jenjang. (4) Pemerintah provinisi menjalankan tugas pengawasan atas dasar hasil pengawasan yang dilakukan oleh Pemerintah Kabupaten/Kota. Pasal 195 (1) Dewan pendidikan melakukan pengawasan terhadap pelaksanaan penyelenggaraan dan pegelolaan pendidikan pada semua satuan pendidikan. dan pendidikan nonformal di wilayahnya. Pemerintah Provinsi. maka Pemerintah melakukan pengawasan ulang. maka Pemerintah menindaklanjuti hasil pengawasan tersebut. maka Pemerintah melakukan pengawasan ulang. oleh Pemerintah dipandang kredibel.terhadap penyelenggaraan dan pegelolaan pendidikan dasar dan pendidikan menengah bertaraf internasional. (5) Dalam hal hasil pengawasan yang dilakukan oleh Pemerintah Kabupaten/Kota. serta pendidikan lintas kabupaten/kota di dalam wilayah provinsi tersebut. pendidikan dasar. (6) Dalam hal hasil pengawasan yang dilakukan oleh Pemerintah Kabupaten/Kota. dan oleh melakukan pegelolaan pendidikan (2) Dalam hal hasil pengawasan yang dilakukan oleh Pemerintah Provinsi dan/atau Pemerintah Kabupaten/Kota. jalur. (7) Pemerintah. Pemerintah Kabupaten/Kota dalam menjalankan tugas pengawasan dapat menunjuk lembaga pengawasan/pemeriksaan independen. (2) Komite sekolah/madrasah melakukan pengawasan terhadap pelaksanaan penyelenggaraan dan pegelolaan pendidikan pada satuan pendidikan yang bersangkutan. maka Pemerintah menindaklanjuti hasil pengawasan tersebut. (4) Pemerintah Kabupaten/Kota pengawasan terhadap penyelenggaraan dan pendidikan anak usia dini. menengah. oleh Pemerintah diduga meragukan. oleh Pemerintah Provinsi diduga meragukan. oleh Pemerintah Provinsi dipandang kredibel.doc 116 .

h. pemeriksaan investigatif. atau masyarakat yang nondepartemen yang pihak lain yang terlibat dalam penyelenggaraan dan pegelolaan pendidikan. c. (3) Pemeriksaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a dan huruf b dapat berbentuk pemeriksaan umum. dewan pendidikan. meneliti. Pemerintah Kabupaten/Kota. badan hukum pendidikan. Pemerintah Provinsi. penyimpangan.doc 117 . mengevaluasi. b. Pasal 196 (1) Pengawasan oleh Pemerintah dilakukan dengan cara: a. menguji. pemeriksaan khusus. l. memeriksa. departemen lain yang menyelenggarakan pendidikan. mengusut. lembaga pemerintah menyelenggarakan pendidikan. e. g. unit kerja di lingkungan Departemen. b. menilai. dan/atau melakukan inspeksi mendadak terhadap objek yang diawasi. k. i. f. program pendidikan. pemeriksaan tematik. d. komite sekolah/madrasah. menguji. 76461668. dan/atau menilai informasi aduan masyarakat tentang hambatan.(3) Pengawasan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) diinformasikan kepada masyarakat yang berkepentingan secara terbuka sebagai bentuk akuntabilitas publik. keluarga atau anggota/kelompok melaksanakan pendidikan informal. memeriksa. dan/atau pemeriksaan terpadu. (2) Objek pengawasan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a adalah: a. satuan pendidikan. j. dan/atau penyalahgunaan wewenang dalam penyelenggaraan dan pegelolaan pendidikan. memantau.

badan hukum pendidikan yang melaksanakan atau menyelenggarakan pendidikan dasar dan/atau pendidikan menengah. dan/atau menilai informasi aduan masyarakat tentang hambatan. b. dewan pendidikan tingkat provinsi pendidikan tingkat kabupaten/kota. dan ayat (3) dilaporkan kepada Menteri dan objek yang diawasi. ayat (2). k. komite sekolah/madrasah. memeriksa. i.(4) Pengawasan sebagaimana dimaksud pada ayat (1). mengevaluasi. b. h. pendidikan menengah. memeriksa. unit kerja di bawah gubernur. c. Pemerintah Kabupaten/Kota. mengusut. memantau. penyelenggara pendidikan pendidikan anak usia dini. dasar. j. dan pendidikan nonformal. (2) Objek pengawasan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a adalah: a. penyimpangan. lembaga akreditasi mandiri dan/atau asosiasi profesi. yang program pendidikan pada satuan pendidikan menengah dan pendidikan nonformal. keluarga atau anggota/kelompok melaksanakan pendidikan informal. e. meneliti. l. d. pendidikan pendidikan menengah. unit-unit perwakilan departemen lain di provinsi menyelenggarakan atau mengelola pendidikan. dan pendidikan nonformal. pendidikan dasar. menguji. Pasal 197 (1) Pengawasan oleh Pemerintah Provinsi dilakukan dengan cara: a. yang masyarakat dibentuk yang dan/atau dewan g. f.doc . masyarakat lembaga evaluasi pendidikan mandiri yang dibentuk oleh 118 76461668. dan/atau penyalahgunaan wewenang dalam penyelenggaraan dan pegelolaan pendidikan. menguji. menilai. dan/atau melakukan inspeksi mendadak terhadap objek yang diawasi. satuan pendidikan anak usia dini.

pemeriksaan investigatif. dan/atau menilai informasi aduan masyarakat tentang hambatan. b. sesuai Pemerintah Provinsi. mengevaluasi. 76461668. penyimpangan. menilai. dan/atau melakukan inspeksi mendadak terhadap objek yang diawasi. program pendidikan pada satuan pendidikan nonformal. menguji. atau m. dan ayat (3) dilaporkan kepada gubernur. ayat (2). penyelenggara pendidikan anak usia dini. pihak lain yang terlibat dalam pegelolaan pendidikan. dan pendidikan nonformal. komite sekolah/madrasah. g. b. c. pendidikan dasar. pemeriksaan tematik. dan/atau penyalahgunaan wewenang dalam penyelenggaraan dan pegelolaan pendidikan. Pasal 198 (1) Pengawasan oleh Pemerintah Kabupaten/Kota dilakukan dengan cara: a. pendidikan dasar.doc 119 . satuan pendidikan anak usia dini. d. (4) Pengawasan sebagaimana dimaksud pada ayat (1). melaksanakan atau dewan pendidikan tingkat kabupaten/kota. (2) Objek pengawasan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a adalah: a. dan objek yang diawasi. e. mengusut. penyelenggaraan dan dengan kewenangan (3) Pemeriksaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a dan b dapat berbentuk pemeriksaan umum. unit-unit perwakilan departemen lain di kabupaten/kota yang menyelenggarakan atau mengelola pendidikan. f. memeriksa.masyarakat dan/atau asosiai profesi. dan/atau pemeriksaan terpadu. unit kerja di bawah bupati/walikota. badan hukum pendidikan yang menyelenggarakan pendidikan dasar. meneliti. pemeriksaan khusus. menguji. h. memeriksa. memantau. Menteri. dan pendidikan nonformal.

g.doc 120 . komite sekolah/madrasah. (4) Pasal 199 (1) Pengawasan oleh dewan pendidikan dilakukan dengan cara: a. sesuai dengan kewenangan Pemerintah Kabupaten/Kota. pemeriksaan khusus. (3) badan hukum pendidikan.ayat (2). penyimpangan. satuan pendidikan. program pendidikan pada satuan pendidikan. penyelenggara pendidikan. meneliti dan/atau menilai informasi aduan masyarakat tentang hambatan. dan/atau pemeriksaan terpadu. dan ayat (3) dilaporkan kepada bupati/walikota. menilai. Pengawasan sebagaimana dimaksud pada ayat (1). dan objek yang diawasi. dalam penyelenggaraan yang dan Pengawasan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) dilaporkan kepada: 76461668. pemeriksaan tematik. keluarga atau anggota/kelompok melaksanakan pendidikan informal.i. dan/atau memantau terhadap objek yang diawasi sesuai dengan kewenangannya. b. (3) Pemeriksaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a dan b dapat berbentuk pemeriksaan umum. dan/atau pihak lain yang terlibat pegelolaan pendidikan. keluarga atau anggota/kelompok masyarakat melaksanakan pendidikan informal. e. dan/atau penyalahgunaan wewenang dalam penyelenggaraan dan pegelolaan pendidikan. gubernur. j. f. mengevaluasi. (2) Objek pengawasan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a adalah: a. pemeriksaan investigatif. c. Menteri. atau masyarakat yang pihak lain yang terlibat dalam penyelenggaraan dan pegelolaan pendidikan. d. b.

b. dan/atau penyalahgunaan wewenang dalam penyelenggaraan dan pegelolaan pendidikan. pada satuan pendidikan yang (3). dan untuk dewan pendidikan tingkat objek yang diawasi. Menteri mengkoordinasikan perencanaan. pelaporan.doc 121 . bupati/walikota. mengevaluasi. Objek pengawasan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a adalah: a. (2). program pendidikan bersangkutan. dan/atau memantau terhadap objek yang diawasi. Pasal 200 (1). objek yang diawasi. dan/atau b. untuk dewan pendidikan tingkat provinsi dan kabupaten/kota. menangani urusan pendidikan di b. dan tindak lanjut pengawasan sebagaimana dimaksud 76461668. dinas yang kabupaten/kota. penyimpangan. d. meneliti dan/atau menilai informasi aduan masyarakat tentang hambatan. pelaksanaan. tingkat nasional. Pasal 201 (1). Pengawasan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) dilaporkan kepada: a.a. untuk dewan pendidikan provinsi. satuan pendidikan yang bersangkutan. c. Pengawasan oleh komite sekolah/madrasah dilakukan dengan cara: a. dan c. dan kabupaten/kota. badan hukum pendidikan. kabupaten/kota. menilai. b. menteri. gubernur.

50. (2). 36. memberikan sanksi atas penyimpangan administratif dan/atau pelanggaran hukum yang dilakukan oleh objek yang diawasi baik individu ataupun kelembagaan. 64. masukan dalam perencanaan pendidikan. 55. 74. Pasal 160. Pemerintah dan/atau pemerintah daerah sesuai dengan kewenangannya dapat menutup satuan pendidikan dan/atau program pendidikan yang telah memperoleh izin pendirian dan/atau izin penyelenggaraan dari pihak yang berwenang tetapi terbukti tidak memenuhi persyaratan pendirian sebagaimana dimaksud dalam Pasal 158. b. menilai kinerja objek yang diawasi. Pasal 203 (1) Pemerintah dan/atau pemerintah daerah sesuai dengan kewenangannya dapat memberikan sanksi administratif berupa peringatan. 31. dan Pasal 200. pembekuan.pada Pasal 196. 42. 62. 28. (2). 68. 26. dan/atau badan hukum pendidikan yang melaksanakan pendidikan yang tidak sesuai dengan ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 25. Pasal 162. memberikan penghargaan atas kinerja objek diawasi. yang e. 29. program pendidikan.doc . d. 82. Pasal 161. Pengawasan digunakan oleh pihak penerima laporan pengawasan untuk: a. Pasal 199. c. Pasal 197. dan Pasal 163. Pemerintah dan/atau pemerintah daerah sesuai dengan kewenangannya menutup satuan pendidikan dan/atau program pendidikan yang beroperasi tanpa izin sebagaimana dimaksud dalam Pasal 159 dan Pasal 160. 122 76461668. penggabungan atau penutupan satuan pendidikan. Pasal 198. satuan pendidikan. BAB XVI SANKSI Pasal 202 (1). 30. Pasal 159. masukan dalam pelaksanaan rencana pendidikan. 98.

62. 139. pembekuan. 161. penutupan. Perguruan tinggi atau unit dari perguruan tinggi yang melaksanakan kebebasan akademik dan/atau otonomi keilmuan yang melanggar ketentuan yang diatur dalam Peraturan Pemerintah ini. 130. pembekuan. 151. 137.doc . Menteri berwenang memberhentikan pimpinan perguruan tinggi yang bersangkutan dari jabatannya. 108. 142. 165 dan Pasal 164. melalaikan ketentuan ayat (1). 139. 64. 31. 36. 50. atau memberhentikan yang bersangkutan dari status kepegawaiannya di perguruan tinggi.101. 158. 145. 118. 126. Dalam hal perguruan tinggi tidak melakukan pemberhentian sebagaimana dimasuk pada ayat (3). dan/atau penutupan perguruan tinggi yang melaksanakan dharma perguruan tinggi yang tidak sesuai dengan ketentuan sebagaimana diatur dalam Peraturan 123 (2) (3) (4) (5) (6) 76461668. 107. 101. 160. 118. 159. 158. 152. 152. 126. 29. 140. dan/atau badan hukum pendidikan yang melaksanakan pendidikan yang tidak sesuai dengan ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 25. 145. 42. 161. 26. Dalam hal pejabat yang berwenang sebagaimana dimaksud pada ayat (1). 157. 130. 138. dikenakan sanksi administratif oleh perguruan tinggi yang bersangkutan berupa teguran tertulis dan/atau diberhentikan dari jabatannya atau diberhentikan dari status kepegawaiannya di perguruan tinggi yang bersangkutan. Menteri berwenang memberhentikan yang bersangkutan dari jabatannya. 151. 144. Pemerintah dapat memberikan sanksi administratif berupa teguran tertulis. 137. 125. 142. dan/atau dicabut izin penyelenggaraannya. 30. Pasal 204 (1) Pimpinan perguruan tinggi yang melanggar ketentuan Pasal 68 diberi sanksi oleh pejabat yang berwenang sesuai peraturan perundang-undangan. 28. 144. 125. Perseorangan atau kelompok anggota sivitas akademika perguruan tinggi yang melaksanakan kebebasan akademik dan/atau otonomi keilmuan yang melanggar ketentuan yang diatur dalam Pasal 70. 159. 107. 136. 157. 68. 108. 74. 140. 165 dan Pasal 164. 55. 82. 138. program pendidikan. 136. 98. (2) Pemerintah dan/atau pemerintah daerah sesuai dengan kewenangannya dapat menunda atau membatalkan pemberian subsidi sumberdaya pendidikan kepada satuan pendidikan. 160. dikenakan sanksi sanksi administratif oleh Pemerintah berupa teguran tertulis.

pembekuan. dikenakan sanksi administratif berupa teguran tertulis. (2). (2) Pendidik atau tenaga kependidikan pegawai negeri sipil yang melanggar ketentuan Pasal 154 dikenakan sanksi administratif sesuai dengan peraturan perundang-undangan. dan/atau mengeluarkan dari satuan pendidikan terhadap peserta didik yang tidak melaksanakan kewajibannya sebagaimana diatur dalam Pasal 144. Pasal 205 (1). (3) Pendidik atau tenaga kependidikan nonpegawai negeri sipil yang melanggar ketentuan Pasal 154 dikenakan sanksi administratif sesuai dengan peraturan perundang-undangan.doc 124 . atau organisasi. Pasal 105. dewan pendidikan. yang melaksanakan pendidikan informal baik disengaja maupun tidak disengaja yang melanggar ketentuan Pasal 97 dapat dikenakan sanksi administratif berupa teguran tertulis. serta pihak lain yang terkait dengan satuan pendidikan secara perseorangan ataupun kolektif yang melanggar ketentuan Pasal 187 dikenakan sanksi teguran secara tertulis dari Pemerintah Kabupaten/Kota atau Pemerintah Provinsi sesuai dengan kewenangannya. Anggota komite sekolah/madrasah. Pasal 208 (1) Pendidik atau tenaga kependidikan yang melalaikan tugas dan/atau kewajibannya selama 3 (tiga) bulan atau lebih secara terus menerus tanpa alasan yang dapat dipertanggungjawabkan dikenakan sanksi administratif sesuai dengan peraturan perundang-undangan. dan yang menangani pendidikan. Satuan pendidikan dapat memberikan sanksi administratif berupa peringatan. institusi Pemerintah. skorsing. 76461668. kelompok. dan Pasal 106. Pasal 206 Perseorangan. organisasi orang tua peserta didik. dan/atau penutupan dari Pemerintah dan/atau pemerintah daerah. Pasal 207 Satuan pendidikan jarak jauh yang tidak memenuhi persyaratan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 102.Pemerintah ini. dan/atau penutupan oleh Menteri. pembekuan. Pasal 103.

dan/atau pemberhentian dengan tidak hormat dari jabatannya. penundaan kenaikan gaji berkala. gubernur. dikenakan sanksi administratif berupa teguran tertulis. dan/atau penutupan satuan 76461668. Pasal 26. dan/atau penutupan satuan pendidikan oleh Menteri. penundaan kenaikan pangkat.doc (2) 125 . Satuan pendidikan Indonesia yang melaksanakan kerja sama dengan satuan pendidikan dari negara lain yang tidak sesuai dengan ketentuan sebagaimana diatur dalam Pasal 138. dan Pasal 31 dikenakan sanksi administratif berupa teguran tertulis. Pasal 29.(4) Badan hukum pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (3) yang melalaikan ketentuan ayat (3) dikenakan sanksi administratif berupa peringatan tertulis atau pembekuan oleh Pemerintah atau sesuai kewenangannya. pembebasan dari jabatan. menempatkan. dan Pasal 136 dikenakan sanksi oleh Menteri berupa teguran tertulis dan/atau penutupan satuan pendidikan. atau memberhentikan pendidik atau tenaga kependidikan yang bertentangan dengan ketentuan Pasal 148 tanpa alasan yang sah. memindahkan. (2) Pencabutan izin sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan setelah diadakan pembinaan paling lama tiga tahun. pembekuan. perwakilan negara asing atau lembaga pendidikan asing yang tidak sesuai dengan ketentuan sebagaimana diatur dalam Pasal 133. organisasi. dan Pasal 140 dikenakan sanksi administratif berupa teguran tertulis. pembekuan. (5) Seseorang yang mengangkat. atau bupati/walikota sesuai dengan kewenangan. pemberhentian dengan hormat. Pasal 209 (1) Satuan pendidikan yang melanggar ketentuan tentang penyelenggaraan pendidikan bertaraf internasional sebagaimana dimaksud dalam Pasal 125. Pasal 28. Pasal 210 (1) Penyelenggaraan pendidikan di wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia oleh perseorangan. Pasal 139. dan Pasal 127 serta pendidikan berbasis keunggulan lokal sebagaimana dimaksud dalam Pasal 129 dan Pasal 131 dikenakan sanksi administratif berupa teguran tertulis hingga pencabutan izin sebagai satuan pendidikan bertaraf internasional atau satuan pendidikan berbasis keunggulan lokal oleh Pemerintah atau pemerintah daerah sesuai kewenangannya. Pasal 126. Pasal 30. Pasal 211 Satuan pendidikan yang melanggar ketentuan tentang pengelolaan pendidikan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 25. Pasal 134.

wajib menyesuaikan dengan Peraturan Pemerintah ini selambat-lambatnya 3 tahun sejak Peraturan Pemerintah ini berlaku. dan/atau pemberhentian dengan tidak hormat dari jabatannya. penundaan kenaikan gaji berkala. peraturan perundangundangan yang terkait dengan penyelenggaraan pendidikan dinyatakan masih tetap berlaku sepanjang tidak bertentangan dan belum diganti berdasarkan Peraturan Pemerintah ini.doc 126 . (2) BAB XVII KETENTUAN PERALIHAN Pasal 214 Sekolah internasional. 76461668.pendidikan oleh Pemerintah atau atau pemerintah daerah kewenangannya sesuai Pasal 212 (1) Perseorangan atau kelompok anggota dewan pendidikan atau komite sekolah/madrasah yang melanggar ketentuan Pasal 190 dikenakan sanksi administratif berupa teguran tertulis oleh Pemerintah atau sesuai kewenangannya Perseorangan atau kelompok anggota dewan pendidikan atau komite sekolah/madrasah yang dalam menjalankan tugasnya melampaui kewenangan atau fungsi/perannya sebagaimana diatur dalam Pasal 175. sekolah yang dinyatakan oleh pendirinya sebagai sekolah bertaraf internasional. atau satuan pendidikan sejenis yang telah ada sebelum berlakunya Peraturan Pemerintah ini. pembebasan dari jabatan. dan Pasal 184 dikenakan sanksi administratif berupa teguran tertulis oleh Pemerintah atau sesuai kewenangannya Pasal 213 Perseorangan atau kelompok pegawai Pemerintah atau sesuai kewenangannya yang melanggar atau melalaikan ketentuan yang diatur dalam Pasal 192 atau menggunakan kewenangannya yang melampaui peraturan perundang-undangan dikenakan sanksi administratif berupa teguran tertulis. Pasal 215 Pada saat berlakunya Peraturan Pemerintah ini. pemberhentian dengan hormat. penundaan kenaikan pangkat.

Pasal 217 Pada saat mulai berlakunya Peraturan Pemerintah ini: a. f. e. c. d. Peraturan Pemerintah Nomor 27 Tahun 1990 tentang Pendidikan Prasekolah (Lembaran Negara Tahun 1990 Nomor 35. Tambahan Lembaran Negara Nomor 3411). Tambahan Lembaran Negara Nomor 3461). Tambahan Lembaran Negara Nomor 3412).BAB XVIII KETENTUAN PENUTUP Pasal 216 Semua peraturan perundang-undangan yang diperlukan untuk melaksanakan Peraturan Pemerintah ini harus diselesaikan paling lambat 2 (dua) tahun terhitung sejak diberlakukan Peraturan Pemerintah ini. Peraturan Pemerintah Nomor 72 Tahun 1991 tentang Pendidikan Luar Biasa (Lembaran Negara Tahun 1991 Nomor 34. 76461668. Peraturan Pemerintah Nomor 73 Tahun 1991 tentang Pendidikan Pendidikan Luar Sekolah (Lembaran Negara Tahun 1991 Nomor 95. Peraturan Pemerintah Nomor 28 Tahun 1990 tentang Pendidikan Dasar (Lembaran Negara Tahun 1990 Nomor 36. sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Pemerintah Nomor 56 Tahun 98 tentang Perubahan atas Peraturan Pemerintah Nomor 29 Tahun 1990 (Lembaran Negara Tahun 1998 Nomor 91. Tambahan Lembaran Negara Nomor 3460). sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Pemerintah Nomor 55 Tahun 98 tentang Perubahan atas Peraturan Pemerintah Nomor 28 Tahun 1990 (Lembaran Negara Tahun 1998 Nomor 90. Peraturan Pemerintah Nomor 38 Tahun 1992 tentang Tenaga Kependidikan (Lembaran Negara Tahun 1992 Nomor 68. Tambahan Lembaran Negara Nomor 3763).doc . Tambahan Lembaran Negara Nomor 3413). Tambahan Lembaran Negara Nomor 3484). Peraturan Pemerintah Nomor 29 Tahun 1990 tentang Pendidikan Menengah (Lembaran Negara Tahun 1990 Nomor 37. sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Pemerintah Nomor 39 Tahun 2000 tentang Perubahan atas Peraturan 127 b. Tambahan Lembaran Negara Nomor 3764).

H..TAHUN 2007 76461668..... Peraturan Pemerintah Nomor 39 Tahun 1992 tentang Peranserta Masyarakat dalam Pendidikan Nasional (Lembaran Negara Tahun 1992 Nomor 69. Ditetapkan di Jakarta Pada tanggal .... PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA DR. dinyatakan tidak berlaku..... h..doc 128 . Pasal 218 Peraturan Pemerintah ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan. Tambahan Lembaran Negara Nomor 3974)... Tambahan Lembaran Negara Nomor 3485). memerintahkan pengundangan Peraturan Pemerintah ini dengan menempatkannya dalam Lembaran Negara Republik Indonesia. Agar setiap orang mengetahuinya... Tambahan Lembaran Negara Nomor 3859)...... SUSILO BAMBANG YUDHOYONO Ditetapkan di Jakarta Pada tanggal . g. Peraturan Pemerintah Nomor 60 Tahun 1999 tentang Pendidikan Tinggi (Lembaran Negara Tahun 1999 Nomor 115.. MENTERI HUKUM DAN HAK AZASI MANUSIA ANDI MATALATTA LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA NOMOR….Pemerintah Nomor 38 Tahun 1992 (Lembaran Negara Tahun 2000 Nomor 91.

jenjang. peserta didik. keterbukaan telah menjadi karakteristik kehidupan yang demokratis. tujuan. Tanggung jawab pendidikan merupakan tanggung jawab bersama Pemerintah. pengawasan. dan jenis pendidikan harus berlangsung secara sinergis. Parameter kualitas pendidikan. peranserta masyarakat. baik dilihat dari segi pasokan. bahasa pengantar. diharapkan dunia pendidikan di Indonesia dapat merespon dan mengimbangi perubahan-perubahan ini secara proporsional. dan hasil pendidikan selalu berubah. dan hal ini membawa dampak pada cepat usangnya kebijakan maupun praksis pendidikan. Perkembangan ini. menyebabkan batas-batas negara menjadi semakin maya.doc 129 . Untuk mencapai sinergi tersebut pengaturan tentang fungsi. Pendekatan yang sama berlaku pula dalam pengaturan penyelenggaraan pendidikan pada masing-masing satuan pendidikan. sementara seorang “futurist” di era globalisasi hanya mereka yang memiliki ilmu 76461668. mengisyaratkan bahwa penyelenggaraan pendidikan pada semua jalur. Dunia pendidikan khususnya dan tantangan masa depan umumnya telah berubah dan berkembang sedemikian cepatnya.. pendidikan harus secara terus-menerus perlu ditingkatkan kualitasnya. melalui sebuah pembaruan yang dapat dipertanggungjawabkan kepada publik (stakeholders) agar mampu mempersiapkan generasi penerus bangsa sejak dini sehingga memiliki unggulan kompetitif dalam tatanan kehidupan nasional dan global. Dalam era globalisasi dan informasi saat ini. syarat pendirian. manajemen. proses. TENTANG PENGELOLAAN DAN PENYELENGGARAAN PENDIDIKAN I.PENJELASAN ATAS PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR …… TAHUN …. dan sanksi perlu diatur dalam satu kesatuan sistem pendidikan yang komprehensif. masyarakat dan orang tua. bentuk dan jenis pendidikan. Pendidikan merupakan suatu proses yang dinamik sesuai dengan perubahan masyarakat dan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. (2) era global isasi informasi yang muncul di awal milenium ke tiga. Oleh sebab itu. sarana dan prasarana. yang ditandai dengan (1) perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang sangat cepat. UMUM Visi sistem pendidikan nasional sabagai pranata sosial yang kuat dan berwibawa untuk memberdayakan semua warga negara Indonesia agar berkembang menjadi manusia yang berkualitas sehingga mampu dan proaktif menjawab tantangan zaman yang selalu berubah.

pendidikan tinggi. dan 53 Undang-Undang Nomor 20 Tentang Sistem Pendidikan Nasional menjelaskan antara lain bahwa pengelolaan sistem pendidikan nasional merupakan tanggung jawab Menteri Pendidikan Nasional yang menentukan kebijakan nasional dan standar nasional pendidikan untuk menjamin mutu pendidikan nasional. pendidikan menengah. suatu contoh nyata dari keadaan ini adalah bermunculannya “cabang” sekolah luar negeri di kotakota besar di Indonesia. dan sertifikasi. pendidikan informal. Pemerintah Provinsi. 51. dan ketentuan pidana. pendidikan kedinasan. peranserta masyarakat dalam pendidikan. Pengaturan tentang Standar Nasional Pendidikan. Pemerintah Kabupaten/Kota. serta satuan pendidikan yang berbasis keunggulan lokal. Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional menetapkan komponen sistem pendidikan yang perlu diatur mencakup pendidikan anak usia dini. jaminan mutu. Untuk mengantisipasi serta merespon pengaruh dari faktor-faktor tersebut. pendidikan nonformal. perlu dibuat suatu peraturan perundangan tentang pengelolaan dan penyelenggaraan pendidikan yang resposif dan akurat untuk meminimalkan dampak negatif serta memaksimalkan dampak positifnya terhadap sistem pendidikan nasional. Perguruan tinggi menentukan kebijakan dan memiliki otonomi dalam mengelola pendidikan di lembaganya. Sedangkan lingkup pengaturan dalam Peraturan Pemerintah ini mencakup Pengelolaan dan Penyelenggaraan pendidikan berdasarkan jenjang dan jenis pendidikan serta berdasarkan fungsi dalam sistem pendidikan nasional. Pengaturan selanjutnya adalah mengenai penyelenggaraan wajib belajar. dan pendidikan khusus dan pendidikan layanan khusus. pendidikan dasar. Lingkup pengaturan tentang pengelolaan pendidikan mencakup ketentuan tentang pengelolaan oleh Pemerintah. Pemerintah Provinsi melakukan koordinasi atas penyelenggaraan pendidikan. dan pengeloaan oleh badan hukum pendidikan.pengetahuan dan teknologi lebih banyak dan mumpuni yang akan memenangkan persaingan global. Pengelolaan satuan pendidikan anak usia dini. evaluasi. pengawasan. Pendidikan Kedinasan. pengembangan tenaga kependidikan. pemerintah daerah. Pemerintah Kabupaten/Kota mengelola pendidikan dasar dan pendidikan menengah. Wajib Belajar. Pengelolaan pendidikan dalam rangka peningkatan 76461668. pendidik dan tenaga kependidikan. penyelenggaraan pendidikan oleh lembaga negara asing. dan pendidikan menengah dilaksanakan berdasarkan standar pelayanan minimal dengan prinsip manajemen berbasis sekolah/madrasah. dan penyediaan fasilitas penyelenggaraan pendidikan lintas daerah kabupaten/kota untuk tingkat pendidikan dasar dan menengah. pendidikan dasar. Pengelolaan satuan pendidikan tinggi dilaksanakan berdasarkan prinsip otonomi. pendidikan keagamaan. Standar Nasional Pendidikan.doc 130 . dan/atau masyarakat. 52. sarana dan prasarana pendidikan. akuntabilitas. akreditasi. dan Pendanaan Pendidikan diatur secara tersendiri. AFTA menyebabkan terbukanya peluang bagi negara asing untuk menyelenggarakan pendidikan di Indonesia. pengelolaan pendidikan. Pemerintah dan/atau pemerintah daerah menyelenggarakan paling sedikit satu satuan pendidikan pada semua jenjang pendidikan untuk dikembangkan menjadi satuan pendidikan yang bertaraf internasional. pendidikan jarak jauh. kurikulum. Pasal 50. Pengelolaan satuan pendidikan nonformal dilakukan oleh Pemerintah. pendanaan pendidikan. pendirian satuan pendidikan. (3) munculnya organisasi internasional seperti WTO. dan evaluasi yang transparan.

Landasan akademik dalam pengaturan tentang pengelolaan dan penyelenggaraan pendidikan pada masing-masing jalur. Lingkup pengaturan tentang penyelenggaraan pendidikan mencakup ketentuan tentang fungsi dan tujuan. sikap. dan penghargaan terhadap peranserta seluruh komponen pendidikan. PAUD diselenggarakan dalam upaya membantu meletakkan dasar perkembangan anak sebelum memasuki pendidikan dasar. pendidikan berbasis keunggulan lokal. bentuk satuan pendidikan. izin pendirian. dan dari masyarakat. Para ahli perkembangan anak berpendapat bahwa masa 0 (nol) sampai dengan 6 (enam) tahun pertama dalam kehidupan seorang manusia merupakan masa di mana perkembangan fisik dan motorik. penghargaan pada keunikan setiap anak. pendidikan bertaraf internasional. untuk. pendidikan jarak jauh. bencana sosial. dan tidak mampu dari segi ekonomi. pendidikan lintas jalur dan satuan pendidikan. pendidikan nonformal dan informal. a. memberikan perhatian khusus kepada peserta didik berkelainan dan peserta didik di daerah terpencil atau terbelakang. Pendidikan dasar dan menengah. Bagi anak yang memperoleh pendidikan. dan jenis pendidikan adalah sebagai berikut. b. Filosofi dasar PAUD adalah menciptakan lingkungan belajar yang mendorong terbangunnya harga diri yang positif pada anak. stimulasi diberikan juga agar anak dapat mempersiapkan diri memasuki pendidikan dasar dengan lebih baik. pendidikan oleh negara asing. 76461668. dan penguatan peran Dewan Pendidikan di tingkat nasional. Usia dini merupakan masa peka untuk menerima stimulasi dan sangat menentukan bagi perkembangan selanjutnya.doc 131 . dengan mengedepankan nilai-nilai anti diskriminasi. nilai-nilai. dan kabupaten. serta pengutan pean Komite Sekolah/Madrasah. serta kepada masyarakat adat yang terpencil dan/atau mengalami bencana alam. baik orang tua dan keluarganya maupun masyarakat lain.partisipasi masyarakat dalam penyelenggaraan pendidikan mencakup penguatan prinsip penyelenggaraan pendidikan oleh. provinsi. bahkan cara-cara belajar anak mulai mengambil bentuk dasarnya. dan cenderung menetap sampai usia dewasa. Pada kenyataannya sejumlah besar studi mendukung anggapan ini dan mengungkapkan bahwa masa inilah sejumlah besar kemampuan berbahasa. peserta didik. pengutamaan pada kebutuhan anak. pendidikan khusus dan pendidikan layanan khusus pada semua jenjang dan jenis pendidikan. hak untuk mendapatkan beasiswa bagi yang berprestasi. Keterampilan-keterampilan tersebut merupakan keterampilan dasar yang harus dikembangkan secara optimal agar potensi yang ada pada anak tidak hilang percuma. intelektual maupun sosial berlangsung dengan sangat pesatnya sehingga seringkali disimpulkan bahwa keberhasilan pada masa ini menentukan seluruh masa depan seorang anak. Penyelenggaraan pendidikan perlu memberikan perhatian kepada hak peserta didik untuk mendapatkan pendidikan agama sesuai dengan agama yang dianutnynya dan diajar oleh pendidik yang seagama. Keterampilan-keterampilan tersebut tidak terjadi secara alamiah tetapi harus didukung oleh lingkungan. jenjang. Pendidikan anak usia dini (PAUD).

pendidikan anak usia dini. Kenyataan tersebut ditambah pula dengan beberapa hasil penelitian yang menemukan bahwa ada hubungan positif antara kemajuan suatu negara dengan peningkatan peranserta masyarakat dalam pendidikan. serta ilmu agama. Pendidikan tinggi merupakan salah satu pilar penting dalam sistem pendidikan nasional yang bertujuan mengembangkan peserta didik agar memiliki kemampuan akademik. Untuk itulah maka Undang-Undang mengamanatkan bahwa Pemerintah dan/atau pemerintah daerah menyelenggarakan sekurangkurangnya 1 (satu) satuan pendidikan pada semua jenjang pendidikan untuk dikembangkan menjadi satuan pendidikan yang bertaraf internasional. Disamping itu. Kinerja perguruan tinggi dalam menyelenggarakan pendidikan tinggi menjadi salah satu katalisator tinggi rendahnya kualitas sumber daya manusia yang sering dinyatakan sebagai tingkat perkembangan SDM atau Human Development Index (HDI). pendidikan pemberdayaan perempuan. Pendidikan nonformal meliputi pendidikan kecakapan hidup. Pendidikan tinggi. pendidikan kesetaraan. pendidikan keaksaraan. di semua bidang ilmu pengetahuan. pendidikan kepemudaan. Peranserta masyarakat dalam penyelenggaraan perguruan tinggi dalam bentuk badan hukum penyelenggara adalah sebagai fasilitator yang bukan merupakan bagian dari perguruan tinggi. Kedudukan perguruan tinggi yang diselenggarakan Pemerintah atau yang diselenggarakan masyarakat adalah sama. Dalam konteks pengelolaan perguruan tinggi dengan status badan hukum. Pemerintah dan masyarakat memiliki kewajiban untuk memfasilitasi semua perguruan tinggi dalam bentuk pendanaan atau kebutuhan lainnya (termasuk bantuan pegawai negeri). peran Pemerintah secara bertahap akan beralih dari penyelenggara menjadi fasilitator dan pengelola perguruan tinggi menjadi berbasis masyarakat. Salah satu indikator yang menunjukkan hal ini adalah meningkatnya kesadaran masyarakat tentang arti pentingnya pendidikan bagi putra-putri mereka.Peraturan Pemerintah tentang pendidikan dasar dan menengah cukup strategis untuk dikembangkan mengingat posisi ketenagakerjaan di Indonesia yang pada umumnya baru mencapai pendidikan menengah ke bawah. dan/atau vokasi. Aspek lain yang tidak kalah pentingnya adalah meningkatnya peranserta masyarakat dalam pembangunan pendidikan. kursus dan pelatihan. c. teknologi dan/atau seni . Peran pemerintah dalam penentuan kebijakan umum perguruan tinggi akan ditentukan berdasarkan besarnya keterlibatan Pemerintah antara lain: besarnya dana untuk kepentingan perguruan yang dianggarkan dan disalurkan kepada pendidikan tinggi. d. Peran Pemerintah dalam pengendalian mutu maupun pengawasan terhadap jalannya perguruan tinggi yang dilakukan melalui lembaga umum dan Pemerintah. profesi.doc 132 . Pendidikan nonformal dan pendidikan informal. serta pendidikan sejenis lainnya yang ditujukan untuk mengembangkan kemampuan peserta didik dalam memenuhi hak 76461668. tetap besar. Pemerintah Kabupaten/Kota mengelola satuan pendidikan yang berbasis keunggulan lokal. Kewajiban Pemerintah terhadap semua perguruan tinggi yang sangat penting ialah sebagai pengendali mutu perguruan tinggi.

nilai budaya. Oleh karena itu. yaitu mencerdaskan kehidupan bangsa. tutorial. Program pendidikan nonformal yang berorientasi pada kursus dan pelatihan keterampilan merupakan jembatan antara pendidikan formal dan dunia kerja. Kondisi geografis.doc 133 . Agar biaya penyelenggaraan pendidikan jarak jauh berbasis teknologi informasi dan komunikasi menjadi murah. sehingga dapat memberikan kontribusi terhadap perluasan lapangan kerja dan penurunan pengangguran/kemiskinan. dan ujian harus dirancang sedemikan rupa untuk mengatasi hambatan jarak dan waktu dan dapat diakses oleh peserta didik setiap saat. tantangan globalisasi. f. dan efisiensi pada semua jalur. Pendidikan jarak jauh. Hasil pendidikan informal dapat diakui sama dengan hasil pendidikan formal dan nonformal setelah mengikuti Ujian Nasional dan/atau uji kompetensi sesuai dengan Standar Nasional Pendidikan. Pendidikan informal merupakan pengalaman berharga bagi setiap individu sesuai dengan kesempatan. layanan pendidikan jarak jauh diselenggarakan dengan memanfaatkan media belajar melalui teknologi telekomunikasi. perkembangan teknologi komunikasi. adil dan bermutu sebagai perwujudan dari salah satu tujuan nasional. minat. Pendidikan informal adalah jalur pendidikan yang dilakukan oleh keluarga dan lingkungan dalam bentuk kegiatan belajar mandiri. dan media lain.setiap warga negara untuk memperoleh pendidikan yang merata. Tuntutan atas peran strategis pendidikan sebagai suatu pranata sosial yang kuat dan berwibawa untuk mewujudkan tujuan nasional khususnya dalam mencerdaskan kehidupan bangsa telah mendorong pemanfaatan sistem pendidikan jarah jauh sebagai komponen dari sistem pendidikan nasional. e. pendidikan khusus masih menghadapi tantangan berat yang meliputi persoalan-persoalan yang terkait dengan: (a) perluasan kesempatan belajar bagi peserta didik yang membutuhkan pendidikan khusus. dan fisik bagi peserta didik agar dapat belajar sambil bekerja. distribusi bahan ajar mandiri. media. dan (d) efisiensi. nilai moral estetika dan etika serta memberikan pengetahuan. mutu. Dalam era globalisasi. perhatian. Pendidikan informal berfungsi untuk memberikan keyakinan agama. atau menjalankan fungsi kerumahtanggaan bagi ibu rumah tangga. tingkat laju pertumbuhan penduduk. dan keterampilan peserta didik dalam rangka mencapai tujuan pendidikan nasional. psikologis. (c) relevansi. tingkat dan jenis pendidikan. dan informatika (telematika). serta pengalaman dalam penyelenggaraan pendidikan jarak jauh menjadi pertimbangan utama dalam penerapan sistem pendidikan jarak jauh untuk meningkatkan akses. untuk membentuk kemampuan dan keahlian yang lebih bermutu. relevansi. waktu. (b) peningkatan mutu. 76461668. maka produksi bahan ajar mandiri dan layanan akademiknya harus dirancang berdasarkan prinsip industrialisasi masal. informasi. yaitu untuk melayani peserta didik dalam jumlah besar. dan bakatnya. Sistem pendidikan jarak jauh ditujukan untuk meningkatkan pemerataan akses terhadap pendidikan bermutu terutama untuk mengatasi hambatan jarak. Pendidikan khusus dan pendidikan layanan khusus. Sistem operasional pendidikan jarak jauh yang mencakup layanan registrasi.

(c) penyelenggaraan tingkat khusus. 76461668. dan informal yang saling melengkapi dan memperkaya. Selain itu.Kesungguhan pendidikan khusus dalam mengatasi tantangan-tantangan tersebut akan mencerminkan kehidupan berbangsa dan bernegara secara demokratis yang tidak membedakan satu sama lain. Tantangan dalam perluasan kesempatan belajar perlu segera dijawab melalui kebijakan dan strategi perluasan kesempatan belajar bagi peserta didik yang membutuhkan pendidikan khusus dengan berbagai cara/pendekatan melalui: (a) perintisan dan pengembangan pendidikan terpadu. (b) perintisan dan pengembangan pendidikan inklusi. pendidikan khusus dapat diselenggarakan melalui jalur formal. di samping (e) penyelenggaraan sekolah khusus.doc 134 . nonformal.

Untuk menjaga keutuhan sistem pendidikan nasional. dan pembangunan sumberdaya lokal maupun nasional. Satuan pendidikan dasar dan menengah berbasis keunggulan lokal menghasilkan lulusan yang memiliki kemampuan mengolah dan/atau mengembangkan sumber daya lingkungan di daerahnya dan menghasilkan produk yang mempunyai nilai ekonomis serta menunjang pelestarian. Lembaga pendidikan asing 76461668. Penyelenggaraan Pendidikan oleh Negara Lain dan Kerjasama Satuan Pendidikan Indonesia dengan Satuan Pendidikan Negara Lain.g. teknologi. juga harus mampu memberdayakaan sumberdaya dan potensi lokal dalam semangat otonomi daerah. Salah satu dampak dari kehidupan global dan penggunaan teknologi informasi dan komunikasi adalah terbukanya akses dari dan ke negara Indonesia. dan seni. Pendidikan bertaraf internasional dan berbasis keunggulan lokal. dan promosi keunggulan lokal. Tata kehidupan dalam era global abad ke 21 yang ditandai dengan dominasi penggunaan kaedah-kaedah teknologi informasi dan komunikasi dan kompetisi terbuka menuntut persyaratan kompetensi profesional yang berlaku secara internasional. pengembangan. Satuan pendidikan dasar dan menengah yang dikembangkan menjadi bertaraf internasional diselenggarakan dengan mengacu pada Standar Nasional Pendidikan yang diperkaya dengan standar pendidikan/standar kompetensi negara maju dalam bidang ilmu pengetahuan. Perwakilan negara asing dapat menyelenggarakan pendidikan di wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia untuk warga negaranya dapat menggunakan ketentuan yang berlaku di negara yang bersangkutan atas persetujuan Pemerintah Republik Indonesia. pengembangan. Dampak positifnya adalah dapat memperkaya khasanah pendidikan nasional baik melalui pendirian satuan pendidikan internasional oleh negara lain maupun melalui kerjasama dengan satuan pendidikan di Indonesia.doc 135 . selain diarahkan pada upaya memenuhi kebutuhan kehidupan global. UU Sisdiknas mengamanatkan kepada pemerintah dan pemerintah daerah berkewajiban untuk mengembangkan paling sedikit satu satuan pendidikan pada setiap jenis dan jenjang pendidikan menjadi satuan pendidikan berfaraf internasional dan satuan pendidikan berbasis keunggulan lokal. penyelenggaraan pendidikan oleh negara lain ataupun kerjasama penyelenggaraan pendidikan asing perlu mendapat pengaturan secara tegas. Di pihak lain upaya untuk melaksanakan pembangunan nasional. serta menunjang pelestarian. Dalam rangka pelaksnaan pembangunan nasional sesuai dengan tuntuan kehidupan global dan pendayagunaan sumberdaya daerah secara optimal. termasuk dalam hal penyelenggaraan pendidikan. h. Satuan pendidikan dasar dan menengah yang dikembangkan menjadi berbasis keunggulan lokal diselenggarakan dengan mengacu pada Standar Nasional Pendidikan yang diperkaya dan dikembangkan sesuai dengan potensi daerah/karakteristik daerah dan sosial budaya masyarakat setempat. Satuan pendidikan dasar dan menengah bertaraf internasional menghasilkan lulusan yang memiliki kemampuan dan daya saing di forum internasional.

yang terakreditasi atau yang diakui di negaranya dapat menyelenggarakan pendidikan bagi warga negara asing maupun warga negara Indonesia. sikap dan nilai berdasarkan standar nasional dan global. konseling dan layanan serta melakukan penelitian dan pengabdian kepada masyarakat. pengawasan. j. Peranserta masyarakat dalam pendidikan. menilai hasil pembelajaran. pengembangan. pendidikan kewarganegaraan. Seiring dengan semangat demokratisasi dan pelaksanaan otonomi daerah. Pendidik dan tenaga kependidikan dapat bekerja secara lintas daerah. keterampilan. Pemerintah dan pemerintah daerah wajib memfasilitasi satuan pendidikan dengan pendidik dan tenaga kependidikan yang diperlukan untuk menjamin terselenggaranya pendidikan yang bermutu. i. Penyelenggara pendidikan oleh masyarakat berkewajiban membina dan mengembangkan tenaga kependidikan pada satuan pendidikan yang diselenggarakannya. Promosi dan penghargaan bagi pendidik dan tenaga kependidikan dilakukan berdasarkan latar belakang pendidikan. Pola penyelenggaraan pendidikan yang selama ini cenderung terpusat pada Pemerintah mengakibatkan kurangnya peranserta masyarakat. terutama bagi pendidik pada perguruan tinggi. diperlukan pendidik dan tenaga kependidikan yang profesional.doc 136 . Pemerintah dan pemerintah daerah wajib membantu pembinaan dan pengembangan tenaga kependidikan pada satuan pendidikan formal yang diselenggarakan oleh masyarakat. Pengangkatan. dan prestasi kerja dalam bidang pendidikan. melakukan pembimbingan dan pelatihan. dan pemberhentian pendidik dan tenaga kependidikan diatur oleh lembaga yang mengangkatnya berdasarkan kebutuhan satuan pendidikan formal. pengalaman. penempatan. Pemerintah dan pemerintah daerah wajib membina dan mengembangkan tenaga kependidikan pada satuan pendidikan yang diselenggarakan oleh Pemerintah dan pemerintah daerah. Tenaga kependidikan selain pendidik bertugas melaksanakan administrasi. reformasi dalam bidang pendidikan harus mencakup upaya pemberdayaan 76461668. pengalaman. Untuk menjadikan lembaga pendidikan sebagai pusat pembudayaan ilmu pengetahuan. dan bahasa Indonesia kepada peserta didik warga negara Indonesia. Pendidik dan tenaga kependidikan. Pendidik dan tenaga kependidikan merupakan salah satu unsur pokok dalam proses penjaminan mutu pendidikan. penyebaran. Penyelenggaraan pendidikan oleh lembaga asing yang menerima peserta didik warga negara Indonesia wajib memberikan pendidikan agama. masyarakat dan keluarga sebagai perwujudan dari tatanan kehidupan masyarakat madani. kemampuan. Penyelenggaraan pendidikan tersebut harus bekerja sama dengan lembaga penyelenggara pendidikan Indonesia. Visi sistem pendidikan nasional sebagai pranata sosial yang kuat dan berwibawa menyiratkan kemitraan dalam penyelenggaraan pendidikan oleh semua komponen bangsa yaitu Pemerintah. pengelolaan. Pendidik merupakan tenaga profesional yang bertugas merencanakan dan melaksanakan proses pembelajaran. dan pelayanan teknis untuk menunjang proses pendidikan pada satuan pendidikan. Bahasa pengantar utama pada satuan pendidikan yang diselenggarakan oleh lembaga pendidikan asing adalah bahasa Indonesia. dan bahkan dapat mematikan inisiatif masyarakat dalam penyelenggaraan pendidikan.

II. Penyelengaraan pendidikan berbasis masyarakat merupakan perwujudan dari prinsip pendidikan yang diselenggarakan oleh. Ayat (3) Manajemen Berbasis Sekolah/Madrasah adalah bentuk otonomi satuan pendidikan. 76461668. Pasal 3 Cukup jelas. dan dari masyarakat. Pasal 4 Cukup jelas. untuk. Pasal 2 Cukup jelas. Ayat (2) Pengelolaan satuan pendidikan yang dilakukan oleh Menteri lain atau kepala lembaga pemerintahan non departemen sebagaimana dimaksud dalam pasal ini adalah dalam rangka melaksanakan amanat UU. Sedangkan pembentukan dewan pendidikan dan komite sekolah/madrasah atau nama lain yang sejenis merupakan perwujudan dari kemitraan masyarakat dalam pengelolaan pendidikan bersama penyelenggara pendidikan baik di tingkat pengambil keputusan pada lembaga eksekutif dan legislatif maupun pada tingkat satuan pendidikan. Pasal 5 Ayat (1) Cukup jelas. dan kewajiban negara dalam rangka peningkatan keselamatan manusia serta kesepakatan dengan organisasi internasional. konvensi internasional. provinsi.peranserta masyarakat baik dalam penyelenggaraan pendidikan berbasis masyarakat maupun dalam pengelolaan pendidikan melalui pembentukan dewan pendidikan di tingkat nasional. yaitu pendidikan yang diselenggarakan oleh masyarakat sebagai pemenuhan atas ciri khas yang berkenaan dengan nilai-nilai sosial dan kultural pada masyarakat tertentu. dan kabupaten/kota serta pembentukan komite sekolah/madrasah di tingkat satuan pendidikan.doc 137 . PASAL DEMI PASAL Pasal 1 Cukup jelas. Dalam hal ini kepala sekolah/madrasah dan guru dibantu komite sekolah/madrasah atau nama lain yang sejenis/madrasah dalam mengelola sekolah/madrasah.

Cukup jelas Huruf c.doc 138 . Pasal 10 Cukup jelas. kreatif produktif.Ayat (4) Cukup jelas Pasal 6 Cukup jelas. Ayat (2) Huruf a. Cukup jelas 76461668. dan psikomotorik/olahraga. Cukup jelas Huruf d. Pasal 7 Cukup jelas. Pasal 11 Ayat (1) Cukup jelas. psikososial/kepemimpinan. Pasal 8 Cukup jelas. akademik khusus. Cukup jelas Huruf b. seni kinestetik. Ayat (2) Cukup jelas. Pasal 9 Ayat (1) Potensi kecerdasan dan bakat istimewa meliputi bidang intelektual umum.

Ayat (2) Cukup jelas.Huruf e. Pasal 13 Ayat (1) Cukup jelas. 76461668. Cukup jelas Huruf i. Pasal 12 Cukup jelas. Huruf f. Ayat (4) Cukup jelas.doc 139 . Cukup jelas Ayat (3) Cukup jelas. Koordinasi dan mensupervisi pengembangan kurikulum untuk MA dan MAK dilakukan oleh Kantor Wilayah Departemen Agama Provinsi. Pasal 14 Cukup jelas. Pasal 15 Cukup jelas. Ayat (3) Cukup jelas. Cukup jelas Huruf h. Cukup jelas Huruf g.

Ayat (2) Huruf a. Cukup jelas Huruf b.Pasal 16 Ayat (1) Cukup jelas. Cukup jelas Huruf g. Cukup jelas Huruf c. Koordinasi dan mensupervisi pengembangan kurikulum untuk MI dan MTs dilakukan oleh Kantor Departemen Agama Kabupaten/Kota Huruf h. Cukup jelas Huruf f. Cukup jelas Huruf d. Cukup jelas Huruf j. Cukup jelas Huruf k. Cukup jelas Huruf e.doc 140 . 76461668. Cukup jelas Huruf i. Cukup jelas Huruf l.

proses. serta pencapaian target pembangunan pendidikan nasional. pengelolaan. tenaga kependidikan. pembiayaan. kompetensi lulusan.Cukup jelas Ayat (3) Standar pelayanan minimal merupakan batas minimal pemenuhan standar isi. Pasal 24 Cukup jelas. Pasal 17 Cukup jelas. Pasal 22 Cukup jelas. Pasal 18 Cukup jelas. Pasal 19 Cukup jelas. dan penilaian pendidikan yang harus dipenuhi oleh setiap satuan pendidikan dasar dan menengah. Pasal 21 Cukup jelas. Pasal 25 Ayat (1) Cukup jelas Ayat (2) huruf a Cukup jelas Huruf b 76461668.doc 141 . sarana dan prasarana. Pasal 23 Cukup jelas. Pasal 20 Cukup jelas.

doc 142 .Cukup jelas Huruf c Cukup jelas huruf d Apabila pendidikan dasar dikembangkan oleh Pemerintah Provinsi menjadi bertaraf internasional. maka laporan penyelenggaraannya disampaikan kepada Pemerintah Provinsi. huruf e Cukup jelas Huruf f Cukup jelas Pasal 26 Ayat (1) Cukup jelas Ayat (2) Huruf a Cukup jelas Huruf b Cukup jelas Huruf c Cukup jelas Huruf d Apabila pendidikan menengah dikembangkan oleh Pemerintah Provinsi menjadi bertaraf internasional. maka laporan penyelenggaraannya disampaikan kepada Pemerintah Provinsi. Huruf e Cukup jelas Huruf f Cukup jelas 76461668.

Pasal 30 Cukup jelas. Pasal 32 Cukup jelas. Ayat (3) Cukup jelas Pasal 35 Cukup jelas. Pasal 29 Cukup jelas.Pasal 27 Cukup jelas.doc 143 . Pasal 33 Cukup jelas. Ayat (2) Cukup jelas. Pasal 31 Cukup jelas. Pasal 36 Ayat (1) Cukup jelas Ayat (2) 76461668. Pasal 34 Ayat (1) Bentuk lain yang sederajat antara lain Tarbiyatul Athfal (TA). Pasal 28 Cukup jelas. Taman Kanak-kanak Al-Qur’an (TKQ). Taman Pendidikan AlQur’an (TPQ). dan Adi Sekha.

pramembaca. Program pembelajaran agama dan akhlak mulia pada TK. 76461668. atau bentuk lain yang sederajat dimaksudkan untuk mempersiapkan peserta didik secara akademik memasuki SD. RA. Ayat (2) Huruf a. tidak memaksa. MI. Ayat (3) Cukup jelas. Huruf c. baik di dalam maupun di luar sekolah. atau bentuk lain yang sederajat dengan menekankan pada penyiapan kemampuan berkomunikasi dan berlogika melalui berbicara. pramenulis dan praberhitung yang harus dilaksanakan secara hati-hati. mendengarkan. dan menyenangkan sehingga anak menyukai belajar. RA.doc 144 . Program pembelajaran pengetahuan dan teknologi pada TK. atau bentuk lain yang sederajat dimaksudkan untuk peningkatan potensi spiritual peserta didik melalui contoh pengamalan dari pendidik agar menjadi kebiasaan sehari-hari. Huruf b. sehingga menjadi bagian dari budaya sekolah. Program pembelajaran sosial dan kepribadian pada TK. RA. Ayat (4) Cukup jelas Pasal 37 Ayat (1) Cukup jelas. atau bentuk lain yang sederajat dimaksudkan untuk pembentukan kesadaran dan wawasan peserta didik atas hak dan kewajibannya sebagai warga masyarakat dan dalam interaksi sosial serta pemahaman terhadap diri dan peningkatan kualitas diri sebagai manusia sehingga memiliki rasa percaya diri.Ketentuan ini tidak berlaku bagi satuan pendidikan yang secara khusus dirancang untuk melayani peserta didik dari kelompok gender atau agama tertentu.

76461668. pendidikan diniyah dasar. RA atau bentuk lain yang sederajat dimaksudkan untuk meningkatkan potensi fisik dan menanamkan sportivitas serta kesadaran hidup sehat dan bersih. olahraga dan kesehatan pada TK. saudara. Program pembelajaran estetika pada TK. dan Majjhima Sekha.Huruf d. Pasal 38 Cukup jelas. Bentuk lain yang sederajat dengan SMP dan MTs antara lain Paket B. dan teman. Ayat (6) Stimulasi psikososial adalah rangsangan pendidikan yang menumbuhkan kepekaan memahami dan bersikap terhadap lingkungan sosial sekitarnya. Huruf e. Ayat (5) Cukup jelas. pendidikan diniyah menengah pertama. Program pembelajaran jasmani. RA atau bentuk lain yang sederajat dimaksudkan untuk meningkatkan sensitivitas. kemampuan mengekspresikan diri dan kemampuan mengapresiasi keindahan dan harmoni yang terwujud dalam tingkah laku keseharian. dan Culla Sekha.doc 145 . Pasal 39 Ayat (1) Bentuk lain yang sederajat dengan SD dan MI antara lain Paket A. Ayat (3) Cukup jelas. Adi Vidyalaya (AV). Madyama Vidyalaya (MV). Misalnya memahami dan bersikap sopan kepada orang tua. Ayat (4) Cukup jelas. Ayat (7) Cukup jelas.

Ayat (2) Cukup jelas.doc 146 . sejauh daya tampung memungkinkan. Ayat (3) Apabila psikolog profesional tidak ada. Pasal 40 Ayat (1) Cukup jelas. Ayat (2) Lihat penjelasan Pasal 36 ayat (2). Pasal 41 Ayat (1) Peserta didik pada SMP atau MTs dapat berasal dari warga negara asing. Ayat (3) Cukup jelas. Ayat (4) Cukup jelas. Pasal 42 Ayat (1) Cukup jelas. Ayat (4) Kemudahan akses fisik misalnya jarak tempuh dari tempat 76461668. rekomendasi dapat dilakukan oleh dewan guru satuan pendidikan yang bersangkutan. Ayat (3) Cukup jelas. Ayat (2) Cukup jelas. Ayat (2) Cukup jelas.

dan Maha Sekha.tinggal ke satuan pendidikan. Pasal 44 Cukup jelas. Ayat (6) Cukup jelas. Jenis program keahlian mengacu kepada jenis pekerjaan. Pasal 43 Cukup jelas. bidang kejuruan dan program kejuruan. Utama Vidyalaya (UV). Pasal 45 Cukup jelas. Ayat (3) Cukup jelas. Ayat (3) Penjurusan pada pendidikan kejuruan dalam bentuk bidang kejuruan yang merupakan unit akademik terkecil dalam pendidikan kejuruan. Struktur penjurusan ini akan menentukan 76461668.doc 147 . Adapun struktur penjurusan pada pendidikan kejuruan adalah: kelompok kejuruan. Ayat (2) Cukup jelas. Ayat (2) Cukup jelas. Ayat (5) Cukup jelas. Pasal 46 Ayat (1) Bentuk lain yang sederajat dengan SMA dan MA antara lain Paket C. pendidikan diniyah menengah atas. Pasal 47 Ayat (1) Cukup jelas.

regional dan global. Pasal 48 Cukup jelas Pasal 49 Ayat (1) Peserta didik pada SMA atau MA SMK. Ayat(3) Cukup jelas.doc 148 . Ayat (5) Karena pendidikan kejuruan berorientasi pada peluang untuk memperoleh pekerjaan.cakupan mata pelajaran pada setiap jenis bidang kejuruan. Ayat(2) Cukup jelas. MAK atau bentuk lain yang sederajat dapat berasal dari warga negara asing. Ayat (6) Cukup jelas. Pasal 50 Ayat (1) Cukup jelas. Ayat (7) Cukup jelas. maka dalam rangka mengantisipasi persaingan global. pendidikan kejuruan harus memperhatikan dan mempertimbangkan tren ketenagakerjaan nasional. Ayat (4) Cukup jelas. Ayat (3) pelestarian seni budaya dan atau 76461668. Pelestarian meliputi kemahiran tertentu. Ayat (2) Lihat penjelasan Pasal 36 ayat (2).

Pendidikan profesi merupakan pendidikan tinggi setelah program pendidikan sarjana yang mempersiapkan peserta didik untuk memiliki pekerjaan dengan persyaratan keahlian khusus. magister. dapat mencakup program spesialis. Pasal 51 Cukup jelas. Ayat (8) Cukup jelas.Cukup jelas. dan/atau seni tertentu. sesuai ketentuan Pasal 93 Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan. yang mencakup program sarjana. 76461668.doc 149 . Ayat (7) Cukup jelas. Ayat (5) Cukup jelas. dan doktor. Ayat (6) Cukup jelas. Ayat (2) Pendidikan akademik merupakan pendidikan tinggi yang diarahkan terutama pada penguasaan dan pengembangan disiplin ilmu pengetahuan. teknologi. Pasal 52 Ayat (1) Cukup jelas. Ayat (4) Lulusan dari satuan pendidikan yang mendapatkan pengakuan sama adalah lulusan dari satuan pendidikan formal yang diselenggarakan tidak mengacu pada Standar Nasional Pendidikan akan tetapi telah memperoleh pengakuan dari Pemerintah atas dasar rekomendasi dari Badan Standar Nasional Pendidikan.

Penguasaan kompetensi pedagogik. Ayat (2) Program pendidikan tenaga kependidikan termasuk program pengadaan guru serta pengembangan ilmu kependidikan dan ilmu dasar. Ayat (2) Program pendidikan bersambungan (consecutive program) adalah program pendidikan guru yang diawali dengan pemerolehan kompetensi profesional (penguasaan substansi keilmuan. dan kopetensi sosial dalam satu program studi.`teknologi. setinggi-tingginya setara dengan program pendidikan sarjana. kompetensi pedagogik. dan/atau seni pada fakultas tarbiyah dan pada fakultas lain yang sejenis. yang mencakup program pendidikan diploma. diploma III. Pasal 53 Cukup jelas. teknologi. Ayat (3) Cukup jelas. kopetensi kepribadian. dan/atau seni). Pasal 55 Ayat (1) Program pendidikan secara serempak dan utuh (concurrent program) adalah program pendidikan guru yang kurikulumnya memuat pengembangan kompetensi profesional (penguasaan substansi keilmuan. diploma II. dan kopetensi sosial diperoleh melalui program pendidikan profesi. Pasal 54 Ayat (1) Cukup jelas. Lulusan program ini memperoleh kualifikasi akademik sarjana pendidikan guru TK/RA atau SD/MI. teknologi.Pendidikan vokasi merupakan pendidikan tinggi yang diarahkan pada penguasaan keahlian terapan tertentu. dan/atau seni) dalam program studi nonkependidikan untuk memperoleh kualifikasi akademik sarjana nonkependidikan.doc 150 . dan diploma IV. Program pendidikan diploma terdiri atas program pendidikan diploma I. kompetensi kepribadian. 76461668.

laboratorium pengajaran. Pasal 59 Cukup jelas. 76461668. akses internet. Setiap perguruan tinggi disarankan untuk memiliki sarana olahraga dan kesenian yang memadai untuk menciptakan kehidupan kampus yang manusiawi dan menyenangkan. Pasal 60 Cukup jelas. Pasal 61 Cukup jelas. Pasal 58 Cukup jelas. perguruan tinggi riset harus menyediakan secara cukup perpustakaan riset. pusat komputasi pengajaran. Pasal 57 Ayat (1) Penyediaan unsur penunjang disesuaikan dengan ciri dari perguruan tinggi yang bersangkutan. Pasal 62 Cukup jelas. dan memiliki jurnal ilmiah yang secara berkala menerbitkan hasil-hasil penelitian. Perguruan tinggi yang lebih fokus pada pendidikan profesi dan/atau vokasi menyediakan secara cukup perpustakaan pengajaran. dan akses internet. Ayat (4) Cukup jelas. Unit pengelola/layanan dapat menjadi unit pelaksana teknis yang membidangi satu atau beberapa objek pengelolaan/layanan. Ayat (2) Cukup jelas.Pasal 56 Cukup jelas. Misalnya. pusat komputerisasi riset. Ayat (3) Cukup jelas.doc 151 . laboratorium riset.

Kebijakan semacam ini harus dinyatakan secara terbuka sebagai kebijakan afirmatif. mahasiswa lulusan program sarjana melanjutkan ke program pascasarjana. Misalnya. Ayat (3) Cukup jelas. Ayat (3) Perguruan tinggi dapat menerapkan kebijakan afirmatif dalam penerimaan mahasiswa baru untuk mengakomodasi etnik. Pasal 64 Ayat (1) Cukup jelas. Ayat (4) Cukup jelas. Cukup jelas. Ayat (5) Cukup jelas.doc 152 . 76461668.Pasal 63 Ayat (1) Huruf a. Ayat (2) Cukup jelas. Huruf b. Ayat (4) Lihat penjelasan Pasal 36 ayat (2). Tingkat pendidikan hanya berlaku untuk persyaratan mengikuti program pendidikan yang lebih rendah ke program yang lebih tinggi dalam satu jenjang pendidikan tinggi. atau kelompok tertentu dari ketertinggalannya. daerah. Ayat (2) Cukup jelas.

dan psikomotorik. beban kerja tenaga pengajar dan penyelenggara program lembaga pendidikan tinggi dinyatakan 76461668. Ayat (8) Cukup jelas.doc 153 . Pasal 67 Ayat (1) Yang dimaksud dengan Sistem Kredit Semester (SKS) adalah suatu sistem penyelenggaraan pendidikan di mana beban belajar mahasiswa. afektif. Pengumuman hasil tes tambahan dan/atau penilaian rapor tidak boleh dilakukan sebelum pengumuman Ujian Nasional dimaksudkan untuk menjaga integritas hasil ujian nasional dan pemenuhan syarat kelulusan. Pasal 66 Ayat (1) Kemampuan konfluen merupakan kemampuan utuh mahasiswa yang mencerminkan keintegrasian kemampuan kognitif.Ayat (6) Lihat penjelasan Pasal 50 ayat (4) Ayat (7) Tes tambahan misalnya tes skolastik. Tes tambahan tidak boleh menduplikasi Ujian Nasional dimaksudkan untuk efisiensi dalam proses seleksi penerimaan. Pasal 65 Ayat (1) Perjanjian sebagaimana dimaksud dalam ketentuan ini memuat pula hak dan kewajiban mahasiswa yang diatur dalam anggaran dasar dan anggaran rumah tangga. Ayat (2) Cukup jelas. Ayat (2) Cukup jelas.

Ayat (5) Cukup jelas. Pasal 68 Ayat (1) Yang dimaksud dengan kelas jauh adalah sistem pembelajaran yang diselenggarakan di luar kampus induk.dalam satuan kredit semester (sks). Dalam setiap semester “reguler” 1 (satu) sks sama dengan beban studi setiap minggu berupa 1 (satu) jam tatap muka. dan 3 jam kegiatan mandiri selama 16 minggu. Ayat (2) Contoh sistem multikampus adalah sistem State University of New York (SUNY) yang memiliki 60 (enam puluh) kampus di seluruh negara bagian New York. atau kegiatan proses belajar mengajar lainnya. Pasal 70 76461668. Banyaknya sks yang diberikan untuk matakuliah. merupakan pengakuan atas keberhasilan usaha untuk menyelesaikan kegiatan akademik bersangkutan. Ayat (3) Cukup jelas Ayat (4) Cukup jelas.doc 154 . Ayat (2) Cukup jelas. Satu matakuliah berbot 3 sks berarti sama dengan kegiatan studi 3 jam tatap muka. Universitas Al Azhar yang memiliki kampus utama di Cairo dan beberapa kampus cabang di hampir seluruh distrik di Mesir. Pasal 69 Cukup jelas. 1 (satu) jam kegiatan terstruktur. Ayat (6) Cukup jelas. 3 jam kegiatan terstruktur. Ayat (3) Cukup jelas. dan 1 (satu) jam kegiatan mandiri untuk kurun waktu enam belas (16) minggu efektif.

Ayat (3) Cukup jelas. Ayat (4) Cukup jelas. Ayat (9) Cukup jelas. Paten adalah salah satu bentuk dari hak kekayaan intelektual (HKI). Ayat (6) Telaah nirnama (blind review) adalah pakar yang melakukan penelaahan. tetapi antara penulis dan pihaknya tidak saling mengenal dan tidak saling mengetahui. 76461668.doc 155 .Cukup jelas. Ayat (2) Cukup jelas. Pasal 71 Cukup jelas. Ayat (8) Pengayaan materi pembelajaran dapat diartikan bahwa hasil penelitian wajib dijadikan buku ajar hand-out atau tampilan lain yang disajikan pada saat mengajar. Pasal 72 Ayat (1) Penelitian dasar adalah penelitian yang berorientasi pada penjelasan pada fenomena alam (penelitian untuk ilmu) yang melandasi penelitian terapan dan penelitian pengembangan. Ayat (5) Invensi adalah suatu ciptaan atau perancangan baru yang belum ada sebelumnya yang memperkaya khazanah serta dapat digunakan untuk menyempurnakan atau memperbaharui ilmu pengetahuan dan teknologi yang telah ada. Ayat (7) Sertifikat paten adalah dokumen resmi yang diberikan oleh pemerintah kepada pihak-pihak yang menemukan sesuatu teknologi (inventor). kritik dan koreksi terhadap suatu naskah ilmiah agar menjadi lebih sempurna.

Anggota dewan penelaah sebagaimana dimaksud pada huruf 1 huruf a tidak melebihi 40% (empat puluh persen) dari jumlah anggota dewan penelaah. pakar keilmuan yang dimiliki oleh perguruan tinggi yang bersangkutan. Ayat (8) Akreditasi oleh Departemen dilakukan secara objektif dengan prinsipprinsip berikut: 1.doc 156 . 4. pakar keilmuan yang dimiliki oleh perguruan tinggi lain atau lembaga ilmiah lainnya. Jurnal ilmiah harus memiliki dewan penelaah yang terdiri atas: a. 2. Ayat (7) Cukup jelas. Ayat (6) Cukup jelas. 3. Penelaahan dan pemilihan naskah ilmiah yang akan 76461668. atau pakar dari luar negeri. tenaga ahli dari organisasi profesi. dan c.Pasal 73 Ayat (1) Cukup jelas. Ayat (5) Cukup jelas. Ayat (2) Cukup jelas. Ayat (3) Cukup jelas. Ayat (4) Cukup jelas. b. Dewan penelaah sebagaimana dimaksud pada huruf 1 dapat menunjuk mitra bestari untuk menelaah dan memilih naskah ilmiah yang akan diterbitkan.

dan tidak dapat digunakan untuk melengkapi persyaratan kepangkatan dalam sistem 76461668. Pasal 74 Cukup jelas. 5. Jurnal ilmiah sebagaimana dimaksud pada huruf 1 dapat memuat artikel ilmiah yang berasal dari perguruan tinggi yang bersangkutan sebanyak-banyaknya 20% (dua puluh persen) dari seluruh artikel ilmiah yang diterbitkan pada setiap penerbitan. Pasal 78 Cukup jelas.doc 157 . Pasal 80 Ayat (1) Cukup jelas. Pasal 79 Cukup jelas. Pasal 81 Ayat (1) Gelar Doktor Kehormatan bukanlah gelar akademik namun sebutan kehormatan.diterbitkan harus menerapkan sistem telaah nirnama. Pasal 77 Cukup jelas. Ayat (2) Menteri Agama menetapkan kesetaraan ijazah perguruan tinggi luar negeri dengan ijazah gelar perguruan tinggi Indonesia dalam disiplin ilmu agama. Pasal 75 Cukup jelas. Pasal 76 Cukup jelas. Departemen menetapkan status akreditasi yang diperoleh oleh jurnal yang bersangkutan. Atas dasar hasil akreditasi.

kepegawaian pegawai negeri sipil. keterampilan dan sikap yang diperoleh peserta didik pada satuan pendidikan formal dirasa belum memadai. dan Program Paket C setara SMA serta kursus dan pelatihan. Pasal 83 Ayat (1) Pendidikan nonformal berfungsi sebagai pengganti. Pendidikan nonformal berfungsi sebagai pelengkap apabila peserta didik pada satuan pendidikan formal merasa perlu untuk menambah pengetahuan. PAUD Bina Iman Anak (PAUD-BIA). Program Paket B setara SMP. Jenis-jenis pendidikan nonformal yang mempunyai fungsi pengganti pendidikan formal. Taman Pendidikan Al-Quran (TPQ). 76461668. dan PAUD yang diintegrasikan dengan program layanan yang telah ada seperti Pos Pelayanan Terpadu (Posyandu) dan program bina keluarga balita (BKB). adalah: Program Paket A setara SD. Ayat (2) Cukup jelas. Ayat (2) Cukup jelas. Ayat (3) Cukup jelas. Taman Pendidikan Anak Sholeh (TAPAS). dan pelengkap pendidikan formal bagi peserta didik yang karena berbagai hal tidak dapat mengikuti kegiatan pembelajaran pada satuan pendidikan formal atau peserta didik memilih jalur pendidikan nonformal untuk memenuhi kebutuhan belajarnya.doc 158 . Taman Asuh Anak Muslim. Pasal 82 Cukup jelas. Pendidikan nonformal berfungsi sebagai penambah pada pendidikan formal apabila pengetahuan. Taman Bermain. penambah. Pasal 84 Satuan pendidikan lain yang sejenis pada pendidikan nonformal misalnya POS PAUD. PAUD Sekolah Minggu (PAUD-SM). Taman Balita. keterampilan dan sikap melalui jalur pendidikan nonformal. Ayat (4) Cukup jelas.

kecakapan dalam menghadapi tantangan 76461668. Pasal 90 Cukup jelas. PAUD-BIA adalah salah satu bentuk satuan PAUD pada jalur pendidikan nonformal yang menyelenggarakan program pendidikan keagamaan Katholik bagi anak berusia 2 (dua) tahun sampai dengan 6 (enam) tahun yang berbasis Bina Iman Anak Katholik. kecakapan dalam melakukan koreksi diri.POS PAUD adalah salah satu program satuan PAUD pada jalur pendidikan nonformal yang menyelenggarakan program pendidikan bagi anak sejak lahir sampai dengan berusia enam tahun yang dapat diintegrasikan dengan dan TPQ adalah salah satu bentuk satuan PAUD pada jalur pendidikan nonformal yang menyelenggarakan program pendidikan keagamaan Islam bagi anak berusia 2 (dua) tahun sampai dengan 6 (enam) tahun yang berbasis Taman Pendidikan Al-Quran. Pasal 88 Cukup jelas. Pasal 91 Ayat (1) Kecakapan personal atau kecakapan pribadi mencakup kecakapan dalam melakukan ibadah sesuai dengan agama yang dianutnya. kecakapan dalam memilih dan menentukan jalan hidup pribadi.doc 159 . kecakapan dalam pengenalan terhadap kondisi dan potensi diri. percaya diri. PAUD-SM adalah salah satu bentuk satuan PAUD pada jalur pendidikan nonformal yang menyelenggarakan program pendidikan keagamaan Kristen bagi anak berusia 2 (dua) tahun sampai dengan 6 (enam) tahun yang berbasis Sekolah Minggu. Pasal 89 Cukup jelas. Pasal 85 Cukup jelas. Pasal 86 Cukup jelas. Pasal 87 Cukup jelas.

berpikir kritis dan kreatif. mengembang profesionalitas dan produktivitas kerja dan kode etik bersaing dalam melakukan pekerjaan. Ayat (3) Cukup jelas. Kecakapan sosial mencakup kecakapan dalam hidup berkeluarga. kecakapan dalam menyesuaikan diri dengan lingkungan. Ayat (3) Cukup jelas. teknologi dan/atau seni sesuai dengan bidang yang dipelajari. mengelola pekerjaan. bermasyarakat. dan bernegara.dan problema serta kecakapan dalam mengatur diri.doc 160 . Ayat (2) Cukup jelas. Kecakapan vokasional mencakup kecakapan dalam memilih bidang pekerjaan. Ayat (2) Cukup jelas. empati atau tenggang rasa. kecakapan melakukan penelitian dan percobaan-percobaan dengan pendekatan ilmiah. Pasal 93 Ayat (1) Pemuda adalah penduduk yang berusia 15 (lima belas) sampai dengan 35 (tiga puluh lima) tahun. kecakapan bekerjasama dengan sesama. berbangsa. kepemimpinan dan tanggung jawab sosial. Kecakapan intelektual mencakup kecakapan terhadap penguasaan ilmu pengetahuan. Ayat (4) 76461668. Pasal 92 Cukup jelas.

Ayat (2) Cukup jelas. Pasal 97 Cukup jelas. Pasal 96 Cukup jelas.doc 161 . Ayat (3) Cukup jelas. Pasal 98 Ayat (1) Khusus untuk penyetaraan hasil pendidikan nonformal Program Paket A sederajat dengan SD/MI. Pasal 99 76461668. dan Program Paket C sederajat dengan SMA/MA telah diatur dalam Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2003 tentang Standar Nasional Pendidikan.Cukup jelas. Lembaga yang ditunjuk oleh pemerintah daerah adalah lembaga yang telah diakui memiliki kompetensi untuk melakukan penilaian secara profesional dan mandiri oleh Badan Standar Nasional Pendidikan dan ditetapkan oleh Menteri. Pasal 95 Cukup jelas. Pasal 94 Cukup jelas. Lembaga yang ditunjuk oleh Pemerintah adalah Badan Standar Nasional Pendidikan atau lembaga lain yang memiliki kompetensi untuk melakukan penilaian secara profesional dan mandiri. Ayat (4) Cukup jelas. Ayat (5) Cukup jelas. Program Paket B sederajat dengan SMP/MTs.

Ayat (5) Cukup jelas. lembaga pelatihan serta ujian atau uji kompetensi pada satuan atau program nonformal yang lain.Cukup jelas. Pasal 102 Cukup jelas. Ayat (2) Lulus ujian pada satuan pendidikan nonformal dengan mengacu pada standar nasional pendidikan antara lain ujian atau uji kompetensi pada lembaga kursus. Pasal 100 Cukup jelas. Ayat (4) Cukup jelas. Ayat (2) Cukup jelas Ayat (3) Yang dimaksud terbuka adalah 76461668.doc sistem pendidikan yang 162 . Pasal 101 Ayat (1) Lulus ujian pada satuan pendidikan formal dengan mengacu pada standar nasional pendidikan mencakup ujian sekolah/madrasah dan ujian nasional pada tingkat akhir satuan pendidikan. Ayat (3) Cukup jelas. Pasal 103 Ayat (1) Cukup jelas.

dan media lain. Contoh. Yang dimaksud dengan belajar mandiri adalah proses belajar yang dilakukan peserta didik secara peseorangan atau kelompok dengan memanfaatkan berbagai sumber belajar dan mendapat bantuan atau bimbingan belajar atau tutorial sesuai kebutuhan. Berbasis teknologi pendidikan adalah pendidikan yang dirancang dan dikembangkan berdasarkan kebutuhan individu dengan memanfaatkan teknologi pembelajaran. Ayat (2) Sumber belajar Ayat (3) Layanan berbasis teknologi informasi dan komunikasi tanpa mengesampingkan layanan tatap muka. teknologi kokunikasi. Yang dimaksud belajar tuntas adalah proses pembelajaraan untuk mencapai taraf penguasaan kompetensi (mastery level) sesuai dengan tuntutan kurikulum. Proses belajar berlangsung secara bertahap dan berkelanjutan. Peserta didik dapat belajar sambil bekerja. Pasal 104 Ayat (1) Cukup jelas. Peserta didik dapat mencapai tingkat penguasaan kompetensi yang dipersyarakan dengan kecepatan yang berbeda-beda. seorang peserta didik baru dapat menempuh kegiatan belajar (learning tasks) berikutnya apabila telah menguasai kompetensi yang telah disyaratkan dalam kegiatab belajar sebelumnya.doc 163 .diselenggarakan dengan fleksibilitas pilihan dan waktu penyelesaian program. atau mengambil program-program pendidikan yang berbeda secara terpadu dan berkelanjutan melalui pembelajaran tatap muka atau jarak jauh. Ayat (2) Pengorganisasian modus tunggal adalah penyelenggaraan pendidikan jarak jauh dalam satu satuan pendidikan formal 76461668. Pasal 105 Ayat (1) Cukup jelas. informasi.

doc 164 . Ayat (4) Pengorganisasian modus konsorsium adalah penyelenggaraan pendidikan jarak jauh pada berbagai jalur. jenjang. jenjang. Pada tingkat pendidikan tinggi pengorganisasian modus tunggal adalah seperti yang diselenggarakan oleh Universitas Terbuka di Indonesia. dan universitas maya (cyber university). Pasal 106 Ayat (1) Cukup jelas.pada berbagai jalur. Misalnya suatu perguruan tinggi bekerjasama dengan perguruan tinggi lain atau lembaga lain dalam bentuk program pendidikan lapis (sandwich) atau kembaran (twinning) jarak jauh. dan Universitas Terbuka yang menyelenggarakan program 76461668. misalnya SMA menyelenggarakan pembelajaran jarak jauh untuk mata pelajaran bahasa Inggris. Ayat (5) Cukup jelas. Ayat (2) Cakupan program pendidikan berbasis mata pelajaran adalah suatu satuan pendidikan yang menyelenggarakan pendidikan jarak jauh hanya untuk satu mata pelajaran. dan University on the Air di China. Ayat (3) Cukup jelas. Ayat (4) Cakupan program pendidikan berbasis satuan pendidikan seperti yang diselenggarakan oleh SMP Terbuka dan SMA Terbuka yang menyelenggarakan pendidikan SMP dan SMA. jenjang. dan jenis pendidikan oleh beberapa satuan pendidikan secara bersama (kolaboratif). Shukothai Thammathirat Open University di Thailand. dan jenis pendidikan. dan jenis pendidikan. Pendidikan tatap muka tersebut terikat dengan jadwal waktu dan tempat seperti yang berlangsung pada lembaga pendidikan umumnya. Ayat (3) Pengorganisasian modus ganda adalah penyelenggaraan pendidikan jarak jauh bersamaan dengan pendidikan tatap muka pada berbagai jalur.

tenaga pendidik. dengan cara menyediakan sarana. maupun tenaga kependidikan yang sesuai dengan kebutuhan mereka. Pasal 110 Cukup jelas. Pasal 107 Cukup jelas. Ayat (2) Satuan pendidikan khusus bagi peserta didik berkelainan adalah satuan pendidikan yang dirancang secara eksklusif untuk melayani peserta didik yang memiliki kesulitan dalam proses pembelajaran karena kelainan fisik. Pasal 111 Cukup jelas.doc 165 . emosional. mental. dimana mereka mengikuti kurikulum yang berlaku bagi peserta didik normal. Pasal 108 Cukup jelas. maupun tenaga kependidikan yang sesuai dengan kebutuhan mereka. Pasal 109 Cukup jelas. Program pendidikan terpadu adalah program pendidikan yang memberikan kesempatan bagi peserta didik berkelainan untuk belajar bersama-sama dengan peserta didik normal pada satuan pendidikan umum maupun kejuruan. dengan menyediakan sarana. Pasal 112 Ayat (1) Cukup jelas. dimana mereka mengikuti kurikulum yang disesuaikan dengan 76461668.pendidikan tinggi. Program pendidikan inklusif adalah program pendidikan yang memberikan kesempatan bagi peserta didik berkelainan untuk belajar bersama-sama dengan peserta didik normal pada satuan pendidikan umum maupun kejuruan. tenaga pendidik. dan sosial.

Ayat (3) Cukup jelas. Pasal 115 Ayat (1) Cukup jelas. Pasal 117 Cukup jelas. Pasal 116 Cukup jelas. Ayat (2) Cukup jelas. Ayat (4) Yang dimaksud dengan sistem unit adalah sistem pelayanan pendidikan yang memadukan pendidikan dasar dan menengah dalam 1 (satu) manajemen karena alasan skala ekonomi. Pasal 114 Cukup jelas. Ayat (5) Cukup jelas.kebutuhannya. Ayat (3) Cukup jelas. 76461668. Pasal 118 Ayat (1) Cukup jelas.doc 166 . Pasal 113 Cukup jelas.

76461668.doc 167 . program percepatan dan pengayaan tidak perlu diadakan secara ekslusif karena sudah terintegrasi di dalam sistem. spiritual. emosional. dan kinestetik. Ayat (3) huruf a yang dimaksud dengan tingkat inklusi adalah penyelenggaraan pendidikan yang terdiri atas peserta didik normal dan yang memiliki potensi kecerdasan dan/atau bakat istimewa dengan menggunakan kurikulum yang dibedakan. huruf c Cukup jelas. Program percepatan dan pengayaan dilakukan dengan memperhatikan keseluruhan kompetensi kecerdasan yang harus dicapai peserta didik yang meliputi kecerdasan intelektual. Pasal 122 Cukup jelas. Pasal 119 Cukup jelas.Ayat (2) Pada satuan pendidikan yang menerapkan sistem satuan kredit semester (sks). Pasal 120 Ayat (1) Peserta didik yang secara ekstrim memiliki potensi jauh di atas rata-rata dinyatakan antara lain mempunyai kecerdasan di atas 3 simpangan baku (standar deviasi) populasi anak. huruf b Cukup jelas. Pasal 121 Cukup jelas. Ayat (2) Cukup jelas.

Pasal 128 Cukup jelas. teknologi.doc 168 . Pasal 124 Cukup jelas. 76461668. dan seni misalnya negara anggota Organisation for Economic Co-Operation and Development (OECD). Pasal 129 Cukup jelas Pasal 130 Cukup jelas.Pasal 123 Cukup jelas. Ayat (4) Cukup jelas. Pasal 127 Cukup jelas. Pasal 125 Cukup jelas Pasal 126 Ayat (1) Negara lain yang mempunyai keunggulan dalam bidang ilmu pengetahuan. Ayat (2) Cukup jelas. Ayat (3) Cukup jelas.

Ayat (2) Cukup jelas. Pasal 132 Model terpadu-satu sistem-satu atap dilaksanakan dalam satu lokasi dengan menggunakan sistem pengelolaan pendidikan yang sama. 76461668. Model terpisah-beda sistem-tidak satu atap dilaksanakan di lokasi yang berbeda (terpisah) dengan sistem pengelolaan pendidikan yang berbeda.Pasal 131 Cukup jelas. Untuk pindah dari satuan pendidikan biasa ke satuan pendidikan bertaraf internasional atau berbasis keunggulan lokal harus memenuhi persyaratan yang ditetapkan oleh satuan pendidikan yang dituju. Model terpisah-satu sistem-tidak satu atap dilaksanakan dalam lokasi yang berbeda atau terpisah dengan menggunakan sistem pengelolaan pendidikan yang sama. Model keluar masuk (entry-exit) dilaksanakan dengan cara mengelola kelas atau satuan pendidikan biasa bersamaan dengan kelas atau satuan pendidikan bertaraf internasional atau berbasis keunggulan lokal yang peserta didik pada kelas atau satuan pendidikan biasa dapat pindah ke kelas atau satuan pendidikan bertaraf internasional atau berbasis keunggulan lokal sebaliknya. Pasal 133 Cukup jelas. Pasal 134 Cukup jelas. Pasal 135 Ayat (1) untuk Bahasa asing dapat digunakan sebagai bahasa pengantar mendukung kemampuan berbahasa asing peserta didik.doc 169 .

Cukup jelas.doc 170 . Ayat (3) Huruf a. Pasal 136 Sistem pendidikan negara lain meliputi kurikulum. dan/atau penjenjangan pendidikan yang secara resmi berlaku di negaranya. Persetujuan senat akademik dalam hal ini diperlukan untuk menjamin bahwa kerjasama ini telah dikaji dengan baik sebelumnya. Pasal 137 Cukup jelas. Huruf b. Program kembaran ialah program yang dilaksanakan secara bersama oleh dua perguruan tinggi atau lebih untuk melaksanakan suatu program studi. Pasal 138 Cukup jelas. Ijazah dan gelar yang diberikan dilakukan berdasarkan kesepakatan dari kedua belah pihak dengan memperhatikan berbagai persyaratan pemberian ijazah maupun gelar akademik dari masing-masing perguruan tinggi dalam rangka pengendalian mutu. Pasal 139 Ayat (1) Cukup jelas. Ayat (2) Cukup jelas. Pertukaran dosen dapat dilakukan melalui program 76461668.Ayat (3) Sistem penggajian yang tidak diskriminatif antara lain tidak membedakan tata cara dan besaran gaji. Huruf c. pembelajaran. tunjangan. penilaian. serta penghasilan lainnya.

Huruf e. Cukup jelas. Cukup jelas. Pasal 140 Cukup jelas.doc 171 . Cukup jelas. Pasal 141 Cukup jelas. Pasal 143 Cukup jelas. Cukup jelas.“sabatical leave” yang tata caranya dapat diatur oleh masing-masing perguruan tinggi. 76461668. Huruf f. Cukup jelas. Ayat (4) Cukup jelas. Pasal 144 Ayat (1) huruf a. Huruf h. Cukup jelas. Pasal 142 Cukup jelas. Cukup jelas. Huruf d. Huruf g. Huruf i.

Cukup jelas. huruf d. Cukup jelas. Ayat (3) Cukup jelas.huruf b. huruf c. 3) 4) huruf f. SMK. MI. MAK atau bentuk lain yang sederajat dapat pindah program kejuruan pada jalur dan satuan pendidikan lain yang setara. dan daya tampung satuan pendidikan atau program studi yang bersangkutan memungkinkan menerimanya. Peserta didik pada SD. Peserta didik pada SMA. Bilamana peserta didik memenuhi persyaratan penerimaan pada satuan pendidikan. SMP. 76461668. Cukup jelas. Ayat (2) Cukup jelas. Mahasiswa perguruan tinggi berhak pindah ke perguruan tinggi lain atau program studi lain yang setara. maka: 1) 2) Peserta didik PAUD berhak pindah ke jalur atau satuan pendidikan lain yang setara. huruf g. atau bentuk lain yang sederajat berhak pindah ke jalur atau satuan pendidikan lain yang setara. huruf e. huruf h. Cukup jelas. MTs. atau bentuk lain yang sederajat. Cukup jelas. MA.doc 172 .

Konselor yang dimaksud dalam ayat ini termasuk guru bimbingan dan konseling. Huruf c. Ayat (2) Huruf a. dan penguji. dan paket C antara lain nara sumber teknis.doc 173 . Pasal 147 Ayat (1) Sebutan lain termasuk pendidik pada program paket A. paket B. Huruf d. Huruf b. Cukup jelas. Cukup jelas. Cukup jelas. pelatih atau instruktur. Huruf e. Huruf g. Cukup jelas. tutor penanggung jawab tingkat . Dan untuk pendidik pada lembaga kursus dan pelatihan antara lain pengajar. Cukup jelas.Pasal 145 Cukup jelas. Cukup jelas. pembimbing. Cukup jelas. 76461668. Pasal 146 Cukup jelas. Huruf h. Huruf f. dan tutor penanggung jawa mata pelajaran.

Pasal 154 Cukup jelas. Pasal 153 Cukup jelas. Pasal 152 Cukup jelas. Cukup jelas. Pasal 148 Cukup jelas.doc 174 . Pasal 155 Cukup jelas. Pasal 157 Ayat (1) Sekolah Menengah Kejuruan yang memiliki program studi tata busana dapat menyediakan pakaian seragam untuk peserta didiknya sendiri sebagai bagian dari proses pembelajaran. Pasal 150 Cukup jelas. Pasal 151 Cukup jelas. Pasal 149 Cukup jelas. Ayat (2) Apabila pendidik merasa bahwa peserta didik memerlukan pembelajaran tambahan maka kebutuhan itu dipenuhi melalui 76461668. Pasal 156 Cukup jelas.Huruf i.

Pasal 165 Ayat (1) Huruf a. Pasal 164 Cukup jelas. Pasal 161 Cukup jelas.program remedial sesuai ketentuan kurikulum yang berlaku. Pasal 158 Cukup jelas. Pasal 163 Cukup jelas. 76461668. Pasal 162 Cukup jelas. Ayat (5) Tim sukses adalah sekelompok orang yang direkrut untuk tujuan pemenangan salah satu kontestan tertentu dalam pemilihan umum dan/atau pemilihan kepala daerah sesuai peraturan perundang-undangan. Pasal 159 Cukup jelas. Ayat (3) Cukup jelas. Ayat (4) Cukup jelas.doc 175 . Pasal 160 Cukup jelas.

Cukup jelas. Ayat (2) Huruf a. Peserta didik pada satuan pendidikan nonformal dapat mengambil mata pelajaran atau program pendidikan pada satuan pendidikan formal atau pendidikan informal untuk memenuhi beban belajar pendidikan nonformal yang bersangkutan. Ayat (3) Cukup jelas. Ayat (5) Cukup jelas. SD/MI. Cukup jelas.doc 176 . Peserta didik TK/RA. Huruf b. Huruf b. SMA/MA. atau informal untuk memenuhi ketentuan kurikulum pendidikan formal yang bersangkutan. Ayat (3) 76461668. atau bentuk lain yang sederajat dapat mengambil mata pelajaran atau program pendidikan pada satuan pendidikan formal. nonformal. SMP/MTs. Pasal 166 Ayat (1) Cukup jelas. Ayat (4) Cukup jelas. Peserta didik pada satuan pendidikan informal dapat mengambil mata pelajaran atau program pendidikan pada satuan pendidikan formal atau pendidikan nonformal untuk memenuhi beban belajar pendidikan informal yang bersangkutan. Ayat (2) Cukup jelas. dan SMK/MAK.

Ayat (4) Cukup jelas. Pasal 170 76461668. dan sejenisnya. Ayat (3) Cukup jelas. Himpunan Sarjana Pendidikan Indonesia. Majelis Pendidikan Kristen.Satuan pendidikan yang menerapkan sistem kredit semester dapat mengakui hasil belajar dari satuan pendidikan lain baik formal maupun nonformal untuk memenuhi perolehan satuan kredit smester (sks) peserta didik pada satuan pendidikan yang bersangkutan. Ayat (5) Cukup jelas. dan sejenisnya. Pengusaha termasuk perusahaan-perusahaan. Ayat (4) Cukup jelas. Majelis Nasional Pendidikan Katolik. Pasal 169 Cukup jelas. Pasal 167 Cukup jelas. Pasal 168 Ayat (1) Organisasi profesi pendidikan seperti. Ma’arif-NU. Organisasi sosial kemasyarakatan seperti Muhammadiyah. Persatuan Guru Republik Indonesia. Ayat (2) Cukup jelas.doc 177 .

MA. Pasal 171 Cukup jelas. Pesantren. Kerjasama produksi merupakan kerjasama antara satuan pendidikan dan pengusaha/dunia kerja dalam bidang pekerjaan tertentu di mana kerjasama tersebut dilakukan melalui perjanjian timbal balik yang menguntungkan kedua belah pihak. Kekhasan agama satuan pendidikan dapat berupa pendidikan umum yang diselenggarakan oleh kelompok agama tertentu. Ayat (2) Satu satuan pendidikan dapat memiliki kekhasan agama. Pabbajja 76461668. dan sosio-kultural sekaligus.Ayat (1) Cukup jelas. Ayat (2) Cukup jelas. pendidikan umum yang menyelenggarakan pendidikan umum dan ilmu agama seperti MI. sosioekonomi. Ayat (4) Cukup jelas. Pasal 172 Ayat (1) Satuan pendidikan yang diselenggarakan oleh masyarakat adalah satuan pendidikan yang selama ini berstatus swasta. sebagai pekerja di tempat praktik kerja dan sebagai siswa di sekolah.doc 178 . MTs. Ayat (3) Sistem magang merupakan kegiatan pembelajaran yang berlangsung di tempat kerja sebagai proses transisi dari peserta didik menjadi pekerja (apprenticeship) Pendidikan sistem ganda (dual system) adalah kegiatan pembelajaran yang memberikan status ganda kepada peserta didik. atau pendidikan keagamaan seperti Pendidikan Diniyah.

Pasal 178 76461668. Ayat (3) Cukup jelas. Pasal 173 Cukup jelas. potensi.Samanera. Ayat (2) Cukup jelas. Pendidikan dengan kekhasan sosio-ekonomi. Pasal 176 Ayat (1) Cukup jelas. Ayat (2) Pertemuan 2 (dua) kali setahun yang dimaksud sekurangkurangnya pada awal semester. dan bentuk lain yang sejenis. dan memecahkan permasalahan pendidikan yang muncul. dan sosio-kultural merupakan muatan pendidikan dan/atau pendekatan pembelajaran yang disesuaikan dengan kebutuhan. tukar-menukar informasi. Pasal 174 Cukup jelas. Pasal 175 Cukup jelas. dan keadaan sosio-ekonomi.doc 179 . Pasal 177 Ayat (1) Cukup jelas. Ayat (4) Koordinasi dan kerjasama antara lain menyusun anggaran dasar/anggaran rumah tangga. dan sosio-kultural setempat.

media elektronik. Ayat (4) Cukup jelas. Pengusaha misalnya pemilik perusahaan swasta. dan tokoh nonpartisan lainnya yang berpartisipasi dalam kegiatan pendidikan. atau melalui produk lain yang menggambarkan keahliannya. dan Komisi Pendidikan Jarak Jauh. dan media lainnya. pemimpin paguyuban adat (marga atau nagari). Ayat (3) Cukup jelas. Komisi Pendidikan Nonformal dan Informal. Komisi Pendidikan Tinggi. Ayat (2) Cukup jelas. Pasal 179 Ayat (1) Cukup jelas. Komisi Pendidikan Keagamaan. Ayat (5) Komisi sebagaimana dimaksud pada ayat ini disesuaikan dengan lingkup pengelolaan dan kebutuhan di tingkat nasional. Tokoh masyarakat termasuk tokoh agama. Ayat (2) Cukup jelas. Ayat (3) Cukup jelas.doc 180 . Komisi Pendidikan Kedinasan. Komisi Pendidikan Khusus dan Pendidikan Layanan Khusus. provinsi. dan kabupaten/kota. Di tingkat nasional dapat terdiri atas Komisi Pendidikan Anak Usia Dini. Komisi Pendidikan Dasar dan Menengah.Ayat (1) Pakar pendidikan adalah perseorangan atau kelompok yang memiliki pengetahuan dan keahlian di bidang pendidikan yang karyanya dipublikasikan di media cetak. 76461668.

Komisi-komisi tersebut dapat berdiri sendiri atau digabung sesuai dengan kebutuhan. 76461668. Komisi Pendidikan Nonformal dan Informal. Pasal 182 Cukup jelas. Di tingkat kabupaten/kota dapat terdiri atas Komisi Pendidikan Anak Usia Dini. dan Komisi Pendidikan Keagamaan. Komisi Pendidikan Dasar dan Menengah. Pasal 184 Ayat (1) Komite sekolah/madrasah POMG dan yang sejenis. Komisi Pendidikan Tinggi.doc 181 . Ayat (2) Dalam melaksanakan tugasnya panitia dapat meminta bantuan konsultan yang berpengalaman melakukan uji kelayakan (fit and proper test) dalam bidang pendidikan. Ayat (6) Tenaga ahli yang dimaksud terdiri dari tenaga pendidik profesional yang berfungsi sebagai konsultan. Pasal 181 Cukup jelas. Pasal 180 Ayat (1) Cukup jelas. Komisi Pendidikan Dasar dan Menengah. dan Komisi Pendidikan Keagamaan. menggantikan keberadaan BP3.Di tingkat provinsi dapat terdiri atas Komisi Pendidikan Anak Usia Dini. Komisi Pendidikan Nonformal dan Informal. Pasal 183 Cukup jelas. Komisi Pendidikan Khusus dan Pendidikan Layanan Khusus. Komisi Pendidikan Khusus dan Pendidikan Layanan Khusus.

dan unsur . tukar-menukar informasi. SMP. maupun oleh masyarakat. Gabungan tersebut dapat terdiri dari beberapa satuan pendidikan pada jenjang yang sama. atau yang sejenisnya baik yang diselenggarakan oleh Pemerintah. MI. atau RA. Ayat (6) Gabungan satuan pendidikan yang dimaksud adalah satu komite sekolah/madrasah atau nama lain yang sejenis terdiri dari sekolah dan madrasah. dan MAK. Penggabungan dapat dilakukan karena lokasi berdekatan. atau satuan-satuan pendidikan dikelola oleh suatu penyelenggara pendidikan. Ayat (2) Cukup jelas. Ayat (5) Pihak-pihak yang terkait misalnya unsur-unsur satuan pendidikan selain kepala satuan pendidikan. SD.Nama lain yang sejenis seperti Majelis Madrasah. SMA. 76461668. Ayat (3) Cukup jelas. atau berbeda seperti TK. Komite Pendidikan Nonformal. Ayat (4) Koordinasi dan kerjasama antara lain menyusun anggaran dasar/anggaran rumah tangga. atau satuan pendidikan lainnya dalam satu wilayah desa atau kecamatan. MA. atau karena pertimbangan lain. MTs. program pendidikan nonformal. Ayat (7) Pembentukan komite sekolah/madrasah yang terdiri dari beberapa satuan pendidikan hingga memenuhi jumlah 200 peserta didik dimaksudkan untuk mencapai sinergi dan efektivitas dalam memberdayakan peranserta masyarakat terutama pada satuan pendidikan dengan jumlah peserta didik yang kecil. dan memecahkan permasalahan pendidikan yang muncul.doc 182 . dan SMK. Komite satuan pendidikan jalur nonformal dibentuk berdasarkan kebutuhan satuan atau gabungan satuan pendidikan nonformal. satuan pendidikan keagamaan.

lembaga pemerintah non-departemen. maupun masyarakat. Departemen melakukan pengawasan pendidikan umum. Ayat (2) Menteri melakukan pengawasan pendidikan secara umum baik yang berada di bawah kewenangan Departemen. departemen yang menangani urusan pemerintah bidang lain. dan jenis pendidikan. Pasal 190 Cukup jelas. pemerintah daerah. jenjang. Pasal 192 Cukup jelas. Departemen Agama melakukan pengawasan pendidikan agama dan pendidikan keagamaan pada semua jalur. dan jenis pendidikan. Pasal 188 Cukup jelas. Pasal 187 Cukup jelas.Pasal 185 Cukup jelas. Pasal 186 Cukup jelas. profesi. jenjang. vokasi. dan khusus pada semua jalur. Pasal 189 Cukup jelas. akademik. kejuruan. Pasal 193 Ayat (1) Cukup jelas. Ayat (3) 76461668. Pasal 191 Cukup jelas.doc 183 .

Ayat (3) Cukup jelas. Ayat (5) Cukup jelas. Ayat (3) Pemeriksaan diterapkan secara arif terhadap objek yang diawasi. Ayat (6) Cukup jelas. Ayat (4) Cukup jelas. Pasal 194 Ayat (1) Cukup jelas. Ayat (2) Cukup jelas. Ayat (7) Lembaga independen yang melakukan pengawasan/pemeriksaan independen misalnya akuntan publik. Ayat (2) Cukup jelas. Ayat (4) Cukup jelas. Pasal 196 Ayat (1) Cukup jelas.doc 184 . Pasal 195 Cukup jelas. Misalnya pemeriksaan terhadap objek yang diawasi 76461668.Cukup jelas.

Ayat (4) Cukup jelas. k. g. j. dan m hanya dilakukan apabila terdapat indikasi terjadinya penyimpangan administratif atau pelanggaran hukum. k. dan j hanya dilakukan apabila terdapat indikasi terjadinya penyimpangan administratif atau pelanggaran hukum. Ayat (3) Pemeriksaan diterapkan secara arif terhadap objek yang diawasi. g. Pasal 197 Ayat (1) Cukup jelas. l.doc 185 . l. Pasal 198 Ayat (1) Cukup jelas. Ayat (4) Cukup jelas. dan m hanya dilakukan apabila terdapat indikasi terjadinya penyimpangan administratif atau pelanggaran hukum. Ayat (3) Pemeriksaan diterapkan secara arif terhadap objek yang diawasi. Ayat (4) Cukup jelas. i. Misalnya pemeriksaan terhadap objek yang diawasi sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf f. i. Misalnya pemeriksaan terhadap objek yang diawasi sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf e. j. Pasal 199 76461668. Ayat (2) Cukup jelas. i.sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf h. f. Ayat (2) Cukup jelas. h. h.

doc 186 . Pasal 200 Cukup jelas. Pasal 201 Cukup jelas. lembaga penelitian atau pusat studi. badan hukum pendidikan. Pasal 204 Ayat (1) Cukup jelas. Ayat (2) Cukup jelas. c. Ayat (4) 76461668. d. jurusan. program studi. Pasal 202 Cukup jelas.Cukup jelas. Ayat (3) Unit dari perguruan tinggi termasuk: a. Ayat (2) Cukup jelas. e. program pendidikan. lembaga pengabdian lain yang masyarakat. dan/atau satuan pendidikan. b. melaksanakan f. dan/atau fakultas. Pasal 203 Ayat (1) Pemberian sanksi dilakukan secara arif dan disesuaikan dengan tingkat pelanggaran yang dilakukan oleh satuan pendidikan. unit-unit dharma perguruan tinggi.

Ayat (2) Cukup jelas. Ayat (5) Yang dimaksud dengan seseorang adalah pejabat atau pengurus badan hukum pendidikan yang memiliki kewengan dalam pengangkatan. Pasal 211 76461668. penempatan. Ayat (6) Cukup jelas.Cukup jelas. Ayat (4) Cukup jelas. Pasal 206 Cukup jelas Pasal 207 Cukup jelas. Pasal 208 Ayat (1) Cukup jelas. Pasal 205 Cukup jelas. Pasal 209 Cukup jelas. dan pemberhentian pendidik dan tenaga kependidikan. pemindahan.doc 187 . Ayat (5) Cukup jelas. Pasal 210 Cukup jelas. Ayat (3) Cukup jelas.

Cukup jelas. Pasal 215 Cukup jelas.doc 188 . Pasal 212 Cukup jelas. TAMBAHAN LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA NOMOR . Pasal 213 Cukup jelas. 76461668. Pasal 218 Cukup jelas. Pasal 216 Cukup jelas... Pasal 217 Cukup jelas. Pasal 214 Cukup jelas. Pasal 219 Cukup jelas.

...................................................................................................................................................7 Bagian Kedua.......................................................................................................................11 Pasal 13........................................................................................................................................................2 Pasal 1....................................................................................................................................................................................................................................................2 KETENTUAN UMUM..................................doc i ..........15 Pasal 23.................................................................................................................................................................9 Pasal 10..............................12 c.Departemen........................12 Pasal 14.........................................................................................................................................................................7 Pasal 3..........................................................................................................................................................................12 Pasal 15 ................................................................................................ dan...............................................................................................................................................................................................8 Pengelolaan oleh Pemerintah.....................................................................7 Umum.........................................................16 Gubernur menetapkan kebijakan tatakelola pendidikan untuk menjamin efisiensi...........................Pemerintah kabupaten/kota......................7 Pasal 2.................................................................................. dan akuntabilitas pengelolaan pendidikan yang mengikat:.........................................................................................................Pemerintah provinsi................................................. efektifitas.............................................................................................................................................8 Pasal 5...................................................................................................................................10 Pasal 12.........13 Pasal 22.........................................................12 Pasal 16...............................2 BAB II.................................................................... ..........................12 e...................................................12 a.7 PENGELOLAAN PENDIDIKAN.........................................................................................8 Pasal 4........................................................................................................................................ dan 76461668.......................................12 b........................................12 Menteri menetapkan kebijakan tatakelola pendidikan untuk menjamin efisiensi.........................................Program dan/atau satuan pendidikan...................................12 Bagian Ketiga.....................................................12 d...............................................12 f...........12 g...............................7 Bagian Kesatu.........................................................................DAFTAR ISI BAB I........................................................................................................................................Badan hukum pendidikan......................................................Departemen lain atau lembaga pemerintah nondepartemen yang menyelenggarakan program dan/atau satuan pendidikan..............................................12 Pengelolaan oleh Pemerintah Provinsi.......................... efektifitas....................................................................................................................................................................................Departemen Agama...........................................................................................................................................................................................................................................

.........................................................................................................30 Bentuk dan Jenis Satuan Pendidikan...................................................................................................... dan akuntabilitas pengelolaan pendidikan yang mengikat:...................24 Pasal 43..............................................20 Bupati/Walikota menetapkan kebijakan tatakelola pendidikan untuk menjamin efisiensi.............................22 Pasal 41...........................................................................................28 Pasal 51.........................................................................................................................25 Pasal 45.............................................................................................20 Pasal 33............................................................................................................................................................................................................................................................30 Pasal 53 ........................................................................................................................................................29 Satuan dan/atau program pendidikan menetapkan kebijakan tatakelola pendidikan untuk menjamin efisiensi.................................................................................................24 Badan hukum pendidikan menetapkan kebijakan tatakelola pendidikan untuk menjamin efisiensi........................................................................... dan akuntabilitas pengelolaan pendidikan yang mengikat:.............................................................................................24 Pasal 42....... efektifitas...................................................................21 Pasal 36.............29 Pasal 52..................................................................................................................................16 Pasal 24............................29 BAB III...............................................................................17 Pasal 26....16 Bagian Keempat.17 Pengelolaan oleh Pemerintah Kabupaten/Kota...........................................................................................25 Pasal 44 ...........................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................25 Bagian Keenam.........................................................................................27 Pasal 50...............................................................................................................21 Pasal 35............................25 Pengelolaan oleh Satuan dan/atau Program Pendidikan..............................30 76461668.........................21 Pasal 34...........................30 Fungsi dan Tujuan...........................................................................................................30 PENYELENGGARAAN PENDIDIKAN FORMAL.................................................................................................................................................................................................. efektifitas..............................................................30 Pasal 54 ............................................................... dan akuntabilitas pengelolaan pendidikan yang mengikat:.............................................................................................................................................doc ii ...................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................21 Bagian Kelima.........................................................................................................18 Pasal 32.......30 Bagian Kesatu..........................21 Pengelolaan oleh Badan Hukum Pendidikan .......akuntabilitas pengelolaan pendidikan yang mengikat:.............................................................................................30 Paragraf 1...........................................................30 Paragraf 2....................................................................................30 Pendidikan Anak Usia Dini...............................................................................................17 Pasal 25........................................................................................ efektifitas..................................

............................................................................................................................34 Pasal 64 ................................................................................................39 Penerimaan Peserta Didik..............................................................................................................................40 Bagian Kempat.................................................................................................................................................................................................................................................................................................................32 Paragraf 2.............................31 Paragraf 4.................................33 Pasal 60 .................................................................................31 Bagian Kedua............................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................33 Pasal 63...........31 Pasal 55 ...............................................33 Paragraf 3....................................................................................................................................................................................................34 Pasal 65.......................................................................................................41 76461668..........................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................37 Bentuk Satuan Pendidikan..........................................37 Pasal 68 ...32 Paragraf 1.....................................................................................................33 Penerimaan Peserta Didik..........................................................................36 Fungsi dan Tujuan....................33 Bentuk Satuan Pendidikan.....................................................................................................................................................31 Pasal 57 ..........................................................................................................36 Paragraf 2.................................................40 Pendidikan Tinggi........................................................................................................................................................................................31 Pasal 56 ...............doc iii ..............................................................................32 Pasal 58........39 Pasal 71.....................................................................................................Paragraf 3 .........................................................41 Pasal 73....................................................................................................................................31 Program Pembelajaran........................................................................................................................38 Paragraf 3...................................................................................33 Pasal 59 .....................................................................................................................................................31 Penerimaan Peserta Didik...............................................................................40 Fungsi dan Tujuan.........................................................................................32 Pendidikan Dasar......................................................40 Paragraf 1..................39 Pasal 72..........................................................................................36 Paragraf 1..............................................................................................................................................................................37 Pasal 69.................................................................................................................................................................................32 Fungsi dan Tujuan......................36 Pendidikan Menengah...........................................................................................................................................................................................................................................................36 Bagian Ketiga........................................................................36 Pasal 66......................................................

.........................memenuhi seluruh persyaratan program sarjana atau diploma empat kependidikan sesuai dengan peraturan perundang-undangan..................46 Sistem Pembelajaran...................................................................................................................41 Organisasi Perguruan Tinggi..............................................42 Pasal 75 ......................... mengawasi......................................................................................................................................................................................48 c...............................................................................................................................................................................................................................................................................................................................doc iv ..........................................Paragraf 2...45 Pasal 84.............46 Pasal 87 ..........................................................................................dilaksanakan oleh perguruan tinggi yang memiliki program studi sarjana atau diploma empat kependidikan berakreditasi dari Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi dan telah memperoleh izin untuk menyelenggarakan program sarjana atau diploma empat kependidikan khusus bagi guru tetap dalam jabatan dari Departemen............................................................................................41 Jenis.............48 b.........................................48 (1)Perguruan tinggi dapat menyelenggarakan program studi sarjana atau diploma empat kependidikan khusus bagi guru tetap dalam jabatan yang belum memiliki ijazah sarjana atau diploma empat dengan program sarjana atau diploma empat kependidikan khusus bagi guru tetap dalam jabatan..................................................................................................................................42 Pasal 77....................................................................................................44 Penerimaan Mahasiswa ..................................44 Pasal 81........................................... Bentuk............48 (2)Program sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diselenggarakan sebagai berikut:...................................41 Paragraf 3................................................................................................................................................................................ .....................42 Pasal 79............................................................48 (3)Izin sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf a diberikan oleh Departemen setelah memperoleh jaminan dari pemerintah daerah kabupaten/kota yang bersangkutan untuk bertanggung jawab melindungi.........................................................................................................46 Pasal 86.............................................................................................................................................................46 Paragraf 4.................................................................................................. dan Program Pendidikan......................................................................................................................................................................................47 Pasal 88..............................47 Pasal 89.....................................dapat dilaksanakan di pusat kegiatan Kelompok Kerja Guru atau Musyawarah Guru Mata Pelajaran.........................43 Paragraf 3.....44 Pasal 80.................................................................................................................................................................................................................................................... dan memfasilitasi penyelenggaraan program sebagaimana dimaksud pada ayat (2) sehingga guru tetap dalam jabatan yang bersangkutan memperoleh kualifikasi 76461668..........................................................................48 a......................................................................41 Pasal 74.................

.......55 Pasal 97.....................................................51 Paragraf 6...............................................................................................................................................................................................56 Paragraf 10...51 Pasal 94.....................................................................................................................................................................................................................................................................................................53 Pengabdian kepada Masyarakat........................................................................................................48 Pasal 90........................................................................................................................57 Pasal 83...................56 Pasal 81.................................................................................................................................................................................................................................................................................................................55 Pengalihan Kredit .........................................................................doc v .........55 Paragraf 9..............................................................................................................56 Pasal 82.............59 Bagian Kesatu.........................................55 Penjaminan Mutu Hasil Belajar....................................51 Pasal 93......................................................... Pasal 82 ayat (2).......................................................................akademik sarjana atau diploma empat kependidikan sesuai peraturan perundang-undangan............................................................................................................................................................49 Pasal 91...58 Bagian Kelima.......................................49 Pasal 92...................................................54 Pasal 95..........................................................................................................59 76461668..........................................59 PENYELENGGARAAN PENDIDIKAN NONFORMAL .....55 Pasal 96.......................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................59 BAB IV.......................................48 Paragraf 5.........................................................................................................................................................................51 Penelitian................................................56 Gelar Lulusan Pendidikan Tinggi...........................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................54 Paragraf 8...................................................................................................................................................................................................................................................................................................55 Pasal 99...........................................................................................................................................................59 Pasal 85.................................................................................59 Penjaminan Mutu.................................................................................................................49 Kebebasan Akademik dan Otonomi Keilmuan.................................................................................58 Pasal 84...............................48 (5)Ketentuan sebagaimana diatur dalam Pasal ini berlaku sampai berakhirnya masa peralihan sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen................................................48 (4) Menteri dapat membatalkan izin program sebagaimana dimaksud pada ayat (2) apabila setelah dilakukan pemeriksaan oleh Inspektorat Jenderal Departemen atas instruksi Menteri terbukti bahwa pelaksanaan program yang bersangkutan telah melanggar peraturan perundang-undangan.....

.........................62 Paragraf 1...........................62 Pasal 93 ......................................................................................61 Majelis Taklim....................................................................................................................................................................................................................................................................................................................60 Bentuk Satuan Pendidikan ................62 Taman Penitipan Anak dan Kelompok Bermain ......................................................................................................61 Kelompok Belajar .....................................................................64 Paragraf 4...................................................................................................................................................................................................................................................62 Paragraf 2............................................63 Pendidikan Kepemudaan.............................................60 Bagian Kedua............................................................................................................................................................63 Pasal 95.....................................................................................................................................................................................................................................65 Pendidikan Keterampilan dan Pelatihan Kerja.......................................63 Pasal 96......................................................................................................65 Pendidikan Keaksaraan....................................................................................60 Paragraf 2..................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................61 Pasal 89............................................................................................................................................................................................................64 Pasal 97...................................60 Paragraf 1.............................................................................................................................................62 Pasal 94......................................................................................................................................................................................61 Pasal 90.............................65 Paragraf 6................................................61 Pasal 91.............................................................................................................................................................................................61 Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat............................61 Paragraf 5..............................................60 Pasal 87.............................................61 Paragraf 3..........................................................62 Pendidikan Kecakapan Hidup.................................64 Pendidikan Pemberdayaan Perempuan.62 Bagian Ketiga.........................................................Fungsi dan Tujuan ...............................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................59 Pasal 86...............................................................................................60 Lembaga Kursus dan Lembaga Pelatihan ..............................................................................64 Paragraf 5....................................................................................................................................................................62 Pasal 92....................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................65 76461668......................................................65 Pasal 98................................62 Program Pendidikan ................................................................................................................................................................................................................doc vi .............................63 Paragraf 3..........................................................60 Pasal 88...........................61 Paragraf 4......................................................................................................................................................................................................................

.........................................................................................................65 Paragraf 7....................72 Pasal 115..........................................................................................72 PENDIDIKAN LAYANAN KHUSUS...................................................................................................................................................doc vii ....66 Pendidikan Kesetaraan........................66 BAB V.................................................................................................67 Pasal 103.............................................................................................73 Pasal 118.................................................................................................................................................................................................................................................................70 Pasal 110............................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................72 Bagian Kedua.......73 Pasal 117.............72 Pasal 114.............................................................................................................70 Pasal 109.................68 Pasal 104.............................................................................66 Pasal 101..............................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................66 Pasal 100............................................................................................69 Pasal 108.....67 PENYELENGGARAAN PENDIDIKAN INFORMAL...............................................................................69 Pasal 107.....................................................................................................................................................................................................................................................................................................72 Bagian Kesatu...........................................................................................................................................................................69 PENYELENGGARAAN PENDIDIKAN JARAK JAUH......................69 BAB VI..........................................................................................................................................................................67 Pasal 102..................................71 BAB VII..........................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................73 Pasal 119.....................................................................................................................69 Pasal 106................................Pasal 99............................................................................................................................................................................................................................................................66 Penyetaraan Hasil Pendidikan................72 Pendidikan Khusus....................................................................................................................................................................................................72 PENYELENGGARAAN PENDIDIKAN KHUSUS DAN....................................................................................72 Pasal 113.........................................................................................................................................................72 Umum.........................................................72 Pasal 112.....................................66 Bagian Ketiga (keempat)....74 Paragraf 2.....................................................................................................................74 76461668......72 Pendidikan Khusus bagi Peserta Didik Berkelainan........................68 Pasal 105................................................................................................................71 Pasal 111......................................................................................................72 Pasal 116......................................72 Paragraf 1...........................................................................................

......................................75 Pasal 122...........................................................................................85 Pasal 135.......................................................................................................................................85 Pasal 138...........................................................76 Pasal 123.........................................................78 Pasal 125................................................89 BAB X..................................................................83 Pasal 131.........................................................................................................................................................................................................................76 Pendidikan Layanan Khusus..................................................................................................................................Pendidikan Khusus bagi Peserta Didik yang Memiliki ...........89 Pasal 142................................................................doc viii ........................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................85 Pasal 136.....................................................................................................................................................................................82 Pasal 129....................................................................................86 Pasal 140.....................................................................................................................................79 Pasal 127................................................................................................................................84 Pasal 134................................77 Pasal 124............................................................................................................................................................................................................................................................................................................................76 Pasal 122...........................................................................................................89 Pasal 143...............................................................................................................................................................................................................................................................................................75 Pasal 121........................................................................................................89 HAK DAN KEWAJIBAN PESERTA DIDIK............................76 Bagian Ketiga............................................77 Pasal 123.....80 Pasal 128.......................................................................................................................................................................................................................................................................87 Pasal 141.........75 Pasal 120..........................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................78 Pasal 126....................................82 Pasal 130....................84 BAB IX.............................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................78 PENYELENGGARAAN PENDIDIKAN BERTARAF INTERNASIONAL ...............................................83 Pasal 132.......................................76 Pasal 121......................86 Pasal 139..................................74 Potensi Kecerdasan dan/atau Bakat Istimewa...............................................................................84 Pasal 133..............78 DAN PENDIDIKAN BERBASIS KEUNGGULAN LOKAL.............................................................................78 BAB VIII.....................................................................89 76461668.......................................................................84 PENYELENGGARAAN PENDIDIKAN OLEH LEMBAGA NEGARA LAIN DAN KERJASAMA SATUAN PENDIDIKAN INDONESIA DENGAN SATUAN PENDIDIKAN NEGARA LAIN.........................

.............. dan Penghargaan .........................................................................................................................90 Pasal 146..92 Jenis......................................................96 Promosi dan Penghargaan.........Pasal 144................................99 Pasal 158.......................................................................96 Pasal 152................................................... dan Pemberhentian .................................................................................................................................................................................................................92 PENDIDIK DAN TENAGA KEPENDIDIKAN................................................................................................................................................................................. Pemindahan..96 Pasal 153............101 BAB XIII...........................................................95 Bagian Ketiga...........................................................................................................................99 Pasal 159......................................................................................................................99 PENDIRIAN SATUAN PENDIDIKAN..................................................................................................................................................................... Promosi.................................98 Pasal 157 .................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................92 Bagian Kesatu..........................................................95 Pengangkatan.......................................................................................................................................................................................................................................................................98 Bagian Keempat.............................................................................................................................................................96 Paragraf 1...........................................................................................................96 Paragraf 2..................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................97 Pasal 156.................................................................................................................................................................................................................................................................................96 Pembinaan Karir..............97 Pasal 155...........................................95 Pasal 151............................................................................101 Pasal 163........................................................................98 Larangan.........................93 Pasal 149...........................................95 Pasal 150....................................................................................100 Pasal 162........................................................................................................................................................................................................91 BAB XI........................................................................................................................................................................................................................98 BAB XII.......................................................................101 76461668.......101 PENDIDIKAN LINTAS SATUAN DAN JALUR PENDIDIKAN...................................................................................................89 Pasal 145 ................................................ Tugas..................96 Pembinaan Karir..........................96 Pasal 154...................100 Pasal 160.......................... dan Tanggung Jawab...........................................................92 Pasal 147................................................................................................................................................................................................................................100 Pasal 161......101 Pasal 164......................................................................................................doc ix .............. Penempatan....................................92 Pasal 148.......................................93 Bagian Kedua...........................................................

...........................................................................................................................................102 BAB XIV......................................................................................................................................................................................................................................................................................................110 Fungsi dan Sifat..........................................................................Pasal 165...........................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................103 Bagian Kesatu............................................................................105 Pendidikan Berbasis Masyarakat......................................................................................................................................................107 Pasal 179...............................................................105 Pasal 174...............................................................107 Pasal 178..............................................112 76461668................................................109 Pasal 182.....106 Pasal 175........................112 Pasal 186...........................................................................................................................109 Pasal 183.........................................................104 Pasal 170............106 Dewan Pendidikan..............................................................................110 Pasal 184.............................................................................................................................................................................110 Komite Sekolah/Madrasah................................................................................................................................................................................................112 Paragraf 3...................................................................................................................................................................................................108 Pasal 181................................................................................................................................................................................................110 Paragraf 1.................................................................................110 Bagian Kelima..............................................................................................................................................103 Pasal 167..........................105 Pasal 172............103 Komponen Peranserta Masyarakat..........................................................................................105 Bagian Ketiga.............111 Paragraf 2..............................................................................106 Pasal 176......................................103 Pasal 168........102 Pasal 166.............................................103 Fungsi ................................................110 Pasal 185...........................................................................108 Pasal 180.................................................................................106 Bagian Keempat..................................103 Bagian Kedua...........103 Pasal 169..................................doc x ....................................................................................................112 Persyaratan Anggota...................................................................................................................................................................................................................................................................................112 Keanggotaan..........................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................104 Pasal 171.....................................................................................................................................................................................................103 PERANSERTA MASYARAKAT.......................................................................................................106 Pasal 177.................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................

...................................................................................................116 Pasal 196..................................................................120 Pasal 200....................................................................115 Pasal 192..............................................................126 Pasal 213...123 Pasal 205.................................................125 Pasal 212...............................................................................................................................................................................................................................................115 BAB XV..................114 Bagian Keenam.........................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................113 Paragraf 6.........................................................................................................................................................................117 Pasal 197.........121 BAB XVI.......................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................113 Pasal 188..........................................................................................................................................................................124 Pasal 207........................119 Pasal 199........................................................................................................................................................................................................................................................122 Pasal 203..........................................116 Pasal 195.............................113 Mekanisme Pemilihan.............................................118 Pasal 198.....................................................................................................................................122 Pasal 204.............................122 SANKSI...................122 Pasal 202......................................................................................................................................................................126 76461668................................................................................................................................................................................115 Larangan............................................................................................................................................................................................113 Pasal 189...................................................................................................................................................................................................................................................................................................113 Paragraf 5.....................113 Struktur Organisasi dan Kepengurusan...........................................................................................114 Pasal 191..............................................................................................................................................................................................................115 Pasal 193...........................................115 PENGAWASAN.........................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................124 Pasal 209........................................................................................................................................................................................114 Pasal 190.........................................................121 Pasal 201...................................................115 Pasal 194..........................................................................................................124 Pasal 206......................................................................................................................................................................................................Pasal 187......................doc xi .....................................................................................................114 Pendanaan.........................................................................................................125 Pasal 211..............................................................................................125 Pasal 210..124 Pasal 208........................................................................................112 Paragraf 4...

..........................................................................................................126 Pasal 214 .............................................................................................................126 BAB XVIII..............................................................................................126 KETENTUAN PERALIHAN..................................129 76461668....................................................................................................BAB XVII.......................................................127 Pasal 218..................doc xii .....................................................................................................................................................................................................127 KETENTUAN PENUTUP............................................................................................................127 Pasal 216....................................................................127 Pasal 217.......126 Pasal 215........................................................................................................................................................128 PENJELASAN.......................................................................................................................