P. 1
04 Ananiah,Ghazab,Hasad,Ghibah,Namimah

04 Ananiah,Ghazab,Hasad,Ghibah,Namimah

4.5

|Views: 7,290|Likes:

More info:

Published by: Galih Riyandi Prasetya on Nov 23, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

10/04/2013

pdf

text

original

BAB 4 ANANIAH, GHAZAB, HASAD, GHIBAH, DAN NAMIMAH

Standar Kompetensi 4. Menghindari perilaku tercela

Kompetensi Dasar
4.1. Menjelaskan pengertian ananiah, ghadab, hasad, ghibah dan namimah 4.2. Menyebutkan contoh - contoh perilaku ananiah, ghadab, hasad, ghibah dan namimah 4.3. Menghindari perilaku ananiah, ghadab, hasad, ghibah dan namimah dalam kehidupan sehari-hari.

Agama Islam selalu mengajarkan agar kehidupan kita membawa manfaat bagi diri sendiri, orang lain, maupun lingkungan. Sikap-sikap yang ditampakkan oleh seorang muslim juga harus membuat senang orang lain dan menciptakan suasana yang menyejukkan. Sebaliknya, sikap dan tindakan yang tidak menyenangkan dan membuat rusak suasana damai merupakan tindakan yang dilarang oleh ajaran Islam. Diantara sikap dan tindakan yang dapat membuat kisruh suasana tersebut adalah ananiah, ghazab, hasad, ghibah, dan namimah. Pelajarailah uraiannya dalam bab ini, agar menjadi bekal dan pendorong bagi diri kita untuk menjauhinya. 1. Ananiah (egois) Pengertian Ananiah Ananiah berarti sifat mementingkan diri sendiri. Sikap ini tidak pernah menghiraukan orang lain. Orang yang terhinggapi sifat ini, tidak pernah mau tahu terhadap orang lain. Ia memandang dapat hidup karena dirinya sendiri. Dia tak pernah berfikir bahwa kehidupan dirinya tidak dapat terlepas dari orang lain. Sifat egois termasuk akhlak madmumah, atau akhlak tercela. Kebalikan dari sifat egois adalah sifat tasamuh (toleran), yaitu sifat yang selalu menghargai dan menerima masukan orang lain. Termasuk tabiat dari orang yang egois adalah dia tidak peduli (tidak dapat berempati) dengan nasib atau perasaan orang lain. Contohnya, bila ada salah seorang teman yang sedang kesusahan, dia malah bersenang-senang di hadapannya. Dengan demikian sifat egois yang dibiarkan berlarut-larut akan menjadi sifat sombong, kikir dan takabur. Semua sifat tersebut dilarang bagi umat Islam melakukannya. Karena dalam sejarah kehidupan manusia, tidak akan pernah ada hidup tanpa orang lain. Bahkan kesempuraan hidup seseorang terletak pada kesanggupan hidup bersama orang lain. Sifat egois tumbuh dan berkembang dari bujukan nafsu, syaitan dan pengaruh orang yang bersikap egois. Benih tumbuhnya sifat egois adalah perasaan mampu hidup tanpa orang lain atau merasa dirinya lebih tinggi dari orang lain. Ia selalu memandang orang lain lebih rendah darinya, sehingga tidak percaya dengan orang lain. Sifat egois termasuk dalam kategori sifat sombong yang dilarang oleh ajaran agama Islam. Firman Allah :

‫ﺎﻝ‬‫ ﻛﻞ ﻣﺨﺘ‬ ‫ﻳﺤ‬ ‫ﺎ ﹺﺇ ﱠ ﺍﷲ ﻻ‬‫ﻲ ﹾﺍﻷﺭﺽ ﻣﺮﺣ‬‫ﺗﻤﺶ ﻓ‬ ‫ﺎﺱ ﻭﻻ‬‫ﻠ‬‫ﺗﺼﻌﺮ ﺧﺪﻙ ﻟ‬ ‫ﻭﻻ‬ ‫ ﹴ‬  ‫ﺐ ﹸ ﱠ‬ ‫ ﻥ َ ﹶ‬  ‫ ﹺ‬ َ ‫ ﹺ‬ ‫ ﹶ‬ ‫ ﻨ ﹺ‬    ّ  ‫ ﹶ‬ (١٨ : ‫ﻮﺭ )ﻟﻘﻤﻦ‬ ‫ﻓ‬ ‫ﹶﺨ ﹴ‬

Artinya : “ Janganlah kamu palingkan muka terhadap sesama manusia karena sombong, dan jangan pula berjalan di atas bumi terlalu senang. Sungguh Allah tiada kasih terhadap setiap orang sombong dan bermegah – megahan “ ( QS. Luqman : 18 ) Akibat Negatif Ananiah Sifat egois yang mementingkan diri sendiri dan merasa mampu mengurus diri sendiri tanpa bantuan orang lain, adalah merupakan bentuk perilaku yang tidak disukai Allah SWT sekaligus tidak disukai oleh orang-orang di sekeliling kita. Apakah kamu senang bergaul dengan orang yang egois? Jika jawabnya tidak senang, orang lain pun tidak senang jika kamu egois. Adapaun akibat buruk dari egois adalah sebagai berikut : • Dimurkai oleh Allah, karena merasa mampu tanpa mengingat bahwa kemampuan itu semata-mata dari Allah SWT. • Sifat egois juga akan menjadikan orang lupa diri, sehingga kemampuan yang dimilikinya cenderung tidak berkembang. Kemampuan seseorang akan terus berkembang jika mau mengakui kelebihan orang lain dan mau belajar dari orang lain. • Orang yang egois tidak dapat menjalankan peran hidupnya dengan baik. Misalnya, bila sifat egois dimiliki oleh orang tua, maka dia tidak dapat membimbing anak-anaknya dengan baik. Bila sifat egois dimiliki oleh seorang pemimpin maka dia tida dapat memimpin dengan baik. • Sifat egois juga menjadikan seseorang sulit dinasehati. Jadi, kalau seorang yang egois sudah mempunyai pendirian yang salah, maka dia sulit berubah karena tidak mau diingatkan atau tidak mau menerima nasehat. • Orang yang egois akan merasa malu bila pada suatu ketika membutuhkan bantuan orang lain. Bagaimanapun juga manusia sudah ditakdirkan oleh Allah SWT mernjadi makhluk sosial yang saling membutuhkan antara satu dengan lainnya. Suau saat membantu dan pada saat yang lain dibantu. Cara Menghindari Ananiah Ananiah (egois) dapat dihindari dengan cara-cara sebagai berikut : • Memperkuat keimanan kepada Allah SWT, karena hanya Allah SWT sajalah Yang Maha Mandiri dan Maha Kuasa atas segala sesuatu. • Menyadari bahwa manusia ditakdirkan untuk menjadi makhluk sosial yang saling membutuhkan antara yang satu dengan lainnya. Suatu saat membantu dan pada saat lainnya dibantu. Suatu ketika menasehati dan pada saat yang lain memberi nasehat. • Memupuk semangat kebersamaan dan toleransi dengan menumbuhkan kesadaran bahwa manusia memang diciptakan Allah SWT berbeda-beda, masing-masing mempunyai kelebihan dan kekurangannya.

2. Ghadab (pemarah) Pengertian Ghadab Ghadab (pemarah) artinya sifat seseorang yang mudah marah. Setiap melihat atau menghadapi persoalan kehidupan yang tidak disukai sekecil apapun langsung marah. Setiap orang memang dikarunia oleh Allah SWT gejala emosional seperti senang, susah, geli, dan marah. Dengan demikian pada dasarnya setiap orang bisa marah, namun

karena marah dapat menimbulkan berbagai akibat negatif, maka Allah SWT dan RasulNya mememerintahkan agar kita dapat menahan marah tersebut. Disamping kita diperintahkan untuk menahan marah, kita juga dilarang memancing kemarahan orang lain. Kebalikan dari sifat pemarah adalah adalah berlapang hati, sabar, dan pemaaf. Berkaitan dengan penerapan antara sifat pemarah dengan pemaaf, Imam Ghazali mengelompokkan tipe manusia menjadi 4 macam yaitu : 1. Orang yang mudah marah dan sulit memaafkan. 2. Orang yang mudah marah dan mudah memaafkan. 3. Orang yang sulit marah dan sulit memaafkan. 4. Orang yang sulit marah dan mudah memaafkan. Mana yang paling baik? Sudah barang tentu yang terbaik adalah orang yang sulit marah tapi mudah memaafkan. Tipe orang seperti inilah yang dicontohkan oleh Rasulullah SAW. Dalam kehidupannya sangat sulit dan jarang sekali Rasulullah SAW marah. Namun beliau sangat mudah memaafkan, walaupun kesalahan yang diperbuat orang lain itu begitu menyakitkan. Menahan marah merupakan salah satu bentuk ketakwaaan seseorang. Dengan kata lain salah satu ciri ketakwaan seseorang adalah kemampuannya dalam menahan marah serta mudah memaafkan orang lain. Firman Allah SWT dalam QS. Ali Imran (3) ayat 37 :

‫ـﺐ‬‫ﻳﺤ‬  ‫ﺍﻟﱠ‬ ‫ﺎﺱ‬‫ﺎﻓﲔ ﻋﻦ ﺍﻟ‬‫ﺍﹾﻟﻌ‬‫ﻴﻆ ﻭ‬‫ﺍﹾﻟﻜﹶﺎﻇﻤﲔ ﺍﹾﻟﻐ‬‫ﺍﺀ ﻭ‬ ‫ﺍﻟﻀ‬‫ﺍﺀ ﻭ‬ ‫ﻲ ﺍﻟﺴ‬‫ﻨﻔ ﹸﻮﻥ ﻓ‬‫ﻳ‬ ‫ﻳﻦ‬‫ﺍﱠﻟﺬ‬  ‫ ﹺ ﻨ ﹺ ﻭ ﻠﻪ‬   ‫ ﹶ‬    ِ ‫ﺮ‬ ِ ‫ ﺮ‬ ‫ﻘ ﹶ‬  ‫ﺤﺴﹺﻨﲔ‬‫ﺍﹾﻟﻤ‬  ِ
Artinya : “(yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan mema`afkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.” ( QS Ali Imran : 37) Pemarah bukanlah orang yang kuat, melainkan orang yang lemah. Karena kemarahan meninggalkan banyak kelemahan. Hakekat manusia yang kuat adalah bukan manusia yang dengan mudah untuk marah dan membuat sasaran kemarahan dari semua yang ada disekitarnya. Orang yang kuat adalah orang yang mampu mengendalikan diri ketika hendak marah. Hadits Rasulullah SAW :

‫ﻳﺪ ﺍﱠﻟﺬﻱ‬‫ﺪ‬ ‫ﺎ ﺍﻟ‬‫ﻧﻤ‬‫ﻳﺪ ﺑﹺﺎﻟﺼﺮﻋﺔ ﹺﺇ‬‫ﺪ‬ ‫ﻴﺲ ﺍﻟ‬‫ﻗﹶﺎﻝ ﹶﻟ‬    ‫ﺸ‬      ‫ ﺸ‬ ‫ﹶ‬

 ‫ﻮﻝ ﺍﷲ‬‫ﻳﺮ ﹶﺓ: ﹶﺃﻥﱠ ﺭﺳ‬‫ﺮ‬‫ﻋﻦ ﹶﺃﺑﹺﻲ ﻫ‬ ِ ‫ ﹶ‬  

(‫)ﺭﻭﺍﻩ ﺍﻟﺒﺨﺎﺭﻯ ﻭ ﻣﺴﻠﻢ‬

Artiya : “Diriwayatkan dari Abu Hurairah r.a katanya: Sesungguhnya Rasulullah s.a.w bersabda: Kekuatan itu tidak dibuktikan dengan kemenangan dalam bergulat. Tetapi orang yang kuat ialah orang yang dapat mengendalikan dirinya ketika sedang marah.” (HR. Bukhari dan Muslim) Sifat pemarah cenderung untuk tidak menyelesaikan persoalan dengan kepala dingin, artinya dengan baik-baik dan kekeluargaan. Sebaliknya masalah dihadapi dengan mengedapkan emosi, sehingga penyelesaian masalah tidak sempurna, sekalipun setelah itu harus menyesal.

‫ﻨﺪ ﺍﹾﻟﻐﻀﺐ‬‫ ﻋ‬ ‫ﻧﻔﺴ‬  ‫ﻳﻤﻠ‬ ‫ ﹺ‬    ‫ﻪ‬ ‫ﻚ ﹾ‬

Ketika sedang marah, seseorang sedang tidak mampu menguasai diri. Keadaan diri sangat labil, sehingga sangat mudah melakukan sesuatu yang kurang terperhitungkan oleh akal sehat. Dengan demikian orang yang pemarah sangat berbahaya. Akibat Negatif Ghadab Ketika sedang marah, seseorang sedang tidak mampu menguasai diri alias lupa diri. Keadaan jiwanya sangat labil karena dibakar emosi. Bila kondisi seseorang sudah demikian maka dia akan melakukan sesuatu tanpa perhitungan. Dengan demikian seseorang yang sedang marah atau menjadi pemarah dapat menimbulkan dampak negatif berupa : a. Keputusan dan tindakan orang marah cenderung menambah masalah. Kita tidak boleh memutuskan sesuatu ketika sedang dalam keadaan marah, karena sudah pasti keputusan yang diambil pasti tidak bijaksana. Seorang hakim dilarang meutuskan hukuman terhadap suatu perkara ketika dia dalam keadaan marah, karena dalam keadaan seperti itu pasti keputusannya menjadi tidak adil. b. Pemarah menimbulkan kerusakan. Orang yang mudah marah atau pemarah sulit mengkontrol diri, sehingga semua yang ada di sekitarnya akan menjadi sasaran kemarahan. Banyak benda-benda yang dibeli dengan harga mahal, harus dimusnahkan dalam waktu sekejap, sekalipun setelah sadar harus menyesal. Itulah akibat dari marah. c. Pemarah dapat merusak hubungan baik antarmanusia Hubungan antara anak dan orang tua bisa mencadi kacau bila salah satu atau kesuanya saling memarahi. Suami istri bisa menjadi tidak harmonis bahkan akan bercerai bila mereka tidak dapat mengenadlikan marah. Lingkungan masyarakat akan menjadi kisruh bila anggota masyarakatnya sering marah-marah. d. Dapat terjauhkan dari ampunan dan surga Allah Di dalam hidup ini, manusia diserukan oleh Allah untuk berlomba-lomba berbuat kebajikan dan amal saleh, sehingga dapat meraih predikat sebagai orang yang bertakwa. Salah satu ukuran orang yang bertakwa adalah orang yang mau menafkahkan hartanya dalam keaadan sepi maupun lapang, menahan diri ketika hendak marah dan mau memaafkan kesalahan orang lain. Mereka yang seperti itu akan memperoleh ampunan Allah dan surga yang seluas langit dan bumi. Cara menghindari dan menahan Ghadab Cara mengobati bentuk kemarahan, terlebih kepada seseorang yang mempunyai sifat pemarah adalah : 1). Apabila seorang yang sedang marah itu dalam keadaan sedang berdiri, maka berusaha duduk. Dan apabila kemarahan itu dilakukan ketika sedang duduk, maka berusaha tiduran atau berbaring sambil membaca istighfar. Karena kemarahan itu bagaikan bara api yang hanya dapat dipadamkan dengan air. Sikap duduk dari berdiri dan berbaring dari duduk adalah bagian dari airnya berperilaku. 2). Apabila sedang marah, maka berwudulah. Karena berwudu dengan air yang suci dan mensucikan, akan mampu mensucikan semua tindakan yang kurang suci, seperti kemarahan.

3). Membaca ta’awudz (memohon perlindungan Allah dari godaan syaitan yang selalu membangkitkan amarah. Syaitan merupakan makhluk Allah SWT yang terbuat dari api, sehingga dia selalu mamanas-manasi manusia untuk mudah marah kepada orang lain. Jadi, kita dapat memadamkan api amarah yang dihembuskan oleh syaitan itu dengan membaca kalimah :

‫ﻴﻄﹶﺎﻥ ﺍﻟﺮﺟﹺﻴﻢ‬‫ﻮﺫ ﹺﺎﻟﱠﻪ ﻣﻦ ﺍﻟﺸ‬ ‫ﹶﺃ‬ ‫ ﹺ‬     ‫ﻋ ﹸ ﺑ ﻠ‬
“Aku berlindung kepada Allah dari godaan syaitan yang terkutuk” Hadits rasulullah :

 ‫ﺘﻔ‬‫ﻨ‬‫ﺗ‬‫ﺎﻩ ﻭ‬‫ﻴﻨ‬‫ﺗﺤﻤﺮ ﻋ‬ ‫ﺎ‬‫ﻴﻪ ﻭﺳﻠﱠﻢ ﻓﺠﻌﻞ ﹶﺃﺣﺪﻫﻤ‬‫ﻨﹺﺒﻲ ﺻﱠﻰ ﺍﷲ ﻋﻠ‬‫ﻨﺪ ﺍﻟ‬‫ﻼﻥ ﻋ‬ ‫ﺘﺐ ﺭ‬‫ﺍﺳ‬ ‫ﺦ‬          ‫ ﹶ‬  ‫ ﹶ‬    ‫ﹶ‬ ُ ‫ﻠ‬     ‫ﺟ ﹶ‬    ‫ﻨ‬‫ﺎ ﹶﻟﺬﻫﺐ ﻋ‬‫ ﻛﻠﻤﺔ ﹶﻟﻮ ﻗﹶﺎﹶﻟﻬ‬ ‫ﻧﻲ َﻷﻋﺮ‬‫ﻴﻪ ﻭﺳﻠﱠﻢ ﹺﺇ‬‫ﺍﺟﻪ ﻗﹶﺎﻝ ﺭﺳﻮﻝ ﺍﷲ ﺻﱠﻰ ﺍﷲ ﻋﻠ‬‫ﹶﺃﻭﺩ‬ ‫ﻪ‬  ‫ﹶ‬  ‫ ﹰ‬  ‫ ﹺﻑ ﹶ‬ َ      ‫ ﹶ‬ ُ ‫ﻠ‬ ِ ‫ ﹸ‬   ‫ ﹶ‬   ( ‫ﻴﻄﹶﺎﻥ ﺍﻟﺮﺟﹺﻴﻢ ) ﺭﻭﺍﻩ ﺍﻟﺒﺨﺎﺭﻱ ﻭﻣﺴﻠﻢ‬‫ ﹶﺃﻋﻮﺫ ﺑﹺﺎﷲ ﻣﻦ ﺍﻟﺸ‬ ‫ﻳﺠ‬ ‫ﺍﱠﻟﺬﻱ‬ ِ      ِ ‫ ﹸ‬  ‫ ﹺﺪ‬ 
Artinya : “Dua orang lelaki sedang bercaci maki di hadapan Rasulullah SAW. Salah seorang dari mereka marah-marah, matanya merah dan urat darah di lehernya timbul. Rasulullah s.a.w bersabda: Sesungguhnya aku tahu suatu kalimat yang apabila diucapkannya maka apa yang diderita itu menjadi hilang, yaitu: Aku berlindung dengan Allah dari godaan syaitan yang terkutuk. (HR Buhari dan Muslim) 3. Hasad (dengki) Pengertian Hasad Hasad artinya menaruh perasaan marah (benci, tidak suka) yang berlarut-larut terhadap keberuntungan orang lain. Sikap dengki biasanya merupakan akibat dari memelihara sifat iri, sehingga sifat dengki ini sudah mengarah kepada perbuatan yang mencerminkan kemarahan dan perselisihan. Orang yang terjangkit penyakit hati dengki mengarah kepada tindakan memusuhi, menjelek-jelekan, dan menjatuhkan nama baik orang yang didengki. Tindakan-tindakan jahat ini akan terus berkelanjutan jika orang yang memendam penyakit hati dengki ini tidak segera menyadari atau disadarkan dari kekeliruannya tersebut. Bagi orang yang beriman (mukmin), sifat dengki ini mutlak harus dihindari. Bila benih-benih dengki mulai merasuk dalam hati seorang mukmin, maka dia harus dengan segera menghilangkannya sebelum kedengkian itu tumbuh dan berkembang. Semakin besar kadar dengki dalam hati seseorang, akan semakin sulit dihilangkan. Akibat Negatif Hasad Sifat dengki dapat berakibat buruk bagi kehidupan pribadi seseorang dan sekaligus dapat merusak tatanan hidup yang rukun dan harmonis di masyarakat. 1. Orang yang memendap sifat hasad akan sellau berpikiran negatif. Perasaannya selalu merasa tidak tenang begitu melihat orang lain mendapatkan karunia, prestasi atau kebaikan. Kondisi kejiwaan seoserang yang demikian pasti membuat dirinya suit maju, berprestasi, dan berkembang.

2. Sifat hasad juga dapat merusak tatanan dan pergaulan. Oleh karenanya sifat dengki ini dicela dalam Islam. Bahkan Rasulullah saw. menegaskan kalau dengki merupakan duri dalam kehidupan bermasyarakat dan berbangsa, serta racun dalam kehidupan beragama. Perhatikan hadits Rasulullah saw. berikut ini :

(‫)ﺭﻭﺍﻩ ﺍﺑﻮ ﺩﺍﻭﺩ‬

‫ﺎﺭ ﺍﹾﻟﺤﻄﺐ‬‫ﺗﺄ ﹸ ﹸ ﺍﻟ‬ ‫ﺎ‬‫ﺎﺕ ﻛﻤ‬‫ﻳﺄ ﹸ ﹸ ﺍﹾﻟﺤﺴﻨ‬ ‫ﺍﹾﻟﺤﺴﺪ ﻓﺈ ﱠ ﺍﹾﻟﺤﺴﺪ‬‫ﺎﻛﻢ ﻭ‬‫ﺍ‬  ‫ ﹶ‬  ‫ ﹶ ﹾﻛﻞ ﻨ‬   ‫ ﹾﻛﻞ‬   ‫ ﹶﹺﻥ‬    ‫ﻳ ﹸ‬

Artinya : “jauhkan dirimu dari dengki, karena dengki itu memakan kebaikan, tak ubahnya sebagaimana api membakar kayu kering. ( HR. Abu Daud) Cara Menghindari Hasad 1. Kembangkan sikap positif, simpati, dan mau mengakui kelebihan serta kekurangan orang lain. 2. Belajarlah dari kelebihan keberhasilan orang lain, karena Allah SWT memberikan potensi kepada setiap orang untuk dapat berkembang dan berprestasi. 3. Perbanyaklah berzikir krpada Allah SWT agar hati kita senantiasa dijaga dan dibersihkan dari rasa iri dan hasad. 4. Ghibah (Menggunjing) Pengertian Ghibah Ghibah adalah menceritakan keburukan atau aib orang lain. Tentang hal ini Rasulullah bersabda dalam hadits yang diriwayatkan Bukhari dan Muslim : “Tahukah kalian apakah ghibah itu?" Para sahabat menjawab, Allah dan Rasul-Nya yang lebih tahu!" Lalu beliau berkata, “Yaitu kamu menceritakan saudaramu tentang hal yang tidak disukainya." Lalu seseorang bertanya, “Bagaimana pendapatmu bila apa yang aku ceritakan ada pada diri saudaraku?" Beliau menjawab, Bila apa yang kamu ceritakan itu ada pada diri saudaramu, maka kamu telah melakukan ghibah terhadapnya. Dan bila tidak, berarti kamu mengada-ada (dusta)." Ghibah tidak terbatas hanya pada ucapan lidah, akan tetapi setiap gerakan, isyarat, ungkapan, sindiran, celaan, tulisan, SMS, atau segala sesuatu yang dipahami sebagai hinaan, maka hal itu haram dan termasuk ghibah. Mendengarkan orang yang sedang ghibah dengan sikap kagum dan menyetujui apa yang dikatakannya hukumnya sama dengan melakukan ghibah. Akibat Negatif Ghibah Orang yang melakukan ghibah akan mengalami kerugian, karena pahala amal kebaikannya dia berikan kepada orang yang menjadi sasaran ghibahnya. Islam telah mengharamkan dan melarang ghibah karena dapat mengakibatkan putusnya ukhuwah, rusaknya kasih sayang, timbulnya permusuhan, tersebarnya aib, lahirnya kehinaan dan timbulnya keinginan untuk menyebarkan berita keburukan orang lain tersebut. Agar manusia berhati-hati terhadap ghibah, maka Allah menyamakannya dengan orang yang memakan daging saudaranya yang sudah mati.

Artinya : "Janganlah kalian saling memata-matai dan jangan mengghibahi antara satu dengan yang lain, sukakah kalian memakan daging saudaranya tentu kalian akan benci" ( Al Hujurat 12) Tentu sangat menjijikkan makan daging bangkai, semakin menjijkkan lagi apabila yang dimakan adalah daging bangkai manusia, terlebih lagi saudara kita sendiri.

‫ﺎ‬‫ﻴﺘ‬‫ﻴﻪ ﻣ‬‫ﻳﺄ ﹸﻞ ﹶﻟﺤﻢ ﹶﺃﺧ‬ ‫ ﹸﻢ ﹶﺃﻥ‬ ‫ﺤﺐ ﹶﺃﺣ‬‫ﺎ ﹶﺃ‬‫ﺑﻌﻀ‬ ‫ ﹸﻢ‬ ‫ﺑﻌ‬ ‫ﺘﺐ‬‫ﻳﻐ‬ ‫ﻮﺍ ﻭﻻ‬ ‫ﺗﺠﺴ‬ ‫ﻭﻻ‬      ‫ ﹾ ﹾﻛ ﹶ‬ ‫ﺪﻛ‬   ‫ ﻳ‬  ‫ﻀﻜ‬   ‫ ﹶ‬  ‫ﺴ‬  ‫ ﹶ‬   ‫ﺘ ﻤ‬ ‫ﹶ ﹶ ﹺ‬ (12 : ‫ﻮﻩ ) ﺍﳊﺠﺮﺍﺕ‬ ‫ﻓﻜﺮﻫ‬

Demikianlah ghibah, ia pun sangat menjijkkan sehingga sudah sepantasnya untuk dijauhi dan dan ditinggalkan. Lebih ngeri bila berbicara tentang ghibah, apabila kita mengetahui balasan yang akan diterima pelakunya. Seperti dikisahkan oleh Rasulullah saw di malam mi'rajnya. Beliau menyaksikan suatu kaum yang berkuku tembaga mencakar wajah dan dada mereka sendiri. Rasul pun bertanya tentang keberadaan mereka, maka dijawab bahwa merekalah orang-orang yang ghibah melanggar kehormatan orang lain. Ghibah yang diperbolehkan: Menceritakan aib atau keburukan orang lain tidak selamanya dilarang. Dalam keadaan tertentu, bercerita tentang fakta keburukan orang lain tersebut diperbolehkan, yaitu ketika : 1. Orang yang dizhalimi boleh menceritakan kepada hakim tentang kezhaliman yang dilakukan terhadapnya atau penghianatannya. 2. Memberi kesaksian kejahatan yang dilakukan oleh seseorang di depan penyidik atau di depan hakim. 3. Meminta pertolongan untuk mengubah kemungkaran dengan menceritakan kepada orang yang mampu mengubah kemungkaran itu, agar menjadi kebenaran. 4. Bercerita kepada seorang psikolog untuk meminta nasehat (jalan keluar), misalnya seorang istri yang menceritakan suaminya yang bakhil, pemarah, atau selingkuh. 5. Memperingatkan kaum mislimin dari kejahatan seseorang, apabila hal itu dikhawatirkan akan menimpa mereka. 6. Menceritakan orang yang terang-terangan berbuat fasik dan membahayakan kehidupan kehidupan masyarakat muslim. Cara bertaubat dari ghibah. 1. Dengan cara menyesali perbuatan itu, bertekad untuk tidak melakukannya kembali dan beristighfar serta bertaubat dengan benar. 2. Bila ghibah telah terdengar oleh orang yang bersangkutan, maka dia harus mengemukakan alasan serta meminta maaf kepadanya. Jika belum terdengar, hendaklah memintakan ampun untuknya, mendo’akannya kepada Allah dan memuliakannya sebanding dengan kejelekan yang telah dilakukan terhadapnya.

5. Namimah (adu domba/memprovokasi) Pengertian Namimah Namimah mengandung arti mengadu domba antara pihak satu dengan pihak yang lain. Orang yang mempunyai penyakit hati namimah suka sekali menyebarkan berita yang menimbulkan kekacauan antara manusia. Ini termasuk cara syaitan yang paling keji untuk memisahkan dua kelompok, merusak ukhuwah (persaudaraan) dan mahabbah (rasa kasih sayang). Namimah kadangkala disebabkan hasad dan kebencian atau keinginan untuk meraih ambisi. Namimah termasuk dosa besar yang diharamkan. Allah berfirman:

(1 : ‫) ﺍﳍﻤﺰﺓ‬

‫ﻤﺰﺓ ﻟﹸﻤﺰﺓ‬‫ﻟﻜ ﱢ ﻫ‬ ‫ﻳﻞ‬‫ﻭ‬       ‫ ﹲ ﹸﻞ‬

Artinya : “Celakalah bagi setiap humazah dan lumazah." (Al-Humazah 1) Namimah juga dapat berbentuk memprovokasi atau memanas-manasi situasi agar terjadi perselisihan. Perilaku mengadukan ucapan seseorang kepada orang lain dengan tujuan merusak dan menciptakan perselisihan adalah salah satu faktor yang menyebabkan

terputusnya ikatan persaudaraan/persahabatan, serta menyulut api kebencian dan permusuhan antar sesama manusia. Allah mencela pelaku perbuatan tersebut dalam firman-Nya.

(11)

Artinya : “Dan janganlah kamu ikuti setiap orang yang banyak bersumpah lagi hina, yang banyak mencela, yang kian kemari menghambur fitnah". (Al-Qalam : 10-11) Dalam sebuah hadits disebutkan :

‫ﻴﻢ‬‫ﻨﻤ‬‫ﺎﺀ ﹺﺑ‬ ‫ﺎﺯ ﻣ‬ ‫ﻴﻦ )01( ﻫ‬‫ﺗﻄﻊ ﻛﻞ ﺣ ﱠﻑ ﻣﻬ‬ ‫ﻭﻻ‬ ‫ﺸ ٍ ﹴ‬ ‫ﻤ ﹴ‬ ‫ ﹺ ﹴ‬  ‫ﻼ‬ ‫ ﹸ ﱠ‬  ‫ ﹶ‬

‫) ﺭﻭﺍﻩ ﺍﻟﺒﺨﺎﺭﻯ ﻭ‬

‫ﺎﻡ‬ ‫ﻧ‬ ‫ﻨﺔ‬‫ ﹸ ﺍﹾﻟﺠ‬ ‫ﻳﺪ‬ ‫ﻳ ﹸﻮﻝ ﻻ‬  ‫ﻮﻝ ﺍﷲ‬ ‫ ﺭ‬ ‫ﻳﻔﺔ ﻗﹶﺎﻝ : ﺳﻤﻌ‬‫ﺬ‬‫ﻋﻦ ﺣ‬  ‫ ﹶ ﻤ‬ ‫ﺧ ﻞ‬ ‫ﻘ ﹸ ﹶ‬ ِ ‫ ﺳ ﹶ‬ ‫ﺖ‬   ‫ ﹶ ﹶ ﹶ ﹶ‬ 

Artinya : “Diriwayatkan Khudaifah : Saya mendengar Rasulullah bersabda : Tidak akan masuk surga tukang adu domba". (Hadits Riwayat Al-Bukhari dan Muslim) Bahaya Namimah

( ‫ﻣﺴﻠﻢ‬

Seorang siswa yang terjangkit penyakit hati namimah selalu menceritakan perkataan atau sikap temannya kepada teman yang lain sehingga kedua teman tersebut saling membenci. Namimah juga dapat merusak hubungan suami istri jika ada pihak-pihak yang menceritakan dan menghasut seorang suami tentang istrinya atau sebaliknya. Demikian juga adu domba yang dilakukan sebagian karyawan kepada teman karyawannya yang lain. Misalnya dengan mengadukan ucapan-ucapan kawan tersebut kepada direktur atau atasan dengan tujuan untuk memfitnah dan merugikan karyawan tersebut. Semua hal ini hukumnya haram. Penjajah Belanda juga pernah mempraktikan strategi devide et impera (strategi adu domba) untuk menghancurkan kekuatan para pejuang. Di sekitar kita orang yang hobi mengadu domba / namimah sangat banyak bergentayangan, dan lebih sering di kenal sebagai provokator kejelekan. Namimah bukan hal yang kecil, bahkan para ulama mengkatagorikannya di dalam dosa besar karena kaibat yang ditimbulkan juga sangat fatal. Dikisahkan bahwa Fulan mempunyai seorang budak yang sehat dan kuat, namun budak itu suka mengadu domba, maka dia bermaksud menjual budak tersebut. Fulan lalu lalu berkata kepada calon pembelinya: "Budak ini tidak ada cirinya kecuali suka mengadu domba." Oleh calon pembeli itu masalah ini dianggap ringan dan budak itu tetap dibeli dengan harga yang cukup murah. Setelah beberapa hari ditempat majikannya yang baru, tiba-tiba budak itu berkata kepada isteri majikannya: "Suamimu tidak cinta kepadamu dan ia akan berpoligami, apakah kau ingin supaya ia tetap sayang kepadamu sehingga tidak menikah lagi?" Jawab isteri itu: "Ya." "Lalu kalau begitu kau ambil pisau cukur dan mencukur janggut suamimu yang bagian dalam (di leher) jika suamimu sedang tidur." kata budak itu. Kemudian ia pergi kepada majikannya (suami) dan berkata kepadanya: "Isterimu bermain dengan lelaki lain dan ia merencanakan untuk membunuhmu, jika engkau ingin mengetahui buktinya maka coba engkau berpura-pura tidur." Maka suami itu berpura-pura tidur dan tiba-tiba datang isterinya membawa pisau cukur untuk mencukur janggut suaminya, maka oleh suaminya disangka benar-benar akan membunuhnya sehingga ia bangun kemudian merebut pisau itu dari tangan isterinya lalu membunuh isterinya. Oleh kerana kejadian itu maka datang para keluarga dari pihak isterinya dan langsung membunuh suami itu sehingga terjadi perang antara keluarga dan suku suami dengan keluarga dan suku dari isteri. Dengan demikian akibat namimah ini sangat besar dan fatal sekali, dengannya terkoyak persahabatan saudara karib dan melepaskan ikatan yang telah dikokohkan oleh

Allah. Ia pun mengakibatkan kerusakan di muka bumi serta menimbulkan permusuhan dan kebencian. Cara bertaubat dari namimah. 1. Menyesali perbuatan itu, bertekad untuk tidak melakukannya kembali dan beristighfar serta bertaubat dengan benar. 2. Bila sudah telanjur memanas-manasi keadaan, maka dia harus segera meluruskan kembali permasalahannya sehingga suasana menjadi tenteram kembali, kemudian meminta m aaf kepada keduanya. 3. Jika telah terjadi permusuhan dan perselisihan antarpihak yang diadu domba, maka dia harus berusaha untuk mendamaikanya kembali dan meminta maaf kepada kedua belah pihak serta berjanji tidak akan mengulanginga lagi.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->