RANCANGAN PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR .… TAHUN ....

TENTANG PENGELOLAAN DAN PENYELENGGARAAN PENDIDIKAN

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : bahwa dalam rangka melaksanakan ketentuan Pasal 12 ayat (4), Pasal 17 ayat (3), Pasal 18 ayat (4), Pasal 20 ayat (4), Pasal 21 ayat (7), Pasal 24 ayat (4), Pasal 25 ayat (3), Pasal 26 ayat (7), Pasal 27 ayat (3), Pasal 28 ayat (6), Pasal 31 ayat (4), Pasal 32 ayat (3), Pasal 50 ayat (7), Pasal 51 ayat (3), Pasal 52 ayat (2), Pasal 54 ayat (3), Pasal 55 ayat (5), Pasal 56 ayat (4), Pasal 62 ayat (4), Pasal 65 ayat (5), dan Pasal 66 ayat (3), Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, perlu menetapkan Peraturan Pemerintah tentang Pengelolaan dan Penyelenggaraan Pendidikan; : Pasal 5 ayat (2) Undang-Undang Republik Indonesia Tahun 1945; Dasar Negara

Mengingat

Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2003 Nomor 78 Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4301); MEMUTUSKAN: Menetapkan : PERATURAN PEMERINTAH TENTANG PENGELOLAAN DAN PENYELENGGARAAN PENDIDIKAN.

76461668.doc

1

BAB I KETENTUAN UMUM Pasal 1 Dalam Peraturan Pemerintah ini yang dimaksud dengan: 1. Pengelolaan pendidikan adalah pengaturan kewenangan dalam penyelenggaraan sistem pendidikan nasional oleh Pemerintah, Pemerintah Provinsi, Pemerintah Kabupaten/Kota, badan hukum pendidikan, dan satuan pendidikan agar proses pendidikan dapat berlangsung sesuai dengan tujuan pendidikan nasional. Penyelenggaraan pendidikan adalah penyediaan sumberdaya pendidikan, yang meliputi prasarana, sarana, pendidik dan tenaga kependidikan, dana, serta sumberdaya lainnya, yang disinergikan secara sistematis melalui suatu organisasi satuan pendidikan. Pengelolaan pendidikan adalah pengaturan sistemik perencanaan, pelaksanaan, dan pengawasan pendidikan. 2. atas

Penyelenggaraan pendidikan adalah kegiatan pelaksanaan komponen-komponen sistem pendidikan pada satuan/program pendidikan pada jalur, jenjang, dan jenis pendidikan agar proses pendidikan dapat berlangsung sesuai dengan tujuan pendidikan nasional. Badan hukum pendidikan masyarakat adalah yayasan, wakaf, perkumpulan, atau badan hukum lainnya yang didirikan oleh masyarakat yang menyelenggarakan satuan atau program pendidikan. Pendidikan anak usia dini yang selanjutnya disebut PAUD adalah suatu upaya pembinaan yang ditujukan kepada anak sejak lahir sampai dengan usia 6 (enam) tahun yang dilakukan melalui pemberian rangsangan pendidikan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani agar anak memiliki kesiapan dalam memasuki pendidikan lebih lanjut, yang diselenggarakan pada jalur formal, nonformal, dan informal. Taman Kanak-kanak yang selanjutnya disebut TK adalah salah satu bentuk satuan pada jalur pendidikan formal yang menyelenggarakan program pendidikan bagi anak berusia 4 (empat) tahun sampai dengan 6 (enam) tahun. Raudhatul Athfal yang selanjutnya disebut RA dan Bustanul Athfal yang selanjutnya disebut BA adalah salah satu bentuk satuan PAUD pada jalur pendidikan formal yang menyelenggarakan program pendidikan dengan kekhasan agama Islam bagi anak
2

3.

4.

5.

6.

76461668.doc

berusia 4 (empat) tahun sampai dengan 6 (enam) tahun. 7. Taman Penitipan Anak yang selanjutnya disebut TPA adalah salah satu bentuk satuan PAUD pada jalur pendidikan nonformal yang menyelenggarakan program pendidikan dan program kesejahteraan sosial bagi anak sejak lahir sampai dengan berusia 6 (enam) tahun. Kelompok Bermain yang selanjutnya disebut KB adalah salah satu bentuk satuan PAUD pada jalur pendidikan nonformal yang menyelenggarakan program pendidikan dan program kesejahteraan sosial bagi anak berusia 2 (dua) tahun sampai dengan 6 (enam) tahun dengan prioritas bagi anak berusia 2 (dua) tahun sampai dengan 4 (empat) tahun. Pendidikan dasar adalah jenjang pendidikan pada jalur pendidikan formal yang melandasi jenjang pendidikan menengah yang diselenggarakan pada satuan pendidikan yang berbentuk Sekolah Dasar (SD) dan Madrasah Ibtidaiyah (MI) atau bentuk lain yang sederajat serta menjadi satu kesatuan kelanjutan pendidikan pada satuan pendidikan yang berbentuk Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan Madrasah Tsanawiyah (MTs), atau bentuk lain yang sederajat.

8.

9.

10. Sekolah Dasar yang selanjutnya disebut SD adalah salah satu bentuk satuan pendidikan formal yang menyelenggarakan pendidikan umum pada jenjang pendidikan dasar. 11. Madrasah Ibtidaiyah yang selanjutnya disebut MI adalah salah satu bentuk satuan pendidikan formal dalam binaan Menteri Agama yang menyelenggarakan pendidikan umum dengan kekhasan agama Islam pada jenjang pendidikan dasar. Sekolah Menengah Pertama yang selanjutnya disebut SMP adalah salah satu bentuk satuan pendidikan formal yang menyelenggarakan pendidikan umum pada jenjang pendidikan dasar sebagai lanjutan dari SD, MI, atau bentuk lain yang sederajat atau lanjutan dari hasil belajar yang diakui sama/setara SD/MI. Madrasah Tsanawiyah yang selanjutnya disebut MTs adalah salah satu bentuk satuan pendidikan formal dalam binaan Menteri Agama yang menyelenggarakan pendidikan umum dengan kekhasan agama Islam pada jenjang pendidikan dasar sebagai lanjutan dari SD, MI, atau bentuk lain yang sederajat atau lanjutan dari hasil belajar yang diakui sama/setara SD/MI. Pendidikan menengah adalah jenjang pendidikan pada jalur pendidikan formal yang merupakan lanjutan pendidikan dasar, berbentuk Sekolah Menengah Atas (SMA), Madrasah Aliyah (MA), Sekolah Menengah Kejuruan (SMK), dan Madrasah Aliyah
3

12.

13.

14.

76461668.doc

Kejuruan (MAK) atau bentuk lain yang sederajat . 15. Sekolah Menengah Atas yang selanjutnya disebut SMA adalah salah satu bentuk satuan pendidikan formal yang menyelenggarakan pendidikan umum pada jenjang pendidikan menengah sebagai lanjutan dari SMP, MTs, atau bentuk lain yang sederajat atau lanjutan dari hasil belajar yang diakui sama/setara SMP/MTs. Madrasah Aliyah yang selanjutnya disebut MA adalah salah satu bentuk satuan pendidikan formal dalam binaan Menteri Agama yang menyelenggarakan pendidikan umum dengan kekhasan agama Islam pada jenjang pendidikan menengah sebagai lanjutan dari SMP, MTs, atau bentuk lain yang sederajat atau lanjutan dari hasil belajar yang diakui sama/setara SMP/MTs. Sekolah Menengah Kejuruan yang selanjutnya disebut SMK adalah salah satu bentuk satuan pendidikan formal yang menyelenggarakan pendidikan kejuruan pada jenjang pendidikan menengah sebagai lanjutan dari SMP, MTs, atau bentuk lain yang sederajat atau lanjutan dari hasil belajar yang diakui sama/setara SMP/MTs. Madrasah Aliyah Kejuruan yang selanjutnya disebut MAK adalah salah satu bentuk satuan pendidikan formal di bawah tanggung jawab Menteri Agama yang menyelenggarakan pendidikan kejuruan dengan kekhasan agama Islam pada jenjang pendidikan menengah sebagai lanjutan dari SMP, MTs, atau bentuk lain yang sederajat atau lanjutan dari hasil belajar yang diakui sama/setara SMP/MTs. Pendidikan tinggi adalah jenjang pendidikan pada jalur pendidikan formal setelah pendidikan menengah yang dapat berupa program pendidikan diploma, sarjana, magister, doktor, dan spesialis yang diselenggarakan oleh perguruan tinggi.

16.

17.

18.

19.

20. Akademi adalah perguruan tinggi yang menyelenggarakan pendidikan vokasi dalam satu cabang atau sebagian cabang ilmu pengetahuan, teknologi, dan/atau seni tertentu. 21. Politeknik adalah perguruan tinggi yang menyelenggarakan pendidikan vokasi dalam sejumlah bidang pengetahuan khusus. 22. Sekolah tinggi adalah perguruan tinggi yang menyelenggarakan pendidikan akademik dan/atau vokasi dalam lingkup satu disiplin ilmu tertentu dan jika memenuhi syarat dapat menyelenggarakan pendidikan profesi. 23. Institut adalah perguruan tinggi yang menyelenggarakan pendidikan akademik dan/atau pendidikan vokasi dalam sekelompok disiplin ilmu pengetahuan, teknologi, dan/atau seni
76461668.doc

4

31. 29. 33. mengembangkan. teknologi. yang menyelenggarakan dan mengelola pendidikan akademik. Standar Nasional Pendidikan adalah kriteria minimal tentang sistem pendidikan di seluruh wilayah hukum Negara Kesatuan Republik Indonesia. vokasi atau profesi dalam sebagian atau satu bidang ilmu pengetahuan.dan jika memenuhi syarat dapat menyelenggarakan pendidikan profesi. Sivitas akademika adalah komunitas dosen dan mahasiswa pada perguruan tinggi. vokasi atau profesi dalam satu rumpun disiplin ilmu pengetahuan. isi. dan/atau olah raga. Fakultas atau nama lain yang sejenis adalah himpunan sumberdaya pendukung. dan pengabdian kepada masyarakat. dan bahan pelajaran. penelitian. Universitas menyelenggarakan pendidikan akademik dan/atau pendidikan vokasi dalam sejumlah ilmu pengetahuan. 25. yang dapat dikelompokkan menurut jurusan. 30. Kurikulum adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan. Dosen adalah pendidik profesional dan ilmuwan pada perguruan tinggi dengan tugas utama mentransformasikan. Program studi adalah unsur pelaksana akademik yang menyelenggarakan dan mengelola jenis pendidikan akademik. seni. 27. dan/atau olah raga tertentu. serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan. Standar pelayanan minimal adalah kriteria minimal berupa nilai kumulatif pemenuhan Standar Nasional Pendidikan yang harus dipenuhi oleh setiap satuan pendidikan. teknologi. Mahasiswa adalah peserta didik yang terdaftar dan belajar pada perguruan tinggi. seni. teknologi.doc 5 . seni. 24. Pendidikan nonformal adalah jalur pendidikan di luar pendidikan formal yang dapat dilaksanakan secara terstruktur dan berjenjang. 28. 32. dan/atau seni dan jika memenuhi syarat dapat menyelenggarakan pendidikan profesi. teknologi. teknologi. dan menyebarluaskan ilmu pengetahuan. dan/atau olah raga. Jurusan atau nama lain yang sejenis adalah himpunan sumberdaya pendukung program studi dalam satu rumpun disiplin ilmu pengetahuan. 26. 34. 76461668. dan seni melalui pendidikan.

sosial. 36. 76461668. Pendidikan jarak jauh adalah pendidikan yang peserta didiknya terpisah dari pendidik dan pembelajarannya menggunakan berbagai sumber belajar melalui teknologi komunikasi. Kelompok belajar adalah satuan pendidikan nonformal yang terdiri atas sekumpulan warga masyarakat yang saling membelajarkan pengalaman dan kemampuan dalam rangka meningkatkan mutu dan taraf kehidupannya. Pusat kegiatan belajar masyarakat adalah satuan pendidikan nonformal yang menyelenggarakan berbagai kegiatan belajar sesuai dengan kebutuhan masyarakat atas dasar prakarsa dari.35. Pendidikan lintas jalur dan jenis pendidikan adalah penyelenggaraan pendidikan sistem terbuka dimana peserta didik mengambil mata pelajaran pada satuan pendidikan yang tidak sejenis pada jalur pendidikan formal. nonformal. Program pengayaan belajar adalah pembelajaran tambahan untuk memperluas wawasan dan kemampuan bagi peserta didik yang telah mencapai standar kompetensi yang dipersyaratkan. 45. Pendidikan informal lingkungan. 40. 39. 38. dan untuk masyarakat. 43. dan budaya masyarakat daerah setempat.doc 6 . informasi. dan informal. Pendidikan berbasis keunggulan lokal adalah satuan pendidikan dasar dan menengah yang menyelenggarakan pendidikan dengan acuan kurikulum yang menunjang upaya pengembangan potensi. 41. 44. Program percepatan belajar adalah pengaturan program pendidikan bagi peserta didik yang mencapai standar kompetensi yang dipersyaratkan lebih cepat dari waktu yang ditentukan. budaya. Pendidikan berbasis masyarakat adalah penyelenggaraan pendidikan berdasarkan kekhasan agama. Pendidikan bertaraf internasional adalah pendidikan yang diselenggarakan dengan menggunakan Standar Nasional Pendidikan dan diperkaya dengan standar pendidikan negara maju. oleh. ekonomi. adalah jalur pendidikan keluarga dan 37. aspirasi. 42. oleh dan untuk masyarakat. dan potensi masyarakat sebagai perwujudan pendidikan dari. dan media lain. sosial. Pembelajaran adalah proses interaksi peserta didik dengan pendidik dan/atau sumber belajar pada suatu lingkungan belajar.

(2) Pengelolaan pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditujukan untuk menjamin: a. Pemerintah. Komite sekolah/madrasah adalah lembaga mandiri yang beranggotakan orang tua/wali peserta didik. d. 50. Dewan pendidikan adalah lembaga mandiri yang beranggotakan berbagai unsur masyarakat yang peduli pendidikan. BAB II PENGELOLAAN PENDIDIKAN Bagian Kesatu Umum Pasal 2 (1) Pengelolaan pendidikan dilakukan oleh: a. 49. dan terjangkau. efisiensi. Pemerintah Kabupaten. Departemen adalah departemen yang bertanggung jawab di bidang pendidikan. badan hukum pendidikan. c. Pemerintah Kabupaten/Kota. Pemerintah Provinsi. b. pendidikan.46. dan Pasal 3 akuntabilitas pengelolaan 76461668. Pemerintah adalah Pemerintah Pusat.doc 7 . Menteri adalah menteri yang menangani urusan pemerintahan di bidang pendidikan. akses masyarakat atas pelayanan mencukupi. 48. c. dan efektivitas. Organisasi profesi adalah kumpulan anggota masyarakat yang memiliki keahlian tertentu yang berbadan hukum dan bersifat non-komersial. 52. b. dan e. satuan pendidikan. 51. pendidikan yang mutu dan daya saing pendidikan serta relevansinya dengan kebutuhan dan/atau kondisi masyarakat. komunitas sekolah. 47. atau Pemerintah Kota. serta tokoh masyarakat yang peduli pendidikan. merata. Pemerintah daerah adalah Pemerintah Provinsi.

doc Pemerintah Provinsi. e. dewan pendidikan. rencana kerja Pemerintah (RKP). k. e. pendidik dan tenaga kependidikan. 76461668. orang tua/wali peserta didik. h. j. satuan pendidikan. ayat (2) dan ayat (3) mengikat bagi: a. komite sekolah/madrasah atau nama lain yang peserta didik. (4) Sistem pendidikan nasional dan kebijakan nasional pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1). c. l. rencana pembangunan jangka panjang (RPJP). Pemerintah kabupaten/kota. c. 8 . b. b. f. rencana strategis pendidikan nasional. d. dan peraturan perundang-undangan di bidang pendidikan. departemen lain atau lembaga pemerintah nondepartemen yang menyelenggarakan satuan pendidikan. f. sejenis. i. g. badan hukum pendidikan. rencana kerja dan anggaran tahunan (RKAT). Departemen Agama. Departemen. (2) Sistem pendidikan nasional sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diselenggarakan dan dikelola sesuai peraturan perundangundangan. (3) Kebijakan nasional bidang pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dituangkan dalam: a.Pengelolaan pendidikan didasarkan pada rencana yang disusun sesuai peraturan perundang-undangan. Bagian Kedua Pengelolaan oleh Pemerintah Pasal 4 (1) Menteri bertanggung jawab mengelola sistem pendidikan nasional serta merumuskan dan/atau menetapkan kebijakan nasional bidang pendidikan. d. rencana pembangunan jangka menengah (RPJM).

memantau. (2) Target tingkat partisipasi pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dipenuhi melalui jalur pendidikan formal dan nonformal. peserta didik khusus. (5) Pemerintah mengalokasikan anggaran pendidikan agar sistem pendidikan nasional dapat dilaksanakan secara efektif. (2) Menteri menetapkan kebijakan untuk menjamin peserta didik miskin.m. antar kabupaten. pihak lain yang terkait dengan pendidikan di Indonesia. dan mengendalikan penyelenggara. dan jenis pendidikan secara nasional sesuai dengan kebijakan nasional bidang pendidikan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 ayat (3). satuan. jenjang. Pasal 5 Pemerintah mengarahkan. b. Pasal 6 (1) Menteri menetapkan target tingkat partisipasi pendidikan pada semua jenjang dan jenis pendidikan yang harus dicapai pada tingkat nasional. Pasal 7 (1) Menteri menetapkan target tingkat pendidikan pada tingkat nasional: a. dan/atau peserta didik di daerah khusus dapat memperoleh akses pelayanan pendidikan. jalur. dan e. mengawasi mengkoordinasi. antar kota. antara laki-laki dan perempuan. efisien. dan n. antara kabupaten dan kota. Pemerintah mengutamakan perluasan dan pemerataan akses pendidikan melalui jalur pendidikan formal. d. dan akuntabel sesuai dengan kebijakan nasional sebagaimana dimaksud pada ayat (3). membimbing. c. masyarakat. antar provinsi. mensupervisi. (3) Dalam memenuhi target tingkat partisipasi pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1).doc 9 . Pasal 8 pemerataan partisipasi 76461668. mengevaluasi.

f. Pasal 10 (1) Pemerintah melakukan dan/atau memfasilitasi penjaminan mutu pendidikan dengan berpedoman pada kebijakan nasional bidang pendidikan dan Standar Nasional Pendidikan. menyelenggarakan atau memfasilitasi penyelenggaraan satuan pendidikan sesuai Standar Nasional Pendidikan secara bertahap. sertifikasi satuan dan/atau program pendidikan terkait.doc 10 . mencapai target tingkat partisipasi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 secara bertahap. Satuan pendidikan. (3) Standar pelayanan minimal bidang pendidikan untuk pemerintah daerah merupakan syarat awal yang harus dipenuhi untuk: a. dan/atau g. c. bidang Standar pelayanan minimal sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditetapkan masing-masing untuk: a. dan b. sertifikasi unit pelaksana pendidikan terkait. b. Pemerintah menyelenggarakan dan/atau memfasilitasi: a. (4) Standar pelayanan minimal bidang pendidikan untuk satuan pendidikan ditetapkan sebagai syarat awal yang harus dipenuhi dalam mencapai Standar Nasional Pendidikan secara bertahap dengan menerapkan otonomi satuan pendidikan atau manajemen berbasis sekolah/madrasah. satuan dan/atau program (2) e. akreditasi satuan pendidikan. d.(1) (2) Menteri menetapkan standar pelayanan minimal pendidikan sesuai peraturan perundang-undangan. Pemerintah daerah. b. Pasal 9 Menteri menetapkan Standar Nasional Pendidikan sesuai peraturan perundang-undangan. Dalam rangka penjaminan mutu pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1). akreditasi program pendidikan. Catatan: 76461668. sertifikasi kompetensi pendidik. sertifikasi kompetensi tenaga kependidikan. sertifikasi kompetensi peserta didik.

(3) Akreditasi dan sertifikasi sebagaimana dimaksud pada ayat (2) yang diselenggarakan Pemerintah atau masyarakat didasarkan pada Standar Nasional Pendidikan. Pasal 11 (1) Pemerintah mengakui. olahraga.. (3) Pemerintah memfasilitasi akreditasi internasional program dan/atau satuan pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2). dan internasional. nasional. unit pelaksana teknis satuan pendidikan. (3) Pemerintah memberikan penghargaan kepada peserta didik yang meraih prestasi puncak sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) sesuai peraturan perundang-undangan. provinsi. dan c. b.Penjelasan untuk Sertifikasi kompetensi satuan pendidikan. kabupaten/kota. membina. dan melindungi program dan/atau satuan pendidikan bertaraf internasional sesuai peraturan perundang-undangan.. dan/atau olahraga pada tingkat satuan pendidikan. pendidik dan tenaga kependidikan. peserta didik. Pemerintah memfasilitasi sertifikasi internasional pada program dan/atau satuan pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2). Pasal 12 (1) Pemerintah melakukan pembinaan berkelanjutan kepada peserta didik yang memiliki potensi kecerdasan dan/atau bakat istimewa untuk mencapai prestasi puncak di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi. (4) Ketentuan lebih lanjut mengenai pelaksanaan ayat (1) dan ayat (2) diatur dengan peraturan Menteri. 11 (4) (2) 76461668. ilmu pengetahuan dan teknologi. memfasilitasi. (2) Pemerintah memfasilitasi perintisan program dan/atau satuan pendidikan yang sudah atau hampir memenuhi Standar Nasional Pendidikan untuk dikembangkan menjadi program dan/atau satuan pendidikan bertaraf internasional. seni.doc . Untuk menumbuhkan iklim kompetitif yang kondusif bagi pencapaian prestasi puncak sebagaimana dimaksud pada ayat (1) Pemerintah menyelenggarakan dan/atau memfasilitasi secara teratur dan berjenjang kompetisi di bidang: a. seni.

Pemerintah provinsi. Sistem informasi pendidikan nasional sebagaimana dimaksud pada ayat (1) difasilitasi oleh jejaring informasi nasional yang terhubung dengan sistem informasi pendidikan di departemen lain atau lembaga pemerintah non departemen yang menyelenggarakan pendidikan. Bagian Ketiga Pengelolaan oleh Pemerintah Provinsi Pasal 15 (1) Gubernur bertanggung jawab mengelola sistem pendidikan nasional di daerahnya serta merumuskan dan menetapkan kebijakan daerah bidang pendidikan sesuai kewenangannya.doc 12 . Badan hukum pendidikan. e.Pasal 13 Menteri menetapkan kebijakan tatakelola pendidikan untuk menjamin efisiensi. jenis. dan g. Pasal 14 (1) Dalam menyelenggarakan dan mengelola sistem pendidikan nasional Departemen mengembangkan dan melaksanakan sistem informasi pendidikan nasional berbasis teknologi informasi dan komunikasi. (2) (3) (2) Kebijakan daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) konsisten dengan serta merupakan penjabaran dari kebijakan pendidikan nasional sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4. Program dan/atau satuan pendidikan. 76461668. Departemen lain atau lembaga pemerintah nondepartemen yang menyelenggarakan program dan/atau satuan pendidikan. c. sistem informasi pendidikan di semua provinsi. f. Pemerintah kabupaten/kota. Sistem informasi pendidikan nasional sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) memberikan akses informasi administrasi pendidikan dan akses sumber pembelajaran kepada satuan pendidikan pada semua jenjang. dan sistem informasi pendidikan di semua kabupaten/kota. Departemen. efektifitas. dan jalur pendidikan. dan akuntabilitas pengelolaan pendidikan yang mengikat: a. Departemen Agama. d. b.

(4) Kebijakan daerah bidang pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1). dan k.doc 13 . b. rencana kerja pemerintah provinsi (RKPP). memantau. jenjang. satuan pendidikan di provinsi yang bersangkutan. dewan pendidikan di provinsi yang bersangkutan. peraturan daerah di bidang pendidikan. kerja dan anggaran tahunan provinsi e. dan g. rencana strategis pendidikan provinsi. mengevaluasi. f. dan jenis pendidikan di provinsi yang bersangkutan sesuai 76461668. rencana (RKATP). jalur. peraturan gubernur di bidang pendidikan. orang tua/wali peserta didik di provinsi yang bersangkutan. mensupervisi. c. d. satuan. h. badan hukum pendidikan di provinsi yang bersangkutan. membimbing. masyarakat di provinsi yang bersangkutan. ayat (2). c. dan akuntabel sesuai dengan kebijakan daerah bidang pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1). (5) Pemerintah provinsi mengalokasikan anggaran pendidikan agar sistem pendidikan nasional di provinsi yang bersangkutan dapat dilaksanakan secara efektif. tenaga kependidikan di provinsi yang j. i. pihak lain yang terkait dengan pendidikan di provinsi yang bersangkutan. rencana pembangunan jangka menengah provinsi (RPJMP). mengkoordinasi. f. Pemerintah Kabupaten/Kota di provinsi yang bersangkutan. d. pendidik dan bersangkutan. efisien. g. Pasal 16 Pemerintah provinsi sesuai kewenangannya mengarahkan. b. ayat (2) dan ayat (3) mengikat bagi: a. semua jajaran Pemerintah Provinsi. peserta didik di provinsi yang bersangkutan. rencana pembangunan jangka panjang provinsi (RPJPP). e. mengawasi. dan mengendalikan penyelenggara. komite sekolah atau nama lain yang sejenis di provinsi yang bersangkutan. dan ayat (3).(3) Kebijakan daerah bidang pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dituangkan dalam: a.

Pasal 20 (1) Pemerintah provinsi sesuai kewenangannya melakukan dan/atau memfasilitasi penjaminan mutu pendidikan di daerahnya dengan berpedoman pada kebijakan nasional bidang pendidikan dan Standar Nasional Pendidikan. (2) Target tingkat partisipasi pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dipenuhi melalui jalur pendidikan formal dan nonformal. Pasal 17 (1) Gubernur menetapkan target tingkat partisipasi pendidikan pada semua jenjang dan jenis pendidikan yang harus dicapai pada tingkat provinsi. (3) Dalam memenuhi target tingkat partisipasi pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1). (2) Gubernur menetapkan kebijakan untuk menjamin peserta didik miskin. dan/atau peserta didik di daerah khusus dapat memperoleh akses pelayanan pendidikan. pemerintah provinsi berkoordinasi dengan unit pelaksana teknis Pemerintah yang melaksanakan tugas penjaminan mutu pendidikan.doc 14 . Dalam melaksanakan tugasnya sebagaimana dimaksud pada ayat (1). antar kabupaten. pemerintah provinsi mengutamakan perluasan dan pemerataan akses pendidikan melalui jalur pendidikan formal. peserta didik khusus. Pasal 19 Gubernur melaksanakan dan mengkoordinasikan pelaksanaan standar pelayanan minimal bidang pendidikan sesuai peraturan perundangundangan. antara kabupaten dan kota. b. antara laki-laki dan perempuan.kebijakan daerah bidang pendidikan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 15. dan d. Pasal 18 (1) Gubernur menetapkan target tingkat pemerataan partisipasi pendidikan pada tingkat provinsi: a. (2) 76461668. antar kota. c.

Pemerintah provinsi sesuai dengan kewenangannya menyelenggarakan. sertifikasi kompetensi pendidik.doc 15 . f. Pengangkatan. sertifikasi pendidikan terkait. b. mengakui. Gubernur membentuk Badan Akreditasi Provinsi Sekolah/Madrasah dan Badan Akreditasi Provinsi Pendidikan Nonformal untuk membantu Badan Akreditasi Nasional Sekolah/Madrasah dan Badan Akreditasi Nasional Pendidikan Nonformal dalam melaksanakan tugasnya. Pemerintah provinsi memfasilitasi akreditasi internasional program dan/atau satuan pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2). sertifikasi kompetensi peserta didik. membina. sertifikasi unit pelaksana satuan dan/atau program pendidikan terkait. e. d. Pasal 22 (2) (3) (4) (5) 76461668. Pemerintah provinsi memfasilitasi sertifikasi internasional pada program dan/atau satuan pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2). memfasilitasi. dan/atau kompetensi tenaga g. akreditasi satuan pendidikan. membina. akreditasi program pendidikan.(3) Dalam rangka penjaminan mutu pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1). pemberhentian. pemerintah provinsi mengkoordinasikan dan memfasilitasi: a. dan/atau pemindahan kepala sekolah dan/atau guru pada satuan pendidikan yang sedang dirintis atau sudah bertaraf internasional harus seizin gubernur. Pasal 21 (1) Pemerintah provinsi sesuai dengan kewenangannya menyelenggarakan. mengakui. memfasilitasi. (4) Untuk melaksanakan tugasnya sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf a dan huruf b. dan melindungi program dan/atau satuan pendidikan yang sudah atau hampir memenuhi Standar Nasional Pendidikan untuk dirintis dan dikembangkan menjadi bertaraf internasional sesuai dengan peraturan perundang-undangan. sertifikasi kependidikan. satuan dan/atau program c. dan melindungi program dan/atau satuan pendidikan bertaraf internasional sesuai dengan peraturan perundang-undangan.

(1) Pemerintah provinsi melakukan pembinaan berkelanjutan kepada peserta didik yang memiliki potensi kecerdasan dan/atau bakat istimewa untuk mencapai prestasi puncak di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi. pendidik dan bersangkutan. olahraga. ayat (2). e. tenaga kependidikan di provinsi yang j. f. komite sekolah atau nama lain yang sejenis di provinsi yang bersangkutan. dewan pendidikan di provinsi yang bersangkutan. d. g. pihak lain yang terkait dengan pendidikan di provinsi yang bersangkutan. semua jajaran Pemerintah Provinsi. dan/atau olahraga pada tingkat satuan pendidikan. Pemerintah Kabupaten/Kota di provinsi yang bersangkutan. dan c. seni. (4) Ketentuan lebih lanjut mengenai pelaksanaan ayat (1). dan akuntabilitas pengelolaan pendidikan yang mengikat: a. provinsi. peserta didik di provinsi yang bersangkutan. ilmu pengetahuan dan teknologi. dan k. h. efektifitas. b. orang tua/wali peserta didik di provinsi yang bersangkutan. satuan pendidikan di provinsi yang bersangkutan. (3) Pemerintah provinsi memberikan penghargaan kepada peserta didik yang meraih prestasi puncak sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) sesuai peraturan perundang-undangan. (2) Untuk menumbuhkan iklim kompetitif yang kondusif bagi pencapaian prestasi puncak sebagaimana dimaksud pada ayat (1) pemerintah provinsi menyelenggarakan dan/atau memfasilitasi secara teratur dan berjenjang kompetisi di bidang: a. Pasal 23 Gubernur menetapkan kebijakan tatakelola pendidikan untuk menjamin efisiensi. c. kabupaten/kota. dan internasional. badan hukum pendidikan di provinsi yang bersangkutan. seni. dan ayat (3) diatur dengan peraturan gubernur. b. nasional.doc 16 . Pasal 24 76461668. masyarakat di provinsi yang bersangkutan. i.

rencana strategis pendidikan kabupaten/kota. pemerintah provinsi mengembangkan dan melaksanakan sistem informasi pendidikan provinsi berbasis teknologi informasi dan komunikasi. f. rencana pembangunan jangka menengah kabupaten/kota. (4) Kebijakan daerah bidang pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1). c. ayat (2) dan ayat (3) mengikat bagi: 76461668.doc 17 . g. rencana kerja dan anggaran tahunan kabupaten/kota. rencana pembangunan jangka panjang kabupaten/kota. rencana kerja pemerintah kabupaten/kota. (3) Kebijakan daerah bidang pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) dituangkan dalam: a. dan peraturan bupati/walikota di bidang pendidikan. d.(1) Dalam menyelenggarakan dan mengelola sistem pendidikan nasional di daerahnya. Sistem informasi pendidikan provinsi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) memberikan akses informasi administrasi pendidikan dan akses sumber pembelajaran kepada satuan pendidikan pada semua jenjang. e. b. peraturan daerah di bidang pendidikan. (2) Kebijakan daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) konsisten dengan serta merupakan penjabaran dari kebijakan pendidikan nasional sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 dan penjabaran dari kebijakan pendidikan pemerintah provinsi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 15. dan jalur pendidikan sesuai kewenangan pemerintah provinsi. Sistem informasi pendidikan provinsi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) merupakan subsistem dari sistem informasi pendidikan nasional. jenis. (2) (3) Bagian Keempat Pengelolaan oleh Pemerintah Kabupaten/Kota Pasal 25 (1) Bupati/Walikota bertanggung jawab mengelola sistem pendidikan nasional di daerahnya serta merumuskan dan menetapkan kebijakan daerah bidang pendidikan sesuai kewenangannya.

mengkoordinasi. yang sejenis di peserta didik di kabupaten/kota yang bersangkutan. dan akuntabel sesuai dengan kebijakan daerah bidang pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1). orang tua/wali peserta didik di kabupaten/kota yang bersangkutan.a. e. membimbing. (3) Dalam memenuhi target tingkat partisipasi pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1). dan jenis pendidikan di kabupaten/kota yang bersangkutan sesuai kebijakan daerah bidang pendidikan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 25. pendidikan di kabupaten/kota yang satuan pendidikan di kabupaten/kota yang bersangkutan. memantau. badan hukum bersangkutan. Pasal 26 Pemerintah kabupaten/kota sesuai kewenangannya mengarahkan. satuan. efisien. (2)Target tingkat partisipasi pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dipenuhi melalui jalur pendidikan formal dan nonformal. komite sekolah atau nama lain kabupaten/kota yang bersangkutan. j. masyarakat di kabupaten/kota yang bersangkutan. g. c. dan ayat (3). dan mengendalikan penyelenggara. ayat (2). f. b. d. mensupervisi.doc 18 . jenjang. dan pihak lain yang terkait dengan kabupaten/kota yang bersangkutan. dewan pendidikan di kabupaten/kota yang bersangkutan. pemerintah kabupaten/kota mengutamakan perluasan dan pemerataan akses pendidikan melalui jalur pendidikan formal. semua jajaran pemerintah kabupaten/kota. Pasal 28 76461668. mengevaluasi. pendidik dan tenaga kependidikan di kabupaten/kota yang bersangkutan. jalur. i. h. pendidikan di (5) Pemerintah kabupaten/kota mengalokasikan anggaran pendidikan agar sistem pendidikan nasional di kabupaten/kota yang bersangkutan dapat dilaksanakan secara efektif. mengawasi. Pasal 27 (1)Bupati/Walikota menetapkan target tingkat partisipasi pendidikan pada semua jenjang dan jenis pendidikan yang harus dicapai pada tingkat kabupaten/kota.

Pasal 31 76461668.doc 19 . b. f. b. dan antara laki-laki dan perempuan. peserta didik khusus. sertifikasi kependidikan. pemerintah kabupaten/kota berkoordinasi dengan unit pelaksana teknis Pemerintah yang melaksanakan tugas penjaminan mutu pendidikan. Dalam melaksanakan tugasnya sebagaimana dimaksud pada ayat (1). sertifikasi pendidikan terkait. sertifikasi kompetensi peserta didik. e. akreditasi program pendidikan. satuan dan/atau program (2) (3) c.(1) Bupati/Walikota menetapkan target tingkat pemerataan partisipasi pendidikan pada tingkat kabupaten/kota: a. dan/atau peserta didik di daerah khusus dapat memperoleh akses pelayanan pendidikan. (2) Bupati/Walikota menetapkan kebijakan untuk menjamin peserta didik miskin. akreditasi satuan pendidikan. dan/atau kompetensi tenaga g. antar kecamatan atau sebutan lainnya yang sejenis. sertifikasi kompetensi pendidik. sertifikasi unit pelaksana satuan dan/atau program pendidikan terkait. kebijakan provinsi bidang pendidikan. d. Pasal 30 (1) Pemerintah kabupaten/kota sesuai kewenangannya melakukan dan/atau memfasilitasi penjaminan mutu pendidikan di daerahnya dengan berpedoman pada kebijakan nasional bidang pendidikan. dan Standar Nasional Pendidikan. antar desa/kelurahan atau sebutan lainnya yang sejenis. Dalam rangka penjaminan mutu pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1). pemerintah kabupaten/kota memfasilitasi: a. c. Pasal 29 Bupati/Walikota melaksanakan dan mengkoordinasikan pelaksanaan standar pelayanan minimal bidang pendidikan sesuai peraturan perundang-undangan.

membina. dan ayat (3) diatur dengan peraturan bupati/walikota. Pasal 33 (4) 76461668. (2) (3) (4) Pasal 32 (1) Pemerintah kabupaten/kota melakukan pembinaan berkelanjutan kepada peserta didik yang memiliki potensi kecerdasan dan/atau bakat istimewa untuk mencapai prestasi puncak di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi.doc 20 . dan internasional. seni. Untuk menumbuhkan iklim kompetitif yang kondusif bagi pencapaian prestasi puncak sebagaimana dimaksud pada ayat (1) pemerintah kabupaten/kota menyelenggarakan dan/atau memfasilitasi secara teratur dan berjenjang kompetisi di bidang: a. memfasilitasi. Pemerintah kabupaten/kota memfasilitasi akreditasi internasional program dan/atau satuan pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2). seni. dan olahraga. (3) ilmu pengetahuan dan teknologi. c. provinsi. Pemerintah kabupaten/kota melaksanakan dan/atau memfasilitasi perintisan program dan/atau satuan pendidikan yang sudah atau hampir memenuhi Standar Nasional Pendidikan untuk dikembangkan menjadi program dan/atau satuan pendidikan bertaraf internasional dan/atau berbasis keunggulan lokal. Ketentuan lebih lanjut mengenai pelaksanaan ayat (1). dan melindungi program dan/atau satuan pendidikan bertaraf internasional dan/atau berbasis keunggulan lokal sesuai peraturan perundang-undangan. kabupaten/kota. kecamatan.(1) Pemerintah kabupaten/kota mengakui. dan/atau olahraga pada tingkat satuan pendidikan. b. nasional. ayat (2). (2) Pemerintah kabupaten/kota memberikan penghargaan kepada peserta didik yang meraih prestasi puncak sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) sesuai peraturan perundang-undangan. Pemerintah kabupaten/kota memfasilitasi sertifikasi internasional pada program dan/atau satuan pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2).

Bupati/Walikota menetapkan kebijakan tatakelola pendidikan untuk menjamin efisiensi, efektifitas, dan akuntabilitas pengelolaan pendidikan yang mengikat: a. semua jajaran pemerintah kabupaten/kota; b. badan hukum pendidikan di kabupaten/kota yang bersangkutan; c. satuan pendidikan bersangkutan; d. dewan pendidikan bersangkutan; di di kabupaten/kota kabupaten/kota yang yang

e. komite sekolah atau nama lain yang sejenis di kabupaten/kota yang bersangkutan; f. peserta didik di kabupaten/kota yang bersangkutan; g. orang tua/wali peserta didik di kabupaten/kota yang bersangkutan; h. pendidik dan tenaga kabupaten/kota yang bersangkutan; i. dan kependidikan di

masyarakat di kabupaten/kota yang bersangkutan; pendidikan di

j. pihak lain yang terkait dengan kabupaten/kota yang bersangkutan. Pasal 34 (1)

Dalam menyelenggarakan dan mengelola sistem pendidikan nasional di daerahnya, pemerintah kabupaten/kota mengembangkan dan melaksanakan sistem informasi pendidikan kabupaten/kota berbasis teknologi informasi dan komunikasi. Sistem informasi pendidikan kabupaten/kota sebagaimana dimaksud pada ayat (1) merupakan subsistem dari sistem informasi pendidikan nasional. Sistem informasi pendidikan kabupaten/kota sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) memberikan akses informasi administrasi pendidikan dan akses sumber pembelajaran kepada satuan pendidikan pada semua jenjang, jenis, dan jalur pendidikan sesuai kewenangan pemerintah kabupaten/kota. Bagian Kelima Pengelolaan oleh Badan Hukum Pendidikan Pasal 35 (1) Badan hukum pendidikan bertanggung jawab mengelola sistem pendidikan nasional di badan hukum pendidikannya serta
76461668.doc

(2)

(3)

21

merumuskan dan kewenangannya. (2)

menetapkan kebijakan pendidikan sesuai

Kebijakan pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) konsisten dengan serta merupakan penjabaran dari kebijakan pendidikan nasional sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4, kebijakan pendidikan pemerintah provinsi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 15, dan/atau kebijakan pendidikan pemerintah kabupaten/kota sebagaimana dimaksud dalam Pasal 25, sesuai peraturan perundang-undangan. Kebijakan pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) dituangkan dalam peraturan badan hukum pendidikan.

(3)

(4) Kebijakan pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1), ayat (2) dan ayat (3) mengikat bagi: a. badan hukum pendidikan yang bersangkutan; b. satuan dan/atau program pendidikan yang terkait; c. lembaga representasi pemangku kepentingan dan/atau program pendidikan yang terkait; satuan

d. peserta didik di satuan dan/atau program pendidikan yang terkait; e. orang tua/wali peserta didik di satuan dan/atau program pendidikan yang terkait; f. pendidik dan tenaga kependidikan di satuan dan/atau program pendidikan yang terkait; g. pihak lainnya yang terikat dengan program pendidikan yang terkait. satuan dan/atau

(5) Badan hukum pendidikan mengalokasikan anggaran pendidikan agar sistem pendidikan nasional di satuan dan/atau program pendidikan yang terkait dapat dilaksanakan secara efektif, efisien, dan akuntabel sesuai dengan kebijakan pendidikan nasional sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4, kebijakan pendidikan pemerintah provinsi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 15, kebijakan pendidikan pemerintah kabupaten/kota sebagaimana dimaksud dalam Pasal 25, dan/atau kebijakan pendidikan badan hukum pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1), ayat (2), ayat (3), dan ayat (4), dan sesuai peraturan perundang-undangan. Pasal 36 Badan hukum pendidikan sesuai kewenangannya mengarahkan, membimbing, mensupervisi, mengawasi, mengkoordinasi, memantau, mengevaluasi, dan mengendalikan satuan dan/atau program pendidikan yang terkait sesuai dengan kebijakan pendidikan nasional sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4, kebijakan pendidikan
76461668.doc

22

pemerintah provinsi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 15, kebijakan pendidikan pemerintah kabupaten/kota sebagaimana dimaksud dalam Pasal 25, dan/atau kebijakan pendidikan badan hukum pendidikan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 35, dan sesuai peraturan perundang-undangan. Pasal 37 Badan hukum pendidikan menetapkan kebijakan untuk menjamin peserta didik miskin, peserta didik khusus, dan/atau peserta didik di daerah khusus dapat memperoleh akses pelayanan pendidikan. Pasal 38 Badan hukum pendidikan menjamin pelaksanaan Standar Pelayanan Minimal bidang pendidikan pada satuan dan/atau program pendidikan terkait sesuai peraturan perundang-undangan. Pasal 39 (1) Badan hukum pendidikan sesuai kewenangannya melakukan dan/atau memfasilitasi penjaminan mutu pendidikan di satuan dan/atau program pendidikan terkait dengan berpedoman pada kebijakan pendidikan nasional sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4, kebijakan pendidikan pemerintah provinsi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 15, kebijakan pendidikan pemerintah kabupaten/kota sebagaimana dimaksud dalam Pasal 25, dan/atau kebijakan pendidikan badan hukum pendidikan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 35, dan Standar Nasional Pendidikan. (2) Dalam melaksanakan tugasnya sebagaimana dimaksud pada ayat (1), badan hukum pendidikan yang merupakan dan/atau menyelenggarakan satuan dan/atau program pendidikan anak usia dini, pendidikan dasar dan/atau pendidikan menengah bekerja sama dengan unit pelaksana teknis Pemerintah yang melaksanakan tugas penjaminan mutu pendidikan. (3) Dalam rangka penjaminan mutu pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1), badan hukum pendidikan memfasilitasi: a. akreditasi program pendidikan terkait; b. akreditasi satuan pendidikan terkait; c. sertifikasi satuan dan/atau program pendidikan terkait; d. sertifikasi unit pelaksana pendidikan terkait; satuan dan/atau program

e. sertifikasi kompetensi peserta didik; f. sertifikasi kompetensi pendidik; dan/atau g. sertifikasi kompetensi tenaga kependidikan.
76461668.doc

23

Pasal 40 (1) Badan hukum pendidikan memfasilitasi, membina, dan melindungi program dan/atau satuan pendidikan terkait yang bertaraf internasional dan/atau berbasis keunggulan lokal sesuai peraturan perundang-undangan. Badan hukum pendidikan melaksanakan dan/atau memfasilitasi perintisan program dan/atau satuan pendidikan terkait yang sudah atau hampir memenuhi Standar Nasional Pendidikan untuk dikembangkan menjadi program dan/atau satuan pendidikan bertaraf internasional dan/atau berbasis keunggulan lokal. Badan hukum pendidikan memfasilitasi akreditasi internasional program dan/atau satuan pendidikan terkait sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2). Badan hukum pendidikan memfasilitasi sertifikasi internasional pada program dan/atau satuan pendidikan terkait sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2). Pasal 41 (1) Badan hukum pendidikan memfasilitasi pembinaan berkelanjutan kepada peserta didik yang memiliki potensi kecerdasan dan/atau bakat istimewa untuk mencapai prestasi puncak di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi, seni, dan/atau olahraga pada tingkat satuan pendidikan, kecamatan, kabupaten/kota, provinsi, nasional, dan internasional. Untuk menumbuhkan iklim kompetitif yang kondusif bagi pencapaian prestasi puncak sebagaimana dimaksud pada ayat (1) badan hukum pendidikan memfasilitasi secara teratur kompetisi di satuan dan/atau program pendidikan terkait dalam bidang: a. b. c. (3) ilmu pengetahuan dan teknologi; seni; dan olahraga.

(2)

(3)

(4)

(2)

Ketentuan lebih lanjut mengenai pelaksanaan ayat (1), ayat (2), dan ayat (3) diatur dengan peraturan badan hukum pendidikan. Pasal 42

Badan hukum pendidikan menetapkan kebijakan tatakelola pendidikan untuk menjamin efisiensi, efektifitas, dan akuntabilitas pengelolaan pendidikan yang mengikat: a. b.
76461668.doc

badan hukum pendidikan yang bersangkutan; satuan dan/atau program pendidikan terkait;
24

76461668. Pasal 43 (1) Dalam menyelenggarakan dan mengelola sistem pendidikan nasional di satuan dan/atau program pendidikan terkait. lembaga representasi pemangku kepentingan pendidikan pada satuan dan/atau program pendidikan terkait. dan sesuai peraturan perundangundangan. kebijakan pendidikan pemerintah provinsi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 15. badan hukum pendidikan mengembangkan dan melaksanakan sistem informasi pendidikan badan hukum pendidikan berbasis teknologi informasi dan komunikasi. peserta pendidikan terkait. pendidik dan tenaga kependidikan di satuan dan/atau program pendidikan terkait.doc 25 . orang tua/wali peserta didik di satuan dan/atau program pendidikan terkait. Bagian Keenam Pengelolaan oleh Satuan dan/atau Program Pendidikan Pasal 44 (2) (3) (1) Satuan dan/atau program pendidikan bertanggung jawab mengelola sistem pendidikan nasional di satuan dan/atau program pendidikannya serta merumuskan dan menetapkan kebijakan pendidikan sesuai kewenangannya. (2) Kebijakan pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) konsisten dengan serta merupakan penjabaran dari kebijakan pendidikan nasional sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4. f. e.c. pihak lain yang terikat dengan satuan dan/atau program pendidikan terkait. kebijakan pendidikan pemerintah kabupaten/kota sebagaimana dimaksud dalam Pasal 25. didik satuan dan/atau program d. g. Sistem informasi pendidikan badan hukum pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) memberikan akses informasi administrasi pendidikan dan akses sumber pembelajaran kepada satuan dan/atau program pendidikan terkait. Sistem informasi pendidikan badan hukum pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) merupakan subsistem dari sistem informasi pendidikan nasional. dan/atau kebijakan pendidikan badan hukum pendidikan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 35.

Kebijakan badan hukum dimaksud dalam Pasal 35. rencana kerja tahunan perguruan tinggi. (6) Kebijakan satuan pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (3) merupakan penjabaran dan selaras dengan: a. satuan dan/atau program pendidikan yang bersangkutan. dan d. rencana strategis perguruan tinggi. oleh satuan pendidikan anak usia dini.(3) Kebijakan pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2). b. Kebijakan pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2). Kebijakan Pasal 4. dan dan belanja tahunan satuan c. 76461668. satuan c. pihak lainnya yang terikat dengan satuan dan/atau program pendidikan yang bersangkutan. b. anggaran tahunan perguruan tinggi. c. peraturan pemimpin perguruan tinggi. Pemerintah sebagaimana dimaksud dalam b.doc sebagaimana sebagaimana pendidikan 26 . f. b. anggaran pendapatan pendidikan. ayat (2) dan ayat (3) mengikat bagi: a. e. (5) Kebijakan pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1). dan peraturan pimpinan perguruan tinggi lainnya. orang tua/wali peserta didik di satuan dan/atau program pendidikan yang bersangkutan. (4) a. d. Kebijakan pemerintah provinsi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 15. lembaga representasi pemangku kepentingan dan/atau program pendidikan yang bersangkutan. c. oleh perguruan tinggi dituangkan dalam: rencana pembangunan jangka panjang perguruan tinggi. dan satuan pendidikan menengah dituangkan dalam: a. rencana kerja tahunan satuan pendidikan. peserta didik di satuan dan/atau program pendidikan yang bersangkutan. e. f. Kebijakan pemerintah kabupaten/kota dimaksud dalam Pasal 25. satuan pendidikan dasar. peraturan satuan dan/atau program pendidikan. d. pendidik dan tenaga kependidikan di satuan dan/atau program pendidikan yang bersangkutan.

kebijakan pendidikan pemerintah provinsi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 15. (8) pendidikan sebagaimana Satuan dan/atau program pendidikan mengalokasikan anggaran pendidikan agar sistem pendidikan nasional di satuan dan/atau program pendidikan yang bersangkutan dapat dilaksanakan secara efektif. ayat (3). dan/atau peserta didik di daerah khusus dapat memperoleh akses pelayanan pendidikan. dan/atau kebijakan 27 76461668. dan akuntabel sesuai dengan kebijakan pendidikan nasional sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4. kebijakan pendidikan pemerintah kabupaten/kota sebagaimana dimaksud dalam Pasal 25. kebijakan pendidikan pemerintah kabupaten/kota sebagaimana dimaksud dalam Pasal 25. dan/atau kebijakan pendidikan badan hukum pendidikan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 35. dan sebagaimana dimaksud dalam b.doc . Pasal 47 Satuan dan/atau program pendidikan menjamin terpenuhinya Standar Pelayanan Minimal bidang pendidikan. kebijakan pendidikan pemerintah kabupaten/kota sebagaimana dimaksud dalam Pasal 25. kebijakan pendidikan pemerintah provinsi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 15. kebijakan pendidikan pemerintah provinsi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 15. dan sesuai peraturan perundang-undangan. dan ayat (4).(7) Kebijakan perguruan tinggi sebagaimana dimaksud pada ayat (4) merupakan penjabaran dan selaras dengan: a. efisien. Pasal 45 Satuan dan/atau program pendidikan mengelola pendidikan sesuai dengan kebijakan pendidikan nasional sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4. Pasal 48 (1) Satuan dan/atau program pendidikan melakukan penjaminan mutu pendidikan dengan berpedoman pada kebijakan pendidikan nasional sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4. dan/atau kebijakan pendidikan badan hukum pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1). Kebijakan badan hukum dimaksud dalam Pasal 35. dan sesuai peraturan perundangundangan. Kebijakan Pemerintah Pasal 4. Pasal 46 Satuan dan/atau program pendidikan sesuai kewenangannya menetapkan kebijakan untuk menjamin peserta didik miskin. peserta didik khusus. ayat (2).

sertifikasi kompetensi peserta didik terkait. (2) Dalam melaksanakan tugasnya sebagaimana dimaksud pada ayat (1).pendidikan badan hukum pendidikan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 35. sertifikasi unit pelaksana satuan pendidikan yang bersangkutan. dan Standar Nasional Pendidikan.doc . c. satuan dan/atau program pendidikan. b. Dalam rangka penjaminan mutu pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1). atau pendidikan menengah bekerja sama dengan unit pelaksana teknis Pemerintah yang melaksanakan tugas penjaminan mutu pendidikan. akreditasi program pendidikan yang bersangkutan. f. sesuai peraturan perundang-undangan. akreditasi satuan pendidikan yang bersangkutan. satuan dan/atau program pendidikan anak usia dini. dan/atau g. sertifikasi kompetensi tenaga kependidikan terkait. mengikuti: a. sertifikasi satuan dan/atau program pendidikan yang bersangkutan. pendidikan dasar. d. sertifikasi kompetensi pendidik terkait. dan/atau program (3) e. Satuan dan/atau program pendidikan yang sudah atau hampir memenuhi Standar Nasional Pendidikan dapat mengikuti akreditasi internasional program dan/atau satuan pendidikan. Pasal 49 (1) Satuan dan/atau program pendidikan yang sudah atau hampir memenuhi Standar Nasional Pendidikan dapat merintis dirinya untuk dikembangkan menjadi program dan/atau satuan pendidikan bertaraf internasional dan/atau berbasis keunggulan lokal. Pasal 50 (1) Satuan dan/atau program pendidikan melakukan pembinaan berkelanjutan kepada peserta didik yang memiliki potensi kecerdasan dan/atau bakat istimewa untuk mencapai prestasi 28 (2) (3) 76461668. Satuan dan/atau program pendidikan dapat mengikuti sertifikasi internasional program atau satuan pendidikan.

b. c.doc 29 . pendidik dan tenaga kependidikan di dan/atau program pendidikan yang bersangkutan. ilmu pengetahuan dan teknologi. kecamatan. (4) Ketentuan lebih lanjut mengenai pelaksanaan ayat (1). (2) Untuk menumbuhkan iklim kompetitif yang kondusif bagi pencapaian prestasi puncak sebagaimana dimaksud pada ayat (1) satuan dan/atau program pendidikan melakukan secara teratur kompetisi di satuan dan/atau program pendidikan terkait dalam bidang: a. dan olahraga. kabupaten/kota. Pasal 51 Satuan dan/atau program pendidikan menetapkan kebijakan tatakelola pendidikan untuk menjamin efisiensi. dan internasional. satuan dan/atau program pendidikan mengembangkan dan melaksanakan sistem informasi pendidikan berbasis teknologi informasi dan komunikasi. efektifitas. seni. f. b. satuan c. dan akuntabilitas pengelolaan pendidikan yang mengikat: a. peserta didik satuan dan/atau program pendidikan yang bersangkutan. ayat (2). seni. Pasal 52 (1) Dalam menyelenggarakan dan mengelola pendidikan. pihak lain yang terikat dengan satuan dan/atau program pendidikan yang bersangkutan. (3) Satuan dan/atau program pendidikan memberikan penghargaan kepada peserta didik yang meraih prestasi puncak sesuai peraturan perundang-undangan. orang tua/wali peserta didik di satuan dan/atau program pendidikan yang bersangkutan. e. 76461668. dan ayat (3) diatur dengan peraturan satuan dan/atau program pendidikan.puncak di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi. dan/atau olahraga pada tingkat satuan pendidikan. dan/atau program pendidikan yang lembaga representasi pemangku kepentingan pendidikan pada satuan dan/atau program pendidikan yang bersangkutan. nasional. d. satuan bersangkutan. provinsi.

TK. b. Paragraf 2 Bentuk dan Jenis Satuan Pendidikan Pasal 54 (1) PAUD pada jalur pendidikan formal berbentuk Taman Kanakkanak (TK). intelektual. dan peserta didik. percaya diri. sehat.doc . dan sosial peserta didik pada masa emas pertumbuhannya dalam lingkungan bermain yang edukatif dan menyenangkan. mandiri. (2) PAUD bertujuan: a. RA. 30 (2) 76461668. Raudathul Athfal (RA). kinestetis. mengembangkan potensi kecerdasan spiritual. menumbuhkan. atau bentuk lain yang sederajat. berkepribadian luhur. BA atau bentuk lain yang sederajat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) memiliki program pembelajaran 1 (satu) tahun atau 2 (dua) tahun. inovatif. Sistem informasi pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) memberikan akses informasi administrasi pendidikan dan akses sumber pembelajaran kepada pendidik. membangun landasan bagi berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. kritis. dan menjadi warga negara yang demokratis dan bertanggung jawab. tenaga kependidikan. dan mengembangkan seluruh potensi anak usia dini secara optimal sehingga terbentuk perilaku dan kemampuan dasar sesuai dengan tahap perkembangannya agar memiliki kesiapan untuk memasuki pendidikan selanjutnya. kreatif. cakap. emosional. berilmu. Bustanul Athfal (BA). BAB III PENYELENGGARAAN PENDIDIKAN FORMAL Bagian Kesatu Pendidikan Anak Usia Dini Paragraf 1 Fungsi dan Tujuan Pasal 53 (3) (1) PAUD berfungsi membina. berakhlak mulia.(2) Sistem informasi pendidikan satuan dan/atau program pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) merupakan subsistem dari sistem informasi pendidikan nasional.

(3)

TK, RA, BA atau bentuk lain yang sederajat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat diselenggarakan menyatu dengan SD, MI, atau bentuk lain yang sederajat. Paragraf 3 Penerimaan Peserta Didik Pasal 55

Peserta didik TK, RA, BA, atau bentuk lain yang sederajat berusia 4 (empat) tahun sampai dengan 6 (enam) tahun. Pasal 56 (1) (2) Penerimaan peserta didik pada satuan pendidikan anak usia dini dilakukan secara objektif, transparan, dan akuntabel. Penerimaan peserta didik pada satuan pendidikan anak usia dini dilakukan tanpa diskriminasi atas dasar pertimbangan gender, agama, etnis, status sosial, kemampuan ekonomi, dan kondisi fisik atau mental anak. Keputusan penerimaan calon peserta didik menjadi peserta didik dilakukan secara mandiri oleh rapat dewan guru yang dipimpin oleh kepala satuan pendidikan. Paragraf 4 Program Pembelajaran Pasal 57 (1) Program pembelajaran TK, RA, BA dan bentuk lain yang sederajat dikembangkan untuk mempersiapkan peserta didik memasuki SD, MI, atau bentuk lain yang sederajat. Program pembelajaran TK, RA, BA dan bentuk lain yang sederajat dilaksanakan dalam konteks bermain dan dapat dikelompokan dalam: a. bermain dalam rangka pembelajaran agama dan ahlak mulia; b. bermain dalam kepribadian; rangka pembelajaran sosial dan

(3)

(2)

c. bermain dalam rangka pembelajaran estetika; d. bermain dalam rangka pembelajaran jasmani, olahraga dan kesehatan; dan e. bermain dalam rangka pembelajaran pengenalan pengetahuan dan teknologi. (3) orientasi dan

Semua permainan pembelajaran sebagaimana dimaksud pada
31

76461668.doc

ayat (2) dirancang dan diselenggarakan: a. secara interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang, dan mendorong kreativitas serta kemandirian, b. sesuai dengan tahap pertumbuhan fisik perkembangan mental anak serta kebutuhan kepentingan terbaik anak; dan dan

c. dengan memperhatikan perbedaan bakat, minat, dan kemampuan masing-masing anak; d. dengan mengintegrasikan kebutuhan anak kesehatan, gizi, dan stimulasi psikososial; dan terhadap

e. dengan memperhatikan latar belakang ekonomi, sosial, dan budaya anak. Bagian Kedua Pendidikan Dasar Paragraf 1 Fungsi dan Tujuan Pasal 58 (1) Pendidikan dasar tingkat SD/MI atau yang sederajat berfungsi: a. menanamkan dan mengamalkan nilai-nilai keimanan, ahlak mulia, dan kepribadian luhur; b. menanamkan dan mengamalkan nilai-nilai kebangsaan dan cinta tanah air; c. memberikan dasar-dasar kemampuan intelektual dalam bentuk kemampuan dan kecakapan membaca, menulis, dan berhitung; d. melatih dan merangsang kepekaan dan kemampuan mengapresiasi serta mengekspresikan keindahan, kehalusan, dan harmoni; e. menumbuhkan minat pada olah raga, kesehatan, dan kebugaran jasmani; dan f. mengembangkan kesiapan fisik dan mental untuk melanjutkan pendidikan ke SMP/MTs atau yang sederajat. (2) Pendidikan dasar tingkat SMP/MTs atau yang sederajat berfungsi: a. Mengembangkan, menghayati, dan mengamalkan nilainilai keimanan, ahlak mulia, dan kepribadian luhur yang telah dikenalinya; b. Mengembangkan, menghayati, dan mengamalkan nilainilai kebangsaan dan cinta tanah air yang telah dikenalinya;
76461668.doc

32

c. mempelajari dasar-dasar ilmu pengetahuan dan secara terbatas mulai mengenali teknologi; d. melatih dan mengembangkan kepekaan dan kemampuan mengapresiasi serta mengekspresikan keindahan, kehalusan, dan harmoni; e. mengembangkan bakat dan kemampuan di bidang olah raga, baik untuk kesehatan dan kebugaran jasmani maupun prestasi; dan f. mengembangkan kesiapan fisik dan mental untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang pendidikan menengah dan/atau untuk hidup mandiri di masyarakat. (3) Pendidikan dasar bertujuan membangun landasan bagi berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang: a. beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, dan berkepribadian luhur; b. berilmu, cakap, kritis, kreatif, dan inovatif; c. sehat, mandiri, dan percaya diri; dan d. toleran, peka sosial, demokratis, dan bertanggung jawab. Paragraf 2 Bentuk Satuan Pendidikan Pasal 59 (1) Pendidikan dasar kelas 1 (satu) sampai dengan kelas 6 (enam) adalah Sekolah Dasar (SD), Madrasah Ibtidaiyah (MI), atau bentuk lain yang sederajat. Pendidikan dasar kelas 7 (tujuh) sampai dengan kelas 9 (sembilan) adalah Sekolah Menengah Pertama (SMP), Madrasah Tsanawiyah (MTs), atau bentuk lain yang sederajat. Paragraf 3 Penerimaan Peserta Didik Pasal 60 (1) Peserta didik pada SD/MI atau bentuk lain yang sederajat sekurang-kurangnya berusia 6 (enam) tahun.

(2)

(2) Pengecualian terhadap ketentuan pada ayat (1) dapat dilakukan atas dasar rekomendasi tertulis dari psikolog. (3) Satuan pendidikan SD/MI atau bentuk lain yang sederajat wajib menerima warga negara berusia 7 (tujuh) sampai 12 (dua belas) tahun sebagai peserta didik sampai dengan batas daya
33

76461668.doc

tampungnya. (4) Penerimaan peserta didik kelas 1 (satu) SD/MI atau bentuk lain yang sederajat tidak didasarkan pada hasil tes kemampuan membaca, menulis, dan berhitung, atau bentuk seleksi lainnya. Pasal 61 (1) Pemilihan peserta didik pada SD/MI yang diselenggarakan oleh Pemerintah atau pemerintah daerah didasarkan pada urutan ketuaan usia calon peserta didik apabila jumlah calon peserta didik melebihi daya tampung satuan pendidikan. Jika usia calon peserta didik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) sama, maka penentuan peserta didik didasarkan pada urutan kedekatan tempat tinggal peserta didik dengan satuan pendidikan. Jika usia dan/atau urutan kedekatan tempat tinggal peserta didik dengan satuan pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) sama, maka peserta didik yang mendaftar lebih awal diprioritaskan. Pasal 62 (1) Peserta didik pada SMP/MTs atau bentuk lain yang sederajat sudah menyelesaikan pendidikannya pada SD, MI, Paket A, atau bentuk lain yang sederajat. Satuan pendidikan SMP/MTs atau bentuk lain yang sederajat wajib menerima warga negara berusia 13 (tiga belas) sampai 15 (lima belas) tahun sebagai peserta didik sampai dengan batas daya tampungnya. Pasal 63 (1) Satuan pendidikan SD/MI dan SMP/MTs yang memiliki jumlah calon peserta didik melebihi daya tampungnya wajib melaporkan kelebihan calon peserta didik tersebut kepada pemerintah kabupaten/kota yang bersangkutan. Pemerintah kabupaten/kota wajib menyalurkan kelebihan calon peserta didik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) pada satuan pendidikan dasar lain. Pasal 64 (1) Peserta didik jalur nonformal dan informal dapat diterima di SD, MI, atau bentuk lain yang sederajat tidak pada awal kelas 1 (satu) setelah lulus tes kelayakan dan penempatan yang diselenggarakan oleh satuan pendidikan formal.

(2)

(3)

(2)

(2)

76461668.doc

34

ayat (5). MTs. Satuan pendidikan SD. menunjukkan ijazah atau dokumen lain yang membuktikan bahwa yang bersangkutan telah menyelesaikan pendidikan dasar setara SD. dan ayat (6) huruf b apabila setelah dilakukan pemeriksaan oleh Inspektorat Jenderal Departemen atas instruksi Menteri terbukti bahwa keputusan tersebut melanggar peraturan perundang-undangan. lulus tes kelayakan dan penempatan yang diselenggarakan oleh satuan pendidikan yang ingin dimasukinya. sosial. (8) 76461668. MI. lulus tes kelayakan dan penempatan yang diselenggarakan oleh satuan pendidikan formal yang bersangkutan. atau bentuk lain yang sederajat di Indonesia dengan syarat: a. ayat (4). MTs. dapat menunjukkan ijazah atau dokumen lain yang membuktikan bahwa yang bersangkutan telah menyelesaikan pendidikan dasar yang memberikan kompetensi lulusan setara SD. Peserta didik pendidikan dasar setara SMP di negara lain dapat pindah ke SMP. dan/atau tidak jujur. atau b. (3) (4) Peserta didik pendidikan dasar setara SD di negara lain dapat pindah ke SD. lulus ujian kesetaraan Paket A. MI. atau bentuk lain yang sederajat sejak awal kelas 7 (tujuh) setelah lulus ujian kesetaraan Paket A. dan b. atau bentuk lain yang sederajat di Indonesia setelah lulus tes kelayakan dan penempatan yang diselenggarakan oleh satuan pendidikan yang ingin dimasukinya.doc 35 . atau bentuk lain yang sederajat memberikan bantuan penyesuaian akademik. dan/atau mental yang diperlukan oleh peserta didik pindahan dari satuan pendidikan formal lain atau jalur pendidikan lain. tidak benar. MTs. MTs.(2) Peserta didik jalur nonformal dan informal dapat diterima di SMP. (7) Menteri dapat membatalkan keputusan satuan pendidikan tentang syarat sebagaimana dimaksud pada ayat (3) huruf b. atau bentuk lain yang sederajat sesudah awal kelas 7 (tujuh) setelah: a. (5) (6) Peserta didik pendidikan dasar setara SD yang mengikuti sistem dan/atau standar pendidikan negara lain dapat diterima di SMP/MTs atau bentuk lain yang sederajat pada awal tahun kelas 7 (tujuh) setelah: a. Peserta didik jalur nonformal dan informal dapat diterima di SMP. SMP. lulus ujian kesetaraan Paket A. b.

meningkatkan. b. dan f. agama. Pasal 65 (1) (2) Penerimaan peserta didik pada satuan pendidikan dilakukan secara objektif. dasar Penerimaan peserta didik pada satuan pendidikan dasar dilakukan tanpa diskriminasi atas dasar pertimbangan gender. meningkatkan kepekaan dan kemampuan mengapresiasi serta mengekspresikan keindahan. d. dan mengamalkan nilai-nilai keimanan. kehalusan. mempelajari ilmu pengetahuan dan teknologi.(9) Ketentuan lebih lanjut mengenai pelaksanaan ayat (1) sampai dengan ayat (6) diatur dengan peraturan Menteri. menghayati. Di samping memenuhi ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (4). baik untuk kesehatan dan kebugaran jasmani maupun prestasi. satuan pendidikan dapat melakukan tes bakat skolastik untuk seleksi penerimaan peserta didik baru di kelas 7 (tujuh).doc (5) 36 . dan kondisi fisik atau mental peserta didik. e. c. menyalurkan bakat dan kemampuan di bidang olah raga. etnis. (3) Keputusan penerimaan calon peserta didik menjadi peserta didik dilakukan secara mandiri oleh rapat dewan guru yang dipimpin oleh kepala satuan pendidikan. kemampuan ekonomi. menghayati. status sosial. meningkatkan. kecuali bagi lulusan satuan pendidikan sebagaimana dimaksud pada Pasal 64 ayat (2) dan ayat (6). dan kepribadian luhur. dan harmoni. meningkatkan kesiapan fisik dan mental untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang pendidikan tinggi dan/atau untuk hidup mandiri di masyarakat. (4) Seleksi penerimaan peserta didik baru di kelas 7 (tujuh) pada satuan pendidikan dasar setingkat SMP didasarkan pada hasil Ujian Nasional. transparan. 76461668. Bagian Ketiga Pendidikan Menengah Paragraf 1 Fungsi dan Tujuan Pasal 66 (1) Pendidikan menengah umum berfungsi: a. dan mengamalkan nilai-nilai kebangsaan dan cinta tanah air. dan akuntabel. ahlak mulia.

meningkatkan. serta menjadi warga negara yang taat hukum dalam konteks kehidupan global yang senantiasa berubah. dan Madrasah Aliyah Kejuruan (MAK). c.doc . beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa.(2) Pendidikan menengah kejuruan berfungsi: a. Pasal 67 Pendidikan menengah bertujuan membentuk peserta didik menjadi insan yang: a. dan mengamalkan nilai-nilai keimanan. dan inovatif. toleran. Paragraf 2 Bentuk Satuan Pendidikan Pasal 68 (1) Pendidikan menengah berbentuk Sekolah Menengah Atas (SMA). meningkatkan kesiapan fisik dan mental untuk hidup mandiri di masyarakat dan/atau melanjutkan pendidikan ke jenjang pendidikan tinggi. meningkatkan kepekaan dan kemampuan mengapresiasi serta mengekspresikan keindahan. e. dan d. menyalurkan bakat dan kemampuan di bidang olah raga. b. menghayati. dan berkepribadian luhur. ahlak mulia. menghayati. b. demokratis. c. yaitu 37 (2) 76461668. berakhlak mulia. dan mengamalkan nilai-nilai kebangsaan dan cinta tanah air. mandiri. peka sosial. dan kepribadian luhur. Madrasah Aliyah (MA). membekali peserta didik dengan kemampuan ilmu pengetahuan dan teknologi serta kecakapan kejuruan paraprofesi sesuai dengan kebutuhan masyarakat. cakap. baik untuk kesehatan dan kebugaran jasmani maupun prestasi. dalam rangka mengantarkan peserta didik agar mampu hidup produktif dan beretika dalam masyarakat majemuk. kritis. Sekolah Menengah Kejuruan (SMK). dan bertanggung jawab. dan percaya diri. dan f. kreatif. kehalusan. dan harmoni. d. berilmu. meningkatkan. Pendidikan menengah terdiri atas 3 (tiga) tingkatan kelas. atau bentuk lain yang sederajat. sehat.

kelas 11 (sebelas). pengetahuan sosial. Setiap program studi keahlian sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dapat terdiri dari satu atau lebih kompetensi keahlian. (3) SMK dan MAK dapat terdiri atas 4 (empat) tingkatan kelas. d. kerajinan.doc (2) program studi ilmu program studi ilmu program studi bahasa. d. pengetahuan alam. c. atau e. b. atau bentuk lain yang sederajat berbentuk bidang studi keahlian. bidang studi keahlian teknologi dan rekayasa. keagamaan. f. bidang studi keahlian kesehatan. e. yaitu kelas 10 (sepuluh). b. kelas 12 (dua belas). bidang studi keahlian agribisnis dan agroteknologi. Pasal 69 (1) Penjurusan pada SMA/MA atau bentuk lain yang sederajat berbentuk program studi yang memfasilitasi kebutuhan pembelajaran serta kompetensi yang diperlukan peserta didik untuk melanjutkan pendidikan pada jenjang pendidikan tinggi. (3) Ketentuan lebih lanjut tentang pelaksanaan ayat (1) dan ayat (2) diatur dengan peraturan Menteri. Pasal 70 (1) (2) (3) (4) Penjurusan pada SMK/MAK. sesuai dengan tuntutan dunia kerja. Setiap bidang studi keahlian sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat terdiri atas 1 (satu) atau lebih program studi keahlian. kelas 11 (sebelas). dan kelas 12 (dua belas). program studi program studi lain 38 . Bidang studi keahlian sebagaimana dimaksud pada ayat (1) terdiri atas: a. 76461668. Program studi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) terdiri atas: a. c. yang diperlukan masyarakat. dan pariwisata.kelas 10 (sepuluh). bidang studi keahlian seni. dan kelas 13 (tiga belas). bidang studi keahlian teknologi informasi dan komunikasi. bidang studi keahlian bisnis dan manajemen.

doc . (5) Ketentuan lebih lanjut tentang pelaksanaan ayat (1) sampai dengan ayat (4) diatur dengan peraturan Menteri. (2) Peserta didik jalur nonformal dan informal dapat diterima di SMA/ MA/SMK/MAK atau bentuk lain yang sederajat sejak awal kelas 10 (sepuluh) setelah lulus ujian kesetaraan Paket B. atau bentuk lain yang sederajat. lulus tes kelayakan dan penempatan diselenggarakan oleh satuan pendidikan yang dimasukinya. (4) Peserta didik pendidikan dasar setara SMP yang mengikuti sistem dan/atau standar pendidikan negara lain dapat diterima di SMA/MA/SMK/MAK atau bentuk lain yang sederajat pada awal tahun kelas 10 (sepuluh) setelah: a. (5) Peserta didik pendidikan menengah setara SMA/SMK di negara lain dapat pindah ke SMA/MA/SMK/MAK atau bentuk lain yang sederajat di Indonesia dengan syarat: a. menunjukkan ijazah atau dokumen lain yang membuktikan bahwa yang bersangkutan telah menyelesaikan pendidikan dasar setara SMP. Paket B. dan b. apabila setelah dilakukan 39 76461668. atau b.g. Paragraf 3 Penerimaan Peserta Didik Pasal 71 (1) Peserta didik pada SMA/MA/SMK/MAK atau bentuk lain yang sederajat sudah menyelesaikan pendidikannya pada SMP. ayat (4) huruf b. lulus ujian kesetaraan Paket B. MTs. lulus tes kelayakan dan penempatan yang diselenggarakan oleh satuan pendidikan formal yang bersangkutan. bidang studi keahlian lain yang diperlukan masyarakat. dapat menunjukkan ijazah atau dokumen lain yang membuktikan bahwa yang bersangkutan telah menyelesaikan pendidikan dasar yang memberikan kompetensi lulusan setara SMP. lulus ujian kesetaraan Paket B. b. (3) Peserta didik jalur nonformal dan informal dapat diterima di di SMA/MA/SMK/MAK atau bentuk lain yang sederajat sesudah awal kelas 10 (sepuluh) setelah: a. (6) yang ingin Menteri dapat membatalkan keputusan satuan pendidikan tentang syarat sebagaimana dimaksud pada ayat (3) huruf b. dan ayat (5).

dan/atau tidak jujur. etnis.pemeriksaan oleh Inspektorat Jenderal Departemen atas instruksi Menteri terbukti bahwa keputusan tersebut melanggar peraturan perundang-undangan. agama. sosial. tidak benar.doc 40 . satuan pendidikan dapat melakukan tes bakat skolastik untuk seleksi penerimaan peserta didik baru di kelas 10 (sepuluh). dan/atau mental yang diperlukan oleh peserta didik pindahan dari satuan pendidikan formal lain atau jalur pendidikan lain. status sosial. kecuali bagi lulusan satuan pendidikan sebagaimana dimaksud pada Pasal 71 ayat (2) dan ayat (4). (8) (3) (4) (5) (6) Penerimaan peserta didik baru dapat dilaksanakan pada setiap semester bagi satuan pendidikan yang menyelenggarakan sistem kredit semester. Seleksi penerimaan peserta didik baru di kelas 10 (sepuluh) pada satuan pendidikan menengah didasarkan pada hasil Ujian Nasional. kemampuan ekonomi. Pasal 72 (1) (2) Penerimaan peserta didik pada satuan pendidikan menengah dilakukan secara objektif. Di samping memenuhi ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (4). (7) Satuan pendidikan SMA/MA/SMK/MAK atau bentuk lain yang sederajat memberikan bantuan penyesuaian akademik. transparan. Bagian Kempat Pendidikan Tinggi Paragraf 1 76461668. dan akuntabel. dan kondisi fisik atau mental. Ketentuan lebih lanjut mengenai pelaksanaan ayat (1) sampai dengan ayat (5) diatur dengan peraturan Menteri. Penerimaan peserta didik pada satuan pendidikan menengah dilakukan tanpa diskriminasi atas pertimbangan gender. Keputusan penerimaan calon peserta didik menjadi peserta didik dilakukan secara mandiri oleh rapat dewan guru yang dipimpin oleh kepala satuan pendidikan.

mampu beradaptasi dan berinteraksi positif dalam masyarakat majemuk dan global yang dinamis. teknologi. dan menjadi agen pembaharu untuk mewujudkan masyarakat madani. dan olahraga dalam rangka pemberdayaan masyarakat. seni. mandiri. ilmu pengetahuan.doc 41 . serta d. dan kepribadian manusia melalui: a. magister. watak. seni. mengembangkan. (2) Pendidikan tinggi bertujuan membentuk insan yang: a. b. dan olahraga. percaya diri dan berjiwa enterprenur. pendidikan profesi. kreatif. beriman dan bertakwa berakhlak mulia. teknologi. Paragraf 2 Jenis. kepada Tuhan Yang berkepribadian luhur. dan sehat. demokratis. ilmu pengetahuan. ilmu pengetahuan. menerapkan. dan/atau pendidikan vokasi. spesialis. institut. Paragraf 3 76461668. inovatif. Maha Esa.Fungsi dan Tujuan Pasal 73 (1) Pendidikan tinggi berfungsi mengembangkan atau membentuk kemampuan. dan bertanggung jawab. beretika. b. (2) Perguruan tinggi dapat berbentuk akademi. dan olahraga. dalam rangka membentuk manusia berwawasan luas. dharma pengabdian kepada masyarakat untuk menerapkan nilai-nilai luhur. dan/atau mengadaptasi nilai-nilai luhur. dan c. dan Program Pendidikan Pasal 74 (1) Perguruan tinggi dapat menyelenggarakan pendidikan akademik. politeknik. taat hukum. dan menyebarluaskan nilai-nilai luhur. produktif. toleran. sekolah tinggi. teknologi. Bentuk. dharma penelitian untuk menemukan. seni. (3) Perguruan tinggi dapat menyelenggarakan program pendidikan diploma. mengadopsi. atau universitas. dharma pendidikan untuk menguasai. peka sosial. kritis. sarjana. dan/atau doktor. berilmu. cakap. dan c.

Pelayanan teknis dan administratif sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilaksanakan berbasis teknologi informasi dan komunikasi. yang mencakup program pendidikan diploma. Ketentuan lebih lanjut mengenai ayat (1) sampai dengan ayat (5) diatur dalam anggaran dasar dan anggaran rumah tangga perguruan tinggi. spesialis. keuangan. penelitian. dan/atau doktor. jurusan. magister. spesialis. perlengkapan. dan/atau olah raga tertentu yang mencakup program pendidikan diploma. Pasal 76 (1) Unsur pelaksana akademik sebagaimana dimaksud dalam Pasal 75 merupakan unit penyelenggara pendidikan. kepersonaliaan. teknologi. Penyelenggaraan pendidikan pada tingkat operasional dilaksanakan oleh program studi yang menurut jenisnya dapat berupa pendidikan akademik. profesi dan/atau vokasi. Penyelenggaraan penelitian dan/atau pengabdian kepada masyarakat pada tingkat operasional dilaksanakan oleh sivitas akademika baik secara individual maupun berkelompok melalui program studi. seni. dan doktor. Setiap program studi memiliki kurikulum yang dikembangkan sesuai dengan tujuan program studi dan peraturan perundangundangan. magister. Pasal 77 (1) Unsur pelaksana administrasi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 75 menyelenggarakan pelayanan teknis dan administratif yang meliputi fungsi administrasi akademik. komunikasi. dan pengabdian kepada masyarakat. sarjana. pusat penelitian. pusat pengabdian masyarakat. (2) (3) (4) (5) (6) (2) 76461668. kemahasiswaan. atau fakultas.Organisasi Perguruan Tinggi Pasal 75 Perguruan tinggi memiliki unsur-unsur pelaksana administrasi. sarjana. hukum. dan fungsi administrasi lainnya sesuai dengan kebutuhan. profesi dan/atau vokasi dalam 1 (satu) atau kelompok cabang ilmu pengetahuan. pelaksana akademik. dan penunjang.doc 42 . Fakultas berfungsi mengkoordinasikan pendidikan akademik.

Mata kuliah yang diambil oleh peserta didik program spesialis dapat diperhitungkan sebagai mata kuliah terkait pada program magister atau doktor terkait. b. unit layanan penjaminan mutu pendidikan. dan/atau doktor sebagaimana dimaksud pada ayat (1) yang bersifat lintas disiplin yang melibatkan lebih dari satu fakultas dikelola oleh unit organisasi yang dibentuk atau ditunjuk oleh pemimpin perguruan tinggi.(3) Jenis. Unsur penunjang sebagaimana dimaksud pada ayat (1) sekurang –kurangnya terdiri atas: a. spesialis. fungsi. unit layanan penjaminan mutu penelitian. spesialis. Ketentuan lebih lanjut mengenai pelaksanaan ayat (4) dan ayat (5) diatur dengan peraturan Menteri. (2) 76461668. Program magister. tugas pokok. profesi. Program magister. ayat (2) dan ayat (3) diatur dalam anggaran dasar dan/atau anggaran rumah tangga perguruan tinggi. profesi. Pasal 79 (2) (3) (4) (5) (6) (7) (1) Unsur penunjang pada perguruan tinggi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 75 merupakan perangkat pelengkap di bidang pendidikan. dan mekanisme kerja unsur pelaksana administrasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dalam anggaran dasar dan anggaran rumah tangga perguruan tinggi. atau sebaliknya. Pasal 78 (1) Program studi tingkat pascasarjana dibentuk untuk menyelenggarakan dan melaksanakan program magister. atau sebaliknya. jumlah.doc 43 . Mata kuliah yang diambil oleh peserta didik program profesi dapat diperhitungkan sebagai mata kuliah terkait pada program magister profesi terkait. profesi. Organisasi dan tata kerja penyelenggaraan program studi tingkat pascasarjana sebagaimana dimaksud pada ayat (1). dan/atau doktor. spesialis. penelitian dan pengabdian kepada masyarakat yang ada di luar fakultas dan jurusan. dan/atau doktor sebagaimana dimaksud pada ayat (1) yang bersifat monodisiplin atau lintas disiplin dalam satu fakultas dikelola oleh fakultas yang terkait.

unit layanan masyarakat. g. dan kesehatan lingkungan. apotik. (3) Unsur penunjang sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat dilengkapi dengan rumah sakit pendidikan. fungsi dan mekanisme kerja dari unsur-unsur penunjang akademik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) diatur dalam anggaran dasar dan anggaran rumah tangga perguruan tinggi. kedudukan. memiliki ijazah atau surat keterangan lulus pendidikan 1 (satu) jenjang atau tingkat pendidikan di bawahnya. dan unit lain yang dipandang perlu. dan doktor adalah: a.doc 44 . unit layanan bimbingan dan konseling. Jenis dan jumlah. tugas pokok. dan b. (4) (7) Paragraf 3 Penerimaan Mahasiswa Pasal 80 (1) Persyaratan untuk menjadi mahasiswa pada program sarjana.c. penerbitan. memiliki ijazah atau surat keterangan lulus pendidikan menengah atau yang sederajat. penjaminan mutu pengabdian kepada e. poliklinik. magister. memenuhi persyaratan masuk yang ditetapkan oleh perguruan tinggi yang bersangkutan. dan 76461668. d. toko buku. pusat jejaring teknologi informasi dan komunikasi. perpustakaan. laboratorium/bengkel/studio. sarana dan prasarana olah raga. f. kenyamanan. keindahan. Lingkungan kampus ditata dengan mempertimbangkan faktor keamanan. dan h. sarana dan prasarana kesenian. (2) Persyaratan untuk menjadi mahasiswa pada program vokasi adalah: a.

b. Penerimaan mahasiswa baru pada perguruan tinggi dilakukan secara objektif. memiliki ijazah atau surat keterangan lulus program pendidikan sarjana atau diploma IV. 45 (3) (4) (5) (2) 76461668. memenuhi persyaratan masuk yang ditetapkan oleh perguruan tinggi yang bersangkutan. ditetapkan oleh Persyaratan untuk menjadi mahasiswa pada program profesi adalah: a. status sosial.doc . memenuhi persyaratan masuk yang ditetapkan oleh perguruan tinggi yang bersangkutan. dan kondisi fisik atau mental. dan akuntabel. kemampuan ekonomi. etnis. Pasal 81 (1) (2) Perguruan tinggi dapat menyelenggarakan seleksi penerimaan mahasiswa baru pada setiap semester. Pasal 82 (1) Perguruan tinggi dapat melakukan penerimaan bersyarat mahasiswa baru untuk calon mahasiswa yang telah memenuhi sebagian besar persyaratan penerimaan. (3) memenuhi persyaratan masuk yang perguruan tinggi yang bersangkutan. (4) Persyaratan untuk menjadi mahasiswa pada program spesialis adalah: a. Penerimaan mahasiswa baru perguruan tinggi dilakukan tanpa diskriminasi atas pertimbangan gender. memiliki ijazah atau surat keterangan lulus pendidikan 1 (satu) jenjang atau tingkat pendidikan di bawahnya. transparan. dan b. Penerimaan bersyarat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dipenuhi selambat-lambatnya dalam waktu 6 (enam) bulan. agama. Tes seleksi penerimaan mahasiswa baru program sarjana dan program vokasi pada perguruan tinggi tidak menduplikasi ujian nasional pendidikan menengah. Perguruan tinggi menetapkan persyaratan kelayakan penerimaan mahasiswa baru pada setiap program studi yang diselenggarakannya. dan b.

Paragraf 4 Sistem Pembelajaran Pasal 86 (1) Pendidikan tinggi diselenggarakan melalui proses pembelajaran yang berpusat pada mahasiswa sebagai subjek pembelajaran dalam rangka mengembangkan kemampuan kognitif. tidak benar. (2) (2) Pelanggaran terhadap perjanjian sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat berakibat dikeluarkannya mahasiswa yang bersangkutan dari perguruan tinggi. 76461668. Pasal 85 Menteri dapat membatalkan keputusan perguruan tinggi tentang penerimaan mahasiswa baru apabila setelah dilakukan pemeriksaan oleh Inspektorat Jenderal Departemen atas instruksi Menteri terbukti bahwa keputusan tersebut melanggar peraturan perundangundangan.doc (2) Pembelajaran dapat dilakukan dalam bentuk diskusi. dan kemampuan konfluen mahasiswa. praktikum. 46 . psikomotorik. Pengumuman penerimaan mahasiswa baru program sarjana dan program vokasi yang bersyarat sebagaimana dimaksud dalam Pasal 82 dapat dilakukan sebelum pengumuman hasil ujian nasional pendidikan menengah tahun ajaran sebelumnya. seminar.(3) Ketentuan lebih lanjut mengenai penerimaan bersyarat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dalam anggaran rumah tangga perguruan tinggi. Pasal 83 (1) Pengumuman penerimaan mahasiswa baru program sarjana dan program vokasi yang bersifat final pada perguruan tinggi dilakukan setelah pengumuman hasil ujian nasional pendidikan menengah tahun ajaran sebelumnya. kuliah. dan/atau tidak jujur. simposium. afektif. Pasal 84 (1) Seorang calon mahasiswa secara resmi menjadi mahasiswa perguruan tinggi setelah menandatangani perjanjian dengan perguruan tinggi yang memuat secara jelas hak-hak dan kewajiban mahasiswa yang diatur dalam anggaran dasar atau anggaran rumah tangga perguruan tinggi. lokakarya.

sarana dan prasarana. pembiayaan.doc 47 . dan ayat (4) diatur oleh masingmasing perguruan tinggi dalam anggaran dasar dan/atau anggaran rumah tangga. dapat menyelenggarakan program studi di kampus lain. pengelolaan. atau lebih dari 30% (tiga puluh persen) program studinya berakreditasi dari badan akreditasi negara anggota OECD. Perguruan tinggi dapat menyelenggarakan semester pendek antara semester genap dan ganjil. tenaga pendidik dan tenaga kependidikan. Fakultas yang lebih dari 75% (tujuh puluh lima persen) program studinya berakreditasi A dari Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi. Pelaksanaan ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1). (2) (3) (4) (5) (3) (4) (5) 76461668. Semester pendek sebagaimana dimaksud pada ayat (3) sekurang-kurangnya diselenggarakan selama 8 (delapan) minggu. yang pelaksanaannya diselenggarakan di kampus induk dan kampus lain. Tahun akademik dibagi dalam 2 (dua) semester yang masing-masing terdiri atas 16 (enam belas) minggu. Isi kurikulum. ayat (2). kompetensi lulusan.penelitian. dan penilaian pendidikan pada kampus lain sekurang-kurangnya sama dengan kampus induk. pengabdian kepada masyarakat dan/atau kegiatan lainnya dengan mengacu pada prinsip otonomi keilmuan. proses pembelajaran. Pasal 88 (1) (2) Pengelolaan pembelajaran pada perguruan tinggi dapat diselenggarakan melalui sistem multikampus. Kampus induk dan kampus lainnya sebagaimana dimaksud pada ayat (2) terhubung dengan sistem informasi berbasis teknologi informasi dan komunikasi. Pasal 87 (1) Pendidikan tinggi diselenggarakan dengan menerapkan Sistem Kredit Semester (SKS) yang bobot belajarnya dinyatakan dalam satuan kredit semester (sks). ayat (3). Sistem multikampus sebagaimana dimaksud pada ayat (1) merupakan sistem pengelolaan perguruan tinggi yang menerapkan 1 (satu) sistem pendidikan tinggi secara utuh.

76461668. (2) Program sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diselenggarakan sebagai berikut: a. atau pihak lain yang dipandang perlu. dapat dilaksanakan di pusat kegiatan Kelompok Kerja Guru atau Musyawarah Guru Mata Pelajaran. c. dan memfasilitasi penyelenggaraan program sebagaimana dimaksud pada ayat (2) sehingga guru tetap dalam jabatan yang bersangkutan memperoleh kualifikasi akademik sarjana atau diploma empat kependidikan sesuai peraturan perundang-undangan. dilaksanakan oleh perguruan tinggi yang memiliki program studi sarjana atau diploma empat kependidikan berakreditasi dari Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi dan telah memperoleh izin untuk menyelenggarakan program sarjana atau diploma empat kependidikan khusus bagi guru tetap dalam jabatan dari Departemen. b. memenuhi seluruh persyaratan program sarjana atau diploma empat kependidikan sesuai dengan peraturan perundang-undangan. dunia usaha.doc 48 .Pasal 89 (1) Perguruan tinggi dapat menyelenggarakan program studi sarjana atau diploma empat kependidikan khusus bagi guru tetap dalam jabatan yang belum memiliki ijazah sarjana atau diploma empat dengan program sarjana atau diploma empat kependidikan khusus bagi guru tetap dalam jabatan. Pasal 82 ayat (2). (4) Menteri dapat membatalkan izin program sebagaimana dimaksud pada ayat (2) apabila setelah dilakukan pemeriksaan oleh Inspektorat Jenderal Departemen atas instruksi Menteri terbukti bahwa pelaksanaan program yang bersangkutan telah melanggar peraturan perundang-undangan. Pasal 90 (1) Perguruan tinggi dapat menjalin kerja sama akademik dan/atau non-akademik dengan perguruan tinggi lain. (3) Izin sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf a diberikan oleh Departemen setelah memperoleh jaminan dari pemerintah daerah kabupaten/kota yang bersangkutan untuk bertanggung jawab melindungi. mengawasi. (5) Ketentuan sebagaimana diatur dalam Pasal ini berlaku sampai berakhirnya masa peralihan sebagaimana diatur dalam UndangUndang Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen.

pengalihan dan/atau perolehan kredit. i. pendayagunaan aset. c. g.(2) Kerja sama perguruan tinggi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) bertujuan untuk meningkatkan efisiensi. penelitian. pemanfaatan bersama berbagai sumberdaya. (7) Menteri dapat membatalkan kerjasama sebagaimana dimaksud pada ayat (1) apabila setelah dilakukan pemeriksaan oleh Inspektorat Jenderal Departemen atas instruksi Menteri terbukti bahwa kerjasama yang bersangkutan telah melanggar peraturan perundang-undangan.doc . e. dan dilandasi oleh etika. (6) Ketentuan lebih lanjut mengenai kerjasama sebagaimana yang dimaksud pada ayat (1) diatur dalam peraturan Menteri. c. dan/atau bentuk-bentuk lain yang dianggap perlu. norma serta kaidah keilmuan. dan relevansi pelaksanaan tri dharma perguruan tinggi. (4) Kerja sama non-akademik sebagaimana yang dimaksud pada ayat (1) dapat berbentuk: a. kreatifitas. 49 76461668. kontrak manajemen. d. usaha penggalangan dana. produktifitas. pertukaran dosen dan/atau mahasiswa. (3) Kerja sama akademik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat berbentuk: a. penyelenggaraan seminar bersama. h. b. program kembaran. Paragraf 5 Kebebasan Akademik dan Otonomi Keilmuan Pasal 91 (1) Pimpinan perguruan tinggi mengupayakan dan menjamin agar setiap sivitas akademika perguruan tinggi melaksanakan kebebasan akademik dan kebebasan mimbar akademik secara mandiri sesuai dengan peraturan perundang-undangan. pendidikan. dan/atau bentuk-bentuk lain yang dianggap perlu. mutu. f. dan pengabdian kepada masyarakat. d. inovasi. pemagangan. e. jasa dan royalti hak atas kekayaan intelektual. (5) Semua bentuk kerjasama sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dengan pihak asing dilaporkan kepada Departemen. j. penugasan dosen senior sebagai pembina pada perguruan tinggi yang membutuhkan pembinaan. efektifitas. penerbitan jurnal ilmiah. b.

serendah-rendahnya ketua program studi. setiap individu sivitas akademika: a. sebagaimana (6) merupakan tanggung jawab setiap individu 50 76461668. dan ayat (5): a. tidak mengganggu ketertiban umum. seminar. c. negara.(2) Dalam melaksanakan kebebasan akademik dan mimbar akademik. ketua pusat penelitian. mengupayakan agar kegiatan dan hasilnya bermanfaat bagi masyarakat. ayat (2) dan ayat (3): a. simposium. dan kaidah akademik. baik di dalam maupun di luar kampus. bertanggung jawab secara pribadi atas pelaksanaan dan hasilnya. Kebebasan akademik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) merupakan kebebasan sivitas akademika dalam mendalami. dan d. publikasi ilmiah. serta akibatnya pada diri sendiri atau orang lain. dan taat etika. dan kemanusiaan. secara bertanggungjawab dan mandiri. sesuai dengan peraturan perundang-undangan. dan mengembangkan ilmu. tidak menimbulkan keresahan masyarakat. bangsa. melakukannya dengan cara yang tidak bertentangan dengan nilai-nilai agama.doc . d. nilai-nilai etika. diskusi. e. berada di bawah tanggung jawab dan secara resmi dikoordinasikan oleh pimpinan perguruan tinggi. dan pengabdian kepada masyarakat. dan tidak melanggar hukum dan tidak mengganggu kepentingan umum. ayat (2). Pelaksanaan kebebasan mimbar akademik dimaksud pada ayat (1). menerapkan. atau ketua pusat pengabdian kepada masyarakat. ujian. teknologi. b. penelitian. (4) (5) Kebebasan mimbar akademik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) merupakan kebebasan sivitas akademika dalam menyebarluaskan hasil penelitian dan menyampaikan pandangan akademik dalam rangka pembelajaran sivitas akademika dan/atau masyarakat melalui kegiatan perkuliahan. seni. b. Pelaksanaan kebebasan akademik sebagaimana dimaksud pada ayat (1). norma. dan/atau olah raga melalui kegiatan pendidikan. dan pertemuan ilmiah lainnya yang relevan. c. serta kaidah keilmuan. ceramah. (3) kebebasan mengupayakan agar kegiatan dan hasilnya dapat meningkatkan mutu akademik perguruan tinggi yang bersangkutan.

dan/atau olah raga dengan berpedoman pada otonomi keilmuan. apabila perguruan tinggi atau unit organisasi tersebut secara resmi terlibat dalam pelaksanaannya. atau unit organisasi di dalam perguruan tinggi. dan c. teknologi. (7) Kebebasan akademik dan kebebasan dimanfaatkan oleh perguruan tinggi untuk: a. Pelaksanaan otonomi keilmuan di perguruan tinggi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) diatur lebih lanjut oleh perguruan tinggi dalam anggaran rumah tangga perguruan tinggi. teknologi. seni. seni. dan budaya bangsa dan negara Indonesia. dan/atau olah raga yang melekat pada kekhasan/keunikan cabang ilmu pengetahuan. institut. penelitian terapan. dan sekolah tinggi wajib melaksanakan penelitian dasar. b. c. seni. Paragraf 6 Penelitian Pasal 93 (1) Universitas. memperkuat daya saing bangsa dan negara Indonesia. dan/atau mempertahankan kebenaran menurut kaidah keilmuannya untuk menjamin keberlanjutan perkembangan cabang ilmu pengetahuan. teknologi. serta kaidah keilmuan.doc . b. seni. mengungkapkan. d. dan/atau olah raga yang bersangkutan. sosial. dan/atau olah raga. menjadi tanggung jawab perguruan tinggi. dalam menemukan. melindungi dan mempertahankan kekayaan dan keragaman alami. norma. menambah dan/atau meningkatkan mutu kekayaan intelektual bangsa dan negara Indonesia. teknologi. dan/atau penelitian 51 (2) (3) 76461668. sesuai dengan peraturan perundangundangan. mengembangkan. Pasal 92 (1) Sivitas akademika perguruan tinggi mengembangkan ilmu pengetahuan. dan taat etika.sivitas akademika yang terlibat. Otonomi keilmuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) merupakan kemandirian dan kebebasan sivitas akademika suatu cabang ilmu pengetahuan. hayati. mimbar akademik melindungi dan mempertahankan kekayaan intelektual.

dan diuji secara tertutup di hadapan sekurang-kurangnya 3 (tiga) dosen penguji. dan d. b. apabila dilakukan oleh mahasiswa untuk memenuhi persyaratan lulus program sarjana. disetujui dosen pembimbing. diseminarkan dan dipublikasikan pada jurnal ilmiah dalam negeri berakreditasi atau jurnal internasional yang diakui Departemen. teknologi. dan/atau olah raga. dan/atau menguji ulang teori. c. (8) Penelitian sebagaimana dimaksud pada ayat (5) huruf b dan huruf c dipublikasikan pada jurnal ilmiah dalam negeri 76461668. Penelitian sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilaksanakan dengan memenuhi standar penjaminan mutu sebagai berikut: a. apabila dilakukan oleh dosen untuk memenuhi dharma penelitian. (7) Sekurang-kurangnya 1 (satu) dosen penguji sebagaimana dimaksud pada ayat (5) huruf c berasal dari program studi terkait berakreditasi A dari perguruan tinggi lain. b. metode. (2) (3) Dosen pada akademi dan politeknik wajib melaksanakan penelitian terapan dan/atau penelitian pengembangan. prosedur. (5) (6) Sekurang-kurangnya 1 (satu) dosen penguji sebagaimana dimaksud pada ayat (5) huruf b berasal dari program studi terkait berakreditasi sekurang-kurangnya B dari perguruan tinggi lain. seni. dan/atau olah raga. konsep. disetujui dosen pembimbing. prinsip. disetujui dosen pembimbing. (4) Kegiatan penelitian sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (3) dilaksanakan dengan mematuhi kaidah dan etika akademik sesuai dengan prinsip otonomi keilmuan. apabila dilakukan oleh mahasiswa untuk memenuhi persyaratan lulus program doktor.doc 52 . teknologi.pengembangan. diuji secara tertutup dan terbuka di hadapan sekurang-kurangnya 5 (lima) penguji. mencari dan/atau menemukan kebaruan kandungan ilmu pengetahuan. dan/atau model yang sudah menjadi kandungan ilmu pengetahuan. Penelitian sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) dilaksanakan untuk: a. apabila dilakukan oleh mahasiswa untuk memenuhi persyaratan lulus program magister. seni.

doc . dan perpustakaan Departemen. program studi. fakultas. (13) Prosedur penjaminan mutu penelitian perguruan tinggi diatur dalam anggaran rumah tangga perguruan tinggi. atau pusat studi dapat menerbitkan jurnal ilmiah. (9) Dalam mempublikasikan pada jurnal ilmiah sebagaimana dimaksud pada ayat (5) huruf b dan huruf c. Pasal 94 (1) (2) Perguruan tinggi. Perpustakaan Nasional. (10) Hasil penelitian sebagaimana dimaksud pada ayat (2) diseminarkan dan dipublikasikan pada jurnal terakreditasi yang diakui Departemen. (11) Hasil penelitian perguruan tinggi diakui sebagai penemuan baru setelah dimuat dalam jurnal ilmiah terakreditasi yang diakui Departemen dan/atau mendapatkan hak kekayaan intelektual. Jurnal ilmiah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) memuat artikel hasil penelitian. apabila dilakukan oleh dosen untuk memenuhi dharma penelitian. (3) Penelitian sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dapat berupa penelitian empirik maupun penelitian pustaka. Setiap terbitan jurnal ilmiah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dikirimkan kepada pusat dokumentasi ilmiah pada Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia. Jurnal ilmiah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat diterbitkan dalam bahasa resmi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Jurnal ilmiah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diterbitkan secara tercetak dan secara elektronik melalui jejaring teknologi 53 (5) (6) (7) 76461668.berakreditasi atau jurnal internasional yang diakui Departemen selambat-lambatnya 1 (satu) tahun setelah mahasiswa yang bersangkutan dinyatakan lulus dari program studi. masing-masing sekurang-kurangnya 2 (dua) eksemplar. mahasiswa yang bersangkutan mengikutsertakan dosen pembimbing sebagai penulis pendamping. (12) Hasil penelitian perguruan tinggi yang dilaksanakan oleh dosen dimanfaatkan untuk memperkaya materi pembelajaran mata kuliah yang relevan. (4) Sekurang-kurangnya 60% (enam puluh persen) dari artikel hasil penelitian sebagaimana dimaksud pada ayat (2) merupakan hasil penelitian empirik.

pemberdayaan pengembangan dosen.informasi dan komunikasi Departemen. (8) Departemen mengakreditasi jurnal ilmiah sebagaimana dimaksud pada ayat (1). keteladanan. baik secara individual maupun berkelompok. dan ayat (3) merupakan penerapan hasil pendidikan dan/atau hasil penelitian dalam upaya pemberdayaan. (4) Pengabdian kepada masyarakat sebagaimana dimaksud pada ayat (1). dosen. dan masyarakat. dan masyarakat. Ketentuan lebih lanjut mengenai pelaksanaan pengabdian 54 (5) (6) 76461668. b. pemberdayaan masyarakat yang mendorong kemampuan bekerja sama dalam tim bagi mahasiswa. pemberdayaan masyarakat yang merangsang tumbuhnya kemandirian. atau pemadanian kehidupan masyarakat. ayat (2). pemberdayaan pengembangan dosen. (3) Pelaksanaan kegiatan pengabdian kepada masyarakat sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dilaksanakan oleh dosen dan mahasiswa. pemodernan. Pengabdian kepada masyarakat diselenggarakan dan dilaksanakan berbasis pada dharma pendidikan dan penelitian atas dasar prinsip: a. kepekaan dan kepedulian sosial dan budaya. Hasil pengabdian kepada masyarakat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) sampai dengan ayat (4) dimanfaatkan untuk pengayaan pembelajaran yang relevan. Paragraf 7 Pengabdian kepada Masyarakat Pasal 95 (1) (2) Perguruan tinggi wajib melaksanakan pengabdian kepada masyarakat. dosen. dan d.doc . masyarakat yang berdampak pada jiwa kepemimpinan mahasiswa dan masyarakat yang berdampak pada jiwa kewirausahaan mahasiswa dan c. kreatifitas. serta toleransi sosial dan budaya bagi mahasiswa.

penilaian tugas terstruktur dan mandiri. dan program magister yang tidak mensyaratkan tesis sebagaimana dimaksud pada huruf a.kepada masyarakat perguruan tinggi. evaluasi berkala atas pencapaian kompetensi mahasiswa program diploma. 76461668. Paragraf 9 Penjaminan Mutu Hasil Belajar Pasal 97 (1) Penilaian hasil belajar mahasiswa dilakukan secara berkala melalui penilaian proses belajar. belajar dilaksanakan secara (2) (2) (3) Ketentuan lebih lanjut mengenai pelaksanaan ayat (1) dan ayat (2) diatur dalam anggaran rumah tangga perguruan tinggi.doc 55 . diatur dalam Paragraf 8 anggaran rumah tangga Pengalihan Kredit Pasal 96 (1) Perguruan tinggi dapat mengakui hasil belajar yang diperoleh mahasiswa pada perguruan tinggi lain atau satuan/program pendidikan nonformal untuk memenuhi persyaratan kelulusan program studi. (2) Sistem penjaminan mutu sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilaksanakan melalui: a. b. transparan. dan jujur. ujian. keterlibatan dosen dari perguruan tinggi lain dalam ujian tesis program magister dan disertasi program doktor sebagaimana dimaksud dalam Pasal 93. Pasal 98 (1) Departemen mengembangkan suatu sistem penjaminan mutu hasil belajar program studi perguruan tinggi secara nasional. Penilaian hasil objektif. dan/atau bentuk penilaian lainnya. program sarjana. Pelaksanaan ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dalam anggaran rumah tangga perguruan tinggi.

atau c. (2) (3) Penetapan persyaratan kelulusan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) diatur oleh perguruan tinggi yang bersangkutan. diterapkan pada soal ujian dan jawaban ujian mata kuliah inti program studi. ditetapkan oleh organisasi profesi.doc 56 . dilaksanakan oleh penelaah sejawat. ditetapkan oleh perguruan tinggi setelah memperhatikan pertimbangan dari organisasi profesi. b. diterapkan pada berakreditasi kurang dari B. d. program studi yang b. April 2008 (5) ==============================28 ================ Pasal 99 (1) Persyaratan kelulusan untuk pendidikan akademik dan pendidikan vokasi diatur oleh masing-masing perguruan tinggi. (4) Penelaah sejawat sebagaimana dimaksud pada ayat (3) huruf d berasal dari program studi sejenis berakreditasi sekurangkurangnya B dari perguruan tinggi lain.(3) Evaluasi berkala sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf b dilaksanakan sebagai berikut: a. Ketentuan lebih lanjut mengenai pelaksanaan evaluasi berkala diatur dalam peraturan Menteri. c. Persyaratan kelulusan untuk pendidikan profesi ditetapkan dengan cara: a. e. Paragraf 10 Gelar Lulusan Pendidikan Tinggi Pasal 81 76461668. ditetapkan oleh perguruan tinggi bersama-sama dengan organisasi profesi. dilaksanakan atas dasar sampel. hasil evaluasi digunakan oleh Departemen untuk menetapkan hak menyelenggarakan ujian secara mandiri.

Pasal 82 (1). ditulis di belakang nama yang berhak dengan mencantumkan huruf M. ditulis di belakang nama yang berhak dengan mencantumkan singkatan A. (2) Gelar untuk lulusan pendidikan akademik terdiri atas: a. Gelar akademik. ahli muda. vokasi. (5) Ketentuan lebih lanjut mengenai gelar. yang berhak dengan (3) Gelar untuk pendidikan vokasi terdiri atas: a. untuk lulusan program diploma I. atau profesi berhak untuk menggunakan gelar akademik. dan d. ditulis di belakang nama yang berhak dengan mencantumkan singkatan A.Md diikuti dengan inisial program studi atau bidang ilmu. singkatan. magister. ditulis di belakang nama yang berhak dengan mencantumkan huruf S. 57 76461668. untuk lulusan program diploma III. sarjana. b. untuk lulusan program diploma II. ahli pratama. diikuti dengan inisial program studi atau bidang keahlian khusus. diikuti dengan inisial program studi atau bidang ilmu. dan ayat (4) diatur dengan Peraturan Menteri. dan profesi hanya boleh diberikan oleh perguruan tinggi yang memenuhi persyaratan pendirian dan dinyatakan berhak menyelenggarakan program pendidikan yang relevan. dan inisial program studi atau bidang ilmu sebagaimana dimaksud pada ayat (2). sarjana sains terapan. doktor.doc .(1) Lulusan pendidikan akademik. ditulis di belakang nama yang berhak dengan mencantumkan singkatan SST diikuti dengan inisial program studi atau bidang ilmu. atau gelar profesi. ahli madya. b. gelar vokasi.Ma diikuti dengan inisial program studi atau bidang ilmu. (4) Gelar untuk lulusan pendidikan profesi adalah Spesialis dengan mencantumkan singkatan Sp. ayat (3). vokasi.P diikuti dengan inisial program studi atau bidang ilmu. c. diikuti dengan inisial program studi atau bidang ilmu. untuk program diploma IV. dan c. ditulis di depan nama mencantumkan singkatan Dr. ditulis di belakang nama yang berhak dengan mencantumkan singkatan A.

(1) Pencantuman jenis. keagamaan. Menteri atau Menteri Agama sesuai kewenangan masing-masing menetapkan kesetaraan ijazah perguruan tinggi luar negeri dengan ijazah dan gelar perguruan tinggi Indonesia yang memenuhi Standar Nasional Pendidikan. atau vokasi didasarkan atas bidang keahlian dan dicantumkan dalam ijazah yang diberikan kepada lulusan perguruan tinggi. Bidang keahlian sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditentukan berdasarkan bidang studi atau kelompok bidang studi. dan penempatan gelar lulusan perguruan tinggi luar negeri tetap menggunakan gelar sesuai dengan jenis. dan penempatan yang berlaku di negara asal.(2). singkatan. profesi. (2) (3) (4) 76461668. Pasal 84 (2) (1) Gelar doktor kehormatan (doctor honoris causa) diberikan kepada seseorang yang telah berjasa luar biasa bagi ilmu pengetahuan. Gelar doktor kehormatan hanya dapat diberikan oleh perguruan tinggi yang berwenang menyelenggarakan program doktor terakreditasi dalam bidang ilmu terkait. kebudayaan. Penetapan jenis gelar akademik. Ketentuan tentang pemberian dan pengukuhan gelar doktor kehormatan diatur oleh senat akademik perguruan tinggi masing-masing. kemasyarakatan.doc 58 . atau seni dan digunakan dengan mencantumkan atau menuliskan Dr (HC) di depan nama pemilik serta hanya dipergunakan dalam upacara akademik. singkatan. Pasal 83 (3). Pemberian gelar doktor kehormatan ditetapkan oleh senat akademik perguruan tinggi. teknologi.

BAB IV PENYELENGGARAAN PENDIDIKAN NONFORMAL Bagian Kesatu Fungsi dan Tujuan 76461668. misi. pelaksanaan visi. ketanggapan perguruan tinggi terhadap aspirasi pihak-pihak yang berkepentingan.doc 59 . (4) Keberhasilan penjaminan mutu diukur dengan akreditasi yang menentukan kelayakan program dan/atau satuan pendidikan tinggi. Mutu sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) dijamin dengan memperhatikan: a. c. b. bagi perguruan tinggi yang memiliki komitmen untuk bertaraf internasional. (5) Kelayakan sebagaimana dimaksud pada ayat (4) diukur atas dasar mutu sebagaimana dimaksud pada ayat (3). dan kebutuhan tinggi dan (2) (3) dengan d.Bagian Kelima Penjaminan Mutu Pasal 85 (1) Penjaminan mutu dilakukan oleh setiap perguruan tinggi untuk memenuhi Standar Nasional Pendidikan jenjang pendidikan tinggi secara konsisten dan berkelanjutan sebagai wujud akuntabilitas publik perguruan tinggi kepada para pemangku kepentingan. kesesuaian penyelenggaraan pendidikan Standar Nasional Pendidikan. kesesuaian penyelenggaraan pendidikan tinggi dengan standar mutu internasional. Penjaminan mutu dilakukan secara berkelanjutan oleh perguruan itu sendiri dan dapat dibantu oleh lembaga lain. (6) Akreditasi wajib bagi setiap program studi dan/atau satuan pendidikan tinggi yang dilaksanakan oleh Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi atau lembaga mandiri lain yang memenuhi persyaratan. dan tujuan perguruan tinggi secara nyata.

taman penitipan anak (TPA). bekerja. kelompok belajar. f. keterampilan. b.doc . dan/atau melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi dalam rangka mewujudkan tujuan pendidikan nasional. serta pengembangan sikap dan kepribadian profesional dalam rangka mendukung pendidikan sepanjang hayat. h. pusat kegiatan belajar masyarakat. e. penambah. lembaga kursus. kelompok bermain (KB). atau satuan pendidikan lain yang sejenis. keterampilan. dan kompetensi untuk bekerja dalam bidang tertentu. berusaha mandiri dan/atau melanjutkan pendidikan ke tingkat 60 76461668.Pasal 86 (1) Pendidikan nonformal berfungsi sebagai pengganti. lembaga pelatihan. mengembangkan profesi. sikap dan kecakapan hidup untuk mengembangkan diri. majelis taklim. d. g. dan/atau pelengkap pendidikan formal bagi warga masyarakat yang memerlukan layanan pendidikan untuk mengembangkan potensinya dengan penekanan pada penguasaan pengetahuan dan keterampilan fungsional. c. (2) Paragraf 1 Lembaga Kursus dan Lembaga Pelatihan Pasal 88 (1) Lembaga kursus dan lembaga pelatihan menyelenggarakan pendidikan bagi warga masyarakat yang memerlukan bekal pengetahuan. sikap wirausaha. Bagian Kedua Bentuk Satuan Pendidikan Pasal 87 Satuan pendidikan nonformal berbentuk: a. Pendidikan nonformal bertujuan untuk membentuk manusia yang memiliki kecakapan hidup.

Peserta didik pada majelis taklim adalah masyarakat muslim yang ingin belajar dan mendalami ajaran Islam dan untuk meningkatkan keimanan dan ketakwaan. oleh. bekerja dan/atau melanjutkan ke tingkat pendidikan yang lebih tinggi. (2) Peserta didik pada lembaga kursus dan lembaga pelatihan adalah warga masyarakat yang memerlukan bekal untuk mengembangkan diri. (2) Peserta didik pada kelompok belajar adalah warga masyarakat yang belajar untuk mengembangkan diri. Paragraf 3 Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat Pasal 90 (1) Pusat kegiatan belajar masyarakat memfasilitasi penyelenggaraan berbagai program pendidikan nonformal untuk mewujudkan masyarakat gemar belajar dalam rangka mengakomodasi kebutuhannya akan pendidikan sepanjang hayat. Paragraf 2 Kelompok Belajar Pasal 89 (1) Kelompok belajar menyelenggarakan kegiatan untuk menampung dan memenuhi kebutuhan belajar sekelompok warga masyarakat yang belajar melalui jalur pendidikan nonformal. dan berazaskan prinsip dari. 76461668. dan untuk masyarakat. menjadi pekerja/buruh dan/atau melanjutkan pendidikan ke tingkat yang lebih tinggi.yang lebih tinggi.doc 61 . Peserta didik pada pusat kegiatan belajar masyarakat adalah warga masyarakat yang belajar untuk mengembangkan diri. bekerja dan/atau melanjutkan ke tingkat pendidikan yang lebih tinggi. Paragraf 4 Majelis Taklim Pasal 91 (1) Majelis taklim menyelenggarakan pembelajaran agama Islam untuk memenuhi berbagai kebutuhan belajar masyarakat pada jalur pendidikan nonformal. (2) (2) (3) Majelis taklim sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diselenggarakan sesuai dengan peraturan perundang-undangan.

pendidikan keterampilan dan pelatihan kerja. e. Pendidikan kecakapan hidup berfungsi meningkatkan 62 (2) 76461668. dan kecakapan vokasional untuk bekerja. pendidikan anak usia dini. Bagian Ketiga Program Pendidikan Pasal 93 Program pendidikan nonformal meliputi : a.doc . serta pendidikan lainnya. kecakapan intelektual. pendidikan kepemudaan. (2) Peserta didik TPA atau bentuk lain yang sederajat berusia sejak lahir sampai dengan berusia 6 (enam) tahun. pendidikan kecakapan hidup. b. (3) Peserta didik KB atau bentuk lain yang sederajat berusia 2 (dua) tahun sampai dengan 4 (empat) tahun.Paragraf 5 Taman Penitipan Anak dan Kelompok Bermain Pasal 92 (1) Satuan pendidikan anak usia dini jalur nonformal berbentuk taman penitipan anak (TPA). pendidikan pemberdayaan perempuan. kelompok bermain (KB). d. h. berusaha dan/atau hidup mandiri. pendidikan keaksaraan. g. pendidikan kesetaraan. Paragraf 1 Pendidikan Kecakapan Hidup Pasal 94 (1) Pendidikan kecakapan hidup merupakan pendidikan yang memberikan kecakapan personal. kecakapan sosial. atau bentuk lain yang sejenis. c. f.

sosial budaya. Paragraf 3 Pendidikan Kepemudaan 76461668. serta kondisi dan kebutuhan masyarakat setempat. termasuk kesejahteraannya. (5) Pengembangan program pembelajaran sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus mengintegrasikan kebutuhan peserta didik terhadap kesehatan.doc (4) 63 . berusaha dan/atau hidup mandiri. minat. (3) Pendidikan kecakapan hidup dapat dilaksanakan secara terintegrasi dengan program-program pendidikan nonformal lainnya dan/atau tersendiri. dan stimulasi psikososial. (7) Pengelompokan peserta didik untuk program pendidikan pada PAUD jalur nonformal disesuaikan dengan kebutuhan. dan perkembangan anak. (2) Program pembelajaran sebagaimana dimaksud pada ayat (1) bagi peserta didik yang berusia 1 (satu) sampai 6 (enam) tahun diselenggarakan dengan mengupayakan kesiapan belajar peserta didik untuk memasuki pendidikan dasar. (6) Penyelenggaraan program pendidikan pada PAUD jalur nonformal dapat diintegrasikan dengan progam layanan lain yang sudah berkembang di masyarakat sebagai upaya untuk memperluas layanan PAUD kepada seluruh lapisan masyarakat. dan kemampuan masing-masing peserta didik.kecakapan personal. gizi. Paragraf 2 Pendidikan Anak Usia Dini Pasal 95 (1) Pendidikan anak usia dini jalur nonformal merupakan seperangkat program pembelajaran yang dilaksanakan secara fleksibel berdasarkan tahap perkembangan anak. (3) Program pembelajaran sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilaksanakan secara terpadu dengan memperhatikan kebutuhan dan kepentingan terbaik anak serta memperhatikan kecerdasan anak. Pengembangan program pembelajaran sebagaimana dimaksud pada ayat (1) didasarkan pada prinsip bermain sambil belajar dan belajar seraya bermain dengan memperhatikan perbedaan bakat. kecakapan intelektual dan kecakapan vokasional untuk menyiapkan peserta didik agar mampu bekerja. usia. kecakapan sosial.

ilmu pengetahuan dan teknologi. peningkatan akses dan partisipasi perempuan terhadap pendidikan. wawasan kebangsaan. peningkatan perempuan. palang merah.Pasal 96 (1) Pendidikan kepemudaan merupakan pendidikan yang diselenggarakan untuk mempersiapkan kader pemimpin bangsa. (2) (3) (4) (2) Pendidikan pemberdayaan perempuan berfungsi meningkatkan kemampuan perempuan dalam pengembangan potensi diri. seni dan budaya. Pendidikan kepemudaan berfungsi mengembangkan potensi pemuda dengan penekanan pada penguatan nilai keimanan dan ketaqwaan. organisasi pemuda. kesehatan dan keolahragaan. kepeloporan. ilmu pengetahuan dan teknologi. bermasyarakat. etika dan kepribadian. kepemimpinan. dan c. kepeloporan. Pendidikan kepemudaan mencakup berbagai bentuk pendidikan dan pelatihan di bidang keagamaan. berbangsa dan bernegara. sikap kewirausahaan. nilai. estetika. sikap. 76461668.doc terhadap pelanggaran hak-hak dasar 64 . kebangsaan. dan estetika perempuan agar mampu memperoleh hak dasar kehidupan yang setara dan adil gender dalam kehidupan berkeluarga. wawasan. pencegahan perempuan. pecinta alam dan lingkungan hidup. Paragraf 4 Pendidikan Pemberdayaan Perempuan Pasal 97 (1) Pendidikan pemberdayaan perempuan merupakan pendidikan untuk mengangkat harkat dan martabat perempuan. dan martabat b. Peserta didik pendidikan kepemudaan adalah warga masyarakat yang berusia antara 18 (delapan belas) sampai dengan 35 (tiga puluh lima) tahun. serta kecakapan hidup bagi pemuda sebagai kader pemimpin bangsa. etika dan kepribadian. kecakapan hidup. kedudukan. kepanduan/kepramukaan. harkat. (3) Pendidikan pemberdayaan perempuan bertujuan untuk: a. dan kewirausahaan.

Paragraf 5 Pendidikan Keaksaraan Pasal 98 (1) Pendidikan keaksaraan merupakan pendidikan bagi warga masyarakat yang buta aksara latin agar mereka dapat membaca. Pendidikan keaksaraan berfungsi memberikan kemampuan dasar membaca. yang dapat dimanfaatkan dalam kehidupan sehari-hari. berhitung dan/atau berkomunikasi dalam bahasa Indonesia. berbahasa Indonesia dan berpengetahuan dasar untuk meningkatkan kualitas hidupnya.doc . (2) (3) Peserta didik pendidikan keaksaraan adalah warga masyarakat usia 15 (lima belas) tahun ke atas yang belum dapat membaca. menulis. terintegrasi dengan Paragraf 6 Pendidikan Keterampilan dan Pelatihan Kerja Pasal 99 (1) Pendidikan keterampilan dan pelatihan kerja dilaksanakan untuk meningkatkan kemampuan peserta didik dengan penekanan pada penguasaan keterampilan fungsional yang sesuai kebutuhan dunia kerja atau kebutuhannya untuk menjadi manusia produktif. berhitung. (4) Pendidikan keaksaraan dilaksanakan pendidikan kecakapan hidup. berhitung dan berkomunikasi dalam bahasa Indonesia kepada peserta didik. menulis. (2) Pendidikan keterampilan dan pelatihan kerja berfungsi untuk meningkatkan dan mengembangkan kemampuan peserta didik dengan penekanan pada penguasaan keterampilan fungsional serta pengembangan sikap dan kepribadian profesional sesuai dengan kebutuhan dunia kerja atau kebutuhannya untuk menjadi manusia produktif. (3) Ketentuan mengenai pendidikan keterampilan dan pelatihan 65 76461668.(4) Ketentuan lebih lanjut mengenai pendidikan pemberdayaan perempuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) diatur dengan Peraturan Menteri. menulis.

SMP/MTs. Peserta didik program Paket A merupakan anggota masyarakat yang berminat menempuh pendidikan setara SD/MI. kesetaraan berfungsi sebagai dasar dan menengah pada layanan jenjang jalur pendidikan (2) Pendidikan pendidikan nonformal. yang menekankan pada pengetahuan dan keterampilan fungsional serta sikap dan kepribadian profesional.kerja untuk memperoleh. Program Paket B berfungsi memberikan pendidikan umum setara SMP/MTs. yang menekankan pada pengetahuan dan keterampilan fungsional serta sikap dan kepribadian profesional. yang menekankan pada pengetahuan dan keterampilan fungsional serta sikap dan kepribadian profesional. Bagian Ketiga (keempat) Penyetaraan Hasil Pendidikan Pasal 101 76461668.doc 66 . dan SMA/MA yang mencakup program Paket A. (3) Program Paket A berfungsi memberikan pendidikan umum setara SD/MI. terintegrasi dengan (4) (5) (6) (7) (8) (9) Pendidikan kesetaraan dilaksanakan pendidikan kecakapan hidup. Paket B. dan Paket C. Program Paket C berfungsi memberikan pendidikan umum setara SMA/MA. Peserta didik program Paket B merupakan anggota masyarakat yang telah lulus program Paket A atau SD/MI yang berminat menempuh pendidikan setara SMP/MTs. Paragraf 7 Pendidikan Kesetaraan Pasal 100 (1) Pendidikan kesetaraan merupakan program pendidikan nonformal yang menyelenggarakan pendidikan umum setara SD/MI. Peserta didik program Paket C merupakan anggota masyarakat yang telah lulus program Paket B atau SMP/MTs yang berminat menempuh pendidikan setara SMA/MA. meningkatkan dan/atau mengembangkan kompetensi tenaga kerja dilaksanakan sesuai dengan peraturan perundang-undangan.

(3) Pendidikan yang dilakukan oleh keluarga mencakup pendidikan yang dilakukan oleh orang tua. (3) Pengakuan hasil pendidikan nonformal dalam bidang tertentu sebagai pengganti mata pelajaran/mata kuliah dilakukan melalui penilaian terhadap bukti penguasaan kompetensi tertentu yang diperoleh dari lembaga pendidikan nonformal. menanamkan nilai budaya. serta meningkatkan pengetahuan dan keterampilan peserta didik dalam rangka mencapai tujuan pendidikan nasional dan tujuan pendirian Negara Kesatuan Republik Indonesia. (2) Pendidikan informal mencakup pendidikan yang dilakukan oleh keluarga atau lingkungan berbentuk kegiatan belajar secara mandiri.doc 67 . pengakuan hasil pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (3). (5) Ketentuan lebih lanjut mengenai penilaian penyetaraan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2). dan tes penempatan dan/atau penilaian portofolio sebagaimana dimaksud pada ayat (4) diatur dengan Peraturan Menteri. (4) Untuk penempatan pada tingkat dalam satuan pendidikan.(1) Hasil pendidikan nonformal dapat dihargai setara dengan hasil satuan atau program pendidikan formal setelah melalui proses penilaian penyetaraan oleh lembaga yang ditunjuk oleh Pemerintah atau pemerintah daerah. estetika. dan/atau perseorangan yang dilibatkan dalam proses belajar secara mandiri. etika dan kepribadian. nilai moral. BAB V PENYELENGGARAAN PENDIDIKAN INFORMAL Pasal 102 (1) Pendidikan informal bertujuan memberikan keyakinan agama. 76461668. (2) Proses penilaian penyetaraan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan melalui ujian sesuai yang dipersyaratkan dalam Standar Nasional Pendidikan dan dinyatakan lulus setara dengan lulusan satuan pendidikan formal. hasil pendidikan nonformal diakui sama dengan hasil satuan atau program pendidikan formal melalui tes penempatan dan/atau penilaian portofolio oleh satuan pendidikan formal yang bersangkutan. dengan mengacu pada Standar Nasional Pendidikan. anggota keluarga.

lingkungan sosial. (3) Untuk penempatan pada tingkat dalam satuan pendidikan formal atau nonformal. pendidikan sosial dan budaya melalui interaksi dengan masyarakat. (3) Penyelenggaraan pembelajaran pendidikan informal menjadi tanggung jawab setiap orang. anggota masyarakat. pendidikan alam melalui interaksi dengan alam. (2) Hasil pendidikan informal dapat diakui sama dengan hasil pendidikan nonformal setelah lulus ujian atau uji kompetensi pada satuan pendidikan nonformal atau lembaga yang ditunjuk oleh Pemerintah atau pemerintah daerah. Pemerintah dapat melarang penyampaian informasi atau hiburan sebagaimana dimaksud pada ayat (5) yang tidak sesuai dengan tujuan pendidikan nasional dan/atau tujuan pendirian Negara Kesatuan Republik Indonesia. (5) Pendidikan informal dilaksanakan secara bertanggung jawab. hasil pendidikan informal diakui sama melalui tes penempatan dan/atau penilaian portofolio oleh satuan pendidikan formal atau nonformal yang bersangkutan. Pasal 104 (1) Hasil pendidikan informal dapat diakui sama dengan hasil pendidikan formal setelah lulus ujian pada satuan pendidikan formal atau lembaga yang ditunjuk oleh Pemerintah atau pemerintah daerah. 76461668. dengan mengacu pada Standar Nasional Pendidikan. dan/atau masyarakat. pendidikan oleh media massa. (7) Pasal 103 (1) Peserta didik pada pendidikan informal adalah setiap warga masyarakat. atau lingkungan alam. keluarga.(4) Pendidikan yang dilakukan oleh lingkungan mencakup pendidikan yang dilakukan oleh masyarakat adat. dan lain-lain pendidikan yang tidak termasuk dalam jalur formal dan nonformal. (2) Pendidik pada pendidikan informal terdiri dari anggota keluarga. (6) Penyampaian informasi atau hiburan oleh media masa atau pihak lain kepada masyarakat harus secara serius mempertimbangkan implikasi pendidikannya. pendidikan masyarakat melalui berbagai kegiatan hiburan. dengan mengacu pada Standar Nasional Pendidikan.doc 68 .

belajar tuntas. (5) Ketentuan lebih lanjut mengenai ujian atau uji kompetensi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2). dan jenis pendidikan. 76461668. serta meningkatkan mutu dan relevansi pendidikan secara lebih efisien. Hasil uji kompetensi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) digunakan untuk penempatan sebagai peserta didik pada tingkat satuan atau program pendidikan formal atau nonformal yang bersangkutan. Pendidikan jarak jauh bertujuan meningkatkan dan memeratakan akses masyarakat terhadap pendidikan. Pasal 107 (1) Pendidikan jarak jauh dapat diselenggarakan pada semua jalur.doc (2) (2) (3) 69 . belajar mandiri. dan berbasis teknologi pendidikan. Pasal 105 (1) Peserta didik pendidikan informal dapat mengajukan uji kompetensi untuk menentukan tingkat pendidikan pada satuan atau program pendidikan formal atau nonformal yang terakreditasi. jenjang. status peserta didik pada satuan pendidikan formal atau nonformal tertentu yang dapat dijadikan dasar untuk melanjutkan pendidikan ke tingkat atau jenjang pada satuan atau program pendidikan yang lebih tinggi. dan kesesuaian persyaratan pada bidang pekerjaan tertentu.(4) Pengakuan sama terhadap hasil pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) digunakan untuk menentukan: a. serta tes penempatan dan/atau penilaian portofolio sebagaimana dimaksud pada ayat (3) diatur dengan Peraturan Menteri. Pendidikan jarak jauh mempunyai karakteristik terbuka. b. BAB VI PENYELENGGARAAN PENDIDIKAN JARAK JAUH Pasal 106 (1) Pendidikan jarak jauh berfungsi memberikan layanan pendidikan kepada kelompok masyarakat yang tidak dapat mengikuti pendidikan secara tatap muka atau reguler.

doc 70 . Pengorganisasian pendidikan jarak jauh modus tunggal sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berbentuk satuan pendidikan yang menyelenggarakan program pendidikan hanya secara jarak jauh. Cakupan pendidikan berbasis program studi/pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) terbatas untuk 1 (satu) program studi/pendidikan secara utuh. belajar secara mandiri. Pengorganisasian modus konsorsium sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berbentuk jejaring penyelenggaraan pendidikan jarak jauh secara kolaboratif atau kerja sama secara lintas satuan pendidikan dengan lingkup wilayah nasional dan/atau internasional. dan sistem operasional yang diterapkan. atau konsorsium. Pasal 109 (1) Pendidikan jarak jauh dapat diselenggarakan dengan cakupan pendidikan berbasis mata pelajaran. (3) Pendidikan jarak jauh memberikan layanan administrasi. terstruktur.(2) Penyelenggaraan pendidikan jarak jauh sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilaksanakan secara terpisah dari pendidik secara spasial. tutorial. dan ujian. serta layanan penyediaan dan distribusi bahan ajar dengan sistem operasional berbasis teknologi informasi dan komunikasi. praktik/praktikum. Cakupan pendidikan berbasis satuan pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) mencakup penyelenggaraan pendidikan (2) (3) (4) 76461668. program studi/pendidikan. atau satuan pendidikan. (3) (4) (5) Struktur organisasi satuan pendidikan jarak jauh ditentukan berdasarkan modus. Pengorganisasian modus ganda sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berbentuk satuan pendidikan yang menyelenggarakan program pendidikan baik secara tatap muka maupun jarak jauh. cakupan. ganda. dan terbimbing dengan menggunakan berbagai sumber belajar berbasis teknologi informasi dan komunikasi. registrasi. Cakupan pendidikan berbasis mata pelajaran sebagaimana dimaksud pada ayat (1) terbatas untuk 1 (satu) atau beberapa mata pelajaran atau mata kuliah. Pasal 108 (1) (2) Pengorganisasian pendidikan jarak jauh dapat diselenggarakan dalam modus tunggal.

doc 71 . jaringan komputer. dan/atau jaringan komunikasi dan informasi lainnya. Izin penyiaran radio/TV untuk penyelenggaraan pendidikan jarak jauh diberikan oleh menteri yang menangani urusan pemerintahan di bidang penyiaran atas usul Menteri. Pasal 111 (3) (1) Pendidikan jarak jauh dilaksanakan dengan mengacu pada Standar Nasional Pendidikan. jaringan TV. Pasal 110 (1) Sarana dan prasarana pendidikan pada satuan pendidikan jarak jauh harus berbasis teknologi komunikasi. (2)Pemerintah dan/atau pemerintah daerah memfasilitasi penyelenggaraan pendidikan jarak jauh dalam rangka penuntasan wajib belajar dan program pembangunan pendidikan sesuai kebutuhan daerah. 76461668. (2) Penyelenggara satuan pendidikan jarak jauh berkewajiban untuk secara mandiri mengembangkan sistem operasional dengan dukungan jaringan radio. informasi.jarak jauh secara utuh pada 1 (satu) satuan pendidikan. (3) Pengaturan lebih lanjut tentang penyelenggaraan pendidikan jarak jauh diatur dengan Peraturan Menteri. dan media lain serta sesuai dengan Standar Nasional Pendidikan dan standar keamanan komunikasi dan informasi.

intelektual. bencana sosial. (2) Pendidikan khusus bagi peserta didik berkelainan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) bertujuan untuk mengembangkan potensi peserta didik seoptimal mungkin dalam rangka mencapai tujuan pendidikan nasional. dan jenis pendidikan. Pasal 113 Pendidikan layanan khusus merupakan pendidikan bagi peserta didik di daerah terpencil atau terbelakang. intelektual. emosional. sosial. mental.BAB VII PENYELENGGARAAN PENDIDIKAN KHUSUS DAN PENDIDIKAN LAYANAN KHUSUS Bagian Kesatu Umum Pasal 112 Pendidikan khusus merupakan pendidikan bagi peserta didik yang memiliki tingkat kesulitan dalam mengikuti proses pembelajaran karena kelainan fisik. dan/atau sosial. emosional. Bagian Kedua Pendidikan Khusus Paragraf 1 Pendidikan Khusus bagi Peserta Didik Berkelainan Pasal 114 (1) Pendidikan khusus bagi peserta didik berkelainan berfungsi memberikan pelayanan pendidikan khusus bagi peserta didik yang memiliki tingkat kesulitan dalam mengikuti proses pembelajaran karena kelainan fisik. masyarakat adat yang terpencil. jenjang. dan tidak mampu dari segi ekonomi. (2) Penyelenggaraan pendidikan khusus dapat dilakukan melalui 76461668. dan/atau mengalami bencana alam.doc 72 . serta memiliki potensi kecerdasan dan/atau bakat istimewa. mental. Pasal 115 (1) Pendidikan khusus bagi peserta didik berkelainan dapat diselenggarakan pada semua jalur.

satuan pendidikan khusus, program pendidikan terpadu, atau program pendidikan inklusi. (3) Ketentuan lebih lanjut mengenai program pendidikan terpadu dan program pendidikan inklusi sebagaimana dimaksud pada ayat (2) diatur dengan Peraturan Menteri. Pasal 116 (6) Pemerintah menyelenggarakan sekurang-kurangnya 1 (satu) satuan pendidikan khusus untuk setiap jenis kelainan yang digunakan sebagai model ideal pendidikan khusus bagi peserta didik yang berkelainan. (7) Pemerintah kabupaten/kota sekurangkurangnya menunjuk 1 (satu) satuan pendidikan untuk menyelenggarakan pendidikan khusus secara inklusif apabila pada kabupaten/kota tersebut belum ada satu satuan pendidikan khusus. Pasal 117 Pendidikan khusus bagi peserta didik berkelainan pada jalur formal diselenggarakan melalui satuan pendidikan anak usia dini, satuan pendidikan dasar, satuan pendidikan menengah, dan satuan pendidikan tinggi. Pasal 118 (1) Satuan pendidikan khusus bagi peserta didik berkelainan untuk pendidikan anak usia dini dapat berbentuk Taman Penitipan Anak Luar Biasa (TPALB), Kelompok Bermain Luar Biasa (KBLB), atau Taman Kanak-kanak Luar Biasa (TKLB). (2) Satuan pendidikan khusus bagi peserta didik berkelainan pada jenjang pendidikan dasar terdiri atas: a. Sekolah Dasar Luar Biasa (SDLB), Madrasah Ibtidaiyah Luar Biasa (MILB), atau bentuk lain yang sederajat; b. Sekolah Menengah Pertama Luar Biasa (SMPLB), Madrasah Tsanawiyah Luar Biasa (MTsLB), atau bentuk lain yang sederajat. (3) Satuan pendidikan khusus bagi peserta didik berkelainan pada jenjang pendidikan menengah adalah Sekolah Menengah Atas Luar Biasa (SMALB), Madrasah Aliyah Luar Biasa (MALB), atau
76461668.doc

73

bentuk lain yang sederajat. (4) Penyelenggaraan satuan pendidikan khusus dapat menggunakan sistem unit. (5) Satuan pendidikan khusus untuk peserta didik berkelainan dapat menyelenggarakan pendidikan untuk 1 (satu) atau beberapa jenis peserta didik berkelainan.

Pasal 119 (1) Peserta didik pendidikan khusus bagi peserta didik berkelainan yaitu peserta didik yang memiliki kelainan fisik, emosional, mental, intelektual, dan/atau sosial. (2) Kelainan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat berupa: a. tunanetra; b. tunarungu; c. tunawicara; d. tunagrahita; e. tunadaksa; f. tunalaras; g. berkesulitan belajar; h. lamban belajar; i. autistik; j. gangguan motorik;

k. korban penyalahgunaan narkotika, obat terlarang, dan zat adiktif lainnya; dan l. kelainan lainnya.

(3) Kelainan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dapat juga berwujud gabungan dari 2 (dua) atau lebih jenis-jenis kelainan di atas yang disebut tunaganda.

Paragraf 2 Pendidikan Khusus bagi Peserta Didik yang Memiliki
76461668.doc

74

Potensi Kecerdasan dan/atau Bakat Istimewa Pasal 120 (1) Pendidikan khusus bagi peserta didik yang memiliki potensi kecerdasan dan/atau bakat istimewa berfungsi mengembangkan potensi keunggulan peserta didik menjadi prestasi nyata sesuai dengan karakteristik dan kebutuhannya, dalam rangka mencapai tujuan pendidikan nasional. (2) Pendidikan khusus bagi peserta didik yang memiliki potensi kecerdasan dan/atau bakat istimewa bertujuan: a. membentuk manusia berkualitas yang memiliki kecerdasan spiritual, emosional, sosial, dan intelektual serta memiliki ketahanan dan kebugaran fisik; b. membentuk manusia berkualitas yang kompeten dalam pengetahuan dan seni, berkeahlian dan berketerampilan, menjadi anggota masyarakat yang bertanggung jawab, serta untuk mempersiapkan peserta didik mengikuti pendidikan lebih lanjut dalam rangka mewujudkan tujuan pendidikan nasional. Pasal 121 (1) Pendidikan khusus bagi peserta didik yang memiliki potensi kecerdasan dan/atau bakat istimewa dapat diselenggarakan pada satuan pendidikan SD/MI, SMP/MTs, SMA/MA, SMK/MAK, atau bentuk lain yang sederajat. (2) Program pendidikan khusus bagi peserta didik yang memiliki potensi kecerdasan dan/atau bakat istimewa dapat berupa: a. program percepatan; b. program pengayaan; atau c. gabungan program percepatan dan program pengayaan. (3) Penyelenggaraan program pendidikan khusus bagi peserta didik yang memiliki potensi kecerdasan dan/atau bakat istimewa sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dapat dilakukan dalam bentuk: a. kelas inklusi; b. kelas khusus; c. satuan pendidikan khusus; atau d. satuan pendidikan inklusi.
76461668.doc

75

(4)

Ketentuan lebih lanjut mengenai program pendidikan khusus bagi peserta didik yang memiliki potensi kecerdasan dan/atau bakat istimewa sebagaimana dimaksud pada ayat (2) diatur dengan Peraturan Menteri. Pasal 122

Pemerintah menyelenggarakan sekurang-kurangnya 1 (satu) satuan pendidikan khusus untuk dipakai sebagai model ideal pendidikan khusus bagi peserta didik yang memiliki kecerdasan dan/atau bakat istimewa. Pasal 123 (1) Peserta didik yang memiliki potensi kecerdasan dan/atau bakat istimewa adalah peserta didik yang secara ekstrim memiliki potensi jauh di atas rata-rata dalam salah satu atau lebih kemampuan: a. b. c. d. e. akademik; seni; olahraga; kepemimpinan; dan lainnya yang relevan. (2) Penetapan peserta didik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan oleh ahli yang relevan.

Bagian Ketiga Pendidikan Layanan Khusus

Pasal 121 (1) Pendidikan layanan khusus berfungsi memberikan kesempatan untuk memperoleh pendidikan kepada peserta didik di daerah terpencil atau terbelakang, daerah perbatasan, daerah kepulauan kecil, masyarakat adat yang terpencil, dan/atau mengalami bencana alam, bencana sosial, dan tidak mampu dari segi ekonomi dalam rangka mencapai tujuan pendidikan nasional. (2) Pendidikan layanan khusus bertujuan membentuk manusia berkualitas secara spiritual, emosional, intelektual, dan fisik, hidup sehat; memperluas pengetahuan dan seni, memiliki

76461668.doc

76

program tugas belajar ke daerah lain yang pelayanan pendidikannya dapat dilaksanakan secara normal. b. taman penitipan anak. madrasah kecil. e. satuan pendidikan terbuka untuk kelompok bermain. kelompok belajar. d. f. Pasal 122 (1) Pendidikan layanan khusus dapat diselenggarakan pada jalur pendidikan formal dan nonformal. kursus dan pelatihan. dan/atau c. kelompok belajar. c. satuan pendidikan darurat untuk kelompok bermain. dan/atau bentuk lain yang tidak bertentangan dengan ketentuan peraturan perundangan-undangan yang berlaku. taman penitipan anak. madrasah darurat. g. jauh.keahlian dan keterampilan. madrasah terbuka. dan bentuk satuan pendidikan nonformal lainnya. khusus pada jalur penyelenggaraan sekolah atau penyelenggaraan pendidikan jarak penyelenggaraan sekolah atau penyelenggaraan pada jalur atau sekolah (3) Penyelenggaraan pendidikan layanan pendidikan nonformal dapat berbentuk: a.doc 77 . satuan pendidikan kecil untuk kelompok bermain. kursus dan pelatihan. b. taman penitipan anak. Pasal 123 76461668. gabungan dari 2 (dua) atau lebih dari huruf a sampai dengan huruf e. kelompok belajar. serta mempersiapkan peserta didik untuk mengikuti pendidikan lebih lanjut dalam rangka mewujudkan pendidikan nasional. (2) Penyelenggaraan pendidikan layanan khusus pendidikan formal dapat dilaksanakan melalui: a. menjadi anggota masyarakat yang bertanggung jawab. dan bentuk satuan pendidikan nonformal lainnya. dan bentuk satuan pendidikan nonformal lainnya. kursus dan pelatihan.

(1) (2) Pemerintah dan pemerintah pendidikan layanan khusus. b. peserta didik di daerah kepulauan kecil. e. d. peserta didik dalam masyarakat adat yang terpencil. peserta didik yang berada di daerah yang mengalami bencana alam dan/atau bencana sosial. dan f. peserta didik di daerah perbatasan. c. BAB VIII PENYELENGGARAAN PENDIDIKAN BERTARAF INTERNASIONAL DAN PENDIDIKAN BERBASIS KEUNGGULAN LOKAL Pasal 125 (1) Pemerintah dan/atau pemerintah daerah menyelenggarakan sekurang-kurangnya 1 (satu) satuan pendidikan dasar dan menengah untuk dikembangkan menjadi satuan pendidikan yang bertaraf internasional. (4)Dalam hal pemerintah kabupaten/kota tidak menyelenggarakan 76461668. peserta didik di daerah terpencil dan/atau terbelakang. (2)Pemerintah menunjuk atau mendirikan madrasah pada jenjang pendidikan dasar dan menengah untuk dikembangkan menjadi satuan pendidikan yang bertaraf internasional. (3) Pemerintah kabupaten/kota menunjuk atau mendirikan sekurangkurangnya 1 (satu) satuan pendidikan dasar dan menengah untuk dikembangkan menjadi satuan pendidikan dasar dan menengah yang bertaraf internasional.doc 78 . daerah menyelenggarakan Pembagian beban pembiayaan pendidikan layanan khusus sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur lebih lanjut dalam Peraturan Menteri. peserta didik yang berasal dari keluarga yang tidak mampu dari segi ekonomi. Masyarakat membantu Pemerintah dan pemerintah dalam penyelenggaraan pendidikan layanan khusus. Pasal 124 daerah (3) (1) Peserta didik yang memerlukan pendidikan layanan khusus adalah: a.

teknologi.satuan pendidikan dasar dan menengah untuk dikembangkan menjadi satuan pendidikan dasar dan menengah yang bertaraf internasional. pemerintah provinsi bersama pemerintah kabupaten/kota wajib mendirikannya. Pengembangan dengan mengacu standar pendidikan di negara yang memiliki keunggulan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan melalui cara penyesuaian atau penambahan terhadap unsur-unsur tertentu yang sudah ada atau belum ada dalam Standar Nasional Pendidikan. (6)Masyarakat dapat menyelenggarakan satuan pendidikan pada semua jenjang pendidikan untuk dikembangkan menjadi satuan pendidikan yang bertaraf internasional setelah memperoleh izin dari Pemerintah atau pemerintah kabupaten/kota sesuai kewenangannya. Pasal 126 (1) Satuan pendidikan dasar dan menengah bertaraf internasional diselenggarakan setelah memenuhi Standar Nasional Pendidikan yang diperkaya dengan standar pendidikan/standar kompetensi negara lain yang mempunyai keunggulan dalam bidang ilmu pengetahuan. serta menunjang pelestarian. diterima bekerja pada lembaga internasional atau negara lain. dan pembangunan sumberdaya nasional. c. 76461668. Satuan pendidikan dasar dan menengah bertaraf internasional menghasilkan lulusan yang memiliki kemampuan dan daya saing di forum internasional. teknologi. dan/atau (2) (3) (4) a.doc 79 . dan seni. pengembangan. lulus sertifikasi internasional yang dikeluarkan oleh negara lain yang memiliki keunggulan tertentu dalam bidang ilmu pengetahuan. b. (5)Dalam hal pemerintah kabupaten/kota dan pemerintah provinsi tidak menyelenggarakan satuan pendidikan dasar dan menengah untuk dikembangkan menjadi satuan pendidikan dasar dan menengah yang bertaraf internasional. Pemerintah bersama pemerintah kabupaten/kota dan pemerintah provinsi wajib mendirikannya. Kemampuan dan daya saing lulusan di forum internasional sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditunjukkan dengan: diterima pada satuan pendidikan bertaraf internasional di dalam negeri atau satuan pendidikan di luar negeri yang terakreditasi atau yang diakui di negaranya. dan seni.

teknologi. proses pembelajaran. teknologi. d. teknologi. mampu berperan aktif dan berkomunikasi langsung di forum internasional. c. memperoleh akreditasi A dari lembaga akreditasi dalam negeri. SMK. dan seni sehingga peserta didik memiliki akses untuk mengikuti ujian akhir di negara tersebut. mempunyai pendidik yang memiliki sertifikat pendidik dengan kualifikasi akademik magister (S2) dari perguruan tinggi terakreditasi dalam bidang kependidikan atau bidang studi yang relevan dengan mata pelajaran atau rumpun 76461668. termasuk yang berkaitan dengan kurikulum. g. matematika. melaksanakan proses pembelajaran yang diperkaya dengan model proses pembelajaran di negara lain yang mempunyai keunggulan tertentu dalam bidang ilmu pengetahuan. menerapkan standar kelulusan yang lebih tinggi dari standar kompetensi lulusan. e. melaksanakan kurikulum sesuai standar isi yang diperkaya dengan kurikulum negara lain yang mempunyai keunggulan tertentu dalam bidang ilmu pengetahuan. j. penilaian. menerapkan Sistem Kredit Semester (SKS) untuk SMP. memberlakukan bahasa inggris atau bahasa lain yang sering digunakan dalam forum internasional sekurangkurangnya untuk pembelajaran kelompok mata pelajaran sains. dan seni. f. dan MAK. dan perpustakaan. dan seni.doc 80 . MA. i. h. dan teknologi. SMA.d. sudah beroperasi sekurang-kurangnya 3 tahun sejak didirikan dan telah meluluskan peserta didik. memenuhi standar penilaian yang diperkaya dengan sistem penilaian pendidikan di negara lain yang mempunyai keunggulan tertentu dalam bidang ilmu pengetahuan. MTs. menerapkan sistem administrasi pendidikan berbasis teknologi informasi dan komunikasi. Pasal 127 Satuan pendidikan dasar dan menengah yang dapat dikembangkan menjadi bertaraf internasional harus memenuhi persyaratan sebagai berikut: a. b.

10% untuk SD. bahan habis pakai. sekurang-kurangnya: 1). khusus sarana dan prasarana yang berwujud: 1).MAK. m. 3). telah menempuh pelatihan kepala satuan pendidikan dari lembaga pelatihan yang diakui oleh Pemerintah atau pemerintah daerah. dan 4). seta perlengkapan lain yang diperlukan untuk menunjang proses pembelajaran yang teratur dan berkelanjutan. ruang tata usaha. ruang pendidik. atau yang sederajat. atau guru kelas. tempat berolahraga. sarana pembelajaran dilengkapi dengan fasilitas teknologi 76461668. atau yang sederajat. l. instalasi daya dan jasa. ruang unit produksi.doc 81 . ruang laboratorium. mampu berbahasa Inggris. dan k. n. atau guru bimbingan dan konseling/konselor. ruang bengkel kerja. atau memiliki sertifikat kepala sekolah/madrasah.MA. 30% untuk SMA. 20% untuk SMP. MTs. tempat berkreasi. sekurangkurangnya: 1). atau guru bimbingan dan konseling/konselor. atau guru kelas. ruang perpustakaan. buku dan sumber belajar lainnya. tempat bermain. dan/atau bahasa asing lainnya secara aktif. 3). MI. media pendidikan. memiliki visi internasional. 2). 2). mempunyai prasarana yang sekurang-kurangnya meliputi lahan. ruang pimpinan satuan pendidikan. atau bidang nonkependidikan yang relevan.mata pelajaran yang diampunya. atau bidang nonkependidikan yang relevan. peralatan pendidikan. dan ruang/tempat lain yang diperlukan untuk menunjang proses pembelajaran yang teratur dan berkelanjutan. tempat beribadah. mempunyai sarana yang sekurang-kurangnya meliputi perabot. ruang kantin. atau yang sederajat. memiliki jiwa kepemimpinan dan kewirausahaan. ruang kelas. sederajat. atau yang SMK. memiliki kepala satuan pendidikan yang memiliki sertifikat pendidik dengan kualifikasi akademik magister (S2) dari perguruan tinggi terakreditasi dalam bidang kependidikan atau bidang studi yang relevan dengan mata pelajaran atau rumpun mata pelajaran yang diampunya.

Pemerintah kabupaten/kota menunjuk atau mendirikan sekolah pada jenjang pendidikan dasar dan pendidikan menengah untuk dikembangkan menjadi satuan pendidikan yang berbasis keunggulan lokal. Dalam hal pemerintah kabupaten/kota tidak menyelenggarakan sekolah pada jenjang pendidikan dasar dan 82 (2) (3) (4) (5) 76461668. fasilitas olah raga. o. memenuhi standar pembiayaan dengan menerapkan model pembiayaan yang telah diaudit oleh akuntan publik dengan memperoleh predikat wajar tanpa syarat. dan 2). fasilitas multi media.doc . Pemerintah menunjuk atau mendirikan madrasah pada jenjang pendidikan dasar dan pendidikan menengah untuk dikembangkan menjadi satuan pendidikan yang berbasis keunggulan lokal. dan Bahasa Indonesia. sarana dan prasarana untuk pemeliharaan kesehatan dan pengembangan diri dilengkapi dengan klinik. Pasal 129 (1) Pemerintah dan pemerintah kabupaten/kota menyelenggarakan satuan pendidikan jenjang pendidikan dasar dan pendidikan menengah untuk dikembangkan menjadi satuan pendidikan yang berbasis keunggulan lokal. dan p. Pasal 128 (1) Satuan pendidikan dasar dan menengah bertaraf internasional wajib menggunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa pengantar. perpustakaan dilengkapi dengan sarana teknologi informasi dan komunikasi yang memberikan akses ke sumber pembelajaran di seluruh dunia.informasi dan komunikasi di setiap ruang kelas. sekurang-kurangnya untuk mata pelajaran Pendidikan Agama. Pendidikan Kewarganegaraan. dan ruang unjuk seni budaya. Satuan pendidikan berbasis keunggulan lokal sebagaimana dimaksud ayat (1) merupakan satuan pendidikan yang dikembangkan sesuai dengan keunggulan potensi daerah/karakteristik daerah dan sosial budaya masyarakat setempat.

b.doc (7) menerapkan sistem administrasi pendidikan berbasis 83 . Masyarakat dapat menyelenggarakan satuan pendidikan pada semua jenjang pendidikan untuk dikembangkan menjadi satuan pendidikan yang berbasis keunggulan lokal setelah memperoleh izin dari Pemerintah atau pemerintah kabupaten/kota sesuai kewenangannya. Pasal 130 (1) Satuan pendidikan dasar dan menengah berbasis keunggulan lokal diselenggarakan setelah memenuhi Standar Nasional Pendidikan yang diperkaya dan dikembangkan sesuai dengan potensi daerah/karakteristik daerah dan sosial budaya masyarakat setempat. c. pengembangan.pendidikan menengah untuk dikembangkan menjadi satuan pendidikan berbasis keunggulan lokal. (6) Dalam hal pemerintah kabupaten/kota dan pemerintah provinsi tidak menyelenggarakan satuan pendidikan dasar dan menengah untuk dikembangkan menjadi satuan pendidikan dasar dan menengah berbasis keunggulan lokal. Pasal 131 Satuan pendidikan dasar dan menengah yang dapat dikembangkan menjadi berbasis keunggulan lokal harus memenuhi persyaratan sebagai berikut: a. memperoleh akreditasi dari lembaga akreditasi dalam negeri. pemerintah provinsi bersama pemerintah kabupaten/kota wajib mendirikannya. dan promosi keunggulan lokal. sudah beroperasi sekurang-kurangnya 3 tahun sejak didirikan dan telah meluluskan peserta didik. Pemerintah bersama pemerintah kabupaten/kota dan pemerintah provinsi wajib mendirikannya. 76461668. (2) Satuan pendidikan dasar dan menengah berbasis keunggulan lokal menghasilkan lulusan yang memiliki kemampuan mengolah dan/atau mengembangkan sumber daya lingkungan di daerahnya dan menghasilkan produk yang mempunyai nilai ekonomis serta menunjang pelestarian. (3) Pengembangan potensi daerah/karakteristik daerah dan sosial budaya masyarakat setempat dilakukan melalui cara penyesuaian atau penambahan terhadap unsur-unsur tertentu yang sudah ada atau belum ada dalam Standar Nasional Pendidikan.

terpisah-satu sistem-tidak satu atap. (2) Satuan pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tidak boleh menerima peserta didik warga negara Indonesia. b. dan keluar-masuk (entry-exit). e. dan/atau satuan pendidikan menengah bagi warga negaranya atas persetujuan Pemerintah. g. dan perpustakaan. termasuk yang berkaitan dengan kurikulum. melaksanakan kurikulum sesuai standar isi yang diperkaya sesuai dengan potensi daerah/karakteristik daerah dan sosial budaya masyarakat setempat. menerapkan standar kelulusan dengan keunggulan lokal yang lebih tinggi dari standar kompetensi lulusan. dan h. f. terpisah-beda sistem-tidak satu atap. 76461668. d.teknologi informasi dan komunikasi. mempunyai sarana dan prasarana pendidikan yang memadai dan relevan dalam mendukung terselenggaranya pendidikan berbasis keunggulan lokal. Pasal 132 Satuan pendidikan dasar dan menengah bertaraf internasional atau berbasis keunggulan lokal dapat diselenggarakan dengan model: a. melaksanakan proses pembelajaran dengan memperhatikan potensi daerah/karakteristik daerah dan sosial budaya masyarakat setempat. d. satuan pendidikan dasar. mempunyai pendidik yang memiliki keahlian relevan dengan mata pelajaran keunggulan lokal. proses pembelajaran. BAB IX PENYELENGGARAAN PENDIDIKAN OLEH LEMBAGA NEGARA LAIN DAN KERJASAMA SATUAN PENDIDIKAN INDONESIA DENGAN SATUAN PENDIDIKAN NEGARA LAIN Pasal 133 (1) Perwakilan negara asing di wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia dapat menyelenggarakan satuan pendidikan anak usia dini.doc 84 . c. terpadu-satu sistem-satu atap. penilaian.

Dalam bekerja sama sebagaimana dimaksud pada ayat (2) pendidikan asing wajib mengikutsertakan sekurang-kurangnya 30% (tiga puluh persen) pendidik warga negara Indonesia. Menteri memberikan izin setelah memperoleh (2) (3) (4) (5) (2) (3) (2) 76461668. kepemilikan lembaga asing sebanyak-banyaknya 49% (empat puluh sembilan persen). Satuan pendidikan yang diselenggarakan oleh lembaga pendidikan asing wajib menerapkan sistem penggajian yang tidak diskriminatif bagi warga negara asing maupun warga negara Indonesia.doc 85 .Pasal 134 (1) Lembaga pendidikan asing yang terakreditasi atau yang diakui di negaranya dapat menyelenggarakan pendidikan di wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia sesuai dengan peraturan perundang-undangan. Dalam bekerja sama sebagaimana dimaksud pada ayat (2) pendidikan oleh lembaga pendidikan asing wajib mengikutsertakan sekurang-kurangnya 80% (delapan puluh persen) tenaga kependidikan warga negara Indonesia. Dalam bekerja sama sebagaimana dimaksud pada ayat (2). Pasal 136 (1) Pendidikan yang diselenggarakan oleh lembaga pendidikan asing sebagaimana dimaksud dalam Pasal 134 yang menggunakan sistem pendidikan negara lain yang diselenggarakan di wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia wajib memperoleh izin dari Menteri. Dalam hal penggunaan sistem pendidikan negara lain sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dalam disiplin ilmu agama. Penyelenggaraan pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus bekerja sama dengan lembaga penyelenggara pendidikan Indonesia. Pasal 135 (1) Bahasa pengantar utama pada satuan pendidikan yang diselenggarakan oleh lembaga pendidikan asing adalah bahasa Indonesia. Pendidik dan tenaga kependidikan warga negara asing pada satuan pendidikan yang diselenggarakan oleh lembaga pendidikan asing wajib menguasai bahasa Indonesia dan memahami budaya Indonesia.

86 76461668. Pasal 138 (1) Satuan pendidikan anak usia dini Indonesia dapat menjalin kerja sama akademik dengan satuan pendidikan anak usia dini negara lain. dan bahasa Indonesia kepada peserta didik warga negara Indonesia.doc . (3). b. Pasal 137 (1). penyelenggaraan pertemuan ilmiah bersama. Pendidikan agama sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diajarkan sesuai dengan agama yang dianut peserta didik dan diajarkan oleh pendidik yang seagama. Kerja sama pendidikan anak usia dini sebagaimana dimaksud pada ayat (1) bertujuan untuk meningkatkan mutu program pendidikan anak usia dini. (4) sebagaimana dimaksud (2). d.pertimbangan dari Menteri Agama. Pasal 139 (1) Satuan pendidikan dasar atau satuan pendidikan menengah Indonesia dapat menjalin kerja sama akademik dengan satuan pendidikan sederajat negara lain. pemanfaatan bersama berbagai sumberdaya. Penyelenggaraan pendidikan oleh lembaga asing sebagaimana dimaksud dalam Pasal 134 dan Pasal 136 yang menerima peserta didik warga negara Indonesia wajib memberikan pendidikan agama. pendidikan kewarganegaraan. (2) (3) pertukaran guru dan/atau tenaga kependidikan. dan/atau bentuk-bentuk lain yang dianggap perlu. Kerja sama penyelenggaraan pendidikan anak usia dini sebagaimana yang dimaksud pada ayat (3) pada tingkat Taman Kanak-kanak atau yang sederajat hanya dapat dilakukan oleh penyelenggara satuan pendidikan yang memiliki satuan pendidikan Taman Kanak-kanak atau yang sederajat berakreditasi A. Warga negara Indonesia yang menjadi peserta didik pada satuan pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) wajib mengikuti Ujian Nasional. Kerja sama akademik pada ayat (1) dapat berbentuk: a. c.

penelitian. d. dan/atau c. menyelenggarakan pendidikan menengah bertaraf internasional. (3) dasar atau pendidikan Kerja sama akademik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat berbentuk: a. Kerja sama perguruan tinggi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) bertujuan untuk: b. i. dan memperluas jaringan kemitraan untuk kepentingan perguruan tinggi. memperluas pengabdian kepada masyarakat oleh perguruan tinggi. pemanfaatan bersama berbagai sumberdaya. pemagangan khusus pendidikan menengah kejuruan. meningkatkan pembinaan dan/atau pelaksanaan program pendidikan tinggi. c. program kembaran. g.doc 87 . (4) Kerja sama satuan pendidikan dasar atau pendidikan menengah sebagaimana yang dimaksud pada ayat (3) hanya dapat dilakukan oleh satuan pendidikan dasar atau pendidikan menengah berakreditasi A. meningkatkan mutu penyelenggaraan pendidikan dasar atau pendidikan menengah. dan/atau b. Pasal 140 (3) (4) Perguruan tinggi Indonesia dapat menjalin kerja sama akademik dan/atau non-akademik dengan perguruan tinggi negara lain. penyelenggaraan seminar bersama. menyelenggarakan internasional. b. h. pertukaran guru dan/atau tenaga kependidikan. pendidikan tinggi bertaraf 76461668. program pemindahan dan perolehan kredit. pertukaran peserta didik.(2) Kerja sama untuk: sebagaimana dimaksud pada ayat (1) bertujuan a. f. e. memperluas jaringan kemitraan untuk kepentingan satuan pendidikan. dan/atau bentuk-bentuk lain yang dianggap perlu.

penelitian. pendayagunaan aset. penyelenggaraan seminar bersama. pemagangan. dan/atau bentuk-bentuk lain yang dianggap perlu. Program studi dari perguruan tinggi di luar negeri yang bekerja sama dengan program studi di Indonesia sebagaimana yang dimaksud pada ayat (5) harus terakreditasi atau diakui di negaranya dan terdaftar di Departemen. program kembaran. e. jasa dan royalti hak atas kekayaan intelektual. b. d. dan/atau d. i. g. c. pemanfaatan bersama berbagai sumberdaya. Kerja sama akademik dengan perguruan tinggi di luar negeri sebagaimana dimaksud pada ayat (3) huruf b sampai dengan huruf j hanya dapat dilaksanakan oleh program studi di Indonesia yang terakreditasi A. (5) (6) (7) (8) Kerja sama non-akademik sebagaimana yang dimaksud pada ayat (1) dapat dilakukan oleh setiap perguruan tinggi yang sudah memiliki izin pendirian dari Departemen. penerbitan jurnal ilmiah. Kerja sama non-akademik sebagaimana yang dimaksud pada ayat (1) dapat berbentuk: a. 76461668. kontrak manajemen. program pemindahan dan perolehan kredit. (4) Kerja sama pendidikan tinggi sebagaimana yang dimaksud pada ayat (3) hanya dapat dilakukan oleh perguruan tinggi di Indonesia yang lebih dari 60% (enam puluh persen) program studinya berakreditasi A. usaha penggalangan dana. j.doc 88 . pertukaran dosen dan/atau mahasiswa. pengabdian kepada masyarakat. b.(3) Kerja sama akademik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat berbentuk: a. c. f. h.

139. kecerdasan. 138. dan kecepatan belajar. b. dan 141 selama tidak bertentangan dengan tujuan pendidikan nasional. serta kebutuhan khususnya. mendapatkan pendidikan agama sesuai dengan agama yang dianutnya dan diajarkan oleh pendidik yang seagama. c. memperoleh bantuan fasilitas belajar atau bantuan lain sesuai dengan persyaratan dan ketentuan yang berlaku. Pasal 143 Pemerintah secara teratur mengadakan evaluasi dan pengawasan terhadap semua bentuk pelayanan pendidikan yang melibatkan partisipasi asing. memperoleh layanan pendidikan sesuai dengan bakat. (2) (3) (2) BAB X HAK DAN KEWAJIBAN PESERTA DIDIK Pasal 144 (1)Peserta didik mempunyai hak: a. Ketentuan lebih lanjut mengenai pelaksanaan berbagai bentuk kerja sama pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur lebih lanjut dengan Peraturan Menteri. 76461668. 140. Kerja sama satuan pendidikan nonformal sebagaimana dimaksud pada ayat (1) bertujuan untuk meningkatkan mutu pendidikan dan/atau memperluas jaringan kemitraan untuk kepentingan satuan pendidikan nonformal.doc 89 .Pasal 141 (1) Satuan pendidikan nonformal Indonesia dapat menjalin kerja sama akademik dan/atau non-akademik dengan lembaga pendidikan dari negara lain. Kerja sama sebagaimana yang dimaksud pada ayat (1) hanya dapat dilakukan oleh satuan pendidikan nonformal yang memiliki izin sesuai peraturan perundang-undangan dan terakreditasi. Pasal 142 (1) Pemerintah mengakui bentuk-bentuk kerja sama sebagaimana dimaksud dalam Pasal 134. kemampuan. minat.

peserta didik di perguruan tinggi berhak: h. b. pindah ke jalur atau satuan pendidikan lain yang sederajat atau melanjutkan ke satuan pendidikan yang lebih tinggi. (2)Selain hak peserta didik sebagaimana dimaksud pada ayat (1). memperoleh bantuan fasilitas belajar. peserta didik pada pendidikan khusus berhak: a. g. mengikuti pendidikan di luar batas usia yang berlaku bagi peserta didik biasa.doc . dan 90 76461668. dan/atau masyarakat bagi mereka yang berprestasi dan/atau orang tuanya tidak mampu membiayai pendidikan. Pemerintah Provinsi. dan h. menyelesaikan program pendidikan layanan khusus lebih cepat atau lebih lambat dari waktu yang ditentukan. memperoleh kemudahan dari pihak terkait untuk menggunakan sarana dan prasarana fisik dan nonfisik untuk menunjang kelancaran pembelajaran. mendapatkan beasiswa atau biaya pendidikan dari Pemerintah. atau bantuan lain sesuai dengan kemampuan Pemerintah. mendapatkan jaminan kelangsungan pendidikan. menggunakan kebebasan akademik secara bertanggung jawab untuk menuntut ilmu dan mengkaji ilmu sesuai dengan norma dan etika yang berlaku dalam lingkungan akademik. (3)Selain hak peserta didik sebagaimana dimaksud pada ayat (1). Pemerintah Kabupaten/Kota serta masyarakat. ikut serta dalam kegiatan organisasi peserta didik di satuan pendidikan yang bersangkutan.d. peserta didik pada pendidikan layanan khusus berhak: a. Pasal 145 (1) Selain hak peserta didik sebagaimana dimaksud dalam Pasal 144 ayat (1). dan c. e. menyelesaikan program pendidikan lebih cepat atau lebih lambat dari waktu yang ditentukan. f. memperoleh jaminan hukum yang sama seperti peserta didik pada umumnya. memperoleh layanan informasi yang berkaitan dengan proses pembelajaran yang diikuti termasuk hasil belajar. c. pemerintah daerah. b.

mengikuti proses pembelajaran dengan menjunjung tinggi norma dan etika akademik. ikut menjaga dan memelihara sarana dan prasarana. bangsa. (2) Kewajiban sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan dengan bimbingan dan keteladanan pendidik dan tenaga kependidikan. menjaga kewibawaan dan nama baik satuan pendidikan yang bersangkutan. menjalankan ibadah sesuai agama yang dianutnya. dan negara. mematuhi semua peraturan yang berlaku. g. memelihara kerukunan dan kedamaian untuk mewujudkan harmoni sosial di antara sesama. b. masyarakat.doc 91 . h.i. kecuali yang dibebaskan dari kewajiban. dan keamanan sekolah. Pasal 146 (1) Peserta didik berkewajiban menjaga ketentuan sebagai berikut: a. serta pembiasaan peserta didik. (2)Pelaksanaan ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur oleh perguruan tinggi yang bersangkutan. ikut menanggung biaya penyelenggaraan pendidikan. c. d. e. menghormati pendidik dan tenaga kependidikan. i. mencintai lingkungan. kebersihan. (3) Keterlibatan mahasiswa dalam organisasi di luar perguruan tingginya merupakan tanggung jawab perseorangan yang bersangkutan. mengambil mata kuliah di luar program studi baik di dalam maupun di luar perguruan tinggi yang bersangkutan dan perolehan kreditnya dapat diperhitungkan dalam penyelesaian studi sesuai dengan peraturan akademik yang ditetapkan. mencintai keluarga. dan j. ketertiban. (4) Kegiatan mahasiswa dalam organisasi sebagaimana dimaksud pada ayat (3) tidak boleh mengatasnamakan perguruan tingginya. (3) Pelaksanaan ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan 76461668. f. serta menyayangi sesama.

dan pendidikan tinggi. konselor bertugas dan bertanggung jawab memberikan layanan konseling kepada peserta didik di satuan pendidikan pada jenjang pendidikan dasar. guru bertugas dan bertanggung jawab sebagai pendidik profesional dengan tugas utama mendidik. e. penitipan anak dan bentuk lain yang sejenis. pamong bertugas dan bertanggung jawab membimbing dan melatih anak usia dini pada kelompok bermain. mengajar. dan sebutan lain yang sesuai dengan kekhususanya. mengajar. pamong belajar. tutor. dan seni melalui pendidikan. dosen. melatih.doc 92 . dan pendidikan menengah. pamong belajar bertugas dan bertanggung jawab menyuluh. dan Tanggung Jawab Pasal 147 (1) Pendidik mencakup guru. 76461668. (2) Pendidik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) mempunyai tugas dan tanggung jawab sebagai berikut: a. dan pengelolaan pembelajaran pada jalur pendidikan nonformal. dan mengembangkan: model program pembelajaran. melatih peserta didik. mengembangkan. fasilitator. menilai. konselor. mengarahkan. dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal. widyaiswara. membimbing. teknologi. b. alat pembelajaran. dan menyebarluaskan ilmu pengetahuan. BAB XI PENDIDIK DAN TENAGA KEPENDIDIKAN Bagian Kesatu Jenis. serta berpartisipasi dalam menyelenggarakan pendidikan. pendidikan menengah. pendidikan dasar. instruktur. d. yang berfungsi sebagai agen pembelajaran peserta didik. penelitian. dosen bertugas dan bertanggung jawab sebagai pendidik profesional dan ilmuwan dengan tugas utama mentransformasikan. dan pengabdian kepada masyarakat. membimbing. pamong. c.ayat (2) serta sanksi atas pelanggarannya diatur oleh satuan pendidikan yang bersangkutan. Tugas.

fasilitator bertugas dan bertanggung jawab memberikan pelayanan pembelajaran pada lembaga pendidikan dan pelatihan. 93 . tenaga perpustakaan. h. penilik satuan pendidikan nonformal. c. terapis. mengajar dan melatih peserta didik pada program pendidikan dan pelatihan prajabatan dan/atau dalam jabatan yang diselenggarakan oleh Pemerintah dan/atau pemerintah daerah.doc (2). tutor bertugas dan bertanggung jawab memberikan bantuan belajar kepada peserta didik dalam proses pembelajaran jarak jauh dan/atau pembelajaran tatap muka pada satuan pendidikan jalur formal dan nonformal. dan sebutan lain untuk petugas sejenis yang bekerja pada satuan pendidikan.f. psikolog. g. tenaga lapangan pendidikan. b. penilik bertugas dan bertanggung jawab melakukan pemantauan. Pasal 149 (1). Pasal 148. (1). dan i. tenaga administrasi. (2). tenaga laboratorium. pekerja sosial. Kualifikasi akademik dan sertifikat pendidik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) bagi guru dan dosen diatur dalam Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen. instruktur bertugas dan bertanggung jawab memberikan pelatihan teknis kepada peserta didik pada kursus dan/atau pelatihan. widyaiswara bertugas dan bertanggung jawab mendidik. Tenaga kependidikan mencakup pimpinan satuan pendidikan. teknisi sumber belajar. Pendidik harus memiliki kualifikasi akademik dan sertifikat pendidik. dan pembinaan pada satuan pendidikan nonformal. penilaian. pengawas bertugas dan bertanggung jawab melakukan 76461668. pengawas satuan pendidikan formal. Tenaga kependidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) mempunyai tugas dan tanggung jawab sebagai berikut: a. pimpinan satuan pendidikan bertugas dan bertanggung jawab mengelola satuan pendidikan pada pendidikan formal atau nonformal. tenaga kebersihan sekolah.

tenaga kebersihan sekolah bertugas dan bertanggung jawab memberikan layanan kebersihan lingkungan sekolah. tenaga laboratorium bertugas dan bertanggung jawab membantu pendidik mengelola kegiatan praktikum di laboratorium satuan pendidikan. pekerja sosial bertugas dan bertanggung jawab memberikan layanan bantuan sosiologis-pedagogis kepada peserta didik dan pendidik pada pendidikan khusus dan pendidikan anak usia dini. f. psikolog bertugas dan bertanggung jawab memberikan layanan bantuan psikologis-pedagogis kepada peserta didik dan pendidik pada pendidikan khusus dan pendidikan anak usia dini. memperbaiki sarana dan prasarana pembelajaran pada satuan pendidikan. d. 76461668. dan pembinaan pada satuan pendidikan anak usia dini jalur formal. pembimbingan. h. dan pelaporan pelaksanaan pendidikan nonformal. penilaian. dan pendidikan menengah. j. teknisi sumber belajar bertugas dan bertanggung jawab mempersiapkan. dan l. terapis bertugas dan bertanggung jawab memberikan layanan bantuan fisiologis-kinesiologis kepada peserta didik pada pendidikan khusus dan pendidikan anak usia dini. k. tenaga administrasi bertugas dan bertanggung jawab menyelenggarakan pelayanan administratif pada satuan pendidikan. i. pemantauan. g. tenaga perpustakaan bertugas dan bertanggung jawab melaksanakan pengelolaan perpustakaan pada satuan pendidikan. tenaga lapangan pendidikan bertugas dan bertanggung jawab melakukan pendataan. merawat.doc 94 . e. satuan pendidikan dasar.pemantauan.

penempatan. 95 (2).doc . Pengangkatan. Penempatan. pemindahan. (3). Pemerintah merencanakan kebutuhan pendidik dan tenaga kependidikan yang memenuhi Standar Nasional Pendidikan pada satuan pendidikan secara nasional. (3). pemindahan. (4). 76461668. Pemerintah dan pemerintah daerah memfasilitasi penyediaan pendidik dan tenaga kependidikan sesuai perencanaan kebutuhan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dan ayat (3) untuk menjamin pelayanan pendidikan yang bermutu. Pengangkatan. dan pemberhentian pendidik dan tenaga kependidikan pada satuan pendidikan yang diselenggarakan oleh Pemerintah atau pemerintah daerah dilaksanakan berdasarkan peraturan perundang-undangan.Bagian Kedua Pengangkatan. penempatan. Pasal 151 (1). dan pemberhentian pendidik dan tenaga kependidikan pada satuan pendidikan yang diselenggarakan oleh masyarakat dilakukan oleh badan hukum pendidikan berdasarkan perjanjian kerja atau kesepakatan kerja bersama. (2). Pengangkatan. dan pemberhentian pendidik dan tenaga kependidikan oleh Pemerintah dan pemerintah daerah dilaksanakan dalam rangka pemerataan dan/atau penjaminan mutu pendidikan. Pemerintah daerah merencanakan kebutuhan pendidik dan tenaga kependidikan yang memenuhi Standar Nasional Pendidikan atas dasar persyaratan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan rencana kebutuhan pendidik dan tenaga kependidikan nasional sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dan kebutuhan pendidik dan tenaga kependidikan daerah masingmasing. Pemindahan. dan Pemberhentian Pasal 150 (1). Pemerintah menetapkan persyaratan pendidik dan tenaga kependidikan yang memenuhi Standar Nasional Pendidikan. pemindahan. penempatan.

doc 96 . dan/atau bentuk promosi lainnya. 76461668. Pembinaan karir tenaga kependidikan dilaksanakan dalam bentuk peningkatan kualifikasi akademik dan/atau kompetensi manajerial dan/atau teknis sebagai tenaga kependidikan dengan mengacu pada Standar Nasional Pendidikan. Paragraf 2 Promosi dan Penghargaan Pasal 153 (3). pola Pemerintah dan/atau pemerintah daerah wajib melakukan pembinaan karir pendidik dan tenaga kependidikan sesuai dengan pola pembinaan karir sebagaimana dimaksud pada ayat (1). (2). Badan hukum pendidikan masyarakat wajib melakukan pembinaan karir pendidik dan tenaga kependidikan pada satuan pendidikan yang diselenggarakannya sesuai dengan pola pembinaan karir sebagaimana dimaksud pada ayat (1). (5). (3). (2). masa kerja berdasarkan kompetensi yang dimiliki. Pemerintah mengembangkan dan menetapkan pembinaan karir pendidik dan tenaga kependidikan. Promosi bagi pendidik dan tenaga kependidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diberikan dalam bentuk kenaikan pangkat/golongan. Promosi.Bagian Ketiga Pembinaan Karir. Pendidik dan tenaga kependidikan dipromosikan atas dasar prestasi kerja. dan Penghargaan Paragraf 1 Pembinaan Karir Pasal 152 (1). dan/atau penghargaan. Promosi bagi pendidik dan tenaga kependidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dilaksanakan sesuai dengan peraturan perundang-undangan. (4). (1). kenaikan jabatan. Pembinaan karir pendidik dilaksanakan dalam bentuk peningkatan kualifikasi akademik dan/atau kompetensi sebagai agen pembelajaran dengan mengacu pada Standar Nasional Pendidikan.

atau seni. b. daerah perbatasan. Pasal 154 (1) Penghargaan diberikan: kepada pendidik dan tenaga kependidikan a.doc 97 . pada tingkat provinsi oleh Pemerintah Provinsi. pada tingkat Kabupaten/Kota.(4). daerah bencana. dengan memperhatikan peraturan perundang-undangan. (2) Penghargaan kepada pendidik dan tenaga kependidikan dapat diberikan oleh masyarakat dan organisasi profesi pada tingkat internasional. (2) Pemerintah dan pemerintah daerah memberikan penghargaan kepada pendidik dan/atau tenaga kependidikan yang dinilai berprestasi dan berdedikasi luar biasa. kabupaten/kota oleh Pemerintah d. (3) Pemerintah memberikan penghargaan kepada pendidik yang berhasil menulis buku teks bahan belajar dan/atau menemukan teknologi pembelajaran baru yang dinilai bermutu tinggi. teknologi. pada tingkat nasional oleh Pemerintah. kabupaten/kota. propinsi. Pasal 155 (1) Pemerintah dan pemerintah daerah memberikan penghargaan kepada pendidik dan/atau tenaga kependidikan teladan yang bertugas di daerah terpencil. pada tingkat desa oleh pemerintah desa. dan/atau tingkat satuan pendidikan. nasional. daerah konflik. pada tingkat satuan pendidikan oleh satuan pendidikan. dan e. daerah tertinggal atau daerah bermasalah lainnya. (4) Pemerintah memberikan penghargaan kepada pendidik yang hasil penelitiannya memberikan kontribusi terhadap perluasan dan pendalaman kandungan atau penerapan ilmu. (5) Pendidik atau tenaga kependidikan yang gugur dalam melaksanakan tugas memperoleh penghargaan dari Pemerintah dan/atau pemerintah daerah dan/atau penyelenggara satuan 76461668. Promosi bagi pendidik dan tenaga kependidikan yang berkedudukan sebagai pegawai lembaga pendidikan yang dikelola oleh masyarakat dan berstatus bukan pegawai negeri sipil dilaksanakan sesuai dengan ketentuan peraturan yang ditetapkan oleh badan hukum pendidikan yang bersangkutan. c.

dilarang menjual buku pelajaran. pakaian seragam atau bahan pakaian seragam di satuan pendidikan. ayat (3).pendidikan sesuai peraturan perundang-undangan. dan ayat (4) diberikan pada Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia. ayat (3). (3) Pendidik dan tenaga kependidikan. atau bentuk penghargaan lainnya yang dilaksanakan sesuai dengan peraturan perundang-undangan. (7) Penghargaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1). Pemerintah atau pemerintah daerah memberi penghargaan kepada pendidik dan/atau tenaga kependidikan yang dinilai berprestasi. kenaikan pangkat bagi yang menemukan penemuan baru yang bermanfaat bagi negara. Pasal 156 (1). dan berjasa luar biasa dalam pendidikan. ayat (2). baik perseorangan maupun kolektif. baik perseorangan maupun kolektif.doc (2). kenaikan pangkat berdasarkan prestasi kerja luar biasa baiknya. Pendidik dan/atau tenaga kependidikan dapat menerima penghargaan dari pihak asing sepanjang tidak bertentangan dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. ayat (2). Hari Pendidikan Nasional. dan b. baik perseorangan maupun kolektif dilarang memberikan bimbingan belajar atau les kepada peserta didiknya dengan memungut biaya. Hari Guru Nasional. piagam. Masyarakat dapat memberi penghargaan kepada pendidik dan/atau tenaga kependidikan yang dinilai berprestasi. dan berjasa luar biasa dalam pendidikan. Bagian Keempat Larangan Pasal 157 (1) Pendidik dan tenaga kependidikan. kecuali melalui koperasi satuan pendidikan yang: a. (2) Pendidik dan tenaga kependidikan. kenaikan pangkat setingkat lebih tinggi. tidak mewajibkan peserta didik untuk membelinya. (3). harganya lebih murah dari harga di pasaran. (6) Penghargaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1). 98 . berdedikasi. berdedikasi. dilarang melakukan pungutan kepada peserta didik baik secara langsung maupun tidak langsung yang bertentangan 76461668. atau hari besar lainnya. dan ayat (5) dapat diberikan dalam bentuk tanda jasa. ayat (4).

jumlah dan kualifikasi pendidik dan tenaga kependidikan. dilarang menjadi tim sukses salah satu kontestan pemilihan umum pemilihan kepala daerah dan/atau pemilihan kepala desa.sumber pembiayaan untuk kelangsungan program pendidikan sekurang-kurangnya untuk 1 (satu) tahun akademik berikutnya. d. 76461668. keuangan.doc 99 . perimbangan antara jumlah satuan pendidikan dengan penduduk usia satuan pendidikan di wilayah tersebut. dan e. manajemen dan proses pendidikan. c. baik perseorangan maupun kolektif. b.dengan peraturan perundang-undangan. c. sarana dan prasarana yang memungkinkan terselenggaranya kegiatan pembelajaran. sosial. hasil studi kelayakan tentang prospek pendirian satuan pendidikan dari segi prospek pendaftar. (3) Syarat manajemen dan proses pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf e mencakup: a. hasil studi kelayakan tentang prospek pendirian satuan pendidikan dari segi tata ruang. (5) Pendidik dan tenaga kependidikan. b. BAB XII PENDIRIAN SATUAN PENDIDIKAN Pasal 158 (1)Syarat-syarat untuk memperoleh izin pendirian satuan pendidikan meliputi: a. (4) Pendidik dan tenaga kependidikan. isi pendidikan/kurikulum. (2) Syarat-syarat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berpedoman pada Standar Nasional Pendidikan. dan budaya. baik perseorangan maupun kolektif. dan ekologis. dilarang melakukan segala sesuatu baik secara langsung maupun tidak langsung yang menciderai integritas evaluasi hasil belajar peserta didik. geografis.

menyebarluaskan. dan e. memproduksi. jarak satuan pendidikan yang diusulkan di tengah klaster satuan pendidikan sejenis. 76461668. program-program studi yang diselenggarakan secara khas terkait dengan tugas dan fungsi departemen atau lembaga pemerintah nondepartemen yang bersangkutan. dan melaksanakan pendidikan jarak jauh. pendirian satuan pendidikan khusus bagi peserta didik berkelainan harus menyediakan sarana dan prasarana pendidikan khusus yang memungkinkan terselenggaranya kegiatan pembelajaran bagi peserta didik berkelainan. undang-undang sektor terkait yang menyatakan perlu adanya pendidikan sebagaimana dimaksud dalam huruf a. tutorial. sumberdaya manusia untuk merancang. akses khusus pada jaringan informasi dan komunikasi untuk melaksanakan layanan bahan ajar. b. c.d. menyusun. (2) Ketentuan lebih lanjut mengenai persyaratan dan program studi pada perguruan tinggi yang diselenggarakan oleh departemen lain atau lembaga pemerintah nondepartemen sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dengan Peraturan Menteri. pustaka. dan b. pendirian perguruan tinggi yang diselenggarakan oleh departemen lain atau lembaga pemerintah nondepartemen. Pasal 160 (1) Selain memenuhi persyaratan pendirian satuan pendidikan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 158. kapasitas daya tampung dan lingkup jangkauan satuan pendidikan yang ada. dan ujian secara elektronik. Selain memenuhi persyaratan pendirian satuan pendidikan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 158. dukungan sistem operasional pendidikan jarak jauh serta jaringan kerja sama dengan pihak terkait. Pasal 159 Selain memenuhi persyaratan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 158. Pasal 161 (1).doc 100 . pendirian satuan pendidikan jarak jauh harus memiliki: a. harus memenuhi persyaratan: a.

jenjang.d. (2) Izin pendirian RA. MTs. MA. BAB XIII PENDIDIKAN LINTAS SATUAN DAN JALUR PENDIDIKAN Pasal 164 76461668. MAK sebagaimana dimaksud pada ayat (1). MA. satuan pendidikan khusus. atau satuan pendidikan lain yang berada dalam pembinaan departemen yang menangani urusan pemerintahan di bidang agama dikeluarkan oleh Pemerintah Kabupaten/Kota setelah mendapat rekomendasi persetujuan dari kantor departemen agama kabupaten/kota. RA. atau bentuk lain yang sederajat. MI. Pasal 163 (1) Pendirian satuan pendidikan memperoleh izin dari Menteri. MAK. dan jenis pendidikan wajib memperoleh izin dari Menteri. oleh lembaga asing wajib (2) Pendirian satuan pendidikan nonformal yang diselenggarakan oleh lembaga asing hanya diberikan di ibukota provinsi. (2). SMP. dan satuan pendidikan nonformal wajib memperoleh izin dari Pemerintah Kabupaten/Kota. e. SMA. Ketentuan lebih lanjut mengenai persyaratan pendirian satuan pendidikan jarak jauh sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dengan Peraturan Menteri.doc 101 . MI. (3)Ketentuan lebih lanjut tentang pendirian satuan pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan (2) diatur dengan Peraturan Menteri. MTs. akses ke sarana dan prasarana untuk kegiatan tutorial. atau bentuk lain yang sederajat. dan f. (4) Pendirian perguruan tinggi dan/atau program pendidikan jarak jauh pada semua jalur. proyeksi ketersediaan calon peserta didik untuk setiap program studi. SD. SMK. unsur penunjang untuk melaksanakan proses manajerial pendidikan jarak jauh. atau bentuk lain yang sederajat. Pasal 162 (1) Pendirian TK. (3)Pendirian satuan pendidikan Indonesia di luar negeri diatur oleh Menteri.

doc .Peserta didik dapat belajar atau mengambil program-program pendidikan pada jenis dan jalur pendidikan yang berbeda secara terpadu dan berkelanjutan melalui pembelajaran tatap muka atau jarak jauh dengan fleksibilitas pilihan dan waktu penyelesaian program lintas satuan dan jalur pendidikan. Ketentuan lebih lanjut tentang pindah satuan atau program pendidikan atau pengambilan program atau mata pelajaran sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) diatur dengan peraturama Menteri. b. SMA/MA. (4) (5) Pasal 166 (1) Peserta didik suatu program studi pada perguruan tinggi tertentu dapat mengambil mata kuliah pada program studi yang sama atau berbeda pada perguruan tinggi yang sama atau perguruan tinggi lain yang terakreditasi. atau bentuk lain yang sederajat dapat: a. pindah satuan atau program pendidikan. SMK/MAK. atau mengambil program atau mata pelajaran pada jenis dan/atau jalur pendidikan yang sama atau berbeda sesuai dengan persyaratan akademik satuan pendidikan penerima. Peserta didik nonformal dan informal dapat: a. 102 76461668. pindah ke satuan atau program pendidikan. SMPLB. TKLB. SMALB. Pasal 165 (1) Peserta didik TK/RA. Satuan pendidikan umum yang menerima peserta didik dari satuan pendidikan khusus bagi peserta didik berkelainan Pemerintah dan pemerintah daerah harus menyediakan guru pembimbing khusus serta sarana dan prasarana pendidikan khusus yang memungkinkan terselenggaranya kegiatan pembelajaran bagi peserta didik berkelainan. SDLB. b. SMP/MTs. (2) (3) Perpindahan satuan atau program pendidikan atau pengambilan program atau mata pelajaran sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat dilakukan melalui tes penempatan yang diselenggarakan oleh satuan pendidikan yang dituju. SD/MI. atau mengambil program atau mata pelajaran pada jenis dan/atau jalur pendidikan yang sama atau berbeda sesuai dengan persyaratan akademik satuan pendidikan penerima.

Satuan kredit semester (sks) yang diperoleh peserta didik atau lulusan program studi tertentu dapat ditransfer untuk memenuhi persyaratan beban sks program studi lain. Bagian Kedua Komponen Peranserta Masyarakat Pasal 168 (1) Peranserta masyarakat dalam pendidikan meliputi peranserta perseorangan. pelaksana. ayat (3). ayat (2). Ketentuan lebih lanjut mengenai ayat (1). organisasi profesi.doc . kelompok.(2) Peserta didik suatu program studi pada perguruan tinggi tertentu dapat pindah program studi yang sama atau berbeda pada perguruan tinggi yang sama atau perguruan tinggi lain yang terakreditasi sesuai persyaratan akademik program studi penerima. (3) (4) (5) BAB XIV PERANSERTA MASYARAKAT Bagian Kesatu Fungsi Pasal 167 Peranserta masyarakat dalam pendidikan berfungsi meningkatkan kualitas penyelenggaraan pendidikan dan pengendalian mutu pelayanan pendidikan dalam rangka mencapai tujuan pendidikan nasional. Peranserta masyarakat dalam penyelenggaraan 103 (2) (3) 76461668. dan pengguna hasil pendidikan. dan ayat (4) diatur oleh masing-masing perguruan tinggi. Kompetensi yang diperoleh peserta didik dari suatu satuan atau program pendidikan nonformal terakreditasi dapat diperhitungkan untuk memenuhi sks program studi yang diambil. pengusaha. Peranserta masyarakat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat berupa sumber. dan organisasi kemasyarakatan dalam penyelenggaraan dan pengendalian mutu pelayanan pendidikan. keluarga.

Pasal 169 c. Peranserta pengusaha sebagai sumber pendidikan dapat berupa penyediaan fasilitas sarana dan prasarana pendidikan. dan evaluasi program pendidikan yang dilaksanakan melalui: a. Peranserta organisasi kemasyarakatan sebagai sumber pendidikan dapat berupa pemberian beasiswa kepada peserta didik. jenjang. majelis wali amanah pada jalur pendidikan formal jenjang pendidikan tinggi. dana. sumbangan dana. (2) (3) (4) Pasal 170 76461668. kelompok. pemberian beasiswa kepada peserta didik. (1) Peranserta perseorangan. b. dan narasumber dalam penyelenggaraan pendidikan formal maupun nonformal secara terus menerus maupun sesekali waktu.doc 104 . dan keluarga sebagai sumber pendidikan dapat berupa kontribusi pendidik dan tenaga kependidikan. (4) (1) berupa Peranserta masyarakat dalam pengendalian mutu pelayanan pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) mencakup partisipasi dalam perencanaan. pengawasan. d. sarana dan prasarana dalam penyelenggaraan pendidikan dan pengendalian mutu pelayanan pendidikan kepada satuan pendidikan baik formal maupun nonformal.pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat penyelenggaraan pendidikan berbasis masyarakat. dewan pendidikan tingkat nasional untuk semua jalur. dan jenis pendidikan. Peranserta organisasi profesi sebagai sumber pendidikan dapat berupa penyediaan tenaga ahli dalam bidangnya dan narasumber dalam penyelenggaraan pendidikan formal maupun nonformal. dewan pendidikan tingkat provinsi dan kabupaten/kota dan komite sekolah/madrasah atau nama lain yang sejenis pada jalur pendidikan formal jenjang pendidikan dasar dan menengah serta pada pendidikan anak usia dini. dan dewan pendidikan tingkat provinsi dan kabupaten/kota dan komite pendidikan nonformal pada jalur pendidikan nonformal. dan narasumber dalam penyelenggaraan pendidikan formal maupun nonformal.

kelompok. dan pendanaan satuan pendidikan formal dan nonformal dengan kekhasan agama. Pasal 171 (2) (3) (4) (1) Peranserta pengusaha sebagai pengguna hasil pendidikan dapat berupa kerja sama pengusaha dengan satuan pendidikan dalam penyediaan lapangan kerja bagi para lulusan. Peranserta organisasi kemasyarakatan sebagai pelaksana pendidikan dapat berupa penyelenggaraan.(1) Peranserta perseorangan. pemanfaatan hasil penelitian dan pengembangan dari satuan pendidikan tinggi. dan kerja sama pengembangan jaringan informasi kebutuhan dunia usaha dan dunia industri. Masyarakat berhak menyelenggarakan pendidikan formal dan nonformal sesuai dengan kekhasan agama. manajemen. Pengusaha atau perusahaan dapat menyelenggarakan program riset dan pengembangannya bekerja sama dengan perguruan tinggi di perusahaannya atau di perguruan tinggi yang bersangkutan. evaluasi. dan budaya untuk kepentingan masyarakat. pendidikan sistem ganda. pengelolaan. dan/atau kerja sama produksi dengan satuan pendidikan sebagai institusi pasangan.doc (2) 105 . pengawasan. Peranserta pengusaha sebagai pelaksana pendidikan dapat berupa pelaksanaan sistem magang. Pasal 173 Kurikulum. atau keluarga sebagai pelaksana pendidikan dapat berupa partisipasi dalam pengelolaan pendidikan. Peranserta organisasi profesi sebagai pelaksana pendidikan dapat berupa pembentukan lembaga evaluasi dan/atau lembaga akreditasi mandiri. lingkungan sosialekonomi. (2) Bagian Ketiga Pendidikan Berbasis Masyarakat Pasal 172 (1) Pendidikan berbasis masyarakat dilaksanakan pada satuan pendidikan formal dan nonformal yang diselenggarakan oleh masyarakat pada semua jenjang dan jenis pendidikan. dan pembinaan satuan pendidikan. dan budaya dikembangkan oleh satuan pendidikan 76461668. lingkungan sosioekonomi.

dukungan tenaga. dan sumberdaya lainnya secara adil dan merata sebagaimana dimaksud pada ayat (1) adalah perlakuan yang sama dari Pemerintah dan/atau pemerintah daerah pada satuan-satuan pendidikan dan daerahdaerah yang membutuhkan bantuan tersebut sesuai kemampuan Pemerintah dan pemerintah daerah . dalam proses perencanaan. dan/atau bantuan asing. Pasal 176 76461668.doc (2) (3) 106 . dan evaluasi hasil pendidikan di tingkat kabupaten/kota. Pasal 174 (1) Lembaga pendidikan berbasis masyarakat pada jalur pendidikan formal dan nonformal dapat memperoleh bantuan teknis. subsidi dana. sarana dan prasarana serta pengawasan kepada gubernur. (2) (3) Bagian Keempat Dewan Pendidikan Pasal 175 (1) Dewan Pendidikan Nasional berperan dalam peningkatan mutu pelayanan pendidikan dengan memberikan pertimbangan dan arahan. dan evaluasi hasil pendidikan di tingkat nasional. Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara bantuan teknis. dan evaluasi hasil pendidikan di tingkat provinsi. dan sumberdaya lainnya sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dengan Peraturan Menteri. penyelenggaraan. dukungan tenaga.sesuai dengan kekhasan masing-masing dengan mengacu pada Standar Nasional Pendidikan. penyelenggaraan. Bantuan teknis. subsidi dana. Dewan Pendidikan Kabupaten/kota berperan dalam peningkatan mutu pelayanan pendidikan dengan memberikan pertimbangan dan arahan. penyelenggaraan. dalam proses perencanaan. sarana dan prasarana serta pengawasan kepada Menteri. dukungan tenaga. dan sumberdaya lain secara adil dan merata dari Pemerintah. subsidi dana. Dewan Pendidikan Provinsi berperan dalam peningkatan mutu pelayanan pendidikan dengan memberikan pertimbangan dan arahan. dalam proses perencanaan. sarana dan prasarana serta pengawasan kepada bupati/walikota.

Pasal 177 (2) (1) (2) Dewan pendidikan dibentuk provinsi.doc (2) (3) melakukan perbuatan pidana kejahatan.(1) Dewan pendidikan harus peka dalam memperhatikan keluhan. kepala satuan pendidikan. dan/atau pihak-pihak yang dibutuhkan dalam rangka mengupayakan peningkatan mutu layanan pendidikan. Dewan Pendidikan Provinsi. (3) (4) Pasal 178 (1) Keanggotaan dewan pendidikan berasal dari pakar pendidikan. Dewan pendidikan tidak mempunyai hubungan hirarkhis baik antara Dewan Pendidikan Nasional. Masa jabatan keanggotaan dewan pendidikan adalah 5 (lima) tahun dan dapat dipilih kembali 1 (satu) kali masa jabatan. meninggal dunia. atau 107 . dan Dewan Pendidikan Kabupaten/kota. Dewan Pendidikan Nasional. Dewan pendidikan dapat mengadakan koordinasi dan kerja sama dengan Majelis Wali Amanah. pada tingkat nasional. dan Dewan Pendidikan Kabupaten/kota memiliki hubungan koordinasi satu sama lain dalam penyelenggaraan pendidikan nasional. Dewan Pendidikan Provinsi. tokoh masyarakat. maupun dengan lembaga pemerintahan. organisasi profesi dan organisasi sosial kemasyarakatan yang peduli pendidikan. b. c. praktisi pendidikan. dan kabupaten/kota. kritik dan menyalurkan aspirasi dan prakarsa masyarakat dalam upaya meningkatkan mutu pelayanan pendidikan. 76461668. mengundurkan diri. Dewan pendidikan menyelenggarakan pertemuan dengan masyarakat dalam rangka memperhatikan aspirasi masyarakat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) sekurang-kurangnya 2 (dua) kali dalam setahun. saran. pengusaha. Anggota dewan pendidikan diberhentikan sewaktu-waktu apabila: a. komite sekolah/madrasah atau nama lain yang sejenis.

2 (dua) tokoh masyarakat. Pasal 180 (2) (3) (4) (5) (6) (1) Pemilihan anggota dewan pendidikan diselenggarakan oleh panitia yang dibentuk oleh Menteri untuk tingkat nasional. 5 (lima) orang untuk tingkat provinsi dan kabupaten/kota dengan komposisi 2 (dua) pakar/tokoh pendidikan. Panitia pemilihan anggota dewan pendidikan bekerja secara independen yang terdiri atas: a. gubernur untuk tingkat provinsi. Pembentukan komisi-komisi pendidikan sesuai dengan jalur. sekretaris. 76461668. 2 (dua) tokoh masyarakat. Anggota Dewan Pendidikan Nasional berjumlah paling banyak 23 (dua puluh tiga) orang. tidak dapat melaksanakan tugas karena berhalangan tetap.d. Dewan Pendidikan Provinsi ditetapkan oleh gubernur. dan ketua-ketua komisi. dan 1 (satu) wakil Dinas Pendidikan (eksekutif). c. bendahara. dan Dewan Pendidikan Kabupaten/kota ditetapkan oleh bupati/walikota. 7 (tujuh) orang untuk tingkat nasional dengan komposisi 3 (tiga) pakar/tokoh pendidikan. dan 2 (dua) wakil Departemen Pendidikan Nasional (eksekutif). jenjang. dan bupati/walikota untuk tingkat kabupaten/kota. (2) b. Pasal 179 (1) Organisasi dan kepengurusan Dewan Pendidikan Nasional ditetapkan oleh Menteri. dan Dewan Pendidikan Kabupaten/kota berjumlah paling banyak 13 (tiga belas) orang. Susunan kepengurusan dewan pendidikan paling sedikit terdiri atas ketua dewan.doc 108 . dewan pendidikan membentuk sekretariat dan dapat mengikutsertakan tenaga ahli untuk membantu kegiatan komisi-komisi pendidikan. Dalam melaksanakan tugasnya. dan jenis pendidikan. dan Ketua dan sekretaris panitia pemilihan dipilih dari dan oleh para anggota. Dewan Pendidikan Provinsi berjumlah paling banyak 17 (tujuh belas) orang. Anggota dewan pendidikan harus berjumlah gasal.

(2) (3) (4) (5) (6) (7) 76461668. sekurang-kurangnya 2 (dua) kali jumlah anggota dewan pendidikan. dan panitia pemilihan Dewan Pendidikan Kabupaten/kota menyampaikan hasil pemilihan calon anggota Dewan Pendidikan Kabupaten/kota kepada bupati/walikota. Menteri memilih dan menetapkan anggota Dewan Pendidikan Nasional atas dasar hasil pemilihan calon anggota Dewan Pendidikan Nasional sebagaimana dimaksud pada ayat (3). panitia pemilihan Dewan Pendidikan Provinsi melaporkan hasil pemilihan calon anggota Dewan Pendidikan Provinsi kepada gubernur. dewan pendidikan wajib menyusun program kerja yang memuat antara lain tentang perencanaan. Kepengurusan dewan pendidikan dipilih oleh dan dari anggota dewan pendidikan masing-masing. sarana dan prasarana. pertimbangan dan arahan. Panitia pemilihan Dewan Pendidikan Nasional melaporkan hasil pemilihan calon anggota Dewan Pendidikan Nasional kepada Menteri. serta pengawasan pendidikan.doc 109 . Prosedur pemilihan anggota dan kepengurusan dewan pendidikan diinformasikan secara luas kepada masyarakat oleh panitia. evaluasi program pendidikan. bupati/walikota memilih dan menetapkan anggota Dewan Pendidikan Kabupaten/kota atas dasar hasil pemilihan calon anggota Dewan Pendidikan Kabupaten/kota sebagaimana dimaksud pada ayat (3). dukungan tenaga. Pasal 182 (1) Pendanaan dewan pendidikan nasional dapat berasal dari APBN atau sumber lain yang tidak mengikat. Setelah terbentuk kepengurusan.Pasal 181 (1) Panitia pemilihan dewan pendidikan menerima masukan dari masyarakat tentang calon anggota dewan pendidikan sekurang-kurangnya 30 (tiga puluh) hari dan selama-lamanya 60 (enam puluh) hari. panitia pemilihan dewan pendidikan mengusulkan daftar calon anggota dewan pendidikan kepada pejabat yang berwenang. gubernur memilih dan menetapkan anggota Dewan Pendidikan Provinsi atas dasar hasil pemilihan calon anggota Dewan Pendidikan Provinsi sebagaimana dimaksud pada ayat (3). Atas dasar daftar nama calon anggota dewan pendidikan yang diidentifikasikannya dan yang merupakan masukan masyarakat.

(2)

Pendanaan dewan pendidikan provinsi dan dewan pendidikan kabupaten/kota dapat berasal dari APBD atau sumber lain yang tidak mengikat. Pasal 183

(1) (2)

Dewan pendidikan bertanggung jawab kepada publik. Mekanisme pertanggungjawaban dewan pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan melalui media komunikasi yang diterbitkan, brosur yang dicetak, atau media lain, dan disebarkan kepada masyarakat. Kegagalan dewan pendidikan dalam pertanggungjawaban publik sebagaimana diatur pada ayat (1) dan ayat (2) dapat berakibat pemberhentian ketua dan/atau anggota dewan pendidikan oleh pejabat yang menetapkannya. Bagian Kelima Komite Sekolah/Madrasah Paragraf 1 Fungsi dan Sifat Pasal 184

(3)

(1) (2)

Komite sekolah/madrasah atau nama lain yang sejenis merupakan mitra satuan pendidikan yang bekerja secara mandiri. Fungsi komite sekolah/madrasah adalah: a. b. c. d. e. memberikan pertimbangan kepada satuan pendidikan dalam pengelolaan pendidikan; memberikan dukungan sumberdaya pendidikan kepada satuan pendidikan; mengawasi penyelenggaraan pendidikan pada satuan pendidikan; menjadi mediator yang melibatkan pendidik dan tenaga kependidikan; dan menjadi mediator hubungan satuan pendidikan dengan berbagai kelompok kepentingan di masyarakat dalam rangka peningkatan mutu pelayanan pendidikan.

(3)

Komite sekolah/madrasah atau nama lain yang sejenis tidak mempunyai hubungan hirarkhis dengan dewan pendidikan
110

76461668.doc

maupun dengan lembaga pemerintahan. (4) Komite sekolah/madrasah dapat mengadakan koordinasi dan kerja sama dengan dewan pendidikan, kepala satuan pendidikan atau pihak-pihak yang dibutuhkan dalam rangka mengupayakan peningkatan mutu layanan pendidikan. Komite sekolah/madrasah atau nama lain yang sejenis menyampaikan laporan akhir masa jabatan kepada orang tua/wali peserta didik, kepala satuan pendidikan, dan/atau pihakpihak yang terkait. Komite sekolah/madrasah atau nama lain yang sejenis dibentuk di satuan pendidikan atau gabungan satuan pendidikan formal atau pada pendidikan nonformal pada jenjang pendidikan dasar dan menengah. Bagi satuan pendidikan yang memiliki peserta didik kurang dari 200 (dua ratus) maka komite sekolah/madrasahnya dapat bergabung dengan komite sekolah/madrasah dari satuan pendidikan lain. Pasal 185 (1) Komite sekolah/madrasah atau nama lain yang sejenis harus peka dalam memperhatikan keluhan, saran dan kritik, serta menyalurkan aspirasi dan prakarsa masyarakat dalam upaya peningkatan mutu layanan pendidikan. Komite sekolah/madrasah atau nama lain yang sejenis menyelenggarakan pertemuan dengan masyarakat dalam rangka memperhatikan aspirasi masyarakat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) sekurang-kurangnya 2 (dua) kali dalam setahun. Komite sekolah/madrasah atau nama lain yang sejenis berperan memberikan pertimbangan dan arahan, dukungan tenaga, sarana dan prasarana kepada penyelenggara satuan pendidikan, kepala satuan pendidikan, atau pihak-pihak yang relevan dalam proses perencanaan, penyelenggaraan, evaluasi hasil pendidikan, dan pengawasan pendidikan di tingkat sekolah. Komite sekolah/madrasah atau nama lain yang sejenis sebagai perwakilan masyarakat menilai pertanggungjawaban kepala satuan pendidikan. Untuk keperluan pertanggungjawaban sebagaiamana dimaksud pada ayat (4) di bidang keuangan, komite sekolah/madrasah atau nama lain yang sejenis dapat menunjuk akuntan publik.

(5)

(6)

(7)

(2)

(3)

(4)

(5)

76461668.doc

111

(6)

Tata cara peranserta komite sekolah/madrasah atau nama lain yang sejenis dalam evaluasi dan pengawasan diatur lebih lanjut dengan Peraturan Menteri. Komite sekolah/madrasah atau nama lain yang sejenis bersama Pemerintah atau dewan pendidikan dapat menyebarluaskan hasil pengawasan secara terbuka sebagai bentuk akuntabilitas publik.

(7)

Paragraf 2 Keanggotaan Pasal 186

(1)

Komite sekolah/madrasah sekurang-kurangnya terdiri atas anggota masyarakat yang mewakili orang tua/wali peserta didik, tokoh masyarakat, praktisi pendidikan, dan pendidik, yang memiliki wawasan, kepedulian dan komitmen terhadap peningkatan mutu pendidikan. Masa bakti anggota komite sekolah/madrasah adalah 4 (empat) tahun. Keanggotaan komite sekolah/madrasah maksimal 2 (dua) masa bakti. Anggota komite sekolah/madrasah atau nama lain yang sejenis tidak boleh merangkap sebagai pejabat kepala satuan pendidikan, pejabat struktural dalam pemerintahan, atau fungsionaris partai politik. Anggota komite sekolah/madrasah atau nama lain yang sejenis dapat diberhentikan sewaktu-waktu karena: a. melakukan perbuatan pidana kejahatan; dan b. melanggar ketentuan anggaran dasar.

(2) (3) (4)

(5)

(6)

Pemberhentian sebagaimana dimaksud pada ayat (5) diatur dalam anggaran dasar komite sekolah/madrasah. Paragraf 3 Persyaratan Anggota Pasal 187

76461668.doc

112

(1)

Persyaratan untuk menjadi anggota komite sekolah/madrasah atau nama lain yang sejenis adalah anggota masyarakat yang mempunyai pengalaman, komitmen, dan tanggung jawab dalam meningkatkan pemerataan, mutu, relevansi, dan efisiensi pada penyelenggaraan pendidikan di tingkat satuan pendidikan. Anggota komite sekolah/madrasah atau nama lain yang sejenis berasal dari perseorangan atau perwakilan organisasi. Paragraf 4 Struktur Organisasi dan Kepengurusan Pasal 188

(2)

(1)

Organisasi dan kepengurusan komite sekolah/madrasah atau nama lain yang sejenis pada jenjang pendidikan dasar dan pendidikan menengah ditetapkan oleh bupati/walikota. Organisasi dan kepengurusan komite sekolah/madrasah atau nama lain yang sejenis pada jenjang dasar dan pendidikan menengah yang dikembangkan oleh Pemerintah Provinsi menjadi bertaraf internasional ditetapkan oleh gubernur. Susunan kepengurusan komite sekolah/madrasah atau nama lain yang sejenis sekurang-kurangnya terdiri atas ketua, sekretaris, bendahara, dan anggota. Jumlah anggota komite sekolah/madrasah atau nama lain yang sejenis harus gasal, disesuaikan dengan kebutuhan, dan jumlahnya sebanyak-banyaknya 9 (sembilan) orang. Masa jabatan kepengurusan komite sekolah/madrasah atau nama lain yang sejenis adalah 4 (empat) tahun dan dapat dipilih kembali maksimal 2 (dua) kali secara berturut-turut. Masa kepengurusan komite sekolah/madrasah atau nama lain yang sejenis sebagaimana dimaksud pada ayat (4) dapat berakhir sebelum 4 (empat) tahun dan dapat diangkat pengurus pengganti. Paragraf 5 Mekanisme Pemilihan Pasal 189

(2)

(3)

(4)

(5)

(6)

(1)

Pemilihan anggota komite sekolah/madrasah diselenggarakan oleh panitia yang dibentuk oleh kepala satuan pendidikan dan orang tua/wali peserta didik.

76461668.doc

113

Panitia menyampaikan nama anggota dan susunan kepengurusan komite sekolah/madrasah atau nama lain yang sejenis hasil pemilihan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dan ayat (3) kepada kepala sekolah untuk ditetapkan. dan disebarkan kepada masyarakat. atau media lain. Pemilihan kepengurusan komite sekolah/madrasah dipilih dari dan oleh anggota komite sekolah/madrasah atau nama lain yang sejenis masing-masing.doc . Mekanisme pertanggungjawaban komite sekolah/madrasah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan melalui media komunikasi yang diterbitkan. dan diketuai oleh unsur masyarakat. dan 1 (satu) unsur . 114 (3) 76461668. 2 (dua) unsur orangtua/wali peserta didik (masyarakat). Pengurus komite sekolah/madrasah atau nama lain yang sejenis bersama masyarakat mengusahakan pencarian sumber dana bagi komite sekolah/madrasah atau nama lain yang sejenis. brosur yang dicetak. Proses pemilihan dari awal sampai terbentuknya anggota komite sekolah/madrasah atau nama lain yang sejenis diinformasikan kepada masyarakat oleh panitia. (3) (4) (5) Paragraf 6 Pendanaan Pasal 190 (1) Pendanaan operasional komite sekolah/madrasah atau nama lain yang sejenis dapat berasal dari anggaran pendapatan dan belanja sekolah/madarasah dan sumber lain yang tidak mengikat. dan dilaporkan kepada kantor dinas yang menangani urusan pemerintahan di bidang pendidikan sesuai kewenangannya. (2) Pasal 191 (1) (2) Komite sekolah/madrasah bertanggung jawab kepada publik. Kegagalan komite sekolah/madrasah dalam pertanggungjawaban publik sebagaimana diatur pada ayat (1) dan ayat (2) dapat berakibat pemberhentian ketua dan/atau anggota komite sekolah/madrasah oleh pejabat yang menetapkannya.(2) Panitia pemilihan anggota komite sekolah/madrasah atau nama lain yang sejenis bekerja secara independen yang terdiri atas 5 (lima) orang yaitu 2 (dua) unsur pendidik (guru).

BAB XV PENGAWASAN Pasal 193 (2) (3) (4) (5) (1) Pengawasan penyelenggaraan dan pegelolaan pendidikan mencakup pengawasan administratif dan teknis edukatif. baik perseorangan maupun kolektif. dilarang menjual buku pelajaran. dilarang melakukan segala sesuatu baik secara langsung maupun tidak langsung yang menciderai integritas evaluasi hasil belajar.doc . Pemerintah melakukan pengawasan secara nasional terhadap penyelenggaraan dan pegelolaan pendidikan pada semua jalur.Bagian Keenam Larangan Pasal 192 (1) Dewan pendidikan dan/atau komite sekolah/madrasah atau nama lain yang sejenis. baik secara perseorangan maupun kolektif dilarang memberikan bimbingan belajar atau les kepada peserta didik baik secara langsung maupun tidak dengan memungut biaya. Dewan pendidikan dan/atau komite sekolah/madrasah atau nama lain yang sejenis. Dewan pendidikan dan/atau komite sekolah/madrasah atau nama lain yang sejenis. pakaian seragam atau bahan pakaian seragam di satuan pendidikan baik secara langsung maupun tidak langsung. serta tidak membebani atau mengambil keuntungan dari satuan pendidikan. dilarang melakukan pungutan kepada peserta didik baik secara langsung maupun tidak langsung yang bertentangan dengan peraturan perundang-undangan. Pemerintah Provinsi melakukan pengawasan 115 (2) (3) 76461668. baik perseorangan maupun kolektif. baik perseorangan maupun kolektif. jenjang. Dewan pendidikan dan/atau komite sekolah/madrasah atau nama lain yang sejenis. baik perseorangan maupun kolektif. Dewan pendidikan dan/atau komite sekolah/madrasah atau nama lain yang sejenis. dilarang mengintervensi seleksi calon peserta didik dan proses pembelajaran. dan jenis pendidikan.

maka Pemerintah menindaklanjuti hasil pengawasan tersebut. jenjang. oleh Pemerintah dipandang kredibel. (3) Dalam hal hasil pengawasan yang dilakukan oleh Pemerintah Provinsi dan/atau Pemerintah Kabupaten/Kota. (7) Pemerintah. dan pendidikan nonformal di wilayahnya. dan jenis pendidikan sesuai dengan kewenangannya. maka Pemerintah melakukan pengawasan ulang. maka Pemerintah menindaklanjuti hasil pengawasan tersebut. oleh Pemerintah diduga meragukan. (6) Dalam hal hasil pengawasan yang dilakukan oleh Pemerintah Kabupaten/Kota. (5) Dalam hal hasil pengawasan yang dilakukan oleh Pemerintah Kabupaten/Kota. (2) Komite sekolah/madrasah melakukan pengawasan terhadap pelaksanaan penyelenggaraan dan pegelolaan pendidikan pada satuan pendidikan yang bersangkutan. dan oleh melakukan pegelolaan pendidikan (2) Dalam hal hasil pengawasan yang dilakukan oleh Pemerintah Provinsi dan/atau Pemerintah Kabupaten/Kota. pendidikan dasar. (4) Pemerintah provinisi menjalankan tugas pengawasan atas dasar hasil pengawasan yang dilakukan oleh Pemerintah Kabupaten/Kota.terhadap penyelenggaraan dan pegelolaan pendidikan dasar dan pendidikan menengah bertaraf internasional. Pasal 195 (1) Dewan pendidikan melakukan pengawasan terhadap pelaksanaan penyelenggaraan dan pegelolaan pendidikan pada semua satuan pendidikan. jalur. oleh Pemerintah Provinsi diduga meragukan. oleh Pemerintah Provinsi dipandang kredibel. Pemerintah Kabupaten/Kota dalam menjalankan tugas pengawasan dapat menunjuk lembaga pengawasan/pemeriksaan independen. 76461668.doc 116 . maka Pemerintah melakukan pengawasan ulang. serta pendidikan lintas kabupaten/kota di dalam wilayah provinsi tersebut. (4) Pemerintah Kabupaten/Kota pengawasan terhadap penyelenggaraan dan pendidikan anak usia dini. Pasal 194 (1) Pemerintah melakukan pengawasan secara langsung memperhatikan hasil pengawasan yang dilakukan Pemerintah Provinsi dan/atau Pemerintah Kabupaten/Kota. Pemerintah Provinsi. menengah.

satuan pendidikan. b. unit kerja di lingkungan Departemen. (2) Objek pengawasan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a adalah: a. l. memantau. dan/atau melakukan inspeksi mendadak terhadap objek yang diawasi. departemen lain yang menyelenggarakan pendidikan. e. Pasal 196 (1) Pengawasan oleh Pemerintah dilakukan dengan cara: a. mengevaluasi. menilai. memeriksa.(3) Pengawasan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) diinformasikan kepada masyarakat yang berkepentingan secara terbuka sebagai bentuk akuntabilitas publik. f. program pendidikan. d. h.doc 117 . atau masyarakat yang nondepartemen yang pihak lain yang terlibat dalam penyelenggaraan dan pegelolaan pendidikan. k. g. meneliti. badan hukum pendidikan. b. mengusut. lembaga pemerintah menyelenggarakan pendidikan. dan/atau penyalahgunaan wewenang dalam penyelenggaraan dan pegelolaan pendidikan. pemeriksaan khusus. i. Pemerintah Provinsi. pemeriksaan tematik. memeriksa. komite sekolah/madrasah. pemeriksaan investigatif. c. dan/atau menilai informasi aduan masyarakat tentang hambatan. Pemerintah Kabupaten/Kota. menguji. dewan pendidikan. 76461668. j. menguji. penyimpangan. (3) Pemeriksaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a dan huruf b dapat berbentuk pemeriksaan umum. dan/atau pemeriksaan terpadu. keluarga atau anggota/kelompok melaksanakan pendidikan informal.

menguji. dewan pendidikan tingkat provinsi pendidikan tingkat kabupaten/kota. e. unit-unit perwakilan departemen lain di provinsi menyelenggarakan atau mengelola pendidikan. Pemerintah Kabupaten/Kota. dan ayat (3) dilaporkan kepada Menteri dan objek yang diawasi. d. pendidikan menengah. memeriksa. dan pendidikan nonformal. dan/atau penyalahgunaan wewenang dalam penyelenggaraan dan pegelolaan pendidikan. unit kerja di bawah gubernur. meneliti. k. menguji. dan pendidikan nonformal. dasar. komite sekolah/madrasah. Pasal 197 (1) Pengawasan oleh Pemerintah Provinsi dilakukan dengan cara: a. i. mengusut. memeriksa. dan/atau menilai informasi aduan masyarakat tentang hambatan. badan hukum pendidikan yang melaksanakan atau menyelenggarakan pendidikan dasar dan/atau pendidikan menengah.(4) Pengawasan sebagaimana dimaksud pada ayat (1). j. satuan pendidikan anak usia dini.doc . l. penyimpangan. b. pendidikan pendidikan menengah. penyelenggara pendidikan pendidikan anak usia dini. ayat (2). (2) Objek pengawasan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a adalah: a. c. lembaga akreditasi mandiri dan/atau asosiasi profesi. yang program pendidikan pada satuan pendidikan menengah dan pendidikan nonformal. b. dan/atau melakukan inspeksi mendadak terhadap objek yang diawasi. f. yang masyarakat dibentuk yang dan/atau dewan g. memantau. menilai. h. masyarakat lembaga evaluasi pendidikan mandiri yang dibentuk oleh 118 76461668. mengevaluasi. pendidikan dasar. keluarga atau anggota/kelompok melaksanakan pendidikan informal.

ayat (2). melaksanakan atau dewan pendidikan tingkat kabupaten/kota. Pasal 198 (1) Pengawasan oleh Pemerintah Kabupaten/Kota dilakukan dengan cara: a. komite sekolah/madrasah. f. badan hukum pendidikan yang menyelenggarakan pendidikan dasar. mengevaluasi. dan/atau menilai informasi aduan masyarakat tentang hambatan. memantau. e. c. dan pendidikan nonformal. unit kerja di bawah bupati/walikota. mengusut. dan objek yang diawasi. dan ayat (3) dilaporkan kepada gubernur. menguji. dan/atau melakukan inspeksi mendadak terhadap objek yang diawasi. g. atau m. unit-unit perwakilan departemen lain di kabupaten/kota yang menyelenggarakan atau mengelola pendidikan. dan/atau pemeriksaan terpadu. meneliti. penyelenggara pendidikan anak usia dini.masyarakat dan/atau asosiai profesi. pemeriksaan investigatif. 76461668. menilai. satuan pendidikan anak usia dini.doc 119 . pendidikan dasar. sesuai Pemerintah Provinsi. penyelenggaraan dan dengan kewenangan (3) Pemeriksaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a dan b dapat berbentuk pemeriksaan umum. memeriksa. memeriksa. program pendidikan pada satuan pendidikan nonformal. (2) Objek pengawasan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a adalah: a. pihak lain yang terlibat dalam pegelolaan pendidikan. dan/atau penyalahgunaan wewenang dalam penyelenggaraan dan pegelolaan pendidikan. b. pemeriksaan tematik. penyimpangan. pemeriksaan khusus. (4) Pengawasan sebagaimana dimaksud pada ayat (1). b. menguji. dan pendidikan nonformal. d. h. pendidikan dasar. Menteri.

e. keluarga atau anggota/kelompok masyarakat melaksanakan pendidikan informal. pemeriksaan investigatif. dan/atau pihak lain yang terlibat pegelolaan pendidikan. pemeriksaan khusus.doc 120 . (2) Objek pengawasan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a adalah: a. dan/atau pemeriksaan terpadu. f. penyimpangan. dan/atau penyalahgunaan wewenang dalam penyelenggaraan dan pegelolaan pendidikan.ayat (2). gubernur. atau masyarakat yang pihak lain yang terlibat dalam penyelenggaraan dan pegelolaan pendidikan. d. c. penyelenggara pendidikan. meneliti dan/atau menilai informasi aduan masyarakat tentang hambatan. g. satuan pendidikan.i. b. pemeriksaan tematik. (4) Pasal 199 (1) Pengawasan oleh dewan pendidikan dilakukan dengan cara: a. menilai. program pendidikan pada satuan pendidikan. (3) Pemeriksaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a dan b dapat berbentuk pemeriksaan umum. keluarga atau anggota/kelompok melaksanakan pendidikan informal. (3) badan hukum pendidikan. komite sekolah/madrasah. mengevaluasi. dan objek yang diawasi. dan/atau memantau terhadap objek yang diawasi sesuai dengan kewenangannya. dan ayat (3) dilaporkan kepada bupati/walikota. b. sesuai dengan kewenangan Pemerintah Kabupaten/Kota. Pengawasan sebagaimana dimaksud pada ayat (1). Menteri. dalam penyelenggaraan yang dan Pengawasan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) dilaporkan kepada: 76461668. j.

Menteri mengkoordinasikan perencanaan. tingkat nasional. bupati/walikota. dan tindak lanjut pengawasan sebagaimana dimaksud 76461668. menilai.a. dan/atau b. Pasal 200 (1).doc 121 . dan c. pelaksanaan. dan/atau penyalahgunaan wewenang dalam penyelenggaraan dan pegelolaan pendidikan. pelaporan. objek yang diawasi. menteri. b. untuk dewan pendidikan provinsi. meneliti dan/atau menilai informasi aduan masyarakat tentang hambatan. dan kabupaten/kota. satuan pendidikan yang bersangkutan. Pengawasan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) dilaporkan kepada: a. untuk dewan pendidikan tingkat provinsi dan kabupaten/kota. badan hukum pendidikan. gubernur. dan/atau memantau terhadap objek yang diawasi. dinas yang kabupaten/kota. dan untuk dewan pendidikan tingkat objek yang diawasi. mengevaluasi. pada satuan pendidikan yang (3). d. menangani urusan pendidikan di b. program pendidikan bersangkutan. Objek pengawasan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a adalah: a. (2). b. c. Pengawasan oleh komite sekolah/madrasah dilakukan dengan cara: a. Pasal 201 (1). kabupaten/kota. penyimpangan.

masukan dalam perencanaan pendidikan. Pemerintah dan/atau pemerintah daerah sesuai dengan kewenangannya dapat menutup satuan pendidikan dan/atau program pendidikan yang telah memperoleh izin pendirian dan/atau izin penyelenggaraan dari pihak yang berwenang tetapi terbukti tidak memenuhi persyaratan pendirian sebagaimana dimaksud dalam Pasal 158. memberikan penghargaan atas kinerja objek diawasi. dan Pasal 200. masukan dalam pelaksanaan rencana pendidikan. Pasal 197. Pemerintah dan/atau pemerintah daerah sesuai dengan kewenangannya menutup satuan pendidikan dan/atau program pendidikan yang beroperasi tanpa izin sebagaimana dimaksud dalam Pasal 159 dan Pasal 160. 29. 98. (2). Pengawasan digunakan oleh pihak penerima laporan pengawasan untuk: a. 36. 30. Pasal 203 (1) Pemerintah dan/atau pemerintah daerah sesuai dengan kewenangannya dapat memberikan sanksi administratif berupa peringatan. Pasal 161. Pasal 199. 26. satuan pendidikan. 28. pembekuan. Pasal 159. b. Pasal 162.doc . penggabungan atau penutupan satuan pendidikan. 68. 74. 82. 42. memberikan sanksi atas penyimpangan administratif dan/atau pelanggaran hukum yang dilakukan oleh objek yang diawasi baik individu ataupun kelembagaan. dan Pasal 163.pada Pasal 196. menilai kinerja objek yang diawasi. c. d. 50. (2). 122 76461668. 62. 55. Pasal 160. yang e. Pasal 198. program pendidikan. 64. BAB XVI SANKSI Pasal 202 (1). 31. dan/atau badan hukum pendidikan yang melaksanakan pendidikan yang tidak sesuai dengan ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 25.

Pasal 204 (1) Pimpinan perguruan tinggi yang melanggar ketentuan Pasal 68 diberi sanksi oleh pejabat yang berwenang sesuai peraturan perundang-undangan. 50. atau memberhentikan yang bersangkutan dari status kepegawaiannya di perguruan tinggi.101. dikenakan sanksi administratif oleh perguruan tinggi yang bersangkutan berupa teguran tertulis dan/atau diberhentikan dari jabatannya atau diberhentikan dari status kepegawaiannya di perguruan tinggi yang bersangkutan. 142. 31. 151. Pemerintah dapat memberikan sanksi administratif berupa teguran tertulis. 130. 140. 159. 29. 140. Dalam hal pejabat yang berwenang sebagaimana dimaksud pada ayat (1). 152. 118. pembekuan. 161. 165 dan Pasal 164. 130. 28. 151. 139. 144. 36. Perguruan tinggi atau unit dari perguruan tinggi yang melaksanakan kebebasan akademik dan/atau otonomi keilmuan yang melanggar ketentuan yang diatur dalam Peraturan Pemerintah ini. 160. Menteri berwenang memberhentikan yang bersangkutan dari jabatannya. 145. 74. 144. 98. 152. 107. dikenakan sanksi sanksi administratif oleh Pemerintah berupa teguran tertulis. 68. 159. 55. 157. 125. 30. 26. Menteri berwenang memberhentikan pimpinan perguruan tinggi yang bersangkutan dari jabatannya. 138. 138. 165 dan Pasal 164. pembekuan. dan/atau dicabut izin penyelenggaraannya. program pendidikan. 137. 126. 42. 107. (2) Pemerintah dan/atau pemerintah daerah sesuai dengan kewenangannya dapat menunda atau membatalkan pemberian subsidi sumberdaya pendidikan kepada satuan pendidikan. melalaikan ketentuan ayat (1). 101. 126. 136. 136. 64. 62. 137. 82. 108. 158. 145. 161.doc . 142. 118. dan/atau penutupan perguruan tinggi yang melaksanakan dharma perguruan tinggi yang tidak sesuai dengan ketentuan sebagaimana diatur dalam Peraturan 123 (2) (3) (4) (5) (6) 76461668. 108. Perseorangan atau kelompok anggota sivitas akademika perguruan tinggi yang melaksanakan kebebasan akademik dan/atau otonomi keilmuan yang melanggar ketentuan yang diatur dalam Pasal 70. 157. penutupan. 158. 125. 160. Dalam hal perguruan tinggi tidak melakukan pemberhentian sebagaimana dimasuk pada ayat (3). 139. dan/atau badan hukum pendidikan yang melaksanakan pendidikan yang tidak sesuai dengan ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 25.

Pasal 206 Perseorangan. institusi Pemerintah. Pasal 207 Satuan pendidikan jarak jauh yang tidak memenuhi persyaratan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 102.doc 124 . skorsing. dan/atau mengeluarkan dari satuan pendidikan terhadap peserta didik yang tidak melaksanakan kewajibannya sebagaimana diatur dalam Pasal 144. serta pihak lain yang terkait dengan satuan pendidikan secara perseorangan ataupun kolektif yang melanggar ketentuan Pasal 187 dikenakan sanksi teguran secara tertulis dari Pemerintah Kabupaten/Kota atau Pemerintah Provinsi sesuai dengan kewenangannya. Pasal 205 (1). (3) Pendidik atau tenaga kependidikan nonpegawai negeri sipil yang melanggar ketentuan Pasal 154 dikenakan sanksi administratif sesuai dengan peraturan perundang-undangan. dewan pendidikan. yang melaksanakan pendidikan informal baik disengaja maupun tidak disengaja yang melanggar ketentuan Pasal 97 dapat dikenakan sanksi administratif berupa teguran tertulis. Satuan pendidikan dapat memberikan sanksi administratif berupa peringatan. dan/atau penutupan dari Pemerintah dan/atau pemerintah daerah. dan/atau penutupan oleh Menteri. 76461668. Pasal 208 (1) Pendidik atau tenaga kependidikan yang melalaikan tugas dan/atau kewajibannya selama 3 (tiga) bulan atau lebih secara terus menerus tanpa alasan yang dapat dipertanggungjawabkan dikenakan sanksi administratif sesuai dengan peraturan perundang-undangan. organisasi orang tua peserta didik. Pasal 103. dan yang menangani pendidikan. dikenakan sanksi administratif berupa teguran tertulis. dan Pasal 106. (2) Pendidik atau tenaga kependidikan pegawai negeri sipil yang melanggar ketentuan Pasal 154 dikenakan sanksi administratif sesuai dengan peraturan perundang-undangan. pembekuan. atau organisasi. (2). Pasal 105. pembekuan.Pemerintah ini. Anggota komite sekolah/madrasah. kelompok.

Pasal 209 (1) Satuan pendidikan yang melanggar ketentuan tentang penyelenggaraan pendidikan bertaraf internasional sebagaimana dimaksud dalam Pasal 125. dan/atau penutupan satuan 76461668. Pasal 211 Satuan pendidikan yang melanggar ketentuan tentang pengelolaan pendidikan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 25. dan/atau penutupan satuan pendidikan oleh Menteri. pembebasan dari jabatan. dikenakan sanksi administratif berupa teguran tertulis. penundaan kenaikan pangkat. atau memberhentikan pendidik atau tenaga kependidikan yang bertentangan dengan ketentuan Pasal 148 tanpa alasan yang sah. menempatkan. Pasal 126.doc (2) 125 . Pasal 139. pembekuan. pemberhentian dengan hormat. pembekuan. gubernur. Pasal 26. Satuan pendidikan Indonesia yang melaksanakan kerja sama dengan satuan pendidikan dari negara lain yang tidak sesuai dengan ketentuan sebagaimana diatur dalam Pasal 138. dan Pasal 140 dikenakan sanksi administratif berupa teguran tertulis. dan Pasal 136 dikenakan sanksi oleh Menteri berupa teguran tertulis dan/atau penutupan satuan pendidikan. dan Pasal 127 serta pendidikan berbasis keunggulan lokal sebagaimana dimaksud dalam Pasal 129 dan Pasal 131 dikenakan sanksi administratif berupa teguran tertulis hingga pencabutan izin sebagai satuan pendidikan bertaraf internasional atau satuan pendidikan berbasis keunggulan lokal oleh Pemerintah atau pemerintah daerah sesuai kewenangannya. (5) Seseorang yang mengangkat. organisasi. (2) Pencabutan izin sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan setelah diadakan pembinaan paling lama tiga tahun. Pasal 210 (1) Penyelenggaraan pendidikan di wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia oleh perseorangan. dan Pasal 31 dikenakan sanksi administratif berupa teguran tertulis. Pasal 29. atau bupati/walikota sesuai dengan kewenangan. dan/atau pemberhentian dengan tidak hormat dari jabatannya. memindahkan. perwakilan negara asing atau lembaga pendidikan asing yang tidak sesuai dengan ketentuan sebagaimana diatur dalam Pasal 133.(4) Badan hukum pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (3) yang melalaikan ketentuan ayat (3) dikenakan sanksi administratif berupa peringatan tertulis atau pembekuan oleh Pemerintah atau sesuai kewenangannya. Pasal 134. penundaan kenaikan gaji berkala. Pasal 30. Pasal 28.

76461668. peraturan perundangundangan yang terkait dengan penyelenggaraan pendidikan dinyatakan masih tetap berlaku sepanjang tidak bertentangan dan belum diganti berdasarkan Peraturan Pemerintah ini. atau satuan pendidikan sejenis yang telah ada sebelum berlakunya Peraturan Pemerintah ini.pendidikan oleh Pemerintah atau atau pemerintah daerah kewenangannya sesuai Pasal 212 (1) Perseorangan atau kelompok anggota dewan pendidikan atau komite sekolah/madrasah yang melanggar ketentuan Pasal 190 dikenakan sanksi administratif berupa teguran tertulis oleh Pemerintah atau sesuai kewenangannya Perseorangan atau kelompok anggota dewan pendidikan atau komite sekolah/madrasah yang dalam menjalankan tugasnya melampaui kewenangan atau fungsi/perannya sebagaimana diatur dalam Pasal 175. pemberhentian dengan hormat. (2) BAB XVII KETENTUAN PERALIHAN Pasal 214 Sekolah internasional. penundaan kenaikan pangkat. wajib menyesuaikan dengan Peraturan Pemerintah ini selambat-lambatnya 3 tahun sejak Peraturan Pemerintah ini berlaku. sekolah yang dinyatakan oleh pendirinya sebagai sekolah bertaraf internasional. dan Pasal 184 dikenakan sanksi administratif berupa teguran tertulis oleh Pemerintah atau sesuai kewenangannya Pasal 213 Perseorangan atau kelompok pegawai Pemerintah atau sesuai kewenangannya yang melanggar atau melalaikan ketentuan yang diatur dalam Pasal 192 atau menggunakan kewenangannya yang melampaui peraturan perundang-undangan dikenakan sanksi administratif berupa teguran tertulis. Pasal 215 Pada saat berlakunya Peraturan Pemerintah ini. pembebasan dari jabatan. penundaan kenaikan gaji berkala.doc 126 . dan/atau pemberhentian dengan tidak hormat dari jabatannya.

Peraturan Pemerintah Nomor 38 Tahun 1992 tentang Tenaga Kependidikan (Lembaran Negara Tahun 1992 Nomor 68. Tambahan Lembaran Negara Nomor 3461). sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Pemerintah Nomor 56 Tahun 98 tentang Perubahan atas Peraturan Pemerintah Nomor 29 Tahun 1990 (Lembaran Negara Tahun 1998 Nomor 91. Tambahan Lembaran Negara Nomor 3460). 76461668. Peraturan Pemerintah Nomor 29 Tahun 1990 tentang Pendidikan Menengah (Lembaran Negara Tahun 1990 Nomor 37. Peraturan Pemerintah Nomor 28 Tahun 1990 tentang Pendidikan Dasar (Lembaran Negara Tahun 1990 Nomor 36. e. sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Pemerintah Nomor 55 Tahun 98 tentang Perubahan atas Peraturan Pemerintah Nomor 28 Tahun 1990 (Lembaran Negara Tahun 1998 Nomor 90. Peraturan Pemerintah Nomor 72 Tahun 1991 tentang Pendidikan Luar Biasa (Lembaran Negara Tahun 1991 Nomor 34. d. Tambahan Lembaran Negara Nomor 3411). Tambahan Lembaran Negara Nomor 3413). f. sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Pemerintah Nomor 39 Tahun 2000 tentang Perubahan atas Peraturan 127 b. Peraturan Pemerintah Nomor 73 Tahun 1991 tentang Pendidikan Pendidikan Luar Sekolah (Lembaran Negara Tahun 1991 Nomor 95. Tambahan Lembaran Negara Nomor 3484).BAB XVIII KETENTUAN PENUTUP Pasal 216 Semua peraturan perundang-undangan yang diperlukan untuk melaksanakan Peraturan Pemerintah ini harus diselesaikan paling lambat 2 (dua) tahun terhitung sejak diberlakukan Peraturan Pemerintah ini. Pasal 217 Pada saat mulai berlakunya Peraturan Pemerintah ini: a. Peraturan Pemerintah Nomor 27 Tahun 1990 tentang Pendidikan Prasekolah (Lembaran Negara Tahun 1990 Nomor 35. c. Tambahan Lembaran Negara Nomor 3412). Tambahan Lembaran Negara Nomor 3763). Tambahan Lembaran Negara Nomor 3764).doc .

memerintahkan pengundangan Peraturan Pemerintah ini dengan menempatkannya dalam Lembaran Negara Republik Indonesia.... PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA DR. Tambahan Lembaran Negara Nomor 3859).TAHUN 2007 76461668... Tambahan Lembaran Negara Nomor 3485).. H..... h.... g. SUSILO BAMBANG YUDHOYONO Ditetapkan di Jakarta Pada tanggal .....Pemerintah Nomor 38 Tahun 1992 (Lembaran Negara Tahun 2000 Nomor 91. Ditetapkan di Jakarta Pada tanggal ... Peraturan Pemerintah Nomor 39 Tahun 1992 tentang Peranserta Masyarakat dalam Pendidikan Nasional (Lembaran Negara Tahun 1992 Nomor 69... MENTERI HUKUM DAN HAK AZASI MANUSIA ANDI MATALATTA LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA NOMOR….doc 128 .. Agar setiap orang mengetahuinya. Tambahan Lembaran Negara Nomor 3974). Peraturan Pemerintah Nomor 60 Tahun 1999 tentang Pendidikan Tinggi (Lembaran Negara Tahun 1999 Nomor 115. Pasal 218 Peraturan Pemerintah ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan. dinyatakan tidak berlaku..

dan hal ini membawa dampak pada cepat usangnya kebijakan maupun praksis pendidikan. pengawasan. Dalam era globalisasi dan informasi saat ini. TENTANG PENGELOLAAN DAN PENYELENGGARAAN PENDIDIKAN I. peranserta masyarakat. dan jenis pendidikan harus berlangsung secara sinergis. melalui sebuah pembaruan yang dapat dipertanggungjawabkan kepada publik (stakeholders) agar mampu mempersiapkan generasi penerus bangsa sejak dini sehingga memiliki unggulan kompetitif dalam tatanan kehidupan nasional dan global. masyarakat dan orang tua. tujuan. (2) era global isasi informasi yang muncul di awal milenium ke tiga. baik dilihat dari segi pasokan. Oleh sebab itu. peserta didik. pendidikan harus secara terus-menerus perlu ditingkatkan kualitasnya. Pendekatan yang sama berlaku pula dalam pengaturan penyelenggaraan pendidikan pada masing-masing satuan pendidikan. sementara seorang “futurist” di era globalisasi hanya mereka yang memiliki ilmu 76461668. Untuk mencapai sinergi tersebut pengaturan tentang fungsi. dan hasil pendidikan selalu berubah. Tanggung jawab pendidikan merupakan tanggung jawab bersama Pemerintah.PENJELASAN ATAS PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR …… TAHUN …. diharapkan dunia pendidikan di Indonesia dapat merespon dan mengimbangi perubahan-perubahan ini secara proporsional. Parameter kualitas pendidikan..doc 129 . Dunia pendidikan khususnya dan tantangan masa depan umumnya telah berubah dan berkembang sedemikian cepatnya. Pendidikan merupakan suatu proses yang dinamik sesuai dengan perubahan masyarakat dan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. yang ditandai dengan (1) perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang sangat cepat. keterbukaan telah menjadi karakteristik kehidupan yang demokratis. syarat pendirian. bentuk dan jenis pendidikan. manajemen. UMUM Visi sistem pendidikan nasional sabagai pranata sosial yang kuat dan berwibawa untuk memberdayakan semua warga negara Indonesia agar berkembang menjadi manusia yang berkualitas sehingga mampu dan proaktif menjawab tantangan zaman yang selalu berubah. bahasa pengantar. proses. jenjang. mengisyaratkan bahwa penyelenggaraan pendidikan pada semua jalur. dan sanksi perlu diatur dalam satu kesatuan sistem pendidikan yang komprehensif. sarana dan prasarana. Perkembangan ini. menyebabkan batas-batas negara menjadi semakin maya.

pendidikan nonformal. Pengaturan selanjutnya adalah mengenai penyelenggaraan wajib belajar. pendidikan dasar. Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional menetapkan komponen sistem pendidikan yang perlu diatur mencakup pendidikan anak usia dini. Pemerintah Provinsi melakukan koordinasi atas penyelenggaraan pendidikan. akreditasi. dan 53 Undang-Undang Nomor 20 Tentang Sistem Pendidikan Nasional menjelaskan antara lain bahwa pengelolaan sistem pendidikan nasional merupakan tanggung jawab Menteri Pendidikan Nasional yang menentukan kebijakan nasional dan standar nasional pendidikan untuk menjamin mutu pendidikan nasional. evaluasi.doc 130 . dan evaluasi yang transparan. akuntabilitas. Pemerintah dan/atau pemerintah daerah menyelenggarakan paling sedikit satu satuan pendidikan pada semua jenjang pendidikan untuk dikembangkan menjadi satuan pendidikan yang bertaraf internasional. serta satuan pendidikan yang berbasis keunggulan lokal. pendidikan keagamaan. Pemerintah Kabupaten/Kota mengelola pendidikan dasar dan pendidikan menengah. jaminan mutu. pendidikan kedinasan. Pasal 50. dan ketentuan pidana. pendidikan dasar. suatu contoh nyata dari keadaan ini adalah bermunculannya “cabang” sekolah luar negeri di kotakota besar di Indonesia. perlu dibuat suatu peraturan perundangan tentang pengelolaan dan penyelenggaraan pendidikan yang resposif dan akurat untuk meminimalkan dampak negatif serta memaksimalkan dampak positifnya terhadap sistem pendidikan nasional. Wajib Belajar. AFTA menyebabkan terbukanya peluang bagi negara asing untuk menyelenggarakan pendidikan di Indonesia. Pengelolaan satuan pendidikan nonformal dilakukan oleh Pemerintah. dan pendidikan menengah dilaksanakan berdasarkan standar pelayanan minimal dengan prinsip manajemen berbasis sekolah/madrasah. Pengelolaan pendidikan dalam rangka peningkatan 76461668. penyelenggaraan pendidikan oleh lembaga negara asing. pendidik dan tenaga kependidikan.pengetahuan dan teknologi lebih banyak dan mumpuni yang akan memenangkan persaingan global. (3) munculnya organisasi internasional seperti WTO. Untuk mengantisipasi serta merespon pengaruh dari faktor-faktor tersebut. sarana dan prasarana pendidikan. dan Pendanaan Pendidikan diatur secara tersendiri. pendidikan informal. Pengelolaan satuan pendidikan tinggi dilaksanakan berdasarkan prinsip otonomi. Pemerintah Kabupaten/Kota. Sedangkan lingkup pengaturan dalam Peraturan Pemerintah ini mencakup Pengelolaan dan Penyelenggaraan pendidikan berdasarkan jenjang dan jenis pendidikan serta berdasarkan fungsi dalam sistem pendidikan nasional. Perguruan tinggi menentukan kebijakan dan memiliki otonomi dalam mengelola pendidikan di lembaganya. dan penyediaan fasilitas penyelenggaraan pendidikan lintas daerah kabupaten/kota untuk tingkat pendidikan dasar dan menengah. dan pengeloaan oleh badan hukum pendidikan. dan sertifikasi. Pengaturan tentang Standar Nasional Pendidikan. dan/atau masyarakat. pengawasan. 52. pendidikan tinggi. Pendidikan Kedinasan. pendidikan menengah. 51. pengelolaan pendidikan. pemerintah daerah. Lingkup pengaturan tentang pengelolaan pendidikan mencakup ketentuan tentang pengelolaan oleh Pemerintah. dan pendidikan khusus dan pendidikan layanan khusus. Pemerintah Provinsi. pendanaan pendidikan. pendirian satuan pendidikan. Pengelolaan satuan pendidikan anak usia dini. kurikulum. pengembangan tenaga kependidikan. pendidikan jarak jauh. peranserta masyarakat dalam pendidikan. Standar Nasional Pendidikan.

memberikan perhatian khusus kepada peserta didik berkelainan dan peserta didik di daerah terpencil atau terbelakang. pendidikan bertaraf internasional. Lingkup pengaturan tentang penyelenggaraan pendidikan mencakup ketentuan tentang fungsi dan tujuan. Landasan akademik dalam pengaturan tentang pengelolaan dan penyelenggaraan pendidikan pada masing-masing jalur. dan penghargaan terhadap peranserta seluruh komponen pendidikan. b. 76461668. dan tidak mampu dari segi ekonomi.partisipasi masyarakat dalam penyelenggaraan pendidikan mencakup penguatan prinsip penyelenggaraan pendidikan oleh. Penyelenggaraan pendidikan perlu memberikan perhatian kepada hak peserta didik untuk mendapatkan pendidikan agama sesuai dengan agama yang dianutnynya dan diajar oleh pendidik yang seagama. Para ahli perkembangan anak berpendapat bahwa masa 0 (nol) sampai dengan 6 (enam) tahun pertama dalam kehidupan seorang manusia merupakan masa di mana perkembangan fisik dan motorik. serta pengutan pean Komite Sekolah/Madrasah. Bagi anak yang memperoleh pendidikan. bentuk satuan pendidikan. Pendidikan dasar dan menengah. dan cenderung menetap sampai usia dewasa. hak untuk mendapatkan beasiswa bagi yang berprestasi. dan penguatan peran Dewan Pendidikan di tingkat nasional. pengutamaan pada kebutuhan anak. pendidikan jarak jauh. baik orang tua dan keluarganya maupun masyarakat lain. serta kepada masyarakat adat yang terpencil dan/atau mengalami bencana alam. pendidikan berbasis keunggulan lokal. bahkan cara-cara belajar anak mulai mengambil bentuk dasarnya. Usia dini merupakan masa peka untuk menerima stimulasi dan sangat menentukan bagi perkembangan selanjutnya.doc 131 . penghargaan pada keunikan setiap anak. pendidikan lintas jalur dan satuan pendidikan. Pendidikan anak usia dini (PAUD). peserta didik. dan kabupaten. pendidikan khusus dan pendidikan layanan khusus pada semua jenjang dan jenis pendidikan. nilai-nilai. sikap. pendidikan nonformal dan informal. Keterampilan-keterampilan tersebut merupakan keterampilan dasar yang harus dikembangkan secara optimal agar potensi yang ada pada anak tidak hilang percuma. PAUD diselenggarakan dalam upaya membantu meletakkan dasar perkembangan anak sebelum memasuki pendidikan dasar. bencana sosial. dan jenis pendidikan adalah sebagai berikut. Filosofi dasar PAUD adalah menciptakan lingkungan belajar yang mendorong terbangunnya harga diri yang positif pada anak. jenjang. dengan mengedepankan nilai-nilai anti diskriminasi. Pada kenyataannya sejumlah besar studi mendukung anggapan ini dan mengungkapkan bahwa masa inilah sejumlah besar kemampuan berbahasa. provinsi. dan dari masyarakat. Keterampilan-keterampilan tersebut tidak terjadi secara alamiah tetapi harus didukung oleh lingkungan. stimulasi diberikan juga agar anak dapat mempersiapkan diri memasuki pendidikan dasar dengan lebih baik. untuk. izin pendirian. pendidikan oleh negara asing. a. intelektual maupun sosial berlangsung dengan sangat pesatnya sehingga seringkali disimpulkan bahwa keberhasilan pada masa ini menentukan seluruh masa depan seorang anak.

teknologi dan/atau seni . Salah satu indikator yang menunjukkan hal ini adalah meningkatnya kesadaran masyarakat tentang arti pentingnya pendidikan bagi putra-putri mereka. pendidikan kepemudaan. Peranserta masyarakat dalam penyelenggaraan perguruan tinggi dalam bentuk badan hukum penyelenggara adalah sebagai fasilitator yang bukan merupakan bagian dari perguruan tinggi. Dalam konteks pengelolaan perguruan tinggi dengan status badan hukum. Kenyataan tersebut ditambah pula dengan beberapa hasil penelitian yang menemukan bahwa ada hubungan positif antara kemajuan suatu negara dengan peningkatan peranserta masyarakat dalam pendidikan. Pendidikan tinggi. Kedudukan perguruan tinggi yang diselenggarakan Pemerintah atau yang diselenggarakan masyarakat adalah sama. d.doc 132 . pendidikan kesetaraan.Peraturan Pemerintah tentang pendidikan dasar dan menengah cukup strategis untuk dikembangkan mengingat posisi ketenagakerjaan di Indonesia yang pada umumnya baru mencapai pendidikan menengah ke bawah. Pemerintah dan masyarakat memiliki kewajiban untuk memfasilitasi semua perguruan tinggi dalam bentuk pendanaan atau kebutuhan lainnya (termasuk bantuan pegawai negeri). Kinerja perguruan tinggi dalam menyelenggarakan pendidikan tinggi menjadi salah satu katalisator tinggi rendahnya kualitas sumber daya manusia yang sering dinyatakan sebagai tingkat perkembangan SDM atau Human Development Index (HDI). Pemerintah Kabupaten/Kota mengelola satuan pendidikan yang berbasis keunggulan lokal. serta ilmu agama. c. Disamping itu. di semua bidang ilmu pengetahuan. pendidikan anak usia dini. dan/atau vokasi. Aspek lain yang tidak kalah pentingnya adalah meningkatnya peranserta masyarakat dalam pembangunan pendidikan. Pendidikan nonformal meliputi pendidikan kecakapan hidup. tetap besar. peran Pemerintah secara bertahap akan beralih dari penyelenggara menjadi fasilitator dan pengelola perguruan tinggi menjadi berbasis masyarakat. Pendidikan tinggi merupakan salah satu pilar penting dalam sistem pendidikan nasional yang bertujuan mengembangkan peserta didik agar memiliki kemampuan akademik. profesi. Pendidikan nonformal dan pendidikan informal. kursus dan pelatihan. pendidikan keaksaraan. Kewajiban Pemerintah terhadap semua perguruan tinggi yang sangat penting ialah sebagai pengendali mutu perguruan tinggi. Peran pemerintah dalam penentuan kebijakan umum perguruan tinggi akan ditentukan berdasarkan besarnya keterlibatan Pemerintah antara lain: besarnya dana untuk kepentingan perguruan yang dianggarkan dan disalurkan kepada pendidikan tinggi. serta pendidikan sejenis lainnya yang ditujukan untuk mengembangkan kemampuan peserta didik dalam memenuhi hak 76461668. pendidikan pemberdayaan perempuan. Peran Pemerintah dalam pengendalian mutu maupun pengawasan terhadap jalannya perguruan tinggi yang dilakukan melalui lembaga umum dan Pemerintah. Untuk itulah maka Undang-Undang mengamanatkan bahwa Pemerintah dan/atau pemerintah daerah menyelenggarakan sekurangkurangnya 1 (satu) satuan pendidikan pada semua jenjang pendidikan untuk dikembangkan menjadi satuan pendidikan yang bertaraf internasional.

Agar biaya penyelenggaraan pendidikan jarak jauh berbasis teknologi informasi dan komunikasi menjadi murah. pendidikan khusus masih menghadapi tantangan berat yang meliputi persoalan-persoalan yang terkait dengan: (a) perluasan kesempatan belajar bagi peserta didik yang membutuhkan pendidikan khusus. Pendidikan informal adalah jalur pendidikan yang dilakukan oleh keluarga dan lingkungan dalam bentuk kegiatan belajar mandiri. mutu. sehingga dapat memberikan kontribusi terhadap perluasan lapangan kerja dan penurunan pengangguran/kemiskinan. dan efisiensi pada semua jalur. 76461668. dan (d) efisiensi. Kondisi geografis. waktu. Sistem operasional pendidikan jarak jauh yang mencakup layanan registrasi.doc 133 . atau menjalankan fungsi kerumahtanggaan bagi ibu rumah tangga. Program pendidikan nonformal yang berorientasi pada kursus dan pelatihan keterampilan merupakan jembatan antara pendidikan formal dan dunia kerja. f. Dalam era globalisasi. psikologis. media. dan ujian harus dirancang sedemikan rupa untuk mengatasi hambatan jarak dan waktu dan dapat diakses oleh peserta didik setiap saat. Pendidikan khusus dan pendidikan layanan khusus. Pendidikan informal berfungsi untuk memberikan keyakinan agama. nilai budaya. dan media lain. maka produksi bahan ajar mandiri dan layanan akademiknya harus dirancang berdasarkan prinsip industrialisasi masal. perkembangan teknologi komunikasi.setiap warga negara untuk memperoleh pendidikan yang merata. informasi. untuk membentuk kemampuan dan keahlian yang lebih bermutu. (c) relevansi. Oleh karena itu. dan keterampilan peserta didik dalam rangka mencapai tujuan pendidikan nasional. Pendidikan informal merupakan pengalaman berharga bagi setiap individu sesuai dengan kesempatan. tingkat laju pertumbuhan penduduk. minat. dan informatika (telematika). Tuntutan atas peran strategis pendidikan sebagai suatu pranata sosial yang kuat dan berwibawa untuk mewujudkan tujuan nasional khususnya dalam mencerdaskan kehidupan bangsa telah mendorong pemanfaatan sistem pendidikan jarah jauh sebagai komponen dari sistem pendidikan nasional. Sistem pendidikan jarak jauh ditujukan untuk meningkatkan pemerataan akses terhadap pendidikan bermutu terutama untuk mengatasi hambatan jarak. tantangan globalisasi. yaitu mencerdaskan kehidupan bangsa. adil dan bermutu sebagai perwujudan dari salah satu tujuan nasional. e. distribusi bahan ajar mandiri. layanan pendidikan jarak jauh diselenggarakan dengan memanfaatkan media belajar melalui teknologi telekomunikasi. yaitu untuk melayani peserta didik dalam jumlah besar. dan fisik bagi peserta didik agar dapat belajar sambil bekerja. tingkat dan jenis pendidikan. Hasil pendidikan informal dapat diakui sama dengan hasil pendidikan formal dan nonformal setelah mengikuti Ujian Nasional dan/atau uji kompetensi sesuai dengan Standar Nasional Pendidikan. relevansi. serta pengalaman dalam penyelenggaraan pendidikan jarak jauh menjadi pertimbangan utama dalam penerapan sistem pendidikan jarak jauh untuk meningkatkan akses. nilai moral estetika dan etika serta memberikan pengetahuan. Pendidikan jarak jauh. perhatian. tutorial. dan bakatnya. (b) peningkatan mutu.

doc 134 . dan informal yang saling melengkapi dan memperkaya.Kesungguhan pendidikan khusus dalam mengatasi tantangan-tantangan tersebut akan mencerminkan kehidupan berbangsa dan bernegara secara demokratis yang tidak membedakan satu sama lain. Selain itu. 76461668. (c) penyelenggaraan tingkat khusus. di samping (e) penyelenggaraan sekolah khusus. nonformal. pendidikan khusus dapat diselenggarakan melalui jalur formal. Tantangan dalam perluasan kesempatan belajar perlu segera dijawab melalui kebijakan dan strategi perluasan kesempatan belajar bagi peserta didik yang membutuhkan pendidikan khusus dengan berbagai cara/pendekatan melalui: (a) perintisan dan pengembangan pendidikan terpadu. (b) perintisan dan pengembangan pendidikan inklusi.

Satuan pendidikan dasar dan menengah yang dikembangkan menjadi bertaraf internasional diselenggarakan dengan mengacu pada Standar Nasional Pendidikan yang diperkaya dengan standar pendidikan/standar kompetensi negara maju dalam bidang ilmu pengetahuan. Satuan pendidikan dasar dan menengah bertaraf internasional menghasilkan lulusan yang memiliki kemampuan dan daya saing di forum internasional. UU Sisdiknas mengamanatkan kepada pemerintah dan pemerintah daerah berkewajiban untuk mengembangkan paling sedikit satu satuan pendidikan pada setiap jenis dan jenjang pendidikan menjadi satuan pendidikan berfaraf internasional dan satuan pendidikan berbasis keunggulan lokal. dan promosi keunggulan lokal.doc 135 . Perwakilan negara asing dapat menyelenggarakan pendidikan di wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia untuk warga negaranya dapat menggunakan ketentuan yang berlaku di negara yang bersangkutan atas persetujuan Pemerintah Republik Indonesia. Pendidikan bertaraf internasional dan berbasis keunggulan lokal. Satuan pendidikan dasar dan menengah yang dikembangkan menjadi berbasis keunggulan lokal diselenggarakan dengan mengacu pada Standar Nasional Pendidikan yang diperkaya dan dikembangkan sesuai dengan potensi daerah/karakteristik daerah dan sosial budaya masyarakat setempat. Di pihak lain upaya untuk melaksanakan pembangunan nasional. pengembangan. Satuan pendidikan dasar dan menengah berbasis keunggulan lokal menghasilkan lulusan yang memiliki kemampuan mengolah dan/atau mengembangkan sumber daya lingkungan di daerahnya dan menghasilkan produk yang mempunyai nilai ekonomis serta menunjang pelestarian. Lembaga pendidikan asing 76461668. dan seni. Dalam rangka pelaksnaan pembangunan nasional sesuai dengan tuntuan kehidupan global dan pendayagunaan sumberdaya daerah secara optimal. Salah satu dampak dari kehidupan global dan penggunaan teknologi informasi dan komunikasi adalah terbukanya akses dari dan ke negara Indonesia. Tata kehidupan dalam era global abad ke 21 yang ditandai dengan dominasi penggunaan kaedah-kaedah teknologi informasi dan komunikasi dan kompetisi terbuka menuntut persyaratan kompetensi profesional yang berlaku secara internasional. Untuk menjaga keutuhan sistem pendidikan nasional. dan pembangunan sumberdaya lokal maupun nasional. juga harus mampu memberdayakaan sumberdaya dan potensi lokal dalam semangat otonomi daerah. selain diarahkan pada upaya memenuhi kebutuhan kehidupan global. h. Penyelenggaraan Pendidikan oleh Negara Lain dan Kerjasama Satuan Pendidikan Indonesia dengan Satuan Pendidikan Negara Lain. Dampak positifnya adalah dapat memperkaya khasanah pendidikan nasional baik melalui pendirian satuan pendidikan internasional oleh negara lain maupun melalui kerjasama dengan satuan pendidikan di Indonesia. termasuk dalam hal penyelenggaraan pendidikan.g. serta menunjang pelestarian. penyelenggaraan pendidikan oleh negara lain ataupun kerjasama penyelenggaraan pendidikan asing perlu mendapat pengaturan secara tegas. pengembangan. teknologi.

dan bahkan dapat mematikan inisiatif masyarakat dalam penyelenggaraan pendidikan. Pemerintah dan pemerintah daerah wajib membantu pembinaan dan pengembangan tenaga kependidikan pada satuan pendidikan formal yang diselenggarakan oleh masyarakat. konseling dan layanan serta melakukan penelitian dan pengabdian kepada masyarakat. pendidikan kewarganegaraan. Untuk menjadikan lembaga pendidikan sebagai pusat pembudayaan ilmu pengetahuan. masyarakat dan keluarga sebagai perwujudan dari tatanan kehidupan masyarakat madani. dan bahasa Indonesia kepada peserta didik warga negara Indonesia. pengembangan. dan prestasi kerja dalam bidang pendidikan. reformasi dalam bidang pendidikan harus mencakup upaya pemberdayaan 76461668. menilai hasil pembelajaran. i. Visi sistem pendidikan nasional sebagai pranata sosial yang kuat dan berwibawa menyiratkan kemitraan dalam penyelenggaraan pendidikan oleh semua komponen bangsa yaitu Pemerintah. penempatan. Tenaga kependidikan selain pendidik bertugas melaksanakan administrasi. dan pemberhentian pendidik dan tenaga kependidikan diatur oleh lembaga yang mengangkatnya berdasarkan kebutuhan satuan pendidikan formal. keterampilan. Peranserta masyarakat dalam pendidikan. penyebaran. Pola penyelenggaraan pendidikan yang selama ini cenderung terpusat pada Pemerintah mengakibatkan kurangnya peranserta masyarakat. melakukan pembimbingan dan pelatihan. sikap dan nilai berdasarkan standar nasional dan global. pengalaman. Pengangkatan. kemampuan. Pendidik dan tenaga kependidikan dapat bekerja secara lintas daerah. Penyelenggaraan pendidikan oleh lembaga asing yang menerima peserta didik warga negara Indonesia wajib memberikan pendidikan agama.yang terakreditasi atau yang diakui di negaranya dapat menyelenggarakan pendidikan bagi warga negara asing maupun warga negara Indonesia. Promosi dan penghargaan bagi pendidik dan tenaga kependidikan dilakukan berdasarkan latar belakang pendidikan. Pemerintah dan pemerintah daerah wajib memfasilitasi satuan pendidikan dengan pendidik dan tenaga kependidikan yang diperlukan untuk menjamin terselenggaranya pendidikan yang bermutu. Pendidik dan tenaga kependidikan. j. diperlukan pendidik dan tenaga kependidikan yang profesional.doc 136 . Pendidik dan tenaga kependidikan merupakan salah satu unsur pokok dalam proses penjaminan mutu pendidikan. Penyelenggaraan pendidikan tersebut harus bekerja sama dengan lembaga penyelenggara pendidikan Indonesia. dan pelayanan teknis untuk menunjang proses pendidikan pada satuan pendidikan. pengalaman. Pemerintah dan pemerintah daerah wajib membina dan mengembangkan tenaga kependidikan pada satuan pendidikan yang diselenggarakan oleh Pemerintah dan pemerintah daerah. Penyelenggara pendidikan oleh masyarakat berkewajiban membina dan mengembangkan tenaga kependidikan pada satuan pendidikan yang diselenggarakannya. Pendidik merupakan tenaga profesional yang bertugas merencanakan dan melaksanakan proses pembelajaran. terutama bagi pendidik pada perguruan tinggi. Bahasa pengantar utama pada satuan pendidikan yang diselenggarakan oleh lembaga pendidikan asing adalah bahasa Indonesia. pengawasan. Seiring dengan semangat demokratisasi dan pelaksanaan otonomi daerah. pengelolaan.

Pasal 2 Cukup jelas. Pasal 4 Cukup jelas.doc 137 .peranserta masyarakat baik dalam penyelenggaraan pendidikan berbasis masyarakat maupun dalam pengelolaan pendidikan melalui pembentukan dewan pendidikan di tingkat nasional. II. 76461668. Sedangkan pembentukan dewan pendidikan dan komite sekolah/madrasah atau nama lain yang sejenis merupakan perwujudan dari kemitraan masyarakat dalam pengelolaan pendidikan bersama penyelenggara pendidikan baik di tingkat pengambil keputusan pada lembaga eksekutif dan legislatif maupun pada tingkat satuan pendidikan. Ayat (3) Manajemen Berbasis Sekolah/Madrasah adalah bentuk otonomi satuan pendidikan. Dalam hal ini kepala sekolah/madrasah dan guru dibantu komite sekolah/madrasah atau nama lain yang sejenis/madrasah dalam mengelola sekolah/madrasah. Pasal 3 Cukup jelas. untuk. PASAL DEMI PASAL Pasal 1 Cukup jelas. dan dari masyarakat. konvensi internasional. Penyelengaraan pendidikan berbasis masyarakat merupakan perwujudan dari prinsip pendidikan yang diselenggarakan oleh. dan kabupaten/kota serta pembentukan komite sekolah/madrasah di tingkat satuan pendidikan. dan kewajiban negara dalam rangka peningkatan keselamatan manusia serta kesepakatan dengan organisasi internasional. provinsi. Pasal 5 Ayat (1) Cukup jelas. Ayat (2) Pengelolaan satuan pendidikan yang dilakukan oleh Menteri lain atau kepala lembaga pemerintahan non departemen sebagaimana dimaksud dalam pasal ini adalah dalam rangka melaksanakan amanat UU. yaitu pendidikan yang diselenggarakan oleh masyarakat sebagai pemenuhan atas ciri khas yang berkenaan dengan nilai-nilai sosial dan kultural pada masyarakat tertentu.

Ayat (4) Cukup jelas Pasal 6 Cukup jelas. Pasal 10 Cukup jelas. Cukup jelas Huruf b. Cukup jelas Huruf d. Ayat (2) Huruf a. Pasal 11 Ayat (1) Cukup jelas. Ayat (2) Cukup jelas. Pasal 9 Ayat (1) Potensi kecerdasan dan bakat istimewa meliputi bidang intelektual umum. Cukup jelas 76461668. Pasal 7 Cukup jelas. akademik khusus. kreatif produktif. Cukup jelas Huruf c. Pasal 8 Cukup jelas. dan psikomotorik/olahraga.doc 138 . seni kinestetik. psikososial/kepemimpinan.

Cukup jelas Huruf h.doc 139 . Cukup jelas Huruf i. Cukup jelas Ayat (3) Cukup jelas. Ayat (4) Cukup jelas. Pasal 13 Ayat (1) Cukup jelas. Pasal 15 Cukup jelas. Pasal 14 Cukup jelas.Huruf e. Cukup jelas Huruf g. Koordinasi dan mensupervisi pengembangan kurikulum untuk MA dan MAK dilakukan oleh Kantor Wilayah Departemen Agama Provinsi. Ayat (2) Cukup jelas. Huruf f. Ayat (3) Cukup jelas. Pasal 12 Cukup jelas. 76461668.

Cukup jelas Huruf e. Cukup jelas Huruf k.Pasal 16 Ayat (1) Cukup jelas. Cukup jelas Huruf l. Koordinasi dan mensupervisi pengembangan kurikulum untuk MI dan MTs dilakukan oleh Kantor Departemen Agama Kabupaten/Kota Huruf h. Cukup jelas Huruf c.doc 140 . 76461668. Cukup jelas Huruf d. Cukup jelas Huruf b. Cukup jelas Huruf j. Ayat (2) Huruf a. Cukup jelas Huruf i. Cukup jelas Huruf g. Cukup jelas Huruf f.

dan penilaian pendidikan yang harus dipenuhi oleh setiap satuan pendidikan dasar dan menengah. Pasal 25 Ayat (1) Cukup jelas Ayat (2) huruf a Cukup jelas Huruf b 76461668. Pasal 18 Cukup jelas. Pasal 24 Cukup jelas. tenaga kependidikan. pengelolaan. Pasal 17 Cukup jelas.doc 141 . Pasal 22 Cukup jelas. Pasal 19 Cukup jelas. pembiayaan. Pasal 23 Cukup jelas. sarana dan prasarana. proses. Pasal 20 Cukup jelas.Cukup jelas Ayat (3) Standar pelayanan minimal merupakan batas minimal pemenuhan standar isi. serta pencapaian target pembangunan pendidikan nasional. kompetensi lulusan. Pasal 21 Cukup jelas.

Huruf e Cukup jelas Huruf f Cukup jelas 76461668.doc 142 .Cukup jelas Huruf c Cukup jelas huruf d Apabila pendidikan dasar dikembangkan oleh Pemerintah Provinsi menjadi bertaraf internasional. maka laporan penyelenggaraannya disampaikan kepada Pemerintah Provinsi. huruf e Cukup jelas Huruf f Cukup jelas Pasal 26 Ayat (1) Cukup jelas Ayat (2) Huruf a Cukup jelas Huruf b Cukup jelas Huruf c Cukup jelas Huruf d Apabila pendidikan menengah dikembangkan oleh Pemerintah Provinsi menjadi bertaraf internasional. maka laporan penyelenggaraannya disampaikan kepada Pemerintah Provinsi.

Pasal 29 Cukup jelas. Pasal 32 Cukup jelas. Ayat (2) Cukup jelas. Pasal 28 Cukup jelas. Pasal 33 Cukup jelas. Pasal 36 Ayat (1) Cukup jelas Ayat (2) 76461668. Pasal 31 Cukup jelas.doc 143 . Taman Kanak-kanak Al-Qur’an (TKQ). Ayat (3) Cukup jelas Pasal 35 Cukup jelas. Pasal 34 Ayat (1) Bentuk lain yang sederajat antara lain Tarbiyatul Athfal (TA). Taman Pendidikan AlQur’an (TPQ). Pasal 30 Cukup jelas.Pasal 27 Cukup jelas. dan Adi Sekha.

Huruf b. atau bentuk lain yang sederajat dimaksudkan untuk peningkatan potensi spiritual peserta didik melalui contoh pengamalan dari pendidik agar menjadi kebiasaan sehari-hari. Ayat (2) Huruf a. RA. pramembaca. dan menyenangkan sehingga anak menyukai belajar. atau bentuk lain yang sederajat dengan menekankan pada penyiapan kemampuan berkomunikasi dan berlogika melalui berbicara. Huruf c. pramenulis dan praberhitung yang harus dilaksanakan secara hati-hati. RA. atau bentuk lain yang sederajat dimaksudkan untuk mempersiapkan peserta didik secara akademik memasuki SD. 76461668. Program pembelajaran pengetahuan dan teknologi pada TK. Program pembelajaran sosial dan kepribadian pada TK. RA.doc 144 . atau bentuk lain yang sederajat dimaksudkan untuk pembentukan kesadaran dan wawasan peserta didik atas hak dan kewajibannya sebagai warga masyarakat dan dalam interaksi sosial serta pemahaman terhadap diri dan peningkatan kualitas diri sebagai manusia sehingga memiliki rasa percaya diri. tidak memaksa.Ketentuan ini tidak berlaku bagi satuan pendidikan yang secara khusus dirancang untuk melayani peserta didik dari kelompok gender atau agama tertentu. MI. mendengarkan. baik di dalam maupun di luar sekolah. Ayat (4) Cukup jelas Pasal 37 Ayat (1) Cukup jelas. sehingga menjadi bagian dari budaya sekolah. Program pembelajaran agama dan akhlak mulia pada TK. Ayat (3) Cukup jelas.

RA atau bentuk lain yang sederajat dimaksudkan untuk meningkatkan potensi fisik dan menanamkan sportivitas serta kesadaran hidup sehat dan bersih. Ayat (3) Cukup jelas. dan Majjhima Sekha. kemampuan mengekspresikan diri dan kemampuan mengapresiasi keindahan dan harmoni yang terwujud dalam tingkah laku keseharian. Misalnya memahami dan bersikap sopan kepada orang tua.doc 145 . Huruf e. Ayat (5) Cukup jelas. pendidikan diniyah menengah pertama. Pasal 39 Ayat (1) Bentuk lain yang sederajat dengan SD dan MI antara lain Paket A. Madyama Vidyalaya (MV). dan Culla Sekha. olahraga dan kesehatan pada TK. Ayat (4) Cukup jelas. Pasal 38 Cukup jelas. Bentuk lain yang sederajat dengan SMP dan MTs antara lain Paket B. pendidikan diniyah dasar.Huruf d. Program pembelajaran jasmani. Adi Vidyalaya (AV). Program pembelajaran estetika pada TK. saudara. 76461668. Ayat (7) Cukup jelas. RA atau bentuk lain yang sederajat dimaksudkan untuk meningkatkan sensitivitas. Ayat (6) Stimulasi psikososial adalah rangsangan pendidikan yang menumbuhkan kepekaan memahami dan bersikap terhadap lingkungan sosial sekitarnya. dan teman.

Ayat (3) Apabila psikolog profesional tidak ada. Ayat (2) Cukup jelas. Ayat (4) Kemudahan akses fisik misalnya jarak tempuh dari tempat 76461668. Ayat (4) Cukup jelas. Ayat (3) Cukup jelas. Ayat (2) Cukup jelas. Pasal 42 Ayat (1) Cukup jelas. Pasal 41 Ayat (1) Peserta didik pada SMP atau MTs dapat berasal dari warga negara asing. sejauh daya tampung memungkinkan. Ayat (3) Cukup jelas.doc 146 . Pasal 40 Ayat (1) Cukup jelas. rekomendasi dapat dilakukan oleh dewan guru satuan pendidikan yang bersangkutan. Ayat (2) Lihat penjelasan Pasal 36 ayat (2).Ayat (2) Cukup jelas.

Pasal 47 Ayat (1) Cukup jelas. Ayat (3) Penjurusan pada pendidikan kejuruan dalam bentuk bidang kejuruan yang merupakan unit akademik terkecil dalam pendidikan kejuruan. Ayat (5) Cukup jelas. bidang kejuruan dan program kejuruan. Pasal 45 Cukup jelas. Adapun struktur penjurusan pada pendidikan kejuruan adalah: kelompok kejuruan. Ayat (2) Cukup jelas.tinggal ke satuan pendidikan. Pasal 43 Cukup jelas. pendidikan diniyah menengah atas. Ayat (6) Cukup jelas.doc 147 . Pasal 46 Ayat (1) Bentuk lain yang sederajat dengan SMA dan MA antara lain Paket C. Struktur penjurusan ini akan menentukan 76461668. Pasal 44 Cukup jelas. dan Maha Sekha. Jenis program keahlian mengacu kepada jenis pekerjaan. Utama Vidyalaya (UV). Ayat (3) Cukup jelas. Ayat (2) Cukup jelas.

Pasal 50 Ayat (1) Cukup jelas. Pelestarian meliputi kemahiran tertentu. pendidikan kejuruan harus memperhatikan dan mempertimbangkan tren ketenagakerjaan nasional. Ayat (4) Cukup jelas.doc 148 . MAK atau bentuk lain yang sederajat dapat berasal dari warga negara asing.cakupan mata pelajaran pada setiap jenis bidang kejuruan. Ayat (5) Karena pendidikan kejuruan berorientasi pada peluang untuk memperoleh pekerjaan. regional dan global. Ayat (6) Cukup jelas. Ayat (7) Cukup jelas. Pasal 48 Cukup jelas Pasal 49 Ayat (1) Peserta didik pada SMA atau MA SMK. Ayat (3) pelestarian seni budaya dan atau 76461668. maka dalam rangka mengantisipasi persaingan global. Ayat(3) Cukup jelas. Ayat (2) Lihat penjelasan Pasal 36 ayat (2). Ayat(2) Cukup jelas.

Cukup jelas. teknologi. Pasal 52 Ayat (1) Cukup jelas.doc 149 . Pasal 51 Cukup jelas. sesuai ketentuan Pasal 93 Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan. dan doktor. 76461668. Ayat (2) Pendidikan akademik merupakan pendidikan tinggi yang diarahkan terutama pada penguasaan dan pengembangan disiplin ilmu pengetahuan. Ayat (7) Cukup jelas. dapat mencakup program spesialis. Ayat (6) Cukup jelas. Ayat (5) Cukup jelas. yang mencakup program sarjana. Ayat (8) Cukup jelas. magister. Pendidikan profesi merupakan pendidikan tinggi setelah program pendidikan sarjana yang mempersiapkan peserta didik untuk memiliki pekerjaan dengan persyaratan keahlian khusus. dan/atau seni tertentu. Ayat (4) Lulusan dari satuan pendidikan yang mendapatkan pengakuan sama adalah lulusan dari satuan pendidikan formal yang diselenggarakan tidak mengacu pada Standar Nasional Pendidikan akan tetapi telah memperoleh pengakuan dari Pemerintah atas dasar rekomendasi dari Badan Standar Nasional Pendidikan.

Program pendidikan diploma terdiri atas program pendidikan diploma I. Pasal 53 Cukup jelas. setinggi-tingginya setara dengan program pendidikan sarjana. Penguasaan kompetensi pedagogik. dan kopetensi sosial dalam satu program studi. Pasal 55 Ayat (1) Program pendidikan secara serempak dan utuh (concurrent program) adalah program pendidikan guru yang kurikulumnya memuat pengembangan kompetensi profesional (penguasaan substansi keilmuan. Ayat (3) Cukup jelas. dan/atau seni) dalam program studi nonkependidikan untuk memperoleh kualifikasi akademik sarjana nonkependidikan. dan kopetensi sosial diperoleh melalui program pendidikan profesi. Ayat (2) Program pendidikan bersambungan (consecutive program) adalah program pendidikan guru yang diawali dengan pemerolehan kompetensi profesional (penguasaan substansi keilmuan.doc 150 .`teknologi. diploma II. Ayat (2) Program pendidikan tenaga kependidikan termasuk program pengadaan guru serta pengembangan ilmu kependidikan dan ilmu dasar. dan diploma IV. dan/atau seni pada fakultas tarbiyah dan pada fakultas lain yang sejenis. Lulusan program ini memperoleh kualifikasi akademik sarjana pendidikan guru TK/RA atau SD/MI. kompetensi kepribadian.Pendidikan vokasi merupakan pendidikan tinggi yang diarahkan pada penguasaan keahlian terapan tertentu. kopetensi kepribadian. dan/atau seni). teknologi. teknologi. yang mencakup program pendidikan diploma. kompetensi pedagogik. Pasal 54 Ayat (1) Cukup jelas. diploma III. 76461668.

dan memiliki jurnal ilmiah yang secara berkala menerbitkan hasil-hasil penelitian. Ayat (4) Cukup jelas. Ayat (2) Cukup jelas. dan akses internet. akses internet. Perguruan tinggi yang lebih fokus pada pendidikan profesi dan/atau vokasi menyediakan secara cukup perpustakaan pengajaran. Setiap perguruan tinggi disarankan untuk memiliki sarana olahraga dan kesenian yang memadai untuk menciptakan kehidupan kampus yang manusiawi dan menyenangkan.Pasal 56 Cukup jelas. perguruan tinggi riset harus menyediakan secara cukup perpustakaan riset. laboratorium pengajaran. Pasal 62 Cukup jelas. laboratorium riset. 76461668. Misalnya. Pasal 58 Cukup jelas. Pasal 61 Cukup jelas. Ayat (3) Cukup jelas. Pasal 59 Cukup jelas. Pasal 57 Ayat (1) Penyediaan unsur penunjang disesuaikan dengan ciri dari perguruan tinggi yang bersangkutan. Pasal 60 Cukup jelas. pusat komputerisasi riset. Unit pengelola/layanan dapat menjadi unit pelaksana teknis yang membidangi satu atau beberapa objek pengelolaan/layanan.doc 151 . pusat komputasi pengajaran.

Cukup jelas. atau kelompok tertentu dari ketertinggalannya. Ayat (2) Cukup jelas. daerah. Kebijakan semacam ini harus dinyatakan secara terbuka sebagai kebijakan afirmatif. Ayat (5) Cukup jelas. 76461668. Ayat (2) Cukup jelas. Tingkat pendidikan hanya berlaku untuk persyaratan mengikuti program pendidikan yang lebih rendah ke program yang lebih tinggi dalam satu jenjang pendidikan tinggi. Ayat (3) Perguruan tinggi dapat menerapkan kebijakan afirmatif dalam penerimaan mahasiswa baru untuk mengakomodasi etnik.doc 152 . Ayat (4) Lihat penjelasan Pasal 36 ayat (2).Pasal 63 Ayat (1) Huruf a. Ayat (3) Cukup jelas. Pasal 64 Ayat (1) Cukup jelas. Misalnya. Huruf b. Ayat (4) Cukup jelas. mahasiswa lulusan program sarjana melanjutkan ke program pascasarjana.

Ayat (8) Cukup jelas. Pasal 67 Ayat (1) Yang dimaksud dengan Sistem Kredit Semester (SKS) adalah suatu sistem penyelenggaraan pendidikan di mana beban belajar mahasiswa. Ayat (2) Cukup jelas. afektif. dan psikomotorik.doc 153 . Pasal 66 Ayat (1) Kemampuan konfluen merupakan kemampuan utuh mahasiswa yang mencerminkan keintegrasian kemampuan kognitif. beban kerja tenaga pengajar dan penyelenggara program lembaga pendidikan tinggi dinyatakan 76461668. Pengumuman hasil tes tambahan dan/atau penilaian rapor tidak boleh dilakukan sebelum pengumuman Ujian Nasional dimaksudkan untuk menjaga integritas hasil ujian nasional dan pemenuhan syarat kelulusan.Ayat (6) Lihat penjelasan Pasal 50 ayat (4) Ayat (7) Tes tambahan misalnya tes skolastik. Tes tambahan tidak boleh menduplikasi Ujian Nasional dimaksudkan untuk efisiensi dalam proses seleksi penerimaan. Ayat (2) Cukup jelas. Pasal 65 Ayat (1) Perjanjian sebagaimana dimaksud dalam ketentuan ini memuat pula hak dan kewajiban mahasiswa yang diatur dalam anggaran dasar dan anggaran rumah tangga.

Universitas Al Azhar yang memiliki kampus utama di Cairo dan beberapa kampus cabang di hampir seluruh distrik di Mesir. dan 1 (satu) jam kegiatan mandiri untuk kurun waktu enam belas (16) minggu efektif. Ayat (5) Cukup jelas. Ayat (3) Cukup jelas. merupakan pengakuan atas keberhasilan usaha untuk menyelesaikan kegiatan akademik bersangkutan. Pasal 69 Cukup jelas. Ayat (2) Contoh sistem multikampus adalah sistem State University of New York (SUNY) yang memiliki 60 (enam puluh) kampus di seluruh negara bagian New York. Ayat (6) Cukup jelas. Pasal 70 76461668. 1 (satu) jam kegiatan terstruktur. Ayat (3) Cukup jelas Ayat (4) Cukup jelas. Pasal 68 Ayat (1) Yang dimaksud dengan kelas jauh adalah sistem pembelajaran yang diselenggarakan di luar kampus induk. dan 3 jam kegiatan mandiri selama 16 minggu. Satu matakuliah berbot 3 sks berarti sama dengan kegiatan studi 3 jam tatap muka.dalam satuan kredit semester (sks).doc 154 . 3 jam kegiatan terstruktur. Ayat (2) Cukup jelas. atau kegiatan proses belajar mengajar lainnya. Dalam setiap semester “reguler” 1 (satu) sks sama dengan beban studi setiap minggu berupa 1 (satu) jam tatap muka. Banyaknya sks yang diberikan untuk matakuliah.

kritik dan koreksi terhadap suatu naskah ilmiah agar menjadi lebih sempurna. 76461668. Ayat (6) Telaah nirnama (blind review) adalah pakar yang melakukan penelaahan. Ayat (8) Pengayaan materi pembelajaran dapat diartikan bahwa hasil penelitian wajib dijadikan buku ajar hand-out atau tampilan lain yang disajikan pada saat mengajar.Cukup jelas.doc 155 . Pasal 71 Cukup jelas. Paten adalah salah satu bentuk dari hak kekayaan intelektual (HKI). Ayat (2) Cukup jelas. tetapi antara penulis dan pihaknya tidak saling mengenal dan tidak saling mengetahui. Ayat (7) Sertifikat paten adalah dokumen resmi yang diberikan oleh pemerintah kepada pihak-pihak yang menemukan sesuatu teknologi (inventor). Pasal 72 Ayat (1) Penelitian dasar adalah penelitian yang berorientasi pada penjelasan pada fenomena alam (penelitian untuk ilmu) yang melandasi penelitian terapan dan penelitian pengembangan. Ayat (3) Cukup jelas. Ayat (9) Cukup jelas. Ayat (5) Invensi adalah suatu ciptaan atau perancangan baru yang belum ada sebelumnya yang memperkaya khazanah serta dapat digunakan untuk menyempurnakan atau memperbaharui ilmu pengetahuan dan teknologi yang telah ada. Ayat (4) Cukup jelas.

Ayat (3) Cukup jelas.Pasal 73 Ayat (1) Cukup jelas. Ayat (7) Cukup jelas. Ayat (4) Cukup jelas. tenaga ahli dari organisasi profesi. Ayat (5) Cukup jelas. Ayat (6) Cukup jelas. 2. atau pakar dari luar negeri.doc 156 . Dewan penelaah sebagaimana dimaksud pada huruf 1 dapat menunjuk mitra bestari untuk menelaah dan memilih naskah ilmiah yang akan diterbitkan. Anggota dewan penelaah sebagaimana dimaksud pada huruf 1 huruf a tidak melebihi 40% (empat puluh persen) dari jumlah anggota dewan penelaah. pakar keilmuan yang dimiliki oleh perguruan tinggi lain atau lembaga ilmiah lainnya. Jurnal ilmiah harus memiliki dewan penelaah yang terdiri atas: a. pakar keilmuan yang dimiliki oleh perguruan tinggi yang bersangkutan. b. dan c. 3. 4. Ayat (2) Cukup jelas. Penelaahan dan pemilihan naskah ilmiah yang akan 76461668. Ayat (8) Akreditasi oleh Departemen dilakukan secara objektif dengan prinsipprinsip berikut: 1.

dan tidak dapat digunakan untuk melengkapi persyaratan kepangkatan dalam sistem 76461668. Pasal 81 Ayat (1) Gelar Doktor Kehormatan bukanlah gelar akademik namun sebutan kehormatan. Jurnal ilmiah sebagaimana dimaksud pada huruf 1 dapat memuat artikel ilmiah yang berasal dari perguruan tinggi yang bersangkutan sebanyak-banyaknya 20% (dua puluh persen) dari seluruh artikel ilmiah yang diterbitkan pada setiap penerbitan. 5. Pasal 80 Ayat (1) Cukup jelas. Atas dasar hasil akreditasi. Departemen menetapkan status akreditasi yang diperoleh oleh jurnal yang bersangkutan. Pasal 77 Cukup jelas.doc 157 . Pasal 74 Cukup jelas. Pasal 79 Cukup jelas.diterbitkan harus menerapkan sistem telaah nirnama. Pasal 78 Cukup jelas. Ayat (2) Menteri Agama menetapkan kesetaraan ijazah perguruan tinggi luar negeri dengan ijazah gelar perguruan tinggi Indonesia dalam disiplin ilmu agama. Pasal 75 Cukup jelas. Pasal 76 Cukup jelas.

adalah: Program Paket A setara SD. penambah. Taman Bermain. Program Paket B setara SMP. Pendidikan nonformal berfungsi sebagai penambah pada pendidikan formal apabila pengetahuan. dan pelengkap pendidikan formal bagi peserta didik yang karena berbagai hal tidak dapat mengikuti kegiatan pembelajaran pada satuan pendidikan formal atau peserta didik memilih jalur pendidikan nonformal untuk memenuhi kebutuhan belajarnya. Jenis-jenis pendidikan nonformal yang mempunyai fungsi pengganti pendidikan formal. keterampilan dan sikap yang diperoleh peserta didik pada satuan pendidikan formal dirasa belum memadai. Pasal 84 Satuan pendidikan lain yang sejenis pada pendidikan nonformal misalnya POS PAUD. PAUD Sekolah Minggu (PAUD-SM). keterampilan dan sikap melalui jalur pendidikan nonformal. PAUD Bina Iman Anak (PAUD-BIA). dan Program Paket C setara SMA serta kursus dan pelatihan. Ayat (2) Cukup jelas.kepegawaian pegawai negeri sipil. dan PAUD yang diintegrasikan dengan program layanan yang telah ada seperti Pos Pelayanan Terpadu (Posyandu) dan program bina keluarga balita (BKB). Ayat (4) Cukup jelas. 76461668. Taman Pendidikan Anak Sholeh (TAPAS). Pendidikan nonformal berfungsi sebagai pelengkap apabila peserta didik pada satuan pendidikan formal merasa perlu untuk menambah pengetahuan.doc 158 . Pasal 83 Ayat (1) Pendidikan nonformal berfungsi sebagai pengganti. Taman Asuh Anak Muslim. Taman Balita. Taman Pendidikan Al-Quran (TPQ). Ayat (3) Cukup jelas. Pasal 82 Cukup jelas. Ayat (2) Cukup jelas.

Pasal 86 Cukup jelas. Pasal 89 Cukup jelas.doc 159 . kecakapan dalam melakukan koreksi diri. Pasal 85 Cukup jelas.POS PAUD adalah salah satu program satuan PAUD pada jalur pendidikan nonformal yang menyelenggarakan program pendidikan bagi anak sejak lahir sampai dengan berusia enam tahun yang dapat diintegrasikan dengan dan TPQ adalah salah satu bentuk satuan PAUD pada jalur pendidikan nonformal yang menyelenggarakan program pendidikan keagamaan Islam bagi anak berusia 2 (dua) tahun sampai dengan 6 (enam) tahun yang berbasis Taman Pendidikan Al-Quran. PAUD-BIA adalah salah satu bentuk satuan PAUD pada jalur pendidikan nonformal yang menyelenggarakan program pendidikan keagamaan Katholik bagi anak berusia 2 (dua) tahun sampai dengan 6 (enam) tahun yang berbasis Bina Iman Anak Katholik. Pasal 90 Cukup jelas. Pasal 91 Ayat (1) Kecakapan personal atau kecakapan pribadi mencakup kecakapan dalam melakukan ibadah sesuai dengan agama yang dianutnya. Pasal 87 Cukup jelas. kecakapan dalam pengenalan terhadap kondisi dan potensi diri. kecakapan dalam memilih dan menentukan jalan hidup pribadi. PAUD-SM adalah salah satu bentuk satuan PAUD pada jalur pendidikan nonformal yang menyelenggarakan program pendidikan keagamaan Kristen bagi anak berusia 2 (dua) tahun sampai dengan 6 (enam) tahun yang berbasis Sekolah Minggu. kecakapan dalam menghadapi tantangan 76461668. percaya diri. Pasal 88 Cukup jelas.

Kecakapan sosial mencakup kecakapan dalam hidup berkeluarga. Pasal 93 Ayat (1) Pemuda adalah penduduk yang berusia 15 (lima belas) sampai dengan 35 (tiga puluh lima) tahun.doc 160 . Ayat (3) Cukup jelas. Ayat (3) Cukup jelas. berbangsa. mengelola pekerjaan. Kecakapan intelektual mencakup kecakapan terhadap penguasaan ilmu pengetahuan. teknologi dan/atau seni sesuai dengan bidang yang dipelajari. Ayat (2) Cukup jelas. kepemimpinan dan tanggung jawab sosial. berpikir kritis dan kreatif. kecakapan melakukan penelitian dan percobaan-percobaan dengan pendekatan ilmiah. Ayat (2) Cukup jelas. Kecakapan vokasional mencakup kecakapan dalam memilih bidang pekerjaan.dan problema serta kecakapan dalam mengatur diri. empati atau tenggang rasa. Pasal 92 Cukup jelas. kecakapan dalam menyesuaikan diri dengan lingkungan. dan bernegara. Ayat (4) 76461668. bermasyarakat. mengembang profesionalitas dan produktivitas kerja dan kode etik bersaing dalam melakukan pekerjaan. kecakapan bekerjasama dengan sesama.

Pasal 94 Cukup jelas.Cukup jelas. Lembaga yang ditunjuk oleh pemerintah daerah adalah lembaga yang telah diakui memiliki kompetensi untuk melakukan penilaian secara profesional dan mandiri oleh Badan Standar Nasional Pendidikan dan ditetapkan oleh Menteri. Pasal 99 76461668. Ayat (3) Cukup jelas. Lembaga yang ditunjuk oleh Pemerintah adalah Badan Standar Nasional Pendidikan atau lembaga lain yang memiliki kompetensi untuk melakukan penilaian secara profesional dan mandiri. Ayat (2) Cukup jelas. Pasal 96 Cukup jelas. Ayat (5) Cukup jelas.doc 161 . Ayat (4) Cukup jelas. Program Paket B sederajat dengan SMP/MTs. Pasal 95 Cukup jelas. dan Program Paket C sederajat dengan SMA/MA telah diatur dalam Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2003 tentang Standar Nasional Pendidikan. Pasal 97 Cukup jelas. Pasal 98 Ayat (1) Khusus untuk penyetaraan hasil pendidikan nonformal Program Paket A sederajat dengan SD/MI.

Cukup jelas. Pasal 100 Cukup jelas. Pasal 103 Ayat (1) Cukup jelas. Pasal 102 Cukup jelas. Ayat (2) Cukup jelas Ayat (3) Yang dimaksud terbuka adalah 76461668. Ayat (3) Cukup jelas. Ayat (4) Cukup jelas. Ayat (5) Cukup jelas. Ayat (2) Lulus ujian pada satuan pendidikan nonformal dengan mengacu pada standar nasional pendidikan antara lain ujian atau uji kompetensi pada lembaga kursus. lembaga pelatihan serta ujian atau uji kompetensi pada satuan atau program nonformal yang lain. Pasal 101 Ayat (1) Lulus ujian pada satuan pendidikan formal dengan mengacu pada standar nasional pendidikan mencakup ujian sekolah/madrasah dan ujian nasional pada tingkat akhir satuan pendidikan.doc sistem pendidikan yang 162 .

Peserta didik dapat mencapai tingkat penguasaan kompetensi yang dipersyarakan dengan kecepatan yang berbeda-beda. Yang dimaksud belajar tuntas adalah proses pembelajaraan untuk mencapai taraf penguasaan kompetensi (mastery level) sesuai dengan tuntutan kurikulum. Pasal 104 Ayat (1) Cukup jelas. atau mengambil program-program pendidikan yang berbeda secara terpadu dan berkelanjutan melalui pembelajaran tatap muka atau jarak jauh. Berbasis teknologi pendidikan adalah pendidikan yang dirancang dan dikembangkan berdasarkan kebutuhan individu dengan memanfaatkan teknologi pembelajaran. Ayat (2) Pengorganisasian modus tunggal adalah penyelenggaraan pendidikan jarak jauh dalam satu satuan pendidikan formal 76461668.diselenggarakan dengan fleksibilitas pilihan dan waktu penyelesaian program. Yang dimaksud dengan belajar mandiri adalah proses belajar yang dilakukan peserta didik secara peseorangan atau kelompok dengan memanfaatkan berbagai sumber belajar dan mendapat bantuan atau bimbingan belajar atau tutorial sesuai kebutuhan. Proses belajar berlangsung secara bertahap dan berkelanjutan. Peserta didik dapat belajar sambil bekerja. dan media lain. teknologi kokunikasi. seorang peserta didik baru dapat menempuh kegiatan belajar (learning tasks) berikutnya apabila telah menguasai kompetensi yang telah disyaratkan dalam kegiatab belajar sebelumnya. informasi. Pasal 105 Ayat (1) Cukup jelas. Contoh.doc 163 . Ayat (2) Sumber belajar Ayat (3) Layanan berbasis teknologi informasi dan komunikasi tanpa mengesampingkan layanan tatap muka.

Ayat (4) Pengorganisasian modus konsorsium adalah penyelenggaraan pendidikan jarak jauh pada berbagai jalur. Ayat (3) Cukup jelas. Pada tingkat pendidikan tinggi pengorganisasian modus tunggal adalah seperti yang diselenggarakan oleh Universitas Terbuka di Indonesia. dan jenis pendidikan. dan University on the Air di China. dan Universitas Terbuka yang menyelenggarakan program 76461668. misalnya SMA menyelenggarakan pembelajaran jarak jauh untuk mata pelajaran bahasa Inggris. Ayat (2) Cakupan program pendidikan berbasis mata pelajaran adalah suatu satuan pendidikan yang menyelenggarakan pendidikan jarak jauh hanya untuk satu mata pelajaran. dan jenis pendidikan oleh beberapa satuan pendidikan secara bersama (kolaboratif). jenjang. Misalnya suatu perguruan tinggi bekerjasama dengan perguruan tinggi lain atau lembaga lain dalam bentuk program pendidikan lapis (sandwich) atau kembaran (twinning) jarak jauh. dan universitas maya (cyber university). dan jenis pendidikan.pada berbagai jalur. Pendidikan tatap muka tersebut terikat dengan jadwal waktu dan tempat seperti yang berlangsung pada lembaga pendidikan umumnya. Pasal 106 Ayat (1) Cukup jelas. Shukothai Thammathirat Open University di Thailand. Ayat (4) Cakupan program pendidikan berbasis satuan pendidikan seperti yang diselenggarakan oleh SMP Terbuka dan SMA Terbuka yang menyelenggarakan pendidikan SMP dan SMA. jenjang. jenjang. Ayat (3) Pengorganisasian modus ganda adalah penyelenggaraan pendidikan jarak jauh bersamaan dengan pendidikan tatap muka pada berbagai jalur.doc 164 . Ayat (5) Cukup jelas.

Ayat (2) Satuan pendidikan khusus bagi peserta didik berkelainan adalah satuan pendidikan yang dirancang secara eksklusif untuk melayani peserta didik yang memiliki kesulitan dalam proses pembelajaran karena kelainan fisik. Pasal 108 Cukup jelas. Program pendidikan inklusif adalah program pendidikan yang memberikan kesempatan bagi peserta didik berkelainan untuk belajar bersama-sama dengan peserta didik normal pada satuan pendidikan umum maupun kejuruan. Pasal 109 Cukup jelas.pendidikan tinggi. Pasal 112 Ayat (1) Cukup jelas. dimana mereka mengikuti kurikulum yang disesuaikan dengan 76461668. dengan menyediakan sarana. dengan cara menyediakan sarana. dan sosial. tenaga pendidik. emosional.doc 165 . Pasal 110 Cukup jelas. dimana mereka mengikuti kurikulum yang berlaku bagi peserta didik normal. maupun tenaga kependidikan yang sesuai dengan kebutuhan mereka. Program pendidikan terpadu adalah program pendidikan yang memberikan kesempatan bagi peserta didik berkelainan untuk belajar bersama-sama dengan peserta didik normal pada satuan pendidikan umum maupun kejuruan. Pasal 111 Cukup jelas. Pasal 107 Cukup jelas. mental. maupun tenaga kependidikan yang sesuai dengan kebutuhan mereka. tenaga pendidik.

kebutuhannya. Ayat (5) Cukup jelas. Pasal 114 Cukup jelas. Pasal 116 Cukup jelas. Ayat (3) Cukup jelas. Ayat (4) Yang dimaksud dengan sistem unit adalah sistem pelayanan pendidikan yang memadukan pendidikan dasar dan menengah dalam 1 (satu) manajemen karena alasan skala ekonomi. Pasal 117 Cukup jelas. 76461668. Pasal 118 Ayat (1) Cukup jelas. Ayat (3) Cukup jelas.doc 166 . Pasal 115 Ayat (1) Cukup jelas. Pasal 113 Cukup jelas. Ayat (2) Cukup jelas.

Pasal 121 Cukup jelas. Program percepatan dan pengayaan dilakukan dengan memperhatikan keseluruhan kompetensi kecerdasan yang harus dicapai peserta didik yang meliputi kecerdasan intelektual. Pasal 120 Ayat (1) Peserta didik yang secara ekstrim memiliki potensi jauh di atas rata-rata dinyatakan antara lain mempunyai kecerdasan di atas 3 simpangan baku (standar deviasi) populasi anak. Ayat (3) huruf a yang dimaksud dengan tingkat inklusi adalah penyelenggaraan pendidikan yang terdiri atas peserta didik normal dan yang memiliki potensi kecerdasan dan/atau bakat istimewa dengan menggunakan kurikulum yang dibedakan.doc 167 . 76461668. huruf b Cukup jelas. emosional. huruf c Cukup jelas. Ayat (2) Cukup jelas. program percepatan dan pengayaan tidak perlu diadakan secara ekslusif karena sudah terintegrasi di dalam sistem. Pasal 122 Cukup jelas. Pasal 119 Cukup jelas.Ayat (2) Pada satuan pendidikan yang menerapkan sistem satuan kredit semester (sks). dan kinestetik. spiritual.

doc 168 . Pasal 124 Cukup jelas. Ayat (2) Cukup jelas. Ayat (3) Cukup jelas. Pasal 127 Cukup jelas. Ayat (4) Cukup jelas. Pasal 125 Cukup jelas Pasal 126 Ayat (1) Negara lain yang mempunyai keunggulan dalam bidang ilmu pengetahuan. dan seni misalnya negara anggota Organisation for Economic Co-Operation and Development (OECD). Pasal 128 Cukup jelas. teknologi. Pasal 129 Cukup jelas Pasal 130 Cukup jelas. 76461668.Pasal 123 Cukup jelas.

Pasal 132 Model terpadu-satu sistem-satu atap dilaksanakan dalam satu lokasi dengan menggunakan sistem pengelolaan pendidikan yang sama. Model terpisah-satu sistem-tidak satu atap dilaksanakan dalam lokasi yang berbeda atau terpisah dengan menggunakan sistem pengelolaan pendidikan yang sama. Pasal 135 Ayat (1) untuk Bahasa asing dapat digunakan sebagai bahasa pengantar mendukung kemampuan berbahasa asing peserta didik. Model keluar masuk (entry-exit) dilaksanakan dengan cara mengelola kelas atau satuan pendidikan biasa bersamaan dengan kelas atau satuan pendidikan bertaraf internasional atau berbasis keunggulan lokal yang peserta didik pada kelas atau satuan pendidikan biasa dapat pindah ke kelas atau satuan pendidikan bertaraf internasional atau berbasis keunggulan lokal sebaliknya.doc 169 . Ayat (2) Cukup jelas. Pasal 133 Cukup jelas. Pasal 134 Cukup jelas. Model terpisah-beda sistem-tidak satu atap dilaksanakan di lokasi yang berbeda (terpisah) dengan sistem pengelolaan pendidikan yang berbeda.Pasal 131 Cukup jelas. 76461668. Untuk pindah dari satuan pendidikan biasa ke satuan pendidikan bertaraf internasional atau berbasis keunggulan lokal harus memenuhi persyaratan yang ditetapkan oleh satuan pendidikan yang dituju.

Pertukaran dosen dapat dilakukan melalui program 76461668. Ayat (3) Huruf a.doc 170 . Huruf b. Cukup jelas. Pasal 138 Cukup jelas. Pasal 136 Sistem pendidikan negara lain meliputi kurikulum. Huruf c. tunjangan. Ayat (2) Cukup jelas. Ijazah dan gelar yang diberikan dilakukan berdasarkan kesepakatan dari kedua belah pihak dengan memperhatikan berbagai persyaratan pemberian ijazah maupun gelar akademik dari masing-masing perguruan tinggi dalam rangka pengendalian mutu. pembelajaran. Persetujuan senat akademik dalam hal ini diperlukan untuk menjamin bahwa kerjasama ini telah dikaji dengan baik sebelumnya. Pasal 137 Cukup jelas. penilaian. Pasal 139 Ayat (1) Cukup jelas. Program kembaran ialah program yang dilaksanakan secara bersama oleh dua perguruan tinggi atau lebih untuk melaksanakan suatu program studi. dan/atau penjenjangan pendidikan yang secara resmi berlaku di negaranya.Ayat (3) Sistem penggajian yang tidak diskriminatif antara lain tidak membedakan tata cara dan besaran gaji. serta penghasilan lainnya.

Ayat (4) Cukup jelas.doc 171 . Pasal 143 Cukup jelas. Huruf e. Huruf f. Pasal 141 Cukup jelas. Cukup jelas. Cukup jelas. Cukup jelas. Cukup jelas.“sabatical leave” yang tata caranya dapat diatur oleh masing-masing perguruan tinggi. Cukup jelas. Pasal 142 Cukup jelas. 76461668. Huruf g. Pasal 140 Cukup jelas. Cukup jelas. Cukup jelas. Huruf h. Huruf i. Pasal 144 Ayat (1) huruf a. Huruf d.

Peserta didik pada SD. MA. huruf h. MI. SMK. dan daya tampung satuan pendidikan atau program studi yang bersangkutan memungkinkan menerimanya.doc 172 . atau bentuk lain yang sederajat. Cukup jelas. 3) 4) huruf f. MTs. MAK atau bentuk lain yang sederajat dapat pindah program kejuruan pada jalur dan satuan pendidikan lain yang setara. maka: 1) 2) Peserta didik PAUD berhak pindah ke jalur atau satuan pendidikan lain yang setara. Ayat (3) Cukup jelas.huruf b. huruf c. Cukup jelas. Cukup jelas. Bilamana peserta didik memenuhi persyaratan penerimaan pada satuan pendidikan. 76461668. atau bentuk lain yang sederajat berhak pindah ke jalur atau satuan pendidikan lain yang setara. Cukup jelas. Cukup jelas. huruf d. Mahasiswa perguruan tinggi berhak pindah ke perguruan tinggi lain atau program studi lain yang setara. Ayat (2) Cukup jelas. Peserta didik pada SMA. huruf g. SMP. huruf e.

76461668. Pasal 147 Ayat (1) Sebutan lain termasuk pendidik pada program paket A. Dan untuk pendidik pada lembaga kursus dan pelatihan antara lain pengajar. Huruf g. Konselor yang dimaksud dalam ayat ini termasuk guru bimbingan dan konseling. Huruf e. dan tutor penanggung jawa mata pelajaran.doc 173 . Cukup jelas. Ayat (2) Huruf a. Cukup jelas. Cukup jelas. Huruf f. pembimbing. Cukup jelas. Huruf b. pelatih atau instruktur. Cukup jelas. tutor penanggung jawab tingkat . Pasal 146 Cukup jelas. paket B.Pasal 145 Cukup jelas. dan penguji. Cukup jelas. dan paket C antara lain nara sumber teknis. Cukup jelas. Huruf c. Huruf d. Huruf h.

doc 174 .Huruf i. Ayat (2) Apabila pendidik merasa bahwa peserta didik memerlukan pembelajaran tambahan maka kebutuhan itu dipenuhi melalui 76461668. Cukup jelas. Pasal 157 Ayat (1) Sekolah Menengah Kejuruan yang memiliki program studi tata busana dapat menyediakan pakaian seragam untuk peserta didiknya sendiri sebagai bagian dari proses pembelajaran. Pasal 152 Cukup jelas. Pasal 148 Cukup jelas. Pasal 156 Cukup jelas. Pasal 154 Cukup jelas. Pasal 153 Cukup jelas. Pasal 149 Cukup jelas. Pasal 155 Cukup jelas. Pasal 151 Cukup jelas. Pasal 150 Cukup jelas.

Pasal 163 Cukup jelas. 76461668. Pasal 164 Cukup jelas.doc 175 . Pasal 162 Cukup jelas. Ayat (4) Cukup jelas. Ayat (5) Tim sukses adalah sekelompok orang yang direkrut untuk tujuan pemenangan salah satu kontestan tertentu dalam pemilihan umum dan/atau pemilihan kepala daerah sesuai peraturan perundang-undangan. Pasal 159 Cukup jelas. Pasal 158 Cukup jelas. Pasal 161 Cukup jelas. Ayat (3) Cukup jelas. Pasal 160 Cukup jelas. Pasal 165 Ayat (1) Huruf a.program remedial sesuai ketentuan kurikulum yang berlaku.

Huruf b. SMP/MTs. SD/MI. Cukup jelas. nonformal. Pasal 166 Ayat (1) Cukup jelas. Peserta didik pada satuan pendidikan informal dapat mengambil mata pelajaran atau program pendidikan pada satuan pendidikan formal atau pendidikan nonformal untuk memenuhi beban belajar pendidikan informal yang bersangkutan. Ayat (3) 76461668. Peserta didik pada satuan pendidikan nonformal dapat mengambil mata pelajaran atau program pendidikan pada satuan pendidikan formal atau pendidikan informal untuk memenuhi beban belajar pendidikan nonformal yang bersangkutan. Ayat (3) Cukup jelas. atau bentuk lain yang sederajat dapat mengambil mata pelajaran atau program pendidikan pada satuan pendidikan formal. Ayat (2) Cukup jelas. atau informal untuk memenuhi ketentuan kurikulum pendidikan formal yang bersangkutan. Ayat (5) Cukup jelas. Ayat (2) Huruf a. Ayat (4) Cukup jelas.doc 176 . Huruf b. SMA/MA. Peserta didik TK/RA.Cukup jelas. dan SMK/MAK.

Pasal 168 Ayat (1) Organisasi profesi pendidikan seperti. Pasal 169 Cukup jelas. Majelis Nasional Pendidikan Katolik. dan sejenisnya. Himpunan Sarjana Pendidikan Indonesia. Ayat (4) Cukup jelas. Ayat (5) Cukup jelas.Satuan pendidikan yang menerapkan sistem kredit semester dapat mengakui hasil belajar dari satuan pendidikan lain baik formal maupun nonformal untuk memenuhi perolehan satuan kredit smester (sks) peserta didik pada satuan pendidikan yang bersangkutan. Pasal 170 76461668. Organisasi sosial kemasyarakatan seperti Muhammadiyah. Pengusaha termasuk perusahaan-perusahaan. Pasal 167 Cukup jelas. Ayat (4) Cukup jelas. dan sejenisnya.doc 177 . Ma’arif-NU. Ayat (2) Cukup jelas. Majelis Pendidikan Kristen. Ayat (3) Cukup jelas. Persatuan Guru Republik Indonesia.

Ayat (4) Cukup jelas. Ayat (2) Cukup jelas. atau pendidikan keagamaan seperti Pendidikan Diniyah. Pasal 172 Ayat (1) Satuan pendidikan yang diselenggarakan oleh masyarakat adalah satuan pendidikan yang selama ini berstatus swasta. pendidikan umum yang menyelenggarakan pendidikan umum dan ilmu agama seperti MI. sosioekonomi. MA. dan sosio-kultural sekaligus. Ayat (2) Satu satuan pendidikan dapat memiliki kekhasan agama. Pesantren. Pabbajja 76461668. Pasal 171 Cukup jelas. Ayat (3) Sistem magang merupakan kegiatan pembelajaran yang berlangsung di tempat kerja sebagai proses transisi dari peserta didik menjadi pekerja (apprenticeship) Pendidikan sistem ganda (dual system) adalah kegiatan pembelajaran yang memberikan status ganda kepada peserta didik. Kerjasama produksi merupakan kerjasama antara satuan pendidikan dan pengusaha/dunia kerja dalam bidang pekerjaan tertentu di mana kerjasama tersebut dilakukan melalui perjanjian timbal balik yang menguntungkan kedua belah pihak. MTs.doc 178 . sebagai pekerja di tempat praktik kerja dan sebagai siswa di sekolah. Kekhasan agama satuan pendidikan dapat berupa pendidikan umum yang diselenggarakan oleh kelompok agama tertentu.Ayat (1) Cukup jelas.

Ayat (2) Pertemuan 2 (dua) kali setahun yang dimaksud sekurangkurangnya pada awal semester. Pasal 177 Ayat (1) Cukup jelas. dan sosio-kultural merupakan muatan pendidikan dan/atau pendekatan pembelajaran yang disesuaikan dengan kebutuhan. Pasal 176 Ayat (1) Cukup jelas. Pasal 173 Cukup jelas. dan bentuk lain yang sejenis. Pendidikan dengan kekhasan sosio-ekonomi. Pasal 175 Cukup jelas. dan keadaan sosio-ekonomi.doc 179 . Pasal 174 Cukup jelas. Ayat (4) Koordinasi dan kerjasama antara lain menyusun anggaran dasar/anggaran rumah tangga. Pasal 178 76461668. potensi.Samanera. dan sosio-kultural setempat. Ayat (3) Cukup jelas. dan memecahkan permasalahan pendidikan yang muncul. Ayat (2) Cukup jelas. tukar-menukar informasi.

dan media lainnya. dan kabupaten/kota. provinsi. Ayat (2) Cukup jelas. Ayat (2) Cukup jelas. Komisi Pendidikan Nonformal dan Informal. Pasal 179 Ayat (1) Cukup jelas. dan tokoh nonpartisan lainnya yang berpartisipasi dalam kegiatan pendidikan. dan Komisi Pendidikan Jarak Jauh. Komisi Pendidikan Khusus dan Pendidikan Layanan Khusus. Komisi Pendidikan Kedinasan. Di tingkat nasional dapat terdiri atas Komisi Pendidikan Anak Usia Dini. Ayat (3) Cukup jelas. Komisi Pendidikan Dasar dan Menengah. Tokoh masyarakat termasuk tokoh agama. pemimpin paguyuban adat (marga atau nagari). Pengusaha misalnya pemilik perusahaan swasta.Ayat (1) Pakar pendidikan adalah perseorangan atau kelompok yang memiliki pengetahuan dan keahlian di bidang pendidikan yang karyanya dipublikasikan di media cetak. Ayat (5) Komisi sebagaimana dimaksud pada ayat ini disesuaikan dengan lingkup pengelolaan dan kebutuhan di tingkat nasional.doc 180 . Komisi Pendidikan Keagamaan. Ayat (4) Cukup jelas. Komisi Pendidikan Tinggi. 76461668. media elektronik. atau melalui produk lain yang menggambarkan keahliannya. Ayat (3) Cukup jelas.

Ayat (6) Tenaga ahli yang dimaksud terdiri dari tenaga pendidik profesional yang berfungsi sebagai konsultan. Pasal 184 Ayat (1) Komite sekolah/madrasah POMG dan yang sejenis. menggantikan keberadaan BP3. Komisi-komisi tersebut dapat berdiri sendiri atau digabung sesuai dengan kebutuhan. Komisi Pendidikan Khusus dan Pendidikan Layanan Khusus. Pasal 183 Cukup jelas. Komisi Pendidikan Dasar dan Menengah. Pasal 180 Ayat (1) Cukup jelas. dan Komisi Pendidikan Keagamaan. Komisi Pendidikan Nonformal dan Informal. Komisi Pendidikan Dasar dan Menengah.doc 181 . Komisi Pendidikan Tinggi. Pasal 182 Cukup jelas. Komisi Pendidikan Nonformal dan Informal. dan Komisi Pendidikan Keagamaan. Komisi Pendidikan Khusus dan Pendidikan Layanan Khusus. Pasal 181 Cukup jelas. Ayat (2) Dalam melaksanakan tugasnya panitia dapat meminta bantuan konsultan yang berpengalaman melakukan uji kelayakan (fit and proper test) dalam bidang pendidikan. 76461668. Di tingkat kabupaten/kota dapat terdiri atas Komisi Pendidikan Anak Usia Dini.Di tingkat provinsi dapat terdiri atas Komisi Pendidikan Anak Usia Dini.

Nama lain yang sejenis seperti Majelis Madrasah. atau satuan-satuan pendidikan dikelola oleh suatu penyelenggara pendidikan. tukar-menukar informasi. atau satuan pendidikan lainnya dalam satu wilayah desa atau kecamatan. Komite satuan pendidikan jalur nonformal dibentuk berdasarkan kebutuhan satuan atau gabungan satuan pendidikan nonformal. Ayat (2) Cukup jelas. Komite Pendidikan Nonformal. Gabungan tersebut dapat terdiri dari beberapa satuan pendidikan pada jenjang yang sama. satuan pendidikan keagamaan. atau yang sejenisnya baik yang diselenggarakan oleh Pemerintah. Ayat (5) Pihak-pihak yang terkait misalnya unsur-unsur satuan pendidikan selain kepala satuan pendidikan. atau berbeda seperti TK. MTs. Ayat (7) Pembentukan komite sekolah/madrasah yang terdiri dari beberapa satuan pendidikan hingga memenuhi jumlah 200 peserta didik dimaksudkan untuk mencapai sinergi dan efektivitas dalam memberdayakan peranserta masyarakat terutama pada satuan pendidikan dengan jumlah peserta didik yang kecil. MI. SMA. 76461668. Ayat (6) Gabungan satuan pendidikan yang dimaksud adalah satu komite sekolah/madrasah atau nama lain yang sejenis terdiri dari sekolah dan madrasah. MA. dan memecahkan permasalahan pendidikan yang muncul. maupun oleh masyarakat. SMP. Penggabungan dapat dilakukan karena lokasi berdekatan. dan unsur . dan MAK. atau RA.doc 182 . program pendidikan nonformal. SD. atau karena pertimbangan lain. Ayat (3) Cukup jelas. dan SMK. Ayat (4) Koordinasi dan kerjasama antara lain menyusun anggaran dasar/anggaran rumah tangga.

lembaga pemerintah non-departemen. vokasi. jenjang. Pasal 189 Cukup jelas. Pasal 193 Ayat (1) Cukup jelas. Pasal 191 Cukup jelas. jenjang.doc 183 . Pasal 187 Cukup jelas. kejuruan. departemen yang menangani urusan pemerintah bidang lain. dan khusus pada semua jalur. Ayat (2) Menteri melakukan pengawasan pendidikan secara umum baik yang berada di bawah kewenangan Departemen. Ayat (3) 76461668. Departemen Agama melakukan pengawasan pendidikan agama dan pendidikan keagamaan pada semua jalur. Pasal 192 Cukup jelas. dan jenis pendidikan. akademik. Departemen melakukan pengawasan pendidikan umum. dan jenis pendidikan. Pasal 186 Cukup jelas. pemerintah daerah. profesi. maupun masyarakat. Pasal 190 Cukup jelas. Pasal 188 Cukup jelas.Pasal 185 Cukup jelas.

doc 184 . Ayat (4) Cukup jelas. Ayat (3) Cukup jelas. Ayat (2) Cukup jelas. Ayat (5) Cukup jelas. Misalnya pemeriksaan terhadap objek yang diawasi 76461668.Cukup jelas. Ayat (7) Lembaga independen yang melakukan pengawasan/pemeriksaan independen misalnya akuntan publik. Pasal 194 Ayat (1) Cukup jelas. Ayat (2) Cukup jelas. Ayat (3) Pemeriksaan diterapkan secara arif terhadap objek yang diawasi. Pasal 195 Cukup jelas. Pasal 196 Ayat (1) Cukup jelas. Ayat (6) Cukup jelas. Ayat (4) Cukup jelas.

h. g. dan m hanya dilakukan apabila terdapat indikasi terjadinya penyimpangan administratif atau pelanggaran hukum. i. i. Ayat (3) Pemeriksaan diterapkan secara arif terhadap objek yang diawasi.doc 185 . Misalnya pemeriksaan terhadap objek yang diawasi sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf e. Ayat (3) Pemeriksaan diterapkan secara arif terhadap objek yang diawasi. Misalnya pemeriksaan terhadap objek yang diawasi sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf f. l. Pasal 198 Ayat (1) Cukup jelas. Pasal 197 Ayat (1) Cukup jelas. j. dan m hanya dilakukan apabila terdapat indikasi terjadinya penyimpangan administratif atau pelanggaran hukum. k. dan j hanya dilakukan apabila terdapat indikasi terjadinya penyimpangan administratif atau pelanggaran hukum. Pasal 199 76461668. l. f. Ayat (2) Cukup jelas. Ayat (2) Cukup jelas. Ayat (4) Cukup jelas. k.sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf h. g. Ayat (4) Cukup jelas. h. i. j. Ayat (4) Cukup jelas.

badan hukum pendidikan. Ayat (4) 76461668. Ayat (2) Cukup jelas.doc 186 . Pasal 200 Cukup jelas.Cukup jelas. unit-unit dharma perguruan tinggi. Pasal 201 Cukup jelas. Ayat (2) Cukup jelas. dan/atau fakultas. Ayat (3) Unit dari perguruan tinggi termasuk: a. program studi. e. Pasal 202 Cukup jelas. Pasal 203 Ayat (1) Pemberian sanksi dilakukan secara arif dan disesuaikan dengan tingkat pelanggaran yang dilakukan oleh satuan pendidikan. melaksanakan f. b. lembaga penelitian atau pusat studi. dan/atau satuan pendidikan. d. c. Pasal 204 Ayat (1) Cukup jelas. jurusan. program pendidikan. lembaga pengabdian lain yang masyarakat.

Pasal 205 Cukup jelas. Ayat (6) Cukup jelas. Ayat (3) Cukup jelas. Ayat (5) Yang dimaksud dengan seseorang adalah pejabat atau pengurus badan hukum pendidikan yang memiliki kewengan dalam pengangkatan. Ayat (4) Cukup jelas. Pasal 211 76461668. dan pemberhentian pendidik dan tenaga kependidikan. Pasal 209 Cukup jelas. Pasal 210 Cukup jelas. Ayat (5) Cukup jelas. Pasal 208 Ayat (1) Cukup jelas. Pasal 206 Cukup jelas Pasal 207 Cukup jelas. penempatan.doc 187 .Cukup jelas. pemindahan. Ayat (2) Cukup jelas.

76461668.Cukup jelas. Pasal 213 Cukup jelas. TAMBAHAN LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA NOMOR .doc 188 . Pasal 216 Cukup jelas. Pasal 219 Cukup jelas. Pasal 217 Cukup jelas.. Pasal 214 Cukup jelas. Pasal 215 Cukup jelas. Pasal 218 Cukup jelas.. Pasal 212 Cukup jelas.

...............9 Pasal 10..............Pemerintah kabupaten/kota..............12 b................................................................................................................................................12 e..................................12 Pasal 15 ......................Departemen........................................................Departemen lain atau lembaga pemerintah nondepartemen yang menyelenggarakan program dan/atau satuan pendidikan...................................................................................................................................................................................................................16 Gubernur menetapkan kebijakan tatakelola pendidikan untuk menjamin efisiensi.............................................................................................................................................................................................Departemen Agama.................................................................................................................................................................12 a.......................................12 d.......................12 Bagian Ketiga.........................................................................................................7 Pasal 2............................... dan akuntabilitas pengelolaan pendidikan yang mengikat:............................................................................................................ dan...............................7 Bagian Kedua................................................12 Pasal 16...................................................................... efektifitas...................................15 Pasal 23..............................12 Pengelolaan oleh Pemerintah Provinsi..................................................................................................................................................................................................................................................................................2 KETENTUAN UMUM................................................7 Pasal 3...............................................................................................doc i ............Badan hukum pendidikan............................................................................................12 Pasal 14....................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................8 Pasal 5.............................12 g.................11 Pasal 13.........................................................................................................................13 Pasal 22...............................................................7 PENGELOLAAN PENDIDIKAN...................................................................................................................................................................................................................................................................................................8 Pengelolaan oleh Pemerintah............. efektifitas............................................................................................................................................................... dan 76461668.................................2 Pasal 1........................................................................12 c...................................................7 Bagian Kesatu....................................................Program dan/atau satuan pendidikan...................2 BAB II......................................................................................................................................................................................................................................8 Pasal 4................................................Pemerintah provinsi...........................................12 Menteri menetapkan kebijakan tatakelola pendidikan untuk menjamin efisiensi......................10 Pasal 12........................................................12 f........................ ............................7 Umum............DAFTAR ISI BAB I..........................................................................................................................

.doc ii ....................................................................................................................................................................................21 Pasal 36......................................................................................20 Pasal 33..........27 Pasal 50.......................................................................................................................................................30 Paragraf 1.......................................30 Pasal 54 ......................................................................................................................................................................................20 Bupati/Walikota menetapkan kebijakan tatakelola pendidikan untuk menjamin efisiensi......................................................................................................................................................................................................................................................29 BAB III............................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................. dan akuntabilitas pengelolaan pendidikan yang mengikat:...................... efektifitas........................................................................................................................................................................................30 Fungsi dan Tujuan..................................................................................................................................................................................21 Bagian Kelima............................................................25 Pengelolaan oleh Satuan dan/atau Program Pendidikan...........17 Pengelolaan oleh Pemerintah Kabupaten/Kota....................................................25 Bagian Keenam.........................................18 Pasal 32............................................................................................................................30 PENYELENGGARAAN PENDIDIKAN FORMAL............................................................................................................25 Pasal 45..16 Bagian Keempat..............................................................................17 Pasal 26........30 Pendidikan Anak Usia Dini.......................... dan akuntabilitas pengelolaan pendidikan yang mengikat:.................................................................................................................... efektifitas...............................25 Pasal 44 .............................................................30 Bagian Kesatu.......22 Pasal 41......................................................................21 Pasal 35.....................................................................24 Pasal 43................................................................................30 Paragraf 2...........................................................................................21 Pengelolaan oleh Badan Hukum Pendidikan ..........................................................................29 Pasal 52................30 76461668...............................................................................................................30 Pasal 53 ...........................................................30 Bentuk dan Jenis Satuan Pendidikan.................... efektifitas..................................................................................................................................................................................................................akuntabilitas pengelolaan pendidikan yang mengikat:......16 Pasal 24.................................................................................................................................28 Pasal 51............................21 Pasal 34.......................................................................24 Pasal 42.................................................................................24 Badan hukum pendidikan menetapkan kebijakan tatakelola pendidikan untuk menjamin efisiensi...............................................................................................................................................................................................................29 Satuan dan/atau program pendidikan menetapkan kebijakan tatakelola pendidikan untuk menjamin efisiensi........................................................................................................................................................................................17 Pasal 25........................ dan akuntabilitas pengelolaan pendidikan yang mengikat:.....................................................................................

......................37 Bentuk Satuan Pendidikan....................................................................................................................................................................................................32 Pasal 58......................................................37 Pasal 68 ..................................................................................doc iii ...........................................................32 Paragraf 1...............................................................33 Pasal 60 .........................................................................................................................................................................37 Pasal 69.............................................40 Pendidikan Tinggi................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................31 Pasal 55 ......................................................................................................................................31 Pasal 56 .......................................................................................................................................40 Bagian Kempat..............39 Pasal 71.....................................................................................................................................................................................36 Paragraf 1.........................................................................................................33 Paragraf 3..................................................................................................................................................................................................................................................................36 Bagian Ketiga.......................................................................................................................................................................................................................41 76461668.............................................................................................................................................................................................................................................................................................31 Penerimaan Peserta Didik.............................................................31 Program Pembelajaran.......................33 Penerimaan Peserta Didik...................................................34 Pasal 65...................................................................................................................................................................................................36 Paragraf 2...40 Paragraf 1...............................................................................................39 Pasal 72...31 Paragraf 4........32 Paragraf 2........................................................31 Pasal 57 .......................................................................................................................................33 Bentuk Satuan Pendidikan................................................................................................................................................................................................................................36 Pendidikan Menengah......................................................................................39 Penerimaan Peserta Didik...........................................................................................................................................................................................................36 Pasal 66................................................................................................................................................32 Fungsi dan Tujuan........................................................................................41 Pasal 73..............................................................................33 Pasal 63....................................................................................36 Fungsi dan Tujuan..........................................................................................................................................................................32 Pendidikan Dasar.......................................................................................40 Fungsi dan Tujuan...........34 Pasal 64 .......................................................................38 Paragraf 3.............................................33 Pasal 59 .............................................................................................................................................................................................................................Paragraf 3 ..................31 Bagian Kedua...........

...................................................................48 (2)Program sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diselenggarakan sebagai berikut:.....41 Pasal 74..............................................45 Pasal 84..43 Paragraf 3..............44 Pasal 80.....................memenuhi seluruh persyaratan program sarjana atau diploma empat kependidikan sesuai dengan peraturan perundang-undangan...41 Jenis..............Paragraf 2......................................48 (1)Perguruan tinggi dapat menyelenggarakan program studi sarjana atau diploma empat kependidikan khusus bagi guru tetap dalam jabatan yang belum memiliki ijazah sarjana atau diploma empat dengan program sarjana atau diploma empat kependidikan khusus bagi guru tetap dalam jabatan....................................48 c.......... dan Program Pendidikan..46 Pasal 86............................... Bentuk......................................................................................................................................................42 Pasal 77.....................................................................................................dilaksanakan oleh perguruan tinggi yang memiliki program studi sarjana atau diploma empat kependidikan berakreditasi dari Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi dan telah memperoleh izin untuk menyelenggarakan program sarjana atau diploma empat kependidikan khusus bagi guru tetap dalam jabatan dari Departemen.........................44 Penerimaan Mahasiswa .................................................................................................................................................47 Pasal 88...............................................................................................................................................................................................46 Paragraf 4.........................................................................................................................47 Pasal 89............................................................................................48 (3)Izin sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf a diberikan oleh Departemen setelah memperoleh jaminan dari pemerintah daerah kabupaten/kota yang bersangkutan untuk bertanggung jawab melindungi....................................................................................................................................................................................46 Pasal 87 ...................................................................................................44 Pasal 81...................................................46 Sistem Pembelajaran................................................... ..................................................................................................42 Pasal 75 .............................................................................................................................48 b................................................42 Pasal 79.......................................................................................doc iv ................................................................................................................................................................................................................................................................. mengawasi.......................................... dan memfasilitasi penyelenggaraan program sebagaimana dimaksud pada ayat (2) sehingga guru tetap dalam jabatan yang bersangkutan memperoleh kualifikasi 76461668.........................................................................................................................................................................................................................................................................dapat dilaksanakan di pusat kegiatan Kelompok Kerja Guru atau Musyawarah Guru Mata Pelajaran..................................................48 a.......................................................41 Paragraf 3.....................................................41 Organisasi Perguruan Tinggi........................................................................................................

.49 Kebebasan Akademik dan Otonomi Keilmuan..............................................................................................................................................................................51 Penelitian............59 PENYELENGGARAAN PENDIDIKAN NONFORMAL .................................................................................................................51 Pasal 93........................................................59 76461668..........................................................................................................................................................................................................................................................................58 Pasal 84....................................................................................................51 Paragraf 6..................................................................................................................................................55 Pasal 99....................59 Pasal 85..........................................................................................................................................................................................53 Pengabdian kepada Masyarakat..................................................................................49 Pasal 91..........................akademik sarjana atau diploma empat kependidikan sesuai peraturan perundang-undangan.......................................................................................................55 Pasal 96........................................51 Pasal 94..............................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................56 Pasal 81..................................................................................56 Gelar Lulusan Pendidikan Tinggi...............................................................................55 Pasal 97...........................................................................................................................................................................................................................................55 Penjaminan Mutu Hasil Belajar.....................................................................56 Paragraf 10........................................................................................................................................................................................ Pasal 82 ayat (2)...............................................48 (5)Ketentuan sebagaimana diatur dalam Pasal ini berlaku sampai berakhirnya masa peralihan sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen..................................................................................................................................................................................59 Bagian Kesatu.........................58 Bagian Kelima..............................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................48 Paragraf 5........59 Penjaminan Mutu.............................54 Pasal 95.........................................................................................54 Paragraf 8.........................................................................................49 Pasal 92...............................doc v ............................................................................................................................................48 (4) Menteri dapat membatalkan izin program sebagaimana dimaksud pada ayat (2) apabila setelah dilakukan pemeriksaan oleh Inspektorat Jenderal Departemen atas instruksi Menteri terbukti bahwa pelaksanaan program yang bersangkutan telah melanggar peraturan perundang-undangan....55 Pengalihan Kredit ......................................................................56 Pasal 82...............48 Pasal 90...................................59 BAB IV...............................55 Paragraf 9...................................................................................................................................................................57 Pasal 83..............................................

......................................................................................64 Paragraf 5.......................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................64 Pasal 97...............................................................................................................................................................................................................65 76461668.........................................................................................63 Pasal 96........................................64 Paragraf 4.............61 Majelis Taklim.....................................................doc vi .........62 Paragraf 2............................................................................................................................61 Pasal 90.........................................................................................................................................61 Paragraf 5..............................................................................................60 Paragraf 1..............................................................65 Paragraf 6.............62 Pasal 94.......................................65 Pendidikan Keaksaraan...................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................60 Bagian Kedua.................................................................................................................................................................................................63 Pasal 95....................................................................62 Taman Penitipan Anak dan Kelompok Bermain ....................................................61 Pasal 91..........................................................................63 Paragraf 3...............................................................................62 Pasal 92....................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................61 Kelompok Belajar ................................................................................................................................................................................................................................................................63 Pendidikan Kepemudaan..60 Lembaga Kursus dan Lembaga Pelatihan ..........................................................................................................................62 Paragraf 1.............................................................................................................................................................................................................................................................................................................60 Pasal 87..........................62 Pendidikan Kecakapan Hidup.....................61 Paragraf 4.............................................62 Program Pendidikan ..............62 Pasal 93 .................................................................................................................................................................60 Bentuk Satuan Pendidikan .................................................................................65 Pendidikan Keterampilan dan Pelatihan Kerja...................................................................................61 Paragraf 3.......................................................................................................................................................60 Paragraf 2........................................................................................................................................................61 Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat...........................................................................................65 Pasal 98................................................................................................................................................................59 Pasal 86........................................................................................................................................................64 Pendidikan Pemberdayaan Perempuan...........................................61 Pasal 89......62 Bagian Ketiga...........Fungsi dan Tujuan ........................................60 Pasal 88...............................................................................

....................................................73 Pasal 117...........................................................69 Pasal 106..69 PENYELENGGARAAN PENDIDIKAN JARAK JAUH......................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................67 PENYELENGGARAAN PENDIDIKAN INFORMAL............................................................................................67 Pasal 103..................................................................................66 Bagian Ketiga (keempat)...................................................................................................................................Pasal 99......................................................................................................................71 BAB VII.................................................................72 Umum............................................67 Pasal 102...................................................................73 Pasal 119...............................72 Bagian Kesatu...........................................................68 Pasal 105............................................72 PENYELENGGARAAN PENDIDIKAN KHUSUS DAN.......................................................................72 Pasal 113.............................................72 Pasal 112.............................................................................................................................................................................................................................................69 BAB VI......................................................................................71 Pasal 111..........................................................................................................................................................72 Pasal 115.....66 BAB V......................................................................................................73 Pasal 118........................................................................................................................72 Pasal 114....................................................................................................................................................................doc vii ..................................................................................................................70 Pasal 110....................72 Bagian Kedua..........................69 Pasal 107.....................................................................................................72 PENDIDIKAN LAYANAN KHUSUS...............................66 Penyetaraan Hasil Pendidikan........................................................................................................................................................................................................................................................................................................................70 Pasal 109.............................................................................................................................66 Pendidikan Kesetaraan...............74 Paragraf 2...............................................................................................................................72 Pasal 116.......................................................................................................................................................................................................................................................................................................66 Pasal 101.......................................................................................72 Pendidikan Khusus.....................................................................................................................................................................69 Pasal 108.............................................................................................................................................................72 Pendidikan Khusus bagi Peserta Didik Berkelainan...................................................................................................................................................72 Paragraf 1...................................74 76461668............66 Pasal 100.................................................................................................................................................................................................................................................................................................................65 Paragraf 7............68 Pasal 104......................................................................

................................................................86 Pasal 140.....78 Pasal 126...............................89 Pasal 143.........................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................82 Pasal 130........................................84 Pasal 134............................................................................................87 Pasal 141............................................................78 BAB VIII........................................................................................................76 Pasal 123.................................................85 Pasal 136.........................................................................................................................................................78 DAN PENDIDIKAN BERBASIS KEUNGGULAN LOKAL...............................................................................................................................................................................................................83 Pasal 131.............................................................................89 HAK DAN KEWAJIBAN PESERTA DIDIK.....................................................................................................................................................................................................................86 Pasal 139..............................................................................................................................................................................................................................................................84 Pasal 133................................................................................................................................85 Pasal 138...........................................75 Pasal 122...................84 PENYELENGGARAAN PENDIDIKAN OLEH LEMBAGA NEGARA LAIN DAN KERJASAMA SATUAN PENDIDIKAN INDONESIA DENGAN SATUAN PENDIDIKAN NEGARA LAIN..........................................................................................................................77 Pasal 124...........................78 PENYELENGGARAAN PENDIDIKAN BERTARAF INTERNASIONAL ....82 Pasal 129..................78 Pasal 125...................75 Pasal 120................................................................................................................................................................................................................85 Pasal 135............79 Pasal 127................................................................................76 Pendidikan Layanan Khusus.............................................................76 Pasal 121...........76 Pasal 122.......................................................................................................................................................................................................................................................89 76461668.............................................74 Potensi Kecerdasan dan/atau Bakat Istimewa...........................................................................................................................83 Pasal 132.................................................................................................................................................................................................................................................................................89 BAB X............................................................................................................................................................................................................................................................................76 Bagian Ketiga................................................................Pendidikan Khusus bagi Peserta Didik yang Memiliki ..............................80 Pasal 128.......................................................................77 Pasal 123...................................................................................................................................................................................doc viii .................................................................................................................................................................................................................................................................................................84 BAB IX...............................................................................................................................................................75 Pasal 121.......89 Pasal 142........................................................................................................................................

.....Pasal 144.....................................................................................................................................................................101 Pasal 163...............................................................doc ix .......................................................................................................................99 Pasal 158...92 Bagian Kesatu................................................................................................................................................................96 Pembinaan Karir..............................................................................................................................................................................................................97 Pasal 155.................................................................................................................................................................................................................98 BAB XII.................................92 Pasal 148..........................................................................................89 Pasal 145 ............................................................................................................................................................................................................95 Bagian Ketiga..........................................................................................................................................................................................98 Pasal 157 .......................................................................93 Pasal 149........................101 BAB XIII...................................................................................96 Pasal 154...............................................................................................................................................93 Bagian Kedua...........................................................................................................................................................................................................95 Pasal 150.............................92 PENDIDIK DAN TENAGA KEPENDIDIKAN...............................................................................................................96 Promosi dan Penghargaan................................................................................................................. dan Penghargaan ........................................................................................................................................................................................99 PENDIRIAN SATUAN PENDIDIKAN....................................................................................................................................92 Jenis..................101 76461668........96 Pembinaan Karir...........96 Paragraf 1...........95 Pasal 151...... Tugas...........................91 BAB XI.................................................98 Larangan........................................................ Pemindahan........................................................ dan Pemberhentian ..........................................................................................100 Pasal 161.....................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................101 Pasal 164............................. dan Tanggung Jawab.......................................90 Pasal 146..................................................................................................................................100 Pasal 160.....................96 Pasal 153......................................................... Penempatan....................................................... Promosi................................................................................................96 Pasal 152.......................................95 Pengangkatan...................................................................................101 PENDIDIKAN LINTAS SATUAN DAN JALUR PENDIDIKAN.............................................................................99 Pasal 159...................................................................................................................................................................................................97 Pasal 156.......96 Paragraf 2...............................................................................................100 Pasal 162........................98 Bagian Keempat.......................92 Pasal 147........................................................................................................................

..........................................................................................................109 Pasal 183.....................................................................................................................112 Keanggotaan.....................................................................................................................................103 Pasal 167.......................................................................110 Paragraf 1......................................................................................................................................................................106 Bagian Keempat.............................................................................................................................102 BAB XIV..107 Pasal 178..............102 Pasal 166..................................................Pasal 165............doc x ............................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................110 Bagian Kelima......103 Bagian Kesatu...................................................106 Pasal 175.............103 Pasal 168.................................................................................................................110 Komite Sekolah/Madrasah.....................................................................................110 Fungsi dan Sifat............................................................................................................................112 Paragraf 3......................................................................................104 Pasal 170...............................................................................104 Pasal 171.................................................105 Pendidikan Berbasis Masyarakat........................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................106 Pasal 177.................................................112 Persyaratan Anggota..............................103 PERANSERTA MASYARAKAT...........................103 Fungsi ..............103 Pasal 169...........................................................................................................111 Paragraf 2...............................................................................................112 76461668...........................109 Pasal 182..................................................................................................................................108 Pasal 181........................................................................................................................................................................................................................................................................................................................106 Pasal 176................................................................................................................110 Pasal 184......108 Pasal 180............................................................................................................................................105 Pasal 172.........112 Pasal 186.............................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................107 Pasal 179.................................................................105 Pasal 174.........................105 Bagian Ketiga..............................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................106 Dewan Pendidikan......................103 Bagian Kedua.............103 Komponen Peranserta Masyarakat.................................................................................................................110 Pasal 185....................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................

.................................................................................................................................................................................................................................................................................................124 Pasal 207.............................................121 Pasal 201..118 Pasal 198.........................................................................................................................................125 Pasal 210...........................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................124 Pasal 208.............................................................................................................................................113 Pasal 189...............................................................................................................................................................................124 Pasal 209...................................................................115 Pasal 194.............125 Pasal 212..................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................doc xi ...................................................126 Pasal 213......................................................115 Pasal 192..................................................................124 Pasal 206..................................................122 Pasal 204....................114 Bagian Keenam.....................................................................................................................121 BAB XVI..............................................................................................................117 Pasal 197............................................................................................................................................................................123 Pasal 205......................114 Pendanaan................................................................................................................................................................................................................................................................115 BAB XV.......................122 SANKSI.............115 Larangan.............................................................................................................................119 Pasal 199...................................................120 Pasal 200...........................115 Pasal 193.............122 Pasal 202..................................................113 Paragraf 5.......Pasal 187..............................................................................................122 Pasal 203.....................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................116 Pasal 196.................114 Pasal 190..........................................................................................................................125 Pasal 211......................................................................113 Struktur Organisasi dan Kepengurusan..............................................................112 Paragraf 4...................................................................................................115 PENGAWASAN.................113 Mekanisme Pemilihan........................................................................................................116 Pasal 195.....113 Paragraf 6.................................................................................................................113 Pasal 188..............................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................114 Pasal 191............................126 76461668................

.......................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................127 KETENTUAN PENUTUP....................................................126 Pasal 215...............................................127 Pasal 218...................................................................127 Pasal 216.....................................................................................................................................................................................................................126 BAB XVIII...........................................................126 KETENTUAN PERALIHAN..........126 Pasal 214 .....................BAB XVII..........................................................................................................................................................................129 76461668.......127 Pasal 217...................................................128 PENJELASAN............................................................................................doc xii ...................................

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful