Edited By Erlan A.P Bismillah hirrahmaa nirrahim Asssalmu’alaikum wr.

wb

FISIKA

Pembahasan Materi : Kelas 1 SMESTER 1 1. Pengukuran 2. Vektor 3. Gerak Lurus 4. Gerak Melingkar 5. Dinamika Partikel 6. Tata Surya Kelas 1. 2. 3. 4. 5. 6. Kelas 1. 2. 3. 4. 1 SMESTER 2 Suhu dan Kalor Perpindahan Kalor Hakikat dan Warna Cahaya Optika Geometri Gelombang Elektromagnetik Listrik Dinamis 2 SMESTER 1 Gerak Gaya Usaha dan Energi Impuls dan Momentum

Kelas 2 SMESTER 2 1. Dinamika Rotasi dan Keseimbangan Benda Tegar 2. Fluida 3. Teori kinetk gas 4. Termodinamika

BAB 1. Pengukuran

1

01mm .1mm . luas. dll) Standar adalah acuan untuk membandingkan suatu hasil pengukuran dengan ukuran lainnya. m.( Volume.( Panjang dengan meter atau inchi. Angstrom.Mikrometer ketelitian : 0.Istilah dalam pengukuran Besaran adalah segala sesuatu yang dapat diukur dan dapat dinyatakan dengan angka-angka.1mm kesalahan : 0.01mm kesalahan : 0.Mistar ingsut (jangka sorong) ketelitian : 0. dll) Batas Ukur adalah batas nilai maksimum yang dapat diukur oleh alat ukur yang sedang dipergunakan. Ketelitian alat adalah ukuran terkecil yang dapat diukur teliti dengan alat ukur yang sedang dipergunakan.Mikrometer dengan skala nonius (Lebih teliti dari mikrometer) . suhu.5mm .(kg. Alat ukur .Pengaris ketelitian : 1mm kesalahan : 0. dll) Satuan adalah segala sesuatu yang menunjukan banyaknya hasil yang diperoleh. panjang.dll Rumus Pengukuran Berulang • x= +e • e= ∆+δ • ∆= x- • x= x +∆x • x= x +∆x • ∆x= 1 nΣxi2 – (Σxi )2 n n–1 Ket: x=hasil pengukuran = nilai sebenarnya dari benda yang diukur e= kesalahan total δ= kesalahan acak yang menunjukkan perbedaan antara x dan x (rata2 hasil pengukuran) ∆x= nilai ketidakpastian pengukuran berulang Peraturan angka Penting 2 .

• • • • • Semua angka selain angka nol adalah angka penting Angka nol yang terletak di antara dua angka bukan nol termasuk angka penting Angka nol yang terletak di sebelah kanan angka bukan nol termasuk angka penting Angka nol yang terletak di sebelah kiri angka bukan nol. baik yang terletak di sebelah kiri atau kanan desimal bukan angka penting Angka penting terakhir biasanya dituliskan dengan cara memberi garis bawah BESARAN POKOK dan BESARAN TAMBAHAN DALAM SI dan Dimensi Besaran Pokok Panjang Massa Waktu Arus Listrik Suhu Intensitas Cahaya Jumlah Zat Sudut Datar Sudut Ruang Satuan meter Kilogra m Second Ampere Kelvin candela Mole radian steredia n Simb ol m kg s A K cd mol Rd Sr Dimen si L M T I θ J N AWALAN DALAM SISTEM INTEERNASIONAL Arti yotta zetta eksa peta tera giga mega kilo hekto deka deci centi mili mikro nano Piko femto atto zepto Awala n Y Z E P T G M K H da D C M µ N p F A Z Faktor Pengali 1024 1021 1018 1015 1012 109 106 103 102 10 10-1 10-2 10-3 10-6 10-9 10-12 10-15 10-18 10-21 yocto Y 10-24 Contoh besaran turunan 3 .

perpindahan. j x i = -k .i=1 . --------------------ii--------------------- BAB 3. gaya. V = lUl lVl cos a (untuk perkalian titik antara 2 vektor ) U x V = ( b1c2-c1b2)i + (a2c1-a1c2)j + (a1b2 – b1a2)k) bila sampai k (untuk perkalian silang antara 2 vektor) dapat dilihat di buku fisika kelas x smester 1 hal 80 i xj=k . j. k. Gerak Lurus 4 .j =1 . jxj =0 jxk=i . kxk=0 (untuk perkalian silang antara 2 vektor) l U x V l = lUl lVl sin a (untuk perkalian silang antara 2 vektor ) dapat dilihat pada hal 82 buku fisika kelas x smester 1 tapi harap ditelaah pada contoh soal karena terdapat kesalahan. k x j = -i .F2.j=0 .V = (a1 a2) + (b1 b2) + (c1 c2) bila sampai k ( untuk perkalian titik antara 2 vektor ) i. percepatan.i =0 ( untuk perkalian titik antara 2 vektor ) U . j. k.. i x k = -j . Vektor Vektor adalah besaran fisika yang memiliki nilai dan arah seperti kecepatan. Vy θ Vresultan F1 θ F2 Resultan Rumus vektor secara umum Vx • • • • • • • • • V = lVl = Vx2+Vy2 • • • R= F12+F2 2+F1.Gaya satuan asal : kg m s-2 Dimensi : M L T-2 (besaran turunan memiliki dimensi berdasarkan satuan asal) ------------------ii-------------------BAB 2.cos a Untuk mencari Resultan Tgθ = Vy/Vx U ± V= (a1±a2. ixi =0 kxi=j . dan momentum.k=0 .k=1 i. b1±b2) untuk penjumlahan dan pengurangan vektor secara Analitis Vx = V cos θ Vy = V sin θ U.

_ _ v = jarak tempuh/waktu tempuh . Gerak Melingkar Langsung memasuki rumus dasar: 5 . 2.Bergerak adalah berpindahnya kedudukan relatif sebuah benda terhadap benda lain yang dianggap sebagai acuan. Gerak lurus adalah gerak suatu benda yang menghasilkan lintasan berbenyuk garis lurus. Perpindahan adalah perubahan kedudukan suatu benda selama bergerak relatif terhadap kedudukan asalnya. RUMUS DASAR: • St = So + vt • vt = vo ± at • St = So + vot ± ½ a t • vt2 = vo2 ± 2 a s2 Ket : S = jarak yang ditempuh (m ) v = kecepatan (m/s) a = percepatan (m/s2 ) 2 GLB GLBB GLBB GLBB Cat 1. Untuk menghitung jarak yang ditempuh pada GLB dapat digunakan metode menghitung luas daerah grafik seperti pada contoh hal 124 buku fisika kelas 1 smester 1. Dan perhitungan s biasanya digunakan untuk mengitung ketinggian benda dijatuhkan. Lintasan adalah titik-titik yang dilewati oleh suatu benda yang menghasilkan lintasan berbentuk garis lurus. Untuk GLBB terdapat gerak jatuh bebas dan benda dilempar keatas dimana (a = g) dengan g adalah percepatan gravitas. Jarak adalah panjang lintasan sebenarnya yang ditempuh suatu benda selama bergerak tanpa menyebutkan arah.t Pada GLBB --------------------------ii-------------------------BAB 4. v= s/t v _ _ Kecepatan rata-rata v = perubahan kedudukan/waktu tempuh . Terdapat 2 buah gerak lurus yaitu gerak lurus beraturan dimana tidak ada percepatan dan gerak lurus berubah beraturan. v = ∆s/t Laju rata-rata v t Grafik v – t Pada GLBB s t Grafik s . g bernilai positif bila benda jatuh ke bawah dan bernilai negatif bila dilempar ke atas.

• • • • • • • • • • • • • v 1 putaran = 360o 1o = /180o atau 1 rad = 180o/ θ θ = s/r v ω = 2ƒ atau ω = 2/T atau ω = dθ/dt   r ω =∆θ/∆t v =ωr  = dω/dt  = ∆ω/∆t as= v2 /r percepatan yang mengarah pada pusat lingkaran at=  r aT = As2+At2 Fs= m . Hukum I Newton ( ΣF = 0 ) 6 . BAB 5.Dinamika Partikel -----------------------ii------------------------- Gaya adalah suatu tarikan atau dorongan.as = m v2 /r = m ω2 r ω1 = ω2 untuk roda gila (2 buah roda degan 1 poros) ∆s roda kecil = roda 1 O • v1 = v2 roda besar = roda 2 untuk roda yang dihubungkan dengan sabuk/tali roda kecil = roda 1 roda besar = roda 2 • v1 = v2 dan ω1 = ω 3 Untuk roda sepeda roda kecil sekali = roda 1 roda kecil = roda 2 roda besar = roda 3 Ket : θ = seberapa jauh benda berpindah dalam satuan radian s = panjang busur lingkaran (m) ω = kecepatan sudut (rad/s) ω = kecepatan sudut rata-rata (rad/s) v = kecepatan linier (m/s)  = percepatan sudut (rad/s2 )  = percepatan sudut rata-rata (rad/s2 ) as = percepatan sentripetal (m/s2 ) at = percepatan tangensial (m/s2 ) aT = percepatan total (m/s2 ) Fs= Gaya sentripetal ( Newton ) Untuk gerak melingkar dapat digunakan rumus dasar gerak dengan catatan kecepatan dan percepatan diganti dengan kecepatan dan percepatan sudut.

186 Rumus yang berhubungan dengan gaya gesek: fs = µs N . benang. 3. 7. a Penerapan dapat dilihat di buku fisika kelas x smester 1 hal. Gaya pegas (FP) Gaya yang diberikan oleh pegas pada saat ditekan atau ditarik oleh benda yang dikaitkan pada pegas tersebut. Arahnya selalu menuju pusat bumi 2.Gerak pada tikungan datar 7 .N Hukum Newton III (Faksi = -Freaksi) Gaya normal untuk benda diam terdapat 3 macam 1. Benda diam dengan ada gaya tambahan yang searah gaya berat maka (N = mg + F) 3. Gaya Netto Vektor resultan gaya yang bekerja pada sebuah benda yang menyebabkan benda ini mengalami percepatan. Gaya grvitasi (Fg) atau Gaya Berat (W) Gaya yang dimiliki oleh suatu partikel akibat adanya pengaruh gaya tarik bumi. Benda diam yang ditarik dengan gaya F maka (N = mg – Fsin a). Gaya tegang tali (T) Gaya yang dipindahkan melalui tali. 178 • • Fg f =m. dan semacamnya pada saat ditarik dengan kencang oleh gaya yang bekerja di kedua ujungnya 6. Dapat dilihat pada buku fisika kelas x smester 1 hal. Arahnya berlawanan dengan arah gerak benda. 5. Diambil sinus karena sudutnya (a) diantara sumbu x dan arah gaya dan dimbil cos bila sudutnya (a) diantara sumbu y dan arah gaya. N f Ft W Hukum Newton II (ΣF =m a ) • Fnetto = m .Jenis gaya : 1. Benda diam tanpa ada gaya tambahan maka (N = mg = W) 2. Gaya gesek (f) Gaya yang diberikan oleh suatu permukaan yang sedang dilintasi oleh suatu benda. Memiliki arah berlawanan dengan arah gerak benda 4.g = µ. Gaya normal (N) Gaya penyangga yang diberikan oleh suatu benda ketika benda tersebut kontak dengan benda lainnya. Gaya tahan udara (FU) Gaya gesek khusus yang bekerja pada saat benda bergerak di udara. apabila benda ingin bergerak maka (fk > fs) fk =µk N .

Fs= as /r Untuk penerapan gerak pada tikungan datar. maka Fs = f persamaan sehingga didapat v= -Gerak pada tikungan miring sumbu .Gerak pada lingkaran vertikal 4 • T1 = mg w Fs 5 Fs +  + mv2 w=T mv2 β T T / / / R R R w • • • • Fs T2= mg cos Fs T = 3 T4= mv2 / R – mg cos β Fs mv T  2 T T5= 2 mv2 / R – mg 1 w w (Dapat dilihat pada buku fisika hal 200 kelas x smester 1) 8 .x N= mv2 / R sin θ (Dapat dilihat padabuku fisika kelas x smester hal 192) (arah gerak ke depan) mobil (bukan ke kanan) θ -Ayunan konis • T sin θ = mv2 / r • T cos θ = mg • v= r g tgn θ sumbu x dan y keseimbangan dalam arah horizontal keseimbangan dalam arah vertikal = g l sin θ tgn θ gabungan arah θ T cos θ T T sin θ Fsp l Ket : T=tegangan tali (Newton) v= kecepatan ayunan (m/s) l = panjang tali (m) r = jari-jari (m) m= massa (kg) .y mgr N= mg/cosθ Ny = Nx v= N g r tgn θ Sumbu .

N2  f1 = µ1-L(m1 + m2)g T • Balok B 1. N2-1 = m2 . f2-1 = µ2-1 N2-1 = µ2-1 . N = mg – F sin  w . f2 = µ2-1 .Gerak benda pada lantai licin ditarik dengan gaya membentuk sudut N Fy F • Dalam sumbu – x  Fx 1.Gerak benda pada bidang miring N • Gaya dalam arah – y w2 N = mg cos α • Gaya dalam arah – x W cos α W sin α ax = g sin α W α ..Gerak dua benda bertumpuk • Balok A  N1-L = (m1 + m2) g  f1-L = µ1-L + N1-L N 1-2 .6 SISTEM TATA SURYA Untuk bab ini dapat dibaca sendiri karena hanya berupa hafalan.Gerak benda yang ditarik katrol N • T= m1 a T • T= m2 g – m2 a • a = (m2 g) / m1 + m2 w1 T .Gerak 2 benda yang dihubungkan dengan tali m2 • a1 = a2 sehingga a = F/Σm m1 F . ---------------------------------ii-----------------------------AKHIR PEMBAHASAN SMESTER 1 9 . F cos  = m ax • Dalam sumbu – y 2. m2 g 3. m2 g f1-L • Total gaya (F) Σw1-2 F = f1 + f2 ---------------------------------ii-----------------------------BAB. g F W2 f2-1 2.

Muai Luas ∆A = Ao. (x – Tw) 2. Termometer Hambatan θ/100 = (Rθ – R0)/(R100 – Rθ) f. (Tb – x) = ma. Pemuaian 1. (T1 – x) = mw. Asas Black Qlepas = Qterima m1.c.L i. Skala Celcius θ/100 = (Xθ – X0)/(X100 – Xθ) b.ca.ca. Kalor Lebur dan Kalor Beku Q = m. β = koefisien muai luas 3. Untuk cairan dengan wadahnya m1. Pemuaian Gas Vt = Vo . Kalor Uap Q = m.Bab 1. ∆t g. (T1 – x) = m2. ∆t = C .β.cb. γ = koefisien muai volume 4.α. (x – Ta) 3. Untuk benda padat dicelupkan dengan kalor tak diserap wadah mb.cw. (x – Tw) + ma. (x – Ta) (persamaan ini dapat di perbaharui sesuai dengan kebutuhan) h. Muai Volume ∆V = Vo. Perhitungan Kalor Q = m. ∆t β = 2α .c.Farenhit merupakan perhitungan SD c. Muai panjang ∆l = lo . Untuk Skala Reamur . ∆t γ = 3α . Suhu dan Kalor a. ∆t α = koefisien muai panjang 2. Hubungan antar skala  Celcius dan Farenhit akan menunjukan skala yang sama pada suhu -40 d.c1. (273 + T)/273 V1/T1 = V2/T2 10 .cb. Untuk benda padat dicelupkan dengan kalor diserap wadah mb. (x – T2) Asas ini terbagi atas beberapa bagian 1.γ.c.cw. Termometer Non-Gelas θ/100 = (Pθ – P0)/(P100 – Pθ) e. (Tb – x) = mw.U j.

A. Perpindahan Kalor a. Untuk benda kelabu/selain hitam Q/t = σ . Teori Kuantum Max Planck E=nhf E = Energi pengetar .A . n = indeks bias . v=kec.s 11 . ∆t c.T4 σ = konst. b. ∆t/L 2. Planck = 6. Cahaya . Perpindahan kalor secara radiasi 1. A. Untuk benda hitam sempurna Q/t = σ . Perpindahan kalor dengan konduksi 1. Pemantulandan dan pembiasan Sin θd = n Sin θb n = c/v . h = konst.626 x -34 10 J.(T14 – T24) ε = Emivisitas benda (Untuk hitam = 1) ------------------ii-------------------- Bab 3. Stefan-Boltzman =5. Hakekat dan Warna Cahaya a. Untuk proses radiasi berlangsung pada 2 permukaan Q/t = σ .(T14 – T24) 3.A . A . Untuk bentuk silinder:Q/t = k. c = kec.ε. Untuk bentuk batang : Q/t = k.A .67 x 10 8 W/m2K4 2.Jenis Zat Aluminium Emas Baja Gelas Perunggu Perak Pirek Kuarsa Tembaga Tembok Timah Air Bensin Etil Alkohol Metil Air Raksa Gliserin Terpentin Aseton Koefisien muai panjang 25 x 10-6 14 x 10-6 12 x 10-6 9 x 10-6 19 x 10-6 18 x 10-6 3 x 10-6 0.cahaya dalam bahan transparan. ∆t/∆r b. Perpindahan kalor dengan konveksi Q/t = h .4 x 10-6 17 x 10-6 12 x 10-6 29 x 10-6 210 x 10-6 950 x 10-6 1100 x 10-6 1200 x 10-6 180 x 10-6 500 x 10-6 1150 x 10-6 1500 x 10-6 (beberapa daftar koefisien zat) ------------------ii-------------------- Bab 2.

Max M= Ak. Ak. Optika Geometri • Mata Normal Miopi ( Rabun Jauh ) Sn = 25 cm S = ~ P = -100/PR P = 100/F S’ = -PR S =~ Ditolong lensa cekung (-) P = 4 – 100/PP P = 100/F S’ = -PP S = Sn = 25 cm Ditolong lensa cembung Ditolong lensa ganda Mata tak berbentuk bola Ditolong lensa silindris M= PP/F + 1 M= PP/F S’ = -PR M= PP/F + PP/x M= -S’/S = -(-PP)/S = PP/S Hypermetropi (Rabun Dekat) Presbiopi Astigmatisma • Lup Akomodasi Maksimum Tidak Berakomdasi Akomodasi pada jarak X Secara Umum (Mata Normal Sn = 25 cm) Mikroskop ( FoB < SoB < 2 FoB ) ( FoB < FoK ) Terletak di ruang dua Panjang Mikroskop(d) d = S’oB + Sok Max ( S’ = -PP ) d = S’oB + Fok ( S’oK = ~ ) FoK ) Perbesaran (M) Ak.------------------ii-------------------- Bab 4. Min ( SoK = M= MoB x Mok M= S’oB/Sob x ( PP/Fok + 1 ) PP/Fok SoB = (S’oB x Fob) / (S’ob – FoB) 12 . Min S’oB/Sob x • Ak.

Urutan frekuensi spektrum gelombang dari tinggi ke rendah Sinar gamma. Max M= FoB/FoK Ak. sinar tampak.μo εo = 8. Energi Gelombang Elektromagnetik Gelobang Elektromagetik mengandung medan magnet dan medan listrik. sinar inframerah. gelombang mikro ( s = c. Min Ak. sinar ultraviolet. Dalam medan Listrik .1 Cermin Cekung (R & F = +) dan Cermin Cembung (R & F = . Max Ak. Dalam medan magnet . Min Teropong Panggung d = FoB – FoK Ak. Total energinya . Max Sok = (S’oK x FoK) / (S’oK – FoK) M= I FoB/FoK I Ak. Min M= I FoB/SoK I Ak. Max Jumlah bayangan pada cermin datar n = 360/α . Max Ak.B εo/μo 13 . E2 + ½ . Ns2/C2 c=f. 1. u = ½ εo.∆t/2 ). u = ½ εo. μo= 12. Cepat Rambat Gelombang Elektromgnetik V = 1/ εo.B2/ μo = B2/μo = E. sinar-X. Min M= FoB/SoK Ak.B2/ μo 3. dan gelombang radio (s = jarak sasaran dengan radar ) c.85 x 10-12 C2/Nm2 .) R = 2F 1/F = 1/S + 1/S’ M = S’/S atau M = h’/h Hukum Snellius n sin i = nr sin r ------------------ii-------------------- • • • Bab 5. Min d = FoB + SoK Ak. Gelombang Elektromagnetik a. u = ½ . Max d = Fob + 4Fp + SoK d = Fob + 4Fp + FoK Ak. E2 2.λ b. N/A2 .• Teropong/Teleskop ( FoB > FoK ) Teropong Bintang d = FoB + SoK d = FoB + FoK M= FoB/SoK M= FoB/FoK Teropong Bumi (S’oK = -Sn) Ak.56 x 107 Wb/Am . Min Ak.

E2 ( A.c. karena Bm = Em /c Bab 6.R3/( R1 + R2 + R3) Ry = R1.4. maka Rx = R1. ∆x= c.R5/( R1 + R2 + R3) Rz = R3.c.c. Arus Listrik Q= I/tatau Q=n. Hukum Ohm V=I. ∆U = u. Energi dan Daya W = P.∆t) c.R i.c. ∆t 5. Susunan Seri Rs = R1 + R2 + R3 I1 : I2 : I3 = I V1 : V2 : V3 = IR1 : IR2 : IR3 = R1 : R2 : R3 Contoh: V1 = R1/(R1 + R2 + R3) x V total e.R5/( R1 + R2 + R3) 14 . Energi yang melewati penampang dalam volume .t = I2.B/ μo 7. Susunan Paralel 1/Rp = 1/R1 + 1/R2 + 1/R3 V1 = V2 = V3 = V total I1 : I2 : I3= 1/R1 : 1/R2 : 1/R3 f.t = V. Rata-Rata Intensitasnya. Jembatan Wheatstone R1 x R4 = R2 x R3 Bila perkalian tak berfungsi.t = V2/R. Hambatan Listrik (R) R = P x l/A Rt = Ro ( 1 + α.I. Intensitasnya .Em2 S = ½.∆t) Pt = Po ( 1 + α. Hukum Kirchoff I I masuk = I keluar h. ∆t) 6.Bm2/μo = BmEm/2 μo . Jarak yang ditempuh dalam satuan waktu .Pt g.t Ps = ( Vs/Vt )2 .R. ∆A = εo.E2 = E. Listrik Dinamis a. S = ½ εo.R d. Hukum Kirchoff II Σ E = Σ I. S = εo.e b.

dalam sumbu –x dan –y vx = vox vy = voy – g.dt 2.∆l m.t 3.g = k. Kecepatan (v). Rata-rata a = ∆v/∆t g. Jarak hrizontal maksimum Xmax = vo2 sin 2α/g b. Kec. jika a berubah v = vo + o∫t a. Gerak Parabola (Gabungan antara GLBB dan GLB) a. Gerak Harmonik Sederhana a. Simpangan (y). Periode dan Frekuensi T = 2π√m/k dan f = 1/T 15 . Kinematika Gerak Partikel 1.dt i. Gaya Pegas F = k.∆l c.awal dalam sumbu –x dan –y vox = vo cos α voy = vo sin α vo = vox2 + voy2 d. Kec. Besar Vektor Posisi IrI = x2 + y2 + z2 c. Pers.Aω sin (ωt + θo) b. Basic Understanding a.---------------------------------ii-----------------------------AKHIR PEMBAHASAN SMESTER 2 Bab 1. Jarak vertical maksimum Ymax = vo2 sin 2α/2g c. Vektor Posisi r = Xi + Yj + Zk b. dan Percepatan (a) y = A sin (ωt + θo) v = Aω cos (ωt + θo) a = . Kec.sesaat a = dv/dt h. Kec. Posisi jika v berubah r = ro + o∫t v. Perpindahan ∆r = r2 – r1 ∆r = ∆xi + ∆yj d.sesaat v = dr/dt f.Rata2 v = ∆r/∆t e. Perc. Perc. Kec.

Sudut Fase.gravitasi suatu titik dari ketinggian tertentu g = G.r f. Hukum Kepler T2/R3 = constant Bab 3.67.ε = ∆l/ lo .g. Gaya merupakan vector i. Energi Potensial Pegas dan Bandul Pegas : Ep = ½ k. a. cos θ l.m/(R+h)2 .g2 . 1 planet h. v2 Em = Ep + Ek Bandul : Ep = ½ k.10-11 b. Perbandingan berat antara 2 planet dan satu planet W1/W2 = (m1/m2). dimana :m. Impuls dan Momentum 16 . Periode dan frekuensi bandul T = 2π√ l /g dan f = 1/T f.A2. Periode Satelit mengelilingi planet T2 = 4π2 r3/G. Kec. Fase.M/r = √2.m/r2 . g1/g2 = (r2/r1)2 c. G= 6.E = τ/ε h.sebuah roket lepas landas v = √ 2G. 2 planet W1/W2 =(R2/R1)2 = g1/g2 . Kuat medan gravitasi g = G.A2 .m1.M g.m2/r2 . Tegangan/Stress (τ). Gaya Gravitasi F = G.ω =k g. Susunan Pegas seri dan parallel Seri : 1/ks = 1/k1 + 1/k2 + 1/kn Parallel: kp = k1 + k2 + kn e. Potensial Gravitasi V = Ep/m Va = V1 + V2 + ….m2/r j. Jika tak terletak dalam 1 garis k. .M/r d.cos2θ Em = Etotal = Ep + Ek = ½ k.m1. Kec. Energi Potensial Ep = -G. ∆l Ek = ½ m. dan Modulus Young (E) τ = F/A .(R2/R1)2 = g1/g2 .A2. dan Beda Fase θ = ωt + θo φ = t/T + θo/2π = t/T + φo ∆φ = ∆t/T Bab 2. h = ketinggian dari g = √g12 + g22 + 2g1. Menentukan perc.d. Regangan/Strain (ε). Satelit mengorbit suatu planet v = √ G.sin2θ Ek = ½ k. R = Jari2 bumi .

Momen Inersia ( I ) I = m.r2 c.g. Dinamika Rotasi dan Kesetimbangan Benda Tegar a.v Px = mv cos θ Py = mv sin θ b. PA= Tekanan di dasar  F = P.r d. ∆t = mv2 – mv1 I = ∆p I = t1∫t2 F dt Impuls juga dapat dicari dengan menhitung luas grafik F dan T c.g.v1 + m2v2 = m1. Kesetimbangan Syaratnya .h . Fluida Statik  P = F/A .A = ρ.v12+ ½ m2v22 = ½ m1.h. l . P = Tekanan  Ph = ρ. Impuls F .v. ΣFy = 0 dan Σ τ = 0  F1/sin θ1 = F2/sin θ2 = F3/sin θ3 Bab 5. 0<e<1 . Hukum Kekekalan Momentum Sudut L1 = L2 e.α b.(√2gh) / mp Bab 4. Momentum Sudut.ω = I. Momen Gaya (τ) τ = F. Restitusi e = -(V2’ – V1’)/(V2 – V1) e = h2/h1 = h3/h = h4/h3 .l . Kecepatan peluru pada ayunan balistik vp = (mp + mb).v1’ + m2v2’ e. e = 1 .τ=I.lenting sempurna. L = I. tidak lenting sama sekali e = 0 .A . Momentum P = m. Ph = Tekanan Hidrostatik  PA= Po + Ph . Hukum kekekalan momentum P awal = P akhir m1. τ = F sin θ . F = Gaya Hidrostatik 17 . ΣFx = 0 .v1’2 + ½ m2v2’2 f. ΣF = 0 . lenting sebagian.a. Fluida a.Jika lenting sempurna dan massa sama maka V1 = V2’ dan V2 = V1’ d. Hukum kekekalan kinetic ½ m1.

Fluida Alir • Debit ( Q ) Q = V/t atau Q = A.g • v = (ρb – ρf).g.g.η.Vbf = Wu-Wf (FA = Gaya Archimedes) • Benda Melayang (ρb = ρf) dan (Wb = FA) dan (Vb = Vbf) • Benda Tenggelam ( ρb>ρf) ρb.π. y = 2γ cos θ/ ρ.h .v12 + ρ. Hukum Pascal  Tekanan yang diberikan pada benda diam adalah tetap  F1/A1 = F2/A2  Tekanan Permukaan (γ) .ρ = massa jenis zat yang diukur • Venturimeter(alat ukur kecepatan zat alir) tanpa Manometer v1 = A2 2gh/(A12 – A22) v2 = A1 2gh/(A12 – A22) • Tabung Pitot 18 .Volumebola.η.h2 = Constant • Venturimeter(alat ukur kecepatan zat alir) dengan Manometer v1 = A2 2gh(ρ’ – ρ)/ρ(A12 – A22) v2 = A1 2gh(ρ’ – ρ)/ρ(A12 – A22) Catatan : . Fs = ρ.g. dimana: FA = ρf.v .Bernouli P1 + ½ ρ.hx = ρ. Hukum Archimedes • “Setiap Benda yang dicelupkan ke dalam zat cair akan berkurang beratnya sebesar berat zat cair yang dipindahkan” • Benda Terapung ( ρb<ρf) ρb.Vb = ρf.ρf d. b.v1 < v2 dan ρ’ > ρ . r = jari2 pipa sempit θAir < θRaksa Dimana : θRaksa > 90 dan θAir < 90  Viskositas(Kekentalan) • Fs = 6.h1 = P2 + ½ ρ. γ = F/L  Tekanan Permukaan dalam air sabun (γ) . g/6.FA = Wu.Vbf dan Wb = FA . γ = F/2L  Kapilaritas (y) .  Hukum Hidrostatik menyatakan bahwa “Sembarang titik yang terletak pada satu bidang datar dengan zat cair sejenis besarnya sama.g.r c.v22 + ρ. Vbenda fluida .r.π.v • Q1=Q2 • Pers.r . ρx. ρx = massa jenis zat yang dicari.

v = • 2ghρ’/ρ hatas H halas Aplikasi Bernoli v = 2ghatas x =2 hatas.A P1 – P2 = ½ ρ(v22 – v12) 19 .halas t = 2 halas/g Ketinggian ( h) baik “alas” maupun “atas” diukur dari lubang kebocoran • Gaya Angkat Pesawat F1 – F2 = (P1 – P2).