RANCANGAN PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR .… TAHUN ....

TENTANG PENGELOLAAN DAN PENYELENGGARAAN PENDIDIKAN

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : bahwa dalam rangka melaksanakan ketentuan Pasal 12 ayat (4), Pasal 17 ayat (3), Pasal 18 ayat (4), Pasal 20 ayat (4), Pasal 21 ayat (7), Pasal 24 ayat (4), Pasal 25 ayat (3), Pasal 26 ayat (7), Pasal 27 ayat (3), Pasal 28 ayat (6), Pasal 31 ayat (4), Pasal 32 ayat (3), Pasal 50 ayat (7), Pasal 51 ayat (3), Pasal 52 ayat (2), Pasal 54 ayat (3), Pasal 55 ayat (5), Pasal 56 ayat (4), Pasal 62 ayat (4), Pasal 65 ayat (5), dan Pasal 66 ayat (3), Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, perlu menetapkan Peraturan Pemerintah tentang Pengelolaan dan Penyelenggaraan Pendidikan; : Pasal 5 ayat (2) Undang-Undang Republik Indonesia Tahun 1945; Dasar Negara

Mengingat

Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2003 Nomor 78 Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4301); MEMUTUSKAN: Menetapkan : PERATURAN PEMERINTAH TENTANG PENGELOLAAN DAN PENYELENGGARAAN PENDIDIKAN.

76461668.doc

1

BAB I KETENTUAN UMUM Pasal 1 Dalam Peraturan Pemerintah ini yang dimaksud dengan: 1. Pengelolaan pendidikan adalah pengaturan kewenangan dalam penyelenggaraan sistem pendidikan nasional oleh Pemerintah, Pemerintah Provinsi, Pemerintah Kabupaten/Kota, badan hukum pendidikan, dan satuan pendidikan agar proses pendidikan dapat berlangsung sesuai dengan tujuan pendidikan nasional. Penyelenggaraan pendidikan adalah penyediaan sumberdaya pendidikan, yang meliputi prasarana, sarana, pendidik dan tenaga kependidikan, dana, serta sumberdaya lainnya, yang disinergikan secara sistematis melalui suatu organisasi satuan pendidikan. Pengelolaan pendidikan adalah pengaturan sistemik perencanaan, pelaksanaan, dan pengawasan pendidikan. 2. atas

Penyelenggaraan pendidikan adalah kegiatan pelaksanaan komponen-komponen sistem pendidikan pada satuan/program pendidikan pada jalur, jenjang, dan jenis pendidikan agar proses pendidikan dapat berlangsung sesuai dengan tujuan pendidikan nasional. Badan hukum pendidikan masyarakat adalah yayasan, wakaf, perkumpulan, atau badan hukum lainnya yang didirikan oleh masyarakat yang menyelenggarakan satuan atau program pendidikan. Pendidikan anak usia dini yang selanjutnya disebut PAUD adalah suatu upaya pembinaan yang ditujukan kepada anak sejak lahir sampai dengan usia 6 (enam) tahun yang dilakukan melalui pemberian rangsangan pendidikan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani agar anak memiliki kesiapan dalam memasuki pendidikan lebih lanjut, yang diselenggarakan pada jalur formal, nonformal, dan informal. Taman Kanak-kanak yang selanjutnya disebut TK adalah salah satu bentuk satuan pada jalur pendidikan formal yang menyelenggarakan program pendidikan bagi anak berusia 4 (empat) tahun sampai dengan 6 (enam) tahun. Raudhatul Athfal yang selanjutnya disebut RA dan Bustanul Athfal yang selanjutnya disebut BA adalah salah satu bentuk satuan PAUD pada jalur pendidikan formal yang menyelenggarakan program pendidikan dengan kekhasan agama Islam bagi anak
2

3.

4.

5.

6.

76461668.doc

berusia 4 (empat) tahun sampai dengan 6 (enam) tahun. 7. Taman Penitipan Anak yang selanjutnya disebut TPA adalah salah satu bentuk satuan PAUD pada jalur pendidikan nonformal yang menyelenggarakan program pendidikan dan program kesejahteraan sosial bagi anak sejak lahir sampai dengan berusia 6 (enam) tahun. Kelompok Bermain yang selanjutnya disebut KB adalah salah satu bentuk satuan PAUD pada jalur pendidikan nonformal yang menyelenggarakan program pendidikan dan program kesejahteraan sosial bagi anak berusia 2 (dua) tahun sampai dengan 6 (enam) tahun dengan prioritas bagi anak berusia 2 (dua) tahun sampai dengan 4 (empat) tahun. Pendidikan dasar adalah jenjang pendidikan pada jalur pendidikan formal yang melandasi jenjang pendidikan menengah yang diselenggarakan pada satuan pendidikan yang berbentuk Sekolah Dasar (SD) dan Madrasah Ibtidaiyah (MI) atau bentuk lain yang sederajat serta menjadi satu kesatuan kelanjutan pendidikan pada satuan pendidikan yang berbentuk Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan Madrasah Tsanawiyah (MTs), atau bentuk lain yang sederajat.

8.

9.

10. Sekolah Dasar yang selanjutnya disebut SD adalah salah satu bentuk satuan pendidikan formal yang menyelenggarakan pendidikan umum pada jenjang pendidikan dasar. 11. Madrasah Ibtidaiyah yang selanjutnya disebut MI adalah salah satu bentuk satuan pendidikan formal dalam binaan Menteri Agama yang menyelenggarakan pendidikan umum dengan kekhasan agama Islam pada jenjang pendidikan dasar. Sekolah Menengah Pertama yang selanjutnya disebut SMP adalah salah satu bentuk satuan pendidikan formal yang menyelenggarakan pendidikan umum pada jenjang pendidikan dasar sebagai lanjutan dari SD, MI, atau bentuk lain yang sederajat atau lanjutan dari hasil belajar yang diakui sama/setara SD/MI. Madrasah Tsanawiyah yang selanjutnya disebut MTs adalah salah satu bentuk satuan pendidikan formal dalam binaan Menteri Agama yang menyelenggarakan pendidikan umum dengan kekhasan agama Islam pada jenjang pendidikan dasar sebagai lanjutan dari SD, MI, atau bentuk lain yang sederajat atau lanjutan dari hasil belajar yang diakui sama/setara SD/MI. Pendidikan menengah adalah jenjang pendidikan pada jalur pendidikan formal yang merupakan lanjutan pendidikan dasar, berbentuk Sekolah Menengah Atas (SMA), Madrasah Aliyah (MA), Sekolah Menengah Kejuruan (SMK), dan Madrasah Aliyah
3

12.

13.

14.

76461668.doc

Kejuruan (MAK) atau bentuk lain yang sederajat . 15. Sekolah Menengah Atas yang selanjutnya disebut SMA adalah salah satu bentuk satuan pendidikan formal yang menyelenggarakan pendidikan umum pada jenjang pendidikan menengah sebagai lanjutan dari SMP, MTs, atau bentuk lain yang sederajat atau lanjutan dari hasil belajar yang diakui sama/setara SMP/MTs. Madrasah Aliyah yang selanjutnya disebut MA adalah salah satu bentuk satuan pendidikan formal dalam binaan Menteri Agama yang menyelenggarakan pendidikan umum dengan kekhasan agama Islam pada jenjang pendidikan menengah sebagai lanjutan dari SMP, MTs, atau bentuk lain yang sederajat atau lanjutan dari hasil belajar yang diakui sama/setara SMP/MTs. Sekolah Menengah Kejuruan yang selanjutnya disebut SMK adalah salah satu bentuk satuan pendidikan formal yang menyelenggarakan pendidikan kejuruan pada jenjang pendidikan menengah sebagai lanjutan dari SMP, MTs, atau bentuk lain yang sederajat atau lanjutan dari hasil belajar yang diakui sama/setara SMP/MTs. Madrasah Aliyah Kejuruan yang selanjutnya disebut MAK adalah salah satu bentuk satuan pendidikan formal di bawah tanggung jawab Menteri Agama yang menyelenggarakan pendidikan kejuruan dengan kekhasan agama Islam pada jenjang pendidikan menengah sebagai lanjutan dari SMP, MTs, atau bentuk lain yang sederajat atau lanjutan dari hasil belajar yang diakui sama/setara SMP/MTs. Pendidikan tinggi adalah jenjang pendidikan pada jalur pendidikan formal setelah pendidikan menengah yang dapat berupa program pendidikan diploma, sarjana, magister, doktor, dan spesialis yang diselenggarakan oleh perguruan tinggi.

16.

17.

18.

19.

20. Akademi adalah perguruan tinggi yang menyelenggarakan pendidikan vokasi dalam satu cabang atau sebagian cabang ilmu pengetahuan, teknologi, dan/atau seni tertentu. 21. Politeknik adalah perguruan tinggi yang menyelenggarakan pendidikan vokasi dalam sejumlah bidang pengetahuan khusus. 22. Sekolah tinggi adalah perguruan tinggi yang menyelenggarakan pendidikan akademik dan/atau vokasi dalam lingkup satu disiplin ilmu tertentu dan jika memenuhi syarat dapat menyelenggarakan pendidikan profesi. 23. Institut adalah perguruan tinggi yang menyelenggarakan pendidikan akademik dan/atau pendidikan vokasi dalam sekelompok disiplin ilmu pengetahuan, teknologi, dan/atau seni
76461668.doc

4

dan/atau olah raga. dan/atau olah raga tertentu. seni. 31. 33.doc 5 . dan seni melalui pendidikan. seni. vokasi atau profesi dalam satu rumpun disiplin ilmu pengetahuan. dan/atau olah raga. teknologi. 34. 32. 25. dan/atau seni dan jika memenuhi syarat dapat menyelenggarakan pendidikan profesi. 26. teknologi. yang dapat dikelompokkan menurut jurusan. Jurusan atau nama lain yang sejenis adalah himpunan sumberdaya pendukung program studi dalam satu rumpun disiplin ilmu pengetahuan. Program studi adalah unsur pelaksana akademik yang menyelenggarakan dan mengelola jenis pendidikan akademik. yang menyelenggarakan dan mengelola pendidikan akademik. 27. 29. dan pengabdian kepada masyarakat. dan bahan pelajaran. teknologi. vokasi atau profesi dalam sebagian atau satu bidang ilmu pengetahuan. 24. seni. Pendidikan nonformal adalah jalur pendidikan di luar pendidikan formal yang dapat dilaksanakan secara terstruktur dan berjenjang. dan menyebarluaskan ilmu pengetahuan. Dosen adalah pendidik profesional dan ilmuwan pada perguruan tinggi dengan tugas utama mentransformasikan. teknologi. Standar pelayanan minimal adalah kriteria minimal berupa nilai kumulatif pemenuhan Standar Nasional Pendidikan yang harus dipenuhi oleh setiap satuan pendidikan. isi. Mahasiswa adalah peserta didik yang terdaftar dan belajar pada perguruan tinggi.dan jika memenuhi syarat dapat menyelenggarakan pendidikan profesi. Universitas menyelenggarakan pendidikan akademik dan/atau pendidikan vokasi dalam sejumlah ilmu pengetahuan. 28. serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan. Fakultas atau nama lain yang sejenis adalah himpunan sumberdaya pendukung. Kurikulum adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan. 30. mengembangkan. teknologi. 76461668. Sivitas akademika adalah komunitas dosen dan mahasiswa pada perguruan tinggi. Standar Nasional Pendidikan adalah kriteria minimal tentang sistem pendidikan di seluruh wilayah hukum Negara Kesatuan Republik Indonesia. penelitian.

budaya.35. Kelompok belajar adalah satuan pendidikan nonformal yang terdiri atas sekumpulan warga masyarakat yang saling membelajarkan pengalaman dan kemampuan dalam rangka meningkatkan mutu dan taraf kehidupannya. nonformal. dan untuk masyarakat. Pendidikan jarak jauh adalah pendidikan yang peserta didiknya terpisah dari pendidik dan pembelajarannya menggunakan berbagai sumber belajar melalui teknologi komunikasi. oleh dan untuk masyarakat. sosial. Pendidikan informal lingkungan. dan media lain. 41. Pembelajaran adalah proses interaksi peserta didik dengan pendidik dan/atau sumber belajar pada suatu lingkungan belajar. oleh. 36. Pendidikan bertaraf internasional adalah pendidikan yang diselenggarakan dengan menggunakan Standar Nasional Pendidikan dan diperkaya dengan standar pendidikan negara maju. dan budaya masyarakat daerah setempat. Pendidikan lintas jalur dan jenis pendidikan adalah penyelenggaraan pendidikan sistem terbuka dimana peserta didik mengambil mata pelajaran pada satuan pendidikan yang tidak sejenis pada jalur pendidikan formal. 40. 42. 76461668. 43. Program pengayaan belajar adalah pembelajaran tambahan untuk memperluas wawasan dan kemampuan bagi peserta didik yang telah mencapai standar kompetensi yang dipersyaratkan. ekonomi. 39. Program percepatan belajar adalah pengaturan program pendidikan bagi peserta didik yang mencapai standar kompetensi yang dipersyaratkan lebih cepat dari waktu yang ditentukan.doc 6 . aspirasi. Pendidikan berbasis keunggulan lokal adalah satuan pendidikan dasar dan menengah yang menyelenggarakan pendidikan dengan acuan kurikulum yang menunjang upaya pengembangan potensi. sosial. 45. Pendidikan berbasis masyarakat adalah penyelenggaraan pendidikan berdasarkan kekhasan agama. adalah jalur pendidikan keluarga dan 37. dan informal. informasi. 38. 44. Pusat kegiatan belajar masyarakat adalah satuan pendidikan nonformal yang menyelenggarakan berbagai kegiatan belajar sesuai dengan kebutuhan masyarakat atas dasar prakarsa dari. dan potensi masyarakat sebagai perwujudan pendidikan dari.

pendidikan. 50. Pemerintah Kabupaten. satuan pendidikan. c. 48. efisiensi. komunitas sekolah. dan efektivitas. 49. akses masyarakat atas pelayanan mencukupi. d. BAB II PENGELOLAAN PENDIDIKAN Bagian Kesatu Umum Pasal 2 (1) Pengelolaan pendidikan dilakukan oleh: a. Organisasi profesi adalah kumpulan anggota masyarakat yang memiliki keahlian tertentu yang berbadan hukum dan bersifat non-komersial. Komite sekolah/madrasah adalah lembaga mandiri yang beranggotakan orang tua/wali peserta didik.46. Pemerintah Kabupaten/Kota. 52. dan Pasal 3 akuntabilitas pengelolaan 76461668. c. 47. atau Pemerintah Kota. Pemerintah daerah adalah Pemerintah Provinsi. dan terjangkau. merata. dan e. Departemen adalah departemen yang bertanggung jawab di bidang pendidikan. 51. b.doc 7 . Dewan pendidikan adalah lembaga mandiri yang beranggotakan berbagai unsur masyarakat yang peduli pendidikan. b. pendidikan yang mutu dan daya saing pendidikan serta relevansinya dengan kebutuhan dan/atau kondisi masyarakat. (2) Pengelolaan pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditujukan untuk menjamin: a. serta tokoh masyarakat yang peduli pendidikan. Menteri adalah menteri yang menangani urusan pemerintahan di bidang pendidikan. badan hukum pendidikan. Pemerintah Provinsi. Pemerintah adalah Pemerintah Pusat. Pemerintah.

j. g.Pengelolaan pendidikan didasarkan pada rencana yang disusun sesuai peraturan perundang-undangan. i. Departemen. 76461668. badan hukum pendidikan. d. e. l. Pemerintah kabupaten/kota. rencana pembangunan jangka panjang (RPJP).doc Pemerintah Provinsi. f. departemen lain atau lembaga pemerintah nondepartemen yang menyelenggarakan satuan pendidikan. dan peraturan perundang-undangan di bidang pendidikan. rencana kerja dan anggaran tahunan (RKAT). rencana pembangunan jangka menengah (RPJM). d. b. 8 . c. dewan pendidikan. f. Bagian Kedua Pengelolaan oleh Pemerintah Pasal 4 (1) Menteri bertanggung jawab mengelola sistem pendidikan nasional serta merumuskan dan/atau menetapkan kebijakan nasional bidang pendidikan. satuan pendidikan. (2) Sistem pendidikan nasional sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diselenggarakan dan dikelola sesuai peraturan perundangundangan. (4) Sistem pendidikan nasional dan kebijakan nasional pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1). pendidik dan tenaga kependidikan. c. e. k. rencana kerja Pemerintah (RKP). b. ayat (2) dan ayat (3) mengikat bagi: a. rencana strategis pendidikan nasional. (3) Kebijakan nasional bidang pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dituangkan dalam: a. h. orang tua/wali peserta didik. sejenis. Departemen Agama. komite sekolah/madrasah atau nama lain yang peserta didik.

efisien. antara kabupaten dan kota. antar kota. Pasal 5 Pemerintah mengarahkan. mengawasi mengkoordinasi. memantau. jalur. Pasal 6 (1) Menteri menetapkan target tingkat partisipasi pendidikan pada semua jenjang dan jenis pendidikan yang harus dicapai pada tingkat nasional. antar provinsi.m. mengevaluasi. antar kabupaten. d. satuan. dan mengendalikan penyelenggara. masyarakat. dan n. Pasal 8 pemerataan partisipasi 76461668. antara laki-laki dan perempuan. (2) Target tingkat partisipasi pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dipenuhi melalui jalur pendidikan formal dan nonformal. Pemerintah mengutamakan perluasan dan pemerataan akses pendidikan melalui jalur pendidikan formal. peserta didik khusus. c. (5) Pemerintah mengalokasikan anggaran pendidikan agar sistem pendidikan nasional dapat dilaksanakan secara efektif. pihak lain yang terkait dengan pendidikan di Indonesia. dan jenis pendidikan secara nasional sesuai dengan kebijakan nasional bidang pendidikan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 ayat (3). (2) Menteri menetapkan kebijakan untuk menjamin peserta didik miskin. (3) Dalam memenuhi target tingkat partisipasi pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1). b. dan e. membimbing. dan/atau peserta didik di daerah khusus dapat memperoleh akses pelayanan pendidikan. Pasal 7 (1) Menteri menetapkan target tingkat pendidikan pada tingkat nasional: a.doc 9 . jenjang. mensupervisi. dan akuntabel sesuai dengan kebijakan nasional sebagaimana dimaksud pada ayat (3).

Dalam rangka penjaminan mutu pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1). sertifikasi kompetensi peserta didik. d. Pasal 10 (1) Pemerintah melakukan dan/atau memfasilitasi penjaminan mutu pendidikan dengan berpedoman pada kebijakan nasional bidang pendidikan dan Standar Nasional Pendidikan. c. Pemerintah menyelenggarakan dan/atau memfasilitasi: a. akreditasi satuan pendidikan. sertifikasi unit pelaksana pendidikan terkait.(1) (2) Menteri menetapkan standar pelayanan minimal pendidikan sesuai peraturan perundang-undangan.doc 10 . Catatan: 76461668. akreditasi program pendidikan. Pemerintah daerah. satuan dan/atau program (2) e. sertifikasi kompetensi tenaga kependidikan. (4) Standar pelayanan minimal bidang pendidikan untuk satuan pendidikan ditetapkan sebagai syarat awal yang harus dipenuhi dalam mencapai Standar Nasional Pendidikan secara bertahap dengan menerapkan otonomi satuan pendidikan atau manajemen berbasis sekolah/madrasah. f. Satuan pendidikan. mencapai target tingkat partisipasi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 secara bertahap. b. sertifikasi kompetensi pendidik. sertifikasi satuan dan/atau program pendidikan terkait. Pasal 9 Menteri menetapkan Standar Nasional Pendidikan sesuai peraturan perundang-undangan. dan b. dan/atau g. b. menyelenggarakan atau memfasilitasi penyelenggaraan satuan pendidikan sesuai Standar Nasional Pendidikan secara bertahap. (3) Standar pelayanan minimal bidang pendidikan untuk pemerintah daerah merupakan syarat awal yang harus dipenuhi untuk: a. bidang Standar pelayanan minimal sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditetapkan masing-masing untuk: a.

kabupaten/kota..doc . memfasilitasi.. (3) Pemerintah memfasilitasi akreditasi internasional program dan/atau satuan pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2). Pasal 11 (1) Pemerintah mengakui. unit pelaksana teknis satuan pendidikan. (3) Akreditasi dan sertifikasi sebagaimana dimaksud pada ayat (2) yang diselenggarakan Pemerintah atau masyarakat didasarkan pada Standar Nasional Pendidikan. Untuk menumbuhkan iklim kompetitif yang kondusif bagi pencapaian prestasi puncak sebagaimana dimaksud pada ayat (1) Pemerintah menyelenggarakan dan/atau memfasilitasi secara teratur dan berjenjang kompetisi di bidang: a. provinsi. dan melindungi program dan/atau satuan pendidikan bertaraf internasional sesuai peraturan perundang-undangan. Pasal 12 (1) Pemerintah melakukan pembinaan berkelanjutan kepada peserta didik yang memiliki potensi kecerdasan dan/atau bakat istimewa untuk mencapai prestasi puncak di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi. (2) Pemerintah memfasilitasi perintisan program dan/atau satuan pendidikan yang sudah atau hampir memenuhi Standar Nasional Pendidikan untuk dikembangkan menjadi program dan/atau satuan pendidikan bertaraf internasional. peserta didik. dan c. seni. ilmu pengetahuan dan teknologi. olahraga. membina. (4) Ketentuan lebih lanjut mengenai pelaksanaan ayat (1) dan ayat (2) diatur dengan peraturan Menteri. dan internasional. pendidik dan tenaga kependidikan. seni. (3) Pemerintah memberikan penghargaan kepada peserta didik yang meraih prestasi puncak sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) sesuai peraturan perundang-undangan. b. dan/atau olahraga pada tingkat satuan pendidikan.Penjelasan untuk Sertifikasi kompetensi satuan pendidikan. Pemerintah memfasilitasi sertifikasi internasional pada program dan/atau satuan pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2). 11 (4) (2) 76461668. nasional.

d. dan g. Pemerintah kabupaten/kota. dan jalur pendidikan. f. e. efektifitas. sistem informasi pendidikan di semua provinsi. Bagian Ketiga Pengelolaan oleh Pemerintah Provinsi Pasal 15 (1) Gubernur bertanggung jawab mengelola sistem pendidikan nasional di daerahnya serta merumuskan dan menetapkan kebijakan daerah bidang pendidikan sesuai kewenangannya. jenis. (2) (3) (2) Kebijakan daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) konsisten dengan serta merupakan penjabaran dari kebijakan pendidikan nasional sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4. Departemen Agama. Pasal 14 (1) Dalam menyelenggarakan dan mengelola sistem pendidikan nasional Departemen mengembangkan dan melaksanakan sistem informasi pendidikan nasional berbasis teknologi informasi dan komunikasi. Sistem informasi pendidikan nasional sebagaimana dimaksud pada ayat (1) difasilitasi oleh jejaring informasi nasional yang terhubung dengan sistem informasi pendidikan di departemen lain atau lembaga pemerintah non departemen yang menyelenggarakan pendidikan. c. b. dan sistem informasi pendidikan di semua kabupaten/kota.Pasal 13 Menteri menetapkan kebijakan tatakelola pendidikan untuk menjamin efisiensi.doc 12 . Sistem informasi pendidikan nasional sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) memberikan akses informasi administrasi pendidikan dan akses sumber pembelajaran kepada satuan pendidikan pada semua jenjang. 76461668. Pemerintah provinsi. Program dan/atau satuan pendidikan. dan akuntabilitas pengelolaan pendidikan yang mengikat: a. Departemen lain atau lembaga pemerintah nondepartemen yang menyelenggarakan program dan/atau satuan pendidikan. Badan hukum pendidikan. Departemen.

dan k. d. rencana kerja pemerintah provinsi (RKPP). pendidik dan bersangkutan. rencana strategis pendidikan provinsi. dewan pendidikan di provinsi yang bersangkutan. ayat (2). (4) Kebijakan daerah bidang pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1). kerja dan anggaran tahunan provinsi e. c. jalur. dan mengendalikan penyelenggara. pihak lain yang terkait dengan pendidikan di provinsi yang bersangkutan. mengevaluasi. e. g. dan akuntabel sesuai dengan kebijakan daerah bidang pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1). c. Pasal 16 Pemerintah provinsi sesuai kewenangannya mengarahkan. mensupervisi. masyarakat di provinsi yang bersangkutan. f. dan ayat (3). h. rencana pembangunan jangka panjang provinsi (RPJPP). dan g. badan hukum pendidikan di provinsi yang bersangkutan. efisien.doc 13 . (5) Pemerintah provinsi mengalokasikan anggaran pendidikan agar sistem pendidikan nasional di provinsi yang bersangkutan dapat dilaksanakan secara efektif. satuan. jenjang. mengkoordinasi. membimbing. semua jajaran Pemerintah Provinsi. memantau. tenaga kependidikan di provinsi yang j. i. rencana pembangunan jangka menengah provinsi (RPJMP). orang tua/wali peserta didik di provinsi yang bersangkutan. peraturan gubernur di bidang pendidikan. peraturan daerah di bidang pendidikan. ayat (2) dan ayat (3) mengikat bagi: a.(3) Kebijakan daerah bidang pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dituangkan dalam: a. b. dan jenis pendidikan di provinsi yang bersangkutan sesuai 76461668. d. f. Pemerintah Kabupaten/Kota di provinsi yang bersangkutan. satuan pendidikan di provinsi yang bersangkutan. mengawasi. peserta didik di provinsi yang bersangkutan. rencana (RKATP). komite sekolah atau nama lain yang sejenis di provinsi yang bersangkutan. b.

doc 14 . antara laki-laki dan perempuan. pemerintah provinsi mengutamakan perluasan dan pemerataan akses pendidikan melalui jalur pendidikan formal. b. antar kota. dan d. Pasal 17 (1) Gubernur menetapkan target tingkat partisipasi pendidikan pada semua jenjang dan jenis pendidikan yang harus dicapai pada tingkat provinsi. antara kabupaten dan kota. dan/atau peserta didik di daerah khusus dapat memperoleh akses pelayanan pendidikan. Pasal 20 (1) Pemerintah provinsi sesuai kewenangannya melakukan dan/atau memfasilitasi penjaminan mutu pendidikan di daerahnya dengan berpedoman pada kebijakan nasional bidang pendidikan dan Standar Nasional Pendidikan. peserta didik khusus. Pasal 19 Gubernur melaksanakan dan mengkoordinasikan pelaksanaan standar pelayanan minimal bidang pendidikan sesuai peraturan perundangundangan.kebijakan daerah bidang pendidikan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 15. pemerintah provinsi berkoordinasi dengan unit pelaksana teknis Pemerintah yang melaksanakan tugas penjaminan mutu pendidikan. (3) Dalam memenuhi target tingkat partisipasi pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1). (2) Gubernur menetapkan kebijakan untuk menjamin peserta didik miskin. Pasal 18 (1) Gubernur menetapkan target tingkat pemerataan partisipasi pendidikan pada tingkat provinsi: a. c. (2) Target tingkat partisipasi pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dipenuhi melalui jalur pendidikan formal dan nonformal. Dalam melaksanakan tugasnya sebagaimana dimaksud pada ayat (1). antar kabupaten. (2) 76461668.

Pemerintah provinsi sesuai dengan kewenangannya menyelenggarakan. membina. pemberhentian. memfasilitasi. Pemerintah provinsi memfasilitasi akreditasi internasional program dan/atau satuan pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2). sertifikasi pendidikan terkait. sertifikasi kompetensi peserta didik. memfasilitasi. d. akreditasi satuan pendidikan. dan melindungi program dan/atau satuan pendidikan yang sudah atau hampir memenuhi Standar Nasional Pendidikan untuk dirintis dan dikembangkan menjadi bertaraf internasional sesuai dengan peraturan perundang-undangan. akreditasi program pendidikan. Pemerintah provinsi memfasilitasi sertifikasi internasional pada program dan/atau satuan pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2).doc 15 . sertifikasi unit pelaksana satuan dan/atau program pendidikan terkait. mengakui. Pasal 22 (2) (3) (4) (5) 76461668. sertifikasi kependidikan. satuan dan/atau program c. Pengangkatan. dan/atau pemindahan kepala sekolah dan/atau guru pada satuan pendidikan yang sedang dirintis atau sudah bertaraf internasional harus seizin gubernur. pemerintah provinsi mengkoordinasikan dan memfasilitasi: a.(3) Dalam rangka penjaminan mutu pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1). Gubernur membentuk Badan Akreditasi Provinsi Sekolah/Madrasah dan Badan Akreditasi Provinsi Pendidikan Nonformal untuk membantu Badan Akreditasi Nasional Sekolah/Madrasah dan Badan Akreditasi Nasional Pendidikan Nonformal dalam melaksanakan tugasnya. mengakui. (4) Untuk melaksanakan tugasnya sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf a dan huruf b. dan/atau kompetensi tenaga g. e. sertifikasi kompetensi pendidik. Pasal 21 (1) Pemerintah provinsi sesuai dengan kewenangannya menyelenggarakan. dan melindungi program dan/atau satuan pendidikan bertaraf internasional sesuai dengan peraturan perundang-undangan. f. membina. b.

(1) Pemerintah provinsi melakukan pembinaan berkelanjutan kepada peserta didik yang memiliki potensi kecerdasan dan/atau bakat istimewa untuk mencapai prestasi puncak di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi. olahraga. g. ilmu pengetahuan dan teknologi. tenaga kependidikan di provinsi yang j. provinsi. (4) Ketentuan lebih lanjut mengenai pelaksanaan ayat (1). badan hukum pendidikan di provinsi yang bersangkutan. seni. pihak lain yang terkait dengan pendidikan di provinsi yang bersangkutan. b. dewan pendidikan di provinsi yang bersangkutan. i. f. dan akuntabilitas pengelolaan pendidikan yang mengikat: a. peserta didik di provinsi yang bersangkutan. ayat (2). h. dan internasional. satuan pendidikan di provinsi yang bersangkutan. pendidik dan bersangkutan. masyarakat di provinsi yang bersangkutan. orang tua/wali peserta didik di provinsi yang bersangkutan. (2) Untuk menumbuhkan iklim kompetitif yang kondusif bagi pencapaian prestasi puncak sebagaimana dimaksud pada ayat (1) pemerintah provinsi menyelenggarakan dan/atau memfasilitasi secara teratur dan berjenjang kompetisi di bidang: a. dan/atau olahraga pada tingkat satuan pendidikan. komite sekolah atau nama lain yang sejenis di provinsi yang bersangkutan. semua jajaran Pemerintah Provinsi.doc 16 . nasional. dan ayat (3) diatur dengan peraturan gubernur. d. efektifitas. kabupaten/kota. e. c. dan c. seni. b. Pasal 24 76461668. (3) Pemerintah provinsi memberikan penghargaan kepada peserta didik yang meraih prestasi puncak sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) sesuai peraturan perundang-undangan. Pemerintah Kabupaten/Kota di provinsi yang bersangkutan. dan k. Pasal 23 Gubernur menetapkan kebijakan tatakelola pendidikan untuk menjamin efisiensi.

rencana kerja dan anggaran tahunan kabupaten/kota. dan peraturan bupati/walikota di bidang pendidikan. (4) Kebijakan daerah bidang pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1). rencana strategis pendidikan kabupaten/kota. c. g. rencana pembangunan jangka menengah kabupaten/kota. rencana kerja pemerintah kabupaten/kota.(1) Dalam menyelenggarakan dan mengelola sistem pendidikan nasional di daerahnya.doc 17 . Sistem informasi pendidikan provinsi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) merupakan subsistem dari sistem informasi pendidikan nasional. dan jalur pendidikan sesuai kewenangan pemerintah provinsi. ayat (2) dan ayat (3) mengikat bagi: 76461668. peraturan daerah di bidang pendidikan. rencana pembangunan jangka panjang kabupaten/kota. d. Sistem informasi pendidikan provinsi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) memberikan akses informasi administrasi pendidikan dan akses sumber pembelajaran kepada satuan pendidikan pada semua jenjang. e. pemerintah provinsi mengembangkan dan melaksanakan sistem informasi pendidikan provinsi berbasis teknologi informasi dan komunikasi. f. (2) (3) Bagian Keempat Pengelolaan oleh Pemerintah Kabupaten/Kota Pasal 25 (1) Bupati/Walikota bertanggung jawab mengelola sistem pendidikan nasional di daerahnya serta merumuskan dan menetapkan kebijakan daerah bidang pendidikan sesuai kewenangannya. b. jenis. (3) Kebijakan daerah bidang pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) dituangkan dalam: a. (2) Kebijakan daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) konsisten dengan serta merupakan penjabaran dari kebijakan pendidikan nasional sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 dan penjabaran dari kebijakan pendidikan pemerintah provinsi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 15.

mengevaluasi. badan hukum bersangkutan. Pasal 27 (1)Bupati/Walikota menetapkan target tingkat partisipasi pendidikan pada semua jenjang dan jenis pendidikan yang harus dicapai pada tingkat kabupaten/kota. d. pendidik dan tenaga kependidikan di kabupaten/kota yang bersangkutan.doc 18 . pendidikan di kabupaten/kota yang satuan pendidikan di kabupaten/kota yang bersangkutan. dan ayat (3). b. dewan pendidikan di kabupaten/kota yang bersangkutan. dan jenis pendidikan di kabupaten/kota yang bersangkutan sesuai kebijakan daerah bidang pendidikan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 25. mengawasi. Pasal 28 76461668. j. (2)Target tingkat partisipasi pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dipenuhi melalui jalur pendidikan formal dan nonformal. Pasal 26 Pemerintah kabupaten/kota sesuai kewenangannya mengarahkan. (3) Dalam memenuhi target tingkat partisipasi pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1). f. h. membimbing. efisien. pendidikan di (5) Pemerintah kabupaten/kota mengalokasikan anggaran pendidikan agar sistem pendidikan nasional di kabupaten/kota yang bersangkutan dapat dilaksanakan secara efektif. dan mengendalikan penyelenggara. g. e. dan akuntabel sesuai dengan kebijakan daerah bidang pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1). masyarakat di kabupaten/kota yang bersangkutan. mengkoordinasi. satuan.a. orang tua/wali peserta didik di kabupaten/kota yang bersangkutan. memantau. jenjang. semua jajaran pemerintah kabupaten/kota. mensupervisi. ayat (2). pemerintah kabupaten/kota mengutamakan perluasan dan pemerataan akses pendidikan melalui jalur pendidikan formal. komite sekolah atau nama lain kabupaten/kota yang bersangkutan. i. c. yang sejenis di peserta didik di kabupaten/kota yang bersangkutan. dan pihak lain yang terkait dengan kabupaten/kota yang bersangkutan. jalur.

pemerintah kabupaten/kota memfasilitasi: a. Pasal 30 (1) Pemerintah kabupaten/kota sesuai kewenangannya melakukan dan/atau memfasilitasi penjaminan mutu pendidikan di daerahnya dengan berpedoman pada kebijakan nasional bidang pendidikan. Pasal 31 76461668. (2) Bupati/Walikota menetapkan kebijakan untuk menjamin peserta didik miskin. Dalam melaksanakan tugasnya sebagaimana dimaksud pada ayat (1). dan/atau peserta didik di daerah khusus dapat memperoleh akses pelayanan pendidikan.doc 19 . antar kecamatan atau sebutan lainnya yang sejenis. akreditasi program pendidikan. sertifikasi unit pelaksana satuan dan/atau program pendidikan terkait. Dalam rangka penjaminan mutu pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1). dan/atau kompetensi tenaga g. dan Standar Nasional Pendidikan. pemerintah kabupaten/kota berkoordinasi dengan unit pelaksana teknis Pemerintah yang melaksanakan tugas penjaminan mutu pendidikan. sertifikasi pendidikan terkait.(1) Bupati/Walikota menetapkan target tingkat pemerataan partisipasi pendidikan pada tingkat kabupaten/kota: a. b. antar desa/kelurahan atau sebutan lainnya yang sejenis. akreditasi satuan pendidikan. sertifikasi kompetensi peserta didik. sertifikasi kependidikan. sertifikasi kompetensi pendidik. c. f. kebijakan provinsi bidang pendidikan. peserta didik khusus. b. Pasal 29 Bupati/Walikota melaksanakan dan mengkoordinasikan pelaksanaan standar pelayanan minimal bidang pendidikan sesuai peraturan perundang-undangan. e. dan antara laki-laki dan perempuan. satuan dan/atau program (2) (3) c. d.

memfasilitasi. b.(1) Pemerintah kabupaten/kota mengakui. Pemerintah kabupaten/kota memfasilitasi akreditasi internasional program dan/atau satuan pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2). dan internasional. (3) ilmu pengetahuan dan teknologi. (2) Pemerintah kabupaten/kota memberikan penghargaan kepada peserta didik yang meraih prestasi puncak sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) sesuai peraturan perundang-undangan. dan olahraga. dan/atau olahraga pada tingkat satuan pendidikan. Pemerintah kabupaten/kota melaksanakan dan/atau memfasilitasi perintisan program dan/atau satuan pendidikan yang sudah atau hampir memenuhi Standar Nasional Pendidikan untuk dikembangkan menjadi program dan/atau satuan pendidikan bertaraf internasional dan/atau berbasis keunggulan lokal. dan ayat (3) diatur dengan peraturan bupati/walikota. ayat (2). Ketentuan lebih lanjut mengenai pelaksanaan ayat (1). kecamatan. Pemerintah kabupaten/kota memfasilitasi sertifikasi internasional pada program dan/atau satuan pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2). c. Pasal 33 (4) 76461668. dan melindungi program dan/atau satuan pendidikan bertaraf internasional dan/atau berbasis keunggulan lokal sesuai peraturan perundang-undangan. provinsi.doc 20 . nasional. seni. membina. kabupaten/kota. seni. (2) (3) (4) Pasal 32 (1) Pemerintah kabupaten/kota melakukan pembinaan berkelanjutan kepada peserta didik yang memiliki potensi kecerdasan dan/atau bakat istimewa untuk mencapai prestasi puncak di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi. Untuk menumbuhkan iklim kompetitif yang kondusif bagi pencapaian prestasi puncak sebagaimana dimaksud pada ayat (1) pemerintah kabupaten/kota menyelenggarakan dan/atau memfasilitasi secara teratur dan berjenjang kompetisi di bidang: a.

Bupati/Walikota menetapkan kebijakan tatakelola pendidikan untuk menjamin efisiensi, efektifitas, dan akuntabilitas pengelolaan pendidikan yang mengikat: a. semua jajaran pemerintah kabupaten/kota; b. badan hukum pendidikan di kabupaten/kota yang bersangkutan; c. satuan pendidikan bersangkutan; d. dewan pendidikan bersangkutan; di di kabupaten/kota kabupaten/kota yang yang

e. komite sekolah atau nama lain yang sejenis di kabupaten/kota yang bersangkutan; f. peserta didik di kabupaten/kota yang bersangkutan; g. orang tua/wali peserta didik di kabupaten/kota yang bersangkutan; h. pendidik dan tenaga kabupaten/kota yang bersangkutan; i. dan kependidikan di

masyarakat di kabupaten/kota yang bersangkutan; pendidikan di

j. pihak lain yang terkait dengan kabupaten/kota yang bersangkutan. Pasal 34 (1)

Dalam menyelenggarakan dan mengelola sistem pendidikan nasional di daerahnya, pemerintah kabupaten/kota mengembangkan dan melaksanakan sistem informasi pendidikan kabupaten/kota berbasis teknologi informasi dan komunikasi. Sistem informasi pendidikan kabupaten/kota sebagaimana dimaksud pada ayat (1) merupakan subsistem dari sistem informasi pendidikan nasional. Sistem informasi pendidikan kabupaten/kota sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) memberikan akses informasi administrasi pendidikan dan akses sumber pembelajaran kepada satuan pendidikan pada semua jenjang, jenis, dan jalur pendidikan sesuai kewenangan pemerintah kabupaten/kota. Bagian Kelima Pengelolaan oleh Badan Hukum Pendidikan Pasal 35 (1) Badan hukum pendidikan bertanggung jawab mengelola sistem pendidikan nasional di badan hukum pendidikannya serta
76461668.doc

(2)

(3)

21

merumuskan dan kewenangannya. (2)

menetapkan kebijakan pendidikan sesuai

Kebijakan pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) konsisten dengan serta merupakan penjabaran dari kebijakan pendidikan nasional sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4, kebijakan pendidikan pemerintah provinsi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 15, dan/atau kebijakan pendidikan pemerintah kabupaten/kota sebagaimana dimaksud dalam Pasal 25, sesuai peraturan perundang-undangan. Kebijakan pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) dituangkan dalam peraturan badan hukum pendidikan.

(3)

(4) Kebijakan pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1), ayat (2) dan ayat (3) mengikat bagi: a. badan hukum pendidikan yang bersangkutan; b. satuan dan/atau program pendidikan yang terkait; c. lembaga representasi pemangku kepentingan dan/atau program pendidikan yang terkait; satuan

d. peserta didik di satuan dan/atau program pendidikan yang terkait; e. orang tua/wali peserta didik di satuan dan/atau program pendidikan yang terkait; f. pendidik dan tenaga kependidikan di satuan dan/atau program pendidikan yang terkait; g. pihak lainnya yang terikat dengan program pendidikan yang terkait. satuan dan/atau

(5) Badan hukum pendidikan mengalokasikan anggaran pendidikan agar sistem pendidikan nasional di satuan dan/atau program pendidikan yang terkait dapat dilaksanakan secara efektif, efisien, dan akuntabel sesuai dengan kebijakan pendidikan nasional sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4, kebijakan pendidikan pemerintah provinsi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 15, kebijakan pendidikan pemerintah kabupaten/kota sebagaimana dimaksud dalam Pasal 25, dan/atau kebijakan pendidikan badan hukum pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1), ayat (2), ayat (3), dan ayat (4), dan sesuai peraturan perundang-undangan. Pasal 36 Badan hukum pendidikan sesuai kewenangannya mengarahkan, membimbing, mensupervisi, mengawasi, mengkoordinasi, memantau, mengevaluasi, dan mengendalikan satuan dan/atau program pendidikan yang terkait sesuai dengan kebijakan pendidikan nasional sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4, kebijakan pendidikan
76461668.doc

22

pemerintah provinsi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 15, kebijakan pendidikan pemerintah kabupaten/kota sebagaimana dimaksud dalam Pasal 25, dan/atau kebijakan pendidikan badan hukum pendidikan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 35, dan sesuai peraturan perundang-undangan. Pasal 37 Badan hukum pendidikan menetapkan kebijakan untuk menjamin peserta didik miskin, peserta didik khusus, dan/atau peserta didik di daerah khusus dapat memperoleh akses pelayanan pendidikan. Pasal 38 Badan hukum pendidikan menjamin pelaksanaan Standar Pelayanan Minimal bidang pendidikan pada satuan dan/atau program pendidikan terkait sesuai peraturan perundang-undangan. Pasal 39 (1) Badan hukum pendidikan sesuai kewenangannya melakukan dan/atau memfasilitasi penjaminan mutu pendidikan di satuan dan/atau program pendidikan terkait dengan berpedoman pada kebijakan pendidikan nasional sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4, kebijakan pendidikan pemerintah provinsi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 15, kebijakan pendidikan pemerintah kabupaten/kota sebagaimana dimaksud dalam Pasal 25, dan/atau kebijakan pendidikan badan hukum pendidikan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 35, dan Standar Nasional Pendidikan. (2) Dalam melaksanakan tugasnya sebagaimana dimaksud pada ayat (1), badan hukum pendidikan yang merupakan dan/atau menyelenggarakan satuan dan/atau program pendidikan anak usia dini, pendidikan dasar dan/atau pendidikan menengah bekerja sama dengan unit pelaksana teknis Pemerintah yang melaksanakan tugas penjaminan mutu pendidikan. (3) Dalam rangka penjaminan mutu pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1), badan hukum pendidikan memfasilitasi: a. akreditasi program pendidikan terkait; b. akreditasi satuan pendidikan terkait; c. sertifikasi satuan dan/atau program pendidikan terkait; d. sertifikasi unit pelaksana pendidikan terkait; satuan dan/atau program

e. sertifikasi kompetensi peserta didik; f. sertifikasi kompetensi pendidik; dan/atau g. sertifikasi kompetensi tenaga kependidikan.
76461668.doc

23

Pasal 40 (1) Badan hukum pendidikan memfasilitasi, membina, dan melindungi program dan/atau satuan pendidikan terkait yang bertaraf internasional dan/atau berbasis keunggulan lokal sesuai peraturan perundang-undangan. Badan hukum pendidikan melaksanakan dan/atau memfasilitasi perintisan program dan/atau satuan pendidikan terkait yang sudah atau hampir memenuhi Standar Nasional Pendidikan untuk dikembangkan menjadi program dan/atau satuan pendidikan bertaraf internasional dan/atau berbasis keunggulan lokal. Badan hukum pendidikan memfasilitasi akreditasi internasional program dan/atau satuan pendidikan terkait sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2). Badan hukum pendidikan memfasilitasi sertifikasi internasional pada program dan/atau satuan pendidikan terkait sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2). Pasal 41 (1) Badan hukum pendidikan memfasilitasi pembinaan berkelanjutan kepada peserta didik yang memiliki potensi kecerdasan dan/atau bakat istimewa untuk mencapai prestasi puncak di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi, seni, dan/atau olahraga pada tingkat satuan pendidikan, kecamatan, kabupaten/kota, provinsi, nasional, dan internasional. Untuk menumbuhkan iklim kompetitif yang kondusif bagi pencapaian prestasi puncak sebagaimana dimaksud pada ayat (1) badan hukum pendidikan memfasilitasi secara teratur kompetisi di satuan dan/atau program pendidikan terkait dalam bidang: a. b. c. (3) ilmu pengetahuan dan teknologi; seni; dan olahraga.

(2)

(3)

(4)

(2)

Ketentuan lebih lanjut mengenai pelaksanaan ayat (1), ayat (2), dan ayat (3) diatur dengan peraturan badan hukum pendidikan. Pasal 42

Badan hukum pendidikan menetapkan kebijakan tatakelola pendidikan untuk menjamin efisiensi, efektifitas, dan akuntabilitas pengelolaan pendidikan yang mengikat: a. b.
76461668.doc

badan hukum pendidikan yang bersangkutan; satuan dan/atau program pendidikan terkait;
24

lembaga representasi pemangku kepentingan pendidikan pada satuan dan/atau program pendidikan terkait. kebijakan pendidikan pemerintah provinsi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 15.doc 25 . pendidik dan tenaga kependidikan di satuan dan/atau program pendidikan terkait. (2) Kebijakan pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) konsisten dengan serta merupakan penjabaran dari kebijakan pendidikan nasional sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4. Bagian Keenam Pengelolaan oleh Satuan dan/atau Program Pendidikan Pasal 44 (2) (3) (1) Satuan dan/atau program pendidikan bertanggung jawab mengelola sistem pendidikan nasional di satuan dan/atau program pendidikannya serta merumuskan dan menetapkan kebijakan pendidikan sesuai kewenangannya. dan sesuai peraturan perundangundangan. 76461668. f. Sistem informasi pendidikan badan hukum pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) merupakan subsistem dari sistem informasi pendidikan nasional. g. pihak lain yang terikat dengan satuan dan/atau program pendidikan terkait. Pasal 43 (1) Dalam menyelenggarakan dan mengelola sistem pendidikan nasional di satuan dan/atau program pendidikan terkait. Sistem informasi pendidikan badan hukum pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) memberikan akses informasi administrasi pendidikan dan akses sumber pembelajaran kepada satuan dan/atau program pendidikan terkait. badan hukum pendidikan mengembangkan dan melaksanakan sistem informasi pendidikan badan hukum pendidikan berbasis teknologi informasi dan komunikasi. peserta pendidikan terkait. kebijakan pendidikan pemerintah kabupaten/kota sebagaimana dimaksud dalam Pasal 25. e. didik satuan dan/atau program d. orang tua/wali peserta didik di satuan dan/atau program pendidikan terkait. dan/atau kebijakan pendidikan badan hukum pendidikan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 35.c.

peserta didik di satuan dan/atau program pendidikan yang bersangkutan. d. (6) Kebijakan satuan pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (3) merupakan penjabaran dan selaras dengan: a. ayat (2) dan ayat (3) mengikat bagi: a. peraturan pemimpin perguruan tinggi. pendidik dan tenaga kependidikan di satuan dan/atau program pendidikan yang bersangkutan. satuan dan/atau program pendidikan yang bersangkutan. rencana strategis perguruan tinggi. dan d. dan peraturan pimpinan perguruan tinggi lainnya. anggaran pendapatan pendidikan. rencana kerja tahunan satuan pendidikan. rencana kerja tahunan perguruan tinggi.doc sebagaimana sebagaimana pendidikan 26 . satuan c. oleh satuan pendidikan anak usia dini. lembaga representasi pemangku kepentingan dan/atau program pendidikan yang bersangkutan. b. b. c. f. Kebijakan pemerintah kabupaten/kota dimaksud dalam Pasal 25. c. f. anggaran tahunan perguruan tinggi. e. dan dan belanja tahunan satuan c. Kebijakan pemerintah provinsi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 15. Kebijakan badan hukum dimaksud dalam Pasal 35. b. e. Kebijakan Pasal 4. Pemerintah sebagaimana dimaksud dalam b. peraturan satuan dan/atau program pendidikan. 76461668. (4) a. oleh perguruan tinggi dituangkan dalam: rencana pembangunan jangka panjang perguruan tinggi. orang tua/wali peserta didik di satuan dan/atau program pendidikan yang bersangkutan. satuan pendidikan dasar. Kebijakan pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2). pihak lainnya yang terikat dengan satuan dan/atau program pendidikan yang bersangkutan. dan satuan pendidikan menengah dituangkan dalam: a. d. (5) Kebijakan pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1).(3) Kebijakan pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2).

efisien. kebijakan pendidikan pemerintah provinsi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 15. dan/atau kebijakan 27 76461668. Kebijakan badan hukum dimaksud dalam Pasal 35. kebijakan pendidikan pemerintah kabupaten/kota sebagaimana dimaksud dalam Pasal 25. ayat (2). kebijakan pendidikan pemerintah kabupaten/kota sebagaimana dimaksud dalam Pasal 25.(7) Kebijakan perguruan tinggi sebagaimana dimaksud pada ayat (4) merupakan penjabaran dan selaras dengan: a. dan/atau peserta didik di daerah khusus dapat memperoleh akses pelayanan pendidikan. dan ayat (4). ayat (3). kebijakan pendidikan pemerintah provinsi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 15. dan/atau kebijakan pendidikan badan hukum pendidikan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 35. dan/atau kebijakan pendidikan badan hukum pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1). dan sesuai peraturan perundangundangan. (8) pendidikan sebagaimana Satuan dan/atau program pendidikan mengalokasikan anggaran pendidikan agar sistem pendidikan nasional di satuan dan/atau program pendidikan yang bersangkutan dapat dilaksanakan secara efektif. dan sesuai peraturan perundang-undangan. kebijakan pendidikan pemerintah kabupaten/kota sebagaimana dimaksud dalam Pasal 25. dan sebagaimana dimaksud dalam b.doc . Pasal 48 (1) Satuan dan/atau program pendidikan melakukan penjaminan mutu pendidikan dengan berpedoman pada kebijakan pendidikan nasional sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4. dan akuntabel sesuai dengan kebijakan pendidikan nasional sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4. Pasal 46 Satuan dan/atau program pendidikan sesuai kewenangannya menetapkan kebijakan untuk menjamin peserta didik miskin. Pasal 47 Satuan dan/atau program pendidikan menjamin terpenuhinya Standar Pelayanan Minimal bidang pendidikan. Kebijakan Pemerintah Pasal 4. Pasal 45 Satuan dan/atau program pendidikan mengelola pendidikan sesuai dengan kebijakan pendidikan nasional sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4. kebijakan pendidikan pemerintah provinsi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 15. peserta didik khusus.

atau pendidikan menengah bekerja sama dengan unit pelaksana teknis Pemerintah yang melaksanakan tugas penjaminan mutu pendidikan. sertifikasi satuan dan/atau program pendidikan yang bersangkutan. sesuai peraturan perundang-undangan. pendidikan dasar. Pasal 50 (1) Satuan dan/atau program pendidikan melakukan pembinaan berkelanjutan kepada peserta didik yang memiliki potensi kecerdasan dan/atau bakat istimewa untuk mencapai prestasi 28 (2) (3) 76461668. Satuan dan/atau program pendidikan dapat mengikuti sertifikasi internasional program atau satuan pendidikan. satuan dan/atau program pendidikan. sertifikasi kompetensi tenaga kependidikan terkait. Dalam rangka penjaminan mutu pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1). satuan dan/atau program pendidikan anak usia dini. mengikuti: a. f. Pasal 49 (1) Satuan dan/atau program pendidikan yang sudah atau hampir memenuhi Standar Nasional Pendidikan dapat merintis dirinya untuk dikembangkan menjadi program dan/atau satuan pendidikan bertaraf internasional dan/atau berbasis keunggulan lokal. c. akreditasi satuan pendidikan yang bersangkutan. sertifikasi kompetensi pendidik terkait. b. sertifikasi unit pelaksana satuan pendidikan yang bersangkutan.doc . dan/atau g. sertifikasi kompetensi peserta didik terkait.pendidikan badan hukum pendidikan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 35. akreditasi program pendidikan yang bersangkutan. dan Standar Nasional Pendidikan. dan/atau program (3) e. d. (2) Dalam melaksanakan tugasnya sebagaimana dimaksud pada ayat (1). Satuan dan/atau program pendidikan yang sudah atau hampir memenuhi Standar Nasional Pendidikan dapat mengikuti akreditasi internasional program dan/atau satuan pendidikan.

seni. pihak lain yang terikat dengan satuan dan/atau program pendidikan yang bersangkutan. b. ilmu pengetahuan dan teknologi. Pasal 52 (1) Dalam menyelenggarakan dan mengelola pendidikan. d. dan internasional. kabupaten/kota. satuan dan/atau program pendidikan mengembangkan dan melaksanakan sistem informasi pendidikan berbasis teknologi informasi dan komunikasi. ayat (2). dan akuntabilitas pengelolaan pendidikan yang mengikat: a. peserta didik satuan dan/atau program pendidikan yang bersangkutan. (2) Untuk menumbuhkan iklim kompetitif yang kondusif bagi pencapaian prestasi puncak sebagaimana dimaksud pada ayat (1) satuan dan/atau program pendidikan melakukan secara teratur kompetisi di satuan dan/atau program pendidikan terkait dalam bidang: a. (4) Ketentuan lebih lanjut mengenai pelaksanaan ayat (1).puncak di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi. dan/atau program pendidikan yang lembaga representasi pemangku kepentingan pendidikan pada satuan dan/atau program pendidikan yang bersangkutan. 76461668. provinsi. f. seni. c. satuan bersangkutan. dan olahraga.doc 29 . satuan c. orang tua/wali peserta didik di satuan dan/atau program pendidikan yang bersangkutan. dan ayat (3) diatur dengan peraturan satuan dan/atau program pendidikan. b. nasional. (3) Satuan dan/atau program pendidikan memberikan penghargaan kepada peserta didik yang meraih prestasi puncak sesuai peraturan perundang-undangan. e. Pasal 51 Satuan dan/atau program pendidikan menetapkan kebijakan tatakelola pendidikan untuk menjamin efisiensi. pendidik dan tenaga kependidikan di dan/atau program pendidikan yang bersangkutan. efektifitas. dan/atau olahraga pada tingkat satuan pendidikan. kecamatan.

doc . berkepribadian luhur. percaya diri. mengembangkan potensi kecerdasan spiritual. 30 (2) 76461668. membangun landasan bagi berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. kinestetis. dan peserta didik. (2) PAUD bertujuan: a. berakhlak mulia. RA. atau bentuk lain yang sederajat. Bustanul Athfal (BA). Paragraf 2 Bentuk dan Jenis Satuan Pendidikan Pasal 54 (1) PAUD pada jalur pendidikan formal berbentuk Taman Kanakkanak (TK). dan menjadi warga negara yang demokratis dan bertanggung jawab. tenaga kependidikan. berilmu. dan mengembangkan seluruh potensi anak usia dini secara optimal sehingga terbentuk perilaku dan kemampuan dasar sesuai dengan tahap perkembangannya agar memiliki kesiapan untuk memasuki pendidikan selanjutnya. inovatif.(2) Sistem informasi pendidikan satuan dan/atau program pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) merupakan subsistem dari sistem informasi pendidikan nasional. sehat. cakap. BA atau bentuk lain yang sederajat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) memiliki program pembelajaran 1 (satu) tahun atau 2 (dua) tahun. mandiri. menumbuhkan. intelektual. kreatif. emosional. BAB III PENYELENGGARAAN PENDIDIKAN FORMAL Bagian Kesatu Pendidikan Anak Usia Dini Paragraf 1 Fungsi dan Tujuan Pasal 53 (3) (1) PAUD berfungsi membina. dan sosial peserta didik pada masa emas pertumbuhannya dalam lingkungan bermain yang edukatif dan menyenangkan. Sistem informasi pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) memberikan akses informasi administrasi pendidikan dan akses sumber pembelajaran kepada pendidik. b. kritis. TK. Raudathul Athfal (RA).

(3)

TK, RA, BA atau bentuk lain yang sederajat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat diselenggarakan menyatu dengan SD, MI, atau bentuk lain yang sederajat. Paragraf 3 Penerimaan Peserta Didik Pasal 55

Peserta didik TK, RA, BA, atau bentuk lain yang sederajat berusia 4 (empat) tahun sampai dengan 6 (enam) tahun. Pasal 56 (1) (2) Penerimaan peserta didik pada satuan pendidikan anak usia dini dilakukan secara objektif, transparan, dan akuntabel. Penerimaan peserta didik pada satuan pendidikan anak usia dini dilakukan tanpa diskriminasi atas dasar pertimbangan gender, agama, etnis, status sosial, kemampuan ekonomi, dan kondisi fisik atau mental anak. Keputusan penerimaan calon peserta didik menjadi peserta didik dilakukan secara mandiri oleh rapat dewan guru yang dipimpin oleh kepala satuan pendidikan. Paragraf 4 Program Pembelajaran Pasal 57 (1) Program pembelajaran TK, RA, BA dan bentuk lain yang sederajat dikembangkan untuk mempersiapkan peserta didik memasuki SD, MI, atau bentuk lain yang sederajat. Program pembelajaran TK, RA, BA dan bentuk lain yang sederajat dilaksanakan dalam konteks bermain dan dapat dikelompokan dalam: a. bermain dalam rangka pembelajaran agama dan ahlak mulia; b. bermain dalam kepribadian; rangka pembelajaran sosial dan

(3)

(2)

c. bermain dalam rangka pembelajaran estetika; d. bermain dalam rangka pembelajaran jasmani, olahraga dan kesehatan; dan e. bermain dalam rangka pembelajaran pengenalan pengetahuan dan teknologi. (3) orientasi dan

Semua permainan pembelajaran sebagaimana dimaksud pada
31

76461668.doc

ayat (2) dirancang dan diselenggarakan: a. secara interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang, dan mendorong kreativitas serta kemandirian, b. sesuai dengan tahap pertumbuhan fisik perkembangan mental anak serta kebutuhan kepentingan terbaik anak; dan dan

c. dengan memperhatikan perbedaan bakat, minat, dan kemampuan masing-masing anak; d. dengan mengintegrasikan kebutuhan anak kesehatan, gizi, dan stimulasi psikososial; dan terhadap

e. dengan memperhatikan latar belakang ekonomi, sosial, dan budaya anak. Bagian Kedua Pendidikan Dasar Paragraf 1 Fungsi dan Tujuan Pasal 58 (1) Pendidikan dasar tingkat SD/MI atau yang sederajat berfungsi: a. menanamkan dan mengamalkan nilai-nilai keimanan, ahlak mulia, dan kepribadian luhur; b. menanamkan dan mengamalkan nilai-nilai kebangsaan dan cinta tanah air; c. memberikan dasar-dasar kemampuan intelektual dalam bentuk kemampuan dan kecakapan membaca, menulis, dan berhitung; d. melatih dan merangsang kepekaan dan kemampuan mengapresiasi serta mengekspresikan keindahan, kehalusan, dan harmoni; e. menumbuhkan minat pada olah raga, kesehatan, dan kebugaran jasmani; dan f. mengembangkan kesiapan fisik dan mental untuk melanjutkan pendidikan ke SMP/MTs atau yang sederajat. (2) Pendidikan dasar tingkat SMP/MTs atau yang sederajat berfungsi: a. Mengembangkan, menghayati, dan mengamalkan nilainilai keimanan, ahlak mulia, dan kepribadian luhur yang telah dikenalinya; b. Mengembangkan, menghayati, dan mengamalkan nilainilai kebangsaan dan cinta tanah air yang telah dikenalinya;
76461668.doc

32

c. mempelajari dasar-dasar ilmu pengetahuan dan secara terbatas mulai mengenali teknologi; d. melatih dan mengembangkan kepekaan dan kemampuan mengapresiasi serta mengekspresikan keindahan, kehalusan, dan harmoni; e. mengembangkan bakat dan kemampuan di bidang olah raga, baik untuk kesehatan dan kebugaran jasmani maupun prestasi; dan f. mengembangkan kesiapan fisik dan mental untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang pendidikan menengah dan/atau untuk hidup mandiri di masyarakat. (3) Pendidikan dasar bertujuan membangun landasan bagi berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang: a. beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, dan berkepribadian luhur; b. berilmu, cakap, kritis, kreatif, dan inovatif; c. sehat, mandiri, dan percaya diri; dan d. toleran, peka sosial, demokratis, dan bertanggung jawab. Paragraf 2 Bentuk Satuan Pendidikan Pasal 59 (1) Pendidikan dasar kelas 1 (satu) sampai dengan kelas 6 (enam) adalah Sekolah Dasar (SD), Madrasah Ibtidaiyah (MI), atau bentuk lain yang sederajat. Pendidikan dasar kelas 7 (tujuh) sampai dengan kelas 9 (sembilan) adalah Sekolah Menengah Pertama (SMP), Madrasah Tsanawiyah (MTs), atau bentuk lain yang sederajat. Paragraf 3 Penerimaan Peserta Didik Pasal 60 (1) Peserta didik pada SD/MI atau bentuk lain yang sederajat sekurang-kurangnya berusia 6 (enam) tahun.

(2)

(2) Pengecualian terhadap ketentuan pada ayat (1) dapat dilakukan atas dasar rekomendasi tertulis dari psikolog. (3) Satuan pendidikan SD/MI atau bentuk lain yang sederajat wajib menerima warga negara berusia 7 (tujuh) sampai 12 (dua belas) tahun sebagai peserta didik sampai dengan batas daya
33

76461668.doc

tampungnya. (4) Penerimaan peserta didik kelas 1 (satu) SD/MI atau bentuk lain yang sederajat tidak didasarkan pada hasil tes kemampuan membaca, menulis, dan berhitung, atau bentuk seleksi lainnya. Pasal 61 (1) Pemilihan peserta didik pada SD/MI yang diselenggarakan oleh Pemerintah atau pemerintah daerah didasarkan pada urutan ketuaan usia calon peserta didik apabila jumlah calon peserta didik melebihi daya tampung satuan pendidikan. Jika usia calon peserta didik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) sama, maka penentuan peserta didik didasarkan pada urutan kedekatan tempat tinggal peserta didik dengan satuan pendidikan. Jika usia dan/atau urutan kedekatan tempat tinggal peserta didik dengan satuan pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) sama, maka peserta didik yang mendaftar lebih awal diprioritaskan. Pasal 62 (1) Peserta didik pada SMP/MTs atau bentuk lain yang sederajat sudah menyelesaikan pendidikannya pada SD, MI, Paket A, atau bentuk lain yang sederajat. Satuan pendidikan SMP/MTs atau bentuk lain yang sederajat wajib menerima warga negara berusia 13 (tiga belas) sampai 15 (lima belas) tahun sebagai peserta didik sampai dengan batas daya tampungnya. Pasal 63 (1) Satuan pendidikan SD/MI dan SMP/MTs yang memiliki jumlah calon peserta didik melebihi daya tampungnya wajib melaporkan kelebihan calon peserta didik tersebut kepada pemerintah kabupaten/kota yang bersangkutan. Pemerintah kabupaten/kota wajib menyalurkan kelebihan calon peserta didik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) pada satuan pendidikan dasar lain. Pasal 64 (1) Peserta didik jalur nonformal dan informal dapat diterima di SD, MI, atau bentuk lain yang sederajat tidak pada awal kelas 1 (satu) setelah lulus tes kelayakan dan penempatan yang diselenggarakan oleh satuan pendidikan formal.

(2)

(3)

(2)

(2)

76461668.doc

34

MTs. lulus ujian kesetaraan Paket A. (5) (6) Peserta didik pendidikan dasar setara SD yang mengikuti sistem dan/atau standar pendidikan negara lain dapat diterima di SMP/MTs atau bentuk lain yang sederajat pada awal tahun kelas 7 (tujuh) setelah: a. atau b. SMP. atau bentuk lain yang sederajat sejak awal kelas 7 (tujuh) setelah lulus ujian kesetaraan Paket A. atau bentuk lain yang sederajat di Indonesia dengan syarat: a. MTs. atau bentuk lain yang sederajat di Indonesia setelah lulus tes kelayakan dan penempatan yang diselenggarakan oleh satuan pendidikan yang ingin dimasukinya. MI. ayat (5). MTs. tidak benar. (7) Menteri dapat membatalkan keputusan satuan pendidikan tentang syarat sebagaimana dimaksud pada ayat (3) huruf b. MI. lulus tes kelayakan dan penempatan yang diselenggarakan oleh satuan pendidikan yang ingin dimasukinya. sosial.(2) Peserta didik jalur nonformal dan informal dapat diterima di SMP.doc 35 . lulus ujian kesetaraan Paket A. (3) (4) Peserta didik pendidikan dasar setara SD di negara lain dapat pindah ke SD. MTs. dan/atau mental yang diperlukan oleh peserta didik pindahan dari satuan pendidikan formal lain atau jalur pendidikan lain. dan/atau tidak jujur. dan b. dan ayat (6) huruf b apabila setelah dilakukan pemeriksaan oleh Inspektorat Jenderal Departemen atas instruksi Menteri terbukti bahwa keputusan tersebut melanggar peraturan perundang-undangan. atau bentuk lain yang sederajat sesudah awal kelas 7 (tujuh) setelah: a. Peserta didik pendidikan dasar setara SMP di negara lain dapat pindah ke SMP. Peserta didik jalur nonformal dan informal dapat diterima di SMP. lulus tes kelayakan dan penempatan yang diselenggarakan oleh satuan pendidikan formal yang bersangkutan. ayat (4). dapat menunjukkan ijazah atau dokumen lain yang membuktikan bahwa yang bersangkutan telah menyelesaikan pendidikan dasar yang memberikan kompetensi lulusan setara SD. b. (8) 76461668. atau bentuk lain yang sederajat memberikan bantuan penyesuaian akademik. menunjukkan ijazah atau dokumen lain yang membuktikan bahwa yang bersangkutan telah menyelesaikan pendidikan dasar setara SD. Satuan pendidikan SD.

d. dan akuntabel. status sosial. ahlak mulia. (4) Seleksi penerimaan peserta didik baru di kelas 7 (tujuh) pada satuan pendidikan dasar setingkat SMP didasarkan pada hasil Ujian Nasional. baik untuk kesehatan dan kebugaran jasmani maupun prestasi. kecuali bagi lulusan satuan pendidikan sebagaimana dimaksud pada Pasal 64 ayat (2) dan ayat (6). Bagian Ketiga Pendidikan Menengah Paragraf 1 Fungsi dan Tujuan Pasal 66 (1) Pendidikan menengah umum berfungsi: a. dan kondisi fisik atau mental peserta didik.doc (5) 36 . Pasal 65 (1) (2) Penerimaan peserta didik pada satuan pendidikan dilakukan secara objektif. dasar Penerimaan peserta didik pada satuan pendidikan dasar dilakukan tanpa diskriminasi atas dasar pertimbangan gender. meningkatkan. mempelajari ilmu pengetahuan dan teknologi. b. satuan pendidikan dapat melakukan tes bakat skolastik untuk seleksi penerimaan peserta didik baru di kelas 7 (tujuh). dan kepribadian luhur. 76461668.(9) Ketentuan lebih lanjut mengenai pelaksanaan ayat (1) sampai dengan ayat (6) diatur dengan peraturan Menteri. Di samping memenuhi ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (4). c. meningkatkan kepekaan dan kemampuan mengapresiasi serta mengekspresikan keindahan. kehalusan. menyalurkan bakat dan kemampuan di bidang olah raga. transparan. (3) Keputusan penerimaan calon peserta didik menjadi peserta didik dilakukan secara mandiri oleh rapat dewan guru yang dipimpin oleh kepala satuan pendidikan. agama. menghayati. kemampuan ekonomi. meningkatkan kesiapan fisik dan mental untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang pendidikan tinggi dan/atau untuk hidup mandiri di masyarakat. menghayati. dan mengamalkan nilai-nilai kebangsaan dan cinta tanah air. dan harmoni. dan f. meningkatkan. etnis. e. dan mengamalkan nilai-nilai keimanan.

mandiri. e. sehat. menghayati. atau bentuk lain yang sederajat. cakap. yaitu 37 (2) 76461668. kehalusan. Paragraf 2 Bentuk Satuan Pendidikan Pasal 68 (1) Pendidikan menengah berbentuk Sekolah Menengah Atas (SMA). meningkatkan kesiapan fisik dan mental untuk hidup mandiri di masyarakat dan/atau melanjutkan pendidikan ke jenjang pendidikan tinggi. dan percaya diri. berakhlak mulia. menghayati. menyalurkan bakat dan kemampuan di bidang olah raga. Pendidikan menengah terdiri atas 3 (tiga) tingkatan kelas. dan mengamalkan nilai-nilai keimanan. dan d. dalam rangka mengantarkan peserta didik agar mampu hidup produktif dan beretika dalam masyarakat majemuk. Sekolah Menengah Kejuruan (SMK). kritis. kreatif. toleran. dan kepribadian luhur. membekali peserta didik dengan kemampuan ilmu pengetahuan dan teknologi serta kecakapan kejuruan paraprofesi sesuai dengan kebutuhan masyarakat. b. Madrasah Aliyah (MA). serta menjadi warga negara yang taat hukum dalam konteks kehidupan global yang senantiasa berubah.doc . b. meningkatkan. d. beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. dan mengamalkan nilai-nilai kebangsaan dan cinta tanah air. demokratis. dan Madrasah Aliyah Kejuruan (MAK). dan harmoni. meningkatkan. peka sosial. meningkatkan kepekaan dan kemampuan mengapresiasi serta mengekspresikan keindahan. c. dan inovatif. Pasal 67 Pendidikan menengah bertujuan membentuk peserta didik menjadi insan yang: a. berilmu. ahlak mulia. dan bertanggung jawab.(2) Pendidikan menengah kejuruan berfungsi: a. dan f. dan berkepribadian luhur. baik untuk kesehatan dan kebugaran jasmani maupun prestasi. c.

kerajinan. bidang studi keahlian seni. Setiap program studi keahlian sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dapat terdiri dari satu atau lebih kompetensi keahlian. (3) SMK dan MAK dapat terdiri atas 4 (empat) tingkatan kelas. dan pariwisata. bidang studi keahlian bisnis dan manajemen. b. f. bidang studi keahlian teknologi dan rekayasa.kelas 10 (sepuluh). pengetahuan sosial. Setiap bidang studi keahlian sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat terdiri atas 1 (satu) atau lebih program studi keahlian. bidang studi keahlian agribisnis dan agroteknologi. 76461668. atau bentuk lain yang sederajat berbentuk bidang studi keahlian. atau e. Program studi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) terdiri atas: a. bidang studi keahlian teknologi informasi dan komunikasi. Pasal 70 (1) (2) (3) (4) Penjurusan pada SMK/MAK. dan kelas 12 (dua belas). keagamaan. c. program studi program studi lain 38 .doc (2) program studi ilmu program studi ilmu program studi bahasa. Pasal 69 (1) Penjurusan pada SMA/MA atau bentuk lain yang sederajat berbentuk program studi yang memfasilitasi kebutuhan pembelajaran serta kompetensi yang diperlukan peserta didik untuk melanjutkan pendidikan pada jenjang pendidikan tinggi. yaitu kelas 10 (sepuluh). d. sesuai dengan tuntutan dunia kerja. c. kelas 12 (dua belas). dan kelas 13 (tiga belas). kelas 11 (sebelas). d. Bidang studi keahlian sebagaimana dimaksud pada ayat (1) terdiri atas: a. yang diperlukan masyarakat. pengetahuan alam. bidang studi keahlian kesehatan. (3) Ketentuan lebih lanjut tentang pelaksanaan ayat (1) dan ayat (2) diatur dengan peraturan Menteri. b. e. kelas 11 (sebelas).

lulus ujian kesetaraan Paket B. lulus tes kelayakan dan penempatan yang diselenggarakan oleh satuan pendidikan formal yang bersangkutan. Paket B. lulus tes kelayakan dan penempatan diselenggarakan oleh satuan pendidikan yang dimasukinya. (4) Peserta didik pendidikan dasar setara SMP yang mengikuti sistem dan/atau standar pendidikan negara lain dapat diterima di SMA/MA/SMK/MAK atau bentuk lain yang sederajat pada awal tahun kelas 10 (sepuluh) setelah: a. atau bentuk lain yang sederajat. menunjukkan ijazah atau dokumen lain yang membuktikan bahwa yang bersangkutan telah menyelesaikan pendidikan dasar setara SMP. atau b. dan b.doc . (6) yang ingin Menteri dapat membatalkan keputusan satuan pendidikan tentang syarat sebagaimana dimaksud pada ayat (3) huruf b. (5) Peserta didik pendidikan menengah setara SMA/SMK di negara lain dapat pindah ke SMA/MA/SMK/MAK atau bentuk lain yang sederajat di Indonesia dengan syarat: a. (2) Peserta didik jalur nonformal dan informal dapat diterima di SMA/ MA/SMK/MAK atau bentuk lain yang sederajat sejak awal kelas 10 (sepuluh) setelah lulus ujian kesetaraan Paket B.g. lulus ujian kesetaraan Paket B. Paragraf 3 Penerimaan Peserta Didik Pasal 71 (1) Peserta didik pada SMA/MA/SMK/MAK atau bentuk lain yang sederajat sudah menyelesaikan pendidikannya pada SMP. MTs. b. apabila setelah dilakukan 39 76461668. bidang studi keahlian lain yang diperlukan masyarakat. (3) Peserta didik jalur nonformal dan informal dapat diterima di di SMA/MA/SMK/MAK atau bentuk lain yang sederajat sesudah awal kelas 10 (sepuluh) setelah: a. ayat (4) huruf b. dapat menunjukkan ijazah atau dokumen lain yang membuktikan bahwa yang bersangkutan telah menyelesaikan pendidikan dasar yang memberikan kompetensi lulusan setara SMP. dan ayat (5). (5) Ketentuan lebih lanjut tentang pelaksanaan ayat (1) sampai dengan ayat (4) diatur dengan peraturan Menteri.

kecuali bagi lulusan satuan pendidikan sebagaimana dimaksud pada Pasal 71 ayat (2) dan ayat (4). dan/atau mental yang diperlukan oleh peserta didik pindahan dari satuan pendidikan formal lain atau jalur pendidikan lain. tidak benar. Ketentuan lebih lanjut mengenai pelaksanaan ayat (1) sampai dengan ayat (5) diatur dengan peraturan Menteri. Pasal 72 (1) (2) Penerimaan peserta didik pada satuan pendidikan menengah dilakukan secara objektif. transparan. dan/atau tidak jujur. Keputusan penerimaan calon peserta didik menjadi peserta didik dilakukan secara mandiri oleh rapat dewan guru yang dipimpin oleh kepala satuan pendidikan. Bagian Kempat Pendidikan Tinggi Paragraf 1 76461668. kemampuan ekonomi. dan kondisi fisik atau mental. (7) Satuan pendidikan SMA/MA/SMK/MAK atau bentuk lain yang sederajat memberikan bantuan penyesuaian akademik. (8) (3) (4) (5) (6) Penerimaan peserta didik baru dapat dilaksanakan pada setiap semester bagi satuan pendidikan yang menyelenggarakan sistem kredit semester. Penerimaan peserta didik pada satuan pendidikan menengah dilakukan tanpa diskriminasi atas pertimbangan gender. etnis. satuan pendidikan dapat melakukan tes bakat skolastik untuk seleksi penerimaan peserta didik baru di kelas 10 (sepuluh).doc 40 . agama. sosial. Di samping memenuhi ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (4). status sosial. dan akuntabel.pemeriksaan oleh Inspektorat Jenderal Departemen atas instruksi Menteri terbukti bahwa keputusan tersebut melanggar peraturan perundang-undangan. Seleksi penerimaan peserta didik baru di kelas 10 (sepuluh) pada satuan pendidikan menengah didasarkan pada hasil Ujian Nasional.

demokratis. dalam rangka membentuk manusia berwawasan luas. dan menyebarluaskan nilai-nilai luhur. ilmu pengetahuan. dharma penelitian untuk menemukan. dan/atau doktor. produktif. kreatif. dan/atau mengadaptasi nilai-nilai luhur. Bentuk. dharma pendidikan untuk menguasai. mandiri. Maha Esa. kepada Tuhan Yang berkepribadian luhur. peka sosial. Paragraf 2 Jenis. teknologi. spesialis. inovatif. (2) Perguruan tinggi dapat berbentuk akademi. atau universitas. (2) Pendidikan tinggi bertujuan membentuk insan yang: a. ilmu pengetahuan. beretika. percaya diri dan berjiwa enterprenur. Paragraf 3 76461668. seni. dan sehat. dan olahraga dalam rangka pemberdayaan masyarakat. mengembangkan. teknologi. menerapkan. b. institut. dan olahraga. dan bertanggung jawab. dan menjadi agen pembaharu untuk mewujudkan masyarakat madani. taat hukum. pendidikan profesi. toleran. dan/atau pendidikan vokasi. dan Program Pendidikan Pasal 74 (1) Perguruan tinggi dapat menyelenggarakan pendidikan akademik. cakap. ilmu pengetahuan. mengadopsi. serta d. sekolah tinggi. watak. seni. beriman dan bertakwa berakhlak mulia. b. dan olahraga. politeknik. dan c.doc 41 . sarjana. magister. dan kepribadian manusia melalui: a. berilmu.Fungsi dan Tujuan Pasal 73 (1) Pendidikan tinggi berfungsi mengembangkan atau membentuk kemampuan. mampu beradaptasi dan berinteraksi positif dalam masyarakat majemuk dan global yang dinamis. dan c. teknologi. dharma pengabdian kepada masyarakat untuk menerapkan nilai-nilai luhur. kritis. seni. (3) Perguruan tinggi dapat menyelenggarakan program pendidikan diploma.

sarjana. Penyelenggaraan pendidikan pada tingkat operasional dilaksanakan oleh program studi yang menurut jenisnya dapat berupa pendidikan akademik. pusat penelitian. Pelayanan teknis dan administratif sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilaksanakan berbasis teknologi informasi dan komunikasi. Fakultas berfungsi mengkoordinasikan pendidikan akademik. jurusan. dan pengabdian kepada masyarakat. (2) (3) (4) (5) (6) (2) 76461668. Penyelenggaraan penelitian dan/atau pengabdian kepada masyarakat pada tingkat operasional dilaksanakan oleh sivitas akademika baik secara individual maupun berkelompok melalui program studi. penelitian. atau fakultas. Setiap program studi memiliki kurikulum yang dikembangkan sesuai dengan tujuan program studi dan peraturan perundangundangan.doc 42 . dan fungsi administrasi lainnya sesuai dengan kebutuhan. pelaksana akademik. yang mencakup program pendidikan diploma. spesialis.Organisasi Perguruan Tinggi Pasal 75 Perguruan tinggi memiliki unsur-unsur pelaksana administrasi. teknologi. dan penunjang. dan doktor. kemahasiswaan. profesi dan/atau vokasi. hukum. profesi dan/atau vokasi dalam 1 (satu) atau kelompok cabang ilmu pengetahuan. Ketentuan lebih lanjut mengenai ayat (1) sampai dengan ayat (5) diatur dalam anggaran dasar dan anggaran rumah tangga perguruan tinggi. sarjana. Pasal 77 (1) Unsur pelaksana administrasi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 75 menyelenggarakan pelayanan teknis dan administratif yang meliputi fungsi administrasi akademik. spesialis. pusat pengabdian masyarakat. komunikasi. perlengkapan. Pasal 76 (1) Unsur pelaksana akademik sebagaimana dimaksud dalam Pasal 75 merupakan unit penyelenggara pendidikan. magister. magister. keuangan. dan/atau olah raga tertentu yang mencakup program pendidikan diploma. seni. kepersonaliaan. dan/atau doktor.

spesialis. spesialis.(3) Jenis. profesi. atau sebaliknya. Mata kuliah yang diambil oleh peserta didik program spesialis dapat diperhitungkan sebagai mata kuliah terkait pada program magister atau doktor terkait. (2) 76461668. atau sebaliknya. profesi. unit layanan penjaminan mutu penelitian. Organisasi dan tata kerja penyelenggaraan program studi tingkat pascasarjana sebagaimana dimaksud pada ayat (1). Program magister.doc 43 . Program magister. Pasal 79 (2) (3) (4) (5) (6) (7) (1) Unsur penunjang pada perguruan tinggi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 75 merupakan perangkat pelengkap di bidang pendidikan. jumlah. profesi. penelitian dan pengabdian kepada masyarakat yang ada di luar fakultas dan jurusan. Pasal 78 (1) Program studi tingkat pascasarjana dibentuk untuk menyelenggarakan dan melaksanakan program magister. fungsi. dan mekanisme kerja unsur pelaksana administrasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dalam anggaran dasar dan anggaran rumah tangga perguruan tinggi. dan/atau doktor. dan/atau doktor sebagaimana dimaksud pada ayat (1) yang bersifat lintas disiplin yang melibatkan lebih dari satu fakultas dikelola oleh unit organisasi yang dibentuk atau ditunjuk oleh pemimpin perguruan tinggi. Mata kuliah yang diambil oleh peserta didik program profesi dapat diperhitungkan sebagai mata kuliah terkait pada program magister profesi terkait. b. tugas pokok. Unsur penunjang sebagaimana dimaksud pada ayat (1) sekurang –kurangnya terdiri atas: a. spesialis. dan/atau doktor sebagaimana dimaksud pada ayat (1) yang bersifat monodisiplin atau lintas disiplin dalam satu fakultas dikelola oleh fakultas yang terkait. unit layanan penjaminan mutu pendidikan. ayat (2) dan ayat (3) diatur dalam anggaran dasar dan/atau anggaran rumah tangga perguruan tinggi. Ketentuan lebih lanjut mengenai pelaksanaan ayat (4) dan ayat (5) diatur dengan peraturan Menteri.

c. kedudukan. penerbitan. toko buku. dan doktor adalah: a. poliklinik. pusat jejaring teknologi informasi dan komunikasi. memenuhi persyaratan masuk yang ditetapkan oleh perguruan tinggi yang bersangkutan. sarana dan prasarana olah raga. kenyamanan. tugas pokok. perpustakaan. keindahan. magister. fungsi dan mekanisme kerja dari unsur-unsur penunjang akademik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) diatur dalam anggaran dasar dan anggaran rumah tangga perguruan tinggi. laboratorium/bengkel/studio. (4) (7) Paragraf 3 Penerimaan Mahasiswa Pasal 80 (1) Persyaratan untuk menjadi mahasiswa pada program sarjana. (2) Persyaratan untuk menjadi mahasiswa pada program vokasi adalah: a. (3) Unsur penunjang sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat dilengkapi dengan rumah sakit pendidikan. memiliki ijazah atau surat keterangan lulus pendidikan menengah atau yang sederajat. dan b. dan kesehatan lingkungan. d. apotik. sarana dan prasarana kesenian. dan h. g.doc 44 . memiliki ijazah atau surat keterangan lulus pendidikan 1 (satu) jenjang atau tingkat pendidikan di bawahnya. dan 76461668. penjaminan mutu pengabdian kepada e. dan unit lain yang dipandang perlu. Lingkungan kampus ditata dengan mempertimbangkan faktor keamanan. unit layanan bimbingan dan konseling. unit layanan masyarakat. f. Jenis dan jumlah.

(3) memenuhi persyaratan masuk yang perguruan tinggi yang bersangkutan. memiliki ijazah atau surat keterangan lulus program pendidikan sarjana atau diploma IV. 45 (3) (4) (5) (2) 76461668. (4) Persyaratan untuk menjadi mahasiswa pada program spesialis adalah: a. agama. Pasal 82 (1) Perguruan tinggi dapat melakukan penerimaan bersyarat mahasiswa baru untuk calon mahasiswa yang telah memenuhi sebagian besar persyaratan penerimaan. Penerimaan mahasiswa baru pada perguruan tinggi dilakukan secara objektif. kemampuan ekonomi. memenuhi persyaratan masuk yang ditetapkan oleh perguruan tinggi yang bersangkutan. dan akuntabel. memenuhi persyaratan masuk yang ditetapkan oleh perguruan tinggi yang bersangkutan.b. Pasal 81 (1) (2) Perguruan tinggi dapat menyelenggarakan seleksi penerimaan mahasiswa baru pada setiap semester. etnis. status sosial. Penerimaan mahasiswa baru perguruan tinggi dilakukan tanpa diskriminasi atas pertimbangan gender. dan b. Perguruan tinggi menetapkan persyaratan kelayakan penerimaan mahasiswa baru pada setiap program studi yang diselenggarakannya. ditetapkan oleh Persyaratan untuk menjadi mahasiswa pada program profesi adalah: a. memiliki ijazah atau surat keterangan lulus pendidikan 1 (satu) jenjang atau tingkat pendidikan di bawahnya. dan b. dan kondisi fisik atau mental. Tes seleksi penerimaan mahasiswa baru program sarjana dan program vokasi pada perguruan tinggi tidak menduplikasi ujian nasional pendidikan menengah.doc . transparan. Penerimaan bersyarat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dipenuhi selambat-lambatnya dalam waktu 6 (enam) bulan.

dan/atau tidak jujur. Pasal 85 Menteri dapat membatalkan keputusan perguruan tinggi tentang penerimaan mahasiswa baru apabila setelah dilakukan pemeriksaan oleh Inspektorat Jenderal Departemen atas instruksi Menteri terbukti bahwa keputusan tersebut melanggar peraturan perundangundangan. kuliah. (2) (2) Pelanggaran terhadap perjanjian sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat berakibat dikeluarkannya mahasiswa yang bersangkutan dari perguruan tinggi. tidak benar.(3) Ketentuan lebih lanjut mengenai penerimaan bersyarat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dalam anggaran rumah tangga perguruan tinggi. 76461668. Pasal 83 (1) Pengumuman penerimaan mahasiswa baru program sarjana dan program vokasi yang bersifat final pada perguruan tinggi dilakukan setelah pengumuman hasil ujian nasional pendidikan menengah tahun ajaran sebelumnya. psikomotorik.doc (2) Pembelajaran dapat dilakukan dalam bentuk diskusi. dan kemampuan konfluen mahasiswa. 46 . afektif. seminar. Pengumuman penerimaan mahasiswa baru program sarjana dan program vokasi yang bersyarat sebagaimana dimaksud dalam Pasal 82 dapat dilakukan sebelum pengumuman hasil ujian nasional pendidikan menengah tahun ajaran sebelumnya. Paragraf 4 Sistem Pembelajaran Pasal 86 (1) Pendidikan tinggi diselenggarakan melalui proses pembelajaran yang berpusat pada mahasiswa sebagai subjek pembelajaran dalam rangka mengembangkan kemampuan kognitif. simposium. Pasal 84 (1) Seorang calon mahasiswa secara resmi menjadi mahasiswa perguruan tinggi setelah menandatangani perjanjian dengan perguruan tinggi yang memuat secara jelas hak-hak dan kewajiban mahasiswa yang diatur dalam anggaran dasar atau anggaran rumah tangga perguruan tinggi. lokakarya. praktikum.

Isi kurikulum. Pasal 88 (1) (2) Pengelolaan pembelajaran pada perguruan tinggi dapat diselenggarakan melalui sistem multikampus. kompetensi lulusan. atau lebih dari 30% (tiga puluh persen) program studinya berakreditasi dari badan akreditasi negara anggota OECD. sarana dan prasarana. dapat menyelenggarakan program studi di kampus lain. proses pembelajaran. dan penilaian pendidikan pada kampus lain sekurang-kurangnya sama dengan kampus induk. Pelaksanaan ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1). Tahun akademik dibagi dalam 2 (dua) semester yang masing-masing terdiri atas 16 (enam belas) minggu. tenaga pendidik dan tenaga kependidikan.penelitian.doc 47 . ayat (2). Sistem multikampus sebagaimana dimaksud pada ayat (1) merupakan sistem pengelolaan perguruan tinggi yang menerapkan 1 (satu) sistem pendidikan tinggi secara utuh. pengabdian kepada masyarakat dan/atau kegiatan lainnya dengan mengacu pada prinsip otonomi keilmuan. dan ayat (4) diatur oleh masingmasing perguruan tinggi dalam anggaran dasar dan/atau anggaran rumah tangga. pembiayaan. (2) (3) (4) (5) (3) (4) (5) 76461668. pengelolaan. yang pelaksanaannya diselenggarakan di kampus induk dan kampus lain. Fakultas yang lebih dari 75% (tujuh puluh lima persen) program studinya berakreditasi A dari Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi. ayat (3). Semester pendek sebagaimana dimaksud pada ayat (3) sekurang-kurangnya diselenggarakan selama 8 (delapan) minggu. Kampus induk dan kampus lainnya sebagaimana dimaksud pada ayat (2) terhubung dengan sistem informasi berbasis teknologi informasi dan komunikasi. Perguruan tinggi dapat menyelenggarakan semester pendek antara semester genap dan ganjil. Pasal 87 (1) Pendidikan tinggi diselenggarakan dengan menerapkan Sistem Kredit Semester (SKS) yang bobot belajarnya dinyatakan dalam satuan kredit semester (sks).

Pasal 89 (1) Perguruan tinggi dapat menyelenggarakan program studi sarjana atau diploma empat kependidikan khusus bagi guru tetap dalam jabatan yang belum memiliki ijazah sarjana atau diploma empat dengan program sarjana atau diploma empat kependidikan khusus bagi guru tetap dalam jabatan. dilaksanakan oleh perguruan tinggi yang memiliki program studi sarjana atau diploma empat kependidikan berakreditasi dari Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi dan telah memperoleh izin untuk menyelenggarakan program sarjana atau diploma empat kependidikan khusus bagi guru tetap dalam jabatan dari Departemen. (3) Izin sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf a diberikan oleh Departemen setelah memperoleh jaminan dari pemerintah daerah kabupaten/kota yang bersangkutan untuk bertanggung jawab melindungi. c. memenuhi seluruh persyaratan program sarjana atau diploma empat kependidikan sesuai dengan peraturan perundang-undangan. dunia usaha. (2) Program sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diselenggarakan sebagai berikut: a. Pasal 82 ayat (2). Pasal 90 (1) Perguruan tinggi dapat menjalin kerja sama akademik dan/atau non-akademik dengan perguruan tinggi lain. atau pihak lain yang dipandang perlu.doc 48 . (4) Menteri dapat membatalkan izin program sebagaimana dimaksud pada ayat (2) apabila setelah dilakukan pemeriksaan oleh Inspektorat Jenderal Departemen atas instruksi Menteri terbukti bahwa pelaksanaan program yang bersangkutan telah melanggar peraturan perundang-undangan. dapat dilaksanakan di pusat kegiatan Kelompok Kerja Guru atau Musyawarah Guru Mata Pelajaran. mengawasi. (5) Ketentuan sebagaimana diatur dalam Pasal ini berlaku sampai berakhirnya masa peralihan sebagaimana diatur dalam UndangUndang Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen. 76461668. b. dan memfasilitasi penyelenggaraan program sebagaimana dimaksud pada ayat (2) sehingga guru tetap dalam jabatan yang bersangkutan memperoleh kualifikasi akademik sarjana atau diploma empat kependidikan sesuai peraturan perundang-undangan.

(2) Kerja sama perguruan tinggi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) bertujuan untuk meningkatkan efisiensi. d. norma serta kaidah keilmuan. penyelenggaraan seminar bersama. penugasan dosen senior sebagai pembina pada perguruan tinggi yang membutuhkan pembinaan. pemanfaatan bersama berbagai sumberdaya. mutu. b. (4) Kerja sama non-akademik sebagaimana yang dimaksud pada ayat (1) dapat berbentuk: a. penelitian. penerbitan jurnal ilmiah. 49 76461668. e. c. kontrak manajemen. (5) Semua bentuk kerjasama sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dengan pihak asing dilaporkan kepada Departemen. (6) Ketentuan lebih lanjut mengenai kerjasama sebagaimana yang dimaksud pada ayat (1) diatur dalam peraturan Menteri. b. jasa dan royalti hak atas kekayaan intelektual. i. inovasi. e.doc . pemagangan. j. h. dan/atau bentuk-bentuk lain yang dianggap perlu. f. program kembaran. c. (3) Kerja sama akademik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat berbentuk: a. dan relevansi pelaksanaan tri dharma perguruan tinggi. pendidikan. (7) Menteri dapat membatalkan kerjasama sebagaimana dimaksud pada ayat (1) apabila setelah dilakukan pemeriksaan oleh Inspektorat Jenderal Departemen atas instruksi Menteri terbukti bahwa kerjasama yang bersangkutan telah melanggar peraturan perundang-undangan. usaha penggalangan dana. dan dilandasi oleh etika. produktifitas. g. pertukaran dosen dan/atau mahasiswa. dan pengabdian kepada masyarakat. Paragraf 5 Kebebasan Akademik dan Otonomi Keilmuan Pasal 91 (1) Pimpinan perguruan tinggi mengupayakan dan menjamin agar setiap sivitas akademika perguruan tinggi melaksanakan kebebasan akademik dan kebebasan mimbar akademik secara mandiri sesuai dengan peraturan perundang-undangan. kreatifitas. pendayagunaan aset. pengalihan dan/atau perolehan kredit. dan/atau bentuk-bentuk lain yang dianggap perlu. d. efektifitas.

publikasi ilmiah. seminar. b. serta akibatnya pada diri sendiri atau orang lain. nilai-nilai etika. serta kaidah keilmuan. ketua pusat penelitian. ujian. dan pertemuan ilmiah lainnya yang relevan. Pelaksanaan kebebasan akademik sebagaimana dimaksud pada ayat (1). (3) kebebasan mengupayakan agar kegiatan dan hasilnya dapat meningkatkan mutu akademik perguruan tinggi yang bersangkutan. dan kaidah akademik. norma. tidak menimbulkan keresahan masyarakat. menerapkan. dan ayat (5): a. Pelaksanaan kebebasan mimbar akademik dimaksud pada ayat (1). bangsa. secara bertanggungjawab dan mandiri. atau ketua pusat pengabdian kepada masyarakat. dan tidak melanggar hukum dan tidak mengganggu kepentingan umum. negara. seni. e. berada di bawah tanggung jawab dan secara resmi dikoordinasikan oleh pimpinan perguruan tinggi. bertanggung jawab secara pribadi atas pelaksanaan dan hasilnya. simposium. melakukannya dengan cara yang tidak bertentangan dengan nilai-nilai agama. baik di dalam maupun di luar kampus. dan kemanusiaan. setiap individu sivitas akademika: a. diskusi. dan pengabdian kepada masyarakat. ayat (2) dan ayat (3): a. c. d. (4) (5) Kebebasan mimbar akademik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) merupakan kebebasan sivitas akademika dalam menyebarluaskan hasil penelitian dan menyampaikan pandangan akademik dalam rangka pembelajaran sivitas akademika dan/atau masyarakat melalui kegiatan perkuliahan.doc . mengupayakan agar kegiatan dan hasilnya bermanfaat bagi masyarakat.(2) Dalam melaksanakan kebebasan akademik dan mimbar akademik. dan d. ceramah. dan/atau olah raga melalui kegiatan pendidikan. sesuai dengan peraturan perundang-undangan. tidak mengganggu ketertiban umum. c. dan mengembangkan ilmu. sebagaimana (6) merupakan tanggung jawab setiap individu 50 76461668. b. serendah-rendahnya ketua program studi. dan taat etika. Kebebasan akademik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) merupakan kebebasan sivitas akademika dalam mendalami. ayat (2). teknologi. penelitian.

dan/atau mempertahankan kebenaran menurut kaidah keilmuannya untuk menjamin keberlanjutan perkembangan cabang ilmu pengetahuan. teknologi. sesuai dengan peraturan perundangundangan. hayati. dalam menemukan. dan sekolah tinggi wajib melaksanakan penelitian dasar.sivitas akademika yang terlibat. seni. b. mimbar akademik melindungi dan mempertahankan kekayaan intelektual. Pasal 92 (1) Sivitas akademika perguruan tinggi mengembangkan ilmu pengetahuan. dan/atau olah raga dengan berpedoman pada otonomi keilmuan. dan budaya bangsa dan negara Indonesia. seni. dan c. memperkuat daya saing bangsa dan negara Indonesia. dan/atau olah raga yang bersangkutan. norma. b. dan taat etika. serta kaidah keilmuan. Otonomi keilmuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) merupakan kemandirian dan kebebasan sivitas akademika suatu cabang ilmu pengetahuan. c. teknologi. teknologi. atau unit organisasi di dalam perguruan tinggi. institut. apabila perguruan tinggi atau unit organisasi tersebut secara resmi terlibat dalam pelaksanaannya. (7) Kebebasan akademik dan kebebasan dimanfaatkan oleh perguruan tinggi untuk: a. menambah dan/atau meningkatkan mutu kekayaan intelektual bangsa dan negara Indonesia. dan/atau olah raga. dan/atau penelitian 51 (2) (3) 76461668. melindungi dan mempertahankan kekayaan dan keragaman alami. sosial. d. Pelaksanaan otonomi keilmuan di perguruan tinggi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) diatur lebih lanjut oleh perguruan tinggi dalam anggaran rumah tangga perguruan tinggi. Paragraf 6 Penelitian Pasal 93 (1) Universitas. seni. mengembangkan. teknologi. dan/atau olah raga yang melekat pada kekhasan/keunikan cabang ilmu pengetahuan. seni. mengungkapkan. menjadi tanggung jawab perguruan tinggi.doc . penelitian terapan.

prosedur. diuji secara tertutup dan terbuka di hadapan sekurang-kurangnya 5 (lima) penguji. Penelitian sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) dilaksanakan untuk: a. (7) Sekurang-kurangnya 1 (satu) dosen penguji sebagaimana dimaksud pada ayat (5) huruf c berasal dari program studi terkait berakreditasi A dari perguruan tinggi lain.doc 52 . seni. diseminarkan dan dipublikasikan pada jurnal ilmiah dalam negeri berakreditasi atau jurnal internasional yang diakui Departemen. (8) Penelitian sebagaimana dimaksud pada ayat (5) huruf b dan huruf c dipublikasikan pada jurnal ilmiah dalam negeri 76461668. (2) (3) Dosen pada akademi dan politeknik wajib melaksanakan penelitian terapan dan/atau penelitian pengembangan. seni. (4) Kegiatan penelitian sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (3) dilaksanakan dengan mematuhi kaidah dan etika akademik sesuai dengan prinsip otonomi keilmuan. konsep. teknologi. dan/atau olah raga. dan d. dan diuji secara tertutup di hadapan sekurang-kurangnya 3 (tiga) dosen penguji. dan/atau menguji ulang teori. disetujui dosen pembimbing. apabila dilakukan oleh mahasiswa untuk memenuhi persyaratan lulus program doktor. Penelitian sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilaksanakan dengan memenuhi standar penjaminan mutu sebagai berikut: a. b. teknologi. apabila dilakukan oleh mahasiswa untuk memenuhi persyaratan lulus program sarjana. apabila dilakukan oleh dosen untuk memenuhi dharma penelitian. c. mencari dan/atau menemukan kebaruan kandungan ilmu pengetahuan. b. prinsip. dan/atau model yang sudah menjadi kandungan ilmu pengetahuan. disetujui dosen pembimbing. metode. disetujui dosen pembimbing.pengembangan. apabila dilakukan oleh mahasiswa untuk memenuhi persyaratan lulus program magister. (5) (6) Sekurang-kurangnya 1 (satu) dosen penguji sebagaimana dimaksud pada ayat (5) huruf b berasal dari program studi terkait berakreditasi sekurang-kurangnya B dari perguruan tinggi lain. dan/atau olah raga.

doc . Jurnal ilmiah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat diterbitkan dalam bahasa resmi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). (12) Hasil penelitian perguruan tinggi yang dilaksanakan oleh dosen dimanfaatkan untuk memperkaya materi pembelajaran mata kuliah yang relevan. Jurnal ilmiah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diterbitkan secara tercetak dan secara elektronik melalui jejaring teknologi 53 (5) (6) (7) 76461668. (11) Hasil penelitian perguruan tinggi diakui sebagai penemuan baru setelah dimuat dalam jurnal ilmiah terakreditasi yang diakui Departemen dan/atau mendapatkan hak kekayaan intelektual.berakreditasi atau jurnal internasional yang diakui Departemen selambat-lambatnya 1 (satu) tahun setelah mahasiswa yang bersangkutan dinyatakan lulus dari program studi. (3) Penelitian sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dapat berupa penelitian empirik maupun penelitian pustaka. Jurnal ilmiah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) memuat artikel hasil penelitian. atau pusat studi dapat menerbitkan jurnal ilmiah. program studi. apabila dilakukan oleh dosen untuk memenuhi dharma penelitian. masing-masing sekurang-kurangnya 2 (dua) eksemplar. fakultas. mahasiswa yang bersangkutan mengikutsertakan dosen pembimbing sebagai penulis pendamping. (13) Prosedur penjaminan mutu penelitian perguruan tinggi diatur dalam anggaran rumah tangga perguruan tinggi. Pasal 94 (1) (2) Perguruan tinggi. (4) Sekurang-kurangnya 60% (enam puluh persen) dari artikel hasil penelitian sebagaimana dimaksud pada ayat (2) merupakan hasil penelitian empirik. Perpustakaan Nasional. Setiap terbitan jurnal ilmiah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dikirimkan kepada pusat dokumentasi ilmiah pada Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia. (10) Hasil penelitian sebagaimana dimaksud pada ayat (2) diseminarkan dan dipublikasikan pada jurnal terakreditasi yang diakui Departemen. dan perpustakaan Departemen. (9) Dalam mempublikasikan pada jurnal ilmiah sebagaimana dimaksud pada ayat (5) huruf b dan huruf c.

pemberdayaan pengembangan dosen. serta toleransi sosial dan budaya bagi mahasiswa. dosen. dan masyarakat. Paragraf 7 Pengabdian kepada Masyarakat Pasal 95 (1) (2) Perguruan tinggi wajib melaksanakan pengabdian kepada masyarakat. dan d.doc .informasi dan komunikasi Departemen. (8) Departemen mengakreditasi jurnal ilmiah sebagaimana dimaksud pada ayat (1). pemodernan. b. dosen. keteladanan. atau pemadanian kehidupan masyarakat. Ketentuan lebih lanjut mengenai pelaksanaan pengabdian 54 (5) (6) 76461668. masyarakat yang berdampak pada jiwa kepemimpinan mahasiswa dan masyarakat yang berdampak pada jiwa kewirausahaan mahasiswa dan c. kreatifitas. (4) Pengabdian kepada masyarakat sebagaimana dimaksud pada ayat (1). Pengabdian kepada masyarakat diselenggarakan dan dilaksanakan berbasis pada dharma pendidikan dan penelitian atas dasar prinsip: a. baik secara individual maupun berkelompok. pemberdayaan masyarakat yang mendorong kemampuan bekerja sama dalam tim bagi mahasiswa. Hasil pengabdian kepada masyarakat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) sampai dengan ayat (4) dimanfaatkan untuk pengayaan pembelajaran yang relevan. kepekaan dan kepedulian sosial dan budaya. dan masyarakat. pemberdayaan masyarakat yang merangsang tumbuhnya kemandirian. (3) Pelaksanaan kegiatan pengabdian kepada masyarakat sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dilaksanakan oleh dosen dan mahasiswa. pemberdayaan pengembangan dosen. dan ayat (3) merupakan penerapan hasil pendidikan dan/atau hasil penelitian dalam upaya pemberdayaan. ayat (2).

Pelaksanaan ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dalam anggaran rumah tangga perguruan tinggi.doc 55 . Pasal 98 (1) Departemen mengembangkan suatu sistem penjaminan mutu hasil belajar program studi perguruan tinggi secara nasional. b. program sarjana. evaluasi berkala atas pencapaian kompetensi mahasiswa program diploma. belajar dilaksanakan secara (2) (2) (3) Ketentuan lebih lanjut mengenai pelaksanaan ayat (1) dan ayat (2) diatur dalam anggaran rumah tangga perguruan tinggi. dan program magister yang tidak mensyaratkan tesis sebagaimana dimaksud pada huruf a. Penilaian hasil objektif. diatur dalam Paragraf 8 anggaran rumah tangga Pengalihan Kredit Pasal 96 (1) Perguruan tinggi dapat mengakui hasil belajar yang diperoleh mahasiswa pada perguruan tinggi lain atau satuan/program pendidikan nonformal untuk memenuhi persyaratan kelulusan program studi. penilaian tugas terstruktur dan mandiri. dan jujur. transparan. 76461668. ujian. keterlibatan dosen dari perguruan tinggi lain dalam ujian tesis program magister dan disertasi program doktor sebagaimana dimaksud dalam Pasal 93.kepada masyarakat perguruan tinggi. (2) Sistem penjaminan mutu sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilaksanakan melalui: a. Paragraf 9 Penjaminan Mutu Hasil Belajar Pasal 97 (1) Penilaian hasil belajar mahasiswa dilakukan secara berkala melalui penilaian proses belajar. dan/atau bentuk penilaian lainnya.

April 2008 (5) ==============================28 ================ Pasal 99 (1) Persyaratan kelulusan untuk pendidikan akademik dan pendidikan vokasi diatur oleh masing-masing perguruan tinggi. dilaksanakan atas dasar sampel. diterapkan pada soal ujian dan jawaban ujian mata kuliah inti program studi. b.(3) Evaluasi berkala sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf b dilaksanakan sebagai berikut: a. Paragraf 10 Gelar Lulusan Pendidikan Tinggi Pasal 81 76461668. ditetapkan oleh organisasi profesi. Persyaratan kelulusan untuk pendidikan profesi ditetapkan dengan cara: a. hasil evaluasi digunakan oleh Departemen untuk menetapkan hak menyelenggarakan ujian secara mandiri. ditetapkan oleh perguruan tinggi bersama-sama dengan organisasi profesi. diterapkan pada berakreditasi kurang dari B. atau c. (2) (3) Penetapan persyaratan kelulusan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) diatur oleh perguruan tinggi yang bersangkutan. dilaksanakan oleh penelaah sejawat. (4) Penelaah sejawat sebagaimana dimaksud pada ayat (3) huruf d berasal dari program studi sejenis berakreditasi sekurangkurangnya B dari perguruan tinggi lain. Ketentuan lebih lanjut mengenai pelaksanaan evaluasi berkala diatur dalam peraturan Menteri. ditetapkan oleh perguruan tinggi setelah memperhatikan pertimbangan dari organisasi profesi.doc 56 . c. e. d. program studi yang b.

diikuti dengan inisial program studi atau bidang ilmu. untuk program diploma IV.Ma diikuti dengan inisial program studi atau bidang ilmu. ditulis di belakang nama yang berhak dengan mencantumkan huruf M. 57 76461668. gelar vokasi. untuk lulusan program diploma III. dan ayat (4) diatur dengan Peraturan Menteri. ahli muda. untuk lulusan program diploma I. b. ahli pratama. sarjana. diikuti dengan inisial program studi atau bidang ilmu. ditulis di depan nama mencantumkan singkatan Dr. ayat (3). ahli madya. ditulis di belakang nama yang berhak dengan mencantumkan singkatan A. (4) Gelar untuk lulusan pendidikan profesi adalah Spesialis dengan mencantumkan singkatan Sp. ditulis di belakang nama yang berhak dengan mencantumkan singkatan A. dan d. dan c. (2) Gelar untuk lulusan pendidikan akademik terdiri atas: a. ditulis di belakang nama yang berhak dengan mencantumkan huruf S. diikuti dengan inisial program studi atau bidang keahlian khusus. magister. sarjana sains terapan. atau profesi berhak untuk menggunakan gelar akademik.Md diikuti dengan inisial program studi atau bidang ilmu.doc .(1) Lulusan pendidikan akademik. yang berhak dengan (3) Gelar untuk pendidikan vokasi terdiri atas: a. (5) Ketentuan lebih lanjut mengenai gelar. untuk lulusan program diploma II. dan profesi hanya boleh diberikan oleh perguruan tinggi yang memenuhi persyaratan pendirian dan dinyatakan berhak menyelenggarakan program pendidikan yang relevan.P diikuti dengan inisial program studi atau bidang ilmu. vokasi. singkatan. dan inisial program studi atau bidang ilmu sebagaimana dimaksud pada ayat (2). c. ditulis di belakang nama yang berhak dengan mencantumkan singkatan A. Pasal 82 (1). ditulis di belakang nama yang berhak dengan mencantumkan singkatan SST diikuti dengan inisial program studi atau bidang ilmu. vokasi. doktor. atau gelar profesi. b. Gelar akademik.

Gelar doktor kehormatan hanya dapat diberikan oleh perguruan tinggi yang berwenang menyelenggarakan program doktor terakreditasi dalam bidang ilmu terkait. singkatan. dan penempatan gelar lulusan perguruan tinggi luar negeri tetap menggunakan gelar sesuai dengan jenis. Pasal 84 (2) (1) Gelar doktor kehormatan (doctor honoris causa) diberikan kepada seseorang yang telah berjasa luar biasa bagi ilmu pengetahuan.doc 58 . dan penempatan yang berlaku di negara asal. singkatan. profesi. teknologi. Penetapan jenis gelar akademik.(2). (2) (3) (4) 76461668. kemasyarakatan. atau vokasi didasarkan atas bidang keahlian dan dicantumkan dalam ijazah yang diberikan kepada lulusan perguruan tinggi. Pemberian gelar doktor kehormatan ditetapkan oleh senat akademik perguruan tinggi. keagamaan. (1) Pencantuman jenis. kebudayaan. Pasal 83 (3). atau seni dan digunakan dengan mencantumkan atau menuliskan Dr (HC) di depan nama pemilik serta hanya dipergunakan dalam upacara akademik. Ketentuan tentang pemberian dan pengukuhan gelar doktor kehormatan diatur oleh senat akademik perguruan tinggi masing-masing. Bidang keahlian sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditentukan berdasarkan bidang studi atau kelompok bidang studi. Menteri atau Menteri Agama sesuai kewenangan masing-masing menetapkan kesetaraan ijazah perguruan tinggi luar negeri dengan ijazah dan gelar perguruan tinggi Indonesia yang memenuhi Standar Nasional Pendidikan.

(6) Akreditasi wajib bagi setiap program studi dan/atau satuan pendidikan tinggi yang dilaksanakan oleh Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi atau lembaga mandiri lain yang memenuhi persyaratan. b. BAB IV PENYELENGGARAAN PENDIDIKAN NONFORMAL Bagian Kesatu Fungsi dan Tujuan 76461668.Bagian Kelima Penjaminan Mutu Pasal 85 (1) Penjaminan mutu dilakukan oleh setiap perguruan tinggi untuk memenuhi Standar Nasional Pendidikan jenjang pendidikan tinggi secara konsisten dan berkelanjutan sebagai wujud akuntabilitas publik perguruan tinggi kepada para pemangku kepentingan. (5) Kelayakan sebagaimana dimaksud pada ayat (4) diukur atas dasar mutu sebagaimana dimaksud pada ayat (3). Mutu sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) dijamin dengan memperhatikan: a.doc 59 . dan tujuan perguruan tinggi secara nyata. pelaksanaan visi. (4) Keberhasilan penjaminan mutu diukur dengan akreditasi yang menentukan kelayakan program dan/atau satuan pendidikan tinggi. ketanggapan perguruan tinggi terhadap aspirasi pihak-pihak yang berkepentingan. dan kebutuhan tinggi dan (2) (3) dengan d. bagi perguruan tinggi yang memiliki komitmen untuk bertaraf internasional. c. misi. Penjaminan mutu dilakukan secara berkelanjutan oleh perguruan itu sendiri dan dapat dibantu oleh lembaga lain. kesesuaian penyelenggaraan pendidikan Standar Nasional Pendidikan. kesesuaian penyelenggaraan pendidikan tinggi dengan standar mutu internasional.

sikap dan kecakapan hidup untuk mengembangkan diri. f. sikap wirausaha. lembaga kursus. c. Pendidikan nonformal bertujuan untuk membentuk manusia yang memiliki kecakapan hidup. g. e.doc . dan/atau melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi dalam rangka mewujudkan tujuan pendidikan nasional. mengembangkan profesi. majelis taklim. pusat kegiatan belajar masyarakat. keterampilan. dan kompetensi untuk bekerja dalam bidang tertentu. penambah.Pasal 86 (1) Pendidikan nonformal berfungsi sebagai pengganti. b. dan/atau pelengkap pendidikan formal bagi warga masyarakat yang memerlukan layanan pendidikan untuk mengembangkan potensinya dengan penekanan pada penguasaan pengetahuan dan keterampilan fungsional. d. serta pengembangan sikap dan kepribadian profesional dalam rangka mendukung pendidikan sepanjang hayat. berusaha mandiri dan/atau melanjutkan pendidikan ke tingkat 60 76461668. Bagian Kedua Bentuk Satuan Pendidikan Pasal 87 Satuan pendidikan nonformal berbentuk: a. bekerja. lembaga pelatihan. (2) Paragraf 1 Lembaga Kursus dan Lembaga Pelatihan Pasal 88 (1) Lembaga kursus dan lembaga pelatihan menyelenggarakan pendidikan bagi warga masyarakat yang memerlukan bekal pengetahuan. keterampilan. kelompok belajar. taman penitipan anak (TPA). atau satuan pendidikan lain yang sejenis. kelompok bermain (KB). h.

oleh. menjadi pekerja/buruh dan/atau melanjutkan pendidikan ke tingkat yang lebih tinggi. (2) (2) (3) Majelis taklim sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diselenggarakan sesuai dengan peraturan perundang-undangan.yang lebih tinggi. bekerja dan/atau melanjutkan ke tingkat pendidikan yang lebih tinggi. Paragraf 2 Kelompok Belajar Pasal 89 (1) Kelompok belajar menyelenggarakan kegiatan untuk menampung dan memenuhi kebutuhan belajar sekelompok warga masyarakat yang belajar melalui jalur pendidikan nonformal. (2) Peserta didik pada lembaga kursus dan lembaga pelatihan adalah warga masyarakat yang memerlukan bekal untuk mengembangkan diri. bekerja dan/atau melanjutkan ke tingkat pendidikan yang lebih tinggi. dan untuk masyarakat. Paragraf 3 Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat Pasal 90 (1) Pusat kegiatan belajar masyarakat memfasilitasi penyelenggaraan berbagai program pendidikan nonformal untuk mewujudkan masyarakat gemar belajar dalam rangka mengakomodasi kebutuhannya akan pendidikan sepanjang hayat. Paragraf 4 Majelis Taklim Pasal 91 (1) Majelis taklim menyelenggarakan pembelajaran agama Islam untuk memenuhi berbagai kebutuhan belajar masyarakat pada jalur pendidikan nonformal. (2) Peserta didik pada kelompok belajar adalah warga masyarakat yang belajar untuk mengembangkan diri. Peserta didik pada pusat kegiatan belajar masyarakat adalah warga masyarakat yang belajar untuk mengembangkan diri.doc 61 . dan berazaskan prinsip dari. 76461668. Peserta didik pada majelis taklim adalah masyarakat muslim yang ingin belajar dan mendalami ajaran Islam dan untuk meningkatkan keimanan dan ketakwaan.

pendidikan keaksaraan. c. f. b. Paragraf 1 Pendidikan Kecakapan Hidup Pasal 94 (1) Pendidikan kecakapan hidup merupakan pendidikan yang memberikan kecakapan personal. pendidikan anak usia dini. e. Pendidikan kecakapan hidup berfungsi meningkatkan 62 (2) 76461668. serta pendidikan lainnya. (3) Peserta didik KB atau bentuk lain yang sederajat berusia 2 (dua) tahun sampai dengan 4 (empat) tahun. atau bentuk lain yang sejenis. pendidikan kecakapan hidup. dan kecakapan vokasional untuk bekerja. pendidikan kesetaraan. pendidikan kepemudaan. berusaha dan/atau hidup mandiri. Bagian Ketiga Program Pendidikan Pasal 93 Program pendidikan nonformal meliputi : a. kecakapan sosial. d. h. pendidikan keterampilan dan pelatihan kerja. pendidikan pemberdayaan perempuan. kelompok bermain (KB).Paragraf 5 Taman Penitipan Anak dan Kelompok Bermain Pasal 92 (1) Satuan pendidikan anak usia dini jalur nonformal berbentuk taman penitipan anak (TPA). kecakapan intelektual.doc . g. (2) Peserta didik TPA atau bentuk lain yang sederajat berusia sejak lahir sampai dengan berusia 6 (enam) tahun.

dan stimulasi psikososial. Paragraf 2 Pendidikan Anak Usia Dini Pasal 95 (1) Pendidikan anak usia dini jalur nonformal merupakan seperangkat program pembelajaran yang dilaksanakan secara fleksibel berdasarkan tahap perkembangan anak. dan perkembangan anak. berusaha dan/atau hidup mandiri. serta kondisi dan kebutuhan masyarakat setempat.doc (4) 63 . gizi. minat. termasuk kesejahteraannya. (2) Program pembelajaran sebagaimana dimaksud pada ayat (1) bagi peserta didik yang berusia 1 (satu) sampai 6 (enam) tahun diselenggarakan dengan mengupayakan kesiapan belajar peserta didik untuk memasuki pendidikan dasar. sosial budaya. (3) Program pembelajaran sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilaksanakan secara terpadu dengan memperhatikan kebutuhan dan kepentingan terbaik anak serta memperhatikan kecerdasan anak. (6) Penyelenggaraan program pendidikan pada PAUD jalur nonformal dapat diintegrasikan dengan progam layanan lain yang sudah berkembang di masyarakat sebagai upaya untuk memperluas layanan PAUD kepada seluruh lapisan masyarakat.kecakapan personal. Pengembangan program pembelajaran sebagaimana dimaksud pada ayat (1) didasarkan pada prinsip bermain sambil belajar dan belajar seraya bermain dengan memperhatikan perbedaan bakat. usia. (5) Pengembangan program pembelajaran sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus mengintegrasikan kebutuhan peserta didik terhadap kesehatan. kecakapan intelektual dan kecakapan vokasional untuk menyiapkan peserta didik agar mampu bekerja. kecakapan sosial. (3) Pendidikan kecakapan hidup dapat dilaksanakan secara terintegrasi dengan program-program pendidikan nonformal lainnya dan/atau tersendiri. (7) Pengelompokan peserta didik untuk program pendidikan pada PAUD jalur nonformal disesuaikan dengan kebutuhan. Paragraf 3 Pendidikan Kepemudaan 76461668. dan kemampuan masing-masing peserta didik.

dan kewirausahaan. dan martabat b. kepemimpinan. berbangsa dan bernegara. wawasan kebangsaan. pecinta alam dan lingkungan hidup. etika dan kepribadian. kepeloporan. kepeloporan. pencegahan perempuan. etika dan kepribadian. Pendidikan kepemudaan berfungsi mengembangkan potensi pemuda dengan penekanan pada penguatan nilai keimanan dan ketaqwaan. dan estetika perempuan agar mampu memperoleh hak dasar kehidupan yang setara dan adil gender dalam kehidupan berkeluarga. Pendidikan kepemudaan mencakup berbagai bentuk pendidikan dan pelatihan di bidang keagamaan. bermasyarakat. organisasi pemuda. peningkatan akses dan partisipasi perempuan terhadap pendidikan.Pasal 96 (1) Pendidikan kepemudaan merupakan pendidikan yang diselenggarakan untuk mempersiapkan kader pemimpin bangsa. harkat. kebangsaan. (2) (3) (4) (2) Pendidikan pemberdayaan perempuan berfungsi meningkatkan kemampuan perempuan dalam pengembangan potensi diri. sikap kewirausahaan. estetika. nilai. seni dan budaya. dan c. (3) Pendidikan pemberdayaan perempuan bertujuan untuk: a. 76461668. sikap. kecakapan hidup. ilmu pengetahuan dan teknologi. kedudukan. palang merah. serta kecakapan hidup bagi pemuda sebagai kader pemimpin bangsa. ilmu pengetahuan dan teknologi. Peserta didik pendidikan kepemudaan adalah warga masyarakat yang berusia antara 18 (delapan belas) sampai dengan 35 (tiga puluh lima) tahun. Paragraf 4 Pendidikan Pemberdayaan Perempuan Pasal 97 (1) Pendidikan pemberdayaan perempuan merupakan pendidikan untuk mengangkat harkat dan martabat perempuan. kesehatan dan keolahragaan.doc terhadap pelanggaran hak-hak dasar 64 . peningkatan perempuan. kepanduan/kepramukaan. wawasan.

(2) (3) Peserta didik pendidikan keaksaraan adalah warga masyarakat usia 15 (lima belas) tahun ke atas yang belum dapat membaca. berhitung dan/atau berkomunikasi dalam bahasa Indonesia. berbahasa Indonesia dan berpengetahuan dasar untuk meningkatkan kualitas hidupnya.doc . menulis. terintegrasi dengan Paragraf 6 Pendidikan Keterampilan dan Pelatihan Kerja Pasal 99 (1) Pendidikan keterampilan dan pelatihan kerja dilaksanakan untuk meningkatkan kemampuan peserta didik dengan penekanan pada penguasaan keterampilan fungsional yang sesuai kebutuhan dunia kerja atau kebutuhannya untuk menjadi manusia produktif. (4) Pendidikan keaksaraan dilaksanakan pendidikan kecakapan hidup. berhitung.(4) Ketentuan lebih lanjut mengenai pendidikan pemberdayaan perempuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) diatur dengan Peraturan Menteri. menulis. (3) Ketentuan mengenai pendidikan keterampilan dan pelatihan 65 76461668. berhitung dan berkomunikasi dalam bahasa Indonesia kepada peserta didik. menulis. Pendidikan keaksaraan berfungsi memberikan kemampuan dasar membaca. yang dapat dimanfaatkan dalam kehidupan sehari-hari. Paragraf 5 Pendidikan Keaksaraan Pasal 98 (1) Pendidikan keaksaraan merupakan pendidikan bagi warga masyarakat yang buta aksara latin agar mereka dapat membaca. (2) Pendidikan keterampilan dan pelatihan kerja berfungsi untuk meningkatkan dan mengembangkan kemampuan peserta didik dengan penekanan pada penguasaan keterampilan fungsional serta pengembangan sikap dan kepribadian profesional sesuai dengan kebutuhan dunia kerja atau kebutuhannya untuk menjadi manusia produktif.

Peserta didik program Paket B merupakan anggota masyarakat yang telah lulus program Paket A atau SD/MI yang berminat menempuh pendidikan setara SMP/MTs. dan SMA/MA yang mencakup program Paket A. SMP/MTs. Paragraf 7 Pendidikan Kesetaraan Pasal 100 (1) Pendidikan kesetaraan merupakan program pendidikan nonformal yang menyelenggarakan pendidikan umum setara SD/MI. yang menekankan pada pengetahuan dan keterampilan fungsional serta sikap dan kepribadian profesional. Paket B. Program Paket B berfungsi memberikan pendidikan umum setara SMP/MTs.kerja untuk memperoleh. meningkatkan dan/atau mengembangkan kompetensi tenaga kerja dilaksanakan sesuai dengan peraturan perundang-undangan. terintegrasi dengan (4) (5) (6) (7) (8) (9) Pendidikan kesetaraan dilaksanakan pendidikan kecakapan hidup. yang menekankan pada pengetahuan dan keterampilan fungsional serta sikap dan kepribadian profesional. (3) Program Paket A berfungsi memberikan pendidikan umum setara SD/MI. Peserta didik program Paket A merupakan anggota masyarakat yang berminat menempuh pendidikan setara SD/MI. Program Paket C berfungsi memberikan pendidikan umum setara SMA/MA. Bagian Ketiga (keempat) Penyetaraan Hasil Pendidikan Pasal 101 76461668.doc 66 . kesetaraan berfungsi sebagai dasar dan menengah pada layanan jenjang jalur pendidikan (2) Pendidikan pendidikan nonformal. Peserta didik program Paket C merupakan anggota masyarakat yang telah lulus program Paket B atau SMP/MTs yang berminat menempuh pendidikan setara SMA/MA. dan Paket C. yang menekankan pada pengetahuan dan keterampilan fungsional serta sikap dan kepribadian profesional.

anggota keluarga. dengan mengacu pada Standar Nasional Pendidikan. estetika. menanamkan nilai budaya. (2) Proses penilaian penyetaraan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan melalui ujian sesuai yang dipersyaratkan dalam Standar Nasional Pendidikan dan dinyatakan lulus setara dengan lulusan satuan pendidikan formal. etika dan kepribadian. (4) Untuk penempatan pada tingkat dalam satuan pendidikan. hasil pendidikan nonformal diakui sama dengan hasil satuan atau program pendidikan formal melalui tes penempatan dan/atau penilaian portofolio oleh satuan pendidikan formal yang bersangkutan. serta meningkatkan pengetahuan dan keterampilan peserta didik dalam rangka mencapai tujuan pendidikan nasional dan tujuan pendirian Negara Kesatuan Republik Indonesia. (2) Pendidikan informal mencakup pendidikan yang dilakukan oleh keluarga atau lingkungan berbentuk kegiatan belajar secara mandiri. (3) Pengakuan hasil pendidikan nonformal dalam bidang tertentu sebagai pengganti mata pelajaran/mata kuliah dilakukan melalui penilaian terhadap bukti penguasaan kompetensi tertentu yang diperoleh dari lembaga pendidikan nonformal. nilai moral. (5) Ketentuan lebih lanjut mengenai penilaian penyetaraan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2). dan tes penempatan dan/atau penilaian portofolio sebagaimana dimaksud pada ayat (4) diatur dengan Peraturan Menteri. (3) Pendidikan yang dilakukan oleh keluarga mencakup pendidikan yang dilakukan oleh orang tua. 76461668. pengakuan hasil pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (3). BAB V PENYELENGGARAAN PENDIDIKAN INFORMAL Pasal 102 (1) Pendidikan informal bertujuan memberikan keyakinan agama.(1) Hasil pendidikan nonformal dapat dihargai setara dengan hasil satuan atau program pendidikan formal setelah melalui proses penilaian penyetaraan oleh lembaga yang ditunjuk oleh Pemerintah atau pemerintah daerah.doc 67 . dan/atau perseorangan yang dilibatkan dalam proses belajar secara mandiri.

keluarga. anggota masyarakat. (5) Pendidikan informal dilaksanakan secara bertanggung jawab.doc 68 . dengan mengacu pada Standar Nasional Pendidikan. Pasal 104 (1) Hasil pendidikan informal dapat diakui sama dengan hasil pendidikan formal setelah lulus ujian pada satuan pendidikan formal atau lembaga yang ditunjuk oleh Pemerintah atau pemerintah daerah. dengan mengacu pada Standar Nasional Pendidikan. lingkungan sosial.(4) Pendidikan yang dilakukan oleh lingkungan mencakup pendidikan yang dilakukan oleh masyarakat adat. (2) Pendidik pada pendidikan informal terdiri dari anggota keluarga. atau lingkungan alam. (2) Hasil pendidikan informal dapat diakui sama dengan hasil pendidikan nonformal setelah lulus ujian atau uji kompetensi pada satuan pendidikan nonformal atau lembaga yang ditunjuk oleh Pemerintah atau pemerintah daerah. (7) Pasal 103 (1) Peserta didik pada pendidikan informal adalah setiap warga masyarakat. (3) Untuk penempatan pada tingkat dalam satuan pendidikan formal atau nonformal. Pemerintah dapat melarang penyampaian informasi atau hiburan sebagaimana dimaksud pada ayat (5) yang tidak sesuai dengan tujuan pendidikan nasional dan/atau tujuan pendirian Negara Kesatuan Republik Indonesia. pendidikan oleh media massa. 76461668. (3) Penyelenggaraan pembelajaran pendidikan informal menjadi tanggung jawab setiap orang. dan lain-lain pendidikan yang tidak termasuk dalam jalur formal dan nonformal. (6) Penyampaian informasi atau hiburan oleh media masa atau pihak lain kepada masyarakat harus secara serius mempertimbangkan implikasi pendidikannya. pendidikan alam melalui interaksi dengan alam. pendidikan masyarakat melalui berbagai kegiatan hiburan. dan/atau masyarakat. pendidikan sosial dan budaya melalui interaksi dengan masyarakat. hasil pendidikan informal diakui sama melalui tes penempatan dan/atau penilaian portofolio oleh satuan pendidikan formal atau nonformal yang bersangkutan.

76461668. jenjang. belajar tuntas. BAB VI PENYELENGGARAAN PENDIDIKAN JARAK JAUH Pasal 106 (1) Pendidikan jarak jauh berfungsi memberikan layanan pendidikan kepada kelompok masyarakat yang tidak dapat mengikuti pendidikan secara tatap muka atau reguler.doc (2) (2) (3) 69 . Hasil uji kompetensi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) digunakan untuk penempatan sebagai peserta didik pada tingkat satuan atau program pendidikan formal atau nonformal yang bersangkutan.(4) Pengakuan sama terhadap hasil pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) digunakan untuk menentukan: a. b. serta tes penempatan dan/atau penilaian portofolio sebagaimana dimaksud pada ayat (3) diatur dengan Peraturan Menteri. (5) Ketentuan lebih lanjut mengenai ujian atau uji kompetensi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2). Pendidikan jarak jauh mempunyai karakteristik terbuka. serta meningkatkan mutu dan relevansi pendidikan secara lebih efisien. Pasal 107 (1) Pendidikan jarak jauh dapat diselenggarakan pada semua jalur. dan jenis pendidikan. Pendidikan jarak jauh bertujuan meningkatkan dan memeratakan akses masyarakat terhadap pendidikan. status peserta didik pada satuan pendidikan formal atau nonformal tertentu yang dapat dijadikan dasar untuk melanjutkan pendidikan ke tingkat atau jenjang pada satuan atau program pendidikan yang lebih tinggi. Pasal 105 (1) Peserta didik pendidikan informal dapat mengajukan uji kompetensi untuk menentukan tingkat pendidikan pada satuan atau program pendidikan formal atau nonformal yang terakreditasi. dan kesesuaian persyaratan pada bidang pekerjaan tertentu. dan berbasis teknologi pendidikan. belajar mandiri.

(2) Penyelenggaraan pendidikan jarak jauh sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilaksanakan secara terpisah dari pendidik secara spasial. Pasal 108 (1) (2) Pengorganisasian pendidikan jarak jauh dapat diselenggarakan dalam modus tunggal. atau satuan pendidikan. Pengorganisasian pendidikan jarak jauh modus tunggal sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berbentuk satuan pendidikan yang menyelenggarakan program pendidikan hanya secara jarak jauh. serta layanan penyediaan dan distribusi bahan ajar dengan sistem operasional berbasis teknologi informasi dan komunikasi. Cakupan pendidikan berbasis mata pelajaran sebagaimana dimaksud pada ayat (1) terbatas untuk 1 (satu) atau beberapa mata pelajaran atau mata kuliah. Pengorganisasian modus ganda sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berbentuk satuan pendidikan yang menyelenggarakan program pendidikan baik secara tatap muka maupun jarak jauh. cakupan. terstruktur. dan terbimbing dengan menggunakan berbagai sumber belajar berbasis teknologi informasi dan komunikasi. dan ujian. Pasal 109 (1) Pendidikan jarak jauh dapat diselenggarakan dengan cakupan pendidikan berbasis mata pelajaran. praktik/praktikum. Cakupan pendidikan berbasis program studi/pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) terbatas untuk 1 (satu) program studi/pendidikan secara utuh. dan sistem operasional yang diterapkan. registrasi. program studi/pendidikan. tutorial.doc 70 . (3) (4) (5) Struktur organisasi satuan pendidikan jarak jauh ditentukan berdasarkan modus. ganda. Pengorganisasian modus konsorsium sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berbentuk jejaring penyelenggaraan pendidikan jarak jauh secara kolaboratif atau kerja sama secara lintas satuan pendidikan dengan lingkup wilayah nasional dan/atau internasional. (3) Pendidikan jarak jauh memberikan layanan administrasi. Cakupan pendidikan berbasis satuan pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) mencakup penyelenggaraan pendidikan (2) (3) (4) 76461668. atau konsorsium. belajar secara mandiri.

Pasal 110 (1) Sarana dan prasarana pendidikan pada satuan pendidikan jarak jauh harus berbasis teknologi komunikasi. informasi. (2)Pemerintah dan/atau pemerintah daerah memfasilitasi penyelenggaraan pendidikan jarak jauh dalam rangka penuntasan wajib belajar dan program pembangunan pendidikan sesuai kebutuhan daerah. 76461668. (3) Pengaturan lebih lanjut tentang penyelenggaraan pendidikan jarak jauh diatur dengan Peraturan Menteri. jaringan TV. Izin penyiaran radio/TV untuk penyelenggaraan pendidikan jarak jauh diberikan oleh menteri yang menangani urusan pemerintahan di bidang penyiaran atas usul Menteri. (2) Penyelenggara satuan pendidikan jarak jauh berkewajiban untuk secara mandiri mengembangkan sistem operasional dengan dukungan jaringan radio. dan media lain serta sesuai dengan Standar Nasional Pendidikan dan standar keamanan komunikasi dan informasi. dan/atau jaringan komunikasi dan informasi lainnya. Pasal 111 (3) (1) Pendidikan jarak jauh dilaksanakan dengan mengacu pada Standar Nasional Pendidikan.doc 71 . jaringan komputer.jarak jauh secara utuh pada 1 (satu) satuan pendidikan.

emosional. jenjang. dan/atau mengalami bencana alam. Pasal 115 (1) Pendidikan khusus bagi peserta didik berkelainan dapat diselenggarakan pada semua jalur. emosional. sosial. masyarakat adat yang terpencil. dan tidak mampu dari segi ekonomi. mental. Pasal 113 Pendidikan layanan khusus merupakan pendidikan bagi peserta didik di daerah terpencil atau terbelakang.BAB VII PENYELENGGARAAN PENDIDIKAN KHUSUS DAN PENDIDIKAN LAYANAN KHUSUS Bagian Kesatu Umum Pasal 112 Pendidikan khusus merupakan pendidikan bagi peserta didik yang memiliki tingkat kesulitan dalam mengikuti proses pembelajaran karena kelainan fisik. mental. intelektual. Bagian Kedua Pendidikan Khusus Paragraf 1 Pendidikan Khusus bagi Peserta Didik Berkelainan Pasal 114 (1) Pendidikan khusus bagi peserta didik berkelainan berfungsi memberikan pelayanan pendidikan khusus bagi peserta didik yang memiliki tingkat kesulitan dalam mengikuti proses pembelajaran karena kelainan fisik.doc 72 . (2) Pendidikan khusus bagi peserta didik berkelainan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) bertujuan untuk mengembangkan potensi peserta didik seoptimal mungkin dalam rangka mencapai tujuan pendidikan nasional. bencana sosial. serta memiliki potensi kecerdasan dan/atau bakat istimewa. dan/atau sosial. (2) Penyelenggaraan pendidikan khusus dapat dilakukan melalui 76461668. intelektual. dan jenis pendidikan.

satuan pendidikan khusus, program pendidikan terpadu, atau program pendidikan inklusi. (3) Ketentuan lebih lanjut mengenai program pendidikan terpadu dan program pendidikan inklusi sebagaimana dimaksud pada ayat (2) diatur dengan Peraturan Menteri. Pasal 116 (6) Pemerintah menyelenggarakan sekurang-kurangnya 1 (satu) satuan pendidikan khusus untuk setiap jenis kelainan yang digunakan sebagai model ideal pendidikan khusus bagi peserta didik yang berkelainan. (7) Pemerintah kabupaten/kota sekurangkurangnya menunjuk 1 (satu) satuan pendidikan untuk menyelenggarakan pendidikan khusus secara inklusif apabila pada kabupaten/kota tersebut belum ada satu satuan pendidikan khusus. Pasal 117 Pendidikan khusus bagi peserta didik berkelainan pada jalur formal diselenggarakan melalui satuan pendidikan anak usia dini, satuan pendidikan dasar, satuan pendidikan menengah, dan satuan pendidikan tinggi. Pasal 118 (1) Satuan pendidikan khusus bagi peserta didik berkelainan untuk pendidikan anak usia dini dapat berbentuk Taman Penitipan Anak Luar Biasa (TPALB), Kelompok Bermain Luar Biasa (KBLB), atau Taman Kanak-kanak Luar Biasa (TKLB). (2) Satuan pendidikan khusus bagi peserta didik berkelainan pada jenjang pendidikan dasar terdiri atas: a. Sekolah Dasar Luar Biasa (SDLB), Madrasah Ibtidaiyah Luar Biasa (MILB), atau bentuk lain yang sederajat; b. Sekolah Menengah Pertama Luar Biasa (SMPLB), Madrasah Tsanawiyah Luar Biasa (MTsLB), atau bentuk lain yang sederajat. (3) Satuan pendidikan khusus bagi peserta didik berkelainan pada jenjang pendidikan menengah adalah Sekolah Menengah Atas Luar Biasa (SMALB), Madrasah Aliyah Luar Biasa (MALB), atau
76461668.doc

73

bentuk lain yang sederajat. (4) Penyelenggaraan satuan pendidikan khusus dapat menggunakan sistem unit. (5) Satuan pendidikan khusus untuk peserta didik berkelainan dapat menyelenggarakan pendidikan untuk 1 (satu) atau beberapa jenis peserta didik berkelainan.

Pasal 119 (1) Peserta didik pendidikan khusus bagi peserta didik berkelainan yaitu peserta didik yang memiliki kelainan fisik, emosional, mental, intelektual, dan/atau sosial. (2) Kelainan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat berupa: a. tunanetra; b. tunarungu; c. tunawicara; d. tunagrahita; e. tunadaksa; f. tunalaras; g. berkesulitan belajar; h. lamban belajar; i. autistik; j. gangguan motorik;

k. korban penyalahgunaan narkotika, obat terlarang, dan zat adiktif lainnya; dan l. kelainan lainnya.

(3) Kelainan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dapat juga berwujud gabungan dari 2 (dua) atau lebih jenis-jenis kelainan di atas yang disebut tunaganda.

Paragraf 2 Pendidikan Khusus bagi Peserta Didik yang Memiliki
76461668.doc

74

Potensi Kecerdasan dan/atau Bakat Istimewa Pasal 120 (1) Pendidikan khusus bagi peserta didik yang memiliki potensi kecerdasan dan/atau bakat istimewa berfungsi mengembangkan potensi keunggulan peserta didik menjadi prestasi nyata sesuai dengan karakteristik dan kebutuhannya, dalam rangka mencapai tujuan pendidikan nasional. (2) Pendidikan khusus bagi peserta didik yang memiliki potensi kecerdasan dan/atau bakat istimewa bertujuan: a. membentuk manusia berkualitas yang memiliki kecerdasan spiritual, emosional, sosial, dan intelektual serta memiliki ketahanan dan kebugaran fisik; b. membentuk manusia berkualitas yang kompeten dalam pengetahuan dan seni, berkeahlian dan berketerampilan, menjadi anggota masyarakat yang bertanggung jawab, serta untuk mempersiapkan peserta didik mengikuti pendidikan lebih lanjut dalam rangka mewujudkan tujuan pendidikan nasional. Pasal 121 (1) Pendidikan khusus bagi peserta didik yang memiliki potensi kecerdasan dan/atau bakat istimewa dapat diselenggarakan pada satuan pendidikan SD/MI, SMP/MTs, SMA/MA, SMK/MAK, atau bentuk lain yang sederajat. (2) Program pendidikan khusus bagi peserta didik yang memiliki potensi kecerdasan dan/atau bakat istimewa dapat berupa: a. program percepatan; b. program pengayaan; atau c. gabungan program percepatan dan program pengayaan. (3) Penyelenggaraan program pendidikan khusus bagi peserta didik yang memiliki potensi kecerdasan dan/atau bakat istimewa sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dapat dilakukan dalam bentuk: a. kelas inklusi; b. kelas khusus; c. satuan pendidikan khusus; atau d. satuan pendidikan inklusi.
76461668.doc

75

(4)

Ketentuan lebih lanjut mengenai program pendidikan khusus bagi peserta didik yang memiliki potensi kecerdasan dan/atau bakat istimewa sebagaimana dimaksud pada ayat (2) diatur dengan Peraturan Menteri. Pasal 122

Pemerintah menyelenggarakan sekurang-kurangnya 1 (satu) satuan pendidikan khusus untuk dipakai sebagai model ideal pendidikan khusus bagi peserta didik yang memiliki kecerdasan dan/atau bakat istimewa. Pasal 123 (1) Peserta didik yang memiliki potensi kecerdasan dan/atau bakat istimewa adalah peserta didik yang secara ekstrim memiliki potensi jauh di atas rata-rata dalam salah satu atau lebih kemampuan: a. b. c. d. e. akademik; seni; olahraga; kepemimpinan; dan lainnya yang relevan. (2) Penetapan peserta didik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan oleh ahli yang relevan.

Bagian Ketiga Pendidikan Layanan Khusus

Pasal 121 (1) Pendidikan layanan khusus berfungsi memberikan kesempatan untuk memperoleh pendidikan kepada peserta didik di daerah terpencil atau terbelakang, daerah perbatasan, daerah kepulauan kecil, masyarakat adat yang terpencil, dan/atau mengalami bencana alam, bencana sosial, dan tidak mampu dari segi ekonomi dalam rangka mencapai tujuan pendidikan nasional. (2) Pendidikan layanan khusus bertujuan membentuk manusia berkualitas secara spiritual, emosional, intelektual, dan fisik, hidup sehat; memperluas pengetahuan dan seni, memiliki

76461668.doc

76

jauh. satuan pendidikan kecil untuk kelompok bermain. g.doc 77 . Pasal 123 76461668.keahlian dan keterampilan. satuan pendidikan terbuka untuk kelompok bermain. dan/atau c. Pasal 122 (1) Pendidikan layanan khusus dapat diselenggarakan pada jalur pendidikan formal dan nonformal. serta mempersiapkan peserta didik untuk mengikuti pendidikan lebih lanjut dalam rangka mewujudkan pendidikan nasional. dan bentuk satuan pendidikan nonformal lainnya. taman penitipan anak. (2) Penyelenggaraan pendidikan layanan khusus pendidikan formal dapat dilaksanakan melalui: a. kursus dan pelatihan. dan bentuk satuan pendidikan nonformal lainnya. f. dan/atau bentuk lain yang tidak bertentangan dengan ketentuan peraturan perundangan-undangan yang berlaku. kursus dan pelatihan. kelompok belajar. e. taman penitipan anak. madrasah kecil. d. b. kelompok belajar. c. menjadi anggota masyarakat yang bertanggung jawab. kelompok belajar. khusus pada jalur penyelenggaraan sekolah atau penyelenggaraan pendidikan jarak penyelenggaraan sekolah atau penyelenggaraan pada jalur atau sekolah (3) Penyelenggaraan pendidikan layanan pendidikan nonformal dapat berbentuk: a. b. dan bentuk satuan pendidikan nonformal lainnya. program tugas belajar ke daerah lain yang pelayanan pendidikannya dapat dilaksanakan secara normal. madrasah terbuka. kursus dan pelatihan. taman penitipan anak. satuan pendidikan darurat untuk kelompok bermain. madrasah darurat. gabungan dari 2 (dua) atau lebih dari huruf a sampai dengan huruf e.

(2)Pemerintah menunjuk atau mendirikan madrasah pada jenjang pendidikan dasar dan menengah untuk dikembangkan menjadi satuan pendidikan yang bertaraf internasional. peserta didik di daerah kepulauan kecil. BAB VIII PENYELENGGARAAN PENDIDIKAN BERTARAF INTERNASIONAL DAN PENDIDIKAN BERBASIS KEUNGGULAN LOKAL Pasal 125 (1) Pemerintah dan/atau pemerintah daerah menyelenggarakan sekurang-kurangnya 1 (satu) satuan pendidikan dasar dan menengah untuk dikembangkan menjadi satuan pendidikan yang bertaraf internasional. peserta didik yang berasal dari keluarga yang tidak mampu dari segi ekonomi. Masyarakat membantu Pemerintah dan pemerintah dalam penyelenggaraan pendidikan layanan khusus. Pasal 124 daerah (3) (1) Peserta didik yang memerlukan pendidikan layanan khusus adalah: a.(1) (2) Pemerintah dan pemerintah pendidikan layanan khusus. d. peserta didik di daerah terpencil dan/atau terbelakang. (4)Dalam hal pemerintah kabupaten/kota tidak menyelenggarakan 76461668. peserta didik yang berada di daerah yang mengalami bencana alam dan/atau bencana sosial. b.doc 78 . dan f. peserta didik di daerah perbatasan. c. daerah menyelenggarakan Pembagian beban pembiayaan pendidikan layanan khusus sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur lebih lanjut dalam Peraturan Menteri. e. peserta didik dalam masyarakat adat yang terpencil. (3) Pemerintah kabupaten/kota menunjuk atau mendirikan sekurangkurangnya 1 (satu) satuan pendidikan dasar dan menengah untuk dikembangkan menjadi satuan pendidikan dasar dan menengah yang bertaraf internasional.

dan seni. serta menunjang pelestarian. (5)Dalam hal pemerintah kabupaten/kota dan pemerintah provinsi tidak menyelenggarakan satuan pendidikan dasar dan menengah untuk dikembangkan menjadi satuan pendidikan dasar dan menengah yang bertaraf internasional. teknologi. Pemerintah bersama pemerintah kabupaten/kota dan pemerintah provinsi wajib mendirikannya. Satuan pendidikan dasar dan menengah bertaraf internasional menghasilkan lulusan yang memiliki kemampuan dan daya saing di forum internasional. diterima bekerja pada lembaga internasional atau negara lain. b. Kemampuan dan daya saing lulusan di forum internasional sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditunjukkan dengan: diterima pada satuan pendidikan bertaraf internasional di dalam negeri atau satuan pendidikan di luar negeri yang terakreditasi atau yang diakui di negaranya. Pasal 126 (1) Satuan pendidikan dasar dan menengah bertaraf internasional diselenggarakan setelah memenuhi Standar Nasional Pendidikan yang diperkaya dengan standar pendidikan/standar kompetensi negara lain yang mempunyai keunggulan dalam bidang ilmu pengetahuan. dan pembangunan sumberdaya nasional. pengembangan. c. lulus sertifikasi internasional yang dikeluarkan oleh negara lain yang memiliki keunggulan tertentu dalam bidang ilmu pengetahuan.satuan pendidikan dasar dan menengah untuk dikembangkan menjadi satuan pendidikan dasar dan menengah yang bertaraf internasional. dan seni. pemerintah provinsi bersama pemerintah kabupaten/kota wajib mendirikannya. teknologi. 76461668.doc 79 . Pengembangan dengan mengacu standar pendidikan di negara yang memiliki keunggulan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan melalui cara penyesuaian atau penambahan terhadap unsur-unsur tertentu yang sudah ada atau belum ada dalam Standar Nasional Pendidikan. (6)Masyarakat dapat menyelenggarakan satuan pendidikan pada semua jenjang pendidikan untuk dikembangkan menjadi satuan pendidikan yang bertaraf internasional setelah memperoleh izin dari Pemerintah atau pemerintah kabupaten/kota sesuai kewenangannya. dan/atau (2) (3) (4) a.

penilaian. SMK. c. SMA. Pasal 127 Satuan pendidikan dasar dan menengah yang dapat dikembangkan menjadi bertaraf internasional harus memenuhi persyaratan sebagai berikut: a. MA. melaksanakan kurikulum sesuai standar isi yang diperkaya dengan kurikulum negara lain yang mempunyai keunggulan tertentu dalam bidang ilmu pengetahuan. teknologi. dan teknologi. dan seni sehingga peserta didik memiliki akses untuk mengikuti ujian akhir di negara tersebut.doc 80 . f. termasuk yang berkaitan dengan kurikulum. teknologi. g. dan perpustakaan. melaksanakan proses pembelajaran yang diperkaya dengan model proses pembelajaran di negara lain yang mempunyai keunggulan tertentu dalam bidang ilmu pengetahuan. memperoleh akreditasi A dari lembaga akreditasi dalam negeri. proses pembelajaran. d. i. matematika. h. memenuhi standar penilaian yang diperkaya dengan sistem penilaian pendidikan di negara lain yang mempunyai keunggulan tertentu dalam bidang ilmu pengetahuan. menerapkan standar kelulusan yang lebih tinggi dari standar kompetensi lulusan. menerapkan sistem administrasi pendidikan berbasis teknologi informasi dan komunikasi.d. memberlakukan bahasa inggris atau bahasa lain yang sering digunakan dalam forum internasional sekurangkurangnya untuk pembelajaran kelompok mata pelajaran sains. j. menerapkan Sistem Kredit Semester (SKS) untuk SMP. b. dan MAK. dan seni. mempunyai pendidik yang memiliki sertifikat pendidik dengan kualifikasi akademik magister (S2) dari perguruan tinggi terakreditasi dalam bidang kependidikan atau bidang studi yang relevan dengan mata pelajaran atau rumpun 76461668. teknologi. MTs. mampu berperan aktif dan berkomunikasi langsung di forum internasional. e. sudah beroperasi sekurang-kurangnya 3 tahun sejak didirikan dan telah meluluskan peserta didik. dan seni.

ruang pendidik. 2). memiliki jiwa kepemimpinan dan kewirausahaan. 10% untuk SD. atau guru bimbingan dan konseling/konselor. bahan habis pakai. memiliki kepala satuan pendidikan yang memiliki sertifikat pendidik dengan kualifikasi akademik magister (S2) dari perguruan tinggi terakreditasi dalam bidang kependidikan atau bidang studi yang relevan dengan mata pelajaran atau rumpun mata pelajaran yang diampunya. ruang laboratorium. n. media pendidikan. telah menempuh pelatihan kepala satuan pendidikan dari lembaga pelatihan yang diakui oleh Pemerintah atau pemerintah daerah. ruang tata usaha.MA. atau memiliki sertifikat kepala sekolah/madrasah. ruang perpustakaan. atau yang sederajat. tempat berkreasi. peralatan pendidikan. ruang kelas. ruang pimpinan satuan pendidikan. dan k. atau yang sederajat. mempunyai prasarana yang sekurang-kurangnya meliputi lahan. buku dan sumber belajar lainnya. atau guru kelas. atau yang SMK. atau guru bimbingan dan konseling/konselor. tempat bermain. ruang unit produksi. atau yang sederajat. 30% untuk SMA. mempunyai sarana yang sekurang-kurangnya meliputi perabot. mampu berbahasa Inggris. instalasi daya dan jasa.MAK. dan ruang/tempat lain yang diperlukan untuk menunjang proses pembelajaran yang teratur dan berkelanjutan. 3). tempat berolahraga. ruang bengkel kerja. MI. khusus sarana dan prasarana yang berwujud: 1). MTs. 20% untuk SMP. sederajat. sekurangkurangnya: 1).doc 81 . memiliki visi internasional. sarana pembelajaran dilengkapi dengan fasilitas teknologi 76461668. m. atau bidang nonkependidikan yang relevan. l. 3). seta perlengkapan lain yang diperlukan untuk menunjang proses pembelajaran yang teratur dan berkelanjutan. dan 4). ruang kantin. atau bidang nonkependidikan yang relevan. tempat beribadah. dan/atau bahasa asing lainnya secara aktif.mata pelajaran yang diampunya. sekurang-kurangnya: 1). atau guru kelas. 2).

dan Bahasa Indonesia. Pendidikan Kewarganegaraan. dan p. Satuan pendidikan berbasis keunggulan lokal sebagaimana dimaksud ayat (1) merupakan satuan pendidikan yang dikembangkan sesuai dengan keunggulan potensi daerah/karakteristik daerah dan sosial budaya masyarakat setempat. memenuhi standar pembiayaan dengan menerapkan model pembiayaan yang telah diaudit oleh akuntan publik dengan memperoleh predikat wajar tanpa syarat.doc . sarana dan prasarana untuk pemeliharaan kesehatan dan pengembangan diri dilengkapi dengan klinik. o. Dalam hal pemerintah kabupaten/kota tidak menyelenggarakan sekolah pada jenjang pendidikan dasar dan 82 (2) (3) (4) (5) 76461668. fasilitas multi media. sekurang-kurangnya untuk mata pelajaran Pendidikan Agama. Pasal 128 (1) Satuan pendidikan dasar dan menengah bertaraf internasional wajib menggunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa pengantar. Pemerintah kabupaten/kota menunjuk atau mendirikan sekolah pada jenjang pendidikan dasar dan pendidikan menengah untuk dikembangkan menjadi satuan pendidikan yang berbasis keunggulan lokal. dan 2). fasilitas olah raga. perpustakaan dilengkapi dengan sarana teknologi informasi dan komunikasi yang memberikan akses ke sumber pembelajaran di seluruh dunia. dan ruang unjuk seni budaya. Pasal 129 (1) Pemerintah dan pemerintah kabupaten/kota menyelenggarakan satuan pendidikan jenjang pendidikan dasar dan pendidikan menengah untuk dikembangkan menjadi satuan pendidikan yang berbasis keunggulan lokal. Pemerintah menunjuk atau mendirikan madrasah pada jenjang pendidikan dasar dan pendidikan menengah untuk dikembangkan menjadi satuan pendidikan yang berbasis keunggulan lokal.informasi dan komunikasi di setiap ruang kelas.

memperoleh akreditasi dari lembaga akreditasi dalam negeri. dan promosi keunggulan lokal. pengembangan. (6) Dalam hal pemerintah kabupaten/kota dan pemerintah provinsi tidak menyelenggarakan satuan pendidikan dasar dan menengah untuk dikembangkan menjadi satuan pendidikan dasar dan menengah berbasis keunggulan lokal. Pasal 130 (1) Satuan pendidikan dasar dan menengah berbasis keunggulan lokal diselenggarakan setelah memenuhi Standar Nasional Pendidikan yang diperkaya dan dikembangkan sesuai dengan potensi daerah/karakteristik daerah dan sosial budaya masyarakat setempat. (2) Satuan pendidikan dasar dan menengah berbasis keunggulan lokal menghasilkan lulusan yang memiliki kemampuan mengolah dan/atau mengembangkan sumber daya lingkungan di daerahnya dan menghasilkan produk yang mempunyai nilai ekonomis serta menunjang pelestarian. sudah beroperasi sekurang-kurangnya 3 tahun sejak didirikan dan telah meluluskan peserta didik. 76461668. b. Pasal 131 Satuan pendidikan dasar dan menengah yang dapat dikembangkan menjadi berbasis keunggulan lokal harus memenuhi persyaratan sebagai berikut: a. Masyarakat dapat menyelenggarakan satuan pendidikan pada semua jenjang pendidikan untuk dikembangkan menjadi satuan pendidikan yang berbasis keunggulan lokal setelah memperoleh izin dari Pemerintah atau pemerintah kabupaten/kota sesuai kewenangannya. (3) Pengembangan potensi daerah/karakteristik daerah dan sosial budaya masyarakat setempat dilakukan melalui cara penyesuaian atau penambahan terhadap unsur-unsur tertentu yang sudah ada atau belum ada dalam Standar Nasional Pendidikan.doc (7) menerapkan sistem administrasi pendidikan berbasis 83 . Pemerintah bersama pemerintah kabupaten/kota dan pemerintah provinsi wajib mendirikannya.pendidikan menengah untuk dikembangkan menjadi satuan pendidikan berbasis keunggulan lokal. pemerintah provinsi bersama pemerintah kabupaten/kota wajib mendirikannya. c.

melaksanakan proses pembelajaran dengan memperhatikan potensi daerah/karakteristik daerah dan sosial budaya masyarakat setempat.teknologi informasi dan komunikasi. terpisah-beda sistem-tidak satu atap. mempunyai sarana dan prasarana pendidikan yang memadai dan relevan dalam mendukung terselenggaranya pendidikan berbasis keunggulan lokal. b.doc 84 . satuan pendidikan dasar. e. menerapkan standar kelulusan dengan keunggulan lokal yang lebih tinggi dari standar kompetensi lulusan. mempunyai pendidik yang memiliki keahlian relevan dengan mata pelajaran keunggulan lokal. dan perpustakaan. c. BAB IX PENYELENGGARAAN PENDIDIKAN OLEH LEMBAGA NEGARA LAIN DAN KERJASAMA SATUAN PENDIDIKAN INDONESIA DENGAN SATUAN PENDIDIKAN NEGARA LAIN Pasal 133 (1) Perwakilan negara asing di wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia dapat menyelenggarakan satuan pendidikan anak usia dini. dan keluar-masuk (entry-exit). f. penilaian. d. termasuk yang berkaitan dengan kurikulum. (2) Satuan pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tidak boleh menerima peserta didik warga negara Indonesia. dan/atau satuan pendidikan menengah bagi warga negaranya atas persetujuan Pemerintah. dan h. g. 76461668. d. terpisah-satu sistem-tidak satu atap. Pasal 132 Satuan pendidikan dasar dan menengah bertaraf internasional atau berbasis keunggulan lokal dapat diselenggarakan dengan model: a. proses pembelajaran. melaksanakan kurikulum sesuai standar isi yang diperkaya sesuai dengan potensi daerah/karakteristik daerah dan sosial budaya masyarakat setempat. terpadu-satu sistem-satu atap.

Dalam bekerja sama sebagaimana dimaksud pada ayat (2) pendidikan oleh lembaga pendidikan asing wajib mengikutsertakan sekurang-kurangnya 80% (delapan puluh persen) tenaga kependidikan warga negara Indonesia. Dalam bekerja sama sebagaimana dimaksud pada ayat (2). Pasal 135 (1) Bahasa pengantar utama pada satuan pendidikan yang diselenggarakan oleh lembaga pendidikan asing adalah bahasa Indonesia. Penyelenggaraan pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus bekerja sama dengan lembaga penyelenggara pendidikan Indonesia. Satuan pendidikan yang diselenggarakan oleh lembaga pendidikan asing wajib menerapkan sistem penggajian yang tidak diskriminatif bagi warga negara asing maupun warga negara Indonesia. Menteri memberikan izin setelah memperoleh (2) (3) (4) (5) (2) (3) (2) 76461668. Dalam hal penggunaan sistem pendidikan negara lain sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dalam disiplin ilmu agama. Pasal 136 (1) Pendidikan yang diselenggarakan oleh lembaga pendidikan asing sebagaimana dimaksud dalam Pasal 134 yang menggunakan sistem pendidikan negara lain yang diselenggarakan di wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia wajib memperoleh izin dari Menteri.doc 85 . Dalam bekerja sama sebagaimana dimaksud pada ayat (2) pendidikan asing wajib mengikutsertakan sekurang-kurangnya 30% (tiga puluh persen) pendidik warga negara Indonesia.Pasal 134 (1) Lembaga pendidikan asing yang terakreditasi atau yang diakui di negaranya dapat menyelenggarakan pendidikan di wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia sesuai dengan peraturan perundang-undangan. kepemilikan lembaga asing sebanyak-banyaknya 49% (empat puluh sembilan persen). Pendidik dan tenaga kependidikan warga negara asing pada satuan pendidikan yang diselenggarakan oleh lembaga pendidikan asing wajib menguasai bahasa Indonesia dan memahami budaya Indonesia.

Kerja sama akademik pada ayat (1) dapat berbentuk: a. Penyelenggaraan pendidikan oleh lembaga asing sebagaimana dimaksud dalam Pasal 134 dan Pasal 136 yang menerima peserta didik warga negara Indonesia wajib memberikan pendidikan agama. b. Pasal 137 (1). Warga negara Indonesia yang menjadi peserta didik pada satuan pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) wajib mengikuti Ujian Nasional. (2) (3) pertukaran guru dan/atau tenaga kependidikan. c.doc . dan bahasa Indonesia kepada peserta didik warga negara Indonesia. penyelenggaraan pertemuan ilmiah bersama.pertimbangan dari Menteri Agama. dan/atau bentuk-bentuk lain yang dianggap perlu. Pasal 138 (1) Satuan pendidikan anak usia dini Indonesia dapat menjalin kerja sama akademik dengan satuan pendidikan anak usia dini negara lain. Pendidikan agama sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diajarkan sesuai dengan agama yang dianut peserta didik dan diajarkan oleh pendidik yang seagama. (3). d. pemanfaatan bersama berbagai sumberdaya. Kerja sama penyelenggaraan pendidikan anak usia dini sebagaimana yang dimaksud pada ayat (3) pada tingkat Taman Kanak-kanak atau yang sederajat hanya dapat dilakukan oleh penyelenggara satuan pendidikan yang memiliki satuan pendidikan Taman Kanak-kanak atau yang sederajat berakreditasi A. Pasal 139 (1) Satuan pendidikan dasar atau satuan pendidikan menengah Indonesia dapat menjalin kerja sama akademik dengan satuan pendidikan sederajat negara lain. Kerja sama pendidikan anak usia dini sebagaimana dimaksud pada ayat (1) bertujuan untuk meningkatkan mutu program pendidikan anak usia dini. pendidikan kewarganegaraan. 86 76461668. (4) sebagaimana dimaksud (2).

program kembaran. pertukaran guru dan/atau tenaga kependidikan.doc 87 . (3) dasar atau pendidikan Kerja sama akademik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat berbentuk: a. pendidikan tinggi bertaraf 76461668. g. (4) Kerja sama satuan pendidikan dasar atau pendidikan menengah sebagaimana yang dimaksud pada ayat (3) hanya dapat dilakukan oleh satuan pendidikan dasar atau pendidikan menengah berakreditasi A. e. h. menyelenggarakan internasional. meningkatkan pembinaan dan/atau pelaksanaan program pendidikan tinggi. memperluas jaringan kemitraan untuk kepentingan satuan pendidikan. program pemindahan dan perolehan kredit. dan memperluas jaringan kemitraan untuk kepentingan perguruan tinggi. f. Kerja sama perguruan tinggi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) bertujuan untuk: b. dan/atau b.(2) Kerja sama untuk: sebagaimana dimaksud pada ayat (1) bertujuan a. b. Pasal 140 (3) (4) Perguruan tinggi Indonesia dapat menjalin kerja sama akademik dan/atau non-akademik dengan perguruan tinggi negara lain. penyelenggaraan seminar bersama. pemagangan khusus pendidikan menengah kejuruan. menyelenggarakan pendidikan menengah bertaraf internasional. dan/atau c. pertukaran peserta didik. dan/atau bentuk-bentuk lain yang dianggap perlu. memperluas pengabdian kepada masyarakat oleh perguruan tinggi. pemanfaatan bersama berbagai sumberdaya. d. meningkatkan mutu penyelenggaraan pendidikan dasar atau pendidikan menengah. i. c. penelitian.

dan/atau d. i. f. b. penelitian. usaha penggalangan dana. penyelenggaraan seminar bersama. c. h. penerbitan jurnal ilmiah.doc 88 . 76461668. j. program kembaran. d. pengabdian kepada masyarakat.(3) Kerja sama akademik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat berbentuk: a. (4) Kerja sama pendidikan tinggi sebagaimana yang dimaksud pada ayat (3) hanya dapat dilakukan oleh perguruan tinggi di Indonesia yang lebih dari 60% (enam puluh persen) program studinya berakreditasi A. (5) (6) (7) (8) Kerja sama non-akademik sebagaimana yang dimaksud pada ayat (1) dapat dilakukan oleh setiap perguruan tinggi yang sudah memiliki izin pendirian dari Departemen. e. jasa dan royalti hak atas kekayaan intelektual. pemanfaatan bersama berbagai sumberdaya. pertukaran dosen dan/atau mahasiswa. program pemindahan dan perolehan kredit. pemagangan. c. pendayagunaan aset. b. dan/atau bentuk-bentuk lain yang dianggap perlu. g. Kerja sama non-akademik sebagaimana yang dimaksud pada ayat (1) dapat berbentuk: a. kontrak manajemen. Program studi dari perguruan tinggi di luar negeri yang bekerja sama dengan program studi di Indonesia sebagaimana yang dimaksud pada ayat (5) harus terakreditasi atau diakui di negaranya dan terdaftar di Departemen. Kerja sama akademik dengan perguruan tinggi di luar negeri sebagaimana dimaksud pada ayat (3) huruf b sampai dengan huruf j hanya dapat dilaksanakan oleh program studi di Indonesia yang terakreditasi A.

doc 89 . b. Ketentuan lebih lanjut mengenai pelaksanaan berbagai bentuk kerja sama pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur lebih lanjut dengan Peraturan Menteri. Kerja sama satuan pendidikan nonformal sebagaimana dimaksud pada ayat (1) bertujuan untuk meningkatkan mutu pendidikan dan/atau memperluas jaringan kemitraan untuk kepentingan satuan pendidikan nonformal. kecerdasan. memperoleh layanan pendidikan sesuai dengan bakat. kemampuan. dan 141 selama tidak bertentangan dengan tujuan pendidikan nasional. Kerja sama sebagaimana yang dimaksud pada ayat (1) hanya dapat dilakukan oleh satuan pendidikan nonformal yang memiliki izin sesuai peraturan perundang-undangan dan terakreditasi.Pasal 141 (1) Satuan pendidikan nonformal Indonesia dapat menjalin kerja sama akademik dan/atau non-akademik dengan lembaga pendidikan dari negara lain. 138. c. 76461668. Pasal 143 Pemerintah secara teratur mengadakan evaluasi dan pengawasan terhadap semua bentuk pelayanan pendidikan yang melibatkan partisipasi asing. mendapatkan pendidikan agama sesuai dengan agama yang dianutnya dan diajarkan oleh pendidik yang seagama. 139. minat. 140. Pasal 142 (1) Pemerintah mengakui bentuk-bentuk kerja sama sebagaimana dimaksud dalam Pasal 134. serta kebutuhan khususnya. dan kecepatan belajar. (2) (3) (2) BAB X HAK DAN KEWAJIBAN PESERTA DIDIK Pasal 144 (1)Peserta didik mempunyai hak: a. memperoleh bantuan fasilitas belajar atau bantuan lain sesuai dengan persyaratan dan ketentuan yang berlaku.

memperoleh kemudahan dari pihak terkait untuk menggunakan sarana dan prasarana fisik dan nonfisik untuk menunjang kelancaran pembelajaran. dan 90 76461668. memperoleh layanan informasi yang berkaitan dengan proses pembelajaran yang diikuti termasuk hasil belajar. b. ikut serta dalam kegiatan organisasi peserta didik di satuan pendidikan yang bersangkutan. atau bantuan lain sesuai dengan kemampuan Pemerintah. Pasal 145 (1) Selain hak peserta didik sebagaimana dimaksud dalam Pasal 144 ayat (1). dan c. menyelesaikan program pendidikan layanan khusus lebih cepat atau lebih lambat dari waktu yang ditentukan. e.d. mendapatkan jaminan kelangsungan pendidikan. b. (2)Selain hak peserta didik sebagaimana dimaksud pada ayat (1). Pemerintah Provinsi. pemerintah daerah. memperoleh jaminan hukum yang sama seperti peserta didik pada umumnya. dan/atau masyarakat bagi mereka yang berprestasi dan/atau orang tuanya tidak mampu membiayai pendidikan. (3)Selain hak peserta didik sebagaimana dimaksud pada ayat (1). dan h.doc . c. menyelesaikan program pendidikan lebih cepat atau lebih lambat dari waktu yang ditentukan. Pemerintah Kabupaten/Kota serta masyarakat. peserta didik pada pendidikan khusus berhak: a. menggunakan kebebasan akademik secara bertanggung jawab untuk menuntut ilmu dan mengkaji ilmu sesuai dengan norma dan etika yang berlaku dalam lingkungan akademik. mengikuti pendidikan di luar batas usia yang berlaku bagi peserta didik biasa. peserta didik pada pendidikan layanan khusus berhak: a. f. mendapatkan beasiswa atau biaya pendidikan dari Pemerintah. peserta didik di perguruan tinggi berhak: h. memperoleh bantuan fasilitas belajar. pindah ke jalur atau satuan pendidikan lain yang sederajat atau melanjutkan ke satuan pendidikan yang lebih tinggi. g.

d. serta pembiasaan peserta didik. serta menyayangi sesama. g. masyarakat. memelihara kerukunan dan kedamaian untuk mewujudkan harmoni sosial di antara sesama. (2)Pelaksanaan ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur oleh perguruan tinggi yang bersangkutan. f. kebersihan. i.i. bangsa. kecuali yang dibebaskan dari kewajiban.doc 91 . ikut menanggung biaya penyelenggaraan pendidikan. menjaga kewibawaan dan nama baik satuan pendidikan yang bersangkutan. menghormati pendidik dan tenaga kependidikan. b. mematuhi semua peraturan yang berlaku. c. e. mengambil mata kuliah di luar program studi baik di dalam maupun di luar perguruan tinggi yang bersangkutan dan perolehan kreditnya dapat diperhitungkan dalam penyelesaian studi sesuai dengan peraturan akademik yang ditetapkan. (3) Pelaksanaan ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan 76461668. mengikuti proses pembelajaran dengan menjunjung tinggi norma dan etika akademik. mencintai keluarga. dan j. dan keamanan sekolah. dan negara. ikut menjaga dan memelihara sarana dan prasarana. h. (3) Keterlibatan mahasiswa dalam organisasi di luar perguruan tingginya merupakan tanggung jawab perseorangan yang bersangkutan. (4) Kegiatan mahasiswa dalam organisasi sebagaimana dimaksud pada ayat (3) tidak boleh mengatasnamakan perguruan tingginya. menjalankan ibadah sesuai agama yang dianutnya. mencintai lingkungan. (2) Kewajiban sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan dengan bimbingan dan keteladanan pendidik dan tenaga kependidikan. ketertiban. Pasal 146 (1) Peserta didik berkewajiban menjaga ketentuan sebagai berikut: a.

guru bertugas dan bertanggung jawab sebagai pendidik profesional dengan tugas utama mendidik. instruktur. (2) Pendidik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) mempunyai tugas dan tanggung jawab sebagai berikut: a. dan Tanggung Jawab Pasal 147 (1) Pendidik mencakup guru. 76461668. alat pembelajaran. dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal.doc 92 . dan pendidikan tinggi. teknologi. serta berpartisipasi dalam menyelenggarakan pendidikan. dan pengelolaan pembelajaran pada jalur pendidikan nonformal. penitipan anak dan bentuk lain yang sejenis. penelitian. konselor bertugas dan bertanggung jawab memberikan layanan konseling kepada peserta didik di satuan pendidikan pada jenjang pendidikan dasar. dan seni melalui pendidikan. melatih peserta didik. mengajar. konselor. BAB XI PENDIDIK DAN TENAGA KEPENDIDIKAN Bagian Kesatu Jenis. membimbing. dan menyebarluaskan ilmu pengetahuan. dan pendidikan menengah. yang berfungsi sebagai agen pembelajaran peserta didik. e. dosen bertugas dan bertanggung jawab sebagai pendidik profesional dan ilmuwan dengan tugas utama mentransformasikan. d. Tugas. b. tutor. melatih. widyaiswara. pamong belajar bertugas dan bertanggung jawab menyuluh. pendidikan menengah. menilai. membimbing.ayat (2) serta sanksi atas pelanggarannya diatur oleh satuan pendidikan yang bersangkutan. pamong belajar. pamong. mengajar. pamong bertugas dan bertanggung jawab membimbing dan melatih anak usia dini pada kelompok bermain. c. dan mengembangkan: model program pembelajaran. pendidikan dasar. fasilitator. mengarahkan. dosen. dan sebutan lain yang sesuai dengan kekhususanya. mengembangkan. dan pengabdian kepada masyarakat.

fasilitator bertugas dan bertanggung jawab memberikan pelayanan pembelajaran pada lembaga pendidikan dan pelatihan. pimpinan satuan pendidikan bertugas dan bertanggung jawab mengelola satuan pendidikan pada pendidikan formal atau nonformal. Pendidik harus memiliki kualifikasi akademik dan sertifikat pendidik. pekerja sosial. c. dan pembinaan pada satuan pendidikan nonformal. pengawas bertugas dan bertanggung jawab melakukan 76461668. penilaian. tutor bertugas dan bertanggung jawab memberikan bantuan belajar kepada peserta didik dalam proses pembelajaran jarak jauh dan/atau pembelajaran tatap muka pada satuan pendidikan jalur formal dan nonformal. Tenaga kependidikan mencakup pimpinan satuan pendidikan. psikolog. tenaga laboratorium. (2). b. terapis. mengajar dan melatih peserta didik pada program pendidikan dan pelatihan prajabatan dan/atau dalam jabatan yang diselenggarakan oleh Pemerintah dan/atau pemerintah daerah. tenaga administrasi. 93 . penilik bertugas dan bertanggung jawab melakukan pemantauan. tenaga kebersihan sekolah. (1). Tenaga kependidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) mempunyai tugas dan tanggung jawab sebagai berikut: a. Pasal 149 (1). tenaga perpustakaan. h.doc (2). widyaiswara bertugas dan bertanggung jawab mendidik. pengawas satuan pendidikan formal. dan sebutan lain untuk petugas sejenis yang bekerja pada satuan pendidikan. g. penilik satuan pendidikan nonformal. Pasal 148. tenaga lapangan pendidikan. dan i.f. teknisi sumber belajar. Kualifikasi akademik dan sertifikat pendidik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) bagi guru dan dosen diatur dalam Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen. instruktur bertugas dan bertanggung jawab memberikan pelatihan teknis kepada peserta didik pada kursus dan/atau pelatihan.

f. j.pemantauan. pekerja sosial bertugas dan bertanggung jawab memberikan layanan bantuan sosiologis-pedagogis kepada peserta didik dan pendidik pada pendidikan khusus dan pendidikan anak usia dini. tenaga lapangan pendidikan bertugas dan bertanggung jawab melakukan pendataan. dan l. teknisi sumber belajar bertugas dan bertanggung jawab mempersiapkan. dan pembinaan pada satuan pendidikan anak usia dini jalur formal. k. tenaga laboratorium bertugas dan bertanggung jawab membantu pendidik mengelola kegiatan praktikum di laboratorium satuan pendidikan. h. memperbaiki sarana dan prasarana pembelajaran pada satuan pendidikan. e. tenaga administrasi bertugas dan bertanggung jawab menyelenggarakan pelayanan administratif pada satuan pendidikan. dan pendidikan menengah. tenaga perpustakaan bertugas dan bertanggung jawab melaksanakan pengelolaan perpustakaan pada satuan pendidikan.doc 94 . i. terapis bertugas dan bertanggung jawab memberikan layanan bantuan fisiologis-kinesiologis kepada peserta didik pada pendidikan khusus dan pendidikan anak usia dini. tenaga kebersihan sekolah bertugas dan bertanggung jawab memberikan layanan kebersihan lingkungan sekolah. psikolog bertugas dan bertanggung jawab memberikan layanan bantuan psikologis-pedagogis kepada peserta didik dan pendidik pada pendidikan khusus dan pendidikan anak usia dini. penilaian. dan pelaporan pelaksanaan pendidikan nonformal. satuan pendidikan dasar. merawat. pembimbingan. d. 76461668. g. pemantauan.

Pengangkatan. Penempatan. dan pemberhentian pendidik dan tenaga kependidikan oleh Pemerintah dan pemerintah daerah dilaksanakan dalam rangka pemerataan dan/atau penjaminan mutu pendidikan. (4). (3). Pasal 151 (1). Pemerintah daerah merencanakan kebutuhan pendidik dan tenaga kependidikan yang memenuhi Standar Nasional Pendidikan atas dasar persyaratan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan rencana kebutuhan pendidik dan tenaga kependidikan nasional sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dan kebutuhan pendidik dan tenaga kependidikan daerah masingmasing. (3). Pengangkatan. 95 (2). penempatan. Pemerintah dan pemerintah daerah memfasilitasi penyediaan pendidik dan tenaga kependidikan sesuai perencanaan kebutuhan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dan ayat (3) untuk menjamin pelayanan pendidikan yang bermutu. penempatan. Pemindahan. dan pemberhentian pendidik dan tenaga kependidikan pada satuan pendidikan yang diselenggarakan oleh Pemerintah atau pemerintah daerah dilaksanakan berdasarkan peraturan perundang-undangan. 76461668. pemindahan. dan Pemberhentian Pasal 150 (1). penempatan. pemindahan.doc . dan pemberhentian pendidik dan tenaga kependidikan pada satuan pendidikan yang diselenggarakan oleh masyarakat dilakukan oleh badan hukum pendidikan berdasarkan perjanjian kerja atau kesepakatan kerja bersama. Pemerintah merencanakan kebutuhan pendidik dan tenaga kependidikan yang memenuhi Standar Nasional Pendidikan pada satuan pendidikan secara nasional. (2). Pengangkatan. Pemerintah menetapkan persyaratan pendidik dan tenaga kependidikan yang memenuhi Standar Nasional Pendidikan.Bagian Kedua Pengangkatan. pemindahan.

Promosi bagi pendidik dan tenaga kependidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dilaksanakan sesuai dengan peraturan perundang-undangan. pola Pemerintah dan/atau pemerintah daerah wajib melakukan pembinaan karir pendidik dan tenaga kependidikan sesuai dengan pola pembinaan karir sebagaimana dimaksud pada ayat (1). Badan hukum pendidikan masyarakat wajib melakukan pembinaan karir pendidik dan tenaga kependidikan pada satuan pendidikan yang diselenggarakannya sesuai dengan pola pembinaan karir sebagaimana dimaksud pada ayat (1). kenaikan jabatan. Paragraf 2 Promosi dan Penghargaan Pasal 153 (3). 76461668. (5). (4). Pendidik dan tenaga kependidikan dipromosikan atas dasar prestasi kerja.Bagian Ketiga Pembinaan Karir. Promosi bagi pendidik dan tenaga kependidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diberikan dalam bentuk kenaikan pangkat/golongan. dan/atau bentuk promosi lainnya.doc 96 . (2). dan/atau penghargaan. Pemerintah mengembangkan dan menetapkan pembinaan karir pendidik dan tenaga kependidikan. Pembinaan karir pendidik dilaksanakan dalam bentuk peningkatan kualifikasi akademik dan/atau kompetensi sebagai agen pembelajaran dengan mengacu pada Standar Nasional Pendidikan. (1). Pembinaan karir tenaga kependidikan dilaksanakan dalam bentuk peningkatan kualifikasi akademik dan/atau kompetensi manajerial dan/atau teknis sebagai tenaga kependidikan dengan mengacu pada Standar Nasional Pendidikan. dan Penghargaan Paragraf 1 Pembinaan Karir Pasal 152 (1). masa kerja berdasarkan kompetensi yang dimiliki. (2). Promosi. (3).

teknologi.(4).doc 97 . daerah perbatasan. pada tingkat provinsi oleh Pemerintah Provinsi. kabupaten/kota oleh Pemerintah d. Pasal 154 (1) Penghargaan diberikan: kepada pendidik dan tenaga kependidikan a. (2) Penghargaan kepada pendidik dan tenaga kependidikan dapat diberikan oleh masyarakat dan organisasi profesi pada tingkat internasional. propinsi. atau seni. b. pada tingkat satuan pendidikan oleh satuan pendidikan. dan/atau tingkat satuan pendidikan. (5) Pendidik atau tenaga kependidikan yang gugur dalam melaksanakan tugas memperoleh penghargaan dari Pemerintah dan/atau pemerintah daerah dan/atau penyelenggara satuan 76461668. pada tingkat Kabupaten/Kota. (2) Pemerintah dan pemerintah daerah memberikan penghargaan kepada pendidik dan/atau tenaga kependidikan yang dinilai berprestasi dan berdedikasi luar biasa. pada tingkat desa oleh pemerintah desa. dan e. nasional. daerah tertinggal atau daerah bermasalah lainnya. (4) Pemerintah memberikan penghargaan kepada pendidik yang hasil penelitiannya memberikan kontribusi terhadap perluasan dan pendalaman kandungan atau penerapan ilmu. dengan memperhatikan peraturan perundang-undangan. Promosi bagi pendidik dan tenaga kependidikan yang berkedudukan sebagai pegawai lembaga pendidikan yang dikelola oleh masyarakat dan berstatus bukan pegawai negeri sipil dilaksanakan sesuai dengan ketentuan peraturan yang ditetapkan oleh badan hukum pendidikan yang bersangkutan. Pasal 155 (1) Pemerintah dan pemerintah daerah memberikan penghargaan kepada pendidik dan/atau tenaga kependidikan teladan yang bertugas di daerah terpencil. daerah konflik. daerah bencana. c. (3) Pemerintah memberikan penghargaan kepada pendidik yang berhasil menulis buku teks bahan belajar dan/atau menemukan teknologi pembelajaran baru yang dinilai bermutu tinggi. kabupaten/kota. pada tingkat nasional oleh Pemerintah.

98 . dan berjasa luar biasa dalam pendidikan. ayat (3). Bagian Keempat Larangan Pasal 157 (1) Pendidik dan tenaga kependidikan. atau hari besar lainnya. (2) Pendidik dan tenaga kependidikan. (3). (6) Penghargaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1).pendidikan sesuai peraturan perundang-undangan. piagam. kecuali melalui koperasi satuan pendidikan yang: a. dan b. pakaian seragam atau bahan pakaian seragam di satuan pendidikan. (7) Penghargaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1). dilarang melakukan pungutan kepada peserta didik baik secara langsung maupun tidak langsung yang bertentangan 76461668. Masyarakat dapat memberi penghargaan kepada pendidik dan/atau tenaga kependidikan yang dinilai berprestasi. Hari Guru Nasional. tidak mewajibkan peserta didik untuk membelinya. Pendidik dan/atau tenaga kependidikan dapat menerima penghargaan dari pihak asing sepanjang tidak bertentangan dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. dilarang menjual buku pelajaran. baik perseorangan maupun kolektif dilarang memberikan bimbingan belajar atau les kepada peserta didiknya dengan memungut biaya. (3) Pendidik dan tenaga kependidikan. kenaikan pangkat berdasarkan prestasi kerja luar biasa baiknya. dan berjasa luar biasa dalam pendidikan. harganya lebih murah dari harga di pasaran.doc (2). ayat (2). kenaikan pangkat setingkat lebih tinggi. berdedikasi. Pemerintah atau pemerintah daerah memberi penghargaan kepada pendidik dan/atau tenaga kependidikan yang dinilai berprestasi. baik perseorangan maupun kolektif. Pasal 156 (1). ayat (4). berdedikasi. baik perseorangan maupun kolektif. ayat (2). ayat (3). kenaikan pangkat bagi yang menemukan penemuan baru yang bermanfaat bagi negara. atau bentuk penghargaan lainnya yang dilaksanakan sesuai dengan peraturan perundang-undangan. Hari Pendidikan Nasional. dan ayat (5) dapat diberikan dalam bentuk tanda jasa. dan ayat (4) diberikan pada Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia.

dan ekologis.doc 99 . d. dilarang melakukan segala sesuatu baik secara langsung maupun tidak langsung yang menciderai integritas evaluasi hasil belajar peserta didik. perimbangan antara jumlah satuan pendidikan dengan penduduk usia satuan pendidikan di wilayah tersebut. (4) Pendidik dan tenaga kependidikan. c. BAB XII PENDIRIAN SATUAN PENDIDIKAN Pasal 158 (1)Syarat-syarat untuk memperoleh izin pendirian satuan pendidikan meliputi: a. c.dengan peraturan perundang-undangan. manajemen dan proses pendidikan. 76461668.sumber pembiayaan untuk kelangsungan program pendidikan sekurang-kurangnya untuk 1 (satu) tahun akademik berikutnya. (3) Syarat manajemen dan proses pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf e mencakup: a. isi pendidikan/kurikulum. keuangan. jumlah dan kualifikasi pendidik dan tenaga kependidikan. sarana dan prasarana yang memungkinkan terselenggaranya kegiatan pembelajaran. dan e. sosial. (2) Syarat-syarat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berpedoman pada Standar Nasional Pendidikan. dan budaya. b. dilarang menjadi tim sukses salah satu kontestan pemilihan umum pemilihan kepala daerah dan/atau pemilihan kepala desa. baik perseorangan maupun kolektif. geografis. b. baik perseorangan maupun kolektif. hasil studi kelayakan tentang prospek pendirian satuan pendidikan dari segi prospek pendaftar. hasil studi kelayakan tentang prospek pendirian satuan pendidikan dari segi tata ruang. (5) Pendidik dan tenaga kependidikan.

harus memenuhi persyaratan: a. dukungan sistem operasional pendidikan jarak jauh serta jaringan kerja sama dengan pihak terkait. Pasal 159 Selain memenuhi persyaratan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 158. b. c. pustaka. menyebarluaskan. pendirian satuan pendidikan khusus bagi peserta didik berkelainan harus menyediakan sarana dan prasarana pendidikan khusus yang memungkinkan terselenggaranya kegiatan pembelajaran bagi peserta didik berkelainan. 76461668. dan b. dan e. pendirian perguruan tinggi yang diselenggarakan oleh departemen lain atau lembaga pemerintah nondepartemen. program-program studi yang diselenggarakan secara khas terkait dengan tugas dan fungsi departemen atau lembaga pemerintah nondepartemen yang bersangkutan. pendirian satuan pendidikan jarak jauh harus memiliki: a. memproduksi. Pasal 161 (1). menyusun. Pasal 160 (1) Selain memenuhi persyaratan pendirian satuan pendidikan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 158. kapasitas daya tampung dan lingkup jangkauan satuan pendidikan yang ada.d. undang-undang sektor terkait yang menyatakan perlu adanya pendidikan sebagaimana dimaksud dalam huruf a. akses khusus pada jaringan informasi dan komunikasi untuk melaksanakan layanan bahan ajar. jarak satuan pendidikan yang diusulkan di tengah klaster satuan pendidikan sejenis. sumberdaya manusia untuk merancang. tutorial. dan melaksanakan pendidikan jarak jauh. Selain memenuhi persyaratan pendirian satuan pendidikan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 158.doc 100 . dan ujian secara elektronik. (2) Ketentuan lebih lanjut mengenai persyaratan dan program studi pada perguruan tinggi yang diselenggarakan oleh departemen lain atau lembaga pemerintah nondepartemen sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dengan Peraturan Menteri.

SMA. dan jenis pendidikan wajib memperoleh izin dari Menteri. MAK sebagaimana dimaksud pada ayat (1). unsur penunjang untuk melaksanakan proses manajerial pendidikan jarak jauh. (3)Pendirian satuan pendidikan Indonesia di luar negeri diatur oleh Menteri. oleh lembaga asing wajib (2) Pendirian satuan pendidikan nonformal yang diselenggarakan oleh lembaga asing hanya diberikan di ibukota provinsi. (2). jenjang. akses ke sarana dan prasarana untuk kegiatan tutorial. atau bentuk lain yang sederajat.doc 101 . Pasal 162 (1) Pendirian TK. MI. atau satuan pendidikan lain yang berada dalam pembinaan departemen yang menangani urusan pemerintahan di bidang agama dikeluarkan oleh Pemerintah Kabupaten/Kota setelah mendapat rekomendasi persetujuan dari kantor departemen agama kabupaten/kota. MA.d. MI. RA. atau bentuk lain yang sederajat. Pasal 163 (1) Pendirian satuan pendidikan memperoleh izin dari Menteri. MAK. (4) Pendirian perguruan tinggi dan/atau program pendidikan jarak jauh pada semua jalur. SD. MA. dan f. proyeksi ketersediaan calon peserta didik untuk setiap program studi. (3)Ketentuan lebih lanjut tentang pendirian satuan pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan (2) diatur dengan Peraturan Menteri. BAB XIII PENDIDIKAN LINTAS SATUAN DAN JALUR PENDIDIKAN Pasal 164 76461668. atau bentuk lain yang sederajat. dan satuan pendidikan nonformal wajib memperoleh izin dari Pemerintah Kabupaten/Kota. (2) Izin pendirian RA. Ketentuan lebih lanjut mengenai persyaratan pendirian satuan pendidikan jarak jauh sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dengan Peraturan Menteri. e. MTs. SMP. MTs. satuan pendidikan khusus. SMK.

atau mengambil program atau mata pelajaran pada jenis dan/atau jalur pendidikan yang sama atau berbeda sesuai dengan persyaratan akademik satuan pendidikan penerima. pindah ke satuan atau program pendidikan. TKLB. (4) (5) Pasal 166 (1) Peserta didik suatu program studi pada perguruan tinggi tertentu dapat mengambil mata kuliah pada program studi yang sama atau berbeda pada perguruan tinggi yang sama atau perguruan tinggi lain yang terakreditasi. Pasal 165 (1) Peserta didik TK/RA. SD/MI.doc . SMK/MAK. SMPLB. b. SMP/MTs. atau mengambil program atau mata pelajaran pada jenis dan/atau jalur pendidikan yang sama atau berbeda sesuai dengan persyaratan akademik satuan pendidikan penerima. pindah satuan atau program pendidikan. Peserta didik nonformal dan informal dapat: a. 102 76461668. Satuan pendidikan umum yang menerima peserta didik dari satuan pendidikan khusus bagi peserta didik berkelainan Pemerintah dan pemerintah daerah harus menyediakan guru pembimbing khusus serta sarana dan prasarana pendidikan khusus yang memungkinkan terselenggaranya kegiatan pembelajaran bagi peserta didik berkelainan. atau bentuk lain yang sederajat dapat: a. SMA/MA. (2) (3) Perpindahan satuan atau program pendidikan atau pengambilan program atau mata pelajaran sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat dilakukan melalui tes penempatan yang diselenggarakan oleh satuan pendidikan yang dituju. SDLB. SMALB. b.Peserta didik dapat belajar atau mengambil program-program pendidikan pada jenis dan jalur pendidikan yang berbeda secara terpadu dan berkelanjutan melalui pembelajaran tatap muka atau jarak jauh dengan fleksibilitas pilihan dan waktu penyelesaian program lintas satuan dan jalur pendidikan. Ketentuan lebih lanjut tentang pindah satuan atau program pendidikan atau pengambilan program atau mata pelajaran sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) diatur dengan peraturama Menteri.

keluarga. ayat (2). kelompok. dan pengguna hasil pendidikan. Peranserta masyarakat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat berupa sumber. ayat (3). organisasi profesi. Ketentuan lebih lanjut mengenai ayat (1). pengusaha.(2) Peserta didik suatu program studi pada perguruan tinggi tertentu dapat pindah program studi yang sama atau berbeda pada perguruan tinggi yang sama atau perguruan tinggi lain yang terakreditasi sesuai persyaratan akademik program studi penerima. dan organisasi kemasyarakatan dalam penyelenggaraan dan pengendalian mutu pelayanan pendidikan. Kompetensi yang diperoleh peserta didik dari suatu satuan atau program pendidikan nonformal terakreditasi dapat diperhitungkan untuk memenuhi sks program studi yang diambil. Satuan kredit semester (sks) yang diperoleh peserta didik atau lulusan program studi tertentu dapat ditransfer untuk memenuhi persyaratan beban sks program studi lain. Bagian Kedua Komponen Peranserta Masyarakat Pasal 168 (1) Peranserta masyarakat dalam pendidikan meliputi peranserta perseorangan. Peranserta masyarakat dalam penyelenggaraan 103 (2) (3) 76461668.doc . dan ayat (4) diatur oleh masing-masing perguruan tinggi. pelaksana. (3) (4) (5) BAB XIV PERANSERTA MASYARAKAT Bagian Kesatu Fungsi Pasal 167 Peranserta masyarakat dalam pendidikan berfungsi meningkatkan kualitas penyelenggaraan pendidikan dan pengendalian mutu pelayanan pendidikan dalam rangka mencapai tujuan pendidikan nasional.

Peranserta organisasi profesi sebagai sumber pendidikan dapat berupa penyediaan tenaga ahli dalam bidangnya dan narasumber dalam penyelenggaraan pendidikan formal maupun nonformal. dan dewan pendidikan tingkat provinsi dan kabupaten/kota dan komite pendidikan nonformal pada jalur pendidikan nonformal. d. majelis wali amanah pada jalur pendidikan formal jenjang pendidikan tinggi. dan evaluasi program pendidikan yang dilaksanakan melalui: a. dewan pendidikan tingkat nasional untuk semua jalur. b. (2) (3) (4) Pasal 170 76461668. jenjang. pengawasan. dan keluarga sebagai sumber pendidikan dapat berupa kontribusi pendidik dan tenaga kependidikan. dan jenis pendidikan. sarana dan prasarana dalam penyelenggaraan pendidikan dan pengendalian mutu pelayanan pendidikan kepada satuan pendidikan baik formal maupun nonformal. pemberian beasiswa kepada peserta didik. kelompok. Peranserta organisasi kemasyarakatan sebagai sumber pendidikan dapat berupa pemberian beasiswa kepada peserta didik. dana. Peranserta pengusaha sebagai sumber pendidikan dapat berupa penyediaan fasilitas sarana dan prasarana pendidikan.doc 104 . (4) (1) berupa Peranserta masyarakat dalam pengendalian mutu pelayanan pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) mencakup partisipasi dalam perencanaan. dan narasumber dalam penyelenggaraan pendidikan formal maupun nonformal.pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat penyelenggaraan pendidikan berbasis masyarakat. dewan pendidikan tingkat provinsi dan kabupaten/kota dan komite sekolah/madrasah atau nama lain yang sejenis pada jalur pendidikan formal jenjang pendidikan dasar dan menengah serta pada pendidikan anak usia dini. Pasal 169 c. dan narasumber dalam penyelenggaraan pendidikan formal maupun nonformal secara terus menerus maupun sesekali waktu. sumbangan dana. (1) Peranserta perseorangan.

pendidikan sistem ganda. Pasal 171 (2) (3) (4) (1) Peranserta pengusaha sebagai pengguna hasil pendidikan dapat berupa kerja sama pengusaha dengan satuan pendidikan dalam penyediaan lapangan kerja bagi para lulusan. Peranserta pengusaha sebagai pelaksana pendidikan dapat berupa pelaksanaan sistem magang. dan budaya untuk kepentingan masyarakat. pengawasan.(1) Peranserta perseorangan. dan/atau kerja sama produksi dengan satuan pendidikan sebagai institusi pasangan. atau keluarga sebagai pelaksana pendidikan dapat berupa partisipasi dalam pengelolaan pendidikan. dan pembinaan satuan pendidikan. (2) Bagian Ketiga Pendidikan Berbasis Masyarakat Pasal 172 (1) Pendidikan berbasis masyarakat dilaksanakan pada satuan pendidikan formal dan nonformal yang diselenggarakan oleh masyarakat pada semua jenjang dan jenis pendidikan. kelompok. pengelolaan. Pasal 173 Kurikulum. lingkungan sosioekonomi. dan kerja sama pengembangan jaringan informasi kebutuhan dunia usaha dan dunia industri. Pengusaha atau perusahaan dapat menyelenggarakan program riset dan pengembangannya bekerja sama dengan perguruan tinggi di perusahaannya atau di perguruan tinggi yang bersangkutan. Peranserta organisasi kemasyarakatan sebagai pelaksana pendidikan dapat berupa penyelenggaraan. lingkungan sosialekonomi. manajemen. dan budaya dikembangkan oleh satuan pendidikan 76461668. Masyarakat berhak menyelenggarakan pendidikan formal dan nonformal sesuai dengan kekhasan agama. evaluasi. dan pendanaan satuan pendidikan formal dan nonformal dengan kekhasan agama.doc (2) 105 . pemanfaatan hasil penelitian dan pengembangan dari satuan pendidikan tinggi. Peranserta organisasi profesi sebagai pelaksana pendidikan dapat berupa pembentukan lembaga evaluasi dan/atau lembaga akreditasi mandiri.

subsidi dana. dalam proses perencanaan. dan evaluasi hasil pendidikan di tingkat nasional. dan sumberdaya lainnya secara adil dan merata sebagaimana dimaksud pada ayat (1) adalah perlakuan yang sama dari Pemerintah dan/atau pemerintah daerah pada satuan-satuan pendidikan dan daerahdaerah yang membutuhkan bantuan tersebut sesuai kemampuan Pemerintah dan pemerintah daerah . sarana dan prasarana serta pengawasan kepada Menteri. Pasal 174 (1) Lembaga pendidikan berbasis masyarakat pada jalur pendidikan formal dan nonformal dapat memperoleh bantuan teknis. dan/atau bantuan asing. dukungan tenaga. dalam proses perencanaan. subsidi dana. Bantuan teknis. dan sumberdaya lain secara adil dan merata dari Pemerintah. dan evaluasi hasil pendidikan di tingkat kabupaten/kota. dan sumberdaya lainnya sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dengan Peraturan Menteri. penyelenggaraan. dukungan tenaga. Dewan Pendidikan Provinsi berperan dalam peningkatan mutu pelayanan pendidikan dengan memberikan pertimbangan dan arahan.sesuai dengan kekhasan masing-masing dengan mengacu pada Standar Nasional Pendidikan. sarana dan prasarana serta pengawasan kepada bupati/walikota. dan evaluasi hasil pendidikan di tingkat provinsi. dukungan tenaga. Dewan Pendidikan Kabupaten/kota berperan dalam peningkatan mutu pelayanan pendidikan dengan memberikan pertimbangan dan arahan. Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara bantuan teknis. sarana dan prasarana serta pengawasan kepada gubernur. penyelenggaraan. subsidi dana. (2) (3) Bagian Keempat Dewan Pendidikan Pasal 175 (1) Dewan Pendidikan Nasional berperan dalam peningkatan mutu pelayanan pendidikan dengan memberikan pertimbangan dan arahan. Pasal 176 76461668. penyelenggaraan.doc (2) (3) 106 . dalam proses perencanaan.

maupun dengan lembaga pemerintahan. pada tingkat nasional. kritik dan menyalurkan aspirasi dan prakarsa masyarakat dalam upaya meningkatkan mutu pelayanan pendidikan. tokoh masyarakat.(1) Dewan pendidikan harus peka dalam memperhatikan keluhan. praktisi pendidikan. Dewan Pendidikan Nasional. Pasal 177 (2) (1) (2) Dewan pendidikan dibentuk provinsi. dan/atau pihak-pihak yang dibutuhkan dalam rangka mengupayakan peningkatan mutu layanan pendidikan. Dewan pendidikan menyelenggarakan pertemuan dengan masyarakat dalam rangka memperhatikan aspirasi masyarakat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) sekurang-kurangnya 2 (dua) kali dalam setahun. c. komite sekolah/madrasah atau nama lain yang sejenis. meninggal dunia. saran. atau 107 . kepala satuan pendidikan. dan Dewan Pendidikan Kabupaten/kota memiliki hubungan koordinasi satu sama lain dalam penyelenggaraan pendidikan nasional. b. dan kabupaten/kota. Anggota dewan pendidikan diberhentikan sewaktu-waktu apabila: a. organisasi profesi dan organisasi sosial kemasyarakatan yang peduli pendidikan.doc (2) (3) melakukan perbuatan pidana kejahatan. mengundurkan diri. dan Dewan Pendidikan Kabupaten/kota. Masa jabatan keanggotaan dewan pendidikan adalah 5 (lima) tahun dan dapat dipilih kembali 1 (satu) kali masa jabatan. (3) (4) Pasal 178 (1) Keanggotaan dewan pendidikan berasal dari pakar pendidikan. Dewan Pendidikan Provinsi. Dewan pendidikan tidak mempunyai hubungan hirarkhis baik antara Dewan Pendidikan Nasional. pengusaha. Dewan Pendidikan Provinsi. Dewan pendidikan dapat mengadakan koordinasi dan kerja sama dengan Majelis Wali Amanah. 76461668.

76461668. dan Dewan Pendidikan Kabupaten/kota ditetapkan oleh bupati/walikota. sekretaris. Pasal 179 (1) Organisasi dan kepengurusan Dewan Pendidikan Nasional ditetapkan oleh Menteri. 2 (dua) tokoh masyarakat. Pembentukan komisi-komisi pendidikan sesuai dengan jalur. Panitia pemilihan anggota dewan pendidikan bekerja secara independen yang terdiri atas: a. gubernur untuk tingkat provinsi. Anggota Dewan Pendidikan Nasional berjumlah paling banyak 23 (dua puluh tiga) orang. c. tidak dapat melaksanakan tugas karena berhalangan tetap. dan Dewan Pendidikan Kabupaten/kota berjumlah paling banyak 13 (tiga belas) orang. dan 1 (satu) wakil Dinas Pendidikan (eksekutif). dan ketua-ketua komisi. 7 (tujuh) orang untuk tingkat nasional dengan komposisi 3 (tiga) pakar/tokoh pendidikan. Dalam melaksanakan tugasnya. bendahara. dewan pendidikan membentuk sekretariat dan dapat mengikutsertakan tenaga ahli untuk membantu kegiatan komisi-komisi pendidikan. Dewan Pendidikan Provinsi berjumlah paling banyak 17 (tujuh belas) orang. Pasal 180 (2) (3) (4) (5) (6) (1) Pemilihan anggota dewan pendidikan diselenggarakan oleh panitia yang dibentuk oleh Menteri untuk tingkat nasional. jenjang. dan jenis pendidikan. Anggota dewan pendidikan harus berjumlah gasal. dan Ketua dan sekretaris panitia pemilihan dipilih dari dan oleh para anggota. 2 (dua) tokoh masyarakat. Susunan kepengurusan dewan pendidikan paling sedikit terdiri atas ketua dewan. dan bupati/walikota untuk tingkat kabupaten/kota.d. (2) b. dan 2 (dua) wakil Departemen Pendidikan Nasional (eksekutif). Dewan Pendidikan Provinsi ditetapkan oleh gubernur.doc 108 . 5 (lima) orang untuk tingkat provinsi dan kabupaten/kota dengan komposisi 2 (dua) pakar/tokoh pendidikan.

Atas dasar daftar nama calon anggota dewan pendidikan yang diidentifikasikannya dan yang merupakan masukan masyarakat. pertimbangan dan arahan. serta pengawasan pendidikan. Kepengurusan dewan pendidikan dipilih oleh dan dari anggota dewan pendidikan masing-masing. Menteri memilih dan menetapkan anggota Dewan Pendidikan Nasional atas dasar hasil pemilihan calon anggota Dewan Pendidikan Nasional sebagaimana dimaksud pada ayat (3). Setelah terbentuk kepengurusan. bupati/walikota memilih dan menetapkan anggota Dewan Pendidikan Kabupaten/kota atas dasar hasil pemilihan calon anggota Dewan Pendidikan Kabupaten/kota sebagaimana dimaksud pada ayat (3). sarana dan prasarana. Panitia pemilihan Dewan Pendidikan Nasional melaporkan hasil pemilihan calon anggota Dewan Pendidikan Nasional kepada Menteri. gubernur memilih dan menetapkan anggota Dewan Pendidikan Provinsi atas dasar hasil pemilihan calon anggota Dewan Pendidikan Provinsi sebagaimana dimaksud pada ayat (3).doc 109 . Pasal 182 (1) Pendanaan dewan pendidikan nasional dapat berasal dari APBN atau sumber lain yang tidak mengikat. dewan pendidikan wajib menyusun program kerja yang memuat antara lain tentang perencanaan.Pasal 181 (1) Panitia pemilihan dewan pendidikan menerima masukan dari masyarakat tentang calon anggota dewan pendidikan sekurang-kurangnya 30 (tiga puluh) hari dan selama-lamanya 60 (enam puluh) hari. dukungan tenaga. dan panitia pemilihan Dewan Pendidikan Kabupaten/kota menyampaikan hasil pemilihan calon anggota Dewan Pendidikan Kabupaten/kota kepada bupati/walikota. evaluasi program pendidikan. panitia pemilihan dewan pendidikan mengusulkan daftar calon anggota dewan pendidikan kepada pejabat yang berwenang. panitia pemilihan Dewan Pendidikan Provinsi melaporkan hasil pemilihan calon anggota Dewan Pendidikan Provinsi kepada gubernur. (2) (3) (4) (5) (6) (7) 76461668. sekurang-kurangnya 2 (dua) kali jumlah anggota dewan pendidikan. Prosedur pemilihan anggota dan kepengurusan dewan pendidikan diinformasikan secara luas kepada masyarakat oleh panitia.

(2)

Pendanaan dewan pendidikan provinsi dan dewan pendidikan kabupaten/kota dapat berasal dari APBD atau sumber lain yang tidak mengikat. Pasal 183

(1) (2)

Dewan pendidikan bertanggung jawab kepada publik. Mekanisme pertanggungjawaban dewan pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan melalui media komunikasi yang diterbitkan, brosur yang dicetak, atau media lain, dan disebarkan kepada masyarakat. Kegagalan dewan pendidikan dalam pertanggungjawaban publik sebagaimana diatur pada ayat (1) dan ayat (2) dapat berakibat pemberhentian ketua dan/atau anggota dewan pendidikan oleh pejabat yang menetapkannya. Bagian Kelima Komite Sekolah/Madrasah Paragraf 1 Fungsi dan Sifat Pasal 184

(3)

(1) (2)

Komite sekolah/madrasah atau nama lain yang sejenis merupakan mitra satuan pendidikan yang bekerja secara mandiri. Fungsi komite sekolah/madrasah adalah: a. b. c. d. e. memberikan pertimbangan kepada satuan pendidikan dalam pengelolaan pendidikan; memberikan dukungan sumberdaya pendidikan kepada satuan pendidikan; mengawasi penyelenggaraan pendidikan pada satuan pendidikan; menjadi mediator yang melibatkan pendidik dan tenaga kependidikan; dan menjadi mediator hubungan satuan pendidikan dengan berbagai kelompok kepentingan di masyarakat dalam rangka peningkatan mutu pelayanan pendidikan.

(3)

Komite sekolah/madrasah atau nama lain yang sejenis tidak mempunyai hubungan hirarkhis dengan dewan pendidikan
110

76461668.doc

maupun dengan lembaga pemerintahan. (4) Komite sekolah/madrasah dapat mengadakan koordinasi dan kerja sama dengan dewan pendidikan, kepala satuan pendidikan atau pihak-pihak yang dibutuhkan dalam rangka mengupayakan peningkatan mutu layanan pendidikan. Komite sekolah/madrasah atau nama lain yang sejenis menyampaikan laporan akhir masa jabatan kepada orang tua/wali peserta didik, kepala satuan pendidikan, dan/atau pihakpihak yang terkait. Komite sekolah/madrasah atau nama lain yang sejenis dibentuk di satuan pendidikan atau gabungan satuan pendidikan formal atau pada pendidikan nonformal pada jenjang pendidikan dasar dan menengah. Bagi satuan pendidikan yang memiliki peserta didik kurang dari 200 (dua ratus) maka komite sekolah/madrasahnya dapat bergabung dengan komite sekolah/madrasah dari satuan pendidikan lain. Pasal 185 (1) Komite sekolah/madrasah atau nama lain yang sejenis harus peka dalam memperhatikan keluhan, saran dan kritik, serta menyalurkan aspirasi dan prakarsa masyarakat dalam upaya peningkatan mutu layanan pendidikan. Komite sekolah/madrasah atau nama lain yang sejenis menyelenggarakan pertemuan dengan masyarakat dalam rangka memperhatikan aspirasi masyarakat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) sekurang-kurangnya 2 (dua) kali dalam setahun. Komite sekolah/madrasah atau nama lain yang sejenis berperan memberikan pertimbangan dan arahan, dukungan tenaga, sarana dan prasarana kepada penyelenggara satuan pendidikan, kepala satuan pendidikan, atau pihak-pihak yang relevan dalam proses perencanaan, penyelenggaraan, evaluasi hasil pendidikan, dan pengawasan pendidikan di tingkat sekolah. Komite sekolah/madrasah atau nama lain yang sejenis sebagai perwakilan masyarakat menilai pertanggungjawaban kepala satuan pendidikan. Untuk keperluan pertanggungjawaban sebagaiamana dimaksud pada ayat (4) di bidang keuangan, komite sekolah/madrasah atau nama lain yang sejenis dapat menunjuk akuntan publik.

(5)

(6)

(7)

(2)

(3)

(4)

(5)

76461668.doc

111

(6)

Tata cara peranserta komite sekolah/madrasah atau nama lain yang sejenis dalam evaluasi dan pengawasan diatur lebih lanjut dengan Peraturan Menteri. Komite sekolah/madrasah atau nama lain yang sejenis bersama Pemerintah atau dewan pendidikan dapat menyebarluaskan hasil pengawasan secara terbuka sebagai bentuk akuntabilitas publik.

(7)

Paragraf 2 Keanggotaan Pasal 186

(1)

Komite sekolah/madrasah sekurang-kurangnya terdiri atas anggota masyarakat yang mewakili orang tua/wali peserta didik, tokoh masyarakat, praktisi pendidikan, dan pendidik, yang memiliki wawasan, kepedulian dan komitmen terhadap peningkatan mutu pendidikan. Masa bakti anggota komite sekolah/madrasah adalah 4 (empat) tahun. Keanggotaan komite sekolah/madrasah maksimal 2 (dua) masa bakti. Anggota komite sekolah/madrasah atau nama lain yang sejenis tidak boleh merangkap sebagai pejabat kepala satuan pendidikan, pejabat struktural dalam pemerintahan, atau fungsionaris partai politik. Anggota komite sekolah/madrasah atau nama lain yang sejenis dapat diberhentikan sewaktu-waktu karena: a. melakukan perbuatan pidana kejahatan; dan b. melanggar ketentuan anggaran dasar.

(2) (3) (4)

(5)

(6)

Pemberhentian sebagaimana dimaksud pada ayat (5) diatur dalam anggaran dasar komite sekolah/madrasah. Paragraf 3 Persyaratan Anggota Pasal 187

76461668.doc

112

(1)

Persyaratan untuk menjadi anggota komite sekolah/madrasah atau nama lain yang sejenis adalah anggota masyarakat yang mempunyai pengalaman, komitmen, dan tanggung jawab dalam meningkatkan pemerataan, mutu, relevansi, dan efisiensi pada penyelenggaraan pendidikan di tingkat satuan pendidikan. Anggota komite sekolah/madrasah atau nama lain yang sejenis berasal dari perseorangan atau perwakilan organisasi. Paragraf 4 Struktur Organisasi dan Kepengurusan Pasal 188

(2)

(1)

Organisasi dan kepengurusan komite sekolah/madrasah atau nama lain yang sejenis pada jenjang pendidikan dasar dan pendidikan menengah ditetapkan oleh bupati/walikota. Organisasi dan kepengurusan komite sekolah/madrasah atau nama lain yang sejenis pada jenjang dasar dan pendidikan menengah yang dikembangkan oleh Pemerintah Provinsi menjadi bertaraf internasional ditetapkan oleh gubernur. Susunan kepengurusan komite sekolah/madrasah atau nama lain yang sejenis sekurang-kurangnya terdiri atas ketua, sekretaris, bendahara, dan anggota. Jumlah anggota komite sekolah/madrasah atau nama lain yang sejenis harus gasal, disesuaikan dengan kebutuhan, dan jumlahnya sebanyak-banyaknya 9 (sembilan) orang. Masa jabatan kepengurusan komite sekolah/madrasah atau nama lain yang sejenis adalah 4 (empat) tahun dan dapat dipilih kembali maksimal 2 (dua) kali secara berturut-turut. Masa kepengurusan komite sekolah/madrasah atau nama lain yang sejenis sebagaimana dimaksud pada ayat (4) dapat berakhir sebelum 4 (empat) tahun dan dapat diangkat pengurus pengganti. Paragraf 5 Mekanisme Pemilihan Pasal 189

(2)

(3)

(4)

(5)

(6)

(1)

Pemilihan anggota komite sekolah/madrasah diselenggarakan oleh panitia yang dibentuk oleh kepala satuan pendidikan dan orang tua/wali peserta didik.

76461668.doc

113

dan diketuai oleh unsur masyarakat. atau media lain. dan disebarkan kepada masyarakat.doc . (3) (4) (5) Paragraf 6 Pendanaan Pasal 190 (1) Pendanaan operasional komite sekolah/madrasah atau nama lain yang sejenis dapat berasal dari anggaran pendapatan dan belanja sekolah/madarasah dan sumber lain yang tidak mengikat. Proses pemilihan dari awal sampai terbentuknya anggota komite sekolah/madrasah atau nama lain yang sejenis diinformasikan kepada masyarakat oleh panitia. Pengurus komite sekolah/madrasah atau nama lain yang sejenis bersama masyarakat mengusahakan pencarian sumber dana bagi komite sekolah/madrasah atau nama lain yang sejenis.(2) Panitia pemilihan anggota komite sekolah/madrasah atau nama lain yang sejenis bekerja secara independen yang terdiri atas 5 (lima) orang yaitu 2 (dua) unsur pendidik (guru). Pemilihan kepengurusan komite sekolah/madrasah dipilih dari dan oleh anggota komite sekolah/madrasah atau nama lain yang sejenis masing-masing. dan dilaporkan kepada kantor dinas yang menangani urusan pemerintahan di bidang pendidikan sesuai kewenangannya. Panitia menyampaikan nama anggota dan susunan kepengurusan komite sekolah/madrasah atau nama lain yang sejenis hasil pemilihan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dan ayat (3) kepada kepala sekolah untuk ditetapkan. brosur yang dicetak. dan 1 (satu) unsur . 114 (3) 76461668. 2 (dua) unsur orangtua/wali peserta didik (masyarakat). (2) Pasal 191 (1) (2) Komite sekolah/madrasah bertanggung jawab kepada publik. Kegagalan komite sekolah/madrasah dalam pertanggungjawaban publik sebagaimana diatur pada ayat (1) dan ayat (2) dapat berakibat pemberhentian ketua dan/atau anggota komite sekolah/madrasah oleh pejabat yang menetapkannya. Mekanisme pertanggungjawaban komite sekolah/madrasah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan melalui media komunikasi yang diterbitkan.

dan jenis pendidikan. dilarang menjual buku pelajaran. baik perseorangan maupun kolektif. Dewan pendidikan dan/atau komite sekolah/madrasah atau nama lain yang sejenis. Pemerintah melakukan pengawasan secara nasional terhadap penyelenggaraan dan pegelolaan pendidikan pada semua jalur. baik perseorangan maupun kolektif. dilarang mengintervensi seleksi calon peserta didik dan proses pembelajaran. Dewan pendidikan dan/atau komite sekolah/madrasah atau nama lain yang sejenis. jenjang. baik perseorangan maupun kolektif. serta tidak membebani atau mengambil keuntungan dari satuan pendidikan. pakaian seragam atau bahan pakaian seragam di satuan pendidikan baik secara langsung maupun tidak langsung.doc .Bagian Keenam Larangan Pasal 192 (1) Dewan pendidikan dan/atau komite sekolah/madrasah atau nama lain yang sejenis. dilarang melakukan segala sesuatu baik secara langsung maupun tidak langsung yang menciderai integritas evaluasi hasil belajar. Dewan pendidikan dan/atau komite sekolah/madrasah atau nama lain yang sejenis. dilarang melakukan pungutan kepada peserta didik baik secara langsung maupun tidak langsung yang bertentangan dengan peraturan perundang-undangan. BAB XV PENGAWASAN Pasal 193 (2) (3) (4) (5) (1) Pengawasan penyelenggaraan dan pegelolaan pendidikan mencakup pengawasan administratif dan teknis edukatif. baik perseorangan maupun kolektif. Dewan pendidikan dan/atau komite sekolah/madrasah atau nama lain yang sejenis. baik secara perseorangan maupun kolektif dilarang memberikan bimbingan belajar atau les kepada peserta didik baik secara langsung maupun tidak dengan memungut biaya. Pemerintah Provinsi melakukan pengawasan 115 (2) (3) 76461668.

Pasal 195 (1) Dewan pendidikan melakukan pengawasan terhadap pelaksanaan penyelenggaraan dan pegelolaan pendidikan pada semua satuan pendidikan. dan pendidikan nonformal di wilayahnya. (7) Pemerintah. (3) Dalam hal hasil pengawasan yang dilakukan oleh Pemerintah Provinsi dan/atau Pemerintah Kabupaten/Kota. oleh Pemerintah dipandang kredibel. Pemerintah Kabupaten/Kota dalam menjalankan tugas pengawasan dapat menunjuk lembaga pengawasan/pemeriksaan independen. (6) Dalam hal hasil pengawasan yang dilakukan oleh Pemerintah Kabupaten/Kota. 76461668. oleh Pemerintah Provinsi dipandang kredibel. oleh Pemerintah Provinsi diduga meragukan. maka Pemerintah melakukan pengawasan ulang. (5) Dalam hal hasil pengawasan yang dilakukan oleh Pemerintah Kabupaten/Kota. pendidikan dasar.terhadap penyelenggaraan dan pegelolaan pendidikan dasar dan pendidikan menengah bertaraf internasional. (2) Komite sekolah/madrasah melakukan pengawasan terhadap pelaksanaan penyelenggaraan dan pegelolaan pendidikan pada satuan pendidikan yang bersangkutan. Pemerintah Provinsi. serta pendidikan lintas kabupaten/kota di dalam wilayah provinsi tersebut. jalur. dan oleh melakukan pegelolaan pendidikan (2) Dalam hal hasil pengawasan yang dilakukan oleh Pemerintah Provinsi dan/atau Pemerintah Kabupaten/Kota. dan jenis pendidikan sesuai dengan kewenangannya. jenjang. maka Pemerintah melakukan pengawasan ulang. menengah. maka Pemerintah menindaklanjuti hasil pengawasan tersebut. (4) Pemerintah provinisi menjalankan tugas pengawasan atas dasar hasil pengawasan yang dilakukan oleh Pemerintah Kabupaten/Kota. Pasal 194 (1) Pemerintah melakukan pengawasan secara langsung memperhatikan hasil pengawasan yang dilakukan Pemerintah Provinsi dan/atau Pemerintah Kabupaten/Kota.doc 116 . maka Pemerintah menindaklanjuti hasil pengawasan tersebut. oleh Pemerintah diduga meragukan. (4) Pemerintah Kabupaten/Kota pengawasan terhadap penyelenggaraan dan pendidikan anak usia dini.

dewan pendidikan. satuan pendidikan. lembaga pemerintah menyelenggarakan pendidikan. departemen lain yang menyelenggarakan pendidikan. Pemerintah Kabupaten/Kota. b. dan/atau penyalahgunaan wewenang dalam penyelenggaraan dan pegelolaan pendidikan. (3) Pemeriksaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a dan huruf b dapat berbentuk pemeriksaan umum. b. unit kerja di lingkungan Departemen. i. mengusut. badan hukum pendidikan. pemeriksaan tematik. menguji. menguji. f. Pemerintah Provinsi. penyimpangan. pemeriksaan khusus. h. memeriksa.(3) Pengawasan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) diinformasikan kepada masyarakat yang berkepentingan secara terbuka sebagai bentuk akuntabilitas publik. atau masyarakat yang nondepartemen yang pihak lain yang terlibat dalam penyelenggaraan dan pegelolaan pendidikan. j. c. dan/atau menilai informasi aduan masyarakat tentang hambatan. k. memantau. 76461668. d. pemeriksaan investigatif. komite sekolah/madrasah.doc 117 . mengevaluasi. dan/atau melakukan inspeksi mendadak terhadap objek yang diawasi. keluarga atau anggota/kelompok melaksanakan pendidikan informal. (2) Objek pengawasan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a adalah: a. memeriksa. e. dan/atau pemeriksaan terpadu. g. meneliti. program pendidikan. l. menilai. Pasal 196 (1) Pengawasan oleh Pemerintah dilakukan dengan cara: a.

dan/atau penyalahgunaan wewenang dalam penyelenggaraan dan pegelolaan pendidikan. memeriksa. d. l. dasar. mengusut. menilai. menguji. h. penyimpangan. lembaga akreditasi mandiri dan/atau asosiasi profesi. (2) Objek pengawasan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a adalah: a. k. b.doc . dewan pendidikan tingkat provinsi pendidikan tingkat kabupaten/kota. Pemerintah Kabupaten/Kota. dan ayat (3) dilaporkan kepada Menteri dan objek yang diawasi. pendidikan pendidikan menengah. i. dan pendidikan nonformal. yang program pendidikan pada satuan pendidikan menengah dan pendidikan nonformal. b. yang masyarakat dibentuk yang dan/atau dewan g. penyelenggara pendidikan pendidikan anak usia dini. c. unit kerja di bawah gubernur. masyarakat lembaga evaluasi pendidikan mandiri yang dibentuk oleh 118 76461668. mengevaluasi. j. Pasal 197 (1) Pengawasan oleh Pemerintah Provinsi dilakukan dengan cara: a. satuan pendidikan anak usia dini. menguji. memeriksa. dan/atau menilai informasi aduan masyarakat tentang hambatan. meneliti. keluarga atau anggota/kelompok melaksanakan pendidikan informal. e. dan pendidikan nonformal.(4) Pengawasan sebagaimana dimaksud pada ayat (1). memantau. pendidikan menengah. ayat (2). dan/atau melakukan inspeksi mendadak terhadap objek yang diawasi. f. komite sekolah/madrasah. pendidikan dasar. unit-unit perwakilan departemen lain di provinsi menyelenggarakan atau mengelola pendidikan. badan hukum pendidikan yang melaksanakan atau menyelenggarakan pendidikan dasar dan/atau pendidikan menengah.

e. dan/atau melakukan inspeksi mendadak terhadap objek yang diawasi. dan/atau menilai informasi aduan masyarakat tentang hambatan. Pasal 198 (1) Pengawasan oleh Pemerintah Kabupaten/Kota dilakukan dengan cara: a.doc 119 . penyelenggara pendidikan anak usia dini. mengusut. (2) Objek pengawasan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a adalah: a. g. d. dan/atau penyalahgunaan wewenang dalam penyelenggaraan dan pegelolaan pendidikan. penyelenggaraan dan dengan kewenangan (3) Pemeriksaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a dan b dapat berbentuk pemeriksaan umum. dan/atau pemeriksaan terpadu. satuan pendidikan anak usia dini. unit kerja di bawah bupati/walikota. h. pendidikan dasar. b. pemeriksaan investigatif. mengevaluasi. sesuai Pemerintah Provinsi. komite sekolah/madrasah. badan hukum pendidikan yang menyelenggarakan pendidikan dasar. dan objek yang diawasi. pemeriksaan khusus. f. (4) Pengawasan sebagaimana dimaksud pada ayat (1). pihak lain yang terlibat dalam pegelolaan pendidikan. menilai. c. Menteri. menguji. program pendidikan pada satuan pendidikan nonformal. pendidikan dasar. 76461668. menguji. melaksanakan atau dewan pendidikan tingkat kabupaten/kota. dan pendidikan nonformal. dan ayat (3) dilaporkan kepada gubernur. unit-unit perwakilan departemen lain di kabupaten/kota yang menyelenggarakan atau mengelola pendidikan. dan pendidikan nonformal. meneliti. penyimpangan.masyarakat dan/atau asosiai profesi. atau m. memeriksa. memeriksa. memantau. ayat (2). pemeriksaan tematik. b.

dan ayat (3) dilaporkan kepada bupati/walikota.doc 120 . penyelenggara pendidikan. (2) Objek pengawasan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a adalah: a. meneliti dan/atau menilai informasi aduan masyarakat tentang hambatan. keluarga atau anggota/kelompok masyarakat melaksanakan pendidikan informal. pemeriksaan investigatif. dan/atau pihak lain yang terlibat pegelolaan pendidikan.ayat (2). c. sesuai dengan kewenangan Pemerintah Kabupaten/Kota. d. komite sekolah/madrasah. dalam penyelenggaraan yang dan Pengawasan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) dilaporkan kepada: 76461668. (4) Pasal 199 (1) Pengawasan oleh dewan pendidikan dilakukan dengan cara: a. Pengawasan sebagaimana dimaksud pada ayat (1).i. dan/atau pemeriksaan terpadu. b. dan/atau memantau terhadap objek yang diawasi sesuai dengan kewenangannya. pemeriksaan khusus. Menteri. dan objek yang diawasi. program pendidikan pada satuan pendidikan. (3) badan hukum pendidikan. menilai. g. pemeriksaan tematik. b. e. mengevaluasi. penyimpangan. dan/atau penyalahgunaan wewenang dalam penyelenggaraan dan pegelolaan pendidikan. gubernur. j. (3) Pemeriksaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a dan b dapat berbentuk pemeriksaan umum. atau masyarakat yang pihak lain yang terlibat dalam penyelenggaraan dan pegelolaan pendidikan. satuan pendidikan. f. keluarga atau anggota/kelompok melaksanakan pendidikan informal.

dinas yang kabupaten/kota. pada satuan pendidikan yang (3).doc 121 . untuk dewan pendidikan tingkat provinsi dan kabupaten/kota. dan untuk dewan pendidikan tingkat objek yang diawasi. satuan pendidikan yang bersangkutan. menangani urusan pendidikan di b. d. menteri.a. Objek pengawasan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a adalah: a. dan c. Pasal 200 (1). menilai. b. dan/atau penyalahgunaan wewenang dalam penyelenggaraan dan pegelolaan pendidikan. badan hukum pendidikan. dan/atau memantau terhadap objek yang diawasi. dan/atau b. pelaksanaan. dan tindak lanjut pengawasan sebagaimana dimaksud 76461668. Pasal 201 (1). Pengawasan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) dilaporkan kepada: a. untuk dewan pendidikan provinsi. bupati/walikota. Pengawasan oleh komite sekolah/madrasah dilakukan dengan cara: a. penyimpangan. (2). pelaporan. tingkat nasional. b. program pendidikan bersangkutan. gubernur. c. dan kabupaten/kota. meneliti dan/atau menilai informasi aduan masyarakat tentang hambatan. Menteri mengkoordinasikan perencanaan. mengevaluasi. kabupaten/kota. objek yang diawasi.

(2). dan Pasal 163. 82. 30. Pasal 199. 74. dan/atau badan hukum pendidikan yang melaksanakan pendidikan yang tidak sesuai dengan ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 25.pada Pasal 196. 29. c. penggabungan atau penutupan satuan pendidikan. menilai kinerja objek yang diawasi. Pasal 161. d.doc . Pasal 159. dan Pasal 200. yang e. masukan dalam pelaksanaan rencana pendidikan. (2). 26. 98. 31. satuan pendidikan. 55. Pasal 197. 62. Pasal 160. Pasal 203 (1) Pemerintah dan/atau pemerintah daerah sesuai dengan kewenangannya dapat memberikan sanksi administratif berupa peringatan. pembekuan. 50. BAB XVI SANKSI Pasal 202 (1). b. 122 76461668. 36. memberikan sanksi atas penyimpangan administratif dan/atau pelanggaran hukum yang dilakukan oleh objek yang diawasi baik individu ataupun kelembagaan. program pendidikan. Pasal 198. memberikan penghargaan atas kinerja objek diawasi. Pemerintah dan/atau pemerintah daerah sesuai dengan kewenangannya menutup satuan pendidikan dan/atau program pendidikan yang beroperasi tanpa izin sebagaimana dimaksud dalam Pasal 159 dan Pasal 160. 64. 68. 28. Pemerintah dan/atau pemerintah daerah sesuai dengan kewenangannya dapat menutup satuan pendidikan dan/atau program pendidikan yang telah memperoleh izin pendirian dan/atau izin penyelenggaraan dari pihak yang berwenang tetapi terbukti tidak memenuhi persyaratan pendirian sebagaimana dimaksud dalam Pasal 158. 42. Pasal 162. masukan dalam perencanaan pendidikan. Pengawasan digunakan oleh pihak penerima laporan pengawasan untuk: a.

Menteri berwenang memberhentikan yang bersangkutan dari jabatannya. 138. 158. 157. pembekuan. 82. 165 dan Pasal 164. 64. dikenakan sanksi sanksi administratif oleh Pemerintah berupa teguran tertulis. 36. 160. 137. 136. pembekuan.101. 55. 144. 30. Dalam hal pejabat yang berwenang sebagaimana dimaksud pada ayat (1). 151. 157. 152. 142. 98. 68. (2) Pemerintah dan/atau pemerintah daerah sesuai dengan kewenangannya dapat menunda atau membatalkan pemberian subsidi sumberdaya pendidikan kepada satuan pendidikan. 107. 159. Pasal 204 (1) Pimpinan perguruan tinggi yang melanggar ketentuan Pasal 68 diberi sanksi oleh pejabat yang berwenang sesuai peraturan perundang-undangan. 126. Perseorangan atau kelompok anggota sivitas akademika perguruan tinggi yang melaksanakan kebebasan akademik dan/atau otonomi keilmuan yang melanggar ketentuan yang diatur dalam Pasal 70. 108. 158. 125. dan/atau dicabut izin penyelenggaraannya. 151. 136. 125. 62. 118. 101. 130. 130. 26. Dalam hal perguruan tinggi tidak melakukan pemberhentian sebagaimana dimasuk pada ayat (3). program pendidikan. 144. 160. 161. 107. 31. 137. 139. 28. melalaikan ketentuan ayat (1). dikenakan sanksi administratif oleh perguruan tinggi yang bersangkutan berupa teguran tertulis dan/atau diberhentikan dari jabatannya atau diberhentikan dari status kepegawaiannya di perguruan tinggi yang bersangkutan. 152. 42. dan/atau badan hukum pendidikan yang melaksanakan pendidikan yang tidak sesuai dengan ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 25. Perguruan tinggi atau unit dari perguruan tinggi yang melaksanakan kebebasan akademik dan/atau otonomi keilmuan yang melanggar ketentuan yang diatur dalam Peraturan Pemerintah ini. 140. 165 dan Pasal 164. 145. 140. 139. 145. 159. 74. 108.doc . 142. 126. 50. 138. 161. dan/atau penutupan perguruan tinggi yang melaksanakan dharma perguruan tinggi yang tidak sesuai dengan ketentuan sebagaimana diatur dalam Peraturan 123 (2) (3) (4) (5) (6) 76461668. penutupan. Menteri berwenang memberhentikan pimpinan perguruan tinggi yang bersangkutan dari jabatannya. 29. Pemerintah dapat memberikan sanksi administratif berupa teguran tertulis. atau memberhentikan yang bersangkutan dari status kepegawaiannya di perguruan tinggi. 118.

dan yang menangani pendidikan. Pasal 207 Satuan pendidikan jarak jauh yang tidak memenuhi persyaratan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 102. skorsing. Satuan pendidikan dapat memberikan sanksi administratif berupa peringatan. (2). dan Pasal 106. serta pihak lain yang terkait dengan satuan pendidikan secara perseorangan ataupun kolektif yang melanggar ketentuan Pasal 187 dikenakan sanksi teguran secara tertulis dari Pemerintah Kabupaten/Kota atau Pemerintah Provinsi sesuai dengan kewenangannya. Anggota komite sekolah/madrasah. (3) Pendidik atau tenaga kependidikan nonpegawai negeri sipil yang melanggar ketentuan Pasal 154 dikenakan sanksi administratif sesuai dengan peraturan perundang-undangan. dan/atau penutupan oleh Menteri. 76461668. yang melaksanakan pendidikan informal baik disengaja maupun tidak disengaja yang melanggar ketentuan Pasal 97 dapat dikenakan sanksi administratif berupa teguran tertulis. dewan pendidikan. dan/atau penutupan dari Pemerintah dan/atau pemerintah daerah. pembekuan. dikenakan sanksi administratif berupa teguran tertulis. (2) Pendidik atau tenaga kependidikan pegawai negeri sipil yang melanggar ketentuan Pasal 154 dikenakan sanksi administratif sesuai dengan peraturan perundang-undangan. Pasal 208 (1) Pendidik atau tenaga kependidikan yang melalaikan tugas dan/atau kewajibannya selama 3 (tiga) bulan atau lebih secara terus menerus tanpa alasan yang dapat dipertanggungjawabkan dikenakan sanksi administratif sesuai dengan peraturan perundang-undangan.Pemerintah ini. institusi Pemerintah. Pasal 205 (1). Pasal 206 Perseorangan. Pasal 105. kelompok. atau organisasi. dan/atau mengeluarkan dari satuan pendidikan terhadap peserta didik yang tidak melaksanakan kewajibannya sebagaimana diatur dalam Pasal 144.doc 124 . organisasi orang tua peserta didik. pembekuan. Pasal 103.

dikenakan sanksi administratif berupa teguran tertulis. Pasal 126.(4) Badan hukum pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (3) yang melalaikan ketentuan ayat (3) dikenakan sanksi administratif berupa peringatan tertulis atau pembekuan oleh Pemerintah atau sesuai kewenangannya. (2) Pencabutan izin sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan setelah diadakan pembinaan paling lama tiga tahun. dan/atau pemberhentian dengan tidak hormat dari jabatannya. Pasal 29. Pasal 26. Pasal 134. atau bupati/walikota sesuai dengan kewenangan. pembekuan. menempatkan. penundaan kenaikan gaji berkala. Satuan pendidikan Indonesia yang melaksanakan kerja sama dengan satuan pendidikan dari negara lain yang tidak sesuai dengan ketentuan sebagaimana diatur dalam Pasal 138. dan Pasal 136 dikenakan sanksi oleh Menteri berupa teguran tertulis dan/atau penutupan satuan pendidikan. dan Pasal 127 serta pendidikan berbasis keunggulan lokal sebagaimana dimaksud dalam Pasal 129 dan Pasal 131 dikenakan sanksi administratif berupa teguran tertulis hingga pencabutan izin sebagai satuan pendidikan bertaraf internasional atau satuan pendidikan berbasis keunggulan lokal oleh Pemerintah atau pemerintah daerah sesuai kewenangannya. pemberhentian dengan hormat. atau memberhentikan pendidik atau tenaga kependidikan yang bertentangan dengan ketentuan Pasal 148 tanpa alasan yang sah.doc (2) 125 . dan Pasal 31 dikenakan sanksi administratif berupa teguran tertulis. Pasal 211 Satuan pendidikan yang melanggar ketentuan tentang pengelolaan pendidikan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 25. Pasal 139. dan/atau penutupan satuan 76461668. dan/atau penutupan satuan pendidikan oleh Menteri. memindahkan. perwakilan negara asing atau lembaga pendidikan asing yang tidak sesuai dengan ketentuan sebagaimana diatur dalam Pasal 133. Pasal 210 (1) Penyelenggaraan pendidikan di wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia oleh perseorangan. Pasal 209 (1) Satuan pendidikan yang melanggar ketentuan tentang penyelenggaraan pendidikan bertaraf internasional sebagaimana dimaksud dalam Pasal 125. organisasi. dan Pasal 140 dikenakan sanksi administratif berupa teguran tertulis. pembekuan. gubernur. pembebasan dari jabatan. (5) Seseorang yang mengangkat. Pasal 28. penundaan kenaikan pangkat. Pasal 30.

wajib menyesuaikan dengan Peraturan Pemerintah ini selambat-lambatnya 3 tahun sejak Peraturan Pemerintah ini berlaku. dan/atau pemberhentian dengan tidak hormat dari jabatannya. dan Pasal 184 dikenakan sanksi administratif berupa teguran tertulis oleh Pemerintah atau sesuai kewenangannya Pasal 213 Perseorangan atau kelompok pegawai Pemerintah atau sesuai kewenangannya yang melanggar atau melalaikan ketentuan yang diatur dalam Pasal 192 atau menggunakan kewenangannya yang melampaui peraturan perundang-undangan dikenakan sanksi administratif berupa teguran tertulis. atau satuan pendidikan sejenis yang telah ada sebelum berlakunya Peraturan Pemerintah ini. penundaan kenaikan pangkat. (2) BAB XVII KETENTUAN PERALIHAN Pasal 214 Sekolah internasional. pembebasan dari jabatan. Pasal 215 Pada saat berlakunya Peraturan Pemerintah ini. penundaan kenaikan gaji berkala. 76461668. sekolah yang dinyatakan oleh pendirinya sebagai sekolah bertaraf internasional.pendidikan oleh Pemerintah atau atau pemerintah daerah kewenangannya sesuai Pasal 212 (1) Perseorangan atau kelompok anggota dewan pendidikan atau komite sekolah/madrasah yang melanggar ketentuan Pasal 190 dikenakan sanksi administratif berupa teguran tertulis oleh Pemerintah atau sesuai kewenangannya Perseorangan atau kelompok anggota dewan pendidikan atau komite sekolah/madrasah yang dalam menjalankan tugasnya melampaui kewenangan atau fungsi/perannya sebagaimana diatur dalam Pasal 175. peraturan perundangundangan yang terkait dengan penyelenggaraan pendidikan dinyatakan masih tetap berlaku sepanjang tidak bertentangan dan belum diganti berdasarkan Peraturan Pemerintah ini. pemberhentian dengan hormat.doc 126 .

c. Peraturan Pemerintah Nomor 73 Tahun 1991 tentang Pendidikan Pendidikan Luar Sekolah (Lembaran Negara Tahun 1991 Nomor 95. Pasal 217 Pada saat mulai berlakunya Peraturan Pemerintah ini: a. Tambahan Lembaran Negara Nomor 3461). sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Pemerintah Nomor 56 Tahun 98 tentang Perubahan atas Peraturan Pemerintah Nomor 29 Tahun 1990 (Lembaran Negara Tahun 1998 Nomor 91. Tambahan Lembaran Negara Nomor 3413). Peraturan Pemerintah Nomor 27 Tahun 1990 tentang Pendidikan Prasekolah (Lembaran Negara Tahun 1990 Nomor 35. sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Pemerintah Nomor 39 Tahun 2000 tentang Perubahan atas Peraturan 127 b.BAB XVIII KETENTUAN PENUTUP Pasal 216 Semua peraturan perundang-undangan yang diperlukan untuk melaksanakan Peraturan Pemerintah ini harus diselesaikan paling lambat 2 (dua) tahun terhitung sejak diberlakukan Peraturan Pemerintah ini. Tambahan Lembaran Negara Nomor 3411). e. f. Peraturan Pemerintah Nomor 28 Tahun 1990 tentang Pendidikan Dasar (Lembaran Negara Tahun 1990 Nomor 36. Peraturan Pemerintah Nomor 29 Tahun 1990 tentang Pendidikan Menengah (Lembaran Negara Tahun 1990 Nomor 37. Tambahan Lembaran Negara Nomor 3484). Tambahan Lembaran Negara Nomor 3764).doc . Tambahan Lembaran Negara Nomor 3460). Tambahan Lembaran Negara Nomor 3763). Tambahan Lembaran Negara Nomor 3412). Peraturan Pemerintah Nomor 38 Tahun 1992 tentang Tenaga Kependidikan (Lembaran Negara Tahun 1992 Nomor 68. 76461668. sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Pemerintah Nomor 55 Tahun 98 tentang Perubahan atas Peraturan Pemerintah Nomor 28 Tahun 1990 (Lembaran Negara Tahun 1998 Nomor 90. d. Peraturan Pemerintah Nomor 72 Tahun 1991 tentang Pendidikan Luar Biasa (Lembaran Negara Tahun 1991 Nomor 34.

Peraturan Pemerintah Nomor 60 Tahun 1999 tentang Pendidikan Tinggi (Lembaran Negara Tahun 1999 Nomor 115. H... memerintahkan pengundangan Peraturan Pemerintah ini dengan menempatkannya dalam Lembaran Negara Republik Indonesia.. PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA DR... SUSILO BAMBANG YUDHOYONO Ditetapkan di Jakarta Pada tanggal ...... Peraturan Pemerintah Nomor 39 Tahun 1992 tentang Peranserta Masyarakat dalam Pendidikan Nasional (Lembaran Negara Tahun 1992 Nomor 69. Tambahan Lembaran Negara Nomor 3859).. Ditetapkan di Jakarta Pada tanggal . g.Pemerintah Nomor 38 Tahun 1992 (Lembaran Negara Tahun 2000 Nomor 91... Pasal 218 Peraturan Pemerintah ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan...TAHUN 2007 76461668. Agar setiap orang mengetahuinya..doc 128 .. Tambahan Lembaran Negara Nomor 3485).. Tambahan Lembaran Negara Nomor 3974).... h.. dinyatakan tidak berlaku. MENTERI HUKUM DAN HAK AZASI MANUSIA ANDI MATALATTA LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA NOMOR…..

diharapkan dunia pendidikan di Indonesia dapat merespon dan mengimbangi perubahan-perubahan ini secara proporsional. Untuk mencapai sinergi tersebut pengaturan tentang fungsi. sementara seorang “futurist” di era globalisasi hanya mereka yang memiliki ilmu 76461668. dan jenis pendidikan harus berlangsung secara sinergis.PENJELASAN ATAS PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR …… TAHUN …. Parameter kualitas pendidikan. Oleh sebab itu. sarana dan prasarana. syarat pendirian. bentuk dan jenis pendidikan. tujuan. peserta didik. Pendekatan yang sama berlaku pula dalam pengaturan penyelenggaraan pendidikan pada masing-masing satuan pendidikan. mengisyaratkan bahwa penyelenggaraan pendidikan pada semua jalur. menyebabkan batas-batas negara menjadi semakin maya. peranserta masyarakat. Dunia pendidikan khususnya dan tantangan masa depan umumnya telah berubah dan berkembang sedemikian cepatnya. Pendidikan merupakan suatu proses yang dinamik sesuai dengan perubahan masyarakat dan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. Perkembangan ini. manajemen. dan sanksi perlu diatur dalam satu kesatuan sistem pendidikan yang komprehensif. baik dilihat dari segi pasokan. keterbukaan telah menjadi karakteristik kehidupan yang demokratis. Dalam era globalisasi dan informasi saat ini.. bahasa pengantar.doc 129 . melalui sebuah pembaruan yang dapat dipertanggungjawabkan kepada publik (stakeholders) agar mampu mempersiapkan generasi penerus bangsa sejak dini sehingga memiliki unggulan kompetitif dalam tatanan kehidupan nasional dan global. UMUM Visi sistem pendidikan nasional sabagai pranata sosial yang kuat dan berwibawa untuk memberdayakan semua warga negara Indonesia agar berkembang menjadi manusia yang berkualitas sehingga mampu dan proaktif menjawab tantangan zaman yang selalu berubah. (2) era global isasi informasi yang muncul di awal milenium ke tiga. proses. dan hasil pendidikan selalu berubah. yang ditandai dengan (1) perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang sangat cepat. TENTANG PENGELOLAAN DAN PENYELENGGARAAN PENDIDIKAN I. jenjang. dan hal ini membawa dampak pada cepat usangnya kebijakan maupun praksis pendidikan. pendidikan harus secara terus-menerus perlu ditingkatkan kualitasnya. pengawasan. masyarakat dan orang tua. Tanggung jawab pendidikan merupakan tanggung jawab bersama Pemerintah.

penyelenggaraan pendidikan oleh lembaga negara asing. Pengelolaan satuan pendidikan nonformal dilakukan oleh Pemerintah. Sedangkan lingkup pengaturan dalam Peraturan Pemerintah ini mencakup Pengelolaan dan Penyelenggaraan pendidikan berdasarkan jenjang dan jenis pendidikan serta berdasarkan fungsi dalam sistem pendidikan nasional. 52. akuntabilitas. pengembangan tenaga kependidikan. Pengelolaan satuan pendidikan tinggi dilaksanakan berdasarkan prinsip otonomi. pendidikan dasar. dan sertifikasi. akreditasi. evaluasi. pendidikan informal. Standar Nasional Pendidikan. Pemerintah Kabupaten/Kota. pendidikan nonformal. pemerintah daerah. Pengelolaan pendidikan dalam rangka peningkatan 76461668. pendidikan kedinasan. Pasal 50. Untuk mengantisipasi serta merespon pengaruh dari faktor-faktor tersebut. Pengelolaan satuan pendidikan anak usia dini. dan pendidikan khusus dan pendidikan layanan khusus. serta satuan pendidikan yang berbasis keunggulan lokal.pengetahuan dan teknologi lebih banyak dan mumpuni yang akan memenangkan persaingan global. Pengaturan tentang Standar Nasional Pendidikan. Pemerintah Provinsi melakukan koordinasi atas penyelenggaraan pendidikan. dan ketentuan pidana.doc 130 . Pemerintah Provinsi. kurikulum. pendidikan menengah. 51. Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional menetapkan komponen sistem pendidikan yang perlu diatur mencakup pendidikan anak usia dini. (3) munculnya organisasi internasional seperti WTO. pendidikan dasar. jaminan mutu. Wajib Belajar. suatu contoh nyata dari keadaan ini adalah bermunculannya “cabang” sekolah luar negeri di kotakota besar di Indonesia. AFTA menyebabkan terbukanya peluang bagi negara asing untuk menyelenggarakan pendidikan di Indonesia. dan pengeloaan oleh badan hukum pendidikan. pengelolaan pendidikan. perlu dibuat suatu peraturan perundangan tentang pengelolaan dan penyelenggaraan pendidikan yang resposif dan akurat untuk meminimalkan dampak negatif serta memaksimalkan dampak positifnya terhadap sistem pendidikan nasional. Lingkup pengaturan tentang pengelolaan pendidikan mencakup ketentuan tentang pengelolaan oleh Pemerintah. pendidikan jarak jauh. pendanaan pendidikan. sarana dan prasarana pendidikan. dan penyediaan fasilitas penyelenggaraan pendidikan lintas daerah kabupaten/kota untuk tingkat pendidikan dasar dan menengah. pendirian satuan pendidikan. Pemerintah Kabupaten/Kota mengelola pendidikan dasar dan pendidikan menengah. Pengaturan selanjutnya adalah mengenai penyelenggaraan wajib belajar. pengawasan. dan/atau masyarakat. peranserta masyarakat dalam pendidikan. Pendidikan Kedinasan. pendidikan keagamaan. pendidik dan tenaga kependidikan. Pemerintah dan/atau pemerintah daerah menyelenggarakan paling sedikit satu satuan pendidikan pada semua jenjang pendidikan untuk dikembangkan menjadi satuan pendidikan yang bertaraf internasional. Perguruan tinggi menentukan kebijakan dan memiliki otonomi dalam mengelola pendidikan di lembaganya. dan Pendanaan Pendidikan diatur secara tersendiri. dan pendidikan menengah dilaksanakan berdasarkan standar pelayanan minimal dengan prinsip manajemen berbasis sekolah/madrasah. pendidikan tinggi. dan evaluasi yang transparan. dan 53 Undang-Undang Nomor 20 Tentang Sistem Pendidikan Nasional menjelaskan antara lain bahwa pengelolaan sistem pendidikan nasional merupakan tanggung jawab Menteri Pendidikan Nasional yang menentukan kebijakan nasional dan standar nasional pendidikan untuk menjamin mutu pendidikan nasional.

jenjang. Filosofi dasar PAUD adalah menciptakan lingkungan belajar yang mendorong terbangunnya harga diri yang positif pada anak. izin pendirian. untuk. nilai-nilai. b. Penyelenggaraan pendidikan perlu memberikan perhatian kepada hak peserta didik untuk mendapatkan pendidikan agama sesuai dengan agama yang dianutnynya dan diajar oleh pendidik yang seagama. Pendidikan anak usia dini (PAUD). provinsi. dan penghargaan terhadap peranserta seluruh komponen pendidikan. bahkan cara-cara belajar anak mulai mengambil bentuk dasarnya. serta pengutan pean Komite Sekolah/Madrasah. intelektual maupun sosial berlangsung dengan sangat pesatnya sehingga seringkali disimpulkan bahwa keberhasilan pada masa ini menentukan seluruh masa depan seorang anak. penghargaan pada keunikan setiap anak. dan tidak mampu dari segi ekonomi. baik orang tua dan keluarganya maupun masyarakat lain. pendidikan khusus dan pendidikan layanan khusus pada semua jenjang dan jenis pendidikan. peserta didik. memberikan perhatian khusus kepada peserta didik berkelainan dan peserta didik di daerah terpencil atau terbelakang. PAUD diselenggarakan dalam upaya membantu meletakkan dasar perkembangan anak sebelum memasuki pendidikan dasar. dengan mengedepankan nilai-nilai anti diskriminasi. dan dari masyarakat. Landasan akademik dalam pengaturan tentang pengelolaan dan penyelenggaraan pendidikan pada masing-masing jalur. dan jenis pendidikan adalah sebagai berikut. a.doc 131 . stimulasi diberikan juga agar anak dapat mempersiapkan diri memasuki pendidikan dasar dengan lebih baik. bentuk satuan pendidikan. pendidikan nonformal dan informal. serta kepada masyarakat adat yang terpencil dan/atau mengalami bencana alam. pengutamaan pada kebutuhan anak. Para ahli perkembangan anak berpendapat bahwa masa 0 (nol) sampai dengan 6 (enam) tahun pertama dalam kehidupan seorang manusia merupakan masa di mana perkembangan fisik dan motorik. dan kabupaten. pendidikan jarak jauh. 76461668. pendidikan bertaraf internasional. bencana sosial. Bagi anak yang memperoleh pendidikan. dan cenderung menetap sampai usia dewasa. Lingkup pengaturan tentang penyelenggaraan pendidikan mencakup ketentuan tentang fungsi dan tujuan. Usia dini merupakan masa peka untuk menerima stimulasi dan sangat menentukan bagi perkembangan selanjutnya. Keterampilan-keterampilan tersebut merupakan keterampilan dasar yang harus dikembangkan secara optimal agar potensi yang ada pada anak tidak hilang percuma. dan penguatan peran Dewan Pendidikan di tingkat nasional. sikap.partisipasi masyarakat dalam penyelenggaraan pendidikan mencakup penguatan prinsip penyelenggaraan pendidikan oleh. Pada kenyataannya sejumlah besar studi mendukung anggapan ini dan mengungkapkan bahwa masa inilah sejumlah besar kemampuan berbahasa. pendidikan oleh negara asing. Keterampilan-keterampilan tersebut tidak terjadi secara alamiah tetapi harus didukung oleh lingkungan. pendidikan lintas jalur dan satuan pendidikan. Pendidikan dasar dan menengah. hak untuk mendapatkan beasiswa bagi yang berprestasi. pendidikan berbasis keunggulan lokal.

Pemerintah dan masyarakat memiliki kewajiban untuk memfasilitasi semua perguruan tinggi dalam bentuk pendanaan atau kebutuhan lainnya (termasuk bantuan pegawai negeri). pendidikan keaksaraan. Peran pemerintah dalam penentuan kebijakan umum perguruan tinggi akan ditentukan berdasarkan besarnya keterlibatan Pemerintah antara lain: besarnya dana untuk kepentingan perguruan yang dianggarkan dan disalurkan kepada pendidikan tinggi. Dalam konteks pengelolaan perguruan tinggi dengan status badan hukum. Kedudukan perguruan tinggi yang diselenggarakan Pemerintah atau yang diselenggarakan masyarakat adalah sama. pendidikan anak usia dini. pendidikan kesetaraan.doc 132 . di semua bidang ilmu pengetahuan. Pendidikan nonformal meliputi pendidikan kecakapan hidup. Disamping itu. serta pendidikan sejenis lainnya yang ditujukan untuk mengembangkan kemampuan peserta didik dalam memenuhi hak 76461668. c. Pendidikan tinggi merupakan salah satu pilar penting dalam sistem pendidikan nasional yang bertujuan mengembangkan peserta didik agar memiliki kemampuan akademik. Pendidikan nonformal dan pendidikan informal. dan/atau vokasi.Peraturan Pemerintah tentang pendidikan dasar dan menengah cukup strategis untuk dikembangkan mengingat posisi ketenagakerjaan di Indonesia yang pada umumnya baru mencapai pendidikan menengah ke bawah. Salah satu indikator yang menunjukkan hal ini adalah meningkatnya kesadaran masyarakat tentang arti pentingnya pendidikan bagi putra-putri mereka. Peranserta masyarakat dalam penyelenggaraan perguruan tinggi dalam bentuk badan hukum penyelenggara adalah sebagai fasilitator yang bukan merupakan bagian dari perguruan tinggi. Aspek lain yang tidak kalah pentingnya adalah meningkatnya peranserta masyarakat dalam pembangunan pendidikan. pendidikan pemberdayaan perempuan. Untuk itulah maka Undang-Undang mengamanatkan bahwa Pemerintah dan/atau pemerintah daerah menyelenggarakan sekurangkurangnya 1 (satu) satuan pendidikan pada semua jenjang pendidikan untuk dikembangkan menjadi satuan pendidikan yang bertaraf internasional. teknologi dan/atau seni . Kenyataan tersebut ditambah pula dengan beberapa hasil penelitian yang menemukan bahwa ada hubungan positif antara kemajuan suatu negara dengan peningkatan peranserta masyarakat dalam pendidikan. tetap besar. Pendidikan tinggi. kursus dan pelatihan. Kinerja perguruan tinggi dalam menyelenggarakan pendidikan tinggi menjadi salah satu katalisator tinggi rendahnya kualitas sumber daya manusia yang sering dinyatakan sebagai tingkat perkembangan SDM atau Human Development Index (HDI). d. peran Pemerintah secara bertahap akan beralih dari penyelenggara menjadi fasilitator dan pengelola perguruan tinggi menjadi berbasis masyarakat. pendidikan kepemudaan. Kewajiban Pemerintah terhadap semua perguruan tinggi yang sangat penting ialah sebagai pengendali mutu perguruan tinggi. Peran Pemerintah dalam pengendalian mutu maupun pengawasan terhadap jalannya perguruan tinggi yang dilakukan melalui lembaga umum dan Pemerintah. serta ilmu agama. Pemerintah Kabupaten/Kota mengelola satuan pendidikan yang berbasis keunggulan lokal. profesi.

Sistem pendidikan jarak jauh ditujukan untuk meningkatkan pemerataan akses terhadap pendidikan bermutu terutama untuk mengatasi hambatan jarak. Pendidikan informal adalah jalur pendidikan yang dilakukan oleh keluarga dan lingkungan dalam bentuk kegiatan belajar mandiri. Dalam era globalisasi. tingkat laju pertumbuhan penduduk. psikologis. tingkat dan jenis pendidikan. dan efisiensi pada semua jalur. Pendidikan informal berfungsi untuk memberikan keyakinan agama. untuk membentuk kemampuan dan keahlian yang lebih bermutu. Agar biaya penyelenggaraan pendidikan jarak jauh berbasis teknologi informasi dan komunikasi menjadi murah. yaitu untuk melayani peserta didik dalam jumlah besar. mutu. dan fisik bagi peserta didik agar dapat belajar sambil bekerja. f. yaitu mencerdaskan kehidupan bangsa. Tuntutan atas peran strategis pendidikan sebagai suatu pranata sosial yang kuat dan berwibawa untuk mewujudkan tujuan nasional khususnya dalam mencerdaskan kehidupan bangsa telah mendorong pemanfaatan sistem pendidikan jarah jauh sebagai komponen dari sistem pendidikan nasional. Program pendidikan nonformal yang berorientasi pada kursus dan pelatihan keterampilan merupakan jembatan antara pendidikan formal dan dunia kerja. Pendidikan khusus dan pendidikan layanan khusus. nilai moral estetika dan etika serta memberikan pengetahuan. dan ujian harus dirancang sedemikan rupa untuk mengatasi hambatan jarak dan waktu dan dapat diakses oleh peserta didik setiap saat. layanan pendidikan jarak jauh diselenggarakan dengan memanfaatkan media belajar melalui teknologi telekomunikasi. tutorial. tantangan globalisasi. nilai budaya. minat. 76461668. (b) peningkatan mutu. maka produksi bahan ajar mandiri dan layanan akademiknya harus dirancang berdasarkan prinsip industrialisasi masal. e. Sistem operasional pendidikan jarak jauh yang mencakup layanan registrasi. dan (d) efisiensi. Oleh karena itu. adil dan bermutu sebagai perwujudan dari salah satu tujuan nasional. perkembangan teknologi komunikasi. media. waktu. (c) relevansi.setiap warga negara untuk memperoleh pendidikan yang merata. dan media lain. serta pengalaman dalam penyelenggaraan pendidikan jarak jauh menjadi pertimbangan utama dalam penerapan sistem pendidikan jarak jauh untuk meningkatkan akses. relevansi. informasi. Hasil pendidikan informal dapat diakui sama dengan hasil pendidikan formal dan nonformal setelah mengikuti Ujian Nasional dan/atau uji kompetensi sesuai dengan Standar Nasional Pendidikan. perhatian. dan informatika (telematika). Kondisi geografis. Pendidikan jarak jauh. sehingga dapat memberikan kontribusi terhadap perluasan lapangan kerja dan penurunan pengangguran/kemiskinan. dan bakatnya. pendidikan khusus masih menghadapi tantangan berat yang meliputi persoalan-persoalan yang terkait dengan: (a) perluasan kesempatan belajar bagi peserta didik yang membutuhkan pendidikan khusus. dan keterampilan peserta didik dalam rangka mencapai tujuan pendidikan nasional. Pendidikan informal merupakan pengalaman berharga bagi setiap individu sesuai dengan kesempatan.doc 133 . distribusi bahan ajar mandiri. atau menjalankan fungsi kerumahtanggaan bagi ibu rumah tangga.

(c) penyelenggaraan tingkat khusus.doc 134 . Selain itu. (b) perintisan dan pengembangan pendidikan inklusi.Kesungguhan pendidikan khusus dalam mengatasi tantangan-tantangan tersebut akan mencerminkan kehidupan berbangsa dan bernegara secara demokratis yang tidak membedakan satu sama lain. Tantangan dalam perluasan kesempatan belajar perlu segera dijawab melalui kebijakan dan strategi perluasan kesempatan belajar bagi peserta didik yang membutuhkan pendidikan khusus dengan berbagai cara/pendekatan melalui: (a) perintisan dan pengembangan pendidikan terpadu. nonformal. di samping (e) penyelenggaraan sekolah khusus. pendidikan khusus dapat diselenggarakan melalui jalur formal. 76461668. dan informal yang saling melengkapi dan memperkaya.

doc 135 . juga harus mampu memberdayakaan sumberdaya dan potensi lokal dalam semangat otonomi daerah. Dampak positifnya adalah dapat memperkaya khasanah pendidikan nasional baik melalui pendirian satuan pendidikan internasional oleh negara lain maupun melalui kerjasama dengan satuan pendidikan di Indonesia. Untuk menjaga keutuhan sistem pendidikan nasional. Pendidikan bertaraf internasional dan berbasis keunggulan lokal. dan promosi keunggulan lokal. penyelenggaraan pendidikan oleh negara lain ataupun kerjasama penyelenggaraan pendidikan asing perlu mendapat pengaturan secara tegas. UU Sisdiknas mengamanatkan kepada pemerintah dan pemerintah daerah berkewajiban untuk mengembangkan paling sedikit satu satuan pendidikan pada setiap jenis dan jenjang pendidikan menjadi satuan pendidikan berfaraf internasional dan satuan pendidikan berbasis keunggulan lokal. selain diarahkan pada upaya memenuhi kebutuhan kehidupan global. pengembangan. Satuan pendidikan dasar dan menengah berbasis keunggulan lokal menghasilkan lulusan yang memiliki kemampuan mengolah dan/atau mengembangkan sumber daya lingkungan di daerahnya dan menghasilkan produk yang mempunyai nilai ekonomis serta menunjang pelestarian. Satuan pendidikan dasar dan menengah yang dikembangkan menjadi berbasis keunggulan lokal diselenggarakan dengan mengacu pada Standar Nasional Pendidikan yang diperkaya dan dikembangkan sesuai dengan potensi daerah/karakteristik daerah dan sosial budaya masyarakat setempat. Lembaga pendidikan asing 76461668. Tata kehidupan dalam era global abad ke 21 yang ditandai dengan dominasi penggunaan kaedah-kaedah teknologi informasi dan komunikasi dan kompetisi terbuka menuntut persyaratan kompetensi profesional yang berlaku secara internasional. Penyelenggaraan Pendidikan oleh Negara Lain dan Kerjasama Satuan Pendidikan Indonesia dengan Satuan Pendidikan Negara Lain. serta menunjang pelestarian. h. dan pembangunan sumberdaya lokal maupun nasional. Satuan pendidikan dasar dan menengah bertaraf internasional menghasilkan lulusan yang memiliki kemampuan dan daya saing di forum internasional. termasuk dalam hal penyelenggaraan pendidikan.g. Satuan pendidikan dasar dan menengah yang dikembangkan menjadi bertaraf internasional diselenggarakan dengan mengacu pada Standar Nasional Pendidikan yang diperkaya dengan standar pendidikan/standar kompetensi negara maju dalam bidang ilmu pengetahuan. Di pihak lain upaya untuk melaksanakan pembangunan nasional. dan seni. Perwakilan negara asing dapat menyelenggarakan pendidikan di wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia untuk warga negaranya dapat menggunakan ketentuan yang berlaku di negara yang bersangkutan atas persetujuan Pemerintah Republik Indonesia. pengembangan. teknologi. Dalam rangka pelaksnaan pembangunan nasional sesuai dengan tuntuan kehidupan global dan pendayagunaan sumberdaya daerah secara optimal. Salah satu dampak dari kehidupan global dan penggunaan teknologi informasi dan komunikasi adalah terbukanya akses dari dan ke negara Indonesia.

doc 136 . pengelolaan. Peranserta masyarakat dalam pendidikan. Pendidik dan tenaga kependidikan merupakan salah satu unsur pokok dalam proses penjaminan mutu pendidikan. Visi sistem pendidikan nasional sebagai pranata sosial yang kuat dan berwibawa menyiratkan kemitraan dalam penyelenggaraan pendidikan oleh semua komponen bangsa yaitu Pemerintah. dan pemberhentian pendidik dan tenaga kependidikan diatur oleh lembaga yang mengangkatnya berdasarkan kebutuhan satuan pendidikan formal. Pengangkatan. sikap dan nilai berdasarkan standar nasional dan global. Pola penyelenggaraan pendidikan yang selama ini cenderung terpusat pada Pemerintah mengakibatkan kurangnya peranserta masyarakat. Penyelenggaraan pendidikan oleh lembaga asing yang menerima peserta didik warga negara Indonesia wajib memberikan pendidikan agama. masyarakat dan keluarga sebagai perwujudan dari tatanan kehidupan masyarakat madani. dan bahkan dapat mematikan inisiatif masyarakat dalam penyelenggaraan pendidikan. Pemerintah dan pemerintah daerah wajib membantu pembinaan dan pengembangan tenaga kependidikan pada satuan pendidikan formal yang diselenggarakan oleh masyarakat. pengalaman. melakukan pembimbingan dan pelatihan. Tenaga kependidikan selain pendidik bertugas melaksanakan administrasi. i. pengembangan. konseling dan layanan serta melakukan penelitian dan pengabdian kepada masyarakat. Penyelenggaraan pendidikan tersebut harus bekerja sama dengan lembaga penyelenggara pendidikan Indonesia. dan pelayanan teknis untuk menunjang proses pendidikan pada satuan pendidikan. Pendidik dan tenaga kependidikan. Pemerintah dan pemerintah daerah wajib membina dan mengembangkan tenaga kependidikan pada satuan pendidikan yang diselenggarakan oleh Pemerintah dan pemerintah daerah. reformasi dalam bidang pendidikan harus mencakup upaya pemberdayaan 76461668. keterampilan. Pendidik merupakan tenaga profesional yang bertugas merencanakan dan melaksanakan proses pembelajaran. Pendidik dan tenaga kependidikan dapat bekerja secara lintas daerah. pendidikan kewarganegaraan. dan prestasi kerja dalam bidang pendidikan. Untuk menjadikan lembaga pendidikan sebagai pusat pembudayaan ilmu pengetahuan. penyebaran.yang terakreditasi atau yang diakui di negaranya dapat menyelenggarakan pendidikan bagi warga negara asing maupun warga negara Indonesia. Promosi dan penghargaan bagi pendidik dan tenaga kependidikan dilakukan berdasarkan latar belakang pendidikan. kemampuan. penempatan. Penyelenggara pendidikan oleh masyarakat berkewajiban membina dan mengembangkan tenaga kependidikan pada satuan pendidikan yang diselenggarakannya. terutama bagi pendidik pada perguruan tinggi. dan bahasa Indonesia kepada peserta didik warga negara Indonesia. menilai hasil pembelajaran. Seiring dengan semangat demokratisasi dan pelaksanaan otonomi daerah. pengalaman. diperlukan pendidik dan tenaga kependidikan yang profesional. j. Bahasa pengantar utama pada satuan pendidikan yang diselenggarakan oleh lembaga pendidikan asing adalah bahasa Indonesia. Pemerintah dan pemerintah daerah wajib memfasilitasi satuan pendidikan dengan pendidik dan tenaga kependidikan yang diperlukan untuk menjamin terselenggaranya pendidikan yang bermutu. pengawasan.

konvensi internasional. Sedangkan pembentukan dewan pendidikan dan komite sekolah/madrasah atau nama lain yang sejenis merupakan perwujudan dari kemitraan masyarakat dalam pengelolaan pendidikan bersama penyelenggara pendidikan baik di tingkat pengambil keputusan pada lembaga eksekutif dan legislatif maupun pada tingkat satuan pendidikan. Penyelengaraan pendidikan berbasis masyarakat merupakan perwujudan dari prinsip pendidikan yang diselenggarakan oleh. dan kabupaten/kota serta pembentukan komite sekolah/madrasah di tingkat satuan pendidikan. untuk.peranserta masyarakat baik dalam penyelenggaraan pendidikan berbasis masyarakat maupun dalam pengelolaan pendidikan melalui pembentukan dewan pendidikan di tingkat nasional. II. Pasal 3 Cukup jelas. dan kewajiban negara dalam rangka peningkatan keselamatan manusia serta kesepakatan dengan organisasi internasional. provinsi.doc 137 . dan dari masyarakat. PASAL DEMI PASAL Pasal 1 Cukup jelas. yaitu pendidikan yang diselenggarakan oleh masyarakat sebagai pemenuhan atas ciri khas yang berkenaan dengan nilai-nilai sosial dan kultural pada masyarakat tertentu. Pasal 4 Cukup jelas. Ayat (3) Manajemen Berbasis Sekolah/Madrasah adalah bentuk otonomi satuan pendidikan. Pasal 5 Ayat (1) Cukup jelas. Dalam hal ini kepala sekolah/madrasah dan guru dibantu komite sekolah/madrasah atau nama lain yang sejenis/madrasah dalam mengelola sekolah/madrasah. Pasal 2 Cukup jelas. 76461668. Ayat (2) Pengelolaan satuan pendidikan yang dilakukan oleh Menteri lain atau kepala lembaga pemerintahan non departemen sebagaimana dimaksud dalam pasal ini adalah dalam rangka melaksanakan amanat UU.

Pasal 8 Cukup jelas. Pasal 9 Ayat (1) Potensi kecerdasan dan bakat istimewa meliputi bidang intelektual umum. Pasal 10 Cukup jelas. Ayat (2) Huruf a. psikososial/kepemimpinan. seni kinestetik. Cukup jelas Huruf d. dan psikomotorik/olahraga. Pasal 11 Ayat (1) Cukup jelas.doc 138 . kreatif produktif.Ayat (4) Cukup jelas Pasal 6 Cukup jelas. Ayat (2) Cukup jelas. Pasal 7 Cukup jelas. akademik khusus. Cukup jelas Huruf c. Cukup jelas 76461668. Cukup jelas Huruf b.

Huruf e. Koordinasi dan mensupervisi pengembangan kurikulum untuk MA dan MAK dilakukan oleh Kantor Wilayah Departemen Agama Provinsi. Pasal 15 Cukup jelas. Pasal 14 Cukup jelas. Cukup jelas Ayat (3) Cukup jelas. Pasal 12 Cukup jelas. Huruf f. Ayat (3) Cukup jelas. Cukup jelas Huruf h. Cukup jelas Huruf g. 76461668. Cukup jelas Huruf i. Ayat (2) Cukup jelas. Pasal 13 Ayat (1) Cukup jelas. Ayat (4) Cukup jelas.doc 139 .

Cukup jelas Huruf e. Koordinasi dan mensupervisi pengembangan kurikulum untuk MI dan MTs dilakukan oleh Kantor Departemen Agama Kabupaten/Kota Huruf h. Cukup jelas Huruf k. Cukup jelas Huruf b.Pasal 16 Ayat (1) Cukup jelas. Cukup jelas Huruf c. Cukup jelas Huruf j. 76461668. Cukup jelas Huruf d. Cukup jelas Huruf g.doc 140 . Ayat (2) Huruf a. Cukup jelas Huruf f. Cukup jelas Huruf i. Cukup jelas Huruf l.

tenaga kependidikan. Pasal 20 Cukup jelas. proses. Pasal 25 Ayat (1) Cukup jelas Ayat (2) huruf a Cukup jelas Huruf b 76461668. Pasal 21 Cukup jelas. Pasal 22 Cukup jelas. Pasal 17 Cukup jelas. Pasal 23 Cukup jelas.doc 141 . Pasal 24 Cukup jelas. dan penilaian pendidikan yang harus dipenuhi oleh setiap satuan pendidikan dasar dan menengah. serta pencapaian target pembangunan pendidikan nasional. kompetensi lulusan. pengelolaan. Pasal 19 Cukup jelas. sarana dan prasarana. Pasal 18 Cukup jelas.Cukup jelas Ayat (3) Standar pelayanan minimal merupakan batas minimal pemenuhan standar isi. pembiayaan.

Cukup jelas Huruf c Cukup jelas huruf d Apabila pendidikan dasar dikembangkan oleh Pemerintah Provinsi menjadi bertaraf internasional.doc 142 . huruf e Cukup jelas Huruf f Cukup jelas Pasal 26 Ayat (1) Cukup jelas Ayat (2) Huruf a Cukup jelas Huruf b Cukup jelas Huruf c Cukup jelas Huruf d Apabila pendidikan menengah dikembangkan oleh Pemerintah Provinsi menjadi bertaraf internasional. maka laporan penyelenggaraannya disampaikan kepada Pemerintah Provinsi. maka laporan penyelenggaraannya disampaikan kepada Pemerintah Provinsi. Huruf e Cukup jelas Huruf f Cukup jelas 76461668.

Ayat (3) Cukup jelas Pasal 35 Cukup jelas. Pasal 32 Cukup jelas.doc 143 . Pasal 31 Cukup jelas. Pasal 30 Cukup jelas. Pasal 28 Cukup jelas.Pasal 27 Cukup jelas. Pasal 29 Cukup jelas. Taman Kanak-kanak Al-Qur’an (TKQ). Pasal 36 Ayat (1) Cukup jelas Ayat (2) 76461668. Pasal 33 Cukup jelas. Pasal 34 Ayat (1) Bentuk lain yang sederajat antara lain Tarbiyatul Athfal (TA). Taman Pendidikan AlQur’an (TPQ). Ayat (2) Cukup jelas. dan Adi Sekha.

atau bentuk lain yang sederajat dengan menekankan pada penyiapan kemampuan berkomunikasi dan berlogika melalui berbicara. Ayat (3) Cukup jelas. baik di dalam maupun di luar sekolah. 76461668. Ayat (4) Cukup jelas Pasal 37 Ayat (1) Cukup jelas. RA. sehingga menjadi bagian dari budaya sekolah. dan menyenangkan sehingga anak menyukai belajar. Program pembelajaran pengetahuan dan teknologi pada TK. atau bentuk lain yang sederajat dimaksudkan untuk peningkatan potensi spiritual peserta didik melalui contoh pengamalan dari pendidik agar menjadi kebiasaan sehari-hari. pramenulis dan praberhitung yang harus dilaksanakan secara hati-hati. mendengarkan.Ketentuan ini tidak berlaku bagi satuan pendidikan yang secara khusus dirancang untuk melayani peserta didik dari kelompok gender atau agama tertentu. atau bentuk lain yang sederajat dimaksudkan untuk pembentukan kesadaran dan wawasan peserta didik atas hak dan kewajibannya sebagai warga masyarakat dan dalam interaksi sosial serta pemahaman terhadap diri dan peningkatan kualitas diri sebagai manusia sehingga memiliki rasa percaya diri. pramembaca. Huruf c. tidak memaksa. RA. MI. Huruf b. Program pembelajaran agama dan akhlak mulia pada TK.doc 144 . atau bentuk lain yang sederajat dimaksudkan untuk mempersiapkan peserta didik secara akademik memasuki SD. Ayat (2) Huruf a. RA. Program pembelajaran sosial dan kepribadian pada TK.

Pasal 38 Cukup jelas. Program pembelajaran jasmani. dan Culla Sekha. Madyama Vidyalaya (MV). Misalnya memahami dan bersikap sopan kepada orang tua. dan teman. Ayat (6) Stimulasi psikososial adalah rangsangan pendidikan yang menumbuhkan kepekaan memahami dan bersikap terhadap lingkungan sosial sekitarnya. Huruf e. dan Majjhima Sekha. Ayat (4) Cukup jelas. Bentuk lain yang sederajat dengan SMP dan MTs antara lain Paket B. RA atau bentuk lain yang sederajat dimaksudkan untuk meningkatkan sensitivitas. olahraga dan kesehatan pada TK. Ayat (5) Cukup jelas.doc 145 . Ayat (3) Cukup jelas. kemampuan mengekspresikan diri dan kemampuan mengapresiasi keindahan dan harmoni yang terwujud dalam tingkah laku keseharian. saudara. Program pembelajaran estetika pada TK. Pasal 39 Ayat (1) Bentuk lain yang sederajat dengan SD dan MI antara lain Paket A. RA atau bentuk lain yang sederajat dimaksudkan untuk meningkatkan potensi fisik dan menanamkan sportivitas serta kesadaran hidup sehat dan bersih. pendidikan diniyah menengah pertama. Adi Vidyalaya (AV). 76461668.Huruf d. pendidikan diniyah dasar. Ayat (7) Cukup jelas.

Ayat (3) Apabila psikolog profesional tidak ada. Ayat (3) Cukup jelas. Ayat (2) Cukup jelas. sejauh daya tampung memungkinkan. Pasal 42 Ayat (1) Cukup jelas. Ayat (4) Cukup jelas.doc 146 . Pasal 41 Ayat (1) Peserta didik pada SMP atau MTs dapat berasal dari warga negara asing. Pasal 40 Ayat (1) Cukup jelas. Ayat (4) Kemudahan akses fisik misalnya jarak tempuh dari tempat 76461668.Ayat (2) Cukup jelas. Ayat (3) Cukup jelas. Ayat (2) Lihat penjelasan Pasal 36 ayat (2). rekomendasi dapat dilakukan oleh dewan guru satuan pendidikan yang bersangkutan. Ayat (2) Cukup jelas.

Ayat (2) Cukup jelas. Ayat (3) Penjurusan pada pendidikan kejuruan dalam bentuk bidang kejuruan yang merupakan unit akademik terkecil dalam pendidikan kejuruan. Ayat (5) Cukup jelas. Pasal 43 Cukup jelas. Jenis program keahlian mengacu kepada jenis pekerjaan. pendidikan diniyah menengah atas. dan Maha Sekha. bidang kejuruan dan program kejuruan. Ayat (6) Cukup jelas. Adapun struktur penjurusan pada pendidikan kejuruan adalah: kelompok kejuruan.tinggal ke satuan pendidikan. Pasal 47 Ayat (1) Cukup jelas. Ayat (2) Cukup jelas. Ayat (3) Cukup jelas. Pasal 46 Ayat (1) Bentuk lain yang sederajat dengan SMA dan MA antara lain Paket C. Struktur penjurusan ini akan menentukan 76461668. Pasal 45 Cukup jelas. Utama Vidyalaya (UV). Pasal 44 Cukup jelas.doc 147 .

Ayat (3) pelestarian seni budaya dan atau 76461668. Ayat (2) Lihat penjelasan Pasal 36 ayat (2). Ayat (5) Karena pendidikan kejuruan berorientasi pada peluang untuk memperoleh pekerjaan. Pasal 50 Ayat (1) Cukup jelas. Ayat (6) Cukup jelas.doc 148 . Ayat(3) Cukup jelas.cakupan mata pelajaran pada setiap jenis bidang kejuruan. Ayat (4) Cukup jelas. Pasal 48 Cukup jelas Pasal 49 Ayat (1) Peserta didik pada SMA atau MA SMK. Pelestarian meliputi kemahiran tertentu. regional dan global. MAK atau bentuk lain yang sederajat dapat berasal dari warga negara asing. pendidikan kejuruan harus memperhatikan dan mempertimbangkan tren ketenagakerjaan nasional. Ayat (7) Cukup jelas. Ayat(2) Cukup jelas. maka dalam rangka mengantisipasi persaingan global.

Ayat (5) Cukup jelas. Ayat (7) Cukup jelas. Ayat (6) Cukup jelas. Pasal 52 Ayat (1) Cukup jelas. teknologi. Pendidikan profesi merupakan pendidikan tinggi setelah program pendidikan sarjana yang mempersiapkan peserta didik untuk memiliki pekerjaan dengan persyaratan keahlian khusus. Ayat (8) Cukup jelas. Ayat (2) Pendidikan akademik merupakan pendidikan tinggi yang diarahkan terutama pada penguasaan dan pengembangan disiplin ilmu pengetahuan. sesuai ketentuan Pasal 93 Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan. yang mencakup program sarjana. dapat mencakup program spesialis. magister.doc 149 . dan doktor.Cukup jelas. dan/atau seni tertentu. Pasal 51 Cukup jelas. Ayat (4) Lulusan dari satuan pendidikan yang mendapatkan pengakuan sama adalah lulusan dari satuan pendidikan formal yang diselenggarakan tidak mengacu pada Standar Nasional Pendidikan akan tetapi telah memperoleh pengakuan dari Pemerintah atas dasar rekomendasi dari Badan Standar Nasional Pendidikan. 76461668.

Ayat (3) Cukup jelas. diploma II. Ayat (2) Program pendidikan bersambungan (consecutive program) adalah program pendidikan guru yang diawali dengan pemerolehan kompetensi profesional (penguasaan substansi keilmuan.Pendidikan vokasi merupakan pendidikan tinggi yang diarahkan pada penguasaan keahlian terapan tertentu. Pasal 53 Cukup jelas.doc 150 . dan diploma IV. yang mencakup program pendidikan diploma. dan kopetensi sosial diperoleh melalui program pendidikan profesi. kopetensi kepribadian. teknologi. kompetensi pedagogik. Lulusan program ini memperoleh kualifikasi akademik sarjana pendidikan guru TK/RA atau SD/MI. dan kopetensi sosial dalam satu program studi. teknologi. kompetensi kepribadian. setinggi-tingginya setara dengan program pendidikan sarjana. dan/atau seni). dan/atau seni pada fakultas tarbiyah dan pada fakultas lain yang sejenis. diploma III. Pasal 54 Ayat (1) Cukup jelas. Pasal 55 Ayat (1) Program pendidikan secara serempak dan utuh (concurrent program) adalah program pendidikan guru yang kurikulumnya memuat pengembangan kompetensi profesional (penguasaan substansi keilmuan. Ayat (2) Program pendidikan tenaga kependidikan termasuk program pengadaan guru serta pengembangan ilmu kependidikan dan ilmu dasar. dan/atau seni) dalam program studi nonkependidikan untuk memperoleh kualifikasi akademik sarjana nonkependidikan.`teknologi. Penguasaan kompetensi pedagogik. Program pendidikan diploma terdiri atas program pendidikan diploma I. 76461668.

Pasal 61 Cukup jelas. Ayat (2) Cukup jelas.Pasal 56 Cukup jelas. pusat komputerisasi riset. pusat komputasi pengajaran. Ayat (3) Cukup jelas. Ayat (4) Cukup jelas. laboratorium riset.doc 151 . dan memiliki jurnal ilmiah yang secara berkala menerbitkan hasil-hasil penelitian. Unit pengelola/layanan dapat menjadi unit pelaksana teknis yang membidangi satu atau beberapa objek pengelolaan/layanan. Pasal 60 Cukup jelas. 76461668. laboratorium pengajaran. Perguruan tinggi yang lebih fokus pada pendidikan profesi dan/atau vokasi menyediakan secara cukup perpustakaan pengajaran. Pasal 62 Cukup jelas. Misalnya. Pasal 58 Cukup jelas. Pasal 59 Cukup jelas. akses internet. Pasal 57 Ayat (1) Penyediaan unsur penunjang disesuaikan dengan ciri dari perguruan tinggi yang bersangkutan. dan akses internet. Setiap perguruan tinggi disarankan untuk memiliki sarana olahraga dan kesenian yang memadai untuk menciptakan kehidupan kampus yang manusiawi dan menyenangkan. perguruan tinggi riset harus menyediakan secara cukup perpustakaan riset.

daerah. atau kelompok tertentu dari ketertinggalannya. Cukup jelas. Ayat (2) Cukup jelas.Pasal 63 Ayat (1) Huruf a. Ayat (3) Perguruan tinggi dapat menerapkan kebijakan afirmatif dalam penerimaan mahasiswa baru untuk mengakomodasi etnik. Pasal 64 Ayat (1) Cukup jelas. Kebijakan semacam ini harus dinyatakan secara terbuka sebagai kebijakan afirmatif. Ayat (5) Cukup jelas.doc 152 . Ayat (2) Cukup jelas. mahasiswa lulusan program sarjana melanjutkan ke program pascasarjana. Huruf b. Misalnya. 76461668. Tingkat pendidikan hanya berlaku untuk persyaratan mengikuti program pendidikan yang lebih rendah ke program yang lebih tinggi dalam satu jenjang pendidikan tinggi. Ayat (4) Cukup jelas. Ayat (4) Lihat penjelasan Pasal 36 ayat (2). Ayat (3) Cukup jelas.

Ayat (2) Cukup jelas. Pasal 65 Ayat (1) Perjanjian sebagaimana dimaksud dalam ketentuan ini memuat pula hak dan kewajiban mahasiswa yang diatur dalam anggaran dasar dan anggaran rumah tangga. dan psikomotorik.doc 153 . Pasal 67 Ayat (1) Yang dimaksud dengan Sistem Kredit Semester (SKS) adalah suatu sistem penyelenggaraan pendidikan di mana beban belajar mahasiswa. Ayat (8) Cukup jelas. beban kerja tenaga pengajar dan penyelenggara program lembaga pendidikan tinggi dinyatakan 76461668. afektif. Tes tambahan tidak boleh menduplikasi Ujian Nasional dimaksudkan untuk efisiensi dalam proses seleksi penerimaan. Pengumuman hasil tes tambahan dan/atau penilaian rapor tidak boleh dilakukan sebelum pengumuman Ujian Nasional dimaksudkan untuk menjaga integritas hasil ujian nasional dan pemenuhan syarat kelulusan. Pasal 66 Ayat (1) Kemampuan konfluen merupakan kemampuan utuh mahasiswa yang mencerminkan keintegrasian kemampuan kognitif.Ayat (6) Lihat penjelasan Pasal 50 ayat (4) Ayat (7) Tes tambahan misalnya tes skolastik. Ayat (2) Cukup jelas.

1 (satu) jam kegiatan terstruktur.doc 154 . Pasal 68 Ayat (1) Yang dimaksud dengan kelas jauh adalah sistem pembelajaran yang diselenggarakan di luar kampus induk. Ayat (5) Cukup jelas.dalam satuan kredit semester (sks). Ayat (2) Contoh sistem multikampus adalah sistem State University of New York (SUNY) yang memiliki 60 (enam puluh) kampus di seluruh negara bagian New York. Ayat (2) Cukup jelas. Satu matakuliah berbot 3 sks berarti sama dengan kegiatan studi 3 jam tatap muka. Universitas Al Azhar yang memiliki kampus utama di Cairo dan beberapa kampus cabang di hampir seluruh distrik di Mesir. Ayat (3) Cukup jelas Ayat (4) Cukup jelas. dan 1 (satu) jam kegiatan mandiri untuk kurun waktu enam belas (16) minggu efektif. Pasal 70 76461668. Pasal 69 Cukup jelas. Ayat (3) Cukup jelas. atau kegiatan proses belajar mengajar lainnya. 3 jam kegiatan terstruktur. Dalam setiap semester “reguler” 1 (satu) sks sama dengan beban studi setiap minggu berupa 1 (satu) jam tatap muka. merupakan pengakuan atas keberhasilan usaha untuk menyelesaikan kegiatan akademik bersangkutan. dan 3 jam kegiatan mandiri selama 16 minggu. Banyaknya sks yang diberikan untuk matakuliah. Ayat (6) Cukup jelas.

Paten adalah salah satu bentuk dari hak kekayaan intelektual (HKI). Pasal 72 Ayat (1) Penelitian dasar adalah penelitian yang berorientasi pada penjelasan pada fenomena alam (penelitian untuk ilmu) yang melandasi penelitian terapan dan penelitian pengembangan.Cukup jelas. Ayat (4) Cukup jelas. Ayat (5) Invensi adalah suatu ciptaan atau perancangan baru yang belum ada sebelumnya yang memperkaya khazanah serta dapat digunakan untuk menyempurnakan atau memperbaharui ilmu pengetahuan dan teknologi yang telah ada. Ayat (2) Cukup jelas. tetapi antara penulis dan pihaknya tidak saling mengenal dan tidak saling mengetahui. Ayat (9) Cukup jelas. 76461668. Ayat (7) Sertifikat paten adalah dokumen resmi yang diberikan oleh pemerintah kepada pihak-pihak yang menemukan sesuatu teknologi (inventor). Ayat (3) Cukup jelas. Pasal 71 Cukup jelas. Ayat (6) Telaah nirnama (blind review) adalah pakar yang melakukan penelaahan. Ayat (8) Pengayaan materi pembelajaran dapat diartikan bahwa hasil penelitian wajib dijadikan buku ajar hand-out atau tampilan lain yang disajikan pada saat mengajar.doc 155 . kritik dan koreksi terhadap suatu naskah ilmiah agar menjadi lebih sempurna.

Pasal 73 Ayat (1) Cukup jelas. 2. Ayat (3) Cukup jelas. Ayat (4) Cukup jelas. Ayat (8) Akreditasi oleh Departemen dilakukan secara objektif dengan prinsipprinsip berikut: 1. 3. 4. atau pakar dari luar negeri. tenaga ahli dari organisasi profesi. Ayat (2) Cukup jelas. Ayat (5) Cukup jelas. pakar keilmuan yang dimiliki oleh perguruan tinggi lain atau lembaga ilmiah lainnya. Jurnal ilmiah harus memiliki dewan penelaah yang terdiri atas: a.doc 156 . Dewan penelaah sebagaimana dimaksud pada huruf 1 dapat menunjuk mitra bestari untuk menelaah dan memilih naskah ilmiah yang akan diterbitkan. Ayat (6) Cukup jelas. dan c. b. pakar keilmuan yang dimiliki oleh perguruan tinggi yang bersangkutan. Penelaahan dan pemilihan naskah ilmiah yang akan 76461668. Ayat (7) Cukup jelas. Anggota dewan penelaah sebagaimana dimaksud pada huruf 1 huruf a tidak melebihi 40% (empat puluh persen) dari jumlah anggota dewan penelaah.

Pasal 77 Cukup jelas. Pasal 81 Ayat (1) Gelar Doktor Kehormatan bukanlah gelar akademik namun sebutan kehormatan. Pasal 74 Cukup jelas. Pasal 75 Cukup jelas. Pasal 80 Ayat (1) Cukup jelas. Pasal 79 Cukup jelas.doc 157 . Departemen menetapkan status akreditasi yang diperoleh oleh jurnal yang bersangkutan. Ayat (2) Menteri Agama menetapkan kesetaraan ijazah perguruan tinggi luar negeri dengan ijazah gelar perguruan tinggi Indonesia dalam disiplin ilmu agama.diterbitkan harus menerapkan sistem telaah nirnama. Atas dasar hasil akreditasi. 5. Pasal 76 Cukup jelas. dan tidak dapat digunakan untuk melengkapi persyaratan kepangkatan dalam sistem 76461668. Pasal 78 Cukup jelas. Jurnal ilmiah sebagaimana dimaksud pada huruf 1 dapat memuat artikel ilmiah yang berasal dari perguruan tinggi yang bersangkutan sebanyak-banyaknya 20% (dua puluh persen) dari seluruh artikel ilmiah yang diterbitkan pada setiap penerbitan.

Pasal 83 Ayat (1) Pendidikan nonformal berfungsi sebagai pengganti. Pasal 82 Cukup jelas. Program Paket B setara SMP. Pendidikan nonformal berfungsi sebagai pelengkap apabila peserta didik pada satuan pendidikan formal merasa perlu untuk menambah pengetahuan. PAUD Sekolah Minggu (PAUD-SM). Taman Pendidikan Al-Quran (TPQ). dan pelengkap pendidikan formal bagi peserta didik yang karena berbagai hal tidak dapat mengikuti kegiatan pembelajaran pada satuan pendidikan formal atau peserta didik memilih jalur pendidikan nonformal untuk memenuhi kebutuhan belajarnya. Ayat (3) Cukup jelas. Ayat (2) Cukup jelas. penambah. Ayat (4) Cukup jelas. Ayat (2) Cukup jelas. Taman Balita. Pendidikan nonformal berfungsi sebagai penambah pada pendidikan formal apabila pengetahuan. Taman Asuh Anak Muslim. Jenis-jenis pendidikan nonformal yang mempunyai fungsi pengganti pendidikan formal. keterampilan dan sikap melalui jalur pendidikan nonformal. dan Program Paket C setara SMA serta kursus dan pelatihan. Taman Bermain. PAUD Bina Iman Anak (PAUD-BIA). dan PAUD yang diintegrasikan dengan program layanan yang telah ada seperti Pos Pelayanan Terpadu (Posyandu) dan program bina keluarga balita (BKB). Taman Pendidikan Anak Sholeh (TAPAS). Pasal 84 Satuan pendidikan lain yang sejenis pada pendidikan nonformal misalnya POS PAUD.doc 158 .kepegawaian pegawai negeri sipil. keterampilan dan sikap yang diperoleh peserta didik pada satuan pendidikan formal dirasa belum memadai. 76461668. adalah: Program Paket A setara SD.

Pasal 85 Cukup jelas. Pasal 89 Cukup jelas. kecakapan dalam pengenalan terhadap kondisi dan potensi diri. percaya diri. kecakapan dalam menghadapi tantangan 76461668. kecakapan dalam melakukan koreksi diri.doc 159 . Pasal 91 Ayat (1) Kecakapan personal atau kecakapan pribadi mencakup kecakapan dalam melakukan ibadah sesuai dengan agama yang dianutnya. Pasal 86 Cukup jelas.POS PAUD adalah salah satu program satuan PAUD pada jalur pendidikan nonformal yang menyelenggarakan program pendidikan bagi anak sejak lahir sampai dengan berusia enam tahun yang dapat diintegrasikan dengan dan TPQ adalah salah satu bentuk satuan PAUD pada jalur pendidikan nonformal yang menyelenggarakan program pendidikan keagamaan Islam bagi anak berusia 2 (dua) tahun sampai dengan 6 (enam) tahun yang berbasis Taman Pendidikan Al-Quran. Pasal 88 Cukup jelas. PAUD-SM adalah salah satu bentuk satuan PAUD pada jalur pendidikan nonformal yang menyelenggarakan program pendidikan keagamaan Kristen bagi anak berusia 2 (dua) tahun sampai dengan 6 (enam) tahun yang berbasis Sekolah Minggu. PAUD-BIA adalah salah satu bentuk satuan PAUD pada jalur pendidikan nonformal yang menyelenggarakan program pendidikan keagamaan Katholik bagi anak berusia 2 (dua) tahun sampai dengan 6 (enam) tahun yang berbasis Bina Iman Anak Katholik. Pasal 87 Cukup jelas. kecakapan dalam memilih dan menentukan jalan hidup pribadi. Pasal 90 Cukup jelas.

Kecakapan intelektual mencakup kecakapan terhadap penguasaan ilmu pengetahuan. mengelola pekerjaan. Ayat (2) Cukup jelas. Kecakapan sosial mencakup kecakapan dalam hidup berkeluarga. Pasal 92 Cukup jelas.doc 160 . Ayat (3) Cukup jelas. Ayat (2) Cukup jelas. Kecakapan vokasional mencakup kecakapan dalam memilih bidang pekerjaan. kecakapan bekerjasama dengan sesama. Ayat (4) 76461668. berbangsa. mengembang profesionalitas dan produktivitas kerja dan kode etik bersaing dalam melakukan pekerjaan. kecakapan dalam menyesuaikan diri dengan lingkungan. Ayat (3) Cukup jelas. teknologi dan/atau seni sesuai dengan bidang yang dipelajari. berpikir kritis dan kreatif.dan problema serta kecakapan dalam mengatur diri. kecakapan melakukan penelitian dan percobaan-percobaan dengan pendekatan ilmiah. Pasal 93 Ayat (1) Pemuda adalah penduduk yang berusia 15 (lima belas) sampai dengan 35 (tiga puluh lima) tahun. dan bernegara. bermasyarakat. empati atau tenggang rasa. kepemimpinan dan tanggung jawab sosial.

Lembaga yang ditunjuk oleh Pemerintah adalah Badan Standar Nasional Pendidikan atau lembaga lain yang memiliki kompetensi untuk melakukan penilaian secara profesional dan mandiri. dan Program Paket C sederajat dengan SMA/MA telah diatur dalam Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2003 tentang Standar Nasional Pendidikan. Pasal 98 Ayat (1) Khusus untuk penyetaraan hasil pendidikan nonformal Program Paket A sederajat dengan SD/MI. Pasal 95 Cukup jelas. Pasal 96 Cukup jelas. Ayat (4) Cukup jelas. Ayat (2) Cukup jelas. Ayat (3) Cukup jelas. Pasal 97 Cukup jelas. Ayat (5) Cukup jelas.Cukup jelas. Pasal 99 76461668. Lembaga yang ditunjuk oleh pemerintah daerah adalah lembaga yang telah diakui memiliki kompetensi untuk melakukan penilaian secara profesional dan mandiri oleh Badan Standar Nasional Pendidikan dan ditetapkan oleh Menteri. Pasal 94 Cukup jelas. Program Paket B sederajat dengan SMP/MTs.doc 161 .

lembaga pelatihan serta ujian atau uji kompetensi pada satuan atau program nonformal yang lain. Ayat (2) Cukup jelas Ayat (3) Yang dimaksud terbuka adalah 76461668. Ayat (5) Cukup jelas. Pasal 103 Ayat (1) Cukup jelas. Pasal 101 Ayat (1) Lulus ujian pada satuan pendidikan formal dengan mengacu pada standar nasional pendidikan mencakup ujian sekolah/madrasah dan ujian nasional pada tingkat akhir satuan pendidikan. Pasal 100 Cukup jelas. Ayat (3) Cukup jelas. Ayat (2) Lulus ujian pada satuan pendidikan nonformal dengan mengacu pada standar nasional pendidikan antara lain ujian atau uji kompetensi pada lembaga kursus. Ayat (4) Cukup jelas.Cukup jelas.doc sistem pendidikan yang 162 . Pasal 102 Cukup jelas.

Proses belajar berlangsung secara bertahap dan berkelanjutan. Pasal 105 Ayat (1) Cukup jelas. informasi. seorang peserta didik baru dapat menempuh kegiatan belajar (learning tasks) berikutnya apabila telah menguasai kompetensi yang telah disyaratkan dalam kegiatab belajar sebelumnya. Peserta didik dapat mencapai tingkat penguasaan kompetensi yang dipersyarakan dengan kecepatan yang berbeda-beda. Peserta didik dapat belajar sambil bekerja. Contoh. Yang dimaksud belajar tuntas adalah proses pembelajaraan untuk mencapai taraf penguasaan kompetensi (mastery level) sesuai dengan tuntutan kurikulum. Berbasis teknologi pendidikan adalah pendidikan yang dirancang dan dikembangkan berdasarkan kebutuhan individu dengan memanfaatkan teknologi pembelajaran. Ayat (2) Pengorganisasian modus tunggal adalah penyelenggaraan pendidikan jarak jauh dalam satu satuan pendidikan formal 76461668.diselenggarakan dengan fleksibilitas pilihan dan waktu penyelesaian program. teknologi kokunikasi. Yang dimaksud dengan belajar mandiri adalah proses belajar yang dilakukan peserta didik secara peseorangan atau kelompok dengan memanfaatkan berbagai sumber belajar dan mendapat bantuan atau bimbingan belajar atau tutorial sesuai kebutuhan. atau mengambil program-program pendidikan yang berbeda secara terpadu dan berkelanjutan melalui pembelajaran tatap muka atau jarak jauh.doc 163 . dan media lain. Ayat (2) Sumber belajar Ayat (3) Layanan berbasis teknologi informasi dan komunikasi tanpa mengesampingkan layanan tatap muka. Pasal 104 Ayat (1) Cukup jelas.

Ayat (3) Pengorganisasian modus ganda adalah penyelenggaraan pendidikan jarak jauh bersamaan dengan pendidikan tatap muka pada berbagai jalur.doc 164 . jenjang. Ayat (4) Pengorganisasian modus konsorsium adalah penyelenggaraan pendidikan jarak jauh pada berbagai jalur. misalnya SMA menyelenggarakan pembelajaran jarak jauh untuk mata pelajaran bahasa Inggris. Ayat (3) Cukup jelas. Pendidikan tatap muka tersebut terikat dengan jadwal waktu dan tempat seperti yang berlangsung pada lembaga pendidikan umumnya. dan jenis pendidikan. dan University on the Air di China. dan jenis pendidikan oleh beberapa satuan pendidikan secara bersama (kolaboratif). Ayat (4) Cakupan program pendidikan berbasis satuan pendidikan seperti yang diselenggarakan oleh SMP Terbuka dan SMA Terbuka yang menyelenggarakan pendidikan SMP dan SMA. Ayat (5) Cukup jelas. jenjang. Shukothai Thammathirat Open University di Thailand. Ayat (2) Cakupan program pendidikan berbasis mata pelajaran adalah suatu satuan pendidikan yang menyelenggarakan pendidikan jarak jauh hanya untuk satu mata pelajaran. dan universitas maya (cyber university).pada berbagai jalur. Pasal 106 Ayat (1) Cukup jelas. Misalnya suatu perguruan tinggi bekerjasama dengan perguruan tinggi lain atau lembaga lain dalam bentuk program pendidikan lapis (sandwich) atau kembaran (twinning) jarak jauh. Pada tingkat pendidikan tinggi pengorganisasian modus tunggal adalah seperti yang diselenggarakan oleh Universitas Terbuka di Indonesia. dan Universitas Terbuka yang menyelenggarakan program 76461668. jenjang. dan jenis pendidikan.

dan sosial. mental. Pasal 109 Cukup jelas. Pasal 107 Cukup jelas. dengan cara menyediakan sarana. tenaga pendidik.doc 165 . maupun tenaga kependidikan yang sesuai dengan kebutuhan mereka. Pasal 111 Cukup jelas. Program pendidikan inklusif adalah program pendidikan yang memberikan kesempatan bagi peserta didik berkelainan untuk belajar bersama-sama dengan peserta didik normal pada satuan pendidikan umum maupun kejuruan. emosional. dimana mereka mengikuti kurikulum yang berlaku bagi peserta didik normal. tenaga pendidik. Ayat (2) Satuan pendidikan khusus bagi peserta didik berkelainan adalah satuan pendidikan yang dirancang secara eksklusif untuk melayani peserta didik yang memiliki kesulitan dalam proses pembelajaran karena kelainan fisik. Pasal 112 Ayat (1) Cukup jelas. maupun tenaga kependidikan yang sesuai dengan kebutuhan mereka. Program pendidikan terpadu adalah program pendidikan yang memberikan kesempatan bagi peserta didik berkelainan untuk belajar bersama-sama dengan peserta didik normal pada satuan pendidikan umum maupun kejuruan.pendidikan tinggi. Pasal 108 Cukup jelas. Pasal 110 Cukup jelas. dimana mereka mengikuti kurikulum yang disesuaikan dengan 76461668. dengan menyediakan sarana.

Ayat (2) Cukup jelas. Pasal 118 Ayat (1) Cukup jelas. Pasal 115 Ayat (1) Cukup jelas.doc 166 . Pasal 117 Cukup jelas. Ayat (4) Yang dimaksud dengan sistem unit adalah sistem pelayanan pendidikan yang memadukan pendidikan dasar dan menengah dalam 1 (satu) manajemen karena alasan skala ekonomi. Ayat (3) Cukup jelas. 76461668.kebutuhannya. Ayat (5) Cukup jelas. Ayat (3) Cukup jelas. Pasal 113 Cukup jelas. Pasal 114 Cukup jelas. Pasal 116 Cukup jelas.

Ayat (2) Pada satuan pendidikan yang menerapkan sistem satuan kredit semester (sks). Pasal 121 Cukup jelas. Pasal 122 Cukup jelas. Ayat (3) huruf a yang dimaksud dengan tingkat inklusi adalah penyelenggaraan pendidikan yang terdiri atas peserta didik normal dan yang memiliki potensi kecerdasan dan/atau bakat istimewa dengan menggunakan kurikulum yang dibedakan. program percepatan dan pengayaan tidak perlu diadakan secara ekslusif karena sudah terintegrasi di dalam sistem. emosional. Ayat (2) Cukup jelas. huruf c Cukup jelas.doc 167 . huruf b Cukup jelas. Pasal 120 Ayat (1) Peserta didik yang secara ekstrim memiliki potensi jauh di atas rata-rata dinyatakan antara lain mempunyai kecerdasan di atas 3 simpangan baku (standar deviasi) populasi anak. 76461668. spiritual. Program percepatan dan pengayaan dilakukan dengan memperhatikan keseluruhan kompetensi kecerdasan yang harus dicapai peserta didik yang meliputi kecerdasan intelektual. dan kinestetik. Pasal 119 Cukup jelas.

doc 168 . Ayat (2) Cukup jelas. dan seni misalnya negara anggota Organisation for Economic Co-Operation and Development (OECD). Pasal 128 Cukup jelas. Pasal 124 Cukup jelas.Pasal 123 Cukup jelas. Ayat (4) Cukup jelas. Pasal 125 Cukup jelas Pasal 126 Ayat (1) Negara lain yang mempunyai keunggulan dalam bidang ilmu pengetahuan. 76461668. teknologi. Pasal 129 Cukup jelas Pasal 130 Cukup jelas. Ayat (3) Cukup jelas. Pasal 127 Cukup jelas.

Model keluar masuk (entry-exit) dilaksanakan dengan cara mengelola kelas atau satuan pendidikan biasa bersamaan dengan kelas atau satuan pendidikan bertaraf internasional atau berbasis keunggulan lokal yang peserta didik pada kelas atau satuan pendidikan biasa dapat pindah ke kelas atau satuan pendidikan bertaraf internasional atau berbasis keunggulan lokal sebaliknya.doc 169 . Pasal 132 Model terpadu-satu sistem-satu atap dilaksanakan dalam satu lokasi dengan menggunakan sistem pengelolaan pendidikan yang sama. Ayat (2) Cukup jelas. Untuk pindah dari satuan pendidikan biasa ke satuan pendidikan bertaraf internasional atau berbasis keunggulan lokal harus memenuhi persyaratan yang ditetapkan oleh satuan pendidikan yang dituju.Pasal 131 Cukup jelas. 76461668. Model terpisah-satu sistem-tidak satu atap dilaksanakan dalam lokasi yang berbeda atau terpisah dengan menggunakan sistem pengelolaan pendidikan yang sama. Pasal 134 Cukup jelas. Pasal 133 Cukup jelas. Model terpisah-beda sistem-tidak satu atap dilaksanakan di lokasi yang berbeda (terpisah) dengan sistem pengelolaan pendidikan yang berbeda. Pasal 135 Ayat (1) untuk Bahasa asing dapat digunakan sebagai bahasa pengantar mendukung kemampuan berbahasa asing peserta didik.

penilaian.doc 170 . Program kembaran ialah program yang dilaksanakan secara bersama oleh dua perguruan tinggi atau lebih untuk melaksanakan suatu program studi. Cukup jelas. serta penghasilan lainnya. Ayat (3) Huruf a. dan/atau penjenjangan pendidikan yang secara resmi berlaku di negaranya. Huruf b. Pasal 138 Cukup jelas. Pasal 139 Ayat (1) Cukup jelas. pembelajaran. Huruf c. Ayat (2) Cukup jelas. tunjangan.Ayat (3) Sistem penggajian yang tidak diskriminatif antara lain tidak membedakan tata cara dan besaran gaji. Pasal 136 Sistem pendidikan negara lain meliputi kurikulum. Persetujuan senat akademik dalam hal ini diperlukan untuk menjamin bahwa kerjasama ini telah dikaji dengan baik sebelumnya. Pertukaran dosen dapat dilakukan melalui program 76461668. Ijazah dan gelar yang diberikan dilakukan berdasarkan kesepakatan dari kedua belah pihak dengan memperhatikan berbagai persyaratan pemberian ijazah maupun gelar akademik dari masing-masing perguruan tinggi dalam rangka pengendalian mutu. Pasal 137 Cukup jelas.

Huruf i. Huruf g. Cukup jelas. Cukup jelas. Pasal 141 Cukup jelas. Cukup jelas. Cukup jelas. Cukup jelas. Cukup jelas. Pasal 142 Cukup jelas. Pasal 140 Cukup jelas. Cukup jelas.“sabatical leave” yang tata caranya dapat diatur oleh masing-masing perguruan tinggi. Huruf e. Pasal 143 Cukup jelas. Ayat (4) Cukup jelas. Huruf h.doc 171 . Pasal 144 Ayat (1) huruf a. 76461668. Huruf f. Huruf d.

SMK. Ayat (3) Cukup jelas. atau bentuk lain yang sederajat berhak pindah ke jalur atau satuan pendidikan lain yang setara. huruf e. huruf g. Cukup jelas. 76461668. 3) 4) huruf f. Peserta didik pada SMA. Mahasiswa perguruan tinggi berhak pindah ke perguruan tinggi lain atau program studi lain yang setara. huruf c. MAK atau bentuk lain yang sederajat dapat pindah program kejuruan pada jalur dan satuan pendidikan lain yang setara. Peserta didik pada SD. huruf h.huruf b. Bilamana peserta didik memenuhi persyaratan penerimaan pada satuan pendidikan. MI. Cukup jelas. Cukup jelas. Cukup jelas.doc 172 . maka: 1) 2) Peserta didik PAUD berhak pindah ke jalur atau satuan pendidikan lain yang setara. atau bentuk lain yang sederajat. Cukup jelas. SMP. Ayat (2) Cukup jelas. MTs. dan daya tampung satuan pendidikan atau program studi yang bersangkutan memungkinkan menerimanya. huruf d. MA.

dan penguji. tutor penanggung jawab tingkat . dan paket C antara lain nara sumber teknis. Cukup jelas. dan tutor penanggung jawa mata pelajaran. pelatih atau instruktur. Cukup jelas. Cukup jelas. paket B. Pasal 147 Ayat (1) Sebutan lain termasuk pendidik pada program paket A. Huruf c. Cukup jelas. Huruf f. pembimbing. Cukup jelas. Huruf h. Huruf e. Huruf d. 76461668. Pasal 146 Cukup jelas. Konselor yang dimaksud dalam ayat ini termasuk guru bimbingan dan konseling.doc 173 . Dan untuk pendidik pada lembaga kursus dan pelatihan antara lain pengajar. Cukup jelas. Cukup jelas.Pasal 145 Cukup jelas. Ayat (2) Huruf a. Huruf g. Huruf b.

Cukup jelas. Pasal 149 Cukup jelas. Pasal 148 Cukup jelas. Pasal 151 Cukup jelas. Pasal 156 Cukup jelas. Pasal 153 Cukup jelas. Pasal 152 Cukup jelas. Pasal 155 Cukup jelas. Pasal 150 Cukup jelas. Pasal 157 Ayat (1) Sekolah Menengah Kejuruan yang memiliki program studi tata busana dapat menyediakan pakaian seragam untuk peserta didiknya sendiri sebagai bagian dari proses pembelajaran. Ayat (2) Apabila pendidik merasa bahwa peserta didik memerlukan pembelajaran tambahan maka kebutuhan itu dipenuhi melalui 76461668.doc 174 . Pasal 154 Cukup jelas.Huruf i.

program remedial sesuai ketentuan kurikulum yang berlaku. Ayat (3) Cukup jelas. Pasal 165 Ayat (1) Huruf a. Pasal 162 Cukup jelas. Pasal 159 Cukup jelas. Pasal 158 Cukup jelas. Pasal 161 Cukup jelas. Pasal 163 Cukup jelas. Pasal 160 Cukup jelas.doc 175 . 76461668. Pasal 164 Cukup jelas. Ayat (5) Tim sukses adalah sekelompok orang yang direkrut untuk tujuan pemenangan salah satu kontestan tertentu dalam pemilihan umum dan/atau pemilihan kepala daerah sesuai peraturan perundang-undangan. Ayat (4) Cukup jelas.

Cukup jelas. Ayat (5) Cukup jelas. SMA/MA. Peserta didik pada satuan pendidikan nonformal dapat mengambil mata pelajaran atau program pendidikan pada satuan pendidikan formal atau pendidikan informal untuk memenuhi beban belajar pendidikan nonformal yang bersangkutan. nonformal.doc 176 . Huruf b. Ayat (2) Cukup jelas. Ayat (4) Cukup jelas. Peserta didik pada satuan pendidikan informal dapat mengambil mata pelajaran atau program pendidikan pada satuan pendidikan formal atau pendidikan nonformal untuk memenuhi beban belajar pendidikan informal yang bersangkutan. atau bentuk lain yang sederajat dapat mengambil mata pelajaran atau program pendidikan pada satuan pendidikan formal. SD/MI. Ayat (3) Cukup jelas. Pasal 166 Ayat (1) Cukup jelas. Huruf b. Cukup jelas. Ayat (2) Huruf a. Peserta didik TK/RA. atau informal untuk memenuhi ketentuan kurikulum pendidikan formal yang bersangkutan. SMP/MTs. dan SMK/MAK. Ayat (3) 76461668.

Pengusaha termasuk perusahaan-perusahaan. Ma’arif-NU. Ayat (3) Cukup jelas.Satuan pendidikan yang menerapkan sistem kredit semester dapat mengakui hasil belajar dari satuan pendidikan lain baik formal maupun nonformal untuk memenuhi perolehan satuan kredit smester (sks) peserta didik pada satuan pendidikan yang bersangkutan. Himpunan Sarjana Pendidikan Indonesia. Ayat (2) Cukup jelas. Ayat (4) Cukup jelas. Ayat (4) Cukup jelas. Pasal 169 Cukup jelas.doc 177 . Majelis Pendidikan Kristen. dan sejenisnya. Majelis Nasional Pendidikan Katolik. Organisasi sosial kemasyarakatan seperti Muhammadiyah. Persatuan Guru Republik Indonesia. Pasal 168 Ayat (1) Organisasi profesi pendidikan seperti. Pasal 170 76461668. Ayat (5) Cukup jelas. Pasal 167 Cukup jelas. dan sejenisnya.

Kekhasan agama satuan pendidikan dapat berupa pendidikan umum yang diselenggarakan oleh kelompok agama tertentu. Kerjasama produksi merupakan kerjasama antara satuan pendidikan dan pengusaha/dunia kerja dalam bidang pekerjaan tertentu di mana kerjasama tersebut dilakukan melalui perjanjian timbal balik yang menguntungkan kedua belah pihak. Ayat (2) Cukup jelas. Pasal 171 Cukup jelas. MA. Pesantren. sosioekonomi. Pasal 172 Ayat (1) Satuan pendidikan yang diselenggarakan oleh masyarakat adalah satuan pendidikan yang selama ini berstatus swasta. pendidikan umum yang menyelenggarakan pendidikan umum dan ilmu agama seperti MI. Pabbajja 76461668. dan sosio-kultural sekaligus. Ayat (4) Cukup jelas. Ayat (2) Satu satuan pendidikan dapat memiliki kekhasan agama. Ayat (3) Sistem magang merupakan kegiatan pembelajaran yang berlangsung di tempat kerja sebagai proses transisi dari peserta didik menjadi pekerja (apprenticeship) Pendidikan sistem ganda (dual system) adalah kegiatan pembelajaran yang memberikan status ganda kepada peserta didik.Ayat (1) Cukup jelas. sebagai pekerja di tempat praktik kerja dan sebagai siswa di sekolah. atau pendidikan keagamaan seperti Pendidikan Diniyah.doc 178 . MTs.

Pasal 174 Cukup jelas. dan memecahkan permasalahan pendidikan yang muncul.Samanera. dan keadaan sosio-ekonomi. Pasal 175 Cukup jelas. Pendidikan dengan kekhasan sosio-ekonomi. Ayat (2) Pertemuan 2 (dua) kali setahun yang dimaksud sekurangkurangnya pada awal semester. Pasal 178 76461668. Ayat (4) Koordinasi dan kerjasama antara lain menyusun anggaran dasar/anggaran rumah tangga. Pasal 173 Cukup jelas. dan bentuk lain yang sejenis.doc 179 . dan sosio-kultural merupakan muatan pendidikan dan/atau pendekatan pembelajaran yang disesuaikan dengan kebutuhan. tukar-menukar informasi. Pasal 177 Ayat (1) Cukup jelas. Ayat (3) Cukup jelas. dan sosio-kultural setempat. Ayat (2) Cukup jelas. Pasal 176 Ayat (1) Cukup jelas. potensi.

atau melalui produk lain yang menggambarkan keahliannya. 76461668. dan kabupaten/kota. Ayat (5) Komisi sebagaimana dimaksud pada ayat ini disesuaikan dengan lingkup pengelolaan dan kebutuhan di tingkat nasional. provinsi. Ayat (3) Cukup jelas. Tokoh masyarakat termasuk tokoh agama. Komisi Pendidikan Khusus dan Pendidikan Layanan Khusus. pemimpin paguyuban adat (marga atau nagari).doc 180 . Komisi Pendidikan Tinggi. dan media lainnya.Ayat (1) Pakar pendidikan adalah perseorangan atau kelompok yang memiliki pengetahuan dan keahlian di bidang pendidikan yang karyanya dipublikasikan di media cetak. Ayat (4) Cukup jelas. Komisi Pendidikan Keagamaan. media elektronik. dan tokoh nonpartisan lainnya yang berpartisipasi dalam kegiatan pendidikan. Komisi Pendidikan Dasar dan Menengah. Pengusaha misalnya pemilik perusahaan swasta. dan Komisi Pendidikan Jarak Jauh. Ayat (2) Cukup jelas. Ayat (3) Cukup jelas. Komisi Pendidikan Nonformal dan Informal. Di tingkat nasional dapat terdiri atas Komisi Pendidikan Anak Usia Dini. Komisi Pendidikan Kedinasan. Ayat (2) Cukup jelas. Pasal 179 Ayat (1) Cukup jelas.

Pasal 183 Cukup jelas. Pasal 180 Ayat (1) Cukup jelas.doc 181 .Di tingkat provinsi dapat terdiri atas Komisi Pendidikan Anak Usia Dini. dan Komisi Pendidikan Keagamaan. Komisi Pendidikan Khusus dan Pendidikan Layanan Khusus. Komisi-komisi tersebut dapat berdiri sendiri atau digabung sesuai dengan kebutuhan. dan Komisi Pendidikan Keagamaan. Komisi Pendidikan Nonformal dan Informal. Pasal 182 Cukup jelas. Pasal 181 Cukup jelas. Komisi Pendidikan Dasar dan Menengah. 76461668. Komisi Pendidikan Tinggi. Komisi Pendidikan Nonformal dan Informal. Ayat (6) Tenaga ahli yang dimaksud terdiri dari tenaga pendidik profesional yang berfungsi sebagai konsultan. Komisi Pendidikan Khusus dan Pendidikan Layanan Khusus. Di tingkat kabupaten/kota dapat terdiri atas Komisi Pendidikan Anak Usia Dini. Komisi Pendidikan Dasar dan Menengah. Pasal 184 Ayat (1) Komite sekolah/madrasah POMG dan yang sejenis. menggantikan keberadaan BP3. Ayat (2) Dalam melaksanakan tugasnya panitia dapat meminta bantuan konsultan yang berpengalaman melakukan uji kelayakan (fit and proper test) dalam bidang pendidikan.

Penggabungan dapat dilakukan karena lokasi berdekatan. dan memecahkan permasalahan pendidikan yang muncul. 76461668. Ayat (7) Pembentukan komite sekolah/madrasah yang terdiri dari beberapa satuan pendidikan hingga memenuhi jumlah 200 peserta didik dimaksudkan untuk mencapai sinergi dan efektivitas dalam memberdayakan peranserta masyarakat terutama pada satuan pendidikan dengan jumlah peserta didik yang kecil. dan unsur . Gabungan tersebut dapat terdiri dari beberapa satuan pendidikan pada jenjang yang sama. atau satuan-satuan pendidikan dikelola oleh suatu penyelenggara pendidikan. Komite satuan pendidikan jalur nonformal dibentuk berdasarkan kebutuhan satuan atau gabungan satuan pendidikan nonformal. MI. SD.Nama lain yang sejenis seperti Majelis Madrasah. program pendidikan nonformal. dan MAK. atau satuan pendidikan lainnya dalam satu wilayah desa atau kecamatan. atau karena pertimbangan lain. dan SMK. Ayat (3) Cukup jelas. SMP. Ayat (6) Gabungan satuan pendidikan yang dimaksud adalah satu komite sekolah/madrasah atau nama lain yang sejenis terdiri dari sekolah dan madrasah. Ayat (2) Cukup jelas.doc 182 . tukar-menukar informasi. Ayat (4) Koordinasi dan kerjasama antara lain menyusun anggaran dasar/anggaran rumah tangga. atau RA. MTs. atau yang sejenisnya baik yang diselenggarakan oleh Pemerintah. Ayat (5) Pihak-pihak yang terkait misalnya unsur-unsur satuan pendidikan selain kepala satuan pendidikan. SMA. maupun oleh masyarakat. atau berbeda seperti TK. satuan pendidikan keagamaan. MA. Komite Pendidikan Nonformal.

Pasal 186 Cukup jelas. kejuruan. Departemen melakukan pengawasan pendidikan umum. jenjang. Pasal 192 Cukup jelas. Pasal 190 Cukup jelas. vokasi. Pasal 191 Cukup jelas. dan jenis pendidikan. departemen yang menangani urusan pemerintah bidang lain. dan khusus pada semua jalur. lembaga pemerintah non-departemen. profesi.doc 183 . Pasal 189 Cukup jelas. Ayat (3) 76461668. Ayat (2) Menteri melakukan pengawasan pendidikan secara umum baik yang berada di bawah kewenangan Departemen. maupun masyarakat.Pasal 185 Cukup jelas. Pasal 188 Cukup jelas. Pasal 193 Ayat (1) Cukup jelas. akademik. pemerintah daerah. Pasal 187 Cukup jelas. dan jenis pendidikan. jenjang. Departemen Agama melakukan pengawasan pendidikan agama dan pendidikan keagamaan pada semua jalur.

doc 184 . Ayat (7) Lembaga independen yang melakukan pengawasan/pemeriksaan independen misalnya akuntan publik. Misalnya pemeriksaan terhadap objek yang diawasi 76461668. Pasal 195 Cukup jelas. Ayat (6) Cukup jelas. Pasal 194 Ayat (1) Cukup jelas. Pasal 196 Ayat (1) Cukup jelas. Ayat (2) Cukup jelas. Ayat (3) Cukup jelas.Cukup jelas. Ayat (3) Pemeriksaan diterapkan secara arif terhadap objek yang diawasi. Ayat (2) Cukup jelas. Ayat (4) Cukup jelas. Ayat (5) Cukup jelas. Ayat (4) Cukup jelas.

doc 185 . h. j. dan m hanya dilakukan apabila terdapat indikasi terjadinya penyimpangan administratif atau pelanggaran hukum. dan m hanya dilakukan apabila terdapat indikasi terjadinya penyimpangan administratif atau pelanggaran hukum. g. k. Ayat (2) Cukup jelas. Pasal 197 Ayat (1) Cukup jelas. k. Ayat (3) Pemeriksaan diterapkan secara arif terhadap objek yang diawasi. l. Ayat (3) Pemeriksaan diterapkan secara arif terhadap objek yang diawasi. l. dan j hanya dilakukan apabila terdapat indikasi terjadinya penyimpangan administratif atau pelanggaran hukum. Ayat (4) Cukup jelas.sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf h. i. Pasal 198 Ayat (1) Cukup jelas. Misalnya pemeriksaan terhadap objek yang diawasi sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf f. g. Ayat (4) Cukup jelas. h. Ayat (2) Cukup jelas. j. i. Ayat (4) Cukup jelas. Pasal 199 76461668. f. Misalnya pemeriksaan terhadap objek yang diawasi sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf e. i.

e. program studi. d. Ayat (3) Unit dari perguruan tinggi termasuk: a. lembaga pengabdian lain yang masyarakat. unit-unit dharma perguruan tinggi. jurusan.doc 186 . b. Pasal 201 Cukup jelas. badan hukum pendidikan. dan/atau satuan pendidikan. Pasal 204 Ayat (1) Cukup jelas.Cukup jelas. Pasal 203 Ayat (1) Pemberian sanksi dilakukan secara arif dan disesuaikan dengan tingkat pelanggaran yang dilakukan oleh satuan pendidikan. Ayat (2) Cukup jelas. Pasal 202 Cukup jelas. Ayat (2) Cukup jelas. program pendidikan. dan/atau fakultas. Pasal 200 Cukup jelas. Ayat (4) 76461668. lembaga penelitian atau pusat studi. c. melaksanakan f.

Pasal 209 Cukup jelas.doc 187 . Pasal 206 Cukup jelas Pasal 207 Cukup jelas. Pasal 205 Cukup jelas. Pasal 210 Cukup jelas. Ayat (5) Yang dimaksud dengan seseorang adalah pejabat atau pengurus badan hukum pendidikan yang memiliki kewengan dalam pengangkatan. Ayat (4) Cukup jelas. Ayat (2) Cukup jelas. pemindahan. Pasal 211 76461668. Ayat (3) Cukup jelas. Ayat (5) Cukup jelas. dan pemberhentian pendidik dan tenaga kependidikan. Ayat (6) Cukup jelas.Cukup jelas. penempatan. Pasal 208 Ayat (1) Cukup jelas.

Pasal 215 Cukup jelas. Pasal 218 Cukup jelas. Pasal 217 Cukup jelas. 76461668. Pasal 216 Cukup jelas. Pasal 214 Cukup jelas. Pasal 213 Cukup jelas. TAMBAHAN LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA NOMOR .Cukup jelas... Pasal 219 Cukup jelas.doc 188 . Pasal 212 Cukup jelas.

........12 Bagian Ketiga...................Pemerintah kabupaten/kota...........................................................................DAFTAR ISI BAB I................................................................................................................................ efektifitas.......................................................................................................15 Pasal 23.................................7 Bagian Kedua..................................Program dan/atau satuan pendidikan...............................................................................................................Badan hukum pendidikan......12 Pasal 14.........................................12 e........11 Pasal 13................................................................................................................7 Bagian Kesatu......................................7 Umum..............................................................................2 BAB II.............................................................................................................................Departemen lain atau lembaga pemerintah nondepartemen yang menyelenggarakan program dan/atau satuan pendidikan......2 KETENTUAN UMUM............................................................................................................................................................................................12 f..........................................................12 c.........13 Pasal 22..............................................................16 Gubernur menetapkan kebijakan tatakelola pendidikan untuk menjamin efisiensi.12 d...................12 a..............................................................................................................................................................................................................................................................................................12 Menteri menetapkan kebijakan tatakelola pendidikan untuk menjamin efisiensi......12 Pasal 15 ...................................................................................................................................................................................................................................... dan akuntabilitas pengelolaan pendidikan yang mengikat:......................................................................................................................................................7 Pasal 3........7 Pasal 2...................................................................................................................12 Pengelolaan oleh Pemerintah Provinsi.......................................................................................................................Pemerintah provinsi.......................................................... efektifitas...............2 Pasal 1...................................................Departemen Agama................................................................................................................................................................................................................8 Pengelolaan oleh Pemerintah.....................12 g....................................................... dan........................................................................ ...............................................................................................................................................................9 Pasal 10.......................................12 Pasal 16.............................................................7 PENGELOLAAN PENDIDIKAN.......................................................................................................................................................doc i ......................................8 Pasal 4.....................8 Pasal 5..Departemen.....................................................................................................................................................................10 Pasal 12................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................12 b.................................................................................................... dan 76461668..................

...........17 Pasal 25..........................................................................................................................................................................................................................................................................30 Bentuk dan Jenis Satuan Pendidikan....................................................20 Bupati/Walikota menetapkan kebijakan tatakelola pendidikan untuk menjamin efisiensi...........17 Pasal 26... efektifitas........................................................................................................................................................................................30 PENYELENGGARAAN PENDIDIKAN FORMAL....................................................25 Pasal 45.......22 Pasal 41.......................................................................................................................30 Bagian Kesatu....................................................................................................................28 Pasal 51.........................................................24 Pasal 43...........................................25 Bagian Keenam.........................................................................21 Pasal 34.........................................................................................................................................................................................................................................................................17 Pengelolaan oleh Pemerintah Kabupaten/Kota.................................................................................................................................................................27 Pasal 50.............................................................................................................21 Pasal 35...........................................................21 Bagian Kelima......................................doc ii ........................................................................................................................30 Pendidikan Anak Usia Dini.........................................................................................................................................................24 Pasal 42.....................................30 Pasal 53 ......25 Pasal 44 .............................................................................................. dan akuntabilitas pengelolaan pendidikan yang mengikat:..................................................................20 Pasal 33..............................................................................................................16 Pasal 24..................................................................................................................................30 Paragraf 2........30 Paragraf 1.................................................................................................................................................................................................................24 Badan hukum pendidikan menetapkan kebijakan tatakelola pendidikan untuk menjamin efisiensi............................................................................................................................................ efektifitas.....................................................................................................................................................................21 Pasal 36..........................................................16 Bagian Keempat............................................................................................................................................................... dan akuntabilitas pengelolaan pendidikan yang mengikat:........................... efektifitas................................................................................30 76461668..................................................................30 Pasal 54 ..........................................................................21 Pengelolaan oleh Badan Hukum Pendidikan ............................................... dan akuntabilitas pengelolaan pendidikan yang mengikat:.......30 Fungsi dan Tujuan...................................25 Pengelolaan oleh Satuan dan/atau Program Pendidikan.......................................................................................................................................................................................................................................................29 Satuan dan/atau program pendidikan menetapkan kebijakan tatakelola pendidikan untuk menjamin efisiensi.................................29 BAB III..................................................................akuntabilitas pengelolaan pendidikan yang mengikat:................................................................................................................18 Pasal 32..............................................29 Pasal 52...............................................

........................................40 Paragraf 1....................................................36 Pasal 66.........................34 Pasal 65...............................................................37 Bentuk Satuan Pendidikan.........................32 Pasal 58..................................................................................................................................................................................................37 Pasal 69..................................................................................................31 Pasal 57 ....................................................................................................................................................................................................................................................................................39 Pasal 72..................................................31 Pasal 55 ..................................................................................................................................33 Bentuk Satuan Pendidikan......31 Program Pembelajaran.......40 Pendidikan Tinggi...............................................................................................................................................................................................40 Fungsi dan Tujuan..................................................................................................................31 Paragraf 4.......................................................................36 Fungsi dan Tujuan...............................................................................................................................................33 Paragraf 3......................................................................36 Paragraf 2.........................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................34 Pasal 64 .............................38 Paragraf 3.........................................................................................................32 Paragraf 1........41 76461668.....................................................37 Pasal 68 ............................................................................................31 Bagian Kedua.......................................................................................................................................................................................36 Bagian Ketiga.33 Penerimaan Peserta Didik..................................................................................................................................32 Paragraf 2..................................................................................................................................................................................................................................................................................................doc iii .....................................................................................................................................................................................................................................................................................................36 Paragraf 1..................31 Pasal 56 .................36 Pendidikan Menengah.............................................................................................................................32 Fungsi dan Tujuan......................................................................................................................................................39 Penerimaan Peserta Didik.....................................................................31 Penerimaan Peserta Didik.....................................................33 Pasal 63...................41 Pasal 73....................................................40 Bagian Kempat........................................................................................................................................................................Paragraf 3 .................................................................................33 Pasal 59 ......................................................................................................................................................................................................39 Pasal 71..........................................................................................33 Pasal 60 ..................................................................................................................................................................................................................................32 Pendidikan Dasar..............................

.....................................44 Penerimaan Mahasiswa ...........................................................................................................41 Paragraf 3......................................................................................................47 Pasal 88...........................................48 a.............................................................................................................................................................................. dan Program Pendidikan...........................................48 (1)Perguruan tinggi dapat menyelenggarakan program studi sarjana atau diploma empat kependidikan khusus bagi guru tetap dalam jabatan yang belum memiliki ijazah sarjana atau diploma empat dengan program sarjana atau diploma empat kependidikan khusus bagi guru tetap dalam jabatan....................................................................................................... dan memfasilitasi penyelenggaraan program sebagaimana dimaksud pada ayat (2) sehingga guru tetap dalam jabatan yang bersangkutan memperoleh kualifikasi 76461668....................................................................................................46 Pasal 87 ..............................44 Pasal 80........................................................................................dilaksanakan oleh perguruan tinggi yang memiliki program studi sarjana atau diploma empat kependidikan berakreditasi dari Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi dan telah memperoleh izin untuk menyelenggarakan program sarjana atau diploma empat kependidikan khusus bagi guru tetap dalam jabatan dari Departemen.......42 Pasal 79...............................................................................dapat dilaksanakan di pusat kegiatan Kelompok Kerja Guru atau Musyawarah Guru Mata Pelajaran.................................48 (2)Program sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diselenggarakan sebagai berikut:...................................................44 Pasal 81................................................................................................41 Jenis...............................................................................................................42 Pasal 75 ..................42 Pasal 77.......................................................48 b....46 Paragraf 4.................................................................................................47 Pasal 89..................................................................................................................................................................... Bentuk........................................................................................................43 Paragraf 3..............................................................doc iv ..................................................................................................................................................48 c................................................. mengawasi............................41 Pasal 74.................... ..........................41 Organisasi Perguruan Tinggi.........................................................................................................................................................................................................................46 Pasal 86..................................................46 Sistem Pembelajaran....................................................................48 (3)Izin sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf a diberikan oleh Departemen setelah memperoleh jaminan dari pemerintah daerah kabupaten/kota yang bersangkutan untuk bertanggung jawab melindungi......................................................................................................................................................................Paragraf 2...........................................................................memenuhi seluruh persyaratan program sarjana atau diploma empat kependidikan sesuai dengan peraturan perundang-undangan..................45 Pasal 84...........................................................................................................

.......59 76461668......................................................................................................................................................................................................49 Kebebasan Akademik dan Otonomi Keilmuan.........................................54 Pasal 95.............56 Gelar Lulusan Pendidikan Tinggi...........................59 Penjaminan Mutu.......................................................................................................................................................................................................................57 Pasal 83.......................................51 Pasal 93..........................................................53 Pengabdian kepada Masyarakat........................................................................................................................................................58 Bagian Kelima....................................................................................................................................................................................................................................................................55 Penjaminan Mutu Hasil Belajar................................................................................................................................................................................................................................................................51 Pasal 94.....................................................49 Pasal 91.........................................................................................................................................................................56 Pasal 81.49 Pasal 92.................................................................................................................................................................................................................................doc v .......................................................................55 Pasal 96..................................................................................................................................................................59 Pasal 85........................55 Pengalihan Kredit .....................................................................48 Pasal 90................................ Pasal 82 ayat (2)......................................................................................................................................................................59 PENYELENGGARAAN PENDIDIKAN NONFORMAL .............................................................................................48 (4) Menteri dapat membatalkan izin program sebagaimana dimaksud pada ayat (2) apabila setelah dilakukan pemeriksaan oleh Inspektorat Jenderal Departemen atas instruksi Menteri terbukti bahwa pelaksanaan program yang bersangkutan telah melanggar peraturan perundang-undangan...........................................................................................................................................................59 BAB IV...................54 Paragraf 8...............................................................................................................................................................................................48 Paragraf 5.........................................................................55 Pasal 99.....51 Penelitian.............................51 Paragraf 6...............................58 Pasal 84......56 Paragraf 10................................................................................................................................................................................................................59 Bagian Kesatu....................55 Pasal 97.........................................................................................................................................................................................................55 Paragraf 9...........................................akademik sarjana atau diploma empat kependidikan sesuai peraturan perundang-undangan....................................................................................................................................................................................................................................48 (5)Ketentuan sebagaimana diatur dalam Pasal ini berlaku sampai berakhirnya masa peralihan sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen..........................................................................................................................56 Pasal 82............

.........................................................................................................................................................64 Paragraf 5...............................................................................................................................................................................................................................65 Pendidikan Keterampilan dan Pelatihan Kerja..........................................................61 Paragraf 5.........................................64 Pendidikan Pemberdayaan Perempuan.....................................................................................doc vi ........62 Program Pendidikan ....................................................................................................................60 Lembaga Kursus dan Lembaga Pelatihan ..........60 Bagian Kedua...............65 Pasal 98.............................................................63 Pasal 96...............................................................................................................................................................................63 Pasal 95.................................................65 Paragraf 6...............................................................63 Paragraf 3...................................................................................60 Paragraf 2........................................................................................................................................................................................................................................................................................................................62 Paragraf 1........................65 Pendidikan Keaksaraan................................................................................................................................65 76461668..............................................................................................................................................................................................................62 Taman Penitipan Anak dan Kelompok Bermain ......................................................................................................................................................................................................................64 Pasal 97..........................................................................................................................................................................................................................................................................60 Paragraf 1........................64 Paragraf 4............................................................................61 Majelis Taklim.........................................................................................................................................................................................................................................................................................62 Pasal 92..........................................................................................................................61 Paragraf 4...............................................................59 Pasal 86....................................................................................................................................................................................................................62 Pasal 94.....................................61 Pasal 89.........................................................................................................................................................Fungsi dan Tujuan ......................................................................62 Bagian Ketiga..........................................................................................................................................60 Bentuk Satuan Pendidikan ..........................................................................................................................................................................................................................61 Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat...........61 Paragraf 3.................62 Pasal 93 ...............................................................................................................................................................................61 Kelompok Belajar ............61 Pasal 90...........................................................62 Pendidikan Kecakapan Hidup.....62 Paragraf 2......61 Pasal 91..........................................................................63 Pendidikan Kepemudaan...........................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................60 Pasal 87...................................................................................................................................................................................................................60 Pasal 88..........................................................................................................................

.........................................................................................................................................................................................................69 BAB VI....72 PENDIDIKAN LAYANAN KHUSUS..........................................................72 Pendidikan Khusus................................................72 Pasal 114..............................................................................................71 BAB VII..........................................................................................................................................................................................................................................................................................................72 Pasal 116.............................................................................66 BAB V......................................74 76461668......................................66 Pasal 101.............................................................................................................................................72 Paragraf 1.........................................................................................................................................................................................................66 Pendidikan Kesetaraan..................................................................................................................69 PENYELENGGARAAN PENDIDIKAN JARAK JAUH.................................................................................................70 Pasal 109..................................................................................................................................74 Paragraf 2...........................................................................................................................................................doc vii ..........................67 PENYELENGGARAAN PENDIDIKAN INFORMAL.........................................................................................................................................................................................................65 Paragraf 7........................................................................................................................................................................................................................................................................................................................69 Pasal 107..........................................................................68 Pasal 104..............................................................66 Penyetaraan Hasil Pendidikan....................72 Pasal 115..................................72 Pendidikan Khusus bagi Peserta Didik Berkelainan..........................................................72 Bagian Kesatu..............................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................72 Pasal 112.......................................................................................69 Pasal 106...................................................................................................73 Pasal 119.......................................................................................................................................................Pasal 99...................................71 Pasal 111...............................................................................................................................................................................................................66 Pasal 100..73 Pasal 118................................................68 Pasal 105...........70 Pasal 110.....................................................72 Bagian Kedua...........72 Umum...........................................................................................................................................................................................................................................................................................................................67 Pasal 102................................................................................................................................................................................................72 Pasal 113...................................................................................69 Pasal 108...............................................73 Pasal 117..............66 Bagian Ketiga (keempat)....................................................................................67 Pasal 103...................................72 PENYELENGGARAAN PENDIDIKAN KHUSUS DAN.......................................................................................................................................................................................................................................

........................................................................................................................................79 Pasal 127.......................76 Pasal 123.......................................................................................84 Pasal 133.....................................75 Pasal 122..........................................................................................................................................................75 Pasal 121........................................................................................76 Pasal 122............................................................................................................................................................................................................................78 PENYELENGGARAAN PENDIDIKAN BERTARAF INTERNASIONAL ...........................................................................................83 Pasal 131...................................................................................................82 Pasal 130....................................................82 Pasal 129................................................................77 Pasal 123.........................................................................84 BAB IX....................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................Pendidikan Khusus bagi Peserta Didik yang Memiliki ..................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................89 76461668...................................................................................................................................................................................................................................................................................................................85 Pasal 135..............................................................................................................................................................................89 BAB X...............................................................................................................89 HAK DAN KEWAJIBAN PESERTA DIDIK...............doc viii ..................................................................................................89 Pasal 143......78 Pasal 125.....................................84 Pasal 134.................................................77 Pasal 124..........87 Pasal 141......................................................................................................................................................76 Pasal 121..............................................76 Bagian Ketiga..........................................................................................................................................................89 Pasal 142..........................................................................................................................................................................................80 Pasal 128........................83 Pasal 132....................................75 Pasal 120......................................................................................................................74 Potensi Kecerdasan dan/atau Bakat Istimewa....................................................85 Pasal 138....................................................................................78 BAB VIII.............86 Pasal 139..............85 Pasal 136..........................................................................................................................78 Pasal 126..................................................................86 Pasal 140...84 PENYELENGGARAAN PENDIDIKAN OLEH LEMBAGA NEGARA LAIN DAN KERJASAMA SATUAN PENDIDIKAN INDONESIA DENGAN SATUAN PENDIDIKAN NEGARA LAIN......................................................................................................................76 Pendidikan Layanan Khusus...........78 DAN PENDIDIKAN BERBASIS KEUNGGULAN LOKAL...................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................

.................................... dan Penghargaan .........................................................................................98 Pasal 157 ..............................................................................................................96 Pembinaan Karir.......................................................................................................................................................................................................................................................................99 Pasal 159.......101 BAB XIII....................... dan Pemberhentian .................................................................................................................................................. Pemindahan...................................................101 PENDIDIKAN LINTAS SATUAN DAN JALUR PENDIDIKAN..................................................................................96 Pasal 153...............................................................................................................................................................93 Pasal 149................................................................................................96 Paragraf 1.........................................................................................................................................................................................................93 Bagian Kedua................................................96 Pembinaan Karir.............................................................................................................................................................................doc ix ..............................................................92 Pasal 148.................................................................................................................99 PENDIRIAN SATUAN PENDIDIKAN........................96 Pasal 152.....98 BAB XII..................................................................100 Pasal 161.........95 Pasal 150.....................................................................................97 Pasal 155............................................................99 Pasal 158................................... dan Tanggung Jawab........................................100 Pasal 162....95 Pasal 151...........................................................................................................................................................101 Pasal 163.....................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................96 Pasal 154.......92 Bagian Kesatu..........................................92 PENDIDIK DAN TENAGA KEPENDIDIKAN..........................................................................92 Pasal 147....96 Promosi dan Penghargaan...... Penempatan.......................................................100 Pasal 160...........................95 Pengangkatan..............96 Paragraf 2...............................................................................................97 Pasal 156.............................................Pasal 144......................................................................................................................................................................................................98 Larangan...................................................................................................................101 Pasal 164...................................................................................................................................................................95 Bagian Ketiga......................................................................................................................98 Bagian Keempat.89 Pasal 145 ................................................................................................................................................90 Pasal 146.............................................................................................................................................................................................................................................................91 BAB XI................................................................................................................................................................................................................................ Tugas..........................................................................................................................................................................101 76461668................................. Promosi...............................................................................92 Jenis.............................................................................................................

..............................................................................................................................................................................................................................Pasal 165....................................................................................................................................................................................................................104 Pasal 170............................................................................................................................................112 Paragraf 3.............................................................................109 Pasal 183....................................................................110 Komite Sekolah/Madrasah.................................................................................................................................................112 Pasal 186..........................................................................112 Keanggotaan............................................................................103 Komponen Peranserta Masyarakat.................................................103 Bagian Kedua........................................................................110 Pasal 184..109 Pasal 182.....................105 Bagian Ketiga......................105 Pasal 172........................................................................................................................................110 Pasal 185......102 Pasal 166......................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................110 Fungsi dan Sifat.............................................................................................................................................................................................................103 Pasal 167..........107 Pasal 179......................................................................................................................................111 Paragraf 2........................................................................................................................................................................110 Paragraf 1................................................................................................................106 Bagian Keempat.........................................112 76461668...............................................................................................106 Pasal 176.............................................................................105 Pasal 174................................107 Pasal 178.....................................................................................................................103 Pasal 169........................................................104 Pasal 171...........................105 Pendidikan Berbasis Masyarakat.................................................................103 Bagian Kesatu.....112 Persyaratan Anggota........................103 Pasal 168.............................................................106 Dewan Pendidikan................................................................................................106 Pasal 175..................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................106 Pasal 177...........................................................................................................................................................................................108 Pasal 180........................103 PERANSERTA MASYARAKAT.....................................................doc x .......................103 Fungsi ................102 BAB XIV....................110 Bagian Kelima.......................108 Pasal 181....................................................................................

...................119 Pasal 199........................................................................................................................................................................114 Bagian Keenam........................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................124 Pasal 208....................................................................................................122 Pasal 203.............................................................................................................................................115 PENGAWASAN.......................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................115 Larangan....................................................................................................................................................................................................................................116 Pasal 195....................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................122 Pasal 202....................................................................................................................................................................................................124 Pasal 209.....................................121 Pasal 201.........................................................115 Pasal 192.......................................................................112 Paragraf 4..........................................................124 Pasal 206..........................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................113 Struktur Organisasi dan Kepengurusan....................................................................................................................113 Mekanisme Pemilihan........113 Paragraf 5......................Pasal 187......................................................................................................................................113 Pasal 189............................................................................................................126 Pasal 213.....126 76461668.............................................................................................................114 Pendanaan..................................................................................................................................................................................................122 Pasal 204.....................................115 Pasal 194.....................................................................................doc xi ...............................................................................118 Pasal 198.......................................120 Pasal 200...............................................................................................................123 Pasal 205.....................115 BAB XV.................................................................................................114 Pasal 190......................................................................................................................................................116 Pasal 196.....................113 Paragraf 6...........................................................................114 Pasal 191.........................................................................................115 Pasal 193.........................................................................................................125 Pasal 212.......................................................................................125 Pasal 210....................121 BAB XVI........................................................................................113 Pasal 188.................................................117 Pasal 197...............................................................................................................................................................................................................................................124 Pasal 207..............................122 SANKSI................................................................................125 Pasal 211.....

..........126 KETENTUAN PERALIHAN...............................................................................127 Pasal 216..127 Pasal 218......................................................................................................................................................................127 Pasal 217.....................BAB XVII.........................................................126 Pasal 214 ......................................................................................................................................................................................................129 76461668..................................................................................................................................................................126 BAB XVIII..............................................................................................................126 Pasal 215.....doc xii ........................................128 PENJELASAN................................................................................................................................................................................................................................................................................127 KETENTUAN PENUTUP.............................................