P. 1
Dokumentasi keperawatan

Dokumentasi keperawatan

|Views: 217|Likes:
Published by Novita Sari

More info:

Published by: Novita Sari on Nov 22, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

08/11/2014

pdf

text

original

Dokumentasi keperawatan

Dokumentasi keperawatan

Dokumentasi keperawatan sangat diperlukan sebagai bukti dari apa yang telah perawat lakukan untuk memulihkan kesehatan pasien. Tetapi, proses pendokumentasian keperawatan ini banyak dikeluhkan baik oleh perawat itu sendiri maupun oleh orang luar karena prosesnya yang cukup memakan waktu. Sudah semestinya kita memanfaatkan teknologi komputer untuk membantu proses ini. Setahu saya, baru RS Banyumas yang telah ”menDigitalkan” dokumentasi keperawatan ini, silahkan anda kunjungi blog perawatbanyumas.wordpress.com.

L EMBAR RENCANA ASUHAN KEPERAWATAN

Tanggal: NamaPemberiasuhan: Ruangan: InisialPasien: Diagnosamedis:

Pengkajian:

Diagnosa Keperawatan: copy and paste dari NNN Linkages/NANDA atau klik disiniDefinisi : copy and paste dari NNN Linkages/NANDA atau klik disiniData Objektif/subjektif :

PerencanaanNOC Tujuan: Definisi setiap Kriteria hasil (copy and paste dari NNN Linkages or, lihat NOC)

Aktivitas Keperawatan NIC Kelompok Nursing Intervention (Ceklist) (Lihat diagram dibawah): 1. Dasar : Fisiologi (Class A-F) 2. Kompleks : Fisiologis (Class G-N) 3. Perilaku (Class O-T) 4. Keamanan (Class U-V) 5. Keluarga (Class W, X, Z) 6. Sistem Kesehatan (Class Ya-Yb) 7. Komunitas (Class Yc-Yd)

Definisi dari tiap intervensi : (copy and paste dari NNN Linkages or, see NIC):

References (APA style) :

Kelompok NIC

1. Dasar : Fisiologis A. Manajemen Aktivitas dan latihan B. Manajemen Eliminasi C. Manajemen Immobilisasi D. Dukungan Nutrisi E. Promasi kesehatan fisik F. Fasilitasi Perawatan diri

Perawatan Childrearing X. Keluarga W. Manajemen elektrolit dan asam-basa H. Manajemen obat I. Lifespan Care 6. Manajemen Sistem Kesehatan . Kompleks : Fisiologis G.2. Sistem Kesehatan Y. Pendidikan pasien 3. Perawatan Childbearing Z. Mediasi Sistem Kesehatan Ya. Promosi kesehatan psikologis 4. Manajemen risiko 5. Keamanan U. Manajemen neurology J. Manajemen Respiratori L. Terapi perilaku P. Manajemen perfusi jaringan S. Perawatan Perioperatif K. Thermoregulasi N. Peningkatan komunikasi T. Perilaku O. Terapi kognitif Q. Manajemen Krisis V. Manajemen kulit/luka M.

Promosi kesehatan Komunitas Yd. Manajemen komunitas berisiko NANDA : North American Nursing Diagnosis Association NOC : Nursing Intervention Classification NIC : Nursing Outcome Classification CONTOH DIAGNOSA KEPERAWATAN : Kerusakan pertukaran gas Definisi : Keadaan dimana seorang individu mengalami penurunan jalannya gas (O2 dan CO2) yang aktual atau risiko antara alveoli paru-paru dan sistem vaskular.Yb. TANDA DAN GEJALA Data mayor : Dispnea saat melakukan aktivitas Data minor :   Bingung/agitasi. condong kedepan). .    Bernapas dengan bibir dengan fase ekspirasi yang lama. Kecenderungan untuk mengambil posisi tiga titik (duduk. Peningkatan tahanan vaskular pulmonal. Manajemen Informasi 7. Komunitas Yc. 1 tangan pada setiap lutut. Letargi dan keletihan.

sekunder terhadap : Infeksi Fibrosis kistik Influensa Berhubungan dengan imobilitas. Penurunan isi oksigen. ETIOLOGIFaktor-faktor yang berhubungan : Patofisiologis Berhubungan dengan sekresi yang kental atau sekresi yang berlebihan. penurunan PCO2 seperti yang diperlihatkan oleh hasil analisa gas darah.  Sianosis. penurunan saturasi O2. Situasional (Personal. sekunder terhadap : Efek sedasi dari medikasi Anestesia umum atau spinal Berhubungan dengan supresi refleks batuk Berhubungan dengan penurunan oksigen dalam udara inspirasi.  Penurunan motilitas lambung. lingkungan) Berhubungan dengan imobilitas Pembedahan atau trauma . sekunder terhadap : Penyakit persarafan (Sindrom guillain barre. miastenia gravis) Depresi sistem saraf pusat/trauma kepala Cedera serebrovaskular (stroke) Quadriplegia Tindakan Berhubungan dengan imobilitas. sekresi statis. dan batuk tidak efektif.

. ansietas Keletihan Kerusakan persepsi/kognitif Berhubungan dengan kelembaban yang sangat tinggi atau rendah Berhubungan dengan hilangnya mekanisme pembersiha siliar..... MENUJU PENGEMBANGAN MANAJEMEN KEP . ketakutan.... Peran Perawat ASKEP ANAK DENGAN BRONCHOPNEUMONI KONSEP MODEL FLORENCE NIGHTINGALE ASKEP TRAUMA TORAKS LinkWithin Posting Lebih BaruPosting LamaBeranda 2 komentar: .Nyeri.... sekunder terhadap merokok Bersambung . respons inflamasi... Posted in: Keperawatan Kirimkan Ini lewat Email BlogThis! Berbagi ke Twitter Berbagi ke Facebook Reaksi: You might also like: EKONOMI KEPERAWATAN.. dan peningkatan pembentukan lendir.

.. TEORI Pengertian . semoga bisa saling berbagi ilmu.calon perawat..salam silaturahmi 8 Oktober 2011 20:42 ASKEP ANAK DENGAN KEJANG DEMAM 21:34 CONTOH ASKEP 1 comment A.Asuhan Keperawatan mengatakan. 9 Februari 2010 03:35 master penghusada mengatakan. Thanksd banget buat infonya..juga mahasiswa keperawatan dalam menunaikan tugas/makalah sebagai referensi.bagi perawat..dan tentu saja sangat berguna.. makasih banget untuk info info keperawatannya.salam keperawatan.sanagt bermanfaat.

). gerak. meningitis. Kejang demam adalah serangan pada anak yang terjadi dari kumpulan gejala dengan demam (Walley and Wong’s edisi III. sensasi atau memori yang bersifat sementara (Hudak and Gallo. Intrakranial Asfiksia : Ensefolopati hipoksik – iskemik . sangat sering dijumpai pada anak-anak usia di bawah 5 tahun. Latraine M. Sebagian kejang merupakan idiopati (tidak diketahui etiologinya). dan gejala putus alkohol dan obat gangguan metabolik. Etiologi Kejang dapat disebabkan oleh berbagai kondisi patologis. Price. Kejang demam sering juga disebut kejang demam tonik-klonik. gangguan elektrolit. Kejang ini disebabkan oleh adanya suatu awitan hypertermia yang timbul mendadak pada infeksi bakteri atau virus. Wikson. toksik subcutan dan anoksia serebral. Patofisiologi 1.Kejang demam adalah terbebasnya sekelompok neuron secara tibatiba yang mengakibatkan suatu kerusakan kesadaran. bekuan darah pada otak. uremia. Dari pengertian diatas dapat disimpulkan kejang demam adalah bangkitan kejang yang terjadi karena peningkatan suhu tubuh yang sering di jumpai pada usia anak dibawah lima tahun.). termasuk tumor otak. trauma.). overhidrasi. ensefalitis. (Sylvia A. Kejang demam adalah bangkitan kejang terjadi pada kenaikan suhu tubuh (suhu rektal di atas 38° c) yang disebabkan oleh suatu proses ekstrakranium.

atau intra ventrikular Infeksi : Bakteri. 3. Idiopatik Kejang neonatus fanciliel benigna. hipomognesemia. hipokalsemia. Sindrom Smith – Lemli – Opitz. subdural. Kelainan yang diturunkan : gangguan metabolisme asam amino. Ekstra kranial Gg. Toksik : Intoksikasi anestesi lokal. kejang hari ke-5 (the fifth day fits) Patofisiologi Untuk mempertahankan kelangsungan hidup sel / organ otak diperlukanenergi yang . ketergantungan dan kekurangan produksi kernikterus. gangguan elektrolit (Na & K). virus. sindrom putus obat. metabolik : Hipoglikemia. sindrom zelluarge.Trauma (perdarahan) : perdarahan subaraknoid. 2. parasit Kelainan bawaan : disgenesis korteks serebri.

Akibatnya konsentrasi K+ dalam sel neuron tinggi dan konsentrasi NA+ rendah. Maka terdapat perbedaan membran yang disebut potensial nmembran dari neuron.sifat proses itu adalah oxidasi dengan perantara pungsi paru-paru dan diteruskan keotak melalui system kardiovaskuler.karena itu perbedaan jenis dan konsentrasi ion didalam dan diluar sel. dan dipecah menjadi karbon dioksidasi dan air. Dan karena itu pada anak tubuh dapat mengubah keseimbangan dari membran sel neuron dalam singkat terjadi dipusi di ion K+ maupun ion NA+ melalui membran tersebut dengan akibat terjadinya lepasnya muatan listrik. rangsangan yang datangnya mendadak misalnya mekanis. .didapat dari metabolisme. Untuk menjaga keseimbangan potensial membran ini diperlukan energi dan bantuan enzim NA. Sel dikelilingi oleh membran sel. Perubahan dari patofisiologisnya membran sendiri karena penyakit/keturunan. kimiawi atau aliran listrik dari sekitarnya. kecuali ion clorida. ATP yang terdapat pada permukaan sel. Dalam keadaan normal membran sel neuron dapat dilalui oleh ion NA + dan elektrolit lainnya. Pada seorang anak sirkulasi otak mencapai 65 % dari seluruh tubuh dibanding dengan orang dewasa 15 %. Sedangkan didalam sel neuron terdapat keadaan sebaliknya. Yang terdiri dari permukaan dalam yaitu limford dan permukaan luar yaitu tonik. Berdasarkan hal diatas bahwa energi otak adalah glukosa yang melalui proses oxidasi. K. Keseimbangan potensial membran ini dapat diubah dengan perubahan konsentrasi ion diruang extra selular. Bahan baku untuk metabolisme otak yang terpenting adalah glucose.

menghadapi pasien dengan kejang demam. yang disebabkan oleh infeksi di luar susunan saraf pusat : misalnya tonsilitis. Epilepsi yang di provokasi oleh demam epilepsi trigered off fever . otitis media akut. Manifestasi Klinik Terjadinya bangkitan kejang pada bayi dan anak kebanyakan bersamaan dengan kenaikan suhu badan yang tinggi dan cepat. Tetapi kejang yang berlangsung lama lebih 15 menit biasanya disertai apnea. untuk itu livingston membuat kriteria dan membagi kejang demam menjadi 2 golongan yaitu : 4. bronkhitis. mungkin timbul pertanyaan sifat kejang/gejala yang manakah yang mengakibatkan anak menderita epilepsy. Kejang demam sederhana (simple fibrile convulsion) 5. NA meningkat. Kejang yang yang berlangsung singkat pada umumnya tidak berbahaya dan tidak meninggalkan gejala sisa. kebutuhan O2 dan energi untuk kontraksi otot skeletal yang akhirnya terjadi hipoxia dan menimbulkan terjadinya asidosis.Lepasnya muatan listrik ini sedemikian besarnya sehingga dapat meluas keseluruh sel maupun membran sel sekitarnya dengan bantuan bahan yang disebut neurotransmitter sehingga mengakibatkan terjadinya kejang. Kejang berhenti sendiri. serangan kejang biasanya terjadi dalam 24 jam pertama sewaktu demam berlangsung singkat dengan sifat bangkitan dapat berbentuk tonik-klonik.

Pemeriksaan saraf sebelum dan sesudah kejang normal 11. Umur anak ketika kejang antara 6 bulan & 4 tahun 7. Kejang timbul dalam 16 jam pertama setelah timbulnya demam 10. Bentuk klinis kejang ini yaitu berupa pergerakan tonik satu ekstrimitas atau pergerakan tonik umum dengan ekstensi lengan dan tungkai yang menyerupai deserebrasi atau ekstensi tungkai dan fleksi lengan bawah dengan bentuk dekortikasi. Klasifikasi Kejang Kejang yang merupakan pergerakan abnormal atau perubahan tonus badan dan tungkai dapat diklasifikasikan menjadi 3 bagian yaitu : kejang. tak lebih dari 15 menit 8.Pemeriksaan EEG yang dibuat sedikitnya seminggu sesudah suhu normal tidak menunjukkan kelainan. l. RSCM Jakarta.Disub bagian anak FKUI. Kriteria Livingstone tersebut setelah dimanifestasikan di pakai sebagai pedoman untuk membuat diagnosis kejang demam sederhana. kejang tonik dan kejang mioklonik. Kejang bersifat umum. klonik. Kejang berlangsung hanya sebentar saja. yaitu : 6. Bentuk kejang tonik yang menyerupai deserebrasi harus di bedakan dengan sikap epistotonus yang disebabkan oleh rangsang meningkat karena infeksi selaput otak atau kernikterus .Frekuensi kejang bangkitan dalam 1th tidak > 4 kali 9. Kejang Tonik Kejang ini biasanya terdapat pada bayi baru lahir dengan berat badan rendah dengan masa kehamilan kurang dari 34 minggu dan bayi dengan komplikasi prenatal berat.

n. bilateral dengan pemulaan fokal dan multifokal yang berpindah-pindah. Keadaan ini dapat terlihat pada anak normal dalam keadaan lapar seperti hipoglikemia. Bentuk klinis kejang klonik fokal berlangsung 1 – 3 detik. unilateral. Kejang Klonik Kejang Klonik dapat berbentuk fokal. Gambaran EEG pada kejang mioklonik pada bayi tidak spesifik. Bentuk kejang ini dapat disebabkan oleh kontusio cerebri akibat trauma fokal pada bayi besar dan cukup bulan atau oleh ensepalopati metabolik. apnea dan mioklonus nokturnal benigna. Diagnosa Banding Kejang Pada Anak Adapun diagnosis banding kejang pada anak adalah gemetar. Gemetar adalah gerakan tremor cepat dengan irama dan . Kejang ini merupakan pertanda kerusakan susunan saraf pusat yang luas dan hebat. terlokalisasi dengan baik. tidak disertai gangguan kesadaran dan biasanya tidak diikuti oleh fase tonik.m. 15.Gemetar Gemetar merupakan bentuk klinis kejang pada anak tetapi sering membingungkan terutama bagi yang belum berpengalaman. hipokapnia dengan hiperiritabilitas neuromuskular. Kejang Mioklonik Gambaran klinis yang terlihat adalah gerakan ekstensi dan fleksi lengan atau keempat anggota gerak yang berulang dan terjadinya cepat. Gerakan tersebut menyerupai reflek moro. bayi dengan ensepalopati hipoksik iskemi dan BBLR.

Apabila serangan tersebut berlangsung lama dapat dapat disalahartikan sebagai bentuk kejang klonik fokal atau mioklonik.Mioklonus Nokturnal Benigna Gerakan terkejut tiba-tiba anggota gerak dapat terjadi pada semua orang waktu tidur.amplitudo teratur dan sama. warna kulit. tekanan darah. Berhentinya pernafasan tidak disertai dengan perubahan denyut jantung. Serangan apnea selama 10 – 15 detik terdapat pada hampir semua bagi prematur. kadang-kadang bentuk gerakannya menyerupai klonik . diselingi dengan henti napas 3-6 detik dan sering diikuti hiper sekresi selama 10 – 15 detik. Keadaan ini tidak memerlukan pengobatan . Mioklonik nokturnal benigna ini dapat dibedakan dengan kejang dan gemetar karena timbulnya selalu waktu tidur tidak dapat di stimulasi dan pemeriksaan EEG normal.Apnea Pada BBLR biasanya pernafasan tidak teratur. Bentuk pernafasan ini disebut pernafasan di batang otak. Serangan apnea tiba-tiba yang disertai kesadaran menurun pada BBLR perlu di curigai adanya perdarahan intrakranial dengan penekanan batang otak. 17. 16. Pada keadaan ini USG perlu segera dilakukan. Serangan Apnea yang termasuk gejala kejang adalah apabila disertai dengan bentuk serangan kejang yang lain dan tidak disertai bradikardia. Biasanya timbul pada waktu permulaan tidur berupa pergerakan fleksi pada jari persendian tangan dan siku yang berulang. suhu badan. kadang-kadang pada bayi cukup bulan.

Penatalaksanaan Umum terdiri dari : 18.Penatalaksanaan Pada umumnya kejang pada BBLR merupakan kegawatan. yang memerlukan tindakan segera untuk mencegah kerusakan otak lebih lanjut. beri larutan glukosa 20 % dengan dosis 2 – 4 ml/kg BB secara intravena dan perlahan kemudian dilanjutkan dengan larutan glukosa 10 % sebanyak 60 – 80 ml/kg secara intravena. Hati-hati terjadi hipermagnesemia sebab gejala hipotonia umum menyerupai floppy infant dapat muncul. terutama pada pemberian pridoksin intravena Bila etiologi telah diketahui pengobatan terhadap penyakit primer segera dilakukan.2 ml/kg BB (IM) atau larutan 2-3 % mg SO4 (IV) sebanyak 2 – 6 ml. Bila kejang tidak hilang. Kemudian dilanjutkan dengan peroral sesuai kebutuhan. berikan larutan Ca glukosa 10 % sebanyak 10 ml per oral setiap sebelum minum susu. Pengobatan dengan antikonvulsan dapat dimulai bila gangguan metabolik seperti hipoglikemia atau hipokalsemia tidak dijumpai. Pemberian Ca – glukosa hendaknya disertai dengan monitoring jantung karena dapat menyebabkan bradikardi. Bila terdapat hipogikemia.Pemeriksaan EEG.Memonitor pernafasan dan denyut jantung 20. Bila secara intravena tidak mungkin. harus pikirkan pemberian magnesium dalam bentuk larutan 50% Mg SO4 dengan dosis 0.Mengawasi bayi dengan teliti dan hati-hati 19. Obat konvulsan .Usahakan suhu tetap stabil 21.Perlu dipasang infus untuk pemberian glukosa dan obat lain 22. karena kejang merupakan tanda adanya penyakit mengenai susunan saraf pusat.

henti nafas. misal : pada kejang multifokal yang berpindah-pindah atau kejang tonik. kg BB IV berikan dalam 2 dosis selama 20 menit. mengurangi metabolisme sel yang rusak dan memperbaiki sirkulasi otak sehingga melindungi sel yang rusak karena asfiksia dan anoxia).pilihan utama untuk bayi baru lahir adalah Fenobarbital (Efek mengatasi kejang. Banyak penulis tidak atau jarang menggunakan diazepam untuk memberantas kejang pada BBL dengan alasan o Efek diazepam hanya sebentar dan tidak dapat mencegah kejang berikutnya o Pemberian bersama-sama dengan fenobarbital akan mempengaruhi pusat pernafasan o Zat pelarut diazepam mengandung natrium benzoat yang dapat menghalangi peningkatan bilirubin dalam darah. dan . Fenobarbital dengan dosis awal 20 mg . Pemeriksaan fisik dan laboratorium 26. kejang tonik.  Kesadaran tiba-tiba menurun sampai koma dan berlanjut dengan hipoventilasi.Pemeriksaan fisik Pemeriksaan fisik lengkap meliputi pemeriksaan pediatrik dan neurologik. reaksi pupil terhadap cahaya negatif. posisi deserebrasi. pemeriksaan ini dilakukan secara sistematis dan berurutan seperti berikut :  hakan lihat sendiri manifestasi kejang yang terjadi. yang biasanya menunjukkan adanya kelainan struktur otak.

 Transluminasi kepala yang positif dapat disebabkan oleh penimbunan cairan subdural atau kelainan bawaan seperti parensefali atau hidrosefalus. yang dapat membantu diagnosis iskemia otak. Pada bayi yang lahir dengan kesadaran menurun.Pemeriksaan laboratorium .  Pada kepala apakah terdapat fraktur. Ditemukannya korioretnitis dapat terjadi pada toxoplasmosis. 27. infeksi sitomegalovirus dan rubella. perlu dicari luka atau bekas tusukan janin dikepala atau fontanel enterior yang disebabkan karena kesalahan penyuntikan obat anestesi pada ibu.terdapatnya kuadriparesis flasid mencurigakan terjadinya perdarahan intraventikular.  Pemeriksaan fundus kopi dapat menunjukkan kelainan perdarahan retina atau subhialoid yang merupakan gejala potogonomik untuk hematoma subdural. depresi atau mulase kepala berlebihan yang disebabkan oleh trauma. Tanda stasis vaskuler dengan pelebaran vena yang berkelok – kelok di retina terlihat pada sindom hiperviskositas. Ubun –ubun besar yang tegang dan membenjol menunjukkan adanya peninggian tekanan intrakranial yang dapat disebabkan oleh pendarahan sebarakhnoid atau subdural.  Terdapatnya stigma berupa jarak mata yang lebar atau kelainan kraniofasial yang mungkin disertai gangguan perkembangan kortex serebri.  Pemeriksaan umum penting dilakukan misalnya mencari adanya sianosis dan bising jantung.

Selain itu pemeriksaan laboratorium lainnya yaitu  Pemeriksaan darah rutin .Perlu diadakan pemeriksaan laboratorium segera. Hal ini berguna untuk menentukan sikap terhadap pengobatan hipoglikemia dan meningitis bakterilisasi.  Pemeriksaan gula darah. sebagian cairan harus diputar. nitrogen. peradangan. magnesium. dan bila cairan supranatan berwarna kuning menandakan adanya xantrokromia.  Fungsi lumbal. Bila cairan serebro spinal berdarah. Hb. EEG juga diperlukan untuk menentukan pragnosis pada bayi cukup bulan. amonia dan analisis gas darah. urea. untuk menentukan perdarahan. kalsium. Ht dan Trombosit. EEG pada bayi prematur dengan kejang tidak dapat meramalkan prognosis. Mempunyai prognosis yang tidak baik dan hanya 12 % diantaranya mempunyai / menunjukkan perkembangan normal. berupa pemeriksaan gula dengan cara dextrosfrx dan fungsi lumbal. kalium. Bayi yang menunjukkan EEG latar belakang abnormal dan terdapat gelombang tajam multifokal atau dengan brust supresion atau bentuk isoelektrik. pemeriksaan kimia. . Untuk mengatasi terjadinya trauma pada fungsi lumbal dapat di kerjakan hitung butir darah merah pada ketiga tabung yang diisi cairan serebro spinal   Pemeriksaan EKG dapat mendekteksi adanya hipokalsemia Pemeriksaan EEG penting untuk menegakkan diagnosa kejang. Pemeriksaan darah rutin secara berkala penting untuk memantau pendarahan intraventikuler. Pemeriksaan EEG dapat juga digunakan untuk menentukan lamanya pengobatan.

Tumbuh kembang pada anak usia 1 – 3 tahu 28. perdarahan intrakranial. c. dan vertikular e.Top coba subdural. klasifikasi dan kelainan bawaan otak. Physiologis dapat mengontrol spinkter 29.Motorik kasar       Berlari dengan tidak mantap Berjalan diatas tangga dengan satu tangan Menarik dan mendorong mainan Melompat ditempat dengan kedua kaki Dapat duduk sendiri ditempat duduk Melempar bola diatas tangan tanpa jatuh 30. dilakukan sesudah fungsi lumbal bila transluminasi positif dengan ubun – ubun besar tegang. Foto rontgen kepala bila ukuran lingkar kepala lebih kecil atau lebih besar dari aturan baku d. pervertikular. citomegalovirus dan virus herpes.Fisik   Ubun-ubun anterior tertutup. dilanjutkan untuk mendapatkan diagnosis yang pasti yaitu mencakup : a. pemeriksaan lab.Motorik halus  Dapat membangun menara 3 dari 4 bangunan . membenjol dan kepala membesar. Biakan darah dan pemeriksaan liter untuk toxoplasmosis rubella. Penataan kepala untuk mengetahui adanya infark. Periksaan urin untuk asam amino dan asam organic b. Bila terdapat indikasi. USG kepala untuk mendeteksi adanya perdarahan subepedmal.

protes secara verbal. Permasalahan yang ditemukan yaitu sebagai berikut : gg. dan dapat menggigit serta dapat mendepak saat berinteraksi. protes secara fisik dan menangis. perasaan hilang kontrol menunjukkan temperamental.Rasa takut     Memandang penyakit dan hospitalisasi Takut terhadap lingkungan dan orang yang tidak dikenal Pemahaman yang tidak sempurna tentang penyakit Pemikiran yang sederhana : hidup adalah mesin yang menakutkan . takut terhadap luka dan nyeri.Sosialisasi atau kognitif      Meniru Menggunakan sendok dengan baik Menggunakan sarung tangan Watak pemarah mungkin lebih jelas Mulai sadar dengan barang miliknya Dampak hospitalisasi Pengalaman cemas pada perpisahan. menunjukkan regresi.   Melepaskan dan meraih dengan baik Membuka halaman buku 2 atau 3 dalam satu waktu Menggambar dengan membuat tiruan 31.Vokal atau suara   Mengatakan 10 kata atau lebih Menyebutkan beberapa obyek seperti sepatu atau bola dan 2 atau 3 bagian tubuh 32.

Ansietas    Cemas tentang kejadian yang tidakdikenal Protes (menangis dan mudah marah. orang berseragam dan yang memberi pengobatan atau perawatan  Regresi dan Ansietas tergantung saat makan menghisap jempol  Protes dan Ansietas karena restrain ii. kehilangan ketrampilan yang baru tidak berminat     Menyendiri terhadap lingkungan rumah sakit Tidak berdaya Merasa gagap karena kehilangan ketrampilan Mimpi buruk dan takut kegelapan. menyentuh tubuh yang sakit berulangulang. (merengek) Putus harapan : komunikasi buruk. hh. Demonstrasi : menangis. merengek. Gangguan citra diri    Sedih dengan perubahan citra diri Takut terhadap prosedur invasive (nyeri) Mungkin berpikir : bagian dalam tubuh akan keluar kalau selang dicabut PATHWAYS Pathways dapat dilihat disini ANALISA DATA . menghisap jempol. orang asing. mengangkat lengan.

o Resiko tinggi terhadap inefektifnya bersihan jalan nafas b/d kerusakan neoromuskular o o Resiko kejang berulang b/d peningkatan suhu tubuh Kerusakan mobilitas fisik b/d kerusakan persepsi. perubahan kesadaran. tentang yang didapat gangguan dari pengkajian keseimbangan suhu penyakit yang tubuh.NO TGL / JAM DATA Berisi data PROBLEM ETIOLOGI masalah yang sedang Etiologi Diisi pada 1 saat tanggal pengkajian subjektif dan dialami pasien seperti berisi data objektif gangguan pola nafas.dll DIAGNOSA KEPERAWATAN o o Resiko tinggi trauma / cidera b/d kelemahan. gangguan pola diderita pasien keperawatan aktiviatas. penurunan kekuatan o o Kurang pengetahuan keluarga b/d kurangnya informasi RENCANA ASUHAN KEPERAWATAN DIAGNOSA KEPERAWATAN NO TUJUAN PERENCANAAN . kehilangan koordinasi otot.

6. meningkatkan keamanan lingkungan . o o o sebelum.3. Kaji dengan keluarga berbagai stimulus pencetus kejang. tanda-tanda vital setelah kejang. Observasi keadaan umum. Cidera / trauma tidak terjadi Dengan Kriteria Resiko tinggi trauma / cidera b/d kelemahan. selama. Catat tipe dari aktivitas kejang dan beberapa kali terjadi. Lakukan penilaian neurology. mempertahankan aturan pengobatan. 1 perubahan kesadaran. 5. 7. kehilangan koordinasi otot. Hasil : Faktor penyebab diketahui. Lindungi klien dari trauma atau kejang. dan sesudah kejang. 4.

o sekresi mukosa tidak ada.8. Kolaborasi dengan dokter dalam pemberian therapi anti compulsan 14.Observasi tanda-tanda Inefektifnya bersihan jalan napas tidak terjadi Kriteria Hasil : o vital 15. 9.kolaborasi dengan dokter dalam pemberian therapi o suara napas vesikuler. o RR dalam batas normal . 16. Berikan kenyamanan bagi klien. semi fowler.atur posisi tidur klien fowler atau Resiko tinggi terhadap 2 inefektifnya bersihan jalan nafas b/d kerusakan neuromuskular Jalan napas bersih dari sumbatan.Lakukan penghisapan lendir 17.

21. Kejang dapat dikontrol. 23. Kriteria Hasil : o 22.Lindungi anak dari trauma.20. teratasi Kriteria hasil : o Mobilisasi fisik klien aktif kejang tidak ada . 29.Observasi tanda-tanda vital. suhu tubuh kembali normal Kerusakan mobilisasi fisik Kerusakan mobilitas fisik b/d 4 kerusakan persepsi.Berikan kompres dingin pda daerah dahi dan ketiak.Kaji tingkat kerusakan mobilsasi klien..Libatkan keluarga dalam Aktivitas kejang tidak berulang Resiko kejang 3 berulang b/d peningkatan suhu tubuh o pemberian tindakan pada klien. penurunan kekuatan o 28.Kaji tingkat mobilisasi klien.Kaji factor pencetus kejang. 24.

Kaji tingkat pendidikan keluarga klien. 31. .Kaji tingkat pengetahuan keluarga klien.Latih klien dalam mobilisasi sesuai kemampuan klien. Pengetahuan keluarga meningkat Kriteria hasil : o 35.Jelaskan pada keluarga klien tentang Kurang pengetahuan 5 keluarga b/d kurangnya informasi Keluarga mengerti dengan proses penyakit kejang demam. 36.Bantu klien dalam pemenuhan kebutuhan.Libatkan keluarga dalam pemenuhan kebutuhan klien.o kebutuhan klien teratasi 30. o keluarga klien tidak bertanya lagi tentang penyakit. 37. 32.

Beri kesempatan pada keluarga untuk menanyakan hal yang belum dimengerti.perawatan dan kondisi klien. 38. Kumpulan Contoh Askep . Posted in: Askep Anak. penyakit kejang demam melalui penkes..Libatkan keluarga dalam setiap tindakan pada klien. 39.

Lind ungi klien dari trau ma atau keja ng. Kola bora .atand a vital setel ah keja ng. 6. Beri kan keny ama nan bagi klien . 7. 5.

si den gan dokt er dala m pem beri an ther api anti com puls an 2 Resiko tinggi Inefektifnya terhadap bersihan jalan inefektifnya bersihan jalan nafas b/d kerusakan neuromuskula r napas tidak terjadi Kriteria Hasil : ○ Jalan napas bersih dari sumbata n. ○ suara 1. Obs erva si tand atand a vital 2. atur posi si tidur .

3. ○ RR dalam batas normal klien fowl er atau semi fowl er. kola bora si den gan dokt er dala m pem beri an ther . ○ sekresi mukosa tidak ada.napas vesikuler . Laku kan pen ghis apa n lendi r 4.

Liba tkan kelu arga dala m pem beri an tind akan pad a klien . ○ suhu tubuh kembali normal 1. Kaji fact or penc etus keja ng.api 3 Resiko kejang Aktivitas kejang berulang b/d tidak berulang peningkatan suhu tubuh Kriteria Hasil : ○ Kejang dapat dikontrol . . 2.

. Lind ungi anak dari trau ma.3. 5. Beri kan kom pres dingi n pda daer ah dahi dan keti . Obs erva si tand atand a vital . 4.

4 Kerusakan Kerusakan 1. Kaji ting kat keru saka n mob ilsas i klien mobilitas fisik mobilisasi fisik b/d kerusakan teratasi persepsi.ak. 2. Kaji ting kat mob ilisa si klien . penurunan kekuatan Kriteria hasil : ○ Mobilisas i fisik klien aktif ○ kejang tidak ada ○ kebutuh an klien teratasi .

Lati h klien dala m mob ilisa si sesu ai kem amp uan klien . Bant u klien dala m pem enu han kebu tuha n. .. 4. 3.

Kaji ting kat pen didik an kelu arga klien .5. Kaji ting kat pen pengetahuan keluarga keluarga b/d meningkat kurangnya informasi Kriteria hasil : ○ Keluarga mengerti dengan proses penyakit kejang demam. 2. ○ keluarga klien . 5 Kurang Pengetahuan 1. Liba tkan kelu arga dala m pem enu han kebu tuha n klien .

3.tidak bertanya lagi tentang penyakit. Beri kese . geta hua n kelu arga klien . 4. Jelas kan pad a kelu arga klien tent ang pen yakit keja ng dem am mel alui penk es. perawat an dan kondisi klien.

.mpa tan pad a kelu arga untu k men anya kan hal yan g belu m dim eng erti. Liba tkan kelu arga dala m setia p tind . 5.

Kumpulan Contoh Askep .akan pad a klien . Posted in: Askep Anak.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->