Perang Suci

by Karen Armstrong, Hikmat Darmawan (Translator) 3.88 · rating details · 421 ratings · 58 reviews Ketika Paus Urban II menyerukan Perang Salib di tahun 1095 untuk merebut kota suci Yerusalem dari kaum muslim, mungkin sama sekali tidak terbayang betapa rangkaian peristiwa tragis itu akan menorehkan luka yang begitu perih dan pengaruh yang begitu luas. Kaum Kristen Eropa mula-mula memang kurang begitu mengenal kaum muslim. Tapi di akhir kisah, masing-masing pihak—Islam, Kristen, dan juga Yahudi yang kemudian ikut terlibat dalam konflik itu—mengembangkan perasaan benci dan anggapan bahwa kelompok lain adalah sosok jahat, iblis, musuh Tuhan, yang patut dilaknat dan dimusnahkan. Antologi kebencian dan dendam ini terus mengendap, menggumpal, dan kemudian mewujud dalam berbagai konflik dan perang suci yang terus meletup hingga kini. Titik mula dan kelanjutannya memang bisa bermotif religius atau sekuler, tapi akhirnya semua motif itu bercampur-aduk dan memperteguh kekentalan konflik. Dalam buku ini, Armstrong menelusuri detail kisah Perang Salib, akar pemicunya, baik dari segi sejarah maupun doktrin, dan juga pengaruh Perang Salib dalam perkembangan peradaban dunia. Pemaparannya yang begitu tangkas, cermat, mendalam, menyeluruh, dan menyentuh perasaan membuat buku ini tidak saja mampu mengupas tuntas kronologi-historis perang-perang suci secara objektif, tapi juga berhasil memberi semacam pendekatan subjektif dengan menyapa sisi kemanusiaan kita semua. Buku ini adalah upaya untuk meredakan bara nafsu yang mengurung cara pandang umat beragama dalam teologi dendam dan kekerasan, menyambung kembali ruh epistemologis ajaran-ajaran agama yang rindu akan kesejukan dan kasih sayang, mengundang kembali nalar dan nurani yang telah dicampakkan di antara reruntuhan perang dan tumbuh peradaban. Pujian: "Buku ini mengantarkan keharuan, objektivitas, pandangan yang luas, dan daya cipta bagi kemelut zaman kita yang paling mendesak." The Boston Phoenix "Karen Armstrong memang jenius." A.N. Wilson, pengarang Jesus: A Life "Melalui karya-karyanya yang menantang selama sepuluh tahun terakhir, penulis ini tampil sebagai salah seorang pemikir tentang masalah-masalah keagamaan dan kemanusiaan yang sangat menonjol. Tidak banyak perempuan sepanjang abad ini yang dikenal melalui karyakaryanya yang mendalam, komprehensif, dan menggoda untuk diikuti." Achmad Syafii Maarif(less)

dan kaki akan terlihat di jalan-jalan kota. tentara Perang Salib membunuh sekitar 40. lainnya menyiksa mereka lebih lama dengan memasukkan mereka ke dalam nyala api. Tapi ini hanya masalah kecil jika dibandingkan dengan apa yang terjadi pada Biara Sulaiman. dua pemimpin tentara Perang Salib. yang telah berlangsung semenjak Umar. dibawa ke hadapan Salahuddin. yang telah begitu keji karena kekejamannya yang hebat yang ia lakukan kepada orang-orang Islam. Tiga bulan setelah pertempuran Hattin. Seluruh orang-orang Islam dan Yahudi dibasmi dengan pedang. karena Salahuddin mengumpulkan seluruh kerajaan Islam di bawah benderanya dalam suatu perang suci dan mengalahkan tentara Perang Salib dalam pertempuran Hattin pada tahun 1187. dan pada hari yang tepat sama ketika Nabi Muhammad SAW diperjalankan dari Mekah ke Yerusalem untuk perjalanan mikrajnya ke langit. Salahuddin memasuki Yerusalem dan membebaskannya dari 88 tahun pendudukan . Namun pemerintahan mereka berumur pendek. namun membiarkan Raya Guy pergi. dan Islam hidup bersama dalam kedamaian. Setelah pertempuran ini. Reynald dari Chatillon dan Raja Guy. merasa bangga dengan kekejaman ini: “Pemandangan mengagumkan akan terlihat. berakhir dengan pembantaian yang mengerikan. mereka melakukan pembantaian yang sadis. tempat di mana ibadah keagamaan kini dinyanyikan kembali… di biara dan serambi Sulaiman.000 orang Islam dengan cara tak berperikemanusiaan seperti yang telah digambarkan. karena ia tidak melakukan kekejaman yang serupa.tragedipalestina. para pria berdarahdarah disuruh berlutut dan dibelenggu lehernya. Beliau menghukum mati Reynald dari Chatillon. Setelah perjalanan panjang dan melelahkan. Raymond dari Aguiles. Tentara Perang Salib menjadikan Yerusalem sebagai ibukota mereka. Perdamaian dan ketertiban di Palestina. Perlu berjalan di atas mayat-mayat manusia dan kuda. lainnya menembaki mereka dengan panah-panah. terinspirasi dari film “Kingdom of Heaven” Ketika orang-orang Yahudi. Nasrani. sang Paus memutuskan untuk membangun sebuah kekuatan perang Salib. Dalam perkataan seorang ahli sejarah: “Mereka membunuh semua orang Saracen dan Turki yang mereka temui… pria maupun wanita. Tumpukan kepala. mereka mencapai Yerusalem pada tahun 1099.” Dalam dua hari. Palestina sekali lagi menyaksikan arti keadilan yang sebenarnya.Kotaini jatuh setelah pengepungan hampir 5 minggu. Ketika Tentara Perang Salib masuk ke dalam. dan banyak perampasan dan pembantaian di sepanjang perjalanannya. lebih dari 100.Kekejaman Tentara Perang Salib dan Keadilan Salahuddin sumber : www. Mengikuti ajakan Paus Urbanius II pada 27 November 1095 di Dewan Clermont.” Salah satu tentara Perang Salib.000 orang Eropa bergerak ke Palestina untuk “memerdekakan” tanah suci dari orang Islam dan mencari kekayaan yang besar di Timur. sehingga mereka berjatuhan dari menara-menara. dan mendirikan Kerajaan Katolik yang terbentang dari Palestina hingga Antakiyah. tangan. Beberapa orang lelaki kami (dan ini lebih mengasihi sifatnya) memenggal kepala-kepala musuh-musuh mereka.com.

Ia hanya memerintahkan semua umat Nasrani Latin (Katolik) untuk meninggalkan Yerusalem. tentara Perang Salib melanjutkan perbuatan tidak berprikemanusiaannya dan orang-orang Islam meneruskan keadilannya di kota-kota Palestina lainnya. Dia tidak berdendam untuk membalas pembantaian tahun 1099. Salahuddin menangis tersedu-sedu karena keadaan mengenaskan keluarga-keluarga yang hancur terpecah-belah dan ia membebaskan banyak dari mereka. sesuai imbauan Al-Qur’an. Setelah Yerusalem. Pada tahun 1194.” Suasana Perang Salib II Pendeknya. sehingga menyingkirkan rasa takut mereka bahwa mereka semua akan dibantai. Tak ada satu orang Kristen pun yang dibunuh dan tidak ada perampasan. Salahuddin dan tentaranya memperlakukan orang-orang Nasrani dengan kasih sayang dan keadilan yang agung. dan menunjukkan kepada mereka kasih sayang yang lebih dibanding yang diperlihatkan oleh pemimpin mereka. yang bukan tentara Perang Salib. yang digambarkan sebagai seorang pahlawan dalam sejarah . Sebaliknya dengan “pembebasan” tentara Perang Salib. seperti yang Al-Qur’an anjurkan (16:127). Jumlah tebusan pun disengaja sangat rendah…. meskipun menyebabkan keputusasaan bendaharawan negaranya yang telah lama menderita. Saudara lelakinya al-Adil begitu tertekan karena penderitaan para tawanan sehingga dia meminta Salahuddin untuk membawa seribu orang di antara mereka bersamanya dan kemudian membebaskan mereka di tempat itu juga… Semua pemimpin Muslim merasa tersinggung karena melihat orang-orang Kristen kaya melarikan diri dengan membawa kekayaan mereka. karena permusuhan dihentikan. Salahuddin tidak menyentuh seorang Nasrani pun dikotatersebut. Umat Nasrani Ortodoks. ia menghentikan pembunuhan (2:193-194). Karen Armstrong menggambarkan penaklukan keduakalinya atas Yerusalem ini dengan katakata berikut ini: “Pada tanggal 2 Oktober 1187. Salahuddin dan tentaranya memasuki Yerusalem sebagai penakluk dan selama 800 tahun berikutnya Yerusalem tetap menjadi kota Muslim.tentara Perang Salib. dibiarkan tinggal dan beribadah menurut yang mereka pilih. yang bisa digunakan untuk menebus semua tawanan… [Uskup] Heraclius membayar tebusan dirinya sebesar sepuluh dinar seperti halnya tawanan lain dan bahkan diberi pengawal pribadi untuk mempertahankan keselamatan harta bendanya selama perjalanan ke Tyre. Salahuddin menepati janjinya. dan sekarang. Richard Si Hati Singa. dan menaklukkan kota tersebut menurut ajaran Islam yang murni dan paling tinggi.

Di samping itu. mereka tidak pernah menggunakan kekerasan yang tidak perlu. secara tak berkeadilan di Kastil Acre. yang kebanyakan di antaranya wanita-wanita dan anak-anak. memerintahkan untuk menghukum mati 3000 orang Islam. mendorongmu berbuat aniaya (kepada mereka)…”(Qur’an 5:2) dan tidak pernah melakukan kekejaman kepada orang-orang sipil yang tak bersalah. Mereka malah tunduk kepada perintah Allah: “Dan janganlah sekali-kali kebencian(mu) kepada sesuatu kaum karena mereka menghalang-halangi kamu dari Masjidilharam. bahkan kepada tentara Perang Salib sekalipun. mereka tidak pernah memilih cara yang sama. Kenyataan ini terus ditunjukkan selama 800 tahun setelah Salahuddin khususnya selama masa Ottoman. Meskipun orang-orang Islam menyaksikan kekejaman ini. . Kekejaman tentara Perang Salib dan keadilan orang-orang Islam sekali lagi terungkap sebagai kebenaran sejarah: Sebuah pemerintahan yang dibangun di atas dasar-dasar Islam memungkinkan orang-orang dari keyakinan berbeda untuk hidup bersama.Inggris.