Serangan Umum 1 Maret 1949 adalah serangan yang dilaksanakan pada tanggal 1 Maret 1949 terhadap kota Yogyakarta

secara secara besar-besaran yang direncanakan dan dipersiapkan oleh jajaran tertinggi militer di wilayah Divisi III/GM III dengan mengikutsertakan beberapa pucuk pimpinan pemerintah sipil setempat berdasarkan instruksi dari Panglima Besar Sudirman, untuk membuktikan kepada dunia internasional bahwa TNI - berarti juga Republik Indonesia - masih ada dan cukup kuat, sehingga dengan demikian dapat memperkuat posisi Indonesia dalam perundingan yang sedang berlangsung di Dewan Keamanan PBB dengan tujuan utama untuk mematahkan moral pasukan Belanda serta membuktikan pada dunia internasional bahwa Tentara Nasional Indonesia (TNI) masih mempunyai kekuatan untuk mengadakan perlawanan. Soeharto pada waktu itu sebagai komandan brigade X/Wehrkreis III turut serta sebagai pelaksana lapangan di wilayah Yogyakarta.

Latar belakang

Kurang lebih satu bulan setelah Agresi Militer Belanda II yang dilancarkan pada bulan Desember 1948, TNI mulai menyusun strategi guna melakukan pukulan balik terhadap tentara Belanda yang dimulai dengan memutuskan telepon, merusak jalan kereta api, menyerang konvoi Belanda, serta tindakan sabotase lainnya. Sekitar awal Februari 1948 di perbatasan Jawa Timur, Letkol. dr. Wiliater Hutagalung -sejak September 1948 diangkat menjadi Perwira Teritorial dan ditugaskan membentuk jaringan pesiapan gerilya di wilayah Divisi II dan III - bertemu dengan Panglima Besar Sudirman guna melaporkan mengenai resolusi Dewan Keamanan PBB dan penolakan Belanda terhadap resolusi tersebut dan melancarkan propaganda yang menyatakan bahwa Republik Indonesia sudah tidak ada lagi. Melalui Radio Rimba Raya, Panglima Besar Sudirman juga telah mendengar berita tersebut. Panglima Besar Sudirman menginstruksikan untuk memikirkan langkah-langkah yang harus diambil guna mengcounter propaganda Belanda. Hutagalung yang membentuk jaringan di wilayah Divisi II dan III, dapat selalu berhubungan dengan Panglima Besar Sudirman, dan menjadi penghubung antara Panglima Besar Sudirman dengan Panglima Divisi II, Kolonel Gatot Subroto dan Panglima Divisi III, Kol. Bambang Sugeng. Selain itu, sebagai dokter spesialis paru, setiap ada kesempatan, ia juga ikut merawat Panglima Besar Sudirman yang saat itu menderita penyakit paru-paru. Setelah turun gunung, pada bulan September dan Oktober 1949, Hutagalung dan keluarga tinggal di Paviliun rumah Panglima Besar Sudirman di (dahulu) Jl. Widoro No. 10, Yogyakarta. Pemikiran yang dikembangkan oleh Hutagalung adalah, perlu meyakinkan dunia internasional terutama Amerika Serikat dan Inggris, bahwa Negara Republik Indonesia masih kuat, ada pemerintahan (Pemerintah Darurat Republik Indonesia – PDRI), ada organisasi TNI dan ada tentaranya. Untuk membuktikan hal ini, maka untuk menembus isolasi, harus diadakan serangan spektakuler, yang tidak bisa disembunyikan oleh Belanda, dan harus diketahui oleh UNCI (United Nations Commission for Indonesia) dan wartawan-wartawan asing untuk disebarluaskan ke seluruh dunia. Untuk menyampaikan kepada UNCI dan para wartawan asing bahwa Negara Republik Indonesia masih ada, diperlukan pemuda-pemuda berseragam Tentara Nasional Indonesia, yang dapat berbahasa Inggris, Belanda atau Perancis. Panglima Besar Sudirman menyetujui gagasan tersebut dan menginstruksikan Hutagalung agar mengkoordinasikan pelaksanaan gagasan tersebut dengan Panglima Divisi II dan III. Letkol. dr. Hutagalung masih tinggal beberapa hari guna membantu merawat Panglima Besar Sudirman, sebelum kembali ke markasnya di Gunung Sumbing. Sesuai tugas yang diberikan oleh Panglima Besar Sudirman, dalam rapat Pimpinan Tertinggi Militer dan Sipil di wilayah Gubernur Militer III, yang dilaksanakan pada tanggal 18 Februari 1949 di markas yang terletak di lereng Gunung Sumbing. Selain Gubernur Militer/Panglima Divisi III Kol. Bambang Sugeng, dan Letkol Wiliater Hutagalung, juga

hadir Komandan Wehrkreis II, Letkol. Sarbini Martodiharjo, dan pucuk pimpinan pemerintahan sipil, yaitu Gubernur Sipil, Mr. K.R.M.T. Wongsonegoro, Residen Banyumas R. Budiono, Residen Kedu Salamun, Bupati Banjarnegara R. A. Sumitro Kolopaking dan Bupati Sangidi. Letkol Wiliater Hutagalung yang pada waktu itu juga sebagai penasihat Gubernur Militer III menyampaikan gagasan yang telah disetujui oleh Panglima Besar Sudirman, dan kemudian dibahas bersama-sama yaitu:
1. Serangan dilakukan secara serentak di seluruh wilayah Divisi III, yang melibatkan

2. 3. 4. 5.
• •

Wehrkreise I, II dan III, Mengerahkan seluruh potensi militer dan sipil di bawah Gubernur Militer III, Mengadakan serangan spektakuler terhadap satu kota besar di wilayah Divisi III, Harus berkoordinasi dengan Divisi II agar memperoleh efek lebih besar, Serangan tersebut harus diketahui dunia internasional, untuk itu perlu mendapat dukungan dari: Wakil Kepala Staf Angkatan Perang guna koordinasi dengan pemancar radio yang dimiliki oleh AURI dan Koordinator Pemerintah Pusat, Unit PEPOLIT (Pendidikan Politik Tentara) Kementerian Pertahanan.

Tujuan utama dari ini rencana adalah bagaimana menunjukkan eksistensi TNI dan dengan demikian juga menunjukkan eksistensi Republik Indonesia kepada dunia internasional. Untuk menunjukkan eksistensi TNI, maka anggota UNCI, wartawanwartawan asing serta para pengamat militer harus melihat perwira-perwira yang berseragam TNI. Setelah dilakukan pembahasan yang mendalam, grand design yang diajukan oleh Hutagalung disetujui, dan khusus mengenai "serangan spektakuler" terhadap satu kota besar, Panglima Divisi III/GM III Kolonel Bambang Sugeng bersikukuh, bahwa yang harus diserang secara spektakuler adalah Yogyakarta. Tiga alasan penting yang dikemukakan Bambang Sugeng untuk memilih Yogyakarta sebagai sasaran utama adalah:
1. Yogyakarta adalah Ibukota RI, sehingga bila dapat direbut walau hanya untuk

beberapa jam, akan berpengaruh besar terhadap perjuangan Indonesia melawan Belanda. 2. Keberadaan banyak wartawan asing di Hotel Merdeka Yogyakarta, serta masih adanya anggota delegasi UNCI (KTN) serta pengamat militer dari PBB. 3. Langsung di bawah wilayah Divisi III/GM III sehingga tidak perlu persetujuan Panglima/GM lain dan semua pasukan memahami dan menguasai situasi/daerah operasi. Selain itu sejak dikeluarkan Perintah Siasat tertanggal 1 Januari 1949 dari Panglima Divisi III/Gubernur Militer III, untuk selalu mengadakan serangan terhadap tentara Belanda, telah dilancarkan beberapa serangan umum di wilayah Divisi III/GM III. Seluruh Divisi III dapat dikatakan telah terlatih dalam menyerang pertahanan tentara Belanda. Selain itu, sejak dimulainya perang gerilya, pimpinan pemerintah sipil dari mulai Gubernur Wongsonegoro serta para Residen dan Bupati, selalu diikutsertakan dalam rapat dan pengambilan keputusan yang penting dan kerjasama selama ini sangat baik. Oleh karena itu, dapat dipastikan dukungan terutama untuk logistik dari seluruh rakyat. Selanjutnya dibahas, pihak-pihak mana serta siapa saja yang perlu dilibatkan. Untuk skenario seperti disebut di atas, akan dicari beberapa pemuda berbadan tinggi dan tegap, yang lancar berbahasa Belanda, Inggris atau Prancis dan akan dilengkapi dengan seragam perwira TNI dari mulai sepatu sampai topi. Mereka sudah harus siap di dalam

kota. Pada waktu bergerilya.Yogya. terutama yang fasih berbahasa Belanda dan Inggris. dunia internasional harus mengetahui adanya Serangan Tentara Nasional Indonesia terhadap tentara Belanda. Sutarjo Kartohadikusumo.4 jam saja. terutama terhadap Yogyakarta. dipastikan mereka akan mendatangkan bantuan dari kota-kota lain di Jawa Tengah. Untuk pertolongan dan perawatan medis. Oleh karena itu. Walaupun dengan risiko besar. Ini semua telah diatur dan ditetapkan oleh pemerintah militer setempat. untuk menghubungi pemancar radio Angkatan Udara RI (AURI) di Playen.B. Diperkirakan apabila Belanda melihat bahwa Yogyakarta diserang secara besar-besaran. Kurir segera dikirim kepada Komandan Wehrkreise III/Brigade 10. butir 8 menyebutkan: Kesehatan terutama tergantung kepada Kesehatan Rakyat dan P. bahkan Camat. harus disampaikan langsung oleh atasan kepada komandan pasukan yang bersangkutan. Ketua DPA yang juga adalah Ketua PMI (Palang Merah Indonesia). namun Solo. untuk . T. akan disampaikan langsung oleh Panglima Divisi III Kolonel Bambang Sugeng. Selama perang gerilya. Pejabat Kepala Bagian PEPOLIT Kementerian Pertahanan yang juga berada di Gunung Sumbing akan ditugaskan mencari pemuda-pemuda yang sesuai dengan kriteria yang telah ditentukan. Residen Budiono. Suharto. Komandan Wehrkreise II dan para pejabat sipil pulang ke tempat masing-masing guna mempersiapkan segala sesuatu. Suharto. serangan di wilayah Divisi II dan III harus dikoordinasikan dengan baik sehingga dapat dilakukan operasi militer bersama dalam kurun waktu yang ditentukan. perintah yang sangat penting dan rahasia. Semarang dan Solo.sebagai pelengkap Perintah Siasat No. Letkol. Lurah serta Kepala Desa sangat berperan dalam menyiapkan dan memasok perbekalan (makanan dan minuman) bagi para gerilyawan. Dalam kapasitasnya sebagai Wakil Kepala Staf Angkatan Perang.7 jam. karena itu evakuasi para dokter dan rumah obat mesti menjadi perhatian. Jarak tempuh (waktu itu) Magelang . Beberapa dokter dan staf PMI kemudian banyak yang ditangkap oleh Belanda dan ada juga yang mati tertembak sewaktu bertugas. mengatur pengiriman obat-obatan bagi gerilyawan di front. para pejuang sering harus selalu pindah tempat. Dalam konsep Pertahanan Rakyat Total . Kolonel Wiyono. Simatupang yang bermarkas di Pedukuhan Banaran. Pimpinan pemerintahan sipil. dan Semarang . Residen Salamun. sesuai dengan tugas masing-masing. Maka rencana penyerangan atas Yogyakarta yang ada di wilayah Wehrkreise I di bawah pimpinan Letkol. Bupati Sangidi dan Bupati Sumitro Kolopaking ditugaskan untuk mengkoordinasi persiapan dan pasokan perbekalan di wilayah masing-masing. Setelah rapat selesai. Hal penting yang kedua adalah. Ibukota Republik. Sebagaimana telah digariskan dalam pedoman pengiriman berita dan pemberian perintah. Kurir segera dikirim untuk menyampaikan keputusan rapat di Gunung Sumbing pada 18 Februari 1949 kepada Panglima Besar Sudirman dan Komandan Divisi II/Gubernur Militer II Kolonel Gatot Subroto. sekitar 4 . Gubernur Wongsonegoro. Peran PMI sendiri juga telah dipersiapkan sejak menyusun konsep Perintah Siasat Panglima Besar. sehingga sangat tergantung dari bantuan rakyat dalam penyediaan perbekalan. diserahkan kepada PMI. sekitar 6 . dan pada waktu penyerangan telah dimulai. dekat Wonosari.5 jam.M. 1 . atau paling tidak dapat diperlambat. sehingga bantuan Belanda dari Solo dapat dihambat. dimana terdapat pasukan Belanda yang kuat seperti Magelang. Magelang dan Semarang (bagian Barat) berada di wilayah kewenangan Divisi III GM III.I.Yogya hanya sekitar 3 . desa Banjarsari. agar setelah serangan dilancarkan berita mengenai penyerangan besarbesaran oleh TNI atas Yogyakarta segera disiarkan.Yogya. Solo . TB Simatupang lebih kompeten menyampaikan hal ini kepada pihak AURI daripada perwira Angkatan Darat.yang dikeluarkan oleh Staf Operatif (Stop) tanggal 3 Juni 1948. di bawah wewenang Panglima Divisi II/GM II Kolonel Gatot Subroto. Dalam menyebarluaskan berita ini ke dunia internasional maka dibantu oleh Kol. mereka harus masuk ke Hotel Merdeka guna menunjukkan diri kepada anggota-anggota UNCI serta wartawanwartawan asing yang berada di hotel tersebut.

Wiliater Hutagalung beserta ajudan Letnan Amron Tanjung. yang selalu dilakukan pada malam hari dan beristirahat pada siang hari. Yogyakarta. Kusen. Suharto beserta ajudan. pukul 06. tempat kediaman mertua Bambang Sugeng dan masih sempat berenang di telaga yang ada di dekat Pengasih (Keterangan dari Bambang Purnomo. bahwa serangan tersebut akan dilancarkan tanggal 1 Maret 1949. Komandan Wehrkreise III/Brigade X Letkol. Kepastian tanggal baru dapat ditentukan kemudian. Kusen (dokter pribadi Bambang Sugeng). pagi hari. dan memberikan tugas untuk mencari pemuda berbadan tinggi dan tegap serta fasih berbahasa Belanda. yang akan disampaikan sendiri oleh Kol. Tanggal 19 Februari 1949. Suharto. yang bermarkas tidak jauh dari markas Panglima Divisi. Diputuskan untuk segera berangkat sore itu juga guna menyampaikan grand design kepada pihak-pihak yang terkait. yang kemudian menjadi ipar Simatupang. Simatupang pada saat itu dimohonkan untuk mengkoordinasi pemberitaan ke luar negeri melaui pemancar radio AURI di Playen dan di Wiladek. Inggris atau Prancis yang akan diberi pakaian perwira TNI. setelah koordinasi serta kesiapan semua pihak terkait. Brigade IX di bawah komando Letkol Achmad Yani. maka pertemuan dilakukan di dalam sebuah gubug di tengah sawah. Simatupang. untuk menghindari patroli Belanda. Hadir dalam pertemuan tersebut lima orang. Panglima Divisi beserta rombongan tiba di Pedukuhan Banaran mengunjungi Wakil Kepala Staf Angkatan Perang Kol. Wiyono dari PEPOLIT.memberitahu kedatangan Panglima Divisi III serta mempersiapkan pertemuan. baru kemudian diputuskan (keputusan diambil tanggal 24 atau 25 Februari). Pertemuan dengan Letkol. diperintahkan melakukan penghadangan terhadap bantuan Belanda dari Magelang ke Yogyakarta. Menjelang sore hari. antara lain juga dr. Sarbini. Bambang Sugeng beserta rombongan mampir di Pengasih. setelah terlebih dahulu mendapat persetujuan dari Sri Sultan Hamengkubuwono IX. seorang mantri kesehatan. dengan fokus serangan adalah Ibukota Republik. Panglima Divisi segera mengeluarkan instruksi rahasia yang ditujukan kepada Komandan Wehrkreise I Kolonel Bachrun. Wiyono dari Pepolit Kementerian Pertahanan. Bambang Surono (adik Bambang Sugeng). Bambang Sugeng.Setelah Simatupang menyetujui rencana grand design tersebut. dr. namun karena kuatir telah dibocorkan. Hutagalung. Penunjuk jalan juga selalu berganti di setiap desa. M. dibawah pimpinan Letnan Kolonel Suharto. yang kini tinggal di Temanggung). serta koar-besaran oleh pasukan Brigade X yang diperkuat dengan satu Batalyon dari Brigade IX. serangan secara besar-besaran yang serentak dilakukan di seluruh wilayah Divisi III/GM III dimulai. Kepala Daerah Istimewa Yogyakarta. antara lain dengan Kol. Ikut dalam rombongan Panglima Divisi selain Letkol.00 pagi. Letnan Amron Tanjung (ajudan Letkol Hutagalung) dan beberapa anggota staf Gubernur Militer (GM) serta pengawal. dalam pertemuan tersebut hadir juga Mr. Selain anggota rombongan Bambang Sugeng. adik kandung alm. Setelah semua persiapan matang. Kepada Suharto diberikan perintah untuk mengadakan penyerangan antara tanggal 25 Februari dan 1 Maret 1949. yang ditangani oleh Koordinator Pemerintah Pusat. Perwira Teritorial Letkol. Suharto berlangsung di Brosot. Puncak serangan dilakukan dengan serangan umum terhadap kota Yogyakarta (ibu kota negara) pada tanggal 1 Maret 1949. Jalannya serangan Umum Tanggal 1 Maret 1949. Semula pertemuan akan dilakukan di dalam satu gedung sekolah. Instruksi segera diteruskan ke semua pihak yang terkait. sedangkan serangan terhadap . dr. Ali Budiarjo. Komandan Brigade 10 daerah Wehrkreise III. Bambang Sugeng. seorang sopir dari dr. yaitu Panglima Divisi III/Gubernur Militer III Kol. Panglima Divisi dan rombongan meneruskan perjalanan. Pertama-tama rombongan singgah di tempat Kol. Dari Banaran rombongan menuju wilayah Wehrkreise III melalui pegunungan Menoreh untuk menyampaikan perintah kepada Komandan Wehrkreis III Letkol. dekat Wates.

terutama Magelang. Kerugian di kedua belah pihak Dari pihak Belanda. dan sampai di Yogyakarta sekitar pukul 11. Hal ini diungkapkan oleh Mr. -Pos komando ditempatkan di desa Muto.pertahanan Belanda di Magelang dan penghadangan di jalur [[Magelta-kota di sekitar Yogyakarta. pasukan telah merayap mendekati kota dan dalam jumlah kecil mulai disusupkan ke dalam kota. mempermalukan Belanda yang telah mengklaim bahwa RI sudah lemah. Angent (Teritoriaal Bestuurs-Adviseur). Pagi hari sekitar pukul 06. 53 anggota polisi tewas. Kolonel van Langen (komandan pasukan di Yogya) dan Residen Stock (Bestuurs-Adviseur untuk Yogya) telah mengunjungi kraton guna membicarakan keadaan dengan Sri Sultan.00. rakyat yang tewas tidak dapat dihitung dengan pasti. W. Perkembangan setelah serangan umum 1 maret -Mr. pihak Indonesia mencatat korban sebagai berikut: 300 prajurit tewas. Pada saat yang bersamaan. Dalam penyerangan ini Letkol Soeharto langsung memimpin pasukan dari sektor barat sampai ke batas Malioboro. sesuai Instruksi Rahasia yang dikeluarkan oleh Panglima Divisi III/GM III Kolonel Bambang Sugeng kepada Komandan Wehrkreis I. Pada malam hari menjelang serangan umum itu. korban di pihak Belanda selama bulan Maret 1949 tercatat 200 orang tewas dan lukaluka. Sedangkan untuk sektor kota sendiri ditunjuk Letnan Amir Murtono dan Letnan Masduki sebagai pimpinan. dan diantaranya adalah 3 orang anggota polisi. sewaktu sirene dibunyikan serangan segera dilancarkan ke segala penjuru kota. Alexander Andries Maramis. Letkol Bahrun dan Komandan Wehrkreis II Letkol Sarbini. malam harinya dan hari-hari berikutnya keadaan tetap tenteram. Tak lama setelah Serangan Umum 1 Maret terjadi Serangan Umum Surakarta yang menjadi salah . Hutagalung. Jakarta. Tepat pukul 12. tercatat 6 orang tewas. Berita tersebut menjadi Headlines di berbagai media cetak yang terbit di India. dengan fokus penyerangan adalah kota Solo. Kesibukan lalu-lintas dan pasar kembali seperti biasa. ketika bertemu di tahun 50-an di Pulo Mas. -Pada hari Selasa siang pukul 12. guna mengikat tentara Belanda dalam pertempuran agar tidak dapat mengirimkan bantuan ke Yogyakarta. -Dalam serangan terhadap Yogya. yang sedang diserang secara besang]] – Yogyakarta yang dilakukan oleh Brigade IX.00 siang. yang berkedudukan di New Delhi menggambarkan betapa gembiranya mereka mendengar siaran radio yang ditangkap dari Burma. hanya dapat memperlambat gerak pasukan bantuan Belanda dari Magelang ke Yogyakarta. Segera setelah pasukan Belanda melumpuhkan serangan terebut. Serangan Umum 1 Maret mampu menguatkan posisi tawar dari Republik Indonesia.00. sebagaimana yang telah ditentukan semula pasukan TNI mengundurkan diri. dapat menahan Belanda di Solo sehingga tidak dapat mengirim bantuan dari Solo ke Yogyakarta. selain itu 14 orang mendapat luka-luka. Menurut majalah Belanda De Wappen Broeder terbitan Maret 1949. Maramis kepada dr.00 Jenderal Meier (Komandan teritorial merangkap komandan pasukan di Jawa Tengah). mengenai serangan besar-besaran Tentara Nasional Republik Indonesia terhadap Belanda. sektor utara oleh Mayor Kusno. serangan juga dilakukan di wilayah Divisi II/GM II. Sektor Timur dipimpin Ventje Sumual. Dr. sektor selatan dan timur dipimpim Mayor Sardjono. -Serangan terhadap kota Solo yang juga dilakukan secara besar-besaran. keadaan di dalam kota menjadi tenteram kembali. Tentara Belanda dari Magelang dapat menerobos hadangan gerilyawan Republik. TNI berhasil menduduki kota Yogyakarta selama 6 jam.

Pasukan yang terlibat langsung dalam penyerangan terhadap Yogyakarta adalah dari Brigade IX dan Brigade X. tidak mengerahkan seluruh kekuatan yang ada di bawah komandonya. karena dari semula telah diperhitungkan. Pertempuran 5 hari 5 malam di Palembang (1 – 5 Januari 1947) dan juga tidak melebihi semangat berjuang Divisi Siliwangi. yang dimanifestasikan dengan pengukuhan tanggal 10 November sebagai Hari Pahlawan. yang bertugas mengikat Belanda dalam pertempuran di luar Wehrkreis III. yang waktu itu berada di Wiladek. Palagan Ambarawa (12 – 15 Desember 1945). yaitu pertempuran heroik di Medan (Medan Area. untuk membuktikan kepada dunia internasional bahwa TNI .B. didukung oleh pasukan Wehrkreis I dan II. --Serangan tersebut melibatkan berbagai pihak. dalam rangka melancarkan operasi Wingate untuk melakukan perang gerilya di Jawa Barat. Selain itu. bahwa gerilya bukan saja mampu melakukan penyergapan atau sabotase. -Dalam perencanaan dan pelaksanaan. karena para pejuang waktu itu menilai.dengan mengikutsertakan beberapa pucuk pimpinan pemerintah sipil setempat . ketika melakukan long march. sama sekali tidak pernah ditonjolkan. Kontroversi dalam Serangan Umum 1 Maret pada era Orde Baru -Hingga awal tahun 1970-an. persenjataan berat . guna mencegah atau paling tidak memperlambat gerakan bantuan mereka ke Yogyakarta. yaitu berjalan kaki selama sekitar dua bulan – sebagian bersama keluarga mereka . ketika Belanda menduduki Ibukota RI. sehingga dengan demikian dapat memperkuat posisi Indonesia dalam perundingan yang sedang berlangsung di Dewan Keamanan PBB. juga penting masalah logistik.masih ada dan cukup kuat. tanpa memikirkan perlindungan belakang.artileri. Dan masih banyak lagi pertempuran heroik di daerah lain. dilakukan di jajaran tertinggi militer di wilayah Divisi III/GM III . -Cukup kuat alasan untuk meragukan versi yang mengatakan. Serangan umum Solo inilah yang menyegel nasib Hindia Belanda untuk selamanya.dari Yogyakarta/Jawa Tengah ke Jawa Barat. Simatupang. Bagian Penerangan Komisariat Pusat Pemerintah (Pejabat PDRI di Jawa) dan Pepolit dari Kementerian Pertahanan.berarti juga Republik Indonesia . bahwa seorang . kekuatan TNI tidak sanggup menahan serangan Belanda. Perang Puputan Margarana Bali (20 November 1946). Bandung Lautan Api (April 1946).berdasarkan instruksi dari Panglima Besar Sudirman. Wakil Kepala Staf Angkatan Perang (KSAP). juga terlihat peran Kolonel T. Hingga waktu itu. Oktober 1945). dan pemancar radio Staf Penerangan Komisariat Pusat. pasukan infantri dan komando yang tangguh. -Dari sumber-sumber yang dapat dipercaya serta dokumen-dokumen yang terlampir dalam tulisan ini. suply (pasokan) perlengkapan dan perbekalan untuk ribuan pejuang serta perawatan medis yang melibatkan beberapa pihak di luar TNI. melibatkan pemancar radio AURI di Playen. Juga tidak mungkin seorang panglima atau komandan pasukan memerintahkan melakukan serangan terhadap suatu sasaran musuh yang kuat. setelah Belanda melancarkan Agresi II tanggal 19 Desember 1948. bahwa episode ini tidak melebihi episode-episode perjuangan lain. tanpa perlawanan dari TNI. serangan atas Yogyakarta 1 Maret 1949.arek Suroboyo pada Pertempuran di Surabaya / Peristiwa 10 November 1945. Selain itu. Untuk penyiaran berita mengenai serangan tersebut ke luar negeri. bukan saja dari Angkatan Darat. juga melibatkan bagian Pepolit (Pendidikan Politik Tentara) Kementerian Pertahanan. Tidak mungkin seorang panglima atau komandan. yang sangat menonjol dan dikenal oleh rakyat Indonesia adalah perjuangan arek . Perlu diingat. Yogyakarta. terlihat jelas bahwa perencanaan dan persiapan serangan atas Yogyakarta yang kemudian dilaksanakan pada 1 Maret 1949. untuk menghadapi musuh yang jauh lebih kuat.satu keberhasilan pejuang RI yang paling gemilang karena membuktikan kepada Belanda. melainkan juga AURI. tetapi juga mampu melakukan serangan secara frontal ke tengah kota Solo yang dipertahankan dengan pasukan kavelerie.

Dengan demikian. W. .komandan brigade dapat memberi tugas kepada Wakil Kepala Staf Angkatan Perang. Sarbini). tertanggal 15 Maret 1949. kemudian "memberikan instruksi" kepada sejumlah atasan. tertanggal 1 Januari 1949 yang dikeluarkan oleh Panglima Divisi III/GM III. bahkan terlihat peran beberapa atasan langsung Letkol Suharto. Apalagi menugaskan Wakil Kepala Staf Angkatan Perang yang dalam hirarki militer berada dua tingkat di atasnya. dan pihak Kementerian Pertahanan serta pihak AURI.. dan tidak mungkin dilakukan oleh komandan yang satu level. Berdasarkan bukti dan dokumen yang ada. 9/PS/19. Kolonel Bambang Sugeng. yang ditujukan kepada Komandan Wehrkreis II Letkol.I. 4/S/Cop. adalah Perintah Siasat No. bahwa selama perang gerilya. dan 3. Instruksi Rahasia tertanggal 18 Februari 1949. bahwa pasukan yang langsung membantu dalam serangan ke kota adalah Brigade IX. Bachrun) dan II (Letkol. -Dokumen ketiga yang membuktikan bahwa seluruh operasi tersebut ada di bawah kendali Panglima Divisi III/GM III. yang dapat menarik perhatian dunia luar. Perintah diberikan kepada komandan Wehrkreis I (Letkol. dan sejalan dengan Perintah Siasat 1 yang dikeluarkan oleh Panglima Besar Sudirman pada bulan Juni 1948.". menurut versi ini. di mana jelas disebutkan. -Dengan pertimbangan-pertimbangan tersebut. Bachrun. -Masih terdapat cukup bukti serta dokumen yang menunjukkan. Hutagalung disebutkan. -Perlu diketahui. yaitu Kolonel Bambang Sugeng. dengan adanya Instruksi Rahasia tertanggal 18 Februari 1949. M. tertanggal 1 Januari 1949.. bahwa tujuan semua serangan besarbesaran adalah untuk menarik perhatian dunia internasional. yang memiliki/mengoperasikan pemancar radio. perencanaan serta persiapan serangan dilakukan di jajaran brigade. -Dari dokumen ini dapat dilihat dengan jelas. mengadakan perlawanan serentak terhadap Belanda sehebat-hebatnya. Struktur dan hirarki militer berfungsi dengan baik dan garis komando sangat jelas. yang berada dua tingkat di atasnya. bahwa Instruksi Rahasia tersebut sehubungan dengan perintah yang diberikan kepada Komandan Wehrkreis III. tiga dokumen yang dikeluarkan oleh Panglima Divisi III/GM III. Hal ini terbukti dengan jelas. Dengan demikian. tidak mungkin seorang komandan pasukan dapat menggerakkan pasukan-pasukan lain yang bukan di bawah komandonya tanpa seizin atasan. Kolonel Abdul Haris Nasution. Letkol Suharto. 4/S/Cop.. untuk antara lain: ". serangan tersebut jelas melibatkan berapa pihak di luar Brigade X/Wehrkreis III. dalam upaya untuk mengurangi bantuan Belanda ke Yogyakarta dan tekanan Belanda terhadap pasukan Republik di wilayah Wehrkreis III yang membawahi Yogyakarta.. bahwa kendali seluruh operasi di wilayah Divisi III tetap berada di pucuk pimpinan Divisi III.. pasti harus dengan perintah dari atasan. Perintah Siasat No. Seandainya ada gerakan pasukan lain. -Instruksi Rahasia tersebut merupakan kelanjutan dari Perintah Siasat No. setelah dilaksanakan serangan atas Yogyakarta tanggal 1 Maret 1949. untuk membuat teks (dalam bahasa Inggris) yang akan disampaikan kepada pihak AURI untuk kemudian disiarkan oleh stasiun pemancar AURI. berdasarkan Instruksi No. 1/MBKD/1948 tertanggal 22 Desember 1948 yang dikeluarkan oleh Panglima Tentara dan Teritorium Jawa/Markas Besar Komando Jawa (MBKD). 9/PS/49. Perintah Siasat No. -Dalam naskah otobiografi Letnan Kolonel (Purn. untuk meningkatkan penyerangan terhadap tentara Belanda di daerah masingmasing. tertanggal 15 Maret 1949. bahwa Komandan Wehrkreis II Letkol Sarbini hadir dalam rapat perencanaan.. yaitu: 1. a. dibentuk Pemerintah Militer di seluruh Jawa. termasuk Panglima Divisi.l. sehingga tidak diperlukan lagi Instruksi tertulis.I. 2.) dr. Juga disebutkan.

Kolonel Nasution. seperti disampaikan dalam otobiografinya. Latief (waktu itu komandan kompi. tetap diatur dan dikendalikan oleh Panglima Divisi III/Gubernur Militer III. bahwa setiap komandan hanya mengetahui sebatas tugas yang diberikan kepadanya dan mempunyai wewenang hanya atas pasukannya.H. -Selain itu. Seorang pelaku sejarah menyampaikan. yang mengetahui mengenai rencana tersebut. Hal ini dapat dilihat. Dokumen-dokumen tersebut diperkuat antara lain dengan catatan harian Kolonel Simatupang. bahwa dia sebagai anggota staf GM III yang berada di lereng gunung Sumbing. -Catatan harian tersebut. butir 5. baru mengetahui mengenai serangan tersebut setelah serangan dilancarkan. dan sejarah tidak ditulis untuk kepentingan penguasa. Begitu juga dengan para pelaksana di lapangan. bahwa Simatupang telah mempersiapkan teks dalam bahasa Inggris tanggal 28 Februari. setelah serangan dilaksanakan tanggal 1 Maret 1949. Panglima Tentara dan Teritorium Jawa menegaskan: "Peliharalah terus hierarchie ketentaraan" -Perencanaan serangan tersebut sangat dirahasiakan.Banyumas Pekalongan . dan episode perjuangan tersebut belum diekspos menjadi mercu suar. bahwa Panglima Divisi III selalu memberikan instruksi dan melibatkan ketiga Wehrkreise tersebut. Selain itu. bahwa komando operasi dipegang oleh seorang komandan brigade. yang dalam hirarki militer beberapa tingkat di atas Suharto. (Purn. Wiliater Hutagalung.membuktikan bahwa sejak awal bergerilya. Tidak tertutup kemungkinan. sehari sebelum serangan terjadi dan meminta teks tersebut disiarkan oleh pemancar AURI Playen. dapat selalu berkomunikasi dengan Jenderal Sudirman. dan otobiografi Letkol dr. bahkan staf Gubernur Militer sekalipun. karena dalam catatan hariannya. sehingga selain pucuk pimpinan tertinggi militer dan sipil. yang tertulis dalam buku Laporan dari Banaran. Simatupang sendiri tidak menyebutkan nama Budiarjo ketika dia menyampaikan teks yang akan dibacakan di Playen. . yang waktu itu adalah Panglima Tentara & Teritorium Jawa/MBKD. Kol. Wakil KSAP. Dari catatan perjalanan yang ditulis oleh Kapten Suparjo Rustam. Di sini terlihat jelas. walaupun tempat persembunyiannya selalu berpindah-pindah. 1/MBKD/1948.Kedu . sangat tidak mungkin. bahwa Simatupang banyak terlibat dalam persiapan serangan tersebut. semua dokumen menunjukkan.sebagian dari Semarang) datang dan bermalam di Banaran. berpangkat Kapten). hanya satu atau dua hari saja. tertanggal 25 Desember 1948. yang dalam hirarki militer berada di posisi lebih tinggi. bahwa "Serangan Spektakuler" tersebut adalah suatu skenario -rekayasa. Juga dari catatan Simatupang dapat dilihat.untuk konsumsi dunia internasional. Perwira Teritorial. -Juga apabila mencocokkannya dengan tulisan Budiarjo terbukti. selain tidak logis dan tampak hanya mengarang cerita belaka. yang sedang mengunjungi daerah Yogyakarta (dia adalah Gubernur Militer daerah Yogyakarta .) A. dan bukan di tangan Komandan Brigade. Buku Laporan dari Banaran diterbitkan pertama kali tahun 1960. bahwa di Wiladek mereka juga telah "dipersiapkan" untuk menyiarkan berita mengenai serangan atas Yogyakarta. dengan demikian menjadi jelas. bahwa Simatupang juga memberikan teks yang akan dibacakan seperti halnya di Playen. Nasution. cocok dengan catatan harian Simatupang tertanggal 18 Februari 1949 yang dimuat dalam buku Laporan dari Banaran. sekaligus juga menunjukkan keterlibatan besar dari Simatupang. -Instruksi Rahasia tertanggal 18 Februari 1949. sebagaimana diungkapkan oleh seorang pelaku di lapangan. pada waktu itu hampir tidak ada anggota staf di jajaran bawah. ketika Suharto belum menjadi Presiden. Akan tetapi pucuk pimpinan militer dan sipil. Dalam instruksi No. seluruh operasi di wilayah Divisi III. -Memang tidak semua prajurit dapat atau boleh mengetahui keberadaan Panglima Besar yang menjadi incaran tentara Belanda. bahkan di beberapa tempat. di mana tertera: Kolonel Bambang Sugeng. melihat besarnya operasi tersebut serta keterlibatan berbagai pihak. Pernyataan Suharto. serta kemudian di dalam berbagai tulisan dari A. bahwa komando operasi ada di tangan Panglima Divisi. dapat dibantah berdasarkan bukti yang ada. -Jadi sangat jelas. tidak mengetahui mengenai perencanaan serta Grand Design serangan umum.

Bambang Supeno kembal. mengandung sangat banyak kontroversi. di mana jelas tertera Instruksi kepada Komandan Daerah III Letkol Suharto dan Komandan Daerah I Letkol. dengan melewati tiga jajaran di atasnya. Komandan Brigade X. Tanggal 3. dan yang terpenting adalah Instruksi Rahasia tertanggal 18 Februari 1949. untuk mengawal Pak Dirman" -Dari catatan perjalanan yang ditulis oleh ajudan Panglima Besar terlihat. Serangan Umum 1 Maret 1949 di Yogyakarta. yang menurut kabar ada di gunung Lawu. di mana rombongan berada. -Uraian Sumual.1949 banyak tamu-tamu dari berbagai kota dan daerah datang menemui Pak Dirman. yang markasnya hanya berjarak sekitar dua hari berjalan kaki dari markas Wehrkreis III. dan Markas Besar Komando Jawa berada di desa Manisrenggo. Di satu sisi. Wakil Kepala Staf Angkatan Perang. yang tidak ditangkap hanya dr.1949.3. pertemuan dengan Menteri Pembangunan Supeno dan Menteri Kehakiman Susanto Tirtoprojo. Kapten Cokropanolo untuk menghadap Sri Sultan … Orang-orang yang dikirim ke Yogya hampir semuanya ditangkap Belanda. buku tersebut dilengkapi dengan berbagai dokumen otentik yang sangat penting. Tentu menjadi suatu pertanyaan besar. yaitu bahwa dia mengambil keputusan tersebut. dan bukan gagasan Suharto atau perintah dari Hamengku Buwono IX. yang waktu itu adalah Komandan SWK-103 A. Tercatat antara lain: -"Tanggal 8.1948. Suwondo dan Kapten Cokropranolo. hal itu sebenarnya tidak dapat dia lakukan. menunjukkan dengan tegas. Nasution. Suwondo (dokter pribadi Panglima Besar) untuk mencari obat-obatan.ajudan Panglima Besar Sudirman. dan Panglima Besar dapat mengirim utusan untuk bertemu dengan pimpinan militer dan sipil.H. dapat selalu mengetahui keberadaan Panglima Besar. Perintah Siasat yang dikeluarkan tanggal 15 Maret 1949 menunjukkan.1949 di desa Wayang. kesimpulan yang diambil hanya mengarah kepada yang telah digariskan oleh penguasa waktu itu. -Juga terdapat kejanggalan mengenai pernyataan Suharto tersebut. -Buku yang diterbitkan SESKOAD. datang pula Kol. Tanggal 11. yaitu Kolonel Bambang Sugeng. Banyak dokumen dilampirkan dalam buku tersebut. Su'adi. tercatat kegiatan Panglima Besar. Sungkono (Panglima Divisi/Gubernur Militer Jawa Timur). yaitu: Pemrakarsa dan Komandan Operasi Serangan Umum adalah Suharto. yang bermarkas di pedukuhan Banaran. termasuk yang dikeluarkan oleh Panglima Divisi III/Gubernur Militer III Kolonel Bambang Sugeng.12.1949. Mengirimkan beberapa orang ke Yogyakarta. yaitu Perintah Siasat tertanggal 1 Januari 1949.2. di desa Pringapus. Letnan Basuki dan dr. Kapten Suparjo (ajudan Panglima Besar). desa Banjarsari di lereng gunung Sumbing. Jawa Timur) dan pindah ke desa di lereng Gunung Wilis. di antaranya Harsono Cokroaminoto untuk mendapatkan keterangan-keterangan mengenai politik. karena kesulitan menghubungi Panglima Besar Sudirman. untuk apa seorang komandan brigade ingin berhubungan langsung dengan Panglima Besar. datang utusan dari Kolonel Gatot Subroto dengan satu kompi tentara dipimpin Letkol. namun di sisi lain. Pak Dirman mengutus Kolonel Bambang Supeno supaya mencari hubungan dengan Pemerintah pusat di Jawa.1. Juga ada Kolonel A. Bachrun. karena Letnan Kolonel Suharto. Di samping kedua surat tersebut.” -Selama perjalanan. Tanggal 10. Selama beberapa hari setelah tanggal 12. antara lain: -"Tanggal 27. Panglima Tentara dan Teritorium Jawa. Meninggalkan desa Karangnongko (di sungai Brantas. masih mempunyai atasan langsung. di lereng gunung Merapi. tidak jauh dari markas Divisi III. selalu mengirimkan utusan untuk memberikan berita kepada KBN-KBN. Panglima Divisi III. seperti beberapa menteri yang tidak ditangkap Belanda. Sektor Barat. bahwa perintah serangan umum datang dari Panglima Divisi III/GM III Kolonel Bambang Sugeng. M. Pertama.1.1. bahwa Bambang Sugeng . Semua markasmarkas di wilayah Divisi III berada dalam radius sekitar 24 jam berjalan kaki. Tidak lama setelah Kol. bahwa Panglima Divisi/Gubernur Militer serta pembesar sipil. Selain itu masih ada Kolonel Simatupang. Bambang Supeno berangkat.1949 di desa Sobo.

serta tidak memerlukan persiapan yang besar. hirarki dan garis komando militer berfungsi dengan baik selama perang gerilya. di mana masalah logistik dapat ditangani sendiri. Sebagaimana dikemukakan di atas. bahwa perintah serangan diberikan oleh seseorang yang berada di luar garis komando militer.memutuskan untuk tidak ke luar kota. di mana HB IX memberi perintah kepada Suharto untuk melaksanakan serangan atas kota Yogyakarta. dan HB IX telah menetapkan waktu penyerangan. tanpa melibatkan atasan. Di beberapa bagian. buku SESKOAD berusaha untuk tidak mengabaikan peran HB IX. Para penulis buku SESKOAD sama sekali tidak menyebutkan adanya Sidang Kabinet. bahwa keputusan untuk tetap tinggal di kota. Panglima Besar Sudirman dan Kolonel Simatupang sendiri juga berada di Istana. Hamengku Buwono IX memanggil Letkol Suharto dan berbicara empat mata. sekaligus mengecilkan peran banyak atasan Suharto. Pasukan tetangga yang pada saat itu sedang melaksanakan operasi untuk mengimbangi serangan Wehrkreis III ialah pasukan GM II yang melaksanakan operasi di daerah Surakarta dan Wehrkreis II Divisi III yang melaksanakan operasi di daerah Kedu/Magelang. bahwa perintah serangan tersebut datang dari Hamengku Buwono IX (HB IX). tidak mungkin seseorang yang berada di luar garis komando dapat memberikan perintah kepada komandan pasukan untuk mengadakan suatu operasi militer. Juga berdua mempunyai gagasan untuk segera mengadakan serangan umum. sejalan dengan Surat Perintah Siasat No. apalagi memberikan instruksi kepada atasan dan pihak di luar Angkatan Darat. HB IX sangat rajin mendengarkan siaran radio luar negeri. juga terdapat kalimat yang memberi gambaran. bahwa serangan terhadap Yogyakarta tersebut adalah bagian dari operasi Gubernur Militer III. tanpa melibatkan pasukan lain. Koordinasi pada tingkat Gubernur Militer. -Selain itu. yang juga melibatkan pasukan di bawah komando Gubernur Militer II. yang diserahkan langsung kepada Wakil Kepala Staf Angkatan Perang. yang -setelah pertimbangan yang matang. dan bahkan hanya dengan beberapa baris kalimat. percakapan antara Presiden Sukarno dengan Panglima Besar dan surat perintah Wakil Presiden/Menteri Pertahanan. Selain itu. Seandainya memang benar ada rencana "penculikan" Presiden dan Wakil Presiden. siapa kelompok yang "mendongkol" dan akan menculik Presiden serta Wakil Presiden untuk dibawa ke luar kota. Dengan demikian. Kolonel Simatupang. Menurut versi ini.tetap memegang kendali operasi dan selalu melibatkan seluruh potensi yang ada di bawah komandonya. Untuk melibatkan pasukan dengan komandan yang sejajar dengan dia saja sudah tidak mungkin. adalah sangat tidak masuk akal. di mana juga akan melibatkan pihak dan pasukan lain. yaitu tanggal 1 Maret 1949. -Buku yang diterbitkan oleh SESKOAD untuk glorifikasi Suharto. jelas tidak mungkin dilakukan oleh seorang komandan Brigade: Serangan yang akan dilaksanakan oleh Wehrkreis III sesungguhnya merupakan operasi sentral dari seluruh operasi yang dilaksanakan oleh GM III Kolonel Bambang Sugeng. sangat menjatuhkan nama baik Presiden Sukarno serta pimpinan sipil lain. Dengan demikian apabila disebutkan. Mengenai kegiatannya sepanjang tanggal 19 Desember 1948. Apalagi memberi instruksi langsung kepada komandan pasukan yang satu level. -Pemberian perintah memang dimungkinkan. Kontroversi dalam Serangan Umum 1 Maret pada era reformasi Versi lain yang kemudian juga dikenal adalah. dan tidak menyebutkan bertemu dengan "kelompok yang mendongkol" tersebut. diambil setelah dilakukan Sidang Kabinet yang berlangsung dari pagi sampai siang. Simatupang menulis sangat rinci dalam buku Laporan dari Banaran. 4 . di mana disebutkan. Buku SESKOAD juga tidak menjelaskan. seandainya gerakan pasukan tersebut sangat terbatas pada pasukan yang dipimpin langsung oleh seorang komandan. yang ditujukan kepada seluruh Angkatan Perang. pasti hal itu telah ditulis dalam catatan hariannya. seusai Sidang Kabinet di Istana. bahwa selain Suharto. -Sebagaimana telah dituliskan di muka. karena harus ada persetujuan dari atasan.

Kamis..l. Di era yang diharapkan dimulainya reformasi termasuk pelurusan penulisan sejarah. ia menanyakan kesanggupan Suharto untuk menyiapkan suatu serangan umum dalam waktu dua minggu. Tidak pernah ada penjelasan. bahkan hadir dalam Seminar SESKOAD dan ikut dalam pembuatan Film "Janur Kuning".. -Sebenarnya. keterangan yang sehubungan dengan serangan umum.com menuliskan:"Salah satu pelaku Serangan Oemoem (SO) 1 Maret Brigjen (Purn) C Marsoedi menegaskan. sulit menghubungi Panglima Besar Jenderal Sudirman. tidaklah benar bila ide itu berasal dari Soeharto. GPH Prabuningrat. Kontak-kontak selanjutnya dilakukan dengan perantaraan kurir.Suharto dalam hubungan dengan rencana Serangan Umum 1 Maret. kutipan tersebut selanjutnya berbunyi: . yaitu adanya pemrakarsa dan pelaksana.. -Di sini berakhir kutipan dari biografi HB IX. . bahwa pada akhir Februari 1949 masalah antara Indonesia dengan Belanda akan dibicarakan di forum PBB. yang secara eksplisit menyebutkan Instruksi dari Panglima Divisi Bambang Sugeng kepada Komandan Daerah (Wehrkreis) III. dan Paris. termasuk orang-orang yang di masa Suharto berkuasa. terlibat dalam konspirasi pemutarbalikan fakta sejarah. ide serangan terhadap kekuatan militer Belanda. bahwa Belanda sama sekali tidak menguasai keadaan.) Marsudi seperti dikutip berbagai media.. muncul pengkultusan baru yang masih memakai pola yang telah diterapkan oleh Suharto dan merekayasa legenda baru. bila mengenal sosok HB IX yang dikenal sangat low profile dan dekat dengan rakyat. Hal ini dilakukan oleh pendukung HB IX. Marsoedi mengemukakan. untuk melakukan serangan atas Ibukota Yogyakarta antara tanggal 25 Februari . yang dalam otobiografinya menyebutkan bahwa: .. -Keterangan tersebut sebenarnya sekaligus membantah ungkapan Suharto.. barulah ada keberanian beberapa orang untuk membantah versi Suharto tersebut. Itulah satu-satunya pertemuan HB IX . -Juga dikutip dari biografi HB IX. a.. Ketika itu telah pertengahan Februari. Letkol Suharto. dan bukan Instruksi Rahasia tertanggal 18 Februari 1949. Dalam pertemuan di rumah kakaknya. Hanya yang mengherankan adalah disebutkannya Perintah Siasat No. di kompleks Keraton sekitar 13 Februari 1949. Apalagi ketika ia mendengar berita dari siaran radio luar negeri. Letnan Kolonel Suharto. yang menduduki ibukota RI Yogyakarta. sedangkan dalam buku yang ditulis oleh Tim Lembaga Analisis Informasi (TLAI). -Dalam seminar tentang Peranan Wehrkreise III Pada Masa Perang Kemerdekaan II 19481949 di Balai Kajian Sejarah dan Nilai Tradisional (Jarahnitra) Yogyakarta. mengenai apa yang dimaksud dengan pemrakarsa. Bagaimana caranya untuk memberi tahu kepada dunia internasional bahwa RI masih hidup.com tertanggal 23 Juni 2000. HB IX kemudian dapat mendatangkan komandan gerilya. situs web koridor. yang memaksa Belanda kembali ke meja perundingan di PBB di Lake Success (Tempat bersidang Dewan Keamanan pada waktu itu adalah Lake Success.dari Panglima Divisi III Kolonel Bambang Sugeng.. Prancis).1 Maret 1949.. (Purn. Beberapa sumber berita dikutip.’ -Setelah Suharto tidak berkuasa. seolah-olah serangan terhadap Yogyakarta tersebut menjadi tindakan. yang tempat bergerilyanya tidak diketahui dengan jelas . Amerika Serikat. Ia kemudian mendapat satu akal . Namun ia harus cepat bertindak karena waktu telah mendesak. menyebutkan.. Segera ia mengirim kurir untuk menghubungi Panglima Besar di tempat markas gerilya meminta persetujan untuk melaksanakan siasat. Versi ini juga mengekspos. bahwa Hamengku Buwono IX yang memberikan perintah kepada Suharto.. Koridor. dan segala sesuatu seputar serangan tersebut tidak berubah. yang saat itu . Kontroversi Serangan Umum 1 Maret 1949.. tetapi semua kesimpulan diarahkan kepada kerangka baru yang telah disiapkan. tetapi tidak dilanjutkan dengan kalimat yang menyebutkan bahwa HB IX memanggil Suharto untuk menghadap: . 4 tertanggal 1 Januari 1949. sangat diragukan bahwa HB IX akan menyetujui semua langkah yang ditempuh untuk menciptakan suatu legenda baru untuk mengkultuskan dirinya. pada Siang hari datang dari Sri Sultan Hamengku Buwono IX. -Brigjen.

alasan tersebut telah terbantah. Sebagai komandan Sub-Wehrkreis dengan pangkat Letnan. saudara Sri Sultan yang juga menjadi tangan kanan HB IX. Marsudi tidak termasuk jajaran yang dapat atau boleh mengetahui persembunyian Panglima Besar Sudirman." Marsudi. yang waktu itu berpangkat Letnan dan hanya menjabat sebagai komandan Sub-Wehrkreis 101. bahwa pemrakarsa Serangan Umum 1 Maret 1949 adalah Sri Sultan Hamengku Buwono . Ia menjelaskan. Marsudi yang setelah usai Perang Kemerdekaan II terus akrab dengan para perwira yang dahulu di Staf Gubernur Militer (SGM). "Tunggu perintah lebih lanjut. beliau tentu menerima informasi dari Panglima Besar. 9 . juga tidak termasuk jajaran yang dapat mengetahui tempat persembunyian Panglima Besar.". Panglima Divisi Kolonel Bambang Sugeng. Pertemuan itu berlangsung dalam suasana gelap karena seluruh lampu dimatikan. -Sangat tidak tepat. dalam wawancara dengan Tabloid Tokoh. sehingga dengan demikian. jenis baju tradisional khusus bagi abdi dalem Kraton Yogyakarta. demikian juga dengan pernyataan Suharto. Bahkan atasannya sendiri. tidak ada alasan untuk menerjang hirarki. sebagaimana terlihat dalam beberapa catatan di atas. yaitu Letkol Suharto. sesuai dengan hirarki militer. menuju Brosot untuk menyampaikan "Grand Design" itu kepada pihak-pihak yang terkait. -Menurut dia. yang menyebutkan bahwa HB IX dapat berhubungan dengan Panglima Besar Sudirman. tetapi sebagai panglima. seharusnya cukup mendengar dan mengetahui peranan Panglima Divisi III/Gubernur Militer III Kolonel Bambang Sugeng. Sri Sultan pada 1 Februari berkirim surat kepada Panglima Besar Soedirman dan kemudian dijawab oleh Bapak TNI ini agar menghubungi Letkol Soeharto di Blibis. No." -Sebelum itu. Ia mengungkapkan. Peranan Panglima Divisi tak terasa. Marsudi mengatakan (Lihat Tabloid mingguan Tokoh. 01.16 November 1998): "Gubernur Militer Bambang Sugeng itu 'kan Panglima Divisi." katanya. Sarana komunikasi terbatas. Memang hal itu yang selalu dikemukakan oleh bawahan. Karena itu ada hirarki yang diterjang". "Saya sendiri yang menjadi penghubung antara HB IX dengan Soeharto. sebelum bertemu Soeharto. Kolonel Wiyono dari PEPOLIT dan termasuk kepada Letkol Suharto. seperti Kolonel Simatupang. -Begitu juga dengan kesimpulan yang disusun oleh Tim Lembaga Analisis Informasi. pernyataan Marsudi telah terbantah oleh keterangan HB IX sendiri. di bawah Panglima Besar. Kemudian sehubungan dengan alasan "sarana komunikasi terbatas" maka "ada hirarki yang diterjang. bahwa atasan tertinggi mereka tidak mempunyai kesulitan untuk saling berkomunikasi. Soeharto mengenakan busana pranakan. yang menjadi sasaran utama tentara Belanda. selain yang langsung memimpin rapat pimpinan tertinggi militer dan sipil di wilayah Gubernur Militer III pada 18 Februari 1949 -di mana disusun "Grand Design" Serangan Umum tersebut. Saat menghadap Sri Sultan. dan kemudian bertemu empat mata dengan Sri Sultan HB IX di kediaman GBPH H Prabuningrat." kata Marsoedi menirukan ucapan Soeharto waktu itu.juga memimpin sendiri rombongan dengan melakukan perjalanan kaki berhari-hari dari lereng Gunung Sumbing. di atasnya Pak Harto. sebenarnya sudah sangat jelas peran Panglima Divisi III/Gubernur Militer III Kolonel Bambang Sugeng. karena Panglima Divisi cukup memberikan instruksi/perintah kepada komandan Brigade/Wehrkreis. Bahkan saat keluar dari pertemuan itu. juga sebagaimana tertera dalam catatan harian Wakil Kepala Staf Angkatan Perang Kolonel Simatupang tertanggal 18 Februari 1949. Tahun ke-1. Situasinya mendesak. Selain itu.menjadi Komandan Wehrkreise III berpangkat Overstee (Letkol) dan kemudian menjadi orang pertama Orde Baru. Soeharto sempat memerintahkannya dengan kalimat pendek. Soeharto diantar masuk ke Kraton Yogyakarta melalui nDalem Prabeya. pada 14 Februari 1949. tentu tidak pada posisi untuk menerima instruksi/perintah langsung dari Panglima Divisi. juga tidak benar Soeharto pada masa itu tidak pernah menghadap Sri Sultan HB IX. -Dari dokumen-dokumen yang telah disebutkan di atas. oleh karena mereka tidak mengetahui. Staf Divisi serta pimpinan brigade. apabila Marsudi menyebutkan "Peranan Panglima Divisi tak terasa.

serta dukungan logistik dan paramedis yang diperlukan untuk suatu operasi militer besar-besaran. ketika itu telah pertengahan Februari. dan buku Simatupang yang terbit pertama kali tahun 1960.00. yaitu orang yang tidak berada di garis komando memberikan perintah langsung kepada seorang komandan pasukan untuk melaksanakan suatu serangan besar.. Segera ia mengirim kurir untuk menghubungi Panglima Besar (Sudirman) di persembunyiannya.1 Maret 1949. Semarang dan Solo. meminta persetujuannya untuk melaksanakan siasatnya dan untuk langsung menghubungi komandan gerilya. mantan Menteri Penerangan.. Selain itu masih ada dokumen tertanggal 18 Februari 1949. biografi Takhta untuk Rakyat: Celah-Celah Kehidupan Sultan Hamengku Buwono IX.Kontak-kontak selanjutnya dilakukan dengan perantaraan kurir. -Di sini terlihat. Melalui kurir pula ia memberitahu Soeharto pada sore hari 1 Maret bahwa "pendudukan Yogya" oleh pasukan gerilya dianggapnya sudah cukup. dan apabila pertempuran berlangsung sekitar enam jam.l.. HB IX kemudian dapat mendatangkan komandan gerilya. Tampaknya menurut versi pendukungnya.IX. ia memberi instruksi kepada Suharto agar serangan tersebut dihentikan. ia menanyakan kesanggupan Soeharto untuk menyiapkan suatu serangan umum dalam waktu dua minggu. sangat diragukan. bahwa Letnan Kolonel Suharto. seperti dituliskan: .) Budiarjo.. masih mendapat masukan dari beberapa perwira di jajaran atas. yang melibatkan beberapa pasukan. jelas menunjukkan ikutsertanya Kolonel Simatupang.. Bahkan juga angkatan lain. tidak mungkin dilakukan. yang notabene tidak ada di garis komando Divisi III. tanpa sepengetahuan atasan komandan pasukan tersebut. hanya melalui kurir pada sore hari tanggal 1 Maret 1949. sehingga jalan ceriteranya cukup otentik. selain Angkatan Darat. berapa kekuatan pasukan yang dapat dikerahkan oleh Suharto dan bagaimana perlindungan belakang atas kemungkinan bantuan tentara Belanda dari kota lain seperti Magelang. Pemberi perintah adalah Panglima Divisi III/Gubernur Militer III Kolonel Bambang Sugeng.. Letkol Soeharto.Melalui kurir pula ia memberitahu Soeharto pada sore hari 1 Maret bahwa "pendudukan Yogya" oleh pasukan gerilya dianggapnya sudah cukup. yang sangat jelas menuliskan perintah kepada komandan Daerah I (Wehrkreis I) untuk mengadakan serangan atas "Iboekota Yogyakarta" antara tanggal 25 Februari . Juga adalah suatu hal yang tidak mungkin. Wakil Kepala Staf Angkatan Perang dalam perencanaan dan persiapan. Walau pun berbagai sumber yang dikutip sebenarnya bertolak belakang. Dari otobiografi almarhum Marsekal Madya TNI (Purn. karena pada saat itu bantuan tentara Belanda dari Magelang telah tiba di Yogyakarta. berarti memang paling lambat berakhir sekitar pukul 12. sangat tidak mungkin perintah penghentian pertempuran diberikan sore hari. wewenang HB IX sangat besar.. bahwa HB IX telah menetapkan tanggal penyerangan. di kompleks Keraton sekitar 13 Februari 1949. bahwa hal-hal yang diungkapkan di atas. bahwa Hamengku Buwono IX bukan hanya pemrakarsa.00. dalam hal ini AURI di Playen yang memiliki pemancar radio. bahwa mereka yang menyusun “skenario” untuk peran HB IX tidak mengetahui mengenai perencanaan suatu operasi militer yang besar. pertempuran di dalam kota Yogyakarta hanya berlangsung paling lambat hingga sekitar pukul 11. Film yang dibuat tahun limapuluhan mengenai serangan tersebut berjudul "6 jam di Yogya". Tim ini mengutip a. di mana dikutip: "Waktu telah mendesak." -Mereka yang pernah ikut gerilya pasti melihat. .. melainkan juga yang menetapkan tanggal pelaksanaan dan memegang kendali operasi. yaitu selain menetapkan tanggal penyerangan.. GBPH Prabuningrat. yang hanya Komandan Brigade dapat memberikan instruksi. apalagi operasi militer tersebut melibatkan berbagai pasukan yang tidak di bawah komando yang bersangkutan. -Dari semua keterangan dan bukti yang ada. Walaupun dengan menyatakan bahwa instruksi tersebut berdasarkan perintah HB IX.00. namun kemudian TLAI membuat kesimpulan. Dalam pertemuan di rumah kakaknya. Serangan dimulai tepat pukul 06. Dengan demikian. yaitu dengan memberi perintah untuk menghentikan . tanpa membahas terlebih dahulu dengan pimpinan militer dan sipil lain. perintah atau apapun namanya kepada para atasannya.

dalam kata sambutannya. pengakuan seseorang-ataupun tidak mengakui .". yang kemudian tercatat dalam sejarah sebagai Komandan Pelaksana Serangan Umum 1 Maret 1949 itu. dan Suharto adalah komandan pelaksana Serangan Umum 1 Maret 1949. karena dianggapnya "sudah cukup". Dr. Laskar Mataram yang terbentuk tanggal 7 Oktober 1945..kata Letkol Suharto. hanya ditambahkan transkrip rekaman wawancara HB IX dengan BBC pada tahun 1986. Demikianlah sebagai seorang Negarawan yang matang dalam Kalkulasi dan Strategi perjuangan yang didukung dengan Kewenangan sebagai Mentri Koordinator Keamanan maka mulailah beliau menyusun rancangan sengan menggunakan beberapa faktor pendukung yang masih ada serta kelemahan dan Point of Return yaitu semisal pendapat Belanda yang mengatakan Pemerintah RI telah "hilang" semenjak Sukarno-Hatta diasingkan Posisi TNI sudah sangat "lemah" dan Unforce tidak bisa lagi sebagai benteng penjaga Negara dan Pemerintah. sebagai:". atau di mana pernah tertera. Selanjutnya TLAI menuliskan:. jadi beliau mendasarkan pada dasar hukumnya dan bukan pada level indikasinya . kemudian Presiden dan Wapres di Gedung Agung ditangkap dan diasingkan sehingga mutlaklah kala itu kedudukan "pemerintah" kita diserahkan pada Syafruddin Prawiranegara dilain fihak kedudukan kiranya tinggal Mentri Koordinator Keamanan yang dijabat oleh Sri Sultan HB IX.. dimana hal ini semenjak perpindahan pemerintah RI di Yogya tersebut Sri Sultan HB IX dengan telah terbentuknya Laskar Mataram tanggal 7 Oktober 1945 kiranya menjadi tumpuan utama perjuangan gerilya yang dikomandoi oleh satuan Wehrkreis. -Secara garis besar. tanpa ada dokumen pembuktiannya. tentu mengetahui. Serangan Oemoem 1 Maret 1949. maka kiranya dengan minimalnya pendukung ini yang nota bene semua nilai-nilai tersebut didistribusikan kepada International Law pada waktu itu sebagai dasar akhir maka Sri Sultan berpendapat bahwa distribusi dari Aturan Internasional tersebutlah terletak kelemahan kita sekaligus "Jalan Keluar" dari "kemiskinan". Dikemukakan juga kesaksian seseorang.. Memang ketika Belanda melancarkan agresi militernya tanggal 19 Desember 1948. Berikut ini kutipan lengkap dari buku tersebut (tanpa terputus dan tidak diubah titik-komanya): ".Rasionalisasi) di tubuh TNI belum tuntas. merupakan pimpinan RI yang tetap di Yogyakarta. terutama dari pegawai keraton Yogyakarta. -Buku yang baru diluncurkan tanggal 1 Maret 2001 dengan judul Pelurusan Sejarah. Sebenarnya. Sri Widodo. yang belum dilebur atau diintegrasikan ke TNI.pertempuran. Tidak ada dokumen dari tahun 1948/1949 yang memperkuat semua kesaksian.. dapat membayar "pakar sejarah" untuk menulis sesuai seleranya. Re-Ra (Reorganisasi . bahwa HB IX adalah pemrakarsa. dan mungkin dapat dikatakan telah melampaui batas kewajaran. Pembenaran versi ini juga berdasarkan kutipan wawancara dari berbagai media massa. dimana kraton berada maka praktis perjuangan kita hanya menggunakan jalan Diplomasi Politik kepada dunia Internasional/PBB. -“Skenario” yang terbaru terkesan sangat berlebihan.. menjadi tumpuan utama perjuangan gerilya yang dikomandoi oleh satuan Wehrkreis. yang disebutkan sebagai seorang putra dari anak buah Budiarjo. dan membiayai penerbitan buku tersebut.. kekacauan terjadi dimana-mana. ketiga penulis yang adalah Sarjana Hukum.. Agak mengherankan. sebagaimana dilukiskan dalam buku yang ditulis oleh tiga orang pakar sejarah.. disebut oleh Prof.kajian ilmiah oleh pakar sejarah dan data kesaksian pelaku sejarah menjadi dasar utama dalam penulisan buku ini. serta sejumlah kesaksian. seperti yang selama ini dilakukan pada zaman Orde Baru. Dengan demikian sejarawan seperti ini. buku tersebut tidak berbeda jauh dengan buku dari TLAI. tidak berbeda dengan "tukang jahit. Ir.. -TLAI tidak menyebutkan buku sejarah mana. bahwa dari segi hukum. perwira AURI yang ditemui Simatupang. sehingga masih banyak laskar dan satuan bersenjata. "kemiskinan" ekonomi-sosial yang cukup parah mengakibatkan pemerintah dianggap gagal mengelola negara dan masyarakat. karena dalam banyak penulisan buku sejarah perjuangan. Msc. tidak pernah disinggung peranan Laskar Mataram tersebut. bahwa kelompok yang mempunyai kekuasaan dan dana. Hal tersebut memberikan kesan.." -Menurut tulisan ini.

yang selain melampirkan copy dari dokumen asli. di mana Belanda sedang ngotot. dalam semua bukunya tidak pernah menyinggung adanya keterlibatan HB IX dengan serangan umum di wilayah Divisi III. adalah suatu novum. Simatupang juga tidak menulis nama perwira AURI yang ditemuinya di Playen. tempat pemancar radio AURI. sebab hari itu juga.. -Juga dalam bukunya. maka sebuah berita yang agak sensasional mengenai serangan umum atas Yogyakarta pasti akan mempunyai efek sangat baik bagi kita… -Dalam buku Laporan dari Banaran. Demikian juga catatan Simatupang. yang telah dibumihanguskan. belum ditemukan sumber otentik atau dokumen mengenai keterlibatan HB IX dalam salah satu operasi militer. Simatupang menulis:.B.. karena hingga kini tidak ada tercatat di dokumen mana pun mengenai instruksi/perintah Hamengku Buwono IX kepada Kolonel Simatupang. dan dalam catatan harian mengenai kedatangannya di Wiladek. Mereka menunggu-nunggu kabar dari Yogyakarta. yang dikemukakan oleh Letnan Kolonel TNI (Purn. Saudara-saudara Sumali dan Dipokusumo telah bersiap-siap untuk menyiarkan "SO" ini melalui pemancar radio dekat Banaran ke Sumatera dan New Delhi.. Namun tidak ada satu dokumen pun yang menyinggung atau menyatakan keterlibatan HB IX dalam suatu operasi militer. -Di halaman 71. Khusus pada tingkat sekarang ini.dan Pak Simatupang mengatakan bahwa Sri Sultan telah mengontak Pak Dirman tentang ide penyiaran yang diprakarsai Sri Sultan termasuk gagasan untuk SU 1 Maret 1949. yaitu".bukanlah suatu alat bukti yang kuat." memang. yang bersama-sama memimpin Staf Penerangan Komisariat Pusat Pemerintah di Jawa... maupun dengan Panglima Divisi III/Gubernur Militer III Bambang Sugeng.Tanggal 1 Maret 1949. dan sepintas lalu disinggung mengenai versi ketiga. Panglima Divisi III/GM III yang menyampaikan rencana untuk menyerang Yogyakarta. tentu Simatupang mencatat dalam buku hariannya.). Demikian juga dengan Nasution.. Dipokusumo. yang menceriterakan pengalamannya waktu itu (usia 15 tahun):". mantan Kwartiermeestergeneraal Staf "Q" TNI AD. para pakar sejarah terebut tidak melampirkan bukti atau dokumen yang dapat mendukung kebenaran "kesaksian" tersebut. maka kami tiba di Wiladek tidak jauh dari Ngawen. Hingga saat ini belum ada dokumen yang menyebut adanya keterkaitan antara Hamengku Buwono IX baik dengan Simatupang. pak Bud saat itu Kapten juga melaporkan bahwa pak Sabar juga telah menerima kode dan isi perintah rahasia dari kurir Pangsar Sudirman. Seandainya ada perintah tersebut. pasukan-pasukan kita akan melancarkan "SO" atau serangan umum (oemoem) atas kota. Satu-satunya buku (naskah) . Juga secara keseluruhan. Inilah serangan yang beberapa waktu yang lalu telah saya bicarakan dengan Bambang Sugeng di Banaran.T. Simatupang tidak pernah menulis adanya peran HB IX dalam perlawanan bersenjata.. sebagian besar hanyalah polemik mengenai versi pertama. Simatupang.) dr. SH. yang kemudian akan berita itu kepada dunia. dan yang dicatatnya adalah pertemuan dengan Kolonel Bambang Sugeng. yang diutus Sri Sultan untuk menemui pak Bud. termasuk dari HB IX dan Panglima Besar Sudirman. Simatupang yang diutus Sri Sultan untuk menemui pak Bud (Budiarjo-pen.. Budiarjo tidak menyebutkan bahwa kedatangan Simatupang adalah atas perintah dari HB IX untuk menemuinya. ataupun terhadap Yogyakarta. tertulis kesaksian Herman Budi Santoso. Demikian juga Nasution..yang ternyata T. Wiliater Hutagalung. juga menulis transkrip sejumlah besar dokumen-dokumen selama perang gerilya. Simatupang banyak melampirkan fotocopy suratmenyurat yang penting." Namun. yang pada waktu itu menjabat sebagai Perwira Teritorial. setelah kami melalui Kota-Kabupaten Wonosari. yakni tanggal 1 Maret 1949. Yang berhubungan langsung dengan latar belakang serangan tersebut. yaitu pemrakarsa adalah Letnan Kolonel Suharto. sehubungan dengan kedatangan Kolonel Simatupang di desa Playen.suatu tindakan. yang tidak pernah menyebutkan adanya pertemuan dengan HB IX atau perintah dari HB IX dan bahkan tidak selama berlangsungnya perang gerilya. Selain itu.. Di Wiladek kami bertemu dengan saudarasaudara Sumali dan Ir.B.

-Hal baru ini boleh dikatakan mungkin "unik". Jadi agak mengherankan. ". sebagai bukti bahwa TNI masih ada. dan ini adalah bagian dari seluruh potensi perjuangan kemerdekaan: Diplomasi dan Militer. tanpa ada suatu sumber pembuktian. Sulawesi. dengan demikian mengangkat HB IX menjadi super hero yang baru. bahwa selain mendengarkan radio kemudian meminta izin kepada Panglima Besar Sudirman untuk melancarkan serangan terhadap Yogyakarta.. yaitu upaya untuk mengukuhkan "kajian ilmiah" tersebut dengan Keputusan Presiden Hal seperti ini belum pernah terjadi sebelumnya. yang hingga kini belum diterbitkan. dilakukan saat perundingan antara Indonesia dan Belanda sedang berlangsung. selain memuat transkrip wawancara HB IX dengan BBC. Juga tidak hanya Angkatan Darat saja yang terlibat. Dan yang terpenting. Perlawanan bersenjata . memerintahkan Wakil KSAP Kolonel Simatupang. -Adalah suatu hal yang baru. Namun. perlu sekali lagi ditegaskan." Pada dasarnya. melainkan banyak sekali. Kalimantan. -Selain itu harus pula diingat. dan tidak ada satu pun dokumen otentik yang mendukung. bahwa perlawanan bersenjata dilakukan tidak hanya di sekitar Yogyakarta atau Jawa Tengah saja.) sendiri telah menulis surat kepada Presiden Abdurrahman Wahid untuk menerbitkan keputusan presiden. Sangat banyak orang dan pihak yang terlibat langsung dalam perencanaan. untuk memasok perbekalan bagi ribuan pejuang. untuk meluruskan fakta sejarah itu.B.. tidak ada bukti atau dokumen baru. -Untuk meletakkan sesuai proporsinya. menambah jumlah keberhasilan serangan Tentara Nasional Indonesia (TNI) di seluruh Indonesia. Walau pun pada beberapa dokumen jelas disebutkan bahwa serangan tersebut adalah operasi militer di bawah komando Panglima Divisi III/GM III Kolonel Bambang Sugeng. Perundingan tersebut difasilitasi oleh Komisi Jasa Baik Dewan Keamanan PBB. tetapi hampir di seluruh Indonesia. Keberhasilan "Serangan Umum" tersebut adalah berkat kerjasama serta dukungan berbagai pihak. termasuk "serangan spektakuler" terhadap Yogyakarta dan hampir bersamaan dilakukan di wilayah Divisi I dan IV. bahwa Herman Budi Santoso. Dalam harian Kompas tertanggal 28 Februari 2001.. juga dalam buku ini semua peran yang dahulu diklaim oleh Suharto. keberhasilan "Serangan Umum" (serangan secara besar-besaran yang serentak dilancarkan) di seluruh wilayah Divisi II dan III. adanya dukungan rakyat Indonesia di daerahdaerah pertempuran. Bahkan Suharto pun tidak pernah mengeluarkan SK (Surat Keputusan) Presiden. halaman 9. W. yang waktu itu lebih dikenal sebagai Komisi Tiga Negara (KTN). Agresi Belanda yang dimulai tanggal 19 Desember 1948. memberikan perintah untuk penghentian serangan.yang secara eksplisit menyebutkan adanya surat HB IX kepada Panglima Besar Sudirman yang diterima di dekat Pacitan pada awal bulan Februari 1949. dan Marsudi menyatakan. HB IX juga yang menetapkan tanggal serangan. atau memerintahkan lembaga-lembaga negara untuk mengukuhkan versinya. bahwa "Serangan Spektakuler" -bahkan seluruh serangan umum di wilayah Divisi III. para penulis dengan tegas telah menetapkan HB IX sebagai pemrakarsa serangan.. bahwa penulisan tersebut telah "final". kini dilimpahkan kepada HB IX. melainkan juga Angkatan Udara dan Kementerian Pertahanan sendiri serta pimpinan sipil. Simatupang yang diutus Sri Sultan untuk menemui Budiarjo. serta melampirkan sejumlah kesaksian. tetapi secara de jure harus dirumuskan dalam keputusan presiden." demikian Budi Hartono. dapat menuliskan: ". yaitu di Jawa Barat. Sumatera.tersebut bukanlah pemicu perundingan antara Belanda dan Republik Indonesia. sehingga bukan hanya satu atau dua orang saja yang berjasa. Bahkan beberapa kesaksian menyebutkan. adalah naskah buku dr. ditulis:Bahkan DPRD (DI Yogyakarta-pen. yaitu suatu penulisan sejarah minta dikukuhkan melalui SK Presiden.. singkatnya. persiapan dan pelaksanaan. selain dari dokumen yang selama ini telah dikenal. karena menyangkut sejarah bangsa ini.. Hutagalung. T. Jawa Timur. untuk menyampaikan teks siaran ke pemancar radio AURI di Playen.de facto penggagas SO 1 Maret itu adalah HB IX almarhum.

tentu tidak pada tempatnya. selama tidak ditemukan dokumen atau bukti otentik yang dapat membuktikan perintah atau pun penugasan dari HB IX. -Penulis setuju dengan pendapat yang mengatakan bahwa penulisan sejarah adalah suatu "never ending process".tidak hanya dilakukan oleh tentara reguler/TNI saja. suatu proses yang tidak akan berakhir. bahwa perencanaan. pada tahun 1995.B. apabila beberapa pelaku sejarah tidak ikut dalam konspirasi pemutarbalikan fakta sejarah. agar buku tersebut tidak diterbitkan.16 November 1998. -Cukup banyak pelaku sejarah yang masih hidup dan mengetahui mengenai hal-hal tersebut di atas. apabila untuk keseluruhan episode tersebut direduksi menjadi peran dua orang. persiapan dan pelaksanaan. Sabtu. Simatupang telah menulis secara garis besar mengenai hal-hal seputar serangan tersebut. -Setelah membaca manuskrip tersebut. Suharto menyampaikan. telah dimuat di majalah bulanan Bonani Pinasa. Diterbitkan ulang pada tahun 1980.H. manuskrip tersebut disampaikan kepada Jenderal TNI (Purn. persiapan. Nasution -Panglima Tentara & Teritorium Jawa/Markas Besar Komando Jawa.B. -Oleh karena itu. kalau malam juga ikut menjalankan pertempuran sebagai gerilyawan. Tabloid Tokoh. sebagaimana dituturkan dalam buku Setiadi Kartohadikusumo:"Pemuda-pemuda yang membantu PMI (Palang Merah Indonesia).) A. 6 . dua versi tersebut beredar selama puluhan tahun. tidak perlu menjadi kontroversi selama lebih dari duapuluh tahun. berada di pucuk pimpinan Divisi III/GM III dan kendali operasi sejak awal berada di tangan Panglima Divisi III Kolonel Bambang Sugeng. baik kepada Panglima Divisi III/GM III Kolonel Bambang Sugeng. pada akhir tahun 1997. -Selain itu cuplikan dari manuskrip buku Letkol TNI (Purn. Simatupang -Wakil II Kepala Staf Angkatan Perang-. melainkan juga banyak kalangan sipil yang ikut dalam pertempuran.) dr. yaitu hanya ada pemrakarsa dan pelaksana. Namun dengan berbagai alasan. Juga apabila meneliti tulisan T. pelaksanaan serta komando operasi militer yang dilancarkan di seluruh wilayah Divisi III/GM III -termasuk serangan terhadap Yogyakartatanggal 1 Maret 1949. sebagaimana terjadi di Balokan. Simatupang. Di samping itu. Perkembangan kontroversi serangan umum 1 maret Sebenarnya latar belakang serangan 1 Maret atas Yogyakarta. yang sehubungan dengan serangan atas Yogyakarta tersebut. terutama mantan anggota Divisi III dan Staf Gubernur Militer III. edisi November dan Desember tahun 1992 (ketika Suharto masih Presiden). 4 Maret 1999 dan Suara Pembaruan. Namun. Ada beberapa orang yang tertembak mati dengan masih memakai tanda Palang Merah di bahunya. penugasan. maupun kepada Kolonel A. dari mulai perencanaan sampai penyebarluasan berita serangan itu. Medan. dapat dengan tegas dinyatakan. bukti-bukti yang ada. saat peristiwa serangan tersebut adalah Wakil II Kepala Staf Angkatan Perang. Ibukota RI waktu itu yang diduduki Belanda. 6 Maret 1999 (ditulis oleh Sabam Siagian). mendapat promosi kenaikan jabatan. yang adalah atasan langsung dari Letkol Suharto. dianggap tidak penting. -Usai perang gerilya. dimana suasana reformasi sudah mulai dirasakan. Wiliater Hutagalung. berdasarkan dokumen. Nasution untuk diminta pendapatnya untuk memberi sepatah kata. selebihnya. dan menulis kata sambutan. walaupun beberapa kali telah ada penulisan yang berbeda dengan dua versi tersebut dan buktibukti cukup banyak. Kolonel Bambang . Mingguan Tajuk.atau kepada Kolonel T.H. dua orang perwira yang bergerilya di wilayah Gunung Sumbing. karena sering dapat ditemukan bukti baru. Pada bulan September 1949." -Melihat begitu banyak pihak yang berperan dalam pembahasan. perencanaan. di muka stasion KA Tugu dan di Imogiri. masih sangat diragukan kebenaran versi yang mendukung kedua story tersebut. sehingga dengan demikian penulisan sebelumnya perlu direvisi atau mendapat penilaian baru. Nasution memberi dukungan agar manuskrip tersebut diterbitkan. serta sesuai hirarki dalam pemerintahan militer dan garis komando. Buku itu pertama kali diterbitkan pada tahun 1960.

tertanggal 18 Februari 1949 tersebut (Diskusi dan Jumpa Pers tersebut diliput dan diberitakan oleh beberapa media cetak. yang diangkat menjadi Kwartiermeestergeneral Staf "Q" TNI AD (Kepala Staf "Q" – Head Quarter). Panglima Divisi III/Gubernur Militer III Bambang Sugeng. W. aktif berjuang melawan Inggris di Surabaya tahun 1945. Pada perundingan dengan pihak Belanda untuk serah terima perlengkapan militer tersebut. dalam buku Laporan dari Banaran. berhalangan untuk hadir sebagai pembicara. Hutagalung. Tahun 1948 ditunjuk sebagai wakil Angkatan Bersenjata pada Komite Hijrah yang menangani penarikan mundur tentara Republik dari wilayah yang diduduki Belanda. dan dua stasiun radio yang memberitakan langsung dari Gedung Joang). namun baik Paguyuban Wehrkreis III maupun Yayasan Serangan Umum 1 Maret. 31. yang menangani penerimaan dan registrasi perlengkapan medis. Kawilarang dalam pertemuan pada 9 November 1999 di Gedung Joang ’45.) Alex E. -Pada 29 Februari 2000. M. penyunting biografi Hamengku Buwono IX. Kol TNI (Purn.) Dr. alm Mayjen (Purn. yaitu Suharto adalah pemrakarsa serangan tersebut untuk menjadi nara sumber. -Panitia juga mengundang Julius Pourwanto. Selain dihadiri oleh putra . Perwira kedua yang mendapat kenaikan jabatan adalah Letnan Kolonel dr. Bambang Sugeng diangkat menjadi Wakil Kepala Staf Angkatan Perang. bersedia mengirim pembicara dalam Diskusi Panel. semula panitia mengundang Paguyuban Wehrkreis III dan Yayasan Serangan Umum 1 Maret 1949 untuk mengirim seorang pembicara. yaitu Suharto pemrakarsa serangan 1 Maret 1949. semula ditanyakan kesediaan Atmakusumah Astraatmaja. W. yang menyatakan bahwa dia mendapat tugas lain dari harian Kompas. Jasin. menyatakan tidak mewakili versi manapun.) EWP Tambunan.) KRMH H Jono Hatmodjodan Jawa Tengah). Anhar Gonggong.) KRMT Soemyarsono. namun satu hari sebelum penyelenggaraan Pourwanto mengirim fax. Untuk wakil versi pertama. Wakilnya adalah Kolonel G. yang menerbitkan buku "Kontroversi serangan Umum 1 Maret 1949".Sugeng menjadi Kepala Staf "G" (General = Umum) dan ketika Simatupang ditugaskan untuk ikut menjadi anggota delegasi Republik dalam KMB di Den Haag. wartawan harian Kompas. Jl. yang disusun oleh Tim Lembaga Analisis .H. yang juga dihadiri teman-teman sdeperjuangan dr. Sebagai panelis mewakili Paguyuban Wehrkreis III adalah Brigjen TNI (Purn. yang mengakui bahwa dia baru pertama kali melihat dokumen Instruksi Rahasia Panglima Divisi III/GM III Kolonel Bambang Sugeng. Dalam pelaksanaan serah terima. yang pernah menulis sesuai dengan versi pertama. Namun Paguyuban Wehrkreis III menjawab. bertempat di Gedung Joang '45. yang menangani penerimaan dan registrasi perlengkapan militer. delegasi Indonesia dipimpin oleh Kwartiermeester-generaal Staf "Q" Letnan Kolonel Dr. menyelenggarakan Diskusi Panel dengan mengundang wakil dari masing-masing versi. Satrio. dan dr. karena sudah ada komitmen di tempat lain. Hutagalung dari Jawa Timur –seperti Komjen POL (Purn. Menteng Raya No. Hutagalung. bahwa HB IX pemrakarsa serangan tersebut. SH (Beliau juga hadir dalam acara Ulang Tahun ke 91 dari dr. -Tanggal 2 Maret 2001. alm. Menteng Raya 31]. juga hadir Dr. -Untuk versi kedua. Wiliater Hutagalung. Simatupang mencatat: "dr Hutagalung. Kemudian panitia menghubungi Penerbit Media Pressindo di Yogyakarta.P. di mana dituliskan." -Salah satu keputusan Konperensi Meja Bundar adalah penyerahan seluruh perlengkapan militer Belanda yang ada di Indonesia. Semula Pourwanto telah menyatakan kesediaannya. yang diselenggarakan di Gedung Joang ’45. Namun Atmakusumah menyampaikan. yang akan mewakili versi pertama. Wiliater Hutagalung pada 20 Maret 2001. W. Hutagalung dibantu oleh Kapten Mangaraja Onggang Parlindungan Siregar. Mengenai dr. Aliansi Reformasi Indonesia (ARI) bekerjasama dengan Yayasan Pembela Tanah Air. kepada TNI (Tentara Nasional Indonesia). Djatikusumo [Diceriterakan oleh alm. diselenggarakan diskusi mengenai "Latar Belakang Serangan Umum 1 Maret 1949" dan jumpa pers oleh Aliansi Reformasi Indonesia (ARI) dan Exponen Pejuang Kemerdekaan RI & Generasi Muda Penerus RI.putri alm. Mayjen (Purn.

Hingga saat ini belum terlaksana suatu diskusi terbuka. Namun Marsudi menyampaikan. dikenal sebagai pendukung versi kedua. penulis menghubungi Brigjen TNI (Purn. bahwa tanggal 1 Maret 2001. di mana hadir wakil-wakil dari tiga versi yang berbeda. namun sama sekali tidak ada jawaban.) Marsudi di Yogyakarta. yaitu HB IX pemrakarsa serangan. -Melalui telepon. Marsudi.Informasi (TLAI) di mana disebutkan. bagi pihaknya penulisan itu sudah final. baik dari TLAI. . Menurut Marsudi. yang sejak jatuhnya Suharto. Buku tersebut menyatakan bahwa HB IX adalah pemrakarsa serangan umum 1 Maret 1949. untuk meneruskan undangan kepada TLAI. Karena tidak mengetahui alamat TLAI. di Yogyakarta akan diluncurkan buku baru untuk meluruskan penulisan sejarah. dan tidak bersedia mendiskusikan hal tersebut. maupun dari penerbit. panitia memohon kepada penerbit. bahwa HB IX adalah pemrakarsa serangan itu.

Pada bulan Desember 1950. pihak Belanda menganggap wilayah itu masih menjadi salah satu provinsi Kerajaan Belanda. Hal ini kemudian dibicarakan dalam beberapa pertemuan dan dalam berbagai forum internasional.5 miliar dollar Amerika dengan persyaratan pembayaran jangka panjang. Pada tanggal 19 Desember 1961. Namun pemerintah Indonesia menentang hal ini dan Papua menjadi daerah yang diperebutkan antara Indonesia dan Belanda. Uni Soviet. Latar belakang Ketika Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya pada 17 Agustus 1945. Tugas komando ini adalah merencanakan. Soekarno (Presiden Indonesia) mengumumkan pelaksanaan Trikora di Alun-alun Utara Yogyakarta. namun setuju bahwa hal ini akan dibicarakan kembali dalam jangka waktu 1 tahun. pada bulan Desember 1960. namun Indonesia menolak. dan akhirnya berhasil mengadakan perjanjian jual-beli senjata dengan pemerintah Uni Soviet senilai 2. namun tidak menyebut kandungan emas ataupun tembaga. mempersiapkan. Nasution pergi ke Moskwa. Pemerintah Belanda kemudian memulai persiapan untuk menjadikan Papua negara merdeka selambat-lambatnya pada tahun 1970-an. Penjelajah kelas Sverdlov Indonesia mulai mencari bantuan senjata dari luar negeri menjelang terjadinya konflik antara Indonesia dan Belanda. Setelah Indonesia beberapa kali menyerang Papua bagian barat.Operasi Trikora. Akhirnya. pada 17 Agustus 1956 Indonesia membentuk Provinsi Irian Barat dengan ibukota di Soasiu yang berada di Pulau Tidore. dan menyelenggarakan operasi militer untuk menggabungkan Papua bagian barat dengan Indonesia. adalah konflik 2 tahun yang dilancarkan Indonesia untuk menggabungkan wilayah Papua bagian barat. Dalam Konferensi Meja Bundar tahun 1949. Pada tahun 1960. TNI mengklaim bahwa Indonesia memiliki angkatan udara terkuat di belahan bumi selatan. PBB memutuskan bahwa Papua bagian barat memiliki hak merdeka sesuai dengan pasal 73e Piagam PBB. namun gagal. Zainal Abidin Syah yang dilantik pada tanggal 23 September 1956. Setelah pembelian ini. H. Hasilnya antara lain adalah sebuah akademi angkatan laut yang berdiri pada 1956 dan tentara Papua pada 1957. Soekarno juga membentuk Komando Mandala. Mayor Jenderal Soeharto diangkat sebagai panglima. harian New York Times melaporkan penemuan emas oleh pemerintah Belanda di dekat laut Arafura. [1] Amerika Serikat tidak mendukung penyerahan Papua bagian barat ke Indonesia karena Bureau of European Affairs di Washington. Sebagai kelanjutan. DC menganggap . Freeport Sulphur menandatangani perjanjian dengan Perserikatan Perusahaan Borneo Timur untuk mendirikan tambang tembaga di Timika. Jendral A. Namun demikian. juga disebut Pembebasan Irian Barat. Belanda dan Indonesia tidak berhasil mencapai keputusan mengenai Papua bagian barat. termasuk wilayah barat Pulau Papua. Belanda mengundang Indonesia ke Mahkamah Internasional untuk menyelesaikan masalah ini. Karena Indonesia mengklaim Papua bagian barat sebagai daerahnya. Pada tanggal 6 Maret 1959. Indonesia mencoba meminta bantuan dari Amerika Serikat. Indonesia mengklaim seluruh wilayah Hindia Belanda. Persiapan Militer KRI Irian. Belanda mempercepat program pendidikan di Papua bagian barat untuk persiapan kemerdekaan. dengan gubernur pertamanya.

presiden John F. Robert Komer dan McGeorge Bundy mulai mempersiapkan rencana agar PBB memberi kesan bahwa penyerahan kepada Indonesia terjadi secara legal.hal ini akan "menggantikan penjajahan oleh kulit putih dengan penjajahan oleh kulit coklat". 14 pesawat pembom jarak jauh TU-16. dan 1 buah Kapal penjelajah kelas Sverdlov (yang diberi nama sesuai dengan wilayah target operasi. 4. 20 pesawat pemburu supersonik MiG-21. Sementara dari jenis pesawat angkut terdapat 26 pesawat angkut ringan jenis IL14 dan AQvia-14. Presiden Indonesia yang mencetuskan Trikora Soekarno membentuk Komando Mandala. Memindahkan pesar pelelangan tembakau Indonesia ke Bremen (Jerman Barat) 2. Bunker mengusulkan agar Belanda menyerahkan Papua bagian barat kepada Indonesia melalui PBB dalam jangka waktu 2 tahun. puluhan korvet. 12 kapal selam kelas Whiskey. dan menyelenggarakan operasi militer untuk menggabungkan Papua bagian barat dengan Indonesia. Belanda mengirimkan kapal induk Hr. yaitu KRI Irian). Aksi mogok buruh perusahaan Belanda di Indonesia 3. dan 12 pesawat TU-16 versi maritim yang dilengkapi dengan persenjataan peluru kendali anti kapal (rudal) air to surface jenis AS-1 Kennel. Ms. presiden Soekarno mengeluarkan UU nomor 86 tahun 1958 tentang nasionalisasi semua perusahaan Belanda di Indonesia. Karel Doorman ke Papua bagian barat.[1] Diplomasi Indonesia mendekati negara-negara seperti India. Angkatan Laut Belanda (Koninklijke . mempersiapkan. Kennedy akhirnya mendukung hal ini karena iklim Perang Dingin saat itu dan kekhawatiran bahwa Indonesia akan meminta pertolongan pihak komunis Soviet bila tidak mendapat dukungan AS. 5. 6 pesawat angkut berat jenis Antonov An-12B buatan Uni Soviet dan 10 pesawat angkut berat jenis C-130 Hercules buatan Amerika Serikat. Jerman. Dari jenis pesawat pengebom. 3. Thailand. Tapi pada bulan April 1961. 30 pesawat jet MiG15. untuk mengajukan usul tentang penyelesaian masalah status Papua bagian barat. Perusahaan Perkebunan Netherlansche Handels Mattscapij Perusahaan Listrik Perusahaan Perminyakan Rumah Sakit (CBZ) manjadi RSCM Dan kebijakan-kebijakan lain seperti: 1. antara lain 41 Helikopter MI-4 (angkutan ringan). Australia. 49 pesawat buru sergap MiG-17. 2. Walaupun ragu. Indonesia membeli berbagai macam peralatan militer. diplomat dari Amerika Serikat. terdapat sejumlah 22 pesawat pembom ringan Ilyushin Il-28. 10 pesawat buru sergap MiG-19. dengan Mayjen Soeharto sebagai Panglima Komando. Ekonomi Pada tanggal 27 Desember 1958. 9 Helikopter MI-6 (angkutan berat). Pakistan. Melarang pemutaran film-film berbahasa Belanda Konflik bersenjata Soekarno. Perusahaan-perusahaan yang dinasionalisasi seperti: 1. Tugas komando Mandala adalah untuk merencanakan. Selandia Baru. dan Perancis agar mereka tidak memberi dukungan kepada Belanda jika pecah perang antara Indonesia dan Belanda. Britania Raya. Dalam Sidang Umum PBB tahun 1961. Sekjen PBB U Thant meminta Ellsworth Bunker. Melarang KLM (maskapai penerbangan Belanda) melintas di wilayah Indonesia 4.

Beberapa RTP Brimob ini digelar di kepulauan Ambon sebagai persiapan menyerbu ke Papua bagian barat. Pesawat Hercules kembali ke pangkalan. dan Kapten Tondomulyo. KRI Macan Tutul yang membawa Komodor Yos Sudarso. TNI AU hanya bertugas untuk mengangkut pasukan dengan pesawat Hercules. Namun. Fakfak. dan KRI Harimau yang dinaiki Kolonel Sudomo. dan juga meminta bantuan TNI Angkatan Udara untuk mengirim 2 pesawat Hercules untuk mengangkut pasukan menuju target yang ditentukan oleh TNI AL. Kolonel Mursyid melihat tanda di radar bahwa di depan lintasan 3 kapal itu. dan sampai tahun 1950. hal lainnya tidak menjadi tanggung jawab TNI AU. Pada tanggal 12 Januari 1962. terdapat 2 kapal di sebelah kanan dan sebelah kiri. dengan meminta bantuan TNI Angkatan Laut untuk mengangkut pasukannya menuju pantai Papua bagian barat. Selain itu. pada tanggal 18 Januari 1962. Kolonel Mursyid. TNI Angkatan Darat lebih dulu melakukan penyusupan sukarelawan. Kepolisian Republik Indonesia juga menyiapkan pasukan Brigade Mobil yang tersusun dalam beberapa resimen tim pertempuran (RTP). . Walaupun Trikora telah dikeluarkan. Kaimana. unsur-unsur pertahanan Papua Barat terdiri dari: • • • Koninklijke Marine (Angkatan Laut Kerajaan Belanda) Korps Mariniers Marine Luchtvaartdienst[2] Keadaan ini berubah sejak tahun 1958. Tim Menpor ini terus masuk jauh ke pedalaman Papua bagian barat melakukan sabotase dan penghancuran objekobjek vital milik Belanda. Ketika 3 KRI melanjutkan laju mereka. Merauke.[3] Pertempuran Laut Aru Komodor Yos Sudarso yang tenggelam di Laut Aru pada saat terjadinya Pertempuran Laut Aru. Misi itu sangat rahasia. Hampir semua kekuatan yang dilibatkan dalam Operasi Trikora sama sekali belum siap. namun misi itu dilaksanakan sendiri-sendiri dalam misi tertentu dan bukan dalam operasi bangunan.Marine) menjadi tulang punggung pertahanan di perairan Papua bagian barat. Pertempuran Laut Aru pecah pada tanggal 15 Januari 1962. Satu tim Menpor kemudian berhasil menyusup ke Papua bagian barat melalui laut dengan mendarat di Fakfak. sebuah operasi menjadi gagal. bahkan semua kekuatan udara masih tetap di Pulau Jawa. Sementara itu Resimen Pelopor (unit parakomando Brimob) yang dipimpin Inspektur Tingkat I Anton Soedjarwo disiagakan di Pulau Gorom. Tanda itu tidak bergerak. tiba-tiba suara pesawat jenis Neptune yang sedang mendekat terdengar dan menghujani KRI itu dengan bom dan peluru yang tergantung pada parasut. pimpinan angkatan lain melapor ke Soekarno bahwa karena tidak ada perlindungan dari TNI AU. Walaupun misi ini sebenarnya tidaklah rumit. batalyon infantri 6 Angkatan Darat merupakan bagian dari Resimen Infantri Oranje Gelderland yang terdiri dari 3 batalyon yang ditempatkan di Sorong. pasukan berhasil didaratkan di Letfuan. sehingga hanya ada beberapa petinggi di markas besar TNI AU yang mengetahui tentang misi ini.[2] Operasi-operasi Indonesia Sebuah operasi rahasia dijalankan untuk menyusupkan sukarelawan ke Papua bagian barat.[3] Kapal Belanda menembakan tembakan peringatan yang jatuh di dekat KRI Harimau. dan Teminabuan. ketika 3 kapal milik Indonesia yaitu KRI Macan Kumbang. di mana kekuatan militer Belanda terus bertambah dengan kesatuan dari Koninklijke Landmacht (Angkatan Darat Belanda) dan Marine Luchtvaartdienst. berpatroli pada posisi 4°49' LS dan 135°02' BT. Walaupun begitu. Menjelang pukul 21:00 WIT. dimana berarti kapal itu sedang berhenti.

namun kendali KRI Macan Tutul macet. Yos Sudarso memerintahkan untuk mundur. Mereka diterjunkan di daerah pedalaman Papua bagian barat. sehingga kapal itu langsung menembaki KRI Macan Tutul.[3] Kapal Belanda mengira itu merupakan manuver berputar untuk menyerang. tercapailah persetujuan New York pada tanggal 15 Agustus 1962.[1] 55TNI Angkatan Laut kemudian mempersiapkan Operasi Jayawijaya yang merupakan operasi amfibi terbesar dalam sejarah operasi militer Indonesia.[4] Lebih dari 100 kapal perang dan 16. Dalam waktu tidak lebih dari 1 menit. Amerika Serikat mendesak Belanda untuk berunding dengan Indonesia. pesawat Hercules yang dikemudikan Mayor Udara T. yang didirikan oleh Sekretaris Jenderal PBB. Isi dari Persetujuan New York adalah: • Belanda akan menyerahkan pemerintahan Papua bagian barat kepada United Nations Temporary Executive Authority (UNTEA). Ambon. dengan menaiki pesawat Hercules menuju daerah sekitar Kota Teminabuan untuk melakukan penerjunan.Z. juga mengubah pendiriannya. proses pendaratan 81 penerjun payung selesai dan pesawat Hercules segera meninggalkan daerah Teminabuan. dan mendukung penggabungan dengan Indonesia atas desakan AS. namun karena keterbatasan kemampuannya. UNTEA kemudian akan menyerahkan pemerintahan kepada Indonesia.Kolonel Sudomo memerintahkan untuk memberikan tembakan balasan. Pada pukul 03:30 WIT. lalu mengadakan pemeriksaan kelengkapan perlengkapan anggotanya sebelum masuk ke pesawat Hercules. . namun tidak mengenai sasaran.A. Keempat mesin Allison T56A-15 C-130B Hercules terbang menanjak untuk mencapai ketinggian yang tidak dapat dicapai oleh pesawat Neptune milik Belanda. "Kobarkan semangat pertempuran". Akhir dari konflik Karena kekhawatiran bahwa pihak komunis akan mengambil keuntungan dalam konfik ini. komandan pasukan menyampaikan bahwa mereka akan diterjunkan di sebuah perkebunan teh. Indonesia diwakili oleh Soebandrio. Penerjunan itu pada awalnya dilaksanakan dengan menggunakan pesawat angkut ringan C-47 Dakota yang kapasitas 18 penerjun. Schurmann. Persetujuan New York Pada tanggal 15 Agustus 1962. perundingan antara Indonesia dan Belanda dilaksanakan di Markas Besar PBB di New York. Komodor Yos Sudarso gugur pada pertempuran ini setelah menyerukan pesan terakhirnya yang terkenal. Akhirnya. kode pengenal teman.000 prajurit disiapkan dalam operasi tersebut. penerjunan itu dapat dicegat oleh pesawat pemburu Neptune Belanda. sekitar 81 penerjun payung terbang dari Bandar Udara Pattimura. Pemerintah Australia yang awalnya mendukung kemerdekaan Papua. dan lokasi titik kumpul. sehingga operasi ini dilakukan pada malam hari. Operasi penerjunan penerbang Indonesia Pasukan Indonesia di bawah pimpinan Mayjen Soeharto melakukan operasi infiltrasi udara dengan menerjunkan penerbang menembus radar Belanda. sehingga kapal itu terus membelok ke kanan.W.[1] Pada tanggal 19 Mei 1962. Saat persiapan keberangkatan. selain itu juga disampaikan sandi-sandi panggilan. Pada perundingan itu. Abidin terbang menuju daerah Teminabuan. namun operasi ini hanya mengandalkan faktor pendadakan. dan Belanda diwakili oleh Jan Herman van Roijen dan C. Penerjunan tersebut menggunakan pesawat angkut Indonesia. Karena usaha ini.

penahanan. musyawarah dengan perwakilan penduduk Papua bagian barat 2. perumusan pertanyaan dalam penentuan pendapat mengenai kehendak penduduk Papua untuk  tetap bergabung dengan Indonesia.[9] Hasil PEPERA adalah Papua bergabung dengan Indonesia. OPM sendiri juga memiliki tentara dan telah melakukan berbagai tindakan kekerasan. Indonesia. dengan nama Irian Jaya.• • • • • Bendera PBB akan dikibarkan selama masa peralihan. angkatan bersenjata Indonesia menangkap para pemimpin rakyat Papua dan mencoba membujuk mereka dengan cara sogokan dan ancaman untuk memilih penggabungan dengan Indonesia. mendukung hasil ini. atau  memisahkan diri dari Indonesia 4. akan memberikan kesempatan bagi penduduk Papua bagian barat untuk mengambil keputusan secara bebas melalui 1. Setelah penggabungan Setelah Papua bagian barat digabungkan dengan Indonesia sebagai Irian Jaya. penyiksaan. Pemerintah Indonesia membubarkan Dewan Papua dan melarang bendera Papua dan lagu kebangsaan Papua. dilaporkan bahwa pemerintah Indonesia melakukan berbagai tindakan pembunuhan. Papua bagian barat dinyatakan sebagai "daerah karantina". Ibukota Hollandia dinamai Kota Baru. . UNTEA akan membantu polisi Papua dalam menangani keamanan. Keputusan ini ditentang oleh banyak pihak di Papua. Papua bagian barat telah menjadi daerah Republik Indonesia sejak 17 Agustus 1945 namun masih dipegang oleh Belanda 2. Pada tanggal 1 Mei 1963. untuk ikut serta dalam penentuan pendapat yang akan diadakan sesuai dengan standar internasional Penentuan pendapat akan diadakan sebelum akhir tahun 1969. dan melahirkan Organisasi Papua Merdeka (OPM) pada 1965. laki-laki dan perempuan. Untuk meredam gerakan ini. Penentuan Pendapat Rakyat Pada tahun 1969. dan Papua bagian barat menjadi provinsi ke-26 Indonesia. namun keputusan ini dicurigai oleh Organisasi Papua Merdeka dan berbagai pengamat independen lainnya.[7][8] Pepera ini disaksikan oleh dua utusan PBB. Indonesia mengambil posisi sebagai berikut: 1. Menurut anggota OPM Moses Werror. lebih dari 100. Walaupun demikian. Belanda berjanji menyerahkan Papua bagian barat kepada Indonesia dalam Konferensi Meja Bundar 3. Menurut Amnesty International. diselenggarakan Penentuan Pendapat Rakyat (Pepera) yang diatur oleh Jenderal Sarwo Edhi Wibowo. Amerika Serikat. penggabungan Papua bagian barat dengan Indonesia adalah kehendak rakyat Papua. hak semua penduduk dewasa. yang tidak ingin Indonesia bergabung dengan pihak komunis Uni Soviet. Pengibaran bendera Indonesia dan Belanda akan diatur oleh perjanjian antara Sekretaris Jenderal PBB dan masing-masing pemerintah. beberapa minggu sebelum Pepera. namun mereka meninggalkan Papua setelah 200 suara (dari 1054) untuk integrasi. penetapan tanggal penentuan pendapat 3. penggabungan Papua bagian barat dengan Indonesia adalah tindakan merebut kembali daerah Indonesia yang dikuasai Belanda 4. dan pemboman udara.000 orang Papua telah tewas dalam kekerasan ini. Tentara Belanda dan Indonesia berada di bawah Sekjen PBB dalam masa peralihan. dengan bantuan PBB. dan pada 5 September 1963. UNTEA menyerahkan pemerintahan Papua bagian barat kepada Indonesia.

Indonesia memulai gerakan transmigrasi.[2][1] Setelah Jendral Soeharto menjadi Presiden Indonesia. Penentang program ini mencurigai usaha Indonesia untuk mendominasi provinsi Irian Jaya dengan cara memasukkan pengaruh pemerintah pusat. termasuk peledakan pipa gas dan penculikan beberapa pegawai Freeport dari Eropa dan Indonesia pada tahun 1996. Pada tahun 1980-an. Freeport Sulphur adalah perusahaan asing pertama yang diberi izin tambang dengan jangka waktu 30 tahun mulai dari tahun 1981 (walaupun tambang ini telah beroperasi sejak tahun 1972). presiden Abdurrahman Wahid memberi otonomi khusus kepada provinsi Papua untuk meredam usaha separatis. Penduduk setempat dengan bantuan Organisasi Papua Merdeka memprotes berbagai tindakan pencemaran lingkungan hidup dan pelanggaran Hak Asasi Manusia yang dilakukan Freeport dan pemerintah Indonesia dengan berbagai cara. 2 tawanan dibunuh dan sisanya dibebaskan. tambang ini menjadi tambang emas terbesar di dunia. Provinsi ini kemudian dibagi dua menjadi provinsi: Papua dan Irian Jaya Barat (sekarang Papua Barat) melalui instruksi Presiden Megawati Soekarnoputri pada tahun 2001. . di mana puluhan ribu orang dari pulau Jawa dan Sumatera dipindahkan ke provinsi Irian Jaya dalam jangka waktu 10 tahun.Hal ini diajarkan di sekolah dan ditulis dalam buku teks sejarah nasional. Dalam kejadian ini. dan kontrak ini diperpanjang pada tahun 1991 sampai tahun 2041.[10][11][12] Pada tahun 2000. Setelah pembukaan tambang Grasberg pada tahun 1988.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful