P. 1
RPP Pengelolaan Penyelenggaran Pendidikan

RPP Pengelolaan Penyelenggaran Pendidikan

|Views: 104|Likes:
Published by R'nee Hs

More info:

Published by: R'nee Hs on Nov 22, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

12/24/2012

pdf

text

original

RANCANGAN PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR .… TAHUN ....

TENTANG PENGELOLAAN DAN PENYELENGGARAAN PENDIDIKAN

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : bahwa dalam rangka melaksanakan ketentuan Pasal 12 ayat (4), Pasal 17 ayat (3), Pasal 18 ayat (4), Pasal 20 ayat (4), Pasal 21 ayat (7), Pasal 24 ayat (4), Pasal 25 ayat (3), Pasal 26 ayat (7), Pasal 27 ayat (3), Pasal 28 ayat (6), Pasal 31 ayat (4), Pasal 32 ayat (3), Pasal 50 ayat (7), Pasal 51 ayat (3), Pasal 52 ayat (2), Pasal 54 ayat (3), Pasal 55 ayat (5), Pasal 56 ayat (4), Pasal 62 ayat (4), Pasal 65 ayat (5), dan Pasal 66 ayat (3), Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, perlu menetapkan Peraturan Pemerintah tentang Pengelolaan dan Penyelenggaraan Pendidikan; : Pasal 5 ayat (2) Undang-Undang Republik Indonesia Tahun 1945; Dasar Negara

Mengingat

Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2003 Nomor 78 Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4301); MEMUTUSKAN: Menetapkan : PERATURAN PEMERINTAH TENTANG PENGELOLAAN DAN PENYELENGGARAAN PENDIDIKAN.

76461668.doc

1

BAB I KETENTUAN UMUM Pasal 1 Dalam Peraturan Pemerintah ini yang dimaksud dengan: 1. Pengelolaan pendidikan adalah pengaturan kewenangan dalam penyelenggaraan sistem pendidikan nasional oleh Pemerintah, Pemerintah Provinsi, Pemerintah Kabupaten/Kota, badan hukum pendidikan, dan satuan pendidikan agar proses pendidikan dapat berlangsung sesuai dengan tujuan pendidikan nasional. Penyelenggaraan pendidikan adalah penyediaan sumberdaya pendidikan, yang meliputi prasarana, sarana, pendidik dan tenaga kependidikan, dana, serta sumberdaya lainnya, yang disinergikan secara sistematis melalui suatu organisasi satuan pendidikan. Pengelolaan pendidikan adalah pengaturan sistemik perencanaan, pelaksanaan, dan pengawasan pendidikan. 2. atas

Penyelenggaraan pendidikan adalah kegiatan pelaksanaan komponen-komponen sistem pendidikan pada satuan/program pendidikan pada jalur, jenjang, dan jenis pendidikan agar proses pendidikan dapat berlangsung sesuai dengan tujuan pendidikan nasional. Badan hukum pendidikan masyarakat adalah yayasan, wakaf, perkumpulan, atau badan hukum lainnya yang didirikan oleh masyarakat yang menyelenggarakan satuan atau program pendidikan. Pendidikan anak usia dini yang selanjutnya disebut PAUD adalah suatu upaya pembinaan yang ditujukan kepada anak sejak lahir sampai dengan usia 6 (enam) tahun yang dilakukan melalui pemberian rangsangan pendidikan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani agar anak memiliki kesiapan dalam memasuki pendidikan lebih lanjut, yang diselenggarakan pada jalur formal, nonformal, dan informal. Taman Kanak-kanak yang selanjutnya disebut TK adalah salah satu bentuk satuan pada jalur pendidikan formal yang menyelenggarakan program pendidikan bagi anak berusia 4 (empat) tahun sampai dengan 6 (enam) tahun. Raudhatul Athfal yang selanjutnya disebut RA dan Bustanul Athfal yang selanjutnya disebut BA adalah salah satu bentuk satuan PAUD pada jalur pendidikan formal yang menyelenggarakan program pendidikan dengan kekhasan agama Islam bagi anak
2

3.

4.

5.

6.

76461668.doc

berusia 4 (empat) tahun sampai dengan 6 (enam) tahun. 7. Taman Penitipan Anak yang selanjutnya disebut TPA adalah salah satu bentuk satuan PAUD pada jalur pendidikan nonformal yang menyelenggarakan program pendidikan dan program kesejahteraan sosial bagi anak sejak lahir sampai dengan berusia 6 (enam) tahun. Kelompok Bermain yang selanjutnya disebut KB adalah salah satu bentuk satuan PAUD pada jalur pendidikan nonformal yang menyelenggarakan program pendidikan dan program kesejahteraan sosial bagi anak berusia 2 (dua) tahun sampai dengan 6 (enam) tahun dengan prioritas bagi anak berusia 2 (dua) tahun sampai dengan 4 (empat) tahun. Pendidikan dasar adalah jenjang pendidikan pada jalur pendidikan formal yang melandasi jenjang pendidikan menengah yang diselenggarakan pada satuan pendidikan yang berbentuk Sekolah Dasar (SD) dan Madrasah Ibtidaiyah (MI) atau bentuk lain yang sederajat serta menjadi satu kesatuan kelanjutan pendidikan pada satuan pendidikan yang berbentuk Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan Madrasah Tsanawiyah (MTs), atau bentuk lain yang sederajat.

8.

9.

10. Sekolah Dasar yang selanjutnya disebut SD adalah salah satu bentuk satuan pendidikan formal yang menyelenggarakan pendidikan umum pada jenjang pendidikan dasar. 11. Madrasah Ibtidaiyah yang selanjutnya disebut MI adalah salah satu bentuk satuan pendidikan formal dalam binaan Menteri Agama yang menyelenggarakan pendidikan umum dengan kekhasan agama Islam pada jenjang pendidikan dasar. Sekolah Menengah Pertama yang selanjutnya disebut SMP adalah salah satu bentuk satuan pendidikan formal yang menyelenggarakan pendidikan umum pada jenjang pendidikan dasar sebagai lanjutan dari SD, MI, atau bentuk lain yang sederajat atau lanjutan dari hasil belajar yang diakui sama/setara SD/MI. Madrasah Tsanawiyah yang selanjutnya disebut MTs adalah salah satu bentuk satuan pendidikan formal dalam binaan Menteri Agama yang menyelenggarakan pendidikan umum dengan kekhasan agama Islam pada jenjang pendidikan dasar sebagai lanjutan dari SD, MI, atau bentuk lain yang sederajat atau lanjutan dari hasil belajar yang diakui sama/setara SD/MI. Pendidikan menengah adalah jenjang pendidikan pada jalur pendidikan formal yang merupakan lanjutan pendidikan dasar, berbentuk Sekolah Menengah Atas (SMA), Madrasah Aliyah (MA), Sekolah Menengah Kejuruan (SMK), dan Madrasah Aliyah
3

12.

13.

14.

76461668.doc

Kejuruan (MAK) atau bentuk lain yang sederajat . 15. Sekolah Menengah Atas yang selanjutnya disebut SMA adalah salah satu bentuk satuan pendidikan formal yang menyelenggarakan pendidikan umum pada jenjang pendidikan menengah sebagai lanjutan dari SMP, MTs, atau bentuk lain yang sederajat atau lanjutan dari hasil belajar yang diakui sama/setara SMP/MTs. Madrasah Aliyah yang selanjutnya disebut MA adalah salah satu bentuk satuan pendidikan formal dalam binaan Menteri Agama yang menyelenggarakan pendidikan umum dengan kekhasan agama Islam pada jenjang pendidikan menengah sebagai lanjutan dari SMP, MTs, atau bentuk lain yang sederajat atau lanjutan dari hasil belajar yang diakui sama/setara SMP/MTs. Sekolah Menengah Kejuruan yang selanjutnya disebut SMK adalah salah satu bentuk satuan pendidikan formal yang menyelenggarakan pendidikan kejuruan pada jenjang pendidikan menengah sebagai lanjutan dari SMP, MTs, atau bentuk lain yang sederajat atau lanjutan dari hasil belajar yang diakui sama/setara SMP/MTs. Madrasah Aliyah Kejuruan yang selanjutnya disebut MAK adalah salah satu bentuk satuan pendidikan formal di bawah tanggung jawab Menteri Agama yang menyelenggarakan pendidikan kejuruan dengan kekhasan agama Islam pada jenjang pendidikan menengah sebagai lanjutan dari SMP, MTs, atau bentuk lain yang sederajat atau lanjutan dari hasil belajar yang diakui sama/setara SMP/MTs. Pendidikan tinggi adalah jenjang pendidikan pada jalur pendidikan formal setelah pendidikan menengah yang dapat berupa program pendidikan diploma, sarjana, magister, doktor, dan spesialis yang diselenggarakan oleh perguruan tinggi.

16.

17.

18.

19.

20. Akademi adalah perguruan tinggi yang menyelenggarakan pendidikan vokasi dalam satu cabang atau sebagian cabang ilmu pengetahuan, teknologi, dan/atau seni tertentu. 21. Politeknik adalah perguruan tinggi yang menyelenggarakan pendidikan vokasi dalam sejumlah bidang pengetahuan khusus. 22. Sekolah tinggi adalah perguruan tinggi yang menyelenggarakan pendidikan akademik dan/atau vokasi dalam lingkup satu disiplin ilmu tertentu dan jika memenuhi syarat dapat menyelenggarakan pendidikan profesi. 23. Institut adalah perguruan tinggi yang menyelenggarakan pendidikan akademik dan/atau pendidikan vokasi dalam sekelompok disiplin ilmu pengetahuan, teknologi, dan/atau seni
76461668.doc

4

dan pengabdian kepada masyarakat. 31. serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan. seni. seni. 28. teknologi. dan seni melalui pendidikan. 24. 25. 32. Standar Nasional Pendidikan adalah kriteria minimal tentang sistem pendidikan di seluruh wilayah hukum Negara Kesatuan Republik Indonesia. penelitian. Mahasiswa adalah peserta didik yang terdaftar dan belajar pada perguruan tinggi. yang menyelenggarakan dan mengelola pendidikan akademik. dan/atau olah raga tertentu. 30.dan jika memenuhi syarat dapat menyelenggarakan pendidikan profesi. 29. dan/atau olah raga. teknologi. 76461668. dan/atau seni dan jika memenuhi syarat dapat menyelenggarakan pendidikan profesi. Fakultas atau nama lain yang sejenis adalah himpunan sumberdaya pendukung. Pendidikan nonformal adalah jalur pendidikan di luar pendidikan formal yang dapat dilaksanakan secara terstruktur dan berjenjang. dan bahan pelajaran. Standar pelayanan minimal adalah kriteria minimal berupa nilai kumulatif pemenuhan Standar Nasional Pendidikan yang harus dipenuhi oleh setiap satuan pendidikan. Sivitas akademika adalah komunitas dosen dan mahasiswa pada perguruan tinggi. vokasi atau profesi dalam sebagian atau satu bidang ilmu pengetahuan. teknologi. Program studi adalah unsur pelaksana akademik yang menyelenggarakan dan mengelola jenis pendidikan akademik. mengembangkan. teknologi. dan/atau olah raga. 33. isi. 27. Universitas menyelenggarakan pendidikan akademik dan/atau pendidikan vokasi dalam sejumlah ilmu pengetahuan. Dosen adalah pendidik profesional dan ilmuwan pada perguruan tinggi dengan tugas utama mentransformasikan. yang dapat dikelompokkan menurut jurusan. 26. 34. vokasi atau profesi dalam satu rumpun disiplin ilmu pengetahuan. teknologi. seni. Kurikulum adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan.doc 5 . dan menyebarluaskan ilmu pengetahuan. Jurusan atau nama lain yang sejenis adalah himpunan sumberdaya pendukung program studi dalam satu rumpun disiplin ilmu pengetahuan.

informasi. Pembelajaran adalah proses interaksi peserta didik dengan pendidik dan/atau sumber belajar pada suatu lingkungan belajar. Pendidikan berbasis masyarakat adalah penyelenggaraan pendidikan berdasarkan kekhasan agama.doc 6 . adalah jalur pendidikan keluarga dan 37. sosial. 39. dan untuk masyarakat. 43. oleh. Pendidikan lintas jalur dan jenis pendidikan adalah penyelenggaraan pendidikan sistem terbuka dimana peserta didik mengambil mata pelajaran pada satuan pendidikan yang tidak sejenis pada jalur pendidikan formal. aspirasi. Pendidikan bertaraf internasional adalah pendidikan yang diselenggarakan dengan menggunakan Standar Nasional Pendidikan dan diperkaya dengan standar pendidikan negara maju. ekonomi. oleh dan untuk masyarakat. Pendidikan berbasis keunggulan lokal adalah satuan pendidikan dasar dan menengah yang menyelenggarakan pendidikan dengan acuan kurikulum yang menunjang upaya pengembangan potensi. nonformal. Pusat kegiatan belajar masyarakat adalah satuan pendidikan nonformal yang menyelenggarakan berbagai kegiatan belajar sesuai dengan kebutuhan masyarakat atas dasar prakarsa dari. Pendidikan informal lingkungan. dan informal. Program percepatan belajar adalah pengaturan program pendidikan bagi peserta didik yang mencapai standar kompetensi yang dipersyaratkan lebih cepat dari waktu yang ditentukan. budaya. 41. 42. 36. 76461668. 45. sosial.35. Program pengayaan belajar adalah pembelajaran tambahan untuk memperluas wawasan dan kemampuan bagi peserta didik yang telah mencapai standar kompetensi yang dipersyaratkan. dan media lain. 44. dan potensi masyarakat sebagai perwujudan pendidikan dari. 38. 40. Pendidikan jarak jauh adalah pendidikan yang peserta didiknya terpisah dari pendidik dan pembelajarannya menggunakan berbagai sumber belajar melalui teknologi komunikasi. dan budaya masyarakat daerah setempat. Kelompok belajar adalah satuan pendidikan nonformal yang terdiri atas sekumpulan warga masyarakat yang saling membelajarkan pengalaman dan kemampuan dalam rangka meningkatkan mutu dan taraf kehidupannya.

d. Pemerintah. badan hukum pendidikan. b. dan efektivitas. akses masyarakat atas pelayanan mencukupi. merata. Pemerintah adalah Pemerintah Pusat. atau Pemerintah Kota. Pemerintah Kabupaten. c. satuan pendidikan. dan Pasal 3 akuntabilitas pengelolaan 76461668. Organisasi profesi adalah kumpulan anggota masyarakat yang memiliki keahlian tertentu yang berbadan hukum dan bersifat non-komersial. 51. serta tokoh masyarakat yang peduli pendidikan.46. Departemen adalah departemen yang bertanggung jawab di bidang pendidikan. dan e. Pemerintah Kabupaten/Kota. Pemerintah daerah adalah Pemerintah Provinsi. 49. Menteri adalah menteri yang menangani urusan pemerintahan di bidang pendidikan. c. pendidikan yang mutu dan daya saing pendidikan serta relevansinya dengan kebutuhan dan/atau kondisi masyarakat. (2) Pengelolaan pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditujukan untuk menjamin: a. 52. 47. BAB II PENGELOLAAN PENDIDIKAN Bagian Kesatu Umum Pasal 2 (1) Pengelolaan pendidikan dilakukan oleh: a. 48. 50. pendidikan. b.doc 7 . Pemerintah Provinsi. dan terjangkau. efisiensi. Dewan pendidikan adalah lembaga mandiri yang beranggotakan berbagai unsur masyarakat yang peduli pendidikan. komunitas sekolah. Komite sekolah/madrasah adalah lembaga mandiri yang beranggotakan orang tua/wali peserta didik.

rencana kerja dan anggaran tahunan (RKAT). rencana pembangunan jangka menengah (RPJM). f. d. rencana strategis pendidikan nasional. c. komite sekolah/madrasah atau nama lain yang peserta didik. departemen lain atau lembaga pemerintah nondepartemen yang menyelenggarakan satuan pendidikan. badan hukum pendidikan. Pemerintah kabupaten/kota.doc Pemerintah Provinsi. c. rencana kerja Pemerintah (RKP). b. d. sejenis. orang tua/wali peserta didik. e. dewan pendidikan. dan peraturan perundang-undangan di bidang pendidikan. i. (4) Sistem pendidikan nasional dan kebijakan nasional pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1). e.Pengelolaan pendidikan didasarkan pada rencana yang disusun sesuai peraturan perundang-undangan. j. satuan pendidikan. (2) Sistem pendidikan nasional sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diselenggarakan dan dikelola sesuai peraturan perundangundangan. (3) Kebijakan nasional bidang pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dituangkan dalam: a. ayat (2) dan ayat (3) mengikat bagi: a. l. h. 8 . g. rencana pembangunan jangka panjang (RPJP). Departemen Agama. Bagian Kedua Pengelolaan oleh Pemerintah Pasal 4 (1) Menteri bertanggung jawab mengelola sistem pendidikan nasional serta merumuskan dan/atau menetapkan kebijakan nasional bidang pendidikan. Departemen. k. 76461668. pendidik dan tenaga kependidikan. f. b.

d. Pasal 6 (1) Menteri menetapkan target tingkat partisipasi pendidikan pada semua jenjang dan jenis pendidikan yang harus dicapai pada tingkat nasional. Pasal 7 (1) Menteri menetapkan target tingkat pendidikan pada tingkat nasional: a.doc 9 . efisien. dan jenis pendidikan secara nasional sesuai dengan kebijakan nasional bidang pendidikan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 ayat (3). dan mengendalikan penyelenggara. dan n. antar kabupaten. c. antara kabupaten dan kota. antar kota. jalur. (5) Pemerintah mengalokasikan anggaran pendidikan agar sistem pendidikan nasional dapat dilaksanakan secara efektif. Pemerintah mengutamakan perluasan dan pemerataan akses pendidikan melalui jalur pendidikan formal.m. antar provinsi. mensupervisi. dan akuntabel sesuai dengan kebijakan nasional sebagaimana dimaksud pada ayat (3). masyarakat. (2) Target tingkat partisipasi pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dipenuhi melalui jalur pendidikan formal dan nonformal. (2) Menteri menetapkan kebijakan untuk menjamin peserta didik miskin. b. jenjang. satuan. (3) Dalam memenuhi target tingkat partisipasi pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1). memantau. dan/atau peserta didik di daerah khusus dapat memperoleh akses pelayanan pendidikan. Pasal 8 pemerataan partisipasi 76461668. pihak lain yang terkait dengan pendidikan di Indonesia. Pasal 5 Pemerintah mengarahkan. antara laki-laki dan perempuan. peserta didik khusus. mengevaluasi. mengawasi mengkoordinasi. dan e. membimbing.

Pasal 9 Menteri menetapkan Standar Nasional Pendidikan sesuai peraturan perundang-undangan. dan/atau g. satuan dan/atau program (2) e. (3) Standar pelayanan minimal bidang pendidikan untuk pemerintah daerah merupakan syarat awal yang harus dipenuhi untuk: a. sertifikasi kompetensi pendidik.(1) (2) Menteri menetapkan standar pelayanan minimal pendidikan sesuai peraturan perundang-undangan. b. Pasal 10 (1) Pemerintah melakukan dan/atau memfasilitasi penjaminan mutu pendidikan dengan berpedoman pada kebijakan nasional bidang pendidikan dan Standar Nasional Pendidikan. Dalam rangka penjaminan mutu pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1). dan b.doc 10 . (4) Standar pelayanan minimal bidang pendidikan untuk satuan pendidikan ditetapkan sebagai syarat awal yang harus dipenuhi dalam mencapai Standar Nasional Pendidikan secara bertahap dengan menerapkan otonomi satuan pendidikan atau manajemen berbasis sekolah/madrasah. akreditasi program pendidikan. bidang Standar pelayanan minimal sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditetapkan masing-masing untuk: a. Catatan: 76461668. menyelenggarakan atau memfasilitasi penyelenggaraan satuan pendidikan sesuai Standar Nasional Pendidikan secara bertahap. sertifikasi kompetensi tenaga kependidikan. Satuan pendidikan. Pemerintah daerah. sertifikasi unit pelaksana pendidikan terkait. akreditasi satuan pendidikan. b. sertifikasi satuan dan/atau program pendidikan terkait. d. mencapai target tingkat partisipasi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 secara bertahap. f. sertifikasi kompetensi peserta didik. c. Pemerintah menyelenggarakan dan/atau memfasilitasi: a.

membina. memfasilitasi. peserta didik. (3) Pemerintah memfasilitasi akreditasi internasional program dan/atau satuan pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2). ilmu pengetahuan dan teknologi. seni. 11 (4) (2) 76461668. seni. (4) Ketentuan lebih lanjut mengenai pelaksanaan ayat (1) dan ayat (2) diatur dengan peraturan Menteri. dan internasional. dan melindungi program dan/atau satuan pendidikan bertaraf internasional sesuai peraturan perundang-undangan. pendidik dan tenaga kependidikan. Pasal 12 (1) Pemerintah melakukan pembinaan berkelanjutan kepada peserta didik yang memiliki potensi kecerdasan dan/atau bakat istimewa untuk mencapai prestasi puncak di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi. b. olahraga. Pemerintah memfasilitasi sertifikasi internasional pada program dan/atau satuan pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2). (2) Pemerintah memfasilitasi perintisan program dan/atau satuan pendidikan yang sudah atau hampir memenuhi Standar Nasional Pendidikan untuk dikembangkan menjadi program dan/atau satuan pendidikan bertaraf internasional.. unit pelaksana teknis satuan pendidikan. Untuk menumbuhkan iklim kompetitif yang kondusif bagi pencapaian prestasi puncak sebagaimana dimaksud pada ayat (1) Pemerintah menyelenggarakan dan/atau memfasilitasi secara teratur dan berjenjang kompetisi di bidang: a. provinsi. nasional. dan/atau olahraga pada tingkat satuan pendidikan. Pasal 11 (1) Pemerintah mengakui. dan c. (3) Akreditasi dan sertifikasi sebagaimana dimaksud pada ayat (2) yang diselenggarakan Pemerintah atau masyarakat didasarkan pada Standar Nasional Pendidikan. (3) Pemerintah memberikan penghargaan kepada peserta didik yang meraih prestasi puncak sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) sesuai peraturan perundang-undangan.Penjelasan untuk Sertifikasi kompetensi satuan pendidikan..doc . kabupaten/kota.

dan akuntabilitas pengelolaan pendidikan yang mengikat: a.doc 12 . Program dan/atau satuan pendidikan. Pasal 14 (1) Dalam menyelenggarakan dan mengelola sistem pendidikan nasional Departemen mengembangkan dan melaksanakan sistem informasi pendidikan nasional berbasis teknologi informasi dan komunikasi. Departemen. (2) (3) (2) Kebijakan daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) konsisten dengan serta merupakan penjabaran dari kebijakan pendidikan nasional sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4. Pemerintah kabupaten/kota. jenis. dan sistem informasi pendidikan di semua kabupaten/kota. c. Pemerintah provinsi. e. b. Bagian Ketiga Pengelolaan oleh Pemerintah Provinsi Pasal 15 (1) Gubernur bertanggung jawab mengelola sistem pendidikan nasional di daerahnya serta merumuskan dan menetapkan kebijakan daerah bidang pendidikan sesuai kewenangannya. 76461668. Departemen lain atau lembaga pemerintah nondepartemen yang menyelenggarakan program dan/atau satuan pendidikan. Sistem informasi pendidikan nasional sebagaimana dimaksud pada ayat (1) difasilitasi oleh jejaring informasi nasional yang terhubung dengan sistem informasi pendidikan di departemen lain atau lembaga pemerintah non departemen yang menyelenggarakan pendidikan. Departemen Agama. dan g. sistem informasi pendidikan di semua provinsi. dan jalur pendidikan. efektifitas. d. Badan hukum pendidikan. f.Pasal 13 Menteri menetapkan kebijakan tatakelola pendidikan untuk menjamin efisiensi. Sistem informasi pendidikan nasional sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) memberikan akses informasi administrasi pendidikan dan akses sumber pembelajaran kepada satuan pendidikan pada semua jenjang.

pendidik dan bersangkutan. orang tua/wali peserta didik di provinsi yang bersangkutan. d. dan mengendalikan penyelenggara. (4) Kebijakan daerah bidang pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1). mengawasi. badan hukum pendidikan di provinsi yang bersangkutan. dan g. mengevaluasi. rencana strategis pendidikan provinsi. satuan pendidikan di provinsi yang bersangkutan. Pasal 16 Pemerintah provinsi sesuai kewenangannya mengarahkan. (5) Pemerintah provinsi mengalokasikan anggaran pendidikan agar sistem pendidikan nasional di provinsi yang bersangkutan dapat dilaksanakan secara efektif.doc 13 . b. rencana pembangunan jangka menengah provinsi (RPJMP). b. kerja dan anggaran tahunan provinsi e. jalur. ayat (2). Pemerintah Kabupaten/Kota di provinsi yang bersangkutan. satuan. dan jenis pendidikan di provinsi yang bersangkutan sesuai 76461668. c. f. i. peraturan daerah di bidang pendidikan. peraturan gubernur di bidang pendidikan. komite sekolah atau nama lain yang sejenis di provinsi yang bersangkutan. e. ayat (2) dan ayat (3) mengikat bagi: a. semua jajaran Pemerintah Provinsi. g. jenjang.(3) Kebijakan daerah bidang pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dituangkan dalam: a. rencana kerja pemerintah provinsi (RKPP). mensupervisi. tenaga kependidikan di provinsi yang j. membimbing. pihak lain yang terkait dengan pendidikan di provinsi yang bersangkutan. mengkoordinasi. peserta didik di provinsi yang bersangkutan. dan k. dewan pendidikan di provinsi yang bersangkutan. dan akuntabel sesuai dengan kebijakan daerah bidang pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1). f. c. rencana (RKATP). rencana pembangunan jangka panjang provinsi (RPJPP). efisien. h. d. masyarakat di provinsi yang bersangkutan. memantau. dan ayat (3).

b. dan d. dan/atau peserta didik di daerah khusus dapat memperoleh akses pelayanan pendidikan. c. Pasal 19 Gubernur melaksanakan dan mengkoordinasikan pelaksanaan standar pelayanan minimal bidang pendidikan sesuai peraturan perundangundangan. pemerintah provinsi mengutamakan perluasan dan pemerataan akses pendidikan melalui jalur pendidikan formal.kebijakan daerah bidang pendidikan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 15. pemerintah provinsi berkoordinasi dengan unit pelaksana teknis Pemerintah yang melaksanakan tugas penjaminan mutu pendidikan. antar kota. peserta didik khusus. (2) Gubernur menetapkan kebijakan untuk menjamin peserta didik miskin. (2) 76461668. Pasal 18 (1) Gubernur menetapkan target tingkat pemerataan partisipasi pendidikan pada tingkat provinsi: a. antar kabupaten. antara kabupaten dan kota. Pasal 20 (1) Pemerintah provinsi sesuai kewenangannya melakukan dan/atau memfasilitasi penjaminan mutu pendidikan di daerahnya dengan berpedoman pada kebijakan nasional bidang pendidikan dan Standar Nasional Pendidikan. (3) Dalam memenuhi target tingkat partisipasi pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1). Pasal 17 (1) Gubernur menetapkan target tingkat partisipasi pendidikan pada semua jenjang dan jenis pendidikan yang harus dicapai pada tingkat provinsi. antara laki-laki dan perempuan.doc 14 . Dalam melaksanakan tugasnya sebagaimana dimaksud pada ayat (1). (2) Target tingkat partisipasi pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dipenuhi melalui jalur pendidikan formal dan nonformal.

Pemerintah provinsi memfasilitasi sertifikasi internasional pada program dan/atau satuan pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2). d. sertifikasi kompetensi peserta didik. dan melindungi program dan/atau satuan pendidikan yang sudah atau hampir memenuhi Standar Nasional Pendidikan untuk dirintis dan dikembangkan menjadi bertaraf internasional sesuai dengan peraturan perundang-undangan. pemerintah provinsi mengkoordinasikan dan memfasilitasi: a. f. Pemerintah provinsi memfasilitasi akreditasi internasional program dan/atau satuan pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2). satuan dan/atau program c. Gubernur membentuk Badan Akreditasi Provinsi Sekolah/Madrasah dan Badan Akreditasi Provinsi Pendidikan Nonformal untuk membantu Badan Akreditasi Nasional Sekolah/Madrasah dan Badan Akreditasi Nasional Pendidikan Nonformal dalam melaksanakan tugasnya. memfasilitasi. memfasilitasi. Pengangkatan. dan/atau pemindahan kepala sekolah dan/atau guru pada satuan pendidikan yang sedang dirintis atau sudah bertaraf internasional harus seizin gubernur. mengakui. dan melindungi program dan/atau satuan pendidikan bertaraf internasional sesuai dengan peraturan perundang-undangan. membina.(3) Dalam rangka penjaminan mutu pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1). Pasal 21 (1) Pemerintah provinsi sesuai dengan kewenangannya menyelenggarakan. Pemerintah provinsi sesuai dengan kewenangannya menyelenggarakan. akreditasi program pendidikan. membina. (4) Untuk melaksanakan tugasnya sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf a dan huruf b. dan/atau kompetensi tenaga g. akreditasi satuan pendidikan.doc 15 . b. Pasal 22 (2) (3) (4) (5) 76461668. e. sertifikasi unit pelaksana satuan dan/atau program pendidikan terkait. mengakui. pemberhentian. sertifikasi kompetensi pendidik. sertifikasi kependidikan. sertifikasi pendidikan terkait.

badan hukum pendidikan di provinsi yang bersangkutan. (2) Untuk menumbuhkan iklim kompetitif yang kondusif bagi pencapaian prestasi puncak sebagaimana dimaksud pada ayat (1) pemerintah provinsi menyelenggarakan dan/atau memfasilitasi secara teratur dan berjenjang kompetisi di bidang: a.(1) Pemerintah provinsi melakukan pembinaan berkelanjutan kepada peserta didik yang memiliki potensi kecerdasan dan/atau bakat istimewa untuk mencapai prestasi puncak di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi. olahraga. e. peserta didik di provinsi yang bersangkutan. seni. pihak lain yang terkait dengan pendidikan di provinsi yang bersangkutan. Pasal 24 76461668. masyarakat di provinsi yang bersangkutan. Pemerintah Kabupaten/Kota di provinsi yang bersangkutan. (4) Ketentuan lebih lanjut mengenai pelaksanaan ayat (1).doc 16 . kabupaten/kota. dan c. d. dan ayat (3) diatur dengan peraturan gubernur. dan akuntabilitas pengelolaan pendidikan yang mengikat: a. ilmu pengetahuan dan teknologi. g. komite sekolah atau nama lain yang sejenis di provinsi yang bersangkutan. nasional. efektifitas. ayat (2). provinsi. i. b. orang tua/wali peserta didik di provinsi yang bersangkutan. f. dan/atau olahraga pada tingkat satuan pendidikan. semua jajaran Pemerintah Provinsi. c. Pasal 23 Gubernur menetapkan kebijakan tatakelola pendidikan untuk menjamin efisiensi. dan internasional. h. tenaga kependidikan di provinsi yang j. dan k. (3) Pemerintah provinsi memberikan penghargaan kepada peserta didik yang meraih prestasi puncak sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) sesuai peraturan perundang-undangan. b. pendidik dan bersangkutan. seni. satuan pendidikan di provinsi yang bersangkutan. dewan pendidikan di provinsi yang bersangkutan.

(2) (3) Bagian Keempat Pengelolaan oleh Pemerintah Kabupaten/Kota Pasal 25 (1) Bupati/Walikota bertanggung jawab mengelola sistem pendidikan nasional di daerahnya serta merumuskan dan menetapkan kebijakan daerah bidang pendidikan sesuai kewenangannya. c. e. b. rencana pembangunan jangka panjang kabupaten/kota. rencana pembangunan jangka menengah kabupaten/kota. g. rencana kerja dan anggaran tahunan kabupaten/kota. (3) Kebijakan daerah bidang pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) dituangkan dalam: a.doc 17 . rencana kerja pemerintah kabupaten/kota.(1) Dalam menyelenggarakan dan mengelola sistem pendidikan nasional di daerahnya. (2) Kebijakan daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) konsisten dengan serta merupakan penjabaran dari kebijakan pendidikan nasional sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 dan penjabaran dari kebijakan pendidikan pemerintah provinsi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 15. pemerintah provinsi mengembangkan dan melaksanakan sistem informasi pendidikan provinsi berbasis teknologi informasi dan komunikasi. d. jenis. Sistem informasi pendidikan provinsi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) memberikan akses informasi administrasi pendidikan dan akses sumber pembelajaran kepada satuan pendidikan pada semua jenjang. dan jalur pendidikan sesuai kewenangan pemerintah provinsi. (4) Kebijakan daerah bidang pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1). dan peraturan bupati/walikota di bidang pendidikan. f. peraturan daerah di bidang pendidikan. Sistem informasi pendidikan provinsi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) merupakan subsistem dari sistem informasi pendidikan nasional. rencana strategis pendidikan kabupaten/kota. ayat (2) dan ayat (3) mengikat bagi: 76461668.

mengawasi. jenjang. j. g. e. satuan. Pasal 27 (1)Bupati/Walikota menetapkan target tingkat partisipasi pendidikan pada semua jenjang dan jenis pendidikan yang harus dicapai pada tingkat kabupaten/kota. d. pemerintah kabupaten/kota mengutamakan perluasan dan pemerataan akses pendidikan melalui jalur pendidikan formal. h. pendidikan di kabupaten/kota yang satuan pendidikan di kabupaten/kota yang bersangkutan. dewan pendidikan di kabupaten/kota yang bersangkutan. jalur. orang tua/wali peserta didik di kabupaten/kota yang bersangkutan. Pasal 26 Pemerintah kabupaten/kota sesuai kewenangannya mengarahkan. mengevaluasi.doc 18 . Pasal 28 76461668. (3) Dalam memenuhi target tingkat partisipasi pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1). pendidikan di (5) Pemerintah kabupaten/kota mengalokasikan anggaran pendidikan agar sistem pendidikan nasional di kabupaten/kota yang bersangkutan dapat dilaksanakan secara efektif. efisien. membimbing. mensupervisi. mengkoordinasi. komite sekolah atau nama lain kabupaten/kota yang bersangkutan. c. pendidik dan tenaga kependidikan di kabupaten/kota yang bersangkutan. dan jenis pendidikan di kabupaten/kota yang bersangkutan sesuai kebijakan daerah bidang pendidikan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 25. i. (2)Target tingkat partisipasi pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dipenuhi melalui jalur pendidikan formal dan nonformal. ayat (2). yang sejenis di peserta didik di kabupaten/kota yang bersangkutan. f. badan hukum bersangkutan. dan akuntabel sesuai dengan kebijakan daerah bidang pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1). dan pihak lain yang terkait dengan kabupaten/kota yang bersangkutan. memantau. dan mengendalikan penyelenggara. semua jajaran pemerintah kabupaten/kota. dan ayat (3). b.a. masyarakat di kabupaten/kota yang bersangkutan.

sertifikasi kompetensi peserta didik. (2) Bupati/Walikota menetapkan kebijakan untuk menjamin peserta didik miskin. b. pemerintah kabupaten/kota berkoordinasi dengan unit pelaksana teknis Pemerintah yang melaksanakan tugas penjaminan mutu pendidikan. Dalam rangka penjaminan mutu pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1). sertifikasi kependidikan. dan Standar Nasional Pendidikan. akreditasi program pendidikan. antar kecamatan atau sebutan lainnya yang sejenis. Pasal 31 76461668. sertifikasi pendidikan terkait. dan/atau peserta didik di daerah khusus dapat memperoleh akses pelayanan pendidikan. peserta didik khusus. sertifikasi unit pelaksana satuan dan/atau program pendidikan terkait. f. d. c. kebijakan provinsi bidang pendidikan. dan antara laki-laki dan perempuan. pemerintah kabupaten/kota memfasilitasi: a.doc 19 . Pasal 30 (1) Pemerintah kabupaten/kota sesuai kewenangannya melakukan dan/atau memfasilitasi penjaminan mutu pendidikan di daerahnya dengan berpedoman pada kebijakan nasional bidang pendidikan. sertifikasi kompetensi pendidik. satuan dan/atau program (2) (3) c. Pasal 29 Bupati/Walikota melaksanakan dan mengkoordinasikan pelaksanaan standar pelayanan minimal bidang pendidikan sesuai peraturan perundang-undangan. antar desa/kelurahan atau sebutan lainnya yang sejenis. e. dan/atau kompetensi tenaga g. b. Dalam melaksanakan tugasnya sebagaimana dimaksud pada ayat (1).(1) Bupati/Walikota menetapkan target tingkat pemerataan partisipasi pendidikan pada tingkat kabupaten/kota: a. akreditasi satuan pendidikan.

(3) ilmu pengetahuan dan teknologi. seni. provinsi. b. Pemerintah kabupaten/kota memfasilitasi akreditasi internasional program dan/atau satuan pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2). (2) Pemerintah kabupaten/kota memberikan penghargaan kepada peserta didik yang meraih prestasi puncak sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) sesuai peraturan perundang-undangan. nasional. dan olahraga. dan melindungi program dan/atau satuan pendidikan bertaraf internasional dan/atau berbasis keunggulan lokal sesuai peraturan perundang-undangan. membina. Pemerintah kabupaten/kota memfasilitasi sertifikasi internasional pada program dan/atau satuan pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2).doc 20 . Ketentuan lebih lanjut mengenai pelaksanaan ayat (1). seni. (2) (3) (4) Pasal 32 (1) Pemerintah kabupaten/kota melakukan pembinaan berkelanjutan kepada peserta didik yang memiliki potensi kecerdasan dan/atau bakat istimewa untuk mencapai prestasi puncak di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi. dan/atau olahraga pada tingkat satuan pendidikan. dan ayat (3) diatur dengan peraturan bupati/walikota. kecamatan. Pemerintah kabupaten/kota melaksanakan dan/atau memfasilitasi perintisan program dan/atau satuan pendidikan yang sudah atau hampir memenuhi Standar Nasional Pendidikan untuk dikembangkan menjadi program dan/atau satuan pendidikan bertaraf internasional dan/atau berbasis keunggulan lokal. Untuk menumbuhkan iklim kompetitif yang kondusif bagi pencapaian prestasi puncak sebagaimana dimaksud pada ayat (1) pemerintah kabupaten/kota menyelenggarakan dan/atau memfasilitasi secara teratur dan berjenjang kompetisi di bidang: a. ayat (2). dan internasional. kabupaten/kota. c.(1) Pemerintah kabupaten/kota mengakui. Pasal 33 (4) 76461668. memfasilitasi.

Bupati/Walikota menetapkan kebijakan tatakelola pendidikan untuk menjamin efisiensi, efektifitas, dan akuntabilitas pengelolaan pendidikan yang mengikat: a. semua jajaran pemerintah kabupaten/kota; b. badan hukum pendidikan di kabupaten/kota yang bersangkutan; c. satuan pendidikan bersangkutan; d. dewan pendidikan bersangkutan; di di kabupaten/kota kabupaten/kota yang yang

e. komite sekolah atau nama lain yang sejenis di kabupaten/kota yang bersangkutan; f. peserta didik di kabupaten/kota yang bersangkutan; g. orang tua/wali peserta didik di kabupaten/kota yang bersangkutan; h. pendidik dan tenaga kabupaten/kota yang bersangkutan; i. dan kependidikan di

masyarakat di kabupaten/kota yang bersangkutan; pendidikan di

j. pihak lain yang terkait dengan kabupaten/kota yang bersangkutan. Pasal 34 (1)

Dalam menyelenggarakan dan mengelola sistem pendidikan nasional di daerahnya, pemerintah kabupaten/kota mengembangkan dan melaksanakan sistem informasi pendidikan kabupaten/kota berbasis teknologi informasi dan komunikasi. Sistem informasi pendidikan kabupaten/kota sebagaimana dimaksud pada ayat (1) merupakan subsistem dari sistem informasi pendidikan nasional. Sistem informasi pendidikan kabupaten/kota sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) memberikan akses informasi administrasi pendidikan dan akses sumber pembelajaran kepada satuan pendidikan pada semua jenjang, jenis, dan jalur pendidikan sesuai kewenangan pemerintah kabupaten/kota. Bagian Kelima Pengelolaan oleh Badan Hukum Pendidikan Pasal 35 (1) Badan hukum pendidikan bertanggung jawab mengelola sistem pendidikan nasional di badan hukum pendidikannya serta
76461668.doc

(2)

(3)

21

merumuskan dan kewenangannya. (2)

menetapkan kebijakan pendidikan sesuai

Kebijakan pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) konsisten dengan serta merupakan penjabaran dari kebijakan pendidikan nasional sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4, kebijakan pendidikan pemerintah provinsi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 15, dan/atau kebijakan pendidikan pemerintah kabupaten/kota sebagaimana dimaksud dalam Pasal 25, sesuai peraturan perundang-undangan. Kebijakan pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) dituangkan dalam peraturan badan hukum pendidikan.

(3)

(4) Kebijakan pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1), ayat (2) dan ayat (3) mengikat bagi: a. badan hukum pendidikan yang bersangkutan; b. satuan dan/atau program pendidikan yang terkait; c. lembaga representasi pemangku kepentingan dan/atau program pendidikan yang terkait; satuan

d. peserta didik di satuan dan/atau program pendidikan yang terkait; e. orang tua/wali peserta didik di satuan dan/atau program pendidikan yang terkait; f. pendidik dan tenaga kependidikan di satuan dan/atau program pendidikan yang terkait; g. pihak lainnya yang terikat dengan program pendidikan yang terkait. satuan dan/atau

(5) Badan hukum pendidikan mengalokasikan anggaran pendidikan agar sistem pendidikan nasional di satuan dan/atau program pendidikan yang terkait dapat dilaksanakan secara efektif, efisien, dan akuntabel sesuai dengan kebijakan pendidikan nasional sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4, kebijakan pendidikan pemerintah provinsi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 15, kebijakan pendidikan pemerintah kabupaten/kota sebagaimana dimaksud dalam Pasal 25, dan/atau kebijakan pendidikan badan hukum pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1), ayat (2), ayat (3), dan ayat (4), dan sesuai peraturan perundang-undangan. Pasal 36 Badan hukum pendidikan sesuai kewenangannya mengarahkan, membimbing, mensupervisi, mengawasi, mengkoordinasi, memantau, mengevaluasi, dan mengendalikan satuan dan/atau program pendidikan yang terkait sesuai dengan kebijakan pendidikan nasional sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4, kebijakan pendidikan
76461668.doc

22

pemerintah provinsi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 15, kebijakan pendidikan pemerintah kabupaten/kota sebagaimana dimaksud dalam Pasal 25, dan/atau kebijakan pendidikan badan hukum pendidikan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 35, dan sesuai peraturan perundang-undangan. Pasal 37 Badan hukum pendidikan menetapkan kebijakan untuk menjamin peserta didik miskin, peserta didik khusus, dan/atau peserta didik di daerah khusus dapat memperoleh akses pelayanan pendidikan. Pasal 38 Badan hukum pendidikan menjamin pelaksanaan Standar Pelayanan Minimal bidang pendidikan pada satuan dan/atau program pendidikan terkait sesuai peraturan perundang-undangan. Pasal 39 (1) Badan hukum pendidikan sesuai kewenangannya melakukan dan/atau memfasilitasi penjaminan mutu pendidikan di satuan dan/atau program pendidikan terkait dengan berpedoman pada kebijakan pendidikan nasional sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4, kebijakan pendidikan pemerintah provinsi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 15, kebijakan pendidikan pemerintah kabupaten/kota sebagaimana dimaksud dalam Pasal 25, dan/atau kebijakan pendidikan badan hukum pendidikan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 35, dan Standar Nasional Pendidikan. (2) Dalam melaksanakan tugasnya sebagaimana dimaksud pada ayat (1), badan hukum pendidikan yang merupakan dan/atau menyelenggarakan satuan dan/atau program pendidikan anak usia dini, pendidikan dasar dan/atau pendidikan menengah bekerja sama dengan unit pelaksana teknis Pemerintah yang melaksanakan tugas penjaminan mutu pendidikan. (3) Dalam rangka penjaminan mutu pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1), badan hukum pendidikan memfasilitasi: a. akreditasi program pendidikan terkait; b. akreditasi satuan pendidikan terkait; c. sertifikasi satuan dan/atau program pendidikan terkait; d. sertifikasi unit pelaksana pendidikan terkait; satuan dan/atau program

e. sertifikasi kompetensi peserta didik; f. sertifikasi kompetensi pendidik; dan/atau g. sertifikasi kompetensi tenaga kependidikan.
76461668.doc

23

Pasal 40 (1) Badan hukum pendidikan memfasilitasi, membina, dan melindungi program dan/atau satuan pendidikan terkait yang bertaraf internasional dan/atau berbasis keunggulan lokal sesuai peraturan perundang-undangan. Badan hukum pendidikan melaksanakan dan/atau memfasilitasi perintisan program dan/atau satuan pendidikan terkait yang sudah atau hampir memenuhi Standar Nasional Pendidikan untuk dikembangkan menjadi program dan/atau satuan pendidikan bertaraf internasional dan/atau berbasis keunggulan lokal. Badan hukum pendidikan memfasilitasi akreditasi internasional program dan/atau satuan pendidikan terkait sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2). Badan hukum pendidikan memfasilitasi sertifikasi internasional pada program dan/atau satuan pendidikan terkait sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2). Pasal 41 (1) Badan hukum pendidikan memfasilitasi pembinaan berkelanjutan kepada peserta didik yang memiliki potensi kecerdasan dan/atau bakat istimewa untuk mencapai prestasi puncak di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi, seni, dan/atau olahraga pada tingkat satuan pendidikan, kecamatan, kabupaten/kota, provinsi, nasional, dan internasional. Untuk menumbuhkan iklim kompetitif yang kondusif bagi pencapaian prestasi puncak sebagaimana dimaksud pada ayat (1) badan hukum pendidikan memfasilitasi secara teratur kompetisi di satuan dan/atau program pendidikan terkait dalam bidang: a. b. c. (3) ilmu pengetahuan dan teknologi; seni; dan olahraga.

(2)

(3)

(4)

(2)

Ketentuan lebih lanjut mengenai pelaksanaan ayat (1), ayat (2), dan ayat (3) diatur dengan peraturan badan hukum pendidikan. Pasal 42

Badan hukum pendidikan menetapkan kebijakan tatakelola pendidikan untuk menjamin efisiensi, efektifitas, dan akuntabilitas pengelolaan pendidikan yang mengikat: a. b.
76461668.doc

badan hukum pendidikan yang bersangkutan; satuan dan/atau program pendidikan terkait;
24

pendidik dan tenaga kependidikan di satuan dan/atau program pendidikan terkait. pihak lain yang terikat dengan satuan dan/atau program pendidikan terkait.c. f. e. Sistem informasi pendidikan badan hukum pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) memberikan akses informasi administrasi pendidikan dan akses sumber pembelajaran kepada satuan dan/atau program pendidikan terkait. didik satuan dan/atau program d. orang tua/wali peserta didik di satuan dan/atau program pendidikan terkait. Sistem informasi pendidikan badan hukum pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) merupakan subsistem dari sistem informasi pendidikan nasional. dan sesuai peraturan perundangundangan. kebijakan pendidikan pemerintah kabupaten/kota sebagaimana dimaksud dalam Pasal 25.doc 25 . (2) Kebijakan pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) konsisten dengan serta merupakan penjabaran dari kebijakan pendidikan nasional sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4. Pasal 43 (1) Dalam menyelenggarakan dan mengelola sistem pendidikan nasional di satuan dan/atau program pendidikan terkait. Bagian Keenam Pengelolaan oleh Satuan dan/atau Program Pendidikan Pasal 44 (2) (3) (1) Satuan dan/atau program pendidikan bertanggung jawab mengelola sistem pendidikan nasional di satuan dan/atau program pendidikannya serta merumuskan dan menetapkan kebijakan pendidikan sesuai kewenangannya. badan hukum pendidikan mengembangkan dan melaksanakan sistem informasi pendidikan badan hukum pendidikan berbasis teknologi informasi dan komunikasi. lembaga representasi pemangku kepentingan pendidikan pada satuan dan/atau program pendidikan terkait. 76461668. dan/atau kebijakan pendidikan badan hukum pendidikan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 35. g. kebijakan pendidikan pemerintah provinsi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 15. peserta pendidikan terkait.

ayat (2) dan ayat (3) mengikat bagi: a. (6) Kebijakan satuan pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (3) merupakan penjabaran dan selaras dengan: a. b. satuan pendidikan dasar. anggaran tahunan perguruan tinggi. f. b. f. dan dan belanja tahunan satuan c.(3) Kebijakan pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2). rencana strategis perguruan tinggi. dan d. lembaga representasi pemangku kepentingan dan/atau program pendidikan yang bersangkutan. (4) a. peraturan pemimpin perguruan tinggi. e. orang tua/wali peserta didik di satuan dan/atau program pendidikan yang bersangkutan. b. Kebijakan Pasal 4. pihak lainnya yang terikat dengan satuan dan/atau program pendidikan yang bersangkutan. Kebijakan pemerintah kabupaten/kota dimaksud dalam Pasal 25. d. c. anggaran pendapatan pendidikan. (5) Kebijakan pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1). dan satuan pendidikan menengah dituangkan dalam: a. Pemerintah sebagaimana dimaksud dalam b. d. pendidik dan tenaga kependidikan di satuan dan/atau program pendidikan yang bersangkutan. Kebijakan pemerintah provinsi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 15.doc sebagaimana sebagaimana pendidikan 26 . rencana kerja tahunan perguruan tinggi. c. peraturan satuan dan/atau program pendidikan. e. rencana kerja tahunan satuan pendidikan. dan peraturan pimpinan perguruan tinggi lainnya. Kebijakan pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2). Kebijakan badan hukum dimaksud dalam Pasal 35. satuan dan/atau program pendidikan yang bersangkutan. oleh satuan pendidikan anak usia dini. peserta didik di satuan dan/atau program pendidikan yang bersangkutan. satuan c. 76461668. oleh perguruan tinggi dituangkan dalam: rencana pembangunan jangka panjang perguruan tinggi.

kebijakan pendidikan pemerintah kabupaten/kota sebagaimana dimaksud dalam Pasal 25. Pasal 47 Satuan dan/atau program pendidikan menjamin terpenuhinya Standar Pelayanan Minimal bidang pendidikan. dan/atau peserta didik di daerah khusus dapat memperoleh akses pelayanan pendidikan. dan ayat (4).(7) Kebijakan perguruan tinggi sebagaimana dimaksud pada ayat (4) merupakan penjabaran dan selaras dengan: a. Pasal 46 Satuan dan/atau program pendidikan sesuai kewenangannya menetapkan kebijakan untuk menjamin peserta didik miskin.doc . kebijakan pendidikan pemerintah provinsi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 15. ayat (3). kebijakan pendidikan pemerintah kabupaten/kota sebagaimana dimaksud dalam Pasal 25. dan sebagaimana dimaksud dalam b. kebijakan pendidikan pemerintah provinsi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 15. dan sesuai peraturan perundangundangan. Pasal 48 (1) Satuan dan/atau program pendidikan melakukan penjaminan mutu pendidikan dengan berpedoman pada kebijakan pendidikan nasional sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4. peserta didik khusus. dan sesuai peraturan perundang-undangan. Kebijakan badan hukum dimaksud dalam Pasal 35. ayat (2). kebijakan pendidikan pemerintah kabupaten/kota sebagaimana dimaksud dalam Pasal 25. (8) pendidikan sebagaimana Satuan dan/atau program pendidikan mengalokasikan anggaran pendidikan agar sistem pendidikan nasional di satuan dan/atau program pendidikan yang bersangkutan dapat dilaksanakan secara efektif. dan/atau kebijakan pendidikan badan hukum pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1). Pasal 45 Satuan dan/atau program pendidikan mengelola pendidikan sesuai dengan kebijakan pendidikan nasional sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4. dan/atau kebijakan pendidikan badan hukum pendidikan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 35. kebijakan pendidikan pemerintah provinsi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 15. Kebijakan Pemerintah Pasal 4. dan/atau kebijakan 27 76461668. efisien. dan akuntabel sesuai dengan kebijakan pendidikan nasional sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4.

dan/atau g. Satuan dan/atau program pendidikan yang sudah atau hampir memenuhi Standar Nasional Pendidikan dapat mengikuti akreditasi internasional program dan/atau satuan pendidikan. mengikuti: a. (2) Dalam melaksanakan tugasnya sebagaimana dimaksud pada ayat (1). satuan dan/atau program pendidikan. Pasal 50 (1) Satuan dan/atau program pendidikan melakukan pembinaan berkelanjutan kepada peserta didik yang memiliki potensi kecerdasan dan/atau bakat istimewa untuk mencapai prestasi 28 (2) (3) 76461668. dan Standar Nasional Pendidikan. sertifikasi satuan dan/atau program pendidikan yang bersangkutan. sertifikasi kompetensi peserta didik terkait. f. Satuan dan/atau program pendidikan dapat mengikuti sertifikasi internasional program atau satuan pendidikan. b. Pasal 49 (1) Satuan dan/atau program pendidikan yang sudah atau hampir memenuhi Standar Nasional Pendidikan dapat merintis dirinya untuk dikembangkan menjadi program dan/atau satuan pendidikan bertaraf internasional dan/atau berbasis keunggulan lokal. akreditasi program pendidikan yang bersangkutan. sertifikasi kompetensi pendidik terkait. c. satuan dan/atau program pendidikan anak usia dini. d. dan/atau program (3) e. Dalam rangka penjaminan mutu pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1). sesuai peraturan perundang-undangan.doc .pendidikan badan hukum pendidikan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 35. sertifikasi kompetensi tenaga kependidikan terkait. pendidikan dasar. akreditasi satuan pendidikan yang bersangkutan. sertifikasi unit pelaksana satuan pendidikan yang bersangkutan. atau pendidikan menengah bekerja sama dengan unit pelaksana teknis Pemerintah yang melaksanakan tugas penjaminan mutu pendidikan.

kabupaten/kota. seni. pendidik dan tenaga kependidikan di dan/atau program pendidikan yang bersangkutan. efektifitas. c. (4) Ketentuan lebih lanjut mengenai pelaksanaan ayat (1). dan/atau program pendidikan yang lembaga representasi pemangku kepentingan pendidikan pada satuan dan/atau program pendidikan yang bersangkutan. provinsi. pihak lain yang terikat dengan satuan dan/atau program pendidikan yang bersangkutan. f. Pasal 52 (1) Dalam menyelenggarakan dan mengelola pendidikan. satuan c. d. satuan bersangkutan. dan/atau olahraga pada tingkat satuan pendidikan. dan internasional. nasional. seni.doc 29 . 76461668. dan ayat (3) diatur dengan peraturan satuan dan/atau program pendidikan.puncak di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi. satuan dan/atau program pendidikan mengembangkan dan melaksanakan sistem informasi pendidikan berbasis teknologi informasi dan komunikasi. kecamatan. (2) Untuk menumbuhkan iklim kompetitif yang kondusif bagi pencapaian prestasi puncak sebagaimana dimaksud pada ayat (1) satuan dan/atau program pendidikan melakukan secara teratur kompetisi di satuan dan/atau program pendidikan terkait dalam bidang: a. ilmu pengetahuan dan teknologi. Pasal 51 Satuan dan/atau program pendidikan menetapkan kebijakan tatakelola pendidikan untuk menjamin efisiensi. b. ayat (2). dan olahraga. peserta didik satuan dan/atau program pendidikan yang bersangkutan. b. orang tua/wali peserta didik di satuan dan/atau program pendidikan yang bersangkutan. e. dan akuntabilitas pengelolaan pendidikan yang mengikat: a. (3) Satuan dan/atau program pendidikan memberikan penghargaan kepada peserta didik yang meraih prestasi puncak sesuai peraturan perundang-undangan.

mengembangkan potensi kecerdasan spiritual. dan mengembangkan seluruh potensi anak usia dini secara optimal sehingga terbentuk perilaku dan kemampuan dasar sesuai dengan tahap perkembangannya agar memiliki kesiapan untuk memasuki pendidikan selanjutnya. atau bentuk lain yang sederajat. percaya diri. emosional. kritis.(2) Sistem informasi pendidikan satuan dan/atau program pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) merupakan subsistem dari sistem informasi pendidikan nasional. 30 (2) 76461668.doc . Sistem informasi pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) memberikan akses informasi administrasi pendidikan dan akses sumber pembelajaran kepada pendidik. menumbuhkan. BA atau bentuk lain yang sederajat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) memiliki program pembelajaran 1 (satu) tahun atau 2 (dua) tahun. (2) PAUD bertujuan: a. kreatif. RA. dan peserta didik. b. Paragraf 2 Bentuk dan Jenis Satuan Pendidikan Pasal 54 (1) PAUD pada jalur pendidikan formal berbentuk Taman Kanakkanak (TK). TK. dan menjadi warga negara yang demokratis dan bertanggung jawab. inovatif. BAB III PENYELENGGARAAN PENDIDIKAN FORMAL Bagian Kesatu Pendidikan Anak Usia Dini Paragraf 1 Fungsi dan Tujuan Pasal 53 (3) (1) PAUD berfungsi membina. berilmu. mandiri. kinestetis. sehat. berakhlak mulia. membangun landasan bagi berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. tenaga kependidikan. Raudathul Athfal (RA). cakap. dan sosial peserta didik pada masa emas pertumbuhannya dalam lingkungan bermain yang edukatif dan menyenangkan. berkepribadian luhur. Bustanul Athfal (BA). intelektual.

(3)

TK, RA, BA atau bentuk lain yang sederajat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat diselenggarakan menyatu dengan SD, MI, atau bentuk lain yang sederajat. Paragraf 3 Penerimaan Peserta Didik Pasal 55

Peserta didik TK, RA, BA, atau bentuk lain yang sederajat berusia 4 (empat) tahun sampai dengan 6 (enam) tahun. Pasal 56 (1) (2) Penerimaan peserta didik pada satuan pendidikan anak usia dini dilakukan secara objektif, transparan, dan akuntabel. Penerimaan peserta didik pada satuan pendidikan anak usia dini dilakukan tanpa diskriminasi atas dasar pertimbangan gender, agama, etnis, status sosial, kemampuan ekonomi, dan kondisi fisik atau mental anak. Keputusan penerimaan calon peserta didik menjadi peserta didik dilakukan secara mandiri oleh rapat dewan guru yang dipimpin oleh kepala satuan pendidikan. Paragraf 4 Program Pembelajaran Pasal 57 (1) Program pembelajaran TK, RA, BA dan bentuk lain yang sederajat dikembangkan untuk mempersiapkan peserta didik memasuki SD, MI, atau bentuk lain yang sederajat. Program pembelajaran TK, RA, BA dan bentuk lain yang sederajat dilaksanakan dalam konteks bermain dan dapat dikelompokan dalam: a. bermain dalam rangka pembelajaran agama dan ahlak mulia; b. bermain dalam kepribadian; rangka pembelajaran sosial dan

(3)

(2)

c. bermain dalam rangka pembelajaran estetika; d. bermain dalam rangka pembelajaran jasmani, olahraga dan kesehatan; dan e. bermain dalam rangka pembelajaran pengenalan pengetahuan dan teknologi. (3) orientasi dan

Semua permainan pembelajaran sebagaimana dimaksud pada
31

76461668.doc

ayat (2) dirancang dan diselenggarakan: a. secara interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang, dan mendorong kreativitas serta kemandirian, b. sesuai dengan tahap pertumbuhan fisik perkembangan mental anak serta kebutuhan kepentingan terbaik anak; dan dan

c. dengan memperhatikan perbedaan bakat, minat, dan kemampuan masing-masing anak; d. dengan mengintegrasikan kebutuhan anak kesehatan, gizi, dan stimulasi psikososial; dan terhadap

e. dengan memperhatikan latar belakang ekonomi, sosial, dan budaya anak. Bagian Kedua Pendidikan Dasar Paragraf 1 Fungsi dan Tujuan Pasal 58 (1) Pendidikan dasar tingkat SD/MI atau yang sederajat berfungsi: a. menanamkan dan mengamalkan nilai-nilai keimanan, ahlak mulia, dan kepribadian luhur; b. menanamkan dan mengamalkan nilai-nilai kebangsaan dan cinta tanah air; c. memberikan dasar-dasar kemampuan intelektual dalam bentuk kemampuan dan kecakapan membaca, menulis, dan berhitung; d. melatih dan merangsang kepekaan dan kemampuan mengapresiasi serta mengekspresikan keindahan, kehalusan, dan harmoni; e. menumbuhkan minat pada olah raga, kesehatan, dan kebugaran jasmani; dan f. mengembangkan kesiapan fisik dan mental untuk melanjutkan pendidikan ke SMP/MTs atau yang sederajat. (2) Pendidikan dasar tingkat SMP/MTs atau yang sederajat berfungsi: a. Mengembangkan, menghayati, dan mengamalkan nilainilai keimanan, ahlak mulia, dan kepribadian luhur yang telah dikenalinya; b. Mengembangkan, menghayati, dan mengamalkan nilainilai kebangsaan dan cinta tanah air yang telah dikenalinya;
76461668.doc

32

c. mempelajari dasar-dasar ilmu pengetahuan dan secara terbatas mulai mengenali teknologi; d. melatih dan mengembangkan kepekaan dan kemampuan mengapresiasi serta mengekspresikan keindahan, kehalusan, dan harmoni; e. mengembangkan bakat dan kemampuan di bidang olah raga, baik untuk kesehatan dan kebugaran jasmani maupun prestasi; dan f. mengembangkan kesiapan fisik dan mental untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang pendidikan menengah dan/atau untuk hidup mandiri di masyarakat. (3) Pendidikan dasar bertujuan membangun landasan bagi berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang: a. beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, dan berkepribadian luhur; b. berilmu, cakap, kritis, kreatif, dan inovatif; c. sehat, mandiri, dan percaya diri; dan d. toleran, peka sosial, demokratis, dan bertanggung jawab. Paragraf 2 Bentuk Satuan Pendidikan Pasal 59 (1) Pendidikan dasar kelas 1 (satu) sampai dengan kelas 6 (enam) adalah Sekolah Dasar (SD), Madrasah Ibtidaiyah (MI), atau bentuk lain yang sederajat. Pendidikan dasar kelas 7 (tujuh) sampai dengan kelas 9 (sembilan) adalah Sekolah Menengah Pertama (SMP), Madrasah Tsanawiyah (MTs), atau bentuk lain yang sederajat. Paragraf 3 Penerimaan Peserta Didik Pasal 60 (1) Peserta didik pada SD/MI atau bentuk lain yang sederajat sekurang-kurangnya berusia 6 (enam) tahun.

(2)

(2) Pengecualian terhadap ketentuan pada ayat (1) dapat dilakukan atas dasar rekomendasi tertulis dari psikolog. (3) Satuan pendidikan SD/MI atau bentuk lain yang sederajat wajib menerima warga negara berusia 7 (tujuh) sampai 12 (dua belas) tahun sebagai peserta didik sampai dengan batas daya
33

76461668.doc

tampungnya. (4) Penerimaan peserta didik kelas 1 (satu) SD/MI atau bentuk lain yang sederajat tidak didasarkan pada hasil tes kemampuan membaca, menulis, dan berhitung, atau bentuk seleksi lainnya. Pasal 61 (1) Pemilihan peserta didik pada SD/MI yang diselenggarakan oleh Pemerintah atau pemerintah daerah didasarkan pada urutan ketuaan usia calon peserta didik apabila jumlah calon peserta didik melebihi daya tampung satuan pendidikan. Jika usia calon peserta didik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) sama, maka penentuan peserta didik didasarkan pada urutan kedekatan tempat tinggal peserta didik dengan satuan pendidikan. Jika usia dan/atau urutan kedekatan tempat tinggal peserta didik dengan satuan pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) sama, maka peserta didik yang mendaftar lebih awal diprioritaskan. Pasal 62 (1) Peserta didik pada SMP/MTs atau bentuk lain yang sederajat sudah menyelesaikan pendidikannya pada SD, MI, Paket A, atau bentuk lain yang sederajat. Satuan pendidikan SMP/MTs atau bentuk lain yang sederajat wajib menerima warga negara berusia 13 (tiga belas) sampai 15 (lima belas) tahun sebagai peserta didik sampai dengan batas daya tampungnya. Pasal 63 (1) Satuan pendidikan SD/MI dan SMP/MTs yang memiliki jumlah calon peserta didik melebihi daya tampungnya wajib melaporkan kelebihan calon peserta didik tersebut kepada pemerintah kabupaten/kota yang bersangkutan. Pemerintah kabupaten/kota wajib menyalurkan kelebihan calon peserta didik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) pada satuan pendidikan dasar lain. Pasal 64 (1) Peserta didik jalur nonformal dan informal dapat diterima di SD, MI, atau bentuk lain yang sederajat tidak pada awal kelas 1 (satu) setelah lulus tes kelayakan dan penempatan yang diselenggarakan oleh satuan pendidikan formal.

(2)

(3)

(2)

(2)

76461668.doc

34

tidak benar. Satuan pendidikan SD. dan b. atau b. MTs. MI. atau bentuk lain yang sederajat sejak awal kelas 7 (tujuh) setelah lulus ujian kesetaraan Paket A. lulus tes kelayakan dan penempatan yang diselenggarakan oleh satuan pendidikan yang ingin dimasukinya. atau bentuk lain yang sederajat di Indonesia setelah lulus tes kelayakan dan penempatan yang diselenggarakan oleh satuan pendidikan yang ingin dimasukinya. MTs. dapat menunjukkan ijazah atau dokumen lain yang membuktikan bahwa yang bersangkutan telah menyelesaikan pendidikan dasar yang memberikan kompetensi lulusan setara SD. lulus ujian kesetaraan Paket A. dan ayat (6) huruf b apabila setelah dilakukan pemeriksaan oleh Inspektorat Jenderal Departemen atas instruksi Menteri terbukti bahwa keputusan tersebut melanggar peraturan perundang-undangan. lulus tes kelayakan dan penempatan yang diselenggarakan oleh satuan pendidikan formal yang bersangkutan. SMP. dan/atau tidak jujur. atau bentuk lain yang sederajat di Indonesia dengan syarat: a. sosial. MTs. MI.doc 35 . (3) (4) Peserta didik pendidikan dasar setara SD di negara lain dapat pindah ke SD. ayat (4). (5) (6) Peserta didik pendidikan dasar setara SD yang mengikuti sistem dan/atau standar pendidikan negara lain dapat diterima di SMP/MTs atau bentuk lain yang sederajat pada awal tahun kelas 7 (tujuh) setelah: a. b. menunjukkan ijazah atau dokumen lain yang membuktikan bahwa yang bersangkutan telah menyelesaikan pendidikan dasar setara SD. lulus ujian kesetaraan Paket A. MTs. ayat (5).(2) Peserta didik jalur nonformal dan informal dapat diterima di SMP. Peserta didik pendidikan dasar setara SMP di negara lain dapat pindah ke SMP. atau bentuk lain yang sederajat memberikan bantuan penyesuaian akademik. Peserta didik jalur nonformal dan informal dapat diterima di SMP. (8) 76461668. (7) Menteri dapat membatalkan keputusan satuan pendidikan tentang syarat sebagaimana dimaksud pada ayat (3) huruf b. atau bentuk lain yang sederajat sesudah awal kelas 7 (tujuh) setelah: a. dan/atau mental yang diperlukan oleh peserta didik pindahan dari satuan pendidikan formal lain atau jalur pendidikan lain.

doc (5) 36 . meningkatkan. dan harmoni. etnis. c. dan mengamalkan nilai-nilai keimanan. status sosial. d.(9) Ketentuan lebih lanjut mengenai pelaksanaan ayat (1) sampai dengan ayat (6) diatur dengan peraturan Menteri. menyalurkan bakat dan kemampuan di bidang olah raga. baik untuk kesehatan dan kebugaran jasmani maupun prestasi. menghayati. mempelajari ilmu pengetahuan dan teknologi. agama. meningkatkan kesiapan fisik dan mental untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang pendidikan tinggi dan/atau untuk hidup mandiri di masyarakat. kehalusan. Bagian Ketiga Pendidikan Menengah Paragraf 1 Fungsi dan Tujuan Pasal 66 (1) Pendidikan menengah umum berfungsi: a. Di samping memenuhi ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (4). 76461668. meningkatkan kepekaan dan kemampuan mengapresiasi serta mengekspresikan keindahan. dan f. b. transparan. dan mengamalkan nilai-nilai kebangsaan dan cinta tanah air. e. dan kondisi fisik atau mental peserta didik. dasar Penerimaan peserta didik pada satuan pendidikan dasar dilakukan tanpa diskriminasi atas dasar pertimbangan gender. (4) Seleksi penerimaan peserta didik baru di kelas 7 (tujuh) pada satuan pendidikan dasar setingkat SMP didasarkan pada hasil Ujian Nasional. kecuali bagi lulusan satuan pendidikan sebagaimana dimaksud pada Pasal 64 ayat (2) dan ayat (6). kemampuan ekonomi. dan akuntabel. ahlak mulia. (3) Keputusan penerimaan calon peserta didik menjadi peserta didik dilakukan secara mandiri oleh rapat dewan guru yang dipimpin oleh kepala satuan pendidikan. Pasal 65 (1) (2) Penerimaan peserta didik pada satuan pendidikan dilakukan secara objektif. meningkatkan. dan kepribadian luhur. satuan pendidikan dapat melakukan tes bakat skolastik untuk seleksi penerimaan peserta didik baru di kelas 7 (tujuh). menghayati.

dan Madrasah Aliyah Kejuruan (MAK). membekali peserta didik dengan kemampuan ilmu pengetahuan dan teknologi serta kecakapan kejuruan paraprofesi sesuai dengan kebutuhan masyarakat. e. c. mandiri.(2) Pendidikan menengah kejuruan berfungsi: a.doc . meningkatkan kepekaan dan kemampuan mengapresiasi serta mengekspresikan keindahan. Pendidikan menengah terdiri atas 3 (tiga) tingkatan kelas. meningkatkan. beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. Madrasah Aliyah (MA). sehat. yaitu 37 (2) 76461668. kritis. c. Pasal 67 Pendidikan menengah bertujuan membentuk peserta didik menjadi insan yang: a. Paragraf 2 Bentuk Satuan Pendidikan Pasal 68 (1) Pendidikan menengah berbentuk Sekolah Menengah Atas (SMA). baik untuk kesehatan dan kebugaran jasmani maupun prestasi. dalam rangka mengantarkan peserta didik agar mampu hidup produktif dan beretika dalam masyarakat majemuk. peka sosial. menghayati. berakhlak mulia. dan d. d. dan f. meningkatkan. dan mengamalkan nilai-nilai kebangsaan dan cinta tanah air. dan berkepribadian luhur. ahlak mulia. kehalusan. toleran. b. dan percaya diri. meningkatkan kesiapan fisik dan mental untuk hidup mandiri di masyarakat dan/atau melanjutkan pendidikan ke jenjang pendidikan tinggi. b. Sekolah Menengah Kejuruan (SMK). dan harmoni. berilmu. dan kepribadian luhur. kreatif. menyalurkan bakat dan kemampuan di bidang olah raga. dan inovatif. cakap. dan mengamalkan nilai-nilai keimanan. atau bentuk lain yang sederajat. menghayati. demokratis. serta menjadi warga negara yang taat hukum dalam konteks kehidupan global yang senantiasa berubah. dan bertanggung jawab.

dan pariwisata. dan kelas 12 (dua belas). Pasal 70 (1) (2) (3) (4) Penjurusan pada SMK/MAK. Setiap program studi keahlian sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dapat terdiri dari satu atau lebih kompetensi keahlian. sesuai dengan tuntutan dunia kerja. Pasal 69 (1) Penjurusan pada SMA/MA atau bentuk lain yang sederajat berbentuk program studi yang memfasilitasi kebutuhan pembelajaran serta kompetensi yang diperlukan peserta didik untuk melanjutkan pendidikan pada jenjang pendidikan tinggi. Bidang studi keahlian sebagaimana dimaksud pada ayat (1) terdiri atas: a. kelas 11 (sebelas). dan kelas 13 (tiga belas). Program studi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) terdiri atas: a. atau bentuk lain yang sederajat berbentuk bidang studi keahlian. yang diperlukan masyarakat. c. keagamaan. bidang studi keahlian kesehatan. (3) Ketentuan lebih lanjut tentang pelaksanaan ayat (1) dan ayat (2) diatur dengan peraturan Menteri. program studi program studi lain 38 . 76461668. kerajinan. f. yaitu kelas 10 (sepuluh). e. atau e. (3) SMK dan MAK dapat terdiri atas 4 (empat) tingkatan kelas. pengetahuan sosial. bidang studi keahlian bisnis dan manajemen. bidang studi keahlian seni. d. c. pengetahuan alam.kelas 10 (sepuluh). d. bidang studi keahlian teknologi informasi dan komunikasi. Setiap bidang studi keahlian sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat terdiri atas 1 (satu) atau lebih program studi keahlian. kelas 11 (sebelas).doc (2) program studi ilmu program studi ilmu program studi bahasa. kelas 12 (dua belas). bidang studi keahlian agribisnis dan agroteknologi. bidang studi keahlian teknologi dan rekayasa. b. b.

menunjukkan ijazah atau dokumen lain yang membuktikan bahwa yang bersangkutan telah menyelesaikan pendidikan dasar setara SMP.g. lulus tes kelayakan dan penempatan yang diselenggarakan oleh satuan pendidikan formal yang bersangkutan. dan b. lulus ujian kesetaraan Paket B.doc . dan ayat (5). MTs. (4) Peserta didik pendidikan dasar setara SMP yang mengikuti sistem dan/atau standar pendidikan negara lain dapat diterima di SMA/MA/SMK/MAK atau bentuk lain yang sederajat pada awal tahun kelas 10 (sepuluh) setelah: a. apabila setelah dilakukan 39 76461668. lulus ujian kesetaraan Paket B. lulus tes kelayakan dan penempatan diselenggarakan oleh satuan pendidikan yang dimasukinya. (6) yang ingin Menteri dapat membatalkan keputusan satuan pendidikan tentang syarat sebagaimana dimaksud pada ayat (3) huruf b. (3) Peserta didik jalur nonformal dan informal dapat diterima di di SMA/MA/SMK/MAK atau bentuk lain yang sederajat sesudah awal kelas 10 (sepuluh) setelah: a. Paket B. atau bentuk lain yang sederajat. bidang studi keahlian lain yang diperlukan masyarakat. (5) Ketentuan lebih lanjut tentang pelaksanaan ayat (1) sampai dengan ayat (4) diatur dengan peraturan Menteri. (2) Peserta didik jalur nonformal dan informal dapat diterima di SMA/ MA/SMK/MAK atau bentuk lain yang sederajat sejak awal kelas 10 (sepuluh) setelah lulus ujian kesetaraan Paket B. atau b. (5) Peserta didik pendidikan menengah setara SMA/SMK di negara lain dapat pindah ke SMA/MA/SMK/MAK atau bentuk lain yang sederajat di Indonesia dengan syarat: a. dapat menunjukkan ijazah atau dokumen lain yang membuktikan bahwa yang bersangkutan telah menyelesaikan pendidikan dasar yang memberikan kompetensi lulusan setara SMP. Paragraf 3 Penerimaan Peserta Didik Pasal 71 (1) Peserta didik pada SMA/MA/SMK/MAK atau bentuk lain yang sederajat sudah menyelesaikan pendidikannya pada SMP. ayat (4) huruf b. b.

dan akuntabel. Ketentuan lebih lanjut mengenai pelaksanaan ayat (1) sampai dengan ayat (5) diatur dengan peraturan Menteri. dan kondisi fisik atau mental. Di samping memenuhi ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (4).doc 40 . dan/atau mental yang diperlukan oleh peserta didik pindahan dari satuan pendidikan formal lain atau jalur pendidikan lain. dan/atau tidak jujur. tidak benar. sosial. transparan. kemampuan ekonomi. agama. Penerimaan peserta didik pada satuan pendidikan menengah dilakukan tanpa diskriminasi atas pertimbangan gender. (7) Satuan pendidikan SMA/MA/SMK/MAK atau bentuk lain yang sederajat memberikan bantuan penyesuaian akademik. Seleksi penerimaan peserta didik baru di kelas 10 (sepuluh) pada satuan pendidikan menengah didasarkan pada hasil Ujian Nasional. Bagian Kempat Pendidikan Tinggi Paragraf 1 76461668.pemeriksaan oleh Inspektorat Jenderal Departemen atas instruksi Menteri terbukti bahwa keputusan tersebut melanggar peraturan perundang-undangan. Keputusan penerimaan calon peserta didik menjadi peserta didik dilakukan secara mandiri oleh rapat dewan guru yang dipimpin oleh kepala satuan pendidikan. kecuali bagi lulusan satuan pendidikan sebagaimana dimaksud pada Pasal 71 ayat (2) dan ayat (4). Pasal 72 (1) (2) Penerimaan peserta didik pada satuan pendidikan menengah dilakukan secara objektif. satuan pendidikan dapat melakukan tes bakat skolastik untuk seleksi penerimaan peserta didik baru di kelas 10 (sepuluh). (8) (3) (4) (5) (6) Penerimaan peserta didik baru dapat dilaksanakan pada setiap semester bagi satuan pendidikan yang menyelenggarakan sistem kredit semester. status sosial. etnis.

institut. teknologi. berilmu. dharma pendidikan untuk menguasai.doc 41 . produktif. mampu beradaptasi dan berinteraksi positif dalam masyarakat majemuk dan global yang dinamis. Maha Esa. peka sosial. atau universitas. dan/atau pendidikan vokasi. Paragraf 3 76461668. Paragraf 2 Jenis. seni. demokratis. (2) Pendidikan tinggi bertujuan membentuk insan yang: a. Bentuk. spesialis. toleran. dharma pengabdian kepada masyarakat untuk menerapkan nilai-nilai luhur. dan olahraga dalam rangka pemberdayaan masyarakat. ilmu pengetahuan. serta d. dan menjadi agen pembaharu untuk mewujudkan masyarakat madani. teknologi. ilmu pengetahuan. (3) Perguruan tinggi dapat menyelenggarakan program pendidikan diploma. dan kepribadian manusia melalui: a. beretika. sekolah tinggi. teknologi. dalam rangka membentuk manusia berwawasan luas. kepada Tuhan Yang berkepribadian luhur. sarjana. mengadopsi. cakap. beriman dan bertakwa berakhlak mulia. dan olahraga. dan c.Fungsi dan Tujuan Pasal 73 (1) Pendidikan tinggi berfungsi mengembangkan atau membentuk kemampuan. mengembangkan. kritis. dan c. dan/atau mengadaptasi nilai-nilai luhur. dharma penelitian untuk menemukan. taat hukum. seni. dan Program Pendidikan Pasal 74 (1) Perguruan tinggi dapat menyelenggarakan pendidikan akademik. inovatif. kreatif. percaya diri dan berjiwa enterprenur. mandiri. b. pendidikan profesi. ilmu pengetahuan. dan olahraga. magister. dan/atau doktor. watak. dan menyebarluaskan nilai-nilai luhur. politeknik. dan sehat. dan bertanggung jawab. (2) Perguruan tinggi dapat berbentuk akademi. seni. menerapkan. b.

keuangan. jurusan. sarjana. dan fungsi administrasi lainnya sesuai dengan kebutuhan. Penyelenggaraan penelitian dan/atau pengabdian kepada masyarakat pada tingkat operasional dilaksanakan oleh sivitas akademika baik secara individual maupun berkelompok melalui program studi. penelitian. pusat penelitian. magister. spesialis. teknologi. Penyelenggaraan pendidikan pada tingkat operasional dilaksanakan oleh program studi yang menurut jenisnya dapat berupa pendidikan akademik.Organisasi Perguruan Tinggi Pasal 75 Perguruan tinggi memiliki unsur-unsur pelaksana administrasi. magister. dan/atau olah raga tertentu yang mencakup program pendidikan diploma.doc 42 . dan doktor. atau fakultas. kepersonaliaan. kemahasiswaan. Setiap program studi memiliki kurikulum yang dikembangkan sesuai dengan tujuan program studi dan peraturan perundangundangan. profesi dan/atau vokasi. perlengkapan. spesialis. Fakultas berfungsi mengkoordinasikan pendidikan akademik. Pasal 77 (1) Unsur pelaksana administrasi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 75 menyelenggarakan pelayanan teknis dan administratif yang meliputi fungsi administrasi akademik. dan/atau doktor. Pelayanan teknis dan administratif sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilaksanakan berbasis teknologi informasi dan komunikasi. yang mencakup program pendidikan diploma. (2) (3) (4) (5) (6) (2) 76461668. pelaksana akademik. profesi dan/atau vokasi dalam 1 (satu) atau kelompok cabang ilmu pengetahuan. dan pengabdian kepada masyarakat. pusat pengabdian masyarakat. Pasal 76 (1) Unsur pelaksana akademik sebagaimana dimaksud dalam Pasal 75 merupakan unit penyelenggara pendidikan. dan penunjang. seni. sarjana. Ketentuan lebih lanjut mengenai ayat (1) sampai dengan ayat (5) diatur dalam anggaran dasar dan anggaran rumah tangga perguruan tinggi. hukum. komunikasi.

dan/atau doktor sebagaimana dimaksud pada ayat (1) yang bersifat lintas disiplin yang melibatkan lebih dari satu fakultas dikelola oleh unit organisasi yang dibentuk atau ditunjuk oleh pemimpin perguruan tinggi. spesialis. atau sebaliknya. atau sebaliknya.doc 43 . unit layanan penjaminan mutu pendidikan. fungsi. Mata kuliah yang diambil oleh peserta didik program spesialis dapat diperhitungkan sebagai mata kuliah terkait pada program magister atau doktor terkait. Program magister. Unsur penunjang sebagaimana dimaksud pada ayat (1) sekurang –kurangnya terdiri atas: a. tugas pokok. dan/atau doktor. profesi. Ketentuan lebih lanjut mengenai pelaksanaan ayat (4) dan ayat (5) diatur dengan peraturan Menteri. dan/atau doktor sebagaimana dimaksud pada ayat (1) yang bersifat monodisiplin atau lintas disiplin dalam satu fakultas dikelola oleh fakultas yang terkait. Program magister. dan mekanisme kerja unsur pelaksana administrasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dalam anggaran dasar dan anggaran rumah tangga perguruan tinggi. profesi. unit layanan penjaminan mutu penelitian. profesi. ayat (2) dan ayat (3) diatur dalam anggaran dasar dan/atau anggaran rumah tangga perguruan tinggi. penelitian dan pengabdian kepada masyarakat yang ada di luar fakultas dan jurusan.(3) Jenis. spesialis. (2) 76461668. Organisasi dan tata kerja penyelenggaraan program studi tingkat pascasarjana sebagaimana dimaksud pada ayat (1). jumlah. Pasal 78 (1) Program studi tingkat pascasarjana dibentuk untuk menyelenggarakan dan melaksanakan program magister. Mata kuliah yang diambil oleh peserta didik program profesi dapat diperhitungkan sebagai mata kuliah terkait pada program magister profesi terkait. spesialis. b. Pasal 79 (2) (3) (4) (5) (6) (7) (1) Unsur penunjang pada perguruan tinggi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 75 merupakan perangkat pelengkap di bidang pendidikan.

poliklinik. unit layanan masyarakat. (4) (7) Paragraf 3 Penerimaan Mahasiswa Pasal 80 (1) Persyaratan untuk menjadi mahasiswa pada program sarjana. magister. sarana dan prasarana kesenian. laboratorium/bengkel/studio. (3) Unsur penunjang sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat dilengkapi dengan rumah sakit pendidikan. kedudukan. memenuhi persyaratan masuk yang ditetapkan oleh perguruan tinggi yang bersangkutan. Jenis dan jumlah. dan b. unit layanan bimbingan dan konseling.doc 44 . memiliki ijazah atau surat keterangan lulus pendidikan menengah atau yang sederajat. dan 76461668. dan doktor adalah: a. dan h. dan kesehatan lingkungan. dan unit lain yang dipandang perlu. Lingkungan kampus ditata dengan mempertimbangkan faktor keamanan. sarana dan prasarana olah raga. memiliki ijazah atau surat keterangan lulus pendidikan 1 (satu) jenjang atau tingkat pendidikan di bawahnya. f. toko buku. perpustakaan.c. apotik. fungsi dan mekanisme kerja dari unsur-unsur penunjang akademik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) diatur dalam anggaran dasar dan anggaran rumah tangga perguruan tinggi. keindahan. tugas pokok. d. pusat jejaring teknologi informasi dan komunikasi. penerbitan. penjaminan mutu pengabdian kepada e. g. (2) Persyaratan untuk menjadi mahasiswa pada program vokasi adalah: a. kenyamanan.

kemampuan ekonomi. memenuhi persyaratan masuk yang ditetapkan oleh perguruan tinggi yang bersangkutan. ditetapkan oleh Persyaratan untuk menjadi mahasiswa pada program profesi adalah: a.b. transparan. dan b. (4) Persyaratan untuk menjadi mahasiswa pada program spesialis adalah: a. memiliki ijazah atau surat keterangan lulus program pendidikan sarjana atau diploma IV. Penerimaan mahasiswa baru perguruan tinggi dilakukan tanpa diskriminasi atas pertimbangan gender. 45 (3) (4) (5) (2) 76461668. Penerimaan bersyarat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dipenuhi selambat-lambatnya dalam waktu 6 (enam) bulan. dan b. Pasal 81 (1) (2) Perguruan tinggi dapat menyelenggarakan seleksi penerimaan mahasiswa baru pada setiap semester. memenuhi persyaratan masuk yang ditetapkan oleh perguruan tinggi yang bersangkutan. Tes seleksi penerimaan mahasiswa baru program sarjana dan program vokasi pada perguruan tinggi tidak menduplikasi ujian nasional pendidikan menengah. Pasal 82 (1) Perguruan tinggi dapat melakukan penerimaan bersyarat mahasiswa baru untuk calon mahasiswa yang telah memenuhi sebagian besar persyaratan penerimaan. etnis. dan kondisi fisik atau mental.doc . Perguruan tinggi menetapkan persyaratan kelayakan penerimaan mahasiswa baru pada setiap program studi yang diselenggarakannya. dan akuntabel. (3) memenuhi persyaratan masuk yang perguruan tinggi yang bersangkutan. agama. memiliki ijazah atau surat keterangan lulus pendidikan 1 (satu) jenjang atau tingkat pendidikan di bawahnya. status sosial. Penerimaan mahasiswa baru pada perguruan tinggi dilakukan secara objektif.

kuliah. praktikum. (2) (2) Pelanggaran terhadap perjanjian sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat berakibat dikeluarkannya mahasiswa yang bersangkutan dari perguruan tinggi. afektif. Pengumuman penerimaan mahasiswa baru program sarjana dan program vokasi yang bersyarat sebagaimana dimaksud dalam Pasal 82 dapat dilakukan sebelum pengumuman hasil ujian nasional pendidikan menengah tahun ajaran sebelumnya. dan/atau tidak jujur. simposium.(3) Ketentuan lebih lanjut mengenai penerimaan bersyarat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dalam anggaran rumah tangga perguruan tinggi. Paragraf 4 Sistem Pembelajaran Pasal 86 (1) Pendidikan tinggi diselenggarakan melalui proses pembelajaran yang berpusat pada mahasiswa sebagai subjek pembelajaran dalam rangka mengembangkan kemampuan kognitif. Pasal 84 (1) Seorang calon mahasiswa secara resmi menjadi mahasiswa perguruan tinggi setelah menandatangani perjanjian dengan perguruan tinggi yang memuat secara jelas hak-hak dan kewajiban mahasiswa yang diatur dalam anggaran dasar atau anggaran rumah tangga perguruan tinggi. dan kemampuan konfluen mahasiswa.doc (2) Pembelajaran dapat dilakukan dalam bentuk diskusi. tidak benar. psikomotorik. seminar. 76461668. 46 . Pasal 85 Menteri dapat membatalkan keputusan perguruan tinggi tentang penerimaan mahasiswa baru apabila setelah dilakukan pemeriksaan oleh Inspektorat Jenderal Departemen atas instruksi Menteri terbukti bahwa keputusan tersebut melanggar peraturan perundangundangan. Pasal 83 (1) Pengumuman penerimaan mahasiswa baru program sarjana dan program vokasi yang bersifat final pada perguruan tinggi dilakukan setelah pengumuman hasil ujian nasional pendidikan menengah tahun ajaran sebelumnya. lokakarya.

penelitian. pengelolaan. atau lebih dari 30% (tiga puluh persen) program studinya berakreditasi dari badan akreditasi negara anggota OECD.doc 47 . Tahun akademik dibagi dalam 2 (dua) semester yang masing-masing terdiri atas 16 (enam belas) minggu. Kampus induk dan kampus lainnya sebagaimana dimaksud pada ayat (2) terhubung dengan sistem informasi berbasis teknologi informasi dan komunikasi. Fakultas yang lebih dari 75% (tujuh puluh lima persen) program studinya berakreditasi A dari Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi. kompetensi lulusan. Perguruan tinggi dapat menyelenggarakan semester pendek antara semester genap dan ganjil. Pelaksanaan ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1). ayat (2). Pasal 88 (1) (2) Pengelolaan pembelajaran pada perguruan tinggi dapat diselenggarakan melalui sistem multikampus. Isi kurikulum. tenaga pendidik dan tenaga kependidikan. Semester pendek sebagaimana dimaksud pada ayat (3) sekurang-kurangnya diselenggarakan selama 8 (delapan) minggu. ayat (3). sarana dan prasarana. (2) (3) (4) (5) (3) (4) (5) 76461668. Sistem multikampus sebagaimana dimaksud pada ayat (1) merupakan sistem pengelolaan perguruan tinggi yang menerapkan 1 (satu) sistem pendidikan tinggi secara utuh. dan ayat (4) diatur oleh masingmasing perguruan tinggi dalam anggaran dasar dan/atau anggaran rumah tangga. proses pembelajaran. dapat menyelenggarakan program studi di kampus lain. Pasal 87 (1) Pendidikan tinggi diselenggarakan dengan menerapkan Sistem Kredit Semester (SKS) yang bobot belajarnya dinyatakan dalam satuan kredit semester (sks). pembiayaan. dan penilaian pendidikan pada kampus lain sekurang-kurangnya sama dengan kampus induk. yang pelaksanaannya diselenggarakan di kampus induk dan kampus lain. pengabdian kepada masyarakat dan/atau kegiatan lainnya dengan mengacu pada prinsip otonomi keilmuan.

dapat dilaksanakan di pusat kegiatan Kelompok Kerja Guru atau Musyawarah Guru Mata Pelajaran. 76461668. c. mengawasi.Pasal 89 (1) Perguruan tinggi dapat menyelenggarakan program studi sarjana atau diploma empat kependidikan khusus bagi guru tetap dalam jabatan yang belum memiliki ijazah sarjana atau diploma empat dengan program sarjana atau diploma empat kependidikan khusus bagi guru tetap dalam jabatan. dan memfasilitasi penyelenggaraan program sebagaimana dimaksud pada ayat (2) sehingga guru tetap dalam jabatan yang bersangkutan memperoleh kualifikasi akademik sarjana atau diploma empat kependidikan sesuai peraturan perundang-undangan. (2) Program sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diselenggarakan sebagai berikut: a. b. Pasal 82 ayat (2). dunia usaha. atau pihak lain yang dipandang perlu. (4) Menteri dapat membatalkan izin program sebagaimana dimaksud pada ayat (2) apabila setelah dilakukan pemeriksaan oleh Inspektorat Jenderal Departemen atas instruksi Menteri terbukti bahwa pelaksanaan program yang bersangkutan telah melanggar peraturan perundang-undangan. dilaksanakan oleh perguruan tinggi yang memiliki program studi sarjana atau diploma empat kependidikan berakreditasi dari Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi dan telah memperoleh izin untuk menyelenggarakan program sarjana atau diploma empat kependidikan khusus bagi guru tetap dalam jabatan dari Departemen. (3) Izin sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf a diberikan oleh Departemen setelah memperoleh jaminan dari pemerintah daerah kabupaten/kota yang bersangkutan untuk bertanggung jawab melindungi. memenuhi seluruh persyaratan program sarjana atau diploma empat kependidikan sesuai dengan peraturan perundang-undangan.doc 48 . (5) Ketentuan sebagaimana diatur dalam Pasal ini berlaku sampai berakhirnya masa peralihan sebagaimana diatur dalam UndangUndang Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen. Pasal 90 (1) Perguruan tinggi dapat menjalin kerja sama akademik dan/atau non-akademik dengan perguruan tinggi lain.

penugasan dosen senior sebagai pembina pada perguruan tinggi yang membutuhkan pembinaan. (3) Kerja sama akademik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat berbentuk: a.doc . h. norma serta kaidah keilmuan. g. program kembaran. c. pendayagunaan aset. dan pengabdian kepada masyarakat. pertukaran dosen dan/atau mahasiswa. penerbitan jurnal ilmiah. penyelenggaraan seminar bersama. penelitian.(2) Kerja sama perguruan tinggi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) bertujuan untuk meningkatkan efisiensi. dan dilandasi oleh etika. 49 76461668. dan relevansi pelaksanaan tri dharma perguruan tinggi. b. (4) Kerja sama non-akademik sebagaimana yang dimaksud pada ayat (1) dapat berbentuk: a. dan/atau bentuk-bentuk lain yang dianggap perlu. (6) Ketentuan lebih lanjut mengenai kerjasama sebagaimana yang dimaksud pada ayat (1) diatur dalam peraturan Menteri. pengalihan dan/atau perolehan kredit. (7) Menteri dapat membatalkan kerjasama sebagaimana dimaksud pada ayat (1) apabila setelah dilakukan pemeriksaan oleh Inspektorat Jenderal Departemen atas instruksi Menteri terbukti bahwa kerjasama yang bersangkutan telah melanggar peraturan perundang-undangan. kreatifitas. b. d. pendidikan. j. f. e. kontrak manajemen. dan/atau bentuk-bentuk lain yang dianggap perlu. inovasi. d. e. Paragraf 5 Kebebasan Akademik dan Otonomi Keilmuan Pasal 91 (1) Pimpinan perguruan tinggi mengupayakan dan menjamin agar setiap sivitas akademika perguruan tinggi melaksanakan kebebasan akademik dan kebebasan mimbar akademik secara mandiri sesuai dengan peraturan perundang-undangan. efektifitas. produktifitas. mutu. (5) Semua bentuk kerjasama sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dengan pihak asing dilaporkan kepada Departemen. c. i. usaha penggalangan dana. pemagangan. pemanfaatan bersama berbagai sumberdaya. jasa dan royalti hak atas kekayaan intelektual.

dan kaidah akademik. serta akibatnya pada diri sendiri atau orang lain. Pelaksanaan kebebasan mimbar akademik dimaksud pada ayat (1). nilai-nilai etika. c. dan d. serendah-rendahnya ketua program studi. b. dan taat etika.(2) Dalam melaksanakan kebebasan akademik dan mimbar akademik. secara bertanggungjawab dan mandiri. ayat (2) dan ayat (3): a. dan/atau olah raga melalui kegiatan pendidikan. melakukannya dengan cara yang tidak bertentangan dengan nilai-nilai agama. dan pertemuan ilmiah lainnya yang relevan. Kebebasan akademik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) merupakan kebebasan sivitas akademika dalam mendalami. dan pengabdian kepada masyarakat.doc . atau ketua pusat pengabdian kepada masyarakat. penelitian. bertanggung jawab secara pribadi atas pelaksanaan dan hasilnya. norma. seminar. dan kemanusiaan. sesuai dengan peraturan perundang-undangan. menerapkan. setiap individu sivitas akademika: a. berada di bawah tanggung jawab dan secara resmi dikoordinasikan oleh pimpinan perguruan tinggi. baik di dalam maupun di luar kampus. mengupayakan agar kegiatan dan hasilnya bermanfaat bagi masyarakat. d. seni. c. bangsa. serta kaidah keilmuan. Pelaksanaan kebebasan akademik sebagaimana dimaksud pada ayat (1). e. (3) kebebasan mengupayakan agar kegiatan dan hasilnya dapat meningkatkan mutu akademik perguruan tinggi yang bersangkutan. b. ujian. dan ayat (5): a. ketua pusat penelitian. dan tidak melanggar hukum dan tidak mengganggu kepentingan umum. negara. ceramah. ayat (2). (4) (5) Kebebasan mimbar akademik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) merupakan kebebasan sivitas akademika dalam menyebarluaskan hasil penelitian dan menyampaikan pandangan akademik dalam rangka pembelajaran sivitas akademika dan/atau masyarakat melalui kegiatan perkuliahan. sebagaimana (6) merupakan tanggung jawab setiap individu 50 76461668. publikasi ilmiah. tidak mengganggu ketertiban umum. teknologi. tidak menimbulkan keresahan masyarakat. diskusi. dan mengembangkan ilmu. simposium.

dan/atau olah raga yang bersangkutan. mimbar akademik melindungi dan mempertahankan kekayaan intelektual. dan sekolah tinggi wajib melaksanakan penelitian dasar. d. mengembangkan. teknologi. menjadi tanggung jawab perguruan tinggi. c. sesuai dengan peraturan perundangundangan. dan c. penelitian terapan. serta kaidah keilmuan. dalam menemukan. apabila perguruan tinggi atau unit organisasi tersebut secara resmi terlibat dalam pelaksanaannya. (7) Kebebasan akademik dan kebebasan dimanfaatkan oleh perguruan tinggi untuk: a. melindungi dan mempertahankan kekayaan dan keragaman alami. b. teknologi. seni. Otonomi keilmuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) merupakan kemandirian dan kebebasan sivitas akademika suatu cabang ilmu pengetahuan. seni. Paragraf 6 Penelitian Pasal 93 (1) Universitas. seni. dan budaya bangsa dan negara Indonesia. seni. dan/atau penelitian 51 (2) (3) 76461668. b. dan/atau mempertahankan kebenaran menurut kaidah keilmuannya untuk menjamin keberlanjutan perkembangan cabang ilmu pengetahuan. dan taat etika.doc . dan/atau olah raga yang melekat pada kekhasan/keunikan cabang ilmu pengetahuan. sosial. hayati.sivitas akademika yang terlibat. dan/atau olah raga dengan berpedoman pada otonomi keilmuan. Pasal 92 (1) Sivitas akademika perguruan tinggi mengembangkan ilmu pengetahuan. teknologi. norma. Pelaksanaan otonomi keilmuan di perguruan tinggi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) diatur lebih lanjut oleh perguruan tinggi dalam anggaran rumah tangga perguruan tinggi. institut. memperkuat daya saing bangsa dan negara Indonesia. teknologi. menambah dan/atau meningkatkan mutu kekayaan intelektual bangsa dan negara Indonesia. mengungkapkan. atau unit organisasi di dalam perguruan tinggi. dan/atau olah raga.

seni. apabila dilakukan oleh mahasiswa untuk memenuhi persyaratan lulus program magister. (5) (6) Sekurang-kurangnya 1 (satu) dosen penguji sebagaimana dimaksud pada ayat (5) huruf b berasal dari program studi terkait berakreditasi sekurang-kurangnya B dari perguruan tinggi lain. teknologi. dan d. konsep. diseminarkan dan dipublikasikan pada jurnal ilmiah dalam negeri berakreditasi atau jurnal internasional yang diakui Departemen. apabila dilakukan oleh dosen untuk memenuhi dharma penelitian. apabila dilakukan oleh mahasiswa untuk memenuhi persyaratan lulus program doktor. diuji secara tertutup dan terbuka di hadapan sekurang-kurangnya 5 (lima) penguji. metode. dan/atau menguji ulang teori. (4) Kegiatan penelitian sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (3) dilaksanakan dengan mematuhi kaidah dan etika akademik sesuai dengan prinsip otonomi keilmuan.doc 52 . apabila dilakukan oleh mahasiswa untuk memenuhi persyaratan lulus program sarjana. disetujui dosen pembimbing. mencari dan/atau menemukan kebaruan kandungan ilmu pengetahuan. Penelitian sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilaksanakan dengan memenuhi standar penjaminan mutu sebagai berikut: a. dan diuji secara tertutup di hadapan sekurang-kurangnya 3 (tiga) dosen penguji. teknologi. Penelitian sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) dilaksanakan untuk: a. dan/atau olah raga. dan/atau olah raga. prinsip. disetujui dosen pembimbing. (8) Penelitian sebagaimana dimaksud pada ayat (5) huruf b dan huruf c dipublikasikan pada jurnal ilmiah dalam negeri 76461668. (2) (3) Dosen pada akademi dan politeknik wajib melaksanakan penelitian terapan dan/atau penelitian pengembangan. b. b. (7) Sekurang-kurangnya 1 (satu) dosen penguji sebagaimana dimaksud pada ayat (5) huruf c berasal dari program studi terkait berakreditasi A dari perguruan tinggi lain. prosedur. dan/atau model yang sudah menjadi kandungan ilmu pengetahuan. seni. c. disetujui dosen pembimbing.pengembangan.

Setiap terbitan jurnal ilmiah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dikirimkan kepada pusat dokumentasi ilmiah pada Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia. (11) Hasil penelitian perguruan tinggi diakui sebagai penemuan baru setelah dimuat dalam jurnal ilmiah terakreditasi yang diakui Departemen dan/atau mendapatkan hak kekayaan intelektual. (13) Prosedur penjaminan mutu penelitian perguruan tinggi diatur dalam anggaran rumah tangga perguruan tinggi. (10) Hasil penelitian sebagaimana dimaksud pada ayat (2) diseminarkan dan dipublikasikan pada jurnal terakreditasi yang diakui Departemen.berakreditasi atau jurnal internasional yang diakui Departemen selambat-lambatnya 1 (satu) tahun setelah mahasiswa yang bersangkutan dinyatakan lulus dari program studi. program studi. Jurnal ilmiah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) memuat artikel hasil penelitian.doc . Jurnal ilmiah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diterbitkan secara tercetak dan secara elektronik melalui jejaring teknologi 53 (5) (6) (7) 76461668. Perpustakaan Nasional. (4) Sekurang-kurangnya 60% (enam puluh persen) dari artikel hasil penelitian sebagaimana dimaksud pada ayat (2) merupakan hasil penelitian empirik. dan perpustakaan Departemen. (9) Dalam mempublikasikan pada jurnal ilmiah sebagaimana dimaksud pada ayat (5) huruf b dan huruf c. Jurnal ilmiah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat diterbitkan dalam bahasa resmi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). masing-masing sekurang-kurangnya 2 (dua) eksemplar. atau pusat studi dapat menerbitkan jurnal ilmiah. apabila dilakukan oleh dosen untuk memenuhi dharma penelitian. Pasal 94 (1) (2) Perguruan tinggi. fakultas. (12) Hasil penelitian perguruan tinggi yang dilaksanakan oleh dosen dimanfaatkan untuk memperkaya materi pembelajaran mata kuliah yang relevan. (3) Penelitian sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dapat berupa penelitian empirik maupun penelitian pustaka. mahasiswa yang bersangkutan mengikutsertakan dosen pembimbing sebagai penulis pendamping.

Hasil pengabdian kepada masyarakat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) sampai dengan ayat (4) dimanfaatkan untuk pengayaan pembelajaran yang relevan. Ketentuan lebih lanjut mengenai pelaksanaan pengabdian 54 (5) (6) 76461668. Pengabdian kepada masyarakat diselenggarakan dan dilaksanakan berbasis pada dharma pendidikan dan penelitian atas dasar prinsip: a. b. atau pemadanian kehidupan masyarakat. (4) Pengabdian kepada masyarakat sebagaimana dimaksud pada ayat (1). serta toleransi sosial dan budaya bagi mahasiswa. dan d. kepekaan dan kepedulian sosial dan budaya.informasi dan komunikasi Departemen. pemberdayaan masyarakat yang mendorong kemampuan bekerja sama dalam tim bagi mahasiswa. baik secara individual maupun berkelompok. kreatifitas. dosen. dan masyarakat. dan masyarakat. (8) Departemen mengakreditasi jurnal ilmiah sebagaimana dimaksud pada ayat (1). Paragraf 7 Pengabdian kepada Masyarakat Pasal 95 (1) (2) Perguruan tinggi wajib melaksanakan pengabdian kepada masyarakat. (3) Pelaksanaan kegiatan pengabdian kepada masyarakat sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dilaksanakan oleh dosen dan mahasiswa. dan ayat (3) merupakan penerapan hasil pendidikan dan/atau hasil penelitian dalam upaya pemberdayaan. dosen. pemberdayaan pengembangan dosen. masyarakat yang berdampak pada jiwa kepemimpinan mahasiswa dan masyarakat yang berdampak pada jiwa kewirausahaan mahasiswa dan c.doc . ayat (2). pemberdayaan pengembangan dosen. keteladanan. pemodernan. pemberdayaan masyarakat yang merangsang tumbuhnya kemandirian.

Pasal 98 (1) Departemen mengembangkan suatu sistem penjaminan mutu hasil belajar program studi perguruan tinggi secara nasional. keterlibatan dosen dari perguruan tinggi lain dalam ujian tesis program magister dan disertasi program doktor sebagaimana dimaksud dalam Pasal 93. program sarjana. (2) Sistem penjaminan mutu sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilaksanakan melalui: a. dan/atau bentuk penilaian lainnya.kepada masyarakat perguruan tinggi. ujian. 76461668.doc 55 . diatur dalam Paragraf 8 anggaran rumah tangga Pengalihan Kredit Pasal 96 (1) Perguruan tinggi dapat mengakui hasil belajar yang diperoleh mahasiswa pada perguruan tinggi lain atau satuan/program pendidikan nonformal untuk memenuhi persyaratan kelulusan program studi. penilaian tugas terstruktur dan mandiri. transparan. belajar dilaksanakan secara (2) (2) (3) Ketentuan lebih lanjut mengenai pelaksanaan ayat (1) dan ayat (2) diatur dalam anggaran rumah tangga perguruan tinggi. Paragraf 9 Penjaminan Mutu Hasil Belajar Pasal 97 (1) Penilaian hasil belajar mahasiswa dilakukan secara berkala melalui penilaian proses belajar. b. dan program magister yang tidak mensyaratkan tesis sebagaimana dimaksud pada huruf a. evaluasi berkala atas pencapaian kompetensi mahasiswa program diploma. Pelaksanaan ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dalam anggaran rumah tangga perguruan tinggi. dan jujur. Penilaian hasil objektif.

dilaksanakan atas dasar sampel.(3) Evaluasi berkala sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf b dilaksanakan sebagai berikut: a. Persyaratan kelulusan untuk pendidikan profesi ditetapkan dengan cara: a. atau c. e. b. April 2008 (5) ==============================28 ================ Pasal 99 (1) Persyaratan kelulusan untuk pendidikan akademik dan pendidikan vokasi diatur oleh masing-masing perguruan tinggi. (4) Penelaah sejawat sebagaimana dimaksud pada ayat (3) huruf d berasal dari program studi sejenis berakreditasi sekurangkurangnya B dari perguruan tinggi lain. Paragraf 10 Gelar Lulusan Pendidikan Tinggi Pasal 81 76461668. diterapkan pada berakreditasi kurang dari B. dilaksanakan oleh penelaah sejawat.doc 56 . ditetapkan oleh perguruan tinggi bersama-sama dengan organisasi profesi. diterapkan pada soal ujian dan jawaban ujian mata kuliah inti program studi. c. (2) (3) Penetapan persyaratan kelulusan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) diatur oleh perguruan tinggi yang bersangkutan. ditetapkan oleh perguruan tinggi setelah memperhatikan pertimbangan dari organisasi profesi. d. Ketentuan lebih lanjut mengenai pelaksanaan evaluasi berkala diatur dalam peraturan Menteri. hasil evaluasi digunakan oleh Departemen untuk menetapkan hak menyelenggarakan ujian secara mandiri. ditetapkan oleh organisasi profesi. program studi yang b.

sarjana sains terapan.doc .Md diikuti dengan inisial program studi atau bidang ilmu. (2) Gelar untuk lulusan pendidikan akademik terdiri atas: a. vokasi. singkatan. ditulis di depan nama mencantumkan singkatan Dr. ditulis di belakang nama yang berhak dengan mencantumkan singkatan A. yang berhak dengan (3) Gelar untuk pendidikan vokasi terdiri atas: a. dan profesi hanya boleh diberikan oleh perguruan tinggi yang memenuhi persyaratan pendirian dan dinyatakan berhak menyelenggarakan program pendidikan yang relevan. Gelar akademik. dan ayat (4) diatur dengan Peraturan Menteri. 57 76461668. ditulis di belakang nama yang berhak dengan mencantumkan huruf S. gelar vokasi. b. ahli muda. ayat (3). untuk lulusan program diploma II. diikuti dengan inisial program studi atau bidang ilmu. dan inisial program studi atau bidang ilmu sebagaimana dimaksud pada ayat (2). (5) Ketentuan lebih lanjut mengenai gelar. ahli madya. ditulis di belakang nama yang berhak dengan mencantumkan singkatan A. vokasi. atau profesi berhak untuk menggunakan gelar akademik.(1) Lulusan pendidikan akademik. ditulis di belakang nama yang berhak dengan mencantumkan singkatan SST diikuti dengan inisial program studi atau bidang ilmu. c. diikuti dengan inisial program studi atau bidang ilmu. untuk program diploma IV. dan d. (4) Gelar untuk lulusan pendidikan profesi adalah Spesialis dengan mencantumkan singkatan Sp.P diikuti dengan inisial program studi atau bidang ilmu. sarjana. atau gelar profesi. ditulis di belakang nama yang berhak dengan mencantumkan huruf M. doktor. untuk lulusan program diploma I. b. dan c. diikuti dengan inisial program studi atau bidang keahlian khusus. magister. untuk lulusan program diploma III. Pasal 82 (1).Ma diikuti dengan inisial program studi atau bidang ilmu. ditulis di belakang nama yang berhak dengan mencantumkan singkatan A. ahli pratama.

Pasal 84 (2) (1) Gelar doktor kehormatan (doctor honoris causa) diberikan kepada seseorang yang telah berjasa luar biasa bagi ilmu pengetahuan. Ketentuan tentang pemberian dan pengukuhan gelar doktor kehormatan diatur oleh senat akademik perguruan tinggi masing-masing. Pasal 83 (3). Bidang keahlian sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditentukan berdasarkan bidang studi atau kelompok bidang studi. Pemberian gelar doktor kehormatan ditetapkan oleh senat akademik perguruan tinggi. keagamaan. dan penempatan yang berlaku di negara asal. singkatan. profesi. kebudayaan. (2) (3) (4) 76461668. Penetapan jenis gelar akademik.(2). atau vokasi didasarkan atas bidang keahlian dan dicantumkan dalam ijazah yang diberikan kepada lulusan perguruan tinggi. dan penempatan gelar lulusan perguruan tinggi luar negeri tetap menggunakan gelar sesuai dengan jenis. (1) Pencantuman jenis. singkatan.doc 58 . teknologi. atau seni dan digunakan dengan mencantumkan atau menuliskan Dr (HC) di depan nama pemilik serta hanya dipergunakan dalam upacara akademik. Gelar doktor kehormatan hanya dapat diberikan oleh perguruan tinggi yang berwenang menyelenggarakan program doktor terakreditasi dalam bidang ilmu terkait. Menteri atau Menteri Agama sesuai kewenangan masing-masing menetapkan kesetaraan ijazah perguruan tinggi luar negeri dengan ijazah dan gelar perguruan tinggi Indonesia yang memenuhi Standar Nasional Pendidikan. kemasyarakatan.

(4) Keberhasilan penjaminan mutu diukur dengan akreditasi yang menentukan kelayakan program dan/atau satuan pendidikan tinggi. (5) Kelayakan sebagaimana dimaksud pada ayat (4) diukur atas dasar mutu sebagaimana dimaksud pada ayat (3). pelaksanaan visi.doc 59 . c. kesesuaian penyelenggaraan pendidikan tinggi dengan standar mutu internasional. b.Bagian Kelima Penjaminan Mutu Pasal 85 (1) Penjaminan mutu dilakukan oleh setiap perguruan tinggi untuk memenuhi Standar Nasional Pendidikan jenjang pendidikan tinggi secara konsisten dan berkelanjutan sebagai wujud akuntabilitas publik perguruan tinggi kepada para pemangku kepentingan. bagi perguruan tinggi yang memiliki komitmen untuk bertaraf internasional. Penjaminan mutu dilakukan secara berkelanjutan oleh perguruan itu sendiri dan dapat dibantu oleh lembaga lain. dan tujuan perguruan tinggi secara nyata. BAB IV PENYELENGGARAAN PENDIDIKAN NONFORMAL Bagian Kesatu Fungsi dan Tujuan 76461668. kesesuaian penyelenggaraan pendidikan Standar Nasional Pendidikan. ketanggapan perguruan tinggi terhadap aspirasi pihak-pihak yang berkepentingan. (6) Akreditasi wajib bagi setiap program studi dan/atau satuan pendidikan tinggi yang dilaksanakan oleh Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi atau lembaga mandiri lain yang memenuhi persyaratan. misi. dan kebutuhan tinggi dan (2) (3) dengan d. Mutu sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) dijamin dengan memperhatikan: a.

kelompok bermain (KB). atau satuan pendidikan lain yang sejenis. lembaga pelatihan. keterampilan. f. h. Pendidikan nonformal bertujuan untuk membentuk manusia yang memiliki kecakapan hidup.doc . e. bekerja. mengembangkan profesi. sikap wirausaha. kelompok belajar.Pasal 86 (1) Pendidikan nonformal berfungsi sebagai pengganti. c. d. pusat kegiatan belajar masyarakat. berusaha mandiri dan/atau melanjutkan pendidikan ke tingkat 60 76461668. b. Bagian Kedua Bentuk Satuan Pendidikan Pasal 87 Satuan pendidikan nonformal berbentuk: a. g. sikap dan kecakapan hidup untuk mengembangkan diri. dan kompetensi untuk bekerja dalam bidang tertentu. lembaga kursus. penambah. serta pengembangan sikap dan kepribadian profesional dalam rangka mendukung pendidikan sepanjang hayat. dan/atau melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi dalam rangka mewujudkan tujuan pendidikan nasional. majelis taklim. (2) Paragraf 1 Lembaga Kursus dan Lembaga Pelatihan Pasal 88 (1) Lembaga kursus dan lembaga pelatihan menyelenggarakan pendidikan bagi warga masyarakat yang memerlukan bekal pengetahuan. taman penitipan anak (TPA). keterampilan. dan/atau pelengkap pendidikan formal bagi warga masyarakat yang memerlukan layanan pendidikan untuk mengembangkan potensinya dengan penekanan pada penguasaan pengetahuan dan keterampilan fungsional.

Peserta didik pada majelis taklim adalah masyarakat muslim yang ingin belajar dan mendalami ajaran Islam dan untuk meningkatkan keimanan dan ketakwaan. Paragraf 4 Majelis Taklim Pasal 91 (1) Majelis taklim menyelenggarakan pembelajaran agama Islam untuk memenuhi berbagai kebutuhan belajar masyarakat pada jalur pendidikan nonformal. Peserta didik pada pusat kegiatan belajar masyarakat adalah warga masyarakat yang belajar untuk mengembangkan diri. dan untuk masyarakat. dan berazaskan prinsip dari. bekerja dan/atau melanjutkan ke tingkat pendidikan yang lebih tinggi.yang lebih tinggi. (2) Peserta didik pada kelompok belajar adalah warga masyarakat yang belajar untuk mengembangkan diri. menjadi pekerja/buruh dan/atau melanjutkan pendidikan ke tingkat yang lebih tinggi. bekerja dan/atau melanjutkan ke tingkat pendidikan yang lebih tinggi. Paragraf 2 Kelompok Belajar Pasal 89 (1) Kelompok belajar menyelenggarakan kegiatan untuk menampung dan memenuhi kebutuhan belajar sekelompok warga masyarakat yang belajar melalui jalur pendidikan nonformal. (2) Peserta didik pada lembaga kursus dan lembaga pelatihan adalah warga masyarakat yang memerlukan bekal untuk mengembangkan diri. Paragraf 3 Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat Pasal 90 (1) Pusat kegiatan belajar masyarakat memfasilitasi penyelenggaraan berbagai program pendidikan nonformal untuk mewujudkan masyarakat gemar belajar dalam rangka mengakomodasi kebutuhannya akan pendidikan sepanjang hayat. oleh. 76461668. (2) (2) (3) Majelis taklim sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diselenggarakan sesuai dengan peraturan perundang-undangan.doc 61 .

pendidikan keaksaraan. g. d.Paragraf 5 Taman Penitipan Anak dan Kelompok Bermain Pasal 92 (1) Satuan pendidikan anak usia dini jalur nonformal berbentuk taman penitipan anak (TPA). h. Paragraf 1 Pendidikan Kecakapan Hidup Pasal 94 (1) Pendidikan kecakapan hidup merupakan pendidikan yang memberikan kecakapan personal. Bagian Ketiga Program Pendidikan Pasal 93 Program pendidikan nonformal meliputi : a. Pendidikan kecakapan hidup berfungsi meningkatkan 62 (2) 76461668. b. kelompok bermain (KB). serta pendidikan lainnya. pendidikan pemberdayaan perempuan.doc . pendidikan kesetaraan. pendidikan keterampilan dan pelatihan kerja. e. pendidikan kecakapan hidup. kecakapan sosial. f. kecakapan intelektual. (3) Peserta didik KB atau bentuk lain yang sederajat berusia 2 (dua) tahun sampai dengan 4 (empat) tahun. pendidikan anak usia dini. (2) Peserta didik TPA atau bentuk lain yang sederajat berusia sejak lahir sampai dengan berusia 6 (enam) tahun. dan kecakapan vokasional untuk bekerja. berusaha dan/atau hidup mandiri. atau bentuk lain yang sejenis. pendidikan kepemudaan. c.

(6) Penyelenggaraan program pendidikan pada PAUD jalur nonformal dapat diintegrasikan dengan progam layanan lain yang sudah berkembang di masyarakat sebagai upaya untuk memperluas layanan PAUD kepada seluruh lapisan masyarakat. serta kondisi dan kebutuhan masyarakat setempat.kecakapan personal. gizi. (2) Program pembelajaran sebagaimana dimaksud pada ayat (1) bagi peserta didik yang berusia 1 (satu) sampai 6 (enam) tahun diselenggarakan dengan mengupayakan kesiapan belajar peserta didik untuk memasuki pendidikan dasar. Paragraf 2 Pendidikan Anak Usia Dini Pasal 95 (1) Pendidikan anak usia dini jalur nonformal merupakan seperangkat program pembelajaran yang dilaksanakan secara fleksibel berdasarkan tahap perkembangan anak. (3) Program pembelajaran sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilaksanakan secara terpadu dengan memperhatikan kebutuhan dan kepentingan terbaik anak serta memperhatikan kecerdasan anak. minat. kecakapan sosial. kecakapan intelektual dan kecakapan vokasional untuk menyiapkan peserta didik agar mampu bekerja. (5) Pengembangan program pembelajaran sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus mengintegrasikan kebutuhan peserta didik terhadap kesehatan. (3) Pendidikan kecakapan hidup dapat dilaksanakan secara terintegrasi dengan program-program pendidikan nonformal lainnya dan/atau tersendiri.doc (4) 63 . termasuk kesejahteraannya. dan stimulasi psikososial. (7) Pengelompokan peserta didik untuk program pendidikan pada PAUD jalur nonformal disesuaikan dengan kebutuhan. usia. sosial budaya. Pengembangan program pembelajaran sebagaimana dimaksud pada ayat (1) didasarkan pada prinsip bermain sambil belajar dan belajar seraya bermain dengan memperhatikan perbedaan bakat. dan kemampuan masing-masing peserta didik. Paragraf 3 Pendidikan Kepemudaan 76461668. berusaha dan/atau hidup mandiri. dan perkembangan anak.

Pasal 96 (1) Pendidikan kepemudaan merupakan pendidikan yang diselenggarakan untuk mempersiapkan kader pemimpin bangsa. pecinta alam dan lingkungan hidup. kecakapan hidup. kebangsaan. kepeloporan. estetika. ilmu pengetahuan dan teknologi. Pendidikan kepemudaan mencakup berbagai bentuk pendidikan dan pelatihan di bidang keagamaan. Peserta didik pendidikan kepemudaan adalah warga masyarakat yang berusia antara 18 (delapan belas) sampai dengan 35 (tiga puluh lima) tahun. kepeloporan. organisasi pemuda. kedudukan. serta kecakapan hidup bagi pemuda sebagai kader pemimpin bangsa. wawasan kebangsaan. dan martabat b.doc terhadap pelanggaran hak-hak dasar 64 . seni dan budaya. ilmu pengetahuan dan teknologi. pencegahan perempuan. bermasyarakat. harkat. dan c. kepanduan/kepramukaan. peningkatan akses dan partisipasi perempuan terhadap pendidikan. sikap kewirausahaan. dan kewirausahaan. etika dan kepribadian. dan estetika perempuan agar mampu memperoleh hak dasar kehidupan yang setara dan adil gender dalam kehidupan berkeluarga. (3) Pendidikan pemberdayaan perempuan bertujuan untuk: a. peningkatan perempuan. kesehatan dan keolahragaan. etika dan kepribadian. nilai. (2) (3) (4) (2) Pendidikan pemberdayaan perempuan berfungsi meningkatkan kemampuan perempuan dalam pengembangan potensi diri. Paragraf 4 Pendidikan Pemberdayaan Perempuan Pasal 97 (1) Pendidikan pemberdayaan perempuan merupakan pendidikan untuk mengangkat harkat dan martabat perempuan. 76461668. kepemimpinan. berbangsa dan bernegara. Pendidikan kepemudaan berfungsi mengembangkan potensi pemuda dengan penekanan pada penguatan nilai keimanan dan ketaqwaan. sikap. wawasan. palang merah.

(4) Ketentuan lebih lanjut mengenai pendidikan pemberdayaan perempuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) diatur dengan Peraturan Menteri. Paragraf 5 Pendidikan Keaksaraan Pasal 98 (1) Pendidikan keaksaraan merupakan pendidikan bagi warga masyarakat yang buta aksara latin agar mereka dapat membaca. Pendidikan keaksaraan berfungsi memberikan kemampuan dasar membaca. menulis. terintegrasi dengan Paragraf 6 Pendidikan Keterampilan dan Pelatihan Kerja Pasal 99 (1) Pendidikan keterampilan dan pelatihan kerja dilaksanakan untuk meningkatkan kemampuan peserta didik dengan penekanan pada penguasaan keterampilan fungsional yang sesuai kebutuhan dunia kerja atau kebutuhannya untuk menjadi manusia produktif. berbahasa Indonesia dan berpengetahuan dasar untuk meningkatkan kualitas hidupnya. (4) Pendidikan keaksaraan dilaksanakan pendidikan kecakapan hidup. (2) Pendidikan keterampilan dan pelatihan kerja berfungsi untuk meningkatkan dan mengembangkan kemampuan peserta didik dengan penekanan pada penguasaan keterampilan fungsional serta pengembangan sikap dan kepribadian profesional sesuai dengan kebutuhan dunia kerja atau kebutuhannya untuk menjadi manusia produktif. menulis. berhitung dan berkomunikasi dalam bahasa Indonesia kepada peserta didik. berhitung dan/atau berkomunikasi dalam bahasa Indonesia. menulis.doc . yang dapat dimanfaatkan dalam kehidupan sehari-hari. berhitung. (2) (3) Peserta didik pendidikan keaksaraan adalah warga masyarakat usia 15 (lima belas) tahun ke atas yang belum dapat membaca. (3) Ketentuan mengenai pendidikan keterampilan dan pelatihan 65 76461668.

Paket B. Peserta didik program Paket C merupakan anggota masyarakat yang telah lulus program Paket B atau SMP/MTs yang berminat menempuh pendidikan setara SMA/MA. yang menekankan pada pengetahuan dan keterampilan fungsional serta sikap dan kepribadian profesional. meningkatkan dan/atau mengembangkan kompetensi tenaga kerja dilaksanakan sesuai dengan peraturan perundang-undangan. Peserta didik program Paket B merupakan anggota masyarakat yang telah lulus program Paket A atau SD/MI yang berminat menempuh pendidikan setara SMP/MTs. terintegrasi dengan (4) (5) (6) (7) (8) (9) Pendidikan kesetaraan dilaksanakan pendidikan kecakapan hidup.doc 66 .kerja untuk memperoleh. dan Paket C. kesetaraan berfungsi sebagai dasar dan menengah pada layanan jenjang jalur pendidikan (2) Pendidikan pendidikan nonformal. Peserta didik program Paket A merupakan anggota masyarakat yang berminat menempuh pendidikan setara SD/MI. dan SMA/MA yang mencakup program Paket A. (3) Program Paket A berfungsi memberikan pendidikan umum setara SD/MI. Bagian Ketiga (keempat) Penyetaraan Hasil Pendidikan Pasal 101 76461668. Program Paket B berfungsi memberikan pendidikan umum setara SMP/MTs. yang menekankan pada pengetahuan dan keterampilan fungsional serta sikap dan kepribadian profesional. yang menekankan pada pengetahuan dan keterampilan fungsional serta sikap dan kepribadian profesional. Paragraf 7 Pendidikan Kesetaraan Pasal 100 (1) Pendidikan kesetaraan merupakan program pendidikan nonformal yang menyelenggarakan pendidikan umum setara SD/MI. Program Paket C berfungsi memberikan pendidikan umum setara SMA/MA. SMP/MTs.

(4) Untuk penempatan pada tingkat dalam satuan pendidikan. dan tes penempatan dan/atau penilaian portofolio sebagaimana dimaksud pada ayat (4) diatur dengan Peraturan Menteri. estetika. serta meningkatkan pengetahuan dan keterampilan peserta didik dalam rangka mencapai tujuan pendidikan nasional dan tujuan pendirian Negara Kesatuan Republik Indonesia. (2) Pendidikan informal mencakup pendidikan yang dilakukan oleh keluarga atau lingkungan berbentuk kegiatan belajar secara mandiri. 76461668. (3) Pendidikan yang dilakukan oleh keluarga mencakup pendidikan yang dilakukan oleh orang tua.doc 67 . BAB V PENYELENGGARAAN PENDIDIKAN INFORMAL Pasal 102 (1) Pendidikan informal bertujuan memberikan keyakinan agama. nilai moral. dengan mengacu pada Standar Nasional Pendidikan. (5) Ketentuan lebih lanjut mengenai penilaian penyetaraan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2). pengakuan hasil pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (3).(1) Hasil pendidikan nonformal dapat dihargai setara dengan hasil satuan atau program pendidikan formal setelah melalui proses penilaian penyetaraan oleh lembaga yang ditunjuk oleh Pemerintah atau pemerintah daerah. (3) Pengakuan hasil pendidikan nonformal dalam bidang tertentu sebagai pengganti mata pelajaran/mata kuliah dilakukan melalui penilaian terhadap bukti penguasaan kompetensi tertentu yang diperoleh dari lembaga pendidikan nonformal. (2) Proses penilaian penyetaraan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan melalui ujian sesuai yang dipersyaratkan dalam Standar Nasional Pendidikan dan dinyatakan lulus setara dengan lulusan satuan pendidikan formal. hasil pendidikan nonformal diakui sama dengan hasil satuan atau program pendidikan formal melalui tes penempatan dan/atau penilaian portofolio oleh satuan pendidikan formal yang bersangkutan. etika dan kepribadian. menanamkan nilai budaya. dan/atau perseorangan yang dilibatkan dalam proses belajar secara mandiri. anggota keluarga.

Pemerintah dapat melarang penyampaian informasi atau hiburan sebagaimana dimaksud pada ayat (5) yang tidak sesuai dengan tujuan pendidikan nasional dan/atau tujuan pendirian Negara Kesatuan Republik Indonesia. lingkungan sosial. hasil pendidikan informal diakui sama melalui tes penempatan dan/atau penilaian portofolio oleh satuan pendidikan formal atau nonformal yang bersangkutan. (2) Hasil pendidikan informal dapat diakui sama dengan hasil pendidikan nonformal setelah lulus ujian atau uji kompetensi pada satuan pendidikan nonformal atau lembaga yang ditunjuk oleh Pemerintah atau pemerintah daerah. pendidikan masyarakat melalui berbagai kegiatan hiburan. dengan mengacu pada Standar Nasional Pendidikan. (7) Pasal 103 (1) Peserta didik pada pendidikan informal adalah setiap warga masyarakat. anggota masyarakat. dengan mengacu pada Standar Nasional Pendidikan. Pasal 104 (1) Hasil pendidikan informal dapat diakui sama dengan hasil pendidikan formal setelah lulus ujian pada satuan pendidikan formal atau lembaga yang ditunjuk oleh Pemerintah atau pemerintah daerah. (6) Penyampaian informasi atau hiburan oleh media masa atau pihak lain kepada masyarakat harus secara serius mempertimbangkan implikasi pendidikannya. pendidikan sosial dan budaya melalui interaksi dengan masyarakat. dan lain-lain pendidikan yang tidak termasuk dalam jalur formal dan nonformal. (5) Pendidikan informal dilaksanakan secara bertanggung jawab.(4) Pendidikan yang dilakukan oleh lingkungan mencakup pendidikan yang dilakukan oleh masyarakat adat. atau lingkungan alam. (3) Penyelenggaraan pembelajaran pendidikan informal menjadi tanggung jawab setiap orang. pendidikan oleh media massa. dan/atau masyarakat. 76461668. (2) Pendidik pada pendidikan informal terdiri dari anggota keluarga. keluarga. (3) Untuk penempatan pada tingkat dalam satuan pendidikan formal atau nonformal.doc 68 . pendidikan alam melalui interaksi dengan alam.

dan kesesuaian persyaratan pada bidang pekerjaan tertentu. b. belajar tuntas. dan berbasis teknologi pendidikan. dan jenis pendidikan. status peserta didik pada satuan pendidikan formal atau nonformal tertentu yang dapat dijadikan dasar untuk melanjutkan pendidikan ke tingkat atau jenjang pada satuan atau program pendidikan yang lebih tinggi. serta tes penempatan dan/atau penilaian portofolio sebagaimana dimaksud pada ayat (3) diatur dengan Peraturan Menteri. Hasil uji kompetensi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) digunakan untuk penempatan sebagai peserta didik pada tingkat satuan atau program pendidikan formal atau nonformal yang bersangkutan.(4) Pengakuan sama terhadap hasil pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) digunakan untuk menentukan: a. jenjang. Pendidikan jarak jauh mempunyai karakteristik terbuka. BAB VI PENYELENGGARAAN PENDIDIKAN JARAK JAUH Pasal 106 (1) Pendidikan jarak jauh berfungsi memberikan layanan pendidikan kepada kelompok masyarakat yang tidak dapat mengikuti pendidikan secara tatap muka atau reguler. Pasal 107 (1) Pendidikan jarak jauh dapat diselenggarakan pada semua jalur. serta meningkatkan mutu dan relevansi pendidikan secara lebih efisien. belajar mandiri.doc (2) (2) (3) 69 . (5) Ketentuan lebih lanjut mengenai ujian atau uji kompetensi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2). Pasal 105 (1) Peserta didik pendidikan informal dapat mengajukan uji kompetensi untuk menentukan tingkat pendidikan pada satuan atau program pendidikan formal atau nonformal yang terakreditasi. Pendidikan jarak jauh bertujuan meningkatkan dan memeratakan akses masyarakat terhadap pendidikan. 76461668.

(3) Pendidikan jarak jauh memberikan layanan administrasi. Pengorganisasian modus konsorsium sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berbentuk jejaring penyelenggaraan pendidikan jarak jauh secara kolaboratif atau kerja sama secara lintas satuan pendidikan dengan lingkup wilayah nasional dan/atau internasional. Cakupan pendidikan berbasis satuan pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) mencakup penyelenggaraan pendidikan (2) (3) (4) 76461668. cakupan. dan terbimbing dengan menggunakan berbagai sumber belajar berbasis teknologi informasi dan komunikasi. atau konsorsium. registrasi.(2) Penyelenggaraan pendidikan jarak jauh sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilaksanakan secara terpisah dari pendidik secara spasial. terstruktur. ganda. atau satuan pendidikan. (3) (4) (5) Struktur organisasi satuan pendidikan jarak jauh ditentukan berdasarkan modus. tutorial. serta layanan penyediaan dan distribusi bahan ajar dengan sistem operasional berbasis teknologi informasi dan komunikasi.doc 70 . Pasal 109 (1) Pendidikan jarak jauh dapat diselenggarakan dengan cakupan pendidikan berbasis mata pelajaran. dan sistem operasional yang diterapkan. program studi/pendidikan. Pengorganisasian pendidikan jarak jauh modus tunggal sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berbentuk satuan pendidikan yang menyelenggarakan program pendidikan hanya secara jarak jauh. Pasal 108 (1) (2) Pengorganisasian pendidikan jarak jauh dapat diselenggarakan dalam modus tunggal. dan ujian. Cakupan pendidikan berbasis mata pelajaran sebagaimana dimaksud pada ayat (1) terbatas untuk 1 (satu) atau beberapa mata pelajaran atau mata kuliah. belajar secara mandiri. praktik/praktikum. Cakupan pendidikan berbasis program studi/pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) terbatas untuk 1 (satu) program studi/pendidikan secara utuh. Pengorganisasian modus ganda sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berbentuk satuan pendidikan yang menyelenggarakan program pendidikan baik secara tatap muka maupun jarak jauh.

Pasal 110 (1) Sarana dan prasarana pendidikan pada satuan pendidikan jarak jauh harus berbasis teknologi komunikasi. jaringan TV. dan/atau jaringan komunikasi dan informasi lainnya. dan media lain serta sesuai dengan Standar Nasional Pendidikan dan standar keamanan komunikasi dan informasi. informasi. Izin penyiaran radio/TV untuk penyelenggaraan pendidikan jarak jauh diberikan oleh menteri yang menangani urusan pemerintahan di bidang penyiaran atas usul Menteri.doc 71 . jaringan komputer. Pasal 111 (3) (1) Pendidikan jarak jauh dilaksanakan dengan mengacu pada Standar Nasional Pendidikan. (2)Pemerintah dan/atau pemerintah daerah memfasilitasi penyelenggaraan pendidikan jarak jauh dalam rangka penuntasan wajib belajar dan program pembangunan pendidikan sesuai kebutuhan daerah. 76461668. (3) Pengaturan lebih lanjut tentang penyelenggaraan pendidikan jarak jauh diatur dengan Peraturan Menteri. (2) Penyelenggara satuan pendidikan jarak jauh berkewajiban untuk secara mandiri mengembangkan sistem operasional dengan dukungan jaringan radio.jarak jauh secara utuh pada 1 (satu) satuan pendidikan.

mental. sosial. jenjang. Bagian Kedua Pendidikan Khusus Paragraf 1 Pendidikan Khusus bagi Peserta Didik Berkelainan Pasal 114 (1) Pendidikan khusus bagi peserta didik berkelainan berfungsi memberikan pelayanan pendidikan khusus bagi peserta didik yang memiliki tingkat kesulitan dalam mengikuti proses pembelajaran karena kelainan fisik. bencana sosial. dan/atau mengalami bencana alam. dan tidak mampu dari segi ekonomi. (2) Pendidikan khusus bagi peserta didik berkelainan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) bertujuan untuk mengembangkan potensi peserta didik seoptimal mungkin dalam rangka mencapai tujuan pendidikan nasional. emosional. dan jenis pendidikan. emosional. serta memiliki potensi kecerdasan dan/atau bakat istimewa. intelektual. intelektual. mental.doc 72 . Pasal 113 Pendidikan layanan khusus merupakan pendidikan bagi peserta didik di daerah terpencil atau terbelakang. masyarakat adat yang terpencil. (2) Penyelenggaraan pendidikan khusus dapat dilakukan melalui 76461668. dan/atau sosial. Pasal 115 (1) Pendidikan khusus bagi peserta didik berkelainan dapat diselenggarakan pada semua jalur.BAB VII PENYELENGGARAAN PENDIDIKAN KHUSUS DAN PENDIDIKAN LAYANAN KHUSUS Bagian Kesatu Umum Pasal 112 Pendidikan khusus merupakan pendidikan bagi peserta didik yang memiliki tingkat kesulitan dalam mengikuti proses pembelajaran karena kelainan fisik.

satuan pendidikan khusus, program pendidikan terpadu, atau program pendidikan inklusi. (3) Ketentuan lebih lanjut mengenai program pendidikan terpadu dan program pendidikan inklusi sebagaimana dimaksud pada ayat (2) diatur dengan Peraturan Menteri. Pasal 116 (6) Pemerintah menyelenggarakan sekurang-kurangnya 1 (satu) satuan pendidikan khusus untuk setiap jenis kelainan yang digunakan sebagai model ideal pendidikan khusus bagi peserta didik yang berkelainan. (7) Pemerintah kabupaten/kota sekurangkurangnya menunjuk 1 (satu) satuan pendidikan untuk menyelenggarakan pendidikan khusus secara inklusif apabila pada kabupaten/kota tersebut belum ada satu satuan pendidikan khusus. Pasal 117 Pendidikan khusus bagi peserta didik berkelainan pada jalur formal diselenggarakan melalui satuan pendidikan anak usia dini, satuan pendidikan dasar, satuan pendidikan menengah, dan satuan pendidikan tinggi. Pasal 118 (1) Satuan pendidikan khusus bagi peserta didik berkelainan untuk pendidikan anak usia dini dapat berbentuk Taman Penitipan Anak Luar Biasa (TPALB), Kelompok Bermain Luar Biasa (KBLB), atau Taman Kanak-kanak Luar Biasa (TKLB). (2) Satuan pendidikan khusus bagi peserta didik berkelainan pada jenjang pendidikan dasar terdiri atas: a. Sekolah Dasar Luar Biasa (SDLB), Madrasah Ibtidaiyah Luar Biasa (MILB), atau bentuk lain yang sederajat; b. Sekolah Menengah Pertama Luar Biasa (SMPLB), Madrasah Tsanawiyah Luar Biasa (MTsLB), atau bentuk lain yang sederajat. (3) Satuan pendidikan khusus bagi peserta didik berkelainan pada jenjang pendidikan menengah adalah Sekolah Menengah Atas Luar Biasa (SMALB), Madrasah Aliyah Luar Biasa (MALB), atau
76461668.doc

73

bentuk lain yang sederajat. (4) Penyelenggaraan satuan pendidikan khusus dapat menggunakan sistem unit. (5) Satuan pendidikan khusus untuk peserta didik berkelainan dapat menyelenggarakan pendidikan untuk 1 (satu) atau beberapa jenis peserta didik berkelainan.

Pasal 119 (1) Peserta didik pendidikan khusus bagi peserta didik berkelainan yaitu peserta didik yang memiliki kelainan fisik, emosional, mental, intelektual, dan/atau sosial. (2) Kelainan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat berupa: a. tunanetra; b. tunarungu; c. tunawicara; d. tunagrahita; e. tunadaksa; f. tunalaras; g. berkesulitan belajar; h. lamban belajar; i. autistik; j. gangguan motorik;

k. korban penyalahgunaan narkotika, obat terlarang, dan zat adiktif lainnya; dan l. kelainan lainnya.

(3) Kelainan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dapat juga berwujud gabungan dari 2 (dua) atau lebih jenis-jenis kelainan di atas yang disebut tunaganda.

Paragraf 2 Pendidikan Khusus bagi Peserta Didik yang Memiliki
76461668.doc

74

Potensi Kecerdasan dan/atau Bakat Istimewa Pasal 120 (1) Pendidikan khusus bagi peserta didik yang memiliki potensi kecerdasan dan/atau bakat istimewa berfungsi mengembangkan potensi keunggulan peserta didik menjadi prestasi nyata sesuai dengan karakteristik dan kebutuhannya, dalam rangka mencapai tujuan pendidikan nasional. (2) Pendidikan khusus bagi peserta didik yang memiliki potensi kecerdasan dan/atau bakat istimewa bertujuan: a. membentuk manusia berkualitas yang memiliki kecerdasan spiritual, emosional, sosial, dan intelektual serta memiliki ketahanan dan kebugaran fisik; b. membentuk manusia berkualitas yang kompeten dalam pengetahuan dan seni, berkeahlian dan berketerampilan, menjadi anggota masyarakat yang bertanggung jawab, serta untuk mempersiapkan peserta didik mengikuti pendidikan lebih lanjut dalam rangka mewujudkan tujuan pendidikan nasional. Pasal 121 (1) Pendidikan khusus bagi peserta didik yang memiliki potensi kecerdasan dan/atau bakat istimewa dapat diselenggarakan pada satuan pendidikan SD/MI, SMP/MTs, SMA/MA, SMK/MAK, atau bentuk lain yang sederajat. (2) Program pendidikan khusus bagi peserta didik yang memiliki potensi kecerdasan dan/atau bakat istimewa dapat berupa: a. program percepatan; b. program pengayaan; atau c. gabungan program percepatan dan program pengayaan. (3) Penyelenggaraan program pendidikan khusus bagi peserta didik yang memiliki potensi kecerdasan dan/atau bakat istimewa sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dapat dilakukan dalam bentuk: a. kelas inklusi; b. kelas khusus; c. satuan pendidikan khusus; atau d. satuan pendidikan inklusi.
76461668.doc

75

(4)

Ketentuan lebih lanjut mengenai program pendidikan khusus bagi peserta didik yang memiliki potensi kecerdasan dan/atau bakat istimewa sebagaimana dimaksud pada ayat (2) diatur dengan Peraturan Menteri. Pasal 122

Pemerintah menyelenggarakan sekurang-kurangnya 1 (satu) satuan pendidikan khusus untuk dipakai sebagai model ideal pendidikan khusus bagi peserta didik yang memiliki kecerdasan dan/atau bakat istimewa. Pasal 123 (1) Peserta didik yang memiliki potensi kecerdasan dan/atau bakat istimewa adalah peserta didik yang secara ekstrim memiliki potensi jauh di atas rata-rata dalam salah satu atau lebih kemampuan: a. b. c. d. e. akademik; seni; olahraga; kepemimpinan; dan lainnya yang relevan. (2) Penetapan peserta didik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan oleh ahli yang relevan.

Bagian Ketiga Pendidikan Layanan Khusus

Pasal 121 (1) Pendidikan layanan khusus berfungsi memberikan kesempatan untuk memperoleh pendidikan kepada peserta didik di daerah terpencil atau terbelakang, daerah perbatasan, daerah kepulauan kecil, masyarakat adat yang terpencil, dan/atau mengalami bencana alam, bencana sosial, dan tidak mampu dari segi ekonomi dalam rangka mencapai tujuan pendidikan nasional. (2) Pendidikan layanan khusus bertujuan membentuk manusia berkualitas secara spiritual, emosional, intelektual, dan fisik, hidup sehat; memperluas pengetahuan dan seni, memiliki

76461668.doc

76

dan bentuk satuan pendidikan nonformal lainnya. kelompok belajar. satuan pendidikan kecil untuk kelompok bermain. f. menjadi anggota masyarakat yang bertanggung jawab. madrasah terbuka. g. taman penitipan anak. kursus dan pelatihan. c. dan bentuk satuan pendidikan nonformal lainnya. taman penitipan anak. kelompok belajar. madrasah darurat. serta mempersiapkan peserta didik untuk mengikuti pendidikan lebih lanjut dalam rangka mewujudkan pendidikan nasional. gabungan dari 2 (dua) atau lebih dari huruf a sampai dengan huruf e. (2) Penyelenggaraan pendidikan layanan khusus pendidikan formal dapat dilaksanakan melalui: a. Pasal 122 (1) Pendidikan layanan khusus dapat diselenggarakan pada jalur pendidikan formal dan nonformal. program tugas belajar ke daerah lain yang pelayanan pendidikannya dapat dilaksanakan secara normal. dan bentuk satuan pendidikan nonformal lainnya. satuan pendidikan darurat untuk kelompok bermain. b. taman penitipan anak. Pasal 123 76461668. dan/atau c. khusus pada jalur penyelenggaraan sekolah atau penyelenggaraan pendidikan jarak penyelenggaraan sekolah atau penyelenggaraan pada jalur atau sekolah (3) Penyelenggaraan pendidikan layanan pendidikan nonformal dapat berbentuk: a. satuan pendidikan terbuka untuk kelompok bermain. jauh.keahlian dan keterampilan. dan/atau bentuk lain yang tidak bertentangan dengan ketentuan peraturan perundangan-undangan yang berlaku. kursus dan pelatihan. kelompok belajar. kursus dan pelatihan. b. e. d. madrasah kecil.doc 77 .

peserta didik yang berasal dari keluarga yang tidak mampu dari segi ekonomi. d. b. peserta didik di daerah terpencil dan/atau terbelakang. peserta didik di daerah kepulauan kecil. peserta didik yang berada di daerah yang mengalami bencana alam dan/atau bencana sosial. (2)Pemerintah menunjuk atau mendirikan madrasah pada jenjang pendidikan dasar dan menengah untuk dikembangkan menjadi satuan pendidikan yang bertaraf internasional. BAB VIII PENYELENGGARAAN PENDIDIKAN BERTARAF INTERNASIONAL DAN PENDIDIKAN BERBASIS KEUNGGULAN LOKAL Pasal 125 (1) Pemerintah dan/atau pemerintah daerah menyelenggarakan sekurang-kurangnya 1 (satu) satuan pendidikan dasar dan menengah untuk dikembangkan menjadi satuan pendidikan yang bertaraf internasional.(1) (2) Pemerintah dan pemerintah pendidikan layanan khusus. daerah menyelenggarakan Pembagian beban pembiayaan pendidikan layanan khusus sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur lebih lanjut dalam Peraturan Menteri. Pasal 124 daerah (3) (1) Peserta didik yang memerlukan pendidikan layanan khusus adalah: a. Masyarakat membantu Pemerintah dan pemerintah dalam penyelenggaraan pendidikan layanan khusus. (3) Pemerintah kabupaten/kota menunjuk atau mendirikan sekurangkurangnya 1 (satu) satuan pendidikan dasar dan menengah untuk dikembangkan menjadi satuan pendidikan dasar dan menengah yang bertaraf internasional.doc 78 . peserta didik dalam masyarakat adat yang terpencil. c. (4)Dalam hal pemerintah kabupaten/kota tidak menyelenggarakan 76461668. e. dan f. peserta didik di daerah perbatasan.

76461668. c. Pengembangan dengan mengacu standar pendidikan di negara yang memiliki keunggulan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan melalui cara penyesuaian atau penambahan terhadap unsur-unsur tertentu yang sudah ada atau belum ada dalam Standar Nasional Pendidikan. diterima bekerja pada lembaga internasional atau negara lain. pengembangan. lulus sertifikasi internasional yang dikeluarkan oleh negara lain yang memiliki keunggulan tertentu dalam bidang ilmu pengetahuan. Pasal 126 (1) Satuan pendidikan dasar dan menengah bertaraf internasional diselenggarakan setelah memenuhi Standar Nasional Pendidikan yang diperkaya dengan standar pendidikan/standar kompetensi negara lain yang mempunyai keunggulan dalam bidang ilmu pengetahuan. dan seni. (6)Masyarakat dapat menyelenggarakan satuan pendidikan pada semua jenjang pendidikan untuk dikembangkan menjadi satuan pendidikan yang bertaraf internasional setelah memperoleh izin dari Pemerintah atau pemerintah kabupaten/kota sesuai kewenangannya. dan seni. (5)Dalam hal pemerintah kabupaten/kota dan pemerintah provinsi tidak menyelenggarakan satuan pendidikan dasar dan menengah untuk dikembangkan menjadi satuan pendidikan dasar dan menengah yang bertaraf internasional. teknologi. Kemampuan dan daya saing lulusan di forum internasional sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditunjukkan dengan: diterima pada satuan pendidikan bertaraf internasional di dalam negeri atau satuan pendidikan di luar negeri yang terakreditasi atau yang diakui di negaranya. serta menunjang pelestarian. Pemerintah bersama pemerintah kabupaten/kota dan pemerintah provinsi wajib mendirikannya.doc 79 . teknologi. Satuan pendidikan dasar dan menengah bertaraf internasional menghasilkan lulusan yang memiliki kemampuan dan daya saing di forum internasional. dan pembangunan sumberdaya nasional. pemerintah provinsi bersama pemerintah kabupaten/kota wajib mendirikannya. dan/atau (2) (3) (4) a. b.satuan pendidikan dasar dan menengah untuk dikembangkan menjadi satuan pendidikan dasar dan menengah yang bertaraf internasional.

matematika. memenuhi standar penilaian yang diperkaya dengan sistem penilaian pendidikan di negara lain yang mempunyai keunggulan tertentu dalam bidang ilmu pengetahuan. menerapkan sistem administrasi pendidikan berbasis teknologi informasi dan komunikasi. penilaian. SMA. dan teknologi. mampu berperan aktif dan berkomunikasi langsung di forum internasional. b. teknologi. melaksanakan proses pembelajaran yang diperkaya dengan model proses pembelajaran di negara lain yang mempunyai keunggulan tertentu dalam bidang ilmu pengetahuan. i. menerapkan Sistem Kredit Semester (SKS) untuk SMP. sudah beroperasi sekurang-kurangnya 3 tahun sejak didirikan dan telah meluluskan peserta didik.d. e. f. dan perpustakaan. proses pembelajaran. h. c. d. melaksanakan kurikulum sesuai standar isi yang diperkaya dengan kurikulum negara lain yang mempunyai keunggulan tertentu dalam bidang ilmu pengetahuan. dan seni. mempunyai pendidik yang memiliki sertifikat pendidik dengan kualifikasi akademik magister (S2) dari perguruan tinggi terakreditasi dalam bidang kependidikan atau bidang studi yang relevan dengan mata pelajaran atau rumpun 76461668.doc 80 . termasuk yang berkaitan dengan kurikulum. menerapkan standar kelulusan yang lebih tinggi dari standar kompetensi lulusan. memperoleh akreditasi A dari lembaga akreditasi dalam negeri. Pasal 127 Satuan pendidikan dasar dan menengah yang dapat dikembangkan menjadi bertaraf internasional harus memenuhi persyaratan sebagai berikut: a. SMK. dan seni sehingga peserta didik memiliki akses untuk mengikuti ujian akhir di negara tersebut. teknologi. dan seni. g. MA. teknologi. dan MAK. MTs. j. memberlakukan bahasa inggris atau bahasa lain yang sering digunakan dalam forum internasional sekurangkurangnya untuk pembelajaran kelompok mata pelajaran sains.

peralatan pendidikan. dan k. dan ruang/tempat lain yang diperlukan untuk menunjang proses pembelajaran yang teratur dan berkelanjutan. atau yang SMK. atau guru kelas. l. buku dan sumber belajar lainnya. bahan habis pakai. ruang bengkel kerja. dan/atau bahasa asing lainnya secara aktif. m.MA. atau bidang nonkependidikan yang relevan. ruang pendidik. atau bidang nonkependidikan yang relevan. atau yang sederajat. ruang perpustakaan. 3). media pendidikan. mempunyai prasarana yang sekurang-kurangnya meliputi lahan. ruang unit produksi. atau yang sederajat. sekurangkurangnya: 1). ruang kelas. sarana pembelajaran dilengkapi dengan fasilitas teknologi 76461668. seta perlengkapan lain yang diperlukan untuk menunjang proses pembelajaran yang teratur dan berkelanjutan. memiliki visi internasional. ruang pimpinan satuan pendidikan. sederajat. 3). atau yang sederajat.doc 81 . dan 4). atau guru bimbingan dan konseling/konselor. memiliki jiwa kepemimpinan dan kewirausahaan. MI. 10% untuk SD. n. mempunyai sarana yang sekurang-kurangnya meliputi perabot. mampu berbahasa Inggris. khusus sarana dan prasarana yang berwujud: 1). MTs. tempat bermain. ruang tata usaha. tempat berkreasi. 2). 30% untuk SMA. ruang laboratorium. tempat beribadah.MAK. 2). atau guru kelas. atau memiliki sertifikat kepala sekolah/madrasah. tempat berolahraga. telah menempuh pelatihan kepala satuan pendidikan dari lembaga pelatihan yang diakui oleh Pemerintah atau pemerintah daerah. sekurang-kurangnya: 1). instalasi daya dan jasa. atau guru bimbingan dan konseling/konselor. ruang kantin. memiliki kepala satuan pendidikan yang memiliki sertifikat pendidik dengan kualifikasi akademik magister (S2) dari perguruan tinggi terakreditasi dalam bidang kependidikan atau bidang studi yang relevan dengan mata pelajaran atau rumpun mata pelajaran yang diampunya.mata pelajaran yang diampunya. 20% untuk SMP.

fasilitas multi media. dan ruang unjuk seni budaya. perpustakaan dilengkapi dengan sarana teknologi informasi dan komunikasi yang memberikan akses ke sumber pembelajaran di seluruh dunia. Pendidikan Kewarganegaraan. Pemerintah kabupaten/kota menunjuk atau mendirikan sekolah pada jenjang pendidikan dasar dan pendidikan menengah untuk dikembangkan menjadi satuan pendidikan yang berbasis keunggulan lokal. memenuhi standar pembiayaan dengan menerapkan model pembiayaan yang telah diaudit oleh akuntan publik dengan memperoleh predikat wajar tanpa syarat. Pemerintah menunjuk atau mendirikan madrasah pada jenjang pendidikan dasar dan pendidikan menengah untuk dikembangkan menjadi satuan pendidikan yang berbasis keunggulan lokal. dan 2). dan Bahasa Indonesia. sekurang-kurangnya untuk mata pelajaran Pendidikan Agama. Dalam hal pemerintah kabupaten/kota tidak menyelenggarakan sekolah pada jenjang pendidikan dasar dan 82 (2) (3) (4) (5) 76461668. fasilitas olah raga. Pasal 128 (1) Satuan pendidikan dasar dan menengah bertaraf internasional wajib menggunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa pengantar. sarana dan prasarana untuk pemeliharaan kesehatan dan pengembangan diri dilengkapi dengan klinik.informasi dan komunikasi di setiap ruang kelas.doc . Pasal 129 (1) Pemerintah dan pemerintah kabupaten/kota menyelenggarakan satuan pendidikan jenjang pendidikan dasar dan pendidikan menengah untuk dikembangkan menjadi satuan pendidikan yang berbasis keunggulan lokal. o. dan p. Satuan pendidikan berbasis keunggulan lokal sebagaimana dimaksud ayat (1) merupakan satuan pendidikan yang dikembangkan sesuai dengan keunggulan potensi daerah/karakteristik daerah dan sosial budaya masyarakat setempat.

c. b. (2) Satuan pendidikan dasar dan menengah berbasis keunggulan lokal menghasilkan lulusan yang memiliki kemampuan mengolah dan/atau mengembangkan sumber daya lingkungan di daerahnya dan menghasilkan produk yang mempunyai nilai ekonomis serta menunjang pelestarian.doc (7) menerapkan sistem administrasi pendidikan berbasis 83 . dan promosi keunggulan lokal. Pemerintah bersama pemerintah kabupaten/kota dan pemerintah provinsi wajib mendirikannya. pengembangan. Pasal 131 Satuan pendidikan dasar dan menengah yang dapat dikembangkan menjadi berbasis keunggulan lokal harus memenuhi persyaratan sebagai berikut: a. memperoleh akreditasi dari lembaga akreditasi dalam negeri. (3) Pengembangan potensi daerah/karakteristik daerah dan sosial budaya masyarakat setempat dilakukan melalui cara penyesuaian atau penambahan terhadap unsur-unsur tertentu yang sudah ada atau belum ada dalam Standar Nasional Pendidikan.pendidikan menengah untuk dikembangkan menjadi satuan pendidikan berbasis keunggulan lokal. Masyarakat dapat menyelenggarakan satuan pendidikan pada semua jenjang pendidikan untuk dikembangkan menjadi satuan pendidikan yang berbasis keunggulan lokal setelah memperoleh izin dari Pemerintah atau pemerintah kabupaten/kota sesuai kewenangannya. Pasal 130 (1) Satuan pendidikan dasar dan menengah berbasis keunggulan lokal diselenggarakan setelah memenuhi Standar Nasional Pendidikan yang diperkaya dan dikembangkan sesuai dengan potensi daerah/karakteristik daerah dan sosial budaya masyarakat setempat. sudah beroperasi sekurang-kurangnya 3 tahun sejak didirikan dan telah meluluskan peserta didik. pemerintah provinsi bersama pemerintah kabupaten/kota wajib mendirikannya. (6) Dalam hal pemerintah kabupaten/kota dan pemerintah provinsi tidak menyelenggarakan satuan pendidikan dasar dan menengah untuk dikembangkan menjadi satuan pendidikan dasar dan menengah berbasis keunggulan lokal. 76461668.

terpadu-satu sistem-satu atap. g.doc 84 . dan h. c. (2) Satuan pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tidak boleh menerima peserta didik warga negara Indonesia. dan/atau satuan pendidikan menengah bagi warga negaranya atas persetujuan Pemerintah. Pasal 132 Satuan pendidikan dasar dan menengah bertaraf internasional atau berbasis keunggulan lokal dapat diselenggarakan dengan model: a. melaksanakan proses pembelajaran dengan memperhatikan potensi daerah/karakteristik daerah dan sosial budaya masyarakat setempat. menerapkan standar kelulusan dengan keunggulan lokal yang lebih tinggi dari standar kompetensi lulusan. terpisah-satu sistem-tidak satu atap. penilaian. termasuk yang berkaitan dengan kurikulum. mempunyai pendidik yang memiliki keahlian relevan dengan mata pelajaran keunggulan lokal. d. dan keluar-masuk (entry-exit).teknologi informasi dan komunikasi. BAB IX PENYELENGGARAAN PENDIDIKAN OLEH LEMBAGA NEGARA LAIN DAN KERJASAMA SATUAN PENDIDIKAN INDONESIA DENGAN SATUAN PENDIDIKAN NEGARA LAIN Pasal 133 (1) Perwakilan negara asing di wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia dapat menyelenggarakan satuan pendidikan anak usia dini. 76461668. b. e. mempunyai sarana dan prasarana pendidikan yang memadai dan relevan dalam mendukung terselenggaranya pendidikan berbasis keunggulan lokal. proses pembelajaran. f. dan perpustakaan. melaksanakan kurikulum sesuai standar isi yang diperkaya sesuai dengan potensi daerah/karakteristik daerah dan sosial budaya masyarakat setempat. satuan pendidikan dasar. terpisah-beda sistem-tidak satu atap. d.

Satuan pendidikan yang diselenggarakan oleh lembaga pendidikan asing wajib menerapkan sistem penggajian yang tidak diskriminatif bagi warga negara asing maupun warga negara Indonesia.Pasal 134 (1) Lembaga pendidikan asing yang terakreditasi atau yang diakui di negaranya dapat menyelenggarakan pendidikan di wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia sesuai dengan peraturan perundang-undangan. Menteri memberikan izin setelah memperoleh (2) (3) (4) (5) (2) (3) (2) 76461668. Dalam bekerja sama sebagaimana dimaksud pada ayat (2) pendidikan asing wajib mengikutsertakan sekurang-kurangnya 30% (tiga puluh persen) pendidik warga negara Indonesia. Dalam hal penggunaan sistem pendidikan negara lain sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dalam disiplin ilmu agama. Dalam bekerja sama sebagaimana dimaksud pada ayat (2) pendidikan oleh lembaga pendidikan asing wajib mengikutsertakan sekurang-kurangnya 80% (delapan puluh persen) tenaga kependidikan warga negara Indonesia. Pendidik dan tenaga kependidikan warga negara asing pada satuan pendidikan yang diselenggarakan oleh lembaga pendidikan asing wajib menguasai bahasa Indonesia dan memahami budaya Indonesia. Pasal 135 (1) Bahasa pengantar utama pada satuan pendidikan yang diselenggarakan oleh lembaga pendidikan asing adalah bahasa Indonesia.doc 85 . kepemilikan lembaga asing sebanyak-banyaknya 49% (empat puluh sembilan persen). Dalam bekerja sama sebagaimana dimaksud pada ayat (2). Penyelenggaraan pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus bekerja sama dengan lembaga penyelenggara pendidikan Indonesia. Pasal 136 (1) Pendidikan yang diselenggarakan oleh lembaga pendidikan asing sebagaimana dimaksud dalam Pasal 134 yang menggunakan sistem pendidikan negara lain yang diselenggarakan di wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia wajib memperoleh izin dari Menteri.

penyelenggaraan pertemuan ilmiah bersama. (2) (3) pertukaran guru dan/atau tenaga kependidikan. d.pertimbangan dari Menteri Agama. Pasal 137 (1). c. Warga negara Indonesia yang menjadi peserta didik pada satuan pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) wajib mengikuti Ujian Nasional. pendidikan kewarganegaraan. pemanfaatan bersama berbagai sumberdaya. Pasal 138 (1) Satuan pendidikan anak usia dini Indonesia dapat menjalin kerja sama akademik dengan satuan pendidikan anak usia dini negara lain. Kerja sama pendidikan anak usia dini sebagaimana dimaksud pada ayat (1) bertujuan untuk meningkatkan mutu program pendidikan anak usia dini. 86 76461668.doc . (4) sebagaimana dimaksud (2). b. Penyelenggaraan pendidikan oleh lembaga asing sebagaimana dimaksud dalam Pasal 134 dan Pasal 136 yang menerima peserta didik warga negara Indonesia wajib memberikan pendidikan agama. dan bahasa Indonesia kepada peserta didik warga negara Indonesia. (3). Pasal 139 (1) Satuan pendidikan dasar atau satuan pendidikan menengah Indonesia dapat menjalin kerja sama akademik dengan satuan pendidikan sederajat negara lain. Kerja sama penyelenggaraan pendidikan anak usia dini sebagaimana yang dimaksud pada ayat (3) pada tingkat Taman Kanak-kanak atau yang sederajat hanya dapat dilakukan oleh penyelenggara satuan pendidikan yang memiliki satuan pendidikan Taman Kanak-kanak atau yang sederajat berakreditasi A. Kerja sama akademik pada ayat (1) dapat berbentuk: a. Pendidikan agama sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diajarkan sesuai dengan agama yang dianut peserta didik dan diajarkan oleh pendidik yang seagama. dan/atau bentuk-bentuk lain yang dianggap perlu.

dan/atau b.doc 87 . c. dan/atau bentuk-bentuk lain yang dianggap perlu. program kembaran. e. program pemindahan dan perolehan kredit. dan memperluas jaringan kemitraan untuk kepentingan perguruan tinggi. pemanfaatan bersama berbagai sumberdaya. dan/atau c. menyelenggarakan pendidikan menengah bertaraf internasional. Kerja sama perguruan tinggi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) bertujuan untuk: b. memperluas jaringan kemitraan untuk kepentingan satuan pendidikan. Pasal 140 (3) (4) Perguruan tinggi Indonesia dapat menjalin kerja sama akademik dan/atau non-akademik dengan perguruan tinggi negara lain. d. b. i.(2) Kerja sama untuk: sebagaimana dimaksud pada ayat (1) bertujuan a. memperluas pengabdian kepada masyarakat oleh perguruan tinggi. meningkatkan pembinaan dan/atau pelaksanaan program pendidikan tinggi. pendidikan tinggi bertaraf 76461668. h. (4) Kerja sama satuan pendidikan dasar atau pendidikan menengah sebagaimana yang dimaksud pada ayat (3) hanya dapat dilakukan oleh satuan pendidikan dasar atau pendidikan menengah berakreditasi A. meningkatkan mutu penyelenggaraan pendidikan dasar atau pendidikan menengah. pertukaran peserta didik. menyelenggarakan internasional. penelitian. f. g. (3) dasar atau pendidikan Kerja sama akademik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat berbentuk: a. penyelenggaraan seminar bersama. pertukaran guru dan/atau tenaga kependidikan. pemagangan khusus pendidikan menengah kejuruan.

f. penyelenggaraan seminar bersama. penelitian. b. (5) (6) (7) (8) Kerja sama non-akademik sebagaimana yang dimaksud pada ayat (1) dapat dilakukan oleh setiap perguruan tinggi yang sudah memiliki izin pendirian dari Departemen. Program studi dari perguruan tinggi di luar negeri yang bekerja sama dengan program studi di Indonesia sebagaimana yang dimaksud pada ayat (5) harus terakreditasi atau diakui di negaranya dan terdaftar di Departemen. 76461668. d. kontrak manajemen. program kembaran. pengabdian kepada masyarakat. e. c. Kerja sama non-akademik sebagaimana yang dimaksud pada ayat (1) dapat berbentuk: a. b. pertukaran dosen dan/atau mahasiswa. pendayagunaan aset.(3) Kerja sama akademik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat berbentuk: a. h. program pemindahan dan perolehan kredit. dan/atau bentuk-bentuk lain yang dianggap perlu. pemanfaatan bersama berbagai sumberdaya. penerbitan jurnal ilmiah. pemagangan. j.doc 88 . Kerja sama akademik dengan perguruan tinggi di luar negeri sebagaimana dimaksud pada ayat (3) huruf b sampai dengan huruf j hanya dapat dilaksanakan oleh program studi di Indonesia yang terakreditasi A. i. g. dan/atau d. (4) Kerja sama pendidikan tinggi sebagaimana yang dimaksud pada ayat (3) hanya dapat dilakukan oleh perguruan tinggi di Indonesia yang lebih dari 60% (enam puluh persen) program studinya berakreditasi A. c. usaha penggalangan dana. jasa dan royalti hak atas kekayaan intelektual.

Ketentuan lebih lanjut mengenai pelaksanaan berbagai bentuk kerja sama pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur lebih lanjut dengan Peraturan Menteri. serta kebutuhan khususnya. 138. dan kecepatan belajar. 139. c. dan 141 selama tidak bertentangan dengan tujuan pendidikan nasional. 76461668. kecerdasan. mendapatkan pendidikan agama sesuai dengan agama yang dianutnya dan diajarkan oleh pendidik yang seagama.Pasal 141 (1) Satuan pendidikan nonformal Indonesia dapat menjalin kerja sama akademik dan/atau non-akademik dengan lembaga pendidikan dari negara lain. Pasal 142 (1) Pemerintah mengakui bentuk-bentuk kerja sama sebagaimana dimaksud dalam Pasal 134. Kerja sama satuan pendidikan nonformal sebagaimana dimaksud pada ayat (1) bertujuan untuk meningkatkan mutu pendidikan dan/atau memperluas jaringan kemitraan untuk kepentingan satuan pendidikan nonformal. kemampuan. minat.doc 89 . memperoleh bantuan fasilitas belajar atau bantuan lain sesuai dengan persyaratan dan ketentuan yang berlaku. Kerja sama sebagaimana yang dimaksud pada ayat (1) hanya dapat dilakukan oleh satuan pendidikan nonformal yang memiliki izin sesuai peraturan perundang-undangan dan terakreditasi. b. (2) (3) (2) BAB X HAK DAN KEWAJIBAN PESERTA DIDIK Pasal 144 (1)Peserta didik mempunyai hak: a. 140. memperoleh layanan pendidikan sesuai dengan bakat. Pasal 143 Pemerintah secara teratur mengadakan evaluasi dan pengawasan terhadap semua bentuk pelayanan pendidikan yang melibatkan partisipasi asing.

Pemerintah Provinsi.d. c. Pemerintah Kabupaten/Kota serta masyarakat. menyelesaikan program pendidikan layanan khusus lebih cepat atau lebih lambat dari waktu yang ditentukan. menggunakan kebebasan akademik secara bertanggung jawab untuk menuntut ilmu dan mengkaji ilmu sesuai dengan norma dan etika yang berlaku dalam lingkungan akademik. pemerintah daerah. mengikuti pendidikan di luar batas usia yang berlaku bagi peserta didik biasa. ikut serta dalam kegiatan organisasi peserta didik di satuan pendidikan yang bersangkutan. dan h. memperoleh bantuan fasilitas belajar. e. menyelesaikan program pendidikan lebih cepat atau lebih lambat dari waktu yang ditentukan. Pasal 145 (1) Selain hak peserta didik sebagaimana dimaksud dalam Pasal 144 ayat (1). (3)Selain hak peserta didik sebagaimana dimaksud pada ayat (1). atau bantuan lain sesuai dengan kemampuan Pemerintah. dan/atau masyarakat bagi mereka yang berprestasi dan/atau orang tuanya tidak mampu membiayai pendidikan. dan 90 76461668. peserta didik di perguruan tinggi berhak: h. peserta didik pada pendidikan khusus berhak: a. b. memperoleh layanan informasi yang berkaitan dengan proses pembelajaran yang diikuti termasuk hasil belajar. dan c. mendapatkan jaminan kelangsungan pendidikan. f. (2)Selain hak peserta didik sebagaimana dimaksud pada ayat (1). memperoleh kemudahan dari pihak terkait untuk menggunakan sarana dan prasarana fisik dan nonfisik untuk menunjang kelancaran pembelajaran. memperoleh jaminan hukum yang sama seperti peserta didik pada umumnya.doc . mendapatkan beasiswa atau biaya pendidikan dari Pemerintah. pindah ke jalur atau satuan pendidikan lain yang sederajat atau melanjutkan ke satuan pendidikan yang lebih tinggi. peserta didik pada pendidikan layanan khusus berhak: a. g. b.

(2)Pelaksanaan ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur oleh perguruan tinggi yang bersangkutan. menghormati pendidik dan tenaga kependidikan. mengikuti proses pembelajaran dengan menjunjung tinggi norma dan etika akademik. masyarakat. d. c. (2) Kewajiban sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan dengan bimbingan dan keteladanan pendidik dan tenaga kependidikan. mencintai keluarga. (3) Keterlibatan mahasiswa dalam organisasi di luar perguruan tingginya merupakan tanggung jawab perseorangan yang bersangkutan. ikut menanggung biaya penyelenggaraan pendidikan. mengambil mata kuliah di luar program studi baik di dalam maupun di luar perguruan tinggi yang bersangkutan dan perolehan kreditnya dapat diperhitungkan dalam penyelesaian studi sesuai dengan peraturan akademik yang ditetapkan. memelihara kerukunan dan kedamaian untuk mewujudkan harmoni sosial di antara sesama. f. kecuali yang dibebaskan dari kewajiban. (4) Kegiatan mahasiswa dalam organisasi sebagaimana dimaksud pada ayat (3) tidak boleh mengatasnamakan perguruan tingginya. serta pembiasaan peserta didik. Pasal 146 (1) Peserta didik berkewajiban menjaga ketentuan sebagai berikut: a.doc 91 . b. menjalankan ibadah sesuai agama yang dianutnya.i. menjaga kewibawaan dan nama baik satuan pendidikan yang bersangkutan. serta menyayangi sesama. ketertiban. g. mencintai lingkungan. (3) Pelaksanaan ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan 76461668. dan keamanan sekolah. dan negara. e. mematuhi semua peraturan yang berlaku. kebersihan. bangsa. h. ikut menjaga dan memelihara sarana dan prasarana. i. dan j.

penitipan anak dan bentuk lain yang sejenis. instruktur. dosen. melatih peserta didik. 76461668. pamong belajar. dan pengabdian kepada masyarakat. dan pendidikan menengah. d. pendidikan menengah. konselor bertugas dan bertanggung jawab memberikan layanan konseling kepada peserta didik di satuan pendidikan pada jenjang pendidikan dasar. dan Tanggung Jawab Pasal 147 (1) Pendidik mencakup guru. (2) Pendidik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) mempunyai tugas dan tanggung jawab sebagai berikut: a. e. b. serta berpartisipasi dalam menyelenggarakan pendidikan. alat pembelajaran. pendidikan dasar. membimbing. dosen bertugas dan bertanggung jawab sebagai pendidik profesional dan ilmuwan dengan tugas utama mentransformasikan. dan seni melalui pendidikan. fasilitator. pamong belajar bertugas dan bertanggung jawab menyuluh. yang berfungsi sebagai agen pembelajaran peserta didik. dan menyebarluaskan ilmu pengetahuan. mengembangkan.ayat (2) serta sanksi atas pelanggarannya diatur oleh satuan pendidikan yang bersangkutan. dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal. widyaiswara. c. tutor. teknologi. mengarahkan. melatih. dan sebutan lain yang sesuai dengan kekhususanya. BAB XI PENDIDIK DAN TENAGA KEPENDIDIKAN Bagian Kesatu Jenis. dan mengembangkan: model program pembelajaran. dan pengelolaan pembelajaran pada jalur pendidikan nonformal. pamong. mengajar. mengajar. Tugas. guru bertugas dan bertanggung jawab sebagai pendidik profesional dengan tugas utama mendidik. penelitian. konselor. menilai.doc 92 . pamong bertugas dan bertanggung jawab membimbing dan melatih anak usia dini pada kelompok bermain. dan pendidikan tinggi. membimbing.

c. b. tenaga perpustakaan.f. tenaga kebersihan sekolah. psikolog. Tenaga kependidikan mencakup pimpinan satuan pendidikan. Tenaga kependidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) mempunyai tugas dan tanggung jawab sebagai berikut: a. fasilitator bertugas dan bertanggung jawab memberikan pelayanan pembelajaran pada lembaga pendidikan dan pelatihan. h. penilaian.doc (2). dan sebutan lain untuk petugas sejenis yang bekerja pada satuan pendidikan. tenaga laboratorium. Pasal 148. penilik satuan pendidikan nonformal. Pendidik harus memiliki kualifikasi akademik dan sertifikat pendidik. dan i. (1). mengajar dan melatih peserta didik pada program pendidikan dan pelatihan prajabatan dan/atau dalam jabatan yang diselenggarakan oleh Pemerintah dan/atau pemerintah daerah. penilik bertugas dan bertanggung jawab melakukan pemantauan. widyaiswara bertugas dan bertanggung jawab mendidik. pengawas bertugas dan bertanggung jawab melakukan 76461668. tenaga lapangan pendidikan. Kualifikasi akademik dan sertifikat pendidik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) bagi guru dan dosen diatur dalam Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen. pimpinan satuan pendidikan bertugas dan bertanggung jawab mengelola satuan pendidikan pada pendidikan formal atau nonformal. teknisi sumber belajar. 93 . pengawas satuan pendidikan formal. pekerja sosial. dan pembinaan pada satuan pendidikan nonformal. tutor bertugas dan bertanggung jawab memberikan bantuan belajar kepada peserta didik dalam proses pembelajaran jarak jauh dan/atau pembelajaran tatap muka pada satuan pendidikan jalur formal dan nonformal. Pasal 149 (1). (2). terapis. tenaga administrasi. instruktur bertugas dan bertanggung jawab memberikan pelatihan teknis kepada peserta didik pada kursus dan/atau pelatihan. g.

doc 94 . i. pemantauan. penilaian. h. memperbaiki sarana dan prasarana pembelajaran pada satuan pendidikan. tenaga administrasi bertugas dan bertanggung jawab menyelenggarakan pelayanan administratif pada satuan pendidikan. psikolog bertugas dan bertanggung jawab memberikan layanan bantuan psikologis-pedagogis kepada peserta didik dan pendidik pada pendidikan khusus dan pendidikan anak usia dini. dan pembinaan pada satuan pendidikan anak usia dini jalur formal. pekerja sosial bertugas dan bertanggung jawab memberikan layanan bantuan sosiologis-pedagogis kepada peserta didik dan pendidik pada pendidikan khusus dan pendidikan anak usia dini. tenaga lapangan pendidikan bertugas dan bertanggung jawab melakukan pendataan. f. satuan pendidikan dasar. e. tenaga laboratorium bertugas dan bertanggung jawab membantu pendidik mengelola kegiatan praktikum di laboratorium satuan pendidikan. merawat. dan pendidikan menengah. d. teknisi sumber belajar bertugas dan bertanggung jawab mempersiapkan. terapis bertugas dan bertanggung jawab memberikan layanan bantuan fisiologis-kinesiologis kepada peserta didik pada pendidikan khusus dan pendidikan anak usia dini. pembimbingan. dan l.pemantauan. k. 76461668. dan pelaporan pelaksanaan pendidikan nonformal. tenaga kebersihan sekolah bertugas dan bertanggung jawab memberikan layanan kebersihan lingkungan sekolah. g. tenaga perpustakaan bertugas dan bertanggung jawab melaksanakan pengelolaan perpustakaan pada satuan pendidikan. j.

Pemindahan. (2).Bagian Kedua Pengangkatan. Pasal 151 (1). Pemerintah dan pemerintah daerah memfasilitasi penyediaan pendidik dan tenaga kependidikan sesuai perencanaan kebutuhan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dan ayat (3) untuk menjamin pelayanan pendidikan yang bermutu. Pemerintah daerah merencanakan kebutuhan pendidik dan tenaga kependidikan yang memenuhi Standar Nasional Pendidikan atas dasar persyaratan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan rencana kebutuhan pendidik dan tenaga kependidikan nasional sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dan kebutuhan pendidik dan tenaga kependidikan daerah masingmasing. dan pemberhentian pendidik dan tenaga kependidikan pada satuan pendidikan yang diselenggarakan oleh Pemerintah atau pemerintah daerah dilaksanakan berdasarkan peraturan perundang-undangan. dan Pemberhentian Pasal 150 (1). 95 (2). dan pemberhentian pendidik dan tenaga kependidikan oleh Pemerintah dan pemerintah daerah dilaksanakan dalam rangka pemerataan dan/atau penjaminan mutu pendidikan. pemindahan. penempatan. Pengangkatan. pemindahan. penempatan. 76461668. Pengangkatan. Pemerintah menetapkan persyaratan pendidik dan tenaga kependidikan yang memenuhi Standar Nasional Pendidikan. (3).doc . Penempatan. Pengangkatan. penempatan. Pemerintah merencanakan kebutuhan pendidik dan tenaga kependidikan yang memenuhi Standar Nasional Pendidikan pada satuan pendidikan secara nasional. (3). dan pemberhentian pendidik dan tenaga kependidikan pada satuan pendidikan yang diselenggarakan oleh masyarakat dilakukan oleh badan hukum pendidikan berdasarkan perjanjian kerja atau kesepakatan kerja bersama. pemindahan. (4).

Bagian Ketiga Pembinaan Karir. (4). (1). Pembinaan karir tenaga kependidikan dilaksanakan dalam bentuk peningkatan kualifikasi akademik dan/atau kompetensi manajerial dan/atau teknis sebagai tenaga kependidikan dengan mengacu pada Standar Nasional Pendidikan. (2). (5). (3). dan/atau bentuk promosi lainnya. (2). kenaikan jabatan.doc 96 . Pembinaan karir pendidik dilaksanakan dalam bentuk peningkatan kualifikasi akademik dan/atau kompetensi sebagai agen pembelajaran dengan mengacu pada Standar Nasional Pendidikan. Promosi bagi pendidik dan tenaga kependidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dilaksanakan sesuai dengan peraturan perundang-undangan. Pendidik dan tenaga kependidikan dipromosikan atas dasar prestasi kerja. Badan hukum pendidikan masyarakat wajib melakukan pembinaan karir pendidik dan tenaga kependidikan pada satuan pendidikan yang diselenggarakannya sesuai dengan pola pembinaan karir sebagaimana dimaksud pada ayat (1). 76461668. dan/atau penghargaan. masa kerja berdasarkan kompetensi yang dimiliki. dan Penghargaan Paragraf 1 Pembinaan Karir Pasal 152 (1). Promosi. Promosi bagi pendidik dan tenaga kependidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diberikan dalam bentuk kenaikan pangkat/golongan. Pemerintah mengembangkan dan menetapkan pembinaan karir pendidik dan tenaga kependidikan. Paragraf 2 Promosi dan Penghargaan Pasal 153 (3). pola Pemerintah dan/atau pemerintah daerah wajib melakukan pembinaan karir pendidik dan tenaga kependidikan sesuai dengan pola pembinaan karir sebagaimana dimaksud pada ayat (1).

doc 97 . daerah konflik. (2) Penghargaan kepada pendidik dan tenaga kependidikan dapat diberikan oleh masyarakat dan organisasi profesi pada tingkat internasional. nasional. Promosi bagi pendidik dan tenaga kependidikan yang berkedudukan sebagai pegawai lembaga pendidikan yang dikelola oleh masyarakat dan berstatus bukan pegawai negeri sipil dilaksanakan sesuai dengan ketentuan peraturan yang ditetapkan oleh badan hukum pendidikan yang bersangkutan. pada tingkat desa oleh pemerintah desa. dengan memperhatikan peraturan perundang-undangan. dan/atau tingkat satuan pendidikan. Pasal 154 (1) Penghargaan diberikan: kepada pendidik dan tenaga kependidikan a.(4). (3) Pemerintah memberikan penghargaan kepada pendidik yang berhasil menulis buku teks bahan belajar dan/atau menemukan teknologi pembelajaran baru yang dinilai bermutu tinggi. dan e. daerah bencana. atau seni. propinsi. (4) Pemerintah memberikan penghargaan kepada pendidik yang hasil penelitiannya memberikan kontribusi terhadap perluasan dan pendalaman kandungan atau penerapan ilmu. daerah perbatasan. pada tingkat nasional oleh Pemerintah. (2) Pemerintah dan pemerintah daerah memberikan penghargaan kepada pendidik dan/atau tenaga kependidikan yang dinilai berprestasi dan berdedikasi luar biasa. daerah tertinggal atau daerah bermasalah lainnya. Pasal 155 (1) Pemerintah dan pemerintah daerah memberikan penghargaan kepada pendidik dan/atau tenaga kependidikan teladan yang bertugas di daerah terpencil. kabupaten/kota. pada tingkat satuan pendidikan oleh satuan pendidikan. kabupaten/kota oleh Pemerintah d. (5) Pendidik atau tenaga kependidikan yang gugur dalam melaksanakan tugas memperoleh penghargaan dari Pemerintah dan/atau pemerintah daerah dan/atau penyelenggara satuan 76461668. b. c. teknologi. pada tingkat provinsi oleh Pemerintah Provinsi. pada tingkat Kabupaten/Kota.

Pasal 156 (1). (3) Pendidik dan tenaga kependidikan. dan berjasa luar biasa dalam pendidikan. Pemerintah atau pemerintah daerah memberi penghargaan kepada pendidik dan/atau tenaga kependidikan yang dinilai berprestasi. Masyarakat dapat memberi penghargaan kepada pendidik dan/atau tenaga kependidikan yang dinilai berprestasi. Pendidik dan/atau tenaga kependidikan dapat menerima penghargaan dari pihak asing sepanjang tidak bertentangan dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. berdedikasi. kenaikan pangkat bagi yang menemukan penemuan baru yang bermanfaat bagi negara. baik perseorangan maupun kolektif. kecuali melalui koperasi satuan pendidikan yang: a.pendidikan sesuai peraturan perundang-undangan. dilarang menjual buku pelajaran. ayat (2). Hari Pendidikan Nasional. (7) Penghargaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1). (2) Pendidik dan tenaga kependidikan.doc (2). harganya lebih murah dari harga di pasaran. berdedikasi. baik perseorangan maupun kolektif. dan b. (3). ayat (3). Hari Guru Nasional. dan berjasa luar biasa dalam pendidikan. ayat (2). dilarang melakukan pungutan kepada peserta didik baik secara langsung maupun tidak langsung yang bertentangan 76461668. ayat (3). kenaikan pangkat setingkat lebih tinggi. pakaian seragam atau bahan pakaian seragam di satuan pendidikan. (6) Penghargaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1). tidak mewajibkan peserta didik untuk membelinya. dan ayat (5) dapat diberikan dalam bentuk tanda jasa. atau bentuk penghargaan lainnya yang dilaksanakan sesuai dengan peraturan perundang-undangan. 98 . dan ayat (4) diberikan pada Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia. piagam. kenaikan pangkat berdasarkan prestasi kerja luar biasa baiknya. atau hari besar lainnya. ayat (4). baik perseorangan maupun kolektif dilarang memberikan bimbingan belajar atau les kepada peserta didiknya dengan memungut biaya. Bagian Keempat Larangan Pasal 157 (1) Pendidik dan tenaga kependidikan.

(5) Pendidik dan tenaga kependidikan.dengan peraturan perundang-undangan. sosial. baik perseorangan maupun kolektif. (3) Syarat manajemen dan proses pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf e mencakup: a.sumber pembiayaan untuk kelangsungan program pendidikan sekurang-kurangnya untuk 1 (satu) tahun akademik berikutnya. baik perseorangan maupun kolektif. keuangan. (4) Pendidik dan tenaga kependidikan. hasil studi kelayakan tentang prospek pendirian satuan pendidikan dari segi tata ruang. c. hasil studi kelayakan tentang prospek pendirian satuan pendidikan dari segi prospek pendaftar. d. geografis. dilarang melakukan segala sesuatu baik secara langsung maupun tidak langsung yang menciderai integritas evaluasi hasil belajar peserta didik. manajemen dan proses pendidikan. b. b. sarana dan prasarana yang memungkinkan terselenggaranya kegiatan pembelajaran. dan budaya. isi pendidikan/kurikulum. dilarang menjadi tim sukses salah satu kontestan pemilihan umum pemilihan kepala daerah dan/atau pemilihan kepala desa.doc 99 . BAB XII PENDIRIAN SATUAN PENDIDIKAN Pasal 158 (1)Syarat-syarat untuk memperoleh izin pendirian satuan pendidikan meliputi: a. dan e. perimbangan antara jumlah satuan pendidikan dengan penduduk usia satuan pendidikan di wilayah tersebut. jumlah dan kualifikasi pendidik dan tenaga kependidikan. c. (2) Syarat-syarat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berpedoman pada Standar Nasional Pendidikan. 76461668. dan ekologis.

jarak satuan pendidikan yang diusulkan di tengah klaster satuan pendidikan sejenis. 76461668. pendirian satuan pendidikan jarak jauh harus memiliki: a. Pasal 161 (1). harus memenuhi persyaratan: a.d. dukungan sistem operasional pendidikan jarak jauh serta jaringan kerja sama dengan pihak terkait. undang-undang sektor terkait yang menyatakan perlu adanya pendidikan sebagaimana dimaksud dalam huruf a. dan ujian secara elektronik. tutorial. dan b. memproduksi. menyebarluaskan. pustaka. Selain memenuhi persyaratan pendirian satuan pendidikan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 158. menyusun. Pasal 160 (1) Selain memenuhi persyaratan pendirian satuan pendidikan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 158. sumberdaya manusia untuk merancang. b. pendirian perguruan tinggi yang diselenggarakan oleh departemen lain atau lembaga pemerintah nondepartemen. akses khusus pada jaringan informasi dan komunikasi untuk melaksanakan layanan bahan ajar. c. (2) Ketentuan lebih lanjut mengenai persyaratan dan program studi pada perguruan tinggi yang diselenggarakan oleh departemen lain atau lembaga pemerintah nondepartemen sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dengan Peraturan Menteri. dan melaksanakan pendidikan jarak jauh. pendirian satuan pendidikan khusus bagi peserta didik berkelainan harus menyediakan sarana dan prasarana pendidikan khusus yang memungkinkan terselenggaranya kegiatan pembelajaran bagi peserta didik berkelainan. kapasitas daya tampung dan lingkup jangkauan satuan pendidikan yang ada. dan e. program-program studi yang diselenggarakan secara khas terkait dengan tugas dan fungsi departemen atau lembaga pemerintah nondepartemen yang bersangkutan.doc 100 . Pasal 159 Selain memenuhi persyaratan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 158.

(2). SMK. MAK sebagaimana dimaksud pada ayat (1). Ketentuan lebih lanjut mengenai persyaratan pendirian satuan pendidikan jarak jauh sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dengan Peraturan Menteri. (4) Pendirian perguruan tinggi dan/atau program pendidikan jarak jauh pada semua jalur. (2) Izin pendirian RA. atau satuan pendidikan lain yang berada dalam pembinaan departemen yang menangani urusan pemerintahan di bidang agama dikeluarkan oleh Pemerintah Kabupaten/Kota setelah mendapat rekomendasi persetujuan dari kantor departemen agama kabupaten/kota. Pasal 162 (1) Pendirian TK. e. MTs.doc 101 . SMP. SMA. MTs. SD. BAB XIII PENDIDIKAN LINTAS SATUAN DAN JALUR PENDIDIKAN Pasal 164 76461668. atau bentuk lain yang sederajat. atau bentuk lain yang sederajat. jenjang. MA. MA. satuan pendidikan khusus. dan satuan pendidikan nonformal wajib memperoleh izin dari Pemerintah Kabupaten/Kota. dan f. akses ke sarana dan prasarana untuk kegiatan tutorial. atau bentuk lain yang sederajat. RA. (3)Ketentuan lebih lanjut tentang pendirian satuan pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan (2) diatur dengan Peraturan Menteri. Pasal 163 (1) Pendirian satuan pendidikan memperoleh izin dari Menteri.d. MI. oleh lembaga asing wajib (2) Pendirian satuan pendidikan nonformal yang diselenggarakan oleh lembaga asing hanya diberikan di ibukota provinsi. (3)Pendirian satuan pendidikan Indonesia di luar negeri diatur oleh Menteri. MAK. unsur penunjang untuk melaksanakan proses manajerial pendidikan jarak jauh. dan jenis pendidikan wajib memperoleh izin dari Menteri. proyeksi ketersediaan calon peserta didik untuk setiap program studi. MI.

SMP/MTs. SMK/MAK. SMPLB. pindah ke satuan atau program pendidikan. SMALB. atau mengambil program atau mata pelajaran pada jenis dan/atau jalur pendidikan yang sama atau berbeda sesuai dengan persyaratan akademik satuan pendidikan penerima. Pasal 165 (1) Peserta didik TK/RA. 102 76461668. atau bentuk lain yang sederajat dapat: a. SMA/MA. SDLB. SD/MI. TKLB.Peserta didik dapat belajar atau mengambil program-program pendidikan pada jenis dan jalur pendidikan yang berbeda secara terpadu dan berkelanjutan melalui pembelajaran tatap muka atau jarak jauh dengan fleksibilitas pilihan dan waktu penyelesaian program lintas satuan dan jalur pendidikan. Ketentuan lebih lanjut tentang pindah satuan atau program pendidikan atau pengambilan program atau mata pelajaran sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) diatur dengan peraturama Menteri.doc . (2) (3) Perpindahan satuan atau program pendidikan atau pengambilan program atau mata pelajaran sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat dilakukan melalui tes penempatan yang diselenggarakan oleh satuan pendidikan yang dituju. pindah satuan atau program pendidikan. Peserta didik nonformal dan informal dapat: a. (4) (5) Pasal 166 (1) Peserta didik suatu program studi pada perguruan tinggi tertentu dapat mengambil mata kuliah pada program studi yang sama atau berbeda pada perguruan tinggi yang sama atau perguruan tinggi lain yang terakreditasi. Satuan pendidikan umum yang menerima peserta didik dari satuan pendidikan khusus bagi peserta didik berkelainan Pemerintah dan pemerintah daerah harus menyediakan guru pembimbing khusus serta sarana dan prasarana pendidikan khusus yang memungkinkan terselenggaranya kegiatan pembelajaran bagi peserta didik berkelainan. b. b. atau mengambil program atau mata pelajaran pada jenis dan/atau jalur pendidikan yang sama atau berbeda sesuai dengan persyaratan akademik satuan pendidikan penerima.

organisasi profesi. (3) (4) (5) BAB XIV PERANSERTA MASYARAKAT Bagian Kesatu Fungsi Pasal 167 Peranserta masyarakat dalam pendidikan berfungsi meningkatkan kualitas penyelenggaraan pendidikan dan pengendalian mutu pelayanan pendidikan dalam rangka mencapai tujuan pendidikan nasional.doc .(2) Peserta didik suatu program studi pada perguruan tinggi tertentu dapat pindah program studi yang sama atau berbeda pada perguruan tinggi yang sama atau perguruan tinggi lain yang terakreditasi sesuai persyaratan akademik program studi penerima. keluarga. Satuan kredit semester (sks) yang diperoleh peserta didik atau lulusan program studi tertentu dapat ditransfer untuk memenuhi persyaratan beban sks program studi lain. pelaksana. Bagian Kedua Komponen Peranserta Masyarakat Pasal 168 (1) Peranserta masyarakat dalam pendidikan meliputi peranserta perseorangan. kelompok. Ketentuan lebih lanjut mengenai ayat (1). Peranserta masyarakat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat berupa sumber. ayat (2). Kompetensi yang diperoleh peserta didik dari suatu satuan atau program pendidikan nonformal terakreditasi dapat diperhitungkan untuk memenuhi sks program studi yang diambil. dan ayat (4) diatur oleh masing-masing perguruan tinggi. dan pengguna hasil pendidikan. Peranserta masyarakat dalam penyelenggaraan 103 (2) (3) 76461668. ayat (3). dan organisasi kemasyarakatan dalam penyelenggaraan dan pengendalian mutu pelayanan pendidikan. pengusaha.

dewan pendidikan tingkat nasional untuk semua jalur. pemberian beasiswa kepada peserta didik. Peranserta organisasi profesi sebagai sumber pendidikan dapat berupa penyediaan tenaga ahli dalam bidangnya dan narasumber dalam penyelenggaraan pendidikan formal maupun nonformal.doc 104 . Peranserta pengusaha sebagai sumber pendidikan dapat berupa penyediaan fasilitas sarana dan prasarana pendidikan. dewan pendidikan tingkat provinsi dan kabupaten/kota dan komite sekolah/madrasah atau nama lain yang sejenis pada jalur pendidikan formal jenjang pendidikan dasar dan menengah serta pada pendidikan anak usia dini. sarana dan prasarana dalam penyelenggaraan pendidikan dan pengendalian mutu pelayanan pendidikan kepada satuan pendidikan baik formal maupun nonformal.pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat penyelenggaraan pendidikan berbasis masyarakat. dan narasumber dalam penyelenggaraan pendidikan formal maupun nonformal. majelis wali amanah pada jalur pendidikan formal jenjang pendidikan tinggi. (2) (3) (4) Pasal 170 76461668. (4) (1) berupa Peranserta masyarakat dalam pengendalian mutu pelayanan pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) mencakup partisipasi dalam perencanaan. Pasal 169 c. dana. b. d. kelompok. sumbangan dana. dan dewan pendidikan tingkat provinsi dan kabupaten/kota dan komite pendidikan nonformal pada jalur pendidikan nonformal. (1) Peranserta perseorangan. dan evaluasi program pendidikan yang dilaksanakan melalui: a. jenjang. dan narasumber dalam penyelenggaraan pendidikan formal maupun nonformal secara terus menerus maupun sesekali waktu. dan jenis pendidikan. Peranserta organisasi kemasyarakatan sebagai sumber pendidikan dapat berupa pemberian beasiswa kepada peserta didik. dan keluarga sebagai sumber pendidikan dapat berupa kontribusi pendidik dan tenaga kependidikan. pengawasan.

dan pembinaan satuan pendidikan. Peranserta organisasi kemasyarakatan sebagai pelaksana pendidikan dapat berupa penyelenggaraan. dan budaya untuk kepentingan masyarakat. Pengusaha atau perusahaan dapat menyelenggarakan program riset dan pengembangannya bekerja sama dengan perguruan tinggi di perusahaannya atau di perguruan tinggi yang bersangkutan. manajemen. Peranserta organisasi profesi sebagai pelaksana pendidikan dapat berupa pembentukan lembaga evaluasi dan/atau lembaga akreditasi mandiri. atau keluarga sebagai pelaksana pendidikan dapat berupa partisipasi dalam pengelolaan pendidikan. Peranserta pengusaha sebagai pelaksana pendidikan dapat berupa pelaksanaan sistem magang. Pasal 173 Kurikulum. (2) Bagian Ketiga Pendidikan Berbasis Masyarakat Pasal 172 (1) Pendidikan berbasis masyarakat dilaksanakan pada satuan pendidikan formal dan nonformal yang diselenggarakan oleh masyarakat pada semua jenjang dan jenis pendidikan. Pasal 171 (2) (3) (4) (1) Peranserta pengusaha sebagai pengguna hasil pendidikan dapat berupa kerja sama pengusaha dengan satuan pendidikan dalam penyediaan lapangan kerja bagi para lulusan. pendidikan sistem ganda. pemanfaatan hasil penelitian dan pengembangan dari satuan pendidikan tinggi. pengelolaan. kelompok. pengawasan. dan budaya dikembangkan oleh satuan pendidikan 76461668. evaluasi. lingkungan sosialekonomi.doc (2) 105 .(1) Peranserta perseorangan. lingkungan sosioekonomi. dan kerja sama pengembangan jaringan informasi kebutuhan dunia usaha dan dunia industri. dan pendanaan satuan pendidikan formal dan nonformal dengan kekhasan agama. dan/atau kerja sama produksi dengan satuan pendidikan sebagai institusi pasangan. Masyarakat berhak menyelenggarakan pendidikan formal dan nonformal sesuai dengan kekhasan agama.

dan sumberdaya lainnya sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dengan Peraturan Menteri. dukungan tenaga. dan evaluasi hasil pendidikan di tingkat kabupaten/kota. subsidi dana. penyelenggaraan.sesuai dengan kekhasan masing-masing dengan mengacu pada Standar Nasional Pendidikan. dan evaluasi hasil pendidikan di tingkat provinsi. dan/atau bantuan asing. dukungan tenaga.doc (2) (3) 106 . dalam proses perencanaan. (2) (3) Bagian Keempat Dewan Pendidikan Pasal 175 (1) Dewan Pendidikan Nasional berperan dalam peningkatan mutu pelayanan pendidikan dengan memberikan pertimbangan dan arahan. sarana dan prasarana serta pengawasan kepada Menteri. Pasal 176 76461668. Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara bantuan teknis. dan sumberdaya lain secara adil dan merata dari Pemerintah. Dewan Pendidikan Provinsi berperan dalam peningkatan mutu pelayanan pendidikan dengan memberikan pertimbangan dan arahan. Bantuan teknis. dalam proses perencanaan. dukungan tenaga. penyelenggaraan. sarana dan prasarana serta pengawasan kepada bupati/walikota. Pasal 174 (1) Lembaga pendidikan berbasis masyarakat pada jalur pendidikan formal dan nonformal dapat memperoleh bantuan teknis. subsidi dana. sarana dan prasarana serta pengawasan kepada gubernur. dan evaluasi hasil pendidikan di tingkat nasional. dan sumberdaya lainnya secara adil dan merata sebagaimana dimaksud pada ayat (1) adalah perlakuan yang sama dari Pemerintah dan/atau pemerintah daerah pada satuan-satuan pendidikan dan daerahdaerah yang membutuhkan bantuan tersebut sesuai kemampuan Pemerintah dan pemerintah daerah . dalam proses perencanaan. penyelenggaraan. subsidi dana. Dewan Pendidikan Kabupaten/kota berperan dalam peningkatan mutu pelayanan pendidikan dengan memberikan pertimbangan dan arahan.

praktisi pendidikan. dan kabupaten/kota. 76461668.doc (2) (3) melakukan perbuatan pidana kejahatan. mengundurkan diri. kepala satuan pendidikan. atau 107 . dan Dewan Pendidikan Kabupaten/kota memiliki hubungan koordinasi satu sama lain dalam penyelenggaraan pendidikan nasional. Dewan Pendidikan Nasional. pada tingkat nasional. tokoh masyarakat. Dewan pendidikan menyelenggarakan pertemuan dengan masyarakat dalam rangka memperhatikan aspirasi masyarakat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) sekurang-kurangnya 2 (dua) kali dalam setahun. dan Dewan Pendidikan Kabupaten/kota. dan/atau pihak-pihak yang dibutuhkan dalam rangka mengupayakan peningkatan mutu layanan pendidikan. Dewan pendidikan dapat mengadakan koordinasi dan kerja sama dengan Majelis Wali Amanah.(1) Dewan pendidikan harus peka dalam memperhatikan keluhan. meninggal dunia. organisasi profesi dan organisasi sosial kemasyarakatan yang peduli pendidikan. pengusaha. Dewan pendidikan tidak mempunyai hubungan hirarkhis baik antara Dewan Pendidikan Nasional. saran. maupun dengan lembaga pemerintahan. b. Pasal 177 (2) (1) (2) Dewan pendidikan dibentuk provinsi. Dewan Pendidikan Provinsi. (3) (4) Pasal 178 (1) Keanggotaan dewan pendidikan berasal dari pakar pendidikan. Dewan Pendidikan Provinsi. Masa jabatan keanggotaan dewan pendidikan adalah 5 (lima) tahun dan dapat dipilih kembali 1 (satu) kali masa jabatan. Anggota dewan pendidikan diberhentikan sewaktu-waktu apabila: a. c. kritik dan menyalurkan aspirasi dan prakarsa masyarakat dalam upaya meningkatkan mutu pelayanan pendidikan. komite sekolah/madrasah atau nama lain yang sejenis.

Dewan Pendidikan Provinsi berjumlah paling banyak 17 (tujuh belas) orang. dan 2 (dua) wakil Departemen Pendidikan Nasional (eksekutif). 2 (dua) tokoh masyarakat. Dalam melaksanakan tugasnya. dan ketua-ketua komisi. Panitia pemilihan anggota dewan pendidikan bekerja secara independen yang terdiri atas: a. dewan pendidikan membentuk sekretariat dan dapat mengikutsertakan tenaga ahli untuk membantu kegiatan komisi-komisi pendidikan. c. gubernur untuk tingkat provinsi. sekretaris. Dewan Pendidikan Provinsi ditetapkan oleh gubernur. dan Dewan Pendidikan Kabupaten/kota berjumlah paling banyak 13 (tiga belas) orang. 5 (lima) orang untuk tingkat provinsi dan kabupaten/kota dengan komposisi 2 (dua) pakar/tokoh pendidikan.doc 108 . Pasal 180 (2) (3) (4) (5) (6) (1) Pemilihan anggota dewan pendidikan diselenggarakan oleh panitia yang dibentuk oleh Menteri untuk tingkat nasional. dan jenis pendidikan. Anggota dewan pendidikan harus berjumlah gasal. Susunan kepengurusan dewan pendidikan paling sedikit terdiri atas ketua dewan. 76461668. jenjang. 2 (dua) tokoh masyarakat. tidak dapat melaksanakan tugas karena berhalangan tetap. Pasal 179 (1) Organisasi dan kepengurusan Dewan Pendidikan Nasional ditetapkan oleh Menteri. dan Ketua dan sekretaris panitia pemilihan dipilih dari dan oleh para anggota. Pembentukan komisi-komisi pendidikan sesuai dengan jalur. dan bupati/walikota untuk tingkat kabupaten/kota. (2) b. 7 (tujuh) orang untuk tingkat nasional dengan komposisi 3 (tiga) pakar/tokoh pendidikan. dan 1 (satu) wakil Dinas Pendidikan (eksekutif).d. Anggota Dewan Pendidikan Nasional berjumlah paling banyak 23 (dua puluh tiga) orang. bendahara. dan Dewan Pendidikan Kabupaten/kota ditetapkan oleh bupati/walikota.

evaluasi program pendidikan. (2) (3) (4) (5) (6) (7) 76461668.doc 109 . Kepengurusan dewan pendidikan dipilih oleh dan dari anggota dewan pendidikan masing-masing. Prosedur pemilihan anggota dan kepengurusan dewan pendidikan diinformasikan secara luas kepada masyarakat oleh panitia.Pasal 181 (1) Panitia pemilihan dewan pendidikan menerima masukan dari masyarakat tentang calon anggota dewan pendidikan sekurang-kurangnya 30 (tiga puluh) hari dan selama-lamanya 60 (enam puluh) hari. Pasal 182 (1) Pendanaan dewan pendidikan nasional dapat berasal dari APBN atau sumber lain yang tidak mengikat. pertimbangan dan arahan. serta pengawasan pendidikan. panitia pemilihan Dewan Pendidikan Provinsi melaporkan hasil pemilihan calon anggota Dewan Pendidikan Provinsi kepada gubernur. Setelah terbentuk kepengurusan. Atas dasar daftar nama calon anggota dewan pendidikan yang diidentifikasikannya dan yang merupakan masukan masyarakat. dukungan tenaga. Menteri memilih dan menetapkan anggota Dewan Pendidikan Nasional atas dasar hasil pemilihan calon anggota Dewan Pendidikan Nasional sebagaimana dimaksud pada ayat (3). sekurang-kurangnya 2 (dua) kali jumlah anggota dewan pendidikan. panitia pemilihan dewan pendidikan mengusulkan daftar calon anggota dewan pendidikan kepada pejabat yang berwenang. gubernur memilih dan menetapkan anggota Dewan Pendidikan Provinsi atas dasar hasil pemilihan calon anggota Dewan Pendidikan Provinsi sebagaimana dimaksud pada ayat (3). dewan pendidikan wajib menyusun program kerja yang memuat antara lain tentang perencanaan. Panitia pemilihan Dewan Pendidikan Nasional melaporkan hasil pemilihan calon anggota Dewan Pendidikan Nasional kepada Menteri. sarana dan prasarana. bupati/walikota memilih dan menetapkan anggota Dewan Pendidikan Kabupaten/kota atas dasar hasil pemilihan calon anggota Dewan Pendidikan Kabupaten/kota sebagaimana dimaksud pada ayat (3). dan panitia pemilihan Dewan Pendidikan Kabupaten/kota menyampaikan hasil pemilihan calon anggota Dewan Pendidikan Kabupaten/kota kepada bupati/walikota.

(2)

Pendanaan dewan pendidikan provinsi dan dewan pendidikan kabupaten/kota dapat berasal dari APBD atau sumber lain yang tidak mengikat. Pasal 183

(1) (2)

Dewan pendidikan bertanggung jawab kepada publik. Mekanisme pertanggungjawaban dewan pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan melalui media komunikasi yang diterbitkan, brosur yang dicetak, atau media lain, dan disebarkan kepada masyarakat. Kegagalan dewan pendidikan dalam pertanggungjawaban publik sebagaimana diatur pada ayat (1) dan ayat (2) dapat berakibat pemberhentian ketua dan/atau anggota dewan pendidikan oleh pejabat yang menetapkannya. Bagian Kelima Komite Sekolah/Madrasah Paragraf 1 Fungsi dan Sifat Pasal 184

(3)

(1) (2)

Komite sekolah/madrasah atau nama lain yang sejenis merupakan mitra satuan pendidikan yang bekerja secara mandiri. Fungsi komite sekolah/madrasah adalah: a. b. c. d. e. memberikan pertimbangan kepada satuan pendidikan dalam pengelolaan pendidikan; memberikan dukungan sumberdaya pendidikan kepada satuan pendidikan; mengawasi penyelenggaraan pendidikan pada satuan pendidikan; menjadi mediator yang melibatkan pendidik dan tenaga kependidikan; dan menjadi mediator hubungan satuan pendidikan dengan berbagai kelompok kepentingan di masyarakat dalam rangka peningkatan mutu pelayanan pendidikan.

(3)

Komite sekolah/madrasah atau nama lain yang sejenis tidak mempunyai hubungan hirarkhis dengan dewan pendidikan
110

76461668.doc

maupun dengan lembaga pemerintahan. (4) Komite sekolah/madrasah dapat mengadakan koordinasi dan kerja sama dengan dewan pendidikan, kepala satuan pendidikan atau pihak-pihak yang dibutuhkan dalam rangka mengupayakan peningkatan mutu layanan pendidikan. Komite sekolah/madrasah atau nama lain yang sejenis menyampaikan laporan akhir masa jabatan kepada orang tua/wali peserta didik, kepala satuan pendidikan, dan/atau pihakpihak yang terkait. Komite sekolah/madrasah atau nama lain yang sejenis dibentuk di satuan pendidikan atau gabungan satuan pendidikan formal atau pada pendidikan nonformal pada jenjang pendidikan dasar dan menengah. Bagi satuan pendidikan yang memiliki peserta didik kurang dari 200 (dua ratus) maka komite sekolah/madrasahnya dapat bergabung dengan komite sekolah/madrasah dari satuan pendidikan lain. Pasal 185 (1) Komite sekolah/madrasah atau nama lain yang sejenis harus peka dalam memperhatikan keluhan, saran dan kritik, serta menyalurkan aspirasi dan prakarsa masyarakat dalam upaya peningkatan mutu layanan pendidikan. Komite sekolah/madrasah atau nama lain yang sejenis menyelenggarakan pertemuan dengan masyarakat dalam rangka memperhatikan aspirasi masyarakat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) sekurang-kurangnya 2 (dua) kali dalam setahun. Komite sekolah/madrasah atau nama lain yang sejenis berperan memberikan pertimbangan dan arahan, dukungan tenaga, sarana dan prasarana kepada penyelenggara satuan pendidikan, kepala satuan pendidikan, atau pihak-pihak yang relevan dalam proses perencanaan, penyelenggaraan, evaluasi hasil pendidikan, dan pengawasan pendidikan di tingkat sekolah. Komite sekolah/madrasah atau nama lain yang sejenis sebagai perwakilan masyarakat menilai pertanggungjawaban kepala satuan pendidikan. Untuk keperluan pertanggungjawaban sebagaiamana dimaksud pada ayat (4) di bidang keuangan, komite sekolah/madrasah atau nama lain yang sejenis dapat menunjuk akuntan publik.

(5)

(6)

(7)

(2)

(3)

(4)

(5)

76461668.doc

111

(6)

Tata cara peranserta komite sekolah/madrasah atau nama lain yang sejenis dalam evaluasi dan pengawasan diatur lebih lanjut dengan Peraturan Menteri. Komite sekolah/madrasah atau nama lain yang sejenis bersama Pemerintah atau dewan pendidikan dapat menyebarluaskan hasil pengawasan secara terbuka sebagai bentuk akuntabilitas publik.

(7)

Paragraf 2 Keanggotaan Pasal 186

(1)

Komite sekolah/madrasah sekurang-kurangnya terdiri atas anggota masyarakat yang mewakili orang tua/wali peserta didik, tokoh masyarakat, praktisi pendidikan, dan pendidik, yang memiliki wawasan, kepedulian dan komitmen terhadap peningkatan mutu pendidikan. Masa bakti anggota komite sekolah/madrasah adalah 4 (empat) tahun. Keanggotaan komite sekolah/madrasah maksimal 2 (dua) masa bakti. Anggota komite sekolah/madrasah atau nama lain yang sejenis tidak boleh merangkap sebagai pejabat kepala satuan pendidikan, pejabat struktural dalam pemerintahan, atau fungsionaris partai politik. Anggota komite sekolah/madrasah atau nama lain yang sejenis dapat diberhentikan sewaktu-waktu karena: a. melakukan perbuatan pidana kejahatan; dan b. melanggar ketentuan anggaran dasar.

(2) (3) (4)

(5)

(6)

Pemberhentian sebagaimana dimaksud pada ayat (5) diatur dalam anggaran dasar komite sekolah/madrasah. Paragraf 3 Persyaratan Anggota Pasal 187

76461668.doc

112

(1)

Persyaratan untuk menjadi anggota komite sekolah/madrasah atau nama lain yang sejenis adalah anggota masyarakat yang mempunyai pengalaman, komitmen, dan tanggung jawab dalam meningkatkan pemerataan, mutu, relevansi, dan efisiensi pada penyelenggaraan pendidikan di tingkat satuan pendidikan. Anggota komite sekolah/madrasah atau nama lain yang sejenis berasal dari perseorangan atau perwakilan organisasi. Paragraf 4 Struktur Organisasi dan Kepengurusan Pasal 188

(2)

(1)

Organisasi dan kepengurusan komite sekolah/madrasah atau nama lain yang sejenis pada jenjang pendidikan dasar dan pendidikan menengah ditetapkan oleh bupati/walikota. Organisasi dan kepengurusan komite sekolah/madrasah atau nama lain yang sejenis pada jenjang dasar dan pendidikan menengah yang dikembangkan oleh Pemerintah Provinsi menjadi bertaraf internasional ditetapkan oleh gubernur. Susunan kepengurusan komite sekolah/madrasah atau nama lain yang sejenis sekurang-kurangnya terdiri atas ketua, sekretaris, bendahara, dan anggota. Jumlah anggota komite sekolah/madrasah atau nama lain yang sejenis harus gasal, disesuaikan dengan kebutuhan, dan jumlahnya sebanyak-banyaknya 9 (sembilan) orang. Masa jabatan kepengurusan komite sekolah/madrasah atau nama lain yang sejenis adalah 4 (empat) tahun dan dapat dipilih kembali maksimal 2 (dua) kali secara berturut-turut. Masa kepengurusan komite sekolah/madrasah atau nama lain yang sejenis sebagaimana dimaksud pada ayat (4) dapat berakhir sebelum 4 (empat) tahun dan dapat diangkat pengurus pengganti. Paragraf 5 Mekanisme Pemilihan Pasal 189

(2)

(3)

(4)

(5)

(6)

(1)

Pemilihan anggota komite sekolah/madrasah diselenggarakan oleh panitia yang dibentuk oleh kepala satuan pendidikan dan orang tua/wali peserta didik.

76461668.doc

113

Pemilihan kepengurusan komite sekolah/madrasah dipilih dari dan oleh anggota komite sekolah/madrasah atau nama lain yang sejenis masing-masing. Kegagalan komite sekolah/madrasah dalam pertanggungjawaban publik sebagaimana diatur pada ayat (1) dan ayat (2) dapat berakibat pemberhentian ketua dan/atau anggota komite sekolah/madrasah oleh pejabat yang menetapkannya. dan disebarkan kepada masyarakat. (2) Pasal 191 (1) (2) Komite sekolah/madrasah bertanggung jawab kepada publik. Mekanisme pertanggungjawaban komite sekolah/madrasah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan melalui media komunikasi yang diterbitkan.doc . dan dilaporkan kepada kantor dinas yang menangani urusan pemerintahan di bidang pendidikan sesuai kewenangannya. dan 1 (satu) unsur . atau media lain. Pengurus komite sekolah/madrasah atau nama lain yang sejenis bersama masyarakat mengusahakan pencarian sumber dana bagi komite sekolah/madrasah atau nama lain yang sejenis. Panitia menyampaikan nama anggota dan susunan kepengurusan komite sekolah/madrasah atau nama lain yang sejenis hasil pemilihan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dan ayat (3) kepada kepala sekolah untuk ditetapkan. 2 (dua) unsur orangtua/wali peserta didik (masyarakat). (3) (4) (5) Paragraf 6 Pendanaan Pasal 190 (1) Pendanaan operasional komite sekolah/madrasah atau nama lain yang sejenis dapat berasal dari anggaran pendapatan dan belanja sekolah/madarasah dan sumber lain yang tidak mengikat. dan diketuai oleh unsur masyarakat. brosur yang dicetak. 114 (3) 76461668. Proses pemilihan dari awal sampai terbentuknya anggota komite sekolah/madrasah atau nama lain yang sejenis diinformasikan kepada masyarakat oleh panitia.(2) Panitia pemilihan anggota komite sekolah/madrasah atau nama lain yang sejenis bekerja secara independen yang terdiri atas 5 (lima) orang yaitu 2 (dua) unsur pendidik (guru).

baik perseorangan maupun kolektif. dan jenis pendidikan. baik perseorangan maupun kolektif. BAB XV PENGAWASAN Pasal 193 (2) (3) (4) (5) (1) Pengawasan penyelenggaraan dan pegelolaan pendidikan mencakup pengawasan administratif dan teknis edukatif. baik secara perseorangan maupun kolektif dilarang memberikan bimbingan belajar atau les kepada peserta didik baik secara langsung maupun tidak dengan memungut biaya. baik perseorangan maupun kolektif. Dewan pendidikan dan/atau komite sekolah/madrasah atau nama lain yang sejenis. Pemerintah melakukan pengawasan secara nasional terhadap penyelenggaraan dan pegelolaan pendidikan pada semua jalur.Bagian Keenam Larangan Pasal 192 (1) Dewan pendidikan dan/atau komite sekolah/madrasah atau nama lain yang sejenis. pakaian seragam atau bahan pakaian seragam di satuan pendidikan baik secara langsung maupun tidak langsung.doc . baik perseorangan maupun kolektif. Dewan pendidikan dan/atau komite sekolah/madrasah atau nama lain yang sejenis. Pemerintah Provinsi melakukan pengawasan 115 (2) (3) 76461668. dilarang mengintervensi seleksi calon peserta didik dan proses pembelajaran. jenjang. dilarang menjual buku pelajaran. Dewan pendidikan dan/atau komite sekolah/madrasah atau nama lain yang sejenis. Dewan pendidikan dan/atau komite sekolah/madrasah atau nama lain yang sejenis. dilarang melakukan segala sesuatu baik secara langsung maupun tidak langsung yang menciderai integritas evaluasi hasil belajar. serta tidak membebani atau mengambil keuntungan dari satuan pendidikan. dilarang melakukan pungutan kepada peserta didik baik secara langsung maupun tidak langsung yang bertentangan dengan peraturan perundang-undangan.

pendidikan dasar. maka Pemerintah melakukan pengawasan ulang. oleh Pemerintah Provinsi diduga meragukan.terhadap penyelenggaraan dan pegelolaan pendidikan dasar dan pendidikan menengah bertaraf internasional. (3) Dalam hal hasil pengawasan yang dilakukan oleh Pemerintah Provinsi dan/atau Pemerintah Kabupaten/Kota. dan oleh melakukan pegelolaan pendidikan (2) Dalam hal hasil pengawasan yang dilakukan oleh Pemerintah Provinsi dan/atau Pemerintah Kabupaten/Kota. (6) Dalam hal hasil pengawasan yang dilakukan oleh Pemerintah Kabupaten/Kota. dan pendidikan nonformal di wilayahnya. menengah. dan jenis pendidikan sesuai dengan kewenangannya. (7) Pemerintah. (5) Dalam hal hasil pengawasan yang dilakukan oleh Pemerintah Kabupaten/Kota. (4) Pemerintah Kabupaten/Kota pengawasan terhadap penyelenggaraan dan pendidikan anak usia dini. (2) Komite sekolah/madrasah melakukan pengawasan terhadap pelaksanaan penyelenggaraan dan pegelolaan pendidikan pada satuan pendidikan yang bersangkutan. jalur. oleh Pemerintah Provinsi dipandang kredibel.doc 116 . Pemerintah Kabupaten/Kota dalam menjalankan tugas pengawasan dapat menunjuk lembaga pengawasan/pemeriksaan independen. (4) Pemerintah provinisi menjalankan tugas pengawasan atas dasar hasil pengawasan yang dilakukan oleh Pemerintah Kabupaten/Kota. oleh Pemerintah dipandang kredibel. maka Pemerintah menindaklanjuti hasil pengawasan tersebut. Pasal 195 (1) Dewan pendidikan melakukan pengawasan terhadap pelaksanaan penyelenggaraan dan pegelolaan pendidikan pada semua satuan pendidikan. Pasal 194 (1) Pemerintah melakukan pengawasan secara langsung memperhatikan hasil pengawasan yang dilakukan Pemerintah Provinsi dan/atau Pemerintah Kabupaten/Kota. serta pendidikan lintas kabupaten/kota di dalam wilayah provinsi tersebut. Pemerintah Provinsi. jenjang. oleh Pemerintah diduga meragukan. 76461668. maka Pemerintah menindaklanjuti hasil pengawasan tersebut. maka Pemerintah melakukan pengawasan ulang.

menguji. 76461668. memantau. b. pemeriksaan khusus. dan/atau pemeriksaan terpadu. program pendidikan. f. g. memeriksa. j. Pemerintah Kabupaten/Kota. c. h.(3) Pengawasan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) diinformasikan kepada masyarakat yang berkepentingan secara terbuka sebagai bentuk akuntabilitas publik. menguji. mengusut. pemeriksaan investigatif. dan/atau penyalahgunaan wewenang dalam penyelenggaraan dan pegelolaan pendidikan. dewan pendidikan. lembaga pemerintah menyelenggarakan pendidikan. l. penyimpangan. (2) Objek pengawasan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a adalah: a. e. memeriksa. dan/atau melakukan inspeksi mendadak terhadap objek yang diawasi. pemeriksaan tematik.doc 117 . (3) Pemeriksaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a dan huruf b dapat berbentuk pemeriksaan umum. Pemerintah Provinsi. komite sekolah/madrasah. satuan pendidikan. keluarga atau anggota/kelompok melaksanakan pendidikan informal. dan/atau menilai informasi aduan masyarakat tentang hambatan. b. atau masyarakat yang nondepartemen yang pihak lain yang terlibat dalam penyelenggaraan dan pegelolaan pendidikan. mengevaluasi. k. departemen lain yang menyelenggarakan pendidikan. Pasal 196 (1) Pengawasan oleh Pemerintah dilakukan dengan cara: a. i. meneliti. d. unit kerja di lingkungan Departemen. menilai. badan hukum pendidikan.

menguji. meneliti.(4) Pengawasan sebagaimana dimaksud pada ayat (1). dan/atau melakukan inspeksi mendadak terhadap objek yang diawasi. c. menilai. h. yang masyarakat dibentuk yang dan/atau dewan g. mengevaluasi. pendidikan pendidikan menengah. komite sekolah/madrasah. (2) Objek pengawasan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a adalah: a. pendidikan dasar. e. badan hukum pendidikan yang melaksanakan atau menyelenggarakan pendidikan dasar dan/atau pendidikan menengah. memeriksa. memantau. b. dasar. d. penyelenggara pendidikan pendidikan anak usia dini. b. dewan pendidikan tingkat provinsi pendidikan tingkat kabupaten/kota. mengusut. penyimpangan. l. dan ayat (3) dilaporkan kepada Menteri dan objek yang diawasi. dan/atau menilai informasi aduan masyarakat tentang hambatan. dan/atau penyalahgunaan wewenang dalam penyelenggaraan dan pegelolaan pendidikan. lembaga akreditasi mandiri dan/atau asosiasi profesi. k. memeriksa. i. keluarga atau anggota/kelompok melaksanakan pendidikan informal. ayat (2). f. masyarakat lembaga evaluasi pendidikan mandiri yang dibentuk oleh 118 76461668. dan pendidikan nonformal. menguji. Pasal 197 (1) Pengawasan oleh Pemerintah Provinsi dilakukan dengan cara: a. unit kerja di bawah gubernur. unit-unit perwakilan departemen lain di provinsi menyelenggarakan atau mengelola pendidikan. yang program pendidikan pada satuan pendidikan menengah dan pendidikan nonformal. j. satuan pendidikan anak usia dini. Pemerintah Kabupaten/Kota. dan pendidikan nonformal. pendidikan menengah.doc .

(4) Pengawasan sebagaimana dimaksud pada ayat (1). d. dan objek yang diawasi. meneliti. menilai. (2) Objek pengawasan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a adalah: a. memeriksa. Menteri. memantau. melaksanakan atau dewan pendidikan tingkat kabupaten/kota. f. atau m. pemeriksaan investigatif. penyimpangan. program pendidikan pada satuan pendidikan nonformal. pihak lain yang terlibat dalam pegelolaan pendidikan. menguji. penyelenggaraan dan dengan kewenangan (3) Pemeriksaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a dan b dapat berbentuk pemeriksaan umum. Pasal 198 (1) Pengawasan oleh Pemerintah Kabupaten/Kota dilakukan dengan cara: a. dan/atau melakukan inspeksi mendadak terhadap objek yang diawasi. b. mengevaluasi. satuan pendidikan anak usia dini. penyelenggara pendidikan anak usia dini. memeriksa. dan/atau menilai informasi aduan masyarakat tentang hambatan. dan pendidikan nonformal. pemeriksaan tematik. b. pemeriksaan khusus. e. ayat (2). g. dan/atau pemeriksaan terpadu. unit-unit perwakilan departemen lain di kabupaten/kota yang menyelenggarakan atau mengelola pendidikan. h. dan pendidikan nonformal. c.masyarakat dan/atau asosiai profesi. badan hukum pendidikan yang menyelenggarakan pendidikan dasar. pendidikan dasar. sesuai Pemerintah Provinsi. dan ayat (3) dilaporkan kepada gubernur. mengusut.doc 119 . unit kerja di bawah bupati/walikota. 76461668. menguji. pendidikan dasar. komite sekolah/madrasah. dan/atau penyalahgunaan wewenang dalam penyelenggaraan dan pegelolaan pendidikan.

meneliti dan/atau menilai informasi aduan masyarakat tentang hambatan. (4) Pasal 199 (1) Pengawasan oleh dewan pendidikan dilakukan dengan cara: a. e. g. b. dan/atau memantau terhadap objek yang diawasi sesuai dengan kewenangannya. keluarga atau anggota/kelompok melaksanakan pendidikan informal. menilai. (2) Objek pengawasan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a adalah: a. f. dan ayat (3) dilaporkan kepada bupati/walikota.i. dan/atau penyalahgunaan wewenang dalam penyelenggaraan dan pegelolaan pendidikan. d. pemeriksaan investigatif. keluarga atau anggota/kelompok masyarakat melaksanakan pendidikan informal. dan objek yang diawasi. c.doc 120 . Pengawasan sebagaimana dimaksud pada ayat (1). pemeriksaan khusus. komite sekolah/madrasah. atau masyarakat yang pihak lain yang terlibat dalam penyelenggaraan dan pegelolaan pendidikan. (3) badan hukum pendidikan. penyelenggara pendidikan. sesuai dengan kewenangan Pemerintah Kabupaten/Kota. (3) Pemeriksaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a dan b dapat berbentuk pemeriksaan umum. mengevaluasi.ayat (2). penyimpangan. pemeriksaan tematik. dan/atau pihak lain yang terlibat pegelolaan pendidikan. j. satuan pendidikan. Menteri. b. dan/atau pemeriksaan terpadu. gubernur. program pendidikan pada satuan pendidikan. dalam penyelenggaraan yang dan Pengawasan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) dilaporkan kepada: 76461668.

mengevaluasi. Pasal 201 (1). menangani urusan pendidikan di b. dan tindak lanjut pengawasan sebagaimana dimaksud 76461668. bupati/walikota. dan/atau b. satuan pendidikan yang bersangkutan. dan/atau memantau terhadap objek yang diawasi. gubernur. dinas yang kabupaten/kota. (2). Pengawasan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) dilaporkan kepada: a.a. dan c. pelaporan. kabupaten/kota. meneliti dan/atau menilai informasi aduan masyarakat tentang hambatan. menilai. b. penyimpangan. tingkat nasional. menteri. Menteri mengkoordinasikan perencanaan. pelaksanaan. b.doc 121 . Objek pengawasan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a adalah: a. program pendidikan bersangkutan. d. Pasal 200 (1). dan kabupaten/kota. untuk dewan pendidikan tingkat provinsi dan kabupaten/kota. pada satuan pendidikan yang (3). c. dan/atau penyalahgunaan wewenang dalam penyelenggaraan dan pegelolaan pendidikan. objek yang diawasi. dan untuk dewan pendidikan tingkat objek yang diawasi. Pengawasan oleh komite sekolah/madrasah dilakukan dengan cara: a. untuk dewan pendidikan provinsi. badan hukum pendidikan.

31. program pendidikan. (2). dan Pasal 163. Pasal 161. masukan dalam pelaksanaan rencana pendidikan. 62. Pasal 162. 30. 42. Pemerintah dan/atau pemerintah daerah sesuai dengan kewenangannya menutup satuan pendidikan dan/atau program pendidikan yang beroperasi tanpa izin sebagaimana dimaksud dalam Pasal 159 dan Pasal 160. b. 29. Pasal 199. 26. Pasal 159. memberikan sanksi atas penyimpangan administratif dan/atau pelanggaran hukum yang dilakukan oleh objek yang diawasi baik individu ataupun kelembagaan. Pasal 197. 68. masukan dalam perencanaan pendidikan. Pasal 198. 82. 74. BAB XVI SANKSI Pasal 202 (1). Pemerintah dan/atau pemerintah daerah sesuai dengan kewenangannya dapat menutup satuan pendidikan dan/atau program pendidikan yang telah memperoleh izin pendirian dan/atau izin penyelenggaraan dari pihak yang berwenang tetapi terbukti tidak memenuhi persyaratan pendirian sebagaimana dimaksud dalam Pasal 158. 36. dan Pasal 200. 122 76461668.pada Pasal 196. Pasal 160. penggabungan atau penutupan satuan pendidikan. memberikan penghargaan atas kinerja objek diawasi. Pasal 203 (1) Pemerintah dan/atau pemerintah daerah sesuai dengan kewenangannya dapat memberikan sanksi administratif berupa peringatan. c. d. 50. menilai kinerja objek yang diawasi. satuan pendidikan. (2). pembekuan.doc . 64. Pengawasan digunakan oleh pihak penerima laporan pengawasan untuk: a. dan/atau badan hukum pendidikan yang melaksanakan pendidikan yang tidak sesuai dengan ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 25. yang e. 28. 55. 98.

138. 126. 165 dan Pasal 164. 161. 107. 145. 125. 140. 42. 31. program pendidikan. 140. Perguruan tinggi atau unit dari perguruan tinggi yang melaksanakan kebebasan akademik dan/atau otonomi keilmuan yang melanggar ketentuan yang diatur dalam Peraturan Pemerintah ini. 152. 36. 145. 139. dikenakan sanksi administratif oleh perguruan tinggi yang bersangkutan berupa teguran tertulis dan/atau diberhentikan dari jabatannya atau diberhentikan dari status kepegawaiannya di perguruan tinggi yang bersangkutan. penutupan. 151. 159. 64. 82. 130. 26. 137. 139. 158. melalaikan ketentuan ayat (1). Dalam hal pejabat yang berwenang sebagaimana dimaksud pada ayat (1). (2) Pemerintah dan/atau pemerintah daerah sesuai dengan kewenangannya dapat menunda atau membatalkan pemberian subsidi sumberdaya pendidikan kepada satuan pendidikan. 30. 158. Menteri berwenang memberhentikan pimpinan perguruan tinggi yang bersangkutan dari jabatannya. 125. atau memberhentikan yang bersangkutan dari status kepegawaiannya di perguruan tinggi. 28. 62. 136. 29. 138. dan/atau penutupan perguruan tinggi yang melaksanakan dharma perguruan tinggi yang tidak sesuai dengan ketentuan sebagaimana diatur dalam Peraturan 123 (2) (3) (4) (5) (6) 76461668. 160. 126. 136. 159. Menteri berwenang memberhentikan yang bersangkutan dari jabatannya.doc . Pemerintah dapat memberikan sanksi administratif berupa teguran tertulis. 161. 130. Perseorangan atau kelompok anggota sivitas akademika perguruan tinggi yang melaksanakan kebebasan akademik dan/atau otonomi keilmuan yang melanggar ketentuan yang diatur dalam Pasal 70. 101. 50. 98. dan/atau dicabut izin penyelenggaraannya. 157. 144. 152.101. 118. 55. dikenakan sanksi sanksi administratif oleh Pemerintah berupa teguran tertulis. Pasal 204 (1) Pimpinan perguruan tinggi yang melanggar ketentuan Pasal 68 diberi sanksi oleh pejabat yang berwenang sesuai peraturan perundang-undangan. pembekuan. 144. 118. 108. 74. 108. 151. 160. 142. pembekuan. 142. dan/atau badan hukum pendidikan yang melaksanakan pendidikan yang tidak sesuai dengan ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 25. 157. 107. Dalam hal perguruan tinggi tidak melakukan pemberhentian sebagaimana dimasuk pada ayat (3). 137. 68. 165 dan Pasal 164.

dikenakan sanksi administratif berupa teguran tertulis. dan/atau penutupan oleh Menteri.doc 124 . Pasal 105. organisasi orang tua peserta didik. serta pihak lain yang terkait dengan satuan pendidikan secara perseorangan ataupun kolektif yang melanggar ketentuan Pasal 187 dikenakan sanksi teguran secara tertulis dari Pemerintah Kabupaten/Kota atau Pemerintah Provinsi sesuai dengan kewenangannya. pembekuan. institusi Pemerintah. (3) Pendidik atau tenaga kependidikan nonpegawai negeri sipil yang melanggar ketentuan Pasal 154 dikenakan sanksi administratif sesuai dengan peraturan perundang-undangan. Pasal 206 Perseorangan. yang melaksanakan pendidikan informal baik disengaja maupun tidak disengaja yang melanggar ketentuan Pasal 97 dapat dikenakan sanksi administratif berupa teguran tertulis. Pasal 207 Satuan pendidikan jarak jauh yang tidak memenuhi persyaratan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 102. (2). pembekuan. kelompok. Pasal 205 (1). 76461668.Pemerintah ini. skorsing. Pasal 208 (1) Pendidik atau tenaga kependidikan yang melalaikan tugas dan/atau kewajibannya selama 3 (tiga) bulan atau lebih secara terus menerus tanpa alasan yang dapat dipertanggungjawabkan dikenakan sanksi administratif sesuai dengan peraturan perundang-undangan. atau organisasi. dan/atau mengeluarkan dari satuan pendidikan terhadap peserta didik yang tidak melaksanakan kewajibannya sebagaimana diatur dalam Pasal 144. dan yang menangani pendidikan. Anggota komite sekolah/madrasah. (2) Pendidik atau tenaga kependidikan pegawai negeri sipil yang melanggar ketentuan Pasal 154 dikenakan sanksi administratif sesuai dengan peraturan perundang-undangan. dan/atau penutupan dari Pemerintah dan/atau pemerintah daerah. dan Pasal 106. Satuan pendidikan dapat memberikan sanksi administratif berupa peringatan. Pasal 103. dewan pendidikan.

Pasal 30. Pasal 26. Pasal 209 (1) Satuan pendidikan yang melanggar ketentuan tentang penyelenggaraan pendidikan bertaraf internasional sebagaimana dimaksud dalam Pasal 125. perwakilan negara asing atau lembaga pendidikan asing yang tidak sesuai dengan ketentuan sebagaimana diatur dalam Pasal 133. memindahkan. Pasal 211 Satuan pendidikan yang melanggar ketentuan tentang pengelolaan pendidikan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 25. dan Pasal 140 dikenakan sanksi administratif berupa teguran tertulis. Pasal 28. atau memberhentikan pendidik atau tenaga kependidikan yang bertentangan dengan ketentuan Pasal 148 tanpa alasan yang sah. dan/atau penutupan satuan pendidikan oleh Menteri. pembebasan dari jabatan. (5) Seseorang yang mengangkat. Pasal 139. Pasal 126. pembekuan. organisasi. penundaan kenaikan pangkat. Pasal 210 (1) Penyelenggaraan pendidikan di wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia oleh perseorangan. Pasal 29. dan Pasal 127 serta pendidikan berbasis keunggulan lokal sebagaimana dimaksud dalam Pasal 129 dan Pasal 131 dikenakan sanksi administratif berupa teguran tertulis hingga pencabutan izin sebagai satuan pendidikan bertaraf internasional atau satuan pendidikan berbasis keunggulan lokal oleh Pemerintah atau pemerintah daerah sesuai kewenangannya. menempatkan. dan Pasal 136 dikenakan sanksi oleh Menteri berupa teguran tertulis dan/atau penutupan satuan pendidikan.doc (2) 125 . Satuan pendidikan Indonesia yang melaksanakan kerja sama dengan satuan pendidikan dari negara lain yang tidak sesuai dengan ketentuan sebagaimana diatur dalam Pasal 138. atau bupati/walikota sesuai dengan kewenangan. dikenakan sanksi administratif berupa teguran tertulis. gubernur. pemberhentian dengan hormat. pembekuan. (2) Pencabutan izin sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan setelah diadakan pembinaan paling lama tiga tahun. Pasal 134. dan/atau penutupan satuan 76461668. penundaan kenaikan gaji berkala. dan/atau pemberhentian dengan tidak hormat dari jabatannya.(4) Badan hukum pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (3) yang melalaikan ketentuan ayat (3) dikenakan sanksi administratif berupa peringatan tertulis atau pembekuan oleh Pemerintah atau sesuai kewenangannya. dan Pasal 31 dikenakan sanksi administratif berupa teguran tertulis.

pemberhentian dengan hormat.doc 126 . 76461668. sekolah yang dinyatakan oleh pendirinya sebagai sekolah bertaraf internasional. atau satuan pendidikan sejenis yang telah ada sebelum berlakunya Peraturan Pemerintah ini. dan/atau pemberhentian dengan tidak hormat dari jabatannya.pendidikan oleh Pemerintah atau atau pemerintah daerah kewenangannya sesuai Pasal 212 (1) Perseorangan atau kelompok anggota dewan pendidikan atau komite sekolah/madrasah yang melanggar ketentuan Pasal 190 dikenakan sanksi administratif berupa teguran tertulis oleh Pemerintah atau sesuai kewenangannya Perseorangan atau kelompok anggota dewan pendidikan atau komite sekolah/madrasah yang dalam menjalankan tugasnya melampaui kewenangan atau fungsi/perannya sebagaimana diatur dalam Pasal 175. Pasal 215 Pada saat berlakunya Peraturan Pemerintah ini. pembebasan dari jabatan. wajib menyesuaikan dengan Peraturan Pemerintah ini selambat-lambatnya 3 tahun sejak Peraturan Pemerintah ini berlaku. penundaan kenaikan pangkat. penundaan kenaikan gaji berkala. (2) BAB XVII KETENTUAN PERALIHAN Pasal 214 Sekolah internasional. peraturan perundangundangan yang terkait dengan penyelenggaraan pendidikan dinyatakan masih tetap berlaku sepanjang tidak bertentangan dan belum diganti berdasarkan Peraturan Pemerintah ini. dan Pasal 184 dikenakan sanksi administratif berupa teguran tertulis oleh Pemerintah atau sesuai kewenangannya Pasal 213 Perseorangan atau kelompok pegawai Pemerintah atau sesuai kewenangannya yang melanggar atau melalaikan ketentuan yang diatur dalam Pasal 192 atau menggunakan kewenangannya yang melampaui peraturan perundang-undangan dikenakan sanksi administratif berupa teguran tertulis.

Tambahan Lembaran Negara Nomor 3484). Tambahan Lembaran Negara Nomor 3411). Peraturan Pemerintah Nomor 29 Tahun 1990 tentang Pendidikan Menengah (Lembaran Negara Tahun 1990 Nomor 37. Pasal 217 Pada saat mulai berlakunya Peraturan Pemerintah ini: a. f. Tambahan Lembaran Negara Nomor 3763). Tambahan Lembaran Negara Nomor 3413). Tambahan Lembaran Negara Nomor 3764). sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Pemerintah Nomor 56 Tahun 98 tentang Perubahan atas Peraturan Pemerintah Nomor 29 Tahun 1990 (Lembaran Negara Tahun 1998 Nomor 91. Peraturan Pemerintah Nomor 38 Tahun 1992 tentang Tenaga Kependidikan (Lembaran Negara Tahun 1992 Nomor 68.doc . d. sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Pemerintah Nomor 55 Tahun 98 tentang Perubahan atas Peraturan Pemerintah Nomor 28 Tahun 1990 (Lembaran Negara Tahun 1998 Nomor 90. Peraturan Pemerintah Nomor 73 Tahun 1991 tentang Pendidikan Pendidikan Luar Sekolah (Lembaran Negara Tahun 1991 Nomor 95.BAB XVIII KETENTUAN PENUTUP Pasal 216 Semua peraturan perundang-undangan yang diperlukan untuk melaksanakan Peraturan Pemerintah ini harus diselesaikan paling lambat 2 (dua) tahun terhitung sejak diberlakukan Peraturan Pemerintah ini. Tambahan Lembaran Negara Nomor 3460). Peraturan Pemerintah Nomor 72 Tahun 1991 tentang Pendidikan Luar Biasa (Lembaran Negara Tahun 1991 Nomor 34. e. Tambahan Lembaran Negara Nomor 3461). c. Peraturan Pemerintah Nomor 27 Tahun 1990 tentang Pendidikan Prasekolah (Lembaran Negara Tahun 1990 Nomor 35. Peraturan Pemerintah Nomor 28 Tahun 1990 tentang Pendidikan Dasar (Lembaran Negara Tahun 1990 Nomor 36. sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Pemerintah Nomor 39 Tahun 2000 tentang Perubahan atas Peraturan 127 b. 76461668. Tambahan Lembaran Negara Nomor 3412).

.... dinyatakan tidak berlaku..... Tambahan Lembaran Negara Nomor 3974).. Tambahan Lembaran Negara Nomor 3485).... Peraturan Pemerintah Nomor 39 Tahun 1992 tentang Peranserta Masyarakat dalam Pendidikan Nasional (Lembaran Negara Tahun 1992 Nomor 69. Pasal 218 Peraturan Pemerintah ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan.. MENTERI HUKUM DAN HAK AZASI MANUSIA ANDI MATALATTA LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA NOMOR…. Tambahan Lembaran Negara Nomor 3859).. SUSILO BAMBANG YUDHOYONO Ditetapkan di Jakarta Pada tanggal ... g.TAHUN 2007 76461668..doc 128 .. Peraturan Pemerintah Nomor 60 Tahun 1999 tentang Pendidikan Tinggi (Lembaran Negara Tahun 1999 Nomor 115.... h.Pemerintah Nomor 38 Tahun 1992 (Lembaran Negara Tahun 2000 Nomor 91.. Ditetapkan di Jakarta Pada tanggal . Agar setiap orang mengetahuinya. memerintahkan pengundangan Peraturan Pemerintah ini dengan menempatkannya dalam Lembaran Negara Republik Indonesia.. PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA DR. H.

sarana dan prasarana. bahasa pengantar. peranserta masyarakat. pengawasan. manajemen.. dan jenis pendidikan harus berlangsung secara sinergis. Dunia pendidikan khususnya dan tantangan masa depan umumnya telah berubah dan berkembang sedemikian cepatnya. Pendidikan merupakan suatu proses yang dinamik sesuai dengan perubahan masyarakat dan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. jenjang. UMUM Visi sistem pendidikan nasional sabagai pranata sosial yang kuat dan berwibawa untuk memberdayakan semua warga negara Indonesia agar berkembang menjadi manusia yang berkualitas sehingga mampu dan proaktif menjawab tantangan zaman yang selalu berubah. pendidikan harus secara terus-menerus perlu ditingkatkan kualitasnya. dan hal ini membawa dampak pada cepat usangnya kebijakan maupun praksis pendidikan. Parameter kualitas pendidikan. Pendekatan yang sama berlaku pula dalam pengaturan penyelenggaraan pendidikan pada masing-masing satuan pendidikan. yang ditandai dengan (1) perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang sangat cepat. Dalam era globalisasi dan informasi saat ini. mengisyaratkan bahwa penyelenggaraan pendidikan pada semua jalur. proses. (2) era global isasi informasi yang muncul di awal milenium ke tiga. dan hasil pendidikan selalu berubah. Tanggung jawab pendidikan merupakan tanggung jawab bersama Pemerintah. diharapkan dunia pendidikan di Indonesia dapat merespon dan mengimbangi perubahan-perubahan ini secara proporsional. bentuk dan jenis pendidikan. melalui sebuah pembaruan yang dapat dipertanggungjawabkan kepada publik (stakeholders) agar mampu mempersiapkan generasi penerus bangsa sejak dini sehingga memiliki unggulan kompetitif dalam tatanan kehidupan nasional dan global. syarat pendirian. Untuk mencapai sinergi tersebut pengaturan tentang fungsi. masyarakat dan orang tua.doc 129 . peserta didik. keterbukaan telah menjadi karakteristik kehidupan yang demokratis. baik dilihat dari segi pasokan. sementara seorang “futurist” di era globalisasi hanya mereka yang memiliki ilmu 76461668. tujuan. dan sanksi perlu diatur dalam satu kesatuan sistem pendidikan yang komprehensif.PENJELASAN ATAS PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR …… TAHUN …. Perkembangan ini. Oleh sebab itu. menyebabkan batas-batas negara menjadi semakin maya. TENTANG PENGELOLAAN DAN PENYELENGGARAAN PENDIDIKAN I.

Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional menetapkan komponen sistem pendidikan yang perlu diatur mencakup pendidikan anak usia dini. dan penyediaan fasilitas penyelenggaraan pendidikan lintas daerah kabupaten/kota untuk tingkat pendidikan dasar dan menengah. dan 53 Undang-Undang Nomor 20 Tentang Sistem Pendidikan Nasional menjelaskan antara lain bahwa pengelolaan sistem pendidikan nasional merupakan tanggung jawab Menteri Pendidikan Nasional yang menentukan kebijakan nasional dan standar nasional pendidikan untuk menjamin mutu pendidikan nasional. Standar Nasional Pendidikan. 51. dan pendidikan menengah dilaksanakan berdasarkan standar pelayanan minimal dengan prinsip manajemen berbasis sekolah/madrasah. dan pendidikan khusus dan pendidikan layanan khusus. serta satuan pendidikan yang berbasis keunggulan lokal. pendanaan pendidikan. Pemerintah Provinsi. pemerintah daerah. jaminan mutu. perlu dibuat suatu peraturan perundangan tentang pengelolaan dan penyelenggaraan pendidikan yang resposif dan akurat untuk meminimalkan dampak negatif serta memaksimalkan dampak positifnya terhadap sistem pendidikan nasional. Wajib Belajar. dan Pendanaan Pendidikan diatur secara tersendiri. pendidik dan tenaga kependidikan. akuntabilitas. Pengaturan selanjutnya adalah mengenai penyelenggaraan wajib belajar. AFTA menyebabkan terbukanya peluang bagi negara asing untuk menyelenggarakan pendidikan di Indonesia. Pemerintah Kabupaten/Kota mengelola pendidikan dasar dan pendidikan menengah. pendidikan dasar. (3) munculnya organisasi internasional seperti WTO.doc 130 . Pendidikan Kedinasan. pengelolaan pendidikan. pengawasan. dan ketentuan pidana. Pemerintah dan/atau pemerintah daerah menyelenggarakan paling sedikit satu satuan pendidikan pada semua jenjang pendidikan untuk dikembangkan menjadi satuan pendidikan yang bertaraf internasional. Untuk mengantisipasi serta merespon pengaruh dari faktor-faktor tersebut. Pengaturan tentang Standar Nasional Pendidikan. Pengelolaan pendidikan dalam rangka peningkatan 76461668. Pengelolaan satuan pendidikan tinggi dilaksanakan berdasarkan prinsip otonomi. kurikulum. pengembangan tenaga kependidikan. Pemerintah Kabupaten/Kota. pendidikan keagamaan. Pasal 50. pendidikan jarak jauh. pendidikan tinggi. pendidikan dasar. penyelenggaraan pendidikan oleh lembaga negara asing. pendirian satuan pendidikan. pendidikan informal. suatu contoh nyata dari keadaan ini adalah bermunculannya “cabang” sekolah luar negeri di kotakota besar di Indonesia. Sedangkan lingkup pengaturan dalam Peraturan Pemerintah ini mencakup Pengelolaan dan Penyelenggaraan pendidikan berdasarkan jenjang dan jenis pendidikan serta berdasarkan fungsi dalam sistem pendidikan nasional. dan/atau masyarakat.pengetahuan dan teknologi lebih banyak dan mumpuni yang akan memenangkan persaingan global. dan sertifikasi. evaluasi. Pengelolaan satuan pendidikan anak usia dini. Pengelolaan satuan pendidikan nonformal dilakukan oleh Pemerintah. akreditasi. pendidikan kedinasan. dan evaluasi yang transparan. dan pengeloaan oleh badan hukum pendidikan. 52. Pemerintah Provinsi melakukan koordinasi atas penyelenggaraan pendidikan. sarana dan prasarana pendidikan. pendidikan menengah. peranserta masyarakat dalam pendidikan. Perguruan tinggi menentukan kebijakan dan memiliki otonomi dalam mengelola pendidikan di lembaganya. Lingkup pengaturan tentang pengelolaan pendidikan mencakup ketentuan tentang pengelolaan oleh Pemerintah. pendidikan nonformal.

partisipasi masyarakat dalam penyelenggaraan pendidikan mencakup penguatan prinsip penyelenggaraan pendidikan oleh. serta pengutan pean Komite Sekolah/Madrasah. hak untuk mendapatkan beasiswa bagi yang berprestasi. a. dengan mengedepankan nilai-nilai anti diskriminasi. bentuk satuan pendidikan. dan tidak mampu dari segi ekonomi. stimulasi diberikan juga agar anak dapat mempersiapkan diri memasuki pendidikan dasar dengan lebih baik. PAUD diselenggarakan dalam upaya membantu meletakkan dasar perkembangan anak sebelum memasuki pendidikan dasar. bahkan cara-cara belajar anak mulai mengambil bentuk dasarnya. Para ahli perkembangan anak berpendapat bahwa masa 0 (nol) sampai dengan 6 (enam) tahun pertama dalam kehidupan seorang manusia merupakan masa di mana perkembangan fisik dan motorik. peserta didik. Bagi anak yang memperoleh pendidikan.doc 131 . Pendidikan dasar dan menengah. izin pendirian. bencana sosial. pendidikan nonformal dan informal. dan dari masyarakat. pengutamaan pada kebutuhan anak. untuk. Lingkup pengaturan tentang penyelenggaraan pendidikan mencakup ketentuan tentang fungsi dan tujuan. pendidikan berbasis keunggulan lokal. sikap. penghargaan pada keunikan setiap anak. dan penghargaan terhadap peranserta seluruh komponen pendidikan. pendidikan khusus dan pendidikan layanan khusus pada semua jenjang dan jenis pendidikan. nilai-nilai. Filosofi dasar PAUD adalah menciptakan lingkungan belajar yang mendorong terbangunnya harga diri yang positif pada anak. Penyelenggaraan pendidikan perlu memberikan perhatian kepada hak peserta didik untuk mendapatkan pendidikan agama sesuai dengan agama yang dianutnynya dan diajar oleh pendidik yang seagama. pendidikan oleh negara asing. dan jenis pendidikan adalah sebagai berikut. jenjang. Keterampilan-keterampilan tersebut tidak terjadi secara alamiah tetapi harus didukung oleh lingkungan. pendidikan lintas jalur dan satuan pendidikan. Usia dini merupakan masa peka untuk menerima stimulasi dan sangat menentukan bagi perkembangan selanjutnya. serta kepada masyarakat adat yang terpencil dan/atau mengalami bencana alam. Landasan akademik dalam pengaturan tentang pengelolaan dan penyelenggaraan pendidikan pada masing-masing jalur. Pendidikan anak usia dini (PAUD). dan penguatan peran Dewan Pendidikan di tingkat nasional. provinsi. pendidikan bertaraf internasional. dan cenderung menetap sampai usia dewasa. memberikan perhatian khusus kepada peserta didik berkelainan dan peserta didik di daerah terpencil atau terbelakang. baik orang tua dan keluarganya maupun masyarakat lain. Keterampilan-keterampilan tersebut merupakan keterampilan dasar yang harus dikembangkan secara optimal agar potensi yang ada pada anak tidak hilang percuma. 76461668. b. Pada kenyataannya sejumlah besar studi mendukung anggapan ini dan mengungkapkan bahwa masa inilah sejumlah besar kemampuan berbahasa. intelektual maupun sosial berlangsung dengan sangat pesatnya sehingga seringkali disimpulkan bahwa keberhasilan pada masa ini menentukan seluruh masa depan seorang anak. pendidikan jarak jauh. dan kabupaten.

Kenyataan tersebut ditambah pula dengan beberapa hasil penelitian yang menemukan bahwa ada hubungan positif antara kemajuan suatu negara dengan peningkatan peranserta masyarakat dalam pendidikan. profesi. di semua bidang ilmu pengetahuan. serta pendidikan sejenis lainnya yang ditujukan untuk mengembangkan kemampuan peserta didik dalam memenuhi hak 76461668. Peran Pemerintah dalam pengendalian mutu maupun pengawasan terhadap jalannya perguruan tinggi yang dilakukan melalui lembaga umum dan Pemerintah. c. d. Kedudukan perguruan tinggi yang diselenggarakan Pemerintah atau yang diselenggarakan masyarakat adalah sama. Peran pemerintah dalam penentuan kebijakan umum perguruan tinggi akan ditentukan berdasarkan besarnya keterlibatan Pemerintah antara lain: besarnya dana untuk kepentingan perguruan yang dianggarkan dan disalurkan kepada pendidikan tinggi. Pendidikan tinggi. serta ilmu agama. Pemerintah dan masyarakat memiliki kewajiban untuk memfasilitasi semua perguruan tinggi dalam bentuk pendanaan atau kebutuhan lainnya (termasuk bantuan pegawai negeri). Peranserta masyarakat dalam penyelenggaraan perguruan tinggi dalam bentuk badan hukum penyelenggara adalah sebagai fasilitator yang bukan merupakan bagian dari perguruan tinggi. Untuk itulah maka Undang-Undang mengamanatkan bahwa Pemerintah dan/atau pemerintah daerah menyelenggarakan sekurangkurangnya 1 (satu) satuan pendidikan pada semua jenjang pendidikan untuk dikembangkan menjadi satuan pendidikan yang bertaraf internasional. Kinerja perguruan tinggi dalam menyelenggarakan pendidikan tinggi menjadi salah satu katalisator tinggi rendahnya kualitas sumber daya manusia yang sering dinyatakan sebagai tingkat perkembangan SDM atau Human Development Index (HDI). Aspek lain yang tidak kalah pentingnya adalah meningkatnya peranserta masyarakat dalam pembangunan pendidikan. peran Pemerintah secara bertahap akan beralih dari penyelenggara menjadi fasilitator dan pengelola perguruan tinggi menjadi berbasis masyarakat. Pemerintah Kabupaten/Kota mengelola satuan pendidikan yang berbasis keunggulan lokal. Kewajiban Pemerintah terhadap semua perguruan tinggi yang sangat penting ialah sebagai pengendali mutu perguruan tinggi. Salah satu indikator yang menunjukkan hal ini adalah meningkatnya kesadaran masyarakat tentang arti pentingnya pendidikan bagi putra-putri mereka. Pendidikan tinggi merupakan salah satu pilar penting dalam sistem pendidikan nasional yang bertujuan mengembangkan peserta didik agar memiliki kemampuan akademik. Disamping itu. Pendidikan nonformal dan pendidikan informal. tetap besar. pendidikan pemberdayaan perempuan. pendidikan kesetaraan. kursus dan pelatihan. teknologi dan/atau seni .doc 132 . Pendidikan nonformal meliputi pendidikan kecakapan hidup. dan/atau vokasi. pendidikan anak usia dini.Peraturan Pemerintah tentang pendidikan dasar dan menengah cukup strategis untuk dikembangkan mengingat posisi ketenagakerjaan di Indonesia yang pada umumnya baru mencapai pendidikan menengah ke bawah. pendidikan keaksaraan. Dalam konteks pengelolaan perguruan tinggi dengan status badan hukum. pendidikan kepemudaan.

e. serta pengalaman dalam penyelenggaraan pendidikan jarak jauh menjadi pertimbangan utama dalam penerapan sistem pendidikan jarak jauh untuk meningkatkan akses. yaitu untuk melayani peserta didik dalam jumlah besar. perkembangan teknologi komunikasi. dan fisik bagi peserta didik agar dapat belajar sambil bekerja. waktu. dan media lain. Dalam era globalisasi. Pendidikan khusus dan pendidikan layanan khusus. Tuntutan atas peran strategis pendidikan sebagai suatu pranata sosial yang kuat dan berwibawa untuk mewujudkan tujuan nasional khususnya dalam mencerdaskan kehidupan bangsa telah mendorong pemanfaatan sistem pendidikan jarah jauh sebagai komponen dari sistem pendidikan nasional. tantangan globalisasi. dan bakatnya. 76461668. Pendidikan informal berfungsi untuk memberikan keyakinan agama. Sistem operasional pendidikan jarak jauh yang mencakup layanan registrasi. dan (d) efisiensi. Pendidikan informal adalah jalur pendidikan yang dilakukan oleh keluarga dan lingkungan dalam bentuk kegiatan belajar mandiri.setiap warga negara untuk memperoleh pendidikan yang merata. dan ujian harus dirancang sedemikan rupa untuk mengatasi hambatan jarak dan waktu dan dapat diakses oleh peserta didik setiap saat. pendidikan khusus masih menghadapi tantangan berat yang meliputi persoalan-persoalan yang terkait dengan: (a) perluasan kesempatan belajar bagi peserta didik yang membutuhkan pendidikan khusus. relevansi. layanan pendidikan jarak jauh diselenggarakan dengan memanfaatkan media belajar melalui teknologi telekomunikasi. distribusi bahan ajar mandiri. maka produksi bahan ajar mandiri dan layanan akademiknya harus dirancang berdasarkan prinsip industrialisasi masal. tingkat laju pertumbuhan penduduk.doc 133 . sehingga dapat memberikan kontribusi terhadap perluasan lapangan kerja dan penurunan pengangguran/kemiskinan. informasi. Pendidikan jarak jauh. Kondisi geografis. Program pendidikan nonformal yang berorientasi pada kursus dan pelatihan keterampilan merupakan jembatan antara pendidikan formal dan dunia kerja. tutorial. (c) relevansi. minat. Oleh karena itu. atau menjalankan fungsi kerumahtanggaan bagi ibu rumah tangga. perhatian. psikologis. Pendidikan informal merupakan pengalaman berharga bagi setiap individu sesuai dengan kesempatan. tingkat dan jenis pendidikan. f. mutu. Sistem pendidikan jarak jauh ditujukan untuk meningkatkan pemerataan akses terhadap pendidikan bermutu terutama untuk mengatasi hambatan jarak. nilai budaya. dan informatika (telematika). media. dan keterampilan peserta didik dalam rangka mencapai tujuan pendidikan nasional. yaitu mencerdaskan kehidupan bangsa. Hasil pendidikan informal dapat diakui sama dengan hasil pendidikan formal dan nonformal setelah mengikuti Ujian Nasional dan/atau uji kompetensi sesuai dengan Standar Nasional Pendidikan. Agar biaya penyelenggaraan pendidikan jarak jauh berbasis teknologi informasi dan komunikasi menjadi murah. untuk membentuk kemampuan dan keahlian yang lebih bermutu. dan efisiensi pada semua jalur. (b) peningkatan mutu. nilai moral estetika dan etika serta memberikan pengetahuan. adil dan bermutu sebagai perwujudan dari salah satu tujuan nasional.

(c) penyelenggaraan tingkat khusus. di samping (e) penyelenggaraan sekolah khusus.Kesungguhan pendidikan khusus dalam mengatasi tantangan-tantangan tersebut akan mencerminkan kehidupan berbangsa dan bernegara secara demokratis yang tidak membedakan satu sama lain. (b) perintisan dan pengembangan pendidikan inklusi. nonformal.doc 134 . Tantangan dalam perluasan kesempatan belajar perlu segera dijawab melalui kebijakan dan strategi perluasan kesempatan belajar bagi peserta didik yang membutuhkan pendidikan khusus dengan berbagai cara/pendekatan melalui: (a) perintisan dan pengembangan pendidikan terpadu. dan informal yang saling melengkapi dan memperkaya. Selain itu. pendidikan khusus dapat diselenggarakan melalui jalur formal. 76461668.

Satuan pendidikan dasar dan menengah berbasis keunggulan lokal menghasilkan lulusan yang memiliki kemampuan mengolah dan/atau mengembangkan sumber daya lingkungan di daerahnya dan menghasilkan produk yang mempunyai nilai ekonomis serta menunjang pelestarian. dan pembangunan sumberdaya lokal maupun nasional. Pendidikan bertaraf internasional dan berbasis keunggulan lokal. pengembangan. Tata kehidupan dalam era global abad ke 21 yang ditandai dengan dominasi penggunaan kaedah-kaedah teknologi informasi dan komunikasi dan kompetisi terbuka menuntut persyaratan kompetensi profesional yang berlaku secara internasional. serta menunjang pelestarian.doc 135 . Penyelenggaraan Pendidikan oleh Negara Lain dan Kerjasama Satuan Pendidikan Indonesia dengan Satuan Pendidikan Negara Lain. dan seni. dan promosi keunggulan lokal. pengembangan. Perwakilan negara asing dapat menyelenggarakan pendidikan di wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia untuk warga negaranya dapat menggunakan ketentuan yang berlaku di negara yang bersangkutan atas persetujuan Pemerintah Republik Indonesia. penyelenggaraan pendidikan oleh negara lain ataupun kerjasama penyelenggaraan pendidikan asing perlu mendapat pengaturan secara tegas.g. UU Sisdiknas mengamanatkan kepada pemerintah dan pemerintah daerah berkewajiban untuk mengembangkan paling sedikit satu satuan pendidikan pada setiap jenis dan jenjang pendidikan menjadi satuan pendidikan berfaraf internasional dan satuan pendidikan berbasis keunggulan lokal. Untuk menjaga keutuhan sistem pendidikan nasional. termasuk dalam hal penyelenggaraan pendidikan. Lembaga pendidikan asing 76461668. Salah satu dampak dari kehidupan global dan penggunaan teknologi informasi dan komunikasi adalah terbukanya akses dari dan ke negara Indonesia. h. Satuan pendidikan dasar dan menengah yang dikembangkan menjadi berbasis keunggulan lokal diselenggarakan dengan mengacu pada Standar Nasional Pendidikan yang diperkaya dan dikembangkan sesuai dengan potensi daerah/karakteristik daerah dan sosial budaya masyarakat setempat. Dalam rangka pelaksnaan pembangunan nasional sesuai dengan tuntuan kehidupan global dan pendayagunaan sumberdaya daerah secara optimal. selain diarahkan pada upaya memenuhi kebutuhan kehidupan global. Di pihak lain upaya untuk melaksanakan pembangunan nasional. Satuan pendidikan dasar dan menengah bertaraf internasional menghasilkan lulusan yang memiliki kemampuan dan daya saing di forum internasional. Dampak positifnya adalah dapat memperkaya khasanah pendidikan nasional baik melalui pendirian satuan pendidikan internasional oleh negara lain maupun melalui kerjasama dengan satuan pendidikan di Indonesia. juga harus mampu memberdayakaan sumberdaya dan potensi lokal dalam semangat otonomi daerah. Satuan pendidikan dasar dan menengah yang dikembangkan menjadi bertaraf internasional diselenggarakan dengan mengacu pada Standar Nasional Pendidikan yang diperkaya dengan standar pendidikan/standar kompetensi negara maju dalam bidang ilmu pengetahuan. teknologi.

terutama bagi pendidik pada perguruan tinggi. sikap dan nilai berdasarkan standar nasional dan global. Peranserta masyarakat dalam pendidikan. dan pemberhentian pendidik dan tenaga kependidikan diatur oleh lembaga yang mengangkatnya berdasarkan kebutuhan satuan pendidikan formal. Pendidik dan tenaga kependidikan merupakan salah satu unsur pokok dalam proses penjaminan mutu pendidikan. penempatan. pengelolaan. Penyelenggaraan pendidikan tersebut harus bekerja sama dengan lembaga penyelenggara pendidikan Indonesia. dan bahasa Indonesia kepada peserta didik warga negara Indonesia. Tenaga kependidikan selain pendidik bertugas melaksanakan administrasi. Pemerintah dan pemerintah daerah wajib membina dan mengembangkan tenaga kependidikan pada satuan pendidikan yang diselenggarakan oleh Pemerintah dan pemerintah daerah.doc 136 . Pengangkatan. Pendidik merupakan tenaga profesional yang bertugas merencanakan dan melaksanakan proses pembelajaran. Promosi dan penghargaan bagi pendidik dan tenaga kependidikan dilakukan berdasarkan latar belakang pendidikan. pengalaman. Pola penyelenggaraan pendidikan yang selama ini cenderung terpusat pada Pemerintah mengakibatkan kurangnya peranserta masyarakat. kemampuan. penyebaran. Seiring dengan semangat demokratisasi dan pelaksanaan otonomi daerah. pengembangan. j. Pemerintah dan pemerintah daerah wajib memfasilitasi satuan pendidikan dengan pendidik dan tenaga kependidikan yang diperlukan untuk menjamin terselenggaranya pendidikan yang bermutu. Visi sistem pendidikan nasional sebagai pranata sosial yang kuat dan berwibawa menyiratkan kemitraan dalam penyelenggaraan pendidikan oleh semua komponen bangsa yaitu Pemerintah. Bahasa pengantar utama pada satuan pendidikan yang diselenggarakan oleh lembaga pendidikan asing adalah bahasa Indonesia. dan prestasi kerja dalam bidang pendidikan. Pendidik dan tenaga kependidikan dapat bekerja secara lintas daerah. i. diperlukan pendidik dan tenaga kependidikan yang profesional. dan pelayanan teknis untuk menunjang proses pendidikan pada satuan pendidikan. keterampilan.yang terakreditasi atau yang diakui di negaranya dapat menyelenggarakan pendidikan bagi warga negara asing maupun warga negara Indonesia. Pendidik dan tenaga kependidikan. masyarakat dan keluarga sebagai perwujudan dari tatanan kehidupan masyarakat madani. menilai hasil pembelajaran. reformasi dalam bidang pendidikan harus mencakup upaya pemberdayaan 76461668. pengalaman. Pemerintah dan pemerintah daerah wajib membantu pembinaan dan pengembangan tenaga kependidikan pada satuan pendidikan formal yang diselenggarakan oleh masyarakat. pengawasan. Penyelenggara pendidikan oleh masyarakat berkewajiban membina dan mengembangkan tenaga kependidikan pada satuan pendidikan yang diselenggarakannya. Penyelenggaraan pendidikan oleh lembaga asing yang menerima peserta didik warga negara Indonesia wajib memberikan pendidikan agama. Untuk menjadikan lembaga pendidikan sebagai pusat pembudayaan ilmu pengetahuan. pendidikan kewarganegaraan. melakukan pembimbingan dan pelatihan. dan bahkan dapat mematikan inisiatif masyarakat dalam penyelenggaraan pendidikan. konseling dan layanan serta melakukan penelitian dan pengabdian kepada masyarakat.

dan kewajiban negara dalam rangka peningkatan keselamatan manusia serta kesepakatan dengan organisasi internasional. yaitu pendidikan yang diselenggarakan oleh masyarakat sebagai pemenuhan atas ciri khas yang berkenaan dengan nilai-nilai sosial dan kultural pada masyarakat tertentu. dan kabupaten/kota serta pembentukan komite sekolah/madrasah di tingkat satuan pendidikan.peranserta masyarakat baik dalam penyelenggaraan pendidikan berbasis masyarakat maupun dalam pengelolaan pendidikan melalui pembentukan dewan pendidikan di tingkat nasional. untuk.doc 137 . Penyelengaraan pendidikan berbasis masyarakat merupakan perwujudan dari prinsip pendidikan yang diselenggarakan oleh. Pasal 4 Cukup jelas. Pasal 5 Ayat (1) Cukup jelas. dan dari masyarakat. Sedangkan pembentukan dewan pendidikan dan komite sekolah/madrasah atau nama lain yang sejenis merupakan perwujudan dari kemitraan masyarakat dalam pengelolaan pendidikan bersama penyelenggara pendidikan baik di tingkat pengambil keputusan pada lembaga eksekutif dan legislatif maupun pada tingkat satuan pendidikan. Ayat (3) Manajemen Berbasis Sekolah/Madrasah adalah bentuk otonomi satuan pendidikan. II. 76461668. Dalam hal ini kepala sekolah/madrasah dan guru dibantu komite sekolah/madrasah atau nama lain yang sejenis/madrasah dalam mengelola sekolah/madrasah. Pasal 3 Cukup jelas. provinsi. Pasal 2 Cukup jelas. konvensi internasional. PASAL DEMI PASAL Pasal 1 Cukup jelas. Ayat (2) Pengelolaan satuan pendidikan yang dilakukan oleh Menteri lain atau kepala lembaga pemerintahan non departemen sebagaimana dimaksud dalam pasal ini adalah dalam rangka melaksanakan amanat UU.

doc 138 . psikososial/kepemimpinan. akademik khusus. Cukup jelas Huruf b. Ayat (2) Huruf a. kreatif produktif. Pasal 11 Ayat (1) Cukup jelas. Pasal 10 Cukup jelas. Pasal 8 Cukup jelas. Pasal 9 Ayat (1) Potensi kecerdasan dan bakat istimewa meliputi bidang intelektual umum. seni kinestetik.Ayat (4) Cukup jelas Pasal 6 Cukup jelas. Cukup jelas Huruf c. dan psikomotorik/olahraga. Cukup jelas Huruf d. Cukup jelas 76461668. Pasal 7 Cukup jelas. Ayat (2) Cukup jelas.

Ayat (3) Cukup jelas. Cukup jelas Huruf i. Huruf f. Pasal 12 Cukup jelas. Ayat (4) Cukup jelas.Huruf e. Cukup jelas Ayat (3) Cukup jelas. Pasal 13 Ayat (1) Cukup jelas. Pasal 14 Cukup jelas. Cukup jelas Huruf h.doc 139 . 76461668. Pasal 15 Cukup jelas. Ayat (2) Cukup jelas. Koordinasi dan mensupervisi pengembangan kurikulum untuk MA dan MAK dilakukan oleh Kantor Wilayah Departemen Agama Provinsi. Cukup jelas Huruf g.

Cukup jelas Huruf c. Cukup jelas Huruf e.Pasal 16 Ayat (1) Cukup jelas. Koordinasi dan mensupervisi pengembangan kurikulum untuk MI dan MTs dilakukan oleh Kantor Departemen Agama Kabupaten/Kota Huruf h. Cukup jelas Huruf l.doc 140 . Cukup jelas Huruf g. Cukup jelas Huruf f. Ayat (2) Huruf a. Cukup jelas Huruf j. Cukup jelas Huruf b. Cukup jelas Huruf d. Cukup jelas Huruf i. 76461668. Cukup jelas Huruf k.

pengelolaan. Pasal 23 Cukup jelas. Pasal 24 Cukup jelas. Pasal 20 Cukup jelas. Pasal 19 Cukup jelas. Pasal 22 Cukup jelas. kompetensi lulusan. sarana dan prasarana. Pasal 17 Cukup jelas. proses. Pasal 25 Ayat (1) Cukup jelas Ayat (2) huruf a Cukup jelas Huruf b 76461668. serta pencapaian target pembangunan pendidikan nasional. pembiayaan.doc 141 .Cukup jelas Ayat (3) Standar pelayanan minimal merupakan batas minimal pemenuhan standar isi. dan penilaian pendidikan yang harus dipenuhi oleh setiap satuan pendidikan dasar dan menengah. tenaga kependidikan. Pasal 18 Cukup jelas. Pasal 21 Cukup jelas.

maka laporan penyelenggaraannya disampaikan kepada Pemerintah Provinsi.doc 142 .Cukup jelas Huruf c Cukup jelas huruf d Apabila pendidikan dasar dikembangkan oleh Pemerintah Provinsi menjadi bertaraf internasional. Huruf e Cukup jelas Huruf f Cukup jelas 76461668. huruf e Cukup jelas Huruf f Cukup jelas Pasal 26 Ayat (1) Cukup jelas Ayat (2) Huruf a Cukup jelas Huruf b Cukup jelas Huruf c Cukup jelas Huruf d Apabila pendidikan menengah dikembangkan oleh Pemerintah Provinsi menjadi bertaraf internasional. maka laporan penyelenggaraannya disampaikan kepada Pemerintah Provinsi.

Ayat (3) Cukup jelas Pasal 35 Cukup jelas. Pasal 34 Ayat (1) Bentuk lain yang sederajat antara lain Tarbiyatul Athfal (TA). Pasal 32 Cukup jelas. Pasal 28 Cukup jelas.Pasal 27 Cukup jelas. Pasal 29 Cukup jelas. Pasal 31 Cukup jelas. Ayat (2) Cukup jelas. Pasal 30 Cukup jelas. Taman Pendidikan AlQur’an (TPQ). Pasal 36 Ayat (1) Cukup jelas Ayat (2) 76461668.doc 143 . dan Adi Sekha. Taman Kanak-kanak Al-Qur’an (TKQ). Pasal 33 Cukup jelas.

atau bentuk lain yang sederajat dimaksudkan untuk pembentukan kesadaran dan wawasan peserta didik atas hak dan kewajibannya sebagai warga masyarakat dan dalam interaksi sosial serta pemahaman terhadap diri dan peningkatan kualitas diri sebagai manusia sehingga memiliki rasa percaya diri. Huruf b. atau bentuk lain yang sederajat dengan menekankan pada penyiapan kemampuan berkomunikasi dan berlogika melalui berbicara. Huruf c. baik di dalam maupun di luar sekolah. dan menyenangkan sehingga anak menyukai belajar. Ayat (2) Huruf a. Ayat (3) Cukup jelas. RA.Ketentuan ini tidak berlaku bagi satuan pendidikan yang secara khusus dirancang untuk melayani peserta didik dari kelompok gender atau agama tertentu. pramembaca. tidak memaksa. atau bentuk lain yang sederajat dimaksudkan untuk mempersiapkan peserta didik secara akademik memasuki SD. pramenulis dan praberhitung yang harus dilaksanakan secara hati-hati. MI. sehingga menjadi bagian dari budaya sekolah. Program pembelajaran pengetahuan dan teknologi pada TK.doc 144 . atau bentuk lain yang sederajat dimaksudkan untuk peningkatan potensi spiritual peserta didik melalui contoh pengamalan dari pendidik agar menjadi kebiasaan sehari-hari. 76461668. mendengarkan. RA. Ayat (4) Cukup jelas Pasal 37 Ayat (1) Cukup jelas. Program pembelajaran sosial dan kepribadian pada TK. Program pembelajaran agama dan akhlak mulia pada TK. RA.

dan Culla Sekha. Misalnya memahami dan bersikap sopan kepada orang tua. dan Majjhima Sekha. Pasal 39 Ayat (1) Bentuk lain yang sederajat dengan SD dan MI antara lain Paket A. pendidikan diniyah dasar. Ayat (3) Cukup jelas. RA atau bentuk lain yang sederajat dimaksudkan untuk meningkatkan potensi fisik dan menanamkan sportivitas serta kesadaran hidup sehat dan bersih. Ayat (4) Cukup jelas. Ayat (7) Cukup jelas. olahraga dan kesehatan pada TK. Madyama Vidyalaya (MV). dan teman. Program pembelajaran estetika pada TK. Huruf e. Pasal 38 Cukup jelas. Adi Vidyalaya (AV). Ayat (5) Cukup jelas. Program pembelajaran jasmani. kemampuan mengekspresikan diri dan kemampuan mengapresiasi keindahan dan harmoni yang terwujud dalam tingkah laku keseharian. pendidikan diniyah menengah pertama. Ayat (6) Stimulasi psikososial adalah rangsangan pendidikan yang menumbuhkan kepekaan memahami dan bersikap terhadap lingkungan sosial sekitarnya. RA atau bentuk lain yang sederajat dimaksudkan untuk meningkatkan sensitivitas. saudara.doc 145 . Bentuk lain yang sederajat dengan SMP dan MTs antara lain Paket B. 76461668.Huruf d.

Ayat (4) Kemudahan akses fisik misalnya jarak tempuh dari tempat 76461668. sejauh daya tampung memungkinkan.doc 146 . Ayat (3) Cukup jelas. Pasal 40 Ayat (1) Cukup jelas. rekomendasi dapat dilakukan oleh dewan guru satuan pendidikan yang bersangkutan. Ayat (4) Cukup jelas. Ayat (2) Cukup jelas. Ayat (3) Apabila psikolog profesional tidak ada. Ayat (2) Cukup jelas. Ayat (2) Lihat penjelasan Pasal 36 ayat (2). Pasal 42 Ayat (1) Cukup jelas. Pasal 41 Ayat (1) Peserta didik pada SMP atau MTs dapat berasal dari warga negara asing. Ayat (3) Cukup jelas.Ayat (2) Cukup jelas.

dan Maha Sekha. Struktur penjurusan ini akan menentukan 76461668. pendidikan diniyah menengah atas.doc 147 . Pasal 46 Ayat (1) Bentuk lain yang sederajat dengan SMA dan MA antara lain Paket C. Ayat (5) Cukup jelas. Adapun struktur penjurusan pada pendidikan kejuruan adalah: kelompok kejuruan. Ayat (3) Cukup jelas.tinggal ke satuan pendidikan. Ayat (2) Cukup jelas. Ayat (6) Cukup jelas. Pasal 43 Cukup jelas. Pasal 45 Cukup jelas. Pasal 47 Ayat (1) Cukup jelas. Pasal 44 Cukup jelas. Jenis program keahlian mengacu kepada jenis pekerjaan. Ayat (3) Penjurusan pada pendidikan kejuruan dalam bentuk bidang kejuruan yang merupakan unit akademik terkecil dalam pendidikan kejuruan. Utama Vidyalaya (UV). bidang kejuruan dan program kejuruan. Ayat (2) Cukup jelas.

doc 148 . Pasal 48 Cukup jelas Pasal 49 Ayat (1) Peserta didik pada SMA atau MA SMK. Ayat (6) Cukup jelas. Ayat (3) pelestarian seni budaya dan atau 76461668. Pelestarian meliputi kemahiran tertentu. Ayat (4) Cukup jelas. regional dan global. Ayat (2) Lihat penjelasan Pasal 36 ayat (2). Pasal 50 Ayat (1) Cukup jelas. Ayat (7) Cukup jelas. maka dalam rangka mengantisipasi persaingan global. Ayat(3) Cukup jelas. MAK atau bentuk lain yang sederajat dapat berasal dari warga negara asing. pendidikan kejuruan harus memperhatikan dan mempertimbangkan tren ketenagakerjaan nasional.cakupan mata pelajaran pada setiap jenis bidang kejuruan. Ayat (5) Karena pendidikan kejuruan berorientasi pada peluang untuk memperoleh pekerjaan. Ayat(2) Cukup jelas.

Ayat (2) Pendidikan akademik merupakan pendidikan tinggi yang diarahkan terutama pada penguasaan dan pengembangan disiplin ilmu pengetahuan. 76461668. Pasal 52 Ayat (1) Cukup jelas. Ayat (5) Cukup jelas. dan/atau seni tertentu. Pendidikan profesi merupakan pendidikan tinggi setelah program pendidikan sarjana yang mempersiapkan peserta didik untuk memiliki pekerjaan dengan persyaratan keahlian khusus. magister. dan doktor.doc 149 . Ayat (7) Cukup jelas. yang mencakup program sarjana. Ayat (8) Cukup jelas. Ayat (6) Cukup jelas.Cukup jelas. dapat mencakup program spesialis. Pasal 51 Cukup jelas. sesuai ketentuan Pasal 93 Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan. teknologi. Ayat (4) Lulusan dari satuan pendidikan yang mendapatkan pengakuan sama adalah lulusan dari satuan pendidikan formal yang diselenggarakan tidak mengacu pada Standar Nasional Pendidikan akan tetapi telah memperoleh pengakuan dari Pemerintah atas dasar rekomendasi dari Badan Standar Nasional Pendidikan.

kompetensi kepribadian.Pendidikan vokasi merupakan pendidikan tinggi yang diarahkan pada penguasaan keahlian terapan tertentu. teknologi. dan kopetensi sosial diperoleh melalui program pendidikan profesi. Ayat (2) Program pendidikan bersambungan (consecutive program) adalah program pendidikan guru yang diawali dengan pemerolehan kompetensi profesional (penguasaan substansi keilmuan. dan/atau seni pada fakultas tarbiyah dan pada fakultas lain yang sejenis. Pasal 55 Ayat (1) Program pendidikan secara serempak dan utuh (concurrent program) adalah program pendidikan guru yang kurikulumnya memuat pengembangan kompetensi profesional (penguasaan substansi keilmuan. kompetensi pedagogik. teknologi. yang mencakup program pendidikan diploma. dan/atau seni) dalam program studi nonkependidikan untuk memperoleh kualifikasi akademik sarjana nonkependidikan. dan diploma IV. kopetensi kepribadian. Ayat (3) Cukup jelas. Lulusan program ini memperoleh kualifikasi akademik sarjana pendidikan guru TK/RA atau SD/MI. Program pendidikan diploma terdiri atas program pendidikan diploma I. 76461668.`teknologi. setinggi-tingginya setara dengan program pendidikan sarjana. Ayat (2) Program pendidikan tenaga kependidikan termasuk program pengadaan guru serta pengembangan ilmu kependidikan dan ilmu dasar. dan/atau seni).doc 150 . Pasal 54 Ayat (1) Cukup jelas. diploma III. Pasal 53 Cukup jelas. Penguasaan kompetensi pedagogik. diploma II. dan kopetensi sosial dalam satu program studi.

pusat komputasi pengajaran. Pasal 60 Cukup jelas. Pasal 62 Cukup jelas. Perguruan tinggi yang lebih fokus pada pendidikan profesi dan/atau vokasi menyediakan secara cukup perpustakaan pengajaran. pusat komputerisasi riset. Ayat (4) Cukup jelas. akses internet. Unit pengelola/layanan dapat menjadi unit pelaksana teknis yang membidangi satu atau beberapa objek pengelolaan/layanan. Pasal 58 Cukup jelas. Pasal 57 Ayat (1) Penyediaan unsur penunjang disesuaikan dengan ciri dari perguruan tinggi yang bersangkutan. Ayat (3) Cukup jelas. dan memiliki jurnal ilmiah yang secara berkala menerbitkan hasil-hasil penelitian. dan akses internet. laboratorium riset. Misalnya. laboratorium pengajaran. 76461668.doc 151 . perguruan tinggi riset harus menyediakan secara cukup perpustakaan riset. Setiap perguruan tinggi disarankan untuk memiliki sarana olahraga dan kesenian yang memadai untuk menciptakan kehidupan kampus yang manusiawi dan menyenangkan. Pasal 61 Cukup jelas. Pasal 59 Cukup jelas.Pasal 56 Cukup jelas. Ayat (2) Cukup jelas.

Ayat (3) Perguruan tinggi dapat menerapkan kebijakan afirmatif dalam penerimaan mahasiswa baru untuk mengakomodasi etnik. Ayat (4) Lihat penjelasan Pasal 36 ayat (2). 76461668. Ayat (2) Cukup jelas. Tingkat pendidikan hanya berlaku untuk persyaratan mengikuti program pendidikan yang lebih rendah ke program yang lebih tinggi dalam satu jenjang pendidikan tinggi. Ayat (4) Cukup jelas.Pasal 63 Ayat (1) Huruf a. Kebijakan semacam ini harus dinyatakan secara terbuka sebagai kebijakan afirmatif. Ayat (3) Cukup jelas. atau kelompok tertentu dari ketertinggalannya.doc 152 . Misalnya. Ayat (2) Cukup jelas. Huruf b. daerah. Pasal 64 Ayat (1) Cukup jelas. mahasiswa lulusan program sarjana melanjutkan ke program pascasarjana. Ayat (5) Cukup jelas. Cukup jelas.

doc 153 . Pasal 67 Ayat (1) Yang dimaksud dengan Sistem Kredit Semester (SKS) adalah suatu sistem penyelenggaraan pendidikan di mana beban belajar mahasiswa. Ayat (2) Cukup jelas.Ayat (6) Lihat penjelasan Pasal 50 ayat (4) Ayat (7) Tes tambahan misalnya tes skolastik. Pengumuman hasil tes tambahan dan/atau penilaian rapor tidak boleh dilakukan sebelum pengumuman Ujian Nasional dimaksudkan untuk menjaga integritas hasil ujian nasional dan pemenuhan syarat kelulusan. Pasal 65 Ayat (1) Perjanjian sebagaimana dimaksud dalam ketentuan ini memuat pula hak dan kewajiban mahasiswa yang diatur dalam anggaran dasar dan anggaran rumah tangga. Tes tambahan tidak boleh menduplikasi Ujian Nasional dimaksudkan untuk efisiensi dalam proses seleksi penerimaan. afektif. Pasal 66 Ayat (1) Kemampuan konfluen merupakan kemampuan utuh mahasiswa yang mencerminkan keintegrasian kemampuan kognitif. beban kerja tenaga pengajar dan penyelenggara program lembaga pendidikan tinggi dinyatakan 76461668. dan psikomotorik. Ayat (2) Cukup jelas. Ayat (8) Cukup jelas.

dalam satuan kredit semester (sks). Universitas Al Azhar yang memiliki kampus utama di Cairo dan beberapa kampus cabang di hampir seluruh distrik di Mesir. Ayat (3) Cukup jelas Ayat (4) Cukup jelas. Pasal 68 Ayat (1) Yang dimaksud dengan kelas jauh adalah sistem pembelajaran yang diselenggarakan di luar kampus induk. dan 3 jam kegiatan mandiri selama 16 minggu. Ayat (5) Cukup jelas. dan 1 (satu) jam kegiatan mandiri untuk kurun waktu enam belas (16) minggu efektif. Pasal 70 76461668.doc 154 . Ayat (2) Contoh sistem multikampus adalah sistem State University of New York (SUNY) yang memiliki 60 (enam puluh) kampus di seluruh negara bagian New York. 3 jam kegiatan terstruktur. Banyaknya sks yang diberikan untuk matakuliah. Satu matakuliah berbot 3 sks berarti sama dengan kegiatan studi 3 jam tatap muka. 1 (satu) jam kegiatan terstruktur. merupakan pengakuan atas keberhasilan usaha untuk menyelesaikan kegiatan akademik bersangkutan. Ayat (2) Cukup jelas. Ayat (3) Cukup jelas. atau kegiatan proses belajar mengajar lainnya. Pasal 69 Cukup jelas. Dalam setiap semester “reguler” 1 (satu) sks sama dengan beban studi setiap minggu berupa 1 (satu) jam tatap muka. Ayat (6) Cukup jelas.

Paten adalah salah satu bentuk dari hak kekayaan intelektual (HKI). Ayat (2) Cukup jelas. Ayat (9) Cukup jelas. Ayat (4) Cukup jelas. Pasal 71 Cukup jelas.doc 155 . Ayat (7) Sertifikat paten adalah dokumen resmi yang diberikan oleh pemerintah kepada pihak-pihak yang menemukan sesuatu teknologi (inventor). kritik dan koreksi terhadap suatu naskah ilmiah agar menjadi lebih sempurna. 76461668. Ayat (6) Telaah nirnama (blind review) adalah pakar yang melakukan penelaahan. Ayat (5) Invensi adalah suatu ciptaan atau perancangan baru yang belum ada sebelumnya yang memperkaya khazanah serta dapat digunakan untuk menyempurnakan atau memperbaharui ilmu pengetahuan dan teknologi yang telah ada. Ayat (3) Cukup jelas. Ayat (8) Pengayaan materi pembelajaran dapat diartikan bahwa hasil penelitian wajib dijadikan buku ajar hand-out atau tampilan lain yang disajikan pada saat mengajar. tetapi antara penulis dan pihaknya tidak saling mengenal dan tidak saling mengetahui. Pasal 72 Ayat (1) Penelitian dasar adalah penelitian yang berorientasi pada penjelasan pada fenomena alam (penelitian untuk ilmu) yang melandasi penelitian terapan dan penelitian pengembangan.Cukup jelas.

Ayat (4) Cukup jelas. 3. Ayat (3) Cukup jelas. atau pakar dari luar negeri. Penelaahan dan pemilihan naskah ilmiah yang akan 76461668. dan c. pakar keilmuan yang dimiliki oleh perguruan tinggi yang bersangkutan. tenaga ahli dari organisasi profesi. Jurnal ilmiah harus memiliki dewan penelaah yang terdiri atas: a. Anggota dewan penelaah sebagaimana dimaksud pada huruf 1 huruf a tidak melebihi 40% (empat puluh persen) dari jumlah anggota dewan penelaah. Ayat (6) Cukup jelas. Ayat (7) Cukup jelas.Pasal 73 Ayat (1) Cukup jelas. b. Ayat (8) Akreditasi oleh Departemen dilakukan secara objektif dengan prinsipprinsip berikut: 1. Dewan penelaah sebagaimana dimaksud pada huruf 1 dapat menunjuk mitra bestari untuk menelaah dan memilih naskah ilmiah yang akan diterbitkan. Ayat (2) Cukup jelas. pakar keilmuan yang dimiliki oleh perguruan tinggi lain atau lembaga ilmiah lainnya. 4. Ayat (5) Cukup jelas.doc 156 . 2.

Jurnal ilmiah sebagaimana dimaksud pada huruf 1 dapat memuat artikel ilmiah yang berasal dari perguruan tinggi yang bersangkutan sebanyak-banyaknya 20% (dua puluh persen) dari seluruh artikel ilmiah yang diterbitkan pada setiap penerbitan. Pasal 79 Cukup jelas.doc 157 . Departemen menetapkan status akreditasi yang diperoleh oleh jurnal yang bersangkutan. Pasal 81 Ayat (1) Gelar Doktor Kehormatan bukanlah gelar akademik namun sebutan kehormatan. Ayat (2) Menteri Agama menetapkan kesetaraan ijazah perguruan tinggi luar negeri dengan ijazah gelar perguruan tinggi Indonesia dalam disiplin ilmu agama.diterbitkan harus menerapkan sistem telaah nirnama. Pasal 77 Cukup jelas. dan tidak dapat digunakan untuk melengkapi persyaratan kepangkatan dalam sistem 76461668. Atas dasar hasil akreditasi. Pasal 78 Cukup jelas. 5. Pasal 76 Cukup jelas. Pasal 74 Cukup jelas. Pasal 80 Ayat (1) Cukup jelas. Pasal 75 Cukup jelas.

Taman Asuh Anak Muslim. Jenis-jenis pendidikan nonformal yang mempunyai fungsi pengganti pendidikan formal. PAUD Sekolah Minggu (PAUD-SM). Taman Balita. dan pelengkap pendidikan formal bagi peserta didik yang karena berbagai hal tidak dapat mengikuti kegiatan pembelajaran pada satuan pendidikan formal atau peserta didik memilih jalur pendidikan nonformal untuk memenuhi kebutuhan belajarnya. Ayat (3) Cukup jelas. Taman Pendidikan Al-Quran (TPQ). Pasal 84 Satuan pendidikan lain yang sejenis pada pendidikan nonformal misalnya POS PAUD. Ayat (2) Cukup jelas. Ayat (2) Cukup jelas. dan Program Paket C setara SMA serta kursus dan pelatihan. Pasal 83 Ayat (1) Pendidikan nonformal berfungsi sebagai pengganti.doc 158 . Pendidikan nonformal berfungsi sebagai pelengkap apabila peserta didik pada satuan pendidikan formal merasa perlu untuk menambah pengetahuan. Taman Bermain. 76461668. keterampilan dan sikap yang diperoleh peserta didik pada satuan pendidikan formal dirasa belum memadai. dan PAUD yang diintegrasikan dengan program layanan yang telah ada seperti Pos Pelayanan Terpadu (Posyandu) dan program bina keluarga balita (BKB).kepegawaian pegawai negeri sipil. PAUD Bina Iman Anak (PAUD-BIA). Pendidikan nonformal berfungsi sebagai penambah pada pendidikan formal apabila pengetahuan. keterampilan dan sikap melalui jalur pendidikan nonformal. adalah: Program Paket A setara SD. Taman Pendidikan Anak Sholeh (TAPAS). Ayat (4) Cukup jelas. Program Paket B setara SMP. penambah. Pasal 82 Cukup jelas.

Pasal 88 Cukup jelas. PAUD-BIA adalah salah satu bentuk satuan PAUD pada jalur pendidikan nonformal yang menyelenggarakan program pendidikan keagamaan Katholik bagi anak berusia 2 (dua) tahun sampai dengan 6 (enam) tahun yang berbasis Bina Iman Anak Katholik. kecakapan dalam memilih dan menentukan jalan hidup pribadi.POS PAUD adalah salah satu program satuan PAUD pada jalur pendidikan nonformal yang menyelenggarakan program pendidikan bagi anak sejak lahir sampai dengan berusia enam tahun yang dapat diintegrasikan dengan dan TPQ adalah salah satu bentuk satuan PAUD pada jalur pendidikan nonformal yang menyelenggarakan program pendidikan keagamaan Islam bagi anak berusia 2 (dua) tahun sampai dengan 6 (enam) tahun yang berbasis Taman Pendidikan Al-Quran. kecakapan dalam melakukan koreksi diri. kecakapan dalam pengenalan terhadap kondisi dan potensi diri. Pasal 91 Ayat (1) Kecakapan personal atau kecakapan pribadi mencakup kecakapan dalam melakukan ibadah sesuai dengan agama yang dianutnya. Pasal 87 Cukup jelas. Pasal 90 Cukup jelas. Pasal 85 Cukup jelas. PAUD-SM adalah salah satu bentuk satuan PAUD pada jalur pendidikan nonformal yang menyelenggarakan program pendidikan keagamaan Kristen bagi anak berusia 2 (dua) tahun sampai dengan 6 (enam) tahun yang berbasis Sekolah Minggu. kecakapan dalam menghadapi tantangan 76461668. percaya diri. Pasal 86 Cukup jelas.doc 159 . Pasal 89 Cukup jelas.

Kecakapan sosial mencakup kecakapan dalam hidup berkeluarga. Pasal 93 Ayat (1) Pemuda adalah penduduk yang berusia 15 (lima belas) sampai dengan 35 (tiga puluh lima) tahun. kecakapan dalam menyesuaikan diri dengan lingkungan. mengembang profesionalitas dan produktivitas kerja dan kode etik bersaing dalam melakukan pekerjaan. Kecakapan vokasional mencakup kecakapan dalam memilih bidang pekerjaan. kepemimpinan dan tanggung jawab sosial. Kecakapan intelektual mencakup kecakapan terhadap penguasaan ilmu pengetahuan. kecakapan melakukan penelitian dan percobaan-percobaan dengan pendekatan ilmiah.dan problema serta kecakapan dalam mengatur diri. mengelola pekerjaan.doc 160 . dan bernegara. Ayat (2) Cukup jelas. Ayat (2) Cukup jelas. kecakapan bekerjasama dengan sesama. Pasal 92 Cukup jelas. Ayat (3) Cukup jelas. bermasyarakat. berbangsa. empati atau tenggang rasa. Ayat (3) Cukup jelas. teknologi dan/atau seni sesuai dengan bidang yang dipelajari. Ayat (4) 76461668. berpikir kritis dan kreatif.

Ayat (5) Cukup jelas. Ayat (2) Cukup jelas. Pasal 95 Cukup jelas. Pasal 97 Cukup jelas. Pasal 96 Cukup jelas. dan Program Paket C sederajat dengan SMA/MA telah diatur dalam Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2003 tentang Standar Nasional Pendidikan. Lembaga yang ditunjuk oleh Pemerintah adalah Badan Standar Nasional Pendidikan atau lembaga lain yang memiliki kompetensi untuk melakukan penilaian secara profesional dan mandiri. Pasal 98 Ayat (1) Khusus untuk penyetaraan hasil pendidikan nonformal Program Paket A sederajat dengan SD/MI. Pasal 99 76461668. Lembaga yang ditunjuk oleh pemerintah daerah adalah lembaga yang telah diakui memiliki kompetensi untuk melakukan penilaian secara profesional dan mandiri oleh Badan Standar Nasional Pendidikan dan ditetapkan oleh Menteri. Ayat (3) Cukup jelas.doc 161 . Pasal 94 Cukup jelas. Ayat (4) Cukup jelas.Cukup jelas. Program Paket B sederajat dengan SMP/MTs.

Cukup jelas. Ayat (4) Cukup jelas. Ayat (3) Cukup jelas. Pasal 102 Cukup jelas. Ayat (2) Lulus ujian pada satuan pendidikan nonformal dengan mengacu pada standar nasional pendidikan antara lain ujian atau uji kompetensi pada lembaga kursus. Pasal 101 Ayat (1) Lulus ujian pada satuan pendidikan formal dengan mengacu pada standar nasional pendidikan mencakup ujian sekolah/madrasah dan ujian nasional pada tingkat akhir satuan pendidikan. Pasal 100 Cukup jelas. Ayat (2) Cukup jelas Ayat (3) Yang dimaksud terbuka adalah 76461668. Pasal 103 Ayat (1) Cukup jelas. Ayat (5) Cukup jelas.doc sistem pendidikan yang 162 . lembaga pelatihan serta ujian atau uji kompetensi pada satuan atau program nonformal yang lain.

doc 163 . Proses belajar berlangsung secara bertahap dan berkelanjutan. informasi. Berbasis teknologi pendidikan adalah pendidikan yang dirancang dan dikembangkan berdasarkan kebutuhan individu dengan memanfaatkan teknologi pembelajaran. Peserta didik dapat belajar sambil bekerja. Ayat (2) Sumber belajar Ayat (3) Layanan berbasis teknologi informasi dan komunikasi tanpa mengesampingkan layanan tatap muka. teknologi kokunikasi.diselenggarakan dengan fleksibilitas pilihan dan waktu penyelesaian program. atau mengambil program-program pendidikan yang berbeda secara terpadu dan berkelanjutan melalui pembelajaran tatap muka atau jarak jauh. Yang dimaksud belajar tuntas adalah proses pembelajaraan untuk mencapai taraf penguasaan kompetensi (mastery level) sesuai dengan tuntutan kurikulum. Pasal 104 Ayat (1) Cukup jelas. Pasal 105 Ayat (1) Cukup jelas. Ayat (2) Pengorganisasian modus tunggal adalah penyelenggaraan pendidikan jarak jauh dalam satu satuan pendidikan formal 76461668. seorang peserta didik baru dapat menempuh kegiatan belajar (learning tasks) berikutnya apabila telah menguasai kompetensi yang telah disyaratkan dalam kegiatab belajar sebelumnya. Peserta didik dapat mencapai tingkat penguasaan kompetensi yang dipersyarakan dengan kecepatan yang berbeda-beda. Contoh. dan media lain. Yang dimaksud dengan belajar mandiri adalah proses belajar yang dilakukan peserta didik secara peseorangan atau kelompok dengan memanfaatkan berbagai sumber belajar dan mendapat bantuan atau bimbingan belajar atau tutorial sesuai kebutuhan.

Pendidikan tatap muka tersebut terikat dengan jadwal waktu dan tempat seperti yang berlangsung pada lembaga pendidikan umumnya. Misalnya suatu perguruan tinggi bekerjasama dengan perguruan tinggi lain atau lembaga lain dalam bentuk program pendidikan lapis (sandwich) atau kembaran (twinning) jarak jauh.pada berbagai jalur. dan jenis pendidikan. Ayat (2) Cakupan program pendidikan berbasis mata pelajaran adalah suatu satuan pendidikan yang menyelenggarakan pendidikan jarak jauh hanya untuk satu mata pelajaran. Shukothai Thammathirat Open University di Thailand. Ayat (4) Cakupan program pendidikan berbasis satuan pendidikan seperti yang diselenggarakan oleh SMP Terbuka dan SMA Terbuka yang menyelenggarakan pendidikan SMP dan SMA. jenjang. Pada tingkat pendidikan tinggi pengorganisasian modus tunggal adalah seperti yang diselenggarakan oleh Universitas Terbuka di Indonesia. Pasal 106 Ayat (1) Cukup jelas. jenjang. dan universitas maya (cyber university). Ayat (3) Pengorganisasian modus ganda adalah penyelenggaraan pendidikan jarak jauh bersamaan dengan pendidikan tatap muka pada berbagai jalur. Ayat (5) Cukup jelas. Ayat (3) Cukup jelas. dan University on the Air di China. Ayat (4) Pengorganisasian modus konsorsium adalah penyelenggaraan pendidikan jarak jauh pada berbagai jalur. jenjang. misalnya SMA menyelenggarakan pembelajaran jarak jauh untuk mata pelajaran bahasa Inggris.doc 164 . dan jenis pendidikan oleh beberapa satuan pendidikan secara bersama (kolaboratif). dan jenis pendidikan. dan Universitas Terbuka yang menyelenggarakan program 76461668.

Ayat (2) Satuan pendidikan khusus bagi peserta didik berkelainan adalah satuan pendidikan yang dirancang secara eksklusif untuk melayani peserta didik yang memiliki kesulitan dalam proses pembelajaran karena kelainan fisik. emosional. Pasal 109 Cukup jelas. dimana mereka mengikuti kurikulum yang disesuaikan dengan 76461668.pendidikan tinggi. Program pendidikan terpadu adalah program pendidikan yang memberikan kesempatan bagi peserta didik berkelainan untuk belajar bersama-sama dengan peserta didik normal pada satuan pendidikan umum maupun kejuruan. dengan cara menyediakan sarana. Program pendidikan inklusif adalah program pendidikan yang memberikan kesempatan bagi peserta didik berkelainan untuk belajar bersama-sama dengan peserta didik normal pada satuan pendidikan umum maupun kejuruan. dengan menyediakan sarana. dan sosial. Pasal 108 Cukup jelas. Pasal 110 Cukup jelas. dimana mereka mengikuti kurikulum yang berlaku bagi peserta didik normal.doc 165 . maupun tenaga kependidikan yang sesuai dengan kebutuhan mereka. tenaga pendidik. mental. Pasal 112 Ayat (1) Cukup jelas. maupun tenaga kependidikan yang sesuai dengan kebutuhan mereka. Pasal 107 Cukup jelas. Pasal 111 Cukup jelas. tenaga pendidik.

Ayat (5) Cukup jelas.kebutuhannya.doc 166 . Pasal 118 Ayat (1) Cukup jelas. Pasal 114 Cukup jelas. Ayat (3) Cukup jelas. Pasal 117 Cukup jelas. Pasal 113 Cukup jelas. Ayat (3) Cukup jelas. Ayat (4) Yang dimaksud dengan sistem unit adalah sistem pelayanan pendidikan yang memadukan pendidikan dasar dan menengah dalam 1 (satu) manajemen karena alasan skala ekonomi. 76461668. Pasal 115 Ayat (1) Cukup jelas. Ayat (2) Cukup jelas. Pasal 116 Cukup jelas.

Ayat (2) Cukup jelas. Ayat (3) huruf a yang dimaksud dengan tingkat inklusi adalah penyelenggaraan pendidikan yang terdiri atas peserta didik normal dan yang memiliki potensi kecerdasan dan/atau bakat istimewa dengan menggunakan kurikulum yang dibedakan. Program percepatan dan pengayaan dilakukan dengan memperhatikan keseluruhan kompetensi kecerdasan yang harus dicapai peserta didik yang meliputi kecerdasan intelektual.Ayat (2) Pada satuan pendidikan yang menerapkan sistem satuan kredit semester (sks). huruf b Cukup jelas. Pasal 122 Cukup jelas. program percepatan dan pengayaan tidak perlu diadakan secara ekslusif karena sudah terintegrasi di dalam sistem. Pasal 121 Cukup jelas. huruf c Cukup jelas.doc 167 . dan kinestetik. Pasal 119 Cukup jelas. spiritual. 76461668. Pasal 120 Ayat (1) Peserta didik yang secara ekstrim memiliki potensi jauh di atas rata-rata dinyatakan antara lain mempunyai kecerdasan di atas 3 simpangan baku (standar deviasi) populasi anak. emosional.

Ayat (3) Cukup jelas. 76461668.Pasal 123 Cukup jelas. Pasal 128 Cukup jelas. Pasal 127 Cukup jelas. teknologi.doc 168 . Ayat (2) Cukup jelas. dan seni misalnya negara anggota Organisation for Economic Co-Operation and Development (OECD). Ayat (4) Cukup jelas. Pasal 125 Cukup jelas Pasal 126 Ayat (1) Negara lain yang mempunyai keunggulan dalam bidang ilmu pengetahuan. Pasal 129 Cukup jelas Pasal 130 Cukup jelas. Pasal 124 Cukup jelas.

Pasal 132 Model terpadu-satu sistem-satu atap dilaksanakan dalam satu lokasi dengan menggunakan sistem pengelolaan pendidikan yang sama. Pasal 133 Cukup jelas.Pasal 131 Cukup jelas. Model terpisah-beda sistem-tidak satu atap dilaksanakan di lokasi yang berbeda (terpisah) dengan sistem pengelolaan pendidikan yang berbeda. Untuk pindah dari satuan pendidikan biasa ke satuan pendidikan bertaraf internasional atau berbasis keunggulan lokal harus memenuhi persyaratan yang ditetapkan oleh satuan pendidikan yang dituju. Model terpisah-satu sistem-tidak satu atap dilaksanakan dalam lokasi yang berbeda atau terpisah dengan menggunakan sistem pengelolaan pendidikan yang sama. 76461668.doc 169 . Ayat (2) Cukup jelas. Pasal 135 Ayat (1) untuk Bahasa asing dapat digunakan sebagai bahasa pengantar mendukung kemampuan berbahasa asing peserta didik. Model keluar masuk (entry-exit) dilaksanakan dengan cara mengelola kelas atau satuan pendidikan biasa bersamaan dengan kelas atau satuan pendidikan bertaraf internasional atau berbasis keunggulan lokal yang peserta didik pada kelas atau satuan pendidikan biasa dapat pindah ke kelas atau satuan pendidikan bertaraf internasional atau berbasis keunggulan lokal sebaliknya. Pasal 134 Cukup jelas.

Cukup jelas. Program kembaran ialah program yang dilaksanakan secara bersama oleh dua perguruan tinggi atau lebih untuk melaksanakan suatu program studi. Pasal 139 Ayat (1) Cukup jelas.doc 170 . pembelajaran. Ayat (2) Cukup jelas. Pasal 137 Cukup jelas. Pasal 138 Cukup jelas. Pasal 136 Sistem pendidikan negara lain meliputi kurikulum.Ayat (3) Sistem penggajian yang tidak diskriminatif antara lain tidak membedakan tata cara dan besaran gaji. Huruf c. Huruf b. Ijazah dan gelar yang diberikan dilakukan berdasarkan kesepakatan dari kedua belah pihak dengan memperhatikan berbagai persyaratan pemberian ijazah maupun gelar akademik dari masing-masing perguruan tinggi dalam rangka pengendalian mutu. Persetujuan senat akademik dalam hal ini diperlukan untuk menjamin bahwa kerjasama ini telah dikaji dengan baik sebelumnya. Pertukaran dosen dapat dilakukan melalui program 76461668. serta penghasilan lainnya. tunjangan. Ayat (3) Huruf a. penilaian. dan/atau penjenjangan pendidikan yang secara resmi berlaku di negaranya.

Huruf f. Cukup jelas. Cukup jelas. Pasal 141 Cukup jelas. Cukup jelas. Pasal 140 Cukup jelas. 76461668. Huruf d. Huruf h. Cukup jelas. Pasal 143 Cukup jelas. Pasal 144 Ayat (1) huruf a. Cukup jelas. Pasal 142 Cukup jelas. Cukup jelas. Cukup jelas.“sabatical leave” yang tata caranya dapat diatur oleh masing-masing perguruan tinggi. Huruf g. Huruf e. Ayat (4) Cukup jelas.doc 171 . Huruf i.

huruf c. huruf g. 76461668. SMK. SMP. huruf h. Cukup jelas. Ayat (3) Cukup jelas. MA. 3) 4) huruf f. Ayat (2) Cukup jelas.doc 172 . atau bentuk lain yang sederajat berhak pindah ke jalur atau satuan pendidikan lain yang setara. Cukup jelas. dan daya tampung satuan pendidikan atau program studi yang bersangkutan memungkinkan menerimanya. MI. Peserta didik pada SMA. Mahasiswa perguruan tinggi berhak pindah ke perguruan tinggi lain atau program studi lain yang setara. Cukup jelas. MAK atau bentuk lain yang sederajat dapat pindah program kejuruan pada jalur dan satuan pendidikan lain yang setara. Cukup jelas. Cukup jelas. atau bentuk lain yang sederajat.huruf b. huruf d. maka: 1) 2) Peserta didik PAUD berhak pindah ke jalur atau satuan pendidikan lain yang setara. MTs. huruf e. Peserta didik pada SD. Bilamana peserta didik memenuhi persyaratan penerimaan pada satuan pendidikan.

Konselor yang dimaksud dalam ayat ini termasuk guru bimbingan dan konseling. Huruf d. Cukup jelas. pelatih atau instruktur. Cukup jelas. Huruf e. dan paket C antara lain nara sumber teknis.doc 173 . Cukup jelas. Huruf g. pembimbing. Huruf f. dan tutor penanggung jawa mata pelajaran. Huruf b. paket B. Dan untuk pendidik pada lembaga kursus dan pelatihan antara lain pengajar. Cukup jelas. Huruf c. Pasal 146 Cukup jelas. tutor penanggung jawab tingkat . Ayat (2) Huruf a. Pasal 147 Ayat (1) Sebutan lain termasuk pendidik pada program paket A.Pasal 145 Cukup jelas. dan penguji. Huruf h. Cukup jelas. Cukup jelas. 76461668. Cukup jelas.

Pasal 155 Cukup jelas. Pasal 154 Cukup jelas.doc 174 . Ayat (2) Apabila pendidik merasa bahwa peserta didik memerlukan pembelajaran tambahan maka kebutuhan itu dipenuhi melalui 76461668. Pasal 152 Cukup jelas. Pasal 153 Cukup jelas.Huruf i. Cukup jelas. Pasal 151 Cukup jelas. Pasal 149 Cukup jelas. Pasal 156 Cukup jelas. Pasal 157 Ayat (1) Sekolah Menengah Kejuruan yang memiliki program studi tata busana dapat menyediakan pakaian seragam untuk peserta didiknya sendiri sebagai bagian dari proses pembelajaran. Pasal 150 Cukup jelas. Pasal 148 Cukup jelas.

doc 175 . Pasal 160 Cukup jelas. Pasal 163 Cukup jelas. Pasal 165 Ayat (1) Huruf a. Pasal 164 Cukup jelas. Pasal 161 Cukup jelas. Ayat (4) Cukup jelas. Ayat (5) Tim sukses adalah sekelompok orang yang direkrut untuk tujuan pemenangan salah satu kontestan tertentu dalam pemilihan umum dan/atau pemilihan kepala daerah sesuai peraturan perundang-undangan. Pasal 158 Cukup jelas. Pasal 159 Cukup jelas. Pasal 162 Cukup jelas. 76461668. Ayat (3) Cukup jelas.program remedial sesuai ketentuan kurikulum yang berlaku.

nonformal. Ayat (4) Cukup jelas. Ayat (2) Huruf a. atau informal untuk memenuhi ketentuan kurikulum pendidikan formal yang bersangkutan.doc 176 . SMP/MTs. atau bentuk lain yang sederajat dapat mengambil mata pelajaran atau program pendidikan pada satuan pendidikan formal. Ayat (3) Cukup jelas. Huruf b. Huruf b. SD/MI. Peserta didik pada satuan pendidikan nonformal dapat mengambil mata pelajaran atau program pendidikan pada satuan pendidikan formal atau pendidikan informal untuk memenuhi beban belajar pendidikan nonformal yang bersangkutan. Ayat (5) Cukup jelas. SMA/MA. dan SMK/MAK. Peserta didik TK/RA. Ayat (3) 76461668. Peserta didik pada satuan pendidikan informal dapat mengambil mata pelajaran atau program pendidikan pada satuan pendidikan formal atau pendidikan nonformal untuk memenuhi beban belajar pendidikan informal yang bersangkutan. Cukup jelas. Ayat (2) Cukup jelas.Cukup jelas. Pasal 166 Ayat (1) Cukup jelas.

Ma’arif-NU. Ayat (3) Cukup jelas. Himpunan Sarjana Pendidikan Indonesia. Ayat (2) Cukup jelas. Ayat (5) Cukup jelas. Majelis Nasional Pendidikan Katolik. Pasal 170 76461668.doc 177 . dan sejenisnya. Persatuan Guru Republik Indonesia. Pasal 168 Ayat (1) Organisasi profesi pendidikan seperti. Pasal 169 Cukup jelas.Satuan pendidikan yang menerapkan sistem kredit semester dapat mengakui hasil belajar dari satuan pendidikan lain baik formal maupun nonformal untuk memenuhi perolehan satuan kredit smester (sks) peserta didik pada satuan pendidikan yang bersangkutan. Organisasi sosial kemasyarakatan seperti Muhammadiyah. dan sejenisnya. Ayat (4) Cukup jelas. Pasal 167 Cukup jelas. Majelis Pendidikan Kristen. Ayat (4) Cukup jelas. Pengusaha termasuk perusahaan-perusahaan.

MTs. MA.doc 178 . Pabbajja 76461668. Pasal 172 Ayat (1) Satuan pendidikan yang diselenggarakan oleh masyarakat adalah satuan pendidikan yang selama ini berstatus swasta. Ayat (2) Satu satuan pendidikan dapat memiliki kekhasan agama. Ayat (3) Sistem magang merupakan kegiatan pembelajaran yang berlangsung di tempat kerja sebagai proses transisi dari peserta didik menjadi pekerja (apprenticeship) Pendidikan sistem ganda (dual system) adalah kegiatan pembelajaran yang memberikan status ganda kepada peserta didik.Ayat (1) Cukup jelas. sebagai pekerja di tempat praktik kerja dan sebagai siswa di sekolah. Ayat (4) Cukup jelas. Kekhasan agama satuan pendidikan dapat berupa pendidikan umum yang diselenggarakan oleh kelompok agama tertentu. Pasal 171 Cukup jelas. dan sosio-kultural sekaligus. Kerjasama produksi merupakan kerjasama antara satuan pendidikan dan pengusaha/dunia kerja dalam bidang pekerjaan tertentu di mana kerjasama tersebut dilakukan melalui perjanjian timbal balik yang menguntungkan kedua belah pihak. atau pendidikan keagamaan seperti Pendidikan Diniyah. Ayat (2) Cukup jelas. sosioekonomi. Pesantren. pendidikan umum yang menyelenggarakan pendidikan umum dan ilmu agama seperti MI.

Ayat (2) Pertemuan 2 (dua) kali setahun yang dimaksud sekurangkurangnya pada awal semester.doc 179 . Pasal 174 Cukup jelas. potensi. dan memecahkan permasalahan pendidikan yang muncul. Pasal 178 76461668. Pasal 176 Ayat (1) Cukup jelas. Ayat (4) Koordinasi dan kerjasama antara lain menyusun anggaran dasar/anggaran rumah tangga. Pasal 175 Cukup jelas. Ayat (2) Cukup jelas. tukar-menukar informasi. dan sosio-kultural merupakan muatan pendidikan dan/atau pendekatan pembelajaran yang disesuaikan dengan kebutuhan. Pendidikan dengan kekhasan sosio-ekonomi.Samanera. Pasal 173 Cukup jelas. dan sosio-kultural setempat. Ayat (3) Cukup jelas. dan bentuk lain yang sejenis. dan keadaan sosio-ekonomi. Pasal 177 Ayat (1) Cukup jelas.

Ayat (4) Cukup jelas.Ayat (1) Pakar pendidikan adalah perseorangan atau kelompok yang memiliki pengetahuan dan keahlian di bidang pendidikan yang karyanya dipublikasikan di media cetak. 76461668. Ayat (2) Cukup jelas. atau melalui produk lain yang menggambarkan keahliannya. Ayat (3) Cukup jelas. Ayat (2) Cukup jelas. media elektronik. Pengusaha misalnya pemilik perusahaan swasta. dan media lainnya. dan Komisi Pendidikan Jarak Jauh. Tokoh masyarakat termasuk tokoh agama. Komisi Pendidikan Kedinasan. Komisi Pendidikan Keagamaan. dan kabupaten/kota. Komisi Pendidikan Dasar dan Menengah. Ayat (3) Cukup jelas. provinsi. Komisi Pendidikan Khusus dan Pendidikan Layanan Khusus. Pasal 179 Ayat (1) Cukup jelas. Di tingkat nasional dapat terdiri atas Komisi Pendidikan Anak Usia Dini. Komisi Pendidikan Tinggi. Komisi Pendidikan Nonformal dan Informal.doc 180 . pemimpin paguyuban adat (marga atau nagari). Ayat (5) Komisi sebagaimana dimaksud pada ayat ini disesuaikan dengan lingkup pengelolaan dan kebutuhan di tingkat nasional. dan tokoh nonpartisan lainnya yang berpartisipasi dalam kegiatan pendidikan.

Komisi Pendidikan Dasar dan Menengah. Komisi Pendidikan Nonformal dan Informal. Komisi Pendidikan Tinggi. Ayat (6) Tenaga ahli yang dimaksud terdiri dari tenaga pendidik profesional yang berfungsi sebagai konsultan. Komisi Pendidikan Dasar dan Menengah. Pasal 182 Cukup jelas. dan Komisi Pendidikan Keagamaan. dan Komisi Pendidikan Keagamaan. Ayat (2) Dalam melaksanakan tugasnya panitia dapat meminta bantuan konsultan yang berpengalaman melakukan uji kelayakan (fit and proper test) dalam bidang pendidikan. Pasal 181 Cukup jelas. Komisi Pendidikan Nonformal dan Informal. Pasal 184 Ayat (1) Komite sekolah/madrasah POMG dan yang sejenis.doc 181 . Pasal 183 Cukup jelas. 76461668. Komisi-komisi tersebut dapat berdiri sendiri atau digabung sesuai dengan kebutuhan. menggantikan keberadaan BP3. Komisi Pendidikan Khusus dan Pendidikan Layanan Khusus. Pasal 180 Ayat (1) Cukup jelas.Di tingkat provinsi dapat terdiri atas Komisi Pendidikan Anak Usia Dini. Di tingkat kabupaten/kota dapat terdiri atas Komisi Pendidikan Anak Usia Dini. Komisi Pendidikan Khusus dan Pendidikan Layanan Khusus.

Komite Pendidikan Nonformal. Ayat (4) Koordinasi dan kerjasama antara lain menyusun anggaran dasar/anggaran rumah tangga. 76461668. Ayat (2) Cukup jelas. maupun oleh masyarakat. SD. Ayat (6) Gabungan satuan pendidikan yang dimaksud adalah satu komite sekolah/madrasah atau nama lain yang sejenis terdiri dari sekolah dan madrasah. SMP. atau yang sejenisnya baik yang diselenggarakan oleh Pemerintah.doc 182 . Gabungan tersebut dapat terdiri dari beberapa satuan pendidikan pada jenjang yang sama. dan memecahkan permasalahan pendidikan yang muncul. MA. program pendidikan nonformal. Penggabungan dapat dilakukan karena lokasi berdekatan. Ayat (3) Cukup jelas.Nama lain yang sejenis seperti Majelis Madrasah. atau RA. atau satuan-satuan pendidikan dikelola oleh suatu penyelenggara pendidikan. Komite satuan pendidikan jalur nonformal dibentuk berdasarkan kebutuhan satuan atau gabungan satuan pendidikan nonformal. atau satuan pendidikan lainnya dalam satu wilayah desa atau kecamatan. SMA. atau berbeda seperti TK. dan MAK. MTs. dan SMK. satuan pendidikan keagamaan. MI. Ayat (7) Pembentukan komite sekolah/madrasah yang terdiri dari beberapa satuan pendidikan hingga memenuhi jumlah 200 peserta didik dimaksudkan untuk mencapai sinergi dan efektivitas dalam memberdayakan peranserta masyarakat terutama pada satuan pendidikan dengan jumlah peserta didik yang kecil. atau karena pertimbangan lain. dan unsur . Ayat (5) Pihak-pihak yang terkait misalnya unsur-unsur satuan pendidikan selain kepala satuan pendidikan. tukar-menukar informasi.

Ayat (3) 76461668. Pasal 188 Cukup jelas. Pasal 186 Cukup jelas. Pasal 191 Cukup jelas. dan jenis pendidikan. Departemen Agama melakukan pengawasan pendidikan agama dan pendidikan keagamaan pada semua jalur.Pasal 185 Cukup jelas. Pasal 193 Ayat (1) Cukup jelas.doc 183 . Departemen melakukan pengawasan pendidikan umum. departemen yang menangani urusan pemerintah bidang lain. jenjang. lembaga pemerintah non-departemen. Pasal 187 Cukup jelas. Ayat (2) Menteri melakukan pengawasan pendidikan secara umum baik yang berada di bawah kewenangan Departemen. Pasal 190 Cukup jelas. maupun masyarakat. Pasal 192 Cukup jelas. akademik. jenjang. Pasal 189 Cukup jelas. pemerintah daerah. dan khusus pada semua jalur. kejuruan. profesi. vokasi. dan jenis pendidikan.

Ayat (2) Cukup jelas. Ayat (6) Cukup jelas.Cukup jelas. Pasal 195 Cukup jelas. Pasal 194 Ayat (1) Cukup jelas. Ayat (4) Cukup jelas. Ayat (5) Cukup jelas. Ayat (2) Cukup jelas. Ayat (7) Lembaga independen yang melakukan pengawasan/pemeriksaan independen misalnya akuntan publik. Ayat (3) Pemeriksaan diterapkan secara arif terhadap objek yang diawasi. Misalnya pemeriksaan terhadap objek yang diawasi 76461668. Pasal 196 Ayat (1) Cukup jelas. Ayat (4) Cukup jelas. Ayat (3) Cukup jelas.doc 184 .

f. j. Ayat (4) Cukup jelas. i. Misalnya pemeriksaan terhadap objek yang diawasi sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf f. dan m hanya dilakukan apabila terdapat indikasi terjadinya penyimpangan administratif atau pelanggaran hukum. Misalnya pemeriksaan terhadap objek yang diawasi sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf e. h. Ayat (2) Cukup jelas. g. k. Pasal 197 Ayat (1) Cukup jelas. Ayat (4) Cukup jelas. j. k.sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf h. Ayat (3) Pemeriksaan diterapkan secara arif terhadap objek yang diawasi.doc 185 . i. Ayat (2) Cukup jelas. dan j hanya dilakukan apabila terdapat indikasi terjadinya penyimpangan administratif atau pelanggaran hukum. Ayat (3) Pemeriksaan diterapkan secara arif terhadap objek yang diawasi. Ayat (4) Cukup jelas. l. l. Pasal 198 Ayat (1) Cukup jelas. g. h. Pasal 199 76461668. dan m hanya dilakukan apabila terdapat indikasi terjadinya penyimpangan administratif atau pelanggaran hukum. i.

Ayat (4) 76461668. Ayat (2) Cukup jelas. jurusan. Pasal 204 Ayat (1) Cukup jelas. b. Pasal 201 Cukup jelas.doc 186 . Ayat (3) Unit dari perguruan tinggi termasuk: a. badan hukum pendidikan. program studi. d. melaksanakan f. unit-unit dharma perguruan tinggi. c. lembaga pengabdian lain yang masyarakat. e. dan/atau satuan pendidikan. Pasal 203 Ayat (1) Pemberian sanksi dilakukan secara arif dan disesuaikan dengan tingkat pelanggaran yang dilakukan oleh satuan pendidikan. Pasal 202 Cukup jelas. Pasal 200 Cukup jelas.Cukup jelas. lembaga penelitian atau pusat studi. Ayat (2) Cukup jelas. program pendidikan. dan/atau fakultas.

pemindahan. Ayat (5) Cukup jelas. Ayat (5) Yang dimaksud dengan seseorang adalah pejabat atau pengurus badan hukum pendidikan yang memiliki kewengan dalam pengangkatan. dan pemberhentian pendidik dan tenaga kependidikan.Cukup jelas.doc 187 . Ayat (4) Cukup jelas. penempatan. Pasal 211 76461668. Pasal 206 Cukup jelas Pasal 207 Cukup jelas. Pasal 209 Cukup jelas. Ayat (6) Cukup jelas. Ayat (3) Cukup jelas. Ayat (2) Cukup jelas. Pasal 208 Ayat (1) Cukup jelas. Pasal 205 Cukup jelas. Pasal 210 Cukup jelas.

doc 188 . Pasal 213 Cukup jelas. Pasal 217 Cukup jelas. 76461668. Pasal 218 Cukup jelas.. Pasal 219 Cukup jelas. Pasal 214 Cukup jelas. TAMBAHAN LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA NOMOR ..Cukup jelas. Pasal 215 Cukup jelas. Pasal 216 Cukup jelas. Pasal 212 Cukup jelas.

........................................................................................... efektifitas...........11 Pasal 13.............................................................................................12 Bagian Ketiga....................... dan................................................12 Menteri menetapkan kebijakan tatakelola pendidikan untuk menjamin efisiensi..........................................................................................12 f..............................................................................................................................................10 Pasal 12.....16 Gubernur menetapkan kebijakan tatakelola pendidikan untuk menjamin efisiensi..................................................................................................................................................................................8 Pengelolaan oleh Pemerintah................................................................................... .....................12 Pasal 14...........................................................................................................................7 Umum.......................................................................................2 BAB II.......................Pemerintah provinsi.................................................................................Departemen Agama..................................................................................................................... dan 76461668....................................................................................................................12 d....................................................7 PENGELOLAAN PENDIDIKAN................................................12 c..................................................................doc i .........9 Pasal 10....................................................................................................................................................8 Pasal 4......................................................................................................2 Pasal 1..................................7 Pasal 2.....................................................15 Pasal 23.........................................................................................................................................................................12 e... dan akuntabilitas pengelolaan pendidikan yang mengikat:............................DAFTAR ISI BAB I.............................................................................................................................................................................................................................2 KETENTUAN UMUM.................................................Departemen.......................12 a...Departemen lain atau lembaga pemerintah nondepartemen yang menyelenggarakan program dan/atau satuan pendidikan.............................................Program dan/atau satuan pendidikan...............................................................................................................................................................................................................................................12 Pasal 15 ...............................7 Pasal 3................................................................. efektifitas..........12 Pasal 16.................................................................................................12 b...........Pemerintah kabupaten/kota.............................................Badan hukum pendidikan.12 Pengelolaan oleh Pemerintah Provinsi....................................................................................................................12 g............................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................8 Pasal 5..............7 Bagian Kesatu................................................13 Pasal 22..................................................................................................................7 Bagian Kedua..............................................................................................................................................................................................................................

.................. dan akuntabilitas pengelolaan pendidikan yang mengikat:..........................................................................................................................................................16 Pasal 24...........................................................................25 Bagian Keenam............................................................21 Pasal 34..........................................................................................................................................30 Fungsi dan Tujuan.........30 Paragraf 1...30 76461668................................................................................................................30 PENYELENGGARAAN PENDIDIKAN FORMAL...................................................................................................................................................... efektifitas.....................21 Pasal 35.. efektifitas............................................................................................................................................................................................................25 Pasal 44 .........................................................................................21 Bagian Kelima................................................................................................................................................................................akuntabilitas pengelolaan pendidikan yang mengikat:.......................24 Pasal 43.17 Pengelolaan oleh Pemerintah Kabupaten/Kota........................................................................................29 BAB III.................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................. efektifitas.......................................................................................................................................................24 Pasal 42....................24 Badan hukum pendidikan menetapkan kebijakan tatakelola pendidikan untuk menjamin efisiensi.......30 Pasal 54 .29 Pasal 52.................29 Satuan dan/atau program pendidikan menetapkan kebijakan tatakelola pendidikan untuk menjamin efisiensi.............................................................16 Bagian Keempat..........................................17 Pasal 25............... dan akuntabilitas pengelolaan pendidikan yang mengikat:..........................................................................................................20 Pasal 33............................................................................................................21 Pengelolaan oleh Badan Hukum Pendidikan ...............22 Pasal 41...............................................................................................................30 Pendidikan Anak Usia Dini....................................................................................................30 Paragraf 2.........................................................................................30 Bagian Kesatu............................................................................17 Pasal 26............................................................................................................................................................................................................................................25 Pengelolaan oleh Satuan dan/atau Program Pendidikan................................................................................................................................................................................21 Pasal 36.................20 Bupati/Walikota menetapkan kebijakan tatakelola pendidikan untuk menjamin efisiensi.................................................30 Pasal 53 .....25 Pasal 45................................................................28 Pasal 51.........................................................................................................................................................................................................................................................................doc ii ..................18 Pasal 32...........................................................................30 Bentuk dan Jenis Satuan Pendidikan................................................................................................................................................................................................................................27 Pasal 50....................................................................... dan akuntabilitas pengelolaan pendidikan yang mengikat:............................................................................................

............................................................................................................................33 Paragraf 3................41 76461668..........................................33 Pasal 59 ......................................................................................32 Pasal 58...............................39 Penerimaan Peserta Didik......................................................................................................................................31 Penerimaan Peserta Didik............................................................................................31 Pasal 55 .................................................................33 Pasal 63..........38 Paragraf 3.................................................................36 Pendidikan Menengah......................................................36 Paragraf 1............................................................................................................................................................................Paragraf 3 ......................................................................................................40 Fungsi dan Tujuan.........................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................37 Pasal 69.....................................................................................................................................................................................................................................................................36 Fungsi dan Tujuan.................................40 Bagian Kempat...................................................................................................................................................................................................................................................................................................................39 Pasal 72.........36 Pasal 66.......................................................32 Pendidikan Dasar.......................................................................................................................................................................................................................................................................33 Pasal 60 ..............................32 Paragraf 1...40 Paragraf 1.......................................................................................................................................................................................................................37 Bentuk Satuan Pendidikan......................................................................................31 Paragraf 4....................................................................................................................................................................................31 Program Pembelajaran.................................................................................................32 Fungsi dan Tujuan......37 Pasal 68 ..................................33 Penerimaan Peserta Didik........................................................................................41 Pasal 73..............................................................................................................................................................36 Bagian Ketiga.............................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................31 Pasal 57 ........................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................31 Pasal 56 ................................................34 Pasal 64 ......34 Pasal 65.............................................................................................................................36 Paragraf 2..........................................doc iii ...........................................................................................................33 Bentuk Satuan Pendidikan....................................40 Pendidikan Tinggi..32 Paragraf 2...................................................................................................................................................................39 Pasal 71...........31 Bagian Kedua................

................................................................................................44 Penerimaan Mahasiswa ........................................................................................................................................................................doc iv ......................................................................................................................48 (1)Perguruan tinggi dapat menyelenggarakan program studi sarjana atau diploma empat kependidikan khusus bagi guru tetap dalam jabatan yang belum memiliki ijazah sarjana atau diploma empat dengan program sarjana atau diploma empat kependidikan khusus bagi guru tetap dalam jabatan.....................................................................................................dilaksanakan oleh perguruan tinggi yang memiliki program studi sarjana atau diploma empat kependidikan berakreditasi dari Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi dan telah memperoleh izin untuk menyelenggarakan program sarjana atau diploma empat kependidikan khusus bagi guru tetap dalam jabatan dari Departemen.......42 Pasal 77.............................................47 Pasal 88......41 Jenis...........................................................................................46 Paragraf 4.........................................................................................................................................................................................................................................................................................................42 Pasal 75 ............................................. mengawasi.....................................................................................................................................Paragraf 2.................46 Pasal 86........... Bentuk.......................................48 b....................................................................................................................................................................41 Organisasi Perguruan Tinggi...........................................41 Paragraf 3..........................................................................................................................................memenuhi seluruh persyaratan program sarjana atau diploma empat kependidikan sesuai dengan peraturan perundang-undangan..................................................................................................48 c.......................................44 Pasal 80...........................48 a..........................................................................................................................46 Pasal 87 ......................................................................................................................................................................46 Sistem Pembelajaran...44 Pasal 81..................................................................................................................................dapat dilaksanakan di pusat kegiatan Kelompok Kerja Guru atau Musyawarah Guru Mata Pelajaran...............................43 Paragraf 3........................................48 (2)Program sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diselenggarakan sebagai berikut:........ .......... dan memfasilitasi penyelenggaraan program sebagaimana dimaksud pada ayat (2) sehingga guru tetap dalam jabatan yang bersangkutan memperoleh kualifikasi 76461668........................................................................ dan Program Pendidikan..........42 Pasal 79..................................................48 (3)Izin sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf a diberikan oleh Departemen setelah memperoleh jaminan dari pemerintah daerah kabupaten/kota yang bersangkutan untuk bertanggung jawab melindungi................41 Pasal 74..........................47 Pasal 89...............................................................................................................................................................................................................................................................................................................45 Pasal 84.........

.................................53 Pengabdian kepada Masyarakat.................................................................49 Pasal 92..........................48 Pasal 90.....................................................................................................................................................................................................................................59 Bagian Kesatu..........................................................................................................................................................58 Bagian Kelima...59 Penjaminan Mutu..............................................................................................................................................54 Paragraf 8.....................................................................57 Pasal 83...............................................54 Pasal 95...............51 Pasal 94............................................................................48 Paragraf 5......................................................................................51 Paragraf 6................................................ Pasal 82 ayat (2)..............................................................................................................................................................49 Pasal 91.........................................55 Pengalihan Kredit ..............48 (5)Ketentuan sebagaimana diatur dalam Pasal ini berlaku sampai berakhirnya masa peralihan sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen..............................................................................................................................................................59 76461668.......................................................................................................................................................55 Pasal 96.........................................................................................................................................................................................................................................................................56 Pasal 82............................................................................................51 Pasal 93...........................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................doc v .........55 Pasal 99...........................................................akademik sarjana atau diploma empat kependidikan sesuai peraturan perundang-undangan..............................................................................56 Gelar Lulusan Pendidikan Tinggi....................................................................................................................................................................................................................56 Pasal 81........56 Paragraf 10.55 Penjaminan Mutu Hasil Belajar.....................................................................................................................................................................................................................48 (4) Menteri dapat membatalkan izin program sebagaimana dimaksud pada ayat (2) apabila setelah dilakukan pemeriksaan oleh Inspektorat Jenderal Departemen atas instruksi Menteri terbukti bahwa pelaksanaan program yang bersangkutan telah melanggar peraturan perundang-undangan............................................................................................................................................................................................................59 PENYELENGGARAAN PENDIDIKAN NONFORMAL ...................59 BAB IV....................................................................................................................................................55 Pasal 97...................................................59 Pasal 85...............................................58 Pasal 84..........................................................51 Penelitian...................49 Kebebasan Akademik dan Otonomi Keilmuan.............................................................................................................55 Paragraf 9............................................................................................

...............................63 Pasal 96...........................................................................................................................Fungsi dan Tujuan .................................................................................................................................................................59 Pasal 86...........................................................61 Paragraf 5.........................................62 Bagian Ketiga..61 Paragraf 4................................................................................................................................................................................................................................................doc vi .....................65 Pendidikan Keaksaraan...........................................61 Majelis Taklim..............................................................................................................................................60 Pasal 87...........................................................................................62 Pasal 92................................................................................62 Pasal 94...............................................................................................................................................................................................................................60 Paragraf 1.................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................63 Pasal 95.........................................61 Kelompok Belajar ................................................................61 Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat....................................................................................................................................62 Program Pendidikan .................................................................................................62 Paragraf 1..........................................................................61 Pasal 91........................................................................................64 Pasal 97.......60 Bentuk Satuan Pendidikan ..............................................................................................................................61 Pasal 89....................65 76461668............................................................64 Paragraf 4..................................................................................................62 Paragraf 2............................................................................................................60 Pasal 88...............................................62 Pendidikan Kecakapan Hidup...............................................60 Bagian Kedua................................................................................................................................60 Paragraf 2................................................................................................63 Paragraf 3........................................................................................................................................................................62 Taman Penitipan Anak dan Kelompok Bermain ..........................................................................................................................................63 Pendidikan Kepemudaan.........................................64 Pendidikan Pemberdayaan Perempuan.............................................................................................................65 Paragraf 6.........................................................................64 Paragraf 5..............................................61 Paragraf 3................................................................................61 Pasal 90................................................................................65 Pasal 98........................................................60 Lembaga Kursus dan Lembaga Pelatihan ....................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................65 Pendidikan Keterampilan dan Pelatihan Kerja..................62 Pasal 93 ...........................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................

.........................................................................69 Pasal 108...................................................................................................................................................................................................doc vii .................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................73 Pasal 117.........................................................................66 Bagian Ketiga (keempat).............................................................................................................................................................................................................................................................................................................68 Pasal 104...............................................................................................................................................................................................................................................................................................................................69 PENYELENGGARAAN PENDIDIKAN JARAK JAUH...............70 Pasal 110..................................................72 Umum..........................................72 Pasal 114....................................................74 76461668...................................................70 Pasal 109....................................66 BAB V............................................................................................................................................................................................................................72 Pasal 115...................................................................................................................................................................................................................................................................................................73 Pasal 118......................................................72 Bagian Kedua...........................................66 Pasal 101...............................71 Pasal 111..................................................................................................................72 PENYELENGGARAAN PENDIDIKAN KHUSUS DAN...........................................................................................................................................72 Bagian Kesatu......................................................................................................................................................................................................................69 BAB VI......................................................72 Paragraf 1.........................................................................69 Pasal 107..............................................................................................................................................................................................................72 Pasal 113..................................................................................................................73 Pasal 119.........................................................................................72 Pendidikan Khusus bagi Peserta Didik Berkelainan.............................................................................................................................................72 Pendidikan Khusus...69 Pasal 106...........................................67 Pasal 103...............................................................................................................................................72 Pasal 116.........................................................................................................................................71 BAB VII............65 Paragraf 7..........................67 Pasal 102.......................Pasal 99....................72 PENDIDIKAN LAYANAN KHUSUS...............................66 Penyetaraan Hasil Pendidikan..........................................72 Pasal 112...............................................................................................................................................................................66 Pendidikan Kesetaraan............................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................66 Pasal 100....67 PENYELENGGARAAN PENDIDIKAN INFORMAL..........68 Pasal 105............................................................74 Paragraf 2....................................

................................................................76 Pendidikan Layanan Khusus...................................................................................................................................76 Pasal 123...............................................................................................................75 Pasal 120..............................................................................................................................................................................................................................84 BAB IX...........................................................................................................................................................................................................................................................................................................................80 Pasal 128...............................................................................................................................77 Pasal 123........................................................................89 HAK DAN KEWAJIBAN PESERTA DIDIK..........................................75 Pasal 122...................................................................................................................................................................................77 Pasal 124...................................................84 PENYELENGGARAAN PENDIDIKAN OLEH LEMBAGA NEGARA LAIN DAN KERJASAMA SATUAN PENDIDIKAN INDONESIA DENGAN SATUAN PENDIDIKAN NEGARA LAIN..................................................85 Pasal 138........................................................................................................................................................................................................................85 Pasal 135...............................84 Pasal 134...........................................................................................78 Pasal 126......................................................78 Pasal 125......................................................82 Pasal 130......................................................................................................................................................................................................................................78 DAN PENDIDIKAN BERBASIS KEUNGGULAN LOKAL............................89 Pasal 143.....................................................83 Pasal 132...............................................................................................................................86 Pasal 140.......................................................................................................................................................................................................78 BAB VIII....................................................................................................................................................................................86 Pasal 139...................................76 Pasal 122............76 Pasal 121....................................89 76461668..............................................................................................................79 Pasal 127..........................................................................................78 PENYELENGGARAAN PENDIDIKAN BERTARAF INTERNASIONAL ......................................................................................75 Pasal 121......................................................................................................................................................................................................................84 Pasal 133........85 Pasal 136..............................................................................................................................................................................................................................................................................................................................89 BAB X......74 Potensi Kecerdasan dan/atau Bakat Istimewa.................................................................................................................................................................................................................doc viii .......................................................82 Pasal 129.......................................................................................................................................................................................................76 Bagian Ketiga..............................................Pendidikan Khusus bagi Peserta Didik yang Memiliki .........................................................................................................................................................................................83 Pasal 131........................................................87 Pasal 141.........................................................................................................................................................89 Pasal 142....

.......................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................96 Pembinaan Karir..............................................................92 PENDIDIK DAN TENAGA KEPENDIDIKAN........................................................................................93 Pasal 149.......... Penempatan....101 Pasal 163...........................98 Pasal 157 ................101 BAB XIII...........................98 BAB XII..................................................................................................................................................................................................................................................................... Pemindahan.......98 Bagian Keempat.................................................99 Pasal 159..................................................................97 Pasal 156............................................97 Pasal 155....89 Pasal 145 .................................................doc ix ...........................................................................101 PENDIDIKAN LINTAS SATUAN DAN JALUR PENDIDIKAN................................96 Pembinaan Karir..................................92 Bagian Kesatu...............................................................................................96 Paragraf 2.................................................96 Pasal 153........... dan Tanggung Jawab.............................................................92 Pasal 148....................................................................................................................................................................................Pasal 144................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................100 Pasal 161.......................................................................................99 PENDIRIAN SATUAN PENDIDIKAN.............................................................................................................................................................................................................96 Pasal 154........................................................................................................................................................................101 Pasal 164....................................................................................................................................................................................................................................................91 BAB XI............................................................................................ dan Penghargaan ............................................................................ Tugas................................................95 Pasal 151........................................95 Pengangkatan........................................................96 Paragraf 1..........................................................90 Pasal 146......................................................92 Pasal 147........................95 Bagian Ketiga............99 Pasal 158............................................................................................................ dan Pemberhentian ........................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................95 Pasal 150..........................................................................................................................................98 Larangan.........................................................................100 Pasal 160.................................................................................................................96 Promosi dan Penghargaan..................................................................................................................................96 Pasal 152.93 Bagian Kedua.................................................................................100 Pasal 162........................................................ Promosi...........................................................................................................................................................................92 Jenis......101 76461668................................................................................................

.......................................................................................................................................................................................................................110 Komite Sekolah/Madrasah..................................................................................................................................................................................................................................108 Pasal 180........................................102 Pasal 166...............................................................110 Pasal 185.......................................112 Paragraf 3.................103 Pasal 167...............................................................................................106 Pasal 177...........................................................................................109 Pasal 182.......................107 Pasal 179.................................................................................................................................................................................................................................................................................................103 Fungsi ..........112 Keanggotaan............................105 Pendidikan Berbasis Masyarakat..........................103 Pasal 169..............................................................112 76461668..................................................................................................................106 Dewan Pendidikan..................................................................105 Pasal 174.................................................................................................................................................................................................................................................104 Pasal 170..............................103 Bagian Kedua...................................................................................103 PERANSERTA MASYARAKAT..........................................................112 Persyaratan Anggota.................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................110 Fungsi dan Sifat.....................doc x ..103 Bagian Kesatu......106 Bagian Keempat...............................................................................Pasal 165........................................................................................................................104 Pasal 171......................................................................................................110 Paragraf 1...........................................................................................................................................103 Pasal 168......................................................................................................................................................................107 Pasal 178.............................................................................................................................................................................................................................105 Pasal 172.........................................108 Pasal 181.........................................................................................103 Komponen Peranserta Masyarakat........................................................................................................................................................................................................................................................................................................111 Paragraf 2..........................................................................110 Bagian Kelima..............................................110 Pasal 184...............................................................................................112 Pasal 186.......................................................................................................................................................................................................................................................................................109 Pasal 183..........106 Pasal 175.......................................................................105 Bagian Ketiga..................................................................................................................................................................................................................................102 BAB XIV...................................................................................................................................................................................................................................................................................106 Pasal 176..............................................................................................................................................................

........................................................113 Paragraf 6..................................................................................................................................................................................................................................................125 Pasal 211...........................................................................................................................................................................................121 BAB XVI.......................Pasal 187.................................................113 Mekanisme Pemilihan............................................................................124 Pasal 207..........................................................................................................................................................................................................................................................................................113 Pasal 189..........................................114 Pasal 191.....................................................115 Pasal 192........................................................................................................................................................................................115 Pasal 193........................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................114 Pasal 190.................................116 Pasal 195...............................................126 76461668............................................................................................................................................................115 PENGAWASAN......................................................................................................................................................119 Pasal 199.......................................122 Pasal 203..............................................................................................................................................................................116 Pasal 196..................................................................115 BAB XV............................................117 Pasal 197......................122 Pasal 204......................................................................................................................................124 Pasal 206...doc xi ....................................................................................................................................................................................................................126 Pasal 213.......................112 Paragraf 4...............................................................................................................................................................................................................................................124 Pasal 209.................................................................................................................................................................................................................................................................115 Larangan.......................................................................................................................................................................................................................................................................118 Pasal 198.........................................................114 Pendanaan........120 Pasal 200........................115 Pasal 194.............................................................................................................................................................................................122 SANKSI.........................................................................................................124 Pasal 208..................................................................................................................................................113 Paragraf 5......................................................................114 Bagian Keenam................................................................................................................................................................................125 Pasal 212...................................................................113 Struktur Organisasi dan Kepengurusan..........................................123 Pasal 205....122 Pasal 202.........................................................................................................................................................................................................................................................................................125 Pasal 210........................................113 Pasal 188..................................................................................................................................................121 Pasal 201........................................................................................................................................

................................................................................................126 BAB XVIII................................................129 76461668................................................................................................127 Pasal 217...................................................................................................................................................................................................................................................127 Pasal 218...................................................................................................................127 KETENTUAN PENUTUP..........126 KETENTUAN PERALIHAN........................................127 Pasal 216.................................................................BAB XVII...........................126 Pasal 214 ...............................................................................................................................................128 PENJELASAN....................................................................................................................................................126 Pasal 215........doc xii ................................................................................................................................

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->