RANCANGAN PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR .… TAHUN ....

TENTANG PENGELOLAAN DAN PENYELENGGARAAN PENDIDIKAN

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : bahwa dalam rangka melaksanakan ketentuan Pasal 12 ayat (4), Pasal 17 ayat (3), Pasal 18 ayat (4), Pasal 20 ayat (4), Pasal 21 ayat (7), Pasal 24 ayat (4), Pasal 25 ayat (3), Pasal 26 ayat (7), Pasal 27 ayat (3), Pasal 28 ayat (6), Pasal 31 ayat (4), Pasal 32 ayat (3), Pasal 50 ayat (7), Pasal 51 ayat (3), Pasal 52 ayat (2), Pasal 54 ayat (3), Pasal 55 ayat (5), Pasal 56 ayat (4), Pasal 62 ayat (4), Pasal 65 ayat (5), dan Pasal 66 ayat (3), Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, perlu menetapkan Peraturan Pemerintah tentang Pengelolaan dan Penyelenggaraan Pendidikan; : Pasal 5 ayat (2) Undang-Undang Republik Indonesia Tahun 1945; Dasar Negara

Mengingat

Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2003 Nomor 78 Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4301); MEMUTUSKAN: Menetapkan : PERATURAN PEMERINTAH TENTANG PENGELOLAAN DAN PENYELENGGARAAN PENDIDIKAN.

76461668.doc

1

BAB I KETENTUAN UMUM Pasal 1 Dalam Peraturan Pemerintah ini yang dimaksud dengan: 1. Pengelolaan pendidikan adalah pengaturan kewenangan dalam penyelenggaraan sistem pendidikan nasional oleh Pemerintah, Pemerintah Provinsi, Pemerintah Kabupaten/Kota, badan hukum pendidikan, dan satuan pendidikan agar proses pendidikan dapat berlangsung sesuai dengan tujuan pendidikan nasional. Penyelenggaraan pendidikan adalah penyediaan sumberdaya pendidikan, yang meliputi prasarana, sarana, pendidik dan tenaga kependidikan, dana, serta sumberdaya lainnya, yang disinergikan secara sistematis melalui suatu organisasi satuan pendidikan. Pengelolaan pendidikan adalah pengaturan sistemik perencanaan, pelaksanaan, dan pengawasan pendidikan. 2. atas

Penyelenggaraan pendidikan adalah kegiatan pelaksanaan komponen-komponen sistem pendidikan pada satuan/program pendidikan pada jalur, jenjang, dan jenis pendidikan agar proses pendidikan dapat berlangsung sesuai dengan tujuan pendidikan nasional. Badan hukum pendidikan masyarakat adalah yayasan, wakaf, perkumpulan, atau badan hukum lainnya yang didirikan oleh masyarakat yang menyelenggarakan satuan atau program pendidikan. Pendidikan anak usia dini yang selanjutnya disebut PAUD adalah suatu upaya pembinaan yang ditujukan kepada anak sejak lahir sampai dengan usia 6 (enam) tahun yang dilakukan melalui pemberian rangsangan pendidikan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani agar anak memiliki kesiapan dalam memasuki pendidikan lebih lanjut, yang diselenggarakan pada jalur formal, nonformal, dan informal. Taman Kanak-kanak yang selanjutnya disebut TK adalah salah satu bentuk satuan pada jalur pendidikan formal yang menyelenggarakan program pendidikan bagi anak berusia 4 (empat) tahun sampai dengan 6 (enam) tahun. Raudhatul Athfal yang selanjutnya disebut RA dan Bustanul Athfal yang selanjutnya disebut BA adalah salah satu bentuk satuan PAUD pada jalur pendidikan formal yang menyelenggarakan program pendidikan dengan kekhasan agama Islam bagi anak
2

3.

4.

5.

6.

76461668.doc

berusia 4 (empat) tahun sampai dengan 6 (enam) tahun. 7. Taman Penitipan Anak yang selanjutnya disebut TPA adalah salah satu bentuk satuan PAUD pada jalur pendidikan nonformal yang menyelenggarakan program pendidikan dan program kesejahteraan sosial bagi anak sejak lahir sampai dengan berusia 6 (enam) tahun. Kelompok Bermain yang selanjutnya disebut KB adalah salah satu bentuk satuan PAUD pada jalur pendidikan nonformal yang menyelenggarakan program pendidikan dan program kesejahteraan sosial bagi anak berusia 2 (dua) tahun sampai dengan 6 (enam) tahun dengan prioritas bagi anak berusia 2 (dua) tahun sampai dengan 4 (empat) tahun. Pendidikan dasar adalah jenjang pendidikan pada jalur pendidikan formal yang melandasi jenjang pendidikan menengah yang diselenggarakan pada satuan pendidikan yang berbentuk Sekolah Dasar (SD) dan Madrasah Ibtidaiyah (MI) atau bentuk lain yang sederajat serta menjadi satu kesatuan kelanjutan pendidikan pada satuan pendidikan yang berbentuk Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan Madrasah Tsanawiyah (MTs), atau bentuk lain yang sederajat.

8.

9.

10. Sekolah Dasar yang selanjutnya disebut SD adalah salah satu bentuk satuan pendidikan formal yang menyelenggarakan pendidikan umum pada jenjang pendidikan dasar. 11. Madrasah Ibtidaiyah yang selanjutnya disebut MI adalah salah satu bentuk satuan pendidikan formal dalam binaan Menteri Agama yang menyelenggarakan pendidikan umum dengan kekhasan agama Islam pada jenjang pendidikan dasar. Sekolah Menengah Pertama yang selanjutnya disebut SMP adalah salah satu bentuk satuan pendidikan formal yang menyelenggarakan pendidikan umum pada jenjang pendidikan dasar sebagai lanjutan dari SD, MI, atau bentuk lain yang sederajat atau lanjutan dari hasil belajar yang diakui sama/setara SD/MI. Madrasah Tsanawiyah yang selanjutnya disebut MTs adalah salah satu bentuk satuan pendidikan formal dalam binaan Menteri Agama yang menyelenggarakan pendidikan umum dengan kekhasan agama Islam pada jenjang pendidikan dasar sebagai lanjutan dari SD, MI, atau bentuk lain yang sederajat atau lanjutan dari hasil belajar yang diakui sama/setara SD/MI. Pendidikan menengah adalah jenjang pendidikan pada jalur pendidikan formal yang merupakan lanjutan pendidikan dasar, berbentuk Sekolah Menengah Atas (SMA), Madrasah Aliyah (MA), Sekolah Menengah Kejuruan (SMK), dan Madrasah Aliyah
3

12.

13.

14.

76461668.doc

Kejuruan (MAK) atau bentuk lain yang sederajat . 15. Sekolah Menengah Atas yang selanjutnya disebut SMA adalah salah satu bentuk satuan pendidikan formal yang menyelenggarakan pendidikan umum pada jenjang pendidikan menengah sebagai lanjutan dari SMP, MTs, atau bentuk lain yang sederajat atau lanjutan dari hasil belajar yang diakui sama/setara SMP/MTs. Madrasah Aliyah yang selanjutnya disebut MA adalah salah satu bentuk satuan pendidikan formal dalam binaan Menteri Agama yang menyelenggarakan pendidikan umum dengan kekhasan agama Islam pada jenjang pendidikan menengah sebagai lanjutan dari SMP, MTs, atau bentuk lain yang sederajat atau lanjutan dari hasil belajar yang diakui sama/setara SMP/MTs. Sekolah Menengah Kejuruan yang selanjutnya disebut SMK adalah salah satu bentuk satuan pendidikan formal yang menyelenggarakan pendidikan kejuruan pada jenjang pendidikan menengah sebagai lanjutan dari SMP, MTs, atau bentuk lain yang sederajat atau lanjutan dari hasil belajar yang diakui sama/setara SMP/MTs. Madrasah Aliyah Kejuruan yang selanjutnya disebut MAK adalah salah satu bentuk satuan pendidikan formal di bawah tanggung jawab Menteri Agama yang menyelenggarakan pendidikan kejuruan dengan kekhasan agama Islam pada jenjang pendidikan menengah sebagai lanjutan dari SMP, MTs, atau bentuk lain yang sederajat atau lanjutan dari hasil belajar yang diakui sama/setara SMP/MTs. Pendidikan tinggi adalah jenjang pendidikan pada jalur pendidikan formal setelah pendidikan menengah yang dapat berupa program pendidikan diploma, sarjana, magister, doktor, dan spesialis yang diselenggarakan oleh perguruan tinggi.

16.

17.

18.

19.

20. Akademi adalah perguruan tinggi yang menyelenggarakan pendidikan vokasi dalam satu cabang atau sebagian cabang ilmu pengetahuan, teknologi, dan/atau seni tertentu. 21. Politeknik adalah perguruan tinggi yang menyelenggarakan pendidikan vokasi dalam sejumlah bidang pengetahuan khusus. 22. Sekolah tinggi adalah perguruan tinggi yang menyelenggarakan pendidikan akademik dan/atau vokasi dalam lingkup satu disiplin ilmu tertentu dan jika memenuhi syarat dapat menyelenggarakan pendidikan profesi. 23. Institut adalah perguruan tinggi yang menyelenggarakan pendidikan akademik dan/atau pendidikan vokasi dalam sekelompok disiplin ilmu pengetahuan, teknologi, dan/atau seni
76461668.doc

4

Kurikulum adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan. teknologi. dan bahan pelajaran. dan/atau olah raga tertentu. penelitian. seni. 27. 34.doc 5 . Universitas menyelenggarakan pendidikan akademik dan/atau pendidikan vokasi dalam sejumlah ilmu pengetahuan. dan/atau seni dan jika memenuhi syarat dapat menyelenggarakan pendidikan profesi. Dosen adalah pendidik profesional dan ilmuwan pada perguruan tinggi dengan tugas utama mentransformasikan. Standar pelayanan minimal adalah kriteria minimal berupa nilai kumulatif pemenuhan Standar Nasional Pendidikan yang harus dipenuhi oleh setiap satuan pendidikan. mengembangkan. dan/atau olah raga. dan pengabdian kepada masyarakat. Program studi adalah unsur pelaksana akademik yang menyelenggarakan dan mengelola jenis pendidikan akademik. yang dapat dikelompokkan menurut jurusan. seni. teknologi. Mahasiswa adalah peserta didik yang terdaftar dan belajar pada perguruan tinggi. 32. teknologi. Pendidikan nonformal adalah jalur pendidikan di luar pendidikan formal yang dapat dilaksanakan secara terstruktur dan berjenjang. 30. dan/atau olah raga. teknologi. Fakultas atau nama lain yang sejenis adalah himpunan sumberdaya pendukung. Sivitas akademika adalah komunitas dosen dan mahasiswa pada perguruan tinggi. yang menyelenggarakan dan mengelola pendidikan akademik. serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan. teknologi. isi. vokasi atau profesi dalam sebagian atau satu bidang ilmu pengetahuan. 24. dan seni melalui pendidikan.dan jika memenuhi syarat dapat menyelenggarakan pendidikan profesi. 76461668. vokasi atau profesi dalam satu rumpun disiplin ilmu pengetahuan. Standar Nasional Pendidikan adalah kriteria minimal tentang sistem pendidikan di seluruh wilayah hukum Negara Kesatuan Republik Indonesia. dan menyebarluaskan ilmu pengetahuan. 28. 29. 26. 31. seni. Jurusan atau nama lain yang sejenis adalah himpunan sumberdaya pendukung program studi dalam satu rumpun disiplin ilmu pengetahuan. 25. 33.

dan potensi masyarakat sebagai perwujudan pendidikan dari. 40. 45. Pendidikan berbasis masyarakat adalah penyelenggaraan pendidikan berdasarkan kekhasan agama. ekonomi. Kelompok belajar adalah satuan pendidikan nonformal yang terdiri atas sekumpulan warga masyarakat yang saling membelajarkan pengalaman dan kemampuan dalam rangka meningkatkan mutu dan taraf kehidupannya.35. aspirasi.doc 6 . 43. 38. dan untuk masyarakat. nonformal. adalah jalur pendidikan keluarga dan 37. Pendidikan berbasis keunggulan lokal adalah satuan pendidikan dasar dan menengah yang menyelenggarakan pendidikan dengan acuan kurikulum yang menunjang upaya pengembangan potensi. dan budaya masyarakat daerah setempat. dan informal. 36. oleh. 76461668. Pusat kegiatan belajar masyarakat adalah satuan pendidikan nonformal yang menyelenggarakan berbagai kegiatan belajar sesuai dengan kebutuhan masyarakat atas dasar prakarsa dari. sosial. Pendidikan informal lingkungan. 44. 41. Program percepatan belajar adalah pengaturan program pendidikan bagi peserta didik yang mencapai standar kompetensi yang dipersyaratkan lebih cepat dari waktu yang ditentukan. Pendidikan bertaraf internasional adalah pendidikan yang diselenggarakan dengan menggunakan Standar Nasional Pendidikan dan diperkaya dengan standar pendidikan negara maju. Pendidikan lintas jalur dan jenis pendidikan adalah penyelenggaraan pendidikan sistem terbuka dimana peserta didik mengambil mata pelajaran pada satuan pendidikan yang tidak sejenis pada jalur pendidikan formal. informasi. 42. Program pengayaan belajar adalah pembelajaran tambahan untuk memperluas wawasan dan kemampuan bagi peserta didik yang telah mencapai standar kompetensi yang dipersyaratkan. budaya. sosial. Pendidikan jarak jauh adalah pendidikan yang peserta didiknya terpisah dari pendidik dan pembelajarannya menggunakan berbagai sumber belajar melalui teknologi komunikasi. dan media lain. oleh dan untuk masyarakat. 39. Pembelajaran adalah proses interaksi peserta didik dengan pendidik dan/atau sumber belajar pada suatu lingkungan belajar.

Pemerintah Provinsi. akses masyarakat atas pelayanan mencukupi. (2) Pengelolaan pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditujukan untuk menjamin: a. Departemen adalah departemen yang bertanggung jawab di bidang pendidikan. 50. dan efektivitas. BAB II PENGELOLAAN PENDIDIKAN Bagian Kesatu Umum Pasal 2 (1) Pengelolaan pendidikan dilakukan oleh: a. Organisasi profesi adalah kumpulan anggota masyarakat yang memiliki keahlian tertentu yang berbadan hukum dan bersifat non-komersial. c.doc 7 . b. b. Pemerintah Kabupaten. badan hukum pendidikan. satuan pendidikan. efisiensi. 49. c. Pemerintah Kabupaten/Kota. Komite sekolah/madrasah adalah lembaga mandiri yang beranggotakan orang tua/wali peserta didik. 47.46. Pemerintah. pendidikan. serta tokoh masyarakat yang peduli pendidikan. atau Pemerintah Kota. dan e. komunitas sekolah. merata. Pemerintah daerah adalah Pemerintah Provinsi. Menteri adalah menteri yang menangani urusan pemerintahan di bidang pendidikan. pendidikan yang mutu dan daya saing pendidikan serta relevansinya dengan kebutuhan dan/atau kondisi masyarakat. 52. Dewan pendidikan adalah lembaga mandiri yang beranggotakan berbagai unsur masyarakat yang peduli pendidikan. d. dan terjangkau. 48. 51. Pemerintah adalah Pemerintah Pusat. dan Pasal 3 akuntabilitas pengelolaan 76461668.

doc Pemerintah Provinsi. rencana pembangunan jangka menengah (RPJM). c. komite sekolah/madrasah atau nama lain yang peserta didik. dewan pendidikan. ayat (2) dan ayat (3) mengikat bagi: a. b. e. d. j. pendidik dan tenaga kependidikan. g. 76461668. c. rencana pembangunan jangka panjang (RPJP). departemen lain atau lembaga pemerintah nondepartemen yang menyelenggarakan satuan pendidikan. Pemerintah kabupaten/kota. f. rencana strategis pendidikan nasional. dan peraturan perundang-undangan di bidang pendidikan. rencana kerja Pemerintah (RKP). i. b. (3) Kebijakan nasional bidang pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dituangkan dalam: a. Bagian Kedua Pengelolaan oleh Pemerintah Pasal 4 (1) Menteri bertanggung jawab mengelola sistem pendidikan nasional serta merumuskan dan/atau menetapkan kebijakan nasional bidang pendidikan. Departemen. l. (4) Sistem pendidikan nasional dan kebijakan nasional pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1). e. rencana kerja dan anggaran tahunan (RKAT). f. (2) Sistem pendidikan nasional sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diselenggarakan dan dikelola sesuai peraturan perundangundangan. badan hukum pendidikan. sejenis. orang tua/wali peserta didik. h. k. Departemen Agama. d. 8 .Pengelolaan pendidikan didasarkan pada rencana yang disusun sesuai peraturan perundang-undangan. satuan pendidikan.

antar kota. antara laki-laki dan perempuan. Pasal 5 Pemerintah mengarahkan. dan mengendalikan penyelenggara. mengevaluasi. jalur. (5) Pemerintah mengalokasikan anggaran pendidikan agar sistem pendidikan nasional dapat dilaksanakan secara efektif. Pasal 6 (1) Menteri menetapkan target tingkat partisipasi pendidikan pada semua jenjang dan jenis pendidikan yang harus dicapai pada tingkat nasional. satuan. dan jenis pendidikan secara nasional sesuai dengan kebijakan nasional bidang pendidikan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 ayat (3). dan n. efisien. pihak lain yang terkait dengan pendidikan di Indonesia. jenjang. dan/atau peserta didik di daerah khusus dapat memperoleh akses pelayanan pendidikan.doc 9 . membimbing. dan akuntabel sesuai dengan kebijakan nasional sebagaimana dimaksud pada ayat (3). (3) Dalam memenuhi target tingkat partisipasi pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1). (2) Target tingkat partisipasi pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dipenuhi melalui jalur pendidikan formal dan nonformal. peserta didik khusus. Pemerintah mengutamakan perluasan dan pemerataan akses pendidikan melalui jalur pendidikan formal. b.m. mensupervisi. c. Pasal 8 pemerataan partisipasi 76461668. d. mengawasi mengkoordinasi. masyarakat. (2) Menteri menetapkan kebijakan untuk menjamin peserta didik miskin. memantau. dan e. antara kabupaten dan kota. antar provinsi. Pasal 7 (1) Menteri menetapkan target tingkat pendidikan pada tingkat nasional: a. antar kabupaten.

(4) Standar pelayanan minimal bidang pendidikan untuk satuan pendidikan ditetapkan sebagai syarat awal yang harus dipenuhi dalam mencapai Standar Nasional Pendidikan secara bertahap dengan menerapkan otonomi satuan pendidikan atau manajemen berbasis sekolah/madrasah. bidang Standar pelayanan minimal sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditetapkan masing-masing untuk: a. (3) Standar pelayanan minimal bidang pendidikan untuk pemerintah daerah merupakan syarat awal yang harus dipenuhi untuk: a. Catatan: 76461668. sertifikasi satuan dan/atau program pendidikan terkait. sertifikasi kompetensi peserta didik. c. Pasal 9 Menteri menetapkan Standar Nasional Pendidikan sesuai peraturan perundang-undangan. sertifikasi kompetensi pendidik. mencapai target tingkat partisipasi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 secara bertahap.(1) (2) Menteri menetapkan standar pelayanan minimal pendidikan sesuai peraturan perundang-undangan. f. d. b.doc 10 . menyelenggarakan atau memfasilitasi penyelenggaraan satuan pendidikan sesuai Standar Nasional Pendidikan secara bertahap. dan/atau g. akreditasi program pendidikan. dan b. Pemerintah menyelenggarakan dan/atau memfasilitasi: a. Satuan pendidikan. satuan dan/atau program (2) e. b. akreditasi satuan pendidikan. sertifikasi kompetensi tenaga kependidikan. Dalam rangka penjaminan mutu pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1). Pemerintah daerah. Pasal 10 (1) Pemerintah melakukan dan/atau memfasilitasi penjaminan mutu pendidikan dengan berpedoman pada kebijakan nasional bidang pendidikan dan Standar Nasional Pendidikan. sertifikasi unit pelaksana pendidikan terkait.

ilmu pengetahuan dan teknologi. peserta didik. dan melindungi program dan/atau satuan pendidikan bertaraf internasional sesuai peraturan perundang-undangan. Pasal 11 (1) Pemerintah mengakui. 11 (4) (2) 76461668. seni. (3) Pemerintah memberikan penghargaan kepada peserta didik yang meraih prestasi puncak sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) sesuai peraturan perundang-undangan. b. Untuk menumbuhkan iklim kompetitif yang kondusif bagi pencapaian prestasi puncak sebagaimana dimaksud pada ayat (1) Pemerintah menyelenggarakan dan/atau memfasilitasi secara teratur dan berjenjang kompetisi di bidang: a. dan c.. Pasal 12 (1) Pemerintah melakukan pembinaan berkelanjutan kepada peserta didik yang memiliki potensi kecerdasan dan/atau bakat istimewa untuk mencapai prestasi puncak di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi. pendidik dan tenaga kependidikan. (2) Pemerintah memfasilitasi perintisan program dan/atau satuan pendidikan yang sudah atau hampir memenuhi Standar Nasional Pendidikan untuk dikembangkan menjadi program dan/atau satuan pendidikan bertaraf internasional. (3) Akreditasi dan sertifikasi sebagaimana dimaksud pada ayat (2) yang diselenggarakan Pemerintah atau masyarakat didasarkan pada Standar Nasional Pendidikan. Pemerintah memfasilitasi sertifikasi internasional pada program dan/atau satuan pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2). memfasilitasi. olahraga. seni. provinsi. nasional. (3) Pemerintah memfasilitasi akreditasi internasional program dan/atau satuan pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2). kabupaten/kota. (4) Ketentuan lebih lanjut mengenai pelaksanaan ayat (1) dan ayat (2) diatur dengan peraturan Menteri. membina. dan internasional..doc . dan/atau olahraga pada tingkat satuan pendidikan.Penjelasan untuk Sertifikasi kompetensi satuan pendidikan. unit pelaksana teknis satuan pendidikan.

Pemerintah provinsi.doc 12 . e. dan akuntabilitas pengelolaan pendidikan yang mengikat: a. efektifitas.Pasal 13 Menteri menetapkan kebijakan tatakelola pendidikan untuk menjamin efisiensi. c. Program dan/atau satuan pendidikan. Sistem informasi pendidikan nasional sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) memberikan akses informasi administrasi pendidikan dan akses sumber pembelajaran kepada satuan pendidikan pada semua jenjang. Sistem informasi pendidikan nasional sebagaimana dimaksud pada ayat (1) difasilitasi oleh jejaring informasi nasional yang terhubung dengan sistem informasi pendidikan di departemen lain atau lembaga pemerintah non departemen yang menyelenggarakan pendidikan. f. d. Departemen Agama. Pasal 14 (1) Dalam menyelenggarakan dan mengelola sistem pendidikan nasional Departemen mengembangkan dan melaksanakan sistem informasi pendidikan nasional berbasis teknologi informasi dan komunikasi. b. jenis. sistem informasi pendidikan di semua provinsi. Badan hukum pendidikan. (2) (3) (2) Kebijakan daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) konsisten dengan serta merupakan penjabaran dari kebijakan pendidikan nasional sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4. 76461668. Departemen lain atau lembaga pemerintah nondepartemen yang menyelenggarakan program dan/atau satuan pendidikan. dan jalur pendidikan. dan g. Departemen. dan sistem informasi pendidikan di semua kabupaten/kota. Bagian Ketiga Pengelolaan oleh Pemerintah Provinsi Pasal 15 (1) Gubernur bertanggung jawab mengelola sistem pendidikan nasional di daerahnya serta merumuskan dan menetapkan kebijakan daerah bidang pendidikan sesuai kewenangannya. Pemerintah kabupaten/kota.

d. kerja dan anggaran tahunan provinsi e. g. h. jenjang. komite sekolah atau nama lain yang sejenis di provinsi yang bersangkutan. b.doc 13 . rencana pembangunan jangka menengah provinsi (RPJMP). Pasal 16 Pemerintah provinsi sesuai kewenangannya mengarahkan. mengevaluasi. mensupervisi.(3) Kebijakan daerah bidang pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dituangkan dalam: a. i. satuan pendidikan di provinsi yang bersangkutan. b. satuan. ayat (2) dan ayat (3) mengikat bagi: a. rencana strategis pendidikan provinsi. (4) Kebijakan daerah bidang pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1). f. masyarakat di provinsi yang bersangkutan. badan hukum pendidikan di provinsi yang bersangkutan. mengkoordinasi. c. (5) Pemerintah provinsi mengalokasikan anggaran pendidikan agar sistem pendidikan nasional di provinsi yang bersangkutan dapat dilaksanakan secara efektif. f. dan k. efisien. dan akuntabel sesuai dengan kebijakan daerah bidang pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1). dewan pendidikan di provinsi yang bersangkutan. rencana pembangunan jangka panjang provinsi (RPJPP). dan mengendalikan penyelenggara. peraturan gubernur di bidang pendidikan. dan jenis pendidikan di provinsi yang bersangkutan sesuai 76461668. e. peserta didik di provinsi yang bersangkutan. peraturan daerah di bidang pendidikan. mengawasi. dan g. semua jajaran Pemerintah Provinsi. pendidik dan bersangkutan. dan ayat (3). c. memantau. d. rencana (RKATP). orang tua/wali peserta didik di provinsi yang bersangkutan. jalur. rencana kerja pemerintah provinsi (RKPP). membimbing. tenaga kependidikan di provinsi yang j. Pemerintah Kabupaten/Kota di provinsi yang bersangkutan. pihak lain yang terkait dengan pendidikan di provinsi yang bersangkutan. ayat (2).

doc 14 . b. antar kabupaten. dan d. (2) 76461668. (2) Gubernur menetapkan kebijakan untuk menjamin peserta didik miskin. dan/atau peserta didik di daerah khusus dapat memperoleh akses pelayanan pendidikan. Dalam melaksanakan tugasnya sebagaimana dimaksud pada ayat (1). Pasal 19 Gubernur melaksanakan dan mengkoordinasikan pelaksanaan standar pelayanan minimal bidang pendidikan sesuai peraturan perundangundangan. pemerintah provinsi berkoordinasi dengan unit pelaksana teknis Pemerintah yang melaksanakan tugas penjaminan mutu pendidikan. Pasal 20 (1) Pemerintah provinsi sesuai kewenangannya melakukan dan/atau memfasilitasi penjaminan mutu pendidikan di daerahnya dengan berpedoman pada kebijakan nasional bidang pendidikan dan Standar Nasional Pendidikan. peserta didik khusus. pemerintah provinsi mengutamakan perluasan dan pemerataan akses pendidikan melalui jalur pendidikan formal. (3) Dalam memenuhi target tingkat partisipasi pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1). antara kabupaten dan kota. (2) Target tingkat partisipasi pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dipenuhi melalui jalur pendidikan formal dan nonformal. antar kota. c. antara laki-laki dan perempuan. Pasal 17 (1) Gubernur menetapkan target tingkat partisipasi pendidikan pada semua jenjang dan jenis pendidikan yang harus dicapai pada tingkat provinsi.kebijakan daerah bidang pendidikan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 15. Pasal 18 (1) Gubernur menetapkan target tingkat pemerataan partisipasi pendidikan pada tingkat provinsi: a.

Pemerintah provinsi sesuai dengan kewenangannya menyelenggarakan. sertifikasi pendidikan terkait. Pemerintah provinsi memfasilitasi sertifikasi internasional pada program dan/atau satuan pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2). (4) Untuk melaksanakan tugasnya sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf a dan huruf b. Pemerintah provinsi memfasilitasi akreditasi internasional program dan/atau satuan pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2). d. dan/atau kompetensi tenaga g. dan melindungi program dan/atau satuan pendidikan yang sudah atau hampir memenuhi Standar Nasional Pendidikan untuk dirintis dan dikembangkan menjadi bertaraf internasional sesuai dengan peraturan perundang-undangan. akreditasi program pendidikan. akreditasi satuan pendidikan. dan/atau pemindahan kepala sekolah dan/atau guru pada satuan pendidikan yang sedang dirintis atau sudah bertaraf internasional harus seizin gubernur. f. sertifikasi unit pelaksana satuan dan/atau program pendidikan terkait. Pasal 21 (1) Pemerintah provinsi sesuai dengan kewenangannya menyelenggarakan. sertifikasi kompetensi pendidik. memfasilitasi. satuan dan/atau program c. pemberhentian. b. sertifikasi kompetensi peserta didik. membina. Gubernur membentuk Badan Akreditasi Provinsi Sekolah/Madrasah dan Badan Akreditasi Provinsi Pendidikan Nonformal untuk membantu Badan Akreditasi Nasional Sekolah/Madrasah dan Badan Akreditasi Nasional Pendidikan Nonformal dalam melaksanakan tugasnya. Pasal 22 (2) (3) (4) (5) 76461668. memfasilitasi. dan melindungi program dan/atau satuan pendidikan bertaraf internasional sesuai dengan peraturan perundang-undangan. Pengangkatan. mengakui. membina. pemerintah provinsi mengkoordinasikan dan memfasilitasi: a.doc 15 . e. sertifikasi kependidikan.(3) Dalam rangka penjaminan mutu pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1). mengakui.

h. seni. ayat (2). dan c. kabupaten/kota. provinsi. peserta didik di provinsi yang bersangkutan. badan hukum pendidikan di provinsi yang bersangkutan. efektifitas.doc 16 . dan akuntabilitas pengelolaan pendidikan yang mengikat: a. dewan pendidikan di provinsi yang bersangkutan. satuan pendidikan di provinsi yang bersangkutan. dan internasional. ilmu pengetahuan dan teknologi. Pasal 23 Gubernur menetapkan kebijakan tatakelola pendidikan untuk menjamin efisiensi. seni. masyarakat di provinsi yang bersangkutan. pendidik dan bersangkutan.(1) Pemerintah provinsi melakukan pembinaan berkelanjutan kepada peserta didik yang memiliki potensi kecerdasan dan/atau bakat istimewa untuk mencapai prestasi puncak di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi. komite sekolah atau nama lain yang sejenis di provinsi yang bersangkutan. olahraga. orang tua/wali peserta didik di provinsi yang bersangkutan. dan/atau olahraga pada tingkat satuan pendidikan. (3) Pemerintah provinsi memberikan penghargaan kepada peserta didik yang meraih prestasi puncak sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) sesuai peraturan perundang-undangan. b. dan ayat (3) diatur dengan peraturan gubernur. c. Pemerintah Kabupaten/Kota di provinsi yang bersangkutan. i. g. f. d. (2) Untuk menumbuhkan iklim kompetitif yang kondusif bagi pencapaian prestasi puncak sebagaimana dimaksud pada ayat (1) pemerintah provinsi menyelenggarakan dan/atau memfasilitasi secara teratur dan berjenjang kompetisi di bidang: a. e. semua jajaran Pemerintah Provinsi. nasional. Pasal 24 76461668. tenaga kependidikan di provinsi yang j. dan k. b. pihak lain yang terkait dengan pendidikan di provinsi yang bersangkutan. (4) Ketentuan lebih lanjut mengenai pelaksanaan ayat (1).

Sistem informasi pendidikan provinsi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) memberikan akses informasi administrasi pendidikan dan akses sumber pembelajaran kepada satuan pendidikan pada semua jenjang. (2) Kebijakan daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) konsisten dengan serta merupakan penjabaran dari kebijakan pendidikan nasional sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 dan penjabaran dari kebijakan pendidikan pemerintah provinsi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 15. g. ayat (2) dan ayat (3) mengikat bagi: 76461668. c. rencana kerja pemerintah kabupaten/kota. d. f. dan peraturan bupati/walikota di bidang pendidikan. rencana pembangunan jangka panjang kabupaten/kota. rencana pembangunan jangka menengah kabupaten/kota.doc 17 . rencana kerja dan anggaran tahunan kabupaten/kota. jenis. pemerintah provinsi mengembangkan dan melaksanakan sistem informasi pendidikan provinsi berbasis teknologi informasi dan komunikasi. (2) (3) Bagian Keempat Pengelolaan oleh Pemerintah Kabupaten/Kota Pasal 25 (1) Bupati/Walikota bertanggung jawab mengelola sistem pendidikan nasional di daerahnya serta merumuskan dan menetapkan kebijakan daerah bidang pendidikan sesuai kewenangannya. b. peraturan daerah di bidang pendidikan. rencana strategis pendidikan kabupaten/kota. Sistem informasi pendidikan provinsi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) merupakan subsistem dari sistem informasi pendidikan nasional. e. (3) Kebijakan daerah bidang pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) dituangkan dalam: a. dan jalur pendidikan sesuai kewenangan pemerintah provinsi. (4) Kebijakan daerah bidang pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1).(1) Dalam menyelenggarakan dan mengelola sistem pendidikan nasional di daerahnya.

h. ayat (2). mensupervisi. dan pihak lain yang terkait dengan kabupaten/kota yang bersangkutan. e. c. masyarakat di kabupaten/kota yang bersangkutan. memantau. dan akuntabel sesuai dengan kebijakan daerah bidang pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1). mengawasi. semua jajaran pemerintah kabupaten/kota. efisien. pendidikan di kabupaten/kota yang satuan pendidikan di kabupaten/kota yang bersangkutan.doc 18 . Pasal 26 Pemerintah kabupaten/kota sesuai kewenangannya mengarahkan. membimbing. b. dan mengendalikan penyelenggara. Pasal 28 76461668. orang tua/wali peserta didik di kabupaten/kota yang bersangkutan. yang sejenis di peserta didik di kabupaten/kota yang bersangkutan. jenjang. dewan pendidikan di kabupaten/kota yang bersangkutan. satuan. dan jenis pendidikan di kabupaten/kota yang bersangkutan sesuai kebijakan daerah bidang pendidikan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 25. komite sekolah atau nama lain kabupaten/kota yang bersangkutan. badan hukum bersangkutan. i. (3) Dalam memenuhi target tingkat partisipasi pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1). d. pendidik dan tenaga kependidikan di kabupaten/kota yang bersangkutan. j. mengevaluasi. mengkoordinasi.a. g. (2)Target tingkat partisipasi pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dipenuhi melalui jalur pendidikan formal dan nonformal. f. dan ayat (3). pemerintah kabupaten/kota mengutamakan perluasan dan pemerataan akses pendidikan melalui jalur pendidikan formal. jalur. pendidikan di (5) Pemerintah kabupaten/kota mengalokasikan anggaran pendidikan agar sistem pendidikan nasional di kabupaten/kota yang bersangkutan dapat dilaksanakan secara efektif. Pasal 27 (1)Bupati/Walikota menetapkan target tingkat partisipasi pendidikan pada semua jenjang dan jenis pendidikan yang harus dicapai pada tingkat kabupaten/kota.

(2) Bupati/Walikota menetapkan kebijakan untuk menjamin peserta didik miskin. sertifikasi kependidikan. dan/atau peserta didik di daerah khusus dapat memperoleh akses pelayanan pendidikan. Dalam rangka penjaminan mutu pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1). sertifikasi pendidikan terkait. f. Pasal 31 76461668.doc 19 . dan Standar Nasional Pendidikan. kebijakan provinsi bidang pendidikan. b.(1) Bupati/Walikota menetapkan target tingkat pemerataan partisipasi pendidikan pada tingkat kabupaten/kota: a. pemerintah kabupaten/kota berkoordinasi dengan unit pelaksana teknis Pemerintah yang melaksanakan tugas penjaminan mutu pendidikan. Pasal 30 (1) Pemerintah kabupaten/kota sesuai kewenangannya melakukan dan/atau memfasilitasi penjaminan mutu pendidikan di daerahnya dengan berpedoman pada kebijakan nasional bidang pendidikan. e. pemerintah kabupaten/kota memfasilitasi: a. dan/atau kompetensi tenaga g. d. akreditasi program pendidikan. Pasal 29 Bupati/Walikota melaksanakan dan mengkoordinasikan pelaksanaan standar pelayanan minimal bidang pendidikan sesuai peraturan perundang-undangan. Dalam melaksanakan tugasnya sebagaimana dimaksud pada ayat (1). satuan dan/atau program (2) (3) c. peserta didik khusus. c. akreditasi satuan pendidikan. antar desa/kelurahan atau sebutan lainnya yang sejenis. antar kecamatan atau sebutan lainnya yang sejenis. sertifikasi kompetensi pendidik. dan antara laki-laki dan perempuan. sertifikasi kompetensi peserta didik. b. sertifikasi unit pelaksana satuan dan/atau program pendidikan terkait.

Pasal 33 (4) 76461668. ayat (2). seni. memfasilitasi. Untuk menumbuhkan iklim kompetitif yang kondusif bagi pencapaian prestasi puncak sebagaimana dimaksud pada ayat (1) pemerintah kabupaten/kota menyelenggarakan dan/atau memfasilitasi secara teratur dan berjenjang kompetisi di bidang: a. dan melindungi program dan/atau satuan pendidikan bertaraf internasional dan/atau berbasis keunggulan lokal sesuai peraturan perundang-undangan. Pemerintah kabupaten/kota memfasilitasi sertifikasi internasional pada program dan/atau satuan pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2). (2) (3) (4) Pasal 32 (1) Pemerintah kabupaten/kota melakukan pembinaan berkelanjutan kepada peserta didik yang memiliki potensi kecerdasan dan/atau bakat istimewa untuk mencapai prestasi puncak di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi. membina. Pemerintah kabupaten/kota melaksanakan dan/atau memfasilitasi perintisan program dan/atau satuan pendidikan yang sudah atau hampir memenuhi Standar Nasional Pendidikan untuk dikembangkan menjadi program dan/atau satuan pendidikan bertaraf internasional dan/atau berbasis keunggulan lokal. dan/atau olahraga pada tingkat satuan pendidikan. (2) Pemerintah kabupaten/kota memberikan penghargaan kepada peserta didik yang meraih prestasi puncak sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) sesuai peraturan perundang-undangan. seni.(1) Pemerintah kabupaten/kota mengakui. kecamatan. provinsi. nasional. b. Ketentuan lebih lanjut mengenai pelaksanaan ayat (1).doc 20 . c. dan ayat (3) diatur dengan peraturan bupati/walikota. dan internasional. kabupaten/kota. Pemerintah kabupaten/kota memfasilitasi akreditasi internasional program dan/atau satuan pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2). (3) ilmu pengetahuan dan teknologi. dan olahraga.

Bupati/Walikota menetapkan kebijakan tatakelola pendidikan untuk menjamin efisiensi, efektifitas, dan akuntabilitas pengelolaan pendidikan yang mengikat: a. semua jajaran pemerintah kabupaten/kota; b. badan hukum pendidikan di kabupaten/kota yang bersangkutan; c. satuan pendidikan bersangkutan; d. dewan pendidikan bersangkutan; di di kabupaten/kota kabupaten/kota yang yang

e. komite sekolah atau nama lain yang sejenis di kabupaten/kota yang bersangkutan; f. peserta didik di kabupaten/kota yang bersangkutan; g. orang tua/wali peserta didik di kabupaten/kota yang bersangkutan; h. pendidik dan tenaga kabupaten/kota yang bersangkutan; i. dan kependidikan di

masyarakat di kabupaten/kota yang bersangkutan; pendidikan di

j. pihak lain yang terkait dengan kabupaten/kota yang bersangkutan. Pasal 34 (1)

Dalam menyelenggarakan dan mengelola sistem pendidikan nasional di daerahnya, pemerintah kabupaten/kota mengembangkan dan melaksanakan sistem informasi pendidikan kabupaten/kota berbasis teknologi informasi dan komunikasi. Sistem informasi pendidikan kabupaten/kota sebagaimana dimaksud pada ayat (1) merupakan subsistem dari sistem informasi pendidikan nasional. Sistem informasi pendidikan kabupaten/kota sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) memberikan akses informasi administrasi pendidikan dan akses sumber pembelajaran kepada satuan pendidikan pada semua jenjang, jenis, dan jalur pendidikan sesuai kewenangan pemerintah kabupaten/kota. Bagian Kelima Pengelolaan oleh Badan Hukum Pendidikan Pasal 35 (1) Badan hukum pendidikan bertanggung jawab mengelola sistem pendidikan nasional di badan hukum pendidikannya serta
76461668.doc

(2)

(3)

21

merumuskan dan kewenangannya. (2)

menetapkan kebijakan pendidikan sesuai

Kebijakan pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) konsisten dengan serta merupakan penjabaran dari kebijakan pendidikan nasional sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4, kebijakan pendidikan pemerintah provinsi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 15, dan/atau kebijakan pendidikan pemerintah kabupaten/kota sebagaimana dimaksud dalam Pasal 25, sesuai peraturan perundang-undangan. Kebijakan pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) dituangkan dalam peraturan badan hukum pendidikan.

(3)

(4) Kebijakan pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1), ayat (2) dan ayat (3) mengikat bagi: a. badan hukum pendidikan yang bersangkutan; b. satuan dan/atau program pendidikan yang terkait; c. lembaga representasi pemangku kepentingan dan/atau program pendidikan yang terkait; satuan

d. peserta didik di satuan dan/atau program pendidikan yang terkait; e. orang tua/wali peserta didik di satuan dan/atau program pendidikan yang terkait; f. pendidik dan tenaga kependidikan di satuan dan/atau program pendidikan yang terkait; g. pihak lainnya yang terikat dengan program pendidikan yang terkait. satuan dan/atau

(5) Badan hukum pendidikan mengalokasikan anggaran pendidikan agar sistem pendidikan nasional di satuan dan/atau program pendidikan yang terkait dapat dilaksanakan secara efektif, efisien, dan akuntabel sesuai dengan kebijakan pendidikan nasional sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4, kebijakan pendidikan pemerintah provinsi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 15, kebijakan pendidikan pemerintah kabupaten/kota sebagaimana dimaksud dalam Pasal 25, dan/atau kebijakan pendidikan badan hukum pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1), ayat (2), ayat (3), dan ayat (4), dan sesuai peraturan perundang-undangan. Pasal 36 Badan hukum pendidikan sesuai kewenangannya mengarahkan, membimbing, mensupervisi, mengawasi, mengkoordinasi, memantau, mengevaluasi, dan mengendalikan satuan dan/atau program pendidikan yang terkait sesuai dengan kebijakan pendidikan nasional sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4, kebijakan pendidikan
76461668.doc

22

pemerintah provinsi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 15, kebijakan pendidikan pemerintah kabupaten/kota sebagaimana dimaksud dalam Pasal 25, dan/atau kebijakan pendidikan badan hukum pendidikan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 35, dan sesuai peraturan perundang-undangan. Pasal 37 Badan hukum pendidikan menetapkan kebijakan untuk menjamin peserta didik miskin, peserta didik khusus, dan/atau peserta didik di daerah khusus dapat memperoleh akses pelayanan pendidikan. Pasal 38 Badan hukum pendidikan menjamin pelaksanaan Standar Pelayanan Minimal bidang pendidikan pada satuan dan/atau program pendidikan terkait sesuai peraturan perundang-undangan. Pasal 39 (1) Badan hukum pendidikan sesuai kewenangannya melakukan dan/atau memfasilitasi penjaminan mutu pendidikan di satuan dan/atau program pendidikan terkait dengan berpedoman pada kebijakan pendidikan nasional sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4, kebijakan pendidikan pemerintah provinsi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 15, kebijakan pendidikan pemerintah kabupaten/kota sebagaimana dimaksud dalam Pasal 25, dan/atau kebijakan pendidikan badan hukum pendidikan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 35, dan Standar Nasional Pendidikan. (2) Dalam melaksanakan tugasnya sebagaimana dimaksud pada ayat (1), badan hukum pendidikan yang merupakan dan/atau menyelenggarakan satuan dan/atau program pendidikan anak usia dini, pendidikan dasar dan/atau pendidikan menengah bekerja sama dengan unit pelaksana teknis Pemerintah yang melaksanakan tugas penjaminan mutu pendidikan. (3) Dalam rangka penjaminan mutu pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1), badan hukum pendidikan memfasilitasi: a. akreditasi program pendidikan terkait; b. akreditasi satuan pendidikan terkait; c. sertifikasi satuan dan/atau program pendidikan terkait; d. sertifikasi unit pelaksana pendidikan terkait; satuan dan/atau program

e. sertifikasi kompetensi peserta didik; f. sertifikasi kompetensi pendidik; dan/atau g. sertifikasi kompetensi tenaga kependidikan.
76461668.doc

23

Pasal 40 (1) Badan hukum pendidikan memfasilitasi, membina, dan melindungi program dan/atau satuan pendidikan terkait yang bertaraf internasional dan/atau berbasis keunggulan lokal sesuai peraturan perundang-undangan. Badan hukum pendidikan melaksanakan dan/atau memfasilitasi perintisan program dan/atau satuan pendidikan terkait yang sudah atau hampir memenuhi Standar Nasional Pendidikan untuk dikembangkan menjadi program dan/atau satuan pendidikan bertaraf internasional dan/atau berbasis keunggulan lokal. Badan hukum pendidikan memfasilitasi akreditasi internasional program dan/atau satuan pendidikan terkait sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2). Badan hukum pendidikan memfasilitasi sertifikasi internasional pada program dan/atau satuan pendidikan terkait sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2). Pasal 41 (1) Badan hukum pendidikan memfasilitasi pembinaan berkelanjutan kepada peserta didik yang memiliki potensi kecerdasan dan/atau bakat istimewa untuk mencapai prestasi puncak di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi, seni, dan/atau olahraga pada tingkat satuan pendidikan, kecamatan, kabupaten/kota, provinsi, nasional, dan internasional. Untuk menumbuhkan iklim kompetitif yang kondusif bagi pencapaian prestasi puncak sebagaimana dimaksud pada ayat (1) badan hukum pendidikan memfasilitasi secara teratur kompetisi di satuan dan/atau program pendidikan terkait dalam bidang: a. b. c. (3) ilmu pengetahuan dan teknologi; seni; dan olahraga.

(2)

(3)

(4)

(2)

Ketentuan lebih lanjut mengenai pelaksanaan ayat (1), ayat (2), dan ayat (3) diatur dengan peraturan badan hukum pendidikan. Pasal 42

Badan hukum pendidikan menetapkan kebijakan tatakelola pendidikan untuk menjamin efisiensi, efektifitas, dan akuntabilitas pengelolaan pendidikan yang mengikat: a. b.
76461668.doc

badan hukum pendidikan yang bersangkutan; satuan dan/atau program pendidikan terkait;
24

badan hukum pendidikan mengembangkan dan melaksanakan sistem informasi pendidikan badan hukum pendidikan berbasis teknologi informasi dan komunikasi. Sistem informasi pendidikan badan hukum pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) merupakan subsistem dari sistem informasi pendidikan nasional. pihak lain yang terikat dengan satuan dan/atau program pendidikan terkait. lembaga representasi pemangku kepentingan pendidikan pada satuan dan/atau program pendidikan terkait. dan/atau kebijakan pendidikan badan hukum pendidikan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 35. kebijakan pendidikan pemerintah kabupaten/kota sebagaimana dimaksud dalam Pasal 25.c. orang tua/wali peserta didik di satuan dan/atau program pendidikan terkait. g. didik satuan dan/atau program d. f.doc 25 . peserta pendidikan terkait. dan sesuai peraturan perundangundangan. 76461668. e. Bagian Keenam Pengelolaan oleh Satuan dan/atau Program Pendidikan Pasal 44 (2) (3) (1) Satuan dan/atau program pendidikan bertanggung jawab mengelola sistem pendidikan nasional di satuan dan/atau program pendidikannya serta merumuskan dan menetapkan kebijakan pendidikan sesuai kewenangannya. Sistem informasi pendidikan badan hukum pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) memberikan akses informasi administrasi pendidikan dan akses sumber pembelajaran kepada satuan dan/atau program pendidikan terkait. (2) Kebijakan pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) konsisten dengan serta merupakan penjabaran dari kebijakan pendidikan nasional sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4. kebijakan pendidikan pemerintah provinsi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 15. Pasal 43 (1) Dalam menyelenggarakan dan mengelola sistem pendidikan nasional di satuan dan/atau program pendidikan terkait. pendidik dan tenaga kependidikan di satuan dan/atau program pendidikan terkait.

f. b. lembaga representasi pemangku kepentingan dan/atau program pendidikan yang bersangkutan. c. dan d. dan peraturan pimpinan perguruan tinggi lainnya. Kebijakan pemerintah kabupaten/kota dimaksud dalam Pasal 25. Kebijakan badan hukum dimaksud dalam Pasal 35. (4) a. peserta didik di satuan dan/atau program pendidikan yang bersangkutan. rencana kerja tahunan perguruan tinggi.(3) Kebijakan pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2). dan satuan pendidikan menengah dituangkan dalam: a. b. ayat (2) dan ayat (3) mengikat bagi: a. satuan c. satuan dan/atau program pendidikan yang bersangkutan. oleh satuan pendidikan anak usia dini. rencana kerja tahunan satuan pendidikan. d. Kebijakan Pasal 4. Pemerintah sebagaimana dimaksud dalam b. b. oleh perguruan tinggi dituangkan dalam: rencana pembangunan jangka panjang perguruan tinggi. anggaran pendapatan pendidikan. peraturan satuan dan/atau program pendidikan. (6) Kebijakan satuan pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (3) merupakan penjabaran dan selaras dengan: a. e. pihak lainnya yang terikat dengan satuan dan/atau program pendidikan yang bersangkutan. rencana strategis perguruan tinggi. e.doc sebagaimana sebagaimana pendidikan 26 . anggaran tahunan perguruan tinggi. peraturan pemimpin perguruan tinggi. orang tua/wali peserta didik di satuan dan/atau program pendidikan yang bersangkutan. d. f. pendidik dan tenaga kependidikan di satuan dan/atau program pendidikan yang bersangkutan. c. 76461668. (5) Kebijakan pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1). Kebijakan pemerintah provinsi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 15. Kebijakan pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2). dan dan belanja tahunan satuan c. satuan pendidikan dasar.

dan/atau kebijakan pendidikan badan hukum pendidikan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 35. dan/atau kebijakan pendidikan badan hukum pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1). kebijakan pendidikan pemerintah kabupaten/kota sebagaimana dimaksud dalam Pasal 25. ayat (2). dan/atau kebijakan 27 76461668. peserta didik khusus. dan sebagaimana dimaksud dalam b. kebijakan pendidikan pemerintah kabupaten/kota sebagaimana dimaksud dalam Pasal 25. dan sesuai peraturan perundang-undangan. Kebijakan Pemerintah Pasal 4.(7) Kebijakan perguruan tinggi sebagaimana dimaksud pada ayat (4) merupakan penjabaran dan selaras dengan: a. Kebijakan badan hukum dimaksud dalam Pasal 35.doc . Pasal 45 Satuan dan/atau program pendidikan mengelola pendidikan sesuai dengan kebijakan pendidikan nasional sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4. Pasal 48 (1) Satuan dan/atau program pendidikan melakukan penjaminan mutu pendidikan dengan berpedoman pada kebijakan pendidikan nasional sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4. dan akuntabel sesuai dengan kebijakan pendidikan nasional sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4. Pasal 46 Satuan dan/atau program pendidikan sesuai kewenangannya menetapkan kebijakan untuk menjamin peserta didik miskin. (8) pendidikan sebagaimana Satuan dan/atau program pendidikan mengalokasikan anggaran pendidikan agar sistem pendidikan nasional di satuan dan/atau program pendidikan yang bersangkutan dapat dilaksanakan secara efektif. ayat (3). dan/atau peserta didik di daerah khusus dapat memperoleh akses pelayanan pendidikan. kebijakan pendidikan pemerintah kabupaten/kota sebagaimana dimaksud dalam Pasal 25. kebijakan pendidikan pemerintah provinsi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 15. kebijakan pendidikan pemerintah provinsi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 15. dan ayat (4). Pasal 47 Satuan dan/atau program pendidikan menjamin terpenuhinya Standar Pelayanan Minimal bidang pendidikan. kebijakan pendidikan pemerintah provinsi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 15. dan sesuai peraturan perundangundangan. efisien.

d.doc . satuan dan/atau program pendidikan. f. mengikuti: a. atau pendidikan menengah bekerja sama dengan unit pelaksana teknis Pemerintah yang melaksanakan tugas penjaminan mutu pendidikan. dan Standar Nasional Pendidikan. dan/atau program (3) e. dan/atau g. Satuan dan/atau program pendidikan yang sudah atau hampir memenuhi Standar Nasional Pendidikan dapat mengikuti akreditasi internasional program dan/atau satuan pendidikan. sertifikasi kompetensi tenaga kependidikan terkait. c. sertifikasi kompetensi pendidik terkait. akreditasi satuan pendidikan yang bersangkutan. sertifikasi unit pelaksana satuan pendidikan yang bersangkutan. sertifikasi kompetensi peserta didik terkait. Pasal 49 (1) Satuan dan/atau program pendidikan yang sudah atau hampir memenuhi Standar Nasional Pendidikan dapat merintis dirinya untuk dikembangkan menjadi program dan/atau satuan pendidikan bertaraf internasional dan/atau berbasis keunggulan lokal.pendidikan badan hukum pendidikan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 35. satuan dan/atau program pendidikan anak usia dini. akreditasi program pendidikan yang bersangkutan. (2) Dalam melaksanakan tugasnya sebagaimana dimaksud pada ayat (1). sesuai peraturan perundang-undangan. pendidikan dasar. Pasal 50 (1) Satuan dan/atau program pendidikan melakukan pembinaan berkelanjutan kepada peserta didik yang memiliki potensi kecerdasan dan/atau bakat istimewa untuk mencapai prestasi 28 (2) (3) 76461668. b. sertifikasi satuan dan/atau program pendidikan yang bersangkutan. Satuan dan/atau program pendidikan dapat mengikuti sertifikasi internasional program atau satuan pendidikan. Dalam rangka penjaminan mutu pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1).

peserta didik satuan dan/atau program pendidikan yang bersangkutan. dan akuntabilitas pengelolaan pendidikan yang mengikat: a. c. ayat (2). b. pendidik dan tenaga kependidikan di dan/atau program pendidikan yang bersangkutan. dan internasional. satuan dan/atau program pendidikan mengembangkan dan melaksanakan sistem informasi pendidikan berbasis teknologi informasi dan komunikasi. kecamatan. pihak lain yang terikat dengan satuan dan/atau program pendidikan yang bersangkutan. seni. orang tua/wali peserta didik di satuan dan/atau program pendidikan yang bersangkutan. ilmu pengetahuan dan teknologi. efektifitas. dan ayat (3) diatur dengan peraturan satuan dan/atau program pendidikan. f. nasional. Pasal 52 (1) Dalam menyelenggarakan dan mengelola pendidikan. 76461668. b. (2) Untuk menumbuhkan iklim kompetitif yang kondusif bagi pencapaian prestasi puncak sebagaimana dimaksud pada ayat (1) satuan dan/atau program pendidikan melakukan secara teratur kompetisi di satuan dan/atau program pendidikan terkait dalam bidang: a. seni. kabupaten/kota. satuan bersangkutan. satuan c. d.puncak di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi. dan olahraga. e. dan/atau olahraga pada tingkat satuan pendidikan. (4) Ketentuan lebih lanjut mengenai pelaksanaan ayat (1). Pasal 51 Satuan dan/atau program pendidikan menetapkan kebijakan tatakelola pendidikan untuk menjamin efisiensi.doc 29 . (3) Satuan dan/atau program pendidikan memberikan penghargaan kepada peserta didik yang meraih prestasi puncak sesuai peraturan perundang-undangan. dan/atau program pendidikan yang lembaga representasi pemangku kepentingan pendidikan pada satuan dan/atau program pendidikan yang bersangkutan. provinsi.

dan peserta didik. menumbuhkan. dan sosial peserta didik pada masa emas pertumbuhannya dalam lingkungan bermain yang edukatif dan menyenangkan. atau bentuk lain yang sederajat. kritis. Sistem informasi pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) memberikan akses informasi administrasi pendidikan dan akses sumber pembelajaran kepada pendidik. inovatif.(2) Sistem informasi pendidikan satuan dan/atau program pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) merupakan subsistem dari sistem informasi pendidikan nasional. Raudathul Athfal (RA). BA atau bentuk lain yang sederajat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) memiliki program pembelajaran 1 (satu) tahun atau 2 (dua) tahun. dan mengembangkan seluruh potensi anak usia dini secara optimal sehingga terbentuk perilaku dan kemampuan dasar sesuai dengan tahap perkembangannya agar memiliki kesiapan untuk memasuki pendidikan selanjutnya. berkepribadian luhur. emosional. Paragraf 2 Bentuk dan Jenis Satuan Pendidikan Pasal 54 (1) PAUD pada jalur pendidikan formal berbentuk Taman Kanakkanak (TK). intelektual. b. kinestetis. BAB III PENYELENGGARAAN PENDIDIKAN FORMAL Bagian Kesatu Pendidikan Anak Usia Dini Paragraf 1 Fungsi dan Tujuan Pasal 53 (3) (1) PAUD berfungsi membina. sehat. membangun landasan bagi berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. percaya diri. (2) PAUD bertujuan: a. berakhlak mulia. dan menjadi warga negara yang demokratis dan bertanggung jawab. Bustanul Athfal (BA). berilmu. mandiri. tenaga kependidikan. kreatif.doc . 30 (2) 76461668. mengembangkan potensi kecerdasan spiritual. TK. cakap. RA.

(3)

TK, RA, BA atau bentuk lain yang sederajat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat diselenggarakan menyatu dengan SD, MI, atau bentuk lain yang sederajat. Paragraf 3 Penerimaan Peserta Didik Pasal 55

Peserta didik TK, RA, BA, atau bentuk lain yang sederajat berusia 4 (empat) tahun sampai dengan 6 (enam) tahun. Pasal 56 (1) (2) Penerimaan peserta didik pada satuan pendidikan anak usia dini dilakukan secara objektif, transparan, dan akuntabel. Penerimaan peserta didik pada satuan pendidikan anak usia dini dilakukan tanpa diskriminasi atas dasar pertimbangan gender, agama, etnis, status sosial, kemampuan ekonomi, dan kondisi fisik atau mental anak. Keputusan penerimaan calon peserta didik menjadi peserta didik dilakukan secara mandiri oleh rapat dewan guru yang dipimpin oleh kepala satuan pendidikan. Paragraf 4 Program Pembelajaran Pasal 57 (1) Program pembelajaran TK, RA, BA dan bentuk lain yang sederajat dikembangkan untuk mempersiapkan peserta didik memasuki SD, MI, atau bentuk lain yang sederajat. Program pembelajaran TK, RA, BA dan bentuk lain yang sederajat dilaksanakan dalam konteks bermain dan dapat dikelompokan dalam: a. bermain dalam rangka pembelajaran agama dan ahlak mulia; b. bermain dalam kepribadian; rangka pembelajaran sosial dan

(3)

(2)

c. bermain dalam rangka pembelajaran estetika; d. bermain dalam rangka pembelajaran jasmani, olahraga dan kesehatan; dan e. bermain dalam rangka pembelajaran pengenalan pengetahuan dan teknologi. (3) orientasi dan

Semua permainan pembelajaran sebagaimana dimaksud pada
31

76461668.doc

ayat (2) dirancang dan diselenggarakan: a. secara interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang, dan mendorong kreativitas serta kemandirian, b. sesuai dengan tahap pertumbuhan fisik perkembangan mental anak serta kebutuhan kepentingan terbaik anak; dan dan

c. dengan memperhatikan perbedaan bakat, minat, dan kemampuan masing-masing anak; d. dengan mengintegrasikan kebutuhan anak kesehatan, gizi, dan stimulasi psikososial; dan terhadap

e. dengan memperhatikan latar belakang ekonomi, sosial, dan budaya anak. Bagian Kedua Pendidikan Dasar Paragraf 1 Fungsi dan Tujuan Pasal 58 (1) Pendidikan dasar tingkat SD/MI atau yang sederajat berfungsi: a. menanamkan dan mengamalkan nilai-nilai keimanan, ahlak mulia, dan kepribadian luhur; b. menanamkan dan mengamalkan nilai-nilai kebangsaan dan cinta tanah air; c. memberikan dasar-dasar kemampuan intelektual dalam bentuk kemampuan dan kecakapan membaca, menulis, dan berhitung; d. melatih dan merangsang kepekaan dan kemampuan mengapresiasi serta mengekspresikan keindahan, kehalusan, dan harmoni; e. menumbuhkan minat pada olah raga, kesehatan, dan kebugaran jasmani; dan f. mengembangkan kesiapan fisik dan mental untuk melanjutkan pendidikan ke SMP/MTs atau yang sederajat. (2) Pendidikan dasar tingkat SMP/MTs atau yang sederajat berfungsi: a. Mengembangkan, menghayati, dan mengamalkan nilainilai keimanan, ahlak mulia, dan kepribadian luhur yang telah dikenalinya; b. Mengembangkan, menghayati, dan mengamalkan nilainilai kebangsaan dan cinta tanah air yang telah dikenalinya;
76461668.doc

32

c. mempelajari dasar-dasar ilmu pengetahuan dan secara terbatas mulai mengenali teknologi; d. melatih dan mengembangkan kepekaan dan kemampuan mengapresiasi serta mengekspresikan keindahan, kehalusan, dan harmoni; e. mengembangkan bakat dan kemampuan di bidang olah raga, baik untuk kesehatan dan kebugaran jasmani maupun prestasi; dan f. mengembangkan kesiapan fisik dan mental untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang pendidikan menengah dan/atau untuk hidup mandiri di masyarakat. (3) Pendidikan dasar bertujuan membangun landasan bagi berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang: a. beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, dan berkepribadian luhur; b. berilmu, cakap, kritis, kreatif, dan inovatif; c. sehat, mandiri, dan percaya diri; dan d. toleran, peka sosial, demokratis, dan bertanggung jawab. Paragraf 2 Bentuk Satuan Pendidikan Pasal 59 (1) Pendidikan dasar kelas 1 (satu) sampai dengan kelas 6 (enam) adalah Sekolah Dasar (SD), Madrasah Ibtidaiyah (MI), atau bentuk lain yang sederajat. Pendidikan dasar kelas 7 (tujuh) sampai dengan kelas 9 (sembilan) adalah Sekolah Menengah Pertama (SMP), Madrasah Tsanawiyah (MTs), atau bentuk lain yang sederajat. Paragraf 3 Penerimaan Peserta Didik Pasal 60 (1) Peserta didik pada SD/MI atau bentuk lain yang sederajat sekurang-kurangnya berusia 6 (enam) tahun.

(2)

(2) Pengecualian terhadap ketentuan pada ayat (1) dapat dilakukan atas dasar rekomendasi tertulis dari psikolog. (3) Satuan pendidikan SD/MI atau bentuk lain yang sederajat wajib menerima warga negara berusia 7 (tujuh) sampai 12 (dua belas) tahun sebagai peserta didik sampai dengan batas daya
33

76461668.doc

tampungnya. (4) Penerimaan peserta didik kelas 1 (satu) SD/MI atau bentuk lain yang sederajat tidak didasarkan pada hasil tes kemampuan membaca, menulis, dan berhitung, atau bentuk seleksi lainnya. Pasal 61 (1) Pemilihan peserta didik pada SD/MI yang diselenggarakan oleh Pemerintah atau pemerintah daerah didasarkan pada urutan ketuaan usia calon peserta didik apabila jumlah calon peserta didik melebihi daya tampung satuan pendidikan. Jika usia calon peserta didik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) sama, maka penentuan peserta didik didasarkan pada urutan kedekatan tempat tinggal peserta didik dengan satuan pendidikan. Jika usia dan/atau urutan kedekatan tempat tinggal peserta didik dengan satuan pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) sama, maka peserta didik yang mendaftar lebih awal diprioritaskan. Pasal 62 (1) Peserta didik pada SMP/MTs atau bentuk lain yang sederajat sudah menyelesaikan pendidikannya pada SD, MI, Paket A, atau bentuk lain yang sederajat. Satuan pendidikan SMP/MTs atau bentuk lain yang sederajat wajib menerima warga negara berusia 13 (tiga belas) sampai 15 (lima belas) tahun sebagai peserta didik sampai dengan batas daya tampungnya. Pasal 63 (1) Satuan pendidikan SD/MI dan SMP/MTs yang memiliki jumlah calon peserta didik melebihi daya tampungnya wajib melaporkan kelebihan calon peserta didik tersebut kepada pemerintah kabupaten/kota yang bersangkutan. Pemerintah kabupaten/kota wajib menyalurkan kelebihan calon peserta didik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) pada satuan pendidikan dasar lain. Pasal 64 (1) Peserta didik jalur nonformal dan informal dapat diterima di SD, MI, atau bentuk lain yang sederajat tidak pada awal kelas 1 (satu) setelah lulus tes kelayakan dan penempatan yang diselenggarakan oleh satuan pendidikan formal.

(2)

(3)

(2)

(2)

76461668.doc

34

sosial. b. atau bentuk lain yang sederajat memberikan bantuan penyesuaian akademik. dapat menunjukkan ijazah atau dokumen lain yang membuktikan bahwa yang bersangkutan telah menyelesaikan pendidikan dasar yang memberikan kompetensi lulusan setara SD. atau bentuk lain yang sederajat sesudah awal kelas 7 (tujuh) setelah: a.(2) Peserta didik jalur nonformal dan informal dapat diterima di SMP. MI. MTs. (5) (6) Peserta didik pendidikan dasar setara SD yang mengikuti sistem dan/atau standar pendidikan negara lain dapat diterima di SMP/MTs atau bentuk lain yang sederajat pada awal tahun kelas 7 (tujuh) setelah: a. ayat (4). lulus tes kelayakan dan penempatan yang diselenggarakan oleh satuan pendidikan formal yang bersangkutan. tidak benar. Satuan pendidikan SD. SMP. MTs. dan/atau tidak jujur.doc 35 . (8) 76461668. dan ayat (6) huruf b apabila setelah dilakukan pemeriksaan oleh Inspektorat Jenderal Departemen atas instruksi Menteri terbukti bahwa keputusan tersebut melanggar peraturan perundang-undangan. ayat (5). lulus tes kelayakan dan penempatan yang diselenggarakan oleh satuan pendidikan yang ingin dimasukinya. Peserta didik jalur nonformal dan informal dapat diterima di SMP. atau bentuk lain yang sederajat sejak awal kelas 7 (tujuh) setelah lulus ujian kesetaraan Paket A. menunjukkan ijazah atau dokumen lain yang membuktikan bahwa yang bersangkutan telah menyelesaikan pendidikan dasar setara SD. MTs. MI. atau b. lulus ujian kesetaraan Paket A. MTs. (3) (4) Peserta didik pendidikan dasar setara SD di negara lain dapat pindah ke SD. (7) Menteri dapat membatalkan keputusan satuan pendidikan tentang syarat sebagaimana dimaksud pada ayat (3) huruf b. Peserta didik pendidikan dasar setara SMP di negara lain dapat pindah ke SMP. dan/atau mental yang diperlukan oleh peserta didik pindahan dari satuan pendidikan formal lain atau jalur pendidikan lain. atau bentuk lain yang sederajat di Indonesia dengan syarat: a. lulus ujian kesetaraan Paket A. atau bentuk lain yang sederajat di Indonesia setelah lulus tes kelayakan dan penempatan yang diselenggarakan oleh satuan pendidikan yang ingin dimasukinya. dan b.

menghayati. kehalusan. etnis. meningkatkan. agama. c. menyalurkan bakat dan kemampuan di bidang olah raga. kemampuan ekonomi. meningkatkan. kecuali bagi lulusan satuan pendidikan sebagaimana dimaksud pada Pasal 64 ayat (2) dan ayat (6). dan harmoni. status sosial. e. baik untuk kesehatan dan kebugaran jasmani maupun prestasi. meningkatkan kepekaan dan kemampuan mengapresiasi serta mengekspresikan keindahan. dan kondisi fisik atau mental peserta didik. dan f. mempelajari ilmu pengetahuan dan teknologi.doc (5) 36 . b. Di samping memenuhi ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (4). transparan. meningkatkan kesiapan fisik dan mental untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang pendidikan tinggi dan/atau untuk hidup mandiri di masyarakat. d. satuan pendidikan dapat melakukan tes bakat skolastik untuk seleksi penerimaan peserta didik baru di kelas 7 (tujuh). Bagian Ketiga Pendidikan Menengah Paragraf 1 Fungsi dan Tujuan Pasal 66 (1) Pendidikan menengah umum berfungsi: a.(9) Ketentuan lebih lanjut mengenai pelaksanaan ayat (1) sampai dengan ayat (6) diatur dengan peraturan Menteri. (3) Keputusan penerimaan calon peserta didik menjadi peserta didik dilakukan secara mandiri oleh rapat dewan guru yang dipimpin oleh kepala satuan pendidikan. dan kepribadian luhur. dasar Penerimaan peserta didik pada satuan pendidikan dasar dilakukan tanpa diskriminasi atas dasar pertimbangan gender. dan akuntabel. (4) Seleksi penerimaan peserta didik baru di kelas 7 (tujuh) pada satuan pendidikan dasar setingkat SMP didasarkan pada hasil Ujian Nasional. menghayati. dan mengamalkan nilai-nilai kebangsaan dan cinta tanah air. dan mengamalkan nilai-nilai keimanan. ahlak mulia. Pasal 65 (1) (2) Penerimaan peserta didik pada satuan pendidikan dilakukan secara objektif. 76461668.

Pendidikan menengah terdiri atas 3 (tiga) tingkatan kelas. dan d. meningkatkan kesiapan fisik dan mental untuk hidup mandiri di masyarakat dan/atau melanjutkan pendidikan ke jenjang pendidikan tinggi. dan mengamalkan nilai-nilai kebangsaan dan cinta tanah air. c. mandiri. cakap. kreatif. kritis. sehat. meningkatkan kepekaan dan kemampuan mengapresiasi serta mengekspresikan keindahan. toleran. meningkatkan. serta menjadi warga negara yang taat hukum dalam konteks kehidupan global yang senantiasa berubah. c. atau bentuk lain yang sederajat. beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. dan harmoni. demokratis. e. b. menghayati. dan Madrasah Aliyah Kejuruan (MAK). dan inovatif. peka sosial. ahlak mulia. dalam rangka mengantarkan peserta didik agar mampu hidup produktif dan beretika dalam masyarakat majemuk. Sekolah Menengah Kejuruan (SMK). dan mengamalkan nilai-nilai keimanan. kehalusan. membekali peserta didik dengan kemampuan ilmu pengetahuan dan teknologi serta kecakapan kejuruan paraprofesi sesuai dengan kebutuhan masyarakat. meningkatkan.(2) Pendidikan menengah kejuruan berfungsi: a. Pasal 67 Pendidikan menengah bertujuan membentuk peserta didik menjadi insan yang: a. menyalurkan bakat dan kemampuan di bidang olah raga. dan bertanggung jawab. baik untuk kesehatan dan kebugaran jasmani maupun prestasi. b. menghayati. dan f. Paragraf 2 Bentuk Satuan Pendidikan Pasal 68 (1) Pendidikan menengah berbentuk Sekolah Menengah Atas (SMA). berakhlak mulia.doc . dan kepribadian luhur. dan berkepribadian luhur. berilmu. Madrasah Aliyah (MA). yaitu 37 (2) 76461668. d. dan percaya diri.

bidang studi keahlian teknologi dan rekayasa. atau bentuk lain yang sederajat berbentuk bidang studi keahlian. yang diperlukan masyarakat. Setiap bidang studi keahlian sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat terdiri atas 1 (satu) atau lebih program studi keahlian. c. keagamaan. kelas 12 (dua belas). Setiap program studi keahlian sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dapat terdiri dari satu atau lebih kompetensi keahlian. Program studi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) terdiri atas: a. bidang studi keahlian bisnis dan manajemen. d. c. atau e. bidang studi keahlian teknologi informasi dan komunikasi. kelas 11 (sebelas). d. pengetahuan alam. kelas 11 (sebelas). b.doc (2) program studi ilmu program studi ilmu program studi bahasa. bidang studi keahlian seni. 76461668. (3) SMK dan MAK dapat terdiri atas 4 (empat) tingkatan kelas. yaitu kelas 10 (sepuluh). f. (3) Ketentuan lebih lanjut tentang pelaksanaan ayat (1) dan ayat (2) diatur dengan peraturan Menteri. Pasal 70 (1) (2) (3) (4) Penjurusan pada SMK/MAK. pengetahuan sosial. sesuai dengan tuntutan dunia kerja. dan kelas 12 (dua belas). program studi program studi lain 38 . e. Pasal 69 (1) Penjurusan pada SMA/MA atau bentuk lain yang sederajat berbentuk program studi yang memfasilitasi kebutuhan pembelajaran serta kompetensi yang diperlukan peserta didik untuk melanjutkan pendidikan pada jenjang pendidikan tinggi. dan pariwisata. b. dan kelas 13 (tiga belas). Bidang studi keahlian sebagaimana dimaksud pada ayat (1) terdiri atas: a.kelas 10 (sepuluh). bidang studi keahlian kesehatan. bidang studi keahlian agribisnis dan agroteknologi. kerajinan.

lulus tes kelayakan dan penempatan yang diselenggarakan oleh satuan pendidikan formal yang bersangkutan. atau bentuk lain yang sederajat.doc .g. bidang studi keahlian lain yang diperlukan masyarakat. (5) Peserta didik pendidikan menengah setara SMA/SMK di negara lain dapat pindah ke SMA/MA/SMK/MAK atau bentuk lain yang sederajat di Indonesia dengan syarat: a. dapat menunjukkan ijazah atau dokumen lain yang membuktikan bahwa yang bersangkutan telah menyelesaikan pendidikan dasar yang memberikan kompetensi lulusan setara SMP. atau b. apabila setelah dilakukan 39 76461668. MTs. (2) Peserta didik jalur nonformal dan informal dapat diterima di SMA/ MA/SMK/MAK atau bentuk lain yang sederajat sejak awal kelas 10 (sepuluh) setelah lulus ujian kesetaraan Paket B. menunjukkan ijazah atau dokumen lain yang membuktikan bahwa yang bersangkutan telah menyelesaikan pendidikan dasar setara SMP. (4) Peserta didik pendidikan dasar setara SMP yang mengikuti sistem dan/atau standar pendidikan negara lain dapat diterima di SMA/MA/SMK/MAK atau bentuk lain yang sederajat pada awal tahun kelas 10 (sepuluh) setelah: a. lulus tes kelayakan dan penempatan diselenggarakan oleh satuan pendidikan yang dimasukinya. Paket B. (5) Ketentuan lebih lanjut tentang pelaksanaan ayat (1) sampai dengan ayat (4) diatur dengan peraturan Menteri. dan b. (6) yang ingin Menteri dapat membatalkan keputusan satuan pendidikan tentang syarat sebagaimana dimaksud pada ayat (3) huruf b. (3) Peserta didik jalur nonformal dan informal dapat diterima di di SMA/MA/SMK/MAK atau bentuk lain yang sederajat sesudah awal kelas 10 (sepuluh) setelah: a. Paragraf 3 Penerimaan Peserta Didik Pasal 71 (1) Peserta didik pada SMA/MA/SMK/MAK atau bentuk lain yang sederajat sudah menyelesaikan pendidikannya pada SMP. b. dan ayat (5). lulus ujian kesetaraan Paket B. lulus ujian kesetaraan Paket B. ayat (4) huruf b.

satuan pendidikan dapat melakukan tes bakat skolastik untuk seleksi penerimaan peserta didik baru di kelas 10 (sepuluh). Bagian Kempat Pendidikan Tinggi Paragraf 1 76461668. (8) (3) (4) (5) (6) Penerimaan peserta didik baru dapat dilaksanakan pada setiap semester bagi satuan pendidikan yang menyelenggarakan sistem kredit semester. Penerimaan peserta didik pada satuan pendidikan menengah dilakukan tanpa diskriminasi atas pertimbangan gender. kemampuan ekonomi. Keputusan penerimaan calon peserta didik menjadi peserta didik dilakukan secara mandiri oleh rapat dewan guru yang dipimpin oleh kepala satuan pendidikan. agama. Di samping memenuhi ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (4). tidak benar. transparan. dan/atau tidak jujur. status sosial. dan akuntabel. kecuali bagi lulusan satuan pendidikan sebagaimana dimaksud pada Pasal 71 ayat (2) dan ayat (4).pemeriksaan oleh Inspektorat Jenderal Departemen atas instruksi Menteri terbukti bahwa keputusan tersebut melanggar peraturan perundang-undangan. Ketentuan lebih lanjut mengenai pelaksanaan ayat (1) sampai dengan ayat (5) diatur dengan peraturan Menteri. (7) Satuan pendidikan SMA/MA/SMK/MAK atau bentuk lain yang sederajat memberikan bantuan penyesuaian akademik. Pasal 72 (1) (2) Penerimaan peserta didik pada satuan pendidikan menengah dilakukan secara objektif. dan kondisi fisik atau mental. etnis. dan/atau mental yang diperlukan oleh peserta didik pindahan dari satuan pendidikan formal lain atau jalur pendidikan lain. Seleksi penerimaan peserta didik baru di kelas 10 (sepuluh) pada satuan pendidikan menengah didasarkan pada hasil Ujian Nasional. sosial.doc 40 .

toleran. beriman dan bertakwa berakhlak mulia. berilmu. dharma penelitian untuk menemukan. dan kepribadian manusia melalui: a. taat hukum. produktif. dan bertanggung jawab. mampu beradaptasi dan berinteraksi positif dalam masyarakat majemuk dan global yang dinamis. dan olahraga dalam rangka pemberdayaan masyarakat. kepada Tuhan Yang berkepribadian luhur. Maha Esa. dan olahraga. atau universitas.doc 41 . menerapkan. inovatif. Paragraf 3 76461668. sarjana.Fungsi dan Tujuan Pasal 73 (1) Pendidikan tinggi berfungsi mengembangkan atau membentuk kemampuan. serta d. pendidikan profesi. seni. dan c. sekolah tinggi. (2) Pendidikan tinggi bertujuan membentuk insan yang: a. Bentuk. teknologi. ilmu pengetahuan. dharma pengabdian kepada masyarakat untuk menerapkan nilai-nilai luhur. beretika. dan/atau pendidikan vokasi. b. dan/atau mengadaptasi nilai-nilai luhur. percaya diri dan berjiwa enterprenur. kreatif. cakap. mengembangkan. seni. mengadopsi. dalam rangka membentuk manusia berwawasan luas. demokratis. dan menjadi agen pembaharu untuk mewujudkan masyarakat madani. dan menyebarluaskan nilai-nilai luhur. dan Program Pendidikan Pasal 74 (1) Perguruan tinggi dapat menyelenggarakan pendidikan akademik. dharma pendidikan untuk menguasai. dan c. ilmu pengetahuan. institut. Paragraf 2 Jenis. ilmu pengetahuan. watak. teknologi. spesialis. seni. (2) Perguruan tinggi dapat berbentuk akademi. b. dan sehat. (3) Perguruan tinggi dapat menyelenggarakan program pendidikan diploma. dan olahraga. mandiri. politeknik. teknologi. magister. dan/atau doktor. peka sosial. kritis.

Penyelenggaraan pendidikan pada tingkat operasional dilaksanakan oleh program studi yang menurut jenisnya dapat berupa pendidikan akademik.Organisasi Perguruan Tinggi Pasal 75 Perguruan tinggi memiliki unsur-unsur pelaksana administrasi. Fakultas berfungsi mengkoordinasikan pendidikan akademik. penelitian.doc 42 . dan penunjang. dan doktor. dan/atau doktor. dan fungsi administrasi lainnya sesuai dengan kebutuhan. spesialis. sarjana. magister. hukum. Ketentuan lebih lanjut mengenai ayat (1) sampai dengan ayat (5) diatur dalam anggaran dasar dan anggaran rumah tangga perguruan tinggi. dan pengabdian kepada masyarakat. keuangan. Penyelenggaraan penelitian dan/atau pengabdian kepada masyarakat pada tingkat operasional dilaksanakan oleh sivitas akademika baik secara individual maupun berkelompok melalui program studi. kepersonaliaan. Setiap program studi memiliki kurikulum yang dikembangkan sesuai dengan tujuan program studi dan peraturan perundangundangan. Pasal 77 (1) Unsur pelaksana administrasi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 75 menyelenggarakan pelayanan teknis dan administratif yang meliputi fungsi administrasi akademik. spesialis. kemahasiswaan. Pelayanan teknis dan administratif sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilaksanakan berbasis teknologi informasi dan komunikasi. atau fakultas. teknologi. jurusan. Pasal 76 (1) Unsur pelaksana akademik sebagaimana dimaksud dalam Pasal 75 merupakan unit penyelenggara pendidikan. komunikasi. sarjana. pusat penelitian. (2) (3) (4) (5) (6) (2) 76461668. pelaksana akademik. profesi dan/atau vokasi dalam 1 (satu) atau kelompok cabang ilmu pengetahuan. yang mencakup program pendidikan diploma. profesi dan/atau vokasi. pusat pengabdian masyarakat. dan/atau olah raga tertentu yang mencakup program pendidikan diploma. perlengkapan. seni. magister.

Mata kuliah yang diambil oleh peserta didik program spesialis dapat diperhitungkan sebagai mata kuliah terkait pada program magister atau doktor terkait. (2) 76461668. Pasal 79 (2) (3) (4) (5) (6) (7) (1) Unsur penunjang pada perguruan tinggi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 75 merupakan perangkat pelengkap di bidang pendidikan. Ketentuan lebih lanjut mengenai pelaksanaan ayat (4) dan ayat (5) diatur dengan peraturan Menteri. atau sebaliknya. spesialis. spesialis. Mata kuliah yang diambil oleh peserta didik program profesi dapat diperhitungkan sebagai mata kuliah terkait pada program magister profesi terkait. unit layanan penjaminan mutu pendidikan. dan/atau doktor sebagaimana dimaksud pada ayat (1) yang bersifat lintas disiplin yang melibatkan lebih dari satu fakultas dikelola oleh unit organisasi yang dibentuk atau ditunjuk oleh pemimpin perguruan tinggi. Program magister.(3) Jenis. profesi. b. penelitian dan pengabdian kepada masyarakat yang ada di luar fakultas dan jurusan. Program magister. Organisasi dan tata kerja penyelenggaraan program studi tingkat pascasarjana sebagaimana dimaksud pada ayat (1). unit layanan penjaminan mutu penelitian. profesi. fungsi. dan mekanisme kerja unsur pelaksana administrasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dalam anggaran dasar dan anggaran rumah tangga perguruan tinggi.doc 43 . dan/atau doktor. dan/atau doktor sebagaimana dimaksud pada ayat (1) yang bersifat monodisiplin atau lintas disiplin dalam satu fakultas dikelola oleh fakultas yang terkait. Pasal 78 (1) Program studi tingkat pascasarjana dibentuk untuk menyelenggarakan dan melaksanakan program magister. atau sebaliknya. spesialis. jumlah. tugas pokok. ayat (2) dan ayat (3) diatur dalam anggaran dasar dan/atau anggaran rumah tangga perguruan tinggi. profesi. Unsur penunjang sebagaimana dimaksud pada ayat (1) sekurang –kurangnya terdiri atas: a.

memiliki ijazah atau surat keterangan lulus pendidikan 1 (satu) jenjang atau tingkat pendidikan di bawahnya. memenuhi persyaratan masuk yang ditetapkan oleh perguruan tinggi yang bersangkutan. magister. f. g. dan kesehatan lingkungan. perpustakaan. kenyamanan. penerbitan. memiliki ijazah atau surat keterangan lulus pendidikan menengah atau yang sederajat. poliklinik. laboratorium/bengkel/studio. sarana dan prasarana kesenian. (2) Persyaratan untuk menjadi mahasiswa pada program vokasi adalah: a. dan doktor adalah: a.doc 44 . penjaminan mutu pengabdian kepada e. kedudukan. fungsi dan mekanisme kerja dari unsur-unsur penunjang akademik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) diatur dalam anggaran dasar dan anggaran rumah tangga perguruan tinggi. sarana dan prasarana olah raga. dan 76461668. dan unit lain yang dipandang perlu. (3) Unsur penunjang sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat dilengkapi dengan rumah sakit pendidikan. tugas pokok.c. apotik. dan h. unit layanan masyarakat. keindahan. pusat jejaring teknologi informasi dan komunikasi. toko buku. Lingkungan kampus ditata dengan mempertimbangkan faktor keamanan. (4) (7) Paragraf 3 Penerimaan Mahasiswa Pasal 80 (1) Persyaratan untuk menjadi mahasiswa pada program sarjana. d. Jenis dan jumlah. unit layanan bimbingan dan konseling. dan b.

ditetapkan oleh Persyaratan untuk menjadi mahasiswa pada program profesi adalah: a. dan b. memenuhi persyaratan masuk yang ditetapkan oleh perguruan tinggi yang bersangkutan. Penerimaan bersyarat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dipenuhi selambat-lambatnya dalam waktu 6 (enam) bulan. Penerimaan mahasiswa baru pada perguruan tinggi dilakukan secara objektif. Perguruan tinggi menetapkan persyaratan kelayakan penerimaan mahasiswa baru pada setiap program studi yang diselenggarakannya. memiliki ijazah atau surat keterangan lulus pendidikan 1 (satu) jenjang atau tingkat pendidikan di bawahnya. dan akuntabel. Tes seleksi penerimaan mahasiswa baru program sarjana dan program vokasi pada perguruan tinggi tidak menduplikasi ujian nasional pendidikan menengah. transparan. (4) Persyaratan untuk menjadi mahasiswa pada program spesialis adalah: a. Pasal 82 (1) Perguruan tinggi dapat melakukan penerimaan bersyarat mahasiswa baru untuk calon mahasiswa yang telah memenuhi sebagian besar persyaratan penerimaan. dan b.b. memiliki ijazah atau surat keterangan lulus program pendidikan sarjana atau diploma IV. etnis. Penerimaan mahasiswa baru perguruan tinggi dilakukan tanpa diskriminasi atas pertimbangan gender.doc . kemampuan ekonomi. Pasal 81 (1) (2) Perguruan tinggi dapat menyelenggarakan seleksi penerimaan mahasiswa baru pada setiap semester. dan kondisi fisik atau mental. (3) memenuhi persyaratan masuk yang perguruan tinggi yang bersangkutan. 45 (3) (4) (5) (2) 76461668. memenuhi persyaratan masuk yang ditetapkan oleh perguruan tinggi yang bersangkutan. agama. status sosial.

Pasal 84 (1) Seorang calon mahasiswa secara resmi menjadi mahasiswa perguruan tinggi setelah menandatangani perjanjian dengan perguruan tinggi yang memuat secara jelas hak-hak dan kewajiban mahasiswa yang diatur dalam anggaran dasar atau anggaran rumah tangga perguruan tinggi. (2) (2) Pelanggaran terhadap perjanjian sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat berakibat dikeluarkannya mahasiswa yang bersangkutan dari perguruan tinggi.doc (2) Pembelajaran dapat dilakukan dalam bentuk diskusi. lokakarya. 46 . Paragraf 4 Sistem Pembelajaran Pasal 86 (1) Pendidikan tinggi diselenggarakan melalui proses pembelajaran yang berpusat pada mahasiswa sebagai subjek pembelajaran dalam rangka mengembangkan kemampuan kognitif. simposium. seminar. Pasal 85 Menteri dapat membatalkan keputusan perguruan tinggi tentang penerimaan mahasiswa baru apabila setelah dilakukan pemeriksaan oleh Inspektorat Jenderal Departemen atas instruksi Menteri terbukti bahwa keputusan tersebut melanggar peraturan perundangundangan. kuliah. Pasal 83 (1) Pengumuman penerimaan mahasiswa baru program sarjana dan program vokasi yang bersifat final pada perguruan tinggi dilakukan setelah pengumuman hasil ujian nasional pendidikan menengah tahun ajaran sebelumnya. afektif.(3) Ketentuan lebih lanjut mengenai penerimaan bersyarat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dalam anggaran rumah tangga perguruan tinggi. 76461668. tidak benar. dan kemampuan konfluen mahasiswa. praktikum. dan/atau tidak jujur. psikomotorik. Pengumuman penerimaan mahasiswa baru program sarjana dan program vokasi yang bersyarat sebagaimana dimaksud dalam Pasal 82 dapat dilakukan sebelum pengumuman hasil ujian nasional pendidikan menengah tahun ajaran sebelumnya.

atau lebih dari 30% (tiga puluh persen) program studinya berakreditasi dari badan akreditasi negara anggota OECD. Pelaksanaan ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1). Pasal 87 (1) Pendidikan tinggi diselenggarakan dengan menerapkan Sistem Kredit Semester (SKS) yang bobot belajarnya dinyatakan dalam satuan kredit semester (sks).penelitian. Kampus induk dan kampus lainnya sebagaimana dimaksud pada ayat (2) terhubung dengan sistem informasi berbasis teknologi informasi dan komunikasi. (2) (3) (4) (5) (3) (4) (5) 76461668. pengabdian kepada masyarakat dan/atau kegiatan lainnya dengan mengacu pada prinsip otonomi keilmuan.doc 47 . dan penilaian pendidikan pada kampus lain sekurang-kurangnya sama dengan kampus induk. yang pelaksanaannya diselenggarakan di kampus induk dan kampus lain. Sistem multikampus sebagaimana dimaksud pada ayat (1) merupakan sistem pengelolaan perguruan tinggi yang menerapkan 1 (satu) sistem pendidikan tinggi secara utuh. kompetensi lulusan. sarana dan prasarana. Semester pendek sebagaimana dimaksud pada ayat (3) sekurang-kurangnya diselenggarakan selama 8 (delapan) minggu. Isi kurikulum. Perguruan tinggi dapat menyelenggarakan semester pendek antara semester genap dan ganjil. proses pembelajaran. dan ayat (4) diatur oleh masingmasing perguruan tinggi dalam anggaran dasar dan/atau anggaran rumah tangga. pembiayaan. Fakultas yang lebih dari 75% (tujuh puluh lima persen) program studinya berakreditasi A dari Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi. ayat (3). tenaga pendidik dan tenaga kependidikan. Pasal 88 (1) (2) Pengelolaan pembelajaran pada perguruan tinggi dapat diselenggarakan melalui sistem multikampus. pengelolaan. ayat (2). dapat menyelenggarakan program studi di kampus lain. Tahun akademik dibagi dalam 2 (dua) semester yang masing-masing terdiri atas 16 (enam belas) minggu.

mengawasi. memenuhi seluruh persyaratan program sarjana atau diploma empat kependidikan sesuai dengan peraturan perundang-undangan. b.doc 48 . Pasal 82 ayat (2). (5) Ketentuan sebagaimana diatur dalam Pasal ini berlaku sampai berakhirnya masa peralihan sebagaimana diatur dalam UndangUndang Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen. c.Pasal 89 (1) Perguruan tinggi dapat menyelenggarakan program studi sarjana atau diploma empat kependidikan khusus bagi guru tetap dalam jabatan yang belum memiliki ijazah sarjana atau diploma empat dengan program sarjana atau diploma empat kependidikan khusus bagi guru tetap dalam jabatan. dan memfasilitasi penyelenggaraan program sebagaimana dimaksud pada ayat (2) sehingga guru tetap dalam jabatan yang bersangkutan memperoleh kualifikasi akademik sarjana atau diploma empat kependidikan sesuai peraturan perundang-undangan. Pasal 90 (1) Perguruan tinggi dapat menjalin kerja sama akademik dan/atau non-akademik dengan perguruan tinggi lain. (3) Izin sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf a diberikan oleh Departemen setelah memperoleh jaminan dari pemerintah daerah kabupaten/kota yang bersangkutan untuk bertanggung jawab melindungi. (4) Menteri dapat membatalkan izin program sebagaimana dimaksud pada ayat (2) apabila setelah dilakukan pemeriksaan oleh Inspektorat Jenderal Departemen atas instruksi Menteri terbukti bahwa pelaksanaan program yang bersangkutan telah melanggar peraturan perundang-undangan. (2) Program sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diselenggarakan sebagai berikut: a. atau pihak lain yang dipandang perlu. dapat dilaksanakan di pusat kegiatan Kelompok Kerja Guru atau Musyawarah Guru Mata Pelajaran. dilaksanakan oleh perguruan tinggi yang memiliki program studi sarjana atau diploma empat kependidikan berakreditasi dari Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi dan telah memperoleh izin untuk menyelenggarakan program sarjana atau diploma empat kependidikan khusus bagi guru tetap dalam jabatan dari Departemen. 76461668. dunia usaha.

d. jasa dan royalti hak atas kekayaan intelektual. b. inovasi. b. produktifitas. j. 49 76461668. kontrak manajemen. d. (4) Kerja sama non-akademik sebagaimana yang dimaksud pada ayat (1) dapat berbentuk: a. mutu. program kembaran. (5) Semua bentuk kerjasama sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dengan pihak asing dilaporkan kepada Departemen. g. e. (7) Menteri dapat membatalkan kerjasama sebagaimana dimaksud pada ayat (1) apabila setelah dilakukan pemeriksaan oleh Inspektorat Jenderal Departemen atas instruksi Menteri terbukti bahwa kerjasama yang bersangkutan telah melanggar peraturan perundang-undangan. Paragraf 5 Kebebasan Akademik dan Otonomi Keilmuan Pasal 91 (1) Pimpinan perguruan tinggi mengupayakan dan menjamin agar setiap sivitas akademika perguruan tinggi melaksanakan kebebasan akademik dan kebebasan mimbar akademik secara mandiri sesuai dengan peraturan perundang-undangan. dan dilandasi oleh etika. dan relevansi pelaksanaan tri dharma perguruan tinggi. penerbitan jurnal ilmiah. h. penugasan dosen senior sebagai pembina pada perguruan tinggi yang membutuhkan pembinaan. pertukaran dosen dan/atau mahasiswa.doc . pendidikan. f. dan/atau bentuk-bentuk lain yang dianggap perlu. penyelenggaraan seminar bersama. e. kreatifitas.(2) Kerja sama perguruan tinggi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) bertujuan untuk meningkatkan efisiensi. (6) Ketentuan lebih lanjut mengenai kerjasama sebagaimana yang dimaksud pada ayat (1) diatur dalam peraturan Menteri. pemanfaatan bersama berbagai sumberdaya. (3) Kerja sama akademik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat berbentuk: a. penelitian. pemagangan. pendayagunaan aset. efektifitas. usaha penggalangan dana. norma serta kaidah keilmuan. c. c. i. dan pengabdian kepada masyarakat. dan/atau bentuk-bentuk lain yang dianggap perlu. pengalihan dan/atau perolehan kredit.

melakukannya dengan cara yang tidak bertentangan dengan nilai-nilai agama. setiap individu sivitas akademika: a. simposium. atau ketua pusat pengabdian kepada masyarakat. ayat (2) dan ayat (3): a.doc . bertanggung jawab secara pribadi atas pelaksanaan dan hasilnya. ujian. ketua pusat penelitian. dan mengembangkan ilmu. (4) (5) Kebebasan mimbar akademik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) merupakan kebebasan sivitas akademika dalam menyebarluaskan hasil penelitian dan menyampaikan pandangan akademik dalam rangka pembelajaran sivitas akademika dan/atau masyarakat melalui kegiatan perkuliahan. ceramah. dan tidak melanggar hukum dan tidak mengganggu kepentingan umum. sesuai dengan peraturan perundang-undangan. dan d. serta akibatnya pada diri sendiri atau orang lain. norma. secara bertanggungjawab dan mandiri. mengupayakan agar kegiatan dan hasilnya bermanfaat bagi masyarakat. c. dan pertemuan ilmiah lainnya yang relevan. c. seminar. e. teknologi. dan pengabdian kepada masyarakat. dan kaidah akademik. sebagaimana (6) merupakan tanggung jawab setiap individu 50 76461668. Pelaksanaan kebebasan akademik sebagaimana dimaksud pada ayat (1).(2) Dalam melaksanakan kebebasan akademik dan mimbar akademik. diskusi. nilai-nilai etika. Kebebasan akademik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) merupakan kebebasan sivitas akademika dalam mendalami. penelitian. ayat (2). publikasi ilmiah. dan ayat (5): a. tidak mengganggu ketertiban umum. negara. dan kemanusiaan. dan taat etika. b. Pelaksanaan kebebasan mimbar akademik dimaksud pada ayat (1). seni. tidak menimbulkan keresahan masyarakat. menerapkan. b. serendah-rendahnya ketua program studi. berada di bawah tanggung jawab dan secara resmi dikoordinasikan oleh pimpinan perguruan tinggi. bangsa. d. (3) kebebasan mengupayakan agar kegiatan dan hasilnya dapat meningkatkan mutu akademik perguruan tinggi yang bersangkutan. baik di dalam maupun di luar kampus. dan/atau olah raga melalui kegiatan pendidikan. serta kaidah keilmuan.

seni. institut. hayati.sivitas akademika yang terlibat. sesuai dengan peraturan perundangundangan. dan/atau olah raga. dan c. b. norma. dalam menemukan. atau unit organisasi di dalam perguruan tinggi. Otonomi keilmuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) merupakan kemandirian dan kebebasan sivitas akademika suatu cabang ilmu pengetahuan. teknologi. Pelaksanaan otonomi keilmuan di perguruan tinggi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) diatur lebih lanjut oleh perguruan tinggi dalam anggaran rumah tangga perguruan tinggi. menambah dan/atau meningkatkan mutu kekayaan intelektual bangsa dan negara Indonesia. seni. melindungi dan mempertahankan kekayaan dan keragaman alami. dan/atau mempertahankan kebenaran menurut kaidah keilmuannya untuk menjamin keberlanjutan perkembangan cabang ilmu pengetahuan. dan/atau olah raga yang melekat pada kekhasan/keunikan cabang ilmu pengetahuan. mengungkapkan. Paragraf 6 Penelitian Pasal 93 (1) Universitas. dan/atau olah raga yang bersangkutan. dan sekolah tinggi wajib melaksanakan penelitian dasar. mengembangkan. dan budaya bangsa dan negara Indonesia. dan/atau olah raga dengan berpedoman pada otonomi keilmuan. memperkuat daya saing bangsa dan negara Indonesia.doc . teknologi. sosial. c. seni. menjadi tanggung jawab perguruan tinggi. seni. Pasal 92 (1) Sivitas akademika perguruan tinggi mengembangkan ilmu pengetahuan. teknologi. d. apabila perguruan tinggi atau unit organisasi tersebut secara resmi terlibat dalam pelaksanaannya. b. dan taat etika. dan/atau penelitian 51 (2) (3) 76461668. mimbar akademik melindungi dan mempertahankan kekayaan intelektual. serta kaidah keilmuan. (7) Kebebasan akademik dan kebebasan dimanfaatkan oleh perguruan tinggi untuk: a. teknologi. penelitian terapan.

apabila dilakukan oleh dosen untuk memenuhi dharma penelitian. teknologi. (2) (3) Dosen pada akademi dan politeknik wajib melaksanakan penelitian terapan dan/atau penelitian pengembangan. teknologi. (4) Kegiatan penelitian sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (3) dilaksanakan dengan mematuhi kaidah dan etika akademik sesuai dengan prinsip otonomi keilmuan. disetujui dosen pembimbing. b. dan/atau olah raga. dan/atau menguji ulang teori. (5) (6) Sekurang-kurangnya 1 (satu) dosen penguji sebagaimana dimaksud pada ayat (5) huruf b berasal dari program studi terkait berakreditasi sekurang-kurangnya B dari perguruan tinggi lain. diseminarkan dan dipublikasikan pada jurnal ilmiah dalam negeri berakreditasi atau jurnal internasional yang diakui Departemen. apabila dilakukan oleh mahasiswa untuk memenuhi persyaratan lulus program magister. mencari dan/atau menemukan kebaruan kandungan ilmu pengetahuan. apabila dilakukan oleh mahasiswa untuk memenuhi persyaratan lulus program doktor. konsep. prinsip. diuji secara tertutup dan terbuka di hadapan sekurang-kurangnya 5 (lima) penguji.doc 52 . (7) Sekurang-kurangnya 1 (satu) dosen penguji sebagaimana dimaksud pada ayat (5) huruf c berasal dari program studi terkait berakreditasi A dari perguruan tinggi lain. dan d. metode. dan/atau model yang sudah menjadi kandungan ilmu pengetahuan. apabila dilakukan oleh mahasiswa untuk memenuhi persyaratan lulus program sarjana. disetujui dosen pembimbing. (8) Penelitian sebagaimana dimaksud pada ayat (5) huruf b dan huruf c dipublikasikan pada jurnal ilmiah dalam negeri 76461668. dan diuji secara tertutup di hadapan sekurang-kurangnya 3 (tiga) dosen penguji. c. seni. seni. prosedur. disetujui dosen pembimbing. dan/atau olah raga. b.pengembangan. Penelitian sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) dilaksanakan untuk: a. Penelitian sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilaksanakan dengan memenuhi standar penjaminan mutu sebagai berikut: a.

doc .berakreditasi atau jurnal internasional yang diakui Departemen selambat-lambatnya 1 (satu) tahun setelah mahasiswa yang bersangkutan dinyatakan lulus dari program studi. atau pusat studi dapat menerbitkan jurnal ilmiah. Jurnal ilmiah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) memuat artikel hasil penelitian. dan perpustakaan Departemen. masing-masing sekurang-kurangnya 2 (dua) eksemplar. Perpustakaan Nasional. mahasiswa yang bersangkutan mengikutsertakan dosen pembimbing sebagai penulis pendamping. program studi. Setiap terbitan jurnal ilmiah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dikirimkan kepada pusat dokumentasi ilmiah pada Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia. (9) Dalam mempublikasikan pada jurnal ilmiah sebagaimana dimaksud pada ayat (5) huruf b dan huruf c. Jurnal ilmiah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diterbitkan secara tercetak dan secara elektronik melalui jejaring teknologi 53 (5) (6) (7) 76461668. fakultas. (12) Hasil penelitian perguruan tinggi yang dilaksanakan oleh dosen dimanfaatkan untuk memperkaya materi pembelajaran mata kuliah yang relevan. (3) Penelitian sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dapat berupa penelitian empirik maupun penelitian pustaka. apabila dilakukan oleh dosen untuk memenuhi dharma penelitian. (11) Hasil penelitian perguruan tinggi diakui sebagai penemuan baru setelah dimuat dalam jurnal ilmiah terakreditasi yang diakui Departemen dan/atau mendapatkan hak kekayaan intelektual. Jurnal ilmiah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat diterbitkan dalam bahasa resmi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Pasal 94 (1) (2) Perguruan tinggi. (10) Hasil penelitian sebagaimana dimaksud pada ayat (2) diseminarkan dan dipublikasikan pada jurnal terakreditasi yang diakui Departemen. (13) Prosedur penjaminan mutu penelitian perguruan tinggi diatur dalam anggaran rumah tangga perguruan tinggi. (4) Sekurang-kurangnya 60% (enam puluh persen) dari artikel hasil penelitian sebagaimana dimaksud pada ayat (2) merupakan hasil penelitian empirik.

(8) Departemen mengakreditasi jurnal ilmiah sebagaimana dimaksud pada ayat (1). dan masyarakat. atau pemadanian kehidupan masyarakat. dan masyarakat. masyarakat yang berdampak pada jiwa kepemimpinan mahasiswa dan masyarakat yang berdampak pada jiwa kewirausahaan mahasiswa dan c. dan d. (4) Pengabdian kepada masyarakat sebagaimana dimaksud pada ayat (1). baik secara individual maupun berkelompok. pemberdayaan pengembangan dosen.doc . kepekaan dan kepedulian sosial dan budaya. pemberdayaan masyarakat yang mendorong kemampuan bekerja sama dalam tim bagi mahasiswa. b.informasi dan komunikasi Departemen. keteladanan. Hasil pengabdian kepada masyarakat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) sampai dengan ayat (4) dimanfaatkan untuk pengayaan pembelajaran yang relevan. ayat (2). Paragraf 7 Pengabdian kepada Masyarakat Pasal 95 (1) (2) Perguruan tinggi wajib melaksanakan pengabdian kepada masyarakat. pemberdayaan masyarakat yang merangsang tumbuhnya kemandirian. dan ayat (3) merupakan penerapan hasil pendidikan dan/atau hasil penelitian dalam upaya pemberdayaan. Pengabdian kepada masyarakat diselenggarakan dan dilaksanakan berbasis pada dharma pendidikan dan penelitian atas dasar prinsip: a. dosen. Ketentuan lebih lanjut mengenai pelaksanaan pengabdian 54 (5) (6) 76461668. dosen. serta toleransi sosial dan budaya bagi mahasiswa. pemodernan. pemberdayaan pengembangan dosen. (3) Pelaksanaan kegiatan pengabdian kepada masyarakat sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dilaksanakan oleh dosen dan mahasiswa. kreatifitas.

76461668. (2) Sistem penjaminan mutu sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilaksanakan melalui: a.doc 55 . keterlibatan dosen dari perguruan tinggi lain dalam ujian tesis program magister dan disertasi program doktor sebagaimana dimaksud dalam Pasal 93. Paragraf 9 Penjaminan Mutu Hasil Belajar Pasal 97 (1) Penilaian hasil belajar mahasiswa dilakukan secara berkala melalui penilaian proses belajar. penilaian tugas terstruktur dan mandiri. ujian. Pasal 98 (1) Departemen mengembangkan suatu sistem penjaminan mutu hasil belajar program studi perguruan tinggi secara nasional. diatur dalam Paragraf 8 anggaran rumah tangga Pengalihan Kredit Pasal 96 (1) Perguruan tinggi dapat mengakui hasil belajar yang diperoleh mahasiswa pada perguruan tinggi lain atau satuan/program pendidikan nonformal untuk memenuhi persyaratan kelulusan program studi. dan jujur. Pelaksanaan ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dalam anggaran rumah tangga perguruan tinggi.kepada masyarakat perguruan tinggi. Penilaian hasil objektif. dan program magister yang tidak mensyaratkan tesis sebagaimana dimaksud pada huruf a. evaluasi berkala atas pencapaian kompetensi mahasiswa program diploma. b. belajar dilaksanakan secara (2) (2) (3) Ketentuan lebih lanjut mengenai pelaksanaan ayat (1) dan ayat (2) diatur dalam anggaran rumah tangga perguruan tinggi. dan/atau bentuk penilaian lainnya. transparan. program sarjana.

ditetapkan oleh organisasi profesi. ditetapkan oleh perguruan tinggi bersama-sama dengan organisasi profesi.doc 56 . Ketentuan lebih lanjut mengenai pelaksanaan evaluasi berkala diatur dalam peraturan Menteri. dilaksanakan atas dasar sampel. (2) (3) Penetapan persyaratan kelulusan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) diatur oleh perguruan tinggi yang bersangkutan. diterapkan pada soal ujian dan jawaban ujian mata kuliah inti program studi. diterapkan pada berakreditasi kurang dari B.(3) Evaluasi berkala sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf b dilaksanakan sebagai berikut: a. ditetapkan oleh perguruan tinggi setelah memperhatikan pertimbangan dari organisasi profesi. hasil evaluasi digunakan oleh Departemen untuk menetapkan hak menyelenggarakan ujian secara mandiri. dilaksanakan oleh penelaah sejawat. April 2008 (5) ==============================28 ================ Pasal 99 (1) Persyaratan kelulusan untuk pendidikan akademik dan pendidikan vokasi diatur oleh masing-masing perguruan tinggi. atau c. Paragraf 10 Gelar Lulusan Pendidikan Tinggi Pasal 81 76461668. Persyaratan kelulusan untuk pendidikan profesi ditetapkan dengan cara: a. program studi yang b. c. d. (4) Penelaah sejawat sebagaimana dimaksud pada ayat (3) huruf d berasal dari program studi sejenis berakreditasi sekurangkurangnya B dari perguruan tinggi lain. e. b.

vokasi. diikuti dengan inisial program studi atau bidang ilmu. gelar vokasi. ditulis di belakang nama yang berhak dengan mencantumkan singkatan A. yang berhak dengan (3) Gelar untuk pendidikan vokasi terdiri atas: a. diikuti dengan inisial program studi atau bidang ilmu. ditulis di depan nama mencantumkan singkatan Dr. ahli muda. c. Gelar akademik. (4) Gelar untuk lulusan pendidikan profesi adalah Spesialis dengan mencantumkan singkatan Sp. singkatan. atau gelar profesi. ditulis di belakang nama yang berhak dengan mencantumkan singkatan A. diikuti dengan inisial program studi atau bidang keahlian khusus.doc . ditulis di belakang nama yang berhak dengan mencantumkan huruf M. dan c. dan profesi hanya boleh diberikan oleh perguruan tinggi yang memenuhi persyaratan pendirian dan dinyatakan berhak menyelenggarakan program pendidikan yang relevan. 57 76461668. dan ayat (4) diatur dengan Peraturan Menteri. dan d. ditulis di belakang nama yang berhak dengan mencantumkan huruf S.Ma diikuti dengan inisial program studi atau bidang ilmu.Md diikuti dengan inisial program studi atau bidang ilmu. ahli pratama.(1) Lulusan pendidikan akademik. (2) Gelar untuk lulusan pendidikan akademik terdiri atas: a. magister. Pasal 82 (1). sarjana sains terapan. dan inisial program studi atau bidang ilmu sebagaimana dimaksud pada ayat (2). doktor. ditulis di belakang nama yang berhak dengan mencantumkan singkatan A. untuk program diploma IV. ditulis di belakang nama yang berhak dengan mencantumkan singkatan SST diikuti dengan inisial program studi atau bidang ilmu. vokasi. untuk lulusan program diploma III. untuk lulusan program diploma I. ahli madya. atau profesi berhak untuk menggunakan gelar akademik. b. sarjana. b. untuk lulusan program diploma II. ayat (3). (5) Ketentuan lebih lanjut mengenai gelar.P diikuti dengan inisial program studi atau bidang ilmu.

teknologi. profesi. Ketentuan tentang pemberian dan pengukuhan gelar doktor kehormatan diatur oleh senat akademik perguruan tinggi masing-masing. singkatan. keagamaan.(2). Pasal 83 (3). Penetapan jenis gelar akademik. singkatan. Pemberian gelar doktor kehormatan ditetapkan oleh senat akademik perguruan tinggi. dan penempatan yang berlaku di negara asal. atau seni dan digunakan dengan mencantumkan atau menuliskan Dr (HC) di depan nama pemilik serta hanya dipergunakan dalam upacara akademik. Menteri atau Menteri Agama sesuai kewenangan masing-masing menetapkan kesetaraan ijazah perguruan tinggi luar negeri dengan ijazah dan gelar perguruan tinggi Indonesia yang memenuhi Standar Nasional Pendidikan. kemasyarakatan. kebudayaan. Bidang keahlian sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditentukan berdasarkan bidang studi atau kelompok bidang studi.doc 58 . atau vokasi didasarkan atas bidang keahlian dan dicantumkan dalam ijazah yang diberikan kepada lulusan perguruan tinggi. Gelar doktor kehormatan hanya dapat diberikan oleh perguruan tinggi yang berwenang menyelenggarakan program doktor terakreditasi dalam bidang ilmu terkait. dan penempatan gelar lulusan perguruan tinggi luar negeri tetap menggunakan gelar sesuai dengan jenis. Pasal 84 (2) (1) Gelar doktor kehormatan (doctor honoris causa) diberikan kepada seseorang yang telah berjasa luar biasa bagi ilmu pengetahuan. (2) (3) (4) 76461668. (1) Pencantuman jenis.

ketanggapan perguruan tinggi terhadap aspirasi pihak-pihak yang berkepentingan. Mutu sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) dijamin dengan memperhatikan: a. (5) Kelayakan sebagaimana dimaksud pada ayat (4) diukur atas dasar mutu sebagaimana dimaksud pada ayat (3). misi.Bagian Kelima Penjaminan Mutu Pasal 85 (1) Penjaminan mutu dilakukan oleh setiap perguruan tinggi untuk memenuhi Standar Nasional Pendidikan jenjang pendidikan tinggi secara konsisten dan berkelanjutan sebagai wujud akuntabilitas publik perguruan tinggi kepada para pemangku kepentingan. Penjaminan mutu dilakukan secara berkelanjutan oleh perguruan itu sendiri dan dapat dibantu oleh lembaga lain. kesesuaian penyelenggaraan pendidikan Standar Nasional Pendidikan. pelaksanaan visi. BAB IV PENYELENGGARAAN PENDIDIKAN NONFORMAL Bagian Kesatu Fungsi dan Tujuan 76461668. (6) Akreditasi wajib bagi setiap program studi dan/atau satuan pendidikan tinggi yang dilaksanakan oleh Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi atau lembaga mandiri lain yang memenuhi persyaratan. b. dan kebutuhan tinggi dan (2) (3) dengan d. c.doc 59 . bagi perguruan tinggi yang memiliki komitmen untuk bertaraf internasional. dan tujuan perguruan tinggi secara nyata. (4) Keberhasilan penjaminan mutu diukur dengan akreditasi yang menentukan kelayakan program dan/atau satuan pendidikan tinggi. kesesuaian penyelenggaraan pendidikan tinggi dengan standar mutu internasional.

Pendidikan nonformal bertujuan untuk membentuk manusia yang memiliki kecakapan hidup. g. dan/atau pelengkap pendidikan formal bagi warga masyarakat yang memerlukan layanan pendidikan untuk mengembangkan potensinya dengan penekanan pada penguasaan pengetahuan dan keterampilan fungsional. taman penitipan anak (TPA). kelompok bermain (KB). bekerja. sikap dan kecakapan hidup untuk mengembangkan diri. h.Pasal 86 (1) Pendidikan nonformal berfungsi sebagai pengganti. keterampilan. lembaga pelatihan. dan kompetensi untuk bekerja dalam bidang tertentu. majelis taklim. Bagian Kedua Bentuk Satuan Pendidikan Pasal 87 Satuan pendidikan nonformal berbentuk: a. berusaha mandiri dan/atau melanjutkan pendidikan ke tingkat 60 76461668. c.doc . mengembangkan profesi. dan/atau melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi dalam rangka mewujudkan tujuan pendidikan nasional. e. sikap wirausaha. kelompok belajar. atau satuan pendidikan lain yang sejenis. lembaga kursus. penambah. keterampilan. d. (2) Paragraf 1 Lembaga Kursus dan Lembaga Pelatihan Pasal 88 (1) Lembaga kursus dan lembaga pelatihan menyelenggarakan pendidikan bagi warga masyarakat yang memerlukan bekal pengetahuan. b. pusat kegiatan belajar masyarakat. serta pengembangan sikap dan kepribadian profesional dalam rangka mendukung pendidikan sepanjang hayat. f.

yang lebih tinggi. (2) Peserta didik pada kelompok belajar adalah warga masyarakat yang belajar untuk mengembangkan diri. (2) (2) (3) Majelis taklim sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diselenggarakan sesuai dengan peraturan perundang-undangan. Peserta didik pada majelis taklim adalah masyarakat muslim yang ingin belajar dan mendalami ajaran Islam dan untuk meningkatkan keimanan dan ketakwaan. Peserta didik pada pusat kegiatan belajar masyarakat adalah warga masyarakat yang belajar untuk mengembangkan diri. dan berazaskan prinsip dari. bekerja dan/atau melanjutkan ke tingkat pendidikan yang lebih tinggi. Paragraf 4 Majelis Taklim Pasal 91 (1) Majelis taklim menyelenggarakan pembelajaran agama Islam untuk memenuhi berbagai kebutuhan belajar masyarakat pada jalur pendidikan nonformal. bekerja dan/atau melanjutkan ke tingkat pendidikan yang lebih tinggi. dan untuk masyarakat. Paragraf 3 Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat Pasal 90 (1) Pusat kegiatan belajar masyarakat memfasilitasi penyelenggaraan berbagai program pendidikan nonformal untuk mewujudkan masyarakat gemar belajar dalam rangka mengakomodasi kebutuhannya akan pendidikan sepanjang hayat. oleh. Paragraf 2 Kelompok Belajar Pasal 89 (1) Kelompok belajar menyelenggarakan kegiatan untuk menampung dan memenuhi kebutuhan belajar sekelompok warga masyarakat yang belajar melalui jalur pendidikan nonformal. (2) Peserta didik pada lembaga kursus dan lembaga pelatihan adalah warga masyarakat yang memerlukan bekal untuk mengembangkan diri. 76461668. menjadi pekerja/buruh dan/atau melanjutkan pendidikan ke tingkat yang lebih tinggi.doc 61 .

h. pendidikan pemberdayaan perempuan. c. Pendidikan kecakapan hidup berfungsi meningkatkan 62 (2) 76461668. b. atau bentuk lain yang sejenis.Paragraf 5 Taman Penitipan Anak dan Kelompok Bermain Pasal 92 (1) Satuan pendidikan anak usia dini jalur nonformal berbentuk taman penitipan anak (TPA). dan kecakapan vokasional untuk bekerja. pendidikan kecakapan hidup. Bagian Ketiga Program Pendidikan Pasal 93 Program pendidikan nonformal meliputi : a. g. f. (3) Peserta didik KB atau bentuk lain yang sederajat berusia 2 (dua) tahun sampai dengan 4 (empat) tahun. pendidikan keterampilan dan pelatihan kerja. kelompok bermain (KB). pendidikan anak usia dini. kecakapan sosial. (2) Peserta didik TPA atau bentuk lain yang sederajat berusia sejak lahir sampai dengan berusia 6 (enam) tahun.doc . e. Paragraf 1 Pendidikan Kecakapan Hidup Pasal 94 (1) Pendidikan kecakapan hidup merupakan pendidikan yang memberikan kecakapan personal. d. kecakapan intelektual. berusaha dan/atau hidup mandiri. pendidikan keaksaraan. pendidikan kepemudaan. pendidikan kesetaraan. serta pendidikan lainnya.

kecakapan personal. termasuk kesejahteraannya. Paragraf 2 Pendidikan Anak Usia Dini Pasal 95 (1) Pendidikan anak usia dini jalur nonformal merupakan seperangkat program pembelajaran yang dilaksanakan secara fleksibel berdasarkan tahap perkembangan anak. berusaha dan/atau hidup mandiri. Paragraf 3 Pendidikan Kepemudaan 76461668. kecakapan intelektual dan kecakapan vokasional untuk menyiapkan peserta didik agar mampu bekerja. dan stimulasi psikososial. (3) Program pembelajaran sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilaksanakan secara terpadu dengan memperhatikan kebutuhan dan kepentingan terbaik anak serta memperhatikan kecerdasan anak. dan perkembangan anak. minat. (5) Pengembangan program pembelajaran sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus mengintegrasikan kebutuhan peserta didik terhadap kesehatan.doc (4) 63 . gizi. dan kemampuan masing-masing peserta didik. serta kondisi dan kebutuhan masyarakat setempat. (2) Program pembelajaran sebagaimana dimaksud pada ayat (1) bagi peserta didik yang berusia 1 (satu) sampai 6 (enam) tahun diselenggarakan dengan mengupayakan kesiapan belajar peserta didik untuk memasuki pendidikan dasar. (7) Pengelompokan peserta didik untuk program pendidikan pada PAUD jalur nonformal disesuaikan dengan kebutuhan. (6) Penyelenggaraan program pendidikan pada PAUD jalur nonformal dapat diintegrasikan dengan progam layanan lain yang sudah berkembang di masyarakat sebagai upaya untuk memperluas layanan PAUD kepada seluruh lapisan masyarakat. (3) Pendidikan kecakapan hidup dapat dilaksanakan secara terintegrasi dengan program-program pendidikan nonformal lainnya dan/atau tersendiri. kecakapan sosial. sosial budaya. usia. Pengembangan program pembelajaran sebagaimana dimaksud pada ayat (1) didasarkan pada prinsip bermain sambil belajar dan belajar seraya bermain dengan memperhatikan perbedaan bakat.

peningkatan akses dan partisipasi perempuan terhadap pendidikan.doc terhadap pelanggaran hak-hak dasar 64 . Paragraf 4 Pendidikan Pemberdayaan Perempuan Pasal 97 (1) Pendidikan pemberdayaan perempuan merupakan pendidikan untuk mengangkat harkat dan martabat perempuan. wawasan. Pendidikan kepemudaan berfungsi mengembangkan potensi pemuda dengan penekanan pada penguatan nilai keimanan dan ketaqwaan. ilmu pengetahuan dan teknologi. Pendidikan kepemudaan mencakup berbagai bentuk pendidikan dan pelatihan di bidang keagamaan. kepanduan/kepramukaan. berbangsa dan bernegara. kepeloporan. seni dan budaya.Pasal 96 (1) Pendidikan kepemudaan merupakan pendidikan yang diselenggarakan untuk mempersiapkan kader pemimpin bangsa. (3) Pendidikan pemberdayaan perempuan bertujuan untuk: a. etika dan kepribadian. dan martabat b. kepemimpinan. sikap kewirausahaan. kebangsaan. kedudukan. sikap. ilmu pengetahuan dan teknologi. wawasan kebangsaan. etika dan kepribadian. kesehatan dan keolahragaan. dan estetika perempuan agar mampu memperoleh hak dasar kehidupan yang setara dan adil gender dalam kehidupan berkeluarga. peningkatan perempuan. dan kewirausahaan. (2) (3) (4) (2) Pendidikan pemberdayaan perempuan berfungsi meningkatkan kemampuan perempuan dalam pengembangan potensi diri. kecakapan hidup. bermasyarakat. pecinta alam dan lingkungan hidup. serta kecakapan hidup bagi pemuda sebagai kader pemimpin bangsa. estetika. kepeloporan. pencegahan perempuan. Peserta didik pendidikan kepemudaan adalah warga masyarakat yang berusia antara 18 (delapan belas) sampai dengan 35 (tiga puluh lima) tahun. dan c. nilai. 76461668. organisasi pemuda. palang merah. harkat.

berhitung. terintegrasi dengan Paragraf 6 Pendidikan Keterampilan dan Pelatihan Kerja Pasal 99 (1) Pendidikan keterampilan dan pelatihan kerja dilaksanakan untuk meningkatkan kemampuan peserta didik dengan penekanan pada penguasaan keterampilan fungsional yang sesuai kebutuhan dunia kerja atau kebutuhannya untuk menjadi manusia produktif. menulis. (4) Pendidikan keaksaraan dilaksanakan pendidikan kecakapan hidup.doc . (2) Pendidikan keterampilan dan pelatihan kerja berfungsi untuk meningkatkan dan mengembangkan kemampuan peserta didik dengan penekanan pada penguasaan keterampilan fungsional serta pengembangan sikap dan kepribadian profesional sesuai dengan kebutuhan dunia kerja atau kebutuhannya untuk menjadi manusia produktif.(4) Ketentuan lebih lanjut mengenai pendidikan pemberdayaan perempuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) diatur dengan Peraturan Menteri. yang dapat dimanfaatkan dalam kehidupan sehari-hari. (3) Ketentuan mengenai pendidikan keterampilan dan pelatihan 65 76461668. berhitung dan berkomunikasi dalam bahasa Indonesia kepada peserta didik. (2) (3) Peserta didik pendidikan keaksaraan adalah warga masyarakat usia 15 (lima belas) tahun ke atas yang belum dapat membaca. Paragraf 5 Pendidikan Keaksaraan Pasal 98 (1) Pendidikan keaksaraan merupakan pendidikan bagi warga masyarakat yang buta aksara latin agar mereka dapat membaca. menulis. Pendidikan keaksaraan berfungsi memberikan kemampuan dasar membaca. berbahasa Indonesia dan berpengetahuan dasar untuk meningkatkan kualitas hidupnya. berhitung dan/atau berkomunikasi dalam bahasa Indonesia. menulis.

yang menekankan pada pengetahuan dan keterampilan fungsional serta sikap dan kepribadian profesional.kerja untuk memperoleh. Paragraf 7 Pendidikan Kesetaraan Pasal 100 (1) Pendidikan kesetaraan merupakan program pendidikan nonformal yang menyelenggarakan pendidikan umum setara SD/MI. SMP/MTs. Peserta didik program Paket B merupakan anggota masyarakat yang telah lulus program Paket A atau SD/MI yang berminat menempuh pendidikan setara SMP/MTs.doc 66 . terintegrasi dengan (4) (5) (6) (7) (8) (9) Pendidikan kesetaraan dilaksanakan pendidikan kecakapan hidup. Paket B. yang menekankan pada pengetahuan dan keterampilan fungsional serta sikap dan kepribadian profesional. Peserta didik program Paket C merupakan anggota masyarakat yang telah lulus program Paket B atau SMP/MTs yang berminat menempuh pendidikan setara SMA/MA. meningkatkan dan/atau mengembangkan kompetensi tenaga kerja dilaksanakan sesuai dengan peraturan perundang-undangan. Program Paket C berfungsi memberikan pendidikan umum setara SMA/MA. kesetaraan berfungsi sebagai dasar dan menengah pada layanan jenjang jalur pendidikan (2) Pendidikan pendidikan nonformal. Bagian Ketiga (keempat) Penyetaraan Hasil Pendidikan Pasal 101 76461668. yang menekankan pada pengetahuan dan keterampilan fungsional serta sikap dan kepribadian profesional. dan SMA/MA yang mencakup program Paket A. Peserta didik program Paket A merupakan anggota masyarakat yang berminat menempuh pendidikan setara SD/MI. (3) Program Paket A berfungsi memberikan pendidikan umum setara SD/MI. dan Paket C. Program Paket B berfungsi memberikan pendidikan umum setara SMP/MTs.

dan/atau perseorangan yang dilibatkan dalam proses belajar secara mandiri. 76461668. nilai moral. pengakuan hasil pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (3).doc 67 . (2) Pendidikan informal mencakup pendidikan yang dilakukan oleh keluarga atau lingkungan berbentuk kegiatan belajar secara mandiri. etika dan kepribadian. (4) Untuk penempatan pada tingkat dalam satuan pendidikan. hasil pendidikan nonformal diakui sama dengan hasil satuan atau program pendidikan formal melalui tes penempatan dan/atau penilaian portofolio oleh satuan pendidikan formal yang bersangkutan. (3) Pendidikan yang dilakukan oleh keluarga mencakup pendidikan yang dilakukan oleh orang tua. (2) Proses penilaian penyetaraan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan melalui ujian sesuai yang dipersyaratkan dalam Standar Nasional Pendidikan dan dinyatakan lulus setara dengan lulusan satuan pendidikan formal. (5) Ketentuan lebih lanjut mengenai penilaian penyetaraan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2). dan tes penempatan dan/atau penilaian portofolio sebagaimana dimaksud pada ayat (4) diatur dengan Peraturan Menteri. menanamkan nilai budaya. BAB V PENYELENGGARAAN PENDIDIKAN INFORMAL Pasal 102 (1) Pendidikan informal bertujuan memberikan keyakinan agama. anggota keluarga. dengan mengacu pada Standar Nasional Pendidikan.(1) Hasil pendidikan nonformal dapat dihargai setara dengan hasil satuan atau program pendidikan formal setelah melalui proses penilaian penyetaraan oleh lembaga yang ditunjuk oleh Pemerintah atau pemerintah daerah. serta meningkatkan pengetahuan dan keterampilan peserta didik dalam rangka mencapai tujuan pendidikan nasional dan tujuan pendirian Negara Kesatuan Republik Indonesia. (3) Pengakuan hasil pendidikan nonformal dalam bidang tertentu sebagai pengganti mata pelajaran/mata kuliah dilakukan melalui penilaian terhadap bukti penguasaan kompetensi tertentu yang diperoleh dari lembaga pendidikan nonformal. estetika.

dengan mengacu pada Standar Nasional Pendidikan. atau lingkungan alam. keluarga. dengan mengacu pada Standar Nasional Pendidikan. pendidikan oleh media massa. (3) Untuk penempatan pada tingkat dalam satuan pendidikan formal atau nonformal. (2) Pendidik pada pendidikan informal terdiri dari anggota keluarga. (2) Hasil pendidikan informal dapat diakui sama dengan hasil pendidikan nonformal setelah lulus ujian atau uji kompetensi pada satuan pendidikan nonformal atau lembaga yang ditunjuk oleh Pemerintah atau pemerintah daerah. (6) Penyampaian informasi atau hiburan oleh media masa atau pihak lain kepada masyarakat harus secara serius mempertimbangkan implikasi pendidikannya. dan lain-lain pendidikan yang tidak termasuk dalam jalur formal dan nonformal. Pasal 104 (1) Hasil pendidikan informal dapat diakui sama dengan hasil pendidikan formal setelah lulus ujian pada satuan pendidikan formal atau lembaga yang ditunjuk oleh Pemerintah atau pemerintah daerah. pendidikan masyarakat melalui berbagai kegiatan hiburan. (5) Pendidikan informal dilaksanakan secara bertanggung jawab. 76461668.doc 68 . Pemerintah dapat melarang penyampaian informasi atau hiburan sebagaimana dimaksud pada ayat (5) yang tidak sesuai dengan tujuan pendidikan nasional dan/atau tujuan pendirian Negara Kesatuan Republik Indonesia. (3) Penyelenggaraan pembelajaran pendidikan informal menjadi tanggung jawab setiap orang. anggota masyarakat. dan/atau masyarakat. hasil pendidikan informal diakui sama melalui tes penempatan dan/atau penilaian portofolio oleh satuan pendidikan formal atau nonformal yang bersangkutan. pendidikan alam melalui interaksi dengan alam.(4) Pendidikan yang dilakukan oleh lingkungan mencakup pendidikan yang dilakukan oleh masyarakat adat. pendidikan sosial dan budaya melalui interaksi dengan masyarakat. lingkungan sosial. (7) Pasal 103 (1) Peserta didik pada pendidikan informal adalah setiap warga masyarakat.

belajar tuntas. jenjang. (5) Ketentuan lebih lanjut mengenai ujian atau uji kompetensi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2). Pasal 107 (1) Pendidikan jarak jauh dapat diselenggarakan pada semua jalur. b. status peserta didik pada satuan pendidikan formal atau nonformal tertentu yang dapat dijadikan dasar untuk melanjutkan pendidikan ke tingkat atau jenjang pada satuan atau program pendidikan yang lebih tinggi. dan kesesuaian persyaratan pada bidang pekerjaan tertentu.doc (2) (2) (3) 69 . belajar mandiri. 76461668. Hasil uji kompetensi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) digunakan untuk penempatan sebagai peserta didik pada tingkat satuan atau program pendidikan formal atau nonformal yang bersangkutan. Pendidikan jarak jauh mempunyai karakteristik terbuka. BAB VI PENYELENGGARAAN PENDIDIKAN JARAK JAUH Pasal 106 (1) Pendidikan jarak jauh berfungsi memberikan layanan pendidikan kepada kelompok masyarakat yang tidak dapat mengikuti pendidikan secara tatap muka atau reguler. serta tes penempatan dan/atau penilaian portofolio sebagaimana dimaksud pada ayat (3) diatur dengan Peraturan Menteri. dan berbasis teknologi pendidikan. Pendidikan jarak jauh bertujuan meningkatkan dan memeratakan akses masyarakat terhadap pendidikan. Pasal 105 (1) Peserta didik pendidikan informal dapat mengajukan uji kompetensi untuk menentukan tingkat pendidikan pada satuan atau program pendidikan formal atau nonformal yang terakreditasi. serta meningkatkan mutu dan relevansi pendidikan secara lebih efisien. dan jenis pendidikan.(4) Pengakuan sama terhadap hasil pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) digunakan untuk menentukan: a.

program studi/pendidikan.doc 70 . Pasal 108 (1) (2) Pengorganisasian pendidikan jarak jauh dapat diselenggarakan dalam modus tunggal. cakupan. Cakupan pendidikan berbasis mata pelajaran sebagaimana dimaksud pada ayat (1) terbatas untuk 1 (satu) atau beberapa mata pelajaran atau mata kuliah. Pengorganisasian modus ganda sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berbentuk satuan pendidikan yang menyelenggarakan program pendidikan baik secara tatap muka maupun jarak jauh. Pengorganisasian modus konsorsium sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berbentuk jejaring penyelenggaraan pendidikan jarak jauh secara kolaboratif atau kerja sama secara lintas satuan pendidikan dengan lingkup wilayah nasional dan/atau internasional. (3) (4) (5) Struktur organisasi satuan pendidikan jarak jauh ditentukan berdasarkan modus. dan terbimbing dengan menggunakan berbagai sumber belajar berbasis teknologi informasi dan komunikasi. (3) Pendidikan jarak jauh memberikan layanan administrasi. atau konsorsium.(2) Penyelenggaraan pendidikan jarak jauh sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilaksanakan secara terpisah dari pendidik secara spasial. tutorial. terstruktur. dan ujian. Cakupan pendidikan berbasis satuan pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) mencakup penyelenggaraan pendidikan (2) (3) (4) 76461668. serta layanan penyediaan dan distribusi bahan ajar dengan sistem operasional berbasis teknologi informasi dan komunikasi. Cakupan pendidikan berbasis program studi/pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) terbatas untuk 1 (satu) program studi/pendidikan secara utuh. praktik/praktikum. ganda. registrasi. belajar secara mandiri. Pasal 109 (1) Pendidikan jarak jauh dapat diselenggarakan dengan cakupan pendidikan berbasis mata pelajaran. dan sistem operasional yang diterapkan. atau satuan pendidikan. Pengorganisasian pendidikan jarak jauh modus tunggal sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berbentuk satuan pendidikan yang menyelenggarakan program pendidikan hanya secara jarak jauh.

dan/atau jaringan komunikasi dan informasi lainnya. jaringan TV. (2)Pemerintah dan/atau pemerintah daerah memfasilitasi penyelenggaraan pendidikan jarak jauh dalam rangka penuntasan wajib belajar dan program pembangunan pendidikan sesuai kebutuhan daerah. dan media lain serta sesuai dengan Standar Nasional Pendidikan dan standar keamanan komunikasi dan informasi.doc 71 . informasi. 76461668. Izin penyiaran radio/TV untuk penyelenggaraan pendidikan jarak jauh diberikan oleh menteri yang menangani urusan pemerintahan di bidang penyiaran atas usul Menteri. (3) Pengaturan lebih lanjut tentang penyelenggaraan pendidikan jarak jauh diatur dengan Peraturan Menteri. (2) Penyelenggara satuan pendidikan jarak jauh berkewajiban untuk secara mandiri mengembangkan sistem operasional dengan dukungan jaringan radio. Pasal 111 (3) (1) Pendidikan jarak jauh dilaksanakan dengan mengacu pada Standar Nasional Pendidikan.jarak jauh secara utuh pada 1 (satu) satuan pendidikan. Pasal 110 (1) Sarana dan prasarana pendidikan pada satuan pendidikan jarak jauh harus berbasis teknologi komunikasi. jaringan komputer.

Bagian Kedua Pendidikan Khusus Paragraf 1 Pendidikan Khusus bagi Peserta Didik Berkelainan Pasal 114 (1) Pendidikan khusus bagi peserta didik berkelainan berfungsi memberikan pelayanan pendidikan khusus bagi peserta didik yang memiliki tingkat kesulitan dalam mengikuti proses pembelajaran karena kelainan fisik. (2) Penyelenggaraan pendidikan khusus dapat dilakukan melalui 76461668. mental. bencana sosial. dan/atau mengalami bencana alam. dan jenis pendidikan. jenjang. emosional. masyarakat adat yang terpencil. Pasal 115 (1) Pendidikan khusus bagi peserta didik berkelainan dapat diselenggarakan pada semua jalur.BAB VII PENYELENGGARAAN PENDIDIKAN KHUSUS DAN PENDIDIKAN LAYANAN KHUSUS Bagian Kesatu Umum Pasal 112 Pendidikan khusus merupakan pendidikan bagi peserta didik yang memiliki tingkat kesulitan dalam mengikuti proses pembelajaran karena kelainan fisik. dan/atau sosial. Pasal 113 Pendidikan layanan khusus merupakan pendidikan bagi peserta didik di daerah terpencil atau terbelakang. emosional. sosial. intelektual. serta memiliki potensi kecerdasan dan/atau bakat istimewa. (2) Pendidikan khusus bagi peserta didik berkelainan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) bertujuan untuk mengembangkan potensi peserta didik seoptimal mungkin dalam rangka mencapai tujuan pendidikan nasional. intelektual.doc 72 . dan tidak mampu dari segi ekonomi. mental.

satuan pendidikan khusus, program pendidikan terpadu, atau program pendidikan inklusi. (3) Ketentuan lebih lanjut mengenai program pendidikan terpadu dan program pendidikan inklusi sebagaimana dimaksud pada ayat (2) diatur dengan Peraturan Menteri. Pasal 116 (6) Pemerintah menyelenggarakan sekurang-kurangnya 1 (satu) satuan pendidikan khusus untuk setiap jenis kelainan yang digunakan sebagai model ideal pendidikan khusus bagi peserta didik yang berkelainan. (7) Pemerintah kabupaten/kota sekurangkurangnya menunjuk 1 (satu) satuan pendidikan untuk menyelenggarakan pendidikan khusus secara inklusif apabila pada kabupaten/kota tersebut belum ada satu satuan pendidikan khusus. Pasal 117 Pendidikan khusus bagi peserta didik berkelainan pada jalur formal diselenggarakan melalui satuan pendidikan anak usia dini, satuan pendidikan dasar, satuan pendidikan menengah, dan satuan pendidikan tinggi. Pasal 118 (1) Satuan pendidikan khusus bagi peserta didik berkelainan untuk pendidikan anak usia dini dapat berbentuk Taman Penitipan Anak Luar Biasa (TPALB), Kelompok Bermain Luar Biasa (KBLB), atau Taman Kanak-kanak Luar Biasa (TKLB). (2) Satuan pendidikan khusus bagi peserta didik berkelainan pada jenjang pendidikan dasar terdiri atas: a. Sekolah Dasar Luar Biasa (SDLB), Madrasah Ibtidaiyah Luar Biasa (MILB), atau bentuk lain yang sederajat; b. Sekolah Menengah Pertama Luar Biasa (SMPLB), Madrasah Tsanawiyah Luar Biasa (MTsLB), atau bentuk lain yang sederajat. (3) Satuan pendidikan khusus bagi peserta didik berkelainan pada jenjang pendidikan menengah adalah Sekolah Menengah Atas Luar Biasa (SMALB), Madrasah Aliyah Luar Biasa (MALB), atau
76461668.doc

73

bentuk lain yang sederajat. (4) Penyelenggaraan satuan pendidikan khusus dapat menggunakan sistem unit. (5) Satuan pendidikan khusus untuk peserta didik berkelainan dapat menyelenggarakan pendidikan untuk 1 (satu) atau beberapa jenis peserta didik berkelainan.

Pasal 119 (1) Peserta didik pendidikan khusus bagi peserta didik berkelainan yaitu peserta didik yang memiliki kelainan fisik, emosional, mental, intelektual, dan/atau sosial. (2) Kelainan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat berupa: a. tunanetra; b. tunarungu; c. tunawicara; d. tunagrahita; e. tunadaksa; f. tunalaras; g. berkesulitan belajar; h. lamban belajar; i. autistik; j. gangguan motorik;

k. korban penyalahgunaan narkotika, obat terlarang, dan zat adiktif lainnya; dan l. kelainan lainnya.

(3) Kelainan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dapat juga berwujud gabungan dari 2 (dua) atau lebih jenis-jenis kelainan di atas yang disebut tunaganda.

Paragraf 2 Pendidikan Khusus bagi Peserta Didik yang Memiliki
76461668.doc

74

Potensi Kecerdasan dan/atau Bakat Istimewa Pasal 120 (1) Pendidikan khusus bagi peserta didik yang memiliki potensi kecerdasan dan/atau bakat istimewa berfungsi mengembangkan potensi keunggulan peserta didik menjadi prestasi nyata sesuai dengan karakteristik dan kebutuhannya, dalam rangka mencapai tujuan pendidikan nasional. (2) Pendidikan khusus bagi peserta didik yang memiliki potensi kecerdasan dan/atau bakat istimewa bertujuan: a. membentuk manusia berkualitas yang memiliki kecerdasan spiritual, emosional, sosial, dan intelektual serta memiliki ketahanan dan kebugaran fisik; b. membentuk manusia berkualitas yang kompeten dalam pengetahuan dan seni, berkeahlian dan berketerampilan, menjadi anggota masyarakat yang bertanggung jawab, serta untuk mempersiapkan peserta didik mengikuti pendidikan lebih lanjut dalam rangka mewujudkan tujuan pendidikan nasional. Pasal 121 (1) Pendidikan khusus bagi peserta didik yang memiliki potensi kecerdasan dan/atau bakat istimewa dapat diselenggarakan pada satuan pendidikan SD/MI, SMP/MTs, SMA/MA, SMK/MAK, atau bentuk lain yang sederajat. (2) Program pendidikan khusus bagi peserta didik yang memiliki potensi kecerdasan dan/atau bakat istimewa dapat berupa: a. program percepatan; b. program pengayaan; atau c. gabungan program percepatan dan program pengayaan. (3) Penyelenggaraan program pendidikan khusus bagi peserta didik yang memiliki potensi kecerdasan dan/atau bakat istimewa sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dapat dilakukan dalam bentuk: a. kelas inklusi; b. kelas khusus; c. satuan pendidikan khusus; atau d. satuan pendidikan inklusi.
76461668.doc

75

(4)

Ketentuan lebih lanjut mengenai program pendidikan khusus bagi peserta didik yang memiliki potensi kecerdasan dan/atau bakat istimewa sebagaimana dimaksud pada ayat (2) diatur dengan Peraturan Menteri. Pasal 122

Pemerintah menyelenggarakan sekurang-kurangnya 1 (satu) satuan pendidikan khusus untuk dipakai sebagai model ideal pendidikan khusus bagi peserta didik yang memiliki kecerdasan dan/atau bakat istimewa. Pasal 123 (1) Peserta didik yang memiliki potensi kecerdasan dan/atau bakat istimewa adalah peserta didik yang secara ekstrim memiliki potensi jauh di atas rata-rata dalam salah satu atau lebih kemampuan: a. b. c. d. e. akademik; seni; olahraga; kepemimpinan; dan lainnya yang relevan. (2) Penetapan peserta didik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan oleh ahli yang relevan.

Bagian Ketiga Pendidikan Layanan Khusus

Pasal 121 (1) Pendidikan layanan khusus berfungsi memberikan kesempatan untuk memperoleh pendidikan kepada peserta didik di daerah terpencil atau terbelakang, daerah perbatasan, daerah kepulauan kecil, masyarakat adat yang terpencil, dan/atau mengalami bencana alam, bencana sosial, dan tidak mampu dari segi ekonomi dalam rangka mencapai tujuan pendidikan nasional. (2) Pendidikan layanan khusus bertujuan membentuk manusia berkualitas secara spiritual, emosional, intelektual, dan fisik, hidup sehat; memperluas pengetahuan dan seni, memiliki

76461668.doc

76

madrasah terbuka. kursus dan pelatihan. b. serta mempersiapkan peserta didik untuk mengikuti pendidikan lebih lanjut dalam rangka mewujudkan pendidikan nasional. kelompok belajar.doc 77 . kursus dan pelatihan. dan/atau c. b. d. dan bentuk satuan pendidikan nonformal lainnya. kelompok belajar. satuan pendidikan terbuka untuk kelompok bermain. Pasal 122 (1) Pendidikan layanan khusus dapat diselenggarakan pada jalur pendidikan formal dan nonformal. dan bentuk satuan pendidikan nonformal lainnya. satuan pendidikan darurat untuk kelompok bermain. dan bentuk satuan pendidikan nonformal lainnya. Pasal 123 76461668. menjadi anggota masyarakat yang bertanggung jawab. taman penitipan anak. c. jauh. e. gabungan dari 2 (dua) atau lebih dari huruf a sampai dengan huruf e. taman penitipan anak.keahlian dan keterampilan. f. kelompok belajar. program tugas belajar ke daerah lain yang pelayanan pendidikannya dapat dilaksanakan secara normal. khusus pada jalur penyelenggaraan sekolah atau penyelenggaraan pendidikan jarak penyelenggaraan sekolah atau penyelenggaraan pada jalur atau sekolah (3) Penyelenggaraan pendidikan layanan pendidikan nonformal dapat berbentuk: a. madrasah darurat. madrasah kecil. (2) Penyelenggaraan pendidikan layanan khusus pendidikan formal dapat dilaksanakan melalui: a. g. satuan pendidikan kecil untuk kelompok bermain. taman penitipan anak. kursus dan pelatihan. dan/atau bentuk lain yang tidak bertentangan dengan ketentuan peraturan perundangan-undangan yang berlaku.

Pasal 124 daerah (3) (1) Peserta didik yang memerlukan pendidikan layanan khusus adalah: a. c.doc 78 . peserta didik di daerah kepulauan kecil. BAB VIII PENYELENGGARAAN PENDIDIKAN BERTARAF INTERNASIONAL DAN PENDIDIKAN BERBASIS KEUNGGULAN LOKAL Pasal 125 (1) Pemerintah dan/atau pemerintah daerah menyelenggarakan sekurang-kurangnya 1 (satu) satuan pendidikan dasar dan menengah untuk dikembangkan menjadi satuan pendidikan yang bertaraf internasional. b. peserta didik dalam masyarakat adat yang terpencil. peserta didik yang berasal dari keluarga yang tidak mampu dari segi ekonomi. peserta didik di daerah perbatasan. (2)Pemerintah menunjuk atau mendirikan madrasah pada jenjang pendidikan dasar dan menengah untuk dikembangkan menjadi satuan pendidikan yang bertaraf internasional. Masyarakat membantu Pemerintah dan pemerintah dalam penyelenggaraan pendidikan layanan khusus. peserta didik di daerah terpencil dan/atau terbelakang. (3) Pemerintah kabupaten/kota menunjuk atau mendirikan sekurangkurangnya 1 (satu) satuan pendidikan dasar dan menengah untuk dikembangkan menjadi satuan pendidikan dasar dan menengah yang bertaraf internasional. e.(1) (2) Pemerintah dan pemerintah pendidikan layanan khusus. peserta didik yang berada di daerah yang mengalami bencana alam dan/atau bencana sosial. (4)Dalam hal pemerintah kabupaten/kota tidak menyelenggarakan 76461668. d. daerah menyelenggarakan Pembagian beban pembiayaan pendidikan layanan khusus sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur lebih lanjut dalam Peraturan Menteri. dan f.

(5)Dalam hal pemerintah kabupaten/kota dan pemerintah provinsi tidak menyelenggarakan satuan pendidikan dasar dan menengah untuk dikembangkan menjadi satuan pendidikan dasar dan menengah yang bertaraf internasional. dan seni. b. c. serta menunjang pelestarian. Pengembangan dengan mengacu standar pendidikan di negara yang memiliki keunggulan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan melalui cara penyesuaian atau penambahan terhadap unsur-unsur tertentu yang sudah ada atau belum ada dalam Standar Nasional Pendidikan. dan seni. lulus sertifikasi internasional yang dikeluarkan oleh negara lain yang memiliki keunggulan tertentu dalam bidang ilmu pengetahuan. pengembangan.doc 79 . teknologi. dan pembangunan sumberdaya nasional. teknologi. Pemerintah bersama pemerintah kabupaten/kota dan pemerintah provinsi wajib mendirikannya.satuan pendidikan dasar dan menengah untuk dikembangkan menjadi satuan pendidikan dasar dan menengah yang bertaraf internasional. 76461668. Kemampuan dan daya saing lulusan di forum internasional sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditunjukkan dengan: diterima pada satuan pendidikan bertaraf internasional di dalam negeri atau satuan pendidikan di luar negeri yang terakreditasi atau yang diakui di negaranya. pemerintah provinsi bersama pemerintah kabupaten/kota wajib mendirikannya. (6)Masyarakat dapat menyelenggarakan satuan pendidikan pada semua jenjang pendidikan untuk dikembangkan menjadi satuan pendidikan yang bertaraf internasional setelah memperoleh izin dari Pemerintah atau pemerintah kabupaten/kota sesuai kewenangannya. diterima bekerja pada lembaga internasional atau negara lain. Satuan pendidikan dasar dan menengah bertaraf internasional menghasilkan lulusan yang memiliki kemampuan dan daya saing di forum internasional. dan/atau (2) (3) (4) a. Pasal 126 (1) Satuan pendidikan dasar dan menengah bertaraf internasional diselenggarakan setelah memenuhi Standar Nasional Pendidikan yang diperkaya dengan standar pendidikan/standar kompetensi negara lain yang mempunyai keunggulan dalam bidang ilmu pengetahuan.

teknologi. d. mampu berperan aktif dan berkomunikasi langsung di forum internasional. g. SMA. i. dan seni. c. b. dan MAK. proses pembelajaran. melaksanakan kurikulum sesuai standar isi yang diperkaya dengan kurikulum negara lain yang mempunyai keunggulan tertentu dalam bidang ilmu pengetahuan. menerapkan Sistem Kredit Semester (SKS) untuk SMP. f. sudah beroperasi sekurang-kurangnya 3 tahun sejak didirikan dan telah meluluskan peserta didik. MTs. teknologi. e. mempunyai pendidik yang memiliki sertifikat pendidik dengan kualifikasi akademik magister (S2) dari perguruan tinggi terakreditasi dalam bidang kependidikan atau bidang studi yang relevan dengan mata pelajaran atau rumpun 76461668. Pasal 127 Satuan pendidikan dasar dan menengah yang dapat dikembangkan menjadi bertaraf internasional harus memenuhi persyaratan sebagai berikut: a.doc 80 . dan perpustakaan. memenuhi standar penilaian yang diperkaya dengan sistem penilaian pendidikan di negara lain yang mempunyai keunggulan tertentu dalam bidang ilmu pengetahuan. matematika. teknologi. dan seni sehingga peserta didik memiliki akses untuk mengikuti ujian akhir di negara tersebut. memperoleh akreditasi A dari lembaga akreditasi dalam negeri. memberlakukan bahasa inggris atau bahasa lain yang sering digunakan dalam forum internasional sekurangkurangnya untuk pembelajaran kelompok mata pelajaran sains. SMK. dan teknologi. penilaian. melaksanakan proses pembelajaran yang diperkaya dengan model proses pembelajaran di negara lain yang mempunyai keunggulan tertentu dalam bidang ilmu pengetahuan.d. dan seni. menerapkan sistem administrasi pendidikan berbasis teknologi informasi dan komunikasi. h. MA. menerapkan standar kelulusan yang lebih tinggi dari standar kompetensi lulusan. termasuk yang berkaitan dengan kurikulum. j.

MAK. memiliki visi internasional. memiliki kepala satuan pendidikan yang memiliki sertifikat pendidik dengan kualifikasi akademik magister (S2) dari perguruan tinggi terakreditasi dalam bidang kependidikan atau bidang studi yang relevan dengan mata pelajaran atau rumpun mata pelajaran yang diampunya. atau yang SMK. tempat berkreasi. dan 4). ruang bengkel kerja. peralatan pendidikan. media pendidikan. atau bidang nonkependidikan yang relevan. atau guru bimbingan dan konseling/konselor. mampu berbahasa Inggris. khusus sarana dan prasarana yang berwujud: 1). ruang kantin. memiliki jiwa kepemimpinan dan kewirausahaan. sarana pembelajaran dilengkapi dengan fasilitas teknologi 76461668. dan/atau bahasa asing lainnya secara aktif. mempunyai prasarana yang sekurang-kurangnya meliputi lahan. dan ruang/tempat lain yang diperlukan untuk menunjang proses pembelajaran yang teratur dan berkelanjutan. 2). l. atau yang sederajat. mempunyai sarana yang sekurang-kurangnya meliputi perabot. buku dan sumber belajar lainnya. instalasi daya dan jasa. sekurangkurangnya: 1). ruang perpustakaan.doc 81 . ruang tata usaha. 3). telah menempuh pelatihan kepala satuan pendidikan dari lembaga pelatihan yang diakui oleh Pemerintah atau pemerintah daerah. tempat berolahraga. 3). seta perlengkapan lain yang diperlukan untuk menunjang proses pembelajaran yang teratur dan berkelanjutan. atau bidang nonkependidikan yang relevan.MA. ruang pimpinan satuan pendidikan. ruang laboratorium. ruang pendidik. ruang unit produksi. atau guru bimbingan dan konseling/konselor. ruang kelas. m. atau guru kelas. tempat beribadah.mata pelajaran yang diampunya. sederajat. 10% untuk SD. atau guru kelas. MTs. tempat bermain. atau yang sederajat. bahan habis pakai. atau yang sederajat. sekurang-kurangnya: 1). 2). n. 30% untuk SMA. dan k. atau memiliki sertifikat kepala sekolah/madrasah. MI. 20% untuk SMP.

Pemerintah kabupaten/kota menunjuk atau mendirikan sekolah pada jenjang pendidikan dasar dan pendidikan menengah untuk dikembangkan menjadi satuan pendidikan yang berbasis keunggulan lokal. fasilitas olah raga. perpustakaan dilengkapi dengan sarana teknologi informasi dan komunikasi yang memberikan akses ke sumber pembelajaran di seluruh dunia.informasi dan komunikasi di setiap ruang kelas. o. Pendidikan Kewarganegaraan. sarana dan prasarana untuk pemeliharaan kesehatan dan pengembangan diri dilengkapi dengan klinik.doc . Dalam hal pemerintah kabupaten/kota tidak menyelenggarakan sekolah pada jenjang pendidikan dasar dan 82 (2) (3) (4) (5) 76461668. dan p. fasilitas multi media. dan 2). Pasal 128 (1) Satuan pendidikan dasar dan menengah bertaraf internasional wajib menggunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa pengantar. Pemerintah menunjuk atau mendirikan madrasah pada jenjang pendidikan dasar dan pendidikan menengah untuk dikembangkan menjadi satuan pendidikan yang berbasis keunggulan lokal. memenuhi standar pembiayaan dengan menerapkan model pembiayaan yang telah diaudit oleh akuntan publik dengan memperoleh predikat wajar tanpa syarat. dan ruang unjuk seni budaya. Satuan pendidikan berbasis keunggulan lokal sebagaimana dimaksud ayat (1) merupakan satuan pendidikan yang dikembangkan sesuai dengan keunggulan potensi daerah/karakteristik daerah dan sosial budaya masyarakat setempat. sekurang-kurangnya untuk mata pelajaran Pendidikan Agama. Pasal 129 (1) Pemerintah dan pemerintah kabupaten/kota menyelenggarakan satuan pendidikan jenjang pendidikan dasar dan pendidikan menengah untuk dikembangkan menjadi satuan pendidikan yang berbasis keunggulan lokal. dan Bahasa Indonesia.

sudah beroperasi sekurang-kurangnya 3 tahun sejak didirikan dan telah meluluskan peserta didik. Masyarakat dapat menyelenggarakan satuan pendidikan pada semua jenjang pendidikan untuk dikembangkan menjadi satuan pendidikan yang berbasis keunggulan lokal setelah memperoleh izin dari Pemerintah atau pemerintah kabupaten/kota sesuai kewenangannya. 76461668. pemerintah provinsi bersama pemerintah kabupaten/kota wajib mendirikannya. b. memperoleh akreditasi dari lembaga akreditasi dalam negeri. (2) Satuan pendidikan dasar dan menengah berbasis keunggulan lokal menghasilkan lulusan yang memiliki kemampuan mengolah dan/atau mengembangkan sumber daya lingkungan di daerahnya dan menghasilkan produk yang mempunyai nilai ekonomis serta menunjang pelestarian. (6) Dalam hal pemerintah kabupaten/kota dan pemerintah provinsi tidak menyelenggarakan satuan pendidikan dasar dan menengah untuk dikembangkan menjadi satuan pendidikan dasar dan menengah berbasis keunggulan lokal. pengembangan. c. (3) Pengembangan potensi daerah/karakteristik daerah dan sosial budaya masyarakat setempat dilakukan melalui cara penyesuaian atau penambahan terhadap unsur-unsur tertentu yang sudah ada atau belum ada dalam Standar Nasional Pendidikan. dan promosi keunggulan lokal. Pemerintah bersama pemerintah kabupaten/kota dan pemerintah provinsi wajib mendirikannya. Pasal 130 (1) Satuan pendidikan dasar dan menengah berbasis keunggulan lokal diselenggarakan setelah memenuhi Standar Nasional Pendidikan yang diperkaya dan dikembangkan sesuai dengan potensi daerah/karakteristik daerah dan sosial budaya masyarakat setempat.pendidikan menengah untuk dikembangkan menjadi satuan pendidikan berbasis keunggulan lokal.doc (7) menerapkan sistem administrasi pendidikan berbasis 83 . Pasal 131 Satuan pendidikan dasar dan menengah yang dapat dikembangkan menjadi berbasis keunggulan lokal harus memenuhi persyaratan sebagai berikut: a.

BAB IX PENYELENGGARAAN PENDIDIKAN OLEH LEMBAGA NEGARA LAIN DAN KERJASAMA SATUAN PENDIDIKAN INDONESIA DENGAN SATUAN PENDIDIKAN NEGARA LAIN Pasal 133 (1) Perwakilan negara asing di wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia dapat menyelenggarakan satuan pendidikan anak usia dini. termasuk yang berkaitan dengan kurikulum. dan keluar-masuk (entry-exit). c. mempunyai sarana dan prasarana pendidikan yang memadai dan relevan dalam mendukung terselenggaranya pendidikan berbasis keunggulan lokal. terpisah-satu sistem-tidak satu atap. dan h. d. 76461668. g. proses pembelajaran. dan perpustakaan. terpisah-beda sistem-tidak satu atap. terpadu-satu sistem-satu atap.doc 84 . satuan pendidikan dasar.teknologi informasi dan komunikasi. b. mempunyai pendidik yang memiliki keahlian relevan dengan mata pelajaran keunggulan lokal. dan/atau satuan pendidikan menengah bagi warga negaranya atas persetujuan Pemerintah. d. Pasal 132 Satuan pendidikan dasar dan menengah bertaraf internasional atau berbasis keunggulan lokal dapat diselenggarakan dengan model: a. e. penilaian. menerapkan standar kelulusan dengan keunggulan lokal yang lebih tinggi dari standar kompetensi lulusan. melaksanakan proses pembelajaran dengan memperhatikan potensi daerah/karakteristik daerah dan sosial budaya masyarakat setempat. f. melaksanakan kurikulum sesuai standar isi yang diperkaya sesuai dengan potensi daerah/karakteristik daerah dan sosial budaya masyarakat setempat. (2) Satuan pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tidak boleh menerima peserta didik warga negara Indonesia.

Dalam bekerja sama sebagaimana dimaksud pada ayat (2) pendidikan asing wajib mengikutsertakan sekurang-kurangnya 30% (tiga puluh persen) pendidik warga negara Indonesia. Dalam bekerja sama sebagaimana dimaksud pada ayat (2) pendidikan oleh lembaga pendidikan asing wajib mengikutsertakan sekurang-kurangnya 80% (delapan puluh persen) tenaga kependidikan warga negara Indonesia.Pasal 134 (1) Lembaga pendidikan asing yang terakreditasi atau yang diakui di negaranya dapat menyelenggarakan pendidikan di wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia sesuai dengan peraturan perundang-undangan. Pasal 135 (1) Bahasa pengantar utama pada satuan pendidikan yang diselenggarakan oleh lembaga pendidikan asing adalah bahasa Indonesia. Dalam hal penggunaan sistem pendidikan negara lain sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dalam disiplin ilmu agama.doc 85 . kepemilikan lembaga asing sebanyak-banyaknya 49% (empat puluh sembilan persen). Menteri memberikan izin setelah memperoleh (2) (3) (4) (5) (2) (3) (2) 76461668. Penyelenggaraan pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus bekerja sama dengan lembaga penyelenggara pendidikan Indonesia. Pendidik dan tenaga kependidikan warga negara asing pada satuan pendidikan yang diselenggarakan oleh lembaga pendidikan asing wajib menguasai bahasa Indonesia dan memahami budaya Indonesia. Dalam bekerja sama sebagaimana dimaksud pada ayat (2). Pasal 136 (1) Pendidikan yang diselenggarakan oleh lembaga pendidikan asing sebagaimana dimaksud dalam Pasal 134 yang menggunakan sistem pendidikan negara lain yang diselenggarakan di wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia wajib memperoleh izin dari Menteri. Satuan pendidikan yang diselenggarakan oleh lembaga pendidikan asing wajib menerapkan sistem penggajian yang tidak diskriminatif bagi warga negara asing maupun warga negara Indonesia.

dan bahasa Indonesia kepada peserta didik warga negara Indonesia.pertimbangan dari Menteri Agama. Pasal 139 (1) Satuan pendidikan dasar atau satuan pendidikan menengah Indonesia dapat menjalin kerja sama akademik dengan satuan pendidikan sederajat negara lain. 86 76461668. Kerja sama pendidikan anak usia dini sebagaimana dimaksud pada ayat (1) bertujuan untuk meningkatkan mutu program pendidikan anak usia dini. c. penyelenggaraan pertemuan ilmiah bersama. Pasal 137 (1). dan/atau bentuk-bentuk lain yang dianggap perlu. (3). (2) (3) pertukaran guru dan/atau tenaga kependidikan. Kerja sama penyelenggaraan pendidikan anak usia dini sebagaimana yang dimaksud pada ayat (3) pada tingkat Taman Kanak-kanak atau yang sederajat hanya dapat dilakukan oleh penyelenggara satuan pendidikan yang memiliki satuan pendidikan Taman Kanak-kanak atau yang sederajat berakreditasi A. Kerja sama akademik pada ayat (1) dapat berbentuk: a.doc . Warga negara Indonesia yang menjadi peserta didik pada satuan pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) wajib mengikuti Ujian Nasional. (4) sebagaimana dimaksud (2). b. d. Penyelenggaraan pendidikan oleh lembaga asing sebagaimana dimaksud dalam Pasal 134 dan Pasal 136 yang menerima peserta didik warga negara Indonesia wajib memberikan pendidikan agama. Pasal 138 (1) Satuan pendidikan anak usia dini Indonesia dapat menjalin kerja sama akademik dengan satuan pendidikan anak usia dini negara lain. pemanfaatan bersama berbagai sumberdaya. Pendidikan agama sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diajarkan sesuai dengan agama yang dianut peserta didik dan diajarkan oleh pendidik yang seagama. pendidikan kewarganegaraan.

program kembaran. f. i. pertukaran guru dan/atau tenaga kependidikan.doc 87 . Kerja sama perguruan tinggi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) bertujuan untuk: b. dan/atau b. e. c.(2) Kerja sama untuk: sebagaimana dimaksud pada ayat (1) bertujuan a. pendidikan tinggi bertaraf 76461668. b. program pemindahan dan perolehan kredit. meningkatkan pembinaan dan/atau pelaksanaan program pendidikan tinggi. dan memperluas jaringan kemitraan untuk kepentingan perguruan tinggi. g. menyelenggarakan pendidikan menengah bertaraf internasional. (3) dasar atau pendidikan Kerja sama akademik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat berbentuk: a. pertukaran peserta didik. dan/atau bentuk-bentuk lain yang dianggap perlu. memperluas jaringan kemitraan untuk kepentingan satuan pendidikan. dan/atau c. (4) Kerja sama satuan pendidikan dasar atau pendidikan menengah sebagaimana yang dimaksud pada ayat (3) hanya dapat dilakukan oleh satuan pendidikan dasar atau pendidikan menengah berakreditasi A. penyelenggaraan seminar bersama. menyelenggarakan internasional. penelitian. pemagangan khusus pendidikan menengah kejuruan. memperluas pengabdian kepada masyarakat oleh perguruan tinggi. meningkatkan mutu penyelenggaraan pendidikan dasar atau pendidikan menengah. d. Pasal 140 (3) (4) Perguruan tinggi Indonesia dapat menjalin kerja sama akademik dan/atau non-akademik dengan perguruan tinggi negara lain. h. pemanfaatan bersama berbagai sumberdaya.

pemagangan. (5) (6) (7) (8) Kerja sama non-akademik sebagaimana yang dimaksud pada ayat (1) dapat dilakukan oleh setiap perguruan tinggi yang sudah memiliki izin pendirian dari Departemen. pengabdian kepada masyarakat. f. e. Kerja sama akademik dengan perguruan tinggi di luar negeri sebagaimana dimaksud pada ayat (3) huruf b sampai dengan huruf j hanya dapat dilaksanakan oleh program studi di Indonesia yang terakreditasi A. d. penerbitan jurnal ilmiah. g. penyelenggaraan seminar bersama. i. c. j. dan/atau bentuk-bentuk lain yang dianggap perlu. c. program pemindahan dan perolehan kredit. h. Program studi dari perguruan tinggi di luar negeri yang bekerja sama dengan program studi di Indonesia sebagaimana yang dimaksud pada ayat (5) harus terakreditasi atau diakui di negaranya dan terdaftar di Departemen.doc 88 . dan/atau d. kontrak manajemen. usaha penggalangan dana. pemanfaatan bersama berbagai sumberdaya. Kerja sama non-akademik sebagaimana yang dimaksud pada ayat (1) dapat berbentuk: a. program kembaran.(3) Kerja sama akademik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat berbentuk: a. pendayagunaan aset. penelitian. jasa dan royalti hak atas kekayaan intelektual. b. b. pertukaran dosen dan/atau mahasiswa. 76461668. (4) Kerja sama pendidikan tinggi sebagaimana yang dimaksud pada ayat (3) hanya dapat dilakukan oleh perguruan tinggi di Indonesia yang lebih dari 60% (enam puluh persen) program studinya berakreditasi A.

dan kecepatan belajar. kemampuan. Ketentuan lebih lanjut mengenai pelaksanaan berbagai bentuk kerja sama pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur lebih lanjut dengan Peraturan Menteri. Kerja sama sebagaimana yang dimaksud pada ayat (1) hanya dapat dilakukan oleh satuan pendidikan nonformal yang memiliki izin sesuai peraturan perundang-undangan dan terakreditasi. (2) (3) (2) BAB X HAK DAN KEWAJIBAN PESERTA DIDIK Pasal 144 (1)Peserta didik mempunyai hak: a. serta kebutuhan khususnya. Kerja sama satuan pendidikan nonformal sebagaimana dimaksud pada ayat (1) bertujuan untuk meningkatkan mutu pendidikan dan/atau memperluas jaringan kemitraan untuk kepentingan satuan pendidikan nonformal. 140. kecerdasan.Pasal 141 (1) Satuan pendidikan nonformal Indonesia dapat menjalin kerja sama akademik dan/atau non-akademik dengan lembaga pendidikan dari negara lain. b.doc 89 . 139. 138. Pasal 142 (1) Pemerintah mengakui bentuk-bentuk kerja sama sebagaimana dimaksud dalam Pasal 134. Pasal 143 Pemerintah secara teratur mengadakan evaluasi dan pengawasan terhadap semua bentuk pelayanan pendidikan yang melibatkan partisipasi asing. dan 141 selama tidak bertentangan dengan tujuan pendidikan nasional. memperoleh bantuan fasilitas belajar atau bantuan lain sesuai dengan persyaratan dan ketentuan yang berlaku. mendapatkan pendidikan agama sesuai dengan agama yang dianutnya dan diajarkan oleh pendidik yang seagama. 76461668. c. minat. memperoleh layanan pendidikan sesuai dengan bakat.

(2)Selain hak peserta didik sebagaimana dimaksud pada ayat (1).d. b. peserta didik pada pendidikan layanan khusus berhak: a. memperoleh layanan informasi yang berkaitan dengan proses pembelajaran yang diikuti termasuk hasil belajar. f. mendapatkan jaminan kelangsungan pendidikan. e. peserta didik pada pendidikan khusus berhak: a. menyelesaikan program pendidikan lebih cepat atau lebih lambat dari waktu yang ditentukan. menyelesaikan program pendidikan layanan khusus lebih cepat atau lebih lambat dari waktu yang ditentukan. pemerintah daerah. Pemerintah Kabupaten/Kota serta masyarakat. b. menggunakan kebebasan akademik secara bertanggung jawab untuk menuntut ilmu dan mengkaji ilmu sesuai dengan norma dan etika yang berlaku dalam lingkungan akademik. atau bantuan lain sesuai dengan kemampuan Pemerintah. memperoleh jaminan hukum yang sama seperti peserta didik pada umumnya. ikut serta dalam kegiatan organisasi peserta didik di satuan pendidikan yang bersangkutan. (3)Selain hak peserta didik sebagaimana dimaksud pada ayat (1). mengikuti pendidikan di luar batas usia yang berlaku bagi peserta didik biasa. dan/atau masyarakat bagi mereka yang berprestasi dan/atau orang tuanya tidak mampu membiayai pendidikan. dan 90 76461668. g. Pasal 145 (1) Selain hak peserta didik sebagaimana dimaksud dalam Pasal 144 ayat (1). dan h. Pemerintah Provinsi. peserta didik di perguruan tinggi berhak: h. mendapatkan beasiswa atau biaya pendidikan dari Pemerintah. memperoleh bantuan fasilitas belajar. pindah ke jalur atau satuan pendidikan lain yang sederajat atau melanjutkan ke satuan pendidikan yang lebih tinggi.doc . c. memperoleh kemudahan dari pihak terkait untuk menggunakan sarana dan prasarana fisik dan nonfisik untuk menunjang kelancaran pembelajaran. dan c.

mengikuti proses pembelajaran dengan menjunjung tinggi norma dan etika akademik. mencintai keluarga. ikut menanggung biaya penyelenggaraan pendidikan. c. ketertiban. d. dan negara. masyarakat. dan keamanan sekolah. ikut menjaga dan memelihara sarana dan prasarana. e. menjaga kewibawaan dan nama baik satuan pendidikan yang bersangkutan. (3) Keterlibatan mahasiswa dalam organisasi di luar perguruan tingginya merupakan tanggung jawab perseorangan yang bersangkutan. mengambil mata kuliah di luar program studi baik di dalam maupun di luar perguruan tinggi yang bersangkutan dan perolehan kreditnya dapat diperhitungkan dalam penyelesaian studi sesuai dengan peraturan akademik yang ditetapkan. h. (3) Pelaksanaan ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan 76461668.i. kebersihan. f. serta pembiasaan peserta didik. memelihara kerukunan dan kedamaian untuk mewujudkan harmoni sosial di antara sesama. menjalankan ibadah sesuai agama yang dianutnya. dan j. menghormati pendidik dan tenaga kependidikan. (2) Kewajiban sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan dengan bimbingan dan keteladanan pendidik dan tenaga kependidikan. b. bangsa. (4) Kegiatan mahasiswa dalam organisasi sebagaimana dimaksud pada ayat (3) tidak boleh mengatasnamakan perguruan tingginya. serta menyayangi sesama. kecuali yang dibebaskan dari kewajiban. mematuhi semua peraturan yang berlaku. mencintai lingkungan. Pasal 146 (1) Peserta didik berkewajiban menjaga ketentuan sebagai berikut: a. i. (2)Pelaksanaan ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur oleh perguruan tinggi yang bersangkutan.doc 91 . g.

pamong bertugas dan bertanggung jawab membimbing dan melatih anak usia dini pada kelompok bermain. melatih peserta didik. guru bertugas dan bertanggung jawab sebagai pendidik profesional dengan tugas utama mendidik. instruktur. membimbing. 76461668. dan pendidikan menengah. dan menyebarluaskan ilmu pengetahuan. dan pengabdian kepada masyarakat. teknologi. pamong belajar bertugas dan bertanggung jawab menyuluh. dan seni melalui pendidikan. pamong belajar. tutor. dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal. e. membimbing. penitipan anak dan bentuk lain yang sejenis. mengarahkan. dan mengembangkan: model program pembelajaran. widyaiswara. serta berpartisipasi dalam menyelenggarakan pendidikan. (2) Pendidik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) mempunyai tugas dan tanggung jawab sebagai berikut: a.doc 92 .ayat (2) serta sanksi atas pelanggarannya diatur oleh satuan pendidikan yang bersangkutan. pendidikan menengah. yang berfungsi sebagai agen pembelajaran peserta didik. dan pengelolaan pembelajaran pada jalur pendidikan nonformal. pamong. alat pembelajaran. mengajar. d. c. dosen bertugas dan bertanggung jawab sebagai pendidik profesional dan ilmuwan dengan tugas utama mentransformasikan. b. dan pendidikan tinggi. konselor. pendidikan dasar. dan sebutan lain yang sesuai dengan kekhususanya. mengembangkan. dosen. Tugas. penelitian. fasilitator. BAB XI PENDIDIK DAN TENAGA KEPENDIDIKAN Bagian Kesatu Jenis. melatih. konselor bertugas dan bertanggung jawab memberikan layanan konseling kepada peserta didik di satuan pendidikan pada jenjang pendidikan dasar. dan Tanggung Jawab Pasal 147 (1) Pendidik mencakup guru. menilai. mengajar.

Tenaga kependidikan mencakup pimpinan satuan pendidikan.doc (2). pimpinan satuan pendidikan bertugas dan bertanggung jawab mengelola satuan pendidikan pada pendidikan formal atau nonformal. pengawas bertugas dan bertanggung jawab melakukan 76461668. fasilitator bertugas dan bertanggung jawab memberikan pelayanan pembelajaran pada lembaga pendidikan dan pelatihan. instruktur bertugas dan bertanggung jawab memberikan pelatihan teknis kepada peserta didik pada kursus dan/atau pelatihan. b. teknisi sumber belajar. widyaiswara bertugas dan bertanggung jawab mendidik. Pasal 148. penilaian. tenaga lapangan pendidikan. 93 . Pasal 149 (1). (1). Kualifikasi akademik dan sertifikat pendidik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) bagi guru dan dosen diatur dalam Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen. pekerja sosial. g. pengawas satuan pendidikan formal. penilik satuan pendidikan nonformal. tenaga laboratorium. psikolog. Tenaga kependidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) mempunyai tugas dan tanggung jawab sebagai berikut: a. dan i. tutor bertugas dan bertanggung jawab memberikan bantuan belajar kepada peserta didik dalam proses pembelajaran jarak jauh dan/atau pembelajaran tatap muka pada satuan pendidikan jalur formal dan nonformal.f. Pendidik harus memiliki kualifikasi akademik dan sertifikat pendidik. (2). tenaga perpustakaan. dan sebutan lain untuk petugas sejenis yang bekerja pada satuan pendidikan. tenaga kebersihan sekolah. terapis. dan pembinaan pada satuan pendidikan nonformal. h. tenaga administrasi. penilik bertugas dan bertanggung jawab melakukan pemantauan. c. mengajar dan melatih peserta didik pada program pendidikan dan pelatihan prajabatan dan/atau dalam jabatan yang diselenggarakan oleh Pemerintah dan/atau pemerintah daerah.

pembimbingan. j. h. tenaga perpustakaan bertugas dan bertanggung jawab melaksanakan pengelolaan perpustakaan pada satuan pendidikan. i. dan pembinaan pada satuan pendidikan anak usia dini jalur formal. k. memperbaiki sarana dan prasarana pembelajaran pada satuan pendidikan. pekerja sosial bertugas dan bertanggung jawab memberikan layanan bantuan sosiologis-pedagogis kepada peserta didik dan pendidik pada pendidikan khusus dan pendidikan anak usia dini. g. psikolog bertugas dan bertanggung jawab memberikan layanan bantuan psikologis-pedagogis kepada peserta didik dan pendidik pada pendidikan khusus dan pendidikan anak usia dini. dan pendidikan menengah. e. terapis bertugas dan bertanggung jawab memberikan layanan bantuan fisiologis-kinesiologis kepada peserta didik pada pendidikan khusus dan pendidikan anak usia dini. penilaian. merawat. satuan pendidikan dasar. tenaga laboratorium bertugas dan bertanggung jawab membantu pendidik mengelola kegiatan praktikum di laboratorium satuan pendidikan. dan pelaporan pelaksanaan pendidikan nonformal. tenaga lapangan pendidikan bertugas dan bertanggung jawab melakukan pendataan. teknisi sumber belajar bertugas dan bertanggung jawab mempersiapkan. dan l. d. tenaga kebersihan sekolah bertugas dan bertanggung jawab memberikan layanan kebersihan lingkungan sekolah. 76461668.pemantauan. f. tenaga administrasi bertugas dan bertanggung jawab menyelenggarakan pelayanan administratif pada satuan pendidikan. pemantauan.doc 94 .

95 (2). dan pemberhentian pendidik dan tenaga kependidikan pada satuan pendidikan yang diselenggarakan oleh masyarakat dilakukan oleh badan hukum pendidikan berdasarkan perjanjian kerja atau kesepakatan kerja bersama. pemindahan. Pemerintah dan pemerintah daerah memfasilitasi penyediaan pendidik dan tenaga kependidikan sesuai perencanaan kebutuhan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dan ayat (3) untuk menjamin pelayanan pendidikan yang bermutu. dan pemberhentian pendidik dan tenaga kependidikan oleh Pemerintah dan pemerintah daerah dilaksanakan dalam rangka pemerataan dan/atau penjaminan mutu pendidikan. Pengangkatan. pemindahan.Bagian Kedua Pengangkatan. Pemerintah menetapkan persyaratan pendidik dan tenaga kependidikan yang memenuhi Standar Nasional Pendidikan. dan Pemberhentian Pasal 150 (1). penempatan. dan pemberhentian pendidik dan tenaga kependidikan pada satuan pendidikan yang diselenggarakan oleh Pemerintah atau pemerintah daerah dilaksanakan berdasarkan peraturan perundang-undangan. Pemerintah daerah merencanakan kebutuhan pendidik dan tenaga kependidikan yang memenuhi Standar Nasional Pendidikan atas dasar persyaratan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan rencana kebutuhan pendidik dan tenaga kependidikan nasional sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dan kebutuhan pendidik dan tenaga kependidikan daerah masingmasing. penempatan. Pemerintah merencanakan kebutuhan pendidik dan tenaga kependidikan yang memenuhi Standar Nasional Pendidikan pada satuan pendidikan secara nasional. 76461668. (3). Penempatan. (4). Pengangkatan. (3). Pengangkatan. (2). penempatan. pemindahan.doc . Pemindahan. Pasal 151 (1).

(2). (5). (1). masa kerja berdasarkan kompetensi yang dimiliki. Paragraf 2 Promosi dan Penghargaan Pasal 153 (3). Promosi bagi pendidik dan tenaga kependidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diberikan dalam bentuk kenaikan pangkat/golongan. Promosi.doc 96 . Badan hukum pendidikan masyarakat wajib melakukan pembinaan karir pendidik dan tenaga kependidikan pada satuan pendidikan yang diselenggarakannya sesuai dengan pola pembinaan karir sebagaimana dimaksud pada ayat (1). kenaikan jabatan. Pembinaan karir tenaga kependidikan dilaksanakan dalam bentuk peningkatan kualifikasi akademik dan/atau kompetensi manajerial dan/atau teknis sebagai tenaga kependidikan dengan mengacu pada Standar Nasional Pendidikan.Bagian Ketiga Pembinaan Karir. (3). 76461668. dan/atau penghargaan. (2). Pembinaan karir pendidik dilaksanakan dalam bentuk peningkatan kualifikasi akademik dan/atau kompetensi sebagai agen pembelajaran dengan mengacu pada Standar Nasional Pendidikan. Promosi bagi pendidik dan tenaga kependidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dilaksanakan sesuai dengan peraturan perundang-undangan. dan/atau bentuk promosi lainnya. pola Pemerintah dan/atau pemerintah daerah wajib melakukan pembinaan karir pendidik dan tenaga kependidikan sesuai dengan pola pembinaan karir sebagaimana dimaksud pada ayat (1). Pemerintah mengembangkan dan menetapkan pembinaan karir pendidik dan tenaga kependidikan. dan Penghargaan Paragraf 1 Pembinaan Karir Pasal 152 (1). (4). Pendidik dan tenaga kependidikan dipromosikan atas dasar prestasi kerja.

b. daerah konflik. (4) Pemerintah memberikan penghargaan kepada pendidik yang hasil penelitiannya memberikan kontribusi terhadap perluasan dan pendalaman kandungan atau penerapan ilmu. teknologi. c. pada tingkat Kabupaten/Kota. daerah perbatasan. pada tingkat provinsi oleh Pemerintah Provinsi. kabupaten/kota. atau seni. pada tingkat satuan pendidikan oleh satuan pendidikan. propinsi. kabupaten/kota oleh Pemerintah d. (3) Pemerintah memberikan penghargaan kepada pendidik yang berhasil menulis buku teks bahan belajar dan/atau menemukan teknologi pembelajaran baru yang dinilai bermutu tinggi. dengan memperhatikan peraturan perundang-undangan.(4). nasional. Pasal 154 (1) Penghargaan diberikan: kepada pendidik dan tenaga kependidikan a. pada tingkat desa oleh pemerintah desa.doc 97 . daerah tertinggal atau daerah bermasalah lainnya. (5) Pendidik atau tenaga kependidikan yang gugur dalam melaksanakan tugas memperoleh penghargaan dari Pemerintah dan/atau pemerintah daerah dan/atau penyelenggara satuan 76461668. dan/atau tingkat satuan pendidikan. pada tingkat nasional oleh Pemerintah. Pasal 155 (1) Pemerintah dan pemerintah daerah memberikan penghargaan kepada pendidik dan/atau tenaga kependidikan teladan yang bertugas di daerah terpencil. dan e. daerah bencana. (2) Penghargaan kepada pendidik dan tenaga kependidikan dapat diberikan oleh masyarakat dan organisasi profesi pada tingkat internasional. (2) Pemerintah dan pemerintah daerah memberikan penghargaan kepada pendidik dan/atau tenaga kependidikan yang dinilai berprestasi dan berdedikasi luar biasa. Promosi bagi pendidik dan tenaga kependidikan yang berkedudukan sebagai pegawai lembaga pendidikan yang dikelola oleh masyarakat dan berstatus bukan pegawai negeri sipil dilaksanakan sesuai dengan ketentuan peraturan yang ditetapkan oleh badan hukum pendidikan yang bersangkutan.

Bagian Keempat Larangan Pasal 157 (1) Pendidik dan tenaga kependidikan. atau bentuk penghargaan lainnya yang dilaksanakan sesuai dengan peraturan perundang-undangan. (7) Penghargaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1). dilarang menjual buku pelajaran. (3). dan ayat (5) dapat diberikan dalam bentuk tanda jasa. dan berjasa luar biasa dalam pendidikan. Masyarakat dapat memberi penghargaan kepada pendidik dan/atau tenaga kependidikan yang dinilai berprestasi. ayat (2). kenaikan pangkat setingkat lebih tinggi. baik perseorangan maupun kolektif. berdedikasi. pakaian seragam atau bahan pakaian seragam di satuan pendidikan. Hari Pendidikan Nasional. (2) Pendidik dan tenaga kependidikan.doc (2). ayat (4). (6) Penghargaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1). ayat (2). Hari Guru Nasional. baik perseorangan maupun kolektif. dilarang melakukan pungutan kepada peserta didik baik secara langsung maupun tidak langsung yang bertentangan 76461668. dan b. Pendidik dan/atau tenaga kependidikan dapat menerima penghargaan dari pihak asing sepanjang tidak bertentangan dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. ayat (3). Pemerintah atau pemerintah daerah memberi penghargaan kepada pendidik dan/atau tenaga kependidikan yang dinilai berprestasi. harganya lebih murah dari harga di pasaran. atau hari besar lainnya. Pasal 156 (1). dan ayat (4) diberikan pada Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia. kenaikan pangkat bagi yang menemukan penemuan baru yang bermanfaat bagi negara. baik perseorangan maupun kolektif dilarang memberikan bimbingan belajar atau les kepada peserta didiknya dengan memungut biaya. kenaikan pangkat berdasarkan prestasi kerja luar biasa baiknya. 98 . kecuali melalui koperasi satuan pendidikan yang: a. piagam. berdedikasi. ayat (3). (3) Pendidik dan tenaga kependidikan. tidak mewajibkan peserta didik untuk membelinya.pendidikan sesuai peraturan perundang-undangan. dan berjasa luar biasa dalam pendidikan.

(3) Syarat manajemen dan proses pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf e mencakup: a. hasil studi kelayakan tentang prospek pendirian satuan pendidikan dari segi prospek pendaftar.dengan peraturan perundang-undangan. dan budaya. geografis. (2) Syarat-syarat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berpedoman pada Standar Nasional Pendidikan. d. sosial. baik perseorangan maupun kolektif. b. dan ekologis. dan e. keuangan. c. (5) Pendidik dan tenaga kependidikan. jumlah dan kualifikasi pendidik dan tenaga kependidikan. dilarang menjadi tim sukses salah satu kontestan pemilihan umum pemilihan kepala daerah dan/atau pemilihan kepala desa. manajemen dan proses pendidikan. sarana dan prasarana yang memungkinkan terselenggaranya kegiatan pembelajaran.doc 99 . baik perseorangan maupun kolektif. hasil studi kelayakan tentang prospek pendirian satuan pendidikan dari segi tata ruang. dilarang melakukan segala sesuatu baik secara langsung maupun tidak langsung yang menciderai integritas evaluasi hasil belajar peserta didik. isi pendidikan/kurikulum. (4) Pendidik dan tenaga kependidikan. BAB XII PENDIRIAN SATUAN PENDIDIKAN Pasal 158 (1)Syarat-syarat untuk memperoleh izin pendirian satuan pendidikan meliputi: a. b. perimbangan antara jumlah satuan pendidikan dengan penduduk usia satuan pendidikan di wilayah tersebut. c. 76461668.sumber pembiayaan untuk kelangsungan program pendidikan sekurang-kurangnya untuk 1 (satu) tahun akademik berikutnya.

akses khusus pada jaringan informasi dan komunikasi untuk melaksanakan layanan bahan ajar. dan b. dan e. c. Pasal 159 Selain memenuhi persyaratan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 158. memproduksi. pustaka. jarak satuan pendidikan yang diusulkan di tengah klaster satuan pendidikan sejenis.d. program-program studi yang diselenggarakan secara khas terkait dengan tugas dan fungsi departemen atau lembaga pemerintah nondepartemen yang bersangkutan. undang-undang sektor terkait yang menyatakan perlu adanya pendidikan sebagaimana dimaksud dalam huruf a. pendirian perguruan tinggi yang diselenggarakan oleh departemen lain atau lembaga pemerintah nondepartemen. b. Pasal 161 (1). (2) Ketentuan lebih lanjut mengenai persyaratan dan program studi pada perguruan tinggi yang diselenggarakan oleh departemen lain atau lembaga pemerintah nondepartemen sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dengan Peraturan Menteri. Pasal 160 (1) Selain memenuhi persyaratan pendirian satuan pendidikan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 158. 76461668. harus memenuhi persyaratan: a. dukungan sistem operasional pendidikan jarak jauh serta jaringan kerja sama dengan pihak terkait. pendirian satuan pendidikan khusus bagi peserta didik berkelainan harus menyediakan sarana dan prasarana pendidikan khusus yang memungkinkan terselenggaranya kegiatan pembelajaran bagi peserta didik berkelainan. tutorial. Selain memenuhi persyaratan pendirian satuan pendidikan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 158. menyusun. dan melaksanakan pendidikan jarak jauh. menyebarluaskan.doc 100 . dan ujian secara elektronik. kapasitas daya tampung dan lingkup jangkauan satuan pendidikan yang ada. pendirian satuan pendidikan jarak jauh harus memiliki: a. sumberdaya manusia untuk merancang.

MAK. RA. SMA. dan satuan pendidikan nonformal wajib memperoleh izin dari Pemerintah Kabupaten/Kota. MTs. e. MI. SMK. satuan pendidikan khusus. atau bentuk lain yang sederajat. proyeksi ketersediaan calon peserta didik untuk setiap program studi. SMP. (2) Izin pendirian RA. Pasal 163 (1) Pendirian satuan pendidikan memperoleh izin dari Menteri. Ketentuan lebih lanjut mengenai persyaratan pendirian satuan pendidikan jarak jauh sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dengan Peraturan Menteri. MA. (4) Pendirian perguruan tinggi dan/atau program pendidikan jarak jauh pada semua jalur. (2). MI. MA. Pasal 162 (1) Pendirian TK. (3)Ketentuan lebih lanjut tentang pendirian satuan pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan (2) diatur dengan Peraturan Menteri.d. unsur penunjang untuk melaksanakan proses manajerial pendidikan jarak jauh. MAK sebagaimana dimaksud pada ayat (1). SD. MTs. oleh lembaga asing wajib (2) Pendirian satuan pendidikan nonformal yang diselenggarakan oleh lembaga asing hanya diberikan di ibukota provinsi. jenjang. atau bentuk lain yang sederajat. BAB XIII PENDIDIKAN LINTAS SATUAN DAN JALUR PENDIDIKAN Pasal 164 76461668. (3)Pendirian satuan pendidikan Indonesia di luar negeri diatur oleh Menteri. akses ke sarana dan prasarana untuk kegiatan tutorial. dan jenis pendidikan wajib memperoleh izin dari Menteri. atau bentuk lain yang sederajat. atau satuan pendidikan lain yang berada dalam pembinaan departemen yang menangani urusan pemerintahan di bidang agama dikeluarkan oleh Pemerintah Kabupaten/Kota setelah mendapat rekomendasi persetujuan dari kantor departemen agama kabupaten/kota. dan f.doc 101 .

atau bentuk lain yang sederajat dapat: a. SMK/MAK. Peserta didik nonformal dan informal dapat: a.Peserta didik dapat belajar atau mengambil program-program pendidikan pada jenis dan jalur pendidikan yang berbeda secara terpadu dan berkelanjutan melalui pembelajaran tatap muka atau jarak jauh dengan fleksibilitas pilihan dan waktu penyelesaian program lintas satuan dan jalur pendidikan. SDLB. b. pindah ke satuan atau program pendidikan. Ketentuan lebih lanjut tentang pindah satuan atau program pendidikan atau pengambilan program atau mata pelajaran sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) diatur dengan peraturama Menteri. SMPLB. (2) (3) Perpindahan satuan atau program pendidikan atau pengambilan program atau mata pelajaran sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat dilakukan melalui tes penempatan yang diselenggarakan oleh satuan pendidikan yang dituju. SD/MI. atau mengambil program atau mata pelajaran pada jenis dan/atau jalur pendidikan yang sama atau berbeda sesuai dengan persyaratan akademik satuan pendidikan penerima. (4) (5) Pasal 166 (1) Peserta didik suatu program studi pada perguruan tinggi tertentu dapat mengambil mata kuliah pada program studi yang sama atau berbeda pada perguruan tinggi yang sama atau perguruan tinggi lain yang terakreditasi.doc . atau mengambil program atau mata pelajaran pada jenis dan/atau jalur pendidikan yang sama atau berbeda sesuai dengan persyaratan akademik satuan pendidikan penerima. Pasal 165 (1) Peserta didik TK/RA. 102 76461668. TKLB. Satuan pendidikan umum yang menerima peserta didik dari satuan pendidikan khusus bagi peserta didik berkelainan Pemerintah dan pemerintah daerah harus menyediakan guru pembimbing khusus serta sarana dan prasarana pendidikan khusus yang memungkinkan terselenggaranya kegiatan pembelajaran bagi peserta didik berkelainan. b. SMALB. SMA/MA. pindah satuan atau program pendidikan. SMP/MTs.

pelaksana. dan organisasi kemasyarakatan dalam penyelenggaraan dan pengendalian mutu pelayanan pendidikan. ayat (2). Satuan kredit semester (sks) yang diperoleh peserta didik atau lulusan program studi tertentu dapat ditransfer untuk memenuhi persyaratan beban sks program studi lain. Kompetensi yang diperoleh peserta didik dari suatu satuan atau program pendidikan nonformal terakreditasi dapat diperhitungkan untuk memenuhi sks program studi yang diambil. dan ayat (4) diatur oleh masing-masing perguruan tinggi. Peranserta masyarakat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat berupa sumber. (3) (4) (5) BAB XIV PERANSERTA MASYARAKAT Bagian Kesatu Fungsi Pasal 167 Peranserta masyarakat dalam pendidikan berfungsi meningkatkan kualitas penyelenggaraan pendidikan dan pengendalian mutu pelayanan pendidikan dalam rangka mencapai tujuan pendidikan nasional. Bagian Kedua Komponen Peranserta Masyarakat Pasal 168 (1) Peranserta masyarakat dalam pendidikan meliputi peranserta perseorangan.doc .(2) Peserta didik suatu program studi pada perguruan tinggi tertentu dapat pindah program studi yang sama atau berbeda pada perguruan tinggi yang sama atau perguruan tinggi lain yang terakreditasi sesuai persyaratan akademik program studi penerima. organisasi profesi. Peranserta masyarakat dalam penyelenggaraan 103 (2) (3) 76461668. Ketentuan lebih lanjut mengenai ayat (1). kelompok. pengusaha. dan pengguna hasil pendidikan. keluarga. ayat (3).

dewan pendidikan tingkat nasional untuk semua jalur. pengawasan. pemberian beasiswa kepada peserta didik. (4) (1) berupa Peranserta masyarakat dalam pengendalian mutu pelayanan pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) mencakup partisipasi dalam perencanaan. Peranserta organisasi profesi sebagai sumber pendidikan dapat berupa penyediaan tenaga ahli dalam bidangnya dan narasumber dalam penyelenggaraan pendidikan formal maupun nonformal. sumbangan dana. sarana dan prasarana dalam penyelenggaraan pendidikan dan pengendalian mutu pelayanan pendidikan kepada satuan pendidikan baik formal maupun nonformal. dewan pendidikan tingkat provinsi dan kabupaten/kota dan komite sekolah/madrasah atau nama lain yang sejenis pada jalur pendidikan formal jenjang pendidikan dasar dan menengah serta pada pendidikan anak usia dini. Pasal 169 c. dana. Peranserta pengusaha sebagai sumber pendidikan dapat berupa penyediaan fasilitas sarana dan prasarana pendidikan.doc 104 . dan evaluasi program pendidikan yang dilaksanakan melalui: a. dan narasumber dalam penyelenggaraan pendidikan formal maupun nonformal secara terus menerus maupun sesekali waktu. dan narasumber dalam penyelenggaraan pendidikan formal maupun nonformal. dan jenis pendidikan. b. Peranserta organisasi kemasyarakatan sebagai sumber pendidikan dapat berupa pemberian beasiswa kepada peserta didik. kelompok. (1) Peranserta perseorangan. d. majelis wali amanah pada jalur pendidikan formal jenjang pendidikan tinggi. jenjang. dan keluarga sebagai sumber pendidikan dapat berupa kontribusi pendidik dan tenaga kependidikan.pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat penyelenggaraan pendidikan berbasis masyarakat. dan dewan pendidikan tingkat provinsi dan kabupaten/kota dan komite pendidikan nonformal pada jalur pendidikan nonformal. (2) (3) (4) Pasal 170 76461668.

lingkungan sosioekonomi. dan/atau kerja sama produksi dengan satuan pendidikan sebagai institusi pasangan. Pasal 171 (2) (3) (4) (1) Peranserta pengusaha sebagai pengguna hasil pendidikan dapat berupa kerja sama pengusaha dengan satuan pendidikan dalam penyediaan lapangan kerja bagi para lulusan. dan pembinaan satuan pendidikan. (2) Bagian Ketiga Pendidikan Berbasis Masyarakat Pasal 172 (1) Pendidikan berbasis masyarakat dilaksanakan pada satuan pendidikan formal dan nonformal yang diselenggarakan oleh masyarakat pada semua jenjang dan jenis pendidikan. Peranserta organisasi profesi sebagai pelaksana pendidikan dapat berupa pembentukan lembaga evaluasi dan/atau lembaga akreditasi mandiri. Masyarakat berhak menyelenggarakan pendidikan formal dan nonformal sesuai dengan kekhasan agama. dan kerja sama pengembangan jaringan informasi kebutuhan dunia usaha dan dunia industri. dan budaya untuk kepentingan masyarakat. pengelolaan. pemanfaatan hasil penelitian dan pengembangan dari satuan pendidikan tinggi. lingkungan sosialekonomi. evaluasi. pendidikan sistem ganda. Peranserta pengusaha sebagai pelaksana pendidikan dapat berupa pelaksanaan sistem magang. kelompok. atau keluarga sebagai pelaksana pendidikan dapat berupa partisipasi dalam pengelolaan pendidikan.(1) Peranserta perseorangan. pengawasan. dan pendanaan satuan pendidikan formal dan nonformal dengan kekhasan agama. Pengusaha atau perusahaan dapat menyelenggarakan program riset dan pengembangannya bekerja sama dengan perguruan tinggi di perusahaannya atau di perguruan tinggi yang bersangkutan.doc (2) 105 . dan budaya dikembangkan oleh satuan pendidikan 76461668. Pasal 173 Kurikulum. manajemen. Peranserta organisasi kemasyarakatan sebagai pelaksana pendidikan dapat berupa penyelenggaraan.

penyelenggaraan. dan evaluasi hasil pendidikan di tingkat provinsi. dalam proses perencanaan. Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara bantuan teknis. dan/atau bantuan asing.doc (2) (3) 106 . Bantuan teknis. subsidi dana. sarana dan prasarana serta pengawasan kepada Menteri. sarana dan prasarana serta pengawasan kepada bupati/walikota. dukungan tenaga. (2) (3) Bagian Keempat Dewan Pendidikan Pasal 175 (1) Dewan Pendidikan Nasional berperan dalam peningkatan mutu pelayanan pendidikan dengan memberikan pertimbangan dan arahan. dan sumberdaya lainnya sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dengan Peraturan Menteri. subsidi dana. subsidi dana. dalam proses perencanaan. Dewan Pendidikan Provinsi berperan dalam peningkatan mutu pelayanan pendidikan dengan memberikan pertimbangan dan arahan. penyelenggaraan. penyelenggaraan. dalam proses perencanaan. Pasal 174 (1) Lembaga pendidikan berbasis masyarakat pada jalur pendidikan formal dan nonformal dapat memperoleh bantuan teknis. Dewan Pendidikan Kabupaten/kota berperan dalam peningkatan mutu pelayanan pendidikan dengan memberikan pertimbangan dan arahan. dan evaluasi hasil pendidikan di tingkat nasional. sarana dan prasarana serta pengawasan kepada gubernur. dukungan tenaga.sesuai dengan kekhasan masing-masing dengan mengacu pada Standar Nasional Pendidikan. dukungan tenaga. Pasal 176 76461668. dan evaluasi hasil pendidikan di tingkat kabupaten/kota. dan sumberdaya lainnya secara adil dan merata sebagaimana dimaksud pada ayat (1) adalah perlakuan yang sama dari Pemerintah dan/atau pemerintah daerah pada satuan-satuan pendidikan dan daerahdaerah yang membutuhkan bantuan tersebut sesuai kemampuan Pemerintah dan pemerintah daerah . dan sumberdaya lain secara adil dan merata dari Pemerintah.

c. Pasal 177 (2) (1) (2) Dewan pendidikan dibentuk provinsi. Dewan pendidikan dapat mengadakan koordinasi dan kerja sama dengan Majelis Wali Amanah. komite sekolah/madrasah atau nama lain yang sejenis. dan/atau pihak-pihak yang dibutuhkan dalam rangka mengupayakan peningkatan mutu layanan pendidikan. organisasi profesi dan organisasi sosial kemasyarakatan yang peduli pendidikan. Dewan Pendidikan Nasional.(1) Dewan pendidikan harus peka dalam memperhatikan keluhan. Anggota dewan pendidikan diberhentikan sewaktu-waktu apabila: a. tokoh masyarakat. mengundurkan diri. saran. Dewan Pendidikan Provinsi. dan Dewan Pendidikan Kabupaten/kota. (3) (4) Pasal 178 (1) Keanggotaan dewan pendidikan berasal dari pakar pendidikan. maupun dengan lembaga pemerintahan. Dewan pendidikan tidak mempunyai hubungan hirarkhis baik antara Dewan Pendidikan Nasional. pada tingkat nasional. pengusaha. atau 107 . Dewan pendidikan menyelenggarakan pertemuan dengan masyarakat dalam rangka memperhatikan aspirasi masyarakat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) sekurang-kurangnya 2 (dua) kali dalam setahun. 76461668. b.doc (2) (3) melakukan perbuatan pidana kejahatan. praktisi pendidikan. dan kabupaten/kota. kritik dan menyalurkan aspirasi dan prakarsa masyarakat dalam upaya meningkatkan mutu pelayanan pendidikan. kepala satuan pendidikan. Dewan Pendidikan Provinsi. dan Dewan Pendidikan Kabupaten/kota memiliki hubungan koordinasi satu sama lain dalam penyelenggaraan pendidikan nasional. Masa jabatan keanggotaan dewan pendidikan adalah 5 (lima) tahun dan dapat dipilih kembali 1 (satu) kali masa jabatan. meninggal dunia.

dan Dewan Pendidikan Kabupaten/kota ditetapkan oleh bupati/walikota. 76461668. Panitia pemilihan anggota dewan pendidikan bekerja secara independen yang terdiri atas: a. Dalam melaksanakan tugasnya. 5 (lima) orang untuk tingkat provinsi dan kabupaten/kota dengan komposisi 2 (dua) pakar/tokoh pendidikan. (2) b. Susunan kepengurusan dewan pendidikan paling sedikit terdiri atas ketua dewan. dewan pendidikan membentuk sekretariat dan dapat mengikutsertakan tenaga ahli untuk membantu kegiatan komisi-komisi pendidikan. gubernur untuk tingkat provinsi. dan jenis pendidikan. Anggota dewan pendidikan harus berjumlah gasal. Pasal 179 (1) Organisasi dan kepengurusan Dewan Pendidikan Nasional ditetapkan oleh Menteri. tidak dapat melaksanakan tugas karena berhalangan tetap. dan bupati/walikota untuk tingkat kabupaten/kota. dan Dewan Pendidikan Kabupaten/kota berjumlah paling banyak 13 (tiga belas) orang. dan 1 (satu) wakil Dinas Pendidikan (eksekutif). dan Ketua dan sekretaris panitia pemilihan dipilih dari dan oleh para anggota. Anggota Dewan Pendidikan Nasional berjumlah paling banyak 23 (dua puluh tiga) orang.doc 108 . bendahara. 2 (dua) tokoh masyarakat. Dewan Pendidikan Provinsi ditetapkan oleh gubernur. sekretaris. c. Pembentukan komisi-komisi pendidikan sesuai dengan jalur. Pasal 180 (2) (3) (4) (5) (6) (1) Pemilihan anggota dewan pendidikan diselenggarakan oleh panitia yang dibentuk oleh Menteri untuk tingkat nasional. 7 (tujuh) orang untuk tingkat nasional dengan komposisi 3 (tiga) pakar/tokoh pendidikan. dan ketua-ketua komisi. dan 2 (dua) wakil Departemen Pendidikan Nasional (eksekutif). Dewan Pendidikan Provinsi berjumlah paling banyak 17 (tujuh belas) orang. jenjang.d. 2 (dua) tokoh masyarakat.

Panitia pemilihan Dewan Pendidikan Nasional melaporkan hasil pemilihan calon anggota Dewan Pendidikan Nasional kepada Menteri. pertimbangan dan arahan. serta pengawasan pendidikan. (2) (3) (4) (5) (6) (7) 76461668. Kepengurusan dewan pendidikan dipilih oleh dan dari anggota dewan pendidikan masing-masing. gubernur memilih dan menetapkan anggota Dewan Pendidikan Provinsi atas dasar hasil pemilihan calon anggota Dewan Pendidikan Provinsi sebagaimana dimaksud pada ayat (3). sekurang-kurangnya 2 (dua) kali jumlah anggota dewan pendidikan. dan panitia pemilihan Dewan Pendidikan Kabupaten/kota menyampaikan hasil pemilihan calon anggota Dewan Pendidikan Kabupaten/kota kepada bupati/walikota. Atas dasar daftar nama calon anggota dewan pendidikan yang diidentifikasikannya dan yang merupakan masukan masyarakat. Pasal 182 (1) Pendanaan dewan pendidikan nasional dapat berasal dari APBN atau sumber lain yang tidak mengikat. Setelah terbentuk kepengurusan. dewan pendidikan wajib menyusun program kerja yang memuat antara lain tentang perencanaan. dukungan tenaga. bupati/walikota memilih dan menetapkan anggota Dewan Pendidikan Kabupaten/kota atas dasar hasil pemilihan calon anggota Dewan Pendidikan Kabupaten/kota sebagaimana dimaksud pada ayat (3). Prosedur pemilihan anggota dan kepengurusan dewan pendidikan diinformasikan secara luas kepada masyarakat oleh panitia. Menteri memilih dan menetapkan anggota Dewan Pendidikan Nasional atas dasar hasil pemilihan calon anggota Dewan Pendidikan Nasional sebagaimana dimaksud pada ayat (3).doc 109 . panitia pemilihan Dewan Pendidikan Provinsi melaporkan hasil pemilihan calon anggota Dewan Pendidikan Provinsi kepada gubernur. sarana dan prasarana.Pasal 181 (1) Panitia pemilihan dewan pendidikan menerima masukan dari masyarakat tentang calon anggota dewan pendidikan sekurang-kurangnya 30 (tiga puluh) hari dan selama-lamanya 60 (enam puluh) hari. panitia pemilihan dewan pendidikan mengusulkan daftar calon anggota dewan pendidikan kepada pejabat yang berwenang. evaluasi program pendidikan.

(2)

Pendanaan dewan pendidikan provinsi dan dewan pendidikan kabupaten/kota dapat berasal dari APBD atau sumber lain yang tidak mengikat. Pasal 183

(1) (2)

Dewan pendidikan bertanggung jawab kepada publik. Mekanisme pertanggungjawaban dewan pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan melalui media komunikasi yang diterbitkan, brosur yang dicetak, atau media lain, dan disebarkan kepada masyarakat. Kegagalan dewan pendidikan dalam pertanggungjawaban publik sebagaimana diatur pada ayat (1) dan ayat (2) dapat berakibat pemberhentian ketua dan/atau anggota dewan pendidikan oleh pejabat yang menetapkannya. Bagian Kelima Komite Sekolah/Madrasah Paragraf 1 Fungsi dan Sifat Pasal 184

(3)

(1) (2)

Komite sekolah/madrasah atau nama lain yang sejenis merupakan mitra satuan pendidikan yang bekerja secara mandiri. Fungsi komite sekolah/madrasah adalah: a. b. c. d. e. memberikan pertimbangan kepada satuan pendidikan dalam pengelolaan pendidikan; memberikan dukungan sumberdaya pendidikan kepada satuan pendidikan; mengawasi penyelenggaraan pendidikan pada satuan pendidikan; menjadi mediator yang melibatkan pendidik dan tenaga kependidikan; dan menjadi mediator hubungan satuan pendidikan dengan berbagai kelompok kepentingan di masyarakat dalam rangka peningkatan mutu pelayanan pendidikan.

(3)

Komite sekolah/madrasah atau nama lain yang sejenis tidak mempunyai hubungan hirarkhis dengan dewan pendidikan
110

76461668.doc

maupun dengan lembaga pemerintahan. (4) Komite sekolah/madrasah dapat mengadakan koordinasi dan kerja sama dengan dewan pendidikan, kepala satuan pendidikan atau pihak-pihak yang dibutuhkan dalam rangka mengupayakan peningkatan mutu layanan pendidikan. Komite sekolah/madrasah atau nama lain yang sejenis menyampaikan laporan akhir masa jabatan kepada orang tua/wali peserta didik, kepala satuan pendidikan, dan/atau pihakpihak yang terkait. Komite sekolah/madrasah atau nama lain yang sejenis dibentuk di satuan pendidikan atau gabungan satuan pendidikan formal atau pada pendidikan nonformal pada jenjang pendidikan dasar dan menengah. Bagi satuan pendidikan yang memiliki peserta didik kurang dari 200 (dua ratus) maka komite sekolah/madrasahnya dapat bergabung dengan komite sekolah/madrasah dari satuan pendidikan lain. Pasal 185 (1) Komite sekolah/madrasah atau nama lain yang sejenis harus peka dalam memperhatikan keluhan, saran dan kritik, serta menyalurkan aspirasi dan prakarsa masyarakat dalam upaya peningkatan mutu layanan pendidikan. Komite sekolah/madrasah atau nama lain yang sejenis menyelenggarakan pertemuan dengan masyarakat dalam rangka memperhatikan aspirasi masyarakat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) sekurang-kurangnya 2 (dua) kali dalam setahun. Komite sekolah/madrasah atau nama lain yang sejenis berperan memberikan pertimbangan dan arahan, dukungan tenaga, sarana dan prasarana kepada penyelenggara satuan pendidikan, kepala satuan pendidikan, atau pihak-pihak yang relevan dalam proses perencanaan, penyelenggaraan, evaluasi hasil pendidikan, dan pengawasan pendidikan di tingkat sekolah. Komite sekolah/madrasah atau nama lain yang sejenis sebagai perwakilan masyarakat menilai pertanggungjawaban kepala satuan pendidikan. Untuk keperluan pertanggungjawaban sebagaiamana dimaksud pada ayat (4) di bidang keuangan, komite sekolah/madrasah atau nama lain yang sejenis dapat menunjuk akuntan publik.

(5)

(6)

(7)

(2)

(3)

(4)

(5)

76461668.doc

111

(6)

Tata cara peranserta komite sekolah/madrasah atau nama lain yang sejenis dalam evaluasi dan pengawasan diatur lebih lanjut dengan Peraturan Menteri. Komite sekolah/madrasah atau nama lain yang sejenis bersama Pemerintah atau dewan pendidikan dapat menyebarluaskan hasil pengawasan secara terbuka sebagai bentuk akuntabilitas publik.

(7)

Paragraf 2 Keanggotaan Pasal 186

(1)

Komite sekolah/madrasah sekurang-kurangnya terdiri atas anggota masyarakat yang mewakili orang tua/wali peserta didik, tokoh masyarakat, praktisi pendidikan, dan pendidik, yang memiliki wawasan, kepedulian dan komitmen terhadap peningkatan mutu pendidikan. Masa bakti anggota komite sekolah/madrasah adalah 4 (empat) tahun. Keanggotaan komite sekolah/madrasah maksimal 2 (dua) masa bakti. Anggota komite sekolah/madrasah atau nama lain yang sejenis tidak boleh merangkap sebagai pejabat kepala satuan pendidikan, pejabat struktural dalam pemerintahan, atau fungsionaris partai politik. Anggota komite sekolah/madrasah atau nama lain yang sejenis dapat diberhentikan sewaktu-waktu karena: a. melakukan perbuatan pidana kejahatan; dan b. melanggar ketentuan anggaran dasar.

(2) (3) (4)

(5)

(6)

Pemberhentian sebagaimana dimaksud pada ayat (5) diatur dalam anggaran dasar komite sekolah/madrasah. Paragraf 3 Persyaratan Anggota Pasal 187

76461668.doc

112

(1)

Persyaratan untuk menjadi anggota komite sekolah/madrasah atau nama lain yang sejenis adalah anggota masyarakat yang mempunyai pengalaman, komitmen, dan tanggung jawab dalam meningkatkan pemerataan, mutu, relevansi, dan efisiensi pada penyelenggaraan pendidikan di tingkat satuan pendidikan. Anggota komite sekolah/madrasah atau nama lain yang sejenis berasal dari perseorangan atau perwakilan organisasi. Paragraf 4 Struktur Organisasi dan Kepengurusan Pasal 188

(2)

(1)

Organisasi dan kepengurusan komite sekolah/madrasah atau nama lain yang sejenis pada jenjang pendidikan dasar dan pendidikan menengah ditetapkan oleh bupati/walikota. Organisasi dan kepengurusan komite sekolah/madrasah atau nama lain yang sejenis pada jenjang dasar dan pendidikan menengah yang dikembangkan oleh Pemerintah Provinsi menjadi bertaraf internasional ditetapkan oleh gubernur. Susunan kepengurusan komite sekolah/madrasah atau nama lain yang sejenis sekurang-kurangnya terdiri atas ketua, sekretaris, bendahara, dan anggota. Jumlah anggota komite sekolah/madrasah atau nama lain yang sejenis harus gasal, disesuaikan dengan kebutuhan, dan jumlahnya sebanyak-banyaknya 9 (sembilan) orang. Masa jabatan kepengurusan komite sekolah/madrasah atau nama lain yang sejenis adalah 4 (empat) tahun dan dapat dipilih kembali maksimal 2 (dua) kali secara berturut-turut. Masa kepengurusan komite sekolah/madrasah atau nama lain yang sejenis sebagaimana dimaksud pada ayat (4) dapat berakhir sebelum 4 (empat) tahun dan dapat diangkat pengurus pengganti. Paragraf 5 Mekanisme Pemilihan Pasal 189

(2)

(3)

(4)

(5)

(6)

(1)

Pemilihan anggota komite sekolah/madrasah diselenggarakan oleh panitia yang dibentuk oleh kepala satuan pendidikan dan orang tua/wali peserta didik.

76461668.doc

113

Pemilihan kepengurusan komite sekolah/madrasah dipilih dari dan oleh anggota komite sekolah/madrasah atau nama lain yang sejenis masing-masing. 114 (3) 76461668. brosur yang dicetak. Panitia menyampaikan nama anggota dan susunan kepengurusan komite sekolah/madrasah atau nama lain yang sejenis hasil pemilihan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dan ayat (3) kepada kepala sekolah untuk ditetapkan. (2) Pasal 191 (1) (2) Komite sekolah/madrasah bertanggung jawab kepada publik.doc . 2 (dua) unsur orangtua/wali peserta didik (masyarakat). dan disebarkan kepada masyarakat. (3) (4) (5) Paragraf 6 Pendanaan Pasal 190 (1) Pendanaan operasional komite sekolah/madrasah atau nama lain yang sejenis dapat berasal dari anggaran pendapatan dan belanja sekolah/madarasah dan sumber lain yang tidak mengikat. atau media lain. Mekanisme pertanggungjawaban komite sekolah/madrasah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan melalui media komunikasi yang diterbitkan. dan 1 (satu) unsur . dan diketuai oleh unsur masyarakat. dan dilaporkan kepada kantor dinas yang menangani urusan pemerintahan di bidang pendidikan sesuai kewenangannya. Kegagalan komite sekolah/madrasah dalam pertanggungjawaban publik sebagaimana diatur pada ayat (1) dan ayat (2) dapat berakibat pemberhentian ketua dan/atau anggota komite sekolah/madrasah oleh pejabat yang menetapkannya. Pengurus komite sekolah/madrasah atau nama lain yang sejenis bersama masyarakat mengusahakan pencarian sumber dana bagi komite sekolah/madrasah atau nama lain yang sejenis. Proses pemilihan dari awal sampai terbentuknya anggota komite sekolah/madrasah atau nama lain yang sejenis diinformasikan kepada masyarakat oleh panitia.(2) Panitia pemilihan anggota komite sekolah/madrasah atau nama lain yang sejenis bekerja secara independen yang terdiri atas 5 (lima) orang yaitu 2 (dua) unsur pendidik (guru).

Dewan pendidikan dan/atau komite sekolah/madrasah atau nama lain yang sejenis. dilarang melakukan segala sesuatu baik secara langsung maupun tidak langsung yang menciderai integritas evaluasi hasil belajar.doc . BAB XV PENGAWASAN Pasal 193 (2) (3) (4) (5) (1) Pengawasan penyelenggaraan dan pegelolaan pendidikan mencakup pengawasan administratif dan teknis edukatif. Dewan pendidikan dan/atau komite sekolah/madrasah atau nama lain yang sejenis. Dewan pendidikan dan/atau komite sekolah/madrasah atau nama lain yang sejenis. dilarang menjual buku pelajaran. Pemerintah melakukan pengawasan secara nasional terhadap penyelenggaraan dan pegelolaan pendidikan pada semua jalur. pakaian seragam atau bahan pakaian seragam di satuan pendidikan baik secara langsung maupun tidak langsung. dilarang melakukan pungutan kepada peserta didik baik secara langsung maupun tidak langsung yang bertentangan dengan peraturan perundang-undangan.Bagian Keenam Larangan Pasal 192 (1) Dewan pendidikan dan/atau komite sekolah/madrasah atau nama lain yang sejenis. Pemerintah Provinsi melakukan pengawasan 115 (2) (3) 76461668. baik secara perseorangan maupun kolektif dilarang memberikan bimbingan belajar atau les kepada peserta didik baik secara langsung maupun tidak dengan memungut biaya. baik perseorangan maupun kolektif. serta tidak membebani atau mengambil keuntungan dari satuan pendidikan. Dewan pendidikan dan/atau komite sekolah/madrasah atau nama lain yang sejenis. baik perseorangan maupun kolektif. baik perseorangan maupun kolektif. dan jenis pendidikan. dilarang mengintervensi seleksi calon peserta didik dan proses pembelajaran. baik perseorangan maupun kolektif. jenjang.

oleh Pemerintah diduga meragukan. Pemerintah Provinsi. jalur. maka Pemerintah menindaklanjuti hasil pengawasan tersebut. serta pendidikan lintas kabupaten/kota di dalam wilayah provinsi tersebut. (3) Dalam hal hasil pengawasan yang dilakukan oleh Pemerintah Provinsi dan/atau Pemerintah Kabupaten/Kota.terhadap penyelenggaraan dan pegelolaan pendidikan dasar dan pendidikan menengah bertaraf internasional. (5) Dalam hal hasil pengawasan yang dilakukan oleh Pemerintah Kabupaten/Kota. (4) Pemerintah Kabupaten/Kota pengawasan terhadap penyelenggaraan dan pendidikan anak usia dini.doc 116 . (6) Dalam hal hasil pengawasan yang dilakukan oleh Pemerintah Kabupaten/Kota. maka Pemerintah menindaklanjuti hasil pengawasan tersebut. jenjang. oleh Pemerintah Provinsi diduga meragukan. Pasal 195 (1) Dewan pendidikan melakukan pengawasan terhadap pelaksanaan penyelenggaraan dan pegelolaan pendidikan pada semua satuan pendidikan. maka Pemerintah melakukan pengawasan ulang. (2) Komite sekolah/madrasah melakukan pengawasan terhadap pelaksanaan penyelenggaraan dan pegelolaan pendidikan pada satuan pendidikan yang bersangkutan. dan jenis pendidikan sesuai dengan kewenangannya. oleh Pemerintah dipandang kredibel. dan oleh melakukan pegelolaan pendidikan (2) Dalam hal hasil pengawasan yang dilakukan oleh Pemerintah Provinsi dan/atau Pemerintah Kabupaten/Kota. pendidikan dasar. dan pendidikan nonformal di wilayahnya. 76461668. Pemerintah Kabupaten/Kota dalam menjalankan tugas pengawasan dapat menunjuk lembaga pengawasan/pemeriksaan independen. Pasal 194 (1) Pemerintah melakukan pengawasan secara langsung memperhatikan hasil pengawasan yang dilakukan Pemerintah Provinsi dan/atau Pemerintah Kabupaten/Kota. menengah. (7) Pemerintah. maka Pemerintah melakukan pengawasan ulang. (4) Pemerintah provinisi menjalankan tugas pengawasan atas dasar hasil pengawasan yang dilakukan oleh Pemerintah Kabupaten/Kota. oleh Pemerintah Provinsi dipandang kredibel.

f. program pendidikan. keluarga atau anggota/kelompok melaksanakan pendidikan informal. 76461668. lembaga pemerintah menyelenggarakan pendidikan. memantau. dan/atau melakukan inspeksi mendadak terhadap objek yang diawasi. dewan pendidikan. menguji. k. b. j. Pemerintah Provinsi. atau masyarakat yang nondepartemen yang pihak lain yang terlibat dalam penyelenggaraan dan pegelolaan pendidikan. mengusut. i. dan/atau pemeriksaan terpadu. mengevaluasi. menguji. unit kerja di lingkungan Departemen. c. menilai. b.doc 117 . dan/atau penyalahgunaan wewenang dalam penyelenggaraan dan pegelolaan pendidikan. (3) Pemeriksaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a dan huruf b dapat berbentuk pemeriksaan umum. pemeriksaan investigatif. pemeriksaan tematik. memeriksa. satuan pendidikan. badan hukum pendidikan. komite sekolah/madrasah. l. meneliti. penyimpangan. e. departemen lain yang menyelenggarakan pendidikan. g. Pasal 196 (1) Pengawasan oleh Pemerintah dilakukan dengan cara: a. pemeriksaan khusus. dan/atau menilai informasi aduan masyarakat tentang hambatan. memeriksa. Pemerintah Kabupaten/Kota.(3) Pengawasan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) diinformasikan kepada masyarakat yang berkepentingan secara terbuka sebagai bentuk akuntabilitas publik. h. d. (2) Objek pengawasan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a adalah: a.

b. pendidikan menengah. badan hukum pendidikan yang melaksanakan atau menyelenggarakan pendidikan dasar dan/atau pendidikan menengah. komite sekolah/madrasah. penyelenggara pendidikan pendidikan anak usia dini. satuan pendidikan anak usia dini. dan/atau menilai informasi aduan masyarakat tentang hambatan. l. menguji. meneliti. memantau. penyimpangan. mengevaluasi.(4) Pengawasan sebagaimana dimaksud pada ayat (1). i. unit-unit perwakilan departemen lain di provinsi menyelenggarakan atau mengelola pendidikan. dan pendidikan nonformal. dan/atau melakukan inspeksi mendadak terhadap objek yang diawasi. dasar. memeriksa. Pemerintah Kabupaten/Kota. memeriksa. j. keluarga atau anggota/kelompok melaksanakan pendidikan informal. menilai. dan/atau penyalahgunaan wewenang dalam penyelenggaraan dan pegelolaan pendidikan. unit kerja di bawah gubernur. b. menguji. h.doc . ayat (2). mengusut. Pasal 197 (1) Pengawasan oleh Pemerintah Provinsi dilakukan dengan cara: a. yang masyarakat dibentuk yang dan/atau dewan g. c. dan pendidikan nonformal. dewan pendidikan tingkat provinsi pendidikan tingkat kabupaten/kota. masyarakat lembaga evaluasi pendidikan mandiri yang dibentuk oleh 118 76461668. d. e. f. k. dan ayat (3) dilaporkan kepada Menteri dan objek yang diawasi. (2) Objek pengawasan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a adalah: a. pendidikan dasar. pendidikan pendidikan menengah. yang program pendidikan pada satuan pendidikan menengah dan pendidikan nonformal. lembaga akreditasi mandiri dan/atau asosiasi profesi.

Menteri. 76461668. pendidikan dasar. komite sekolah/madrasah. f. pemeriksaan investigatif. badan hukum pendidikan yang menyelenggarakan pendidikan dasar. menguji. penyimpangan. unit kerja di bawah bupati/walikota. program pendidikan pada satuan pendidikan nonformal. d. (4) Pengawasan sebagaimana dimaksud pada ayat (1).masyarakat dan/atau asosiai profesi. penyelenggaraan dan dengan kewenangan (3) Pemeriksaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a dan b dapat berbentuk pemeriksaan umum. c. memeriksa. dan ayat (3) dilaporkan kepada gubernur. dan/atau melakukan inspeksi mendadak terhadap objek yang diawasi. melaksanakan atau dewan pendidikan tingkat kabupaten/kota. pemeriksaan tematik. dan/atau pemeriksaan terpadu. meneliti. dan/atau penyalahgunaan wewenang dalam penyelenggaraan dan pegelolaan pendidikan. b. dan pendidikan nonformal. dan objek yang diawasi. pendidikan dasar. satuan pendidikan anak usia dini. sesuai Pemerintah Provinsi. mengusut. h. pihak lain yang terlibat dalam pegelolaan pendidikan. dan/atau menilai informasi aduan masyarakat tentang hambatan. menilai. atau m. b. menguji. unit-unit perwakilan departemen lain di kabupaten/kota yang menyelenggarakan atau mengelola pendidikan. penyelenggara pendidikan anak usia dini. mengevaluasi.doc 119 . pemeriksaan khusus. g. ayat (2). dan pendidikan nonformal. e. Pasal 198 (1) Pengawasan oleh Pemerintah Kabupaten/Kota dilakukan dengan cara: a. memeriksa. (2) Objek pengawasan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a adalah: a. memantau.

penyelenggara pendidikan. sesuai dengan kewenangan Pemerintah Kabupaten/Kota. mengevaluasi. gubernur. g.i. f. satuan pendidikan. d. (2) Objek pengawasan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a adalah: a. dan ayat (3) dilaporkan kepada bupati/walikota. dan/atau pihak lain yang terlibat pegelolaan pendidikan. Menteri. penyimpangan. c. menilai. dan objek yang diawasi. pemeriksaan investigatif. j. b. b. (3) Pemeriksaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a dan b dapat berbentuk pemeriksaan umum. komite sekolah/madrasah. pemeriksaan khusus. meneliti dan/atau menilai informasi aduan masyarakat tentang hambatan. keluarga atau anggota/kelompok melaksanakan pendidikan informal. e. (3) badan hukum pendidikan. dalam penyelenggaraan yang dan Pengawasan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) dilaporkan kepada: 76461668. dan/atau pemeriksaan terpadu.ayat (2). Pengawasan sebagaimana dimaksud pada ayat (1). program pendidikan pada satuan pendidikan. pemeriksaan tematik. dan/atau penyalahgunaan wewenang dalam penyelenggaraan dan pegelolaan pendidikan. dan/atau memantau terhadap objek yang diawasi sesuai dengan kewenangannya. atau masyarakat yang pihak lain yang terlibat dalam penyelenggaraan dan pegelolaan pendidikan. (4) Pasal 199 (1) Pengawasan oleh dewan pendidikan dilakukan dengan cara: a.doc 120 . keluarga atau anggota/kelompok masyarakat melaksanakan pendidikan informal.

satuan pendidikan yang bersangkutan. pelaporan. d. bupati/walikota. c. Objek pengawasan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a adalah: a. b. badan hukum pendidikan.doc 121 . Pengawasan oleh komite sekolah/madrasah dilakukan dengan cara: a. meneliti dan/atau menilai informasi aduan masyarakat tentang hambatan. dinas yang kabupaten/kota. pelaksanaan. untuk dewan pendidikan tingkat provinsi dan kabupaten/kota. Pasal 200 (1). dan/atau b. dan c. b. Menteri mengkoordinasikan perencanaan. dan tindak lanjut pengawasan sebagaimana dimaksud 76461668. mengevaluasi. Pengawasan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) dilaporkan kepada: a. menteri. menangani urusan pendidikan di b. dan untuk dewan pendidikan tingkat objek yang diawasi. kabupaten/kota. gubernur. dan/atau penyalahgunaan wewenang dalam penyelenggaraan dan pegelolaan pendidikan. program pendidikan bersangkutan. dan/atau memantau terhadap objek yang diawasi. (2). menilai. Pasal 201 (1). dan kabupaten/kota. untuk dewan pendidikan provinsi. penyimpangan. pada satuan pendidikan yang (3). objek yang diawasi. tingkat nasional.a.

BAB XVI SANKSI Pasal 202 (1). Pasal 159. 29. 98. (2). yang e. satuan pendidikan. 31. (2). memberikan penghargaan atas kinerja objek diawasi. Pasal 198. 36. penggabungan atau penutupan satuan pendidikan. 50. 64. masukan dalam perencanaan pendidikan. Pasal 199. Pasal 197. Pemerintah dan/atau pemerintah daerah sesuai dengan kewenangannya dapat menutup satuan pendidikan dan/atau program pendidikan yang telah memperoleh izin pendirian dan/atau izin penyelenggaraan dari pihak yang berwenang tetapi terbukti tidak memenuhi persyaratan pendirian sebagaimana dimaksud dalam Pasal 158. dan Pasal 200. 42. pembekuan. 62. Pemerintah dan/atau pemerintah daerah sesuai dengan kewenangannya menutup satuan pendidikan dan/atau program pendidikan yang beroperasi tanpa izin sebagaimana dimaksud dalam Pasal 159 dan Pasal 160. c.pada Pasal 196. program pendidikan. dan/atau badan hukum pendidikan yang melaksanakan pendidikan yang tidak sesuai dengan ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 25. b. 74. Pasal 161. 68. d. 122 76461668. Pasal 162. Pasal 160. dan Pasal 163. masukan dalam pelaksanaan rencana pendidikan. Pasal 203 (1) Pemerintah dan/atau pemerintah daerah sesuai dengan kewenangannya dapat memberikan sanksi administratif berupa peringatan. menilai kinerja objek yang diawasi. 82. memberikan sanksi atas penyimpangan administratif dan/atau pelanggaran hukum yang dilakukan oleh objek yang diawasi baik individu ataupun kelembagaan. Pengawasan digunakan oleh pihak penerima laporan pengawasan untuk: a. 30.doc . 28. 26. 55.

program pendidikan. Pemerintah dapat memberikan sanksi administratif berupa teguran tertulis. 125. 108. 55. pembekuan. 138. 28. 29. 74. 30. 152. Menteri berwenang memberhentikan pimpinan perguruan tinggi yang bersangkutan dari jabatannya. 145. 130. pembekuan. 160. 108. 107. 144. 31. 126. 68. 107. 137. 138. Perseorangan atau kelompok anggota sivitas akademika perguruan tinggi yang melaksanakan kebebasan akademik dan/atau otonomi keilmuan yang melanggar ketentuan yang diatur dalam Pasal 70. 140. 118. 62. 142. 145. 126. 151. 161. 136. 144. 159. 140. Menteri berwenang memberhentikan yang bersangkutan dari jabatannya. 151. 136. atau memberhentikan yang bersangkutan dari status kepegawaiannya di perguruan tinggi. 26. 157. dan/atau badan hukum pendidikan yang melaksanakan pendidikan yang tidak sesuai dengan ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 25. 165 dan Pasal 164. 137. 158. 157. (2) Pemerintah dan/atau pemerintah daerah sesuai dengan kewenangannya dapat menunda atau membatalkan pemberian subsidi sumberdaya pendidikan kepada satuan pendidikan. Pasal 204 (1) Pimpinan perguruan tinggi yang melanggar ketentuan Pasal 68 diberi sanksi oleh pejabat yang berwenang sesuai peraturan perundang-undangan. 118. 130. dikenakan sanksi sanksi administratif oleh Pemerintah berupa teguran tertulis.doc . 139. 125. 158. dan/atau dicabut izin penyelenggaraannya. Dalam hal pejabat yang berwenang sebagaimana dimaksud pada ayat (1). 142. dikenakan sanksi administratif oleh perguruan tinggi yang bersangkutan berupa teguran tertulis dan/atau diberhentikan dari jabatannya atau diberhentikan dari status kepegawaiannya di perguruan tinggi yang bersangkutan. penutupan. 161. 42. 36. 159. Perguruan tinggi atau unit dari perguruan tinggi yang melaksanakan kebebasan akademik dan/atau otonomi keilmuan yang melanggar ketentuan yang diatur dalam Peraturan Pemerintah ini. 98. Dalam hal perguruan tinggi tidak melakukan pemberhentian sebagaimana dimasuk pada ayat (3). 139.101. melalaikan ketentuan ayat (1). 101. 50. 160. 152. 82. 64. 165 dan Pasal 164. dan/atau penutupan perguruan tinggi yang melaksanakan dharma perguruan tinggi yang tidak sesuai dengan ketentuan sebagaimana diatur dalam Peraturan 123 (2) (3) (4) (5) (6) 76461668.

Pasal 208 (1) Pendidik atau tenaga kependidikan yang melalaikan tugas dan/atau kewajibannya selama 3 (tiga) bulan atau lebih secara terus menerus tanpa alasan yang dapat dipertanggungjawabkan dikenakan sanksi administratif sesuai dengan peraturan perundang-undangan. dan/atau mengeluarkan dari satuan pendidikan terhadap peserta didik yang tidak melaksanakan kewajibannya sebagaimana diatur dalam Pasal 144. Pasal 207 Satuan pendidikan jarak jauh yang tidak memenuhi persyaratan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 102. Pasal 205 (1). (2) Pendidik atau tenaga kependidikan pegawai negeri sipil yang melanggar ketentuan Pasal 154 dikenakan sanksi administratif sesuai dengan peraturan perundang-undangan. institusi Pemerintah. dikenakan sanksi administratif berupa teguran tertulis. dan Pasal 106. yang melaksanakan pendidikan informal baik disengaja maupun tidak disengaja yang melanggar ketentuan Pasal 97 dapat dikenakan sanksi administratif berupa teguran tertulis. dewan pendidikan. Pasal 206 Perseorangan. Anggota komite sekolah/madrasah. Pasal 105.doc 124 . Satuan pendidikan dapat memberikan sanksi administratif berupa peringatan.Pemerintah ini. dan/atau penutupan oleh Menteri. skorsing. pembekuan. 76461668. (2). kelompok. pembekuan. dan/atau penutupan dari Pemerintah dan/atau pemerintah daerah. (3) Pendidik atau tenaga kependidikan nonpegawai negeri sipil yang melanggar ketentuan Pasal 154 dikenakan sanksi administratif sesuai dengan peraturan perundang-undangan. atau organisasi. organisasi orang tua peserta didik. Pasal 103. dan yang menangani pendidikan. serta pihak lain yang terkait dengan satuan pendidikan secara perseorangan ataupun kolektif yang melanggar ketentuan Pasal 187 dikenakan sanksi teguran secara tertulis dari Pemerintah Kabupaten/Kota atau Pemerintah Provinsi sesuai dengan kewenangannya.

(4) Badan hukum pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (3) yang melalaikan ketentuan ayat (3) dikenakan sanksi administratif berupa peringatan tertulis atau pembekuan oleh Pemerintah atau sesuai kewenangannya. penundaan kenaikan pangkat. dikenakan sanksi administratif berupa teguran tertulis. pembebasan dari jabatan. pemberhentian dengan hormat. dan/atau penutupan satuan 76461668. atau memberhentikan pendidik atau tenaga kependidikan yang bertentangan dengan ketentuan Pasal 148 tanpa alasan yang sah. pembekuan. Satuan pendidikan Indonesia yang melaksanakan kerja sama dengan satuan pendidikan dari negara lain yang tidak sesuai dengan ketentuan sebagaimana diatur dalam Pasal 138. (5) Seseorang yang mengangkat. Pasal 26. Pasal 139. memindahkan. dan Pasal 140 dikenakan sanksi administratif berupa teguran tertulis. atau bupati/walikota sesuai dengan kewenangan. pembekuan. menempatkan. gubernur. dan Pasal 31 dikenakan sanksi administratif berupa teguran tertulis. dan Pasal 136 dikenakan sanksi oleh Menteri berupa teguran tertulis dan/atau penutupan satuan pendidikan. Pasal 134. Pasal 30. penundaan kenaikan gaji berkala. Pasal 210 (1) Penyelenggaraan pendidikan di wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia oleh perseorangan. dan/atau penutupan satuan pendidikan oleh Menteri. (2) Pencabutan izin sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan setelah diadakan pembinaan paling lama tiga tahun. Pasal 29. dan Pasal 127 serta pendidikan berbasis keunggulan lokal sebagaimana dimaksud dalam Pasal 129 dan Pasal 131 dikenakan sanksi administratif berupa teguran tertulis hingga pencabutan izin sebagai satuan pendidikan bertaraf internasional atau satuan pendidikan berbasis keunggulan lokal oleh Pemerintah atau pemerintah daerah sesuai kewenangannya.doc (2) 125 . perwakilan negara asing atau lembaga pendidikan asing yang tidak sesuai dengan ketentuan sebagaimana diatur dalam Pasal 133. dan/atau pemberhentian dengan tidak hormat dari jabatannya. Pasal 126. Pasal 28. Pasal 211 Satuan pendidikan yang melanggar ketentuan tentang pengelolaan pendidikan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 25. organisasi. Pasal 209 (1) Satuan pendidikan yang melanggar ketentuan tentang penyelenggaraan pendidikan bertaraf internasional sebagaimana dimaksud dalam Pasal 125.

dan Pasal 184 dikenakan sanksi administratif berupa teguran tertulis oleh Pemerintah atau sesuai kewenangannya Pasal 213 Perseorangan atau kelompok pegawai Pemerintah atau sesuai kewenangannya yang melanggar atau melalaikan ketentuan yang diatur dalam Pasal 192 atau menggunakan kewenangannya yang melampaui peraturan perundang-undangan dikenakan sanksi administratif berupa teguran tertulis. (2) BAB XVII KETENTUAN PERALIHAN Pasal 214 Sekolah internasional. pembebasan dari jabatan.doc 126 . pemberhentian dengan hormat. wajib menyesuaikan dengan Peraturan Pemerintah ini selambat-lambatnya 3 tahun sejak Peraturan Pemerintah ini berlaku. penundaan kenaikan gaji berkala. atau satuan pendidikan sejenis yang telah ada sebelum berlakunya Peraturan Pemerintah ini. penundaan kenaikan pangkat. 76461668. Pasal 215 Pada saat berlakunya Peraturan Pemerintah ini. dan/atau pemberhentian dengan tidak hormat dari jabatannya.pendidikan oleh Pemerintah atau atau pemerintah daerah kewenangannya sesuai Pasal 212 (1) Perseorangan atau kelompok anggota dewan pendidikan atau komite sekolah/madrasah yang melanggar ketentuan Pasal 190 dikenakan sanksi administratif berupa teguran tertulis oleh Pemerintah atau sesuai kewenangannya Perseorangan atau kelompok anggota dewan pendidikan atau komite sekolah/madrasah yang dalam menjalankan tugasnya melampaui kewenangan atau fungsi/perannya sebagaimana diatur dalam Pasal 175. peraturan perundangundangan yang terkait dengan penyelenggaraan pendidikan dinyatakan masih tetap berlaku sepanjang tidak bertentangan dan belum diganti berdasarkan Peraturan Pemerintah ini. sekolah yang dinyatakan oleh pendirinya sebagai sekolah bertaraf internasional.

e. Peraturan Pemerintah Nomor 72 Tahun 1991 tentang Pendidikan Luar Biasa (Lembaran Negara Tahun 1991 Nomor 34. Tambahan Lembaran Negara Nomor 3764). Tambahan Lembaran Negara Nomor 3411). sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Pemerintah Nomor 55 Tahun 98 tentang Perubahan atas Peraturan Pemerintah Nomor 28 Tahun 1990 (Lembaran Negara Tahun 1998 Nomor 90. Peraturan Pemerintah Nomor 73 Tahun 1991 tentang Pendidikan Pendidikan Luar Sekolah (Lembaran Negara Tahun 1991 Nomor 95. Peraturan Pemerintah Nomor 28 Tahun 1990 tentang Pendidikan Dasar (Lembaran Negara Tahun 1990 Nomor 36. Tambahan Lembaran Negara Nomor 3413). Tambahan Lembaran Negara Nomor 3461). Pasal 217 Pada saat mulai berlakunya Peraturan Pemerintah ini: a. Peraturan Pemerintah Nomor 27 Tahun 1990 tentang Pendidikan Prasekolah (Lembaran Negara Tahun 1990 Nomor 35. 76461668. Peraturan Pemerintah Nomor 38 Tahun 1992 tentang Tenaga Kependidikan (Lembaran Negara Tahun 1992 Nomor 68.BAB XVIII KETENTUAN PENUTUP Pasal 216 Semua peraturan perundang-undangan yang diperlukan untuk melaksanakan Peraturan Pemerintah ini harus diselesaikan paling lambat 2 (dua) tahun terhitung sejak diberlakukan Peraturan Pemerintah ini. Tambahan Lembaran Negara Nomor 3763). Tambahan Lembaran Negara Nomor 3484). Tambahan Lembaran Negara Nomor 3412). d. Peraturan Pemerintah Nomor 29 Tahun 1990 tentang Pendidikan Menengah (Lembaran Negara Tahun 1990 Nomor 37. sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Pemerintah Nomor 39 Tahun 2000 tentang Perubahan atas Peraturan 127 b. Tambahan Lembaran Negara Nomor 3460). f. c. sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Pemerintah Nomor 56 Tahun 98 tentang Perubahan atas Peraturan Pemerintah Nomor 29 Tahun 1990 (Lembaran Negara Tahun 1998 Nomor 91.doc .

Peraturan Pemerintah Nomor 60 Tahun 1999 tentang Pendidikan Tinggi (Lembaran Negara Tahun 1999 Nomor 115...... SUSILO BAMBANG YUDHOYONO Ditetapkan di Jakarta Pada tanggal .. Tambahan Lembaran Negara Nomor 3485). dinyatakan tidak berlaku. Tambahan Lembaran Negara Nomor 3859)... memerintahkan pengundangan Peraturan Pemerintah ini dengan menempatkannya dalam Lembaran Negara Republik Indonesia. MENTERI HUKUM DAN HAK AZASI MANUSIA ANDI MATALATTA LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA NOMOR…. PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA DR. Peraturan Pemerintah Nomor 39 Tahun 1992 tentang Peranserta Masyarakat dalam Pendidikan Nasional (Lembaran Negara Tahun 1992 Nomor 69... Pasal 218 Peraturan Pemerintah ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan... h... Tambahan Lembaran Negara Nomor 3974)..... Agar setiap orang mengetahuinya.. H.. Ditetapkan di Jakarta Pada tanggal ....doc 128 . g.Pemerintah Nomor 38 Tahun 1992 (Lembaran Negara Tahun 2000 Nomor 91.TAHUN 2007 76461668.

bentuk dan jenis pendidikan. Pendekatan yang sama berlaku pula dalam pengaturan penyelenggaraan pendidikan pada masing-masing satuan pendidikan. manajemen. melalui sebuah pembaruan yang dapat dipertanggungjawabkan kepada publik (stakeholders) agar mampu mempersiapkan generasi penerus bangsa sejak dini sehingga memiliki unggulan kompetitif dalam tatanan kehidupan nasional dan global. bahasa pengantar. Tanggung jawab pendidikan merupakan tanggung jawab bersama Pemerintah. TENTANG PENGELOLAAN DAN PENYELENGGARAAN PENDIDIKAN I. Pendidikan merupakan suatu proses yang dinamik sesuai dengan perubahan masyarakat dan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. Dunia pendidikan khususnya dan tantangan masa depan umumnya telah berubah dan berkembang sedemikian cepatnya. Perkembangan ini. baik dilihat dari segi pasokan. sementara seorang “futurist” di era globalisasi hanya mereka yang memiliki ilmu 76461668. (2) era global isasi informasi yang muncul di awal milenium ke tiga. proses.doc 129 . menyebabkan batas-batas negara menjadi semakin maya. UMUM Visi sistem pendidikan nasional sabagai pranata sosial yang kuat dan berwibawa untuk memberdayakan semua warga negara Indonesia agar berkembang menjadi manusia yang berkualitas sehingga mampu dan proaktif menjawab tantangan zaman yang selalu berubah. masyarakat dan orang tua. pendidikan harus secara terus-menerus perlu ditingkatkan kualitasnya. peserta didik. sarana dan prasarana. dan hal ini membawa dampak pada cepat usangnya kebijakan maupun praksis pendidikan. jenjang. peranserta masyarakat.PENJELASAN ATAS PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR …… TAHUN …. Oleh sebab itu. pengawasan. Parameter kualitas pendidikan. mengisyaratkan bahwa penyelenggaraan pendidikan pada semua jalur. syarat pendirian. yang ditandai dengan (1) perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang sangat cepat. Dalam era globalisasi dan informasi saat ini. diharapkan dunia pendidikan di Indonesia dapat merespon dan mengimbangi perubahan-perubahan ini secara proporsional. dan hasil pendidikan selalu berubah. dan sanksi perlu diatur dalam satu kesatuan sistem pendidikan yang komprehensif. dan jenis pendidikan harus berlangsung secara sinergis. Untuk mencapai sinergi tersebut pengaturan tentang fungsi. keterbukaan telah menjadi karakteristik kehidupan yang demokratis. tujuan..

AFTA menyebabkan terbukanya peluang bagi negara asing untuk menyelenggarakan pendidikan di Indonesia. Pemerintah Kabupaten/Kota mengelola pendidikan dasar dan pendidikan menengah. perlu dibuat suatu peraturan perundangan tentang pengelolaan dan penyelenggaraan pendidikan yang resposif dan akurat untuk meminimalkan dampak negatif serta memaksimalkan dampak positifnya terhadap sistem pendidikan nasional. Pengelolaan satuan pendidikan tinggi dilaksanakan berdasarkan prinsip otonomi. Standar Nasional Pendidikan. Lingkup pengaturan tentang pengelolaan pendidikan mencakup ketentuan tentang pengelolaan oleh Pemerintah. akreditasi. jaminan mutu. Pemerintah Kabupaten/Kota. 51. pendidikan tinggi. Pengaturan tentang Standar Nasional Pendidikan. dan evaluasi yang transparan. 52. pendidikan menengah. dan pendidikan khusus dan pendidikan layanan khusus. Untuk mengantisipasi serta merespon pengaruh dari faktor-faktor tersebut. dan sertifikasi. dan/atau masyarakat. pendirian satuan pendidikan. (3) munculnya organisasi internasional seperti WTO. pendidikan keagamaan. kurikulum. Pengelolaan pendidikan dalam rangka peningkatan 76461668. pengawasan. evaluasi. pendidikan dasar. pendanaan pendidikan. Pengaturan selanjutnya adalah mengenai penyelenggaraan wajib belajar. dan 53 Undang-Undang Nomor 20 Tentang Sistem Pendidikan Nasional menjelaskan antara lain bahwa pengelolaan sistem pendidikan nasional merupakan tanggung jawab Menteri Pendidikan Nasional yang menentukan kebijakan nasional dan standar nasional pendidikan untuk menjamin mutu pendidikan nasional. peranserta masyarakat dalam pendidikan. pemerintah daerah.pengetahuan dan teknologi lebih banyak dan mumpuni yang akan memenangkan persaingan global. Pemerintah Provinsi melakukan koordinasi atas penyelenggaraan pendidikan. dan pendidikan menengah dilaksanakan berdasarkan standar pelayanan minimal dengan prinsip manajemen berbasis sekolah/madrasah. Perguruan tinggi menentukan kebijakan dan memiliki otonomi dalam mengelola pendidikan di lembaganya. pendidikan informal. Wajib Belajar. pendidik dan tenaga kependidikan. Pengelolaan satuan pendidikan nonformal dilakukan oleh Pemerintah. dan pengeloaan oleh badan hukum pendidikan. Pendidikan Kedinasan. pengembangan tenaga kependidikan. akuntabilitas. penyelenggaraan pendidikan oleh lembaga negara asing. dan Pendanaan Pendidikan diatur secara tersendiri. Pemerintah dan/atau pemerintah daerah menyelenggarakan paling sedikit satu satuan pendidikan pada semua jenjang pendidikan untuk dikembangkan menjadi satuan pendidikan yang bertaraf internasional. Sedangkan lingkup pengaturan dalam Peraturan Pemerintah ini mencakup Pengelolaan dan Penyelenggaraan pendidikan berdasarkan jenjang dan jenis pendidikan serta berdasarkan fungsi dalam sistem pendidikan nasional. dan ketentuan pidana. pendidikan nonformal. Pemerintah Provinsi. pendidikan kedinasan. Pasal 50. pendidikan dasar. pendidikan jarak jauh. Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional menetapkan komponen sistem pendidikan yang perlu diatur mencakup pendidikan anak usia dini. pengelolaan pendidikan. suatu contoh nyata dari keadaan ini adalah bermunculannya “cabang” sekolah luar negeri di kotakota besar di Indonesia. dan penyediaan fasilitas penyelenggaraan pendidikan lintas daerah kabupaten/kota untuk tingkat pendidikan dasar dan menengah. sarana dan prasarana pendidikan. serta satuan pendidikan yang berbasis keunggulan lokal.doc 130 . Pengelolaan satuan pendidikan anak usia dini.

dan penguatan peran Dewan Pendidikan di tingkat nasional. bencana sosial. pendidikan bertaraf internasional. 76461668. nilai-nilai. serta pengutan pean Komite Sekolah/Madrasah. Lingkup pengaturan tentang penyelenggaraan pendidikan mencakup ketentuan tentang fungsi dan tujuan. izin pendirian. pendidikan lintas jalur dan satuan pendidikan. memberikan perhatian khusus kepada peserta didik berkelainan dan peserta didik di daerah terpencil atau terbelakang. intelektual maupun sosial berlangsung dengan sangat pesatnya sehingga seringkali disimpulkan bahwa keberhasilan pada masa ini menentukan seluruh masa depan seorang anak. pengutamaan pada kebutuhan anak. baik orang tua dan keluarganya maupun masyarakat lain. dan jenis pendidikan adalah sebagai berikut. provinsi. peserta didik. Keterampilan-keterampilan tersebut merupakan keterampilan dasar yang harus dikembangkan secara optimal agar potensi yang ada pada anak tidak hilang percuma. b. Pada kenyataannya sejumlah besar studi mendukung anggapan ini dan mengungkapkan bahwa masa inilah sejumlah besar kemampuan berbahasa. pendidikan khusus dan pendidikan layanan khusus pada semua jenjang dan jenis pendidikan. a. Bagi anak yang memperoleh pendidikan. Keterampilan-keterampilan tersebut tidak terjadi secara alamiah tetapi harus didukung oleh lingkungan. PAUD diselenggarakan dalam upaya membantu meletakkan dasar perkembangan anak sebelum memasuki pendidikan dasar. Para ahli perkembangan anak berpendapat bahwa masa 0 (nol) sampai dengan 6 (enam) tahun pertama dalam kehidupan seorang manusia merupakan masa di mana perkembangan fisik dan motorik. Pendidikan anak usia dini (PAUD). penghargaan pada keunikan setiap anak. Usia dini merupakan masa peka untuk menerima stimulasi dan sangat menentukan bagi perkembangan selanjutnya. pendidikan jarak jauh. jenjang. Pendidikan dasar dan menengah. pendidikan berbasis keunggulan lokal. Filosofi dasar PAUD adalah menciptakan lingkungan belajar yang mendorong terbangunnya harga diri yang positif pada anak. dan dari masyarakat. stimulasi diberikan juga agar anak dapat mempersiapkan diri memasuki pendidikan dasar dengan lebih baik. serta kepada masyarakat adat yang terpencil dan/atau mengalami bencana alam. dan tidak mampu dari segi ekonomi.partisipasi masyarakat dalam penyelenggaraan pendidikan mencakup penguatan prinsip penyelenggaraan pendidikan oleh. bahkan cara-cara belajar anak mulai mengambil bentuk dasarnya.doc 131 . pendidikan nonformal dan informal. dan penghargaan terhadap peranserta seluruh komponen pendidikan. untuk. bentuk satuan pendidikan. dengan mengedepankan nilai-nilai anti diskriminasi. hak untuk mendapatkan beasiswa bagi yang berprestasi. sikap. dan cenderung menetap sampai usia dewasa. Landasan akademik dalam pengaturan tentang pengelolaan dan penyelenggaraan pendidikan pada masing-masing jalur. pendidikan oleh negara asing. Penyelenggaraan pendidikan perlu memberikan perhatian kepada hak peserta didik untuk mendapatkan pendidikan agama sesuai dengan agama yang dianutnynya dan diajar oleh pendidik yang seagama. dan kabupaten.

Kedudukan perguruan tinggi yang diselenggarakan Pemerintah atau yang diselenggarakan masyarakat adalah sama. pendidikan pemberdayaan perempuan. Salah satu indikator yang menunjukkan hal ini adalah meningkatnya kesadaran masyarakat tentang arti pentingnya pendidikan bagi putra-putri mereka. Pendidikan nonformal dan pendidikan informal. tetap besar. Peranserta masyarakat dalam penyelenggaraan perguruan tinggi dalam bentuk badan hukum penyelenggara adalah sebagai fasilitator yang bukan merupakan bagian dari perguruan tinggi. serta pendidikan sejenis lainnya yang ditujukan untuk mengembangkan kemampuan peserta didik dalam memenuhi hak 76461668. Pemerintah Kabupaten/Kota mengelola satuan pendidikan yang berbasis keunggulan lokal. peran Pemerintah secara bertahap akan beralih dari penyelenggara menjadi fasilitator dan pengelola perguruan tinggi menjadi berbasis masyarakat. Untuk itulah maka Undang-Undang mengamanatkan bahwa Pemerintah dan/atau pemerintah daerah menyelenggarakan sekurangkurangnya 1 (satu) satuan pendidikan pada semua jenjang pendidikan untuk dikembangkan menjadi satuan pendidikan yang bertaraf internasional. Kewajiban Pemerintah terhadap semua perguruan tinggi yang sangat penting ialah sebagai pengendali mutu perguruan tinggi.Peraturan Pemerintah tentang pendidikan dasar dan menengah cukup strategis untuk dikembangkan mengingat posisi ketenagakerjaan di Indonesia yang pada umumnya baru mencapai pendidikan menengah ke bawah. pendidikan kepemudaan. kursus dan pelatihan. Pemerintah dan masyarakat memiliki kewajiban untuk memfasilitasi semua perguruan tinggi dalam bentuk pendanaan atau kebutuhan lainnya (termasuk bantuan pegawai negeri). Aspek lain yang tidak kalah pentingnya adalah meningkatnya peranserta masyarakat dalam pembangunan pendidikan. Pendidikan tinggi. teknologi dan/atau seni . profesi. Pendidikan nonformal meliputi pendidikan kecakapan hidup. Disamping itu. Dalam konteks pengelolaan perguruan tinggi dengan status badan hukum. pendidikan anak usia dini. Pendidikan tinggi merupakan salah satu pilar penting dalam sistem pendidikan nasional yang bertujuan mengembangkan peserta didik agar memiliki kemampuan akademik. d. pendidikan keaksaraan. Kenyataan tersebut ditambah pula dengan beberapa hasil penelitian yang menemukan bahwa ada hubungan positif antara kemajuan suatu negara dengan peningkatan peranserta masyarakat dalam pendidikan. di semua bidang ilmu pengetahuan. Peran Pemerintah dalam pengendalian mutu maupun pengawasan terhadap jalannya perguruan tinggi yang dilakukan melalui lembaga umum dan Pemerintah.doc 132 . Kinerja perguruan tinggi dalam menyelenggarakan pendidikan tinggi menjadi salah satu katalisator tinggi rendahnya kualitas sumber daya manusia yang sering dinyatakan sebagai tingkat perkembangan SDM atau Human Development Index (HDI). pendidikan kesetaraan. Peran pemerintah dalam penentuan kebijakan umum perguruan tinggi akan ditentukan berdasarkan besarnya keterlibatan Pemerintah antara lain: besarnya dana untuk kepentingan perguruan yang dianggarkan dan disalurkan kepada pendidikan tinggi. c. dan/atau vokasi. serta ilmu agama.

dan keterampilan peserta didik dalam rangka mencapai tujuan pendidikan nasional. sehingga dapat memberikan kontribusi terhadap perluasan lapangan kerja dan penurunan pengangguran/kemiskinan. e. informasi.doc 133 . tingkat laju pertumbuhan penduduk. dan efisiensi pada semua jalur. yaitu mencerdaskan kehidupan bangsa. media. dan (d) efisiensi. tantangan globalisasi. Tuntutan atas peran strategis pendidikan sebagai suatu pranata sosial yang kuat dan berwibawa untuk mewujudkan tujuan nasional khususnya dalam mencerdaskan kehidupan bangsa telah mendorong pemanfaatan sistem pendidikan jarah jauh sebagai komponen dari sistem pendidikan nasional. psikologis. minat. yaitu untuk melayani peserta didik dalam jumlah besar. dan informatika (telematika). Pendidikan informal berfungsi untuk memberikan keyakinan agama. (b) peningkatan mutu. tingkat dan jenis pendidikan. nilai budaya. pendidikan khusus masih menghadapi tantangan berat yang meliputi persoalan-persoalan yang terkait dengan: (a) perluasan kesempatan belajar bagi peserta didik yang membutuhkan pendidikan khusus. Pendidikan informal adalah jalur pendidikan yang dilakukan oleh keluarga dan lingkungan dalam bentuk kegiatan belajar mandiri. 76461668. dan ujian harus dirancang sedemikan rupa untuk mengatasi hambatan jarak dan waktu dan dapat diakses oleh peserta didik setiap saat. distribusi bahan ajar mandiri. Pendidikan khusus dan pendidikan layanan khusus.setiap warga negara untuk memperoleh pendidikan yang merata. Program pendidikan nonformal yang berorientasi pada kursus dan pelatihan keterampilan merupakan jembatan antara pendidikan formal dan dunia kerja. adil dan bermutu sebagai perwujudan dari salah satu tujuan nasional. tutorial. (c) relevansi. Dalam era globalisasi. dan fisik bagi peserta didik agar dapat belajar sambil bekerja. dan media lain. relevansi. Sistem pendidikan jarak jauh ditujukan untuk meningkatkan pemerataan akses terhadap pendidikan bermutu terutama untuk mengatasi hambatan jarak. serta pengalaman dalam penyelenggaraan pendidikan jarak jauh menjadi pertimbangan utama dalam penerapan sistem pendidikan jarak jauh untuk meningkatkan akses. f. perhatian. Kondisi geografis. Pendidikan jarak jauh. layanan pendidikan jarak jauh diselenggarakan dengan memanfaatkan media belajar melalui teknologi telekomunikasi. Hasil pendidikan informal dapat diakui sama dengan hasil pendidikan formal dan nonformal setelah mengikuti Ujian Nasional dan/atau uji kompetensi sesuai dengan Standar Nasional Pendidikan. atau menjalankan fungsi kerumahtanggaan bagi ibu rumah tangga. dan bakatnya. Pendidikan informal merupakan pengalaman berharga bagi setiap individu sesuai dengan kesempatan. waktu. untuk membentuk kemampuan dan keahlian yang lebih bermutu. Agar biaya penyelenggaraan pendidikan jarak jauh berbasis teknologi informasi dan komunikasi menjadi murah. Sistem operasional pendidikan jarak jauh yang mencakup layanan registrasi. mutu. perkembangan teknologi komunikasi. maka produksi bahan ajar mandiri dan layanan akademiknya harus dirancang berdasarkan prinsip industrialisasi masal. nilai moral estetika dan etika serta memberikan pengetahuan. Oleh karena itu.

Selain itu. Tantangan dalam perluasan kesempatan belajar perlu segera dijawab melalui kebijakan dan strategi perluasan kesempatan belajar bagi peserta didik yang membutuhkan pendidikan khusus dengan berbagai cara/pendekatan melalui: (a) perintisan dan pengembangan pendidikan terpadu. nonformal. (c) penyelenggaraan tingkat khusus. pendidikan khusus dapat diselenggarakan melalui jalur formal. dan informal yang saling melengkapi dan memperkaya. di samping (e) penyelenggaraan sekolah khusus. (b) perintisan dan pengembangan pendidikan inklusi.doc 134 . 76461668.Kesungguhan pendidikan khusus dalam mengatasi tantangan-tantangan tersebut akan mencerminkan kehidupan berbangsa dan bernegara secara demokratis yang tidak membedakan satu sama lain.

dan pembangunan sumberdaya lokal maupun nasional. Perwakilan negara asing dapat menyelenggarakan pendidikan di wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia untuk warga negaranya dapat menggunakan ketentuan yang berlaku di negara yang bersangkutan atas persetujuan Pemerintah Republik Indonesia. teknologi. juga harus mampu memberdayakaan sumberdaya dan potensi lokal dalam semangat otonomi daerah. Dampak positifnya adalah dapat memperkaya khasanah pendidikan nasional baik melalui pendirian satuan pendidikan internasional oleh negara lain maupun melalui kerjasama dengan satuan pendidikan di Indonesia. selain diarahkan pada upaya memenuhi kebutuhan kehidupan global.g. Salah satu dampak dari kehidupan global dan penggunaan teknologi informasi dan komunikasi adalah terbukanya akses dari dan ke negara Indonesia. Pendidikan bertaraf internasional dan berbasis keunggulan lokal. Untuk menjaga keutuhan sistem pendidikan nasional. Satuan pendidikan dasar dan menengah bertaraf internasional menghasilkan lulusan yang memiliki kemampuan dan daya saing di forum internasional. Satuan pendidikan dasar dan menengah yang dikembangkan menjadi berbasis keunggulan lokal diselenggarakan dengan mengacu pada Standar Nasional Pendidikan yang diperkaya dan dikembangkan sesuai dengan potensi daerah/karakteristik daerah dan sosial budaya masyarakat setempat. penyelenggaraan pendidikan oleh negara lain ataupun kerjasama penyelenggaraan pendidikan asing perlu mendapat pengaturan secara tegas. Dalam rangka pelaksnaan pembangunan nasional sesuai dengan tuntuan kehidupan global dan pendayagunaan sumberdaya daerah secara optimal. pengembangan. Lembaga pendidikan asing 76461668. dan seni.doc 135 . pengembangan. Satuan pendidikan dasar dan menengah yang dikembangkan menjadi bertaraf internasional diselenggarakan dengan mengacu pada Standar Nasional Pendidikan yang diperkaya dengan standar pendidikan/standar kompetensi negara maju dalam bidang ilmu pengetahuan. Di pihak lain upaya untuk melaksanakan pembangunan nasional. UU Sisdiknas mengamanatkan kepada pemerintah dan pemerintah daerah berkewajiban untuk mengembangkan paling sedikit satu satuan pendidikan pada setiap jenis dan jenjang pendidikan menjadi satuan pendidikan berfaraf internasional dan satuan pendidikan berbasis keunggulan lokal. Penyelenggaraan Pendidikan oleh Negara Lain dan Kerjasama Satuan Pendidikan Indonesia dengan Satuan Pendidikan Negara Lain. termasuk dalam hal penyelenggaraan pendidikan. Satuan pendidikan dasar dan menengah berbasis keunggulan lokal menghasilkan lulusan yang memiliki kemampuan mengolah dan/atau mengembangkan sumber daya lingkungan di daerahnya dan menghasilkan produk yang mempunyai nilai ekonomis serta menunjang pelestarian. dan promosi keunggulan lokal. h. Tata kehidupan dalam era global abad ke 21 yang ditandai dengan dominasi penggunaan kaedah-kaedah teknologi informasi dan komunikasi dan kompetisi terbuka menuntut persyaratan kompetensi profesional yang berlaku secara internasional. serta menunjang pelestarian.

Pemerintah dan pemerintah daerah wajib memfasilitasi satuan pendidikan dengan pendidik dan tenaga kependidikan yang diperlukan untuk menjamin terselenggaranya pendidikan yang bermutu. Penyelenggara pendidikan oleh masyarakat berkewajiban membina dan mengembangkan tenaga kependidikan pada satuan pendidikan yang diselenggarakannya. masyarakat dan keluarga sebagai perwujudan dari tatanan kehidupan masyarakat madani. dan bahasa Indonesia kepada peserta didik warga negara Indonesia. diperlukan pendidik dan tenaga kependidikan yang profesional. pengalaman. Seiring dengan semangat demokratisasi dan pelaksanaan otonomi daerah. Peranserta masyarakat dalam pendidikan. Untuk menjadikan lembaga pendidikan sebagai pusat pembudayaan ilmu pengetahuan. Pendidik dan tenaga kependidikan merupakan salah satu unsur pokok dalam proses penjaminan mutu pendidikan. Promosi dan penghargaan bagi pendidik dan tenaga kependidikan dilakukan berdasarkan latar belakang pendidikan. Bahasa pengantar utama pada satuan pendidikan yang diselenggarakan oleh lembaga pendidikan asing adalah bahasa Indonesia. Penyelenggaraan pendidikan tersebut harus bekerja sama dengan lembaga penyelenggara pendidikan Indonesia. keterampilan. Pemerintah dan pemerintah daerah wajib membantu pembinaan dan pengembangan tenaga kependidikan pada satuan pendidikan formal yang diselenggarakan oleh masyarakat. penyebaran. dan pemberhentian pendidik dan tenaga kependidikan diatur oleh lembaga yang mengangkatnya berdasarkan kebutuhan satuan pendidikan formal.yang terakreditasi atau yang diakui di negaranya dapat menyelenggarakan pendidikan bagi warga negara asing maupun warga negara Indonesia. Pengangkatan. melakukan pembimbingan dan pelatihan. reformasi dalam bidang pendidikan harus mencakup upaya pemberdayaan 76461668. i. pendidikan kewarganegaraan. terutama bagi pendidik pada perguruan tinggi. Pendidik dan tenaga kependidikan. Tenaga kependidikan selain pendidik bertugas melaksanakan administrasi. pengalaman. dan bahkan dapat mematikan inisiatif masyarakat dalam penyelenggaraan pendidikan. penempatan.doc 136 . pengelolaan. Pola penyelenggaraan pendidikan yang selama ini cenderung terpusat pada Pemerintah mengakibatkan kurangnya peranserta masyarakat. dan prestasi kerja dalam bidang pendidikan. Pendidik merupakan tenaga profesional yang bertugas merencanakan dan melaksanakan proses pembelajaran. konseling dan layanan serta melakukan penelitian dan pengabdian kepada masyarakat. Penyelenggaraan pendidikan oleh lembaga asing yang menerima peserta didik warga negara Indonesia wajib memberikan pendidikan agama. j. sikap dan nilai berdasarkan standar nasional dan global. Pendidik dan tenaga kependidikan dapat bekerja secara lintas daerah. kemampuan. pengawasan. Visi sistem pendidikan nasional sebagai pranata sosial yang kuat dan berwibawa menyiratkan kemitraan dalam penyelenggaraan pendidikan oleh semua komponen bangsa yaitu Pemerintah. Pemerintah dan pemerintah daerah wajib membina dan mengembangkan tenaga kependidikan pada satuan pendidikan yang diselenggarakan oleh Pemerintah dan pemerintah daerah. dan pelayanan teknis untuk menunjang proses pendidikan pada satuan pendidikan. menilai hasil pembelajaran. pengembangan.

dan kewajiban negara dalam rangka peningkatan keselamatan manusia serta kesepakatan dengan organisasi internasional. dan dari masyarakat. yaitu pendidikan yang diselenggarakan oleh masyarakat sebagai pemenuhan atas ciri khas yang berkenaan dengan nilai-nilai sosial dan kultural pada masyarakat tertentu. untuk. Dalam hal ini kepala sekolah/madrasah dan guru dibantu komite sekolah/madrasah atau nama lain yang sejenis/madrasah dalam mengelola sekolah/madrasah. Ayat (2) Pengelolaan satuan pendidikan yang dilakukan oleh Menteri lain atau kepala lembaga pemerintahan non departemen sebagaimana dimaksud dalam pasal ini adalah dalam rangka melaksanakan amanat UU.doc 137 . Pasal 4 Cukup jelas. Pasal 5 Ayat (1) Cukup jelas. II. dan kabupaten/kota serta pembentukan komite sekolah/madrasah di tingkat satuan pendidikan.peranserta masyarakat baik dalam penyelenggaraan pendidikan berbasis masyarakat maupun dalam pengelolaan pendidikan melalui pembentukan dewan pendidikan di tingkat nasional. konvensi internasional. Sedangkan pembentukan dewan pendidikan dan komite sekolah/madrasah atau nama lain yang sejenis merupakan perwujudan dari kemitraan masyarakat dalam pengelolaan pendidikan bersama penyelenggara pendidikan baik di tingkat pengambil keputusan pada lembaga eksekutif dan legislatif maupun pada tingkat satuan pendidikan. Ayat (3) Manajemen Berbasis Sekolah/Madrasah adalah bentuk otonomi satuan pendidikan. provinsi. PASAL DEMI PASAL Pasal 1 Cukup jelas. Pasal 3 Cukup jelas. 76461668. Penyelengaraan pendidikan berbasis masyarakat merupakan perwujudan dari prinsip pendidikan yang diselenggarakan oleh. Pasal 2 Cukup jelas.

Ayat (2) Huruf a. Pasal 9 Ayat (1) Potensi kecerdasan dan bakat istimewa meliputi bidang intelektual umum. psikososial/kepemimpinan.doc 138 . Cukup jelas Huruf c. kreatif produktif. Cukup jelas 76461668. seni kinestetik. dan psikomotorik/olahraga. Cukup jelas Huruf b. Pasal 10 Cukup jelas. Pasal 7 Cukup jelas.Ayat (4) Cukup jelas Pasal 6 Cukup jelas. Ayat (2) Cukup jelas. Cukup jelas Huruf d. Pasal 8 Cukup jelas. akademik khusus. Pasal 11 Ayat (1) Cukup jelas.

Ayat (3) Cukup jelas. Pasal 15 Cukup jelas. Pasal 12 Cukup jelas. Cukup jelas Ayat (3) Cukup jelas. 76461668. Cukup jelas Huruf g. Cukup jelas Huruf h. Pasal 13 Ayat (1) Cukup jelas. Ayat (4) Cukup jelas. Pasal 14 Cukup jelas.doc 139 . Koordinasi dan mensupervisi pengembangan kurikulum untuk MA dan MAK dilakukan oleh Kantor Wilayah Departemen Agama Provinsi. Cukup jelas Huruf i. Ayat (2) Cukup jelas.Huruf e. Huruf f.

Cukup jelas Huruf d. Cukup jelas Huruf l. Cukup jelas Huruf j. Cukup jelas Huruf i. Cukup jelas Huruf e. Cukup jelas Huruf c.doc 140 . Cukup jelas Huruf f. Ayat (2) Huruf a. Cukup jelas Huruf k. Cukup jelas Huruf b. 76461668.Pasal 16 Ayat (1) Cukup jelas. Cukup jelas Huruf g. Koordinasi dan mensupervisi pengembangan kurikulum untuk MI dan MTs dilakukan oleh Kantor Departemen Agama Kabupaten/Kota Huruf h.

Pasal 19 Cukup jelas. Pasal 20 Cukup jelas. pengelolaan. dan penilaian pendidikan yang harus dipenuhi oleh setiap satuan pendidikan dasar dan menengah. pembiayaan. Pasal 17 Cukup jelas. Pasal 21 Cukup jelas. kompetensi lulusan. Pasal 22 Cukup jelas. proses. Pasal 23 Cukup jelas. tenaga kependidikan.Cukup jelas Ayat (3) Standar pelayanan minimal merupakan batas minimal pemenuhan standar isi. Pasal 25 Ayat (1) Cukup jelas Ayat (2) huruf a Cukup jelas Huruf b 76461668. Pasal 18 Cukup jelas.doc 141 . sarana dan prasarana. serta pencapaian target pembangunan pendidikan nasional. Pasal 24 Cukup jelas.

Cukup jelas Huruf c Cukup jelas huruf d Apabila pendidikan dasar dikembangkan oleh Pemerintah Provinsi menjadi bertaraf internasional. huruf e Cukup jelas Huruf f Cukup jelas Pasal 26 Ayat (1) Cukup jelas Ayat (2) Huruf a Cukup jelas Huruf b Cukup jelas Huruf c Cukup jelas Huruf d Apabila pendidikan menengah dikembangkan oleh Pemerintah Provinsi menjadi bertaraf internasional. Huruf e Cukup jelas Huruf f Cukup jelas 76461668.doc 142 . maka laporan penyelenggaraannya disampaikan kepada Pemerintah Provinsi. maka laporan penyelenggaraannya disampaikan kepada Pemerintah Provinsi.

Pasal 29 Cukup jelas. Pasal 36 Ayat (1) Cukup jelas Ayat (2) 76461668. Ayat (2) Cukup jelas. Pasal 31 Cukup jelas. Pasal 28 Cukup jelas.Pasal 27 Cukup jelas. Ayat (3) Cukup jelas Pasal 35 Cukup jelas. Taman Kanak-kanak Al-Qur’an (TKQ). dan Adi Sekha. Pasal 34 Ayat (1) Bentuk lain yang sederajat antara lain Tarbiyatul Athfal (TA). Pasal 33 Cukup jelas.doc 143 . Pasal 30 Cukup jelas. Pasal 32 Cukup jelas. Taman Pendidikan AlQur’an (TPQ).

atau bentuk lain yang sederajat dimaksudkan untuk pembentukan kesadaran dan wawasan peserta didik atas hak dan kewajibannya sebagai warga masyarakat dan dalam interaksi sosial serta pemahaman terhadap diri dan peningkatan kualitas diri sebagai manusia sehingga memiliki rasa percaya diri. Program pembelajaran agama dan akhlak mulia pada TK. RA. RA. RA. Ayat (3) Cukup jelas. atau bentuk lain yang sederajat dengan menekankan pada penyiapan kemampuan berkomunikasi dan berlogika melalui berbicara. 76461668. tidak memaksa. mendengarkan. atau bentuk lain yang sederajat dimaksudkan untuk peningkatan potensi spiritual peserta didik melalui contoh pengamalan dari pendidik agar menjadi kebiasaan sehari-hari. Program pembelajaran sosial dan kepribadian pada TK. Huruf c. Program pembelajaran pengetahuan dan teknologi pada TK. pramenulis dan praberhitung yang harus dilaksanakan secara hati-hati. pramembaca. MI. Ayat (4) Cukup jelas Pasal 37 Ayat (1) Cukup jelas. Huruf b.doc 144 . sehingga menjadi bagian dari budaya sekolah. atau bentuk lain yang sederajat dimaksudkan untuk mempersiapkan peserta didik secara akademik memasuki SD. baik di dalam maupun di luar sekolah. Ayat (2) Huruf a.Ketentuan ini tidak berlaku bagi satuan pendidikan yang secara khusus dirancang untuk melayani peserta didik dari kelompok gender atau agama tertentu. dan menyenangkan sehingga anak menyukai belajar.

Ayat (7) Cukup jelas. Ayat (6) Stimulasi psikososial adalah rangsangan pendidikan yang menumbuhkan kepekaan memahami dan bersikap terhadap lingkungan sosial sekitarnya. RA atau bentuk lain yang sederajat dimaksudkan untuk meningkatkan potensi fisik dan menanamkan sportivitas serta kesadaran hidup sehat dan bersih. saudara. Ayat (4) Cukup jelas. Bentuk lain yang sederajat dengan SMP dan MTs antara lain Paket B.doc 145 . olahraga dan kesehatan pada TK. pendidikan diniyah dasar. Misalnya memahami dan bersikap sopan kepada orang tua. Huruf e.Huruf d. Program pembelajaran estetika pada TK. Ayat (3) Cukup jelas. dan teman. RA atau bentuk lain yang sederajat dimaksudkan untuk meningkatkan sensitivitas. kemampuan mengekspresikan diri dan kemampuan mengapresiasi keindahan dan harmoni yang terwujud dalam tingkah laku keseharian. pendidikan diniyah menengah pertama. Madyama Vidyalaya (MV). Ayat (5) Cukup jelas. 76461668. Pasal 38 Cukup jelas. Program pembelajaran jasmani. dan Culla Sekha. Pasal 39 Ayat (1) Bentuk lain yang sederajat dengan SD dan MI antara lain Paket A. dan Majjhima Sekha. Adi Vidyalaya (AV).

Pasal 41 Ayat (1) Peserta didik pada SMP atau MTs dapat berasal dari warga negara asing. Ayat (2) Cukup jelas.doc 146 . Ayat (3) Cukup jelas. Pasal 40 Ayat (1) Cukup jelas. Ayat (2) Cukup jelas. Ayat (3) Cukup jelas. rekomendasi dapat dilakukan oleh dewan guru satuan pendidikan yang bersangkutan. sejauh daya tampung memungkinkan. Ayat (2) Lihat penjelasan Pasal 36 ayat (2). Ayat (4) Kemudahan akses fisik misalnya jarak tempuh dari tempat 76461668.Ayat (2) Cukup jelas. Ayat (3) Apabila psikolog profesional tidak ada. Pasal 42 Ayat (1) Cukup jelas. Ayat (4) Cukup jelas.

Jenis program keahlian mengacu kepada jenis pekerjaan.doc 147 . Ayat (5) Cukup jelas. Pasal 43 Cukup jelas. Pasal 47 Ayat (1) Cukup jelas. Struktur penjurusan ini akan menentukan 76461668. Ayat (2) Cukup jelas. Ayat (6) Cukup jelas. pendidikan diniyah menengah atas. Pasal 44 Cukup jelas. bidang kejuruan dan program kejuruan. Ayat (3) Penjurusan pada pendidikan kejuruan dalam bentuk bidang kejuruan yang merupakan unit akademik terkecil dalam pendidikan kejuruan. Pasal 45 Cukup jelas. Pasal 46 Ayat (1) Bentuk lain yang sederajat dengan SMA dan MA antara lain Paket C. dan Maha Sekha. Utama Vidyalaya (UV). Adapun struktur penjurusan pada pendidikan kejuruan adalah: kelompok kejuruan.tinggal ke satuan pendidikan. Ayat (3) Cukup jelas. Ayat (2) Cukup jelas.

Ayat (2) Lihat penjelasan Pasal 36 ayat (2). maka dalam rangka mengantisipasi persaingan global. Ayat(2) Cukup jelas. pendidikan kejuruan harus memperhatikan dan mempertimbangkan tren ketenagakerjaan nasional. Ayat (4) Cukup jelas. MAK atau bentuk lain yang sederajat dapat berasal dari warga negara asing. Ayat (7) Cukup jelas. Ayat (6) Cukup jelas. Pasal 50 Ayat (1) Cukup jelas. Ayat(3) Cukup jelas. regional dan global. Pelestarian meliputi kemahiran tertentu.cakupan mata pelajaran pada setiap jenis bidang kejuruan. Ayat (3) pelestarian seni budaya dan atau 76461668. Ayat (5) Karena pendidikan kejuruan berorientasi pada peluang untuk memperoleh pekerjaan. Pasal 48 Cukup jelas Pasal 49 Ayat (1) Peserta didik pada SMA atau MA SMK.doc 148 .

sesuai ketentuan Pasal 93 Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan.Cukup jelas. dan doktor. 76461668. dan/atau seni tertentu.doc 149 . Ayat (6) Cukup jelas. teknologi. Ayat (4) Lulusan dari satuan pendidikan yang mendapatkan pengakuan sama adalah lulusan dari satuan pendidikan formal yang diselenggarakan tidak mengacu pada Standar Nasional Pendidikan akan tetapi telah memperoleh pengakuan dari Pemerintah atas dasar rekomendasi dari Badan Standar Nasional Pendidikan. Ayat (2) Pendidikan akademik merupakan pendidikan tinggi yang diarahkan terutama pada penguasaan dan pengembangan disiplin ilmu pengetahuan. yang mencakup program sarjana. Pendidikan profesi merupakan pendidikan tinggi setelah program pendidikan sarjana yang mempersiapkan peserta didik untuk memiliki pekerjaan dengan persyaratan keahlian khusus. Ayat (7) Cukup jelas. Ayat (5) Cukup jelas. Pasal 51 Cukup jelas. Pasal 52 Ayat (1) Cukup jelas. dapat mencakup program spesialis. Ayat (8) Cukup jelas. magister.

Ayat (2) Program pendidikan tenaga kependidikan termasuk program pengadaan guru serta pengembangan ilmu kependidikan dan ilmu dasar. Pasal 53 Cukup jelas. setinggi-tingginya setara dengan program pendidikan sarjana. kopetensi kepribadian. Program pendidikan diploma terdiri atas program pendidikan diploma I. dan/atau seni) dalam program studi nonkependidikan untuk memperoleh kualifikasi akademik sarjana nonkependidikan. Lulusan program ini memperoleh kualifikasi akademik sarjana pendidikan guru TK/RA atau SD/MI. Ayat (2) Program pendidikan bersambungan (consecutive program) adalah program pendidikan guru yang diawali dengan pemerolehan kompetensi profesional (penguasaan substansi keilmuan.`teknologi. dan kopetensi sosial dalam satu program studi. kompetensi pedagogik. teknologi. diploma III. diploma II. Pasal 55 Ayat (1) Program pendidikan secara serempak dan utuh (concurrent program) adalah program pendidikan guru yang kurikulumnya memuat pengembangan kompetensi profesional (penguasaan substansi keilmuan. Penguasaan kompetensi pedagogik. Pasal 54 Ayat (1) Cukup jelas. teknologi. dan/atau seni).Pendidikan vokasi merupakan pendidikan tinggi yang diarahkan pada penguasaan keahlian terapan tertentu. kompetensi kepribadian. Ayat (3) Cukup jelas. dan/atau seni pada fakultas tarbiyah dan pada fakultas lain yang sejenis. dan kopetensi sosial diperoleh melalui program pendidikan profesi. yang mencakup program pendidikan diploma. dan diploma IV. 76461668.doc 150 .

Ayat (4) Cukup jelas. Pasal 59 Cukup jelas. Pasal 61 Cukup jelas. dan akses internet. Setiap perguruan tinggi disarankan untuk memiliki sarana olahraga dan kesenian yang memadai untuk menciptakan kehidupan kampus yang manusiawi dan menyenangkan. perguruan tinggi riset harus menyediakan secara cukup perpustakaan riset.Pasal 56 Cukup jelas. Pasal 58 Cukup jelas. pusat komputasi pengajaran. Misalnya. Perguruan tinggi yang lebih fokus pada pendidikan profesi dan/atau vokasi menyediakan secara cukup perpustakaan pengajaran. Ayat (2) Cukup jelas. pusat komputerisasi riset. Ayat (3) Cukup jelas. Pasal 60 Cukup jelas. laboratorium riset.doc 151 . akses internet. 76461668. Unit pengelola/layanan dapat menjadi unit pelaksana teknis yang membidangi satu atau beberapa objek pengelolaan/layanan. Pasal 62 Cukup jelas. dan memiliki jurnal ilmiah yang secara berkala menerbitkan hasil-hasil penelitian. laboratorium pengajaran. Pasal 57 Ayat (1) Penyediaan unsur penunjang disesuaikan dengan ciri dari perguruan tinggi yang bersangkutan.

Ayat (2) Cukup jelas. Ayat (3) Perguruan tinggi dapat menerapkan kebijakan afirmatif dalam penerimaan mahasiswa baru untuk mengakomodasi etnik. Cukup jelas. Ayat (3) Cukup jelas. mahasiswa lulusan program sarjana melanjutkan ke program pascasarjana. Ayat (4) Lihat penjelasan Pasal 36 ayat (2). Ayat (4) Cukup jelas. Pasal 64 Ayat (1) Cukup jelas.doc 152 . Ayat (2) Cukup jelas. Kebijakan semacam ini harus dinyatakan secara terbuka sebagai kebijakan afirmatif. atau kelompok tertentu dari ketertinggalannya.Pasal 63 Ayat (1) Huruf a. Misalnya. Ayat (5) Cukup jelas. Huruf b. daerah. Tingkat pendidikan hanya berlaku untuk persyaratan mengikuti program pendidikan yang lebih rendah ke program yang lebih tinggi dalam satu jenjang pendidikan tinggi. 76461668.

Pengumuman hasil tes tambahan dan/atau penilaian rapor tidak boleh dilakukan sebelum pengumuman Ujian Nasional dimaksudkan untuk menjaga integritas hasil ujian nasional dan pemenuhan syarat kelulusan. Pasal 67 Ayat (1) Yang dimaksud dengan Sistem Kredit Semester (SKS) adalah suatu sistem penyelenggaraan pendidikan di mana beban belajar mahasiswa. Tes tambahan tidak boleh menduplikasi Ujian Nasional dimaksudkan untuk efisiensi dalam proses seleksi penerimaan. Ayat (2) Cukup jelas.Ayat (6) Lihat penjelasan Pasal 50 ayat (4) Ayat (7) Tes tambahan misalnya tes skolastik. Pasal 66 Ayat (1) Kemampuan konfluen merupakan kemampuan utuh mahasiswa yang mencerminkan keintegrasian kemampuan kognitif. afektif. dan psikomotorik. Ayat (8) Cukup jelas.doc 153 . beban kerja tenaga pengajar dan penyelenggara program lembaga pendidikan tinggi dinyatakan 76461668. Ayat (2) Cukup jelas. Pasal 65 Ayat (1) Perjanjian sebagaimana dimaksud dalam ketentuan ini memuat pula hak dan kewajiban mahasiswa yang diatur dalam anggaran dasar dan anggaran rumah tangga.

Ayat (2) Cukup jelas. dan 3 jam kegiatan mandiri selama 16 minggu. atau kegiatan proses belajar mengajar lainnya. Pasal 68 Ayat (1) Yang dimaksud dengan kelas jauh adalah sistem pembelajaran yang diselenggarakan di luar kampus induk.dalam satuan kredit semester (sks). 1 (satu) jam kegiatan terstruktur. merupakan pengakuan atas keberhasilan usaha untuk menyelesaikan kegiatan akademik bersangkutan.doc 154 . Ayat (6) Cukup jelas. Ayat (2) Contoh sistem multikampus adalah sistem State University of New York (SUNY) yang memiliki 60 (enam puluh) kampus di seluruh negara bagian New York. dan 1 (satu) jam kegiatan mandiri untuk kurun waktu enam belas (16) minggu efektif. Ayat (3) Cukup jelas Ayat (4) Cukup jelas. Ayat (3) Cukup jelas. Banyaknya sks yang diberikan untuk matakuliah. Dalam setiap semester “reguler” 1 (satu) sks sama dengan beban studi setiap minggu berupa 1 (satu) jam tatap muka. Pasal 70 76461668. Pasal 69 Cukup jelas. Ayat (5) Cukup jelas. Satu matakuliah berbot 3 sks berarti sama dengan kegiatan studi 3 jam tatap muka. Universitas Al Azhar yang memiliki kampus utama di Cairo dan beberapa kampus cabang di hampir seluruh distrik di Mesir. 3 jam kegiatan terstruktur.

doc 155 . Ayat (6) Telaah nirnama (blind review) adalah pakar yang melakukan penelaahan. 76461668. Ayat (5) Invensi adalah suatu ciptaan atau perancangan baru yang belum ada sebelumnya yang memperkaya khazanah serta dapat digunakan untuk menyempurnakan atau memperbaharui ilmu pengetahuan dan teknologi yang telah ada. Paten adalah salah satu bentuk dari hak kekayaan intelektual (HKI). kritik dan koreksi terhadap suatu naskah ilmiah agar menjadi lebih sempurna. Ayat (3) Cukup jelas. Ayat (4) Cukup jelas. Pasal 72 Ayat (1) Penelitian dasar adalah penelitian yang berorientasi pada penjelasan pada fenomena alam (penelitian untuk ilmu) yang melandasi penelitian terapan dan penelitian pengembangan.Cukup jelas. Ayat (2) Cukup jelas. tetapi antara penulis dan pihaknya tidak saling mengenal dan tidak saling mengetahui. Pasal 71 Cukup jelas. Ayat (7) Sertifikat paten adalah dokumen resmi yang diberikan oleh pemerintah kepada pihak-pihak yang menemukan sesuatu teknologi (inventor). Ayat (8) Pengayaan materi pembelajaran dapat diartikan bahwa hasil penelitian wajib dijadikan buku ajar hand-out atau tampilan lain yang disajikan pada saat mengajar. Ayat (9) Cukup jelas.

atau pakar dari luar negeri. pakar keilmuan yang dimiliki oleh perguruan tinggi yang bersangkutan. dan c. Jurnal ilmiah harus memiliki dewan penelaah yang terdiri atas: a. Anggota dewan penelaah sebagaimana dimaksud pada huruf 1 huruf a tidak melebihi 40% (empat puluh persen) dari jumlah anggota dewan penelaah.Pasal 73 Ayat (1) Cukup jelas. 4. 2. Ayat (7) Cukup jelas. Dewan penelaah sebagaimana dimaksud pada huruf 1 dapat menunjuk mitra bestari untuk menelaah dan memilih naskah ilmiah yang akan diterbitkan. Ayat (2) Cukup jelas. Ayat (5) Cukup jelas. pakar keilmuan yang dimiliki oleh perguruan tinggi lain atau lembaga ilmiah lainnya.doc 156 . b. Ayat (8) Akreditasi oleh Departemen dilakukan secara objektif dengan prinsipprinsip berikut: 1. Ayat (6) Cukup jelas. Ayat (4) Cukup jelas. tenaga ahli dari organisasi profesi. Penelaahan dan pemilihan naskah ilmiah yang akan 76461668. Ayat (3) Cukup jelas. 3.

Jurnal ilmiah sebagaimana dimaksud pada huruf 1 dapat memuat artikel ilmiah yang berasal dari perguruan tinggi yang bersangkutan sebanyak-banyaknya 20% (dua puluh persen) dari seluruh artikel ilmiah yang diterbitkan pada setiap penerbitan. Pasal 80 Ayat (1) Cukup jelas. Departemen menetapkan status akreditasi yang diperoleh oleh jurnal yang bersangkutan. 5. Atas dasar hasil akreditasi. dan tidak dapat digunakan untuk melengkapi persyaratan kepangkatan dalam sistem 76461668. Pasal 81 Ayat (1) Gelar Doktor Kehormatan bukanlah gelar akademik namun sebutan kehormatan. Pasal 76 Cukup jelas. Pasal 77 Cukup jelas. Ayat (2) Menteri Agama menetapkan kesetaraan ijazah perguruan tinggi luar negeri dengan ijazah gelar perguruan tinggi Indonesia dalam disiplin ilmu agama. Pasal 78 Cukup jelas.doc 157 . Pasal 79 Cukup jelas. Pasal 74 Cukup jelas.diterbitkan harus menerapkan sistem telaah nirnama. Pasal 75 Cukup jelas.

dan PAUD yang diintegrasikan dengan program layanan yang telah ada seperti Pos Pelayanan Terpadu (Posyandu) dan program bina keluarga balita (BKB). Pasal 84 Satuan pendidikan lain yang sejenis pada pendidikan nonformal misalnya POS PAUD. Pendidikan nonformal berfungsi sebagai pelengkap apabila peserta didik pada satuan pendidikan formal merasa perlu untuk menambah pengetahuan. dan Program Paket C setara SMA serta kursus dan pelatihan.doc 158 . Pendidikan nonformal berfungsi sebagai penambah pada pendidikan formal apabila pengetahuan. keterampilan dan sikap yang diperoleh peserta didik pada satuan pendidikan formal dirasa belum memadai.kepegawaian pegawai negeri sipil. Program Paket B setara SMP. Ayat (2) Cukup jelas. PAUD Sekolah Minggu (PAUD-SM). adalah: Program Paket A setara SD. Pasal 82 Cukup jelas. Pasal 83 Ayat (1) Pendidikan nonformal berfungsi sebagai pengganti. keterampilan dan sikap melalui jalur pendidikan nonformal. PAUD Bina Iman Anak (PAUD-BIA). Taman Pendidikan Al-Quran (TPQ). Ayat (4) Cukup jelas. Ayat (2) Cukup jelas. 76461668. Taman Bermain. Taman Asuh Anak Muslim. dan pelengkap pendidikan formal bagi peserta didik yang karena berbagai hal tidak dapat mengikuti kegiatan pembelajaran pada satuan pendidikan formal atau peserta didik memilih jalur pendidikan nonformal untuk memenuhi kebutuhan belajarnya. Taman Balita. Taman Pendidikan Anak Sholeh (TAPAS). penambah. Jenis-jenis pendidikan nonformal yang mempunyai fungsi pengganti pendidikan formal. Ayat (3) Cukup jelas.

Pasal 87 Cukup jelas. PAUD-SM adalah salah satu bentuk satuan PAUD pada jalur pendidikan nonformal yang menyelenggarakan program pendidikan keagamaan Kristen bagi anak berusia 2 (dua) tahun sampai dengan 6 (enam) tahun yang berbasis Sekolah Minggu. PAUD-BIA adalah salah satu bentuk satuan PAUD pada jalur pendidikan nonformal yang menyelenggarakan program pendidikan keagamaan Katholik bagi anak berusia 2 (dua) tahun sampai dengan 6 (enam) tahun yang berbasis Bina Iman Anak Katholik. Pasal 89 Cukup jelas.POS PAUD adalah salah satu program satuan PAUD pada jalur pendidikan nonformal yang menyelenggarakan program pendidikan bagi anak sejak lahir sampai dengan berusia enam tahun yang dapat diintegrasikan dengan dan TPQ adalah salah satu bentuk satuan PAUD pada jalur pendidikan nonformal yang menyelenggarakan program pendidikan keagamaan Islam bagi anak berusia 2 (dua) tahun sampai dengan 6 (enam) tahun yang berbasis Taman Pendidikan Al-Quran. kecakapan dalam memilih dan menentukan jalan hidup pribadi. percaya diri. kecakapan dalam melakukan koreksi diri.doc 159 . Pasal 86 Cukup jelas. kecakapan dalam menghadapi tantangan 76461668. Pasal 85 Cukup jelas. Pasal 90 Cukup jelas. kecakapan dalam pengenalan terhadap kondisi dan potensi diri. Pasal 88 Cukup jelas. Pasal 91 Ayat (1) Kecakapan personal atau kecakapan pribadi mencakup kecakapan dalam melakukan ibadah sesuai dengan agama yang dianutnya.

Pasal 92 Cukup jelas. mengembang profesionalitas dan produktivitas kerja dan kode etik bersaing dalam melakukan pekerjaan. Kecakapan intelektual mencakup kecakapan terhadap penguasaan ilmu pengetahuan. Ayat (3) Cukup jelas. Pasal 93 Ayat (1) Pemuda adalah penduduk yang berusia 15 (lima belas) sampai dengan 35 (tiga puluh lima) tahun. Kecakapan vokasional mencakup kecakapan dalam memilih bidang pekerjaan. bermasyarakat. kecakapan dalam menyesuaikan diri dengan lingkungan. mengelola pekerjaan.dan problema serta kecakapan dalam mengatur diri. Ayat (3) Cukup jelas. Ayat (4) 76461668. Ayat (2) Cukup jelas. berbangsa. kecakapan bekerjasama dengan sesama. Ayat (2) Cukup jelas. Kecakapan sosial mencakup kecakapan dalam hidup berkeluarga. berpikir kritis dan kreatif. dan bernegara.doc 160 . kecakapan melakukan penelitian dan percobaan-percobaan dengan pendekatan ilmiah. kepemimpinan dan tanggung jawab sosial. empati atau tenggang rasa. teknologi dan/atau seni sesuai dengan bidang yang dipelajari.

Pasal 94 Cukup jelas. Lembaga yang ditunjuk oleh pemerintah daerah adalah lembaga yang telah diakui memiliki kompetensi untuk melakukan penilaian secara profesional dan mandiri oleh Badan Standar Nasional Pendidikan dan ditetapkan oleh Menteri. Pasal 99 76461668. Pasal 97 Cukup jelas. dan Program Paket C sederajat dengan SMA/MA telah diatur dalam Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2003 tentang Standar Nasional Pendidikan. Ayat (3) Cukup jelas. Pasal 95 Cukup jelas. Pasal 98 Ayat (1) Khusus untuk penyetaraan hasil pendidikan nonformal Program Paket A sederajat dengan SD/MI. Ayat (2) Cukup jelas. Ayat (4) Cukup jelas. Ayat (5) Cukup jelas. Lembaga yang ditunjuk oleh Pemerintah adalah Badan Standar Nasional Pendidikan atau lembaga lain yang memiliki kompetensi untuk melakukan penilaian secara profesional dan mandiri.Cukup jelas.doc 161 . Pasal 96 Cukup jelas. Program Paket B sederajat dengan SMP/MTs.

Ayat (4) Cukup jelas. Ayat (5) Cukup jelas. Ayat (3) Cukup jelas. Ayat (2) Lulus ujian pada satuan pendidikan nonformal dengan mengacu pada standar nasional pendidikan antara lain ujian atau uji kompetensi pada lembaga kursus. Pasal 102 Cukup jelas. Ayat (2) Cukup jelas Ayat (3) Yang dimaksud terbuka adalah 76461668. Pasal 100 Cukup jelas. Pasal 103 Ayat (1) Cukup jelas.doc sistem pendidikan yang 162 . Pasal 101 Ayat (1) Lulus ujian pada satuan pendidikan formal dengan mengacu pada standar nasional pendidikan mencakup ujian sekolah/madrasah dan ujian nasional pada tingkat akhir satuan pendidikan. lembaga pelatihan serta ujian atau uji kompetensi pada satuan atau program nonformal yang lain.Cukup jelas.

Yang dimaksud belajar tuntas adalah proses pembelajaraan untuk mencapai taraf penguasaan kompetensi (mastery level) sesuai dengan tuntutan kurikulum. teknologi kokunikasi. Berbasis teknologi pendidikan adalah pendidikan yang dirancang dan dikembangkan berdasarkan kebutuhan individu dengan memanfaatkan teknologi pembelajaran. seorang peserta didik baru dapat menempuh kegiatan belajar (learning tasks) berikutnya apabila telah menguasai kompetensi yang telah disyaratkan dalam kegiatab belajar sebelumnya. Proses belajar berlangsung secara bertahap dan berkelanjutan. Yang dimaksud dengan belajar mandiri adalah proses belajar yang dilakukan peserta didik secara peseorangan atau kelompok dengan memanfaatkan berbagai sumber belajar dan mendapat bantuan atau bimbingan belajar atau tutorial sesuai kebutuhan. Pasal 104 Ayat (1) Cukup jelas. Peserta didik dapat belajar sambil bekerja. Peserta didik dapat mencapai tingkat penguasaan kompetensi yang dipersyarakan dengan kecepatan yang berbeda-beda. Ayat (2) Pengorganisasian modus tunggal adalah penyelenggaraan pendidikan jarak jauh dalam satu satuan pendidikan formal 76461668.diselenggarakan dengan fleksibilitas pilihan dan waktu penyelesaian program. Contoh. informasi. Pasal 105 Ayat (1) Cukup jelas. atau mengambil program-program pendidikan yang berbeda secara terpadu dan berkelanjutan melalui pembelajaran tatap muka atau jarak jauh.doc 163 . dan media lain. Ayat (2) Sumber belajar Ayat (3) Layanan berbasis teknologi informasi dan komunikasi tanpa mengesampingkan layanan tatap muka.

Ayat (3) Pengorganisasian modus ganda adalah penyelenggaraan pendidikan jarak jauh bersamaan dengan pendidikan tatap muka pada berbagai jalur. Pada tingkat pendidikan tinggi pengorganisasian modus tunggal adalah seperti yang diselenggarakan oleh Universitas Terbuka di Indonesia. Misalnya suatu perguruan tinggi bekerjasama dengan perguruan tinggi lain atau lembaga lain dalam bentuk program pendidikan lapis (sandwich) atau kembaran (twinning) jarak jauh. dan University on the Air di China. dan jenis pendidikan. Ayat (4) Pengorganisasian modus konsorsium adalah penyelenggaraan pendidikan jarak jauh pada berbagai jalur. misalnya SMA menyelenggarakan pembelajaran jarak jauh untuk mata pelajaran bahasa Inggris. dan jenis pendidikan oleh beberapa satuan pendidikan secara bersama (kolaboratif). Pasal 106 Ayat (1) Cukup jelas.pada berbagai jalur. Ayat (2) Cakupan program pendidikan berbasis mata pelajaran adalah suatu satuan pendidikan yang menyelenggarakan pendidikan jarak jauh hanya untuk satu mata pelajaran. Ayat (4) Cakupan program pendidikan berbasis satuan pendidikan seperti yang diselenggarakan oleh SMP Terbuka dan SMA Terbuka yang menyelenggarakan pendidikan SMP dan SMA. Pendidikan tatap muka tersebut terikat dengan jadwal waktu dan tempat seperti yang berlangsung pada lembaga pendidikan umumnya. dan universitas maya (cyber university).doc 164 . Ayat (3) Cukup jelas. dan Universitas Terbuka yang menyelenggarakan program 76461668. Shukothai Thammathirat Open University di Thailand. jenjang. Ayat (5) Cukup jelas. jenjang. dan jenis pendidikan. jenjang.

doc 165 . Program pendidikan terpadu adalah program pendidikan yang memberikan kesempatan bagi peserta didik berkelainan untuk belajar bersama-sama dengan peserta didik normal pada satuan pendidikan umum maupun kejuruan. Program pendidikan inklusif adalah program pendidikan yang memberikan kesempatan bagi peserta didik berkelainan untuk belajar bersama-sama dengan peserta didik normal pada satuan pendidikan umum maupun kejuruan. Ayat (2) Satuan pendidikan khusus bagi peserta didik berkelainan adalah satuan pendidikan yang dirancang secara eksklusif untuk melayani peserta didik yang memiliki kesulitan dalam proses pembelajaran karena kelainan fisik. tenaga pendidik. tenaga pendidik. Pasal 112 Ayat (1) Cukup jelas.pendidikan tinggi. Pasal 109 Cukup jelas. dan sosial. Pasal 108 Cukup jelas. Pasal 111 Cukup jelas. dimana mereka mengikuti kurikulum yang disesuaikan dengan 76461668. dimana mereka mengikuti kurikulum yang berlaku bagi peserta didik normal. emosional. dengan cara menyediakan sarana. maupun tenaga kependidikan yang sesuai dengan kebutuhan mereka. maupun tenaga kependidikan yang sesuai dengan kebutuhan mereka. Pasal 107 Cukup jelas. Pasal 110 Cukup jelas. mental. dengan menyediakan sarana.

Pasal 118 Ayat (1) Cukup jelas. Pasal 113 Cukup jelas. Ayat (3) Cukup jelas. Pasal 114 Cukup jelas.doc 166 . Pasal 117 Cukup jelas. Ayat (2) Cukup jelas.kebutuhannya. 76461668. Ayat (4) Yang dimaksud dengan sistem unit adalah sistem pelayanan pendidikan yang memadukan pendidikan dasar dan menengah dalam 1 (satu) manajemen karena alasan skala ekonomi. Ayat (5) Cukup jelas. Pasal 116 Cukup jelas. Ayat (3) Cukup jelas. Pasal 115 Ayat (1) Cukup jelas.

Program percepatan dan pengayaan dilakukan dengan memperhatikan keseluruhan kompetensi kecerdasan yang harus dicapai peserta didik yang meliputi kecerdasan intelektual.doc 167 .Ayat (2) Pada satuan pendidikan yang menerapkan sistem satuan kredit semester (sks). emosional. Ayat (3) huruf a yang dimaksud dengan tingkat inklusi adalah penyelenggaraan pendidikan yang terdiri atas peserta didik normal dan yang memiliki potensi kecerdasan dan/atau bakat istimewa dengan menggunakan kurikulum yang dibedakan. program percepatan dan pengayaan tidak perlu diadakan secara ekslusif karena sudah terintegrasi di dalam sistem. Pasal 119 Cukup jelas. Pasal 122 Cukup jelas. 76461668. dan kinestetik. Pasal 120 Ayat (1) Peserta didik yang secara ekstrim memiliki potensi jauh di atas rata-rata dinyatakan antara lain mempunyai kecerdasan di atas 3 simpangan baku (standar deviasi) populasi anak. huruf b Cukup jelas. spiritual. Pasal 121 Cukup jelas. huruf c Cukup jelas. Ayat (2) Cukup jelas.

Ayat (2) Cukup jelas. teknologi. Ayat (3) Cukup jelas.doc 168 . Pasal 125 Cukup jelas Pasal 126 Ayat (1) Negara lain yang mempunyai keunggulan dalam bidang ilmu pengetahuan.Pasal 123 Cukup jelas. Ayat (4) Cukup jelas. Pasal 127 Cukup jelas. Pasal 124 Cukup jelas. Pasal 128 Cukup jelas. Pasal 129 Cukup jelas Pasal 130 Cukup jelas. 76461668. dan seni misalnya negara anggota Organisation for Economic Co-Operation and Development (OECD).

Pasal 133 Cukup jelas. Ayat (2) Cukup jelas. Model keluar masuk (entry-exit) dilaksanakan dengan cara mengelola kelas atau satuan pendidikan biasa bersamaan dengan kelas atau satuan pendidikan bertaraf internasional atau berbasis keunggulan lokal yang peserta didik pada kelas atau satuan pendidikan biasa dapat pindah ke kelas atau satuan pendidikan bertaraf internasional atau berbasis keunggulan lokal sebaliknya. Pasal 134 Cukup jelas.doc 169 . Untuk pindah dari satuan pendidikan biasa ke satuan pendidikan bertaraf internasional atau berbasis keunggulan lokal harus memenuhi persyaratan yang ditetapkan oleh satuan pendidikan yang dituju. Model terpisah-satu sistem-tidak satu atap dilaksanakan dalam lokasi yang berbeda atau terpisah dengan menggunakan sistem pengelolaan pendidikan yang sama. 76461668. Model terpisah-beda sistem-tidak satu atap dilaksanakan di lokasi yang berbeda (terpisah) dengan sistem pengelolaan pendidikan yang berbeda. Pasal 132 Model terpadu-satu sistem-satu atap dilaksanakan dalam satu lokasi dengan menggunakan sistem pengelolaan pendidikan yang sama.Pasal 131 Cukup jelas. Pasal 135 Ayat (1) untuk Bahasa asing dapat digunakan sebagai bahasa pengantar mendukung kemampuan berbahasa asing peserta didik.

Ayat (3) Huruf a. Huruf b. Persetujuan senat akademik dalam hal ini diperlukan untuk menjamin bahwa kerjasama ini telah dikaji dengan baik sebelumnya. Pasal 139 Ayat (1) Cukup jelas. serta penghasilan lainnya.doc 170 . tunjangan. Program kembaran ialah program yang dilaksanakan secara bersama oleh dua perguruan tinggi atau lebih untuk melaksanakan suatu program studi. Pasal 136 Sistem pendidikan negara lain meliputi kurikulum.Ayat (3) Sistem penggajian yang tidak diskriminatif antara lain tidak membedakan tata cara dan besaran gaji. Ijazah dan gelar yang diberikan dilakukan berdasarkan kesepakatan dari kedua belah pihak dengan memperhatikan berbagai persyaratan pemberian ijazah maupun gelar akademik dari masing-masing perguruan tinggi dalam rangka pengendalian mutu. Pasal 138 Cukup jelas. Pertukaran dosen dapat dilakukan melalui program 76461668. Pasal 137 Cukup jelas. Cukup jelas. pembelajaran. penilaian. dan/atau penjenjangan pendidikan yang secara resmi berlaku di negaranya. Huruf c. Ayat (2) Cukup jelas.

Pasal 140 Cukup jelas. Cukup jelas. Huruf h. Pasal 142 Cukup jelas. Huruf e. Huruf i. Cukup jelas. Pasal 144 Ayat (1) huruf a. Cukup jelas. 76461668. Cukup jelas.“sabatical leave” yang tata caranya dapat diatur oleh masing-masing perguruan tinggi. Huruf g. Pasal 143 Cukup jelas. Cukup jelas. Cukup jelas. Ayat (4) Cukup jelas. Huruf f. Huruf d.doc 171 . Pasal 141 Cukup jelas. Cukup jelas.

SMP. huruf d. Mahasiswa perguruan tinggi berhak pindah ke perguruan tinggi lain atau program studi lain yang setara. Ayat (3) Cukup jelas. MTs. atau bentuk lain yang sederajat berhak pindah ke jalur atau satuan pendidikan lain yang setara. 3) 4) huruf f. maka: 1) 2) Peserta didik PAUD berhak pindah ke jalur atau satuan pendidikan lain yang setara. dan daya tampung satuan pendidikan atau program studi yang bersangkutan memungkinkan menerimanya. huruf g. MI. Cukup jelas. Peserta didik pada SMA. Cukup jelas. 76461668. Cukup jelas. huruf h. atau bentuk lain yang sederajat.doc 172 . Bilamana peserta didik memenuhi persyaratan penerimaan pada satuan pendidikan.huruf b. MAK atau bentuk lain yang sederajat dapat pindah program kejuruan pada jalur dan satuan pendidikan lain yang setara. Cukup jelas. huruf c. Peserta didik pada SD. huruf e. Ayat (2) Cukup jelas. Cukup jelas. SMK. MA.

Konselor yang dimaksud dalam ayat ini termasuk guru bimbingan dan konseling. dan paket C antara lain nara sumber teknis. Cukup jelas. Huruf g. Huruf b. dan penguji. 76461668. Huruf e. Cukup jelas. Cukup jelas. Cukup jelas. Pasal 146 Cukup jelas. Huruf d. paket B. Ayat (2) Huruf a. Huruf c. dan tutor penanggung jawa mata pelajaran. Dan untuk pendidik pada lembaga kursus dan pelatihan antara lain pengajar. Huruf h. Cukup jelas. tutor penanggung jawab tingkat .doc 173 . Huruf f. Cukup jelas. Pasal 147 Ayat (1) Sebutan lain termasuk pendidik pada program paket A. pelatih atau instruktur. Cukup jelas. pembimbing.Pasal 145 Cukup jelas.

Ayat (2) Apabila pendidik merasa bahwa peserta didik memerlukan pembelajaran tambahan maka kebutuhan itu dipenuhi melalui 76461668. Pasal 148 Cukup jelas. Pasal 152 Cukup jelas. Pasal 154 Cukup jelas. Pasal 153 Cukup jelas.Huruf i. Cukup jelas. Pasal 149 Cukup jelas. Pasal 157 Ayat (1) Sekolah Menengah Kejuruan yang memiliki program studi tata busana dapat menyediakan pakaian seragam untuk peserta didiknya sendiri sebagai bagian dari proses pembelajaran. Pasal 151 Cukup jelas.doc 174 . Pasal 155 Cukup jelas. Pasal 156 Cukup jelas. Pasal 150 Cukup jelas.

Pasal 163 Cukup jelas. Pasal 162 Cukup jelas. Pasal 161 Cukup jelas. Pasal 158 Cukup jelas. 76461668. Ayat (5) Tim sukses adalah sekelompok orang yang direkrut untuk tujuan pemenangan salah satu kontestan tertentu dalam pemilihan umum dan/atau pemilihan kepala daerah sesuai peraturan perundang-undangan. Ayat (4) Cukup jelas. Ayat (3) Cukup jelas. Pasal 164 Cukup jelas.program remedial sesuai ketentuan kurikulum yang berlaku. Pasal 160 Cukup jelas. Pasal 159 Cukup jelas.doc 175 . Pasal 165 Ayat (1) Huruf a.

Peserta didik TK/RA. Peserta didik pada satuan pendidikan informal dapat mengambil mata pelajaran atau program pendidikan pada satuan pendidikan formal atau pendidikan nonformal untuk memenuhi beban belajar pendidikan informal yang bersangkutan. Pasal 166 Ayat (1) Cukup jelas.doc 176 . Huruf b. Peserta didik pada satuan pendidikan nonformal dapat mengambil mata pelajaran atau program pendidikan pada satuan pendidikan formal atau pendidikan informal untuk memenuhi beban belajar pendidikan nonformal yang bersangkutan.Cukup jelas. nonformal. SMA/MA. SMP/MTs. Cukup jelas. Ayat (4) Cukup jelas. Ayat (2) Huruf a. Ayat (2) Cukup jelas. dan SMK/MAK. Huruf b. atau bentuk lain yang sederajat dapat mengambil mata pelajaran atau program pendidikan pada satuan pendidikan formal. Ayat (3) 76461668. Ayat (5) Cukup jelas. atau informal untuk memenuhi ketentuan kurikulum pendidikan formal yang bersangkutan. SD/MI. Ayat (3) Cukup jelas.

Ma’arif-NU. Himpunan Sarjana Pendidikan Indonesia. Ayat (4) Cukup jelas. Persatuan Guru Republik Indonesia. Majelis Pendidikan Kristen. Pasal 170 76461668.doc 177 . Pasal 167 Cukup jelas. Ayat (4) Cukup jelas.Satuan pendidikan yang menerapkan sistem kredit semester dapat mengakui hasil belajar dari satuan pendidikan lain baik formal maupun nonformal untuk memenuhi perolehan satuan kredit smester (sks) peserta didik pada satuan pendidikan yang bersangkutan. Ayat (2) Cukup jelas. Majelis Nasional Pendidikan Katolik. Pasal 169 Cukup jelas. Ayat (5) Cukup jelas. Pasal 168 Ayat (1) Organisasi profesi pendidikan seperti. Pengusaha termasuk perusahaan-perusahaan. Organisasi sosial kemasyarakatan seperti Muhammadiyah. dan sejenisnya. dan sejenisnya. Ayat (3) Cukup jelas.

MTs. Ayat (2) Satu satuan pendidikan dapat memiliki kekhasan agama.doc 178 . Kerjasama produksi merupakan kerjasama antara satuan pendidikan dan pengusaha/dunia kerja dalam bidang pekerjaan tertentu di mana kerjasama tersebut dilakukan melalui perjanjian timbal balik yang menguntungkan kedua belah pihak. Pesantren. Kekhasan agama satuan pendidikan dapat berupa pendidikan umum yang diselenggarakan oleh kelompok agama tertentu. Ayat (2) Cukup jelas. Ayat (3) Sistem magang merupakan kegiatan pembelajaran yang berlangsung di tempat kerja sebagai proses transisi dari peserta didik menjadi pekerja (apprenticeship) Pendidikan sistem ganda (dual system) adalah kegiatan pembelajaran yang memberikan status ganda kepada peserta didik. pendidikan umum yang menyelenggarakan pendidikan umum dan ilmu agama seperti MI. dan sosio-kultural sekaligus. Pasal 172 Ayat (1) Satuan pendidikan yang diselenggarakan oleh masyarakat adalah satuan pendidikan yang selama ini berstatus swasta. MA.Ayat (1) Cukup jelas. Ayat (4) Cukup jelas. Pasal 171 Cukup jelas. atau pendidikan keagamaan seperti Pendidikan Diniyah. Pabbajja 76461668. sebagai pekerja di tempat praktik kerja dan sebagai siswa di sekolah. sosioekonomi.

Ayat (2) Pertemuan 2 (dua) kali setahun yang dimaksud sekurangkurangnya pada awal semester. dan sosio-kultural merupakan muatan pendidikan dan/atau pendekatan pembelajaran yang disesuaikan dengan kebutuhan. dan memecahkan permasalahan pendidikan yang muncul. dan keadaan sosio-ekonomi. dan sosio-kultural setempat. Pasal 178 76461668.doc 179 . Ayat (3) Cukup jelas. dan bentuk lain yang sejenis. Pendidikan dengan kekhasan sosio-ekonomi. Ayat (2) Cukup jelas. Pasal 174 Cukup jelas. Pasal 177 Ayat (1) Cukup jelas. potensi.Samanera. Pasal 175 Cukup jelas. Ayat (4) Koordinasi dan kerjasama antara lain menyusun anggaran dasar/anggaran rumah tangga. Pasal 176 Ayat (1) Cukup jelas. Pasal 173 Cukup jelas. tukar-menukar informasi.

Komisi Pendidikan Nonformal dan Informal. Ayat (3) Cukup jelas. Komisi Pendidikan Khusus dan Pendidikan Layanan Khusus. Di tingkat nasional dapat terdiri atas Komisi Pendidikan Anak Usia Dini. pemimpin paguyuban adat (marga atau nagari). Pengusaha misalnya pemilik perusahaan swasta. Tokoh masyarakat termasuk tokoh agama. dan Komisi Pendidikan Jarak Jauh. Ayat (2) Cukup jelas. 76461668. Ayat (2) Cukup jelas.Ayat (1) Pakar pendidikan adalah perseorangan atau kelompok yang memiliki pengetahuan dan keahlian di bidang pendidikan yang karyanya dipublikasikan di media cetak. Ayat (5) Komisi sebagaimana dimaksud pada ayat ini disesuaikan dengan lingkup pengelolaan dan kebutuhan di tingkat nasional. Komisi Pendidikan Dasar dan Menengah. Komisi Pendidikan Tinggi. provinsi. media elektronik. dan media lainnya. dan kabupaten/kota.doc 180 . Komisi Pendidikan Kedinasan. Ayat (4) Cukup jelas. Ayat (3) Cukup jelas. Pasal 179 Ayat (1) Cukup jelas. Komisi Pendidikan Keagamaan. atau melalui produk lain yang menggambarkan keahliannya. dan tokoh nonpartisan lainnya yang berpartisipasi dalam kegiatan pendidikan.

Di tingkat provinsi dapat terdiri atas Komisi Pendidikan Anak Usia Dini. Pasal 182 Cukup jelas. Di tingkat kabupaten/kota dapat terdiri atas Komisi Pendidikan Anak Usia Dini.doc 181 . Komisi-komisi tersebut dapat berdiri sendiri atau digabung sesuai dengan kebutuhan. Komisi Pendidikan Khusus dan Pendidikan Layanan Khusus. Komisi Pendidikan Dasar dan Menengah. Pasal 181 Cukup jelas. Komisi Pendidikan Nonformal dan Informal. Komisi Pendidikan Tinggi. Komisi Pendidikan Dasar dan Menengah. Komisi Pendidikan Nonformal dan Informal. Pasal 184 Ayat (1) Komite sekolah/madrasah POMG dan yang sejenis. dan Komisi Pendidikan Keagamaan. Pasal 180 Ayat (1) Cukup jelas. Ayat (6) Tenaga ahli yang dimaksud terdiri dari tenaga pendidik profesional yang berfungsi sebagai konsultan. 76461668. Pasal 183 Cukup jelas. Ayat (2) Dalam melaksanakan tugasnya panitia dapat meminta bantuan konsultan yang berpengalaman melakukan uji kelayakan (fit and proper test) dalam bidang pendidikan. dan Komisi Pendidikan Keagamaan. Komisi Pendidikan Khusus dan Pendidikan Layanan Khusus. menggantikan keberadaan BP3.

Penggabungan dapat dilakukan karena lokasi berdekatan. Ayat (7) Pembentukan komite sekolah/madrasah yang terdiri dari beberapa satuan pendidikan hingga memenuhi jumlah 200 peserta didik dimaksudkan untuk mencapai sinergi dan efektivitas dalam memberdayakan peranserta masyarakat terutama pada satuan pendidikan dengan jumlah peserta didik yang kecil. atau satuan pendidikan lainnya dalam satu wilayah desa atau kecamatan. Gabungan tersebut dapat terdiri dari beberapa satuan pendidikan pada jenjang yang sama.doc 182 . dan SMK. atau satuan-satuan pendidikan dikelola oleh suatu penyelenggara pendidikan. Ayat (3) Cukup jelas. dan unsur . dan memecahkan permasalahan pendidikan yang muncul. SMP. satuan pendidikan keagamaan. Ayat (4) Koordinasi dan kerjasama antara lain menyusun anggaran dasar/anggaran rumah tangga.Nama lain yang sejenis seperti Majelis Madrasah. SD. Ayat (5) Pihak-pihak yang terkait misalnya unsur-unsur satuan pendidikan selain kepala satuan pendidikan. Komite Pendidikan Nonformal. atau berbeda seperti TK. tukar-menukar informasi. atau karena pertimbangan lain. maupun oleh masyarakat. atau RA. Komite satuan pendidikan jalur nonformal dibentuk berdasarkan kebutuhan satuan atau gabungan satuan pendidikan nonformal. SMA. Ayat (6) Gabungan satuan pendidikan yang dimaksud adalah satu komite sekolah/madrasah atau nama lain yang sejenis terdiri dari sekolah dan madrasah. program pendidikan nonformal. 76461668. atau yang sejenisnya baik yang diselenggarakan oleh Pemerintah. Ayat (2) Cukup jelas. MI. MTs. MA. dan MAK.

Pasal 187 Cukup jelas. kejuruan. dan jenis pendidikan. dan khusus pada semua jalur. vokasi. Pasal 189 Cukup jelas. Ayat (3) 76461668.Pasal 185 Cukup jelas. dan jenis pendidikan. Pasal 192 Cukup jelas. jenjang. Pasal 190 Cukup jelas. lembaga pemerintah non-departemen. akademik. Departemen Agama melakukan pengawasan pendidikan agama dan pendidikan keagamaan pada semua jalur. Departemen melakukan pengawasan pendidikan umum. Pasal 191 Cukup jelas. profesi. Pasal 188 Cukup jelas. maupun masyarakat. departemen yang menangani urusan pemerintah bidang lain. jenjang. Ayat (2) Menteri melakukan pengawasan pendidikan secara umum baik yang berada di bawah kewenangan Departemen. Pasal 193 Ayat (1) Cukup jelas.doc 183 . pemerintah daerah. Pasal 186 Cukup jelas.

Ayat (6) Cukup jelas.Cukup jelas. Pasal 195 Cukup jelas. Pasal 196 Ayat (1) Cukup jelas. Ayat (5) Cukup jelas. Ayat (3) Pemeriksaan diterapkan secara arif terhadap objek yang diawasi. Ayat (2) Cukup jelas. Ayat (4) Cukup jelas. Ayat (2) Cukup jelas.doc 184 . Pasal 194 Ayat (1) Cukup jelas. Ayat (4) Cukup jelas. Misalnya pemeriksaan terhadap objek yang diawasi 76461668. Ayat (7) Lembaga independen yang melakukan pengawasan/pemeriksaan independen misalnya akuntan publik. Ayat (3) Cukup jelas.

g.doc 185 . h. Ayat (2) Cukup jelas. f. Ayat (4) Cukup jelas. l. j. Pasal 199 76461668. i. k. l. Ayat (3) Pemeriksaan diterapkan secara arif terhadap objek yang diawasi. Misalnya pemeriksaan terhadap objek yang diawasi sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf e. Ayat (3) Pemeriksaan diterapkan secara arif terhadap objek yang diawasi. k. i. dan j hanya dilakukan apabila terdapat indikasi terjadinya penyimpangan administratif atau pelanggaran hukum.sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf h. Pasal 198 Ayat (1) Cukup jelas. dan m hanya dilakukan apabila terdapat indikasi terjadinya penyimpangan administratif atau pelanggaran hukum. g. Misalnya pemeriksaan terhadap objek yang diawasi sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf f. Ayat (4) Cukup jelas. dan m hanya dilakukan apabila terdapat indikasi terjadinya penyimpangan administratif atau pelanggaran hukum. h. Ayat (2) Cukup jelas. Pasal 197 Ayat (1) Cukup jelas. j. i. Ayat (4) Cukup jelas.

e. program pendidikan.doc 186 . Ayat (3) Unit dari perguruan tinggi termasuk: a. c. program studi. Ayat (2) Cukup jelas. unit-unit dharma perguruan tinggi. lembaga pengabdian lain yang masyarakat. dan/atau satuan pendidikan. d. melaksanakan f.Cukup jelas. lembaga penelitian atau pusat studi. Ayat (2) Cukup jelas. Ayat (4) 76461668. Pasal 202 Cukup jelas. Pasal 204 Ayat (1) Cukup jelas. badan hukum pendidikan. b. Pasal 203 Ayat (1) Pemberian sanksi dilakukan secara arif dan disesuaikan dengan tingkat pelanggaran yang dilakukan oleh satuan pendidikan. jurusan. dan/atau fakultas. Pasal 201 Cukup jelas. Pasal 200 Cukup jelas.

Cukup jelas. Ayat (3) Cukup jelas. pemindahan.doc 187 . penempatan. Pasal 205 Cukup jelas. Ayat (5) Cukup jelas. Ayat (4) Cukup jelas. Ayat (6) Cukup jelas. dan pemberhentian pendidik dan tenaga kependidikan. Pasal 211 76461668. Pasal 209 Cukup jelas. Pasal 210 Cukup jelas. Ayat (2) Cukup jelas. Pasal 208 Ayat (1) Cukup jelas. Pasal 206 Cukup jelas Pasal 207 Cukup jelas. Ayat (5) Yang dimaksud dengan seseorang adalah pejabat atau pengurus badan hukum pendidikan yang memiliki kewengan dalam pengangkatan.

Pasal 215 Cukup jelas.Cukup jelas. Pasal 217 Cukup jelas. Pasal 214 Cukup jelas.. TAMBAHAN LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA NOMOR ..doc 188 . Pasal 213 Cukup jelas. Pasal 212 Cukup jelas. 76461668. Pasal 218 Cukup jelas. Pasal 219 Cukup jelas. Pasal 216 Cukup jelas.

...............12 Pasal 14...................................12 c.............................................................12 f................................................................................................................................................................................................12 d............... dan akuntabilitas pengelolaan pendidikan yang mengikat:..................... efektifitas......................................................................................................................................................................................................................................................................................................16 Gubernur menetapkan kebijakan tatakelola pendidikan untuk menjamin efisiensi...................................................12 b....................................................12 Pengelolaan oleh Pemerintah Provinsi............................................................................................2 KETENTUAN UMUM.......................................................................................................... ..........................................Pemerintah provinsi..2 Pasal 1........................9 Pasal 10..........................................................................................................2 BAB II...........................................13 Pasal 22....................11 Pasal 13...................................................15 Pasal 23..........Departemen Agama.................................................................7 Umum..................12 e......................................................................................Program dan/atau satuan pendidikan..................................................................................................................................................................................................................................................................................7 Pasal 2.........................................................................12 Menteri menetapkan kebijakan tatakelola pendidikan untuk menjamin efisiensi....................................7 Pasal 3....Badan hukum pendidikan.....................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................12 Bagian Ketiga.......................................................................................................................................................12 Pasal 16....................................................................................................8 Pengelolaan oleh Pemerintah....Departemen.............................................Departemen lain atau lembaga pemerintah nondepartemen yang menyelenggarakan program dan/atau satuan pendidikan......8 Pasal 4...........7 PENGELOLAAN PENDIDIKAN...............................................................8 Pasal 5....................................................................................Pemerintah kabupaten/kota.........................................................................................................................................................................doc i ..................12 Pasal 15 ....................................................................................................................10 Pasal 12........................................................................................12 g.......................................................... dan.................................................................. efektifitas............................... dan 76461668......................................................................................................................................12 a.........................................DAFTAR ISI BAB I..................................7 Bagian Kesatu.......................................................................................................................................................................................................................................................................................................................7 Bagian Kedua.......................................................

............... efektifitas..................................................30 Pasal 54 ..........................................................25 Pasal 44 ...........................................................30 Fungsi dan Tujuan...................................29 Pasal 52...............................................................................................................................................................................................................................30 Pendidikan Anak Usia Dini....................................................................................................20 Pasal 33...........30 Pasal 53 ....................................................................21 Pasal 36.....................................................................doc ii ...............................................................................................................21 Pasal 34.......................................................................................................................18 Pasal 32.......24 Pasal 42..............27 Pasal 50..........................................................................................................................29 BAB III.........................................25 Pengelolaan oleh Satuan dan/atau Program Pendidikan....................... dan akuntabilitas pengelolaan pendidikan yang mengikat:.......................................................................17 Pasal 25.............................................................................................................................................................................................................................................................. dan akuntabilitas pengelolaan pendidikan yang mengikat:.................................................................20 Bupati/Walikota menetapkan kebijakan tatakelola pendidikan untuk menjamin efisiensi..............16 Bagian Keempat......................................................................................................................................22 Pasal 41....................16 Pasal 24...........................................................................................................................................................................................................................................................................................................................28 Pasal 51.........................................................................................21 Bagian Kelima..........17 Pasal 26.24 Pasal 43............................................................................................................................................................... efektifitas.................................................................................................................................................................................................30 Bentuk dan Jenis Satuan Pendidikan...............................................................................................................................akuntabilitas pengelolaan pendidikan yang mengikat:............................................................................................................................................ efektifitas...................................................................................................................................................................................................................................................................................................30 Bagian Kesatu...........................................................................................................................................................24 Badan hukum pendidikan menetapkan kebijakan tatakelola pendidikan untuk menjamin efisiensi...................................30 PENYELENGGARAAN PENDIDIKAN FORMAL.............21 Pasal 35...............................................................................................21 Pengelolaan oleh Badan Hukum Pendidikan ...........................................17 Pengelolaan oleh Pemerintah Kabupaten/Kota.............................................................................30 76461668..............................................29 Satuan dan/atau program pendidikan menetapkan kebijakan tatakelola pendidikan untuk menjamin efisiensi....................30 Paragraf 1............25 Bagian Keenam..................................................................................................................................25 Pasal 45..........................30 Paragraf 2............. dan akuntabilitas pengelolaan pendidikan yang mengikat:.......................................................................................................................................................................................................................................................................................................

........................................36 Bagian Ketiga.......................................40 Fungsi dan Tujuan.......................................................................................................................................32 Pasal 58................................32 Paragraf 2............................................................................41 Pasal 73...............................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................31 Pasal 57 ...........................................32 Fungsi dan Tujuan..................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................31 Penerimaan Peserta Didik.....................................41 76461668..................................................................................................................................................................36 Paragraf 2..............................37 Pasal 69..................................37 Pasal 68 .......................................................................................................................40 Bagian Kempat............................32 Pendidikan Dasar............36 Pendidikan Menengah............................................................39 Penerimaan Peserta Didik.........................................................................................................................................................................................................................................................................34 Pasal 65........................................................38 Paragraf 3.............................31 Program Pembelajaran...............................31 Paragraf 4............39 Pasal 72.................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................33 Penerimaan Peserta Didik...............................................................................39 Pasal 71...........................................................................................................33 Pasal 63.............................................................................31 Pasal 56 .......................33 Pasal 60 .............................................................................................................37 Bentuk Satuan Pendidikan.................................................31 Bagian Kedua.............................................................................................................................................................................33 Paragraf 3.....................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................32 Paragraf 1.......33 Pasal 59 .......................................................................................................................................................Paragraf 3 ............................36 Pasal 66............................................................................36 Paragraf 1...........................................................................40 Paragraf 1...40 Pendidikan Tinggi..............................................................................................................................................................................................................................................34 Pasal 64 ...............................................................................................................................doc iii .........................................................................................................................33 Bentuk Satuan Pendidikan................................................................................................36 Fungsi dan Tujuan........................31 Pasal 55 ..................................................................................................................................................................

............................................................................................................48 a.......................48 b...............................................................................48 (3)Izin sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf a diberikan oleh Departemen setelah memperoleh jaminan dari pemerintah daerah kabupaten/kota yang bersangkutan untuk bertanggung jawab melindungi.................................................................41 Paragraf 3............................41 Organisasi Perguruan Tinggi..............................................................................................memenuhi seluruh persyaratan program sarjana atau diploma empat kependidikan sesuai dengan peraturan perundang-undangan.........................................................................................................41 Pasal 74.........................................................................................................................43 Paragraf 3.......................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................46 Pasal 86...................... dan memfasilitasi penyelenggaraan program sebagaimana dimaksud pada ayat (2) sehingga guru tetap dalam jabatan yang bersangkutan memperoleh kualifikasi 76461668....................................................................................... dan Program Pendidikan.........................................46 Sistem Pembelajaran.................................................................................................................42 Pasal 79.............................................................................................................................................................................................................46 Paragraf 4....................................44 Penerimaan Mahasiswa ........................ ................................48 (2)Program sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diselenggarakan sebagai berikut:..............................48 (1)Perguruan tinggi dapat menyelenggarakan program studi sarjana atau diploma empat kependidikan khusus bagi guru tetap dalam jabatan yang belum memiliki ijazah sarjana atau diploma empat dengan program sarjana atau diploma empat kependidikan khusus bagi guru tetap dalam jabatan.........Paragraf 2......................................................................44 Pasal 81....................................................................................................... Bentuk...............................................doc iv .................................dapat dilaksanakan di pusat kegiatan Kelompok Kerja Guru atau Musyawarah Guru Mata Pelajaran..........44 Pasal 80........47 Pasal 89....................................42 Pasal 75 ...................................................................................................................................48 c...............................41 Jenis.................................................................................................................46 Pasal 87 ..........................................................................................................45 Pasal 84............................................................................................................dilaksanakan oleh perguruan tinggi yang memiliki program studi sarjana atau diploma empat kependidikan berakreditasi dari Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi dan telah memperoleh izin untuk menyelenggarakan program sarjana atau diploma empat kependidikan khusus bagi guru tetap dalam jabatan dari Departemen................................................................................................42 Pasal 77......................................................47 Pasal 88..................................................................................................... mengawasi...................

.................................................................................................................59 PENYELENGGARAAN PENDIDIKAN NONFORMAL .....................................................................................................................56 Gelar Lulusan Pendidikan Tinggi..................................................................51 Pasal 94.............................................akademik sarjana atau diploma empat kependidikan sesuai peraturan perundang-undangan...........................................................................................57 Pasal 83....................................................................................................................................................51 Pasal 93.................48 (4) Menteri dapat membatalkan izin program sebagaimana dimaksud pada ayat (2) apabila setelah dilakukan pemeriksaan oleh Inspektorat Jenderal Departemen atas instruksi Menteri terbukti bahwa pelaksanaan program yang bersangkutan telah melanggar peraturan perundang-undangan....49 Kebebasan Akademik dan Otonomi Keilmuan......................................................................55 Pasal 96.......59 76461668...........................................................................................................................................................................................................56 Pasal 82.......................................................................................................58 Bagian Kelima....................................................................................................................................55 Penjaminan Mutu Hasil Belajar.................................................................................................................................................................................................................55 Paragraf 9..........................................................49 Pasal 91..........................................................................51 Penelitian.......................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................59 Pasal 85...............................48 Paragraf 5.. Pasal 82 ayat (2).................................49 Pasal 92.......................................................................................................................................................................................................59 Bagian Kesatu........................................................................................59 Penjaminan Mutu...................................................................................................................................................................................................................................................54 Pasal 95...............................................56 Pasal 81..............55 Pengalihan Kredit ...........48 (5)Ketentuan sebagaimana diatur dalam Pasal ini berlaku sampai berakhirnya masa peralihan sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen..............56 Paragraf 10..................................................................53 Pengabdian kepada Masyarakat......................................................................................................................................doc v .......................................................................................................................................................................................................................58 Pasal 84....................................................................................................................................................................................................................59 BAB IV................................................................................................................................55 Pasal 97...............48 Pasal 90.................................................................................................................55 Pasal 99...................................51 Paragraf 6..................................................................................................................54 Paragraf 8................................................................................................................................

...........................64 Paragraf 4..............................................................................................................................................60 Lembaga Kursus dan Lembaga Pelatihan .......................................................................................................................................................................................................................................................................................62 Pasal 93 ........................................................................61 Majelis Taklim.........................................................................................................................................................................................................................................................60 Paragraf 1.............................................................61 Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat........................64 Pendidikan Pemberdayaan Perempuan..................................................................................................................................60 Bagian Kedua...............................................................64 Pasal 97..........................................62 Pasal 94.......................................................................................................................................................................................................................................63 Paragraf 3..........................................................................................62 Program Pendidikan ........................................................................................63 Pendidikan Kepemudaan.................................61 Paragraf 4..................................................................................................59 Pasal 86......................................................................................................................................................................................................................65 Pendidikan Keterampilan dan Pelatihan Kerja.................60 Paragraf 2..........................................................................................................................................................................................................................................................................................62 Pendidikan Kecakapan Hidup....................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................doc vi ................................62 Bagian Ketiga...................................................................................................................................................................................60 Pasal 88....61 Pasal 90.........................................................61 Paragraf 5..........................................61 Pasal 89..........................................................................................65 Paragraf 6.................63 Pasal 95....................................................................................................................................................................65 76461668...............................................................................Fungsi dan Tujuan .....................................................................................62 Pasal 92......................................60 Bentuk Satuan Pendidikan .64 Paragraf 5............................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................62 Paragraf 2...........................................................................................................................................................................65 Pendidikan Keaksaraan.................................................................................................................................................................................................................................................61 Paragraf 3...................62 Taman Penitipan Anak dan Kelompok Bermain ............................61 Kelompok Belajar ...................60 Pasal 87........................................................................................................................................................................................................................65 Pasal 98........................................................................61 Pasal 91............................................................................................................................................................................63 Pasal 96.................................62 Paragraf 1......................................................................................................................................................................................................................

..................................70 Pasal 109................................................................................................................................................................................................................67 Pasal 102..................69 Pasal 106.73 Pasal 117.............66 Pendidikan Kesetaraan.......................67 Pasal 103.................................................70 Pasal 110....74 76461668...................................................................................................................................................................................................................73 Pasal 119.............................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................72 Bagian Kesatu.......................................72 PENYELENGGARAAN PENDIDIKAN KHUSUS DAN..............................................................................................................................................................72 Paragraf 1.........................................................................................................................................................................................................72 Pasal 114...............................Pasal 99.........................72 PENDIDIKAN LAYANAN KHUSUS..................................................................................................................................................................................................................................................66 Bagian Ketiga (keempat).......................69 PENYELENGGARAAN PENDIDIKAN JARAK JAUH......................................................................................................................................................69 BAB VI..................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................72 Pendidikan Khusus bagi Peserta Didik Berkelainan.........................................72 Pasal 113...................68 Pasal 104..............................................................................................................73 Pasal 118......................................72 Umum........................................................................................................................................................................71 BAB VII..................................................................67 PENYELENGGARAAN PENDIDIKAN INFORMAL........................................................................................72 Pasal 115...............................................................................................................66 BAB V...................................69 Pasal 108..............................................................................................................................................................................................................................72 Pasal 112..................................................................................................................doc vii ...............................................................................................................................................................................................................................................................................72 Pasal 116.................................68 Pasal 105....................69 Pasal 107.......66 Penyetaraan Hasil Pendidikan...............................................................72 Bagian Kedua..................................................................66 Pasal 100...................................................................................................................................................................................................................66 Pasal 101.................................................................................................................................74 Paragraf 2...................................................................................................................................72 Pendidikan Khusus..........71 Pasal 111..............65 Paragraf 7....................................................................................................................................................................................................................................

..75 Pasal 121................................................89 Pasal 142................................................................................87 Pasal 141..................................................................................................................................................................Pendidikan Khusus bagi Peserta Didik yang Memiliki ................................................................................................................................................................................................................................................83 Pasal 132......................................................................................................................76 Bagian Ketiga...................77 Pasal 124..............................................................................................................................................................................................................................83 Pasal 131.............................................................................................................................77 Pasal 123......................................................................................................................................................................................89 HAK DAN KEWAJIBAN PESERTA DIDIK...............................................................................................................................................................................................................................85 Pasal 138......................................................................................................78 Pasal 125.............74 Potensi Kecerdasan dan/atau Bakat Istimewa....................................89 Pasal 143............................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................84 BAB IX......84 Pasal 133.....................................................................84 PENYELENGGARAAN PENDIDIKAN OLEH LEMBAGA NEGARA LAIN DAN KERJASAMA SATUAN PENDIDIKAN INDONESIA DENGAN SATUAN PENDIDIKAN NEGARA LAIN....................................................................................................................................................................................................................................................................................................86 Pasal 139......................................................89 BAB X........................................78 PENYELENGGARAAN PENDIDIKAN BERTARAF INTERNASIONAL .........................86 Pasal 140........................................................................................................................................76 Pasal 122...................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................75 Pasal 122.............76 Pendidikan Layanan Khusus...................................................................80 Pasal 128.....79 Pasal 127............................................................................................................................................................................................................................78 BAB VIII..............................................................................................................................................................78 Pasal 126.................................................................................................................................................................................................................................................doc viii .................................75 Pasal 120...................85 Pasal 135.................................82 Pasal 129.......................................................................89 76461668...........................................................................76 Pasal 121...................................................82 Pasal 130................................................76 Pasal 123..................................................78 DAN PENDIDIKAN BERBASIS KEUNGGULAN LOKAL.....................................................................................................................................................................................................84 Pasal 134.......................................................................................................................85 Pasal 136........................................................

.....................................96 Pasal 152...............................................................................................................................................................................................98 BAB XII......101 BAB XIII.....................................................................................................................................................................................................................................................95 Pasal 150....doc ix ............................98 Pasal 157 .....................................................................98 Larangan...............................................................100 Pasal 161....................................................................95 Pengangkatan.................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................... dan Penghargaan ...............................................................................96 Paragraf 2.....................................................................101 Pasal 163..........................................................................................................................................................98 Bagian Keempat................................................................................................................................................................................................................................................................................................................101 PENDIDIKAN LINTAS SATUAN DAN JALUR PENDIDIKAN..............................95 Bagian Ketiga......................................................................................................................................................96 Paragraf 1.......................................... Promosi........................99 Pasal 158...........................................................................................93 Pasal 149................ Penempatan............... dan Tanggung Jawab.........................................................................Pasal 144..... dan Pemberhentian ....................92 PENDIDIK DAN TENAGA KEPENDIDIKAN.............................................................................................................................................................................................................................96 Pasal 153...................................................................................................................................................................96 Pembinaan Karir.................................................................................................................90 Pasal 146................................................................................................99 Pasal 159..............95 Pasal 151.......................................................................................................................................101 76461668.................................................................................................................................100 Pasal 162.99 PENDIRIAN SATUAN PENDIDIKAN........................................................................................................................................................................................................................................................................................................... Tugas..................................................................................................................................................................................93 Bagian Kedua........................................................................................................................................................................................92 Bagian Kesatu............................................92 Pasal 148..........................................................91 BAB XI.......89 Pasal 145 .......................................................................................92 Pasal 147................97 Pasal 155................................96 Promosi dan Penghargaan...........................................................................101 Pasal 164...............................................................................96 Pasal 154...............................................................................................................................96 Pembinaan Karir........................................................97 Pasal 156..................................................... Pemindahan......100 Pasal 160.......92 Jenis............

.......................................................................................................................................................................................................................................108 Pasal 181......................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................103 Bagian Kedua....110 Komite Sekolah/Madrasah..........................................112 Paragraf 3.......................................106 Bagian Keempat.........................................................................................................................................................112 76461668..............110 Fungsi dan Sifat................108 Pasal 180....................................doc x ..................................................................................................................................................................................................104 Pasal 171.....................................................................................................................................................................................................................107 Pasal 179....................................110 Pasal 185...................................................................................................................................................................................................105 Pasal 172...........................................................................................................................................106 Pasal 175.............................................................................................................................103 Pasal 169................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................112 Pasal 186.............................................................................................................................................................................................................................................................................................................................110 Paragraf 1.............................................................................................107 Pasal 178..............................................................103 Pasal 167..................................109 Pasal 183.....................................................................................109 Pasal 182...................110 Bagian Kelima...........112 Keanggotaan.......................................................................................................................................................................................................................................................103 Pasal 168..............................................................................................................................................................................Pasal 165.....................................................105 Pendidikan Berbasis Masyarakat.............111 Paragraf 2.........................................................................................................................................................................................................................................................................103 PERANSERTA MASYARAKAT........................................105 Pasal 174.............................................................................................106 Pasal 177........................................................................103 Bagian Kesatu.........102 BAB XIV...........................................................................110 Pasal 184.............................................103 Komponen Peranserta Masyarakat...................102 Pasal 166.....103 Fungsi .....................106 Dewan Pendidikan..........................................................................................................................................105 Bagian Ketiga.........106 Pasal 176..................................................................................................................................104 Pasal 170..................................................................................................................112 Persyaratan Anggota...........................................................................................................................................................

............................................................................115 Pasal 194.................................................................................................................................................................................................................................................................................................................123 Pasal 205.........................................................................................................................................................................113 Paragraf 5.......................................................................114 Pendanaan...................................................................................................................................................................................121 BAB XVI...................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................113 Pasal 188..............................................................................................................................113 Pasal 189.........................................................................................................................................................................................................................................124 Pasal 206..................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................121 Pasal 201................................................................................................................................................................114 Pasal 191............125 Pasal 211....125 Pasal 210..............................................................................................................................................................126 76461668.........................................................................................119 Pasal 199.............................................................................................126 Pasal 213...................................................................................................................................................................................122 Pasal 203....................122 SANKSI.......................................................................................................................................................................115 Pasal 192............................................................................................................112 Paragraf 4..............................114 Bagian Keenam...113 Struktur Organisasi dan Kepengurusan....................................doc xi ....................................................125 Pasal 212...................................................................................................................................................116 Pasal 195...........................................................................................118 Pasal 198........................................................................................................................................................................................................................................................................................117 Pasal 197...................................................................124 Pasal 207.......................................................................................................................113 Paragraf 6.........................................122 Pasal 202....................120 Pasal 200.................................................................................................................................................................................................................................124 Pasal 208..........................................................................115 PENGAWASAN.................................................122 Pasal 204......................................................................................115 Pasal 193..........Pasal 187.................114 Pasal 190.......................................................................................124 Pasal 209.......................................................................113 Mekanisme Pemilihan...........................................................................................................................................116 Pasal 196.........................115 Larangan.115 BAB XV...........................................................................................................................................................................................................................................

...........126 KETENTUAN PERALIHAN............................................................................................................................................................................127 Pasal 216...........................................................................................................................126 Pasal 215...........................................................................................................................................................127 Pasal 217..................127 Pasal 218................BAB XVII...............................................................................128 PENJELASAN...........................................................................................126 Pasal 214 ...............................127 KETENTUAN PENUTUP.......................................................................................................................126 BAB XVIII........129 76461668............................................................................................................................................................................................................................................................................doc xii ............................................................................

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful